Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Charlie 2

Semakin banyak aku bicara, Alice semakin kesal. "Apa yang dapat kulakukan untuk membantumu, Charlie?"

"Aku tidak tahu. Aku seperti seekor hewan yang terkunci di luar kurungannya yang nyaman, kurungan yang aman."

Alice duduk di sampingku di sofa. "Mereka mendorongmu terlalu cepat. Kau menjadi bingung. Kau ingin menjadi sosok dewasa, tetapi ternyata masih ada seorang bocah kecil di dalam dirimu. Sendirian dan ketakutan." Dia meletakkan kepalaku di bahunya, mencoba menenangkan diriku. Ketika dia membelai-belai rambutku, aku tahu bahwa dia juga membutuhkan aku seperti aku membutuhkan dirinya.

"Charlie," bisik Alice. "Apa pun yang kau inginkan... jangan takut padaku...."

Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku sedang menunggu datangnya kepanikan itu.

Pernah pada waktu pengiriman kue Charlie hampir pingsan ketika seorang perempuan paruh baya, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mencoba menyenangkan diri dengan membuka jubah mandinya dan mempertontonkan tubuhnya. Pernahkah Charlie melihat seorang perempuan tanpa busana? Tahukah ia bagaimana caranya bercinta? Rasa takutnya yang luar biasa rengekannya tentunya menakutkan perempuan paruh baya itu sehingga dia memegangi erat-erat jubahnya lalu memberinya uang dua puluh lima sen untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Perempuan itu hanya mengujinya, dia memperingatkannya. Dia hanya ingin tahu apakah Charlie

anak yang baik.

Ia berusaha menjadi anak yang baik, katanya kepada perempuan tersebut tanpa menatapnya, karena ibunya biasa memukulinya setiap kali ia ngompol....

Sekarang ia mendapat gambaran yang jelas tentang ibu Charlie, yang meneriakinya, sambil menggenggam ikat pinggang kulit di tangannya, sedangkan ayahnya mencoba menahannya. "Cukup, Rose! Kau bisa membunuhnya! Biarkan ia sendirian!" Ibunya membungkuk ke arahnya untuk mencambuknya, hanya meleset. Maka ikat pinggang itu melecut melewati bahunya ketika ia menggeliat dan meliuk menjauh dari lecutan di lantai.

"Lihat ia!" jerit Rose. "Ia tidak bisa belajar membaca dan menulis, tetapi bisa-bisanya ia memperhatikan seorang gadis seperti itu. Aku akan mengenyahkan kotoran itu dari otaknya."

"Ia tidak dapat menahannya jika ia mengalami ereksi. Itu wajar. Ia tidak melakukan apa-apa."

"Ia seharusnya tidak punya pikiran seperti itu terhadap gadis-gadis. Seorang teman adik perempuannya datang berkunjung dan ia mulai berpikir kotor seperti itu! Aku akan mengajarnya sehingga ia tidak akan pernah melupakannya. Kaudengar? Jika kau sampai menyentuh seorang gadis, aku akan mengurungmu, seperti seekor binatang, sepanjang hidupmu. Kaudengar aku...?"

Aku masih dapat mendengar suara Rose. Tetapi mungkin aku telah dibebaskan kini. Mungkin ketakutan dan rasa mual itu bukan lagi lautan tempat aku tenggelam di dalamnya, tetapi hanya sebuah kolam air yang mencerminkan masa lalu di sisi masa kiniku. Apakah aku

sudah bebas?

Jika aku dapat meraih Alice tepat pada waktunya tanpa memikirkannya, sebelum perasaan panik itu menguasaiku mungkin kepanikan itu tidak akan terjadi. Seandainya saja aku dapat membuat pikiranku kosong. Aku berhasil menahannya: "Kau... kaulakukan itu, Alice! Peluk aku!" Dan sebelum aku tahu apa yang dilakukan Alice, dia telah menciumku, memelukku lebih erat dari pada yang pernah kurasakan sebelumnya. Tetapi pada saat itu aku seharusnya berhasil, tetapi tanda-tanda itu mulai datang: suara dengung itu, rasa dingin, dan mual. Aku berpaling darinya.

Alice mencoba menenangkan aku, dan mengatakan itu tidak apa-apa, dan tidak ada alasan untuk menyalahkan diriku sendiri. Tetapi aku merasa malu dan tidak mampu lagi mengendalikan tekanan batinku, kemudian aku mulai menangis. Dalam dekapannya, aku menangis hingga tertidur. Ketika itu, aku ingat lukisan bangsawan dengan gadis berwajah merah muda. Tetapi, dalam mimpiku, gadis itulah yang memegang sebilah pedang.

LAPORAN KEMAJUAN 12

5 Juni Nemur kesal karena aku tidak menyerahkan satu pun laporan kemajuan dalam dua minggu ini (dan ia juga punya alasan untuk kesal karena Yayasan Welberg telah mulai membayar gajiku sebagai tunjangan sehingga aku tidak perlu mencari pekerjaan lagi). Konvensi Psikologi Internasional di Chicago akan berlangsung seminggu lagi. Ia menginginkan laporan persiapannya selengkap mungkin karena Algernon dan aku merupakan obyek pameran utamanya dalam presentasinya.

Hubungan kami jadi semakin kaku. Aku membenci Nemur karena ia terus-menerus menganggapku sebagai bahan percobaan laboratoriumnya. Ia membuatku merasa bahwa sebelum eksperimen itu, aku bukanlah manusia yang sesungguhnya.

Aku mengatakan kepada Strauss bahwa aku terlalu sibuk berpikir, membaca, dan mencoba menggali diriku sendiri, serta mencoba mengerti siapa dan apa aku ini. Aku juga bilang bahwa menulis merupakan pekerjaan lamban yang membuatku tidak sabar dalam mengungkapkan gagasan-gagasanku. Aku mengikuti usulnya supaya aku belajar mengetik, dan sekarang aku dapat mengetik dengan kecepatan hampir tujuh puluh lima huruf dalam semenit. Hal itu mempermudah aku mengungkapkan segala gagasanku di atas kertas.

Strauss kembali mengingatkan agar aku berbicara dan menulis dengan sederhana serta langsung sehingga orang-orang akan mengerti maksudku. Ia mengingatkan aku bahwa bahasa kadang-kadang bisa menjadi penghalang, bukannya jalan keluar. Ironis memang mendapati aku berada di sisi lain golongan intelektual.

Kadang-kadang aku bertemu dengan Alice, tetapi kami tidak membicarakan apa yang telah terjadi ketika itu. Hubungan kami tetap datar saja. Tetapi selama tiga malam setelah aku meninggalkan pabrik roti itu, aku bermimpi buruk. Sulit dipercaya, hal itu sudah berlangsung dua minggu yang lalu.

Aku dikejar-kejar hantu di jalan yang lengang pada malam hari. Walau aku selalu berlari ke arah pabrik itu, pintunya terkunci, dan orang-orang di dalamnya tidak pernah menoleh untuk melihatku. Dari jendela, boneka penghias kue pengantin menunjuk padaku sambil tertawa

udara menjadi penuh gelak tawa hingga aku tidak tahan lagi dan dua malaikat cinta mengibas-ngibaskan panah berapinya. Aku menjerit. Aku menggedor pintu itu tetapi tidak ada suara. Aku melihat Charlie balas menatapku dari dalam. Apakah itu hanya merupakan cerminan? Ada sesuatu yang menempel pada tungkaiku dan menarikku menjauh dari pabrik ke arah kegelapan gang. Ketika tempelan-tempelan itu mulai mengalir ke seluruh tubuhku, aku terjaga.

Pada mimpi yang lain, jendela pabrik itu terbuka ke masa lalu sehingga aku dapat melongok ke dalamnya dan melihat hal-hal serta orang-orang lain di sana.

Mengherankan juga betapa kekuatan mengingatku berkembang. Aku belum mampu mengen-dalikannya dengan sempurna. Tetapi, kadang-kadang ketika aku sibuk membaca atau menyelesaikan satu masalah, aku dapat merasakan kejernihan yang tajam.

Aku tahu itu merupakan semacam tanda peringatan bawah sadar. Sekarang aku tidak perlu menunggu kenangan itu datang padaku. Aku dapat meraih kenangan itu hanya dengan memejamkan mataku. Akhirnya, aku akan mampu benar-benar mengendalikan kenangan itu, untuk menyelidiki tidak hanya sejumlah pengalaman masa lalu, tetapi juga semua bagian yang belum terbuka dari pikiranku.

Bahkan sekarang, ketika aku memikirkannya, aku merasakan keheningan yang tajam. Aku melihat jendela pabrik roti itu... mengulurkan tangan dan dapat menyentuhnya... dingin dan bergetar, lalu kacanya pun menjadi hangat... lebih panas... jemariku terbakar. Kaca jendela memantulkan wajahku yang menjadi semakin jelas. Lalu ketika kaca itu berubah menjadi cermin, aku

melihat Charlie Gordon kecil berusia empat belas atau lima belas tahun menatapku melalui jendela rumah itu. Tapi sangat aneh, ketika aku sadar betapa berbedanya ia....

Ia sedang menunggu adik perempuannya pulang sekolah. Ketika ia melihatnya berbelok di sudut jalan ke Jalan Marks, ia melambaikan tangan dan memanggil namanya. Setelah itu, ia berlari ke beranda untuk menyambut adiknya.

Norma melambaikan selembar kertas. "Aku mendapat nilai /luntuk tes sejarahku. Aku tahu semua jawaban, Bu Baffin mengatakan, nilaiku yang terbaik di kelas."

Norma seorang gadis cantik dengan rambut cokelat muda, yang dijalin rapi dan digulung ke atas kepalanya seperti sebuah mahkota. Ketika dia mendongak untuk melihat kakak lelakinya, senyumannya berganti menjadi kerutan di kening. Lalu dia menghindar, dan meninggalkannya seraya berlari menaiki tangga memasuki rumah.

Sambil tersenyum anak lelaki itu mengikutinya.

Ibu dan ayahnya sedang berada di dapur ketika Charlie menyerbu masuk dengan girang karena berita bagus Norma. Ia meneriakkannya sebelum Norma mendapat kesempatan bicara.

"Dia dapat Al Dia dapat Al"

"Jangan!" Norma berteriak. "Jangan kau. Kau tidak boleh mengatakannya. Itu nilaiku, jadi akulah yang akan mengatakannya."

"Tunggu sebentar, Nona Muda," kata Matt sambil meletakkan korannya. Kemudian ia berkata dengan tegas kepada anak perempuannya, "Bukan begitu caranya bicara dengan kakakmu."

"Charlie tidak punya hak untuk mengatakannya!"

"Tidak apa-apa." Matt mendelik serta jarinya bergerak memperingatkannya. "Ia tidak bermaksud buruk dengan mengatakannya. Tidak perlu meneriakinya seperti itu."

Norma menoleh kepada ibunya meminta dukungan. "Aku mendapat nilai A, nilai terbaik di kelas. Sekarang, boleh aku punya seekor anjing? Mama sudah berjanji. Mama bilang, kalau nilai ujianku bagus. Dan aku mendapat nilai A. Seekor anjing cokelat dengan bercak-bercak putih. Aku akan memanggilnya Napoleon karena itu adalah jawaban terbaik dalam tesku. Napoleon kalah dalam peperangan di Waterloo."

Rose mengangguk. "Pergilah keluar ke beranda dan bermain dengan Charlie. Ia sudah menunggumu pulang sekolah selama satu jam."

"Aku tidak mau bermain dengannya."

"Pergilah ke beranda," kata Matt.

Norma menatap ayahnya, kemudian Charlie. "Kata Mama, aku tidak harus bermain bersamanya jika aku tidak mau."

"Nah, Nona Muda," Matt berdiri dari kursinya dan mendekati Norma, "kau harus minta maaf kepada kakakmu untuk itu."

"Tidak harus," jeritnya, sambil berlari ke belakang kursi ibunya. "Charlie seperti bayi. Ia tidak bisa bermain Monopoli atau halma atau yang lainnya... ia selalu mengacaukan segalanya. Aku tidak mau bermain dengannya lagi."

"Kalau begitu, masuk ke kamarmu!"

"Aku boleh punya anjing sekarang, Mama?"

Matt menghantam meja dengan kepalan tangannya. "Tidak akan ada anjing di rumah ini selama kau bersikap

seperti itu, Nona Muda."

"Aku sudah menjanjikan seekor anjing padanya jika dia berprestasi di sekolah...."

"Yang cokelat dengan bercak putih!" Norma menambahkan.

Matt menunjuk ke arah Charlie yang berdiri dekat dinding. "Kau lupa kau telah mengatakan kepada anak lelakimu ia tidak boleh punya anjing karena kita tidak punya ruangan untuknya, dan tidak ada yang akan mengurusnya. Ingat? Ketika ia minta seekor anjing? Kau ingin mengingkari apa yang kaukatakan padanya?"

"Tetapi, aku bisa mengurus anjingku sendiri," Norma mendesak. "Aku akan memberinya makan, memandikannya, dan membawanya keluar...."

Charlie yang sekarang sudah berdiri di dekat meja sambil bermain-main dengan kancing baju merah besar di ujung seutas tali itu tiba-tiba berbicara.

"Aku akan membantunya mengurus anjing itu! Aku akan membantunya memberi makan, menyikatnya, dan aku tidak akan membiarkan anjing lain menggigitnya!"

Tetapi, sebelum Matt ataupun Rose menyahut, Norma menjerit, "Jangan! Itu anjingku. Anjingku saja!"

Matt mengangguk. "Kaulihat?"

Rose duduk di sebelah Norma dan membelai-belai kepang rambutnya untuk menenangkan anak perempuannya. "Tetapi kita harus saling berbagi, Sayang. Charlie dapat membantumu mengurus anjingmu."

"Tidak! Aku saja...! Akulah yang mendapat nilai A dalam pelajaran sejarah, bukan Charlie! Ia tidak pernah mendapat nilai bagus seperti aku. Mengapa ia harus membantuku mengurus anjing? Lalu anjing itu akan lebih menyukainya daripada aku, dan akan menjadi anjingnya,

bukan anjingku lagi. Tidak! Jika aku tidak boleh punya anjing sendiri, lebih baik aku tidak punya anjing sama sekali."

"Baik kalau begitu," kata Matt sambil mengambil korannya dan duduk di kursinya lagi. "Tidak ada anjing sama sekali."

Tiba-tiba, Norma melompat dari sofa dan menyambar kertas tes sejarah yang dibawanya dari sekolah dengan sangat bersemangat beberapa menit yang lalu. Dirobek-robeknya kertas itu dan dilemparkannya ke wajah Charlie yang terlongong. "Aku benci kau! Aku benci kau!"

"Norma, hentikan sekarang juga!" Rose meraihnya tapi Norma mengelak dan pergi.

"Dan aku benci sekolah! Aku benci! Aku akan berhenti belajar, dan aku akan menjadi bodoh seperti Charlie. Aku akan melupakan semua yang kupelajari. Aku akan menjadi seperti Charlie saja." Kemudian Norma berlari keluar ruangan sambil menjerit-jerit. "Sudah terjadi padaku. Aku sudah melupakan semuanya.... Aku melupakan semuanya.... Aku tidak ingat lagi segala yang telah kupelajari!"

Rose, dengan ketakutan, berlari mengejarnya. Matt duduk di sana sambil menatap koran di atas pangkuannya. Charlie yang ketakutan karena teriakan histeris dan jeritan, duduk mengerut di atas kursi dan menangis lirih. Apa yang menjadi kesalahannya? Lalu ia merasakan basah di celananya yang disusul dengan tetesan merayap menuruni tungkainya. Ia duduk di sana, menunggu pukulan yang ia tahu akan didapatnya begitu ibunya kembali.

Gambaran itu memudar, tetapi sejak itu Norma menghabiskan waktu bebasnya bersama

teman-temannya, atau bermain sendirian dalam kamarnya. Dia terus menutup pintu kamarnya, dan aku dilarang masuk tanpa izin darinya.

Aku ingat pernah mendengar Norma berteriak ketika bermain dengan salah seorang teman perempuannya di kamarnya: "Ia bukan kakakku yang sesungguhnya! Ia hanya seorang anak lelaki yang kami pungut karena kami merasa kasihan kepadanya. Mamaku mengatakan begitu padaku, dan dia bilang aku boleh mengatakan kepada siapa saja sekarang bahwa ia bukan kakak kandungku."

Kuharap kenangan ini adalah selembar foto sehingga aku dapat merobek-robeknya dan melemparnya ke wajah Norma. Aku ingin mengenang lagi peristiwa yang sudah lewat bertahun-tahun lalu dan mengatakan padanya aku tidak pernah menghalanginya untuk memiliki seekor anjing. Dia boleh saja memiliki anjing untuk dirinya sendiri, dan aku tidak akan memberinya makan, menyikatnya, atau bermain bersamanya dan aku tidak akan membiarkannya lebih menyukai aku daripada menyukai Norma. Aku hanya ingin Norma bermain bersamaku seperti dulu. Aku tidak pernah berniat melakukan apa pun yang akan melukainya.

6 Juni Pertengkaran pertamaku yang sesungguhnya dengan Alice terjadi hari ini. Salahku memang. Aku ingin bertemu dengannya. Sering kali, setelah sebuah kenangan atau mimpi buruk menggangguku, bicara dengannya atau hanya berdua dengannya membuatku merasa lebih baik. Tetapi ternyata menjemputnya di Sekolah Luar Biasa merupakan kesalahan.

Aku tidak kembali lagi ke Sekolah Luar Biasa Orang Dewasa sejak aku menjalani operasi. Karena itu, gagasan untuk mengunjungi tempat tersebut membuatku

bersemangat sekali. Gedung itu terletak di Jalan Twenty-third, sebelah timur Jalan Fifth Avenue, di sebuah sekolah tua yang telah digunakan oleh Klinik Universitas Beekman selama lima tahun terakhir ini sebagai pusat pendidikan eksperimental kelas-kelas khusus bagi mereka yang cacat. Papan nama terpasang di ambang pintu, yang dibingkai dengan pintu pagar berduri, dan terbuat dari kuningan berkilau bertulisan "SLB Orang Dewasa Ekstensi Beekman".

Kelas Alice berakhir pada pukul delapan. Tetapi aku ingin melihat ruangan, tempat aku yang belum lama berselang berjuang mengeja bacaan sederhana dan menulis serta belajar menghitung uang kembalian dari satu dolar.

Aku masuk ke dalam, menyelinap melalui pintu, dan tetap tidak terlihat mencolok. Aku melihat dari jendela. Alice sedang duduk di mejanya, dan di kursi sebelahnya duduk seorang perempuan berwajah pipih yang tidak kukenal. Dia mengerutkan kening pertanda kebingungan. Aku bertanya-tanya, apa yang sedang dijelaskan Alice kepadanya.

Di dekat papan tulis ada Mike Dorni duduk di kursi rodanya. Lester Braun, yang menurut Alice adalah muridnya yang terpandai, duduk di tempat biasanya, di deretan pertama. Lester telah belajar dengan mudah, yang dulu aku setengah mati mempelajarinya, tetapi ia datang hanya kalau ia mau, atau ia tidak masuk karena ingin mendapatkan uang dari pekerjaannya menggosok lantai. Kukira, jika ia memang peduli jika itu penting bagi nya seperti juga bagiku mereka mungkin saja menggunakan ia untuk eksperimen yang sama. Adawajah-wajah baru juga, orang-orang yang tidak kukenal.

Akhirnya, aku punya keberanian untuk masuk.

"Itu Charlie!" seru Mike, sambil memutar kursi rodanya.

Aku melambai padanya.

Bernice, perempuan cantik berambut pirang bermata kosong, mendongak dan tersenyum bosan. "Ke mana saja kau, Charlie? Bajumu bagus sekali."

Yang lainnya yang ingat padaku, melambaikan tangan kepadaku dan aku membalasnya. Tiba-tiba aku dapat melihat ekspresi wajah Alice yang tampak jengkel.

"Hampir pukul delapan," katanya. "Waktunya untuk beres-beres."

Setiap orang memiliki tugas. Ada yang membereskan kapur tulis, penghapus, kertas-kertas, buku-buku, pensil, kertas catatan, cat, dan alat-alat peraga. Setiap orang tahu tugasnya dan merasa bangga dengan melakukannya sebaik-baiknya. Mereka mulai mengerjakan tugas masing-masing kecuali Bernice. Perempuan itu menatapku.

"Mengapa Charlie tidak datang ke sekolah lagi?" tanya Bernice. "Ada apa, Charlie? Tetapi kau sekarang datang lagi?"

Yang lainnya juga menatapku. Aku melihat Alice, sambil menunggu dia menjawabnya untukku. Sunyi beberapa saat. Apa yang dapat kukatakan kepada mereka supaya tidak melukai perasaan mereka?

"Aku hanya berkunjung," sahutku.

Salah satu dari gadis-gadis itu mulai tertawa cekikikan Francine, yang selalu dikhawatirkan Alice. Dia telah melahirkan tiga orang anak ketika baru berusia delapan belas tahun, sebelum orang tua mereka memutuskan untuk membiarkannya menjalani operasi histerektomi. Dia tidak cantik tidak semenarik Bernice tetapi dia sangat mudah menarik hati lelaki yang membelikannya sesuatu

yang indah, atau membayarinya nonton. Dia tinggal di sebuah asrama yang diperuntukkan bagi orang-orang yang ikut pelatihan pekerjaan di lapangan oleh Panti Warren, dan boleh keluar malam untuk datang ke Sekolah Luar Biasa. Dia tidak muncul dua kali karena dijemput oleh lelaki saat dalam perjalanan ke sekolah dan sekarang dia hanya boleh keluar dengan pengawalan.

"Charlie bicara seperti orang penting sekarang," katanya sambil cekikikan.

"Baiklah," kata Alice, menyela dengan tegas. "Kelas bubar. Aku akan bertemu lagi dengan kalian besok malam pukul enam."

Ketika mereka sudah pergi, aku dapat melihat dari caranya mengempaskan barang-barangnya ke dalam lemari dengan kasar, Alice marah.

"Maafkan aku," kataku. "Tadinya aku ingin menunggumu di bawah, tetapi aku ingin tahu kelas lamaku. Almamaterku. Aku hanya ingin melihat melalui jendela. Tapi tanpa sadar aku masuk ke kelas. Apa ada yang mengganggumu?"

"Tidak ada... tidak ada yang menggangguku." "Ayolah. Kemarahanmu berlebihan untuk hal yang baru saja terjadi. Ada sesuatu yang kaupikirkan."

Dia membanting buku yang dipegangnya. "Baik. Kau ingin tahu? Kau berbeda. Kau berubah. Aku tidak bicara tentang IQ-mu. Tetapi sikapmu terhadap orang lain... kau bukan orang yang sama...." "Oh, ayolah. Jangan...."

"Jangan menyelaku!" Kemarahan yang sesungguhnya dalam suaranya membuatku mundur. "Aku bersungguh-sungguh. Dulu kau punya sesuatu. Aku tidak tahu... mungkin itu kehangatan, keterbukaan, kebaikan

yang membuat semua orang menyukaimu dan senang berada di dekatmu. Sekarang, dengan segala kecerdasanmu dan pengetahuanmu, ada juga perbedaan yang...."

Aku tidak tahan mendengarnya lagi. "Apa yang kauharapkan? Kaupikir aku akan tetap menjadi anak anjing jinak yang menggoyang-goyangkan ekorku dan menjilati kaki yang menendangku? Tentu saja, semuanya telah mengubahku, dan juga caraku memandang diriku sendiri. Aku tidak lagi harus menerima begitu saja perlakuan kasar orang lain sepanjang hidupku."

"Orang-orang itu tidak jahat padamu."

"Apa yang kau tahu tentang itu? Dengarkan, yang terbaik dari mereka telah menjadi sombong dan sok mengatur... memakaiku untuk membuat diri mereka tampak hebat dan aman dalam keterbatasan mereka sendiri. Semua orang akan merasa dirinya pandai di samping orang bodoh."

Setelah berkata begitu, aku tahu, Alice akan salah menerimanya.

"Kau meletakkan aku pada kategori itu juga, kukira."

"Jangan keterlaluan. Kau tahu pasti aku...."

"Tentu saja, intinya, kukira kau benar. Berada di sampingmu aku tampak cukup membosankan. Akhir-akhir ini setiap kali kita bertemu, setelah aku meninggalkanmu, aku pulang dengan perasaan tidak menyenangkan karena aku merasa lamban dan bodoh dalam segala hal. Aku mengingat-ingat segala yang kukatakan, dan hasilnya aku menemukan hal-hal yang cemerlang serta pintar yang seharusnya aku katakan. Aku merasa ingin menendang diriku sendiri karena aku tidak mengatakannya ketika bersamamu."

"Itu pengalaman yang lumrah saja."

"Aku merasa ingin membuatmu terkesan, dengan cara yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Tetapi bersamamu, rasa percaya diriku pun runtuh. Kini aku mempertanyakan motivasiku, tentang segala hal yang kulakukan."

Aku mencoba mengalihkan topik, tetapi dia terus kembali ke sana. "Begini, Alice. Aku tidak datang ke sini untuk bertengkar denganmu," akhirnya aku berkata. "Boleh aku mengantarmu pulang? Aku memerlukan seseorang untuk kuajak bicara."

"Aku juga. Tetapi hari-hari ini aku tidak bisa bicara denganmu. Yang dapat kulakukan hanyalah menyimak dan menganggukkan kepala lalu berpura-pura mengerti segalanya tentang perbedaan budaya, dan matematika neo Boulean, juga logika pascasimbolis, kemudian aku merasa lebih bodoh. Lalu, ketika kau meninggalkan apartemen, aku harus menatap cermin dan meneriaki diriku sendiri: 'Tidak, kau tidak menjadi lebih bodoh setiap hari! Kau tidak kehilangan kecerdasanmu! Kau tidak menjadi pikun dan bodoh. Ledakan kepandaian Charlie yang begitu cepatlah yang membuatku tampak mundur.' Aku mengatakan begitu pada diriku sendiri, Charlie. Tetapi ketika kita bertemu dan kau mengatakan padaku sesuatu sambil menatapku dengan tidak sabar, aku tahu kau sedang menertawakan diriku.

"Dan saat kau menjelaskan sesuatu padaku, tapi aku tidak dapat mengingatnya, kaupikir itu karena aku tidak tertarik dan tidak mau mengalami kesulitan. Tetapi, kau tidak tahu bagaimana aku menyiksa diriku ketika kau pergi. Kau tidak tahu buku-buku yang kuusahakan kubaca, kuliah-kuliah yang kuhadiri di Beekman. Begitu

aku bicara denganmu tentang sesuatu, aku melihat betapa tidak sabarnya dirimu, seolah kami semua kekanak-kanakan. Aku menginginkan kau pandai. Aku ingin membantumu dan berbagi denganmu... dan sekarang kau tidak membolehkan aku masuk dalam kehidupanmu."

Menyimak apa yang dikatakan Alice, kedalaman pikirannya menyadarkan aku. Aku telah begitu asyik dengan diriku sendiri serta apa yang terjadi padaku. Yang tidak pernah terpikirkan adalah apa yang terjadi pada diri Alice setelah itu.

Dia menangis lirih ketika kami meninggalkan sekolah, dan aku tidak bisa berkata apa-apa. Di sepanjang perjalanan dengan bus, aku berpikir betapa situasinya menjadi kacau. Alice takut padaku. Es itu telah mencair di antara kami, lalu jarak di antara kami melebar ketika arus pikiranku membawaku ke lautan lepas.

Alice benar ketika dia menolak untuk menyiksa diri saat bersamaku. Kami tidak lagi memiliki kesamaan. Percakapan ringan telah menjadi kaku. Dan yang ada di antara kami adalah kesenyapan yang memalukan dan kerinduan yang tak terbebaskan dalam sebuah ruangan gelap.

"Kau sangat serius," katanya berusaha mencerahkan suasana hatinya sendiri, sambil menatapku. "Ya, tentang kita."

"Seharusnya tidak perlu serius begitu. Aku tidak mau membuatmu kesal. Kau sedang mengalami cobaan besar." Alice mencoba tersenyum.

"Tetapi kau membuatku kesal. Hanya, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk itu."

Dalam perjalanan dari halte bus ke apartemennya, dia berkata, "Aku tidak ikut bersamamu ke pertemuan. Aku

sudah menelepon Profesor Nemur tadi pagi dan mengatakan itu kepadanya. Kau pasti akan sangat sibuk di sana. Bertemu dengan orang-orang yang menarik... ketegangan yang menyenangkan karena menjadi pusat perhatian. Aku tidak mau menghalangi...." "Alice...."

"... dan tidak peduli apa yang akan kaukatakan tentang itu sekarang, aku tahu itulah yang akan kurasakan. Maka, jika kau tidak keberatan, aku akan mempertahankan egoku yang sedang tercabik-cabik ini, terima kasih."

"Tetapi kau membesar-besarkan persoalan. Aku yakin, jika kau akan hanya...."

"Kau tahu? Kau yakin?" Alice berpaling dan mendelik, di depan tangga gedung apartemennya. "Oh, betapa kau keterlaluan. Bagaimana kau tahu apa yang kurasakan? Kau dengan bebas mengulas pikiran orang lain. Kau tidak dapat mengatakan bagaimana perasaanku atau apa yang kurasakan atau mengapa aku merasa seperti itu."

Alice beranjak masuk, kemudian dia menatapku lagi, suaranya bergetar, "Aku akan di sini ketika kau kembali. Aku hanya kesal, itu saja. Dan aku ingin kita berdua menggunakan kesempatan untuk berpikir sementara kita saling berjauhan."

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ini, dia tidak mengundangku masuk. Aku menatap pintu yang tertutup dengan kemarahan memuncak dalam diriku. Aku ingin berbuat sesuatu, menggedor pintu itu, atau merobohkannya. Aku ingin kemarahanku terlampiaskan pada gedung ini.

Tetapi, ketika aku beranjak menjauh, aku merasakan semacam perasaan yang berangsur-angsur mereda, lalu

dingin dan akhirnya lega. Aku berjalan begitu cepat seolah aku hanyut di jalanan itu, dan pipiku diterpa angin dingin sepoi-sepoi di malam musim panas. Tiba-tiba aku merasa bebas.

Aku sadar bahwa perasaanku terhadap Alice telah bergerak mundur melawan arus pembelajaranku. Dari pemujaan terhadap Alice berubah menjadi cinta, kesukaan, penghargaan, dan tanggung jawab. Perasaan bingungku terhadap dia telah menahanku, dan aku telah bergantung padanya karena rasa takutku dipaksa bukan menjadi diriku sendiri, dan membiarkan aku hanyut.

Tetapi, kebebasan itu mendatangkan kesedihan. Aku ingin mencintainya. Aku ingin mengatasi ketakutan emosional dan seksualku kemudian menikah, mempunyai anak-anak serta rumah.

Sekarang itu tidak mungkin. Aku sekarang menjadi terlalu jauh dari Alice dengan IQ 185, begitu juga ketika aku masih ber-IQ 70.

8 Juni Apa yang membuatku keluar dari apartemen untuk berkeliling kota? Aku berjalan-jalan di kota sendirian bukan berjalan-jalan dengan santai di malam musim panas, tetapi berjalan dengan terburu-buru entah ke mana? Di gang-gang, aku menatapi pintu-pintu, mengintai ke jendela yang setengah tertutup tirai, menginginkan seseorang bicara tapi takut bertemu dengan siapa pun. Memasuki satu jalan dan keluar dari jalan yang lain, aku seperti melewati labirin tanpa akhir, dengan menerjang kota yang seperti kandang lampu neon. Mencari... entah apa?

LAPORAN KEMAJUAN 13

10 Junikami berada di dalam Stratojet yang hampir mengudara menuju Chicago. Aku masih berutang laporan kemajuan ini kepada Burt yang memiliki gagasan cemerlang. Ia mengatakan, aku bisa saja mendiktekan laporanku pada sebuah perekam transistor dan meminta ahli stenografi mengetiknya di Chicago. Nemur menyukai gagasan itu. Kenyataannya, ia ingin aku menggunakan rekaman itu akhirnya. Ia merasa hal itu dapat menambah laporannya jika memutar laporan yang paling baru pada sesi terakhir konvensi.

Jadilah aku sekarang duduk sendirian di bagian pribadi di dalam jet yang menuju ke Chicago, sambil membiasakan diri berpikir dengan suara keras dan mendengarkan suaraku sendiri. Kukira pengetik itu dapat mengabaikan saja segala umm, eee, dan ah, serta membuatnya sewajar mungkin di atas kertas (aku tidak dapat menghindari kegugupan yang menyerangku ketika aku ingat bahwa ada ratusan orang yang akan menyimak kata-kata yang kuucapkan sekarang).

Benakku kosong. Pada saat itu, perasaanku lebih penting daripada segalanya.

Gagasan terbang mengudara membuatku ketakutan.

Sejauh yang dapat kuingat, pada hari-hari sebelum operasi, aku tidak pernah benar-benar mengerti apa itu pesawat terbang. Aku belum pernah melihat di TV ataupun di film potret pesawat dari jarak dekat dengan benda-benda yang kulihat meluncur di atas kepalaku. Sekarang sebentar lagi kami akan mengudara. Yang dapat kupikirkan hanyalah apa yang mungkin terjadi jika kami jatuh. Sebuah perasaan dingin muncul, lalu pikiran bahwa aku tidak mau mati. Keadaan itu membuatku ingat pada diskusi tentang Tuhan.

Aku sering berpikir mengenai kematian dalam minggu-minggu terakhir ini, tetapi tidak benar-benar tentang Tuhan. Ibuku membawaku ke gereja sesekali-tetapi aku tidak ingat pernah benar-benar memikirkan Tuhan. Mama sangat sering menyebut-Nya, dan aku harus berdoa kepada-Nya pada malam hari, tetapi aku tidak pernah serius memikirkannya. Aku mengingat-Nya sebagai paman jauh dengan jenggot panjang dan duduk di atas singgasana (seperti Sinterklas di pusat perbelanjaan, duduk di atas kursi besar, yang memangkuku dan bertanya apakah aku tidak nakal, serta hadiah apa yang aku inginkan darinya?) Mama takut kepada-Nya, tetapi tetap meminta pertolongan-Nya. Ayahku tidak pernah menyebut-nyebut-Nya seolah Tuhan

itu adalah saudara Rose yang ingin dihindarinya.

*

"Kita siap mengudara, Pak. Boleh kubantu mengencangkan sabuk pengaman Anda?"

"Haruskah? Aku tidak suka diikat."

"Sampai kita berada di udara saja."

"Aku lebih baik tidak diikat, kecuali jika harus. Aku takut diikat. Itu mungkin bisa membuatku sakit."

"Itu peraturan, Pak. Mari, saya bantu Anda

"Jangan. Akan kulakukan sendiri."

"Bukan begitu... yang satu itu masuk ke sini."

"Tunggu, ah... oke."

*

Menggelikan. Tidak ada yang harus ditakutkan. Sabuk pengaman mengikat tidak terlalu erat tidak menyakitkan. Mengapa mengenakan sabuk pengaman sialan saja bisa membuatmu begitu ketakutan? Nah, lalu getaran ketika pesawat terbang itu mengangkasa.

Kecemasan yang berlebihan pada keadaan... jadi pasti ada sesuatu... apa? Terbang memasuki dan menembus awan... eratkan sabuk pengaman... diikat... menegang ke depan... aroma kulit berkeringat... getaran dan suara menderu di telinga.

Melalui jendela di dalam awan aku melihat Charlie. Usianya sulit diterka, kira-kira lima tahun. Sebelum Norma....

"Kalian berdua sudah siap?" Ayahnya muncul di ambang pintu, terlihat berat, terutama pada wajah dan lehernya yang sudah menggelambir. Tampangnya letih. "Kutanya, kalian siap?"

"Sebentar lagi," jawab Rose. "Aku sedang mengenakan topiku. Pastikan kemejanya sudah terkancing, dan ikat tali sepatunya."

"Ayolah, kita selesaikan."

"Ke mana?" tanya Charlie. "Ke mana... Charlie... per-

gi?"

Ayahnya menatapnya dan mengerutkan keningnya. Matt Gordon tidak pernah tahu bagaimana menjawab pertanyaan anak lelakinya.

Rose muncul di ambang pintu kamarnya, sambil merapikan cadar pada topinya. Dia perempuan berparas seperti burung, dengan kedua lengannya terangkat ke kepalanya, sikunya keluar tampak seperti sayap. "Kita akan pergi ke dokter yang akan membantumu menjadi anak pandai."

Cadar itu membuat ibunya tampak melongok ke bawah melalui jaring kawat. Charlie selalu takut ketika mereka mengenakan pakaian bagus untuk pergi seperti ini. Karena ia tahu ia akan bertemu dengan orang lain lalu

ibunya akan menjadi kesal dan marah.

Ia ingin berlari, tetapi tidak ada tempat untuk berlari.

"Mengapa kau harus mengatakan padanya hal itu?" tanya Matt.

"Karena itu yang sebenarnya. Dr Guarino dapat membantunya." Matt berjalan hilir mudik seperti seorang lelaki yang putus asa tetapi masih ingin berusaha terakhir kalinya untuk berunding. "Bagaimana kau tahu? Apa yang kau tahu tentang orang itu? Jika ada apa pun yang dapat dilakukan, para dokter pastilah sudah mengatakan kepada kita sejak dulu."

"Jangan katakan itu," jeritnya. "Jangan kata-kan tidak ada yang dapat mereka lakukan." Dia menyambar Charlie dan menyurukkan kepala anak itu ke dadanya. "Ia akan normal, apa pun yang harus kita lakukan, berapa pun harganya."

"Hal itu tidak bisa dibeli dengan uang."

"Ini Charlie yang kubicarakan. Anakmu... putra tunggalmu." Dia mengayun-ayunnya ke kiri ke kanan, hampir histeris sekarang. "Aku tidak mau mendengarkan pembicaraan itu. Mereka tidak tahu, karena itu mereka mengatakan tidak ada yang bisa dilakukan. Dr Guarino menjelaskan semuanya padaku. Mereka tidak mau mensponsori penemuan itu, katanya, karena hal itu akan membuktikan bahwa mereka salah. Seperti yang terjadi pada ilmuwan-ilmuwan lainnya. Pasteur, juga Jennings, dan yang lainnya. Ia mengatakan segalanya tentang dokter-dokter jagoanmu itu, mereka taut pada kemajuan ." Dengan berbicara kepada Matt seperti itu, Rose menjadi tenang dan yakin terhadap dirinya sendiri. Ketika dia melepaskan Charlie, anak itu berjalan ke sudut dan berdiri di dekat dinding ketakutan dan gemetar.

"Lihatlah," kata Rose, "kau membuatnya marah lagi." "Aku?"

"Kau selalu menyulut kemarahanku di depannya."

"Ya, Tuhan! Ayolah, selesaikan saja ini semua."

Dalam perjalanan menuju tempat praktek Dr Guarino, mereka tidak mau saling bicara. Sunyi di bus, dan sunyi pula ketika berjalan melewati tiga blok dari bus ke gedung perkantoran di kota. Setelah lima belas menit, Dr Guarino keluar ke ruang tunggu menyambut mereka. Ia gemuk dan botak, serta tampak seperti akan meledak dari jas lab putihnya. Charlie kagum dengan alis putih tebalnya dan kumis putihnya yang bergerak-gerak. Kadang-kadang kumisnya bergerak dulu, lalu diikuti oleh alis yang terangkat, tetapi kadang-kadang alis terangkat dulu kemudian kumis bergerak mengikuti.

Mereka digiring Dr Guarino memasuki ruang putih besar beraroma cat baru, dan hampir tidak berperabotan hanya ada dua meja pada satu sisi ruangan, dan pada sisi lainnya, sebuah mesin besar dengan deretan pemutar serta empat lengan panjang seperti alat pengebor gigi di ruang dokter gigi. Di dekatnya ada sebuah meja pemeriksaan berlapis kulit hitam dengan pengikat tebal dan berjaring.

"Wah, wah, wah," kata Guarino, sambil menaikkan alisnya,"jadi inilah si Charlie." Ia mencengkeram bahu anak lelaki itu dengan kuat. "Kita akan berteman."

"Anda benar-benar dapat melakukan sesuatu padanya, Dr Guarino?" tanya Matt. "Anda pernah melakukan hal ini sebelumnya? Kami tidak punya banyak uang."

Alis itu turun seperti jendela ketika Dr Guarino mengerutkan keningnya. "Pak Gordon, apakah aku belum mengatakan apa yang dapat kulakukan? Apakah aku tidak

memeriksanya dulu? Mungkin ada yang bisa dilakukan, mungkin juga tidak. Pertama harus ada pengujian jasmani dan mental untuk menentukan sebab-sebab patologisnya. Banyak waktu kemudian untuk bicara tentang prognosis. Sebenarnya, aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku hanya setuju untuk memeriksa ini karena aku sedang mempelajari kasus keterbelakangan neural jenis ini. Tentu saja, jika Anda memiliki rasa cemas, mungkin...."

Suaranya terdengar lirih dan sedih, lalu ia berpaling. Tetapi Rose Gordon menyikut Matt dengan sikunya. "Suamiku sama sekali tidak bermaksud begitu, Dr Guarino. Ia terlalu banyak bicara." Lalu Rose mendelik, memperingatkan Matt agar meminta maaf.

Matt mendesah. "Jika Anda mempunyai cara apa saja untuk menolong Charlie, kami akan melakukan apa pun yang kauminta. Segalanya berjalan lambat akhir-akhir ini. Aku menjual perlengkapan cukur rambut, tetapi apa pun yang kumiliki aku akan dengan senang hati...."

"Hanya satu hal yang harus kutekankan," kata Guarino, sambil menekan bibirnya seolah sedang membuat keputusan. "Begitu kita mulai, perawatan itu harus berlanjut hingga selesai. Karena jenis ini, hasilnya sering terlihat tiba-tiba setelah berbulan-bulan tanpa ada tanda-tanda kemajuan sebelumnya. Aku tidak menjanjikan keberhasilan pada kalian, aku ingatkan itu. Tidak ada yang terjamin. Tetapi, kalian harus memberi kesempatan untuk perawatan itu. Kalau tidak ingin, sebaiknya tidak perlu dilakukan sama sekali."

Ia mengerutkan keningnya untuk menekankan peringatannya, sehingga alis putihnya membentuk bayangan putih di atas mata biru terangnya yang menatap. "Sekarang, kalau saja Anda mau keluar dan

membiarkan aku memeriksa anak lelaki ini."

Matt ragu-ragu ketika akan meninggalkan Charlie berdua saja dengan dokter itu, tetapi Guarino mengangguk. "Ini cara terbaik," katanya sambil mendorong mereka berdua keluar dan menunggu di ruang tunggu. "Hasilnya selalu lebih berarti jika hanya ada pasien dan aku saat tes psikosubstansi dilakukan. Gangguan dari luar akan berpengaruh terhadap hasil yang beragam."

Rose tersenyum penuh kemenangan kepada suaminya, sedangkan Matt mengikutinya keluar dengan cemberut.

Berdua saja dengan Charlie, Dr Guarino menepuk-nepuk kepala Charlie. Ia memiliki senyuman yang ramah. "Baiklah, Nak. Naik ke meja."

Ketika Charlie tidak bereaksi, dengan lembut Dr Guarino mengangkatnya ke atas meja berlapis kulit dan mengikatnya supaya aman dengan pengikat yang berat. Meja itu beraroma keringat yang sudah melekat lama dan bercampur aroma kulit.

"Mamaaa!"

"Dia ada di luar. Jangan khawatir, Charlie. Ini tidak akan sakit sedikit pun."

"Mau Mama!" Charlie bingung karena diikat seperti ini. Ia tidak tahu apa yang dilakukan pada dirinya, tetapi ada dokter-dokter lain yang bersikap tidak terlalu lembut setelah orang tuanya meninggalkan ruangan.

Guarino mencoba menenangkannya. "Tenanglah, Nak. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kau lihat mesin besar ini di sini? Tahu apa yang akan kulakukan dengan mesin ini?"

Charlie meringis, lalu ia ingat kata-kata ibunya. "Membuatku pandai."

"Benar. Setidaknya kau tahu untuk apa kau ke sini. Sekarang, tutup saja matamu dan santai sementara aku memutar tombol-tombol ini. Mesin ini akan mengeluarkan suara keras, seperti pesawat udara, tetapi tidak akan menyakitimu. Dan kita akan melihat apakah kami bisa membuatmu lebih pandai daripada kau yang sekarang."

Guarino memutar tombol sehingga mesin itu mengeluarkan bunyi mendengung, lampu-lampu merah dan biru berkerdip menyala serta mati bergantian. Charlie ketakutan. Ia meringis dan gemetar, meronta melawan ikatan yang menahannya dengan kuat di atas meja.

Ia mulai berteriak, tetapi dengan cepat Guarino menjejalkan kain ke dalam mulutnya. "Tenanglah, Charlie. Jangan berteriak-teriak. Kau akan menjadi pria kecil yang baik. Aku sudah katakan mesin itu tidak akan menyakitimu."

Charlie berusaha berteriak lagi, tetapi yang keluar hanyalah suara tertahan dan tercekik yang membuatnya ingin muntah. Ia merasakan ada yang basah dan lengket di sekitar tungkainya, lalu bau yang tercium mengatakan padanya bahwa ibunya akan menghukumnya dengan pukulan di bokongnya dan berdiri di sudut karena ia ngompol. Ia tidak dapat menahannya. Setiap kali ia merasa terperangkap dan panik, ia akan kehilangan kendali sehingga mengotori dirinya. Tercekik... sakit... mual... lalu segalanya menjadi hitam.

Tidak bisa diketahui berapa lama waktu yang mereka lewatkan, tetapi ketika Charlie membuka matanya, gumpalan kain telah terlepas dari mulutnya serta pengikat sudah dibuka. Dr Guarino berpura-pura tidak mencium aroma tidak sedap itu. "Nah, tidak sakit sama sekali, bukan?"

"Ti... tidak...."

"Ya, mengapa kau begitu gemetar? Yang kulakukan hanyalah menggunakan mesin itu untuk membuatmu lebih pandai. Bagaimana rasanya menjadi lebih pandai dibanding tadi?"

Seraya melupakan ketakutannya, Charlie menatap mesin itu dengan mata terbelalak. "Aku sudah menjadi pandai?"

"Tentu saja. Mmm, coba berdiri di sana. Bagaimana rasanya?"

"Terasa basah. Aku sendiri yang salah."

"Ya, nah... mmm... kau tidak akan ngompol lain kali, ya? Kau tidak akan takut lagi karena kau sekarang sudah tahu mesin itu tidak menyakitkan. Sekarang aku ingin kau mengatakan kepada ibumu betapa sekarang kau merasa pandai. Lalu minta ibumu membawamu ke sini dua kali seminggu untuk mendapatkan aliran arus pendek encephah reconditioning, hingga kau menjadi lebih pandai, lebih pandai, dan lebih pandai lagi."

Charlie tersenyum. "Aku bisa berjalan mundur." "Kau bisa? Coba lihat," kata Guarino seraya menutup mapnya sambil berpura-pura gembira. "Aku mau lihat."

Perlahan, dan dengan susah payah, Charlie melakukan beberapa langkah mundur, lalu tersandung meja pemeriksaan ketika melakukannya. Guarino tersenyum dan mengangguk. "Nah, itu yang kusebut hasil. Oh, kau tunggulah. Kau akan menjadi anak lelaki terpandai di blokmu sebelum perawatanmu benar-benar selesai."

Charlie malu karena pujian dan perhatian itu. Orang tidak terlalu sering tersenyum kepadanya dan mengatakan, ia telah melakukan sesuatu dengan baik. Bahkan rasa takutnya pada mesin dan kengeriannya diikat

mulai memudar.

"Di seluruh blok?" pikiran itu memenuhi benaknya seolah ia tidak dapat mengisi udara dengan cukup ke dalam paru-parunya, walau ia telah berusaha keras. "Bahkan lebih pandai dari pada Hymie?"

Guarino tersenyum lagi dan mengangguk. "Lebih pandai daripada Hymie."

Charlie menatap mesin itu dengan minat dan ketak-juban yang baru. Mesin itu akan membuatnya lebih pandai daripada Hymie yang tinggal dua rumah dari rumahnya dan bisa membaca, menulis, serta menjadi anggota pramuka. "Ini mesinmu?"

"Belum. Itu milik bank. Tetapi, tidak lama lagi mesin itu akan menjadi milikku, kemudian aku akan dapat membuat banyak anak lelaki sepertimu menjadi pandai." Ia menepuk-nepuk kepala Charlie dan berkata, "Kau jauh lebih ramah ketimbang anak-anak normal yang dibawa ibunya ke sini dengan harapan aku dapat membuat mereka menjadi jenius dengan cara meningkatkan IQ mereka."

"Apakah mereka menjadi dungu jika kau membelakkan mata mereka?" Ia menempelkan kedua tangannya di wajahnya untuk melihat apakah mesin itu telah melakukan sesuatu untuk membelalakkan matanya. "Kau akan menjadikan aku dungu?"

Tawa Guarino adalah tawa yang ramah ketika ia meremas bahu Charlie. "Tidak, Charlie. Kau tidak perlu mencemaskan apa-apa. Hanya keledai-keledai kecil yang nakal yang menjadi dungu. Kau akan tetap menjadi seperti dirimu, anak yang baik." Kemudian, setelah berpikir lebih baik, ia menambahkan, "Tentu saja, agak lebih pandai daripada dirimu yang sekarang."

Dr Guarino membuka kunci pintu dan membawa Charlie menemui orang tuanya. "Ini dia, Kawan. Tidak ada yang lebih buruk bagi pengalamannya tadi. Ia seorang anak lelaki yang baik. Kukira, kami akan menjadi sahabat, ya kan, Charlie?"

Charlie mengangguk. Ia ingin Dr Guarino menyukainya, tetapi ia takut ketika ia melihat ekspresi wajah ibunya. "Charlie, apa yang kaulakukan tadi?"

"Hanya kecelakaan, Bu Gordon. Ia sangat ketakutan pada awalnya. Tetapi jangan salahkan ia atau menghukumnya. Aku tidak mau ia menghubungkan hukuman dengan kedatangannya ke sini."

Tetapi Rose Gordon sangat malu. "Ini menjijikkan. Aku tidak tahu harus bagaimana, Dr Guarino. Bahkan di rumah pun ia lupa... dan kadang-kadang ketika kami punya tamu di rumah. Aku sangat malu kalau ia ngompol."

Tarikan wajah jijik di wajah ibunya membuat Charlie gemetar. Untuk sementara tadi, ia lupa betapa nakalnya dirinya, betapa ia membuat orang tuanya menderita. Ia tidak tahu bagaimana, tetapi ketika ibunya mengatakan bahwa ia telah membuatnya menderita, ia merasa ketakutan. Ketika ibunya menangis dan menjerit-jerit, ia memalingkan wajahnya ke arah dinding dan mengerang lirih pada dirinya sendiri.

"Sekarang, jangan membuatnya kesal, Bu Gordon. Jangan khawatir. Bawa Charlie lagi kepadaku hari Selasa dan Kamis setiap minggu pada waktu yang sama."

"Tetapi apakah ini bisa berhasil?" tanya Matt. "Sepuluh dolar itu mahal...."

"Matt!" Rosa memegangi lengan baju suaminya. "Apakah itu hal yang harus dibicarakan pada saat seperti ini? Ia darah dagingmu sendiri, dan mungkin Dr Guarino dapat

membuatnya menjadi seperti anak-anak lainnya, dengan bantuan Tuhan, sedangkan kau meributkan soal uang!"

Matt Gordon mulanya ingin membela diri, tapi kemudian ia memutuskan tidak melakukannya. Ia lalu mengeluarkan dompetnya.

"Kumohon...," desah Dr Guarino, seolah ia malu melihat uang. "Asistenku di meja depan akan mengurus soal keuangan. Terima kasih." Ia setengah membungkuk kepada Rose, menjabat tangan Matt, dan menepuk punggung Charlie. "Anak baik. Sangat baik." Lalu sambil tersenyum lagi, ia menghilang di balik pintu ke dalam kantornya.

Mereka bertengkar dalam perjalanan pulang. Matt mengeluhkan pasokan peralatan pangkas rambut yang sedang merosot dan tabungan mereka yang tidak banyak. Rose balas memekik dan mengatakan bahwa membuat Charlie normal adalah hal yang lebih penting daripada apa pun.

Karena takut akan pertengkaran kedua orang tuanya, Charlie merengek. Gelegar kemarahan dalam suara mereka sangat menyakitkan baginya. Begitu mereka memasuki apartemen, ia memisahkan diri dan menuju ke sudut dapur. Di belakang pintu ia berdiri dengan keningnya ditekan ke dinding keramik, sambil gemetar dan mengerang.

Mereka tidak memperhatikannya. Mereka telah lupa bahwa Charlie harus dibersihkan dan diganti celananya.

"Aku tidak histeris. Aku hanya muak dengan keluhanmu setiap kali aku berusaha melakukan sesuatu untuk anak lelakimu. Kau tidak peduli. Kau hanya tidak peduli."

"Itu tidak benar! Tetapi aku sadar, tidak ada yang dapat kita lakukan. Jika kau mempunyai anak seperti

Charlie, itu hanya kesialan. Dan kau melahirkannya, kau harus mencintainya. Nah, aku bisa tahan, tapi aku tidak tahan pada cara-cara tololmu. Kau menggunakan hampir seluruh tabungan kita untuk hal-hal yang tidak masuk akal... uang yang seharusnya dapat kugunakan untuk memulai usahaku yang wajar. Ya. Jangan tatap aku seperti itu. Dengan semua uang yang telah kaubuang ke selokan untuk membayar pekerjaan yang tidak akan ada hasilnya itu, seharusnya aku dapat mendirikan tempat pangkas rambutku sendiri daripada aku menggantungkan diri pada pekerjaan menjual peralatannya selama sepuluh jam sehari. Tempat bercukurku sendiri dengan orang-orang yang bekerja untukku!"

"Jangan berteriak lagi. Lihatlah Charlie, ia ketakutan."

"Persetan denganmu. Sekarang aku tahu siapa yang

tolol di sini. Aku! Karena aku mau hidup bersamamu." Ia

berjalan keluar, kemudian membanting pintu.

"Maaf mengganggu, Pak, tetapi kita akan mendarat dalam beberapa menit lagi. Anda harus memasang sabuk pengaman lagi.... Oh, Anda telah memasangnya, Pak. Anda masih terus memakainya di sepanjang perjalanan dari New York. Hampir dua jam...."

"Aku lupa melepasnya. Aku akan terus mengenakannya hingga mendarat nanti. Ini tidak menggangguku lagi." *

Sekarang aku dapat melihat dari mana aku mendapat motivasi yang tidak biasa untuk menjadi pandai sehingga membuat orang lain terheran-heran. Sesuatu yang melekat pada Rose Gordon siang malam itulah. Ketakutannya, rasa bersalahnya, rasa malunya karena Charlie bodoh. Mimpinya adalah ada yang bisa dilakukan

untuk itu. Pertanyaan yang mendesaknya adalah ini kesalahan siapa, dirinya atau Matt? Hanya setelah kelahiran Norma yang membuktikannya mampu melahirkan anak normal, walau aku tolol, Rose menghentikan usahanya untuk membuatku pandai. Tetapi, kukira aku tidak pernah berhenti dari keinginan menjadi anak lelaki pandai seperti yang diinginkan Rose, karena aku ingin Mama menyayangiku.

Sesuatu yang lucu pada Guarino. Seharusnya aku membencinya atas apa yang telah dilakukannya padaku, dan ia pun telah mengambil keuntungan dari Rose dan Matt, tetapi aku tidak bisa. Setelah hari pertama perawatan, ia selalu menyenangkan bagiku. Selalu ada tepukan di bahuku, senyumannya, kata-kata penyemangat yang jarang diucapkan orang lain padaku.

Ia memperlakukan aku walau ketika itu aku masih bodoh sebagai manusia.

Mungkin akan terdengar seperti tidak berterima kasih, tetapi inilah satu hal yang kubenci di sini sikapnya yang menyadarkan bahwa akulah si kelinci percobaan. Kata-kata Nemur yang selalu menyebut-nyebut membuatku seperti sekarang ini, atau suatu hari kelak akan ada orang lain seperti diriku yang akan menjadi manusia sesungguhnya.

Bagaimana aku bisa membuatnya mengerti bahwa ia tidak menciptakanku?

Ia membuat kesalahan yang sama sebagaimana yang lainnya, seperti ketika mereka menganggapku seorang yang berotak lemah dan tertawa karena mereka tidak mengerti bahwa ada perasaan manusia yang terlibat di sini. Guarino tidak sadar bahwa aku juga seorang manusia sebelum aku datang ke sini.

Aku belajar mengendalikan rasa tidak sukaku, lalu berusaha menahan ketidak sabaran, untuk menunggu hal-hal lainnya. Kukira aku bertumbuh. Setiap hari aku belajar lebih banyak dan lebih banyak lagi tentang diriku sendiri. Lalu kenangan-kenangan yang semula datang sebagai riak-riak kecil, sekarang berubah menjadi gelombang-gelombang tinggi....

22 Juni Kebingungan dimulai ketika kami tiba di Hotel Chalmers di Chicago. Ketika itu terjadi kesalahan pengaturan, kamar kami belum kosong hingga malam berikutnya sehingga kami harus menginap di Hotel Independence, tak jauh dari Hotel Chalmers. Nemur sangat marah. Ia menganggapnya sebagai penghinaan pribadi sehingga ia bertengkar dengan semua petugas hotel tersebut, dari petugas pembawa koper hingga manajernya. Kami menunggu di lobi ketika setiap petugas hotel pergi mencari atasannya untuk melihat apa yang dapat mereka lakukan.

Di tengah-tengah kebingungan itu koper-koper keluar masuk bertumpuk di seluruh lobi, petugas pengangkut koper bergegas hilir mudik dengan kereta dorong kecilnya, keluarga yang sudah lama tidak bertemu dan saling menyapa kami berdiri di sana dengan perasaan malu yang semakin menjadi-jadi ketika Nemur mencoba menyerang seorang petugas yang berkaitan dengan Asosiasi Psikologi Internasional.

Akhirnya, ketika tampaknya sudah tidak ada lagi yang dapat dilakukan, ia menerima kenyataan bahwa malam pertama kami di Chicago harus kami lewatkan di Hotel Independence.

Ternyata, kebanyakan psikolog yang lebih muda

menginap di Hotel Independence, sehingga di sini jugalah pesta besar pertama berlangsung. Di sini orang-orang telah mendengar soal eksperimen itu, maka kebanyakan orang tahu siapa aku. Ke mana pun aku pergi, seseorang akan mendatangiku dan menanyakan pendapatku tentang segala hal, dari pengaruh pajak baru hingga penemuan arkeologi terbaru di Finlandia. Keadaan itu menantang bagiku, sedangkan gudang pengetahuan umumku membuatku mampu berbicara tentang hampir segala hal. Sementara itu, aku melihat Nemur tampak kesal atas segala perhatian yang kudapat.

Ketika seorang psikolog klinis yang menarik dari Falmouth College bertanya padaku apakah aku dapat menjelaskan beberapa penyebab keterbelakanganku sendiri, aku katakan padanya bahwa Profesor Nemur adalah orang yang mampu menjawabnya.

Itulah kesempatan yang sudah ditunggu Profesor Nemur untuk memperlihatkan otoritasnya. Dan untuk pertama kalinya sejak kami saling mengenal, ia meletakkan tangannya di atas bahuku. "Kami tidak tahu tepatnya apa penyebab tipe phenylketonuria yang diidap oleh Charlie sejak kecil beberapa biokimia yang tidak biasa atau keadaan genetika, mungkin radiasi ion, radiasi alami, atau bahkan semacam virus yang me-nyerang janin apa pun itu yang mengakibatkan gen tidak sempurna sehingga menghasilkan sesuatu, yang bisa kita sebut 'enzim maverick', yang menciptakan reaksi biokimia. Dan tentu, asam amino yang baru saja diproduksi bersaing dengan enzim normal sehingga mengakibatkan kerusakan otak."

Gadis itu mengerutkan keningnya. Dia tidak menduga akan mendengar sebuah kuliah. Tetapi Nemur telah menguasai pendengar yang mengelilinginya, maka ia

melanjutkan dengan nada yang sama. "Aku menyebutnya enzim yang sifatnya bersaing. Aku akan memberikan contoh bagaimana hal itu berlangsung. Pikirkan enzim yang dihasilkan oleh gen yang tidak sempurna sebagai kunci yang salah tapi cocok memasuki lubang kunci kimia sistem saraf pusat tetapi kunci tersebut tidak mau berputar. Karena ada kunci yang sesungguhnya yaitu enzim yang tepat tapi tidak dapat memasuki lubang kunci tersebut. Lubang itu terblokir. Akibatnya? Kerusakan yang tidak dapat terhindari dari protein di jaringan otak."

"Tetapi, jika hal itu tidak dapat diubah," sela seorang psikolog muda yang juga bergabung dalam kelompok kecil pendengar, "bagaimana mungkin Gordon bisa menjadi normal seperti ini?"

"Ah!" sergah Nemur, "sudah kukatakan kerusakan jaringan tidak bisa diubah, tetapi tidak pada proses itu sendiri. Banyak peneliti dapat mengubah proses tersebut melalui injeksi kimia yang digabung dengan enzim yang rusak, sehingga mengubah bentuk molekul dari kunci yang masuk tadi. Ini adalah inti dari teknik kami juga. Tetapi pertama-tama, kami memindahkan bagian otak yang rusak sehingga memungkinkan penanaman jaringan otak yang telah secara kimiawi direvitalisasi untuk menghasilkan protein otak dengan keadaan yang supernormal...."

"Tunggu sebentar, Profesor Nemur," kataku menyela pidato panjangnya. "Bagaimana dengan karya Rahajamati dalam bidang ini?"

Ia menatapku kosong. "Siapa?"

"Rahajamati. Artikelnya menyerang teori Tanida tentang campuran enzim konsep perubahan susunan kimia enzim yang menghalangi gerakan dalam jalur metabolis."

Profesor Nemur mengerutkan keningnya. "Di mana artikel tersebut diterjemahkan?"

"Belum diterjemahkan. Aku membacanya di Jurnal Psikopatologi Hindu, beberapa hari yang lalu."

Ia menatap pendengarnya, lalu mengangkat bahu, tidak peduli. "Ya, kurasa tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Hasil kerja kami sudah membuktikannya."

"Tetapi, Tanida sendiri pertama-tama mengemukakan teori pemblokiran enzim maverick melalui kombinasi, dan sekarang ia menjelaskan bahwa...."

"Oh, ayolah, Charlie. Hanya karena orang pertama mengajukan sebuah teori tidak serta merta membuatnya menjadi kata akhir dari perkembangan eksperimentalnya. Kukira semua orang di sini setuju bahwa penelitian yang diakukan di Amerika Serikat dan Inggris jauh lebih baik dibanding yang dilakukan di India atau Jepang. Kita memiliki laboratorium terbaik dan perlengkapan terbaik pula di dunia."

"Tetapi itu tidak menjawab artikel Rahajamati yang

"Ini bukan waktu atau tempat yang tepat untuk membahas hal itu. Aku yakin topik-topik ini cukup dibicarakan dalam sesi besok." Ia lalu memutar tubuhnya dan berbicara dengan orang lain tentang seorang teman kuliah lamanya. Ia betul-betul mengabaikan aku, sementara aku masih berdiri di sana terlongong.

Aku berhasil mengajak Straus meminggir, kemudian aku mulai mengajukan pertanyaan kepadanya. "Sekarang, baiklah. Kau telah mengatakan padaku aku terlalu mudah tersinggung olehnya. Apa yang baru saja kukatakan sehingga membuatnya marah seperti itu?"

"Kau membuatnya merasa lebih bodoh darimu, dan ia tidak dapat menerima hal itu."

"Aku serius, demi Tuhan. Katakan yang sesungguhnya padaku."

"Charlie, kau harus berhenti berpikir bahwa semua orang menertawakanmu. Nemur tidak dapat mendiskusikan artikel tersebut karena ia belum membacanya. Ia tidak menguasai bahasa itu."

"Tidak menguasai bahasa Hindi dan Jepang? Oh, yang benar saja."

"Charlie, tidak semua orang punya bakat bahasa yang kaumiliki."

"Tetapi, bagaimana ia dapat menangkal serangan Rahajamati dalam metode ini, dan tantangan Tanida pada kebenaran pengendalian jenis itu? Ia seharusnya tahu soal itu...."

"Tidak...," sela Strauss berhati-hati. "Tulisan itu pastilah baru saja terbit. Belum sempat diterjemahkan." "Maksudmu kau juga belum membacanya?" Strauss menggerakkan bahunya. "Penguasaan bahasaku bahkan lebih buruk darinya. Tetapi, aku yakin sebelum laporan terakhir diberikan, semua jurnal akan ditelisik sebagai tambahan data."

Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Mendengar pengakuan Strauss bahwa keduanya tidak memperhatikan keseluruhan bidang di lapangannya sendiri bagiku sangat mengerikan. "Bahasa apa yang kaukuasai?" aku bertanya kepadanya.

"Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, dan sedikit Swedia untuk bercakap-cakap."

"Tidak bahasa Rusia, Cina, dan Portugis?" Ia mengingatkan aku bahwa sebagai seorang psikiater dan ahli bedah saraf, sangat sedikit waktu yang ia punya untuk mempelajari bahasa. Dan satu-satunya bahasa

kuno yang dikuasainya hanyalah bahasa Latin dan Yunani. Tidak untuk bahasa Asia kuno.

Aku dapat melihat bahwa ia ingin mengakhiri diskusi ini sekarang, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Aku harus mengetahui seberapa banyak yang ia tahu.

Aku tahu.

Ahli fisika: tidak tahu apa-apa selain teori kuantum dalam bidangnya. Ahli geologi: tidak tahu apa-apa tentang geomorfologi atau stratigrafi atau bahkan petrologi. Tidak tahu apa-apa tentang teori makro atau mikro ekonomi. Hanya menguasai sedikit matematika di luar tingkat dasar variasi kalkulus, dan tidak tahu apa-apa tentang aljabar Banach atau bermacam-macam Riemannian. Itu merupakan firasat pertama dari pembukaan rahasia yang ada dalam benakku akhir minggu ini.

Aku tidak dapat berlama-lama dalam pesta itu. Aku menyelinap pergi untuk berjalan-jalan dan memikirkan itu. Mereka berdua penipu Nemur dan Strauss. Mereka telah berpura-pura jenius. Tetapi, mereka sebenarnya hanyalah orang-orang biasa yang bekerja secara membabi-buta, berpura-pura mampu membawa pencerahan bagi kegelapan. Mengapa semua orang berbohong? Tidak seorang pun yang kukenal menampilkan diri mereka sendiri. Ketika aku membelok di sudut jalan, aku menangkap sekilas, Burt mengikutiku.

"Ada apa?" aku bertanya ketika ia akhirnya menjajahku. "Kau mengikuti aku?"

Ia menggerakkan bahunya dan tertawa geli-sah. "Pameran A, bintang dari pertunjukan itu. Aku hanya khawatir mungkin kau telah dilindas oleh koboi-koboi Chicago bermotor atau diram-pok dan dilibas di State

street?"

"Aku tidak suka dikurung."

Burt menghindari tatapanku ketika ia berjalan di sampingku, dengan kedua tangannya di dalam sakunya. "Tenanglah, Charlie. Orang tua itu se-dang tegang. Pertemuan ini sangat penting bagi-nya. Reputasinya dipertaruhkan."

"Aku tidak tahu kau akrab dengannya," aku mengejeknya, karena selama ini Burt telah menge-luhkan kesempitan pandangan dan sifat sang pro-fesor yang suka mendesak-desak.

"Aku tidak akrab dengannya." Burt menatap-ku menantang. "Tetapi, ia telah mempertaruhkan hidupnya untuk semua ini. Ia bukan Freud, Jung, Pavlov, atau Watson, tetapi ia sedang menger-jakan sesuatu yang penting dan aku menghormati dedikasinya-bahkan mungkin lebih karena ia ha-nyalah manusia biasa yang mencoba melakukan pekerjaan besar manusia, sementara orang-orang besar lainnya sibuk membuat bom."

"Aku ingin kau mengatakan padanya bahwa ia orang biasa di depan wajahnya."

"Tidak penting ia menganggap dirinya apa. Jelas, ia seorang yang egoistis, lalu kenapa? Ego seperti itu diperlukan untuk membuat seseorang melakukan hal besar seperti ini. Aku sudah cukup sering melihat orang seperti dirinya sehingga aku tahu bahwa gabungan antara kecongkakan dan puas diri adalah ukuran yang sangat baik dari ketidakpastian dan ketakutan."

"Dan kepalsuan serta kepicikan," aku menambahkan. " Aku sekarang menganggap mereka orang-orang yang sangat palsu. Aku sudah menduga Nemur begitu. Ia selalu tampak takut akan sesuatu. Tetapi Strauss, aku tidak

pernah menduganya ia seperti itu."

Burt diam sejenak dan mendesah panjang. Kami membelok ke sebuah kafetaria untuk minum kopi. Aku tidak melihat wajahnya ketika itu, tetapi suaranya mengungkapkan kejengkelan.

"Menurutmu aku salah?"

"Hanya karena kau menjadi begitu pandai dengan sangat cepat," katanya. "Kau telah memiliki otak yang hebat, kecerdasan yang tidak terukur, kemampuan menyerap pengetahuan yang lebih cepat padahal orang lain akan membutuhkan sepanjang hidupnya untuk itu. Tetapi kau berat sebelah. Kau tahu tentang banyak hal. Kau melihat berbagai hal. Tapi kau belum mengembangkan pengertian, atau aku harus menggunakan kata itu bertoleransi. Kau menyebut mereka penipu, tetapi kapan mereka pernah menganggap diri mereka sempurna atau manusia super? Mereka adalah orang-orang biasa. Sementara itu, kau jenius."

Ia berhenti dengan kaku, karena tiba-tiba ia sadar telah berkhotbah di depanku.

"Lanjutkan."

"Pernah bertemu dengan istri Nemur?" "Belum."

"Jika kau ingin mengerti mengapa Nemur selalu begitu tegang, bahkan ketika semuanya berjalan dengan baik di lab dan pada kuliah-kuliahnya. Kau harus mengenal Bertha Nemur. Tahukah kau bahwa dialah yang memberikan gelar profesor untuk suaminya? Kau tahu bahwa Bertha menggunakan pengaruh ayahnya untuk mendapatkan penghargaan dari Welberg Foundation bagi suaminya? Nah, sekarang Bertha mendorongnya untuk melakukan presentasi lebih awal pada konvensi ini. Jika kau belum

pernah mendapatkan perempuan seperti Bertha yang mengendalikan dirimu, jangan berpikir kau dapat mengerti lelaki yang memiliki istri seperti itu."

Aku tidak mengatakan apa-apa, dan aku tahu Burt ingin kembali ke hotel. Di sepanjang perjalan kami tidak berbicara.

Apakah aku jenius? Kukira tidak. Belum, kurasa. Seperti yang mungkin akan dilakukan Burt, mengejek penghalusan istilah dalam jargon pendidikan, aku luar biasa sebuah istilah demokratis yang digunakan untuk menghindari julukan berbakat dan buangan (yang digunakan dengan arti cemerlang dan terbelakang). Dan begitu kata luar biasa mulai berarti segalanya bagi semua orang, mereka akan mengubahnya lagi. Gagasan itu tampaknya: menggunakan istilah tersebut selama hal itu tidak bearti apa-apa bagi siapa pun. Kata luar biasa mengacu pada dua sisi pandangan, sehingga sepanjang hidupku, akulah si luar biasa itu.

Yang aneh: semakin jauh aku belajar, semakin aku mengerti bahwa diriku tidak pernah tahu bahkan tidak pernah ada. Baru beberapa waktu yang lalu, aku dengan bodoh mengira aku mampu mempelajari apa saja segala pengetahuan di dunia ini. Sekarang aku hanya berharap mampu mengetahui keberadaannya, dan mengerti satu butir saja pengetahuan itu.

Apakah masih ada waktu? Burt merasa tidak nyaman bersamaku. Menurut dia, aku tidak sabaran dan orang lain pastilah merasakan hal yang sama. Tetapi, mereka menahanku dan berusaha menempatkan diriku pada tempatku. Di mana tempatku? Siapa dan apa aku sekarang? Apakah aku ini gambaran dari keseluruhan hidupku ataukah hanya beberapa bulan

yang lalu? Oh, betapa mereka menjadi begitu tidak sabar ketika aku mencoba mendiskusikannya dengan mereka. Mereka tidak suka mengakui bahwa mereka tidak tahu. Itu suatu paradoks karena seorang biasa seperti Nemur mengira telah mengabdikan dirinya dalam usaha membuat orang lain menjadi jenius. Ia senang dianggap sebagai penemu hukum-hukum baru pengetahuan seorang Einstein psikologi. Dan ia memiliki ketakutan seorang guru yang akan diungguli oleh muridnya, ketakutan seorang pakar akan memiliki murid yang menghina karyanya. (Aku sama sekali bukan mahasiswa Nemur atau murid seperti Burt.)

Kukira ketakutan Nemur akan keterungkapan siapa sesungguhnya dirinya, yang seperti seorang lelaki yang berjalan di atas egrang di antara raksasa-raksasa, dapat dimengerti. Kegagalan dalam hal ini, akan menghancurkannya. Ia terlalu tua untuk memulainya dari awal lagi.

Aku begitu terkejut setelah menemukan kebenaran tentang manusia yang kuhormati dan kuhargai. Menurut aku, Burt benar. Aku harus lebih bersabar terhadap mereka. Gagasan-gagasan dan karya cemerlang mereka membuat eksperimen itu mungkin dilakukan. Aku harus menjaga diriku dari keinginan meremehkan mereka walaupun sekarang aku mengungguli mereka.

Aku harus menyadari bahwa ketika mereka terus-menerus mengingatkan aku untuk menulis dengan sederhana sehingga orang yang membaca laporan tersebut akan mengerti aku, sebenarnya mereka membicarakan diri mereka sendiri juga. Tetapi masih menakutkan ketika menyadari bahwa nasibku berada di tangan orang-orang yang bukan raksasa seperti yang pernah kubayangkan dulu. Mereka hanyalah orang-orang

yang tidak tahu semua jawaban.

13 Juni Aku mendiktekan ini dengan perasaan yang sangat tegang. Aku telah mengalami semua hal. Sekarang aku berada di dalam pesawat menuju kembali ke New York sendirian. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan ketika aku tiba di sana.

Pertama-tama, kuakui, aku terpesona pada gambaran sebuah pertemuan internasional para ilmuwan dan sarjana yang berkumpul untuk bertukar gagasan. Di sini, kukira, adalah tempat segala hal benar-benar terjadi. Di sini akan berbeda dengan diskusi-diskusi steril di universitas, karena mereka adalah orang-orang dari tingkat tertinggi dalam penelitian dan pendidikan psikologi. Mereka adalah para ilmuwan yang menulis buku-buku dan memberikan kuliah, yang ucapannya dikutip orang. Jika Nemur dan Strauss adalah orang-orang biasa yang bekerja melampaui kemampuan mereka, aku yakin tidak demikian dengan yang lainnya.

Ketika tiba waktunya untuk pertemuan itu, Nemur menggiring kami melalui sebuah ruang lobi yang sangat besar dengan perabotan bergaya zaman barok dan tangga pualam berukir. Lalu kami bergerak melalui jabatan-jabatan tangan yang kuat, orang-orang yang menganggukkan kepala, dan tersenyum. Profesor-profesor dari Beekman lainnya yang baru tiba di Chicago pagi ini bergabung dengan kami. Profesor White dan dinger berjalan agak ke kanan dan berdiri satu atau dua langkah di belakang Nemur dan Strauss, sedangkan Burt dan aku di belakang.

Orang-orang yang berdiri terbelah memberi kami jalan menuju Grand Ballroom. Nemur melambai ke arah para

wartawan dan juru foto yang telah datang karena ingin langsung mendengar hal-hal mengagumkan yang telah dilakukan terhadap seorang dewasa terbelakang dalam waktu tiga bulan lebih sedikit.

Nemur jelas telah mengirimkan pengumuman kepada mereka sebelumnya.

Beberapa tulisan soal psikologi yang dibagikan pada rapat tersebut mengesankan. Sebuah kelompok dari Alaska memperlihatkan betapa rangsangan pada bagian-bagian yang bervariasi pada otak mengakibatkan sebuah perkembangan penting dalam kemampuan belajar. Adapun kelompok dari Selandia Baru telah memetakan bagian-bagian otak yang mengendalikan persepsi dan penyimpanan rangsangan.

Namun, ada tulisan yang lain juga penelitian P.T. Zellerman terhadap adanya perbedaan lamanya waktu yang digunakan tikus putih guna mempelajari sebuah labirin ketika sudut-sudutnya berbelok. Kemudian tulisan Worfel tentang efek tingkat kecerdasan pada reaksi waktu untuk jenis kera. Tulisan-tulisan seperti ini membuatku marah. Uang, waktu, dan tenaga dihamburkan untuk membuat analisis terperinci terhadap hal-hal yang sudah jelas. Burt benar ketika ia memuji Nemur dan Strauss karena mereka telah mengabdikan diri untuk sesuatu yang penting dan tidak pasti, bukan sesuatu yang tidak penting dan sudah pasti.

Kalau saja Nemur mau menganggapku sebagai manusia.

Setelah pemimpin rapat mengumumkan presentasi dari Universitas Beekman, kami duduk di platform di belakang meja panjang Algernon berada di kandangnya di antara Burt dan aku. Kami menjadi penarik perhatian utama

malam ini. Setelah kami duduk, pemimpin rapat mulai memperkenalkan kami. Aku setengah berharap ia akan berkata dengan gaya meledak-ledak: Saudara-saudara sekalian... Bergegaslah dan saksikan pertunjukan ini! Sebuah karya ilmiah yang belum pernah ada dalam dunia ilmu pengetahuan! Seekor tikus dan seorang dungu berubah menjadi jenius di depan mata kepala Anda sekalian!

Kuakui, aku datang ke sini dalam keadaan cepat tersinggung.

Yang dikatakannya hanyalah: "Presentasi berikutnya betul-betul tidak perlu diperkenalkan lagi. Kita telah mendengar semuanya karya mengagumkan dari Universitas Beekman, dan disponsori oleh dana bantuan dari Welberg Foundation, di bawah arahan Ketua Jurusan Fakultas Psikologi, Profesor Nemur, yang bekerja sama dengan Dr Strauss dari Pusat Neuropsikiatri Universitas Beek-man. Tidak perlu diulas lagi, ini merupakan sebuah laporan yang telah kita tunggu-tunggu dengan penuh minat. Saya serahkan sesi ini kepada Profesor Nemur dan Dr Strauss."

Nemur mengangguk dengan anggun pada pujian perkenalan dari ketua rapat dan mengedip ke arah Strauss untuk momen penuh kemenangan ini. Pembicara pertama dari Beekman adalah Profesor dinger. Aku jadi jengkel, dan aku juga melihat Algernon, yang resah karena asap, suara mendengung, dan lingkungan yang asing itu, mulai bergerak gugup dalam kandangnya. Aku punya dorongan aneh untuk membuka kandangnya dan membiarkannya keluar. Itu merupakan pikiran aneh lebih merupakan godaan daripada pikiran lalu aku mencoba mengabaikannya. Tetapi, ketika aku menyimak

tulisan khas Profesor dinger tentang "pengaruh kotak-kotak gawang yang menggunakan tangan kiri versus kotak-kotak gawang dengan tangan kanan dalam labirin T", kurasa tanganku mempermainkan kunci mekanis pembuka kandang Algernon.

Tidak lama (sebelum Strauss dan Nemur mengungkap keberhasilan emas mereka) Burt akan membacakan sebuah tulisan yang menjelaskan prosedur dan hasil pemberian tes-tes kecerdasan dan pembelajaran yang telah dirancangnya untuk Algernon. Kemudian akan dilanjutkan dengan sebuah demonstrasi bagaimana langkah-langkah Algernon memecahkan masalah untuk mendapatkan makanannya (hal yang selalu kubenci!).

Bukannya aku tidak setuju dengan Burt. Ia selalu berterus terang padaku lebih dari yang di-lakukan oleh yang lain tetapi ketika ia menggambarkan tikus putih yang telah diberi kecerdasan itu, ia menjadi begitu congkak dan palsu seperti yang lainnya. Seolah ia berusaha menjadi seperti guru-gurunya. Aku menahan diri untuk itu lebih karena Burt adalah temanku daripada hal lainnya. Membiarkan Algernon keluar dari kandangnya akan mengubah pertemuan itu menjadi kericuhan. Dan bagaimanapun, inilah penampilan pertama Burt yang akan menjadikan tikus berlomba demi kenaikan jabatan.

Jemariku sudah berada pada kunci pintu kandang. Ketika Algernon menatap gerakan tanganku dengan mata permen merah mudanya, aku yakin ia tahu apa yang ada dalam pikiranku. Pada saat itu, Burt mengambil kandang itu untuk kepentingan demonstrasinya. Ia menjelaskan kerumitan kunci-kunci geser, dan kemampuan pemecahan masalah yang dibutuhkan setiap kali kunci itu akan dibuka. (Gerendel tipis dari plastik akan jatuh masuk ke

tempat dalam pola bervariasi dan harus dikendalikan oleh tikus tersebut, yang harus menekan serangkaian pengungkit dalam urutan yang sama.) Ketika kecerdasan Algernon meningkat, kecepatan kemampuan memecahkan masalahnya meningkat juga hingga di situ jelas. Tetapi kemudian Burt mengungkap satu hal yang belum kuketahui.

Pada puncak kecerdasannya, keterampilan Algernon telah menjadi bervariasi. Ada beberapa waktu, menurut laporan Burt, ketika Algernon sama sekali menolak untuk bekerja walau tampaknya ia kelaparan dan pada waktu yang lain ketika ia memecahkan masalahnya, ia tidak mengambil makanannya melainkan menerjangkan tubuhnya ke dinding kandangnya.

Ketika seseorang dari hadirin bertanya kepada Burt apakah ia memperkirakan sikap tidak menentu Algernon itu disebabkan oleh peningkatan kecerdasan, Burt menghindari pertanyaan itu. "Sejauh yang saya tahu," katanya, "tidak ada cukup bukti untuk memastikan kesimpulan tersebut. Ada kemungkinan-kemungkinan lain. Mungkin saja peningkatan kecerdasan ataupun perilaku tidak menentu pada tingkat ini disebabkan oleh hasil operasi pertama, bukan salah satu memicu yang lainnya. Juga mungkin perilaku tidak menentu ini hanya terjadi pada Algernon. Kami tidak menemukan hal itu pada tikus-tikus lain, tetapi tikus-tikus tersebut tidak dapat mencapai tingkat kecerdasan yang dicapai Algernon sekarang."

Tiba-tiba aku menyadari bahwa informasi itu telah disembunyikan dariku. Aku mencurigai alasannya, karena itu aku merasa jengkel. Tetapi kemarahanku muncul ketika mereka mengeluarkan film-film.

Aku tidak pernah tahu bahwa kedatanganku dan tes pertamaku di lab telah difilmkan. Aku tampak di sana, di depan meja di samping Burt, bingung dengan mulut terbuka ketika aku mencoba memainkan labirin dengan menggunakan pena listrik. Setiap kali aku mendapatkan sengatan listrik, ekspresiku berubah menjadi wajah aneh dengan mata terbelalak, lalu tersenyum pandir lagi. Setiap kali itu terjadi, para penonton bergemuruh. Perlombaan yang satu disusul dengan perlombaan lainnya, hal itu berulang, dan mereka selalu menganggap hal yang satu lebih lucu ketimbang yang sebelumnya.

Aku katakan pada diriku sendiri mereka bukan pencari barang aneh yang mencengangkan, tetapi para ilmuwan berada di sini untuk meneliti ilmu pengetahuan. Mereka dapat menahan diri tertawa ketika melihat film itu tetapi ketika Burt terpengaruh oleh suasana tersebut, ia pun memberi komentar-komentar lucu pada film tersebut. Rasa isengku timbul. Mungkin akan lebih lucu lagi jika mereka melihat Algernon lepas dari kandangnya, apalagi melihat semua orang yang hadir itu berpencaran dan merangkak mencoba menemukan seekor makhluk kecil putih jenius yang berlarian.

Namun, aku mengendalikan diriku, dan ketika Strauss maju ke podium, dorongan isengku lenyap. Strauss banyak mengungkap teori dan teknik bedah saraf, menggambarkan secara terperinci bagaimana penelitian awal pada pemetaan hormon mengendalikan pusat yang memungkinkan dirinya memisahkan dan merangsang pusat-pusat itu, sementara pada waktu yang bersamaan mengambil hormon inhibitor yang menghasilkan porsi korteks. Ia menjelaskan teori enzim blok, kemudian melanjutkan dengan penggambaran keadaan jasmaniku

sebelum dan sesudah operasi. Foto-foto (aku tidak tahu ketika mereka mengambilnya) diperlihatkan dengan cara dibagikan dan dipindah tangankan serta dikomentari. Aku dapat melihat dari anggukan dan senyuman kebanyakan orang di sana bahwa mereka setuju dengan Dr Strauss. Ekspresi wajah yang "tumpul, kosong" telah berubah menjadi "waspada dan cerdas". Ia juga mendiskusikan secara terperinci aspek-aspek ketepatan sesi-sesi terapi kami terutama perubahan sikapku terhadap asosiasi bebas ketika berbaring di atas sofa.

Aku telah datang ke sana sebagai bagian dari sebuah presentasi ilmiah, dan aku telah menduga akan dipamerkan seperti itu. Tetapi semua orang terus-menerus berbicara tentang aku seolah aku adalah semacam benda yang baru saja diciptakan, yang mereka persembahkan bagi dunia ilmu pengetahuan. Tidak seorang pun di dalam ruangan ini yang menganggapku sebagai seorang pribadi seorang manusia. Penyejajaran yang berkesinambungan " antara Algernon dan Charlie", lalu "Charlie dan Algernon," memperjelas bahwa mereka menganggap kami sebagai hewan percobaan yang tidak bearti di luar lab. Tetapi, terlepas dari kemarahanku, aku tidak dapat menemukan ada yang salah di sana.

Akhirnya giliran Nemur bicara merangkum semuanya sebagai seorang pemimpin proyek untuk mendapatkan sorotan sebagai pencipta eksperimen cemerlang itu. Ini adalah hari yang telah ditunggu-tunggunya.

Ia tampil mengesankan ketika berdiri di sana di atas panggung. Ketika ia bicara, aku merasa diriku mengangguk karena kata-katanya, menyetujui hal-hal yang kutahu itu benar. Berbagai tes, eksperimen, operasi, dan perkembangan mentalku kemudian dijelaskan panjang-lebar.

Pidatonya dihidupkan dengan cuplikan-cuplikan laporan kemajuanku. Lebih dari sekali aku mendengar sesuatu yang bersifat pribadi atau bodoh disampaikan kepada hadirin. Terima kasih, Tuhan, aku telah berhati-hati menyembunyikan sebagian besar cerita terperinci tentang Alice dan diriku sendiri dalam arsip pribadi.

Lalu, dalam ikhtisarnya, ia berkata: "Kami yang menggarap proyek ini di Universitas Beekman merasa puas mengetahui bahwa kami telah memperbaiki salah satu kesalahan alam, dan dengan teknik baru kami terciptalah seorang manusia hebat. Ketika Charlie datang kepada kami, ia bukan seorang anggota masyarakat, ia sendirian dalam kota besar tanpa teman atau saudara yang mengurusinya, tanpa kelengkapan mental untuk hidup secara normal. Ia tidak punya masa lalu, tidak ada hubungan dengan masa kini, tidak punya harapan di masa depan. Dapat dikatakan bahwa Charlie Gordon tidak benar-benar ada ketika itu, sebelum eksperimen ini...."

Aku tidak tahu mengapa aku begitu membenci mereka yang telah menganggapku sebagai sesuatu yang baru dibentuk dalam perbendaharaan mereka. Tetapi ketika itu aku yakin gema dari gagasan tersebut telah terdengar di ruang-ruang benakku sejak kami tiba di Chicago. Aku ingin berdiri dan memperlihatkan kepada mereka betapa bodohnya Nemur, lalu meneriakinya: Aku manusia, seorang pribadi dengan orang tua dan kenangan serta sejarah dan aku sudah begitu sebeium kau dorong aku ke ruang operasi!

Pada saat yang sama, manakala amarahku berkobar, ditempa wawasan yang luar biasa, menjadi hal yang menggangguku ketika Strauss bicara dan Nemur mengumumkan datanya. Mereka telah membuat kesalahan

tentu saja! Evaluasi statistik pada masa tunggu, yang penting untuk membuktikan kekekalan perubahan, telah menjadi dasar sejak eksperimen terdahulu dalam medan perkembangan mental dan pembelajaran, pada masa tunggu hewan bodoh ataupun hewan cerdas yang normal. Tetapi jelas bahwa masa tunggu akan diperpanjang dalam kasus-kasus itu jika kecerdasan hewan tersebut telah meningkat dua atau tiga kali.

Kesimpulan Nemur terlalu awal. Baik pada Algernon maupun aku, akan dibutuhkan waktu lebih lama untuk melihat apakah perubahan ini akan bertahan lama. Para profesor telah membuat kesalahan, dan tidak ada yang mengetahuinya. Aku ingin melompat bangun dan mengatakan kepada mereka, tetapi aku tidak dapat bergerak. Seperti Algernon, aku berada di balik penjara kandang yang mereka buat di sekitarku.

Sekarang waktunya sesi pertanyaan, dan sebelum aku boleh menyantap makan malamku, aku akan diminta untuk tampil di depan perkumpulan penting ini. Tidak, aku harus keluar dari sana.

"... Dalam satu pengertian, ia merupakan hasil percobaan psikologis modern. Sebagai pengganti batok pikiran yang lemah, serta sebuah beban bagi masyarakat yang tentunya khawatir atas perilaku tak bertanggung jawabnya, kami sekarang mempunyai seorang yang punya harga diri dan kepekaan, yang siap mengambil tempat ini sebagai sumbangan dari anggota masyarakat. Aku ingin Anda semua mendengarkan beberapa patah kata dari Charlie Gordon...."

Terkutuklah ia. Ia tidak tahu apa yang sedang dikatakannya. Pada saat itu aku tak dapat menahan dorongan dalam diriku. Aku melihat dengan terpesona

ketika tanganku bergerak, terbebas dari kendaliku. Tangan itu menarik turun palang pintu kandang Algernon. Ketika aku membukanya, ia menatapku dan diam sejenak. Lalu ia berpaling, berlari keluar kandangnya, kemudian begegas menyeberangi meja panjang itu.

Mulanya ia kebingungan di atas taplak kain damas itu, kabur karena warnanya yang putih di atas putih, sehingga seorang perempuan di meja itu menjerit, dan menjatuhkan kursinya ke belakang ketika ia terlonjak berdiri. Di depannya, sebuah kendi air terguling, lalu Burt berteriak. "Algernon lepas!" Algernon meloncat turun dari meja, lalu ke panggung, kemudian ke lantai.

"Tangkap! Tangkap tikus itu!" Nemur memekik ketika hadirin, yang terbagi atas beberapa pendapat, menjadi kalang-kabut. Beberapa perempuan (yang bukan pelaku percobaan?) mencoba berdiri di atas kursi lipat yang tidak stabil, sedangkan yang lainnya, yang mencoba mencari Algernon, menyenggol mereka hingga jatuhlah kursi-kursi tersebut.

"Tutup pintu belakang itu!" teriak Burt, yang sadar bahwa Algernon cukup cerdas untuk langsung menuju ke arah itu.

"Lari," aku mendengar diriku sendiri berteriak. " Ke pintu samping!"

"Ia akan lari ke pintu samping," seseorang membeo.

"Tangkap tikus itu! Tangkap!" Nemur memohon.

Orang-orang berduyun-duyun keluar dari Grand Ballroom menuju lorong, ketika Algernon berlari di sepanjang gang berlapis permadani merah, dan memimpin pengejaran yang seru. Di bawah meja Louis XIV, di sekitar pot-pot berisi pohon palem, naik ke tangga, di sekitar sudut-sudut, menuruni tangga, masuk ke lobi utama, lalu

menyenggol orang lain seraya kami pergi. Melihat mereka semua berlari lintang-pukang di lobi, mengejar seekor tikus putih yang lebih cerdas daripada kebanyakan mereka, merupakan hal yang paling lucu yang pernah terjadi selama ini.

"Ayo, tertawalah!" dengus Nemur, yang hampir menabrakku, "tetapi jika kita tidak menemukannya, seluruh eksperimen itu dalam bahaya."

Aku berpura-pura mencari Algernon di bawah tempat sampah. "Kau tahu?" kataku, "kau telah membuat satu kesalahan. Dan setelah kejadian hari ini, mungkin kesalahan itu tidak akan penting lagi."

Beberapa detik kemudian, setengah lusin perempuan berlarian sambil menjerit-jerit ketakutan keluar dari ruang rias dengan mengangkat rok mereka di sekitar tungkai.

"Ia di sana," seseorang berseru. Tetapi untuk sesaat, gerombolan pencari itu terhenti karena tulisan tangan di dinding Wanita. Akulah yang pertama menembus rintangan yang tak terlihat itu, lalu memasuki gerbang keramat tersebut.

Algernon bertengger di atas salah satu wastafel, memelototi pantulan dirinya pada cermin.

"Ayo," kataku. "Kita akan keluar dari sini bersama-sama."

Ia membiarkan aku mengambilnya dan memasukkannya ke dalam saku jasku. "Tetap di dalam saja hingga aku beri tahu lagi."

Yang lainnya datang menyerbu melalui pintu ayun tampak kecewa karena mereka berharap akan melihat perempuan-perempuan telanjang yang menjerit-jerit. Aku berjalan keluar ketika mereka mencari-cari di kamar mandi, dan aku mendengar suara Burt. "Ada celah di

lubang angin itu. Mungkin ia berlari ke sana."

"Cari ke mana ia pergi," kata Strauss.

"Kau cari di lantai dua," kata Nemur sambil melambai pada Strauss. "Aku akan ke lantai dasar."

Saat itu mereka bergerombol keluar dari kamar mandi wanita kemudian pasukan itu berpencar. Aku mengikuti di belakang rombongan Strauss, naik ke lantai dua ketika yang lainnya berusaha mengetahui ke mana ventilasi itu menjalar. Ketika Strauss dan White serta setengah lusin pengikut berbelok ke kanan masuk ke Koridor B, aku masuk ke Koridor C kemudian naik lift ke kamarku.

Aku menutup pintu setelah masuk, lalu menepuk-nepuk sakuku. Moncong merah muda dan bulu halus putih muncul dan melihat ke sekelilingnya. "Aku akan membereskan barang-barangku," kataku, "lalu kita akan berangkat kau dan aku saja sepasang jenius buatan kabur.

Aku memanggil pelayan hotel untuk membawakan tas-tas dan alat perekam ke dalam taksi yang sudah menunggu. Aku kemudian membayar tagihan hotel, lalu berjalan keluar melalui pintu putar dengan benda yang sedang dalam pencarian dalam saku jaketku. Aku menggunakan tiket kembali ke New York.

Aku tidak kembali ke tempat tinggalku, tetapi berencana tinggal di sebuah hotel di kota selama satu atau dua malam. Kami akan menggunakan tempat itu sebagai basis operasi sementara aku mencari apartemen dengan perabotan di tengah kota. Aku ingin tinggal di dekat Times Square.

Membicarakan ini semua membuatku merasa jauh lebih baik walau agak konyol. Aku tidak benar-benar tahu mengapa aku menjadi begini marah, atau apa yang

kulakukan dengan menumpang jet kembali ke New York bersama Algernon yang kuletakkan di dalam kotak sepatu di bawah tempat dudukku. Aku tidak boleh panik. Kesalahan ini tidak terlalu berarti. Hanya segalanya tidak berjalan tepat seperti yang dipercaya Nemur. Tetapi, aku mau ke mana setelah ini?

Pertama-tama, aku harus bertemu dengan kedua orang tuaku. Secepat mungkin.

Mungkin aku tidak akan mempunyai kesempatan yang kukira aku miliki....

LAPORAN KEMAJUAN 24

25 Juni Pelarian kami menjadi berita besar di koran-koran kemarin, sedangkan tabloid-tabloid menggelar wawancara di luar ruangan. Pada halaman kedua Daily Press ada foto kunoku dan sketsa tikus putih. Judulnya berbunyi: 3enius Dungu dan Tikus Ngamuk. Nemur dan Strauss dilaporkan menyatakan aku sedang berada dalam ketegangan yang luar biasa dan bahwa aku pasti akan kembali. Mereka menawarkan hadiah lima ratus dolar bagi penemu Algernon. Mereka tidak sadar bahwa kami bersama-sama.

Ketika aku membalik lembaran koran pada kisah terbaru di halaman lima, aku terpaku melihat foto ibu dan adik perempuanku. Beberapa wartawan ternyata benar-benar telah menjalankan tugas mereka dengan baik.

SANG ADIK PEREMPUAN TIDAK TAHU KEBERADAAN SI JENIUS DUNGU (Khusus kepada Daily Press^

Brooklyn, NY, 14 Juni N ona Norma Gordon, yang tinggal bersama ibunya, Rose Gordon, di Jalan Marks 4136, Brooklyn, NY, menyangkal bahwa dirinya mengetahui keberadaan kakak lelakinya. Nona Gordon berkata, "Kami sudah tidak pernah bertemu lagi ata mendengar soal dirinya selama lebih dari tujuh belas tahun."

Nona Gordon mengatakan , dia percaya kakak lelakinya sudah meninggal pada Maret yang lalu, ketika Ketua Jurusan Fakultas Psikologi Universitas Beekman mengunjunginya untuk meminta izin menggunakan Charlie dalam sebuah eksperimen.

"Ibuku mengatakan padaku bahwa ia telah dikirim ke Panti Warren (Sekolah Pendidikan dan Panti Negeri Warren, di Long Island)," kata Nona Gordon, "lalu dia meninggal di sana beberapa tahun kemudian. Aku tidak tahu kalau ia masih hidup."

Nona Gordon meminta kepada siapa pun yang mengetahui keberadaan kakaknya agar menghubungi keluarganya di alamat mereka.

Ayahnya, Matthew Gordon, yang sudah tidak tinggal bersama istri dan anak perempuannya, sekarang menjalankan usaha pangkas rambut di Bronx.

Aku menatap berita itu sejenak, kemudian aku membalik halaman dan melihat fotonya lagi. Bagaimana aku dapat menggambarkan mereka?

Aku tidak dapat mengatakan bahwa aku ingat wajah Rose. Walau foto terbarunya jelas, aku masih melihatnya seperti ketika aku masih kanak-kanak. Aku mengenalnya dulu, dan kini aku tidak mengenalinya lagi. Jika kami berpapasan di jalan, aku tidak akan mengenalinya. Tetapi sekarang, setelah tahu dia ibuku, aku dapat

mengingat-ingat perincian yang samar-samar sekalipunya!

Kurus, kerut merut wajahnya. Hidung dan dagu tajam. Dan aku nyaris masih dapat mendengar ocehannya dan jeritannya yang seperti burung. Rambutnya digelung ke atas, erat-erat. Menusukiku dengan tatapan matanya yang hitam. Aku ingin dia memelukku dan mendengarnya mengatakan bahwa aku anak yang baik. Lalu pada saat bersamaan, aku ingin berpaling untuk menghindari tamparannya. Fotonya membuatku gemetar.

Dan Norma juga berwajah pipih. Tidak terlalu tajam romannya, cantik, tetapi sangat mirip ibuku. Rambutnya yang tergerai hingga ke bahunya membuatnya tampak lebih lembut. Keduanya tampak duduk di sofa ruang tamu.

Wajah Roselah yang mengingatkanku pada kenangan yang mengerikan. Dia seperti dua pribadi bagiku, dan aku tidak pernah tahu akan jadi yang mana ibuku. Mungkin dia akan menampakkan ibuku yang lain dengan menggerakkan tangannya, menaikkan alisnya, mengerutkan keningnya adikku tahu tanda-tanda badai itu, sehingga dia dapat segera menghindar setiap kali emosi ibuku menyala tetapi aku tidak pernah tahu itu. Aku akan datang padanya minta pelukan, dan kemarahannya akan terlampiaskan padaku.

Lalu pada saat yang lain akan ada kelembutan dan pelukan erat seperti mandi air hangat, dan tangan-tangan yang membelai-belai rambut dan kening. Lalu kata-kata yang terukir di atas katedral masa kanak-kanakku:

Ia seperti anak-anak lainnya. Ia anak yang baik.

Aku melihat kembali ke masa lalu melalui foto yang

buram, gambar diriku dan ayahku bersandar pada keranjang bayi. Ia menggenggam tanganku dan berkata, "Itu dia. Jangan menyentuhnya dulu karena dia masih sangat kecil, tetapi kalau sudah bertambah besar, kau akan mempunyai seorang adik perempuan yang bisa kauajak bermain."

Aku melihat ibuku di tempat tidur besar di dekatnya, pucat dan lemah, kedua lengannya seperti lumpuh di atas bantal bergambar anggrek. Dia mengangkat kepalanya dengan cemas. "Awasi Charlie, Matt...."

Itu sebelum Mama berubah sikap terhadapku. Dan sekarang aku baru menyadari, itu karena Mama belum tahu apakah Norma akan seperti aku atau tidak. Kemudian setelah itu, ketika Mama yakin bahwa doanya terjawab, dan Norma menampakkan tanda-tanda kecerdasan normal, suara ibuku menjadi terdengar berbeda. Tidak saja suaranya, tetapi sentuhannya juga, tatapannya, penampilannya semuanya berubah. Seolah kutub magnetnya telah berputar balik. Yang tadinya tertarik, sekarang menolak. Aku sekarang tahu ketika Norma adalah bunga di dalam taman kami, aku adalah rumput liar, boleh ada hanya di tempat-tempat yang tidak terlihat, di sudut, dan di tempat-tempat gelap saja.

Melihat fotonya di koran, tiba-tiba aku membencinya. Sebenarnya akan lebih baik jika dia mengabaikan para dokter dan guru itu serta yang lainnya. Mereka begitu tergesa meyakinkannya bahwa aku bodoh, sehingga Mama memalingkan dirinya dariku dan memberiku sedikit cinta saja ketika aku membutuhkan lebih dari itu.

Apa gunanya jika aku menemuinya sekarang? Apa yang dapat dikatakannya kepadaku kini? Namun, aku sangat ingin tahu. Bagaimana ibuku akan bereaksi?

Menemuinya dan mengenang kembali siapa diriku dulu? Atau melupakannya? Apakah masa lalu pantas untuk diketahui? Mengapa jadi begitu penting bagiku untuk mengatakan kepadanya: "Mama, lihatlah aku. Aku tidak terbelakang lagi. Aku normal. Lebih baik daripada normal. Aku seorang jenius?"

Bahkan ketika aku mencoba mengenyahkan ibuku dari pikiranku, kenangan itu merembes kembali dari masa lalu untuk mengotori masa kiniku. Kenangan yang lainnya ketika aku sudah jauh lebih tua.

Sebuah pertengkaran.

Charlie berbaring di atas tempat tidur, dengan selimut menutupi tubuhnya. Kamar itu gelap, hanya ada sinar pipih berwarna kuning dari pintu yang terbuka, yang menerobos kegelapan untuk menghubungkan dunia yang gelap dengan yang terang. Lalu ia mendengar sesuatu. Ia tidak mengerti tetapi merasa, karena suara parau mereka berhubungan dengan percakapan mereka tentang dirinya. Lebih banyak dan banyak lagi, setiap hari, ia kemudian menghubungkan nada suara itu dengan kerutan dahi setiap kali mereka berbicara mengenai dirinya.

Ia hampir tertidur ketika mendengar suara lirih melalui celah bercahaya. Suara itu meninggi menjadi lengkingan pertengkaran suara ibunya yang tajam dengan tanda-tanda ancaman akan adanya kehisterisan. "Ia harus dikirim keluar. Aku tidak mau ia ada di rumah ini lagi. Telepon Dr Portman dan katakan kepadanya kita ingin mengirim Charlie ke Panti Warren."

Suara ayahku terdengar tegas, menenangkan. "Tetapi kau tahu Charlie tidak akan melukai bayi itu. Norma tidak akan merasakan apa-apa pada usianya yang sekarang ini."

"Bagaimana kita tahu? Mungkin hal itu memberi pengaruh buruk pada seorang anak yang tumbuh bersama... seseorang seerti Charlie di rumah ini."

"Dr Portman bilang...."

"Portman bilang! Portman bilang! Aku tidak peduli apa yang dikatakannya! Pikirkan akan seperti apa Norma jika dia memiliki kakak seperti itu. Selama bertahun-tahun ini aku memang salah, karena berusaha percaya ia akan tumbuh seperti anak-anak lainnya. Aku mengakuinya sekarang. Akan lebih baik baginya jika ia dikirim keluar dari sini."

"Sekarang setelah kau punya Norma, kau memutuskan tidak menginginkan Charlie lagi...."

"Kau pikir ini mudah? Mengapa kau membuatku menjadi lebih sulit? Sepanjang tahun itu semua orang mengatakan padaku ia harus dipindahkan. Nah, ternyata mereka benar. Pindahkan Charlie. Mungkin di panti itu, bersama anak-anak sejenisnya, ia akan mendapatkan sesuatu. Aku tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Yang kutahu, aku tidak akan mengorbankan anak perempuanku untuknya lagi."

Walau Charlie tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, ia takut lalu menenggelamkan diri di bawah selimut, dan dengan mata terbuka mencoba menembus kegelapan di sekitarnya.

Ketika aku melihatnya sekarang, ia tidak lagi takut, hanya menarik diri, seperti seekor burung atau tupai menarik diri dari gerakan kasar pemberi makannya secara begitu saja, naluriah. Cahaya yang menerobos masuk dari celah pintu yang terkuak menerpaku lagi dalam pandangan yang berkilauan. Melihat Charlie bergulung di bawah selimut aku berharap dapat menghiburnya,

menjelaskan kepadanya bahwa ia tidak melakukan kesalahan apa-apa, bahwa ia tidak dapat mengubah sikap ibunya menjadi seperti ketika adik perempuannya lahir. Di atas tempat tidur itu, Charlie tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tetapi sekarang menyakitkan baginya. Seandainya aku dapat menjangkau kenangan masa laluku, aku akan membuat Mama melihat betapa dia telah menyakitiku.

Tidak ada waktu untuk menemuinya. Tidak, hingga aku punya waktu untuk menyelesaikannya untuk diriku sendiri.

Untungnya, sebagai tindakan pencegahan, aku menarik semua uang tabunganku di bank begitu aku tiba di New York. Delapan ratus delapan puluh dolar tidak akan bertahan lama, tetapi akan memberiku waktu untuk menentukan sikapku.

Aku memesan kamar di Hotel Camden di Jalan 41st, satu blok jauhnya dari Times Square. New York! Segalanya seperti yang pernah kubaca! Gotham... pot meleleh... Bagdad on the Hudson. Kota cahaya dan warna. Luar biasa, aku sudah tinggal dan bekerja sepanjang hidupku di tempat yang berjarak hanya beberapa pemberhentian kereta bawah tanah dari Times Square, tapi baru ke sana sekali bersama Alice.

Sulit untuk tidak meneleponnya. Aku sudah mulai memutar nomornya tapi berhenti beberapa kali. Aku harus menjauh darinya.

Begitu banyak pikiran yang harus kucerna. Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa selama aku terus merekam laporan kemajuanku, tidak ada yang akan hilang; rekaman itu akan menjadi lengkap. Biarkan mereka

kebingungan dalam gelap sementara ini; aku sendiri sudah berada dalam kegelapan selama lebih dari tiga puluh tahun. Tetapi aku sekarang letih. Aku tidak bisa tidur di pesawat kemarin, tapi aku juga tidak dapat lagi tetap membuka mata. Aku akan melanjutkan dari sini besok.

16 Juni Menelepon Alice, tetapi kututup sebelum dia menjawab. Hari ini aku menemukan apartemen lengkap dengan perabotan. Pengeluaran sembilan puluh dolar sebulan itu lebih dari yang kurencanakan. Tetapi apartemen itu terletak di Fortythird dan Tenth Avenue dan aku dapat pergi ke perpustakaan dalam sepuluh menit untuk mengejar ketinggalan bacaan dan pelajaranku. Apartemen itu terletak di lantai empat, memiliki empat ruangan, dan ada piano sewaan juga di dalamnya. Induk semangnya mengatakan bahwa dalam waktu dekat, pemilik piano itu akan mengambilnya kembali. Mungkin sebelum diambil aku dapat belajar memainkannya.

Algernon adalah kawan yang menyenangkan. Pada waktu makan ia menempati tempatnya di meja kecil yang dapat dilipat. Ia suka kue-kue kering asin, dan hari ini ia menyesap bir ketika kami menonton pertandingan bola di TV. Kukira ia penggemar klub Yankees.

Aku akan memindahkan sebagian besar perabotan dari kamar tidur kedua dan menggunakan ruangan itu untuk Algernon. Aku berencana membuatkannya sebuah labirin tiga dimensi dari plastik bekas yang dapat kubeli dengan harga murah di kota. Aku ingin Algernon mempelajari beberapa variasi labirin yang rumit, karena aku ingin ia tetap bugar. Tetapi aku ingin melihat apakah aku dapat menemukan beberapa motivasi selain makanan. Pastilah ada hadiah lain yang akan membujuknya hingga mau

memecahkan masalah.

Kesendirian memberiku kesempatan untuk membaca dan berpikir. Dan sekarang kenangan-kenangan itu datang lagi untuk menguak kembali masa silamku, guna mengetahui siapa dan apa aku sebenarnya. Jika sampai ada yang salah pada diriku, setidaknya aku telah memiliki masa laluku.

19 Juni Berkenalan dengan Fay Lillman, tetanggaku di seberang gang. Ketika aku pulang dengan membawa banyak belanjaan, ternyata aku terkunci di luar apartemenku. Lalu aku ingat bagian depan tangga darurat menghubungkan jendela ruang tamuku dengan apartemen yang tepat di seberang gang.

Radionya sedang menyala dengan suara keras dan mengumandangkan musik tiup. Aku mengetuk mula-mula perlahan, lalu lebih keras.

"Masuklah! Pintunya terbuka!"

Aku mendorong pintunya, dan terpana. Seorang gadis langsing berambut pirang berdiri di depan tiang penyangga

lukisan, sedang melukis, dengan hanya mengenakan kutang dan celana dalam merah muda.

"Maaf!" aku tergagap, dan menutup pintu itu lagi. Dari luar aku berteriak. "Aku tetanggamu dari seberang gang. Aku terkunci di luar dan aku ingin menggunakan tangga darurat untuk sampai di jendela apartemenku."

Pintu itu terbuka lebar dan gadis itu menghadap ke arahku, masih hanya mengenakan pakaian dalamnya, dengan sebuah kuas pada masing-masing tangannya yang menempel di pinggulnya.

"Kau tidak dengar aku bilang masuk?" Lalu dia

mempersilakan aku masuk ke apartemennya, sambil menyingkirkan sebuah kardus yang penuh dengan sampah. "Langkahi saja tumpukan sampah di sana."

Kupikir dia pastilah lupa-atau tidak sadar bahwa dia tidak berpakaian, dan aku tidak tahu harus menatap ke mana. Aku terus menghindari menatapnya, dengan melihat pada dinding, langit-langit, ke mana saja, selain dirinya.

Tempat itu kacau-balau. Ada belasan meja kecil, semuanya penuh dengan tube cat yang sudah terpelintir, yang kebanyakan telah mengering seperti ular-ular yang mengerut, tapi beberapa di antaranya masih hidup dan mengeluarkan pita-pita warna. Tube, kuas, kaleng, gombal, dan bagian dari bingkai serta kanvas tersebar di mana-mana. Di tempat itu tercium bau menyengat campuran cat, minyak biji rami, dan terpentin dan setelah beberapa saat aku dapat membaui aroma bir lama. Tiga kursi yang penuh dan sofa berwarna hijau kotor ditumpuki baju-baju tidak terpakai. Dan di lantai tergeletak sepatu-sepatu, stoking, dan pakaian dalam, seolah dia mempunyai kebiasaan melepas pakaian sambil berjalan dan melemparkan bajunya sambil lewat. Debu tipis melapisi segalanya di ruangan ini.

"Ya, kau Pak Gordon," katanya sambil mengawasiku. "Aku sudah berusaha keras untuk mengintipmu sejak kau pindah. Duduklah." Dia mengeduk setumpuk baju dari salah satu kursi dan melemparkannya ke atas sofa yang sudah penuh sesak. "Jadi akhirnya kau memutuskan untuk mengunjungi tetanggamu. Mau minum?"

"Kau seorang pelukis," aku tergagap, ingin mengatakan sesuatu. Aku bingung karena pikiran perempuan ini bisa saja tiba-tiba sadar bahwa dirinya telanjang dan

akan berteriak lalu berlari ke kamar mandi. Aku berusaha menggerakkan mataku, melihat ke mana saja selain dirinya.

"Bir atau ale? Aku tidak punya apa-apa sekarang di sini kecuali sherry untuk memasak. Kau tidak mau sherry untuk memasak, kan?"

"Aku tidak bisa tinggal," kataku, berusaha tenang dan menatap lekat tanda cantik pada dagu kirinya. "Aku terkunci di luar apartemenku. Aku ingin menyeberangi tangga darurat itu. Tangga itu menghubungkan jendela-jendela kita."

"Silakan saja," dia meyakinkan aku. "kunci-kunci paten yang jelek itu menyebalkan. Aku pernah terkunci di luar tempat ini tiga kali pada minggu pertamaku tinggal di sini. Dan pernah aku di luar di gang telanjang bulat selama setengah jam. Aku hanya melangkah keluar untuk mengambil susu, dan pintu sialan itu terbanting menutupku di belakangku. Aku membuang kunci sialan itu. Karena itu aku tidak memiliki satu pun sejak itu."

Aku pastilah telah mengerutkan keningku karena dia tertawa. "Nah, kau tahu apa gunanya kunci. Mereka menguncimu di luar, dan mereka tidak begitu melindungi, bukan? Lima belas perampokan terjadi di gedung sialan ini tahun lalu dan semua kejadian itu terjadi di gedung berkunci. Tidak ada yang pernah masuk ke sini, walau pintuku selalu terbuka. Mereka sia-sia saja mencari barang berharga di sini."

Ketika dia mendesakku untuk minum bir bersamanya, aku menerimanya. Sementara dia mengambilnya di dapur, aku melihat ke sekeliling ruangan ini lagi. Yang tadi tidak terlihat olehku adalah sebagian dinding di belakangku dikosongkan semua perabotan di dorong ke satu sisi ruangan atau ke tengah, sehingga dinding itu (lapisan semennya juga dikupas sehingga menampakkan batu batanya) berfungsi sebagai galeri seni. Berbagai lukisan memenuhi langit-langit dan yang lainnya tertumpuk menyandar di lantai. Beberapa lukisan merupakan potret diri, termasuk yang telanjang. Lukisan yang sedang dikerjakannya ketika aku masuk, yang masih di atas tiang penyangga, adalah lukisan setengah badannya yang telanjang, menampakkan rambut panjangnya tidak seperti sekarang, dikepang dan disanggulkan ke atas kepalanya seperti mahkota) melampaui bahunya, sebagian terpilin di sekitar depan dan terkulai di antara payudaranya. Dia melukis payudaranya sendiri tegak dan keras dengan puting berwarna tidak realistis, seperti permen loli merah. Ketika aku mendengar dia datang dengan membawa bir, aku memutar tubuhku menjauh dari tiang penyangga itu dengan cepat, tersandung tumpukan buku, dan berpura-pura tertarik pada lukisan kecil musim gugur di dinding.

Aku lega ketika melihat dia telah mengenakan daster tipis lusuh walau begitu berlubang-lubang pada tempat yang tidak semestinya dan aku dapat menatapnya langsung untuk pertama kalinya. Tidak benar-benar cantik, tetapi mata birunya dan hidungnya yang pendek mancung membuatnya seperti memiliki sifat kucing, berlawanan dengan gerakannya yang atletis. Dia berusia kira-kira tiga puluh lima tahun, ramping dan seimbang. Dia meletakkan bir-bir itu di atas lantai kayu, bersimpuh di sampingnya di depan sofa, dan mempersilakan aku duduk juga.

"Menurutku, lantai lebih nyaman dibandingkan dengan kursi," katanya sambil menyesap bir dari kalengnya. "Ya,

kan?"

Aku katakan kepadanya, aku tidak memikirkan hal itu. Dia tertawa lalu mengatakan, aku mempunyai wajah yang jujur. Dia sedang senang bicara tentang dirinya. Dia menghindari Greenwich Village, katanya, karena di sana, ia tidak dapat melukis, hanya menghabiskan waktunya di bar-bar dan kedai-kedai kopi. "Lebih baik di sini jauh dari kepalsuan dan pemuja seni asal saja. Di sini aku dapat melakukan yang aku mau dan tidak ada orang yang datang untuk mengejekku. Kau bukan orang yang suka mencemooh, kan?"

Aku menggerakkan bahuku, sambil berusaha tidak merasakan debu kasar pada celana dan tanganku. "Kukira kita semua mencemooh sesuatu. Kau mencemooh orang-orang yang palsu dan pencinta seni yang tidak mengerti banyak tentang seni, kan?"

Sejenak kemudian, aku berkata sebaiknya aku kembali ke apartemenku. Dia mendorong setumpuk buku menjauh dari jendela lalu aku memanjat melewati tumpukan koran dan kantong kertas yang berisi kaleng-kaleng bir kosong. "Tidak lama lagi," katanya sambil mendesah, "aku akan menjualnya."

Aku memanjat bingkai jendela lalu keluar ke tangga darurat. Ketika aku membuka jendelaku, aku kembali untuk mengambil belanjaanku. Tetapi sebelum aku dapat mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, dia mengikutiku ke tangga darurat. "Aku ingin melihat tempatmu. Aku belum pernah ke sana. Sebelum kau pindah, dua orang tua bersaudara Wagner bahkan tidak mau mengucapkan selamat pagi padaku." Dia merangkak melalui jendelaku di belakangku lalu duduk di bingkainya.

"Masuklah," kataku, sambil meletakkan belanjaanku di

atas meja.

"Aku tidak punya bir, tetapi aku dapat membuatkanmu secangkir kopi." Tetapi dia masih melihat-lihat ke belakangku dengan matanya yang terbelalak karena tidak percaya.

"Ya, Tuhan! Aku tidak pernah melihat tempat begini rapi. Siapa yang bermimpi ada seorang lelaki yang tinggal sendirian dapat menjaga kerapian seperti ini?"

"Aku tidak selalu seperti ini," sahutku minta maaf. "Ruangan ini sudah begini sejak aku pindah, dan aku terpaksa harus menjaga keadaan seperti ini. Sekarang aku jadi tidak suka jika segalanya tidak pada tempatnya."

Dia turun dari birai jendela untuk menjelajahi apartemenku.

"Hei," katanya tiba-tiba, "kau suka berdansa? Kau tahu...." Dia mengulurkan tangannya dan melakukan langkah-langkah sulit sambil menyenandungkan irama Latin. "Katakan kau bisa berdansa, dan aku akan senang sekali."

"Hanya dansa fox trot," sahutku, "dan tidak terlalu pandai juga."

Dia menggerakkan bahunya. "Aku pastilah gila dansa, tetapi tidak seorang pun yang kukenal yang kusukai pedansa yang baik. Aku harus pergi sendiri, berdandan sesekali, dan pergi ke kota ke Stardust Ballroom. Kebanyakan lelaki yang berada di sana agak menakutkan, tetapi mereka dapat berdansa."

Dia mendesah ketika melihat ke sekelilingnya."Tahukah kau, aku tidak suka tempat yang sangat rapi seperti ini. Sebagai seorang seniman... garis-garis itulah yang membuatku kesal. Semua serba garis lurus pada dinding, di lantai, dan di sudut yang menjadi kotak-kotak seperti

peti mati. Satu-satunya jalan agar aku bisa menghindari ko-tak-kotak adalah dengan minum sedikit. Maka segala garis lurus itu menjadi bergelombang dan bergerak-gerak, sehingga aku merasa jauh lebih baik perihal segala yang ada di dunia ini. Ketika segalanya lurus dan berbaris seperti ini, aku menjadi gila. Uh! Jika aku tinggal di sini, aku akan terus mabuk."

Tiba-tiba dia berputar dan menatapku. "Begini, kau bisa memberiku lima dolar yang akan kubayar pada tanggal dua puluh? Pada tanggal itulah cek tunjangan perceraianku datang. Aku biasanya tidak pernah kekurangan begini, tetapi aku punya masalah minggu lalu."

Sebelum aku dapat menjawabnya, dia menjerit dan menatap piano di sudut ruangan. "Aku pernah main piano. Aku dengar kau sering juga memainkannya beberapa kali, lalu aku bilang pada diriku, orang itu bermain dengan sangat baik. Karena itulah, aku tahu, aku ingin bertemu denganmu sebelum aku pernah melihatmu. Aku sudah tidak bermain piano lama sekali." Dia mencoba-coba bilah-bilah piano itu ketika aku beranjak ke dapur untuk membuat kopi.

"Kau boleh datang ke sini untuk berlatih kapan saja," kataku. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku menjadi begitu bebas dengan tempatku, tetapi ada sesuatu pada perempuan itu yang menuntutku bersikap benar-benar tidak egois. "Aku tidak membuka pintu depan, tetapi jendelaku tidak terkunci, dan jika aku tidak ada di rumah, kau bisa memanjat melalui tangga darurat itu. Krim dan gula untuk kopimu?"

Ketika dia tidak menjawab, aku melongok ke ruang tamu. Dia tidak ada di sana. Ketika aku melihat ke arah jendela, aku mendengar suaranya dari kamar Algernon.

"Hei, apa ini?" Dia memeriksa labirin plastik tiga dimensi yang telah kubuat. Dia mempelajarinya dan kemudian memekik lagi. "Patung modern! Segala kotak dan garis lurus!"

"Ini labirin khusus," aku menjelaskan. "Sebuah alat pembelajaran yang rumit buat Algernon."

Dia mengelilingi labirin itu, dengan gembira. "Orang-orang di Museum Seni Modern akan menjadi gila melihat ini."

"Ini bukan patung," aku menegaskan. Aku lalu membuka pintu ke kandang tempat tinggal Algernon yang berhubungan dengan labirin itu, dan membiarkan Algernon berjalan ke pintu masuk labirin itu.

"Ya, Tuhan!" bisiknya. "Patung dengan sebuah elemen hidup. Charlie, ini hal terbagus setelah sampah mobil dan tincannia."

Aku mencoba menjelaskan, tetapi dia menegaskan bahwa bagian yang hidup itu akan membuat patung ini masuk dalam catatan sejarah. Hanya ketika aku melihat tawa dalam mata liarnya, aku baru menyadari dia sedang menggodaku. "Ini bisa menjadi seni mengekalkan diri," dia melanjutkan, "sebuah pengalaman kreatif bagi pencinta seni. Jika kau punya tikus lainnya lalu mereka punya anak-anak, kau selalu punya satu untuk menghasilkan lagi elemen hidup itu. Karya senimu bisa mencapai kekekalan, dan semua orang yang mengikuti mode akan membeli tiruannya untuk bahan pembicaraan. Akan kau beri nama apa?"

"Baiklah," aku mendesah. "Aku menyerah...."

"Jangan," dia mendengus, sambil menepuk kubah plastik tempat Algernon berhasil menemukan kotak gawangnya. "Aku menyerah terlalu klise. Bagaimana

dengan: Hidup hanyalah sebuah kotak labirin?" "Kau gila!" kataku.

"Tentu saja!" Dia memutar tubuhnya dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat. "Aku sedang bertanya-tanya kapan kau akan tahu kalau aku gila."

Kopi telah mendidih.

Saat minum kopi, dia terkesiap, lalu berkata, dia harus bergegas karena dia punya janji setengah jam yang lalu dengan seseorang yang ditemuinya di pameran seni.

"Kau perlu uang?" tanyaku.

Dia merogoh dompetku yang setengah terbuka dan menarik selembar lima dolar. "Sampai minggu depan," katanya. "Saat cek itu tiba. Terima kasih banyak." Dia lalu meremas uang itu, melayangkan ciuman pada Algernon, dan sebelum aku dapat mengatakan apa-apa, dia sudah keluar melalui jendela, lalu ke tangga darurat, dan menghilang. Aku berdiri di sana dengan perasaan konyol.

Begitu menarik. Begitu penuh semangat hidup. Suaranya, matanya segala tentang dirinya mengundang. Dia tinggal di samping jendela itu dan hanya terpisah oleh tangga darurat.

20 Juni Mungkin aku harus menunggu sebelum pergi menemui Matt; atau tidak pergi menemuinya sama sekali. Aku tidak tahu. Tidak ada yang berjalan sesuai dengan harapanku. Dengan petunjuk bahwa Matt telah membuka sebuah tempat cukur rambut di Bronx, mudah saja menemukannya. Aku ingat ia menjual perlengkapan untuk usaha pangkas rambut di New York. Hal itu membawaku ke Perlengkapan Pangkas Rambut Metro yang memiliki sebuah tempat cukur rambut dengan nama Pangkas Rambut Gordon di Jalan Went worth di Bronx.

Matt telah sering berbicara tentang sebuah tempat cukur rambut miliknya sendiri. Betapa ia benci berjualan! Betapa mereka sering mempertengkarkan hal itu! Rose berteriak bahwa seorang wiraniaga adalah pekerjaan yang paling tidak terhormat, tetapi dia tidak mau punya suami seorang tukang cukur. Dan, oh, Margareth Phinney akan tertawa tergelak pada "istri si tukang cukur". Lalu, bagaimana dengan Lois Meiner yang suaminya adalah penguji klaim pada Perusahaan Kasualitas Alarm? Tidakkah dia akan mengangkat hidungnya ke udara!

Selama tahun-tahun Matt bekerja sebagai wiraniaga, dengan membencinya setiap hari (terutama setelah ia melihat film versi Death of a Salesman). Ia bermimpi suatu hari kelak ia akan menjadi bos bagi dirinya sendiri. Hal itu pastilah telah ada dalam benaknya pada hari-hari ketika ia berbicara tentang menabung dan saat memotong rambutku sendiri di ruang bawah tanah. Cukurannya bagus, ia menyombong, jauh lebih baik daripada yang dilakukan di tukang cukur murahan di Scales Avenue. Ketika pergi dari rumah meninggalkan Rose, ia juga meninggalkan pekerjaannya sebagai wiraniaga. Aku mengaguminya karena itu.

Aku sangat girang karena akan bertemu dengan ayahku. Kenangan akan dirinya adalah kenangan hangat. Matt mau menerimaku apa adanya. Sebelum Norma lahir: pertengkaran mereka bukan tentang uang atau kesan para tetangga, tetapi tentang aku bahwa aku seharusnya dibiarkan saja, bukan didorong-dorong untuk mengerjakan apa yang dikerjakan anak-anak lainnya. Setelah Norma lahir: aku punya hak hidup sesuai dengan diriku sendiri walau aku tidak seperti anak-anak lainnya. Aku tidak dapat menunggu untuk melihat ekspresi wajahnya. Ia

adalah seseorang yang dapat diajak berbagi dalam hal ini.

Jalan Wentworth merupakan bagian yang mati di Bronx. Pada umumnya, toko-toko di jalan itu dipasangi tanda "Disewakan" di jendelanya, sedangkan yang lainnya tutup hari itu. Tetapi, di tengah jalan blok tersebut, dari halte bus terlihat ada tanda toko pangkas rambut yang menyerupai permen tongkat bercahaya dari jendelanya.

Toko itu kosong, yang terlihat hanyalah seorang pemangkas rambut yang sedang membaca majalah di kursi yang terdekat dengan jendelanya. Ketika ia melihat padaku, aku mengenalinya, Matt pendek gemuk, berkemeja merah kotak-kotak, jauh lebih tua, dan hampir botak dengan uban di tepi kepalanya tetapi lelaki itu masih Matt. Ketika melihatku berdiri di pintu, ia melempar majalahnya.

"Tidak perlu menunggu. Kau berikutnya."

Aku ragu-ragu, karena ia salah mengerti. "Biasanya kami tidak buka pada jam-jam seperti ini, Pak. Punya janji dengan salah seorang pelangganku, tetapi ia tidak datang. Baru saja akan tutup. Kau beruntung, aku duduk untuk mengistirahatkan kakiku. Kami pemangkas rambut terbaik dan pencukur jenggot di Bronx."

Ketika aku membiarkan diriku dibawa masuk ke tokonya, ia menyibukkan dirinya di sekitarku, menarik gunting dan sisir serta penutup leher yang segar.

"Segalanya bersih, seperti yang bisa kaulihat. Itulah kelebihanku di seluruh tempat cukur di sekitar sini. Pangkas rambut dan cukur jenggot?"

Aku duduk dengan nyaman di atas kursi. Hebat sekali, ia tidak mengenaliku padahal aku mengenalinya begitu saja. Aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa ia sudah tidak melihatku selama lebih dari lima belas tahun.

Lagi pula mungkin penampilanku telah berubah, bahkan dalam beberapa bulan ini. Ia mengamatiku dari cermin sekarang setelah menutupiku dengan kain leher bergaris. Lalu aku melihat kerutan kening yang mungkin pertanda ia mulai ingat, samar-samar.

"Perawatan," kataku, sambil mengangguk ke arah daftar harga, "pangkas rambut, cukur jenggot, sampo, krim suntan...."

Alisnya terangkat.

"Aku harus bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak kujumpai," aku meyakinkannya, "dan aku ingin berpenampilan terbaik."

Itu merupakan sensasi yang paling menakutkan, membiarkan dirinya memangkas rambutku lagi. Setelah itu, ketika ia mengasah silet itu pada lembar kulit, suara mendesir membuatku meringis. Aku menundukkan kepalaku karena ditekan dengan halus oleh tangannya dan merasakan bilah silet itu menggoresi leherku. Aku memejamkan mata dan menunggu. Rasanya seperti berada di atas meja operasi lagi.

Otot leherku menegang, dan tanpa peringatan otot itu berdenyut. Silet itu mengirisku tepat di atas jakunku.

"Hei!" ia berteriak. "Tuhan... tenanglah. Kau bergerak. Hei, mohon maaf."

Ia bergegas membasahi handuk di wastafel. Dari cermin aku melihat warna merah terang menggelembung, kemudian ada garis tipis menuruni tenggorokanku. Dengan tegang dan minta maaf, ia mengelapnya sebelum darah itu mencapai kain leher.

Sambil mengamatinya bergerak, cukup tangkas bagi seorang yang pendek, gemuk, aku merasa bersalah karena tidak segera mengatakan siapa aku. Aku ingin

mengatakan kepadanya siapa aku dan membiarkannya meletakkan lengannya di bahuku, sehingga kami dapat berbicara tentang masa lalu. Tetapi, aku menunggu sementara ia menahan luka itu dengan bubuk penahan darah.

Ia menyelesaikan pencukuran jenggotku dengan diam. Setelah itu, ia membawa lampu suntan mendekati ke kursiku, lalu meletakkan kapas lembab dengan bedak cair menutupi mataku. Dalam keadaan terpejam, aku merasakan sinar merah terang masuk ke dalam mataku yang gelap. Aku melihat apa yang terjadi malam itu ketika Matt membawaku pergi dari rumah untuk terakhir kalinya....

Charlie tidur di kamar yang lain, tetapi ia terbangun karena suara jeritan ibunya. Ia sudah terbiasa tidur dengan suara pertengkaran pertengkaran merupakan kejadian sehari-hari di rumahnya. Tetapi, malam ini ada yang sangat salah dalam kehisterisan ibunya. Charlie mengerut kembali ke dalam bantalnya dan mendengarkan.

"Aku tidak tahan lagi! Ia harus keluar dari rumah ini! Kita harus memikirkan Norma. Aku tidak mau dia pulang sekolah dengan menangis setiap hari karena anak-anak mengejeknya. Kita tidak dapat merusak kesempatannya untuk hidup normal karena Charlie."

"Menurutmu, apa yang harus kulakukan? Membuangnya di jalan?"

"Singkirkan Charlie. Kirim ia ke Panti Warren."

"Kita bicarakan itu besok pagi."

"Tidak. Yang kaulakukan hanya bicara, tanpa tindakan sama sekali. Aku tidak mau Charlie ada di sini besok. Sekarang-malam ini."

"Jangan bodoh, Rose. Ini sudah terlalu malam untuk melakukan apa pun.... Kau berteriak terlalu keras sehingga semua orang bisa mendengarmu."

"Aku tidak peduli. Ia harus pergi malam ini juga. Aku tidak tahan menatapnya lagi."

"Kau menjadi keterlaluan, Rose. Apa yang kau-lakukan?"

"Aku peringatkan kau. Bawa ia pergi dari rumah ini."

"Letakkan pisau itu."

"Aku tidak akan merusak kehidupan Norma." "Kau gila. Singkirkan pisau itu."

"Ia lebih baik mati. Ia tidak akan hidup secara normal. Ia lebih baik mati...."

"Kau sinting. Demi Tuhan, kendalikan dirimu!"

"Kalau begitu, bawa ia pergi dari sini. Sekarang... malam ini juga."

"Baiklah. Aku akan membawanya ke rumah Herman malam ini dan mungkin besok kita akan tahu apakah kita akan membawanya ke Panti Warren."

Sunyi. Dari kegelapan itu, aku gemetar melewati rumah kami, kemudian terdengar suara Matt, tidak terlalu panik dibandingkan dengan suara Rose, "Aku tahu apa yang telah kaualami bersama Charlie, karena itu aku tidak dapat menyalahkanmu jika kau takut. Tetapi kau harus mengendalikan dirimu sendiri. Aku akan membawanya ke rumah Herman. Puas?"

"Hanya itu yang kuminta. Anak perempuanmu berhak hidup juga."

Matt masuk ke kamar Charlie, lalu mengganti pakaian anak lelakinya. Walau anak lelakinya itu tidak tahu apa-apa, ia ketakutan. Ketika mereka keluar dari pintu, Rose memalingkan wajahnya. Mungkin ia mencoba

meyakinkan dirinya sendiri bahwa Charlie sudah pergi dari kehidupannya bahwa Charlie tidak ada lagi. Ketika berjalan keluar, Charlie melihat di atas meja dapur tergeletak sebilah pisau dapur panjang yang biasa digunakan ibunya untuk memotong daging panggang. Samar-samar ia merasa bahwa ibunya berniat melukainya. Dia ingin mengambil sesuatu dari dirinya, lalu memberikannya kepada Norma.

Tatkala ia menatap ibunya, dia telah mengambil lap dapur untuk membersihkan tempat cuci piring....

Ketika pencukuran rambut, jenggot, perawatan suntan, dan yang lainnya selesai, aku duduk di atas kursi itu dengan lemas, merasa ringan, dan rapi serta bersih. Matt melepas kain leherku, lalu menawariku cermin kedua untuk melihat pantulan bagian belakang kapalaku. Melihat diriku sendiri di dalam cermin dan menatap bagian belakangku dari cermin kedua, yang dipegang Matt untukku, saat itu juga satu sisinya menghasilkan ilusi kedalaman; lorong kehidupanku yang tanpa batas... melihat diriku sendiri ... melihat diriku sendiri... melihat diriku sendiri... melihat diriku sendiri... melihat.... Yang mana? Siapa aku dulu?

Aku berpikir untuk tidak memberi tahu Matt siapa aku. Apa gunanya bagi Matt mengetahui hal itu? Pergi sajalah tanpa memberi tahu siapa aku sesungguhnya. Lalu aku ingat bahwa aku ingin Matt tahu. Ia harus mengakui bahwa aku masih hidup, bahwa aku adalah seseorang. Aku ingin ia membanggakan aku kepada pelanggannya besok ketika ia memangkas rambut dan mencukur jenggotnya. Itu akan membuat segalanya menjadi nyata. Jika ia tahu aku adalah putranya, aku akan menjadi

seseorang.

"Nah, sekarang setelah rambutku rapi, mungkin kau akan mengenaliku," kataku sambil berdiri, dan menunggu sebuah tanda pengenalannya akan diriku.

Ia mengerutkan keningnya. "Apa ini? Sebuah lelucon?"

Aku yakinkan Matt bahwa ini bukan sebuah lelucon, dan jika ia melihat dan berpikir cukup keras ia akan mengenaliku. Ia menggerakkan bahunya dan berpaling untuk menyimpan sisir dan guntingnya. "Aku tidak punya waktu untuk menebak-nebak nama. Harus tutup. Semuanya tiga setengah dolar."

Bagaimana jika ia tidak ingat padaku? Bagaimana jika ini ternyata hanya merupakan khayalan aneh? Tangannya menadah meminta uang, tetapi aku tidak bergerak merogoh dompetku. Ia harus ingat padaku. Ia harus mengenaliku.

Namun, tidak tentu saja tidak dan ketika aku merasakan rasa asam pada mulutku, dan keringat pada telapak tanganku, aku tahu, sebentar lagi aku akan sakit. Tetapi, aku tidak mau hal itu terjadi di depannya.

"Hei, kau tidak apa-apa?"

"Ya... hanya... tunggu...." Aku terhuyung dan terduduk di salah satu kursi kromnya lalu menunduk ke depan terengah-engah mengumpulkan udara, sambil menunggu darah kembali mengalir dalam kepalaku. Perutku bergolak. Oh, Tuhan, jangan biarkan aku pingsan

ekarang. Jangan biarkan aku tampak menggelikan di depannya.

"Air... minta air... kumohon...." Aku sesungguhnya tidak terlalu memerlukan air, hanya untuk mengusirnya pergi. Aku tidak mau ia melihatku seperti ini setelah

bertahun-tahun berselang. Ketika ia kembali dengan membawa segelas air, aku merasa agak lebih baik.

"Ini, minumlah. Istirahatlah sebentar. Kau akan baik kembali." Ia menatapku ketika aku menyesap air dingin itu. Aku dapat melihat ia berusaha keras mengingat-ingat kenangan yang setengahnya sudah terlupakan, "Apakah aku benar-benar mengenalmu, di suatu tempat?"

"Tidak... aku tidak apa-apa. Aku akan pergi sebentar lagi."

Bagaimana aku bisa mengatakan kepadanya? Apa yang harus kukatakan? Nah, lihatlah padaku, aku Charlie, putramu yang kaubuang? Aku bukannya menyalahkan dirimu dalam hal itu, tetapi inilah aku, segalanya telah diperbaiki, lebih baik daripada sebelumnya. Ujilah aku. Beri aku pertanyaan. Aku bisa berbicara dalam dua puluh bahasa, yang masih digunakan dan yang sudah tidak digunakan. Aku seorang jagoan matematika, dan aku menulis sebuah konserto piano yang akan membuat mereka mengingatku walau aku sudah lama mati.

Bagaimana aku mengatakan padanya?

Betapa aneh, karena aku duduk di tokonya, menunggunya menepuk kepalaku dan berkata, "Anak baik." Aku ingin pengakuannya, tatapan bercahaya yang pernah ada yang terbit pada wajahnya ketika aku belajar menalikan sepatuku dan mengancingkan baju hangatku. Aku telah datang ke sini demi tatapan bercahaya itu dari wajahya, tetapi aku tahu, aku tidak akan mendapatkannya.

"Kau ingin aku memanggil seorang dokter untukmu?"

Aku bukan putranya. Itu adalah Charlie yang lain. Cerdas, dan ilmu pengetahuan telah mengubahku, dan ia akan membenciku seperti teman-teman di pabrik roti yang

membenciku karena pertumbuhanku mengecilkan dirinya. Aku tidak mau itu.

"Aku tidak apa-apa," kataku. "Maaf karena aku merasa mual." Aku berdiri dan mencoba menjejakkan kakiku. "Aku makan sesuatu yang tidak baik untuk perutku. Silakan tutup tokomu sekarang."

Ketika aku beranjak ke pintu, suara Matt memanggilku dengan tajam. "Hei, tunggu sebentar!" Matanya menatapku dengan curiga. "Kau mau main-main, ya?"

"Aku tidak mengerti."

Tangannya terulur, dan telunjuk serta ibu jarinya saling menggesek. "Kau berutang padaku tiga setengah." Aku minta maaf sambil membayarnya, tetapi aku dapat melihat bahwa ia tidak mempercayainya. Aku memberinya lima dolar, dan memintanya menyimpan sisanya. Lalu aku bergegas keluar dari tokonya tanpa menoleh ke belakang lagi.

21 Juni Aku telah menambahkan rangkaian waktu dari peningkatan kerumitan pada labirin tiga dimensi. Tapi Algernon mampu mempelajarinya dengan mudah. Tampaknya ia belajar demi pemecahan masalah saja keberhasilan merupakan hadiah itu sendiri baginya. Namun, seperti yang dikatakan Burt dalam seminar yang lalu itu, perilakunya menjadi tidak menentu. Kadang-kadang setelah, atau bahkan ketika berlari, ia akan menjadi marah, melemparkan dirinya pada dinding labirin, atau bergulung ke atas dan menolak berkerja sama sekali. Frustrasi? Atau sesuatu yang lebih dalam lagi?

5.30 sore Si gila Fay masuk melalui tangga darurat

sore itu dengan membawa seekor tikus putih betina berukuran kira-kira separuh dari Algernon untuk menemaninya di malam-malam musim panas yang sepi ini, katanya. Ia dengan cepat menampik segala keberatanku, lalu meyakinkan aku bahwa tikus betina itu akan berguna bagi Algernon. Setelah aku meyakinkan diriku sendiri bahwa si kecil "Minnie" terlihat sangat sehat dan bersifat baik, aku setuju. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Algernon jika dihadapkan dengan seekor tikus betina. Tetapi begitu kami meletakkan Minnie di dalam kandang Algernon, Fay mencengkeram lenganku dan menarikku keluar kamar.

"Di mana perasaan romantismu?" desaknya. Dia menyalakan radio, lalu melangkah maju ke arahku dengan gerakan mengancam. "Aku akan mengajarimu langkah-langkah terbaru."

Kau tidak mungkin merasa terganggu dengan kehadiran seorang gadis seperti Fay. Pada dasarnya, aku senang Algernon tidak lagi sendirian.

23 Juni Kemarin malam, ketika sudah larut malam, aku mendengar suara tawa dan ketukan di pintu apartemenku. Ternyata Fay dan seorang lelaki.

"Hai Charlie," sapa Fay sambil terkekeh ketika melihatku. "Leroy, kenalkan, ini Charlie. Ia adalah tetanggaku di seberang gang. Seorang seniman hebat. Ia membuat patung dengan elemen hidup."

Leroy menangkap Fay dan terus memeluknya supaya dia tidak menabrak dinding. Ia melihat padaku dengan gugup kemudian menggumamkan salam.

"Bertemu dengan Leroy di Stardust Ballroom," Fay menjelaskan. "Ia pedansa yang menawan." Fay beranjak

ke apartemennya dan menarik kawannya. "Hei," katanya sambil tertawa-tawa, "mengapa kita tidak mengundang Charlie untuk minum dan pesta?"

Menurut Leroy, itu bukan gagasan yang bagus.

Aku minta maaf dan mundur. Di belakang pintu yang sudah kututup, aku mendengar mereka tertawa-tawa sambil memasuki apartemen Fay. Walau aku mencoba terus membaca, gambaran itu terus mendesak masuk ke dalam benakku: sebuah tempat tidur putih... seprai putih yang sejuk, dan mereka berdua saling berpelukan.

Aku ingin menelepon Alice, tetapi tidak kulakukan. Mengapa menyiksa diriku sendiri? Aku bahkan tidak dapat lagi membayangkan wajah Alice. Aku dapat menggambarkan Fay, berpa-kaian atau telanjang, atas kemauannya sendiri, dengan mata biru segarnya dan rambut pirang dikepang serta digelung di atas kepalanya seperti mahkota. Fay jelas, tetapi Alice terbungkus kabut.

Kira-kira satu jam kemudian, aku mendengar teriakan dari apartemen Fay, lalu jeritannya dan suara barang-barang dilempar. Tetapi ketika aku mulai turun dari tempat tidurku untuk melihat apakah Fay memerlukan bantuan, aku mendengar pintunya terbanting Leroy menyumpah-nyumpah sambil pergi. Lalu beberapa menit setelah itu, aku mendengar suara ketukan di jendela ruang tamuku. Jendela itu terbuka, dan Fay menyelinap masuk, lalu duduk di birainya. Selembar kimono hitam memperlihatkan tungkai-tungkai indahnya. "Hai," ia berbisik, "punya rokok?"

Aku memberinya satu, lalu ia melorot turun dari jendela dan menuju ke sofa. "Fyuh!" ia mendesah. "Biasanya aku bisa menjaga diriku sendiri, tetapi ada satu jenis lelaki yang begitu kelaparan sehingga kau harus

menjauhkan diri darinya."

"Oh," sahutku, " kau membawanya ke sini hanya untuk kauhindari."

Dia menangkap nada kalimatku, lalu menatapku dengan tajam. "Kau tidak setuju?"

"Aku tidak punya hak untuk tidak setuju. Tetapi, jika kau membawa seorang lelaki dari sebuah tempat dansa umum, kau seharusnya telah menduganya. Ia punya hak untuk merayumu."

Fay menggelengkan kepalanya. "Aku pergi ke Stardust Ballroom karena aku suka berdansa, dan aku tidak pernah menyangka, jika aku membiarkan seorang lelaki mengantarku pulang, itu artinya aku akan tidur dengan- nya. Kau tidak mengira aku tidur dengannya, kan?"

Gambaranku tentang mereka berdua saling berpelukan meletup seperti gelembung sabun.

"Nah, jika kau adalah lelaki itu," dia melanjutkan, "itu akan berbeda."

"Apa artinya?"

"Tepat seperti yang kaudengar. Jika kau memintaku, aku mau tidur denganmu."

Aku berusaha tenang. "Terima kasih," sahutku. "Aku akan ingat-ingat itu. Kau mau kopi?"

"Charlie, aku tidak mengerti kau. Kebanyakan lelaki, menyukaiku atau tidak, aku akan segera mengetahuinya. Tetapi kau tampak takut padaku. Kau bukan homoseksual, kan?"

"Sialan, bukan!"

"Maksudku, kau tidak perlu menyembunyikannya dariku jika kau memang begitu, karena kita masih bisa menjadi teman baik saja. Tetapi aku harus tahu."

"Aku bukan homoseksual. Malam ini, ketika kau masuk ke dalam apartemenmu bersama lelaki itu, aku berharap, akulah lelaki itu."

Dia mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia menyelipkan kedua lengannya di tubuhku, lalu menungguku melakukan sesuatu. Aku tahu apa yang diharapkan dariku, lalu aku katakan pada diriku sendiri aku tidak punya alasan untuk tidak melakukannya. Aku punya perasaan bahwa kali ini tidak akan ada kepanikan tidak bersamanya. Lagi pula, bukan aku yang memulai. Dan Fay berbeda dengan perempuan mana pun yang pernah kutemui sebelum ini. Mungkin dia memang tepat untukku pada tingkat emosional ini.

Aku memeluknya.

"Ini berbeda," dia mendekut. "Aku mulai berpikir kau tidak peduli."

"Aku peduli," bisikku, lalu mencium tenggorokannya. Tetapi ketika aku melakukannya, aku melihat kami berdua, seolah aku adalah orang ketiga yang berdiri di ambang pintu. Aku sedang mengamati seorang lelaki dan seorang perempuan saling berpelukan. Tetapi melihat diriku seperti itu, dari kejauhan, membuatku tidak responsif. Tidak ada kepanikan, benar, tetapi juga tidak ada kegembiraan tidak ada gairah.

"Di tempatku atau tempatmu?" tanya Fay.

"Tunggu sebentar."

"Ada apa?"

"Mungkin sebaiknya kita tidak melakukannya. Aku merasa tidak enak badan malam ini."

Dia menatapku heran. "Ada yang lainnya...? Apa pun yang kau ingin aku lakukan...? Aku tidak apa-apa...."

"Bukan, bukan itu," sahutku tajam. "Aku hanya

merasa tidak enak badan malam ini." Aku ingin tahu cara-cara Fay membuat seorang lelaki bergairah, tetapi kali ini bukan waktunya untuk mulai bereksperimen. Pemecahan masalahku ada di tempat lain.

Aku tidak tahu apa lagi yang dapat kukatakan kepadanya. Aku berharap dia akan pergi, tetapi aku tidak mau mengatakannya. Dia mengamatiku, kemudian akhirnya dia berkata, "Begini, kau tidak apa-apa jika aku bermalam di sini?"

"Mengapa?"

Dia menggerakkan bahunya. "Aku menyukaimu. Aku tidak tahu. Leroy mungkin saja akan kembali. Banyak alasan. Jika kau juga tidak menginginkan aku...."

Dia membuatku kikuk lagi. Aku mungkin bisa menemukan selusin alasan untuk menghindarinya, tetapi aku menyerah.

"Punya gin?" tanyanya.

"Tidak, aku tidak minum."

"Aku punya sedikit di rumah. Aku akan membawanya ke sini." Sebelum aku dapat menghentikannya, dia sudah melompati jendela. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan sebuah botol berisi dua pertiga, dan sebuah jeruk nipis. Dia mengambil dua buah gelas dari dapurku, lalu mengisi kedua gelas itu sedikit. "Ini," katanya, "ini akan membuatmu merasa lebih enak. Ini akan melengkungkan kekakuan garis-garis lurus itu. Itulah yang menganggumu. Segalanya terlalu rapi dan lurus, sehingga kau seperti berada di dalam kotak. Seperti Algernon dalam patungnya di sana."

Pada mulanya aku tidak mau, tetapi aku merasa begitu murung sehigga aku memutuskan mengapa tidak. Hal itu tidak akan membuat segalanya menjadi lebih

buruk. Mungkin saja aku menjadi bosan karena perasaan diawasi oleh diriku sendiri melalui mata yang tidak mengerti apa yang sedang kukerjakan. Fay membuatku mabuk.

Aku ingat minuman pertama, dan pergi ke tempat tidur. Lalu dia menyelinap di sampingku dengan membawa botol di tangannya. Sampai di situ saja hingga sore ini ketika aku bangun dengan rasa sakit di kepala.

Dia masih tidur, wajahnya menghadap ke dinding, bantalnya mengembung di bawah lehernya. Di atas meja kecil di samping asbak yang sangat penuh dengan puntung rokok, berdiri sebuah botol kosong. Tetapi yang terakhir kuingat sebelum tirai itu menutup adalah menonton diriku sendiri menenggak minuman kedua.

Fay meregang dan bergulung ke arahku bugil. Aku bergerak mundur, lalu jatuh dari tempat tidur. Aku merenggut selimut untuk membungkus tubuhku.

"Hai," sapa Fay sambil menguap. "Kau tahu apa yang akan kulakukan hari-hari ini?"

"Apa?"

"Melukismu bugil. Seperti Davidnya Michelangelo. Kau pasti bagus. Kau tidak apa-apa?"

Aku mengangguk. "Kecuali sakit kepalaku. Apakah aku... ah... minum terlalu banyak tadi malam?" Dia tertawa seraya menaikkan tubuhnya dan menopangnya dengan satu sikunya. "Kau bertenaga. Dan, wah, kau bersikap aneh sekali... aku tidak bermaksud berbohong atau yang lainnya tetapi kau aneh."

"Apa, " aku bertanya, sambil berusaha melilitkan selimut pada tubuhku sedemikian rupa sehingga aku dapat berjalan, "maksudmu? Apa yang kulakukan kemarin?"

"Aku sudah pernah melihat lelaki yang menjadi

bahagia atau sedih, atau mengantuk, tetapi aku tidak pernah melihat orang yang bersikap begitu aneh seperti yang kaulakukan. Untung saja kau tidak sering minum. Oh, Tuhanku, aku hanya berharap aku membawa kamera ketika itu. Pokoknya, kau aneh sekali."

"Ya, demi Tuhan, apa sih yang kulakukan?"

"Tidak seperti yang pernah kuduga. Tidak ada seks, atau apa pun seperti itu. Tetapi kau fenomenal. Sikap yang luar biasa! Paling aneh. Kau bisa bagus di atas panggung. Kau akan membuat mereka tercengang di Palace. Kau bersikap bingung sekali dan konyol. Kau tahu, seperti seorang dewasa yang bersikap seperti seorang anak- anak. Kau bicara tentang betapa kau ingin pergi ke sekolah, dan belajar membaca serta menulis sehingga kau bisa menjadi pandai seperti orang lain. Hal-hal gila seperti itu. Kau orang yang berbeda seperti yang mereka lakukan pada pelajaran berakting dan terus mengatakan kau tidak dapat bermain denganku karena ibumu akan mengambil kacangmu dan mengurungmu."

"Kacang?"

"Ya! Tolong aku untuk mengerti!" dia tertawa, sambil menggaruk kepalanya. "Dan kau mengatakan aku tidak boleh mengambil kacangmu. Aneh sekali. Tetapi, kubilang ya, caramu bicara! Seperti orang bodoh di sudut jalan, yang melakukan sendiri dengan hanya memperhatikan seorang gadis. Kau benar-benar seorang lelaki yang berbeda. Pada awalnya kupikir kau hanya bercanda, tetapi sekarang kukira kau tertekan atau semacamnya. Segala kerapian ini dan kekhawatiran akan segala hal."

Itu tidak membuatku kesal, karena aku sudah menduganya juga. Kadang-kadang mabuk dapat meruntuhkan tanggul kesadaran yang menahan Charlie Gordon yang

sudah lama bersembunyi jauh di dasar benakku. Seperti yang sudah kuduga sejak dulu, ia tidak benar-benar menghilang. Tidak ada yang benar-benar hilang dari benak kami. Operasi itu telah menutupinya dengan lapisan pendidikan dan budaya, tetapi secara emosional, ia masih ada di sana menonton dan menanti.

Apa yang ditunggunya?

"Kau tidak apa-apa sekarang?" Aku katakan kepadanya aku tidak apa-apa.

Dia meraih selimut yang membungkusku, dan menarikku kembali ke tempat tidur. Sebelum aku bisa menghentikannya, dia sudah menyelipkan lengannya di sekeliling tubuhku dan menciumku. "Aku ketakutan tadi malam, Charlie. Kupikir kau tidak mampu. Aku pernah mendengar soal lelaki yang impoten. Betapa hal itu tiba-tiba menyerang mereka, dan mereka menjadi maniak." "Mengapa kau tidak pergi?"

Dia menggerakkan bahunya. "Ya, kau seperti seorang anak kecil yang ketakutan. Aku tahu kau tidak akan melukaiku, tetapi kupikir kau mungkin saja melukai dirimu sendiri. Maka aku putuskan untuk tinggal. Aku merasa kasihan sekali. Tetapi, aku menyimpan ini di dekatku, siapa tahu aku membutuhkannya...." Dia lalu menarik keluar sebuah buku berat yang tadi diselipkan di antara dinding dan tempat tidurku.

"Kukira kau tidak perlu menggunakannya."

Dia menggelengkan kepalanya. "Wah, kau pastilah sangat menyukai kacang ketika masih kecil."

Dia turun dari tempat tidur dan mulai mengenakan pakaiannya. Aku tetap berbaring di sana sambil mengamatinya. Fay bergerak di depanku tanpa malu-malu atau canggung. Aku sangat ingin meraih dirinya, tetapi

aku tahu itu sia-sia. Walau aku sudah menjalani operasi itu, Charlie masih ada bersamaku.

Dan Charlie takut kehilangan kacangnya.

24 Juni Hari ini aku pergi ke sebuah pesta minum-minum yang anti intelektual. Jika aku berani, aku pastilah sudah mabuk. Tetapi setelah pengalaman bersama Fay, aku tahu hal itu bisa berbahaya. Jadi, aku pergi ke ke Times Square saja, dari gedung bioskop yang satu ke yang lainnya, mengasyikkan diriku dalam film koboi dan horor seperti biasanya. Setiap kali, duduk menonton film, aku selalu merasa sangat bersalah. Aku akan keluar gedung sebelum film itu selesai dan masuk ke gedung bioskop lainnya. Aku katakan pada diriku sendiri aku sedang mencari sesuatu dalam layar dunia khayalan, yang hilang dari kehidupan baruku.

Lalu, ketika aku berada tepat di luar KenoAmusementCenter, tiba-tiba aku tahu, aku sebenarnya tidak menginginkan film-film itu, melainkan penontonnya. Aku ingin bersama orang-orang di sekitarku dalam kegelapan.

Dinding di antara para penonton tipis saja di sini, dan jika aku menyimak dengan seksama, aku mendengar apa yang terjadi. Greenwich Village juga seperti itu. Bukan hanya asal berdekatan karena aku tidak merasakannya dalam sebuah lift penuh sesak atau di kereta bawah tanah pada jam sibuk. Tetapi, pada malam panas ketika semua orang keluar rumah berjalan-jalan, atau duduk di teater, ada suara bergesekan. Dan untuk sejenak aku bergesekan dengan seseorang serta merasakan hubungan itu, antara cabang-cabang dan dahan serta akar di dalam tanah. Pada waktu seperti itulah dagingku terasa tipis dan tegang. Lalu rasa lapar

yang tak tertahankan, yang menjadi bagian dari itu, menyuruhku keluar untuk mencari dalam kegelapan sudut-sudut dan gang yang gelap-gulita pada malam hari.

Biasanya, ketika aku letih berjalan, aku kembali ke apartemenku dan menjatuhkan diri lalu tertidur nyenyak. Tetapi malam ini, aku tidak pulang ke rumahku sendiri, aku bahkan pergi makan malam. Ada seorang pencuci piring baru, dia seorang anak lelaki kira-kira berusia enam belas tahun, dan ada sesuatu yang tampak akrab darinya, gerakannya, tatapan matanya. Ia membersihkan meja di belakangku, lalu ia menjatuhkan beberapa piring.

Piring-piring itu hancur menghantam lantai, berserakan, dan pecahan porselin putihnya ada yang jatuh ke bawah meja-meja. Ia berdiri di sana, bingung dan ketakutan, sambil masih memegangi nampan kosong dalam tangannya. Siulan dan ejekan dari para pelanggan (berseru "hei, habislah sudah keuntungan restoran ini...!", "Mazei tov...\", "wah, ia tidak akan kerja di sini lebih lama la-gi...", hal yang tampaknya selalu terjadi setelah pecahnya piring-piring di restoran umum) membingungkan dirinya.

Ketika pemilik restoran datang melihat apa yang menyebabkan keributan, anak lelaki itu ketakutan menaikkan lengannya seolah menangkis serangan.

"Baik! Baik! Kau tolol," teriak lelaki itu, "jangan hanya berdiri di sana saja! Ambil sapu dan bersihkan kotoran itu. Sapu... sebuah sapu! Kau idiot! Ada di dapur. Sapu bersih semua pecahan itu."

Ketika anak lelaki itu melihat bahwa ia tidak akan dihukum, kesan ketakutannya menghilang. Lalu ia tersenyum dan bersenandung saat ia kembali dengan membawa sapu. Beberapa orang pelanggan yang suka gaduh

terus mengejeknya, menghibur diri mereka sendiri dengan mengorbankan anak lelaki itu.

"Di sini, Nak, di sini. Ada pecahan bagus di belakangmu...."

"Ayo, lakukan lagi...."

"Ia tidak terlalu dungu. Lebih mudah memecahkannya daripada mencucinya...."

Ketika mata kosong anak lelaki itu bergerak menyeberangi kerumunan penonton, perlahan-lahan ia membalas senyuman mereka, dan akhirnya menjadi seringai yang tidak jelas pada lelucon yang tidak dimengertinya.

Aku merasa muak ketika aku melihat pada senyum dungu dan kosongnya mata kanak-kanak yang lebar dan terang, tidak yakin tetapi senang menyenangkan orang lain. Lalu aku sadar apa yang membuatku mengenalinya. Mereka menertawakannya karena ia terbelakang.

Pada awalnya aku juga terhibur seperti yang lainnya.

Tiba-tiba, aku marah sekali pada diriku sendiri dan pada semua orang yang terus menyeringai ke arahnya. Aku ingin memunguti piring-piring itu dan melemparkannya. Aku ingin menghantam wajah-wajah tertawa mereka. Aku melompat dan berteriak: "Tutup mulut kalian! Jangan ganggu ia! Ia tidak dapat mengerti. Ia tidak dapat menolak apa yang terjadi pada dirinya... tetapi demi Tuhan hormatilah dirinya! Ia manusia!"

Restoran itu menjadi sunyi. Aku menyumpahi diriku sendiri karena kehilangan kendali dan menarik perhatian. Aku mencoba untuk tidak melihat anak itu, lalu aku membayar makananku dan keluar tanpa menyentuh makananku. Aku merasa malu karena keadaan kami berdua.

Betapa anehnya ketika orang-orang dengan perasaan jujur dan kepekaan, yang tidak akan mengambil keuntungan dari seorang yang terlahir tanpa lengan, tungkai, atau mata... tega mengganggu seorang lelaki yang terlahir tanpa kecerdasan. Hal itu membuatku marah ketika mengingat belum lama berselang aku seperti anak lelaki tersebut yang dengan bodoh menjadi badut.

Dan aku hampir lupa.

Baru beberapa waktu yang lalu, aku belajar bahwa orang menertawakan aku. Sekarang aku dapat melihat bahwa tanpa kusadari aku bergabung dengan mereka dalam menertawakan diriku sendiri. Itu yang paling menyakitkan.

Aku sering membaca ulang laporan-laporan kemajuanku yang terdahulu. Lalu aku melihat betapa orang yang buta huruf, naif, dan kekanakan, orang yang kecerdasannya rendah, mengintip dari ruangan gelap, melalui sebuah lubang kunci, cahaya yang menyilaukan di luar. Dalam mimpiku, dan kenangan-kenanganku aku telah melihat Charlie tersenyum bahagia dan tidak yakin pada apa yang dikatakan orang-orang di sekelilingnya. Bahkan dalam kebodohanku, aku tahu aku rendah diri. Orang lain memiliki sesuatu yang tidak kupunyai sesuatu yang tidak ada pada diriku. Dalam kebutaan mentalku, aku percaya bahwa hal itu berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Aku juga yakin jika aku dapat memperoleh keahlian itu, aku akan memiliki kecerdasan.

Bahkan seseorang dengan pikiran yang lemah ingin menjadi seperti orang lain.

Seorang anak kecil mungkin tidak tahu bagaimana memberi makan dirinya sendiri, atau apa yang harus dimakannya, tapi ia tahu jika ia lapar.

Hari ini baik untukku. Aku harus menghentikan kekhawatiranku yang kekanak-kanakan masa \a\u-ku dan masa depan-ku. Biarkan aku memberikan sesuatu dari diriku untuk orang lain. Aku harus menggunakan pengetahuanku dan keterampilanku untuk bekerja di bidang peningkatan kecerdasan manusia. Siapa yang terlengkapi dengan lebih baik? Siapa lagi yang hidup di dua dunia?

Besok, aku akan menghubungi dewan direktur di Welberg Foundation dan meminta izin untuk melakukan pekerjaan mandiri dalam proyek tersebut. Jika mereka mengizinkan, aku mungkin dapat membantu mereka. Aku mempunyai beberapa gagasan.

Banyak yang dapat dikerjakan dengan teknik ini, jika sempurna. Jika aku bisa dibuat jenius, bagaimana dengan lebih dari lima juta orang terbelakang di Amerika Serikat? Bagaimana dengan orang-orang terbelakang yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia ini, dan mereka yang belum terlahir tapi ditakdirkan terbelakang? Tingkatan-tingkatan mengagumkan apa yang mungkin dicapai oleh orang biasa dengan menggunakan teknik ini? Pada orang jenius?

Banyak pintu yang harus dibuka, sehingga aku menjadi tidak sabar untuk mengabdikan pengetahuanku dan pengetahuanku sendiri untuk mengatasi masalah itu. Aku harus membuat mereka semua melihat bahwa ini adalah sesuatu yang penting bagiku untuk kukerjakan. Aku yakin Yayasan akan memberi izin.

Tetapi aku tidak bisa sendirian lagi. Aku harus memberi tahu Alice soal ini.

25 Juni Aku menelepon Alice hari ini. Aku gugup,

dan pastilah suaraku terdengar tidak menentu. Tetapi aku senang mendengar suara Alice, dan dia pun terdengar senang mendengar kabar dariku. Dia mau bertemu juga denganku. Aku lalu menumpang taksi ke kota dan menjadi tidak sabar karena kelambatannya melaju.

Sebelum aku mengetuk pintunya, Alice telah membukanya dan memelukku. "Charlie, kami sangat mengkhawatirkanmu. Aku membayangkan hal-hal mengerikan, tentang kau yang mati di gang, atau kau sedang berjalan-jalan tanpa tujuan di perkampungan gembel dengan amnesia. Mengapa kau tidak memberi tahu kalau kau tidak apa-apa? Kau bisa melakukan itu, kan?"

"Jangan marahi aku. Aku harus sendirian sesaat untuk menemukan beberapa jawaban."

"Ayo masuk ke dapur. Aku akan membuat kopi. Apa yang sedang kaukerjakan?"

"Pada siang hari, aku berpikir, membaca, dan menulis; dan pada malam hari, berjalan-jalan mencari diriku sendiri. Aku sudah tahu, Charlie mengamatiku."

"Jangan bicara seperti itu," sahutnya gemetar. "Kau tidak sedang diawasi. Kau hanya mengada-ada dalam benakmu."

"Aku tidak dapat menahan untuk berpikir bahwa aku bukanlah aku. Aku telah merampas tempatnya dan menguncinya seperti aku dikunci dari dalam pabrik roti itu. Maksudku, Charlie Gordon ada di masa lalu, dan masa lalu itu nyata. Kau tidak bisa mendirikan bangunan baru di atas area sebelum kau menghancurkan bangunan lama. Padahal Charlie yang lama tidak bisa dihancurkan. Ia ada. Pada awalnya, aku mencarinya: aku pergi menemui ayahnya-ayahku. Yang kuinginkan hanyalah membuktikan bahwa Charlie ada sebagai seseorang di masa lalu,

sehingga aku dapat membenarkan keberadaanku. Aku terhina ketika Nemur mengatakan bahwa ia menciptakan aku. Tetapi aku telah menemukan bahwa tidak saja Charlie itu ada di masa lalu, tetapi ia juga ada sekarang. Dalam diriku, dan di sekitarku. Ia telah datang di antara kami selama ini. Kupikir kecerdasanku menciptakan halangan... kesombonganku, kebanggaan konyol, perasaan kita tidak memiliki persamaan karena aku telah melebihi dirimu. Kau meletakkan gagasan itu ke dalam kepalaku. Tetapi bukan itu. Tetapi Charlie, si anak lelaki kecil yang ketakutan akan perempuan karena hal-hal yang dilakukan ibunya kepadanya. Tidakkah kau mengerti? Selama berbulan-bulan ketika aku tumbuh bertambah pandai, aku masih memiliki emosi yang bertalian dengan kekanakan Charlie. Dan setiap kali aku berada di dekatmu, atau berpikir tentang bercinta denganmu, lalu ada korsleting."

Aku bersemangat, dan suaraku berdentam hingga dia gemetar. Wajahnya memerah. "Charlie," bisiknya, "bisakah aku melakukan sesuatu untukmu? Bisakah aku menolongmu?"

"Kukira aku sudah berubah selama minggu-minggu ini berada jauh dari lab," sahutku. "Pada mulanya aku tidak dapat melakukannya, tetapi malam ini, ketika aku berjalan-jalan keliling kota, aku menemukan jawabannya. Yang konyol adalah aku mencoba memecahkan masalah sendirian. Tetapi, semakin aku terjerat dalam keruwetan mimpi dan kenangan, semakin aku sadar bahwa masalah emosional tidak dapat dipecahkan seperti masalah intelektual. Itulah yang kutemukan tentang diriku sendiri kemarin malam. Aku katakan pada diriku sendiri ketika aku berjalan-jalan seperti jiwa yang tersesat, kemudian aku

melihat aku sedang tersesat.

"Secara emosional aku telah terpisah dari semua orang dan segalanya. Padahal yang sedang kucari di luar sana di jalan-jalan gelap tempat terakhir yang dapat kutemukan adalah membuat diriku sendiri menjadi bagian dari orang lain secara emosional, sementara aku masih dapat menguatkan kebebasan intelektualku. Aku harus bertumbuh. Bagiku itu berarti segalanya....11

Aku terus berbicara, memuntahkan semua keraguan atas diriku sendiri dan ketakutan yang meluap ke permukaan. Alice adalah pantulan gemaku dan dia duduk di sana terhipnotis. Aku merasa diriku menjadi hangat, seperti demam, hingga akhirnya tubuhku seperti terbakar. Aku meradang kehabisan tenaga di depan seseorang yang kupedulikan sehingga membuat segalanya berbeda.

Namun, itu terlalu banyak bagi Alice. Yang tadinya hanya getaran, sekarang menjadi air mata. Lukisan di atas sofa tertangkap mataku seorang gadis berpipi merah muda yang ketakutan dan aku bertanya-tanya apa yang sedang dirasakan Alice ketika itu. Aku tahu, dia akan memberikan dirinya untukku, dan aku menginginkannya, tetapi bagaimana dengan Charlie?

Charlie tidak boleh ikut campur jika aku ingin bercinta dengan Fay. Mungkin ia hanya akan berdiri di ambang pintu dan mengamati. Tetapi, saat aku mendekati Alice, ia menjadi panik. Mengapa ia ketakutan membiarkan aku mencintai Alice?

Dia duduk di atas sofa, sambil menatapku, dan menunggu apa yang akan kulakukan. Lalu apa yang dapat kulakukan? Aku ingin memeluknya dan....

Ketika aku mulai memikirkannya, peringatan itu datang.

"Kau tidak apa-apa, Charlie? Kau pucat sekali."

Aku duduk di sofa di sebelahnya. "Hanya agak pening. Sebentar lagi akan hilang." Tetapi aku tahu, itu hanya akan menjadi lebih buruk selama Charlie merasa ada bahaya jika aku bercinta dengan Alice.

Lalu aku mempunyai gagasan. Pada mulanya hal itu membuatku jijik, tetapi tiba-tiba aku sadar bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi kelumpuhan ini adalah memperdaya Charlie. Jika karena beberapa alasan Charlie takut akan Alice tetapi tidak pada Fay, aku akan memadamkan lampu dan berpura-pura aku sedang bercinta dengan Fay. Ia tidak akan pernah tahu bedanya.

Ternyata aku salah ini menjijikkan tetapi jika berhasil kulakukan, akan melepaskan cekikan erat Charlie pada emosiku. Setelah itu, aku akan tahu bahwa aku mencintai Alice, karena itu inilah satu-satunya cara.

"Aku tidak apa-apa sekarang. Nah, ayo kita duduk dalam gelap sebentar," sahutku. Lalu aku memadamkan lampu dan menunggu diriku menjadi tenang kembali. Ini tidak akan mudah. Aku harus meyakinkan diri sendiri dengan membayangkan Fay, menghipnotis diriku sendiri supaya mempercayai bahwa perempuan yang duduk di sampingku adalah Fay. Walau Charlie memisahkan dirinya dariku untuk menontonku dari luar tubuhku, ia tidak akan melihat dengan jelas karena ruangan ini gelap.

Aku menunggu beberapa tanda yang diduga akan muncul oleh Charlie peringatan dengan timbulnya gejala kepanikan. Tetapi ternyata tidak ada apa-apa. Aku merasa waspada dan tenang. Aku memeluk Alice.

"Charlie, aku...."

"Jangan bicara1." aku membentaknya, sehingga dia menarik diri dariku. "Kumohon," kataku kembali menenang-

kannya, "jangan katakan apa pun. Biarkan aku memelukmu dalam kegelapan, itu saja." Kemudian aku merengkuhnya lebih dekat lagi. Di dalam kegelapan pelupuk mataku yang tertutup, aku menciptakan gambaran Fay rambut pirang panjangnya. Fay, seperti yang kulihat terakhir kalinya di sampingku. Aku mencium rambut Fay, tenggorokannya, dan akhirnya berhenti di atas bibir Fay. Aku merasa lengan Fay mengusap-usap otot punggungku, bahuku, lalu ketegangan di dalam tubuhku mulai terbentuk yang sebelumnya tidak pernah kurasakan di hadapan seorang perempuan. Mulanya aku membelai-belainya perlahan, lalu tanpa kesabaran, ketegangan pun meningkat yang segara akan menyatakan sesuatu.

Namun, bulu kudukku mulai berdiri. Ada orang lain dalam ruangan ini, muncul menembus kegelapan, dan mencoba melihat. Dalam keadaan demam aku memikirkan nama itu berkali-kali. Fay! Fay! FAY! Aku membayangkan wajahnya dengan jelas dan terang sehingga tidak ada apa pun yang dapat menyelinap di antara kami. Tapi, ketika Alice memelukku lebih erat, aku menjerit dan mendorongnya menjauh.

"Charlie!" Aku tidak dapat melihat wajah Alice, tapi suara terkesiapnya menandakan bahwa dia sangat terkejut.

"Tidak, Alice! Aku tidak bisa. Kau tidak mengerti."

Aku melompat pergi dari sofa dan menyalakan lampu. Aku hampir saja menduga akan melihat Charlie berdiri di sana. Tetapi tentu saja tidak. Kami hanya berdua. Semuanya itu hanya ada dalam benakku. Alice terbaring di sana, blusnya terbuka karena aku membuka kancingnya. Wajahnya memerah, matanya terbelalak

tidak percaya. "Aku mencintaimu...," kata-kata itu seperti mencekikku ketika kukatakan, "tetapi aku tidak dapat melakukannya. Aku tidak dapat menjelaskan, tetapi jika aku tidak berhenti, aku akan membenci diriku sendiri seumur hidupku. Jangan minta aku menjelaskannya, atau kau akan membenciku juga. Ini ada hubungannya dengan Charlie. Dia punya beberapa alasan sehingga ia tidak membiarkan aku bercinta denganmu."

Alice memalingkan wajahnya dan mengancingkan kembali blusnya. "Malam ini berbeda," katanya. "Kau tidak merasakan kemualan atau panik atau semacamnya. Kau menginginkan aku."

"Ya, aku memang menginginkanmu, tetapi aku tidak benar-benar bercinta dengan-mu. Aku berniat menggunakanmu dengan cara yang tidak dapat kujelaskan padamu. Aku tidak mengerti diriku sendiri. Sebaiknya kita katakan saja bahwa aku belum siap melakukannya. Aku tidak dapat memalsukannya, atau mencurangimu atau berpura-pura semua baik-baik saja, padahal tidak seperti itu. Aku berada di sebuah gang gelap lagi." Aku berdiri.

"Charlie, jangan melarikan diri lagi."

"Aku sudah tidak berlari lagi. Aku punya pekerjaan yang harus kukerjakan. Katakan kepada mereka aku akan kembali ke lab dalam beberapa hari ini begitu aku dapat mengendalikan diriku sendiri."

Aku meninggalkan apartemen Alice dengan perasaan kacau-balau. Di bawah, di depan gedung itu, aku berdiri, tidak tahu harus pergi ke arah mana. Tidak peduli jalan mana yang kuambil, aku selalu terkejut karena ternyata aku salah memilih. Semua jalan terhalang. Tetapi, Tuhan... segala yang kukerjakan, ke mana pun aku

membelok, pintu-pintu itu selalu tertutup untukku.

Tidak ada tempat untuk kumasuki. Tidak ada jalan, tidak ada ruangan, tidak ada perempuan.

Akhirnya, aku tiba di stasiun kereta bawah tanah lalu pergi ke Jalan Fourty ninth dengan menumpang kereta bawah tanah. Tidak terlalu banyak orang ketika itu, tetapi ada seorang perempuan berambut pirang panjang yang mengingatkanku pada Fay. Ketika menuju bus antarkota, aku melewati sebuah toko minuman keras. Tanpa berpikir lagi, aku masuk ke sana dan membeli seperlima galon gin. Sambil menunggu bus, kubuka botol di dalam tas, lalu kutenggak minuman tersebut. Cairan itu terasa membakar ketika meluncur ke bawah, tetapi aku merasa nyaman. Aku menenggaknya lagi kali ini hanya sesesap. Aku merasa dihujani perasaan menggelitik di seluruh tubuhku ketika busku datang. Aku tidak meminumnya lagi. Aku tidak mau mabuk sekarang.

Ketika aku tiba di apartemen, aku mengetuk pintu apartemen Fay. Tidak ada jawaban. Aku membuka pintu lalu melongok ke dalam. Fay belum pulang, tetapi semua lampu menyala di sini. Dia betul-betul tidak peduli pada apa pun. Mengapa aku tidak bisa menjadi seperti itu?

Aku pulang untuk menunggunya. Aku membuka pakaianku, mandi di pancuran, lalu mengenakan jubah mandiku. Aku berdoa supaya malam ini tidak akan menjadi seperti malam-malam ketika dia pulang bersama seorang lelaki.

Kira-kira pukul dua tiga puluh pagi, aku mendengar Fay datang menaiki tangga. Aku mengambil botolku, memanjat keluar ke tangga darurat, lalu menyelinap melalui jendelanya, tepat ketika pintu depannya terbuka. Aku tidak berniat berjongkok di sana dan mengamatinya.

Aku akan mengetuk jendelanya. Tetapi, ketika aku mengangkat tanganku untuk memberi tahu keberadaanku, aku melihatnya melepas sepatunya dengan tendangan, lalu ia berputar dengan riang. Dia mendekati cermin, dan perlahan-lahan sepotong demi sepotong mulai melepas pakaiannya dalam gaya striptis pribadi. Aku menenggak minumanku lagi. Tetapi aku tidak bisa membiarkan dia tahu aku telah menontonnya.

Aku kembali ke apartemenku sendiri tanpa menyalakan lampu. Pada mulanya terpikir akan mengundangnya ke tempatku, tetapi di sini segalanya terlalu rapi dan teratur terlalu banyak garis lurus yang harus dihapus lalu aku pun tahu di sini tidak akan berhasil. Maka aku keluar ke gang. Aku mengetuk pintunya, mula-mula perlahan, kemudian lebih keras.

"Pintu tidak dikunci!" teriaknya.

Fay hanya mengenakan pakaian dalamnya, berbaring di lantai, dengan kedua lengannya terentang dan tungkainya naik ke atas sofa. Dia mengangkat kepalanya ke belakang dan menatapku dari atas ke bawah. "Charlie Sayang! Mengapa kau berdiri di atas kepalamu?"

"Tidak apa-apa," sahutku sambil menarik keluar botol itu dari kantong kertasnya. "Garis-garis dan kotak-kotak terlalu lurus, maka kupikir kau akan menemaniku menghapus beberapa garis itu."

"Memerlukan minuman terbaik di dunia untuk itu," sahutnya. "Jika kau berkonsentrasi pada titik yang hangat yang berawal dari dalam perutmu, segala garis itu akan meleleh."

"Itu yang sedang terjadi."

"Hebat!" Dia melompat bangun, "Aku juga. Aku tadi berdansa dengan lelaki yang membosankan. Ayo kita

lelehkan mereka semua." Dia lalu mengambil gelas, setelah itu mengisinya untuk dirinya.

Ketika ia minum, aku melilitkan lenganku pada tubuhnya dan mempermainkan kulit punggungnya yang telanjang.

"Hei, Charlie! Wah, wah! Ada apa ini?"

"Aku ingin bercinta denganmu. Malam ini aku dapat melakukannya. Aku tahu itu... aku merasakannya. Jangan kecewakan aku, Fay."

"Sini," dia berbisik, "minumlah lagi."

Aku mengambilnya satu dan menuangkan satu lagi untuknya. Ketika dia meneguknya, aku menghujani bahu dan lehernya ciuman. Dia mulai bernapas dengan berat ketika gairahku mulai menularinya.

"Tuhanku, Charlie, jika kau mulai mengusikku lalu mengecewakan aku lagi, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Aku juga manusia, kau tahu."

Aku menariknya hingga rebah di sampingku di sofa, di atas tumpukan baju dan pakaian dalamnya.

"Tidak di atas sofa, Charlie," katanya, sambil berusaha keras untuk berdiri. "Ayo ke tempat tidur."

"Di sini," desakku sambil menarik blusnya sehingga terlepas darinya.

Dia menatapku di bawah, lalu meletakkan gelasnya di lantai, dan melepaskan pakaian dalamnya. Dia berdiri di sana di depanku, bugil. "Aku akan memadamkan lampu," bisiknya.

"Jangan," kataku sambil menariknya ke bawah ke sofa lagi. "Aku ingin menatapmu."

Dia menciumku dalam, dan memelukku erat. "Jangan kecewakan aku kali ini, Charlie. Sebaiknya tidak."

Tubuhnya bergerak lambat, meraihku, dan aku tahu

kali ini tidak akan ada yang menggangguku. Aku tahu apa yang harus kulakukan, dan bagaimana melakukannya.

Untuk sesaat, aku merasakan rasa dingin yang menandakan Charlie sedang menontonku. Melalui tangan sofa, aku menangkap kilasan wajahnya yang menatapku menembus kegelapan di balik jendela tempat aku berjongkok beberapa menit yang lalu. Sebuah perubahan persepsi, aku kini sudah berada di tangga darurat lagi, menonton seorang lelaki dan perempuan di dalam ruangan, sedang bercinta di atas sofa.

Kemudian, dengan usaha keras, aku kembali ke atas sofa bersama Fay. Kurasakan tubuhnya dan desakan kebutuhanku serta kekuatanku. Aku melihat lagi wajah yang menempel di jendela sedang asyik menonton kami. Lalu aku bicara pada diriku sendiri dalam benakku, ayo, kau anak jadah yang malang tontonlah. Aku tidak peduli lagi.

Lalu matanya terbelalak ketika menonton.

29 Juni Sebelum kembali ke lab aku akan menyelesaikan proyek yang sudah kumulai sejak aku meninggalkan seminar itu. Aku menelepon Landsdoff di New Institute for Advanced Study untuk membicarakan kemungkinan penggunaan efek foto nuklir berganda berganda untuk pekerjaan eksplorasi biofisika. Pada awalnya, ia menganggapku sinting, tetapi setelah aku menunjukkan kekurangannya dalam artikenya di jurnal New Istitute, ia terus bicara denganku di telepon selama hampir satu jam. Ia menginginkan aku datang ke institut guna membicarakan gagasanku bersama kelompoknya. Aku mungkin akan membicarakan dengannya setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di lab jika masih ada waktu.

Itulah masalahnya, tentu saja. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kumiliki. Sebulan? Setahun? Sepanjang hidupku? Itu bergantung pada apa yang kutemukan perihal efek sampingan psikofisika dari eksperimen itu.

30 Juni Aku sekarang tidak lagi berjalan-jalan tanpa tujuan di kota sejak aku punya Fay. Aku telah memberinya kunci rumahku. Dia mengejekku karena aku mengunci pintuku, dan aku mengejek rumahnya yang berantakan. Dia memperingatkan aku agar tidak berusaha mengubahnya. Suaminya menceraikannya lima tahun yang lalu karena dia tidak peduli dengan kerapian dan perawatan rumahnya.

Begitulah caranya memandang hampir segala hal yang tampak tidak penting baginya. Dia hanya tidak dapat atau tidak peduli akan hal itu. Suatu hari aku menemukan setumpukan kartu tilang parkir di sudut di belakang kursinya mungkin ada empat puluh atau limapuluhan. Ketika dia pulang membawa bir, aku bertanya kepadanya mengapa dia mengumpulkan kartu-kartu tilangnya.

"Itu!" katanya sambil tertawa. "Begitu mantan suamiku mengirimkan cek sialan itu, aku harus membayar beberapa di antaranya. Kau tidak tahu bagaimana kesalnya aku pada kartu-kartu tilang itu. Aku menyimpannya di belakang kursi karena aku tidak mau merasa bersalah setiap kali aku melihatnya. Tetapi apa yang harus dilakukan seorang gadis seperti aku? Ke mana pun aku pergi mereka selalu memasang tanda di segala tempat Dilarang parkir di sini! Dilarang parkir di sana! aku hanya tidak mau merasa terganggu, dengan harus berhenti untuk membaca sebuah tanda setiap kali aku

mau turun dari mobil."

Jadi aku telah berjanji kepadanya tidak akan pernah berusaha mengubahnya. Fay gadis yang menyenangkan. Mempunyai selera humor yang bagus. Tetapi yang paling menonjol darinya adalah jiwanya yang bebas dan mandiri. Satu-satunya hal yang mungkin melelahkan setelah beberapa saat adalah kegilaannya berdansa. Kami keluar setiap malam Minggu hingga pukul dua atau tiga pagi, padahal aku tidak punya kekuatan yang ter-sisa lagi untuk itu.

Ini bukan cinta tetapi dia penting bagiku. Aku menyimak bunyi langkah kakinya di gang kapan pun dia pergi.

Charlie tidak lagi menonton kami.

5 Juii Aku mempersembahkan konserto piano pertamaku kepada Fay. Dia sangat senang dengan gagasan adanya sesuatu yang dipersembahkan untuknya, walau kukira dia tidak terlalu menyukainya. Hal itu hanya menunjukkan bahwa kau tidak bisa mendapatkan segalanya pada seorang perempuan. Satu alasan lagi untuk berpoligami.

Yang penting adalah Fay cerdas dan baik hati. Hari ini aku tahu mengapa dia kehabisan uang begitu cepat bulan ini. Seminggu sebelum ia berkenalan denganku, ia berteman dengan seorang gadis yang dikenalnya di Stardust Ballroom. Ketika gadis itu mengatakan bahwa dia tidak punya keluarga di kota ini, dan tidak punya uang sama sekali, juga tidak punya tempat untuk tidur, Fay mengundangnya untuk tinggal bersamanya. Dua hari kemudian, gadis itu menemukan uang dua ratus tiga puluh dua dolar yang disimpan Fay di lacinya, lalu menghilang

dengan membawa uang itu. Fay belum melaporkannya ke polisi dan ternyata, dia juga tidak tahu siapa nama keluarga gadis tersebut.

"Apa gunanya melaporkan hal itu kepada polisi?" dia ingin tahu. "Maksudku, perempuan jalang yang malang itu pastilah sangat membutuhkan uang tersebut. Aku tidak akan menghancurkan hidupnya hanya karena uang beberapa ratus dolar. Aku tidak kaya atau semacamnya, tetapi aku tidak akan menuntutnya kau tahu maksudku, kan?"

Aku mengerti maksudnya.

Aku belum pernah bertemu dengan seorang yang terbuka dan begitu mempercayai orang lain seperti Fay. Dialah yang paling kubutuhkan sekarang. Aku sudah rindu berhubungan dengan seseorang yang sederhana.

8 Juli Tidak banyak waktu untuk bekerja antara bersenang-senang di klub malam dan perasaan tidak nyaman keesokan paginya karena sisa mabuk. Hanya dengan aspirin dan minuman yang dibuat Fay untukku yang membuatku dapat menyelesaikan analisis linguistik bentuk kata kerja bahasa Urdu dan mengirimkan tulisan itu ke buletin Internationa/ Linguistic. Mereka akan mengirimkan kembali ulasan linguistik tersebut ke India dengan rekaman suara karena tulisanku itu meruntuhkan superstruktur kritis dari metodologi mereka.

Aku benar-benar mengagumi para ahli linguistik struktural yang telah membuat sebuah disiplin linguistik bagi mereka berdasarkan keburukan komunikasi tertulis. Kasus lainnya dari orang-orang yang mengabdikan hidup mereka untuk mempelajari lebih banyak lagi hal yang semakin kurang dibicarakan memenuhi isi dan

perpustakaan dengan analisis linguistik yang tajam tentang suara dengkuran. Tidak ada yang salah soal itu, tapi seharusnya tidak digunakan untuk merusak kestabilan bahasa.

Hari ini Alice meneleponku untuk menanyakan kapan aku akan kembali bekerja di lab. Kukatakan aku ingin menyelesaikan proyek-proyek yang sudah kumulai, yang kuharap mendapat izin dari Yayasan Welberg untuk studi khususku. Dia benar, walau begitu aku harus meluangkan wak-tu untuk mempertimbangkan pergi ke lab.

Fay masih saja ingin pergi berdansa. Kemarin malam kami mulai dengan minum, kemudian berdansa di White Horse Club, lalu dari situ ke Benny's Hideaway. Setelah itu, ke Pink Slipper... dan aku tidak ingat karena begitu banyak tempat yang kami kunjungi, tetapi kami berdansa hingga aku hampir ambruk. Toleransi tubuhku terhadap minuman keras pastilah sudah meningkat. Sebab, jika aku benar-benar sudah benar-benar mabuk, barulah Charlie muncul. Aku hanya dapat mengingatnya berdansa tap dengan konyol di atas panggung di Allakazam Club. Charlie mendapat tepukan tangan yang meriah sebelum si manajer mengusir kami. Fay mengatakan bahwa semua orang berpendapat, aku pelawak yang hebat dan semua orang menyukai gaya dunguku.

Apa yang terjadi kemudian? Aku tahu punggungku menjadi kaku. Kupikir itu karena gerakan dansaku, tetapi Fay mengatakan itu karena aku terjatuh dari sofa sialan itu.

Perilaku Algernon menjadi tidak beraturan lagi. Minnie tampak menjadi takut kepadanya.

9 Juli Ada hal mengerikan yang terjadi hari ini.

Algernon menggigit Fay. Aku sudah memperingatkannya agar tidak bermain dengan Algernon, tetapi Fay selalu suka memberinya makan. Biasanya ketika dia datang ke kamarnya, Algernon akan menegakkan tubuhnya dan berlari ke arah Fay. Namun, hari ini berbeda. Algernon berada jauh dari Fay, menggulung tubuhnya hingga seperti bantal putih. Ketika Fay mengulurkan tangannya menerobos bagian atas pintu jebakan, Algernon meringis dan memaksakan dirinya lebih ke sudut lagi. Fay mencoba membujuknya, dengan membuka penghalang ke labirin. Lalu sebelum aku dapat mengatakan padanya untuk jangan mengganggunya, Fay membuat kesalahan dengan mencoba mengangkatnya. Algernon menggigit ibu jarinya. Lalu ia mendelik ke arah kami berdua, setelah itu bergegas kembali ke labirin.

Kami menemukan Minnie di sudut lainnya, di kotak hadiah. Darahnya mengalir dari luka yang menganga di dadanya, tetapi dia masih hidup. Ketika aku meraihnya untuk mengeluarkannya, Algernon masuk ke kotak hadiah dan menggigitku. Giginya mengenai lengan kemejaku sehingga ia bergantung di sana, lalu aku menggoyangnya hingga terlepas.

Ia menjadi tenang kemudian. Aku menelitinya selama hampir satu jam setelah itu. Ia tampak tidak bergairah dan bingung. Walau ia masih belajar memecahkan masalah tanpa hadiah dari luar labirin, hasil usahanya mengagumkan. Ia tidak lagi berhati-hati, tetapi dengan yakin bergerak dalam lorong-lorong labirin. Gerakannya terburu-buru dan tidak terkendali. Ia kembali ke sudut terlalu cepat sehingga menabrak pembatas. Ada dorongan aneh dalam perilakunya.

Aku ragu-ragu untuk membuat penilaian yang ter-

buru-buru. Penyebabnya bisa saja banyak hal. Tetapi sekarang aku harus membawanya kembali ke lab. Apakah aku akan mendapatkan dana khusus atau tidak dari Yayasan, aku akan menelepon Nemur besok pagi.

LAPORAN KEMAJUAN 15

12 Juli Nemur, Strauss, Burt, dan beberapa orang lainnya yang mengerjakan proyek ini sedang menungguku di kantor psikolog. Mereka mencoba membuatku merasa nyaman tetapi aku dapat melihat betapa inginnya Burt mengambil Algernon dari tanganku, lalu aku memberikannya kepadanya. Tidak seorang pun yang berkata-kata, tetapi aku tahu sebentar lagi Nemur tidak akan memaafkanku karena telah melangkahinya menghubungi Yayasan secara langsung. Tetapi itu memang diperlukan. Sebelum aku kembali ke Beekman, aku harus yakin bahwa mereka akan mengizinkan aku memulai sebuah penelitian independen untuk proyek ini. Terlalu banyak waktu yang terbuang jika aku harus selalu melaporkan kepada Nemur segala yang kulakukan.

Ia telah diberi tahu soal keputusan Yayasan, tapi sambutannya terhadapku dingin dan resmi. Nemur mengulurkan tangan tanpa senyuman di wajahnya. "Charlie," sapanya, "kami senang kau kembali dan akan bekerja bersama kami lagi. Jayson meneleponku dan mengatakan bahwa Yayasan telah menempatkanmu bekerja di proyek ini juga. Staf dan lab ini ada di bawahmu. Pusat komputer telah meyakinkan kami bahwa pekerjaanmu akan mendapat keistimewaan dan tentu saja jika aku dapat membantu di mana pun...."

Ia berusaha bersikap tulus, tetapi aku dapat melihat dari wajahnya, ia ragu-ragu. Lagi pula, pengalaman

percobaan psikologi apa yang kumiliki? Apa yang kuketahui tentang teknik yang telah dikembangkannya selama bertahun-tahun? Ya, kukatakan, ia tampaknya saja tulus, dan mau menunda penilaiannya. Sekarang ini memang tidak ada lagi yang dapat dilakukannya. Jika aku tidak datang membawa penjelasan tentang perilaku Algernon, segala pekerjaannya bisa terbuang sia-sia. Tetapi, jika aku mengatasi masalah itu, artinya aku harus membawahkan semua anak buahnya.

Aku masuk ke lab tempat Burt mengawasi Algernon dalam salah satu kotak dengan masalah yang rumit. Ia mendesah dan menggelengkan kepalanya. "Ia melupakan banyak hal. Sebagian besar respon rumitnya seperti telah terhapus. Ia memecahkan masalah dengan cara yang jauh lebih primitif ketimbang yang kuharapkan."

"Dalam hal apa?"

"Ya, sebelum ini ia mampu mengerti pola sederhana bisa berlari langsung ke pintu, misalnya, pada setiap pintu lainnya, setiap pintu ketiga, hanya melalui pintu-pintu merah, atau hanya pintu-pintu hijau. Tetapi, sekarang ia terus saja berlari tiga kali ke arah itu dengan menggunakan sistem coba-cobanya."

"Mungkinkah itu karena ia telah lama tidak ke lab ini?

"Mungkin saja. Kita akan membiarkannya terbiasa pada hal-hal itu lagi dan melihat bagaimana reaksinya besok."

Aku sudah sering ke lab sebelum ini, tetapi sekarang aku ke sini untuk mempelajari segala yang ditawarkan lab. Aku harus menyerap prosedur-prosedur dalam beberapa hari saja, padahal yang lainnya telah mempelajarinya selama bertahun-tahun. Burt dan aku menghabiskan empat jam untuk mempelajari keseluruhan lab bagian demi

bagian, sambil aku membiasakan diri dengan seluruh isi lab ini. Ketika kami selesai, aku melihat masih ada satu pintu yang belum kumasuki. "Ada apa di sana?"

"Itu ruang pendingin dan tempat pembakaran." Lalu Burt mendorong pintu berat itu hingga terbuka, kemudian menyalakan lampunya. "Kami membekukan contoh-contoh lab kami sebelum dibuang ke tempat pembakaran. Cara itu untuk menghindari aroma tidak sedap jika kami mengendalikan pembusukannya." Ia lalu beranjak pergi, tetapi aku masih berdiri di sana sejenak.

"Jangan Algernon," kataku. "Begini... jika dan... ketika... maksudku aku tidak mau Algernon dibuang ke sana. Berikan padaku. Aku akan merawatnya sendiri." Burt tidak tertawa. Ia hanya mengangguk. Nemur telah mengatakan kepadanya bahwa mulai sekarang aku boleh mendapatkan semua yang kuinginkan.

Waktu adalah penghalang. Jika aku mau menemukan jawabannya sendiri, aku harus langsung bekerja. Aku mendapatkan daftar buku dari Burt dan catatan dari Strauss serta Nemur. Kemudian, sambil berjalan keluar, aku menangkap dugaan aneh.

"Katakan padaku," pintaku kepada Nemur. "Aku baru saja melihat ruang pembakaran untuk membuang hewan-hewan percobaan. Kau punya rencana apa untukku?"

Pertanyaanku membuatnya terpaku. "Apa maksudmu?"

"Aku yakin sejak awal kau merencanakan segala keadaan darurat. Jadi, apa yang akan terjadi padaku?" Ketika ia tidak menjawab, aku mendesak, "Aku berhak tahu segala yang berhubungan dengan percobaan itu,

artinya termasuk mengetahui masa depanku."

"Tidak ada alasan mengapa kau tidak diberi tahu." Ia berhenti lalu menyalakan rokok yang sebenarnya sudah menyala. "Kau mengerti, tentu saja, bahwa sejak awal kami menaruh harapan tertinggi pada soal kekekalan, hingga kini... kami benar-benar masih mengharapkan hal itu...."

"Aku yakin itu."

"Tentu saja, melibatkanmu dalam percobaan ini merupakan tanggung jawab yang berat bagi kami. Aku tidak tahu seberapa banyak yang kauingat atau seberapa banyak kau telah berangsur-angsur menemukan hal-hal di awal proyek ini. Tetapi, kami mencoba memperjelas padamu bahwa kemungkinan besar keberhasilan itu untuk sementara saja."

"Aku telah menuliskannya pada laporan kemajuanku ketika itu," aku setuju, "walau saat itu aku tidak mengerti apa maksud kata-katamu ter-sebut. Tetapi bukan itu yang pokok, karena aku sekarang sudah mengerti maksudmu."

"Ya, kami telah memutuskan untuk mengambil risiko terhadap dirimu ketika itu," ia melanjutkan, "karena kami merasa hanya ada kemungkinan kecil percobaan itu akan melukaimu, dan kami yakin hal itu akan memberikan manfaat yang besar bagimu."

"Kau tidak perlu membenarkan tindakanmu itu."

"Tetapi kau sadar bahwa kami ketika itu sudah mendapat izin dari keluargamu. Saat itu kau tidak mampu mengambil keputusan sendiri."

"Aku tahu soal itu. Kau bicara tentang adik perempuanku, Norma, bukan? Aku membacanya di koran-koran. Yang kuingat, aku membayangkan dia telah

memberimu persetujuan untuk melakukan percobaan itu terhadapku."

Nemur menaikkan alisnya, tetapi membiarkan hal itu berlalu. "Ya, seperti yang kami katakan kepadanya, jika percobaan itu gagal, kami tidak dapat mengirimmu kembali ke pabrik roti atau kembali ke tempat asalmu."

"Mengapa tidak?"

"Untuk satu hal, kau mungkin sudah tidak seperti dulu lagi. Operasi dan suntikan hormon-hormon mungkin telah menimbulkan efek yang tidak langsung terjadi. Pengalaman-pengalaman sejak operasi mungkin telah meninggalkan bekas padamu. Maksudku, kemungkinan adanya gangguan emosional yang menambah keterbelakangan; kau tidak mungkin tetap menjadi seperti dirimu yang dulu...."

"Itu hebat. Seolah satu penderitaan saja tidak cukup bagiku."

"Dan satu hal lagi, kami tidak melihat kau akan kembali ke tingkatan mental yang sama. Mungkin ada pengurangan ke tingkat fungsi yang lebih primitif."

Ia sedang menjelaskan hal terburuk yang mungkin terjadi pada diriku untuk memperingan beban pikirannya. "Aku mungkin harus tahu sagalanya," kataku, "selagi aku masih dalam posisi berhak mendapat penjelasan tentang hal itu. Apa rencanamu terhadapku?"

Ia menggerakkan bahunya. "Yayasan telah mengatur untuk membawamu ke Sekolah Pendi-dikan Negeri dan Panti Warren."

"Sialan!"

"Itu merupakan bagian dari persetujuan dengan adik perempuanmu bahwa segala biaya perawatan akan ditanggung oleh Yayasan. Sementara itu, kau akan

mendapat penghasilan bulanan yang dapat kaugunakan untuk keperluan pribadimu sepanjang hidupmu."

"Tetapi mengapa di sana? Aku selama ini selalu mampu mengurus diriku sendiri di luar, bahkan ketika mereka memasukkan aku ke sana, setelah Paman Herman meninggal. Donner dapat mengeluarkan aku segera dari sana untuk bekerja dan hidup di luar panti. Mengapa aku harus kembali ke sana?"

"Jika kau dapat mengurus dirimu sendiri di luar, kau tidak perlu tinggal di Warren. Kasus yang paling ringan diizinkan hidup di luar panti. Tetapi kami harus memberimu bekal untuk berjaga-jaga."




0 Response to "Charlie 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified