Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

THE BROKER 3

"Kau mau apa?" tanya Matco. Perlahan-lahan tangan meteka menjangkau saku. "Kami dari FBI," kata si kekai. Inggris Amerika, mungkin Midwest. "Tentu saja," tukas Marco. Mereka melakukan ritual mengibaskan tanda i pengenal, namun di bawah kegelapan atap trotoar, [ Marco tidak bisa membaca apa pun. Penerangan redup di atas pintu sebuah apattemen tidak banyak membantu. "Aku tidak bisa melihatnya," ujarnya. "Mari kita jalan-jalan," kata si kurus. Boston, I Irlandia.

"Kalian tersesat?" kata Matco, tetap bergerningr Ia tidak ingin bergerak, lagi pula kakinya sangat

berat.

"Kami tahu benat di mana kami B^^m

"Aku tidak yakin. Kalian punya surat perin-tahi"

"Tidak perlu."

Si kekar melakukan kesalahan dengan menyentuh siku kiri Marco, seolah hendak membantunya berjalan ke mana pun mereka mau. Marco menyentakkan lengannya. "Jangan sentuh aku! Kalian tersesat. Kalian tidak bisa melakukan penangkapan di sini. Yang bisa kalian lakukan cuma bicara."

"Baiklah, mari kita mengobrol," kata si kurus.

"Aku tidak perlu bicara."

"Ada warung kopi beberapa blok dari sini," kata si kekar.

"Bagus, silakan minum kopi. Dan makan pastri. Tapi tinggalkan aku."

Thick 'n Thin bertukar pandang, lalu melirik ke sekeliling, tidak yakin harus berbuat apa, tidak tahu apakah Rencana B diperlukan.

Marco tidak bergerak; bukan berarti ia merasa lebih aman di tempatnya, tapi ia hampir bisa melihat mobil gelap menunggu di tikungan.

Di mana Luigi sekarang? ia bertanya pada diri sendiri. Apakah ini bagian dari persekongkolannya?

la ketahuan, ditemukan, dibuka topengnya, dipanggil dengan nama aslinya di Via Fondazza. Ini jelas membutuhkan strategi baru, rumah persembunyian baru.

Si kurus memutuskan untuk mengambil alih kendali pertemuan ini. "Tentu, kita bisa bicata di sini. Ada banyak orang di rumah yang ingin bicara

denganmu."

"Barangkali itu sebabnya aku ada di sini." "Kami sedang menyelidiki pengampunan hukuman yang kaubeli."

"Kalau begitu kalian sedang menghabiskan banyak waktu dan uang, yang memang tidak mengherankan semua orang."

"Kami punya beberapa pertanyaan mengenai transaksi tersebut."

"Penyelidikan tolol," kata Marco, menyemburkan umpatan itu pada si kurus. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia metasa seperti sang broker lagi, menghina birokrat sombong atau anggota Kongres yang bodoh. "FBI menghabiskan banyak uang mengirim dua badut seperti kalian jauh-jauh ke Bologna, Italia, untuk mencegatku di jalan supaya kalian bisa mengajukan pertanyaan yang tidak akan dijawab orang bodoh mana pun yang otaknya waras. Kalian ini sepasang idiot, tahu? Pulang sajalah dan katakan pada bosmu bahwa ia juga idiot. Dan sementara kalian mengobrol dengannya, katakan padanya bahwa ia menghambur-hamburkan banyak uang dan waktu kalau ia mengira aku membeli pengampunan hukuman itu." "Jadi kau menyangkal—"

"Aku tidak menyangkal apa pun. Aku tidak mengakui apa pun. Aku tidak mengatakan apa pun, kecuali bahwa kali ini FBI benar-benar parah. Kalian berdua berada di air yang dalam padahal kalian tidak bisa berenang."

Di tanah air, mereka pasti akan bermain-main dengannya, mendesaknya, mencaci-makinya, menghinanya. Namun di tanah asing, mereka tidak tahu harus bertindak apa. Perintah mereka adalah menemukan Backman, melihat apakah ia memang berada di tempat yang diberitahukan CIA kepada mereka. Dan kalau ia ditemukan, mereka harus membuatnya terkejut, membuatnya ketakutan, menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang transfer kawat dan rekening-rekening luar negeri.

Mereka sudah merencanakan semuanya dan sudah mektihnya beberapa kali. Namun di bawah portico di Via Fondazza, Mr. Lazzeri menumpas habis rencana mereka.

"Kami tidak akan meninggalkan Bologna sampai kita bicara," kata si kekar.

"Selamat, kalian akan melewatkan liburan yang panjang."

"Kami mendapat perintah, Mr. Backman." "Aku juga."

"Hanya beberapa pertanyaan," kata si kurus. "Temui saja pengacaraku," ujar Marco sambil berjalan pergi, ke arah apartemennya.

"Siapa pengacaramu?" "Cari Prau."

pereka tidak betgerak, tidak mengikutinya, dan j^arco mempercepat langkah. Ia menyeberang jalan, melirik cepat ke arah rumah persembunyian, tapi tidak melambat. Kalau mereka ingin mengikutinya, mereka menunggu terlalu lama. Sewaktu melesat ke Via del Piombo, ia tahu meteka tidak akan pet-nah menemukannya. Jalanan ini miliknya sekarang, .gang-gangnya, pintu-pintunya menuju toko-toko

yang tidak akan buka sampai tiga jam lagi. Mereka menemukannya di Via Fondazza hanya

karena mereka mengetahui alamatnya.

Di tepi tenggara kota lama Bologna, di dekat Porta San Stefano, ia naik bus kota selama setengah jam, sampai ia turun di dekat stasiun kereta di lingkar luar utara. Di sana ia naik bus lain dan menuju pusat kota. Bus-bus mulai penuh; orang-orang yang berangkat kerja pagi-pagi. Bus ketiga membawanya menyeberangi kota lagi menuju Porta Saragozza, tempat ia mulai mendaki tanjakan 3,6 kilometet menuju San Luca. Pada lengkung keempat ratus, ia berhenti untuk mengatut napas, dan di antara tiang-tiang ia melihat ke bawah dan menunggu sesemang menyelinap di belakangnya. Tidak ada, seperti yang ia harapkan.

Ia memperlambat langkah dan menyelesaikan pendakian itu dalam 55 menit. Di belakang Santuario di San Luca, ia mengikuti jalur sempit tempat Francesca jatuh, dan akhirnya menempatkan diri di bangku tempat Francesca dulu menunggu. Dari sana, pemandangan Bologna di pagi hari tampak mengagumkan. Ia menanggalkan jaket untuk menyejukkan diri. Matahari sudah menanjak, udara ringan dan bersih, dan untuk waktu lama Marco duduk seorang diri dan mengamati kota itu beranjak hidup.

Ia menikmati kesendiriannya, dan rasa aman yang cUtimbulkannya. Mengapa ia tidak bisa mendaki setiap pagi, dan mungkin membaca koran? Barangkali menelepon teman dan bergosip?

Sebelum itu, ia harus mencari teman dulu.

Mimpi yang tidak akan pernah terwujud.

Dengan ponsel Luigi yang amat terbatas, ia menelepon Ermanno dan membatalkan sesi pelajaran pagi. Kemudian ia menelepon Luigi dan menjelaskan ia sedang tidak ingin belajar.

"Ada sesuatu?"

"Tidak. Aku hanya ingin istirahat."

"Baik, Marco, tapi kami membayar Ermanno untuk mengajarmu, oke? Kau harus belajar setiap hari."

"Sudahlah, Luigi. Aku tidak mau belajar hari ku."

"Aku tidak menyukainya."

"Dan aku tidak peduli. Skots saja aku. Keluarkan

dari sekolah."

"Ada yang mengganggumu?"

"Tidak, Luigi, aku baik-baik saja. Ini hari yang indah, musim semi di Bologna, dan aku sedang

jalan-jalan jauh." "Ke mana?"

"Tidak usah, Luigi. Aku tidak ingin ditemani."

"Bagaimana dengan makan siang?"

Perut Marco perih karena lapar. Makan siang dengan Luigi selalu nikmat dan ia selalu membayar tagihannya. "Baik."

"Beri aku waktu untuk beipikir. Aku akan meneleponmu." "Tentu, Luigi. Ciao"

Mereka bertemu pukul setengah satu siang di Caffe Atene, gua kecil di gang sempit, beberapa undakan turun dari jalan utama. Tempat itu kecil, dengan meja-meja persegi mungil yang nyaris berdempetan. Para pelayan meliuk-liuk mencari jalan sambil membawa nampan makanan yang diangkat tinggi-tinggi. Pata koki berteriak dari dapur. Ruang makan yang sempit itu penuh asap, riuh rendah, dan penuh dengan orang-orang lapar yang senang bicara sekeras-kerasnya sambil makan. Luigi menjelaskan bahwa restoran ini sudah ada sejak beberapa abad yang lalu, mustahU mendapat

meja, dan makanannya, tentu saja, luar biasa. U mengusulkan mereka berbagi sepiring caLtmari untuk membuka acara makan.

Setelah sepagian berdebat dengan diri sendiri di San Luca. Marco memutuskan untuk tidak memberitahu Luigi tentang pertemuannya dengan FBI. Setidaknya untuk saat ini, siang ini. Bisa saja ia akan melakukannya besok, atau lusa, tapi sementara ini ia masih menimbang-nimbang. Alasan utamanya tidak buka mulut adalah ia tidak ingin berkemas-kemas dan kabur lagi. mengikuti kemauan Luigi. Kalau mau kabur, ia akan kabur sendiri. Ia tidak bisa menemukan alasan mengapa FBI ada di Bologna, jelas tanpa sepengetahuan Luigi atau siapa pun atasannya. Ia berasumsi Luigi tidak mengetahui keberadaan mereka di sini. Ia tampak lebih peduli pada menu dan daftar anggur. Hidup menyenangkan. Semuanya normal.

Lampu-lampu mari. Mendadak, Cafft Atcne gelap total, dan sekejap kemudian, pelayan yang sedang membawa nampan berisi makan siang orang lain menabrak meja mereka, berteriak, mengumpat, jatuh - ke atas Luigi dan Marco. Kaki meja tua itu goyah dan pinggirnya patah di atas pangkuan Marco. Pada saat yang sama ada kaki atau sesuatu yang memukul bahu kirinya dengan keras. Semua orang berteriak Gelas-gelas pecah. Tubuh didorong ke sana kemari,

lalu riari danur wnniw U——• »v i i

Seniua berhamburan ke luar dan ke jalan» dan udak ada yang tcrluka serius. Orang yang terakhir fcluar adalah Marco, yang menunduk rendah untuk menghindari diinjak-injak orang sambil mencari-cari tas Silvio biru tuanya. Seperti biasa, ia menggantungkan talinya di belakang kursi, tasnya terletak tak jauh dari tubuhnya sehingga ia bisa merasakannya. Tas itu hilang dalam kehebohan.

Orang-orang Italia itu berdiri di jalan dan memandang kafe dengan tak percaya. Makan siang mereka ada di dalam sana, belum habis dan sekarang sudah kacau. Akhirnya asap tipis muncul dan keluar dari pintu. Seorang pelayan berlari di dekat meja-meja depan sambil membawa tabung pemadam api. Lalu ada asap lagi, tapi tidak tebal.

Tasku hilang," Marco memberitahu Luigi ketib mereka menonton dan menunggu. "Yang biru?"

Berapa banyak tas yang kubawa ke mana-mana, Luigi? "Ya, yang biru." Ia sudah curiga ras itu dicuri.

Truk pemadam kebakaran kecil dengan sirene besar muncul, berhenti, dan tetap meraung-raung

sementara para petugas berlari masuk. Menit-menit berlalu, dan orang-orang Itu mulai pergi. Yang lebih tegas memutuskan untuk mencari makan siang di tempat lain sementara masih ada waktu. Yang lain .„.„n melon» meHhaj ketidakadilan ini.

Sirene akhirnya dimatikan. Begitu juga kebakaran-nya, dan tanpa perlu air disemprotkan ke seluruh restoran. Setelah saru jam berdiskusi, berdebat, dan sedikit memadamkan api, situasi kembali terkendali. "Sesuatu di kamar mandi," teriak seorang pelayan pada temannya, salah saru pengunjung yang masih belum beranjak dan belum diberi makan. Lampu-lampu kembali menyala.

Mereka diizinkan masuk untuk mengambil mantel. Beberapa yang tadinya pergi mencari makan di tempat lain, kembali untuk mengambil barang-barang mereka. Luigi sangat bersusah payah membantu mencari ras Marco. Ia membicarakan situasi tersebut pada kepala pelayan, dan rak lama kemudian setengah stafnya mencari-cari di seluruh penjuru restoran. Di antara celotehan ramai, Marco mendengar seorang pelayan mengatakan sesuatu rentang "bom asap". Tas itu lenyap, dan Marco sudah menduganya. Mereka makan panino dan minum bir di kafe tepi jalan, di bawah sinar matahari tempat mereka bisa memandangi gadis-gadis cantik Jewat. Marco sibuk memikirkan pencurian itu, tapi berusaha keras agar tidak tampak peduli. 'Maaf tasmu hilang," kata Luigi, . "Tidak apa-apa.

"Aku akan memberimu ponsel lain."

"Trims"

["Apa lagi yang hilang?" Tidak ada. Hanya peta kota, aspirin, dan be-P berapa euro."

Di sebuah kamar hotel beberapa blok jauhnya, Zellman dan Krater meletakkan tas i tu di ranjang, ! isinya diatur dengan rapi. Selain smartphone Ankyo itu, ada dua peta Bologna, keduanya ditandai dan tampak sering dipakai tapi tidak menyatakan apa-apa, empat lembar seratus dolar, ponsel pinjaman dari Luigi, sebotol aspirin, dan buku manual Ankyo. i^m

Zellman, yang lebih mengerti komputer di antara keduanya, menghubungkan smartphone itu ke colokan akses Internet dan langsung bermain-main dengan menu. "Ini barang bagus," komentarnya, cukup terkesan dengan alat tersebut. "Mainan terbaru di pasaran."

Tak mengherankan, langkahnya terhambat password. Meteka harus membedah alat itu di Langley. Dengan laptop-nya, ia mengirim e-mail ke Julia Javier, menyertakan nomor seri dan informasi

lain.

Dalam waktu dua jam setelah pencurian itu, seorang agen CIA sudah duduk di tempat parkir di luar Chatter, tepi kota Alexandria, menunggu

toko buka, I

26

Dari kejauhan, ia mengawasi wanita itu terseok-seok dengan berani* dibantu tongkat, sepanjang trotoar Via Minzoni. Ia mengikutinya dan segera berhasil menyusul tak sampai lima belas meter jauhnya. Hari ini Francesca mengenakan bot suede cokelat, pasti untuk mendukung kakinya. Sepatu itu berhak rendah. Sepatu datar jelas lebih nyaman, tapi toh ia orang Italia dan faktor gaya selalu mendapat prioritas lebih tinggi. Rok cokelat yang melambai itu berhenti di lututnya. Ia mengenakan sweter wol tipis, warnanya merah manyala, dan baru kali ini Marco melihatnya tanpa pakaian berlapis-lapis tebal untuk cuaca dingin. Tanpa mantel luar yang menyembunyikan bentuk tubuhnya yang benar-benar indah. Francesca berjalan hati-hati dan agak pincang.

tapi dengan tekad yang menyentuh hatinya, mi cuma acara minum kopi di Nino's, satu-dua jam berbahasa Italia. Dan semua itu dilakukan untuk-

! nya!.

Dan untuk uang juga.

Sesaat Marco berpikir tentang keuangan Francesca. Bagaimanapun sulitnya situasi dengan suaminya yang miskin dan pekerjaan serabutan sebagai pemandu wisata, Francesca bisa berpakaian dengan gaya dan hidup dalam apartemen yang didekorasi bagus. Giovanni dulunya bekerja sebagai dosen. Mungkin ia menabung dengan hati-hati selama bertahun-tahun, dan sekarang penyakitnya menyita banyak anggaran mereka.

Terserah. Marco punya masalah sendiri. Ia baru saja kehilangan uang tunai empat *m *k™ satu-satunya tali penghubung dengan f* " Orang-orang yang seharusnyaM ^ keberadaannya, sekarang tahu |||||| | men. ^mpat tinggalnya. Sembilan if^^d^ dengar nama aslinya disebut di ^biarkan Ia memperla mbat ^ i Ugj Francesca masuk ke «g g| p""*^

disambut bak IMI M B

M mereka kesemPa«* j||j|g m

mengurus keperluan mengobrol sedikit

reka. Sepuluh menit setelah Francesca tiba di sana, Marco masuk melalui pintu dan mendapat pelukan j hangat dari putra bungsu Nino. Teman Francesca ] adalah teman selamanya.

Suasana hati Francesca berubah begitu drastis sehingga Marco tidak tahu apa yang diharapkannya, j Ia masih tersentuh kehangatannya kemarin, tapi ia tahu sikap dingin itu bisa kembali hari ini. Ketika | Francesca tersenyum, menyambut tangannya, dan mulai saling mengecup pipi, Marco tahu sesi pelajaran ini akan menjadi pelipur lara suatu hari yang menyebalkan.

Sewaktu mereka akhirnya ditinggal berdua, Marco bertanya tentang suami Francesca. Belum berubah. "Tinggal hitungan hari," jawab Francesca dengan bibir kaku, seolah ia sudah menerima ke-matian dan siap berkabung.

Marco bertanya tentang ibunya, Signora Altonelli, dan mendapat laporan lengkap. Ia membuat tom buah pir, salah satu kesukaan Giovanni, kalau-kalau Giovanni bisa mencium aromanya dari dapur. "Dan bagaimana harimu?" tanya Francesca. Mustahil mengarang serangkaian kejadian yang lebih buruk daripada yang telah terjadi. Dari keterkejutan mendengar namanya disebut di dalam kegelapan, hingga menjadi korban pencurian yanf direncanakan dengan saksama, ia tidak bisa tam bayangkan hari yang lebih menarikan

"Ada kejadian seru waktu makan siang," ujarnya.

"Ceritakanlah."

Marco menjelaskan pendakiannya ke San Luca, ke tempat Francesca jatuh, bangkunya, pemandangan, sesi dengan Ermanno yang dibatalkan, makan siang dengan Luigi, kebakaran, tapi bukan hilangnya tasnya. Francesca tidak menyadari hal itu hingga Marco menceritakan kisahnya.

"Tidak banyak kriminalitas di Bologna," ujat Francesca, setengah meminta maaf. "Aku tahu Cafre Atene. Itu bukan tempat yang banyak copetnya."

Barangkali bukan orang Italia, Marco ingin menimpali, tapi ia hanya mengangguk muram, seolah berkata: Ya, ya, apa jadinya dunia ini?

Ketika basa-basi selesai, Francesca mengubah peisneling sepetti guru yang tegas dan berkata ia sedang ingin menguasai beberapa kata kerja. Marco bilang, ia tidak merasa dernikian, tapi suasana hatinya tidak penting. Ftancesca memberondongnya dengan bentuk masa depan abitare (hidup, tinggal) dan vedere (melihat). Lalu ia menyuruhnya menggabungkan kedua kata itu dalam segala bentuk dalam setatus kalimat acak. Bukannya tidak berkonsentrasi, Francesca menyerbu setiap pengucapan yang tidak benar. Kesalahan tata bahasa langsung mendapat teguran, seolah Marco baru saja mpnerhina seluruh ba

Franceses melewatkan harinya terkurung

Marco menyerah setelah dua jam, terkuras dan buruh jalan-jalan. Butuh waktu lima belas menit untuk berpamitan dengan Nino bersaudara. Dengan gembira, ia mengantar Francesca pulang ke apartemennya. Mereka berpelukan sebentar dan saling mencium pipi, berjanji untuk bertemu lagi besok.

Kalau Marco langsung pulang, apartemennya ha-nya sejauh 25 menit berjalan kaki. Namun sudah fcb* dari sebulan ini ia tidak berjalan langsung k* i tujuan mana pun,

Marco mulai bertanya-tanya.

Pada pukul empat sore, delapan orang anggota Iddon sudah ada di Via Fondazza, di berbagai ¦posisi—satu sedang minum kopi di kafe tepi jalan, satu sedang berjalan tak tentu arah satu blok jauhnya, satu mondar-mandir di atas skuter, dan satu lagi melihat ke luar jendela dari lantai tiga.

Setengah mil jauhnya, di luar pusat kota, di lantai dua toko bunga yang dimiliki seorang Yahudi tua, empat anggota kidon yang lain sedang bermain kartu dan menunggu dengan gelisah. Seorang di antaranya, Ari, adalah salah satu interogator berbahasa Inggris paling piawai di Mossad.

Mereka bermain tanpa banyak bercakap-cakap. Malam nanti akan panjang dan tidak menyenangkan.

Sepanjang hari, Marco bergumul dengan pertanyaan apakah ia akan kembali ke Via Fondazza. Orang-orang FBI tadi pasti masih ada di sana, siap dengan konfrontasi keras. Ia yakin mereka tidak akan semudah itu dipatahkan. Mereka tidak akan naik pesawat dan pergi begitu saja. Mereka punya atasan yang menuntut hasil.

Walau jauh dari yakin, ia punya firasat Luigi-lah dalang di balik pencurian tas Stfvio-nya. Kebakaranitu bukan kebakaran sungguh an; hanya pengalih perhatian, alasan untuk mematikan listrik dan memberi kesempatan seseorang menyambar ras itu.

Ia tidak memercayai Luigi, karena ia tidak memercayai seorang pun.

Mereka mendapatkan smartphone-nya. yang kecil itu. Password-password Neal ada di sana. Bisakah mereka membongkarnya? Bisakah jejak itu mengarah pada anaknya? Marco sama sekali tidak tahu cara kerja alat tersebut, apa yang mungkin dilakukan, apa yang tidak bisa.

Dorongan untuk pergi dari Bologna sangat mendesak Ke mana dan bagaimana adalah pertanyaan-pertanyaan yang belum dipecahkannya. Ia mulai meracau sekarang, dan merasa rentan, hampir tak berdaya. Setiap wajah yang meliriknya seperti orang yang mengetahui nama aslinya. Di halte bus yang padat, ia memutuskan untuk naik, tidak tahu ke mana akan pergi. Bus itu penuh pelaju yang kelelahan, bahu menempel dengan bahu sementara mereka terguncang-guncang bersama. Lewat jendela ia mengamati lalu lintas pejalan kaki di bawah atap trotoar yang menakjubkan di pusat kota.

Pada detik terakhir ia melompat turun, lalu berjalan tiga blok sepanjang Via San Vitale hingga ia melihat bus lain. Ia berputar-putar selama hampir satu jam, lalu akhirnya berhenti di dekat stasiun kereta. Ia bergabung dengan gelombang

penumpang lain, lalu melesat menyeberangi Via deh" Indipendenza menuju terminal bus. Di sana ia menemukan area keberangkatan, melihat bus yang akan berangkat sepuluh menit lagi menuju Piacenza, satu setengah jam jauhnya dengan lima perhentian. Ia membeli tiket seharga tiga puluh euro dan bersembunyi di kamar kecil hingga saatnya berangkat. Bus itu hampir penuh. Kursi-kursinya lebar dengan sandaran kepala, dan ketika bus bergerak perlahan dalam lalu lintas yang padat, Marco hampir terangguk-angguk tertidur. Lalu ia menyiagakan diri. Tidur tidak masuk hitungan.

Ini dia—pelarian yang sudah cbpertimbangkannya sejak hari pertama di Bologna. Ia semakin yakin bahwa untuk bertahan hidup ia harus menghilang meninggalkan Luigi dan hidup mandiri. Sering kali ia bertanya-tanya bagaimana dan kapan pelarian itu akan dimulai. Apa yang akan memicunya? Seraut wajah? Ancaman? Ia akan naik bus atau kereta, taksi atau pesawat? Ke mana ia akan pergi? Di mana ia akan bersembunyi? Apakah bahasa Italianya yang seadanya ini memadai? Berapa banyak uang yang akan dimilikinya saat itu?

Inilah saatnya. Ini sudah terjadi. Tidak ada jalan kembali lagi sekarang.

Perhentian pertama adalah desa kedi Bazzano, lima belas kilometer sebeJah barat Bologna. Marco turun dari bus dan tidak naik kembali. Sekali lagi,

ia bersembunyi di kamar kecil terminal sampai busnya pergi, lalu menyeberangi bar tempat ja memesan bir dan menanyakan hotel terdekat pada

bartender.

Sambi) menikmati bir kedua, ia menanyakan letak stasiun kereta, dan mendapat jawaban bahwa Bazzano tidak memiliki stasiun kereta. Hanya bus, kata si bartender.

Albergo Cantino letaknya dekat pusat desa, lima atau enam blok jauhnya. Hari sudah gelap ketib ia mendatangi meja depan, tanpa membawa tas, sesuatu yang tak lepas dari perhatian signora yang mengurusi segala sesuatu.

"Ada kamar?" tanya Marco dalam bahasa Italia.

"Berapa malam?"

"Satu malam saja."

"Sewanya lima puluh lima euro."

"Baik."

"Paspor Anda?"

"Maaf, paspor saya hilang."

Alisnya yang dicabut dan diwarnai langsung melengkung tinggi penuh kecurigaan, dan ia mulai menggeleng "Maaf."

Marco meletakkan dua lembar seratus euro di meja di depannya Ini jelas-jelas penyuapan—ambil saja uangnya, tanpa dokumen macam-macam, dan berikan kuncinya padaku.

Gelengan kepala, kerutan dahi.

"Anda harus punya paspor," tegasnya. Lalu wa-' nita itu bersedekap, menaikkan dagunya, bersiap membalas serangan berikut Tidak mungkin ia akan

menyerah.

Di luar, Marco menyusuri jalanan kota yang tak dikenalnya. Ia menemukan bar dan memesan kopi—tidak boleh ada alkohol lagi, ia perlu menjaga pikirannya jernih.

"Di mana aku bisa mendapat taksi?" ia bertanya pada bartender.

"Di terminal bus."

Pada pukul sembilan malam, Luigi mondar-mandir di apartemennya, menunggu Marco pulang ke apartemen sebelah. Ia menelepon Francesca dan wanita itu melaporkan mereka belajar tadi siang; bahkan pelajaran mereka menyenangkan. Bagus, pikirnya.

Pelarian itu merupakan bagian dari rencana, tapi Whitaker dan Langley mengira ia akan melakukannya beberapa hari lagi. Apakah mereka sudah kehilangan dia? Secepat itu? Ada lima agen yang berada di sini sekarang—Luigi, Zeliman, Krarer, dan dua lagi dikirim dari Milano.

Luigi selalu mempertanyakan rencana itu. Di kota sebesar Bologna, mustahil melakukan penguntitan fisik selama 24 jam sehari. Luigi membantah keras bahwa Sfttu-satunya cara agar rencana itu

berhasil adalah menyembunyikan Backman di a kecil tempat gerakannya terbatas, pilihannya sedi^ dan tamu-tamunya lebih bisa dikenali. Begitulah

rencana awalnya, tapi rincian-rinciannya mendadak diubah di Washington.

Pada pukul 21.12, ada bunyi berdengung di dapur. Luigi bergegas menghampiri monitor di dapur. Marco pulang. Pintu depannya terbuka. Luigi memandangi gambar digital dari kamera tersembunyi di langit-langit ruang duduk apartemen sebelah.

Dua orang tak dikenal—bukan Marco. Dua pria berusia tiga puluhan, berpakaian seperti orang biasa. Mereka menutup pintu dengan cepat, pelan, profesional, lalu mulai melihat berkeliling. Salah satunya membawa tas kecil hitam.

Hebat juga mereka, sangat hebat. Bisa membobol kunci rumah persembunyian, berarti mereka sangat bagus.

Luigi tersenyum penuh semangat. Dengan sedikit keberuntungan, kamera-kameranya akan segera merekam Marco diringkus. Mungkin mereka akan membunuhnya di ruang duduk itu juga, terekam ^ Sim. Barangkali rencana ini bisa berhasil akhirnya.

voW^r^ t0mbo1 audio dan mengerasi digun^anaT-PCntin8 menS^ui bahasa |g ^Unakan- Dari mana mereka berasal? Apa bahasa

u , Namun ternyata tidak terdengar suara

asli mereka- i dakm diam. Mereka sa-

sernent^ ^ dua kaUj tapi Luigi nyaris tak

S mendengarnya.

27

Taksi itu berhenti mendadak di Via Gramsri, di dekat stasiun kereta dan terminal bus. Dari bangku belakang, Marco memberikan uang yang cukup, lalu merunduk di antara dua mobil yang diparkir dan segera lenyap dalam kegelapan. Pelariannya dari Bologna singkat saja, tapi belum sepenuhnya selesai. Ia berzig-zag karena begitulah kebiasaannya, memutar balik, mengawasi jejaknya sendiri.

Di Via Minzoni, ia berjalan cepat di baw naungan dan berhenti di depan gedung aParteI^ Francesca. Ia tidak punya kemewahan waktu uj^ berpikir ulang, atau ragu-ragu, atau men* nebak. Ia memencet bel dua kali, berharap^ sepenuh hati Francesca-lah yang akan meAl bukan Signora Aitoncili.

"Siana>" ____«M wr,cr mCrdu ft"*

"Francesca, ini Marco. Aku perlu bantuan. Sunyi yang benar-benar sejenak, lalu, "Ya, tentu

jaja."

Francesca menyambutnya di pintu apartemennya di lantai dua dan mengundangnya masuk Dengan kecewa, Marco melihat Signora Akonelli masih ada di sana, berdiri di pintu dapur dengan serbet di tangan, mengawasi kedatangannya dengan penuh perhatian.

"Kau baik-baik saja?" tanya Francesca dalam bahasa Italia.

"Bahasa Inggris saja," kata Marco, menoleh dan

tersenyum pada ibu Francesca. "Ya, tentu saja."

"Aku perlu tempat menginap malam ini. Aku tidak bisa mendapat kamar karena tidak punya paspor. Aku bahkan tidak bisa menyuap penjaga penginapan kecil." "Memang begitulah hukum di Eropa." "Ya, sekarang aku sudah tahu." Francesca memberi isyarat ke arah sofa, lalu berpaling pada ibunya- dan memintanya membuat kopi. Mereka duduk. Marco memerhatikan Francesca bertelanjang kaki dan berjalan ke sana kemari tanpa tongkat, meskipun jelas ia masih membutuhkannya. Ia mengenakan jins ketar dan sweter longgar dan penampilannya sama menggemaskan seperti mahasiswa.

"Bagaimana kalau kau memberitahuku apa yam, terjadi?" katanya.

"Gentanya rumit dan sebagian besar tidak bisa kuberitahukan padamu. Katakan saja aku tidak merasa aman sekarang, dan aku perlu meninggalkan Bologna, secepat mungkin." "Kau akan pergi ke mana?" "Aku belum tahu. Ke suatu tempat di luar Italia, di luar Eropa, tempat aku akan bersembunyi lagi." "Berapa lama kau akan bersembunyi?" "Lama sekali. Aku tidak yakin." Francesca memandanginya dengan dingin, tanpa mengerjap. Marco balas menatapnya, karena meskipun dingin, mata itu indah sekali. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Francesca.

" Well, yang jelas aku bukan Marco Lazzeri." "Kau lari dari apa?"

"Masa laluku, yang sekarang sedang memburuku dengan cepat. Aku bukan penjahat, Francesca. Aku dulu pengacara. Aku terlibat kesulitan. Aku sudah dipenjara. Aku sudah mendapat pengampunan penuh. Aku bukan orang jahat*"

"Mengapa ada orang yang mengejarmu?" "Ini menyangkut bisnis enam tahun yang lalu. Ada orang-orang kejam yang tidak senang dengan kesepakatan itu. Mereka menyalahkan aku. Mereka ingin menemukanku." "Untuk dibunuh?"

"Ya. Itulah yang ingin mereka lakukan."

"Benar-benar membingungkan. Mengapa kau kemari? Mengapa Luigi membantumu? Mengapa mereka mempekerjakanku dan Ermanno? Aku tidak

mengerti."

"Dan aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dua bulan lalu aku ada di dalam penjara, dan kukira aku akan tetap di sana selama empat belas tahun lagi. Tiba-tiba, aku bebas. Aku diberi identitas baru, dibawa ke sini, pertama disembunyikan di Treviso, lalu Bologna Kurasa mereka ingin membunuhku di sini." "Di sini! Di Bologna!"

Marco mengangguk dan berpaling ke dapur ketika Signora Altonelli muncul dengan nampan berisi kopi, juga torta pir yang belum diiris. Ketika wanita tua itu meletakkannya dengan hati-hati di piring kecil untuk Marco, Marco baru menyadari ia belum makan sejak siang.

Makan siang dengan Luigi. Makan siang dengan sandiwara kebakaran dan pencurian smartphone itu. la teringat Neal lagi dan mengkhawatirkan keselamatannya.

"Enak sekali" katanya pada ibu Francesca dalam bahasa Italia. Francesca tidak makan. Ia mengamati setiap gerakan Marco, setiap suapan, setiap sesapan kopi. Ketika ibunya sudah kembali ke dapur, ia berkata, "Luigi bekerja untuk siapa?"

"Aku tidak yakin. Mungkin CIA. Kau tahu GIA?"

ia. Aku membaca novel spionase. CIA yang menempatkanmu di sini?"

"Menurutku, CIA mengeluarkanku dari penjara, ke luar negeri, dan ke Bologna, tempat mereka menyembuayikanku di rumah persembunyian sementara mereka berunding apa yang akan mereka perbuat terhadap diriku."

"Apakah mereka akan membunuhmu?"

"Mungkin."

"Luigi?"

"Bisa jadi."

Francesca meletakkan cangkirnya di meja dan memainkan rambutnya sebentar. "Kau mau minum ak?" ia bertanya sambil beranjak.

Tidak, terima kasih."

"Aku perlu bergerak sedikit," katanya sambil menapakkan kaki kiri dengan hati-hati. Ia berjalan lambat-lambat ke arah dapur, tempat keadaan tenang sejenak sebelum perdebatan mulai timbul.

Ia dan ibunya bertengkar agak seru, tapi mereka

terpaksa melakukannya dalam bisikan-bisikan tajam

dan tegang.

Hal itu berlangsung selama beberapa menit, mereda, lalu membara lagi ketika kedua belah pihak sepertinya tidak mau menyerah. Akhirnya francesca terpincang-pincang kembali sambil mem

bawa sebotol San Pcttegrino dan duduk lagi di

sofa.

"Ada apa tadi?" tanya Marco.

"Aku memberitahunya bahwa kau ingin tidur di

sini malam ini. Ia salah paham." "Ayolah. Aku mau saja tidur di dalam lemari.

Aku tidak peduli." "Ia sangat kolot."

"la akan menginap di sini malam ini?"

"Sekarang ya."

"Beri saja aku bantal. Aku akan tidur di meja

dapur."

Signora Altonelli berubah perangai ketika kembali untuk mengambil nampan. Ia melotot pada Marco seolah ia sudah mencelakai putrinya. Ia melotot pada Francesca seolah ingin menamparnya.

Ia kembali ke dapur selama beberapa menit, lalu

masuk ke suatu tempat di apartemen. "Kau mengantuk?" tanya Francesca.

"Tidak. Kau?"

"Tidak. Mari kita bicara saja."

"Oke."

"Ceritakan semuanya padaku."

Marco tidur selama beberapa jam di sofa, dan terbangun ketika Francesca menepuk bahunya. "Aku punya ide" katanya. "Ayo ikut aku."

Marco mengikutinya ke dapur, di sana jam dinding menunjukkan pukul 04.15. Di dekat bak cud terdapat pisau cukur sekali pakai, sekaleng krim cukur, kacamata, dan sebotol produk untuk rambut—ia tidak bisa menerjemahkannya. Francesca memberinya semacam dompet kulit warna merah tua dan berkata, "Ini paspor. Milik Giovanni."

Marco nyaris menjatuhkannya. 'Tidak, aku tidak bisa—"

"Bisa. Ia tidak akan membutuhkannya. Ayolah."

Marco membuka paspor itu lambat-lambat dan melihat wajah seorang pria yang tak pernah ditemuinya. Tanggal berlakunya tinggal tujuh bulan, jadi foto itu sudah hampir lima tahun usianya. Ia membaca tanggal lahirnya—Giovanni sekarang berumur 68 tahun, dua puluh tahun lebih tua daripada istrinya.

Dalam perjalanan kembali dari Bazzano tadi, hanya paspor yang memenuhi pikirannya. Ia berpikir untuk mencuri dari turis yang tidak curiga. Ia berpikir untuk membeli di pasar gelap, tapi tidak tahu ke mana harus mencari. Dan ia

sempat memikirkan paspor Giovanni, paspor yang,

sayangnya, sebentar lagi tak akan berguna. Kosong

dan hampa.

Namun ia menyingkirkan gagasan itu karena takut menempatkan Francesca dalam bahaya. Bagaimana kalau ia terungkap? Bagaimana kalau petugas

imigrasi di bandara mencurigainya dan memanggil atasannya? Namun ketakutannya yang terbesar adalah tertangkap oleh orang-orang yang sedang memburunya. Paspor itu bisa melibatkan Francesca, dan Marco tidak mau hal itu terjadi pada wanita itu.

"Kau yakin?" tanya Marco. Setelah memegang paspor itu, sekarang ia benar-benar ingin mempertahankannya.

"Ayolah, Marco, aku Ingin membantu. Giovanni

pasti akan mendesakmu juga."

"Aku tidak tahu harus berkata apa"

Kita punya pekerjaan. Ada bus menuju Parma yang akan berangkat dua jam lagi. Itu cara aman keluar dari kota."

"Aku ingin pergi ke Milano," ujar Marco.

"Ide bagus."

Francesca meraih paspor itu dan membukanya. Mereka mempelajari foto suaminya. • "Mari mulai dengan yang ada di sekitar mulutmu itu," kata Francesca.

Sepuluh menit kemudian, kumis dan jenggot pendek itu sudah hilang, wajahnya dicukur bersih. Francesca memegangkah cermin di depannya sementara ia mencondongkan tubuh di atas bak cuci. Rambut kelabu Giovanni pada usia 63 tahun lebih sedikit daripada rambut kelabu Marco yang berumur 52 tahun. Tapi kan ia tidak pernah divonis

hukuman penjara federal dan menjalani enam tahun di dalam penjara.

Marco menganggap Francesca menggunakan semacam pewarna rambut, tapi ia tidak bertanya, Hasilnya terlihat satu jam kemudian. Ia duduk di kursi menghadap meja, dengan handuk menyelimuti bahunya, sementara dengan lembut Francesca mengusapkan cairan itu di rambutnya. Tak banyak yang diucapkan. Ibunya masih tidur. Suaminya diam dan tenang dan dalam pengaruh obat-obatan keras.

Beberapa waktu yang lalu, Giovanni sang profesor mengenakan kacamata kulit penyu bundar, cokelat muda, bergaya akademis. Ketika Marco memakainya dan mengamati penampilannya yang baru, ia terkejut melihat perbedaannya. Rambutnya lebih gelap, matanya berubah banyak. Ia nyaris tak mengenali dirinya sendiri.

"Lumayan" adalah penilaian Francesca aras hasil kerjanya, "Cukuplah untuk sementara ini."

Ia membawa masuk jaket sport korduroi biru tua, dengan tambalan kulit yang sudah kusam di sikunya. "Ia lebih pendek sekitar lima sentimeter daripada dirimu," Francesca memberi tahu. Lengan jaket itu kurang panjang dua setengah sentimeter dan agak ketat di sekitar dada, tapi Marco sekarang begitu kurus sehingga apa pun yang dikenakannya akan membuatnya tenggelam di dalamnya.

"Siapa nama aslimu?" tanya Francesca sembari

menarik ujung lengan jaket dan membenahi kerahnya. "Joel."

"Kurasa kau harus bepergian dengan membawa

koper. Supaya kelihatan normal."

Marco tidak membantah. Kemurahhatian Francesca sungguh luar biasa, dan ia memang membutuhkan setiap detailnya. Francesca keluar, lalu masuk lagi dengan membawa koper tua yang bagus, kulit cokelat muda dengan gesper perak.

"Aku tidak tahu harus berkata apa," gumam Marco.

"Ini koper favorit Giovanni, hadiah dariku dua

puluh tahun yang lalu. Kulit Italia."

Tentu saja."

Kalau kau tertangkap karena paspor itu, apa yang akan kaukatakan?" tanya Francesca.

"Aku mencurinya. Kau guruku. Aku berkunjung ke rumahmu sebagai tamu. Aku berhasil menemukan 1 aci berisi dokumen-dokumen, dan aku mencuri paspor suamimu."

"Kau pembohong yang hebat."

"Pada suatu ketika, aku salah satu yang paling terbaik. Kalau aku tertangkap, Francesca, aku akan melindungimu. Janji. Aku akan berbohong untuk membuat semua orang bingung."

"Kau tidak akan tertangkap. Tapi gunakan paspor itu sesedikit mungkin."

"Jangan khawatir. Aku akan melenyapkanya secepat aku mampu,

"Kau butuh uang?" Tidak."

"Sungguh? Aku punya seribu euro." Tidak, Francesca, terima kasih." "Lebih baik kau segera berangkat," Marco mengikutinya ke pintu depan, tempat mereka berdiri dan berpandangan. "Kau sering buka Internet?" tanya Marco. "Beberapa saat setiap hari." "Cari nama Joel Backman, mulailah dengan The Washington Post. Ada banyak informasi di sana, tapi jangan percaya semua yang kaubaca. Aku bukan monster seperti yang mereka gambarkan. "Kau sama sekali bukan monster, Joel. "Aku tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih."

Francesca meraih tangannya dan meremasnya e-ngan kedua tangannya sendiri. "Apakah kau akan Pernah kembali ke Bologna?", ia bertanya. Lebih berupa undangan daripada pertanyaan.

"Aku tak tahu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi mungkin saja. Boleh kah aku mengetuk pintumu kalau aku bisa kembali

kemari? tentu saja

Berhati-hatilah di luar sana" ia berdiri di bawah bayang-bayang Via minzoni

Lama beberapa menit, tidak ingin meninggalkan francesca ,tidak siap memulai perjalanan yang pan-

jang

lalu terdengar suara batuk dari bawah naungan di seberang jalan dan Giovanni Ferro pun tabur.

28

Sementara jam-jam berlalu dengan kelambatan yang menyiksa, kekhawatiran Luigi berangsur-angsur berubah menjadi panik. Satu dari dua hal telah terjadi: pembunuhan itu sudah dilakukan, atau Marco menyadari sesuatu dan berusaha melarikan diri. Luigi mencemaskan tas yang dicuri itu. Apakah tindakan mereka terlalu keras? Apakah langkah tersebut membuat Marco begitu ketakutan sehingga ia memutuskan untuk kabur?

Smartphone mahal itu membuat kaget semua oran,orang yang mereka amati ternyata melakukan banyak kegiatan selain belajar bahasa ltalia berjalan-jalan, dan menjajal setiap kafe dan bar dikota ini. ia telah membuat rencana, dan berkomunikai

smartphone itu sekarang ada di laboratorium

bawah tanah Kedutaan Amerika di Milan, dan me-Inorut Whitaker, yang meneleponnya setiap lima I belas menit, para teknisi di sana belum berbasil f.' memecahkan sandinya.

Beberapa menit selewat tengah malam, dua penyusup di apartemen sebelah akhirnya sudah f jemu menunggu. Ketika sedang keluar, mereka I mengucapkan beberapa kata cukup keras untuk ditangkap alat perekam. Bahasa Inggris dengan sedikit aksen. Luigi langsung menelepon Whitaker dan melaporkan mereka mungkin dari Israel

Luigi benar. Kedua agen tersebut diberi instruksi oleh Efraim untuk meninggalkan apartemen dan mengambil posisi lain.

Ketika mereka pergi, Luigi memutuskan untuk mengirim Krater ke Terminal bus dan Zellman ke stasiun kereta. Tanpa paspor, Marco tidak akan bisa membeli tiket pesawat. Luigi mengambil keputusan untuk tidak mengawasi bandara. Namun, seperti yang dikatakannya pada Whitaker, kalau sasaran mereka entah bagaimana mampu mendapatkan Ponsel/PC canggih yang harganya sekitar seribu dolar, barangkali ia juga bisa mendapatkan paspor pada pukul tiga dini hari whitaker berteriak-teriak di Milano,luigi yg tidak bisa balas berteriak untuk alasan-alasan keamanan hanya bisa menyumpah-nyumpah, yg dilakukanya dalam

bahasa Inggris dan Italia, dan mempertahankan diri

dengan kedua bahasa itu.

"Kau kehilangan dia, sialan.'" umpat Whitaker.

"Belum!"

"Ia sudah mati!"

Luigi menutup teleponnya lagi, untuk ketiga kalinya dini hari itu.

Kidon itu undur diri pada sekitar pukul 03.30. Mereka akan beristirahat selama beberapa jam, lalu membuat rencana untuk keesokan harinya.

Ia duduk di samping gelandangan pemabuk di bangku taman, di Via deh" Indipendenza, tidak jauh dari terminal bus. Gelandangan itu memegangi sebotol cairan merah jambu yang dinikmatinya hampir semalaman, dan setiap lima menit ia berhasil mengangkat kepala dan menggumamkan sesuatu pada Marco yang duduk tak sampai dua meter jaraknya. Marco balas bergumam, dan apa pun yang ia katakan sepertinya membuat si gelandangan senang. Dua rekannya sudah tak sadarkan diri dan meringkuk bersama di dekat mereka, seperti dua mayat serdadu di bawah tenda. Marco tidak merasa terlalu aman bersama mereka, tapi ia punya masalah-masalah lain yang lebih serius.

Beberapa orang mondar-mandir di depan terminal bus. Sekitar pukul setengah enam, aktivitas

meningkat ketika segerombol orang yang tampak seperti kaum Gipsi datang berbondong-bondong, t semua berbicara bersamaan dengan suara keras, tampak gembira bisa turun dari bus setelah perjalanan ¦ panjang dari suatu tempat. Lebih banyak lagi penumpang berdatangan, dan Marco memutuskan sudah saatnya ia meninggalkan si gelandangan pemabuk. Ia masuk ke terminal di belakang sepasang pria dan wanita serta anak mereka, lalu mengikuti mereka menuju loket penjualan tiket, mendengarkan dengan saksama ketika mereka membeli tiket ke Parma. Ia melakukan hal yang sama, lalu cepat-cepat menuju kamar kecil dan sekali lagi bersembunyi di dalam bilik.

Krater duduk di warung yang buka sepanjang malam di dalam stasiun, minum kopi tidak enak sambil mengamati penumpang datang dan pergi dari balik surat kabar. Ia melihat Marco berjalan lewat. Ia memerhatikan tingginya, bentuk tubuhnya, usianya. Gaya berjalan itu tampak familier, walau lebih lambat. Marco Lazzeri yang telah dibayanginya selama beberapa minggu ini bisa berjalan secepat orang berlari kecil. Orang ini jalannya jauh lebih lambat, tapi ia toh memang tak punya tujuan. Untuk apa tergesa-gesa? Di jalanan, Lazzeri selalu berusaha melarikan diri dari kuntitan mereka, dan sering kali ia berhasil.

Namun wajah itu sangar berbeda. Warna ram-

butnya lebih gelap. Topi korduroi cokelat itu sudah hilang, namun itu toh cuma aksesori dan bisa disingkirkan dengan mudah. Kacamata kulit penyu itulah yang menarik perhatian Krater. Bingkai kacamata Armani yang bergaya milik Marco sangat cocok di wajahnya, sedikit mengubah penampilannya tanpa menarik perhatian. Kacamata bundar orang ini justru memanggil minta diperhatikan.

Kumis dan jenggot sudah hilang; pekerjaan gampang, sesuatu yang pasti akan ia lakukan. Kemejanya tidak pernah Krater lihat sebelumnya, padahal ia ada di apartemen Marco bersama Luigi ketika mereka menyapu apartemen dan memerhatikan setiap potong pakaiannya. Jins pudar itu cukup umum, dan Marco pernah membeli jins semacam itu. Namun jaket sport biru tua dengan tambalan kulit di siku yang sudah kusam, serta koper kerja yang sangat bagus buatannya, menahan Krater tetap di tempat duduknya. Jaket itu jelas sudah panjang usianya, dan mustahil Marco bisa mendapatkannya. Lengannya agak kependekan, tapi itu bukan sesuatu yang aneh. Koper itu terbuat dari kulit yang bagus. Marco mungkin bisa mendapatkan uang dan membeli smartphone, tapi untuk apa ia menghambur-hamburkan uang untuk membeli koper mahal? Tasnya yang terakhir, tas Silvio biru tua yang menjadi miliknya sampai sekitar enam belas jam lalu ketika Krater men-

\ jurinya dalam kehebohan di Carre Atene, harganya

t cuma enam puluh euro.9

Krater mengawasinya sampai ia berbelok dan hilang dari pandangan. Bisa jadi—tidak lebih dari sekadar kemungkinan. Ia menghirup kopinya dan selama beberapa menit merenungkan pria yang baru saja dilihatnya.

Marco berdiri di dalam bilik dengan jinsnya teronggok lepas di sekitar pergelangan kaki, merasa amat tolol, tapi samaran yang bagus jauh lebih penting saat ini. Pintu terbuka. Ada empat urinoar pada dinding di sebelah kiri pintu, di seberangnya terdapat enam wastafel, dan di sebelahnya ada empat bilik. Tiga bilik yang lain kosong. Tidak banyak kegiatan pagi itu. Marco memasang relinga tajam-tajam, menunggu suara orang melepas hajat—bunyi ritsleting, denting gesper ikat pinggang desah lega yang biasa dilakukan kaum pria saat kencing, suara gemercik urine.

Tidak ada suara apa pun. Tidak terdengar sesuatu dari wastafel, tidak ada orang yang sedang mencuci tangan. Pintu ketiga bilik di sebelahnya tidak terbuka. Mungkin itu cuma petugas kebersihan yang sedang memeriksa, dan melakukannya tanpa

SU Di depan wastafel, Krater membungkuk serendah mungkin dan melihat jins yang teronggok di pergelangan kaki di dalam bilik paling ujung. Di

sebelah jins itu terdapat koper bagus tadi. Pria itu

sedang melakukan urusannya dan tidak terburu-buru.

Bus berikut berangkat pukul enam menuju Parma, setelah itu ada keberangkatan pukul 06.20 menuju Florence. Krater segera menghampiri loket dan membeli tiket untuk kedua tujuan tersebut. Si petugas memandangnya aneh, tapi Krater tidak ambil pusing. Ia kembali ke kamar kecil. Pria di dalam bilik paling ujung itu masih ada di sana.

Krater keluar dan menelepon Luigi. Ia memberikan deskripsi orang yang bersangkutan, dan menjelaskan sepertinya ia tidak terburu-buru meninggalkan kamar kecil.

Tempat terbaik untuk bersembunyi," komentar Luigi.

"Aku juga sering melakukannya." "Menurutmu itu Marco?" "Entahlah. Kalau ya, samarannya sangat bagus." Luigi yang terkaget-kaget dengan ditemukannya smartphone, uang tunai empat ratus dolar Amerika, dan pelarian Marco, kini tidak mau ambil risiko. "Buntuti dia," perintahnya.

Pada pukul 05.55, Marco mengenakan jitunya kembali, mengguyur toilet, meraih koper, dan menghampiri bus. Di pelataran, Krater sudah menunggu, dengan tak acuh makan apel dari satu tangan dan memegang koran dengan tangan yang lain. Sewaktu

Marco mendekati bus yang menuju Parma, Krater

pun melakukan hal yang sama.

Sepertiga kursi yang tersedia masih kosong. Marco mengambil kursi di sisi kiri, di bagian [tengah, dekat jendela. Kratet membuang muk! ketib mdewatinya, lalu duduk empat baris di belakangnya.

Perhentian pertama adalah Modena, tiga puluh menit kemudian. Sewaktu mereka memasuki kota, Marco memutuskan untuk melihat-lihat wajah di belakangnya. Ia pun berdiri dan berjalan ke bagian belakang, ke kamar kecil, dan melirik sambil lalu ke wajah-wajah para pria.

Ketika ia sudah terkunci di dalam kamar kecil, dipejamkannya matanya dan ia berkata pada diri sendiri, "Ya, aku pernah melihat wajah itu."

Tak sampai 24 jam sebelumnya, di Caffe Atene, beberapa menit sebelum lampu padam. Wajah [ itu terlihat di cermin panjang yang terpajang di dinding, di dekat gantungan mantel tua, di atas meja-meja. Wajah itu duduk tak jauh, di belakang-nya, bersama pria lain. ; .

Wajah itu tidak asing. Bahkan mungkin ia pernah melihatnya disusatu tempat di Bologna.

Marco kembali ke kursinya ketika bis mulai melambat dan memasuki terminal,cepat pikir,bung

ancamannya berkali-kaJi pada diri sendiri, tapi jaga kepalamu tetap dingin. Jangan panik. Mereka sudah menguntitmu keluar dari Bologna, tapi kau tidak boleh membiarkan mereka mengikutimu keluar dari negara ini.

Ketika bus berhenti, sopir mengumumkan mereka sudah riba di Modena. Perhentian singkat, berangkat lagi dalam lima belas menit. Empat penumpang terhuyung-huyung menyusuri gang dan turun dari bus. Yang lain tetap di tempat, kebanyakan tertidur. Marco memejamkan mata dan membiarkan kepalanya meneleng ke samping, ke arah jendela, tertidur lelap. Semenit berlalu dan dua penduduk setempat naik, dengan mata membelalak dan membawa tas-tas kain yang berat.

Sewaktu sopir kembali dan menempatkan diri di belakang kemudi, mendadak Marco bergeser keluar dari tempat duduknya, merayap cepat di sepanjang gang dan melompat turun dari bus tepat pada saat pintu sedang menutup. Ia bergegas masuk ke terminal, kemudian berbaiik dan melihat bus itu sedang mundur. Pengejarnya masih berada di atas bus.

Reaksi pertama Krater adalah cepat turun dari bus, mungkin berdebat sedikit dengan sopir, tapi toh tak ada sopir yang mau berjuang mati-matian untuk mencegah penumpang turun. Ia menahan diri, karena Marco jelas-jelas tahu ia sedang

dibuntuti. Pelariannya pada detik ter masukan kecurigaan Krater. Berarti memang benar R itu tadi Marco, yang berlari seperti hewan terjuka.

Masalahnya, saat ini Marco bebas di Modena, ': sedangkan Krater tidak. Bus itu berbelok ke jalan lain, lalu berhenti di lampu merah. Krater segera menghampiri sopir, memegangi perutnya, memohon diperbolehkan rurun sebelum ia muntah ke segala penjuru. Pintu otomatis langsung terbuka, Krater melompat turun dan berlari kembali ke terminal.

Marco tidak membuang-buang waktu. Begini bus itu hilang dari pandangan, ia bergegas ke halaman terminal, tempat tiga taksi sedang menunggu. Ia naik ke kabin belakang taksi pertama dan berkata, "Bisakah kau mengantarku ke Milano?" Bahasa Italia-nya sangat bagus. "Milano?" "Si, Milano."

"£ molto caro!" Mahal sekali.

"Quanto?"

"Duecente euro." Dua ratus euro.

"Andiamo."

Sesudah satu jam menjelajahi terminal bus Modena dan dua jalan di sampingnya, Krater menelepon Luigi untuk menyampaikan berita yang tidak bagus, tapi juga "dak buruk sama sekaii. Ia kehilangan

orang yang dibuntutinya, tapi pelarian mendadak ku membuktikan bahwa pria itu memang Marc

Reaksi Luigi campur aduk. Ia frustrasi karena Krater bisa dikelabui seorang amatir. Ia terkesan Marco berbasil mengubah penampilannya dengan efektif dan lolos dari kejaran sekelompok kecil pembunuh. Dan ia geram pada Whitaker dan orang-orang goblok di Washington yang terus-menerus mengubah rencana dan sekarang menciptakan bencana yang pastilah kesalahannya akan ditimpakan kepada Luigi.

Ia menelepon Whitaker, berteriak dan menyumpah-nyumpah lagi, lalu segera menuju stasiun kereta bersama Zellman dan dua agen lain. Mereka akan bergabung dengan Krater di Milano, dan di sana Whitaker sudah menjanjikan penjagaan ketat dengan seluruh tenaga yang bisa dikerahkannya.

Ketika meninggalkan Bologna menumpang Eurostar, Luigi mendapat gagasan hebat, yang tidak bisa dilontarkannya. Bagaimana kalau mereka memberitahu pihak Israel dan Cina bahwa Backman terakhir kali terlihat di Modena, ke arah barat menuju Parma, dan bisa jadi tujuan akhirnya Milano? Ketimbang Langley, merekalah yang l«jf menginginkan Backman. Dan jelas mereka lebih mampu menemukannya. ,

TaPl Perintah tetap perintah, walaupun perintah itu berubah-ubah.

banyak jalan menuju Milano.

488

29

Taksi itu berhenti satu blok dari stasiun kereta. utama Milano. Marco membayar si sopir, berterima kasih sekali lagi, mendoakan ia selamat kembali ke Modena, lalu berjalan melewati belasan taksi lain yang sedang menunggu penumpang. Di dalam sta-s'un raksasa itu, ia mengikuti arus orang banyak, naik eskalator, memasuki kekacauan peron yang terkendali, tempat terdapat belasan jalur rel. Ia menemukan papan pengumuman keberangkatan dan mempelajari pilihan-pilihannya. Ada kereta menuju Stuttgart yang berangkat empat kali sehari, dan perhentianya ketujuh adalah Zurich,ia mengambil jadwal keberangkatan,membeli brosur panduan dan peta kota yg murah,lalu menemukan meja kosong dikafe diantara deretan toko,waktu tidak boleh di buang buang,tapi ia

perlu membuat rencana. Ia memesan dua esprtsso dan pastri, sementara matanya terus mengamati kerumunan. Ia menyukai kerumunan, gerombolan orang yang datang dan pergi. Ada rasa aman dalam

keramaian.

Rencana pertamanya adalah berjalan-jalan, sekitar tiga puluh menit, menuju pusat kota. Entah di mana ia bisa mendapatkan toko pakaian murah dan mengganti semuanya—jaket, kemeja, celana panjang, sepatu. Mereka sudah melihatnya di Bologna. Ia tidak bisa meAgambiJ risiko lagi.

Di suaru tempat di pusat kota, dekat Piazza del Duomo, pastilah ada kafe Internet tempat ia bisa menggunakan komputer selama lima belas menit. Ia tidak terlalu percaya dengan kemampuannya duduk di depan mesin asing, menyalakannya, dan bukan saja meloloskan diri dari hutan belantara Internet, namun juga mengirim pesan kepada Neal. Saat itu pukul 10.15 di Milan, pukul 04.15 di Culpeper, Virginia. Neal akan memeriksa pesan pada pukul 07.50.

Ia harus berhasil mengirim e-maii entah bagaimana caranya. Ia tidak punya pilihan lain.

Rencana kedua adalah melarikan diri, yang tampak semakin bagus sementara ia mengamati ribuan orang naik dengan santai ke kereta-kereta yang akan menyebarkan mereka ke seluruh penjuru Eropa dalam beberapa jam. Beli tiket sekarang dan

keluar dari Milano serta Italia secepat mungkin. Warna rambutnya yang sudah berubah dan kacamata Giovanni serta jaket tua ala profesor tidak [mampu mengelabui mereka yang ada di Bologna. Kalau mereka sehebat itu, mereka tentu akan bisa menemukannya di mana pun.

Ia berkompromi dengan berjalan memutari blok tersebut. Udara segar selalu membantu, dan setelah empat blok darahnya mulai terpompa lagi. Seperti di Bologna, jalanan Milano menyebar keluar ke segala jurusan seperti sarang laba-laba Lalu lintas padat dan beberapa kali nyaris tidak bisa bergerak Ia menyukai lalu lintas tersebut, dan terurama ia menyukai trotoar yang penuh sesak dan menyediakan tempat persembunyian baginya.

Toko itu bernama Roberto's, toko pakaian pria yang terjepit di antara toko perhiasan dan toko roti. Dua etalasenya penuh pajangan pakaian yang bisa bertahan sekitar seminggu, yang sangat sesuai dengan kerangka waktu Marco. Penjaga toko yang berasal dari Timur Tengah itu bahasa Italia-nya lebih parah daripada Marco, tapi dengan fasih menuding dan menggumam, dan ia bertekad akan mengubah dandanan tamunya. Jaket biru tua itu diganti jaket cokelat tua. Baju barunya adalah sweter putih lengan pendek. Celana panjangnya dari wol berkualitas rendah warna biru tua gelap. Butuh waktu seminggu untuk permak, jadi Marco

bertanya apakah si penjaga toko mempunyai gunting. Dalam ruang ganti yang berbau lembap, ia mengukur sebisanya, lalu menggunting celana panjang itu sendui. Ketika ia keluar dengan kostumnya yang baru, si penjaga toko melihat ujung celana yang bergerigi dan nyaris menangis.

Semua sepatu yang dicoba Marco bisa membuatnya lumpuh sebelum tiba di stasiun kereta, jadi ia tetap mengenakan sepatu botnya sementara ini. Barang terbaik yang dibelinya adalah topi anyaman yang dibeli Marco karena ia melihatnya sebelum memasuki toko itu.

Pada saat ini, peduli apa ia dengan soal mode?

Keseluruhan pakaian baru itu memaksanya mengeluarkan uang hampir empat ratus euro, yang dengan berat hati dibayarkannya, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia berusaha menukarnya dengan koper Giovanni, tapi si penjaga toko terlalu sedih dengan celana panjang yang dicincang tadi. Ia hampir rak sanggup mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal dengan lemah. Marco keluar dengan jaket biru, jins pudar, dan kemeja lamanya terlipat dalam tas plastik merah, sesuatu yang berbeda untuk dibawa-bawa.

Ia berjalan beberapa menit dan melihat toko sepatu. Ia membeli sepatu yang mirip dengan sepatu boling yang sudah dimodifikasi, tak ragu lagi sepatu paling jelek di toko yang bagus itu. Warnanya

hitam dengan garis merah keunguan, semoga dibuat dengan mementingkan segi kenyamanan, bukan penampilan. Ia membayar 150 euro, hanya karena sepatu itu sudah banyak dicoba. Setelah berjalan dua blok, barulah ia mampu mengerahkan keberanian untuk menunduk dan melihatnya.

Luigi mendapat penguntit ketika keluar dari Bologna. Pemuda yang mengendarai skuter itu melihatnya keluar dari aparremen di sebelah apar-remen Backman, dan tindak-tanduknyalah yang menarik perhatian. Ia berlari, semakin cepar seiring setiap langkah. Tidak ada orang yang berlari di bawah naungan Via Fondazza. Skuter itu menunggu sampai Luigi berhenti dan segera masuk ke dalam Fiat merah. Ia mengemudi beberapa blok, lalu melambar sedikit untuk memberi kesempatan pria lain melompat naik. Mereka melesat dengan kecepatan penuh, tapi dalam lalu lintas kota, skuter itu tidak mendapat kesulitan mengikutinya. Ketika mereka memasuki stasiun kereta dan parkir di tempat terlarang, pemuda berskuter itu melihat semuanya dan melapor lewat radio pada Efraim.

Dalam lima belas menit, dua agen Mossad yang mengenakan seragam polisi lalu lintas membobol apartemen Luigi, menyiagakan alarm-alarm— beberapa tak bersuara, beberapa hampir

493

rak terdengar. Sementara tiga agen lain menunggu di jalan, sebagai perlindungan, tiga agen di dalam menendang pintu dapur dan menemukan koleksi peralatan pengintaian elektronik yang menakjubkan.

Pada saat Luigi, Zellman, dan agen ketiga naik ke Euros tar yang menuju Milano, si pemuda ber-skuter juga sudah membeli tiket. Namanya Paul, anggota kidon termuda dan paling fasih berbahasa Italia. Di balik gaya rambut dan wajah kekanak-kanakan itu, ia adalah veteran berusia 26 tahun yang sudah mencatatkan belasan pembunuhan. Ketika ia melapor lewat radio bahwa ia sudah berada atas di kereta yang bergerak, dua agen lain memasuki apartemen Luigi dan membantu membedah peralatan tersebut. Namun satu alarm tidak bisa dimatikan. Deringnya yang konstan menembus tembok-tembok dan berhasil menarik perhatian beberapa retangga di jalan tersebut.

Sepuluh menit kemudian, Efraim menarik anak-anak buahnya yang membobol apartemen. Agen-agen tersebut menyebar, lalu bergabung kembali di salah satu rumah persembunyian mereka. Mereka belum dapat memastikan siapa Luigi sebenarnya atau untuk siapa ia bekerja, tapi tak diragukan lagi ia telah memata-matai Backman sepanjang hari dan malam.

Ketika jam-jam berlalu tanpa tanda-tanda keber-Laan Backman, mereka mulai yakin Backman sudah kabur. Dapatkah Luigi membawa mereka

padanya? I

I Di pusat kota Milano, di Piazza del Duomo, Marco melongo memandangi katedral raksasa bergaya ' Gotik yang hanya membutuhkan waktu tiga ratus tahun untuk selesai dibangun. Ia berjalan sepanjang Galleria Vittorio Emanuele, koridor berkubah kaca mengagumkan yang terkenal di Milano. Dengan deretan kafe dan toko buku, galeri itu adalah pusat kehidupan kota, tempat pertemuan yang paling populer. Dengan temperatur mencapai lima belas derajat, Marco makan sandwich dan minum cola di luar, burung-burung merpati merubung setiap remah yang tercecer. Ia memandangi seorang Milanesi tua yang berjalan-jalan di galeri, dua wanita saling mengaitkan lengan, para pria berhenti untuk mengobrol seolah waktu bukan sesuatu yang relevan. Betapa beruntungnya, pikir Marco.

Apakah sebaiknya ia pergi saat itu juga, atau diam di sini dulu Sehari atau dua hari? Irulah pertanyaan yang paling mendesak Di kota yang padat dengan empat juta penduduk ia bisa menghilang selama mungkin. Ia bisa membeli peta,

mempelajari jalan jalanya, menghabiskan berjam-mempeiajan

jam bersembunyi di kamar dan berjam-jam menjelajahi gang-gang kecil.

Tapi anjing-anjing pemburu di belakangnya akan mendapat kesempatan mengumpulkan kekuatan.

Apakah ia harus pergi sekarang, saat mereka sedang kewalahan dan menggaruk-garuk kepala?

Ya, ia memutuskan. Ia membayar makanannya dan melirik sepatu bolingnya. Memang nyaman, rapi ia sudah tak sabar ingin segera membakarnya. Di dalam bus kota, ia melihat iklan kafe Internet di Via VerrL Sepuluh menit kemudian, ia memasuki tempat itu. Papan di dinding mencantumkan harga sewanya—sepuluh euro per jam, minimum tiga puluh menit. Ia memesan jus jeruk dan membayar untuk setengah jam. Petugas jaga memberi isyarat ke arah meja dengan beberapa komputer. Tiga di antara delapan komputer yang tersedia digunakan oleh orang-orang yang tahu benar apa yang mereka lakukan. Marco sudah merasa tersesat.

Namun dipasangnya tampang sok tahu. Ia duduk, meraih keyboard, menatap monitor, dan ingin berdoa, tapi nekat terjun seolah sudah bertahun-tahun melakukannya. Ternyata mudah saja; ia masuk ke situs KwyteMail, mengetikkan user name, 'Grinch456", lalu password-nya, "post hoc ergo Fopter hoc", menunggu sepuluh detik, dan mun-cuUah pesan dari Neal:

Marco: Mikel Van Thiessen masih benam ! Ehineland Bank, sekarang menjadi wakil direktur

pelayanan klien. Apa lagi? Grinch.

Tepat pukul 07.50 EST, Marco mengetik pesan:

Grinch: Ini Marco—aku ada di sini, langsung.

Kau ada di sana?

Ia menyedot jus jeruknya dan menatap layar monitor. Ayo, baby, jangan sampai gagal. Ia menyedot lagi. Wanita di meja seberang berbicara kepada monitornya. Lalu muncul pesan:

Aku ada di sini. Ada apa?

Marco mengetik: Mereka mencuri Ankyo 850-ku. Ada kemungkinan besar orang-orang itu mendapatkannya dan membongkarnya. Bisakah mereka mengetahui keterlibatanmu?

Neal: Hanya kalau mereka punya user name dan passwordnya. Mereka memilikinya?

Marco: Tidak, sudah kumusnahkan. Mungkinkah mereka mengakali password-nya?

Neal: Dengan KwyteMail tidak bisa. KwyteMail sepenuhnya aman dan tersandi. Kalau mereka hanya mendapatkan PC-nya, tak ada gunanya.

Marco: Jadi kita benar-benar aman sekarang?

Neal: Ya, sungguh. Tapi apa yang kaugunakan

sekarang?

Marco: Aku ada di kafe Internet, menyewa komputer, seperti hacker sungguhan.

Neal: Kau mau smartphone Ankyo baru?

Marco: Tidak, sekarang tidak perlu, mungkin nanti. Begini. Temuilah Carl Pratt. Aku tahu kau tidak menyukainya, tapi saat ini aku membutuhkan dia. Pratt sangat dekat dengan mantan senator Ira Clayburn dari North Carolina. Clay burn mengelapai Komite Intelijen Senat selama bertahun-tahun. Aku membutuhkan Clayburn sekarang. Hubungi dia lewat Pratt.

Neal: Di mana Clayburn berada?

Marco: Aku tidak tahu—aku hanya berharap ia masih hidup. Ia berasal dari Outer Banks North Carolina, tempat terpencil yang indah. Ia pensiun setahun setelah aku masuk kamp federal. Pratt bisa menemukannya.

Neal: Tentu, aku akan melakukannya begitu bisa menyelinap kabur.

Marco: Berhati-hatilah. Awasi belakangmu. ¦ Neal: Kau baik-baik saja?

Marco: Dalam pelarian. Aku meninggalkan

Bologna tadi pagi. Aku akan berusaha online pada

saat yang sama besok. Oke?

Neal: Bersembunyilah terus. Aku akan ada di sini besok.

Marco melakukan sign off dengan tampang bangga. Misi terlaksana. Ternyata gampang saja. Selamat datang di dunia peralatan teknologi canggih. Ia memastikan ia keluar sepenuhnya dari KwyteMail, lalu menghabiskan jus jeruknya, dan keluar dari kafe. Dalam perjalanan ke stasiun kereta, ia mampir di toko kulit, tempat ia berhasil menukar koper Giovanni yang bagus dengan koper kulit hitam mengilap berkualitas lebih rendah; lalu di toko perhiasan murah tempat ia membayar delapan belas euro untuk arloji bundar besar dengan tali merah manyala, sesuatu yang akan mengalihkan perhatian orang yang sedang mencari Marco Lazzeri yang berasal dari Bologna; kemudian di toko buku bekas, dengan uang dua euro ia membeli buku hardcover lusuh berisi puisi-puisi Czeslaw Milosz, dalam bahasa Polandia tentu saja, untuk mengacaukan anjing-anjing pemburu itu; dan akhirnya, di toko aksesori bekas ia membeli kacamata gelap dan tongkat kayu, yang langsung digunakannya begitu ia keluar di trotoar.

Tongkat itu mengingatkannya pada Francesca, juga memperlambat langkahnya, mengubah gaya berjalannya. Dengan waktu tersisa, ia terpincang-pincang menuju Milano dan membeli tiket ke Stuttgart.

Whitaker mendapat pesan mendesak dari Langley bahwa rumah persembunyian Luigi telah dibobol orang, tapi tak ada apa pun yang bisa dilakukannya. Semua agen dari Bologna sekarang ada di Milano, geragapan dengan panik. Dua agen ada di stasiun kereta, mencari jarum di antara timbunan jerami. Dua di Bandara Malpensa, 43 kilometer jauhnya dari pusat kota. Dua ada di Bandara Linate, yang lebih dekat dan terutama melayani penerbangan Eropa. Luigi ada di terminal bus pusat, masih berdebat di ponsel bahwa bisa saja Matco tidak berada di Milano. Hanya karena ia naik bus dari Bologna ke Modena, lalu ke arah barat laut, bukan berarti ia akan pergi ke Milano. Namun kredibilitas Luigi saat itu sudah buruk, paling tidak dalam penilaian Whitaker, jadi ia dibuang ke terminal bus untuk mengamati ribuan orang datang dan pergi.

Krater yang berada paling dekat dengan jarum itu.

Marco membeli tiket kelas saru seharga enam puluh euro, dengan harapan bisa menghindarkan dirinya terekspos di kelas ekonomi. Untuk perjalanan ke utara, gerbong kelas satu ada di paling ujung, dan Marco naik pada pukul 17.30, 45 menit sebelum jam keberangkatan. Ia duduk di kursinya, menyembunyikan wajahnya sebisa mungkin di balik kacamata dan topi anyaman, membuka

buku puisi Polandia, dan memandang ke arah peron tempat para penumpang melewati keretanya. Beberapa tak sampai dua meter jauhnya, semua

terbutu-buru.

Kecuali satu orang. Pria yang di bus itu muncul lagi; wajah yang terlihat di Cafte Atene; mungkin si tangan panjang yang mencopet tas Silvio birunya; anjing pemburu yang terlambat turun dari bus di Modena sekitar sebelas jam lalu. Ia berjalan namun tanpa tujuan. Matanya disipitkan, keningnya berkerut dalam. Untuk ukuran profesional, ia terlalu mencolok, pikir Giovanni Ferro, yang sayangnya sekarang mengetahui lebih banyak daripada yang ia inginkan tentang cara bersembunyi dan menghilangkan jejak.

Krater sudah diberitahu bahwa Marco mungkin akan menuju selatan ke Roma, tempat ia memiliki lebih banyak pilihan, atau ke utara ke Swiss, Jerman, Prancis—ke mana pun tujuan yang dipilihnya di seluruh benua. Sudah lima jam Krater mondar-mandir di dua belas peron tersebut, mengamati kereta datang dan pergi, bergabung dengan kerumunan, sama sekali tidak memedulikan otang-otang yang turun tapi memberikan perhatian besar pada siapa pun yang naik kereta. Setiap jaket bitu dengan segala nuansa dan model menarik perhatiannya, tapi ia belum melihat yang di sikunya terdapat tambalan kulit yang sudah lusuh.

501

Jaket itu berada di dalam koper hitam m ii yang terjepit di antara kaki Marco, di kursi no tujuh puluh di gerbong kelas satu menuju Stuttgart Marco mengawasi Krater mondar-mandir di peron mengamati dengan saksama kereta yang tujuan akhirnya Stuttgart. Di tangannya ia memegang sesuatu yang mirip tiket, dan ketika ia lenyap dari pandangan, Marco bersumpah ia melihat orang itu naik ke kereta.

Marco menahan dorongan untuk melompat turun. Pintu kabinnya terbuka, dan Madame masuk

30

begitu sudah dipastikan bahwa Backman menghilang, dan bukannya mati di tangan orang lain, lima jam penuh kepanikan berlalu sebelum ]ulia Javier menemukan informasi yang sebenarnya tak jauh-jauh darinya. Informasi tersebut ditemukan di arsip yang disimpan dalam tempat terkunci di kantor direktur, dan dulunya dijaga oleh Teddy Maynard sendiri. Kalaupun pernah melihat informasi tersebut, Julia tidak bisa mengingatnya. Dan, dalam kekacauan itu, tentu saja ia tidak akan mengakui apa pun. „„.„

Informasi tersebut datangnya dengan eg-, dari FBI beberapa ^.^IZnZZ Backman di bawah penyelidikan. ^ ^ keuangannya diperiksa dengan sang^ ^ menipu ada rumor santer yang men&a

seorang klien dan mengubur kekayaannya. Jadi di mana uang itu? Demi mencarinya, FBI me-'j nyusun potongan-potongan sejarah perjalanan 1 Backman ketika mendadak ia mengaku bersalah i dan dijebloskan ke penjara. Pengakuan bersalah itu tidak seketika memetieskan kasus Backman, tapi yang jelas mengangkat beban yang selama ] itu menekannya. Seiring waktu, riset perjalanan Backman itu pun lengkap, dan akhirnya diberikan kepada Langley.

Pada bulan sebelum Backman dikenai dakwaan, ditangkap, dan dibebaskan dengan pengaturan jaminan yang sangat ketat, ia melakukan dua kali perjalanan singkat ke Eropa. Yang pertama, ia naik penerbangan kelas bisnis Air France bersama sekretaris favoritnya ke Paris, tempat mereka bermain-main dan melihat-lihat selama beberapa hari. Belakangan wanita itu memberitahu para penyelidik bahwa Backman melewatkan satu hari penuh di Berlin untuk urusan bisnis singkat, tapi kembali pada waktunya untuk makan malam di restoran Alain Ducasse. Wanita itu tidak pergi bersamanya.

Tidak ada catatan Backman menggunakan penerbangan komersial ke Berlin, atau ke mana pun di «luruh Eropa, selama minggu itu. Pihak maskapai pasti akan meminta paspor, dan FBI yakin Backman tidak menggunakan paspornya. Perjalanan dengan kereta tidak membutuhkan paspor. Jenewa,

Bein> Lausanne, dan Zurich, semua berjarak empat jjm perjalanan kereta dari Paris.

perjalanan ke Eropa yang kedua berlangsung hanya dalam 72 jam, dari Dulles menuju Frankfurt dengan Lufthansa di kabin kelas satu, sekali lagi untuk urusan bisnis, walau tidak ada kontak bisnis yang ditemukan di sana. Backman membayar dua malam di hotel mewah di Frankfurt, dan tidak ada bukti bahwa ia pernah tidur di tempat lain. Seperti Paris, Frankfurt hanya beberapa jam perjalanan kereta jauhnya dari pusat-pusat perbankan Swiss.

Sewaktu Julia Javier akhirnya menemukan arsip tersebut dan membaca laporannya, ia langsung menelepon Whitaker dan memberitahu, "Ia menuju Swiss."

Barang bawaan Madame cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan lima anggota keluarga yang kaya. Portir yang kewalahan membantunya menaikkan koper-koper yang berat itu ke keteta dan ke dalam gerbong kelas satu, yang ia penuhi dengan dirinya, barang-barang miliknya, dan bau parfumnya. Di dalam kabin itu ada enam tempat duduk, paling sedikit empat di antaranya dikuasainya sendiri. Ia duduk di seberang Marco dan menggoyang-goyang bokongnya yang penuh seolah hendak melonggarkannya lagi. Ia melirik Marco

yang menciut di dekat jendela dan dengan sensual \ mendesahkan "Bonsoir". Orang Prancis, pikir 1 Marco, dan karena sepertinya tidak pas menjawab j dengan bahasa Italia, ia menanggapi dengan "Halo" I yang biasa. "Ah, Amerika."

Dengan segala bahasa, identitas, nama, budaya, latar belakang, kebohongan, kebohongan, dan ke- I bohongan lain terpilin-pilin kusut, Marco berhasil j berkata tanpa keyakinan sedikit pun, "Bukan, j Kanada."

"Ah, ya," ujar wanita itu, masih mengatur tas- i tasnya dan menempatkan diri dengan nyaman. Jelas bahwa Amerika lebih disukai ketimbang Kanada. Madame adalah wanita bertubuh subur berusia enam puluh tahun, mengenakan gaun merah ketat, betisnya tebal, dan sepatu pantofel hitamnya tampak sudah melakukan perjalanan jutaan mil jauhnya. Matanya yang dirias tebal kelihatan sembap, dan tak lama kemudian Marco tahu sebabnya. Jauh sebelum kereta mulai bergerak, wanita itu mengeluarkan termos besar, membuka tutupnya yang bisa dijadikan cangkir, dan menuangkan cairan yang tampak ampuh, la menenggaknya sekaligus, lalu tersenyum pada Marco dan menawari, "Mau minum?"

"Tidak, terima kasih." "Ini brendi yang bagus sekali."

"Tidak, terima kasih."

"Ya sudah." Ia menuang lagi, menenggaknya sampai habis, lalu menyimpan termos tersebut.

Perjalanan yang panjang ini akan semakin panjang.

"Kau mau ke mana?" tanya wanita itu dalam bahasa Inggris yang sangat bagus. "Stuttgart. Anda?"

"Stuttgart, lalu ke Strasbourg. Tidak bisa tinggal lama-lama di Stuttgart, kau tahu." Hidungnya berkerut seolah seluruh kota itu terendam dalam selokan bau.

"Aku suka Stuttgart," ujar Marco, sekadar ingin melihat hidung itu tidak berkerut lagi.

"Oh, well!' Wanita itu sekarang memusatkan perhatian pada sepatunya. Ia menendang lepas keduanya, tanpa peduli ke mana mereka akan mendarat. Marco ancang-ancang akan diserang bau kaki, tapi kemudian menyadari bau apa pun tidak akan sanggup menandingi aroma parfum murahan itu.

Untuk mempertahankan diri, ia pura-pura terkantuk-kantuk. Wanita itu mengabaikannya selama beberapa menit, lalu bertanya keras-keras, "Kau bisa bahasa Polandia?" Ia menatap buku puisi Marco.

Kepala Marco tersentak seolah ia baru saja terjaga. "Tidak, tidak juga. Aku sedang belajar. Keluargaku dari Polandia." Marco menahan napas,

setengah berharap wanita itu akan membanjirinya» dengan bahasa Polandia yang baik dan benar, lalu j menenggelamkannya.

"Begitu," ujar wanita itu, sepertinya tak setuju. Pada pukul 18.15 tepat, seorang kondektur yang \ tak terlihat meniup peluit dan kereta pun mulai 1 beranjak. Untung saja, tidak ada penumpang lain ] yang masuk ke kabin Madame. Beberapa orang j menyusuri gang dan berhenti, melirik ke dalam, \ melihat kesesakan itu, lalu berjalan terus mencari j kabin lain yang lebih lapang.

Marco mengamati peron dengan saksama ketika mereka mulai bergerak. Pria yang di bus itu tidak terlihat di mana pun.

Madame menikmati brendinya sampai mulai mendengkur. Ia dibangunkan kondektur yang melubangi tiket mereka. Seorang portir lewat dengan kerera dorong penuh berisi minuman. Marco membeli bir dan menawarkannya pada rekan sekabinnya. Penawaran itu disambut dengan kemyitan hidung yang dahsyat, seolah Madame lebih memilih minum air kencing.

Perhentian pertama adalah Como/San Giovanni, perhentian dua menit dan tak seorang pun naik ke kereta. Lima menit kemudian mereka berhenti di Chiasso. Saat itu hampir gelap, dan Marco mem-pemmbangkan kabur lagi. Ia mempelajari jadwal 11 K P^tian lagi sebelum mereka

iiba di Zurich, satu di Italia dan tiga di Swiss. Ulayah negara mana yang lebih menguntungkan?

Ia tidak bisa mengambil risiko dibuntuti lagi sebiang. Kalau orang-orang itu ada di kereta, mereka sudah mengikutinya sejak Bologna, lalu Modena, dan Milano, dengan berbagai penyamaran. Mereka profesional, dan Marco tak sebanding dengan me-teka. Sambil menghirup birnya, Marco merasa seperti amatir yang payah.

Madame memandangi ujung celana pantalonnya yang tercincang. Kemudian Marco melihatnya melirik sepatu boling modifikasi itu, dan Marco sama sekali tidak menyalahkannya. Lalu jam tangan bertali merah menarik perhatian Madame. Mimik wajahnya menyatakan apa yang sudah jelas—ia tidak setuju dengan selera mode Marco yang rendah. Biasalah, orang Amerika, atau Kanada, atau dari mana pun dia. Mral

Marco melihat sekilas cahaya yang berkelip-kelip dari Danau Lugano. Mereka mehuk-liuk melalui wilayah sekitar danau itu, semakin menanjak. Swiss tidak jauh lagi.

Sesekali ada orang lewat di gang di luar bbin. Mereka menoleh, memandang melalui pintu kaca, lalu terus ke belakang, mencari kamar kecil. Madame menumpangkan kedua kakinp di kursi di depannya, tidak jauh dari Marco. Sam jam sesudah berangkat, ia menebarkan wadah, majalah,

dan pakaiannya di seluruh kabin. Marco takut me ninggalkan tempat duduknya.

Akhirnya keletihan menguasainya, dan Marco 1 jatuh tertidur. Ia terbangun karena keriuhan di stasiun Bellinzona, perhentian pertama di Swiss. | Seorang penumpang memasuki gerbong kelas satu j dan tidak bisa menemukan tempat. Ia membuka ¦ pintu kabin Madame, mengedarkan pandang, tidak menyukai yang dilihatnya, lalu keluar untuk memanggil kondektur. Mereka menemukan kursi untuknya di tempat lain. Madame nyaris tidak mendongak dari majalah mode yang dibacanya.

Perjalanan berikut satu jam empat puluh menit lamanya, dan ketika Madame kembali mengambil termos, Marco berkata, "Aku mau sedikit." Wanita itu tersenyum untuk pertama kalinya selama berjam-jam. Walau ia tidak keberatan minum sendiri, selalu lebih menyenangkan menikmati minuman bersama teman. Namun dua gelas kemudian, Marco kembali terangguk-angguk oleh kantuk.

Kereta tersentak-sentak ketika melambat di perhentian Arth-Goldau. Kepala Marco ikut tersentak, dan topinya jatuh. Madame mengawasinya Wm-lekat. Sewaktu Marco akhirnya berhasil membuka mau, wanita itu memberitahu, "Ada orani aneh yang udi memandangimu."

"Di mana?"

"Di mana? Ya di sini, tentu saja, di atas kereta Ia lewat paling tidak tiga kali. Berhenti di pintu, memandangimu dengan teliti, lalu menyelinap pergi."

Mungkin karena sepatuku, pikir Marco. Atau celana pantalonku. Arlojiku? Ia menggosok-gosok mata dan betlagak seolah itu sering terjadi. "Seperti apa tampangnya?" "Rambut pirang, sekitar tiga puluh lima, manis, jaket cokelat. Kau kenal dia?"

"Tidak, aku tidak kenal." Pria di bus di Modena itu rambutnya tidak pitang dan ia tidak mengenakan jaket cokelat, tapi hal-hal kecil itu tidak relevan sekarang. Marco sudah cukup ketakutan sehingga ingin mengubah rencananya. 2^

Zug tinggal 25 menit lagi, perhentian terakhir sebelum Zurich. Ia tidak bisa mengambil risiko membawa mereka ke Zurich. Sepuluh menit ke-I mudian, ia mengumumkan ia perlu ke kamar kecil. Di antata kursinya dan pintu tersebar segala 1 halangan milik Madame. Ketika melompat-lompat I mencari jalan, ia meletakkan koper dan tongkatnya 1 di kursi.

Ia melewati empat kabin, masing-masing berisi I sedikitnya tiga penumpang, tak seorang pun 1 tampak mencurigakan. Ia pergi ke kamar kecil, j menguncinya, dan menunggu sampai kereta mulai

melambat. Lalu kereta itu berhenti. Perhentian di Zug ini cuma dua menit, dan sejauh ini kereta 1 selalu tepat waktu. Satu menit ia biarkan berlalu, 1 lalu ia kembali ke kabin, membuka pintu, tidak 1 mengucapkan apa pun pada Madame, mengambil 1 koper dan tongkatnya, yang sudah disiapkannya se- j bagai senjata, dan berlari ke bagian belakang kereta, : lalu melompat ke peron.

Stasiun itu kecil, lebih tinggi daripada jalan di 1 bawah. Marco berlari menuruni tangga ke trotoar, i mendekati satu-satunya taksi dengan sopir yang i terlelap di belakang kemudi. "Ke hotel," katanya j mengagetkan si sopir, yang secara instingtif meraih kunci kontak. Ia menanyakan sesuatu dalam bahasa Jerman dan Marco mencoba bahasa Italia. "Aku mau ke hotel kecil. Aku belum memesan tempat."

"Tidak masalah," timpal sopir itu. Saat mereka berangkat, Marco mendongak dan melihat kereta itu bergerak. Ia melongok ke belakang, dan tak melihat seorang pun mengejarnya.

Perjalanan itu empat blok jauhnya, dan ketika mereka berhenti di depan bangunan berbentuk A di jalan kecil yang sunyi, sopir taksi berkata dalam bahasa Italia, "Hotel, ini sangat bagus."

tampaknya lumayan. Trims. Berapa lama perjalanan naik mobil ke Zurich?"

"Dua jam, kuang-lebih. Tergantung lalu lin-tas.

"Besok pagi, aku harus sampai di pusat kota Zurich pada pukul sembilan pagi. Bisakah kau mengantarku ke sana?"

Sopir itu ragu-ragu sejenak, benaknya sudah membayangkan uang tunai. "Barangkali," jawabnya. "Berapa ongkosnya?"

Sopir itu menggosok-gosok dagunya, lalu mengangkat bahu dan berkata, "Dua ratus euro." "Bagus. Kita berangkat dari sini pukul enam." "Enam, ya, aku akan ada di sini." Marco mengucapkan terima kasih lagi dan melihat taksi itu menjauh. Bel berdering ketika ia memasuki pintu depan hotel. Meja konter kecil itu kosong, tapi terdengar suara televisi tak jauh dari sana. Seotang remaja dengan mata mengantuk akhirnya muncul dan berusaha tersenyum. "Guten abend," sapanya.

"Paria inglese?" tanya Marco. Pemuda itu menggeleng, tidak. "Italiano?" "Sedikit."

"Aku juga bisa sedikit," kata Marco dalam bahasa Italia. "Aku mau menginap satu malam."

Petugas jaga itu memberikan formulir registrasi, dan berdasarkan ingatan, Marco mengisi nama yang ada di paspor, juga nomornya. Ia menulis alamat karangan di Bologna, dan nomor telepon palsu juga. Paspor itu ada di saku mantelnya, de-

kat jantungnya, dan walau enggan ia siap mengluarkannya.

Namun saat itu sudah larut dan sipetugas meja depan terpaksa kehilangan tontonan televisi Dengan kecerobohan yang tidak sesuai dengan karakter Swiss, ia berkata, juga dalam bahasa italia "Empat puluh dua euro," dan tidak menyebut-nyebut soal paspor.

Giovanni meletakkan uang di meja, dan pe tugas jaga itu memberinya kunci kamar nomor i 26. Dengan bahasa Italia yang bagus, Giovanni mengatur agar ia dibangunkan pada pukul lima pagi. Seolah baru teringat, ia menambahkan, "Sikat gigiku hilang. Apakah ada sikat gigi cadangan?"

Pemuda itu menarik laci dan mengambil sekotak penuh berbagai keperluan—sikat gigi, pasta gigi, alat cukur sekali pakai, krim cukur, aspirin, tampon, krim tangan, sisir, bahkan kondom. Giovanni , memilih beberapa di antaranya dan memberikan sepuluh euro.

Suite mewah di Ritz pun tidak akan lebih disyukuri daripada kamar nomor 26. Kecil, bersih, BE dengan kasur yang mantap, dan pintu yang lili dua kali untuk mengusir wajah yang telah

menghantuinya sejak dini hari. Ia mandi lama di

bawah pancuran, Lalu bercukur dan menggosok gigi

lama sekali.

Semakin ^legakan ketika ia menemukan rnini-

• ai bawah televisi. Ia makan sebungkus di lemari tomya ^ botol ked

biskuit. merayap ke balik selimut, mental-

wiski, * wbuhnya kelelahan. Tongkat itu

nf* tef „„sana di dekatnya. Konyol memang, j„ di atas ranjang, * t tidak bisa menahan diri.

31

Jauh di kedalaman penjara, ia memimpikan Zurich dengan sungai-sungainya yang biru, jalan-jalan yang bersih dan teduh, toko-toko yang modern, dan penduduknya yang elegan, semua bangga menjadi orang Swiss, semua mengerjakan pekerjaannya dengan kesungguhan yang menyenangkan. Di kehidupan lain, ia pernah naik trem listrik yang berdengung pelan bersama orang-orang itu menuju distrik keuangan. Dulu ia terlalu sibuk untuk sering bepergian, terlalu penting untuk meninggalkan urusan-urusan yang rawan di Washington, tapi Zuri adalah salah satu dari sedikit tempat yang Petuah dilihatnya. Kota itu sesuai dengannya: tldak turis dan lalu lintas, tidak bersedia

m^iskan waktunya memelototi katedral dan UI sertj memuja kurun waktu dua ratus

yang sudah berlalu- Sama sekali ^ seperti Ju Se8ala hal tentang Zurich adalah uar»g, mana-Len uang canggih yang pernah dikuasai Backman [ingga sempurna, kebalikan dari uang tunai yang Jiambil begitu saja.

Ia berada di atas trem itu lagi, yang dinaikinya di dekat stasiun kereta, dan sekarang bergerak dengan keceparan rerap di sepanjang BahnhorTstrasse, jalan utama pusat kota Zurich, kalaupun ada yang disebut demikian di sana. Saat itu hampir pukul sembilan pagi. Ia berada di antara gelombang terakhir para bankir muda yang berpakaian apik, menuju UBS dan Credit Suisse dan ribuan institusi yang tidak setenar itu namun sama-sama kaya. Setelan bernuansa gelap, kemeja berbagai warna rapi hanya sedikir warna putih, dasi mahal dengan simpul yang lebih tebal dan desain yang lebih sederhana., sepatu cokelat dengan tali, tak ada yang bet-tassel. Gayanya hanya berubah sedikit dalam kurun wakru enam tahun. Tetap konservatif, tapi dengan sentuhan aksen. Tidak segaya kaum profesional di kota asalnya, Bologna, tapi mereka cukup menarik. m„„u

Semua orang membaca sesuatu

arah. Marco pura pura asyik membaca newsweek tapi sesungguhnya ia sedang mengamati orang orang lainorang lain.

Tidak ada yang mengawasi dirinya. Tidak ada * yang tampak terganggu dengan sepatu bolingnya. Bahkan, ia sempat melihat sepatu semacam itu dikenakan seorang pemuda yang berpakaian santai I di dekat stasiun kereta. Topi jeraminya juga tidak menarik perhatian. Ujung pantalonnya sudah di- ' perbaiki seadanya setelah ia membeli seperangkat perlengkapan menjahit yang dibelinya di meja resepsionis hotel, lalu ia melewatkan setengah jam berusaha menjahit pantalonnya tanpa meneteskan darah. Harga pakaiannya hanya sepersekian dari setelan-setelan yang ada di sekitarnya, tapi peduli apa? Ia berhasil sampai di Zurich tanpa Luigi dan yang lain-lain, dan dengan sedikit keberuntungan Lagi ia akan lolos.

Di ParadepLatz, trem-trem bergulir dari arah timur dan barat, lalu berhenti. Gerbong-gerbongnya segera kosong sementara para bankir muda itu menyebar dalam gerombolan dan menuju gedung-gedung. Marco bergerak bersama kerumunan, topinya sudah ditinggalkan di bawah tempat duduk uem.

Tidak ada yang berubah dalam tujuh tahun. Paradeplatz masih sama—tempat terbuka yang dikelilingi toko-toko kecil dan kafe-kafe. Bank-bank di sekitarnya sudah berdiri selama ratusan tahun; sebagian mengumumkan namanya dengan neon, yang lain begitu tersembunyi hingga tak

•CV

bisa ditemukan. Dari balik kacamata hitamnya, •ia meresapi semua itu selama ia bisa, sambil terus menempel pada tiga pemuda yang membawa tas olahraga. Sepertinya mereka menuju Rhineiand Bank, di sisi timur. Ia mengikuti mereka masuk, ke lobi, tempat segala kesenangan dimulai.

Meja informasi itu pun tidak berubah tempat sejak tujuh tahun lalu; bahkan, wanita berdandanan rapi di belakangnya pun tampak tidak asing. "Saya ingin bertemu Mr. Mikel Van Thiessen," ujarnya sepelan mungkin. "Nama Anda?"

"Marco Lazzeri." Ia akan menggunakan nama "Joel Backman" nanti, di lantai atas, tapi ia ragu-ragu mengucapkannya di sini. Mudah-mudahan, e-mail Neal kepada Van Thiessen menyebutkan nama alias tersebut. Bankir itu sudah diminta tidak bepetgian ke luar kota, kalau memungkinkan, selama seminggu ini.

Wanita itu menelepon sekaligus mengetik-ngetik di keyboard-nyz. "Mohon tunggu sebentar, Mr. Lazzeri," ujarnya. "Anda tidak keberatan menunggu?"

"Tidak," sahutnya. Menunggu? Ia sudah memimpikan kejadian ini selama bertahun-tahun. Ia memilih tempat duduk, menyilangkan tungkai, melihat sepatunya, lalu menydipkan kakinya di bawah kursi, la yakin dirinya sedang diamati dari belasan

kamera, dan itu tidak menjadi masalah baginya. Barangkali mereka akan mengenali Backman duduk 1 di lobi, barangkali juga tidak. Ia hampir bisa membayangkan mereka di atas sana, memelototi monitor, menggaruk-garuk kepala, sambil berkata, "Entahlah, ia jauh lebih kurus, bahkan tirus."

"Dan rambutnya itu. Jelas-jelas usaha pengecatan rambut yang gagal."

Untuk membantu mereka, Joel melepas kacamata kulit penyu milik Giovanni.

Lima menit kemudian, seorang lelaki tipe satpam dengan wajah serius dan setelan jas yang kualitasnya jauh di bawah rata-rata mendekatinya entah dari mana dan berkata, "Mr. Lazzeri, Anda bersedia ikut saya?"

Mereka naik lift pribadi ke lantai tiga, tempat Marco dibawa masuk ke ruangan kecil dengan dinding-dinding tebal. Semua dinding memang tampak lebih tebal di Rhineland Bank. Dua petugas keamanan sudah menunggu. Salah satunya bahkan tersenyum, tapi yang lain tidak. Mereka meminta Marco meletakkan kedua tangannya di atas alat .pemindai sidik jari biometrik. Alat ini akan membandingkannya dengan sidik jari yang sudah diberikannya hampir tujuh tahun lalu, di tempat yang sama, dan bila keduanya cocok, akan terlihat lebih banyak senyuman, lalu ruangan yang lebih menyenangkan dan lobi yang lebih menyenangkan,

sCtta ada tawaran kopi atau jus. Apa pun yang ^da kehendaki, Mt. Backman.

Ia meminta jus jeruk karena ia belum sarapan, petugas-petugas keamanan tadi kembali ke gua mereka. Mr. Backman sekarang dilayani oleh Elke, salah satu asisten Mr. Van Thiessen yang bertubuh sintal. "Beliau akan keluar sebentar lagi," jelasnya. "Ia tidak mengharapkan Anda datang pagi ini."

Yah, memang agak sulit membuat janji ketika bu hatus bersembunyi di kamar kecil. Joel tersenyum pada asisten itu. Marco tinggal sejarah sekarang. Akhirnya ia diistirahatkan setelah pelarian selama dua bulan penuh. Marco telah banyak sekali membantunya, menjaganya tetap bernapas, mengajarinya bahasa Italia mendasar, berjalan bersamanya berkeliling Treviso dan Bologna, dan memperkenalkannya kepada Francesca, wanita yang takkan segera dilupakannya.

Namun Marco juga bisa membuatnya terbunuh, jadi ia meninggalkan Marco di lantai tiga Rhineland Bank, sembari memandangi rumit sepatu stiletto Elke dan menunggu kedatangan bosnya. Marco sudah lenyap, tak akan kembali lagi.

Kantor Mikel Van Thiessen dirancang untuk menghantam tamu-tamunya dengan pukulan hook kanan yang kuat. Dengan permadani Persia yang amat lebar. Dengan kursi dan sofa kulit. Dengan meja kayu mahoni kuno yang tidak akan muat

di dalam sel Rudley. Dengan rangkaian peralatan dektronik yang boleh digunakannya kalau ia mau. Ia menemui Joel di pintu kayu ek dan mereka berjabat tangan sepantasnya, tapi tidak seperti dua kawan lama. Mereka hanya pernah bertemu satu kali.

Kalau Joel kehilangan tiga puluh kilogram berat badannya sejak pertemuan terakhir mereka, Van Thiessen malah bertambah hampir tiga puluh kilogram. Ia juga tampak lebih tua dan kelabu, tidak sesegar dan setajam bankir-bankir muda yang dilihat Joel di trem. Van Thiessen membawa kliennya ke kursi-kursi kulit, sementara Elke dan asisten yang lain sibuk menyiapkan kopi dan kue-kue.

Ketika mereka tinggal berdua saja, dengan pintu tertutup rapat, Van Thiessen berkata, "Saya membaca banyak hal tentang Anda."

"Oh, begitu. Dan apa yang kaubaca?"

"Menyogok Presiden untuk imbalan kebebasan? Ayolah, Mr. Backman. Apakah memang semudah itu di sana?"

Joel tidak yakin orang ini bergurau atau tidak. Suasana hatinya sedang tidak bersemangat, dan ia tidak ingin bersilat lidah.

"Aku tidak menyogok siapa pun, kalau itu yang kaumaksud."

"Yah, yang jelas koran-koran penuh dengan spekulasi.» Nadanya lebih menuduh daripada main-mam. r

joel memutuskan untuk tidak membuang-buang ^aktu. "Kau percaya semua yang kaubaca di

koran?"

"Tentu saja tidak, Mt. Backman." "Aku datang kemari untuk tiga alasan. Aku mau akses ke kotak penyimpananku. Aku mau meneliti rekeningku. Aku mau menarik sepuluh ribu dolar tunai. Setelah itu, aku mungkin masih menginginkan satu-dua bantuan."

Van Thiessen menjejalkan kue kering ke dalam mulurnya dan mengunyah dengan cepat. "Ya, tentu saja. Kurasa tidak ada masalah dalam hal itu." "Mengapa harus ada masalah?" "Bukan masalah, Sir. Saya hanya perlu waktu beberapa menit." "Untuk apa?"

"Saya perlu berkonsultasi dengan kolega saya."

"Bisakah kau melakukannya dengan cepat?"

Van Thiessen nyaris melesat dari ruangan dan membanting pintu di belakangnya. Nyeri di perut Joel bukan karena lapar. Kalau roda-rodanya mulai lepas sekarang, ia tidak punya rencana cadangan, la harus keluar dari bank ini tanpa membawa apa pun, berharap bisa menyeberang ke Paradeplatz

untuk naik trem, dan sesudah itu ia tidak punya

tempat tujuan. Pelariannya akan berakhir. Marco

akan kembali, padahal Marco pada akhirnya akan

membuatnya terbunuh.

Ketika waktu mendadak berhenti, ia memikirkan pengampunan hukuman tersebut. Dengan abolisi : itu, ia benar-benar membuka halaman baru, Pemerintah AS tidak bisa memaksa Swiss membeku- 1 kan rekeningnya. Swiss tidak pernah membekukan 1 rekening! Swiss imun dari segala paksaan! Itu sebab- 1 nya bank-bank mereka penuh dengan jarahan dari 1 segala penjuru dunia.

Ini Swiss!

Elke memanggil dan meminta Joel mengikutinya ke lantai bawah. Di hari-hari lain, ia mau saja mengikuti Elke ke mana pun, tapi sekarang hanya ke lantai bawah.

Ia pernah masuk ke lemari besi pada kunjungan sebelumnya. Letaknya di bawah tanah, turun beberapa tingkat, walaupun para klien tak pernah tahu sedalam apa mereka turun ke bawah tanah Swiss. Semua pintu sekitar tiga puluh sentimeter tebalnya, semua dinding tampak terbuat dari timah, semua langit-langit penuh dengan kamera pengintai. Elke menyerahkan Joel kepada Van Thiessen lagi.

Kedua ibu jarinya di-scan untuk mencocokkan sidik tari. Pemindai optis memotret wajahnya. "Nomor tujuh," ujar Van Thiessen sambil menunjuk. "Saya akan menunggu di sana," katanya, lalu keluar dari ptmu,

loel menyusuri lorong pendek, melewati enam

P1MU g ^jendela, sampai tiba di pintu ke

tujuh. Ia menekan tombol, segala sesuatu bergerak dan mengeluarkan bunyi ceklikan di dalam, lalu pintu pun terbuka. Ia masuk, dan Van Thiessen sudah menunggunya.

Ruangan tersebut tak sampai dua meter persegi luasnya, dengan tiga dinding berisi lemari-lemari besi pribadi, kebanyakan tak lebih besar daripada kotak sepatu. "Nomor lemari besi Anda?" tanya Van Thiessen. "L2270." "Benar."

Van Thiessen melangkah ke sebelah kanan, sedikit metunduk di depan L2270. Di keypad lemari besi itu ia memencet beberapa nomor, lalu menegakkan tubuh dan berkata, "Silakan."

Di bawah pengamatan tajam Van Thiessen, Joel maju mendekati lemari besinya dan memasukkan nomor kode. Sembari melakukannya, ia membisikkan angka-angka yang selamanya terpatri dalam ingatan, "Delapan puluh satu, lima puluh lima, sembilan puluh empat, sembilan puluh tiga, dua puluh tiga" Lampu hijau kecil berkedip-kedip di keypad. Van Thiessen tersenyum dan berujar, "Saya akan menunggu di depan. Bunyikan bel bila Anda sudah selesai."

Saat akhirnya sendiri, Joel mengambil kotak baja dati lemari besinya dan membuka tutupnya. Diambilnya amplop berlapis tebal dan dibukanya.

Di dalamnya terdapat empat disk Jaz berkapasitas dua gigabyte yang dulu pernah bernilai satu miliar dolar.

Ia mengambil waktu sejenak, tapi tak lebih dari enam puluh detik. Toh ia aman saat ini, dan kalau ingin merenung, apa ruginya?

Ia memikirkan Safi Mirza, Fazal Sharif, dan Farooq Khan, pemuda-pemuda brilian yang menemukan Neptunus, yang kemudian menyusun rangkaian besar perangkat lunak untuk memanipulasi sistem tersebut. Mereka semua sudah mati sekarang, terbunuh oleh keserakahan yang naif dan kesalahan memilih ahli hukum. Ia memikirkan Jacy Hubbard, bajingan kasar yang karismatik dan banyak bicara, yang telah mengelabui para pemilik hak suara sepanjang kariernya dan akhirnya menjadi terlalu serakah. Ia memikirkan Carl Pratt, Kim Boling, dan belasan rekanan yang direngkuhnya ke dalam biro mereka yang makmur, dan hidup mereka yang diluluhlantakkan benda yang sekarang berada di tangannya. Ia memikirkan Neal dan aib yang disebabkan ayahnya ketika skandal itu menyebar ke seluruh penjuru Washington dan penjara tak sekadar kepastian, tapi bahkan menjadi tempat perlindungan.

Dan ia memikirkan dirinya sendiri, bukan dalam arti egois, bukan untuk mengasihani diri, bukan untuk mengalihkan beban kesalahan ke

pundak orang lain. Betapa berantakan hidup yang dijalaninya, sejauh ini, paling tidak Meskipun ia ingin sekali kembali dan melakukannya dengan cara berbeda, ia tidak punya waktu untuk memanjakan diri dengan pikiran-pikiran itu. Hidupmu tinggal beberapa tahun lagi, Joel, atau Marco, atau Giovanni, atau, persetan, siapa pun namamu. Untuk pertama kalinya dalam hidupmu yang busuk ini, bagaimana kalau kau melakukan apa yang benar, bukan apa yang menguntungkan?

Dimasukkannya disk-disk itu ke dalam amplop, lalu amplop itu masuk ke koper, dan dikembalikannya kotak baja itu ke lemari besi. Ia memencet bel memanggil Van Thiessen.

Kembali di kantornya, yang hebat, Van Thiessen memberikan map dengan selembar kertas di dalamnya. "Ini ringkasan laporan rekening Anda," ia memberitahu. "Sangat sederhana. Seperti Anda ketahui, tidak ada aktivitas selama ini."

"Kalian hanya memberikan bunga satu persen," kata Joel.

"Anda mengetahui tingkat bunga kami ketika membuka rekening ini, Mr. Backman." "Ya, aku tahu."

"Kami melindungi uang Anda dengan cara-cara ain.

"Tentu saja." Joel menutup map itu dan mengembalikannya. "Aku tidak ingin menyimpannya. Kau sudah mengambil uangnya?" " "Ya, sedang dibawa ke atas." "Bagus. Aku memerlukan beberapa hal lagi." Van Thiessen mengambil notes dan siap sedia dengan penanya. "Ya," ucapnya.

"Aku ingin mengirim seratus ribu ke bank di Washington D. C. Kau bisa merekomendasikan salah satu bank?"

"Tentu. Kami bekerja sama dengan Maryland Trust."

"Bagus, kirim uangnya ke sana, dan dengan perintah kawat bukalah rekening tabungan biasa. Aku ridak akan menulis cek, hanya mengambil dana."

"Atas nama siapa?"

"Joel Backman dan Neal Backman." Ia mulai terbiasa dengan namanya lagi, tidak merunduk berlindung ketika mengucapkannya. Tidak menciut ketakutan, menunggu bunyi tembakan. Ia menyukai perasaan itu.

"Baik," kata Van Thiessen. Tidak ada yang mustahil.

"Aku minta bantuan untuk kembali ke Amerika. Dapatkah asistenmu mencarikan jadwal penerbangan ke Philadelphia dan New York?"

"Tentu saja. Kapan, dan dari mana?"

"Hari ini, secepat mungkin. Aku ingin menghin-

dari bandara di sini. Kalau naik mobil, berapa jauh Munich dari sini?"

"Dengan mobil, tiga atau empat jam."

"Dapatkah kau menyediakan mobil?"

"Saya yakin kami bisa mengaturnya."

"Aku lebih suka keluar dari ruang bawah tanah gedung ini, dengan mobil yang dikemudikan seseorang yang tidak berpakaian seperti sopir. Jangan pakai mobil hitam, pokoknya yang tidak menarik perhatian."

Van Thiessen berhenti menulis dan melontarkan pandangan bingung. "Apakah Anda dalam bahaya, Mr. Backman?"

"Mungkin. Aku tidak yakin, dan aku tidak mau ambil risiko."

Van Thiessen merenungkannya sesaat, lalu berkata, "Anda ingin kami memesan tempat dalam penerbangan itu?"

"Ya."

"Kalau begitu, saya perlu melihar paspor Anda."

Joel mengeluarkan paspor pinjaman Giovanni Van Thiessen meneutinya untuk waktu lama, wajah kalem ala bankirnya tidak bisa menyembunyikan ekspresi sebenarnya. Ia bingung dan khawatir. Akhirnya ia berkata, "Mr. Backman, Anda akan bepergian menggunakan paspor orang lain."

"Benar."

"Masih."

"Saya menganggap Anda tidak punya paspor." "Mereka dulu mengambilnya." "Bank ini tidak ingin mengambil bagian dalam tindakan kriminal. Kalau paspor ini dicuri—" "Aku menjamin paspor ini tidak dicuri." "Lalu bagaimana Anda—" "Katakan saja itu pinjaman, oke?" . "Tapi menggunakan paspor orang lain adalah pelanggaran hukum."

"Tak perlulah kita memusingkan diri dengan kebijakan keimigrasian Amerika Serikat, Mr. Van Thiessen. Ambilkan saja jadwal penerbangan itu. Aku yang akan memilin waktunya. Asisten Anda bisa melakukan pemesanan atas nama bank Potong saja dari rekeningku. Carikan mobil dan sopir untukku. Potong dari rekeningku juga, kalau itu maumu. Semua sederhana saja."

Ini toh cuma paspor. Masa bodoh, klien-klien lain bahkan memiliki tiga atau empat paspor. Van Thiessen mengembalikan paspor itu pada Joel dan berkata, "Baiklah. Ada yang lain?"

"Aku perlu akses Internet, Aku yakin komputer-komputermu aman." "Tentu saja."

inilah isi e-mailnya pada Neal:

Grinch—Dengan sedikit keberuntungan, aku akan tiba di AS malam ini. Beli ponsel baru hari ini juga. Jangan biarkan hilang dari pandanganmu. Besok pagi, teleponlah Hilton, Marriott, dan Sheraton, di pusat kota Washington. Minta bicara dengan Giovanni Ferro. Itu aku. Telepon Carl Pratt pagi ini juga, dengan telepon baru. Desaklah agar Senator Clayburn datang ke D.C. Kita akan membayar pengeluarannya. Katakan ini sangat mendesak. Sebagai bantuan untuk kawan lama. Jangan sampai ia bilang tidak. Jangan ada e-mail lagi sampai aku pulang. Marco

Setelah makan sandwich dan rninum cola di kantor Van Thiessen, Joel Backman meninggalkan gedung bank itu dengan sedan BMW hijau cerah yang melaju cepat. Demi amannya, ia menutupi wajahnya dengan koran Swiss sampai mereka tiba di autobahn. Sopirnya bernama Franz. Franz menganggap dirinya calon pengemudi Formula 1, dan ketika diberitahu bahwa Joel sedang terburu-buru, Franz masuk ke jalur cepat dan melaju 150 kilometer per jam.

32

Pada pukul 13.55, Joel Backman duduk di kursi lebar yang mewah di kabin kelas satu 747 Lufthansa, sementara pesawat itu mulai mundur dari gerbang keberangkatan bandara Munich. Sesudah pesawat itu mulai bergerak, barulah ia berani mengangkat gelas sampanye yang selama sepuluh menit terakhir hanya dipandanginya. Gelas itu sudah kosong sebelum pesawat berhenti di landasan untuk pengecekan terakhir. Sewaktu roda-roda terangkat dari aspal, Joel memejamkan mata dan mengizinkan diri menikmati mewahnya beberapa jam yang penuh kelegaan.

Di pihak lain, dan pada saat yang bersamaan, pukul 07.55 Eastern Standard Time, putranya sedang ter-

W hingga taraf ingin melempar barang-barang gangnya bagaimana ia bisa membeli ponsei Lu sesegera mungkin, lalu menelepon Carl Pratt , i dan menagih piutang budi yang tidak pernah ada, dan entah bagaimana membujuk pensiunan senator tua yang pemarah dari Ocracoke, North Carolina, agar mau meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya untuk secepatnya datang kembali ke kota yang terang-terang dibencinya serengah mati? Belum lagi memikirkan sesuatu yang ada di depan mata: Ia, Neal Backman, punya banyak pekerjaan di kantor. Tidak ada yang lebih mendesak ketimbang menyelamatkan ayahnya yang bandel, tapi tetap saja agendanya penuh dengan klien-klien dan banyak hal penting lainnya.

Ia meninggalkan Jerry's Java, rapi bukannya pergi ke kantornya, ia malah pulang ke rumah. Lisa sedang memandikan putri mereka dan terkejut melihat Neal. "Ada apa?" tanya istrinya. "Kita harus bicara. Sekarang." Neal memulai penuturannya dengan surat misterius yang berprangko York, Pennsylvania, berlanjut ke pinjaman empat ribu dolar, meski ******* kemudian smaryhone, e-mail rahasia, dan p**£ cerita selengkapnya. Lisa menanggapi V tenang, yang membuatnya lega- ^

"Seharusnya kau memberitahuku, cuma sekali.

"Ya, dan aku minta maaf." Tidak ada pertengkaran, tidak ada perdebatan. Kesetiaan memang sifat Lisa yang paling utama, dan ketika ia berkata, "Kita harus membantunya," Neal pun memeluknya.

"Ia akan mengembalikan uangnya," Neal meyakinkan istrinya.

"Soal uang kita pikirkan nanti saja. Apakah ia dalam bahaya?" "Kurasa begitu." "Oke, apa langkah pertama?" "Telepon kantor dan bilang pada mereka, aku kena flu."

Seluruh percakapan mereka, secara langsung dan lengkap, tertangkap rnikrofon mungil yang ditanam Mossad di firing lampu di atas tempat mereka duduk. Mikrofon itu terhubung ke pemancar yang tersembunyi di bawah atap, dan dari sana diteruskan ke alat penerima frekuensi tinggi, empat ratus meter jauhnya di ruang perkantoran yang jarang digunakan, yang baru-baru ini disewa oleh seorang pria dari D.C. Di sana, teknisi mendengarkan percakapan itu dua kali, lalu cepat-cepat mengirim e-mail kepada agen lapangan di Kedutaan Israel di Washington.

Sejak lenyapnya Backman di Bologna lebih dari

24 jam sebelumnya, mikrofon-mikrofon yang ditanam di sekitar putranya dimonitor dengan lebih saksama.

E-mail ke Washington itu disudahi dengan kalimat "JB mau pulang."

Untung saja, Neal tidak menyinggung-nyinggung nama "Giovanni Ferro" dalam pembicaraannya dengan Lisa. Namun sayangnya, ia menyebut dua dari tiga hotel yang disepakati—Marriott dan Sheraton.

Kepulangan Backman diberi prioritas setinggi mungkin. Sebelas agen Mossad yang ditempatkan di Pantai Timur, semua diperintahkan pergi ke D.C. saat itu juga.

Lisa mengantar putri mereka ke rumah ibunya, lalu ia dan Neal melaju cepat ke selatan, menuju Charlottesville, tiga puluh menit dari sana. Di pusat pertokoan sebelah utara kota, mereka menemukan kantor U.S. Cellular. Mereka membuka rekening, membeli telepon, dan dalam tiga puluh menit sudah kembali ke jalan. Lisa mengemudi, sementara Neal berusaha menemukan Carl Pratt.

Dengan bantuan sejumlah besar sampanye dan anggur, Joel berhasil tidur selama beberapa jam ketika menyeberangi Adantik. Sewaktu pesawat mendarat

di JFK pada pukul 16.30, sikap santainya hilang, digantikan ketidakpastian dan dorongan untuk selalu menengok ke belakang.

Di imigrasi, pada mulanya ia berdiri di antrean warga negara Amerika yang kembali ke negaranya, antrean yang lebih pendek. Mendadak ia teringat, melirik kiri-kanan, berbisik menyumpah-nyumpah sendiri, lalu pindah ke antrean warga negara asing.

Betapa bodoh dirinya.

Bocah berseragam berleher besar dari Bronx berteriak menyuruh orang-orang berbaris di antrean ini, bukan yang itu, dan jangan lambat-lambat. Selamat datang di Amerika. Beberapa hal tidak membuatnya rindu kampung halaman.

Petugas pemeriksa paspor mengerutkan kening mengamari paspor Giovanni, tapi ia mengerutkan kening pada yang lain juga. Joel sudah mengamatinya lekat-lekat dari balik kacamata hitam murahan.

"Tolong lepas kacamata Anda?" ujar petugas itu.

"Certamente," jawab Joel keras-keras, ingin membuktikan ke-Italia-annya. Dilepasnya kacamata tersebut, menyipit seolah silau, lalu digosoknya matanya sementara petugas itu berusaha melihat wajahnya Dengan enggan, ia memberikan cap di paspor itu dan mengembalikannya tanpa sepatah

kata pun. Tanpa barang yang harus dilaporkan, petugas pabean nyaris tidak memerhatikannya. Joel berjalan cepat di terminal dan menemukan antrean taksi di pangkalan. "Penn Station," ujarnya. Sopir taksi itu mirip Farooq Khan, yang paling muda dari tiga pemuda Pakistan itu, masih bocah, dan Joel mengamatinya dari bangku belakang sambil menarik kopernya lebih dekat.

Sesudah 45 menit melewati lalu lintas jam padat, ia akhirnya tiba di Penn Station. Ia membeli tiket Amtrak ke D.C., dan pada pukul 19.00 meninggalkan New York menuju Washington.

Taksi itu diparkir di Brandywine Street di barat laut Washington. Saat itu hampir pukul sebelas malam, dan sebagian besar rumah bagus itu sudah gelap. Backman berbicara pada si sopir, yang sudah menyesuaikan kursinya dan siap tidur sejenak.

Mrs. Pratt sudah berada di ranjang dan sedang berusaha tidur ketika mendengar bel pintu. Ia mengambil mantel kamar dan segera turun. Suaminya sering tidur di kamar bawah tanah, terutama karena ia mendengkur, tapi juga karena ia rerlalu banyak minum dan menderira insomnia. Istrinya beranggapan suaminya ada di sana.

"Siapa?" tanya Mrs. Pratt melalui interkom.

"Joel Backman," begitu jawaban yang terdengar,

dan Mrs. Pratt menganggap ada yang berolok-olok. "Siapa?"

"Donna, ini aku, Joel. Sungguh. Buka pintunya."

Mrs. Pratt mengintip dari lubang pintu dan tidak mengenali orang asing itu. "Tunggu sebentar," katanya, lalu lari ke bawah tanah tempat Cari sedang menonton berita televisi. Semenit kemudian Cari sudah berdiri di pintu, mengenakan sweter Duke dan membawa pistol.

"Siapa itu?" tanyanya melalui interkom. "Cari, ini aku, Joel. Singkirkan pistol dan buka pintunya."

Suara itu tidak mungkin keliru. Ia membuka pintu dan Joel Backman masuk kembali ke kehidupannya, mimpi buruk itu datang menghantui lagi. Tanpa pelukan, tanpa jabatan tangan, nyaris tanpa senyuman. Pasangan Pratt memandanginya sambil membisu karena ia tampak begitu berbeda— jauh lebih kurus, rambutnya lebih gelap dan lebih pendek, pakaiannya asing. Ia mendapat pertanyaan "Apa yang kaulakukan di sini?'' dari Donna.

"Pertanyaan bagus," sahutnya tenang. Kemenangannya adalah karena ia punya waktu untuk menyusun rencana. Mereka benar-benar tidak siap. "Kau mau menyingkirkan pistol itu?"

Pratt meletakkan pistolnya di meia kecil.

"Kau sudah bicara dengan Neal?" tanya Backman.

"Sepanjang hari."

"Ada apa ini, Cari?" tanya Donna.

"Kita bisa bicara? Untuk itulah aku datang kemari. Aku tidak memercayai telepon lagi."

"Bicara apa?" tuntut Donna.

"Kau mau membuatkan kopi untuk kami, Donna?" pinta Joel sopan.

"Tak sudi."

"Ya sudah."

Cari menggosok-gosok dagunya, menilai siruasi. "Donna, kami perlu bicara berdua. Urusan biro hukum lama. Nanti kuterangkan padamu."

Donna melemparkan pandangan tajam pada mereka yang jelas-jelas mengatakan, Pergilah ke neraka, lalu dengan langkah ribut naik ke lantai atas. Mereka masuk ke ruang kerja. Cari berkata, "Kau mau minum?"

"Ya, yang keras."

Cari menghampiri bar kecil di sudut dan menuangkan mab—dobel. Diberikannya segelas pada Joel dan tanpa mengupayakan senyum ia berkata, "Cheers."

"Cheers. Senang bertemu denganmu, Cari." "Jelas senang. Seharusnya kau tidak bertemu siapa-siapa lagi sampai empat belas tahun menda-

"Menghitung hari, ya?"

"Kami masih membersihkan kotoran yang kautinggalkan, Joel. Banyak orang baik ikut dirugikan. Maaf kalau aku dan Donna tidak terlalu gembira melihatmu. Kurasa tidak banyak orang di kota ini yang menyambutmu dengan pelukan." "Kebanyakan malah ingin menembakku." Cari melirik pistolnya dengan waspada. "Aku tidak bisa terlalu memikirkan hal itu," lanjut Backman. "Tentu saja aku ingin kembali dan mengubah beberapa hal, tapi aku tidak memiliki kemewahan itu. Aku sedang kabur menyelamatkan nyawaku, Cari, dan aku butuh bantuan." "Barangkali aku tidak ingin terlibat." "Aku tidak bisa menyalahkanmu. Tapi aku perlu bantuan, bantuan besar. Tolong aku sekarang, dan aku berjanji tidak akan pernah muncul di depan pintumu lagi." "Aku akan menembakmu lain kali." "Di mana Senator Clayburn? Katakan dia masih hidup."

"Ya, masih segar bugar. Dan kau beruntung." "Apa?"

"Ia ada di sini, di D.C." "Kenapa?"

"Hollis Maples pensiun, setelah seratus tahun mendekam di Senat. Mereka mengadakan pesta

besar-besaran untuknya malam ini. Semua teman j lama ada di sini."

"Maples? Bukankah ia sudah ngiler di atas supnya sepuluh tahun lalu?"

"Well, sekarang ia sudah tidak bisa melihat supnya lagi. Ia dan Clayburn akrab sekali." "Kau sudah bicara pada Clayburn?" "Ya." "Dan?"

"Mungkin sulit, Joel. Ia tidak senang mendengar J namamu. Menyinggung-nyinggung soal ditembak karena mengkhianati negara."

'Terserah. Katakan padanya ia bisa jadi perantara kesepakatan yang akan membuatnya merasa seperti patriot."

"Kesepakatan apa?"

"Aku punya perangkat lunaknya, Cari. Seluruhnya. Baru kuambil tadi pagi dari lemari besi di bank di Zurich, tempatnya mendekam selama lebih dari enam tahun. Kau dan Clayburn datang ke kamar hotelku besok pagi, dan akan kutunjukkan barangnya pada kalian."

"Aku tidak terlalu kepingin melihatnya."

"Ya, kau mau."

Pratt menenggak dua ons scotch. Ia berjalan ke bar dan mengisi lagi gelasnya, menenggak dosis yang mematikan, lalu berujar, "Kapan dan *

mana?"

mana?

"Marriott di Twenty-second Street. Kamar lima dua puluh. Jam sembilan pagi."

"Kenapa, Joel? Kenapa aku harus terlibat?" "Bantuan untuk kawan lama." "Aku tidak berutang budi padamu. Dan kawan lama itu sudah pergi sejak dulu."

"Kumohon, Cari. Bawalah Clayburn, dan kau tidak perlu ikut-ikut lagi mulai tengah hari besok. Aku berjanji kau tidak akan pernah melihatku lagi."

"Penawaran yang sangat menggoda."

Ia meminta sopir tidak tergesa-gesa. Mereka melaju di wilayah Georgetown, menyusuri K Street, dengan restoran-restoran yang buka larut malam dan bar-bar serta tempat-tempat nongkrong mahasiswa yang penuh dengan manusia yang sedang bersenang-senang. Saat itu tanggal 22 Maret dan musim semi menjelang. Temperatur sekitar 65 dan para mahasiswa ingin terus berada di luar, bahkan pada tengah malam.

Taksi itu melambat di persimpangan I Street dan 14th, dan Joel bisa melihat gedung kantornya yang lama di kejauhan, di New York Avenue. Di suatu tempat di sana, di lantai paling atas, ia pernah memimpin kerajaan kecilnya, dengan budak-budak berlarian di belakangnya, melompat

siaga begitu diberi perintah. Bukan saat-saat yang penuh nostalgia. Sebaliknya, ia dipenuhi penyesalan atas hidup tak berharga yang disia-siakan dengan memburu uang, membeli persahabatan, wanita, serta mainan apa pun yang diinginkan jagoan hebat. Taksi mereka terus melaju, melewati deretan gedung yang tak terhitung jumlahnya, kantor pemerintah di satu sisi, para pelobi di sisi lain.

Ia meminta sopir pergi dari sana, mencari pemandangan yang lebih menyenangkan. Mereb berbelok ke Constitution Avenue dan menyusuri Mali, melewati "Washington Monument. Putrinya yang bungsu, Anna Lee, bertahun-tahun lalu pernah memohon padanya agar diajak jalan-jalan di Mali pada musim semi, seperti teman-teman sekelasnya. Ia ingin melihat Mr. Lincoln dan menghabiskan sepanjang hari di Smithsonian. Joel berjanji dan berjanji terus hingga Anna Lee pergi. Sekarang ia ada di Denver, pikir Joel, memiliki anak yang tidak pernah dilihatnya.

Sementara kubah Capitol semakin debt, mendadak Joel merasa muak Perjalanan menyusuri jalan kenangan ini amat menekan. Kenangan-kenangan dalam hidupnya terlalu tidak menyenangkan.

"Antarkan aku ke horel," katanya.

33

Neal membuat kopi teko pertama, lalu keluar k serambi batu bata yang sejuk dan mengagumi keindahan fajar musim semi.

Kalau benar ayahnya sudah tiba kembali di D.C, ia pasti tidak sedang tidur pada pukul setengah tujuh pagi. Semalam, Neal sudah menyimpan nomor telepon hotel-hotel Washington di pon-seJ barunya, dan ketika matahari terbit, ia mulai dengan Sheraron. Tidak ada nama Giovanni Ferro. Kemudian Marriott.

"Tolong tunggu sebentar," ujar operator, lalu telepon kamar mulai berdering. "Halo," terdengar suara yang dikenalnya. "Dengan Marco?" tanya Neal. "Ini Marco. Ini Grinch?" "Benar."

"Di mana kau sekarang?" "Berdiri di serambi, menunggu matahari terbit." "Dan telepon apa yang kaugunakan?" "Motorola baru yang kukantongi terus sejak kubeli kemarin." "Kau yakin teleponmu aman?" "Ya."

Hening sejenak sementara Joel menghela napas dalam-dalam. "Senang mendengar suaramu, Nak"

"Aku juga senang mendengarmu. Bagaimana perjalananmu?"

"Seru sekali. Bisakah kau pergi ke Washington?"

"Kapan?"

"Hari ini, pagi ini."

"Bisa, semua orang mengira aku kena flu. Urusan dengan kantor beres. Kapan dan di mana?"

"Datanglah ke Marriott di Twenty-second Street. Masuklah ke lobi pada pukul delapan empat lima, naik lift ke lantai enam, lalu turun lewat tangga ke lantai lima. Kamar lima dua puluh."

"Semua itu perlu?"

"Percayalah. Kau bisa menggunakan mobil -lain?"

"Entahlah. Aku tidak yakin siapa—" "Ibu Lisa. Pinjam mobilnya, pastikan kau tidak dibuntuti. Begitu sampai di kota, parkirlah di garasi di Sixteenth, lalu berjalanlah ke Marriott. Awasi belakangmu setiap saat. Kalau kau melihat

sesuatu yang mencurigakan, telepon aku, dan kita akan batalkan semuanya."

Neal melayangkan pandangan ke seluruh penjuru kebun belakangnya, setengah berharap melihat agen-agen berpakaian hitam menghambur ke arahnya. Dari mana ayahnya tahu trik-trik rahasia ini? Selama enam tahun di penjara, barangkali? Ribuan novel spionase? iffSe*?

"Kau mengerti?" bentak Joel.

"Yeah, tentu saja. Aku akan segera berangkat."

Ira Clayburn tampak seperti orang yang telah melewatkan sepanjang hidupnya memancing di atas perahu, bukannya mengabdi selama 34 tahun di Senat Amerika Serikat. leluhurnya memancing di Outer Banks, North Carolina, di sekitar rumah mereka di Ocracoke, selama seratus tahun. Nasib Ira juga akan sama, tapi guru matematikanya di kelas enam kemudian mengetahui ia memiliki IQ yang luar biasa. Beasiswa ke Chapel Hill mengentaskannya dari rumah. Satu beasiswa lagi ke Yale memberinya gelar master. Yang ketiga, ke Stanford, menyematkan titel "Doktor" di depan namanya. Ia sudah menjadi dosen ekonomi di Davidson ketika bersedia berkompromi memenuhi janji temu di Senat, untuk mengisi posisi kosong yang masa jabatannya belum habis. Dengan enggan

I ia kemudian mengajukan diri untuk masa jabatan ! penuh, dan selama tiga puluh tahun sesudahnya j ia berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan Washington. Pada usia 71 tahun, akhirnya ia pun j pergi. Ketika mengundurkan diri dari Senat, ia j membawa pengetahuan tentang intelijen AS yang tak bisa ditandingi politisi mana pun. Ia setuju pergi ke Marriott bersama Carl Pratt, 1 kawan lamanya dari klub tenis, hanya untuk memuaskan rasa penasatannya. Misteri Neptunus itu tidak pernah terpecahkan, sejauh pengetahuannya. Namun ia memang sudah betada di luar lingkaran selama lima tahun terakhir, menghabiskan seluruh i waktunya dengan memancing setiap hari, dengan I gembira membawa kapalnya berburu ikan di perairan Hatteras hingga Cape Lookout.

Selama masa senja kariernya di Senat, ia mengamati Joel Backman bergabung dalam barisan panjang pelobi kelas kakap yang telah menyempurnakan seni memuntir lengan untuk memeras upah tinggi. Ia meninggalkan Washington ketika Jacy Hubbard, salah saru ular kobra itu, mendapatkan ganjaran yang setimpal dari ditemukan mati.

Ia tidak punya urusan dengan bajingan-bajingan sejenis itu.

Ketika pintu kamar 520 terbuka, ia masuk di belakang Cari Partt dan berhadapan dengan si setan.

Namun setan ini cukup sopan, sangat berterima kasih, benar-benar manusia yang berbeda. Penjara.

Joel memperkenalkan dirinya dan putranya, Neal, kepada Senator Clayburn. Tangan-tangan berjabatan sepantasnya, ucapan terima kasih dilontarkan sewajarnya. Meja di suite kecil itu penuh dengan kue, kopi, dan jus. Empat kursi telah disiapkan dalam lingkaran longgar, dan mereka pun duduk.

"Ini semestinya tidak akan makan waktu lama," ujar Joel. "Senator, aku membutuhkan bantuan Anda. Aku tidak tahu seberapa banyak yang Anda ketahui tentang urusan kacau yang mengirimku ke penjara selama beberapa tahun..."

"Aku tahu garis besarnya, tapi selalu ada pertanyaan-pertanyaan." "Aku yakin aku mengetahui jawabannya." "Sistem satelit itu milik siapa?" Joel tidak sanggup duduk diam. Ia berjalan ke jendela, tidak melihat apa-apa, lalu menghela napas dalam-dalam. "Sistem itu dibuat oleh Cina Komunis, dengan anggaran astronomi. Seperti yang Anda ketahui, Cina amat tertinggal dari kita dalam hal persenjataan konvensional, jadi mereka menghabiskan banyak uang untuk teknologi tinggi. Mereka mencuri beberapa teknologi kita, dan dengan sukses meluncurkan sistem itu—yang diberi nama Neptunus—tanpa sepengetahuan CIA." "Bagaimana mereka melakukannya?"

"Dengan samaran teknologi rendah seperti kebakaran hutan. Mereka membakar delapan hektar lahan hutan pada suatu malam di provinsi utara. Kebakaran itu menciptakan asap tebal dan di balik itu mereka meluncurkan tiga roket, masing-masing berisi tiga satelit."

"Rusia pernah melakukannya juga," ujar Clayburn.

"Dan Rusia termakan tipuan mereka sendiri. Mereka juga tidak mengetahui keberadaan Neptunus—tidak ada yang tahu. Tak satu pihak pun di dunia tahu Neptunus ada sampai klien-klienku menemukannya dengan tak sengaja."

"Mahasiswa-mahasiswa Pakistan itu."

"Ya, dan ketiganya sudah mati sekarang."

"Siapa yang membunuh mereka?"

"Kuduga agen-agen Cina Komunis."

"Siapa yang membunuh Jacy Hubbard?"

"Sama."

"Dan sedekat apa orang-orang iru denganmu sekarang?"

"Lebih dekat daripada yang kuharapkan."

Clayburn meraih donat dan Pran menenggak habis segelas jus jeruk. Joel melanjutkan, "Aku memiliki perangkat lunaknya—JAM, begitu istilah mereka. Hanya ada satu kopi."

"Yang mau kaujual dulu?" tanya Clayburn.

"Ya. Dan aku benar-benar ingin menyingkirkan-

nya sekarang. Ternyata benda ini mematikan, dan aku ingin, segera mengalihkannya ke tangan lain. Aku hanya tidak tahu siapa yang layak mendapatkannya."

"Bagaimana dengan CIA?" tanya Pratt, karena ia belum mengucapkan apa-apa.

Clayburn sudah menggeleng-geleng tak setuju. "Aku tidak bisa memercayai mereka," kata Joel. "Teddy Maynard mengusahakan pengampunan untukku supaya ia bisa duduk santai dan menonton orang lain membunuhku. Sekarang ada direktur interim."

"Dan presiden baru," timpal Clayburn. "CIA sedang berantakan sekarang ini. Aku tidak akan mau dekat-dekat mereka." Dan dengan kalimat itu, Senator Clayburn melangkahi garis batas, menjadi penasihat, bukan lagi sekadar penonton yang ingin tahu.

"Pada siapa aku harus bicara?" tanya Joel. "Siapa yang bisa kupercaya?"

"DIA, Defense Intelligence Agency, Badan Intelijen Militer," sahut Clayburn tanpa ragu-ragu. "Yang mengepalai Mayor Wes Roland, teman lamaku."

"Sudah berapa lama ia di sana?"

Clayburn berpikir sejenak, lalu menjawab, "Sepuluh, mungkin dua belas tahun. Ia sangat berpengalaman, cerdas sekali. Dan orang terhormat."

"Dan Anda bisa bicara padanya?" 'Ya. Kami masih sering berhubungan." "Ia tidak akan melapot pada Direktur CIA?" tanya Pratt.

"Ya, semua juga begitu. Saat ini paling sedikit ada lima belas badan intelijen—yang mati-matian kutentang selama dua puluh tahun—dan secara hukum mereka semua melapor pada CIA."

"Jadi Wes Roland akan membawa apa pun yang kuberikan padanya dan melapor kepada CIA?" tanya Joel.

"Ia tidak punya pilihan lain. Namun ada beberapa cara untuk mengakalinya. Roland orang yang rasional, dan ia tahu cara memainkan politik Karena itulah ia bertahan selama ini."

"Bisakah Anda mengatur pertemuan?"

"Ya, tapi apa yang akan terjadi pada pertemuan itu?"

"Aku akan melemparkan JAM padanya dan lari keluar dari gedung."

"Dan sebagai imbalannya?"

"Ini kesepakatan yang mudah, Senator. Aku tidak menginginkan uang. Hanya bantuan kecil."

"Apa?"

"Aku lebih suka membicarakannya sendiri dengannya. Anda juga menyaksikan di dalam ruangan, tentu saja."

Tercipta jeda dalam pembicaraan ketika Clayburn

memandangi lantai dan menimbang-nimbang masalah tersebut. Neal menghampiri meja dan mengambil croissant. Joel menuang kopi lagi. Pratt, yang jelas menderita sakit kepala akibat kebanyakan minum, sekali lagi menenggak jus jeruk dari gelas tinggi.

Akhirnya, Clayburn bersandar di kursinya dan berkata, "Aku beranggapan hal ini sangat mendesak."

"Lebih buruk daripada itu. Bila Mayor Roland bersedia, aku mau menemuinya sekarang juga. Di mana pun."

"Aku yakin ia akan meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya." "Teleponnya ada di sana."

Clayburn berdiri dan mendekati meja. Pratt berdeham dan berkata, "Oke, fellas, pada tahap permainan ini, aku mau keluar. Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Tidak mau jadi saksi, atau pembela, atau korban yang lain lagi. Jadi aku mohon diri, mau kembali ke kantor lagi."

Ia tidak menunggu tanggapan. Dalam sekejap ia menghilang, dengan pintu berdebam tertutup rapat di belakangnya Mereka memandangi pintu selama beberapa saat, sedikit tertegun melihat kepergiannya yang mendadak.

"Cari yang malang," ujar Clayburn. "Selalu takut pada bayangannya sendiri." Ia meraih gagang telepon dan mulai bekerja.

Di tengah-tengah pembicaraan telepon keempat, dan telepon kedua ke Pentagon, Clayburn membekap gagang telepon dan betkata pada Joel, "Mereka memilih pertemuan di Pentagon."

Joel sudah menggeleng-geleng. "Tidak. Aku tidak mau pergi ke sana membawa perangkat lunak itu sebelum ada kesepakatan. Aku akan menyimpannya dan memberikannya kepada mereka nanti, tapi aku tidak mau masuk ke sana membawa benda itu."

Clayburn menyampaikan keberatan itu, lalu mendengarkan untuk waktu yang lama. Ketika tangannya menutup gagang telepon lagi, ia bertanya, "Perangkat lunak itu, dalam bentuk apa?" "Empat disk" jawab Joel. "Mereka harus memverifikasinya, kau mengerti?" "Oke, aku akan membawa dua disk ke Pentagon. Sekitar separonya. Mereka boleh melihatnya sebentar."

Clayburn kembali bicara di telepon dan mengulangi syarat yang diajukan Joel. Sekali lagi, ia mendengarkan cukup lama, lalu bertanya pada Joel, "Kau mau memperlihatkan disk-disk itu padaku?"

"Ya."

Ia membiarkan mereka menunggu sementara Joel mengambil kopernya. Diambilnya amplop itu, lalu empat disk, dan ditempatkannya semuanya di atas ranjang agar bisa dipeloroti Neal dan Clayburn. Clayburn kembali ke telepon dan berkata, "Aku

sedang melihat empat disk. Mr. Backman meyakinkanku bahwa itulah bendanya." Ia mendengarkan selama beberapa menit, lalu memencet tombol tunggu lagi.

"Mereka ingin kita ke Pentagon sekarang juga," ujarnya. "Mari."

Clayburn meletakkan telepon dan berkata, "Situasi mulai sibuk di sana. Kurasa anak-anak itu bersemangat sekali. Kita berangkat sekarang?"

Ketika pintu termtup di belakang Clayburn, Joel segera mengumpulkan disk-disk tersebut dan menyelipkan dua ke dalam saku mantelnya. Dua yang lain—nomor tiga dan empat—dimasukkan lagi ke dalam koper, yang ia serahkan kepada Neal sambil berkata, "Setelah kami berangkat, pergilah ke meja resepsionis, dan mintalah kamar lain. Kau harus berkeras untuk check in saat itu juga. Telepon kamar ini, tinggalkan pesan untukku, dan beritahu aku di mana kau berada. Tetap diam di sana sampai kau mendapat kabar dariku."

"Oke, Dad. Kuharap' kau tahu apa yang kaulakukan."

"Cuma bertransaksi, Nak Seperti dulu."

Taksi menurunkan mereka di areal parkir selatan Pentagon, dekat perhentian Metro. Dua anggota

staf Mayor Roland yang berseragam sudah menunggu dengan surat pengantar dan instruksi. Kedua orang itu mengantar mereka melalui pos penjagaan dan foto mereka diambil untuk ditempatkan di kartu identitas sementara. Selama itu Clayburn mengeluh tentang betapa mudahnya prosedur itu di masa lalu.

Masa lalu atau bukan, ia sudah melakukan transisi cepat dari kritikus skeptis menjadi pemain utama, dan ia terlibat penuh dalam rencana Backman. Sewaktu mereka menyusuri koridor lebar di lantai dua, ia mengenang tentang betapa sederhana kehidupan dulu ketika hanya ada dua kekuatan adidaya. Kita selalu'berhadapan dengan Soviet. Pihak lawan selalu mudah diidentifikasi.

Mereka naik tangga ke lantai tiga, Sayap C, dan digiring dua anggora staf itu melalui beberapa pintu dan menuju sekelompok ruang kerja tempat mereka sudah dinantikan kedatangannya. Mayor Roland sendiri sudah berdiri, menunggu. Usianya sekitar enam puluh tahun, sosoknya masih ramping dan prima dalam balutan seragam khakinya. Perkenalan dilakukan, dan ia mengundang mereka semua masuk ke ruang rapat. Di salah satu ujung meja yang panjang dan lebar, terdapat tiga teknisi yang sedang sibuk memeriksa komputer besar yang tampak baru saja dibawa masuk ke sana.

Mayor Roland meminta kesediaan Joel mengizin-

kan dua asistennya hadir dalam pertemuan mereka. Tentu saja. Joel tidak keberatan.

"Anda keberatan kalau kita merekam pertemuan ini dengan video?" tanya Roland.

"Untuk apa?" tanya Joel.

"Hanya merekamnya dalam film kalau-kalau ada orang di atas yang ingin melihatnya." "Misalnya?" "Mungkin Presiden."

Joel menoleh pada Clayburn, satu-satunya temannya di ruangan itu, teman dengan ikatan yang lemah.

"Bagaimana dengan CIA?" tanya Joel. "Mungkin."

"Kita lupakan saja videonya, paling tidak pada awalnya. Mungkin pada suatu saat dalam pertemuan ini, kita sepakat untuk menghidupkan kamera."

"Cukup adil. Kopi atau minuman ringan?"

Tidak ada yang haus. Mayor Roland bertanya pada para teknisi komputer apakah peralatan mereka sudah siap. Sudah, dan ia meminta mereka keluar dari ruangan.

Joel dan Clayburn duduk di ujung lain meja rapat itu. Mayor Roland diapit dua wakilnya. Ketiganya siap dengan bolpoin dan notes yang sudah siaga. Joel dan Claybburn tidak membawa apa-apa.

"Mari kita mulai dan mengakhiri pembicaraan tentang CIA," Backman mulai, bertekad untuk memegang kendali pertemuan itu. "Menurut se-pengetahuanku tentang hukum, atau setidaknya cara kerja di sini, direktur CIA bertanggung jawab atas seluruh kegiatan intelijen." "Benar," sahut Roland. "Apa yang akan Anda lakukan dengan informasi yang hendak kuberikan kepada Anda?"

Mayor itu melirik sisi kanannya, dan tatapan antara dirinya dan wakilnya yang duduk di sana begitu sarat ketidakpastian. "Seperti yang Anda katakan, Sir, direktur berhak mengetahui dan mendapatkan semuanya."

Backman tersenyum dan berdeham. "Mayor, CIA berusaha membunuhku, oke? Dan sejauh yang kuketahui, mereka masih memburuku. Orang-orang di Langley itu tidak banyak manfaatnya untukku."

"Mr. Maynard sudah tidak ada di sana, Mr. Backman."

"Dan orang lain telah mengambil alih tempatnya. Aku tidak menginginkan uang. Aku menghendaki peilindungan. Pertama, aku ingin pemerinrahku membiarkanku bebas."

"Itu bisa diarur," kara Roland penuh wibawa. "Dan aku membutuhkan bantuan untuk hal-hal lain."

"Bagaimana kalau Anda menceritakan segalanya

kepada kami, Mr. Backman? Semakin banyak yang kami ketahui, semakin mudah kami bisa membantu."

Terkecuali Neal, Joel Backman tidak memercayai satu orang pun di muka bumi ini. Namun sudah tiba saatnya untuk membeberkan semua di meja dan mengharapkan yang terbaik. Perburuan itu sudah selesai, tak ada tempat untuk lari lagi.

Ia mulai dengan Neptunus, dan menjelaskan bahwa sistem itu dibuat oleh Cina Komunis, bahwa teknologinya dicuri dari dua kontraktor pertahanan AS, bahwa satelit itu diluncurkan dengan samaran dan tidak hanya mengelabui AS, tapi juga Rusia, Inggris, dan Israel. Ia menuturkan kisah panjang tentang tiga pemuda Pakistan itu—penemuan mereka yang bernasib buruk, ketakutan mereka karena apa yang telah mereka temukan, keingintahuan mereka karena mampu berkomunikasi dengan Neptunus, dan kehebatan mereka menyusun perangkat lunak yang sanggup memanipulasi dan menetralisasi sistem tersebut. Ia berbicara keras rentang keserakahannya yang mendebarkan untuk menjual JAM kepada pemerintah negara-negara, berharap dapat menangguk uang lebih banyak daripada yang pernah diimpikan siapa pun. Ia tidak setengah-setengah ketika mengisahkan kembali kecerobohan Jacy Hubbard, dan kebodohan rencana mereka untuk menjajakan

produk tersebut. Tanpa ragu-ragu, ia mengakui kesalahan-kesalahannya dan bertanggung jawab penuh atas kekacauan yang disebabkannya. Lalu ia mendesak maju.

Tidak, Rusia tidak berminat dengan penawarannya. Mereka punya satelit-satelit sendiri dan .tidak mampu bernegosiasi lebih lagi.

Tidak, tidak pernah tercapai kesepakatan dengan Israel. Mereka sudah hampir berhasil, cukup dekat untuk mengetahui kesepakatan dengan Saudi nyaris tercapai. Saudi sangat ingin membeli JAM. Mereka punya beberapa satelit, tapi tak ada yang setara Neptunus.

Tak ada yang setara Neptunus, bahkan satelit-satelit generasi terakhir milik Amerika.

Saudi sudah pernah melihat keempat disk tersebut. Dalam eksperimen yang dikontrol ketat, dua agen polisi rahasia mereka menyaksikan demonstrasi perangkat lunak itu yang dilakukan oleh ketiga pemuda Pakistan. Demonstrasi tersebut dilakukan di laboratorium komputer di kampus University of Maryland, dan merupakan pameran yang menakjubkan dan amat meyakinkan. Backman menyaksikannya, demikian juga Hubbard.

Saudi menawarkan seratus juta dolar untuk JAM. Hubbard, yang menganggap dirinya berteman dekat dengan pihak Saudi, menjadi ujung tombak negosiasi tersebut. "Ongkos transaksi" sebesar satu juta

dolar dibayarkan, uangnya ditransfer ke sebuah rekening bank di Zurich. Hubbard dan Backman membalas penawaran itu dengan meminta setengah miliar dolar.

Kemudian segala kekacauan menjadi lepas kendali. FBI menyerang dengan surat-surat perintah, gugatan, investigasi, dan Saudi ketakutan. Hubbard dibunuh. Joel kabur ke penjara untuk menyelamatkan diri, meninggalkan jejak kehancuran di belakangnya dan beberapa orang yang marah serta menyimpan dendam kesumat.

Setelah 45 maut, ringkasan itu berakhir tanpa sekali pun disela. Ketika Joel mengakhirinya, ketiga orang di ujung meja tidak mencatat apa-apa. Mereka terlain sibuk mendengarkan.

"Aku yakin kita. bisa bicara dengan pihak Israel," ujar Mayor Roland. "Kalau mereka yakin Saudi tidak akan menyentuh JAM, mereka bisa tidur lebih nyenyak Sudah bertahun-tahun kami berdiskusi dengan mereka. JAM adalah topik favorit. Aku yakin kemarahan mereka bisa dibendung."

"Bagaimana dengan Saudi?" . "Mereka juga bertanya-tanya, pada tingkat tinggi. Kita memiliki banyak kepentingan bersama belakangan ini. Aku yakin mereka akan lega bila mengetahui perangkat lunak ini sudah ada di

tangan kita dan tak ada pihak lain yang akan memperolehnya. Aku kenal baik dengan mereka, ' dan kurasa mereka akan menganggap ini sebagai transaksi yang gagal. Tinggal masalah kecil soal ongkos transaksi."

"Sejuta dolar cuma uang receh bagi mereka. Itu tak bisa dinegosiasikan."

"Baik. Jadi menurutku, tinggal pihak Cina."

"Ada saran?"

Clayburn belum bicara sepatah kata pun. Ia mencondongkan tubuh ke depan dan bertelekan siku, lalu berkata, "Menurut pendapatku, mereka tidak akan melupakannya. Klien-klienmu pada dasarnya telah membajak sistem yang tak ternilai harganya dan membuatnya tak berfungsi tanpa perangkat lunak buatan mereka. Cina memiliki sembilan satelit terbaik yang pernah dibuat di atas sana dan mereka tidak dapat menggunakannya. Mereka tidak akan mau memaafkan dan melupakan semuanya, dan kau tidak bisa menyalahkan mereka. Sayangnya, kita tidak punya banyak hal untuk ditawarkan pada Beijing dalam masalah-masalah intelijen yang sensitif."

Mayor Roland mengangguk. "Aku khawatir aku harus setuju dengan pendapat Senator. Kira bisa memberitahu mereka bahwa kita memiliki perangkat lunak itu, tapi mereka tidak akan melupakannya."

"Aku tidak menyalahkan mereka. Aku hanya ingin hidup, itu saja."

"Kami akan melakukan yang terbaik dengan Cina, tapi mungkin tidak banyak."

"Begini kesepakatannya, gentlemen. Kalian berjanji akan menyingkirkan CIA dari hidupku, dan kalian berusaha secepat mungkin meredakan ketegangan dengan Israel dan Saudi. Lakukan apa yang bisa dilakukan dengan Cina, dan aku mengerti bila itu tidak banyak berarti. Dan kalian memberiku dua paspor—satu Australia dan satu Kanada. Begitu keduanya siap, siang ini bukanlah waktu yang terlalu singkat, kalian membawa paspor-paspor itu padaku dan aku akan menyerahkan kedua disk yang lain."

"Setuju," ujar Roland. "Namun, tentu -saja, kami perlu melihat perangkat lunak itu."

Joel merogoh sakunya dan mengambil disk pertama dan kedua. Roland memanggil kembali dua teknisi komputer tadi, dan kelompok itu berkerumun di depan monitor yang lebar.

Seorang agen Mossad dengan nama. sandi Albert merasa melihat Neal Backman memasuki lobi Marriott di 22nd Street, Ia menelepon atasannya, dan dalam iga puluh menit dua agen lain sudah berada di dalam hotel. Albert melihat Neal Backman lagi

saru jam kemudian, ketika ia keluar dari lift sambil membawa koper yang tidak dibawanya masuk sebelum itu. Ia pergi ke meja resepsionis, tampak mengisi formulir registrasi. Lalu ia mengeluarkan dompet dan memberikan kartu kreditnya.

Neal Backman kembali masuk ke lift, tapi Albert kehilangan dia hanya dalam selisih sekian detik.

Kemungkinan Joel Backman tinggal di Marriot di 22nd Street adalah informasi penting, tapi juga menyuguhkan persoalan-persoalan besar. Pertama, membunuh warga Amerika di wilayah Amerika adalah operasi yang sangat peka, sehingga perlu dikonsultasikan dengan Perdana Menreri. Kedua, pembunuhan itu sendiri terbentur masalah logistik yang luar biasa rumit. Hotel tersebut memiliki enam ratus kamar, ratusan tamu, ratusan karyawan, ratusan pengunjung, dan paling sedikit ada lima konvensi sedang berlangsung di sana. Ribuan saksi potensial.

Namun demikian, sebuah rencana terbentuk dengan segera.

34

mereka makan siang bersama Senator di bagian belakang warung makan Vietnam dekat Dupont Circle, yang mereka anggap bebas dari kunjungan para pelobi dan pemain lama yang mungkin akan melihat mereka dan memulai rumor panas yang akan menghidupkan kota ini sekaligus me-macerkannya. Selama satu jam, sementara mereka berjuang dengan mi pedas yang terlalu panas untuk dimakan, Joel dan Neal mendengarkan nelayan dari Ocracoke menghujani mereka dengan kisah-kisah ranpa henti tentang masa-masa jayanya di Wasliington. Tak cuma sekali ia mengatakan ia tidak merindukan dunia politik, tapi kenangan-kenangannya akan hari-hari itu penuh dengan rahasia, humor, dan persahabatan. Clayburn memulai hari itu dengan berpendapat

bahwa sebutir peluru di kepala Joel Backman masih terlalu baik baginya, tapi ketika mereb saW mengucapkan selamat berpisah di trotoar di depan krfe itu, ia meminta Backman mengunjung dan melihat kapalnya, sekalian mengajak Neal juga Joel tak pernah memancing lagi sejak masa kanak-kanaknya, dan ia tahu jalannya tak akan pernah berbelok ke Outer Banks, tapi untuk menyatakan terima kasih ia berjanji untuk berusaha meluangkan waktu.

Tanpa sepengetahuannya, Joel sudah amat debt dengan peluru yang dibidikkan ke kepalanya. Selagi menyusuri Connecticut Avenue sesudah makan siang, mereka diawasi dengan ketat oleh Mossad. Penembak jitu sudah siap di belakang panel truk sewaan. Namun lampu hijau final masih belum didapat dari Tel Aviv. Dan trotoar itu sangat ramai.

Dari Halaman Kuning di kamar hotelnya, Neal menemukan toko pakaian pria yang mengiklankan pakaian yang siap dalam semalam. Ia bersemangat ingin membantu-ayahnya sangat membutuhkan pakaian baru. Joel membeli setelan tiga potong berwarna biru tua, kemeja resmi putih, dwdj

dua pasang sepatu resnu h» Separu

nilai MOOdotaAn-^J^H» boling itu ditinggalkan * ^ J pujinya, pun petugas penjualan mereka s

Tepat pukul empat sore, sambil duduk di kafe Starbucks di Massachusetts Avenue, Neal mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang diberikan oleh Mayor Roland. Ia memberikan ponsel itu kepada ayahnya.

Roland sendiri yang menjawab. "Kami dalam perjalanan," ujarnya.

"Kamar lima dua puluh," kata Joel, pandangannya mengamati para pengunjung kafe yang lain. "Berapa banyak yang datang?" "Kelompok yang cukup besar," sahut Roland. "Aku tidak peduli berapa banyak yang kaubawa, tinggalkan semua orang lain di lobi." "Aku bisa melakukannya." Mereka melupakan kopi mereka dan berjalan sepuluh blok kembali ke Marriott, setiap langkah mereka diawasi agen-agen Mossad bersenjata lengkap. Masih belum ada perintah dari Tel Aviv.

Ayah dan anak itu baru berada di kamar selama beberapa menit ketika terdengar ketukan di pintu.

Joel melayangkan pandangan gugup pada putranya, yang langsung membeku dan menatap ayahnya dengan panik Ini dia, batin Joel. Perjalanan panjang penuh ketegangan yang dimulai di jalan-jalan Bologna, dengan berjalan kaki, lalu taksi, lalu bus ke Modena, taksi lagi dalam perjalanan jauh ke Milan, lalu jalan kaki lagi, taksi-taksi lagi, kemudian kereta yang rencananya menuju

Stuttgart namun terpaksa berhenti tak terduga di Zug, tempat sopir taksi lain menerima uang dan mengantarnya ke Zurich, dua kali naik trem, lalu Franz dan BMW hijau yang melesat 150 kilometer menuju Munich, di mana kehangatan dan sambutan lengan Lufthansa mengantarnya kembali pulang. Ini bisa jadi akhir perjalanannya.

"Siapa?" tanya Joel sambil melangkah ke pintu.

"Wes Roland."

Joel mengintip dari lubang pintu, tak melihat siapa pun. Ia menarik napas panjang dan membuka pintu. Mayor itu sekarang mengenakan jaket sport dan dasi, sendirian dan tidak membawa apa-apa. Setidaknya ia tampak sendirian saja. Joel melirik lorong dan tidak melihat siapa pun yang berusaha bersembunyi. Dengan cepat ia menutup pintu dan memperkenalkan Roland kepada Neal.

"Ini paspor-paspornya," kata Roland, merogoh kantong mantelnya dan mengeluarkan dua paspor yang sudah tidak baru lagi. Yang pertama bersampul biru tua dengan tulisan AUSTRALIA dalam huruf-huruf emas. Joel membukanya dan melihat. fotonya terlebih dulu. Para teknisi telah mengambil foto kartu identitas Pentagon, membuat warna rambutnya terlihar lebih terang menghilangkan kacamata dan garis-garis keriput, dan menghasilkan foto yang lumayan bagus. Namanya Simon Wilson McAvoy. "Boleh juga," komentar Joel.

kat me

Yang kedua bersampul biru gelap, dengan canada dalam huruf-huruf emas tertera di bagian depan. Foto yang sama, dengan nama Kanada, Ian Rex Hatterboro. Joel mengangguk setuju dan menyodorkan kedua papsor tersebut kepada Neal untuk diperiksa.

"Ada persoalan tentang sidang juri kasus jual-beli pengampunan hukuman," kata Roland. "Kita belum sempat membicarakannya."

"Mayor, kau dan aku sama-sama tahu aku tidak terlibat dalam skandal itu. Kuharap CIA akan meyakinkan bocah-bocah di Hoover bahwa aku bersih. Aku tidak tahu-menahu akan ada pengampunan hukuman. Itu bukan skandalku."

"Anda mungkin akan dipanggil menghadap juri."

"Baiklah. Aku akan mengajukan diri. Toh tidak akan lama."

Roland tampak puas. Ia hanya pembawa pesan. Ia mulai membicarakan kepentingannya sendiri dalam tawar-menawar tersebut. "Sekarang, tentang perangkat lunaknya," ujarnya.

"Tidak ada di sini," sahut Joel, dengan sentuhan dramatis yang tak perlu. Ia mengangguk pada Neal, yang lalu keluar dari ruangan. "Tunggu sebentar," katanya pada Roland, yang alisnya mengernyit sementara matanya menyipit.

'Ada masalah?" Roland bertanya.

"Tidak. Paket itu ada di kamar lain. Maaf, masalahnya cukup lama aku bertingkah seperti mata-mata."

"Bukan tindakan yang buruk untuk orang dalam posisi Anda."

"Kurasa itu sudah menjadi gaya hidupku sekarang."

"Teknisi-teknisi kami masih bermain-main dengan dua disk pertama. Benar-benar karya yang luar biasa."

"Klienku memang anak-anak pintar, dan baik. Hanya jadi terlalu serakah, kurasa. Seperu beberapa orang lain."

Terdengar ketukan di pintu, dan Neal kembali masuk. Ia menyerahkan amplop kepada Joel, yang mengambil kedua disk tersebut, lalu memberikannya kepada Roland. "Terima kasih," ujar Roland. "Perlu nyali besar untuk melakukannya."

"Kurasa beberapa orang nyalinya lebih besar daripada otaknya."

Pertukaran itu pun berakhir. Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Roland berjalan ke pintu. Ia meraih kenop pintu, lalu teringat sesuatu yang lain. "Asal Anda tahu," ujarnya muram, "CIA cukup yakin bahwa Sammy Tin mendarat di New York siang tadi. Dengan penerbangan dari Milan." "Trims, kurang-lebih," kata Joel. Sewaktu Roland meninggalkan kamar hotel itu

dengan membawa amplop, Joel merebahkan diri di ranjang dan memejamkan matanya. Neal mengambil dua bir dari minibar dan duduk di kursi yang tak jauh dari sana. Ia menunggu beberapa menit, menyesap birnya, lalu akhirnya bertanya, "Dad, Sammy Tin itu siapa?" "Kau tidak ingin tahu."

"Oh, yeah. Aku ingin tahu semuanya. Dan kau akan menceritakannya padaku."

Pada pukul enam petang, mobil ibu Lisa berhenti di hiar salon tata rambut di Wisconsin Avenue di Georgetown. Joel turun dan mengucapkan selamat tinggal. Dan terima kasih. Neal melesat pergi, tak sabar ingin tiba di rumah.

Neal telah membuat janji lewat telepon beberapa jam sebelumnya, menyuap resepsionis dengan janji lima ratus dolar tunai. Seorang wanita bertubuh gempal bernama Maureen sudah menunggu, tidak terlalu senang harus bekerja lembur, tapi tetap saja ingin tahu siapa yang mau membayar semahal itu untuk pekerjaan mengecat rambut yang cepat.

Joel membayar di muka, berterima kasih pada resepsionis dan Maureen atas kesediaan mereka meluangkan waktu, lalu duduk di depan cermin. "Kau ingin menghapusnya?" tanya Maureen. "Tidak. Ayo cepat."

Tangannya menyentuh rambut Joel dan bertanya, "Siapa yang mengerjakannya?" "Seorang wanita di Italia." "Kau mau warna apa?" "Kelabu, seluruhnya." "Natural?"

"Tidak, sama sekali tidak natural. Bikin hampir putih seluruhnya."

Maureen memutar bola matanya ke arah si resepsionis. Macam-macam jenis orang yang datang kemari.

Maureen mulai bekerja. Si resepsionis pulang, mengunci pintu depan. Beberapa menit kemudian, Joel bertanya, "Kau masuk kerja besok?"

"Tidak, besok aku libur. Kenapa?"

"Karena aku perlu darang lagi besok. Aku akan menyukai warna yang lebih gelap besok, untuk menyembunyikan rambut kelabu yang kaubuat sekarang."

Tangan-tangan Maureen berhenti bekerja. "Kau kenapa sih?"

"Temui aku di sini tengah hari besok, dan aku akan membayar seribu dolar runai."

"Baiklah. Bagaimana lusa?"

"Aku sudah cukup senang kalau sebagian ubannya hilang."

Dan Sandberg sedang duduk-duduk saja di mejanya di Post sore itu ketika telepon berdering. Pria di ujung sambungan telepon memperkenalkan diri sebagai Joel Backman, dan mengatakan ia ingin bicara. Caller ID telepon Sandberg memperlihatkan nomor yang tak diketahui.

"Joel Backman sungguhan?" tanya Sandberg, gera-gapan meraih laptop-nyz.

"Satu-satunya Joel Backman yang kukenal." "Senang bertemu denganmu. Terakhir kali aku melihatmu, kau ada di pengadilan, mengaku bersalah atas segala macam kejahatan."

"Yang semuanya sudah dihapus bersih dengan pengampunan dari Presiden."

"Kukira kau disembunyikan di ujung dunia." 'Yeah, aku sudah bosan dengan Eropa. Merindukan lahan permainanku yang lama. Aku sudah kembali sekarang, siap berbisnis lagi." "Bisnis macam apa?"

"Keahlianku, tentu saja. Itulah yang ingin kubicarakan denganmu."

"Aku akan senang sekait. Tapi aku harus bertanya tentang pengampunan hukuman itu. Banyak desas-desus liar di sini."

"Itu hal pertama yang akan kita bicarakan, Mr. Sandberg. Bagaimana kalau besok pagi pukul sembilan?"

"Aku tidak akan ingkar janji. Di mana kita bertemu?"

"Aku akan menyewa presidential suite di Hay-Adams. Bawa fotografer kalau kau mau. Sang broker kembali ke arena."

Sandberg memutuskan sambungan dan menghubungi Rusty Lowell, sumbernya yang terbaik di CIA, dan seperti biasa, tak ada yang tahu di mana ia berada. Ia mencoba sumber lain di CIA, tapi tidak mendapatkan apa-apa.

Whitaker duduk di kabin kelas satu penerbangan Alitalia dari Milano ke Dulles. Di bagian depan itu, minuman kerasnya gratis dan mengalir tanpa henti, dan Whitaker berusaha keras untuk mabuk. Telepon dari Julia Javier tadi sangat mengejutkan. Ia mulai dengan pertanyaan yang bernada cukup ramah, "Ada yang melihat Marco di sana, Whitaker?"

"Tidak, tapi kami terus mencari."

"Menurutmu kalian akan menemukannya?"

"Ya, aku yakin ia akan muncul."

"Direktur sedang sangat antusias, Whitaket. Ia ingin tahu apakah kau akan menemukan Marco."

"Katakan, ya, kami akan menemukannya!"

"Dan di mana kau mencarinya, Whitaker?"

"Di antara Milano dan Zurich."

"Well, kau menyia-nyiakan waktu saja, Whitaker, karena Marco sudah muncul di Washington. Menemui Pentagon tadi siang. Lepas dari geng-gamanmu, Whitaker, membuat kami semua tampak seperti orang goblok." "Apal"

"Datanglah kemari, Whitaker, dan cepatlah." Dua puluh lima baris ke belakang, Luigi meringkuk rendah di kursi kelas ekonomi, bergesekan lutut dengan anak perempuan dua belas tahun yang mendengarkan musik rap paling jorok yang pernah didengarnya. Ia sendiri sudah menenggak minuman yang keempat. Tidak gratis, memang, tapi ia tidak peduli harganya.

Ia tahu Whitaker ada di depan sana, membuat catatan tentang bagaimana menimpakan segala kesalahan pada Luigi. Seharusnya ia melakukan hal yang sama, tapi sekarang ini ia hanya ingin minum. Washington selama minggu depan bukanlah tempat yang menyenangkan.

Pada pukul 18.02, Eastern Standard Time, telepon dari Tel Aviv memerintahkan pembunuhan atas Backman ditangguhkan. Berhenti. Batalkan. Berkemas-kemas dan mundur, tidak akan ada mayat kali uii.

Bagi para agen, berita itu lebih disukai. Mereka

dilatih untuk bergerak diam-diam, melakukan tugas, menghilang tanpa petunjuk, tanpa bukti, tanpa jejak. Bologna tempat yang lebih ideal daripada jalan-jalan padat di Washington, D.C.

Satu jam kemudian, Joel check out dari Marriott dan menikmati udara sejuk sambil berjalan-jalan. Namun ia tetap menyusuri jalan-jalan yang sibuk, dan tidak bersantai-santai. Ini bukan Bologna. Kota ini jauh berbeda setelah jam sibuk. Begitu para pelaju pulang dan lalu lintas mereda, situasi menjadi berbahaya.

Petugas di Hay-Adams lebih menyukai kredit, pembayaran dengan plastik, sesuatu yang tidak akan menyusahkan bagian akunting. Jarang sekali klien berkeras membayar runai, tapi klien yang satu ini amat bersikukuh. Pemesanan tempat telah dikonfirmasi, dan dengan senyum sepantasnya, ia menyerahkan kunci dan menyambut kedatangan Mr. Ferro di hotel mereka. "Ada bagasi, Sir?" "Tidak ada."

Dan itulah akhir percakapan singkar mereka. Mr. Ferro berjalan menuju lift dengan hanya membawa koper kulit hitam murahan.

17<>

35

Presidential suite di Hay-Adams berada di lantai delapan, dengan tiga jendela besar menghadap H Street, lalu Lafayette Park, kemudian White House. Di suite tersebut terdapat ranjang king-size, kamar mandi dengan kuningan mengilap dan marmer, dan ruang duduk berperabot antik dari periode tertentu, televisi dan telepon yang agak ketinggalan zaman, dan mesin faks yang amat jarang digunakan. Harga sewanya tiga ribu dolar semalam, tapi peduli apa sang broker dengan hal-hal semacam itu?

Kerika Sandberg mengetuk pintu pada pukul sembilan, ia hanya menunggu beberapa detik sebelum daun pintu dibuka dan sapaan hangat, "Pagi, Dan!" menyambutnya. Backman menyurukkan tangan kanan, dan sambil mengguncang-guncang-

kan tangan Sandberg penuh semangat, menve Sandberg ke wilayah kekuasaannya.

-Gembira sekali kau datang kemari» katanya "Mau kopi?"

"Yeah, tentu, hitam."

Sandberg menjatuhkan tas sandangnya di kursi dan mengamati Backman menuangkan kopi dari teko perak. Lebih kurus, dengan rambut lebih pendek dan nyaris putih seluruhnya, wajahnya tirus. Ada sedikit kesamaan dengan Backman si terdakwa, tapi tak banyak.

"Jangan sungkan-sungkan," kata Backman. "Aku sudah memesan sarapan. Mestinya akan tiba sebentar lagi."

Dengan hati-hati ia meletakkan dua cangkir di atas cawan masing-masing di meja pendek depan sofa, lalu berkata, "Mari kita bekerja. Kau mau menggunakan alat perekam?" "Kalau tidak ada kebenaran." "Aku lebih suka demikian. Menghilangkan kesalahpahaman." Mereka mengambil posisHnasing-masing. Sandberg

di. antara mereka, lalu ^JJ^ duduk bolpoin. Backman -^L^an dengan santai, di kursinya, rungkatnya disuang ^ ^ ^ aura percaya diri orang y merDCrhati-

hadapi perranyaan apa ^g nyaris belum

kan sepatunya, sol kare

digunakan. Tak ada goresan atau setitik debu pun di atas kulit hitam. Seperti biasa, sang ahli hukum tampil lengkap—setelan jas biru gelap, kemeja putih cemerlang dengan lipatan pergelangan tangan, manset emas, jepit kerah, dasi merah-emas yang menyita perhatian.

"Well, pertanyaan pertamanya adalah, di mana kau berada selama ini?"

"Eropa, jalan-jalan, melihat-lihat Kontinental."

"Selama dua bulan?"

"Ya, dan itu sudah cukup."

"Ada tempat tertentu?"

"Tidak juga. Aku menghabiskan banyak waktu di atas kereta, sarana perjalanan yang bagus. Kau bisa melihat-lihat dengan leluasa."

"Mengapa kau kembali?"

"Ini kampung halamanku. Ke mana lagi aku bisa pergi? Apa yang bisa kulakukan? Menggembel keliling Eropa kedengaran menyenangkan, dan memang tak bisa dimungkiri, tapi kau tidak bisa berkarier dengan cara itu. Aku punya pekerjaan." "Pekerjaan apa?"

"Seperti biasa. Relasi pemerintah, konsultasi." "Yang berarti melobi, bukan?" "Biroku memiliki cabang lobi, benar. Itu bagian penting bisnis kami, tapi bukan yang utama." "Biro apakah itu?" "Yang baru."

578

"Bantulah aku, Mr. Backman." "Aku akan membuka biro baru, Backman Group, dengan kantor-kantor di sini, New York, dan San Francisco. Mula-mula kami akan memiliki enam rekanan, dan akan berkembang menjadi dua puluh rekanan dalam waktu sekitar satu tahun." "Siapa orang-orang ini?"

"Oh, aku tidak bisa menyebut nama mereka sekarang. Kami sedang menyelesaikan urusan-urusan mendetail, menegosiasikan aspek-aspek terakhir, hal-hal yang peka. Kami merencanakan gunting pita pada tanggal satu Mei, dengan acara besar-besaran."

"Tak ragu lagi. Ini bukan biro hukum?" "Bukan, tapi nantinya kami akan menambahkan seksi legaL"

"Kupikir kau kehilangan izin pengacara ketika..."

"Memang benar. Tapi dengan pengampunan hukuman itu, aku sekarang berhak mengikuti ujian, pengacara lagi. Kalau aku mulai senang menuntut orang lagi, aku akan baca-baca buku sedikit dan mendapatkan izin praktik. Tapi itu tidak dalam waktu dekat, karena banyak hal lain yang harus kukerjakan."

"Pekerjaan seperti apa?" "Menggulirkan roda-roda biro ini supaya bisa jalan sendiri, mengumpulkan modal, dan, yang

paling penting, bertemu dengan klien-klien potensial."

"Dapatkah kau menyebutkan nama beberapa klienmu?"

"Tentu saja tidak, tapi jangan jauh-jauh selama beberapa minggu ini, dan informasi itu akan tersedia."

Telepon di meja berdering, dan Backman mengerutkan kening ke arahnya. "Tunggu sebentar. Aku sudah menunggu-nunggu telepon ini." Ia menghampiri telepon dan mengangkatnya. Sandberg mendengar, "Backman, ya, halo, Bob. Ya, aku akan berada di New York besok. Tunggu, bisakah aku meneleponmu satu jam lagi? Aku sedang mengerjakan sesuatu." Ia menutup telepon dan berkata, "Maaf."

Itu tadi Neal, menelepon pada pukul 09.15 tepat seperti rencana, dan ia akan menelepon setiap sepuluh menit selama satu jam meridatang.

"Tidak apa-apa," ujar Sandberg. "Mari kita berbicara tentang pengampunan hukuman itu. Kau sudah membaca tulisan tentang jual-beli abolisi itu?"

"Membaca? Aku bahkan sudah menyiapkan seregu pengacara, Dan. Orang-orangku sudah sangat sibuk dengan masalah ini. Nanti ketika Feds sudah berhasil mengumpulkan juri, kalau mereka sampai sejauh itu, aku sudah memberitahu mereka bahwa

aku ingin menjadi saksi pertama. Sama sekali tidak ada yang kusembunyikan, dan anggapan bahwa aku telah membeli pengampunan hukuman itu bisa ditindak secara hukum."

"Kau berniat mengajukan tuntutan?"

"Tentu saja. Pengacara-pengacaraku sedang mempersiapkan tuntutan pencemaran nama baik kepada The New York Times dan si pembawa kapak perang, Heath Frick. Pasti akan buruk sekali. Persidangannya akan seru, dan mereka akan membayarkan banyak uang kepadaku."

"Kau yakin aku mau mencetak kata-katamu itu?"

"Jelas! Dan mumpung kita sedang membicarakan hal itu, aku ingin memujimu dan surat kabarmu atas pengendalian diri kalian hingga sejauh ini. Agak tidak biasa, tapi tetap saja patut dipuji."

Tulisan Sandberg ke presidential suite ini sudah cukup heboh pada mulanya. Namun sekarang, ceritanya akan ditampilkan di halaman depan, besok pagi.

"Sekadar untuk dicatat, kau menyangkal membeli pengampunan hukumanmu itu?"

"Dengan keras, dengan spesifik, aku menyangkalnya. Dan aku akan menuntut siapa saja yang mengatakan sebaliknya."

"Jadi kenapa kau diberi pengampunan hukuman?"

Backman beringsut memindah berat tubuhnya dan baru bersiap-siap melancarkan penjelasan panjang-lebar ketika bel pintu berdengung. "Ah, sarapan," katanya, melompat berdiri. Ia membuka pintu dan seorang pramusaji berjas putih mendorong masuk kereta berisi kaviar dan segala kelengkapannya, telur orak-arik dengan truffle, dan sebotol sampanye Krug di dalam ember es. Sementara Backman menandatangani bon, pramusaji membuka tutup botol sampanye.

"Saru gelas atau dua?" tanya pramusaji itu.

"Segelas sampanye, Dan?"

Sandberg tak sanggup menahan diri untuk tidak melirik arlojinya. Sepertinya masih terlalu pagi unruk minuman keras, tapi kenapa tidak? Seberapa sering ia duduk di presidential suite dengan pemandangan ke arah White House sambil menyesap minuman bergelembung yang harganya tiga ratus dolar sebotol? "Oke, tapi sedikit saja."

Pramusaji mengisi dua gelas, meletakkan botol Krug kembali di dalam ember es, dan meninggalkan ruangan tepat ketika telepon berdering lagi. Kali ini Randall dari Bosron, dan ia pun harus menunggu saru jam lagi sementara Backman menyelesaikan urusannya.

Backman mengembalikan gagang telepon dan berkata, "Makanlah sedikit, Dan, aku memesan cukup banyak untuk kita berdua."

. "Tidak, terima kasih. Aku sudah makan bagel tadi." Ia mengambil gelas sampanye dan meneguknya.

Backman mencelupkan sepotong wafer asin ke dalam onggokan kaviar seharga lima ratus dolar dan memasukkannya ke mulut seperti remaja makan keripik jagung dan saus salsa. la mengunyah sambil mondar-mandir, gelas di tangan.

"Pengampunan hukumanku?" ia bertanya. "Aku meminta Presiden Morgan meninjau ulang kasusku. Sejujurnya, kupikir ia tidak tertarik, namun ia orang yang sangat brilian."

"Arthur Morgan?"

"Ya, penilaian terhadap dirinya terlalu rendah, Dan. Ia tidak pantas mendapatkan kekalahan yang dialaminya. Orang akan kehilangan dia. Jadi, semakin jauh Morgan mempelajari kasus itu, semakin prihatin dirinya. Ia melihat ke balik tabir asap pemerintah. Ia mengetahui kebohongan-kebohongan mereka. Sebagai mantan pengacara pembela, ia memahami betapa besar kekuasaan federal kalau mereka ingin mengambinghitamkan orang yang tidak bersalah.'

"Kau mau mengatakan bahwa kau tidak bersalah?"

"Tentu saja. Aku tidak melakukan kesalahan apa

»

pun.

"Tapi dulu kau mengaku bersalah di pengadilan."

"Dulu aku tidak punya pilihan. Pertama-tama, mereka menuduh aku dan Jacy Hubbard atas dakwaan-dakwaan palsu. Mereka tetap bergeming. Jadi kami bilang 'Ayo maju ke sidang. Ajukan kami ke hadapan juri.' Kami membuat Federal begitu ketakutan sehingga mereka melakukan apa yang selalu mereka lakukan. Mereka memburu teman-teman dan keluarga kami. Idiot-idiot gestapo itu menuntut putraku, Dan, bocah yang baru lulus sekolah hukum, yang tidak tahu apa-apa tentang urusanku. Bagaimana kalau kau menulis tentang hal itu?" "Sudah pernah."

"Pokoknya, aku tidak punya pilihan kecuali mengambil alih seluruh beban kesalahan. Itu semacam tanda kehormatan bagiku. Aku mengaku bersalah supaya semua tuntutan atas putraku dan rekanan-rekananku dibatalkan. Presiden Morgan berhasil membongkar tabir itu. Karena itulah aku diberi pengampunan hukuman. Aku layak mendapatkannya."

Sepotong wafer lagi, sesuap emas, dan seteguk Krug untuk menggelontornya. Backman mondar-mandir ke sana kemari, jasnya sudah dilepas sekarang, bak pria yang memiliki banyak beban untuk dilepaskan. Kemudian ia mendadak berhenti dan

berkata, "Sudah cukup kita membicarakan masa lalu, Dan. Mari kita berbicara tentang masa depan. Lihat White House yang ada di sana. Kau petnah berada di sana untuk makan malam kenegaraan, berpakaian resmi, penjaga berseragam marinir, wanita-wanita ramping bergaun indah?" "Belum."

Backman berdiri di depan jendela, memandang White House. "Aku pernah, dua kali," ujarnya dengan seberkas kesedihan dalam suaranya. "Dan aku akan kembali. Beri aku waktu dua atau tiga tahun, dan suatu hari nanti mereka akan memberikan sendiri undangan tebal dengan kertas yang berar dan huruf embos emas: Presiden dan Ibu Negara mengundang kehadiran Anda..."

Ia berbalik dan menatap sombong pada Sandberg. "Itulah kekuasaan, Dan. Untuk itulah aku hidup."

Kata-kara yang bagus, tapi bukan itu yang dicari Sandberg. Ia mengejutkan sang broker kembali ke realita dengan pertanyaan tajam, "Siapa yang membunuh Jacy Hubbard?"

Bahu Backman seolah luruh dan ia berjalan menghampiri ember es untuk mengisi gelas lagi. "Bunuh diri, Dan, sederhana saja. Jacy amat dipermalukan. Federal telah menghancurkannya. Ia tidak rahan lagi."

"Well, kau satu-satunya orang di kota ini yang percaya ia bunuh diri."

"Dan aku satu-satunya orang yang mengetahui kebenarannya. Kau mau memuat kalimat itu?" Ta."

"Mari kita bicara tentang hal lain." "Jujur saja, Mr. Backman, masa lalumu jauh lebih menarik daripada masa depanmu. Aku punya sumber bagus yang memberitahuku bahwa kau diampuni karena CIA ingin kau bebas, bahwa Morgan mendapat tekanan dari Teddy Maynard, dan mereka menyembunyikanmu di suatu tempat supaya bisa menonton siapa yang akan membunuhmu lebih dulu." "Kau butuh sumber-sumber baru." "Jadi kau menyangkal—" "Aku ada di sini.'" Backman membentangkan lengannya supaya Sandberg melihat segalanya. "Aku masih hidup/ Kalau CIA menghendaki aku mati, aku pasti sudah mati." Ia meneguk sampanye, lalu berkata, "Cari sumber yang lebih bagus. Kau mau makan telur? Sudah makin dingin lho." "Tidak, teruna kasih."

Backman mengambil piring kecil dan menyendok telur orak-arik dalam porsi cukup banyak, lalu makan sambil terus bergerak di seputar ruangan, dari satu jendela ke jendela lain, tak pernah jauh

dari pemandangan ke arah White House. "Enak juga, ada truffle-nya.."

"Tidak, terima kasih. Seberapa sering kau sarapan seperti ini?"

"Tidak cukup sering."

"Kau kenal Bob Critz?"

"Tentu saja, semua orang kenal Bob Critz. Ia telah berkecimpung di bidang ini sama lamanya denganku."

"Di mana kau berada ketika ia mari?"

"San Francisco, menginap di rumah teman, aku menontonnya di televisi. Benar-benar menyedihkan. Apa hubungan Critz denganku?"

"Hanya ingin tahu."

"Apakah- itu berarti kau kehabisan pertanyaan?"

Sandberg sedang membalik-balik halaman notesnya ketika telepon kembali berdering. Kali ini dari Ollie, dan Backman berjanji akan meneleponnya nanti.

"Di bawah fotograferku sudah menunggu," ujar Sandberg. "Editorku ingin melihat foto-foto." "Tentu saja."

Joel mengenakan jasnya kembali, mengecek dasi, rambut, dan giginya di cermin, lalu menyendok kaviar lagi ketika fotografer tiba dan menyiapkan peralatannya. Ia sedang menyesuaikan pencahayaan sementara Sandberg terus menyalakan alat perekam dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi.

Foto terbaik, menurut si fotografer, dan yang menurut Sandberg juga punya sentuhan menarik, adalah foto besar Joel duduk di atas sofa kulit warna merah keunguan, dengan potret tergantung di dinding di belakangnya. Ia berpose beberapa kali dekat jendela, berusaha menyertakan pemandangan White House di kejauhan.

Telepon terus-menerus berdering, dan akhirnya Joel mengabaikannya, Neal memang harus menelepon sedap lima menit kalau panggilannya tidak dijawab, sepuluh menit jika Joel mengangkatnya. Setelah pemotretan selama dua puluh menit, bunyi telepon membuat mereka senewen. Sang broker sangat sibuk. Fotografer pun menyelesaikan tugasnya, mengumpulkan peralaran, dan pergi. Sandberg tetap tinggal selama beberapa menit, lalu akhirnya berjalan menuju pintu. Ketika hendak pergi, ia berkata, "Mr. Backman, ini akan menjadi berita besar besok, tak perlu diragukan lagi. Tapi asal kau tahu, aku tidak memercayai separo kebohongan yang kauceritakan padaku tadi." "Separo yang mana?"

"Kau benar-benar bersalah. Begitu pula Hubbard. Ia tidak bunuh diri, dan kau kabur masuk penjara untuk menyelamatkan pantatmu. Maynard mengusahakan pengampunan hukuman untukmu. Arthur Morgan tidak tahu apa-apa."

"Bagus. Separo bagian itu tidak penting." "Apa yang penting?"

Sang broker sudah kembali. Pastikan itu dimuat di halaman depan."

Suasana hati Maureen sudah jauh lebih baik. Hari liburnya tak pernah menghasilkan seribu dolar. Ia mengantar Mr. Backman ke ruang pribadi di belakang, jauh dari wanita-wanita yang sedang ditata rambutnya di bagian depan salon. Bersama-sama, mereka meneliti warna rambut, dan akhirnya memilih yang paling mudah perawatannya. Bagi Maureen, "perawatan" berarti harapan untuk mendapatkan seribu dolar setiap lima minggu.

Joel tidak ambil pusing sedikit pun. Ia tidak akan pernah bertemu Maureen lagi.

Maureen mengubah rambut putih itu menjadi kelabu dan menambahkan warna cokelat cukup banyak untuk membuat wajah Backman lima tahun lebih muda.

Kepuasan diri sedang tidak ckperraruhkan dalam hal ini. Tampak muda tidak penting. Ia hanya ingin bersembunyi.

36

Tamu-tamunya yang terakhir di suite hotel membuatnya menangis. Neal, putra yang nyaris tak dikenalnya, dan Lisa, menantu yang belum pernah dilihatnya, menyerahkan Carrie, cucu perempuan berumur dua tahun yang hanya pernah diimpikannya, ke dalam pelukannya. Mula-mula Carrie juga menangis, tapi kemudian tenang sewaktu kakeknya menggendongnya ke sana kemari dan memperlihatkan White House kepadanya. Bersama cucunya, Backman berjalan dari satu jendela ke jendela lain, dari satu ruangan ke ruangan lain, sambil mengayun-ayiinkannya dan berbicara kepadanya seolah ia sudah berpengalaman dengan belasan cucu. Neal memotretnya, tapi ini orang yang berbeda. Hilang sudah setelan jas menterengnya; ia mengenakan celana chino dan kemeja kotak-kotak.

Lenyap sudah sesumbar dan arogansinya; ia hanya seorang kakek yang menempel terus pada cucu perempuannya yang cantik.

Layanan kamar mengantar makan siang yang terlambat berupa sup dan salad. Mereka menikmati jamuan keluarga yang tenang, yang pertama bagi Joel setelah bertahun-tahun lamanya. Ia makan dengan satu tangan karena tangannya yang lain masih sibuk memegangi Carrie yang duduk di lututnya, yang tak pernah berhenti mengayun-ayunkannya.

Joel memperingatkan mereka tentang berita Post besok pagi, dan menjelaskan alasan di balik itu. Penting baginya untuk terlihar di Washington, dan dengan cara yang paling mencolok. Dengan begitu, ia akan mengulur waktu, membuat bingung semua orang yang mungkin masih mencarinya. Berira itu akan menciptakan riak besar, dan akan dibicarakan selama berhari-hari, lama sesudah ia pergi.

Lisa ingin jawaban tentang bahaya yang mengancam Joel, dan Joel mengakui bahwa ia tidak tahu pasti. Ia akan menghilang selama beberapa waktu, terus bergerak, selalu waspada. Ia belajar banyak selama dua bulan rerakhir.

"Aku akan kembali dalam bebempa mmggu, ^ T*..aknakan waktu. Mudah-muclahan^ setelan dc v

keadaan akan lebih aman."

«Kau mau pergi ke mana?» tanya Neal.

"Aku akan naik kereta ke Philly, lalu naik pesawat ke Oakland. Aku ingin mengunjungi ibuku. Bagus juga kalau kau mengiriminya kartu sekali-sekali. Aku tidak akan terburu-buru, dan akhirnya akan sampai di suatu tempat di Eropa."

"Paspor mana yang akan kaugunakan?"

"Bukan yang kudapatkan kemarin."

"Apa?"

"Aku tidak akan membiarkan CIA memonitor gerakanku. Kecuali ada situasi darurat, aku tidak akan pernah menggunakan keduanya." "Lalu bagaimana kau bisa bepergian?" "Aku punya paspor lain. Ada teman yang me-minjamkannya padaku."

Neal melontarkan ratapan curiga, seolah tahu apa arti "teman" itu. Namun Lisa tidak melihatnya, dan Carrie memilih saat itu untuk pipis. Joel cepat-cepat mengangsurkannya kepada ibunya.

Sementara Lisa di kamar mandi untuk mengganti popok, Joel merendahkan suaranya dan berkata, "Tiga hal. Pertama, sewa biro keamanan untuk menyapu rumah, kantor, dan mobilmu. Kau akan terkejur. Biayanya sekitar sepuluh ribu, dan harus dilakukan secepatnya. Yang kedua, aku ingin kau mencarikan tempat di dekat-dekat sini. Ibuku, nenekmu, terperangkap di Oakland tanpa ada yang pernah menengoknya. Tempat yang baik harganya sekitar tiga sampai empat ribu sebulan."

"Kuanggap kau punya uang." , "Ketiga, ya, aku punya uang. Uang itu ada di rekening bank Maryland Trust di sini. Kau salah saru pemiliknya. Tarik dua puluh lima ribu untuk menutup biaya yang sudah kaukeluarkan sejauh ini, dan simpan sisanya di tempat yang tak jauh darimu."

"Aku tidak membutuhkan sebanyak itu."

"Well, belanjakanlah kalau begitu, oke? Santai saja dulu. Bawa anakmu ke Disney World."

"Bagaimana kita berhubungan?"

"Semenrara ini, lewat e-mail, rutinitas Grinch seperti biasa. Aku cukup jago, kau tahu."

"Apakah kau aman, Dad?"

"Yang paling buruk sudah berlalu."

Lisa kembali bersama Carrie, yang ingin kembali ke lutut yang terayun-ayun. Joel menggendongnya selama mungkin.

Ayah dan anak itu memasuki Union Station bersama-sama, sementara Lisa dan Carrie menunggu di mobil. Keramaian dan kesibukan stasiun membuat Joel gelisah lagi; kebiasaan-kebiasaan lama akan sulit dihilangkan. Ia menarik tas kabin, penuh dengan semua barang miliknya.

Ia membeli tiket ke Philadelphia, dan saat mc-

reka berjalan pelan menuju peron, Neal bertanya, "Aku ingin tahu ke mana kau akan pergi."

Joel berhenti dan menatapnya. "Aku akan kembali ke Bologna."

"Ada teman di sana, bukan?"

"Ya."

"Berjenis kelamin perempuan?" "Oh, jelas."

"Kenapa aku tidak kaget?"

"Mau bagaimana lagi, Nak? Itu selalu menjadi titik lemahku." "Orang Italia?" "Ya. Ia sangat istimewa." "Mereka memang selalu sangat istimewa." "Yang satu ini menyelamatkan nyawaku." "Ia tahu kau akan kembali?" "Kurasa begitu." "Berhati-hatilah, Dad." "Sampai jumpa sekitar satu bulan lagi." Mereka berpelukan dan mengucapkan selamat berpisah.

Catatan Pengarang

Latar belakangku adalah hukum, yang jelas bukan satelit dan spionase. Sekarang ini aku lebih takut pada peralatan elektronik berteknologi tinggi ketimbang setahun yang lalu. (Buku ini masih ditulis menggunakan program pengolah kata yang usianya sudah tiga belas tahun. Kalau ia mulai terbatuk-batuk, yang sepertinya semakin sering terjadi akhir-akhir ini, aku menahan napas. Pada saat ia menyerah, barangkali aku juga akan berhenti.)

Ini kisah fiksi, folks. Aku tidak tahu banyak tentang spionase, alat pengintaian elektronik, telepon satelit, smartphone, alat penyadap, alat perekam, mikrofon, dan orang-orang yang menggunakannya. Kalau ada bagian novel ini yang mendekati kebenaran, barangkali itu kesalahan.

memiliki kemewahan untuk melempar anak panah dart ke peta dunia dan memutuskan tempat untuk menyembunyikan Mr. Backman. Di mana saja sebenarnya bisa. Tapi aku memuja segala hal tentang Italia, dan harus kuakui, mataku tidak ditutup ketika aku melempar anak panah itu.

Riset (kata yang terlalu berlebihan) yang kulakukan membawaku ke Bologna, kota tua yang menyenangkan dan membuatku langsung jatuh cinta. Temanku, Luca Patuelli, membawaku berkeliling. Ia mengenal semua koki di Bologna, bukan sesuatu yang pantas diremehkan, dan selama kerja keras kami, berat badanku naik sekitar lima kilogram.

Terima kasih pada Luca, pada teman-temannya, dan kota mereka yang hangat dan menakjubkan. Terima kasih juga kepada Gene McDade, Mike Moody, dan Bert Colley.

JOHN GR1SHAM

THE

GRAMEDIA penerbit buku utama

JOHN GRISHAM

THE KING

OF TORTS

GRAMEDIA penerbit buku utama

0 Response to "THE BROKER 3"

Post a Comment