Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Charlie 3

Ia benar. Aku tidak punya alasan untuk mengeluh. Mereka telah memikirkan segalanya. Warren merupakan tempat yang masuk akal seperti lemari pembeku, tempat aku dapat dibuang seumur hidupku.

"Setidaknya Warren bukan tempat pembakaran," kataku.

"Apa?"

"Lupakan. Hanya lelucon pribadi." Lalu aku teringat suatu gagasan. "Katakan padaku, mungkinkah aku mengunjungi Warren, maksudku masuk ke sana sebagai seorang tamu?"

"Ya, kukira mereka selalu menerima kunjungan tamu... kunjungan teratur ke panti sebagai hubungan dengan masyarakat luar. Tetapi untuk apa?"

"Aku ingin melihatnya saja. Aku harus tahu apa yang akan terjadi ketika aku masih cukup mampu mengendalikan diri, agar dapat melakukan sesuatu sebelum aku harus menjadi penghuni di sana. Tolong usahakan... secepat mungkin."

Aku dapat melihat kekesalannya terhadap gagasan

kunjunganku ke Warren. Seolah aku sedang memesan peti matiku untuk kucoba sebelum aku menghuninya. Tetapi kemudian aku tidak dapat menyalahkannya. Sebab, ia tidak menyadari bahwa itu membantu menemukan jati diriku arti keberadaanku sepenuhnya meliputi pengetahuan tentang kemungkinan masa depanku, seperti juga masa laluku, ke mana tujuanku, sekaligus dari mana asalku. Walau kami tahu labirin itu berujungkan kematian (hal yang tidak selalu kuketahui belum lama berselang, Charlie, si remaja dalam diriku, mengira kematian hanya dapat terjadi pada orang lain), kini aku tahu bahwa jalan yang kupilih pada papan labirin itu telah membuatku menjadi seperti sekarang ini. Aku tidak lagi sekadar sesuatu, tetapi juga sebuah cara untuk menjadi sesuatu salah satu dari banyak cara. Malam itu dan hari-hari selanjutnya aku tenggelam dalam naskah-naskah psikologi: klinis, kepribadian, psikometris, pembelajaran, psikologi eksperimen, psikologi hewan, psikologi fisiologis, perilaku, kesatuan, analitis, fungsional, dinamis, orga-nismis, dan segala faksi, aliran, serta sistem pemikiran kuno dan modern. Yang mematahkan semangat adalah gagasan yang mendasari keyakinan para psikolog tentang kecerdasan, kenangan, dan pembelajaran manusia, yakni segala impian khayali.

Fay ingin datang dan menjengukku di lab, tetapi sudah kukatakan agar dia tidak melakukannya. Satu-satunya yang paling kuhindari sekarang adalah pertemuan antara Alice dan Fay. Sudah cukup banyak hal yang harus kupikirkan, jangan lagi ditambahi.

LAPORAN KEMAJUAN 16

14- Juli Ini bukan hari yang tepat untuk berkunjung

ke Warren mendung dan hujan rintik-rintik serta mungkin saja itu menambah perasaan tertekanku ketika aku memikirkannya. Atau mungkin juga karena aku sedang mengolok-olok diriku sendiri dan gagasan kemungkinan akan dikirim ke sana lagilah yang menggangguku. Aku meminjam mobil Burt. Alice ingin ikut bersamaku, tetapi aku harus melihat Panti Warren sendiri saja. Aku tidak mengatakan kepada Fay aku pergi ke sana.

Perjalanan ke daerah pertanian komunitas Warren di Long Island memakan waktu satu setengah jam. Aku tidak memiliki kesulitan menemukan tempat tersebut: daerah muram yang lintang-pukang terbuka ke arah dunia luar hanya melalui dua gerbang berpilar beton yang mengapit jalan sempit, dan pelat kuningan yang digosok dengan baik bertulisan "Sekolah Pendidikan dan Panti Negeri Warren".

Tanda di sisi jalan menunjukkan 15 MPH, maka aku mengendarai mobil lambat-lambat melewati blok-blok gedung mencari kantor administrasi.

Sebuah traktor melintasi padang rumput menuju ke arahku. Selain pengemudi, ada dua orang lainnya yang bergantungan di bagian belakang. Aku mengeluarkan kepalaku dari jendela mobil dan berseru, "Bisa tolong beri tahu di mana kantor Pak Winslow?"

Pengemudi itu menghentikan traktornya, lalu menunjuk ke kiri dan ke depan. "Rumah sakit utama. Belok ke kiri lalu ke kanan."

Aku tidak dapat menghindari tatapan seorang lelaki muda di belakang traktor, yang bergantungan di sebuah pegangan. Ia tidak bercukur, dan samar-samar terlihat senyuman hampa. Ia mengenakan topi pelaut dengan tepian ditarik ke bawah dengan kekanakan untuk

menutupi matanya, padahal tidak ada sinar matahari yang menyilaukan. Aku menangkap tatapannya sejenak matanya lebar, penuh tanya tetapi aku harus mengalihkan tatapanku. Ketika traktor itu mulai berjalan lagi, aku dapat melihat dari kaca spionku lelaki muda itu terus menatapku, dengan rasa ingin tahu. Tatapannya membuatku kesal... karena ia mengingatkanku pada Charlie.

Aku terkejut ketika tahu bahwa kepala psikolognya adalah seorang lelaki yang masih begitu muda, jangkung, dan ramping dengan kesan letih di wajahnya. Tetapi, mata birunya yang tegas menunjukkan sebuah kekuatan di balik ekspresi kemudaannya.

Ia mengantarku berkeliling area tersebut dengan mobilnya sendiri, dan menunjukkan bangsal rekreasi, rumah sakit, sekolah, kantor administrasi, dan gedung bata dua tingkat yang disebutnya pondok tempat para pasien tinggal.

"Aku tidak melihat adanya pagar di sekitar Warren," kataku.

"Memang tidak ada, hanya sebuah pintu gerbang di jalan masuk dan pagar tanaman untuk menghalangi orang- orang iseng yang ingin tahu."

"Tetapi bagaimana kau menjaga... mereka... supaya tidak... berkeliaran... dan meninggalkan area?"

Ia menggerakkan bahunya dan tersenyum. "Kami tidak bisa, sungguh. Beberapa di antara mereka memang berkeliaran, tetapi beberapa di antaranya bisa pulang."

"Kalian tidak mencarinya?"

Ia menatapku seolah mencoba menerka apa yang ada di balik pertanyaanku. "Tidak. Jika mereka mendapat masalah, kami akan segera tahu dari orang-orang di

kota... atau polisi membawa mereka kembali." "Dan jika tidak?"

"Jika kami tidak mendengar kabar tentang mereka, atau dari mereka, kami menganggap mereka telah mampu menyesuaikan diri dengan baik di luar. Kau harus mengerti, Pak Gordon, ini bukan sebuah penjara. Kami diminta oleh negara agar berusaha semampu kami membawa kembali pasien-pasien kami, tetapi kami tidak diperlengkapi untuk secara ketat selalu mampu mengawasi empat ribu orang. Mereka yang kabur merupakan jenis dungu akut kami tidak banyak lagi memiliki jenis seperti itu. Sekarang kami lebih banyak merawat pasien dengan kerusakan otak yang memerlukan perawatan di dalam ruangan yang terus-menerus tetapi si dungu akut dapat bergerak dengan lebih bebas. Setelah seminggu atau lebih berada di luar, kebanyakan mereka kembali begitu tahu tidak ada apa-apa untuk mereka di luar panti. Dunia tidak menghendaki mereka dan mereka akan segera tahu itu."

Kami keluar dari mobil dan berjalan menuju salah satu dari pondok tersebut. Tembok di bagian dalam dilapisi keramik putih, sedangkan gedung itu sendiri beraroma desin- fektan. Lobi lantai pertama terbuka ke ruang rekreasi yang dipenuhi kira-kira tujuh puluh limaanak lelaki yang sedang duduk bersama sambil menunggu lonceng tanda makan siang berbunyi. Yang langsung menarik perhatianku adalah salah satu dari anak-anak lelaki yang lebih besar, yang duduk di sebuah kursi di sudut sambil mengayun-ayun seo-rang anak lelaki lainnya mungkin berusia empat belas atau lima belas tahun dan menimang-nimangnya dalam pelukan. Mereka menoleh ketika kami masuk, lalu beberapa dari mereka yang berani

mendekat dan menatapku.

"Jangan hiraukan mereka," kata kepala panti itu ketika melihat ekspresi wajahku. "Mereka tidak akan melukaimu."

Seorang perempuan yang bertanggung jawab di lantai itu, perempuan bertulang besar, cantik, dengan lengan kemeja digulung dan apron dari bahan katun yang menutupi rok putihnya yang dikanji, mendatangi kami. Pada ikat pinggangnya tergantung sekumpulan kunci yang bergoyang-goyang ketika dia bergerak. Ketika dia berpaling aku baru melihat bahwa separuh wajahnya tertutup oleh tanda lahir yang besar berwarna merah anggur.

"Aku tidak menduga akan ada tamu hari ini, Ray," katanya. "Biasanya kau membawa tamu-tamumu pada Kamis."

"Ini Pak Gordon, Thelma, dari Universitas Beekman. Ia hanya ingin melihat-lihat dan ingin tahu apa saja yang kita lakukan di sini. Aku tahu tamu tidak akan mengganggumu."

"Ya," dia tergelak, "tetapi hari Rabu waktunya kami membalik-balik kasur. Pondok kami akan beraroma lebih baik pada hari Kamis."

Aku sadar, perempuan itu selalu berusaha tetap berada di sebelah kiriku sehingga noda di wajahnya tetap ersembunyi. Dia membawaku melintasi asrama, ruang binatu, gudang, dan ruang makan sekarang sudah diatur dan menunggu makanan diantar dari toko makanan pusat. Thelma tersenyum ketika berbicara, dan ekspresi serta tatanan rambutnya yang tinggi di atas kepalanya membuatnya seperti seorang penari Lautrec. Tetapi dia tidak pernah menatapku langsung. Aku bertanya-tanya

seperti apa hidupku di bawah pengawasan seorang perempuan seperti ini.

"Mereka cukup baik di gedung ini," katanya. "Tetapi kau pasti dapat membayangkan. Tiga ratus anak lelaki tujuh puluh lima di setiap lantai dengan hanya lima orang dari kami yang mengawasi mereka. Tidak mudah membuat mereka patuh. Tetapi di sini jauh lebih baik dibandingkan dengan di pondok berantakan. Pegawai di sana tidak ada yang tahan lama. Mengurus bayi-bayi, kau tidak akan keberatan. Namun, ketika mereka sudah besar dan belum bisa mengurus diri sendiri, itu bisa menjijikkan sekali."

"Kau sangat baik tampaknya," kataku. "Anak-anak lelaki itu beruntung memilikimu sebagai pengawas rumah."

Dia tertawa ramah, memperlihatkan gigi putihnya, walau masih terus menatap lurus ke depan. "Tidak lebih baik ataupun lebih buruk dibanding yang lainnya. Aku sangat mencintai anak-anak lelaki itu. Ini memang bukan pekerjaan mudah, tetapi setimpal, ketika kau ingat betapa mereka memerlukanmu." Senyuman itu menghilang se-saat. "Anak-anak yang normal bertumbuh terlalu cepat, lalu berhenti membutuhkanmu... hidup sendiri... melupakan siapa yang mencintai dan merawat mereka. Tetapi anak-anak ini memerlukan segala yang dapat kauberikan... sepanjang hidup mereka." Dia tertawa lagi, malu pada keseriusannya. "Bekerja di sini memang berat, tetapi sepadan."

Kami turun kembali, ke tempat Winslow menunggu kami. Ketika lonceng tanda makan siang berbunyi, anak-anak lelaki itu memenuhi ruang makan. Aku melihat anak lelaki besar, yang memeluk anak lelaki yang lebih kecil di atas pangkuannya, sekarang menggandengnya menuju meja.

"Luar biasa," kataku sambil menunjuk ke arah mereka dengan anggukanku.

Winslow juga mengangguk. "Jerry yang besar, dan yang kecil Dusty. Kami sering melihat yang seperti itu di sini. Ketika tidak ada seorang pun yang mempunyai waktu bagi mereka, kadang-kadang mereka cukup tahu untuk menjalin hubungan serta kasih sayang dengan sesamanya."

Ketika kami melewati pondok lainnya dalam perjalanan menuju sekolah, aku mendengar jeritan yang disusul dengan lolongan, lalu disambut dan diikuti oleh dua atau tiga suara lainnya. Ada jeruji pada jendela-jendala pondok tersebut.

Baru kali ini sejak tadi pagi, Winslow tampak gelisah. "Pondok dengan pengamanan khusus," ia menjelaskan. "Mereka itu terbelakang dengan gangguan emosional. Jika ada kesempatan, mereka bisa melukai diri mereka sendiri atau yang lainnya. Kami menempatkan mereka di Pondok K. Terkunci selamanya."

"Pasien-pasien dengan gangguan emosional dirawat di sini? Bukankah mereka seharusnya dirawat di rumah sakit psikiatris?"

"Oh, ya tentu," sahutnya, "tetapi sulit mengontrolnya. Beberapa orang, dengan gangguan emosional yang tidak menentu, tidak kambuh setelah beberapa waktu mereka berada di sini. Yang lainnya dikirim oleh pengadilan, dan kami tidak punya pilihan selain menerima mereka walau kami sebenarnya tidak punya ruangan untuk mereka. Masalah yang sesungguhnya adalah tidak adanya ruangan bagi siapa pun, di mana pun. Kau tahu berapa panjang daftar tunggu kami? Seribu empat ratus. Dan kami mungkin memiliki kamar untuk dua puluh lima

hingga tiga puluh saja bagi mereka pada akhir tahun nanti."

"Sekarang, di mana keseribu empat ratus anak itu?"

"Di rumah mereka. Di luar, sedang menunggu lowongan di sini atau keadaan yang lainnya. Kau tahu, masalah kamar kami tidak seperti masalah rumah sakit biasa yang terlalu penuh. Pasien-pasien kami biasanya datang ke sini untuk tinggal seumur hidup mereka."

Ketika kami tiba di gedung sekolah baru, yang berupa gedung berlantai satu dan berstruktur kaca serta beton, dengan jendela-jendela bergambar yang besar, aku mencoba membayangkan seperti apa rasanya berjalan di lorong ini sebagai seorang pasien. Aku membayangkan diriku di tengah-tengah antrean lelaki dan anak-anak lelaki yang sedang menunggu memasuki kelas. Mungkin aku akan menjadi orang yang mendorong anak lelaki lainnya yang duduk di atas kursi roda, atau yang menggandeng anak lain, atau yang menimang-nimang temannya yang lebih kecil.

Di dalam salah satu kelas perajin kayu, tempat sekelompok anak lelaki yang lebih tua sedang membuat bangku di bawah pengawasan seorang guru, mereka berkumpul mengelilingi kami, sambil menatapku dengan rasa ingin tahu, ketika kami tiba. Guru mereka meletakkan gergajinya dan berjalan ke arah kami.

"Ini Pak Gordon dari Universitas Beekman," kata Winslow. "Ingin melihat beberapa pasien kita. Ia ingin membeli tempat ini."

Guru itu tertawa dan melambai ke arah murid-muridnya. "Wah, jika ia beli gedung ini, ia harus mengambil kami juga. Dan ia harus memberi kami kayu lebih banyak lagi untuk kami kerjakan."

Ketika ia membawaku mengelilingi bengkelnya, aku sadar, betapa tenangnya anak-anak ini. Mereka terus bekerja, mengampelas, memernis bangku-bangku yang baru saja jadi, tetapi mereka tidak bicara.

"Mereka ini adalah anak-anak pendiam, kau tahu," katanya, seolah merasakan pertanyaanku yang tak terucap, "tuli bisu."

"Kami mempunyai seratus enam orang di sini," Winslow menjelaskan, "sebagai penelitian khusus yang disponsori oleh pemerintah federal."

Mengerikan sekali! Apa lagi kekurangan mereka dibandingkan dengan orang lain. Keterbelakangan mental, bisu tuli tapi masih sanggup dengan rajin membuat bangku-bangku.

Salah satu dari anak-anak lelaki itu yang sedang mengencangkan sebuah balok kayu dalam sebuah catok berhenti bekerja, dan menyentuh lengan Winslow, lalu menunjuk ke sebuah sudut tempat sejumlah benda yang sedang dijemur di atas rak-rak pajang. Anak lelaki itu juga menunjuk sebuah alas lampu yang terletak di rak kedua, lalu menunjuk dirinya sendiri. Benda itu jelek sekali, tidak tegak, tambalan dempulnya terlihat, sedangkan pernisnya terlalu tebal dan tidak rata. Winslow dan gurunya memujinya dengan antu-sias, sehingga anak itu tersenyum bangga. Ia lalu menatapku, menunggu pujianku juga.

"Ya," aku mengangguk, sambil menggerakkan mulutku dengan sangat jelas ketika mengucapkan "bagus sekali... sangat indah". Aku mengatakan itu karena ia membutuhkannya, tetapi aku merasa hampa. Anak lelaki itu tersenyum padaku, lalu ketika kami beranjak pergi, ia mendekat lagi dan menyentuh lenganku sebagai tanda salam perpisahan. Aku seperti tercekik, setelah itu

dengan susah payah aku berusaha mengendalikan perasaanku hingga kami berada di lorong lagi.

Kepala sekolah itu pendek, gemuk, seorang perempuan keibuan yang memberiku tempat duduk di depan kartu-kartu bertulis rapi, yang memperlihatkan berbagai jenis pasien, jumlah tugas fakultatif bagi setiap kategori, dan pelajaran yang mereka pelajari.

"Tentu saja," dia menjelaskan, "kami tidak menerima anak-anak dengan IQ yang lebih tinggi lagi. Mereka sudah ada yang merawat yang mempunyai IQ enam puluh dan tujuh puluh lebih banyak lagi di sekolah-sekolah kota dalam kelas-kelas khusus, atau ada fasilitas komunitas untuk merawat mereka. Pada umumnya yang ada pada kami sudah mampu hidup di luar, di panti-panti asuhan, asrama, dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sederhana di pertanian, atau melakukan pekerjaan kasar di pabrik-pabrik atau binatu...."

"Pabrik roti," aku mengusulkan.

Dia mengerutkan keningnya. "Ya, kukira mereka mungkin saja mampu bekerja di sana. Sekarang, kami juga membagi anak-anak kami (aku menyebut mereka semua anak-anak, tidak peduli berapa usia mereka, mereka semua anak-anak di sini), kami membagi mereka atas rapi dan tidak rapi. Hal itu sangat mempermudah pengurusan pondok-pondok mereka jika mereka dapat dirawat sesuai dengan tingkat keterbelakangan mereka. Beberapa anak yang tidak rapi, yakni pasien dengan kasus kerusakan otak yang parah, diletakkan di tempat tidur bayi. Dan mereka akan dirawat seperti itu sepanjang hidup mereka...."

"Atau hingga ilmu pengetahuan menemukan cara

untuk membantu mereka."

"Oh," dia tersenyum, lalu menjelaskan padaku dengan berhati-hati. "Aku khawatir itu tidak mungkin tertolong."

"Tidak ada yang tidak mungkin tertolong."

Dia menatapku dengan tidak pasti sekarang. "Ya, ya, tentu saja, kau benar. Kita harus punya harapan."

Aku membuatnya gugup. Lalu aku tersenyum pada diriku sendiri ketika aku ingat bagaimana jadinya jika mereka kemudian membawaku ke sini lagi sebagai salah seorang dari anak-anaknya. Apakah aku akan tergolong yang rapi atau yang tidak?

Kembali ke kantor Winslow, kami minum kopi sambil bercakap-cakap tentang pekerjaannya. "Tempat ini menyenangkan," katanya. "Kami tidak mempunyai ahli jiwa dalam staf kami hanya seorang konsultan di luar yang datang sekali seminggu. Tetapi sama saja. Semua orang di staf psike mengabdi pada pekerjaannya. Aku bisa saja menyewa seorang ahli jiwa, tetapi dengan biaya yang harus kubayar. Aku dapat menyewa dua orang psikolog yang tidak takut memberikan sebagian diri mereka kepada orang-orang ini."

"Apa yang kaumaksud dengan 'sebagian diri mereka'?"

Ia menatapku tajam sesaat, lalu dari keletihannya tersirat kemarahan. "Banyak orang yang mau saja memberikan uang atau barang mereka, tetapi hanya sedikit yang mau memberikan waktu dan kasih sayang mereka. Itulah yang aku maksud." Suaranya menjadi serak. Lalu ia menunjuk sebuah botol susu bayi yang kosong di atas rak buku di seberang ruangan.

"Kau lihat botol susu itu?"

Aku mengatakan kepadanya bahwa aku telah bertanya-tanya tentang botol susu itu sejak kami masuk ke kantornya.

"Ya, berapa banyak orang yang kau kenal yang bersedia mendekap seorang lelaki dewasa dalam pelukannya dan memberinya susu dari botol? Dan mau membiarkan seorang pasien buang air kecil atau besar di tubuhnya? Kau tampak terkejut. Kau tidak bisa mengerti, bukan, dari atas menara gadingmu? Apa yang kauketahui soal dikucilkan oleh setiap orang, seperti yang dialami oleh pasien-pasien kami?

Aku tidak dapat menahan senyuman, tapi ia salah mengerti. Ia langsung berdiri dan mengakhiri percakapan kami tiba-tiba. Jika kelak aku datang ke sini lagi untuk tinggal, dan ia tahu seluruh kisahku, aku yakin ia akan mengerti. Ia termasuk orang yang mau mengerti akan hal itu. "

Ketika aku keluar dari Warren, aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Perasaan mendung dingin terasa di mana-mana di sekitarku sebuah perasaan pasrah. Kami tidak membicarakan soal rehabilitasi atau penyembuhan atau mengirimkan orang-orang tersebut ke dunia luar lagi suatu hari kelak. Tidak seorang pun yang berbicara tentang harapan. Perasaan hidup dalam kematian atau lebih buruk lagi, hidup tanpa merasa betul-betul hidup dan mengerti. Jiwa akan layu sejak awal dan menanti ajal dengan menatap waktu dan ruang setiap hari.

Aku bertanya-tanya tentang ibu pengawas dengan noda merah besar di wajahnya, lalu guru gagap di bengkel, juga kepala sekolah yang keibuan, serta psikolog muda dengan wajah letih. Kuharap aku tahu bagaimana mereka bisa bekerja dan mengabdikan diri pada otak-otak

yang sunyi itu. Seperti anak lelaki yang menimang bocah lelaki lainnya yang lebih muda, setiap kali ia akan menemukan kepuasan dalam memberi sebagian dari dirinya kepada siapa saja yang lebih berkekurangan.

Dan bagaimana dengan hal-hal yang tidak diperlihatkan padaku?

Aku mungkin akan segera datang ke Warren lagi, untuk menghabiskan sisa hidupku dengan yang lain... menunggu.

15 Juli Aku telah menghilangkan keinginanku untuk mengunjungi ibuku. Aku ingin bertemu dengannya, tetapi aku tidak pergi ke sana. Tidak, hingga aku yakin apa yang akan terjadi pada diriku. Pertama-tama aku akan melihat bagaimana pekerjaanku itu berlangsung dan apa yang akan kutemukan.

Algernon tidak mau lagi berlari di labirin; motivasi umum sudah berkurang pengaruhnya. Aku singgah lagi untuk menjenguknya, dan kali ini Strauss sedang ada di sana juga. Baik Strauss maupun Nemur tampak gusar ketika melihat Burt memaksa Algernon. Aneh juga melihat gumpalan kecil berbulu lembut putih tergeletak di atas meja sementara Burt memaksakan makanan masuk ke tenggorokannya dengan menggunakan alat tetes mata.

Jika ia terus-menerus begitu, mereka akan mulai memberinya makanan melalui suntikan. Melihat betapa Algernon menggeliat-geliat di bawah ikatan kecil sore itu, aku merasa ikatan itu mengikat lengan dan tungkaiku sendiri. Aku mulai ingin muntah dan tercekik. Aku harus keluar dari lab untuk mencari udara segar. Aku harus berhenti menyamakan diriku dengan Algernon.

Aku pergi ke Bar Murray untuk minum beberapa ge-

las. Lalu aku menelepon Fay dan kami berkeliling dari bar yang satu ke bar yang lainnya. Fay kesal karena aku tidak mengajaknya pergi berdansa lagi. Dia juga marah dan meninggalkan aku tadi malam. Dia tidak mengerti pekerjaanku dan tidak tertarik untuk mengerti. Ketika aku mencoba menjelaskan kepadanya, dia tidak berusaha menutupi kebosanannya. Dia betul-betul tidak peduli, aku pun tidak bisa menyalahkannya. Tampaknya Fay hanya tertarik pada tiga hal: dansa, melukis, dan seks. Dan satu-satunya yang benar-benar dapat kami nikmati bersama hanyalah seks. Aku bodoh ketika aku mencoba membuatnya tertarik pada pekerjaanku. Maka dia pergi berdansa tanpa aku. Dia mengatakan padaku bahwa pada suatu malam, dia bermimpi datang ke apartemenku dan menyalakan api membakari semua buku dan catatanku, lalu kami berdansa di sekitar api yang menyala. Aku harus berhati-hati. Dia menjadi posesif. Aku baru saja menyadarinya malam ini bahwa rumahku sudah mulai menyerupai tempat tinggalnya berantakan. Aku harus mengurangi minumku.

16 Juli Alice berkenalan dengan Fay tadi malam. Aku tadinya khawatir apa yang akan terjadi jika mereka bertemu langsung. Alice datang mengunjungiku setelah dia tahu tentang keadaan Algernon dari Burt. Dia tahu apa itu artinya bagiku, lagi pula dia masih merasa bertanggung jawab karena telah mendorongku agar mau melakukan percobaan itu.

Kami minum kopi sambil berbincang hingga larut malam. Aku tahu Fay pergi berdansa di Stardust Ballroom, jadi aku tidak menduga dia akan pulang begitu awal. Tetapi kira-kira pukul satu empat puluh lima pagi hari,

kami dikejutkan oleh kemunculan Fay yang tiba-tiba di tangga darurat. Dia mengetuk, mendorong jendelaku yang setengah terbuka, dan masuk dengan berdansa ke ruangan sambil membawa sebuah botol.

"Aku merusak pestamu," katanya. " Membawa minuman penyegarku sendiri."

Aku telah bercerita tentang Alice yang bekerja pada proyek itu di universitas. Aku juga sudah menceritakan soal Fay kepada Alice lebih dulu sehingga mereka tidak terkejut ketika bertemu. Tetapi, setelah beberapa detik berbasa-basi, mereka mulai berbicara tentang seni dan aku. Mereka tidak terlalu peduli padaku yang dianggap sedang berada di belahan dunia yang lain. Mereka saling menyukai.

"Aku akan mengambil kopi," kataku, sambil berjalan menuju dapur meninggalkan mereka berdua.

Ketika aku kembali, Fay telah melepas sepatunya dan duduk di lantai, sambil meneguk gin langsung dari botolnya. Dia sedang menjelaskan kepada Alice bahwa sejauh yang dia tahu tidak ada yang lebih berguna bagi tubuh manusia selain mandi sinar matahari, dan bahwa koloni nudis merupakan jawaban bagi masalah moral di dunia.

Alice tertawa histeris atas usul Fay supaya mereka bergabung saja dengan koloni nudis itu. Alice kemudian membungkuk untuk menerima minuman yang ditawarkan Fay kepadanya.

Kami duduk berbincang hingga fajar, lalu aku berkeras mengantarkan Alice pulang. Ketika dia memprotesku karena itu tidak perlu, Fay mendesak dan mengatakan bahwa Alice bodoh jika keluar sendirian di kota pada jam-jam seperti itu. Jadi aku turun dan memanggil taksi.

"Ada sesuatu pada diri Fay," kata Alice dalam perjalanan pulang. "Aku tidak tahu apa itu. Keterusterangannya, keterbukaan, dan kepercayaannya, dia tidak memen- tingkan dirinya sendiri...." Aku setuju.

"Dan dia mencintaimu," kata Alice.

"Tidak. Dia mencintai semua orang," aku berkeras. "Aku hanyalah si tetangga yang tinggal di seberang gang."

"Kau tidak jatuh cinta kepadanya?"

Aku menggelengkan kepalaku. "Kau satu-satunya perem- puan yang pernah kucintai."

"Jangan bicara soal itu, ya."

"Kalau begitu kau memotongku dari sumber pembicaraan yang penting."

"Hanya satu yang paling kukhawatirkan, Charlie. Kebiasaan minummu. Aku sudah pernah mendengar soal mabukmu."

"Katakan pada Burt untuk membatasi penelitian dan laporan-laporannya pada data eksperimen saja. Aku tidak mau ia meracunimu sehingga kau memusuhiku. Aku dapat mengatur minumku."

"Aku pernah mendengar kalimat itu."

"Tetapi tidak pernah dariku." "Itulah satu-satunya hal yang membuatku kurang menyukai Fay," katanya. "Dia telah membuatmu minum dan dia ikut campur dalam pekerjaanmu."

"Aku juga dapat mengatasi hal itu." "Pekerjaan itu sekarang menjadi penting, Charlie. Tidak saja bagi dunia dan jutaan orang yang tidak kita kenal, tetapi juga bagimu. Charlie, kau harus mengatasi hal ini untuk dirimu sendiri juga. Jangan biarkan seorang pun menghalangimu."

"Nah, sekarang yang sebenarnya sudah keluar," kataku menggodanya. "Kau ingin aku tidak terlalu sering bertemu dengannya."

"Aku tidak mengatakan begitu."

"Tetapi itu yang kaumaksudkan. Jika dia mencampuri pekerjaanku, kita berdua tahu bahwa aku harus berhenti menemuinya lagi sepanjang hidupku."

"Tidak, aku pikir kau tidak perlu berhenti menemuinya. Dia baik untukmu. Kau memerlukan seorang perempuan yang dekat denganmu, seperti Fay."

"Kau bisa baik untukku."

Dia memalingkan wajahnya. "Tidak seperti Fay." Lalu dia kembali menatapku. "Malam ini aku datang ke apartemenmu untuk membencinya. Aku ingin bertemu dengannya sebagai musuh, pelacur tolol yang kaupacari, dan aku punya rencana besar untuk merusak hubungan kalian serta menyelamatkan dirimu darinya, bukan dari dirimu sendiri. Tetapi, sekarang, setelah aku bertemu dengannya, aku sadar aku tidak punya hak untuk menilai kebiasaannya. Kupikir dia baik untukmu. Itu melegakan aku. Aku menyukainya walau aku tidak setuju padanya. Tetapi, di luar itu semua, jika kau sering minum bersamanya dan menghabiskan waktumu bersamanya untuk pergi ke klub malam dan kabaret, dia menghalangimu. Dan masalah itu hanya kau yang bisa mengatasinya."

"Ada lagi selain itu?" kataku sambil tertawa.

"Kau mengerti hingga di situ? Kau betul-betul berhubungan dengannya begitu dalam, kurasa."

"Tidak terlalu dalam."

"Kau bercerita padanya tentang dirimu?"

"Tidak."

Tanpa setahu Alice, aku dapat melihat betapa dirinya menjadi tenang. Dengan menyimpan rahasiaku sendiri, artinya aku tidak benar-benar terikat pada Fay. Kami berdua tahu itu, hebat seperti dirinya, Fay tidak akan pernah mengerti.

"Aku memerlukan dirinya," kataku, "dan dia juga memerlukanku. Karena kami tinggal berseberangan, membuat hal itu menjadi lebih mudah, itu saja. Tetapi aku tidak akan menyebutnya cinta... tidak seperti yang ada di antara kita berdua."

Alice menatap ke bawah, pada tangannya, sambil mengerutkan keningnya. "Aku tidak yakin aku tahu apa yang ada di antara kita."

"Sesuatu yang begitu dalam dan jelas sehingga Charlie di dalam diriku ketakutan setiap kali ada kemungkinan aku akan bercinta denganmu."

"Dan tidak dengan Fay?"

Aku menggerakkan bahuku. "Karena itulah aku tahu, bersama Fay tidaklah penting. Begitu juga bagi Charlie, sehingga ia tidak harus menjadi panik."

"Bagus!" Alice tertawa. "Ironis sekali. Ketika kau membi- carakan Charlie seperti itu, aku membencinya karena ia telah menghalangi kita. Kau pikir ia akan membiarkan kau... membiarkan kita...."

"Aku tidak tahu. Kuharap begitu."

Aku meninggalkannya di depan pintu. Kami bersalaman, tapi anehnya, itu terasa lebih dekat dan intim dibanding- kan dengan dekapan.

Aku pulang dan bercinta dengan Fay, walau terus memikirkan Alice.

Juli 2 Bekerja sepanjang hari. Walau Fay mem-

protesku, aku tetap membawa tempat tidur lipat ke lab. Dia menjadi terlalu posesif dan membenci pekerjaanku. Kupikir dia dapat bertenggang rasa dengan perempuan lain, tetapi tidak dengan keasyikan ini. Pekerjaanku adalah sesuatu yang tidak dapat dimengertinya. Aku takut hal itu akan menjadi seperti ini, tetapi aku tidak sabar dengannya sekarang. Aku cemburu pada setiap waktuku yang tidak kugunakan untuk bekerja menjadi tidak sabar terhadap siapa saja yang mencoba mencuri waktuku.

Walau sebagian besar waktu menulisku terpakai untuk menulis catatan-catatan yang kusimpan dalam map terpisah, lama-kelamaan aku harus melibatkan juga perasaan dan pikiranku di luar kebiasaan belaka.

Kalkulus kecerdasan merupakan penelitian yang menye- nangkan. Dalam arti, inilah masalah yang telah kuperhati- kan sepanjang hidupku. Di sinilah tempat penerapan segala pengetahuan yang telah kudapatkan.

Waktu meminta dimensi yang lain sekarang kerja dan penyerapan dalam pencarian sebuah jawaban. Dunia di sekelilingku dan masa laluku tampak begitu jauh dan berubah, seolah waktu serta ruang menjadi sejenis gula-gula yang ditarik, diputar, lalu dipelintir sehingga tidak berbentuk lagi. Satu-satunya hal yang nyata adalah kandang-kandang dan tikus-tikus serta peralatan lab di sini di lantai empat gedung utama.

Tidak ada malam atau siang. Aku harus meringkas penelitian seumur hidup menjadi beberapa minggu saja. Aku tahu aku harus istirahat, tetapi aku tidak bisa hingga aku tahu kebenaran tentang apa yang sedang terjadi.

Alice merupakan bantuan yang hebat bagiku. Dia membawakan aku roti lapis dan kopi, tanpa menuntut apa

pun.

Tentang pandanganku: segalanya menjadi tajam dan jelas, setiap sensasi menjadi lebih tinggi dan bercahaya sehingga warna-warna merah, kuning, dan biru berkilauan. Tidur di sini mempunyai efek aneh. Aroma hewan-hewan laboratorium, anjing-anjing, kera-kera, tikus, memilinku kembali memasuki kenangan-kenangan, dan menjadi sulit bagiku mengetahui apakah aku sedang mengalami sebuah sensasi baru atau mengenang masa lalu. Tidak mungkin mengatakan proporsi apa kenangan itu serta apa yang ada di sini dan kini sehingga sebuah kumpulan aneh terbentuk dari kenangan dan kenyataan; masa lalu dan masa kini; reaksi untuk rangsangan dalam ruangan ini. Seolah segala hal yang telah kupelajari tercampur menjadi sebuah kristal semesta yang berputar di depanku sehingga aku dapat melihat segala fasetnya memantul dalam semburan sinar yang indah...

Seekor kera sedang duduk di tengah kandangnya, menatapku dengan mata mengantuknya, sambil mengusap-usap pipinya dengan tangannya yang seperti tangan orang tua yang gemetar... ciii... ciii... ciii... lalu mencelat menabrak kawat kandang, naik ke ayunan di atasnya tempat kera yang lainnya duduk menatap ke udara dengan dungu. Berkemih, buang tinja, buang angin, menatapku, dan tertawa... Ciii... ciii... ciii....

Lalu kembali melonjak-lonjak, melompat, meloncat naik-turun, lalu berayun, dan mencoba meraih ekor kera lainnya. Tetapi kera yang ada di jeruji terus mengayunkan ekornya, tanpa peduli, sehingga tak teraih. Kera baik... kera cantik... dengan mata besar dan ekor mengibas. Aku boleh memberinya kacang...? Tidak, orang itu akan marah

sekali. Tanda itu bertulisan tidak boleh memberi makan hewan-hewan. Itu seekor simpanse. Aku boleh menimangnya? Tidak. Aku ingin menimang chip a zee. Tidak apa-apa, ayo kita lihat gajah.

Di luar, kerumunan orang yang berpakaian musim semi disirami cerah matahari.

Algernon tergeletak di atas kotorannya sendiri, tidak bergerak, dan aromanya belum pernah setajam ini. Lalu bagaimana denganku?

28 Juli Fay mempunyai seorang kekasih baru. Aku pulang ke rumah tadi malam untuk menemuinya. Aku masuk ke kamarku dulu mengambil sebuah botol kemudian menuju ke tangga darurat. Tetapi, untunglah aku melongok dulu sebelum masuk ke dalam. Mereka sedang bersama di atas sofa. Anehnya, aku tidak peduli. Aku bahkan merasa nyaris lega.

Aku kembali ke lab untuk bekerja bersama Algernon. Walau sedang lesu, ia mempunyai momen. Secara berkala, ia mau berlari satu putaran labirin, tetapi ketika ia gagal dan menemui jalan buntu, ia bereaksi beringas. Ketika aku masuk ke lab, aku melongok ke dalam. Ia waspada dan mendekatiku seolah ia tahu aku yang datang. Ia bersemangat untuk bekerja, lalu ketika aku meletakkannya melalui pintu jebakan di labirin dengan jala dari kawat, ia bergerak dengan baik di sepanjang alur ke arah kotak hadiah. Dua kali ia berlari di labirin dengan sukses. Ketiga kalinya, setelah berjalan separuh jalan, ia berhenti di persimpangan, kemudian dengan sebuah gerakan melintir ia mengambil belokan yang salah. Aku dapat melihat apa yang akan terjadi. Aku ingin mengulurkan tanganku dan mengambilnya sebelum larinya

berakhir di gang gelap. Tetapi aku mengurungkan niatku dan terus menonton saja.

Ketika Algernon tahu ia sedang bergerak di jalan asing, ia memperlambat larinya. Tapi perilakunya menjadi tidak teratur, berhenti, mudur dua kali, berputar, kemudian maju lagi hingga akhirnya ia tiba di jalan buntu yang diberi tahu dengan kejutan listrik ringan sehingga ia tahu dirinya telah melakukan sebuah kesalahan. Pada titik ini, ia tidak memutar tubuhnya kembali untuk menemukan sebuah jalan pilihan. Tapi ia mulai bergerak memutar, mencicit-cicit seperti sebuah jarum piringan hitam yang menggores-gores di atas galur piringan hitam. Ia melemparkan dirinya lagi ke dinding labirin, lagi dan lagi, lalu meloncat, berputar ke belakang dan jatuh, kemudian melemparkan diri lagi. Dua kali cakarnya tersangkut pada jaring kawat di atasnya sehingga membuatnya mencicit liar, berusaha melepaskan diri, kemudian mencoba berlari lagi dengan sia-sia. Lalu ia berhenti dan menggulingkan diri menjadi bola kecil yang keras.

Ketika aku memungutnya, ia tidak berusaha melepas gulungan tubuhnya, melainkan tetap dalam keadaan seperti itu, sangat mirip dengan pingsan katatonik. Ketika aku menggerakkan kepalanya atau kaki-kakinya, tetap saja seperti lilin. Aku meletakkannya kembali di kandangnya dan mengawasinya hingga ia siuman dan mulai bergerak normal kembali.

Yang tidak kuketahui adalah penyebab kemundurannya apakah ini kasus khusus? Sebuah reaksi karena terkurung? Atau ada prinsip umum dasar kegagalan untuk keseluruhan prosedur? Aku harus bekerja di luar aturan.

Jika aku dapat menemukannya, dan jika hal itu menambah, walau hanya satu memo informasi, apa pun

tentang keterbelakangan mental yang telah ditemukan dan kemungkinan menolong yang lainnya, seperti diriku sendiri, aku akan merasa puas. Apa pun yang terjadi pada diriku, aku akan hidup dalam seribu kehidupan normal karena apa yang mungkin kutambahkan kepada mereka yang belum dilahirkan. Itu cukup.

31 Jalin Aku gelisah sekali. Aku merasakannya. Mereka semua berpikir aku sedang membunuh diriku sendiri dalam hal ini. Tetapi, mereka tidak mengerti bahwa aku sedang hidup di sebuah puncak kejernihan dan keindahan yang selama ini tidak pernah kuketahui ada. Setiap bagian dari diriku disesuaikan dengan pekerjaanku. Aku menengelamkan diriku sepanjang hari, dan pada malam hari pada saat sebelum aku jatuh tertidur gagasan-gagasan meledak di kepalaku seperti kembang api. Tidak ada kegembiraan yang lebih besar dibandingkan dengan semburan solusi bagi sebuah masalah.

Yang luar biasa adalah bahwa segalanya dapat terjadi untuk mengambil kekuatan yang meluap itu, semangat yang mengisi semua yang kukerjakan. Seolah segala pengetahuan yang telah ku serap selama bulan-bulan terakhir telah menyatu dan mengangkatku ke puncak cahaya dan pengertian. Inilah keindahan, cinta, dan kebenaran, semuanya bergulung menjadi satu. Inilah kegembiraan. Dan sekarang, setelah aku menemukannya, bagaimana aku bisa menyerahkannya? Hidup dan kerja merupakan hal yang paling hebat yang dapat dimiliki seseorang. Aku jatuh cinta pada apa yang sedang kukerjakan, karena jawaban masalah itu ada di sini, dalam benakku, dan segera sangat segera akan menyembur

menjadi kesadaran. Biarkan aku mengatasi masalah ini. Aku berdoa kepada Tuhan supaya menjadikan ini jawaban yang kumau, tetapi jika bukan, aku akan menerima pertanyaan apa pun dan mencoba mensyukuri apa yang kumiliki.

Kekasih baru Fay adalah pelatih dansa dari Stardust Ballroom. Aku tidak bisa benar-benar menyalahkan Fay karena waktuku sangat sedikit untuk bisa bersamanya.

11 Agustus Aku menghadapi jalan buntu selama dua hari terakhir ini. Tidak ada apa-apa. Aku pastilah telah membelok ke jalan yang salah. Sebab, aku telah mendapat jawaban untuk banyak pertanyaan, tetapi bukan untuk pertanyaan yang paling penting: bagaimana kemunduran Algernon mempengaruhi hipotesis dasar eksperimen ini?

Untungnya, aku tahu cukup banyak proses pikiran sehingga aku tidak perlu terlalu memikirkan kebuntuan ini. Aku tidak panik ataupun menyerah (atau yang lebih buruk lagi, memaksakan jawaban yang tidak mau muncul), tetapi aku mengalihkan pikiranku dari masalah itu sejenak dan membiarkannya mengendap. Aku telah berjalan sejauh yang kumampu dalam sebuah tingkat kesadaran, dan sekarang bergantung pada operasi misterius di bahwa tingkat kesadaran. Itu merupakan salah satu hal yang tidak dapat dijelaskan, betapa segala yang telah kupelajari dan kualami ditujukan pada masalah itu. Mendesak terlalu kuat hanya akan membuat segalanya membeku. Berapa banyak masalah besar yang tidak terpecahkan karena orang tidak punya pengetahuan yang cukup, atau tidak cukup yakin dalam proses kreatif dan tidak cukup percaya diri, untuk melepaskan seluruh piki-

ran guna mengatasinya?

Maka, kemarin aku memutuskan untuk menyisihkan pekerjaanku sementara waktu dan pergi ke pesta koktail Nyonya Nemur. Pesta itu diadakan untuk menghormati dua anggota dewan Yayasan Welberg yang telah berperan dalam pendanaan proyek suaminya. Aku berencana mengajak Fay, tetapi dia berkata dia punya kencan dan dia lebih suka pergi berdansa.

Aku mengawali malam itu dengan niat kuat untuk menjadi seorang yang menyenangkan dan memperoleh banyak teman. Tetapi, hari-hari ini aku mengalami kesulitan dalam mendekati orang lain. Aku tidak tahu apakah masalahnya ada padaku atau pada mereka, tetapi setiap usahaku untuk bercakap-cakap dengan mereka biasanya berakhir dalam waktu satu atau dua menit saja, dan penghalang keakraban itu pun meninggi. Apakah karena mereka takut padaku? Atau apakah sebenarnya mereka tidak peduli, demikian juga aku tidak peduli pada mereka?

Aku mengambil segelas minuman dan berjalan mengelilingi ruangan besar itu. Ada sekelompok orang yang duduk dan bercakap-cakap, sejenis kelompok yang tidak mungkin kucampuri. Akhirnya, Nyonya Nemur membawaku ke sudut dan mengenalkan aku dengan Hyram Harvey, salah satu anggota dewan. Nyonya Nemur adalah seorang perempuan menarik di awal empat puluhan tahun usianya, berambut pirang, dengan riasan wajah lengkap, dan berkuku panjang merah. Lengannya menyelinap di lengan Harvey. "Bagaimana dengan penelitianmu?" Dia ingin tahu.

"Seperti yang diharapkan. Aku sedang mencoba meme- cahkan sebuah masalah pelik sekarang."

Dia menyalakan rokoknya dan tersenyum padaku. "Aku tahu bahwa semua orang di proyek bersyukur kau memutuskan bergabung dan membantu. Tetapi aku membayangkan kau akan jauh lebih baik jika mengerjakan proyekmu sendiri. Pastilah kau merasa agak bosan hanya melanjutkan proyek seseorang dibanding menggarap sesuatu yang telah kaususun dan kauciptakan sendiri."

Dia sangat cerdas, memang. Dia tidak ingin Hyram Harvey melupakan betapa suaminya telah menyumbangkan sesuatu yang besar. Aku tidak dapat menolak untuk melambungkannya lagi padanya. "Tidak ada seorang pun yang benar-benar memulai sesuatu yang baru, Ibu Nemur. Semua orang membangun di atas kegagalan orang lain. Dalam ilmu pengetahuan tidak ada yang benar-benar asli. Apa yang disumbangkan oleh masing-masing orang pada ilmu pengetahuan itulah yang dihitung."

"Tentu saja," sahutnya, mengarah pada tamunya yang lebih tua, bukan padaku. "Sayang sekali Pak Gordon tidak bergabung lebih awal untuk membantu mengatasi masalah-masalah final yang kecil." Dia lalu tertawa. "Tetapi kemudian... oh, aku lupa, kau tidak semestinya melakukan percobaan psikologis."

Harvey tertawa, dan kupikir aku lebih baik diam. Bertha Nemur tidak akan membiarkan aku menang. Lagi pula, jika percakapan ini dilanjutkan, akan berakhir dengan sangat tidak menyenangkan.

Aku melihat Dr Strauss dan Burt sedang berbicara dengan orang lain dari Yayasan Welberg George Raynor. Strauss berkata, "Masalahnya, Pak Raynor, yakni mendapatkan cukup dana untuk menyelesaikan proyek seperti ini tanpa men-jadi sangat bergantung pada uang.

Ketika kegunaan ditujukan untuk tujuan-tujuan khusus, kami tidak dapat benar-benar menjalankannya."

Raynor menggelengkan kepalanya dan melambaikan cerutu besarnya pada kelompok kecil yang mengelilinginya. "Masalah yang sesungguhnya adalah meyakinkan dewan bahwa penelitian semacam itu memiliki nilai kepraktisan."

Strauss menggelengkan kepalanya. "Maksudku adalah uang ini ditujukan untuk penelitian. Tidak seorang pun yang dapat mengetahui sebelumnya apakah proyek ini akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Biasanya hasil merupakan hal yang negatif. Kami mempelajari sesuatu yang tidak dan itu sama pentingnya dengan yang hasilnya positif bagi orang yang akan melanjutkan proyek tersebut. Setidaknya ia tahu apa yang tidak boleh ia lakukan."

Ketika aku mendekati kelompok itu, aku melihat istri Raynor, yang sudah dikenalkan padaku sebelumnya. Dia perempuan cantik, berambut hitam, berusia tiga puluhan. Dia menatapku, atau tepatnya menatap ujung kepalaku seolah mengharapkan sesuatu tersembur dari situ. Aku balas menatapnya, sehingga dia menjadi tidak nyaman lalu mengalihkan tatapannya kembali pada Dr Strauss. "Tetapi bagaimana dengan proyek yang baru itu? Kau menduga akan dapat menggunakan teknik tersebut pada orang terbelakang lainnya? Apakah itu sesuatu yang dapat digunakan oleh dunia?"

Strauss menggerakkan bahunya dan mengangguk ke arahku. "Masih terlalu awal untuk mengatakannya. Suamimu membantu kami dengan menempatkan Charlie dalam proyek itu. Banyak hal yang bergantung pada hasil yang diperolehnya."

"Tentu saja," kata Pak Raynor menambahkan, "kami semua mengerti kebutuhan penelitian murni di lapangan seperti lapangan kalian itu. Tetapi itu akan menjadi sesuatu yang menguntungkan citra kita jika kita dapat menghasilkan metode yang betul-betul dapat digunakan untuk mencapai hasil permanen di luar laboratorium. Dan jika kita dapat menunjukkan pada dunia bahwa ada hasil nyata yang baik dari metode tersebut."

Aku hendak mulai bicara, tetapi Strauss, yang tentunya telah menduga apa yang akan kukatakan, berdiri dan meletakkan lengannya di bahuku. "Kami semua di Beekman merasa bahwa proyek yang sedang dikerjakan oleh Charlie sangat penting. Pekerjaannya sekarang adalah mene- mukan kebenaran ke mana pun arahnya. Kami menyerah- kan pada yayasan kalian untuk menghadapi masyarakat, untuk mendidik masyarakat."

Ia tersenyum pada Raynor dan mengajakku pergi dari situ.

"Itu," kataku, "bukan yang ingin kukatakan."

"Aku pun tidak berpikir seperti itu," ia berbisik seraya memegangi sikuku. "Tetapi aku dapat melihat dari kilauan matamu, kau siap mencincang mereka. Dan aku tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi, bukan?"

"Kukira tidak," aku setuju, lalu mengambil martini

lagi.

"Kau tidak apa-apa minum begitu banyak?"

"Seharusnya tidak boleh, tetapi aku sedang mencoba untuk santai dan tampaknya aku salah memilih cara."

"Ya, tenang saja," sahutnya, "dan jangan cari masalah malam ini. Orang-orang ini tidak bodoh. Mereka tahu bagaimana perasaanmu terhadap mereka, dan walaupun kau tidak membutuhkan mereka, kami

membutuhkan mereka."

Aku melambai untuk memberi hormat padanya. "Aku akan coba, tetapi kau sebaiknya menjaga Ibu Raynor agar menjauh dariku. Aku akan menyergapnya jika dia menggoyangkan bokongnya sekali lagi ke arahku."

"Ssst!" ia mendesis. "Dia akan mendengarmu."

"Ssst!" Aku menirunya. "Maaf. Aku akan duduk di sini saja di sudut dan menjauh dari semua orang."

Kabut mulai menghalangiku, tetapi aku masih dapat melihat orang-orang menatapku. Kupikir aku sedang menggumam sendiri tetapi terlalu keras. Aku tidak ingat apa yang kuucapkan. Sesaat kemudian, aku merasa orang-orang meninggalkan pesta tidak seperti biasanya, lebih cepat. Tetapi, aku tidak terlalu memperhatikan hingga Nemur datang dan berdiri di depanku.

"Kaupikir siapa dirimu, sehingga kau bisa bersikap begitu? Aku belum pernah melihat kekasaran yang tidak dapat diterima seperti itu seumur hidupku."

Aku berusaha berdiri. "Sekarang, apa yang bisa membuatmu berkata seperti itu?"

Strauss mencoba menghalangiku, tetapi ia berbicara dengan gugup, "Aku yang bicara, karena kau tidak tahu berterima kasih atau tidak mengerti keadaan. Lagi pula, kau berutang budi pada mereka, kalau kau tidak berutang pada kami... dalam banyak hal."

"Sejak kapan seekor kelinci percobaan harus berterima kasih?" teriakku. "Aku sudah melayani kebutuhan kalian, dan sekarang aku mencoba memperbaiki kesalahan kalian, jadi bagaimana hal itu bisa membuatku berutang budi pada siapa pun?"

Strauss mulai bergerak untuk menyudahi, tetapi Nemur menghentikannya. "Tunggu sebentar. Aku ingin

mendengar ini. Kurasa ini waktunya kita menyelesaikannya."

"Ia terlalu banyak minum," kata istri Nemur.

"Tidak terlalu banyak," Nemur mendengus. "Ia masih berbicara dengan cukup jelas. Aku sudah banyak memberi. Ia membahayakan jika tidak benar-benar menghancurkan proyek kita, dan sekarang aku ingin mendengar dari mulutnya bagaimana pembelaannya."

"Oh, lupakan saja," sahutku. "Kau tidak benar-benar ingin mendengar kebenaran."

"Tetapi aku benar-benar mau, Charlie. Setidaknya kebenaran menurut versimu. Aku ingin tahu jika kau merasa berterima kasih atas segala yang telah kami lakukan untukmu kemampuanmu yang berkembang, hal-hal yang telah kaupelajari, dan pengalaman yang kaumiliki. Atau kaupikir kau merasa lebih baik sebelum ini?"

"Dalam beberapa hal, ya."

Jawabanku sangat mengejutkan mereka.

"Aku telah mempelajarinya beberapa bulan terakhir ini," kataku. "Tidak hanya tentang Charlie Gordon, tetapi tentang kehidupan dan orang-orang. Aku telah menemukan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar peduli pada Charlie Gordon, apakah ia seorang yang dungu atau jenius. Jadi apa bedanya?"

"Oh," Nemur tertawa. "Kau merasa kasihan pada dirimu sendiri. Apa yang kauharapkan? Eksperimen ini diperkirakan untuk meningkatkan kecerdasanmu, tidak untuk membuatmu terkenal. Kami tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi pada dirimu secara pribadi, dan kau telah berkembang dari seorang lelaki muda yang ramah, terbelakang, menjadi seorang bajingan yang congkak, egois, dan antisosial."

"Masalahnya, Pak Profesor yang baik, kau ingin membuat seseorang menjadi cerdas tapi harus bisa kaukurung di kandang dan dipamerkan ketika dibutuhkan untuk mendapatkan kehormatan yang kaucari. Kendalanya adalah aku seorang manusia."

Nemur marah, dan aku dapat melihat ia kebingungan antara menyudahi pertengkaran dan mencoba sekali lagi menjatuhkanku. "Kau tidak adil, seperti biasanya. Kau tahu, kami selalu memperlakukan kau dengan baik... melakukan apa pun yang dapat kami lakukan untukmu."

"Segalanya, kecuali memperlakukanku sebagai manusia. Kau telah membual soal waktu dan lagi kauanggap aku bukan apa-apa sebelum aku dioperasi. Aku tahu mengapa. Karena jika aku dulnya bukan apa-apa, kau bertanggung jawab menciptakan aku, dan itu membuatmu menjadi tuanku, majikanku. Kau membenci kenyataan bahwa aku tidak memperlihatkan rasa terima kasihku setiap jam dalam seharinya. Ya, percaya atau tidak, aku bersyukur. Tetapi, apa pun yang kaulakukan padaku sesuatu yang hebat tidak memberimu hak untuk memperlakukanku seperti hewan percobaan. Aku sekarang seorang manusia, demikian juga Charlie sebelum ia berjalan ke lab itu. Kau tampak terkejut. Ya, tiba-tiba kita menemukan bahwa aku dari dulu adalah seorang manusia bahkan sebelumnya dan itu menantang keyakinanmu bahwa seseorang dengan IQ kurang dari 100 tidak berhak mendapat perhatian. Profesor Nemur, kukira ketika kau melihatku, kesadaranmu mengganggumu."

"Aku sudah mendengar cukup banyak," bentaknya. "Kau mabuk."

"Ah, tidak," aku meyakinkannya. "Karena jika aku mabuk, kau akan melihat Charlie Gordon yang lain dari

Charlie Gordon yang sudah kaukenal. Ya, Charlie Gordon lainnya yang berjalan dalam kegelapan masih ada bersama kita. Di dalam diriku."

"Ia menjadi gila," kata Nyonya Nemur. "Ia berbicara seolah ada dua Charlie Gordon. Kau sebaiknya segera merawatnya, Dokter."

Dr Strauss menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tahu maksudnya. Hal itu muncul juga pada sesi terapi. Sebuah pemisahan yang khusus telah terjadi kira-kira dalam sebulan terakhir ini. Ia memiliki beberapa pengalaman sebagai pribadi yang terpisah dan berbeda yang masih terus hidup dalam alam sadarnya seolah Charlie yang lama berjuang untuk mengendalikan tubuh...."

"Tidak! Aku tidak pernah mengatakan itu! Bukan berjuang untuk mengendalikan. Charlie memang di sana, tetapi tidak berjuang bersamaku. Hanya menunggu. Ia tidak pernah berusaha mengambil alih atau mencoba menghalangiku melakukan apa pun yang ingin kulakukan." Lalu aku ingat Alice, aku memperbaiki kalimatku. "Ya, hampir tidak pernah. Charlie yang rendah hati dan tidak menonjolkan diri, yang kaubicarakan beberapa saat yang lalu, hanya menunggu dengan sabar. Aku akan mengakui, aku menyukainya dalam beberapa hal, tetapi bukan karena kerendah hatiannya dan tidak menonjolkan dirinya. Aku sudah mempelajari betapa manusia yang mengerti sangat sedikit.

"Kau sudah menjadi simbol," kata Nemur. "Itulah arti segala kesempatan itu bagimu. Kegeniusanmu telah merusak keyakinanmu pada dunia dan teman-temanmu."

"Itu tidak seluruhnya benar," kataku lirih. "Tetapi, aku telah mengetahui bahwa kecerdasan saja tidak berarti apa-apa. Di sini, di universitasmu, kecerdasan,

pendidikan, dan pengetahuan, semuanya telah menjadi pujaan besar. Tetapi, aku tahu sekarang ada satu hal yang telah kalian lupakan: kecerdasan dan pendidikan yang tidak diperlembut dengan rasa kasih manusia tidak akan berharga sama sekali."

Aku mengambil martini lagi dari bufet di dekatku lalu melanjutkan khotbahku.

"Jangan salah mengerti aku," kataku. "Kecerdasan adalah satu dari bakat manusia yang terbesar. Tetapi, terlalu sering sebuah penelitian untuk pengetahuan berubah menjadi penelitian untuk cinta. Aku perlihatkan kepada kalian sebagai sebuah hipotesis: kecerdasan tanpa kemampuan memberi dan menerima kasih sayang mengakibatkan kerusakan mental dan moral, mengarah ke neurosis, dan bahkan kemungkinan psikosis. Dan kukatakan juga bahwa pikiran yang menampung dan terlibat sebagai sebuah akhiran yang egoistis, ke arah hubungan manusia yang tertutup, hanya dapat mengakibatkan kekerasan dan luka.

"Ketika aku masih terbelakang, aku punya banyak teman. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa. Oh, aku kenal banyak orang. Banyak dan banyak orang. Tetapi aku tidak punya teman sejati seorang pun. Tidak seperti yang kumiliki ketika aku bekerja di pabrik roti. Tidak ada teman di dunia ini yang berarti segalanya bagiku, dan tidak ada seorang pun yang menganggap aku segalanya." Aku tahu bahwa pidatoku menjadi tidak jelas lalu ada rasa ringan di kepalaku. "Itu tidak mungkin benar, kan?" aku menekankan. "Maksudku, bagaimana menurutmu? Kaupikir itu... itu benar?"

Strauss mendekat dan meraih lenganku.

"Charlie, mungkin sebaiknya kau berbaring seben-

tar. Kau terlalu banyak minum."

"Mengapa kalian semua menatapku seperti itu? Aku salah bicara? Aku bicara sesuatu yang salah? Aku tidak bermaksud mengatakan apa pun yang tidak benar."

Aku mendengar kata-kata itu terucap dengan berat dari mulutku, seolah wajahku penuh dengan novocaine. Aku mabuk betul-betul tak terkendali. Pada saat itu, hampir seperti jentikan sebuah tombol, aku melihat pemandangan di ambang pintu ke ruang makan. Dan aku dapat melihat diriku sendiri sebagai Charlie yang lain berdiri di sana di dekat bufet, dengan minuman di tangan, dan mata membelalak serta ketakutan.

"Aku selalu berusaha melakukan hal-hal yang benar. Ibuku selalu mengajariku agar bersikap baik kepada orang lain karena kata dia, dengan begitu kau tidak akan mendapat masalah dan kau akan selalu mempunyai teman."

Aku dapat melihat dari caranya berkedut dan menggeliat, ia harus pergi ke kamar mandi. Oh, Tuhanku, tidak di sana di depan mereka. "Permisi, kumohon," katanya, "aku harus pergi ke...." Dalam keadaan loyo karena mabuk, aku berhasil menariknya menjauh dari mereka dan membawanya ke kamar mandi.

Ia tiba tepat pada waktunya, dan setelah beberapa detik aku kembali tenang. Aku menempelkan pipiku pada dinding, kemudian membasuh wajahku dengan air dingin. Masih gemetar, tetapi aku tahu aku akan baik-baik saja.

Ketika itulah aku melihat Charlie mengawasiku dari cermin di atas wastafel. Aku tidak tahu bagaimana aku mengetahui itu Charlie, dan bukan aku. Ada sesuatu pada tatapan tumpul dan bertanya-tanya di wajahnya. Matanya lebar dan ketakutan seolah dengan satu kata

dariku ia akan berputar dan berlari masuk jauh ke kedalaman dimensi dunia cermin. Tetapi ia tidak berlari. Ia hanya balas menatapku, dengan mulut terbuka dan rahangnya tergantung lepas.

"Halo," sapaku, "nah, akhirnya kita bisa berhadapan."

Ia mengerutkan keningnya sedikit seolah ia tidak mengerti maksudku, seakan ia menginginkan penjelasan tetapi tidak tahu bagaimana menanyakannya. Lalu, menyerah, ia tersenyum kering dari sudut mulutnya.

"Tetap di sana, tepat di depanku," aku berteriak. "Aku muak dan bosan karena kauintai dari ambang pintu dan tempat gelap sehingga aku tidak dapat menangkapmu."

Ia menatapku.

"Siapa kau, Charlie?"

Tidak ada jawaban, hanya senyuman.

Aku mengangguk dan ia balas mengangguk.

"Lalu, apa maumu?" tanyaku.

Ia menggerakkan bahunya.

"Oh, ayolah," kataku, "kau pastilah menginginkan sesuatu. Kau telah mengikuti aku terus...."

Ia melihat ke bawah dan aku melihat tanganku untuk menemukan apa yang sedang dilihatnya. "Kau menginginkan ini kembali, bukan? Kau mau aku keluar dari sini sehingga kau dapat kembali dan mengambil milikmu lagi. Aku tidak menyalahkanmu. Ini tubuhmu dan otakmu dan hidupmu, walau kau tidak mampu menggunakannya dengan baik. Aku tidak punya hak untuk mengambilnya darimu. Tidak seorang pun. Siapa yang bilang cahayaku lebih baik daripada kegelapanmu? Siapa yang bilang kematian lebih baik daripada kegelapanmu. Aku ini siapa yang bisa mengatakan...."

"Tetapi akan kukatakan padamu hal lain, Charlie." Aku berdiri dan mundur dari cermin, "Aku bukan temanmu. Aku musuhmu. Aku tidak akan menyerahkan kecerdasanku tanpa sebuah perlawanan. Aku tidak bisa kembali ke dalam gua itu. Tidak ada tempat tujuan bagiku sekarang, Charlie. Maka, kau harus menjauh. Tetaplah berada di dalam bawah sadarku tempatmu, dan jangan ikuti aku lagi. Aku tidak akan menyerah tidak peduli apa kata mereka. Tidak peduli betapa sunyinya keadaan ini. Aku akan mempertahankan apa yang telah mereka berikan padaku dan melakukan hal-hal hebat bagi dunia serta orang lain seperti diri-mu."

Ketika aku memutar tubuhku ke arah pintu, aku merasa bahwa ia mengulurkan tangannya ke arahku. Tetapi semuanya itu konyol. Aku hanya mabuk dan itu hanyalah bayanganku sendiri di cermin.

Ketika aku keluar, Strauss ingin membawaku ke sebuah taksi, tetapi aku berkeras bisa pulang sendiri. Yang kuperlukan adalah sedikit udara segar, dan aku tidak mau seorang pun mengikutiku. Aku ingin berjalan sendirian.

Aku melihat diriku seperti yang sesungguhnya kini. Nemur telah mengatakannya. Aku bajingan congkak, egois. Tidak seperti Charlie, aku tidak mampu menjalin pertemanan atau memikirkan orang lain dan masalah mereka. Aku tertarik pada diriku, dan hanya pada diriku sendiri. Ketika lama berada di depan cermin itu aku melihat diriku melalui mata Charlie melihat pada diriku dan menemukan aku telah menjadi seperti apa sesungguhnya. Dan aku merasa malu.

Berjam-jam berikutnya aku telah berada di depan apartemenku, lalu menaiki tangga dan berjalan di keremangan gang. Melewati kamar Fay, aku dapat melihat

masih ada cahaya menyala. Aku melangkah ke arah pintunya. Tetapi ketika aku hampir mengetuk, kudengar suara tawa kecil Fay dan suara seorang lelaki menjawabnya.

Aku terlambat untuk itu.

Aku memasuki apartemenku tanpa suara dan berdiri di sana sebentar dalam gelap, tidak berani bergerak, dan tidak berani menyalakan lampu. Hanya berdiri di sana dan merasakan ada kolam beriak di mataku.

Apa yang telah terjadi pada diriku? Mengapa aku sendirian di dunia ini?

4.30 pagi Pemecahan masalah itu datang padaku, ketika aku menjelang tertidur. Tercerahkan! Segalanya cocok satu sama lain, dan aku melihat apa yang seharusnya kuketahui sejak awal. Jangan tidur lagi. Aku harus kembali ke lab dan menguji solusi ini dengan hasil-hasil dari komputer. Ini, akhirnya, adalah kecacatan eksperimen itu. Aku telah menemukannya.

Sekarang, aku akan menjadi apa?

26 Agustus SURAT KEPADA PROFESOR NEMUR (SALINAN)

Profesor Nemur yang baik,

Di bawah sampul terpisah aku mengirimimu selembar salinan laporan dengan judul "Efek dari Algernon-Gordon: Sebuah Penelitian Struktur dan Fungsi Kecerdasan yang Ditingkatkan", yang mungkin saja dipublikasikan jika kau menilainya cocok.

Seperti yang kauketahui, eksperimen-eksperimenku sudah selesai. Aku telah menyimpulkan dalam laporanku segala rumusanku, berikut analisis matematis dari data

dalam lampiran. Tentu saja, ini seharusnya dibuktikan.

Hasilnya jelas. Semakin sensasional aspek-aspek peningkatan kecerdasanku yang cepat itu, semakin tidak dapat mengaburkan kenyataan-kenyataan. Tehnik operasi dan suntikan yang dikembangkan olehmu dan Dr. Strauss harus dipandang memiliki sedikit atau tidak memiliki kelayakan pelaksanaan, pada masa sekarang, bagi peningkatan kecerdasan manusia.

Menilik kembali data Algernon: walau ia muda secara jasmani, ia telah mundur secara mental. Aktivitas motornya yang rusak; kemunduran umum fungsi jaringan kelenjar; dan percepatan kehilangan koordinasi menunjukkan dengan jelas adanya amnesia progresif.

Seperti yang kuperlihatkan dalam laporanku, informasi di atas dan sindrom kemerosotan mental serta jasmani dapat diduga dengan hasil-hasil petunjuk statistik dengan aplikasi formula baruku. Walau perangsangan operasi yang kita kemukakan berdua menghasilkan penggiatan dan percepatan segala proses mental, kekurangannya, yang dengan bebas kusebut "Efek Algernon-Gordon", merupakan perpanjangan logis dari percepatan kecerdasan secara keseluruhan. Hipotesisnya di sini membuktikan mungkin bisa dijelaskan dengan cara paling sederhana dengan kalimat di bawah ini:

RANGSANGAN BUATAN PADA KECERDASAN MEMBURUK PADA KECEPATAN WAKTU BERBANDING LANGSUNG DENGAN JUMLAH PENINGKATANNYA.

Selama aku masih dapat menulis, aku akan terus mencatat pikiran dan gagasanku dalam laporan kemajuan ini. Itu merupakan salah satu dari sedikit kesenangan dalam kesendirian, dan pasti penting bagi kelengkapan penelitian ini. Namun, dengan segala petunjuk itu,

kemunduran mentalku akan terjadi dengan cepat sekali.

Aku telah memeriksa dan melakukan pemeriksaan ulang dataku belasan kali dengan harapan menemukan kesalahan, tetapi dengan menyesal kukatakan hasil itu tetap berlaku. Tapi aku bersyukur atas sedikit yang dapat kutambahkan untuk pengetahuan fungsi pikiran manusiawi dan hukum yang mengatur peningkatan buatan kecerdasan manusia.

Pada malam yang lalu, Dr Strauss mengatakan bahwa kegagalan eksperimental, sanggahan terhadap sebuah teori, sama pentingnya dengan keberhasilan percobaan bagi kemajuan pembelajaran. Aku tahu sekarang bahwa pernyataan itu benar. Tapi aku menyesal sumbanganku sendiri pada bidang ini harus terletak di atas puing-puing pekerjaan staf ini, dan terutama mereka yang telah melakukan begitu banyak hal padaku.

Salam hormat,

Charles Gordon

Terlampir: laporan Salinan: Dr Strauss Yayasan Welberg

1 September Aku tidak boleh panik. Tidak lama lagi akan ada tanda-tanda ketidakstabilan dan kepikunan, gejala awal kematian. Apakah aku akan mengenali tanda-tanda itu sendiri? Yang dapat kulakukan sekarang hanya terus mencatat keadaan mentalku seobyektif mungkin, mengingat inilah catatan psikologis yang akan menjadi yang pertama, dan mungkin juga yang terakhir.

Pagi ini Nemur menyuruh Burt membawa laporanku dan data statistik ke Universitas Hallston untuk meminta

orang penting di sana membuktikan hasil yang kuperoleh dan aplikasi formula-formulaku. Di sepanjang akhir minggu mereka menyuruh Burt meneliti eksperimen dan kartu-kartu metodologisku. Aku seharusnya tidak merasa terganggu karena tindakan pencegahan mereka. Lagi pula, aku hanya seorang Charlie yang datang kemudian, dan sulit bagi Nemur menerima kenyataan bahwa pekerjaanku mungkin melebihi pekerjaannya. Ia mulai percaya pada mitos otoritasnya sendiri, lagi pula aku orang luar.

Aku tidak benar-benar peduli lagi atas apa yang dipikirkannya, atau apa yang mereka pikirkan tentang masalah itu. Tidak ada waktu lagi. Pekerjaanku sudah selesai, data sudah masuk, yang belum kulakukan hanyalah melihat apakah aku telah memproyeksikan dengan benar bungkuknya badan Algernon sebagai perkiraan yang akan terjadi pada diriku juga.

Alice menangis ketika aku menyampaikan kabar itu. Lalu dia berlari keluar. Aku harus menekankan pada dirinya bahwa tidak ada alasan baginya untuk merasa bersalah dalam hal ini.

2 September Belum ada yang pasti. Aku bergerak dalam kesunyian sinar putih terang. Segalanya di sekelilingku menunggu. Aku bermimpi berada di puncak gunung sendirian, memandangi tanah di sekitarku, hijau dan kuning serta matahari yang bersinar langsung dari atasf menekan bayanganku sehingga menjadi bola keras di sekitar kakiku. Ketika matahari tenggelam di langit sore, bayangan Itu mengurai sendiri dan meregang ke arah cakrawala, panjang dan pipih, serta jauh di belakangku____

Di sini aku ingin mengatakan sekali lagi apa yang telah kukatakan kepada Dr Strauss. Bagaimanapun, tidak seorang pun patut disalahkan atas apa yang terjadi. Eksperimen ini dipersiapkan dengan hati-hati, diuji secara meluas pada hewan, dan disahkan secara statistik. Ketika mereka memutuskan untuk menggunakan aku sebagai uji coba pada manusia pertama, mereka layak yakin bahwa tidak akan ada bahaya secara jasmani. Tidak ada cara untuk meramal adanya kesulitan psikologis tersembunyi. Aku tidak mau seorang pun menderita karena apa yang terjadi pada diriku. Satu-satunya pertanyaan sekarang adalah berapa lama aku bisa bertahan?

15 September Nemur mengatakan hasil-hasilku telah dipastikan. Itu artinya bahwa kecacatan terpusat dan menjadikan seluruh hipotesis bisa dipertanyakan. Suatu hari kelak, mungkin ada cara untuk mengatasi masalah ini. Tetapi ketika itu belum terjadi, aku telah menyarankan agar tidak melakukan pengujian terhadap manusia hingga hal ini terjelaskan dengan penelitian tambahan pada hewan.

Ini perasaanku sendiri bahwa barisan penelitian yang paling berhasil akan diraih oleh orang yang mempelajari ketakseimbangan enzim. Seperti yang berlaku pada banyak hal lain, waktu merupakan faktor kunci kecepatan dalam penemuan ketidaksempurnaan dan kecepatan dalam pengelolaan pengganti hormon. Aku ingin membantu bidang penelitian, dan dalam penelitian radioisotop yang mungkin digunakan dalam pengendalian kortikal lokal, tetapi aku tahu sekarang bahwa aku tidak akan sempat.

27 September Pikiranku menjadi kosong. Ketika aku menyimpan barang-barang di atas mejaku atau di laci meja lab, kemudian aku tidak dapat menemukannya kembali, aku kehilangan kesabaranku dan memarahi semua orang. Tanda-tanda awal?

Algernon mati dua hari yang lalu. Aku menemukannya pada pukul empat tiga puluh pagi ketika aku kembali ke lab setelah berjalan-jalan di pantai terbaring miring, terbujur di sudut kandangnya. Seolah ia sedang berlari dalam tidurnya.

Pembedahan memperlihatkan bahwa perkiraanku benar. Dibandingkan dengan otak normal, kepala Algernon telah berkurang beratnya dan ada pelembutan pada kerumitan otak umum seperti juga pendalaman dan pelebaran pada belahan otak.

Menakutkan memikirkan bahwa hal itu mungkin sedang terjadi pada diriku sekarang. Melihat hal itu terjadi pada Algernon membuatnya nyata. Untuk pertama kalinya, aku takut pada masa depanku.

Aku meletakkan tubuh Algernon di sebuah kotak metal kecil dan kubawa pulang. Aku tidak akan membiarkan mereka membuangnya ke pembakaran. Konyol dan sentimental, tetapi setidaknya kemarin malam aku menguburnya di halaman belakang. Aku menangis ketika meletakkan seikat bunga liar di atas kuburannya.

22 September Aku akan pergi ke Jalan Marks untuk mengunjungi ibuku besok. Sebuah mimpi tadi malam memicu munculnya kenangan lanjutan, menyalakan seluruh potongan masa lalu, dan yang penting adalah menuliskannya pada selembar kertas dengan cepat

sebelum aku melupakanya. Aku menjadi cepat lupa sekarang. Mimpi itu ada hubungannya dengan ibuku, dan sekarang lebih dari yang sudah-sudah aku ingin mengerti dirinya. Aku ingin tahu seperti apa dia dan mengapa dia bersikap seperti itu. Aku tidak boleh membencinya.

Aku harus mengerti dirinya sebelum aku bertemu dengannya sehingga aku tidak akan bersikap kasar atau konyol.

27 September Aku seharusnya menuliskan ini segera karena penting melengkapi catatan ini.

Aku pergi menjenguk Rose tiga hari yang lalu. Akhirnya, aku memaksakan diri untuk meminjam mobil Burt lagi. Aku takut, tapi aku tahu aku harus pergi.

Pada mulanya, ketika aku pergi ke Jalan Marks kupikir aku telah membuat kesalahan. Ini bukan jalan yang pernah kuingat sama sekali. Jalan ini sangat kotor. Bidang-bidang tanah kosong tempat rumah-rumah telah diruntuhkan. Di tepi jalan, sebuah lemari es rusak dengan pintu terlepas, dan di tikungan sebuah kasur tua dengan per-per bagian dalamnya menjulur keluar seperti usus tumpah dari perut. Beberapa rumah telah tertutup jendelanya, sedangkan yang lainnya tampak lebih mirip dengan gubuk tambal sulam daripada rumah. Aku memarkir mobil satu blok dari rumah, lalu berjalan kaki ke sana.

Tidak ada anak-anak bermain di Jalan Marks sama sekali tidak seperti gambaran dalam pikiranku tentang anak-anak di mana-mana, dan Charlie mengawasi dari jendela (anehnya sebagian besar kenanganku akan jalan ini dibingkai oleh jendela, dengan aku yang selalu berada di dalam mengamati anak-anak bermain). Sekarang hanya ada orang-orang tua yang berdiri di bawah naungan

serambi reyot.

Ketika aku mendekati rumah itu, aku terkejut untuk kedua kalinya. Ibuku ada di beranda depan, mengenakan baju hangat cokelat, sedang membersihkan jendela-jendela di lantai bawah dari luar, padahal cuaca dingin dan berangin. Ibuku selalu bekerja untuk memperlihatkan kepada para tetangga betapa dia seorang istri dan ibu yang baik.

Yang paling penting baginya adalah pendapat orang lain penampilannya atau keluarganya. Dan ia memang sepantasnya begitu. Matt pun berkeras bahwa apa yang dipikirkan orang lain tentang dirimu bukan satu-satunya dalam hidupmu. Tetapi itu tidak berhasil. Norma harus berpakaian bagus; rumah harus mempunyai perabotan yang indah; dan Charlie harus dikurung di dalam sehingga orang lain tidak tahu bahwa ada yang salah padanya.

Di gerbang, aku berhenti, melihat ibuku berdiri tegak menarik napas. Melihat wajahnya membuatku gemetar, tetapi bukan wajahnya yang kuusahakan dengan keras untuk mengingat. Rambutnya telah memutih dan berbaur kelabu, dan pipi kurusnya berkerut. Karena berkeringat keningnya terlihat berkilat. Dia melihatku dan balas menatap.

Aku ingin menghindari tatapannya, dan kembali ke jalan, tetapi aku tidak bisa tidak karena aku sudah tiba di sini. Aku mungkin bisa pura-pura menanyakan arah, pura-pura tersesat di lingkungan asing. Melihatnya saja sudah cukup. Tetapi yang kulakukan hanya berdiri di sana menunggunya melakukan sesuatu lebih dulu. Dan yang dilakukannya adalah berdiri di sana dan menatapku.

"Kau butuh sesuatu?" Suaranya serak, tidak salah lagi, menggema di lorong kenanganku.

Aku membuka mulutku, tetapi tidak ada suara yang keluar. Mulutku bergerak, aku tahu, dan aku berjuang untuk berbicara padanya, mengucapkan sesuatu, karena saat itu aku dapat melihat sinar pengenalan di matanya. Ini sama sekali bukan cara yang kuinginkan ketika dia melihatku. Tidak berdiri di depannya, dengan dungu, tidak dapat menjelaskan siapa diriku. Tetapi lidahku terus kelu, seperti sebuah penghalang berat, sedangkan mulutku terasa kering.

Akhirnya, sesuatu keluar. Bukan yang aku maksudkan (aku sudah merencanakan sesuatu yang lembut dan berani, untuk mengendalikan keadaan dan menghapus segala masa lalu serta luka dengan beberapa kata saja) tetapi yang keluar dari tenggorokanku adalah: "Maaa....11

Dengan segala hal yang telah kupelajari dalam segala bahasa yang aku kuasai yang hanya dapat kukatakan pada ibuku, yang sedang berdiri di beranda sambil menatapku adalah, "Maaa." Seperti domba bermulut kering di ambing.

Dia mengusap keningnya dengan punggung lengannya dan mengerutkan kening, seolah dia tidak dapat melihatku dengan jelas. Aku melangkah ke depan, melewati pintu gerbang, lalu berjalan ke arah tangga. Dia mundur.

Pada awalnya, aku tidak yakin apakah dia mengenaliku atau tidak, tetapi kemudian dia mengembuskan namaku: "Charlie...,1" Dia tidak meneriakkan atau membisikkannya. Dia hanya mengembuskan namaku seperti orang sedang bermimpi.

"Ma...." Aku mulai menaiki tangga. "Ini aku...."

Gerakanku membuatnya terkejut, lalu dia melangkah mundur, hingga menendang ember berisi air sabun, kemu-

dian busa kotor mengalir ke tangga. "Apa yang kaulakukan di sini?"

"Aku hanya ingin bertemu denganmu... berbicara denganmu...."

Karena lidahku terus menghalangiku, suaraku yang keluar dari tenggorokan terdengar berbeda, seperti suara rengekan yang berat, seperti caraku bicara di masa lalu. "Jangan pergi," pintaku. "Jangan lari dariku."

Namun, dia sudah menghilang ke ruang depan dan mengunci pintu. Sesaat kemudian aku dapat melihatnya mengintai dari jendela pintu, matanya terlihat ketakutan. Di belakang jendela bibirnya bergerak berbisik. "Pergi! Jangan ganggu aku!"

Mengapa? Siapa dia sehingga menolakku seperti ini? Apa haknya dia menghindar dariku?

"Biarkan aku masuk! Aku mau berbicara denganmu! Biarkan aku masuk!" Aku menggedor pintu begitu keras pada kacanya sehingga kaca itu retak, lalu jala retakannya melebar dan menyangkut pada kulitku sebentar dan menempel kuat. Dia pasti mengira aku sudah gila dan datang untuk melukainya. Dia melepaskan pintu luar dan berlari ke gang yang menuju ke apartemen.

Aku mendorong lagi. Pengancingnya lepas dan karena aku tidak siap dengan hasil yang tiba-tiba, aku jatuh ke ruang depan, kehilangan keseimbangan. Tanganku berdarah terkena kaca yang kupecahkan. Aku tidak tahu harus bagaimana, maka aku memasukkan tanganku ke dalam saku untuk mencegah darah mengotori lantai yang baru saja digosok dengan linoleum oleh ibuku.

Aku bergerak ke dalam, melewati tangga yang sering kulihat dalam mimpiku. Aku sering dikejar-kejar ke atas selama itu, di tangga sempit itu oleh iblis-iblis yang

menangkap tungkaiku dan menarikku ke bawah masuk ke gudang di bawah, sementara aku mencoba berteriak tanpa suara, tercekik lidahku, dan megap-megap tanpa suara. Seperti anak-anak lelaki bisu di Warren.

Orang-orang yang tinggal di lantai dua induk semang kami dan istrinya, keluarga Meyers selalu baik terhadapku. Mereka memberiku permen dan membolehkan aku masuk dan duduk di dapur mereka serta bermain dengan anjing mereka. Aku ingin bertemu dengan mereka, tetapi tanpa diberi tahu, aku tahu mereka sudah pergi dan mati, kemudian orang-orang asing itu tinggal di atas. Jalan itu hingga kini tertutup untukku selamanya.

Di ujung gang, pintu yang dilewati Rose ketika berlari, terkunci. Aku berdiri di depannya sesaat tidak tahu harus bagaimana.

"Buka pintu."

Jawabannya adalah salak anjing kecil bernada tinggi. Aku terkejut.

"Baik," kataku. "Aku tidak berniat melukaimu atau semacamnya, tetapi aku datang dari jauh, dan aku tidak akan pergi sebelum berbicara denganmu. Jika kau tidak membuka pintu, aku akan mendobraknya."

Aku mendengarnya berkata: "Ssst, Nappie... sini, masuk ke kamar tidur." Sesaat kemudian, aku mendengar suara kunci dibuka. Pintu terbuka dan dia berdiri sambil menatapku.

"Ma," aku berbisik, "aku tidak akan melakukan apa pun. Aku hanya ingin berbicara denganmu. Kau harus mengerti, aku sudah berbeda. Aku sudah berubah. Aku normal sekarang. Kau mengerti? Aku tidak terbelakang lagi. Aku tidak dungu lagi. Aku seperti orang lain. Aku normal seperti kau dan Matt atau Norma."

Aku mencoba terus berbicara, berceloteh sehingga dia tidak akan menutup pintunya. Aku mencoba mengatakan kepadanya seluruhnya sekaligus. "Mereka mengubahku, mengoperasiku, dan membuatku berbeda. Aku menjadi seperti yang selalu kauinginkan. Tidakkah kau membacanya di koran? Sebuah eksperimen ilmiah baru yang mengubah kapasitas untuk kecerdasan, dan aku adalah orang pertama yang diujicobakan. Mengertikah kau? Mengapa kau melihatku seperti itu? Aku pandai sekarang, lebih pandai daripada Norma, atau Paman Herman, ataupun Matt. Aku tahu hal-hal yang bahkan tidak diketahui para profesor di universitas. Bicaralah padaku! Kau bisa membanggakan aku sekarang dan mengatakan kepada seluruh tetangga. Kau tidak perlu menyembunyikan aku lagi di gudang ketika ada tamu datang. Bicaralah padaku. Ceritakan padaku tentang segalanya, seperti apa dulu, ketika aku masih kecil, itu saja yang kuinginkan. Aku tidak akan melukaimu. Aku tidak membencimu. Tetapi aku harus tahu tentang diriku, untuk mengerti diriku sendiri, sebelum terlambat. Tidakkah kau melihat, aku tidak dapat menjadi sempurna kalau tidak mengerti diriku sendiri. Kau satu-satunya di dunia ini yang dapat membantuku sekarang. Biarkan aku masuk dan duduk sebentar."

Aku tidak tahu apakah cara bicaraku atau yang kukatakan yang menghipnotisnya. Dia berdiri di sana di ambang pintu dan menatapku. Tanpa berpikir, aku menarik tangan berdarahku keluar dari sakuku dan meremasnya saat memohon. Ketika dia melihatnya, ekspresinya melembut.

"Kau melukai dirimu sendiri...." Dia tidak harus merasa kasihan padaku. Hal itu pun akan dirasakannya

untuk seekor anjing yang terluka kakinya, atau seekor kucing yang terluka karena berkelahi. Itu bukan karena aku Charlienya, tetapi sebalik-nya.

"Ayo masuk dan cucilah. Aku punya perban dan

iodin."

Aku mengikutinya ke tempat cuci piring yang reyot dengan papan pengering bergelombang yang begitu sering digunakannya untuk mencuci wajah dan tanganku setelah aku bermain di halaman belakang, atau ketika aku siap untuk makan atau pergi tidur. Dia melihatku menggulung lengan jasku. "Kau seharusnya tidak memecahkan jendela itu. Induk semangku akan marah, dan aku tidak punya cukup uang untuk menggantinya." Lalu, seolah menjadi tidak sabar dengan caraku mencuci tangan, dia mengambil sabun dari tanganku dan membasuh tanganku. Ketika dia melakukannya, dia berkonsentrasi sangat keras sehingga aku terdiam, takut merusak mantera pesona itu. Sesekali dia berdecak atau mendesah. "Charlie, Charlie, selalu berantakan. Kapan kau akan belajar mengurus dirimu sendiri?" Dia kembali ke dua puluh lima tahun yang lalu ketika aku masih Charlie kecil dan dia mau berkelahi untuk mendapatkan tempat bagiku di dunia ini.

Ketika darah itu sudah tercuci bersih dan dia telah mengeringkan tanganku dengan kertas handuk, dia menatap wajahku dan matanya terbelalak ketakutan. "Oh, Tuhanku!" Dia tergagap dan mundur.

Aku mulai bicara lagi, dengan lembut, membujuk untuk meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang salah dan aku tidak akan melukainya. Tetapi, ketika aku bicara aku yakin, pikirannya melayang-layang. Dia melihat ke sekelilingnya dengan samar, meletakkan tangannya di mulutnya dan menggeram ketika melihatku lagi. "Rumah ini

berantakan sekali," katanya. "Aku tidak menduga akan ada tamu. Lihat jendela-jendela itu dan perabotan kayu di sana."

"Tidak apa-apa, Ma. Jangan khawatirkan itu."

"Aku harus menggosoknya lagi. Harus bersih." Dia melihat bekas-bekas jemari di pintu dan mengambil lapnya lalu menggosoknya hingga bersih. Ketika dia melihat ke atas dan melihatku mengawasinya, dia mengerutkan keningnya. "Kau datang untuk menagih listrik?"

Sebelum aku dapat menjawab tidak, dia menggoyang-goyangkan jarinya, mengomeliku. "Aku bermaksud mengirimimu cek pada awal bulan, tetapi suamiku keluar kota, urusan pekerjaan. Aku bilang kepada mereka jangan khawatir soal uang. Sebab, anak perempuanku akan menerima gajinya minggu ini, sehingga kami dapat membayar semua tagihan kami. Jadi, jangan menggangguku dengan minta uang."

"Apakah dia anak tunggalmu? Kau punya anak lainnya, bukan?"

Dia terkejut, lalu matanya menatap ke tempat lain. "Aku pernah punya seorang anak lelaki. Begitu cerdas sehingga ibu-ibu lainnya iri hati kepadanya. Lalu mereka menyebutnya IQ, tetapi yang dimaksud adalah IQ yang buruk. Ia seharusnya bisa menjadi orang hebat, jika bukan karena IQ yang buruk itu. Ia sangat cerdas pengecualian, kata mereka. Ia bisa menjadi seorang jenius...."

Rose memungut sikatnya. "Permisi. Aku harus menyiapkan semuanya. Putriku mengundang seorang pria muda untuk makan malam di sini, karena itu aku harus membersihkan rumahku." Dia berlutut dan mulai menggosok lantai yang sudah bersih. Dia tidak mendongak lagi.

Rose bekerja sambil menggumam sendiri sekarang. Sementara itu, aku duduk di belakang meja dapur. Aku akan menunggu hingga Rose muncul, hingga dia mengenaliku dan mengerti siapa aku. Aku tidak bisa pergi hingga dia tahu aku adalah Charlienya. Harus ada yang tahu.

Rose mulai bersenandung sedih sendiri, tetapi kemudian berhenti. Lap gombalnya terhenti di tengah antara ember dan lantai, seolah tiba-tiba dia sadar akan kehadiranku di belakangnya.

Dia berpaling, wajahnya tampak letih dan matanya berkilauan. Lalu dia menegakkan kepalanya. "Bagaimana mungkin? Aku tidak mengerti. Dulu, mereka mengatakan padaku bahwa kau tidak bisa diubah."

"Mereka mengoperasiku, itulah yang mengubahku. Aku terkenal sekarang. Mereka telah mendengar soal aku di seluruh dunia. Aku cerdas sekarang, Ma. Aku dapat menulis dan membaca, dan aku dapat...."

"Terima kasih, Tuhan," dia berbisik. "Doa-doaku selama bertahun-tahun kupikir Ia tidak mendengarku, tetapi ternyata Ia selalu mendengarkan aku. Ia hanya menunggu waktu-Nya sendiri untuk melakukan keinginan-Nya."

Dia mengusap wajahnya dengan celemeknya. Ketika aku memeluknya, dia menangis dengan bebas di atas bahuku. Segala luka tercuci bersih, dan aku merasa senang telah pulang.

"Aku harus mengatakan kepada semua orang," katanya sambil tersenyum. "Semua guru di sekolah. Oh, tunggu hingga kau melihat wajah-wajah mereka ketika aku mengatakannya. Dan para tetangga. Lalu Paman Herman aku harus mengatakan kepada Paman Herman. Ia akan sangat senang. Dan tunggu sampai ayahmu pulang.

Aku tidak tahu itu."

Dia memelukku, berbicara dengan bersemangat, membuat rencana hidup baru yang akan kami miliki bersama. Aku tidak tega untuk mengingatkan dirinya bahwa sebagian besar guruku sudah pergi dari sekolah itu, bahwa para tetangga telah lama pindah, bahwa Paman Herman sudah meninggal sejak bertahun-tahun yang lalu, dan bahwa ayahku telah meninggalkannya. Mimpi buruk selama bertahun-tahun telah menimbulkan luka. Aku ingin melihatnya tersenyum dan sekarang aku adalah satu-satunya yang membuatnya bahagia. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membuat bibirnya tersenyum.

Kemudian setelah beberapa saat, dia berhenti dan tercenung seolah ingat akan sesuatu. Aku punya perasaan pikirannya kembali mengawang. "Tidak!" teriakku, hingga mengejutkan dirinya dan membuatnya kembali pada kenyataan. "Tunggu, Ma! Ada yang lain lagi. Sesuatu yang aku ingin kau memilikinya sebelum aku pergi."

"Pergi? Kau tidak boleh pergi sekarang."

"Aku harus pergi, Ma. Aku punya kewajiban. Tetapi aku akan menulis surat padamu, dan aku akan mengirimimu uang."

"Tetapi kapan kau akan kembali?"

"Aku tidak tahu belum tahu. Tetapi sebelum aku pergi, aku ingin kau memiliki ini."

"Sebuah majalah?"

"Tidak sepenuhnya benar. Ini adalah laporan ilmiah yang kutulis. Sangat teknis. Lihat, judulnya "Efek Algernon-Gordon". Tentang sesuatu yang kutemukan, dan judulnya sebagian adalah namaku. Aku ingin kau menyimpan salinan ini sehingga kau dapat memperlihatkan

kepada orang-orang bahwa putramu berubah menjadi orang yang lebih daripada sekadar dungu."

Dia mengambilnya dan melihatnya dengan kagum. "Ini... ini ada namamu. Aku tahu ini akan terjadi. Aku selalu berkata, ini akan terjadi suatu hari kelak. Aku berusaha melakukan segala yang kumampu. Kau terlalu muda untuk ingat, tetapi aku sudah berusaha. Kukatakan kepada mereka bahwa kau akan pergi kuliah dan menjadi seorang profesional serta mengesankan seluruh dunia. Mereka tertawa, tetapi kau sudah mengatakan itu kepada mereka."

Dia tersenyum padaku di antara air matanya, sesaat kemudian dia tidak menatapku lagi. Rose memungut gombalnya dan mulai mencuci barang-barang dari kayu di sekitar pintu dapur, sambil bersenandung dengan lebih gembira, kupikir seolah dalam mimpi.

Anjing itu mulai menyalak lagi. Pintu depan terbuka dan tertutup kembali, lalu ada suara memanggil: "Oke, Nappie. Oke, ini aku." Anjing itu melompat-lompat kegirangan menabraki pintu kamar tidur.

Aku marah karena merasa terjebak di sini. Aku tidak mau bertemu dengan Norma. Kami masing-masing tidak punya hal untuk dibicarakan, dan aku tidak mau kunjunganku ini rusak. Tidak ada pintu belakang. Satu-satunya jalan adalah melompat keluar lewat jendela ke halaman belakang dan melewati pagar. Tetapi mungkin ada orang yang mengira aku seorang pencuri.

Ketika aku mendengar kuncinya di pintu, aku berbisik pada ibuku aku tidak tahu mengapa "Norma pulang," aku menyentuh lengannya, tetapi Rose tidak mendengarku. Dia terlalu sibuk bersenandung sambil membersihkan perkakas kayu.

Pintu terbuka. Norma melihatku dan mengerutkan keningnya. Mula-mula dia tidak mengenaliku remang-remang, lampu belum dinyalakan. Setelah meletakkan barang-barang belanjaannya, dia menyalakan lampu. "Siapa kau...?" Tetapi sebelum aku dapat menjawabnya, tangannya bergerak menutup mulutnya, dan dia mundur menghantam pintu.

"Charlie!" Dia menyebutkan namaku seperti ibuku tadi, dengan mengembuskannya. Norma tampak seperti ibuku ketika muda kurus, berparas tajam, seperti burung, cantik. "Charlie! Tuhanku, mengejutkan sekali! Kau seharusnya mengabariku dan memberi tahu aku. Kau bisa meneleponku. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan...." Dia melihat ibu, yang duduk di lantai di dekat tempat cuci piring. "Dia tidak apa-apa? Kau tidak mengejutkannya atau...?"

"Dia terkejut sebentar. Kami sudah bercakap-cakap.

ii

"Aku senang. Dia tidak banyak ingat lagi akhir-akhir ini. Karena tua pikun. Dr Portman ingin aku menempatkannya di panti, tetapi aku tidak dapat melakukan itu. Aku tidak bisa membayangkannya hidup di panti." Dia membuka pintu kamar untuk mengeluarkan anjingnya. Ketika anjing itu meloncat dan menguik-nguik gembira, Norma mengangkat dan memeluknya. "Aku hanya tidak dapat melakukan itu pada ibuku sendiri." Kemudian dia tersenyum padaku, ragu. "Wah, mengejutkan sekali. Coba aku mau melihatmu. Aku mungkin tidak akan mengenalimu di jalan. Begitu berbeda." Dia mendesah. "Aku senang bertemu denganmu, Charlie."

"Begitukah? Aku tidak mengira kau mau bertemu denganku lagi."

"Oh, Charlie!" Dia menggenggam tanganku. "Jangan katakan itu. Aku senang bertemu denganmu. Aku menunggumu. Aku tidak tahu kapan, tetapi aku tahu suatu hari kelak kau akan pulang. Sejak aku membaca berita tentang dirimu yang melarikan diri di Chicago." Dia menjauh untuk mengamatiku. "Kau tidak tahu betapa aku memikirkanmu, bertanya-tanya di mana kau dan apa yang kaulakukan. Hingga profesor itu datang ke sini kapan, ya? Bulan Maret yang lalu? Baru tujuh bulan yang lalu? Aku tidak tahu kau masih hidup. Mama mengatakan, kau sudah meninggal di Warren. Aku mempercayainya selama bertahun-tahun. Ketika mereka mengatakan bahwa kau masih hidup dan mereka membutuhkanmu untuk eksperimen mereka, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Profesor... Nemur... itu namanya, kan? tidak membiarkan aku menjengukmu. Ia takut membuatmu kesal sebelum operasi itu. Teta-pi, ketika aku melihat di koran-koran bahwa operasi itu berhasil dan kau telah menjadi jenius ya, ampun...! Kau tidak tahu bagaimana rasanya membaca berita tentang itu.

"Aku menceritakan hal itu kepada semua orang di kantorku, dan gadis-gadis di kelompok main bridge-ku. Aku perlihatkan fotomu di koran, dan aku katakan kepada mereka bahwa kau akan pulang ke sini lagi untuk bertemu dengan kami suatu hari. Dan kau sekarang sudah di sini. Kau benar-benar di sini. Kau tidak melupakan kami."

Dia memelukku lagi. "Oh, Charlie. Charlie... senang sekali tiba-tiba mendapatkan seorang kakak lelaki. Kau tidak tahu. Duduklah akan kubuatkan kau makanan. Kau harus menceritakan padaku semuanya soal itu. Apa rencanamu. Aku... aku tidak tahu harus bertanya apa dulu. Aku pastilah terdengar konyol seperti seorang gadis

yang baru saja tahu kakak lelakinya seorang pahlawan atau bintang film atau apalah."

Aku bingung. Aku tidak menduga mendapat sambutan seperti ini dari Norma. Tidak terpikir olehku bahwa selama bertahun-tahun tinggal bersama ibuku telah mengubah Norma. Tapi itu bisa saja terjadi. Norma bukan lagi anak manja yang ada dalam kenanganku. Dia sudah tumbuh menjadi dewasa, berubah menjadi pribadi yang hangat dan simpatik lagi penuh kasih.

Kami berbincang. Ironisnya, duduk di sana bersama adikku, kami berdua membicarakan ibu kami yang juga berada di sana, di ruangan itu juga seolah dia tidak ada di sana. Setiap kali Norma akan membicarakan soal kehidupan mereka, aku akan menoleh pada Rose untuk melihat apakah dia menyimak. Tetapi, dia sedang melamun di dunianya sendiri, seolah dia tidak mengerti bahasa kami, seolah tidak seorang pun memperhatikannya lagi. Dia berjalan-jalan di sekitar dapur seperti hantu, memunguti barang-barang lalu menyimpannya, tanpa mengganggu. Itu menakutkan.

Aku melihat Norma memberi makan anjingnya. "Jadi kau akhirnya mendapatkannya. Nappie bsingkatan dari Napoleon, bukan?"

Norma berdiri tegak dan mengerutkan keningnya. "Dari mana kau tahu?"

Aku menjelaskan soal kenanganku: ketika dia membawa pulang kertas tesnya dan berharap mendapatkan seekor anjing, dan bagaimana Matt melarangnya. Ketika aku menceritakannya, kerutan di keningnya menjadi semakin dalam.

"Aku tidak ingat itu semua. Oh, Charlie, apakah aku begitu jahat padamu?"

"Ada satu kenangan yang membuatku penasaran. Aku tidak betul-betul yakin apakah itu sebuah kenangan, atau sebuah mimpi, atau hanya khayalanku. Kenangan itu ketika terakhir kali kita bermain bersama sebagai teman. Kita di ruang bawah tanah dan bermain dengan memakai tutup lampu di atas kepala kita, berpura-pura menjadi kuli Cina meloncat-loncat di atas kasur tua. Kau berusia tujuh atau delapan tahun, kukira, sedangkan aku kira-kira tiga belas tahun. Aku ingat ketika itu kau mencelat keluar dari kasur hingga kepalamu menimpa tembok. Tidak terlalu keras hanya terantuk tetapi Mama dan Ayah datang berlarian ke bawah karena kau menjerit dan mengatakan aku mencoba membunuhmu.

"Mama menyalahkan Matt karena tidak mengawasiku, meninggalkan kita berdua saja. Lalu Mama mencambukiku dengan ikat pinggang hingga aku hampir pingsan. Kau ingat itu? Apakah itu benar-benar terjadi seperti itu?"

Norma tercengang karena penjelasan tentang kenanganku, seolah hal itu membangkitkan kenangannya yang terpendam. "Semuanya tidak jelas. Kautahu, kupikir itu adalah mimpiku. Aku ingat kita memakai tutup lampu dan meloncat-loncat di atas kasur tua." Norma menatap keluar jendela. "Aku membencimu karena mereka selalu ribut tentang kau. Mereka tidak pernah memukul pantatmu karena kau tidak mengerjakan tugas sekolah dengan baik, atau tidak membawa pulang nilai yang bagus. Kau sering membolos dan bermain-main saja, sedangkan aku harus masuk ke kelas yang sulit di sekolah. Oh, aku sangat membencimu. Di sekolah anak-anak lain menggambar di papan tulis, seorang anak lelaki dengan topi anak bodoh di atas kepalanya, lalu

mereka menuliskan: "Kakak Norma" di bawah gambar itu. Dan mereka membuat corat-coret juga di tepi jalan di halaman sekolah "Adik Si Dungu dan Keluarga Gordon yang Tolol". Dan pada suatu hari ketika aku tidak diundang ke pesta ulang tahun Emily Raskin, aku tahu, itu karena kau. Lalu ketika kita bermain di gudang bawah dengan tutup lampu di atas kepala kita, aku merasa harus membalasmu." Norma mulai menangis. "Jadi ketika itu aku berbohong dan mengatakan kau melukaiku. Oh, Charlie, aku bodoh sekali aku manja dan menyebalkan. Aku malu sekali...."

"Jangan salahkan dirimu. Pastilah sulit menghadapi anak-anak lain. Bagiku, dapur inilah duniaku dan ruangan di sana itu. Yang lainnya tidak penting selama di sini aman. Sementara itu, kau, kau harus menghadapi dunia."

"Mengapa mereka mengirimmu pergi, Charlie? Mengapa kau tidak bisa tinggal saja di sini dan hidup bersama kami? Aku selalu bertanya-tanya tentang hal itu. Setiap kali aku bertanya pada Mama, dia selalu berkata itu bagus untuk kepentinganmu."

"Dia ada benarnya juga."

Norma menggelengkan kepalanya. "Dia mengirimmu pergi karena aku, bukan? Oh, Charlie, mengapa harus begitu? Mengapa semua ini terjadi pada kita?"

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadanya. Kuharap aku dapat mengatakan seperti dalam film House of Atreus atau Cadmus, kita menderita karena dosa-dosa nenek moyang kita, atau memenuhi sebuah ramalan Yunani kuno. Tetapi aku tidak punya jawaban untuknya, atau untukku sendiri.

"Itu sudah berlalu," kataku. "Aku senang bertemu lagi denganmu. Itu membuat semuanya lebih ringan."

Tiba-tiba Norma mencengkeram lenganku. "Charlie, kau tidak tahu apa yang terjadi pada diriku selama tahun-tahun itu bersama Mama. Apartemen ini, jalanan, dan pekerjaanku. Semuanya seperti mimpi buruk. Aku pulang setiap hari, dengan bertanya-tanya apakah Mama masih ada di sana, apakah Mama melukai dirinya sendiri, sehingga aku merasa berdosa karena memikirkan semua itu." '

Aku berdiri dan membiarkannya bersandar di bahuku. Norma menangis. "Oh, Charlie, aku senang kau pulang sekarang. Kami membutuhkan seseorang. Aku sangat lelah...."

Aku pernah bermimpi tentang saat-saat seperti ini, tetapi sekarang karena hal itu terjadi, apa gunanya? Aku tidak dapat mengatakan kepadanya apa yang akan terjadi pada diriku. Namun, dapatkah aku menerima kasih sayangnya dengan kepura-puraan? Mengapa mengecoh diri sendiri? Jika aku masih Charlie yang dulu, yang lemah otak, yang bergantung pada orang lain, Norma tidak akan berbicara seperti ini padaku. Jadi apa hakku sekarang untuk menerima kasih sayangnya? Topengku akan segera terkuak.

"Jangan menangis, Norma. Semuanya akan berjalan dengan baik." Aku mendengar diriku sendiri berbicara dengan kata-kata yang hampa. "Aku akan mencoba menjaga kalian berdua. Aku punya tabungan sedikit, dan dengan gajiku dari Yayasan, aku akan dapat mengirimi kalian uang de-ngan teratur walau untuk sementara saja."

"Tetapi kau tidak akan pergi! Kau harus tinggal bersama kami sekarang...."

"Aku harus melakukan perjalanan, penelitian, berpidato, tetapi aku akan mencoba untuk kembali menje-

ngukmu. Jagalah Mama. Dia sudah mengalami banyak hal. Aku akan membantumu selama aku mampu."

"Charlie! Jangan, jangan pergi!" Dia menggelayuti aku. "Aku takut!"

Peran yang selalu ingin kumainkan kakak lelaki.

Pada saat itu, aku merasa Rose, yang tadi duduk tenang di sudut, sekarang menatap kami. Ada yang berubah di wajahnya. Matanya membelalak, dan ia mencondongkan tubuhnya ke depan dalam posisi duduknya. Yang dapat kupikirkan adalah seekor elang yang siap menukik ke bawah.

Aku mendorong Norma menjauh dariku, tetapi sebelum aku dapat berkata apa pun, Rose sudah berdiri. Dia telah mengambil sebilah pisau dapur dari meja dan sekarang mengacungkannya padaku.

"Apa yang kaulakukan padanya? Jauhi dia! Sudah kukatakan padamu apa yang akan kulakukan jika aku melihatmu menyentuh adikmu lagi! Otak kotor! Kau tidak normal!"

Kami berdua terlonjak ke belakang. Karena alasan yang tidak masuk akal, aku merasa bersalah, seolah aku tertangkap basah telah melakukan kesalahan. Aku tahu, Norma merasakan hal yang sama. Seolah tuduhan ibuku telah membuat hal itu terjadi, bahwa kami memang sedang melakukan sesuatu yang cabul.

Norma menjerit. "Mama! Letakkan pisau itu!"

Melihat Rose berdiri di sana dengan sebilah pisau di tangannya mengingatkan aku pada gambaran malam itu ketika dia memaksa Matt membawaku pergi. Dia sekarang menghidupkan kenangan itu lagi. Aku tidak dapat berbicara atau bergerak. Rasa mual menguasaiku, ketegangan yang mencekik, suara dengung di telingaku,

perutku kejang dan meregang seolah ingin memisahkan diri dari tubuhku.

Rose memegang pisau, Alice memegang pisau, dan ayahku juga memegang pisau, lalu Dr Strauss memegang pisau....

Untunglah, Norma cepat sadar dan mengambil pisau itu darinya. Tetapi dia tidak dapat menghapus ketakutan di mata Rose ketika dia meneriaki aku. "Bawa dia keluar dari sini! Dia tidak punya hak untuk menatap adik perempuannya dengan seks di otaknya!"

Rose menjerit dan terduduk kembali, sambil menangis.

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, demikian juga Norma. Kami berdua merasa malu. Sekarang Norma tahu mengapa aku dikirim pergi dari rumah.

Aku bertanya-tanya apakah aku benar-benar telah melakukan sesuatu yang membuat ibuku begitu ketakutan. Tidak ada kenangan tentang hal itu. Tetapi, bagaimana aku bisa yakin bahwa tidak ada pikiran-pikiran mengerikan yang tertekan di balik penghalang kesadaranku yang tersiksa? Pada gang tertutup, di luar gang buntu, yang tidak akan pernah kulihat. Mungkin aku juga tidak akan pernah tahu. Apa pun kebenarannya itu, aku tidak boleh membenci Rose karena melindungi Norma. Aku harus mengerti cara Rose memandang kejadian itu. Jika aku tidak memaafkannya, aku tidak akan memiliki apa-apa. Norma gemetar.

"Tenanglah," kataku. "Dia tidak tahu apa yang dilakukannya. Bukan aku yang dimarahinya. Tetapi Charlie yang dulu. Dia takut pada apa yang mungkin dilakukannya terhadapmu. Aku tidak dapat menyalahkannya karena dia ingin melindungimu. Tetapi kita tidak perlu memikir-

kannya sekarang, karena si Charlie lama telah pergi selamanya, bukan?"

Dia tidak mendengarkan aku. Ada ekspresi bermimpi di wajahnya. "Aku hanya mempunyai satu dari pengalaman-pengalaman aneh yang kemudian terjadi. Sementara itu, kau memiliki perasaan bahwa kau tahu hal itu akan terjadi, seolah se-muanya terjadi sebelumnya, dengan cara yang persis sama, lalu kau melihatnya terjadi lagi...."

"Itu pengalaman yang sangat biasa."

Norma menggelengkan kepalanya. "Baru saja, ketika aku melihat Mama membawa pisau, itu seperti mimpi yang pernah kualami sudah lama berselang."

Apa gunanya mengatakan kepadanya bahwa jelas malam itu dia yang masih kecil, tidak sedang tidur, dan telah melihat kejadian itu seluruhnya dari kamarnya kemudian kenangan itu ditekan dan dipelintir hingga dia membayangkannya sebagai khayalan saja. Tidak ada alasan untuk membebaninya dengan mengatakan yang sebenarnya. Dia pastilah sudah cukup sedih dengan ibuku di hari-hari mendatang. Aku akan senang mengambil beban dan luka itu dari tangannya. Tetapi tidak ada artinya juga memulai sesuatu yang tidak mungkin kuselesaikan. Aku juga memiliki penderitaan dalam hidupku. Tidak ada cara untuk menghentikan pasir pengetahuan yang meluncur melalui gelas waktu pikiranku.

"Aku harus pergi sekarang," kataku. "Jaga dirimu dan Mama." Aku meremas tangannya. Ketika aku keluar, Napoleon menggonggongi aku.

Aku menahannya selama mungkin, tetapi ketika aku tiba di jalan, tidak mungkin lagi. Sulit untuk dituliskan, tetapi orang-orang berpaling melihatku ketika aku berjalan

ke mobil sambil menangis seperti anak kecil. Aku tidak dapat menahan diri, dan aku tidak peduli.

Ketika aku berjalan, kata-kata konyol berdentam seperti genderang memasuki kepalaku berulang-ulang, dengan meninggikan irama mendengung itu.

Tiga tikus buta... tiga tikus buta,

Lihat bagaimana mereka berlari! Lihat bagaimana

mereka berlari!

Mereka semua berlari mengejar istri petani,

Dia memotong ekor mereka dengan pisau pengerat,

Kau pernah melihat pemandangan seperti itu dalam

hidupmu,

Seperti tiga... tikus... buta?

Aku mencoba menutup telingaku, tetapi aku tak mampu, dan begitu aku memutar tubuhku untuk melihat kembali rumah itu dan berandanya, aku melihat seraut wajah seorang anak lelaki, yang sedang menatapku, pipinya menekan kaca jendela.

LAPORAN KEMAJUAN 17

3 Oktober Keadaan bertambah buruk. Aku memikirkan untuk melakukan bunuh diri sekarang ketika aku masih dapat mengendalikan diri dan masih sadar akan dunia di sekitarku. Tetapi kemudian aku ingat Charlie yang menunggu di jendela. Aku tidak punya hak untuk menyia-nyiakan hidupnya. Aku hanya meminjam darinya sebentar, dan sekarang aku diminta untuk mengembalikannya.

Aku harus ingat, akulah satu-satunya orang yang pernah mengalami ini. Selama aku bisa, aku harus terus

mencatat segala pikiran dan perasaanku. Laporan-laporan kemajuanku ini merupakan sumbangan Charlie Gordon bagi insan manusia.

Aku menjadi tidak tenang dan lekas marah. Bertengkar dengan penghuni gedung karena aku memutar hi-ft set pada larut malam. Aku sering melakukan hal itu sejak aku berhenti bermain piano. Memang tidak benar menyalakan hi-fi itu terus-menerus selama berjam-jam, tetapi aku melakukan itu supaya aku tidak tertidur. Aku tahu, aku harus tidur, tetapi aku akan menyesalinya terus setiap detik waktu jagaku. Bukan hanya karena mimpi-mimpi buruk itu; tetapi karena aku takut akan melepaskan diri.

Kukatakan pada diriku sendiri akan ada cukup waktu untuk tidur nanti, ketika sudah gelap.

Pak Vernor di apartemen bawahku pernah mengeluh, tetapi sekarang ia selalu memukuli pipa-pipa atau langit-langit apartemennya sehingga aku mendengar suara pukulan itu di bawah kakiku. Awalnya aku mengabaikannya, tetapi tadi malam ia datang ke atas dengan mengenakan jubah mandinya. Kami bertengkar, dan aku membanting pintu di depan wajahnya. Satu jam kemudian, ia kembali bersama seorang polisi yang mengatakan padaku aku tidak boleh menyalakan kaset keras-keras pada pukul 4 pagi. Senyuman di wajah Vernor membuatku begitu marah sehingga hanya itu yang dapat kulakukan supaya aku tidak memukulnya. Ketika mereka pergi, aku menghancurkan semua rekaman dan mesinnya. Aku telah mengolok diriku sendiri juga. Aku tidak terlalu menyukai jenis musik seperti itu lagi.

4 Oktober Sesi terapi paling aneh yang pernah

kualami. Strauss kesal. Kejadian itu juga bukan hal yang diduganya.

Apa yang terjadi aku tidak berani menyebutnya kenangan adalah sebuah pengalaman jiwa atau halusinasi. Aku tidak berniat menjelaskannya atau menerjemahkannya, tetapi hanya ingin mencatat apa yang terjadi.

Aku menjadi mudah tersinggung ketika aku datang ke kantornya, tetapi Strauss berpura-pura tidak melihat keadaanku. Aku langsung berbaring di atas sofanya, dan ia, seperti biasanya, duduk di satu sisi dan agak ke belakang asal tidak terlihat olehku dan menungguku memulai ritual mencurahkan semua racun pikiran yang terkumpul.

Aku balas menatapnya dengan tajam sambil berbaring. Ia tampak letih serta kendur, dan entah bagaimana ia mengingatkan aku pada Matt yang sedang duduk di kursi pangkas rambutnya sambil menunggu pelanggan. Aku memberi tanda pada Strauss bahwa aku akan bicara perihal asosiasi, lalu ia mengangguk dan menunggu.

"Kau sedang menunggu pelanggan?" tanyaku. "Kau harus memiliki sofa seperti gaya kursi pemangkas rambut. Lalu ketika kau menginginkan asosiasi bebas, kau dapat membaringkan pasienmu seperti pemangkas rambut itu ketika ia sedang memberi busa pada wajah pelanggannya. Dan saat lima puluh menit berlalu, kau bisa mengungkit kursi itu kembali hingga tegak lalu memberinya cermin supaya ia dapat melihat bagaimana rupanya di luar setelah kau cukur egonya."

Strauss tidak mengatakan apa-apa. Aku seharusnya merasa malu karena caraku meledeknya, tapi aku tidak dapat menghentikan diriku. "Lalu pasienmu dapat masuk

ke setiap sesi dan berkata, 'Tolong cukur sedikit saja di atas kecemasanku.1 Atau, 'Jangan pangkas 'super ego' terlalu pendek, kalau tidak keberatan,' atau ia mungkin akan masuk untuk minta dicuci rambutnya dengan sampo ego maksudku sampo egg. Aha! Kau merasa ada keseleo lidah di sini, Dokter? Catat itu, ya. Aku bilang aku ingin sampo egg, bukan sampo ego. Egg... ego... mirip, bukan? Apakah itu artinya aku ingin dicuci bersih dosaku? Dilahirkan kembali? Itu simbolisme pembaptisan? Atau apakah kita mencukur jenggot rapat dengan kulit? Apakah seorang idiot mempunyai id?"

Aku menunggu reaksi Dr Strauss, tetapi ia hanya bergeser di kursinya.

"Kau bangun?" tanyaku.

"Aku sedang menyimak, Charlie."

"Hanya menyimak? Kau tidak pernah marah?"

"Mengapa kau ingin aku marah padamu?"

Aku mendesah. "Strauss si pendiam... tak tergoyahkan. Begini. Aku muak dan bosan datang ke sini. Apa artinya terapi ini lagi? Seperti juga aku, kau tahu apa yang akan terjadi."

"Tetapi kupikir kau tidak mau berhenti," sahutnya. "Kau ingin melanjutkannya, bukan?"

"Ini tolol. Pemborosan waktumu dan waktuku."

Aku berbaring dalam sinar temaram dan menatap pola-pola persegi di langit-langit... lapisan kedap suara dengan ribuan lubang kecil menyerap setiap kataku. Suaraku terkubur hidup-hidup di dalam lubang-lubang kecil di langit-langit.

Aku merasa pening. Pikiranku kosong. Itu tidak biasa karena selama sesi terapi aku selalu mempunyai bahan untuk diungkapkan dan dibicarakan. Mimpi-mimpi...

kenangan... asosiasi... masalah.... Tetapi sekarang aku merasa terkucil dan kosong.

Hanya Strauss si pendiam yang bernapas di belakangku.

"Aku merasa aneh," kataku.

"Kau mau membicarakannya?"

Oh, pandai sekali, betapa halusnya ia! Apa yang kukerjakan di sini kalau bukan untuk membicarakannya, lalu asosiasiku terserap oleh lubang-lubang kecil di langit-langit dan lubang-lubang besar terapisku?

"Aku tidak tahu apakah aku mau membicarakannya," sahutku. "Aku merasa sangat bermusuhan denganmu hari ini." Kemudian, aku menceritakan kepadanya apa yang sedang kupikirkan.

Tanpa melihat ke arahnya, aku tahu, ia sedang mengangguk pada dirinya sendiri.

"Sulit dijelaskan," kataku. "Sebuah perasaan yang pernah kurasakan satu atau dua kali sebelumnya, sesaat sebelum aku pingsan. Pening... segalanya terasa bersemangat... tetapi tubuhku terasa dingin dan mati rasa...."

"Lanjutkan." Suara Strauss terdengar bersemangat. "Apa lagi?"

"Aku tidak dapat merasakan tubuhku lagi. Mati rasa. Aku merasa bahwa Charlie berada dekat denganku. Mataku terbuka aku yakin itu terbuka, bukan?"

"Ya, terbuka lebar."

"Tapi aku melihat sinar biru-putih dari dinding, sedangkan langit-langitnya berkumpul menjadi bola gemerlapan. Sekarang bola itu mengambang di udara. Ringan... memaksakan diri masuk ke dalam mataku... dan otakku.... Segalanya di ruangan ini berkilauan... aku

mempunyai perasaan seperti mengambang... atau memuai ke atas dan keluar... tapi tanpa melihat ke bawah aku tahu tubuhku masih di sini di atas sofa....11

Apakah ini sebuah halusinasi?

"Charlie, kau tidak apa-apa?"

Atau hal itu terjelaskan oleh mistik?

Aku mendengar suaranya tetapi aku tidak mau

menjawabnya. Kehadirannya menggangguku. Aku harus

mengabaikannya. Jangan berbuat apa-apa dan biarkan ini

apa pun ini mengisiku dengan cahaya dan menyerapku ke

dalamnya.

"Apa yang kaulihat, Charlie? Ada apa?"

*

Di atas, bergerak, seperti selembar daun di dalam arus atas udara yang hangat. Bergerak cepat, atom-atom tubuhku menderu saling menjauhi. Aku menjadi semakin ringan, semakin berkurang kepadatanku, dan membesar... semakin besar... meledak ke arah matahari. Aku sebuah semesta yang memuai berenang ke atas dalam laut sunyi. Kecil awalnya, mencakup tubuhku, ruangan, gedung, kota, negara, hingga aku tahu, jika aku melihat ke bawah, aku akan melihat bayanganku menodai bumi.

Ringan dan tanpa rasa. Hanyut dan meluas melalui waktu dan ruang.

Kemudian, seperti yang kutahu, aku hampir menembus lapisan keberadaan, seperti seekor ikan terbang melompat keluar dari laut, aku merasakan tarikan dari bawah.

Tarikan itu menggangguku. Aku ingin melepasnya. Di ambang percampuran dengan semesta aku mendengar bisikan di sekitar area kesadaran. Dan sentakan yang sangat lembut menahanku di dunia bawah yang terbatas

dan tak abadi. Perlahan seperti ombak menggulung kembali, jiwa memuaikan aku mengerut kembali menjadi dimensi keduniawian bukan atas kehendakku, karena aku akan lebih suka menghilang, tetapi aku ditarik dari bawah, kembali menjadi diriku sendiri, sehingga hanya untuk sesaat aku sudah berada di sofa itu lagi, menyesuaikan jemari kesadaranku ke dalam sarung tangan dagingku. Aku tahu aku dapat menggerakkan jemari ini atau mengedipkan mata jika aku mau. Tetapi aku tidak mau bergerak. Aku tidak akan bergerak!

Aku menunggu dan membiarkan tubuhku terbuka, pasif, terhadap apa pun arti pengalaman ini. Charlie tidak ingin aku menembus tirai pikiran di atas. Charlie tidak mau tahu apa yang ada di sana.

Apakah ia takut melihat Tuhan?

Atau tidak melihat apa-apa?

Ketika aku berbaring menunggu, waktu berlalu selama aku sendiri di daiam diriku sendiri, dan lagi, aku kehilangan semua perasaan atau sensasi tubuhku. Charlie menarikku turun ke dalam diriku sendiri. Aku menatap ke dalam ke pusat mata tak melihatku pada titik merah yang mengubah dirinya menjadi bunga berkelopak banyak bunga yang berkilauan, berputar, dan terang-benderang, yang terletak jauh di pusat bawah sadarku.

Aku mengerut. Bukan berarti atom-atom tubuhku menjadi rapat dan lebih padat, tetapi sebuah fusi seperti atom-atom dari diriku sendiri membaur menjadi mikrokosmos. Akan ada panas yang luar biasa dan sinar yang tak tertahankan neraka di dalam neraka tetapi aku tidak menatap cahaya itu, hanya bunga tersebut, tak berlipat ganda, tak terbagi sendiri dari yang banyak ke arah yang satu. Dan dalam sekejap bunga yang

berkilauan itu berubah menjadi cakram emas yang terikat pada seutas tali, kemudian menjadi gelembung pelangi yang berputar. Akhirnya, aku kembali ke gua yang segalanya sunyi dan gelap. Aku berenang dalam labirin basah sambil mencari-cari seseorang yang akan menerimaku... memelukku... menyerapku... ke dalam dirinya.

Dengan itulah aku mungkin mulai.

Di pusat aku melihat cahaya lagi, sebuah lubang dalam kegelapan gua, sekarang menjadi kecil dan jauh melalui ujung kebalikan dari sebuah teleskop cemerlang, menyilaukan, berkilauan, dan sekali lagi bunga berkelopak banyak (teratai yang berputar yang mengambang di dekat pintu masuk alam bawah sadar). Di jalan masuk guaaku akan menemukan jawabannya, jika aku berani kembali dan mencebur menembusnya ke dalam jurang cahaya yang jauh.

Belum!

Aku takut. Bukan pada kehidupan, atau kematian, atau kenisbian, tetapi akan menyia-nyiakannya seolah aku tidak pernah ada. Dan ketika aku beranjak ke arah jalan masuk, aku merasakan tekanan di sekitarku, memutarku dengan kasar seperti gelombang ke arah mulut gua.

Terlalu kecil. Aku tidak dapat masuk.

Dan tiba-tiba aku terlempar mengempas ke dinding, lagi dan lagi, lalu dipaksa melewati mulut gua yang bercahaya menyiksa membakar mataku. Aku tahu aku akan menembus lapisan itu dan memasuki cahaya suci itu. Lebih dari yang dapat kutahan. Sakit seperti yang belum pernah kurasakan, dan dingin serta mual, lalu suara dengung yang keras di atas kepalaku mengepak-ngepak

seperti ribuan sayap. Aku membuka mataku, yang silau

karena cahaya yang menyorot terus. Lalu mencambuk

udara dan gemetar serta menjerit.

*

Aku keluar dari situ karena ada tangan yang mengguncangku dengan keras. Dr Strauss.

"Terima kasih, Tuhan," katanya, ketika aku menatap matanya. "Kau membuatku khawatir."

Aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak apa-apa."

"Kurasa mungkin sudah cukup untuk hari ini."

Aku berdiri dan limbung ketika aku mengumpulkan lagi pandanganku. Ruangan itu terlihat sangat kecil. "Tidak hanya untuk hari ini," kataku. "Kukira aku tidak perlu lagi menjalani sesi lagi. Aku tidak mau melihatnya lagi."

Strauss kesal, tetapi tidak berusaha berbicara denganku tentang hal itu. Aku mengambil topi dan jasku lalu pergi.

"... orang dari gua itu akan mengatakan bahwa dirinya yang pergi ke atas dan turun tanpa matanya...."

5 Oktober Aku duduk mengetik laporan ini, ternyata sulit. Aku tidak dapat berpikir sementara alat perekam menyala. Aku terus menyingkirkannya selama hampir seharian, tetapi aku tahu betapa pentingnya itu, karena itulah aku harus melakukannya. Aku telah mengatakan kepada diriku sendiri aku tidak mau makan malam hingga aku duduk dan menulis sesuatu apa saja.

Profesor Nemur menjemputku lagi. Ia menginginkan aku datang ke lab untuk menjalani beberapa jenis tes seperti yang sudah pernah kulakukan. Awalnya aku mengerti, itu memang seharusnya begitu, karena mereka

masih terus membayarku. Ini juga penting sehingga aku harus mencatat dengan lengkap. Tetapi, ketika aku tiba di Beekman dan menjalani semuanya bersama Burt, aku tahu tes-tes tersebut akan menjadi tidak ada gunanya lagi bagiku.

Pertama-tama aku menjalani tes labirin kertas dan pensil. Aku masih ingat ketika aku belajar mengerjakannya dengan cepat dan ketika aku berlomba dengan Algernon. Aku dapat memastikan kali ini aku membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk menyelesaikannya. Burt mengulurkan tangannya untuk mengambil kertasku, tetapi aku menyobeknya dan membuang sobekan-sobekannya ke keranjang sampah.

"Aku tidak mau lagi. Aku sudah bosan berlari di labirin. Aku sedang berada dijalan buntu sekarang, titik."

Burt khawatir aku berlari keluar, maka ia menenangkan aku, "Tidak apa-apa, Charlie. Tenang saja."

"Apa maksudmu 'tenang saja'? Kau tidak tahu seperti apa rasanya."

"Memang tidak, tetapi aku dapat membayangkannya. Kami semua merasa muak perihal ini."

"Simpan saja simpatimu. Tinggalkan saja aku." Ia malu, tapi kemudian aku sadar bahwa itu bukan salahnya, sedangkan aku telah bersikap tidak menyenangkan terhadapnya. "Maaf aku mengacaukannya," kataku lagi. "Bagaimana kabarmu? Tesismu sudah selesai?"

Ia mengangguk. "Sedang diketik ulang sekarang. Aku akan meraih PhD pada Februari."

"Anak baik." Aku menepuk bahunya untuk menyatakan kepadanya bahwa aku tidak marah. "Teruslah menggali ilmu. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada pendidikan. Begini, lupakan yang tadi kukatakan.

Akan kulakukan apa saja yang kau mau. Tetapi, aku tidak mau menyusuri labirin lagi itu saja."

"Baik, Nemur ingin mengetesmu dengan Rorschach."

"Untuk melihat apa yang terjadi jauh di lubuk hatiku? Temuan apa yang ia harapkan dariku dengan tes itu?"

Aku pasti telah terlihat kesal, karena Burt mulai menahan diri. "Kita tidak perlu melakukan itu. Kau di sini secara suka rela. Jika kau tidak ingin melakukannya...."

"Tidak apa-apa. Ayolah. Bagikan kartu-kartu itu. Tetapi jangan katakan apa yang kautemukan dari jawa-ban-jawabanku."

Ia tidak perlu melakukan hal itu.

Aku cukup tahu tentang tes Rorschach bahwa bukan apa yang kaulihat di kartu-kartu itu yang diperhitungkan, melainkan bagaimana reaksimu terhadap kartu-kartu tersebut. Sebagai keseluruhan, atau sebagian-sebagian, ketika bergerak atau hanya merupakan gambar-gambar diam, dengan perhatian khusus pada warna bercak tinta atau mengabaikan warnanya, dengan banyak gagasan atau hanya sedikit jawaban yang khas.

"Itu tidak berlaku lagi," kataku. "Aku tahu apa yang kalian cari. Aku tahu jawaban apa yang seharusnya aku berikan, untuk menciptakan gambaran tertentu tentang pikiranku. Yang harus kulakukan hanyalah...."

Namun, kemudian aku merasa terpukul sebuah kepalan tangan di sisi kepalaku. Aku tidak ingat apa yang harus kulakukan. Seolah aku sudah melihat keseluruhan jawaban dengan jelas pada sebuah papan tulis di benakku. Tetapi ketika aku berpaling untuk membacanya, sebagian dari tulisan tersebut telah dihapus, sedangkan yang masih ada menjadi tidak masuk akal.

Awalnya, aku menolak mempercayainya. Aku

melihat-lihat kartu yang lainnya dengan panik, begitu cepat sehingga aku tersedak kata-kataku sendiri. Aku ingin merobeki kartu-kartu bebercak tinta itu sehingga mengungkap sendiri. Di dalam bercak-bercak tinta entah yang mana, terdapat jawaban-jawaban yang kuketahui beberapa saat yang lalu. Tidak benar-benar dalam bercak-bercak itu, tetapi di bagian benakku yang akan memberi bentuk dan arti bagi mereka, serta memproyeksikan kesanku terhadap bercak-bercak tersebut.

Aku tidak dapat melakukannya. Aku tidak dapat mengingat apa yang harus kukatakan. Semua hilang.

"Itu seorang perempuan...," kataku, "... sedang berlutut membersihkan lantai. Maksudku tidak itu seorang lelaki sedang memegang sebilah pisau." Bahkan ketika aku mengatakannya, aku tahu apa yang kuucapkan tetapi aku mengubahnya lalu memulai dari arah yang berbeda. "Dua orang sedang menarik-narik sesuatu... seperti sebuah boneka... dan masing-masing orang itu menariknya dengan kuat sehingga seperti akan merobeknya dan tidak! maksudku, dua wajah saling menatap melalui jendela, dan...."

Aku menyapu kartu-kartu itu dari meja, lalu berdiri. "Aku tidak mau ada tes lagi. Aku tidak mau melakukan tes apa-apa lagi."

"Baiklah, Charlie. Kita akan menyudahi untuk hari

ini.

"Bukan hanya untuk hari ini. Aku tidak mau datang lagi ke sini. Apa pun yang masih perlu kalian ketahui dariku, kalian bisa membacanya dari laporan-laporan kemajuanku. Aku sudah bosan berlari melintasi labirin. Aku bukan kelinci percobaan lagi. Aku sudah cukup melakukannya. Aku tidak ingin diganggu lagi."

"Baiklah, Charlie, aku mengerti."

"Tidak, kau tidak mengerti karena itu tidak terjadi padamu, dan tidak ada yang mengerti diriku kecuali aku sendiri. Aku tidak menyalahkanmu. Kau harus melakukan pekerjaanmu, serta meraih PhDmu, dan oh, ya, jangan katakan padaku, aku tahu kau mengerjakan ini semua lebih berdasarkan cinta pada umat manusia, tetapi kau tetap mempunyai kehidupan yang harus kaujalani. Kita tidak berada dalam tingkatan yang sama. Aku pernah melampaui tingkatanmu ke atas dan sekarang aku melaluinya lagi ke bawah. Kukira aku tidak akan menaiki lift itu lagi. Jadi, katakan saja selamat tinggal sejak sekarang."

"Kau tidak mau berbicara dulu pada Dr...."

"Sampaikan selamat tinggalku pada semua orang, kau mau? Aku merasa tidak ingin bertemu dengan mereka lagi."

Sebelum ia dapat berkata-kata lagi atau mencoba menghentikan diriku, aku sudah keluar dari lab. Aku masuk ke lift turun dan keluar dari Beekman untuk terakhir kalinya.

7 Oktober Strauss mencoba untuk bertemu lagi denganku pagi ini, tetapi aku tidak mau membuka pintu. Aku tidak mau diganggu lagi.

Rasanya aneh sekali ketika mengambil sebuah buku yang sudah kaubaca dan kaunikmati beberapa bulan yang lalu, dan sekarang kautahu, kau tidak ingat isinya. Aku ingat betapa hebatnya Milton. Aku mengambil Paradise Lost, aku hanya ingat pada bagian Adam dan Hawa dan Pohon Pengetahun, tetapi sekarang tidak mengerti apa makna semua itu.

Aku berdiri dan memejamkan mataku, lalu aku melihat Charlie diriku sendiri berusia enam atau tujuh tahun, sedang duduk di balik meja makan dengan sebuah buku sekolah, berlatih membaca, mengucapkan kata-kata berulang kali bersama ibuku yang duduk di sampingnya, di sampingku....

"Coba lagi."

"Lihat Jack. Lihat Jack berlari. Lihat Jack lihat."

"Bukan! Bukan Lihat Jack lihat/ Tetapi Lari Jack lari1." kata ibuku sambil menunjuk dengan jarinya yang kasar karena disikat.

"Lihat Jack. Lihat Jack berlari. Lari Jack lihat."

"Tidak! Kau tidak berusaha. Lakukan lagi!"

Lakukan lagi... lakukan lagi... lakukan lagi....

"Tinggalkan anak itu sendiri. Kau membuatnya takut."

"Ia harus belajar. Ia terlalu malas berkonsentrasi." Lari Jack lari... lari Jack lari... lari Jack lari... lari Jack lari....

"Ia memang lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak lain. Beri ia waktu."

"Ia normal. Tidak ada yang salah padanya. Hanya malas. Aku akan memaksanya hingga ia mau belajar."

Lari Jack lari... lari Jack lari... lari Jack lari... lari Jack

lari....

Lalu menatap ke atas dari meja itu, melalui mata Charlie, aku melihat diriku sendiri sedang membawa buku Paradise Lost. Aku kemudian sadar aku sudah merusak jilid buku tersebut karena menekannya dengan kedua tanganku seolah aku ingin merobeknya menjadi dua. Aku merusak bagian belakangnya, merobek segenggam hala-

mannya, lalu melemparkannya hingga buku itu menyeberangi ruangan, ke sudut tempat bertumpuknya kaset rusak. Aku membiarkannya tergeletak di sana dan lembaran-lembaran putihnya seolah menertawai karena aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.

Aku harus mencoba mempertahankan beberapa hal yang telah kupelajari. Kumohon, Tuhan, jangan ambil semuanya.

10 Oktober Biasanya pada malam hari aku keluar berjalan-jalan, berkeliling kota. Aku tidak tahu mengapa. Untuk melihat wajah-wajah, ku-kira. Tadi malam aku tidak dapat mengingat di mana aku tinggal. Seorang polisi mengantarku pulang. Aku punya perasaan aneh bahwa ini pernah terjadi padaku sudah lama sekali. Aku tidak mau menuliskannya, tetapi aku terus mengingatkan diriku bahwa aku adalah satu-satunya di dunia ini yang dapat menggambarkan apa yang terjadi ketika hal itu terjadi seperti ini.

Kemudian aku ingat betapa bodohnya aku.

22 Oktober Ketika aku tiba di apartemenku pagi ini, aku melihat Alice di sana, tertidur di sofa. Segalanya sudah dibersihkan, sehingga awalnya kupikir aku masuk ke apartemen yang salah. Tetapi kemudian aku melihat Alice tidak menyentuh kaset-kaset hancur atau buku robek atau lembaran partitur di sudut ruangan. Lantainya berderak sehingga membangunkan Alice. Dia menatapku.

"Hai," sapanya. "Burung hantu."

"Bukan burung hantu. Lebih mirip burung dodo. Dodo yang dungu. Bagaimana kau bisa masuk ke sini?"

"Melalui tangga darurat. Lewat tempat Fay. Aku

meneleponnya untuk mengetahui keadaanmu. Dia bilang, dia khawatir. Dia mengatakan kau bersikap aneh menimbulkan gangguan di apartemen. Jadi, aku memutuskan bahwa inilah waktunya bagiku untuk datang. Aku merapikan tempatmu sedikit. Kau tidak keberatan, kan?"

"Tentu saja aku keberatan... sangat. Aku tidak mau seorang pun datang ke sini dengan perasaan kasihan padaku."

Alice beranjak menuju cermin untuk menyisir rambutnya. "Aku tidak datang ke sini untuk mengasihanimu. Hanya karena aku mengasihani diriku sendiri."

"Apa artinya itu?"

"Tidak ada artinya," sahutnya sambil menggerakkan bahunya. "Hanya... seperti puisi. Aku ingin bertemu denganmu."

"Mengapa tidak pergi ke kebun binatang?" "Jangan begitu, Charlie. Jangan bertengkar denganku. Aku sudah cukup lama menunggumu datang dan menjemputku. Lalu aku memutuskan datang ke rumahmu."

"Mengapa?"

"Karena masih ada waktu. Aku ingin melewatkannya bersamamu."

"Itu syair lagu, ya?"

"Charlie, jangan tertawakan aku."

"Aku tidak sedang tertawa. Tetapi aku tidak mampu melewatkan waktuku bersama siapa pun... waktuku hanya cukup untuk diriku sendiri."

"Aku tidak percaya kau ingin benar-benar sendirian."

"Itulah yang kuinginkan."

"Kita pernah memiliki sedikit waktu bersama sebelum kita tidak berhubungan lagi. Kita pernah mendiskusikan berbagai hal, dan melakukan berbagai hal bersama. Memang tidak berjalan terlalu lama, tetapi bearti bagiku. Begini, kita berdua tahu, itu mungkin saja terjadi. Bukan rahasia. Aku tidak pergi, Charlie. Aku masih menunggu. Kau sudah setingkat denganku lagi, bukan?"

Aku berjalan cepat ke tengah ruangan. "Tetapi itu gila. Tidak ada yang bisa ditunggu. Aku sendiri tidak berani berpikir ke depan... hanya ke belakang. Dalam beberapa bulan lagi, minggu, hari... siapa yang tahu? Aku akan kembali ke Warren. Kau tidak dapat mengikutiku ke sana."

"Memang tidak," katanya mengakui, "bahkan mungkin aku juga tidak akan menjengukmu di sana. Begitu kau sudah berada di Warren, aku akan berusaha sebisaku untuk melupakanmu. Aku tidak akan berpura-pura sebaliknya. Tetapi sebelum kau pergi, tidak ada alasan bagi kita berdua untuk tidak bersama-sama."

Sebelum aku dapat berkata apa-apa, Alice menciumku. Aku menunggu, ketika Alice duduk di sampingku di atas sofa, dengan menyandarkan kepalanya di dadaku, tetapi kepanikan itu tidak muncul. Alice adalah seorang perempuan, tetapi mungkin Charlie akan mengerti bahwa dia bukan ibunya ataupun adik perempuannya.

Merasa lega karena tahu bahwa aku sudah melewati masa krisis itu, aku mendesah. Tidak ada satu pun yang menahanku sekarang. Tidak ada waktu untuk menjadi ketakutan atau berpura-pura, karena perasaanku tidak akan seperti ini dengan perempuan lain. Segala penghalang sudah hilang. Aku telah mengurai tali yang diberikan Alice padaku, dan menemukan jalanku di labirin

ke tempat Alice menungguku. Aku mencintainya dengan lebih dari sekadar tubuhku.

Aku tidak berpura-pura mengerti misteri cinta, tetapi kali ini kebutuhanku lebih dari sekadar seks, lebih dari sekadar memakai tubuh seorang perempuan. Perasaanku terangkat dari bumi, berada di luar ketakutan dan kesengsaraan, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dibanding diriku sendiri. Aku terangkat dari kegelapan sel pikiranku, menjadi bagian dari orang lain persis seperti yang pernah kualami ketika aku berbaring di sofa saat terapi. Itulah langkah pertama keluar menuju semesta keluar semesta karena di dalamnya, dengannya kita bergabung untuk menciptakan kembali dan mengabadikan jiwa manusia. Meluas dan meledak keluar, lalu meregang dan membentuk ke dalam. Itulah irama keberadaan dari pernapasan, detak jantung, dari siang dan malam dan irama dari tubuh kami yang menciptakan gema dalam benakku. Seperti cara kembali ke belakang ke visi yang aneh. Kabut kelabu terangkat dari benakku, lalu melalui itu cahaya menembus otakku (betapa anehnya, padahal cahaya seharusnya menyilaukan!). Lalu tubuhku terserap kembali ke dalam laut besar di angkasa raya. Tercuci dalam pembaptisan yang aneh. Tubuhku bergetar karena memberi, sedangkan tubuhnya bergetar karena penerimaan.

Itulah cara kami mencinta, hingga malam menjadi hari yang sunyi. Ketika aku berbaring di sana bersama Alice aku dapat melihat betapa pentingnya cinta jasmaniah, betapa perlunya bagi kami untuk berada dalam pelukan masing-masing, memberi dan menerima. Alam semesta meledak, setiap partikel menjauh dari yang berikutnya, mengempaskan kami ke kegelapan dan

angkasa sepi, selalu memisahkan kami menjauh satu sama lain anak keluar dari rahim, teman menjauh dari teman, bergerak saling menjauh, masing-masing mengikuti jalannya ke arah kotak tujuan kematian yang tersendiri.

Namun, inilah imbangan berat, tindakan pengikatan dan pelekatan. Seperti ketika manusia menahan agar tidak terseret keluar kapal dalam badai, saling berpegangan tangan supaya tidak bercerai-berai. Maka tubuh kita bersatu menjadi sebuah pertalian dalam rantai manusia yang menjaga kita agar tak terseret ke ketiadaan.

Sesaat sebelum aku tertidur, aku ingat apa yang kualami ketika aku bersama Fay. Aku tersenyum. Tidak aneh jika itu berlangsung dengan mudah. Karena itu hanya jasmaniah. Bersama Alice merupakan sebuah misteri.

Aku bergerak mendekat padanya dan mencium matanya.

Sekarang Alice tahu segalanya tentang diriku, dan menerima kenyataan bahwa kami hanya dapat bersama sebentar saja. Alice mau pergi ketika aku menyuruhnya pergi. Sangat menyakitkan ketika memikirkan itu. Tetapi apa yang kami miliki, kuduga, lebih dari yang ditemukan orang lain di sepanjang hidup mereka.

24 Oktober Aku terbangun keesokan harinya tanpa tahu di mana aku berada atau apa yang kulakukan di sini. Lalu melihat Alice di sampingku, maka aku ingat. Alice merasakan ada yang terjadi pada diriku, lalu dia bergerak tanpa berisik di sekitar apartemen. Dia menyiapkan makan pagi, membersihkan apartemenku, atau pergi keluar dan meninggalkan aku sendirian, tanpa bertanya apa pun.

Kami pergi ke sebuah konser malam ini, tetapi aku menjadi bosan sehingga kami meninggalkannya di

tengah-tengah acara. Tampaknya aku tidak dapat memperhatikan sesuatu terlalu lama lagi. Aku pergi karena aku tahu aku pernah menyukai Stravinsky tetapi entah mengapa, kini aku tidak memiliki kesabaran lagi untuk menyimaknya.

Satu-satunya hal buruk akibat kehadiran Alice di sisiku adalah sekarang aku merasa harus melawan kemunduran ini. Aku ingin menghentikan waktu, membekukan diriku pada tingkat ini saja, dan tidak akan pernah melepaskan Alice.

17 Oktober Mengapa aku tidak dapat mengingat? Aku harus berusaha menolak kemunduran ini. Alice mengatakan padaku, aku berbaring di atas tempat tidur selama beberapa hari dan tampaknya tidak tahu siapa dan di mana aku berada. Kemudian ingatanku kembali, maka aku mengenalinya dan ingat apa yang sedang terjadi. Fuga amnesia. Gejala masa kanak-kanak kedua apa namanya kepikunan? Aku dapat melihat hal itu datang.

Segalanya begitu logis kejam, hasil percepatan segala proses pikiran. Aku pernah belajar begitu banyak dan begitu cepat, lalu sekarang pikiranku mundur dengan cepat juga. Bagaimana jika aku tidak mau membiarkan hal itu terjadi? Bagaimana jika aku melawan? Pikirkan orang-orang di Warren, senyuman hampa, ekspresi kosong, semua orang menertawakan mereka.

Charlie Gordon kecil menatapku dari balik jendela menunggu. Kumohon, jangan yang itu lagi.

18 Oktober Aku mulai melupakan berbagai hal yang telah kupelajari akhir-akhir ini. Tampaknya mengikuti pola

klasik, yang terakhir kupelajari menjadi yang pertama terlupakan. Atau apakah itu pola? Lebih baik kucari tahu lagi.

Ketika membaca kembali tulisanku Efek Algernon Gordon aku yakin akulah yang menulisnya, tetapi aku terus merasa bahwa tulisan ini ditulis oleh orang lain. Aku tidak mengerti sebagian besar isinya.

Namun, mengapa aku menjadi begitu mudah tersinggung? Terutama ketika Alice bersikap begitu baik padaku? Alice menjaga kerapian dan kebersihan rumahku, selalu menyimpan barang-barangku dan mencuci piring serta menggosok lantai. Seharusnya aku tidak meneriakinya seperti tadi pagi. Alice menangis, aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Tetapi dia seharusnya tidak memunguti kaset-kaset rusak dan buku serta partitur untuk disimpannya di dalam kotak. Itu membuatku marah. Aku tidak mau ada orang menyentuh benda-benda itu. Aku ingin melihat barang-barang itu tetap bertumpukan. Aku ingin barang-barang itu mengingatkan aku pada apa yang kutinggalkan. Aku menendang kotak itu dan menebar segala isinya ke lantai. Lalu aku mengatakan padanya agar membiarkan itu semua di tempatnya.

Konyol. Tidak ada alasan untuk itu. Kukira aku menjadi kesal karena aku tahu Alice menganggap konyol menyimpan barang-barang seperti itu, tetapi dia tidak mengatakan itu padaku. Alice hanya berpura-pura hal itu biasa saja. Alice hanya menyenangkan aku. Lalu ketika aku melihat kotak itu, aku ingat anak lelaki di Warren yang membuat lampu jelek. Aku juga ingat kami menyenangkannya dengan berpura-pura apa yang dilakukannya itu hebat, padahal tidak.

Itulah yang dilakukan Alice padaku, aku tidak me-

ngerti.

Ketika dia masuk ke kamar tidur dan menangis, aku merasa sedih. Aku katakan kepadanya itu semua salahku. Aku tidak pantas mendapatkan seorang yang begitu baik seperti dirinya. Mengapa aku tidak dapat mengendalikan diriku sendiri, walau hanya secukupnya untuk mencintainya? Secukupnya saja.

19 Oktober Motor aktivitas rusak. Aku terus saja tersandung dan menjatuhkan barang-barang. Awalnya aku tidak mengira itu salahku. Kukira Alicelah yang mengubah letak barang-barang itu. Keranjang sampah menghalangi jalanku, juga kursi-kursi, kupikir Alice telah memindahkan tempatnya.

Sekarang aku sadar keadaanku memburuk. Aku harus bergerak lambat-lambat supaya tidak tersandung atau jatuh. Lalu aku juga menjadi semakin sulit mengetik. Mengapa aku terus menyalahkan Alice? Dan mengapa Alice tidak membantah? Itu lebih membuatku marah karena aku melihat kesan kasihan di wajahnya.

Satu-satunya kesenanganku sekarang hanyalah pesawat TV. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku dengan menonton acara kuis, film-film kuno, opera sabun, bahkan acara anak-anak dan film kartun. Kemudian aku tidak bisa mematikannya. Pada larut malam ada tiga film kuno, film horor, pertunjukan malam, dan pertunjukan sangat malam, bahkan upacara kecil sebelum stasiun itu menyudahi acaranya juga aku tonton. Lalu lagu Star Spangled Banner terdengar dengan kibaran bendera di latar belakangnya, dan akhirnya gambar pola saluran percobaan yang balas menatapku melalui jendela persegi kecil dengan mata tak tertutup....

Mengapa aku selalu melihat kehidupan melalui sebuah jendela?

Dan setelah segalanya berakhir, aku merasa muak pada diriku sendiri karena waktuku yang sangat sedikit untuk membaca dan menulis serta berpikir. Juga karena seharusnya aku tahu yang lebih baik daripada meracuni pikiranku dengan hal-hal tak jujur yang ditujukan bagi seorang anak yang ada di dalam diriku. Terutama aku, karena anak di dalam diriku itu memanfaatkan pikiranku.

Aku tahu semua itu. Ketika Alice mengatakan padaku bahwa seharusnya aku tidak membuang-buang waktuku, aku menjadi marah. Kukatakan padanya agar jangan menggangguku.

Aku punya perasaan aku sedang menonton karena itu penting bagiku untuk tidak berpikir, tidak mengingat pabrik roti itu, ibuku, ayahku, dan Norma. Aku tidak ingin mengingat-ingat masa lalu.

Hari ini aku sangat terkejut. Ketika aku mengambil sebuah salinan artikel yang kugunakan dalam penelitianku, karya K rug e r, Uber Psychische Ganzheit, untuk mengetahui apakah artikel tersebut dapat membantuku mengerti makalah yang kutulis sendiri dan apa yang telah kulakukan dengannya. Pertama, kupikir ada yang salah dengan mataku. Kemudian aku sadar aku tidak lagi dapat membaca bahasa Jerman. Aku menguji diriku sendiri dengan bahasa lainnya. Ternyata semuanya menghilang.

22 Oktober Alice sudah pergi. Ayo kita lihat apakah aku bisa mengingatnya. Dimulai ketika Alice mengatakan bahwa kami tidak dapat hidup seperti dalam rumah yang berantakan dengan buku-buku sobek dan kertas-kertas serta kaset-kaset bertebaran di seluruh lantai dan tempat.

"Biarkan segalanya ada di tempatnya," aku memperingatkannya.

"Mengapa kau ingin hidup seperti ini?"

"Aku ingin segalanya ada di tempat aku meletakkannya. Aku ingin melihat semuanya keluar dari sini. Kau tidak tahu seperti apa rasanya saat ada yang terjadi dalam dirimu. Sesuatu yang tidak dapat kaulihat dan kaukendalikan, tapi tahu bahwa segalanya meluncur keluar dari sela-sela jemarimu."

"Kau benar. Aku tidak pernah mengatakan aku dapat mengerti hal-hal yang terjadi pada dirimu. Tidak ketika kau menjadi terlalu cerdas bagiku, dan tidak juga sekarang. Tetapi akan kukatakan satu hal. Sebelum kau menjalani operasi itu, kau tidak seperti ini. Kau tidak berkubang di dalam sampahmu sendiri dan mengasihani diri, kau tidak mengotori pikiranmu sendiri dengan duduk di depan TV sepanjang siang dan malam. Kau tidak menggeram dan membentak orang lain. Ada sesuatu dalam dirimu yang membuat kami menghormatimu... ya, walau kau sebagai dirimu ketika itu. Kau dulu mempunyai sesuatu yang belum pernah kulihat pada seorang yang terbelakang."

"Aku tidak menyesali eksperimen itu."

"Aku juga tidak. Tetapi kau telah kehilangan sesuatu yang pernah kaumiliki. Kau dulu punya senyuman...."

"Seulas senyuman kosong dan tolol."

"Bukan, melainkan seulas senyuman yang hangat, dan sesungguhnya. Karena kau mengingin-kan orang lain menyukaimu."

"Dan mereka memperdayaku dan menertawakan aku."

"Ya, walau begitu kau tidak mengerti mengapa mereka tertawa. Kau merasa jika mereka dapat mener-

tawakanmu, mereka menyukaimu. Dan memang menginginkan mereka menyukaimu. Kau berlaku seperti seorang anak kecil, kau bahkan menertawakan dirimu sendiri bersama mereka."

"Aku tidak merasa ingin menertawakan diriku sendiri sekarang, kalau kau tidak keberatan."

Alice mencoba menahan tangisnya. Kupikir aku ingin membuatnya menangis. "Mungkin itulah sebabnya begitu pentingnya bagiku belajar. Kupikir itu akan membuat orang menyukaiku. Kukira aku akan memiliki teman-teman. Ternyata itu hanya untuk ditertawakan, bukan?"

"Dibutuhkan lebih dari sekadar memiliki IQ tinggi."

Itu membuatku marah. Mungkin karena aku tidak benar-benar mengerti apa maksudnya. Akhir-akhir ini Alice semakin tidak berterus terang dan mengatakan apa maksudnya dengan jelas. Dia hanya mengisyaratkan sesuatu. Dia berbicara berputar-putar di sekitar maksud yang sesungguhnya dan berharap aku dapat mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Aku mendengarkannya, berpura-pura mengerti, tetapi di dalam hati aku takut dia akan tahu bahwa aku benar-benar tidak mengerti intinya.

"Kukira ini waktunya kau pergi."

Wajahnya memerah. "Belum, Charlie. Belum waktunya. Jangan usir aku."

"Kau membuat keadaan ini menjadi lebih sulit bagiku. Kau terus berpura-pura aku dapat melakukan sesuatu dan mengerti hal-hal yang sesungguhnya sudah jauh dari jangkauanku sekarang. Kau mendorongku. Seperti ibuku...."

"Itu tidak benar!"

"Segala yang kaukerjakan membuktikan begitu. Caramu membereskan dan membersihkan rumah ini.

Caramu meletakkan buku-buku di sekitar rumah yang kaupikir mungkin aku akan tertarik untuk membacanya lagi, caramu berbicara denganku tentang berita-berita yang membuatku berpikir. Kau bilang, itu tidak penting, tetapi segala yang kaukerjakan memperlihatkan bahwa semua itu sangat penting. Selalu menjadi guru sekolah. Aku tidak mau pergi ke konser atau museum atau menonton film asing atau mengerjakan apa saja yang membuatku berjuang untuk berpikir tentang kehidupan atau tentang diriku sendiri." "Charlie...."

"Tinggalkan aku sendiri saja. Aku sedang kesal. Aku merasa berantakan, dan aku tidak mau kau di sini."

Itu membuatnya menangis. Sore ini dia mengemasi barang-barangnya dan pergi. Apartemenku terasa sepi dan kosong sekarang.

25 Oktober Kemunduran semakin meningkat. Aku telah menyerah tidak menggunakan mesin tik lagi. Koordinasiku terlalu buruk. Mulai saat itu, aku menulis laporan-laporan ini dengan tulisan tanganku.

Aku banyak memikirkan segala yang dikatakan Alice. Lalu aku mengerti. Jika aku terus membaca dan mempelajari hal-hal baru, walau aku sudah melupakan hal yang lama, aku akan dapat mempertahankan beberapa kecerdasanku. Aku seperti sedang berada di tangga jalan yang turun sekarang. Jika aku berdiri diam, aku akan langsung tiba di dasar, tetapi jika aku mulai berlari ke atas, setidaknya aku akan berada di tempat yang sama. Yang penting adalah tetap bergerak ke depan, tidak peduli apa yang terjadi.

Maka, aku pergi ke perpustakaan dan membawa

pulang banyak buku untuk kubaca. Aku sekarang telah membaca banyak buku. Sebagian besar buku itu terlalu sulit bagiku, tetapi aku tidak peduli. Selama aku terus membaca, aku akan belajar hal-hal baru dan tidak akan lupa cara membaca. Itulah hal yang paling penting. Jika aku terus membaca, mungkin aku akan dapat menahan diriku.

Dr Strauss datang sehari setelah Alice pergi, jadi kukira dia telah bercerita kepadanya tentang diriku. Ia berpura-pura hanya menginginkan laporan-laporan kemajuan, tetapi kukatakan padanya aku akan mengirimkannya. Aku tidak mau ia datang ke sini. Kukatakan kepadanya ia tidak perlu mengkhawatirkan diriku karena begitu aku mengira tidak dapat menjaga diriku sendiri lagi, aku akan naik kereta api pergi ke Warren.

Kukatakan kepadanya aku lebih senang pergi sendiri saat waktunya tiba.

Aku berusaha bicara dengan Fay, tetapi aku dapat melihat bahwa dia takut padaku. Kukira dia membayangkan diriku sudah menjadi gila. Tadi malam dia pulang bersama seseorang ia tampak sangat muda.

Pagi ini induk semangku, Bu Mooney, datang dengan membawa semangkuk sup ayam panas dan beberapa potong ayam. Dia mengatakan bahwa dia hanya ingin menengok untuk mengetahui apakah aku tidak apa-apa. Kukatakan padanya aku punya banyak makanan untuk dimakan. Dia tetap meninggalkan makanannya dan ternyata enak. Dia berpura-pura melakukannya atas prakarsanya sendiri, tetapi aku belum bodoh. Alice atau Strauss pastilah telah memintanya menjengukku dan meyakinkan aku tidak apa-apa. Ya, itu tidak apa-apa. Bu Mooney perempuan tua yang baik hati dengan aksen

Irlandianya, juga suka membicarakan orang-orang di gedungnya. Ketika ia melihat kesemrawutan di lantai dalam apartemenku, dia tidak mengatakan apa-apa soal itu. Kupikir, dia baik.

1 November Seminggu sejak aku berani menulis lagi aku tidak tahu ke mana larinya waktu. Ini hari Minggu aku tahu karena aku dapat melihat melalui jendelaku orang-orang pergi ke gereja di seberang jalan. Kupikir aku berbaring di atas tempat tidur sepanjang minggu itu tetapi aku ingat Bu Mooney membawakan aku makanan beberapa kali dan bertanya apakah aku sakit.

Apa yang akan kulakukan pada diriku sendiri? Aku takbisa hanya berkeliaran di sini sendirian dan melihat keluar jendela. Akuharus bertahan. Aku terus mengatakan itu lagi dan lagi bahwa aku harus melakukan sesuatu tetapi kemudian aku lupa atau mungkin lebih mudah jika aku tidak melakukan apa yang ingin kulakukan.

Aku masih memiliki beberapa buku dari perpustakaan tetapi kebanyakan terlalu sulit bagiku. Aku banyak membaca kisah misteri sekarang dan buku-buku tentang raja dan ratu dari masa silam. Aku membaca buku tentang seorang lelaki yang menganggap dirinya seorang ksatria dan pergi ke mana-mana menunggangi seekor kuda tua bersama temannya. Namun tak peduli apa yang dikerjakannya ia selalu berakhir dengan dipukuli orang dan terluka. Seperti ketika ia mengira kincir-kincir angin itu adalah naga. Awalnya kukira ini buku konyol karena jika tidak gila ia akan dapat melihat bahwa kincir angin itu bukan naga dan akan tahu bahwa tidak ada penyihir perempuan dan puri-puri yang dikutuk. Tetapi ketika aku ingat bahwa tentunya ada sesuatu yang lain yang

dimaksudkan penulisnya sesuatu yang tidak dikatakan dalam kisah itu tetapi hanya diisyaratkan. Seolah ada arti yang lain. Tetapi aku tiddak tahu apa. Itu membuatku marah karena kupikir aku pernah tahu. Tetapi kuterus membacanya dan mempelajari hal-hal baru setiap hari dan aku tahu iniakan membantuku.

Aku tahu seharusnya aku menulis beberapa laporan kemajuan sebelum ini sehingga mereka akan tahu apayang terjadi pada diriku. Tetapi menulis menjadi lebih sulit. Aku sekarang harus mencari-cari walau itu kata sederhana di kamus dan itu membuatku marah pada diriku sendiri.

2 November Aku lupa menulis laporan kemarin tentang perempuan dari gedung di seberang gang satu lantai di bawah. Aku melihatnya dari jendela dapurku minggu lalu. Aku tidaktahu namanya, atau bahkan bagaimana rupa bagian atasnya tetapi setiap malam kira-kira pukul sebelas malam dia masuk ke kamar mandinya untuk mandi. Dia tidak pernah menarik turun tirainya dan dri jendelaku ketika aku mematikan lampu aku bisa melihatnya dari leher ke bawah ketika dia keluar dan bak mandi untuk mengeringkan dirinya. Pemandangan itu membuatku senang sekali, tetapi ketika perempuan itu mematikan lampunya aku merasa kecewa dan sunyi. Kuharap aku kadang-kadang dapat melihat seperti apa dirinya, apakah dia cantik atau tidak. Aku tahu tidaklah sopan mengawasi seorang perempuan ketika dia sedang mandi tetapi aku tidak dapat menahannya. Lagi pula apa bedanya bagi dirinya jika dia tidak tahu aku mengawasinya.

Hampir pukul sebelas sekarang. Waktu mandi perem-

puan itu. Jadi aku lebih baik pergi melihatnya....

5 Nov Bu Mooney sangat mengkhawatirkan aku. Dia mengatakan caraku berbaring sepanjang hari dan takmengerjakan apa-apa aku mengingatkan dirinya pada anak lelakinya sebelum diusirnya keluar dari rumahnya. Dia mengatakan dia taksuka pemalas. Jika aku sakit itu lain hal tetapi jikaku pemalas lain lagi dan dia tidak berguna bagiku. Aku katakan padanya kukira aku sakit.

Aku mencoba membaca sedikit setiap hari terutama kisah-kisah tetapi kadang-kadang aku harus membaca hal yang sama lagi dan lagi karena aku tidaktahu apa artinya. Dan sulit untuk menulis. Aku tahu aku harus melihat kata-kata di kamus tetapi akuterlalu letih setiap waktu.

Kemudian aku mendapat gagasan untuk hanya menggunakan kata-kata mudah, tidak yang panjang dan sulit. Cara itu menghemat waktu. Di luar sudah mulai dingin tetapi aku masih terus meletakkan bunga di atas kuburan Algernon. Bu Mooney mengira aku tolol karena meletakkan bunga-bunga di atas kuburan seekor tikus tetapi aku katakan padanya bahwa Algernon adalah tikus istimewa.

Aku singgah ke tempat Fay di seberang gang. Tetapi dia mengusirku dan bilang jangan kembali lagi. Dia memasang kunci baru pada pintunya.

9 Nov Hari Minggu lagi. Aku tidak punya pkerjaan untuk dikerjakan guna menyibukkan diri sekarang karena TV ku rusak dan aku selalu lupa menyuruh orang memperbaikinya. Aku kira aku kehilangan cek dari universitas. Akutidak ingat.

Kepalaku sangat sakit sedangkan aspirin tidak ba-

nyak menolong. Bu Mooney sekarang percaya bahwa aku benar-benar sakit sehingga dia merasa kasihan padaku. Dia seorang perempuan hebat setiap kali ada orang yang sakit. Di luar sudah menjadi sangat dingin sehingga kuharus mengenakan dua baju hangat.

Perempuan di seberang jalan sekarang menurunkan tirainya, jadi aku tidak dapat menontonnya lagi. Sial sekali.

20 Nov Bu Mooney memanggil seorang dokter aneh untuk memeriksaku. Dia takut aku akan mati. Kukatakan kepada dokter itu aku tidak sakit dan aku hanya lupa kadang-kadang. Ia bertanya padaku aku punya teman atau saudara dan aku katakan aku tidak punya seorang pun. Kukatakan padanya aku pernah punya teman namanya Algernon tetapi ia seekor tikus dan kami sering berlomba. Ia menatapku aneh sepertinya ia pikri aku gila.

Ia tersenyum ketika kukatakan padanya aku pernah menjadi seorang jenius. Ia bicara padaku seolah aku adalah seorang bayi dan ia mengedipkan matanya kepada Bu Mooney. Aku jadi marah sekali karena ia mengolokku dan tertawa. Lalu aku mengusirnya keluar kemudian aku mengunci pintuku.

Kupikir aku tahu mengapa akumengalami kesialan. Karena aku kehilangan kaki kelinciku dan sepatu kudaku. Aku harus mendapatkan gantinya segera.

22 Nov Dr Strauss datang hari ini dan Alicejuga tetapi akutidak membiarkan mereka masuk. Aku katakan kepada mereka aku tidak mau ada orang mengunjungiku. Aku ingin dibiarkan sendirian. Kemudian Bu Mooney datang membawa makanan dan dia mengatakan mereka telah membayar sewa dan meninggalinya uang untuk membeli

makanan dan segala yang kuperlukan. Aku katakan padanya aku tidak mau menggunakan uang mreka lagi. Katanya uangadalah uang dan seseorang harus membayar sewa atau aku harus mengeluarkanmu dari sini. Kemudian katanya mengapa aku tidk mencari pekerjaan ketimbang berkeliaran saja.

Aku tidak tahu pekerjaan apa-apa selain pekerjaan yang pernah kulakukan di pabrik roti. Aku tidak mau kembali keshana karena mereka semua mengenalku ketika aku masih pandai dan mungkin merekakan menretawakan aku. Tetapi aku tidak tahu apa lagi yang bisa kukerjakan untuk mendapatkan uang. Padahal aku ingin membayar segala keperluanku sendiri. Aku kuat dan dapat bekreja. Jika aku sudah tidakdapat menjaga diriku sendiri akukan pergi ke Warren. Aku tidakkan menerima sumbagnan dari siapa pun.

15 Nov Aku sedang melihat-lihat beberapa laporan kemajuanku yang lama dan sangat aneh karena aku tidakdapat membaca apa yang dulu kutulis. Aku dapat mengerti beberapa kata tetapi tidak masuk akal. Kupikir akulah yang menulisnya dulu tetapi akutidak ingat dengan begitu baik. Aku sangat cepat menjadi letih ketika aku mencoba membaca beberapa buku yang aku beli di toko obat. Kecuali buku yang ada gambar gadis cantiknya. Aku suka melihat gambar-gambar itu tetapi aku bermimpi aneh tentang gadis-gadis itu. Mimpi itu tidak sopan. Aku tidakmau membeli buku seperti itu lagi. Aku melihat dalam salah satu buku tersebut mereka meletakkan bubuk ajaib yang dapat membuatmu kuat dan pandai melakukan banyak hal. Kupikir mugking akukan memesan dan mbeli beberapa untukku sendiri.

16 Nov Alice datang lagi tetapi aku menyuruh dia pergi, aku tidak mau bertemu denganmu. Dia menangis dan akujug menangis tetapi aku tidakkan membiarkannya masuk karena aku tidak mau dia menretawakan aku. Kukatakan padanya aku tidak menyukainya lagi dan aku juga tidak-mau menjadi pandai lagi. Itu tidak benar tetapi.... Aku masih mencintainya dan aku masih mau menjadi pandai tapi aku harus mengatakan itu supaya dia mau pergi. Bu Mooney mengatakan padaku Alice mebawa uang lagi untuk mengurusku dan membayar sewa. Aku tidak mau itu. Aku harus mendapat pekerjaan.

Kumohon... kumohon... jangan biarkan aku lupa cara mbaca dan metulis____

18 No v Pak Donner sangat baik ketika aku datang kembali ke sana dan mepinta pekerjaan lamaku di pabrik roti. Awalnya ia sangat cruriga tetapi kukatakan kepadanya apa yang terjadi padaku kemudian ia tampak sangat sedih. Ia lalu meletakkan tangannya di bahuku dan berkata Charlie kau sangat berani.

Semua orang menatapku ketika aku turun dan mulai bekerja di kamar mandi mengepelnya seperti yang pernah kulakukan dulu. Kukatakan pada diriku sendiri Charlie jika mereka mengolokmu jagnan marah karena kau ingat mreka tidak sepandai dirimu walau mereka dulu beprikir begitu. Lagi pula mereka pernah menjadi temnmu dan jika mereka menretawakanmu itu tidak berarti apa-apa karena mereka menyukaimu jga.

Salah satu orang baru yang bekreja di snna setelah aku pergi yang bernama Meyer Klaus mengolokku. Ia mendekatiku ketika aku sedang mengangkuti karung-karung

tepugn dan berkata hai Charlie kudengar kauorang yang sangat pandai anak yang sangat cerdas. Katakan sesuatu yang cerdas. Aku merasa sedih karena aku tahu dari caranya bicara ia sedang mengolokku. Jadi aku terus bekrja. Tetapi kemudian ia datang lagi dan mencengkeram lenganku sangat keras dan meneriaki aku. Ketika aku bicara padamu Nak, sebaiknya dengarkan aku. Atau akubisa patahkan lenganmu. Ia memilin lenganku hingga sakit dan aku menjadi takut ia akan mematahkannya seperti yang dikatakannya. Lalu ia tretawa dan terus memilinnya, dan aku tidaktahu apa yang harus kulakukan. Aku menjadi sangat ketakutan aku merasa akan menangis tetapi akutidak menangis. Kemudian aku merasa harus pergi ke kamar mandi, itu sesuatu yang tidak menyenangkan. Perutku terpilin-pilin di dalam seperti aku akan meledak jika tidak segera pergi... karena aku tidak dapat menahannya.

Kukatakan padanya kumohon lepaskan aku karena aku harus pergi ke kamar mandi tetapi ia hanya menretawakan aku dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku mulai menangis. Lepaskan aku. Lepaskan aku. Kemudian aku melakukannya. Tinja mengotori celanaku dan baunya sangat busuk karena itu aku menangis. Ia melepaskan aku kemudian dan wajahnya mengerut jijik lalu ia tampak ketakutan. Ia bilang Demi tuhan aku tidak bermaksud apa-apa Charlie.

Tetapi kemudian Joe Carp datang dan mencengkeram kemeja Klaus dan berkata agar membiarkan Charlie sendiri kau bajingan tengik atau akukan patahkan lehermu. Charlie anak baik dan tidak seorang pun akan mengusiknya tanpa berurusan denganku. Aku merasa malu dan aku berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan

berganti bauju.

Ketika aku kembali Frank ada di sana juga dan Joe sedang menceritakan hal itu kepadanya kemudian Gimpy masuk dan mereka menceritakan hal itu lalu ia berkata mereakan mengenyahkan Klaus. Mereka akan mengatakan pada Pak Donner agar memecat Klaus. Aku mengatakan pada mereka kukira ia tidak perlu dipecat dan ia harus mencari pekerjaan lain karena ia punya seorang istri dan seorang anak. Lagi pula ia bilang padaku ia menyesali kelakuannya. Dan aku ingat betapa sedihnya aku ketika aku dipecat dari pabrik roti ini dan pergi. Aku berkata Klaus hasur mendapat kesempatan kedua karena sekarang ia tidakakan menggangguku lagi.

Setelah itu Gimpy mendekat terpincang-pincang dengan tungkai cacatnya dan ia berkata Charlie jika ada orang yang mengganggumu atau mencoba mempermain-kanmu panggil aku atau Joe atau Frank dan kami akan menghajarnya. Kami semua ingin kau ingat bahwa kau punya tman di sini dan jangan pernah lupakan itu. Aku berkata terima kasih Gimpy. Itu membuatku senang.

Senang sekali mempunyai teman-teman....

22 nov Aku melakukan tindakan bodoh hari ini aku lupa seharusnya aku tidakmasuk ke kelas Nona Kinnian di sekolah luar biasa orang dewasa lagi seperti biasanya. Aku masuk lalu duduk di bangkuku yang lama di belakang ruangan dan dia melihatku dengan lucu lalu dia berkata Charlie ke mana saja kau. Maka aku berkata halo Nona Kinnian aku siap untuk blajar hari ini hanya aku kehilangan buku yang kami pakai.

Nona Kinnian mulai menangis dan berlari keluar ruangan lalu semua orang melihat ke arahku dan aku melihat

banyak dari mereka bukan orang-orang yang sama yang biasanya ada di kelas ini.

Karena itulah aku pergi dari sini selamanya ke sekolah Panti Warren. Aku tidakmau melakukan hal seperti itu algi. Aku tidak mau Nona Kinnian merasa kasihan padaku. Aku tahu semua oragn merasa kasihan padaku di pabrik dan aku tidak mau itujuga jadi aku pergi ke tempat lain yang ada banyak oragn seperti aku dan tidak ada yang peduli bahwa Charlie Gordon pernah menjadi jenius dan sekarang ia tidak dapat walau hanya mbaca sebuah buku atau nulis dengan baik.

Aku membawa beberapa buku dan walau aku tidak bisa mebacanya akukan berlatih keras dan mugking akuakan bisa menjadi agak lebih pandai daripada sebelum oparasi tanpa harus dioparasi lagi. Aku punya kaki kelinci baru dan uang logam keberuntungan bahkan sedikit sisa bubuk ajaib dan mugking mereka akan membantuku.

Jika kau mbaca ini Nona Kinnian jagang merasa ksihan padaku. Akusenang mendapat kesempatan dalam hidup ini seperti yang kaukatakan menjadi pandai karena aku blajar banyak hal yang aku bahkan tidak pernah tahu hal itu ada di dunia ini dan aku bersyukur aku melihat semua walau hanyia sedikit. Dan akusenang aku mengetahui segalanya tentang keluargaku dan diriku. Sebelum itu seolah aku tidak punya keluarga sampe aku ingat tentang mereka dan melihat mereka. Sekarang aku tahu aku punya keluarga. Aku adalah seorang pribadi seperti semua orang juga.

Aku tidak tahu mengapa aku dungu algi atau apa yang telah salah kukrejakan. Mungkin itu karena aku tidak berusaha cukup keras atau hanya karena seseorang iri padaku. Tetapi jika aku berusaha dan berlatih dengan

sangat keras mugking akuakan menjadi agak lebih pandai dan tau arti semua kata. Aku ignat sedikit betapa senangnya aku mempunyai buku biru yang kubaca dengan sampul robek. Ketika aku memejamkan mataku aku memikirkan orang yang telah merobek buku itu. Ia seperti aku hanya agak berbeda dan ia bicara berbeda tetapi kupikir itu bukan aku karena ia seperti yang kulihat dari jendela.

Pokoknya karena itulah aku pergi untuk terus berusaha menjadi pandai sehingga aku dapat perasaan itu algi. Senang karena tau banyak hal dan menjadi pandai serta kuharap aku tahu segala yang ada di sluruh dunia. Kuharap aku dapat menjadi pintar lagi sekarang juga. Jika aku bsa akuakan duduk dan baca sepanjang waktu.

Aku yakin aku adalah oragn dungu pertama di dunia yang telah menemukan sesuatu yang penting bagi ilmu pengetahuan. Aku telah melakukan sesuatu tetapi aku tidak ignat apa itu. Jadi kukria seperti aku melakukannya untuk semua oragn dungu seperti aku di Warren dan di seluruh dunia.

Slamat tinggal Nona Kinnian dan dr Strauss serta smua orang....

***

PS tolong smpaikan kepada prof Nemur jangan jadi cepat marah ketika oragn menretawakannya dan ia kan punya lebih banyak tman. Mudah mendapatkan teman jika kau membiarkan orang menetrawakan dirimu. Aku akan mempunyai banyak teman ke mana pun aku pergi. PS tolong jika kau sempat letakkan bunga di atas makam Algernons di halaman belakang.



Tamat

0 Response to "Charlie 3"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified