Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Charlie

Charlie

Daniel Keyes

CATATAN HARIAN SEORANG TERBELAKANG

Charlie, seorang penyapu lantai, terlahir dengan IQ 68 dan selalu )adi bahan olok-olok teman-temannya, hingga Suatu saat eksperimen yang dimaksudkan untuk meningkatkan kecerdasan manusia mengubahnya menjadi seorang jenius.

Tapi kemudian, Algernon, seekor tikus yang sebelumnya sukses melalui eksperimen yang sama. mengalami kemunduran kecerdasan secara drastis dan akhirnya mati. Akankah hal yang sama akan terjadi pada Charlie?

"Pedih...Sangat asli." — Publishers Weekly

"Menghangatkan |twa Anda bagai secangkir coklat panas di musim dingin." — Epinions.com

"Kisah yang kaya. emosional, dan akan menggetarkan hati Anda ...Masterpis." — Sedona. Arizona

"Sebuah contoh fiksi yang menggunakan hipotesis meyakinkan untuk menjelajahi renjana dan topik moral." —The Times Literary Supplement

Daniel Keyet dilahirkan di Brooklyn. New York, penulis 6 buku yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, salah satunya The Minds of Billy Mtlligan Beliau telah muncul di acara The Today Show. Regis and Kathy. 20/20. Sonya. dan Larry Kmg Live, mengajar di lebih dan enam puluh universitas, serta menerima gelar BA dan MA dan Brooklyn College Seorang profesor yang telah pensiun dengan terhormat di Ohio University.

FIKSI

Daniel Keyes

Penulis Best seller The Minds of Billy Milligan

charlie

si jenius dungu

TERJUAL LEBIH DARI 5 JUTA COPY

Peraih HUGO AWARD DAN NEBULA AWARD

Pujian bagi Flowers for Algernon

"Sebuah kisah yang meyakinkan, menegangkan, dan mengharukan."

- The New York Times

"Sebuah buku harian yang menggemparkan.... Dalam buku ini ada beberapa adegan yang akan menghantuiku selamanya."

- The News & Observer (Raleigh, NC)

"Sepenggal kisah sederhana yang mengharukan... menyentuh... sangat nyata."

- The Baltimore Sun

"Sebuah contoh fiksi ilmu pengetahuan yang menggunakan hipotesis meyakinkan untuk menje-lajahi renjana dan topik moral.... Cerdas."

- The Times Literary Supplement

"Novel ini harus ada dalam daftar 'harus dibaca1 Anda."

- Palm Beach Post Times

"Mengagumkan, gambaran penderitaan... Hebat."

- Birmingham News

"Sebuah literatur yang agak klasik.... Prestasi kesusastraan seunik topiknya sendiri."

- Jurnal Star (Peoria)

"Pedih.... Sangat asli."

- Publisher Weekly

Ini novel yang mengasyikkan, luar biasa orisinal.. Akan terus dibaca sepanjang masa." - Library Journal

CHARLIE

Si Jenius Dungu

Daniel Keyes

Ufuk Press

Jakarta, 2006

Charlie, Si Jenius Dungu

Diterjemahkan dari Flowers for Algernon karya Daniel Keyes Copyright © 1966, 1959 by Daniel Keyes

Hak cipta dilindungi undang-undang All rights reserved

Penerjemah: Isma B. Koesalamwardi Penyunting: Dewi Kartika Teguh Wati Pewajah Sampul: Expertoha Studio Pewajah Isi : Abd. Bahar Cetakan I: Oktober 2DD6 ISBN: 979-333-D2-D-1

UFUK PRESS PT. Cahaya Insan Suci Jl. Warga 23A, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12510, Indonesia Homepage: www.ufukpress.com Blog : http://ufukpress.blogspot.com Email : info@ufukpress.com

Persembahan bagi bundaku Dan kenangan bagi ayahku

Setiap orang yang berakal sehat akan ingat bahwa kekaguman indra penglihatan ada dua jenis, dan terjadi ketika muncul cahaya ataupun ketika memasuki cahaya itu sendiri. Maka benar jika dikatakan bahwa mata akal serupa dengan mata kepala . Dan barang siapa mengingat hal itu ketika menyaksikan orang yang penglihatannya kabur dan lemah, tidak akan serta merta tertawa. Sebelumnya ia akan bertanya apakah jiwa lelaki itu berasal dari kehidupan yang lebih terang sehingga tidak dapat melihat dengan baik karena tak terbiasa dengan kegelapan, atau ia baru saja kembali dari kegelapan lalu memasuki hari yang cerah sehingga menjadi pening karena limpahan cahaya. Lalu ia akan menganggap lelaki itu bahagia dalam kondisi tersebut, kemudian ia akan mengasihani yang lainnya. Atau jika ia bermaksud menertawakan jiwa yang berasal dari kegelapan menuju ke cahaya itu, akan ada alasan lain. Bukan hanya tawa yang menyambut lelaki yang kembali dari atas cahaya kemudian memasuki sarang yang gelap. Plato, The Republic

CATATAN

Jangan heran, ketika Anda membaca halaman-halaman awal novel klasik yang unik ini, Anda akan menemukan banyak sekali kesalahan penulisan kata. Kata-kata tersebut bukanlah merupakan salah ketik/cetak, bukan juga karena belum melalui proses penyuntingan. Charlie tokoh utama dalam novel ini, berusia 32 tahun, dan memiliki I.Q. sangat rendah, awalnya memang tak mampu menuliskan kata-kata dengan benar. Dalam buku catatan atau laporan kemajuan awal yang ditulisnya sendiri atas perintah dokter yang berusaha meningkatkan kecerdasannya, terlihat Charlie juga masih belum memahami apa itu dan kapan menggunakan tanda titik (.) dan koma (,).

Ketika Anda terus membaca lembar demi lembar laporan kemajuannya, tiba-tiba Anda mendapati diri Anda hanyut mengikuti jalan hidup seseorang yang menegangkan dan mengharukan ini.

Lapran kemajan 1 tanggai 3 mart

Dr Strauss bilang aku harus nulis apa yang kupikir dan kuingat serta segla yang terjadi padaku mulai sekarang dan seterusnya. Aku tidak tahu mengaapa tetapi ia bilang itu pinting supaya mereka bisa melihat apakah mereka bisa memakai aku atau tidak. Aku harap mereka memakaiku karena Nona Kinnian bilang mugkin mereka akan membuatku pintar. Aku pengin jadi pintar. Namaku Charlie Gordon. Aku kreja di toko kwe Donners. Pak Donners menggajiku 11 dolar tiap minggu ditambah roti atau kwe jika aku mau. Umurku 32 taun dan blan depn itu ulagn tahnku. Aku bilang ke Dokter Strauss dan Profesr Nemur aku bisa nulis bagus tapi ia bilang itu gak

penting ia bilang aku hrus nulis seperti aku bicara saja dan seperti aku nulis krangan buat pelajaran Nona Kinnians di pusat akdmi beekmin bagi orang dewasa yang terbelakang. Aku belajar di sana 3 kali seminggu saat libur kerja. Dr Strauss bilang supaya aku sering nulis apa saja yang kupikir dan yang treja-di padaku tapi aku tidak bisa berpikir lagi karena tidak punya bahan untuk ditulsi hari ini jadi akan aku sudahi untuk hari ini... slam hangt Charlie Gordon.

Lapran kemajan 2 tangga 4 mart

Aku ada tes hari ini. Kupikir aku gagl dan mugkin sekarang mereka tidak mau memakaiku. Be-gini critanya aku pergi ke kantor Prof Nemurs waktu jam makan siang seperti yang mereka minta dan seksertarisnya membawa aku ke tempat yang pintunya ada tulisan dept kejiwaan. Gang itu panjang dan banyak ruangan keicl yang hanyiaberisi satu meja dan kursi-kursi. Ada seorang le-laki yang baik di salah satu ruangan itu dan ia punya beberapa kartu puith yang semuanya ada tumpahan tintanya. Ia bilang duduk Charlie de-ngan nyiaman dan santei. Ia pake jas puith seperti doktre tapi sepertinya ia bukan doktre karena ia tidak bilang sama aku buka mulut dan bilang aaa.... Ia cuma memegang kartu-kartu puith itu. Namanya Burt. Aku luupa nama belakangnya karena aku tidak bisa hapal dengan baik juga.

Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya dan aku pegangan kursi kuwat-kuwat seperti waktu aku ke doktre gigi. Namun Burt bukan doktre gigi juga tapi ia terus-terusan bilang padaku untuk santei dan itu malah bikin aku ktakutan karena itu artinya pasti selalu akan syakit.

Nah Burt bilang Charlie apa yang kau lihat pada kartu ini. Aku lihat tumpahn tinta dan aku jadi sangat ketakutan pdahl aku sudah bawa jimat kaki kelinci di kantoong celanaku karena waktu aku kcil aku selalu tidak lulus tes di sekolah terus aku menumhpakan tinta juga.

Aku bilang sama Burt aku lihat tinta tumph di kartu putih. Burt bilang ya dan ia tersnyum dan membuwat aku jadi tenang. Ia terus memblaik-blaik semua kartu itu dan aku bilang ada yang menumphakan tinta di atas kartu-kartu itu merah dan hitam. Aku pikri itu ujian mudah tapi ketika aku berdiri untuk pergi Burt menghnetikan aku dan bilang duduklah Charlie kita belum slesei. Kita main-main lagi dengan kartu-kartu itu. Aku tidak mengerti itu tapi aku inggat Dr Strauss bilang aku harus lakukan apa saja yang diprintah penguji padaku walau itu tidak masuk akal karena itu ujian.

Aku tidak trelalu inggat apa yang dikatakan Burt tapi aku inggat ia mahu aku bilang apa yang ada di dalam tnta itu. Aku tidak lihat gmabar apa-apa di tinta iut tapi Burt bilang ada gmabar di sana. Aku tidak bisa liat gmabra di sana. Aku benar-benar beruhasa melihatnya. Aku penggan kartu itu dekat-dekat lalu jauh-jauh. Kemudian aku bilang kalau aku pakei kcamata mukgnin aku bisa melihat lebih baik biyasanya aku hanya menggunakan kcamat kalau nonton bioskop atau nonton TV tapi aku bilang mungkin kcamat bisa membantu aku melihat gmabar di dalam tinta. Lalu aku memakainya dan aku bilang aku mau coba lihat gmabar itu lagi aku yakin bisa lihat gmabar itu sekarang.

Aku cooba setengah mati tapi tetap saja tidak bisa mnemukan gmabar aku hanya melihat bercak tinta. Aku bilang Burt mugkin aku perlu kacmata baru. Ia menulis

sesuatu pada kertas dan aku jadi ktakutn kalau aku tidak lulus ujian. Jadi aku bilang sama Burt itu gmabar tinta yang bagus sekali karena ada titik-titik centik di setiap sudutnya tapi ia menggelengkan kepalanya jadi bukan itu juga. Aku tanya sama Burt apa ada mured lain yang bisa meliat sesutu pada tinta itu dan ia bilang ya mereka membayankn gmabar pada tinta itu. Burt bilang padaku tinta pada kartu itu disebt bercak tinta.

Burt sangat ramah dan ia bicara perlahanlahan seperti Nona Kinnian di kelas untuk orang dewasa terbelakang tempat aku blajar mbaca. Burt menjelaskna padaku itu adalah tes kejut spontan. Ia bilang oragn bisa melihat gmabar di dalam tinta itu. Aku bilang tunjukkan padaku di mana. Ia tidaak membri tau ia hanya terus-terusan bilang berkhayallah ada sesuatu di atas kartu. Aku bilang sama Burt aku membaiyangkan sebuah bercak tinta. Ia menggelengkan kepalanya jadi tidak btul juga. Burt bilang lagi apa yang kauinggat waktu melihat bercak tinta itu dan membayangkan bercak tinta itu gmabar. Aku tutp mata lama untuk pura-pura kemudian aku bilang sebuah botl tinta menumpaih seluruh kartu putih. Dan saat itu juga ujung pinsilnya patah dan kami beridiri lalu keluar.

Aku kira aku tidak lulsu tes kjut spontan.

Lapran kemajan ketiga

Tanggai 5 mart Dr Strauss dan Prof Nemur bilang kartu-kartu dan tinta itu tidak penting. Aku bilang sama mereka aku tidak menumpahkan tinta di atas kartu-kartu itu dan aku tidak bisa meliat apa-apa dalam tinta itu. Mereka bilang mungkin mereka masih akan memakaiku. Aku bilang sama Dr Strauss bahwa Nona Kinnian tidak pernah memberiku tes seperti itu hanya nulis dan mbaca.

Ia mengatakan Nona Kinnian bilangg padanya aku adalah murid tebaiknya di Sekolah Beekman untuk Orang Dewasa Terbelakang dan aku berusaha paling kueras krena aku betul-betul ingin blajar aku ingin blajar lebih banyak lagi dari oragn-oragn yang lebih pandai dari aku sendiri.

Dr Strauss tanya sama aku bagaimana kau pergi ke Sekolah Beekman sendiri Charlie. Bagaimana kautahu tentang sekolah ini. Aku bilang aku tidak inggat.

Prof Nemur bilang tetapi mengapa kau ingin belajar mbaca dan mengja. Aku bilang sama ia karena sepanjang hidupku aku selalu ingin menjadi pandai serta tidak bodoh dan ibuku selalu bilang padaku agar selalu berusha dan blajar seperti yang diajarkan Nona Kinnian tapi terlalu susah untuk jadi pandai bahkan ketika aku blajar sesuatu di kelas Nona Kinnian di sekolah banyak yang klupaan.

Dr Strauss nulis sesuatu pada secarik kertas dan Prof Nemur bicara padaku sangat srius. Ia bilang kautahu Charlie kami tidak yakhin percoban ini akan berhasil dilakukan pada oragn karena kami hanyia mencobanya pada heiwan. Aku bilang itu yang dikatakan Nona Kinnian padaku tapi aku sama sekali tidak peduli apakah itu nanti akan syakit atau apa saja karena aku kuat dan aku akan krja keras.

Aku ingin menjadi pandai jika mereka mengizinkan aku. Mereka bilang mereka harus mendapat izjin dari klurgaku tapi Paman Herman yang pernah merawatku sudah mati dan aku tidak inggat lagi sama klurgaku. Sudah lama aku tidak bertemu dengan ibuku atau ayahku atau adik perempuanku Norma. Mugnkin mereka sudah mati juga. Dr Strauss tanya aku di mana mereka tinggal dulu. Kurasa di brooklin. Ia bilang mereka akan cari tahu mugnkin mereka bisa menemukan kluargaku.

Kuharap aku tidak perlu nulis Iparan kemajan ini terlalu banyak karena butuh waktu lama dan aku jadi terlambat tidur serta capek karena kreja pagi harinya. Gimpy membentakku krena aku menjatuhkan sebaki penuh kwe gulung ketika aku membawanya ke oven. Kwe itu jadi kotor dan Gimpy harus mengelapnya semua hingga bersih sebelum dimasukkan lagi ke panggangan. Gimpy selalu berteriak marah padaku kalau aku berbuat slah tapi ia btul-btul suka padaku karena ia temanku. Wah kalau aku jadi pandai ia pastilah sangat heiran.

Lapran kemajan 4

Tanggai 6 mart Hari ini aku dapat tes gila lagi mug-king mereka akan memakaiku. Di tempat yang sama tapi di kamar kecil yang brebeda. Ibu yang ramah yang mengtesku bilang nama tesnya dan aku bertanya bagaimana mengejanya supaya aku bisa mnulisnya dalam lapran kemajnku. TES APERSEPSI TEMATIK. Aku tidak mengerti dua kata yang terakhir tapi aku tahu apa arti tes. Kau harus lulus atau kau akan mendapat nilai jelek.

Tes ini kayaknya mudah karena aku bisa liat gam-bargmabar. Hanya kali ini dia tidak mau aku bilang apa yang kuliat pada gmabar-gmabar itu. Aku jadi binggun. Aku bilangg pada dia kemarin Burt mengatakan aku harus menceritakan apa yang kuliat pada tinta itu. Dia bilang tidak apa-apa krena tes ini lain lagi. Sekarang kau harus mengarang cerita tentang oragn-oragn yang ada pada gambar-gambar itu.

Aku bilang bagaimana aku bisa cerita tentang orang-orang yang tidak aku kenal. Dia bilang pura-pura saja tetapi aku bilang sama dia itu bohong. Aku tidak pernah berbohong lagi karena ketika kecil aku berbohong

dan aku selalu dipukul. Aku bawa potretku dan Norma di dompetku bersama Paman Herman yang mencarikan aku pekerjaan sebagai juru bresih di toko kwe Don-ners sebelum ia menigngal.

Aku bilang aku bisa mengarang cerita tentang mereka karena aku pernah tinggal lama bersama Paman Herman tapi ibu itu tidak mau dengar cerita tentang mereka. Dia bilang tes ini dan yang lainnya itu tes kjut spontan untuk mengetahui keprbadianku. Aku tretawa. Aku bilang padanya bagaimana dia bisa tahu tentang itu dari kartu-kartu yang ditumpahi tinta oleh orang dan foto-foto oragn yang tidak dikenal. Dia seeprtinya mraha dan menyingkirkan foto-foto itu. Aku tidak peduli.

Kayaknya aku gagal juga dalam tes ini.

Lalu aku membuat beberapa gambar untuk dia tapi aku bukan penggambar yang pandai. Kemudian penguji lainnya Burt mengenakan jas puteh kembali namanya Burt Selden dan ia membawaku ke tempat brebeda yang namanya LABORATORIUM PSIKOLOGI tertulis pada pintunya masih di lantai 4 yang sama di Universitas Beekman. Burt bilang psikologi artinya pikiran dan laboratorium atrinya tempat untuk melakukan precobaan. Kuprikir tempat itu seperti tempat membuat permen karet tapi sekarang kupikir ini tempat membuat permainan dan bongkar-pasang karena itulah yang kami lakukan di sini.

Aku tidak bisa mengerjakan mainan bongkar-pasang itu dengan baik karena semuanya pecah-pecah dan potongan-potongannya tidak bisa masuk ke lubang-lubang yang ada. Satu permaianan berupa secarik kertas bergaris-garis pada segala arah dan banyak kotak. Pada satu sisi tertulis MULAI dan pada sisi lainnya tertulis SELESAI. Burt bilang padaku bahwa itu permainan

menakjubkan dan aku dengan menggunakan pensil harus mengikuti garis dari tulisan MULAI hingga tulisan SELESAI tanpan menyentuh garis-garis itu sama sekali.

Aku tidak mengerti permainan menakjubkan itu dan kami menghabiskan banyak kertas. Lalu Burt bilang begini aku akan memperlihatkan padamu sesuatu ayo kita ke lab precobaan mugking kau bisa mendapatkan gagasan. Kami naik ke lantai S ke ruangan lainnya yang berisi banyak kurungan dan hewan ada kera-kera dan beberapa ekor tikus. Ruangan itu berbau aneh seperti sampha busuk. Dan ada orang-orang lain juga berjas putih sedang bermain-main dengan hewan-hewan jadi tadinya kukira ini adalah toko hewan pliharaan tapi mereka bukan pembeli. Burt mengeluarkan seekor tikus puteh dan memperlihatkannya padaku. Burt bilang bahwa Algernon dan ia dapat memainkan permainan menakjubkan ini dengan baik sekali. Aku bilang padanya tunjukkan padaku bagaimana tikus bisa melakukannya.

Nah tahu tidak setelah itu Burt meletakkan Algernon di dalam sebuah kotak yang seperti se-buah meja besar dengan banyak tikungan dan blekokan semua seperti tembok-tembok dan ada sebuah tulisan MULAI dan SELESAI seperti di kertasku tadi. Hanya ada jaringgan di atas meja itu. Burt pun mengeluarkan jamnya dan mengang-kat sebuah pintu dorong lalu bilang ayo Algernon kemudian tikus itu menggendus 2 atau 3 kali dan mulai berlari. Pertama-tama ia berlari pada lorong yang panjang lalu ketika ia melihat ia tidak bisa berlari ke arah itu lagi ia kembali ke tempat ia memulainnya dan ia berdiri saja di sana sebentar sambil menggerak-gerakkan misainya. Lalu ia mengarah ke lorong yang berbeda dan mulain berlari lagi.

Klihatannya seperti hal yang sama dengan yang harus kulakukan pada garis-garis di atas kertas tadi. Aku tretawa-tawa karena kukira hal itu akan sulit bagi seekor tikus. Tapi kemudian Algernon terus berlari di sepanjang lorong tanpan salah-salah hingga akhirnya sampai di tulisan SELESAI dan ia berkuik-kuik. Burt bilang itu artinya Algernon senang krena ia telah menyelesaikannya dengan bnar.

Wah aku bilang itu sih tikus pandai. Burt bilang kau mahu balapan melawan Algernon. Aku bilang tentu saja dan Burt mengatakan ia punya permainan menakjubkan laiinnya yang terbuat dari kayu dengan lorong-lorong yang tergambar di atasnya dan sebuah tongkat listrik seperti pensil. Ia pun bisa mengatur permainan menakjubkan milik Algernon sehingga sama dengan yang itu jadi kami memainkan permainan yang sama.

Burt menggeser semua papan di sekitar meja Algernon sehingga semua jadi berantakan dan ia mengaturnya lagi dengan bentuk yang brebeda. Lalu ia memasang jaringan itu lagi di atasnya sehingga Algernon tidak akan bisa meloncati dinding lorong hingga mencapai SELESAI. Lalu Burt memberiku tongkat listrik itu serta memprelihatkan padaku bagaimana menjalankannya di antara lorong-lorong dan aku tidak boleh mengangkatnya dari dasar papan hanya mengikuti goresan kecil hingga pensil itu tidak bisa bergerak lagi, mentok, atau aku akan tersengat listrik sedikit.

Burt mengeluarkan jamnya dan ia berusaha menyembunyikannya. Jadi aku mencooba untuk tidak melihat padanya dan itu membuatku sangat gugupu.

Ketika Burt bilang mulai aku breusaha berjalan tetapi aku tidak tahu harus ke mana. Aku tidak tahu lorong

mana yang harus kupilih. Lalu aku denger Algernon me-nguik dari dalam kotaknya di atas meja dan kaki-kakinya menggores-gores sepertinya ia sudah mulain berlari. Aku mulain bergerak tapi salah jalan dan terjebak dan ada sengatan listrik sedikit pada jari-jariku hingga aku kembali ke MULAI tapi stiap kli aku berjalan ke arah yang brebeda aku macet dan terlonjak. Tidak sakhit atau apa pun hanya membuatku terlonjak sdikit dan Burt bilang itu untuk menunjukkan aku melakukan kesalahan. Aku baru setengah jalan di atas papan itu ketika aku denger Algernon menguik seperti kegirangan lagi dan itu artinya ia memenangi balapan itu.

Kami pun melakukannya sepuluh kali lagi Algernon menang terus karena aku tidak bisa menemukan lorong yang benar untuk mencapai tulisan SELESAI. Aku tidak kesal karena kuamati Algernon dan aku blajar bagaimana menyelesaikan permainan menakjubkan itu walau membutuhkan waktu yang lama.

Tadinya aku gak tahu tikus-tikus bisa begitu pandai.

Lapran kemajan 5 tanggai 6 mart

Mereka menemukan adik perempuanku Norma yang tinggal bersama ibuku di Brooklin dan dia memberikan ijzin untuk melakukan oparasi. Jadi mereka akan memakai aku. Aku sangat griang sehingga hampir tidak bisa mnulisnya. Tapi Prof Nemur dan Dr Strauss harus mengatrunya dlu. Aku sedang duduk di kantor Prof Nemur ketika Dr Strauss dan Burt Selden masuk. Prof Nemur kuatri tentang pemakaian aku tapi Dr Strauss bilang padanya aku tampaknya yang terbaik dari oragn-oragn yang mereka tes selama ini. Burt bilang pada mereka Nona Kinnian mengusulkan aku karena aku yang terbaik dari orang-

orang yang diajarinya di pusat orang dewasa terbelakang. Tempat aku belajar.

Dr Strauss bilang aku punya sesuatu yagn sangat bagus. Ia bilang aku memiliki motorvasi yang bagus. Aku tidak pernah tau aku punya itu. Aku merasa senang ketika ia bilang tidak semua orang dengan ay-kyu 68 memiliki hal seperti yang kumiliki. Aku tidak tau apa itu atau di mana aku mendapatkannya tapi ia bilang Algernon juga memilikinya. Motorvasi Algernon adalah keju yang mereka letakkan dalam kotaknya. Tapi tidak mungkin hanya karena itu karena aku tidak punya keju lagi minggu ini.

Prof Nemur kwatir ay-kyu-ku menjadi terlalu tinggi dari yang sekarang yang terlalu rendah dan aku bisa jadi sakit karenanya. Dr Strauss pun bilang pada Prof Nemur sesuautu yang tidak aku mengerti jadi ktika mereka sedang bicara aku nulis beberapa kata untuk kucatat di lapran kemajanku.

Ia bilang Harolds itu nama kecil Prof Nemur aku tahu Charlie bukanlah orang pretama yang ada dalam pikiranmu dalam usaha pengembangan baru pada intelek** tidak bisa menangkap kata *** superman. Tapi kebanyakan orang dengan ment** rendah biasanya **ngamuk dan tidak bisa bekerja""1' mereka biasanya sangat bodoh dan dapat""" serta sulit didekati. Charlie memiliki sifat yang baik dan punya minat serta smagat untuk menyenangkan.

Lalu Prof Nemur bilang inggat ia akan menjadi orang pretama yang kcerdasannya dapat ditingkatkan dengan jalan dioparasi. Dr Strauss bilang mmang itu yang kumaksud. Di mana lagi kita dapat menemukan oragn dewasa terbelakang dengan motorvasi belajar yang luar

biasa. Lihat betapa bagusnya ia belajar mbaca dan nulis dibandingkan dengan usia mentalnya. Sebuah pencap** yang luar bi**.

Aku tidak dapat menangkap semua kta dan mereka bicara sanggat cepat tapi kedengarannya Dr Strauss serta Burt ada di pihakku dan Prof Nemur tidak.

Burt terus bilang Alice Kinnian merasa ia mempunyai gairah belajar yang berleb**. Ia sebnarnya mengemis-ngemis untuk dipakai. Dan itu benar karena aku inggin menjadi pandai. Dr Strauss berdiri dan berjalan berkeliling lalu bilang aku katakan kita pakai Charlie. Dan Burt mengangguk. Prof Nemur menggaruk kepalanya dan menggosk hidungnya dengan jempolnya lalu bilang mungkin kau benar. Kita akan menggunakan Charlie. Tapi kita harus membuatnya mengerti bahwa banyak kesalahan yang bisa saja terjadi dalam precobaan itu.

Ketika ia mengatakan itu aku menjadi girang sekali dan bresemangat aku melonjak-lonjak lalu menyalami tangannya karena sudah begitu baik padaku. Kurasa ia menjadi ktakutan ketika aku berpolah seperti itu.

Ia bilang Charlie kami sudah lama bekreja tapi hanya kami lakukan pada hewain seperti Algernon. Kami yakin tidak akan ada bahaya fisik bagimu tapi ada hal-hal lain yang tidak bisa kami katakan sampai kita mencobanya. Aku ingin kau mengerti percobaan ini bsia saja gagal dan tidak akan ada hasilnya sama sekali. Atau mungkin saja berhasil walau sbentar dan menjdikan kau lebih buruk dari yang sekarang. Kau mengerti artrinya. Jika itu terjadi kami harus mengirimmu kembali ke rumah penampungan Warren untuk tinggal di sana.

Aku bilang aku tidak peduli karena aku tidak takut pada apa pun. Aku sangat kuat dan selalu berbuat baik

lagi pula aku punya jimat kaki kelinci serta aku tidak pernah memecahkan cremin seumur hidupku. Aku pernah mejatuhkan pring-pring tapi tidak dihitung sebagai pertanda nasb buruk.

Lalu Dr Strauss bilang Charlie walau ini ggal kau telah memberikan sumbangan bsear bagi ilmu pengetahuan. Precobaan ini telah berhasil pada banyak heiwan tapi belum pernah dicobakhan pada manusia. Kau akan menjadi oragn pretama.

Aku bilang terima kasih dok kau tidak akan menyesal karena memberiku kesempatan kedua seperti Nona Kinnian bilang. Dan aku bresungguh-sungguh ketika bilang pada mereka. Setelah oparasi itu aku akan berusaha menjadi pandai. Aku akan berusaha dengan sanggat keras.

Lapran kemajan ke-6 tanggai 8 mart

Aku ktakutan. Banyak orang yang bekerja di universitas itu dan orang-orang dari fakultas kedoktreran datang untuk mendoakan kebruntungan untukku. Burt si penguji membawkan aku bebunggan katanya bunga-bunga itu dari orang-orang di departmen psiko. Ia mendoakan aku. Kuharap aku bruntung. Aku mbawa kaki kelinciku dan uang logam kebruntunganku juga tapal kudaku. Dr Strauss bilang jangan percaya takhaiyul Charlie. Ini ilmu pengetahuan. Aku tidak tahu apa itu ilmu pengetahuan tapi mereka terus-terusan menyebutkan kata itu jadi mugking itu seperti kata yang bisa memberimu keberuntungan. Jadi aku tetap membawa kaki kelinciku di tanganku yang satu dan keping keberuntungan yang berlubang di tengah pada tanganku yang lain. Uang logam itu maksudku. Kuharap aku bisa membawa ladam kuda itu juga tapi berat jadi aku

tinggalkan saja dalam jaketku.

Joe Carp dari toko kwe mbawakan aku kwe coklat dari Pak Donner dan teman-teman dari toko kwe dan mereka berharap aku akan cepat sembuh. Di toko kwe teman-teman mengira aku sakit karena begitulah aku disuruh Prof Nemur menjelaskan kepada mereka dan tidak boleh bicara tentang oparasi menjadi pandai. Itu rahsia hingga slesai kalau-kalau oparasi itu tidak berhasil atau ada yang salah.

Lalu Nona Kinnian datang menjengukku dan dia membwakan aku beberapa majlah untuk dibaca-baca dan dia kliatan agak gugupu dan ketakutan. Dia mengatur bunga-bunga di atas mejaku dan merapikan segalanya supaya tidak brantakan seperti biasanya kulakukan. Dia pun merapikan bantal di bawah keplaku. Dia sangat suka aku krena aku berusaha sangat keras untuk blajar sgalanya tidak seperti orang-orang lainnya di pusat orang dewasa yang tidak terlalu peduli. Dia ingin aku jadi pandai aku tahu.

Lalu Prof Nemur bilang aku tidak boleh menerima tamu lagi karena aku harus istirahat. Aku tanyia Prof Nemur apakah aku akan bisa menglahkan Algernon dalam balapan setelah oparasi dan ia biliang munking. Jika oparasi itu berhasil baik aku akan perlihatkan pada tikus itu aku bisa sepandai dirinya bahkan lebih pandai lagi. Aku pun akan bisa membaca lebih baik dan mengeja kata-kata dengan bagus serta tahu banyak hal jadi seperti orang-orang lainnya. Wah itu akan menggejutkan semua orang. Jika oparasi brehasil dan aku jadi pandai mungkin aku akan menemukan mamaku dan ayahku serta adik perempuanku dan memperlihatkan pada mereka. Wah mereka pasti heiran melihatku jadi pandai seperti mereka dan adikku.

Prof Nemur bilang jika oparasi berhasil dan aku pandai mereka akan membuat orang-orang lain seperti aku pandai juga. Mugkin oragg-orang di seluruh dunia. Ia bilang itu artrinya aku melakukan sesuatu yang hebat bagi ilmu pengetahuan dan aku akan tekrenal sehingga namaku akan ada di dalam buku-buku. Aku tidak terlalu peduli jadi trekenal. Aku hanya ingin jadi pandai seperti oragn lain jadi aku bisa punya banyak teman yang menyukaiku.

Hari ini mereka tidak memberiku makan. Aku tidak tahu apa hubungan makanan dengan menjadi pandai tapi aku lapar. Prof Nemur menyingkirkan kwe colatku. Prof Nemur jahat. Dr Strauss bilang aku bisa makan kwe colat lagi setelah oparasi. Kau tidak boleh makan sebelum oparasi. Bahkan walau itu hanya keju.

LAPORAN KEMAJUAN 7 TANGGAL 11 MARET

Oparasinya tidak sakit. Dr Strauss melakukannya ke-caranya karena aku tidak melihatnya tapi ada perbanan di mata dan kepalaku selama 3 hari jadi aku tidak bisa membuat LAPORAN KEMAJUAN hingga hari ini. Prawat kurus yang selalu mengawasi aku nulis bilang aku slah mengeja KEMAJUAN dan dia mengjariku bagaimana juga nulis LAPORAN, lalu MARET. Aku harus inggat itu. Inggatan ejaanku sangat jelek. Tapi mereka membuka prebanan mataku hari ini jadi aku bisa nulis LAPORAN KEMAJUAN sekarang. Tapi masih ada prebanan di kepalaku.

Aku takut ketika mereka masuk dan bilang padaku sudah waktunya pergi untuk oparasi. Mereka menyuruhku pindah dari tempat tidurku ke tempat tidur lainnya yang beroda dan mereka mendorongnya keluar kamar lalu ke

gang sampei ke pintu yang ada tulisan bedah. Wah aku terkejut sekali ruangan itu besar dengan dinding hijau dan banyak dokter duduk di tempat tinggi di sekeliling ruangan semua mengawasi oparasi. Aku tidak tahu ini jadi seperti sebuah tontonan.

Seorang lelaki mendekati meja pakai baju puteh semua dan dengan kain puteh menempel pada wajahnya seperti di TV dan sarugn tagnan karet lalu ia bilang santei Charlie aku Dr Strauss. Aku bilang halo dok aku takut. Ia bilang tidak prelu takut Charlie ia mengatakan aku hanya akan tidur. Aku bilang itu yang aku takuti. Ia menepuk-nepuk kepalaku kemudian 2 orang lelaki lainnya memakei topeng puteh juga datang dan mengikat lengan serta kakiku supaya aku tidak bisa menggerakkannya sehingga itu membuwatku takut dan pruteku serasa diperas seperti mau keluar semua tapi tidak hanya agk basah dan aku mau nangis tapi mereka memasang sesuatu dari karet pada wajahku untuk brenapas dan aku mencium bwau aneh. Aku denger Dr Strauss terus bicara dengan suara keras tentang oparasi bilang sama orang-orang apa yang akan dilakukannya. Tapi aku tidak mengerti apa-apa tentang itu dan aku pikir mugking setelah oparasi aku jadi pandai dan mengerti segala hal yang dikatakannya. Jadi aku brenapas dalam kemudian kurasa aku sangat letih karna itu aku tretidur.

Ketika aku bangun aku ada di kamarku tadi dan sangat gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa tapi aku denger ada orang bicara. Itu prawat yang tadi dan Burt lalu aku bilang ada apa mengapa tidak menyalakan lampu dan kapan mereka akan mengoperasiku. Mereka pun tretawa lalu Burt bilang Charlie semua sudah selesai. Dan gelap karena ada prebanan di matamu.

Lucu juga. Mereka melakukan operasi itu ketika aku sedang tidur.

Burt menengokku stiap hari untuk nulis semua hal seperti suhu tubuhku dan teknan darah serta hal-hal lain tentang diriku. Ia bilang itu sesuai dengan metodi ilmiah. Mereka harus terus mencatat apa yang terjadi sehingga mereka bisa melakukannya algi bilamana mereka mau. Bukan padaku tapi pada oragn lain seperti aku yang tidak pandai.

Karena itulah aku harus nulis laporan kemajuan. Burt bilang ini bagian dari percobana dan mereka akan membuat prekiranan dari laporan untuk mempelajarinya sehingga mereka tahu apa yang terjadi dalam otakku hanya dengan cara membaca laporanku. Aku membaca laporan-laporanku lagi dan lagi untuk melihat apa yang kutluis dan aku tidak tahu apa yang terjadi dalam otakku jadi bagaimana mereka akan tahu.

Tetapi itulah ilmu pengetahuan dan aku harus berusaha untuk menjadi pandai seperti oragn lain. Kemudian jika aku pandai mereka akan bicara padaku serta aku bisa duduk bersama mereka mendengarkan seperti yang dilakukan Joe Cap dan Frank serta Gimpy ketika mereka bicara mendiskcingkan hal pentung tentang tuhan atau soal uagn yang dibelanjakan presiden ataupun tentang partai republik dan demikrat. Dan mereka semua begitu bersemangat seperti mau berklaih sehingga Pak Donner harus datang dan bilang sama mereka agar kembali membuat kwe atau mereka semua kan dipecat dari perusahaan atau tidak jadi pegawai. Aku ingin bicara tentang hal peting seperti itu.

Jika kau pandai punya banyak teman untuk bicara dan tidak akan kesepian sendirian terus-menerus.

Prof Nemur bilang boleh saja bicara tentang segala hal yang terjadi padaku dalam laporan kemajuan tapi ia bilang aku harus nulis lebih banyak apa yang kurasakan dan kupikirkan serta kuingat tentang masa lalu. Aku bilang padanya aku tidak tahu bagaimana caranya berpikir atau ingat dan ia bilang coba saja.

Prebanan masih terus ada di mataku aku coba berpikir dan menginggat tapi tidak ada yang trejadi. Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan atau kuinggat. Munking aku harus tanya padanya ia akan bilang bagaimana kau bisa berpikir sekarang padahal aku seharusnya menjadi pandai. Apa yang dipikirkan atau diingat orang-orang pandai itu. Hal-hal menyenangkan aku bertaruh. Kuharap aku sudah tau beberapa hal menyenangkan.

12 Maret Aku tidak harus nulis LAPORAN KEMAJUAN pada bagian atas setiap kertas baru ketika aku mulai nulis setelah Prof Nemur mengambil laporan lama. Aku hanya harus nulis tanggal di bagian atasnya. Itu menghemat waktu. Itu gagasan bagus. Aku bisa duduk tegak di atas tempat tidur dan melihat keluar jendela pada rumpt dan pohon-pohon di luar. Prawat krus itu namanya Hilda dan dia sangat baik padaku. Dia membawakan aku berang-barang dan makanan serta merapikan tempat tidurku. Dia bilang dia tidak akan pernah membiarkan mereka melakukan apa pun pada otaksnya demi segala teh di cina. Aku bilang padanya itu bukan demi teh di cina. Hal itu bisa membuatku menjadi pandai. Dan dia bilang munking mereka tidak punya haks membuatku pandai karena jika tuhan inggin aku pandai ia akan membuatku terlahir pandai. Lalu bagaimana dengan Adam

dan Hawa serta dosa dengan pohon ilum pengtahunan dan makan buah apel serta jatuh. Mugking Prof Nemur dan Dr Strauss merusak hal-hal yang seharusnya mereka tidak berhaks melakukannya.

Dia sangat krus dan ketika bicara wajahnya jadi merah semua. Dia bilang munking aku sebaiknya berdoa pada tuhan untuk minta maaf atas apa yang telah mereka lakukan padaku. Aku tidak makan apel atau berbuat dosa apa pun. Dan sekarang aku tkut. Munking aku seharusnya tidak membiarkan mereka mengoperasi otaksku seperti yang dibilang Hilda jika itu melwana tuhan. Aku tidak mau membuat tuhan marha.

13 Maret-Mereka mengganti prawatku hari ini. Vang ini cankit. Namanya Lucille dia mengajariku bagaimana mengejanya untuk ditulis pada laporan kemajuanku dan rambutnya kuning serta matanya briu. Aku tanya dia di mana Hilda dan katanya dia tidak bekerja di bagian rumah sakit ini lagi. Hanya di bangsal kebidanan mengurusi bayi-bayi di sana boleh saja jika dia mau terlalu banyak bicara.

Ketika aku tanya dia apa itu kebidandan katanya itu berhubungan dengan melahirkan tapi ketika aku tanya bagaimana ibu-ibu itu punya bayi wajahnya jadi merah seperti Hilda lalu dia bilang dia harus mengukur suuh tubuh pasien lain. Tidak ada seorang pun yang pernah menceritakan soal bayi padaku. Munking jika operasi ini berhasil dan aku jadi pandai aku akan tahu.

Nona Kinnian datang menjengukku hari ini dan dia bilang Charlie kau terlihat hebat. Aku bilang aku merasa sehat tapi aku belum merasa pandai. Tadinya kukria begitu oparasi itu selesai dan me-reka melepas perbanan

di mataku aku sudah akan pandai dan tau banyak hal jadi aku bsa membaca dan berbicara tentang hal-hal penitng seperti orang-orang lain.

Dia bilang tidak begitu porsesnya Charlie. Tapi perlahan-lahan dan kau harus bekerja sangat keras untuk menjadi pandai.

Aku tidak tau itu. Kalau aku masih harus bekerja keras kenapa aku harus dioparasi. Dia bilang dia tidak yakin tapi oparasi itu untuk menjadikan aku pandai jadi kalau aku kreja keras untuk jadi pandai otak itu akan juga bekerja keras bersamaku tidak seperti dulu lagi otakku tidak kreja begitu keras.

Yah aku bilang padanya itu membuatku agak kecewa karena tadinya kupikir aku akan lagnsung jadi pandai sehingga aku bisa bekerja kembali dan memperlihatkan pada teman-temanku di toko kwe betapa pandainya aku serta bicara sama mereka tentang berbagai hal atau munking aku bisa jadi pembantu tukang bikin kwe. Lalu aku akan coba mencari mamaku dan ayahku. Mereka akan terkejut melihatku jadi pandai sekali karena mamaku selalu ingin aku jdi pandai juga. Munking mereka tidak akan mengusirku lagi jika mereka melihat betapa pandainya aku. Aku bilang pada Nona Kinnian aku akan berusaha sekeras munking untuk jadi pandai. Dia menepuk-nepuk tanganku dan bilang aku tahu kau akan berusaha keras. Aku percaya padamu Charlie.

LAPORAN KEMAJUAN 8

15 Maret Aku keluar dari rumah sakit tapi belum bekreja lagi. Tidak ada yang terjadi. Aku banyak dites dan melakukan banyak perlombaan yang brebeda bersama Algernon. Aku benci tikus itu. Ia selalu menglahkan aku.

Prof Nemur bilang aku harus memainkan permainan-permainan itu dan melakukan perlombaan-perlombaan itu berulang-ulang.

Permainan menakjubkan itu tlolo. Dan gambar-gambar itu juga tlolo. Aku suka penggambar foto seorang lelaki dan perempuan tapi aku tidak mau berbohong tentang orang-orang.

Aku juga gak bisa mengerjakan permainan bongkar pasang dengan baik.

Kepalaku jadi syakit kalau aku berpikir keras dan mencoba inggat terlalyu banyak. Dr Strauss janji ia akan membantuku tapi ternyata tidak. Ia tidak mengatakan padaku apa yang harus kupikirkan atau kapan aku kan jadi pandai. Ia hanya menyuruhku berbaring di sebuah sofa dan bicara.

Nona Kinnian juga menjengukku di univeristas. Aku bilang padanya tidak ada yang trejadi. Kapan aku jadi pandai. Dia bilang kau harus sabar Charlie itu butuh waktu. Akan trejadi dengan sangat lambat kau tidak tahu saat hal itu terjadi. Katanya Burt bilang padanya aku baik-baik saja selama ini.

Aku masih menilai perlombaan-perlombaan dan tes-tes itu tlolo dan kupikir nulis laporan kemajuan ini juga tlolo.

16 Maret Aku makan siang bersama Burt di restroran univeristas. Restroran itu punya banyak jenis makanan dan aku tidak harus membayar makanan itu. Aku suka duduk sambil natapin mahasisiwa dan mahasisiwi. Mereka kadang-kadang saling bercanda tapi kebanyakan mereka bicara tentang berbagai hal persis seperti pembuat kwe di toko kwe Donners. Burt bilang mereka bicara tentang seni dan polatik dan agamma. Aku tidak tahu apa itu semua

tetapi aku tahu agamma adalah tuhan. Mama pernah bilang padaku soal tuhan dan hal-hal yang dilakukannya untuk membuat dunya. Kata mama aku harus selalu cinta pada tuhan dan berdoa padanya. Aku tidak ingat bagaimana berdoa padanya tapi kayaknya mama sering menyuruhku berdoa padanya ketika aku masih kecil supaya tuhan membuatku sehat dan tidak sakit. Aku tidak inggat bagaimana aku sakit. Kupikir masalahnya aku hanya tidak pandai saja.

Tapi Burt bilang jika precobanan berhasil baik aku kan bisa mengerti segala hal yang dibicarakan para mahasisiwa itu dan aku bilang kaupikir aku akan jadi pandai seperti mereka lalu ia tretawa bilang anak-anak itu tidak terlalu pandai kau kan melampaui mereka seolah mereka hanya berdiri diam.

Burt menggenalkan aku pada banyak mahasisiwa dan beberapa orang melihat padaku dengan aneh seolah aku tidak seharusnya ada di universistas itu. Aku hampir lupa dan mulai bilang pada mereka aku akan jadi pandai seperti mereka tapi Burt menyelah dan bilang pada mereka aku membersihkan lab fakultas psikologi. Setelah itu ia jelaskan padaku aku tidak boleh bilang-bilang pada siapa pun. Artinya itu rahasyiah.

Aku tidak begitu mengerti mengapa aku harus menyimpan rahasia. Burt bilang kalau-kalau mereka gagla Prof Nemur tidak mau oragn-oragn tretawa trutama orang-orang dari yayaysan Welberg yang memberinya wang untuk proyek ini. Aku bilang aku tidak peduli jika orang-orang menetrawakan aku. Banyak oragn menetrawakan aku dan mereka teamnku kami pun bersenang-senang. Burt meletakkan tangannya di bahuku dan bilang bukan kau yang dikuatirkan Nemur. Nemur

tidak mau orang-orang menetrawakan dirinya.

Kupikir orang-orang tidak akan menetrawakan Prof Nemur karena ia seorang iluwwan pada sebuah univeristas tapi Burt bilang tidak ada ilmuwwan yang baik bagi univeristasnya ataupun bagi mahasisiwanya. Burt adalah mahasisiwanya dan ia mengambil jurusan mayor psikologi seperti yang tertulis di pintu lab. Aku tidak tahu mereka punya meyor di univeristas. Tadinya kupikir hanya di pangkat tentara.

Tapi aku berharap bisa jadi pandai segera karena aku ingin blajar segalanya yang ada di dunya seperti yang diketahui mahasisiwa-mahasisiwa itu. Semua tentang seni dan politik serta tuhan.

27 Maret Ketika aku bangun pagi ini aku lagnsung berpikir aku akan jadi pandai tapi ternyata tidak. Setiap pagi kupikir aku akan jadi pandai tapi tidak trejadi. Munking precobanan tidak berhasil. Munking aku tidak akan jadi pandai dan aku harus tinggal di panti Warren. Aku benci tes dan aku benci permainan menakjubkan aku juga benci Algernon.

Tadinya aku tidak pernah tau aku lebih bodoh daripada seekor tikus. Aku tidak ingin nulis laporan kemajuan lagi. Aku lupa banyak hal bahkan ketika aku nulis hal-hal itu di buku catatanku kadang-kadang aku tidak bisa baca tulisanku sendiri karena sangat sulit. Nona Kinnian bilang harus syabar tapi aku muak dan bosan. Dan aku terus sakit kepala. Aku ingin kembali kerja di toko kwe dan tidak nulis laporan kemajuan lagi.

20 Maret Aku kembali bekerja di toko kue. Dr Strauss bilang pada Prof Nemur lebih baik aku kembali kreja

tapi tetap tidak boleh megnatakan kepada siapa pun soal oparasi itu untuk apa dan aku harus datang ke lab selama 2 jam setiap malam sepulang kerja untuk tes serta tetap nulis laporan tolol itu. Mereka akan membayarku stiap minggu seperti kerja paruh waktu karena itu bagian dari pegnaturan ketika mereka dapat wang dari yayaysan Welberg. Aku masih tidak tahu apa itu Welberg. Nona Kinnian menjelaskan padaku tapi aku tetap tidak mengerti. Jadi kalau aku tidak jadi pandai mengapa mereka tetap membayarku untuk nulis hal-hal tolol ini. Jika mereka akan membayarku aku kan melakukannya. Tapi nulis itu sulit sekali.

Aku senang aku akan kreja lagi karena aku rindu pekerjaanku di pabrik kwe dan semua temanku serta segala kesenangan yang kami punya.

Dr Strauss bilang aku harus membawa sebuah buku catatan kecil dalam saukku untuk nulis yang kuingat. Dan aku tidak harus nulis laporan kemajuan setiap hari hanya kalau aku berpikir sesuatu atau sesuasut yang spesiul trejadi. Aku bilang padanya tidak pernah terjadi seusastu yang spesiul padaku dan kurasa precobanan spesiul itu juga tidak akan ada hasilnya. Ia bilang jangan patah semanggat Charlie karena itu perlu waktu yang panjang dan trejadi dengan lambat sehingga kau tidak bisa langsung merasakannya. Ia jelaskan berapa lama Algernon bisa menjadi 3 kali lebih pandai daripada sebelumnya.

Karena itulah Algernon bisa mengalahkan aku setiap kali berlomba dalam permainan menakjubkan denganku karena ia juga dioparasi. Ia itu tikus spesiul heiwan pertama yang tetap masih pandai begitu lama setelah oparasi itu. Aku tidak tahu ia tikus spesiul. Karena itulah ia jadi berbeda. Jadi aku sesungguhnya munking bisa

memainkan permainan menakjubkan lebih cepat daripada tikus biasa. Mungkin suatu hari kelak aku kan mengalahkan Algernon. Wah akan hebat sekali. Dr Strauss bilang selama Algernon menunjukkan akan tetap pandai selamanya ia bilang itu tanda bagus karena kami berdua telah menjalani oparasi yang sejenis.

22 Maret Kami bersenang-senang di pabrik hari ini. Joe Carp bilang hei lihat di bagian mana Charlie dioparasi apa yang mereka lakukan pada Charlie memasukkan sepotong otak. Aku hampir saja berkata tentang aku jadi pandai tapi aku inggat Prof Nemur bilang jangan. Kemudian Frank Reilly bilang apa yang kaukerjakan Charlie membuka pintu dengan cara yang sulit. Mereka membuatku tretawa-tawa. Mereka teman-temanku dan mereka betul-betul menyukaiku.

Banyak pekrejaan yang harus kukejar. Mereka tidak punya orang lain untuk membersihkan tempat itu karena itu adalah pekerjaanku tapi mereka punya petugas baru Ernie mengerjakan penggiriman yang biasanya kukerjakan. Pak Donner bilang ia memutuskan untuk tidak memecat Ernie sementara waktu untuk memberiku kesempatan beristirahat dan tidak kreja terlalu keras. Aku bilang padanya aku tidak apa-apa dan aku bisa mengerjakan penggiriman serta membersihkan seperti yang sudah-sudah tapi Pak Donner bilang kami akan terus memakai anak lelaki itu.

Aku bilang jadi apa yang akan kulakukan. Pak Donner pun menepuk-nepuk bahuku dan bilang Charlie berapa umurmu. Aku bilang padanya 32 tahun jadi 33 pada ulang tahun berikutnya. Dan sudah berapa lama kau kerja di sini katanya. Aku bilang padanya aku tidak tahu. Ia bilang kau

datang ke sini tujuh belas tahun yang lalu. Pamanmu Herman semoga tuhan mengistirahatkan jiwanya adalah sahbatku. Ia mbawamu ke sini dan ia minta agar aku memberimu pekerjaan dan mengawasimu sebaik mungkin. Ketika ia meninggal 2 tahun kemudian dan ibumu memasukkanmu ke panti Warren aku minta mereka mengeluarkanmu agar ditmpatkan di luar panti untuk bekerja. Sudah tujuh belas tahun Charlie dan aku mau kautahu bahwa bisinis pabrik kue tidak terlalu bagus tapi seperti yang selalu kubilang kau punya pekerjaan di sini selama hidupmu. Jadi jangan kuatir aku memasukkan orang lain untuk menggantikanmu. Kau tidak harus kembali ke panti Warren.

Aku tidak kuatir hanya mengapa ia memerlukan Ernie untuk menggirim dan bekerja di sekitar sini padahal aku sudah selalu menggirimkan pakit-pakit barang. Ia bilang anak lelaki itu butuh wang Charlie jadi aku akan tetap memakainya sebagai pegawai magang untuk mengajarinya menjadi pembuat kue. Kau bisa jadi pembatunya dan menolongnya dalam tugas penggiriman jika ia memerlukan.

Aku belum pernah jadi pembatu. Ernie sangat pandai tapi orang-orang di pabrik kue gak terlalu menyukainya. Mereka semua temanku dan kami punya banyak lelucon serta tawa di sini.

Kadang-kadang seseorang akan bilang hei lihatlah Frank atau Joe atau bahkan Grimpy. Ia betul-betul mempermainkan Charlie Gordon kali ini. Aku tidak mengerti mengapa mereka mengatakannya tapi mereka selalu tretawa dan aku juga tretawa. Pagi ini Gimpy ia adalah kepala pembuat kue yang kakinya cacat dan pincang menggunakan namaku ketika ia berteriak pada Ernie karena Ernie kehilangan sebuah kue ulang tahun. Ia bilang

demi tuhan Ernie kau mencoba menjadi seorang Charlie Gordon ya. Aku tidak tahu mengapa ia bilang begitu. Aku tidak pernah kehilangan paket sekali pun.

Aku tanya Pak Donner apakah aku bsa blajar menjadi pembuat kue magang seperti Ernie. Aku bilang padanya aku bsa blajar jika ia memberiku kesempatan.

Pak Donner menatapku lama dan dengang lucu kukira karena aku biasanya tidak bicara terlalu banyak. Dan Frank mndengerkanku lalu ia tertawa-tawa hingga Pak Donner bilang padanya untuk tutup mulut serta memerhatikan ovennya. Lalu Pak Donner bilang padaku banyak waktu untuk itu Charlie. Pekrejaan pembuat kue sangat pentung serata sangat ruwmit dan kau tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu.

Aku harap aku bsa mengatakan padanya dan semua orang lainnya soal oparasiku yang sebenarnya. Kuharap oparasi itu sudah benar-benar berhasil jadi aku bsa jadi pandai seperti orang lain.

24 Maret Prof Nemur dan Dr Strauss datang ke kamarku malam ini untuk melihat mengapa aku tidak datang ke lab seperti yang seharusnya. Aku bilang pada mereka aku tidak mau berlomba lagi dengan Algernon. Prof Nemur bilang untuk sementara ini aku tidak perlu berlomba tapi aku tetap harus datang. Ia membwakan aku sebuah hadiyah tapi bukan benar-benar hadiyah hanya untuk dipinjamkan. Katanya ini adalah mesin belajar yang seperti TV. Bisa bersuara serta mengeluarkan gambar dan aku harus menyialakannya sebelum aku tidur. Aku bilang kau bercanda. Mengapa aku aku harus menyialakan sebuah TV sebelum aku tidur. Tapi Prof Nemur bilang jika aku ingin jadi pandai aku harus

melakukan apa katanya. Maka aku bilang padanya aku tidak akan pernah jadi pandai juga.

Lalu Dr Staruss mendekat lalu meletakkan tangannya di bahuku dan bilang Charlie kau belum tahu tentang hal itu tapi kau akan jadi pandai setiap saat. Aku tidak mengetahuinya bagaimana jarum jam pada sebuah jam bergerak. Begitu juga caranya kau berubah. Hal itu trejadi begitu lambat sehingga kau tidak bisa mengatakannya. Tapi kami bisa mengikuti perubahan itu dari tes-tes dan caramu bersikap serta bicara dan laporan kemajuanmu. Ia bilang kau harus percaya pada kami dan pada dirimu sendiri. Kami tidak bisa yakin hal itu akan setrusnya begitu tapi kami ykin kau akan segera menjadi lelaki muda yang sangat credas.

Aku bilang oke dan Prof Nemur memperlihatkan padaku bagaimana TV yang bukan TV sebenaranya itu bekreja. Aku tanya padanya apa gunanya. Pertama-tama ia tumpak cemberut karena aku minta penjlasan padanya dan ia bilang aku hanya harus melakukan apa yang dikatakannya. Tapi Dr Strauss bilang ia harus menjlaskannya padaku karena aku mulai mempertanyakan otoritas. Aku tidak tau apa atrinya tapi Prof Nemur kelihatan seperti akan menggigit putus bibirnya. Lalu ia menjlaskan padaku dengan lambat sekali bahwa mesyin itu bisa melakukan banyak hal pada pikiranku. Sesuatu akan terjadi sebelum aku tertidur seperti mengajariku hal-hal ketika aku sangat mengantuk dan sejenak sebelum aku betul-betul tertidur aku masih bisa mendengar percakapan bahkan ketika aku tidak lagi melihat gambarnya. Hal lainnya terjadi pada malam hari dan akan membuatku bermimpi dan inggat hal-hal yang terjadi pada masa silam ketika aku masih kecil.

Menakutkan.

Oh ya aku lupa. Aku tanya pada Prof Nemur kapan aku bisa kembali lagi ke kelas Nona Kinnian di pusat orang dewasa terbelakang dan ia bilang Nona Kinnian akan segera datang ke pusat pengujian universistas untuk sepesiul mengajar aku. Aku senang karena itu. Aku jarang bertemu dengannya sejak oparasi tapi dia baik.

25 Maret TV gila itu membuatku tidak tidur sepanjang malam. Bagaimana aku bisa tidur kalau ada sesuatu yang meneriakkan hal-hal gila sepan-jang malam pada telingaku. Dan gambar-gambar edan. Wow. Aku tidak tahu apa katanya ketika aku bangun jadi bagaimana aku akan tahu ketika aku sedang tidur. Aku tanya Burt tentang hal itu dan ia bilang tidak apa-apa. Ia bilang otakku belajar menjelang aku tidur dan itu akan menolongku ketika Nona Kinnian mulai memberikan pelajaran padaku di pusat pengujian. Pusat pengujian bukan rumah sikit untuk heiwan seperti yang kukira tadinya. Gedung itu adalah labortori untuk ilmu pengetahuan. Aku tidak tahu apa itu ilmu pengetahuan aku hanyia membantu mereka dalam percobanan di sana.

Aku tidak tahu tentang TV itu. Kupikir itu gila. Jika kau bisa menjadi pandai ketika kau akan tidur mengapa orang-orang pergi ke sekolah. Kukira cara itu tidak akan brehasli. Aku pernah selalu menonton acara malam di TV sebelum pergi tidur dan itu tidak pernah membuatku pandai. Mungkin hanya film tretentu yang membuat kau pandai. Mungkin seperti acara-acara kuis.

26 Maret Bagaimana aku akan bekerja di siang hari jika benda itu terus membuatku terjaga pada malam hari.

Di tengah malam aku terbangun dan aku tidak bisa kembali tidur karena TV itu terus berkata inggat... inggat... inggat.... Jadi kurasa aku inggat sesuatu. Aku tidak ingat dengan pasti tapi itu tentang Nona Kinnian dan sekolah tempat aku blajar membaca. Dan bagaimana aku bisa tiba di sanah.

Sudah lama berselang aku pernah bertanya pada Joe Carp bagaimana ia blajar membaca dan apakah aku bisa blajar membaca juga. Ia tretawa seperti biasanya ketika aku mengatakan sesuatu yang lucu dan ia bilang padaku Charlie mengapa membuang waktumu mereka sama sekali tidak dapat memasukkan otek karena tempatnya pun kau tidak punya. Tapi Fanny Birden denger aku dan dia tanya sepupunya yang seorang mahasisiwa di Beekman lalu dia bilang padaku tentang pusat orang dewasa terbelakang di universistas Beekman.

Dia tulis nama itu pada secarik kertas dan Frank tretawa lalu bilang jangan jadi terlalu pandai nanti kau tidak mau lagi bicara dengan teman-teman lamamu. Aku bilang jangan kuatir aku akan selalu berteman dengan teman-teman lamaku walau aku sudah bisa membaca dan nulis. Ia tretawa lagi dan Joe Carp tretawa tapi Gimpy datang lalu bilang pada mereka agar kembali membuat kue gulung. Bagiku mereka semua adalah teman-teman baik.

Sepulang kreja aku berjalan sejauh enam blok menuju sekolah itu dan aku ketakutan. Aku begitu gembira aku akan blajar membaca sehingga aku beli selembar koran untuk kubawa pulang dan kubaca setelah aku blajar.

Ketika aku tiba di sanah sekolah itu berupa serambi besar panjang berisi banyak oragn. Aku takut mengatakan sesuatu yang salah pada oragn lain jadi aku beranjk pulang. Tapi aku tidak tahu mengapa aku breputar dan

bregrak masuk lagih.

Aku tungu hingga kebanyakan mereka pergi kecuali beberapa oragn berjalan melewati sebuah jam besar seperti yang kami miliki di pabrik roti dan aku bertanya pada ibu itu apakah aku bisa blajar membaca serta nulis karena aku ingin membaca semua hal di dalam koran ini lalu aku memperlihatkannya padanya. Dia Nona Kinnian tapi waktu itu aku tidak tahu. Dia bilang jika kau da-tang lagi besok dan ndaftar aku akan mulai mengajarmu membaca. Tapi kau harus mengerti itu akan perlu waktu lama mungkin bertahun-tahun untuk blajar membaca. Aku bilang padanya aku tidak tahu akan perlu waktu begitu lama tapi pokoknya aku inggin blajar karena sudah lama aku berpura-pura bisa baca. Maskudku aku berpura-pura di depan orang aku bisa membaca tapi itu tidak benar dan sekarang aku inggin blajar.

Dia menjabat tanganku dan bilang senang bertemu denganmu Pak Gordon. Aku akan menjadi gurumu. Namaku Nona Kinnian. Jadi ke sanahlah aku blajar dan begitulah aku berkenalan dengan Nona Kinnian.

Berpikir dan mengingat-ingat sulit bagiku dan sekarang aku tidak bisa tidur nyenyak lagi. TV itu terlalu keras suaranya.

27 Maret Sekarang sejak aku sering bermimpi dan mengingat seperti itu Prof Nemur berkata aku harus menjalani tirape bersama Dr Strauss selama beberapa waktu. Ia berkata sesi tirape adalah seperti ketika kau merasa tidak enak kau bicara pada orang lain untuk merasa lebih baik. Aku bilang padanya aku tidak merasa tidak enak dan sepanjang hari aku banyak bicara jadi mengapa aku harus pergi ke tirape tetapi ia jadi kesal lalu

berkata pokoknya aku harus pergi.

Apa yang disebut tirape itu adalah aku harus berbaring di sofa dan Dr Strauss duduk di sebuah kursi dekat aku lalu aku bicara tentang segala hal yang muncul di dalam kepalaku. Lama aku tidak mengatakan apa-apa karena aku tidak bisa berpikir apa pun untuk diucapkan. Lalu aku menceritakan padanya soal pabrik roti itu dan hal-hal yang mereka kerjakan. Tapi bagiku itu konyol pergi ke kantornya lalu berbaring di sofa untuk bicara karena aku nulis juga dalam laporan kemajuan dan ia bisa membacanya. Jadi hari ini aku mbawa laporan kemajuan lalu aku berkata padanya mungkin ia bisa membacanya saja dan aku bisa tidur sebentar di sofa. Aku sangat letih ka-rena TV itu membuatku tidak tidur semalaman tapi ia berkata tidak bukan begitu caranya. Aku harus bicara. Jadi aku bicara tapi kemudian aku tertidur di sofa itu juga ketika aku sedang bicara.

28 Maret Aku pusying. Bukan karena TV itu kali ini. Dr Strauss mengajariku bagaimana mengecilkan suara TV jadi aku bisa tidur sekarang. Aku tidak mendengar apa pun. Dan masih tidak mengerti apa yang dikatakannya. Beberapa kali aku memutarnya pada pagi hari untuk mengetahui apa yang telah kupelajari sebelum aku tertidur dan ketika aku tidur aku bahkan tidak mengenal kata-kata itu. Mungkin itu bahasa lain atau semacamnya. Tapi kebanyakan terdengar bahasa amerika. Tapi bicaranya terlalu cepat.

Aku tanya Dr Strauss apa untungnya menjadi pandai ketika aku tidur kalau aku ingin pandai ketika aku terjaga. Ia berkata sama saja dan aku punya dua pikiran. Ada BAWAH SADAR dan SADAR (begitulah cara mengejanya)

dan masing-masing tidak mengatakan apa yang mereka lakukan. Bahkan mereka tidak saling berbicara. Karena itulah aku bermimpi. Dan wah aku pernah mendapatkan mimpi gila. Wow. Sejak nonton TV malam hari. Film pada jam yang larut larut larut larut sekali.

Aku lupa bertanya pada Dr Strauss apakah itu hanya aku atau semua orang punya dua pikiran seperti itu.

(Aku baru saja menemukan kata itu di kamusy yang diberikan Dr Strauss padaku. BAWAH SADAR. ks. Sifat dari perilaku mental tetapi tidak tampak dalam sadar; seperti, konflik bawah sadar dari keinginan). Banyak lagi tapi aku masih tidak tahu apa atrinya. Kamusy ini tidak terlalu bagus untuk orang bodoh seperti aku.

Sakit kepalaku ternyata karena pesta itu. Joe Carp dan Frank Reilly mengundangku untuk pergi bersama mereka sepulang bekerja ke Hallorans Bar untuk minum-mi-um. Aku tidak suka minum wiski tapi mereka bilang kita akan bersenang-senang. Aku senang. Kami bermain permainan-permainan aku berdansa di atas meja bar dengan tutup lampu di kepalaku dan semua orang tretawa.

Lalu Joe Carp berkata aku harus memperlihatkan pada gadis-gadis itu bagaimana aku mengepel kamar mandi di pabrik roti dan ia mengambilkan aku pel. Aku memperlihatkan pada mereka dan semua orang tretawa ketika aku bilang pada mereka bahwa Pak Donner berkata aku adalah pengantar dan juru bresih terbaik yang pernah bekerja padanya karena aku suka pekerjaanku serta mengerjakannya dengan baik dan tidak pernah datang terlambat atau membolos kcuali untuk oparasiku.

Aku bilang Nona Kinnian selalu berkata padaku Charlie banggalah dengan pekerjaanmu karena kau lakukan

pekerjaanmu itu dengan baik.

Semua orang tretawa dan Frank berkata Nona Kinnian pastilah gila jika dia merayu Charlie lalu Joe berkata hei Charlie kau bercinta dengannya. Aku bilang aku tidak tahu apa atrinya itu. Mereka memberiku banyak minuman dan Joe berka-ta Charlie seperti selembar kartu ketika ia mabuk. Kukira itu artinya mereka menyukai aku. Kami bersenang-senang tapi aku tidak sabar untuk menjadi pandai seperti sahbat-sahbatku Joe Carp dan Frank Reilly.

Aku tidak ingat bagaimana akhir pesta itu tapi mereka menyuruhku pergi ke sudut untuk melihat apakah sedang hujan dan ketika aku kembali tidak ada siapa-siapa lagi di sanah. Mungkin mereka pergi mencariku. Aku mencari mereka hingga larut malam. Tetapi aku tersesat dan aku merasa kesal pada diriku sendiri karena tersesat serta karena aku yakin Algernon bsa menelusuri jalan-jalan ini ratusan kali dan tidak tersesat seperti aku.

Lalu aku tidak ingat lagi dengan pasti tapi Nyonya Flynn berkata seorang plisi yang ramah mengantarku pulang.

Pada malam yang sama aku bermimpi tentang mamaku dan ayahku hanya aku tidak bsa melihat wajah mama semuanya ptih dan mama tampak kabur. Aku menangis karena kami sedang berada di sebuah puwsat blanja yang besar dan aku tersessat serta aku tidak bisa menemukan mereka lalu aku berlari ke sana-kemari di sekitar deretan segala kontrer di toko itu. Lalu seorang lelaki datang dan membawaku ke sebuah ruangan besar berisi bangku-bangku dan memberiku sebuah permen loli kemudian bilang padaku anak lelaki besar seperti aku seharusnya tidak menangis karena ayah dan mamaku akan datang menemukan aku.

Itulah mimpi itu lalu aku jadi pusign dan ada benjolan besar di kepalaku serta bercak hitam dan biru di mana-mana. Joe Carp bilang mungkin aku diguling-guling-kan atau plisi itu membiarkan aku berguling-guling. Kukira plisi itu tidak akan begitu. Tapi aku tidak akan pernah minum wiskiy lagi.

29 Maret Aku kalahkan Algernon. Aku bahkan tidak tahu aku mengalahkan ia sampai Burt Selden mengatakannya padaku. Kemudian yang kedua aku kalah karena aku jadi terlalu bersemangat. Tapi setelah itu aku kalahkan ia 8 kali lagi. Aku pastilah menjadi pandai karena bisa mengalahkan seekor tikus pandai seperti Algernon. Tapi aku tidak merasa lebih pandai.

Aku ingin berlomba lagi tapi Burt mengatakan sudah cukup untuk hari ini. Ia membolehkan aku memegang Algernon sebentra. Algernon adalah seekor tikus yang ramah. Lembut seperti kapas. Ia mengedipkan matanya dan ketika membuka matanya ada warna hitam dan merah muda di pinggirnya.

Aku bertanya boleh aku memberinya makan karena aku merasa tidak enak telah mengalahkannya serta aku ingin beramah-tamah dan berteman. Burt bilang jangan Algernon seekor tikus yang sangat spesiul karena menjalani oparasi seperti aku. Algernon adalah hewan pertama yang tetap pandai selama ini dan ia bilang Algernon begitu pandainya sehingga ia harus mengatasi masalah dengan kunci yang selalu diubah setiap saat ia masuk untuk makan jadi ia harus blajar sesuatu yang baru untuk mendapatkan makanannya. Itu membuatku sedih karena jika ia tidak bisa blajar ia tidak akan dapat makan dan ia akan kelaparan.

Kupikir tidak benar membuatmu harus lulus ujian untuk mendapat makanan. Apakah Burt akan suka jika ia harus lulus ujian setiap kali ia ingin makan. Kupikir aku kan bertemn dengan Algernon.

Itu mengingatkan aku. Dr Strauss mengatakan aku harus nulis semua mimpi dan hal yang kupikirkan jadi ketika aku datang ke kantornya aku bisa menceritakan padanya. Aku billang padanya aku belum tahu bagaimana caranya berpikir tapi ia bilang maksudnya adalah hal-hal lain seperti apa yang kutulis tentang mamaku dan ayahku juga tentang saat aku mulai sekolah pada Nona Kinnian atau segala yang terjadi sebelum operasi itu adalah berpikir dan aku menuliskan itu pada laporan kemajuanku.

Aku tidak tahu aku sedang berpikir dan mengingat-ingat. Mungkin itu artinya ada yang terjadi padaku. Aku tidak merasa berbeda tapi aku begitu gembira sehingga aku tidak bisa tidur.

Dr Strauss memberiku beberapa pil merah muda untuk membuatku tidur nyenyak. Ia mengatakan aku harus banyak tidur karena saat itu kebanyakan perubahan pada otakku terjadi. Pastilah itu benar karena Paman Herman dulu jika ia tidak bekerja selalu tidur di rumah kami di sofa ruang tamu. Ia gemuk dan sulit baginya untuk mendapat pekerjaan karena ia biasa mengecat rumah oragn serta ia jadi lambat bergerak turun dan naik tangga.

Ketika aku billang pada mamaku dulu aku ingin menjadi seorang tukang cat seperti Paman Herman adik perempuanku Norma berkata yah Charlie akan menjadi seniman dalam keluarga ini. Dan ayah menamppr wajahnya lalu billang padanya jangan jadi begitu menghina kakak lelakinya. Aku tidak mengerti apa itu seniman tapi jika Norma ditamppr karena mengatakan itu

kukira itu bukan hal bagus. Aku selalu merasa tidak enak kalau Norma ditamppr karena nakla padaku. Kalao aku sudah pandai aku kan menjenguknya.

30 Maret Malam ini sepulang kreja Nona Kinnian datang ke ruang mengajra dekat labotorium. Dia tampak gembira bertemu denganku tapi guggup. Dia tampak lebih muwda daripada yang kuinggat. Kubillang padanya aku berusaha sangat keras untuk pandai. Dia berkata aku percaya padamu Charlie caramu berjuang untuk mbaca dan nulis lebih baik daripada yang lainnya. Aku tahu kau bisa melakukannya. Hebatnya, walau kau hanya akan menikmatinya sebentra saja dan sesuatu yang kaulakukan itu untuk orang-orang terbelakang lainnya.

Kami mulain membaca sebuah buku yang sangat sulit. Aku tidak pernah baca buku sesulit ini. Judulnya Robinson Crusoe tentang seorang lelaki yang terdampar di sebuah plau terpencil. Dia pandai dan dapat mencipatkan segala macam benda sehingga ia mempunyai sebuah rumah dan makanan serta ia perenang yang andal. Aku hanya sayangkan ia sendirian dan tidak punya temna. Tapi kukira pastilah ada oragn lain di pluau itu karena ada sebuah gambar dirinya memegang payung aneh sambil memandangi jejek-jejek kaki. Kuharap aku punya tman dan tidak kesepian begitu.

31 Maret Nona Kinnian ngajar aku cara mengeja yang lebih baik. Dia bilang lihat pada sebuah kata dan tutup kedua matamu lalu ucapkan berulang-ulang hingga ingat. Aku sangat keslulitan dengan kata meiaiui dan kata cukup serta uiet. Aku bingung tapi Nona Kinnian berkata jangan khawatir soal mengeja.

LAPORAN KEMAJUAN 9

1 April Smuah orang di pabrik roti datang menjengukku hari ini ketika aku memulai pekerjaan baruku di bagian pengadukan adonan. Kejadiannya begini. Oliver yang bekerja di bagian pengadukan adonan berhenti bekerja kemarin. Sebelumnya aku biasa membantunya membawakan karung-karung tepung untuk dimasukkan ke dalam mikser. Tapi aku tidak tahu kalau aku ternyata bisa menggunakan mikser. Sulit sekali makanya Oliver ikut kursus memasak selama setahun sebelum ia dapat belajar bagaimana menjadi asisten pembuat kue.

Tapi Joe Carp temanku bilang Charlie mengapa tidak kau ambil alih pekerjaan Oliver. Semua orang di lantai itu datang mengelilingiku dan mereka tertawa lalu Frank Reilly berkata ya Charlie kau sudah cukup lama bekerja di sini. Ayo. Gimpy tidak ada di sana dan ia tidak tahu kau mencoba-cobanya. Aku ketakutan karena Gimpy adalah kepala pembuat kue dan ia bilang padaku jangan pernah dekat-dekat mikser karena aku akan terluka. Semua orang bilang lakukan kecuali Fannie Birder dia bilang hentikan tinggalkan lelaki malang itu.

Frank Reilly bilang diamlah Fanny ini Hari April Mop dan jika Charlie bekerja di bagian mikser mungkin ia bisa mengutak-atiknya sehingga kita semua akan mendapat libur sehari. Aku bilang aku tidak mampu mengutak-atik mesyin tapi aku dapat menggunakannya karena aku selalu memperhatikan Oliver sejak aku kembali.

Aku menyalakan mikser adonan dan semua orang terheran-heran treutama Frank Reilly. Fanny Birder menjadi sangat gembira karena dia bilang Oliver butuh waktu 2 tahun untuk belajar cara mencampur adonan

dengan benar padahal ia ikut kursus masak. Bernie Bate yang membantu di bagian mesyin bilang aku melakukannya lebih cepat daripada Oliver dan lebih baik. Tidak ada yang tretawa. Ketika Gimpy kembali dan Fanny bilang kepadanya ia marah padaku karana aku menggunakan mikser.

Tapi Fanny bilang perhatikan Charlie dan lihat bagaimana ia melakukannya. Mereka mempermainkan Charlie karena April Mop dan Charlie ternyata malah mengejutkan mereka. Gimpy memperhatikan dan aku tahu ia kesal padaku karena ia tidak suka kalau orang-orang tidak mematuhinya persis seperti Prof Nemur. Tapi ia melihat bagaimana aku menggunakan mikser itu dan ia menggaruk-garuk kepalanya lalu bilang aku melihatnya tapi aku tidak percaya. Lalu ia memanggil Pak Donner dan menyuruhku menggunakan mikser itu lagi supaya Pak Donner bisa melihatnya.

Aku takut ia akan marah dan membentakku sehingga setelah selesai aku bilang aku bisa kembali mengerjakan pekerjaanku yang biasanya sekarang. Aku lalu menyapu bagian depan pabrik di belakang toko. Pak Donner menatapku lama dan aneh. Kemudian bilang ini pastilah lelucon April Mop yang kalian buat untukku. Ada apa-apanya nih.

Gimpy bilang kupikir itu tidak mungkin. Ia berjalan terpincang-pincang mengelilingi mesin pengaduk adonan itu dan bilang kepada Pak Donner aku tidak mengerti juga bagaimana Charlie tahu cara menggunakan mesin ini serta aku harus mengakuinya ia melakukannya lebih baik ketimbang Oliver.

Semua orang berkerumun membicarakan hal itu dan aku jadi takut karena mereka semua menatapku aneh

serta mereka girang. Frank bilang akhir-akhir ini ada yang istimewa pada Charlie. Joe Carp pun bilang ya aku tahu maksudmu. Pak Donner menyuruh semua orang kembali bekerja dan ia membawaku ke bagian depan pabrik.

Ia berkata Charlie aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya tadi tapi kelihatannya akhirnya kau mempelajari sesuatu. Aku mau kau berhati-hati dan bekerja sebaik mungkin. Kau punya pekerjaan baru dengan kenaikan gaji S dolar.

Aku bilang aku tidak mau pekerjaan baru karena aku senang bersih-bersih dan menyapu serta mengantar barang juga membantu teman-temanku tapi Pak Donner berkata jangan pikirkan teman-temanmu aku butuh kau untuk pekerjaan ini. Aku pikir hanya sedikit orang yang tidak mau maju.

Jadi sekarang aku tidak mengirimkan barang-barang dan membersihkan kamar mandi atau membuang sampah lagi. Akulah si pengaduk baru. Itu kemajuan. Besok aku akan ceritakan kepada Nona Kinnian. Kurasa dia akan senang tapi aku tidak tahu mengapa Frank dan Joe marah padaku. Aku bertanya kepada Fanny dan dia bilang jangan pedulikan orang-orang bodoh itu. Ini adalah Hari Lelucon April dan lelucon itu menyerang balik mereka sehingga membuat mereka tampak bodoh bukannya kau yang bodoh.

Aku minta Joe untuk mengatakan padaku apa sih arti menyerang balik dan ia bilang terjun ke danau saja. Kukira mereka sangat marah padaku karena aku bisa menggunakan mesin itu dan mereka tidak mendapat hari libur seperti yang mereka harapkan. Apakah itu artinya aku bertambah pandai.

3 April Robinson Crusoe selesai. Aku ingin tahu lebih

banyak tentang apa yang terjadi padanya tapi Nona Kinnian mengatakan ceritanya sampai di situ saja. MENGAPA.

4 April Nona Kinnian mengatakan aku belajar dengan cepat. Dia membaca beberapa laporan kemajuanku dan dia menatapku dengan agak aneh. Dia mengatakan aku seorang yang baik dan aku akan memperlihatkan kepada mereka semua. Aku bertanya kepadanya mengapa. Dia bilang tidak apa-apa tapi aku seharusnya tidak perlu merasa tidak enak jika ternyata orang-orang tidak sebaik yang kukira. Nona Kinnian bilang bagi seorang yang diberi begitu sedikit oleh Tuhan kau melakukan lebih banyak hal ketimbang kebanyakan orang yang berotak tapi tidak pernah mereka gunakan. Aku bilang bahwa semua temanku pintar dan baik. Mereka menyukai aku dan tidak pernah melakukan hal yang tidak baik. Lalu ada sesuatu di mata Nona Kinnian dan dia cepat-cepat berlari ke kamar mandi perempuan.

Ketika aku duduk di ruang mengajar sambil menunggunya aku memikirkan Nona Kinnian yang baik seperti mamaku dulu. Kukira aku ingat mamaku bilang padaku agar berbuat baik dan selalu ramah kepada orang-orang. Tapi katanya harus hati-hati karena beberapa orang tidak mengerti dan mereka mengira kau akan bikin masalah.

Itu membuatku ingat ketika Mama pergi dan mereka membawaku untuk tinggal di rumah Ibu Leroys yang tinggal di sebelah rumah kami. Mama pergi ke rumah sakit. Ayah bilang dia tidak sakit tapi Mama ke rumah sakit dan akan pulang membawa adik bayi perempuan atau lelaki. (Aku masih tidak tahu bagaimana mereka melakukannya)

aku bilang kepada mereka aku ingin adik bayi lelaki supaya bisa bermain bersama dan aku tidak mengerti mengapa mereka memberiku adik perempuan tapi bayi itu manis seperti boneka. Hanya dia menangis terus.

Aku tidak pernah melukainya atau apa pun.

Mereka meletakkan bayi itu di sebuah ayunan di kamarnya dan aku pernah dengar Ayah bilang jangan khawatir Charlie tidak akan melukainya.

Bayi perempuan itu seperti gulungan kain serba merah muda dan kadang-kadang menjerit sehingga aku tidak bisa tidur. Dan ketika aku tidur dia membangunkanku di tengah malam. Suatu ketika saat mereka di dapur dan aku sedang di tempat tidurku bayi itu menangis. Aku bangun dan menggendongnya serta memeluknya supaya diam seperti yang dilakukan Mama. Tapi kemudian Mama masuk dan berteriak lalu merenggutnya dariku. Mama menamparku keras sekali hingga aku jatuh ke atas tempat tidur.

Kemudian Mama mulai menjerit-jerit. Jangan pernah menyentuhnya lagi. Kau bisa melukainya. Dia masih bayi. Kau tidak boleh menyentuhnya. Ketika itu aku tidak mengerti tapi kukira saat itu Mama mengira aku akan melukai adik bayi karena aku terlalu bodoh tidak tahu bagaimana memperlakukannya. Sekarang hal itu membuatku jengkel karena aku tidak pernah bermaksud melukai adik bayi.

Ketika aku pergi ke kantor Dr Strauss aku harus menceritakan hal itu kepadanya.

6 April Hari ini, aku belajar, tanda baca koma, ini adalah, sebuah, koma (,) sebuah titik, dengan, sebuah ekor, Nona Kinnian, bilang itu, penting, karena, itu

membuat menulis, lebih baik, katanya, seseorang, bisa kehilangan, banyak, uang, jika sebuah koma, tidak ada, di tempat, yang benar, aku punya, sejumlah uang, yang aku, simpan dari hasil, kerjaku, dan lain-lain, gajiku, dari yayasan, tapi tidak, banyak dan, aku tidak, tahu bagaimana, sebuah koma, menghindarkanmu, dari, kehilangan uang.

Tapi, kata Nona Kinnian, setiap orang, menggunakan koma, jadi aku kan, menggunakannya, juga,,,,

7 April Aku salah menggunakan koma. Itu tanda baca. Nona Kinnian mengatakan padaku agar mencari kata-kata panjang dalam kamus dan belajar mengejanya. Aku bilang apa untungnya bisa membaca. Katanya itu bagian dari pendidikanmu jadi mulai sekarang aku kan mencari kata-kata tersebut aku tidak yakin bagaimana mengejanya. Perlu waktu lama untuk menulis seperti itu tapi kupikir aku ingat lebih banyak dan banyak lagi.

Jadi begitulah aku mengenal tanda baca dengan benar. Begitulah di kamus. Nona Kinnian berkata sebuah titik juga termasuk tanda baca. Aku bilang kepadanya tadinya kupikir maksudnya adalah semua titik punya ekor dan disebut koma. Tapi dia bilang tidak begitu.

Dia bilang; Kau, harus. menggambungkan?semua!nya: Dia menunjukkan? padaku" bagaimana

mengabungkaninya; dan kini! aku bisa. menggabungkan (segala? tanda baca dalam, tulisan.ku! Banyak" aturan; untuk belajar? tapi. aku menyimpannya dalam kepalaku:

Satu hal? yang, kusuka, dari Nona Kinnian yang baik: (itu, adalah?) dia: selalu; memberiku jawaban alasan" ketika aku bertanya. Dia" jen'ius! Kuharap? aku bisa pandai seperti dirinya;

Tanda baca,? menyenangkan!

8 April Tololnya aku! Aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Aku membaca buku tata bahasa tadi malam dan buku itu menjelaskan segalanya. Lalu aku sadar itu semua sama dengan apa yang telah dicoba dijelaskan oleh Nona Kinnian padaku, tapi aku tidak mengerti ketika itu. Ketika aku terjaga di tengah malam, segalanya menjadi jernih dalam pikiranku.

Nona Kinnian mengatakan bahwa TV itu bekerja dan membantuku, sebelum aku tertidur dan sepanjang malam. Katanya aku sudah mencapai sebuah dataran tinggi. Seperti dataran di puncak sebuah bukit.

Setelah aku mengerti kegunaan tanda baca, aku membaca semua laporan kemajuanku dari awal. Wah, ejaan dan tanda bacaku benar-benar kacau-balau! Kukatakan kepada Nona Kinnian aku harus meneliti lagi halaman-halaman itu dan memperbaiki semua kesalahannya, tapi dia ber-kata, "Jangan, Charlie, Profesor Nemur menginginkannya begitu saja. Karena itulah, ia membolehkanmu menyimpannya setelah mereka memfotokopinya, untuk melihat kemajuanmu sendiri. Kau berkembang dengan cepat, Charlie."

Itu membuatku merasa senang. Setelah belajar aku pergi ke bawah dan bermain bersama Algernon. Kami tidak berlomba lagi.

10 April Aku merasa sakit. Bukan sakit yang mengharuskan aku ke dokter, tapi di dalam dadaku aku merasa hampa, seperti ditusuk dan sekaligus jantungku serasa terbakar.

Aku tadinya tidak mau menuliskan hal itu, tapi kukira

aku harus melakukannya, karena itu penting. Hari ini adalah hari pertama aku sengaja tinggal saja di rumah tidak bekerja.

Tadi malam Joe Carp dan Frank Reilly mengundangku ke sebuah pesta. Banyak gadis dan Gimpy ada di sana serta Ernie juga. Aku ingat betapa menjadi sangat mualnya aku ketika terakhir kalinya aku minum terlalu banyak. Maka aku bilang pada Joe aku tidak mau minum apa-apa. Ia memberiku minuman ringan biasa. Rasanya aneh, tapi kupikir itu hanya rasa mulutku.

Kami bersenang-senang sebentar.

"Berdansalah dengan Ellen," kata Joe. "Dia akan mengajarimu langkah-langkahnya." Lalu ia mengedipkan matanya pada Ellen seolah kelilipan.

Ellen bilang, "Jangan ganggu dia."

Joe menepuk punggungku. "Ini Charlie Gordon, sahabatku, teman dekatku. Ia bukan lelaki biasa, ia baru saja dinaikkan menjadi pengguna mesin pengaduk adonan. Aku hanya memintamu untuk berdansa dengannya dan senangkan dirinya. Ada yang salah?"

Joe mendorongku mendekati Ellen. Jadilah dia berdansa denganku. Aku terjatuh tiga kali. Aku tidak mengerti mengapa tidak ada orang lain lagi yang berdansa kecuali Ellen dan aku. Dan selama itu aku selalu tersandung karena kaki seseorang selalu terjulur ke arahku.

Mereka semua mengelilingiku dalam lingkaran, menonton dan menertawakan cara kami melangkah. Mereka tertawa lebih keras setiap kali aku terjatuh, tapi aku pun tertawa karena merasa lucu juga. Tetapi terakhir kali aku jatuh, aku tidak tertawa. Aku bangkit tapi Joe mendorongku lagi.

Lalu aku melihat tatapan mata Joe dan ada perasaan aneh di perutku.

"Ia menggelikan sekali," salah satu dari gadis-gadis itu berkata. Semua orang tertawa.

"Oh, kau benar, Frank," kata Ellen sambil tertawa. "Ia badut sejati." Lalu dia berkata lagi, "Ini, Charlie, ambil buah ini." Dia memberiku sebuah apel, tetapi ketika aku menggigitnya, ternyata itu apel mainan.

Lalu Frank mulai tertawa dan berkata, "Sudah kubilang, ia akan memakannya juga. Bisa kaubayangkan ada orang yang sangat tolol sehingga mau saja makan buah dari lilin."

Joe berkata, "Aku sangat geli ketika kita menyuruh Charlie pergi ke sudut jalan untuk memeriksa hujan atau tidak sewaktu kita semua meninggalkannya di Halloran's." Lalu aku melihat gambaran dalam pikiranku yang mengingatkan aku pada masa kecilku. Anak-anak di blok membiarkan aku bermain bersama mereka. Main petak umpet. Aku menjadi bulan-bulanan mereka. Setelah aku menghitung hingga sepuluh berkali-kali dengan jari-jariku, aku mencari teman-temanku. Aku terus mencari hingga aku kedinginan dan gelap lalu aku harus pulang.

Tetapi aku tidak pernah menemukan mereka dan aku tidak pernah tahu mengapa.

Apa yang dikatakan Frank mengingatkan aku. Itu sama dengan yang terjadi di Halloran's. Jadi, itulah juga yang dilakukan Joe dan yang lainnya. Mereka menertawai aku. Sama dengan anak-anak yang bermain petak umpet yang mempermainkan aku dan menertawakanku juga.

Orang-orang di pesta itu menjadi seperti sekumpulan wajah buram yang semuanya menatap dan menertawakanku.

"Lihat orang itu. Wajahnya merah." "Wajahnya menjadi merah. Charlie malu." "Hei, Ellen, kau apakan Charlie? Aku belum pernah melihatnya bertingkah seperti itu."

"Wah, wah, Ellen benar-benar membuatnya terengah-engah."

Aku tidak tahu harus bagaimana dan ke mana aku harus berlari. Belaian Ellen membuatku merasa aneh. Semua orang menertawakanku, lalu tiba-tiba aku merasa telanjang. Aku ingin bersembunyi supaya mereka tidak melihatku. Aku berlari keluar apartemen. Apartemen itu besar dan punya banyak lorong sehingga aku tidak bisa menemukan tangga. Aku lupa sama sekali pada lift. Kemudian, aku menemukan tangga lalu berlari ke jalan dan berjalan lama sekali sebelum aku tiba di kamarku. Aku tidak tahu bahwa Joe dan Frank atau yang lainnya senang mengundangku hanya untuk menertawakanku.

Sekarang aku tahu artinya ketika mereka berkata "mempermainkan Charlie Gordon".

Aku malu.

Dan satu hal lagi. Aku memimpikan gadis itu, Ellen, yang berdansa dan membelai-belai aku. Ke-tika aku terbangun, sepraiku basah dan berantakan.

13 April Aku masih belum kembali bekerja di pabrik roti. Aku mengatakan kepada Nyonya Flynn, induk semangku, agar menelepon Pak Donner karena aku sakit. Akhir-akhir ini Nyonya Flynn selalu menatapku seolah dia takut padaku.

Kupikir bagus juga kalau aku tahu mengapa semua orang menertawaiku. Aku sering memikirkannya. Karena aku terlalu bodoh dan aku tidak tahu manakala aku

melakukan hal bodoh. Orang-orang menganggap lucu ketika seorang bodoh tidak dapat mengerjakan hal yang mampu mereka kerjakan.

Pokoknya, sekarang aku tahu aku menjadi semakin pandai setiap hari. Aku mengenal tanda baca, dan aku mampu mengeja dengan benar. Aku senang mencari kata-kata sukar di dalam kamus dan menghafalnya. Dan aku mencoba menulis laporan-laporan kemajuan dengan sangat berhati-hati walau sulit melakukannya. Aku sekarang banyak membaca, dan Nona Kinnian bilang, aku membaca sangat cepat. Aku sekarang bahkan mengerti banyak hal yang kubaca, dan semuanya melekat dalam pikiranku. Pada saat-saat tertentu ketika aku memejamkan mata dan mengingat selembar halaman, segalanya muncul seperti sebuah gambar dalam pikiranku.

Namun, ada hal lain yang juga muncul dalam kepalaku. Kadang-kadang kututup mataku dan aku melihat gambar yang jelas. Seperti pagi ini setelah bangun tidur, aku masih berbaring di atas tempat tidur dengan mata terbuka. Seperti ada lubang besar menganga di dinding, pikiranku dan aku dapat berjalan masuk begitu saja. Kupikir itu jalan kembali... jauh ke belakang ketika aku pertama kali bekerja di pabrik roti Donner. Aku melihat jalan menuju pabrik itu. Pertama-tama buram, ke-mudian menjadi potongan-potongan yang sebagian tampak begitu nyata seperti ada di depanku, walau yang lainnya tetap buram, sehingga aku tidak yakin....

Seorang lelaki tua kecil dengan sebuah kereta bayi yang dibuatnya menjadi kereta dorong berisi arang bakar, lalu tercium aroma biji pala panggang, serta salju di tanah. Seorang anak muda kurus, bermata lebar, dan

bertampang ketakutan menatap ke papan toko. Apa tulisannya? Huruf-huruf buram itu tidak dapat dimengertinya. Kini aku tahu bahwa tulisan itu berbunyi PABRIK ROTI DONNER, tapi ketika itu aku ingat aku tidak dapat membaca huruf-huruf itu. Tidak satu pun tanda yang kumengerti. Kupikir lelaki muda dengan wajah ketakutan itu adalah aku sendiri.

Sinar lampu neon menyilaukan. Pohon-pohon Natal dan para pejalan kaki di tepi jalan. Orang-orang terbungkus mantel dengan kerah leher ditinggikan dan selendang di seputar leher mereka. Tetapi lelaki muda itu tidak bersarung tangan. Kedua tangannya kedinginan, lalu ia menurunkan seikat kantong kertas cokelat yang berat. Ia berhenti untuk menonton mainan mekanik dengan alat pemutarnya beruang yang berguling-guling, anjing yang berlompatan, atau anjing laut memutar bola dengan hidungnya. Berguling, melompat, memutar. Jika saja ia memiliki semua mainan itu, ia pasti akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia.

Ia ingin bertanya kepada pejalan kaki berwajah merah, dengan jemari yang keluar dari sarung tangan katun cokelat, apakah ia boleh memegang beruang yang berguling-guling itu sebentar saja, tapi ia takut. Ia lalu memungut ikatan kantong kertas dan memanggulnya. Lelaki itu kurus tapi kuat karena bertahun-tahun bekerja keras.

"Charlie! Charlie... si kepala panjul!"

Anak-anak mengelilinginya sambil tertawa dan menggodanya layaknya anak-anak anjing yang menggigiti kakinya. Charlie tersenyum kepada mereka. Ia ingin meletakkan kantong-kantong kertasnya dan bermain bersama mereka. Tapi ketika ia sedang memikirkan hal itu,

kulit punggungnya terasa sakit, dan ia merasa anak-anak lelaki yang lebih besar melemparinya dengan benda.

Ketika kembali ke pabrik roti ia melihat anak-anak lelaki berdiri di pintu di depan gang yang gelap.

"Hei, lihat, itu Charlie!"

"Hei, Charlie. Apa yang kaubawa itu? Mau main-main?"

"Ke sinilah. Kami tidak akan melukaimu."

Namun, ada sesuatu di ambang pintu itu gang gelap, tawa, yang membuat kulitnya merinding lagi. Ia mencoba untuk tahu apa itu tetapi yang diingatnya hanyalah lumpur dan air seni yang mengotori seluruh pakaiannya. Lalu Paman Herman berteriak-teriak ketika ia pulang dengan tubuh penuh kotoran. Paman Herman kemudian berlari sambil membawa palu di tangannya, mencari anak-anak lelaki yang melakukan hal itu kepadanya. Charlie mundur menjauh dari anak-anak yang menertawakannya di gang, sambil menjatuhkan ikatan kantong kertas cokelatnya. Lalu ia mengambilnya lagi dan berlari menuju pabrik roti.

"Mengapa lama sekali, Charlie?" teriak Gimpy dari ambang pintu ke arah bagian belakang pabrik.

Charlie mendorong pintu angin lalu berjalan ke bagian belakang pabrik dan meletakkan ikatan kantong kertas di atas salah satu meja papan. Ia bersandar pada dinding sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ia berharap ia membawa mainan putarannya.

Ia senang berada di bagian belakang pabrik roti yang lantainya putih tertutup tepung terigu lebih putih dibanding dinding dan langit-langit yang berjelaga. Sol sepatu tingginya yang tebal berkerak putih. Juga ada putih di mana-mana, di lipatan baju dan alis, serta di

bawah kuku dan di lipatan kulit kedua belah tangannya.

Ia merasa santai di sini berjongkok sambil bersandar pada dinding bersandar ke belakang sehingga topi bisbol dengan huruf D-nya terjungkit ke depan menutupi matanya. Ia menyukai aroma tepung, adonan manis, roti dan kue serta gulungan kue panggang. Oven di ruangan itu mengeluarkan bunyi berderak-derak yang membuatnya mengantuk.

Manis... hangat... tidur....

Tiba-tiba ia terjatuh, berputar, kepalanya terantuk dinding. Seseorang telah menendang tungkainya dari bawah.

Hanya itu yang dapat kuingat. Aku dapat melihat semuanya dengan jelas, tetapi aku tidak tahu mengapa itu terjadi. Rasanya seperti pergi ke bioskop. Pertama-tama aku tidak mengerti karena gambar-gambar itu berlalu terlalu cepat. Tetapi setelah aku melihat gambar itu tiga atau empat kali, aku pun mengerti apa maksudnya. Aku harus bertanya kepada Dr Strauss tentang itu.

24 April Dr Strauss berkata, yang penting adalah terus membangkitkan kenangan-kenangan seperti yang kemarin kulakukan dan menuliskannya. Kemudian ketika aku datang ke kantornya, kami bisa membicarakannya.

Dr Strauss adalah seorang ahli jiwa dan ahli bedah saraf. Aku tadinya belum tahu soal itu. Kupikir, ia hanyalah seorang dokter biasa. Tapi ketika aku pergi ke kantornya pagi ini, ia mengatakan padaku pentingnya bagiku untuk mempelajari segala sesuatu tentang diriku sendiri sehingga aku dapat mengerti masalahku sendiri.

Aku bilang, aku tidak punya masalah apa-apa.

Ia tertawa lalu berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela. "Semakin kau menjadi pandai, semakin banyak masalah yang kaumiliki, Charlie. Pertumbuhan kecerdasanmu akan melampaui perkembangan emosionalmu. Dan kupikir kau akan mengetahuinya bersamaan dengan kemajuanmu. Kau akan punya banyak hal yang ingin kau bicarakan denganku. Aku hanya ingin kau ingat bahwa ini adalah tempat yang bisa kau kunjungi setiap kali kau membutuhkan bantuan."

Aku masih tidak mengerti itu semua. Tetapi Dr Strauss mengatakan bahkan jika aku tidak mengerti mimpiku atau kenanganku atau mengapa aku mempunyai mimpi dan kenangan itu, pada suatu saat nanti, semuanya itu akan saling berhubungan, sehingga aku dapat belajar tentang diriku lebih banyak lagi. Ia mengatakan, yang penting adalah mengetahui apa yang dikatakan orang-orang yang muncul dalam kenanganku itu. Semuanya itu tentang aku ketika aku masih kanak-kanak dan aku harus ingat apa yang terjadi.

Sebelum ini aku tidak pernah tahu hal-hal itu. Sepertinya jika aku jadi lebih pandai, aku akan mengerti semua kata yang ada dalam benakku. Aku akan tahu tentang anak-anak lelaki yang berdiri di serambi itu, serta tentang Paman Hermanku, juga kedua orang tuaku. Tetapi maksud Dr Strauss adalah aku kemudian akan merasa sedih karena itu semua dan mungkin aku akan sakit hati.

Jadi, kini aku harus datang ke kantornya dua kali seminggu untuk membicarakan hal-hal yang menggangguku. Kami hanya duduk di sana, aku bicara dan Dr Strauss menyimak. Itu disebut terapi, artinya

membicarakan hal-hal yang membuatku merasa lebih baik. Aku mengatakan kepadanya salah satu hal yang menggangguku adalah soal perempuan. Seperti berdansa dengan gadis bernama Ellen itu yang membuatku sangat gembira. Maka kami membicarakan hal itu. Aku merasakan sensasi aneh ketika aku membicarakannya, kedinginan dan berkeringat. Juga ada suara mendengung di dalam kepalaku lalu kupikir aku kotor dan nakal ketika menceritakannya. Tapi Dr Strauss mengatakan, yang terjadi padaku setelah pesta itu adalah mimpi basah, dan itu hal biasa yang terjadi pada anak-anak lelaki.

Maka, walau aku jadi pandai dan mempelajari banyak hal baru, ia pikir aku masih seorang bocah jika menyangkut hal perempuan. Membingungkan, tapi aku akan mencari tahu segala hal tentang hidupku.

15 April Aku banyak membaca hari-hari itu dan hampir segala hal tetap melekat dalam benakku. Selain sejarah, ilmu bumi, dan ilmu hitung, Nona Kinnian mengatakan, aku harus mulai belajar bahasa asing. Prof Nemur memberiku kaset-kaset rekaman lebih banyak lagi untuk diputar ketika aku sedang tidur. Walau aku masih tidak mengerti bagaimana cara kerja otak bawah sadar dan sadar, Dr Strauss bilang jangan pikirkan dulu. Ia menyuruhku berjanji, jika aku mulai belajar untuk kuliah dalam beberapa minggu mendatang, aku tidak akan membaca buku apa pun tentang psikologi begitu saja hingga ia memberiku izin. Ia mengatakan, buku-buku itu akan membingungkan aku dan membuatku berpikir tentang teori-teori psikologi, bukannya tentang gagasan-gagasan dan perasaanku sendiri. Tapi aku boleh membaca novel. Minggu ini aku membaca Gatsby yang

Agung, Tragedi Orang Amerika, dan Pulanglah, Angel. Aku tidak pernah tahu soal lelaki dan perempuan melakukan hal-hal seperti itu.

16 April Aku merasa jauh lebih baik, tapi aku masih marah setiap kali orang menertawakan atau mempermainkan aku. Kalau aku sudah pandai seperti yang dikatakan Prof Nemur, dengan IQ lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan IQ-ku sekarang yang hanya 70, mungkin orang-orang akan menyukaiku dan menjadi teman-temanku.

Aku tidak yakin apa itu IQ. Prof Nemur berkata, itu adalah sesuatu yang mengukur kecerdasanmu semacam timbangan berat pon di toko obat. Tapi Dr Strauss berpendapat lain dan mengatakan bahwa IQ tidak menimbang kecerdasan sama sekali. Ia mengatakan, IQ memperlihatkan kecerdasan yang dapat dicapai oleh seseorang, seperti angka-angka yang tertera pada gelas ukur. Kau masih harus mengisi gelas itu dengan berbagai hal.

Ketika aku bertanya kepada Burt Seldon, yang memberiku tes kecerdasan dan bekerja bersama Algernon, ia bilang, beberapa orang akan mengatakan bahwa baik Prof Nemur maupun Dr Strauss salah. Dan menurut tulisan-tulisan yang dibacanya, IQ mengukur banyak hal yang berbeda, termasuk beberapa hal yang telah kaupelajari dan benar-benar merupakan alat ukur kecerdasan yang tidak bagus.

Maka, aku masih tetap tidak tahu apa itu IQ, dan semua orang mengatakan hal yang berbeda. IQ-ku sendiri sudah mencapai seratus sekarang, dan segera akan menjadi lebih dari seratus lima puluh. Tapi mereka masih

akan mengisinya dengan berbagai hal. Aku tidak mau mengatakan apa-apa. Tapi aku tidak mengerti bagaimana mungkin mereka tidak tahu apa itu IQ, atau di mana IQ itu lalu bagaimana mereka tahu seberapa banyak kau sudah mendapatkannya.

Prof Nemur mengatakan, aku harus melakukan tes Rorschach lusa. Aku bertanya-tanya tes apa lagi itu.

27 April Aku bermimpi buruk tadi malam. Dan pagi ini, setelah aku terjaga, aku bebas berasosiasi, yang menurut Dr Strauss, merupakan cara untuk mengingat mimpi-mimpiku. Ingat-ingat mimpi itu dan biarkan pikiranku melayang hingga pikiran lainnya muncul dalam benakku. Aku terus melakukannya hingga benakku menjadi kosong. Dr Strauss mengatakan bahwa itu artinya aku sudah mencapai sebuah titik tempat bawah sadarku mencoba menghalangi kesadaranku mengingat-ingat. Titik tersebut merupakan sebuah dinding antara masa kini dan masa lampau. Kadang-ka-dang dinding itu tetap ada dan kadang runtuh sehingga aku dapat mengingat apa yang ada di belakangnya. Seperti pagi ini.

Mimpiku kali ini tentang Nona Kinnian sedang membaca laporan-laporan kemajuanku. Dalam mimpi itu aku duduk menulis tapi aku tidak bisa menulis atau membaca lagi. Semuanya hilang. Aku menjadi ketakutan. Maka, kuminta Gimpy di pabrik roti supaya menulis untukku. Tapi ketika Nona Kinnian membaca laporan-laporan itu, dia menjadi marah karena ada kata-kata kotor di laporanku. Dia membasahi laporanku dengan air matanya.

Ketika aku pulang Prof Nemur dan Dr Strauss sedang menungguku lalu mereka memukuliku karena telah menulis

hal-hal kotor dalam laporan kemajuanku. Ketika mereka meninggalkanku, aku memunguti kertas-kertas robek itu. Namun, kertas-kertas itu berubah menjadi tanda kasih berenda yang penuh dengan darah.

Itu mimpi yang mengerikan. Tapi aku segera bangkit dari tempat tidurku dan menuliskan semuanya. Kemudian aku mulai berasosiasi bebas.

Pabrik roti... memanggang... kendi... sesuatu menendangku... jatuh... berdarah di mana-mana... menulis... pensil besar di atas kertas tanda kasih merah... sebuah jantung emas kecil... sebuah ban-dul... sebuah rantai... semua tertutup darah... dan ia menertawai aku....

Rantai itu memiliki sebuah bandul... berputar-putar... berkilau karena sinar matahari dan sinarnya menyerbu mataku. Dan aku senang mengamatinya berputar... mengamati rantai... segalanya memantul dan berpilin, berputar... dan seorang gadis kecil mengamatiku.

Namanya Nona Kin maksudku Harriet.

"Harriet... Harriet... kami semua menyayangi Harriet. "

Kemudian semua menghilang. Kosong lagi. Nona Kinnian sedang membaca laporan-laporan kemajuanku dari belakang bahuku.

Lalu kami ada di Pusat Orang Dewasa Terbelakang, dan dia membaca dari belakang bahuku ketika aku sedang menulis karangan.

Sekolah berubah menjadi PS 13 dan aku berusia sebelas tahun serta Nona Kinnian juga berusia sebelas tahun, tapi kali ini dia bukan Nona Kinnian. Dia seorang gadis kecil berlesung pipi serta berambut ikal panjang, dan namanya adalah Harriet. Kami semua menyayangi Harriet. Hari itu Hari Valentine.

Aku ingat....

Aku ingat apa yang terjadi pada PS 13 dan mengapa mereka harus mengubah sekolahku lalu mengirimku ke PS 222. Itu karena Harriet.

Aku melihat Charlie sebelas tahun. Ia memakai bandul berwarna keemasan yang bisa menyimpan foto kecil, yang ditemukannya di jalan. Tidak ada rantainya, tapi ia mengikatnya dengan tali. Dan ia suka memutar-mutar bandul tersebut sehingga talinya bergoyang-goyang, kemudian melihatnya melayang berputar dengan sinar matahari memantul di matanya.

Kadang-kadang ketika anak-anak bermain tangkap bola, mereka membolehkannya ikut main di tengah-tengah. Ia pun berusaha menangkap bola sebelum salah satu dari mereka menangkapnya. Ia senang berada di tengah-tengah walau ia tidak pernah menangkap bola. Suatu ketika Hymie Roth tidak sengaja menjatuhkan bola sehingga Charlie menangkapnya. Tapi mereka tetap tidak membolehkannya melempar bola itu. Mereka tetap membiarkan Charlie berada di tengah-tengah lagi.

Ketika Harriet melewati mereka, anak-anak lelaki berhenti bermain, lalu menatap gadis itu. Semua anak lelaki menyukai Harriet. Ketika Harriet menggerak-gerakkan kepalanya, rambut ikalnya berkibar-kibar ke atas dan ke bawah. Gadis itu punya lesung pipi. Charlie tidak tahu mengapa mereka menjadi ribut karena seorang gadis dan mengapa mereka selalu ingin berbicara dengan gadis itu (ia lebih suka bermain bola, menendang kaleng, atau bermain ringoievio daripada berbicara dengan seorang gadis). Tapi semua anak lelaki jatuh cinta pada Harriet. Maka ia pun jatuh cinta kepadanya.

Harriet tidak pernah menggodanya seperti anak-anak

yang lain, dan ia bisa menunjukkan sulap pada gadis itu. Charlie berjalan di atas meja ketika guru tidak ada di kelas. Ia melempar penghapus ke luar jendela, mencoret-coret papan tulis dan dinding hingga penuh. Melihat itu semua Harriet selalu memekik dan tertawa terkikik, "Oh, lihatlah Charlie. Ia lucu kan? Oh, ia konyol sekali kan?"

Hari itu Hari Valentine, dan anak-anak lelaki membicarakan soal tanda kasih yang akan mereka berikan kepada Harriet. Maka Charlie berkata, "Aku juga akan memberikan tanda kasih kepada Harriet."

Mereka tertawa, lalu Barry berkata, "Di mana kau akan mendapatkan sebuah tanda kasih?"

"Aku akan memberikan tanda kasih yang cantik kepadanya. Kaulihat saja."

Namun, ia tidak punya uang untuk membeli sebuah tanda kasih. Maka ia memutuskan untuk memberikan bandul berbentuk jantungnya, seperti yang dilihatnya di kaca toko, kepada Harriet. Malam itu ia mengambil kertas tisu dari laci ibunya. Diperlukan waktu yang lama untuk membungkus dan mengikatnya dengan pita merah. Keesokan harinya ia membawa bungkusan itu kepada Hyme Roth pada jam makan siang di sekolah, kemudian meminta tolong Hymie menulis pada secarik kertas.

Ia minta Hymie menulis: "Harriet sayang, menurut aku, kau gadis tercantik di seluruh dunia. Aku sangat menyukaimu dan aku menyayangimu. Aku ingin kau menjadi valentine-/cu. Temanmu, Charlie Gordon."

Hymie menuliskannya di atas secarik kertas dengan sangat berhati-hati dalam huruf besar, sambil terus tertawa. Kemudian ia mengatakan kepada Charlie, "Wah, dia pasti akan sangat terkejut. Tunggu sampai dia

melihatnya."

Charlie ketakutan, tapi ia ingin memberi Harriet bandul itu. Ia pun mengikuti Harriet pulang ke rumahnya dari sekolah dan menunggu hingga dia masuk ke rumah itu. Lalu Charlie menyelinap masuk ke gang dan menggantungkan bungkusan itu di bagian dalam pegangan pintu. Ia membunyikan bel dua kali, lalu berlari menyeberangi jalan untuk bersembunyi di balik pohon.

Ketika Harriet keluar, dia melihat ke sekelilingnya mencari orang yang membunyikan bel pintunya. Lalu dia melihat bungkusan itu. Dia mengambilnya dan pergi ke atas. Ketika Charlie pulang dari sekolah, ia mendapat pukulan di pantatnya karena ia telah mengambil kertas tisu berikut pita dari laci ibunya tanpa minta izin. Tetapi ia tidak peduli. Besok Harriet akan mengenakan bandul darinya dan mengatakan kepada anak-anak lelaki bahwa ia memberikannya kepada Harriet. Lalu mereka akan melihatnya.

Keesokan harinya Charlie berlari ke sekolah, tapi ia datang terlalu pagi. Harriet belum tiba, padahal ia sudah sangat gembira.

Namun, ketika Harriet masuk, dia bahkan sama sekali tidak melihat ke arahnya. Dia juga tidak mengenakan bandul itu. Dia tampak cemberut.

Charlie menirukan berbagai polah ketika Bu Janson tidak melihatnya. Ia membuat mimik-mimik lucu dan tertawa terbahak-bahak. Lalu ia berdiri di atas bangkunya dan menggoyang-goyangkan bokongnya. Ia bahkan melemparkan sepotong kapur kepada Harold. Tetapi Harriet tidak melihat ke arahnya sekali pun. Mungkin dia lupa. Mungkin dia akan mengenakannya besok. Harriet melewati gang. Tapi ketika Charlie mendekatinya dan

bertanya kepadanya, dia terus berjalan melewatinya tanpa mengatakan apa-apa.

Di halaman sekolah dua kakak lelaki Harriet yang bertubuh besar menunggu Charlie.

Gus mendorongnya. "Kau bangsat kecil, kau menulis surat jorok ini untuk adik perempuanku?"

Charlie berkata, dia tidak menulis surat jorok. "Aku hanya memberinya sebuah tanda kasih."

Oscar yang anggota tim sepak bola sebelum lulus dari 5MA merenggut kemeja Charlie hingga dua kancingnya lepas. "Jangan kaudekati adik perempuanku. Kau orang tidak bermartabat. Kau bahkan bukan murid sekolah ini."

Dia mendorong Charlie ke arah Gus yang menangkap lehernya. Charlie ketakutan dan mulai menangis.

Lalu mereka mulai melukainya. Oscar meninju hidungnya, sedangkan Gus memukulnya hingga jatuh mencium tanah dan menendang sisi tubuhnya. Kemudian keduanya menendanginya berkali-kali sehingga beberapa anak di halaman teman-teman Charlie datang berlari sambil berteriak-teriak dan bertepuk tangan: "Berkelahi! Berkelahi! Mereka memukuli Charlie!"

Pakaiannya koyak, hidungnya berdarah, dan salah satu giginya tanggal. Setelah Gus dan Oscar pergi, ia duduk di tepi jalan sambil menangis. Darahnya terasa asin. Anak-anak lainnya hanya tertawa dan berteriak-teriak, "Charlie ditendangi! Charlie ditendangi!" Kemudian Pak Wagner, salah satu pengurus sekolah, datang dan mengusir mereka semua. Ia membawa Charlie ke kamar mandi anak lelaki dan menyuruhnya membersihkan darah serta tanah dari wajah dan tangannya sebelum pulang.... Kukira aku sangat tolol karena aku percaya saja pada apa yang dikatakan orang padaku. Seharusnya aku tidak

mempercayai Hymie atau siapa pun.

Aku tidak pernah ingat hal ini sebelumnya, tapi kenangan itu muncul kembali setelah aku memikirkan mimpiku tersebut. Hal itu ada hubungannya dengan perasaan terhadap Nona Kinnian yang membaca laporan kemajuanku. Pokoknya, aku senang sekarang. Aku tidak perlu meminta tolong orang lain menuliskan untukku lagi. Sekarang aku bisa menulis sendiri.

Tetapi aku baru saja menyadari sesuatu. Harriet tidak pernah mengembalikan bandul itu kepadaku.

18 April Aku sudah tahu apa itu Rorschach. Itu adalah tes yang menggunakan percikan tinta, yang pernah kujalani sebelum operasi itu. Begitu aku melihatnya, aku menjadi ketakutan. Aku tahu Burt akan memintaku membayangkan sebuah gambar, dan aku tahu aku tidak akan bisa membayangkannya. Aku berpikir, kalau saja ada cara untuk mengetahui gambar apa yang tersembunyi di sana. Mungkin memang tidak ada gambarnya sama sekali. Mungkin itu hanya tipuan untuk melihat apakah aku cukup tolol untuk mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Memikirkannya saja membuatku tidak senang pada Burt.

"Baiklah, Charlie," kata Burt, "kau sudah pernah melihat kartu-kartu ini, ingat?"

"Tentu saja aku ingat."

Dari caraku menjawab, Burt tahu aku marah, dan ia menatapku dengan terperanjat. "Ada yang salah, Charlie?"

"Tidak, tidak ada yang salah. Percikan tinta itu membuatku kesal."

Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang harus membuatmu kesal. Ini hanya tes

kepribadian standar. Sekarang aku ingin kau melihat kartu ini, Charlie. Kira-kira ini gambar apa? Apa yang kaulihat pada kartu ini? Orang-orang bisa melihat bermacam-macam hal dalam percikan tinta ini. Katakan apa yang mungkin terlihat olehmu, mengingatkanmu pada apa?"

Aku terkejut. Kutatap kartu itu lalu kupandangi Burt. Sama sekali tak kuduga ucapannya itu. "Maksudmu tidak ada gambar tersembunyi di balik percikan tinta itu?"

Burt mengerutkan kening dan melepaskan kacamatanya. "Apa?"

"Gambar-gambar! Tersembunyi di dalam percikan tinta itu! Tadi kauhilang semua orang bisa melihat gambar-gambar itu dan kau ingin aku menemukan gambar juga."

"Tidak, Charlie. Aku tidak mungkin mengatakan seperti itu."

"Apa maksudmu?" Aku berteriak kepadanya. Ketakutanku yang amat sangat pada percikan tinta itu telah membuatku marah kepada diriku sendiri dan Burt. "Itu yang kaukatakan kepadaku. Hanya karena kau cukup pandai untuk sekolah di universitas, bukan berarti kau boleh mempermainkan aku. Aku muak dan bosan ditertawakan orang."

Aku tidak ingat pernah marah seperti ini sebelumnya. Kukira itu tidak kepada Burt sendiri. Tiba-tiba saja segalanya meledak. Aku melemparkan kartu-kartu Rorschach di atas meja dan berjalan keluar. Profesor Nemur berjalan melewati serambi, dan ketika aku bergegas melewatinya tanpa menyapanya ia tahu ada yang tidak beres. Ia dan Burt mengejarku hingga ke depan lift.

"Charlie," kata Nemur sambil meraih lenganku. "Tunggu sebentar. Ada apa ini?"

Aku menepiskan lenganku hingga terlepas dan mengangguk ke arah Burt. "Aku muak dan bosan dipermainkan oleh orang-orang. Itu saja. Mungkin sebelum ini aku tidak tahu, tetapi sekarang aku tahu, dan aku tidak menyukainya."

"Tidak ada seorang pun yang mempermainkanmu di sini, Charlie," kata Nemur.

"Bagaimana dengan percikan tinta itu? Tadi Burt mengatakan kepadaku bahwa ada gambar di balik tinta itu... semua orang dapat melihatnya, dan aku...."

"Begini, Charlie, kau mau mendengar kata-kata yang sebenarnya diucapkan Burt padamu, dan juga jawabanmu? Kami punya rekaman sesi tes tersebut. Kami bisa memutarnya kembali dan kau bisa mendengarkan yang sebenarnya terucap."

Aku kembali bersama mereka ke kantor psike dengan perasaan campur aduk. Aku yakin mereka telah mempermainkan aku dan menipuku ketika aku terlalu lalai untuk mengetahui dengan lebih baik. Kemarahanku merupakan perasaan yang menegangkan, dan aku tidak mudah menyerah. Aku siap berkelahi.

Ketika Nemur pergi ke tempat penyimpanan dokumen untuk mengambil rekaman, Burt menjelaskan, "Pada pertemuan kita yang terakhir, aku juga menggunakan kata-kata yang sama dengan yang kugunakan hari ini, Charlie. Kata-kata itu merupakan permintaan tes ini yang prosedurnya sama setiap kali tes ini dilakukan."

"Aku akan mempercayainya begitu aku mendengarnya."

Aku menatap ke depan melewati mereka. Aku merasa darahku menerjang wajahku lagi. Mereka menertawai aku.

Tetapi kemudian aku menyadari apa yang baru saja kukatakan. Dan dengan mendengarkan suaraku sendiri, aku mengerti penyebab tatapan mereka. Mereka tidak tertawa. Mereka tahu apa yang sedang terjadi pada diriku. Aku telah mencapai satu tahapan baru, dan kemarahan serta kecurigaan adalah reaksi pertamaku terhadap dunia di sekitarku.

Suara Burt seperti meledak dari pita rekaman: "Sekarang aku ingin kau melihat kartu ini, Charlie. Kira-kira ini gambar apa? Apa yang kaulihat pada kartu ini? Orang-orang bisa melihat bermacam-macam hal dalam percikan tinta ini. Katakan apa yang mungkin terlihat olehmu...."

Kata-kata yang sama, hampir dalam nada suara yang sama dengan yang digunakannya beberapa menit yang lalu di lab. Lalu aku mendengar jawabanku sesuatu yang kekanak-kanakan dan tidak masuk akal. Dan aku jatuh lemas di atas kursi di samping meja Profesor Nemur. "Itu benar-benar suaraku?"

Aku kembali ke lab bersama Burt, dan kami melanjutkan tes Rorschach itu. Kami melihat kartu-kartu itu perlahan-lahan. Kali ini reaksiku berbeda. Aku "melihat" gambar-gambar pada percikan tinta itu. Sepasang kelelawar bergelayutan. Dua lelaki bermain anggar. Aku membayangkan berbagai macam hal. Namun, aku sadar aku tidak terlalu mempercayai Burt lagi. Aku terus membalik-balik kartu itu, memeriksa bagian belakangnya untuk melihat apakah ada yang tersembunyi di sana yang seharusnya kulihat.

Aku mengintai ketika Burt mencatat. Tapi semuanya tercatat dalam kode-kode yang tampak seperti ini:

WF + A DdFAd orig. WF A SF + obj.

Tes itu tetap tidak masuk akal. Bagiku semua orang bisa saja berbohong tentang hal-hal yang sesungguhnya tidak dilihatnya. Bagaimana mereka bisa tahu aku tidak mempermainkan mereka dengan menyebutkan hal-hal yang sebenarnya tidak kubayangkan?

Mungkin aku akan mengerti jika Dr Strauss telah mengizinkanku membaca buku-buku psikologi. Menulis segala pikiran dan perasaanku menjadi semakin sulit bagiku karena aku tahu orang-orang membacanya. Mungkin akan lebih baik jika aku menyimpan beberapa laporanku untuk diriku sendiri sementara. Aku akan bertanya kepada Dr Strauss. Mengapa tiba-tiba hal itu menggangguku?

LAPORAN KEMAJUAN KE-10

21 April Aku menemukan sebuah cara baru untuk mengatur mesin pengaduk adonan di pabrik roti sehingga bisa berproduksi lebih cepat. Pak Donner mengatakan, ia akan bisa menghemat upah buruh dan meningkatkan keuntungan. Ia memberiku bonus lima puluh dolar dan kenaikan upah sepuluh dolar setiap minggu.

Aku ingin mengajak Joe Carp dan Frank Reilly untuk makan siang di luar. Tapi Joe harus membeli sesuatu untuk istrinya dan Frank akan bertemu dengan sepupunya untuk makan siang bersama. Kukira mereka butuh waktu untuk membiasakan diri dengan perubahan pada diriku.

Semua orang tampak takut padaku. Ketika aku mendekati Gimpy dan menepuk bahunya untuk menanyakan sesuatu kepadanya, ia terlonjak hingga menjatuhkan gelas kopinya dan menyiram seluruh tubuhnya. Ia menatapku ketika ia mengira aku tidak melihatnya. Tidak seorang pun di tempat itu yang bicara

padaku lagi atau bergurau seperti biasanya. Aku menjadi kesepian dalam pekerjaanku.

Ketika memikirkan itu, aku teringat waktu aku tertidur sambil berdiri dan Frank menendang tungkaiku dari bawah. Aroma hangat manis, dinding putih, dan deru oven ketika Frank membuka pintunya untuk menukar roti tawar di dalamnya.

Tiba-tiba aku jatuh... terpelintir... segalanya keluar dari bawah dan kepalaku menghantam dinding.

Itu aku, tapi bisa juga seseorang yang lain terbaring di sana seorang Charlie yang lain. Ia kebingungan... menggosok-gosok kepalanya... menatap Frank, jangkung dan kurus, kemudian Gimpy yang berdiri di dekatnya, besar, berbulu, berwajah kelabu dengan alis lebat hingga hampir menutupi mata birunya.

"Jangan ganggu anak itu," kata Gimpy. "Ya ampun, Frank, mengapa kau selalu mengganggunya?"

"Aku tidak bermaksud apa-apa," jawab Frank sambil tertawa. "Tidak melukainya. Ia tidak tahu apa-apa. Betul kan, Charlie?"

Charlie menggosok kepalanya dan meringis. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukannya sehingga mendapat hukuman seperti itu. Tetapi selalu ada kemungkinan untuk muncul sesuatu yang lebih dari itu.

"Tetapi kautahu," kata Gimpy, sambil berjalan limbung dengan sepatu ortopedisnya, "jadi mengapa kau selalu mengganggunya?" Kedua lelaki itu duduk di depan meja panjang. Si jangkung Frank dan si besar Gimpy membentuk adonan untuk roti gulung yang harus dibakar sebagai pesanan malam itu.

Sejenak mereka bekerja tanpa bicara. Tapi kemudian

Frank berhenti dan menyorong topi putihnya ke belakang. "Hei, Gimp, terpikirkah Charlie bisa belajar membakar roti gulung?"

Gimpy menyandarkan satu sikunya di atas meja. "Tidak bisa, ya, tidak mengganggunya?"

"Bukan begitu, maksudku, Gimp, ini serius. Aku bertaruh ia dapat belajar sesuatu yang mudah seperti membuat roti gulung."

Gagasan itu tampak menarik bagi Gimpy yang kemudian berpaling dan menatap Charlie. "Mungkin kau benar. Hei, Charlie, kemarilah sebentar."

Seperti yang biasa dilakukannya ketika orang membicarakan dirinya, Charlie menundukkan kepala, sambil menatap tali sepatunya. Ia bisa mengikat tali sepatunya. Ia dapat membuat roti gulung. Ia dapat belajar menimbang, menggulung, memilin, dan membentuk adonan menjadi bulatan-bulatan kecil.

Frank menatapnya ragu. "Mungkin seharusnya kita tidak melakukannya, Gimp. Mungkin itu salah. Jika seorang bodoh tidak dapat belajar, mungkin kita tidak perlu memulainya dengan Charlie."

"Kauserahkan saja padaku," kata Gimpy yang sekarang mengambil alih gagasan Frank. "Kupikir mungkin saja ia dapat belajar. Sekarang dengarkan, Charlie. Kau mau belajar sesuatu? Kau mau aku mengajarimu cara membuat roti gulung seperti yang dilakukan oleh Frank dan aku?"

Charlie menatapnya, lalu senyum mengembang di wajahnya. Ia mengerti apa yang diinginkan Gimpy, dan ia merasa tersudut. Ia ingin menyenangkan Gimpy, tapi ada sesuatu di balik kata belajar dan mengajari, sesuatu yang mengingatkannya pada hukuman berat, tetapi ia tidak ingat apa itu hanya sebuah tangan kecil putih yang

terangkat, memukulnya supaya ia belajar sesuatu yang tidak dapat dimengertinya.

Charlie mundur menjauh, tetapi Gimpy mencengkeram lengannya. "Hei, Nak, tenang saja. Kami tidak akan melukaimu. Lihatlah anak ini gemetar seperti akan rontok. Begini, Charlie, aku punya sebuah jimat keberuntungan yang berkilap untuk mainanmu." Gimpy mengulurkan tangannya dan memperlihatkan sebuah rantai dan cakram kuningan mengkilap bertulis POLES LOGAM AGAR TETAP BERKILAU. Ia memegangi rantai itu pada ujungnya dan cakram keemasan yang berkilauan itu berputar perlahan, menangkap sinar bola-bola lampu yang terang. Bandul itu adalah kilauan yang diingat Charlie tapi ia tidak tahu mengapa atau apa itu.

Ia tidak meraihnya. Ia tahu kau akan dihukum jika menyentuh benda milik orang lain. Jika seseorang meletakkannya di tanganmu, itu tidak apa-apa. Tetapi jika tidak begitu, salah. Ketika ia melihat bahwa Gimpy menawarkan benda itu kepadanya, ia mengangguk dan tersenyum lagi.

"Yang itu ia mengerti," kata Frank sambil tertawa. "Beri ia sesuatu yang berkilau dan mengkilap." Frank, yang telah membiarkan Gimpy mengambil alih percobaannya, mencondongkan tubuhnya dengan girang. "Mungkin jika ia sangat menginginkan sampah itu dan kaukatakan ia akan mendapatkannya bila ia belajar membentuk adonan menjadi gulungan, kau akan berhasil membujuknya."

Ketika para pembuat roti itu bersiap mengajari Charlie, orang-orang dari toko mengelilingi mereka. Frank membersihkan area antara mereka dan meja, sedangkan Gimpy menarik adonan berukuran sedang untuk dikerjakan Charlie. Ada suara-suara bertaruh apakah Charlie bisa

atau tidak belajar membuat roti gulung.

"Perhatikan kami baik-baik," kata Gimpy sambil meletakkan bandul itu di sampingnya di atas meja, di tempat yang dapat terlihat oleh Charlie. "Perhatikan dan tirulah semua yang kami lakukan. Jika kau bisa belajar membuat roti gulung, kau akan mendapatkan jimat berkilap ini."

Charlie membungkuk di atas bangkunya, sambil bersungguh-sungguh mengamati Gimpy mengambil pisau dan memotong segumpal adonan. Ia mempelajari setiap gerakan ketika Gimpy menggulung adonan menjadi gulungan panjang, membaginya dan memilinnya menjadi sebuah lingkaran, lalu sesekali berhenti untuk menaburkan tepung terigu.

"Sekarang perhatikan aku," kata Frank, dan ia mengulangi langkah-langkah yang dilakukan Gimpy. Charlie bingung. Berbeda. Gimpy mengangkat sikunya ke atas ketika menggulung adonan, seperti sayap burung, tetapi Frank tetap merapatkan lengannya pada tubuhnya. Gimpy tetap merapatkan ibu jarinya dengan jemarinya yang lain ketika ia meremas adonan. Namun, Frank bekerja dengan telapak tangan datarnya, menjauhkan ibu jarinya dari jemari lainnya dan mengerjakannya mengambang di udara.

Memikirkan hal-hal itu membuat Charlie sulit sekali bergerak ketika Gimpy berkata, "Ayo, cobalah."

Charlie menggelengkan kepalanya. "Lihat, Charlie, aku akan melakukannya lagi perlahan-lahan. Sekarang kauperhatikan segala yang kulakukan, dan kerjakan setiap bagian bersamaku. Mengerti? Tetapi kau harus mengingat semuanya sehingga kemudian kau akan dapat mengerjakan sendiri segalanya. Ayolah, seperti ini."

Charlie mengerutkan keningnya ketika ia mengamati Gimpy menarik segumpal adonan dan menggulungnya menjadi sebuah bola. Ia ragu-ragu, tapi kemudian ia mengambil pisau, memotong sebongkah adonan, dan meletakkannya di tengah meja. Perlahan-lahan, dengan menjaga sikunya tetap terangkat persis seperti Gimpy, ia menggulung adonan menjadi sebuah bola.

Ia melihat tangannya lalu melihat tangan Gimpy, dan ia dengan berhati-hati tetap meletakkan jemarinya tepat seperti yang dilakukan Gimpy, ibu jari rapat dengan jemari lainnya agak mengatup. Ia harus melakukannya dengan benar, seperti yang diinginkan Gimpy. Ada gema di dalam dirinya yang mengatakan, kerjakan dengan benar sehingga mereka akan menyukaimu. Ia juga ingin Gimpy dan Frank menyukainya.

Ketika Gimpy telah selesai mengolah adonannya menjadi bola, ia berdiri mundur, lalu diikuti Charlie. "Hei, hebat itu. Lihat, Frank, ia berhasil membuatnya menjadi bola."

Frank mengangguk dan tersenyum. Charlie mendesah dan seluruh tubuhnya bergetar ketika ketegangan muncul. Ia tidak terbiasa dengan saat-saat keberhasilan seperti ini.

"Baiklah," kata Gimpy. "Sekarang kita membuat roti gulung." Dengan canggung tetapi hati-hati, Charlie mengikuti setiap gerakan Gimpy. Sesekali sentakan kecil dari tangan atau lengannya menghalangi apa yang sedang dikerjakannya. Tetapi tidak lama setelah itu ia dapat memilin sebagian adonan dan membuatnya menjadi sebuah roti gulung. Di sebelah Gimpy, ia menghasilkan enam buah roti gulung. Dan setelah menabuhnya dengan tepung terigu, ia lalu meletakkan keenamnya dengan hati-hati di samping roti gulung Gimpy di sebuah nampan

besar yang tertutup taburan tepung terigu.

"Baiklah, Charlie," kata Gimpy dengan wajah bersungguh-sungguh. "Sekarang, ayo kita lihat kau dapat melakukannya sendiri. Ingat semua yang kaulakukan dari awal. Sekarang, mulailah."

Charlie menatap gumpalan besar adonan dan pisau yang disorongkan Gimpy ke tangannya. Kemudian sekali lagi, kepanikan menyerangnya. Apa yang harus dikerjakan pertama-tama? Bagaimana ia harus mengatur letak tangannya? Jemarinya? Ke arah mana ia harus menggulung bola...? Seribu gagasan membingungkan menyerang benaknya sekaligus ketika ia berdiri di sana sambil tersenyum. Ia ingin melakukannya untuk menyenangkan Frank dan Gimpy serta membuat mereka menyukainya, lalu mendapatkan jimat berkilau yang dijanjikan Gimpy kepadanya. Ia memutar sepotong adonan yang berat dan lembut, lagi dan lagi di atas meja, tetapi ia tidak dapat memulainya. Ia tidak dapat memotongnya karena ia tahu ia akan gagal, karena itulah ia menjadi ketakutan.

"Ia sudah lupa," kata Frank. "Tidak menempel di otaknya."

Ia ingin menghafalnya. Ia mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat-ingat: pertama kau mulai dengan memotong sebagian. Lalu kau gulung menjadi sebuah bola. Tetapi bagaimana bisa sampai menjadi sebuah gulungan seperti yang sudah berada di atas nampan itu? Itu lain lagi. Beri ia waktu, ia akan ingat. Begitu kebingungan itu mereda, ia akan ingat. Beri ia beberapa detik lagi, setelah itu ia akan tahu. Ia ingin mengingat apa yang baru saja dipelajarinya sebentar lagi. Ia sangat menginginkannya.

"Baik, Charlie," kata Gimpy mendesah, sambil mengambil pisau dari tangan Charlie. "Tidak apa-apa. Jangan pikirkan itu. Itu memang bukan pekerjaanmu."

Semenit lagi, ia akan ingat. Kalau saja mereka tidak mendesaknya. Mengapa segalanya harus begitu terburu-buru?

"Ayolah, Charlie. Duduklah, dan lihatlah buku komikmu. Kita harus kembali bekerja."

Charlie mengangguk dan tersenyum, lalu menarik keluar buku komiknya dari saku belakangnya. Ia meratakannya, dan meletakkannya di atas kepalanya seakan buku itu adalah sebuah topi. Frank tertawa dan Gimpy akhirnya tersenyum.

"Ayolah, kau bayi besar," dengus Gimpy, "duduklah hingga Pak Donner memanggilmu."

Charlie tersenyum kepadanya dan kembali ke karung-karung tepung terigu di sudut dekat mesin pengaduk adonan. Ia suka bersandar pada karung-karung itu sambil duduk di lantai dengan kaki terlipat dan melihat gambar-gambar dalam buku komiknya. Ketika ia mulai membalik halamannya, ia merasa ingin menangis, tetapi ia tidak tahu mengapa. Apa yang membuatnya bersedih. Awan kebingungan datang dan pergi. Sekarang ia menatap ke depan ke arah gambar-gambar berwarna cerah dan menyenangkan dalam buku komiknya yang telah dilihatnya sebanyak tiga puluh atau empat puluh kali. Ia mengenal semua tokoh dalam komik itu ia telah menanyakan nama-nama mereka berkali-kali (kepada hampir semua orang yang ditemuinya) dan ia mengerti bahwa bentuk aneh huruf-huruf itu serta kata-kata dalam balon putih di atas tokoh-tokoh itu artinya mereka sedang mengatakan sesuatu. Apakah ia pernah belajar

membaca apa yang ada di dalam balon-balon putih itu? Kalau saja mereka memberinya cukup waktu jika mereka tidak mendesak-desaknya atau mendorongnya terlalu cepat ia akan mengerti. Tetapi tidak seorang pun yang punya waktu.

Charlie menarik kedua tungkainya ke atas, lalu membuka buku komiknya pada halaman pertama di bagian Batman dan Robin sedang berayun pada seutas tali di samping sebuah gedung. Suatu hari nanti, ia memutuskan, ia akan mampu membaca. Kemudian ia akan dapat membaca cerita ini. Ia merasa ada sebuah tangan menempel di bahunya. Ia pun menoleh ke atas. Dilihatnya Gimpy sedang memegangi cakram dan rantai kuningan, sehingga berayun, berputar, dan memantulkan cahaya.

"Ini," katanya dengan kasar sambil melemparkan cakram itu ke atas pangkuan Charlie, lalu terpincang-pincang pergi....

Aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, tetapi itu adalah hal manis yang dilakukannya. Mengapa ia melakukannya? Namun, itulah kenanganku, lebih jelas dan lebih lengkap dibandingkan dengan yang pernah kualami sebelum ini. Seperti melihat keluar melalui jendela dapur pada pagi hari ketika sinar pagi masih kelabu. Sejak itu aku dapat mengingat. Aku berutang pada Dr Strauss dan Profesor Nemur, juga kepada orang lain di sini di Beekman. Tetapi bagaimana perasaan Frank dan Gimpy sekarang setelah mereka melihatku berubah?

22 April Orang-orang di pabrik roti berubah. Bukan hanya mereka mengabaikan aku, tapi aku juga dapat merasakan permusuhan. Pak Donner sedang mengaturku

untuk bergabung dengan tim pembuat roti, dan aku mendapat kenaikan gaji lagi. Yang menyebalkan adalah segala kesenangan itu hilang karena teman-teman yang lain membenciku. Aku tidak dapat menyalahkan mereka. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku, sedangkan aku tidak dapat mengatakan kepada mereka. Ternyata orang-orang tidak merasa bangga akan diriku seperti yang kuharapkan sama sekali tidak.

Namun, aku tetap membutuhkan orang untuk diajak bicara. Aku akan mengajak Nona Kinnian pergi nonton film besok malam untuk merayakan kenaikan gajiku. Jika aku berani.

24 April Profesor Nemur akhirnya setuju dengan Dr Strauss dan aku bahwa aku tidak mungkin menuliskan segalanya jika aku tahu bahwa laporanku akan langsung dibaca orang lain di lab. Aku sudah mencoba benar-benar jujur tentang segalanya, tidak peduli siapa yang sedang kubicarakan. Tetapi ada beberapa hal yang tidak dapat kutuliskan kecuali jika aku dapat merahasiakannya paling tidak untuk sementara.

Sekarang, aku boleh menyimpan beberapa laporan yang bersifat lebih pribadi, tetapi sebelum laporan terakhir ke Yayasan Welberg, Profesor Nemur akan membaca seluruhnya untuk memutuskan bagian mana yang harus dipublikasikan.

Yang terjadi hari ini di lab sangat menjengkelkan. Aku tiba di kantor lebih awal malam ini untuk bertanya kepada Dr Strauss atau Profesor Nemur, apakah menurut mereka aku boleh mengajak Alice Kinnian pergi nonton film. Tetapi sebelum aku mengetuk pintu, aku mendengar mereka sedang berdebat. Aku seharusnya tidak boleh

terus berada di situ. Tetapi sulit menghilangkan kebiasaan mendengarkan karena selama ini orang-orang selalu bicara dan bersikap seolah aku tidak ada di sekitar mereka, seakan mereka tidak peduli pada apa yang kudengar.

Aku dengar seseorang memukul meja, kemudian Profesor Nemur berteriak: "Aku sudah memberitahukan sidang komite bahwa kita akan memperlihatkan laporan itu di Chicago."

Lalu aku mendengar suara Dr Strauss: "Tetapi kau salah, Harold. Enam minggu dari sekarang itu masih terlalu dini. Ia masih berubah."

Kemudian suara Nemur lagi: "Sejauh ini kita telah memperkirakan pola itu dengan benar. Kita dibenarkan untuk membuat sebuah laporan interim. Begini, Jay, tidak ada yang harus dikhawatirkan. Kita telah berhasil. Semuanya positif. Tidak ada yang bisa salah lagi sekarang.

ii

Strauss: "Riskan mengumumkan hal ini terlalu dini. Kau tak bisa memutuskannya sendiri...."

Nemur: "Kau lupa bahwa aku adalah anggota senior proyek ini."

Strauss: "Dan kau juga lupa bahwa kau bukanlah satu-satunya anggota yang berhak memutuskan hal ini. Jika kita mengklaim terlalu banyak sekarang, segala hipotesis kita akan hangus."

Nemur: "Aku tidak takut soal kemunduran lagi. Aku sudah memeriksa dan memeriksa ulang semuanya. Sebuah laporan interim tidak akan membahayakan. Aku yakin sekarang tidak akan ada lagi yang salah."

Perdebatan itu terus berlangsung dengan tuduhan Strauss bahwa Nemur mengincar jabatan Ketua Jurusan

Psikologi di Hallston. Sementara itu, Nemur mengatakan bahwa Strauss hanya membonceng pada penelitian psikologis yang sedang dilakukannya. Lalu Strauss berkata bahwa proyek ini banyak berhubungan dengan tekniknya dalam bedah kejiwaan serta pola-pola penyuntikan enzim, seperti dalam teori Nemur, dan bahwa suatu hari kelak ribuan ahli bedah saraf di seluruh dunia akan menggunakan metode-nya. Namun, pada bagian itu Nemur mengingatkan Strauss bahwa teknik baru ini tidak akan berhasil kalau tidak karena teori awal darinya.

Mereka saling menuduh dengan menggunakan sebutan-sebutan oportunis, pesimis dan aku jadi ketakutan. Tiba-tiba aku sadar aku tidak lagi berhak untuk terus berdiri di luar kantor dan menguping percakapan mereka. Mungkin saja mereka tidak peduli jika aku masih lemah otak mengetahui apa yang sedang terjadi. Tetapi sekarang aku sudah dapat mengerti dan aku tahu mereka tidak ingin aku mendengarkan. Aku pergi tanpa menunggu hasil perdebatan mereka.

Gelap di luar, ketika aku berjalan-jalan lama, sambil mencoba mengerti mengapa aku menjadi ketakutan. Untuk pertama kalinya, aku melihat dengan jelas mereka bukan para dewa atau bahkan para pahlawan. Mereka hanya dua orang yang khawatir akan perolehan hasil pekerjaan mereka. Namun, Nemur benar dan percobaannya berhasil, apa lagi? Banyak hal yang harus dikerjakan, begitu banyak pula rencana yang harus dibuat.

Aku akan menunggu hingga esok untuk bertanya kepada mereka soal mengajak Nona Kinnian menonton film untuk merayakan kenaikan gajiku.

26 April Aku tahu, seharusnya aku tidak berada di universitas itu seusai kegiatan di lab. Tetapi, melihat para

pemuda lelaki dan perempuan berlalu-lalang sambil membawa buku dan mendengarkan mereka bicara tentang segala hal yang mereka pelajari di kelas membuatku gembira. Kuharap aku dapat duduk dan bicara dengan mereka sambil minum kopi di kantin kampus Bowl, berdebat tentang buku-buku, politik, serta berbagai gagasan. Seru sekali mendengarkan mereka bicara tentang puisi, ilmu pengetahuan, serta filosofi tentang Shakespeare dan Milton; Newton, Einstein, dan Freud; tentang Plato, Hegel, dan Kant, serta nama-nama lainnya yang menggema seperti lonceng besar gereja dalam benakku.

Kadang-kadang aku menyimak percakapan mereka di meja-meja di sekitarku, dan aku berpura-pura jadi mahasiswa, walau aku jauh lebih tua ketimbang mereka. Aku membawa-bawa buku ke mana-mana dan sudah mulai mengisap pipa. Konyol, tapi sejak aku jadi aktif di lab dan merasa menjadi bagian dari universitas ini, aku benci pulang ke kamar yang sunyi.

27 April Aku berteman dengan beberapa anak lelaki di kampus Bowl. Mereka sedang berdebat tentang benar-tidaknya Shakespeare menulis sendiri drama-dramanya. Salah satu dari anak-anak lelaki itu yang gemuk dengan wajah berkeringat berkata bahwa Marlowelah yang menulis semua drama Shakespeare. Tetapi Lenny, yang pendek dan berkacamata hitam, tidak percaya apa pun tentang Marlowe. Ia bilang, semua orang tahu bahwa Sir Francis Baconlah yang menulis drama-drama itu karena Shakespeare tidak pernah kuliah di universitas dan tidak pernah mendapat pendidikan seperti yang tampak pada drama-dramanya. Lalu

seseorang dengan semangat mahasiswa baru berkata, ia pernah mendengar beberapa orang berbicara di kamar mandi lelaki bahwa sebenarnya drama-drama Shakespeare ditulis oleh seorang putri bangsawan.

Kemudian mereka bicara tentang politik, kesenian, dan uhan. Aku belum pernah mendengar seorang pun berkata bahwa mungkin saja Tuhan itu tidak ada. Itu membuatku takut karena untuk pertama kalinya aku mulai berpikir tentang apa arti Tuhan.

Sekarang aku mengerti salah satu alasan penting pergi ke kampus dan mendapat pendidikan adalah untuk mempelajari bahwa hal-hal yang telah kaupercaya sepanjang hidupmu itu tidak benar, dan tampaknya tidak ada yang benar.

Mereka selalu bicara dan berdebat. Aku merasa kegembiraan meluap dalam diriku. Inilah yang ingin kulakukan kuliah di universitas dan mendengarkan orang-orang bicara tentang hal-hal penting.

Kini aku menghabiskan hampir seluruh waktu luangku di perpustakaan; membaca dan menyerap apa pun dari buku-buku. Aku tidak berkonsentrasi pada satu hal tertentu. Aku hanya membaca banyak fiksi sekarang Dostoevski, Flaubert, Dickens, Hemingway, dan Faulkenersegala yang dapat kuraih memberi makan seorang yang lapar tidak akan pernah ada habisnya.

28 April Dalam mimpiku tadi malam aku mendengar Mama berteriak kepada Ayah dan guru di sekolah dasar PS 13 (sekolah pertamaku sebelum aku dipindahkan ke PS 222)....

"Ia normal! Ia normal! Ia akan tumbuh berkembang seperti orang lain. Bahkan lebih baik daripada yang

lainnya." Mama mencoba mencakar guru itu, tetapi Ayah menahannya. "Ia akan kuliah di universitas suatu hari kelak. Ia akan menjadi seseorang." Mama terus berteriak-teriak, sambil mencakar-cakar Ayah supaya dilepaskan. "Ia akan kuliah di universitas suatu hari kelak. Ia akan menjadi seseorang."

Kami sedang berada di kantor kepala sekolah dan banyak orang yang tampak malu. Tapi asisten kepala sekolah tersenyum dan memalingkan mukanya sehingga tidak ada yang melihatnya.

Kepala sekolah yang ada dalam mimpiku berjenggot panjang, dan melayang-layang di ruangan itu sambil menunjuk-nunjuk padaku. "Ia harus didik di sekolah khusus. Masukkan ia ke Sekolah Pendidikan dan Panti Warren. Kita tidak bisa mengajarnya di sini."

Ayah menarik Mama keluar dari kantor kepala sekolah, sedangkan Mama berteriak-teriak dan menangis. Aku tidak melihat wajah Mama, tetapi air matanya terus menetes memerciki aku....

Pagi ini aku ingat mimpi itu. Tetapi sekarang ada yang lebih dari itu aku dapat mengingat dari gambaran yang kabur itu, kembali ke masa ketika aku berusia enam tahun dan semua itu terjadi. Tidak lama sebelum Norma dilahirkan. Aku melihat Mama, seorang perempuan kurus berambut gelap yang berbicara terlalu cepat dan menggerak-gerakkan tangannya terlalu sering. Seperti biasanya, wajahnya tidak terlalu jelas. Rambutnya disanggul di atas, dan tangannya terangkat ke atas untuk menyentuhnya, menepuk-nepuknya, seolah meyakinkan bahwa sanggulnya masih ada di sana. Aku ingat Mama selalu gugup seperti burung putih besar di dekat Ayah dan Ayah juga tampak berat serta letih untuk menghindar

dari patukan Mama.

Aku melihat Charlie sedang berdiri di dapur, bermain-main dengan putarannya berupa manik-manik merah terang dan cincin yang diikat dengan tali. Ia memegangi tali itu tinggi-tinggi dengan satu tangannya, memutar cincin-cincin itu sehingga benda-benda kecil tersebut berputar-putar menimbulkan pusaran yang berkilap. Ia menghabiskan waktu lama hanya untuk menatapi putaran itu. Aku tidak tahu siapa yang membuatkan mainan itu untuknya, atau dari apa, tetapi aku melihatnya berdiri di sana terpesona ketika tali itu terpilin dan membuat cincin-cincin itu berputar....

Perempuan itu berteriak kepadanya tidak, ibunya berteriak kepada ayahnya. "Aku tidak akan membawanya. Tidak ada yang salah padanya!"

"Rose, tidak ada gunanya berpura-pura terus bahwa tidak ada yang salah pada dirinya. Coba lihat dia, Rose. Usianya enam tahun, dan...."

Pria itu melihat anak lelakinya yang sedang bermain putaran dengan sedih. Charlie tersenyum seraya mengangkat tangannya untuk memperlihatkan kepada ayahnya betapa indahnya mainan itu ketika berputar-putar.

"Buang benda itu!" Mama menjerit dan tiba-tiba mengempaskan mainan putaran itu dari tangan Charlie hingga jatuh terbanting di atas lantai dapur. "Pergi bermainlah dengan balok-balok alfabetmu."

Charlie masih berdiri di sana, ketakutan karena teriakan yang tiba-tiba itu. Ia gemetar takut, tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan ibunya. Tubuh anak lelaki itu mulai bergetar. Kedua orang tuanya berdebat dan suara mereka memantul-mantul sehingga menimbulkan tekanan

mendesak-desak dan kepanikan dalam diri anak itu.

"Charlie, pergilah ke kamar mandi. Jangan kau berani-berani melakukan itu di celanamu."

Ia ingin mematuhinya, tetapi tungkainya terlalu lemas untuk digerakkan. Kedua lengannya secara otomatis terangkat ke arah pukulan itu.

"Demi Tuhan, Rose. Jangan sakiti dia. Kau pastilah telah membuatnya ketakutan. Kau selalu melakukan itu, dan anak malang itu...."

"Kalau begitu mengapa kau tidak membantuku? Aku harus melakukan semuanya sendirian. Setiap hari harus aku ajari ia untuk mengejar ketertinggalannya dari teman-temannya. Ia hanya lamban, itu saja. Tetapi ia dapat belajar seperti anak-anak lainnya."

"Kau menipu dirimu sendiri, Rose. Itu tidak adil bagi kita dan bagi dirinya. Berpura-pura ia normal. Menyeret-nyeretnya seolah ia seekor hewan yang dapat belajar ketangkasan. Mengapa tidak kaubiarkan saja ia?"

"Karena aku ingin ia menjadi seperti anak-anak lainnya."

Ketika mereka berdebat, perasaan yang menekan Charlie di dalam menjadi semakin kuat. Rasa ingin buang air besarnya seperti akan meledak dan ia tahu ia harus pergi ke kamar mandi sebagaimana sering dikatakan ibunya. Tetapi ia tidak dapat berjalan. Ia merasa ingin segera duduk saja di tengah-tengah dapur itu, tetapi itu salah dan ibunya akan menamparnya.

Ia menginginkan mainan putarannya. Jika ia meme-megang putarannya dan mengamatinya berputar-putar, ia akan bisa mengendalikan diri dan tidak melakukan itu di celananya. Tetapi mainan putarannya itu sudah tercerai-berai sekarang. Beberapa cincinnya ada di bawah

meja dan sebagian ada di bawah tempat cuci piring, sedangkan talinya ada di dekat kompor.

Aneh sekali. Walau aku dapat mengingat suara-suara itu dengan jelas, wajah-wajah mereka masih buram, dan aku hanya dapat melihat garis luarnya. Ayah besar dan loyo. Mama kurus dan lincah. Mendengar suara mereka sekarang, ketika saling debat beberapa tahun yang lalu, aku merasa terpicu untuk berteriak juga kepada mereka: "Lihatlah padanya. Di sana, di bawah sana! Lihat Charlie. Ia harus ke kamar mandi!"

Charlie berdiri sambil memegangi dan menarik-narik kemeja kotak-kotak merahnya ketika mereka mempertengkarkan soal dirinya. Kata-kata mereka memancarkan kemarahan di antara mereka kemarahan dan rasa bersalah yang tidak dapat dibedakannya.

"September yang akan datang ia akan kembali ke PS 13 dan mengulangi pelajaran sekali lagi."

"Mengapa kau tidak bisa melihat kenyataan? Gurunya mengatakan bahwa ia tidak mampu mengerjakan tugas kelas biasa."

"Guru jalang itu? Oh, aku punya nama yang lebih tepat untuk perempuan itu. Biarkan dia mulai lagi dengan aku, dan aku akan melakukan lebih dari sekadar menulis surat kepada yayasan. Aku akan mencungkil mata perempuan jalang itu hingga keluar. Charlie, mengapa kau melintir-melintir seperti itu? Pergilah ke kamar mandi. Pergilah sendiri. Kautahu bagaimana caranya."

"Tidakkah kaulihat ia ingin kau mengantarnya ke sana ? Ia ketakutan."

"Jangan ikut campur. Ia sangat mampu pergi ke kamar mandi sendiri. Buku itu mengatakan kemampuannya itu akan memberikan rasa percaya diri dan perasaan

keberhasilan."

Teror yang menunggunya di ruangan dingin berdinding keramik membuatnya semakin ketakutan. Ia takut pergi ke sana sendirian. Ia meraih tangan ibunya dan menangis. "Tol... toil...," dan ibunya menepiskan tangannya.

"Tidak lagi," katanya tegas. "Kau sudah besar sekarang. Kau bisa pergi sendiri. Sekarang cepat pergi ke kamar mandi dan turunkan celanamu seperti yang kuajarkan padamu. Aku peringatkan kau, jika kau melakukannya di celana, akan kupukul bokongmu."

Aku seperti hampir dapat merasakannya sekarang. Rasa meregang dan menegang dalam ususnya ketika kedua orang tuanya berdiri di depannya, menunggunya untuk melihat apa yang akan dilakukannya. Rengekannya berubah menjadi isak tangis yang lembut ketika tiba-tiba ia tidak dapat lagi mengendalikannya. Kemudian ia terisak dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya ketika ia akhirnya mengotori dirinya sendiri.

Lembut dan hangat, lalu ia merasakan campuran perasaan lega serta takut. Kotoran itu miliknya tetapi ibunya akan membersihkan untuknya seperti yang selalu dilakukannya. Ibunya akan membersihkannya sendiri. Lalu dia akan memukul bokongnya. Dia akan datang ke arahnya, meneriakkan betapa nakalnya ia, dan Charlie berlari kepada ayahnya untuk mencari pertolongan.

Tiba-tiba aku ingat bahwa nama perempuan itu adalah Rose dan nama lelaki itu adalah Matt. Aneh jika kau melupakan nama orang tuamu. Lalu bagaimana dengan Norma? Anehnya, aku tidak pernah memikirkan mereka selama ini. Kuharap aku dapat melihat wajah Matt

sekarang untuk mengetahui apa yang dipikirkannya saat itu. Yang kuingat hanyalah ketika ibuku mulai memukuliku, Matt Gordon berpaling dan berjalan keluar apartemen.

Kuharap aku dapat melihat wajah mereka lebih jelas.

LAPORAN KEMAJUAN 11

1 Mei Mengapa aku belum pernah memperhatikan betapa cantiknya Alice Kinnian? Matanya lembut seperti mata burung dara dan rambut cokelatnya yang lembut sepanjang lekuk lehernya. Ketika dia tersenyum, bibir penuhnya tampak seperti sedang memainkan bibirnya.

Kami pergi nonton film, kemudian makan malam. Aku tidak terlalu memperhatikan bagian pertama film itu. Aku begitu gugup karena Alice duduk di sampingku. Lengan telanjangnya dua kali menyentuh lenganku di sandaran tangan kursi. Dua kali juga aku menarik lenganku karena aku takut dia merasa terganggu. Yang dapat kupikirkan adalah betapa kulit lembutnya hanya beberapa inci jaraknya dariku. Lalu aku melihat, dua deret di depan kami, seorang lelaki muda dengan lengan melingkar di bahu kekasihnya. Ketika itu juga aku ingin melingkarkan lenganku di bahu Nona Kinnian. Menegangkan. Tetapi kalau aku melakukannya perlahan-lahan... pertama sandarkan lenganku di punggung kursinya... lalu bergerak ke atas... inci demi inci... berhenti di dekat bahunya dan di belakang lehernya... dengan santai....

Aku tidak berani.

Aku hanya berani meletakkan sikuku di bagian punggung kursinya, tetapi saat itu pula aku harus berganti posisi untuk mengusap keringat dari wajah dan leherku.

Pernah tungkainya secara tidak sengaja menggesek tungkaiku.

Itu menjadi seperti siksaan bagiku begitu menyakitkan sehingga aku memaksakan diriku untuk mengalihkan pikiranku darinya. Pertunjukan pertama adalah sebuah film perang yang akhir ceritanya tentang seorang prajurit Amerika kembali ke Eropa untuk menikahi perempuan yang telah menyelamatkannya. Film kedua menarik perhatianku. Sebuah film psikologi tentang seorang perempuan dan lelaki yang tampaknya sedang jatuh cinta tetapi sebenarnya mereka saling menghancurkan. Segalanya menggambarkan bahwa lelaki itu ingin membunuh istrinya tetapi pada akhirnya sesuatu yang diteriakkan istrinya ketika bermimpi buruk telah mengingatkan lelaki itu pada sebuah kejadian ketika ia masih kecil. Kenangan yang tiba-tiba hadir itu memperlihatkan kepadanya bahwa kebenciannya itu sebenarnya ditujukan kepada seorang guru pribadinya yang bejat, yang telah menakutnakutinya dengan kisah-kisah mengerikan sehingga mengakibatkan dirinya berkepribadian cacat. Ia merasa sangat gembira dengan penemuannya itu. Ia menangis keras karena gembira sehingga istrinya terbangun. Ia memeluk istrinya kemudian tersimpul bahwa masalahnya terselesaikan. Film itu terlalu sederhana dan murahan. Aku pastilah telah memperlihatkan kemarahanku sehingga Alice ingin tahu apa yang salah.

"Itu sebuah kebohongan," aku menjelaskan, ketika kami berjalan keluar dari bioskop dan menuju lobi. "Tidak ada masalah yang selesai dengan cara seperti itu."

"Tentu saja tidak." Alice tertawa. "Itu kan hanya khayalan."

"Oh, jangan begitu! Itu bukan jawaban yang tepat." Aku mendesak. "Walau di dunia khayalan, harus ada aturannya. Bagian-bagiannya harus konsisten dan saling

berkaitan. Film seperti ini bohong. Segalanya dipaksa untuk saling cocok karena penulis atau sutradaranya atau seseorang menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak tepat. Rasanya hal itu tidak benar."

Alice menatapku serius ketika kami berjalan keluar menuju Times Square yang terang-benderang oleh sinar lampu. "Kau dapat mengikuti cerita itu dengan cepat."

"Aku bingung. Aku tidak tahu apa yang kuketahui lagi."

"Tidak apa-apa," ujar Alice ragu-ragu. "Kau mulai memperhatikan dan mengerti berbagai hal." Dia mengibaskan tangannya untuk menghalangi sinar neon dan kilap menyilaukan di sekitar kami ketika menyeberangi Seventh Avenue. "Kau mulai bisa melihat apa yang ada di balik permukaan. Apa yang kaukatakan tentang bagian-bagian yang saling terkait itu merupakan wawasan yang bagus."

"Oh, ayolah. Aku tidak merasa sedang berlagak pandai. Aku tidak mengerti diriku sendiri atau masa laluku. Aku bahkan tidak tahu di mana orang tuaku atau seperti apa wajah mereka. Kau tahu ketika aku melihat mereka dalam kilasan kenangan atau mimpi, wajah-wajah mereka tampak kabur. Aku ingin melihat ekspresi mereka. Aku tidak dapat mengerti apa yang terjadi kecuali aku dapat melihat wajah mereka...."

"Charlie, tenanglah." Orang-orang berpaling memandang mereka. Dia menyelipkan lengannya di lenganku, kemudian menarikku ke dekatnya untuk menahan emosiku. "Sabarlah. Jangan lupa, kau bertambah pandai dalam seminggu, sedangkan orang lain memerlukan waktu seumur hidup mereka. Kau adalah spons raksasa yang menyerap pengetahuan. Tidak lama lagi kau akan mulai

menghubung-hubungkan berbagai hal, dan kau akan melihat bagaimana dunia belajar yang berbeda saling berhubungan. Segala tingkatan, Charlie, seperti anak-anak tangga pada tangga raksasa. Kau akan memanjat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi untuk melihat lebih banyak dan semakin banyak lagi dari dunia di sekitarmu."

Ketika kami memasuki kafetaria di Jalan Forty fifth dan mengambil nampan kami, dia berbicara dengan bersungguh-sungguh. "Orang biasa," katanya, "hanya dapat melihat sedikit. Mereka tidak dapat berubah banyak atau mendaki lebih tinggi daripada keberadaan mereka yang sekarang, tetapi kau seorang jenius. Kau akan terus naik dan naik, serta melihat lebih banyak dan lebih banyak lagi. Dan setiap langkah akan mengungkap dunia-dunia yang bahkan tidak kau tahu kalau itu ada."

Orang-orang dalam antrian yang mendengarnya berpaling dan menatapku. Hanya karena aku menyodoknya untuk menghentikan bicaranya, dia merendahkan suaranya. "Aku hanya berharap pada Tuhan," bisiknya, "supaya kau tidak terluka."

Sesaat setelah itu aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Kami memesan makanan di meja kasir dan membawanya ke meja kami, lalu menyantapnya tanpa bicara. Kesunyian itu membuatku gugup. Aku tahu apa maksud ketakutannya, maka aku bergurau tentang hal itu.

"Mengapa aku harus terluka? Aku tidak bisa menjadi lebih buruk daripada sebelum ini. Bahkan Algernon masih tetap pandai, bukan? Selama Algernon masih ada di sana, aku juga akan sehat-sehat saja."

Alice mempermainkan pisaunya dengan membuat lingkaran-lingkaran muram dalam mentega dan gerakannya

menghipnotisku.

"Lagi pula," kataku pada Alice, "aku mendengar sesuatu, ketika Profesor Nemur dan Dr Strauss berdebat, lalu Nemur berkata ia yakin tidak mungkin ada yang salah."

"Kuharap begitu," ujarnya. "Kau tidak tahu betapa takutnya aku kalau-kalau ada yang salah. Aku merasa ikut bertanggung jawab." Dia melihatku sedang menatap pisaunya. Maka dia meletakkannya dengan hati-hati di samping piringnya.

"Aku tidak akan pernah mau melakukannya kalau tidak untukmu," kataku.

Dia tertawa dan itu membuatku gemetar. Saat itulah aku melihat matanya yang berwarna cokelat lembut. Dia buru-buru menatap taplak meja dan pipinya memerah.

"Terima kasih, Charlie," katanya sambil meraih tanganku.

Alice adalah orang pertama yang melakukan itu padaku, dan itu membuatku merasa berani. Aku mencondongkan tubuhku ke depan, sambil masih memegangi tangannya, lalu kata-kata itu meluncur keluar. "Aku sangat menyukaimu." Setelah kuucapkan itu, aku khawatir dia akan tertawa, tetapi dia mengangguk dan tersenyum.

"Aku juga menyukaimu, Charlie."

"Tetapi ini lebih dari sekadar suka. Maksudku adalah... oh, ya ampun! Aku tidak tahu maksudku." Aku tahu, wajahku memerah dan aku tidak tahu ke mana harus berpaling atau apa yang harus kulakukan dengan tanganku. Aku menjatuhkan sebuah garpu, dan ketika kucoba mengambilnya, aku menyenggol sebuah gelas air putih sehingga menumpahi gaunnya. Tiba-tiba aku menjadi begitu ceroboh dan canggung lagi. Lalu, ketika

aku mencoba meminta maaf, aku merasa lidahku menjadi terlalu besar sehingga memadati mulutku.

"Tidak apa-apa, Charlie," kata Alice, mencoba meyakinkanku. "Itu hanya air. Jangan sampai hal itu membuatmu kesal seperti ini."

Kami pulang dengan mengendarai taksi. Kami tidak berbicara lama. Lalu dia meletakkan dompetnya seraya meluruskan dasiku dan merapikan saputangan di saku dadaku. "Kau kesal sekali malam ini, Charlie."

"Aku merasa konyol."

"Aku membuatmu kesal karena aku membicarakannya. Aku telah membuatmu sadar akan keadaanmu."

"Bukan itu. Yang menggangguku adalah aku tidak dapat mengungkapkan perasaanku dalam kata-kata."

"Perasaan itu baru bagimu. Tidak semuanya harus... diungkapkan dengan kata-kata."

Aku mendekat padanya lalu mencoba memegang tangannya lagi, tetapi dia mengelak. "Jangan, Charlie. Kukira ini tidak baik untukmu. Aku telah membuatmu kesal, dan itu mungkin saja menimbulkan sesuatu yang negatif."

Ketika dia menolakku, aku merasa canggung sekaligus konyol. Itu membuatku marah kepada diri sendiri. Aku pun kembali ke tempat dudukku semula dan menatap keluar jendela. Belum pernah aku membenci seseorang seperti aku membencinya saat itu karena dia memberiku jawaban yang begitu sederhana dan keibuan yang membingungkan. Aku ingin menampar wajahnya sehingga dia merangkak, kemudian memeluknya dan menciumnya.

"Charlie, maafkan aku. Aku telah membuatmu kesal."

"Lupakan."

"Tetapi kau harus mengerti apa yang sedang terjadi."

"Aku mengerti," jawabku, "dan aku lebih senang kalau tidak membicarakannya."

Ketika taksi telah tiba di apartemennya di Jalan Seventy seventh, aku benar-benar merasa tidak senang.

"Begini," kata Alice, "ini salahku. Aku seharusnya tidak pergi bersamamu malam ini."

"Ya, aku rasa juga begitu sekarang."

"Maksudku, kita tidak punya hak untuk mengaitkan hal ini dengan pribadi... ke tingkat perasaan pribadi. Banyak sekali yang harus kaulakukan. Aku tidak punya hak untuk mencampurinya saat ini."

"Itu urusanku, kan?"

"Begitukah? Ini bukan urusan pribadimu lagi, Charlie. Kau punya tanggung jawab sekarang, tidak saja kepada Profesor Nemur dan Dr Strauss, tetapi juga pada jutaan orang yang mungkin mengikuti jejakmu."

Semakin banyak Alice mengatakannya dengan cara seperti itu, semakin tidak enak kurasakan. Dia telah memperjelas kecanggunganku, kekuranganku dalam pengetahuan tentang kata-kata dan sikap yang tepat. Aku adalah orang dewasa yang tolol di matanya, dan dia mencoba menyadarkan aku akan hal itu.

Ketika kami berdiri di depan pintu apartemennya, dia berpaling padaku dan tersenyum, sehingga saat itu aku mengira dia akan mengundangku masuk. Tetapi dia hanya berbisik. "Selamat malam, Charlie. Terima kasih untuk malam yang luar biasa ini."

Aku ingin memberinya ciuman selamat malam. Aku telah menunggu-nunggunya sejak tadi. Bukankah perempuan berharap kau menciumnya? Dalam novel-novel yang telah kubaca dan film-film yang telah kutonton, lelakilah yang memulainya. Aku telah memutuskannya

kemarin malam bahwa aku akan menciumnya. Tetapi aku terus berpikir, bagaimana kalau dia mengecewakanku?

Aku bergerak mendekat dan meraih bahunya, tetapi dia terlalu cepat bagiku. Dia menghentikan gerakanku dan menggenggam tanganku. "Sebaiknya kita mengucapkan selamat tinggal begini saja, Charlie. Kita tidak boleh menjadikan ini hal pribadi. Belum boleh."

Dan sebelum aku dapat memprotes, atau bertanya apa yang dimaksud dengan kata belum, dia sudah masuk ke apartemennya. "Selamat malam, Charlie, dan terima kasih lagi untuk kesempatan yang sangat... sangat menyenangkan ini." Lalu dia menutup pintunya.

Aku sangat marah padanya, pada diriku sendiri, dan dunia. Tetapi ketika aku tiba di rumah, aku sadar, Alice benar. Sekarang, aku tidak tahu apakah dia peduli atau sekadar baik padaku. Apa yang mungkin dilihat Alice dalam diriku? Yang membuat segalanya menjadi begitu canggung adalah karena aku belum pernah mengalaminya. Bagaimana seseorang belajar menghadapi orang lain? Bagaimana seorang lelaki belajar menghadapi seorang perempuan?

Buku-buku itu tidak terlalu membantuku.

Tetapi lain kali, aku akan memberinya ciuman selamat malam.

3 Mei Salah satu hal yang membingungkanku adalah aku tidak pernah benar-benar tahu ketika sesuatu muncul dari masa laluku. Apakah memang terjadi seperti itu, atau sepertinya terjadi begitu saja waktu itu, ataukah aku hanya membuat-buat. Aku seperti seseorang yang setengah tidur sepan-jang hidupku, dan mencoba menemukan apa yang sesungguhnya terjadi sebelum ia

benar-benar terjaga. Segalanya tampak seperti gerak lambat dan buram, anehnya.

Aku bermimpi buruk tadi malam, dan ketika terbangun aku ingat sesuatu.

Pertama-tama dalam mimpi itu, aku berlari di sepanjang gang, setengah buta karena debu yang beterbangan. Suatu ketika aku berlari ke depan kemudian melayang-layang, lalu berlari ke belakang lagi. Aku merasa takut karena aku menyembunyikan sesuatu di dalam sakuku. Aku tidak tahu apa itu atau di mana aku mendapatkannya. Tetapi aku tahu mereka ingin mengambilnya serta membawanya pergi dariku. Itu membuatku ketakutan.

Dinding runtuh dan tiba-tiba ada seorang gadis berambut merah dengan kedua lengannya terulur padaku wajahnya seperti topeng kosong. Dia mendekapku, menciumi, dan membelaiku. Aku ingin memeluknya erat tetapi aku takut. Semakin dia merengkuhku, aku menjadi semakin takut karena aku tahu, aku sebenarnya tidak boleh menyentuh gadis itu. Kemudian ketika tubuhnya menggesek-gesek tubuhku, aku merasakan gelembung-gelembung dan denyut aneh di dalam diriku sehingga membuatku merasa hangat. Tetapi ketika aku mendongak, aku melihat sebilah pisau berdarah di tangannya.

Aku mencoba berteriak sambil berlari, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku, dan sakuku sudah kosong. Aku mencari-cari di dalam sakuku tetapi aku tidak tahu apa yang sudah hi-lang, atau mengapa aku menyembunyikannya. Aku hanya tahu benda itu sudah hilang, dan ada darah pula di tanganku.

Ketika aku terbangun, aku ingat Alice, dan aku merasakan kepanikan yang sama dengan yang kualami

dalam mimpi. Apa yang kutakutkan? Ada hubungannya dengan pisau itu.

Aku membuat secangkir kopi dan mengisap rokok. Aku belum pernah bermimpi seperti itu, dan aku tahu hal itu ada hubungannya dengan kebersamaanku dengan Alice kemarin malam. Aku sudah mulai memikirkannya dengan cara yang berbeda.

Berasosiasi bebas masih sulit bagiku karena sukar untuk tidak mengendalikan arah pikiran... biarkan pikiranmu terbuka dan biarkan segalanya mengalir ke dalamnya... gelembung-gelembung gagasan mengemuka seperti gelembung sabun... seorang perempuan sedang mandi... seorang gadis... Norma sedang mandi... aku mengamatinya melalui lubang kunci... dan ketika dia keluar dari bak mandi untuk mengeringkan diri, aku melihat tubuhnya berbeda dengan tubuhku. Ada yang hilang.

Aku berlari ke serambi... seseorang mengejarku... bukan manusia... hanya sebilah pisau dapur besar berkilat... dan aku ketakutan serta menangis tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku karena leherku terpotong dan aku berdarah....

"Mama, Charlie mengintipku dari lubang kunci...."

Mengapa Norma berbeda? Apa yang terjadi padaanya ... darah... berdarah... sebuah lubang sempit yang gelap....

Tiga tikus buta... tiga tikus buta, Lihat bagaimana mereka berlari! Lihat bagaimana mereka berlari!

Mereka semua berlari mengejar istri petani, Dia memotong ekor mereka dengan sebilah pisau pengerat,

Kau pernah melihat pemandangan seperti itu dalam hidupmu?

Seperti tiga... tikus... buta?

Charlie sendirian di dapur, pagi-pagi sekali. Semua orang masih tidur, dan ia menghibur diri dengan bermain-main dengan putarannya. Salah satu kancingnya terlepas dari kemejanya ketika ia membungkuk. Kancing itu menggelinding melintasi garis gambar yang rumit dari linoleum dapur. Kancing itu terus menggelinding ke kamar mandi dan Charlie mengikutinya, tapi kemudian kancing itu menghilang. Ke mana kancing itu? Ia masuk ke kamar mandi untuk mencarinya. Ada sebuah lemari di dalam kamar mandi tempat menyimpan keranjang cucian. Charlie ingin mengeluarkan semua pakaian di sana dan mengamatinya. Pakaian-pakaian ayah dan ibunya... dan gaun-gaun Norma. Ia ingin mencoba mengenakannya dan berpura-pura dirinya adalah Norma. Tetapi begitu ia melakukannya, ibunya memukuli pantatnya. Di dalam keranjang baju ia menemukan pakaian dalam Norma dengan darah mengering. Kesalahan apa yang telah dilakukan Norma? Ia ketakutan. Siapa pun yang melakukannya, orang itu mungkin saja akan mencarinya....

Mengapa kenangan masa kecil seperti itu tetap teringat dengan kuat, dan mengapa hal itu membuatku ketakutan sekarang? Apakah itu karena perasaanku pada Alice?

Memikirkan hal itu sekarang, aku jadi mengerti mengapa aku selalu diajari untuk menjauhi perempuan. Aku salah jika aku mengungkapkan perasaanku terhadap Alice. Aku tidak berhak memikirkan perempuan dengan cara seperti

itu belum boleh.

Namun, ketika aku menuliskan kata-kata ini, bahkan sesuatu di dalam diriku meneriakkan bahwa masih ada yang lainnya. Aku seorang manusia. Aku adalah seseorang sebelum aku dioperasi. Dan aku harus mencintai seseorang.

8 Mei Walau kini aku sudah belajar apa yang sedang terjadi di balik punggung Pak Donner, aku menganggapnya sebagai sesuatu yang sulit dipercaya. Pertama kali aku mengetahui ada yang salah, yaitu ketika jam-jam sibuk dua hari yang lalu. Gimpy ada di balik meja kasir sedang membungkus sebuah kue ulang tahun untuk salah satu pelanggan kami kue seharga 3,95 dolar. Tetapi ketika Gimpy memasukkan harga itu ke dalam mesin hitung, angka yang muncul hanya 2,95 dolar. Aku hampir saja mengatakan kepadanya bahwa ia melakukan kekeliruan. Tetapi pada cermin di balik meja kasir itu aku melihat sebuah kedipan mata dan senyuman dari pelanggan untuk Gimpy, yang disambut dengan senyuman di wajah Gimpy. Ketika pelanggan itu mengambil uang kembalian, aku melihat sekeping koin perak besar di tangan kiri Gimpy, sebelum jemarinya menggenggamnya, juga gerakan cepat ketika ia memasukkan uang setengah dolar itu ke dalam sakunya.

"Charlie," kata seorang perempuan dari belakangku, "masih ada kue eclair berisi krim seperti itu?"

"Aku akan ke belakang mencarinya."

Aku senang dengan selaan itu karena hal itu memberiku waktu untuk memikirkan apa yang baru saja kulihat. Jelas, Gimpy tidak melakukan kekeliruan. Gimpy telah dengan sengaja menuliskan harga yang lebih murah

untuk pelanggannya, dan keduanya ternyata saling mengerti akan hal itu.

Aku bersandar lunglai pada dinding, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Gimpy telah bekerja pada Pak Donner selama lebih dari lima belas tahun. Pak Donner yang selalu memperlakukan para pegawainya seperti teman-teman dekatnya, seperti saudara telah mengundang keluarga Gimpy ke rumahnya untuk makan malam lebih dari sekali. Ia sering menyerahkan toko itu ke tangan Gimpy ketika ia harus keluar. Aku pun pernah mendengar cerita-cerita bahwa Pak Donner pernah memberi Gimpy uang untuk membayar biaya rumah sakit istrinya.

Mengerikan sekali jika seseorang mencuri dari orang seperti Pak Donner. Harus ada penjelasan yang lain. Gimpy benar-benar salah karena telah mencatat penjualan dengan setengah dolar sebagai uang rokoknya. Atau mungkin Pak Donner telah memberlakukan pelayanan istimewa terhadap pelanggan yang sering membeli kue-kue krim. Alasan apa saja yang lebih baik daripada mempercayai bahwa Gimpy mencuri. Gimpy selalu baik padaku.

Aku tidak mau tahu lagi. Aku terus mengalihkan tatapan mataku dari alat hitung itu ketika aku membawa nampan berisi kue eclair dan memilihi kue-kue, roti, dan kue kecil.

Tetapi, ketika seorang perempuan mungil berambut merah masuk perempuan yang selalu mencubit pipiku dan bergurau tentang mencarikan pacar untukku aku ingat dia paling sering datang ketika Pak Donner keluar makan siang dan Gimpy bertugas di balik meja kasir. Gimpy sering menyuruhku mengirimkan sesuatu ke rumah perempuan itu. Tanpa kuinginkan, otakku menghitung jumlah pem-

belian perempuan itu 4,53 dolar. Tetapi aku memalingkan wajahku sehingga aku tidak akan dapat melihat berapa yang dicatatkan Gimpy pada mesin hitung. Aku ingin tahu yang sebenarnya, tapi aku takut pada apa yang mungkin kuketahui.

"Dua dolar empat puluh lima, Nyonya Wheeler," kata Gimpy.

Lalu terdengar dering mesin hitung. Penghitungan uang kembalian. Suara laci tertutup. "Teri-ma kasih, Nyonya Wheeler." Aku memutar tubuhku tepat ketika Gimpy memasukkan tangannya ke dalam sakunya, dan aku mendengar suara keping uang logam berdenting lirih.

Berapa kali Gimpy memanfaatkanku sebagai perantara untuk mengirimkan bungkusan buat Nyonya Wheeler, memberinya harga lebih murah sehingga mereka bisa berbagi sisa harga kue itu? Apakah Gimpy selalu memanfaatkanku untuk membantunya mencuri selama bertahun-tahun ini?

Aku tidak dapat mengalihkan mataku dari Gimpy ketika ia terpincang-pincang berjalan di belakang meja kasir, dengan keringat mengalir turun dari topi kertasnya. Ia tampak ceria dan ramah, tetapi ketika ia mendongak dan matanya bertemu dengan mataku, ia mengerutkan kening dan memalingkan wajahnya.

Aku ingin memukulnya. Aku ingin ke belakang meja kasir itu dan memukul wajahnya. Aku tidak ingat pernah membenci orang seperti ini sebelumnya tetapi pagi ini aku membenci Gimpy sepenuh hati.

Menumpahkan semua ini ke atas secarik kertas di kamarku yang tenang sama sekali tidak membantuku. Setiap kali aku ingat Gimpy mencuri milik Pak Donner, aku ingin memukul sesuatu. Untunglah, kurasa aku tidak

mampu melakukan tindak kekejaman. Kupikir aku belum pernah memukul seorang pun sepanjang hidupku.

Namun, aku masih harus memutuskan apa yang harus kulakukan. Mengatakan kepada Donner bahwa pegawai kepercayaannya telah mencuri uangnya selama ini? Gimpy akan menyangkalnya, sedangkan aku tidak akan bisa membuktikan hal itu. Dan apa gunanya hal itu bagi Pak Donner? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

9 Mei Aku tidak bisa tidur. Ini telah mempengaruhiku. Aku berutang terlalu banyak kepada Pak Donner untuk tidak melakukan apa-apa dan hanya menyaksikan ketika ia dirampok begitu saja. Aku bisa saja berdosa seperti Gimpy karena aku hanya diam. Lagi pula, apakah memang kewajibanku untuk melaporkan kejadian itu? Yang paling menggangguku adalah ketika ia menyuruhku mengirim kue, ia memanfaatkan aku untuk mencuri milik Pak Donner. Karena aku tidak tahu-menahu soal itu, aku ada di luar masalah itu tidak bisa dipersalahkan. Tetapi sekarang aku tahu kejadian itu, dan karena kebungkamanku, aku juga bersalah seperti Gimpy.

Namun, Gimpy adalah seorang rekan kerja. Punya tiga orang anak. Apa yang akan dilakukannya jika Donner memecatnya? Mungkin ia tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan lain terutama karena kakinya yang cacat.

Itukah yang membuatku khawatir?

Mana yang benar? Ironisnya segala kecerdasanku tidak membantuku memecahkan masalah semacam ini.

10 Mei Aku bertanya kepada Profesor Nemur tentang hal itu, lalu ia menekankan bahwa aku hanyalah penonton

kejadian, yang tidak bersalah. Maka tidak ada alasan bagiku untuk dikatakan terlibat dalam situasi yang tidak menyenangkan itu. Kenyataan bahwa aku telah dimanfaatkan sebagai perantara tampaknya sama sekali tidak mengganggunya. Jika aku tidak mengerti apa yang terjadi saat itu, kata dia, tidak apa-apa. Aku sama tidak bersalahnya dengan sebilah pisau yang digunakan seseorang untuk menusuk korbannya, atau sebuah mobil dalam sebuah tabrakan.

"Tetapi aku bukan benda tak bernyawa," aku mendebatnya. "Aku seorang manusia." Ia tampak bingung sejenak, kemudian tertawa. "Tentu saja, Charlie. Tetapi, aku tidak bicara tentang dirimu yang sekarang. Maksudku adalah kau sebelum dioperasi."

Sombong, angkuh rasanya aku ingin memukulnya juga. "Aku juga seorang manusia sebelum operasi itu. Mungkin kau lupa...."

"Ya, tentu saja, Charlie. Jangan salah mengerti. Tetapi dulu kan berbeda...." Kemudian ia ingat bahwa ia harus memeriksa beberapa grafik di lab.

Dr Strauss tidak banyak bicara selama sesi psikoterapi kami. Tetapi hari ini, ketika aku membicarakan hal itu, ia berkata bahwa secara moral aku berkewajiban untuk mengatakan hal itu kepada Pak Donner. Semakin kupikirkan semakin rumit masalahnya. Aku harus mempunyai seseorang untuk memutuskan kerumitan itu. Satu-satunya orang yang dapat kuingat hanyalah Alice. Akhirnya, pada pukul setengah sebelas, aku tidak dapat menahannya lagi. Aku memutar nomor telepon tiga kali, lalu berhenti di tengah jalan, setiap kali. Tetapi pada usahaku yang keempat, aku berhasil menunggu hingga aku mendengar suaranya.

Pada awalnya, Alice berpendapat, dia seharusnya tidak boleh menemuiku di kafetaria tempat kami pernah makan malam bersama. "Aku menghormatimu. Kau selalu memberiku nasihat yang bagus." Dan ketika dia masih ragu-ragu, aku mendesaknya. "Kau harus menolongku. Kau juga harus ikut bertanggung jawab. Kau sendiri yang mengatakan begitu. Lagi pula, jika bukan demi kau, aku tidak akan pernah menjadi seperti ini. Kau tidak bisa hanya membiarkan aku begitu saja sekarang."

Pastilah Alice merasakan keterdesakanku karena akhirnya ia mau menemuiku. Aku meletakkan telepon dan menatap pesawat telepon itu. Mengapa mengetahui pendapat dia, bagaimana perasaan dia, menjadi begitu penting bagiku? Selama lebih dari setahun di Pusat Orang Dewasa Terbelakang, satu-satunya hal terpenting adalah menyenangkan hatinya. Apakah karena itu juga aku setuju menjalani operasi itu?

Aku berjalan hilir mudik di depan kafetaria hingga seorang polisi mulai mengawasiku dengan curiga. Kemudian aku masuk dan membeli secangkir kopi. Untunglah, meja yang kami pilih ketika itu masih kosong.

Alice tentunya akan mencariku ke arah meja tersebut. Alice melihatku dan melambai padaku, tetapi berhenti di kasir untuk mengambil kopi sebelum berjalan ke mejaku. Dia tersenyum, aku tahu itu karena aku telah memilih meja yang sama. Sebuah sikap romantis yang konyol.

"Aku tahu, ini sudah terlalu malam," kataku meminta maaf, "tetapi aku bersumpah, aku sudah hampir gila. Aku harus bicara denganmu."

Dia mereguk kopinya dan menyimakku dengan tenang ketika aku menjelaskan bagaimana aku melihat Gimpy berbuat curang, reaksi pribadiku, dan nasihat

bertentangan yang kudapat di lab. Ketika aku selesai, dia menyandarkan punggungnya dan menggelengkan kepalanya.

"Charlie, kau membuatku kagum. Dalam beberapa hal, kau begitu pandai. Tapi ketika kau harus membuat keputusan, kau masih seperti anak-anak. Aku tidak bisa memutuskan untukmu, Charlie. Jawabannya tidak dapat ditemukan dalam buku-buku atau terselesaikan dengan cara membicarakannya dengan orang lain. Kecuali kalau kau tetap ingin menjadi seorang anak-anak seumur hidupmu. Kau harus mencari jawabannya dari dalam dirimu sendiri... rasakan apa yang sebaiknya dilakukan. Charlie, kau harus belajar mempercayai dirimu sendiri."

Pertama-tama, aku merasa terganggu karena kuliahnya, tetapi kemudian tiba-tiba hal itu mulai masuk akal. "Maksudmu, aku harus memutuskan?"

Alice mengangguk.

"Kenyataannya," kataku, "sekarang karena aku sudah memikirkannya, aku yakin aku sudah memutuskan beberapa hal! Kukira Nemur dan Strauss salah!"

Alice mengamatiku dengan saksama, sekaligus penuh semangat. "Ada yang terjadi pada dirimu, Charlie. Kalau saja kau dapat melihat wajahmu."

"Kau benar sekali, sesuatu memang sedang terjadi! Segumpalan asap tadi bergantungan di depan mataku, dan dengan sekali embusan napasmu kau telah meniupnya pergi. Sebuah gagasan sederhana. Percayai dirimu. Itu belum pernah terjadi pada diriku." "Charlie, kau mengagumkan."

Aku meraih tangannya dan memeganginya. "Tidak, tapi kau. Kau menyentuh mataku dan membuatku melihat." Pipinya memerah dan dia menarik tangannya.

"Terakhir kali kita di sini," kataku, "aku bilang padamu, aku menyukaimu. Seharusnya aku percaya pada diriku sendiri untuk mengatakan aku mencintaimu."

"Jangan, Charlie. Belum boleh."

"Belum boleh?" aku berteriak. "Itu yang kau katakan ketika itu. Mengapa belum boleh?"

"Ssst.... Tunggu sajalah, Charlie. Selesaikan belajarmu. Lihat ke mana mereka mengarahkanmu. Kau berubah terlalu cepat."

"Apa hubungannya dengan itu? Perasaanku padamu tidak akan berubah karena aku menjadi pandai. Aku hanya akan lebih mencintaimu."

"Tetapi, secara emosional kau juga berubah. Karena suatu hal khusus, aku adalah perempuan pertama yang pernah kausadari keberadaannya, seperti sekarang ini. Hingga kini aku adalah gurumu. Seseorang yang kaucari untuk dimintai pertolongan dan nasihat. Kau mulai berpikir kau jatuh cinta padaku. Bertemanlah dengan perempuan lain. Beri waktu lebih banyak pada dirimu."

"Maksudmu bahwa anak-anak lelaki selalu jatuh cinta kepada gurunya, karena itu secara emosional aku hanyalah seorang bocah lelaki?"

"Kau memutar balik kata-kataku. Bukan, aku tidak menganggapmu sebagai anak kecil."

"Kalau begitu terbelakang secara emosional?"

"Bukan." '

"Kalau begitu apa?" "Charlie, jangan mendesakku. Aku tidak tahu. Kecerdasanmu telah melampuai kecerdasanku. Dalam beberapa bulan atau bahkan minggu saja, kau akan menjadi seseorang yang berbeda. Ketika kecerdasanmu sudah matang, mungkin kita tidak dapat lagi

berkomunikasi. Ketika emosimu telah matang, mungkin kau bahkan tidak menginginkanku lagi. Aku juga harus memikirkan diriku sendiri, Charlie. Kita tunggu dan kita lihat saja. Bersabarlah."

Uraian Alice masuk akal, tetapi aku tidak mau menyimaknya. "Malam itu...," aku tersedak, "kau tidak tahu betapa aku menunggu-nunggu kencan itu. Aku hampir gila memikirkan bagaimana aku harus bersikap, apa yang harus kukatakan agar dirimu terkesan, dan aku sangat ketakutan kalau-kalau aku akan mengatakan sesuatu yang akan membuatmu marah."

"Kau tidak membuatku marah, Charlie. Aku merasa tersanjung."

"Kalau begitu, kapan aku boleh bertemu lagi denganmu?"

"Aku tidak berhak untuk membiarkanmu berhubungan."

"Tetapi, aku sudah berhubungan!" Aku berteriak lagi, sehingga beberapa orang tampak menoleh. Lalu aku merendahkan suaraku hingga bergetar karena marah. "Aku seorang manusia seorang lelaki dan aku tidak dapat hidup hanya dengan buku-buku dan kaset-kaset serta alat-alat elektronik yang rumit. Kau tadi bilang, "berteman dengan perempuan lain". Bagaimana bisa, sedangkan aku tidak mau perempuan lain? Sesuatu di dalam seperti membakarku, dan yang kutahu hal itu membuatku memikirkanmu. Aku sedang membaca hingga di tengah-tengah halaman dan yang kulihat adalah wajahmu... tidak buram seperti gambaran masa laluku, tetapi jelas dan hidup. Kusentuh kertas itu dan wajahmu menghilang sehingga aku ingin merobek buku tersebut dan membuangnya."

"Kumohon, Charlie...."

"Izinkan aku untuk bertemu lagi denganmu." "Besok, di lab."

"Kautahu, bukan itu maksudku. Jauh dari lab. Jauh dari universitas. Berdua saja."

Aku yakin dia hampir mengatakan ya. Dia terkejut karena kegigihanku. Aku sendiri pun terkejut. Aku hanya tahu aku tidak dapat berhenti mendesaknya. Tapi, ada ketakutan luar biasa yang tersekat di tenggorakanku ketika aku memohon padanya. Telapak tanganku lembab. Apakah aku takut dia akan mengatakan tidak, atau takut kalau dia mengatakan ya? Jika dia tidak mengakhiri ketegangan ini dengan menjawab pertanyaanku, kupikir aku akan pingsan.

"Baiklah, Charlie. Jauh dari lab, dan universitas, tetapi tidak berdua saja. Kukira kita tidak boleh berdua saja."

"Di mana pun yang kau mau," kataku tergagap. "Yang penting aku bisa bersamamu dan tidak memikirkan tes... statistik... pertanyaan-pertanyaan... jawaban...."

Alice mengerutkan kening sejenak. "Baiklah. Akan diadakan konser musim semi gratis di Central Park. Minggu depan kau bisa mengajakku menonton salah satu konsernya."

Ketika kami tiba di depan pintu apartemennya, dia memutar tubuhnya dengan cepat dan mencium pipiku. "Selamat malam, Charlie. Aku senang kau meneleponku. Sampai jumpa di lab." Lalu dia menutup pintunya dan aku berdiri di luar gedung sambil menatap lampu dari jendela kamarnya hingga akhirnya lampu itu padam.

Tidak ada pertanyaan lagi tentang hal itu. Aku jatuh cinta.

11 Mei Setelah segala pemikiran dan kecemasan ini, aku sadar Alice benar. Aku harus mempercayai intuisiku. Di pabrik roti, aku mengamati Gimpy lebih saksama. Hari ini tiga kali aku melihatnya mencatat harga penjualan lebih rendah di mesin hitung dan mengantongi kelebihannya ke-tika pelanggan-pelanggan itu memberikan uang kepadanya. Gimpy hanya melakukan hal itu terhadap pelanggan-pelanggan tertentu, dan aku tahu pelanggan-pelanggan tersebut sama bersalahnya dengan Gimpy. Tanpa persetujuan mereka, kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Mengapa hanya Gimpy yang harus menjadi kambing hitam?

Ketika itulah aku memutuskan untuk kompromi. Mungkin ini bukanlah keputusan sempurna, tetapi ini adalah keputusanku, lagi pula tampaknya merupakan jawaban terbaik dalam keadaan ini. Aku akan mengatakan kepada Gimpy apa yang kuketahui dan aku peringatkan dirinya agar menghentikannya.

Aku bertemu dengannya sendirian di kamar mandi, dan ketika aku mendekatinya, Gimpy menghindar. "Ada hal penting yang harus kukatakan padamu," kataku. "Aku minta nasihatmu untuk seorang teman yang punya masalah. Ia tahu bahwa salah satu dari rekan sesama pegawainya mencurangi bosnya, tetapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak suka mengadukan hal itu sehingga membuat temannya itu mendapat masalah. Tetapi ia tidak mau berdiam diri dan membiarkan bosnya, yang telah berbaik hati kepada mereka berdua, dicurangi."

Gimpy menatapku tajam. "Temanmu itu punya rencana apa tentang hal itu?"

"Itulah sulitnya. Ia tidak mau melakukan apa pun. Ia merasa, jika pencurian itu dihentikan, tidak akan ada

gunanya lagi jika ia melakukan apa pun. Ia akan melupakannya saja."

"Temanmu itu harus mengurusi urusannya sendiri," kata Gimpy, sambil menggeser sepatu ortopedinya. "Ia harus berpura-pura tidak melihat hal-hal seperti itu dan tahu siapa temannya itu. Seorang bos tetap seorang bos, dan pegawai-pegawai harus kompak satu sama lain."

"Temanku itu tidak berpendapat seperti itu."

"Itu bukan urusannya."

"Ia merasa, jika ia tahu soal itu, ia ikut bertanggung jawab. Jadi, ia memutuskan jika pencurian itu dihentikan, ia tidak punya apa-apa lagi untuk dilaporkan. Kalau tidak, ia akan menceritakan semuanya. Aku ingin meminta pendapatmu. Kaupikir, dalam keadaan seperti itu, pencurian itu akan dihentikan?"

Gimpy berusaha menyembunyikan kemarahannya. Aku dapat melihat betapa ia sangat ingin memukulku, tetapi ia hanya terus menggosok-gosok kepalan tangannya.

"Katakan pada temanmu kelihatannya orang itu tidak punya pilihan."

"Baiklah," jawabku. "Itu akan membuat temanku sangat senang."

Gimpy beranjak pergi, lalu berhenti dan menatapku lagi. "Temanmu itu... mungkinkah ia ingin dapat bagian? Itukah alasannya?"

"Tidak, ia hanya ingin semuanya itu dihentikan."

Gimpy mendelik padaku. "Begini, Charlie, kau akan menyesal telah ikut campur urusanku. Padahal aku selalu baik padamu. Aku seharusnya memeriksakan kepalaku." Kemudian ia terpincang-pincang pergi.

Mungkin aku memang harus mengatakan seluruh cerita itu kepada Donner sehingga Gimpy dipecat aku tidak

tahu. Aku terpaksa melakukannya. Selesai dan beres. Tetapi berapa banyak orang seperti Gimpy yang memperalat orang lain seperti itu?

15 Mei Kuliahku berjalan lancar. Perpustakaan universitas menjadi rumah keduaku sekarang. Mereka seharusnya membuatkanku ruangan pribadi karena aku hanya membutuhkan sedetik untuk menyerap satu halaman buku. Karena itu, mahasiswa-mahasiswa yang ingin tahu tanpa kecuali mengelilingiku ketika aku membalik-balik halaman buku.

Minatku yang paling dalam saat ini adalah etimologi bahasa-bahasa kuno, metode mutakhir dalam variasi kalkulus, dan sejarah Hindu. Aku sangat kagum pada hal-hal yang kelihatannya tidak ada hubungannya, ternyata saling berhubungan. Aku sudah bergerak ke lapisan lainnya. Dan sekarang aliran-aliran dari berbagai disiplin ilmu tampak menjadi saling berhubungan seolah mereka berasal dari sumber yang sama.

Anehnya, ketika aku berada di kafetaria dan mendengar para mahasiswa itu berdebat tentang sejarah, politik, atau agama, semuanya terdengar begitu kekanak-kanakan.

Aku tidak suka mendiskusikan gagasan-gagasan pada tingkat dasar seperti itu lagi. Orang akan marah jika diperlihatkan bahwa mereka tidak membicarakan masalah mereka tidak tahu apa yang ada di balik riak-riak permukaan itu. Sama buruknya keadaan tersebut pada tingkat yang lebih tinggi. Aku sudah tidak berminat lagi mendiskusikan hal-hal itu dengan para profesor di Beekman.

Burt mengenalkan aku kepada seorang profesor

ekonomi di kafetaria fakultas, yang terkenal karena karyanya tentang faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi suku bunga. Aku sudah lama ingin berbicara dengan seorang ahli ekonomi tentang gagasan yang sama yang kudapat dari bacaanku. Aspek moral dari blokade militer sebagai senjata pada masa damai telah menggangguku. Aku bertanya kepadanya apa pendapatnya tentang usul para senator bahwa kita mulai menggunakan taktik semacam "daftar hitam" dan memperkuat pengendalian pakta maritim yang telah digunakan pada masa Perang Dunia I dan II, melawan beberapa negara kecil yang sekarang melawan kita.

Ia terdiam menyimak, sambil menatap ke langit, dan aku memperkirakan ia sedang mengumpulkan pikirannya untuk menjawab pertanyaanku. Tetapi beberapa menit kemudian ia berdeham lalu menggelengkan kepalanya. Itu, kata dia, sambil menjelaskan dengan penuh permohonan maaf, adalah topik di luar spesialisasinya. Minatnya pada suku bunga, dan ia tidak terlalu memikirkan ekonomi militer. Ia mengusulkan agar aku menemui Dr Wessey, yang pernah menulis Perjanjian Perdagangan daiam Perang Selama Perang Dunia II. Mungkin ia dapat membantuku.

Sebelum aku sempat berkata-kata lagi, ia meraih tanganku dan menjabatnya. Ia bilang senang berkenalan denganku, tetapi ada beberapa catatan yang harus disusunnya untuk bahan kuliah. Lalu ia pergi.

Hal yang sama terjadi ketika aku mencoba berdiskusi tentang Chaucer dengan seorang sastrawan Amerika; bertanya kepada pakar kebudayaan Asia mengenai penghuni Pulau Trobriand; atau mencoba memusatkan perhatian pada masalah-masalah pengangguran akibat

otomatisasi dengan seorang psikolog sosial yang ahli dalam pengumpulan pendapat publik tentang perilaku orang dewasa. Mereka selalu menemukan alasan untuk pergi menghindar, takut menampakkan keterbatasan pengetahuan mereka.

Sekarang mereka tampak begitu berbeda. Betapa bodohnya aku dulu karena sempat berpikir bahwa para profesor itu adalah raksasa-raksasa cerdas. Mereka adalah orang-orang biasa dan takut kalau-kalau dunia mengetahui keadaan mereka. Alice juga manusia seorang wanita, bukan seorang dewi dan aku akan membawanya menonton konser besok malam.

27 Mei Pagi hampir menjelang dan aku belum bisa tidur. Aku harus memahami apa yang terjadi pada diriku tadi malam di konser itu.

Malam itu berawal cukup baik. Mal di Central Park telah penuh dengan cepat. Alice dan aku harus berdesakan di antara pasangan-pasangan yang betebaran di atas rumput. Akhirnya, jauh dari jalan kecil, kami menemukan sebatang pohon yang tak diduduki. Tempat itu jauh dari jangkauan sinar lampu dan satu-satunya bukti keberadaan pasangan lain hanyalah suara tawa protes dari seorang perempuan dan kilau rokok yang menyala.

"Di sini enak juga," kata Alice. "Tidak perlu harus di atas panggung orkestra."

"Apa yang sedang mereka mainkan sekarang?" tanyaku.

"Karya Debussy, La Mer. Kau suka?" Aku duduk di sebelahnya. "Aku tidak tahu terlalu banyak soal musik jenis ini. Aku harus memikirkannya."

"Jangan dipikirkan," bisik Alice. "Rasakan saja. Biarkan musik itu membelaimu seperti laut, jangan mencoba untuk mengerti." Dia berbaring di atas rumput dan memalingkan wajahnya ke arah musik itu berasal.

Aku tidak punya cara untuk mengetahui apa yang diharapkannya dariku. Ini jauh dari tanda-tanda akan adanya pemecahan masalah dan kemahiran sistematis akan pengetahuan. Aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa telapak tangan yang berkeringat, kesesakan di dadaku, keinginan untuk meletakkan lenganku di sekelilingnya hanyalah reaksi biokimia. Aku bahkan telah menelusuri pola stimulasi dan reaksi yang menyebabkan kegugupan dan keteganganku. Namun, segalanya tidak pasti dan kabur. Haruskah aku melingkarkan lenganku di tubuhnya atau jangan? Apakah dia menungguku melakukannya? Apakah dia akan marah? Aku bisa mengatakan, aku masih bersikap seperti seorang remaja, dan itu membuatku marah.

"Sini," kataku seperti tercekik, "mengapa kau tidak duduk dengan lebih nyaman? Bersandarlah di bahuku." Dia membiarkan aku melingkarkan lenganku di tubuhnya, tetapi dia tidak menatapku. Alice tampak terlalu tenggelam dalam musik sehingga tidak menyadari apa yang sedang kulakukan. Apakah dia mau aku memeluknya seperti itu, atau dia hanya bertoleransi? Ketika aku menyelinapkan lenganku turun ke pinggangnya, aku merasa Alice gemetar, tetapi dia masih terus menatap ke arah orkestra itu. Dia berpura-pura memusatkan perhatiannya pada musik sehingga dia tidak perlu meresponku. Dia tidak mau tahu apa yang sedang terjadi. Selama dia tidak menatapku, dan terus menyimak, dia dapat berpura-pura bahwa kedekatanku, lenganku yang

melingkarinya, ada di sana tanpa sepengetahuannya atau tanpa disadarinya. Alice ingin aku membelai tubuhnya sementara pikirannya terus terpusat pada hal yang lebih tinggi. Aku memegang dagunya dan dengan kasar memutar wajahnya. "Mengapa kau tidak mau menatapku? Kau berpura-pura aku tidak ada?"

"Tidak, Charlie," bisiknya. "Aku berpura-pura aku tidak ada."

Ketika aku menyentuh bahunya, ia menjadi kaku dan gemetar, tetapi aku menariknya ke arahku. Lalu terjadilah. Dimulai dengan suara mendengung di dalam telingaku... suara gergaji listrik... jauh sekali. Lalu dingin: lengan dan tungkai terasa tertusuk-tusuk, dan jemari mati rasa. Tiba-tiba aku merasa aku sedang ditonton.

Sebuah perubahan tajam dalam persepsi. Aku melihat, dari suatu titik di kegelapan di balik sebuah pohon, kami berdua berbaring saling berpelukan.

Aku mendongak dan melihat seorang anak lelaki berusia lima belas atau enam belas tahun, berjongkok di dekat kami. "Hei!" aku berteriak. Ketika ia berdiri, aku melihat celananya terbuka dan ia terlihat.

"Ada apa?" tanya Alice tergagap.

Aku meloncat berdiri, tapi anak lelaki itu menghilang dalam kegelapan. "Kau lihat anak lelaki itu?"

"Tidak," sahutnya, sambil merapikan roknya dengan gugup. "Aku tidak melihat siapa-siapa."

"Ia berdiri tepat di sana. Menonton kita. Cukup dekat untuk menyentuhmu." "Charlie, mau ke mana?"

"Ia pasti belum terlalu jauh."

"Biarkan sajalah, Charlie. Tidak apa-apa."

Tetapi itu penting bagiku. Aku berlari memasuki kege-

lapan, tersandung-sandung pasangan-pasangan yang terkejut, tetapi aku tidak tahu ke mana perginya anak lelaki itu.

Semakin aku memikirkannya, perasaan mualku semakin parah yang muncul sebelum pingsan. Tersesat dan sendirian di tengah alam raya yang liar. Kemudian aku menenangkan diri dan menemukan jalanku kembali kepada Alice yang sedang duduk.

"Kau menemukannya?"

"Tidak, tetapi ia tadi di sana. Aku melihatnya."

Alice menatapku dengan aneh. "Kau tidak apa-apa?"

"Aku akan tenang kembali... sebentar... aku masih mendengar suara mendengung sialan di dalam telingaku."

"Mungkin sebaiknya kita pulang saja."

Di sepanjang perjalanan kembali ke apartemennya, aku memikirkan anak lelaki yang berjongkok di sana dalam kegelapan, dan dalam sedetik aku telah melihat sekilas apa yang dilihatnya kami berdua sedang berbaring saling berpelukan.

"Kau mau masuk? Aku bisa membuatkanmu kopi."

Aku ingin, tetapi sesuatu memperingatkan aku untuk tidak masuk. "Lebih baik tidak. Aku punya banyak pekerjaan malam ini."

"Charlie, apakah aku salah bicara atau salah bersikap?"

"Tentu saja tidak. Hanya anak yang menonton tadi yang membuatku kesal."

Alice berdiri di dekatku, menungguku menciumnya. Aku merengkuhnya, tetapi hal itu terjadi lagi. Jika aku tidak cepat pergi, aku akan pingsan.

"Charlie, kau sepertinya sakit."

"Kau melihatnya tadi, Alice? Yang benar...."

Alice menggelengkan kepalanya. "Tidak, terlalu gelap. Tetapi aku yakin...."

"Aku harus pergi. Aku akan meneleponmu." Dan sebelum dia bisa menghentikanku, aku melepaskan diri. Aku harus keluar dari gedung itu sebelum segalanya ambruk.

Memikirkannya sekarang, aku yakin bahwa itu hanyalah halusinasi. Dr Strauss merasa bahwa secara emosional aku masih setingkat dengan anak remaja yang begitu berada dekat dengan wanita, atau memikirkan seks, menjadi cemas, panik, bahkan berhalusinasi. Ia merasa perkembangan intelektualku yang cepat itu telah membuatku berpikir bahwa aku bisa hidup dengan emosi normal. Tetapi aku harus menerima kenyataan bahwa ketakutan dan rintangan yang muncul dalam keadaan berahi mengungkapkan bahwa sebenarnya secara emosional aku masih remaja keterbelakangan seksual. Kukira maksudnya adalah aku belum siap untuk sebuah hubungan dengan seorang wanita seperti Alice Kinnian. Belum saatnya.

20 Mei Aku dipecat dari pekerjaanku di pabrik roti. Aku tahu ini kebodohanku jika aku tetap bergantung pada masa laluku. Tetapi, ada sesuatu pada tempat berdinding bata putih yang menjadi cokelat karena panasnya oven.... Ini rumah bagiku.

Apa yang telah kulakukan sehingga mereka begitu membenciku?

Aku tidak dapat menyalahkan Donner. Ia harus memikirkan usahanya dan pegawai-pegawai lainnya, walau ia sudah begitu dekat denganku seperti seorang ayah.

Pak Donner memanggilku ke kantornya, menjelaskan pernyataannya dan menduduki kursi satu-satunya yang

ada di samping meja tulis. Kemudian tanpa melihat padaku, ia berkata, "Aku memang sudah ingin bicara denganmu. Sekaranglah waktu yang paling tepat."

Tampak konyol sekarang, tetapi ketika aku duduk di sana menatapnya pendek, gemuk, dengan kumis cokelat muda yang tidak rapi, yang tampak jatuh lucu di atas bibir atasnya seolah kedua diriku, Charlie yang lama dan yang baru, duduk di atas kursi itu, ketakutan dengan apa yang akan dikatakan oleh Pak Donner.

"Charlie, Paman Hermanmu adalah teman baikku. Aku memenuhi janjiku padanya dengan tetap memberimu pekerjaan, dalam keadaan baik ataupun buruk, sehingga kau bahkan tidak menginginkan satu dolar pun dalam sakumu. Aku juga memberimu tempat istirahat sehingga kau tidak perlu tinggal di tempat perawatan."

"Pabrik roti ini rumahku...."

"Dan aku memperlakukanmu seperti anakku sendiri yang gugur demi negaranya. Dan ketika Herman meninggal dunia... berapa umurmu? Tujuh belas? Kau lebih seperti anak lelaki berumur enam tahun... aku bersumpah pada diriku sendiri.... Aku berkata, Arthur Donner, selama kau memiliki pabrik roti dan usahamu, kau akan merawat Charlie sebaik-baiknya. Ia harus memiliki tempat bekerja, pembaringan untuk tidurnya, dan roti di mulutnya. Ketika mereka ingin memasukkanmu ke tempat penampungan Warren, aku katakan kepada mereka bagaimana kau mau bekerja untukku, dan aku akan merawatmu. Kau tidak sempat tidur di sana satu malam pun. Aku memberimu sebuah kamar dan aku merawatmu. Sekarang, apakah aku tetap memenuhi janjiku?"

Aku mengangguk, tetapi aku dapat melihat dari caranya melipat dan membuka lipatan kertas-kertas itu,

ia sesungguhnya punya masalah. Dan ketika seharusnya aku tidak mau tahu, aku paham. "Aku sudah berusaha bekerja sebaik mungkin. Aku telah bekerja keras...."

"Aku tahu, Charlie. Tidak ada yang salah dengan pekerjaanmu. Tetapi sesuatu telah terjadi pada dirimu, dan aku tidak mengerti apa artinya itu. Tidak hanya aku, tetapi semua orang telah membicarakannya. Aku telah sering kali menerima surat keluhan dalam beberapa minggu terakhir ini. Mereka semua kesal padamu, Charlie. Aku harus melepasmu."

Aku mencoba mengubah keputusannya, tetapi ia tetap menggelengkan kepalanya.

"Ada perwakilan karyawan yang mengunjungiku tadi malam. Charlie, aku harus mempertahankan usahaku."

Ia menatap kedua tangannya, sambil membalik-balik kertas itu berkali-kali seolah ia berharap menemukan sesuatu yang tidak ada di sana. "Maafkan aku, Charlie." "Tetapi, ke mana aku harus pergi?" Ia menatapku tajam untuk pertama kalinya sejak kami berjalan memasuki kantor kecilnya. "Seperti juga aku, kau tentu tahu bahwa kau tidak perlu bekerja di sini lagi."

"Pak Donner, aku belum pernah bekerja di tempat

lain."

"Mari kita hadapi. Kau bukanlah Charlie yang dulu datang ke sini tujuh belas tahun yang lalu. Bahkan bukan Charlie yang sama dengan Charlie empat bulan yang lalu. Kau belum membicarakan perubahan itu. Itu urusan pribadimu. Mungkin ada suatu keajaiban yang telah terjadi pada dirimu, siapa tahu? Tetapi kenyataannya kau telah berubah menjadi seorang pemuda yang pandai. Lagi pula, menjalankan mesin pengaduk adonan serta mengirimkan paket-paket bukanlah pekerjaan seorang pemuda

sepandai dirimu sekarang."

Ia benar, tentu saja, tetapi ada sesuatu di dalam diriku yang menginginkannya berubah pikiran.

"Kau harus membiarkanku tetap bekerja di sini, Pak Donner. Beri aku kesempatan lagi. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau berjanji kepada Paman Herman, aku akan mempunyai pekerjaan di sini selama aku membutuhkannya. Nah, aku masih membutuhkan pekerjaan itu, Pak Donner."

"Tidak, Charlie, kau tidak membutuhkannya lagi. Jika kau memang masih membutuhkannya, aku akan mengatakan kepada mereka bahwa aku tidak peduli pada perwakilan dan petisi mereka karena aku akan tetap bersamamu melawan mereka semua. Tetapi sekarang ini, mereka sangat takut padamu. Aku juga harus memikirkan keluargaku."

"Bagaimana jika mereka berubah pikiran? Biarkan aku meyakinkan mereka." Aku membuat masalah ini menjadi lebih berat daripada yang ia kira. Aku tahu seharusnya aku menyudahi saja, tetapi aku tidak dapat mengendalikan diriku. "Aku akan membuat mereka mengerti," pintaku.

"Baiklah," Pak Donner mendesah. "Cobalah. Tetapi, kau hanya akan melukai dirimu sendiri."

Ketika aku keluar dari kantor, Frank Reilly dan Joe Carp berjalan melewatiku. Maka tahulah aku, apa yang dikatakan Pak Donner tadi benar. Mereka tidak tahan melihatku berkeliaran di pabrik itu. Aku telah membuat mereka merasa tidak nyaman.

Frank baru saja mengambil sebuah nampan berisi roti gulung. Ketika kupanggil, ia, juga Joe, berpaling padaku. "Begini, Charlie, aku sedang sibuk. Mungkin nanti...."

"Tidak," aku mendesak. "Sekarang... sekarang juga.

Kalian berdua telah menghindariku. Mengapa?"

Frank, yang bicaranya cepat, lelaki yang disukai perempuan, dan si tukang atur, menatapku sesaat menyelidik, lalu meletakkan nampannya di atas meja. "Mengapa? Akan kukatakan mengapa. Karena tiba-tiba kau menjadi seorang jagoan, serba tahu segalanya, si cerdas! Sekarang kau hanyalah pemuda biasa, seorang cendekia. Selalu membawa buku, selalu memiliki jawaban. Ya, begitulah. Kaupikir kau telah menjadi lebih baik daripada kami semua? Oke, kalau begitu pergilah ke tempat lain."

"Tetapi, apa yang telah kulakukan padamu?"

"Apa yang ia lakukan? Kaudengar itu, Joe? Aku beri tahu apa yang kaulakukan, Pak Gordon. Kau kini memaksakan gagasan-gagasanmu serta usul-usulmu di sini sehingga membuat kami semua menjadi tampak seperti kumpulan orang tolol. Tapi akan kukatakan padamu, bagiku kau tetap seorang dungu. Mungkin aku tidak mengerti beberapa kata sukar atau judul-judul buku, tetapi aku seandal dirimu, bahkan lebih baik."

"Ya, kau benar." Joe mengangguk, sambil menoleh pada Gimpy yang baru tiba di belakangnya, untuk memberi tekanan maksudnya.

"Aku tidak meminta kalian menjadi temanku, " kataku," atau berhubungan denganku. Aku hanya minta kalian membiarkan aku tetap bekerja di sini. Kata Pak Donner, itu terserah pada kalian."

Gimpy mendelik lalu menggelengkan kepalanya dengan jijik. "Kau berani sekali," teriaknya. "Kau pergi sajalah ke neraka!" Ia pun memutar tubuhnya kemudian berjalan terpincang-pincang dan berat, pergi.

Begitulah. Kebanyakan dari mereka merasa seperti Joe

dan Frank serta Gimpy. Mereka tadinya merasa senang bisa menertawakan aku karena mereka tampak pandai di hadapanku. Tetapi, sekarang mereka merasa rendah diri di hadapan seorang bodoh. Aku mulai mengerti, perkembanganku yang sangat cepat itu telah membuat mereka tampak mengerut sehingga memperjelas kekurangan mereka. Aku telah mengkhianati mereka, dan mereka sekarang membenciku karena itu.

Fanny Birden adalah satu-satunya orang yang tidak berpikir bahwa aku harus dipaksa untuk pergi, walaupun mereka mendesak dan mengancam. Dialah satu-satunya pegawai yang tidak menandatangani petisi itu.

"Tetapi itu bukan berarti," kata dia, " aku tidak mengakui adanya hal yang luar biasa aneh, yang telah terjadi pada dirimu, Charlie. Caranya kau berubah! Aku tidak tahu. Kau dulu adalah seorang yang baik dan dapat diandalkan. Lelaki biasa, tidak terlalu cerdas mungkin, tetapi jujur. Dan siapa yang tahu apa yang telah kaulakukan pada dirimu sendiri sehingga tiba-tiba menjadi begitu pandai. Seperti yang dikatakan semua orang, ini tidaklah wajar."

"Tetapi apa yang salah dengan seseorang yang ingin menjadi lebih pandai, memperoleh ilmu pengetahuan, dan mengerti akan dirinya sendiri dan dunia?"

"Jika kau membaca Alkitabmu, Charlie, kau akan tahu bahwa tidak seharusnya orang mengetahui sesuatu lebih dari yang diberikan kepadanya oleh Tuhan. Buah itu terlarang bagi manusia. Charlie, jika kau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kaulakukan kautahu, seperti perbuatan setan mungkin belum terlambat untuk segera keluar dari pengaruhnya. Mungkin kau bisa kembali menjadi lelaki sederhana seperti dulu."

"Aku tidak akan kembali, Fanny. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku hanya seperti seorang lelaki yang terlahir buta tapi kemudian diberi kesempatan untuk melihat cahaya. Itu bukan dosa. Tidak lama lagi akan ada jutaan orang seperti diriku di seluruh dunia. Ilmu pengetahuan dapat mewujudkan itu, Fanny."

Fanny mulai menatap hiasan pengantin pria dan wanita di atas kue pernikahan yang sedang dihiasnya. Aku hampir tidak dapat melihat gerak bibirnya ketika dia berbisik, "Mengerikan sekali ketika Adam dan Hawa memakan buah dari pohon pengetahuan. Mengerikan sekali ketika mereka melihat diri mereka telanjang, lalu belajar tentang berahi dan malu. Kemudian mereka diusir dari surga, lalu pintu gerbang itu tertutup bagi mereka. Jika tidak karena itu, tidak seorang pun dari kita yang menjadi tua, sakit, kemudian mati."

Aku tidak punya kata-kata lagi untuk Fanny, atau yang lainnya. Tidak seorang pun dari mereka mau menatap mataku. Aku masih merasakan ancaman itu. Sebelum ini, mereka bisa menertawai aku, merendahkan aku karena ketidaktahuan dan kebodohanku. Sekarang, mereka membenciku karena pengetahuan dan pengertianku. Mengapa? Demi Tuhan, apa yang mereka inginkan dariku?

Kecerdasan ini telah menimbulkan batas antara aku dan semua orang yang kukenal dan kucintai, membuatku terusir keluar dari pabrik roti ini. Sekarang, aku merasa jauh lebih kesepian daripada yang pernah kualami. Aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika mereka menempatkan Algernon kembali ke kandang besar dengan beberapa ekor tikus biasa lainnya. Apakah tikus-tikus itu akan melawannya?

25 Mei Jadi beginilah caranya seseorang bisa membenci dirinya sendiri karena tahu ia telah melakukan kesalahan tapi tidak mampu menghentikannya. Bertentangan dengan keinginanku, tanpa kusadari aku pergi ke apartemen Alice. Dia terkejut tetapi membiarkan aku masuk.

"Kau basah kuyup, Charlie. Air mengucur dari wajahmu."

"Hujan. Baik untuk bunga-bunga."

"Masuklah. Akan kuambilkan kau handuk. Kau bisa kena radang paru-paru."

"Kau satu-satunya yang bisa kuajak bicara," kataku. "Biarkan aku di sini."

"Aku punya kopi yang baru kujerang di atas kompor. Duduklah dan keringkan tubuhmu lalu kita bicara." Aku melihat ke sekeliling ketika Alice mengambil kopi. Ini untuk pertama kalinya aku berada di dalam apartemennya. Ada perasaan yang menyenangkan, tetapi ada sesuatu yang mengganggu di ruangan ini.

Segalanya rapi. Patung-patung kecil dari porselin tertata apik di tepian jendela, semua menghadap ke satu arah. Dan bantal-bantal kecil yang bisa dilempar-lemparkan di sofa bahkan masih rapi terbungkus plastik yang melindungi kain pelapisnya. Di atas dua meja terletak majalah-majalah, tertumpuk rapi sehingga judulnya terlihat dengan jelas. Pada satu meja tertumpuk The Report, The Saturday Review, dan The New Yorker, sedangkan di meja lainnya ada Mademoiselle, House Beautiful, serta Readers Digest.

Pada dinding yang jauh di sana, di seberang sofa, tergantung sebuah lukisan reproduksi karya Piccaso, Mother and Child, yang berbingkai indah. Lalu tepat di

seberangnya, di atas sofa, ada sebuah lukisan bangsawan zaman Renaisans, bertopeng, dengan sebilah pedang di tangan, sedang melindungi seorang gadis berpipi kemerahan yang ketakutan. Melihat semuanya itu, aku menilai ruangan ini salah atur. Seolah Alice tidak dapat menentukan siapa dirinya dan di dunia mana dia ingin hidup.

"Kau tidak pergi ke lab beberapa hari ini," seru Alice dari dapur. "Profesor Nemur mencemaskanmu."

"Aku tidak dapat menghadapi mereka," sahutku. "Aku tahu tidak ada alasan bagiku untuk merasa malu, tetapi aku merasa kosong jika tidak pergi bekerja setiap hari, tidak melihat toko kue itu, oven-ovennya, dan orang-orang di sana. Itu terlalu berat bagiku. Kemarin malam, dan malam sebelumnya, aku mimpi buruk, aku tenggelam."

Dia meletakkan nampan di tengah-tengah meja kopi serbetnya terlipat segi tiga, dan kue-kue kecilnya ditempatkan di piring bulat bergambar. "Kau tidak perlu begitu serius menanggapinya, Charlie. Mimpimu itu tidak ada hubungannya denganmu."

"Sudah kukatakan begitu pada diriku sendiri tetapi tidak ada gunanya. Orang-orang itu s elama bertahun-tahun adalah keluargaku. Aku merasa seperti dibuang keluar dari rumahku sendiri."

"Nah, itu dia," katanya. "Itu menjadi sebuah pengulangan simbolis dari pengalaman masa kanak-kanakmu. Kau ditolak oleh orang tuamu sendiri... disingkirkan...."

"Ya, Tuhan! Jangan repot-repot memberi nama-nama manis untuk kejadian-kejadian itu. Masalahnya adalah, sebelum aku terlibat dalam proyek percobaan ini, aku

mempunyai beberapa orang teman, orang-orang yang peduli padaku. Sekarang aku takut...."

"Kau masih mempunyai teman-teman."

"Tidak sama lagi."

"Takut adalah reaksi yang wajar."

"Takutku ini lebih daripada reaksi normal. Aku sudah pernah merasa takut sebelum ini. Takut diikat karena tidak mengalah pada Norma, takut melewati Jalan Howells tempat sekelompok remaja pernah menggodaku dan mendorong-dorongku. Aku juga takut pada guru sekolahku, Bu Libby, yang mengikat kedua tanganku sehingga aku tidak akan berbuat iseng dengan barang-barang di atas mejaku. Tetapi semua hal itu nyata sesuatu yang wajar jika aku takut karenanya. Tetapi teror karena takut ditendang keluar dari pabrik roti itu tidak nyata, sebuah ketakutan yang tidak kumengerti."

"Tenangkan dirimu."

"Kau tidak merasakan kepanikan itu."

"Tetapi, Charlie, hal itu sudah diduga akan terjadi. Kau adalah perenang baru yang dipaksa menumpangi rakit yang akan tenggelam, lalu kau takut kehilangan pijakan kayu di bawah kakimu. Pak Donner baik padamu, dan kau terlindungi olehnya sepanjang tahun-tahun itu. Terusir dari pabrik roti dengan cara seperti itu ternyata merupakan guncangan yang lebih besar daripada yang kaukira."

"Mengerti hal itu secara intelektual tidak membantuku. Aku sekarang tidak bisa duduk sendirian di dalam kamarku. Aku berkeliaran ke jalan-jalan di sembarang waktu, siang atau malam, tidak tahu apa yang kucari.... Aku berjalan hingga aku tersesat... lalu aku tiba di luar pabrik roti itu. Kemarin malam aku berjalan dari

Washington Square ke Central Park, dan aku tidur di taman. Apa sih yang kucari?"




0 Response to "Charlie"

Post a Comment