Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

THE BROKER 1

John Grisham

SANG BROKER Alih bahasa: Siska Yuanita

GM 402 07.014 Desain sampul: Marcel A.W. Hak cipta terjemahan Indonesia: FT Gramedia Pustaka Utama JL Palmerah Barat 33-37, Jakarta 10270

Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Februari 2007

600 him; 18 cm

ISBN-10: 979 - 22 - 2703 - 2 ISBN-13: 978 - 979 - 22 - 2703 - 1

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta

isi di luar tanggung jawab percetakan

Pada jam-jam terakhir masa kepresidenan yang sudah ditakdirkan tak akan menarik perhatian para ahli sejarah, mungkin semenjak William Henry Harrison (hanya 31 hari dari inaugurasi hingga kematiannya), Arthur Morgan meringkuk di Oval Office bersama seorang temannya yang tersisa dan menimbang-nimbang keputusan-keputusan terakhir yang akan dibuatnya. Saat itu ia merasa telah melakukan pengambilan keputusan dengan buruk selama empat tahun terakhir, dan tidak terlalu yakin apakah ia, pada detik-detik terakhir permainan, dapat memulihkan keadaan. Temannya pun tidak terlalu yakin, walaupun, seperti biasa, ia tidak banyak bicara dan apa pun yang dikatakannya adalah apa yang ingin didengar sang Presiden. Keputusan-keputusan itu menyangkut pengam-

punan hukuman—permohonan putus asa dari para pencuri, penggelap uang, dan penipu, beberapa masih berada di penjara dan yang lain belum pernah membayar kejahatannya namun tetap saja ingin nama baik mereka dipulihkan. Mereka semua mengaku sebagai teman, atau temannya teman, atau pendukung setia, sekalipun hanya sedikit yang sempat memproklamasikan dukungannya sebelum saat-saat terakhir itu. Betapa menyedihkan setelah empat tahun penuh gejolak dalam memimpin dunia bebas, semua hanya berakhir dengan tumpukan permohonan mengenaskan dari segerombolan bajingan. Pencuri mana yang sebaiknya diizinkan untuk mencuri lagi? Itulah pertanyaan penting yang dihadapi Presiden sementara jam-jam terus merayap.

Temannya yang tersisa itu adalah Critz, teman saru kelompok persaudaraan dari masa kuliah di Cornell, ketika Morgan memimpin senat mahasiswa dan Critz memenuhi kotak-kotak suara. Selama empat tahun terakhir, Critz telah bertindak selaku sekretaris pers, kepala staf, penasihat keamanan nasional, dan bahkan menteri luar negeri, meskipun penunjukan tersebut hanya bertahan selama tiga bulan dan buru-buru dicabut ketika terbukti gaya diplomatis Critz yang unik nyaris memicu Perang Dunia Ketiga. Penunjukan Critz yang terakhir terjadi bulan Oktober sebelumnya, pada

minggu-minggu terakhir masa pemilihan presiden yang menegangkan. Sewaktu jajak pendapat memperlihatkan peringkat 'Presiden Morgan menyurut drastis setidaknya di empat puluh negara bagian, Critz mengambil alih kampanye dan berhasil mengucilkan negara-negara bagian yang lain, kecuali Alaska, dan itu pun masih terbuka untuk diperdebatkan.

Sungguh pemilihan yang bersejarah; belum pernah terjadi seorang presiden yang masih menjabat mendapat begitu sedikit suara. Tepatnya tiga suara, semua dari Alaska, satu-satunya negara bagian yang belum pernah dikunjungi Morgan, sesuai anjuran Critz. Limaratus tiga puluh lima suara untuk penantang, tiga untuk Presiden Morgan. Istilah tanah longsor belum.cukup untuk menggambarkan kekalahan tersebut.

Begitu dilakukan penghitungan suara, sang penantang, menuruti nasihat yang buruk, memutuskan untuk mempertanyakan penghitungan suara di Alaska. Kenapa tidak sekaligus merebut 538 suara? begitu ia beralasan. Tak akan ada lagi calon presiden yang menyapu bersih angka kemenangan atas lawannya, tanpa memberinya kesempatan untuk merebut satu angka pun. Selama enam minggu, Presiden semakin menderita lagi sementara berbagai tuntutan hukum dilayangkan di Alaska. Ketika Mahkamah Agung akhirnya

menghadiahi Presiden tiga suara kemenangan, ia dan Critz merayakannya diam-diam dengan sebotol sampanye.

Presiden Morgan pun jatuh cinta pada Alaska, walaupun hasil yang disahkan hanya memberinya selisih tujuh belas angka yang tak berarti.

Semestinya ada lebih banyak negara bagian yang dihindarinya.

Ia bahkan tidak menang di Delaware, daerah asalnya, tempat para pemilih yang dulu sempat menerima pencerahan telah mengizinkannya mengabdi selama delapan tahun yang menyenangkan sebagai gubernur. Seperti Morgan tak pernah sempat mengunjungiAlaska, penantangnya pun mengabaikan Delaware sepenuhnya—tidak ada pidato di organisasi mana pun, tidak ada iklan televisi, tak sekali pun dikunjungi pada masa kampanye. Meski demikian, lawannya masih memperoleh 52 suara!

Critz duduk di kursi kulit besar sambil memegang catatan berisi daftar seratus hal yang harus diselesaikan segera. Ia mengamati presidennya bergerak lambat-lambat dari satu jendela ke jendela yang lain, menyipitkan mata ke kegelapan, membayangkan apa yang seharusnya bisa terjadi. Pria itu tertekan dan telah dipermalukan. Pada usia 58 tahun hidupnya telah berakhir, kariernya hancur berantakan, pernikahannya kocar-kacir. Mrs.

Morgan telah kembali ke Wilmington dan terang-terangan menertawakan gagasan tinggal di pondok di Alaska. Diam-diam Critz juga meragukan kemampuan temannya untuk berburu dan memancing sepanjang sisa hidupnya, tapi hidup tiga ribu kilometer jauhnya dari Mrs. Morgan tampak seperti gagasan yang sangat menarik. Mereka mungkin bisa memenangkan Nebraska kalau First Lady yang sok ningrat itu tidak menyebut kelompok futbol mereka sebagai tim "Sooners". The Nebraska Sooners!

Dalam semalam, peringkat Morgan menukik tajam dalam jajak pendapat di Nebraska dan Oklahoma, tanpa bisa dipulihkan kembali.

Dan di Texas, First Lady menyuap hidangan chili yang memenangkan penghargaan dan langsung muntah-muntah. Sewaktu ia dilarikan ke rumah sakit, mikrofon menangkap kata-katanya yang terkenal: "Bagaimana orang-orang terbelakang seperti kalian ini bisa makan sampah bau itu?"

Di Nebraska, mereka mendapatkan lima suara. Texas 34 suara. Menghina tim futbol setempat adalah kesalahan yang sanggup mereka lampaui. Namun penghinaan terhadap chili Texas benar-benar tak bisa ditandingi kandidat mana pun.

Kampanye yang luar biasa! Critz tergoda untuk menulis buku. Harus ada orang yang mendokumentasikan bencana itu.

Kemitraan mereka yang telah berlangsung selama hampir empat puluh tahun pun berakhir. Critz telah mendapatkan pekerjaan bersama kontraktor pertahanan dengan upah 200.000 dolar per tahun, dan ia akan memasuki arena seminar dengan honor 50.000 dolar per ceramah, kalau ada orang yang cukup kepepet sehingga mau membayarnya. Setelah melewatkan hidupnya dengan mengabdi negara, ia sekarang nyaris bangkrut, menua dengan cepat, dan tak sabar untuk segera menangguk uang.

Presiden telah menjual rumahnya yang indah di Georgetown dan mendapatkan keuntungan besar. Ia membeli rumah peternakan kecil di Alaska, dengan penduduk yang tampaknya memujanya. Ia merencanakan menghabiskan sisa hari-harinya di sana, berburu, memancing, mungkin menulis memoar. Apa pun yang dilakukannya di Alaska, tak akan ada hubungannya dengan politik dan Washington. Ia tidak akan menjadi ahli politik ternama, tidak akan menjadi tokoh yang dituakan dalam pesta-pesta, tidak akan -menjadi empu bijak yang berpengalaman. Tidak akan ada tur perpisahan, pidato-pidato, kursi kehormatan dalam bidang ilmu politik. Tidak ada perpustakaan kepresidenan. Rakyat telah berbicara dengan suara jelas dan keras. Mereka tidak menginginkan Presiden Morgan, maka Presiden Morgan pun tak bisa tinggal bersama mereka.

"Kita perlu mengambil keputusan menyangkut Cuccinello," ujar Critz.

Presiden masih berdiri di dekat jendela, tak memandang apa pun dalam kegelapan, masih merenungkan Delaware. "Siapa?"

"Figgy Cuccinello, sutradara film yang divonis atas tuduhan melakukan hubungan seks dengan bintang yang masih muda."

"Semuda apa?"

"Lima belas tahun, kurasa."

"Cukup muda."

"Memang. Ia kabur ke Argentina, tempatnya bersarang selama sepuluh tahun terakhir. Sekarang ia rindu kampung halaman, ingin pulang dan mulai membuat film-film jelek lagi. Ia bilang, seni telah memanggilnya kembali."

"Mungkin perempuan-perempuan muda telah memanggilnya pulang."

"Itu juga."

"Kalau usianya tujuh belas tahun, aku tidak keberatan. Lima belas terlalu muda."

"Penawarannya sampai lima juta."

Presiden berpaling dan menatap Critz. "Ia menawarkan lima juta dolar untuk pengampunan?"

"Ya, dan ia perlu bergerak cepat. Uangnya harus ditransfer keluar dari Swiss. Sekarang pukul tiga dini hari di sana."

"Uang itu akan mendarat di mana?"

"Kita punya rekening-rekening di luar negeri. Tidak sulit."

"Apa yang akan dilakukan pihak media?"

"Pasti mengerikan."

"Memang selalu mengerikan."

"Kali ini akan amat sangat mengerikan."

"Sebenarnya aku tak terlalu peduli pada media," kata Morgan.

Kalau begitu, mengapa kau tanya? Critz ingin mendamprat begitu.

"Uangnya bisa dilacak?" tanya Presiden dan kembali menghadap ke jendela.

"Tidak"

Dengan tangan kanan, Presiden mulai menggaruk tengkuknya, kebiasaan yang selalu ia lakukan bila sedang bergumul dengan keputusan sulit. Sepuluh menit sebelumnya ia hampir meluncurkan nuklir ke Korea Utara, dan ia menggaruk-garuk tengkuk sampai kulitnya lecet dan darah mengalir ke kerah kemejanya yang putih. "Jawabannya tidak," kata Presiden. "Lima belas tahun terlalu muda."

Tanpa bunyi ketukan, pintu tiba-tiba terbuka dan Artie Morgan, putra presiden, menyelonong masuk sambil membawa kaleng Heineken di sebelah tangan dan beberapa lembar kertas di tangan yang lain, "Baru saja bicara dengan CIA," ujarnya ringan. Ia mengenakan jins pudar dan tanpa kaus kaki. "Maynard sedang dalam perjalanan kemari."

Ia melempar berkas-berkas tersebut di meja dan meninggalkan ruangan, membanting pintu di belakangnya.

Artie pasti mau menerima lima juta dolar itu tanpa pikir panjang, batin Critz, tak peduli berapa pun umur si gadis. Lima belas tahun jelas tidak terlalu muda bagi Artie. Mereka mungkin bisa memenangkan Kansas kalau saja Artie tidak ke-pergok sedang berada di kamar motel bersama tiga cheerleader, yang paling tua berusia tujuh belas tahun. Jaksa penuntut utama akhirnya membatalkan tuduhan—dua hari menjelang pemilihan—sesudah ketiga gadis itu menandatangani affidavit yang menyatakan mereka tidak berhubungan seks dengan Artie. Sebenarnya mereka hampir melakukannya, hanya beberapa detik sebelum melakukan hal-hal tidak senonoh, ketika ibu salah seorang dari mereka mengetuk pintu kamar motel dan mencegah terjadinya orgy.

Presiden duduk di kursi goyang kulit dan pura-pura sibuk dengan kertas-kertas yang tak berguna. "Apa kabar terbaru menyangkut Backman?" ia bertanya.

Selama delapan belas tahun pengabdiannya sebagai direktur CIA, Teddy Maynard tak sampai sepuluh kali. menginjakkan kaki di White House. Tidak

juga untuk menghadiri undangan makan malam (ia selalu menolak dengan alasan kesehatan), dan tak pernah sekali pun datang untuk menyapa tokoh jagoan dari luar negeri (alasannya hanya karena ia tidak peduli). Sewaktu masih bisa berjalan, sesekali ia mampir untuk berbicara dengan siapa pun yang kebetulan menjabat sebagai presiden, dan barangkali satu-dua orang pengambil keputusan. Sekarang, sejak ia terpaksa terikat di kursi roda, pembicaraannya dengan White House hanya melalui telepon. Dua kali, wakil presiden diantar ke Langley untuk bertemu Mr. Maynard.

Satu-satunya keuntungan menggunakan kursi roda adalah hal itu memberinya alasan untuk pergi atau tinggal atau melakukan apa pun yang diingin-i kannya. Tidak ada orang yang ingin mendorong i pria tua cacat ke mana-mana.

Setelah hampir lima puluh tahun menjadi mata-mata, ia sekarang mendapatkan kemewahan menatap langsung ke belakang punggungnya ke mana I pun ia pergi, tak seperti mata-mata. Ia bepergian menggunakan mobil van putih tak bertanda—kaca j antipeluru, bodi timah, dua pengawal bersenjata berat. di belakang sopir yang juga bersenjata berat—dengan kursi rodanya dipantek ke lantai kabin belakang mobil dan menghadap ke belakang, supaya Teddy bisa mengamati lalu lintas yang tak bisa melihatnya. Dua van lain mengikuti .dari

kejauhan, dan upaya bodoh apa pun untuk mendekati Direktur akan dimatikan seketika itu juga. Kesempatan itu tak boleh terjadi. Hampir seluruh dunia mengira Teddy Maynard sudah mati atau tidak melakukan-apa-apa pada hari-hari terakhirnya di rumah perawatan tempat mata-mata yang sudah uzur dikirim untuk menyambut ajal.

Teddy memang menghendaki orang berspekulasi begitu.

Tubuhnya terbungkus rapat dalam balutan quilt kelabu tebal, didampingi Hoby, ajudannya yang setia. Sementara van itu meluncur di sepanjang Beltway dengan kecepatan konstan seratus kilometer per jam, Teddy menyesap teh hijau yang dituang dari termos oleh Hoby, dan mengamati mobil-mobil di belakang mereka. Hoby duduk di samping kursi roda, di bangku kulit yang khusus dibuat untuknya.

Setelah menyesap tehnya, Teddy bertanya, "Di mana Backman sekarang?"

"Di selnya," sahut Hoby.

"Dan orang-orang kita sudah bersama kepala penjara?"

"Mereka sedang berada di kantornya, menunggu-"

Satu tegukan lagi dari cangkir kertas, yang dipegang hati-hati menggunakan dua tangan. Tangan-tangan itu rapuh, dengan pembuluh darah

yang menonjol, warnanya seperti susu rendah lemak, seolah sudah mari dan dengan sabar menunggu anggota-anggota tubuh lainnya menyusul. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkannya dari negara ini?" -

"Sekitar empat jam."

"Dan rencananya sudah matang?"

"Semua sudah siaga. Kita tinggal menunggu lampu hijau."

"Mudah-mudahan si goblok itu bisa memahami maksudku."

Critz dan si goblok sedang memandangi dinding-dinding Oval Office, keheningan yang pekat sesekali dipecahkan komentar mengenai Joel Backman. Mereka harus bicara tentang sesuatu, karena tak satu pun mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.

Bisakah itu terjadi?

Inikah akhir segalanya?

Empat puluh tahun. Dari Cornell ke Oval Office. Akhir ini begitu mendadak sehingga mereka tak sempat mempersiapkannya dengan semestinya. Mereka berharap bisa mendapatkan waktu empat tahun lagi. Empat tahun penuh kehormatan sementara mereka merajut warisan dengan hati-hati, lalu berderap dengan gagah menuju matahari terbenam.

Walaupun malam sudah larut, di luar sepertinya bertambah gelap. Jendela-jendela yang menghadap Rose Garden hitam pekat. Detak jarum jam yang dipajang di atas perapian hampir bisa terdengar, tanpa henti menuju penghitungan mundur.

"Bagaimana reaksi media jika aku memberikan pengampunan kepada Backman?" tanya Presiden, bukan untuk pertama kalinya.

"Mengamuk."

"Mungkin asyik juga."

"Kau tidak akan ada di sini untuk menyaksikannya."

"Tidak, memang tidak." Setelah penyerahan kekuasaan pada tengah hari esok, pelariannya dari Washington akan dimulai dengan jet pribadi (rnilik sebuah perusahaan minyak) yang terbang menuju vila seorang teman lama di Pulau Barbados. Atas instruksi Morgan, semua televisi diangkut keluar dari vila, tak ada surat kabar maupun majalah yang dikirim ke sana, dan semua telepon dicabut dari colokannya. Ia tidak akan mengadakan kontak dengan siapa pun, bahkan dengan Critz, dan terutama tidak dengan Mrs. Morgan, selama paling sedikit satu bulan. Ia tidak akan ambil pusing bahkan jika Washington terbakar habis. Bahkan, dalam hati ia berharap begitu.

Setelah dari Barbados, ia akan pindah diam-diam ke kabinnya di Alaska, di sana ia akan terus meng-

abaikan dunia sementara musim dingin berlangsung dan ia menunggu datangnya musim semi.

"Apakah sebaiknya kita memberikan pengampunan padanya?" tanya Presiden.

"Mungkin," jawab Critz.

Presiden telah mengucapkan kata "kita", yang kadang-kadang digunakannya kalau hendak mengambil keputusan yang tak menyenangkan. Untuk keputusan-keputusan yang mudah, ia selalu menggunakan kata "aku". Bila membutuhkan dukungan, dan terutama jika membutuhkan orang yang bisa disalahkan, ia akan membuka proses pengambilan keputusan dan melibatkan Critz.

ICritz telah mengambil alih kesalahan-kesalahan selama empat puluh tahun. Walaupun sudah terbiasa, .tetap saja ia bosan. Katanya, "Besar kemungkinan kita tidak akan sampai di sini kalau bukan karena Joel Backman."

"Kau mungkin benar soal itu," ujar Presiden. Ia selalu berkata ia terpilih karena kampanyenya yang brilian, kepribadiannya yang berkarisma, ketajamannya dalam memahami masalah, dan visinya yang jelas terhadap Amerika. Mengejutkan juga mendengar ia akhirnya mengakui bahwa ia berutang sepenuhnya pada Joel Backman.

Namun Critz terlalu kebas, dan terlalu capek, untuk terkejut. Enam tahun yang lalu, skandal Backman me-

landa hampir seluruh Washington dan akhirnya menodai White House. Ada awan yang muncul menaungi presiden yang populer, memberikan jalan kepada Arthur Morgan untuk terseok-seok menuju White House.

Sekarang ia terseok-seok keluar, dan senang membayangkan dapat memberikan satu tamparan tak beralasan kepada otoritas Washington yang telah mengucilkannya selama empat tahun. Pengampunan terhadap Joel Backman akan menggetarkan dinding-dinding semua bangunan di D.C. dan mengguncang pers untuk memulai kegilaan yang riuh rendah. Morgan menyukai gagasan tersebut. Sementara ia bermandi matahari di Barbados, kota ini akan mandek sekali lagi ketika para anggota Kongres menuntut diadakannya sidang dengar pendapat, para jaksa penuntut beraksi di depan kamera, dan kepala-kepala yang banyak omong mengoceh tanpa henti di siaran-siaran berita TV

Presiden tersenyum ke arah kegelapan.

Di Jembatan Arlington Memorial, di atas Sungai Potomac, Hoby mengisi kembali cangkir kertas Direktur dengan teh hijau. "Terima kasih," kata Teddy pelan. "Apa yang akan dilakukan orang itu sesudah meninggalkan kantornya besok?" ia bertanya. "Kabur dari negara ini."

"Seharusnya sejak dulu ia pergi."

"Ia berencana melewatkan satu bulan di Karibia, memulihkan luka-lukanya, mengabaikan seluruh dunia, merajuk, menunggu ada orang yang memperlihatkan minat terhadapnya."

"Dan Mrs. Morgan?"

"Ia sudah pulang ke Delaware bermain bridge."

"Mereka akan berpisah?"

"Kalau Presiden pintar. Tapi siapa tahu?"

Teddy menghirup tehnya dengan hati-hati. "Jadi bagaimana kalau Morgan menolak?"

"Menurutku ia tidak akan menolak. Pembicaraan-pembicaraan awal berlangsung lancar. Critz sepertinya setuju. Ia sekarang lebih sensitif daripada Morgan. Critz tahu mereka tidak akan pernah melihat Oval Qffice jika bukan karena skandal Backman."

"Seperti yang kukatakan tadi, bagaimana kalau ia menolak?"

"Tidak akan ada apa-apa. Ia memang tolol, tapi bersih."

Mereka berbelok dari Constitution Avenue ke arah 18th Street dan tak lama kemudian memasuki gerbang timur White House. Pria-pria bersenapan mesin muncul riba-riba dari kegelapan, lalu agen-agen Secret Service yang mengenakan mantel hitam menghentikan van tersebut. Kata-kata sandi disebutkan, radio-radio berkaok-kaok, dan dalam

beberapa menit Teddy diturunkan dari van. Di dalam, pemindaian formalitas atas kursi roda tak menghasilkan apa pun kecuali pria cacat yang terbungkus rapat dalam selimut.

Artie, kali ini tanpa kaleng Heineken dan juga tanpa mengetuk pintu, melongokkan kepala di pintu dan mengumumkan, "Maynard datang." "Jadi dia masih hidup," komentar Presiden. "Nyaris tidak lagi." "Gelindingkan dia masuk." Hoby dan agen bernama Priddy mengikuti kursi roda itu memasuki Oval Office. Presiden dan Critz menyambut tamu-tamu mereka dan menggiring mereka ke area duduk di depan perapian. Walaupun Maynard berupaya keras menghindari White House, Priddy nyaris bisa dibilang tinggal di sana, memberikan taklimat pada Presiden setiap pagi mengenai masalah-masalah intelijen.

Sementara mereka menempatkan diri, Teddy melayangkan pandangan ke sekeliling ruangan, seolah mencari alat penyadap. Ia hampir yakin tak ada alat semacam itu; praktik tersebut dihentikan setelah skandal Watergate. Nixon menempatkan begitu banyak kabel di White House sehingga dapat menerangi sebuah kota kecil, namun, tentu saja, ia telah membayar akibatnya. Tapi Teddy sen-

diri menggunakan alat penyadap. Tersembunyi di atas as kursi rodanya, hanya beberapa sentimeter di bawah tempat duduknya, terdapat alat perekam sensitif yang akan menangkap semua suara di ruangan ini selama tiga puluh menit mendatang.

Ia mencoba tersenyum pada Presiden Morgan, walau sebenarnya ingin mengatakan sesuatu seperti: Tak diragukan lagi, kau adalah politisi dengan wawasan paling sempit yang pernah kukenal. Hanya di Amerika orang tolol seperti kau bisa mencapai kursi puncak.

Presiden Morgan tersenyum pada Teddy Maynard, padahal ia ingin mengucapkan sesuatu seperti: Seharusnya aku memecatmu empat tahun yang lalu. Lembagamu itu tak henti-hentinya menjadi sumber Faib negara ini.

Teddy: Aku terkejut kau bisa memenangkan satu negara bagian, meski hanya dengan tujuh belas suara

Morgan: Kau tidak akan bisa menemukan satu teroris pun, bahkan jika ia mengiklankan dirinya di papan reklame.

Teddy: Selamat memancing. Ikan trout yang i kaudapatkan bahkan akan lebih sedikit daripada jumlah suara yang katiraih.

Morgan: Mengapa kau tidak mati saja, seperti yang dijanjikan semua orang padaku?

Teddy: Presiden datang dan pergi, tapi aku tak pernah pergi.

Morgan: Critz-lah yang ingin mempertahankan-mu. Berterima kasihlah padanya atas pekerjaanmu itu. Aku sudah gatal ingin mendepakmu dua ming-gu setelah inaugurasi.

Critz berkata lantang, "Kopi, Saudara-saudara?"

Teddy berkata, "Tidak," dan sesudah hal itu ditegaskan, Hoby dan Priddy pun menolak. Karena CIA tidak mau minum kopi, Presiden Morgan berkata, "Ya, tanpa susu, dengan dua gula." Critz mengangguk ke arah sekretaris yang sedang menunggu di pintu samping yang terkuak.

Ia berbalik menghadapi kelompok itu dan berujar, "Kita tidak punya banyak waktu."

Dengan cepat Teddy berkata, "Aku datang untuk membicarakan Joel Backman."

'Ya, untuk itulah Anda datang kemari," kata Presiden.

"Seperti yang Anda semua ketahui," lanjut Teddy tanpa menghiraukan Presiden, "Mr. Backman masuk ke penjara tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia masih menyimpan rahasia yang, sejujurnya, dapat membahayakan keselamatan nasional."

"Anda tidak bisa membunuhnya," sembur Critz.

"Kami tidak bisa mengincar warga negara Amerika, Mr. Critz. Itu melanggar hukum. Kami lebih suka jika orang lain yang melakukannya."

"Aku tidak mengerti," kata Presiden.

"Begini rencananya. Kalau Anda memberikan pengampunan pada Mr. Backman, dan kalau ia menerima pengampunan itu, kami akan membawanya keluar dari negeri ini dalam beberapa jam. la harus setuju untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam persembunyian. Hal ini tidak akan jadi masalah karena ada beberapa pihak yang ingin memastikan ia mati, dan ia mengetahuinya. Kami akan merelokasinya ke luar negeri, mungkin di Eropa, di sana ia akan lebih mudah diawasi. Ia akan mendapat identitas baru. Ia akan menjadi manusia bebas, dan seiring waktu orang akan me-. lupakan Joel Backman." 1. "Tapi bukan itu akhir kisahnya," sela Critz. "Bukan. Kami akan menunggu, mungkin sekitar satu tahun, lalu akan kami bocorkan informasi itu di tempat-tempat yang tepat. Mereka akan menemukan Mr. Backman, lalu membunuhnya, dan sesudah itu, banyak pertanyaan kita akan terjawab dengan sendirinya."

Suasana hening cukup lama sementara Teddy menatap Critz, lalu Presiden. Sesudah ia yakin mereka benar-benar bingung, ia melanjutkan, "Ini rencana yang sangat sederhana, gentlemen. Kita akan tahu pihak mana yang membunuhnya." "Jadi kalian akan mengawasinya?" tanya Critz. "Dengan saksama."

"Siapa saja yang mengejarnya?" tanya Presiden.

Teddy melepaskan kedua tangannya yang terjalin dan sedikit mengernyit, lalu menatap lurus-lurus seperti guru yang berbicara kepada murid kelas tiga. "Barangkali Rusia, atau Cina, mungkin juga Israel. Ada pihak-pihak lain juga."

Tentu saja ada pihak-pihak lain, tapi tak seorang pun berharap Teddy akan mengungkapkan semua yang ia ketahui. Ia tak pernah melakukannya; dan tidak akasi pernah, tak peduli siapa presiden yang berkuasa dan berapa lama lagi orang itu akan berada di Oval Office. Orang-orang itu datang dan pergi, beberapa bertahan selama empat tahun, yang lain delapan tahun. Sebagian menyukai spionase, sebagian lagi hanya peduli pada jajak pendapat terakhir. Morgan tidak menguasai masalah-masalah luar negeri, dan dengan pemerintahannya yang tinggal beberapa jam lagi, Teddy tentu saja tidak akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada yang diperlukan untuk mendapatkan pengampunan tersebut.

"Mengapa Backman harus menerima kesepakatan itu?" tanya Critz.

"Tidak tertutup kemungkinan ia akan menolak," sahut Teddy. "Tapi sudah enam tahun ia mendekam di sel soliter. Itu berarti dua puluh tiga jam sehari terkurung di dalam sel yang amat sempit. Sam jam mendapat sinar matahari. Mandi tiga kali seminggu. Makanannya buruk—mereka bilang be-

rat badannya turun sekitar tiga puluh kilogram Kudengar kondisinya' tidak begitu bagus."

Dua bulan yang lalu, setelah kejadian tanah longsor itu, ketika Teddy Maynard memunculkan skenario pengampunan ini, ia telah menggerakkan banyak kontaknya dan pengucilan Backman menjadi semakin parah. Temperatur selnya diturunkan dan selama sebulan terakhir ia menderita batuk yang parah- Makanannya yang selama ini hambar, diproses dengan blender sekali lagi sehingga lebih cair, dan dihidangkan dingin. Pengguyur toiletnya sering kali tidak berfungsi. Para penjaga membangunkannya berkali-kali pada waktu malam. Jatah teleponnya dikurangi. Perpustakaan hukum yang ia gunakan dua kali seminggu tiba-tiba menjadi area terlarang. Backman, sebagai ahli hukum, mengetahui hak-haknya, dan ia melancarkan berbagai ancaman litigasi terhadap penjara dan pemerintah, namun hingga sekarang belum mengajukan gugatan. Perlawanan itu membuatnya lelah. Ia sudah menuntut diberi pil-pil tidur dan Prozac.

"Anda ingin aku mengampuni Joel Backman supaya kalian bisa mengatur agar ia dibunuh?" tanya Presiden.

"Ya," sahut Teddy terus terang. "Tapi bukan kami yang mengaturnya."

"Tapi tetap saja itu akan terjadi." "Ya."

natiannya akan menguntungkan ke-

nnal?"

onal? aya demikian."

2

Sayap isolasi di Lembaga Pemasyarakatan Federal Rudley memiliki empat puluh sel yang identik, masing-masing luasnya tak lebih dari 1,5 meter persegi, tanpa jendela, tanpa terali besi, lantainya beton yang dicat hijau dengan dinding dari blok batu bara, dan pintunya terbuat dari logam pejal yang memiliki lubang tipis di bagian bawah untuk menyusupkan nampan makanan dan lubang pengintip kecil untuk para penjaga. Sayap itu dihuni para informan pemerintah, informan pedagang obat terlarang, bajingan Mafia, beberapa mata-mata^—orang-orang yang perlu dikunci rapat-rapat karena banyak orang di kampung halaman yang ingin menggorok leher mereka. Sebagian besar dari empat puluh tahanan dalam tempat terlindung itu memang meminta ditempatkan di sayap isolasi.

Joel Backman sedang berusaha tidur ketika dua penjaga membuka pintunya dengan bunyi berdentang keras dan menyalakan lampu. "Kepala Penjara ingin bertemu denganmu," kata salah seorang di antaranya, tanpa penjelasan lebih lanjut. Dalam diam mereka mengendarai van penjara menyeberangi padang rumput Oklahoma yang dingin menggigit, melewati bangunan-bangunan lain yang dihuni kaum kriminal yang tak membutuhkan pengamanan terlalu ketat, sampai mereka tiba di gedung administrasi. Backman, yang diborgol tanpa alasan jelas, digiring masuk dengan cepat, menaiki dua baris tangga, lalu menyusuri lorong panjang menuju kantor besar dengan lampu-lampu menyala, yang jelas sedang disibukkan suatu hal penting. Ia melirik jam di dinding; sudah hampir pukul sebelas malam.

Joel Backman belum pernah bertemu Kepala Penjara, dan hal itu bukan tidak biasa. Untuk alasan-alasan yang bagus, Kepala Penjara tidak mondar-mandir. Ia tidak perlu berkampanye untuk menduduki jabatan tertentu, juga tidak perlu memotivasi pasukannya. Selain Kepala Penjara, di sana terdapat tiga pria lain yang mengenakan jas, orang-orang yang tampak serius dan sudah bercakap-cakap selama beberapa waktu. Walaupun merokok dilarang keras di gedung perkantoran milik pemerintah AS, tampak sebuah asbak penuh

29

abu dan asap tebal menggantung di dekat langit-langit.

Tanpa perkenalan sama sekali, Kepala Penjara I berkata, "Duduklah di sana, Mr. Backman."

"Senang bertemu dengan kalian," kata Backman sambil menatap orang-orang lain yang berada di ruangan. "Mengapa aku ada di sini?" "Kita akan membicarakannya." "Bisakah borgol ini dibuka? Aku berjanji tidak akan membunuh siapa pun." Kepala Penjara memberi isyarat singkat kepada i penjaga terdekat, yang dengan cepat mengeluarkan kunci dan membebaskan tangan Backman. Penjaga itu lalu bergegas keluar dari ruangan, membanting pintu, membuat tidak senang sang kepala penjara yang penggugup.

Kepala Penjara menuding dan berkata, "Ini Agen Khusus Adair dari FBI. Ini Mr. Knabe dari Departemen Kehakiman. Dan ini Mr. Sizemore, juga dari Washington."

Dari ketiga orang itu, tak satu pun bergerak mendekati Mr. Backman, yang masih berdiri dan tampak kebingungan. Ia mengangguk saja pada mereka, dalam upaya setengah hati untuk bersikap sopan. Upayanya tidak berbalas.

"Silakan duduk," kata Kepala Penjara, dan Backman akhirnya duduk. "Terima kasih. Seperti yang Anda ketahui, Mr. Backman, presiden yang

baru akan segera disumpah. Presiden Morgan akan segera keluar. Sekarang ini beliau berada di Oval Office, bergumul dengan keputusan apakah akan memberikan pengampunan penuh kepada Anda."

Tiba-tiba Backman didera batuk-batuk hebat, sebagian akibat temperatur mendekati titik beku di selnya, dan sebagian lagi karena kekagetan mendengar kata "pengampunan".

Mr. Knabe dari Kehakiman mengangsurkan sebotol ain padanya, yang ditenggaknya dan diciprat-kannya ke dagu, dan akhirnya ia berhasil menahan batuk-batuknya. "Pengampunan?" gumamnya.

"Pengampunan penuh, dengan beberapa persyaratan."

"Tapi kenapa?"

"Aku tidak- tahu sebabnya, Mr. Backman, dan bukan urusanku untuk memahami apa yang sedang terjadi. Aku hanya menyampaikan pesan."

Mr. Sizemore, yang hanya diperkenalkan "dari Washington", tanpa jabatan maupun afiliasi, berkata, "Ini kesepakatan, Mr. Backman. Sebagai ganti pengampunan penuh, Anda harus meninggalkan negara ini, tanpa pernah kembali, dan hidup dengan identitas baru di tempat orang tak bisa menemukan Anda."

Tidak ada masalah dengan itu, pikir Backman. Ia memang tidak ingin ditemukan.

"Tapi kenapa?" ia bergumam lagi. Botol air di tangan kirinya tampak gemetar.

Sementara Mr. Sizemore dari Washington memerhatikan botol itu bergetar, ia mengamati Joel Backman dengan saksama, dari rambut kelabunya yang dipotong cepak hingga sepatu lari yang dibeli dari toko satu-harga, dengan kaus kaki hitam penjara, dan mau tak mau teringat gambaran orang ini di kehidupan sebelumnya. Gambar di suatu sampul majalah terbayang di benaknya. Foto keren Joel Backman dalam setelan hitam buatan Italia, dengan potongan dan dandanan tanpa cela, menatap kamera dengan sikap puas diri sebesar yang bisa dikerahkan manusia. Rambutnya lebih panjang dan lebih gelap, wajahnya yang tampan lebih berisi dan tanpa kerut, pinggangnya cukup tebal dan membuktikan frekuensi makan siangnya dengan banyak orang penting dan makan malam yang berlangsung selama empat jam. Ia menyukai anggur, wanita, dan mobil sport. Ia memiliki jet, kapal yacht, rumah di Vail, dan semua itu ia umbar tanpa ragu-ragu. Tulisan besar di atas kepalanya menyatakan: SANG BROKER—INIKAH ORANG PALING BERKUASA NOMOR DUA DI WASHINGTON?

Majalah tersebut tersimpan di dalam tas kerja Mr. Sizemore, bersama arsip tebal mengenai Joel Backman. Ia mengambilnya di pesawat dalam perjalanan dari Washington ke Tulsa. Menurut artikel majalah tersebut, penghasilan

sang broker saat itu dilaporkan lebih dari sepuluh juta dolar per tahun, walaupun ia agak malu-malu mengaku pada wartawan yang mewawancarainya. Biro hukum yang didirikannya mempekerjakan dua ratus pengacara, kecil menurut standar Washington, namun tak diragukan lagi yang paling berpengaruh dalam percaturan politik. Biro hukum itu merupakan mesin lobi, bukan tempat pengacara sungguhan mempraktikkan keahlian mereka. Lebih mirip rumah bordil untuk perusahaan-perusahaan kaya dan pemerintah-pemerintah luar negeri.

Oh, yang mahakuasa telah jatuh, batin Mr. Sizemore sambil mengamati botol yang bergetar.

"Aku tidak mengerti," Backman berhasil mengeluarkan bisikan.

"Dan kami tak punya waktu untuk menjelaskan," ujar Mr. Sizemore. "Ini kesepakatan cepat, Mr. Backman. Sayangnya Anda tidak punya waktu untuk memikirkannya. Kami perlu keputusan cepat. Ya atau tidak. Anda ingin tetap tinggal di sini, atau Anda ingin hidup dengan nama lain di ujung dunia?"

"Di mana?" »

"Kami tidak tahu di mana, tapi nanti kami pikirkan."

"Apakah aku akan aman?" "Hanya Anda yang dapat menjawab pertanyaan itu, Mr. Backman."

Sementara Mr. Backman memikirkan pertanyaan-pertanyaannya sendiri, tangannya bergetar semakin hebat.

"Kapan aku bisa pergi?" ia bertanya lirih. Suaranya agak kuat sekarang ini, tapi serangan batuk hebat akan selalu menanti.

"Segera," sahut Mr. Sizemore, yang telah mengambil alih pertemuan ini dan merendahkan Kepala Penjara, orang FBI, serta orang Departemen Kehakiman itu dengan menjadikan mereka sekadar penonton. "Maksudmu, sekarang juga?" "Anda tidak akan kembali ke sel Anda." "Oh, sial," umpat Backman, dan yang lain-lain mau tak mau tersenyum.

"Ada penjaga yang menunggu di sel Anda," kata Kepala Penjara "Ia akan membawakan apa pun yang Anda inginkan."

"Selalu ada penjaga yang menunggu di selku," tukas Backman pada Kepala Penjara. "Kalau itu si sadis bernama Sloan, suruh dia mengambil pisau cukurku dan mengiris pergelangan tangannya sendiri"

f Semua orang menelan ludah dan menunggu kata-kata tersembur dari lubang panas itu. Mereka menyela udara yang berpolusi pekat dan menyibukkan diri selama beberapa saat.

Mr. Sizemore berdeham, mengalihkan berat tubuhnya dari pantat kanan ke pantat kiri, dan

berkata, "Ada beberapa orang yang sedang menunggu di Oval Office, Mr. Backman. Apakah Anda menerima penawaran ini?"

"Presiden sedang menunggu keputusanku?"

"Anda bisa bilang begitu."

"Ia berutang budi padaku. Aku yang menempatkannya di sana."

"Ini bukan saat yang tepat untuk memperdebatkan masalah\ itu, Mr. Backman," ujar Mr. Sizemore tenang.

"Apakah ia bermaksud membalas budi?" "Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Presiden." "Kau berasumsi ia punya kemampuan berpikir." "Aku akan menelepon mereka dan memberitahu bahwa Anda menolak." "Tunggu."

Backman mengosongkan botol air dan meminta satu lagi. Disekanya mulutnya dengan lengan baju, lalu ia berkata, "Apakah ini seperti program perlindungan saksi, semacam itu?"

"Bukan program resmi, Mr. Backman. Tapi, dari waktu ke waktu, kami memang perlu menyembunyikan orang."

"Sesering apa kalian kehilangan orang-orang itu?"

"Tidak terlalu sering."

"Tidak terlalu sering? Jadi tidak ada jaminan aku akan aman."

"Tidak ada yang bisa menjamin apa pun. Tapi pertaruhan Anda cukup baik."

Backman menatap Kepala Penjara dan berkata, "Berapa lama lagi masa tahananku di sini, Lester?"

Lester ditarik kembali ke dalam percakapan. Tidak ada yang memanggilnya Lester, ia benci nama itu dan menghindari nama itu disebut. Papan nama yang terpampang di mejanya menyatakan ia bernama L Howard Cass. "Empat belas tahun, dan kau bisa memanggilku Kepala Penjara Cass."

"Cass gundulmu. Kemungkinan besar aku akan mati dalam tiga tahun. Kombinasi kekurangan nutrisi, hipotermia, dan perawatan kesehatan yang buruk akan membunuhku. Lester ini agak keras juga, boys!"

"Dapatkah kita. melanjutkan pembicaraan?" ujar Mr. Sizemore.

"Tentu saja aku mau menerima kesepakatan ini," I kata Backman. "Orang goblok juga pasti mau."

Mr. Knabe dari Kehakiman akhirnya beringsut. Ia membuka tas kerjanya dan berkata, "Ini dokumen-dokumennya."

"Kau bekerja untuk siapa?" tanya Backman pada Mr. Sizemore. "Presiden Amerika Serikat." "Well, bilang padanya aku tidak memilih dia J karena aku dipenjara. Tapi aku pasti akan melaku-

kannya, kalau punya kesempatan. Dan sampaikan terima kasihku padanya, pke?" "Tentu."

Hoby menuangkan secangkir teh hijau lagi, kali ini tidak mengandung kafein, karena sudah hampir tengah malam. Ia mengangsurkannya pada Teddy, yang terbungkus selimut dan memandangi lalu lintas di belakang mereka. Mereka berada di Constitution Avenue, meninggalkan pusat kota, hampir sampai di Roosevelt Bridge. Laki-laki tua itu menghirupnya, lalu berkata, "Morgan terlalu goblok untuk menjual pengampunan hukuman. Tapi Critz membuatku khawatir."

"Ada rekening baru di Pulau Nevis," kata Hoby. "Muncul dua minggu yang lalu, dibuka oleh perusahaan tak jelas yang dimiliki Floyd Dunlap." "Siapa dia?"

"Salah seorang penggalang dana Morgan." "Kenapa di Nevis?"

"Tempat panas paling baru untuk aktivitas luar

negeri."

"Dan kita sudah menguasainya?"

"Seluruhnya. Transfer apa pun yang berlangsung selama empat puluh delapan jam ke depan."

Teddy mengangguk kecil dan menoleh sedikit ke kiri untuk melihat Kennedy Center. "Di mana

"Sedang meninggalkan penjara."

Teddy tersenyum dan menyesap tehnya. Mereka melewati jembatan dalam keheningan, dan sewaktu Potomac sudah di belakang mereka, ia akhirnya berkata, "Siapa yang akan menghabisi dia?"

"Apakah itu penting?"

"Tidak, tidak penting. Tapi asyik juga bisa menikmati kontes ini."

Joel Backman mengenakan seragam militer warna khaki yang sudah lawas namun dikanji hingga kaku dan disetrika rapi, semua emblem dan tanda dilepas, juga sepasang bot tempur hitam mengilap dan jaket parka biru tua dengan tudung yang dikenakannya rapat-rapat di sekeliling kepalanya. Ia berjalan penuh percaya diri keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Federal Rudley, lima menit selewat tengah malam, empat belas tahun lebih cepat daripada yang seharusnya. Ia telah berada di sana, di penjara isolasi, selama enam tahun, dan ketika meninggalkannya ia hanya membawa tas kanvas kecil berisi beberapa buku dan foto. Ia tidak menoleh ke belakang.

Usianya 52 tahun, ia sudah bercerai, bangkrut, dijauhi dua dari tiga anaknya, dan sama sekali terlupakan oleh semua teman lamanya. Tak seorang pun mau repot-repot berkorespondensi dengannya

sesudah satu tahun ia dikurung. Pacarnya, salah satu dari banyak sekretaris yang diuber-ubernya keliling kantornya yang mewah, terus menulis surat selama sepuluh bulan, sampai ada laporan di The Washington Post di mana FBI menyatakan bahwa Joel Backman tidak mungkin menjarah perusahaannya dan menggelapkan jutaan dolar dari para kliennya, seperti yang digosipkan semula. Siapa yang mau menjadi sahabat pena pengacara bangkrut yang meringkuk di penjara? Kalau pengacara itu kaya, mungkin saja.

Ibunya menulis surat sesekali, tapi usianya sudah 91 tahun dan ia tinggal di rumah perawatan jompo murah di dekat Oakland, dan dalam setiap suratnya Backman mendapat kesan itulah surat terakhir dari ibunya. Backman menulis surat untuk ibunya setiap minggu, tapi meragukan ibunya masih bisa membaca, dan ia hampir yakin tak ada staf yang memiliki waktu atau minat membacakan surat-surat itu untuknya. Ibunya selalu menulis, "Terima kasih untuk suratmu," tapi tak pernah menyinggung-nyinggung apa pun yang ditulis Backman. Ia juga mengirimi ibunya kartu-kartu pada hari-hari istimewa. Dalam salah satu suratnya, ibunya pernah mengaku tidak ada yang ingat hari ulang tahunnya.

Sepatu bot itu sangat berat. Ketika berjalan di trotoar, ia menyadari bahwa hampir selama enam

tahun terakhir ini ia hanya memakai kaus kaki, tanpa sepatu. Aneh benar hal-hal yang kauingat ketika kau mendadak dibebaskan tanpa persiapan. Kapan terakhir kali ia mengenakan bot? Dan berapa lama lagi sebelum ia bisa membuang benda sialan ini?

Ia berhenti sesaat dan mendongak ke langit. Selama satu jam setiap hari, ia diizinkan berjalan-jalan di sepetak kecil halaman rumput di luar sayap penjaranya. Selalu sendirian, selalu diawasi penjaga, | seolah ia, Joel Backman, mantan pengacara yang j tak pernah menembakkan pistol dalam keadaan | marah, bisa saja mendadak berubah berbahaya dan [ melukai seseorang. "Taman" itu dikelilingi pagar f kawat setinggi tiga meter, dan di atasnya dipasang kawat duri setajam silet. Di baliknya terdapat kanal i kering, dan selebihnya hanya ada padang rumput j luas tanpa pepohonan yang membentang sampai I Texas, begitu perkiraannya.

Mr. Sizemore dan Agen Adair mengawalnya. | Mereka menggiringnya menuju mobil SUV warna | hijau tua yang, meskipun tidak bertanda, jelas- t jelas menyatakan "mobil pemerintah". Joel naik | ke kabin belakang, sendiri, dan mulai berdoa. Ia | memejamkan mata rapat-rapat, mengatupkan ra- i hang, dan meminta pada Tuhan agar mesin mobil j segera menyala, roda segera berputar, gerbang segera i terbuka, dokumen-dokumen tak bercela; kumohon,

Tuhan, jangan ada lelucon. Ini bukan mimpi, Tuhan, kumohon!

Dua puluh menit kemudian, Sizemore yang pertama kali membuka mulut. "Omong-omong, Mr. Backman, apakah Anda lapar?"

Mr. Backman sudah selesai berdoa dan mulai menangis. Mobil itu melaju mulus, walaupun ia tidak membuka matanya. Ia berbaring di kursi belakang, mencoba mengendalikan emosinya, dan gagal total.

"Tentu," ia berhasil menjawab. Ia duduk tegak dan melihat ke luar. Mereka berada di jalan bebas hambatan antar negara bagian, papan penunjuk jalan besar berwarna hijau berkelebat cepat—Perry Exit. Mereka berhenti di area parkir restoran pancake, tak sampai empat ratus meter dari jalan raya. Terlihat truk-truk besar di kejauhan, mesin dieselnya bekerja keras. Joel mengamatinya sesaat, dan mendengarkan. Ia mendongak lagi dan melihat bulan separo.

"Apakah kita terburu-buru?" ia bertanya pada Sizemore ketika memasuki restoran.

"Masih dalam jadwal," begitu jawabannya.

Mereka mengambil tempat di meja dekat jendela depan, Joel memandang ke luar. Ia memesan jrench toast dan buah, tidak memesan makanan yang berat karena khawatir sistem pencernaannya sudah terlalu terbiasa dengan makanan cair yang selama ini di-

telannya. Percakapan mereka terasa kaku; kedua pegawai pemerintah itu telah diprogram untuk tidak banyak bicara dan sama sekali tak mampu berbasa-basi. Bukan berarti Joel ingin mendengar apa yang ingin mereka katakan.

Ia berusaha tidak tersenyum. Belakangan Sizemore akan melaporkan bahwa Backman sesekali melirik ke pintu dan sepertinya mengamati pelanggan-pelanggan lain dengan cermat. Ia tidak tampak takut; malah sebaliknya. Sementara menit-menit berlalu dan guncangan itu mereda, kelihatannya ia menyesuaikan diri dengan cepat dan menjadi [bersemangat. Ia melahap dua porsi french toast dan minum empat cangkir kopi.

Beberapa menit lewat dari pukul empat pagi, mereka memasuki gerbang Fort Summit, dekat Brinkley, Texas. Backman dibawa ke rumah sakit pangkalan dan diperiksa dua dokter. Selain flu dan batuk-batuk biasa, serta tubuh yang kurus dan tirus, kondisinya lumayan baik. Sesudah itu ia dibawa ke hanggar tempat ia bertemu Kolonel Gantner, yang seketika itu juga menjadi teman baiknya. Atas instruksi Gantner dan di bawah pengawasan ketatnya, Joel mengganti pakaiannya dengan jumpsuit hijau tentara dengan nama HERZOG tertera di atas saku dada kanan. "Itu namaku?" tanya Joel sambil mengamati nama itu.

"Selama empat puluh delapan jam yang akan

datang," sahut Gantner. "Pangkatku?" "Mayor." "Lumayan."

Pada suatu saat selama brifing singkat itu, Mr. Sizemore dari Washington dan Agen Adair menyelinap pergi, tak pernah terlihat lagi oleh Joel Backman. Sewaktu sinar matahari mulai menampakkan semburatnya, Joel naik ke bukaan belakang pesawat kargo C-130 dan mengikuti Gantner ke tingkat atas, menuju kabin kecil tempat enam serdadu lain sedang menyiapkan diri untuk perjalanan yang panjang.

"Kauambil ranjang itu," kata Gantner sambil menuding ranjang lipat yang paling bawah.

"Boleh kutanya ke mana kita pergi?" bisik Joel.

"Kau boleh bertanya, tapi aku tidak bisa menjawab."

"Cuma ingin tahu."

"Aku akan memberimu brifing lagi sebelum kita

mendarat." "Kapan itu?"

"Sekitar empat belas jam lagi."

Tanpa jendela yang dapat mengalihkan perhatiannya, Joel menempatkan diri di ranjang lipat, menarik selimut menyelubungi kepalanya, dan sudah mendengkur ketika pesawat lepas landas.

3

Critz tidur selama beberapa jam, lalu meninggalkan rumah jauh sebelum kekacauan inaugurasi dimulai. Tak lama setelah matahari terbit, ia dan istrinya sudah diterbangkan ke London dengan salah satu dari sekian banyak pesawat jet pribadi milik majikannya yang baru. Ia akan melewatkan dua minggu di sana, lalu kembali ke kesibukan Beltway sebagai pelobi baru yang memainkan permainan lama. Ia tidak menyukai gagasan itu. Selama bertahun-tahun ia mengamati para pecundang menyeberang jalan dan memulai karier baru memuntir lengan kolega-kolega lama, menjual jiwa mereka kepada siapa pun yang punya cukup banyak uang untuk membeli pengaruh apa pun yang mereka jual. Benar-benar bisnis busuk. Ia bosan

dengan kehidupan politik, tapi, sayangnya, hanya itu yang diketahuinya.

Ia akan menyusun pidato-pidato, mungkin menulis buku, bertahan selama beberapa tahun sambil' berharap ada orang yang akan mengingatnya. Tapi Critz tahu betapa cepat terlupakannya orang-orang yang pernah berkuasa di Washington.

Presiden Morgan dan Direktur Maynard telah sepakat untuk menyembunyikan cerita tentang Backman selama 24 jam, sampai inaugurasi selesai. Morgan sebenarnya tidak peduli; ia akan berada di Barbados pada saat itu. Namun Critz tidak terikat kesepakatan apa pun, terutama kesepakatan yang dibuat dengan orang semacam Teddy Maynard. Setelah makan malam yang panjang sambil menikmati anggur dalam jumlah banyak, sekitar pukul dua dini hari waktu London, la menelepon koresponden White House yang bekerja untuk CBS dan membisikkan garis besar pengampunan hukuman Backman. Seperti yang telah diprediksinya, CBS menayangkan kisah itu pada jam gosip pagi, dan sebelum pukul delapan berita itu sudah bergemuruh keras di D.C.

Joel Backman mendapat pengampunan penuh dan tanpa syarat pada detik-detik terakhir!

Tidak ada detail-detail apa pun mengenai pembebasannya. Terakhir kali terdengar kabarnya, ia tersembunyi rapat di penjara dengan keamanan maksimum di Oklahoma.

Di kota yang sangat tegang itu, hari dimulai dengan pengampunan hukuman yang melejit ke panggung utama dan bersaing ketat dengan presiden baru serta hari kerja pertamanya.

Biro hukum Pratt & Boiling yang bangkrut kini berkantor di Massachusetts Avenue, empat blok sebelah utara Dupont Circle," bukan lokasi yang buruk, namun jelas tidak sehebat kantor lama mereka di New York Avenue. Beberapa tahun sebelumnya,

Iketika Joel Backman masih berkuasa—nama biro itu dulunya Backman, Pratt & Boiling—ia berkeras memilih tempat» dengan harga sewa paling mahal di kota itu supaya dapat berdiri di depan jendela besar di kantornya yang luas di lantai delapan dan memandang ke bawah ke arah White House.

Sekarang White House tak lagi terlihat; tidak ada kantor hebat dengan pemandangan menakjubkan; gedung ini hanya terdiri atas tiga lantai, bukan delapan. Biro itu juga telah menciut dari dua ratus pengacara dengan upah tinggi menjadi tiga puluh pengacara yang bekerja setengah mati. Kebangkrutan yang pertama—di kantor itu biasa disebut Backman I—sudah cukup menggerogoti kekuatan biro tersebut, tapi ajaibnya juga telah menghindarkan para partnernya dari penjara. Backman II disebabkan oleh tiga tahun pertem-

puran internal dan saling tuntut yang sengit di antara para anggota yang selamat. Pesaing-pesaing biro itu senang mengatakan bahwa Pratt & Boiling menghabiskan lebih banyak waktu menuntut bironya sendiri daripada menuntut lawan para kliennya.

Namun pada pagi hari itu, para pesaing tak bersuara. Joel Backman bebas. Sang broker dilepaskan. Apakah ia akan kembali berjaya? Apakah ia akan kembali ke Washington? Apakah berita itu benar? Pasti tidak.

Kim Boiling saat itu menjalani rehabilitasi kecanduan alkohol, dan dari sana ia akan langsung dikirim ke fasilitas kesehatan mental selama bertahun-tahun. Tekanan yang tak tertahankan selama enam tahun terakhir telah mendorongnya ke tepi jurang kewarasan, hingga tak dapat kembali lagi. Tugas menghadapi mimpi buruk dari Joel Backman ini jatuh ke pangkuan Carl Pratt yang lebar.

Pratt-lah yang pertama kali melontarkan jawaban "Ya, aku bersedia" 22 tahun sebelumnya, ketika Backman menawarkan penggabungan dua biro hukum kecil mereka. Pratt-lah yang bekerja mati-matian selama enam belas tahun membersihkan kotoran apa pun yang ditinggalkan Backman sementara biro itu berkembang, upah membanjir masuk, dan batas-batas etis menjadi kabur hingga tak dapat dikenali lagi. Pratt-lah yang bertengkar setiap

minggu dengan partnernya, yang setelah beberapa lama ikut menikmati buah keberhasilan mereka yang luar biasa.

Dan Carl Pratt jugalah yang nyaris diajukan ke pengadilan federal, tepat sebelum Joel Backman secara heroik menerima hukuman itu demi orang-orang lain. Pengakuan bersalah Backman, pengakuan yang telah membebaskan partner-partner lain dari tuduhan, mewajibkan mereka membayar denda sebesar sepuluh juta dolar, yang langsung mengakibatkan kebangkrutan pertama—Backman I.

Kebangkrutan itu lebih baik daripada penjara, Pratt mengingatkan diri sendiri setiap hari. Pagi itu ia tersaruk-saruk berkeliling kantornya yang nyaris tak berperabot, bergumam sendiri, dan berusaha keras meyakini berita itu tidak benar. Ia berdiri di depan jendelanya yang kecil dan memandangi gedung batu kelabu di sebelah, serta bertanya-tanya dalam hati bagaimana semua itu dapat terjadi. Bagaimana mantan pengacara/pelobi yang telah bangkrut, dipermalukan, dan dicabut haknya sebagai pengacara, bisa meyakinkan presiden yang payah agar memberinya pengampunan pada detik-detik terakhir?

Ketika Joel Backman masuk penjara, boleh dibilang ia penjahat kerah putih paling terkenal di Amerika. Semua orang ingin melihatnya digantung di cabang pohon.

Namun, Pratt mengakui pada diri sendiri, jika-ada manusia di dunia ini yang sanggup mencintakan keajaiban tersebut, orang itu adalah Joel Backman.

Pratt menelepon selama beberapa menit, menyimak desas-desus dalam jaringannya yang luas, yang terdiri atas para penggosip Washington dan orang-orang yang serbatahu. Seorang teman lama yang entah bagaimana dapat bertahan di Departemen Eksekutif di bawah empat presiden—dua dari masing-masing partai—akhirnya mengonfirmasi kebenaran itu.

"Di mana dia sekarang?" desak Pratt, seolah Backman akan muncul di D.C. sewaktu-waktu.

"Tidak ada yang tahu," begitu jawabannya.

Pratt mengunci pintunya dan melawan dorongan untuk membuka botol vodka. Usianya 49 tahun ketika partnernya divonis penjara dua puluh tahun tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat, dan ia sering bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan pada usia 69 tahun ketika Backman dibebaskan.

Pada saat ini, Pratt merasa telah kecolongan empat belas tahun.

Ruang sidang itu begitu padat sehingga hakim menunda sidang pendahuluan selama dua jam sampai permintaan tempat duduk dapat diatur dan diberi

prioritas. Semua lembaga pemberitaan penting di negara itu menjerit meminta tempat untuk duduk maupun berdiri. Tokoh-tokoh dari Departemen Kehakiman, FBI, Pentagon, CIA, NSA, White House, dan Capitol Hill mendesak mendapat tempat duduk, semua mengatakan kepentingan mereka akan ditegakkan bila mereka bisa hadir untuk menyaksikan eksekusi Joel Backman. Ketika terdakwa akhirnya muncul di ruang sidang yang gelisah itu, penonton mendadak terdiam dan satu-satunya suara yang terdengar berasal dari no tulis pengadilan yang menyiapkan mesin stenonya.

Backman dibawa ke meja terdakwa, tempat sepasukan kecil pengacara mengerumuninya dengan rapat seolah sebutir peluru sewaktu-waktu dapat melesat dari kerumunan di area penonton. •Kalaupun ada suara tembakan, hal itu tidak mengherankan, walaupun pengamanan di sana menyamai pengamanan kunjungan kepresidenan. Di baris paling depan, tepat di belakang meja terdakwa, duduklah Carl Pratt dan beberapa partner—atau yang-sebentar-lagi-akan-menjadi-mantan-partner— Mr. Backman. Merekalah yang telah digeledah paling teliti, untuk alasan yang paling jelas. Walaupun mereka mendidih penuh kemurkaan terhadap Backman, mereka jugalah yang paling mendukungnya. Kalau permohonan pernyataan bersalah itu gagal karena ada masalah atau ketidak-

sepakatan pada saat terakhir, posisi mereka akan di ujung tanduk, dan akan ada sidang-sidang sengit tak lama lagi.

Masih untung mereka duduk di baris paling depan, bersama para penonton, bukan di meja terdakwa tempat para penjahat seharusnya berada. Paling tidak mereka masih hidup. Delapan hari sebelumnya, Jacy Hubbard, salah seorang partner mereka yang berharga, ditemukan tewas di Arlingron National Cemetery, dengan skenario bunuh diri yang tak dipercaya oleh nyaris semua orang. Hubbard pernah menjadi senator dari Texas yang lengser dari kursi yang didudukinya selama 25 tahun, demi satu tujuan—walau tak disebutkan— yaitu menawarkan kekuatan pengaruhnya kepada siapa pun yang menawar dengan harga paling tinggi. Tentu saja Joel Backman tidak akan membiarkan ikan yang demikian besar lolos dari jaring-jaringnya, maka ia dan seluruh jajaran Backman, Pratt & Boiling menyewa jasa Hubbard dengan bayaran satu juta dolar setahun karena Jacy bisa keluar-masuk Oval Office kapan pun ia mau.

Kematian Hubbard adalah cara yang" efetaif untuk memperlihatkan pada Joel Backman sudut pandang pemerintah. Keruwetan yang selama ini telah memperlambat negosiasi kesepakatan tiba-tiba saja terurai. Bukan saja Backman menerima vonis dua puluh tahun penjara, ia juga ingin melaku-

kannya secepat mungkin. Ia tak sabar ingin segera I masuk ke tempat terlindung!

Pengacara pihak pemerintah hari itu adalah jaksa penuntut karier dari jajaran tinggi Departemen Kehakiman, dan dengan besarnya liputan dan prestisiusnya penonton yang datang, ia tak tahan untuk tidak berlagak pamer. Ia menggunakan tiga kata padahal satu kata sudah cukup; terlalu banyak orang yang menontonnya di luar sana. Ia menguasai panggung—momen langka dalam kariernya yang panjang dan membosankan—dan seluruh negeri menyaksikan. Dengan gaya teramat kering ia berlagak membacakan tuntutan, dan segera terlihat jelas bahwa ia tidak memiliki setetes pun bakat teatrikal, sama sekali tak memiliki pembawaan dramatis, walaupun ia sudah berusaha sekuat renaga. Setelah delapan menit monolog yang menjemukan, sang hakim, yang menyipitkan mata dengan mengantuk dari balik kacamatanya, berkata, "Maukah Anda mempercepat pembacaan tuntutan, Sir, dan tolong rendahkan suara Anda."

Keseluruhannya ada delapan belas butir tuntutan, menyatakan tindak kejahatan dari spionase hingga pengkhianatan terhadap negara. Setelah semua itu dibacakan, Joel Backman tampak begitu jahat sehingga bisa disetarakan dengan Hitler. Pengacara Backman dengan cepat mengingatkan sidang pengadilan, dan semua orang yang hadir, bahwa

tak satu pun tuntutan itu sudah dibuktikan, bahwa itu hanya penggambaran satu sisi dalam kasus ini, sudut pandang pemerintah yang berat sebelah. Ia menjelaskan bahwa kliennya hanya bersedia mengaku bersalah atas empat dari delapan belas tuntutan—kepemililikan atas dokumen-dokumen militer yang belum diotorisasi. Hakim kemudian membaca permohonan bersalah yang lumayan panjang, dan selama dua puluh menit tidak ada yang bersuara. Para seniman di baris depan membuat sketsa kejadian dengan bersemangat, gambar-gambar mereka sama sekali tidak mirip aslinya.

Neal Backman, putra sulung Joel, bersembunyi di baris belakang, duduk di antara orang-orang tak dikenal. Pada saat itu ia masih berstatus sebagai associate di biro hukum Backman, Pratt & Boiling, tapi tak lama lagi keadaan itu akan berubah. Diamatinya jalannya seluruh persidangan dengan perasaan terguncang. Ia tak mampu memercayai ayahnya yang dulu begitu berkuasa sekarang mengaku bersalah dan akan tenggelam dalam sistem penghukuman federal.

Terdakwa akhirnya digiring ke kursi saksi, di sana ia mendongak angkuh sebisa mungkin dan menghadapi para juri. Bersama para pengacara yang berbisik-bisik di kedua telinganya, ia mengaku bersalah atas empat tuntutan, lalu dibawa kembali ke tempat duduknya. Ia berhasil menghindari kontak mata dengan semua orang.

Tanggal vonis ditetapkan bulan berikutnya. Sementara Backman diborgol dan dibawa pergi, jelaslah bagi semua yang hadir bahwa ia tidak akan dipaksa membongkar rahasia-rahasianya, bahwa ia benar-benar akan dikurung untuk waktu yang lama sementara kasus persekongkolannya mereda dan sedikit demi sedikit terlupakan. Kerumunan pun pelan-pelan berpencar. Para wartawan mendapatkan setengah berita yang mereka inginkan. Pejabat-pejabat penting lembaga pemerintah pergi tanpa banyak bicara—beberapa senang karena rahasia-rahasia itu terjaga rapat, sebagian lagi marah karena tindakan kriminalitas itu disembunyikan. Carl Pratt dan para partner lain yang tadinya berada di ujung tanduk langsung beranjak menuju bar rerdekat.

Wartawan pertama menelepon kantor tak lama sebelum pukul sembilan pagi. Pratt telah memperingatkan sekretarisnya bahwa akan ada telepon-telepon semacam itu. Si sekretaris disuruh mengatakan pada semuanya bahwa Pratt terlalu sibuk bersidang untuk urusan yang berkepanjangan dan tidak akan kembali ke kantor selama berbulan-bulan. Tak lama kemudian saluran telepon macet dan hari kerja yang tampak produktif pun langsung berantakan. Semua pengacara dan karyawan lain meninggalkan pekerjaan mereka dan saling kasak-

kusuk mengenai satu topik: berita pembebasan Backman. Beberapa orang mengawasi pintu depan, setengah berharap hantu itu akan datang untuk mencari mereka.

Seorang diri dan di balik pintu yang terkunci, Prarr menyesap Bloody Mary sambil menyaksikan berita tanpa henti di TV kabel. Untungnya, sebuah bus berisi turis Denmark telah diculik di Filipina, kalau tidak, Joel Backman akan menjadi berita utama di mana-mana. Tapi polularitasnya berada di nomor dua, sementara para komentator ahli digiring ke stasiun TV, didandani, dan ditempatkan di studio, di bawah cahaya lampu-lampu, tempat mereka berceloteh panjang-lebar mengenai dosa Backman yang legendaris itu.

Mantan kepala Pentagon menyebut pengampunan itu "berpotensi membahayakan keamanan nasional". Seorang pensiunan hakim federal, tampak setua usianya yang lebih dari sembilan puluh tahun, menyebutnya "keguguran keadilan"—sudah bisa diduga. Seorang senator keroco dari Vermont mengakui ia tidak tahu banyak tentang skandal Backman, namun tetap saja bersemangat tampil di TV kabel dalam siaran langsung dan berkata ia berencana mengusulkan diadakannya penyelidikan besar-besaran. Pejabat White House yang tak disebut namanya menyatakan bahwa presiden yang baru "merasa terganggu" oleh pengampunan itu

dan bermaksud mengkaji ulang keputusan tersebut, apa pun itu artinya.

Begitu terus tanpa henti. Pratt mencampur gelas Bloody Mary kedua.

Untuk mendapatkan pemberitaan yang lebih berdarah, seorang "koresponden"—bukan sekadar "wartawan"—menggali kembali kasus Senator Jacy Hubbard, dan Pratt pun meraih remote control. Di-keraskannya volume TV ketika foto besar wajah Hubbard terpampang di layar kaca. Mantan senator itu ditemukan tewas dengan sebutir peluru di kepalanya, seminggu sebelum Backman mengaju-I kan permohonan bersalah. Yang semula kelihatan ¦ sebagai tindakan bunuh diri, belakangan diragukan, walaupun belum ada tersangka yang dapat diidentifikasi Pistol yang digunakan tak bertanda, dan bisa jadi barang curian. Hubbard dulunya pemburu yang aktif, tapi tak pernah menggunakan senjata genggam. Residu bubuk mesiu di tangan kanannya sangat mencurigakan. Autopsi menyatakan adanya konsentrasi besar alkohol dan barbiturat dalam tubuhnya Alkohol memang bisa diterima, tapi Hubbard sepertinya tak pernah menggunakan narkoba. Beberapa jam sebelumnya ia terlihat bersama seorang wanita muda yang menarik di bar di Georgetown, dan itu pun bukan sesuatu yang janggal.

Teori yang paling populer adalah wanita itu diam-diam memberinya cukup banyak obat ter-

larang untuk membuatnya tak sadarkan diri, lalu mengoperkannya kepada para pembunuh profesional. Diduga Hubbard dibawa ke area tetpencil di Arlington National Cemetery dan ditembak sekali di kepala. Tubuhnya jatuh di atas kubur kakak lelakinya, pahlawan perang Vietnam yang mendapat tanda jasa. Sentuhan yang manis, namun orang-orang yang mengenal Hubbard akan bersaksi bahwa ia nyaris tak pernah membicarakan keluarganya dan banyak yang tak tahu tentang kakak yang sudah meninggal.

Teori yang tak terkatakan adalah Hubbard telah dibunuh oleh orang-orang yang juga ingin menghabisi Joel Backman. Dan selama beberapa tahun sesudahnya, Carl Pratt dan Kim Boiling mengeluarkan banyak uang untuk menggaji pengawal pribadi profesional, kalau-kalau nama mereka pun ada di dalam daftar. Hal itu terbukti tidak benar. Detail-detail kesepakatan penting yang telah menggiring Backman ke penjara dan merenggut nyawa Hubbard ditangani langsung oleh kedua orang itu, dan seiring berjalannya waktu, Pratt mengendurkan keamanan di sekeliling dirinya, walaupun ia tetap membawa sepucuk Ruger ke mana-mana.

Akan tetapi Backman sudah jauh, dengan jarak yang semakin lebar setiap menirnya. Anehnya, ia

pun sedang memikirkan Jacy Hubbard dan orang-orang yang mungkin relah membunuhnya. Dia punya banyak waktu untuk berpikir—empat belas jam di ranjang lipat di dalam pesawat kargo yang berguncang-guncang sanggup mematikan ketajaman saraf siapa pun, paling tidak saraf manusia normal. Namun bagi narapidana yang baru saja dibebaskan, yang baru keluar setelah enam tahun-mendekam dalam penjara soliter, penerbangan tersebut cukup menggugah semangat.

Siapa pun yang telah membunuh Jacy Hubbard dapat dipastikan ingin menghabisi Joel Backman juga, dan sementara tubuhnya terguncang-guncang di atas ketinggian 24.000 kaki, Backman merenungkan beberapa pertanyaan serius. Siapa yang melobi i untuk pembebasannya? Di mana mereka bermaksud 'menyembunyikan dirinya? Siapa sebenarnya "mereka" itu?

Pertanyaan-pertanyaan yang sangat menyenangkan. Kurang dari 24 jam lalu pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya adalah: Apakah mereka berusaha membuatku mati kelaparan? Membuatku mati kedinginan? Apakah aku akan kehilangan akal sehat secara penahan di dalam sel sempit ini? Atau secara cepat? Apakah aku akan pernah melihat cucu-cucuku? Apakah aku memang ingin bertemu mereka?

Ia lebih menyukai pertanyaan-pertanyaan yang

baru ini, walaupun menggelisahkan. Paling tidak ia dapat menyusuri jalan di suatu tempat dan menghirup udara segar serta menikmati sinar matahari, mungkin mampir di kafe dan menyesap secangkir kopi kental.

Dulu ia pernah punya klien, importir kokain kaya raya yang terjerat perangkap DEA. Klien tersebut merupakan tangkapan yang berharga sehingga FBI menawarkan padanya kehidupan baru dengan nama dan wajah baru, kalau ia mau buka mulut tentang jaringan Kolombia. Maka dibukalah mulutnya, dan setelah menjalani operasi ia dilahirkan kembali di sebelah utara Chicago, tempat ia mengelola toko buku kecil. Joel pernah mampir pada suatu hari beberapa tahun kemudian dan mendapati kliennya itu telah memelihara jenggot, merokok dengan pipa, tampak intelek dan sederhana. Ia memiliki istri baru dan tiga anak tiri, dan orang-orang Kolombia itu tak pernah tahu.

Di luar sana dunia tak selebar daun kelor. Bersembunyi tentunya tidak sesulit itu.

Joel memejamkan mata, bergeming, mendengarkan dengung statis keempat mesin pesawat, dan berusaha memberitahu dirinya bahwa ke mana pun ia dibawa, ia tidak akan hidup dalam pelarian. Ia akan beradaptasi, ia akan bertahan hidup, ia tidak akan hidup dalam cengkeraman ketakutan.

Terdengar percakapan teredam di ranjang lipat

sebelah sana, dua serdadu yang bertukar cerita tentang gadis-gadis mereka. Joel teringat Mo si informan Mafia yang selama empat tahun terakhir menempati sel di sebelah sel Joel dan sekirar 22 jam dalam sehari menjadi satu-satunya manusia yang bisa diajaknya bicara. Joel tidak bisa melihat Mo, namun mereka bisa saling mendengarkan suara masing-masing melalui lubang ventilasi. Mo tidak merindukan keluarganya, teman-temannya, tetangga-tetangganya, atau makanan, minuman, dan sinar matahari. Mo hanya bicara tentang seks. Ia mengisahkan cerita-cerita panjang dan mendetail tentang petualangannya. Ia menyampaikan lelucon-lelucon, beberapa termasuk yang paling jorok yang pernah didengar Joel. Ia bahkan menulis puisi tentang pacar-pacar lama, orgy, dan fantasi.

Joel tidak akan merindukan Mo dan imajinasinya.

Di luar kehendaknya, Joel tertidur lagi.

Kolonel Gantner mengguncang-guncang tubuhnya, berbisik keras, "Mayor Herzog, Mayor Herzog. Kita perlu bicara" Backman merunduk keluar dari ranjang lipatnya, mengikuti si kolonel sepanjang gang sempit yang gelap di antara ranjang-ranjang, lalu masuk ke ruangan kecil, yang kira-kira dekat dengan kokpit. "Duduklah," kata Gantner. Mereka berdesakan di sekeliling meja logam kecil. Gantner membawa map. "Begini lsesepakatannya,''

ia mulai. "Kita akan mendarat sekitar satu jam lagi. Rencananya kau akan jatuh sakit, sangat sakit sehingga ada ambulans dari rumah sakit pangkalan yang akan menunggu di tempat pendaratan. Pihak berwenang Italia akan melakukan inspeksi dokumen singkat seperti biasa, dan mereka akan memeriksamu juga. Barangkali juga tidak Kita akan berada di pangkalan militer AS, dan akan ada banyak tentara mondar-mandir. Aku punya paspor untukmu. Aku yang akan bicara pada orang-orang Italia itu, lalu kau akan diangkut dengan ambulans ke rumah sakit." "Italia?"

"Ya. Pernah dengar Pangkalan Udara Aviano?" "Belum."

"Sudah kuduga. Tempat ini dikuasai AS sejak kita mengusir Jerman pada tahun 1945. Letaknya di ujung utara Italia, dekat Pegunungan Alpen."

"Kedengarannya indah."

"Lumayan, tapi itu cuma pangkalan."

"Berapa lama aku akan berada di sana?"

"Bukan aku yang memutuskan. Tugasku hanyalah membawamu keluar dari pesawat ini sampai ke rumah sakit pangkalan. Di sana akan ada orang lain yang mengambil alih. Bacalah biografi Mayor Herzog ini, siapa tahu diperlukan."

Joel melewatkan beberapa menit membaca sejarah imajiner Mayor Herzog dan menghafal detail-detail yang.ada di dalam paspor palsu.

"Ingat, kau sakit parah dan di bawah pen^ obat bius," Gantner menjelaskan. Pura-pUra Saja kau sedang koma."

"Aku sudah koma selama enam tahun. "Kau mau minum kopi?" "Tempat yang kita tuju ini, jam berapa di sana?"

Gantner melirik arlojinya dan menghitung dengan cepat. "Kita akan mendarat sekitar pukul satu malam.

"Aku mau minum kopi."

Gantner memberinya cangkir kertas dan termos, lalu menghilang.

Setelah dua cangkir kopi, Joel merasakan putaran mesin pesawat berkurang. Ia kembali ke ranjang lipatnya dan berusaha memejamkan mata.

Sewaktu pesawat C-130 tersebut bergulir dan akhirnya berhenti, sebuah ambulans angkatan udara mundur ke pintu belakang. Para anggota pasukan terhuyung-huyung keluar, sebagian masih mengantuk. Ranjang beroda yang membawa Mayor Herzog didorong turun dan dengan hati-hati diangkat ke dalam ambulans. Petugas Italia yang terdekat berada di dalam iip militer AS, memerhatikan keadaan dengan setengah hati sambil berusaha menghangatkan tubuhnya. Ambulans

itu berangkat, tidak terburu-buru, dan lima menit kemudian Mayor Herzog pun didorong masuk ke rumah sakit pangkalan dan ditempatkan di ruangan kecil di lantai dua, dengan dua polisi militer menjaga pintunya.

4

Sekalipun Backman tidak tahu dan tidak punya alasan untuk peduli, untung baginya bahwa pada detik-detik terakhir Presiden Morgan juga memberikan pengampunan hukuman kepada miliarder tua yang kabur dari hukuman penjara dengan minggat ke luar negeri. Miliarder tersebut, imigran dari salah satu negara Slavia yang memiliki kesempatan untuk mengganti namanya saat tiba di Amerika beberapa dekade sebelumnya, pada masa mudanya telah memilih nama Duke Mongo. Duke menyumbangkan uang dalam jumlah banyak untuk kampanye kepresidenan Morgan. Ketika terbongkar berita bahwa ia telah menghabiskan masa berkarier-nya dengan menghindari pajak, terbongkar jugalah fakta bahwa ia pernah melewatkan beberapa malam di Lincoln Bedroom, dan di sana, sambil me-

nikmati minuman persahabatan, ia dan Presiden membicarakan penundaan hukuman. Menurut orang ketiga yang hadir pada acara minum-minum santai tersebut, pelacur muda yang saat itu menjadi istri kelima Duke, Presiden berjanji akan mengerahkan pengaruhnya kepada IRS dan membatalkan penyelidikan. Tidak pernah terjadi. Tuntutan hukuman tersebut 38 halaman panjangnya, dan sebelum seluruhnya sempat bergulung keluar dari mesin cetak, sang miliarder, tanpa istri nomor lima, pindah ke Uruguay tempat ia mendongakkan dagu tinggi-tinggi ke arah utara dan tinggal di istana bersama calon istri nomor enam.

Sekarang ia ingin pulang agar bisa mati dengan martabat tak tercela, mati sebagai patriot sejati, dan dimakamkan di tanah pertaniannya yang bernama Thoroughbred, di luar Lexington, Kentucky. Critz yang menangani kesepakatan itu, dan beberapa menit sesudah menandatangani surat pengampunan hukuman untuk Joel Backman, Presiden Morgan memberikan pengampunan penuh kepada Duke Mongo.

Makan waktu satu hari sebelum berita itu bocor—pengampunan-pengampunan tersebut, untuk alasan yang jelas, tidak dipublikasikan oleh White House—dan media pun langsung heboh. Orang ini telah menggelapkan uang pemerintah sejumlah lebih dari 600 juta dolar selama kurun

waktu dua puluh tahun, bajingan yang pantas dikurung di penjara selama-lamanya, dan sekarang ia akan pulang dengan pesawat jet sebesar gajah dan menghabiskan hari-harinya dalam kemewahan tak terkira. Kisah Backman, walaupun sensasional, sekarang memiliki pesaing berat, bukan hanya turis-turis Denmark yang diculik, tetapi juga penggelap pajak terbesar negara itu.

Namun Backman tetap menjadi topik paling panas. Sebagian besar surat kabar utama di sepanjang Pantai Timur memajang foto "Sang Broker" di suatu tempat di halaman depan. Kebanyakan memuat artikel panjang mengenai skandalnya, pengakuan bersalahnya, dan sekarang pengampunan hukumannya.

Carl Pratt membaca semuanya melalui Internet, di ruang kantor yang besar dan berantakan di atas garasi rumahnya, di barat laut Washington. Ia menggunakan tempat itu untuk bersembunyi, untuk menyingkir dari pertempuran-pertempuran yang berkobar di biro hukumnya, untuk menghindari partner-partner yang tak disukainya. Di sana ia bisa minum dan tak ada yang peduli. Ia bisa melemparkan barang-barang, menyumpahi dinding-dinding, dan melakukan apa pun yang diinginkannya, karena itu adalah tempat persemayamannya.

Arsip Backman berada di dalam kotak kardus besar, yang disimpannya rapat-rapat di lemari. Se-

karang arsip tersebut ada di atas meja kerjanya, dan Pratt menelitinya untuk pertama kali sesudah bertahun-tahun lamanya. Ia telah menyimpan segalanya—artikel-artikel, foto-foto, memo-memo internal kantor, catatan yang berisi keterangan sensitif, salinan dakwaan, laporan autopsi Jacy Hubbard. Benar-benar sejarah yang muram.

Pada bulan Januari 1996, tiga ilmuwan komputer muda asal Pakistan membuat penemuan yang menggemparkan. Mereka bekerja di flat yang sempit dan panas di lantai teratas gedung apartemen di pinggiran Karachi, dan berhasil menghubungkan serangkaian komputer Hewlett-Packard yang mereka beli lewat Internet dengan uang bantuan pemerintah. "Superkomputer" mereka yang baru itu kemudian dihubungkan ke telepon satelit militer canggih, yang juga disediakan oleh pemerintah. Seluruh operasi tersebut bersifat rahasia dan dibiayai pihak militer dengan anggaran yang tak pernah tercatat. Tujuan mereka sederhana saja: menemukan, dan kemudian berusaha mengakses, satelit pengintai India yang baru, yang berkeliling 5.000 kilometer di atas wilayah Pakistan. Bila berhasil menyadap satelit tersebut, mereka diharapkan memonitor hasil pengintaiannya. Harapan sekundernya adalah berusaha memanipulasi satelit itu.

Pada mulanya, data-data intelijen tersebut sangat menggairahkan, namun kemudian terbukti tak berguna. "Mata" India yang baru .itu pada dasarnya melakukan hal yang sama seperti yang telah mereka lakukan selama sepuluh tahun terakhir—mengambil ribuan foto instalasi militer yang itu-itu saja. Satelit-satelit Pakistan pun telah balas mengirimkan foto-foto pangkalan angkatan bersenjata India dan pergerakan pasukan yang sama selama sepuluh tahun. Kedua negara tersebut bisa terus bertukar foto tanpa mendapatkan informasi baru. Tapi kemudian tanpa sengaja ditemukan sa-[ telit lain, kemudian saru lagi, dan satu lagi. Satelit-satelit tersebut bukan milik India maupun Pakistan, dan semestinya tidak berada di tempat mereka ditemukan—masing-masing sekitar 500 kilometer di atas permukaan bumi, bergerak dari utara ke timur laut dalam kecepatan konstan 200 kilometer jam, dan masing-masing menjaga jarak 640 kilometer dari yang lain. Selama sepuluh hari, ketiga hacker yang sangat bersemangat itu memonitor pergerakan paling sedikit enam satelit, yang sepertinya merupakan bagian dari sistem yang sama, sementara masing-masing bergerak perlahan dari Semenanjung Arab, melintasi langit di atas Afghanistan dan Pakistan, dan terus menuju sebelah barat Cina.

Mereka tidak memberitahu seorang pun, namun

berhasil mendapatkan telepon satelit yang lebih canggih dari pihak militer, dengan alasan perlu menindaklanjuti beberapa pekerjaan yang belum selesai menyangkut satelit pengintai India. Setelah satu bulan melakukan pengamatan metodis selama 24 jam sehari, mereka berhasil mendapatkan bukti adanya rangkaian sembilan satelit identik yang bergerak secara global, semua saling terhubung dan dirancang dengan hati-hati agar tidak terlihat oleh siapa pun kecuali pihak yang meluncurkannya. -

Penemuan itu mereka beri nama Neptunus.

Ketiga pakar muda itu mendapatkan pendidikan di Amerika Serikat. Pentolannya adalah Safi Mirza, mantan asisten dosen pendidikan master di Stanford, yang pernah bekerja sebentar di Breedin Corp, kontraktor pertahanan AS yang membangkang dan bergerak di bidang sistem satelit. Fazal Sharif memperoleh gelar master di bidang ilmu komputer dari Georgia Tech University.

Anggota ketiga dan yang paling muda dalam geng Neptunus itu adalah Farooq Khan, dan Farooq-lah yang kemudian menyusun program yang berhasil menembus satelit Neptunus pertama. Begitu berada di dalam sistem komputer satelit, Farooq mulai mtn-download data-data intelijen yang sangat sensitif sehingga ia, Fazal, dan Sah yakin bahwa mereka telah memasuki wilayah tak bertuan. Mereka mendapatkan foto-foto jernih

yang memperlihatkan kamp-kamp pelatihan teroris di Afghanistan, dan limusin-limusin pemerintah di Beijing. Neptunus mampu mendengarkan pembicaraan pilot-pilot Cina yang mengobrol di atas ketinggian dua puluh ribu kaki, dan dapat pula melihat kapal nelayan mencurigakan yang berlabuh di Yaman. Neptunus mengikuti sebuah truk bersenjata, kemungkinan milik Castro, melalui jalan-jalan di Havana. Dan dalam rekaman video langsung yang mengejutkan mereka bertiga, terlihat jelas Arafat tengah berjalan di gang di dalam kompleks tempat tinggalnya di Gaza, menyulut tokok, kemudian buang air kecil. /

Selama dua hari penuh tanpa tidur, ketiganya mengintip ke dalam satelit-satelit itu ketika melintasi wilayah Pakistan. Programnya berbahasa Inggris, dan melihat konsentrasi pergerakannya di wilayah Timur Tengah, Asia, dan Cina, dengan mudah diasumsikan bahwa Neptunus adalah milik Amerika Serikat, dengan Inggris dan Israel di tempat kedua dan ketiga, meski kecil kemung-kinanannya. Bisa jadi Neptunus adalah program rahasia gabungan AS dan Israel.

Setelah dua hari menguping, mereka kabur dari apartemen tersebut dan menata ulang kelompok kecil mereka di tanah pertanian milik seorang teman, enam belas kilometer di luar kota Karachi. Penemuan itu memang menegangkan, namun mereka, terutama

Safi, ingin mengambil langkah lebih jauh. Ia cukup yakin dapat memanipulasi sistem tersebut.

Keberhasilannya yang pertama adalah mengamati Fazal Sharif membaca koran. Untuk melindungi identitas lokasi mereka, Fazal naik bus ke pusat kota Karachi, dan sambil mengenakan topi hijau serta kacamata hitam, ia membeli koran dan duduk di bangku taman dekat persimpangan tertentu. Sementara Farooq memasukkan perintah-perintah melalui telepon satelit yang telah direkayasa, salah satu satelit Neptunus menemukan Fazal, menggerakkan fokus kamera sehingga dapat dengan jelas menangkap judul-judul berita di koran Fazal, meneruskannya ke rumah pertanian, dan di sana hasilnya diamati dengan membisu dan rasa tidak percaya.

Citra elektro-optikal yang diteruskan ke Bumi itu merupakan salah satu citra dengan resolusi paling tinggi menurut teknologi saat itu, sekitar 120 sentimeter—setara dengan citra-citra tajam yang dihasilkan satelit pengintai milik militer AS dan kurang-lebih dua kali lebih tajam daripada satelit-satelit komersial Eropa dan Amerika.

Selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan, ketiga pemuda itu bekerja tanpa henti menyusun perangkat lunak untuk penemuan tersebut. Mereka membuang sebagian besar dari yang telah mereka susun, namun sambil menyempurnakan program-

program yang dapat berjalan, mereka semakin ter- I kagum-kagum pada kemampuan Neptunus.

Delapan belas bulan sesudah mereka pertama I kali menemukan Neptunus, ketiga pemuda itu I memiliki—dalam empat disk Jaz berkapasitas I 2-gigabyte—program piranti lunak yang bukan I hanya meningkatkan kecepatan Neptunus untuk I berkomunikasi dengan berbagai kontak di Bumi, I namun juga memampukan Neptunus mengacaukan j (jam) navigasi, komunikasi, dan satelit-satelit } pengintai yang telah ada di orbit. Karena tidak bisa I menemukan nama sandi yang lebih baik, program I tersebut mereka beri nama JAM. §3^\i

Sekalipun sistem yang mereka sebut Neptunus I itu milik orang lain, ketiga sekawan itu mampu I mengendalikannya, memanipulasinya sepenuh- I nya, dan bahkan membuatnya tak berfungsi. Per- E tengkaran yang pahit pun timbul. Sah" dan Fazal I menjadi serakah dan ingin menjual JAM pada I pihak yang mengajukan penawaran paling tinggi. I Farooq meramalkan mereka hanya akan mendapat f masalah dengan penemuan itu. Ia ingin meng- I hibahkannya pada pihak militer Pakistan dan cuci I tangan dari seluruh peristiwa itu.

Pada bulan September 1998, Safi dan Fazal [ pergi ke Washington dan menghabiskan sebulan I penuh rasa frustrasi karena tak berhasil menembus i jaringan intelijen militer melalui kontak-kontak I

Pakistan. Kemudian seorang teman memberitahu mereka tentang Joel Backman, orang yang dapat membuka semua pintu di Washington D.C.

Namun membuka pintu Joel Backman sendiri tidaklah mudah. Broker itu orang yang sangat penting yang memiliki klien-klien penting dan banyak orang berpengaruh yang menuntut sebagian kecil wakrunya. Bagi klien baru, upah untuk satu jam konsultasi besarnya lima ribu dolar, dan konsultasi itu pun hanya tersedia bagi mereka yang cukup mujur mendapat perhatian dari sang pria berkuasa. Safi meminjam dua ribu dolar dari paman yang tinggal di Chicago dan berjanji akan membayar Mr. Backman sisanya dalam sembilan puluh hari. Berkas-berkas pengadilan kemudian menyatakan bahwa pertemuan pertama itu berlangsung pada tanggal 24 Oktober 1998, di kantor Backman, Pratt & Boiling. Pertemuan tersebut pada akhirnya akan menghancurkan kehidupan semua orang yang terlibat di dalamnya.

Pada mulanya Backman skeptis pada JAM dan kemampuannya yang mengagumkan. Atau barangkali ia langsung memahami potensinya yang luar biasa dan memilih untuk bermain licik dengan klien-klien barunya. Safi dan Fazal bemimpi menjual JAM pada Pentagon dengan harga tinggi, apa pun pendapat Mr. Backman tentang produk itu.

Dan bila ada orang di Washington yang dapat menghasilkan harta karun dari menjual JAM, orang itu adalah Joel Backman.

Sejak awal, Backman mengikutsertakan Jacy Hubbard, corong suaranya yang berharga, yang masih bermain golf seminggu sekali dengan Presiden dan nongkrong di bar-bar bersama petinggi-petinggi Capitol Hill. Jacy Hubbard orang yang meriah, flamboyan, agresif, tiga kali bercerai, dan suka menikmati wiski mahal—terutama yang dibeli oleh para pelobi. Secara politis ia sanggup bertahan hanya karena ia dikenal sebagai ahli kampanye paling kotor dalam sejarah Senat AS; bukan upaya yang kecil. Ia dikenal sebagai anti Semit; dan sepanjang kariernya ia mengembangkan persahabatan dekat dengan Saudi. Sangat akrab. Salah saru penyelidikan etis menemukan sumbangan kampanye sebesar satu juta dolar dari seorang pangeran, yang bermain ski bersamanya di Austria.

Awalnya, Hubbard dan Backman berdebat tentang cara yang paling tepat untuk memasarkan JAM. Hubbard ingin menjualnya pada Saudi, yang, ia yakin, akan membelinya dengan harga satu miliar dolar. Backman memiliki pandangan yang lebih nasionalis dengan menyatakan bahwa produk semacam itu seharusnya menjadi milik negara mereka. Hubbard yakin ia dapat membuat

kesepakatan dengan Saudi yang isinya mereka berjanji tidak akan menggunakan program tersebut untuk melawan kepentingan Amerika Serikat, pihak yang boleh disebut sekutu mereka. Backman takut pada Israel—teman-teman mereka yang berkuasa di Amerika Serikat, militer mereka, dan, yang paling penting, dinas rahasia mereka.

Pada saat itu Backman, Pratt & Boiling mewakili banyak perusahaan dan pemerintah asing. Bahkan, biro mereka adalah satu-satunya alamat yang dituju oleh siapa pun yang menghendaki pengaruh politik instan di Washington. Bayarlah upah yang menakutkan itu, dan kau akan mendapatkan akses. Daftar kliennya yang panjang termasuk industri baja Jepang, Pemerintah Korea Selatan, Arab Saudi, sebagian besar konspirasi perbankan Karibia, rezim yang berkuasa di Panama, gabungan industri pertanian Bolivia yang tidak menanam apa pun selain kokain, dan seterusnya, dan seterusnya. Ada banyak klien legal, dan banyak pula yang tidak terlalu bersih.

Kabar burung mengenai JAM perlahan-lahan bocor di sekitar kantor mereka. Ini bisa menjelma menjadi upah paling besar yang pernah dihasilkan biro mereka, padahal sebelumnya pun sudah ada beberapa pihak yang membayarkan jumlah yang mengejutkan. Sementara minggu-minggu berlalu, partner-partner lain dalam biro tersebut

mengajukan berbagai skenario untuk memasarkan JAM. Alasan-alasan patriotisme dengan segera terlupakan—masalahnya ada terlalu banyak uang di luar sana! Biro itu mewakili perusahaan Belanda yang membuat instrumen eJekrronik untuk Angkatan Udara Cina, dan dengan hidangan utama seperti itu, mereka dapat mengatur kesepakatan yang menguntungkan dengan Pemerintah Beijing. Korea Selatan akan dapat tidur lebih nyenyak bila mereka mengetahui apa yang terjadi di utara. Siria pasti bersedia menyerahkan harta negaranya bila dapat menetralisir komunikasi militer Israel. Kartel narkoba tertentu bersedia membayar miliaran dolar demi kemampuan melacak upaya pencegatan yang dilakukan DEA

Hari demi hari, Backman dan gerombolan pengacaranya yang serakah menjadi semakin kaya. Di ruangan-ruangan yang paling besar dalam kantor itu, mereka tidak membicarakan hal-hal lain.

Sikap dokter itu agak ketus dan sepertinya ia tidak punya banyak waktu untuk pasiennya yang baru I Toh tempat itu merupakan rumah sakit militer. Tanpa banyak bicara ia memeriksa detak jantung, paru-paru, tekanan darah, kemampuan refleks, dan i sebagainya, lalu tiba-tiba saja ia mengatakan, "Ku- t rasa kau menderita dehidrasi.''

"Kok bisa?" tanya Backman.

"Sering terjadi kalau orang melakukan penerbangan jarak jauh. Kita akan mulai dengan memberikan cairan. Kau akan pulih kembali dalam dua puluh empat jam."

"Maksudmu, dengan infus?"

"Benar."

"Aku tidak pakai infus." "Maaf?"

."Aku tidak mau mengulang-ulang. Aku tidak mau disuntik."

"Kami mengambil contoh darahmu."

"Yeah, tapi kan darahnya yang keluar, bukannya ada sesuatu yang masuk. Lupakan, Dok, aku tidak mau diinfus."

"Tapi kau dehidrasi."

"Aku tidak merasa dehidrasi."

"Aku dokter, dan aku menyatakan kau menderita dehidrasi."

"Kalau begitu beri aku segelas air."

Setengah jam kemudian, perawat masuk sambil menyunggingkan senyum lebar dan membawa banyak sekali obat-obatan. Joel menolak pil tidur, dan bertanya ketika perawat itu melambaikan alat suntik, "Apa itu?"

"Ryax."

"Ryax itu apa?" "Pelemas otot."

"Well, kebetulan sekali otot-ototku sedang cukup lemas sekarang ini. Aku tidak mengeluh otot-ototku perlu dilemaskan. Aku tidak didiagnosis otot-ototku menderita ketegangan. Tidak ada yang bertanya padaku apakah otot-ototku tegang atau santai. Jadi ambil saja Ryax itu dan masukkan ke lubang pantatmu dan kita akan sama-sama santai dan senang."

Perawat itu nyaris menjatuhkan alat suntiknya. Setelah diam lama dalam keheningan yang panjang dan tidak enak, perawat itu berhasil mengatakan, "Aku akan bertanya pada dokter."

"Silakan saja Oh ya, bagaimana kalau kaumasuk-kan saja ke lubang pantat dokter yang gendut itu? Dialah yang perlu sedikit lemas." Tapi perawat itu sudah terbirit-birit keluar dari kamar.

Di sisi lain pangkalan itu, seseorang bernama Sersan McAuliffe mengetuk-ngetuk keyboard-nyi dan mengirim pesan ke Pentagon. Dari sana pesan j itu langsung dikirimkan ke Langley, yang kemudian I dibaca oleh Julia Javier, veteran yang dipilih oleh j Direktur Maynard sendiri untuk menangani kasus [ Backman. Kurang dari sepuluh menit setelah insiden I Ryax, Ms. Javier memelototi layar monitornya, menggumam "Bangsat", lalu naik ke lantai atas.

Seperti biasa, Teddy Maynard duduk di ujung meja panjang, terbungkus selimut quilt, membaca j

salah satu ringkasan yang tak henti-hentinya mengalir ke mejanya setiap jam.

Ms. Javier berkata, "Baru dapat kabar dari Aviano. Teman kita menolak segala jenis obat-obatan. Tidak mau diinfus. Tidak mau pil."

"Tidak dapatkah mereka memasukkan sesuatu ke dalam makanannya?" tanya Teddy dengan nada rendah.

"Dia tidak mau makan."

"Apa yang dikatakannya?"

"Perutnya sakit."

"Apakah itu mungkin?"

"Dia tidak menghabiskan banyak waktu di toilet. Sulit ditebak." "Dia mau minum?"

"Mereka memberinya segelas air, tapi ditolaknya. Berkeras hanya mau minum air dari botol. Ketika akhirnya mendapatkan air dalam kemasan, ia memeriksa tutupnya untuk memastikan segelnya belum rusak."

Teddy menyingkirkan jauh-jauh laporan yang -sedang dibacanya dan menggosok-gosok matanya dengan buku-buku jari. Rencana pertama adalah membius Backman di rumah sakit, dengan infus ataupun dengan suntikan, membuatnya tak sadarkan diri sepenuhnya, memberinya obat bius selama dua hari, lalu perlahan-lahan menyadarkannya dengan narkotik campuran mereka yang paling

mutakhir. Setelah beberapa hari dalam keadaajJ setengah sadar, mereka akan mulai memberjU sodium penrothal, atau yang disebut serum t benaran, yang, bila digunakan oleh ahli-ahli inter gasi veteran mereka, selalu menghasilkan apa yang mereka harapkan.

Rencana pertama itu gampang dan tak mungkm gagal. Rencana kedua akan makan waktu berbulan bulan dan keberhasilannya tak bisa dipastikan. "Ia punya rahasia besar, bukan?" tanya Teddy "Tak diragukan lagi." "Dan kita mengetahui hal itu, bukan?" "Ya."

5

Ketika skandal itu terbongkar, dua dari tiga anak Backman memang sudah sejak lama tak sudi berurusan lagi dengannya. Neal, si putra sulung, menulis surat pada ayahnya paling tidak dua kah* sebulan, walaupun pada awal jatuhnya vonis surat-surat itu tidak mudah ditulis.

Ketika ayahnya masuk penjara, Neal adalah associate junior berusia 25 tahun di biro hukum Backman. Walaupun ia tidak banyak tahu tentang JAM dan Neptunus, FBI tetap saja mengganggunya dan ia akhirnya diajukan ke pengadilan oleh jaksa penuntut federal.

Keputusan Joel untuk mengaku bersalah, yang diajukannya dalam waktu singkat, memang sebagian besar karena kejadian yang telah menimpa Jacy Hubbard, namun juga dimotivasi per-

lakuan semena-mena pihak berwenang terhadap putranya. Semua tuntutan aras Neal dibatalkan begitu Joel mengaku bersalah. Ketika ayahnya divonis penjara dua puluh tahun, Neal langsung dipecat oleh Carl Pratt dan digiring keluar dari kantor oleh petugas keamanan bersenjata. Nama Backman seolah dihinggapi kutukan, dan Neal tak bisa mendapatkan pekerjaan di mana pun di Washington. Seorang kawan dari fakultas hukum memiliki paman, hakim yang sudah pensiun, dan setelah menelepon ke sana kemari, Neal akhirnya menetap di kota kecil Culpeper, Virginia, bekerja di , biro hukum yang terdiri atas lima pengacara, dan i bersyukur karena masih diberi kesempatan ini. Ia menyukai status anonim itu. Ia sempat berpikir untuk mengganti namanya. Ia tidak mau membicarakan ayahnya. Ia membuat akta, surat wasiat, dan melakukan pekerjaan notaris. Ia beradaptasi dengan mulus ke dalam rutinitas kehidupan kota kecil. Pada akhirnya ia bertemu gadis setempat dan menikahinya, dan dalam waktu singkat mereka menghasilkan anak perempuan, cucu Joel yang kedua, satu-satunya cucu yang fotonya dimiliki Backman.

Neal membaca berita mengenai pembebasan ayahnya di koran Post. Ia membicarakan hal itu panjang-lebar dengan istrinya, dan secara singkat de-

ngan para partner biro hukum tempatnya bekerja. Berita itu bisa jadi telah menyebabkan kegegeran di Washington, namun getarannya tidak menjangkau Culpeper. Sepertinya tak ada orang yang tahu maupun peduli. Ia bukan putra sang broker; ia hanyalah Neal Backman, salah satu dari sekian banyak pengacara di kota kecil di daerah Selatan.

Seorang hakim menariknya ke pinggir setelah suatu sidang pendahuluan dan bertanya, "Di mana mereka menyembunyikan ayahmu?"

Atas pertanyaan tersebut, Neal menjawab dengan penuh hormat, "Bukan topik favorit saya, Yang Mulia." Dan percakapan pun disudahi sampai di situ.

Di permukaan, tak ada yang berubah di Culpeper. Neal melakukan pekerjaannya seperti biasa, seolah pengampunan hukuman itu diberikan kepada orang yang tak ia kenal. Ia menunggu panggilan telepon; suatu saat nanti ayahnya pasti akan memberi kabar.

Setelah permintaan bertubi-tubi, perawat kepala akhirnya mengedarkan topi dan berhasil mengumpulkan uang hampir sebesar tiga dolar dalam bentuk uang receh. Uang itu diserahkan kepada pasien yang masih mereka sebut Mayor Herzog, pria yang semakin hari semakin pemarah,

yang kondisinya bertambah buruk karena kelaparan. Mayor Herzog menerima uang itu dan kemudian membawanya ke mesin otomatis yang ditemukannya di lantai dua. Dari sana ia membeli tiga kantong kecil keripik jagung Fritos, dan dua kaleng Dr. Peppers. Semua itu dihabiskannya dalam beberapa menit saja, dan satu jam kemudian ia masuk ke toilet karena diare parah.

Tapi sekurang-kurangnya ia ridak rerlalu lapar lagi, atau dibius, atau mengatakan sesuatu yang seharusnya tak dikatakannya.

Walaupun secara teknis ia manusia bebas, dengan pengampunan penuh dan segalanya, ia masih ^ terkurung dalam fasilitas milik Pemerintah AS, dan masih diam di dalam ruangan yang tak lebih luas ketimbang selnya di Rudley. Makanan di sana memang mengerikan, tapi ia bisa makan ranpa takut dibius diam-diam. Sekarang ia hanya makan keripik dan minum soda. Perawat-perawat di sini hanya sedikit lebih ramah dibandingkan dengan para penjaga yang suka menyiksanya. Para dokter hanya ingin membuatnya tak sadarkan diri, menuruti perintah dari atas, ia yakin. Tak jauh dari sini pasti ada ruang penyiksaan tempat mereka menunggu untuk menerkamnya setelah obat-obatan mereka menunjukkan hasilnya.

la merindukan dunia luar, udara segar dan sinar matahari, makanan, interaksi sekecil apa pun

dengan manusia yang tidak mengenakan seragam. Dan setelah dua hari yang panjang, ia pun mendapatkannya.

Seorang pria muda bernama Stennett yang memiliki wajah kaku seperti batu muncul di kamarnya pada hari ketiga dan mulai dengan sesuatu yang menyenangkan, "Oke, Backman, begini perjanjiannya. Namaku Stennett."

Ia melemparkan map arsip ke atas selimut, di atas tungkai Joel, di dekat sejumlah majalah tua yang sudah dibaca untuk ketiga kalinya. Joel membuka map itu. "Marco Lazzeri?"

"Itulah namamu, pai, orang Italia sekatang. Di sana ada akte kelahiran dan kartu pengenal nasionalmu. Hafalkan semua info itu sesegera mungkin."

"Hafalkan? Aku bahkan tak bisa membacanya."

"Kalau begitu belajarlah. Kita akan pergi sekitar tiga jam lagi. Kau akan dibawa ke kota terdekat tempat kau akan bertemu sahabat barumu, yang akan menuntunmu selama beberapa hari."

"Beberapa hari?"

"Mungkin sebulan, tergantung seberapa baik kau melakukan transisi."

Joel meletakkan kembali map arsip itu dan menatap Stennett. "Kau bekerja untuk siapa?"

"Kalau aku memberitahumu, aku akan terpaksa membunuhmu."

"Lucu sekali. CIA?"'

USA Hanya ini yang bisa kukatakan dan hanya itu yang perlu kauketahui."

Joel memandang jendela yang kusennya terbuat dari logam, lengkap dengan kuncinya, dan berkata, "Aku tidak melihat ada paspor di dalam sini."

"Ya, well, itu karena kau tidak akan pergi ke mana-mana, Marco. Kau akan menjalani hidup renang. Tetangga-tetanggamu akan mengira kau dilahirkan di Milan namun besar di Kanada, karena irulah bahasa Iralia-mu buruk, dan itu sebabnya kau perlu belajar. Kalau kau merasa ingin bepergian, keadaan bisa sangat berbahaya bagimu." "Berbahaya?"

"Ayolah, Marco. Jangan main-main denganku. Ada beberapa orang kejam di dunia ini yang pasti gembira kalau bisa menemukanmu. Lakukan apa yang kami perintahkan, dan mereka tidak akan da-"pat menemukanmu."

"Aku tak mengenal satu kata pun dalam bahasa Italia."

"Tentu saja kau tahu—-pizza, spaghetti, caffe latte, bravo, opera, mamma mia. Kau akan bisa mempelajarinya dengan cepat. Semakin cepat dan semakin baik kau mempelajarinya, kau pun akan semakin aman. Kau akan mendapat guru."

"Aku tak punya uang sepeser pun."

"Mereka juga bilang begitu. Paling tidak, mereka

(belum bisa menemukannya." Stennett mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya dan meletakkannya di atas map tersebut. "Sewaktu kau mendekam di penjara, Italia menarik mata uang lira dan menggantinya dengan euro. Semua itu seratus euro. Satu euro nilainya hampir setara dengan satu |» dolar. Satu jam lagi aku akan kembali dengan beberapa pakaian. Di dalam map itu ada kamus kecil, dua ratus kata pertamamu dalam bahasa Italia. Kusarankan kau mulai mempersiapkan diri."

Satu jam kemudian Stennett pun kembali dengan kemeja, celana panjang, jaket, sepatu, dan kaus kaki, semua bermerek Italia. "Buon giorno," sapanya.

"Halo untukmu," jawab Backman. "Mobil bahasa Italia-nya apa?"

"Macchina."

"Bagus, Marco. Sudah saatnya kita naik macchina."

Seorang pria pendiam duduk di balik kemudi mobil Fiat kecil yang tak bertanda. Joel merunduk masuk ke bangku belakang bersama tas kanvas yang berisi harta pribadinya. Stennet duduk di depan. Udara terasa dingin dan lembap, selapis salju tipis menutupi tanah. Ketika mereka melewati gerbang Pangkalan Udara Aviano, Joel Backman merasakan getaran pertama kebebasan, walaupun gelombang kecil kegairahan itu dibebani keragu-raguan.

Ia mengamati rambu-rambu lalu lintas dengan saksama; tak terdengar separah kata pun dari bangku depan. Mereka berada di Rute 251, jalan raya dua jalur, mengarah ke selatan, begitu perkiraannya. Lalu lintas semakin padat ketika mereka mendekati kota Pordenone.

"Berapa populasi Pordenone?" tanya Joel, memecah keheningan yang pekat.

"Lima puluh ribu," sahut Stennett.

"Ini Italia utara, bukan?"

"Tunur laut."

"Berapa jauh dari sini ke Alpen?" Stennett mengangguk ke sebelah kanannya dan menjawab, "Sekitar enam puluh lima kilometer ke sebelah sana. Pada hari cerah, kau bisa melihat pegunungan itu."

"Bisakah kita berhenti sebentar untuk minum kopi?" pinta Joel. "Tidak, kita, eh, tidak diperbolehkan berhenti." Sejauh ini si pengemudi tetap berlagak tuli. Mereka mengitari tepi utara Pordenone dan tak berapa lama melaju di atas A28, jalan empat jalur di mana semua orang tampak terburu-buru, kecuali para pengemudi truk. Mobil-mobil kecil melesat melewati mereka sementara mereka hanya merayap dengan kecepatan seratus kilometer per jam. Stennett membuka koran Italia, La Repubblica, dan menutupi separo kaca depan.

Joel senang-senang saja dengan suasana senyap itu dan memandangi pemandangan yang berkelebat lewat. Tanah di sana sepertinya sangat subur, walaupun saat itu akhir bulan Januari dan tak seorang pun berada di ladang-ladang tersebut. Sesekali tampak vila-vila kuno di punggung bukit berundak-undak.

Ia pernah menyewa vila semacam itu. Sekitar dua belas tahun sebelumnya, istri nomor dua mengancam akan pergi bila Backman tidak mengajaknya ke suatu tempat untuk berlibur panjang. Saat itu Joel bekerja delapan puluh jam per minggu, dengan waktu luang yang diisinya dengan bekerja lagi. Ia lebih suka tinggal di kantor, dan menilik keadaan di rumah, hidupnya akan lebih tenang di sana. Namun perceraian makan biaya terlalu besar, maka Joel mengumumkan pada semua orang bahwa ia dan istri tercintanya akan melewatkan liburan satu bulan penuh di Tuscany. Seolah semua itu adalah gagasannya—"sebulan penuh bertualang kuliner dan menikmati anggur di kawasan Chianti!"

Mereka menemukan biara dari abad keempat belas di dekat desa abad pertengahan bernama San Gimignano, lengkap dengan para pengurus rumah tangga dan tukang masak, bahkan sopir. Namun pada hari keempat petualangan, Joel menerima berita mencemaskan bahwa Komite Penilaian Senat sedang mempectimbangkan akan menghapus satu

klausul yang akan merenggut penghasilan dua miliar dolar yang bisa diperolehnya dari salah satu klien kontraktor bidang pertahanan. Joel terbang pulang menggunakan pesawat carteran dan bekerja keras mencambuki Senat agar kembali ke jalan yang benar. Istri nomor dua tetap tinggal di Tuscany, tempat ia—Joel belakangan mengetahui—tidur dengan si sopir yang masih belia. Selama seminggu berikutnya Joel menelepon setiap hari dan berjanji akan kembali ke vila untuk menuntaskan liburan mereka, namun sesudah minggu kedua, istrinya tidak mau lagi menerima telepon Joel.

I Undang-Undang Penilaian diluruskan dengan

fcaik

Sebulan kemudian istrinya menuntut perceraian, pertempuran yang ramai dan pada akhirnya harus dibayar seharga tiga juta dolar.

Padahal istri nomor dua inilah yang paling disukainya dari ketiga istrinya. Mereka semua sudah pergi sekarang, selamanya tercerai-berai. Istri yang pertama, ibu dari dua anaknya, telah menikah dua kali sejak bercerai dari Joel, dan suaminya yang sekarang menjadi kaya dengan menjual pupuk cair kepada negara-negara dunia ketiga. Istri pertama sempat menulis surat padanya ketika Joel di penjara, catatan singkat dan kejam yang menyatakan pujiannya pada sistem peradilan karena

akhirnya berhasil membekuk salah satu bajingan yang paling berkuasa.

Joel tidak menyalahkannya. Istrinya itu mengemasi barang-barangnya setelah menangkap basah Joel bersama si pirang seksi yang menjadi istri nomor dua.

Istri nomor tiga langsung terjun dari kapal begitu vonisnya diputuskan.

Hidup yang sungguh berantakan. Lima puluh dua tahun, dan apa yang bisa dipamerkan dari kariernya mencurangi klien, mengejar-ngejar sekretaris di kantor, menekan politisi-politisi kecil yang licik, bekerja tujuh hari seminggu, mengabaikan tiga anak yang entah bagaimana berhasil hidup stabil, membentuk citra publik, membangun ego tak terbendung, serta mengejar uang uang uang? Apakah upah dari pengejaran impian besar Amerika yang dilakukan dengan sembrono ini?

Enam tahun mendekam dalam penjara. Dan sekarang nama palsu karena namanya yang dulu tetlalu berbahaya. Dan uang sekitar seratus dolar dalam sakunya.

Marco? Bagaimana ia bisa menatap wajahnya di cermin setiap hari dan berkata, "Buon giorno, Marco"?

Tapi jelas jauh lebih baik daripada "Selamat pagi, Tuan Pesakitan". Stennett lebih banyak bergumul dengan kertas-

kertas korannya daripada membacanya. Di bawal pengawasannya, kertas-kertas koran itu terlipat, tertarik, dan kusut, dan dari waktu ke waktu si pengemudi melirik frustrasi.

Sebuah papan penunjuk jalan menyatakan Venesia enam puluh kilometer jauhnya ke sebelah selatan, dan Joel memutuskan untuk memecahkan suasana monoton itu. "Aku ingin tinggal di Venesia, kalau White House memperbolehkan."

Si pengemudi mengernyit dan koran Stennett jatuh lima belas sentimeter dari tangannya. Atmosfer j dalam mobil itu sesaat menjadi tegang sampai Stennett berhasil menggeram dan mengangkat bahu "Sori," jawabnya.

"Aku benar-benar harus buang air," ujar Joel. I "Bisakah kau mendapatkan izin untuk istirahat dan pipis sebentar?"

Mereka berhenti di sebelah utara kota Conegliano, di servizio (WC umum) modern di tepi jalan, Stennett membeli beberapa cangkir espresso. Joef membawa kopinya ke jendela depan toko dan mengamati lalu lintas sementara ia mendengarkan pasangan yang sedang saling membentak dalam bahasa Italia Tak sekali pun ia berhasil menangkap! salah satu dari dua ratus kata yang berusaha di-1 hafalkannya. Sepertinya itu tugas yang mustahil. I Stennett muncul di sebelahnya dan memandangi

lalu lintas. "Kau pernah cukup lama berada di Italia?" ia bertanya.

"Satu bulan, di Tuscany."

"Benarkah? Satu bulan penuh? Pasti menyenangkan."

"Empat hari sebenarnya, tapi istriku tinggal sebulan penuh. Ia bertemu beberapa temannya. Bagaimana denganmu? Apakah ini salah satu tempat nongkrongmu?"

"Aku sering pindah." Ekspresi wajahnya tak menunjukkan apa-apa, sama seperti jawabannya Dihirupnya kopinya dan ia berkata, "Conegliano, terkenal karena Prosecco-nya."

"Sampanye Italia," timpal Joel.

"Benar. Kau suka minum?"

"Tak pernah minum setetes pun selama enam tahun."

"Mereka tidak menyediakannya di penjara?"

"Tidak."

"Dan sekarang?"

"Aku akan kembali menyesuaikan diri. Dulu pernah jadi kebiasaan." "Sebaiknya kita berangkat sekarang." "Berapa lama lagi?" "Tidak jauh."

Stennett berjalan ke arah pintu, tapi Joel menghentikannya. "Hei, aku lapar sekali. Bolehkah aku mendapat bekal sandwich untuk perjalanan?"

Stennett mengamati rak penuh berisi paniri siap saji. Tentu." "Dua boleh?" "Tidak masalah."

Jalan raya A27 mengarah ke selatan menuju Treviso, dan ketika tak terlihat tanda-tanda mereka hanya akan melewati kota itu, Joel pun berasumsi perjalanan ini akan segera berakhir. Pengemudi memperlambat laju mobilnya, berbelok dua kali, dan tak lama kemudian mereka terbanting-banting di atas jalanan sempit kota itu.

"Berapa populasi Treviso?" tanya Joel.

"Delapan puluh lima ribu," sahut Stennett.

"Apa yang kauketahui tentang kota ini?"

"Treviso kota kecil yang kaya, yang tidak banyak berubah selama lima ratus tahun. Dulunya bersekutu erat dengan Venesia, ketika kota-kota ini berseteru satu sama lain. Kita mengebom kota ini pada Perang Dunia Kedua. Tempat yang menyenangkan, tidak terlalu banyak turis."

Tempat yang baik untuk bersembunyi, pikir Joel, "Aku turun di sini?"

"Bisa jadi"

Sesosok menara jam yang tinggi memanggil semua pengguna jalan menuju pusat kota yang mengelilingi Piazza del Signori. Skuter dan moped melejit di antara mobil-mobil, pengendaranya seperti tak kenal rasa takut. Joel menyerap peman-

dangan toko-toko tua yang kecil—tabaccheria yang memajang rak surat kabar yang menghalangi pintu toko, farmacia dengan lampu neon hijau membentuk tanda salib, kafe-kafe kecil pinggir jalan dengan meja-meja berisi orang-orang yang sepertinya sangat menikmati duduk, membaca, bergosip, atau menyesap espresso selama berjam-jam. Saat itu sudah hampir pukul sebelas siang. Apa pekerjaan orang-orang ini sehingga mereka bisa mengambil rehat minum kopi satu jam sebelum waktu makan siang? -

Ia tertantang untuk mencari tahu jawabnya, Joel memutuskan.

Pengemudi yang tak diketahui namanya itu mengarahkan mobil ke tempat parkir sementara. Stennett memencet tombol-tombol angka di ponsel-nya, menunggu, lalu berbicara cepat dalam bahasa Italia. Sesudahnya, ia menuding ke arah depan dan berkata, "Kaulihat kafe yang ada di sana, di bawah naungan garis-garis merah-purih itu? Caffe Donati?"

Joel menjulurkan kepala dari bangku belakang dan menjawab, "Yeah, aku lihat."

"Jalanlah ke pintu depan, melewati bar di sebelah kananmu, menuju bagian belakang yang memuat delapan meja. Duduklah di sana, pesan kopi, lalu tunggu."

"Tunggu apa?"

"Seorang pria akan mendekatimu setelah kurang, lebih sepuluh menit. Kau harus menuruti kata-katanya."

"Dan kalau tidak?"

"Jangan main-main, Mr. Backman. Kami akan mengamati." "Siapa pria ini?"

"Sahabat barumu Ikuti kata-katanya, dan kemungkinan kau akan selamat. Kalau kau melakukan sesuatu yang tolol, kau takkan bertahan hidup lebih dari enam bulan." Stennett mengatakannya dengan puas hati, seolah dia memang senang memancing ketegangan Marco yang malang.

"Jadi kalau begitu kita adios sekarang?" tanya Joel sambil mengemasi tasnya.

"Arrivederci, Marco, bukan adios. Surat-suratmu sudah lengkap?" "Sudah."

"Kalau begitu, arrivederci."

Perlahan-lahan Joel turun dari mobil dan mulai berjalan menjauh. Dilawannya dorongan kuat untuk menoleh ke belakang dan memastikan Stennett, pelindungnya, masih mengawasinya dan ada di belakang sana, menjauhkannya dari sesuatu yang tak diketahui. Namun ia tidak berpaling. Sebaliknya, ia berlagak sebiasa mungkin sembari menyusuri jalan dan membawa tas kanvas, satu-satunya tas kanvas yang dilihatnya saat ini di pusat kota Treviso.

Tentu saja Stennett mengawasinya. Dan siapa lagi? Sahabat barunya pasti ada di suatu tempat, setengah bersembunyi di balik surat kabar, memberikan tanda pada Stennett dan gelombang statis lainnya. Joel berhenti sebentar di depan tabaccheria dan mengamati dengan cepat kepala-kepala berita di koran-koran Italia, walau ia tak tahu satu patah kata pun yang tertulis di sana. Ia berhenti berjalan karena ia bisa berhenti berjalan, karena ia manusia bebas yang memiliki kekuasaan dan hak untuk berhenti berjalan kapan pun ia mau, dan mulai bergerak lagi kapan pun ia menghendakinya.

Joel memasuki Caffe Donati dan mendapat sapaan pelan "Buon giorno" dari pemuda yang sedang mengelap meja bar.

"Buon giorno," Joel berhasil menjawab, kata-kata pertamanya pada orang Italia. Untuk mencegah pembicaraan lebih lanjut, ia terus berjalan, melewati bar, melewati tangga melingkar dengan tanda yang menunjukkan ada kafe di atas, melewati etalase besar yang memamerkan berbagai macam kue pastri yang cantik. Ruang belakang gelap dan pengap, sumpek oleh kabut asap rokok yang mencekik udara. Ia duduk di salah satu dari dua meja kosong dan mengabaikan tatapan para pengunjung yang lain. Ia takut bila pelayan datang, takut bila harus memesan, takut penyamarannya terbongkar begitu cepat saat pelariannya baru dimulai. Jadi ia hanya

duduk sambil menunduk dan membaca surat-surat identitasnya yang baru.

"Buon giorno," ujar seorang wanka di sebelah bahu kirinya.

"Buon giorno," Joel berhasil menjawab. Dan sebelum wanita itu sempat mencerocos tentang daftar menu, ia berkata, "Espresso." Wanira itu tersenyum, lalu mengatakan sesuatu yang tak dapat ia pahami, dan dijawabnya dengan, "No."

Siasatnya berhasil, wanita itu pergi, dan bagi Joel itu merupakan kemenangan besar. Tak ada yang menatapnya seolah ia orang asing yang tidak tahu apa-apa. Ketika wanita itu membawakan espresso-nya, Joel mengucapkan, "Grazie," dengan perlahan, dan wanita itu bahkan tersenyum padanya. Joel menghirupnya lambat-lambat, tidak tahu sampai berapa lama ia harus bertahan dengan kopi ini, tidak ingin kopinya segera habis dan ia terpaksa memesan sesuatu yang lain.

Percakapan dalam bahasa Italia berdengung di sekelilingnya, obrolan tak henti antarteman yang bergosip dengan kecepatan luar biasa. Apakah bahasa Inggris terdengar secepat ini? Mungkin juga. Gagasan untuk mempelajari suatu bahasa dengan cukup baik sehingga ia bisa memahami percakapan di sekitarnya terasa sangat mustahil baginya. Dipandanginya daftar menyedihkan berisi dua ratus

kata itu, lalu selama beberapa menit ia berusaha menangkap salah satu kata tersebut.

Pelayan kafe lewat dan menanyakan sesuatu. Joel menyahutnya dengan jawaban standar, "No," dan sekali lagi itu berhasil.

Jadi Joel Backman menikmati espresso di bar kecil di Via Verde, di Piazza dei Signori, di tengah kota Treviso, di wilayah Veneto, di timur laut Italia, sementara di Lembaga Pemasyarakatan Rudley teman-teman lamanya masih dikurung di sayap isolasi, dengan makanan buruk dan kopi yang encer, dengan penjaga-penjaga sadis, peraturan-peraturan bodoh, serta beberapa tahun yang harus dilalui bahkan sebelum mereka mampu memimpikan kehidupan di luar penjara.

Berlawanan dengan rencana semula, Joel Backman tidak akan mati di balik jeruji besi di Rudley. Pikiran, tubuh, dan jiwanya tidak akan layu dan mengering. Ia relah merebut empat belas tahun hidupnya dari para penyiksahya, dan sekarang ia duduk tanpa borgol di kafe yang menarik, satu jam jauhnya dari Venesia.

Mengapa ia malah memikirkan penjara? Karena orang tak bisa melenggang pergi begitu saja tanpa mengalami guncangan, setelah enam tahun lamanya melewatkan sesuatu. Kau membawa sebagian masa lalu bersamamu, tak peduli sepahit apa kenangan itu. Kengerian penjara menjadikan kebebasannya

ini terasa sangat manis. Semua butuh waktu d ia berjanji pada diri sendiri untuk memu^ perhatiannya pada masa sekarang. Jangan berp-? tentang masa depan. '

Dengarkan suara-suara itu, obrolan cepat ant teman, suara tawa, lelaki di sebelah sana yang be bisik lewat ponselnya, pelayan wanita yang

bersem ke arah dapur. Nikmati baunya—i rokok, kopi yang kaya citarasa, kue pastri yan baru dipanggang, kehangatan ruangan kecil tempat

---...i^aj

penduduk setempat telah berkumpul selama berabad-abad.

Dan untuk kesekian ratus kalinya ia bertanya pada diri sendiri, Mengapa ia ada di sini? Mengapa ia dilarikan dengan cepat dari penjara, lalu ke luar negeri? k bisa memahami pengampunan hukuman, tapi mengapa harus disertai kabur ke luar negeri dengan rancangan yang begitu rumit? Mengapa mereka tidak memberikan surat-surat pembebasan padanya, membiarkannya mengucapkan selamat tinggal pada Rudley yang tersayang, dan membiar kannya menjalani hidup, seperti semua penjahai yang baru diampuni?

Ia punya firasat. Ia bisa memikirkan dugaan yang lumayan akurat. Dan dugaannya itu membuatnya takut. Kemudian Luigi muncul entah dari mana.

6

Luigi berusia awal tiga puluhan, dengan mata berwarna gelap yang tampak sedih, rambut gelap menutupi sebagian telinganya, serta jenggot yang belum dicukur selama paling tidak empat hari. Tubuhnya terbungkus semacam jaket berburu tebal yang, dikombinasikan dengan wajah yang tak bercukur, memberinya penampilan tampan ala petani pedesaan. Ia memesan espresso dan banyak tersenyum. Joel langsung memerhatikan tangan dan kukunya yang bersih, geliginya yang rapi. Jaket berburu dan jenggot pendek itu hanya Bagian dari peran yang dimainkannya. Bisa jadi Luigi ini lulusan Harvard.

Bahasa Inggris-nya yang sempurna dihiasi sedikit aksen' cukup untuk meyakinkan orang bahwa ia *ungguh-8ungguh orang Italia. Katanya ia berasal Milan. Ayahnya diplomat Italia yang membawa

istrinya yang berasaJ dari Amerika beserta dua anaknya keliling dunia dalam rangka pengabdiannya pada negara. Joel berasumsi Luigi tahu banyak tentang dirinya, jadi ia terus menggali untuk mengetahui lebih banyak tentang pengawasnya.

Ia tidak mendapatkan banyak informasi. Menikah—tidak. Sarjana muda—Bologna. Kuliah di Amerika Serikat—ya, di suatu tempat di Midwest, Pekerjaan—di pemerintahan. Yang mana—tidak j bisa bilang. Senyumnya mudah terkembang dan ia gunakan untuk mengelak dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya. Joel berhadapan dengan profesional, dan ia tahu itu.

"Kuanggap kau mengetahui satu-dua hal tentang diriku," kata Joel.

Senyum itu, deretan gigi yang sempurna. Mata yang tampak sedih itu nyaris tertutup ketika ia tersenyum. Pria ini pasti digila-gilai wanita. "Aku sudah melihat arsipnya"

"Arsip? Seluruh arsip mengenai diriku tidak akan muat masuk ke ruangan ini." "Aku sudah melihat arsipnya." "Oke, Berapa lama Jacy Hubbard duduk di Senat AS?"

"Terlalu lama, menurutku. Dengar, Marco, kita tidak akan mengingat-ingat masa lalu lagi. Teriak) banyak yang harus kita lakukan sekarang."

"Bolehkah aku meminta nama lain? Aku tidak terlalu suka nama Marco."

"Bukan aku yang memilihnya."

" Well, siapa yang memilih nama Marco?"

"Entahlah. Yang jelas bukan aku. Kau banyak mengajukan pertanyaan yang tak berguna."

"Aku jadi pengacara selama dua puluh lima tahun. Mengajukan pertanyaan adalah kebiasaan lama."

Luigi menenggak habis apa yang tersisa di cangkir espresso-nya. dan meletakkan beberapa euro di meja. "Mari kita berjalan-jalan," ajaknya, lalu berdiri. Joel mengangkat tasnya dan mengikuti pengawasnya keluar dari kafe, ke trotoar, dan berbelok ke jalan kecil yang lalu lintasnya lebih sedikit. Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika Lugi berhenti di depan Albergo Campeol. "Ini perhentianmu yang pertama," ujarnya.

"Apa ini?" tanya Joel. Itu bangunan empat lantai yang terjepit di antara dua bangunan sejenis. Bendera warna-warni tergantung di atas kanopi.

"Hotel kecil yang menyenangkan. 'Albergo' artinya hotel. Kau juga bisa menggunakan kata 'hotel' kalau mau, tapi di kota-kota kecil orang lebih suka menyebutnya albergo."

"Jadi bahasa ini tidak sulit, ya?" Joel melayangkan pandangan ke kedua ujung jalan yang padat—inilah lingkungan tempat tinggalnya yang baru.

"Lebih mudah daripada bahasa Inggris." "Kita lihat saja nanti. Berapa bahasa asing yang kaukuasai?" "Lima atau enam."

Mereka masuk dan berjalan melalui selasar kecil. Luigi mengangguk, menunjukkan isyarat ia mengenal petugas di meja depan. Joel berhasil mengucapkan "Buon giorno" yang bisa diterima, namun terus berjalan, -berusaha menghindari percakapan lebih jauh. Mereka naik tiga lantai dan kemudian berjalan menuju ujung koridor yang sempit. Luigi memiliki kunci kamar nomor 30, suite yang sederhana namun diatur menarik, dengan jen-'< dela-jendela di tiga sisi dan pemandangan ke arah kanal di bawah.

"Ini kamar yang paling bagus," ujar Luigi. "Tidak mewah, tapi memadai."

"Seharusnya kau melihat kamar yang terakhir ku-tempati" Joel melemparkan tasnya ke tempat tidur dan mulai menyibakkan tirai-tirai.

Luigi membuka pintu lemari kecil. "Lihat ini. Kau punya empat kemeja, empat celana panjang, dua jaket, dua pasang sepatu, semua sesuai dengan ukuranmu. Ada juga mantel wol tebal—cuaca bisa lumayan dingin di Treviso." Joel memandangi pakaian-pakaiannya yang baru. Semua tergantung sempurna, sudah disetrika, dan siap dipakai. Warna-warnanya teduh, berselera, dan masing-masing

kemeja dapat dipadankan dengan setiap jaket maupun celana panjang. Akhirnya ia mengangkat bahu dan berkata, "Trims."

"Di laci sana itu kau bisa menemukan ikat pinggang, kaus kaki, pakaian dalam, dan semua yang kaubutuhkan. Di kamar mandi ada perlengkapan mandi lengkap."

"Apa mau dikata?"

"Dan di meja ada dua kacamata." Luigi mengambil salah satunya dan mengarahkannya ke cahaya. Lensa persegi kecil yang berbingkai baja hitam tipis, sangat bergaya Eropa. "Armani," ujar Luigi, dengan sedikit nada bangga.

"Kacamata baca?"

"Ya, dan tidak. Kusarankan kau mengenakan kacamata ini setiap kali kau keluar dari ruangan. Bagian dari penyamaranmu, Marco. Bagian dari dirimu yang baru."

"Seharusnya kau bertemu diriku yang lama."

"Tidak usah, terima kasih. Penampilan sangat penting bagi orang Italia, terutama kami yang tinggal di daerah utara. Pakaianmu, kacamatamu, potongan rambutmu, semua harus diatur dengan saksama, karena kalau tidak kau akan menarik perhatian."

Joel mendadak merasa salah tingkah, tapi kemudian berpikir, persetan. Ia telah mengenakan baju penjara untuk waktu lama, lebih lama daripada

yang ingin diingamya. Pada masa-masa jayanya, secara teratur ia menghabiskan tiga ribu dolar untut setelan jas berkualitas tinggi.

Luigi masih menguliahinya. "Jangan pakai celana pendek, jangan pakai kaus kaki hitam dengan sepatu sport putih, jangan pakai celana poliester, jangan pakai kaus golf, dan tolong jangan bertambah gemuk."

"Bagaimana cara mengatakan 'Cium saja pantatku' dalam bahasa Italia?"

"Suaru hari nanri kita akan sampai di sana. Kebiasaan sangat penting di sini. Mudah dipelajari dan cukup menyenangkan. Contdhnya, jangan sekali-kali memesan cappuccino setelah, pukul setengah sebelas pagi. Tapi espresso bisa dipesan sepanjang hari. Apakah kau tahu itu?" "Tidak"

"Hanya turis yang memesan cappuccino setelah makan siang atau makan malam. Sungguh memalukan. Minum minuman yang mengandung begitu banyak susu setelah perut penuh." Sejenak Luigi mengernyit, seolah mau muntah sekalian.

Joel mengangkat tangan kanannya dan berkata, "Sumpah aku tak akan melakukannya."

"Duduklah," saran Luigi, melambai ke arah meja kedi dengan dua kursi. Mereka duduk dan berusaha menempatkan diri dengan nyaman. Luigi melanjutkan, "Pertama-tama, kamar ini. Kamar ini

dipesan atas namaku, tapi stafnya mengira seorang pengusaha Kanada akan tinggal di sini selama beberapa minggu." "Beberapa minggu?"

"Ya, lalu kau akan pindah ke lokasi lain," Luigi mengatakan hal ini dengan begitu menakutkan, seolah sepasukan pembunuh bayaran telah menjelajahi Treviso, mencari-cari Joel Backman. "Mulai saat ini, kau akan meninggalkan jejak. Ingatlah hal itu: segala hal yang kaulakukan, semua orang yang kautemui—mereka adalah- bagian dari jejakmu. Kunci keberhasilan bertahan hidup adalah meninggalkan sesedikit mungkin jejak. Jangan bicara pada banyak orang, termasuk petugas meja depan dan pelayan kamar. Pegawai hotel mengawasi tamu-tamu mereka, dan mereka memiliki ingatan yang panjang. Enam bulan dari sekarang seseorang mungkin akan datang ke hotel ini dan mulai bertanya-tanya tentang dirimu. Ia mungkin punya foto. Ia mungkin menawarkan uang sogokan. Dan petugas itu mendadak teringat padamu, juga fakta bahwa kau nyaris tak bisa berbahasa Italia." "Aku punya satu pertanyaan." "Aku hanya punya sedikit jawaban." "Mengapa di sini? Mengapa aku dibawa ke negara yang bahasanya sama sekali tak kukuasai? Mengapa bukan Inggris atau Australia, di mana aku bisa membaur dengan lebih mudah?"

"Keputusan itu diambil oleh orang lain, Marco Bukan olehku.'5 "Sudah kuduga." "Jadi mengapa kautanyakan?" "Entahlah. Bolehkah aku mengajukan permohonan pindah?"

"Pertanyaan yang juga tak berguna." "Gurauan buruk, tapi bukan pertanyaan buruk." "Bisakah kita lanjutkan?" "Ya"

"Selama beberapa hari pertama aku akan mengajakmu makan siang dan makan malam. Kita akan bergerak terus, selalu pergi ke tempat yang berbeda. Treviso kota yang menyenangkan dengan banyak kafe, dan kita akan mencoba semuanya Kau harus mulai berpikir kalau aku sudah tak ada di sini. Hati-hatilah dengan orang-orang yang kau-jumpai."

"Aku punya pertanyaan lagi." "Ya, Marco."

"Mengenai uang. Aku sungguh-sungguh tak menyukai keadaan tak punya uang. Apakah kalian berencana memberiku uang saku atau apa? Aku bersedia mencuci mobilmu dan melakukan tugas-tugas lain."

"Apa itu uang saku?"

"Uang tunai, oke? Uang yang tersedia di kantongku."

"Jangan khawatir, tentang uang. Sementara ini, aku yang akan membayar tagihan-tagihan. Kau tidak akan kelaparan."

"Baiklah."

Luigi merogoh dalam-dalam saku jaket berburu itu dan mengeluarkan ponsel. "Ini untukmu."

"Dan siapa, tepatnya, yang akan kutelepon?"

"Aku, kalau kau membutuhkan sesuatu. Nomorku ada di bagian belakang."

Joel menerima ponsel itu dan meletakkannya di meja. "Aku lapar. Aku membayangkan menikmati makan siang yang panjang dengan pasta dan anggur serta hidangan pencuci mulut, dan tentu saja espresso—jelas bukan cappuccino pada jam-jam sekarang ini. Sudah empat hari aku berada di Italia, dan belum makan apa pun kecuali keripik jagung dan sandwich. Bagaimana?"

Luigi melirik jam tangannya. "Aku tahu tempat yang ideal, tapi sebelumnya urusan bisnis dulu. Kau tidak bisa bahasa Italia, bukan?"

Joel memutar matanya dan mengembuskan napas keras-keras karena frustrasi. Lalu ia berusaha tersenyum dan berkata, "Tidak, aku belum memperoleh kesempatan untuk mempelajari bahasa Italia, atau Prancis, atau Jerman, atau apa pun. Aku orang Amerika, oke, Luigi? Negaraku lebih luas daripada seluruh Eropa digabung jadi satu. Kau hanya perlu bicara bahasa Inggris di sana."

"Kau orang Kanada, ingat?" "Oke, terserah, pokoknya kami sama-sama tet isolasi. Hanya ada kami orang-orang Kanada dai orang-orang Amerika." "Tugasku adalah menjagamu retap hidup." "Terima kasih."

"Dan untuk membantu pencapaian tujuan itu, kau perlu belajar bahasa Italia secepat mungkin." "Aku mengerti."

"Kau akan mendapat guru, mahasiswa muda bernama Ermanno. Kau akan belajar dengannya pada pagi dan siang hari. Pekerjaan itu akan sulit." "Untuk berapa lama?"

"Selama yang diperlukan. Tergantung padamu. Kalau kau mau bekerja keras, dalam tiga atau empat bulan kau akan mampu mandiri."

"Buruh berapa lama kau mempelajari bahasa Inggris?"

"Ibuku orang Amerika. Kami bicara bahasa Inggris di rumah, bahasa Italia di tempat-tempat lain."

"Curang. Kau bisa bahasa apa lagi?"

"Spanyol, Prancis, beberapa lagi yang lain. Ermanno guru yang baik. Ruang kelasnya tak jauh dari sini"

"Bukan di sini, di hotel?"

Tidak, tidak, Marco. Kau harus ingat jejak yang

dapat kautinggalkan. Apa yang akan dipikirkan bellboy dan pelayan kamar jika ada seorang pemuda yang menghabiskan empat jam sehari di dalam kamar ini bersamamu?" "Astaganaga."

"Pelayan kamar akan menguping di pintu kamar dan mendengar kalian sedang belajar bahasa. Dia akan berbisik-bisik pada atasannya. Dalam satu-dua hari seluruh staf akan mengetahui bahwa pengusaha Kanada ini sedang belajar dengan intensif. Bayangkan, empat jam sehari!"

"Mengerti. Sekarang tentang makan siang."

Ketika meninggalkan hotel, Joel tersenyum pada petugas meja depan, petugas kebersihan, dan beli captain tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berjalan sejauh satu blok ke pusat kota Treviso, Piazza dei Signori, alun-alun utama yang dikelilingi deretan toko dan kafe. Saat itu tengah hari dan lalu lintas orang yang berjalan kaki cukup padat ketika penduduk setempat hendak makan siang. Udata bertambah dingin, walaupun Joel cukup nyaman tetbungkus mantel luarnya yang terbuat dari wol. Ia berusaha semampunya agar kelihatan seperti orang Italia.

"Di dalam atau di luar?" tanya Luigi.

"Di dalam," sahut Joel, dan mereka pun masuk ke Caffe Beltrame, menghadap ke piazza. Oven batu bata yang ada di bagian depan kafe

menghangatkan tempat itu, dan aroma masaku sehari-hari menebar dari bagian belakang. Luig dan kepala pelayan berbicara bersamaan, lalu mereka rertawa, dan sebuah meja di dekat jendel; disediakan untuk mereka.

"Kita beruntung," ujar Luigi sementara mereka menanggalkan mantel dan duduk. "Hidangan spesial hari ini adalah faraona con polenta? "Dan makanan apakah itu?" "Sejenis burung puyuh dengan polenta." "Apa lagi?"

Luigi mempelajari salah satu papan tulis yang tergantung di balok kayu kasar yang melintang di atas. "Panzerotti di junghi al burro—pastri jamur yang ditumis dengan mentega. Conchkk cm cavalfiori—pasta kerang dengan kembang kol. j Spiedino di carne misto alia grigiia—kebab bermacam-macam daging yang dipanggang." "Aku mau semuanya." "Anggur mereka lumayan enak." "Aku suka anggur merah." Dalam beberapa menit kafe tersebut dipenuhi penduduk setempat, semua orang tampak mengenal satu sama lain. Seorang lelaki pendek yang periang dengan celemek putih kotor melesat menghampiri meja, melambat sejenak untuk berkontak mata dengan Joel, lalu hanya mendengar tanpa menulis apa-apa sementara Luigi menccrocos tentang ma-

kanan apa saja yang mereka inginkan. Seguci anggur merah setempat datang bersama semangkuk minyak zaitun hangat dan sepiring roti focaccia yang sudah diiris-iris, dan Joel pun mulai makan. Luigi sibuk menerangkan kompleksitas makan siang dan sarapan, kebiasaan dan tradisi serta kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan para turis yang berusaha meniru orang Italia sejati.

Bersama Luigi, segalanya bisa menjadi pengalaman belajar.

Walaupun Joel hanya menyesap sedikit-sedikit dan menikmati perlahan-lahan gelas anggurnya yang pertama, alkohol langsung menyerbu otaknya. Rasa hangat dan kebas menguasai tubuhnya. Ia bebas, bertahun-tahun lebih cepat daripada jadwal semula, duduk di kafe kecil yang menarik di sebuah kota di Italia yang tak pernah ia dengar namanya, minum anggur setempat yang nikmat, dan menghirup aroma masakan yang sedap. Ia tersenyum pada Luigi seraya penjelasan itu terus dilanjutkan, namun pada suatu titik Joel pun melayang ke dunia lain.

Ermanno mengaku berusia 23 tahun, tapi tampangnya tak lebih tua dari enam belas. Ia jangkung dan amat kurus, dan dengan rambut berwarna seperti pasir serta mata cokelat muda, ia lebih mirip orang

Jerman daripada Italia. Ia juga sangat pemalu dan penggugup, dan Joel tidak menyukai kesan pertama itu.

Mereka menemui Ermanno di apartemennya yang kecil, di lantai tiga suatu gedung tak tetawat, enam blok atau lebih dari hotel Joel. Ada tiga ruangan sempit—dapur, kamar tidur, ruang duduk—dengan perabotan seadanya, tapi toh Ermanno masih mahasiswa dan keadaan seperti itu tidak mengherankan. Masalahnya, Ermanno seperti baru pindah kemari dan mungkin akan pindah lagi sewaktu-waktu.

Mereka duduk mengelilingi meja kecil di tengah-tengah ruang duduk. Tidak ada televisi. Ruangan itu dingin dan penerangannya kurang, dan Joel merasa seperti ditempatkan di jalur bawah tanah tempat para pelarian dijaga tetap bernyawa dan dipindahkan ke tempat lain dengan diam-diam. Kehangatan acara makan siang yang berlangsung dua jam tadi pun pudar dalam waktu singkat. Kegugupan gurunya juga tidak membantu. Ketika Ermanno tidak mampu mengendalikan jalannya pertemuan, Luigi dengan segera mengambil alih dan memulainya. Ia menyarankan mereka belajar setiap pagi mulai pukul sembilan hingga pukul sebelas, istirahat dua jam, lalu mulai lagi pada pukul 13.30 dan belajar sampai mereka lelah. Pengaturan ini rupanya tidak menimbulkan masalah

baik bagi Ermanno maupun Joel, yang berpikir akan mengajukan pertanyaan yang paling jelas: Kalau guruku yang baru ini mahasiswa, bagaimana ia bisa punya waktu untuk mengajarku sepanjang hari? Tapi Joel membiarkan pertanyaan itu berlalu. Ia akan mengejarnya lagi lain kali.

Oh, betapa banyak pertanyaan yang menumpuk di kepalanya!

Ermanno akhirnya bisa santai dan menjelaskan materi pelajaran. Kalau ia berbicara lambat-lambat, aksennya tidak mengganggu. Namun bila ia terburu-buru, seperti yang cenderung ia lakukan, bahasa Inggris-nya itu boleh dibilang kedengaran sama seperti bahasa Italia. Sekali Luigi menyela dan berkata, "Ermanno, sebaiknya kau bicara dengan sangat lambat, paling tidak selama hari-hari pertama."

"Tetima kasih," ucap Joel, seperti penjilat kelas

satu.

Pipi Ermanno benar-benar merona merah dan dengan tersipu-sipu ia berkata, "Maaf."

Ia memberikan bahan pelajarannya yang pertama—buku pegangan pertama, bersama tape kecil dan dua kaset. "Kaset ini sesuai dengan isi buku," ujarnya, dengan sangat perlahan. "Malam ini kau harus mempelajari bab satu dan mendengarkan kedua kaset itu beberapa kali. Besok kita akan mulai dari sana."

"Akan sangat berat," Luigi menambahkan, mem. berikan lebih banyak tekanan, seolah masih diperlu-kan.

"Di mana kau belajar bahasa Inggris?" tanya Joel.

"Di universitas," sahut Ermanno. "Di Bologna." "Jadi kau tidak pernah sekolah di Amerika Serikat?"

"Pernah juga," katanya, melirik cepat ke arah Luigi, seolah ia tidak membicarakan apa pun yang terjadi di Amerika. Tidak seperti Luigi, Ermanno mudah terbaca; jelas ia bukan profesional. "Di mana?" tanya Joel, mengorek-ngorek lagi, I ingin melihat seberapa dalam ia bisa menggali. "Furman," jawab Ermanno, "sekolah kecil di South Carolina." "Kapan kau pergi ke sana?" Luigi berdeham-deham, bertindak sebagai juru selamat. "Kalian akan punya banyak waktu untuk berbasa-basi nanti. Penting bagimu untuk melupakan bahasa Inggris, Marco. Mulai hari ini, kau akan hidup di dunia orang Italia. Semua benda yang kaupegang memiliki nama dalam bahasa Italia. Semua pikiran harus diterjemahkan, Dalam satu minggu kau harus bisa memesan makanan di restoran. Dalam dua minggu kau harus bisa bermimpi dalam bahasa Italia. Kau harus membenamkan diri secara mutlak dan total dalam

bahasa dan kebudayaan Italia, tidak ada jalan kembali lagi."

"Kita bisa mulai pukul delapan pagi?" tanya joel.

Ermanno melirik dan beringsut gelisah, kemudian akhirnya berkata, "Mungkin jam setengah sembilan saja."

"Bagus. Aku akan datang ke sini pukul setengah sembilan pagi."

Mereka meninggalkan apartemen itu dan berjalan kembali ke Piazza dei Signori. Saat itu sore hari, lalu lintas terlihat lebih tenang, trotoar nyaris kosong. Luigi berhenti di depan Trattoria del Monte. Ia mengangguk ke arah pintu, dan berkata, "Aku akan menemuimu di sini pukul delapan untuk makan malam, oke?"

"Ya. Oke."

"Kau tahu di mana letak hotelmu?"

"Ya, albergo itu."

"Dan kau memiliki peta kota?"

"Ya."

"Bagus. Sekarang kau sendirian, Marco." Dan sesudah betkata demikian Luigi masuk ke gang kecil dan menghilang. Joel memandanginya sejenak, lalu kembali menyusuri alun-alun utama.

Ia merasa sangat kesepian. Empat hari setelah meninggalkan Rudley, akhirnya ia bebas, tanpa seorang pun mendampinginya, mungkin juga tidak diawasi,

walau ia meragukan dugaan iru. Seketika itu ¦ ia memutuskan untuk berjalan-jalan keliling k^ menularkan urusannya sendin, seakan tidak ^ yang sedang mengawasinya. Dan lebih lanjut I memutuskan, sementara berlagak meneliti bend, benda yang dipajang di eralase toko kecil yan menjual barang-barang dari kulit, bahwa ia tidak akan menghabiskan seluruh hidupnya menengok ke belakang. Mereka tidak akan menemukannya. Ia melangkah santai sampai mendapati dirinya berada di Piazza San Vito, alun-alun kecil dengan dua gereja yang sudah berdiri selama tujuh ratus tahun. Gereja Santa Lucia dan San Vito sama-sama rutup, tapi, menurut plakat kuningan kuno yang menempel di sana, kedua gereja itu akan buka kembali pada pukul 16.00 sampai 18.00. Tempat macam apa yang tutup dari tengah hari sampai pukul empar sore?

Tapi bar-bar yang ada di sekitarnya tidak tutup, hanya nyaris tak berpengunjung. Akhirnya Joel berhasil mengumpulkan keberanian untuk masuk ke salah satu bar tersebut. Ditariknya bangku tinggi sambil menahan napas, lalu diucapkannya kata "birra" ketika bartender mendekat.

Bartender itu balas melontarkan rentetan kata-kata, menunggu tanggapan, dan sesaat Joel nyaris tergoda untuk segera kabur dari sana. Tapi kemu-

a melihat keran bir, menudingnya seolah jelas !Jj^h yang ia inginkan, lalu si bartender meraih lelas bir kosong.

Bir pertamanya setelah enam tahun. Rasanya (jingin, berat, sedap, dan ia menikmati setiap tetesnya Opera sabun berceloteh di televisi, di suatu tempat di ujung bar. Sesekali ia mendengarkan, tidak memahami sepatah kata pun, dan berusaha keras meyakinkan diri bahwa ia akan mampu menguasai bahasa tersebut. Ketika sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan tempat itu dan berjalan santai kembali ke hotelnya, Joel menatap ke luar jendela.

Stennett berjalan lewat.

Joel memesan bir lagi.

7

Kasus Backman telah ^dokumentasikan dengan saksama oleh Dan Sandberg, wartawan veteran dari The Washington Post. Pada tahun 1988, ia yang telah mengungkap berita tentang dokumen-dokumen rahasia tertentu yang meninggalkan Pentagon tanpa izin. Penyelidikan FBI yang kemudian mengikuti membuatnya sibuk selama setengah tahun, dan selama itu ia telah menulis delapan belas berita, sebagian besar dimuat di halaman depan. Ia memiliki kontak-kontak yang dapat diandalkan di CIA dan FBI. Ia mengenal para parmer di Backman, Pratt and Boiling, dan pernah melewatkan waktu di dalam ruang-ruang kantor mereka. Ia mengejar-ngejar Departemen Kehakiman untuk mencari informasi. Ia ada di ruang sidang

., gackman tergesa-gesa menyatakan dirinya

bersalah dan kemudian menghilang. Setahun kemudian ia telah menulis dua buku ntang skandal tersebut. Ia berhasil menjual edisi

^ard cover sebanyak 24.000 eksemplar, jumlah yang

lumayan, dan sekitar separo jumlah itu dalam edisi

paperback.

Selama proses itu, Sandberg berhasil membina beberapa relasi yang penting. Salah satunya berkembang menjadi sumber yang berharga, selain juga tak disangka-sangka. Sebulan sebelum kematian Jacy Hubbard, Carl Pratt, yang pada saat itu masih menjadi tersangka utama, seperti juga sebagian besar partner lain di biro hukum itu, menghubungi Sandberg dan mengatur pertemuan. Akhirnya mereka bertemu belasan kali,, selama skandal itu berlangsung, dan selama tahun-tahun berikutnya mereka menjadi teman minum bir. Mereka menyisihkan waktu untuk bertemu diam-diam paling tidak dua kali setahun untuk bertukar gosip.

Tiga hari setelah berita pengampunan hukuman mi tersiar, Sandberg menelepon Pratt dan mengatur pertemuan di tempat favorit mereka, sebuah bar mahasiswa di dekat Georgetown University.

Pratt tampak kacau-balau, sepertinya ia banyak minum selama berhari-hari terakhir. Ia memesan vodka; Sandberg memesan bir seperti biasa.

"Jadi, di mana kawan kita berada?" tanya Sandb sambil menyeringai.

"Ia tidak lagi di penjara, itu jelas." Pratt mene gak vodkanya dengan tegukan yang mematilt lalu mendecakkan bibir. "Tidak ada kabar dari dia?" "Tidak. Aku tidak dapat kabar, orang-orang 1 di biro juga tidak."

"Apakah kau akan terkejut kalau ia menelep atau mampir?"

"Ya dan tidak. Kalau menyangkut Backrna rak ada yang membuatku terkejut." Segelas vodl lagi. "Kalau ia tidak akan menginjakkan kaki i D.C. lagi, aku tidak akan terkejut. Kalau besok; muncul dan mengumumkan akan membuka biro hukum baru, aku tidak akan terkejut."

"Tapi pengampunan hukuman itu membuatmu kaget."

"Ya, tapi karena itu tidak termasuk dalam kesepakatan Backman."

"Aku tidak yakin." Seorang mahasiswi berjalan masuk dan Sandberg mengamatinya. Sebagai duda yang sudah dua kali cerai, ia mencari mangsa setiap saat Dihirupnya birnya, lalu berkata, "Ia tidak bisa berpraktik hukum lagi, bukan? Kupikir mereka telah mencabut izinnya."

"Hal itu tidak akan menghalangi Backman Ia bisa menyebutnya 'koneksi pemerintah' atau

'konsultasi' atau apalah. Tetap saja itu pekerjaan melobi, di situlah letak keahliannya, dan kau tidak perlu izin untuk melakukan pekerjaan itu. Persetan, pengacara-pengacara yang ada di kota ini separonya bahkan tidak bisa menemukan gedung pengadilan terdekar. Tapi tenru saja mereka tahu persis di mana letak Capitol Hill."

"Bagaimana dengan para klien?"

"Tidak mungkin terjadi. Backman tidak akan kembali ke D.C. Kecuali kau mendengar berita lain?"

"Aku tidak dengar apa-apa. Ia menghilang begitu saja. Di penjara tak ada orang yang mau buka mulut. Aku tidak mendapatkan apa pun dari para pemgas

  • "Apa teorimu?" tanya Pratt, lalu menghabiskan isi gelasnya dan sepertinya bersiap untuk memesan lagi.

    "Hari ini aku mendapat kabar bahwa Teddy Maynard pergi ke White House pada larut malam tanggal sembilan belas. Hanya orang seperti Teddy yang mampu memaksa Morgan melakukan hal itu. Backman keluar dari penjara, mungkin dengan pengawalan, lalu lenyap."

    "Program perlindungan saksi?"

    "Semacam itulah. CIA sudah sering menyembunyikan orang sebelumnya. Harus begitu. Tidak ada catatan resmi, namun mereka mempunyai sumber daya untuk itu."

    "Mengapa mereka menyembunyikan Backman?" "Balas dendam. Ingat Aldrich Ames, mata-mata paling berbahaya yang pernah menyusupi CIA?" "Tentu."

    "Sekarang dikurung dengan aman di penjara J federal Tahukah kau bahwa CIA akan senang sekali kalau bisa menghabisinya? Mereka tidak bisa melakukannya karena itu melanggar hukum—mereka tidak boleh membunuh warga negara Amerika Serikat, baik di dalam maupun di luar negeri."

    "Backman bukan mara-mata CIA. Ia membenci Teddy Maynard, dan perasaan Maynard padanya juga sama."

    "Maynard tidak akan membunuhnya. Ia hanya mengatur agar orang lain yang memperoleh kesenangan itu."

    Pratt sudah berdiri lagi. "Kau mau minum lagi?" ia bertanya, sambil menuding gelas bir Sandberg.

    "Mungkin nanti." Sandberg mengangkat gelasnya untuk kedua kalinya, dan minum.

    Sewaktu Pratt kembali sambil membawa vodka dobel, ia duduk dan berkata, "Jadi menurutmu Backman tinggal menunggu waktu?"

    "Kau tadi menanyakan teoriku. Aku mau dengar teorimu."

    Sam tegukan besar vodka, lalu, "Kesimpulan yang sama, tapi dari sudut pandang yang sedikit berbeda." Pratt memasukkan telunjuknya ke dalam

    minuman tersebut, mengaduknya, lalu menjilat jarinya sambil berpikir beberapa jenak. "Off the

    record, oke?"

    "Tentu saja." Begitu banyak yang mereka bicarakan selama tahun-tahun yang telah lewat sehingga semuanya masuk kategori off the record.

    "Ada selang delapan hari antara kematian Hubbard dan pernyataan bersalah Backman. Itu saat-saat yang sangat menakutkan. Kim Boiling dan aku berada di bawah perlindungan FBI, dua puluh empat jam sehari, di mana pun, ke mana pun. Aneh juga sebenarnya. Sejak lama FBI berupaya sekuat tenaga untuk memenjarakan kami, namun pada saat yang sama terpaksa harus melindungi kami." Sambil menyesap minuman, ia melirik ke sekelilingnya untuk memeriksa kalau-kalau ada mahasiswa college yang mencuri dengar. Tidak ada. "Ada banyak ancaman serius dari orang-orang yang membunuh Jacy Hubbard. FBI menginterogasi kami sesudah itu, berbulan-bulan setelah Backman dipenjara dan situasi mulai reda. Kami merasa sedikit aman, tapi Boiling dan aku menyewa petugas keamanan bersenjata selama dua tahun sesudahnya. Sampai sekarang aku masih sering melirik ke kaca spion. Kim yang malang kehilangan kewarasannya."

    "Siapa yang mengancam kalian?"

    "Orang-orang yang akan gembira kalau bisa menemukan Joel Backman."

    "Siapa?"

    "Backman dan Hubbard membuat kesepakatan untuk menjual produk mereka itu pada pikat Saudi dengan imbalan banyak uang. Sangat mahal, tapi jauh lebih murah ketimbang harus membangun sistem satelit yang benar-benar baru, Hubbard terbunuh. Backman buru-buru masuk ke penjara, dan pihak Saudi sama sekali tidak senang. Begitu juga Israel, karena mereka juga menginginkan kesepakatan itu. Ditambah lagi, mereka marah karena Hubbard dan Backman mau berunding dengan Saudi." Ia terdiam dan menyesap minumannya, seolah membutuhkan keteguhan hati untuk menyelesaikan kisahnya. "Selain itu, ada orang-orang yang membuat sistem itu pertama kali." "Rusia?"

    "Barangkali bukan mereka. Jacy Hubbard menyukai cewek-cewek Asia. Terakhir kali ia terlihat sedang bersama wanita cantik bertungkai jenjang, dengan rambut hitam panjang dan wajah bulat, yang berasal dari bagian dunia yang lain. Cina Merah menggunakan ribuan orang mereka untuk mengumpulkan informasi. Semua mahasiswa, pengusaha, diplomat mereka yang ada di Amerika. Tempat ini penuh orang-orang Cina yang mengendus-endus. Tambahan lagi, dinas intelijen mereka memiliki banyak agen yang efektii. Untuk masalah

    semacam ini, mereka tidak akan ragu-ragu mem-; buru Hubbard dan Backman."

    "Kau yakin Cina Merah yang bertanggung ja-

    I wab?"

    "Tidak ada yang bisa yakin, oke? Mungkin Backman tahu persis, tapi ia tidak pernah memberitahu siapa pun. Asal kau tahu, CIA bahkan tidak tahu tentang sistem itu. Mereka kecolongan dan sampai kini Teddy masih berusaha menebusnya." "Teddy pasti bersenang-senang, ya?" "Jelas. Ia mencekoki Morgan dengan alasan keamanan nasional. Tak perlu heran, Morgan langsung percaya. Backman bebas. Teddy menyelundupkannya ke luar negeri, lalu mengamati siapa yang muncul sambil membawa senapan. Bagaimana pun hasil permainan ini, Teddy tidak rugi apa-apa."

    "Rencana brilian."

    "Jauh melampaui itu, Dan. Pikirkan saja. Ketika Joel Backman menghadap penciptanya, tidak akan ada orang yang mengetahuinya. Sekarang ini tak ada orang yang tahu di mana ia berada. Tak ada ada orang yang tahu siapa dia sesungguhnya ketika mayatnya ditemukan."

    "Kalau mayatnya bisa ditemukan."

    "Tepat sekali."

    "Apakah Backman menyadari hal ini?"

    Pratt menghabiskan gelas keduanya dan mengu. sap mulurnya dengan lengan baju. Keningnya berkerut dalam. "Backman bukan orang bodoh. Tapi banyak hal yang kita ketahui sekarang baru ketahuan setelah ia dipenjara. Ia berhasil bertahan hidup selama enam tahun dalam kurungan, jadi ia mungkin beranggapan dapat bertahan hidup dalam situasi apa pun."

    Critz masuk ke pub yang tak jauh dari Hotel Connaught di London. Gerimis tipis menjadi semakin deras dan ia perlu tempat berteduh. Mrs, Critz berada di apartemen kecil yang dipinjamkan oleh majikan mereka yang baru, jadi Critz memiliki kemewahan untuk duduk di pub yang ramai, tanpa ada orang yang mengenalinya, dan menenggak beberapa gelas minuman. Seminggu di London telah berlalu, dengan satu minggu lagi sebelum ia harus memaksa diri menyeberangi Atlantik, kembali ke D.C., tempat ia akan me mulai pekerjaan melobi yang mengenaskan bagi perusahaan yang memproduksi rudal rongsokan, di samping perangkat keras lainnya, yang diberid Pentagon namun bagaimanapun terpaksa diterima karena perusahaan tersebut memiliki pelobi-pelobi yang tepat.

    Ia menemukan bilik kosong, yang masih terlihat

    di balik kabut asap cerutu, lalu menyusup ke sana dan mencari posisi yang nyaman di balik gelas birnya. Sungguh mengasyikkan bisa minum sendiri tanpa khawatir akan dipergoki seseorang yang menghampirinya dan berkata, "Hei, Critz, apa yang dipikirkan kalian kaum idiot ketika menjatuhkan veto Berman?" Bla bla bla.

    Ia menyerap suara-suara Inggris yang riang, orang-orang setempat yang datang dan pergi. Ia bahkan tidak keberatan dengan asapnya. Ia seorang diri dan tak seorang pun mengenalnya, dan diam-diam ia menikmati saat-saat pribadi itu.

    Namun status anonim itu tidak bisa ia nikmati sepenuhnya. Dari belakangnya, seorang pria kecil yang mengenakan topi pelaut muncul dan menyusup ke biliknya di seberang meja, membuat Critz terkejut.

    "Keberatan bila aku duduk di sini, Mr. Critz?" tanya si pelaut sambil tersenyum dan memperlihatkan gigi-gigi besar yang kuning. Kelak Critz akan selalu mengingat gigi jelek itu.

    "Duduklah," ujar Critz dengan waspada. "Kau punya nama?"

    "Ben." Lelaki itu bukan orang Inggris, dan bahasa ibunya jelas bukan bahasa Inggris. Ben berumur sekitar tiga puluh, rambut gelap, mata cokelat tua, dan hidung panjang runcing membuatnya mirip orang Yunani.

    Tak ada nama keluarga, ya?" Critz menyesap ^ gelasnya dan bertanya, "Bagaimana persisnya ^ bisa tahu namaku?" "Aku tahu segala hal tentang curimu." "Aku tak menyadari aku setenar itu." "Aku tidak akan menyebutnya tenar, Mr. Cri^ Biar kupersingkat saja. Aku bekerja untuk beberap, orang yang sangat ingin menemukan Joel Backman Mereka bersedia membayar mahal, tunai. Tunai dalam peti uang, atau tunai dalam rekening bank! Swiss, terserah. Semua bisa dilakukan dengan cepat, dalam beberapa jam. Beritahu saja di mana di berada, dan kau akan mendapat.jutaan dolar, tanpa ada orang yang tahu." "Bagaimana kau bisa menemukanku?" "Mudah saja, Mr. Critz. Kami ini, katakan saja, profesional." "Mata-mata?"

    "Itu tidak penting. Kami adalah kami, dan kami akan menemukan Mr. Backman. Pertanyaannya, apakah kau menginginkan jutaan dolar itu?"

    "Aku tidak tahu di mana dia berada."

    Tapi kau bisa mencari tahu."

    "Mungkin."

    "Apakah kau bersedia melakukan transaksi?" "Tidak dengan bayaran jutaan dolar." "Kalau begitu, berapa?" "Aku harus memikirkannya dulu."

    "Berpikirlah dengan cepat."

    "Dan kalau aku tidak bisa menemukan informasi

    itu?"

    "Kami tidak akan mencarimu lagi. Pertemuan ini tidak pernah terjadi. Sesederhana itu."

    Critz meneguk birnya lambat-lambat dan merenungkannya. "Oke, katakanlah aku bisa mendapatkan informasi itu—aku tidak terlalu optimistis;—tapi bagaimana kalau aku beruntung? Lalu bagaimana?"

    "Ambil penerbangan Lufthansa dari Dulles ke Amsterdam, kelas satu. Mendaftarlah ke Hotel Amstel di Biddenham Street. Kami akan menemukanmu, seperti kami telah menemukanmu di

    sini."

    Critz terdiam dan menghafal detail-detail itu. "Kapan?" tanya Critz.

    "Secepat mungkin, Mr. Critz. Ada pihak-pihak lain yang juga sedang mencarinya."

    Ben pun menghilang secepat kemunculannya, meninggalkan Critz yang menajamkan pandangan di tengah kabut asap dan bertanya-tanya sendiri apakah ia baru saja bermimpi. Ia meninggalkan pub itu satu jam kemudian, dengan wajah tersembunyi di bawah payung, yakin bahwa ia tengah diawasi.

    Apakah mereka juga mengawasinya di Washington? Ia mendapat perasaan tak enak bahwa mereka melakukannya juga di sana.

    8

    Siesta itu tidak berhasil. Anggur saat makan siang dan dua gelas bir di sore harinya juga tidak men,, bantu. Terlalu banyak yang harus dipikirkan.

    Lagi pula ia sudah cukup banyak beristirahat; | dalam sistem mbuhnya sudah banyak menumpul walau tidur. Enam tahun di penjara soliter mampu merendahkan kondisi tubuh manusia menjadi begitu pasif sehingga tidur menjadi aktivitas yang utama. Setelah beberapa bulan di Rudley, Joel tidur delapan jam di malam hari dan tidur siang cukup lama setelah makan siang, namun itu dapat dipahami karena ia sangat kurang tidur selama dua pnhih tahun sebelumnya, ketika harus menjaga keutuhan republik pada siang hari dan mengejar ngejar perempuan sampai pagi. Setelah satu tahun ia bisa mengandalkan sembilan, bahkan sepul"1

    jam metn

    tidur. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain baca dan menonton TV. Hanya karena bosan,

    ia pern

    ah mengadakan survei, salah satu dari sekian banyak survei rahasianya, dengan mengedarkan i „Uar kertas dari satu sel ke sel yang lain, semen-tara para penjaga menikmati tidur siang mereka sendiri Dari 37 responden dalam bloknya, rata-rata tidur sebelas jam sehari. Mo, si informan Mafia, menyatakan ia bisa tidur enam belas jam dan sering -kali dengkurannya terdengar pada tengah hari. Mad Cow Miller yang paling rendah angkanya dengan hanya tiga jam tidur, namun pria malang itu sudah kehilangan kewarasan beberapa tahun sebelumnya, sehingga Joel terpaksa tidak menyertakan pria itu dalam surveinya.

    Ada juga serangan-serangan insomnia, periode-periode panjang memandangi kegelapan dan memikirkan kesalahan-kesalahan, anak-cucu, rasa malu di masa lalu, dan rasa takut akan masa depan. Dan ada juga minggu-minggu ketika pil-pil tidur dikirim ke selnya, satu demi satu, tanpa memberikan hasil. Joel selalu curiga pil-pil itu hanya obat penenang.

    Tetapi enam tahun di sana adalah masa tidur yang panjang. Tubuhnya sudah cukup beristirahat. Sekarang otaknya bekerja lembur.

    Perlahan-lahan ia beranjak dari tempatnya berbaring selama satu jam tanpa mampu memejamkan mata, dan berjalan ke meja kecil, mengambil ponsel

    ia*

    yang dmerikan Luigi padanya. Dibawanya pon» itu ke jendela, ditekannya nomor yang direkatkai di bagian belakang, dan setelah empat deringan i mendengar suara yang familier. "Ciao, Marco. Come stat? "Hanya ingin mengecek apakah benda ini berfungsi," ujar Joel.

    "Kaupikir aku mau memberimu barang rusak?" tanya Luigi. Tidak, tentu saja tidak." "Bagaimana tidur siangmu?" "Uh, lumayan, lumayan. Sampai jumpa saat makan malam nanti." "Ciao."

    Di manakah Luigi berada? Mengendap-endap di sekitar sini dengan ponsel di saku, hanya menunggu Joel menelepon? Mengawasi hotel? Kalau Stennett dan sopirnya masih ada di Treviso, bersama Luigi dan Ermanno, berarti ada empat "kawan" dari berbagai variasi yang ditugaskan untuk mengawasi setiap gerak-gerik Joel Backman.

    Digenggamnya erat-erat ponsel itu dan ia bertanya-tanya siapa saja di luar sana yang tahu tentang panggilan telepon tadi. StApiL lagi yang mendengarkan? la melirik jalanan di bawah dan penasaran siapa lagi yang ada di bawah sana. Hanya Luigi? '

    Ditepiskannya }t . ,

    u oan ia pun duduk di

    meja. Ia ingin minum kopi, mungkin espresso dobel untuk menyiagakan saraf-sarafnya, yang jelas bukan cappuccino karena ini sudah sore. Tapi ia belum siap mengangkat telepon dan memesan. Ia bisa sejauh "halo" dan "kopi", tapi pasti akan ada banjir kata-kata yang tidak dipahaminya.

    Bagaimana orang bisa bertahan tanpa kopi yang kental? Sekretaris favoritnya dulu selalu menyediakan secangkir kopi Turki kentalnya yang pertama tepat pada pukul 06.30 setiap pagi, enam hari seminggu. Ia nyaris menikahi wanita itu. Pada pukul sepuluh saraf sang broker begitu tegang dan ia mulai melempar barang-barang, membentak-bentak bawahannya, dan menerima tiga telepon sekaligus sementara para senator disuruhnya menunggu.

    Kenangan itu tidak membuatnya gembira. Memang tidak pernah menyenangkan. Ada banyak saat-saat seperti itu, dan selama enam tahun dalam pengasingan, ia mencanangkan perang mental hebat untuk membersihkan masa lalunya.

    Kembali ke masalah kopi, yang takut dipesannya karena kendala bahasa. Joel Backman tidak pernah takut pada apa pun, dan kalau ia bisa mengendalikan tiga ratus rancangan undang-undang bergerak di antara labirin Kongres, dan bila ia bisa melakukan seratus panggilan telepon dalam sehari nyaris tanpa melirik Rolodex maupun daftar telepon, ia pasti dapat mempelajari bahasa Italia

    yang sederhana untuk memesan kopi. Diaturnya bahan-bahan peJajaran Ermanno dengan rapi

    Beberapa halaman kemudian ada dapur, lalu kamar tidur, dan kamar mandi. Setelah satu jam, masih tanpa kopi, Joel mulai berjalan pelan mengelilingi kamarnya, menuding dan membisikkan nama-nama semua benda yang dilihatnya: ranja letto; lampu, lampoda; jam dinding, orobgio; sapone. Ada beberapa kata kerja yang ditambahkannya demi kewaspadaan: berbicara, porldre; joa-kan, mangiare, minum, here, berpikir, pensare. h berdiri di depan cermin (specchio) kecil di kamu mandi (bagno), dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ia adalah Marco. "Sono Marco, sono Marco," begitu ucapnya berulang-ulang. Aku Marco. Aku Marco. Pada mulanya terasa kc tapi perasaan itu harus disingkirkan. Taruhanr

    (rlalu mahal kalau ia ingin bertahan dengan nama ma yang bisa membuatnya terbunuh. Kalau men-li Marco dapat menyelamatkan nyawanya, jadilah Marco. Marco. Marco. Marco. Ia mulai mencari kata-kata yang tidak ada di lam gambar. Di kamusnya yang baru, ia menemu-a carta igienica untuk tisu toilet, guanciale untuk ratal, soffitto yang berarti langit-langit. Semua ida mempunyai nama baru, semua objek di da-\ kamar tidurnya, dalam dunianya yang kecil, f semua yang bisa ia lihat pada saat itu menjadi I sesuatu yang baru. Berulang-ulang, sementara matanya berpindah dari satu benda ke benda lain, ia ; menggumamkan namanya dalam bahasa Italia. Bagaimana dengan dirinya sendiri? Ia punya otak, cervelb. Ia menyentuh tangannya, mono; lengan, braccio; tungkai, gamba. Ia harus bernapas, respirare; melihat, vederc, menyentuh, mcart, mendengar, sentire; tidur, dormire, bwmimpi, sognare. Ia mulai meracau, dan ia berhenti. Besok Ermanno akan mulai dengan pelajaran pertama, serangan pertama kosa kata dengan penekanan pada hal-hal mendasar: perkenalan, salam, basa-basi, angka satu sampai seratus, nama-nama hari, nama-nama bulan, bahkan alfabet. Kata kerja to be (essere) dan to have (avere), keduanya dikonjugasikan ke bentuk kini, lampau, dan yang akan dat

    Ketika riba saat makan malam, Marco menghafal seluruh pelajaran pertama dan men dengarkan kaset itu belasan kali. Ia melangkah ke udara malam yang sangat sejuk dan berjalan riang ke arah Trattoria del Monte, tempat ia tahu Luigi akan menunggu dengan meja pilihan dan saran-saran terbaik dari daftar menu. Di jalan, pikirannya masih-berputar kencang setelah berjam-jam menghafal. Ia melihat skuter, sepeda, anjing, sepasang gadis kembar, dan seperti ditempeleng kenyataan bahwa ia tidak mengetahui kata-Hua itu dalam bahasanya yang baru. Semuanya (h'tinggalkan di kamar hotelnya. Namun dengan harapan akan datangnya makanan, ia maju terus, tidak khawatir, dan masih yakin bahwa ia, Marco, entah bagaimana akan bisa dipercaya sebagai orang Italia. Di meja sudut, ia menyapa Luigi dengan penuh gaya. "Buona sera, Signore, come sta?"

    "Sto bene, grazie, e tu?" Luigi menjawab dengan senyum senang. Baik, terima kasih, dan kau sendiri?

    "Molto bene, grazie,9 sahut Marco. Baik sekali, terima kasih. "Jadi kau sudah belajar, ya?" tanya Luigi. "Ya, tidak ada kegiatan lain." Sebelum Marco membuka lipatan serbetnya, seorang pramusaji berhenti di meja mereka sambil

    membawa sebotol anggur merah setempat yang

    dibungkus anyaman jerami. Dengan cekatan ia menuangkan dua gelas, lalu menghilang. "Ermanno

    guru yang baik," ujar Luigi.

    "Kau pernah menggunakannya sebelum ini?" tanya Marco dengan lagak biasa-biasa saja.

    "Ya"

    "Seberapa sering kau membawa orang seperti aku

    dan mengubahnya menjadi orang Italia?" Luigi tersenyum dan menjawab, "Dari waktu ke

    waktu." "Sulit dipercaya."

    "Percayalah apa yang ingin kaupercayai, Marco.

    Semua itu fiksi belaka." "Cara bicaramu seperti mata-mata." '-^fm Kedikan bahu, tanpa tanggapan yang jelas. "Kau bekerja untuk siapa, Luigi?" "Menurutmu siapa?"

    "Kau bagian dari alfabet itu—CIA, FBI, NSA. Mungkin suatu cabang rahasia intelijen militer."

    "Kau senang bertemu denganku di restoran-restoran Italia yang kecil dan menarik seperti ini?" Luigi bertanya.

    "Memangnya aku punya pilihan?"

    "Ya. Kalau kau terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, pertemuan kita akan dihentikan. Dan bila kita tidak lagi bertemu, hidupmu yang sudah rentan itu akan semakin rapuh."

    "Kupikir tugasmu adalah untuk menjagaku teta

    hidup."

    "Memang benar. Jadi berhentilah bertanya-tam/, tentang diriku. Aku yakin jawabannya tidak tersedia."

    Pramusaji muncul pada saat yang tepat, seolah ia bagian dari semua ini, dan menjatuhkan dua daftar menu besar di antara mereka, dengan efektif mengalihkan topik apa pun yang sedang mereka bicarakan. Marco mengernyit melihat daftar makanan itu dan sekali lagi diingatkan betapa masih banyak bahasa Italia yang harus dipelajarinya. Di bagian bawah ia mengenali kata-kata cafe, vino, dan bina.

    "Apa yang kelihatan enak?" ia bertanya. "Kokinya berasal dari Siena, jadi ia menyukai hidangan Tuscany. Risotto dengan jamur porcini enak juga sebagai hidangan pertama. Aku pernah mencicipi steak florentine-nyz, luar biasa."

    Marco menutup menunya dan menghirup aroma yang datang dari arah dapur. "Aku mau dua-duanya"

    Luigi juga menutup menunya dan melambai memanggil pramusaji. Setelah ia memesan, mereka menyesap anggur selama beberapa menit tanpa suara. "Beberapa tahun lalu," Luigi memulai, "pada suatu pagi aku terjaga di kamar hotel kecil di Istambul. Seorang diri, dengan uang lima ratu*

    I dolar dalam kantongku. Dan paspor palsu. Aku f tidak bisa bicara separah kata pun dalam bahasa ; Turki. Petugas yang menanganiku ada di kota itu, i tapi kalau aku mengontaknya, aku akan terpaksa f mencari pekerjaan baru. Dalam waktu tepat se-Ipuluh bulan lagi, aku harus kembali ke hotel yang sama untuk bertemu seorang teman yang akan f membawaku ke luar negeri."

    F"Kedengarannya seperti pelatihan dasar CIA." "Alfabet yang keliru," komentar Luigi, lalu terdiam, menyesap anggurnya, dan melanjutkan. . "Karena aku suka makan, aku belajar bertahan hidup. Aku menyerap bahasa, kebudayaan, dan ; semua yang ada di sekitarku. Aku cukup berhasil, [membaur dengan lingkungan, dan sepuluh bulan kemudian ketika aku bertemu temanku, uangku sudah berjumlah lebih dari sepuluh ribu dolar."

    "Bahasa Italia, Inggris, Prancis, Spanyol, Turki— apa lagi?"

    "Rusia. Mereka melemparku ke Stalingrad selama

    satu tahun."

    Marco nyaris saja bertanya siapa "mereka" itu, tapi ditepiskannya pertanyaan itu. Tidak akan ada jawaban; lagi pula, menurutnya ia sudah tahu.

    "Jadi aku dilemparkan ke sini?" tanya Marco.

    Pramusaji membanting sekeranjang roti dan mangkuk kecil berisi -l#nyak zaitun. Luigi mulai mencelupkan rotinya dan makan, dan pertanyaan

    Marco pun Terlupakan atau diabaikan. Hidanga, lain mengikuti, senampan kecil ham dan salami, 1 sertai buah zaitun, dan percakapan pun menyurut. Luigi mungkin agen spionase, atau kontraspionase, atau operatif, atau agen dalam bentuk lain, atau sekadar pengawas atau kontak, atau mungkin juga agen lokal, tapi yang pertama dan terutama, ia orang Italia. Segala bentuk pelatihan tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari tantangan di hadapan ketika meja penuh dengan sajian. '

    Sembari makan, ia mengubah topik pembicaraan. Ia menjelaskan aturan makan malam ala Italia. Pertama, antipasti—biasanya berupa sepiring daging dalam berbagai variasi, seperti yang baru saja merek rukmati. Lalu hidangan pertama, primi, yang umumnya berupa seporsi sedang pasta, nasi, sup, atau polenta, yang pada dasarnya merupakan pemanasan bagi perut untuk mempersiapkan diri menyambut hidangan utama, atau secondi—seporsi besar daging sapi, ikan, babi, ayam, atau kambing. Berhati-hatilah dengan hidangan pencuci mulut, ia memperingatkan dengan galak, sambil melirik kiri-kanan untuk memastikan si pramusaji tidak mendengar. Ia menggeleng-geleng sedih sambil menjelaskan bahwa banyak restoran bagus sekarang memesannya dari tempat lain, dan hidangan itu begitu banyak mengandung gula atau minuman keras murahan sehingga boleh dibilang membtJ gigimu busuk

    Marco berhasil menampilkan ekspresi terguncang

    ketika mendengar skandal nasional ini.

    "Belajarlah mengucapkan kata gelato'" kata Luigi, matanya berbinar-binar lagi.

    "Es krim," timpal Marco.

    "Bravo. Yang terbaik di dunia. Ada gelateria di ujung jalan ini. Kita akan ke sana setelah makan malam."

    Layanan kamar tutup pada tengah malam. Pada . pukul 23.55 Marco perlahan-lahan mengangkat telepon dan menekan angka empat dua kali. Ia menarik napas panjang-panjang dan menahannya. Ia telah melatih dialog itu selama setengah jam.

    Setelah beberapa deringan malas, selama itu Marco nyaris meletakkan gagang telepon dua kali, suara yang mengantuk menjawab dan berkata, "Buona sera."

    Marco memejamkan mata dan terjun. "Buona sera. Vorrei un caffe, per favore. Un espresso doppio."

    "Si, latte e zucchero?" Susu dan gula?

    "No, senza latte e zucchero."

    "Si, cinque minutt." I

    "Grazie." Marco cepat-cepat menutup telepon sebelum terpaksa mengambil risiko terlibat dalam pembicaraan yang lebih jauh, walau menilik antusiasme orang yang di ujung sana ia amat me-

    ragukan kemungkinan tersebut. Ia pun melompat, mengepalkan tinjunya di udara, dan memuji diri sendiri karena berhasil menuntaskan percakapan pertamanya dalam bahasa Italia. Tidak ada ganjalan sedikit pun. Kedua belah pihak saling memahami apa yang dikatakan pihak lain.

    Pada pukul saru dini hari, ia masih menyesap espresso dobelnya, menikmatinya pelan-pelan meskipun minuman itu tak lagi hangat. Ia sedang mendalami pelajaran ketiga, kantuk sama sekali tak terlintas di benaknya. Pileknya, barangkali ia bisa melahap seluruh isi buku ini pada pelajaran pertamanya dengan Ermanno.

    Ia mengetuk pintu apartemen itu sepuluh menit lebih awal. Ini masalah siapa yang pegang kendali Walaupun pada mulanya ia melawan dorongan itu, secara impulsif ia kembali ke kebiasaan lamanya. Ia lebih suka dirinyalah yang memutuskan pada pukul berapa pelajaran dimulai. Sepuluh menit lebih dini atau dua puluh menit lebih iambar, waktunya tidak Denting. Sementara menunggu di koridor yang suram itu, ia teringat suatu rapat penting yang pernah dipimpinnya di ruang rapatnya, yang luas. Ruangan itu dipenuhi eksekutif korporm dan pentolan beberapa biro federal, yang dipanpd menghadap oleh sang broker. Walaupur

    Irapat itu hanya lima puluh langkah jauhnya dari

    [ ruang kantornya, ia terlambat dua puluh menit, Imeminta maaf dan menjelaskan bahwa ia barusan

    bertelepon dengajn kantor perdana menteri suatu

    negara kecil.

    t Remeh, remeh, remeh sekali permainan yang

    dimainkannya.

    I Ermanno sepertinya tidak terkesan. Ia menyuruh I muridnya menunggu paling tidak lima menit se-¦.belum membuka pintu sambil tersenyum malu-I malu dan mengucapkan, "Buon giorno, Signore

    f Lazzeri."

    "Buon giorno, Ermanno. Come staif "Molto bene, grazie, e tu?" "Molto bene, grazie." : Ermanno menguakkan daun pintu lebih lebar, dan sambil mengembangkan sebelah tangan ia berkata, "Prego." Silakan.

    Marco melangkah masuk dan sekali lagi tersentak melihat betapa kuat kesan kosong dan sementara di apartemen ini. Diletakkannya buku-bukunya di meja kecil di tengah-tengah ruang depan dan ia memutuskan untuk tetap mengenakan mantelnya. Suhu udara di luar sekitar empat derajat Celsius dan tidak lebih hangat di dalam sini. "Vorrebbe un caffe?" Anda mau minum kopi? "Si, grazie."Ia tidur sekitar dua jam, dari pukul empat hingga pukul enam, lalu mandi, berpakaian,

    lalu mondar-mandir di jalanan Treviso, dan menemukan bar yang buka pagi-pagi di mani para pria berumur berkumpul untuk menikmati espresso dan semua orang berbicara berbarengan. Ia ingin minum kopi lagi, tahu bahwa yang sebenarnya ia buruhkan adalah makanan. Croissant atau muffin atau yang sejenis itu, sesuatu yang belum ia pelajari namanya. Ia memuruskan bahwa ia sanggup menahan lapar sampai tengah hari, saat ia kembali akan bertemu Luigi untuk berrualang dalam kekayaan kuliner Italia.

    "Kau mahasiswa, bukan?" tanya Marco ketika Ermanno kembali dari dapur sambil membawa dua cangkir kecil. "Non inglese, Marco, non inglese." Dan itulah akhir riwayat bahasa Inggris. Akhir yang tiba-tiba; ucapan selamat tinggal yang dingin dan final pada bahasa ibu. Ermanno duduk di salah satu ujung meja, Marco di sisi yang lain, dan tepat I pada pukul 08.30, mereka, bersama-sama, membuka I pelajaran pertama. Marco membaca dialog pertama I dalam bahasa Italia, Ermanno sesekali mengoreksi I dengan halus, walaupun ia terkesan juga dengan I persiapan yang telah dilakukan muridnya. Kosa I kata telah dihafalkan dengan baik, tapi aksennya 1 perlu diperbaiki. Satu jam kemudian, Ermanno I mulai menuding benda-benda yang ada di sekitar I ruangan—karpet, buku, majalah, kursi, selimut I

    I perca, gorden, radio, lantai, dinding, tas ransel—dan I Marco menimpalinya dengan mudah. Dengan aksen I yang semakin disempurnakan, ia menuntaskan de-[ ngan cepat seluruh isi daftar sapaan sopan—selamat f siang, apa kabar, baik terima kasih, tolong, sampai < jumpa, selamat tinggal, selamat malam—dan tiga puluh lainnya. Pelajaran pertama selesai hanya dalam waktu dua jam dan Ermanno bertanya apakah mereka perlu istirahat. "No." Mereka pun membuka I pelajaran kedua, dengan kosa kata baru yang j sudah dikuasai Marco dan percakapan lain yang di-I lafalkannya dengan amat mengagumkan.

    "Kau sudah belajar," gumam Ermanno dalam [ bahasa Inggris.

    "Non inglese, Ermanno, «0« inglese" Marco mengoreksinya. Permainannya kini sudah berubah— siapa yang lebih tekun. Pada tengah hari, sang gum sudah kecapekan dan siap beristirahat, dan mereka sama-sama lega mendengar ketukan di pintu dan suara Luigi di lorong luar. Luigi masuk dan melihat kedua orang itu duduk berseberangan di meja kecil yang berantakan, seolah sudah berjam-jam mereka main panco.

    "Come va?" tanya Luigi. Bagaimana? Ermanno menatapnya dengan pandangan lelah dan menjawab, "Molto intensp. | Sangat intens.

    "Vorrei pranzare," ujar Marco, dan dengan lambat berdiri. Aku ingin makan.

    Marco mengharapkan makan siang yang meft nangka* dengan sedikit bahasa Inggris ^ lebih meringankan «luasi dan mungkin ^ melepaskan ketegangan mental karena beru^ menerjemahkan setiap kata yang didengar-Akan tetapi, secelah mendengar penjelasan ringj^ Ermanno yang penuh pujian mengenai sesi pela. jaran pagi, Luigi ingin melanjutkan penyerapan bahasa selama makan siang, atau paling tidak pada awalnya ia berusaha, Menunya tidak mencantumkan separah Iran pun dalam bahasa Inggris, dan setelah Luigi menjelaskan setiap hidangan dalam bahasa Italia yang tidak dapat dimengerti, Marco mengangkat kedua tangannya dan berkata* "Cukup sudah. Aku tidak mau bicara ataupun mendengar bahasa Italia selama satu jam mendatang."

    "Bagaimana dengan makan siangmu?" J

    ^ *** makan punyamu." Diteguknya anggur

    merah dan ia berusaha santai

    —-*» santai. °ke' kalau beg

    Inggris selama satif^ bisa berban:m

    "Grazte,- Uca ..

    )am.

    «nya

    9

    Pada pertengahan sesi pelajaran pagi keesokan harinya, tiba-tiba Marco mengubah arah pembicaraan. Di tengah-tengah percakapan yang membosankan, ia meninggalkan bahasa Italia dan berkata, "Kau

    bukan mahasiswa."

    . Ermanno mendongak dari bukunya, terdiam sejenak, lalu berkata, "Non ingUst, Marco. Sokanto

    Italiano" Hanya bahasa Italia.

    "Aku sedang bosan berbahasa Italia, oke? Kau

    bukan mahasiswa."

    Berbohong bukan keahlian Ermanno, dan ia terdiam agak terlalu lama. "Aku mahasiswa." ujarnya, sama sekali tidak meyakinkan.

    "Tidak, kurasa kau bukan mahasiswa. Jelas-jelas kau tidak kuliah, karena kalau kuliah kau pasti

    tidak akan menghabiskan waktu sepanjang hari

    mengajarku." "Siapa tahu aku mengambil kelas malam? Mcnga-

    pa hal itu penting?"

    "Kau tidak kuliah di mana pun. Di sini tidak ada buku, tidak ada koran mahasiswa, tidak ada sampah seperti yang bisa ditinggalkan mahasiswa di segala tempat."

    "Mungkin sampah itu ada di ruangan lain."

    "Aku mau lihat."

    "Kenapa? Kenapa itu penting?"

    "Karena menurutku kau dan Luigi bekerja untuk orang-orang yang sama."

    "Memangnya kenapa kalau benar begitu?" I

    "Aku ingin tahu siapa mereka."

    "Bagaimana kalau aku tidak tahu? Mengapa kau peduli? Tugasmu adalah mempelajari bahasa ini."

    "Sudah berapa lama kau tinggal di sini, di apartemen ini?"

    "Aku tidak harus menjawab pertanyaan."

    "Masalahnya, menurutku kau baru pindah ke sini minggu lalu. Ini semacam rumah persembunyian atau apa, dan kau tidak mengatakan yang sebenarnya tentang dirimu."

    "Kalau begitu kita sama." Ermanno tiba-tiba berdiri dan berjalan melewati dapur yang sempit ke arah belakang apartemen. Ia kembali $ambil membawa beberapa lembar kertas yang

    I diangsurkannya ke arah Marco. Ternyata paket formulir pendaftaran dari Universitas Bologna, de-ngan label surat menyatakan bahwa dokumen itu [ditujukan kepada Ermanno Rossini, dengan alamat apartemen tempat mereka berada saat itu.

    "Aku akan kembali kuliah dalam waktu dekat," Ermanno menjelaskan. "Kau mau kopi lagi?"

    Marco mengamati formulir-formulir itu, cukup memahami maksudnya. "Ya, mau," jawabnya. Ini cuma dokumen biasa—mudah dipalsukan. Tapi kalaupun palsu, ini dokumen aspal yang bagus. Ermanno menghilang ke dapur dan mulai membuka keran air.

    Marco mendorong kursinya ke belakang dan berkata, "Aku mau berjalan-jalan berkeliling blok. Aku perlu menjernihkan pikiran."

    Rutinitas mereka berubah pada saat makan malam. Luigi menjumpainya, di depan toko rokok yang menghadap ke Piazza dei Signori, dan mereka menyusuri jalan yang padat sementara para penjaga toko mulai menutup toko-tokonya. Saat itu hari mulai gelap dan cuaca sangat dingin, dan para pekerja yang terbungkus dalam pakaian tebal yang necis bergegas-gegas pulang ke rumah, kepala mereka tertutup topi dan syal. Luigi membenamkan kedua tangannya yang ter-

    bungkus sarung tangan di saku mantel woJ selutut yang tampak kasar, yang barangkali telah diwariskan oleh kakeknya atau dibeli minggu lalu di Milan, di butik perancang yang mahal. Bagaimanapun, Luigi

    mengenakan mantelnya dengan gaya, dan sekak' lagi Marco iri melihat gaya elegan-kasual petugas yang menanganinya ini.

    Sepertinya Luigi sedang tidak terburu-buru dan tampak menikmati cuaca dingin itu. Ia mencoba melontarkan komentar-komentar dalam bahasa Italia, tapi Marco menolak ikut serta. "Bahasa Inggris, Luigi," ujarnya unruk kedua kalinya. "Aku perlu bahasa Inggris." "Baiklah. Bagaimana hari kedua pelajaranmu?" "Baik Ermanno lumayan juga. Tidak punya selera humor, tapi ia guru yang cukup andal." "Ada kemajuan?"

    "Bagaimana mungkin tidak ada kemajuan?" "Ermanno bilang, kau cepat menguasai bahasa itu."

    "Ermanno tidak pintar bohong, dan kau tahu itu. Aku bekerja mati-matian karena Taruhannya besar. Aku dicecar olehnya enam jam sehari, lalu menghabiskan tiga jam pada malam hari mencerna semuanya. Tidak mungkin tidak ada kemajuan."

    "Kau bekerja mati-matian," ulang Luigi. MeOr dadak ia berhenti dan melihat sesuatu yang tampak seperti deli kecil. "Marco, inilah makan malam kita."

    Marco memandang tidak setuju. Bagian depan toko itu tidak lebih dari lima meter lebarnya. Tiga meja berdesak-desakan di dekat jendela dan tempat itu sepertinya penuh orang. "Kau yakin?" tanya

    i Marco.

    "Ya, enak juga kok Makanan yang lebih ringan, sandwich dan sebagainya. Kau akan makan sendiri. Aku tidak ikut masuk."

    Marco menatap Luigi dan sudah hampir memprotes, tapi kemudian menahan diri dan rersenyum, seolah menerima tantangan tersebur.

    "Menunya ada di papan tulis di atas kasir, tanpa bahasa Inggris. Pesan dulu, bayar, lalu ambil makananmu di ujung konter sebelah sana, tempat yang nyaman untuk duduk kalau kau tidak dapat bangku. Harganya sudah termasuk tip."

    Marco bertanya, "Apa hidangan spesial tempat ini?"

    "Pizza ham dan artichoke-rxyz enak. Panim-nyz juga. Aku akan menemuimu lagi di sana, di dekat air mancur, satu jam lagi."

    Marco mengenakkan rahang dan memasuki kafe, merasa amat kesepian. Sambil mengantre di belakang dua wanita muda, dengan putus asa ia membaca papan tulis, mencari-cari sesuatu yang bisa diucapkannya. Tak usah pedulikan rasa. Yang penting adalah memesan dan membayar. Untungnya, petugas kasir adalah wanita separo baya yang

    153

    senang tersenyum. Marco melontarkan "Buona seni" yang ramah, dan sebelum wanita itu sempat membalas, ia memesan satu "pan i no prosciutto t

    formavgio"—roti ham dan keju—dan Coca-Cola.

    Coca-Cola yang setia. Sama pengucapannya dalam semua bahasa.

    Mesin kasir berderak dan berdenting, wanita itu menyemprotkan rentetan kata tak jelas yang tidak mpahaminya. Tapi ia tetap tersenyum dan berkata, 'S»,"lalu mengulurkan selembar uang pecahan dua puluh euro, yang pasti cukup untuk membayar semua dan memberinya uang kembalian. Berhasil. Bersama uang kembalian, ia menerima secarik tiket. "Numero sessantasette," ujar wanita itu. Nomor 77.

    Marco memegang tiket itu dan beringsut perlahan sepanjang konter, ke arah dapur. Tidak ada orang yang memandanginya, tidak ada orang yang sepertinya memethatikannya secara khusus. Apakah ia memang dikira orang Italia, penduduk setempat? Ataukah ia jelas-jelas makhluk asing di tengah-tengah penduduk setempat yang tak pedulian? Dalam waktu singkat, ia mengembangkan kebiasaan menuai cara pria-pria lain berpakaian, dan menurutnya penampilannya tidak kalah. Seperti yang pernah dikatakan Luigi padanya, pria-pria^ Italia utara lebih peduli pada gaya dan penampilan ketimbang orang-orang Amerika. Lebih banyak jas dan celana panjang rapi, lebih banyak sweter

    dan dasi. Jarang terlihat denim, dan jelas tidak ada yang memakai kaus lengan panjang atau apa puri yang menunjukkan ketidakpedulian terhadap

    penampilan.

    Luigi, atau siapa pun yang memilih pakaian-pakaiannya, yang tentu saja dibayar oleh para wajib ; pajak Amerika, telah melakukan tugasnya dengan j baik. Untuk ukuran pria yang mengenakan baju I penjara selama enam tahun, Marco dengan cepat menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang ber-I gaya Italia.

    Marco mengamati piring-piring makanan yang I bermunculan di konter dekat tempat pemanggangan. Sekitar sepuluh menit kemudian, sandwich yang tebal muncul. Seorang pelayan mengambilnya, mencabut nketnya, dan berteriak, "Numero sessantasette." Marco maju tanpa bersuara dan' mengeluarkan tiketnya, minuman ringannya muncul kemudian. Ia menemukan tempat duduk di meja sudut yang kecil dan dengan sepenuh hati menikmati kesendiriannya bersantap malam. Deli itu penuh dan ribut, tempat makan penduduk setempat yang pengunjungnya saling mengenal. Mereka menyapa satu sama lain dengan pelukan, ciuman, dan basa-basi perjumpaan [ yang panjang, serta ucapan selamat tinggal yang t bahkan lebih lama lagi. Berdiri dalam barisan untuk memesan makanan ternyata tidak menimbulkan masalah, meskipun orang Italia sepertinya punya

    kesulitan memahami konsep dasar berdiri di bel», kang orang iain untuk mengantre. Di kampung halaman pasti akan terlontar kata-kata tajam dari pelanggan yang lain dan mungkin semprotan dan' petugas kasir.

    Di negara yang menganggap rumah berusia tiga ratus tahun terbilang baru, waktu seperti memiliki arti yang berbeda. Makanan tersedia untuk dinikmati, bahkan di deli yang hanya menyediakan sedikit meja. Orang-orang yang duduk di sekitarnya kelihatan siap menyisihkan waktu berjam-jam untuk mencerna pizza dan sandwich mereka. Terlalu banyak yang harus dibicarakan!

    Irama hidup di penjara yang mematikan fungsi otak telah memperhalus gerigi-gerigi dsdarn dirinya. Ia menjaga kewarasannya dengan membaca delapan buku dalam seminggu, -namun kebiasaan itu pun lebih untuk melarikan diri, bukan mempelajari sesuatu. Dua hari menghafal, mengkonjugasi, melafalkan, dan mendengarkan secara Intensif telah membuatnya kelelahan secara mental.

    Jadi sekarang ia menyerap serbuan bahasa Italia tanpa berusaha memahami satu patah kata pun. Ia menikmati ritme, aksen, dan tawa. Sesekali ia menangkap sepatah-dua patah kata, terutama sapaan dan ucapan selamat tinggal, dan menganggapnya semacam kemajuan. Melihat keluarga dan teman-teman membuatnya merasa kesepian,

    vwlaupun ia tidak mau membiarkan diri tenggelam dalam perasaan itu. Kesepian adalah 23 jam berada di dalam sel sempit dengan sedikit surat datang dan novel paperback murahan sebagai teman: Ia sudah pernah mengalami kesepian; ini boleh dibilang hari yang cerah di pantai.

    Sebisa mungkin ia menyantap sandwich ham dan kejunya lambat-lambat, tapi usahanya itu ada batasnya juga. Ia mengingatkan diri agar memesan kentang goreng lain kali, karena kentang goreng dapat dimain-mainkan untuk waktu yang lama sampai dingin, hingga memperpanjang waktu makan melebihi apa yang dianggap normal di negeri asalnya. Dengan berat hati ia merelakan mejanya. Hampir satu jam setelah memasuki kafe, ia meninggalkan udara yang hangat dan berjalan ke air mancur yang airnya dimatikan supaya tidak membeku. Luigi berjalan menghampirinya beberapa menit kemudian, seolah selama ini ia berkeliaran dalam gelap, menunggu. Dengan berani ia mengusulkan membeli gelato, es krim, tapi Marco sudah menggigil kedinginan. Mereka berjalan ke hotel lalu saling mengucapkan selamat malam.

    Penyelia lapangan Luigi wm«»™ 7 . ,. £ _.Ur AS di Milan. Namanya

    diplomatik di Komukt AS J ^ >*

    Whitaker, dan Backman be«a g

    bawah dalam daftar prioritasnya. Backman terlibat dalam kegiatan intelijen, atau ke intelijen, padahal Whitaker sudah punya c banyak masalah dalam hal ini tanpa harus ke bahan beban seorang broker Washington disembunyikan di Italia. Namun dengan patuh menyiapkan laporan hariannya dan mengirimnya Langley. Di sana, laporan-laporan itu diterima diteliti oleh Julia Javier, orang lama yang pui akses langsung ke Mr. Maynard. Karena berada bawah pengawasan Ms. Javier-lah Whitaker beke begitu rajin di Milan. Bila tidak, laporan harian t sebut tidak akan secepat itu datangnya. Teddy-menginginkan taklimat lengkap. Ms. Javier dipanggil ke kantornya di lantai ni juh, ke "Sayap Teddy", begitu istilah yang beredar di Langley. Ia memasuki "stasiun" Teddy, begit istilah yang disukai Teddy, dan lagi-lagi mendapai pria tua itu diparkir di ujung meja rapat j besar, duduk menjulang di kursi rodanya yang sudah ditinggutan, terbungkus selimut dari d ke bawah,- mengenakan setelan hitamnya yang biasa, mendiri setumpuk laporan, dengan Hoby berkeliaran di dekatnya, siap mengambilkan secangkir teh hijau menjijikkan yang diyakini Teddy mampu membuatnya bertahan hidup. - Sebenarnya ia nyaris sudah tidak hidup lagi, tapi Julta Jav«r sudah bertahun-tahun berpikir begitu

    Karena Julia Javier tidak minum kopi dan tidak sudi menyentuh teh hijau itu, ia tidak ditawari apa-apa. Ia menempatkan diri di kursinya yang biasa, di sebelah kanan Teddy, semacam kursi saksi, dan diharapkan semua tamu mengambil tempat duduk tersebut—telinga kanan Teddy jauh lebih tajam daripada telinga kirinya—dan Teddy berhasil melontarkan sapaan lelah, "Halo, Julia."

    Hoby, seperti biasa, duduk di seberang Julia dan siap menulis notulen. Suara apa pun di dalam "stasiun" ini ditangkap salah satu alat perekam paling canggih yang pernah diciptakan dunia teknologi modern, tapi tetap saja Hoby pura-pura mencatat.

    "Ceritakan tentang Backman," perintah Teddy. Laporan verbal semacam ini diharapkan padat, langsung ke intinya, tanpa sepatah kata pun yang tak perlu.

    Julia melirik catatannya, berdeham, dan mulai berbicara untuk perekam yang tersembunyi itu. "Ia ada di suatu tempat di Treviso, kota kecil yang menyenangkan di - Italia utara. Sudah tiga hari di sana dan sepertinya bisa menyesuaikan diri dengan baik. Agen kita bisa dikontak sewaktu-waktu dan guru bahasanya orang setempat yang melakukan pekerjaannya dengan baik. Backman tidak punya uang maupun paspor, dan sejauh ini masih bersedia menempel pada si agen. la tidak pernah menggunakan telepon di kamar hotelnya

    dan ia tidak mencoba memanfaatkan ponseW,

    selain untuk menghubungi agen kita. Ia tidak merrj.

    perlihatkan keinginan untuk mondar-mandir dan

    bereksplorasi. Sepertinya kebiasaan penjara sulit ^tinggalkan. Ia selalu berada dekat-dekat hotelnya. Kalau tidak sedang belajar bersama gurunya, atau makan, ia tinggal di dalam kamar dan mempelajari bahasa Italia."

    "Bagaimana perkembangan bahasanya?"

    "Lumayan. Ia sudah lima puluh dua tahun, jadi tidak bisa cepat."

    "Aku belajar bahasa Arab pada usia enam puluh tahun," ujar Teddy bangga, seolah umur enam puluh sudah berlalu seabad lalu.

    "Ya, aku tahu," timpal Julia. Semua orang di Langley tahu. "Ia belajar mati-matian dan sudah menunjukkan kemajuan, tapi sekarang kan baru tiga hari. Gurunya cukup terkesan."

    "Apa saja yang dibicarakannya?"

    "Bukan masa lalu, teman-teman, maupun musuh-musuh lama. Tidak ada yang menarik untuk kita. Ia sudah menutup buku, paling tidak untuk sekarang ini. Percakapan ringan menyangkut tempatnya yang baru, kebudayaan, dan bahasanya."

    "Suasana hatinya?"

    "Ia baru keluar dari penjara empat belas tahun lebih cepat dari jadwal, dan ia makan berlama-

    lama serta menikmati anggur yang enak. Ia cukup I senang. Sepertinya tidak dilanda rindu rumah, tapi f tentu saja sebenarnya ia tidak punya rumah. Tidak

    ! pernah membicarakan keluarganya." "Kesehatannya?"

    "Sepertinya cukup baik. Batuk-batuknya sudah hilang. Kelihatan cukup tidur. Tidak ada keluhan."

    "Ia banyak minum?"

    "Ia berhati-hati. Senang minum anggur pada waktu makan siang dan makan malam, dan minum bir : di bar, tapi tidak berlebihan."

    'Kita coba tingkatkan konsumsi minuman kerasnya, oke? Kita lihat apakah dengan begitu ia bicara lebih banyak." "Rencana kita memang begitu." "Apakah ia cukup aman?" "Semuanya disadap—telepon, kamar, kursus bahasa, makan siang, makan malam. Bahkan sepatunya ditanami mikrofon. Keduanya. Di keiiman mantel luarnya tersemat Peak 30. Kita bisa melacak keberadaannya nyaris di mana saja." "Jadi kau tidak mungkin kehilangan dia?" "Ia pengacara, bukan mata-mata. Sampai sejauh ini, ia sepertinya sangat puas menikmati kebebasannya dan melakukan apa pun yang diperintahkan padanya." "Tapi ia bukan orang bodoh. Ingat itu, Julia.

    1£n

    t ATT

    Backman tahu ada orang-orang jahat yang akan gembira kalau bisa menemukannya."

    "Memang benar, rapi sekarang ini ia seperti balita yang menggondeii ibunya."

    "Jadi ia merasa aman?"

    "Mengingat situasinya, ya."

    "Kalau begitu, mari kita takut-takuti dia."

    "Sekarang?"

    "Ya" Teddy mengucak-ngucak matanya dan menyesap tehnya. "Bagaimana dengan anaknya?"

    "Pengintaian tingkat tiga, tidak banyak yang terjadi di Culpeper, Virginia. Bila Backman mencoba mengontak seseorang, ia pasti akan mengontak Neal Backman. Namun kita akan memergokinya di Italia, sebelum kita mengetahuinya di Culpeper."

    "Putranya satu-satunya orang yang ia percaya," kata Teddy, mengutarakan apa yang telah dikatakan Julia berulang kali.

    "Benar sekak'."

    Setelah jeda yang panjang, Teddy bertanya, "Ada yang lain, Julia?"

    "Ia menulis surat untuk ibunya di Oakland."

    Teddy tersenyum singkat. "Manis sekali. Kita memiliki salinannya?"

    "Ya, agen kita memotretnya kemarin, kita baru saja rnencrimarrya. Backman menyembunyikan surat I itu di antara halaman-halaman majalah pariwisata I lokal di kamar hotelnya." I

    I "Sepanjang apa surat itu?"

    'I "Dua paragraf panjang. Sepertinya belum se-

    B lesai."

    "Bacakan untukku," pinta Teddy sementara ia I menyandarkan kepala ke kursi rodanya dan me-I mejamkan mata.

    Julia sibuk dengan kertas-kertasnya dan men-I dorong kacamatanya ke puncak hidung. "Tidak tercantum tanggal, ditulis dengan tangan, yang i memerlukan upaya keras karena tulisan tangan Backman buruk sekali. 'Ibu sayang; aku tidak yakin f kapan atau apakah kau akan pernah menerima i surat ini. Aku tidak yakin apakah aku akan mengirimnya, yang tentu akan berdampak apakah kau akan menerimanya atau tidak. Pokoknya, aku sudah keluar dari penjara dan keadaanku lebih baik sekarang. Di suratku yang terakhir kukatakan bahwa keadaanku cukup lumayan di dataran Oklahoma. Waktu itu aku belum tahu bahwa aku akan diberi pengampunan hukuman oleh Presiden. Kejadiannya begitu cepat sehingga aku pun masih sulit memercayainya.' Paragraf kedua. 'Aku tinggal di belahan lain dunia, aku tidak bisa memberitahumu di mana tepatnya, karena beberapa orang bisa gusar jika itu kulakukan'. Aku tidak memiliki hak suara dalam hal ini. Bukan kehidupan yang sempurna, tapi jelas lebih baik daripada hidupku seminggu yang lalu. Aku sekarat

    di dalam penjara, kendati apa pun yang kutulis , surat. Aku hanya tidak ingin membuatmu kh* Di sini aku bebas, dan itu yang paling periU|. di dunia. Aku bisa berjalan-jalan, makan di ^ datang dan pergi sesukaku, nyaris bisa melaku-apa pun yang Icuinginkan. Kebebasan, Ibu, adalah sesuatu yang kudambakan selama bertahun-tahun dan kupikir takkan pernah kuperoleh lagi.'"

    Julia meletakkan kertas dan berkata, "Hanya sejauh itu yang ditulisnya."

    Teddy membuka mata dan berujar, "Apakah menurutmu ia cukup tolol untuk mengirim surat itu pada ibunya?"

    "Tidak. Namun untuk beberapa waktu yang cukup lama ia menulis surat pada ibunya setiap dua minggu. Sudah jadi kebiasaan, dan mungkin memberinya ketenangan. Ia harus bicara pada seseorang."

    wta masih mengawasi surat-surat wanita itu?" jfe, dan sedikit kiriman yang diterimanya." "Baiklah. Buat Backman ketakutan setengah lapor kembali padaku." ^ Sir." Julia membereskan berkas-berkasnya

    TrJT^i lcUk ""«"«L bacanya. Hoby pergi ke dapm l^-ji , . 7

    Pesawat Z^f-^J^ ^ di Oakland J^l ^ Backman di rumah jompo menghasilkan apa ^ dan sejauh ini tidak pa' Pada hari pembebasan W

    ican> dua teman lamanya menelepon de-^ium banyak pertanyaan dan ucapan selamat yang ar raP1 ^rs' Bac^anan begitu kebingungan sehingga harus diberi obat penenang dan dibiarkan tidur selama beberapa jam. Cucu-cucunya—dari tiga anak Joel dengan berbagai istri—tidak pernah meneleponnya selama enam bulan belakangan.

    Lydia Backman telah melewati dua serangan stroke dan sekarang duduk di kursi roda. Ketika putranya sedang jaya, ia hidup dalam kemewahan, di kondominium yang luas bersama perawat yang bekerja penuh waktu. Vonis yang dijatuhkan pada Joel memaksanya meninggalkan hidup yang nyaman dan tinggal di rumah perawatan jompo bersama ratusan orang lainnya.

    Tak mungkin Backman akan mencoba menghubungi ibunya.

    165

    10

    Setelah beberapa hari memimpikan uangnya, I Critz mulai membelanjakannya, paling tidak dalam J angan-angan. Dengan semua uang tunai itu, ia tidak perlu terpaksa bekerja untuk kontraktot pertahanan yang licik itu, ia juga tidak usah harus membujuk paksa para peserta ceramahnya. (Ia sendiri tidak yakin akan ada peserta yang berminat, kendati segala yang telah dijanjikan agennya.)

    Critz sudah berpikir tentang pensiun! Jauh dari Washington dan semua musuh yang didapatnya di sana, di suatu tempat di pantai dengan per*^ layar rak jauh darinya. Atau mungkin ia ^ pmdah ke Swiss dan berada dekat dengan har* yang terkubur di bank barunya, bebas pajak bertumbuh terus setiap hari.

    la menelepon dan ~__ , „

    P ""V*** flat di London W

    untuk beberapa hari lagi. Ia mendorong Mrs. Critz berbelanja lebih agresif. Istrinya pun sudah muak dengan Washington dan layak menikmati hidup yang lebih nyaman.

    Sebagian karena antusiasmenya yang serakah, dan sebagian karena sifatnya yang memang kurang perhitungan, juga karena kurangnya kecanggihan inteligensianya, Critz melakukan kesalahan fatal sejak dari mula. Untuk ukuran pemain lama Washington, kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sungguh tak termaafkan.

    Pertama-tama, ia menggunakan telepon di i flat sewaannya, mempermudah orang melacak lokasinya dengan tepat. Ia menelepon Jeb Priddy, penghubung CIA yang ditempatkan di White House selama empat tahun terakhir. Priddy masih menempati posnya, tapi diharapkan akan segera dipanggil kembali ke Langley. Presiden yang baru sudah mulai nyaman menempati posisinya, situasi jadi kacau-balau, dan sebagainya, begitu menurut Priddy, yang sepertinya agak jengkel mendapat panggilan telepon itu. Ia dan Critz tidak pernah t akrab, dan Priddy langsung tahu orang itu sedang memancing-mancing sesuatu. Critz akhirnya mengaku ia sedang mencari seorang teman lama, analis senior CIA yang dulu sering bermain golf bersamanya. Namanya Daly, Addison Daly, dan ia meninggalkan Washington untuk penugasan singkat

    di Asia. Mungkin Priddy tahu di mana ia berad sekarang?

    Addison Daly tersembunyi di LangJey dan Priddy mengenainya dengan baik. "Aku pernah dengar namanya," jawab Priddy. "Mungkin aku bisa menemukannya. Di mana aku harus menghubungimu?*

    Critz memberinya nomor telepon flat. Priddy menghubungi Addison Daly dan menyampaikan kecurigaannya, Daly mengaktifkan alat perekam dan menelepon London melalui saluran aman. Critz menjawabnya dan langsung menyatakan ia gembira sekali mendengar kabar dari kawan lama Ia berceloteh panjang-lebar tentang betapa menyenangkannya hidup seusai pengabdian di White House, setelah bertahun-tahun memainkan permainan politik, betapa nyamannya menjadi warga negara biasa. Ia ingin sekali memperbarui pertemanan lama dan mulai serius dengan permainan golfnya.

    Daly ikut bermain saja. Ia menyatakan bahwa ia pun sedang mempertimbangkan hendak pensiun— hampir tiga puluh tahun mengabdi—dan ia sendiri ingin menjalani hidup yang lebih nyaman.

    Bagaimana keadaan Teddy sekarang? Critz bertanya. Dan bagaimana presiden yang baru? Ba- ' gaimaaa atmosfer di Washington dengan adanya pemerintahan baru? |

    Tidak banyak yang berubah, komentar Daly, ha-[ nya segerombolan orang tolol baru. Omong-omong, bagaimana kabar mantan presiden Morgan?

    Critz tidak tahu,' sudah lama tidak bertukar kabar dengannya, bahkan mungkin sudah berminggu-

    II minggu lamanya. Sementara percakapan mulai [ dingin, Critz bertanya sambil tertawa canggung, • "Kurasa tidak ada yang melihat Joel Backman, ya?"

    Daly juga ikut tertawa—semua ini cuma lelucon besar. "Tidak," jawabnya, "kurasa orang itu disembunyikan rapat-rapat."

    "Memang sebaiknya begitu."

    Critz berjanji akan menelepon lagi begitu ia kembali ke D.C. Mereka harus bermain 18 hole di klub yang bagus, lalu minum-minum, sepati di masa lalui

    Masa lalu apa? tanya Daly dalam hati setelah ia menutup telepon.

    Satu jam kemudian, rekaman percakapan telepon tersebut diputar di hadapan Teddy Maynard.

    Karena dua telepon pertama kelihatan menjanjikan, Critz melanjutkan usahanya. Ia yang selalu bertugas menelepon ke sana kemari seperti maniak. Ia penganut teori senapan tabur—hujani udara dengan panggilan telepon, maka sesuatu akan terjadi. Rencana kasar mulai terbentuk. Seorang reman lama yang lain dulu menjadi staf senior Ketua Komite

    Intelijen Senat, dan sekalipun sekarang ia menjadi peJobi dengan koneksi luas, ia pun, kabarnya, menjaga hubungan dekat dengan CIA.

    Mereka membicarakan politik dan golf, dan akhirnya, yang membuat Critz gembira, kawannya ini bertanya apa sebenarnya yang dipikirkan Presiden Morgan ketika ia memberikan pengampunan hukuman kepada Duke Mongo, penipu pajak terbesar dalam sejarah Amerika? Critz mengatakan ia sesungguhnya menentang keputusan tersebut, rapi berhasil menggiring percakapan ke arah topik pengampunan hukuman kin yang juga kontroversiaL "Dengar gosip tentang Backman?" ia bertanya

    "Kau kan ada di sana waktu itu," ujar temannya.

    "Ya, tapi di mana Maynard menyembunyikannya? Itulah pertanyaan besarnya."

    "Jadi itu pekerjaan CIA?" tanya temannya.

    Tentu saja," sahut Critz dengan penuh wibawa. Siapa lagi yang bisa menyelundupkan Backman ke luar negeri pada tengah malam buta?

    "Menarik juga," kata temannya, yang kemudian menjadi sangat pendiam. Critz mendesak mereka harus makan riang bersama minggu berikutnya, dan di situlah percakapan mereka berakhir.

    Sementara Critz sibuk menelepon, sekali lagi ia mengagumi daftar koneksinya yang tak terbatas. Kekuasaan ternyata ada imbalannya juga.

    Joel, atau Marco, mengucapkan selamat berpisah pada Ermanno tepat pukul setengah enam petang, menyudahi sesi tiga jam yang berjalan tanpa henti. Keduanya sudah kecapekan.

    Udara yang menggigit membantu menjenuhkan pikirannya ketika ia menyusuri jalan-jalan sempit di Treviso. Untuk kedua kalinya, ia mampir di bar kecil di sudut jalan dan memesan bir. Ia duduk di dekat jendela dan memandangi penduduk setempat berjalan cepat, beberapa bergegas pulang dari tempat kerja, yang lain berbelanja sebentar untuk makan malam. Bar itu hangat dan penuh asap, dan ingatan Marco sekali lagi kembali ke penjara. Ia tak bisa mencegahnya—perubahan ini begini drastis, kebebasan ini begitu mendadak. Masih ada rasa takut bahwa ia akan terbangun dan mendapati dirinya tersekap di sel sementara seorang pembuat lelucon yang tak terlihat tertawa histeris di suatu tempat di kejauhan.

    Sehabis minum bir ia memesan espresso, dan sesudahnya ia melangkah kembali dalam kegelapan dan menjejalkan kedua tangannya dalam-dalam ke sakunya. Sewaktu berbelok dan melihat hotelnya, ia juga melihat Luigi mondar-mandir gelisah di trotoar, sambil merokok. Ketika Marco menyeberang jalan, Luigi menyongsongnya. "Kita harus pergi, segera," ujarnya.

    "Kenapa?" tanya Marco sambi) melirik ke sekelilingnya, mencari orang-orang jahat.

    "Akan kujelaskan nanti. Sudah tersedia tas bepergian di tempat tidurmu. Kemasi barang-barangmu secepat mungkin. Aku akan menunggu di sini."

    "Bagaimana kalau aku tidak mau pergi?" tanya Marco.

    Luigi mencengkeram pergelangan tangan kirinya, berpikir sejenak, lalu menyunggingkan senyum kaku. "Kalau begitu kau tidak akan bertahan hidup sampai dua puluh empat jam," katanya sesangar mungkin. "Percayalah padaku."

    Marco berlari menaiki tangga dan sepanjang koridor, dan sudah hampir riba di kamarnya ketika ia menyadari rasa nyeri tajam di perutnya itu bukan karena ia kehabisan napas, tapi karena rasa takut.

    Apa yang telah terjadi? Apa yang telah didengar atau dilihat Luigi, atau apa yang telah diberitahukan kepadanya? Siapa sebenarnya Luigi dan dari siapa ia mendapat perintah? Sembari Marco menyambar pakaian-pakaiannya dari lemari kecil dan melemparkannya ke ranjang, ia mengajukan semua pertanyaan itu, dan banyak lagi. Sewaktu semua barang sudah dikemasi, ia duduk sejenak dan berusaha menata pikirannya. Ditariknya napas dalam-dalam, dikeluarkannya perlahan-lahan, lalu ia meyakinkan diri sendiri bahwa -.

    «.l. ill. wa aPa pun yang

    terjadi hanyalah bagian permainan

    Apakah ia akan selamanya melarikan diri? Selalu berkemas dalam ketergesaan, kabur dari satu ruangan untuk mencari ruangan lain? Memang masih jauh lebih baik daripada penjara, tapi pasti akan ada akibatnya juga.

    Dan bagaimana mungkin ada orang yang bisa secepat ini menemukannya? Ia baru empat hari berada di Treviso.

    Sewaktu akhirnya ia mulai bisa menenangkan diri, ia berjalan dengan langkah biasa di koridor, menuruni tangga, melalui lobi tempat ia mengangguk pada pegawai yang melongo tapi tidak berkata apa-apa, dan keluar melalui pintu. Luigi menyambar tasnya dan melemparkannya ke bagasi mobil Fiat kecil. Mereka sudah berada di luar kota Treviso sebelum sepatah kata pun terucap.

    "Oke, Luigi, ada apa?" tanya Marco.

    Ganti pemandangan." "Ngerti. Kenapa?"

    Ada alasan-alasan yang sangat bagus." "Oh, well, jadi jelas semua kalau begitu." < Luigi mengemudi dengan tangan kirinya, memindah gigi dengan panik menggunakan tangan kanan, dan menjejak pedal gas sedekat mungkin dengan lantai mobil sementara pedal rem sama sekali tak diacuhkannya. Marco benar-benar tak memahami ras manusia yang bisa melewatkan dua setengah jam berleha-leha menikmati makan

    siang, lalu melompat ke dalam mobil untuk mcli secepat angin menyeberangi kota dalam waktu m puluh menit.

    Mereka berkendara selama saru jam, secara umum menuju arah selatan, menghindari jalan raj dan tetap bertahan di jalan-jalan kecil. "Apakah ada yang membuntuti kita?" tanya Marco lebih dari se kali ketika mereka tidak mengurangi kecepatan di tikungan tajam, dua roda terangkat dari jalan.

    Luigi hanya menggeleng. Matanya menyipit, alisnya berkerut menjadi saru, rahangnya terkatup rapat kalau rokok tidak terselip di sana. Entah bagaimana ia berhasil mengemudi seperti maniak sambil merokok dengan tenang dan tak sekali pun melirik ke belakang. Ia bertekad untuk diam seribu bahasa dan hal itu justru membulatkan tekad Marco untuk mengajaknya bicara.

    "Kau hanya berusaha menakut-nakuti aku, kan, Luigi? Kita sedang bermain jadi mata-mata—kau masternya, aku keparat malang yang mengetahui rahasia. Membuatku ketakutan setengah mati supaya aku bergantung padamu dan tetap setia. Aku tahu niatmu."

    "Siapa yang membunuh Jacy Hubbard?" tanya Luigi, hampir tak menggerakkan bibir sama sekail

    Mendadak Backman tak ingin membuka mulut. Nama Hubbard yang diSunggung-singgUflg mcnv

    [ jjuatnya terpaku sedetik. Nama itu selalu membawa ' kenangan yang sama: foto polisi Jacy yang terpuruk di atas makam kakaknya, sebelah kiri kepalanya terburai, darah di mana-mana—di atas batu nisan, di kemeja putihnya. Di mana-mana.

    "Kau punya arsipnya," jawab Backman. "Ia bunuh diri"

    "Oh, ya. Kalau kau memercayainya, kenapa kau memutuskan untuk mengaku bersalah dan meminta

    sel terlindung di penjara?" "Aku takut. Bunuh diri bisa menular."

    "Benar sekali."

    Jadi maksudmu, orang-orang yang merekayasa bunuh dirinya Hubbard sekarang memburuku?" Luigi mengiyakan dengan mengangkat bahu. Dan entah bagaimana mereka mengetahui aku sembunyi di Treviso?"

    Lebih baik tidak mengambil risiko apa pun." Marco tidak akan mendapatkan detail-detailnya, kalau memang ada. Ia berusaha tidak melakukannya, tapi secara instingtif ia melirik ke belakang dan melihat jalanan yang gelap di belakang mereka. Luigi melirik kaca spion, dan menyunggingkan senyum puas, seolah berkata: Mereka ada di belakang sana, di suatu tempat.

    Joel mengenyakkan diri beberapa senti lebih dalam di kursinya dan memejamkan mata. Kedua kliennya sudah mati lebih dulu. Safi Mim ditikam

    di luar kelab malam di Georgetown tiga bulan setelah ia menjadi klien Backman dan menyerahkan salinan JAM satu-satunya. Luka tikaman itu cukup dalam, tapi ada racun yang diinjeksikan ke sana, barangkali bersamaan dengan tikaman pisau tersebut. Tidak ada saksi mata. Tidak ada petunjuk Kasus pembunuhan yang sama sekali tak terselesaikan, tapi hanya satu dari sekian banyak kasus serupa di D.C Sebulan kemudian Fazal Sharif lenyap di Karachi, dan dianggap sudah mati.

    JAM memang berharga miliaran dolar, rapi tak seorang pun bisa menikmati uangnya.

    Pada tahun 1998, Pratt & Boiling mempekerjakan Jacy Hubbard dengan bayaran satu juta dolar setahun. Pemasaran JAM merupakan tantangan besarnya yang pertama. Untuk membuktikan kelayakannya menerima imbalan sebesar itu, Hubbard mengancam dan menyogok agar bisa masuk ke Pentagon, dengan usaha yang canggung dan pasti gagal untuk mengonfirmasi keberadaan sistem satelit Neptunus. Beberapa dokumen—yang sudah diutak-atik tapi tetap saja rahasia—diselundupkan ke luar oleh antek-antek Hubbard yang melaporkan segalanya pada penyelianya. Dokumen-dokumen sangat sensitif itu dimaksudkan untuk menunjukkan eksistensi Gamma Net, sistem pengintaian fiktif ala

    Star Wats dengan kemampuan-kemampuan yang tak pernah didengar sebelumnya. Begitu Hubbard mendapat "konfirmasi" bahwa ketiga pemuda Pakistan itu memang benar—proyek Neptunus mereka adalah proyek AS—dengan bangga ia me-, laporkan penemuannya pada Joel Backman dan mereka pun berbisnis.

    Karena Gamma Net seharusnya milik militer AS, JAM pun menjadi lebih berharga lagi. Padahal sebenarnya, baik Pentagon maupun CIA tak pernah tahu tentang Neptunus.

    Kemudian Pentagon membocorkan kisah fiksinya sendiri—kebocoran keamanan yang direkayasa, oleh antek yang bekerja untuk mantan .senator Jacy Hubbard dan bos barunya yang berkuasa, sang broker. Skandal pun meletus. FBI menggerebek kantor Backman, Pratt & Boiling pada tengah malam, menemukan dokumen-dokumen yang diyakini semua orang adalah autentik, dan dalam kurun waktu 48 jam seregu jaksa federal yang sangat termotivasi mengeluarkan dakwaan-dakwaan terhadap semua rekanan di biro hukum tersebut.

    Tak lama kemudian pembunuhan-pembunuhan itu pun berlangsung, tanpa ada petunjuk siapa yang ada di baliknya. Pentagon dengan canggih melumpuhkan Hubbard dan Backman tanpa membocorkan apakah benar mereka yang memiliki dan menciptakan sistem satelit tersebut. Gamma Net

    177

    atau Neptunus, atau apa pun, dengan efektif t lindung di balik jaring-jaring "rahasia militer" ya^ tak tertembus.

    Backman si pengacara menginginkan proses pet. adilan, terutama jika dokumen-dokumen Pentagon itu pamt dipertanyakan. Namun Backman si terdakwa ingin menghindari nasib yang menimpa Hubbard.

    jikalau pelarian edan-edanan Luigi dari Treviso mi dimaksudkan untuk menaloit-nakutinya, rencana ini mendadak berhasil dengan sendirinya Untuk pertama kalinya sejak mendapat pengampunan, Joel merindukan keselamatan di dalam sel kecilnya di sayap keamanan maksimum.

    Kota Padua berada di depan, lampu-lampu dan lalu lintas tampak semakin banyak. "Betapa populasi Padua?" tanya Marco, kalimatnya yang pertama sejak setengah jam lalu.

    ^ ratus ribu. Kenapa orang Amerika selalu «^tahu polulasi setiap kota dan desa?"

    * kusangka pertanyaan im bikin masalah." Kau lapar?"

    t^tTl^"1 Ham perutnya berasal dari rasa "Tentu." u».., pat' taP* tetap saja ia be

    . — merek mat ' LCtaP saja ia berkata,

    wtut^^^rsetempattepat

    MalL-m*a dan lalu dengan segera

    —an.

    &naP di penginapan desa 178

    tereka

    met

    kecil—delapan kamar seukuran lemari—yang telah jjrniliki keluarga yang sama sejak zaman Romawi. Tidak ada tanda yang mengiklankan tempat itu; hanya salah satu tempat persinggahan Luigi. Jalan terdekat sangat sempit, terbengkalai, dan sama sekali tidak dilewati mobil yang diproduksi setelah tahun 1970. Bologna tak jauh dari sana.

    Luigi berada di kamar sebelah, di balik tembok batu tebal yang sudah berabad-abad usianya. Ketika Joel Backman/Marco Lazzeri merangkak ke balik selimut dan akhirnya memperoleh kehangatan, ia tidak bisa melihat setitik pun cahaya sejauh mata memandang. Kegelapan total. Dan kesunyian total. Suasana begitu senyap sehingga ia tak bisa memejamkan mata untuk waktu yang lama.

    179 Mi

    11

    Sesudah datang laporan kelima yang menyatakan Critz telah menelepon dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Joel Backman, Teddy Maynard mengamuk, sesuatu yang jarang terjadi. Si goblok itu ada di London, menelepon ke sana kemari, entah untuk alasan apa berusaha mencari seseorang, siapa saja, yang bisa membawanya pada informasi tentang Joel Backman.

    Pasti ada yang menawarkan uang pada Critz,"

    dTrTki^ Wigline' SCOrang asisten depUtl

    aitS* Cr bisa mensetahui di mana

    octada, sahut Wieline Seharusnya ia tM,i, . T

    hanya nwmperkcruK mencoba mencari tahu. I» Wigline b^uVhT^' h hatus dinetralisir."

    oby' y^g mendadak meng-

    I8n

    jijfan kegiatan mencatatnya. "Apa maksudmu,

    Teddy?" . „

    -Ia harus dinetralisir. "Ia warga negara Amerika Serikat." "Aku tahu! Ia juga membahayakan operasi. Ada presedennya. Kita sudah pernah melakukannya." Ia tidak repot-repot memberitahu mereka apa preseden itu, tapi mereka berasumsi, karena Teddy sering menciptakan preseden-presedennya sendiri, tak ada gunanya mendebat lebih jauh.

    Hoby mengangguk seakan berkata: Ya, kita sudah pernah melakukannya.

    Wigline mengenakkan rahang dan berkata, "Kuanggap kau ingin hal ini dilaksanakan sekarang juga."

    "Secepat mungkin," jawab Teddy. "Tunjukkan rencananya padaku dalam dua jam mendatang."

    Mereka mengawasi Critz ketika ia meninggalkan apartemen sewaannya dan memulai acara jalan-jalan sore yang lama, yang biasanya disudahi dengan beberapa gelas bir. Setelah setengah jam berjalan dengan irama langkah yang santai, ia mengarah ke Leicester Square dan masuk ke Dog and Duck, pub yang sama seperti yang dikunjunginya kemarin.

    Ia sudah menikmati gelas kedua di ujung belar kang bar, lantai satu, ketika bangku di sebelahnya akhirnya kosong dan seorang agen bernama Greenland menyusup ke sana dan berteriak meminta bir.

    181

    "Keberatan kalau aku merokok?" tanya G fand pada Critz, yang cuma mengangkat bahuX menjawab, "Ini bukan Amerika."

    "Yankee, ya?" tanya Greenland.

    "Yep."

    Tinggal di sini?"

    Tidak, cuma berkunjung." Critz memusatkan perhatian penuh pada botol-botol yang berjajar di dinding bar, menghindari kontak mata, tidak ingin terlibat dalam percakapan. Dalam waktu singkat ia menjadi terbiasa menikmati' kesendirian di dalam pub yang ramal Ia senang duduk saja sambil mendengarkan celoteh cepat orang-orang Inggris dan mengetahui bahwa tak seorang pun kenal siapa dia. Meski demikian, ia masih penasaran dengan pria bernama Ben im. Kalau benar mereka sedang mengawasinya, mereka melakukannya dengan baik, dengan tetap bersembunyi di dalam bayang-bayang.

    Gteenland meneguk birnya dalam upaya menyamai Critz. Sangat penting untuk bisa memesan gelas kedua pada waktu yang bersamaan. Ia mengembuskan asap rokoknya, menambah pekatnya gumpalan awan asap di atas mereka. "Aku sudah tinggal di sini selama satu tahun," katanya.

    Critz mengangguk saja tanpa menoleh. Minggat sana.

    "Aku tidak keberatan menyetir A; • i

    «aiyeur di sul jalan yang

    182

    salah, atau cuacanya yang payah, tapi yang benar-benar bikin aku jengkel adalah acara olahraganya. Kau pernah nonton pertandingan kriket? Lamanya

    empat hari."

    Critz memaksa diri menggeram dan berkata, "Olahraga tolol."

    "Kalau bukan kriket, ya sepak bola. Orang-orang ini tergila-gila pada kedua olahraga itu. Aku baru melewatkan musim dingin di sini tanpa NFL. Benar-benar sengsara."

    Critz adalah pemegang tiket musiman Redskins yang setia, dan hanya sedikit hal di dunia ini yang bisa membuatnya bersemangat selain tim kesayangannya. Greenland penggemar biasa, tapi telah melewatkan satu hari penuh menghafal statistik di rumah persembunyian CIA di utara London. Kalau skenario football tidak bisa membuat Critz senang, berikutnya baru politik. Kalau im juga tidak berhasil, ada wanita berpenampilan menarik yang sudah menunggu di luar, walau Critz tidak memiliki reputasi hidung belang.

    Tiba-tiba saja Critz merasa rindu kampung halaman. Duduk di pub, jauh dari rumah, jauh dari kemeriahan Super Bowl—tinggal dua hari lagi dan pers Inggris sama sekali tidak peduli—seolah ia bisa mendengar sorak-sorai penonton dan merasakan kegairahannya. Kalau Redskins lolos babak ploy off, ia tidak akan minum-minum bir di London. Ia akan

    all

    berada di Super BowJ, di kursi 50-yard, dijamu oleh salah satu perusahaan yang bisa diandalkan bantuannya. '^n'A

    Ia berpaling pada Greenland dan bertanya, "Patriots atau Packers?"

    "Timku tidak lolos, tapi aku selalu menyukai NFC"

    "Aku juga. Apa tim favoritmu?" Barangkah', itu adalah pertanyaan paling fatal yang pernah diajukan Robert Critz. Sewaktu Greenland menjawab, "Redskins," Critz sungguh-sungguh tersenyum dan ingin mengobrol. Merela melewatkan beberapa menit menentukan latar belakang kualitas—berapa lama masing-masing telah menjadi fans Redskins, pertandingan-pertandingan hebat yang pernah disaksikan, pemain-pemain hebat, kejuaraan-kejuaraan Super Bowl. Greenland memesan bir untuk mereka, dan keduanya tampak siap membahas pertandingan-pertandingan hingga berjam-jam lamanya. Critz tidak sering mengobrol dengan Yankee di London, dan orang ini jelas teman bicara yang menyenangkan.

    Greenland minta diri dan pergi untuk mencari kamar kecil. Kamar kecil ada di atas, seukuran letnan sapu, dengan saw lubang pembuangan seperti kebanyakan WC di London. Ia menyeiot pintu untuk mendapatkan privasi beberapa detik dan dengan cekatan mencabut ponsel untuk me-

    laporkan perkembangannya. Rencana sudah siap dilaksanakan. Tim sudah berada di jalan di bawah, menunggu. Tiga pria dan seorang wanita yang berpenampilan menarik.

    Setengah jalan menikmati birnya yang keempat, dan sambil menyatakan ketidaksetujuan atas rasio touchdown-banding-pencega.tan Sonny Jurgensen, Critz akhirnya merasa perlu ke kamar kecil. Ia menanyakan arah dan menghilang. Dengan gesit Greenland mencemplungkan sebutir tablet putih kecil Rohypnol ke dalam gelas Critz—obat bius yang kuat namun tak berasa dan tak berbau. Ketika Mr. Redskins kembali, ia sudah segar lagi dan siap untuk minum. Mereka mengobrol tentang John Riggins dan Joe Gibbs, dan bersenang-senang sebelum kepala Critz mulai terangguk-angguk.

    "Wow," ucapnya, lidahnya mulai terasa tebal. "Sebaiknya aku pulang sekarang. Istri sudah menunggu."

    "Yeah, aku juga," kata Greenland sambil mengangkat gelasnya. "Habiskan."

    Mereka mengosongkan gelas dan berdiri untuk pergi; Critz di depan, Greenland menunggu untuk menangkapnya. Mereka berhasil melewati kerumunan yang memadati pintu masuk dan menuju trotoar, di mana angin dingin menyegarkan Critz, walau hanya sesaat. Ia sudah melupakan teman barunya dan tak sampai dua puluh langkah ia pun

    terhuyung-huyung di atas tungkai yang goyah, lalu -menyambar riang lampu. Greenland menangkapnya sewaku ia jatuh, dan demi kepentingan pasangan muda yang sedang melewatinya, ia berkata keras-keras, "Sialan, Fred, kau mabuk lagi."

    Fred sudah jauh melampaui taraf mabuk Sebuah mobil muncul entah dari *mana dan melambat di sisi trotoar. Pintu belakang terbuka, dan Greenland menyurukkan Critz yang sudah separo mati ke kursi belakang. Perhentian pertama adalah gudang delapan blok jauhnya. Di sana, Critz, yang sudah tak sadarkan diri sepenuhnya, dipindahkan ke van kecil tak bertanda dengan dua pintu di bagian belakang. Sementara Critz terbaring di lantai mobil, seorang agen menggunakan jarum hipodecmis dan menginjeknnya dengan heroin murni berdosis tinggi. Keberadaan heroin selalu berhasil membungkam hasil autopsi, yang rentu saja dilakukan atas paksaan pihak keluarga.

    Dengan Critz yang nyaris tak bernapas, mobil itii meninggalkan gudang dan menuju Whitcomb Street, tak jauh dari apartemennya. Pembunuhan itu membutuhkan tiga mobil—van itu sendiri, diikuti Mercedes besar, dan mobil penguntit yang dikendarai orang Inggris asli, yang akan tetap di sana untuk mengoceh dengan polisi. Tujuan utama mobil penguntit itu adalah menjaga lalu lintas sejauh mungkin di belakang Mercedes.

    Pada usaha ketiga, dengan ketiga pengemudi berkomunikasi satu sama kin, dan dua agen—termasuk wanita berpenampilan menarik im—bersembunyi di trotoar dan juga mendengarkan, pintu van didorong terbuka, Critz terguling ke jalan, Mercedes mengincar kepalanya dan berhasil melindasnya dengan bunyi menjijikkan, lalu semua orang pun menghilang, kecuali si orang Inggris yang berada di mobil penguntit. Orang im menjejak pedal rem dalam-dalam, melompat keluar, dan berlari menghampiri si pemabuk malang yang tersandung, jatuh ke jalan, dan terlindas mobil. Kemudian ia melihat berkeliling dengan cepat untuk mencari saksi.

    Tidak ada saksi, tapi ada taksi yang sedang mendekat di sisi jalan yang lain. Ia melambaikan tangan memintanya berhenti, dan sejenak kemudian lalu lintas pun terhenti. Tak berapa lama, orang-orang mulai berkerumun dan polisi datang. Si orang Inggris di mobil penguntit mungkin orang pertama di tempat kejadian, tapi ia hampir tak melihat apa-apa. Ia hanya melihat pria tersandung di antara dua mobil yang diparkir di sana itu, jatuh ke jalan, dan ditabrak sebuah mobil besar berwarna hitam. Atau mungkin hijau tua. Tidak yakin apa merek dan modelnya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk memerhatikan nomor polisi mobil itu. Tak bisa menggambarkan-rupa si pengemudi tabrak lari

    itu. Ia terlalu kaget melihat pria mabuk yang men dadak muncul di tepi jalan.

    Pada saat mayat Bob Critz dinaikkan ke ambulans untuk perjalanan ke kamar jenazah, Greenland, si wanita berpenampilan menarik, dan dua anggota nm yang lain, sudah berada di atas kereta yang meninggalkan London dan menuju Paris. Mereka akan berpencar selama beberapa minggu, lalu kembali ke Inggris, basis asal mereka.

    Marco menginginkan sarapan terutama karena ia bisa mencium aromanya—ham dan sosis di atas panggangan, di suatu tempat jauh di dalam rumah utama—tapi Luigi sudah gelisah ingin segera angkat kaki. "Ada tamu-tamu lain dan semua orang makan di meja yang sama," ia menjelaskan ketika mereka tergesa-gesa melemparkan tas-tas mereka ke dalam mobil "Ingat, kau meninggalkan jejak, dan signm itu tidak akan melupakan apa pun."

    Mereka melaju di jalan pedesaan, mencari jalan utama.

    "Kita pergi ke mana?" tanya Marco. "Kita libat saja nanti."

    "Berhentilah mempermainkanku!" raung Marco dan Lmg, sampai berjengit. "Aku manusia bebas yang bisa turun dari mobil ini kan3n «. i mau!" *apan pun aku

    "Ya, tapi—"

    "Jangan sok mengancam! Setiap kali aku bertanya, kau memberiku ancaman samar bahwa aku tidak akan bertahan hidup sampai dua puluh empat jam kalau sendirian. Aku ingin tahu apa yang terjadi. Kita mau ke mana? Berapa lama kita akan berada di sana? Berapa lama lagi kau akan bersamaku? Beri aku jawaban, Luigi, atau aku akan menghilang."

    Luigi berbelok ke jalan empat jalur dan sebuah rambu jalan menyatakan Bologna berada tiga puluh kilometer jauhnya dari sana. Ia menunggu ketegangan mengendur sedikit, lalu berkata, "Kita akan ke Bologna selama beberapa hari. Ermanno akan menjumpai kita di sana. Kau akan melanjutkan pelajaranmu. Kau akan ditempatkan di rumah persembunyian selama beberapa bulan. Lalu aku akan menghilang dan kau sendirian." "Terima kasih. Apa sulitnya menjelaskan itu?" "Rencana berubah." "Aku tahu Ermanno bukan mahasiswa." "Dia mahasiswa. Dia juga-bagian dari rencana." "Kau tahu betapa konyolnya rencana itu? Pikirkanlah, Luigi. Seseorang menghabiskan waktu dan uang untuk mengajariku bahasa asing dan budaya asing. Kenapa aku tidak dinaikkan ke pesawat kargo lagi dan dibuang ke suatu tempat seperti Selandia Baru?"




  • 0 Response to "THE BROKER 1"

    Post a Comment

    Translate

    English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified