Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Devil's DNA

"Bagaimana dengan Figueroa, pengacaramu pada persidangan pertama?"

"Ia tahu semaunya. Aku ceritakan bagaimana kejadian persisnya, tapi ia sepertimu. Tak mempercayaiku. Ia bilang, 'Bagus, Julian. Sekarang simpan saja itu untuk dirimu sendiri. Kau tak akan memperoleh apa-apa dari cerita itu dengan saksi di depanmu."

Ia menistakan bangsat tua itu. Hoolian masih bisa membayangkan orang itu di kantor Court Street-nya, noda mustard terang di manset setelan jaket, punggung-punggung buku hukum usang mengelupas di rak, bicaranya kasar dan sok perhatian padahal yang ia inginkan hanya menggerogoti harta si klien dan bersenang-senang dengan kapal pribadinya di Florida Keys.

"Jika itu benar, mengapa kau tak mengatakannya padaku sejak awal?"

"Hal pertama yang kau katakan: 'Hanya jawab pertanyaan yang diajukan. Saksi yang baik mengetahui, jangan pernah merendahkan orang bodoh. Berfokuslah pada isu yang relevan dengan tuntutan.' Yaitu"—ia menjentik dengan jemarinya— "apakah pengacaraku tidak kompeten? Ya. Apakah ia memberiku hak untuk bersaksi? Tidak. Mengapa pemerintah tak memunculkan bukti DNA yang kami minta? Dan mengapa mereka tak mengejar semua saksi yang bisa membersihkan namaku?"

Deb mengangguk, mengakui setiap poin seiring memucat wajahnya. "Ya, tapi bagaimana penemuan darahmu dan darahnya di kain penutup sofa?"

"Seperti yang kau bilang. Aku mengerjakan banyak hal di gedung malam itu. Kurasa aku mungkin tersayat saat memotong pipa dan tetesannya mungkin mengenai sofanya saat kami bersama. Bagaimana darahnya sampai ada di sofa, aku tak tahu. Itu pasti terjadi setelah aku pergi dan orang lain datang dan menyerangnya."

"Oh Tuhan." wanita itu membuka jendela taksi, membutuhkan udara segar. "Kuberi tahu kau, Julian. Lebih baik tak membohongiku. Kalau kau bohong, bukan aku yang akan menyeretmu kembali ke penjara. Kau dihukum dua puluh lima tahun penjara, seandainya kau lupa."

"Apa aku terdengar seperti sedang berbohong?"

Deb terdiam cemberut. Di sekeliling mereka, orang-orang mulai meninggalkan kota lebih awal untuk mengejar akhir minggu yang panjang. Pria dan wanita membawa tas dan koper kecil, bergegas menuju Grand Central, melemparkan pandangan khawatir ke langit, melewati kanopi Graybar Building, saat para tikus penggores kabel suspensi terlihat seakan mereka tengah mencoba meninggalkan kapal. Kembali lagi selama lima tahun mungkin tak akan begitu menakutkannya beberapa hari yang lalu, sebelum ia berhubungan dengan Zana dan anaknya. Tetapi hidup di luar telah menodaimu. Itu membuatmu lupa bagaimana hidup di dalam kurungan.

"Bagaimana tentang hal satu lagi itu?" wanita itu berkata diam, seolah-olah dengan hati-hati menarik benang yang menggantung dari lengan baju Hoolian.

"Apa?"

"Wanita yang mereka tanyai tentangmu. Si pekerja magang di Mount Sinai."

"Ada apa dengannya?" ujar Hoolian datar.

"Apa kau akan menceritakan mengapa penjaga gedung melihatmu berjalan-jalan di luar gedung?"

"Tempat kerjaku sembilan atau sepuluh blok dari sana. Aku bahkan tak pernah mengantar barang ke gedungnya. Jika benar demikian, pasti akan ada slip tanda terima dan mereka akan menyodorkannya di depan wajahku."

"Lalu bagaimana dengan tanganmu?"

"Ya, ada apa memangnya?"

Ia membuka dan menutup kepalan tangan, sadar wanita itu mengawasi gerak-geriknya setiap saat sekarang.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan dengannya? Aku tahu kau tidak menyayat dirimu sendiri di gudang. Kau bahkan tak menatapku ketika kuanjurkan kau mengajukan tuntutan."

Ia menekan bibirnya dan berpikir sejenak. "Apa yang akan terjadi jika aku berkata yang sesungguhnya?"

"Tergantung." Deb memastikan sabuknya terkunci. "Aku petugas pengadilan. Aku tak mau bersumpah palsu. Jika berbohong tentang sesuatu yang kau lakukan, kau harus maju sendiri."

"Aku khawatir aku telah melukai seseorang."

Wanita itu memejamkan mata dan menarik lututnya rapat. Selama beberapa saat tampaknya tak mustahil ia akan mendorong lelaki itu keluar dari taksi yang sedang melaju.

"Oke," katanya, perlahan-lahan menguasai diri. "Kau benar-benar harus membuatku mengerti tentang hal ini."

"Ini hak istimewa pengacara-klien, kan?"

"Julian. Hentikan omong kosongnya."

Hoolian memajukan badan, memastikan si supir tak mendengar pembicaraan mereka dan radio menyala.

"Aku selalu naik kereta bawah tanah setelah pulang kerja. Dan seseorang dari tempat asalku mulai memperhatikan."

"Di mana?" selanya, siap membuyarkan cerita.

"Dari 86th Street ke Grand Central di kereta empat. Aku berkata, "Bangsat, Bung, apa aku kenal kau dari penjara atau bagaimana?' Lalu di 42nd Street ia mengikutiku dari kereta bersama kelompoknya dan berkata, 'Hey, Bung, apa kau lihat-lihat?' aku memakai medali Saint Christopher yang ayah berikan padaku."

"Maksudmu mereka mencegatmu untuk rantai seharga dua puluh dolar?"

"Emas itu sangat berarti bagiku." Ia menyentuh dadanya, tempat dulu medali itu berada. "Jadi aku dan orang itu sampai keluar dari peron."

"Kalian berkelahi?"

"Benar. Kukira ia pasti membawa pisau, karena tanganku terluka cukup parah. Darah mengaliri lenganku. Jadi aku mendorongnya—"

"Ke rel?" Hollian bisa mendengar tarikan napas Deb yang tertahan.

"Tidak, di tangga, tapi cukup jauh jatuhnya. Hingga peron tujuh. Ia jatuh seperti dalam gerak lambat." Ia mengangkat tangannya seperti dicambuk. "Butuh beberapa lama baginya untuk mencapai dasar. Kemudian semua temannya mengejar turun."

"Ia baik-baik saja?"

"Aku tak tahu." ia memainkan kunci pintu. "Aku lari ke atas dan keluar stasiun. Karena itulah aku takut menceritakannya padamu. Aku takut aku mungkin mematahkan lehernya."

Deb memperhatikan Hoolian menaikturunkan kenop pintu. "Jadi, boleh jadi kau membunuhnya? Itu yang sedang kau coba katakan padaku?"

"Kukira tidak. Aku memeriksa koran beberapa hari berikutnya, dan tak ada berita apa pun tentang itu. Tapi aku mungkin melukainya cukup parah."

"Brengsek." Deb menyandarkan kepala. "Lalu kau berbohong pada polisi dan pengacaramu tentang ini?"

"Aku panik, oke?" Supir itu menoleh, mendengar suara Hoolian meninggi. "Kukira mereka akan menahanku kembali untuk penyerangan atau perbuatan ceroboh membahayakan sebelum aku kembali bersidang," bisiknya. "Dan semua orang akan mengira mungkin aku telah melakukan apa yang mereka tuduhkan sejak awal."

"Dan, kau berharap aku percaya bahwa ini kebetulan terjadi pada saat yang sama ketika gadis lain terbunuh?"

"Tidak, ini hampir seminggu sebelumnya. Kau bahkan melihatku dengan balutan saat itu. Kau tak ingat?"

Kepercayaan diri wanita itu terguncang. Hoolian dapat melihat dari cara Deb berpaling darinya, merapikan kerutan celana dan mulai menggosok-gosok bibir terus-menerus, berusaha menghadirkan kembali urutan waktu di pikirannya. "Harus kubilang, Julian, aku tak tahu apa yang kupikirkan sekarang."

"Yeah, aku menceritakan yang sebenarnya."

"Begitu. Jadi, hanya kemarin kau berbohong?"

Hoolian menoleh keluar jendela dan merasakan kesunyian yang dimunculkan liburan panjang itu. Betapa mencekam Manhattan yang ditinggalkan pada saat-saat seperti ini. Bahkan di lingkungan tempat penghuninya tak pergi berlibur ke luar kota, seolah bom telah menghancurkan, hanya menyisakan gedung, membuat bayang-bayang panjang. Ia melihat trotoar kosong, lampu hijau bagi pejalan kaki yang tiada, hantu-hantu di jendela muncul, dan tinggi di atas, menara jam Met Life tampak mencolok dengan langit kelabu di belakang, tangannya dengan ganjil terhenti di angka 9.15.

"Kurasa mungkin kini aku tak terlihat seperti pria baik-baik lagi."

"Masak? Dari mana kau dapat pikiran seperti itu?"

42

Mantan kekasih Allison, Doug Wexler, menyimpan potret lama dirinya di atas lemari. Di sana, ia terlihat sebagai mahasiswa ceking berambut acak-acakan yang tengah bermain Frisbee bersama sekelompok anak kecil di sebuah desa Guatemala. Francis menyadari foto itu sedikit lebih besar daripada foto-foto lain di kantor berlapis kayu ek itu, termasuk foto keluarga dan potret bangunan yang merupakan bagian dari kerajaan real estate yang diwariskan ayahnya.

"Aku setengah mengira Anda akan menelepon," ujar Doug, versi setengah baya laki-laki dalam foto tadi namun lebih gemuk dan sedikit letih, mengenakan kaus Lacoste lama dan celana chinos ke kantor pada suatu Sabtu sore. "Sejak kulihat kasus Allison muncul di koran lagi."

"Mengapa?"

"Aku tak tahu. Aku punya firasat beberapa hal belum benar-benar beres saat itu."

Francis, sedikit lebih awas setelah beberapa jam terlelap, melihat foto tepat di belakang Doug itu lagi. Itu adalah ukuran keputusasaan dan kebingungan mengapa ia ada di sini, kembali menapak dari awal, mewawancarai mantan kekasih korban asli untuk melihat jika ada hal penting yang mereka lewatkan pada 1983.

"Anda sedang di luar negeri saat pemakamannya, benar?" kata Francis. "Aku tak ingat melihat Anda di sana."

"Aku tinggal di desa tanpa ada kamar mandi dalam rumah, apalagi telepon." Doug menyisir rambut pirangnya yang menipis dengan tangan. "Aku tidak mendengar berita itu hingga sebulan setelannya."

"Anda pasti sangat terkejut."

"Oh, Tuhan." Rahang Doug jatuh, membentuk bulan sabit kecil berjanggut di bawah dagunya. "Mantan kekasih saya terbunuh di gedung apartemen milik ayah saya? Saya bahkan tak pernah memberi tahu istri tentang hal ini hingga beberapa tahun lalu."

"Tolong ingatkan saya lagi bagaimana kejadiannya." Francis membuka buku catatan, tak acuh. "Bagaimana ia akhirnya menjadi penyewa di salah satu apartemen ayah Anda setelah Anda putus dengannya?"

"Tak banyak yang bisa kuceritakan. Kami tetap berteman setelah putus dan aku tahu ia kembali ke New York setelah kami lulus. Jadi, ayahku mengurus apartemen itu dan aku memberinya nomor untuk dihubungi. Itu saja."

"Apakah Anda minta pada ayah Anda keringanan untuknya?" tanya Francis, masih belum yakin apa yang sedang ia pancing saat ini, tapi pendekatan baru dibutuhkan selepas kemarin.

"Aku tak banyak ikut campur. Aku hanya menyampaikan, bantuan untuk teman. Saat itu, aku bahkan tak berpikir hendak masuk bisnis real estate. Aku mengira bisa menyelamatkan dunia..."

Matanya menerawang rindu menyapu ruang kantornya, ke arah karpet Turki dan jambangan Oriental, plakat penghargaan dan foto-foto berbingkai berisi ayahnya tengah menerima penghargaan dari berbagai walikota, dan pemandangan lantai enam puluh lima yang membuat pusat kota Manhattan yang berkelok-kelok terlihat seperti sirkuit chip komputer.

"Aku merasa sangat buruk setelannya. Terutama karena aku melewatkan pemakaman. Ayahku mengirim rangkaian bunga besar dan membayar limusin ke pekuburan. Ia sangat terpukul."

"Kenapa? Apakah ia mengenal Allison?"

"Ya, tidak, tapi...," Doug tergagap. "Ia tewas di salah satu apartemennya. Oleh putra pegawainya."

"Pernah ada pembicaraan untuk menuntut anak itu?"

"Mengapa Anda bertanya begitu?"

"Anda bilang ayahmu mengirim bunga dan membayar limusin ke pekuburan. Aku yakin ia pria yang sangat murah hati, tapi seseorang dibunuh di gedung miliknya oleh anak salah satu pegawainya. Kedengarannya itu tindakan yang mungkin dilakukan."

"Ya, aku tak pernah mendengar tentang tuntutan apa pun, tapi saat itu aku belum terlibat dalam bisnis ini." Doug mengangkat tubuh dengan kedua lengan, seperti berusaha membuatnya terlihat cukup besar untuk kursinya. "Dan sayangnya, ayahku sedang tak ada untuk Anda tanyai."

"Jika keluarga Allison memang mengajukan tuntutan, Anda mungkin akan mengetahuinya. Bukankah begitu?"

"Mungkin. Pasti muncul di koran."

"Tampaknya aneh," kata Francis, tersadar mengapa ia tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. "Aku cukup mengenal Tom dan Eileen Wallis. Mereka tidak serakah, tapi Anda tahu, uang tetaplah uang."

"Aku selalu mengira mereka sedikit aneh."

"Mengapa?" Francis menengadah dari buku catatannya.

"Oh, Allison tak selalu akur dengan mereka saat ia masih hidup."

"Sejak kapan?" Francis mendengar nada gusar dalam suaranya, hampir merasa berhak akan hal itu, seolah kesal karena diinformasikan sesuatu yang belum ia ketahui. "Aku tak pernah dengar sebelumnya," katanya, berusaha terdengar lebih netral. "Kukira mereka dekat."

"Memang. Mungkin sedikit terlalu dekat, kalau Anda bertanya padaku."

"Maksud Anda?"

"Oh, mereka selalu bertengkar tentang hal itu." Doug memijit keningnya, seolah masih sakit kepala. "Tentang apa?"

"Tentang segala hal." Doug mengerutkan kening. "Makanan, pakaian, apa saja. Mereka punya masalah serius tentang siapa yang memegang kuasa."

Entah mengapa, Francis membayangkan beruang kecil penuh madu di meja dapur Christine Rogers.

"Anda yakin tak salah tentang hal ini?" kata Francis. "Itu sudah lama sekali."

"Percayalah padaku. Aku belum lupa. Ia bicara dengan ibunya di telepon lalu histeris berjam-jam setelahnya. Tak ada yang bisa dilakukan untuk menghibur. Itu salah satu alasan aku berhenti berpacaran dengannya. Anda tahu rasanya pergi dengan seseorang dan Anda sadar di suatu titik bahwa ada sesuatu menghalangi yang tak pernah bisa kalian sisihkan? Begitulah persoalannya. Seperti sesuatu menghalangi matahari."

Francis meminggirkan buku catatan. "Aku beri tahu, Doug. Ini kedengarannya tak cocok bagiku. Aku mengerjakan kasus ini sejak lama. Aku mewawancarai orang-orang yang bekerja bersamanya, anak-anak yang ia tangani, orang-orang di apartemennya. Dan tak seorang pun yang menggambarkan apa yang Anda bicarakan."

"Ya, mereka boleh mengatakan apa saja yang mereka inginkan." Doug mendesah, bersandar di sikunya. "Tapi aku di sampingnya saat ia membuat dirinya sendiri kelaparan atau mengunci diri di kamar mandi. Beberapa kali terlihat sayatan di pergelangan tangannya tapi ia tak mau bercerita padaku soal asal luka-luka itu."

"Yang benar saja..." ujar Francis, berusaha mengingat-ingat apakah ia pernah melihat tanda-tanda tersebut pada mayat gadis itu dan mengira itu dibuat oleh penyerangnya. "Apa yang ada di pikiranmu?"

"Tidak ada. Itu di luar apa yang sanggup kuterima saat umurku dua puluh. Aku ingat ia pernah berkata, 'Kadang aku ingin menghilang.'"

"Kata-katanya persis seperti itu?"

Francis merasakan perasaan aneh bahwa seseorang baru saja masuk ke ruangan, tepat di luar jarak pandangnya.

"Ya, aku tak tahu persisnya," kata Doug. "Ia gadis yang lucu. Kadang Anda akan mendapat kesan ia tak suka hidup di dunia orang dewasa."

"Apa yang membuatmu berkata seperti itu?"

"Karena satu-satunya momen ketika aku ingat bahwa ia benar-benar bahagia adalah ketika bekerja dengan anak-anak di klinik Springfield. Kami menjadi relawan untuk membantu di salah satu rumah sakit dua hari seminggu. Dan setelah selesai, aku pergi ke tempat parkir, siap pergi mencari bir atau apalah. Tetapi ia masih tetap bermain dengan anak-anak di dalam, bermain rumah-rumahan atau kastil Lego di ruang tunggu. Bersama mereka, ia merasa nyaman. Aku tak menilainya. Aku hanya bilang, tidak mudah menjalin jenis hubungan layaknya orang dewasa dengan Allison."

"Aku tak yakin aku mengerti."

"Ya, aku tak ingin terlalu eksplisit, tapi—" Doug merendahkan suara. "Ia agak, hmm, aneh menyangkut sisi fisik hubungan. Orang jadi punya kesan ia lebih memilih bermain monopoli."

Francis meregangkan sisi rahangnya.

"Yeah, aku tahu apa yang Anda pikirkan." Doug menggelengkan kepala. "Tapi bukan aku saja. Ia tak punya banyak kekasih, titik. Sebelum atau sesudahnya, sejauh kutahu. Seolah ada hal lain mengambil tempat dalam hidupnya."

"Seperti apa?"

"Tak tahu. Setelah kuliah, aku hanya bertemu dengannya sekali, ketika aku mengunjungi orang tuaku. Tapi yang ia inginkan hanyalah menonton Star Trek."

"Ya, ia benar-benar menyukainya, bukan?"

"Aku dulu suka menggoda dengan mengatakan seleranya berhenti pada usia dua belas."

Kelebatan deja vu itu muncul kembali. Star Trek. Francis berusaha mengikuti alur hubungan kembali ke titik awal. "The Cage." Kapten Pike. Orang dari The Searchers. Gadis yang menghilang. Seperti rentetan lampu Natal. Satu kedipan, ya. Dua kedipan, tidak.

"Anda tahu, aku melihatnya beberapa tahun lalu." Doug tiba-tiba duduk tegak.

"Siapa?"

"Ibu Allison. Eileen. Aku sedang di restoran dan bermaksud menyapa, tapi ia hanya melihat padaku seolah aku tembus pandang."

"Mungkin ia tak mengenalimu. Doug, kita semua makin tua."

"Tidak, bukan itu masalahnya. Ia tahu siapa aku. Aku memperkenalkan diri." Doug menoleh ke belakang, ke arah foto-foto di lemari. "Tapi ia tak ingin tahu keadaanku sekarang. Karena ia tahu, Allison tak akan pernah mencapai umur seperti sekarang. Beberapa orang memang tak bisa menerima keadaan."

43

"Nona, Anda bisa bantu saya?"

Eileen tengah berada di bagian anak-anak di Bloomingdale's, mencari jaket musim dingin untuk cucu-cucunya dalam sesi diskon Hari Columbus. Mereka harus memakai baju lapis, sebagaimana ibu mereka, Jennifer, selalu katakan. Ia sendiri mengenakan selimut perca untuk flu-flunya yang misterius. Malangnya, semakin sulit dan sulit saja mengatasinya. Baju hangat. Kita semua membutuhkan baju hangat untuk melindungi. Sesuatu untuk memerangkap udara di antaranya.

Ia menelusuri rak demi rak, mencari-cari ukuran yang tepat agar mereka tidak terlihat tenggelam dalam kentang raksasa lagi, dengan kaki-kaki kecil mencuat di bawah. Jangan biarkan mereka terbenam. Kau harus melindungi mereka. Kau harus bertahan.

"Permisi?" ia melambai pada gadis pramuniaga ramping yang berjalan menuju gudang dengan setumpuk sweter merah di tangan. "Anda bisa bantu saya mencari sesuatu di sini?"

"Tanya pada Karen. Ia bagian anak-anak."

Eileen pergi melewati gaun-gaun malam penuh jumbai dan rok flanel. Apakah mereka mengubah tata ruang di sini? Bukankah baru kemarin ia membeli mantel Minggu untuk Allison? Bahan kulit dengan kerah beludru halus yang senang ia gosok-gosokkan ke pipi. Bukankah mereka memainkan lagu yang sama, "Dancing Queen," di mikrofon?

Sebuah gumpalan rambut merah melayang dari belakang barisan gaun pesta. Jantungnya memukul tajam. Itu dia. Itu bukan dia.

"Permisi...saya butuh bantuan..."

Semuanya berbalik kembali. Rok kotak-kotak, bintang-bintang sekarat, dongeng-dongeng. Kau harus tetap kuat. Jangan biarkan mereka terbenam. Kulit kita tak cukup untuk melindungi. Kita butuh lapisan lebih banyak lagi.

Dilihatnya papan bagian anak-anak dan berbelok ke kiri. Pakaian-pakaiannya terlalu besar untuk mereka. Mereka masih begitu kecil. Bagaimana mereka akan membela diri? Ibu mereka tak dapat melindungi. Ia sendiri terbungkus begitu banyak lapisan, gadis Indiana manis di kota besar, takut akan apa yang ada tepat di depannya.

Gumpalan rambut merah itu berlalu melewati barisan j ins. Eileen merasakan lonjakan di perutnya dan tegangan akrab di otot paha, perasaan waswas seperti mengawasi anak kecil yang bermain terlalu jauh ke ujung tebing. Seorang anak perempuan bertulang kecil dengan tangan mungil menghilang di sekitar deretan blus. Bermain petak umpet dengannya. Eileen mulai mengikuti. Tak mungkin. Tak mungkin. Bintang-bintang mati tak mungkin menyala kembali.

Anak itu tertangkap tepat di luar kamar ganti. Tersengal-sengal, seorang wanita tua tak seharusnya berlari-lari. Ia meraih pergelangan halus dan kurus. Kena kau, aku tak akan pernah melepasmu lagi. Ia menangkap tulang rapuh itu dan meremasnya. Anak itu, yang berpaling, entah bagaimana telah berubah. Matanya cokelat. Kulitnya berwarna tembaga. Anak itu tak lagi ada di sana.

"Oh, maaf." Eileen melepas dan berpaling. "Aku melamun tadi."

44

Segera setelah Hoolian berjalan menuju dapur di Elmont Catering Hall malam itu, ia dapat melihat sesuatu telah berubah.

Zana bersandar di depan tungku, mengisap rokok dan berbincang dengan salah seorang pelayan. Ia menyisir rambutnya ke belakang, memutar pergelangan tangannya sedikit, dan memberikan senyum yang sama pada lelaki itu dengan senyum yang Hoolian pikir hanya diberikan padanya.

Hoolian menggantungkan jaket di dekat talenan dan mendehem, sengaja agar kehadirannya diketahui.

"Yo." Hoolian melambai dengan percaya diri, ingin menunjukkan bahwa ia tak keberatan melihat Zana ngobrol dengan pria lain.

Wanita itu menjatuhkan kepala ke belakang dan tertawa mendengar sesuatu yang dilontarkan pelayan itu, mengembuskan asap rokok ke langit-langit dengan siku terlipat melindungi iganya.

Dapur itu seperti kamar uap, penuh dengan piring panas dari mesin cuci piring Hobart, mentega mendesis dalam wajan, para koki meletakkan lembaran-lembaran salmon di atas roti gandum, dan lobster riuh rendah di panci didih. Di ruang utama di pintu sebelah, DJ tengah melakukan cek suara untuk resepsi pernikahan, memutar lagu "Celebration," dengan suara bass menyala begitu keras hingga pengantin pria dan wanita di puncak kue pernikahan bergetar.

"Hey, kau menerima pesan dariku?" Hoolian menghampiri dan menyentuh bahunya. "Aku sudah berusaha menghubungimu sejak dua hari lalu. Ada yang harus kujelaskan padamu."

Pria yang tengah berbicara dengan Zana menoleh, keping emas kecil berkilau di daun telinga merah mudanya.

"Kau keberatan?" ujar pria itu.

Ia adalah pemuda kulit putih riang dengan tuksedo sewaan, leher merah, rambut gaya shaggy, dan roman kemerahan yang tampak sedikit gembung oleh steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hoolian merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan ia hanya aktor yang pura-pura memeran-kan.lelaki perkasa.

"Aku tak bicara padamu." Hoolian melemaskan bahunya.

Dengan gugup, Zana menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuknya, sikunya merapat ke tubuh, seakan memperlihatkan keanggunan ala Eropa.

"Sejak kapan kau merokok?" tanya Hoolian. "Kau tak melakukannya di dekat anakmu, kan?"

"Tolong, kau tak perlu mempermalukanku."

"Kenapa? Karena aku mencoba bicara padamu?"

"Ini bukan waktu yang tepat." Zana menjatuhkan pandangan.

"Ya, bisakah kita bicara setelah pulang di kereta? Ada hal-hal yang harus kau pahami tentang apa yang terjadi malam itu."

"Ada yang akan mengantarku." Ia melirik lelaki berambut gondrong itu.

"Hey, bisa tolong beri kami ruang, Orang Besar?" Hoolian memaksakan seulas senyum. "Sempit sekali."

Zana ragu-ragu, mengetuk-ngetukkan puntung rokok sebelum mengangguk hati-hati. "Tak apa, Nicky."

Lelaki besar itu undur hanya beberapa langkah, memeriksa dasi kupu-kupunya pada sebuah jambangan berkilat sementara bartender mengeluarkan sampanye dari peti.

"Kukira kau pasti kesal?" kata Hoolian. "Kau pasti berpikir aku semacam monster, kan?"

Zana merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi yang bagi Hoolian terasa angkuh dan sedikit mengintimidasi.

"Aku tak mengatakan apa-apa."

Rokok itu mendekati telinganya, sedikit bergetar.

"Kau pikir aku melakukan semua perbuatan yang mereka tuduhkan?"

"Tidak, sebaliknya aku percaya padamu," jawabnya. "Yang berbohong tentang nama aslinya."

"Aku terpaksa melakukannya." Ia menggosok-gosok tangan, merasa kotor. "Aku tak ingin membuatmu takut—"

"Katakan," sela perempuan itu. "Berapa lama kau di penjara?"

"Hampir dua puluh tahun."

Ini jelas bukan waktu yang tepat untuk berdalih tentang pengacara brengsek dan saksi yang menghilang.

"Hanya itu yang mereka timpakan padamu untuk membunuh dua wanita? Tidak cukup." Sudut bibirnya turun, seolah ia terhina secara pribadi.

"Hanya untuk satu kasus, dan aku tak melakukannya." Ia memukul samping kakinya dengan kepalan. "Kalau kau membaca keseluruhan cerita dari awal sampai akhir, di situ dikatakan bahwa mereka menghapus dakwaan. Mereka melakukan kesalahan."

"Lalu mengapa mereka menahanmu kembali?"

"Mereka hanya ingin menjeratku untuk sesuatu karena tahu mereka keliru sejak awal dan tak ingin mengakuinya. Dengar, semua itu omong kosong. Mereka menjebakku. Aku menjadi korban."

Zana membuang rokok ke dalam gelas anggur separo kosong berisi sampanye, membuat suara desis dingin. "Tolong, aku hanya ingin tahu satu hal."

"Apa itu?"

"Apakah kau akan menyakitiku juga?"

Ia bicara begitu perlahan hingga Hoolian hampir tak mendengarnya. "Apa?"

"Bukankah itu yang akan kau lakukan?"

"Tidak. Tentu saja tidak. Kau gila?"

"Aku meninggalkan putraku bersamamu, aku bermaksud membiarkannya naik kereta bersamamu."

"Ah, terkutuk." Rasa malu segera menyergapnya. "Apa kabarnya?"

"Polisi masuk ke kamar tidurnya. Menurutmu, bagaimana?”

“Bangsat."

"Aku pergi dari Kosovo karena polisi masuk rumah. Dan sekarang? Mungkin ini salahku.”

“Bukan, ini bukan salahmu..."

Mesin cuci piring membuka di belakang, mengeluarkan kabut lembab yang melanda. Berapa kali ini akan terus terjadi? Kapan ia akan keluar dari mimpi buruk yang terus berulang dan menemukan jalan kembali ke kehidupan yang sepatutnya dinikmati?

"Dengar." Ia menggapai wanita itu. "Bukan aku orang jahatnya di sini—"

"Jangan sentuh aku!" ia mundur. "Pergi sajalah."

Nicky berjalan lambat menghampiri, ikat pinggangnya bak sabuk petinju kelas berat melingkari tubuhnya. "Semua baik-baik saja?"

"Ya, Bung, kami baik-baik saja." Hoolian melambaikan tangan menghalau. "Mundur saja. Aku belum selesai bicara dengannya."

"Sepertinya ia sudah selesai."

"Memangnya kau bisa telepati? Aku tak dengar ia minta pendapatmu."

"Kau membuatnya takut."

"Ia tidak ketakutan. Zana, bisakah kaujelaskan apa yang terjadi pada si bodoh ini?"

Wanita itu berpaling, menyeka tangan ke celemek.

"Nah, jelas." Nicky menaruh tangannya di siku Hoolian. "Ia ingin kau meninggalkannya."

"Hey, maricon, kenapa kau pegang-pegang? Kau ingin jadi pacarku atau apa?"

"Tenang, amigo."

"Oh, kau bicara bahasa Spanyol sekarang?" Hoolian mengibaskan tangan itu. "Chinga tu madre. Paham itu?"

"Kau ingin bercinta dengan ibuku?"

"Yeah, aku ingin bercinta dengan ibumu. Dengan kakak perempuanmu. Nenekmu juga. Cara de crica."

"Siapa yang kau sebut banci?" pria besar itu mendorongnya ke arah tungku. "Bajingan."

Hoolian mendengar bunyi bel alarm berdering di telinganya. Sebelum ia menyadari apa yang ia lakukan, dijambaknya rambut lelaki itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin, dan menghantamkan keningnya ke wajah lelaki itu. Dilihatnya percik api kecil dan bara menyala melayang di udara.

Ketika pandangannya telah jernih, ia merasa sakit kepala luar biasa dan Nicky merosot di meja, darah mengalir dari hidung dan matanya menyala-nyala geram karena terluka.

Kini ia tak bisa lagi mundur. Hoolian merenggut wajan dari tungku di dekatnya dan mengacung-acungkannya, mengabaikan rasa panas dari pegangan wajan dan bara menyala-nyala di hadapannya. Segera saja, semua orang di dapur sunyi senyap waspada. Ia melihat dua dari mereka lari keluar sementara yang lain mulai menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuatnya merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa yang tak ia miliki sejak keluar dari penjara. Seperti perasaan lega, menyaksikan lapisan segala hal mengelupas, mengetahui bahwa sekali kau merenggut rangkaian bunga, dasi kupu-kupu, gaun pengantin, hiasan meja—semua lambang sopan santun dan budi bahasa penuh kepalsuan—yang tersisa hanya masalah siapa yang mau dan mampu memukul dengan baik.

Tapi kemudian ia melihat Zana menatapnya, dari wajahnya ke wajan dan kembali lagi. Seolah ia melihatnya makin kecil dan senjata yang dipegangnya kian besar.

Hoolian menyadari pegangan itu terlalu panas untuk terus digenggam. Ditaruhnya wajan itu tepat saat Kevin, pemilik perusahaan katering, bergegas masuk ke dalam dapur.

"Christopher! Apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada apa-apa." Telapak tangannya terasa berdenyut akibat terbakar.

Kevin menatap Nicky yang memegangi hidungnya. "Kau tak perlu datang malam ini," tukasnya, berusaha meredakan suasana secepat mungkin. "Kami bisa menggantikanmu."

"Ya, aku sudah di sini sekarang."

"Tak apa, kami akan mengganti uangmu." Kevin mengambil napas dalam-dalam, membuat kontak mata pada setiap orang di ruangan itu untuk memastikan tak ada orang lain yang terluka. "Kau akan dikabari lagi."

Hoolian menyentuh benjolan di kening dan menyadari permukaannya masih sedikit lembab oleh darah Nicky. "Betulkah? Aku bisa tinggal di sini membantu membersihkan setelah selesai."

"Tidak usah, tak apa-apa. Kukira kita punya cukup orang."

Dari balik pundak sang manajer, Hoolian melihat seekor lobster berjuang keluar dari panci didih, cakar merah terang menjangkau perlahan di tepi panci.

Lobster itu meregang ke arah cahaya, menggeliat di pinggiran karet, melakoni usaha terakhir pelarian diri yang sia-sia.

Namun, ia sudah terlalu lama berada di panci. Ia tak punya kesempatan. Bagian dalamnya sudah masak. Dengan hati terbakar hebat, Hoolian menyaksikan cakar itu terkulai tak bernyawa ke sisi.

BAGIAN VI

MULAI MELIHAT CAHAYA

45

Selasa pagi setelah Hari Columbus, Francis pergi ke pertemuan di kantor jaksa wilayah dan menemukan Tom dan Eileen Wallis sedang menatap Paul Raedo dan Dokter Dave di seberang meja rapat.

"Francis, ada apa ini?" Tom mencubit lipatan kulit di antara kedua matanya. "Kau bilang kau melindungi keluargaku. Alih-alih, kami diseret bolak-balik ke pengadilan, para wartawan menelepon kami di rumah. Dan kini aku mendengar kisah gila tentang darah adikku yang muncul di apartemen korban lain."

"Tom, Eileen, aku minta maaf." Francis mengambil tempat duduk di bawah senapan Paul yang terpajang di dinding. "Kami berusaha secepat mungkin menuju inti persoalan. Ternyata, terjadi kekacauan bukti DNA dalam kasus ini dan kami perlu meluruskannya segera sebelum pengacara mengambil keuntungan dan menggunakannya untuk mengeruhkan kasus."

"Aku tak mengerti sama sekali semua ini," ujar Tom, mengusap-usap lengkung alisnya dengan jari. "Pertama, kau melepaskan pembunuh adikku sebelum masa hukumannya berakhir. Lalu gadis lain terbunuh dan entah bagaimana berhubungan dengan Allison. Dan sementara itu, si Vega ini belum kembali ke penjara?"

"Boleh saya potong?" Dr. Dave menyela. "Ada beberapa aspek dalam kasus ini yang harus kita cermati dengan saksama. Kami sudah memastikan bahwa ada hubungan DNA yang jelas antara keluarga Anda dan wanita yang darahnya kami temukan pada pembunuhan Christine Rogers. Jadi, hal pertama yang mesti kita ketahui adalah apakah Anda memiliki saudara perempuan lain."

"Tentu saja tidak." Tom memutar bola mata. "Pertanyaan gila macam apa itu?"

"Kami hanya mencari penjelasan logis tentang kemungkinan pemilik darah itu," kata Dr. Dave.

Francis melayangkan pandangan ke seberang meja. "Eileen?"

Wanita itu duduk membisu, dengan setelan hitam dan kacamata, patung sphinx yang elegan.

"Aku tahu ini hal yang sulit untuk dibicarakan," bujuk Francis, mengira wanita itu mungkin telah menggandakan obat-obatnya sejak terakhir kali ia bertemu dengannya. "Tetapi kami benar-benar harus tahu. Kita semua di sini sama-sama dewasa. Kami semua mengerti bahwa selalu ada persoalan sebelum dan sesudah orang menikah. Jadi kau harus memberi tahu kami yang sebenarnya. Apakah kau pernah memiliki anak lain yang mungkin kau serahkan untuk diadopsi?"

Perempuan itu mencopot kaca mata dan menatapnya, tak ada awan di mata biru itu hari ini.

"Francis," ujarnya. "Jika punya bayi lain, aku mungkin tahu. Aku mungkin bukan orang tua yang sangat perhatian, tapi yang seperti itu pasti tak terlewatkan olehku."

Para lelaki mengangkat bahu.

"Tunggu sebentar, tunggu sebentar." Tom berhenti menggosok kening, menyisakan titik merah. "Bagaimana tepatnya kalian memastikan ada hubungan antara DNA yang lebih baru yang kalian temukan ini dengan keluarga kami? Aku tak ingat memberi sampel pada siapa pun."

"Aku yang memberinya," ibunya menjawab.

"Ibu?"

"Detektif Loughlin datang menjenguk minggu kemarin saat aku di taman bersama anak-anak," katanya. "Jadi dengan senang hati aku memberikan apa yang ia perlukan. Dalam sapu tangan. Maaf, Sayang. Aku mungkin harus menceritakannya padamu."

Jakun Tom bergerak naik turun dan ia berpaling pada Francis, seolah meminta penjelasan. Tetapi Francis menatap Eileen, berusaha menyelidiki apa yang tengah dituju wanita. Apakahia menangkap bayangan tipis senyum lebar di wajahnya?

"Ya, intinya adalah kami tak punya pilihan," ujar Dr. Dave, mengambil sebatang pensil dan perlahan-lahan memutarnya. "Kami akan meminta surat perintah penggalian kubur."

"Kalian akan menggalinya kembali?" Merah di kening Tom mulai pudar.

"Aku khawatir itu terpaksa dilakukan," ujar Dave. "Itu satu-satunya cara untuk kita mengeliminasi saudara perempuan Anda sebagai donor dalam kasus terbaru ini."

Francis mengangguk simpati pada Tom, mengerti benar bagaimana rasanya menjaga keluarga yang terpecah untuk tetap bersatu.

"Tom, aku mengerti perasaanmu..."

"Kau tak mengerti perasaanku, Francis. Apakah mereka pernah menggali kubur salah satu keluargamu?"

Ia menggeleng-gelengkan kepala pada ibunya.

"Tom, percayalah padaku," ujar Paul seraya mengulurkan tangan "Jika saja ada cara lain..."

"Tapi bagaimana dengan kisah lain yang muncul akhir minggu kemarin?" protes Tom. "Bahwa kau menemukan sesuatu yang menghubungkan Julian Vega dengan TKP adikku? Mengapa kalian tak menyelidiki hal itu saja?"

"Kami sedang menyelidikinya," ujar Francis. "Kami masih tetap yakin ia memiliki kaitan dengan hal itu, tapi kami mengalami sedikit kebuntuan karena DNA satu lagi. Jadi kami harus mencoba dan menjelaskan asalnya."

"Aku setuju sepenuhnya," kata Eileen.

Francis merasakan retakan kristal kecil di udara. Ia menoleh dan dilihatnya Paul, Tom, dan Dave sama seperti dirinya.

"Kalian semua akan melihat bahwa aku benar selama ini," ujarnya. "Itu bukan Allison."

"Bu..." Tom bersemu merah.

"Aku serius. Kebenaran akan muncul."

"Kau lihat apa yang kau lakukan, Francis?" Tom menekan jemarinya ke atas meja hingga kukunya memutih. "Kau menyemangatinya. Apa ia terdengar waras bagimu?"

"Tidak ada bedanya," gumam Dr. Dave.

"Apa maksudmu, 'Tidak ada bedanya'? Ini akan menjadi bahan olok-olok media, saat aku tengah berusaha melindungi cabikan harga diri sekecil apapun yang masih kami punya. Aku akan mengajukan petisi ke pengadilan untuk mencegahnya..."

"Tak usah repot-repot." Paul mengacak-acak kertasnya.

"Apa maksudmu dengan 'tak usah repot'? Beraninya kau memerintahku?"

"Ini keputusan final kepala forensik. Kami tak memerlukan izin keluarga untuk menggali mayat jika tubuhnya dikubur di lima wilayah ini."

Francis mempelajari reaksi sang ibu dan anaknya. Tom memandang ibunya, dengan perasaan letih penuh duka sekaligus muak. Eileen menatap ke ruang kosong, mengabaikannya, seperti nakhoda yang tersenyum di haluan kapal besar, lupa puncak-puncak karang dan badai gelap di hadapannya.

"Jadi mengapa kalian repot-repot memanggil kami?" tanya Tom.

"Sopan santun saja," kata Paul.

46

Hoolian, dengan wajah ditumbuhi janggut dan mala merah akibat kurang tidur di rumah penampungan, muncul di coffee shop Nita sekitar jam makan siang. Satu sisi restoran dipenuhi ibu-ibu muda dengan lingkaran dalam di sekitar mata mereka, sesekali berjuang menyendok makanan ke mulut jika sedang tak repot menghibur bayi mereka yang menjerit-jerit. Wanita-wanita tua dengan sepatu lari dan jaket denim memperhatikan mereka dari seberang jalan dengan perasaan terhibur.

"Apa yang terjadi?" ia memperhatikan benjol di kening Hoolian gara-gara menyundul Nicky. "Mereka menahanmu lagiuntuk kasus gadis satu itu?"

"Tidak, Nita, dengar, aku bersumpah aku tak ada kaitan sama sekali dengan semua itu. Mereka hanya ingin menangkapku. Itu jebakan, untuk menutupi apa yang mereka lakukan..."

Kelopak mata wanita itu makin berat; semakin banyak Hoolian bicara, semakin sedikit yang ingin ia dengar dari lelaki itu.

"Dengar, aku hanya butuh tempat untuk tinggal beberapa lama. Mereka semua menghakimiku di rumah Bellevue kemarin malam, dan terlalu mengerikan rasanya. Semua orang di ranjang lain mengawasiku dan para penjaga membicarakanku dari belakang. Aku takut pergi ke kamar mandi. Rasanya seperti di penjara lagi, hanya lebih buruk karena aku tak punya sel untuk bersembunyi. Aku berada di ruang terbuka, dengan setiap orang bisa melukaiku."

"Kau tak bisa tinggal di sini lagi." Nita menyelipkan pulpen di belakang telinganya. "Bos tahu tentang hal ini tempo hari dan hampir memecatku."

"Kalau begitu mungkin aku bisa ikut ke rumahmu, hanya untuk beberapa malam. Aku akan tidur di lantai, di bak mandi. Aku tak peduli..."

"Tidak, Sayang, aku tak bisa melakukan itu."

Hoolian menunggu penjelasan, tetapi Nita tak berkata apa-apa. Bahkan untuk menyodorkan alasan bahwa apartemennya terlalu kecil. Ia hanya tak ingin sendirian dengannya.

"Kalau begitu aku tak tahu lagi ke mana aku harus pergi malam ini." ia melipat tangan. "Aku tak bisa kembali ke rumah penampungan. Bisa-bisa aku terbangun dengan pisau di dada."

"Tapi apa yang terjadi dengan kasusmu? Kukira kau akan membuktikan bahwa kau tak membunuh gadis itu dan sebagai-nya."

"Sudah kucoba, tapi perhatianku agak teralihkan. Ada hal-hal lain muncul. Aku dapat pekerjaan, bertemu seorang gadis. Terjadi masalah..."

Ini salahnya sendiri, ia menyadari. Jika saja selalu waspada sepanjang waktu seperti saat di penjara, ia akan baikbaik saja. Tapi, tidak, ia terhasut untuk menurunkan kewaspadaan. Membiarkan dirinya digoda ilusi, ia lupa bahwa dirinya masih dalam pengawasan.

"Siapa gadis itu?" tanya Nita.

"Apa?"

"Kau bilang kau mengalami salah paham dengan seorang gadis." Matanya menyipit melihat tensoplas kecil warna kulit yang menggantikan balutan di punggung tangan Hoolian. "Bukan dokter yang disebut-sebut dalam berita, kan?"

"Bukan. Terkutuk. Nita. Dengar apa yang sedang kucoba katakan padamu, tolong. Aku tahu semua orang yang pernah dipenjara berkata mereka lak bersalah. Tapi aku benar-benar tak bersalah."

Bel berbunyi di dapur dan seorang koki menyembul di jendela pembatas, menunjuk garden burger di atas selada layu.

"Kau harus membantuku, Nita. Aku serius. Kau sudah kenal aku sejak lama. Aku anak baik. Mereka mengarang cerita aneh tentang apa yang terjadi antara Allison dan aku. Mungkin kau bisa katakan pada mereka bahwa setelah aku meninggalkan apartemennya aku turun dan bermain halma denganmu."

"Kau ingin aku berbohong dan mengatakan aku bersamamu saat wanita itu terbunuh dua puluh tahun lalu?"

"Dulu kita sering nongkrong bersama, kan?"

Nita menggeleng, jaring garis-garis itu perlahan mengencang di wajahnya seolah seseorang menariknya. "Maaf, Sayang. Aku tak bisa melakukan itu."

"Sialan."

Hoolian membungkuk ke depan dan menopang diri. Rasanya seperti ada minyak panas bocor dari perutnya.

Pelayan lain bergegas menuju meja kasir dan dengan gugup menekan-nekan angka. Seorang wanita dengan sepasang bayi kembar di kereta bayi menghampiri dengan cek dan lima puluh dolar di tangan, memaksa Hoolian untuk menepi.

"Ya, mungkin kau bisa meminjamiku sedikit uang sampai aku dapat gaji lagi?" tanyanya, mengangkat kepala. "Aku sedang mencari kerja, dan aku akan mendapatkannya. Kau tahu itu, bukan?"

"Julian, aku sendiri hampir selalu bergantung pada tips. Kau pernah mencoba bicara pada serikat kerja ayahmu, siapa tahu kau berhak atas sejumlah uang?"

"Sudah kucoba, tapi keparat-keparat itu tak mau membalas surat atau teleponku."

"Kalau begitu aku tak tahu lagi..."

Laci mesin kasir membuka dengan satu sentakan dan wanita dengan kereta bayi itu menengadahkan tangan meminta uang kembalian. "

Sesuatu. Ia membutuhkan sesuatu agar tetap hidup. Ia mulai ketakutan dan paranoid hingga tak lagi mempercayai persepsi paling dasar dari satu momen ke momen lainnya atau kemampuannya bereaksi atas keadaan secara rasional.

Pelayan itu menghitung koin dan menaruhnya di telapak tangan wanita itu. Dua, tiga, empat....... tak terelakkan. Ia akan kembali ke penjara, apapun yang ia lakukan. Ia hanya seekor anjing, hina dan liar, hanya bermimpi untuk terlepas dari tali.

Terpikir olehnya untuk mengambil uang dari tangan wanita itu, memukulnya, dan mendorong kereta untuk keluar dari sini. Tahu pasti dirinya akan ditangkap saat ia tiba di kereta bawah tanah...tapi setidaknya semua berakhir. Mereka akan menahan dan mengirimnya kembali, dan begitulah akhirnya. Takdir selesai. Orang akan menganggukkan kepala dan berkata, Ya, pantas saja. Dan mungkin ia akhirnya akan mematikan pijar harapan terakhir yang lelah menahannya dari tergelincir selamanya ke ngarai kegelapan.

Tapi, ia merasakan sentakan tepat di bawah pinggangnya, dan melihat Nita tengah menjejalkan dua lembar uang dua puluh dolaran terlipat ke saku celananya.

"Keluarlah dari sini," gumamnya saat manajer botak itu bergegas menghampiri. "Dan, jangan kembali lagi. Kau memanfaatkanku."

Hoolian melesakkan uang itu lebih dalam, mengambil segenggam permen mint dari mangkuk perak, dan pergi.

47

Francis menginjak rem, mengikuti mobil jenazah melewati barisan nisan dan keluar melalui gerbang lengkung besar gaya Gothic, meninggalkan kedamaian abadi Cricklewood Cemetery menuju hiruk-pikuk Fourth Avenue.

"Jadi kau bicara tentang ini pada Scottie Ferguson?" Ia membetulkan kaca spion.

"Ia berdiri di sana, merekam mesin keruk itu, dan mengajukan pertanyaan sederhana." Paul gelisah di kursinya. "Kau ingin aku bilang, 'Ini hanya pekerjaan biasa'?"

"Aku hanya jengkel kalau seseorang mengalihkan tanggung jawabnya." Ia mengganti gigi persneling, ingat tindakan Paul yang menunjuk jari padanya saat di pekuburan.

"Tak ada yang mengalihkan tanggung jawab, Francis. Jangan paranoid."

Ia mengikuti mobil van tim forensik ke arah Fort Hamilton Parkway, menuju terowongan Brooklyn Battery. Truk-truk minyak besar dan minivan berderak-derak di luar bintik butanya dari kedua sisi, membelok tajam berbahaya dan memotong jalur di depannya tanpa menyalakan lampu.

"Tak keliru menjadi paranoid dalam kasus ini," tukasnya, melirik cepat dari bahu. "Bisa kau bayangkan apa yang terjadi jika penggalian kubur gadis ini muncul di media?"

"Hey, hati-hati, kau hampir menabrak kerucut jalan.”

“Aku lihat." Francis mengelak.

"Aku hanya bilang, tak perlu kita saling, menyalahkan."

"Tentu saja, Tuan Hakim. Jika salah satu dari kita jatuh, yang lain juga."

Mereka berhenti di lampu lalu lintas di depan jembatan kerek, air kehijauan di Terusan Gowanus beriak-riak di bawah mereka. Tahun delapan puluhan, Francis pernah naik kapal tongkang bersama patroli pelabuhan ketika mereka menarik keluar sesosok mayat; semua orang berkata mereka heran mayat itu tidak menumbuhkan sirip setelah berhari-hari tertelungkup di cairan beracun itu. Kini permukaannya menyinarkan urat minyak tua, dan seandainya ada kepiting biru dan ubur-ubur di bawah sana, ekosistem baru mungkin akan muncul. Kota ini. Kau tak pernah bisa yakin sepotong darinya benar-benar mati untuk kebaikan.

"Jadi, bagaimana menurutmu?"

Francis memperhatikan kereta pemakaman bergetar di depan mereka. "Maksudmu jika ternyata gadis yang kita kubur bukan Allison?"

"Aku tak takut untuk bilang bahwa aku takut." Paul menaikturunkan kaki, seolah punya pedal sendiri. "Bagaimana jika ibunya selama ini benar bahwa itu jenazah orang lain?"

"Jangan terlampau terburu-buru. Mungkin akan ada penjelasan lain."

"Misalnya?"

Francis mendengarkan getaran mesin, tak berkata apa-apa.

"Ada apa dengan wanita itu, ngomong-ngomong?" tanya Paul. "la selalu agak menyeramkan, tapi apa motifnya memberikan DNA dalam sapu tangan kepadamu? Kukira kau mendapatkannya diam-diam."

"Kukira juga begitu. Tapi ternyata ia sudah mendahuluiku."

"Jadi, menurutmu ia tahu lebih banyak daripada yang ia ucapkan?"

"Aku sudah punya firasat sejak lama." Francis menginjak pedal gas tepat saat lampu berganti. "Apa?”

“Firasat."

"Jadi, apa firasatmu? Menurutmu, ia punya putri lain?"

"Aku baru melihat catatan medis St. Luke's Roosevelt bertanggal satu setengah tahun yang lalu, ketika Christine Rogers bertugas di ruang gawat darurat di sana."

"Ya, lalu?"

"Mungkin bukan apa-apa. Tapi ia tengah bertugas pada malam yang sama ketika mereka membawa Eileen Wallis ke rumah sakit akibat menelan setengah botol Valium dan meminumnya bersama dua gelas Bordeaux."

Ia mendengar bunyi gedebuk mobil dari sisi Paul namun tak berani menoleh.

"Kau bercanda."

"Sama sekali tidak." Ia memindahkan spion sekali lagi dan dilihatnya Paul tampak mual. "Dengar, itu rumah sakit besar dan ia bukan dokter yang menangani Eileen malam itu. Tapi itu benar-benar menggangguku. Aku meminta Rashid dan dua orang lain untuk menanyai staf rumah sakit dan mencari tahu jika ada yang melihat mereka berdua bicara."

"Dan kalau benar begitu? Apa artinya?"

"Aku tak tahu. Kebetulan yang aneh, jika benar begitu."

Mereka melintasi jembatan itu, kawat-kawat penunjangnya bergoyang ketika ban melewati jalan berstruktur besi. Francis mafhum, perasaan itu telah ada sejak awal. Mungkin firasat samar. Ia telah melihatnya mungkin kurang dari seperdelapan detik dua puluh tahun lalu ketika bertanya pada Eileen kalau-kalau perempuan itu ingin melihat jenazah anaknya. Semacam kehampaan sesaat meliputi wanita itu. Seolah ia tengah menghapus sebuah wajah sebelum muncul dengan wajah yang sesuai untuk ditunjukkan pada dunia.

"Aku katakan apa yang sedang kita kerjakan," katanya.

"Apa itu?"

"Aku menghubungi Dr. Dave di kantor forensik dan memintanya memasukkan profil Eileen terhadap DNA Christine Rogers."

"Apa?” kursi vinil yang diduduki Paul mendecit. "Kau pikir mereka berkerabat?"

"Apapun mungkin, Bung. Ia anak adopsi, mencari ibunya di kota ini. Aku selalu terbuka akan berbagai kemungkinan."

"Oh, keparat." Keseimbangan mobil seperti bergeser dengan Paul merosot di kursinya. "Sekarang kau yang me-nakutkanku, Francis. Ada lagi yang masih kau sembunyikan dariku?"

"Tidak untuk saat ini."

Dua jalur ditutup untuk perbaikan di depan mereka dan mobil-mobil mulai merapat sembarangan. Ia kehilangan mobil jenazah itu di belakang minibus Access-A-Ride bagi penyan-dang cacat.

"Jangan ikut sinting denganku, Paul. Aku tak punya bukti sama sekali. Aku bahkan tak punya teori sekarang. Itu hanya sesuatu agar matamu tetap terbuka."

"Francis..."


"Apa?"

"Sepertinya kau baru melewatkan jalan keluar."

48

Gelisah bukan kepalang setelah melewatkan malam di kereta A, Hoolian muncul pagi itu di kantor serikat buruh ayahnya, Local 32BJ, tepat di utara Terusan, tempat jalanan menyebar keluar seperti pisau-pisau tambahan pada pisau lipat Swiss Army. Dengan membujuk dan menyodor-nyodorkan kop surat lama dan kartu identitas, ia berhasil meminta naik ke lantai dua puluh, kantor para perwakilan East Side.

Ia tiba di luar bilik kelabu, dinding flanelnya dihiasi poster "Keadilan bagi para Petugas Kebersihan" dan panji Klub Sepak bola Coqui di Pucrto Rico.

Seorang pria bertubuh subur dengan setelan ketat duduk di belakang meja besar dengan topi penjaga pintu tua berwarna hijau tersampir di ujung kanan ruangan. Wajahnya seperti omelet bengkak, kaca mata setebal kaca mata pilot Perang Dunia I, dan sebentuk cincin yang sepertinya telah terlepas dari seperangkat buku kuningan di tangan kirinya. Seandainya melepas jaket, Hoolian yakin ia akan melihat butir-butir keringat di bawah lengannya.

"Pak Tavares?"

"Siapa kau?"

"Mereka mengirim saya ke sini dari Bagian Gaji. Mereka bilang mungkin Anda bisa membantu."

"O, ya? Dengan siapa kau bicara tadi?" Mata pria itu tidak beranjak dari layar komputernya.

"Carmen. Ia bilang saya harus menemui Anda sebelum pukul sepuluh pagi atau setelah jam empat sore, karena di luar waktu itu Anda sedang keluar untuk bicara dengan para anggota."

"Aku harus bicara dengan Carmen."

"Jangan menyusahkannya." Hoolian melangkah ke dalam bilik itu dan mencengkeram punggung kursi, menjaga agar tidak berkeringat terlalu cepat. "Aku yang memaksanya, meminta waktu bertemu. Aku hanya ingin tahu tentang pensiun ayahku dan fasilitas yang dimiliki."

"Ada apa memangnya?"

"Ia bekerja di sebuah gedung A di liast Side selama dua puluh dua tahun, seringnya sebagai pengawas. Aku ingin mencari tahu apa yang berhak diwarisi keluarganya."

"Ia masih hidup?"

"Tidak. Meninggal akibat emfisema dan diabetes beberapa tahun lalu.”

“Ibu?"

"Ia telah lama wafat. Sejak 1970."

"Kalau begitu kau tak dapat apa-apa. Begitu saja."

Hoolian meremas belakang kursinya dengan kedua tangan, berusaha menguasai diri. Sebongkah kecil harga diri yang ia jaga selama ini baru saja diinjak dan diremukkan hingga menjadi debu. Ia melihat ke arah topi penjaga itu di atas meja dan menggigit pipinya agar tak menangis. Dua puluh dua tahun melayani tanpa arti, tanpa penghargaan, tanpa peninggalan yang bisa diwariskan.

"Ayolah, amigo." Pria itu mengangkat teleponnya. "Kau ingin bicara panjang lebar, bicara pada pelayan tokomu tentang merancang perjanjian denganku. Apa kau sendiri masuk serikat?"

"Tidak."

"Ayy. Untuk apa aku bicara denganmu kalau begitu?"

"Aku hanya mengira..." Suaranya menggantung seraya melirik topi itu dengan pita emas di paruhnya. "Aku hanya mengira mungkin kau bisa membantuku..."

"Vete a banar. Ini Local 32BJ, amigo, bukan Tentara Penyelamat. Memangnya siapa ayahmu?"

"Osvaldo Vega."

"Benarkah?"

"Kenapa, Anda mengenalnya?"

"Tidak, tapi..." ketidakpastian melintasi parasnya yang terbaca dengan baik. "Kau serius? Osvaldo itu Sang Teladan!”

“Aku tahu..."

"Tidak, maksudku, ia seperti pionir pengawas gedung dari Puerto Rico." Tavares meraba-raba, menaruh telepon. "Sebelum ia, yang mengurus gedung-gedung A di bawah 96th Street di East Side semuanya orang Irlandia."

Hoolian setengah tersenyum, senang mendengar Papi dibicarakan dengan rasa hormat yang selayaknya.

Tavares menurunkan kaca mata. "Jadi, kau anaknya yang baru keluar dari penjara?"

"Begitulah."

"Masalah dengan gadis yang terbunuh di gedung itu yang kembali muncul di koran-koran beberapa minggu lalu?"

"Ya, tapi mereka menjebakku..." Ia begitu muak mendengar dirinya mengulang-ulang perkataan yang sama hingga ia sendiri mulai tak mempercayainya.

"Aku juga punya kakak yang keluar masuk penjara beberapa kali," Tavares berucap muram, menarik-narik cincin yang sepertinya ditakdirkan tak pernah lepas dari jari gemuknya. "Tak pernah bisa lepas dari narkotika."

"Itu bukan urusanku," bentak Hoolian. "Masalahku adalah serikat tak mau menolong ayahku menemukan pengacara yang baik."

"Hey, bro." Tavares mengangkat tangannya. "Aku tak bilang serikat berjalan dengan sempurna saat itu, tapi memang tak banyak yang bisa kami lakukan. Anggaran sangat terbatas. Kami hanya bisa mengeluarkan penjahat kelas E dan D. Kau didakwa atas pembunuhan, companero, itu sama sekali di luar peraturan. Kami juga punya masalah sendiri."

Hoolian mengangguk, teringat kisah yang pernah ayahnya ceritakan tentang korupsi di situ. Tapi, apa gunanya mengangkat semua itu sekarang? Taruh pantat di bibirmu, begitu ucapan orang-orang di penjara. Tempatkan pantat di bibir dan teruslah menciumnya. Tak ada yang akan memberimu sesuatu dalam hidup ini karena kau membuat mereka tak enak. Mereka menolongmu karena takut padamu atau karena itu membuat mereka merasa baik.

"Seandainya aku bisa menolong, Sobat, tapi tanganku terikat. Kami tak bisa memberi fasilitas apa pun untukmu dan kami tak boleh terlibat dalam kasus itu. Aku tak tahu lagi apa yang bisa kusampaikan padamu."

Hoolian mengambil topi penjaga pintu itu dan menyelidiki jahitan di dalamnya, mendengar jendela membuka sedikit dalam suara Tavares. "Ya, bisakah kau mungkin mencoba dan menolongku menemukan seseorang yang pernah bekerja pada Papi?"

“Siapa itu?"

"Mungkin agak sulit. Orang itu mungkin sudah mati sekarang. Portir Dominika tua bernama Nestor. Kukira ia bahkan mungkin tak masuk serikat."

"Apa yang membuatmu berpikir ia tak masuk serikat?" Tavares menegakkan tubuh, membela diri, harga dirinya tertantang.

"Aku ragu ia masuk negara ini secara sah. Aku selalu mengira ayahku membayarnya di luar catatan resmi untuk membantu-bantu di basement."

"Kedengarannya tak seperti yang kudengar tentang Osvaldo tua. Sejauh yang kutahu, ia anggota terhormat hingga akhir hayatnya. Tak pernah mempekerjakan bajingan dan menghormati setiap pemogokan yang kami lakukan. Ia juga bukan pengorganisir yang buruk, ketika waktunya mengadakan pemilihan suara. Kukira ia tak akan memasukkan seseorang yang bukan anggota cabang setempat dalam daftar gaji. Merupakan kebijakan manajemen gedung untuk mencari tahu apakah mereka tiba di sini secara sah."

"Tak mungkin orang ini masih hidup." Hoolian menaruh topi itu ke samping, berubah pikiran dan memutuskan ia lak ingin ditipu lagi. "Ia mungkin berusia enam puluh saat aku mengenalnya. Dan, ia berkata pada orang-orang bahwa ia mengidap kanker hati."

"Kau tak pernah tahu dengan portir-portir tua ini. Mereka lebih kuat daripada kecoak. Jika cairan pembersih, dan uap karbon monoksida tak membunuh mereka, tak ada lagi yang bisa. Yang paling hebat bertahan hidup, ya mereka."

Tidak. Mereka tak akan bisa mempermainkannya lagi. Tak ada yang bisa membodohinya untuk berpikir bahwa keadaan mungkin bisa membaik. Tinggalkan aku sendiri. Biarkan aku di dalam kotak pekat kecil dengan jeruji di sekelilingnya.

"Jadi mengapa kau ingin bertemu dengannya?"

"Mungkin ia bisa membantuku."

"Apa maksudmu? Seperti saksi, begitu?"

"Sudah kubilang itu sulit." Hoolian mengangguk.

Tavares bersiap mengangkat telepon, tetapi menaruh tangannya kembali. "Kau tahu, tak ada faedahnya jika kami terlibat. Kami tak mendapat apa-apa dari berhubungan dengan kasus kriminal setelah semua persoalan yang kami alami dengan pengorganisasianulang ini."

"Aku mengerti."

"Tapi, dua puluh tahun waktu yang lama." Tavares merengut, mengucek jari di telinga. "Dan, kami tak cukup membantu terakhirkah itu, bukan?"

"Aku tak berkata apa-apa."

Hoolian berusaha memasang ekspresi malu-malu yang ia lihat dipasang ayahnya saat Natal, ketika tips dibagikan. Biarkan bokong tetap di bibirmu. Jangan lepaskan. Ia kini sadar ayahnya itu sangat jago menyembunyikan perasaan.

Tavares mengangkat telepon. "Siapa nama portir itu tadi?"

49

Tepat sebelum tengah malam, Dr. Dave berjalan menuju sebuah bar dekat Bellevue bernama Recovery Room, memesan bir Guinness dan menekan lagu The Doors di mesin lagu dengan kalimat "CANCEL MY SUBSCRIPTION TO THE RESSURECTION..."

"Kurasa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku," kata Francis, menunggunya di bilik belakang.

"Kau membunuhku di hari-hari ini, Francis. Tak ada yang kembali dengan hasil DNA kurang dari sehari. Tak pernah ada cerita. Merusak sistem."

"Jadi, apa yang kau dapat?"

Dokter itu memperhatikan badai pasir mengamuk dalam gelasnya, kepala ikan stout perlahan-lahan terdiam. Matanya terlihat kecil dan mengalami iritasi akibat mengamati reaksi rantai polimerase dan layar gel tanpa henti sejak mereka membawa jenazahnya. Jim Morrison meraung di belakang. Satu lagi yang tak semestinya dimakamkan di kuburnya sendiri, pikir Francis. Mungkin Jim tambun, botak, dan hidup di kondominium di Florida, main golf dua kali seminggu bersama Elvis dan mengutuk tiap kali lagu hitsnya, Light My Fire,mengalun di radio.

"Tak banyak yang tersisa setelah dua puluh tahun." Dave mengembalikan gelasnya. "Kebanyakan hanya fragmen tulang dan rambut. Tapi kami dapat cukup banyak."

"Dan? Apakah itu Allison?"

"Yang bisa kukatakan hanya ini." Dave mengangkat satu jari, menolak diburu-buru. "Aku bisa memastikan bahwa ia adalah wanita. Aku bisa mengatakan juga, ia anak Eileen Wallis. Usianya mungkin antara dua puluh satu hingga tiga puluh tahun dan tingginya tak lebih dari 160 sentimeter. Tak punya tanda-tanda osteoporosis dan tak pernah hamil. Soal nama asli, bukan kewajibanku untuk memastikan."

"Jadi, ia bukan wanita yang DNA-nya ditemukan di bawah kuku kedua gadis itu?"

"Bukan."

"Jadi Allison mungkin memang dikubur di makam yang benar?"

"Aku tidak tahu. DNA yang kami peroleh dari peti mati tak cocok dengan sampel di sarung bantal yang berlabel Allison Wallis di gudang barang bukti. Mungkin itu kesalahan pengarsipan. Tapi, aku bisa memastikan bahwa wanita di peti mati dan yang darahnya kami temukan di TKP jelas memiliki ibu yang sama."

"Bangsaaaat!" Francis menjejalkan seiris lemon ke dalam soda-nya dan mengamati buih mendesis. "Kau mengatakan Allison dibunuh oleh saudara perempuannya? Ibunya tetap mengatakan ia tak pernah memiliki anak perempuan lain. Dan, tak ada DNA yang cocok dengan gadis ini, siapa pun dia, di bank data DNA."

"Aku tak peduli. Aku punya bukti gel-ku. Di bawah kuku Allison Wallis dan Christine Rogers terdapat darah yang sama. Jadi, yang bisa kukatakan adalah penghuni makam yang kita gali itu adalah saudara perempuan pemilik darah itu."

"Lalu bagaimana tentang hal lain yang kutanyakan? Apa kau membandingkan DNA Christine Rogers dengan DNA Eileen untuk mengetahui apakah mereka berkerabat?"

"Mereka tak berhubungan darah, Francis. Berbeda keluarga."

"Kalau begitu aku angkat tangan."

Francis menghabiskan soda dan menaruh gelas. Oh, ia betul-betul butuh minum sekarang. Hanya untuk melepas tempurung kepalanya beberapa saat. Ia bisa lebih menjadi diri sendiri jika sedang minum-minum. Lebih santai, lebih lucu, tak begitu tertekan oleh rasa waspada. Dan, lebih berani. Ia tak akan mengendap-endap, menghindari tempat-tempat gelap, jika sedang di bawah pengaruh alkohol. Tidak, Tuan. Ia akan berani dan tanpa perhitungan. Seperti ketika berada di bagian narkotika, ia orang pertama yang menerjang pintu—konsekuensi nomor dua, siap melakukan apa saja yang diperlukan, sementara yang lain menonton dengan mata bersinar penuh kekaguman.

Oh, diam, Francis, kau memang bajingan. Satu-satunya yang hampir seburuk lelaki buta dengan pistol adalah seorang mabuk yang bernostalgia.

"Terkutuk, aku tak tahu apa yang kulakukan," ujarnya. "Mungkin putriku benar."

"Tentang apa?"

"Malam itu, ia menelepon ke rumah dari Smith, berkata aku mulai menjadi dinosaurus. Ia bilang, 'Cara pikir patriarki sudah kuno.' Kau bisa bayangkan?"

"Ya, aku tak bisa bilang cara kita berpikir dapat membawa kemajuan dalam kasus ini."

"Tidak, kurasa aku tak bisa membantahnya," aku Francis.

Ia memperhatikan limau tergeletak di dasar gelas. Ayolah, Dewa Segala Hal Kecil. Bantu aku. Aku tak punya minuman, persis saat aku membutuhkannya. Buka pikiranku sedikit lebih lebar. Biarkan aku berpikir di luar garis. Makin lama kasus ini bergulir, makin kau terjebak melihat mereka hanya satu arah, kau menjadi letih dan tak lagi imajinatif karena menatap lurus terus ke depan sepanjang waktu, melewatkan pemandangan di samping.

Ia memejamkan mata. Selama beberapa saat dunia gelap, membayangkan dirinya telah buta. Menunggu bentuk-bentuk sisa cahaya itu berhenti, membuat tubuhnya diam, dan membiarkan kulit dunia yang transparan mengelupas.

Akhirnya Francis menyadari bunyi-bunyi di sekitarnya kian jelas dan sedikit berubah. Ia bisa membedakan denting gelas anggur dari bunyi gelas soda yang lebih berat. Ia mengenali ketukan ringan hak sepatu runcing yang lewat, dengan ketukan sol sepatu karet seorang pria yang dingin di belakangnya. Ia menyadari dirinya bisa mendapat petunjuk tentang usia, perbedaan jarak, dan bahkan ekspektasi romantis—jika ia mendengarkan cukup tekun di jeda-jeda percakapan. Tapi ketika mencoba berfokus pada satu suara di bilik tepat di belakang mereka, ia ternyata tak bisa cukup yakin menentukan apakah seseorang itu pria atau wanita.

"Francis? Kau tak apa-apa?"

Ia membuka mata dan menyadari Dave tengah menatapnya. "Ya, ampun, kupikir kau kejang."

"Tidak, aku hanya sedikit melamun," ujarnya, menatap buih Guinness yang berdiam di separo gelas. "Dave, aku ingin bertanya sesuatu."

"Apa?"

"Kau yakin gen tak pernah berbohong?”

Apa?"

"Aku tidak bicara tentang kekeliruan arsip. Aku tanya, apakah DNA pernah salah menafsirkan?"

"Sudah kubilang, peluangnya satu dari satu triliun. Kau minum apa, sih?"

Francis menatap jejak residu kecokelatan tenggelam ke dasar gelas Dave, mengingatkan pada layar gel yang ia pernah lihat di laboratorium. Sesuatu terlucuti dari dalam hati, meninggalkannya dengan kejernihan gelap sedingin batu.

"Kurasa lebih baik kau biarkan aku menambah minuman," ujarnya.

50

Rasanya seperti musik dalam mimpi. Untaian nada muram lembut mengalir dan larut dalam udara lembab. Baru setelah Hoolian mendekat lagu itu mulai terdengar jelas. Getaran murka di ujung keyboard mengayun turun menjadi raungan gelap yang murung. Nada santun di tengah-tengah tiba-tiba menjerembab dalam amukan liar pada kunci-kunci hitam. Lalu, dengan cepat beralih kembali menjadi satu melodi anggun, seperti seorang pemabuk meluruskan dasinya di trotoar setelah ditendang keluar dari restoran bintang empat.

Kartu tanda anggota serikat pekerja yang diberikan Mr. Tavares pada Hoolian berhasil meloloskannya dari penjaga pintu dan turun ke basement ini. Jadi, sekarang ia berbelok di sudut dan mengambil jalan melewati bilik-bilik penyimpanan yang pengap, mengikuti bunyi salah satu lagu favorit ayahnya yang dengan sangat cermat didekonstruksi dan ditata ulang oleh ilmuwan gila.

"Night and Day, you are the one... "

Ini adalah salah satu gedung di Upper East Side yang mempertahankan kondisi asli lobi dan lorong-lorongnya, sementara masa lalu membusuk di gudang bawah tanah. Ia berjalan melewati sel-sel kawat kuda goyang kuno, tempat tidur kelambu rusak, gramofon tua dengan telinga yang lebar, kotakkotak lemari, cermin bermutu tinggi, seperangkat cangkir perak pudar, meja makan rusak tanpa kaki, gunungan kepala rusa, karpet Persia diikat gulungan, lampu antik dengan tirai seperti gaun kuno—semua tergolek di ruangan berukuran dua kali tiga meter, seperti narapidana terlupakan di penjara yang kokoh.

"...and this torment won't through..."

Tenggorokannya tercekik batuk oleh debu, sadar ia akan membuat buruannya lari bila terlalu gaduh sebelum sampai ke sana. Pemanas bergemuruh di pintu sebelah, lidah api tenang menyala-nyala. Dua puluh tahun telah menanti.

Ia menuju sudut dan berhenti, menyaksikan orang tua itu membungkuk di atas mesin lagu yang berdiri tegak di gudang penyimpanan. Sepasang bahu naik dan kasar membuat kejangan di lengannya dan cakar yang tampak terkena artritis. Sulit dipercaya seseorang yang begitu jompo dan penuh tonjolan dapat mengalunkan musik yang begitu riang gembira, belia, dan gegap gempita.

Air menyiram melewati salah satu pipa di atas kepala dan lelaki tua itu mengayunkan kepala ke belakang, menikmati kesenangan bermain musik untuk diri sendiri dan bukan untuk orang lain.

"Que hay de Nuevo, NestorT' Hoolian memanggil dari bawah bohlam yang terayun. "Ingat padaku?"

Lelaki tua itu membeku, tangannya ragu-ragu di atas kunci-kunci, melodi yang tak selesai itu mengambang di udara. Ia kemudian berbalik, memandang tajam, dan perlahan-lahan tersenyum memperlihatkan gigi gingsul kecokelatan, seolah ia telah duduk di kursi tersebut sejak 1983, menunggu Hoolian menemukannya.

51

Mestinya mereka bertemu di pengadilan hari itu, untuk memutuskan apakah mereka akan maju terus berkaitan dengan dakwaan Hoolian. Alih-alih demikian, mereka kembali ke ruang rapat di lantai enam di 100 Centre Street. Paul Raedo duduk di bawah potret Custer, seorang penuntut muda bagian pembunuhan bernama Margaret Eng duduk di bawah salinan asli foto karya Ansel Adams, dan Francis dalam jarak tembak senapan milik Paul. Hoolian duduk murung di seberang meja, diapit Debbie A. dan saksi paling barunya.

"Harus saya akui, saya sangat skeptis," Paul mengawali pembicaraan. "Saya pernah bicara dengan saksi ini tahun 1983 dan ia tak punya pernyataan relevan untuk diberikan. Mengapa ia muncul dengan'cerita berbeda setelah lama berlalu?"

"Saudara Vega memintanya." Debbie berputar di kursinya. "Saudara Arroyo mengenal terdakwa sejak kecil."

Portir itu duduk di sebelah kanannya, lelaki tua lisut berwajah sopan mengenakan jaket kotak-kotak usang. Francis yakin ia pasti mendapatkannya dari penyewa apartemen kaya dari tahun 1962. Topi jerami putih tergeletak di meja di hadapannya, dengan pinggiran sobek seperti bekas gigitan. Ketika tersenyum, ia menunjukkan kegelisahan di mulutnya, gigi-gigi kecil kecokelatan saling beradu. Kenyataannya, segala hal tentang dirinya tampak seperti bambu rusak, kecuali tangannya, dengan jemari panjang lebar serta urat-urat seperti kabel baja.

"Ya, ya, ya, tapi mengapa baru sekarang?" tanya Paul. "Maksudmu, ia hanya duduk-duduk saja selama dua puluh tahun ini?"

"Saudara Arroyo cemas tentang status imigrasinya." Debbie memandang bolak-balik antara saksi baru itu dan Hoolian, keduanya di sisi kiri. "Ia takut, jika bersaksi, ia akan dideportasi ke Republik Dominika."

"Apa aku mendengar unsur paksaan di sini?" Paul memajukan badan, jempolnya menyentuh suspender merah seraya melirik Margaret Eng. "Apa orang ini mendadak berubah pikiran karena klienmu muncul dan mengintimidasinya di tempat kerja?"

"Ceritakan saja kisahnya," sergah Francis.

Mereka semua menatap seakan ia baru menembakkan pistol ke langit-langit.

"Ya, ayolah," ujarnya. "Ia belum menjadi saksi tersumpah. Mari kita dengar apa yang harus ia katakan. Berika ia Ratu Sehari"

Ia merasakan mata Hoolian menghujam dari seberang meja. Francis sengaja memilih kursi sedikit ke kanan agar mereka tak perlu berhadapan muka langsung. Ia, setidaknya, perlu waktu untuk melakukannya meski perlahan-lahan.

Paul menyeringai dan diam-diam berunding dengan Margaret Eng. Ia merapikan rambut hitamnya, memperbaiki kaca mata, dan mengangguk tajam.

"Baiklah, Ratu Sehari," kata Margaret. "Ia dimaafkan sejauh ia mengatakan yang sebenarnya."

Debbie mulai menerjemahkan, tetapi portir tua itu mengangkat tangannya.

"Tak apa," katanya, bunyi agak cadel keluar lewat celah di giginya. "Aku mengerti, sedikit."

Portir itu melirik Debbie A dan memberikan senyum pada Hoolian. Dari sudut matanya, Francis melihat Hoolian tidak balas tersenyum, lebih memilih berkonsentrasi melipat-tutup lembaran-lembaran pernyataan pers yang ditinggal di atas meja.

"Anda boleh membawa penerjemah setelah kita selesai agar Anda bisa mengajukan pertanyaan sendiri dan mendapat pernyataan tertulis, tanpa Vega atau saya di ruangan," kata Debbie. "Saudara Arroyo sudah mengatakan kisah lengkapnya saat ia datang ke kantor saya bersama saudara Vega pagi ini."

Ketegangan membentuk di tengah ruangan, mereka berenam menyaksikan alur kayu yang sama di meja kayu pernis seolah bentuk itu menarik mereka bersama.

"Cerita singkatnya, Saudara Arroyo bekerja di basement malam itu," jelas Deb. "Ia melihat seseorang turun dari tangga darurat dan keluar menuju gang di belakang gedung, tepat dalam bingkai waktu peristiwa pembunuhan Allison Wallis."

"Omong kosong." Suspender Paul meregang seperti tali katapel.

"Kau ingin mendengar apa yang terjadi atau mau pamer kosakata?" tanya Debbie.

"Teruskan." Francis memberi isyarat putaran dengan tangannya. "Jam berapa saat itu?"

"Sekitar pukul dua tiga puluh hingga tiga kurang seperempat pagi." Deb menatap portir itu, menegaskan. "Itu cocok dengan rentang waktu yang ditetapkan."

"Bagaimana kau tahu waktu tepatnya?" tanya Francis, mengambil alih pekerjaan Deb.

"Pukul sembilan tiga puluh, Julian datang ke apartemen Allison untuk memperbaiki toilet. Pukul sepuluh, mereka menonton televisi. Channel Five, MTV. Mereka mulai saling nyaman, dan saat itulah terjadinya hubungan kecil di antara mereka."

"Maksudmu saat ia mencoba memerkosanya." Paul memajukan badan ke depan dengan siku.

"Saat mereka mencoba melakukan kontak sama suka." Debbie mengibaskan jari. "Tak ada kesaksian yang berlawanan dengan hal itu."

"Tentu saja tidak." Paul tersenyum sinis. "Yang laki hidup dan wanitanya mati."

"Apapun yang terjadi, tak diragukan lagi bahwa peristiwa itu tak terjadi," ujar Deb cepat.

Francis tersenyum, mengenali Momen Percepatan, gaya familier pembela dan kliennya saat berlomba melalui bagian genting kisah mereka, seakan orang lain tak mengetahuinya.

"Gadis itu menarik diri," ujar Deb, sedikit melambat. "Hoolian tidak siap. Gadis itu juga. Apapun. Mereka berdua ketakutan. Ada bencana. Ada darah dan cairan sperma di kain sofa. Gadis itu ketakutan, dan memintanya untuk pergi."

Francis mencuri pandang ke arah Hoolian, menangkap reaksinya. Tapi Hoolian menggigiti bibir dan menunduk, tak berani menghadapi mata para hadirin di ruangan.

"Setelah itu, ia menelepon beberapa kali ke ibunya di Sag Harbor dan kakak lelakinya di kota itu," ujar Debbie. "Tentu, ada sesuatu dalam pikirannya."

"Yeah, kenyataan bahwa putra pengawas baru saja berniat menaikinya," ujar Paul.

"Tak satu pun dari mereka menyebutkan hal itu," balas Deb. "Menurut Tom,'mereka bicara tentang ke mana mereka akan pergi untuk acara makan malam ulang tahun ibunya, yang sebentar lagi berlangsung saat itu. Eileen tidak ingat sesuatu yang khusus dalam percakapan itu, kecuali bahwa Allison terdengar sedikit 'jengkel.'"

"Ayolah, Deb, kau tahu apa yang terjadi dalam penyerangan seksual," sela Paul lagi. "Kadang orang menunggu hingga besoknya untuk melapor. Kecuali kali ini, ia punya kunci apartemen gadis itu agar ia bisa kembali lagi malamnya."

"Ya....tidak juga...," Deb menanggapi. "Kami berpikir ada orang lain yang juga punya kunci."

"Bagaimana mungkin? Hanya penyewa dan pengawas yang punya kunci."

"Ia bisa saja menduplikat dan memberikannya pada seseorang, yang dapat membiarkan dirinya masuk dari depan."

"Bagaimana dengan penjaga pintu? Kau pikir ia tak akan tahu?"

Hoolian dan portir itu saling berpandangan dan tertawa.

"Apa yang lucu?" tanya Francis.

Hoolian segera berhenti tersenyum dan melirik, mengingatkan Francis saat pertama kali mereka saling menatap satu sama lain. Rusa mendengar suara pemburu di hutan. Mereka berdua membeku sejenak, masih belum siap mengakui satu sama lain.

"Semua orang tahu Boodha begitu lelap tidur setelah tengah malam, kau bisa menusukkan bom ceri di pantatnya dan ia tak akan terbangun." Hoolian berpaling pada Nestor, berpura-pura tak terganggu. "Betul begitu, kan?"

"Ay..." Lelaki tua itu menjatuhkan kepala ke belakang dengan hardikan kasar. "El borracho bufon."

"Ya, terserahlah, tapi ini semua spekulasi sama sekali." Paul melambaikan tangan. "Aku berharap lebih darimu, Deb. Kupikir kau datang ke sini untuk bicara tentang sesuatu yang nyata."

"Memang. Saudara Arroyo melihat pembunuh itu meninggalkan gedung tepat sebelum pukul tiga pagi."

"Memangnya siapa ia, dan mengapa ia tak mengungkapkan saat aku mewawancarainya dua puluh tahun lalu?"

"Kukatakan," portir itu angkat bicara. "Tapi kau tak mendengar."

"Apa?" kata Paul. "Dengar, aku sudah memeriksa dengan saksama berkas kasusnya. Kau kira aku sengaja mengabaikan sesuatu seperti itu?"

Francis melihat Margaret Eng menundukkan kepala dan mulai membuat catatan. Tidak bodoh, orang satu ini. Ia tahu bukti yang berpotensi menunjukkan ketidakbersalahan untuk sebuah gugatan perdata saat mendengarnya.

"Aku bilang, 'Pelirrojo! Pelirrojo!"' portir itu memukulkan kepalannya ke atas meja. "Tapi kau tetap tak mendengar."

"Apa ini, Debbie?" Paul bergerak seperti tengah menyekop sampah ke arah sisi meja Deb. "Apa pelirrojo’? Kami bicara pada orang ini sekali dan ia langsung menghilang."

"Karena kau menakutinya, mengatakan ia harus ke sidang dan menjawab pertanyaan. Ia punya keluarga di sini tanpa paspor resmi. Sekarang ia sudah punya."

Francis menatap orang tua itu, berpikir ia pasti orang yang tak berperasaan. Membiarkan putra bosnya dipenjara dua puluh tahun untuk kejahatan yang tidak ia lakukan, hanya karena takut ia dideportasi.

Di lain pihak, memangnya siapa dirinya? Hingga percakapan terakhir dengan Dr. Dave, ia juga sering menghindari masalah dengan segala cara, mengelak dari apa yang ada di depannya.

Ia mengubah posisi kursi dan berusaha membuat dirinya menatap Hoolian langsung di matanya. Ia ingin melihat jika ada yang tersisa dari anak yang pernah hadir di ruang interogasi dua puluh tahun lalu.

Mana gerakan pupil halus penuh kecurangan itu? Bulu mata berkedip-kedip itu. Derap jemari itu. Semua tanda-tanda petunjuk rasa bersalah itu. Bagaimana mungkin lelaki berjanggut, geram namun dapat dimengerti, yang tua sebelum waktunya ini, mewujud ke dalam dirinya?

Ini terlalu sulit. Mereka berdua mengalihkan pandangan berbarengan. Tak satu pun yang siap untuk melakukan konfrontasi saat ini.

"Apa makna kata itu memangnya? Pelirrojol" Paul melirik pada Margaret Eng, yang sibuk mencatat. "Ingatkan aku."

"Itu artinya rambut merah," Hoolian berkata lembut, menatap pangkuannya sendiri.

"Ya, aku tahu." Paul menjatuhkan bolpen. "Korbannya berambut merah. Lalu kenapa?"

Kali ini, Francis yang menjelaskan. "Paulie," katanya singkat, berpaling. "Kurasa orang ini tak bicara tentang si korban."

52

Hoolian turun lewat lift empat puluh menit kemudian bersama pengacaranya dan Nestor, yang masih berusaha mencerna dan memahami apa yang baru saja terjadi.

Lobi remang-remang berlantai marmer dipenuhi anggota keluarga berwajah muram bergerak perlahan melewati detektor logam, pegawai pengadilan berkemeja putih berteriak-teriak menyerukan perintah, dan, tentu saja, para pemuda bermasalah itu, berjalan ke arah pengadilan. Berjalan penuh lagak dengan kaus FUBU dan sepatu Nike baru, bertingkah pongah tanpa menyadari apa yang akan mereka hadapi di penjara kelak.

"Jalan keluar di sana." Nona Aaron menunjuk ke arah cahaya di belakang pintu putar. "Cukup sampai di sini dulu saat ini."

Hoolian mengikuti keluar menuju trotoar, bersama Nestor di belakangnya.

"Jadi, apa selanjutnya?" ia melindungi matanya dari mika berkilauan.

"Kita akan mengajukan mosi untuk mencabut dakwaan." Nona A memasang kaca matanya. "Polisi dan jaksa melakukan apa yang menjadi pekerjaan mereka. Dan kita akan membuat gugatan perdata, dengan syarat Arroyo tidak menghilang untuk dua puluh tahun ke depan."

Nestor tersenyum memperlihatkan gigi-gigi bengkoknya.

"Claro" ujarnya sembari sedikit mengangguk. Tentu saja.

Deb merapatkan bibir, jelas tidak terpesona oleh perilaku ala bangsawan tua sopan itu. "Sir, aku ingin bertanya sesuatu padamu."

Orang tua itu menyentuh ujung topi jerami usangnya. "Cualquier cosa." Apa saja.

"Anda bilang, Anda sangat menyukai Vega.”

Si."

"Dan sebelum ini Anda mengatakan pada saya betapa ayahnya orang yang baik karena telah mempekerjakan dan memasukkan Anda ke dalam daftar gaji, meski Anda tak memiliki paspor hijau."

"Air Ia mengangguk pada Hoolian. "Yo dar las gracias."

"Lalu mengapa Anda membiarkan anak ini menghabiskan dua puluh tahun membusuk di penjara?"

Orang tua itu terus tersenyum dan mengangguk, seolah tak mengerti sepatah kata pun yang wanita itu ucapkan.

"Hey, Nona A?" Hoolian angkat bicara. "Jangan terlalu keras padanya."

"Julian, orang ini bisa maju dengan bukti yang ia miliki kapan saja."

"Ya, awalnya aku juga marah padanya," ia mendesah. "Tapi orang kadang dipaksa keadaan tertentu."

"Keadaan?" Alis wanita itu meloncat di atas bingkai kaca mata bintiknya. "Keadaan macam apa yang membenarkan anak usia tujuh belas masuk penjara dari 1983 hingga sekarang?"

"Begini, ketika aku menemukannya di basement kemarin malam, aku juga marah. Rasanya seperti, 'Aku akan membunuhmu, orang tua. Kau menghancurkan hidupku.'" Hoolian memukulkan kepalannya ke telapak tangan. "Tetapi kemudian... tak tahulah. Keadaannya berbeda jika menyangkut orang yang mendampingimu saat kau tumbuh. Katakan, bagaimana aku akan membenci seseorang yang membolehkanku menjalankan lift servis ketika aku berumur enam tahun?"

"Ia jelas tak banyak memedulikanmu setelah itu."

"Aku tahu." Hoolian menggertakkan gigi. "Tapi apa yang akan kulakukan? Ia takut. Ia takut kepada Raedo dan meninggalkan kota. Ia tidak tahu apa yang akan menimpaku."

"Aku yakin ia dengar saat kau ditahan," ujar Nona A, masih gusar padanya.

"Ia punya masalahnya sendiri yang mesti diselesaikan. Ia mengira dirinya sekarat oleh kanker hati. Anaknya tewas akibat overdosis. Istrinya meninggalkannya. Orang punya hidup mereka sendiri, kukira. Sejak lama, aku berhenti mengharapkan orang lain untuk menjagaku."

Mata lelaki tua itu meredup, berterima kasih dalam diam.

"Kau orang yang pemaaf, Julian." Nona A menggelengkan kepala.

"Tidak, aku tidak seperti itu," ia membetulkan. "Aku masih geram dengan semua itu, tapi aku tidak bodoh. Ketika menemukan orang tua itu, aku tahu aku punya pilihan. Aku bisa mematahkan lehernya, atau mencoba membuatnya menolongku."

Ia memijit belakang leher Nestor setengah main-main dan terasa olehnya lelaki tua itu agak tegang.

"Aku tahu ayahku akan memintaku memakai otak."

"Kau tetap orang yang lebih baik dariku, Gunga Din," ujar Ms. A., membalikkan badan menghadap Nestor. "Tapi, Pak Arroyo, saya masih tak tahu apa-apa tentang Anda. Aku senang kami memperoleh kesaksian Anda hingga kita akhirnya tahu kisah sebenarnya, tetapi itu sedikit terlambat. Anda mengira seseorang yang mengalami penderitaan semacam itu dalam hidupnya mungkin memperlihatkan kasih sayang untuk orang yang ia kenal. Dan jangan pura-pura tak mengerti ucapan saya. Kukira bahasa Inggris Anda jauh lebih baik dari yang Anda tampilkan."

Portir itu tersenyum dan menyentuh ujung topi anyamnya. "Que quiere de mi, yo soy solo el pianista?" ujarnya.

"Apa maksudnya?" Nona A melirik Hoolian meminta penjelasan.

"Ia berkata, 'Apa yang Anda inginkan dari saya, Bu? Saya hanya seorang pemain piano."'

53

Saat malam mulai melembut dan kabut halus mengambang di atas Riverside Park, pria-pria dengan hanya mengenakan kaus keluar dari rumah-rumah berwarna pasir di 89th Street, dengan berisik menyeret tong sampah ke pinggir jalan untuk diangkut. Tom Wallis salah satu di antara mereka, mengangkat dua kantung besar seolah ada mayat di dalamnya lalu menepuk-nepuk tangan seraya naik kembali ke undakan dan masuk ke dalam rumah, puas atas pekerjaannya.

"Baik," Rashid, di kursi supir, merendahkan teropongnya. "Ia punya banyak benda di kantung itu."

"Lampu menyala di dalam rumahnya?" tanya Francis, duduk di sebelahnya, dalam mobil Le Sabre yang diparkir setengah blok jauhnya.

"Hanya di lantai tiga dan lantai satu."

"Jadi, Eileen dan ia masih terjaga. Lebih baik kita menunggu sebentar. Aku tak ingin menarik perhatian dan membuatnya tahu apa yang kita kerjakan."

Mereka duduk dalam diam beberapa lama, mendengarkan raungan tak keruan terompet dan gitar elektrik di CD player hingga Rashid tak tahan lagi.

"Aku terlahir untuk memainkan musik ceili funkyl" ia mengeluarkan cakram itu dan memegangnya ke arah lampu. "Omong kosong macam apa itu?"

"Black 47. Dan kita baru setengah jam menikmati Biggie Smalls dan Dr. Dre memukuli si jalang dan mengisap ganja."

"Baiklah, kita tak perlu mendengar apa-apa kalau begitu. Duduk diam saja di sini."

"Oke."

Mereka menunggu hingga cahaya lantai atas padam, lalu Francis mengambil teropong.

"Eh, Bung, menurutmu aneh tidak, kita tak saling berbicara?" Rashid akhirnya bertanya.

"Kenapa, apa yang ada di pikiranmu?"

"Aku hanya merasa kau begitu diam, G. Kau marah padaku atau apa?"

"Tidak. Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau salah satu dari orang-orang yang gampang terharu saat menonton acara Oprah?"

"Begitulah kata istriku. Tapi ia tidak tahu. Mulutnya seperti senapan mesin. Tapi aku memberitahunya kemarin malam. 'Aku tak mengerti ada apa dengan rekan kerjaku sekarang. Tingkahnya menjengkelkan sekali. Ia bahkan tak melambai padaku saat aku melihatnya menyeberang jalan.'"

"Kapan itu?"

"Sepertinya sudah tiga kali. Aku berada di Broadway di luar kantor dan tingkahmu seakan kau tak melihatku."

"Maaf." Francis menurunkan gelasnya, tak sanggup melihat apa-apa dalam cahaya seperti ini. "Bukannya sombong."

"Aku hanya bilang, aku betul-betul kesulitan menyesuaikan diri denganmu. Rasanya kau ada pesta besar-besaran di benakmu sepanjang waktu, dan aku tak diundang. Aku seakan sendirian di tengah padang, duduk di sini. Kalau kau masih marah tentang apa yang terjadi di TKP, tolong lupakan saja itu. Aku tak layak didiamkan seperti ini. Aku bisa bicara. Aku senang ngobrol."

"Hey, Rashid, kau tahu bagaimana orang bisa yakin jika dirinya memiliki hubungan baik dengan rekan kerjanya?" sela Francis. "Adalah saat kau tak perlu mengucapkan apa-apa. Kau dapat memperkirakan apa yang dipikirkan temanmu. Maksudku, kau dan aku, kita bisa duduk di sini dan ngobrol tentang segala macam yang ingin kau bicarakan saat menghabiskan waktu delapan jam di mobil bersama seseorang. Kita bisa bicara tentang kasus itu atau tentang penangguhan pajak atau tentang Yankee, atau apapun. Tetapi pada akhirnya, kita akan tahu bahwa kita benar-benar cocok satu sama lain adalah ketika menghabiskan delapan jam bersama tanpa mengatakan sepatah kata pun, satu sama lain."

"Wow." Rashid mendesah. "Malangnya istrimu."

"Bro, separonya saja bahkan kau tak tahu." Francis mengembalikan teropong itu padanya. "Wanita itu seperti malaikat, mau-maunya tinggal bersamaku. Tiap hari aku bersyukur pada Tuhan telah mengabuti benaknya hingga aku mati kelak."

Rashid masih geram beberapa saat. "Aku hanya ingin bilang satu hal lagi, oke? Aku tak mau keluar dari mobil dan mengaduk-aduk tong sampah itu. Aku bicara terus terang. Ini acaramu."

"Oke, tenang. Aku tak takut mengotori tanganku."

Seorang pria kecil dengan anjing German shepherd besar berjalan ke dalam lingkaran terang di depan rumah keluarga Wallis dan menjatuhkan sebuah tas berat ke dalam salah satu tong sampah yang Tom bawa keluar.

"Dodol." Rashid mendesis jijik. "Kau yakin perbuatan ini dilindungi Amandemen Keempat, mengaduk-aduk sampah orang?"

"Kau sedang jadi apa, pengacara undang-undang?"

"Sebetulnya, ya. Sementara kalian minum-minum di Coogan's atau sejenisnya, aku mengambil kelas malam di Fordham Law. Jadi aku tak ingin terlibat melakukan penyelidikan tanpa surat perintah."

"Jangan khawatirkan itu. Tong sampah mereka berada tepat di trotoar untuk diangkut besok pagi. Itu adalah hak milik yang diabaikan, sobat, di tempat umum. Benar-benar sumber bukti DNA sah. Bapak Bangsa akan berkata, 'Silakan, ambil dan daur ulanglah selagi kalian di sana.'"

Ia melirik sekilas pada Rashid, belum menyadari bahwa yang di dekatnya adalah calon anggota barisan pembela.

"7o, ada hal lain yang ingin kubicarakan denganmu." Jemari Rashid melekat di kemudi.

"Oke."

"Jadi jangan mengejekku, oke?"

"Baik." Francis menahan diri, baru sadar semua itu baru pembukaannya.

Di bawah cahaya malam, kulit cokelat mulus kepala plontos Rashid terlihat mengembang dan mengerut seolah ia mencari-cari cara memulai.

"Anak itu," ujarnya. "Julian."

"Ya." Francis meliriknya cemberut. "Ada apa dengannya?"

"Kalau kau benar tentang apa yang sedang kita lakukan malam ini, ia tak punya kaitan apapun dengan kedua pembunuhan itu."

Francis menggerak-gerakkan lidah di bawah bibirnya, memperlihatkan ketidaksenangan.

"Jadi, ada apa dengan itu?" tanya Rashid. "Kau mengirim seorang bajingan ke penjara selama dua puluh tahun untuk sesuatu yang tak ia lakukan? Kemudian kau memburunya untuk pembunuhan lain segera setelah ia keluar? Kau membuat hidup anak itu bagai neraka."

"Kau bicara padaku sebagai seorang polisi atau sebagai calon pembela dua tahun ke depan?" tanya Francis, tak berusaha menutupi ketidaksabarannya.

"Aku bicara padamu sebagai seorang lelaki. Oke?"

"Baiklah."

Ia terdiam, merenungi cacat di kaca mobil dan tempat-tempat yang cukup jauh di mana penglihatannya mulai mengabur.

"Apa sebenarnya yang kau ingin aku katakan? Beri aku petunjuk."

"Aku hanya ingin tahu. Bagaimana kau dapat menjalani hidup dengan itu?"

"Hey, aku hanya bagian dari proses," ucap Francis, otomatis mengulang rentetan kata-kata yang ia ucapkan pada Patti. "Juri yang memutuskan bukti dan hakim yang menentukan hukumannya..."

"Omong kosong, Bung. Kau pikir idiot macam apa yang tengah kau ajak bicara? Aku tahu apa artinya. Aku menjebloskan sesama nigger gara-gara mengedarkan narkotika dan sepupuku juga dipenjara. Jadi, jangan mengoceh omong kosong tentang 'proses'. Aku tahu proses itu."

"Kau ini apa, istriku? Aku tak akan mau berpasangan denganmu kalau tahu kau begini sok bijak."

"Ya, kau tak punya pilihan dan sekarang kau terjebak dalam mobil bersamaku. Dan kita akan membahas persoalan brengsek ini. Kalau kau rekanku, aku ingin tahu bagaimana kau akan keluar dari semua ini."

Lampu jalan di depan rumah Walliss mengerdip, menenggelamkan blok tempat tinggal itu ke dalam kegelapan kubur selama beberapa detik.

"Kalau aku membuat kesalahan, yang bisa kulakukan hanya kembali dan berusaha memperbaikinya," ujar Francis perlahan. "Kalau tidak, aku tak akan di sini."

"Memperbaikinya!" Suara Rashid serak. "Bung, bagaimana kau akan melakukan hal itu? Kau menjebloskan anak itu waktu ia tujuh belas tahun dan keluar di umur tiga puluh tujuh."

"Terkutuk, apa yang kau ingin aku lakukan dengan hal itu sekarang? Menembak kepalaku sendiri? Aku di sini, kan?" ia mengambil jeda sejenak untuk menguasai diri. "Dengar, aku mengerjakan kasus ini sebaik mungkin. Yang bisa kukerjakan hanya berusaha melakukannya dengan benar, kali ini. Jika ada yang ingin mengambil lencana dan pistolku setelah aku selesai, silakan. Aku terima apa pun yang akan terjadi. Aku bersedia ditebas pedang jika perlu. Aku tak takut. Silakan. Aku hanya minta, biarkan aku sendiri yang melakukannya. Kalau kau ingin membuatku bertanggung jawab, biarkan aku bertanggung jawab."

Sadar olehnya ia mulai berkeringat. "Kau pernah berpikir bagaimana rasanya?" tanya Rashid, halus seperti laci menggeser terbuka. "Apa?"

"Untuk orang itu. Julian. Pernahkah kau berpikir bagaimana rasanya dijebloskan untuk sesuatu yang tak ia lakukan?"

Francis membuka jendela, bertanya-tanya mengapa mendadak ruangan terasa pengap.

"Pernahkah kau berpikir tentang perjalanan panjang naik bis yang mesti ia jalani bersama semua penjahat bajingan tak berhati itu? Anak kecil ini bahkan belum keluar dari sekolah parokinya, berjalan menyusuri blok-blok sel. Bisa kau bayangkan betapa takutnya ia? Mereka melemparkannya ke dalam kolam hiu, Bung, sebelum ia tahu caranya berenang."

"Oke, aku mengerti." Francis mengulai lengannya keluar, mengisap napas dalam-dalam.

"Aku ingin tahu apa kau bisa. Aku bertanya-tanya apakah kau pernah berpikir tentang seperti apa rasanya kehilangan dua puluh tahun terakhir dalam hidupmu..."

"Sudah, hentikan. Aku dengar."

Ia menyembulkan kepala keluar jendela, berusaha mencari udara segar. Menghindar dari tatapan. Ia memperhatikan siluet-siluet orang menaruh tong sampahnya di luar. Dua puluh tahun. Benaknya berputar ke belakang, seperti pemutar film, mengulang saat-saat gembira yang ia alami sejak usia tiga puluh tujuh hingga tujuh belas. Ia melihat dirinya mengembalikan promosi, meninggalkan rumah sakit tanpa bayi, mundur dari gereja tempat ia menikah sendirian.

"Hey, lampu itu baru padam." Rashid menyikutnya.

"Di mana?"

"Lantai bawah dan atas. Mereka akan tidur."

"Baiklah." Francis menegakkan duduk dan memasang sarung tangan lateksnya, lega bisa bergerak. "Longgarkan remnya dan pergilah hingga separo blok. Aku akan loncat."

Mobil itu menggulir sekitar dua belas meter, meremukkan dedaunan dan ranting di bawah ban, kemudian berhenti.

"Aku akan sedikit melewati rumah itu agar mereka tak melihatmu keluar, kalau-kalau mereka mengintip dari jendela," Rashid berujar.

Francis ragu sejenak, melihat lampu jalan masih padam.

"Apa yang kau tunggu?" Rashid membetulkan spion belakang. "Kukira kau tak takut mengotori tanganmu."

"Lebih kotor lagi juga tak apa." Francis membuka pintu dan keluar dari mobil seperti baru meninggalkan pesawat terbang di tengah perjalanan.

Dengan segera ia sadar telah membuat kekeliruan, tak membawa senter kecil, setelah pengalamannya tersesat di Red Hook. Rashid telah mematikan lampu mobil, jadi ia bahkan tak punya cahaya apa-apa untuk memandunya. Ia mendengar hembusan angin mengepak-ngepakkan kantung sampah, kibasan sayap merpati, dan jendela bergeser membuka. Tiap bunyi menajam dan kian menonjol dalam kungkungan kegelapan.

Denyut nadinya terdengar memukul di telinga. Jangan panik. Ini hanya sementara. Ia meraba-raba jalan antara tempat mobil diparkir dan berusaha mengira-ngira jarak dari trotoar dengan bunyi langkah kakinya. Ayolah, wahai bajingan, katakan di mana aku berada. Kakinya tersandung semak dan didengarnya sekelompok remaja berlalu, sempoyongan oleh mengisap ganja di Riverside Park, tertawa gaduh melihatnya, mengira dirinya tak lebih dari pemabuk tua yang tengah berusaha mencari jalan pulang.

Diam. Rasa takutnya berbayang menjadi rasa marah dan malu. Ia menubruk tong penuh berisi kaleng kosong dan suara gemerencing aluminium bergema cukup keras untuk membangunkan separo wilayah situ.

Kuasai dirimu. Ia mengambil napas dalam-dalam dan mencium bau sayuran busuk, susu basi, dan biji kopi di salah satu tong terdekat. Kegelapan di sekitarnya perlahan melunak, menghadirkan cahaya ramping diagonal dari jendela di seberang jalan. Sinar itu jatuh ke dua tong sampah bernomor 655 dari semprotan cat di sisinya. Entah bagaimana ia menemukan dirinya tepat di depan kediaman keluarga Wallis. Rashid, yang memarkir mobil ganda di dekat situ, menekan-nekan pedal gas dengan tak sabaran.

Ia mulai mengaduk-aduk isi tong, mengeluarkan kantung kecil dan tahu dari beratnya bahwa itu barang yang baru saja ditinggalkan orang yang membawa Geraian shepherd tadi. Ia melemparkannya ke samping dan mulai menjangkau lebih dalam mencari barang yang lebih besar tepat saat ia menyadari seseorang tengah berdiri di sebelahnya.

"Apa yang kau lakukan, Francis?"

Ia tersentak mundur saat wajah pucat Tom menyembul dari kegelapan.

"Aaay, Tom..." Francis menyelipkan tangannya yang bersarung ke dalam saku.

"Ada apa?" Tom bertanya. "Kenapa kau ada di sini?"

"Tommy, Tommy. Tahun-tahun itu. Tahun-tahun brengsek itu. Kadang kau harus mengingatkan diri sendiri tentang semua itu."

"Kau mabuk, Francis?"

"Mungkin habis minum sedikit." Francis mengikuti sangkaannya sambil berusaha melepaskan sarung tangan tanpa mengeluarkan tangannya dari saku.

"Pelankan suaramu. Ibuku tidur di lantai satu."

"Ya, aku hanya ingin bicara dengannya, Tom. Katakan padanya betapa aku merasa tidak enak atas keadaan ini..."

Sudah lama sekali sejak ia benar-benar mabuk hingga ia harus berhati-hati agar tingkahnya tak berlebihan.

"Pulanglah, Francis. Ini sudah tengah malam."

"Benarkah?"

Ia mendengar suara mesin hidup agak jauh dari situ dan khawatir Rashid akan menghampiri dan merusak keadaan. "Aku hanya ingin kalian tahu, aku masih mengerjakannya."

"Masih apa?" tanya Tom, mulai jengkel.

"Masih itu...kau tahu, tentang apa yang terjadi pada adikmu. Aku belum lupa! Itulah masalah di dunia ini. Terlalu banyak orang yang lupa akan hal-hal..."

"Francis, aku bahkan tak ingin kau membuka kasus ini lagi, kalau kau ingat." Tom mengencangkan sabuk jubah mandinya. "Aku tak tahu siapa yang akan diuntungkan, tetapi jelas bukan kami. Yang kami inginkan hanyalah tak diusik lagi."

"Ya, ya, diakhiri. Aku ingat." Francis mengangguk. "Aku telah memikirkan hal itu sejak kau mengatakannya."

"Kenapa memangnya?"

"Itu salah satu kata-kata baru itu, ya?"

"Kukira kau akan menemukannya dalam semua kamus."

"Tidak, orang memakainya lain sekarang. Mereka bilang, 'diakhiri,' seolah-olah itu akhir sebuah acara TV murahan. Seolah kau bisa membungkus semuanya dalam setengah jam dan tak perlu memikirkan hal itu lagi. Tapi kita tahu ia tak bekerja seperti itu. Benar, kan, Tommy? Kau selalu memikirkannya. Bahkan saat kau mengira tak memikirkannya, ia masih menggaung di belakang benakmu. Itulah mengapa aku ingin bicara pada ibumu. Agar ia tahu aku masih memikirkan hal itu."

"Kenapa kau tak berhenti minum saja, ngomong-ngomong?" Tom menggaruk lemah di belakang tenggorokannya. "Demi Tuhan, Francis, kau bahkan hampir tak bisa berdiri tegak. Kau bilang itu menghormati keluarga kami?"

"Ya, kita melakukan apa yang kita bisa."

Mereka saling tatap satu sama lain tanpa berkata-kata. Selama beberapa saat, Francis merasakan sensasi aneh seakan selimut malam terangkat dan berdesir di atasnya, mengencangkan diri dan menghembuskan angin kecil.

"Pulanglah, Francis." Tom mendesah. "Kau mempermalukan dirimu sendiri."

"Maaf kau merasa seperti itu, Tom. Aku hanya berusaha melaksanakan tugas."

"Ya, ampun. Sudah cukup. Aku mau tidur."

Ia berbalik dan berjalan kembali ke rumah, menggeleng-gelengkan kepala dan mengunci gerbang di belakangnya.

Francis mengambil dua gunduk kantung dari tong dan tersandung-sandung berjalan ke arah Buick itu.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rashid.

"Baik-baik saja." Francis melemparkan kantung-kantung itu ke belakang. "Setidaknya ia tidak memanggil polisi untuk menahanku."

54

Kali ini, perempuan itu yang menunggunya. Didengarnya lelaki itu menutup pintu dan perlahan-lahan naik ke atas, tiap jejak kaki meninggalkan erangan kayu mahoni dari tekanan langkahnya.

Ia bersembunyi lebih dalam di bawah selimut, anak-anak berimpitan di dekatnya di tempat tidur, kerangkanya bergetar di sebelah ranjang kurungnya. Sesuatu tidak berhenti hanya karena kau berpura-pura hal itu tak terjadi. Ia terjadi terus dan terus. Kau harus menghentikannya. Kau harus mengambil kendali. Ia menahan napas, mendengar orang itu ragu-ragu di tengah tangga, seekor binatang yang hadir tepat di luar pintu. Tolong jangan masuk. Aku belum cukup kuat.

Michelle, yang paling kecil, tersengal-sengal dan batuk, saat Eileen menaikkan selimutnya. Kau harus membungkus mereka berlapis-lapis.

Pintu itu mengayun terbuka dan Tom masuk, dalam siluet, ujung jubah mandi menjuntai di sebelahnya yang entah bagaimana terlihat jahat dan cabul. Ia membawa sesuatu yang gelap dan membingungkan ke dalam kamar.

Eileen memeluk erat anak-anak, dirasakannya tubuhnya turut bergetar.

"Bu?" Ia berhenti di kaki ranjang. "Apa yang kau lakukan?"

55

Dalam perjalanan panjang menyusuri Red Hook, Hoolian mulai membayangkan seluruh khayalan dari film Officer and a Gentleman tentang mengangkat Zana, lalu dengan gagah membawanya melewati dermaga sementara Eddie berlari-lari menjejeri mereka, berusaha mengikuti. Kuli pelabuhan tua akan melambai pada mereka, kapal membunyikan peluitnya, dan karyawan Wall Street di seberang sungai menaburkan serpihan-serpihan kecil kertas warna-warni dari jendela sementara lagu "Lift Us Up Where We Belong" menggaung di latar belakang.

Alih-alih begitu, ia hanya menyender sia-sia di depan bel pintu apartemennya dan menyembunyikan diri di gerbang gedung seberang jalan, sambil membawa kotak peralatan baru, sebuah MetroCard untuk anak itu, dan kaus kereta F yang ia beli di dekat City Hall dengan uang yang dipinjamnya dari Nona A.

Pukul tiga lebih sedikit, teman Zana Ysabel datang, menggandeng Eddie di satu tangan dan anak perempuannya di tangan satu lagi, mengambil giliran menjemput anak-anak dari tempat penitipan anak.

"Hey, apa kabar jagoanku?" Hoolian menyeberangi Coffey Street, mencegat mereka. "Siap berkendara denganku ke Coney Island?"

Anak itu melepaskan diri dari pegangan Ysabel dan berlari menghampiri, menghamburkan tangannya yang kurus memeluk lutut Hoolian.

"Lihat yang kubawa ini. Kita bisa menyelesaikan kamar mandinya sekarang."

Ia mulai memamerkan kotak peralatan yang baru itu, tetapi Ysabel menjejerinya, berteriak sekuat tenaga dalam bahasa Spanyol. "Larga de aqui! Vete a banar!"

Ia seorang wanita bertubuh besar yang merias wajah dan mengenakan sepatu hak tinggi hanya untuk pergi ke bodega.

"Ngapain kau di sini?" Ia menarik Eddie kembali dan menghalangi mereka berdua. "Kukira mereka mengurungmu lagi."

"Mereka sadar telah berbuat kekeliruan. Jam berapa Zana pulang? Aku perlu bicara dengannya."

Nona A telah memperingatkannya untuk tidak mengatakan pada siapa pun tentang apa yang baru terjadi di kantor jaksa wilayah, melihat betapa kacau akibat yang ia timbulkan gara-gara tak bisa menutup mulutnya.

"Bukankah ia sudah bilang tak ingin menemuimu lagi, culo?”

"Ya, tapi itu sebelum..."

Eddie berusaha memeluknya lagi, tapi Ysabel menarik tudung sweternya dan dalam kesibukannya itu ia melupakan putrinya sendiri, yang berdiri di sana, dengan lugu mengisap jempol.

"Yo, jangan begitu, mami." protes Hoolian. "Kau tak tahu apa yang menimpaku."

"Aku tahu polisi membangunkan setengah penduduk di sini, mencarimu, minggu kemarin."

Hoolian melihat anak itu mulai menjauh darinya, bersembunyi di balik paha Ysabel, menyadari ada yang tak beres. Seharusnya tidak seperti ini. Ini mestinya hari yang menyenangkan. Namanya telah dibersihkan—hampir. Ia tak lagi menjadi si orang jahat. Kini orang lain yang menyandang gelar itu. Dalam perjalanan menuju ke sini, ia bahkan berani membolehkan dirinya sendiri untuk sejenak merasa lega, berpikir mungkin semuanya akan baik-baik saja sejak saat ini. Tetapi ternyata kabar itu belum sampai ke dunia luar. Ia masih si monster di lingkungan ini, membuat orang-orang takut.

"Setidaknya bolehkah aku memberikan kado padanya?" ia bertanya, menyodorkan kotak peralatan, MetroCard, dan T-shirt. "Aku sudah berjalan jauh, dari Smith Street."

"Simpan saja." Ysabel menangkap kedua anak itu dengan tangan. "Tak ada yang membutuhkan sesuatu darimu."

56

"Terimakasih sudah datang di hari Minggu, Tom." Francis berjalan menyeberangi ruangan dan mengempaskan berkas karton manila tebal di atas meja. "Aku mengerti sulitnya meninggalkan anak-anak di akhir minggu di saat setiap hari kau tak pernah ada."

"Ya, mungkin kau harus menjelaskan pada istriku, tapi aku tak keberatan." Tom Wallis mengambil duduk di salah satu kursi logam.

"Dan sekali lagi maaf tentang malam itu."

Alih-alih mengatakan tak keberatan, Tom memajukan badannya ke depan. "Jadi, ada apa?"

"Kukira aku sudah menyebutkan di telepon tadi pagi, beberapa bukti baru muncul dan kami butuh bantuanmu untuk menafsirkannya."

"Apapun yang diperlukan untuk menyelesaikan semua ini." Tom menaruh telapak tangannya rata di atas meja. "Seperti yang kukatakan sebelumnya, kami hanya ingin semua ini berakhir."

"Benar. Kami pun demikian." Francis separo tersenyum. "Omong-omong...”

“Omong-omong..."

"Aku ingin membawamu mundur beberapa langkah. Pada malam saat adikmu tewas."

"Oke." Tom mengangguk, alis putih mulusnya mengernyit.

"Aku tahu ini menjengkelkan, mengulang kembali rincian lama ini, tapi kami hanya ingin memastikannya sekali lagi. Jadi... adikmu meneleponmu dua kali sekitar tengah malam. Boleh tahu apa isi pembicaraannya?".

"Kurasa mungkin ada di catatanmu." Tom melirik pada berkas yang tertutup itu. "Kami bicara tentang ke mana kami akan pergi untuk makan malam ulang tahun ibu. Aku mengusulkan Tavern di Green. Adikku mengusulkan untuk mencari tempat yang lebih intim, jadi ia menelepon lagi dengan beberapa saran."

"Kau ingat di mana saja tempat yang ia sebutkan?"

"Tidak, tapi apa perlunya? Kami tak pernah pergi."

"Tentu saja. Kau benar. Itu tidak penting." Francis duduk, berusaha mencari irama. "Aku hanya ingin memastikan. Kau tidak pergi ke apartemennya setelah itu, bukan?"

"Apa, malam itu?"

"Hanya memastikan kronologis tepatnya. Pengacara Julian Vega menantang kami untuk semua detail-detail kecil remeh. Benar-benar menyebalkan, perempuan ini."

"Tentu. Aku mengerti."

"Jadi kau benar-benar tidak mampir setelah bicara padanya, begitu?"

"Francis, itu ada di catatan pengadilan. Aku bersaksi tentang hal itu tahun 1984. Tidak." Tom menatapnya lurus di mata. "Mengapa pertanyaan ini muncul kembali?"

"Begini, yang terjadi adalah"—Francis menyentakkan ikat pinggang, memastikan senjatanya terlihat—"seorang saksi telah muncul."

"Benarkah?" Tom menggeleng, seakan berkata, Coba itu? Tidakkah hidup penuh dengan tokoh-tokoh remeh namun penting?

"Kau pun mengerti, ini mungkin hanya omong kosong," kata Francis. "Orang bermunculan dari sela-sela rumah saat mencium bau uang dalam kasus perdata. Ya, itu biasa terjadi. Tapi tetap kami harus melacak setiap jejak. Pada titik ini."

"Tentu, aku mengerti."

Tom membiarkan perhatiannya mengembara sejenak, cukup lama untuk menegaskan keberadaan kaca satu arah dan jeruji borgol di dinding.

"Siapa orangnya, omong-omong?"

"Seseorang yang bekerja di gedung itu. Kukira kau tak akan mengenalnya."

"Tidak, mungkin tidak." Tom menyilangkan kaki.

"Persoalannya, ia berkata melihatmu meninggalkan gedung lewat tengah malam."

"Aku?" Tom menyentuh satu kancing kemejanya. "Kau bercanda?"

Francis membiarkan keadaan seperti itu sejenak. Memberinya kesempatan merasakan sesuatu telah berubah. Bahwa meski dinding hanya sekitar empat meter jauhnya dan langit-langit hanya sekitar tiga meter dari lantai, dimensi ruangan itu entah bagaimana sedikit mengerut.

"Ada kesalahan," ujar Tom, gelisah di duduknya dan menyadari kaki-kaki kursinya sedikit pendek. "Aku tak tahu siapa yang kau ajak bicara yang punya ingatan begitu tajam setelah dua puluh tahun. Bagaimana tepatnya ia tahu siapa aku, omong-omong?"

"Ia bilang pernah melihatmu sebelumnya. Lelaki berambut dengan bentuk tubuh dan tinggi mirip denganmu, dan wajah hampir sama dengan adiknya di lantai atas. Itu gambaran yang cukup spesifik, bukan?"

"Kalau begitu ia keliru berkata telah melihatku. Aku tak tahu setua apa orang ini, tapi kukira ia agak linglung."

Tajam, pikir Francis. Ia berpikir ke depan seperti pengacara. Mengira saksinya seorang pria tua, yang bisa dicari tahu identitasnya oleh pengacara yang baik lewat pemeriksaan silang.

"Ya, tapi begini, ada hal lain yang terus mengganggu."

"Apa itu?"

Tom menegakkan duduk, masih berperan sebagai sarjana jujur yang berusaha membantu profesor linglung.

"Berkaitan dengan analisis DNA," Francis berkata. "Yang ada di koran."

"Ya."

"Begini, kau berkecimpung di bidang pemasaran alat medis. Kau mungkin sudah tahu tentang semua ini."

"Tidak," Tom menunduk. "Aku hanya menyampaikan informasi yang kuperoleh dari seminar pemasaran penjualan dan jurnal dagang. Aku bukan doktor."

"Aku yakin kau hanya merendah, tapi mari kita bahas tentang itu. Masalahnya, kita melihat hal ini dengan keliru."

"Dan mengapa begitu?"

Francis menggeser kursinya, memunggungi pintu. "Hasil analisis menunjukkan bahwa pembunuhnya XX, wanita, dengan separo gen dari ibumu. Memunculkan kesah ia punya putri lain yang tak ia ceritakan padamu."

"Begitulah yang kau katakan."

"Tapi, kau pun tahu, tiap orang ada cacatnya, di sana-sini. Apakah aku benar?"

"Aku tak yakin aku paham ke mana arah pembicaraanmu, Francis."

"Maksudku, tiap manusia punya mutasi, tapi tidak semuanya mesti muncul dalam satu usia hidupnya," Francis berkata. "Dan salah satu hal yang bisa terjadi adalah seseorang yang berpenampilan dan bertingkah laku seperti pria dari segala sudut. Namun ketika kau mengirim DNA mereka untuk dianalisis, ternyata profil yang muncul adalah wanita."

Tom mengambil napas dalam-dalam yang terdengar seperti sapu berujung keras menyapu trotoar.

"Itu bukan yang pertama terpikir oleh tim forensik. Kenyataannya, ini cukup aneh. Salah satu kutipan penelitian datang dari Charles Sturt University di Wagga Wagga, Australia."

Tom tak tertarik.

"Namun apa yang terjadi adalah bahwa memang bisa terjadi mutasi atau penghilangan ketika kromosom Y tidak muncul ketika mereka menguji gen yang pada kondisi normal mengatakan jenis kelamin seseorang. Mereka menyebutnya lokus amelogenin.''

Tom menatap sedikit lebih lama ke kaca satu arah, intuisinya dengan tepat mengatakan ada sejumlah orang berkumpul di sisi lainnya.

"Cukup menarik jika hal itu terjadi," lanjut Francis, seolah itu hanya persoalan ilmiah yang menarik perhatian. "Hal-hal kecil bisa menghancurkan satu pengujian. Seperti jika kau punya sejenis kanker. Tapi mungkin kau sudah mengetahuinya."

Ia memperhatikan tegangan halus otot kerongkongan Tom.

"Setelah kami menyadari kekeliruan tersebut, kini semuanya sama sekali lain." Francis mendekatkan kursinya. "Itu membuka kemungkinan untuk kami mencari tersangka pria. Seperti yang kami kira sejak awal."

Tom mengangkat satu jari ke keningnya dan memiringkan kepala, mulai mengerti dengan jelas ke mana arah pembicaraan ini.

"Kedengarannya ada banyak kekeliruan dalam kasus ini," ujarnya.

"Memang," aku Francis. "Tapi kini semua mulai kami pahami."

Tom mulai menggosok-gosok ruang di antara kedua alis. Mungkin berusaha menduga-duga aspek negatif meminta pengacara di titik ini. Pelan-pelan, Francis mengingatkan diri sendiri. Buka sumbat gabusnya perlahan-lahan. Beri ia jalan keluar. Tak akan ada manfaat dari seseorang yang disudutkan begitu cepat.

"Aku butuh bantuanmu." Francis menggores kaki kursi di seberangnya, dengan sengaja membuyarkan pikirannya. "Tampaknya darah di kuku adikmu itu berasal dari anggota keluarga pria."

"Kukira kau juga menemukan noda milik Julian Vega di apartemennya."

"Memang. Tapi saat ini, aku tengah berusaha memahami bagaimana darah saudaranya ini bisa menempel padanya."

"Ya, kau tahu aku memecahkan gelas hari itu," ujar Tom sependapat, tak kehilangan kendali.

"Kapan terjadinya?"

"Di dapurnya, tepat setelah makan malam. Aku mampir membawa beberapa berkas untuk ia tanda tangani, berkaitan dengan rumah nenek kami. Aku memecahkan gelas anggur dan ia membalutku."

Bagus. Francis hampir tersenyum kagum. Biasanya orang harus pergi ke konferensi pers Washington atau rapat umum pemegang saham perusahaan untuk mendengar pembohong macam ini.

"Aku mengatakannya padamu waktu itu," Tom berujar, mengantisipasi serangan berikutnya.

"Aneh, aku tak ingat ada pernyataan itu dalam catatanku." Kenyataannya, ia kini punya ingatan jernih tentang Tom yang mengenakan kerah terkancing dan lengan bajunya menjulur ke bawah saat itu, jauh sebelum hal itu menjadi mode; tak ada gores-gores mencolok hasil pembelaan diri tampak di lengan bawahnya.

"Ya, aku tak tahu apa yang kau catat atau tidak," Tom berkata, tampak terluka. "Tapi, aku ingat benar menunjukkannya padamu. Aku terkejut kau tak ingat."

Ia hebat. Francis harus memujinya. Dalam sempitnya ruangan ini, cerita itu bisa disingkirkan dan membeberkan apa yang sesungguhnya: kebohongan kecil demi bertahan hidup. Namun di ruang sidang, kebohongan itu punya kesempatan bernapas dan tumbuh membesar. Ia akan merasa tersemangati dan melawan balik. Tom akan duduk ke kursi saksi, dengan wajah anak desanya dan suara bergetar dihiasi cukup emosi, ia akan terdengar jauh lebih meyakinkan bagi para juri daripada polisi tua berwajah kemerahan dengan alis jahat dan mata lemah.

"Begitu, ya." Francis mengangguk. "Jadi, itu sebabnya kami menemukan darahmu di bawah kuku adikmu?"

"Jika itu yang kau temukan," ujar Tom, memastikan ia tak memberikan apa pun dengan gratis.

"Ya, itu bagus. Menjelaskan semuanya. Hanya ada satu masalah bagiku."

"Apa itu?"

"Mengapa kami menemukan darah yang sama di bawah kuku Christine Rogers."

Wajah Tom tampak berangsur melarut menjadi statis, seperti gambar di layar TV tua dengan antena yang rusak.

Bibirnya bergerak tanpa suara, gerak-geriknya menjadi kabur, matanya kehilangan fokus. Ia diam beberapa saat untuk menata kembali emosi dan menajamkan konsentrasinya kembali pada Francis yang duduk hanya satu meter jauhnya, tak menyisakan ruang menuju pintu kecuali melewati dirinya.

"Tunggu sebentar," kata Tom. "Dari mana kalian tahu bahwa itu DNA-ku? Aku tak ingat memberi spesimen pada siapa pun."

"Ya." Francis menggaruk belakang telinganya. "Kau tahu, keluargamu telah mengalami begitu banyak hal, ada suara yang menentang pengajuan surat perintah untuk melanggar privasi siapa pun dan memaksa mereka memberikan sampel di luar kehendak mereka. Jadi, kami memakai apa yang tersedia untuk masyarakat umum."

"Apa yang kau bicarakan?"

"Kamis malam adalah waktu pengangkutan sampah di lingkunganmu, bukan? Apa yang ada di trotoar adalah hak milik umum."

Kolam kulit kecil di bawah mata Tom berubah menjadi biru samar, seakan sepasang ibu jari menekannya.

"Kau mengaduk-aduk sampahku?"

"Hey, aku juga menentangnya," Francis berdusta, pura-pura menjadi polisi baik sesaat. "Kubilang, 'Kalian gila. Kalian hanya akan mempermalukan diri sendiri dan akan kalian lihat "Tom tak ada kaitannya dengan ini.' Tapi staf legal departemen kami berkata silakan saja. Itu pernah dilakukan sebelumnya. Tong sampah bagaikan Disneyland bagi DNA. Kerajaan Magis, tempat mimpi menjadi kenyataan. Dan kebetulan sekali kami menemukan sebuah kondom."

Tom mendengarkan dengan tenang. Alisnya yang terang tak lagi terlihat seperti anak kecil, mereka membuatnya tampak agak tak mirip manusia, tanpa ekspresi atau penyesalan moral. Ini adalah bagian mengerikannya. Ia bisa meminta pengacara kapan saja saat ini. Francis mengetuk-ngetuk pulpen ke meja. Mereka saling dekat, namun tak sedekat itu. Ia tak bisa membiarkan Tom pergi tanpa membuat pernyataan atau semacamnya. Tak ada celah keraguan kali ini. Ia perlu mendapat pengakuan.

"Aku tak yakin yang kau lakukan itu sah," ujar Tom. "Mungkin aku harus minta pengacara."

Dengan tenang Francis meletakkan pulpennya di samping. "Ya, bagiku tak masalah jika kau menginginkan pengacara, Tom. Hanya, jika demikian kita tak bisa memberitahumu apa lagi yang kami miliki."




0 Response to "The Devil's DNA"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified