Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

RISING SUN

Michael Crichton

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Jakarta, 1994

RISING SUN

Kita masuk ke dunia baru di mana aturan main lama

tidak berlaku lagi.

- Phillip Sanders

Bisnis adalah perang.

- Semboyan Jepang

LOS ANGELES POLICE DEPARTMENT

Transkrip Rahasia

Catatan Intern

Isi: Transkrip Interogasi Video

Detektif Peter J. Smith

13-15 Maret

Perihal: Pembunuhan Nakamoto (A8895-404)

Transkrip ini milik Los Angeles Police Department, dan

hanya untuk penggunaan intern. Izin untuk menyalin,

mengutip, mereproduksi, atau mengungkapkan isi

dokumen ini dibatasi oleh undang-undang. Penggunaan

tanpa izin diancam hukuman berat.

Semua permohonan ditujukan kepada:

Pimpinan Divisi Internal Affairs

Los Angeles Police Department

PO Box 2029

Los Angeles, CA 92038-2029

Telepon: (213) 555-7600

Telefax: (213) 555-7812

Interogasi Video: Det. P.J. Smith 13/3-15/3

Kasus: Pembunuhan Nakamoto

Deskripsi interogasi: Yang bersangkutan (Lt. Smith)

diinterogasi selama 22 jam sepanjang tiga hari, mulai Senin,

13 Maret, sampai dengan Rabu, 15 Maret. Wawancara

direkam dengan pita S-VHS/SD.

Deskripsi gambar- Yang bersangkutan (Smith) duduk di

belakang meja di Ruang Video #4, Markas Besar LAPD.

Pada dinding di belakang yang bersangkutan ada jam.

Gambar memperlihatkan permukaan meja, cangkir kopi,

dan yang bersangkutan dari pinggang ke atas. Yang

bersangkutan mengenakan jas dan dasi (hari ke-1); kemeja

dan dasi (hari ke-2); dan keme (hari ke-3). Timecode video

tampak di pojok kanan bawah.

Tujuan interogasi: Klarifikasi peranan yang bersangkutan

dalam Pembunuhan Nakamoto (A8895404).

Petugas pelaksana interogasi adalah Det. T. Conway dan

Det. P. Hammond. Yang bersangkutan melepaskan haknya

untuk didampingi pengacara.

Disposisi kasus: Dimasukkan ke dalam arsip sebagai

"kasus belum dipecahkan".

Transkrip: 13 Maret (1)

INT : Oke. Rekaman sudah dimulai. Harap

sebutkan nama Saudara sebagai catatan.

PJS : Peter James Smith.

INT : Sebutkan umur dan pangkat Saudara.

PJS : Umur saya 34 tahun. Letnan, Divisi Special

Services, Los Angeles Police Department.

INT : Letnan Smith, seperti yang Saudara ketahui,

Saudara tidak didakwa sebagai pelaku tindak kejahatan

pada saat ini.

PJS : Saya tahu.

INT : Meski demikian, Saudara berhak didampingi

pengacara.

PJS : Saya tidak ingin menggunakan hak tersebut.

INT : Oke. Apakah Saudara berada di bawah

tekanan, dalam bentuk apa pun, untuk hadir dalam

pertemuan ini?

PJS : (terdiam lama) Tidak, saya tidak berada di

bawah tekanan.

INT : Oke. Sekarang kami ingin membicarakan

Pembunuhan Nakamoto dengan Saudara. Kapan Saudara

mulai terlibat dengan kasus tersebut?

PJS : Pada Kamis malam, 9 Februari, sekitar pukul

sembilan.

INT : Apa yang terjadi saat itu?

PJS : Saya berada di rumah. Kemudian saya terima

telepon.

INT : Dan apa yang sedang Saudara lakukan pada

saat Saudara menerima telepon tersebut?

MALAM PERTAMA

Bab 1

SEBENARNYA ketika itu aku duduk di tempat tidur, di

apartemenku di Culver City. Aku sedang menonton

pertandingan Lakers di TV, dengan suara dimatikan, sambil

mencoba menghafalkan kosakata untuk kursus bahasa

Jepang tingkat pemula yang kuikuti.

Suasananya tenang. Anak perempuanku sudah tidur

sejak jam delapan. Kini aku duduk dengan tape recorder di

sampingku, dan sebuah suara wanita yang ceria

mengucapkan kalimat-kalimat sederhana seperti,"'Halo,

saya petugas polisi. Dapatkah saya membantu Anda?" dan

"Bolehkah saya melihat daftar menu?" Setelah setiap

kalimat, ia berhenti sejenak agar aku dapat mengulangi

kalimatnya dalam bahasa Jepang. Aku berusaha dengan

susah payah. Kemudian ia berkata, "Toko sayur-mayur

sedang tutup. Di mana kantor pos?" Kalimat-kalimat seperti

itulah. Kadang-kadang aku sukar berkonsentrasi, namun

aku tetap mencoba. "Tuan Hayashi mempunyai dua anak."

Aku berusaha menjawab, "Hayashi-san wu koDõmo ga

fur… futur..." Aku mengumpat. Tapi wanita itu sudah mulai

bicara lagi.

"Minuman ini sama sekali tidak enak."

Buku pelajaran bahasa Jepang milikku tergeletak di

tempat tidur dalam keadaan terbuka, di sebelah Mr. Potato

Head yang kurakit kembali untuk anakku. Di samping itu

ada album foto, serta foto-foto dari pesta ulang tahunnya

yang kedua. Pesta Michelle berlangsung empat bulan yang

lalu, tapi aku masih belum selesai menempelkan foto-foto.

Kita harus memaksakan diri agar urusan seperti itu tidak

terbengkalai.

"Jam dua akan ada rapat."

Foto-foto di tempat tidurku sudah tidak sesuai dengan

kenyataan. Dalam waktu empat bulan, penampilan Michelle

sudah berubah sama sekali. Ia lebih tinggi; gaun pesta

mahal yang dibelikan bekas istriku sudah kekecilan

untuknya - beludru hitam dengan kerah renda berwarna

putih.

Dalam foto-foto itu, bekas istriku memainkan peranan

penting: memegang kue ulang tahun saat Michelle meniup

lilin, dan membantunya membuka kado-kado. Ia kelihatan

seperti ibu yang penuh dedikasi. Sebenarnya. Michelle

tinggal bersamaku, dan bekas istriku tidak terlalu sering

bertemu dengannya. Setengah dari kesempatan berkunjung

pada akhir pekan tidak dimanfaatkannya, dan sesekali ia

pun lalai membayar uang tunjangan anak.

Tapi kita takkan mengetahui semuanya itu hanya dengan

mengamati foto-foto pesta ulang tahun.

"Di mana kamar kecil?"

"Saya punya mobil. Kita bisa pergi bersama-sama."

Aku kembali menghafal. Sebenarnya, secara resmi aku

sedang bertugas malam itu. Aku petugas Special Services

yang mendapat giliran standby. Artinya, aku harus siap

dipanggil dari markas divisi di pusat kota. Tetapi tanggal 9

Februari merupakan Kamis yang tenang, dan menurut

perkiraanku aku takkan seberapa sibuk. Sampai jam

sembilan, Aku hanya ditelepon tiga kali.

Divisi Special Services meliputi seksi diplomatik dari

Departemen Kepolisian. Kami menangani masalah-masalah

yang menyangkut para diplomat dan orang-orang terkenal,

serta menyediakan tenaga penerjemah dan petugas

penghubung bagi warga negara asing yang karena satu dan

lain hal berurusan dengan polisi. Pekerjaanku cukup

bervariasi, tetapi tidak menimbulkan stres. Saat bertugas,

aku biasa menerima setengah lusin permohonan bantuan,

dan tak satu pun di antaranya merupakan keadaan darurat.

Jarang sekali aku sampai harus turun ke lapangan.

Pekerjaanku jauh lebih ringan dibandingkan dengati

pekerjaan petugas penghubung pers yang kutangani

sebelum masuk Special Services.

Pokoknya, pada malam tanggal 9 Februari, telepon

pertama yang kuterima menyangkut Fernando Conseca,

wakil konsul Chili. Ia distop oleh sebuah mobil patroli.

Ferny ternyata terlalu mabuk untuk mengemudi, tetapi ia

menuntut hak kekebalan sebagai diplomat. Aku menyuruh

para petugas patroli mengantarnya pulang, lalu membuat

catatan untuk mengajukan keluhan kepada konsulat pada

pagi hari - untuk kesekian kali.

Lalu, satu jam kemudian, aku menerima telepon dari

beberapa detektif di Gardena. Mereka menangkap seorang

tersangka dalam suatu baku tembak di sebuah restoran,

yang mengaku hanya berbahasa Samoa, dan mereka minta

seorang penerjemah. Aku mengatakan pada mereka bahwa

aku bisa mengirim seseorang, tetapi kemudian

menambahkan bahwa semua orang Samoa dapat berbahasa

Inggris; negara tersebut sempat menjadi wilayah perwalian

Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Para detektif lalu

memutuskan bahwa mereka dapat menanganinya tanpa

bantuan orang lain. Setelah itu, aku menerima telepon

bahwa mobil-mobil pemancar TV menghalangi jalur

pemadam kebakaran di tempat penyelenggaraan konser

Aerosmith. Aku memberitahu para petugas agar keluhan

tersebut diteruskan kepada Departemen Pemadam

Kebakaran. Dan selama satu jam berikut suasana kembali

tenang. Aku kembali menghadapi buku pelajaran dan

mendengarkan kalimat-kalimat seperti "Kemarin turun

hujan."

Kemudian Tom Graham menelepon.

"Dasar Jepang-Jepang keparat." Graham langsung

marah-marah. "Aku tak percaya mereka berani berbuat

begitu. Sebaiknya kau ke sini, Peteysan. Figueroa seribu

seratus, pojok Seventh Street. Gedung Nakamoto yang

baru."

"Ada apa?" Aku tak sanggup menahan diri. Graham

detektif yang baik, tetapi ia cepat naik darah dan cenderung

membesar-besarkan masalah.

"Masalahnya," ujar Graham, "Jepang-Jepang keparat itu

menuntut untuk bertemu dengan petugas penghubung

Special Services. Yaitu kau, Kawan. Mereka bilang pihak

polisi tidak bisa melanjutkan penyidikan sebelum petugas

penghubung tiba." .

"Tidak bisa melanjutkan penyidikan? Kenapa? Apa yang

terjadi di sana?"

"Pembunuhan," jawab Graham. "Wanita, kaukasoid,

umur sekitar 25, tampaknya enam-nol-satu. Tergeletak

telentang di tengah-tengah ruang rapat direksi mereka.

Cukup menarik. Sebaiknya kau secepat mungkin ke sini."

Aku bertanya, "Apakah ada musik di latar belakang?"

"Hell, ya," kata Graham. "Di sini sedang ada pesta besar.

Malam ini malam peresmian Nakamoto Tower dan mereka

mengadakan resepsi. Pokoknya, kau ke sinilah, oke?"

Aku menjawab bahwa aku akan datang. Kemudian aku

menelepon Mrs. Ascenio di sebelah dan bertanya apakah ia

bisa menunggui anakku sementara aku pergi; ia selalu

memerlukan tambahan uang. Sambil menunggunya, aku

berganti kemeja dan mengenakan setelan jas yang rapi.

Kemudian Fred Hoffmann menelepon. Ia komandan dinas

jaga di DHD di pusat; seorang pria pendek, kekar, dengan

rambut beruban. "Begini, Pete. Rasanya kau butuh bantuan

untuk urusan ini."

Aku bertanya, "Kenapa?"

"Sepertinya kita menghadapi pembunuhan yang

menyangkut warga negara Jepang. Mungkin agak repot.

Sudah berapa lama kau jadi petugas penghubung?"

"Sekitar enam bulan," kataku.

"Kalau aku jadi kau, aku akan minta bantuan dari orang

yang berpengalaman. Jemput Connor dan ajak dia ke sana."

"Siapa?"

"John Connor. Pernah dengar namanya?"

"Tentu," kataku. Semua anggota divisi pernah

mendengar nama John Connor. Ia semacam legenda,

petugas paling berpengalaman di antara semua petugas

Special. Services. "Tapi, bukankah dia sudah pensiun?"

"Dia mengambil cuti tak terbatas, tapi dia masih

menangani kasus-kasus yang menyangkut orang-orang

Jepang. Begini saja, biar aku yang telepon dia. Kau tinggal

ke sana untuk menjemputnya." Hoffmann menyebutkan

alamatnya.

"Oke. Thanks."

"Dan satu hal lagi. Pakai saluran darat untuk urusan ini,

oke, Petey?"

"Oke," jawabku. "Permintaan siapa ini?"

"Pokoknya ikuti saja."

"Terserah kau saja, Fred."

Saluran darat berarti bahwa kami tidak boleh

menggunakan radio komunikasi, agar pembicaraan kami

tidak disadap oleh pihak media yang memantau

frekuensi-frekuensi polisi. Itu merupakan prosedur standar

dalam situasi-situasi tertentu Setiap kaki Elizabeth Taylor

pergi ke rumah sakit, kami menggunakan saluran darat.

Atau jika putra remaja orang terkenal tewas dalam

kecelakaan mobil, kami menggunakan saluran darat untuk

memastikan bahwa orangtuanya menerima berita itu

sebelum kru-kru TV mulai menggedor-gedor pintu mereka.

Untuk hal-hal seperti itulah kami memakai saluran darat.

Setahuku saluran darat belum pernah digunakan dalam

kasus pembunuhan.

Tetapi dalam perjalanan ke pusat kota, aku tidak

menggunakan telepon mobil, dan hanya mendengarkan

radio. Ada laporan mengenai tertembaknya bocah laki-laki

berumur tiga tahun, yang kii lumpuh dari pinggang ke

bawah. Anak itu merupakan saksi perampokan toko

7-Eleven. Tulang punggungnya terkena peluru nyasar, dan

ia...

Aku pindah ke gelombang lain, dan menemukan sebuah

acara talk show. Di depan, aku melihat lampu-lampu

gedung-gedung pencakar langit di pusat kota, menjulang

tinggi sampai tertelan kabut. Aku keluar dari freeway di San

Pedro, pintu keluar untuk menuju rumah Connor.

Yang kuketahui mengenai John Connor adalah bahwa ia

pernah tinggal di Jepang selama beberapa waktu, tempat ia

memperoleh pengetahuannya tentang bahasa dan

kebudayaan Jepang. Dulu, di tahun 1960-an, ia merupakan

satu-satunya petugas polisi yang lancar berbahasa Jepang,

meskipun pada waktu itu Los Angeles memiliki populasi

orang Jepang terbesar di luar negara itu.

Sekarang, tentu saja, Departemen Kepolisian mempunyai

lebih dari delapan puluh petugas yang menguasai babasa

Jepang - dan lebih banyak lagi yang sedang belajar, seperti

aku. Beberapa tahun lalu Connor telah memasuki masa

pensiun. Tetapi para petugas penghubung yang sempat

bekerja sama dengannya sepakat bahwa Connor-lah yang

terbaik. Konon ia bekerja sangat cepat; kadang-kadang ia

hanya memerlukan beberapa jam untuk memecahkan

suatu kasus. Ia memiliki reputasi sebagai detektif yang

terampil dan pewawancara yang luar biasa, tanpa saingan

dalam mengorek keterangan dari saksi-saksi. Tetapi yang

paling dipuji oleh para petugas penghubung yang lain

adalah pendekatannya yang tidak berat sebelah. Salah satu

dari mereka pernah berkata padaku, " Bekerja dengan

orang-orang Jepang itu sama seperti berjalan di atas tali.

Cepat atau lambat kita semua akan jatuh ke kiri atau kanan.

Ada yang menganggap orang-orang Jepang hebat sekali dan

tak mungkin melakukan kesalahan. Ada pula yang menganggap

mereka benar-benar brengsek. Tapi Connor selalu

dapat menjaga keseimbangan. Dia tetap di tengah-tengah.

Dia selalu tahu apa yang dilakukannya."

John Connor tinggal di daerah industri di dekat Seventh

Street, di sebuah bangunan gudang yang berdampingan

dengan depot truk. Lift barang di gudang itu tidak

berfungsi. Aku menaiki tangga ke lantai tiga dan mengetuk

pintunya.

"Tidak dikunci," sebuah suara menyahut.

Aku memasuki sebuah apartemen kecil. Ruang

duduknya kosong, bergaya Jepang, ada tikar-tikar tatami,

penyekat-penyekat shoji, dan dinding-dinding dilapisi panil

kayu. Juga ada sebuah lukisan kaligrafi, sebuah meja

dengan upaman berwarna hitam, serta sebuah vas dengan

satu kuntum bunga anggrek berwarna putih.

Aku melihat dua pasang sepatu di depan pintu. Yang satu

sepatu pria, yang satu lagi sepatu wanita dengan hak tinggi.

Aku memanggil, "Kapten Connor?"

"Sebentar."

Sebuah dinding penyekat bergeser dan Connor muncul.

Ia lebih tinggi dari yang kuduga, mungkin satu sembilan

puluh, lebih dari enam kaki. Ia mengenakan yakuta, jubah

tipis ala Jepang yang dibuat dari kain katun berwarna biru.

Aku menaksir usia Connor sekitar 55. Berbahu lebar,

dengan rambut menipis, kumis rapi, dan sorot mata tajam.

Suara berat. Tenang.

"Selamat malam, Letnan."

Kami bersalaman. Connor mengamatiku dari atas ke

bawah, lalu mengangguk-angguk dengan puas. "Bagus.

Sangat rapi."

Aku berkata, "Sebelum ini, saya biasa berurusan dengan

pers. Kita tidak pernah tahu kapan kita harus tampil di

depan kamera."

Ia mengangguk. "Dan sekarang Anda mendapat giliran

bertugas standby?"

"Betul."

"Sudah berapa lama Anda menjadi petugas

penghubung?"

"Enam bulan."

"Bisa berbahasa Jepang?"

“Sedikit. Saya sedang belajar."

“Saya perlu ganti baju dulu." Ia berputar dan menghilang

di balik penyekat shoji. "Apakah kasus ini menyangkut

pembunuhan?"

"Ya."

"Siapa yang menghubungi Anda?"

"Tom Graham. Dia yang memimpin penyidikan di tempat

kejadian. Dia mengatakan bahwa orang-orang Jepang itu

menuntut kehadiran petugas penghubung di sana "

"Hmm, begitu." Hening sejenak. Aku mendengar suara

air mengalir. "Apakah itu permintaan yang biasa?"

"Tidak. Setahu saya, ini belum pernah terjadi. Biasanya

petugas lapangan minta bantuan penghubung jika ada

masalah bahasa. Saya belum pernah mendengar bahwa

orang-orang Jepang menuntut kehadiran petugas

penghubung."

"Sama dengan saya," kata Connor. "Apakah Graham yang

menyarankan agar saya diajak ke sana? Soalnya dia dan

saya tidak selalu akur."

"Bukan," balasku. "Ini usul Fred Hoffmann. Menurut dia,

saya kurang berpengalaman. Dia mengatakan bahwa dia

akan menghubungi Anda untuk saya.”

"Kalau begitu, Anda ditelepon dua kali di rumah?" tanya

Connor.

"Ya."

"Begitu." Ia muncul kembali dengan setelan jas berwarna

biru tua. Ia sedang mengikat dasi. "Kelihatannya masalah

waktu sangat penting. Jam berapa Graham menelepon

Anda?"

"Sekitar jam sembilan."

"Hmm, empat puluh menit yang lalu. Mari kita

berangkat, Letnan. Di mana mobil Anda?"

Kami bergegas menuruni tangga.

Aku menyusuri San Pedro dan membelok ke kiri, ke

Second Street, menuju arah gedung Nakamoto. Permukaan

jalan diselubungi kabut tipis. Connor menatap ke luar

jendela. Ia berkata, "Seberapa baik daya ingat Anda?"

"Lumayan."

"Apakah Anda bisa mengulangi pembicaraan telepon

yang Anda lakukan tadi?" ia bertanya. "Sedetail mungkin.

Kalau bisa, kata demi kata."

"Akan saya coba."

Aku mengulangi semuanya. Connor mendengarkan

tanpa memotong maupun berkomentar. Aku tidak tahu

mengapa ia begitu berminat, dan ia pun tidak

menjelaskannya. Setelah aku selesai, ia berkata, "Hoffmann

tidak memberitahu Anda siapa yang meminta saluran

darat?"

"Tidak."

"Hmm, memang ada baiknya. Saya tidak pernah

memakai telepon mobil, kecuali kalau terpaksa Sekarang

ini terlalu banyak orang yang menguping.”

Aku membelok ke Figueroa. Di depan aku melihat

lampu-lampu sorot bersinar di muka Nakamoto Tower

yang baru. Bangunannya terbuat dari granit abu-abu,

menjulang tinggi ke kegelapan malam. Aku pindah ke jalur

kanan dan membuka laci untuk mengambil beberapa kartu

nama.

Kartu-kartu itu bertulisan Detektif Letnan Peter J. Smith,

Petugas Penghubung Special Services, Los Angeles Police

Department. Dicetak dalam bahasa Inggris di sisi depan,

dan dalam bahasa Jepang di sisi belakang.

Connor mengamati kartu-kartu nama itu. "Bagaimana

Anda ingin menangani situasi ini, Letnan? Anda sudah

pernah bernegosiasi dengan orang Jepang sebelum ini?"

Aku menjawab, "Sebenarnya belum. Saya pernah

mengurus beberapa kasus mengemudi dalam keadaan

mabuk."

Connor berkata dengan sopan, "Kalau begitu, saya

mungkin bisa mengusulkan suatu strategi untuk kita."

"Silakan, saya tidak keberatan," kataku. "Saya justru

berterima kasih atas segala bantuan Anda."

"Baiklah. Karena Anda petugas penghubung, sebaiknya

Anda yang mengambil alih penyidikan setelah kita sampai."

"Oke."

"Anda tak perlu memperkenalkan saya, atau menyatakan

kehadiran saya dengan cara apa pun. Bahkan jangan

menoleh ke arah saya."

"Oke."

"Anggap saja saya tidak ada. Andalah yang memegang

kendali."

"Oke, baiklah."

"Ada baiknya kalau Anda bersikap formal. Berdirilah

dengan tegak, dan biarkan jas Anda selalu dalam keadaan

terkancing. Jika mereka membungkuk, Anda jangan

membalas - Anda cukup menganggukkan kepala. Orang

asing takkan menguasai tata cara membungkuk. Jadi jangan

coba-coba."

"Oke," kataku.

"Kalau Anda mulai membahas situasinya, Anda perlu

mengingat bahwa orang Jepang tidak suka bernegosiasi.

Menurut mereka, itu terlalu konfrontatif. Di kalangan

mereka sendiri, mereka selalu berusaha menghindarinya."

"Oke."

"Perhatikan gerak-gerik Anda. Biarkan tangan Anda

tetap di samping. Orang Jepang merasa diancam jika Anda

melambai-lambaikan tangan di hadapan mereka.

Berbicaralah pelan-pelan. Usahakan agar suara Anda tetap

tenang dan datar."

"Oke."

"Kalau bisa."

"Oke."

"Ini mungkin lebih sukar dari yang Anda duga. Orang

Jepang kadang-kadang menjengkelkan. Kemungkinan

besar, malam ini Anda akan menganggap sikap mereka

sangat menjengkelkan. Tapi apa pun yang terjadi, Anda

jangan sampai naik pitam."

"Baiklah."

"Bagi mereka, itu sangat tidak sopan."

"Baiklah," kataku.

Connor tersenyum. "Saya yakin Anda dapat menanganinya

dengan baik," katanya. "Kemungkinan Anda

bahkan takkan memerlukan bantuan saya. Tapi jika Anda

menemui jalan buntu, Anda akan mendengar saya berkata,

'Barangkali saya bisa membantu.' Itu merupakan tanda

bahwa saya mengambil alih. Mulai saat itu, biarkan saya

yang berbicara. Saya lebih suka kalau Anda tidak angkat

bicara lagi, walaupun Anda ditanya langsung oleh mereka.

Oke?"

"Oke."

“Anda mungkin ingin mengatakan sesuatu, tapi jangan

sampai terpancing."

"Saya mengerti."

"Selain itu, apa pun yang saya lakukan, Anda jangan

kelihatan heran. Apa pun yang saya lakukan."

"Oke."

"Begitu saya ambil alih, Anda harus ambil posisi sedikit

di belakang saya, di sebelah kanan. Jangan duduk. Jangan

menoleh. Jangan alihkan perhatian Anda. Ingat, Anda

mungkin berasal dari kebudayaan video MTV, tapi mereka

tidak. Mereka orang Jepang. Segala tindakan Anda memiliki

arti bagi mereka. Setiap aspek dari penampilan dan sikap

Anda akan mencerminkan diri Anda, Departemen

Kepolisian, dan saya sebagai atasan dan sempai Anda."

"Oke, Kapten."

"Ada pertanyaan?"

"Apa itu sempai?"

Connor tersenyum.

Kami melewati lampu-lampu sorot, lalu menuruni jalan

yang melandai, menuju tempat parkir di basement.

"Di Jepang," ia menjelaskan, "sempai adalah seseorang

berkedudukan senior yang membimbing seorang junior,

atau kohai. Hubungan sempai-kohai ini cukup sering

ditemui, dan lazim dianggap ada jika seseorang yang masih

muda bekerja sama dengan orang yang lebih tua. Saya rasa

mereka akan memandang kita seperti itu."

Aku berkata, "Semacam mentor dan murid?"

"Tidak juga," jawab Connor. "Di Jepang, sempai-kohai

mengandung nilai yang berbeda. Lebih seperti orangtua

dan anak. Sampai batas tertentu, sang sempai selalu

menuruti kehendak kohai-nya, dan menerima dengan sabar

segala kesalahan yang terjadi." Ia tersenyum. "Tapi saya

yakin Anda takkan bersikap seperti itu terhadap saya."

Kami sampai di kaki landaian, dan melihat tempat parkir

yang luas terbentang di hadapan kami. Connor menatap ke

luar jendela dan mengerutkan kening. "Di mana mereka

semua?"

Tempat parkir Nakamoto Tower dipenuhi limousine.

Para sopir bersandar pada kendaraan masing-masing, dan

mengobrol sambil merokok. Tetapi aku tidak melihat mobil

polisi. Biasanya, jika ada pembunuhan, tempat kejadian

terang benderang seperti pohon Natal, dengan lampu

berkedap-kedip dari setengah lusin mobil patroli, mobil

petugas pemeriksa mayat, kendaraan tenaga paramedis,

dan sebagainya.

Tetapi malam ini tidak ada apa-apa. Tempat parkirnya

tampak seperti tempat parkir di tempat suatu pesta mewah

sedang berlangsung. Orang-orang berpakaian anggun

berdiri berkelompok, menunggu mobil masing-masing.

"Menarik," aku berkomentar.

Kami berhenti. Para petugas parkir membukakan pintu.

Aku keluar dari mobil dan kakiku menginjak karpet tebal.

Sayup-sayup terdengar alunan musik lembut. Bersama

Connor aku berjalan menuju lift. Orang-orang berbaju rapi

datang dari arah berlawanan: para pria dengan tuksedo,

para wanita dengan gaun malam yang mahal. Dan di depan

lift aku melihat Tom Graham, dengan mantel korduroi yang

lusuh dan dikelilingi asap rokok.

Bab 2

KETIKA Graham bermain sebagai halfback di USE, ia tak

pernah berhasil masuk tim utama. Pengalaman ini

seakan-akan merangkum seluruh perjalanan hidupnya. Ia

selalu gagal meraih promosi penting, langkah berikut

dalam karier sebagai detektif. Ia telah berpindah-pindah

dari divisi ke divisi, tanpa menemukan seksi yang cocok,

atau partner yang dapat bekerja sama dengannya. Karena

selalu bersikap terlalu terbuka, Graham jadi mempunyai

musuh-musuh di kantor Kepala Polisi, dan pada umur 39,

kelihatannya ia takkan maju lagi. Kini ia getir, kasar, dan

bertambah gemuk - seorang pria bertubuh besar yang telah

menjadi berat dan lambat, dan menjengkelkan - ia selalu

menghadapi orang lain dengan cara yang salah. Menurut

Graham, orang yang gagal adalah orang yang memiliki

integritas, dan ia bersikap sarkastik terhadap siapa saja

yang tidak setuju dengan pandangannya itu.

"Bagus juga jasmu," ia berkata padaku ketika aku

menghampirinya. "Kau tampak gagah, Peter." Ia berlagak

menepiskan debu dari kelepakku.

Aku tidak menanggapi. "Bagaimana keadaannya, Tom?"

"Mestinya kalian datang sebagai tamu, bukan untuk

bekerja." Ia berpaling pada Connor dan menggelengkan

kepala. "Halo, John. Siapa yang menyuruh kau ditarik dari

tempat tidur?"

"Aku hanya pengamat," Connor menjawab sambil

tersenyum.

"Fred Hoffmann minta agar aku mengajaknya ke sini,"

kataku.

"Persetan," ujar Graham. "Aku tidak keberatan kau ada

di sini. Aku memang butuh bantuan. Di atas sana

suasananya cukup tegang."

Kami mengikutinya ke lift. Aku tetap belum melihat

petugas polisi yang lain. Aku bertanya, "Di mana yang

lainnya?"

"Pertanyaan bagus," kata Graham. "Mereka berhasil

menahan semua orang kita di belakang, di pintu masuk

barang. Menurut mereka, lift barang yang memberi akses

paling cepat. Dan mereka terus mengoceh mengenai

pentingnya malam pembukaan ini, dan bahwa tak ada yang

boleh mengganggu kelancarannya."

Di depan lift, seorang petugas keamanan Jepang

berseragam mengamati kami dengan saksama. "Mereka

berdua membantu saya," kata Graham. Petugas keamanan

itu mengangguk, namun tetap menatap kami dengan curiga.

Kami masuk ke dalam lift.

"Jepang-Jepang keparat," Graham mengumpat ketika

pintu menutup. "Ini masih negara kita. Kita masih polisi di

negara kita sendiri."

Lift itu berdinding kaca, dan kami bisa melihat pusat

kota Los Angeles ketika kami bergerak naik ke kabut tipis.

Gedung Arco berada tepat di seberang. Terang benderang

pada malam hari.

"Kalian tahu tidak, lift seperti ini sebenarnya ilegal," kata

Graham. "Berdasarkan peraturan bangunan, lift kaca tidak

boleh dipakai pada gedung yang tingginya melebihi

sembilan puluh lantai, dan gedung ini punya 97 lantai,

gedung tertinggi di L.A. Tapi seluruh bangunan ini memang

kasus istimewa. Mereka hanya perlu waktu enam bulan

untuk membangunnya. Kalian tahu bagaimana caranya?

Mereka membawa unit-unit prefab dari Nagasaki, dan

merakit semuanya di sini. Tanpa melibatkan pekerja

konstruksi Amarika. Mereka dapat dispensasi khusus untuk

melangkahi serikat pekerja kita, karena 'masalah-masalah

teknis' yang hanya bisa ditangani oleh tenaga-tenaga

Jepang. Brengsek! "

Aku mengangkat bahu. "Nyatanya mereka berhasil lolos

dari hadangan serikat pekerja."

"Bedebah, mereka berhasil lolos dari hadangan dewan

kota," kata Graham. "Tapi itu cuma soal uang. Dan

mengenai ini, kita tidak perlu ragu. Orang Jepang memang

punya uang, jadi mereka dapat keringanan dalam

ketentuan zoning dan ordinansi gempa. Mereka dapat apa

saja yang mereka inginkan."

Aku mengangkat bahu. "Permainan politik."

"Omong kosong. Kau tahu, mereka bahkan tidak bayar

pajak? Ya, mereka dapat penangguhan delapan tahun untuk

pajak bumi dan bangunan dari dewan kota. Sial. Kita

menghadiahkan negeri ini kepada mereka."

Sejenak semuanya terdiam. Graham memandang ke luar

jendela. Kami berada dalam lift kecepatan tinggi buatan

Hitachi, yang menggunakan teknologi mutakhir. Lift

tercepat dan paling halus di dunia. Kami semakin tinggi

memasuki kabut.

Aku berkata kepada Graham, "Kau akan memberi

penjelasan mengenai pembunuhan ini, atau mau main

rahasia-rahasiaan?"

"Sialan," kata Graham. Ia membuka buku catatannya.

"Oke. Laporan pertamanya masuk pukul 20.32. Seseorang

bilang ada 'masalah disposisi mayat'. Pria, dengan aksen

Asia yang kental, bahasa Inggris-nya tidak bagus. Operator

tidak berhasil mengorek keterangan. selain sebuah alamat.

Nakamoto Tower. Mobil patroli datang ke sini, tiba pukul

20.39, menemukan kasus pembunuhan. Lantai 46, salah

satu lantai kantor di gedung ini. Korbannya wanita

kaukasoid, usia sekitar 25. Cewek cantik. Kalian lihat

sendiri nanti.

"Petugas patroli memasang tali pembatas dan

menghubungi divisi. Aku datang bersama Merino, tiba

sekitar pukul 20.53. IU dan SID datang pada waktu yang

sama untuk PE, sidik jari, dan foto. Oke?"

"Ya," ujar Connor sambil mengantuk.

Graham melanjutkan, "Kami baru mulai bekerja ketika

orang Jepang dari Nakamoto Corporation muncul dengan

setelan jas warna biru seharga seribu. dolar. Dia

mengumumkan bahwa dia berhak mengadakan

pembicaraan dengan petugas penghubung dari L.A.P.D.

sebelum diadakan tindakan apa pun di dalam gedung

keparat ini. Dan dia berkeras bahwa kami tidak punya

alasan untuk melakukan penyidikan.

"Persetan, apa-apaan ini, kataku. Jelas-jelas ada

pembunuhan. Sebaiknya orang itu mundur saja. Tapi

ternyata si Jepang jago bahasa Inggris, dan rupanya dia

tahu banyak tentang hukum. Dan semua orang yang hadir

tiba-tiba, ya, berpikir dua kali. Maksudku, apa gunanya

mendesak agar penyidikan dimulai, kalau itu ternyata

melanggar prosedur yang benar? Dan si Jepang keparat itu

tetap ngotot bahwa harus ada petugas penghubung

sebelum kami melakukan apa pun. Berhubung bahasa

Inggris-nya lancar sekali, aku tidak melihat di mana letak

masalahnya. Kupikir petugas penghubung hanya

membantu orang-orang yang tidak bisa berbahasa Inggris,

sedangkan bajingan itu pasti lulusan Sekolah Hukum

Stanford. Tapi apa boleh buat." Ia mendesah.

"Kau menelepon aku," kataku.

"Yeah."

Aku bertanya, "Siapa orang dari Nakamoto itu?”

"Brengsek." Graham memelototi catatannya. "Ishihara.

Ishiguri. Seperti itulah."

"Kau punya kartu namanya? Dia pasti menyerahkan

kartu namanya kepadamu."

"Yeah, memang. Kuberikan pada Merino."

Aku berkata, "Selain dia, masih ada orang Jepang lagi di

sana?"

"Kau bercanda?" Graham tertawa. "Seluruh tempat ini

penuh sesak dengan mereka. Persis seperti Disneyland."

"Maksudku di tempat kejadian."

“Aku tahu," jawab Graham. "Kami tidak bisa menghalau

mereka. Mereka bilang ini gedung mereka, jadi mereka

berhak hadir. Malam ini malam peresmian Nakamoto

Tower. Mereka berhak hadir. Terus saja begitu."

Aku bertanya, "Di mana resepsinya diadakan?"

"Satu lantai di bawah tempat kejadian, di lantai 45.

Pokoknya ramai sekali. Pasti ada sekitar delapan ratus

orang di sana. Bintang film, senator, anggota Kongres, dan

sebagainya. Katanya Madonna juga datang, dan Tom Cruise.

Senator Hammond. Senator Kennedy. Wali Kota Thomas

ada. Wyland, dari kejaksaan. Hei, mungkin bekas istrimu

juga datang, Pete. Dia masih bekerja untuk Wyland, bukan?"

"Setahuku sih, masih."

Graham mendesah. "Enak juga. Sekarang giliran dia

mengerjai para pengacara."

Aku tidak berminat membicarakan bekas istriku.

"Kami sudah jarang bertemu."

Sebuah bel kecil berdenting, dan liftnya berkata,

"Yonjusan-kai."

Graham menatap angka-angka di atas pintu. "Apa-apaan

ini?"

"Yonjuyon-kai," liftnya mengumumkan. "Mosugu de

gozaimasu."

"Apa katanya?"

"Kita sudah hampir sampai."

"Sial," Graham mengumpat. "Kalau ada lift yang bisa

bicara, dia seharusnya bicara dalam bahasa Inggris. Kita

masih di Amerika."

"Hanya namanya saja," Connor berkomentar sambil

mengamati pemandangan.

" Yonjugo-kai, " elevatornya berkata.

Pintu membuka.

Graham benar, pestanya ramai sekali. Seluruh lantai

disulap menjadi replika sebuah ballroom di tahun empat

puluhan. Para pria dengan jas. Para wanita dengan gaun

koktail. Band-nya memainkan lagu-lagu Glenn Miller

berirama swing. Di samping pintu lift ada seorang pria

berambut kelabu, dengan kulit kecoklatan karena sinar

matahari. Rasanya aku pernah melihatnya. Tubuhnya

atletis, dengan bahu lebar. Ia melangkah ke dalam lift dan

berpaling padaku. "Tolong ke lantai dasar." Aku mencium

bau wiski.

Seketika seorang pria lain, yang lebih muda, muncul di

sampingnya. "Lift ini mau ke atas, Senator."

"Apa?" tanya pria berambut kelabu. Ia menoleh kepada

pembantunya.

"Lift ini mau ke atas, Sir."

"Hmm. Saya mau ke bawah." Ia bicara dengan mengeja

setiap kata, ciri khas orang mabuk.

"Ya, Sir. Saya tahu, Sir," pembantunya menjawab dengan

riang. "Kita tunggu lift berikutnya saja, Senator." Ia

menggenggam sikut laki-laki berambut kelabu dan

menggiringnya keluar dari lift.

Pintu menutup. Lift kembali bergerak naik.

"Uang pajak kita sedang bekerja," kata Graham.

"Kaukenal orang itu? Senator Stephen Rowe. Hebat juga

dia mau datang ke sini, mengingat dia anggota Komite

Keuangan Senat yang menetapkan semua peraturan

mengenai impor dari Jepang. Tapi sama seperti kawan

akrabnya, Senator Kennedy, Rowe penggemar daun muda."

"O, yeah?"

"Kata orang, dia juga kuat minum."

"Itu memang kelihatan."

"Karena itulah dia disertai anak muda tadi. Supaya dia

tidak membuat masalah."

Lift berhenti di lantai 46. Kami mendengar bunyi “ping”

yang lembut. "Yonjurkou-kai. Goriyou arigato

gozaimashita."

"Akhirnya," kata Graham. "Barangkali kita bisa mulai

bekerja sekarang."

Bab 3

PINTU membuka. Kami menghadapi tembok jas biru.

Semuanya membelakangi kami. Kelihatannya ada sekitar

dua puluh orang yang berdesak-desakan di daerah

resepsionis di depan lift. Udara dipenuhi asap rokok.

"Permisi, permisi," ujar Graham. Dengan kasar ia

menerobos kerumunan orang itu. Aku mengikutinya,

Connor di belakangku, diam dan tidak menarik perhatian.

Lantai 46 dirancang untuk menampung ruang-ruang

kerja para eksekutif puncak Nakamoto Industries, dan

hasilnya memang mengesankan. Dari daerah berkarpet di

depan lift, aku bisa mengamati seluruh lantai-ruangannya

terbuka dan berukuran raksasa. Luasnya sekitar enam

puluh kali empat puluh meter, setengah ukuran lapangan

footbalL Segala sesuatu memperkuat kesan lapang dan anggun.

Semua perlengkapan terbuat dari kayu dan bahan

berwarna hitam dan abu-abu, dan karpetnya tebal.

Bunyi-bunyi yang teredam dan cahaya remang-remang

menimbulkan suasana lembut dan mewah. Ruangan itu

lebih menyerupai bank daripada ruang kantor.

Bank paling kaya, yang pernah kutemui.

Kita seakan-akan dipaksa, berhenti dan melihat. Aku

berdiri di depan pita kuning yang membatasi tempat

kejadian dan menghalangi akses ke lantai itu, lalu

memandang berkeliling. Tepat di depan ada atrium luas,

semacam tempat penampungan bagi para sekretaris dan

pegawai bawahan. Ada meja-meja yang diatur

berkelompok, dan pohonpohon yang berfungsi sebagai

pembagi ruang. Di tengah-tengah atrium terdapat maket

berukuran besar dari Nakamoto Tower, dan kompleks

gedung-gedung sekitarnya, yang masih dalam tahap pembangunan.

Sebuah lampu sorot menerangi maket itu, tetapi

sisa atrium relatif gelap, dengan lampu malam di sana-sini.

Ruang kerja para eksekutif tampak mengelilingi atrium.

Semua ruang kerja dibatasi dinding kaca, ke arah atrium

dan juga ke arah luar, sehingga, dari tempatku. berdiri,

gedung-gedung pencakar langit di Los Angeles kelihatan

jelas. Seluruh lantai seakan-akan melayang di udara.

Aku melihat dua ruang rapat berdinding kaca,

masing-masing satu di sisi kiri dan sisi kanan. Ruang di

sebelah kanan lebih kecil, dan di sanalah aku melihat tubuh

wanita muda itu, tergeletak di meja panjang berwarna

hitam. Ia memakai gaun berwarna hitam. Sebelah kakinya

menggantung. Aku tidak melihat darah. Tapi jaraknya

cukup jauh, sekitar enam puluh meter, sehingga, hal-hal

kecil tidak kelihatan.

Aku mendengar gemeresak radio polisi, dan mendengar

Graham berkata, "Ini petugas penghubung yang Anda

minta, Tuan-tuan. Barangkali penyidikan bisa dimulai

sekarang. Peter?"

Aku berpaling kepada orang-orang Jepang yang berdiri

di dekat lift. Aku tidak tahu yang mana yang harus kusapa;

sejenak suasananya serba kikuk, sampai salah satu dari

mereka melangkah maju. Umurnya sekitar 35 tahun, dan ia

mengenakan setelan jas mahal. Orang itu membungkuk

sedikit, dari leher, sekadar sebagai isyarat. Aku membalas

dengan cara yang sama. Kemudian ia angkat bicara.

"Konbanwa. Hajimemashite, Sumisu-san. Ishiguro desu.

Dozo yoroshiku." Sapaan formal, meskipun diucapkan asal

saja. Tanpa membuang-buang waktu. Namanya Ishiguro. Ia

sudah mengetabui namaku.

Aku berkata, "Hajimemashite. Watashi wa Sumisu desu.

Dozo yoroshiku." Apa kabar. Senang berkenalan dengan

Anda. Basa-basi biasa.

"Watashi no meishi desu - Dozo." Ia menyerahkan kartu

namanya padaku. Gerak-geriknya serba cepat, kasar.

"Dõmo arigato gozaimasu." Aku menerima kartu

namanya dengan kedua belah tangan, yang sebenarnya

tidak perlu. Tetapi atas saran Connor, aku ingin bersikap

seformal mungkin. Kemudian aku memberikan kartu

namaku. Upacara kecil itu menuntut kami berdua

sama-sama mengamati kartu nama yang lainnya, dan

memberikan komentarkomentar singkat, atau mengajukan

pertanyaan seperti, "Apakah ini nomor telepon kantor

Anda?"

Ishiguro menerima kartu namaku dengan sebelah

tangan. "Apakah ini nomor telepon rumah Anda, Detektif."

Aku terkejut. Lafal bahasa Inggris-nya tanpa aksen, dan ini

hanya bisa dipelajari jika seseorang cukup lama tinggal di

sini, sejak usia muda. Salah satu dari ribuan orang Jepang

yang belajar di Amerika pada tahun tujuh puluhan. Waktu

mereka mengirim 150.000 mahasiswa ke Amerika setiap

tahunnya, untuk mempelajari negeri kami. Dan kami

mengirim 200 mahasiswa per tahun ke Jepang.

"Nomor saya paling bawah, ya," kataku.

Ishiguro menyelipkan kartu namaku ke kantong

kemejanya. Aku baru hendak berkomentar sedikit

mengenai kartu namanya, tetapi ia sudah memotong,

"Begini, Detektif. Saya kira kita bisa menyingkirkan segala

formalitas. Hanya ada satu sebab kenapa ada masalah

malam ini, yaitu karena rekan Anda tidak bersedia bekerja

sama."

"Rekan saya?"

Ishiguro memberi isyarat dengan gerakan kepala. "Si

gendut di sebelah sana. Graham. Tuntutannya tidak masuk

akal, dan kami mengajukan protes keras terhadap niatnya

untuk melakukan penyidikan malam ini."

Aku berkata, "Kenapa begitu, Mr. Ishiguro?"

"Anda tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk

mengadakan penyidikan."

"Kenapa Anda berpendapat begitu?"

Ishiguro mendengus. "Saya kira alasannya sudah jelas,

bahkan bagi Anda."

Aku tetap tenang. Lima tahun sebagai detektif, lalu

setahun di seksi pers telah mengajarku agar selalu tenang.

Aku berkata, "Tidak, Sir, saya kira alasannya belum

jelas."

Ia menatapku dengan pandangan meremehkan.

"Kenyataannya, Letnan, Anda tidak mempunyai alasan

untuk mengaitkan kematian wanita muda ini dengan pesta

yang sedang kami selenggarakan di bawah."

"Kelihatannya dia memakai gaun pesta..."

Ishiguro memotong dengan kasar, "Dugaan saya, Anda

akan menernukan bahwa dia mati karena kelebihan dosis

obat bius yang tidak disengaja. Dan karena itu kematiannya

tidak ada sangkut pautnya dengan pesta kami. Anda tentu

sependapat, bukan?"

Aku menarik napas panjang. "Tidak, Sir, saya tidak

sependapat. Apalagi tanpa penyidikan." Aku kembali

menghela napas. "Mr. Ishiguro, saya menghargai

keprihatinan Anda, tetapi..."

"Betulkah?" ujar Ishiguro, sekali lagi memotong

ucapanku. "Saya minta agar Anda mempertimbangkan

posisi perusahaan Nakamoto malam ini. Ini merupakan

malam yang sangat penting bagi kami, malam yang sangat

diperhatikan oleh umum. Tentu saja kami prihatin

mengenai kemungkinan bahwa acara kami akan dinodai

oleh pernyataan tanpa dasar tentang kematian seorang

wanita, apalagi ini, seorang wanita yang tak berarti..."

"Seorang wanita yang tak berarti?"

Ishiguro melambaikan tangan dengan kesal. Rupanya ia

telah lelah berbicara denganku. "Semuanya sudah jelas.

Coba Anda perhatikan dia. Dia tak lebih dari WTS biasa.

Saya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana dia

berhasil menyusup ke gedung ini. Dan karena alasan ini,

saya mengajukan protes keras atas niat Detektif Graham

yang hendak menginterogasi para tamu resepsi di bawah.

Itu sama sekali tidak masuk akal. Di antara para tamu

terdapat sejumlah senator, anggota Kongres, dan

pejabat-pejabat Los Angeles. Tentunya Anda sependapat

bahwa orang-orang sepenting itu akan merasa heran jika..."

Aku menyela, "Tunggu dulu. Detektif Graham

memberitahu Anda bahwa dia akan menginterogasi semua

orang yang menghadiri resepsi?"

"Itu yang dikatakannya kepada saya. Ya."

Kini aku mulai mengerti mengapa aku dipanggil. Graham

tidak menyukai orang Jepang, dan ia mengancam akan

merusak acara mereka. Tentu saja itu takkan pernah

terjadi. Graham tak mungkin menginterogasi

senator-senator Amerika Serikat, apalagi Jaksa atau Wali

Kota. Itu jika ia masih ingin bekerja pada keesokan harinya.

Tetapi orang-orang Jepang membuat Graham jengkel, dan

ia telah bertekad membalas dengan cara serupa.

Aku berkata kepada Ishiguro, "Kita bisa menyiapkan

meja registrasi di bawah, sehingga tamu-tamu Anda bisa

mengisi daftar hadir pada waktu mereka pulang."

"Saya kira itu sulit," Ishiguro mulai berkelit, "sebab Anda

tentu sependapat bahwa..."

"Mr. Ishiguro, itulah yang akan kita lakukan."

"Tetapi permintaan Anda sangat sukar..."

"Mr. Ishiguro."

"Masalahnya, bagi kami hal ini akan menyebabkan ...“

"Maaf, Mr. Ishiguro, Anda telah mendengar penjelasan

mengenai tindakan yang akan diambil oleh kepolisian."

Ia menegakkan badan. Sejenak tak ada yang angkat

bicara. Ia menghapus keringat dari bibir atasnya dan

berkata, "Saya kecewa, Letnan, karena Anda tidak bersedia

menjalin kerja sama yang lebih erat."

"Kerja sama?" Saat itulah aku mulai naik pitam. "Mr.

Ishiguro, di sebelah sana ada mayat wanita, dan tugas kami

adalah menyelidiki apa yang terjadi dengan..."

"Tetapi Anda tentu menyadari bahwa ini bukan situasi

biasa..."

Kemudian aku mendengar Graham menggerutu, "Oh,

Tuhan, apa-apaan ini?"

Ketika menoleh ke belakang aku melihat pria Jepang

berbadan pendek berdiri sekitar dua puluh meter di balik

pita kuning. Ia sedang memotretmotret tempat kejadian.

Kamera yang digenggamnya sedemikian kecil, sehingga

nyaris tertutup oleh telapak tangannya. Tetapi ia tidak

menutup-nutupi kenyataan bahwa ia telah melewati pita

pembatas untuk mengambil foto. Ketika aku

memperhatikannya, ia bergerak mundur ke arah kami,

sesekali mengangkat tangan untuk memotret, lalu mengedip-

ngedipkan mata di balik kacamata berbingkai tipis

sambil memilih sudut berikutnya. Gerak-geriknya sangat

hati-hati.

Graham menghampiri pita pembatas dan berkata, "Demi

Tuhan, keluar dari sana. Ini tempat kejadian perkara.

Saudara tidak boleh memotret di sana." Pria Jepang itu

tidak menanggapinya. Ia tetap berjalan mundur. Graham

berbalik. "Siapa orang itu?"

Ishiguro berkata, "Dia pegawai kami-Mr. Tanaka. Dia

bekerja untuk Nakamoto Security."

Aku hampir tak percaya pada penglihatanku.

Orang-orang Jepang mempunyai pegawai yang

berjalan-jalan di daerah yang dibatasi oleh pita kuning,

mengacaukan tempat kejadian. Keterlaluan. "Suruh dia

keluar dari sana," kataku.

"Dia sedang memotret."

"Dia tidak berwenang."

Ishiguro berdalih," Tetapi demi kepentingan perusahaan

kami."

Aku berkata, "Saya tidak peduli. Dia tidak boleh berada

di balik pita kuning, dan dia tidak boleh memotret. Suruh

dia keluar dari sana. Dan saya terpaksa menyita filmnya."

"Baiklah." Ishiguro cepat-cepat mengatakan sesuatu

dalam bahasa Jepang. Aku segera berbalik dan masih

sempat melihat Tanaka menyelinap di bawah pita kuning,

dan menghilang di antara orang-orang berjas biru yang

berkerumun di dekat lift. Di belakang kepala mereka, aku

melihat pintu lift membuka dan menutup.

Sialan. Aku mulai marah. "Mr. Ishiguro, Anda kini

menghalangi penyidikan resmi dari pihak kepolisian.".

Ishiguro berkata dengan tenang, "Anda harus mencoba

memahami posisi kami, Detektif Smith. Kami tentu saja

percaya penuh pada kemampuan Los Angeles Police

Department, tapi kami harus diberi kesempatan untuk

melakukan penyidikan sendiri, dan untuk itu kami perlu..."

Melakukan penyidikan sendiri? Kurang ajar. Tiba-tiba aku

tak sanggup berkata apa-apa. Aku mengertakkan gigi.

Darahku mulai naik ke kepala. Aku benar-benar marah. Aku

ingin menangkap Ishiguro. Aku ingin membaliknya,

mendorongnya ke dinding, dan memasang borgol di

pergelangan tangannya, dan...

"Barangkali saya dapat membantu, Letnan," sebuah

suara di belakangku berkata.

Aku membalik. John Connor berdiri di hadapanku. Ia

tersenyum dengan ramah.

Aku melangkah ke samping.

Connor menghadap ke Ishiguro, membungkuk sedikit,

dan menyerahkan kartu namanya. Ia berbicara dengan

cepat. "Totsuzen shitsurei desuga, jikoshokai shitemo

yoroshii desuka. Watashi wa John Connor to mashimasu.

Meishi o ddzo. Dozo yoroshiku."

"John Connor?" Ishiguro mengulangi. "John Connor yang

terkenal itu? Omeni kakarete koei desu. Watashi wa Ishiguro

desu. Dozo yoroshiku." Ia berkata bahwa ia mendapat

kehormatan karena bisa bertemu dengan Connor.

"Watashi no meishi desu. Dozo." Ucapan terima kasih

yang sopan.

Tetapi begitu basa-basinya selesai, percakapan

berlangsung sedemikian cepat, sehingga aku hanya

menangkap satu atau dua kata. Aku dituntut untuk tampak

tertarik, memperhatikan mereka dan mengangguk-angguk,

padahal sesungguhnya aku sama sekali tidak tahu apa yang

mereka bicarakan. Suatu kali aku mendengar Connor

menyebutku sebagai wakaimono, yang berarti anak didik

atau murid. Beberapa kali ia menatapku dengan tajam, dan

menggelengkan kepala seperti seorang ayah yang

menyesal. Rupanya ia sedang minta maaf untukku. Aku juga

mendengar bahwa ia menyebut Graham sebagai bushitsuki,

pria yang tidak menyenangkan.

Tetapi segala permintaan maaf ini ternyata cukup

ampuh. Ishiguro tampak lebih tenang, ia menurunkan

bahunya. Ia mulai bersikap lebih santai. Ia bahkan

tersenyum. Akhirnya ia berkata, "Jadi Anda tidak akan

memeriksa identitas para tamu kami?"

"Sama sekali tidak"' kata Connor. "Tamu-tamu terhormat

Anda bebas keluar-masuk sekehendak hati mereka."

Aku hendak memprotes. Connor langsung memelototiku.

"Identifikasi tidak diperlukan," Connor melanjutkan

dengan nada formal. "Sebab saya yakin tamu-tamu

Nakamoto Corporation tidak mungkin terlibat dalam

kejadian yang patut disayangkan ini."

"Sial," Graham mengumpat dengan suara tertahan.

Ishiguro berseri-seri. Tetapi aku marah sekali.

Connor mengabaikan keputusanku tadi. Ia membuatku

kelihatan seperti orang tolol. Dan selain itu, ia tidak

mengikuti prosedur kepolisian - di kemudian hari kami

semua mungkin mendapat kesulitan karena itu. Dengan

kesal aku memasukkan tangan ke kantong dan memandang

ke arah lain.

"Saya berterima kasih atas sikap Anda yang penuh

pengertian terhadap situasi ini, Kapten Connor," Ishiguro

berkata.

"Saya tidak berbuat apa-apa," balas Connor, sambil

sekali lagi membungkuk dengan sikap formal. "Tapi saya

berharap Anda kini setuju untuk mengosongkan lantai ini,

agar penyidikan polisi dapat dimulai."

Ishiguro berkedip-kedip. "Mengosongkan lantai?"

"Ya," ujar Connor sambil mengeluarkan buku catatan.

"Dan tolong sebutkan nama Tuan-tuan yang berdiri di

belakang Anda, pada waktu Anda mempersilakan mereka

pergi."

"Maaf'?"

“Nama Tuan-tuan di belakang Anda."

"Bolehkah saya bertanya untuk apa?"

Wajah Connor mulai memerah, dan ia menghardik

Ishiguro dalam bahasa Jepang. Aku tidak menangkap

artinya, tetapi muka Ishiguro langsung merah padam.

"Maaf, Kapten, tapi saya tidak melihat alasan mengapa

Anda berbicara begitu..."

Dan kemudian Connor kehilangan kendali diri.

Secara spektakuler dan eksplosif. Ia mendekati Ishiguro,

menuding-nudingkan telunjuk sambil berseru, "Iikagen ni

shiro! Soko o doke! Kiiterunoka!" Ishiguro merunduk dan

berbalik, terkejut oleh serangan verbal ini.

Connor belum selesai. Nada suaranya tajam dan

sarkastik, "Doke! Doke! Wakaranainoka?" Ia membalikkan

badan dan menunjuk orang-orang Jepang yang berdiri di

dekat lift. Dihadapkan dengan kemarahan Connor,

orang-orang Jepang itu mengalihkan pandangan dan

mengisap rokok masing-masing dengan gelisah.

"Hei, Richie," Connor memanggil juru foto unit

kejahatan, Richie Walters. "Tolong ambil foto mereka, oke?"

"Tentu, Kapten," ujar Richie. Ia mengangkat kameranya

dan mulai menyusuri barisan orang itu. Lampu blitznya

menyala beberapa kali berturut-turut.

Ishiguro mendadak sibuk. Ia melangkah ke depan

kamera dan menutup lensa dengan kedua tangannya.

"Tunggu dulu, tunggu dulu, apa ini?"

Tetapi orang-orang Jepang yang lain sudah mulai

menyingkir. Serempak mereka menjauhi blitz, bagaikan

sekawanan ikan. Dalam beberapa detik saja mereka sudah

pergi. Ditinggal seorang diri, Ishiguro tampak serba salah.

la mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang. Rupanya ia

memilih kata-kata yang keliru.

"Oh?" ujar Connor. "Anda yang harus disalahkan," ia

berkata pada Ishiguro. "Anda penyebab semua kesulitan ini.

Dan Anda akan memastikan bahwa detektif-detektif saya

memperoleh semua bantuan yang mereka perlukan. Saya

ingin bicara dengan orang yang menemukan mayat itu, dan

dengan orang yang menghubungi polisi. Saya

menginginkan nama semua orang yang datang ke lantai ini

sejak mayat itu ditemukan. Dan saya minta film dari

kamera Tanaka. Ore wa honkida. Saya akan menahan Anda

jika Anda masih menghalang-halangi penyidikan."

"Tapi saya harus berbicara dulu dengan atasan saya ......”

"Namerunayo." Connor mendekatkan wajahnya ke wajah

Ishiguro. "Jangan cari perkara dengan saya, Ishiguro-san.

Sekarang pergi, dan biarkan kami bekerja."

"Tentu, Kapten," kata Ishiguro. Ia segera pergi setelah

membungkuk dengan kaku. Wajahnya kuyu dan sedih.

Graham terkekeh-kekeh. "Biar tahu rasa dia."

Connor langsung berbalik. "Apa tujuanmu memberitahu

dia bahwa kau akan menginterogasi semua tamu yang

menghadiri pesta mereka?"

"Ah, sudahlah, aku hanya ingin membuat dia jengkel,"

kata Graham. "Mana mungkin aku menginterogasi Wali

Kota? Bukan salahku kalau Jepang-Jepang keparat itu tidak

punya rasa humor."

"Mereka punya rasa humor," kata Connor. "Dan justru

kau yang menjadi korban lelucon mereka. Soalnya Ishiguro

menghadapi suatu masalah, dan dia berhasil

menyelesaikannya berkat bantuanmu."

"Berkat bantuanku?" Graham mengerutkan kening. "Apa

maksudmu?"

"Kelihatan jelas bahwa mereka ingin menunda

penyidikan," ujar Connor. "Taktikmu yang agresif

memberikan alasan yang sempurna pada mereka –

memanggil petugas penghubung Special Services."

“Ah, jangan mengada-ada," kata Graham. "Mereka mana

tahu seberapa lama si petugas penghubung dalam

perjalanan. Bisa saja dia sudah muncul dalam lima menit."

Connor menggelengkan kepala. "Jangan menipu diri

sendiri. Mereka tahu persis siapa yang mendapat gillran

tugas standby malam ini. Mereka tahu persis seberapa jauh

Smith dari sini, dan seberapa lama dia menempuh

perjalanan ke Nakamoto Tower. Dan mereka berhasil

menunda penyidikan selama satu setengah jam. Bagus,

Detektif, bagus sekali."

Graham menatap Connor untuk waktu yang terasa lama.

Kemudian ia berpaling. "Sialan," katanya. "Kau pun tahu

bahwa semua itu cuma omong kosong. Oke, aku mau mulai

kerja. Richie? Cepat sedikit. Kau punya waktu tiga puluh

detik sebelum anak buahku mulai beraksi. Ayo, semuanya.

Aku ingin pekerjaan ini selesai sebelum bau busuk mulai

menyebar."

Dan setelah itu ia melangkah ke tempat kejadian.

Dengan koper-koper dan kereta barang bukti, tim SID

mengikuti Graham. Richie Walters berada paling depan,

memotret kiri-kanan sambil menuju ruang rapat.

Dinding-dinding ruangan itu terbuat dari kaca gelap yang

meredupkan cahaya blitznya. Tapi aku bisa melihatnya di

dalam, mengelilingi mayat. Ia memotret cukup banyak. Ia

sadar bahwa ini suatu kasus besar.

Aku menunggu bersama Connor. Aku berkata,, "Seingat

saya, Anda tadi berpesan bahwa tidak sopan untuk naik

pitam di hadapan orang Jepang."

"Memang,," kata Connor.

"Kalau begitu, kenapa Anda marah-marah tadi?"

"Sayangnya," ia berkata, "itu satu-satunya cara untuk

membantu Ishiguro."

"Membantu?"

"Ya. Saya melakukan semuanya itu demi Ishiguro -

karena dia harus menyelamatkan muka di hadapan bosnya.

Bukan Ishiguro yang paling pentlng tadi. Salah satu orang

Jepang di dekat lift merupakan juyaku, bos sesungguhnya."

“Saya tidak memperhatikannya."

"Mereka biasa menempatkan orang yang kurang penting

di depan, sementara tokoh utama tetap berdiri di latar

belakang, di tempat dia bebas mengamati perkembangan.

Sama seperti yang saya lakukan dengan Anda, Kohai."

"Atasan Ishiguro mengamati kita tadi?"

"Ya. Dan Ishiguro, telah mendapat perintah untuk tidak

membiarkan penyidikan dimulai. Saya harus memulai

penyidikan. Tetapi saya terpaksa melakukannya dengan

suatu cara yang tidak membuat Ishiguro kelihatan tidak

kompeten. Jadi saya bersandiwara sebagai gaijin yang lepas

kendali. Sekarang dia berutang budi pada saya. Ini menguntungkan,

sebab nanti saya mungkin memerlukan

bantuannya."

"Dia berutang budi pada Anda?" kataku. Pernyataan ini

rasanya tidak masuk akal. Connor baru saja

membentak-bentak Ishiguro. Menurutku, ia benar-benar

mempermalukannya.

Connor mendesah. "Biarpun Anda tidak mengerti apa

yang terjadi, percayalah, Ishiguro

sangat memahaminya. Dia punya masalah, dan saya

membantunya."

Aku benar-benar tak mengerti dan hendak bertanya lagi,

tetapi Connor memberi isyarat dengan tangan agar aku

diam saja. "Sebaiknya kita segera memeriksa tempat

kejadian, sebelum Graham dan anak buahnya mengacaukan

semuanya."

Bab 4

HAMPIR dua tahun telah berlalu sejak aku bekerja di

divisi detektif, dan aku merasa senang karena mendapat

kesempatan menangani suatu kasus pembunuhan.

Berbagai kenangan bangkit kembali - ketegangan pada

malam hari, aliran adrenalin yang disebabkan oleh kopi

yang tidak enak di dalam cangkir kertas, dan semua tim

yang bekerja di sekitar kita - semua itu merupakan

semacam energi aneh yang mengelilingi titik pusat tempat

seseorang tergeletak, mati. Setiap tempat kejadian

pembunuhan mempunyai energi yang sama, serta

menimbulkan perasaan bahwa sesuatu telah berikhir di

sana. Kalau kita mengamati mayat seseorang, kita

menghadapi sesuatu yang amat jelas, tetapi sekaligus

menyimpan misteri yang tak mungkin dipecahkan. Bahkan

dalam kemelut rumah tangga yang paling sederhana pun,

ketika sang wanita akhirnya memutuskan untuk menembak

sang pria, kita menatapnya, dengan luka memar dan

luka bakar bekas rokok di sekujur tubuh, dan kita bertanya,

kenapa malam ini? Apa kekhususan malam ini? Segala

sesuatu yang kita lihat selalu begitu jelas, tetapi selalu. ada

sesuatu yang terasa mengganjal.

Dan dalam kasus pembunuhan, kita merasa telah sampai

pada hal-hal hakiki mengenai keberadaan kita, dengan

segala bau, tinja yang berserakan, dan mayat yang mulai

menggembung. Biasanya ada yang menangis, jadi itu yang

kita dengar. Dan segala tetek bengek lainnya terhenti,

seseorang telah mati, dan kenyataan itu tak dapat

disangkal, seperti sebongkah batu di tengah jalan yang

memaksa semua kendaraan bergerak menghindar. Dan

dalam suasana suram dan nyata itu, timbul perasaan

senasib, karena kita bekerja lembur dengan orang-orang

yang kita kenal, bahkan kenal sangat baik, karena kita

selalu melihat mereka. Setiap hari terjadi empat

pembunuhan di L.A.; satu. pembunuhan setiap enam jam.

Dan setiap detektif yang hadir di tempat kejadian masih

harus menangani sepuluh kasus pembunuhan lain yang

belum terpecahkan, yang menyebabkan kasus terakhir ini

terasa seperti beban yang tak tertahankan, sehingga ia dan

semua orang lain berharap bahwa mereka dapat

menyelesaikannya di tempat, bahwa mereka dapat

menyingkirkan rintangan itu. Perasaan bahwa sesuatu

telah berakhir, ketegangan, energi, semuanya itu

bercampur baur.

Dan setelah beberapa tahun, kita akhirnya begitu

terbiasa, sehingga kita menyukainya. Dan di luar dugaanku,

ketika aku memasuki ruang rapat, aku menyadari bahwa

aku. menyukainya.

Ruang rapat itu ditata dengan anggun: meja hitam, kursi

kulit dengan sandaran tinggi, cahaya lampu di

gedung-gedung pencakar langit di luar. Di dalam ruangan,

para teknisi berbicara pelan-pelan, sambil bergerak

mengelilingi mayat wanita muda itu.

Rambutnya pirang, dipotong pendek. Mata biru, bibir

agak tebal. Usianya sekitar 25. Tinggi, dengan kaki panjang,

berpenampilan atletis.

Graham sudah mulai dengan penyidikannya. Ia berdiri di

ujung meja, mengamati sepatu tinggi berwarna hitam di

kaki wanita muda itu, dengan senter kecil di tangan. yang

satu, dan buku catatan di tangan yang satu lagi.

Kelly, asisten petugas pemeriksa mayat, sedang

membungkus tangan mayat itu dengan. kantong plastik

untuk melindungi keduanya. Connor menyuruhnya

berhenti. "Tunggu. sebentar." Connor mengamati sebelah

tangan, memeriksa pergelangan, dan meneliti bagian

bawah kuku. Ia mencium-cium salah satu kuku. Kemudian

ia menyentil-nyentil semua jari, satu per satu.

"Jangan repot-repot," Graham berkata singkat. "Belum

ada rigor mortis, dan tidak ada detritus di bawah kuku, baik

kulit maupun serat kain. Menurutku malah tidak banyak

tanda bahwa dia melakukan perlawanan."

Kelly membungkus tangan itu dengan kantong plastik.

Connor berkata padanya, "Sudah bisa ditentukan jam

berapa dia meninggal?"

"Sedang dikerjakan." Kelly mengangkat pantat wanita

muda itu, untuk memasang alat pengukur suhu di dubur.

"Alat pengukur suhu di ketiak sudah dipasang. Sebentar

lagi kita sudah tahu jawabannya."

Connor menyentuh bahan gaun yang berwarna hitam,

lalu memeriksa labelnya. Helen, salah satu anggota tim SID,

berkata, "Karya Yamamoto."

"Betul." Connor mengangguk.

"Apa itu?" tanyaku.

Helen menjawab, "Desainer dari Jepang, mahal sekali.

Harga gaun hitam ini paling tidak lima ribu dolar. Itu pun

kalau dibeli second hand. Kalau baru, harganya mungkin

15.000."

"Apakah asal usulnya bisa dilacak?" tanya Connor.

"Mungkin. Tergantung apakah dia membelinya di sini,

atau di Eropa, atau di Tokyo. Perlu waktu beberapa hari

untuk memeriksanya."

Connor langsung tidak tertarik lagi. "Lupakan saja.

Terlalu lama."

Ia mengeluarkan senter fiber optic berbentuk pena, yang

digunakannya untuk meneliti rambut dan kulit kepala

wanita muda itu. Kemudian ia memeriksa kedua telinga,

bergumam dengan terkejut ketika mengamati telinga

kanan. Aku mengintip lewat bahunya dan melihat setitik

darah kering di lubang anting. Rupanya aku menghalangi

gerak-gerik Connor, sebab ia menoleh ke arahku. "Permisi,

Kohai."

Aku segera melangkah mundur. "Sori."

Kemudian Connor mengendus-endus bibir mayat itu,

membuka dan mengatupkan rahangnya secara cepat, dan

merogoh-rogoh di dalam mulut dengan senter penanya.

Lalu ia memutar-mutar kepalanya dari satu sisi ke sisi yang

lain, sehingga wanita muda itu seakan-akan menoleh ke

kiri-kanan. Ia menghabiskan beberapa saat dengan

meraba-raba di sepanjang leher, hampir mengelus-elusnya

dengan lembut.

Dan setelah itu, secara tiba-tiba ia menjauhi mayat itu

dan berkata, "Oke, cukup sekian."

Dan ia keluar dari ruang rapat.

Graham menoleh. "Dari dulu dia memang tak hanyak

gunanya di tempat kejadian."

Aku langsung bertanya, "Kenapa kau berpendapat

begitu? Kata orang-orang, dia detektif yang hebat."

"Oh, persetan," ujar Graham. "Kau bisa lihat sendiri. Dia

tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tidak tahu

prosedur. Connor bukan detekof Connor punya koneksi.

Dengan cara itulah dia menyelesaikan semua kasus yang

membuatnya terkenal. Kau masih ingat kasus Arakawa?

Pasangan muda yang dibunuh waktu mereka berbulan

madu? Tidak? Kurasa kejadiannya sebelum zamanmu,

Petey-san. Tahun berapa kasus Arakawa, Kelly?"

"Tujuh puluh enam," kata Kelly.

"Benar, 76. Kasus besar tahun itu. Mr. dan Mrs. Arakawa,

pasangan muda yang berkunjung ke Los Angeles untuk

berbulan madu. Mereka sedang berdiri di tepi jalan di East

L.A., dan tiba-tiba keduanya ditembak dari sebuah mobil

yang melaju melewati mereka. Persis seperti dalam perang

antargeng. Yang lebih parah lagi, pada saat autopsi

ditemukan bahwa Mrs. Arakawa sedang hamil. Pihak pers

berpesta pora. L.A.P.D. tidak sanggup menangani kekerasan

geng, begitu laporan mereka. Surat-surat dan sumbangan

uang berdatangan dari segala penjuru kota. Semua orang

menyesalkan nasib yang menimpa pasangan muda itu. Dan,

tentu saja, para detektif yang ditugaskan untuk menangani

kasus itu tidak berhasil menemukan apa pun. Maksudku,

kasus pembunuhan yang menyangkut warga negara Jepang.

Mereka tidak memperoleh kemajuan apa pun.

"Nah, setelah satu minggu, Connor dipanggil. Dan dia

memecahkan kasus itu dalam satu hari. Bayangkan, satu

hari! Padahal peristiwanya terjadi satu minggu lalu.

Bukti-bukti fisik sudah lama lenyap, kedua jenazah sudah

berada di Osaka, dan karangan-karangan bunga yang sudah

layu menumpuk di pojok jalan tempat penembakan berlangsung.

Tetapi Connor berhasil membuktikan bahwa Mr.

Arakawa sebenarnya termasuk tokoh dunia hitam di Osaka.

Dia membuktikan bahwa penembakan di pojok jalan itu

sebenarnya sebuah eksekusi yakuza, yang diperintahkan di

Jepang untuk dilaksanakan di Amerika. Dan dia juga mengungkapkan

bahwa sang suami yang jahat sebenarnya bukan

sasaran utama; yang diincar adalah sang istri yang sedang

hamil, sebab ayah Mrs. Arakawa-lah yang hendak diberi

pelajaran. Jadi, Connor membalikkan semuanya. Luar biasa,

hah?"

"Dan kaukira dia bisa melakukan semuanya itu berkat

koneksinya di kalangan orang Jepang?"

"Silakan jawab sendiri," kata Graham. "Aku cuma tahu

bahwa tidak lama kemudian dia pergi ke Jepang selama

setahun."

"Dalam rangka apa?"

"Kabarnya dia bekerja sebagai petugas keamanan untuk

sebuah perusahaan Jepang yang merasa berutang budi.

Pokoknya, mereka mengurus segala kebutuhannya. Dia

mengerjakan sebuah tugas untuk mereka, dan mereka

membayarnya. Begitulah kesimpulanku. Tak ada yang tahu

persis apa yang terjadi. Tapi yang jelas, dia bukan detektif.

Coba lihat dia sekarang."

Di luar, di atrium, Connor menatap langit-langit,

seolah-olah sedang melamun. Pertama-tama ia menoleh ke

satu arah, lalu ke arah lain. Sepertinya ia sedang berusaha

mengambil keputusan. Tiba-tiba ia bergegas ke arah lift,

seakan-akan hendak pergi. Kemudian, tanpa-peringatan, ia

berbalik dan berjalan ke tengah-tengah ruangan, lalu

berhenti. Setelah itu, ia mulai mengamati daun-daun pohon

palem dalam pot yang ditempatkan di sana-sini.

Graham geleng-geleng. "Apa lagi ini, berkebun? Terus

terang, dia memang aneh. Asal tahu saja, dia sudah lebih

dari sekali pergi ke Jepang. Dia selalu kembali. Rupanya dia

tak pernah bisa cocok di sana. Bagi Connor, Jepang seperti

perempuan. Connor tidak bisa hidup dengan dia, dan juga

tidak bisa hidup tanpa dia. Aku sendiri tak habis pikir. Aku

suka Amerika, maksudku, apa yang tersisa dari Amerika."

Ia berpaling kepada tim SID yang mulai bergerak

menjauhi mayat. "Kalian sudah menemukan celana

dalamnya?"

"Belum, Tom."

Aku berkata, "Celana dalam yang mana?"

Graham menyingkap rok wanita muda itu. "Kelihatannya

John tidak berminat menyelesaikan pemeriksaannya, tapi

menurutku di sini ada petunjuk penting. Cairan yang

mengalir dari vagina, kurasa itu sperma. Dia tidak memakai

celana dalam, dan di pangkal paha ada garis merah, tempat

celana dalamnya direnggut. Kemaluan bagian luar tampak

merah dan lecet. Rasanya cukup jelas bahwa dia mengalami

hubungan seks secara paksa sebelum dibunuh. Jadi

kuminta pada anak-anak untuk menemukan celana

dalamnya."

Salah satu anggota tim SID berkata, "Barangkali dia

memang tidak memakai celana dalam."

Graham menyangkal dengan tegas, "Dia pakai."

Aku berpaling kembali pada Kelly. "Bagaimana dengan

obat bius?"

Ia mengangkat bahu. "Kita masih menunggu hasil

analisis lab terhadap semua cairan tubuh. Tapi sepintas lalu

dia kelihatan bersih. Sangat bersih." Aku menyadari bahwa

Kelly tampak sangat gelisah.

Graham pun memperhatikannya. "Ah, kenapa

tampangmu kusut begitu, Kelly? Kau terpaksa

membatalkan kencan larut malam?"

"Bukan," kata Kelly, "tapi terus terang, di sini bukan saja

tidak ada tanda-tanda pergulatan atau obat bius-aku

bahkan tidak menemukan petunjuk bahwa dia dibunuh."

Graham mengulangi, "Tidak ada petunjuk bahwa dia

dibunuh? Kau bercanda?"

Kelly berkata, "Wanita ini memiliki luka di leher yang

mengisyaratkan bahwa dia mengalami sindrom

perbudakan seksual. Di bawah rias wajahnya terdapat

tanda-tanda bahwa dia pernah diikat sebelumnya,

berkali-kali."

"Jadi?"

"Jadi, secara teknis, mungkin saja dia tidak dibunuh.

Barangkali dia meninggal mendadak secara wajar.”

"Oh, Tuhan, yang benar saja."

"Ada, kemungkinan ini suatu contoh dari yang blasa

kami sebut kematian karena kegagalan pada jaringan saraf.

Kematian fisiologis secara seketika."

“Artinya?"

Kelly mengangkat bahu. "Orang yang bersangkutan mati

begitu saja."

"Tanpa alasan sama sekali?"

"Hmm, tidak juga. Pada umumnya terdapat kerusakan

pada jantung atau jaringan saraf Tapi kerusakannya tidak

cukup parah untuk menyebabkan kematian. Aku pernah

menangani kasus anak berumur sepuluh tahun yang

terkena lemparan baseball di dada - tidak seberapa keras -

dan langsung mati di halaman sekolah. Tidak ada siapa

siapa dalam jarak dua puluh meter di sekitarnya. Dalam

kasus lain, seorang wanita mengalami kecelakaan mobil

yang ringan. Dadanya membentur kemudi, juga tidak

terlalu keras, dan ketika dia membuka pintu mobil untuk

keluar, dia tiba-tiba mati. Sepertinya kejadian ini berkaitan

dengan luka di leher atau dada, yang mungkin mengganggu

jaringan saraf yang berhubungan dengan jantung. Jadi,

begitulah, Tom. Secara teknis, kematian mendadak

merupakan kemungkinan yang harus diperhitungkan. Dan

karena berhubungan seks tidak digolongkan sebagai tindak

pidana, berarti itu bukan pembunuhan."

Graham mengedipkan mata. "Maksudmu, mungkin tak

ada yang membunuhnya?"

Kelly mengangkat bahu. Ia meraih dipboardnya. "Aku

tidak akan mencatat semuanya itu. Aku akan

mencantumkan kekurangan zat asam sekunder akibat

cekikan manual sebagai penyebab kematian. Sebab

kemungkinan besar dia memang dicekik. Tapi sebaiknya

kauingat-ingat bahwa tetap ada kemungkinan dia tidak

dicekik. Barangkali dia mati begitu saja."

"Oke," Graham berkata. "Akan kuingat-ingat. Sebagai

khayalan pemeriksa mayat. Ngomong-ngomong, kalian

sudah tahu identitasnya?"

Tim SID, yang masih sibuk memeriksa ruangan,

bergumam belum.

Kelly berkata, "Rasanya aku sudah bisa memastikan jam

berapa dia meninggal." Ia mengamati alat pengukur suhu

dan membandingkan hasilnya dengan sebuah daftar.

"Bagian dalam tubuhnya bersuhu 96,9. Dengan suhu ruang

di sini, itu berarti sampai dengan tiga jam sudah berlalu."

"Sampai dengan tiga jam? Hah, bagus. Hei, Kelly, kita

semua sudah tahu bahwa dia mati malam ini."

"Hanya itu yang bisa kulakukan." Kelly menggelengkan

kepala. "Sayangnya kurva pendinginan kurang teliti untuk

jangka waktu di bawah tiga jam. Aku cuma bisa

memastikan bahwa dia mati dalam tiga jam terakhir. Tapi

aku mendapat kesan bahwa wanita itu sudah agak lama

mati. Rasanya lebih dekat ke tiga jam."

Graham berpaling pada tim SID. "Sudah ada yang

menemukan celana dalamnya?"

"Belum, Letnan."

Graham memandang berkeliling dan berkata, "Tasnya

lenyap, celana dalamnya lenyap."

Aku berkata, "Kaupikir barang-barang itu diamhil

orang?"

"Entahlah," jawabnya. "Tapi bukankah seorang wanita

yang menghadiri suatu pesta dengan gaun seharga 30.000

dolar biasanya membawa tas?" Kemudian Graham menatap

melewati bahuku dan lersenyum. "Wah, ada kejutan

untukmu, Petey-san. Salah satu pengagummu ingin

bertemu."

Yang bergegas menghampiriku adalah Ellen Farley,

sekretaris pers Wali Kota. Farley berusia 15 tahun, rambut

pirang tua dipotong pendek, penampilan sempurna, seperti

biasa. Ia pernah menjadi pembaca berita ketika masih

muda, tetapi kini sudah bertahun-tahun bekerja di kantor

Wali Kota. Ellen Farley cerdas, gesit, dan memiliki tubuh

indah, yang sepanjang pengetahuanku hanya ia gunakan

untuk dirinya sendiri.

Aku menyukainya. Aku membantunya beberapa kali

sewaktu aku masih di kantor pers L.A.P.D. Berhubung Wali

Kota dan Kepala Polisi saling membenci, permintaan dari

kantor Wali Kota kadang-kadang diteruskan dari Ellen

padaku, dan aku menangani semuanya. Biasanya hal-hal

sepele: menunda pengumuman sebuah laporan sampai

akhir pekan, agar dapat dimuat pada hari Sabtu. Atau

mengumumkan bahwa tuntutan untuk kasus tertentu

belum diajukan, padahal sudah. Aku melakukannya karena

Farley selalu berkata apa adanya. Dan sepertinya sekarang

pun ia akan bersikap sama.

"Begini, Pete," katanya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi

di sini, tapi Pak Wali Kota mendapat keluhan dari

seseorang bernama Mr. Ashiguro..."

"Aku tidak heran."

"Dan Pak Wali Kota minta agar aku mengingatkanmu

bahwa tidak ada alasan bagi pejabat kota ini untuk bersikap

kasar terhadap warga negara asing."

Graham berkomentar keras-keras, "Terutama kalau

mereka memberikan sumbangan kampanye yang begitu

besar."

"Warga negara asing tidak bisa menyumbang untuk

kampanye politik Amerika," kata Farley. "Anda pun tahu

itu." Ia merendahkan suaranya, "Ini kasus peka, Pete.

Kuminta, kau berhati-hati. Kau tahu bahwa orang Jepang

sangat sensitif terhadap perlakuan yang mereka terima di

sini."

"Oke, baiklah."

Ia memandang lewat dinding kaca ruang rapat, ke arah

atrium. "Itu John Connor, ya?"

"Ya."

"Kupikir dia sudah pensiun. Sedang apa dia di sini?"

"Membantuku dalam kasus ini."

Farley mengerutkan kening. "Asal tahu saja, perasaan

orang Jepang terhadap dia, tidak menentu. Mereka punya

istilah untuk itu. Untuk seseorang yang tergila-gila pada

Jepang, lalu berballk 180 derajat dan mencaci maki Jepang."

"Connor tidak begitu."

"Ishiguro merasa diperlakukan secara kasar."

"Ishiguro mengatur-atur kami," kataku. "Dan di sini ada

wanita muda yang mati terbunuh, yang rupanya luput dari

perhatian semua orang."

"Pete," ujar Farley, "tidak ada yang berusaha

mengatur-atur kalian. Aku cuma ingin mengatakan bahwa

kau perlu mempertimbangkan situasi khusus yang..."

Ia terdiam.

Ia menatap mayat di ruang rapat.

"Ellen?" kataku. "Kau kenal dia?"

"Tidak." Ia berpaling ke arah lain.

"Kau yakin?"

Kelihatan jelas bahwa perasaannya terguncang.

Graham berkata, "Anda sempat melihatnya di bawah

sebelum ini?"

"Saya tidak... barangkali. Mungkin. Sori, saya harus

kembali sekarang."

"Ellen. Terus teranglah."

"Aku tidak tahu siapa dia, Pete. Aku pasti akan cerita,

kalau aku tahu. Pokoknya, jaga hubungan baik dengan

orang-orang Jepang. Hanya itu pesan Pak Wali Kota yang

harus kusampaikan padamu. Aku harus kembali sekarang."

Ia bergegas menuju lift. Aku memperhatikannya pergi.

Perasaanku tidak enak.

Graham datang dan berdiri di sampingku. "Pantatnya

seksi," katanya. "Tapi dia tidak berterus terang, Kawan,

bahkan dengan kau."

Aku berkata, "Apa maksudnya, bahkan denganku?"

"Semua orang tahu bahwa kau dan Farley pernah intim."

"Apa maksudmu?"

Graham menonjok bahuku. "Ayolah. Kau sudah cerai

sekarang. Mana ada yang peduli."

Aku membantah, "Cerita itu tidak benar, Tom."

"Oke, baiklah." Ia mengangkat kedua tangannya.

"Mungkin aku salah dengar."

Aku memperhatikan Farley di ujung atrium. Ia

membungkuk, lewat di bawah pita. Ia menekan tombol lift,

dan menunggu sampai liftnya datang sambil

mengetuk-ngetukkan kaki dengan tidak sabar.

Aku bertanya, "Kaupikir dia kenal korban ini?"

"Taruhan," kata Graham. "Kau tahu kenapa Wali Kota

menyukai dia? Dia berdiri di sampingnya dan membisikkan

nama-nama orang ke telinganya. Orang yang tidak

ditemuinya selama, bertahun-tahun. Suami-suami,

istri-istri, anak-anak, semuanya. Percayalah, Farley tahu

siapa cewek ini."

"Kalau begitu, kenapa dia tidak memberitahu kita?"

"Entah," kata Graham. "Mungkin karena cewek ini

penting bagi seseorang. Lihat saja bagaimana dia kabur

tadi. Kita harus mencari tahu siapa cewek yang mati ini.

Sebab aku benci kalau menjadi orang terakhir di kota ini

yang mengetabuinya."

Connor berada di seberang ruangan. Ia melambaikan

tangan ke arah kami.

"Mau apa lagi dia sekarang?" ujar Graham.

"Melambai-lambai seperti itu. Apa itu yang dipegangnya?"

"Kelihatannya seperti tas," kataku.

"Cheryl Lynn Austin," Connor membacakan. "Lahir di

Midland, Texas, Iblusan Texas State. Dua puluh tiga tahun.

Dia punya apartemen di Westwood, tapi belum cukup lama,

di sini untuk menukar SIM Texas-nya."

Isi tas bertebaran di sebuah meja. Kami menyodok-

nyodok semuanya dengan pensil.

"Di mana kautemukan tas ini?" tanyaku. Tasnya kecil,

gelap, bermanik-manik, dengan jepitan berupa mutiara.

Sebuah tas antik dari tahun empat puluhan. Mahal.

"Tasnya tergeletak di pot palem di dekat ruang rapat."

Connor membuka ritsleting sebuah kantong mungil.

Segulung lembaran seratus dolar menggelinding ke meja.

"Bagus. Miss Austin diurus dengan baik."

Aku berkata, “Tidak ada kunci mobil?"

"Tidak."

"Kalau begitu, dia datang bersama orang lain."

"Dan rupanya dia juga berniat pulang bersama orang

lain. Sopir taksi tidak punya uang kembalian untuk seratus

dolar."

Selain itu masih ada kartu kredit American Express, Gold

Card. Lipstik dan tempat bedak. Sebungkus rokok Mild

Seven Menthol, rokok Jepang. Kartu untuk Daimatsu Night

Dub di Tokyo. Empat butir pil kecil berwarna biru. Hanya

itu.

Dengan menggunakan pensil, Connor membalikkan tas

itu. Bintik-bintik kecil berwrarna hijau jatuh ke meja.

"Kalian tahu apa inii?"

"Tidak," kataku. Graham mengamatinya melalui kaca

pembesar.

Connor berkata, "Ini kacang berlapis wasabi. Wasabi

adalah lobak hijau yang dihidangkan di restoran-restoran

Jepang. Aku belum pernah tahu bahwa ada kacang berlapis

wasabi.

"Aku tidak pasti apakah ada yang menjualnya selain di

Jepang."

Graham menggerutu. "Kurasa sudah cukup. Bagaimana,

John? Apakah Ishiguro akan memanggil saksi-saksi yang

kauminta?"

"Jangan harap mereka muncul dalam waktu dekat," kata

Connor.

"Yeah," kata Graham. "Kita tidak akan ketemu mereka

sebelum lusa, sebelum para pengacara mereka selesai

memberi pengarahan mengenai apa yang harus mereka

katakan." Ia menjauhi meja. "Kalian sadar kenapa mereka

mengulur-ulur waktu? Soalnya cewek ini dibunuh oleh

orang Jepang. Itulah masalah yang kita hadapi."

"Ada kemungkinan," kata Connor.

"Hei, Kawan. Bukan sekadar kemungkinan. Kita di sini.

Ini gedung mereka. Dan tipe cewek seperti itulah yang

cocok dengan selera mereka. Mawar Amerika bertangkai

panjang. Kalian tahu angana-angan orang-orang cebol itu?

Berhubungan seks dengan pemain voli."

Connor mengangkat bahu. "Mungkin saja."

"Ah, jangan pura-pura," kata Graham. "Kau tahu mereka

hidup susah di negeri sendiri. Berdesak-desakan di kereta

bawah tanah, bekerja untuk perusahaan-perusahaan besar.

Terpaksa memendam perasaan. Lalu mereka datang ke sini,

jauh dari segala batasan di rumah, dan tiba-tiba mereka

kaya dan bebas. Mereka bisa melakukan apa saja yang

mereka inginkan. Dan sekali-sekali salah satu dari mereka

agak melewati batas. Ayo, buktikan bahwa aku keliru."

Connor menatap Graham untuk waktu yang cukup lama.

Akhirnya ia berkata, "Jadi, menurutmu, Tom, seorang

pembunuh Jepang memutuskan untuk menghabisi wanita

muda ini di meja di ruang rapat dewan direksi Nakamoto?"

“Yeah."

'Sebagai tindakan simbolis?"

Graham mengangkat bahu. "Astaga, mana aku tahu? Ini

bukan perkara biasa. Tapi satu hal sudah jelas. Tak peduli

bagaimana caranya, aku akan menangkap bajingan yang

melakukan ini."

Bab 5

LIFT turun dengan cepat. Connor bersandar pada

dinding kaca. "Sebenarnya banyak alasan untuk tidak

menyukai orang Jepang," katanya, "tapi Graham tidak

mengetahui satu pun." Ia mendesah. "Anda tahu apa yang

mereka katakan tentang kita?"

“Apa?"

"Mereka mengatakan, orang Amerika terlalu sibuk

membuat teori. Menurut mereka, kita tidak meluangkan

cukup banyak waktu untuk mengamati dunia, sehingga kita

tidak tahu bagaimana keadaan sesungguhnya."

"Apakah itu pemikiran Zen?"

"Bukan." Ia tertawa. "Sekadar pengamatan saja.

Tanyalah bagaimana pendapat salesman komputer

mengenai sejawatnya di Amerika, dan dia akan

memberikan jawaban yang sama. Semua orang di Jepang

yang berurusan dengan orang Amerika berpandangan

demikian. Dan kalau Anda mengamati Graham, Anda akan

mengakui bahwa mereka benar. Graham tidak mempunyai

pengetahuan atau pengalaman langsung. Dia hanya

berpegang pada sekumpulan prasangka dan khayalan

media. Dia tidak tahu apa-apa mengenai orang Jepang - dan

juga tak pernah terpikir olehnya untuk mencari tahu."

Aku berkata, "Jadi, menurut Anda, dugaannya keliru?

Wanita muda itu tidak dibunuh oleh orang Jepang?"

"Saya tidak berkata begitu, Kohai," balas Connor.

"Mungkin sekali Graham memang benar. Tapi saat ini..."

Pintu membuka dan kami melihat suasana pesta,

mendengar band memainkan Moonlight Serenade. Dua

pasang tamu masuk ke dalam lift. Mereka tampak seperti

orang real estate - para pria berambut perak dan

berpenampilan penuh martabat, para wanita cantik dan

agak norak. Salah satu dari kedua wanita itu berkata, "Dia

lebih pendek dari yang kuduga."

"Ya, mungil. Dan laki-laki itu... apakah dia pacarnya?"

"Kelihatannya begitu. Bukankah dia juga tampil dalam

video klipnya?"

"Rasanya memang dia."

Salah satu dari kedua pria bertanya, "Menurutmu,

apakah payudaranya dioperasi plastik?"

"Sekarang ini, siapa yang tidak dioperasi?"

Wanita yang satu lagi tertawa cekikikan. "Aku, tentu

saja.”

"Benar, Christine."

"Tapi aku ada niat. Kaulihat Emily tadi?"

"Oh, dadanya benar-benar busung sekarang."

"Yeah, ini gara-gara Jane. Dia yang mulai. Sekarang

semuanya ingin yang besar."

Kedua pria menoleh dan memandang ke luar jendela.

"Gedung mereka hebat sekali, " salah satu berkata.

"Detail-detailnya! Pasti mahal sekali. Kau sering melakukan

bisnis dengan orang Jepang sekarang, Ron?"

"Sekitar dua puluh persen," jawab pria yang satu lagi.

"Jauh berkurang dibanding tahun lalu. Aku terpaksa giat

berlatih golf, sebab mereka selalu mau main golf."

"Dua puluh persen dari proyek-proyekmu?"

"Yeah. Sekarang ini mereka sedang memborong segala

sesuatu di Orange County."

"Tentu saja. Los Angeles sudah jadi milik mereka," salah

satu wanita berkomentar sambil tertlawa.

"Yeah, hampir. Gedung Arco di seberang sana pastilah

dibeli oleh mereka," pria itu berkata sambil menunjuk ke

luar jendela. "Kurasa sekarang ini sekitar tujuh puluh

sampai tujuh puluh lima persen pusat kota Los Angeles

sudah berada di tangan mereka."

"Apalagi di Hawaii.”

"Wah, mereka pemilik Hawaii - sembilan puluh persen

dari Honolulu, seratus persen dari Pantai Kona. Mereka

membangun lapangan golf seperti orang kesurupan."

Salah satu wanita bertanya, "Apakah pesta ini masuk ET

besok? Kulihat banyak kamera tadi."

"Nonton saja acaranya besok."

Lift berkata, "Mosugu de gozaimasu.

Kami sampai di lantai parkir, dan orang-orang itu keluar.

Connor memperhatikan mereka pergi, dan menggelengkan

kepala. "Tak ada satu negara pun di dunia ini," katanya,

"tempat kita bisa mendengar orang mengobrol santai

mengenal penjualan kota-kota mereka kepada orang asing.

"

"Mengobrol?" kataku. "Merekalah yang menjual

semuanya."

"Ya. Orang Amerika memang giat dalam menjual. Orang

Jepang sampai terheran-heran. Menurut mereka, kita

sedang melakukan bunuh diri ekonomi. Dan tentu saja

mereka benar." Sambil bicara, Connor menekan sebuah

tombol pada panil lift yang bertulisan KHUSUS KEADAAN

DARURAT.

Sebuah alarm berdenting.

"Untuk apa Anda melakukan itu?"

Connor menatap kamera video yang terpasang di sudut

langit-langit dan melambaikan tangan dengan ceria. Sebuah

suara, berkata lewat interkom, "Selamat malam. Apakah

saya bisa membantu?"

"Ya," ujar Connor. "Apakah saya bicara dengan

keamanan gedung?"

"Betul, Sir. Apakah ada gangguan pada lift yang Anda

naiki?"

"Di mana ruang Anda?"

"Kami di lantai lobi, pojok tenggara, di belakang lift.”

"Terima kasih banyak," kata Connor. Ia menekan tombol

lobi.

Bab 6

RUANG keamanan di Nakamoto Tower berukuran kecil,

mungkin lima kali tujuh meter. Ruangan itu dikuasai oleh

tiga panil video yang besar dan datar, masing-masing

terdiri atas selusin monitor. Saat itu, sebagian besar layar

tampak gelap. Tetapi satu deret memperlihatkan keadaan

di lobi dan tempat parkir. Deret lain menampilkan suasana

pesta yang tengah berlangsung. Dan pada deret ketiga

terlihat tim-tim kepolisian di lantai 46.

Petugas keamanan yang giliran jaga bernama Jerome

Phillips. Ia berkulit hitam, berusia empat puluhan. Seragam

Nakamoto Security berwarna abu-abu yang dikenakannya

tampak basah di sekitar kerah dan gelap di bawah ketiak. Ia

minta agar kami tidak menutup pintu ketika kami masuk.

Kelihatan sekali bahwa ia gelisah akibat kehadiran kami.

Aku mencium bahwa ia menyembunyikan sesuatu, tetapi

Connor mendekatinya dengan sikap bersahabat. Kami

menunjukkan lencana dan bersalaman. Connor berhasil

membangun suasana bahwa kami bertiga sama-sama

tenaga profesional dalam bidang keamanan yang hendak

berbincang-bincang. "Anda pasti sibuk sekali malam ini, Mr.

Phillips."

"Yeah. Urusan pesta dan segala macam."

"Dan penuh sesak, di ruang kecil ini."

Phillips mengusap keringat dari keningnya. "Wah, jangan

tanya. Semuanya berdesak-desakan di sini."

Aku berkata, "Semuanya?"

Connor menatapku dan berkata, "Setelah orang-orang

Jepang menyingkir dari lantai 46 tadi, mereka turun ke sini

dan mengawasi kami lewat monitor-monitor. Bukan begitu,

Mr. Phillips?"

Phillips mengangguk. "Tidak semuanya, tapi cukup

banyak. Bergerombol di sini, mengepul-ngepulkan asap

rokok sialan, melotot, terengah-engah, dan saling

membagikan fax."

"Fax?"

"Oh, yeah, setiap beberapa menit ada yang bawa fax

baru. Dengan tulisan Jepang. Semua membacanya dan

memberi komentar. Lalu salah satu dari mereka pergi

untuk mengirim fax balasan. Dan yang lainnya tinggal di

sini untuk mengamati Anda di atas."

Connor berkata, "Juga mendengarkan?"

Phillips menggeleng. "Tidak. Kami tidak punya saluran

audio."

"Masa?" ujar Connor. "Padahal peralatan ini kelihatannya

up-to-date."

"Up-to-date? Hah, ini yang paling canggih di seluruh

dunia. Orang-orang ini, wah. Orang-orang ini tidak pernah

setengah-setengah. Mereka punya sistem alarm kebakaran

dan pencegahan kebakaran terbaik, sistem gempa bumi

terbaik, dan tentu saja sistem keamanan elektronik

terbaik-kamera, detektor, semuanya yang terbaik."

"Saya tahu," kata Connor. "Karena itulah saya heran

bahwa mereka tidak punya audio."

"Begitulah. Tidak ada audio, tidak ada warna. Hanya

video resolusi tinggi. Jangan tanya saya kenapa. Saya hanya

tahu bahwa ada hubungan dengan kamera-kamera dan

bagaimana kamera-kamera itu disambungkan."

Pada panil-panil video, aku melihat lima monitor yang

menampilkan pandangan ke lantai 46, masing-masing

diambil dari sudut yang berbeda. Ternyata orang-orang

Jepang telah memasang kamera untuk meliput seluruh

lantai. Aku teringat bahwa Connor berjalan-jalan di atrium

tadi, sambil mendongakkan kepala. Rupanya waktu itu ia

telah melihat kamera-kamera tersebut.

Kini aku melihat Graham di ruang rapat, sibuk memberi

pengarahan kepada semua tim. Ia sedang merokok, yang

melanggar peraturan yang berlaku di tempat kejadian

perkara. Aku melihat Helen meregangkan badan dan

menguap. Sementara itu, Kelly sedang bersiap-siap untuk

memindahkan mayat korban dari meja ke kantong jenazah,

dan ia tengah...

Tiba-tiba aku menyadarinya.

Di atas sana ada kamera.

Lima buah kamera.

Meliput setiap jengkal lantai.

Aku berkata, "Ya Tuhan," dan langsung membalik. Aku

baru hendak mengatakan sesuatu ketika Connor tersenyum

penuh pengertian dan meletakkan tangannya ke bahuku. Ia

meremas bahuku keras-keras.

"Letnan," ia berkata.

Sakitnya luar biasa. Aku berusaha untuk tidak

menggerenyit. "Ya, Kapten?"

"Barangkali Anda ingin mengajukan satu atau dua

pertanyaan pada Mr. Phillips?"

"Tidak, Kapten. Silakan teruskan."

Ia melepaskan bahuku. Aku mengeluarkan buku catatan.

Connor duduk di tepi meja dan berkata, "Sudah lamakah

Anda bergabung dengan Nakamoto Security, Mr. Phillips?"

"Ya, sudah sekitar enam tahun sekarang, Sir. Saya mulai

di pabrik mereka di La Habra, dan ketika kaki saya cedera -

saya mengalami kecelakaan mobil - dan saya tidak bisa

berjalan dengan baik, mereka memindahkan saya ke bagian

ke amanan. Soalnya di sana saya tidak perlu berkeliling-

keliling. Lalu, waktu mereka membuka pabrik di

Torrance, mereka memindahkan saya ke sana. Istri saya

juga dapat pekerjaan di pabrik di Torrance. Mereka

mengerjakan sub perakitan untuk Toyota. Lalu, ketika

gedung ini didirikan, saya dibawa ke sini, untuk bekerja

malam

"Begitu. Seluruhnya enam tahun.”

"Ya, Sir."

"Anda tentu betah bekerja di sini."

"Hmm, begini saja, kedudukan saya aman. Ini besar

artinya di Amerika. Saya tahu bahwa orang kulit hitam

dianggap rendah oleh mereka, tapi saya selalu

diperlakukan dengan baik. Sebelum ini, saya bekerja untuk

GM di Van Nuys, dan itu... Anda tahu sendiri, itu sudah

tamat."

"Ya," ujar Connor dengan nada simpatik.

"Tempat itu," ujar Phillips sambil geleng-geleng karena

teringat lagi. "Oh. Dan manajer-manajer yang ditugaskan

untuk mengontrol para pekerja. Anda takkan percaya.

Semuanya MBA keparat dari Detroit, anak-anak ingusan

yang tak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu tahap-tahap

pekerjaan. Mereka tidak bisa membedakan mesin bubut

dari mesin pres. Tapi mereka tetap saja mengatur-atur

mandor. Mereka dapat 200.000 setahun dan mereka tidak

tahu apa-apa. Dan tak ada yang bekerja dengan benar.

Mobil-mobil yang kami rakit semuanya kacau. Tapi di sini,"

katanya sambil mengetuk-ngetuk meja. "Di sini, kalau ada

masalah, atau kalau ada sesuatu yang tidak berfungsi dengan

semestinya, saya tinggal lapor saja. Dan mereka

langsung datang, dan mereka kenal sistemnya - cara

kerjanya - dan kami membahas masalahnya di sini, lalu

masalahnya diatasi. Langsung. Di tempat. Di sini, semua

masalah segera diatasi. Itu bedanya. Orang-orang ini,

mereka benar-benar sigap "

"Jadi, Anda betah di sini?"

"Mereka selalu memperlakukan saya dengan baik," ujar

Phillips sambil mengangguk.

Ucapannya terasa mengambang, kurang bersemangat.

Aku mendapat kesan bahwa orang itu tidak memiliki

tanggung jawab terhadap perusahaan tempatnya bekerja,

dan bahwa kami dapat mengorek lebih banyak informasi

darinya. Kami tinggal memancingnya dengan pertanyaanpertanyaan

terarah.

"Kesetiaan sangat penting," ujar Connor sambil

mengangguk-angguk.

"Bagi mereka," balas Phillips. "Mereka mengharapkan

agar kami selalu memperlihatkan semangat

menggebu-gebu untuk perusahaan. Jadi, saya selalu datang

lima belas atau, dua puluh menit lebih awal, dan pulang

lima belas atau, dua puluh menit lebih lambat dari yang

seharusnya. Mereka senang kalau kami bekerja lembur.

Saya melakukan hal yang sama di Van Nuys, tapi tak ada

yang memperhatikannya."

"Anda bertugas dari jam berapa sampai jam berapa?"

"Jam sembilan malam sampai jam tujuh pagi."

"Dan malam ini? Jam berapa Anda datang?"

"Jam sembilan kurang seperempat. Saya kan sudah

bilang, saya selalu datang lima belas menit lebih awal."

Laporan mengenai pembunuhan itu direkam sekitar

pukul 20.30. Jadi, kalau orang ini datang pukul 20.45,

berarti dia terlambat hampir lima belas menit untuk

melihat pembunuhannya. "Siapa yang bertugas sebelum

Anda?"

"Hmm, biasanya Ted Cole. Tapi saya tidak tahu apakah

dia masuk malam ini."

"Kenapa?"

Petugas keamanan itu mengusap keringat di keningnya

dengan lengan baju dan memalingkan muka.

"Kenapa begitu, Mr. Phillips?" kataku dengan nada lebih

mendesak.

Petugas keamanan itu mengedip-ngedipkan mata dan

mengerutkan kening, tanpa berkata apa-apa.

Connor berkata dengan tenang, "Karena Ted Cole tidak

ada di sini pada waktu Mr. Phillips tiba tadi, bukan begitu,

Mr. Phillips?"

Si petugas keamanan menggelengkan kepala. "Dia

memang tidak di sini waktu saya datang."

Aku hendak mengajukan pertanyaan lain, tetapi Connor

mengangkat sebelah tangan. "Saya bisa membayangkan,

Mr. Phillips, Anda tentu terkejut ketika masuk ke sini pada

pukul sembilan kurang seperempat."

"Memang," jawab Phillips.

"Apa yang Anda lakukan kemudian?"

"Hmm. Saya langsung tanya pada pria itu, 'Apakah saya

bisa membantu Anda?' Dengan sopan, tapi tegas.

Bagaimanapun juga, ini ruang keamanan. Dan saya tidak

tahu siapa dia, saya belum pernah melihatnya. Dan dia

kelihatan tegang. Sangat tegang. Dia membentak saya,

'Minggir.' Congkak sekali, seakan-akan seisi dunia ini

miliknya. Dia melewati saya, dengan membawa tas

kerjanya.

"Saya bilang, 'Maaf, Sir. Saya perlu memeriksa identitas

Anda.' Dia tidak menjawab, dia terus saja ber jalan. Keluar

dari lobi, lalu turun tangga."

"Anda tidak berusaha mencegahnya?"

"Tidak, Sir."

"Karena dia orang Jepang?"

"Betul. Tapi saya menghubungi ruang keamanan pusat di

lantai sembilan, untuk melaporkan bahwa saya memergoki

seseorang di sini. Dan mereka bilang, 'Jangan khawatir,

tidak apa-apa.' Tapi saya bisa dengar bahwa mereka juga

tegang. Semuanya tegang. Dan kemudian, di layar monitor

saya lihat... wanita yang mati itu. Baru waktu itu saya mulai

mengertl apa masalahnya."

Connor berkata, "Orang yang Anda pergoki, apakah Anda

dapat menggambarkannya?"

Si petugas keamanan mengangkat bahu. "Tiga puluh,

atau tiga puluh lima tahun, tingginya sedang-sedang saja.

Setelan jas warna biru tua, seperti yang dipakai oleh

semuanya. Tapi dia lebih trendi dari yang lain. Dia pakai

dasi bermotif segi tiga. Oh... dan di tangannya ada bekas

luka, seperti bekas luka bakar atau semacamnya."

"Tangan sebelah mana?"

"Tangan kiri. Saya melihatnya waktu dia menutup tas

kerja."

"Anda sempat melihat isi tas itu?"

"Tidak."

"Tapi dia sedang menutupnya ketika Anda memasuki

ruangan?"

"Ya."

"Apakah Anda mendapat kesan bahwa dia mengambil

sesuatu dari ruangan ini?"

"Saya tidak bisa memastlkannya, Sir."

Aku mulai jengkel menghadapi Phillips, yang terus

berusaha menghindar. "Menurut Anda, apa yang

diambilnya?"

Connor langsung memelototiku.

Si petugas keamanan tampak bingung. "Saya

benar-benar tidak tahu, Sir."

Connor berkata, "Tentu saja. Anda tidak mungkin tahu

apa isi tas kerja orang lain. Ngomong-ngomong, apakah

Anda membuat rekaman dari kamera-kamera keamanan di

sini?"

"Ya."

"Anda bisa memperlihatkan caranya pada saya?"

"Tentu." Petugas keamanan itu berdiri dan membuka pintu

di ujung ruangan. Kami mengikutinya ke sebuah ruangan

kecil yang dipenuhi tumpukan kotak, dari lantai sampai

langit-langit. Semuanya dengan huruf-huruf kanji dan

nomor-nomor Inggris. Masing-masing dilengkapi sebuah

lampu merah yang menyala, dan counter LED, dengan

angka-angka yang bergerak maju.

Phillips berkata, "Ini alat-alat perekam kami, yang

menerima sinyal dari semua kamera di gedung ini. Video

delapan milimeter, definisi tinggi." Ia meraih sebuah kaset

kecil, mirip kaset musik. "Setiap kaset ini punya masa

rekam selama delapan jam. Kami ganti kaset jam sembilan

malam, jadi itu hal pertama yang saya kerjakan waktu

mulai bertugas. Saya keluarkan yang lama, lalu

memasukkan yang baru "

"Dan apakah malam ini Anda juga mengganti kaset pukul

sembilan?"

"Ya, Sir. Seperti biasa."

"Dan apa yang Anda lakukan dengan kaset-kaset yang

Anda keluarkan dari alat perekam?"

"Saya simpan semuanya di sini," katanya, sambil

membungkuk untuk memperlihatkan beberapa laci

panjang dan tipis. "Semua rekaman disimpan selama 72

jam. Tiga hari. Kami punya sembilan set kaset,

masing-Masing dipakai tiga hari sekali. Oke?"

Connor tampak ragu-ragu. "Mungkin lebih baik kalau

saya mencatat keterangan Anda." Ia mengeluarkan bolpoin

dan buku catatan kecil. "Nah, masing-masing kaset dipakai

untuk merekam selama delapan jam, Anda mempunyai

sembilan set berbeda..."

"Betul, betul."

Connor menulis sejenak, lalu menggoyang-goyangkan

bolpoin dengan kesal. "Bolpoin brengsek. Tintanya habis.

Ada keranjang sampah di sini?"

Phillips menuniuk ke pojok ruangan. "Sebelah sana."

"Terima kasih."

Connor membuang bolpoinnya. Aku menyodorkan

bolpoinku. Ia meneruskan catatannya. "Jadi, Mr. Phillips,

Anda mempunyai sembilan set..."

"Betul. Setiap set ditandai dengan huruf, mulai dari A

sampai 1. Nah, waktu saya datang pukul sembilan, saya

keluarkan semua kaset dan memeriksa huruf mana yang

sudah dipakai, lalu saya masukkan yang berikut. Malam ini,

misalnya, saya keluarkan set C, jadi saya masukkan set D,

yang dipakai merekam sekarang." -

"Ah, begitu," ujar Connor. "Dan setelah itu Anda

menyimpan set C di salah satu laci di sebelah sana?"

“Betul." Ia membuka sebuah laci. "Yang ini."

Connor berkata, "Boleh saya lihat sebentar?" Ia melirik

deret kaset yang diberi label dengan rapi. Kemudian ia

cepat-cepat membuka laci-laci yang lain, dan mengamati

tumpukan deretan yang ada di dalam. Selain huruf-huruf

yang berbeda-beda, semua laci tampak sama.

"Saya rasa saya mengerti sekarang," ujar Connor. "Anda

melakukan rotasi dengan kesembilan set itu. "

"Persis."

"Jadi masing-masing set digunakan setiap tiga hari

sekali."

"Betul."

"Dan sudah berapa lama sistem ini digunakan oleh

keamanan di sini?"

"Gedung ini masih baru, tapi kami sudah bertugas, ehm,

sekitar dua bulan."

“Kelihatannya sistem ini terorganisasi dengan baik,"

Connor memuji. "Terima kasih atas penjelasan Anda.

Sekarang tinggal beberapa pertanyaan lagi."

"Silakan."

"Pertama-tama, counter-counter ini," ujar Connor, sambil

menunjuk counter-counter LED pada alat-alat perekam.

"Sepertinya counter-counter ini menunjukkan sudah berapa

lama sebuah alat perekam bekerja. Apakah itu benar?

Sebab sekarang hampir jam sebelas, dan Anda

memasukkan kaset jam sembilan, dan pada alat perekam

paling atas terbaca 1:55:30, dan pada yang berikut 1:55:10,

dan seterusnya."

"Ya, itu benar. Saya memasukkan semua kaset

berturut-turut. Tapi di antara masing-masing kaset ada

selang waktu selama beberapa detlk."

"Begitu. Semua counter menunjukkan hampir dua jam.

Tapi satu alat perekam di bawah sini baru menunjukkan

tiga puluh menit. Apakah itu berarti alat perekam ini

rusak?"

"Oh," ujar Phillips. Ia mengerutkan kening. "Ada

kemungkinan. Saya sudah bilang bahwa. saya mengganti

semua kaset berturut-turut. Tapi alat-alat perekam ini

memakai teknologi mutakhir. Kadangkadang ada yang

tidak beres. Atau barangkali sempat ada gangguan listrik.

Mungkin itu."

"Ya. Mungkin saia," kata Connor. "Anda dapat

memberitahu saya kamera mana yang disambungkan ke

alat perekam ini?"

"Ya, tentu saja." Phillips membaca nomor yang

tercantum, lalu kembali ke ruang utama dan mengamati

panil video. "Ini dia, kamera empat enam strip enam,"

katanya. "Monitor yang ini."

Monitor yang ditunjuknya menampilkan pandangan dari

salah satu kamera di atrium. Seluruh lantai 46 kelihatan.

"Tapi," kata Phillips, "hebatnya sistem ini, biarpun salah

satu alat perekam macet, kami masih punya

kamera-kamera lain di lantai ini, dan sepertinya semuanya

berfungsi dengan normal."

"Ya, memang," ujar Connor. "Oh, ya, apakah Anda bisa

memberitabu saya kenapa begitu banyak kamera terpasang

di lantai 46?"

"Sebenarnya ini rahasia perusahaan," jawab Phillips.

"Tapi Anda tahu sendiri bahwa mereka tergila-gila pada

efisiensi. Kabarnya mereka ingin memacu para pegawai

kantor."

"Jadi, pada dasarnya kamera-kamera itu dipasang untuk

memantau para pegawai sepanjang hari, dan membantu

mereka meningkatkan efisiensi?"

"Itulah yang saya dengar."

"Hmm, saya rasa memang begitu," kata Connor. "Oh, satu

hal lagi. Anda tahu alamat Ted Cole?"

Phillips menggelengkan kepala. "Tidak."

"Anda pernah pergi bersamanya, mengunjungi bar,

misalnya?"

"Pernah, tapi tidak sering. Orangnya agak aneh."

"Anda pernah ke apartemennya?"

"Belum. Dia sangat tertutup. Kalau, tidak salah, dia

tinggal bersama ibunya. Biasanya kami mengunjungi

sebuah bar di Palomino, di dekat bandara. Dia suka

suasananya."

Connor mengangguk.- "Pertanyaan terakhir, di mana

telepon umum terdekat?"

"Di lobi, dan di sebelah kanan, di dekat kamar kecil. Tapi

Anda bisa pakai telepon di sini saja."

Connor menyalami petugas keamanan itu dengan sikap

hangat. "Mr. Phillips, terima kasih atas kesediaan Anda

untuk berbicara dengan kami."

"Kembali."

Aku memberikan kartu namaku padanya. "Kalau Anda

nanti teringat sesuatu yang mungkin bisa membantu kami,

Mr. Phillips, jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya."

Kemudian aku melangkah pergi

Bab 7

CONNOR berdiri di telepon umum di lobi. Teleponnya

model baru dengan dua gagang, masing-masing satu di

kiri-kanan, yang memungkinkan dua orang melakukan

percakapan secara bersamaan pada satu saluran.

Telepon-telepon semacam itu Sudah bertahun-tahun

digunakan di Tokyo, dan belakangan ini juga mulai muncul

di seluruh Los Angeles. Tentu saja Pacific Bell tidak lagi

merupakan pemasok utama untuk telepon umum di

Amerika. Pasar itu pun sudah ditembus oleh

perusahaan-perusahaan Jepang. Aku memperhatikan

Connor mencacat sebuah nomor telepon di buku

catatannya.

"Sedang apa Anda?"

"Ada dua pertanyaan terpisah yang harus kita jawab

malam ini. Pertama, bagaimana wanita muda itu sampai

terbunuh di sebuah lantai kantor. Tapi kita juga harus

melacak siapa yang menelepon polisi untuk melaporkan

pembunuhan tersebut."

"Dan Anda pikir orang itu menelepon dari telepon umum

ini?"

"Ada kemungkinan."

Ia menutup buku catatan, lalu melirik jam tangannya.

"Sudah malam. Sebaiknya kita segera mulai bergerak."

"Saya rasa kita melakukan kesalahan besar."

"Kenapa Anda berpendapat demikian?" tanya Connor.

"Saya sangsi apakah kita harus meninggalkan

kaset-kaset video tadi di ruang keamanan. Bagaimana kalau

ada yang menukar semuanya sementara kita pergi?"

"Kaset-kaset itu sudah ditukar," kata Connor.

"Dari mana Anda tahu?"

"Saya mengorbankan bolpoin saya untuk

memastikannya," ia berkata. Ia mulal berjalan ke arah

tangga yang menuju tempat parkir di bawah. Aku

mengikutinya.

"Begini," ujar Connor. "Ketika, Phillips menjelaskan

sistem rotasi sederhana tadi, saya segera menyadari bahwa

mungkin ada yang menukar kaset-kaset itu. Masalahnya,

bagaimana saya bisa membuktikannya?"

Suaranya memantul dari dinding-dinding beton di ruang

tangga. Connor terus bergegas turun. Dengan setiap

langkah ia melewati dua anak tangga. Aku berusaha agar

tidak ketinggalan.

Connor berkata, "Jika ada yang menukar kaset-kaset itu,

bagaimana mereka melakukannya? Mereka akan

terburu-buru, takut melakukan kesalahan. Mereka pasti

tidak ingin meninggalkan satu kaset yang dapat

memberatkan mereka. Jadi, kemungkinan besar mereka

mengambil satu set lengkap, dan menggantinya. Tapi

dengan apa? Mereka tak mungkin sekadar memindahkan

set berikutnya. Berhubung hanya ada sembilan set, pasti

ada yang mengetahui kalau satu set hilang. Sebab akan ada

satu laci yang kosong. Karena itu, mereka terpaksa

mengganti set yang mereka ambil dengan satu set baru.

Dua puluh kaset baru. Dan itu berarti saya perlu memeriksa

keranjang sampah."

"Untuk itulah Anda membuang bolpoin Anda?"

"Ya. Saya tidak ingin Phillips mengetahui tujuan saya

yang sebenarnya."

“Dan?"

"Keranjang sampah ternyata penuh bungkus plastik

yang sudah diremas-remas. Jenis bungkus plastik yang

digunakan sebagai pembungkus kaset video baru."

"Ah, saya mengerti."

"Setelah jelas bahwa kaset-kaset itu sudah dilukar,

tinggal satu pertanyaan yang harus dijawab, yaitu set yang

mana? Jadi saya berlagak bodoh, dan membuka semua laci.

Anda tentu melihat bahwa label-label pada set C, set yang

dikeluarkan Phillips ketika mulai bertugas, agak lebih putih

dibandingkan label-label pada set yang lain. Perbedaannya

tidak mencolok, sebab gedung ini baru digunakan selama

dua bulan, namun tetap kelihatan."

"Ah, begitu." Seseorang telah memasuki ruang

keamanan, mengeluarkan dua puluh kaset baru, membuka

bungkus plastik, menulis label-label baru, lalu memasukkan

semua kaset itu ke dalam alat-alat perekam, menggantikan

kaset-kaset semula yang sempat merekam pembunuhan di

lantai 46.

Aku berkata, "Menurut saya, Phillips menutup-nutupi

sesuatu."

"Barangkali," kata Connor, "tapi ada urusan lebih penting

yang harus kita kerjakan. Lagi pula, dia tidak memiliki

informasi yang kita perlukan. Pembunuhan itu dilaporkan

pukul delapan tiga puluh. Phillips tiba pukul sembilan

kurang seperempat, jadi dia tidak melihat langsung

kejadiannya. Kita bisa berasumsi bahwa petugas sebelum

dia, Cole, sempat menyaksikannya. Tapi pukul sembilan

kurang seperempat, Cole sudah pergi, dan seorang pria

Jepang tak dikenal berada di ruang keamanan, sedang

menutup tas kerjanya."

"Anda pikir dia yang menukar kaset-kaset itu?"

Connor mengangguk. "Mungkin sekali Saya bahkan

takkan heran kalau orang itu juga pembunuhnya.

Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan jawabannya di

apartemen Miss Austin." Ia membuka pintu, dan kami

keluar ke tempat parkir.

Bab 8

SEJUMLAH tamu sedang menunggu sampai para valet

membawa kendaraan mereka. Aku melihat Ishiguro sedang

berbincang-bincang dengan Wali Kota Thomas dan istrinya.

Connor menggiringku ke arah mereka. Ishiguro berdiri di

samping Wall Kota. Ia bersikap sangat ramah, bahkan

nyaris menjilat. Ketika melihat kami, ia tersenyum lebar.

“Ah, Tuan-tuan, apakah penyidikan Anda berjalan dengan

memuaskan? Barangkali ada lagi yang dapat saya bantu?"

Aku belum marah sebelum itu, sampai aku melihat

bagaimana ia bermanis-manis di depan Wali Kota. Aku

begitu gusar, sehingga wajahku mulal merah padam. Tetapi

Connor menghadapinya dengan tenang.

"Terima kasih, Ishiguro-san," ia berkata sambil

membungkuk sedikit. "Penyidikan kami berjalan dengan

lancar. "

"Anda mendapatkan semua bantuan yang Anda

perlukan?" tanya Ishiguro.

"Oh, ya," jawab Connor. "Semua orang sangat

membantu."

"Bagus, bagus. Saya senang mendengar itu."

Ishiguro melirik ke arah Wali Kota, lalu tersenyum.

Tampaknya ia penuh senyum.

"Tapi," kata Connor, "ada satu hal."

"Katakan saja jika ada yang dapat kami lakukan..."

"Kaset-kaset keamanan rupanya telah diambil."

"Kaset-kaset keamanan?" Ishiguro mengerutkan kening.

Kelihatan jelas bahwa ia terkejut.

"Ya," kata Connor. "Rekaman dari kamera-kamera

keamanan."

Saya tidak tahu apa-apa mengenai itu," ujar Ishiguro.

"Tapi percayalah, jika kaset-kaset itu memang ada, Anda

bebas memeriksa semuanya."

"Terima kasih," kata Connor. "Hanya saja, kaset-kaset

yang menentukan telah diambil dari ruang keamanan

Nakamoto."

"Diambil? Gentlemen, saya yakin telah terjadi

kekeliruan."

Pak Wali Kota memperhatikan percakapan mereka

dengan saksama.

Connor berkata, "Barangkali, tapi saya rasa tidak. Saya

akan senang sekali, Mr. Ishiguro, jika Anda secara langsung

menangani masalah ini."

"Tentu saja," balas Ishiguro. "Tapi sekali lagi, saya tidak

bisa membayangkan, Kapten Connor, bahwa ada kaset yang

hilang."

"Terima kasih atas bantuan Anda, Mr. Ishiguro," ujar

Connor.

"Kembali," katanya, masih sambil tersenyum. "Pokoknya,

saya akan membantu Anda sebisa mungkin."

"Haram jadah!" aku mengumpat. Kami sedang melaju ke

arah barat di Santa Monica freeway. Berani-beraninya dia

bohong di depan kita."

"Memang menjengkelkan," Connor mengakui. "Tapi

Anda harus mengerti, Ishiguro memiliki pandangan yang

berbeda. Karena berada di samping Wali Kota, dia melihat

dirinya dalam konteks yang lain, dengan seperangkat

tuntutan dan kewajiban lain yang harus dipenuhinya.

Karena dia peka terhadap konteks, dia sanggup bersikap

lain, tanpa mengingat-ingat sikapnya sebelum itu. Bagi kita,

dia seperti orang lain. Tetapi Ishiguro merasa bahwa dia

sekadar bersikap sepantasnya."

"Yang membuat saya kesal adalah bahwa dia kelihatan

begitu percaya diri."

"Tentu saja," kata Connor. "Dan dia pasti akan heran jika

mendengar bahwa Anda marah terhadapnya. Anda

menganggapnya tak bermoral. Dia menganggap Anda naif.

Sebab bagi orang Jepang, slkap yang konsisten adalah

sesuatu yang mustahil. Orang Jepang bersikap lain-lain di

hadapan orang dengan kedudukan yang berbeda. Dia

menjadi orang yang berbeda jika dia pindah dari satu

ruangan ke ruangan lain di rumahnya sendiri."

"Yeah," kataku. "Itu boleh-boleh saja, tapi dia tetap

pembohong keparat."

Connor menatapku. "Mungkinkah Anda berkata begitu di

depan ibu Anda?"

"Tentu saja tidak."

"Jadi Anda pun berubah, sesuai dengan konteks," ujar

Connor. "Nyatanya kita semua begitu. Hanya saja orang

Amerika percaya bahwa ada inti kepribadian yang tidak

berubah dari waktu ke waktu. Dan orang Jepang percaya

bahwa kontekslah yang mengatur segala-galanya."

"Bagi saya," kataku, "itu kedengarannya seperti izin

untuk berbohong."

"Dia tidak menganggapnya sebagai bohong."

"Tapi itulah yang dilakukannya."

Connor mengangkat bahu. "Hanya dari sudut pandang

Anda, Kohai. Dari sudut pandang dia, tidak."

"Persetan."

"Oke, terserah Anda saja. Anda bisa berusaha memahami

orang Jepang dan menghadapi mereka apa adanya, atau

Anda bisa menggerutu panjanglebar. Tapi masalah kita di

negeri ini adalah bahwa kita tidak menghadapi orang

Jepang apa adanya.”

Mobil kami masuk ke lubang dalam, dan terguncang

begitu keras, sehingga gagang telepon mobil terlempar.

Connor memungutnya dari lantai dan menggantungkannya

di tempat semula.

Di depan, aku melihat pintu keluar ke Bundy. Aku pindah

ke jalur kanan. "Ada satu hal yang belum jelas bagi saya,"

kataku. "Kenapa Anda menyangka bahwa orang dengan tas

kerja di ruang keamanan mungkin si pembunuh?"

"Karena urut-urutan waktunya. Begini, pembunuhan itu

dilaporkan pukul 20.32. Kurang dari lima belas menit

kemudian, yaitu pukul 20.45 seorang pria Jepang berada di

sana, menukar-nukar kaset, mencoba menutup-nutupi

kejadian tersebut. Itu tanggapan yang sangat cepat. Terlalu

cepat bagi perusahaan Jepang."

“Kenapa?"

“Organisasi-organisasi Jepang sebenarnya sangat lambat

dalam menanggapi sebuah krisis. Proses pengambilan

keputusan mereka mengandalkan preseden, dan jika suatu

situasi tidak memiliki preseden, orang-orang menjadi

bimbang dan tidak tahu harus bersikap bagaimana. Anda

masih ingat kiriman fax yang bertubi-tubi? Saya yakin,

mereka pasti sibuk mengirim fax mondar-mandir ke kantor

Pusat Nakamoto di Tokyo sepanjang malam. Bisa

dipastikan bahwa perusahaan itu masih berusaha

menentukan langkah berikut. Sebuah organisasi Jepang

tidak sanggup bertindak cepat jika menghadapi situasi yang

baru."

"Lain halnya jika seseorang bertindak sendiri?"

"Ya. Persis."

Aku berkata, "Dan karena itu, Anda menduga bahwa

orang dengan tas kerja mungkin si pembunuh."

Connor mengangguk. "Ya. Si pembunuh, atau seseorang

yang berhubungan erat dengannya. Tapi saya rasa kita akan

mengetahui lebih banyak di apartemen Miss Austin. Kalau

tidak salah, apartemennya sudah kelihatan di depan, di

sebelah kanan jalan."

Bab 9

GEDUNG Imperial Arms merupakan gedung apartemen

di sebuah jalan yang diapit pepohonan, kira-kira satu

kilometer dari Westwood Village. Gedung yang meniru gaya

Tudor itu sudah perlu dicat ulang, dan penampilannya

secara keseluruhan tidak terlalu mengesankan, kalau tidak

mau dibilang tak terurus. Tetapi itu tidak aneh bagi gedung

apartemen kelas menengah yang dihuni oleh

mahasiswa-mahasiswa pascasarjana dan keluarga-keluarga

muda. Ciri utama Imperial Arms memang kenyataan bahwa

gedung itu tidak mencolok. Kita bisa lewat setiap hari di

depannya, tanpa sekali pun memperhatikannya.

"Yeah," kata Connor ketika ia menaiki tangga menuju

pintu masuk. "Persis seperti yang mereka sukai."

"Siapa menyukai apa?"

Kami masuk ke lobi, yang telah direnovasi dengan gaya

California yang serba tenang; kertas dinding berwarna

pastel dengan motif bunga, sofa-sofa empuk, lampu-lampu

keramik murahan, dan meja krom. Satu-satunya hal yang

membedakan lobi ini dari seratus lobi apartemen lain

adalah meja keamanan di pojok, tempat penjaga pintu

berbadan pendek gemuk mengalihkan pandangan dari

buku komik yang sedang dibacanya. Ia orang Jepang.

Sikapnya sangat tidak bersahabat. "Bisa saya bantu?"

Connor menunjukkan lencananya, lalu menanyakan

apartemen Cheryl Austin.

"Saya beritahukan kedatangan Anda dulu," si penjaga

pintu berkata sambil meraih gagang telepon.

"Jangan repot-repot."

"Tidak. Saya beritahukan dulu. Barangkali ada tamu

sekarang. "



0 Response to "RISING SUN"

Post a Comment