Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Devil's DNA

Dilihatnya kalimat itu membuat dagu Tom terangkat dan matanya berkedut sesaat; cukup lama bagi Francis untuk mengerti rasa tertariknya untuk mendengarkan semua bukti yang ada.

"Dengar, kita sudah saling kenal begitu lama," ucap Francis. "Aku yakin kau bisa menjelaskan mengapa semua terlihat seperti ini."

"Yeah, kerjamu buruk."

Francis mengangguk. Ya, itu benar. Kau lebih pintar dariku. Kau tak butuh pengacara. Aku hanya keledai bodoh setengah buta yang menjebloskan anak malang ke penjara selama dua puluh tahun untuk sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Tapi tak apa. Aku tidak gila. Ia tak membebaniku. Tak menggerogotiku dari dalam. Tak membuat ragaku sakit. Tak membunuhku. Teruskan. Aku bisa menghapus noda dari jiwaku. Memang sudah kotor. Tak apa. Lakukan. Kau bisa mengalahkanku lagi.

"Ya, ada kemungkinan sampelnya tertukar di laboratorium. Selalu ada celah untuk human error."

"Setuju."

"Jadi kau tak pernah bertemu perempuan ini, Christine. Benar?"

"Siapa?"

"Christine Rogers. Dokter perempuan yang terbunuh beberapa minggu lalu. Kau tahu."

"Aku bertemu banyak orang," ujar Tom dengan suara datar. "Aku keluar masuk rumah sakit sepanjang waktu, melakukan penjualan di telepon dan mempromosikan produk kami pada para staf. Itu pekerjaanku."

"Tapi kau tak ingat wanita ini secara khusus?"

Terang alisnya membuat ia terlihat aneh tak tergerak oleh pertanyaan itu. "Kadang aku mengadakan demo tentang cara kerja alat dan ada banyak dokter di dalam ruangan. Aku tak begitu pintar mengingat nama."

"Kukira itu satu kelemahan bagi seorang agen penjualan."

Tom melihat jam, mengira-ngira berapa lama lagi ia mesti tinggal di sini.

"Begini, aku akan memberitahumu sesuatu yang tak muncul di koran." Francis memajukan badan, menyelipkan kait dengan terampil sebelum masalah pengacara itu muncul lagi. "Gadis—wanita—ini, ketika kami menggeledah apartemennya, ternyata menyimpan setumpuk kliping koran tentang kasus adikmu."

Tom mulai memainkan kancing kemejanya lagi meski ekspresinya tetap tak berubah.

"Sepertinya ia agak terobsesi dengan hal itu," lanjut Francis. "Ia bahkan mengatakan pada beberapa rekannya bahwa menurutnya Julian Vega mengalami nasib malang."

Dilihatnya Tom membalik-balik kancing, seolah bermaksud mencabutnya. Tapi rautnya tetap sama: jauh, tampak polos, mungkin sedikit ingin tahu. Seolah ia tak tahu apa yang tangannya inginkan.

"Itu aneh, tapi aku tak tahu apa kaitan hal itu denganku," ujarnya. "Mungkin ia kenal Julian dari sekitar lingkungannya, dan ia menceritakan kisah malangnya tentang bagaimana ia dipenjara padahal ia tak bersalah. Lalu ia berbalik dan melakukan hal yang sama padanya seperti yang ia lakukan pada adikku. Itu yang dilakukannya. Ia berhasil mendekati gadisgadis ini, lalu saat mereka tak memberinya apa yang ia inginkan, mereka dibunuhnya."

"Ya, itu juga terpikir olehku. Orang punya kebiasaan cara mengulang pola yang sama dalam hidup mereka, terus dan terus begitu, hingga mereka memperoleh apa yang mereka inginkan."

Francis tersenyum singkat.

"Nah, setelah saksi ini maju dan hasil DNA muncul, kami mulai mencari di tempat lain dan memeriksa detil yang tak kami ketahui sebelumnya. Seperti ketika ibumu datang ke ruang gawat darurat di RS St. Luke suatu malam ketika Christine tengah bertugas jaga."

"Apa artinya?" garis-garis di tenggorokan Tom makin dalam meski samar. "Apa kaitannya?"

"Kami membandingkan tanda tangan dan mengetahui bahwa kaulah yang mendaftar untuk ibumu malam itu di bagian pendaftaran. Kami pikir mungkin kau bertemu Christine."

"Ayolah, itu menggelikan, Francis." Tom melambaikan tangan. "Itu ruangan besar yang penuh dokter dan perawat. Aku pernah keluar masuk di sana ratusan kali, menggelar presentasi. Tentunya aku tak ingat bertemu wanita itu."

"Benar, kami sudah mengira kau akan berkata seperti itu," ucap Francis, mengangguk sependapat. "Tetapi lalu kemarin kami menemui anggota satpam yang mengenali fotomu dan menurutnya ia pernah melihat kalian berdua minum kopi di kafetaria beberapa bulan lalu."

"Ia keliru."

"Ia keliru?" Francis tersenyum sinis.

"Ya, aku sering dengar tentang saksi-saksi yang membuat keterangan palsu."

"Jadi orang yang bekerja di apartemen adikmu keliru melihatmu di malam adikmu terbunuh dan anggota satpam rumah sakit keliru melihatmu bersama Christine? Itu yang ingin kau katakan padaku?"

"Aku tak tahu siapa orang-orang ini dan apa tujuannya. Mungkin saja mereka melihat fotoku di koran dan ada kebingungan. Itu biasa terjadi."

"Lalu bagaimana dengan ponsel itu?"

"Ponsel apa?"

"Wanita itu menelepon dua-tiga kali ke telepon yang terdaftar atas namamu."

"Bagaimana aku tahu?" Tom bertanya. "Mungkin ia berteman dengan orang lain di perusahaanku."

"Tom, ayolah." Francis menyentuh lututnya ringan. ".Kau bertemu dengannya. Makin lama kau menyangkalnya, hanya makin buruk keadaannya."

"Baik," ujar Tom mendadak. "Kurasa aku tak ingin berkata apa-apa lagi."

Francis menekan lutut Tom sedikit lebih kuat sebelum menarik"tangannya. Tidak, kau tak akan pergi ke mana-mana kali ini. Jeny Cronin dan mereka semua berada di balik cermin, dalam diam memintanya untuk menyelesaikan, menganggap mereka sudah punya cukup bukti untuk melakukan penahanan. Tapi ia menginginkan lebih. Ia membutuhkan pernyataan, ia harus mendapatkan tulang dan organ tubuh kejahatan ini, diserak di meja agar semua orang melihat, hingga tak ada keraguan atau duga sangka, tak lagi mengirim orang yang salah kali ini.

"Bantu aku untuk mengerti." Ia memutar kursi dan mengangkang kaki, berhadapan langsung dengan Tom. "Aku yakin ini bukan kesalahanmu. Kau dan ibumu bertemu gadis ini di rumah sakit. Dan kemudian kurasa ibumu berteman dengannya di sana, karena kami tahu mereka saling menelepon beberapa kali setelahnya. Ibu mencari putrinya, seorang anak mencari ibunya. Hal macam itu..."

Ia dapat melihat dari cara Tom memalingkan kepala bahwa ia berada di jalur yang benar.

"Jadi aku kira mungkin kalian bertiga bertemu, makan malam, kau mungkin mengucapkan terima kasih padanya karena telah menjaga ibumu. Dan kau mungkin sedikit terlibat dengannya. Oke. Itu sering terjadi. Tak ada yang menilai siapa pun di sini. Maksudku, polisi dan perkawinan., fiuh....Aku tak akan menyalahkan siapa pun...."

Tom mengetuk-ngetuk kepala, tak diragukan lagi tengah berusaha mengingat nomor telepon pengacaranya. Aku bisa melakukannya, Francis berkata pada diri sendiri. Aku bisa membuat semua orang menyerah. Bakat alami. Seperti Mickey Mantle memukul bola bisbol atau Pavarotti menyanyi opera.

"Tapi gadis ini..." Ia menggeleng, terus menekan kasusnya. "Ia jenis gadis yang tak pernah ingin melepaskan apapun juga. Ia berkencan dengan orang ini, orang baik, memperlakukannya dengan amat baik. Membawanya makan malam. Membelikannya perhiasan indah..." Ia merendahkan dagu dan menatap Tom, tak perlu dikatakan lagi mereka telah memeriksa catatan kartu kreditnya dan melihat tagihannya. "Tapi gadis itu terus mengganggunya, menanyakan pertanyaan tentang keluarganya. Peristiwa mengerikan yang terjadi di masa lalu, yang sama sekali bukan urusan orang lain..."

Ayolah, bung. Mengakulah padaku. Kau bisa memer-cayaiku. Sepanjang hidupnya, ia selalu menemukan cara untuk menjalin ikatan dengan para pelaku tindak kejahatan biadab, brutal, dan kadang tak termaafkan. Ia memperlakukan mereka setara, membandingkan masa kecilnya yang kurang bahagia dengan mereka, mengecilkan betapa seriusnya kejahatan yang mereka lakukan. Kau merampok bank? Memangnya kenapa? Kau tidak sampai membunuh orang. Oh, kau memang membunuh seseorang? Hey, itu kecelakaan. Kan tidak seperti seolah kau pergi dan sengaja merampok bank.

"Maksudku, gadis itu mulai mengendap-endap di belakangnya, bicara pada orang-orang, mengumpulkan artikel koran setelah lelaki itu keluar penjara. Memang menyebalkan betul. Ia berusaha mengaduk-aduk peristiwa menyakitkan tepat saat keluarganya sedang terluka."

Tom memalingkan kepala hampir sembilan puluh derajat, namun satu matanya tetap melihat Francis, seolah ia khawatir berpaling.

"Lalu kemudian ia mulai menarik satu kesimpulan," ujar Francis. "Bicara tentang hal-hal yang tak ia ketahui."

Tumbuh semacam kegelisahan di antara mereka, seolah ia membuat lingkaran terlalu melebar. Sudah waktunya untuk lebih mendekat dan mengambil risiko terluka.

"Jadi, ia mulai melemparkan tuduhan-tuduhan, tentang lelaki itu dan adiknya."

Ruangan itu dipenuhi kesunyian paling mencekam yang pernah Francis rasakan seumur hidupnya. Ia dapat mendengar filamen mendengung di lampu neon, bunyi hidrolik sistem pencernaan Tom, lem melepas rekatannya dari lantai ubin, seolah seisi ruangan itu mendekat, molekul demi molekul.

"Apa yang ingin kau katakan, Francis?" ia bertanya dengan suara tajam.

"Aku hanya bilang hal-hal terjadi dalam satu keluarga yang tak akan dipahami orang luar. Dan, gadis ini, Christine, mungkin mengetahui jelas beberapa hal yang tak semestinya ia ketahui."

Aroma busuk mulai menguar dari Tom, meski ia duduk tanpa ekspresi, dari kaus Oxford dan celana khakinya.

"Sepertinya aku ingin muntah."

Francis menarik kaleng sampah kecil dari bawah meja dan menaruhnya di samping kursi Tom. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan."

"Aku tak percaya kau mengatakan ini semua padaku. Aku dulu menghormatimu."

"Dulu kau menghormati^?" bibir Francis mengerucut.

Tom mulai bangkit, tapi Francis mendudukkannya kembali, dengan telapak tangan di dadanya.

"Duduk," ujarnya. "Kita belum selesai."

Ia menyeka tangannya pada celana dengan jijik. Ia melihat kaca satu arah itu bergetar dan tahu Jeny Cronin dan yang lain di belakangnya mungkin tengah berdebar-debar.

"Aku tahu apa yang kau lakukan padanya." Francis menekan, memperkecil jarak. "Aku tahu kau menyuruhnya memakai pewarna di rambutnya agar ia lebih terlihat seperti adikmu. Aku tahu kau memberinya beberapa buku fiksi ilmiah lama milikmu. Aku tahu kau berusaha memperoleh kembali apa yang kau miliki dengan Allison..."

Tak ada gunanya. Kesempatannya telah hilang. Ia menyadarinya tepat setelah ia menyeka tangan dengan jijik pada celananya, seakan baru menyentuh sesuatu yang bukan manusia. Ia mematahkan ikatan itu serta aturannya sendiri lewat gerakan itu, memberi tahu si tersangka dengan jelas apa yang ia pikirkan tentangnya. Kini Tom hanya menatapnya, tak berkedip. Tak merasakan panas itu lagi.

"Pengacaraku," ucapnya. "Aku sudah cukup mendengar."

Kata-kata tak akan ada gunanya kali ini, Francis sadar. Ia memerlukan cara lain.

"Oke, kita tak perlu bicara lagi," ujarnya. "Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu."

Ia membuka berkas kasus yang tergeletak di tengah-tengah meja, tak tersentuh hingga sekarang.

"Nih, ini Christine." Ia mengeluarkan foto Polaroid yang Rashid ambil di TKP: seorang gadis dengan tenggorokan tersayat dan darah meresap di sela-sela ubin kamar mandi. "Aku mengerti mengapa kau pergi dengannya. Ia jenis gadis yang sama dengan adikmu. Mungkin sedikit terlihat lebih tua. Tak ada sifat kekanakan padanya. Tapi kau kan tak selalu bisa bergantung pada usia, bukan?"

Tom terus menatap, ekspresinya tak berubah meski bau yang muncul darinya mulai menajam dan tak sehat.

"Dan, ini Allison." Francis mengeluarkan foto kedua sebelum Tom mengungkapkan keberatannya. "Tapi kukira kau tahu itu."

Tom memandang satu mata utuh adiknya menatap dirinya dari kolam darah yang ia buat di wajah adiknya itu.

"Ayo, lihatlah." Francis memajukan badan, hampir menaruh tangannya di tengkuk Tom. "Apa yang kau takutkan? Ia telah mati. Ia tak akan bercerita pada siapa pun betapa kau dulu suka memerkosanya."

Tom memandang satu mata utuh adiknya menatap dirinya dari kolam darah yang ia buat di wajah adiknya itu.

"Ayo, lihatlah." Francis memajukan badan, hampir menaruh tangannya di tengkuk Tom. "Apa yang kau takutkan? Ia telah mati. Ia tak akan bercerita pada siapa pun betapa kau dulu suka memerkosanya."

Tom berusaha berpaling, tapi pupil matanya menyentak dua kali seolah tertarik magnet. "Ayolah, Tom. Apakah ini menolongmu? Apa ini memberimu sebuah penyelesaian?"

Tanpa aba-aba, Tom membungkuk dan muntah di samping kaleng sampah, menciprati sepatu Francis.

"Baiklah." Ia meletakkan kening di atas meja setelah selesai. "Kurasa aku ingin menghubungi pengacaraku atau pulang dan menemui anak-anakku."

"Tom, aku punya kabar buatmu." Francis menggapai kotak tisu. "Kau tak akan menemui putri-putrimu malam ini."

57

Entah mengapa, anak lelakinya itu selalu terasa asing baginya, menutup diri, jauh, tak terjangkau. Eileen berdiri di samping sekat jendela, memperhatikannya dari belakang di meja dapur. Anak siapakah ini, membaca koran sehari setelah ia ditahan dan menikmati dua wadah es krim, satu persatu, tanpa bertambah gemuk? Dari mana ia memperoleh kebiasaan terus-menerus menggosok tengah keningnya dengan satu jari? Tentu bukan dari dirinya atau ayahnya, si pemabuk gendut itu. Kini ia sadar bahwa sejak pertama kali perawat di Lenox Hill menaruhnya di dadanya, lembab dan biru, menatapnya dalam keheningan menyeramkan, di sana sudah ada sesuatu padanya yang ia tak kenali.

Rasanya ia hanya menyamar menjadi'anggota keluarga mereka; hal-hal asing dan menakutkan bergolak di balik alisnya yang hampir tak kentara. Mulanya, ia berkata pada diri sendirinya, ia hanya berkhayal. Anak itu tidak benar-benar berbeda dari anak lelaki lain. Memang ia kadang tertutup, sedikit sembunyi-sembunyi. Tetapi kemudian Eileen mulai menyadari anaknya itu pembohong yang amat hebat, seolah satu sisi dirinya sama sekali tak tahu apa yang sisi lainnya lakukan. Siapa yang memecahkan vas, Tom? Demi Tuhan, aku tak tahu, Bu. Aku keluar seharian. Ke mana uang yang kutinggalkan di atas lemari? Aku tak pernah melihatnya. Makin besar kebohongannya, makin Eileen sadar anaknya sengaja menyimpan sebagian dirinya tersembunyi darinya. Mengapa adikmu menangis? Apa yang kau katakan padanya? Apa yang kau lakukan di kamarnya kemarin malam?

Hal itu pasti dimulai ketika ia berusia sekitar sebelas dan adiknya enam tahun. Tidak, Eileen belum sanggup membayangkannya. Rasanya seperti menatap matahari. Kau tahu ada sesuatu di sana namun tak mampu memandangnya. Karena akan membakar mata keluar dari tengkorakmu. Ia mendengarkan irama denting sendok di atas porselen di dapur yang kosong.

Ia telah berusaha. Membawanya ke ahli terapi dan psikiater terbaik di Upper West Side. Tetapi mereka tak pernah tahu siapa atau apa yang telah merusaknya. Tom selalu bersikeras tak ada yang pernah menyentuhnya, dan sejauh yang Eileen tahu itu memang benar. Hanya ada kelaparan mengerikan dalam dirinya. Ada hal-hal yang tak bisa kaujelaskan. Jadi, akhirnya Eileen mengirimnya pergi, pertama ke sekolah berasrama lalu tinggal dengan ayahnya, saat ia menyadari dirinya tak mampu lagi mengendalikannya. Tetapi ia terus kembali lagi dengan nafsu makan lebih besar. Bagaimana mungkin kau memisahkan abang dan adiknya? Tiap kali mereka saling tatap satu sama lain rasa tertarik itu makin besar, seakan mereka terus-menerus menemukan kembali bagian diri mereka yang telah lama hilang.

Eileen mengira, tumbuh dewasa dan menikah akan mengubahnya, menyembuhkannya dari apapun itu yang membuatnya seperti itu. Tetapi gadis yang ia pilih lemah dan tak sebanding, tak mampu memegang tugas. Gadis itu seperti Thumbelina: orang kecil yang tak pernah bisa membesar. Hampir tak lebih seperti anak-anaknya sendiri, tak mampu mengatasi tuntutan hidup di perkotaan, apalagi membesarkan dua putri kecil di sarang serigala.

Saat Eileen berusaha bicara dengannya tentang masa depannya pagi tadi, berkata mereka tak bisa berpura-pura lebih lama lagi, bahwa mereka harus menguatkan diri dan memikirkan anak-anak, ia hanya diam dan mengerut. Duduk di atas selimut perca dengan lampu rendah sambil menonton saluran TV hiburan, dikelilingi artikel majalah mengenai kelelahan kronis dan virus Epstein-Barr, dan berkata yang ia inginkan hanyalah tidur. Tom telah mengatakan padanya bahwa itu semua hanya tipuan, saksi palsu, pembunuh dan penyelidik brengsek berusaha mengalihkan kesalahan dari mereka sendiri. Semua akan baik-baik saja karena ia berkata semua akan baik-baik saja. Dan bagaimana Eileen bisa menyalahkannya? Hampir sepanjang hidupnya, wanita itu tak pernah berubah. Hanya perlahan-lahan bangun kala matahari mulai menerpa bumi.

Didengarnya Stacy, enam tahun dan bak pinang dibelah dua dengan bibinya saat seusia dirinya, turun dari tangga, mencari-cari hidangan pencuci mulut.

"Ayah, apa masih ada sisa mocha almond fudge?”

Ia muncul di lawang pintu dapur, menyilangkan pergelangan kaki sambil menggigiti ujung kepangannya seperti Allison dulu.

"Maaf, Sayang." Dari sekat jendela, Eileen melihat Tom sengaja mengambil karton wadah es krim Haagen-Dazs dan menaruhnya di kursi di sampingnya, tempat yang tak akan' terlihat oleh putrinya. "Kita tak membelinya lagi. Menurut ibu, kalian sudah makin gemuk."

Stacy menjulurkan lidah kecewa.

"Ayo sini, Sayang," ujar Tom. "Ayah baru mengalami hari sulit. Ia butuh dipeluk."

Dengan enggan, putrinya menghampirinya, menyeret sandal balet di ubin, solnya mengeluarkan bunyi seperti kepala korek menggesek batubara.

"Bolehkah aku memandikanmu?" Tom melingkarkan tangan memeluknya.

"O-oke." Anak itu menyender tegang dan mendesah dramatis.

"Itu baru anakku."

Eileen merasa dirinya kaku, melihat tangan lelaki itu mengeluyur turun dan meremas hati kecil merah muda di saku belakang jeans anak itu. Sebuah suara di kepalanya menjerit saat tangan anaknya tetap di sana dan terus meremas, seolah yang ia genggam adalah jantungnya sendiri. Ia tak ingin melihatnya, namun tak berani untuk berpaling. Akhirnya Tom melepaskannya, namun suara itu terus menjerit. Sesuatu tak berhenti. Sesuatu tak berhenti hingga kau membuatnya berhenti.

Eileen mendaki tangga dan menyeberangi bidang menuju ke kamar mandi agar ia bisa menunggu di sana untuk mengambil alih darinya ketika mereka tiba.

58

Senin pagi, Hoolian kembali ke Bagian 50 Pengadilan Tinggi Negara Bagian New York di Manhattan, bak penjelajah waktu di episode Twilight Zone yang kembali ke waktu tepat saat hidupnya berantakan.

"Warga New York melawan Julian Vega," seru pegawai pengadilan.

Ia berdiri dan secara naluriah mengambil sikap bersalah klasik, tangan di belakang, kepala menunduk, melirik sekali dari bahunya, melihat apakah Zana atau orang lain yang ia titipi pesan hadir.

"Nona Aaron." Hakim Bronstein menaikkan suaranya, memastikan media di barisan belakang dapat mendengarnya. "Mendekat."

Nona A. melangkah maju, merapikan kerah.

"Yang Mulia, kami mengajukan mosi untuk mencabut dakwaan terhadap Saudara Vega."

"Saudara Raedo?" Hakim itu menoleh ke kiri pada meja penuntut. "Ada hal lain yang ingin Anda sampaikan?

"Tidak, Yang Mulia. Kami tak akan membantahnya."

Asisten Jaksa Wilayah bahkan tak mau repot-repot melihat. Hanya pura-pura sibuk dengan berkas-berkas, seolah ia punya hal lain yang lebih penting di benaknya. Hal itu membuat Hoolian merasa begitu kecil, tak dihormati, seakan makna hidupnya bahkan tak layak diketahui. Ia separo ingin mendekat dan mencengkeram hijo de gran puta itu dari belakang lehernya, dan menghantamkan wajahnya dua atau tiga kali ke meja, untuk peringatan atas perilakunya.

"Oke." Hakim mengetok palu. "Dakwaan dicabut. Saudara Vega, Anda bebas pergi. Atas nama pengadilan, saya ingin menyampaikan bahwa apa yang menimpa diri Anda sangat disesalkan. Tak ada yang ingin menerjuni bidang ini: ingin mengirim orang tak bersalah ke penjara..."

Suaranya terdengar makin samar selagi ia berbicara dan membuat gerakan tangan. Hoolian merasa pusing dan kehilangan orientasi, melewatkan sejumlah ucapan hakim.

"...dengan begitu secara pribadi saya ingin mengucapkan semoga berhasil dengan kehidupan Anda selanjutnya dan jika Anda kelak masuk ruang pengadilan lagi, saya harap itu hanya sebuah kunjungan."

Ia mendengar suara tawa palsu dari barisan pers selagi sang hakim menggapai ke bawah mengulurkan tangan kurusnya yang entah mengapa membuatnya berpikir tentang batang-batang mawar berduri terbungkus tisu tipis. Saat ia berjinjit dan menjabat tangan itu, Nona A menyikutnya dari belakang jaket, menyuruhnya melakukan satu tugas lain.

Ia menoleh dan dilihatnya Paul Raedo menunggu, tangannya terulur lemas seperti cangkir pengemis.

Selama sesaat, semua tampak membeku. Pegawai pengadilan, kerumunan reporter, pengacara lain yang menunggu kasusnya dipanggil, semua memajukan badan untuk melihat apa yang akan ia lakukan. Air liur rasa tembaga mengumpul di belakang mulutnya, menciptakan dorongan untuk menyemburkannya pada wajah lelaki itu. Paling tidak itu layak dia dapatkan. Tapi matanya kemudian jatuh ke barisan tepat di belakang meja terdakwa, tempat ayahnya dulu duduk tiap hari di pengadilan dengan mengenakan setelan terbaiknya, berusaha menunjukkan pada dunia orang macam apa mereka sebenarnya.

Ia merapatkan bibir dan mengulurkan tangan, diam-diam mengutuki diri sendiri atas sikap terhormatnya itu.

"Oke, Bung." Ia meremasnya hingga merasa sedikit puas melihat si penuntut itu meringis.

"Aku akan menghubungimu untuk bicara tentang perjanjiannya." Nona A memiringkan badan ke bahu Hoolian. "Aku akan memikirkannya."

"Aku ada di kantor." Raedo memijit tangannya. "Tapi jangan terlalu berharap banyak."

Di lobi, beberapa menit kemudian, Hoolian ragu-ragu di belakang detektor logam, secara naluriah mengeluarkan tangannya.

"Tak apa." Nona A. muncul dari belakang dan menyentuh sikunya. "Kau tak perlu membuat mereka memeriksamu lagi. Kita akan pergi."

Hoolian menyisi melewati bingkai mirip bilik tol itu, masih mengira akan mendengar seruan penjaga, "Berhenti." Alih-alih, pegawai pengadilan hanya meneruskan tugasnya memeriksa tas dan melambaikan tangan pada orang-orang yang bergerak menuju ruang sidang, seakan ia tak terlihat.

Ia mengikuti Nona A. melewati pintu putar dan keluar menuju trotoar, diikuti perasaan aneh seakan ia berjalan mundur melewati waktu.

Puluhan juru kamera dan reporter berita telah bersiap di bawah perancah biru di atas trotoar, tak jauh dari tempat mereka berdiri sehari setelah juri memutuskan dirinya bersalah sembilan belas tahun, delapan bulan, dan dua belas hari yang lalu.

"Julian, apa kabar? "

"Julian, apa Anda merasa bersih?"

"Julian, apakah Anda sakit hati?"

Ia menengadah, mengenali suara terakhir ini sebagai seseorang yang pernah memanggilnya ‘Hooooliiiyaaan' terus-menerus dengan suara sumbang di luar Seksi 19. Ternyata ia seorang lelaki pendek berjanggut mengenakan kartu pers dari Post dengan kertas-kertas berjatuhan dari buku catatannya; bagian tengah tubuhnya tampak lembut dan mengundang, seakan-akan kepalan tak akan keluar dari sana ketika ia meninju.

"Tak ada komentar lagi, untuk saat ini." Nona A. maju mendekati mikrofon selagi lampu kilat terus menyala dan kamera tak henti menjepret. "Kami yakin keadilan akhirnya terwujud hari ini. Saudara Vega ingin mengucapkan terima kasih pada semua pendukungnya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama kerabat dan teman-temannya..."

Hoolian ikut mengangguk ramah, menjadi aktor sesaat, raut wajah dan tingkahnya yang sopan menutupi ledakan emosi yang bergolak di kepalanya.

"Julian, apa rencana Anda di masa datang?" seorang reporter wanita dengan rambut bob dan gigi-gigi kecil menyeru.

"Aku tak tahu," jawabnya. "Mungkin aku akan mengambil kuliah hukum. Aku sudah mengenal sistemnya cukup baik..."

Dilihatnya beberapa dari mereka mulai menjauh saat Nona A maju dan berkata tak ada komentar lagi untuk saat ini. Lampu sorot pun beralih. Mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan. Tak ada alasan lagi untuk tetap di sana. Ia menyadari pembebasannya mungkin hanya akan muncul di halaman tiga. Berita besar hanya pada saat tuduhan awal. Dilihatnya salah satu koresponden mengambil mikrofon dan mulai berlari sepanjang blok, tempat hadirnya cerita lain yang jelas menarik perhatian mereka. Melewati desakan orang-orang, ia melihat sekilas sosok Tom Wallis, tampak pucat dan ketakutan. Nona A sebelumnya berkata lelaki itu akan datang ke pengadilan sore ini untuk didakwa atas pembunuhan adiknya. Seorang pengacara tua penuh keriput dengan dasi kupu-kupu rapi berdiri di sebelahnya, menghalau serbuan pertanyaan. Hoolian tak peduli sama sekali apa yang akan dilakukan mereka pada Tom di penjara. Tetapi saat kerumunan itu berlalu, bak kawanan ternak, Hoolian melihat ibunya hadir bersama mereka, sosok seperti hantu berambut merah dan kaca mata bintik. Ia berpikir wanita itu pasti wanita paling kesepian di dunia sekarang. Bagaimana mungkin orang dapat melanjutkan hidup, mengetahui putra satu-satunya telah membunuh putri tunggalnya? Ia akan sinting atau mati.

Ia mengamati mereka semua menaiki tangga dan melewat pintu putar, memasuki mesin kelabu tempat ia baru saja keluar darinya.

Begitulah. Sirkus telah selesai. Tom yang akan menjadi berita utama esok hari. Kisah Julian Vega sudah berakhir. Tidakkah mestinya langit terbelah? Tidakkah mestinya hujan lebat turun dan membilas bersih jalanan? Tidakkah matahari mestinya terbit dari barat dan terbenam di timur? Tidakkah mestinya Tuhan mewujud dan menjelaskan padanya? Tidakkah mestinya ada....sesuatu yang lebih dari ini?

Tetapi hari itu tak ada yang istimewa. Seorang pengacara dengan mantel Burberry melangkah di depannya untuk mencegat taksi. Sepasang reporter membuntuti di belakangnya, bicara pada Nona A. tentang kasus lain yang ia tangani. Sebuah mobil polisi meluncur dengan sirene menyala, tak memedulikannya sama sekali.

Mestinya ia bersuka cita. Akhirnya semua selesai. Ia bisa melakukan apa saja sekarang. Alih-alih begitu, ia merasa tersesat dan sedikit takut. Ia memperhatikan taksi-taksi kuning berseliweran dan dalam benaknya terpikir bahwa tiap sopir, bahkan imigran paling hangat yang baru turun dari pesawat sekalipun yang hampir tak dapat berbahasa Inggris memiliki sesuatu yang ia tak punya—surat izin mengemudi. Ia bahkan tak yakin yang mana pedal gas. Mendadak, ia mengambang dalam semua detil asing kehidupan sehari-hari. Asuransi, ongkos kesehatan, tabungan pajak yang ditangguhkan. Ia pernah mendengar semua itu tapi takut bertanya pada orang-orang apa itu. Bagaimana ia akan mengejar hal-hal yang tak ia ketahui?

Ia sadar dirinya berada di tengah lautan. Untuk beberapa lama ia tenggelam dalam tuntutan hukum, tapi begitu hal itu selesai, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Tanpa kasusnya, tanpa perkara ini, hidupnya tak memiliki arah, tak ada struktur, tak ada pengaturan prinsip. Dan sekali ia membuka kepalan dalam diri yang telah membuatnya bertahan begitu lama, semua yang ia punya runtuh.

Segala yang ada di Foley Square seakan berputar mengelilingi dirinya. Semua orang bergerak melewatinya penuh tujuan yang membuatnya merasa makin tak terarah, kesepian, dan rapuh. Bus biru putih Direktorat Pemasyarakatan menepi di sisi pintu masuk gedung pengadilan, membawa tahanan dari rumah tahanan sementara ke penjara. Ia punya firasat jika tak berhati-hati, tak lama ia pun akan turut menaiki bus itu.

Tapi lalu ia merasakan getaran kereta bawah tanah Lexington Avenue tepat di bawah kakinya dan dalam embusan angin yang merayap dari kisi-kisi ia merasakan, meski hanya sesaat, kehadiran ayahnya.

Ia akan menemukan jalan, katanya dalam hati. Sesuatu akan menunjukkan ke mana ia harus pergi. Dan, saat reporter terakhir akhirnya berlalu, dilihatnya Zana berdiri bersama Eddie di belakang kerumunan selama ini, menunggunya. Sambil terhuyung-huyung menghampiri mereka penuh rasa syukur, dilihatnya anak itu memegang sesuatu seperti spanduk jatuh yang ia ambil dijalan, setengah terlipat, dilengkapi keterangan, peta sistem kereta bawah tanah New York City.

"Bisakah kita pergi ke Coney Island sekarang?" anak itu bertanya, seolah jenuh menunggu.

59

Tepat saat Francis berbalik dari konter Starbucks membawa dua cangkir kopi panas membakar, seorang gadis ceroboh berkepala plontos muncul dari bintik butanya dengan Rollerblade, mengayunkan tangan liar sambil meluncur tepat ke arahnya. Sudah terlambat untuk menghindar baginya dan tak ada ruang untuk bergerak. Namun entah bagaimana ia berhasil menangkap lengannya, memutar dengan anggun seperti seorang pedansa waltz, dan melepaskannya tanpa menumpahkan setetes pun atau membakar siapa pun.

"Aku terkejut kau berhasil," ujar Hoolian, setelah Francis berhasil kembali ke meja dan duduk, wajahnya agak merah dan perasaannya sedikit kacau.

"Yeah, mestinya orang bersepatu roda dilarang masuk."

"Maksudku, aku terkejut kau datang."

Francis menyodorkan kopi, ia pun sedikit kaget berada di sini. Ketika mendapatkan pesan pertama kali dari Deb Aaron beberapa minggu lalu bahwa Hoolian ingin bertemu, berdua saja, ia hanya meremas kertas merah muda itu dan membuangnya di keranjang sampah, seperti yang orang normal akan lakukan. Tapi selama dua hari berikutnya, dilihatnya gumpalan kertas itu entah mengapa tidak mengumpul dengan sampah lain, namun tetap di sana menyangkut di sudut keranjang, seperti organ buangan yang masih berdenyut.

"Kasus sudah berakhir." Ia mengangkat bahu, bersyukur dirinya bersikeras untuk bertemu di tempat umum. "Kita mungkin bisa menjadi orang asing."

Mereka saling tatap satu sama lain dalam kesenyapan yang menggelisahkan beberapa lama, kemudian pada saat bersamaan menoleh ke jendela berbarengan. Butir-butir uap halus menjelang Natal turun di atas daerah konstruksi dekat Cooper Union, jenis hujan yang bisa berubah menjadi hujan atau salju sewaktu-waktu.

"Kau tahu, aku benci cuaca seperti ini." Ia mengamati jala jingga di lantai atas konstruksi yang mulai menghilang dalam kabut. "Korban tewas pertama kulihat tepat sebelum Natal. Seorang wanita tua terbunuh di Harlem dan terbengkalai di sana seminggu. Tubuhnya sudah membengkak. Belatung merayap keluar dari lubang matanya. Baunya begitu busuk sampai polisi yang sudah bertugas dua puluh tahun pun muntah. Aku mencuci seragamku tiga kali setelah itu. Tapi kau tahu kan, orang tidak bisa memasukkan topi ke dalam mesin cuci bersama pakaianmu yang lain. Aku harus membiarkannya tak tercuci. Lain ketika, aku berpatroli jalan kaki lagi, cuaca sedang hujan. Dan bau memualkan itu pun menyeruak lagi ke seluruh tubuhku, mengaliri tepat wajahku. Bau itu membawa semuanya kembali, seolah aku masih berada di apartemennya."

"Rasakan, keparat. Kau tak bisa lari dari beberapa peristiwa. Sayang kau tak terjangkit radang paru."

Francis melirik singkat padanya, melihat Hoolian memakai jaket berbahan wol dan kaus marun yang sama dengan yang ia pakai ke pengadilan tiap kali. Ia mengenakan dasi hitam yang sama, sedikit terlalu ketat di sekitar tenggorokannya. Sama sekali belum melupakan masa lalu. Ini mungkin tidak menandakan dimulainya Minggu Persaudaraan Nasional.

"Jadi, berapa banyak yang diberikan kota ini untuk ganti rugi, omong-omong?" Francis mengambil lap dan membersihkan hidung, masih belum pulih dari flu yang telah mengganggunya sejak Thanksgiving. "Lima puluh, enam puluh ribu?"

"Aku mendapatkan hidupku kembali." Hoolian dengan sengaja mengabaikan pertanyaan itu dan memajukan wajahnya. "Apapun itu, itu tak cukup untuk mengganti apa yang kau lakukan padaku."

Delapan puluh, sembilan puluh ribu, duga Francis. Seper-tiganya kemungkinan untuk Deb Aaron. Kalau tidak, Hoolian mungkin akan muncul mengenakan setelan desainer teranyar, hanya untuk menggosok-gosokkan wajah musuh lamanya di situ.

"Kau mungkin beruntung dapat memperoleh sesuatu." Francis melayangkan pandangan jauh. "Aku tak tahu bagaimana pengacaramu yakin dirinya dapat membuktikan maksud jahat."

"Kau tahu apa yang kau perbuat," ucap Hoolian tajam.

"Aku mengerjakan kasus itu sebaik aku bisa. Tak ada dendam pribadi."

"Kau menipuku dan kita berdua tahu itu."

"Percayai apa yang kau mau, Nak. Itu tak ada kaitannya denganku—"

"Mengapa kau lakukan hal terkutuk itu?"

Francis tersenyum terpaksa. "Kau benar-benar ingin aku menjawabnya?"

"Aku punya masa depan terbentang di hadapanku saat itu, Bung. Lihat ini..."

Hoolian membuat gerakan mendadak ke saku dalam dan Francis mundur ke belakang.

"Tenang, Bung." Mata Hoolian berkilat oleh rasa geli saat ia mengeluarkan amplop tua kekuningan dan meletakkannya di atas meja.

"Apa ini?" Francis menyorongkan badan, tekanan darahnya naik.

"Buka saja."

Francis ragu-ragu lalu mengusap bagian belakangnya. Nadinya mulai memompa seperti selang pemadam kebakaran.

"Jika ini sampel DNA Allison Wallis yang kau bawa-bawa selama dua puluh tahun di TKP, aku katakan sekarang juga aku akan menembak kepalamu, tepat sebelum aku menembak diriku sendiri."

"Buka saja amplop keparat itu, Bung. Jangan cengeng."

Ia merogoh dan membuka surat terlipat bernoda cokelat, meletakkannya di meja, dan membacanya beberapa lama, berusaha mengerti akan kata-katanya.

"...dengan gembira menginformasikan kepada Anda bahwa Anda telah diterima sebagai angkatan 1988..... Bahan-bahan tambahan akan dikirim ke..."

Rahangnya perlahan turun. "Apakah ini surat penerimaan kuliahmu atau semacamnya?"

"Aku membawanya ke mana-mana selama dua puluh tahun." Hoolian mengangguk. "Surat itu datang minggu kedua aku di Attica. Aku hanya terduduk di ranjang, membacanya terus-menerus. Mereka memberiku beasiswa penuh."

Francis menyeka meja di bawah surat untuk memastikan permukaan itu tidak lembab. "Dan apa yang kau ingin aku lakukan dengannya?"

"Aku ingin kau menyimpannya, Bung. Aku ingin kau menaruhnya tepat di sebelah foto keluargamu. Agar kau selalu melihatnya setiap hari di sisa hidupmu."

Francis menggerutu, seolah baru dipaksa menelan bola obat. Mengapa aku datang hari ini? Mestinya aku di rumah, memercikkan garam di trotoar dan memastikan semua jendela tertutup. Mestinya aku mencoba menelepon anak-anak. Mestinya aku menolong istriku mengecat kamar mandi saat aku masih sanggup. Aku bahkan tak dibayar untuk melakukan ini.

"Aku hanya ingin kau mengatakan sesuatu padaku." Hoolian mendorong surat itu lebih ke depan ke arah sisi meja Francis, berusaha membuatnya menerima benda itu. "Bagaimana kau bisa hidup, mengetahui apa yang kau perbuat?"

"Sifat alami binatang," ucap Francis santai, meski ia tak sanggup menatap mata Hoolian.

"Dan apa maksudnya ucapanmu itu?"

"Seorang gadis tewas. Aku melakukan apa yang harus kulakukan."

"Jadi, kau harus menjebakku?"

Francis menggeser-geser duduk gelisah, seperti penjahat biasa yang baru dibawa masuk ke kantor polisi.

"Aku menyesal kau tertangkap ketika mestinya kami mencari tersangka lain," ujarnya hati-hati. "Itu mimpi buruk setiap polisi. Dalam dua puluh tahun aku tak pernah mengalami kasus seperti itu..."

"Menyesal aku tertangkap?"

Hoolian menghempas keras dari meja dan beberapa wanita di dekat mereka menoleh.

"Itu saja yang kau katakan padaku? Kau menyesal aku 'tertangkap'?"

"Ya, apalagi yang kau inginkan?" Francis merendahkan suaranya, malu.

"Aku ingin kau mengakuinya."

"Mengakui apa?"

"Apa yang kau lakukan padaku. Aku ingin mendengar kata-kata itu."

"Mengapa itu begitu penting bagimu?" Francis mengganti posisi duduk, kakinya mulai kram.

"Karena itu memang penting. Kau telah merenggut tahun-tahun terbaik dalam hidupku. Aku menyimpan begitu banyak kebencian padamu, Bung, hingga meracuniku."

"Masih?"

"Ya, masih. Bagaimana mungkin aku melupakannya? Katakan padaku. Kukira semua akan baik-baik saja mulai sekarang, tapi aku tetap geram mengingatnya. Aku tak bisa rileks. Aku tak bisa tersenyum hampir sepanjang waktu. Aku tak bisa makan di restoran tanpa mencoba mengembalikan peralatan makannya ke hadapanku. Aku bahkan tak bisa menikmati hubungan intim pertama dalam hidupku."

Francis menggeleng, diam-diam bersikeras itu tak ada kaitan dengannya.

"Suatu hari keadaan itu begitu buruknya, aku pergi ke sekolah lamaku dan menemui pendeta yang menulis surat rekomendasiku ke universitas. Ia sembilan puluh tujuh tahun dan masih ingat nilai rapor terakhirku. Kau tahu apa yang ia katakan padaku? Dia bilang aku harus memaafkanmu.”

“Mungkin karena itulah."

"Tapi bagaimana aku bisa memaafkanmu jika kau bahkan tak ingin mengakui perbuatanmu?"

Pandangan Francis beralih pada surat di atas meja lagi, ia merasakan tekanan darahnya naik dalam dada.

"Maafkan aku, Nak. Aku tak bisa memberikan apa yang kau minta. Itu tak mungkin terjadi."

Bangkit. Benaknya mengirimkan pesan ke seluruh tubuh. Kau tak harus diam di sini. Tak ada kewajiban bagimu atas perlakuan ini. Hanya karena orang lain harus mengaku tak berarti kau juga demikian.

"Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu." Hoolian mengepalkan tangan, mengangguk-angguk geram berusaha menguasai diri. "Sungguh. Kau tahu apa yang benar-benar membuatku marah?"

"Tidak. Apa?"

"Mengetahui bahwa kau akan melakukan hal yang sama pada orang lain seperti yang kau lakukan padaku."

"Tidak, aku tak akan berbuat seperti itu." Denyut nadi begitu kencang di telinganya, terdengar seperti jejak-jejak kaki di atas loteng.

"Kau pasti akan melakukannya. Mengapa tidak? Kau tidak merasa menyesal. Kau tak perlu membayar atas apa yang kau lakukan."

Francis merasa tekanan di dadanya bergerak, menyebar lebih luas dan lebih sulit untuk duduk tenang. "Seseorang akan membayar pada akhirnya."

"Apa maksudmu, 'seseorang akan membayar pada akhirnya'? Itu hanya omong kosong busuk yang orang katakan untuk mengusirmu dari kantor. Kau tak membayar. Lihat dirimu. Gemuk dan lancang. Kau mungkin akan segera pensiun dengan tanda jasa dan separo gaji. Kau tak menderita—"

"Aku akan buta," ujar Francis tanpa berpikir.

"Hah, yang benar saja."

"Aku serius. Mataku mulai memburuk."

"Berhenti omong kosong. Kau pikir itu lucu?"

"Bagiku tidak."

Hoolian terdiam dan menyelidiki wajahnya beberapa saat, mencari tahu apakah lelaki di hadapannya itu main-main. Ia mengarahkan satu jari ke depan wajah Francis dan perlahan-lahan menggerakkannya ke kanan. Francis menemukan jari itu untuk beberapa sentimeter namun kemudian lepas dari pandangannya. Lalu didengarnya Hoolian menjentikkan jari di suatu tempat dekat telinganya.

"Tak mungkin."

"Itu benar." Francis memandang datar. "Makin sedikit yang kulihat sejalan waktu."

Ia pasti sudah hilang akal. Ia bahkan belum mengatakannya pada anak-anaknya.

"Dan...jadi...apa?" Hoolian mengempaskan tubuh ke belakang, bingung. "Kau ingin aku merasa kasihan padamu, atau bagaimana?"

"Sama sekali tidak," ujar Francis. "Tapi kini kau di sini, berkata padaku betapa aku lepas tangan atas perbuatanku yang buruk padamu. Aku hanya ingin bilang, tidak begitu keadaannya. Setiap orang mendapatkan balasannya."

Apa yang telah ia lakukan? Rasanya ia baru melompat keluar dari pesawat dengan parasut. Terjun bebas. Hoolian bisa menceritakannya pada seluruh dunia sekarang. Mereka bisa membuka puluhan kasus lamanya dan mempertanyakan kesaksian atas hal-hal yang menurutnya ia lihat. Mereka akan menahan gaji pensiunnya atas tuduhan sengaja berbohong dan tak mengatakan pada siapa pun tentang kondisinya. Mereka akan menelanjanginya dan membuangnya di jalan.

Mengapa tak kau rogoh dan berikan saja senjatamu padanya sekalian, Loughlin?

Tetapi ada sesuatu yang gegabah dan menggembirakan tentang itu. Ia merasa paru-parunya membuka dan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia merasakan udara dingin di kulitnya dan menampak lagi warna-warni cerah di sekitarnya. Semua inderanya menajam dan lebih hidup dari berminggu-minggu sebelumnya.

Jadi beginilah rasanya berada di sisi lain meja interogasi. Hingga saat ini, ia tak pernah betul-betul mengerti mengapa orang akhirnya selalu mengaku dan mengatakan padanya hal-hal yang tak semestinya mereka katakan pada orang lain. Sekarang ia mengerti. Rasanya seperti mabuk, tapi lebih baik. Selama sesaat, setidaknya, ia membiarkan seseorang melihatnya sebagaimana adanya, dan tak hanya rasa lega namun juga perasaan agung yang menyayat di dalamnya.

"Setiap orang mendapatkan balasannya."

Hoolian tak menginginkan hal ini. Tak ingin melihat benda-benda lewat sudut pandang orang ini. Ia lebih baik dari itu. Bajingan itu patut menerimanya, atas apa yang menimpanya itu.

Sama halnya ketika memejamkan mata sekejap, ia bertanya-tanya bagaimana akan menghadapinya jika dirinya buta. Bagaimana kau tak akan menjadi gila, sadar kau tak akan pernah lagi membaca buku komik kesukaanmu, memandang mata orang terkasih, atau melihat jeruji kincir Bianglala copot satu persatu? Bagaimana kau menemukan jalan pulang? Bagaimana mungkin kau tak akan berpikir ini adalah semacam hukuman?

"Jadi, kau tak akan meminta maaf dariku atau sejenisnya?" ujar Hoolian, membuka lebih lanjut.

"Persetan." Loughlin mengempas ke belakang meja. "Aku tak perlu membuat dalih. Kau harus bersikukuh dengan perbuatanmu atau tidak sama sekali."

Mereka berdua perlahan-lahan bangkit. Selama dua puluh tahun, Hoolian telah berkhayal apa yang akan ia lakukan jika ia kelak menghampiri Francis di tempat rawan. Ia telah merencanakan berbagai tindakan yang akan ia lakukan dengan pipa logam, tambang tebal, dan bagasi mobil. Ia bahkan sampai berpikir tentang alibi yang akan ia gunakan jika tertangkap. Tapi kini untuk kedua kalinya ia menggapai satu ruang luas kemarahan yang ia simpan bertahun-tahun dan tak menemukan apa-apa di sana. Hanya kotoran setengah kering di dasar. Ke mana semua itu pergi?

Ia melihat ke bawah dan dilihatnya tangannya terangkat dan mengambang di udara, menunggu Loughlin menggenggamnya.

Meski begitu polisi itu tak melihatnya, karena tepat berada di luar batas penglihatannya dan dengan cepat Hoolian menurunkannya kembali ke samping.

"Baiklah, Bung. Jangan lagi menjebloskan ke penjara, orang yang tak semestinya berada di sana."

"Tentu. Kau membuatnya terdengar mudah."

Polisi itu tersenyum masam dan menaruh surat itu dalam dompet, seakan mengikat bom koper di pergelangan tangannya.

"Hey, lihat, di sini bersalju." Hoolian menengok keluar jendela.

"Ya, Tuhan, aku bahkan tak menyadari perubahan cuaca ini." Loughlin bersin, ujung hidungnya telah berubah merah. "Mudah-mudahan aku bisa menemukan mobilku."

"Yeah, mungkin kau harus sedikit berkeringat."

"Sepertinya."

Ia berjalan keluar pintu, meninggalkan cangkirnya setengah isi di meja, kemudian berhenti sejenak di depan jendela. Angin mengangkat salju ke dalam lengkungan lebar berbutir di bawah lampu jalan, seolah-olah satu kekuatan magnetik berusaha menariknya kembali ke awan. Hoolian mengamatinya berputar balik dua kali, berusaha memastikan posisinya saat malam mulai menggayuti dan mobil berseliweran di sekitar kubus berpasir gula di tengah-tengah plaza.

Ia membungkukkan bahu, melesakkan tangan ke dalam saku, dan mulai berjalan dengan susah payah ke selatan ke arah Bowery, melewati crane dan truk-truk semen, sebuah sosok kapal melaju ke dalam kabut putih, kian mengecil dan mengecil hingga akhirnya lenyap.

AKHIR

MENATAP MATAHARI

60

Tom di dapur, menengadah ke langit-langit, rambutnya lembab usai mandi, kemeja kerja birunya tak terkancing di kerah, dan sepasang gunting terkubur di dadanya tepat di bawah tulang dada.

Francis membandingkan jam Swatch-nya dengan jam di atas tungku dan mencatat waktu kedatangannya pukul 10.42. Ia kemudian dengan hati-hati mencari jalan keluar dari dapur dan menemukan Eileen di sofa ruang keluarga, dengan noda darah di bagian mukaturtleneck putihnya.

"Bisa Anda jelaskan apa yang terjadi?"

Wanita itu menatap pohon Natal linglung, lampu warna-warni berkedip-kedip tak teratur sementara cucu-cucunya dan ibu mereka menangis histeris di lantai atas.

"Itu terjadi lagi," ujarnya.

"Apa?"

"Sudah kukatakan sebelumnya padamu. Anak-anak punya rahasia."

Francis duduk di sampingnya, memastikan ia tak menyentuh apapun di lantai atau meja. "Kalau ingin bantuanku, Anda harus lebih baik dari itu."

"Aku tahu ia tak bisa menghentikan dirinya sendiri," ucapnya dengan sikap tenang yang aneh, seakan-akan ia baru terjaga dari obat bius. "Anakku sendiri. Apa yang kau lakukan jika anakmu sendiri ternyata seorang monster?"

Francis berusaha menjaga pikirannya tetap jernih saat ia menulis catatan.

"Kau tahu tapi kau tak tahu. Kau ingin berpura-pura itu tak terjadi. Tapi apa yang bisa kau lakukan? Kau tak bisa memisahkan mereka selamanya, kakak dan adik."

Francis menaruh bukunya, tak sanggup menulis lebih banyak lagi.

"Kau tahu, putriku menginginkan hal itu berhenti." Eileen meraih selotip yang membungkus jarinya. "Ia berusaha mengatakannya padaku, namun aku tak sanggup mendengarnya. Terlalu mengerikan bagiku."

Francis mengangguk, potongan terakhir gambar ini akhirnya terkumpul. Tak mengherankan jika ia terus-menerus mengatakan Allison masih hidup, menghantuinya dengan menutup telepon di mesin penjawab, berusaha membuatnya tak melupakan kasus itu.Mereka mengubur anak yang salah.

"Itu mulai terjadi lagi, dengan anak-anaknya sendiri." Ia menaruh tangan di atas lutut, menenangkannya. "Aku memergokinya pagi ini bersama si sulung di kamar mandi. Putrinya sendiri. Dan aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi. Bisakah kau, Francis?"

"Aku tak tahu. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan."

"Ya, kau tahu." Eileen mengangkat dagunya menantang. "Kurasa kau tahu apa yang mesti dilakukan."

Untuk sesaat, semua kegilaan atas kesedihan dan alasan kesehatan itu hilang. Ia adalah ibu sang binatang dengan darah di cakarnya karena melindungi anak-anaknya saling memakan satu sama lain.

"Jika seseorang memberimu kesempatan untuk tak membuat kesalahan terbesar dua kali dalam hidupmu, kau akan melakukan segala cara. Dan jangan katakan kau tidak seperti itu."

Rashid, kini di satuan tugas, dan Jimmy Ryan tiba lima menit kemudian dan menemukan Francis di dapur, berdiri di samping mayat dan menulis catatan.

"Bagaimana menurutmu, X Man?" Jimmy meletuskan permen karetnya. "Senjata makan tuan, ya?"

"Sepertinya ia langsung mengalami perdarahan." Francis hampir tak menoleh. "Ibunya di rumah dan ia tewas selagi ibunya menelepon 911."

"Oh, ya?" Jimmy membungkuk di sebelah mayat itu, memeriksa bagaimana darah merembes dari kemejanya. "Lukanya benar-benar hebat. Sepertinya salah satu arteri utama kena."

"Ya, ia pasti sudah bertekad bulat."

"Apa?" Rashid menengok tajam, hampir menjatuhkan tusuk giginya. "Maksudmu ini bunuh diri?"

"Aku tak menyimpulkan apa-apa." Pulpen Francis terus bergerak di atas kertas. "Terserah pada petugas TKP untuk mengambil sidik jari di pegangan pintu dan forensik untuk menentukan penyebab kematian."

"Maaf, aku akan menghubungi JC dan melaporkan apa yang terjadi." Jimmy melangkah keluar ruangan, tak ingin terlibat dalam urusan itu.

Rashid membungkuk di samping mayat. "Itu sudut yang teramat sulit bagi seseorang untuk menusuk dirinya sendiri, G," ujarnya. "Kebanyakan orang akan mengarahkan pisaunya ke bawah."

"Mengapa tak kau tanyakan padanya mengapa ia melakukan itu?" Francis terus menulis. "Bajingan keparat. Ia mungkin tahu ia mengidap kanker dari uji DNA yang kita berikan padanya dan ia tahu sidang akan dimulai dalam beberapa minggu. Mungkin ia berpikir bunuh diri adalah pilihan terbaik. Satu-satunya hal baik yang pernah ia lakukan."

Rashid berdiri perlahan. "Eh-eh, Pak, aku tak suka ini."

"Siapa yang bertanya padamu?"

"Aku hanya bilang, aku menaruh banyak hormat padamu, karena telah melihat caramu mengendalikan diri. Namun jika ternyata ada yang sengaja mengaburkan bukti di TKP, aku tak ingin terlibat."

Francis menurunkan catatannya dan menepuknya keras-keras di paha. "Kau ingin mengatakan sesuatu, Detektif?"

Rashid mengangkat dagunya. "Kau sudah dengar. Macan tutul tidak mengganti bintiknya. Jangan menekanku hanya karena kau punya riwayat buruk."

"Persetan kau, aku melakukannya mengikuti petunjuk buku. Siapa pun yang mengatakan sebaliknya adalah pembohong."

Rashid menundukkan kepala dan menatap Francis dari sudut rendah, berusaha mendapat penjelasan dari pria di balik topengnya. "Jangan lakukan ini, G," ucapnya. "Bukan tugasmu untuk menjadikan sesuatu berjalan sesuai keinginanmu—"

"Maaf." Francis memotongnya. "Kalau kau ingin melempar batu, lempar. Ingin menjadi rekanku, silakan. Itu artinya kita tak perlu membicarakannya. Kita hanya melakukah apa yang harus dilakukan dan jangan mengirim orang yang tak semestinya ke penjara. Wanita ini berusaha membesarkan cucu-cucunya. Ia perlu pengertian. Kalau kau tak bisa memahaminya, mundur sekarang juga."

Rashid menatapnya lama sebelum ia berlutut kembali di samping mayat itu, mengunyah tusuk gigi dan menggesernya dari satu sudut mulut ke sudut yang lain.

"Bagiku masih tampak aneh," ujarnya. "Lelaki itu menusuk dirinya sendiri dengan gunting. Ada banyak cara yang lebih mudah untuk bunuh diri. Ia tak meninggalkan surat wasiat, kan?"

"Tidak, sepanjang yang kuketahui." Francis mulai beranjak pergi. "Tapi lihat saja sendiri. Orang tak selalu memperhatikan dengan teliti saat pertama kali."

UCAPAN TERIMA KASIH

Saya ingin mengucapkan terima kasih pada orang-orang berikut atas kebaikan mereka sehingga buku ini dapat terbit:

Chauncey Parker, Lisa Palumbo, Mark Desire, Joseph Calabrese, Laurey G. Mogil, M.D., Joyce Slevin, Bob Slevin, Luke Rettler, John Cutter, Jennifer Wynn, Stephen Hammerman, Arthur Levitt, Mark Graham, Anthony Papa, Mitchell Benson, Peter Neufeld, Jim Dwyer, Peter Garuccio, John Hamili, Steve Kukaj, Peter Walsh, Charlie Breslin, Ron Feemster, Svetlana Landa, Daniel Perez, Charles Shepard, Leon Maslenikov, Katya Zhdanova, John Nelson, Ron Kuby, Nelson Hernandez, Joel Potter, Vicky Sadock, Sam Bender, Daniel Bibb, Mark Stamey, Bilial Thompson, Shqipe Biba, June Ginty, Bob Stewart, Kevin Walla, John McAndrews, Kim Imbornoni, Chris Smith, Tom Grant, Ed Rendelstein, James Watson, Molly Messick, David Segal, James McDarby, Steve Lamont, Steve DiSchiavi, Darryl King (Yang asli), Sophie Cottrell, Richard Pine, Michael Pietsch, dan Judy Clain.

Saya juga ingin menyampaikan rasa hormat pada tetangga lama dan kawan saya, Jim Knipfel, untuk keramahannya dan buku-bukunya yang luar biasa, antara lain Slackjaw dan Ruining It for Everybody.

Seluruh nama di atas terlepas dari tanggung jawab atas kekeliruan fakta yang terdapat di antara dua sampul buku ini, demikian pula dengan kekurangan pada tokoh-tokoh dan kejahatan yang digambarkan di sana. Semua menjadi tanggung jawab penulis.

TENTANG PENULIS

Peter Blauner adalah penulis tiga novel, antara lain Slow Motion Riot, yang memenangi Edgar Allan Poe Award untuk novel pertama terbaik tahun itu, dan The Intruder, yang termasuk dalam The New York Times dan International best seiler. Karyanya telah dialihbahasakan ke dalam enam belas bahasa. Ia bermukim di Brooklyn, New York, bersama istrinya, Peg Tyre, dan dua anak mereka.

0 Response to "The Devil's DNA"

Post a Comment