Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

RISING SUN 6

"Kau yakin pertanyaan itu akan muncul?"

"Kelihatannya begitu. Aku telah memberitahu para

wartawan bahwa kau bersedia membahas modifikasi

pandanganmu mengenai MicroCon. Bahwa kau sekarang

mendukung rencana itu."

"Siapa yang akan menanyakannya?"

"Mungkin Frank Pierce dari Times."

Morton mengangguk. "Dia lumayan."

"Yeah. Berorientasi bisnis. Mestinya tidak ada masalah.

Kau bisa bicara mengenai pasar bebas, perdagangan adil.

Kecilnya peranan penjualan ini terhadap keamanan

nasional. Semuanya itu."

Si juru rias selesai, dan Morton bangkit dari kursinya.

"Senator Morton, maaf kalau saya merepotkan Anda, tapi

bolehkah saya minta tanda tangan Anda?"

"Tentu," jawab Morton.

"Untuk anak saya."

"Tentu."

Woodson berkata, "Kami sudah menggabung-gabungkan

adegan-adegan iklan, kalau kau berminat melihatnya.

Memang masih kasar sekali, tapi barangkali kau bisa

memberi komentar. Aku sudah menyiapkannya di ruang

sebelah."

"Berapa lama sampai siaran dimulai?"

"Sembilan menit lagi."

"Oke."

Ia mulai menuju pintu dan melihat kami. "Selamat sore,

Gentlemen," katanya. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Kami hanya ingin berbicara sebentar, Senator," kata

Connor

"Saya perlu melihat sebuah rekaman dulu," ujar Morton.

"Setelah itu kita bisa berbincang-bincang. Tapi saya hanya

punya beberapa menit."

"Tidak apa-apa," kata Connor.

Kami mengikuti Morton ke ruangan lain. Di ruang itu

kami dapat melihat studio di bawah. Di bawah sana, di

hadapan latar belakang berwarna beige yang bertuliskan

NEWSMAKERS, beberapa wartawan sedang menyusun

kertas-kertas catatan Petugas-petugas studio sibuk

memasang mikrofon. Morton duduk di hadapan sebuah

pesawat TV dan Woodson memutar sebuah kaset video.

Kami menyaksikan rekaman iklan yang dibuat

sebelumnya. Di bagian bawah layar terlihat penunjuk

waktu. Iklannya dimulai dengan Senator Morton yang

sedang berjalan melintasi lapangan golf. Ia tampak serius.

Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa Amerika

telah kehilangan daya saing dalam bidang ekonomi dan

perlu merebutnya kembali.

"Kita semua harus bahu-membahu," Morton berkata di

layar kaca. "Para politisi di Washington, para pemuka bisnis

dan angkatan kerja, para guru dan anak-anak, kita semua di

rumah masing-masing. Kita harus melunasi semua biaya

berjalan dan memperkecil defisit Pemerintah. Kita harus

meningkatkan jumlah tabungan untuk memperbaiki

jaringan jalan dan membenahi pendidikan. Kita

membutuhkan kebijaksanaan Pemerintah mengenai

konservasi energi-untuk lingkungan hidup kita, untuk

paru-paru anak-anak kita, dan untuk daya saing global

kita."

Kamera membidik wajah Senator Morton, untuk

merekam komentar penutupnya.

"Sementara pihak berpendapat bahwa kita sedang

memasuki era baru, era bisnis global," katanya. "Menurut

mereka, lokasi perusahaan tidak lagi penting, di mana suatu

barang diproduksi tidak lagi relevan. Mereka berpendapat

bahwa konsep ekonomi nasional sudah kuno dan

ketinggalan zaman. Kepada orang-orang itu saya tekankan

bahwa Jepang tidak berpendapat demikian. Jerman tidak

berpendapat demikian. Negara-negara yang paling sukses

di dunia dewasa ini mempunyai kebijaksanaan nasional

yang tegas untuk konservasi energi, untuk mengendalikan

impor, untuk mempromosikan ekspor. Mereka membina

industri mereka, menegakkan perlindungan terhadap persaingan

tidak adil dari luar negeri. Dunia bisnis dan

pemerintah bekerja sama untuk menjaga kepentingan

masyarakat mereka dan melindungi lapangan kerja. Dan

negara-negara itu lebih berhasil dibandingkan dengan

Amerika, sebab kebijaksanaan ekonomi mereka

mencerminkan dunia nyata. Kebijaksanaan mereka

berhasil. Kebijaksanaan kita tidak. Kita tidak hidup di dunia

yang ideal, dan selama itu, Amerika sebaiknya menghadapi

kenyataan. Kita harus membentuk nasionalisme ekonomi

versi Amerika. Kita harus melindungi kepentingan orang

Amerika, sebab kalau bukan kita, siapa lagi yang akan

melakukannya?

"Ada satu hal yang ingin saya tegaskan: penyebab

masalah-masalah kita bukan para raksasa industri, Jepang

dan Jerman. Negara-negara itu menantang Amerika dengan

kenyataan baru - kita sendiri yang harus menghadapi

kenyataan itu, dan menjawab tantangan ekonomi mereka

Kalau kita melakukan hal ini, negeri kita akan memasuki

era kesejahteraan tanpa bandingan. Tapi kalau kita terus

bersikap seperti sekarang, mengagung-agungkan ekonomi

pasar bebas yang sudah usang, bencana telah menanti. Kita

yang harus menentukan pilihan. Bergabunglah dengan saya

dan hadapilah kenyataan-kenyataan baru itu, demi masa

depan ekonomi yang lebih baik bagi orang Amerika."

Layar menjadi gelap.

Morton menyandarkan badan. "Mulai kapan iklan ini

ditayangkan?"

"Sembilan minggu lagi. Pertama-tama siaran uji coba di

Chicago dan Twin Cities, kelompok-kelompok fokus yang

terkait, modifikasi yang diperlukan, lalu siaran nasional

mulai Juli."

"Lama sesudah MicroCon..."

"Oh, ya."

"Oke, bagus. Kita teruskan saja.”

Woodson mengambil kaset video dan meninggalkan

ruangan. Morton berpaling kepada kami. "Well? Apa yang

dapat saya lakukan untuk Anda?"

Connor menunggu sampai pintu menutup. Kemudian ia

berkata, "Senator, kami ingin memperoleh keterangan

mengenai Cheryl Austin."

Sejenak suasana menjadi hening. Morton menatap kami

berganti-gantian. Pandangannya menerawang. "Cheryl

Austin?"

"Ya, Senator."

"Saya tidak yakin apakah saya pernah..."

"Ya, Senator," ujar Connor. Dan ia menyerahkan sebuah

arloji kepada Morton. Arloji wanita buatan Rolex, dari

emas.

"Di mana Anda mendapatkan ini?" kata Morton.

Suaranya rendah, dingin.

Seorang wanita mengetuk pintu. "Enam menit, “Senator."

Ia menutup pintu.

"Di mana Anda mendapatkan ini?" ulang Morton.

"Bukankah Anda sudah tahu?" balas Connor. "Anda

bahkan belum melihat graviran di bagian belakangnya."

"Di mana Anda mendapatkan ini?"

"Senator, kami berharap Anda dapat memberi

keterangan mengenai wanita muda itu." Connor

mengeluarkan sebuah kantong plastik bening dari saku,

dan meletakkannya di meja di sebelah Morton. Kantong

plastik itu berisi celana dalam wanita berwarna hitam.

"Tak ada yang bisa saya ceritakan kepada Anda,

Gentlemen," ujar Morton. "Sama sekali tidak ada." Connor

mengeluarkan kaset video dari kantong, dan

meletakkannya di sebelah Morton. "Kaset ini berisi

rekaman dari satu di antara lima kamera yang merekam

kejadian di lantai 46. Rekaman ini memang sudah

dimanipulasi, tapi kami berhasil mendapatkan satu gambar

yang memperlihatkan identitas orang yang berada bersama

Cheryl Austin."

"Saya tidak bisa membantu Anda," kata Morton.

"Rekaman video bisa disunting dan diubah dan kemudian

diubah lagi. Ini tidak membuktikan apa-apa. Ini semua

bohong, tuduhan yang tak berdasar."

"Maaf, Senator," ujar Connor.

Morton berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir.

"Saya ingin mengingatkan Anda bahwa tuduhan yang

hendak Anda ajukan sangat serius. Rekaman video bisa saja

dimanipulasi. Dan rekaman ini sempat berada di tangan

sebuah perusahaan Jepang yang berkepentingan untuk

mempengaruhi saya. Apa pun yang terlihat, atau yang tidak

terlihat, saya jamin bahwa rekaman ini takkan diterima

sebagai barang bukti yang sah. Masyarakat tentu akan

menganggapnya sebagai upaya untuk mencemarkan nama

salah satu dari sedikit orang Amerika yang berani bersuara

menentang ancaman Jepang. Dan bagi saya, Anda berdua

merupakan bidak dalam permainan catur kekuatan asing.

Anda tidak memahami konsekuensi tindakan Anda.

Tuduhan Anda tidak berdasar. Anda tidak punya saksi

untuk mendukung dugaan Anda. Sebenarnya saya bahkan

bisa mengatakan..."

"Senator." Suara Connor bernada lembut namun tegas.

"Sebelum Anda melangkah lebih jauh, dan mengatakan

sesuatu yang mungkin akan Anda sesali di kemudian hari,

sudikah Anda menoleh ke studio di bawah? Ada seseorang

yang perlu Anda lihat."

"Apa artinya ini?"

"Lihat saja dulu, Senator. Silakan."

Sambil mendengus geram, Morton menghampiri jendela

dan memandang ke studio. Aku ikut menoleh. Aku melihat

para wartawan di kursi masing-masing, tertawa dan

bersenda gurau sambil menantikan acara tanya-jawab. Aku

melihat si moderator membetulkan letak dasi dan

memasang mikrofon. Aku melihat seorang tukang menggosok-

gosok tanda NEWSMAKER. Dan di pojok, persis

seperti disuruh, aku melihat sebuah sosok familier berdiri

dengan tangan terselip ke dalam kantong celana,

memandang ke arah kami.

Eddie Sakamura.

Bab 49

CONNOR tentu saja sudah menduganya. Ketika ia

membuka pintu ruang dudukku dan melihat anak

perempuanku duduk di lantai sambil bermain bersama

Eddic Sakamura, ia bahkan tidak berkedip sebelah mata

pun. Ia hanya berkata, "Halo, Eddie. Aku sudah mulai heran

kenapa kau belum muncul-muncul."

"Sudah darl tadi aku di sini," ujar Eddie. Sepertinya ia

letih sekali. "Kalian ini. Tidak datang-datang. Kutunggu dan

kutunggu. Aku sempat makan roti dengan selai kacang

bersama Shelly. Dia manis sekali, Letnan."

"Eddie lucu," kata putriku. "Dia merokok, Daddy."

"Aku tahu," kataku. Aku merasa lamban dan bodoh. Aku

masih berusaha memahami semuanya.

Michelle menghampiriku dan mengulurkan kedua

tangannya. "Gendong, Daddy." Aku mengangkatnya.

"Manis sekali," ujar Eddie. "Kami sempat membuat kincir

angin. Nih."

Aku berkata, "Saya pikir Anda sudah mati."

"Siapa? Saya?" Ia tertawa. "Belum. Saya belum mati.

Tanaka mati. Dan mobil saya ringsek." Ia mengangkat bahu.

"Mungkin saya kurang cocok pakai Ferrari."

“Sama seperti Tanaka," Connor berkomentar.

Aku berkata, "Tanaka?"

Michelle berkata, "Daddy, boleh nonton Cinderella,

Daddy?"

"Jangan sekarang," jawabku. "Kenapa Tanaka ada di

mobil Anda?"

"Dia gampang panik," jawab Eddie. "Selalu gelisah.

Mungkin juga merasa bersalah. Sepertinya dia ketakutan,

saya tidak tahu persis."

Connor berkata, "Kau dan Tanaka yang mengambil

kaset-kaset itu."

"Ya. Benar. Langsung setelah kejadian. Ishiguro bilang

pada Tanaka, 'Ambil kaset-kaset itu.' Tanaka mengambil

semuanya. Tentu. Tapi saya kenal Tanaka, jadi saya ikut

dengannya. Tanaka membawa kaset-kaset itu ke sebuah

lab."

Connor mengangguk. "Dan siapa yang pergi ke Imperial

Arms?"

"Saya tahu Ishiguro mengutus beberapa orang untuk

beres-beres di sana. Saya tidak tahu siapa."

"Dan kau pergi ke restoran."

"Ya, memang. Habis itu saya pergi ke pesta. Pesta di

rumah Rod. Benar."

"Dan bagaimana dengan kaset-kaset itu, Eddie?"

"Saya sudah bilang, Tanaka yang bawa. Saya tidak tahu

ke mana. Dia pergi. Dia bekerja untu Ishiguro. Untuk

Nakamoto."

"Saya tahu," ujar Connor. "Tapi dia tidak membawa

semua kaset, bukan?"

Eddie tersenyum simpul. "Hei."

"Kausembunyikan beberapa kaset?"

"Tidak. Cuma satu. Biasa, terselip. Di kantong saya." Ia

tersenyum.

Michelle berkata, "Daddy, Daddy, boleh setel saluran

Disney?"

"Boleh," kataku. "Sana, minta tolong Elaine."

Michelle pergi. Connor terus bertanya pada Eddie.

Lambat laun urut-urutan kejadian itu terungkap. Tanaka

pergi dengan membawa kaset-kaset itu, dan kemudian ia

rupanya sadar satu kaset hilang. Ia tahu di mana kaset itu

berada, kata Eddie, dan kembali ke rumah Eddie untuk

mengambilnya. Ia memergoki Eddie dengan kedua wanita

itu. Ia menuntut agar Eddie mengembalikan kasetnya.

"Mula-mula saya tidak tahu, tapi setelah bicara dengan

kalian, saya sadar mereka mau menjebak saya. Tanaka dan

saya berdebat dengan sengit."

"Dan kemudian polisi datang. Graham muncul."

Eddie mengangguk perlahan. "Tanaka-san terkencing-

kencing. Kasihan."

"Jadi kau memaksa dia mengakui semuanya ......

“O, ya, Kapten. Dia cerita semuanya, cepat sekali."

"Dan sebagai imbalan, kau memberitahunya di mana

kaset yang hilang itu."

"Tentu. Di mobiI saya. Saya beri dia kunci mobil. Supaya

dia bisa buka pintu. Dia bawa kuncinya."

Tanaka pergi ke garasi untuk mengambil kaset itu. Para

petugas patroli di bawah mencegatnya. Ia menghidupkan

mesin dan melarikan diri.

"Saya lihat dia pergi, John. Dia melaju seperti dikejar

setan."

Jadi Tanaka yang duduk di belakang kemudi ketika

mobil itu menghantam dinding pemisah. Tanaka yang

terbakar sampai hangus. Eddie menjelaskan bahwa ia

bersembunyi di semak-semak di belakang kolam renang

dan menunggu sampai semua orang pergi.

"Dingin sekali di luar sana," katanya.

Aku berkata pada Connor, "Anda sudah tahu semuanya

itu?"

"Saya sudah menduganya. Laporan kecelakaan itu

menyatakan bahwa tubuh korban terbakar hangus, dan

bahwa kacamatanya pun meleleh."

Eddie berkata, "Hei, saya tidak pakai kacamata."

"Persis," ujar Connor. "Namun saya minta agar Graham

menggeledah rumah Eddie pada keesokan harinya. Dia juga

tidak menemukan kacamata. Berarti bukan Eddie yang

tewas dalam kecelakaan itu. Keesokan harinya, ketika kami

mendatangi rumah Eddie, saya minta petugas patroli

memeriksa semua mobil yang diparkir di tepi jalan. Dan

ternyata ada sedan Toyota warna kuning, tidak jauh dari

rumah Eddie, yang terdaftar atas nama Akira Tanaka."

"Hei, boleh juga," ujar Eddie. "Cerdik."

Aku berkata, "Di mana Anda berada selam ini?"

"Di rumah Jasmine. Rumahnya bagus."

"Siapa Jasmine?"

"Si Rambut Merah. Dia ramah sekali. Dan dia juga punya

Jacuzzi."

"Tapi kenapa Anda datang ke sini?"

Connor berkata padaku, "Karena terpaksa. Anda

menahan paspornya."

"Betul," kata Eddie. "Dan saya, saya punya kartu nama

Anda. Anda yang kasih. Alamat rumah dan telepon. Saya

butuh paspor saya, Letnan. Saya harus pergi. Jadi saya ke

sini dan menunggu. Tapi rupanya banyak wartawan.

Kamera. Lengkap. Jadi saya tunggu di sini, main dengan

Shelly." Ia menyalakan sebatang rokok, lalu berbalik

dengan gelisah. "Jadi bagaimana, Letnan? Tolong kembalikan

paspor saya. Netsutuku. Tidak ada masalah. Saya

sudah mati. Oke?"

"Belum waktunya," kata Connor.

"Ayolah, John."

"Eddie, sebelumnya kau harus membantu kami dulu."

"Hei. Membantu apa? Saya harus pergi, Kapten."

"Tugasmu mudah sekali, Eddie."

Morton menarik napas panjang, dan berpaling dari

jendela studio. Aku mengagumi ketenangannya. Ia tampak

tak terusik. "Kelihatannya," ia berkata, "pilihan saya saat ini

sedikit berkurang."

"Ya, Senator," ujar Connor.

Morton mendesah. "Saya tidak sengaja. Semuanya hanya

kecelakaan."

Connor mengangguk penuh pengertian.

"Saya tidak tahu kenapa saya tertarik padanya," ujar

Morton. "Dia cantik, tentu saja, tapi bukan itu... bukan itu.

Saya belum lama mengenalnya. Empat, lima bulan,

mungkin. Saya pikir dia gadis yang menyenangkan. Gadis

Texas, manis. Tapi... Anda tahu sendiri. Hal seperti ini

terjadi begitu saja. Dia mulai merongrong. Saya bingung,

tidak menyangka. Dan saya terus teringat padanya. Saya

tidak bisa... dia menelepon saya kalau saya sedang

bepergian. Dia bisa tahu kapan saya bepergian, entah

dari mana. Dan tidak lama kemudian, saya tak bisa

menghindarinya lagi. Tidak bisa. Sepertinya dia selalu

punya uang, selalu punya tiket pesawat. Dia sinting.

Kadang-kadang dia membuat saya marah sekali. Seperti...

entahlah, seperti roh jahat. Segala sesuatu berubah kalau

dia muncul. Gila. Saya terpaksa berhenti menemuinya. Dan

akhirnya saya mendapat firasat bahwa dia dibayar. Dia

dibayar oleh seseorang. Seseorang tahu hubungannya

dengan saya. Jadi saya terpaksa mengakhirinya. Bob

menyarankan begitu. Semua orang menyarankan begitu.

Saya tidak bisa. Akhirnya saya memaksakan diri. Tapi

waktu saya datang ke resepsi itu, dia sudah ada di sana.

Brengsek." Ia menggelengkan kepala. "Lalu... Anda tahu apa

yang terjadi setelah itu."

Wanita tadi muncul di pintu. "Dua menit Senator.

Orang-orang di bawah menanyakan apakah Anda sudah

siap."

Morton berkata kepada kami, "Saya ingin menyelesaikan

wawancara ini dulu."

"Tentu," kata Connor.

Senator Morton memiliki kemampuan menguasai diri

yang luar biasa. Ia melakukan wawancara TV dengan tiga

wartawan selama setengah jam, tanpa terlihat tegang

maupun gelisah. Ia tersenyum, berkelakar, bersenda gurau

dengan para wartawan. Seakan-akan tak ada masalah yang

menghantuinya.

Dalam satu kesempatan ia berkata, "Ya, memang benar

jumlah investasi Inggris dan Belanda di Amerika melebihi

investasi Jepang. Tapi kita tidak bisa mengabaikan

kenyataan bahwa Jepang melakukan perdagangan terarah

dan merugikan para pengusaha serta Pemerintah. Jepang

bahu-membahu melancarkan serangan terarah terhadap

salah satu sektor ekonomi Amerika. Orang Inggris dan

orang Belanda tidak melakukan hal ini. Kita tidak

kehilangan industri-industri dasar kepada negara-negara

itu. Tapi kita kehilangan banyak industri dasar kepada

Jepang. Itulah perbedaan sesungguhnya, dan itulah alasan

kenapa kita harus prihatin. "

Ia menambahkan, "Di samping itu, jika kita hendak

membeli perusahaan Belanda atau Inggris, tidak ada yang

menghalangi. Tapi kita tidak bisa membeli perusahaan

Jepang."

Wawancara dilanjutkan kembali, tapi tak seorang pun

mengajukan pertanyaan mengenai MicroCon. Jadi Morton

mengarahkan para wartawan. Ketika menjawab sebuah

pertanyaan, ia berkata, "Orang Amerika seharusnya dapat

mengkritik Jepang tanpa dituduh sebagai penganut

rasialisme atau tukang fitnah. Setiap negara mengalami

konflik dengan negara lain. Itu tak dapat dihindari.

Konflik-konflik kita dengan Jepang seharusnya dibahas

secara terbuka, tanpa komentar-komentar bernada

sumbang. Sikap saya yang menentang penjualan MicroCon

dianggap berlatar belakang rasial, tapi itu tidak benar."

Akhirnya salah satu wartawan bertanya mengenai

penjualan MicroCon. Morton berpikir sejenak, lalu

mencondongkan badan ke depan. “Seperti yang Anda

ketahui, George, sejak awal saya sudah menentang

penjualan MicroCon. Dan sampai sekarang saya belum

berubah pendirian. Sudah waktunya orang Amerika

mengambil langkah untuk mengamankan aset-aset negeri

ini. Aset aset riil, aset-aset keuangan, dan aset-aset intelektual.

Penjualan MicroCon bukan langkah yang bijaksana.

Dan saya tetap menentangnya. Karena itu, dengan gembira

saya memberitahu Anda bahwa saya baru saja mendapat

laporan mengenai perkembangan terakhir. Akai Ceramics

ternyata menarik tawarannya untuk membeli MicroCon

Corporation. Saya pikir ini pemecahan terbaik. Akai patut

dipuji atas pengertian yang mereka tunjukkan. Rencana

penjualan itu batal. Dan saya sangat gembira."

Aku berkata, "Apa? Tawaran mereka ditarik kembali?"

Connor berkata, "Kelihatannya mereka tidak punya

pilihan lain sekarang."

Morton tampak cerah menjelang akhir wawancara itu.

"Karena saya dianggap terlampau kritis terhadap Jepang,

barangkali saya bisa diberi kesempatan untuk

mengemukakan kekaguman saya. Orang Jepang

mempunyai sisi yang menyenangkan, dan sisi itu muncul di

tempat-tempat yang paling tak terduga.

"Anda mungkin sudah tahu bahwa para biksu Zen

dituntut menulis sajak menjelang ajal. Itu merupakan salah

satu bentuk seni tradisional, dan sajak-sajak yang paling

terkenal masih dikutip sampai ratusan tahun kemudian.

Jadi, Anda bisa membayangkan bahwa seorang roshi Zen

berada di bawah tekanan besar pada saat ia menyadari

bahwa ajalnya sudah dekat, dan semua orang menunggu

mahakarya yang akan dibuatnya. Selama berbulan-bulan,

hanya itu yang dipikirkannya. Tapi sajak favorit saya adalah

karya seorang biksu yang lelah menghadapi segala tekanan.

Silakan Anda simak."

Dan kemudian ia membacakan sajak itu.

Hidup dan mati,

Hal biasa.

Mengenai sajak,

Mengapa gelisah?

Semua wartawan mulai tertawa. "Jadi, sebaiknya kita

jangan terlampau serius dalam menanggapi masalah Jepang

ini," ujar Morton. "Itu satu hal lagi yang bisa kita peIajari

dari mereka."

Pada akhir wawancara, Morton bersalaman dengan

ketiga wartawan, lalu bangkit dari kursinya. Aku melihat

Ishiguro, yang baru tiba di studio. Wajahnya merah padam.

Ia mengisap udara lewat sela-sela gigi dengan gaya Jepang.

Morton berkata dengan riang, "Ah, Ishiguro-san.

Rupanya berita ini sudah sampai ke telinga Anda." Dan ia

menepuk punggung orang Jepang itu keras-keras.

Ishiguro melotot. "Saya sangat kecewa, Senator. Mulai

saat ini Anda menghadapi masalah besar." Kelihatan jelas

bahwa ia marah sekali.

"Hei," ujar Morton. "Tahi kucing."

"Kita sudah sepakat," desis Ishiguro.

"Ya, memang," kata Morton. "Dan Anda melalaikan

kewajiban Anda, bukan begitu?"

Senator Morton menghampiri kami dan berkata, "Anda

tentu menginginkan pernyataan dari saya. Saya bersihkan

makeup ini dulu, dan setelah iti kita bisa berangkat."

"Baiklah," ujar Connor.

Morton melangkah pergi, menuju ruang rias.

Ishiguro berpaling pada Connor dan berkata "Totemo

taihenna koto ni narimashita ne."

Connor menjawab, "Saya sependapat. Ini memang sulit."

Ishiguro berkata dengan nada mengancam, "Korban

akan berjatuhan."

"Dan Anda korban pertama," balas Connor. "So omowa

nakai. "

Morton berjalan ke arah tangga yang menuju lantai dua.

Woodson menghampirinya dan membisikkan sesuatu.

Morton merangkul pembantunya, dan sejenak mereka

berjalan seperti itu. Kemudian ia naik tangga.

Ishiguro berkata dengan suram, "Konna hazuja nakatta

no ni."

Connor mengangkat bahu. "Rasanya saya tidak bisa

bersimpati pada Anda. Anda mencoba melanggar

undang-undang yang berlaku di negeri ini, dan sekarang

akan ada masalah besar Eraikoto ni naruyo, Ishiguro-san."

"Kita lihat saja, Kapten."

Ishiguro berbalik dan menatap Eddie dengan dingin.

Eddie mengangkat bahu dan berkata, "Hei, aku tidak punya

masalah! Kau tahu maksudku, Compadre? Kau yang punya

masalah sekarang." Dan ia tertawa.

Seorang laki-laki pendek gemuk dengan headset di

kepala menghampiri kami. "Apakah salah satu dari Anda

Letnan Smith?"

Aku memperkenalkan diri.

"Ada telepon untuk Anda dan seseorang bernama Miss

Asakuma. Anda bisa menerimanya di sini." Ia menunjuk ke

tempat wawancara tadi. Sofa dan kursi malas, di depan foto

L.A. di pagi hari. Aku melihat pesawat telepon

berkedap-kedip di samping salah satu kursi.

Aku berjalan ke sana, duduk, dan mengangkat gagang.

"Letnan Smith."

"Hai, ini Theresa," katanya. Aku suka cara ia

menyebutkan namanya. "Begini, saya telah menonton

bagian akhir rekaman itu. Bagian paling akhir. Dan saya

rasa ada masalah."

"Oh? Masalah apa?" Aku tidak memberitahunya bahwa

Morton telah mengaku. Aku memandang ke seberang

studio. Morton telah sampai di atas; ia tidak kelihatan lagi.

Woodson, pembantunya, berjalan mondar-mandir di kaki

tangga, pucat, putus asa. Dengan gelisah ia

memegang-megang ikat pinggangnya.

Kemudian aku mendengar Connor berkata, "Ah, sialan!"

dan ia langsung melesat, berlari melintasi studio, ke arah

tangga. Aku berdiri, terkejut, melepaskan gagang telepon,

dan mengikutinya. Ketika Connor lewat di depan Woodson,

ia berkata, "Bangsat," dan kemudian ia menaiki dua anak

tangga dengan setiap langkah, bergegas ke atas. Aku berada

tepat di belakangnya. Aku mendengar Woodson

mengatakan sesuatu seperti, "Saya terpaksa."

Waktu kami sampai di selasar di lantai dua, Connor

berseru, "Senator!" Saat itulah kami mendengar letusannya.

Tidak keras, seperti kursi yang terbalik.

Tapi aku tahu bahwa itu letusan pistol.

MALAM KEDUA

Bab 50

MATAHARI sedang terbenam di sekitei. Bayangan

batu-batu mengikuti kontur gundukan-gundukan pasir

yang dibentuk menjadi beberapa lingkaran konsentris.

Connor ada di suatu tempat di dalam, masih menonton TV.

Samar-samar aku mendengar suara si pembaca berita. Di

sebuah kuil Zen tentu ada pesawat TV. Lambat laun aku

mulai terbiasa dengan kontradiksi-kontradiksi seperti ini.

Tapi aku tidak berminat lagi nonton TV. Dalam satu jam

terakhir aku belajar cukup banyak untuk mengetahui

bagaimana pihak media akan menangani urusan ini.

Senator Morton mengalami stres berat belakangan ini. Ia

menghadapi banyak masalah keluarga; baru-baru ini

putranya ditangkap karena mengemudi dalam keadaan

mabuk, menyusul kecelakaan yang mengakibatkan seorang

remaja lain mengalami cedera serius. Dan putrinya

dikabarkan menjalani aborsi. Mrs. Morton tidak dapat

dimintai keterangan, walaupun para wartawan

berkerumun di depan rumah keluarga Morton di Arlington.

Para anggota staf Senator Morton sependapat bahwa

atasan mereka berada di bawah tekanan besar akhir-akhir

ini, karena berusaha menyeimbangkan kehidupan keluarga

dengan pencalonannya yang akan datang. Sikap Senator

Morton tidak seperti biasanya; ia murung dan menutup

diri, dan menurut salah satu anggota staf, "Sepertinya dia

dihantui masalah pribadi."

Meski tak seorang pun meragukan kemampuan Senator

Morton, seorang rekannya, Senator Dowling, berkata

bahwa Morton, "...menjadi agak fanatik mengenai Jepang,

yang mungkin merupakan indikasi stres yang dialaminya.

John rupanya tak percaya bahwa kemungkinan

penyesuaian diri dengan Jepang masih terbuka, padahal

kita tahu bahwa semua pihak harus saling menyesuaikan

diri. Hubungan antara Amerika dan Jepang kini sudah

terlampau erat. Sayangnya, kita semua tidak sempat

menyadari tekanan yang dialami John. John Morton

merupakan pribadi yang tertutup."

Aku duduk dan mengamati batu-batu di taman berubah

warna menjadi keemasan, lalu merah. Seorang biksu Zen

asal Amerika bernama Bill Harris keluar dan menanyakan

apakah aku mau minum teh, atau Coke mungkin. Kubilang

tidak. Ia pergi. Ketika menoleh ke dalam, aku melihat

cahaya biru berkedap-kedip dari pesawat TV. Connor tidak

kelihatan.

Aku kembali mengamati batu-batu di taman.

Tembakan pertama belum merenggut nyawa Senator

Morton. Pada waktu kami mendobrak pintu kamar mandi,

darah bercucuran dari luka di lehernya. Ia

terhuyung-huyung ketika berusaha bangkit. Connor

berseru, "Jangan!" tepat ketika Morton memasukkan pistol

ke dalam mulut dan kembali menarik pelatuk. Tembakan

ini fatal. Pistolnya terpental dan meluncur di lantai kamar

mandi, lalu berhenti di dekat sepatuku. Darah segar membasahi

dinding.

Kemudian orang-orang mulai kalang kabut. Aku berbalik

dan melihat si juru rias berdiri di ambang pintu. Wanita

muda itu menutupi wajah dengan kedua tangan dan

menjerit-jerit tak terkendali. Ketika para paramedis tiba,

mereka memberikan suntikan penenang kepadanya.

Connor dan aku tetap di tempat, sampai Divisi mengirim

Bob Kaplan dan Tony Marsh. Mereka ditugaskan

menangani kasus itu, dan kami tidak diperlukan lagi. Aku

memberitahu bahwa Connor dan aku siap memberi

keterangan kapan saja, dan kemudian kami pergi. Baru saat

itu aku menyadari bahwa Ishiguro telah menghilang. Begitu

juga Eddie Sakamura.

Hal itu mengusik Connor. "Brengsek," katanya. "Mana

Eddie?"

"Apa pengaruhnya?" kataku.

"Ada masalah dengan Eddie," ujar Connor.

"Masalah apa?"

"Anda tidak memperhatikan sikapnya di depan Ishiguro?

Dia tampak amat percaya diri," Connor berkata. "Terlalu

percaya diri. Seharusnya dia gemetar ketakutan."

Aku mengangkat bahu. "Anda sendiri yang bilang bahwa

Eddie agak sinting. Siapa yang bisa menjelaskan tingkah

lakunya?" Aku sudah lelah menghadapi kasus itu, dan

bosan menghadapi naluri Jepang yang selalu diandalkan

Connor. Aku berkata bahwa aku menduga Eddie telah

pulang ke Jepang. Atau ke Meksiko, seperti yang pernah

disinggungnya.

"Moga-moga saja dugaan Anda benar," ujar Connor.

Ia mengajakku ke pintu belakang stasiun TV.

Connor berkata bahwa ia ingin pergi sebelum pers

datang. Kami masuk ke mobil dan langsung berangkat. Ia

mengarahkanku ke sebuah pusat Zen. Dan sejak itu kami

berada di sana. Aku menelepon Lauren di kantornya, tapi ia

sedang keluar. Aku mencoba menghubungi Theresa di lab,

tapi teleponnya sedang dipakai. Aku menelepon ke rumah.

Elaine memberitahuku bahwa Michelle baik-baik saja,

dan bahwa para wartawan telah pergi. Ia bertanya apakah

ia perlu tinggal lebih lama dan menyiapkan makan malam

untuk Michelle. Kubilang ya, dan menambahkan bahwa aku

mungkin akan pulang larut malam.

Dan kemudian, selama satu jam berikut, aku menonton

TV. Sampai aku tidak tahan lagi.

Hari sudah hampir gelap. Pasir di taman tampak ungu

keabu-abuan. Seluruh badanku terasa kaku karena duduk

terlalu lama,, dan udara semakin dingin. Pager-ku berbunyi.

Panggilan dari markas. Atau mungkin dari Theresa Aku

berdiri dan melangkah masuk.

Di layar TV, Senator Stephen Rowe sedang

menyampaikan ucapan belasungkawa untuk keluarga yang

tertimpa musibah, dan menielaskan bahwa Senator Morton

mengalami stres berlebihan. Senator Rowe juga

mengungkapkan bahwa tawaran dari Akai belum ditarik

kembali. Sepanjang pengetahuan Rowe, rencana penjualan

MicroCon terus berjalan seperti semula, dan ia

memperkirakan takkan ada hambatan serius.

"Hmm," gumam Connor.

"Penjualan itu tidak jadi dibatalkan?"

"Rupanya memang tak pernah ada pembatalan.” Connor

tampak cemas.

"Anda tidak setuju dengan penjualan itu?"

Saya khawatir mengenai Eddie. Ia terlalu congkak tadi.

Yang menjadi pertanyaan adalah langkah yang akan

diambil Ishiguro."

“Apa pengaruhnya?” Aku benar-benar lelah. Cheryl

Austin telah mati, Morton telah mati, dan MicroCon tetap

dijual kepada Akai.

Connor menggelengkan kepala. "Ingat apa yang

dipertaruhkan di sini," katanya. "Taruhannya besar sekali.

Ishiguro tidak akan ambil pusing mengenai pembunuhan

sepele, atau bahkan mengenai pembelian perusahaan

high-tech bernilai strategis. Ishiguro memikirkan reputasi

Nakamoto di Amerika. Nakamoto telah merambah ke

seluruh Amerika dan berniat memperluas jaringannya.

Eddie bisa merusak reputasi mereka."

“Bagaimana caranya?"

Ia menggelengkan kepala. "Saya tidak tahu pasti.”

Pager-ku kembali berbunyi. Aku menelepon ke markas.

Teleponku diterima oleh Frank Ellis, petugas piket malam

hari.

"Hei, Pete," katanya. "Kami terima telepon untuk Special

Services. Dan Sersan Matlovsky. Dia di tempat

penampungan kendaraan. Ada masalah bahasa."

"Ada apa?"

"Dia bilang, ada lima warga Jepang di sana. Mereka

berkeras untuk memeriksa bangkai mobil itu."

Aku mengerutkan kening. "Bangkai mobil mana?"

“Ferrari yang menabrak dinding pemisah waktu sedang

kejar-kejar. Mobil itu hancur sama sekali, ringsek akibat

benturan, lalu terbakar habis. Mayat pengemudinya

dikeluarkan dengan peralatan las oleh tim VHDV tadi pagi.

Tapi orang-orang Jepang itu tetap berkeras ingin

memeriksanya. Matlovsky sudah mempelajari

berkas-berkas yang ada, tapi dia tidak tahu apakah dia bisa

mengizinkan mereka. Dia takut mobil itu dipakai sebagai

barang bukti dalam penyidikan yang sedang berjalan. Dan

dia tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang Jepang

itu. Salah satu dari mereka mengaku kerabat si pengemudi.

Nah, kau bisa ke sana untuk menangani masalah ini?"

Aku menghela napas. "Malam ini g iliranku lagi. Semalam

aku sudah bertugas.”

"Well, namamu tercantum di daftar. Kelihatannya kau

bertukar waktu dengan Allen."

Samar-samar kuingat bahwa aku memang bertukar

waktu dengan Allen, supaya ia bisa mengajak anaknya

menonton pertandingan hoki es. Baru minggu lalu kami

membicarakannya, tapi rasanya sudah lama sekali.

"Oke," ujarku, "biar kuurus nanti."

Aku kembali untuk memberitahu Connor bahwa aku

harus pergi. Ia mendengarkan ceritaku dan tiba-tiba

melompat berdiri. "Tentu saja! Kenapa itu tidak terpikir

olehku? Sialan!" Ia mengepalkan tangan. "Kita berangkat,

Kohai."

"Kita ke tempat penampungan mobil.”

"Penampungan mobil? Tidak sekarang.”

"Kalau begitu, ke mana kita sekarang?”

“Oh, brengsek. Betapa bodohnya aku!" katanya. Ia sudah

menuju mobil.

Aku mengikutinya.

Ketika aku berhenti di depan rumah Eddie Sakamura,

Connor melompat turun dari mobil dan berlari menaiki

tangga. Langit tampak biru tua. Sudah hampir malam.

Connor melewati dua anak tangga dengan setiap

langkah. "Ini salah saya," katanya. "Seharusnya saya

menyadarinya dari awal. Seharusnya saya menangkap

maksudnya."

"Menyadari apa?" tanyaku. Aku agak tersengal-sengal

ketika sampai di puncak tangga.

Connor membuka pintu depan. Kami melangkah masuk.

Keadaan di ruang duduk masih sama seperti tadi, ketika

aku berdiri di sini dan berbicara dengan Graham.

Connor segera memeriksa semua ruangan. Di kamar

tidur, sebuah koper tergeletak dalam keadaan terbuka.

Beberapa jas Armani dan Byblos bertebaran di ranjang,

menunggu dimasukkan ke dalam koper. "Dasar bodoh,"

ujar Connor. "Seharusnya dia tidak kembali ke sini."

Lampu kolam renang menyala di luar, memancarkan

riak-riak cahaya berwarna kehijauan ke langit-langit.

Connor melangkah ke luar.

Mayatnya mengapung di air, menghadap ke bawah,

telanjang, di sebuah kolam renang, sebuah siluet gelap yang

dikelilingi cahaya kehijauan. Connor meraih sebuah tongkat

panjang dan mendorong Eddie ke seberang. Kami

menariknya ke tepi kolam yang terbuat dari beton.

Tubuh Eddie telah membiru dan dingin. Kaku.

Sepertinya ia tidak mengalami luka-luka.

"Mereka takkan gegabah," ujar Connor.

"Maksud Anda?"

"Mereka takkan meninggalkan jejak mencolok. Tapi saya

yakin kita bisa menemukan bukti." Ia mengeluarkan senter

kecil dan menyorot ke dalam mulut Eddie. Ia memeriksa

puting dan alat kelamin. "Ya. Ini. Anda lihat deretan titik

merah di sini? Di kantong kemaluannya. Dan itu, di sisi

dalam paha."

"Jepitan buaya?"

"Ya. Untuk menyambung kumparan listrik. Sialan!" kata

Connor. "Kenapa dia tidak memberitahu saya? Dia punya

kesempatan waktu kita naik mobil dari apartemen Anda ke

stasiun televisi untuk menemui Senator Morton.

Seharusnya dia bisa mengatakan sesuatu. Seharusnya dia

berterus terang pada saya."

"Mengenai apa?"

Connor tidak menjawab. Ia sibuk dengan pi.kirannya

sendiri. Ia mendesah. "Anda tahu, pada akhirnya kita tetap

hanya dianggap sebagai gaijin. Orang asing. Bahkan dalam

keadaan apa pun Eddie tidak mau berpaling pada kita.

Pasti..."

Ia terdiam, menatap mayat Eddie. Akhirnya ia

mendorongnya ke kolam renang. Eddie kembali terapung.

"Biar orang lain saja yang membuat laporannya," ujar

Connor sambil berdiri. "Tak ada gunanya kalau kita disebut

sebagai orang yang menemukan mayatnya." Ia

memperhatikan Eddie mengambang di tengah kolam

renang. Kepala Eddie tertunduk sedikit. Tumitnya bergerak

naik turun di permukaan.

"Saya suka dia," ujar Connor. "Dia menolong saya. Saya

bahkan sempat bertemu dengan keluarganya di Jepang.

Dengan beberapa anggota keluarganya. Bukan ayahnya." Ia

mengamati mayat yang sedang berputar pelan-pelan. "Tapi

Eddie anak baik. Dan sekarang, saya ingin tahu kenapa."

Aku bingung. Aku tidak tahu apa yang dibicarakannya, tapi

aku pun sadar bahwa itu bukan waktu yang baik untuk

bertanya. Connor tampak marah.

"Ayo," katanya akhirnya. "Kita harus bergerak cepat.

Hanya ada beberapa kemungkinan. Dan sekali lagi, kita

terlambat mengantisipasi perkembangan. Tapi saya

bersumpah, saya akan menangkap bajingan busuk itu."

"Bajingan busuk mana?"

"Ishiguro."

Bab 51

KAMI kembali ke apartemenku. "Anda beristirahat saja

nialam ini," ujar Connor padaku.

"Saya ikut dengan Anda," kataku.

"Tidak. Urusan ini akan saya selesaikan sendiri, Kohai.

Lebih baik Anda tidak terlibat."

"Terlibat apa?"

Selama beberapa waktu kami berdebat seperti ini.

Connor tidak mau menceritakannya. Akhirnya ia berkata,

"Tanaka pergi ke rumah Eddie semalam, karena kaset video

adegan tersebut berada di tangan Eddie. Dan saya rasa

kaset itu berisi rekaman yang asli."

"Ya.”

"Dan Tanaka menuntut agar Eddie mengembalikannya.

Karena itu mereka bertengkar. Ketika Anda dan Graham

datang, dan suasana menjadi kacaul balau, Eddie

memberitahu Tanaka bahwa kaset itu ada di Ferrari-nya.

Jadi Tanaka turun ke garasi. Dia panik waktu mellhat polisi,

lalu melarikan diri."

"Oke.”

"Mula-mula saya menduga kasetnya ikut terbakar dalam

kecelakaan itu."

"Ya."

"Tapi rupanya tidak. Sebab Eddie takkan berani bersikap

begitu congkak di depan Ishiguro seandainya kaset itu

sudah tidak ada di tangannya. Kaset itu merupakan jaminan

keselamatannya. Eddie menyadarinya. Tapi kelihatannya

dia tidak tahu bahwa Ishiguro bisa demikian kejam."

"Mereka menyiksanya karena kaset itu?"

"Ya. Tapi Eddie mengejutkan mereka. Dia tidak buka

mulut."

"Dari mana Anda tabu?"

"Karena," ujar Connor, "kalau dia memberitahu mereka,

takkan ada lima warga Jepang yang berusaha keras untuk

memeriksa bangkai Ferrari itu di tengah malam buta.”

“Jadi mereka masih mencari kaset itu?"

“Ya.”

missing

Aku merenungkannya.

"Apa yang akan Anda lakukan?" tanyaku.

"Menemukan kaset itu," kata Connor. "Sebab peranannya

sangat penting. Sudah beberapa orang mati karena kaset

itu. Kalau kita bisa menemukan rekaman yang asli..." Ia

menggelengkan kepala. "Ishiguro akan menghadapi

masalah besar. Dan dia memang patut mendapat ganjaran."

ZZZ

Aku menepi di depan gedung apartemenku. Seperti yang

dikatakan Elaine tadi, para wartawan sudah pergi. Jalanan

tampak lengang. Gelap.

"Saya tetap ingin ikut," aku berkata sekali lagi.

Connor menggelengkan kepala. "Saya sedang cuti tanpa

batas," katanya. "Anda tidak. Anda harus memikirkan uang

pensiun Anda. Dan Anda tak akan mau terlibat dengan apa

yang akan saya akukan malam ini."

"Saya sudah bisa menebaknya," ujarku. "Anda akan

melacak gerak-gerik Eddie sejak semalam. Eddie

meninggalkan rumahnya dan mengunjungi si Rambut

Merah. Mungkin dia juga sempat pergi ke tempat lain."

"Begini," kata Connor. "Saya tidak ingin buang-buang

waktu lebih banyak lagi, Kohai. Saya punya beberapa

koneksi dan beberapa kenalan yang bisa membantu. Itu

saja yang perlu Anda ketahui. Kalau Anda memerlukan

saya, Anda bisa menghubungi saya lewat telepon mobil.

Tapi jangan telepon kalau tidak terpaksa. Sebab saya akan

sibuk."

"Tapi..."

"Ayo, Kohai. Turun. Nikmatilah malam ini bersama putri

Anda. Anda telah melaksanakan tugas dengan baik, tapi

tugas Anda sudah selesai sekarang."

Akhirnya aku keluar dari mobil.

"Sayonara," kata Connor sambil melambaikan tangan.

Dan kemudian ia mulai melaju.

"Daddy! Daddy!" Michelle berlari menghampiriku

dengan tangan terentang. "Gendong, Daddy!"

Aku mengangkatnya. "Hai, Shelly."

"Daddy, boleh nonton Sleeping Beauty?”

"Nanti dulu. Kau sudah makan malam?"

"Dia makan dua hot dog dan es krim," kata Elaine Ia

sedang mencuci piring di dapur.

"Jeez," kataku. "Kita sudah sepakat bahwa dia jangan

diberi junk food lagi. "

"Well, dia cuma mau makan itu," balas Elaine.

Ia tampak lelah. Ia telah menghabiskan satu hari

bersama anak umur dua tahun.

"Daddy, aku boleh nonton Sleeping Beauty?"

"Tunggu dulu, Shelly, Daddy sedang bicara dengan

Elaine. "

"Saya sudah membuatkan sup," ujar Elaine, "tapi dia

tidak mau menyentuhnya. Dia minta hot dog."

"Daddy, aku boleh setel saluran Disney?"

"Michelle," kataku.

Elaine berkata, "Saya pikir, dia harus makan sesuatu.

Mungkin dia bingung. Begitu banyak wartawan yang

berkerumun di sini tadi."

"Daddy? Boleh, ya? Sleeping Beauty?" Ia

menggeliat-geliut dalam gendonganku. Menepuk-nepuk

wajahku untuk menarik perhatian.

"Oke, Shel."

"Sekarang, Daddy?"

"Oke."

Aku menurunkannya. Ia berlari ke ruang duduk dan

menyalakan TV, memencet remote control tanpa ragu-ragu.

"Saya rasa dia terlalu banyak nonton TV."

"Semua anak kecil begitu," ujar Elaine sambil

mengangkat bahu.

"Daddy?"

Aku menyusuinya ke ruang duduk, memasukkan kaset

video, lalu memutarnya- Logo Disney terlihat di layar TV.

"Bukan bagian ini,” ujar michelle dengan tidak sabar.

Jadi aku menekan tombol fast-forward samke awal

cerita. Aku melihat halaman-halaman sebuah buku dibalik.

"Yang ini, yang ini," seru Michelle.

Aku memutar rekaman itu dengan kecepatan normal.

Michelle duduk di kursi dan mulai mengisap jempol. Lalu ia

menarik jempolnya keluar dari mulut dan menepuk-nepuk

tempat di sebelahnya. "Sini, Daddy," katanya.

Ia ingin aku menemaninya.

Aku menghela napas, memandang berkeliling. Ruang

dudukku berantakan sekali. Krayon-krayon dan buku-buku

mewarnai bertebaran di lantai. Juga kincir angin yang

dibuatkan Eddie tadi.

"Daddy mau beres-beres dulu,” kataku. "Di sini saja, di

dekat kamu."

Ia kembali mengisap jempol, dan berpaling ke arah TV.

Seluruh perhatiannya terpusat pada gambar di layar kaca.

Aku memasukkan semua krayon ke tempatnya. Aku

memungut buku-buku mewarnai dan mengembalikan

semuanya ke rak. Tiba-tiba aku merasa letih sekali, jadi aku

duduk di lantai, di sebelah Michelle. Di layar, tiga peri - satu

hijau, satu merah, dan satu biru - sedang terbang ke bangsal

singgasana di puri.

"Itu Merryweather," ujar Michelle sambil menunjuk.

"Yang biru."

Dari dapur, Elaine berkata, "Bagaimana kalau saya

membuatkan sandwich untuk Anda, Letnan?"

"Ya, terima kasih," kataku. Aku hanya ingin duduk

bersama anakku. Aku ingin melupakan semuanya, paling

tidak untuk sementara waktu. Aku bersyukur bahwa

Connor berkeras agar aku tidak ikut. Aku hanya duduk dan

menatap TV.

Elaine membawa sandwich berlapis salami dengan daun

selada dan moster. Aku lapar sekali. Elaine melirik layar TV,

menggelengkan kepala, lalu kembali ke dapur. Aku

menghabiskan sandwich, dan Michelle minta diberl juga. Ia

suka salami. Sebenarnya aku ragu-ragu karena ada zat

pengawetnya, tapi mestinya tidak lebih buruk dibandingkan

dengan hot dog.

Setelah makan, aku merasa lebih enak. Aku berdirl dan

meneruskan pekerjaanku. Aku memungut kincir angin

mainan dan mulai membongkarnya. Semua bagian

kumasukkan ke dalam tabung karton. Michelle berkata,

"Jangan, jangan!" dengan nada sedih. Kupikir ia tidak mau

aku membongkar kincir anginnya, tapi ternyata bukan itu.

Ia menutup matanya dengan kedua belah tangan. Ia tidak

mau melihat Maleficent, si tukang sihir yang jahat. Aku

melewatkan bagian itu, dan ia kembali tenang. .

Setelah memasukkan semua bagian kincir angin ke

dalam tabung, aku memasang tutup logamnya dan

meletakkan tabung itu di rak paling bawah. Semua mainan

Michelle disimpan di rak paling bawah, supaya ia bisa

mengambilnya sendiri.

Tabung itu jatuh ke karpet. Aku memungutnya. Ternyata

ada sesuatu di rak. Sebuah kotak kecil. Aku segera

mengenalinya.

Sebuah kaset video delapan milimeter, dengan tulisan

Jepang pada labelnya.

Bab 52

ELAINE berkata, "Letnan? Masih ada lagi yang perlu saya

kerjakan?" Ia mengenakan mantel, sudah siap pulang.

"Tunggu sebentar," kataku.

Aku mengangkat gagang telepon dan menghubungi

operator di markas. Aku minta disambungkan dengan

Connor di mobilku. Aku menunggu dengan tidak sabar.

Elaine memandangku.

"Sebentar lagi, Elaine," ujarku.

Di layar TV, sang Pangeran sedang berduet dengan

Sleeping Beauty, diiringi kicauan sekawanan burung.

Michelle masih mengisap jempol.

Si operator berkata, "Maaf, tidak ada jawaban dari mobil

Anda."

"Oke," kataku, "Apakah Anda punya nomor di mana saya

bisa menghubungi dia?"

Hening sejenak. "Kapten Connor sedang tidak berdinas

aktif."

"Saya tahu. Apakah dia meninggalkan nomor telepon?"

"Di sini tidak ada catatan apa-apa, Letnan.”

“Saya harus menghubungi dia."

"Tunggu sebentar." Aku mengumpat.

Elaine berdiri di ambang pintu depan. Ia sudah siap

berangkat.

Suara si operator terdengar kembali. "Letnan? Menurut

Kapten Ellis, Kapten Connor sudah pergi.”

"Pergi?"

"Dia datang ke sini beberapa waktu yang lalu, tapi

sekarang dia sudah pergi."

"Maksudnya, dia datang ke markas?"

"Ya, tapi dia sudah pergi. Dia tidak meninggalkan nomor

telepon. Maaf."

Aku meletakkan gagang. Untuk apa Connor datang ke

markas?

Elairig masih berdiri di ambang pintu. "Letnan?"

Aku berkata, "Sebentar, Elaine."

"Letnan, saya harus..."

"Saya bilang, sebentar."

Aku mulai berjalan mondar-mandir. Aku tidak tahu apa

yang harus kulakukan. Tiba-tiba saja aku dicekam

ketakutan. Mereka telah membunuh Eddie untuk

mendapatkan kaset itu. Mereka takkan ragu-ragu

membunuh sekali lagi. Aku menatap anakku yang sedang

menonton TV sambil mengisap jempol. Aku berkata kepada

Elaine, "Di mana mobil Anda?"

"Di tempat parkir di basement."

"Oke. Dengar baik-baik. Saya minta Anda mengajak

Michelle dan membawanya ke..."

Telepon berdering. Aku langsung menyambar gagang,

dengan harapan bahwa Connor yang menelepon. "Halo."

"Moshi moshi. Connor-san desu ka?"

"Dia tidak di sini," jawabku. Begitu kata-kata itu keluar

dari mulutku, aku langsung memaki dirl sendiri. Tapi

terlambat, aku telah keseleo lidah.

"Baik, Letnan," kata sebuah suara dengan logat kental.

"Anda menyimpan barang yang kami inginkan, bukan?"

Aku berkata, "Saya tidak tahu maksud Anda."

"Saya pikir Anda tahu, Letnan."

Aku mendengar bunyi mendesis. Orang itu

menggunakan telepon mobil. Ia bisa berada di mana saja.

Bisa saja ia berada tepat di depan gedung apartemenku.

Brengsek!

Aku berkata, "Siapa ini?"

Tapi aku hanya mendengar nada panggil.

Elaine bertanya, "Ada apa, Letnan?"

Aku bergegas ke jendela. Aku melihat tiga mobil berjejer

di bawah. Lima orang baru saja turun, sosok-sosok gelap di

tengah malam.

Bab 53

AKU berusaha tetap tenang. "Elaine," kataku, “saya minta

Anda membawa Michelle ke kamar tidur saya.

Bersembunyilah di bawah tempat tidur dan jangan

bersuara apa pun, mengerti?"

"Tidak mau, Daddy!"

"Sekarang, Elaine."

"Jangan, Daddy! Aku mau nonton Sleeping Beauty."

"Nanti saja kamu teruskan lagi." Aku telah mencabut

pistol dan sedang memeriksa tempat peluru.

Elaine membelalakkan mata.

Ia mengangkat Michelle. "Ayo, Sayang."

Michelle menggeliat-geliut. "Jangan, Daddy!"

"Michelle,"

Ia terdiam, kaget mendengar nada suaraku. Elaine

menggendongnya ke kamar tidur. Aku mengisi tempat

peluru kedua, dan menyelipkannya ke dalam kantong jas.

Aku memadamkan lampu di kamar tidur dan di kamar

Michelle. Kupandangi tempat tidurnya, dan selimut dengan

gambar gajah-gajah kecil. Aku mematikan lampu dan pergi

ke dapur.

Aku kembali ke ruang duduk. Pesawat TV masih

menyala. Si penyihir jahat sedang menyuruh burung

gagaknya mencari Sleeping Beauty. "Kau harapanku yang

terakhir, Manis, jadi jangan kecewakan aku," katanya pada

burung itu, yang kemudian langsung terbang.

Aku tetap merunduk dan bergerak ke arah pintu.

Pesawat telepon kembali berdering. Aku merangkak untuk

mengangkat gagang.

"Halo."

“Kohai." Suara Connor. Aku mendengar bunyi mendesis

dari telepon mobil.

Aku berkata, "Di mana Anda?"

"Anda sudah menemukan kaset itu?"

"Ya, saya sudah menemukannya. Di mana Anda?"

"Di bandara."

"Cepat ke sini. Sekarang juga. Dan minta bala bantuan!

Cepat! "

Aku mendengar suara di selasar, di luar apartemenku.

Pelan, seperti suara langkah.

Aku meletakkan gagang. Keringatku mengalir deras.

Ya Tuhan.

Kalau Connor berada di bandara, berarti ia berada dua

puluh menit dari tempatku. Mungkin lebih.

Mungkin lebih.

Urusan ini harus kutangani seorang diri.

Aku memperhatikan pintu, memasang telinga. Tapi aku

tidak mendengar apa-apa lagi di luar.

Dari kamar tidur, aku mendengar anakku berkata, "Aku

mau nonton Sleeping Beauty. Aku mau Daddy." Aku

mendengar Elaine membisikkan sesuatu. Michelle

merengek.

Lalu hening.

Telepon kembali berdering.

"Letnan," ujar suara berlogat kental tadi, "Anda tidak

perlu memanggil bala bantuan."

Ya Tuhan, mereka menyadap percakapanku dengan

Connor.

"Kami tidak bennaksud buruk, Letnan. Kami hanya

menginginkan satu hal. Tolong serahkan kaset itu kepada

kami."

"Kaset itu memang ada pada saya," ujarku.

"Kami tahu."

Aku berkata, "Bawa saja."

"Bagus. Memang lebih baik begitu."

Aku sadar bahwa aku harus menghadapi mereka

seorang diri. Otakku bekerja keras. Satu-satunya pikiran

dalam benakku: Jauhkan mereka dari sini. Jauhkan mereka

dari anakku.

"Tapi tidak di sini," ujarku.

Aku mendengar pintu depan digedor-gedor dari luar.

Brengsek!

Aku merasa terjepit. Segala sesuatu terjadi terlalu cepat.

Aku bertiarap di lantai, di samping pesawat telepon yang

telah kutarik dari meja. Berusaha agar tidak terlihat dari

jendela.

Pintuku kembali digedor-gedor.

Aku berkata, "Silakan bawa kaset. itu. Tapi sebelumnya

anak buah Anda harus ditarik dulu."

"Bisa diulang sekali lagi?"

Astaga, masalah bahasa!

"Suruh anak buah Anda mundur. Suruh mereka kembali

ke jalanan. Saya mau lihat."

"Letnan, kami harus mendapatkan kaset itu!"

"Saya tahu," kataku. "Dan saya akan memberikannya."

Sambil bicara, pandanganku tetap tertuju ke pintu. Aku

melihat pegangan pintu berputar. Seseorang berusaha

membukanya. Perlahan-lahan, tanpa suara. Kemudian

pegangannya dilepas lagi. Sebuah benda putih diselipkan di

bawah pintu.

Sebuah kartu nama.

"Letnan, kami mengharapkan kerja sama Anda."

Aku merangkak maju dan memungut kartu nama itu.

Kartu itu bertuliskan: Jonathan Connor, Los Angeles Police

Department.

Lalu aku mendengar seseorang berbisik dari balik pintu.

"Kohai."

Aku tahu mereka hendak menjebakku. Connor berada di

bandara, jadi ini pasti sebuah jebakan.

"Barangkali saya bisa membantu, Kohai."

Itulah kata-kata yang pernah ia ucapkan sebelumnya,

pada awal kasus. Aku mulai bimbang.

"Buka pintu keparat ini, Kohai."

Ternyata memang Connor. Aku meraih ke atas dan

membuka pintu. Ia menyusup masuk, sambil merunduk. Ia

menyeret benda berwarna biru - sebuah rompi Kevlar. Aku

berkata, "Saya pikir Anda di..."

Ia menggelengkan kepala dan berbisik, "Say tahu mereka

di sini. Mereka pasti ke sini. Saya menunggu di mobil, di

gang di belakang gedun ini. Ada berapa orang di luar?"

"Saya rasa lima. Mungkin lebih."

Ia mengangguk.

Suara beraksen di telepon berkata, "Letnan? Anda masih

di sana? Letnan?"

Aku menjauhkan gagang telepon dari telingaku agar

Connor bisa ikut mendengar. "Saya masih d sini," kataku.

Di TV, si penyihir jahat terkekeh-kekeh.

“Letnan, saya dengar suara orang lain."

"Itu hanya Sleeping Beauty," ujarku.

"Apa? Sreeping Booty?" tanya suara itu dengan nada

bingung.

"TV," kataku. "Hanya acara TV."

Kini aku mendengar lawan bicaraku berbisik-bisik.

Suara mobil lewat di jalanan. Itu mengingatkanku bahwa

mereka berada di tempat terbuka. Berdiri di sebuah jalan di

tengah pemukiman, dengan gedung-gedung apartemen di

kedua sisi. Dengan banyak jendela. Setiap saat ada

kemungkinan seseorang menengok ke luar. Atau lewat di

trotoar.

Mereka harus bergerak cepat.

Barangkali mereka sudah mulai bergerak. Connor

menarik-narik jasku. Memberi isyarat untuk membuka jas.

Aku melepaskannya sambil berbicara lewat telepon.

"Baiklah," ujarku, "apa yang harus saya lakukan?"

"Bawa kaset itu keluar."

Aku menatap Connor. Ia mengangguk. Ya.

"Oke," kataku. "Tapi sebelumnya, suruh anak buah Anda

mundur."

"Maaf."

Connor mengepalkan tangan sambil meringis. Ia ingin

agar aku marah. Ia menutup gagang telepon dan

membisikkan sesuatu ke telingaku. Sebuah ungkapan

Jepang.

"Pasang telinga!" kataku. "Yoku kike!"

Lawan bicaraku menggerutu. Sepertinya ia terkejut.

"Hai. Mereka mundur. Dan sekarang, Anda keluar,

Letnan."

"Oke," kataku. "Saya akan keluar."

Aku meletakkan gagang.

Connor berbisik, "Tiga puluh detik," dan keluar melalui

pintu depan. Aku masih mengancingkan baju setelah

mengenakan rompi antipeluru yang diberikannya. Kevlar

merupakan bahan yang tebal dan panas. Seketika aku mulai

berkeringat.

Aku menunggu tiga puluh detik sambil menatap jam

tanganku. Memperhatikan gerakan jarumnya. Dan

kemudian aku melangkah keluar.

Seseorang telah memadamkan lampu di selasar. Kakiku

tersandung pada tubuh yang tergeletak di lantai. Aku

terjatuh. Ketika aku bangkit lagi, aku melihat sebuah wajah

Asia yang ramping.

Anak muda, jauh lebih muda dari yang kusangka. Masih

remaja. Ia pingsan, napasnya dangkal.

Perlahan-lahan aku menuruni tangga.

Tidak ada siapa-siapa di lantai dua. Aku turun lagi. Aku

mendengar suara tawa dari sebuah pesawat TV, di balik

salah satu pintu di lantai dua. Seseorang berseru, "Tolong

ceritakan, ke mana kau pergi pada kencan pertama?"

Aku turun ke lantai dasar. Pintu depan gedung

apartemenku terbuat dari kaca. Aku mengintip keluar dan

melihat mobil-mobil yang diparkir di tepi jalan, serta pagar

tanaman. Sebidang rumput di depan gedung. Orang-orang

tadi dan mobil-mobil mereka berada di sebelah kiri.

Aku menunggu. Aku menarik napas panjang. Jantungku

berdenyut kencang. Aku tidak ingin keluar, tapi

satu-satunya pikiranku adalah menjauhkan mereka dari

anakku. Menjauhkan bahaya yang mengancam....

Aku melangkah keluar. Udara dingin menerpa wajah dan

tengkukku yang bermandikan keringat.

Aku maju dua langkah.

Sekarang aku melihat mereka Mereka berdiri sekitar

sepuluh meter di sebelah kiriku, di samping

kendaraan-kendaraan mereka. Mereka berempat Salah satu

dari mereka melambaikan tangan, memberi isyarat untuk

mendekat. Aku tetap berdiri di tempat.

Di mana yang lainnya?

Aku tidak melihat siapa-siapa selain keempat orang itu.

Mereka kembali melambaikan tangan. Aku baru hendak

menghampiri mereka, ketika aku merasa ada hantaman

keras dari belakang. Aku terjungkal ke rumput basah.

Baru sesaat kemudian aku menyadari apa yang terjadi.

Aku ditembak dari belakang.

Dan setelah itu peluru-peluru berdesingan. Senapan-

senapan otomatis. Seluruh jalan diterangi cahaya

tembakan. Suara letusan terpantul dari gedung-gedung di

kedua sisi jalan. Aku mendengar kaca pecah. Aku

mendengar orang-orang berteriak-teriak. Disusul bunyi

tembakan lagi. Aku mendengar bunyi mesin mobil

dinyalakan, dan beberapa mobil melesat menjauh. Hampir

seketika terdengar raungan sirene polisi dan bunyi ban

berdecit-decit. Lampu-lampu sorot menerangi jalanan. Aku

tidak bergerak, tetap tiarap di rumput. Rasanya seolah-olah

aku sudah satu jam tergeletak. Dan kemudian aku

menyadari bahwa semua seruan dilakukan dalam bahasa

Inggris.

Akhirnya seseorang mendekat, membungkuk di atasku,

dan berkata, "Jangan bergerak, Letnan. Biar saya periksa

dulu." Aku mengenali suara Connor. Tangannya menyentuh

punggungku, meraba-raba. Kemudian ia berkata, "Anda

bisa membalik, Letnan?"

Aku membalik.

Connor disorot lampu-lampu yang terang benderang. Ia

menatapku. "Peluru-peluru mereka tidak tembus," katanya.

"Tapi besok punggung Anda akan pegal sekali."

Ia membantuku berdiri.

Aku menoleh untuk melihat orang yang menembakku.

Tapi ternyata tidak ada siapa-siapa, hanya beberapa

selongsong peluru, berkilap suram di rumput hijau, di dekat

pintu depan.

MALAM KETIGA

Bab 54

JUDUL berita utama itu berbunyi, GENG VIETNAM

BERAKSI DI WESTSIDE. Artikel itu menyebutkan bahwa

Peter Smith, petugas Special Services L.A.P.D., menjadi

sasaran serangan balas dendam sebuah geng asal Orange

County, yang dikenal sebagai Bitch Killers. Letnan Smith

tertembak dua kali sebelum bala bantuan polisi tiba di

tempat kejadian dan membubarkan anak-anak muda itu.

Tak satu tersangka pun berhasil ditangkap dalam keadaan

hidup. Dua anggota geng tewas dalam baku tembak dengan

polisi.

Aku membaca koran sambil berendam di bak mand,

untuk mengurangi rasa pegal di punggungku. Dua luka

memar tampak membiru di kiri kanan tulang belakangku.

Menarik napas pun terasa nyeri.

Aku telah mengirim Michelle ke rumah ibuku di San

Diego selama akhir pekan, sampai urusan di sini berhasil

diselesaikan. Elaine yang mengantarkannya semalam.

Aku kembali membaca.

Menurut artikel itu, geng Bitch Killers diduga juga

bertanggung jawab atas kematian Rodney Howard, seorang

bocah kulit hitam berusia dua tahun yang minggu lalu

ditembak di kepala, ketika ia sedang naik sepeda roda tiga

di pekarangan depan rumahnya di Inglewood. Pembunuhan

itu konon merupakan inisiasi anggota baru geng tersebut.

Kekejaman yang diperlihatkan menyulut debat sengit

apakah L.A.P.D. mampu menangani kekerasan geng di

Califomia bagian selatan.

Wartawan-wartawan kembali bergerombol di depan

pintuku, tapi aku tidak melayani mereka. Pesawat

teleponku tak henti-hentinya berdering, tapi aku

menyalakan mesin penjawab otomatis. Aku hanya

berendam di bak mandi, dan berusaha memutuskan

langkah berikutnya.

Sekitar jam sepuluh pagi, aku menghubungi Ken Shubik

di Times.

"Aku sudah mulai heran kenapa kau belum telepon

juga," katanya. "Kau pasti gembira."

"Kenapa aku harus gembira?"

"Karena kau masih hidup," ujar Ken. "Anak-anak itu

pembunuh berdarah dingin."

"Maksudmu, anak-anak Vietnam semalam?"' tanyaku.

"Mereka bicara dalam bahasa Jepang."

"Yang benar?"

"Benar, Ken."

"Jadi, artikel kami berisi informasi yang salah?"

"Kelihatannya begitu."

"Pantas," katanya.

"Ada apa?"

"Artikel itu ditulis oleh si Musang. Dan si Musang sedang

diimpit masalah. Bahkan ada desas-desus bahwa dia akan

dipecat. Tak seorang pun di sini tahu apa alasannya," Ken

berkata. "Rupanya ada orang di Dewan Redaksi yang

tiba-tiba sewot terhadap Jepang. Pokoknya, dalam waktu

dekat ini kami akan memuat rangkaian laporan investigatif

mengenai perusahaan-perusahaan Jepang di Amerika."

“O, ya?”

"Tapi kau takkan menyangkanya kalau membaca koran

hari ini. Kau sudah lihat bagian bisnis?"

"Belum, kenapa?"

"Darley-Higgins mengumumkan penjualan MicroCon

kepada Akai. Di halaman empat bagian bisnis. Artikel dua

sentimeter."

"Hanya itu?"

"Kurasa itu sudah cukup. MicroCon hanya salah satu dari

sekian banyak perusahaan Amerika yang jatuh ke tangan

orang Jepang. Aku sudah memeriksanya. Sejak 1987, ada

180 perusahaan Amerika yang bergerak di bidang high-tech

dan elektronik yang dijual kepada orang Jepang. Nilai beritanya

sudah tidak ada."

"Tapi Times akan melakukan penyelidikan?"

"Kabarnya begitu. Tapi pasti tidak mudah, sebab semua

indikator emosional sedang turun. Neraca pembayaran

dengan Jepang sudah lebih seimbang sekarang. Tapi

sebenarnya itu hanya karena mereka mengurangi ekspor

mobil ke sini. Mobil-mobil mereka sekarang diproduksi di

sini. Pabrik-pabrik mobil mereka dipindahkan ke

negara-negara naga kecil. Jadi defisitnya muncul dalam

neraca negara-negara itu, bukan dalam neraca Jepang.

Mereka juga meningkatkan pembelian jeruk dan kayu

mentah, untuk mempengaruhi pendapat umum. Pada

dasarnya, mereka memperiakukan kita sebagai negara

berkembang. Mereka mengimpor bahan baku kita. Tapi

mereka tidak membeli produk jadi. Mereka bilang, kita

tidak menghasilkan barang-barang yang mereka perlukan."

"Mungkin memang begitu, Ken."

"Yeah." Ia menghela napas. "Tapi aku tidak tahu apakah

masyarakat umum mau ambil pusing. Itulah

pertanyaannya. Termasuk terhadap masalah pajak."

Aku agak bingung. "Pajak?"

"Kami sedang menyusun laporan besar-besaran

mengenai pajak. Pemerintah akhimya sadar bahwa

perusahaan-perusahaan lepang menjalankan bisnis raksasa

di sini, dan bahwa jumlah pajak yang mereka bayar di

Amerika kecil sekali. Beberapa perusahaan malah tidak

bayar sama sekali, dan itu tidak masuk akal. Mereka

mengontrol laba dengan menaikkan harga subkomponen

Jepang yang diimpor oleh pabrik perakitan mereka di

Amerika. Ini memang keterlaluan, tapi Pemerintah Amerika

memang kurang giat menjatuhkan sanksi kepada Jepang.

Dan orang Jepang menghabiskan setengah miliar dolar di

Washington setiap tahunnya, supaya keadaan tetap amanaman

saja."

"Tapi kalian akan memuat laporan tentang pajak?"

"Yeah. Dan kami menyelidiki-Nakamoto. Sumber-

sumberku melaporkan bahwa Nakamoto akan dikenai

tuduhan mengatur harga secara tidak sah. Itulah

permainan perusahaan-perusahaan Jepang. Aku sudah

membuat daftar mengenai siapa saja yang pernah

menghadapi dakwaan serupa. Nintendo di tahun 1991.

Mitsubishi di tahun yang sama. Panasonic di tahun 1989.

Minolta di tahun 1987. Dan itu baru permulaannya saja.”

"Kalau begitu, ada baiknya kalian menyelidikinya."

Ia terbatuk. "Kau bersedia memberi pernyataan?

Mengenai anak-anak Vietnam yang berbahasa Jepang itu?"

"Tidak."

"Kita harus saling membantu," ujar Ken.

"Kurasa tidak ada gunanya," kataku.

Aku makan siang bersama Connor di sebuah sushi bar di

Culver City. Ketika aku menepikan mobil, seseorang

memasang tanda TUTUP di jendela. Kemudian ia melihat

Connor, dan membalikkan tanda itu sehingga berbunyi

BUKA.

"Aku cukup dikenal di sini," Connor menjelaskan.

"Maksudnya, mereka menyukai Anda?"

"Itu sukar dipastikan."

"Mereka mengharapkan uang Anda?"

"Tidak," kata Connor. "Hiroshi mungkin lebih suka

beristirahat. Baginya tidak ada untungnya kalau anak

buahnya harus melayani dua gaijin. Tapi saya sering

berkunjung ke sini. Dia menghormati hubungan kami. Tak

ada sangkut pautnya dengan bisnis, atau dengan suka atau

tidak suka."

Kami turun dari mobil.

"Orang Amerika sering kali tidak memahaminya,"

katanya. "Sebab sistem Jepang berbeda secara mendasar."

"Yeah, well, rasanya saya sudah mulai mengerti," u jarku.

Aku mengulangi cerita Ken mengenai pengaturan harga.

Connor menghela napas. "Memang mudah untuk

mengatakan bahwa orang Jepang tidak jujur. Itu benar, tapi

mereka berpegang pada aturan main yang berbeda. Orang

Amerika saja yang tidak mau mengerti."

"Oke," kataku, "tapi pengaturan harga seperti itu

melanggar hukum."

"Hukum di Amerika," kata Connor. "Tapi di Jepang, itu

merupakan hal biasa. Ingat, Kohai, berbeda secara

mendasar. Kesepakatan berbau kongkalikong, begitulah

cara bisnis mereka. Skandal saham Nomura

membuktikannya. Orang Amerika mengutuk

persekongkolan, padahal itu hanya cara lain untuk

menjalankan bisnis."

Kami memasuki sushi bar. Semua orang sibuk

membungkuk dan bertegur sapa. Connor mengatakan

sesuatu dalam bahasa Jepang, dan kami duduk di meja

layan. Kami tidak memesan makanan.

Aku bertanya, "Kita tidak pesan apa-apa?"

"Tidak," ujar Connor. "Hiroshi akan tersinggung. Dia

akan memutuskan, apa yang dihidangkan untuk kita."

Jadi kami hanya duduk di meja layan. Hiroshi

membawakan piring.

Pesawat telepon berdering. Di ujung meja layan, seorang

pria berkata, "Connor-san, onna no hito ga matteru to

ittemashita yo."

"Dõmo," jawab Connor sambil mengangguk. Ia berpaling

padaku, dan berdiri. "Kelihatannya kita tidak sempat

mencicipi sajian Hiroshi. Sudah waktunya untuk acara

berikut. Anda membawa kaset video itu?"

“Ya."

"Bagus."

"Ke mana kita sekarang?"

"Menemui teman Anda," katanya. "Miss Asakuma.”

Bab 55

KAMI berusaha menghindari lubang-lubang di Santa

Monica freeway dalam perialanan ke pusat kota. Sore itu

langit tampak kelabu; sepertinya akan hujan. Punggungku

masih nyeri. Connor memandang ke juar jendela,

bersenandung pelan.

Dalam segal a hiruk-pikuk yang terjadi, aku lupa bahwa

Theresa sempat menelepon semalam. Ia memberitahu

bahwa ia telah menonton bagian akhir rekaman, dan bahwa

ia menemukan masalah baru.

"Anda sudah bicara dengannya?"

"Dengan Theresa? Hanya sepintas lalu. Saya

memberikan beberapa saran kepadanya."

“Semalam, dia bilang ada masalah."

"Oh? Dia tidak menyinggungnya waktu bicara dengan

saya.”

Aku mendapat kesan bahwa Connor menyembunyikan

sesuatu, tapi punggungku terasa nyeri, dan aku tidak

berminat berdebat dengannya.

Kadang-kadang aku rnerasa Connor sendiri sudah

menjadi orang Jepang. Ia menutup diri, bersikap misterius.

Aku berkata, "Anda belum bercerita kenapa Anda

meninggalkan Jepang."

"Oh, itu." la menghela napas. "Saya mendapat tawaran,

bekerja untuk sebuah perusahaan di sana. Sebagai

penasihat keamanan. Tapi ternyata gagal."

"Kenapa?"

"Well, pekerjaan itu sendiri cukup menarik."

"Lalu apa masalahnya?"

Ia menggelengkan kepala. "Sebagian besar orang yang

pernah tinggal di Jepang, pulang dari sana dengan perasaan

tak menentu. Dalam banyak hal, orang Jepang sangat

mengagumkan. Mereka bekerja keras, cerdas, memiliki rasa

humor. Mereka benar-benar tulus. Tapi mereka juga orang

yang paling memandang rendah suku bangsa lain. Itulah

sebabnya mereka selalu menuduh orang lain melakukan

diskriminasi rasial. Mereka begitu penuh prasangka buruk,

sehingga mereka berasumsi bahwa orang lain juga begitu.

Dan hidup di Jepang... setelah beberapa waktu, saya tidak

tahan lagi. Saya bosan melihat wanita-wanita memilih

menyeberang jalan daripada berpapasan dengan saya pada

malam hari. Saya bosan menghadapi kenyataan bahwa

kedua kursi yang terakhir ditempati di kereta bawah tanah

adalah kursi di kiri kanan saya. Saya bosan mendengar

pramugari-pramugari menanyakan pada penumpang

Jepang apakah mereka keberatan duduk berdampingan dengan

gaijin, dengan berasumsi bahwa saya tidak

memahaminya, karena mereka bicara dalam bahasa Jepang.

Saya bosan dikucilkan, dipandang rendah,

dijadikan bahan lelucon. Saya... saya tidak tahan lagi.

Saya menyerah."

“Sepertinya Anda sebenarnya tidak terlalu menyukai

mereka."

“Salah,” ujar Connor. “Saya sangat rnenyukai mereka.

Tapi saya bukan orang Jepang, dan mereka tak pernah

memberi kesempatan untuk melupakannya." Ia kembali

mendesah. "Saya punya banyak teman Jepang yang bekerja

di Amerika, mereka juga merasa dikucilkan. Dan

orang-orang juga tidak mau duduk bersebelahan dengan

mereka. Tapi teman-teman saya selalu minta agar mereka

pertama-tama dipandang sebagai manusia, baru kemudian

sebagai orang Jepang. Sayangnya, berdasarkan pengalaman

saya, hal itu tidak selalu benar.”

“Maksud Anda, yang lebih penting adalah bahwa mereka

orang Jepang.”

Connor mengangkat bahu. "Ikatan kesukuan tetap yang

paling utama.”

Sisa perjalanan kami tempuh sambil membisu.

Bab 56

KAMI berada di sebuah ruang kecil, di lantai tiga sebuah

asrama mahasiswa asing. Theresa Asakuma menjelaskan

bahwa ia bukan penghuni asrama itu. Ruangan itu adalah

tempat tinggal temannya yang sedang belajar di Itali

selama satu semester. Ia telah memasang VCR kecil dan

monitor kecil di sebuah meja.

"Saya pikir lebih baik kalau saya keluar dari lab,"

katanya sambil menekan tombol fast-forward. "Tapi saya

pikir Anda perlu melihat ini. Ini bagian akhir dari rekaman

yang Anda bawa. Tepat setelah Senator Morton

meninggalkan ruangan."

Ia memutar rekaman itu dengan kecepatan normal, dan

kami melihat gambar keseluruhan lantai 46 di gedung

Nakamoto. Ruangan itu kosong. Tubuh pucat Cheryl Austin

tergeletak di atas meja rapat yang gelap.

Selama beberapa waktu tidak terjadi apa-apa.

Aku berkata, "Apa yang perlu kami lihat?"

"Tunggu saja."

Pita rekaman terus berputar. Tetap tidak terjadi apa-apa.

Dan kemudian aku melihat, jelas-jelas, kaki wanita muda

itu bergerak.

"Hei, apa itu?"

"Getaran otot?"

"Saya tidak tahu."

Kini lengan Cheryl bergerak. Tak ada keraguan sedikit

pun. Jemarinya mengepal, lalu membuka lagi.

"Dia masih hidup!"

Theresa mengangguk. "Kelihatannya. begitu. Sekarang

perhatikan jam di dinding."

Jam dinding itu menunjuk pukul 20.36. Aku

memperhatikannya. Tidak terjadi apa-apa. Dua menit

berlalu.

Connor menghela napas.

"Jam itu tidak bekerja."

"Memang," ujar Theresa. "Saya pertama kali

menyadarinya waktu mengamati pola bintik-bintik pada

gambar yang saya perbesar. Bintik-bintiknya bergerak

maju-mundur secara beraturan."

"Artinya?"

"Kami menyebutnya rock and roll. Ini cara yang biasa

digunakan agar gambar yang dibekukan tidak terlalu

mencolok. Pembekuan normal mudah diketahui, karena

komponen-komponen gambar yang lebih kecil tiba-tiba

tidak bergerak. Dalam gambar biasa, selalu ada

gerakan-gerakan kecil, biarpun tidak beraturan. Untuk

menyamarkan kesan diam, adegan selama tiga detik

direkam berulang-ulang. Dengan demikian timbul sedikit

gerakan, dan pembekuan gambar tidak terlalu mencolok."

"Maksud Anda, gambar ini dibekukan pukul 20.36?"

“Ya. Dan sepertinya wanita itu masih hidup waktuitu.

Saya tidak bisa memastikannya. ada kemungkinan."

Connor mengangguk. "Jadi, itu sebabnya rekaman yang

asli begitu penting.”

"Rekaman asli mana?" tanya Theresa.

Aku mengeluarkan kaset video yang kutemukan di

apartemenku padanya.

"Tolong diputar," ujar Connor.

Kami melihat lantai 46 dengan warna cemerlang.

Gambar diambil dari kamera di bagian samping ruangan,

dan ruang rapat terlihat jelas sekali. Kaset itu berisi

rekaman asli. Kami menyaksikan adegan pembunuhan, lalu

melihat Morton meninggalkan Cheryl di atas meja.

Kami memperhatikan wanita muda itu.

"Anda bisa melihat jam dinding?"

"Dari sudut ini tidak kelihatan."

"Menurut Anda, berapa waktu telah berlalu?"

Theresa menggelengkan kepala. "Ini rekaman yang

dipercepat. Saya tidak bisa menentukannya. Beberapa

menit, mungkin."

Kemudian, wanita muda di alas meja tampak bergerak.

Tangannya mengepal, lalu kepalanya bergeser sedikit. Ia

masih hidup.

Dan di dinding kaca ruang rapat, kami melihat sosok

seorang pria. Ia melangkah maju, sepertinya dari sebelah

kanan. Ia memasuki ruang rapat, menoleh sejenak untuk

memastikan bahwa ia seorang diri. Orang itu Ishiguro.

Dengan langkah pasti ia menghampiri tepi meja,

menempelkan tangannya pada leher Cheryl, dan

mencekiknya.

"Ya Tuhan."

Lama sekali ia mencekik wanita muda itu. Menjelang

ajalnya, Cheryl sempat memberontak. Ishiguro tidak

mengendurkan genggamannya, biarpun Cheryl sudah tidak

bergerak.

"Dia tidak mau ambil risiko."

"Ya, dia tidak mau ambil risiko," ujar Connor.

Akhirnya Ishiguro melangkah mundur, menarik lengan

kemeja, dan merapikan jas.

"Oke," kata Connor. "Ini sudah cukup bagi saya.”

Kami kembali berkendaraan. Cahaya matahari harus

berjuang untuk menembus kabut asap yang menyelubungi

kota. Mobil-mobil berlalu lalang. Rumah-rumah di kedua

sisi jalan tampak kumuh, tak terawat.

Kami turun dari mobil.

"Sekarang bagaimana?" tanyaku.

Connor menyodorkan gagang telepon. "Hubungi

markas," katanya, "dan beritahu mereka bahwa kita punya

kaset yang memperlihatkan Ishiguro sebagai pembunuh

Cheryl Austin. Katakan pada mereka bahwa kita pergi ke

Nakamoto sekarang, untuk menangkap Ishiguro."

"Saya Pikir Anda tidak suka memakai telepon mobil.”

"Lakukan saia," kata Connor. "Kita toh sudah hampir

selesai."

Aku menelepon ke markas. Aku melaporkan rencana

kamu dan dan ke mana kami hendak pergi. Mereka

menanyakan apakah kami memerlukan bantuan. Connor

menggelengkan kepala, jadi aku menjawab tidak.

Aku meletakkan gagang telepon.

"Bagaimana sekarang?”

"Mari berkunjung ke Nakamoto."

Bab 57

SETELAH sedemikian sering melihat lantai 46 dalam

rekaman video, rasanya janggal kembali ke sana lagi. Pada

hari Sabtu pun suasana di kantor itu tetap sibuk; para

sekretaris dan eksekutif berjalan mondar-mandir. Dan

ruangan itu kelihatan berbeda pada siang hari; cahaya

matahari masuk lewat jendela-jendela besar di semua sisi,

dan gedung-gedung pencakar langit di sekefiling tampak

dekat, biarpun diselubungi kabut L.A.

Aku menengadah dan melihat bahwa kamera-kamera

keamanan telah dicopot dari dinding-dinding. Di sebelah

kanan, ruang rapat tempat Cheryl Austin dibunuh sedang

ditata ulang. Perabot yang berwarna hitam sudah

dipindahkan. Beberapa tukang sedang memasang meja

kayu berwarna terang dan kursi-kursi berwarna beige.

Ruangan itu kelihatan lain sama sekali.

Di seberang atrium, sebuah pertemuan sedang

berlangsung di ruang rapat yang besar. Sinar matahari yang

masuk melalui dinding kaca menerpa sekitar ernpat puluh

orang yang duduk di kedua sisi meja panjang yang ditutupi

taplak berwarna hijau. Orang-orang Jepang di satu sisi,

orang-orang Amerika di sisi berlawanan. Semuanya

menghadapi setumpuk dokumen. Di antara orang-orang

Amerika, aku segera mengenali Bob Richmond, si

pengacara.

Connor, yang berdiri di samping, menghela napas.

"Ada apa?”

“Inilah Pertemuan Sabtu, Kohai.”

Maksud Anda, ini pertemuan Sabtu yang pernah

disinggung oleh Eddie?"

Connor mengangguk. "Pertemuan untuk menuntaskan

penjualan MicroCon."

Di dekat lift ada seorang resepsionis. Wanita itu

mengamati kami sejenak, lalu bertanya dengan sopan, "Bisa

saya bantul Gentlemen?”

“Terima kasih," kata Connor. "Tapi kami sedang

menunggu seseorang."

Aku mengerutkan kening. Dari tempatku berdiri aku

dapat melihat Ishiguro di ruang rapat, duduk di

tengah-tengah, di sisi Jepang. Ia sedang merokok. Pria di

sebelah kanannya mencondongkan badan dan

membisikkan sesuatu. Ishiguro mengangguk dan

tersenyum.

Aku melirik Connor.

"Tunggu dulu," katanya.

Beberapa menit berlalu, kemudian seorang pria Jepang

yang masih muda bergegas melintasi atrium dan masuk ke

ruang rapat. Setelah berada di dalam, ia berjalan lebih

pelan, mengelilingi meja tanpa menarik perhatian, sampai

ke belakang kursi seorang pria berambut kelabu, dengan

penampilan penuh wibawa, yang duduk di ujung meja. Pria

muda itu membungkuk dan membisikkan sesuatu, kepada

pria yang lebih tua.

"Iwabuchi," kata Connor.

"Siapa itu?"

"Pimpinan Nakamoto, Amerika. Kantornya di New York."

lwabuchi mengangguk, lalu berdiri. Pria muda tadi

menarik kursinya. Iwabuchi menyusuri deretan perunding

dari pihak Jepang. Ketika melewati salah satu dari mereka,

ia menyenggol bahunya dengan pelan. Iwabuchi berjalan ke

ujung meja, kemudian membuka pintu kaca dan melangkah

keluar, ke sebuah balkon di belakang ruang rapat.

Sesaat setelah itu, pria, yang disenggolnya menyusul.

"Moriyama," kata Connor. "Kepala kantor cabang Los

Angeles."

Moriyama juga keluar ke balkon. Kedua pria itu berdiri

sambil merokok. Pria muda tadi bergabung dengan mereka.

Ia bicara dengan cepat, sambil mengangguk-angguk.

Iwabuchi dan Moriyama mendengarkannya dengan

saksama, lalu berbalik. Si pria muda tetap berdiri di tempat.

Tak lama. kemudian, Moriyama. berpaling pada pria

muda itu dan mengatakan sesuatu. Pria muda itu langsung

membungkuk dan kembali ke ruang rapat. Ia menuju kursi

seorang pria berambut gelap dan berkumis, lalu berbisik ke

telinganya.

"Shirai,,, ujar Connor. "Kepala bagian keuangan.”

Shirai berdiri, tetapi tidak pergi ke balkon. Ia membuka

pintu sebelah dalam, melintasi atrium, dan masuk ke

sebuah ruang kerja di seberang.

Di ruang rapat, si pria muda kini menghampiri orang

keempat, yang kukenal sebagai Yoshida, pimpinan Akai

Ceramics. Yoshida juga menyusup keluar, ke atrium.

"Ada apa ini?"

“Mereka mengambil jarak,” Connor menjelaskan.

"Mereka tidak ingin hadir pada saat Ishiguro dibekuk."

Aku memandang ke balkon, dan melihat kedua pria

Jepang di luar berjalan menyusuri balkon, menuju sebuah

pintu.

Aku berkata, "Tunggu apa lagi?"

“Bersabarlah, Kohai. "

Pria muda itu pergi. Pertemuan di ruang rapat terus

berjalan. Namun di atrium, Yoshida memanggil pria muda

itu dan membisikkan sesuatu.

Pria muda itu kembali ke ruang rapat.

“Hmm,” gumam Connor.

Kali ini si pria muda menghampiri sisi Amerika, dan

membisikkan sesuatu kepada. Richmond. Aku tidak bisa

melihat wajah Richmond, karena ia duduk membelakangi

kami, tetapi tubuhnya tampak mengejang. Ia berbalik dan

membisikkan sesuatu kepada pria Jepang itu, yang

mengangguk dan segera pergi.

Richmond tetap duduk di meja. Ia menggelengkan kepala

dengan pelan, lalu membungkuk dan mengamati

catatannya.

Dan kemudian ia mendorong secarik kertas ke seberang

meja. Ishiguro menerimanya.

"Ini aba-aba kita," ujar Connor. Ia berpaling kepada si

resepsionis, menunjukkan lencananya, dan setelah itu kami

segera melintasi atrium, menuju ruang rapat.

Seorang pria Amerika dengan setelan jas bermotif

garis-garis berdiri di depan meja. Ia sedang berkata,

"Sekarang tolong perhatikan pasal tambahan C, kesimpulan

mengenai aset-aset. Dan…"

Connor yang pertama memasuki ruang rapat. Aku

berada tepat di belakangnya. mperlihatkan

Ishiguro menatap kami. Ia tidak merasa terkejut.

“Selamat sore, Gentlemen." Wajahnya bagaikan topeng.

Richmond segera berkata, "Gentlemen, kalau Anda bisa

menunggu sebentar, kami tengah membahas sesuatu yang

cukup rumit…”

Connor memotong, "Mr. Ishiguro,... Anda ditahan

sehubungan dengan pembunuhan Cheryl Lynn Austin," dan

kemudian ia membacakan hak-haknya. Ishiguro

memelototinya. Orang-orang lain di dalam ruangan

membisu semua. Tak seorang pun bergerak. Seperti lukisan

still life.

Ishiguro tetap duduk. “Ini tidak masuk akal.”

"Mr. Ishiguro," ujar Connor, “saya harap Anda berdiri.”

Richmond berkata setengah berbisik, "Semoga kalian

tahu apa yang kalian kerjakan."

Ishiguro berkata, "Saya tahu hak-hak saya, Gentlemen."

Connor berkata, "Mr. Ishiguro, saya harap Anda berdiri."

Ishiguro tidak beranjak dari tempatnya. Asap rokoknya

bergulung-gulung di udara.

Selama beberapa saat tak ada yang berbicara.

Kemudian Connor berkata padaku, "Putar rekaman itu

untuk mereka."

Salah satu dinding ruang rapat berisi peralatan video.

Aku menemukan alat playback yang serupa dengan alat

yang kupakai, dan memasukkan kasetnya. Tapi monitor

utama yang besar tetap gelap. Tak ada gambar yang

muncul. Aku mencoba menekan beberapa tombol, tapi

tanpa hasil.

Dari salah satu sudut belakang, seorang sekretaris

Jepang yang tadinya sibuk membuat catatan bergegas

untuk membantuku. Setelah membungkuk, ia menekan

tombol-tombol yang tepat, membungkuk sekali lagi, dan

kembali ke tempat semula.

"Terima kasihl" kataku.

Sebuah gambar muncul di layar monitor. Meski dalam

cahaya siang yang terang, gambarnya kelihatan jelas -

adegan terakhir yang kami tonton di kamar Theresa;

Ishiguro menghampiri Cheryl dan mencekik wanita muda

yang berusaha melawan itu.

Richmond berkata, "Apa ini?"

“Ini penipuan,” ujar Ishiguro. "Penipuan. “

Connor berkata, "Rekaman ini dibuat oleh kamera

keamanan Nakamoto di lantai 46 pada hari Kamis malam."

Ishiguro berkata, "Ini tidak sah. Ini penipuan.”

Namun tak ada yang mendengarkannya. Semua mata

menatap monitor. Richmond terbengong-bengong.

"Astaga!" katanya.

Dalam rekaman itu, Cheryl cukup lama berjuang untuk

menyelamatkan nyawa, namun akhirnya ia kalah.

Ishiguro memelototi Connor. "Ini hanya sensasi

murahan," katanya. "Upaya untuk memfitnah saya. Sama

sekali tidak ada artinya."

"Astaga!" Richmond kembali berkata. Pandangannya

masih tertuju ke monitor.

Ishiguro berkata, "Rekaman ini tidak mempunyai

landasan hukum. Ini tidak sah sebagai barang bukti.

Rekaman ini takkan diterima sebagai barang bukti. Ini

hanya mengganggu…”

Ia terdiam. Untuk pertama kali ia memandang ke ujung

meja. Dan ia melihat bahwa kursi Iwabuchi telah kosong.

Ia menoleh ke arah berlawanan. Matanya mencari-cari.

Kursi Moriyama telah kosong.

Kursi Shirai.

Kursi Yoshida

Ishiguro mengedip-ngedipkan mata. Ia menatap Connor

dengan terkejut. Kemudian ia mengangguk, berdehem, dan

berdiri. Semua orang lain masih menyaksikan adegan di

layar monitor.

Ia menghampiri Connor. "Saya tidak mau melihat ini,

Kapten. Kalau Anda sudah selesai dengan permainan ini,

Anda bisa menemukan saya di luar." Ia menyalakan

sebatang rokok. "Setelah itu kita bicara. Kicchiirito na." Ia

membuka pintu dan melangkah ke balkon. Pintu

dibiarkannya terbuka.

Aku hendak mengikutinya, tapi Connor mencegahku

dengan memberi isyarat mata. Ia menggelengkan kepala

sedikit, dan aku tetap di tempat.

Aku melihat Ishiguro berdiri di luar, di pagar balkon. Ia

mengisap rokoknya dan menghadap matahari. Kemudian ia

menoleh ke arah kami dan menggelengkan kepala. Ia

mencondongkan badan ke depan dan menaikkan sebelah

kaki ke pagar balkon.

Di dalam ruang rapat, adegan di monitor utama terus

berlanjut. Salah satu pengacara Amerika, seorang wanita,

berdiri, menutup tas kerjanya, dan meninggalkan ruangan.

Yang lainnya tidak beranjak dari tempat masing-masing.

Dan kemudian rekaman itu berakhir.

Aku mengeluarkan kasetnya dan alat playback. Suasana

menjadi hening. Angin lembut menggoyang-goyangkan

kertas-kertas di meja.

Aku menatap ke balkon.

Balkonnya telah kosong.

Ketika kami melangkah keluar samar-samar terdengar

bunyi sirene, jauh di bawah kami.

Di jalanan, debu beterbangan dan suara alat-alat

pelubang beton memekakkan telinga. Nakamoto sedang

membangun gedung tambahan di sebelah, dan pekerjaan

konstruksi sedang giat-giatnya. Mobil-mobil pengaduk

beton tampak berderet di tepi jalan. Aku menerobos

kerumunan orang Jepang berjas biru, dan menatap ke

lubang di tanah.

Ishiguro jatuh ke beton yang baru dicor. Tubuhnya

tergeletak menyamping, hanya kepala dan sebelah

tangannya yang menyembul dari beton yang masih basah.

Darah mengalir di permukaan yang berwarna kelabu itu.

Beberapa pekerja dengan topi pengaman berwarna biru

mencoba mengangkatnya dengan menggunakan galah

bambu dan tali. Namun mereka tidak berhasil. Akhirnya

seorang pekerja dengan sepatu karet setinggi paha masuk

ke dalam lubang dan menarik mayat Ishiguro. Tapi ternyata

tugas itu lebih sukar dari yang dibayangkannya. Ia terpaksa

minta bantuan.

Rekan-rekan kami sudah berada di sana, Fred Perry dan

Bob Wolfe. Bob terpaksa berteriak untuk mengalahkan

kebisingan di tempat pembangunan. "Kau tahu apa yang

terjadi di sini, Pete?"

"Yeah."

"Siapa nama orang itu?"

"Masao Ishiguro."

Wolfe mengedipkan mata. "Bisa dieja?"

Aku mulai mengeja, tapi akhirnya aku merogoh kantong

dan menyerahkan kartu nama Ishiguro.

"Itu orangnya?"

"Yeah."

"Dari mana kaudapat kartu namanya?"

"Ceritanya paniang," kataku. "Tapi dituduh melakukan

pembunuhan."

Wolfe mengangguk. "Biar kuangkat mayatnya dulu, dan

habis itu kita bicara.”

"Oke."

Akhirnya mereka terpaksa menggunakan derek untuk

mengangkat Ishiguro. Mayatnya, yang berlumuran beton,

terayun di atas kepalaku.

Beton yang masih basah itu menetes-netes, mengenaiku

dan papan pemberitahuan yang berada di depan kakiku.

Papan itu menampilkan logo Nakamoto, serta tulisan

dengan huruf-huruf besar yang berbunyi, MEMBANGUN

UNTUK HARI ESOK. Dan di bawahnya, MOHON MAAF ATAS

GANGGUAN INI.

Bab 58

BARU satu jam kemudian semua urusan di tempat

kejadian berhasil diselesaikan. Pak Komandan minta agar

kami menyerahkan laporan pada hari itu juga, sehingga

kami terpaksa pergi ke Parker Center untuk menyusun

laporan.

Pukul empat kami pergi ke kedai kopi di seberang jalan,

yang bersebelahan dengan Antonio's bail bond shop.

Sekadar agar bisa keluar dari kantor. Aku berkata, "Kenapa

Ishiguro membunuh Cheryl Austin?"

Connor menghela napas. "Alasannya masih kabur.

Penjelasan terbaik yang dapat saya berikan adalah sebagai

berikut. Eddie ternyata memang bekerja untuk kaisha

ayahnya. Salah satu tugasnya, adalah menyediakan wanita

untuk orang-orang penting yang berkunjung. Sudah

bertahun-tahun dia melakukannya. Tugas itu mudah

baginya – dia tukang pesta; dia kenal banyak wanita; para

anggota Kongres mencari hiburan, dan Eddie mendapat

kesempatan berkenalan dengan para anggota Kongres. Tapi

Cheryl Austin merupakan peluang istimewa, sebab Senator

Morton, kepala Komisi Keuangan, tertarik padanya. Morton

kemudian mengakhiri affair mereka, tapi Eddie terus

mengirim Cheryl dengan pesawat jet pribadi untuk

menemui Morton secara tak terduga. Eddie pun suka pada

Cheryl; sore itu dia sempat berhubungan seks dengannya.

Eddie-lah Yang mengatur agar Cheryl menghadiri resepsi

Nakamoto, karena dia tahu Morton akan datang. Eddie

mendesak Morton untuk menghalangi Penjualan MicroCon,

jadi dia sibuk memikirkan Pertemuan Sabtu.

"Tapi saya rasa Eddie hanya bermaksud mempertunjukan

Cheryl dengan Morton. Saya sangsi dia

tahu-menahu mengenai lantai 46. Dia tentu tak menyangka

Cheryl akan menyelinap ke sana bersama Morton. Gagasan

itu mestinya dicetuskan di tengah pesta oleh seseorang

yang bekerja untuk Nakamoto. Sebab hanya pegawai

Nakamoto yang tahu bahwa di lantai itu ada suite kamar

tidur yang kadang-kadang digunakan oleh para eksekutif.”

Aku berkata, "Dari mana Anda tahu?”

Connor tersenyum. "Hanada-san bercerita bahwa dia

pernah menggunakan suite itu. Rupanya ruangan itu cukup

mewah.”

"Jadi Anda memang punya koneksi?"

"Saya kenal beberapa orang. Dan saya bisa

membayangkan bahwa Nakamoto pun hanya bermaksud

membantu. Kamera-kamera di lantai 46 mungkin dipasang

dengan tujuan pemerasan, tapi sumber informasi saya

mengatakan bahwa tidak ada kamera di suite kamar tidur.

Mengingat ada kamera di ruang rapat, saya cenderung

percaya bahwa Phillips benar - kamera-kamera itu

dipasang untuk memacu semangat keeja para pegawai.

Mereka takkan menyangka bahwa ruang rapat mereka

digunakan sebagai tempat melampiaskan nafsu.

“Pokoknya, ketika Eddie melihat Cheryl meninggalkan

tempat pesta bersama Morton, dia pasti panik. Jadi dia

mengikuti mereka. Dia sempat menyaksikan pembunuhan

itu, yang saya kira terjadi secara tidak sengaja. Dan

kemudian Eddie menolong Morton, kawan baiknya, dengan

memanggilnya dan membantunya menyusup keluar. Eddie

kembali ke pesta bersama Morton.”

"Bagaimana dengan kaset-kaset itu?”

“Ah. Anda ingat kita sempat bicara mengenai

penyuapan? Salah satu orang yang disuap Eddie adalah

seorang petugas keamanan bernama Tanaka. Kalau tidak

salah, Eddie menyediakan obat bius untuk orang itu. Sudah

bertahun-tahun Eddie mengenalnya. Dan ketika Ishiguro

menyuruh Tanaka mengambil kaset-kaset itu, Tanaka

segera melaporkannya kepada Eddie."

"Dan Eddie turun ke lantai dasar untuk mengambil

kaset-kaset itu."

"Ya. Bersama Tanaka."

"Tapi Phillips mengatakan bahwa Eddie datang seorang

diri."

“Phillips bohong, karena dia kenal Tanaka. Karena itu,

dia juga tidak mencegah Eddie - Tanaka mengaku telah

mendapat perintah dari atas. Tapi waktu Phillips kita

mintai keterangan, dia tengaja tidak menyebut nama

Tanaka."

"Dan kemudian?"

"Ishiguro mengirim beberapa orang untuk menggeledah

apartemen Cheryl. Tanaka membawa kaset-kaset itu ke

suatu tempat untuk dikopi. Dan Eddie pergi ke sebuah

pesta."

"Tapi Eddie tetap menyimpan satu kaset."

“O, Ya.“

Aku berpikir sejenak. "Tapi waktu kita bicara dengan

Eddie di tempat pesta, ceritanya lain sama sekall "

Connor mengangguk. "Dia bohong."

"Dia membohongi Anda, temannya?"

Connor mengangkat bahu. "Dia pikir kita takkan

mengetahuinya."

"Bagaimana dengan Ishiguro? Kenapa dia membunuh

Dieryl?"

"Supaya bisa memeras Morton. Dan nyatanya berhasil -

Morton berubah pikiran mengenai penjualan MicroCon.

Untuk sementara waktu, Morton akan membiarkan rencana

itu terlaksana."

"Dan untuk itu Ishiguro tega menghilangkan nyawa

orang lain? Untuk membeli sebuah perusahaan?"

"Saya pikir pembunuhan itu tidak terencana. Ishiguro

sedang bingung. Dia menghadapi tekanan besar. Dia

merasa harus membuktikan diri kepada para atasannya.

Taruhannya begitu besar, sehingga dia bertindak lain dari

orang Jepang pada umumnya dalam situasi yang sama. Dan

di bawah tekanan yang luar biasa itulah dia membunuh

Cheryl Austin. Seperti yang dikatakannya sendiri, Cheryl

wanita tak berarti."

"Astaga."

"Tapi saya rasa masih ada hal lain. Sikap Morton

terhadap orang Jepang sangat tidak jelas. Banyak hal yang

menandakan kebencian terselubung - kelakarnya mengenai

menjatuhkan bom, dan sebagainya. Dan berhubungan seks

di atas meja rapat direksi. Ini... ini sangat menghina.

Ishiguro pasti marah sekali."

"Dan siapa yang melaporkan pembunuhan itu?”

"Eddie."

"Kenapa'?"

"Untuk mempermalukan Nakamoto. Setelah berhasil

membawa Morton ke tempat pesta dengan selamat, Eddie

lalu menelepon polisi. Mungkin dari sebuah pesawat

telepon di ruang resepsi. Waktu menelepon, dia belum tahu

apa-apa mengenai kamera-kamera keamanan. Kemudian

Tanaka menceritakannya, dan Eddie langsung khawatir

kalau Ishiguro akan menjebaknya. Jadi dia menelepon

sekali lagi."

"Dan kali ini dia minta bicara dengan temannya, John

Connor."

"Ya."

Aku berkata, "Jadi Eddie yang mengaku bernama Koichi

Nishi?"

Connor mengangguk. "Eddie memang suka bercanda.

Koichi Nishi adalah nama seorang tokoh dalam sebuah film

terkenal dari Jepang, mengenai korupsi di dunia bisnis.”

Connor menghabiskan kopinya, dan mendorong badan

menjauhi meja layan.

"Dan Ishiguro? Kenapa dia dikucilkan oleh orang-orang

Jepang yang lain?"

"Tindakan Ishiguro dinilai terlalu gegabah. Dia dianggap

melebihi wewenangnya pada Kamis malam. Mereka tidak

menyukai hal itu. Dalam waktu dekat ini, dia pasti akan

dikirim kembali ke Jepang. Dia akan menghabiskan sisa

hidupnya di Jepang di sebuah madogiwa-zoku. Kursi di

pinggir jendela. Seseorang yang tidak dilibatkan dalam

pengambilan keputusan penting, dan sepanjang hari hanya

memandang ke luar jendela. Secara tidak langsung, itu

hukuman seumur hidup."

Aku merenungkannya. “Jadi, waktu Anda menggunakan

telepon mobil untuk menghubungi stasiun TV dan

menjelaskan rencana Anda... siapa yang ikut mendengarkan

percakapan Anda?"

“Sulit untuk memastikarinya." Connor mengangkat bahu.

"Tapi saya suka pada Eddie. Saya berutang budi padanya.

Saya tidak rela melihat Ishiguro pulang ke Jepang."

Ketika kami kembali ke markas, ternyata ada seorang

wanita tua yang sedang menungguku. Ia berpakaian serba

hitam dan memperkenalkan diri sebagai nenek Cheryl

Austin. Orangtua Cheryl tewas dalam kecelakaan mobil

ketika ia berusia empat tahun, dan setelah itu ia dibesarkan

oleh neneknya. Wanita tua itu hendak mengucapkan terima

kasih atas bantuanku dalam menyelidiki kematian cucunya.

Ia bercerita mengenai masa kecil Cheryl di Texas.

"Cheryl memang cantik," katanya, "dan dari duIu dia

pintar menarik perhatian laki-laki. Dia selalu dikerumuni

laki-laki." Ia terdiam seienak. "Tapi dari dulu saya sudah

tahu bahwa ada yang tidak beres dengannya. Dia selalu

berusaha agar dikelilingi laki-laki. Dan dia paling senang

kalau mereka bertengkar untuk memperebutkannya. Saya

masih ingat waktu dia berumur tujuh atau delapan tahun,

ada dua anak laki-laki yang berkelahi sampai

berguling-guling di tanah, dan Cheryl menonton sambil

bertepuk tangan. Ketika memasuki usia remaja, dia

semakin menjadi-jadi. Dia tahu persis apa yang harus

dilakukannya. Saya tidak suka melihatnya. Ya, memang ada

yang tidak beres dengan anak itu. Dia bisa bersikap jahat

sekali. Dan lagu itu, dia memutarnya terus-menerus."

"Lagu Jerry Lee Lewis?"

"Saya juga tahu sebabnya. Itu lagu kesukaan ayahnya.

Waktu Cheryl masih kecil, d ia suka ikut ayahnya naik mobil

ke kota, dan mereka pasang radio keras-keras. Cheryl pakai

bajunya yang pating bagus. Dia cantik sekali waktu masih

kecil. Mirip sekali dengan ibunya."

Terkenang akan masa lalu, wanita tua itu mulai

menangis. Aku mengambilkan tisu untuknya. Berusaha

menghibur.

Dan tak lama kemudian ia bertanya apa yang terjadi.

Bagaimana Cheryl meninggal. Aku tidak tahu apa yang

harus kukatakan padanya.

Ketika aku keluar dari pintu Parker Center, berjalan

melewati air mancur, aku dicegat oleh pria Jepang yang

mengenakan setelan jas. Umurnya sekitar empat puluh

tahun, berkumis, dengan rambut berwarna gelap. Ia

menyapaku secara formal dan menyodorkan kartu

namanya. Baru sesaat kemudian aku mengenalinya sebagai

Mr. Shirai, kepala bagian keuangan Nakamoto.

“Saya ingin bertemu langsung dengan Anda Sumisu-san,

untuk memberitahu Anda bahwa perusahaan saya sangat

menyesali tindakan Mr. Ishiguro. Perbuatannya tidak

pantas, dan melebihi wewenangnya. Nakamoto merupakan

perusahaan terhormat, dan kami tidak melanggar hukum.

Saya ingin menegaskan bahwa sikap Mr. Ishiguro tidak

mencerminkan kebijaksanaan perusahaan kami, atau

reputasi kami di dunia bisnis. Di negeri ini, pekerjaan Mr.

Ishiguro mengharuskannya banyak berhubungan dengan

bankir-bankir investasi, serta dengan orang-orang yang

biasa mengarnbil alih perusahaan lain. Terus terang, saya

kira Mr. Ishiguro sudah terlalu lama di Amerika. Mr.

Ishiguro banyak terkena pengaruh buruk di sini."-W'%

Nah, itu dia, permintaan maaf sekaligus cercaan.

Aku juga tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya.

Akhirnya aku berkata, "Mr. Shirai, saya sempat

mendapat tawaran kredit lunak untuk membeli rumah

kecil."

“O, ya?"

"Ya. Barangkali Anda belum mendapat kabar mengenai

itu."

"Sebenarnya, saya pernah mendengar hal itu

dibicarakan."

Aku berkata, "Saya ingin menanyakan tawaran itu."

Shirai terdiam cukup lama.

Hanya gemercik air mancur di sebelah kananku yang

terdengar.

Shirai menatapku, berusaha menentukan langkah

berikutnya.

Akhirnya ia berkata, "Sumisu-san, tawaran itu tidak

pantas, dan tentu saja ditarik kembali."

"Terima kasih, Mr. Shirai," kataku.

Connor dan aku kembali ke apartemenku. Kami

sama-sama membisu. Kami meluncur di Santa Monica

freeway. Papan-papan penunjuk jalan telah dicoret-coret

oleh geng-geng anak muda. Aku menyadari bahwa

permukaan jalan tidak rata, karena mobilku

terguncang-guncang. Di sebelah kanan, gedung-gedung

pencakar langit di sekitar Westwood tampak diselubungi

kabut tipis. Pemandangannya gersang.

Akhirnya aku berkata, "Jadi, apa masalah sebenarnya?

Sekadar persaingan antara Nakamoto dan perusahaan

Jepang lainnya? Mengenai MicroCon? Atau apa?"

Connor mengangkat bahu. "Saya kira mereka punya

beberapa tujuan. Cara berpikir orang Jepang memang

begitu. Dan bagi mereka, Amerika kini hanya merupakan

ajang persaingan mereka. Ada benarnya. Di mata mereka,

kita tidak terIalu penting."

Kami tiba di jalan tempat aku tinggal. Dulu aku

menganggap jalan yang diapit pepohonan ini sebagai

tempat yang nyaman, dengan taman bermain untuk anakku

di ujung blok. Tapi sekarang perasaanku berbeda.

Udaranya buruk, dan jalannya tampak kotor, tidak

menyenangkan.

Aku memarkir mobil. Connor turun, lalu bersalaman

denganku. "Jangan patah arang."

"Saya sudah tidak bersemangat."

"Jangan. Masalah ini memang serius. Tapi semuanya bisa

berubah. Segala sesuatu pernah berubah sebelumnya, dan

mungkin saja berubah lagi di masa mendatang."

"Mungkin saja."

“Apa yang akan Anda lakukan setelah ini?" tanya Connor.

"Entahlah," jawabku. "Rasanya saya ingin pergi ke

tempat lain. Tapi tidak ada tempat lain yang bisa saya

datangi."

Ia mengangguk. "Anda akan minta berhenti?"

"Barangkali. Yang pasti, saya akan keluar dari Special

Services. Tempat itu terlalu... terlalu tidak jelas bagi saya."

Ia mengangguk lagi. "Jaga diri Anda, Kohai. Terima kasih

atas bantuan Anda."

"Sama-sama, Sempai."

Aku letih. Aku menaiki tangga ke apartemenku dan

melangkah masuk. Suasananya sunyi, anakku tidak ada.

Aku mengambil sekaleng Coke dari lemari es dan pindah ke

ruang duduk, tapi punggungku kembali nyeri ketika aku

duduk di salah satu kursi. Aku berdiri lagi dan menyalakan

TV. Tapi aku tidak berminat menonton. Aku teringat ucapan

Connor bahwa semua orang di Amerika memusatkan

perhatian pada hal-hal yang tidak penting. Situasi dengan

Jepang pun serupa. Kalau kita menjual negeri kita kepada

Jepang, mereka akan memilikinya, suka atau tidak. Dan

orang yang memiliki sesuatu akan memperlakukannya

sesuka hati mereka. Begitulah kenyataannya.

Aku masuk ke kamar tidur dan berganti pakaian. Di meja

di pinggir tempat tidur, aku melihat foto-foto ulang tahun

anakku yang sedang kuatur-atur ketika urusan ini dimulai.

Michelle pada foto-foto itu tidak mirip Michelle sekarang.

Foto-foto itu tidak lagi sesuai kenyataan. Aku mendengar

suara tawa dari TV di ruang sebelah. Dulu aku beranggapan

bahwa keadaannya baik-baik saja. Tapi ternyata tidak.

Aku melangkah ke kamar anakku. Aku menatap tempat

tidurnya, dan selimut dengan gambar-gambar gajah. Aku

membayangkan Michelle tidur, begitu tenteram, telentang,

dengan tangan ke atas. Aku membayangkan betapa ia

percaya bahwa aku akan membentuk dunianya untuknya.

Dan aku membayangkan dunia yang akan dihadapinya

kalau ia sudah dewasa. Ketika merapikan tempat tidurnya,

aku mulai merasa risau

Transkrip: 15 Maret (99)

INT: Oke, Pete, saya pikir ini sudah cukup. Kecuali

kalau ada lagi yang ingin Anda tambahkan.

PJS: Tidak. Hanya itu yang bisa saya ceritakan.

INT: Saya dapat kabar Anda mengundurkan diri

dari Special Services.

PJS: Benar.

INT: Dan Anda telah menyampaikan rekomendasi

tertulis kepada Komandan Olson, agar program petugas

penghubung Asia diubah. Anda menyarankan agar

hubungan dengan Japan-America Amity Foundation

diakhiri saja?

PJS: Ya.

INT: Alasan Anda?

PJS: Kalau Departemen memerlukan petugaspetugas

terlatih, biaya untuk latihan sebaiknya ditanggung

oleh Departemen sendiri. Saya pikir itu sehat.

INT: Lebih sehat?

PJS: Ya. Sudah waktunya kita rebut kembali

kontrol atas negara kita sendiri.

INT: Sudah ada tanggapan dari Komandan?

PJS : Belum. Saya masih menunggu.

Jika Anda keberatan Jepang membeli sesuatu, jangan

menjualnya.

- Akio Morita

harus menerima kenyataan bahwa negeri seluas Negara.

Bagian Montana. ini, dengan setengah no-

Penutup

"MANUSIA cenderung menolak kenyataan. Mereka

melawan perasaan nyata yang disebabkan oleh keadaan

nyata. Mereka membangun dunia impian yang berisi hal

yang seharusnya terjadi. Perubahan nyata dimulai dengan

penilaian nyata, dan dengan menerima kenyataan. Baru

kemudian ada kemungkinan untuk mengambil tindakan

nyata."

Kata-kata itu diucapkan oleh David Reynolds, eksponen

Amerika dari psikoterapi Morita dari Jepang. Ia berbicara

mengenai tingkah laku perseorangan, tetapi

komentar-komentarnya juga dapat diterapkan pada

tingkah laku ekonomi negara-negara.

Cepat atau lambat, Amerika Serikat harus mengakui

bahwa Jepang telah menjadi negara. industri nomor satu di

dunia. Orang Jepang mempunyai harapan hidup paling

lama di dunia. Mereka mempunyai tingkat pengangguran

paling kecil, kesenjangan sosial paling kecil, dan jumlah

orang yang dapat membaca yang paling besar. Mereka juga

mempunyai makanan terbaik. Kita harus menerima

kenyataan bahwa negeri seluas Negara Bagian Montana ini,

dengan setengah populasi kita, tak lama lagi akan memiliki

perekonomian yang setara dengan kita.

Tapi keberhasilan mereka tidak dicapai dengar cara-cara

kita. Jepang bukan negara industri Barat. Jepang

diorganisasi secara berbeda. Dan orang Jepang telah

menciptakan jenis perdagangan baru - perdagangan

menyerang, perdagangan seperti perang, perdagangan

yang bertujuan menyingkirkan semua saingan - yang

selama beberapa dekade tetap tidak dipahami oleh

Amerika. Amerika Serikat berkeras agar orang Jepang

menggunakan cara-cara kita. Tapi semakin sering mereka

menanggapinya dengan bertanya, kenapa harus kami yang

berubah? Kami lebih berhasil dibanding kalian. Dan

kenyataannya memang demikian.

Bagaimana tanggapan Amerika seharusnya? Tidak

masuk akal kalau kita menyalahkan Jepang karena

keberhasilan mereka, atau menuntut agar mereka

memperlambat gerak langkah. Orang Jepang menganggap

reaksi Amerika semacam ini sebagai tindakan

kekanak-kanakan, dan mereka benar. Seharusnya Amerika

Serikat terjaga dari mimpi indah, memandang Jepang

secara saksama, lalu bertindak secara realistis.

Pada akhirnya, itu berarti Amerika Serikat akan

mengalami perubahan besar-besaran, tetapi partner yang

lebih lemah mau tak mau harus menyesuaikan diri dengan

tuntutan yang timbul dalam berhubungan dengan partner

yang lebih kuat. Dan Amerika Serikat kini jelas-jelas

merupakan partner yang lebih lemah dalam pembicaraan

ekonomi dengan Jepang.

Satu abad yang lalu, ketika armada Amerika yang

dipimpin Laksamana Perry membuka negeri itu, Jepang

merupakan masyarakat feodal. Orang Jepang menyadari

bahwa mereka harus berubah, dan mereka melakukannya.

Mulai tahun 1860-an, mereka memanggil ribuan ahli dari

Barat sebagai penasihat untuk mengubah pemerintahan

dan industri mereka. Seluruh masyarakat mengalami revolusi.

Pergolakan kedua, yang tak kalah dramatis, terjadi

setelah Perang Dunia II.

Tetapi dalam kedua kasus itu, orang Jepang menghadapi

tantangan tersebut secara tepat, dan berhasil

mengatasinya. Mereka tidak berkata, "Biarkan orang-orang

Amerika membeli tanah dan lembaga-lembaga kita, dan

berharaplah agar mereka mau mengajarkan cara yang lebih

baik." Sama sekali tidak. Orang-orang Jepang mengundang

ribuan tenaga ahli, lalu mengirim mereka pulang lagi. Tak

ada salahnya kalau kita menggunakan pendekatan yang

sama. Orang Jepang bukan juru selamat kita. Mereka

saingan kita. Dan sebaiknya kita jangan melupakan hal itu.

Riwayat Pengarang

Michael Chrichton lahir di Chicago, pada tahun 1942. Ia

lulusan Harvard College dan Harvard Medical Sehool, pada

tahun 1969 menjadi mahasisiwa postdoctoral di Salk

Institute di La Jolla, California. Novel-novelnya adalah

Jurassic Park, Sphere, Congo, The Andromeda Strain, The

Terminal Man, The Great Train Robbery, dan Easters of the

Dead. Ia juga menulis empat buku nonfiksi: Five Patients,

Jasper Johns, Electronic Life, dan Travel. Film-film yang

disutradarainya antara lain Westworld, Coma, dan film dari

bukunya sendiri, The Great Train Robbery. Pada tahun 1988

ia menjadi penulis tamu di Massachusetts Institute of

Technology.

0 Response to "RISING SUN 6"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified