Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

THE BROKER 2

Itu ide bagus, Marco, tapi bukan aku yang me nentukan.

"Marco dengkulmu. Setiap kali aku menatap cer-min dan mengucapkan Marco, aku ingin tertawa."

"Ini bukan lelucon. Kau kenal Robert Critz?"

Marco terdiam sejenak. "Aku pernah bertemu dia beberapa kali selama tahun-tahun itu. Tidak pernah menggunakan dia. Cuma budak politik, seperti aku."

"Sahabat dekat Presiden Morgan, kepala staf, direktur kampanye."

1afcT

"Ia dibunuh semalam di London. Berarti ia orang kelima yang mari karena kau—Jacy Hubbard, tiga pemuda Pakistan itu, sekarang Critz. Pembunuhan-pembunuhan im belum berhenti, Marco, dan belum akan berhenti. Bersabarlah denganku. Aku hanya berusaha melindungimu-"

Marco mengenyakkan kepalanya di sandaran kepala dan memejamkan mata. Ia tidak bisa mengaitkan potongan-potongan teka-teki im.

Mereka keluar dan jalan raya dan berhenti untuk mengisi bahan bakar. Luigi kembali ke mobil sambil membawa dua cangkir kecil kopi kental. "Kopi untuk dibawa," kata Marco senang. "Kusangka penghujatan semacam itu dilarang di Italia."

"Makanan cepat saji sudah mulai menjalar masuk. Sungguh menyedihkan,"

"Salahkan saja Amerika. Semua orang juga melakukannya kok."

Tak berapa lama kemudian, mereka sudah tersendat-sendat di antara lalu lintas jam padat di pinggiran kota Bologna. Luigi berkata, "Mobil-mobil terbaik kami dibuat di sekitar sini, kau tahu. Ferrari, Lamborghini, Maserati, mobil-mobil hebat itu."

"Aku boleh dapat satu?" "Sori, tidak masuk dalam anggaran." "Apa tepatnya yang masuk dalam anggaran?" "Kehidupan tenang yang bersahaja." "Sudah kuduga."

"Jauh lebih mendingan daripada yang terakhir

kaualami."

Marco menyesap kopinya dan mengamati lalu ¦lintas. "Kau dulu kuliah di sini, bukan?"

"Ya. Universitas itu sudah seribu tahun usianya. Salah satu yang terbaik di dunia. Nanti akan kutunjukkan padamu."

Mereka memisahkan diri dari keramaian dan membelok ke daerah pemukiman yang jalannya berbatu-batu. Jalanannya menjadi lebih pendek dan sempit, dan Luigi tampaknya mengenal tempat ini dengan baik. Mereka mengikuti rambu-rambu yang mengarahkan mereka ke pusar kota, dan universitas. Tiba-tiba Luigi membanting setir, melompat ke atas trotoar, dan menyusupkan Fiat itu di celah sempit

yang hampir rak cukup lebar untuk sepeda mot0t "Ayo kita makan sesuatu," ajaknya, dan begitu berhasil menyusup keluar dari mobil, mereka pm, berjalan di trotoar dan bergegas menembus udara yang dingin.

Tempat persembunyian Marco berikutnya adalah hotel suram beberapa blok jauhnya dari tepi luar kota tua. "Sudah ada gejala pemotongan anggaran," gumam Marco sambil membuntuti Luigi melalui lobi yang sumpek ke arah tangga.

"Untuk beberapa hari saja," kata Luigi.

"Lalu apa?" Marco kerepotan menaikkan tas-tasnya di tangga yang sempit. Luigi tidak membawa apa-apa. Untung saja kamarnya ada di lantai dua, ruang kecil dengan ranjang mungil dan tirai yang' sudah berhari-hari tidak dibuka.

"Aku lebih suka Treviso," ujar Marco sambil memandangi dinding.

Luigi menyibakkan tirai. Sinar matahari tak banyak membantu. "Lumayan kok," katanya, tanpa keyakinan.

"Se\ penjaraku masih lebih mendingan." "Kau banyak mengeluh." "Untuk alasan yang tepat."

"Berbenahlah. Aku akan . ...

i t,__Zv™1 men«nuimu di bawah

sepuluh menit lagi. Ermanno sudah m

suaan menunggu.

Ermanno kelihatan sama terguncangnya dengan Marco akibat perubahan lokasi yang amat mendadak. Ia bingung dan gugup, seolah telah berusaha menyusul mereka sepanjang malam dari Treviso. Mereka berjalan bersamanya beberapa blok menuju bangunan apartemen yang tak terpelihara. Tak terlihat tanda-tanda adanya lift, jadi mereka mendaki empat lantai dan memasuki flat kecil dua kamar, yang bahkan memiliki lebih sedikit perabot dibandingkan apartemen di Treviso. Ermanno jelas telah mengemasi barang-barangnya dengan terburu-buru, dan berbenah lebih cepat lagi.

"Tempat tinggalmu lebih buruk daripadaku tempatku," komentar Marco sambil melihat berkeliling.

Di meja kecil tersebar bahan-bahan pelajaran yang mereka gunakan hari sebelumnya, sudah menunggu beraksi lagi.

"Aku akan kembali saat makan siang," kata Luigi, dan seketika itu menghilang.

"Andiamo a studiare," tandas Ermanno. Mari kita belajar.

"Aku sudah lupa semuanya."

"Tapi kemajuan kita sudah bagus kemarin."

"Tak bisakah kita pergi ke bar saja untuk cari minum? Aku benar-benar sedang tidak kepingin melakukan ini." Namun Ermanno telah menempatkan diri di seberang meja dan membuka

buku manualnya. Dengan enggan Marco men bil tempat di kursi di depannya. ^

Makan siang dan makan malam berlangsung tarm, kesan. Mereka hanya makan seadanya di trattotk gadungan, versi Italia untuk rumah makan cepat saji. Suasana hari Luigi sangat buruk dan di, berkeras, beberapa kali dengan agak ngotot, agar mereka hanya bicara dalam bahasa Italia. Luigi bicara perlahan, dengan jelas, dan mengulang kata-katanya sampai empat kali supaya Marco benar-benar mengerti, lalu melanjutkannya dengan kalimat berikut. Mustahil bisa menikmati makanan dalam suasana yang begitu menekan.

Pada tengah malam, Marco berbaring di ranjangnya, di dalam kamarnya yang dingin, terbungkus rapat dalam selimut tipis, menyesap jus jeruk yang dipesannya sendiri, dan berusaha menghafal daftar demi daftar kata kerja dan kata sifat.

V gaangan yang telah dilakukan Robert Critz rj"» ia *b»nuh oleh orang-orang yang boleh itu SSedans mcncari Joel Backman? Pertanyaan ganjU untuk majukan. Ia tak

cS/f^f 'awab*nnya. Ia beranggap hukuman itu dT* J?4* ^putusan pengampun»" memilua kernam m*1Uan presiden Morgan tak PUan unt"k mengambil keputu»»»

194

itu

sendiri. Namun, di lain pihak, sulit sekali membayangku! Critz terlibat pada aras yang lebih tinggi. Telah berpuluh-puluh tahun ia membuktikan ^jnya tak lebih dari sekadar pelaksana yang baik ft^ya sedikit orang yang percaya kepadanya.

Tetapi jika masih ada orang-orang yang bertumbangan, sangat penting bagi Marco untuk mempelajari kata kerja dan kata sifat yang berserakan di ranjangnya. Kemampuan bahasa berarti kemampuan untuk bertahan hidup, dan mobilitas. Luigi dan Ermanno tak lama lagi akan pergi, dan Marco Lazzeri harus bisa berjuang sendiri.

195

12

Marco membebaskan diri dari kamar—atau "apartemen" begitu sebutannya—yang menyaat kari, dan berjalan-jalan cukup jauh pada pagi han saat matahari baru saja terbit. Trotoar hamp sama Iembapnya dengan udara yang menggigil Berbekal peta saku yang diberikan Luigi padanya semua dalam bahasa Italia tentu saja, ia berjalan menuju kota tua, dan begitu melewati reruntuhan o^nding-dmding kuno Porta San Domto, ia pu mengarah ke batat di Via Irnerio, di tepi utara kawasan universitas di Bologna. Trotoar di sana sudah berabad-abad usianya dan dinaungi port® melengkung yang tampak bermil-mil panjangnya Terlihat jelas bahwa kehidupan di kawasan u1"' versitas itu dimulai agak siang. Hanya seseW ada mobil lewat, diikuti satu-dua sepeda, tapi lal"

lintas pejalan kaki masih terlelap. Luigi pernah f menerangkan bahwa dalam sejarah Bologna memiliki kecenderungan yang bersifat kiri, komunis. Sejarah yang amat kaya, dan Luigi berjanji akan menjelaskan lebih jauh kepadanya.

Di depan, Marco melihat tanda neon hijau kecil yang mengiklankan Bar Fontana, dan ketika berjalan ke sana ia langsung mencium aroma kopi yang kuat. Bar itu terjepit di sudut bangunan kuno—tapi kenyataannya semua bangunan di sana memang sudah kuno. Pintu terbuka dengan enggan, dan'begitu berada di dalam, Marco nyaris tersenyum mencium aromanya—kopi, rokok, pastri, sarapan yang sedang dipanggang di belakang. Lalu datanglah rasa takut, kebimbangan seperti biasa ketika hendak memesan sesuatu dalam bahasa asing.

Bar Fontana bukan tempat untuk mahasiswa, ataupun wanita. Pengunjung-pengunjungnya sebaya dengannya, lima puluh tahun ke atas, dengan dandanan yang sedikit nyentrik, serta cukup banyak pipa serta jenggot yang menandainya sebagai tempat bersantai para dosen dan pengajar. Satu-dua orang meliriknya, namun di tengah universitas dengan seratus ribu mahasiswa, sulir bagi siapa pun untuk menarik perhatian orang lain.

Marco mendapatkan meja kecil terakhir di belakang, dan ketika akhirnya ia sudah nyaman di

197

posisinya dengan punggung menghadap dindi, .boleh dibilang ia duduk berdempetan deng tetangga-tetangganya yang baru, keduanya jam sama tenggelam dalam koran pagi dan seperanj tak seorang pun memerhatikannya. Dalam sak satu ceramah Luigi tentang kebudayaan Italia, i menjelaskan konsep ruang di Eropa, dan bagai mana konsep tersebut sangat berbeda dengan pemahaman Amerika. Di Eropa, ruang tersebut dibagi dengan orang lain, tidak dilindungi dari orang lain. Orang-orang berbagi meja, dan berb; udara, karena jelas tak seorang pita keberatan dengan asap rokok Mobil, rumah, bus, apartemen kafe—begitu banyak aspek penting kehidupan yang terlalu sempit, sehingga berdesakan, dan oJeh sebab ku harus dibagi dengan rela. Percakapan h antarteman yang berlangsung dengan hidung nyaris bersentuhan tidak akan dianggap tak sopan, karena tidak ada ruang pribadi yang dilanggar. Berbicara dengan gerak rangan, pelukan, rangkulan, bahkan ciuman sesekali.

Bagi orang Amerika, bahkan untuk ukuran orang yang cukup ramah, kedekatan seperti itu sangat sulit dimengerti.

Marco pun belum siap menyerahkan banyak ruang untuk dibagi. Diambilnya menu yang sudah kusut di meja, dan dengan cepat ia memilih j makanan pertama yang dikenalnya. Ketika pe- j

198

layan berhenti dan menunduk meliriknya, ia berkata, dengan gaya sesantai mungkin yang bisa f dikerahkannya, "Espresso, e un panino al formaggio." [ Sandwich keju kecil.

Pelayan mengangguk mengerti. Tak seorang [ pun melirik karena mendengar bahasa Italia-nya j yang beraksen. Tidak ada koran yang diturunkan [ untuk melihat siapa yang tadi berkata-kata. Tak [ ada yang peduli. Mereka biasa mendengar aksen : asing sepanjang waktu. Sewaktu meletakkan menu kembali ke meja, Marco Lazzeri memutuskan ia mungkin menyukai Bologna, bahkan bila terbukti tempat ini adalah sarang Komunis. Dengan begitu banyaknya mahasiswa dan pengajar datang dan pergi, dan berasal dari seluruh penjuru dunia, orang asing diterima sebagai bagian kebudayaan. Barangkali malah unik bila orang memiliki aksen dan cara berpakaian yang berbeda. Barangkali tidak masalah juga terang-terangan menyatakan diri sedang mempelajari bahasa.

Satu pertanda orang asing adalah ia mengamati segalanya, matanya jelalatan kian kemari seolah tahu ia telah melanggar garis kebudayaan lain dan tidak ingin ketahuan. Marco tidak akari tertangkap basah sedang mengamati keadaan di Bar Fbnrana. Ia mengeluarkan buklet daftar kosa kata dan dengan sekuat tenaga berusaha mengabaikan orang-orang dan pemandangan yang ingin diamatinya.

Kan kerja, kara kerja, kata kerja. Ermanno seJa|„ berkata bahwa untuk menguasai bahasa Italia, atau bahasa Romawi pada umumnya, orang harus mengetahui kara kerja. Daftar itu memuat seribu kata kena dasar, dan JErmanno menyatakan itu adalah titik berangkat yang baik.

Meski menghafal luar kepala amadah menjemukan, anehnya Marco senang melakukannya, h mendapatkan kepuasan dalam menghafal cepat empat halaman—seratus kata kerja, atau kata benda, atau apa pun juga—dan tak melewatkan satu pun. Kalau ia melakukan satu kesalahan, atau keliru mengucapkan, ia akan kembali dari awal dan menghukum dirinya dengan mengulang semuanya. Ia telah menaklukkan tiga ratus kata kerja ketib kopi dan sanduAch-nya datang, la menyesap kopinya, kembali bekerja seolah makanan itu kurang penting dibandingkan kosa katanya, dan sedang melewati angka empat ratus ketika Rudolph datang.

Kursi di seberang meja bundar Marco kosong, dan itu menarik perhatian seorang lelaki gemuk j pendek, yang mengenakan pakaian hitam pudar sekujur badan, dengan rambut kelabu ikal tebal yang mencuat dari seluruh bagian kepalanya, beberapa nyark tak bisa ditahan baret hitam yang entah bagaimana berha.il map bertengger di atii «m. ****** £ libera?" \a berunya sopan, me- i nun/uk kurs, kosong tersebut. Marco tidak terlalu

jtin dengan apa yang dikatakannya, tapi jelas mengerti apa yang ia inginkan. Lalu ia menangkap f fata "Hberu" dan berasumsi itu berarti "bebas" atau

! "kosong".

"Si," kata Marco, berhasil mengucapkannya tanpa aksen. Lalu pria itu melepas mantel hitamnya yang panjang, menyampirkanhya di kursi, dan beringsut mencari posisi. Ketika akhirnya orang itu duduk, jarak di antara mereka tak sampai semeter jauhnya. Konsep ruang memang berbeda di sini, f Marco terus-menerus mengingatkan diri. Pria itu meletakkan koran L'Unitk di meja, membuat mejanya bergoyang-goyang. Sejenak Marco mengkhawatirkan espresso-nya. Untuk menghindari percakapan, ia membenamkan wajah semakin jauh dalam daftar kosa kata Ermanno.

"Amerika?" tanya kawan barunya, dalam bahasa Inggris yang tidak beraksen asing.

Marco menurunkan bukletnya dan memandang mata yang berbinar tak jauh darinya. "Cukup dekat. Kanada. Bagaimana kau tahu?"

Orang itu mengangguk ke arah buklet itu dan berkata, "Kosa kata bahasa Inggris-Itatia. Kau tidak kelihatan seperti onne insoria /adi kupikir kau orang Amerika, mungkin bukan berasal dari Upper

seperti orang Inggris, /a

Menilai aksennya, orang itu Midwest. Bu-

Total .«u

New Orleans. Setelah hampir seluruh negara bagj^ disisihkan, Marco mulai menduga California. (W ta mulai merasa sangar trugup. Kebohongan in, akan segera dimulai, dan ia belum cukup banvafc berkali.

"Dan kau dui mana?" ia bertanya.

"ftrhenrian terakhir Austin, Texas. lapi itu sudah tiga puluh tahun yang lalu. Namaku Rudolph."

"Selamat pagi, Rudolph, senang berkenalan de- ] aganmu. Aku Marco." Mereka seperti murid taman | kanak-kanak yang tidak membutuhkan nama keluarga "Kau tidak kedengaran seperti orang Texas."

"Syukurlah." u/ar orang itu sambil tertawa menye- I nangkan, nyaris tak memperlihatkan mulurnya. 1 "Asli San Francisco."

Pelayan darang dan Rudolph memesan kopi f hitam, lalu sesuaru yang lain dalam bahasa Italia j yang cepat Pelayan itu membalas, diikuti Rudolph f lagi, dan Marco cak memahami separah kara pun yang mereka ucapkan. J

^P* yang membawamu ke Bologna?" tanya f Rudolph. Sepertinya ia ingin sekali bercakap-cakap: mungkin tidak sering ia bisa menyudutkan sesama I °raMarcTrika ,Jta,a * daJam kafe iritnya.

lihat pemandang J*" Scli"na setah""' m<»n* I nyx- w' «ennaha mempelajari bahan

Separo wajah Rudolph tertutup cambang kelabu ¦ aJt terurus yang tumbuh cukup tinggi di tulang

II pipinya dan terus mencuat ke segala arah. Sebagian f besar hidungnya masih kelihatan, begitu pula sebagian mulurnya. Entah untuk alasan aneh apa, alasan yang tak akan pernah dipahami siapa pun karena tak akan ada orang yang berani mengajukan pertanyaan sekonyol itu, Rudolph memiliki kebiasaan mencukur daerah bundar kecil di bawah bibirnya, termasuk sebagian besar dagu sebelah atas. Selain area keramat tersebut, jenggot dan cambang liar itu diizinkan tumbuh bebas dan sepertinya tak tersentuh sabun juga. Bagian atas kepalanya pun tak jauh berbeda— segumpal sesemakan kelabu terang yang rak pernah terjamah, muncrat dari seputar topi baretnya.

Karena begitu banyak karakter wajahnya yang terhalang dari pandangan, matanyalah yang mendapat perhatian penuh. Kedua mata itu hijau tua dan memancarkan sinar yang, dari bawah alis lebar, memerhatikan segalanya. "Berapa lama di Bologna?" tanya Rudolph. "Baru sampai di sini kemarin. Aku rida k punya jadwal. Dan kau, apa yang membawamu kemari? Marco ingin segera membelokkan percakapan menjauh dari dirinya.

Kedua mata itu menari-nari dan tak pernah berkedip. "Sudah tiga puluh tahun aku tinggal di sini. Aku profesor di universitas-

AHumya Marco menggigit sandwich kejunya, se. bagian karena lapar, rapi yang lebih penting untuk membiarkan Rudolph terus bicara.

'Di mana rumahmu? ia bertanya.

Mengikuti skenario, Marco menjawab, Toronto. Kakek-nenekku berimigrasi dari Milan. Aku memiliki darah Italia rapi tidak pernah mempelajari bahasanya.*

Tidak sulit kok," ujar Rudolph, kemudian kopinya datang. Dipegangnya cangkir kecil itu dan disurukkannya dalam-dalam ke jenggotnya. Rupanya cangkir mi berhasil menemukan mulurnya, la mendecakkan bibir dan mencondongkan tubuh ke depan seperti hendak bicara. "Kau tidak kedengaran seperti orang Kanada," kata Rudolph, mata itu tampak seperti menertawakannya.

Marco sudah berjuang keras berpenampilan, bertingkah, dan berbicara seperti orang halia, la bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan apakah dirinya bergaya seperti orang Kanada. Bagaimana sebenarnya gaya Kanada itu? Ia menggigit utndvnch-ttfa lagi, besar-besar, dan dengan mulut penuh ia berkata, "Apa dayaku? Bagaimana kau bisa sampai di sini dari Austin?"

"Ceritanya panjang"

Marco mengangkat bahu c»nUk s„ l i.

«anu seolah ia punya banyak

sekali waktu. '

"Aku dulu mengajar 8ebagai ^ ^ ^

Fakultas Hukum University of Texas. Sewaktu ' mereka memergoki aku Komunis, mereka mulai menekanku agar pergi. Aku melawan. Mereka balas melawan. Kata-kataku semakin keras, terutama di dalam kelas. Komunis tidak punya banyak tempat ¦ di Texas pada awal tahun tujuh puluhan, dan aku tak yakin sekarang pun keadaannya jauh berbeda. Mereka tidak memberiku status pengajar tetap, menyuruhku hengkang dari sana, jadi aku datang ke Bologna, jantung komunisme Italia."

"Kau mengajar apa di sini?"

Turispridensi. Hukum. Teori-teori legal sayap-kiri radikal."

Semacam brioche bertabur gula halus muncul dan Rudolph melahap separonya dengan gigitan pertama. Remah-remah bertaburan dari kedalaman jenggotnya.

"Masih jadi Komunis?" tanya Marco.

Tentu saja. Selalu. Mengapa aku harus berubah?"

"Karena sepertinya sudah mandek, bukan? Ternyata bukan gagasan yang terlalu bagus. Maksudku, lihat saja kekacauan yang dialami Rusia akibat Stalin dan warisannya. Dan Korea Utara, mereka kelaparan di sana sementara diktatornya membuat hulu-hulu ledak nuklir. Kuba ketinggalan lima puluh tahun dari seluruh dunia. Sandinista kalah dalam pemilihan di Nikaragua. Cina berpaling ke

kapitalisme pasar bebas karena sistemnya yang lama gagal total. Gagasan itu tidak berhasil, bukan?"

Brioche itu jadi kehilangan daya tariknya; kedua mata yang hijau itu menyipit. Marco bisa melihat datangnya pidato panjang penuh kemarahan, mungkin ditingkahi sumpah serapah dalam bahasa Inggris dan Italia. Ia melirik cepat ke sekelilingnya dan menyadari besar kemungkinan jumlah Komunis di Bar Fontana cukup banyak untuk mengalahkannya.

Lagi pula, apa yang telah diberikan kapitalisme padanya?

Dengan sikap yang pantas mendapat pujian, Rudolph tersenyum dan mengangkat bahu, lalu berkata dengan perasaan penuh nostalgia, "Barangkali demikian, tapi jelas mengasyikkan menjadi Komunis tiga puluh tahun yang lalu, terutama di Texas. Masa-masa yang menyenangkan."

Marco mengedikkan kepala ke arah surat kabar dan berkata, "Sering baca koran dari kampung halaman?"

"Kampung halamanku di sini, kawan. Aku sudah j menjadi warga negara Italia dan belum pernah kembali lagi ke Amerika sejak dua puluh tahun lalu."

Backraan lega. Ia belum pernah melihat surat kabar Amerika sejak dibebaskan, namun ia beranggapan ada liput» tentang dirinya. Mungkin juga foto-foto lama. Masa . .

Mardo bertanya-tanya sendiri, seperti itukah masa" depannya nanti—kewarganegaraan Italia. Kalaupun ia diberi kewarganegaraan. Dua puluh tahun mendatang, apakah ia masih terus menjelajah Italia, tak lagi menoleh ke belakang tapi senantiasa memikirkannya?

"Kau 'bilang 'kampung halaman'," sela Rudolph. "Itu Amerika Serikat atau Kanada?"

Marco tersenyum dan mengangguk ke tempat yang jauh. "Di sana, kurasa." Kesalahan kecil, tapi seharusnya tidak terjadi. Untuk mengdihkan pembicaraan dengan cepat, ia berkata, "Ini kunjungan pertamaku ke Bologna.' Aku tidak tahu tempat ini adalah pusat komunisme di Italia."

Rudolph menurunkan cangkirnya dan mencecap bibirnya yang agak tersembunyi. Lalu dengan kedua tangan ia menyibakkan jenggotnya perlahan ke belakang, sangat mirip kucing tua yang menjilati bulunya. "Bologna itu bermacam-macam, kawan," ujarnya, seolah sebentar lagi dimulailah kuliah yang panjang. "Tempat ini selalu menjadi pusat kebebasan berpikir dan aktivitas intelektual di Italia, yang memberinya nama pertama, la dotta, yang berarti berpendidikan. Lalu ia menjadi markas politik kiri dan mendapatkan sebutannya yang kedua, la rosso, merah. Dan Bolognesi tak pernah setengah-setengah kalau menyangkut makanan. Mereka yakin, dan mereka mungkin benar, bahwa

tempat ini adalah perut Italia. Karenanya, muncul-lah sebutan ketiga, la grassa, lemak, panggilan yang ramah karena kau tidak akan banyak melihat orang gemuk di sini. Kalau aku, aku sudah gemuk ketika datang."' Dengan bangga ditepuk-tepuknya perutnya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lain menghabiskan brioche-nya.

Pertanyaan yang menakutkan seketika menguasai Marco: Mungkinkah Rudolph bagian dari dengung statis? Apakah ia rekan satu tim Luigj, Ermanno, Stennet, dan siapa pun yang ada di balik bayang-bayang berusaha keras menjaga Joel Backman tetap j hidup? Tidak mungkin. Pasti ia seperti apa yang dikarakannya—-profesor. Orang aneh, eksentrik, Komunis tua yang menemukan kehidupan yang lebih baik di tempat lain.

Pikiran itu berlalu, namun tak sepenuhnya dilupakan. Marco menghabiskan sandwich kecilnya dan memutuskan mereka sudah banyak bicara. Tiba-tiba ia harus mengejar kereta untuk pergi melihat-lihat lagi. Ia berhasil membebaskan diri dan meja dan mendapat ucapan selamat berpisah yang menyenangkan dari Rudolph. "Aku datang kemari setiap pagi" ujarnya. "Datanglah lagi kalau kau punya banyak waktu."

"Grazie,"ktta Marco. "Arrivederci." Di luar kafe, Via Irnerio mulai menggeliat hidup i

ketika mobil-mobil oeneanM.. ~. „ .t • . i, i pengantar memulai trayek-

nya. Dua pengemudi saling berteriak, mungkin melontarkan ejekan antarteman yang tak akan dipahami Marco. Ia bergegas pergi menjauh dari kafe tersebut kalau-kalau terpikir oleh si Rudolph tua untuk menanyakan sesuatu padanya dan mengejarnya ke luar. Ia berbelok di jalan kecil, Via Capo di Lucca—ia melihat bahwa jalan-jalan itu memiliki tanda yang jelas dan mudah ditemukan di petanya—dan menempuh jalur berliku-liku menuju pusat. Ia melewati kafe lain yang tampak nyaman, lalu mundur kembali dan masuk untuk menikmati secangkir cappuccino.

Tak ada Komunis yang mengusiknya di sana, tak seorang pun memerhatikan dia. Marco dan Joel Backman menikmati saat itu—minuman kuat yang nikmat, udara yang hangat dan padat, tawa pelan meteka yang bercakap-cakap. Saat itu, tak seorang pun di dunia tahu di mana tepatnya ia berada, dan perasaan itu sungguh" menggairahkan.

Atas desakan Marco, sesi pelajaran pagi itu dimulai pada pukul delapan, bukannya tiga puluh menit kemudian. Ermanno, si mahasiswa, masih membutuhkan jam-jam tidur nyenyak yang panjang, tapi ia tidak membantah kehendak keras muridnya. Marco datang pada setiap sesi dengan daftar kosa kara yang sudah dihafal dengan baik, dialog-dialog

situasional telah disempurnakan, dan hasratnya yang mendesak untuk menyerap bahasa tersebut nyaris tak terbendung. Pada suatu ketika ia mengusulkan mereka mulai pukul tujuh pagi.

Pada pagi hari ia bertemu Rudolph, Marco belajar tekun selama dua jam tanpa henti, lalu tiba-tiba berkata, "Vorrei vedere luniversita." Aku ingin melihat universitas. "Quando?" tanya Ermanno. Kapan? "Adesso. Andiamo a fare una passeggiata." Sebiang. Mari kita berjalan-jalan.

"Perm che dobbiamo studiare." Kurasa sebaiknya kita belajar.

"SL Possiamo studiare a camminando." Kita bisa belajar sambil berjalan-jalan.

Marco sudah berdiri, mengambil mantelnya. Mereka meninggalkan bangunan yang muram itu dan berjalan ke arah universitas.

"Quota via, come si chiafna?" tanya Ermanno. Apa nama jalan ini?

"B Via Donari," sahut Marco tanpa mencari tanda jalan tersebut. o$M

Mereka berhenti di depan toko kecil yang padat dan Ermanno bertanya, "Che tipo di negozio e questo?" Toko apa ini?

"Una tabbacheria,"'Toko tembakau.

"Che cosa puoi comprare in questo negozio?" Api yang bisa kaubeli di sini?

"Poso comprare molte cose. Giornali, riviste, kncobolli, sigarette." Aku bisa membeli banyak batang. Surat kabar, majalah, prangko, rokok.

Sesi pelajaran itu menjadi permainan tebak-tebakan nama benda. Ermanno menuding dan bertanya, "Cosa k quello?" Itu apa? Sepeda, polisi, mobil bim, bus kota, bangku, tong sampah, mahasiswa, bilik telepon, anjing kecil, kafe, toko kue. Kecuali tiang lampu, Marco menjawab semuanya dalam bahasa Italia dengan cepat. Juga semua kata kerja yang penting—berjalan, berbicara, melihat, belajar, membeli, berpikir, mengobrol, bernapas, makan, minum, bergegas, mengemudi—daftarnya tak kunjung henti dan Marco bisa menerjemahkan semua dengan baik.

Beberapa menit selewat pukul sepuluh, universitas pun mulai tampak hidup. Ermanno menjelaskan kampus pusat, tidak ada bangunan segi empat bergaya Amerika dengan pepohonan di tepinya. Universita degli Studi dapat ditemukan di puluhan bangunan tua yang kokoh, beberapa sudah berusia lima ratus tahun, sebagian besar memenuhi Via Zamboni dari ujung ke ujung, walaupun seiring abad-abad berlalu, sekolah itu telah berkembang dan sekarang memenuhi seluruh bagian kota Bolegna.

Pelajaran bahasa Italia dilupakan sepanjang satu-dua blok sementara mereka tersapu gelombang

para mahasiswa yang bergegas ke dan dari kur ] mereka. Marco mendapati dirinya mencari se0r pria tua dengan rambut kelabu terang--si KonuJ favoritnya, kenalannya yang pertama sejak ia keW dari penjara. Ia sudah memutuskan untuk menemui Rudolph lagi.

Di Via Zamboni 22, Marco berhenti dan menatap papan nama di antara pintu dan jendela: FACOITA DI GIURISPRUDENZA.

"Apakah ini fakultas hukum?" tanya Marco.

"51"

Rudolph ada di suatu tempat di dalam, tak ragu lagi sedang menyebarkan pandangan sayap-kiri di antara para mahasiswanya yang mudah percaya.

Mereka terus berjalan dengan langkah santai, tak terburu-buru sembari meneruskan permainan tebak nama dan menikmati energi yang menguar di jalan.

13

Lezione-a-piede, atau terjemahan bebasnya "pelajaran sambil berjalan-jalan", dilanjutkan keesokan bannya ketika Marco sudah muak dengan pelajaran tata bahasa membosankan yang dipelajari langsung dari buku teks, dan ia menuntut mereka pergi berjalan-jalan lagi.

Mo, deve imprare la grammatica," Ermanno ber-keras. Kau harus mempelajari tata bahasa.

Marco sudah mulai mengenakan mantelnya. "Di «tulah letak kesalahanmu, Ermanno. Aku membutuhkan percakapan sungguhan, bukan struktur kalimat."

"Sono io l'insegnante." Akulah gurunya.

"Ayo. Andiamo. Bologna sudah menunggu. Jalanan dipenuhi anak muda yang bahagia, udara terasa hidup oleh bunyi bahasamu, semua me-

. """SB" ««"U* kuserap." Sewaktu Ermanno ragu. ragu, Marco tersenyum padanya dan berkata, "Kumohon, kawan. Aku pernah dikurung dalam' sel kecil seukuran apartemen ini. Kau tidak bisa mengharapkanku mendekam saja di sini. Di luar sana ada kota yang meriah. Mari kita menjelajahinya3

Di luar udara bersih dan sejuk, tak ada awan sedikit pun, suatu hari di musim dingin yang indah, yang menarik semua Bolognesi berdarah merah untuk keluar membereskan urusan-urusan mereka dan mengobrol panjang-lebar dengan teman-teman lama. Kantong-kantong pembicaraan yang intens j pun terbentuk ketika para mahasiswa dengan mata mengantuk saling menyapa dan ibu-ibu rumah tangga berkumpul untuk bertukar gosip. Pria-pria tua yang mengenakan mantel dan dasi berjabat tangan lalu berbicara bersamaan. Para pedagang di jalan berteriak-teriak mempromosikan penawaran terbaru mereka.

Namun bagi Ermanno, ini bukan acara jalan-jalan santai di taman. Kalau muridnya menginginkan percakapan, ia jelas akan mendapatkannya. Ia menunjuk seorang polisi dan berkata pada Marco, dalam bahasa Italia tentu saja, "Datangi polisi itu dan tanyakan arah ke Piazza Maggiore. Pastikan arah yang benar, lalu jelaskan padaku "

Marco berjalan lambat-lambat, membisikkan be-

berapa kata pada diri sendiri, berusaha mengingat kata-kata lain. Selalu mulai dengan senyum dan sapaan yang tepat. "Buon giorno," katanya sambil menahan napas.

"Buon giorno, "jawab polisi tersebut.

"Mi pud aiutare?" Dapatkah Anda membantuku?

"Certamente." Tentu saja.

"Sono Canadese. Non parlo molto bene." Aku orang Kanada. Aku tidak bisa berbahasa Italia dengan lancar.

"Altera." Oke. Polisi itu masih tersenyum, sekarang agak bersemangat ingin menolong. "Dove la Piazza Maggiore?" Polisi itu menoleh dan menatap kejauhan, ke arah pusat kota Bologna. Ia berdeham dan Marco menyiapkan diri mendengar rentetan penjelasan. Tak jauh dari situ, Ermanno ikut mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan.

Dengan irama yang lambat dan indah, polisi itu menjelaskan dalam bahasa Italia, dan tentu saja menunjuk-nunjuk seperti yang biasa mereka lakukan. 'Tidak terlalu jauh. Ambil jalan ini, beloklah di tikungan pertama ke kanan, yaitu Via Zamboni, lurus saja terus sampai Anda melihat dua menara. Beloklah di Via Rizzoli, dan berjalanlah sejauh tiga blok."

Marco menyimak sebisa mungkin, lalu berusaha.

mengulang setiap kalimat. Polisi itu dengan sabar mengulang dari depan. Marco mengucapkan terima kasih padanya, mengulang sedapatnya pada dirinya sendiri, lalu menumpahkannya lagi pada Ermanno. "Non ce male," komentar Ermanno. Tidak buruk. Bagian yang menyenangkan baru dimulai. Marco menikmati kemenangan kecilnya, Ermanno mencari-cari tutor berikut yang tak tahu apa-apa. Ia menemukan lelaki tua berjalan tersaruk-saruk dengan tongkat dan mengepit surat kabar tebal. "Tanyakan padanya di mana ia membeli koran itu," perintah Ermanno kepada muridnya.

Marco tidak tergesa-gesa, mengikuti pria tua itu beberapa langkah, dan ketika menurutnya ia sudah menemukan kata-kata yang tepat, ia berkata, "Buon giorno, scusi." Lelaki tua itu berhenti dan melotot, sesaat ia tampak seperti hendak mengangkat tongkatnya dan mengayunkannya ke kepala Marco. Ia tidak membalas sapaan formalitas "Buon giorno".

"Dove ha comprato questo giornale?" Di mana Anda membeli surat kabar itu?

Si kakek menatap surat kabarnya seolah itu benda terlarang, lalu menatap Marco seakan menjatuhkan kutukan ke atasnya. Ia mengedikkan kepala ke sebelah kiri dan mengatakan sesuatu seperti, "Di sana." Dan percakapan pun usai. Sementara orang itu kembali tersaruk-saruk pergi, Ermanno

menjajari langkah Marco dan berkata dalam bahasa Inggris, "Tidak banyak omong, ya?" "Kurasa begitu."

Mereka masuk ke kafe kecil, tempat Marco memesan espresso yang sederhana untuk dirinya sendiri. Ermanno tidak puas hanya dengan hal-hal yang sederhana; sebaliknya, ia meminta kopi biasa dengan gula tapi tanpa krim, dan pastri ceri yang kecil. Ia menyuruh Marco memesan semuanya dan tidak boleh salah. Di meja mereka, Ermanno meletakkan beberapa lembar mata uang euro dengan pecahan yang berbeda-beda, juga koin-koin lima puluh sen dan satu euro, lalu mereka .pun berlatih menyebut angka dan berhitung. Kemudian Ermanno memutuskan ia ingin kopi biasa, kali ini tanpa gula tapi dengan sedikit krim. Marco mengambil dua euro dan kembali dengan kopi yang diminta. Ia menghitung kembaliannya, i

Setelah jeda sejenak, mereka kembali ke jalan, menyusuri Via San Vitale, salah satu jalan utama universitas, dengan portico yang menaungi trotoar di kedua sisi jalan dan ribuan mahasiswa tergesa-gesa menuju kuliah pagi. Jalan itu dipenuhi sepeda, sarana transportasi yang disukai untuk pergi ke mana-mana. Ermanno sudah kuliah tiga tahun di Bologna, begitu katanya, walaupun Marso nyaris tak memercayai apa pun yang didengarnya dari gurunya maupun pengawasnya.

"Ini Piazza Verdi," icata Ermanno, menganggut ke arah lapangan kecil tempat suatu gerakan protes sedang akan dimulai. Sesosok relik berambut gondrong dari tahun 70-an sedang menyesuaikan mikrofon, tak ragu lagi bersiap-siap meneriakkan tuduhan atas kesalahan yang dilakukan Amerika entah dalam hal apa. Antek-anteknya berusaha membuka spanduk besar buatan sendiri yang buruk dengan slogan yang bahkan tak dipahami oleh Ermanno. Namun mereka datang terlalu dini. Para mahasiswa masih setengah terlelap dan lebih kha- j watir akan terlambat masuk ke kelas.

"Mereka punya masalah apa?" tanya Marco ketika melewati mereka.

"Fjitahlah. Sesuatu yang ada hubungannya dengan Bank Dunia. Di sini selalu ada demonstrasi."

Meteka melanjutkan perjalanan, mengikuti arus bum muda itu, mencari jalan di antara ia/u lintas pejalan kaki, dan secara umum mengarah ke // centro.

Luigj menjumpai mereka untuk makan siang di restoran bernama Testerino, di dekat universitas. Dengan tagihan yang dibebankan pada pembayar pajak Amerika, ia memesan banyak hidangan dan tanpa memedulikan harganya. Ermanno, si mahasiswa berkantong kering, merasa jengah melihat kemewahan itu, tapi, sebagai orang Italia, hatinya pun luluh membayangkan makan siang

yang lama. Acara makan itu menghabiskan waktu dua jam dan tak separah kata pun diucapkan dalam bahasa Inggris. Percakapan dalam bahasa Italia itu berlangsung perlahan, metodis, dan terkadang diulang, tapi tidak pernah menyerah pada bahasa Inggris. Marco kesulitan menikmati hidangan yang enak sementara otaknya dipaksa bekerja keras untuk mendengar, menangkap, mencerna, memahami, dan menyiapkan tanggapan atas kalimat terakhir yang dilontarkan kepadanya. Sering kali kalimat terakhir lewat begitu saja di kepalanya, dengan hanya satu-dua bta yang sepertinya dikenal, lalu semua itu segera dikejar kalimat-kalimat lain. Kedua temannya pun tidak hanya mengobrol untuk bersenang-senang. Bila mereka menangkap tanda-tanda sekecil apa pun bahwa Marco tidak mengikuti, bahwa ia hanya mengangguk agar mereka terus berbicara dan ia bisa makan sesuap, mereka akan langsung berhenti dan bertanya, "Che cosa ho detto?" Apa yang tadi kukatakan?

Marco bisa mengunyah selama beberapa detik, mengulur waktu untuk memikirkan sesuatu—dalam bahasa Italia, sialan!—yang mungkin akan membebaskannya dari mata kail. Tetap saja ia belajar mendengar, menangkap kata-kata kunci. Kedua temannya berkali-kali mengatakan ia akan selalu memahami lebih banyak daripada yang bisa diucapkannya.

Makanan itu menyelamatkannya. Satu hal yang penting adalah perbedaan antara tortellini (pasta kecil dengan isian daging babi) dan tortelkni (pasta yang lebih besar dengan keju ricotta). Sang koki, setelah mengetahui bahwa Marco orang Kanada yang sangat ingin tahu tentang kuliner Bologna, berkeras menghidangkan keduanya. Seperti biasa, Luigi menjelaskan bahwa kedua hidangan tersebut ciptaan khas koki-koki hebat Bologna.

Marco terus makan, berusaha sedapatnya me- j lahap hidangan-hidangan yang lezat itu sambil menghindari bahasa Italia.

Setelah dua jam, Marco, mendesak mereka j mengambil walau istirahat, la menghabiskan espresso keduanya dan mengucapkan selamat tinggal. Ia memisahkan diri dari mereka di depan restoran dan berjalan pergi, sendiri, telinganya berdenging dan kepalanya berpusing akibat latihan intensif tadi.

Dua kali ia berputar sejauh dua blok di Via Rizzoli. Kemudian ia melakukannya sekali lagi untuk memastikan tidak ada orang yang membuntutinya. Trotoar beratap itu tempat yang tepat untuk bermain petak-umpet. Ketika jalanan kembali dipadati mahasiswa, ia menyeberangi Piazza Verdi, tempat demonstrasi Bank Dunia tadi berubah menjadi pidato berapi-api yang, untuk sesaat,

membuat Marco bersyukur ia tidak memahami bahasa Italia. Ia berhenti di Via Zamboni 22, dan sekali lagi menatap pintu kayu raksasa yang akan membawanya ke Fakultas Hukum. Ia memasukinya dan sedapat mungkin berusaha berlagak tempat itu tidak asing baginya. Tak terlihat papan petunjuk apa pun, tapi ada papan buletin mahasiswa yang mengiklankan apartemen, buku, perkumpulan, dan tampaknya segala sesuatu, termasuk program kuliah musim panas di Fakultas Hukum Wake Forest

Sesudah selasar depan, bangunan itu membuka ke arah halaman tengah terbuka tempat mahasiswa berlalu-lalang, mengobrol di ponsel, merokok, menunggu kuliah berikut.

Tangga di sebelah kiri menarik perhatiannya. Ia naik ke lantai tiga, tempat ia akhirnya menemukan semacam direktori. Ia mengenali kata "uffici" dan menyusuri koridor yang melewati dua ruang kelas sampai ia menemukan kantor-kantor para pengajar. Kebanyakan mencantumkan nama, beberapa tidak. Pintu terakhir adalah kantor Rudolph Viscovitch, sejauh ini satu-satunya nama non Italia yang ada di gedung tersebut. Marco mengetuk pintu tapi tak ada yang menjawab. Diputarnya kenop pintu, tapi pintu itu terkunci. Dari saku mantelnya dengan cepat ia mengeluarkan secarik kertas yang diambilnya dari Aibergo Campeol di Treviso dan menulis surat pendek:

Dear Rudolph: Aku sedang berjalan-jalan di kmPm> menemukan kantormu, dan ingin me. W4 Mungkin kita akan bertemu lagi di Bot Fontana. Aku menikmati obrolan kita kemarin. Senang juga mendengar bahasa Inggris sesekali Teman Kanada-mu, Marco Lazzeri

Ia menyelipkan kertas itu di celah bawah pintu dan berjalan menuruni tangga di belakang segerombolan mahasiswa Di Via Zamboni, ia kembali terseret arus tanpa tujuan pasti. Ia berhenti untuk membeli gelato, lalu berjalan lambat-lambat kembali ke hotelnya. Ia ingin tidur siang, tapi kamarnya yang kecil dan gelap terlalu dingin. Pada dirinya sendiri ia berjanji tidak akan bersungut-sungut lagi pada pengawasnya. Makan siang tadi tiga kali lipat lebih mahal daripada ongkos menginap satu malam di kamar ini Tentu Luigi dan orang-orang yang ada di belakangnya bisa mengeluarkan tambahan biaya untuk tempat tinggal yang lebih layak.

Dengan enggan ia menyeret langkah ke apartemen Ermanno yang seukuran lemari, untuk sesi pelajaran sore.

Di Bologna Centrale, dengan sabar Luigi menung-gu kedatangan kereta Eurostar nonstop ke Milano. stasiun kereta itu tprka . .

'tu te™ig sepi, jeda tenang se-

222

belum jam sibuk pukul lima sore. Pada pukul 15.35, tepat sesuai jadwal, kereta peluru mengilap itu menderu masuk untuk berhenti sejenak dan Whitaker pun melompat turun.

Karena Whitaker tak pernah tersenyum, mereka hampir tak saling menyapa. Setelah jabat tangan seperlunya, mereka berjalan menuju Fiat Luigi. "Bagaimana bocah kita?" tanya Whitaker begitu ia menutup pintu mobil dengan suara keras.

"Baik-baik saja," jawab Luigi sambil menghidupkan mesin dan menjalankan mobil. "Ia belajar mati-matian. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya." "Dan ia tidak pergi jauh-jauh?" "Benar. Ia suka jalan-jalan keliling kota, tapi takut berkeliaran terlalu jauh. Tambahan lagi, ia tidak punya uang."

"Jaga agar kantongnya tetap kering. Bagaimana bahasa Italia-nya?"

"Ia cepat belajar." Mereka sampai di Via dek" Indipendenza, jalan lebar yang membawa mereka langsung ke selatan, ke pusat kota. "Sangat termotivasi."

"Apakah ia ketakutan?" "Kurasa begitu."

"Ia pintar, juga ahli manipulasi, Luigi, jangan lupa. Dan karena pintar, ia juga sangar ketakutan. Ia tahu bahaya yang mengancamnya."

"Aku memberitahunya tentang Cntz.

"Dan?"

Ia bingung setengah mati." . "Apakah hal itu membuatnya takut?" Ya, kurasa begitu. Siapa yang menghabisi Critz?"

"Aku beranggapan kitalah yang melakukannya, tapi lata tidak pernah tahu. Rumah persembunyiannya sudah siap?"

Ta."

"Bagus. Mari kita melihat apartemen Marco."

Via Fondazza adalah daerah permukiman yang tenang di bagian tenggara kota lama, beberapa blok sebelah selatan kompleks universitas. Seperti di sebagian besar Bologna, trotoar di kedua sisi jalan , dinaungi portico. Pinru-pintu rumah dan apartemen j terbuka langsung ke jalan. Kebanyakan memiliki di- j rektori bangunan yang tertera di plakat kuningan yang ditempelkan di sebelah interkom, tapi Via Fondazza 122 tidak memiliki plakat semacam itu. Tempat itu tak bertanda dan selama tiga tahun terakhir disewakan pada seorang pengusaha misterius dari Milan yang membayar sewa tetapi jarang menempatinya. Sudah satu tahun Whitaker tidak melihat tempat itu; walau bukan berarti itu tempat yang menarik Apartemen tersebut sederhana, sekitar 55 meter persegi; memiliki empat ruangan berperabotan dasar, dengan sewa 1.200 euro sebulan. Ini adalah rumah persembunyian,

224

tak lebih, tak kurang; salah satu dari tiga tempat semacam itu di Italia utara yang berada di bawah kendalinya.

Ada dua kamar tidur, dapur kecil, dan ruang duduk dengan sofa, meja tulis, dua kursi kulit, tanpa TV Luigi menunjuk telepon dan, nyaris dengan bahasa sandi, mereka membicarakan alat penyadap yang telah dipasang dan tidak akan dapat dideteksi. Ada dua mikrofon tersembunyi di setiap ruangan, alat pengumpul data kecil yang kuat, yang tidak akan melewatkan bunyi apa pun yang ditimbulkan manusia. Ada pula dua kamera mikroskopis—satu tersembunyi di retakan ubin tua, jauh di atas ruang duduk, dan kamera itu menyajikan pemandangan i ke arah pintu depan. Yang lain tersembunyi di dudukan lampu murahan yang tergantung di dinding dapur, dengan pemandangan tak terhalang ke arah pintu belakang.

Mereka tidak akan mengamari kamar tidur, dan Luigi mengatakan ia lega karenanya. Kalau Marco berhasil menemukan wanita yang mau datang berkunjung, mereka akan melihat wanita iru datang dan pergi melalui kamera di ruang duduk, dan iru sudah cukup bagi Luigi. Jika ia sangat bosan, sebagai hiburan ia bisa menghidupkan mikrofon dan mendengarkan.

Rumah persembunyian itu sebelah selatannya dibatasi apartemen lain, dengan dinding batu

tebal memisahkan keduanya. Luigi tinggal di apartemen tersebut, bersembunyi di apartemen lima ruang yang sedikit lebih besar daripada apartemen Marco. Pintu belakangnya terbuka ke arah kebun kecil yang tidak bisa dilihat dari rumah persembunyian, sehingga gerakannya tidak akan ketahuan. Dapurnya telah dimodifikasi menjadi ruang pengintaian berteknologi canggih, tempat ia bisa menghidupkan kamera kapan pun ia mau dan melihat apa yang terjadi di apartemen sebelah.

"Apakah mereka akan belajar di sini?" tanya Whitaker.

"Ya. Kurasa tempat ini cukup aman. Lagi pula aku bisa memonitor segalanya."

Whitaker masuk ke ruangan-ruangan itu lagi. Ketika sudah cukup puas melihat-lihat, ia berkata, "Semua sudah siap di sebelah?"

"Semuanya. Aku melewatkan dua malam terakhir j di sana. Kita sudah siap."

"Seberapa cepat kau bisa memindahkannya?"

"Sore ini."

"Bagus. Mari kita melihat bocah kita."

Mereka berjalan ke utara hingga ke ujung Via j Fondazza, lalu ke barat laut di sepanjang jalan yang lebih besar, Strada Maggiore. Tempat pertemuan j itu adalah kafe kecil bernama Lesrre's. Luigi me- j nemukan koran dan duduk sendiri di sebuah meja. j Whitaker menemukan koran lain dan duduk di

226

meja lain, masing-masing tak menghiraukan yang lainnya. Pada pukul 16.30 tepat, Ermanno dan muridnya mampir untuk minum espresso sebentar dengan Luigi.

Sesudah sapaan-sapaan diucapkan dan mantel-mantel ditanggalkan, Luigi bertanya, "Kau bosan dengan bahasa Italia, Marco?"

"Muak sekali," jawab Marco sambil tersenyum.

"Bagus. Mari kita berbahasa Inggris."

Tuhan memberkatimu," ujar Marco.

Whitaker duduk satu setengah meter jauhnya, separo tersembunyi di balik koran, merokok, seolah tak menaruh minat pada siapa pun di sekelilingnya. Tentu saja ia mengenal Ermanno, walau belum pernah melihatnya. Marco lain lagi ceritanya.

Whitaker sedang berada di Washington untuk penugasan singkat di Langley, sekitar dua belas tahun yang lalu, tatkala semua orang mengenal sang broker. Ia mengingat Joel Backman sebagai kekuatan politik yang menghabiskan hampir seluruh waktunya membangun citranya, dan juga mewakili klien-kliennya yang penting. Ia adalah simbol uang dan kekuasaan, kucing gemuk sempurna yang bisa mengintimidasi, membujuk, dan menghambur-hamburkan cukup banyak uang untuk mendapatkan apa pun yang ia inginkan.

Alangkah menakjubkan perubahan yang terjadi setelah enam tahun di penjara. Backman sangat

kurus sekarang, dan penampilannya sangat Eropa -di balik kacamata Armani itu. Ada jenggot pendek i yang mulai kelabu di dagunya. Whitaker yakin tak ada orang Amerika yang dapat mengenali Joel Backman bila ia masuk ke Les tres saat ini.

Marco memerhatikan pria yang duduk satu setengah meter jauhnya itu terlalu sering melirik mereka, tapi tidak berpikir apa-apa. Mereka mengobrol dalam bahasa Inggris, dan mungkin tak banyak orang yang melakukannya, paling tidak di Lestres. Lebih dekat ke universitas, orang bisa mendengar beberapa bahasa sekaligus di setiap warung kopi.

Ermanno meminta diri setelah minum secangkir espresso. Beberapa menit kemudian Whitaket juga pergi. Ia berjalan beberapa blok dan menemukan kafe Internet, yang pernah digunakannya dulu. la mencolokkan laptop-nyz, online, dan mulai mengetik pesan untuk Julia Javier di Langley:

Flat Fondazza sudah siap, akan pindah ke sana malam ini. Melihat sasaran kita, minum kopi bersama teman-teman kita. Kalau tidak begitu, tidak akan dapat mengenalinya. Menyesuaikan diri dengan baik dengan kehidupan barunya. Semua sudah beres di ,inU tidak aJa masakh sama sekali.

228

Setelah hari gelap, mobil Fiat itu berhenti di tengah Via Fondazza dan penumpangnya keluar dengan segera. Marco tidak membawa banyak barang karena ia nyaris tidak memiliki apa-apa. Hanya dua tas pakaian dan bebetapa buku pelajaran bahasa Italia, dan ia siap pergi ke mana pun. Ketika ia masuk ke apartemen barunya, hal pertama yang ia perhatikan adalah tempat itu memiliki pemanas yang memadai. "Nah, begini lebih cocok," katanya pada Luigi.

"Aku akan memarkir mobil. Lihat-lihat saja dulu."

Marco berkeliling, menghitung ada empat ruangan dengan perabotan lumayan, tidak berlebihan tapi lompatan yang cukup jauh dari tempat tinggalnya yang terakhir. Hidup tampak lebih baik—sepuluh hari lalu ia mendekam di sel penjara.

Luigi kembali dengan cepat. "Bagaimana pen-dapatmu?" "Kuterima. Terima kasih." "Kembali."

"Dan sampaikan ucapan terima kasihku pada orang-orang di Washington juga.

"Kau sudah melihat dapurnya?" tanya Lmgi sambil menjentikkan tombol lampu-

229

"Ya, bagus sekali. Berapa lama aku tinggal di sini, Luigi?"

"Bukan aku yang mengambil keputusan. Kau tahu itu. "Aku tahu."

Mereka kembali ke ruang duduk. "Beberapa hal yang perlu kusampaikan," ujar Luigi. "Ermanno akan datang kemari setiap hari untuk belajar. Jam delapan sampai sebelas, lalu jam dua sampai jam lima, atau kapan pun kau ingin berhenti."

"Bagus sekali. Tolong carikan apartemen baru untuk anak itu, oke? Tempat sampah itu memalukan bagi pembayar pajak Amerika."

"Yang kedua, ini jalan yang sangat sepi, kebanyakan apartemen. Datang dan pergilah dengan cepat, jangan mengobrol dengan tetangga, jangan cari teman. Ingat, Marco, kau meninggalkan jejak Kalau Je)ak itu cukup besar, seseorang akan dapat menemukanmu."

"Aku sudah menyimak pada sepuluh kali per-^kau mengatakannya"

j^u begitu simak lagi." mehCl? |S ^-tetanggaku tidak akan ^UZS1'^ nienyukai tempat rtu. pada sel penjara."

14

Upacara pemakaman Robert Critz dilangsungkan di mausoleum mirip country club di daerah permukiman mewah di tepi kota Philadelphia, kota kelahirannya tapi juga tempat yang dihindarinya selama paling sedikit tiga puluh tahun terakhir. Ia meninggal tanpa surat wasiat dan tanpa persiapan untuk saat terakhir hidupnya, meninggalkan Mrs. Critz yang malang menanggung beban sendirian, bukan hanya untuk membawanya pulang dati London, tapi juga memutuskan cara yang P^ing pantas untuk membuang jenazahnya. Se-0rang putranya mendesakkan gagasan kremasi da* kuburan rapi berupa lemari marmer yang ^dung dari cuaca. Pada saarJ. , sedia menyetujui rencana apa.p ¦ ^ bai>g tujuh jam menyeberangi Au«

ekonomi) dengan jasad suaminya di suatu tempat di bawahnya, dalam kotak transportasi udara yang dirancang khusus untuk membawa mayat, ia sudah hampir kehilangan kewarasan. Kemudian ditambah kekacauan di bandara ketika tak seorang pun ada di sana untuk menyambutnya dan mengambil alih situasi. Alangkah membingungkan!

Upacara itu hanya dihadiri undangan, syarat yang diajukan oleh mantan presiden Morgan, yang baru dua minggu di Barbados, sepertinya enggan kembali dan dilihat oleh siapa pun. Jika ia benar-benar sedih akibat kematian teman seumur hidupnya, ia tidak menunjukkannya. Ia tawar-menawar perihal detail-detail upacara itu dengan keluarga Critz sampai nyaris saja ia diminta tidak ikut campur. Tanggalnya pun digeser karena permintaan Morgan. Tata cara pemakaman itu tidak sesuai dengan kehendaknya Dengan enggan ia bersedia menyampaikan eulogi, tetapi yang singkat saja Kenyataannya, ia tidak pernah menyukai Mrs. Critz dan Mrs. Critz pun tidak menyukainya.

Bagi sedikit teman dan keluarga, sungguh sukar dipercaya Robert Critz bisa sedemikian mabuk di pub London sehingga terhuyung-huyung di jalan yang ramai dan jatuh di depan mobil yang melaju. Sewaktu autopsi menunjukkan kadar heroin yang cukup tinggi, Mrs. Critz menjadi sangat panik sehingga bersikeras laporan itu dipetieskan

232

dan dikubur dalam-dalam. Ia bahkan tidak mau memberitahu anak-anaknya tentang narkoba itu. Ia begitu yakin suaminya tidak pernah menyentuh obat terlarang—ia memang banyak minum, tapi hanya sedikit orang yang tahu—namun tetap saja ia bertekad untuk menjaga nama baik suaminya.

Polisi London segera menyetujui permintaan penyegelan hasil temuan autopsi itu dan menutup kasus tersebut. Mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan sendiri, tapi masih ada banyak kasus yang membuat mereka sibuk, lagi pula ada seorang janda yang tak sabar ingin segera pulang dan melupakan semua itu.

Upacara dimulai pada pukul dua siang pada hari Kamis—Morgan juga yang menentukan waktunya agar pesawat jetnya dapat terbang nonstop dari Batbados ke Philly International—dan berlangsung satu jam. Delapan puluh dua orang yang diundang dan 51 yang datang, kebanyakan lebih penasaran ingin melihat Presiden Morgan daripada mengucapkan salam perpisahan pada Critz. Seorang pendeta semi Protestan yang memimpin. Sudah lebih dari empat puluh tahun Critz tidak melihat bagian dalam gedung gereja, kecuali saat pernikahan dan pemakaman. Pendeta itu menemui kesulitan menghidupkan kenangan akan seorang pria yang tak pernah ditemuinya, dan meskipun upayanya patut diacungi jempol, ia gagal total. Ia

membaca dari kitab Mazmur. Diangkatnya j umum yang bisa digunakan untuk rohaniwan ma" pun pembunuh berantai. Ia mengucapkan kata-J^ penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan, tapi sekali lagi, mereka orang-orang yang tak dikenal-nya.

Bukannya menjadi ucapan selamat jalan yang hangat, upacara tersebut sama dinginnya dengan dinding marmer kelabu kapel tiruan itu. Morgan, dengan kulit kecokelatan yang tampak konyol di bulan Februari, mencoba melontarkan lelucon tentang kawannya pada kerumunan kecil pelayat, tapi 'u malah rampak tidak tulus dan sepertinya tak sabar ingin segera melompat naik ke jetnya.

Jam-jam yang dilewatkannya di bawah matahari Karibia telah meyakinkan Morgan bahwa kesalahan kampanye pemilihan ulang yang menjadi malapetaka itu sepenuhnya terletak di kaki Robert Critz. h tidak memberitahukan kesimpulan itu pada siapa pun; tidak ada lagi tempat ia mengadu sejak rumah pantai itu hanya dihuni Morgan dan beberapa staf lokal. Namun ia sudah mulai mengemban prasangka, mempertanyakan pertemanan mereka.

Ia tidak tinggal lama ketika upacara itu mulai kehabisan bahan bakar dan akhirnya usai juga. Dengan formalitas ia memeluk Mrs. Critz dan anak-anaknya, bercakap-cakap sebentar dengan beberapa teman lama, berjanji untuk bertemu

beberapa minggu lagi, lalu digiring pergi oleh

pendamping Secret Service-nya. Kamera-kamera berita ditempatkan di sepanjang pagar di luar area tersebut, tapi tidak berhasil menangkap gambar mantan presiden. Ia merunduk di belakang salah satu dari dua van hitam itu. Lima jam kemudian ia sudah berada di tepi kolam renang, menyaksikan matahari terbenam di Karibia.

Sekalipun pemakaman itu hanya menarik sedikit perhatian, tetap saja ada orang-orang yang mengawasinya dengan saksama. Ketika upacara itu berlangsung, Teddy Maynard sudah memiliki daftar ke-51 tamu yang hadir. Tidak ada yang bisa dicurigai. Tidak ada nama yang membuat alis terangkat.

Pembunuhan itu bersih. Hasil autopsinya sudah dikubur, sebagian berkat Mrs. Critz dan sebagian lagi berkat tali-tali yang digerakkan pada aras yang jauh lebih tinggi di atas kepolisian London. Mayat itu sekarang sudah menjadi abu dan dalam waktu singkat dunia akan melupakan Robert Critz. Petualangan coba-cobanya yang tolol dalam kasus hilangnya Backman dapat dihentikan tanpa kerusakan pada rencana.

FBI telah mencoba, dan gagal, menempatkan kamera tersembunyi di dalam kapel itu. Pemiliknya berubah pikiran, lalu menolak keras kendati didesak. Namun ia mengizinkan kamera tersem-

235

bunyi di luar, dan kamera itu menampilkan bar dekat para pelayat ketika mereka datang fo, pergi. Masukan langsung itu disunting, daftar 51 orang itu dengan segera dikumpulkan, dan satu jam sesudah upacara selesai Direktur mendapat penjelasan.

Sehari sebelum kematian Robert Critz, FBI menerima informasi yang sangat mencengangkan. Informasi itu sama sekali tak terduga, tak diharapkan, dan diberikan oleh bajingan korporasi yang sudah putus asa karena dihadapkan pada hukuman empat puluh tahun penjara. Ia adalah manajer dana bersama yang tertangkap basah menggelapkan uang jasa; hanya skandal Wall Street biasa yang melibatkan beberapa miliar dolar. Namun dana bersamanya dimiliki oleh kelompok perbankan internasional, dan selama bertahun-tahun bajingan itu berhasil masuk ke lingkaran dalam inti organisasi. Dana tersebut sangat menguntungkan, • berkat sumbangan bakatnya yang tidak kecil dalam hal penggelapan, sehingga jumlahnya tak bisa diabaikan be^tu saja. la diangkat menjadi salah satu anggota dewan direktur dan diberi kondominium mewah di Bermuda, markas besar perusahaannya yang rahasia.

Dalam keputusasaan untuk mengelak dari hu-

kuman seumur hidup di penjara, ia menjadi murah hati membagikan rahasia. Rahasia perbankan. Uang kotor di luar negeri. Ia menyatakan bisa membuktikan bahwa mantan presiden Morgan, pada hari terakhirnya di Oval Office, telah menjual paling tidak satu pengampunan hukuman dengan imbalan tiga juta dolar. Uang itu dikawatkan dari bank di Grand Cayman ke bank di Singapura, keduanya diam-diam dikendalikan oleh kelompok bank rahasia yang baru ditmggalkannya. Uang itu masih tersembunyi di Singapura, di dalam rekening yang dibuka korporasi fiktif yang sesungguhnya dimiliki oleh kroni lama Morgan. Uang ku, menurut si informan, diperuntukkan bagi Morgan.

Ketika transfer kawat dan rekening-rekening itu sudah dikonfirmasi oleh FBI, tiba-tiba kesepakatan ditawarkan kepadanya. Bajingan itu kini hanya dihadapkan pada dua tahun tahanan rumah yang ringan. Imbalan uang atas grasi presiden merupakan kejahatan yang sensasional sehingga kasus itu menjadi prioritas di Hoover Building.

Informan tersebut tidak berhasil mengidentifikasi uang siapa yang ditransfer keluar dari Grand Cayman, tapi jelas bagi FBI hanya ada dua penerima grasi Morgan yang berpotensi memiliki kemampuan memberikan sogokan sebesar itu. Yang pertama dan paling mungkin adalah Duke Mongo,

f

miliarder uzur yang memegang rekor paling banyak menggelapkan uang dari IRS, setidaknya pada tingkat individual. Dalam kategori korporasi, pemenangnya masih bisa diperdebatkan. Namun demikian, si informan yakin benar bahwa Mongo tidak terlibat dalam hal ini karena ia memiliki sejarah panjang dan buruk dengan bank-bank yang bersangkutan. Ia lebih menyukai perbankan Swiss, dan hal itu dibenarkan oleh FBI.

.Tersangka kedua, tentu saja, adalah Joel Backman Sogokan sekaliber itu tidak mengherankan datang dari operator seperti Backman. Walaupun FBI selama bertahun-tahun yakin Backman tidak menyembunyikan kekayaan, selalu saja ada keragu-raguan. Sewaktu masih menjadi broker ia menjalin hubungan dengan bank-bank di Swiss dan di Karibia Ia menriliki jaringan koneksi rahasia, kontak-kontak yang menduduki jabatan tinggi. Sogokan, upah, kontribusi kampanye, uang jasa melobi—semua itu permainan yang biasa bagi sang broker.

Direktur FBI adalah sosok tahan banting bernama Anthony Price. Tiga tahun sebelumnya ia telah ditunjuk oleh Presiden Morgan, yang lalu berusaha memecatnya enam bulan kemudian. Price meminta waktu tambahan dan mendapatkannya, namun kedua orang itu tak pernah akur. Untuk alasan yang tak pernah bisa diingatnya, Price juga

membuktikan kehebatannya melalui adu pedang dengan Teddy Maynard. Teddy tidak sering kalah dalam perang rahasia melawan FBI, dan ia jelas tidak takut pada Anthony Price, bebek payah terakhir dalam barisan..

Namun Teddy tidak mengetahui konspirasi imbalan pengampunan hukuman yang sekarang menyita seluruh perhatian Direktur FBI. Presiden yang baru telah bersumpah akan menyingkirkan Anthony Price dan memperbarui bironya Ia juga sudah berjanji akan memensiunkan Maynard, rapi ancaman semacam itu sudah sering terdengar di Washington.

Mendadak Price memperoleh kesempatan bagus untuk menyelamatkan pekerjaannya, dan kemungkinan sekaligus juga melenyapkan Maynard. Ia pergi ke White House dan memberikan penjelasan pada Penasihat Keamanan Nasional, yang sudah diberitahu sehari sebelumnya, tentang rekening mencurigakan di Singapura itu. Ia memiliki implikasi kuat bahwa mantan presiden Morgan terlibat dalam konspirasi ini. Ia menyarankan dengan tegas agar Joel Backman ditemukan dan dibawa kembali ke Amerika Serikat untuk ditanyai dan mungkin dikenai tuduhan. Kalau terbukti benar, ini akan menjadi skandal yang mengguncang, unik, dan amat bersejarah. Penasihat Keamanan Nasional mendengarkan

238

239

dengan saksama. Setelah taklimat selesai, ia langsung menuju kantor Wakil Presiden, memerintahkan seluruh staf keluar, mengunci pintu, dan menumpahkan segala hal yang baru saja didengarnya. Bersama-sama, mereka memberitahu Presiden.

Seperti biasa, tak ada belas kasihan di antara orang yang kini berkantor di Oval Office dengan pendahulunya. Kampanye mereka sama-sama dibanjiri niat tak baik dan trik-trik kotor yang telah menjadi standar tingkah laku dalam politik Amerika. Bahkan setelah terjadinya kekalahan bak tanah longsoi hebat dan kegembiraan setelah berbasil menduduki White House, presiden yang baru pun masih belum bersedia mengangkat dirinya dari lumpur Ia menyukai gagasan untuk sekali lagi mempermalukan Arthur Morgan. Ia membayangkan dirinya sendiri, setelah adanya pengadilan dan vonis sensasional turun tangan pada detik tetakhir dengan memberikan pengampunan untuk menyelamatkan citra kepresidenan.

Sungguh momen yang luar biasa! Pada pukul enam keesokan paginya, Wakil Presiden diantar dengan mobil antipeluru seperti biasa ke markas besar C1A di Langley. Tadinya Direkrut Maynard dipanggil ke White House, namun meminta izin untuk tidak datang, dengan alasan ia menderita vertigo dan terkurung di kantornya

atas perintah dokter-dokternya. Ia «ering tidur dan makan di sana, terutama bila vertigonya sedang menyerang dan membuatnya sakit kepala. Vertigo adalah salah satu dalihnya yang betguna.

Pertemuan itu berlangsung singkat. Teddy duduk di ujung meja rapatnya yang panjang, di kursi rodanya, terbungkus selimut rapat-rapat, dengan Hoby di sisinya. Wakil Presiden masuk dengan hanya seorang ajudan, dan setelah basa-basi canggung tentang pemerintahan yang baru dan sebagainya, ia berkata, "Mr. Maynard, aku datang kemari untuk mewakili Presiden."

Tentu saja," kata Teddy dengan senyum kaku. Ia menduga akan dipecat; akhirnya, setelah delapan belas tahun dan berbagai ancaman, inilah saatnya. Akhirnya, presiden yang memiliki batu-batunya ; sendiri untuk menggantikan Teddy Maynard. Ia telah menyiapkan Hoby untuk saat-saat seperu itu. Sementara mereka menunggu Wakil Presiden, Teddy telah mengemukakan ketakutannya.

Seperti biasa Hoby mencoret-coret notesnya, menunggu menuliskan kata-kata yang telah dikhawatirkannya selama bertahun-tahun: Mr. Maynard, Presiden meminta Anda mengundurkan diri.

Namun sebaliknya, Wakil Presiden mengatakan sesuatu yang sungguh * Maynard, Presiden ingin tahu tentang s

man."

Tak ada sesuatu pun yang dapat membuai Teddy Maynard berjengit. "Ada apa dengan Joel Backman?" ia bertanya tanpa ragu-ragu.

"Beliau ingin tahu di mana ia berada dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membawanya pulang."

"Mengapa?"

"Aku tidak bisa mengatakannya."

"Kalau begitu aku juga tidak bisa."

"Hal ini penting sekali bagi Presiden."

"Aku menghormati hal itu. Tapi Mr. Backman sangat penting artinya bagi operasi kami saat ini."

Wakil Presiden-Iah yang pertama kali mengerjap. Ia menoleh ke arah ajudannya, yang juga sibuk dengan catatannya sendiri dan sama sekali tak berguna. Untuk alasan apa pun mereka tidak akan memberitahu CIA tentang transfer kawat dan imbalan atas pengampunan hukuman itu. Teddy akan mencari cara untuk memanfaatkan informasi tetsebut demi kepentingannya sendiri. Ia akan mencuri temuan emas mereka dan lolos lagi. No sir, Teddy harus memilih akan bermain bersama mereka atau pada akhirnya dipecat.

Wakil Presiden menggeser sikunya lebih ke depan dan berkata, "Presiden tidak akan berkompromi dalam hal ini, Mr. Maynard. Beliau akan mendapatkan informasi itu, dan ia akan mendapatnya segera. Kaku tidak, beliau meminta pengun-duran dm Anda. r 6

"Ia tidak akan mendapatkannya." "Perlukah aku memberitahu Anda bahwa Anda mengabdi padanya?" Tidak perlu."

"Bagus. Perintahnya jelas. Anda datang ke White House membawa arsip Backman dan membicarakannya panjang-lebar dengan kami, atau CIA akan segera mendapatkan direktur baru."

"Keterusterangan semacam itu sungguh langka di kalangan Anda, Sir, dengan segala hormat."

"Aku akan menerimanya sebagai pujian."

Pertemuan itu pun usai.

Seperti bendungan bocor, Hoover Building boleh dikata menyiramkan gosip ke jalan-jalan Washington. Dan yang mengumpulkannya, di antara yang lain, adalah Dan Sandberg dari The Washington Post. Namun sumber-sumbernya jauh lebih baik daripada jurnalis investigasi kebanyakan, dan tak butuh waktu lama sebelum ia mencium skandal dalam urusan pengampunan hukuman itu. Ia mengaktifkan mata-matanya di pemerintahan White House yang baru dan mendapatkan sebagian konfirmasi. Garis besar kisah itu mulai terbentuk, tapi Sandberg tahu detail-detail yang penting hampir mustahil dikonfirmasi kebenarannya. Ia tidak berharap akan melihat catatan tentang transfer tersebut.

iaa —

Namun bila cerita ini benar—presiden va masih menjabat menjual pengampunan hukun^j untuk imbalan uang pensiun yang tidak sedikit— Sandberg tidak bisa membayangkan cerita yang - lebih hebat lagi. Seorang mantan presiden dikenai dakwaan, diadili, barangkali divonis dan dikirim ke penjara. Benar-benar tak terbayangkan.

Ia sedang berada di meja kerjanya yang sarat ketika datang telepon dari London. Dari teman lama, sesama wartawan kawakan yang menulis untuk The Guardian. Mereka berbicara selama beberapa menit tentang pemerintahan yang baru, yang merupakan topik resmi di Washington. Lagi pula saat itu bulan Februari, dengan salju menumpuk tebal di tanah dan Kongres tenggelam dalam pekerjaan komite tahunannya. Hidup berjalan relatif lambat dan tidak banyak yang bisa dibicarakan.

"Ada kabar tentang kematian Bob Critz?" tanya temannya.

"Tidak ada, hanya ada pemakamannya kemarin," "hut Sandberg. "Kenapa?"

Ada bfberaPa pertanyaan rentang bagaimana si IZ8 ^itu Ditambah lagi, kami tidak

*«pLe^s** Kuki-m Tyans

"Mungkin begitu pat. Tidak ada S» T dltutuP dengan sangat ce-a *onW, asal kau tahu, hanya

acrali-gali ka1^ ada sesuatu J^g lin^ di I ^-ara akan menelepon beberapa orang," kata f' rjjjdbetg yang kecurigaannya sudah timbul.

"Lakukanlah. Kita akan mengobrol lagi besok [ atau lusa."

Sandberg menutup telepon dan menatap monitor komputernya yang kosong. Critz pasti ada di sana . f ketika pengampunan hukuman pada detik terakhir itu diberikan oleh Morgan. Mengingat sifat paranoia mereka, kemungkinan besar hanya Critz yang ada di Oval Office bersama Morgan ketika keputusan itu diambil dan dokumen-dokumennya ditandatangani.

Barangkali Critz tahu terlalu banyak.

Tiga jam kemudian, Sandberg terbang dari Dulles menuju London.

245

15

Jauh sebelum matahari terbit, Marco sekali lagi terjaga di ranjang asing di tempat yang asing, dan untuk waktu lama bersusah payah mengumpulkan pikirannya—mengingat langkah-langkahnya, menganalisis situasinya yang janggal, merencanakan bannya, berusaha melupakan masa lalunya sambil mencoba memperkirakan apa yang akan terjadi dalam dua belas jam mendatang. Tidurnya sama se-"dak nyenyak. Ia terlelap selama beberapa jam; rasinya empat atau lima jam, tapi ia tidak yakin ka-^ta^rya ^ kecil dan hangat masih gelap jatuh tertlduTT ^""^ ^perti biasa, ia Italia yangcltb malam den^ &M

Ia bersyukur ^^g-ngiang di telinganya, membuatnya W . Udara yang hangat. Met^ ^gmandiRudlVdarhoteltem

perhentiannya yang terakhir pun tak kalah

Pat. „,„ Apartemen baru ini memiliki dinding Inginnya- *v ...

bal jendela, dan sistem pemanas yang bekerja dcua't tenaga. Setelah memutuskan harinya su-jjh dirancang dengan baik, perlahan-lahan ia menapakkan kakinya di lantai ubin yang sangat hangat dan sekali lagi berterima kasih pada Luigi atas petgantian tempat tinggal ini.

Tidak jelas berapa lama ia akan tinggal di sini, seperu juga masa depan yang mereka rencanakan untuknya. Dihidupkannya lampu dan diperiksanya arloji—hampir pukul lima. Di kamar mandi ia menyalakan lampu lain dan meneliti dirinya sendiri di cermin. Kumis yang tumbuh di bawah hidung dan di sepanjang sisi mulutnya dan menutupi dagunya telah berubah lebih kelabu daripada yang diharapkannya! Bahkan, setelah seminggu dipelihara, jelas bahwa jenggotnya akan terdin atas sembilan puluh persen rambut kelabu, dengan ditingkahi sedikit warna cokelat di sana-sini. Persetan. Umurnya sudah 52 tahun. Ini bagian penyamaran dan usahanya untuk tampak berbeda. De«gan wajah tirus, pipi cekung, rambut dipotong Pendek, dan kacamata buatan desainer dengan blngkai persegi tfuig trendi, dengan mudah ia o> >*nl sebagai Marco Lazzeri di jalanan manapun

di Bo

°gna. Atau Mi

ilan arau Florence atau tempat

mana pun yang ingjn dikunjunginya-

246

Satu jam kemudian ia melangkah ke luar, di bawah portico yang dingin dan diam, dibangun para pekerja yang telah mati tiga ratus tahun lalu.! Angin bertiup tajam dan menggigit, dan sekali lagi ia mengingatkan diri sendiri untuk mengeluhkan kurangnya pakaian musim dingin yang memadai pada pengawasnya. Marco tidak membaca surat kabar dan tidak menonton televisi, dan karena itu tidak mengetahui ramalan cuaca. Tapi jelas udara semakin dingin.

Ia tenis berjalan di bawah portico rendah sepanjang Via Fondazza, menuju universitas, satu-satunya j sosok yang tampak bergerak. Ia tidak mau melihat peta yang tersimpan di sakunya. Kalau tersesat, ia akan mengeluarkannya dan mengakui kekalahan keen, tapi ia sudah bertekad akan mengenal kota ini dengan berjalan kaki dan mengamati. Tiga puluh menit kemudian, dengan matahari yang akhirnya menampakkan tanda-tanda kehidupan, ia sampai di Via Itnerio di tepi utara kompleks universitas. Dari jendela depan ia melihat segumpal rambut kelabu lebat. Rudolph sudah ada di sana.

Karena kebiasaan, Marco menunggu sejenak Ia menoleh ke Via Irnerio, dari arah datangnya tadi, menanti seseorang mengendap-endap keluar dari bayang-bayang seperti anjing bloodhound. Ketika tak ada orang yang muncul, ia pun masuk. "Kawanku Marco," kau Rudolph dengan seulas

senyum ketika mereka bertukar sapa. "Silakan duduk."

Kafe itu batu separo penuh, dengan tipe akademisi yang sama yang tetbenam dalam koran pagi, hanyut dalam dunia mereka sendiri. Marco memesan cappuccino sementara Rudolph mengisi kembali pipa meerschaum-nyz. Aroma yang menyenangkan menyelimuti sudut kecil mereka yang nyaman.

"Aku menerima pesanmu tempo hari," Rudolph berkata sambil mengembuskan segumpal asap pipa ke seberang meja. "Menyesal tidak bertemu dengan-I mu. Nah, dari mana saja kau?"

Marco tidak pergi ke mana-mana, tapi sebagai turis Kanada berdarah Italia ia telah mengumpulkan rancangan perjalanan palsu. "Beberapa hari di Flo- • rence," ujarnya. "Ah, kota yang cantik."

Mereka beibicara tentang Florence selama beberapa saat, dengan Marco mengoceh tentang situs, karya seni, dan sejarah tempat-tempat yang hanya diketahuinya dari buku panduan murahan yang dipinjamkan Ermanno kepadanya. Dalam bahasa Italia, tentu saja, yang berarti ia telah bekerja keras berjam-jam dengan kamus untuk menerjemahkannya menjadi bahan pembicaraan yang bisa diobrolkannya dengan Rudolph seolah ia telah menghabiskan berminggu-minggu di sana.

049

Meja-meja lain mulai penuh dan para pefw jung yang darang belakangan berkumpul di sekjt bar. Luigi reJah menjelaskan padanya bahwa j-Eropa, kalau kau mendapatkan meja, meja itu akan menjadi miliknya sepanjang hari. Tidak ada orang yang terburu-buru keluar supaya orang lain bisa duduk. Secangkir kopi, surat kabar, rokok, dan tak ada yang peduli berapa lama kau menahan meja sementara orang lain datang dan pergi.

Mereka memesan minuman lagi dan Rudolph mengisi kembali pipanya. Untuk pertama kali Marco memerhatikan noda tembakau di jenggot liar yang paling dekat dengan mulutnya. Di meja tergeletak tiga surat kabar, semua dalam bahasa Italia.

"Apakah ada koran berbahasa Inggris yang bagus di Bologna?" tanya Marco. "Kenapa kau bertanya?"

"Oh, entahlah. Kadang-kadang aku ingin tahu apa yang terjadi di seberang samudra."

"Sesekali aku membeli Herald Tribune. Membuatku bahagia karena aku tinggal di sini, jauh dari segala kejahatan dan lalu lintas dan polusi dan politisi dan skandal. Masyarakat Amerika Serikat sudah bobrok. Dan pemerintahannya berada pada titik tertinggi kemunafikan—negara paling demokratis di dunia. Babi Kongres itu dibeli dan diupah oleh pihak-pihak yang kaya."

Ketika tampaknya ia sudah siap meludah, Rudolph sekonyong-konyong menyedot pipanya dan mulai menggigiti gagangnya. Marco menahan napas, menunggu serangan beracun pada Amerika Serikat. Sesaat berlalu; mereka menyesap kopi masing-masing.

"Aku benci Pemerintah Amerika Serikat," gerutu Rudolph dengan getir.

Nah, anak baik, pikir Marco. "Bagaimana dengan Kanada?" ia bertanya.

"Aku memberimu nilai yang lebih tinggi. Sedikit lebih tinggi."

Marco berpura-pura lega dan memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan. Ia berkata sedang mempertimbangkan akan pergi ke Venesia. Tentu saja Rudolph sudah berkali-kali pergi ke sana dan punya banyak nasihat. Marco bahkan mencatatnya, seolah tidak sabar ingin segera melompat ke kereta. Dan tentu saja ada Milano, walaupun Rudolph tidak terlalu tertarik dengan adanya "fasis sayap-kanan" yang berkeliaran di sana. "Tempat itu adalah pusat kekuasaan Mussolini, kau tahu, katanya sambil mencondongkan tubuh ke depan seolah Komunis-Komunis lain di Bar Fontana akan menyulut huru-hara ketika mendengar seseorang menyebutkan nama diktator tersebut.

Ketika menjadi jelas bahwa Rudolph tak keberatan duduk dan bercakap-cakap sepanjang pagi,

Marco mulai berpamitan. Mereka sepakat untuk bertemu Jagi di tempat yang sama dan waktu yang sama. Senin depan.

Salju tipis turun, meninggalkan jejak ban mobil pengantar di Via Irnerio. Ketika meninggalkan kafe yang hangat itu, Marco sekali lagi mengagumi para perencana kota Bologna zaman dulu kala, yang telah merancang trotoar beratap sejauh hampir tiga puluh kilometer di area kota lama. Ia pergi sejauh beberapa blok ke timur dan berbelok ke selatan di Via deh" Indipendenza, jalan lebar dan anggun yang dibangun sekitar tahun 1870-an agar penduduk kelas atas yang tinggal di pusat kota dapat berjalan dengan nyaman ke stasiun kereta di sebelah utara j kota. Ketika menyeberangi Via Marsala, rak sengaja j ia menginjak gundukan salju yang baru dikeruk dan mengernyit ketika salju merembes membasahi kaki kanannya.

Ia menyumpahi Luigi karena tidak memberinya pakaian yang selayaknya—cuaca semakin dingin, sewajarnyalah bila orang membutuhkan sepatu bot. Pemikiran itu memicu rentetan tutukan dalam hati tentang kurangnya dana yang Marco terima dari «apa pun yang bertanggung jawab atas kesejahteraannya sekarang. Mereka membuangnya' di Bologna, Italia, dan mereka jelas menghabiskan banyak uang untuk pelajaran bahasa, tempat tinggal, personalia, dan terutama makanan untuk

menjaganya tetap hidup. Menurut pendapatnya, mereka hanya menyia-nyiakan waktu dan uang. Akan lebih baik kalau ia diselundupkan ke London atau Sydney yang dihuni banyak orang Amerika dan semua orang bicara bahasa Inggris. Ia bisa membaur lebih mudah di sana.

Orang yang bersangkutan menjajari langkahnya. "Buon giorno," sapa Luigi.

Marco menghentikan langkahnya, tersenyum, mengulurkan tangan untuk bersalaman, dan berkata, "Well, buon giorno, Luigi. Kau membuntutiku J W

Tidak, aku baru keluar untuk jalan-jalan dan

melihatmu berjalan di sisi seberang. Aku menyukai

salju, Marco. Bagaimana denganmu?"

Mereka berjalan lagi, dengan tempo santai. Marco ingin memercayai temannya, tapi ia tidak yakin pertemuan mereka sekadar kebetulan. "Oke-oke saja Lebih indah di Bologna sini ketimbang di Washington, D.C., saat jam sibuk Apa sebenarnya yang kaulakukan sepanjang hari, Luigi? Kalau kau tak keberatan aku bertanya?"

Tidak apa-apa. Kau boleh bertanya apa saja."

"Itulah yang kupikirkan. Begini, aku punya dua keluhan. Tiga, sebenarnya."

"Tak mengherankan. Kau sudah minum kopi?"

"Sudah, tapi aku mau minum lagi."

Luigi mengedikkan dagu ke arah kafe kecil

253

di sudut jalan di depan mereka. Mereka masak dan mendapati semua meja sudah ditempati, jadi mereka berdiri bersama kerumunan di bar dan menyesap espresso. "Apa keluhanmu yang pertama?" tanya Luigi dengan suara rendah.

Marco beringsut mendekat, boleh dibilang hidung mereka nyaris bersentuhan. "Dua keluhan yang pertama sangat erat kaitannya. Pertama, soal uang. Aku tidak minta banyak, tapi aku ingin memiliki semacam uang saku. Tidak ada orang yang menyukai j kondisi bokek, Luigi. Aku akan lebih senang kalau punya sedikit uang tunai di kantongku dan tahu aku tak pedu menyimpannya." "Berapa?"

"Oh, entahlah. Sudah lama sekali aku tidak menegosiasikan uang saku. Bagaimana kalau seratus euro seminggu, sebagai permulaan. Dengan begitu aku bisa membeli koran, buku, majalah, makanan—kau tahu, kebutuhan dasar. Paman Sam membayar uang sewaku dan aku sangat berterima kasih. Bahkan sebenarnya, ia membayar uang sewaku selama enam tahun terakhir."'

"Bisa saja kau masih di penjara sekarang ini."

"Oh, terima kasih, Luigi. Hal itu tak pernah terlintas di kepakku."

"Maaf, seharusnya aku tidak berkata begitu—"

"Dengar, Luigi, aku beruntung berada di sini, oke? Tapi, pada saat yang bersamaan, aku sekarang

ffaIga negara yang sudah mendapatkan pengampunan penuh, warga negara mana aku tak tahu, pokoknya aku punya hak untuk diperlakukan de-- „gan sedikit hormat. Aku tidak suka bokek, dan aku tidak suka mengemis-emis demi uang. Aku ingin kau menjanjikan seratus euro seminggu." "Akan kulihat apa yang bisa kulakukan." Terima kasih." "Keluhan yang kedua?"

"Aku mau minta uang untuk membeli beberapa pakaian. Sekarang ini kakiku kedinginan karena di luar turun salju dan aku tidak punya sepatu yang memadai. Aku juga ingin punya mantel yang lebih tebal, mungkin beberapa sweter."

"Nanti kubelikan."

Tidak, aku mau membelinya, Luigi. Beri aku uang dan aku akan berbelanja sendiri. Aku tidak minta banyak kok."

"Akan kuatur."

Mereka saling menjauh beberapa sentimeter dan masing-masing menyesap kopi. "Keluhan ketiga?" tanya Luigi.

"Soal Ermanno. Ia sudah kehilangan minat. Kami melewatkan enam jam bersama dan ia mulai bosan dengan segalanya."

Luigi memutar mata frustrasi. "Aku tidak bisa sekadar menjentikkan jari dan menemukan guru bahasa yang baru, Marco."

254

"Kau saja yang mengajariku. Aku menyukaimu, Luigi, kita akan bersenang-senang bersama. Kau tahu Ermanno itu membosankan. Ia masih muda dan ingin tetap bersekolah. Tapi kau bisa jadi gum yang baik." "Aku bukan guru."

"Kalau begitu tolong carikan guru yang baru. Ermanno tidak ingin melakukannya. Aku khawatir aku ridak maju-maju."

Luigi membuang muka dan mengamati dua pria j tua masuk dan terseok-seok lewat. "Ia memang sudah harus pergi," ujarnya. "Seperti yang kaukatakan, ia ingin kembali ke sekolah."

"Masih berapa lama lagi aku harus belajar bahasa?"

Luigi menggeleng seolah ia tidak tahu. "Bukan aku yang membuat keputusan."

"Aku punya keluhan keempat."

"lima, enam, tujuh. Mari kita dengarkan semuanya, lalu mungkin kita bisa melewatkan beberapa minggu tanpa keluhan."

"Kau sudah pernah mendengarnya, Luigi. Semacam syarat yang terus kuminta."

"Apakah soal pengacara?"

"Kau terlalu banyak menonton film Amerika. Aku sebenarnya ingin ditransfer ke London. Ada sepuluh juta manusia di sana, mereka semua berbahasa Inggris. Aku tidak akan menghabiskan

sepuluh jam per hari untuk mempelajari bahasa baru. Jangan salah, Luigi, aku suka bahasa Italia. Semakin banyak yang kupelajari, semakin indah kedengarannya. Tapi, pikirkanlah, kalau kau mau menyembunyikan aku, buanglah aku di tempat yang memungkinkanku untuk bertahan hidup."

"Aku sudah menyampaikan hal ini, Marco. Bukan aku yang membuat keputusan."

"Aku tahu, aku tahu. Tapi tolong desaklah te-1 rus."

"Ayo kira pergi."

Salju turun semakin deras ketika mereka meninggalkan kafe dan kembali menyusuri trotoar bernaungan. Orang-orang bisnis yang berpakaian rapi melewati mereka dalam perjalanan ke tempat kerja. Orang-orang yang belanja pagi-pagi sudah keluar—kebanyakan ibu-ibu rumah tangga yang pergi ke pasar. Jalanan sibuk, dipenuhi mobil kecil dan skuter yang meliuk-liuk di sekitar bus-bus kota dan berusaha menghindari gundukan salju basah.

"Di sini sering turun salju?" tanya Marco.

"Beberapa kali setiap musim dingin. Tidak banyak, dan ada portico cantik ini yang melindungi kita agar tidak basah."

"Keputusan yang pintar."

"Beberapa bahkan berusia ribuan tahun. Jumlahnya lebih banyak daripada kota-kota lain di dunia, kau tahu?"

Tidak. Aku tidak banyak membaca, Luigi. Kalau aku punya uang. aku bisa membeli buku, lalu aku bisa membaca dan mempelajari hal-hal semacam itu."

"Uangnya akan kuberikan saat makan siang nanti."

"Makan siangnya di mana?" "Ristorante Cesarina, Via San Stefano, pukul satu?"

"Bagaimana aku bisa menolak?"

Luigi sedang duduk dengan seorang wanita di meja dekat bagian depan restoran ketika. Marco tiba, lima menit lebih awal. la menyela percakapan yang serius. Wanita itu berdiri, dengan enggan, dan menawarkan jabat tangan lemah dan tampang masam ketika Luigi memperkenalkannya sebagai Signora Francesca Ferro. Ia wanita yang menarik, berusia pertengahan empat puluhan, mungkin agak-terlalu tua untuk Luigi, yang sering memelototi gadis-gadis kuliahan. wanita ini memancarkan kesan sebal yang anggun. Sampai-sampai Marco ingin berkata: Maaf, rapi aku diundang ke sini untuk makan siang.

Sementara mereka menduduki kursi masing-masing Marco memerhatikan dua puntung rokok yang telah diisap sampai habis di asbak. Gelas air Luigi hampir kosone n,— .

& F 8' Dua °«ng ini sudah duduk

di sini paling tidak selama dua puluh menit. Dengan bahasa Italia yang diucapkan lambat-lambat, Luigi berkata kepada Marco, "Signora Ferro adalah guru bahasa dan pemandu tur setempat." Ia berhenti, Marco mengucapkan "Si" pelan.

Marco melirik Signora dan tersenyum, dan wanita itu membalasnya dengan senyum enggan. ; Belum-belum calon gurunya sudah tampak bosan dengannya.

Luigi melanjutkan dalam bahasa Italia. "Ia guru bahasamu yang baru. Ermanno akan mengajarmu di pagi hari, dan Signora Ferro pada siang hari." Marco memahami semuanya. Ia memaksakan senyum palsu ke arah wanita itu dan berkata, "Va bene." Bagus.

"Ermanno ingin melanjutkan kuliahnya di universitas minggu depan," Luigi menjelaskan.

"Sudah kuduga," ujar Marco dalam bahasa Inggris.

Francesca menyulut rokok lagi dan mengerucur-kan bibirnya di batang rokok tersebut. Ia mengembuskan segumpal awan asap dan bertanya, "Jadi bagaimana bahasa Italia-mu?" Suaranya terdengar berat, nyaris parau, tak ragu lagi akibat merokok bertahun-tahun. Bahasa Inggris-nya lambat-lambat, sangat bagus, dan tanpa aksen.

"Buruk sekali," jawab Marco.

"Dia baik-baik saja," sela Luigi. Pelayan datang

membawa sebotol air mineral dan memberikan tiga daftar menu. Lm signer* menghilang di balik menunya. Marco ikut-ikutan. Suasana sunyi yang panjang menyusul sementara mereka memilih makanan dan tak menghiraukan satu sama lain.

Ketika menu-menu itu akhirnya diturunkan, Francesca berkata kepada Marco, "Aku ingin mendengarmu memesan dalam bahasa Italia."

'Tidak masalah," sahut Marco. Ia menemukan beberapa hidangan yang bisa diucapkannya tanpa memicu tawa. Pelayan muncul dengan bolpoinnya dan Marco berkata, "Si, allora, vorrei un'insalata di pamodori, e una mezza porzione di lasagna." Ya, oke, aku mau salad dengan tomat dan setengah porsi lasagna. Sekali lagi ia bersyukur dengan adanya makanan-makanan trans-Adanrik seperti spaghetti, lasagna, ravioli, pasta.

"Non c'e male," ujar Francesco. Tidak buruk. Ia dan Luigi berhenti merokok ketika hidangan salad datang. Menyantap makanan memberi mereka jeda dalam percakapan yang canggung. Tak ada yang menawarkan anggur, walaupun minuman itu sangat dibutuhkan.

Masa lalu Marco, hidup wanita itu saat ini, dan pekerjaan Luigi yang tak jelas adalah topik-topik yang verboden, jadi sambil menikmati makan siang mereka terapung-apung dan meliuk-liuk dalam percakapan ringan tentang cuaca, yang untungnya sebagian besar berlangsung dalam bahasa Inggris

Ketib espresso sudah habis, Luigi membayar tagihan dan mereka segera keluar dari restoran. Sementara itu; dan ketika Francesca tidak melihat, Luigi menyelipkan amplop kepada Marco dan berbisik, "Ini ada beberapa euro."

"Grozie."

Hujan salju sudah' berhenti, matahari muncul dan bersinar terang. Luigi meninggalkan mereka di Piazza Maggiore dan menghilang, seperti yang hanya bisa dilakukan olehnya. Mereka berjalan dalam diam beberapa waktu, sampai Francesca bertanya, "Che cosa vorrebbe vedere?" Apa yang ingin kaulihat?

Marco belum sempat masuk ke katedral, Basilica di San Petronio. Mereka berjalan ke arah undakan depannya yang melengkung, lalu berhenti. Tempat ini cantik sekaligus sedih," katanya dalam bahasa Inggris, dengan setitik aksen Inggris yang baru kali ini terdengar. "Mulanya ini dibangun oleh dewan kota sebagai balai kota, bukan katedral, melawan kehendak paus di Roma. Desain aslinya lebih besar daripada Katedral Santo Petrus, namun dalam prosesnya rencana itu gagal. Roma menentangnya dan mengalihkan dananya ke tempat lain, sebagian diberikan untuk mendirikan universitas."

"Kapan ini dibangun?" tanya Marco.

"Katakan dalam bahasa Italia," perintahnya.

"Aku tidak bisa."

"Kalau begini dengarkan: 'Quando e stata cos. trutia?' Coba tirukan."

Marco menirukannya empat kali sebelum Francesca puas.

"Aku tidak percaya pada pengajaran dengan buku, kaset, dan sebagainya," jelas Francesca ketika mereka mendongak mengamati katedral yang besar itu. "Aku lebih percaya pada percakapan. Untuk mempelajari bahasa, kau harus mengucapkannya, berulang-ulang, seperti ketika kau masih kecil."

"Di mana kau belajar bahasa Inggris?" tanya Marco.

"Aku tidak bisa menjawabnya. Aku sudah diberi instruksi untuk tidak mengatakan apa pun tentang masa laluku. Dan masa lalumu juga."

Sejenak lamanya Marco sudah hampir berbalik dan pergi. Ia muak dengan orang-orang yang tidak bisa berbicara padanya, yang mengelak dari pertanyaannya, yang bertingkah seolah seluruh dunia ini penuh mata-mata. la sudah muak pada segala bentuk permainan.

Ia manusia bebas, ujarnya selalu pada diri sendiri, sepenuhnya bisa datang dan pergi dan membuat keputusan apa pun yang diinginkannya. Kalau ia muak pada Luigi dan Ermanno dan sekarang Signora Ferro, ia pun bisa menyumpahi mereka semua, dalam bahasa Italia, agar tercekik panino.

"Pembangunan dimulai pada tahun 1390, dan

semua berlangsung mulus selama beberapa ratus

tahun," ujarnya. Sepertiga bagian bawah tampak muka katedral tersebut merupakan marmer merah muda yang indah; dua pertiga selebihnya berupa batu bata cokelat yang buruk yang belum dilapisi marmer. "Lalu halangan datang. Jelas terlihat, bagian luarnya tak pernah selesai." "Tidak terlalu cantik."

"Memang tidak, tapi menggelitik. Kau mau melihat ke dalam?"

Memangnya apa yang akan ia lakukan selama tiga jam mendatang? "Certamente, "jawab Marco.

Mereka menaiki undakan dan berhenti di pintu depan. Francesca menatap papan pengumuman dan betkata, "Mi dica." Katakan padaku. "Jam berapa gereja ini tutup?"

Marco mengerutkan kening dalam-dalam, melatih beberapa kata, lalu berkata, "La chiesa chiude die sei." Gereja tutup pukul enam. "Ripeta."

Marco mengulangnya tiga kali sebelum Francesca menyuruhnya berhenti, lalu mereka masuk. "Katedral ini diberi nama untuk menghormati Petronio, santo pelindung Bologna," ia berkata pelan. Lantai utama katedral tersebut cukup luas untuk pertandingan hoki dengan banyak penonton di kedua sisinya. "Besar sekali," ujar Marco rer-kagum-kagum.

'ia, padahal ini sekitar seperempat rancangan aslinya. Sekali lagi, Paus khawatir dan memberikan tekanan. Pembangunannya menyerap banyak sekali uang rakyat, dan akhirnya orang bosan melanjutkannya."

"Tapi tetap saja sangat mengesankan." Marco sadar betul mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, yang sesuai dengan harapannya.

"Kau mau tur panjang atau pendek?" tanya Francesca. Walaupun suhu di dalam nyaris sedingin udara di luar, Signora Ferro tampaknya mulai mencair sedikit "Kau kan gurunya," jawab Marco. Mereka berjalan ke sisi kiri dan menunggu serombongan kecil turis Jepang selesai mempelajari makam besar yang rerbuat dari marmer. Selain orang-orang Jepang itu, tak ada orang lain lagi di dalam katedral. Saat iru hari Jumat di bulan Februari, bukan musim turis. Sore harinya Marco mengetahui bahwa pekerjaan Francesca yang sangat tergantung musim turis memang agak sepi pada bulan-bulan musim dingin. Pengakuan itu satu-satunya data pribadi yang bersedia diakuinya.

Karena pekerjaan sedang sepi, Francesca tidak harus terburu-buru di dalam Basilica di San Petronio. Mereka melihat 22 kapel kecil yang ada di sana dan mengamari hampir semua lukisan, patung, hasil karya dari gelas, dan lukisan dinding. Kapel-

264

kapel tersebut dibangun oleh keluarga-keluarga kaya di Bologna yang mengeluarkan banyak uang untuk karya-karya seni tanda peringatan. Pembuatannya membentuk sejarah kota itu, dan Francesca mengetahui setiap rinciannya. Ia menunjukkan pada Marco tengkorak Santo Petronio yang terawat baik yang diletakkan di altar, dan jam astrologi yang diciptakan pada tahun 1655 oleh dua ilmuwan yang sangat meyakini hasil-hasil penelitian Galileo di universitas.

Walau terkadang bosan dengan penjelasan mendetail tentang lukisan dan patung, dan kewalahan dengan begitu banyak nama dan tanggal, Marco tetap bertahan sementara tur berlangsung lambat mengelilingi bangunan besar itu. Suara Francesca menawan hatinya, cara bicaranya yang lambat dan betat, bahasa Inggris-nya yang apik dan sempurna.

Lama sesudah rombongan turis Jepang tadi meninggalkan katedral, mereka akhirnya kembali di pintu depan dan Francesca berkata, "Sudah cukup?" "Ya."

Mereka keluar dan Francesca langsung menjulur

rokok.

"Bagaimana kalau minum kopi?" ujar Marco.

"Aku tahu tempat yang tepat."

,, .___ —„nvrbcranei jalan menuju

Marco mengikutinya menyeoerai B , ,

i i Mna langkah kemudian mereka Via Clavature; beberapa langKa/.

265

masuk ke Rosa Rose. "Cappuccino paling nikmat di lapangan ini," Francesca meyakinkannya sesudah memesan dua cangkir di bar. Marco hendak bertanya tentang larangan memesan cappuccino selewat pukul setengah sebelas pagi, tapi mengurungkan

diri. Sambil menunggu, dengan hati-hati Francesca

melepas sarung tangan kulit, syal, serta mantelnya.

Mungkin acara minum kopi ini akan berlangsung

agak lama.

Mereka memilih meja di dekat jendela depan. Francesca menambahkan dua bongkah gula hingga segalanya sedemikian tepat. Ia tidak pernah tersenyum selama tiga jam terakhir, dan Marco pun tidak mengharapkannya sekarang.

"Aku punya salinan bahan-bahan pelajaran yang kaugunakan dengan guru yang satu lagi," ujar Francesca sambil meraih rokok. "Ennanno."

"Terserahlah, aku tidak kenal dia. Kusarankan setiap sore kita melatih percakapan berdasarkan apa yang kalian pelajari pagi harinya."

Marco tidak bisa membantah apa pun yang ia usulkan. "Terserah," ujarnya sambil mengangkat

bahu.

Francesca menyulut rokoknya, lalu menyesap kopinya.

"Apa yang diceritakan Luigi tentang diriku?" tanya Marco.

"Tidak banyak. Kau orang Kanada. Kau sedang liburan panjang keliling Italia dan ingin mempelajari bahasanya. Apakah itu benar?"

"Kau menanyakan pertanyaan pribadi?"

"Tidak, aku cuma bertanya apakah itu benar."

"Benar."

"Aku tak punya urusan untuk mengkhawatirkan soal-soal seperti itu."

"Aku tidak memintamu untuk merasa khawatir."

Marco membayangkan wanita itu sebagai saksi yang kuat di pengadilan, duduk dengan angkuh di depan juri, bertekad dirinya tak akan dibengkokkan maupun dipatahkan, bagaimanapun serunya tanya-jawab itu nanti. Ia telah menguasai dengan baik tampang cemberut dan tak peduli yang begitu jamak di kalangan wanita Etopa. Ia memegang tokoknya dekat dengan wajah, matanya mengamati segalanya di trotoar, tapi tidak melihat apa-apa. Obrolan basa-basi bukanlah kelebihannya. "Kau sudah menikah?" tanya Marco, isyarat pertama sesi tanya-jawab.

Dengusan, senyum palsu. "Aku sudah mendapat perintah, Mr. Lazzeri."

"Panggil aku Marco. Dan aku harus memanggilmu apa?"

"Signora Ferro sudah cukup untuk sementara

1

267

"Tapi kau sepuluh tahun lebih muda dariku» "Di sini situasi lebih formal, Mr. Lazzeri *

"Tampaknya begitu."

Signora Ferro mematikan rokoknya, menyesap kopi lagi, dan langsung ke urusan pekerjaan. "1^ hari liburmu, Mr. Lazzeri. Ini terakhir kali kita menggunakan bahasa Inggris. Pelajaran berikut, kita tidak bicara bahasa lain selain bahasa Italia."

"Baik, tapi aku ingin kau mengingat satu hal. Kau tidak menawarkan bantuan dengan gratis, oke? Kau dibayar. Inilah pekerjaanmu. Aku turis Kanada yang memiliki banyak waktu, dan kalau kita tidak cocok, aku akan mencari orang lain untuk mengajarku." "Apakah aku telah menyinggung perasaanmu? Kau bisa tersenyum."

Wanha itu mengangguk kecil dan seketika matanya tampak basah. Ia membuang muka, mena-UP ke luar jendela, dan berkata, "Aku tidak punya banyak hal yang bisa membuatku tersenyum."

16

Toko-toko di sepanjang Via Rizzoli buka pukul sepuluh pagi pada hari Sabtu dan Marco sedang menunggu sambil mengamati barang-barang yang dipajang di etalase. Dengan uang lima ratus euro saku, ia menelan ludah dengan susah payah, Meyakinkan diri bahwa ia tak punya pilihan lain kcuali masuk dan menjalani acara belanjanya pertama dan sungguhan dalam bahasa Italia. Ia telah menghafal kata-kata dan kalimat-kalimat hin8ga ia tertidur, tapi ketika pintu menutup di belakangnya ia berdoa ada penjaga toko muda.yang ba* hati dan bisa berbahasa Inggris dengan rasin. . Tak sepatah kata pun. Penjaga itu pria separo

kb,aya yan* ™y»m ^Sarco tTah me-

7^6 dari lima belas menit M* nu*juk, tergagap-gagap, dan kadang Jo* S

baik ketika menanyakan ukuran dan harga, la pun pergi dengan membawa sepasang sepatu bot hiking yang harganya sedang dan bergaya muda, jenis yang sering dilihatnya di sekitar universitas ketika cuaca memburuk, dan jaket parka hitam tahan air dengan tudung yang bisa digulung masuk ke dalam kerahnya. Dan ia masih memiliki hampir tiga ratus euro di sakunya. Mengumpulkan uang tunai kini menjadi prioritas utamanya.

la bergegas kembali ke apartemennya, berganti pakaian dengan bot baru dan jaket parka, lalu pergi lagi. Tiga puluh menit perjalanan ke Bologna Cenrrale menghabiskan waktu satu jam karena ia harus menggunakan jalur yang berliku-liku dan memutar. Ia tidak pernah menoleh ke belakang, tapi masuk ke kafe dengan mendadak dan mempelajari lalu lintas pejalan kaki, atau tiba-tiba berhenti di depan toko kue dan mengagumi kue-kue sambil mengamati pantulan di kaca. Kalau mereka membuntutinya, ia tidak ingin membuat meteka curiga. Latihan ini pun sangat penting. Lebih dari sekali Luigi mengatakan padanya bahwa tak lama lagi ia akan pergi, dan Marco Lazzeri ditinggalkan sendirian di dunia.

Pertanyaannya adalah, seberapa jauh ia bisa memercayai Luigi? Marco Lazzeri maupun Joel Backman sama-sama tidak memercayai siapa pun.

Ada saat-saat menggelisahkan di stasiun kereta ketika ia berjalan masuk, melihat keramaian di sana, mempelajari jadwal kedatangan dan keberangkatan, dan menoleh ke sana kemari dengan putus asa mencari loket penjualan tiket. Karena kebiasaan, ia juga mencari apa pun yang menggunakan bahasa Inggris. Namun ia belajar untuk menyisihkan kegugupannya dan terus maju. Ia berbaris dalam antrean dan sewaktu loket dibuka, ia maju dengan cepat, tersenyum pada wanita mungil di balik bea, melontarkan "Buon giorno" yang ramah, dan berkata, 'Yado a Milano." Saya mau pergi ke Milan.

Wanita itu sudah mengangguk. "Alle tredici e venti," ujar Marco. Jam 13.20. "Si, cinquanta euro," sahut wanita itu. Lima puluh euro.

Marco memberikan uang kertas pecahan seratus euto katena ia menginginkan kembaliannya, lalu betjalan pergi sambil menggenggam tiketnya dan memuji dirinya sendiri. Karena memiliki waktu luang satu jam, ia keluar dari stasiun dan berjalan dua blok di Via Boldrmi sampai menemukan kafe. la menikmati panino dan bir sambil mengamati trotoar, tidak berharap melihat siapa pun yang menarik perhatiannya.

Kereta Eurostar tiba tepat sepera yang dijadwalkan, dan Marco mengikuti arus penumpang yang

berjalan di peron. Ini perjalanan kereta pertamanya di Eropa dan ia tidak terlalu yakin dengan kebiasaan yang ada di sini. Ia telah mempelajari tiketnya sambil makan siang dan tidak melihat apa pun yang menunjukkan nomor tempat duduk. Sepertinya orang bebas memilih, dan ia menempati kursi dekat jendela pertama yang dilihatnya. Gerbongnya tak sampai separo penuh ketika kereta mulai bergerak, tepat pada pukul 13.20.

Dengan segera mereka keluar dari Bologna dan pemandangan pinggiran kota berkelebat cepat. Rel kereta itu mengikuti M4, jalan raya utama dari Milano ke Parma, Bologna, Ancona, dan sepanjang pesisir timur Italia. Setelah setengah jam, Marco kecewa dengan pemandangannya. Sulit menghargai pemandangan ketika melesat dengan kecepatan 160 kilometer per jam; semuanya menjadi kabur dan pemandangan yang indah lenyap dalam sekejap. Dan terlalu banyak pabrik yang berjajar di sepanjang rute transportasi.

Dengan segera ia pun menyadari mengapa ia satu-satunya orang di gerbong itu yang tampak tertarik dengan pemandangan di luar. Orang-orang yang berusia lebih dari tiga puluh tenggelam dalam surat kabar dan majalah, dan tampak santai, bahkan bosan. Yang lebih muda sudah tertidur lelap. Tak berapa kuna kemudian, kepala Marco pun tertunduk mengantuk.

Kondektur membangunkannya, mengucapkan

sesuatu dalam bahasa Italia yang sama sekali tak

dipahaminya. Ia hanya menangkap kata "bigiietto" dalam kalimat kedua atau ketiga dan cepat-cepat mengangsurkan tiketnya. Si kondektur cemberut memandangi tiket itu seolah ia akan menendang Marco keluar di jembatan berikut yang mereka lewati, tapi kemudian langsung melubanginya dan mengembalikannya sambil tersenyum lebar penuh W

Satu jam kemudian serangkaian kata tanpa arti terdengar dari pengeras suara, mengumumkan sesuatu yang ada hubungannya dengan Milano, dan pemandangan mulai berubah dengan drastis. Kota yang besar segera menelan mereka begitu keteta melambat, lalu berhenti, lalu bergerak lagi. Mereka melewati blok-blok gedung apartemen yang dibangun sesudah masa perang, berdempet-dempet, dengan jalan-jalan lebar yang memisahkannya. Buku panduan Ermanno mengatakan Milano memiliki populasi empat juta jiwa; ini kota penting, secara tak resmi merupakan ibu kota Italia utara, pusat keuangan, mode, penerbitan, dan industri negara tersebut. Kota industri sibuk yang, tentu saja, memiliki pusat kota dan katedral yang layak

dikunjungi. ^makin banyak

jalur-jalur re memecah n«nja^

dan melebar ketika mereka mem

Milano Centralc. Mereka berhenti di bawah kubah raksasa stasiun, dan ketika Marco turun ke peron, ia terperangah melihat betapa besarnya tempat itu. Tatkala berjalan di peron ia menghitung paling sedikit ada dua belas jalur yang berjajar rapi, sebagian besar dengan kereta yang sabar menunggu penumpangnya. Ia berhenti di ujung peron, di tengah-tengah keliaran ribuan orang yang datang dan pergi, dan mempelajari rute keberangkatan: Smttgart, Roma, Florence, Madrid, Paris, Betlin, Jenewa.

Seluruh Eropa ada di dalam jangkauannya, hanya beberapa jam jauhnya.

Ia mengikuti petunjuk yang membawanya ke gerbang masuk utama dan melihat perhentian taksi, tempat ia mengantre sebentar sebelum akhirnya naik ke kabin belakang mobil Renault putih kecil. "Aeroporto Malpensa," katanya pada sopir. Merek merayap di lalu lintas Milano yang padat sampai tiba di pinggiran kota. "Quale compagnia aerea?" tanya si sopir sambil menengok ke belakang. Maskapai apa?

"Lufthansa," sahut Marco. Di Terminal 2 taksi iru menemukan ruang lowong di tepi trotoar, dan Marco kembali merelakan empat puluh euro. Pintu otomatis membuka ke arah keramaian orang, dan ia bersyukur tidak harus mengejar pesawat apa pun. Ia meneliti jadwal keberangkatan dan menemukan

yang diinginkannya—penerbangan langsung ke Dulles. Ia mengelilingi tetminal sampai menemukan meja pendaftaran Lufthansa. Ada antrean panjang di depannya, tapi efisiensi Jerman yang biasa memungkinkan barisan itu bergerak cepat.

Prospek pertama adalah wanita berambut merah yang menarik berusia sekitar 25 tahun, yang sepertinya bepergian sendiri. Ia lebih menyukai calon seperti itu. Orang yang bepergian dengan teman mungkin tergoda untuk membicarakan pria aneh di bandara yang mengajukan permintaan janggal. Wanita itu ada di baris kedua dalam antrean kelas bisnis. Ketika mengawasi wanita itu, Marco juga menemukan prospek nomor dua: mahasiswa berbaju denim dengan rambut gondrong acak-acakan, ransel kumal, dan sweter University of Toledo—calon yang tepat. Pemuda itu ada di bagian belakang antrean, mendengarkan musik dengan headphone warna kuning cerah.

Marco mengikuti si rambut merah saat meninggalkan konter dengan kartu pas dan tas kabinnya. Penerbangannya masih dua jam lagi, jadi wanita itu melangkah mengikuti arus ke arah toko bebas pajak, tempat ia berhenti dan mengamati arloji-arloji Swiss paling mutakhir. Setelah tidak melihat apa pun yang ingin dibelinya, ia menuju kios majalah dan membeli dua majalah mode. Ketika wanita itu berjalan ke gerbang keberangkatan, serta pos

pemeriksaan pertama, Marco meneguhkan diri dan mendekat. "Permisi, Miss, permisi." Wanita itu mau tak mau menoleh dan menatapnya, tapi terlalu curiga untuk mengatakan sesuatu.

"Apakah Anda akan pergi ke Dulles?" tanya Marco dengan senyum lebar dan pura-pura terengah-engah, seolah baru saja berlari mengejarnya.

"Ya," sahut wanita itu ketus. Tanpa senyum. Orang Amerika.

"Saya juga, tapi paspor saya baru saja dicuri. Belum tahu kapan saya bisa kembali." Marco mengeluarkan amplop dari sakunya. "Ini kartu ulang tahun untuk ayah saya. Bisakah Anda memasukkannya ke bus surat begitu Anda tiba di Dulles? Ulang tahunnya hari Selasa depan, dan saya khawatir kartu ini tidak akan tiba tepat pada waktunya. Tolong."

Wanita itu memandangi Marco dan amplop itu dengan curiga. Itu kan cuma kartu ulang tahun, bukan bom atau pistol.

Marco mencabut sesuatu yang lain dari sakunya "Maaf, tidak ada prangkonya. Ini satu euro untuk membelinya Tolonglah, kalau Anda tidak keberatan."

Wajah itu akhirnya bergerak, dan wanita itu , hampir tersenyum. "Tentu saja," katanya, menerima amplop dan uang satu euro itu, lalu menyelip-kannya ke dalam tasnya.

276

Terima kasih banyak," ujar Marco, nyaris menangis. "Ini ulang tahunnya yang kesembilan

puluh. Terima kasih."

Tentu, tidak masalah," kata si tambut merah.

Si pemuda dengan headphone kuning itu sedikit lebih sulit. Ia juga orang Amerika, dan termakan kisah paspor yang hilang. Tapi ketika Marco hendak memberikan amplop itu, si pemuda menoleh ke kanan-kiri dengan waspada seakan mereka melanggar hukum.

'Wah, entahlah, man," ujarnya sambil mundur selangkah. "Kurasa tidak."

Marco tahu lebih baik ia tidak mendesak. Ia mundur dan berkata seketus mungkin, "Semoga penerbanganmu menyenangkan."

Mts. Ruby Ausberry dari York, Pennsylvania, adalah penumpang terakhir di meja pendaftaran. Ia telah mengajar sejarah dunia di SMA selama empat puluh tahun dan sedang menikmati uang pensiunnya dengan bepergian ke tempat-tempat yang hanya ia lihat dalam buku-buku pelajaran. Ini akhir petualangan tiga minggunya setelah menjelajahi Turki. Ia hanya mampir di Milano dari Istambul untuk meneruskan penerbangan ke Washington. Pria ramah itu mendekatinya dengan senyum putus asa dan menjelaskan bahwa paspornya baru dicuri. Ia bisa jadi akan melewatkan ulang tahun ayahnya. Dengan senang hati ia menerima kami

itu dan menyimpannya di dalam tas. Ia melewati pemeriksaan dengan lancar dan berjalan tiga ratus meter ke gerbang keberangkatan, tempat ia menemukan tempat duduk dan mulai membangun sarangnya.

Di belakang wanita itu, tak sampai lima meter jauhnya, si rambut merah sampai pada ke-putusannya. Bisa jadi itu surat berisi bom. Memang tampaknya tidak cukup tebal untuk memuat bahan peledak, tapi mana ia tahu hal-hal semacam itu? Ada tong sampah di dekat jendela—tong sampah krom keperakan dengan tutup krom (ini kan Milano)—dan dengan lagak santai ia berjalan menghampirinya, lalu membuang amplop itu ke sana.

Bagaimana kalau amplop itu meledak di sana? ia bertanya-tanya sendiri sambil kembali duduk Sudah terlambat. Ia tidak akan ke sana dan mengaisnya lagi. Kalaupun ia mau melakukannya, lalu apa? Mencari petugas berseragam dan berusaha menjelaskan dalam bahasa Inggris bahwa ada kemungkinan ia tadi membawa surat berisi bom? Yang benar saja, tegurnya pada diri sendiri. Ia meraih tas kabinnya dan pindah ke seberang ruangan, sejauh mungkin dari rong sampah tadi. Dan ia tak dapat melepaskan pandang dari tong sampah itu.

Ketegangan ku semakin meningkat. Ia orang pertama yang naik ke pesawat 747 itu. Hanya dengan

bantuan segelas sampanye ia bisa mulai tenang. Begitu sampai di Baltimore ia langsung menonton CNN. Ia yakin akan terjadi pembantaian besar-besaran di bandara Malpensa Milano.

Perjalanan Marco kembali ke Milano Centrale dengan taksi memaksanya mengeluarkan 45 euro, tapi Marco tidak bertanya-tanya pada si sopir. Untuk apa repot-repot? Tiket kembali ke Bologna harganya sama—lima puluh euro. Setelah satu hari belanja dan jalan-jalan, uangnya hanya tinggal sekitar seratus euro. Simpanan uang tunainya menipis dengan cepat.

Hari sudah hampir gelap ketika kereta melambat di stasiun Bologna. Marco hanya salah satu penumpang kecapekan ketika ia turun di peron, tapi diam-diam hatinya membuncah karena bangga atas keberhasilannya hari itu. Ia sudah membeli pakaian, membeli tiket kereta, selamat dari kegilaan di stasiun kereta dan bandara Milano, dua kali naik taksi, dan mengirimkan suratnya, satu hari penuh tanpa petunjuk bahwa ada orang yang tahu siapa dia dan di mana dia berada.

Dan tak sekali pun ia diminta menunjukkan paspor maupun randa pengenal lainnya.

Luigi naik kereta yang lain, kereta cepat pukul 11.45 ke Milano. Namun ia turun di Parma dan langsung

tenggelam dalam keramaian. Ia menemukan taksi dan pergi tak jauh ke tempat pertemuan, sebuah kafe favorit. Hampir satu jam ia menunggu Whitaker, yang ketinggalan kereta di Milano dan segera menyusul dengan kereta berikutnya. Seperti biasa, suasana hati Whitaker sangat suram, yang menjadi lebih buruk lagi karena pertemuan itu berlangsung pada hari Sabtu. Dengan cepat mereka memesan dan begitu pelayan pergi, Whitaker berkata, "Aku ridak suka perempuan itu-"

"Francesca?"

"Ya, si pemandu tur. Kita belum pernah menggunakan dia, bukan?"

"Benar. Tenang saja, jangan khawatir. Ia tidak tahu apa-apa."

"Bagaimana rupanya?"

"Lumayan menarik."

"Lumayan menarik bisa berarti apa saja, Luigi. Berapa umurnya?"

"Aku tidak pernah bertanya Dugaan paling baik, empat puluh lima."

"Sudah menikah?"

"Ya, tak punya anak Ia menikah dengan pria tua yang kesehatannya sangat buruk. Orang itu sekarat." > '.

Seperti biasa, Whitaker mencoret-coret di catatannya, memikirkan pertanyaan berikutnya. "Sekarat? Kenapa?"

"Kurasa karena kanker. Aku tidak banyak ber-

tanya."

"Mungkin sebaiknya kau lebih banyak bertanya."

"Mungkin wanita itu tidak ingin membicarakan beberapa hal tertentu—usianya dan suaminya yang sudah hampir mati." "Di mana kau menemukan dia?" Tidak mudah. Guru bahasa tidak antre seperti taksi. Ada teman yang merekomendasikan dia Aku bertanya ke sana kemari. Ia punya reputasi baik di kota itu. Dan kebetulan ia bersedia. Hampir mustahil menemukan guru bahasa yang mau menghabiskan tiga jam setiap hari dengan muridnya" "Setiap hari?"

Hampir setiap hari selain akhir pekan. Ia mau bekerja setiap siang untuk sekitar satu bulan ke depan. Sekarang ini belum musim turis. Ia mungkin punya pekerjaan satu atau dua kali seminggu, tapi berusaha tetap pada jadwal yang disepakati. Tenang, ia cukup bagus." "Berapa bayarannya?"

"Dua ratus euro seminggu, sampai musim semi ketika turis mulai ramai."

Whitaker memutar bola matanya, seolah jurulah itu harus dipangkasnya dari uang gajinya "Biaya Marco tinggi sekali," ia berkata, seperu pada din sendiri.

"Marco punya ide bagus. Ia ingin pergi Australia atau Selandia Baru atau tempat lajn j! mana ridak ada kendala bahasa."

"Ia ingin dipindah?"

"Ya, dan menurutku itu ide bagus. Mari Icjta buang dia ke tempat lain."

"Bukan kita yang mengambil keputusan, kan Luigi?"

"Memang bukan."

Pesanan salad riba dan mereka pun diam selama beberapa saat. Kemudian Whitaker berkata, "Aku tetap tidak menyukai wanita itu. Teruslah mencari orang lain."

Tidak ada orang lain lagi. Apa sebenarnya yang kaukhawatirkan?"

"Marco punya sejarah dengan kaum wanita, oke? Selalu ada kemungkinan romansa bersemi. Wanita itu bisa mengacaukan banyak hal."

"Aku sudah memperingatkan wanita itu. Lagi pula ia butuh uangnya"

Ta tidak punya uang?"

"Aku mendapat kesan kondisi keuangannya sedang sulit. Sekarang bukan musim turis dan suaminya tidak bekerja."

Whitaker nyaris tersenyum, seakan iru kabar baik Dijejalkannya seiri» besar tomat ke dalam mulur dan dikunyahnya sambil menyapukan pandang ke trattoria itu, fcalau-kalau ada orang

yang menguping pembicaraan mereka yang dilangsungkan dalam bahasa Inggris dengan suara pelan. Ketika akhirnya bisa menelan, ia berkata, "Sekarang masalah e-mail. Marco sama sekali bukan tipe hacker. Pada masa jayanya dulu, ia hidup dengan teleponnya—ia punya empat atau lima pesawat telepon di kantornya, dua di mobil, satu di dalam saku—selalu menerima tiga telepon sekaligus. Sering membual ia menagihkan lima ribu dolar hanya untuk menerima telepon dari klien baru, omong kosong semacam itu. Tidak pernah menggunakan komputer. Orang-orang yang bekerja padanya mengatakan ia sesekali membaca e-mail. Ia jarang mengirim e-mail, dan kalaupun mengirimkannya, sekretarisnyalah yang melakukannya. Kantornya penuh peralatan berteknologi tinggi, tapi ia membayat orang untuk melakukan pekerjaan kasar. Ia terlalu penting."

"Bagaimana ketika ia di penjara?"

Tidak ada bukti pengiriman e-mail. Ia mempunyai laptop yang digunakannya untuk menulis surat, bukan e-mail. Tampaknya semua orang menjauhinya ketika ia jatuh. Sekali-sekali ia menulis surat kepada ibunya dan putranya, tapi selalu melalui pos biasa."

"Kedengarannya ia sama sekali buta huruf/' "Kedengarannya begitu, tapi Langlcy khawatir ia akan mencoba menghubungi seseorang di luar.

h ridak bisa melakukannya Jewac telepon, paling ridak sekarang ini. la ridak punya alamat lain yang bisa dipakai, jadi mungkin surat tidak perlu dicemaskan."

"Bodoh sekali kalau ia menulis sura r," kara Luigi. "Iru bisa membongkar keberadaannya."

Tepat Begitu pula telepon, faks, dan segalanya, kecuali e-mail." "Kita bisa melacak e-mail." "Sebagian besar bisa, tapi selalu ada cara." Ta ridak punya komputer maupun uang untuk membelinya."

"Aku tahu, tapi secara hipotesis, ia bisa saja menyelinap ke kafe Internet, menggunakan account berkode, mengirim e-mail, dan menghapus jejaknya, mengeluarkan sedikit uang untuk membayar pihak rental, lalu pergi."

"Bisa saja, tapi siapa yang akan mengajarinya cara melakukannya?"

"Ia bisa belajar. Ia bisa menarinya di buku. Memang kecil kemungkinannya, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali"

"Aku menyisir apartemennya setiap hari," ujar Luigi. "Setiap jengkalnya. Kalau ia membeli buku atau meletakkan bon pembelian, aku pasti tahu."

"Selidiki dengan cermat kafe-kafe Internet di sekitar situ. Sudah ada beberapa di Bologna sekarang"

"Aku tahu semuanya."

"Di mana Marco sekarang?"

"Aku tak tahu. Sekarang hari Sabtu, hari liburnya. Ia mungkin menjelajahi jalanan Bologna, menikmati kebebasannya."

"Dan ia masih ketakutan?"

"Ngeri."

Mrs. Ruby Aus berry menelan pil sedatif ringan dan teridap selama enam jam dari delapan jam waktu terbang dari Milano ke Dulles International. Kopi suam-suam kuku yang mereka sajikan sebelum mendarat nyaris tak sanggup menyibakkan kabut kantuk, dan ketika pesawat 747 itu meluncur menuju gerbang kedatangan, ia sudah mulai tertidur lagi. la lupa pada kartu ulang tahun itu ketika mereka digiring ke mobil-mobil pengangkut ternak yang menunggu di landasan dan mengantar mereka ke terminal utama. Ia melupakan kartu itu ketika bersama penumpang-penumpang lain menunggu bagasi dan betbondong-bondong melewati pemeriksaan imigrasi. Dan ia pun melupakannya ketika ia melihat cucu perempuan yang ia sayangi

¦ i i: ninrti keluar terminal ke-

sudah menunggunya di pintu aeiu«i

datangan. . , , » «

o . «omnai ia sudah tiba de-

Ia melupakan kartukuisamp»

ngan selamat di rumahnya di

dan mengais-ngais tas cangklongnya mencari oU oleh. "Oh, astaga," katanya ketika kartu itu jatuh di meja dapur. "Seharusnya aku memasukkan kartu ini ke bus surat di bandara tadi." Lalu ia bercerita pada cucunya tentang pria malang di bandara Milano yang kehilangan paspor dan terpaksa tak bisa hadir pada hari ulang tahun ayahnya yang kesembilan puluh.

Cucunya mengamati amplop itu. "Kok tidak sepera kartu ulang tahun?" katanya. Ia membau alamatnya: R.N. Backman, Attorney at Law, 412 Main Street, Culpepet, Virginia, 22701.

"Tidak ada alamat pengirimnya," ujar si cucu perempuan.

"Aku akan mengirimkannya besok pagi-pagi sekali," kata Mrs. Ausberry. "Kuharap bisa sampai sebelum hari ulang tahunnya."

17

Pada pukul sepuluh pagi di Singapura, dana misterius sejumlah tiga juta dolar yang sudah mendekam di rekening Old Stone Group, Ltd, mendadak meninggalkan tempatnya secara elektronis dan memulai perjalanan diam-diam menuju belahan dunia yang lain. Sembilan jam kemudian, ketik* Pwtu-pintu Galleon Bank and Trust di Pulau Saint Christopher di Kepulauan Karibia dibuka, dana itu langsung diterima dan dimasukkan ke rekening Jwnomor tanpa nama. Lazimnya, peristiwa 'tu Walah transaksi anonim biasa, salah satu dan nb«an transaksi serupa pada Senin pag| «o» • J"*un Old Stone telah mendapat V^g^ dari PBI. Bank di Singapura ^ M "Ma sepenuhnya. Bank di Saint Christ P

demikian halnya, walau rak berapa lama lagi akan mendapat kesempatan untuk berpartisipasi.

Ketika Direktur Anthony Price tiba di kantornya di Hoover Building sebelum fajar merekah pada hari Senin itu, memo berisi berita panas telah menunggunya. Ia membatalkan semua kegiatan j yang sudah direncanakan pagi itu. Bersama timnya ia menunggu dana tersebut mendarat di Saint Christopher. Lalu ia menelepon Wakil Presiden. Makan waktu empat jam pemaksaan yang sama sekak tidak diplomatis untuk mengguncang Saint Christophet dan merontokkan informasi dari sana. Pada awalnya para bankir tersebur tetap bergeming, tapi negara yang nyaris tak bisa disebut negara ku tentu tak mampu bertahan melawan kekuatan dan amarah satu-satunya negara adidaya di dunia. Sewaktu Wakil Presiden mengancam perdana menteri negara tersebut dengan sanksi ekonomi dan perbankan yang akan menghancurkan perekonomian kecil yang menjadi rulang punggung pulaunya, sang perdana menteri akhirnya, bertekuk lutut dan ganti melabrak para bankirnya.

Rekening angka tersebut dapat dilacak dan secara langsung mengarah pada Artie Morgan, putra sang mantan presiden yang berusia 31 tahun. Ia JaJuar-masuk Oval Office selama jam-jam terakhir pemerintahan ayahnya, menyesap bir Heineken

f dan sekali-sekali memberikan saran kepada Critz

dan sang Presiden. Skandal itu semakin panas seiring berlalunya

waktu.

Dari Grand Cayman ke Singapura dan sekarang ke Saint Christopher, transfer kawat itu memperlihatkan tanda-tanda jelas seorang amatir yang berusaha menutupi jejak-jejaknya. Seorang profesional akan memecah dana tersebut menjadi delapan dan memarkir masing-masing bagian di sejumlah bank yang berbeda di beberapa negara, lalu mentransfernya satu per satu dengan selang waktu beberapa bulan. Kenyataannya, pemain pelonco seperti Artie pun semestinya bisa menyimpan dana tersebut. Bank-bank luar negeri yang ia pilih bersedia bekerja sama untuk melindunginya. Hanya saja, FBI berhasil mendapatkan terobosan berkat bajingan penipu dana bersama yang kelimpungan mencari jalan keluar untuk menghindari hukuman penjara.

Namun demikian, masih belum ada bukti dari mana dana tersebut berasal. Selama tiga hari ter-akhk masa baktinya, Presiden Morgan memberikan 22 pengampunan hukuman. Di antara semua itu, hanya dua yang menarik perhatian: Joel Backman dan Duke Mongo. FBI berupaya keras menggali informasi keuangan tentang kedua puluh orang yang lain. Siapa yang mungkin mempunyai tiga

289

juta dolar? Siapa yang memiliki sumber untuk mendapatkannya? Semua teman, anggota keluarga, dan rekan bisnis diselidiki dengan cermat oleh FBI.

Analisis awal menyatakan apa yang sebelumnya telah diketahui Mongo memiliki dana miliaran dolar dan mental yang korup sehingga bisa menyogok siapa saja, Backman pun bisa melakukannya. Kemungkinan ketiga adalah mantan anggota legislatif dan New Jersey yang mengeruk banyak keuntungan untuk "keluarganya" dari kontrak pembangunan jalan pemerintah. Dua belas tahun yang lalu, ia masuk ke "kamp fedetal" selama beberapa bulan dan sekarang ingin hak-haknya dipulihkan kembali.

Presiden sedang berada di Eropa dalam rangkaian kunjungan perkenalan, putaran kemenangannya yang pertama keliling dunia. Baru tiga hari lagi ia akan kembali, dan Wakil Presiden memutuskan untuk menunggu. Mereka akan mengawasi dana itu, memeriksa ulang semua fakta dan detail hingga dua-tiga kali. Saat Presiden kembali, mereka akan menyajikan kasus yang solid. Skandal jual-beli pengampunan hukuman akan menyengat negara ini. Partai oposisi akan dipermalukan dan resolusinya di Kongres akan melemah. Anthony Price dipastikan akan tetap menjabat sebagai direktur FBI selama beberapa tahun lagi. Teddy Maynard pada akhirnya akan dikirim ke panti jompo. Tidak ada «isi buruk

dalam serangan besar-besaran FBI melawan mantan

presiden yang sama sekali tidak curiga.

Gurunya sudah menunggu di barisan bangku belakang Basilica di San Francesco. Wanita itu terbungkus pakaian rapat, tangannya yang mengenakan sarung tangan setengah tersembunyi di dalam saku mantelnya yang tebal. Di luar turun hujan salju lagi, dan di dalam tempat ibadah yang luas, dingin, dan kosong itu, suhu udara tidak lebih hangat daripada di luar. Marco duduk di sebelahnya dan dengan suara pelan menyapa, "Buon porno."

Wanita itu membalasnya dengan senyum sekadarnya yang cukup untuk disebut sopan, dan berkata, "Buon giorno." Marco tetap menyimpan tangannya di dalam saku, dan untuk waktu yang , cukup lama mereka duduk saja seperti dua pendaki gunung kedinginan yang sedang berlindung dari dahsyatnya cuaca. Seperti biasa, wajah Francesca tampak muram dan pikirannya berkelana jauh dari pengusaha Kanada kikuk yang ingin mempelajari bahasanya, la kelihatan tak ambil pusing dan j pikirannya sibuk sendiri, dan Marco pun muak dengan tingkahnya. Ermanno makin kehilangan : minat dari hari ke hari. Francesca nyaris tak bisa diajak kompromi. Luigi selalu ada di belakang

191

sana, mengendap-endap dan mengawasi, tapi ja pun sepertinya sudah kehilangan minat pada permainan ini.

Marco mulai berpikir akan terjadi sesuatu tak lama lagi. Potong tali pelampungnya dan biarkan ia mengapung sendiri, entah berenang atau tenggelam. Biarkan saja. Sudah hampir satu bulan ia menjadi orang bebas. Ia sudah mempelajari cukup banyak bahasa Italia untuk bertahan hidup. Ia pasti biasa belajar sendiri lebih banyak lagi.

"Jadi berapa usia gereja ini?" tanya Marco setelah jelas bahwa ia yang pertama kali diharapkan memecahkan keheningan.

Wanita itu beringsut sedikit, berdeham, mengeluarkan kedua tangannya dari saku, seolah Marco telah membangunkannya dari tidur yang lelap. "Gereja ini mulai dibangun pada tahun 1236 oleh biarawan-biarawan Fransiskan. Tiga puluh tahun kemudian aula utama selesai dibangun." "Pekerjaan yang terburu-buru." "Ya, memang cukup cepat. Selama berabad-abad sesudahnya, kapel-kapel mulai dibangun di kedua sisinya. Sakristi kemudian dibangun, lalu menara loncengnya Pada tahun 1798, Prancis, di bawah Napoleon, mengubah tempat ibadah ini menjadi kantor pabean. Pada tahun 1886, bangunan ini kembal menjadi gereja, lalu direstorasi pada tahun 1928. Kak» Bologna dibom Sekutu, bagian fasad-

nya rusak berat. Bangunan ini memang memiliki sejarah yang keras."

Tidak tampak cantik dari luar."

"Begitulah akibat pemboman."

"Kurasa itu karena kalian keliru memihak."

"Bologna tidak berpikir begitu."

Tak ada perlunya menghidupkan perang yang sudah berlalu. Mereka terdiam sementara suara mereka seolah mengambang naik dan bergaung pelan di dalam kubah. Ketika Backman masih kecil, ibunya mengajaknya ke gereja beberapa kali dalam setahun, tapi upaya setengah hati untuk memperdalam iman tersebut dengan segera ditinggalkan pada masa SMA dan sama sekali terlupakan selama empat puluh terakhir. Penjara pun tidak sanggup membujuknya kembali, tak seperti beberapa narapidana lain. Namun bahkan pria yang tak memiliki kepercayaan apa pun itu sulit memahami bagaimana pemujaan dalam bentuk apa pun bisa dilangsungkan di tempat serupa museum yang begitu dingin dan tak bernyawa.

"Gereja ini begitu kosong. Memangnya pernah ada orang yang beribadah di sini? "Ada misa harian dan hari Minggu. Aku dulu

menikah di sini."

"Seharusnya kau tidak menceritakan kisah pribadimu. Luigi bisa marah."

_„ . * i Tnlia. Marco, tidak boleh

"Gunakan bahasa Italia, 1VHM

bahasa Inggris lagi." Dengan bahasa Italia, ia ber tanya, "Apa yang kaupela/ari pagi ini benam; Ermanno?" "La famiglia."

"La sua famiglia. Mi dica." Keluargamu. Cerita-kanJah padaku. "Berantakan," ujar Marco dalam bahasa Inggris. "Sua moglie?"Istrimu? "Yang mana? Aku punya tiga." "Bahasa Italia." "Quale?Ne ho tre." "L'ultima." Yang terakhir. Lalu Marco menahan diri. Ia bukan Joel Backman, yang mempunyai tiga mantan istri dan keluarga berantakan. Ia Marco Lazzeri dari Toronto, yang memiliki seorang istri, empat anak, dan lima cucu. "Aku bergurau," katanya dalam bahasa Inggris. "Aku cuma punya satu istri."

"Mi duo, in Italiano, di sua moglie." Ceritakan tentang istrimu.

Dengan bahasa Italia yang lambat, Marco menggambarkan istri rekaannya. Namanya Laura. Umurnya 52 tahun. Ia tinggal di Toronto. Ia bekerja di perusahaan kecil. Ia tidak suka bepergian. Dan seterusnya.

Setiap kalimat diulang paling tidak tiga kali. Setiap pengucapan yang salah disambut kernyitan dan ucapan singkat, "Ripeta." Berulang-ulang Marco

ia/.

bercerita tentang Laura yang tak pernah ada. Ketika ceritanya tentang Laura habis, ia digiring untuk ber-cerira tentang putra sulungnya, rekaan juga, yang satu ini namanya Alex. Usianya tiga puluh tahun, bekerja sebagai pengacara di Vancouver, bercerai, memiliki dua anak, dst, dst.

Untungnya, Luigi telah memberinya biografi kecil tentang Marco Lazzeri, lengkap dengan semua detail yang diingat-ingatnya kembali di bangku belakang gereja yang dingin menggigit itu. Francesca mendorongnya terus, memaksanya menuju kesempurnaan, memperingatkannya agar tidak betbicara terlalu cepat, kecenderungan yang alami.

"Deve parlare lentamente," ujarnya berkali-kali. Kau harus bicara perlahan.

Francesca sangat tegas dan tanpa humor, tapi juga membuatnya termotivasi. Kalau bahasa Italia Marco separo saja kemampuan Francesca berbahasa Inggris, tentu ia akan berhasil baik Jika Francesca yakin kemampuannya akan meningkat dengan pengulangan kalimat, ia pun akan melakukan hal yang sama.

Ketika mereka sedang membicarakan ibu Marco,

seorang pria berumur memasuki gereja dan duduk

di barisan bangku tepat di depan mereka. Tak lama

kemudian bapak itu tenggelam dalam meditasi

dan doa. Mereka memutuskan untuk keluar tanpa

_,„„_. Calm tipis masih turun dari langit

mengganggu. o«Ju " "

dan mereka berhenti di kafe pertama yang mereka lihat, untuk minum espresso dan merokok

"iaesso, possiamo parlare della sua familia?" tanya Marco. Bisakah kita berbicara tentang keluargamu sekarang?

Francesca tersenyum, memperlihatkan geliginya; yang sangat jarang terjadi. Lalu ia berkata, 'Benissimo, Marco." Bagus sekali. "Ma, non possiamo. Mi displace." Tapi, maafkan aku. Kita tidak bisa melakukannya.

"Perche non?" Mengapa tidak?

"Abbiamo delle regole." Kita punya peraturan.

"Dove suo marito?" Di mana suamimu berada?

"Qui, a Bologna." Di sini, di Bologna.

"Dove lavora?" Di mana ia bekerja?

"Non lavora."

Setelah rokoknya yang kedua, mereka berjalan kembali ke arah trotoar bernaungan dan memulai pelajaran mendalam tentang salju." Francesca mengatakan kalimat pendek dalam bahasa Inggris, lalu Marco harus menerjemahkannya. Salju turun. Di Florida tak pernah turun salju. Mungkin besok akan turun salju. Minggu lalu, hujan salju turun dua kali. Aku suka salju. Aku tidak suka salju.

Mereka menyusuri tepi alun-alun utama dan tetap berjalan di bawah portico. Di Via Rizzoli, mereka melewati toko tempat Marco membeli sepatu bot dan jaketnya, dan menurutnya Francesca akan

296

senang mendengar cerita tentang peristiwa itu. Marco mampu menangani pembicaraan dalam bahasa Italia. Namun ia mengurungkan niat, karena tampaknya Francesca begitu berkonsentrasi dengan obrolan tentang cuaca. Di persimpangan, mereka berhenti dan memandang Le Due Torri, dua menara yang masih berdiri, yang menjadi kebanggaan penduduk Bologna.

Dulu pernah terdapat lebih dari dua ratus menara, jelas Francesca. Lalu ia meminta Marco mengulang kalimat tersebut. Marco mencobanya, mengucapkan bentuk lampau dan angkanya dengan ngawur, kemudian diminta mengulang kalimat keparat itu sampai ia mengatakannya dengan benar.

Di abad pertengahan, untuk alasan-alasan yang tak pernah bisa diterangkan oleh bangsa Italia zaman sekarang, nenek moyang mereka mengembangkan ketertarikan arsitektur yang tak biasa dengan membangun menara-menara jangkung dan langsing untuk tempat tinggal mereka. Karena perang antarsuku dan kerusuhan setempat menjadi sesuatu yang biasa dan menyebar cepat, menara-menara itu utamanya dijadikan tempat perlindungan. Bangunan tersebut bisa menjadi pos pengamatan yang bagus dan sangat penting artinya saat terjadi serangan, sekalipun tidak terlalu praktis sebagai tempat tinggal. Untuk melindungi persediaan pangan, dapur dibangun di lantai tertinggi,

tiga ratusan anak tangga dari tanah, sehingga tak \ mudah mencari pembantu yang bisa diandalkan. Ketika pecah perlawanan, keluarga-keluarga yang bermusuhan tinggal melontarkan anak-anak panah dan melemparkan tombak dari satu menara ke menara yang lain. Tak ada perlunya berperang di jalanan sepera orang kebanyakan.

Menara-menara tersebut juga menjadi simbol status. Kaum bangsawan dan orang-orang terhormat tak rela bila tetangga dan/atau musuhnya memiliki menara yang lebih tinggi, jadi pada abad ketiga belas dan keempat belas muncullah perlombaan aneh yang melanda kaki langit Bologna, ketika para aristokrat berusaha menyaingi tetangga-tetangganya. Kota itu pun dijuluki la turrita, yang bermenara. Seorang pengelana dari Inggris menggambarkannya sebagai "lautan asparagus".

Pada abad keempat belas, pemerintahan yang terorganisir baik berhasil mengokohkan kekuasaannya di Bologna, dan orang-orang yang memiliki visi tahu bahwa perseteruan itu harus dihentikan. Kota tersebut, bilamana memiliki cukup tenaga kerja, merobohkan sebagian besar menara-menara ku. Pekerjaan pembongkaran sebagian yang lain diambil alih oleh waktu dan gaya gravitasi—fondasi yang buruk membuatnya roboh sendiri setelah be-berapa abad.

Pada akhir 1800-an, muncul gerakan untuk meruntuhkan semua menata, tapi hanya mendapat sedikit dukungan. Cuma dua menara yang bertahan—Asinelli dan Garisenda. Keduanya berdiri berdekatan di Piazza di Porto Ravegnana, tak satu pun berdiri tegak lurus. Garisenda condong ke utara pada sudut yang sanggup menyaingi menara yang lebih cantik dan lebih terkenal, yang ada di Pisa. Kedua menara yang masih berdiri itu telah memicu timbulnya banyak julukan selama berpuluh-puluh tahun. Seorang penyair Prancis mengibaratkan mereka sebagai dua pelaut mabuk yang terseok-seok pulang, saling menyandarkan tubuh ke yang lain agar tidak roboh. Buku panduan Ermanno menyebut mereka "Laurel dan Hardy" dari masa arsitektur abad pertengahan.

La Torre degii Asinelli dibangun pada awal abad kedua belas, dan, dengan tinggi 97,2 meter, dua kali lebih jangkung daripada rekannya. Garisenda mulai miring ketika hampir selesai dibangun pada abad ketiga belas, dan langsung dipenggal setengahnya demi mencegah kemiringan lebih lanjut. Klan Garisenda kehilangan minat dan meninggalkan kota tersebut dengan menanggung malu.

Marco pernah mempelajari sejarah tersebut dari buku panduan Ermanno. Francesca tidak mengetahuinya, dan ia, sebagai pemandu yang baik,

menghabiskan lima belas menit dalam udara dingin untuk bercerita rentang menara-menara yang terkenal itu. Ia menyusun kalimat sederhana, mengucapkannya dengan sempurna, membantu Marco terbata-bata mengulanginya, lalu dengan enggan beralih ke kalimat lain.

"Asinelli memiliki empat ratus sembilan puluh delapan anak tangga hingga ke puncaknya," ujar Francesca.

"Andiomo," ujar Marco segera. Ayo. Mereka memasuki fondasi menara yang besar melalui pintu sempit, menaiki tangga melingkar setinggi kurang-lebih lima belas meter sampai ke bilik penjualan tiket yang terjepit di suatu sudut. Marco membeli dua tiket yang masing-masing harganya tiga euro, dan mereka pun mulai mendaki. Menara itu bolong di tengah, dengan tangga yang menempel di dinding paling luar.

Francesca mengatakan, paling tidak sudah sepuluh tahun ia tidak naik ke menara itu, dan sepertinya bersemangat dengan petualangan kecil mereka. Ia mulai menaiki anak-anak tangga sempit dari kayu ek, sementara Marco menjaga jarak di belakangnya. Sesekali terdapat jendela terbuka, sehingga ada udara dan cahaya yang menembus masuk "Atur sendiri langkahmu," kata Francesca dalam bahasa Inggris sambil menoleh ke belakang, ketika ia mulai jauh dari Marco. Pada siang hari di

bulan Februari yang bersalju itu, tidak ada orang yang berminat mendaki ke puncak kota.

Marco mengatur kecepatannya dan segera saja Francesca lenyap dari pandangan. Sekitar setengah jalan ke puncak, Marco berhenti di jendela lebar yang terbuka sehingga angin bisa menyejukkan wajahnya. Ia berhasil mengatur napas, lalu mendaki lagi, kali ini lebih lambat. Beberapa menit kemudian, ia berhenti lagi, jantungnya berdegup kencang, paru-parunya kembang-kempis, benaknya bertanya-tanya apakah ia sanggup sampai ke puncak Setelah 498 anak tangga, akhirnya ia muncul di kotak sempit di bawah atap dan melangkah ke puncak menara. Francesca sedang merokok, menera-wangi kotanya yang indah, tak terlihat setitik keringat pun di wajahnya.

Pemandangan dari puncak sungguh mengagumkan. Atap-atap rumah bergenting merah sekarang tertutup salju putih setebal lima sentimeter. Kubah hijau pucat San Bartolomeo ada di bawah atap-atap itu, tidak terkubur di bawah salju. "Pada hari cerah, kau bisa melihat Laut Adriatik di sebelah timur, dan Pegunungan Alpen di utara," kata Francesca, masih berbahasa Inggris. "Indah sekali, bahkan ketika terlapisi salju."

"Indah sekali," kata Marco, napasnya tersengal-sengal. Angin bertiup melalui jeruji besi di antara

batu bata, dan udara di puncak Bologna lebih dingin daripada di jalanan di bawah.

"Menara ini adalah bangunan kelima tertinggi di Italia zaman kuno," kata Francesca bangga. Marco yakin wanita itu bisa menyebutkan keempat bangunan yang lain.

"Mengapa menara ini dipertahankan?" tanya Marco.

"Untuk dua alasan, kurasa. Menara ini memiliki rancangan dan konstruksi yang bagus. Asinelli keluarga yang kuat dan- berkuasa. Dan bangunan ini pernah digunakan sebagai penjara pada abad keempat belas, ketika banyak menara lain dihancurkan. Sesungguhnya, tak ada orang yang benar-benar tahu mengapa menara ini dipertahankan.'' Pada ketinggian sembilan puluh meter, Francesca menjadi orang yang berbeda. Matanya berbinar, suaranya terdengar hidup.

"Pemandangan ini selalu mengingatkanku mengapa aku mencintai kotaku," karanya sambil menyunggingkan senyum langka. Bukan senyum yang ditujukan pada Marco, bukan pada apa pun dikatakannya, tapi pada atap bangunan dan kaki langit Bologna Mereka menyeberang ke sisi lain dan memandang kejauhan di sebelah barat daya. Di atas bukit di atas kota, samar-samar terlihat Santuario di San Luca, malaikat pelindung kota itu.

"Kau pernah ke sana?" tanya Francesca.

"Belum."

"Kita akan pergi ke sana bila cuaca cerah, oke?"

"Baik."

"Banyak yang harus kita lihat."

Barangkali ia tidak akan memecat Francesca. Marco begitu mendambakan pertemanan, terutama dari lawan jenis, sehingga ia sanggup menolerir ketidakacuhan Francesca, kemuramannya, serta perubahan suasana hatinya. Marco bahkan akan belajar lebih giat lagi demi memperoleh pengakuan darinya.

. Bila perjalanan mendaki Menara Asinelli telah meningkatkan semangat Francesca, perjalanan turun mengembalikan lagi sikapnya yang murung. Mereka minum espresso sebentar di dekat menara dan kemudian berpisah jalan. Ketika Francesca berjalan menjauh tanpa pelukan yang palsu, tanpa kecupan di pipi, bahkan tanpa jabat tangan sopan santun, Marco memutuskan untuk memberinya walau satu minggu lagi.

Diam-diam ia menempatkan Francesca pada masa percobaan. Wanita itu punya waktu tujuh hari untuk bersikap lebih manis, kalau tidak Marco akan menghentikan kegiatan belajar-mengajar ini. Hidup ini terlalu singkat.

Namun, Francesca cantik juga sih.

Amplop itu dibuka oleh sekretarisnya, seperti semua surat yang datang kemarin dan kemarin dulu. Tapi di dalam amplop itu terdapat amplop lain, yang ditujukan kepada Neal Backman. Di muka dan belakang amplop, dalam huruf-huruf kapital tebal, tertulis peringatan serius: PRIBADI, RAHASIA, HANYA BOLEH DIBUKA OLEH NEAL BACKMAN.

"Anda mungkin mau melihat yang paling atas lebih dulu," ujar sekretarisnya ketika mengantarkan tumpukan tebal surat-surat yang masuk itu pada pukul sembilan pagi. "Prangkonya distempel dua hari yang lalu di York, Pennsylvania." Sewaktu sekretaris itu menutup pintu di belakangnya, Neal meneliti amplop tersebur. Warnanya cokelat muda, tanpa tanda-tanda apa pun kecuali yang sudah ditulis tangan oleh si pengirim. Tulisan itu tampak familier.

Dengan pisau pembuka surat, dengan perlahan dibukanya bagian atas amplop tersebut, lalu dikeluarkannya selembar kertas putih yang terlipat. Surat itu dari ayahnya. Mengejutkan, namun demikian tidak juga.

Dear Neal; 21 Feb

Sementara ini aku aman, tapi keadaan ini kurasa tak akan bertahan lama. Aku memerlukan bantuanmu. Aku tidak punya alamat, tidak punya telepon maupun mesin faks, dan

bila memilikinya pun aku tidak yakin dapat menggunakannya. Aku perlu akses e-mail, sesuatu yang tidak dapat dilacak. Aku tidak tahu bagaimana mendapatkannya, tapi aku tahu kau bisa. Aku tidak punya komputer dan tidak punya uang. Ada kemungkinan besar kau diawasi, jadi apa pun yang kaulakukan, kau tidak boleh meninggalkan jejak. Tutupi semua jejakmu. Tutupi jejakku. Jangan percaya pada siapa pun. Amati segalanya. Simpan surat ini, lalu hancurkan. Kirimi aku uang sebanyak yang mungkin kaukirimkan. Kau tahu aku akan menggantinya nanti. Jangan pernah gunakan nama aslimu atau apa pun juga. Gunakan alamat ini:

Sr. Rudolph Viscovitch, Universita degli Studi, Universitas Bologna, Via Zamboni 22, 44041, Bologna, Italia. Gunakan dua amplop—yang pertama ditujukan pada Viscovitch, yang kedua padaku. Dalam suratmu padanya, katakan padanya agar menyimpankan kirimanmu itu untuk Marco Lazzeri. Cepatlah!

Love, Marco

Neal meletakkan surat itu di mejanya dan berjalan ke pintu untuk menguncinya. Ia duduk di sofa kecil berlapis kulit dan berusaha menata pi-

kiran. Ia telah memutuskan bahwa ayahnya ada di luar negeri, karena kalau tidak, ia pasti akan mengontaknya jauh sebelum ini. Mengapa ia ada di Italia? Mengapa surat ini dikirim dari York, Pennsylvania?

Istri Neal tidak pernah bertemu ayah mertuanya. Backman sudah dipenjara selama dua tahun ketika Neal dan istrinya bertemu, lalu menikah. Mereka mengirim foto-foto pernikahan ke penjara, kemudian sebuah foto putri mereka,-cucu perempuan Joel yang kedua.

Neal tidak senang membicarakan ayahnya. Maupun memikirkannya. Joel bukan ayah teladan, sering tak ada hampir di sepanjang masa kecilnya, dan kejatuhannya yang mengejutkan dari kekuasaan telah mencoreng muka orang-orang yang dekat dengannya. Dengan enggan Neal mengirim surat dan kami selama masa tahanannya, tapi ia bisa dengan jujur mengatakan, paling tidak pada diri sendiri dan istrinya, bahwa ia tidak kehilangan ayahnya. Toh ia nyaris tak pernah berada dekat-dekat ayahnya.

Sekarang ayahnya kembali, meminta uang yang tak dimiliki oleh Neal, tanpa ragu beranggapan Neal akan melakukan apa yang diperintahkan, dengan tenang mempertaruhkan keselamatan orang lain.

Neal kembali menghampiri meja kerjanya dan membaca lagi surat itu, lalu sekali lagi. Tulisan

306

cakar ayam yang nyaris tak bisa dibaca itu sama seperti yang sering dilihatnya selama hidupnya. Dan metode operasinya pun sama, di rumah maupun di kantor. Lakukan ini, ini, dan ini, dan semuanya pasti berhasil. Lakukan dengan caraku, dan lakukan sekarang juga! Cepat! Pertaruhkan segalanya karena aku membutuhkanmu.

Dan bagaimana bila segalanya berjalan lancar dan sang broker kembali? Ia pasti tidak akan memiliki wakru luang untuk Neal dan cucunya. Bila diberi kesempatan lagi, Joel Backman, 52 tahun, pasd akan berjaya lagi dalam lingkaran kekuasaan Washington. Ia akan berteman dengan orang-orang yang tepat, menggiring klien-klien yang tepat, menikahi wanita yang tepat, menemukan parrner-partner yang tepat, dan dalam setahun, sekali lagi ia akan bekerja dalam kantornya yang luas tempat ia menagihkan uang jasa dalam jumlah tak tanggung-tanggung dan menyiksa para anggota Kongres. .

Hidup ini terasa lebih sederhana ketika ayahnya masih dipenjara.

Apa yang akan dikatakannya pada Lisa, istrinya? Sayang, uang dua ribu dolar yang kita kubur dalam tabungan itu hendak diminta. Ditambah beberapa rams dolar untuk sistem e-mail rahasia. Kau dan putri kita sebaiknya mengunci pintu sepanjang waktu karena hidup ini menjadi berbahaya.

Pada hari yang berubah drastis itu, neal meminta sekretarisnya untuk menahan semua telepon masuk. Diregangkannya tubuhnya di sofa, dilepasnya sepatunya, lalu ia memejamkan mata dan mulai memijat-mijat pelipisnya.

18

Duma perang kecil yang keji antara CIA dan FBI, kedua belah pihak sering kali menggunakan beberapa wartawan tertentu untuk alasan-alasan taktis. Serangan-serangan yang sudah dipertimbangkan akan dilancarkan, serangan balasan h tangkis, langkah mundur yang buru-buru segera ditutupi, bahkan pengendalian kerusakan^isa^ implementasikan dengan memanipulasi Sandberg memiliki sumber-sumber dan^ ^ belah pihak selama dua puluh ^""^^ diberi bersedia dirinya dimanfaatkan »1 "^y^ ja imbalan informasi yang benar, jug» ^ Je_ Pun bersedia mengemban pera" angkatan

ngan hati-hati bergerak di anK^.p ^akt untuk dengan men

yebarkan sosip^cwlioi Pihftk ,ain' menjajaki seberapa jauh

Dalam upayanya mengonfirmasi kabar bahwa FBJ sedang melakukan investigasi skandal penjualan pengampunan hukuman, ia pun mengontak sumber CIA-nya yang paling dapat diandalkan. Seperti biasa, ia disambut tembok batu, tapi tak sampai 48 jam kemudian tembok itu diturunkan.

Kontaknya di Langiey adalah Rusty Lowell, pegawai karier yang kelelahan, dengan jabatan berganti-ganti. Apa pun jabatannya, pekerjaan sesungguhnya adalah mengawasi media dan memberikan nasihat pada Teddy Maynard tentang bagaimana memanfaatkah dan menyalahgunakan media. Ia bukan informan yang menyampaikan sesuatu yang ridak benar. Setelah bertahun-tahun menjaga hubungan, Sandberg cukup yakin bahwa banyak hal yang didapatnya dari Lowell bersumber dari tangan Teddy sendiri.

Mereka bertemu di Tyson's Corner Mall di Virginia, tepat di mar jalur Beltway, di meja belakang warung pizza murahan di food court lantai atas. Masing-masing membeli seiris pizza pepperoni-keju serta minuman ringan, lalu mencari meja bilik yang tersembunyi dari semua orang. Aturan- J aturannya seperti biasa adalah: (1) segalanya bersifat j off-the-record dan dari sumber yang sangat dalam; j (2) Lowell akan memberikan lampu hijau lebih dulu sebelum Sandberg boleh memuat tulisannya; I dan (3) bila apa pun yang dikatakan Lowell di- |

310

J kontradiksi oleh sumber lain, ia, Lowell, diberi ke-semparan untuk mempelajarinya dan memberikan

kata akhir.

Sebagai wartawan investigasi, Sandberg membenci aturan-aturan tersebut Namun, Lowell tidak pernah salah, dan ia tak pernah berbicara pada orang lain. jika Sandberg ingin menggali tambang berharga ini, ia harus main sesuai aturan.

"Mereka menemukan sejumlah dana," demikian Sandberg mulai. "Dan menurut mereka, itu berkaitan dengan pengampunan hukuman."

Sorot mata Lowell menyatakan apa yang dipikirkannya karena pada dasarnya ia memang tak pernah berbohong. Matanya langsung menyipit dan jelas bahwa ini berita yang benar-benar baru. "Apakah CIA mengetahuinya?" tanya Sandberg. "Tidak," jawab Lowell terus terang. Ia tidak pernah takut pada kebenaran. "Kami memang sedang mengawasi beberapa rekening luar negeri, tapi ridak ada sesuatu pun yang terjadi. Berapa jumlahnya?"

"Banyak sekali. Aku tidak tahu tepatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana mereka menemukannya."

"Dari mana asalnya?"

"Mereka tidak yakin, tapi ingin sekali menghubungkannya pada Joel Backman. Mereka sudah membicarakannya dengan White House."

"Tidak dengan kami."

311

•Jehs tidak. Semua ini berbau politik. Mereka akan senang kalau bisa mengaitkan skandal ini dengan Presiden Morgan, dan Backman dijadikan mitra sekongkol yang sempurna." "Duke Mongo juga bisa dijadikan target." "Ya, tapi boleh dibilang ia sudah mati. Ia memang punya karier panjang dan penuh warna dalam penipuan pajak, tapi sekarang ia sudah pensiun. Backman masih mempunyai banyak rahasia Mereka ingin menggiringnya pulang, memasukkannya ke dalam mesin penggiling di Departemen Kehakiman, mengguncang Washington selama beberapa bulan. Itu akan mempermalukan Morgan."

"Perekonomian sedang merosot tajam. Benar-benar pengalih perhatian yang menarik."

"Seperti yang sudah kubilang, semua ini berbau politik"

Akhirnya Lowell menggigit pizzanya dan mengunyahnya dengan cepat sambil berpikir. "Tidak mungkin Backman. Mereka salah sasaran." "Kau yakin.''

"Yakin benar. Backman tidak pernah tahu akan ada pengampunan hukuman. Boleh dibilang kami menyeretnya keluar dari selnya pada tengah malam buta, menyuruhnya menandatangani beberapa dokumen, lalu mengirimnya ke luar negeri sebelum matahari terbit."

"Dan ke mana dia pergi?"

312

"Wah, aku tidak tahu. Dan kalaupun tahu, aku tidak akan memberitahumu. Intinya, Backman tidak punya waktu mengatur sogokan. Ia dikubur dalam-dalam di penjara, bahkan tak pernah mimpi bakal mendapat pengampunan. Itu gagasan Teddy, bukan Backman. Mereka salah orang." "Mereka bertekad mencarinya." "Mengapa? Ia kan manusia bebas, mendapat pengampunan penuh, bukan residivis yang sedang dalam pelarian. Ia tidak bisa diekstradisi, kecuali mereka bisa mengajukan dakwaan." "Sepertinya mereka bisa melakukannya." Lowell mengerutkan kening pada meja selama beberapa saat. "Aku tidak bisa membayangkan seperti apa bentuknya. Mereka tidak punya bukti. Mereka memang mengetahui ada dana yang mencurigakan di sebuah bank, tapi tidak tahu dari mana asalnya. Yakinlah, itu bukan uang Backman." "Bisakah mereka menemukan Backman?" "Mereka akan memberikan tekanan pada Teddy, dan itu sebabnya aku mau bicara." Disisihkannya sisa pizzanya dan ia mencondongkan tubuh ke muka. "Tak berapa lama lagi akan ada pertemuan di Oval Office. Teddy akan hadir, dan ia akan diminta oleh Presiden untuk melihat beberapa fakta sensitif mengenai Backman. Teddy akan menolak. Lalu akan ada waktu penentuan. Apakah Presiden akan memiliki nyali untuk memecat pak tua itu?"

"Dia punya nyali, tidak?" "Barangkali. Paling tidak, itulah yang diharapkai Teddy. Ini adalah masa kepresidenan keempat yang pernah dijalaninya, dan kau sendiri tahu itu rekoi luar biasa. Ketiga presiden yang pertama ingin memecatnya. Tapi sekarang, ia sudah tua dan sudah siap melepas jabatan." "Sudah lama ia tua dan siap melepas jabatan." "Memang benar, rapi dulu ia memimpin dengan tangan besi. Kali ini berbeda." "Mengapa ia tidak pensiun saja?" "Karena ia bangsat pemarah, kontradiktif, dan keras kepala. Kau tahu itu." "Memang sudah terbukti." "Dan bila ia dipecat, ia tidak akan pergi begitu saja Ia mengharapkan liputan yang seimbang."

"Liputan yang seimbang" adalah istilah lama mereka untuk "buat kami tampak lebih baik".

Sandberg menyingkirkan pizzanya juga dan membunyikan buku-buku jarinya. "Begini cerita yang kubayangkan," katanya, sebagai bagian dari ritual. "Setelah delapan belas tahun memegang tampuk pimpinan CIA, Teddy Maynard dipecat oleh presiden yang baru dilantik Alasannya adalah Maynard menolak membeberkan rincian peka yang berkaitan dengan operasi yang sedang dilangsungkan. Ia tetap pada pendiriannya demi melindungi keamanan nasional, dan meman-

dang rendah Presiden, yang, bersama FBI, menginginkan informasi rahasia itu supaya FBI dapat melanjutkan penyelidikan yang berhubungan dengan pengampunan hukuman yang diberikan oleh mantan presiden Morgan."

"Kau tidak boleh menyinggung-nyinggung nama Backman."

"Aku memang belum siap menggunakan nama itu. Aku belum dapat konfirmasi."

"Kupastikan bahwa uang itu bukan berasal dari Backman. Dan kalau kau menggunakan namanya sekarang ada kemungkinan ia akan melihatnya dan melakukan sesuatu yang bodoh."

"Seperti apa?"

"Kabur menyelamatkan diri." "Kenapa itu dibilang bodoh?" Karena kami tidak ingin dia kabur menyelamatkan diri." "Kau ingin dia dibunuh?" "Tentu saja. Begitulah rencananya. Kami ingin tahu siapa yang membunuhnya."

Sandberg bersandar ke bangku plastik keras dan mengalihkan pandangan. Lowell mencomoti irisan-irisan pepperoni dari pizzanya yang sudah dingin dan liat seperti karet, dan untuk beberapa lama mereka berpikir dalam diam. Sandberg menghabiskan Diet Coke-nya, dan akhirnya berkata, "Entah bagaimana Teddy berhasil meyakinkan

Morgan untuk memberikan pengampunan pada Backman, yang sekarang disembunyikan di suatu tempat sebagai umpan untuk dibunuh." Lowell membuang muka, tapi mengangguk. "Dan pembunuhan itu akan menjawab beberapa pertanyaan di Langley?"

"Barangkali. Begitulah rencananya." "Apakah Backman tahu mengapa ia mendapat pengampunan?"

Tentu saja kami tidak memberitahunya, tapi ia cukup pintar."

"Siapa yang memburunya?" "Orang-orang berbahaya yang menyimpan dendam."

"Kau tahu siapa mereka?"

Anggukan, kedikan bahu, jawaban yang tidak jelas. "Ada beberapa yang memiliki potensi. Kami akan mengawasi mereka dari dekar dan mungkin bisa mengetahui sesuatu. Mungkin juga tidak."

"Mengapa mereka menyimpan dendam?"

Lowell tertawa mendengar pertanyaan konyol tersebut. "Boleh juga, Dan. Sudah enam tahun kau mengajukan pertanyaan itu. Sudah, aku harus pergi Kerjakanlah tulisan seimbang itu dan tunjukkan padaku."

"Kapan pertemuan dengan Presiden akan dilangsungkan?"

"Aku tak tahu tepatnya. Pokoknya begitu ia

kembali." "Dan kalau Teddy dipecat?" "Kau orang pertama yang akan kuhubungi."

Sebagai pengacara kota kecil di Culpeper, Virginia, penghasilan Neal Backman jauh lebih kecil daripada yang pernah diimpikannya ketika masih kuliah di fakultas hukum. Pada waktu itu, biro hukum ayahnya memiliki kekuasaan hebat di D.C. sehingga dengan mudah ia membayangkan akan menghasilkan banyak uang setelah praktik beberapa rahun saja. Associate termuda di Backman, Pratt & Boiling mulai dengan gaji seratus ribu dolar per tahun, dan partner junior berusia tiga puluh tahun yang baru menanjak kariernya akan mendapatkan tiga kak lipat jumlah tersebut. Pada tahun keduanya di fakultas hukum, majalah setempat memajang foto sang broker di halaman sampul dan menulis tentang mainan-mainan mahal yang dimilikinya. Penghasilannya diperkirakan sekitar sepuluh juta per tahun. Fakta tersebut cukup menimbulkan kehebohan di fakultas hukum, tapi tidak membuat Neal rikuh. Ia ingat dulu sering membayangkan betapa hebat masa depannya dengan kemungkinan

penghasilan sebesar itu.

„ _ „L- «mrai saru rahun setelah mu-

Kenyataannya, tak sampai

lai bekerja sebagai associate pemula, ia dipecat old biro setelah ayahnya divonis bersalah, dan bold: dibilang ia diusir keluar dari gedung kantor.

Namun dengan segera Neal berhenti memimpikan uang yang banyak dan gaya hidup yang gemerlapan. Ia sudah puas dengan menjalankan praktik hukum bersama biro hukum kecil di Main Street dan membawa pulang penghasilan 50.000 dolar setahun. Lisa berhenti bekerja sesudah putri mereka lahir. Lisa-lah yang menangani keuangan dan membuat anggaran ketat untuk hidup keluarga mereka.

Setelah melalui malam tanpa tidur sekejap pun, Neal bangun dengan gagasan kasar tentang apa yang harus ia lakukan kemudian. Masalah paling berat adalah pilihan untuk memberitahu istrinya atau tidak Begitu ia memutuskan untuk tidak melakukannya, rencananya mulai berbentuk. Ia pergi ke kantor pada pukul delapan, seperti biasa, dan berkutat dengan Internet selama satu setengah jam, sampai ia yakin bank sudah buka. Ketika menyusuri Main Street, ia merasa sulit memercayai kemungkinan ada orang-orang yang bersembunyi di sekitarnya, mengawasi setiap tindak-tanduknya. Meski demikian, ia tetap tidak mau ambil risiko.

Richard Koley mengepalai cabang Piedmont National Bank yang terdekat. Mereka teman saru gereja, teman berburu burung, teman main sofbol

di Rotary Club. Sejak dulu, biro hukum tempat Neal bekerja melakukan kegiatan perbankan di sana. Lobinya masih kosong pada hari sepagi itu, dan Richard sudah duduk di mejanya ditemani secangkir besar kopi, The Wall Street Journal, dan jelas sedang tidak punya banyak pekerjaan. Ia terkejut dan senang melihat Neal, dan selama dua puluh menit mereka mengobrol tentang turnamen basket antzi-college. Ketika akhirnya pembicaraan bergeser ke masalah bisnis, Richard bertanya, "Nah, apa yang bisa kubantu?"

"Aku cuma ingin tahu," kata Neal santai, mdon-tarkan kalimat yang sudah dilatihnya sepanjang pagi. "Berapa uang yang bisa kupinjam dengan tanda tanganku sendiri?"

"Sedang cekak, ya?" Richard sudah meraih mouse dan melirik layar monitor, tempat segala jawaban tersedia.

"Tidak, bukan begitu. Suku bunga rendah sekali dan aku sedang mengincar saham panas."

"Bukan strategi buruk, meskipun aku tidak akan gembar-gembor menyuruh orang melakukannya. Dengan indeks Dow Jones pada tingkat sepuluh ribu lagi, kau pasti heran mengapa orang tidak mengajukan kredit sebanyak mungkin dan membeli saham. Tapi jelas baik dampaknya bagi bank tua ini." Ia melontarkan tawa kikuk seorang bankir menanggapi leluconnya sendiri. "Penghasilan rata-

rata?" ia bertanya sembari tangannya sibuk denga

keyboard, mimik wajahnya serius sekarang. "Bervariasi," sahut Neal. "Enam puluh hinggj

delapan puluh ribu." Kening Richard berkerut lebih dalam, dan Neal

ridak tahu apakah itu karena ia sedih mengetahui gaji temannya yang begitu kecil, atau karena temannya berpenghasilan lebih besar daripada dirinya. Ia tidak akan pernah tahu. Bank-bank kota kecil bukan jenis bank yang membayar karyawannya dengan gaji tinggi.

"Utang keseluruhan, tanpa hipotek?" tanya Richard, mengetik-ngetik lagi.

"Hmmm, tunggu sebentar." Neal memejamkan mara dan menghitung-hitung lagi. Hipoteknya hampir 200.000 dolar dan Piedmonr penjaminnya. Lisa sangat menentang utang sehingga neraca kecil mereka sangat bersih, "Pinjaman mobil sekitar dua puluh riou," jawabnya. "Mungkin sekitar seribu lebih di kami kredit. Tidak banyak kok."

Richard mengangguk setuju dan tak pernah mengalihkan pandangan dari layar monior. Kerika jari-jarinya tak lagi menyentuh keyboard, ia mengangkat bahu dan kembali menjadi bankir yang murah hati. "Kita bisa mendapatkan tiga ribu dengan tanda tangan saja. Bunga enam persen, selama dua belas bulan."

Karena tak pernah meminjam tanpa jaminan, j 320 I

Neal ridak tahu apa yang bisa diharapkannya. Ia tidak tahu berapa banyak yang bisa didapatkan tanda tangannya, tapi tiga ribu dolar sepertinya pantas saja. "Bisakah dinaikkan sampai empat ribu?" ia bertanya.

Kening yang berkerut lagi, tatapan serius ke arah monitor, yang kemudian memberikan jawaban. 'Ya, kenapa ridak? Aku tahu di mana harus mencarimu,

kan?"

"Bagus. Akan kuberitahukan perkembangan saham itu."

"Apakah ini kisikan panas, dari sumber yang ada di dalam?"

"Beri aku waktu satu bulan. Kalau harganya naik, aku akan kembali dan sesumbar." "Cukup adil."

Richard membuka laci, mencari formulir. NeaJ berkata, "Begini, Richard, ini hanya di antara kita, oke? Tahu maksudku? Lisa tidak akan ikut tanda tangan."

"Tidak masalah," kata bankir itu, si penjaga rahasia. "Istriku hampir tak tahu apa pun yang kulakukan dengan masalah finansial. Perempuan ridak akan mengerti."

"Benar sekali. Dan sejalan dengan itu, bisakah aku mendapatkan dananya dalam bentuk tunai?"

Richard terdiam, matanya terlihat bingung, tapi

tidak ada yang mustahil di Piedmont National "Bisa, beri aku waktu sekitar satu jam."

"Aku perlu kembali ke kantor untuk menuntui seseorang oke? Aku akan kembali tengah hari nanti untuk menandatangani semua dan membawa uangnya."

Neal buru-buru kembali ke kantornya, dua blok jauhnya, dengan perut mulas karena gugup. Lisa akan membunuhnya jika tahu, dan di kota kecil seperti ini rahasia tidak bisa dikubur lama-lama. Selama empat tahun pernikahan mereka yang bahagia, mereka selalu memutuskan segalanya bersama. Menjelaskan pinjaman ini akan sulit sekali, walaupun pada akhirnya Lisa mungkin akan mengerti kalau ia menerangkan alasannya dengan jujur.

Membayar kembali utang itu juga tidak mudah. Ayahnya memang terkenal mudah mengumbar janji. Kadang-kadang ia menepatinya, kadang-kadang tidak dan apa pun yang dilakukannya, ia tidak terlalu peduli. Tapi itu kan Joel Backman •yang dulu. Joel Backman yang sekarang adalah pria yang putus asa, tak memiliki teman, tak memiliki orang yang bisa dipercaya.

Persetan. Ini kan cuma empat ribu dolar. Richard akan menutup mulut. Neal akan memusingkannya lagi lain kali. Lagi pula, ia kan pengacara. Ia bisa memeras tambahan upah di sana-sini, bekerja lebih lama lagi.

Sumber keprihatinannya saat ini adalah paket yang harus dikirimkan kepada Rudolph Viscovitch.

Dengan kantong tebal penuh berisi uang, Neal pergi dari Culpeper pada jam makan siang dan dengan cepat menuju Alexandria, satu setengah jam jauhnya. Ia menemukan Toko Chatter, di deretan pertokoan kecil di Russell Road, sekitar dua kilometer jauhnya dari Sungai Potomac. Di Internet, toko itu mengiklankan diri sebagai tempat yang tepat untuk mendapatkan peralatan telekomunikasi paling mutakhir, dan salah satu dari sedikit tempat di Amerika Serikat di mana orang bisa membeli ponsel tak berkunci yang bisa digunakan di Eropa. Ketika sedang melihat-lihat, Neal tercengang melihat banyaknya pilihan telepon, pager, komputer, telepon satelit—semua yang mungkin dibutuhkan untuk menjalin komunikasi. Ia tidak bisa berlama-lama—ada deposisi di kantornya pada pukul empat nanti. Lisa juga akan melakukan pengecekan seperti biasa untuk mengetahui, jika ada, apa yang terjadi di pusat kota.

Ia meminta penjaga toko menunjukkan Ankyo 850 PC Pocket Smartphone, hasil karya teknologi paling canggih yang mulai dipasarkan tiga bulan lalu. Si penjaga toko mengambilnya dari pajangan dan, dengan antusias, mengganti bahasanya dengan

bahasa teknologi dan menggambarkannya, "Keyboard QWERTY, operasi tri-band di lima benua, delapan puluh megabyte dengan buik-in memory, konektrvitas data high-speed dengan EGPRS, akses LAN wireless, teknologi Bluetooth wireless, Ipv4 dan Ipv6 dual stack support, inframerah, interface Pop-Fort, sistem operasi Symbian versi 7.0S, platform Series 80."

"Pindah band otomatis?" "Ya"

"Didukung oleh jaringan Eropa?"

"Tentu saja."

Smartphone itu agak lebih besar daripada ponsel bisnis biasa, tapi masih nyaman digenggam. Pemukaannya metalik yang halus dengan lapisan belakang dari plastik bergelombang agar tidak licin bua digunakan.

"Memang lebih besar dibanding yang lain," kata petugas itu. "Tapi isinya canggih—e-mail, multimedia messaging, kamera, video, word processor lengkap, Internet—dan akses wireless lengkap hampir di mana pun di dunia. Anda mau membawanya ke mana?" "Italia."

"Tinggal bawa saja. Anda hanya perlu membuka rekening di penyedia layanan."

Membuka rekening berarti melibatkan dokumen Dokumen berani meninggalkan jejak, padahal Nea

bertekad untuk menghindarinya. "Bagaimana dengan SIM card prabayar?" ia bertanya.

"Bisa juga. Di Italia namanya TIM—Telecom Italia Mobile. Mereka provider terbesar di Italia, mencakup sekitar sembilan puluh lima persen wilayah negara." "Oke, aku ambil."

Neal menggeser tutup bagian bawah dan menampilkan keypad penuh. Petugas itu menjelaskan, "Lebih nyaman kalau Anda memegangnya dengan dua tangan dan mengetik dengan ibu jari. Sepuluh jari kan tidak muat di sana." Ia mengambil alat itu dari tangan Neal dan mendemonstrasikan metode mengetik dengan ibu jari yang lebih dianjurkan. "Mengerti," kata Neal. "Aku ambil." Harga telepon itu adalah 925 dolar tidak termasuk pajak, ditambah 89 dolar lagi untuk kami TIM. Neal membayarnya dengan tunai sambil menolak tawaran tambahan garansi, pendaftaran rabat, program pemilik, semua yang melibarkan dokumen dan meninggalkan jejak. Penjaga toko itu menanyakan nama dan alamatnya, dan Neal menolak. Akhirnya ia menjadi sangat kesal dan berkata, "Bisakah aku membayarnya saja dan pergi?" " Well, bisa saja sih," kata petugas itu. "Kalau begitu, lakukan saja. Aku terburu-buru." la pun meninggalkan toko itu dan mengemudi j sejauh delapan ratus meter ke toko perlengkapan

kantor yang besar. Dengan segera ia menemukan Hewlett-Packard Tablet PC dengan kemampuan nirkabel yang terintegrasi. Empat ratus empat puluh dolar lagi diinvestasikan untuk keselamatan ayahnya, walaupun Neal akan menyimpan laptop itu dan menyembunyikannya di kantornya. Dengan peta yang di-doumload-nya, ia menemukan PackagePost di pertokoan lain tak jauh dari sana. Di dalam, di loket pengiriman, dengan tergesa-gesa ia menuliskan dua halaman instruksi untuk ayahnya, lalu melipat dan memasukkannya ke amplop yang berisi surat dan instruksi lain yang sudah ia siapkan pagi harinya. Ketika ia yakin tak ada yang memerhatikan, ia menyusupkan dua puluh lembar uang seratus dolar ke dalam kantong hitam kedi smartphone Ankyo tadi. Lalu ia meletakkan surat dan instruksi, smartphone serta wadahnya ke dalam kardus paket yang dibelinya dari toko. k menyelotiprrya rapat-rapat, dan di bagian luar » menulis dengan spidol hitam: TITIPAN UNTUK fARCO lAzzETu. Karaiu itu pun dimasukkan alnTu kin yanS sedikit lebih besar, dan di-SSTJ^ Rudolph Viscovitch di Via ^ckagePos/ «o^- AktMt Pengirimnya adalah Virginia 22303 v Braddock Road, Alexandria.

tinggalkan namTT P1"1?* Pilihan' *

nya di tempat * mat' Kn* nomor telepon-Pcndaftaran, kalau-kalau p^1

tersebut dikembalikan. Petugas menimbang paket itu dan bertanya apakah Neal menghendaki asuransi. Neal menolak, lagi-lagi menghindari jejak dokumen. Petugas itu menempelkan prangko internasional dan akhirnya berkata, "Totalnya delapan belas dolar dan dua puluh sen."

Neal membayarnya dan sekali lagi diyakinkan bahwa paket tersebut akan dikirim sore itu juga.

19

Dalam keremangan apartemennya yang kecil, Marco melakukan rutinitas paginya dengan efisiensi seperti biasa. Ia bukan orang yang biasa bermalas-malasan sewaktu membuka mata di pagi kari, kecuali di penjara, ketika ia tidak memiliki kanyak pilihan dan tidak punya motivasi untuk menjejakkan kaki di lamai dan segera bergiat. Dulu la SerinS ke kantornya sebelum pukul enam

Pa& hidungnya menyemburkan asap panas dan siap

Kebias y* ti8a atau cmPat Ja"1,

ada tantangan- ' mencari-cari perkara, tapi

Dalam w^^n Y™g berbeda, «lesai mandi, u'1"8 dati tiga menit ia sudah lasaan >ama lainnya yang di-

328

lakukan sepenuh hati di Via Fondazza karena keterbatasan air panas. Di atas toilet, ia bercukur dan dengan hati-hati menghindari jenggot menarik yang dibiarkannya tumbuh di wajahnya. Kumisnya hampir tumbuh sempurna; dagunya kelabu seluruhnya. Ia sama sekali tidak mirip Joel Backman, tidak juga bersuara seperti Joel Backman. Ia melatih dirinya berbicara lebih lambat dan dengan nada lebih pelan. Dan tentu saja ia melakukannya dalam bahasa asing.

Rutinitas paginya yang singkat termasuk melakukan sedikit kegiatan spionase. Di samping ranjangnya, terdapat lemari laci tempat ia menyimpan barang-barangnya. Empat laci, semua berukuran sama, yang paling bawah lima belas sentimeter jaraknya dari lantai. Ia mengambil seuntai benang Putih tipis yang dicabutnya dari seprai; benang yang sama yang digunakannya setiap hari Dijilat-nya kedua ujung benang, meninggalkan saliva sebanyak mungkin, lalu menjepitkan salah satu "jungnya di bawah laci paling terakhir. Ujung yang lain diselipkannya di dinding samping laci, jadiku laci tersebut dibuka, benang yang tak terlihat ltu akan tercabut dari tempatnya.

Seseorang, menurut dugaannya Luigi, memasuki barnya setiap hari sementara ia bela/ar_ dengan Ermanno ataupun Francesca, dan memeriksa Jaci-laci.

Meja kerjanya ada di ruang duduk yang kecil, ' di bawah satu-satunya jendela. Di sana Marco menyimpan berbagai kertas, notes, dan buku; buku panduan Bologna milik Ermanno, beberapa eksemplar Herald Tribune, koleksi menyedihkan panduan belanja gratis yang didapatkannya dari orang-orang Gipsi yang membagi-bagikannya di jalan, kamus Italia-Inggris yang amat sering digunakan, dan tumpukan bahan pelajaran dari Ermanno yang semakin membengkak. Meja itu tidak diatur dengan selayaknya, kondisi yang membuatnya jengkel. Meja pengacaranya yang lama, yang tidak akan muat diletakkan di ruang duduknya sekarang, terkenal karena keteraturannya yang luar biasa. Seorang sekretaris merapikannya sedemikian rupa setiap sore.

Namun di tengah-tengah kekacauan tersebut tersembunyi sebuah skenario. Permukaan meja tersebut berupa kayu keras yang sudah carut-marut karena digunakan selama puluhan tahun. Salah satu cacatnya adalah semacam noda kecil—Marco memutuskan itu barangkali noda tinta. Ukurannya sebesar kancing dan terletak tepat di tengah-tengah meja. Setiap pagi, sebelum pergi, ia menempatkan sudut selembar kertas di tengah noda itu. Bahkan mata-mata yang paling teliti tidak akan memerhatikannya.

Dan memang demikian adanya. Siapa pun yang

menyusup masuk setiap hari untuk menyisir apartemen ini tak pernah sekali pun cukup berhati-hati untuk mengembalikan kertas-kertas dan buku-buku tersebut di tempatnya yang tepat.

Setiap hari, tujuh hari seminggu, bahkan pada akhir pekan ketika ia tidak belajar, Luigi serta gengnya masuk dan melakukan pekerjaan kotor mereka. Marco mempertimbangkan rencana di mana ia akan bangun pada hari Minggu pagi dengan sakit kepala hebat, lalu menelepon Luigi, satu-satunya orang yang dihubunginya lewat ponsel, dan minta dibelikan aspirin atau apa pun obat semacam itu yang digunakan di Italia. Ia akan pura-pura sibuk mengurus dirinya, tak jauh-jauh dari tempat tidur, membiarkan apartemen tersebut tetap gelap, hingga sore hari ketika ia menelepon Luigi lagi dan mengumumkan bahwa ia sudah merasa jauh lebih sehat dan perlu makan. Mereka akan pergi ke sudut jalan, makan sesuatu dengan cepat, laki Marco mendadak merasa perlu segera kembali ke apartemen. Mereka akan pergi tak lebih dari satu jam. Adakah orang lain yang menyisir apartemennya? Rencana itu semakin matang. Marco ingin tahu siapa lagi yang memata-matainya. Sebesar apa jaring-jaringnya. Kalau kepentingan mereka hanya menjaga dirinya tetap hidup, mengapa mereka menggeratak apartemennya setiap hari? Apa yang

Mereka takut ia akan menghilang. Dan mengapa hal itu membuat mereka begitu khawatir? Toh ia manusia merdeka, bebas pergi ke mana pun. Penyamarannya bagus. Kemampuan bahasanya memang masih mendasar, tapi dapat dimengerti dan semakin baik dari hari ke hari. Peduli apa mereka kalau ia pergi? Naik kereta dan keliling negeri ini? Tidak pernah kembali lagi? Bukankah hidup mereka justru akan menjadi lebih mudah?

Dan mengapa mereka mengenakan tali kendali yang pendek padanya, tanpa paspor dan uang sekadarnya?

Mereka takut ia akan menghilang. Marco mematikan lampu-lampu dan membuka pintu. Di luar, di bawah trotoar bernaungan di Via Fondazza, suasana masih gelap. Ia mengunci pintu dan berjalan dengan cepat, sekali lagi mencari kopi pagi-pagi.

Di seberang dinding tebal, Luigi terbangun oleh suara berdengung di suatu tempat di kejauhan; dengung yang sama yang membangunkannya hampir setiap pagi pada jam-jam yang tak masuk akal. "Apa itu?" tanya si gadis. "Bukan apa-apa," kata Luigi sambil menyibakkan selimut tebal ke arah perempuan itu dan terhuyung-huyung keluar tanpa mengenakan apa-apa. la cepat-cepat melintasi ruang kerja ke arah dapur, membuka kunci pintu, masuk, menutupnya, me-

nguncinya lagi, dan menatap monitor di atas meja lipat. Marco tampak meninggalkan apartemennya melalui pintu depan, seperti biasa. Dan sekali lagi pada pukul enam lewat sepuluh menit, tak ada yang aneh. Benar-benar kebiasaan yang bikin frustrasi. Orang Amerika terkutuk.

Ia menekan tombol dan monitor pun senyap. Prosedur mengharuskannya segera berpakaian, keluar ke jalan, menemukan Marco, dan mengawasinya sampai Ermanno mengadakan kontak dengannya. Namun Luigi sudah semakin bosan dengan prosedur itu. Lagi pula Simona menunggu.

Simona tak lebih dari dua puluh tahun usianya, mahasiswa dari Napoli, gadis cantik yang dikenalnya seminggu sebelumnya di klub yang dikunjunginya. Tadi malam adalah malam pertama mereka betsama, dan jelas tidak akan menjadi yang terakhir. Gadis itu sudah tertidur kembali ketika Luigi kembali ke kamar dan membenamkan diri di bawah selimut.

Di luar cuaca dingin. Ia memiliki Simona. Whitaker ada di Milan, kemungkinan masih tidur dan kemungkinan bersama seorang wanita Italia. Tak seorang pun mengawasi apa yang akan ia, Luigi, lakukan sepanjang hari itu. Marco tidak melakukan apa pun selain minum kopi.

Ia menarik Simona mendekat dan teridap lagi.

Pada awal bulan Maret itu, hari cerah dan penuh sinar matahari. Marco melewatkan sesi dua jam bersama Ermanno. Seperti biasa, bila cuaca berkompromi, mereka berjalan-jalan di pusat kota Bologna dan hanya berbicara dalam bahasa Italia. Kara kerja hari itu adalah "fare", yang bisa diterjemahkan sebagai "melakukan" atau "membuat", dan sejauh yang diketahui Marco, iru adalah kata yang paling fleksibel dan paling sering digunakan dalam bahasa Italia. Berbelanja adalah "fare la spesa", yang terjemahannya bebasnya berarti "melakukan pengeluaran biaya, atau melakukan pembelian". Bertanya adalah "fare la domanda", yaitu "membuat pertanyaan". Sarapan adalah "fare la colazume", yang berarti "(melakukan) sarapan".

Ermanno berpamitan lebih awal, seperti biasa mengatakan ia harus belajar. Sering kali, bila sesi pelajaran jalan-jalan berakhir, Luigi akan muncul menggantikan Ermanno, yang menghilang dengan kecepatan menakjubkan. Marco curiga koordinasi tersebut sengaja dimaksudkan untuk memberi kesan bahwa ia selalu diawasi.

Mereka berjabat tangan dan saling mengucapkan selamat berpisah di depan Feltrinelli's, salah satu dari banyak toko buku yang ada di area universitas. Luigi muncul dari sudut jalan dan seperti biasa

menyapa dengan riang, "Buon giorno. Pranziamo?" Kita makan siang? "Certamente."

Acara makan siang menjadi lebih jarang, dan Marco mendapat lebih banyak kesempatan makan dan memesan sendiri.

"Ho trovato un nuovo ristorante." Aku menemukan restoran baru.

"Andiamo." Mari.

Tidak jelas apa saja yang dilakukan Luigi sepanjang hari, tapi tak diragukan lagi bahwa ia melewatkan berjam-jam menjelajah kota ini untuk mencari kafe, trattoria, dan restoran. Mereka tidak pernah makan di tempat yang sama dua kali.

Mereka menyusuri jalan sempit dan sampai di Via dek" Indipendenza. Luigi yang lebih banyak bicara, selalu dengan bahasa Italia yang perlahan dan tepat pengucapannya. Menurut Marco, ia sudah melupakan bahasa Inggris sama sekali.

"Francesca tidak bisa datang mengajar sore ini," ujarnya. "Kenapa tidak?"

"Ada rombongan tur dari Australia yang meneleponnya kemarin. Bisnisnya sedang sepi bulan-bulan ini. Kau menyukainya?"

"Apakah aku harus menyukai dia?"

Tah, lebih baik kalau begitu."

"Ia bukan orang yang hangat dan lembut."

"Apakah ia guru yang baik?" Luar biasa. Bahasa Inggris-nya yang sempurna memacuku untuk belajar lebih lagi."

"Ia bilang, kau belajar dengan sangat rajin, dan bahwa kau orang yang baik." "Ia menyukaiku?"

"Ya, sebagai murid. Menurutmu ia cantik?" "Sebagian besar wanita Italia cantik, rermasuk Francesca."

Mereka berbelok ke jalan kecil, Via Goito, dan Luigi menuding ke depan. "Itu," katanya, dan mereka berhenti di pintu Franco Rossi's. "Aku belum pernah makan di sini, tapi kudengar makanannya enak sekali."

Franco sendiri yang menyambut mereka dengan senyum dan lengan terbuka. Pria itu mengenakan setelan warna gelap yang konrras dengan rambut kelabunya yang lebat. Ia menerima mantel mereka dan bercakap-cakap dengan Luigi seolah mereka teman lama. Luigi menyebut nama-nama tertentu dan Franco senang mendengarnya. Dipilihlah meja di dekat jendela depan. "Meja kami yang terbaik," ujar Franco penuh semangat. Marco menatap sekelilingnya dan tidak melihat meja yang buruk.

"Antiposti di sini luar biasa," kata Franco rendah hati, seakan ia tidak suka sesumbar tentang hidangan-hidangannya. Tapi favorit saya hari ini

adalah salad jamur iris. Lino menambahkan truffles, keju Parmesan, beberapa iris apel..." Pada saat itu kata-kata Franco memelan sewaktu ia mencium ujung jemarinya. "Benar-benar enak," akhirnya ia berhasil mengucapkannya dengan mata terpejam, seolah bermimpi.

Mereka setuju memesan salad itu dan Franco meninggalkan mereka untuk menyambut pengunjung lain. "Lino itu siapa?" tanya Marco.

"Kakaknya,- koki kepala." Luigi mencelupkan roti Tuscany ke dalam semangkuk minyak zaitun. Seorang pramusaji berhenti dan menawarkan anggur. Tentu saja," jawab Luigi. "Aku ingin anggur merah, dari daerah sini."

Tak perlu ditanyakan lagi. Pramusaji itu dengan bolpoinnya menunjukkan sesuatu dalam daftar anggur dan berkata, "Yang ini, Liano dari Imola. Fantastis." Ia berlagak mencium udara untuk menekankan ucapannya.

Luigi tak punya pilihan lain. "Kami mau mencobanya."

"Kita tadi bicara soal Francesca," kata Marco kemudian. "Sepertinya ia kurang konsentrasi. Ada apa dengannya?"

Luigi mencelupkan roti lagi ke dalam minyak zaitun dan menggigit besar-besar seraya mempertimbangkan sebanyak apa yang bisa ia beritahukan pada Marco. "Suaminya tidak sehat," jawabnya.

"Ia punya anak?" "Kurasa ridak." "Suaminya kenapa?"

"Sakit cukup parah. Kurasa usianya sedikit lebih tua daripada Francesca. Aku beJum pernah bertemu dia."

// Signore Rossi kembali untuk membantu mereka dengan menu, yang sebenarnya tak dibutuhkan. Ia menjelaskan bahwa hidangan torteUini-ttp. adalah yang terbaik di Boiogna,.dan terutama hari ini sedang bagus-bagusnya. Lino akan senang keluar dari dapur dan membenarkan hai ini. Setelah tor-tellini, pilihan terbaik adalah filet daging sapi muda dengan truffle.

Selama lebih dari dua jam mereka mengikuti saran Franco, dan ketika meninggalkan restoran itu mereka membawa perut mereka kembali ke Via deh" Indipendenza sambil membicarakan waktu siesta.

Marco menemukannya secara tak sengaja di Piazza Maggiore. Ia sedang menikmati espresso di meja luar kafe, menahan udara dingin di bawah sinar matahari yang benderang, setelah jalan-jalan cepat selama tiga puluh menit. Ia melihat sekelompok kecil lansk berambut kelabu keluar dari Palazzo Comunale, balai kota Bologna. Sesosok rubuh yang

tak asing memimpin mereka, wanita kurus dan kecil dengan bahu tegak, rambutnya yang hitam terurai di bawah topi baret warna ungu kemerahan. Marco meninggalkan sekeping uang satu euro di meja dan mendekati mereka. Di kolam Neptunus, ia beringsut ke belakang rombongan tersebut—seluruhnya ada sepuluh orang—dan mendengarkan Francesca bekerja. Ia menjelaskan bahwa patung perunggu dewa laut Romawi itu dibuat oleh pria Prancis selama tiga tahun, dari tahun 1563 hingga 1566. Patung itu dipesan oleh seorang uskup dalam rangka program mempercantik kota, demi menyenangkan sang paus. Legenda mengatakan bahwa sebelum mulai bekerja, pria Prancis itu risau dengan kondisi Neptunus yang telanjang bulat, jadi ia mengirim rancangannya kepada Paus di Roma untuk meminta persetujuan. Paus mengirim pesan kembali, "Untuk Bologna, tidak apa-apa."

Sikap Francesca dengan turis-turis sungguhan tampak lebih bersemangat ketimbang dengan Marco. Suaranya lebih hidup, senyumnya lebih sering terkembang. Ia mengenakan kacamata yang sangat trendi, yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih muda. Sambil bersembunyi di belakang rombongan Australia iru, Marco menonton dan mendengarkan untuk waktu yang lama tanpa ketahuan.

Francesca menjelaskan bahwa Fontana del Nettuno adalah salah satu simbol kota yang paling terkenal, dan boleh jadi paling sering difoto. Kamera-kamera pun dikeluarkan dari kantongnya, dan para turis mengambil waktu berpose di depan Neptunus. Pada saat itu, Marco berhasil cukup dekat untuk menangkap perhatian Francesca. Ketika melihat Marco, Francesca langsung tersenyum, lalu dengan pelan berkata, "Buon giorno."

"Buon giorno. Keberatan kalau aku ikut?" tanya Marco dalam bahasa Inggris.

Tidak. Maaf aku harus membatalkan pelajaran."

Tidak apa-apa. Bagaimana kalau makan malam?"

Francesca melirik ke sekitarnya, seolah ia baru melakukan sesuatu yang dilarang.

"Untuk belajar, tentu saja. Tidak lebih," ujar Marco.

"Maafkan aku," timpal Francesca. Ia melihat ke balik bahu Marco, ke seberang piazza, ke arah Basilica di San Petronio. "Kafe kecil di sana itu," kata Francesca, "di sebelah gereja, yang di pojok.

Temui aku di sana pada jam lima, lalu kita akan

belajar selama satu jam." "Va bene,"

Tur dilanjutkan beberapa langkah lagi ke tembok barat Palazzo Comunale, tempat mereka berhenti di

depan tiga foto hitam-putih besar yang dipajang di dalam bingkai. Sejarahnya, selama Perang Dunia II, Bologna dan sekitarnya menjadi jantung Perlawanan Italia. Bolognesi membenci Mussolini dan kaum fasis serta pendudukan Jerman, dan mereka berjuang dengan bergerilya. Nazi membalas dengan penuh dendam—aturan mereka yang tetkenal adalah mereka akan membunuh sepuluh orang Italia untuk satu tentara Jerman yang dibunuh oleh kelompok Perlawanan. Dalam rangkaian 55 pembantaian yang dilakukan di Bologna dan sekitarnya» mereka membunuh ribuan pemuda pejuang Italia. Nama dan wajah mereka dipajang di dinding, dikenang selama-lamanya.

Dalam saat-saat yang muram itu, para anggora tur Australia yang sudah berusia lanjut itu beringsut mendekat untuk melihat para pahlawan dengan lebih jelas. Marco juga ikut mendekat. Ia tercengang melihat betapa mudanya mereka, janji-janji yang selamanya tak akan pernah terpenuhi—dibantai karena keberanian mereka.

Sementara Francesca berjalan lagi bersama rombongannya, Marco diam di tempat, menatap wajah-wajah yang menutupi sebagian besar dinding panjang itu. Ada ratusan, bahkan ribuan jumlahnya. Di sana-sini terlihat wajah wanita cantik. Saudara. Ayah dan anak. Seluruh keluarga.

Rakyat jelata bersedia mati untuk negara mereka

dan apa yang mereka yakini. Patriot-patriot setia yang tak memiliki apa pun untuk dipersembahkan selain nyawa mereka, lapi Marco tidak. Maaf saja. Kalau terpaksa memilih antara kesetiaan dan uang Marco melakukan apa yang selalu ia lakukan. Ia memilih uang. Ia menyangkal negaranya. Semua demi kemuliaan harta.

Francesca berdiri di balik pintu kafe, menunggu, tidak minum apa pun, tapi tentu saja merokok Marco telah memutuskan bahwa kesediaan Francesca bertemu dengannya selarut ini merupakan bukti lebih lanjut betapa wanita itu membutuhkan pekerjaan.

"Kau mau berjalan-jalan," tanya wanita itu tanpa mengucapkan halo.

Tentu." Ia sudah berjalan beberapa mil bersama Ermanno sebelum makan siang, lalu selama beberapa jam setelah makan siang, ketika menunggu Francesca. Ia sudah berjalan cukup jauh untuk satu hari, rapi apa lagi yang bisa dilakukan? Setelah sebulan berjalan beberapa mil setiap harinya, tubuhnya menjadi lebih fit. "Ke mana?"

"Jalan jauh," jawab Francesca.

Mereka menyusuri jalan-jalan sempit, menu/u arah barat daya, bercakap-cakap pelan dalam bahasa Italia, membicarakan pelajaran pagi itu dc-

I ngan Ermanno. Francesca menceritakan tentang orang-orang Australia tadi, rombongan yang menyenangkan dan mudah diurus. Di tepi kota lama, mereka berjalan ke arah Porta Saragozza dan Marco menyadari di mana ia berada, ke mana ia akan menuju.

"Naik ke San Luca," katanya. "Ya. Cuaca hari ini sangat cerah, malam hari nanti pasti cantik sekali. Kau tidak apa-apa?"

Kedua kakinya sudah sangat pegal, tapi Marco tak pernah bermimpi akan menolaknya. "Andiamo," ajaknya. Mari.

Hampir tiga ratus meter di atas kota, di Colle della Guardia, salah satu kaki bukit pertama dalam rangkaian Pegunungan Apennine, terdapat Santuario di San Luca, yang selama delapan abad telah berdiri mengawasi Bologna sebagai pelindung dan penjaga. Untuk naik ke sana, tanpa basah karena hujan maupun terbakar sinar matahari, . Bolognesi memutuskan untuk melakukan sesuatu yang menjadi keahlian mereka—membangun jalur pejalan kaki yang bernaungan. Dimulai pada tahun 1674, dan berlanjut tanpa henti selama 65 tahun, mereka membuat naungan melengkung; 666 lengkingan di atas jalur pejalan kaki, 3,6 kilometer jauhnya, menjadikannya trotoar beratap yang paling

panjang di dunia. .... ,

Walaupun Marco sudah mempelajari sejarahnya,

detail-detailnya jauh lebih menarik ketika didengar-nya dari mulur Francesca. Perjalanan naik itu terus mendaki, dan mereka mengukur kecepatan masing-masing. Setelah beberapa ratus lengkungan, betis Marco mulai menjerit minta istirahat. Di lain pihak, Francesca terus melaju seolah ia sanggup mendaki gunung. Marco masih menunggu sampai akibat banyaknya rokok memperlambat Jangkah Francesca.

Untuk mendanai proyek raksasa dan megah itu, Bologna menggunakan kekayaannya yang lumayan. Dalam kekompakan langka antara faksi-faksi yang berseteru, masing-masing portico tersebut didanai oleh kelompok-kelompok pedagang, perajin, mahasiswa, gereja, dan keluarga-keluarga bangsawan. Untuk mencatat pencapaian mereka, dan demi mengukuhkan keabadian, mereka diperbolehkan menggantungkan plakat di lengkungan masing-masing Kebanyakan sudah hilang seiring tahun-tahun berlalu.

Francesca berhenti sejenak di lengkungan ke-170, satu di antara sedikit plakat yang masih tergantung. Lengkungan itu dikenal dengan nama "la Madonna gratsa", atau Madonna gemuk. Ada lima belas kapel sepanjang jalan ke sana. Mereka berhenti lagi di antara kapel kedelapan dan kesembilan, tempat terdapat jembatan di atas jalan. Bayang-bayang panjang mulai tercipta & portico sementara mereka

terus mendaki bagian paling terjal di tanjakan

tersebut. "Tempat ini terang pada malam hari," Francesca meyakinkannya. "Untuk perjalanan turun.

Marco tidak memikirkan perjalanan turun. Ia masih mendongak, menatap gereja di atas, yang sesekali kelihatan lebih dekat dan pada saat yang lain seperti menjauh dari mereka. Pahanya sudah berdenyut-denyut sekarang, langkahnya semakin berat.

Sewaktu mereka mencapai puncak dan keluar dari bawah naungan ke-666, sebuah basilika yang mengagumkan terbentang di hadapan mereka. Lampu-lampunya mulai menyala sementara kegelapan mengelilingi perbukitan di aras kota Bologna, dan kubahnya bersinar dalam nuansa keemasan. "Sekarang sudah tutup," kata Francesca. "Kita akan kembali untuk melihatnya lain kali."

Saat mendaki, Marco melihat sebuah bus yang menuruni bukit. Kalau suatu saat ia bermaksud mengunjungi San Luca lagi hanya untuk melihat-lihat katedral lain, sudah pasti ia akan naik bus.

"Lewat sini," kata Francesca pelan, memanggilnya. "Aku tahu jalan rahasia."

Marco mengikutinya melalui jalan setapak berkerikil di belakang gerejai menuju tepi tebing di mana mereka berhenti dan memandang kota di bawah mereka. "Ini tempat favoritku," kata

Francesca lalu menarik napas dalam-dalam, seolah berusaha menghirup keindahan Bologna. "Seberapa sering kau datang kemari?" "Beberapa kali dalam setahun, biasanya bersama rombongan. Mereka selalu naik bus. Kadang-kadang aku suka mendaki kemari pada hari Minggu sore." "Sendiri?" "Ya, sendiri."

"Bisakah kita duduk di suatu tempat?"

"Ya, ada bangku kecil tersembunyi di sebelah sana Tidak ada yang mengetahuinya." Marco mengikuti Francesca menuruni beberapa undakan, lalu menyusuri jalan setapak berbatu-batu menuju tepi tebing lain yang juga menyajikan pemandangan menakjubkan.

"Kakimu pegal?" tanya Francesca.

Tentu saja tidak," dusta Marco.

Wanita itu menyulut sebatang rokok dan menikmatinya dengan gaya yang hanya bisa dilakukan sedikit orang Mereka duduk dalam keheningan untuk waktu yang lama, keduanya beristirahat, keduanya berpikir dan memandangi lampu-lampu yang berpendar di Bologna.

Marco akhirnya berbicara, "Luigi memberitahuku bahwa suamimu sakit parah. Aku ikut prihatin."

Francesca meliriknya, pandangannya terkejut, Wu membuang muka. "Luigi pernah berkata hal-hal pribadi tak boleh dibicarakan."

"Luigi sudah mengubah peraturannya. Apa yang

dikatakannya tentang diriku?"

"Aku belum pernah bertanya. Kau berasal dari Kanada, sedang bepergian, berusaha mempelajari

bahasa Italia" "Kau percaya?" Tidak juga." "Mengapa tidak?"

"Karena kau mengatakan punya istri dan keluarga, tapi kau meninggakkan mereka untuk perjalanan panjang ke Italia. Dan kalau kau pengusaha yang sedang berlibur, Luigi itu siapa? Dan Ermanno? Mengapa kau membutuhkan orang-orang itu?"

"Pertanyaan bagus. Aku tidak punya istri." "Jadi semua itu bohong."

"Ya."

"Seperti apa kebenarannya?"

Aku tidak bisa memberitahumu."

"Bagus. Aku tidak ingin tahu,"

"Kau sudah punya cukup banyak masalah, kan, Francesca?"

"Masalahku adalah urusanku sendiri."

Francesca menyulut rokok lagi. "Aku boleh minta satu?" tanya Marco.

"Kau merokok?"

"Bertahun-tahun yang lalu." Marco mengambil sebatang dari kotaknya dan menyulutnya. Lampu-

lampu kota tampak semakin cemerlang sernentan malam melingkupi mereka.

"Apakah kau memberitahu Luigi segala hal yang kita lakukan?" tanya Marco. "Hanya sedikit yang kuberitahukan padanya."

348

20

Kunjungan Teddy yang terakhir ke White House dijadwalkan pada pukul sepuluh pagi. Ia berencana akan datang terlambat. Mulai pukul tujuh pagi itu, la roengumpulkan tim transisi tak resminya—empat deputi direktur dan orang-orang seniornya. Dalam raPat kecil diam-diam tersebut, ia memberitahu orang-orang yang menjadi kepercayaannya selama bertahun-tahun bahwa ia akan segera keluar, bahwa hal itu sebenarnya sudah sekian lama rak terhindarkan lagi, bahwa lembaga mereka dalam kondisi prima, dan hidup terus berjalan.

Orang-orang yang mengenalnya merasakan armos-fer kelegaan. Lagi pula, usianya sudah mendekat. Alapan puluh tahun dan kesehatannya yang buruk "tenjadi semakin parah. , , .

Pada pukul 08.45 tepat, ketika sedang berb.caradengan William Lucat, deputi direktur operasinya, Teddy Maynard memanggil Julia Javier untuk membicarakan Backman. Kasus Backman masih penting, tapi dalam tataran intelijen global, prioritasnya masih di tengah-tengah.

Betapa aneh operasi yang berkaitan dengan seorang mantan pelobi menjadi penanda kejatuhan Teddy.

Julia Javier duduk di sebelah Hoby yang selalu awas, yang masih saja menulis catatan yang tidak akan pernah dilihat siapa pun. Julia Javier memulai kata-katanya dengan lugas, "Ia berada di tempat, masih di Bologna, jadi kalau kita mau bergerak sekarang, kita bisa melakukannya."

"Aku mengira rencananya adalah memindahkan dia ke pedesaan, tempat kita bisa mengawasinya dengan lebih ketat," kata Teddy. "Itu masih beberapa bulan lagi." "Kita tidak punya waktu beberapa bulan lagi." Teddy berpaling pada Lucat dan berkata, "Apa yang terjadi kaku kita memencet tombolnya sekarang?"

"Bisa berhasil. Mereka akan menemukannya di suatu tempat di Bologna. Tempat itu menyenangkan, kota yang nyaris tak memiliki angka kriminalitas. Pembunuhan tak pernah terjadi disana, jadi kematiannya akan menarik perhatian bila mayatnya ditemukan di sana. Orang-orang Italia akan segera menyadari bahwa ia bukan—siapa namanya JuliaT

"Marco," sahut Teddy tanpa melirik catatan, "Marco Lazzeri."

"Ya. Mereka akan garuk-garuk kepala dan bertanya-tanya siapa dia sebenarnya."

Julia menyela, "Tidak ada tanda-tanda identitas aslinya. Mereka akan menemukan mayat, kartu identitas palsu, tanpa keluarga, alamat, pekerjaan, : tanpa apa pun juga. Mereka akan menguburnya seperti orang kere dan membiarkan kasusnya tetap . terbuka selama setahun. Sesudah itu kasusnya akan dipetieskan."

"Itu bukan urusan kita," ujar Teddy. "Bukan kita yang akan melakukan pembunuhan." "Benar," kata Lucat. "Akan sedikit lebih sulit di-• lakukan di kota, tapi orang itu senang jalan-jalan i ke mana-mana. Mereka akan bisa menemukannya. Barangkali akan ada mobil yang menabraknya. Orang-orang Italia mengemudi seperti orang gila, kan."

"Tidak akan terlalu sulit, bukan?"

"Kurasa tidak."

"Dan berapa kemungkinan kita mengetahui pembunuhan itu sudah terjadi?" tanya Teddy.

Lucat menggaruk kepala dan menatap ke seberang meja pada Julia, yang sedang menggigit kukunya dan menoleh pada Hoby, yang sedang I mengaduk teh hijau dengan pengaduk plastik. Lucat akhirnya menjawab, "Lima puiuh-lima puluh,

paling tidak pada tempat kejadian. Kita akan mengawasinya dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari seminggu, tapi yang akan menghabisinya pasti orang-orang yang terbaik. Kemungkinan tidak akan ada saksi."

Julia menambahkan, "Kemungkinan besar kita akan mendengarnya kemudian, beberapa minggu setelah mereka mengubur si kere itu. Kita punya orang-orang yang bagus di sana. Kita akan mendengarkan dengan saksama. Kurasa kita baru akan mendengar kabarnya kemudian."

Lucat berkata, "Seperti biasa, kalau bukan kita sendiri yang menekan picunya, ada kemungkinan kita tidak bisa yakin sepenuhnya."

"Kita tidak boleh mengacaukan kasus ini, mengerti? Senang juga kalau mengetahui Backman sudah mati—hanya Tuhan yang tahu ia memang layak mendapatkannya—tapi tujuan utama operasi ini adalah mengetahui siapa yang membunuhnya," kau Teddy sementara tangannya yang putih berkerut-kerut perlahan mengangkat cangkir kertas berisi teh hijau ke mulutnya. Ia menghirupnya dengan bunyi keras dan tidak sopan.

Mungkin sudah saatnya pak tua ini membusuk di panti jompo.

"Aku cukup yakin " kata Lucat. Hoby mencatatnya

"Kalau kita membocorkan informasi ini, berapa

lama waktu yang dibutuhkan sebelum ia mati?" tanya Teddy.

Lucat mengangkat bahu dan membuang muka seraya memikirkan pertanyaan itu. Julia menggigiti kuku yang lain. "Tergantung " jawab Julia hati-hati. "Kalau Israel yang bergerak, bisa seminggu. Cina biasanya lebih lambat. Saudi barangkali akan menyewa agen lepas; bisa makan waktu sebulan untuk menempatkan agen lepas di sana."

"Rusia bisa melakukannya dalam seminggu," tambah Lucat.

"Aku tidak akan berada di sini ketika itu terjadi," ujar Teddy sedih. "Dan tak seorang pun di sisi Adantik sini yang akan mengetahuinya. Berjanjilah kalian akan meneleponku."

"Jadi ini lampu hijau?" tanya Lucat. Ya. Tapi hati-hati dengan caramu membocorkannya. Semua pemburu harus diberi kesempatan yang sama untuk mengincar sasaran."

Mereka mengucapkan selamat tinggal pada Teddy untuk terakhir kali dan meninggalkan kantornya. Pada pukul setengah sepuluh, Hoby mendorong kursi rodanya ke koridor, ke depan pintu lift. Mereka turun delapan lantai ke tingkat bawah tanah, tempat mobil van putih antipeluru itu sudah menunggu mengantarnya dalam perjalanan yang terakhir ke White House.

Pertemuan itu berlangsung singkat saja. Dan Sandberg sedang duduk di mejanya di Post ketika pertemuan itu dimulai di Oval Office beberapa menit selepas pukul sepuluh. Dan ia belum bergerak dari sana ketika Rusty Lowell meneleponnya dua puluh menit kemudian. "Sudah selesai/5 katanya.

"Apa yang terjadi?" tanya Sandberg, tangannya sudah siap di atas papan ketik.

"Seperti yang diperkirakan. Presiden ingin tahu tentang Backman. Teddy tetap bergeming. Presiden berkata ia berhak mengetahui segalanya. Teddy membenarkan, tapi berkata bahwa informasi itu akan disalahgunakan untuk kepentingan politik dan akan membongkar operasi yang sensitif. Mereka berdebat sebentar. Teddy akhirnya dipecat. Tepat seperti yang pernah kukatakan padamu." "Wow."

"White House akan memberikan pernyataan beberapa menit lagi. Kau mungkin ingin menontonnya."

Seperti biasa, semua berjalan seketika. Sekretaris Pers yang berwajah muram mengumumkan bahwa Presiden telah memutuskan untuk "mengejar tujuan di jalur berbeda dalam hal operasi-operasi intelijen". Ia memuji Direktur Maynard atas ke-

354

pemimpinannya yang legendaris dan tampak sangat sedih karena harus mencari penggantinya. Pertanyaan pertama yang diajukan dari baris depan:

Maynard mengundurkan diri atau dipecat? "Presiden dan Direktur Maynard telah mencapai

kesepahaman bersama." "Apa artinya?"

"Tepat seperti yang sudah saya katakan." Dan begitulah yang berlangsung selama tiga puluh menit.

Tulisan Sandberg di halaman pertama keesokan harinya menjatuhkan dua bom sekaligus. Tulisan itu dimulai dengan penegasan bahwa Maynard telah dipecat setelah menolak memberikan informasi sensitif yang menurutnya hanya akan dimanfaatkan untuk kepentingan politik semata. Tidak ada pengunduran diri, tidak ada "pencapaian kesepahaman bersama". Itu hanya PHK dalam arti sebenarnya. Ledakan kedua mengumumkan pada dunia bahwa sikap keras Presiden menyangkut pengumpulan data intelijen itu berkaitan langsung dengan investigasi baru FBI yang menyelidiki jual-beli pengampunan hukuman. Bisik-bisik mengenai skandal jual-beli abolisi tersebut memang sudah terdengar, hingga Sandberg membuka pintu bendungan. Tulisannya boleh dibilang menghentikan lalu lintas di Jembatan Arlington Memorial. Sementara Sandberg berada di ruang pers, me-

nikmati pukulan yang dilancarkannya, ponselnya berdering. Dari Rusty Lowell, yang langsung ber kata, "Telepon aku dari jalur land line. Cepat" Sandberg pergi ke ruang kantor kecil untuk men-dapatkan privasi dan menghubungi nomor telepon Lowell di Langley.

"Lucat baru saja dipecat," kata Lowell, "Pada pukul delapan pagi ini, ia dipanggil Presiden ke Oval Office. Ia diminta menjadi pejabat sementara I direktur. Ia mau. Mereka berbicara selama satu jam. Presiden menekannya soal kasus Backman. Lucat bergeming. Jadi ia dipecat, seperti Teddy." "Sial, sudah ratusan tahun ia ada di sana." Tiga puluh delapan tahun, tepatnya. Salah satu orang kami yang terbaik di sini. Administrator hebat."

"Siapa yang berikut?"

"Pertanyaan bagus. Kami semua takut mendengar ketukan di pintu,"

"Harus ada orang yang mau mengurus lembaga itu,"

"Kau pernah bertemu Susan Penn?" "Tidak. Aku tahu siapa dia, tapi belum pernah bertemu dengannya."

"Deputi direktur bidang sains dan teknologi. Sa ngat setia pada Teddy, tapi kami semua pun begitu Tapi dia juga tidak gampang kalah. Dia ada d Oval Office sekarang. Kalau ditawari jabatan g

dia akan menerimanya. Dan dia akan menyerahkan

Backman untuk mendapatkannya."

"Dia presiden, Rusty. Dia bethak tahu semuanya."

"Tentu saja. Dan ini masalah prinsip. Aku tak bisa menyalahkan otang itu. Ia masih baru, ingin memamerkan kekuatannya. Sepertinya ia siap memecat kami semua sampai mendapatkan apa yang diinginkannya. Kusuruh Susan Penn menerima jabatan itu untuk menghentikan banjir datah."

"Jadi FBI akan tahu segalanya tentang Backman dalam waktu dekat?"

"Dugaanku hari ini juga. Aku sendiri tidak yakin apa yang akan mereka perbuat ketika mengetahui di mana ia betada. Kasus mereka masih dalam proses panjang. Barangkali mereka hanya akan mengacaukan operasi kami." "la ada di mana?" "Tidak tahu."

"Ayolah, Rusty, keadaan sudah berubah sekarang."

"Jawabannya tetap tidak. Titik. Aku akan terus memberitahumu tentang banjir darah itu."

Satu jam kemudian, sekretaris pers White House mengumumkan pengangkatan Susan Penn sebagai pejabat sementara direktur C1A. Ia membesar-besar-kan fakta bahwa Susan Penn adalah wanita pertama yang memegang tampuk kepemimpinan tersebut,

dan sekali lagi membuktikan betapa bulat tekad Presiden untuk bekerja keras demi kesetaraan hak

Luigi sedang duduk di tepi ranjangnya, seorang diri dan berpakaian lengkap, menunggu tanda dari apartemen sebelah. Yang ditunggunya tiba pada menit keempat belas selepas pukul enam pagi—Marco sudah menjadi makhluk yang didikte kebiasaan. Luigi berjalan ke ruang kontrol dan menekan tombol untuk menghentikan dengung yang menandakan temannya baru saja keluar dari pintu depan. Komputer mencatat waktu setepatnya dan dalam beberapa detik, seseorang di Langley akan mengetahui bahwa Marco Lazzeri baru saja meninggalkan rumah persembunyian di Via Fondazza pada pukul 06.14.

Sudah beberapa hari Luigi tidak membuntutinya. Simona menginap di apartemennya. Ia menunggu beberapa saat, menyelinap keluar dari pintu belakang, mengambil jalan pintas melalui gang sempit, lalu mengintip dari balik bayang-bayang trotoar Via Fondazza. Marco ada di sebelah kirinya, mengarah ke selatan dan berjalan dengan langkah sigapnya seperti biasa, yang bertambah cepat seiring lamanya ia tinggal di Bologna. Usianya paling sedikit dua puluh tahun lebih tua daripada Luigi, namun dengan kesukaannya berjalan-jalan selama berkilo-

kilometer setiap hari, tubuhnya menjadi semakin bugar. Tambahan lagi, ia tidak merokok, tidak banyak minum, sepertinya tidak tertarik pada perempuan ataupun kehidupan malam, dan ia telah melewatkan enam tahun terakhir di balik tetali besi. Tak heran ia bisa menjejalah jalanan selama berjam-jam, tanpa melakukan sesuatu yang lain.

Marco mengenakan sepatu botnya yang baru setiap hari. Luigi belum bisa menyentuhnya. Sepasang sepatu itu masih bebas dari penyadap, tidak meninggalkan jejak sedikit pun. "Whitaker mengkhawatirkan hal ini di Milan, tapi ia memang mengkhawatiikan segala hal. Luigi yakin Marco berjalan berkilo-kilometer di dalam wilayah kota, tapi tak pernah keluar dari garis. Ia memang pernah menghilang sebentar, menjelajah atau melihat-lihat, tapi ia selalu bisa ditemukan kembali.

Marco berbelok di Via Santo Stefano, jalan besar di sudut tenggara kota lama Bologna yang mengarah ke keramaian di sekitar Piazza Maggiore. Luigi menyeberang dan mengikutinya dari sisi lain. Sementara ia nyaris berlari kecil, dengan segera ia menghubungi Zellman lewat radio. Zellman adalah orang baru mereka di kota ini, dikirim Whitaker untuk merapatkan jaring-jaring. Zellman sudah menunggu di Strada Maggiore, jalan besar yang sibuk di antara rumah persembunyian dan universitas. Kedatangan Zellman merupakan tanda bahwa

"rencana ini bergerak maju. Luigi mengetahui hampir seluruh detailnya sekarang, dan entah bagaimana merasa sedih karena hari-hari Marco sudah bisa cfchitung jumlahnya. Ia tidak yakin siapa yang akan membunuhnya, dan ia. mendapat kesan Whitaker pun tidak tahu.

Luigi berdoa, semoga bukan dia yang diperintahkan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Ia pernah membunuh dua orang, dan memilih untuk mengiiindari kerepotan tersebut. Lagi pula, ia menyukai Marco.

Sebelum Zellman sempat melanjutkan penguntitan, Marco menghilang. Luigi berhenti dan mendengarkan. Ia menyelinap di kegelapan sebuah pintu, kalau-kalau Marco telah berhenti juga.

Ia mendengarnya di belakang sana, langkah-langkahnya agak terialu berat, napasnya agak terlalu memburu. Ia berbelok kiri dengan sigap di jalan yang sempit, Via Castellata, berlari cepat sejauh lima puluh meter, lalu belok kiri lagi di Via de Chiari. Dengan berganti haluan dari utara ke barat, lalu berjalan cepat cukup jauh, maka tibalah ia di tempat terbuka, alun-alun kecil bernama Piazza Cavour. Ia mengenal kota lama itu dengan baik; ja-' lan besar, gang jalan buntu, persimpangan, labirin berkelok-kelok yang terdiri atas jalan-jalan sempit,

nama setiap alun-alun, dan toko serta warung. Ia tahu warung rokok mana yang buka pada pukul enam dan mana yang menunggu sampai jam tujuh. Ia bisa menemukan lima warung kopi yang sudah penuh menjelang fajar, walau kebanyakan buka ketika hari sudah terang. Ia tahu di mana ia bisa duduk di depan jendela depan, bersembunyi di balik koran, memandang ke arah trotoar, dan menunggu Luigi berjalan lewat.

Ia bisa melepaskan diri dari Luigi kapan pun ia mau, walau seringnya ia ikut bermain dan membiarkan dirinya mudah diikuti. Namun kenyataan bahwa ia selalu diawasi dengan ketat membuktikan sesuatu yang lebih penting.

Mereka tidak ingin aku menghilang begitu katanya selalu pada diri sendiri. Mengapa? Karena aku ada di sini untuk tujuan tertentu.

Ia mengambil jalur melambung lebar ke arah barat kota, jauh dari yang diperkirakan pengekor-nya. Setelah hampir satu jam berzig-zag melalui puluhan jalan dan gang, ia sampai di Via Irnerio dan mengamati lalu lintas pejalan kaki. Bar Fontana ada di seberang jalan persis di depannya. Tidak ada orang yang mengawasinya.

Rudolph duduk menyempii di belakang, wajahnya terkubur rendah di balik koran pagi, asap pipa membubung dalam spiral biru yang bergerak malas. Sudah sepuluh hari mereka tidak bertemu, dan se-

telah bertukar salam hangat yang biasa, Rudolph bertanya, "Kau jadi ke Venesia?"

Ya, kunjungan yang menyenangkan. Marco menyebut nama-nama tempat yang dihafalkannya dari buku panduan. Dengan berbunga-bunga, ia menggambarkan keindahan kanal-kanal, pelbagai jenis jembatan, gelombang turis yang menyesakkan. Tempat yang menakjubkan. Tak sabar untuk kembali ke sana. Rudolph menambahkan kenangan-kenangannya sendiri. Marco menggambarkan Basilika San Marco seolah ia telah melewatkan seminggu di sana.

Berikutnya ke mana? Rudolph ingin tahu. Mungkin ke selatan, ke tempat yang lebih hangat. Barangkali Sisilia, atau pesisir Amalfi. Rudolph tentu saja mengagumi Sisilia dan menceritakan kunjungannya ke sana. Setelah setengah jam mengobrol tentang perjalanan, Marco akhirnya sampai pada tujuannya. "Aku bepergian terus, sehingga tidak punya alamat tetap. Seorang teman di Amerika mengirimkan paket untukku. Kuberikan alamatmu di Fakultas Hukum. Kuharap kau tidak keberatan."

Rudolph menyulut kembali pipanya. "Sudah datang kok. Kemarin," ujarnya, sementara asap tebal mengiringi setiap kata yang diucapkan.

Jantung Marco berhenti berdetak sekejap. "Ads alamat pengirimnya?"

"Suatu tempat di Virginia."

"Bagus." Mulutnya langsung terasa kering, la menyesap air dan berusaha menyembunyikan kegairahannya. "Kuharap itu tidak merepotkan."

"Sama sekali tidak."

"Aku akan mampir nanti untuk mengambilnya." "Aku ada di kantot dari pukul sebelas sampai

setengah satu."

"Bagus, terima kasih." Seteguk ait lagi. "Ingin tahu saja, sebesar apa paketnya?"

Rudolph menggigiti pipanya dan berkata, "Ku-

rang-lebih seukuran kotak cetutu."

Hujan yang dingin turun sebelum tengah hari. Marco dan Ermanno sedang berjalan-jalan di lingkungan universitas dan menemukan tempat ber-teduh di bar yang tenang. Mereka menyelesaikan pelajaran lebih dini hari itu, terutama karena si murid belajar dengan giat. Ermanno selalu lebih suka pelajaran mereka cepat selesai.

Karena Luigi belum datang untuk makan siang, Marco punya waktu bebas betjalan-jalan, dengan anggapan ia tidak diikuti. Namun ia tetap berhati-hati. Ia melakukan manuver melambung dan mengubah arah, dan merasa konyol seperti biasa. Konyol atau tidak, itu adalah prosedur standarnya sekarang. Di Via Zamboni, ia mengikuti arus sekelompok mahasiswa yang berjalan tak tentu

arah. Di depan pintu gedung Fakultas Hukum, ia menyusup masuk dengan cepat, melompati beberapa anak tangga sekaligus, dan dalam beberapa detik sudah mengetuk pintu ruang kerja Rudolph yang terkuak.

Rudolph duduk di depan mesin tik kunonya, mengetuk-ngetuk tuts, sibuk mengetik sesuatu yang tampak seperti surat pribadi. "Di sana," ujar Rudolph, menuding ke tumpukan barang-barang di atas meja yang kelihatannya sudah puluhan tahun tak pernah dibereskan. "Kotak cokelat yang paling atas."

Marco mengambil paket itu dengan sebisa mungkin berlagak tak berminat sedikit pun. "Sekali lagi terima kasih, Rudolph," ujarnya, tapi Rudolph sudah sibuk lagi dan tampaknya sedang tidak ingin menerima tamu. Jelas sekali kedatangannya telah mengganggu.

"Kembali," sahurnya dari balik bahu, menguarkan segumpal awan asap dari pipanya.

"Apakah ada kamar kecil di dekat sini?" tanya Marco.

"Di lorong, sebelah kiri." "Trims. Sampai ketemu." Ada urinoar kuno dan tiga bilik kayu di dalamnya. Marco masuk ke bilik paling jauh, mengunci pintu, menurunkan dudukan toilet, dan duduk di sana. Dengan hati-hati, ia membuka paket itu dan

pembuka lipatan kertas-kertas yang menyertainya, kembar yang pertama adalah secarik kertas putih polos tanpa kepala surat. Ketika melihat kata-kata

Dear Marco, ia nyaris menangis.

Dear Marco:

Tak perlu dikatakan lagi bahwa aku sangat gembira mendengar kabar darimu. Aku bersyukur pada Tuhan ketika mendengar berita kau dibebaskan dan aku berdoa untuk keselamatanmu sekarang. Seperti yang kauketahui, aku bersedia melakukan apa pun untuk membantu.

Di dalam paket ini terdapat smattphone yang sangat canggih. Teknologi ponsel dan Internet di Eropa lebih maju daripada kita, jadi alat ini akan memadai untuk digunakan di sana. Aku sudah menuliskan instruksi di kertas yang lain. Aku tahu kedengarannya rumit sekali, tapi sebenarnya tidak.

Jangan mencoba menelepon dengan ponsel ini—terlalu mudah dilacak. Lagi pula, kau harus memberikan nama dan berlangganan. Satu-satunya jalan adalah e-mail Dengan menggunakan KwyteMail yang disandikan, pesan-pesan kita tidak mungkin dilacak. Kusarankan kau mengirim e-mail hanya padaku. Aku yang kemudian akan meneruskannya.

Di sini, aku memiliki laptop baru yang kusimpan di dekatku setiap waktu.

Kita akan berhasil, Marco. Percayalah padaku. Begitu kau bisa online, e-mail aku dan kita akan bercakap-cakap. Semoga berbasil, Grinch.

(5 Maret)

Grinch? Pasti semacam sandi. Ia tidak menggunakan nama asli mereka.

Marco mengamari alat canggih itu, benar-benar kebingungan, tapi juga bertekad untuk bisa menguasainya. Ia merogoh-rogoh ke dalam kotak kecil itu, menemukan uang tunai, dan menghitungnya lambat-lambat seolah itu emas. Pintu terbuka dan tertutup, seseorang menggunakan urinoar. Marco nyaris tak sanggup bernapas. Tenang, perintahnya pada diri sendiri berkali-kali.

Pintu kamar kecil terbuka dan terrutup, dan ia pun sendiri lagi. Halaman insrruksi tersebut ditulis tangan, Jelas dilakukan ketika Neal tidak memiliki banyak waktu. Isinya:

Ankyo 850 PC Pocket Smartphone—baterai penuh—6 jam waktu bicara sebelum perlu di-recharge. Charger termasuk dalam paket. Langkah 1) Cari kafe Internet dengan akses nirkabel—daftar terlampir j

langkah 2) Masuk ke kafe atau berada dalam

radius 60 meter darinya Langkah 3) Hidupkan alat, tombolnya ada di

sudut kanan atas Langkah 4) Layar akan menampilkan "Access

Area" lalu pertanyaan "Access Now?"

Tekan "Yes" di bawah layar, lalu

tunggu

Langkah 5) Tekan tombol keypad, kanan bawah,

dan buka keypad-«y<2 Langkah 6) Tekan akses Wi-Fi di layar Langkah 7) Tekan "Start" untuk Internet

browser

Langkah 8) Di kursor, ketik "www.kwytemaiL

com"

Langkah 9) Ketik nama pengguna "Grinch456" Langkah 10) Ketik password "post hoc ergo propter

hoc"

Langkah 11) Tekan "Compose" untuk menampilkan New Message Form

Langkah 12) Pilih alamat e-mailku: 123Grinch@ kwytemailcom

Langkah 13) Ketik pesanmu padaku

Langkah 14) Klik "Encrypt Message"

Langkah 15) Klik "Send"

Langkah 16) Bingo—-aku mendapatkan pesanmu

Masih ada catatan lagi di baliknya, tapi Mate perlu berhenti. Smartphone itu terasa semakin berat ketika memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Sebagai orang yang tidak pernah masuk ke kafe Internet, ia tidak pernah bisa memahami bagaimana orang bisa menggunakannya dari seberang jalan. Atau dalam radius 60 meter.

Para sekretarislah yang dulu menangani banjir e-mailnya. Ia terlalu sibuk untuk duduk di depan komputer.

Ada buku kecil panduan penggunaan yang dibukanya secara acak. Ia membaca beberapa kalimat dan tidak memahaminya sedikit pun. Percaya saja pada Neal, perintahnya pada diri sendiri.

Kau tidak punya pilihan, Marco. Kau harus menguasai benda tetkutuk ini.

Dari sebuah website bernama www.AxEss. com, Neal telah mencetak daftar tempat yang menyediakan sambungan Internet nirkabel gratis di Bologna—ada tiga kafe, dua hotel, satu perpustakaan, dan satu toko buku.

Marco melipat uangnya, memasukkannya ke saku, lalu pelan-pelan menyusun paket itu kembali. Ia berdiri, menggelontor toilet entah untuk alasan apa, kemudian meninggalkan kamar kecil itu. Telepon, kertas-kertas, kotak, dan charger kecil itu dengan mudah disembunyikan di dalam jaket

Hujan sudah berubah menjadi gerimis salju ketika ia meninggalkan gedung Fakultas Hukum, tapi trotoar beratap itu melindunginya, juga segerombol mahasiswa yang sedang bergegas hendak pergi makan siang. Ketika semakin menjauh dari kompleks universitas, ia memikirkan cara-cara untuk menyembunyikan aset-aset kecil berharga yang dikirimkan Neal kepadanya. Ponsel itu akan terus menempel padanya. Juga uang tunainya. Tapi kertas-kettas yang lain—surat, instruksi, manual—di mana ia bisa menyimpannya? Tidak ada tempat yang tetlindung di apartemennya. Di sebuah etalase toko, ia melihat semacam tas sandang yang menarik. Ia masuk dan bertanya. Tas itu adalah tas laptop bermerek Silvio warna biru tua, tahan air, terbuat dari bahan sintetis yang tidak bisa dijelaskan oleh si petugas penjualan. Harganya enam puluh euro, dan Marco dengan enggan meletakkan uang itu di atas meja konter. Sementara petugas penjualan itu menyelesaikan transaksi, dengan hati-hati Marco memasukkan smartphone dan semuanya ke dalam tas. Di luat, ia menyandang tas tersebut di bahunya dan mengepitnya di bawah lengan kanan.

Tas itu melupakan lambang kebebasan Marco Lazzeri. Ia akan menjaganya dengan nyawanya.

Ia menemukan toko buku itu di Via Ugo Bassi. Majalah-majalah dipajang di lantai dua. Ia berdiri

di dekat rak majalah selama lima menit, memegano mingguan sepak bola sambil mengawasi pintu de pan kalau-kalau ada orang yang mencurigakan. Konyol. Tapi itu sudah menjadi kebiasaan sekarang. Sambungan Internet ada di lantai tiga di sebuah kafe kecil. Ia membeli pastri dan Coke, dan menemukan bilik kecil tempat ia bisa duduk dan mengamati semua orang yang datang dan pergi.

Tidak ada orang yang bisa menemukannya di sini.

Ia mengeluarkan Ankyo 850-nya dengan sebanyak mungkin kepercayaan diri yang bisa dikerahkannya, dan melirik buku manual. Dibacanya kembali instruksi Neal. Ia mengikuti langkah demi langkah dengan gugup, mengetik di keypad kecil itu dengan kedua ibu jarinya, seperti yang digambarkan di buku manual. Sesudah setiap langkah, ia mendongak untuk memeriksa kesibukan di sekitar kafe.

Langkah-langkah itu sempurna. Tak berapa lama kemudian, ia sudah online, walau agak kaget juga. Sesudah password-nyz dimasukkan, ia melihat layar yang memberinya isyarat bahwa ia sudah bisa menulis pesan. Perlahan-lahan, ia menggerakkan kedua ibu jarinya dan mengetik pesan Internet nirkabelnya yang pertama:

Grinch: Paket sudah sampai. Kau tidak akan pernah mengetahui betapa besar aninya

ini buatku. Terima kasih atas pertolonganmu, kau yakin pesan kita benar-benar aman? Kalau ya, aku akan memberitahukan padamu lebih banyak tentang situasiku. Aku khawatir aku tidak sepenuhnya aman. Sekarang sekitar pukul 0830 di tempatmu berada. Aku akan mengirim pesan ini sekarang dan mengeceknya lagi dalam beberapa jam. Love, Marco.

la mengirim pesan, mematikan alat tersebut, lalu tetap di tempat itu selama satu jam sambil membaca manual. Sebelum meninggalkan kafe untuk beitemu Prancesca, ia menyalakan alat itu : lagi dan mengikuti petunjuk untuk bisa online. Di layar ia mengetik "Google Search", lalu mengetik ""Washington Post". Tulisan Sandberg menarik perhatiannya, dan ia membacanya hingga selesai.

la tidak pernah bertemu Teddy Maynard, namun mereka pernah, berbicara beberapa kali lewat telepon. Percakapan yang sangat menegangkan. Orang itu boleh dibilang sudah mati sepuluh tahun berselang. Dalam kehidupannya yang lalu, Joel pernah beberapa kali adu kuat dengan CLA, terutama menyangkut tipuan dan trik yang dnakukan klien-kliennya di bidang kontraktor pertahanan.

Di luar toko buku, Marco mengamati jalan, tidak melihat sesuatu pun yang mengusik perhatiannya, dan mulai berjalan lagi.

Jual-beli pengampunan hukuman? jq sensasional, tapi terlalu sulit dipercaya ^ ^ siden yang mau menerima sogokan sepem Pte" Selama proses kejatuhannya yang spektakuler kekuasaan, Joel pernah membaca banyak tulisan ngenai dirinya sendiri, sekitar separonya mem"* benar. Dengan cara yang tidak menyenangkan, * belajar untuk menaruh sangat sedikit kepercayaan pada apa pun yang tercetak.

21

Di sebuah bangunan yang tak bernama, tak bernomor, dan biasa-biasa saja di Pinsker Street di pusat kota Tel Aviv, seorang agen bernama Efraim masuk dari trotoar dan berjalan melewati lift, menuju koridor buntu dengan pintu terkunci di ujungnya. Tidak ada kenop, tidak ada pegangan pintu. Dikeluarkannya alat yang mirip remote control televisi dari sakunya dan diarahkannya ke pintu tersebut. Sebuah gelas tebal jatuh di suatu tempat di dalam, bunyi klik tajam, dan pintu itu pun terbuka menuju salah satu dari begitu banyak rumah persembunyian yang dikelola oleh Mossad, polisi rahasia Israel. Rumah itu memiliki empat ruangan—dua dengan ranjang susun tempat Firaim dan tiga rekannya tidur, dapur kecil tempat mereka memasak makanan sederhana, dan ruang kerja

berantakan tempat mereka, menghabiskan banyaj waktu setiap hari merencanakan operasi yanj boieh dibilang tidur selama enam tahun namun mendadak menjadi salah satu prioritas tertinggi Mossad.

Keempat orang itu anggota kidon, unit kecil kompak yang terdiri atas agen-agen lapangan piawai, dengan fungsi utama melakukan pembunuhan. Pembunuhan yang cepat, efisien, tanpa suara. Target mereka adalah musuh Israel yang tidak bisa diseret ke pengadilan karena pengadilan tidak bisa mendapatkan yuridiksi. Kebanyakan target berada di Arab dan negara-negara Islam, tapi kidon sering kali bekerja di blok Soviet, Eropa, Asia, bahkan Korea Utara dan Amerika Serikat. Mereka tidak memiliki batas, tidak mempunyai keterikatan, tidak ada yang dapat menghentikan mereka untuk menghabisi siapa pun yang ingin menghancurkan hrad. Pria dan wanita anggota kidon memiliki lisensi penuh untuk membunuh dari negaranya. Begitu saru target sudah di-ACC, hitam di atas putih, oleh perdana menteri saat itu, rencana operasi akan disusun, sebuah unit diorganisasi, dan musuh Israel tersebut boleh dibilang sudah tamat riwayatnya. Jarang sekali mereka kesulitan mendapatkan izin dasi puncak

Efraim melemparkan sebungkus pasrri ke salah satu meja lipat tempat Rafi dan Shaul sedang teng-

gelam dalam hasil riset. Amos ada di sudut, di de-I pan komputer, mempelajari peta Bologna, Italia.

Sebagian besar hasil riset mereka sudah kedalu-[ warsa; terdiri atas halaman-halaman berisi latar bela-f kang Joel Backman yang kebanyakan tak berguna, i informasi yang dikumpulkan bertahun-tahun yang r lalu. Mereka mengetahui segala aspek kehidupan pribadinya yang kacau-balau—ketiga mantan istri, \ ketiga anak, mantan-mantan partner, pacar-pacar, f klien-klien, kawan-kawan lama dari lingkaran ke-[ kuasaan D.C. Sewaktu pembunuhannya disetujui I enam tahun berselang, kidon lain segera bekerja ; keras menyusun latar belakang profil Backman. Rencana awal untuk membunuhnya dalam kecelakaan mobil di D.C. langsung disingkirkan ketika riba-tiba Backman mengaku bersalah dan dilarikan ke penjara. Bahkan kidon pun tidak mampu menjangkaunya di balik perlindungan penjara Rudley.

Latar belakang itu bernilai penting sekarang hanya karena keberadaan putra Backman. Sejak pengampunan hukuman yang mengejutkan dan lenyapnya Backman tujuh minggu sebelumnya, Mossad telah menempatkan dua agen untuk mengawasi Neal Backman dengan ketat. Mereka bekerja bergiliran setiap tiga atau empat hari supaya tak seorang pun di Culpeper, Virginia, menaruh kecurigaan—kota kecil dengan tetangga yang usil dan polisi yang jemu merupakan tantangan yang

cukup besar. Salah satu agen, wanita cantik dengan aksen Jerman, bahkan sempat berbicara dengan Neal di Main Street. Ia mengaku turis dan menanyakan arah menuju Montpelier, kota asal Presiden James Madison yang tak jauh dari sana. Wanita itu merayu, atau setidaknya berusaha melakukannya, dan jelas bersedia melakukan sesuatu yang lebih jauh. Neal tidak memakan umpan. Mereka menyadap rumah dan kantornya, dan mereka mendengarkan percakapan ponselnya. Dari laboratorium di Tel Aviv, mereka membaca setiap e-mail kantor dan yang di rumahnya. Mereka memonitor rekening bank dan pengeluaran kartu kreditnya. Mereka tahu Neal melakukan perjalanan singkat ke Alexandria enam hari lalu, tapi mereka tidak tahu alasannya.

Ibu Backman di Oakland pun mereka awasi, tapi wanita tua itu sudah hampir mati. Selama bertahun-tahun mereka mempertimbangkan gagasan untuk menghabisi nyawanya dengan salah satu pil betacun dari lemari persediaan mereka yang mengagumkan. Kemudian mereka akan menyergap putranya di pemakaman. Masalahnya, manual kidon melarang pembunuhan anggota keluarga kecuali anggota keluarga yang bersangkutan juga mengancam keutuhan Israel.

Namun gagasan tersebut masih diperdebatkan, dan Amos-lah pendukungnya yang paling kuat.

Mereka menginginkan kematian Backman, tapi juga m&n menjaganya tetap hidup selama beberapa jam sebelumnya. Mereka ingin mengobrol dengannya, mengajukan beberapa pertanyaan, dan bila jawaban-jawabannya tidak teidengar juga, mereka tahu cara untuk membujuknya buka mulut. Semua orang buka mulut kalau Mossad sungguh-sungguh menginginkan jawaban.

"Kita sudah menemukan enam agen yang bisa berbahasa Italia," kata Efraim. "Dua akan datang kemari sote ini pukul tiga untuk rapat." Keempat agen tetsebut tidak bisa berbahasa Italia, tapi semua menguasai bahasa Inggris dengan sempurna, juga bahasa Arab. Bila digabungkan, mereka menguasai [ delapan bahasa lain.

Masing-masing memiliki pengalaman perang, pe-I latihan komputet intensif, dan ahli menyeberangi perbatasan (dengan atau tanpa dokumen), interogasi, penyamaran, dan pemalsuan. Dan mereka mempunyai keterampilan membunuh dengan darah dingin tanpa penyesalan. Rata-rata usia mereka 34 tahun, dan masing-masing telah terlibat paling tidak dalam lima pembunuhan yang berhasil dilakukan kidon. -

Dengan formasi penuh, kidon mereka mempunyai dua belas anggota. Empat akan melakukan pembunuhan sebenarnya, dan delapan yang lain akan melakukan penyamaran, pengintaian, dan menyedia-

kan dukungan taktis, serta membereskan tempat 1 kejadian sesudah semua berlangsung.

"Kita sudah dapat alamat?" tanya Amos dari de- I pan komputer.

"Belum," sahut Efraim. "Dan aku tidak yakin kita bisa mendapatkan alamat apa pun. Ini asalnya dari kontra-intelijen."

"Ada setengah juta manusia di Bologna," ujar Amos, seolah bicara sendiri.

"Empat ratus ribu," tukas Shaul. "Dan seratus ribu di antaranya adalah mahasiswa."

"Kita harus mendapatkan fotonya," kau Efraim, dan ketiga orang lainnya berhenti bekerja dan berpaling. "Ada foto Backman di suatu tempat, yang diambil baru-baru ini, setelah keluar dari penjara. Ada kemungkinan mendapatkan salinannya."

"Tentu saja itu akan sangat membantu," kata Rafi.

Mereka memiliki seratus foto lama Joel Backman. Mereka sudah mempelajari setiap sentimeter persegi wajahnya, setiap kerut, setiap pembuluh darah di matanya, setiap utas rambutnya. Mereka sudah menghitung jumlah giginya, dan mereka punya salinan catatan giginya. Spesialis mereka di bagian kota yang lain, di markas besar Badan Intelijen dan Tugas-Tugas Khusus Israel, yang lebih dikenal dengan nama Mossad, telah menyiapkan hasil pencitraan komputer yang memperkirakan

seperti apa wajah Backman sekarang, enam tahun sesudah terakhir kali dunia melihat wajahnya. Ada serangkaian proyeksi digital wajah Backman dengan berat tubuh 120 kilogram, berat tubuhnya ketika ia mengaku bersalah. Dan ada serangkaian foto Backman dengan berat tubuh 90 kilogram, berdasarkan desas-desus yang beredar sekarang. Mereka mengira-ngira bentuk rambutnya, membiarkannya seperti adanya, dan mereka-reka warna rambut pria berusia 52 tahun. Mereka memberinya warna hitam, merah, dan cokelat. Mereka memangkasnya dan membiarkannya panjang. Mereka me- ~ nambahkan berbagai model kacamata di wajahnya, lalu menempelkan jenggot, mula-mula berwarna gelap, kemudian kelabu. Semua kembali ke mau. Pelajari matanya. Walaupun Efraim adalah pemimpin unit tersebut, Amos lebih senior. Ia sudah ditugaskan pada kasus Backman pada tahun 1998 ketika Mossad pertama kali mendengar kabar burung tenung perangkat lunak JAM yang ditawar-tawarkan oleh pelobi besar Washington. Melalui duta besar mereka di Washington, Israel berupaya keras membeli JAM, mengira mereka telah mendapatkan kesepakatan, tapi kecele ketika Backman dan Jacy Hubbard membawa barang dagangan mereka kepada pihak lain. Harga jualnya tak pernah diketahui. Hasil ke-

sepakatan itu rait pernah dinikmati. Sejumlah uang berpindah tangan, tapi Backman, entah untuk alasan apa, tidak pernah menyerahkan produknya.

Di mana barang itu sekarang? Apakah barang itu benar-benar ada? Hanya Backman yang tahu. Masa istirahat enam tahun dalam perburuan JoeJ Backman memberi Amos cukup waktu untuk mengisi beberapa kekosongan. Ia yakin, begitu pula para atasannya, bahwa sistem satelit Neptunus itu adalah ciptaan Cina Komunis; bahwa Cina telah merogoh kantong kekayaan nasional mereka cukup dalam untuk mengembangkannya,- bahwa untuk melakukannya mereka telah mencuri teknolog berharga itu dari Amerika; bahwa dengan pintar mereka telah menutup-nutupi peluncurannya dan mengelabui satelit-satelit AS, Rusia, dan Israel; dm bahwa mereka tidak bisa memprogram ulang sistem tersebut untuk mengambil alih kendali perangkat lunak yang ditempelkan oleh JAM. Neptunus tak berguna tanpa JAM, dan Cina bersedia menyerahkan Tembok Besar demi mendapatkan Backman dan program tersebut.

Amos, dan Mossad, juga percaya bahwa Farooq Khan, anggota terakhir tiga sekawan dan pencipta utama perangkat lunak tersebut, berhasil dilacak oleh Cina dan dibunuh delapan bulan lalu. Mossad sedang membuntutinya ketika ia menghilang.

Mereka juga yakin Amerika masih belum tahu persis siapa sebenarnya yang mengembangkan Neptunus, dan kegagalan intelijen ini merupakan aib besar yang berlarut-larut dan nyaris tercoreng permanen di wajah mereka. Satelit-satelit Amerika telah mendominasi langit selama empat puluh tahun dan begitu hebatnya sehingga bisa melihat menembus awan, menemukan senapan mesin di balik tenda, mencegat transfer kawat pedagang obat-obatan terlarang, menguping pembicaraan di dalam gedung, dan menemukan minyak di bawah padang pasir dengan pencitraan inframerah. Mereka jauh lebih superior dibandingkan apa pun yang ditempatkan Rusia di atas sana. Mustahil bila ada sistem lain dengan teknologi yang setara atau lebih baik dapat dirancang, dikembangkan, diluncurkan, dan dioperasikan tanpa sepengetahuan CIA dan Pentagon.

Satelit-satelit Israel juga sangat bagus, tapi tidak sebagus milik Amerika. Sekarang, dunia intelijen menganggap Neptunus lebih maju daripada apa pun yang pernah diluncurkan oleh Amerika Serikat.

Itu semua hanya asumsi; hanya sedikit yang telah dikonfirmasi kebenarannya. Satu-satunya salinan program JAM disembunyikan. Para pendptanya sudah tewas.

Amos telah hidup dengan kasus ini selama ham-¦J^^Kti-1

pir tujuh tahun, dan ia bersemangat dengan adanya kidon baru dan segera membuat rencana-rencana. Waktu yang tersedia sangat singkat. Cina pasti mau meledakkan setengah wilayah Italia bila mereka berpikir Backman akan mati di antara reruntuhan. Amerika mungkin akan berusaha membunuhnya juga. Di wilayah negara mereka, ia terlindungi Konstitusi, dengan berbagai lapisan pendukungnya. Hukum mengharuskan mereka memperlakukan Backman dengan adil, lalu mengurungnya di penjara dan melindunginya sepanjang waktu. Namun,di seberang dunia, ia sasaran yang setara.

Kidon pernah menetralisasi beberapa orang Istael yang membangkang, tapi tak pernah di wilayah mereka sendiri. Amerika pun akan melakukan hal yang sama. *0£'£%

Neal Backman menyimpan laptop-nya yang baru dan sangat tipis di tas kerjanya yang sudah lusuh dan ditentengnya pulang setiap malam. Lisa tidak memerhatikan karena Neal tidak pernah mengeluarkannya, la menjaganya tetap dekat, tak lebih dari satu atau dua langkah jauhnya.

Ia sedikit mengubah rutinitas paginya. Ia membeli kartu di Jerry's Java, kafe kopi dan donat yang berusaha memikat pelanggannya dengan kopi mahal, koran gratis, majalah, dan akses Internet

nirkabel. Bisnis waralaba tersebut telah mengubah ^kas warung taco di tepi kota, menghiasinya

dengan dekorasi funky, dan dalam dua bulan bisnisnya meledak

Ada tiga mobil di depannya, mengantre di loket > drive-through. Laptop ada di pangkuannya, tepat [ di bawah roda kemudi. Di tepi jalan, ia memesan t mocha ukutan besar, tanpa krim, dan menunggu I mobil-mobil di depannya beranjak sejengkal demi sejengkal. Sambil menunggu, ia mengetik dengan kedua tangannya. Begitu bisa online, ia langsung terhubung ke KwyteMail. Diketikkannya user name-nya—Grinchl23—lalu password-nya—post hoc ergo propter hoc. Beberapa detik kemudian—itu dia, pesan pettama dari ayahnya.

Neal menahan napas sembari membaca, lalu mengembuskannya keras-keras dan memajukan mobilnya sedikit. Berhasil! Pak tua itu bethasil melakukannya!

Dengan cepat, ia mengetik:

Marco: Pesan-pesan kita tidak dapat dilacak. Kau bisa mengatakan apa pun yang ingin kaukatakan,' tapi lebih baik sesedikit mungkin. Senang mendengar kau ada di sana dan sudah keluar dari Rudley. Aku akan online setiap (jari—tepatnya pukul 07-50 EST. Sudah dulu. Grinch.

382

383

Ia meletakkan laptop di kursi penumpang, menurunkan jendela, dan membayar hampir empat dolar untuk secangkir kopi. Ketika menjauh, ia terus melirik komputernya, melihat sampai berapa lama sinyal aksesnya bertahan. Ia berbelok ke jalan, mengemudi sampai 60 meter, dan sinyalnya pun hilang.

Bulan November lalu, setelah kekalahan Arthur Morgan yang mencengangkan, Teddy Maynard mulai merancang strategi pengampunan hukuman Backman. Dengan perencanaannya yang teliti seperti biasa, ia menyiapkan hari tertentu ketika informan-informan mulai membocorkan lokasi keberadaan Backman. Untuk memberikan kisikan pada pihak Cina, dan melakukannya sedemikian rupa tanpa menimbulkan kecurigaan, Teddy mulai mencari mata-mata yang tepat.

Namanya Helen Wang, warga Cina-Amerika generasi kelima yang sudah bekerja di Langley selama delapan tahun sebagai analis masalah-masalah Asia. Wanita itu sangat cerdas, sangat menarik, dan dapat berbicara bahasa Mandarin. Teddy mendapatkan pekerjaan temporer untuknya di Departemen Luar Negeri, dan di sana ia mulai mengembangkan kontak dengan diplomat-diplomat dari Cina Komunis, beberapa di antaranya juga mata-mata dan selalu berburu mencari agen baru.

Cina sangat terkenal dalam hal taktik agresifnya perekrut mata-mata. Setiap tahun, 25.000 mahasiswa meteka mendaftarkan diri di universitas Amerika, dan polisi rahasia melacak mereka semua. Para pengusaha Cina diharapkan bekerja sama dengan badan intelijen begitu mereka kembali ke tanah air. Ribuan petusahaan Amerika yang berbisnis di Cina daratan dimonitor sepanjang waktu. Eksekutif-eksekutif mereka diawasi dan diteliti latar belakangnya. Prospek-prospek yang potensial terkadang didekati.

Ketika Helen Wang "tanpa sengaja" menyinggung ia sempat bekerja beberapa tahun di CIA, dan berharap bisa kembali ke sana segera, seketika ia menarik pethatian kepala-kepala intelijen di Beijing. Helen Wang menerima undangan teman untuk makan siang di restoran mewah di D.C, lalu makan malam. Ia memainkan perannya dengan cantik, selalu ragu-ragu menanggapi pendekatan mereka, tapi selalu mengiyakan dengan enggan. Memo-memonya yang mendetail diberikan langsung kepada Teddy sesudah setiap penemuan.

Sewaktu Backman tiba-tiba dibebaskan, dan jelas bahwa ia disembunyikan dan tidak akan muncul kembali, Cina mulai menekan Helen Wang. Mereka menawarkan seratus ribu dolar sebagai imbalan informasi tentang keberadaan Backman. Helen pura-pura takut mendengar tawaran tersebut, dan

selama beberapa hari tidak mengadakan kontak. Dengan perhitungan waktu yang sempurna, Teddy membatalkan penugasan Helen di Deplu dan memanggilnya kembali ke Langley. Selama dua minggu, Helen tidak berhubungan dengan teman-teman lamanya yang menyamar di Kedutaan RRC.

Kemudian ia menelepon mereka dan penawarannya pun menanjak menjadi lima ratus ribu dolar. Helen menjadi serakah dan menuntut imbalan satu juta dolar, mengaku ia mempertaruhkan karier dan kebebasannya, dan mengatakan bahwa nilai informasi tersebut pasti jauh lebih besar daripada itu. Cina setuju.

Sehari sesudah Teddy dipecat, Helen menelepon pengendalinya dan meminta pertemuan rahasia. Ia menyerahkan selembar kertas berisi instruksi transfer kawat ke rekening bank di Panama, yang diam-diam diniiliki oleh CIA. Kalau uang itu sudah diterima, Helen berkata, mereka akan bertemu lagi dan ia akan memberitahukan lokasi Joel Backman. Ia juga akan memberikan foto terbaru Joel Backman.

Penyerahan informasi itu hanya berupa "senggolan", pertemuan fisik antara mata-mata dan pengendalinya, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tak seorang pun akan menyadari sesuatu yang lain daripada biasa. Sepulang kerja, Helen

Wang mampir di Toko Kroger di Bethesda. la berjalan ke ujung gang dua belas, tempat tak pajangan majalah dan novel saku. Pengendalinya sedang betada di dekat rak sambil membawa lacrosse Magazine. Helen mengambil majalah yang sama dan dengan cepat menyelipkan amplop ke dalamnya. Ia membuka-buka majalah itu dengan gaya jemu, lalu mengembdikannya ke rak. Pengendalinya memilih-milih di antata majalah mingguan olahraga. Helen berjalan menjauh, hanya sesudah ia melihat pengendalinya mengambil Lacrosse Magazine yang diletakkannya tadi.

Sebenarnya tutinitas itu tidak perlu dilakukan. Teman-teman Helen di CIA tidak mengawasi karena metekalah yang mengatur penyerahan informasi tetsebut. Mereka juga sudah bertahun-tahun mengenal si pengendali.

Amplop itu betisi selembat kertas—fotokopi berwarna foto Joel Backman yang tampak sedang menyusuri jalan, la jauh lebih kurus, di dagunya tumbuh jenggot kelabu, kacamatanya bergaya Eropa, dan ia berpakaian seperti penduduk setempat. Tulisan tangan di bagian bawah menyebutkan: Joel Backman, Via Fondazza, Bologna, Italia. Si pengendali melongo ketika melihamya di dalam mobilnya, lalu ia melesat secepat mungkin ke Kedutaan Republik Rakyat Cina di Wisconsin Avenue NW di Washington.

Pada mulanya, Rusia seolah tak menunjukkan minat dengan keberadaan Joel Backman. Di Langley, isyarat-isyarat mereka diterjemahkan dengan berbagai variasi. Tidak ada kesimpulan awal yang dibuat, karena hal itu mustahil. Selama bertahun-tahun, Rusia diam-diam menjaga kesan bahwa sistem yang disebut Neptunus itu adalah milik mereka, dan hal ini membuat CIA kebingungan setengah mati.

Dunia intelijen terkejut karena Rusia berhasil mempertahankan sekitar 160 satelit pengintaian setahun, kurang-lebih sama banyaknya dengan satelit mantan Uni Soviet. Keberadaannya yang kuat di angkasa luar belum terkikis, berlawanan dengan prediksi Pentagon dan CIA.

Pada tahun 1999, seorang pembelot GRU, badan intelijen militer Rusia dan penerus KGB, memberikan informasi pada CIA bahwa Neptunus bukanlah milik Rusia. Mereka sama kagetnya dengan Amerika. Kecurigaan terfokus pada Cina Komunis, yang jauh tertinggal dalam bisnis satelit. Atau tidak demikian kenyataannya? Rusia ingin tahu tentang Neptunus, tapi mereka tidak ingin membayar untuk informasi mengenai Backman. Ketika pendekatan dari Langley diabaikan sama sekali, foto berwarna yang dijual kepada Cins

100

^ juga melalui e-mail secara anonim ke anpat kepala operasi intelijen yang bekerja dalam

penyamaran sebagai diplomat di Eropa.

Kebocoran ke pihak Saudi dilakukan melalui pejabat eksekutif perusahaan minyak Amerika yang ditempatkan di Riyadh. Namanya Taggett dan ia sudah tinggal di sana lebih dari dua puluh tahun. Ia fasih betbahasa Arab dan bergerak dalam lingkaran pergaulan sosial dengan mudah seperu orang-orang asing lainnya. Terutama ia dekat dengan birokrat menengah di Kementetian Luar Negeri Saudi, dan pada acara minum teh sore hari, Taggett memberitahu bahwa petusahaannya pernah diwakili oleh ]oel Backman. Lebih jauh lagi, dan yang lebih penting, Taggett mengaku tahu di mana Backman betsembunyi.

Lima jam kemudian, Taggett dibangunkan dengung bel pintu. Tiga pria muda beisetelan jas masuk begitu saja ke apartemennya dan menuntut waktunya sebentar. Mereka meminta maaf, menjelaskan bahwa meteka berasal dari suatu cabang kepolisian Saudi, dan perlu bicara dengannya. Ketika ditekan, dengan enggan Taggett memberikan informasi yang sudah dilatih untuk dibocorkannya.

]oe\ Backman betsembunyi di Bologna, Italia,

1

menggunakan nama lain. Hanya itu yam,

nya. 11

Bisakah ia mencari tahu lebih jauh? mereka b tanya.

Barangkali.

Mereka bertanya apakah ia bisa pergi keesokan paginya, kembali ke kantor pusatnya di New York dan menggali informasi lebih banyak mengenai Backman. Informasi itu sangat penting bagi Pemerintah Saudi dan keluarga kerajaan.

Taggett setuju melakukannya. Apa pun mau di-lakukannya demi Raja.

22

Setiap tahun pada bulan Mei, tepat sebelum Hari Kenaikan, penduduk Bologna berbaris sepanjang Colle della Guardia dari gerbang Saragoza, menyusuri trotoar bernaungan terpanjang di dunia, melewati 666 lengkingan dan lima belas kapel, menuju puncak ke Santuario di San Luca. Di katedral itu, mereka menurunkan dan membawa patung Madonna, lalu turun kembali ke kota, tempat mereka mengarak Madonna melalui jalan-jalan yang dipadati penduduk dan akhirnya menempatkannya di Katedral San Pietro, tempat Madonna diam di sana selama delapan hari hingga ^k|r^ang mengantarnya pulang kembali. Fesa terse u hanya ada di Bologna, dan rak pernah lekang d.-lakukan sejak tahun l47> Santuario

Sementara Franceses dan Joel dua

di San Luca, Francesca menjelaskan ritual tersebut dan betapa hal itu amat berani bagi penduduk Bologna. Cantik memang, tapi menurut Marco sama saja seperti gereja yang kosong.

Mereka naik bus kali ini, menghindari 666 leng-kungan dan 3,6 kilometer tanjakan yang harus mereka daki menuju puncak bukit. Betisnya masih nyeri dari pendakian terakhir ke San Luca, tiga hari yang lalu.

Francesca begitu teralihkan perhatiannya oleh hal-hal lain sehingga sesekali ia berbahasa Inggris tanpa menyadarinya. Marco tidak mengeluh. Ketika Francesca selesai bercerita tentang festival tersebut, ia mulai menunjukkan elemen-elemen yang menarik di katedral tersebut—arsitektut dan konstruksi kubahnya, lukisan-lukisan dinding. Marco berjuang sekuat tenaga untuk berkonsentrasi. Kubah, fresco, dan kubur marmer para santo mulai berbaur kacau di Bologna, dan tiba-tiba ia merindukan cuaca yang lebih hangat. Pada cuaca yang demikian, mereka bisa duduk di luar dan mengobrol. Mereka bisa

mengunjungi taman-taman cantik di kota ini dan

kalau Ftancesca berani menyebut-nyebut katedral,

ia akan mengamuk.

Francesca tidak sedang memikirkan cuaca yang

lebih hangat. Pikirannya ada di tempat lain. "Kau sudah menjelaskan yang itu," sela Marco

ketika Francesca menuding lukisan yang dipajang

di atas baptistery.

"Maaf. Apakah aku membuatmu bosan?" Marco nyaris menyemburkan yang sebenarnya,

tapi ia berkata, "Tidak, tapi aku sudah puas melihat-lihat."

Mereka meninggalkan sanctuary dan keluar ke belakang gereja, ke jalan setapak tahasia Francesca yang membawa mereka beberapa langkah menuju pemandangan tetbaik ke arah kota. Salju terakhir mulai meleleh dengan cepat di atas genting-genting merah. Saat itu tanggal 18 Maret.

Francesca menyulut rokok dan sepertinya cukup puas berdiam membisu sambil mengagumi Bologna. "Kau menyukai kotaku?" tanya Francesca akhirnya. "Ya, amat sangat." "Apa yang kausukai?"

Setelah enam tahun di dalam penjara, kota mana pun bolehlah. Marco berpikir sebentar, lalu menjawab, "Ini kota sungguhan, penduduknya tinggal di tempat meteka bekerja. Kota ini aman dan bersih, tak lekang waktu. Tak banyak yang berubah selama berabad-abad. Rakyatnya mencintai sejarah mereka dan bangga dengan segala sesuatu yang telah dicapainya."

Ftancesca mengangguk sedikit, menyetujui analisisnya. "Aku bingung dengan orang-orang Amerika," ujarnya. "Ketika aku memandu meteka mengelilingi Bologna, mereka selalu tergesa-gesa, se-

lalu ingin segera melihat satu situs sehingga mereka bisa mencoretnya dari daftar dan pergi ke situs beri- I kutnya. Mereka selalu bertanya tentang esok hati, atau lusa. Mengapa begitu?"

"Kau keliru bertanya padaku."

"Mengapa?"

"Aku orang Kanada, ingat?" "Kau bukan orang Kanada." "Tidak, memang bukan. Aku dari Washington." "Aku pernah ke sana. Aku pernah melihat orang banyak lalu-lalang dengan tergesa-gesa, tidak menuju ke mana-mana. Aku tidak memahami keinginan menjalani kehidupan yang begitu sibuk Semuanya harus cepat—pekerjaan, makanan, seks."

"Sudah enam tahun aku tidak melakukan hubungan seks."

Francesca menatapnya dengan pandangan yang sarat pertanyaan. "Aku benar-benar tidak ingin membicarakan hal itu."

"Kau sendiri yang menyinggungnya." Wanita itu mengembuskan asap rokok ketika udara mulai tampak bersih dari asap. "Mengapa kau tidak berhubungan seks selama enam tahun?" "Karena aku dikurung dalam penjara soliter." Francesca mengernyit sedikit dan tulang belakangnya diluruskan. "Kau membunuh orang?"

"Tidak, bukan hal seperti itu. Aku tidak ber bahaya kok."

Sunyi lagi, embusan asap lagi. "Mengapa kau

ada di sini?" "Aku sungguh-sungguh tidak tahu." "Berapa lama kau akan tinggal?" "Mungkin Luigi bisa menjawabnya." "Luigi," ucap Francesca seolah ia ingin meludah. Ia berbalik dan mulai berjalan. Marco mengikutinya karena memang itulah yang harus dilakukannya. "Kau bersembunyi dari sesuatu?" tanya wanita itu.

"Ceritanya amat sangat panjang, dan kau pasti tidak ingin tahu." "Kau dalam bahaya?"

"Kurasa begitu. Aku tidak tahu petsis sebeiapa besar bahaya itu, tapi anggap saja cukup besat sehingga aku takut menggunakan nama asliku dan takut pulang ke negaraku."

"Kedengarannya cukup berbahaya bagiku. Apa peran Luigi dalam hal ini?" "Ia melindungiku, kurasa." "Untuk berapa lama?" "Aku sungguh-sungguh tidak tahu" "Mengapa kau tidak menghilang saja?" ritulah yang sedang kulakukan sekarang. Aku sedang dalam proses menghilang. Dan dari sini, ke mana aku akan pergi? Aku tidak punya uang, tidak punya paspor, tidak punya identifikasi. Secara resmi aku tidak eksis."

"Benar-benar membingungkan."

Marco memalingkan muka sejenak dan tidak melihat Francesca jatuh. Ia mengenakan sepatu bot kulit hitam bertumit rendah, dan kak kirinya terpeleset tajam di atas batu di jalan setapak itu. Francesca terkesiap dan jatuh keras, menahan tubuhnya pada detik terakhir dengan kedua tangannya. Tasnya melayang. Ia memekikkan sesuatu dalam bahasa Italia. Marco dengan cepat betjongkok dan menariknya.

"Pergelangan kakiku," kata Francesca sambil meringis. Matanya sudah basah, wajahnya yang antik mengernyit kesakitan.

Dengan lembut Marco menariknya dari jalan setapak yang basah dan membawanya ke bangku, lalu mengambil tasnya. "Aku pasti terpeleset," kata Francesca terus-menerus. "Maafkan aku." Ia menahan tangis tapi segera menyerah.

"Tidak apa-apa," ujar Marco, berlutut di depannya. "Boleh kupegang?"

Perlahan-lahan Francesca mengangkat kak kirinya, tapi tasa sakitnya terlalu hebat.

"Sebaiknya sepatunya tak usah dilepas," kata Marco, memegangnya dengan amat hati-hati.

"Kutasa ada yang patah," kata Francesca. Ia menarik tisu dari tasnya dan menyeka matanya Napasnya memburu dan ia mengenakkan gigi "Maafkan aku."

Tidak apa-apa." Marco melihat sekelilingnya; ^leh dibilang tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua. Bus yang membawa mereka ke San Luca hampir kosong, dan selama sepuluh menit ini me-reka tidak melihat siapa-siapa. "Aku, mm, mau masuk dan cari bantuan." "Ya, tolonglah."

"Jangan betgetak. Aku akan segera kenibali." Marco menepuk lutut Francesca dan ia berhasil tersenyum. Lalu ia pergi tetgesa-gesa, hampir terjatuh, la berlari ke belakang gereja dan tidak melihat siapa pun. Di mana tepatnya otang bisa menemukan kantor katedral? Di mana kurator, manajer, atau pastot kepala? Siapa yang beitanggung jawab atas tempat ini? Di luar, ia mengelilingi San Luca dua kali sebelum melihat petugas kebetsihan muncul dari pintu yang setengah tetsembunyi dekat taman.

"Mi pub aiutare?" teriaknya. Bisakah kau membantuku?

Petugas itu melongo dan diam saja Marco yakin ia bicara dengan jelas. Ia berjalan mendekat dan berkata, "La mia arnica si e fatta male."Teman perempuanku terluka.

"Dove?" getam lelaki itu. Di mana?

Marco menuding dan menjawab, "Li, dietro alk

Ichiesa." Di sana, di belakang gereja. "Aspetti." Tunggu. Orang itu berbalik berjalan kembali ke pintu dan masuk.

"Si sbrigbi, per favore." Cepatlah, kumohon.

Satu-dua menit berlalu sementara Marco menung, gu dengan gugup, ingin melesat kembali untuk menengok keadaan Francesca. Kalau ada tulang yang patah, bisa jadi ia akan kena shock. Pintu yang lebih besar di bawah baptistery terbuka, dan seorang pria bersetelan jas berlari keluar dengan petugas tadi di belakangnya.

"La mia arnica e caduta," kata Marco. Temanku jatuh.

"Di mana dia?" tanya pria itu dalam bahasa Inggris yang fasih. Mereka memotong jalan melalui teras kecil berbatu bata, menembus salju yang belum meleleh.

"Di belakang sana, dekat tepi tebing yang rendah. Pergelangan kakinya—menurutnya ada tulang yang patah. Kita mungkin perlu ambulans."

Sambil menoleh ke belakang, pria itu menguapkan sesuatu kepada si petugas, yang langsung menghilang.

Francesca duduk di tepi bangku dengan sebisa mungkin menjaga martabatnya. Ia menggigit tisu, tapi tangisnya sudah berhenti. Pria tadi tidak tahu namanya, tapi pasti pernah melihat Francesca di San Luca. Meteka berbicara dalam bahasa Italia, dan Marco nyaris tak memahami seluruhnya.

Sepatu yang sebelah kiri tetap menempel di kaki Francesca, dan disepakati bahwa sepati

itu sebaiknya tidak dilepas untuk mencegah kebengkakan. Pria itu, Mr. Coletta, sepertinya mengetahui pertolongan pertama. Ia memeriksa lutut dan tangan Francesca. Memang tergores-gores dan perih, tapi tidak ada yang berdarah. "Cuma keseleo parah," kata Francesca. "Menurutku tidak ada yang patah."

"Ambulans akan lama sekali datangnya," kata pria itu. "Aku akan mengantar Anda ke rumah

sakit."

Klakson mobil terdengat di dekat mereka. Petugas kebersihan tadi telah mengambil mobil dan berhenti sedekat mungkin.

"Kurasa aku bisa berjalan," kata Francesca dengan berani, berusaha berdiri.

"Tidak, kami akan membantumu," tukas Marco. Masing-masing pria itu memegang siku dan dengan perlahan menolong Ftancesca berdiri. Ia mengernyit ketika menapakkan kakinya, tapi berbta, "Tidak patah kok. Hanya terkilir." Ia berkeras berjalan sendiri. Mereka setengah mengangkatnya ke mobil.

Mr. Coletta mengambil alih dan mengatur mereka di bangku belakang sehingga kaki Francesca berada di pangkuan Marco, terangkat, dan punggungnya bersandar ke pintu kiri belakang. Sesudah penumpang-penumpangnya berada di tempat yang sesuai, Mr. Coletta melompat ke belakang kemudi dan memasukkan persneling. Mereka merayap

mundur sepanjang jalan setapak yang dirimbuni sesemakan, lalu ke jalan sempit yang beraspal. Tak lama, mereka mulai menuruni bukit, menuju Bologna.

Francesca mengenakan kacamata hitamnya. Marco memerhatikan ada setitik darah di lutut kirinya. Diambilnya tisu dari tangan Francesca, lalu ditutul-tutulkannya ke luka itu. "Terima kasih," bisik Francesca. "Maaf aku mengacaukan harimu." "Sudahlah," kata Marco sambil tersenyum. Sebenarnya itu hari terbaik bersama Francesca. Kejadian tadi membuat Francesca merendahkan diri dan menjadikannya lebih manusiawi. Meski tak diinginkan, hal itu menggugah emosi yang jujur. Mengizinkan terjadinya kontak fisik yang tulus, manusia yang benar-benar ingin menolong manusia lain. Kejadian itu menyurukkan Marco ke dalam kehidupan Francesca. Apa pun yang terjadi kemudian, entah di rumah sakit atau di rumahnya, paling tidak Marco akan berada di sana selama beberapa saat. Dalam situasi darurat, Francesca membutuhkannya, walaupun jelas sekali wanita itu tidak mengharapkannya.

Sambil memegangi kaki Francesca dan menatap kosong ke. luar jendela, Marco menyadari betapa besar ia mendambakan hubungan dalam bentuk apa pun, dengan siapa pun. Siapa pun bisa menjadi teman.

Di kaki bukit, Francesca berkata kepada Mr.

Coletta, "Aku ingin pulang ke apartemenku." Mr. Coletta melirik spion dan menyahut, "Tapi

menurutku Anda perlu diperiksa dokter." "Mungkin nanti. Aku mau istirahat sebentat dan

melihat bagaimana tasanya nanti." Keputusannya

sudah bulat, tak ada gunanya membantah.

Marco sebenarnya juga punya saran, tapi ia menahan diri. la ingin melihat di mana Francesca tinggal.

"Baiklah," ujar Mr. Coletta. "Via Minzoni, dekat stasiun keteta." Marco tersenyum dalam hati, bangga karena ia tahu jalan itu. Ia bisa membayangkannya di peta, di tepi utara kota lama, daerah yang menyenangkan namun bukan distrik mahal. Ia pernah melewatinya paling tidak sekali. Bahkan, ia menemukan bar kopi yang buka pagi-pagi di suatu tempat di ujung jalan itu, yang bermuara di Piazza dei Martiri. Sementara mereka melesat di jalan lingkar melalui lalu lintas sore hari, Marco melirik petunjuk-petunjuk jalan, mengamati setiap petsimpangan, dan tahu dengan tepat di mana ia betada.

Tak ada lagi kata-kata yang diucapkan. Ia memegangi kaki Francesca, sepatu bot hitamnya yang gaya namun tak lagi baru mengotori celana wolnya. Saat ini, ia sama sekali tidak hirau. Ketika mereka berbelok ke Via Minzoni, Francesca memberitahu,

"Terus sepanjang dua blok, di sebelah kanan." Sesaat kemudian ia berkata, "Di depan sana. Ada tempat kosong di belakang mobil BMW hijau itu."

Dengan lembut mereka mengeluarkan Francesca dari bangku belakang dan membantunya berdiri di trotoar, dan Francesca melepaskan pegangan mereka serta berusaha berjalan. Pergelangan kaki itu langsung goyah; mereka seketika menangkapnya. "Apartemenku di lantai dua," ujarnya sambil mengenakkan gigi. Di sana ada delapan apartemen. Marco mengamati dengan saksama ketika Francesca menekan tombol di sebelah nama Giovanni Ferro. Ada suara wanita menjawab.

"Francesca," sahutnya, lalu terdengar bunyi klik di pintu. Mereka masuk ke selasar yang gelap dan kusam. Di sebelah kanan ada lift yang pintunya terbuka, menunggu. Ketiga orang itu berjejalan masuk "Aku sudah tidak apa-apa," ujar Francesca, berusaha keras mengusir Marco dan Mr. Coletta.

"Kita harus mengompresnya dengan es," kata Marco ketika lift mulai naik.

Lift itu berhenti dengan bunyi berisik, pintunya akhirnya terbuka, dan mereka bersusah payah keluar, kedua pria itu masih memegangi siku Francesca. Apartemennya hanya bebetapa langkah dari sana, dan ketika mereka sampai, Mr. Coletta merasa sudah terlalu jauh.

"Aku prihatin atas semua ini," ujarnya. "Kak ada tagihan medis, maukah Anda meneleponku?"

Tidak apa-apa, Anda baik sekali. Terima kasih

banyak"

"Teruna kasih," timpal Marco, masih menempel pada Francesca. Ia menekan bel pintu dan menunggu sementara Mr. Coletta masuk ke lift dan meninggalkan mereka. Ftancesca menjauh dan berkata, "Sudah tidak apa-apa, Matco. Aku bisa sendiri. Ibuku sedang menjaga tumah hari ini."

Marco menunggu diundang masuk, tapi ia tahu tidak sepantasnya ia mendesak. Petannya dalam episode ini sudah hampir usai, dan ia sudah mengetahui lebih banyak hal daripada yang diharapkannya. Ia tetsenyum, melepaskan lengan Francesca, dan hendak mengucapkan selamat tinggal ketika tetdengar kunci berdetak keras dari dalam. Francesca berpaling ke pintu, dan ketika melakukannya memberikan tekanan pada pergelangan kakinya yang cedera. Kakinya goyah lagi, membuatnya terkesiap dan mengulurkan tangan ke atah Marco.

Pintu terbuka tepat ketika Francesca jatuh pingsan.

Ibunya bernama Signora Altonelli, wanita tujuh puluhan tahun yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali dan selama beberapa menit penama yang panik mengira Marco telah mencederai putrinya.

Bahasa Italia Marco yang patah-patah terbukti tidak memadai, terlebih di bawah tekanan saat itu. Marco membopong Francesca ke sofa, menaikkan kakinya, dan berusaha menyampaikan konsep "Ghiaccio, ghiaccio." Es, ambilkan es. Dengan amat enggan, wanita itu mundur, lalu menghilang ke dapur.

Francesca terjaga ketika ibunya kembali dengan membawa handuk kecil basah dan seplastik kecil es.

"Kau pingsan," Marco menjelaskan, merunduk di atasnya. Francesca memegangi tangan Marco, melihat berkeliling dengan pandangan liar. "Chi e?" tanya ibunya curiga. Siapa dia? "Un amico." Teman. Marco menyeka wajah Francesca dengan handuk basah dan Francesca berbicara cepat. Dengan bahasa Italia paling cepat yang pernah didengarnya, Francesca menjelaskan kepada ibunya apa yang telah terjadi. Senapan-senapan mesin itu saling menyembur berbalasan, membuat Marco bingung ketika berusaha mengenali satu-dua kata, namun akhirnya menyerah. Mendadak, Signora Altonelli tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Marco tanda setuju. Anak baik.

Ketika wanita tua itu menghilang, Francesca berkata, "Ia akan membuat kopi."

"Bagus." Marco menarik bangku pendek mendekati sofa dan duduk, menunggu. "Kita perlu mengompresnya dengan es," ujarnya.

"Ya, sebaiknya begitu."

Mereka menatap sepatu bot itu. "Kau mau melepasnya?" tanya Francesca.

"Tentu." Marco membuka ritsleting bot kanan dan melepasnya seolah kaki itu juga cedeta. Ia lebih berhati-hati lagi dengan yang sebelah kiri. Setiap gerakan kecil menimbulkan tasa nyeri, dan akhirnya Marco berkata, "Kau mau melepasnya sendiri?"

'Tidak, kau saja." Ritsleting itu bethenti hampir tepat di atas pergelangan kaki yang bengkak. Sepatu bot itu jadi lebih sulit dilepaskan. Setelah satu menit yang panjang menggoyang-goyangkannya dengan hati-hati, sementara si pasien mengenakkan gigi, bot itu pun lepas.

la mengenakan stoking hitam. Marco mengamatinya, lalu berkata, "Ini juga harus dilepas."

"Ya, benar." Ibu Francesca kembali dan menembakkan sesuatu dalam bahasa Italia. "Bagaimana kalau kau menunggu di dapur?" pinta Francesca pada Marco.

Dapur itu kecil, tapi segalanya teratur di tempatnya, sangat modern dengan krom dan kaca, tanpa satu senti pun tuang yang terbuang sia-sia. Alat pembuat kopi canggih berdeguk-deguk di meja dapur. Dinding di atas ceruk meja sarapan tertutup lukisan abstrak berwarna cerah. Marco menunggu dan mendengarkan kedua wanita itu berceloteh pada saat bersamaan.

Mereka berhasil melepas stoking tanpa cedera lebih lanjut. Sewaktu Marco kembali ke ruang duduk, Signora Altonelli sedang mengatur es di sekitar pergelangan kaki kiri.

"Ia bilang tidak patah," Francesca memberitahu Marco. "Ia dulu bekerja di rumah sakit bertahun-tahun."

"Ia tinggal di Bologna?"

"Imola, beberapa mil dari sini."

Marco tahu tempat itu, paling tidak di atas peta. "Kurasa sebaiknya aku pergi sekarang," ujarnya, tidak ingin pergi tapi mendadak merasa seperti tamu tak diundang.

"Kurasa kau perlu minum kopi," tukas Ftancesca. Ibunya melesat pergi, kembali ke daput.

"Aku merasa seperti orang yang tidak diundang," kata Marco.

"Tidak, setelah semua yang kaulakukan hati ini, hanya ini yang bisa kulakukan sebagai balasan."

Ibunya kembali, dengan segelas air dan dua butir pil. Francesca menelannya dan mengganjal kepalanya dengan bantal. Ia bertukar kalimat pendek dengan ibunya, lalu menoleh pada Marco dan berkata, "Ibuku punya torta cokelat di lemari es. Kau mau?"

"Ya, terima kasih."

Lalu ibunya petgi lagi, sekarang sambil bersenan-dung senang karena ada orang yang bisa dirawatnya

dan satu orang lagi yang diberi makan. Marco kembali ke tempatnya di bangku pendek. "Sakit?"

"Ya," jawab Ftancesca, tersenyum. "Aku tidak bisa bohong. Sakit sekali."

Marco tidak bisa menemukan jawaban yang pantas, maka ia kembali ke wilayah netral. "Semua terjadi begitu cepat," katanya. Mereka melewatkan beberapa menit mengulangi kejadian tadi. Lalu mereka terdiam. Francesca memejamkan mata dan sepertinya tertidut sejenak. Marco bersedekap dan memandangi lukisan besar dan aneh yang menutupi > hampir seluruh dinding.

Bangunan itu sudah tua, tapi dati dalam Francesca dan suaminya melawan dengan penuh tekad modern. Perabotannya rendah, dengan kulit hitam licin dan rangka baja mengilap, sangat minimalis. Dinding-dindingnya tertutup karya-karya kontemporer yang membingungkan.

"Kita tidak boleh memberitahu Luigi tentang hal ini," bisik Francesca. "Kenapa tidak?"

Ftancesca ragu-ragu sejenak, lalu menyerah. "Ia membayarku dua ratus euro seminggu untuk mengajarmu, Matco, dan ia selalu mengeluh dengan jumlahnya. Kami bertengkar. Ia mengancam akan mencari orang lain. Sejujurnya, aku membutuhkan uang itu. Aku punya peketjaan satu-dua kali seminggu—sekarang masih musim sepi. Keadaan akan

lebih baik sebulan lagi ketika turis berdatangan, tap saat ini penghasilanku tidak banyak."

Ekspresi pasif itu sudah lama lenyap. Marco tidak percaya Francesca mengizinkan dirinya tampak sedemikian rapuh. Wanira itu ketakutan, dan Marco bersedia mempertaruhkan lehernya demi membantu Francesca.

"Wanita itu melanjutkan, "Aku yakin ia akan berhenti mempekerjakanku kalau aku membolos beberapa hari."

"WelL kau memang akan membolos beberapa hari." Marco melirik es yang membungkus per-gelangan kakinya.

"Bisakah kita merahasiakan hal ini? Aku pasti sudah bisa berjalan tak lama lagi, bukan?"

"Kita bisa mencoba merahasiakannya, tapi Luigi punya cara mencari tahu segala sesuatu. Ia mem-bunturiku dengan ketat. Aku akan pura-pura sakit besok, lalu kira bisa merencanakan sesuatu untuk lusa. Mungkin kita bisa belajar di sini." "Tidak. Suamiku ada di sini." Marco tak dapat menahan diri menoleh ke belakang. "Di sini?" "Ia ada di kamar. Sakit parah." "Apa—"

"Kanker. Stadium akhir. Ibuku menjaganya saat aku bekerja. Perawat rumah sakit datang setiap sok untuk memberikan obat."

I"Aku prihatin mendengarnya." "Aku juga." "Jangan risau tentang Luigi. Aku akan mengatakan bahwa aku menyukai gayamu mengajar dan ¦ aku tidak mau bekerja dengan orang lain." "Itu dusta, bukan?" "Begitulah."

Signora Altonelli kembali dengan senampan torta dan espresso. Ia meletakkannya di meja pendek warna merah manyala di tengah ruangan dan mulai memotong-motong kue. Francesca mengambil cangkir kopi, tapi tidak ingin makan. Marco makan sepelan mungkin dan menyesap kopi dari cangkir kecil seolah itu kopinya yang terakhir. Sewaktu Signora Altonelli mendesak mengambilkannya seiris kue dan secangkir kopi lagi, Marco akhirnya meng-iyakan dengan enggan.

Marco duduk di sana selama satu jam. Ketika turun dengan lift, ia menyadari bahwa Giovanni Ferro tak bersuara sama sekali.

23

Badan intelijen utama Cina Komunis, Kementerian Keamanan Negara, atau MSS, menggunakan unit-unit kecil yang sangat terlatih untuk melaksanakan pembunuhan di seluruh dunia, tak beda jauh dari Rusia, Israel, Inggris, dan Amerika.

Namun ada satu perbedaan yang penting, yaitu Cina menjadi terbiasa mengandalkan satu unit tertentu. Bukannya menyebarkan pekerjaan kotor mereka seperti negara-negara lain, pilihan pertama MSS adalah seorang pemuda yang sudah diaman dengan penuh kekaguman oleh CIA dan Mossad selama beberapa tahun. Namanya Sammy Tin, produk dari dua diplomat Cina Komunis yang kabarnya dipilih oleh MSS untuk menikah dan bereproduksi. Bila ada klon agen yang sempurna, itu adalah Sammy Tin. Ia lahir di New York City

410

oan dibesarkan di kawasan hunian tepi kota D.C, mendapat pendidikan privat dari guru yang membombardirnya dengan bahasa-bahasa asing sejak ia lepas dari popok, la masuk University of Maryland pada usia enam belas tahun, lulus dengan dua - gdar pada usia 21, lalu belajar teknik di Hamburg, f Jerman. Dalam proses tersebut, ia mengembangkan hobi membuat bom. Bahan peledak menjadi sum-X ber kegirangannya, dengan penekanan pada ledakan [ terkendali dari benda-benda biasa—amplop, cangkir kenas, bolpoin, kotak rokok, la penembak jitu yang piawai, tapi senapan tetlalu sederhana dan I membuatnya bosan. Tin Man menyukai bom. Kemudian ia belajar kimia dengan nama samaran di Tokyo, dan di sana ia menguasai seni dan ilmu membunuh dengan racun. Pada usia 24 tahun, ia telah memiliki belasan nama berbeda, menguasai bahasa yang kurang-lebih sama banyaknya, dan melewati banyak perbatasan dengan betbagai paspor dan samaran. la bisa meyakinkan petugas imigtasi mana pun bahwa ia orang Jepang, Korea, atau Taiwan.

Untuk menyelesaikan pendidikannya, ia melewatkan satu tahun yang melelahkan dalam pelatihan bersama kelompok elite angkatan bersenjata Cina. la belajar berkemah, memasak di atas api, menyeberangi sungai deras, bertahan hidup di laut, dan hidup di alam Uar selama berhari-hari. Ketika usia-

411

nya 26 tahun, MSS memutuskan bahwa anak i sudah belajar cukup banyak. Sudah tiba saati membunuh. 1

Sejauh yang diketahui CIA, ia mulai mencatatkan angka kematiannya yang mencengangkan dengan pembunuhan tiga ilmuwan Cina Komunis yang menjadi terlalu akrab dengan Rusia. Ia mengun-dang mereka makan malam di restoran di Moskow, ' Sementara para tukang pukul mereka menunggu di luar, salah satunya digorok di toilet pria ketika sedang kencing di urinoar. Perlu waktu satu jam untuk menemukan mayatnya, dijejalkan ke tong sampah yang lumayan kecil. Orang kedua membuat kesalahan dengan mengkhawatirkan orang pertama. Ia masuk ke toilet pria, tempat Tin Man sudah menunggu dan berpakaian sebagai petugas kebersihan. Mereka menemukan orang itu dengan kepala disurukkan ke lubang kakus, yang tersumbat dan mampet. Orang ketiga tewas be-berapa detik kemudian di meja, tempat ia sedang duduk sendiri dan menjadi sangat khawatir dengan kedua kawannya yang menghilang. Seorang lelaki dengan jas pelayan berlalu dengan cepat, dan tanpa mempetlambat langkah menusukkan anak panah beracun ke tengkuknya.

Bila dinilai, pembunuhan-pembunuhan itu cukup cetoboh. Terlalu banyak darah, terlalu banyak sakst. Kesempatan melarikan diri sangat tipis, tapi

Tin Man mendapatkannya dan berhasil melesat melalui dapur yang sibuk tanpa diketahui, Ia sudah lolos dan berlari cepat di gang kecil ketika para tukang pukul itu dipanggil. Ia menghilang di kota yang gelap, memanggil taksi, dan dua puluh menit kemudian sudah memasuki Kedutaan Cina. Esok harinya ia sudah berada di Beijing, merayakan ke-I suksesannya yang pertama.

Nyali besat yang dipamerkan pada penyeiangan t tersebut mengguncang dunia intelijen. Badan-badan

1intelijen saingan mulai geragapan mencari siapa , yang telah melakukannya. Peristiwa tersebut sangat berlawanan dengan gaya Cina yang biasa dalam melenyapkan musuh-musuhnya. Mereka terkenal memiliki kesabaran, disiplin untuk menunggu dan menunggu hingga waktunya tepat. Meteka berburu hingga mangsa mereka akhirnya menyerah. Atau mereka akan meninggalkan satu tencana dan ganti rencana lain, dengan hati-hati menunggu kesempatan.

Ketika hal itu tetjadi lagi beberapa bulan kemudian di Berlin, legenda Tin Man pun lahir. Seorang eksekutif Ptancvs melakukan kesepakatan rahasia tipuan menyangkut teknologi tinggi radar bergerak, la dilontarkan dari balkon kamar hotel di lantai empat belas, dan ketika mendarat di dekat kolam renang, hal itu menimbulkan kemarahan bebetapa otang yang sedang berjemur. Sekali lagi, pembunuhan itu tetlalu mudah dilihat.

Di London, Tin Man meledakkan kepala seseorang dengan ponsel. Seorang pembelot di Chinatown New York kehilangan sebagian besar wajahnya ketika rokoknya meledak. Sammy Tin segera mendapar nama dari berbagai pembunuhan intelijen yang dramatis di dunia bawah tanah. Legendanya tumbuh dengan cepat. Walaupun ia memiliki empat atau lima anggota tepercaya dalam unitnya, ia sering kali bekerja sendiri. Ia pernah kehilangan sasaran di Singapura ketika targetnya mendadak muncul bersama beberapa teman, semuanya membawa pistol. Itu adalah kegagalan yang jarang terjadi, dan pelajaran yang didapat dari sana adalah menjaga dirinya tetap tersembunyi, menyerang dengan cepat, dan jangan melibatkan terlalu banyak orang.

Semakin dewasa, pembunuhan-pembunuhannya menjadi tak sedramatis dulu, tak sekejam dulu, dan lebih mudah dimtup-tutupi. Sekarang umurnya 33 tahun, dan tak (hragukan lagi ia adalah agen yang paling .ditakuti di dunia. CIA menghabiskan banyak dana untuk berusaha melacak gerakannya. Mereb tahu ia ada di Beijing, tinggal di apartemennya yang mewah. Ketika ia pergi, mereka melacaknya di Hong Kong. Interpol diberi peringatan ketika Tin Man menumpang penerbangan nonstop ke London, tempat ia berganti paspor dan pada detik terakhir naik penerbangan Alitalia ke Milan. Interpol hanya bisa mengawasi. Sammy Tin se-

jjflg kali bepergian dengan samaran diplomatik.

[a bukan kriminal; ia agen, diplomat, pengusaha,

dosen, apa pun yang dibutuhkannya.

Sebuah mobil sudah menunggunya di Bandata Malpensa Milan, dan ia pun lenyap dalam keramaian kota. Sejauh yang diketahui CIA, sudah empat setengah tahun berlalu sejak tetakhir kali Tin Man menjejakkan kaki di Italia.

Penampilan Mt. Elya jelas-jelas menyatakan dirinya pengusaha Saudi yang kaya raya, walau setelan jas wolnya yang tebal warnanya hampir hitam, agak terlalu gelap bagi Bologna, dan garis-garisnya terlalu tebal untuk tekstil yang didesain di Italia. Kemejanya metah jambu, dengan kerah putih yang mengilap—bukan paduan yang buruk, tapi, yah, tetap saja itu merah jambu. Menghubungkan kancing teratas kemejanya ada jepit emas, juga terlalu tebal, yang mendorong simpul dasinya terlalu tinggi sehingga menimbulkan kesan tercekik, dan pada kedua ujung jepit itu ada sebutir berlian. Mr. Elya menyukai berlian—ada berlian besar di masing-masing tangannya, belasan butir yang lebih kecil mengelilingi arloji Rolex-nya, beberapa lagi di manset kemejanya. Menurut Stefano, sepatunya tampak seperti buatan Italia, baru gres, cokelat, tapi warnanya terlalu muda untuk setelan jasnya.

Secara keseluruhan, paduan itu tidak tampak bagus. Meski demikian, jelas bahwa ia telah berusaha keras. Stefano punya waktu mempelajari kliennya sementara mereka berkendara tanpa suara dari ban- j dara, tempat Mr. Elya dan asistennya tiba dengan jet pribadi, menuju pusat kota Bologna. Mereka du- i duk di bangku belakang Mercedes hitam, salah satu i syarat Mr. Elya, dengan pengemudi yang membisu | di kursi depan, dan asisten yang sepertinya hanya bisa berbahasa Arab. Bahasa Inggris Mr. Elya cepat tapi bisa dimengerti, biasanya diikuti ucapan dalam bahasa Arab kepada si asisten, yang merasa wajib mencatat apa pun yang dikatakan majikannya.

Setelah sepuluh menit di dalam mobil bersama mereka, Stefano berharap urusan ini bisa selesai sebelum waktu makan siang.

Apartemen pertama yang ditunjukkannya ada di dekat universitas, tempat putra Mr. Elya akan datang tak lama lagi untuk belajar kedokteran. Empat ruangan di lantai dua, tanpa lift, bangunan tua yang kokoh, perabotannya baik, jelas kelewat mewah untuk mahasiswa mana pun—1.800 euro sebulan, satu tahun masa sewa, dengan tambahan biaya petawatan. Mr. Elya tidak mengucapkan apa pun, hanya mengerutkan kening, seolah putranya yang manja membutuhkan sesuatu yang lebih baik. Si asisten juga mengerutkan kening. Mereka semua mengerutkan kening menuruni tangga, masuk kf

ffl0bil, dan tak mengucapkan sepatah kata pun sementara si pengemudi membawa mereka ke perhentian kedua.

Apartemen itu ada di Via Remorsella, satu blok sebelah barat Via Fondazza. Sedikit lebih besar daripada yang pertama, dengan dapur seperti lemari penyimpanan sapu, perabotannya buruk, tidak mempunyai pemandangan, dua puluh menit dari universitas, harga sewanya 2.600 euro sebulan, dan bahkan ada bau-bauan aneh yang menyertainya. Mereka tak lagi mengerutkan kening, mereka me-: nyukai tempat itu. "Ini boleh juga," ujar Mr. Elya, dan Stefano mengembuskan napas lega. Dengan sedikit keberuntungan, ia tidak perlu menjamu mereka makan siang. Dan ia baru saja mendapat komisi yang lumayan.

Mereka cepat-cepat kembali ke kantor tempat j Stefano bekerja, dan di sana dokumen-dokumen diselesaikan dengan kecepatan rekor. Mr. Elya orang yang sibuk dan memiliki janji penting di Roma, dan bila urusan sewa-menyewa tidak bisa1 diselesaikan saat itu juga, lupakan saja semuanya!

Metcedes hitam itu melesat membawa mereka kembali ke bandara. Di sana, Stefano yang gugup dan kelelahan mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, lalu berlalu dari sana secepat-cepatnya. Mr. Elya dan asistennya menanggalkan setelan bisnis mereka dan mengenakan pakaian santai biasa.

* 416

Mereka bergabung dengan tiga anggota tim ya% lain. Setelah menanti sekitar satu jam, akhirnya m

Luigi mulai curiga pada tas Silvio biru tua itu. Marco tidak pernah meninggalkannya di apartemen. Tidak pernah lepas dari pandangannya, la membawanya ke mana-mana, diselempangkan di bahu, dan dijepit rapat di bawah lengan kanannya seolah berisi emas.

Apa yang dimilikinya sekarang yang harus dilindungi sedemikian rupa? Ia jarang membawa bahan-bahan pelajarannya ke mana pun. Kalau ia dan Ermanno tidak belajar di luar, mereka melakukannya di apartemen Marco. Jika belajar di luar, mereka melakukan percakapan dan tidak perlu menggunakan buku.

Whitaker di Milano juga mulai curiga, terutama sejak Marco ketahuan berada di kafe Internet di dekat universitas. Ia mengirim agen bernama Krater ke Bologna untuk membantu Zellman dan Luigi mengawasi lebih ketat Marco dan tasnya yang bermasalah itu. Dengan tali laso mulai mengetat dan kembang api akan segera dimulai, Whitaker meminta Langley mengirim lebih banyak tenaga ke jalan.

418

tfamun Langley sedang heboh. Kepergian Teddy, walau bukannya tak terduga, telah mengacaukan tempat itu. Gelombang kejut dari pemecatan Lucat roasih terasa sama saat itu. Presiden mengancam jkan melakukan pembongkaran besar-besaran, dan para deputi direktur serta pejabat atas tinggi mulai menghabiskan waktu melindungi pantat mereka, tak lagi menggubris operasi-operasi mereka.

Krater-lah yang mendapat pesan radio dari Luigi bahwa Marco sedang berjalan ke arah Piazza Maggiore, mungkin mencari kopi sore. Krater melihatnya ketika Marco menyeberangi alun-alun, tas biru tua dijepit di bawah lengan kanan, tampak se-| perti penduduk setempat. Setelah mempelajari arsip cukup tebal mengenai Joel Backman, senang juga akhirnya bisa melihatnya. Kalau saja pria malang itu tahu.

Namun Marco tidak haus. Belum. Ia melewati kafe dan toko, lalu tiba-tiba, setelah melirik diam-diam, masuk ke Albergo Nettuno, hotel butik dengan lima puluh kamar tak jauh dari piazza. Krater memberitahu Zellman dan Luigi melalui radio, yang kebingungan karena Marco tidak punya alasan apa pun untuk masuk ke hotel. Krater menunggu lima menit, lalu masuk ke lobinya yang kecil, menyetap segala yang bisa dilihatnya. Di sebelah kanan area lobi terdapat beberapa kursi dan majalah liburan yang ditebarkan di meja pendek

lebar. Di sebelah kiri ada ruang kecil telep0tl umum yang kosong dengan pintu terbuka, laju ruangan lain yang tidak kosong. Marco duduk di sana, sendiri, membungkuk di atas meja kecil di ba-wah telepon dinding, tas birunya terbuka. Ia terlalu sibuk sehingga ridak melihat Krater masuk.

"Bisa saya bantu?" tanya petugas meja depan.

"Ya, terima kasih, saya ingin memesan kamar," ujar Krater dalam bahasa Italia.

"Untuk kapan?"

"Malam ini."

"Maaf, malam ini kamar-kamar kami sudah penuh"

Krater mengambil brosur dari meja. "Tempat ini selalu penuh," katanya sambil tersenyum. "Hotel ini sangat terkenal."

"Memang benar. Mungkin lain kali?"

"Apakah di sini tersedia akses Internet?"

"Tentu."

"Nirkabel?"

"Ya, hotel pertama di kota ini yang menyediakan akses nirkabel."

Kratet mundur sambil berkata, "Terima kasih Saya akan mencoba lagi lain kali."

"Silakan."

Sebelum keluar, ia melewati ruang telepon it lagi. Marco tidak mendongak.

Dengan kedua ibu jati Marco mengetik pesan dan berharap ia tidak diminta pergi oleh petugas meja depan. Akses nirkabel adalah fasilitas baru yang diiklankan oleh Nettuno, tapi hanya untuk tamu-tamu hotel. Kafe, perpustakaan, dan toko buku menyediakan layanan gratis kepada siapa pun yang masuk, tapi hotel tidak begitu. Isi e-mailnya:

Grinch: Aku pernah berurusan dengan seorang bankir di Zurich, namanya Mikel Van Thiessen, di Rhineland Bank, Bahnhofitrasse, pusat kota Zurich. Coba periksa apakah ia masih di sana. Kalau tidak, siapa yang menggantikannya? Jangan meninggalkan jejak!

Marco

Ia menekan tombol Send, dan sekali lagi berharap ia melakukannya dengan benar. Dengan segera, dimatikannya Ankyo 850 dan dimasuk-L ¦ kannya kembali ke tas. Ketika pergi, ia mengangguk kepada petugas yang sedang menelepon.

Dua menit setelah Krater keluar dari hotel, j Marco pun keluar. Mereka mengamatinya dari tiga titik, lalu membuntutinya ketika dengan mudah ia bergabung dengan keramaian orang yang pulang

kerja. Zellman berbalik, masuk ke Nett

ke ruang relepon di sebelah kiri, duduk- Pergi

Marco duduk tak sampai dua puluh

belumnya. Petugas meja depan, yang seCT* ^'

ngung, pura-pura sibuk di balik mejanya. 8 bl"

Satu jam kemudian, mereka bertemu di b

dan membahas kembali pergerakan Marco V • ^ • i • i. . ' ^esim-

pulannya jelas, tapi tetap sulit ditelan—-karen

Marco tidak menggunakan telepon, ia menumpang akses Internet gratis yang disediakan hotel. Tidak ada alasan lain untuk memasuki lobi hotel secara acak, duduk di ruang telepon tak lebih dari sepuluh menit, lalu pergi lagi. Tapi bagaimana ia melakukannya? Ia tidak punya laptop, tidak punya ponsel selain yang dipinjamkan Luigi padanya, alat kuno yang hanya bisa digunakan di dalam kota dan tidak mungkin di-upgrade untuk menjelajah Internet. Apakah ia mendapat alat berteknologi canggih? Ia kan tidak punya uang. Kemungkinannya pencurian. Mereka mencoba-coba berbagai skenario. Zellman bertugas mengirimkan berita mencemaskan itu melalui e-mail kepada Whitaker. Krater disuruh mulai melihat-lihat tas Silvio biru yang serupa. Luigi diberi tugas memikirkan makan malam. Pikirannya terusik panggilan- telepon W Marco- k ada di apartemennya, sedang tidak cnaK

utnya

melilit sepanjang sore. la ^ba^inS-P^makanmal^

24

Jika telepon Dan Sandberg berdering sebelum pukul enam pagi, beritanya pasti tidak bagus, la burung hantu, makhluk malam yang sering kalj tidur melewati waktu sarapan sekaligus makan siang. Semua orang yang mengenalnya juga tahu; percuma saja meneleponnya pagi-pagi.

Telepon itu dari rekannya di Post. "Kau didului, buddy" ujarnya muram, j

"Apa?" Sandberg meledak.

"Times baru saja menyeka ingusmu."

"Siapa?"

"Backman."

"Apa?"

"Lihat saja sendiri."

Sandberg berlari ke ruang kerja di apartemennya yang berantakan dan menyerbu komputernya, k

menemukan berita itu, ditulis oleh Heath Frick, rival yang dibenci dari The New York Times, judul utama halaman depan berbunyi JOEL BACKMAN TERKAIT PENYIDIKAN JUAL-BELI ABOLISI.

Mengutip dari sumber-sumber yang tak disebutkan namanya, Frick melaporkan bahwa penyidikan yang dilakukan FBI sehubungan dengan jual-beli pengampunan hukuman semakin intensif dan ber-kembang sehingga melibatkan individu-individu [ tertentu yang dibebaskan oleh Presiden Arthur i Morgan. Duke Mongo disebut sebagai "orang yang I dicurigai", istilah halus yang dilontarkan pihak berwenang jika ingin mencoreng muka orang yang tak bisa didakwa secara formal. Namun Mongo sedang dirawat di rumah sakit dan kabarnya sedang me-i regang nyawa.

Penyidikan itu sekarang memusatkan perhatian pada Joel Backman, yang pengampunannya pada detik-detik terakhir telah menggegerkan dan membuat marah banyak orang, menurut analisis Frick yang tak perlu. Misteri lenyapnya Backman semakin memicu spekulasi bahwa ia telah membeli pengampunan hukuman itu dan kabur untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan i timbul. Desas-desus lama masih berkembang di I masyarakat, Frick mengingatkan semua orang, dan berbagai sumber tepercaya yang tak ingin disebut namanya memberi petunjuk bahwa teori mengenai

425

424

Backman yang menimbun harta karun belum lagi j dilupakan.

"Sampah!" umpat Sandberg sambil terus mern- I baca ke bawah. Ia lebih tahu fakta-faktanya daripada orang lain. Omong kosong ini tidak ada isinya. Backman tidak pernah membeli pengampunan hukuman itu.

Tak satu pun orang-orang yang terkait dengan mantan presiden mau buka mulut. Sementara ini, penyidikan itu tetap sekadar penyidikan, tanpa dikembangkan menjadi penyelidikan resmi, namun artileri berat federal tak beranjak jauh-jauh darinya. Seorang jaksa tinggi sudah gembar-gembor ingin segera mulai bekerja. Ia belum mendapatkan juri, tapi kantornya sudah siap, menunggu perintah dari Departemen Kehakiman.

Frick menutup tulisannya dengan dua paragraf mengenai Backman, pengulangan historis yang pernah ditulis koran tersebut sebelumnya.

Tak ada isinya!" Sandberg mendidih.

Presiden tnembacanya juga, tapi reaksinya berbeda. Ia membuat beberapa catatan dan menyimpannya sampai pukul setengah delapan, saat Susan Penn, pejabat direktur CIA, datang untuk taklimat pagi. Taklimat harian presiden secara tradisi ditangani oleh direktur sendiri, selalu di Oval Office, dar

biasanya merupakan acara pertama hari kerjanya. Namun Teddy Maynard dan kesehatannya yang buruk telah mengubah rutinitas tersebut, dan selama sepuluh tahun taklimat tersebut dilakukan oleh orang lain. Sekarang ttadisi kembali dihormati.

Rangkuman masalah intelijen sebanyak delapan hingga sepuluh halaman diletakkan di meja Presiden pada pukul tujuh tepat. Setelah hampir dua bulan beketja, ia mengembangkan kebiasaan membaca setiap patah kata. Menurutnya, hal itu sangat menarik. Pendahulunya sesumbar hampir tak pernah membaca apa pun—buku, surat kabar, majalah. Apalagi dokumen legislasi, kebijakan, perjanjian, atau taklimat harian. Ia bahkan sering kesulitan membaca naskah pidatonya sendiri. Keadaan berbeda sekali sekarang.

Susan Penn diantar dengan mobil antipeluru dari rumahnya di Georgetown ke White House, tempat ia tiba setiap pagi pada pukul 07.15. Sepanjang perjalanan ia membaca rangkuman harian, yang I disiapkan oleh CIA. Pada halaman empat pagi itu, I ada laporan mengenai Joel Backman. Ia menarik i perhatian beberapa orang berbahaya, bahkan mungkin Sammy Tin.

Presiden menyambutnya dengan hangat dan kopi sudah menunggu di dekat sofa. Mereka berdua saja, seperti biasa, dan langsung mulai beketja.

"Kau sudah membaca The New York Times pagj ini?" tanya Presiden. "Sudah."

"Bagaimana kemungkinan Backman membeli pengampunan hukuman itu?"

"Sangat tipis. Seperti yang sudah saya jelaskan, ia tidak tahu pengampunannya sudah disiapkan. Ia tidak punya waktu mengatur segala sesuatu. Lagi pula, kami yakin ia tidak punya uang yang cukup."

"Lalu mengapa Backman diampuni?"

Kesetiaan Susan Penn pada Teddy Maynard dengan cepat tenggelam dalam sejarah. Teddy sudah pergi, dan tak lama lagi mati, tapi ia, pada usia 44 tahun, masih memiliki karier. Mungkin cukup panjang. Ia dan Presiden bekerja sama dengan baik Sepertinya ia tidak buru-buru ingin menunjuk direktur baru.

"Sejujurnya, Teddy ingin dia mati."

"Mengapa? Apa yang kauingat tentang alasan-alasan Mr. Maynard menghendaki ia mati?" "Ceritanya panjang—" "Tidak."

"Kami tidak tahu seluruhnya." "Kau tahu cukup banyak. Katakan apa yang kauketahui."

Susan Penn melemparkan salinan rangkuman itu ke sofa dan menarik napas dalam-dalam. "Backmat]

daIl]acy Hubbard kejatuhan durian runtuh. Mereka rnenuliki perangkat lunak ini, JAM, yang dengan bodoh dibawa klien-klien mereka ke Amerika Serikat, ke kantor mereka, untuk mendapat banyak

uang."

• "Klien-klien ini adalah pemuda-pemuda Pakistan

itu, bukan?" "Ya, dan mereka semua sudah mati." "Kau tahu siapa yang membunuh meteka?"

"Tidak."

"Kau tahu siapa yang membunuh Jacy Hubbard?"

"Tidak."

Presiden berdiri sambil membawa kopinya dan berjalan ke meja kerja, la duduk di tepi meja dan melotot pada Susan Penn. "Aku sulit percaya kita tidak tahu apa-apa."

"Jujut saja, saya juga. Dan itu bukan karena kami tak petnah betusaha. Itu salah satu alasan Teddy betusaha keras agar Backman diampuni. Ya, pada dasarnya ia menginginkan Backman mati—mereka punya sejarah dan Teddy selalu menganggap Backman pengkhianat. Namun ia juga sangat yakin bahwa pembunuhan Backman akan memberitahukan sesuatu kepada kita." "Apa?"

"Tergantung siapa yang membunuhnya. Kalau Rusia yang melakukannya, kita boleh percaya sistem satelit Itu milik Rusia. Begitu juga dengan

Cina. Tapi kalau Israel yang membunuhnya, ada kemungkinan Backman dan Hubbard berusaha menjual produk mereka kepada Saudi. Bila Saudi yang menghabisinya, kita bisa yakin bahwa Backman mengkhianati mereka. Kami cukup yakin bahwa Saudi mengira mereka sudah mendapat kesepakatan."

"Tapi Backman mengelabui mereka?"

"Barangkali tidak. Menurut kami, kematian Hubbard mengubah segalanya. Backman mengemasi tasnya dan kabur masuk ke penjara. Semua kesepakatan batal."

Presiden berjalan kembali ke meja kopi dan mengisi cangkirnya Ia duduk di depan Susan Penn dan menggeleng. "Kau berharap aku percaya bahwa tiga hacker Pakistan itu membobol sistem satelit yang begitu canggih tanpa sepengetahuan kita?"

"Ya. Mereka sangat pintar, tapi juga beruntung. Lalu mereka bukan saja membobol sistem, tapi juga membuat program luar biasa yang memanipulasinya"

"Dan itu yang disebut JAM?" "Begitulah mereka menamainya." "Ada yang pernah melihat perangkat lunak itu?"

"Saudi. Karena itulah kami tahu, bukan hanya perangkat lunak itu sungguh-sungguh ada, tapi mungkin juga bekerja seperti yang diiklankan."

"Di mana perangkat lunak itu sekarang?" Tidak ada yang tahu, kecuali mungkin Backman

sendiri."

Suasana sunyi cukup lama sementara Presiden menyesap kopinya yang suam-suam kuku. Lalu ia menumpukan kedua sikunya di atas lutut dan berkata, "Apa yang paling baik bagi kita, Susan? Apa yang paling baik untuk kepentingan kita?"

Susan Penn tidak ragu-ragu. "Mengikuti rencana Teddy. Backman akan dilenyapkan. Perangkat lunak itu tak pernah terlihat selama enam tahun, jadi mungkin juga sudah tidak ada. Sistem satelit itu ada di atas sana, tapi siapa pun yang memilikinya tidak bisa menggunakannya."

Diam lagi. Sesapan kopi lagi. Presiden menggeleng-geleng dan berkata, "Jadilah."

Neal Backman tidak membaca The New York Times, tapi pagi itu ia melakukan pencarian nama ayahnya di Internet. Sewaktu mendapatkan tulisan Frick, ia melampirkannya pada e-mail yang dikirimnya dari

Jerrys Java.

Di meja kerjanya, ia membaca lagi tulisan tersebut, dan teringat desas-desus tentang berapa banyak uang yang disembunyikan sang broker ketika bitonya runtuh. Ia tidak pernah mempertanyakan hal itu dengan lugas pada ayahnya, karena ia tahu

431

tidak akan mendapat jawaban yang jelas. Selama bertahun-tahun, ia mulai menerima keyakinan umum bahwa Joel Backman adalah pesakitan yang tak punya uang.

Lalu mengapa ia merasakan sesuatu yang mengusik, bahwa skandal jual-beli pengampunan hukuman iru ada benarnya? Karena bila ada orang yang terkubur begitu dalam di penjara federal tapi bisa melakukan keajaiban semacam itu, ayahnyalah orangnya. Tapi bagaimana ia bisa sampai di Bologna, Italia? Dan mengapa? Siapa yang memburunya?

Pertanyaan-pertanyaan menumpuk, jawaban-jawabannya tak bisa didapatkan.

Sambil menyesap double mocha dan memandangi pintu ruang kantornya yang terkunci, sekali lagi ia mengajukan pertanyaan besar itu pada diri sendiri: Bagaimana orang bisa menemukan bankir Swiss tertentu tanpa menggunakan telepon, faks, surat, atau e-mail?

Ia sudah menemukan caranya. Ia hanya perlu waktu.

Tulisan di 77?»« itu dibaca oleh Efraim ketika ia naik kereta dari Florence ke Bologna. Panggilan telepon dari Tel Aviv memberitahunya, dan ia menemukannya di Internet. Amos empat kursi di belakangnya, juga sedang membaca di laptop-nya.

Rafi dan Shaul tiba keesokan harinya pagi-pagi sekali—Rafi dengan pesawat dari Milan, Shaul naik kereta dari Roma. Keempat anggota kidon yang berbahasa Italia itu sudah sampai di Bologna, dengan segera menyiapkan dua rumah persembunyian yang mereka perlukan untuk proyek tersebut.

Rencana awal adalah metingkus Backman di bawah portico gelap sepanjang Via Fondazza atau jalan kecil yang sesuai, lebih disukai pagi-pagi sekali atau setelah gelap. Mereka akan membiusnya, memasukkannya ke van, membawanya ke rumah persembunyian, dan menunggu pengaruh obat biusnya lenyap. Mereka akan menginterogasinya, akhirnya membunuhnya dengan racun, dan membawa mayatnya dengan mobil selama dua jam ke Lake Garda, tempat ia akan menjadi makanan ikan.

Rencana itu kasar dan penuh bahaya, tapi lampu hijau sudah diberikan. Tidak ada lagi jalan kembali. Setelah Backman mendapat begitu banyak perhatian sekarang, meteka harus menyerang dengan cepar.

Perlombaan itu juga dipacu fakta bahwa Mossad memiliki alasan untuk yakin bahwa Sammy Tin betada di Bologna, atau di suatu tempat tak jauh dari sana.

H

Restoran yang paling dekat dengan apartemen Francesca adalah trattoria tua menarik bernama Nino's. Francesca tahu benar tempat itu dan sudah bertahun-tahun mengenal dua putra Nino tua. Ia menjelaskan kesulitannya, dan ketika ia tiba, kedua pria itu sudah menanti dan boleh dibilang menggendongnya masuk. Mereka mengambil alih tongkat, tas, mantel, dan mengantarnya perlahan-lahan ke meja favorit, yang mereka dekatkan ke perapian. Mereka membawakan kopi dan air minum untuknya, lalu menawarkan apa pun yang mungkin dikehendakinya. Saat itu menjelang sore, pengunjung makan siang sudah sepi. Nico serasa hanya menjadi milik Francesca dan muridnya.

Ketika Marco tiba beberapa menit kemudian, dua bersaudara itu menyambutnya seolah ia anggota keluarga. "La professoressa la sta aspettando," salah satunya berkata. Guru sudah menunggu.

Peristiwa di jalan setapak berbatu di San Luca dan pergelangan kaki yang terkilir itu telah mengubah Francesca. Lenyap sudah sikap tak peduli yang dingin itu. Lenyap sudah k^edihan itu, paling tidak untuk sekarang ini. Ia tersenyum ketika melihat Marco, bahkan mengulurkan tangan, meraih tangan Marco, dan menariknya supaya mereka bisa saling mengecup kedua belah pipi, kebiasaan yang sudah diamati Marco selama dua bulan namun belum

pernah melibatkannya. Lagi pula, Francesca kenalan wanita yang pertama di Italia, la memberi isyarat ke arah kursi di depannya. Dua bersaudara tadi datang merubung, mengambil mantelnya, bertanya apakah ia mau minum kopi, bersemangat ingin melihat seperti apa kursus bahasa Italia itu.

"Bagaimana kakimu?" tanya Matco, dan membuat kesalahan dengan berbahasa Inggris. Francesca menyentuhkan jarinya ke bibir, menggeleng, dan berkata, "Non inglese, Marco. Solamente Italiano"

Marco mengerutkan kening dan' berkata, "Aku sudah khawatir."

Kaki Francesca masih sakit sekali. Ia mengompresnya dengan es kalau sedang membaca atau menonton televisi, dan bengkaknya sudah hilang sekatang. Perjalanan ke restotan dilakukannya lambat-lambat, tapi penting baginya untuk betgerak terus. Atas desakan ibunya, ia menggunakan tongkat. Baginya, benda itu betguna sekaligus membuatnya malu.

Kopi dan air putih kembali datang, dan sewaktu dua bersaudara itu yakin betul bahwa segalanya memadai bagi teman tersayang mereka Francesca dan muridnya yang orang Kanada, dengan enggan mereka kembali ke bagian depan restotan.

"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Marco dalam

bahasa Italia.

Sangat baik, sangat lelah. Sudah sebulan ia me-

rawat Giovanni, dan tanda-tanda keletihannya sudah mulai tampak.

Jadi, pikir Marco, sekarang kita sudah boleh membicarakan Giovanni. Bagaimana keadaannya?

Kanker otak yang tak bisa dioperasi, jawab Francesca, dan butuh beberapa pengulangan sampai kalimat itu diterjemahkan dengan tepat. Sudah hampir setahun ia sangat menderita, dan akhirnya sudah dekat. Ia sudah tak sadar lagi. Sayang sekali.

Apa profesinya dulu, apa pekerjaannya?

Ia mengajar sejarah abad pertengahan di universitas selama bertahun-tahun. Mereka bertemu di sana—Francesca mahasiswa, Giovanni profesornya. Pada saat itu, Giovanni masih menikah dengan seorang wanita yang amat tidak disukainya. Mereka mempunyai dua putra. Francesca dan profesornya saling jatuh cinta dan menjalin kisah cinta rahasia yang berlangsung hampir sepuluh tahun sebelum Giovanni menceraikan istrinya dan menikahi Francesca.

Anak? Tidak, sahut Francesca sedih. Giovanni sudah punya dua anak, ia tidak ingin punya anak lagi. Francesca memiliki penyesalan, banyak penyesalan.

Jelaslah bahwa perkawinan itu bukan perkawinan yang bahagia. Tunggu saja sampai kita membahas perkawinanku, batin Marco.

Tak lama mereka sampai ke topik tersebut. "Ceritakan tentang dirimu," kata Francesca. "Bicaralah perlahan-lahan. Aku ingin mendengar aksen yang

sebaik mungkin." "Aku hanya pengusaha dari Kanada," ujar Marco

dalam bahasa Italia. "Tidak, yang sebenarnya. Siapa namamu yang

sebenarnya?" "Tidak." "Apa?"

"Untuk sementara ini, Marco. Aku punya sejarah panjang, Francesca, dan aku tidak bisa membicarakannya." "Baiklah. Kau punya anak?" Ah, ya. Untuk beberapa waktu yang panjang, : Marco membicarakan ketiga anaknya—nama, umur, pekerjaan, tempat tinggal, pasangan, anak-anak mereka. Ia membumbuinya dengan sedikit fiksi untuk memperlancar kisahnya, dan menciptakan keajaiban kecil dengan membuat keluarganya tampak seperti keluatga yang cukup normal. Francesca mendengarkan dengan penuh perhatian, menunggu menyela kesalahan pengucapan atau konjugasi kau kerja yang keliru. Salah satu putra Nino datang membawakan cokelat dan tinggal sebentar untuk berkomentar, diiringi senyum lebar, "Paria molto bene, signore." Anda berbicara dengan sangat baik, Tuan. I

Francesca mulai gelisah setelah satu jam dan Marco menyadari ia mulai merasa tidak nyaman. Akhirnya Marco berhasil meyakinkannya untuk pulang, dan dengan sangat gembira ia mengantar Francesca ke Via Minzoni, tangan kanannya erat menggenggam siku kiri Marco sementara tangan kirinya memegangi tongkat. Mereka berjalan selambat mungkin. Francesca enggan kembali ke apartemennya, kembali berjaga, menunggu ke-matian. Marco ingin berjalan bermil-mil jauhnya, memperpanjang sentuhannya, merasakan tangan seseorang yang membutuhkan dirinya.

Di apartemen Francesca, mereka saling mengecup sebagai ucapan selamat berpisah dan mengatut pertemuan di Nino's besok, jam yang sama, meja yang sama.

Jacy Hubbard melewatkan hampir 25 tahun hidupnya di Washington; seperempat abad penuh perburuan agresif kelas kakap dengan sejumlah besar wanita yang gampang digantikan. Yang terakhir adalah Mae Szun, wanita cantik yang tingginya hampir 180 sentimeter, dengan tubuh sempuma, mata hitam yang mematikan, dan suara parau yang tidak mendapat banyak kesulitan mengajak Jacy keluar dari bar dan naik mobil. Setelah satu jam seks yang kasar, ia menyerahkan

jacy kepada Sammy Tin, yang menghabisinya dan meninggalkan mayatnya di makam kakaknya.

Kalau seks diperlukan untuk menjebak mangsa, Sammy memilih Mae Szun. Wanita itu agen MSS yang hebat, tapi tungkai dan wajahnya menambah dimensi yang sudah terbukti mematikan pada tiga peristiwa. Sammy memanggilnya ke Bologna, bukan untuk merayu tapi untuk menggandeng tangan agen lain dan berpura-pura menjadi pasangan turis yang berbahagia. Tentu saja, rayuan mungkin diperlukan. Terutama dengan Backman. Pria malang itu baru bebas dari enam tahun di penjata, jauh dari wanita.

Mae melihat Marco ketika ia bergerak bersama kerumunan di Strada Maggiore, berjalan menuju arah Via Fondazza. Dengan kegesitan mengagumkan, ia mempercepat langkah, mengeluarkan ponsel, dan berhasil menyusul Marco sambil tetap terlihat seperti turis yang bosan melihat-lihat toko.

Lalu Marco menghilang. Dengan tiba-tiba ia mengambil tikungan ke kiri, berbelok di gang kecil, Via Begatto, dan menuju arah utara, menjauhi Via Fondazza. Sewaktu Mae Szun berbelok, Marco sudah lenyap dari pandangan.

25

Musim semi akhirnya tiba di Bologna G . salju terakhir sudah berlalu. Suhu mencapai sepuluh derajat kemarin, dan ketika Marco melangkah ke luar sebelum fajar, ia sempat berpikir untuk mengganti jaket palkanya dengan jaket yang lain. berjalan beberapa langkah di bawah naungan yang gelap, mencoba merasakan suhu, dan memutuskan saat itu masih cukup dingin untuk mengenakan paria, la akan kembali ke apartemen beberapa jam lagi dan masih bisa ganti jaket kalau mau. Dijejalkannya kedua tangan ke dalam saku, dan ia memulai acara jalan-jalan paginya.

Tak ada hal lain yang menguasai pikirannya selain tulisan di Times itu. Melihat namanya rerpampang di halaman depan menggugah ke" nangan lama yang menyakitkan, dan itu cukup

mengganggu. Namun dituduh menyuap Presiden adalah sesuatu yang berkonsekuensi hukum, dan dalam kehidupannya yang lain, ia akan memulai harinya dengan menembakkan tuntutan hukum pada semua orang yang terlibat. Ia bisa saja memiliki The New York Times.

Namun yang membuatnya tak bisa tidur adalah pertanyaan lajn. Perhatian yang ditujukan padanya itu, apa artinya bagi dirinya sekarang? Apakah Luigi akan menjemputnya dengan paksa dan membawanya kabur lagi?

Dan yang paling penting: Apakah bahaya yang mengancamnya hari ini lebih besar daripada kemarin?

Ia sudah bertahan hidup dengan baik, tersembunyi di kota yang indah tanpa seorang pun mengetahui nama aslinya. Tidak ada yang mengenali wajahnya. Tidak ada yang peduli. Bolognesi sibuk menjalani hidup mereka sendiri tanpa mencampuri I urusan orang lain.

Bahkan ia tidak mengenali dirinya sendiri. Setiap pagi ketika selesai bercukur dan mengenakan kacamata serta topi korduroi cokelatnya, ia berdiri di depan cermin dan menyapa Marco. Hilang sudah pipi tembam dan mata hitam yang sembap, rambutnya yang lebih tebal dan lebih panjang. Hilang sudah cibiran dan kesombongan. Sekarang ia hanyalah lelaki biasa yang pendiam di jalan.

Marco menjalani hidupnya hari demi hari, d^ hari-hari itu semakin banyak. Orang-orang yang membaca tulisan di Times itu tidak tahu di mana Marco berada atau apa yang dilakukannya.

Ia melewati seorang pria bersetelan gelap dan langsung tahu bahwa masalah membayanginya. Setelan jas itu tidak cocok. Asalnya dari tempat lain, dibeli obralan di toko pakaian murah, yang dulu oUlihatnya setiap hari pada kehidupan yang lain. Kemeja putih itu kemeja button-down membosankan yang telah dilihatnya selama tiga puluh tahun di" D.C. Dulu ia pernah mempertimbangkan mengedarkan memo di kantor, yang melarang penggunaan kemeja button-down katun biru-putih, tapi Carl Pratt berhasil membujuknya untuk membatalkan niat.

Ia tidak melihat warna dasinya.

Itu bukan setelan jas yang biasa terlihat di bawah naungan trotoar Via Fondazza sebelum fajar merekah, atau kapan pun. Ia melangkah lagi, melirik ke belakang, dan melihat setelan jas itu tidak mengikutinya. Pria kulit putih, tiga puluh tahun, badan kekar, atletis, pemenang lomba lari atau pertandingan tinju. Jadi Marco menerapkan strategi lain. Tiba-tiba ia berhenti, berbalik, dan bertanya, "Kau butuh sesuatu?"

Orang lain menjawab pertanyaan itu, "Kemari Backman."

Mendengar nama itu, ia seketika bergeming. Sesaat lututnya tetasa seperti karet, bahunya melorot, dan ia meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak bermimpi. Sekejap ia memikirkan segala kengerian yang menyertai kata "Backman". Betapa menyedihkan merasa takut mendengar nama sendiri.

Ada dua orang. Yang menjawab tadi masuk ke adegan dari seberang Via Fondazza. Setelan jasnya kurang-lebih serupa, tapi ia mengenakan kemeja putih tanpa kancing di ketannya. Ia lebih tua, lebih pendek, dan jauh lebih kurus. Mutt and Jeff. Thick 'n' Thin.



0 Response to "THE BROKER 2"

Post a Comment