Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Ternyata CintaMu

Annisa Fahrizki

Sayup-sayup terdengar suara ibu membangunkanku, “nisa, bangun nak. Sudah jam setengah tiga”. Perlahan-lahan ku buka mata, kepalaku terasa pusing dan badanku sangat lemas. Beberapa hari ini kesehatanku menurun, mungkin karena terlalu banyak yang kupikirkan. Saat ini aku memang sedang mempersiapkan tes masuk Peguruan Tinggi yang akan ku jalani satu bulan mendatang, hal ini sangat menguras energiku karena aku harus bekerja keras mengulang materi yang belum kupahami serta mengerjakan soal-soal latihan. Disamping itu ada beberapa hal yang sangat mempengaruhi kondisi psikisku, perasaan bersalah dan kecewa selalu menghantui pikiranku. “ Nisa, kamu sakit? “, tanya ibuku saat memeriksa keningku, “enggak bu, cuma sedikit capek”, jawabku bermalas-malas saat bangun dari tidur, “ya sudah sana, ambil air wudhu”. Aku segera beranjak dari tempat tidur, dan segera mengambil wudhu. Perlahan-lahan ku usapkan dinginnya air ditubuhku, kurasakan sejuknya setiap tetes air yang melalui pori-pori kulitku, merasuk dalam kalbu. Subhanallah, ya Rabb inilah kenikmataMu yang masih bisa kurasakan sampai saat ini. Kutunaikan sholat tahajud, kupanjatkan doa kepadaNya dan mohon ampun atas segala dosa yang kuperbuat. “Sungguh ya Allah, aku ingin lepas dari belenggu perasaan ini. Sesungguhnya, rasa cinta adalah nikmatMu untuk setiap makhlukMu. Namun mengapa justru rasa cinta yang menyiksaku selama ini, wajarkah perasaanku, dosakah aku yang tak mampu menempatkannya pada posisi yang benar. Ya Rabb, ampuni hamba.” Itulah sebagian doaku, sungguh aku tak kuasa menahan air mata. Rasa sakit, kecewa, dan bersalah bekecamuk dalam diriku, adilkah aku bila ibu tak mengetahui keadaanku. Sejujurnya, tak ada sedikit pun keberanian untuk mengakui kebohonganku selama ini. Kubayangkan wajah kecewa ibu dan pukulan-pukulan dari tangannya yang mendarat di pipiku. Namun, apa dayaku tanpa ibu. Tanpa berpikir panjang aku menemui ibuku untuk menceritakan setiap kejadian yang telah kualami, yang selama ini ku tutup rapat-rapat dari mata dan telinga ibuku. “Ibu, maafkan Nisa. Nisa pernah melakukan kebohongan pada ibu, sekarang Nisa sangat menyesal. Maafkan Nisa”. “Kebohongan apa yang kamu maksud nak? ceritakan pada ibu”, kata ibu sambil menyeka air mataku. “Iya bu, maafkan Nisa. Ibu selalu menasehati Nisa untuk tidak mempunyai hubungan lebih dari pertemanan dengan seorang laki-laki. Karena menurut ibu seseorang yang berpacaran mempunyai potensi yang besar untuk sakit hati, selain itu juga karena usia Nisa yang belum cukup mengerti apa yang di artikan cinta pada lawan jenis. Tapi maafkan Nisa bu, Nisa tidak menghiraukan nasehat ibu. Satu tahun lalu Nisa mempunyai hubungan khusus dengan teman Nisa, namanya Alief. Dia baik, pintar, dan aktif di organisasi sekolah. Kami sangat dekat, apapun yang terjadi pada Nisa selalu Nisa ceritakan padanya. Nisa sedih atau senang dia selalu tau. Kami selalu berbagi satu sama lain. Bahkan kami menganggap bahwa kami akan selalu bersama sampai suatu hari nanti. Terutama Nisa, Nisa berangan-angan bahwa kami mampu meraih cita-cita masing-masing dengan kebersamaan kami. Dia bilang pada Nisa untuk sementara waktu sebaiknya tidak memberi tahu orang tua, nanti saja bila kita sudah mampu memenuhi keinginan kedua orang tua kita, itu yang dia katakan. Bila salah satu dari kami mempunyai kesulitan, maka kesulitan itu kami tanggung berdua. Hal itu jugalah yang membuat Nisa sering berbohong pada ibu. Pernah suatu hari laptopnya rusak, tabungannya tidak cukup untuk memperbaikinya. Karena Nisa tidak mempunyai tabungan maka Nisa menjual Handphone Nisa untuk menutupi kekurangan itu. Saat itu ibu menanyakan dimana handphone Nisa, Nisa menjawab handphone Nisa jatuh dan rusak. Beberapa bulan kemudian kami naik ke kelas XII, dia memilih mengakhiri hubungan kami. Dia bilang tidak enak bila lama-lama membohongi kedua orang tua, selain itu dia juga mengatakan bahwa Allah dan agama kita tidak mengizinkan umatnya berpacaran. Nisa membenarkan alasan tersebut, walau dengan berat hati akhirnya Nisa menyetujui keputusannya untuk berpisah. Tapi Nisa berjanji pada diri sendiri untuk selalu menjaga perasaan Nisa, karena Nisa yakin suatu hari nanti pasti kami akan bertemu dalam keadaan yang lebih baik. Kami menjalani kehidupan kami masing-masing tanpa ada komunikasi satu sama lain. Nisa merasa sangat kehilangan seorang teman yang selama ini selalu ada untuk Nisa. Hari-hari yang seharusnya Nisa gunakan untuk fokus pada pelajaran ternyata terganggu dengan bayangan masa lalu. Sangat sulit bagi Nisa untuk menerima kenyataan bahwa hal seperti ini wajar dialami oleh remaja sebaya Nisa. Banyak hal tidak menyenangkan yang Nisa dengar tentang Alief, banyak yang mengatakan dia dekat dengan salah satu adik kelas kami. Nisa pernah menangis karena itu tapi Nisa mencoba berpikir hal itu tidak mungkin kalaupun dekat mungkin itu hanya kedekatan teman biasa. Beberapa hari sebelum Ujian Nasional kami sempat bertemu dan meminta maaf atas semua kesalahan yang kami perbuat, dia juga menjelaskan pada Nisa tentang pertemanannya dengan adik kelas kami itu. Tanpa sepengetahuannya, Nisa bernafas lega setelah mendengarkan penjelasan itu. Mungkin dia juga tidak tau bila perasaan Nisa masih tetap sama seperti dulu. Tapi kemarin teman Nisa memberitahu jika Alief mempunyai hubungan khusus dengan adik kelasnya itu. Nisa bertanya langsung pada Alief dan dia membenarkan pertanyaan Nisa. Nisa sangat kecewa, apakah itu salah bu?. Inilah yang membuat Nisa resah, merasa berdosa pada Ibu. Sekali lagi maafkan Nisa. Jika ibu marah,pukul Nisa bu. Karena Nisa memang bersalah.” Ibuku tersenyum, “sudahlah Nisa. hal itu wajar dialami gadis seusiamu, hanya saja kamu terlalu polos untuk menyikapinya”. Aku kaget dengan jawaban ibu, “mengapa ibu tidak memukulku karena kesalahanku?”. “Bukankah Allah telah memukulmu dengan kekecewaan?. Tahukah kamu mengapa Allah tidak mengizinkan umatnya berpacaran? Karena Allah tidak menginginkan umatnya sakit hati dan kecewa. Betapa cintanya Allah pada kita, Dia melarang sesuatu yang sama sekali tidak berguna untuk kita. Jika kamu kecewa, biarkanlah kekecewaan itu untukmu sendiri. Jangan menyalahkan siapapun karena memang tidak ada yang bersalah. Jadikan ini sebagai batuan yang membuatmu terjatuh agar kamu lebih berhati-hati saat berjalan. Perjalananmu masih panjang nak, wujudkan cita-citamu menjadi seorang dokter. Bahagiakan ibumu, ayahmu disana juga pasti akan bangga.” “ Amin, Insya Allah bu”, batinku menangis mendengar kata-kata ibu, penyesalan demi penyesalan meluruh bersama air mataku. Ibu memang selalu melarangku untuk bergaul terlalu dekat dengan teman-teman sebayaku, apalagi dengan teman laki-laki. Mungkin ibu terlalu khawatir, karena akulah anak satu-satunya yang dimiliki ibu. Adzan subuh telah berkumandang, kami bergegas mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat berjamaah. Setelah sholat aku pamit pada ibu untuk beristirahat, kepalaku masih terasa sangat pusing. Sedangkan ibu melanjutkan membaca ayat suci Al-quran. Di tempat tidur aku mencoba memejamkan mata, kurenungkan semua yang telah terjadi pada diriku. Keresahan yang selama ini mengganggu hidupku dan konsentrasi belajarku mulai sirna. Memaknai setiap kejadian yang terjadi pada diri kita dengan hal-hal yang positif ternyata sangat indah, seperti sebuah hadist yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mendatangkan cobaan kepada mereka. Barang siapa rela dengan ujian itu, maka dia akan memperoleh kerelaanNya. Dan barang siapa membencinya maka dia akan memperoleh kebencianNya. Hmm.. Lucu, sangat lucu kurasa. Terlalu polos dan kekanak-kanakan. Aku berharap inilah awal kedewasaanku. Ya Rabb, ternyata cintaMu lah yang harus ku perjuangkan saat ini. Karena dengan CintaMu aku mampu mencintai kedua orang tuaku, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan semua ciptaanMu. Dengan cintaMu jugalah aku mendapatkan cinta dari mereka. Dengan cintaMu, Kau ciptakan aku seperti bunga. Saat aku merasa sepi kau ciptakan bunga-bunga lain di sekitarku. Saat aku merasa jenuh dengan gelapnya malam, kau ciptakan bintang-bintang yang menghiasi angkasaMu. Saat aku rindu akan kehangatan, kau ciptakan matahari untuk menyinariku. Saat matahariMu terlalu panas bagiku, kau ciptakan ilalang-ilalang yang tumbuh lebih tinggi dariku untuk menghalangi sinarnya. Saat aku menginginkan kesejukan, kau ciptakan rintik-rintik air hujan untuk mengobati dahagaku. CintaMu sungguh agung untuk umatMu, ya Rabb. Bacaan ayat suci Al-quran yang mengalun lembut sayup-sayup mulai tak dapat kudengar. “In-namaa amruhu idzaa arada syai-an an-yaquula lahu kun fayakuun. Fasubhaanal ladzii biyadihii mala-kuutu kulli syai-in wa ilaihi turja’uun.” Kalimat itulah yang terakhir ku dengar, dan aku terlelap dengan rasa sakit di kepalaku.

0 Response to "Ternyata CintaMu"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified