Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

RISING SUN 5

"Dan kemudian?"

"Larangan terhadap penjualan itu tetap tidak mengatasi

masalah keuangan yang menimpa Fairchild. Perusahaan itu

tetap mengalami kesulitan. Tidak ada jalan keluar selain

menjualnya. Menurut desas-desus, Fairchild akan dibeli

oleh Bull, sebuah perusahaan Prancis yang tidak bergerak

dalam bidang komputer super. Rencana itu mungkin saja

disetujui oleh Kongres. Tapi akhirnya Fairchild dibeli oleh

perusahaan Amerika lain."

"Dan MicroCon merupakan ulangan kasus Fairchild?"

"Ya, dalam arti bahwa dengan membeli MicroCon, orang

Jepang akan memegang monopoli atas mesin-mesin

pembuat chips. Begitu mereka memegang monopoli,

mereka bisa menghentikan pengiriman kepada

perusahaan-perusahaan Amerika. Tapi sekarang saya

berpendapat..."

Ketika itulah pesawat telepon berdering.

Ternyata Lauren. Bekas istriku.

"Peter?"

Aku berkata, "Halo, Lauren."

"Peter, aku menelepon untuk memberitahumu bahwa

aku akan menjemput Michelle lebih cepat hari ini."

Suaranya bernama tegang, formal.

"O, ya? Aku tidak tahu bahwa kau mau menjemputnya."

"Aku tidak pernah bilang begitu, Peter," ia menyahut

cepat-cepat. "Tentu saja aku akan menjemputnya."

Aku berkata, "Oke, baiklah. Ngomong-ngomong, siapa itu

Rick?"

Ia terdiam sejenak. "Kau keterlaluan, Peter."

"Kenapa?" kataku. "Aku cuma ingin tahu. Michelle

menyinggungnya tadi pagi. Dia bilang Rick punya Mercedes

hitam. Pacarmu yang baru?"

"Peter. Masalahnya berbeda."

Aku berkata, "Berbeda dengan apa?"

"Jangan main-main," ujar Lauren. "Ini sudah cukup sulit

bagiku. Aku menelepon untuk memberitahumu bahwa aku

akan menjemput Michelle lebih cepat hari ini, karena aku

akan membawanya ke dokter."

"Kenapa? Dia sudah sembuh dari pilek."

"Aku membawanya untuk pemeriksaan, Peter."

"Untuk apa?"

"Pemeriksaan."

"Aku tidak tuli," balasku, "tapi...”

"Dokter yang akan memeriksanya bernama Robert

Strauss. Kata orang, dia paling ahli dalam bidangnya. Aku

sudah tanya pada orang-orang di kantor, siapa yang

sebaiknya kuhubungi. Aku tidak tahu bagaimana hasilnya

nanti, Peter, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku prihatin,

terutama mengingat masa lalumu "

“Lauren, apa maksudmu?"

"Penganiayaan," katanya. "Penganiayaan seksual

terhadap anak-anak."

"Apa?"

"Tak ada jalan lain. Kau tahu bahwa kau pernah

dituduh."

Aku mulai mual. Setiap perkawinan yang gagal selalu

meninggalkan sisa-sisa kebencian, kantong-kantong

kegetiran dan amarah, serta banyak hal pribadi yang kita

ketahui mengenai orang yang satu lagi, yang dapat

digunakan sebagai senjata terhadapnya, jika kita memilih

untuk berbuat demikian. Lauren belum pernah

melakukannya.

"Lauren, kau tahu bahwa tuduhan itu terbukti tak

berdasar. Kau tahu semuanya. Kita sudah menikah waktu

itu."

"Aku hanya tahu yang kauceritakan padaku."

Sepertinya ia sengaja menjaga jarak. Suaranya bernada

moralistik, sedikit sarkastik. Suara sang penuntut umum.

"Lauren, demi Tuhan. Ini benar-benar konyol. Ada apa

sebenarnya?"

"Ini sama sekali tidak konyol. Aku punya tanggung jawab

sebagai ibu."

"Hmm, selama ini kau tidak pernah memikirkan

tanggung jawabmu sebagai itu. Dan sekarang kau ...”

"Memang benar, karierku banyak menyita waktu,,"

katanya dengan nada dingin, "tapi tak pernah ada keraguan

bahwa yang paling penting adalah anakku. Dan aku sangat

sangat menyesal jika tingkah lakuku di masa lalu ikut

mendorong terciptanya situasi yang tidak menyenangkan

ini." Aku mendapat kesan bahwa ia tidak berbicara padaku.

Ia sedang berlatih. Menggunakan kata-kata untuk

mengetahui bagaimana pengaruhnya di hadapan hakim.

"Tentunya, Peter, jika terdapat bukti mengenai

penganiayaan, Michelle tidak bisa tinggal bersamamu lagi.

Atau bahkan menemuimu.”

Dadaku serasa ditusuk.

"Apa maksudmu? Siapa yang memberitahumu bahwa

ada penganiayaan?"

"Peter, kurasa tidak sepatutnya aku berkomentar pada

saat ini."

"Apakah Wilhelm? Siapa yang meneleponmu, Lauren?"

"Peter, tak ada gunanya kita melanjutkan pembicaraan

ini. Aku secara resmi memberitahumu bahwa aku akan

menjemput Michelle pukul empat. Kuminta dia sudah siap

jam empat sore nanti.”

"Lauren..."

"Aku telah minta sekretarisku, Miss Wilson, agar ikut

mendengarkan pembicaraan kita dan membuat catatan

steno. Aku menyampaikan pemberitahuan resmi mengenai

niatku untuk menjemput putriku untuk pemeriksaan fisik.

Ada pertanyaan mengenai keputusanku ini?"

"Tidak."

"Kalau begitu, jam empat. Terima kasih atas kerja

samamu. Dan sebagai catatan pribadi, Peter, aku sungguh

menyesal bahwa ini harus terjadi."

Dan dengan itu ia meletakkan gagang.

Aku pernah terlibat dalam kasus penganiayaan seksual

ketika aku masih bertugas sebagai detektif.

Aku tahu permasalahannya. Pada umumnya,

pemeriksaan fisik tidak mengungkapkan apa-apa. Hasilnya

selalu meragukan. Jika seorang anak dihadapkan pada

psikolog yang memberondongnya dengan pertanyaan, anak

itu akhirnya akan memberikan jawaban yang menurutnya

sesuai dengan apa yang diharapkan. Si psikolog wajib

membuat rekaman video untuk membuktikan bahwa pertanyaannya

tidak mengarah. Namun situasinya hampir

selalu tetap tidak jelas pada waktu diajukan ke meja hijau.

Karena itu, hakim terpaksa mengambil keputusan secara

hati-hati. Artinya, jika ada kemungkinan bahwa telah

terjadi penganiayaan, anak yang bersangkutan harus

dipisahkan dari orangtua yang dituduh. Atau paling tidak,

tidak diberi izin berkunjung tanpa pengawasan. Tidak

boleh menginap. Atau bahkan tidak...

"Cukup," ujar Connor, yang duduk di sampingku di

dalam mobil. "Sudah waktunya Anda kembali ke dunia

nyata."

"Sori," kataku. "Tapi masalahnya sangat mengganggu."

"Saya percaya. Sekarang, apa yang belum Anda ceritakan

pada saya?"

"Mengenai apa?"

"Tuduhan penganiayaan itu."

"Tidak ada. Tidak ada apa-apa.

"Kohai," ia berkata dengan tenang. "Saya tidak bisa

membantu Anda jika Anda tidak mau berterus terang."

"Saya tidak pernah terlibat penganiayatan seksual,"

kataku. "Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah uang."

Connor tidak menanggapinya. Ia hanya menunggu.

Menatapku.

"Ah, persetan," kataku.

Lalu aku membeberkan semuanya

Ada saat-saat dalam hidup kita, ketika kita merasa yakin

bahwa kita tahu apa yang kita lakukan. Tapi kemudian, jika

kita pikirkan kembali, kita sadar bahwa tindakan kita sama

sekali tidak benar. Anda terbentur pada suatu masalah, dan

mengambil langkah yang keliru. Tapi pada saat itu Anda

yakin bahwa semuanya beres.

Masalahku adalah, aku sedang jatuh cinta. Lauren

termasuk gadis yang bersikap ningrat, langsing, dan

anggun. Sepertinya ia dibesarkan dalam lingkungan elite. Ia

lebih muda dariku, dan cantik.

Sejak pertama aku sudah tahu bahwa hubungan kami

takkan langgeng, tapi aku tetap berusaha

mempertahankannya. Kami menikah dan tinggal

bersama-sama, dan ia mulai merasa tidak puas. Tidak puas

dengan apartemenku, dengan lokasinya, dengan uang yang

kami miliki. Semuanya. Dan ia terus diganggu mual-mual

dan muntah, yang tidak membantu memperbaiki keadaan.

Ia menyimpan crackers di mobil, di samping tempat tidur,

di mana-mana. Ia begitu menderita dan tidak hahagia,

sehingga aku berusaha menghiburnya dengan hal-hal kecil.

Membelikan hadiah. Membawa oleh-oleh. Memasak.

Melakukan pekerjaan rumah tangga yang ringan. Biasanya

aku tidak begitu, tapi aku sedang jatuh cinta. Aku mulai

terbiasa melakukan hal-hal untuk menyenangkan hati

Lauren.

Lalu masih ada tekanan yang tak reda-reda. Ini harus

lebih banyak, itu harus lebih banyak. Lebih banyak uang.

Lebih banyak, lebih banyak.

Kami juga menghadapi masalah khusus. Polis asuransi

kesehatan Lauren sebagai pegawai kejaksaan tidak

mencakup kehamilannya, sama seperti polis asuransiku.

Pada waktu menikah, kami tidak sempat mengurus polis

yang mencakup bayi kami. Biaya untuk si Kecil mencapai

delapan ribu dolar, dan kami harus mendapatkannya. Kami

sama-sama tidak mempunyai uang. Ayah Lauren dokter di

Virginia, tetapi Lauren tidak ingin meminjam uang dari

ayahnya, yang sejak semula tidak menyetujui hubungan

kami. Keluargaku tidak mempunyai uang. Nah. Tidak ada

uang. Lauren bekerja untuk kejaksaan. Aku bekerja untuk

kepolisian. Ia berutang banyak pada MasterCard, dan

cicilan mobilnya pun belum lunas. Kami harus

mendapatkan delapan ribu dolar. Masalah itu terus

menghantui kami. Bagaimana kami akan mengatasinya?

Dan akhirnya terbentuk kesepakatan tak terucap, paling

tidak dari pihak Lauren, bahwa akulah yang bertanggung

jawab.

Jadi, suatu malam di bulan Agustus, aku mendapat

panggilan untuk menangani kasus pertengkaran rumah

tangga di Ladera Heights. Suami-istri Latin. Mereka

sama-sama mabuk dan bertengkar hebat. Bibir si istri

pecah, mata suaminya bengkak dan anak mereka

menjerit-jerit di kamar sebelah. Tapi tak lama kemudian

kami berhasil menenangkan mereka, dan ternyata tak ada

yang mengalam cedera serius. Si istri melihat bahwa kami

sudah hendak pergi. Ketika itulah dia mulai berteriakteriak

bahwa suaminya telah melakukan penginiayaan fisik

terhadap anak perempuan mereka. Waktu si suami

mendengar ini, ia tampak marah sekali. Aku juga tidak

percaya. Si istri pasti hanya ingin membalas dendam. Tapi

ia berkeras agar kami memeriksa anak perempuannya, jadi

aku masuk ke kamar anak itu. Umurnya sekitar sembilan

bulan, dan ia menjerit-jerit sampai mukanya merah padam.

Aku menyingkap selimutnya untuk mencari luka memar,

dan kemudian aku melihat sebongkah kokain. Di bawah

selimut, di samping anak itu.

Nah.

Situasinya agak pelik. Mereka suami-istri, jadi si istri

harus memberi kesaksian yang memberatkan suaminya,

penggeledahan yang kami lakukan tidak sah, dan

sebagainya. Suaminya tidak memerlukan bantuan

pengacara hebat agar lolos dari hukuman. Jadi aku keluar

dan memanggil orang itu. Aku sadar bahwa aku tak dapat

berbuat apaapa. Aku hanya membayangkan bahwa kalau

bongkahan tadi sampai digigit-gigit oleh anak perempuan

itu, ia pasti mati. Aku ingin membicarakan hal tersebut.

Sedikit menggertak, menakut-nakutinya.

Laki-laki itu berdua denganku di kamar anaknya.

Istrinya masih di ruang duduk, bersama rekanku. Tiba-tiba

laki-laki itu mengeluarkan amplop setebal dua senti. Ia

membukanya. Aku melihat lembaran-lembaran seratus

dolar. Tumpukan lembaran seratus dolar setebal satu inci.

Dan ia berkata, "Terima kasih atas bantuan Anda."

Amplop itu berisi sekitar sepuluh ribu dolar.

Mungkin lebih. Aku tidak tahu persis. Ia menyodorkan

amplop itu dan menatapku, sambil berharap agar aku

mengambilnya.

Aku memperingatkannya akan bahaya menaruh kokain

di tempat tidur anaknya. Langsung saja ia meraih

bongkahan itu, meletakkannya di lantai, dan

menendangnya ke bawah tempat tidur. "Anda benar.

Terima kasih." Lalu ia kembali menyodorkan amplop itu.

Nah.

Suasananya kacau balau. Di luar, istrinya

membentak-bentak rekanku. Di dalam kamar, anak mereka

masih terus menjerit-jerit. Laki-laki itu memegang amplop.

Ia tersenyum dan mengangguk. Ayo, ambil saja. Dan

kupikir... aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat itu.

Tahu-tahu aku sudah di ruang duduk. Aku berkata

bahwa anak perempuan itu baik-baik saja, dan sekarang si

istri mulai berteriak-teriak bahwa aku yang menganiaya

anaknya - sekarang aku yang dijadikan kambing hitam,

bukan suaminya – bahwa aku bersekongkol dengan

suaminya, bahwa kami sama-sama menganiaya anak

perempuannya. Rekanku sadar bahwa perempuan itu

mabuk berat, dan kami pergi. Titik. Rekanku berkata, "Kau

lama sekali di ruangan itu." Dan aku menjawab, "Aku harus

memeriksa anak itu." Selesai. Tapi keesokan harinya

perempuan itu muncul di markas dan membuat pengaduan

resmi bahwa aku menganiaya putrinya. Pengaruh alkohol

belum hilang benar, dan ia sudah pernah berurusan dengan

polisi, tapi tuduhannya cukup serius, sehingga diposes

sesuai peraturan, sampai ke pemeriksaan pendahuluan,

sebelum akhirnya dibatalkan dengan alasan tidak berdasar.

Hanya itu.

Begitulah kejadiannya.

"Dan uangnya?" tanya Connor.

"Saya pergi ke Vegas untuk berakhir pekan. Saya menang

banyak. Tahun itu saya membayar pajak untuk penghasilan

tambahan sejumlah 13.000.”

"Ide siapa itu?"

“Lauren. Dia bilang, dia tahu cara untuk menanganinya."

"Jadi, dia tahu apa yang terjadi?"

"Tentu."

"Dan pemeriksaan pendahuluan itu? Apakah pibak

Departemen sempat membuat laporan?"

"Saya kira tidak sampai sejauh itu Tuduhan ituhanya

didengar secara verbal, lalu dibatalkan. Mungkin ada

catatan dalam arsip, tapi pasti bukan laporan resmi."

"Oke," ujar Connor. "Sekarang ceritakan sisanya.”

Kemudian aku bercerita mengenai Ken Shubik, harian

Times, dan si Musang. Connor mendengarkanku sambil

mengerutkan kening, tanpa berkata apa-apa. Ia mulai

mengisap udara lewat sela-sela gigi, yang merupakan cara

Jepang untuk menyatakan rasa tidak setuju.

"Kohai," katanya, ketika aku akhirnya selesai, "Anda

sangat merepotkan saya. Anda membuat saya kelihatan

seperti orang bodoh. Kenapa Anda tidak menceritakan ini

sejak awal?"

"Karena ini tidak ada hubungannya dengan Anda."

"Kohai." Ia menggelengkan kepala. "Kohai..."

Aku kembali memikirkan anak perempuanku. Aku

memikirkan kemungkinan baru - kemungkinan bahwa aku

takkan pernah melihatnya lagi - bahwa aku takkan dapat...

"Begini," kata Connor. "Aku sudah memperingatkan

Anda bahwa urusan ini mungkin tidak menyenangkan.

Percayalah, keadaan masih bisa bertambah buruk.

Benar-benar parah. Kita harus bergerak cepat dan mencoba

menuntaskan semuanya."

"Saya pikir semuanya sudah tuntas."

Connor menghela napas dan menggelengkan kepala.

"Belum," katanya. "Dan sekarang kita harus menyelesaikan

semuanya sebelum Anda menemui istri Anda pukul empat

nanti. Kita tak bisa memhuang-buang waktu lagi."

Bab 37

"HMM, kelihatannya tugas kita sudah selesai," ujar

Graham. Ia berjalan mengelilingi rumah Sakamura di

perbukitan Hollywood. Tim SID yang terakhir sedang

bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

"Aku tidak mengerti kenapa Komandan begitu sewot

tentang ini," kata Graham. "Anak-anak SID sampai terpaksa

bekerja di sini, karena dia terus mendesak-desak. Tapi

untung saja semuanya saling memperkuat. Sakamura-lah

orang yang kita cari. Tempat tidurnya diperiksa untuk

mencari bulu pubic, dan ternyata cocok dengan bulu yang

ditemukan pada cewek itu. Kami mendapatkan ludah

kering dari sikat giginya. Golongan darah dan penanda

genetiknya sama dengan sperma yang ditemukan pada

cewek yang mati itu. Tingkat kepastiannya 95 persen.

Anak-anak SID menemukan sperma dan bulu pubic

Sakamura pada cewek itu. Sakamura berhubungan seks

dengannya, lalu membunuhnya. Dan waktu kita datang

untuk menangkapnya, Sakamura panik, berusaha

melarikan diri, dan akhirnya tewas. Di mana Connor?"

"Di luar," kataku.

Melalui jendela, aku melihat Connor berdiri di depan

garasi, berbicara dengan dua petugas polisi yang duduk di

dalam mobil patroli. Connor menunjuk ke jalanan; mereka

menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

"Sedang apa dia di sana?" tanya Graham.

Aku berkata bahwa aku tidak tahu.

"Brengsek, aku tidak mengerti orang itu. Berilahu dia

bahwa jawaban atas pertanyaannya adalah 'tidak ada'."

"Pertanyaan apa?"

"Sejam yang lalu dia meneleponku," ujar Graham. "Dia

ingin tahu berapa banyak kacamata baca yang kami

temukan di sini. Kami langsung memeriksanya. Ternyata

tidak ada kacamata baca. Kalau kacamata hitam, banyak.

Beberapa kacamata hitam untuk perempuan. Cuma itu. Aku

tidak tahu apa rencananya. Orangnya aneh. Persetan, apa

lagi yang dikerjakannya sekarang?"

Kami memperhatikan Connor berjalan mondar-mandir

di sekitar mobil patroli, lalu kembali meninjuk ke jalanan.

Satu petugas patroli duduk di d dam mobil, berbicara

melalui radio. "Kau bisa mengikuti jalan pikirannya?" tanya

Graham.

"Tidak."

"Barangkali dia mencoba melacak cewek-cewek tadi,"

ujar Graham. "Hmm, coba kalau kita sempat memeriksa

identitas si Rambut Merah. Kujamin dia juga bersanggama

dengan Sakamura. Seharusnya kita bisa dapat contoh

sperma darinya, untuk membandingkan semua faktor. Dan

aku seperti otrang tolol, membiarkan cewek-cewek itu

lolos. Dasar sial, siapa yang menyangka perkembangannya

bakal seperti ini? Semuanya terjadi begitu cepat.

Cewek-cewek telanjang, berlari ke sana kemari. Laki-laki

normal pasti sempat bingung. Itu wajar. Brengsek, mereka

cantik-cantik, ya?"

Aku membenarkannya.

"Dan tak ada yang tersisa dari Sakamura," Graham

melanjutkan. "Kira-kira sejam yang lalu aku bicara dengan

anak-anak PEO. Mereka ada di markas, mencoba

mengeluarkan mayat itu dari mobil, tapi kurasa dia takkan

bisa diidentifikasi. Petugas-petugas pemeriksa mayat akan

mencoba, tapi selamat berjuang." Ia menatap ke luar

jendela. "Kau tahu? Kita sudah berupaya maksimal dalam

kasus keparat ini," katanya. "Dan kita cukup sukses. Kita

berhasil mendapatkan pelakunya. Dengan cepat, tanpa

buang-buang waktu. Tapi yang kudengar sekarang cuma

keluhan bahwa kita sengaja menjelek-jelekkan orang

Jepang. Sial. Kita selalu di pihak yang salah."

"He-eh," gumamku.

"Astaga, pengaruh mereka semakin kuat saja," kata

Graham. "Aku didesak-desak dari segala arah. Aku

ditelepon Komandan. Dia minta kasus ini segera ditutup.

Ada wartawan Times yang menyelidiki masa laluku. Dia

mengungkit-ungkit tuduhan penggunaan kekerasan tanpa

alasan terhadap pemuda Latin di tahun 1978. Pemuda itu

Cuma mengada-ada. Tapi wartawan ini, dia berusaha

memperlihatkan bahwa aku seorang rasialis, dari dulu.

Coba tebak, apa latar belakang artikelnya, Kejadian

semalam disebutnya sebagai contol rasialisme di kalangan

pollsi. Aku dijadikan contoh buruk. Hah, orang-orang

Jepang itu memang jago bermain kotor."

"Aku tahu," kataku.

"Jadi kau juga sudah mulai dikerjai?"

Aku mengangguk.

"Apa tuduhan mereka?"

"Penganiayaan terhadap anak kecil."

"Astaga," ujar Graham. "Padahal kau punya anak

perempuan."

"Ya."

"Memuakkan. Fitnah dan pencemaran nama baik,

Petey-san. Tak ada hubungannya dengan kenyataan. Tapi

coba saja kaujelaskan ini kepada wartawan."

"Siapa orangnya?" tanyaku. "Siapa wartawan yang

menghubungimu?"

"Namanya Linda Jensen, kalau tidak salah."

Aku mengangguk. Linda Jensen adalah anak didik si

Musang. Pernah ada yang berkata bahwa Linda tidak perlu

membuka baju untuk memacu kariernya. Ia tinggal

membuka rahasia-rahasia orang lain dan merusak reputasi

mereka untuk mencapai tujuannya. Ia bekerja sebagai

pengasuh kolom gosip di Washington sebelum pindah ke

Los Angeles.

"Entahlah," ujar Graham sambil menggeser tubuhnya

yang gempal. "Aku sendiri tak habis pikir. Mereka

mengubah negeri ini menjadi Jepang ke dua. Sekarang saja

sudah ada orang yang takut buka mulut. Takut mengatakan

sesuatu yang membuat mereka tersinggung. Orang-orang

tidak mau berterus terang mengenai masalah ini."

"Seharusnya Pemerintah mengeluarkan undang-undang

baru."

Graham tertawa. " Pemerintah. Pemerintah sudah jadi

milik mereka. Kau tahu berapa jumlah uang yang mereka

habiskan di Washington setiap tahun? Empat ratus juta

dolar setahun. Cukup untuk menutup biaya kampanye

semua anggota Senat dan Kongres. Jumlah yang besar. Nah,

sekarang coba jawab. Mungkinkah mereka mengeluarkan

uang sebanyak itu, tahun demi tahun, kalau tidak ada

manfaatnya bagi mereka? Tentu saja tidak. Brengsek.

Amerika sudah di ambang kehancuran. Hei, sepertinya kau

dicari bosmu."

Aku memandang ke luar jendela. Connor sedang

memanggilku dengan isyarat tangan.

Aku berkata, "Aku pergi dulu."

"Selamat berjuang," ujar Graham. "O, ya, aku mungkin

mau ambil cuti beberapa minggu."

"Yeah? Mulai kapan?"

"Mungkin nanti," kata Graham. "Saran dari Komandan.

Katanya, barangkali ada baiknya, mengingat aku masih

diincar wartawan Times keparat itu. Aku ingin berlibur

seminggu di Phoenix. Ada saudaraku di sana. Aku cuma

ingin kau tahu bahwa aku mungkin akan pergi."

"Oke," kataku.

Connor masih melambaikan tangan padaku. Ia tampak

tidak sabar. Aku bergegas keluar. Ketika menuruni tangga,

aku melihat Mercedes hitam berhenti. Sebuah sosok yang

sangat kukenal turun dari mobil itu.

Ternyata Wilhelm si Musang.

Bab 38

KETiKA aku sampai di bawah, si Musang telah

mengeluarkan buku catatan dan alat perekam. Sebatang

rokok terselip di sudut mulutnya. "Letnan Smith," katanya,

"apakah saya bisa bicara sebentar dengan Anda?"

"Saya sedang sibuk," jawabku.

"Ayo," Connor berseru padaku. "Waktu kita tinggal

sedikit." Ia membuka pintu mobil. untukku.

Aku berjalan ke arah Connor. Si Musang mengikutiku. Ia

menyodorkan sebuah mikrofon kecil berwarna hitam ke

wajahku. "Mudah-mudahan Anda tidak keberatan saya

merekam percakapan kita. Setelah kasus Malcolm, kami

harus lebih berhati-hati. Apakah Anda dapat memberikan

komentar mengenai ejekan bernada rasial yang kabarnya di

lontarkan rekan Anda, Detektif Graham, dalam penyidikan

Nakamoto semalam?"

"Tidak," kataku. Aku terus berjalan.

"Kami mendapat informasi bahwa Detektif Graham

menyebut mereka sebagai 'Jepang-Jepang keparat’”.

"Tidak ada komentar," kataku.

"Dia juga menyebut mereka 'mata sipit'. Menurut Anda,

pantaskah ucapan seperti ini bagi polisi yang sedang

bertugas?"

“Sori, tak ada komentar, Willy."

Ia terus menyodorkan mikrofonnya ke wajahku.

Menjengkelkan sekali. Aku ingin menepisnya, tapi aku

menahan diri. "Letnan Smith, kami sedang mempersiapkan

cerita mengenai Anda, dan kami punya beberapa

pertanyaan mengenai kasus Martinez. Anda ingat kasus itu?

Beberapa tahun lalu."

Aku terus melangkah. "Saya sedang sibuk, Willy," kataku.

"Kasus Martinez menimbulkan tuduhan penganiayaan

anak di bawah umur, yang diajukan oleh Sylvia Morelia, ibu

dari Maria Martinez. Departemen Kepolisian sempat

mengadakan pemeriksaan pendahuluan. Saya ingin tahu,

apakah Anda dapat memberikan komentar?"

"Tidak ada komentar."

"Saya sudah bicara dengan rekan Anda saat Itu, Fed

Anderson. Barangkali Anda dapat memberikan komentar

mengenai ini?"

"Sori. Tidak bisa."

"Kalau begitu, Anda tidak akan menanggapi

tuduhan-tuduhan serius yang dilontarkan terhadap Anda?"

"Setahu saya, satu-satunya orang yang melonfarkan

tuduhan adalah Anda."

"Sebenarnya itu kurang tepat," katanya, sambil

tersenyum padaku. "Saya dengar pihak kejaksaan sudah

mulai mengadakan penyelidikan."

Aku diam saja. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah itu

benar.

"Dalam keadaan seperti sekarang, Letnan, apakah Anda

tidak sependapat bahwa pengadilan telah membuat

kekeliruan dengan memberikan hak asuh atas putri Anda

kepada Anda?"

Aku hanya berkata, "Sori. Tidak ada komentar, Willy."

Aku berusaha agar jawabanku bernada yakin. Aku mulal

berkeringat.

Connor berkata, "Ayo, ayo. Tidak ada waktu."

Aku masuk ke mobil. Connor berkata kepada Wilhelm,

"Maaf, Bung, tapi kami sedang terburu-buru." Ia menutup

pintu. Aku menghidupkan mesin. "Mari kita berangkat,"

ujar Connor.

Willy mengintip darl jendela. "Apakah Anda berpendapat

bahwa penugasan Kapten Connor yang dikenal anti-Jepang

merupakan contoh kecerobohan Departemen Kepolisian

dalam menangani kasus-kasus yang berbau rasial?"

"Sampai jumpa, Willy." Aku menutup jendela, dan mulai

menuruni bukit.

"Saya takkan keberatan kalau kita melaju sedikit lebih

kencang," ujar Connor.

"Oke," kataku. Aku menginjak pedal gas.

Di kaca spion, aku melihat si Musang bergegas ke

Mercedes-nya. Aku membelok tanpa mengurangi

kecepatan. Ban mobilku berdecit-decit. "Bagaimana

bajingan itu bisa menemukan kita? Dengan memantau

gelombang polisi?"

"Sejak awal, kita tidak menggunakan radio," kata

Connor. "Anda tahu, saya selalu berhati-hati.

“Tapi barangkali mobil patroli tadi melaporkan sesuatu

ketika kita tiba. Mungkin ada alat penyadap di mobil ini.

Mungkin juga dia sudah menduga bahwa kita akan muncul.

Dan jangan lupa, bajingan itu menjalin hubungan dengan

orang Jepang. Ia kaki tangan mereka di Times. Biasanya

orang Jepang lebih cermat memilih orang. Tapi saya kira

dia mau melaksanakan semua permintaan mereka.

Mobilnya cukup bagus, bukan?"

"Tapi bukan mobil Jepang."

"Itu terlalu mencolok," ujar Connor. "Dia masih

mengikuti kita?"

"Tidak. Kelihatannya kita berhasil mengecohnya. Ke

mana kita sekarang?"

"Ke U.S.C. Seharusnya Sanders sudah selesai sekarang."

Kami menyusuri jalanan, menuruni bukit, menuju

freeway 101. “O, ya," kataku, "kenapa Anda menanyakan

kacamata baca tadi?"

"Hanya soal kecil yang perlu ditegaskan. Mereka tidak

menemukan kacamata baca di rumah Sakamura?"

"Tidak. Hanya kacamata hitam."

"Sudah saya duga," ujar Connor.

"Dan Graham bilang dia akan ke luar kota. Hari ini. Dia

mau pergi ke Phoenix."

"Hmm." Ia menatapku. "Anda tidak berminat ke luar kota

juga?"

"Tidak," jawabku.

"Oke."

Aku sampai di kaki bukit dan memasuki arah selatan.

Dulu, perjalanan ke U.S.C. hanya makan waktu sepuluh

menit. Kini hampir setengah jam. Terutama sekarang,

menjelang jam makan siang. Tapi aku sudah terbiasa. Lalu

lintas selalu padat, dan kota selalu diselubungi kabut asap.

"Menurut Anda, saya membuat kesalahan?" tanyaku.

"Anda pikir lebih baik kalau saya bawa anak saya dan ikut

kabur?"

"Itu salah satu alternatif," Ia menghela napas. "Orang

Jepang sangat ahli dalam bertindak secara tidak langsung.

Itu sudah menjadi naluri mereka. Di Jepang, jika seseorang

tidak senang kepada Anda, dia takkan mengatakannya

secara terus terang. Mereka memberitahu teman Anda,

rekan Anda, bos Anda. Dan cepat atau lambat beritanya

akan sampai di telinga Anda. Orang Jepang tergantung pada

komunikasi tidak langsung. Itulah sebabnya mereka

demikian getol bersosialisasi, bermain golf, minum-minum

di bar karaoke. Mereka memerlukan jalur-jalur komunikasl

khusus itu, karena mereka tidak bisa berterus terang. Kalau

dipikir, cara mereka sangat tidak efisien. Boros waktu,

tenaga, dan uang. Tapi karena mereka tidak bisa

berkonfrontasi langsung-mereka bisa berkeringat dingin

kalau harus berhadapan langsung - mereka tidak punya

pilihan lain. Jepang adalah negeri jalan memutar. Mereka

tak pernah lewat di tengah-tengah."

"Yeah, tapi..."

"Jadi, tingkah laku yang berkesan licik dan pengecut bagi

orang Amerika merupakan prosedur standar di Jepang.

Tidak ada tujuan khusus. Mereka sekadar ingin

memberitahu Anda bahwa orang-orang dengan kekuasaan

besar merasa tidak senang.”

"Sekadar memberitahu saya? Bahwa saya mungkin

harus maju ke pengadilan untuk memperjuangkan putri

saya? Bahwa hubungan saya dengan anak saya mungkin

putus untuk selama-lamanya? Bahwa nama baik saya

mungkin hancur?"

"Ehm, ya. Itulah sanksi yang umum. Ancaman

dipermalukan merupakan cara yang biasa dipakai untuk

menyampaikan pesan mereka."

"Rasanya saya mulai mengerti," kataku.

"Tidak ada dendam pribadi," ujar Connor. "Memang

beginilah cara mereka."

"Yeah. Dengan menyebarkan fitnah."

"Secara tidak langsung."

"Tidak, bukan secara tidak langsung. Mereka memfitnah

saya."

Connor mendesah. "Saya memerlukan waktu banyak

untuk memahami bahwa perilaku orang Jepang didasarkan

atas tata nilai desa petani. Kita sering mendengar cerita

mengenai samurai dan feodalisme, tapi pada dasarnya,

orang Jepang bangsa petani. Dan jika kita hidup di desa

petani dan membuat petani-petani yang lain tidak senang,

kita akan dibuang. Dan itu berarti kita akan mati, sebab tak

ada desa lain yang mau menerima pembuat onar. Nah.

Kalau kita menyinggung perasaan kelompok, kita akan

mati. Demikianlah pandangan mereka.”

"Artinya, orang Jepang sangat mengutamakan kelompok.

Mereka terbiasa tunduk pada keinginan kelompok. Tidak

ada yang menonjolkan diri, tidak ada yang mengambil

risiko, tidak ada yang bersikap terlalu individualistis. Dan

juga tidak ada yang berkeras pada kebenaran. Orang Jepang

tidak meyakini konsep kebenaran. Mereka menganggapnya

dingin dan abstrak. Seperti ibu dari laki-laki yang dituduh

melakukan kejahatan. Dia tak peduli pada kebenaran. Dia

lebih peduli pada anaknya. Sama halnya dengan orang

Jepang. Bagi orang Jepang, hal terpenting adalah hubungan

antara manusia. Itulah kebenaran sejati. Kebenaran faktual

tidak relevan bagi mereka."

"Yeah, boleh-boleh saja," kataku. "Tapi kenapa mereka

masih terus mendesak-desak sekarang? Apa pengaruhnya?

Pembunuhan itu sudah diusut sampai tuntas, bukan?"

"Belum," ujar Connor.

"Belum?"

"Belum. Karena itulah kita diserang dari segala arah.

Rupanya ada seseorang yang ingin agar kasus ini segera

ditutup. Mereka ingin kita lepas tangan."

"Saya dan Graham sudah diserang oleh mereka, kenapa

Anda tidak?"

"Saya pun mengalami hal yang sama dengan Anda," kata

Connor.

"Dalam bentuk apa?"

"Mereka membuat saya bertanggung jawab atas kejadian

yang menimpa Anda."

Bagaimana caranya? Saya tidak melihat gelagat ke arah

itu."

"Saya tahu. Tapi percayalah, mereka juga mengincar

saya."

Aku menatap barisan mobil yang merayap maju,

menyusup ke kabut yang menyelubungi pusat kota. Kami

melewati billboard elektronik untuk Hitachi (#1

COMPUTERS IN AMERICA!), untuk Canon (AMERICA'S

COPY LEADER), dan Honda (NUMBER ONE RATED CAR IN

AMERICA!). Seperti pada umumnya iklan-iklan Jepang yang

baru, semua billboard itu cukup terang terbaca pada siang

hari. Harga sewanya 30.000 dolar per hari; di luar

jangkauan sebagian besar perusahaan Amerika.

Connor berkata, "Intinya, orang Jepang sadar bahwa

mereka sanggup membuat suasana tidak menyenangkan.

Dengan menyerang Anda, mereka memberitahu saya,

'Tangani urusan ini.' Sebab mereka pikir saya bisa

mengakhirinya."

"Anda mampu?"

"Tentu. Anda mau mengakhirinya? Setelah itu, kita bisa

minum bir dan menikmati kebenaran ala Jepang. Atau Anda

ingin mengusut sampai tuntas kenapa Cheryl Austin

dibunuh?"

"Saya ingin mengusutnya sampai tuntas."

"Saya juga," kata Connor. "Mari, Kohai. Saya rasa Sanders

punya informasi menarik untuk kita. Kaset-kaset itu

merupakan kunci sekarang."

Bab 39

PHILLIP SANDERS berjalan mondar-mandir. "Lab saya

ditutup," katanya. Ia mengayunkan tangan untuk

melampiaskan frustrasinya. "Dan tidak ada yang bisa saya

lakukan."

Connor berkata, "Kapan kejadiannya?"

"Sejam yang lalu. Petugas pengelola kampus datang dan

memberitahu semua orang di lab untuk segera angkat kaki.

Begitu saja. Sekarang ada gembok besar di pintu."

Aku berkata, "Dan alasannya?"

"Ada laporan bahwa kerusakan struktural pada

langit-langit membuat basement tidak aman dan akan

membatalkan polis asuransi universitas jika arena ice

skating tiba-tiba ambruk. Mereka bilang, keamanan para

mahasiswa harus diutamakan. Pokoknya, mereka menutup

lab, dan menunggu pemeriksaan dan laporan oleh insinyur

sipil."

"Dan kapan itu?"

Ia menunjuk pesawat telepon. "Saya sendiri masih

menunggu kabar. Barangkali minggu depan Mungkin juga

baru bulan depan."

"Bulan depan?"

"Yeah. Bulan depan." Sanders mengusap rarnbutnya

yang acak-acakan. "Saya sampai menemui Dekan untuk

urusan ini. Tapi dia juga tidak tahu-menahu. Perintahnya

berasal dari atas. Dari dewan penyantun yang mengenal

orang-orang kaya yang biasa memberi sumbangan

berjumlah jutaan dolar. Perintahnya berasal dari tingkat

paling atas." Sanders tertawa. "Dan di zaman sekarang, kita

tidak perlu bertanya-tanya lagi."

Aku berkata, "Maksud Anda?"

"Anda sadar betapa jauh Jepang telah menyusup ke

dalam struktur universitas-universitas Amerika, terutama

departemen-departemen teknik? Itu terjadi di mana-mana.

Perusahaan-perusahaan Jepang kini mensponsori 25 gelar

profesor di M.I.T., jauh lebih banyak dari negara mana pun.

Sebab mereka tahu, pada dasarnya mereka tidak punya

kemampuan berinovasi seperti kita. Karena mereka membutuhkan

inovasi, mereka ambil langkah yang paling

praktis. Mereka membelinya dari perguruan tinggi

Amerika."

"Tentu. Anda tahu, di University of California di Irvine

ada dua lantai di sebuah gedung riset yang tidak bisa

dimasuki, kecuali kalau kita pegang paspor Jepang. Mereka

melakukan riset uniuk Hitachi. Perguruan tinggi Amerika

yang terlutup untuk orang Amerika." Sanders berbalik,

mengayunkan tangan. "Dan di sini, jika terjadi sesuatu yang

tidak berkenan di hati mereka, seseorang akan mengangkat

telepon dan bicara dengan Rektor. Rektor tidak bisa

berbuat apa-apa. Dia takkan berani menyinggung perasaan

orang-orang Jepang. Jadi, apa pun yang mereka inginkan,

mereka pasti akan mendapatkannya. Dan kalau mereka

minta lab ini ditutup, labnya akan ditutup."

Aku berkata, "Bagaimana dengan kaset-kaset video itu?"

"Semuanya terkunci di dalam sana. Kami tidak diizinkan

membawa apa-apa."

"Masa?"

"Mereka sangat tergesa-gesa. Seperti Gestapo saja. Kami

didesak-desak dan didorong-dorong keluar. Anda tak bisa

membayangkan rasa panik di perguruan tinggi Amerika

yang takut kehilangan sumber dana." Ia menghela napas.

"Entahlah. Theresa mungkin sempat membawa beberapa

kaset. Anda bisa tanya dia."

"Di mana dia?"

"Kalau tidak salah, dia sedang ice skating."

Aku mengerutkan kening. "Ice skating?"

"Dia bilang begitu. Coba Anda lihat ke sana."

Dan pandangannya melekat pada Connor. Pandangan

penuh arti.

Theresa Asakuma ternyata tidak sedang ice skating. Ada

sekitar tiga puluh anak kecil di arena, disertai guru muda

yang sia-sia berusaha mengendalikan mereka. Mereka

seperti anak-anak kelas empat. Suara tawa dan teriakan

mereka memantul dari langit-langit yang tinggi.

Bangunan itu hampir kosong, tribun penonton pun

lengang. Sejumlah anak muda duduk di salah satu sudut,

memandang ke bawah dan saling menonjok bahu. Di sisi

kami, di puncak tribun, seorang petugas sedang mengepel.

Beberapa orang dewasa, yang kelihatannya orangtua,

berdiri di pagar, di tepi lapangan es. Di seberang, seorang

pria sedang membaca koran.

Aku tidak melihat Theresa Asakuma.

Connor menghela napas. Dengan letih ia duduk di tribun

kayu dan menyandarkan punggung. Ia menyilangkan kaki,

bersantai. Aku tetap berdiri dan memperhatikannya.

"Kenapa Anda duduk? Dia tidak ada di sini."

"Duduk dulu."

"Tapi Anda selalu bilang bahwa waktu kita tidak

banyak."

"Duduk dulu. Nikmati hidup."

Aku duduk di sebelahnya. Kami menyaksikan anak-anak

tadi meluncur mengelilingi arena. Guru mereka berseru,

"Alexander? Alexander! Tadi sudah kuperingatkan. Tidak

boleh memukul! Jangan pukul dia!"

Aku ikut bersandar, mencoba bersantai. Connor

mengamati anak-anak itu dan tertawa kecil. Ia tampak

tenang, seakan-akan tanpa beban.

Aku berkata, "Anda percaya bahwa keterangan Sanders

benar? Mungkinkah pihak universitas dipaksa bertindak

oleh orang-orang Jepang?"

"Tentu," jawab Connor.

"Dan bagaimana dengan cerita bahwa Jepang membeli

teknologi Amerika? Membeli gelar profesor di M.I.T.?"

"Itu tidak melanggar hukum. Mereka membantu ilmu

pengetahuan. Tujuan yang mulia."

Aku mengerutkan kening. "Jadi, Anda pikir ini benar?"

"Tidak," katanya. "Saya sama sekali tidak

menganggapnya benar. Kalau kita melepaskan kontrol

terhadap lembaga-lembaga kita, kita melepaskan

segala-galanya. Dan pada umumnya, sebuah lembaga

dikuasai oleh orang yang membiayainya. Kalau orang

Jepang mau menyediakan dana - sedangkan Pemerintah

dan pihak industri Amerika tidak - Jepang akan menguasai

pendidikan di Amerika. Anda tahu, sudah ada sepuluh

perguruan tinggi Amerika yang menjadi milik mereka.

Dibeli oleh mereka, untuk melatih generasi muda mereka.

Agar ada jaminan bahwa anak-anak muda dari Jepang bisa

dikirim ke Amerika."

"Tapi sekarang saja sudah banyak pemuda Jepang yang

belajar di sini. Banyak mahasiswa Jepang mendapat

pendidikan di perguruan tinggi Amerika."

"Memang. Tapi seperti biasa, orang Jepang berpikir jauh

ke depan. Mereka sadar bahwa situasinya mungkin

berubah di masa depan. Suatu hari pasti timbul reaksi yang

tidak menguntungkan bagi mereka. Tak peduli betapa

diplomatis sikap mereka - dan sekarang ini mereka berada

dalam tahap perluasan pengaruh, jadi sikap mereka sangat

diplomatis. Masalahnya, tak ada negara yang mau dikuasai

oleh negara lain Tak ada yang sudi dijajah - baik secara

ekonomi maupun militer. Dan orang Jepang yakin bahwa

suatu saat Amerika akan terjaga dari mimpi indahnya."

Aku mengamati anak-anak bermain ice skating. Aku

mendengarkan suara tawa mereka. Aku teringat pada

Michelle. Aku teringat pertemuan jam empat sore.

Aku berkata, "Untuk apa kita duduk-duduk di sini?"

"Karena," ujar Connor.

Jadi kami tetap duduk. Si guru mengumpulkan

murid-muridnya, menggiring mereka keluar arena. "Copot

ski es kalian. Ayo, copot semuanya. Kamu juga, Alexander!

Alexander!"

"Anda tahu," kata Connor, "seandainya Anda ingin

membeli perusahaan Jepang, Anda takkan berhasil.

Pengambilalihan oleh orang asing dianggap sebagai aib

oleh orang-orang di perusahaan itu. Mereka akan merasa

dipermalukan. Mereka takkan mengizinkannya."

"O, ya? Bukankah Jepang telah melonggarkan

peraturannya?"

Connor tersenyum. "Secara teori. Ya. Secara teori, kita

bisa membeli perusahaan Jepang. Tapi dalam praktek, tidak

mungkin. Sebab kalau kita mau mengambil alih suatu

perusahaan, mula-mula kita harus mendekati banknya,

untuk memperoleh persetujuan. Itu syarat pertama yang

harus dipenuhi. Dan bank bersangkutan takkan

menyetujuinya."

"Bukankah Isuzu sudah dibeli oleh General Motors?"

"GM hanya menguasai sepertiga saham Izusu. GM bukan

pemegang saham mayoritas. Dan memang, kadang-kadang

ada perkecualian. Tapi secara. keseluruhan, penanaman

modal asing di Jepang menurun dalam sepuluh tahun

terakhir. Semakin banyak perusahaan melihat Jepang

sebagai pasar yang terlalu sukar ditembus. Mereka bosan

dipermainkan, bosan menghadapi percekcokan,

persekongkolan, dango, kerja sama rahasia untuk

menghalang-halangi mereka. Mereka bosan menghadapi

peraturan Pemerintah dan sistem yang berbelit-belit. Dan

akhirnya mereka angkat tangan. Menyerah. Sebagian besar

negara sudah mundur - Jerman, Itali, Prancis. Semuanya

bosan mencoba melakukan bisnis di Jepang. Sebab, apa pun

yang dikatakan kepada umum, Jepang tetap tertutup.

Beberapa tahun lalu, T. Boone Pickens membeli seperempat

saham sebuah perusahaan Jepang, tapi dia tidak sanggup

masuk dewan direksi. Jepang tetap tertutup."

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?"

"Kita bisa tempuh jalan yang dipilih orang Eropa.

Membalas dengan cara yang sama. Seluruh dunia

menghadapi masalah yang sama dalam berhubungan

dengan Jepang. Kita tinggal menunggu pemecahan mana

yang paling ampuh. Pemecahan orang Eropa sangat

langsung. Dan cukup berhasil, paling tidak sejauh ini."

Di arena ice skating, beberapa gadis remaja mulai

melakukan pemanasan. Guru sekolah tadi menggiring

murid-muridnya menyusuri selasar. Ketika melewati kami,

ia berkata, "Apakah salah satu dari Anda Letnan Smith?"

"Ya," kataku.

Satu anak bertanya, "Anda punya pistol?"

Gurunya berkata, "Wanita itu berpesan bahwa yang

Anda cari ada di ruang ganti pria."

"O, ya?" ujarku.

Anak itu kembali bertanya, "Boleh saya lihat pistol

Anda?"

Si guru berkata, "Anda tahu, bukan, wanita Asia itu?

Kalau tidak salah, dia orang Asia."

"Ya," ujar Connor. "Terima kasih."

"Tapi saya belum lihat pistolnya."

Anak lain berkata, "Diam, tolol. Mereka lagi menyamar."

Connor dan aku mulai melangkah pergi. Anak-anak itu

mengikuti kami, terus menanyakan pistol. Di seberang

arena, pria yang membaca koran memandang curiga ke

arah kami. Ia memperhatikan kami pergi.

Ruang ganti pria ternyata kosong. Aku mulai memeriksa

lemari-lemari berwarna hijau, satu per satu, mencari

kaset-kaset itu. Connor tidak membantu. Aku

mendengarnya memanggil, "Di sini."

Ia berada di belakang, di kamar mandi. "Anda

menemukan kaset-kaset itu?"

"Tidak."

Ia sedang memegang sebuah pintu terbuka.

Kami menuruni tangga beton. Di bawah ada dua pintu.

Yang pertama menuju tempat bongkar-muat bawah tanah.

Yang satu lagi membuka ke sebuah selasar gelap dengan

balok-balok kayu di atasnya. "Lewat sini," ujar Connor.

Sambil membungkuk, kami menyusuri selasar itu. Kami

berada di bawah arena. Kami melewati mesin-mesin,

kemudian tiba di depan sejumlah pintu.

"Anda tahu tujuan kita?" tanyaku.

Salah satu pintu tidak tertutup rapat. Connor

mendorongnya sampai terbuka. Meski tak ada lampu, aku

menyadari bahwa kami berada di dalam lab. Di salah satu

sudut, aku melihat sebuah monitor menyala.

Kami segera menghampirinya.

Bab 40

THERESA ASAKUMA mendorong tubuhnya menjauhi

meja, menaikkan kacamata ke kening, dan menggosok-

gosok matanya yang indah. "Selama kita tidak ribut,

takkan ada masalah," katanya. "Tadi ada penjaga di depan

pintu. Saya tidak tahu apakah dia masih di sana."

"Penjaga?"

"Yeah. Mereka tidak main-main waktu menutup lab tadi.

Luar biasa, seperti penggerebekan pedagang narkotika.

Orang-orang Amerika benar-benar kaget."

"Dan Anda?"

"Pandangan saya mengenai negeri ini tidak sama dengan

mereka."

Connor menunjuk monitor di hadapan Theresa. Yang

terlihat adalah gambar diam dari Cheryl dan teman

kencannya, berpelukan, ketika mereka menuju ruang rapat.

Gambar yang sama, dan sudut-sudut berbeda, tampak pada

monitor-monitor lain di mejanya. Beberapa monitor

menampilkan garis-garis merah yang terpancar dari

lampu-lampu malam. "Apa yang Anda temukan setelah

mengamati rekaman ini?"

Theresa menunjuk monitor utama. "Saya belum yakin

benar," katanya. "Untuk memastikannya, saya perlu

membuat model 3-D untuk mencocokkan dimensi ruangan

dan letak semua sumber cahaya, serta bayangan yang

dihasilkan. Saya belum melakukannya, dan sepertinya

peralatan di ruangan ini memang tidak memungkinkannya.

Pekerjaan itu memerlukan waktu, satu malam dengan

komputer mini. Barangkali saya bisa menggunakan

peralatan Departemen Astrofisika minggu depan. Tapi, dalam

keadaan seperti sekarang, mungkin juga tidak. Tapi

saya sudah punya firasat mengenai ini."

"Yaitu?"

"Bayangan-bayangannya tidak cocok."

Di dalam kegelapan, Connor mengangguk perlahan.

Seakan-akan ucapan Theresa membenarkan dugaannya.

Aku berkata, "Bayangan mana yang tidak cocok?"

Theresa menunjuk monitor. "Pada waktu orang-orang

ini melintasi ruangan, bayangan mereka tampak janggal.

Entah salah tempat, atau salah bentuk. Sering kali hampir

tidak kelihatan. Tapi saya rasa ada yang tidak beres."

"Dan ini berarti..."

Theresa mengangkat bahu. "Menurut saya, Letnan,

rekaman ini sudah dimanipulasi."

Hening sejenak. "Apa yang mereka ubah?"

"Saya belum tahu persis. Tapi sepertinya sudah jelas

bahwa ada orang lain di ruangan itu, paling tidak selama

sebagian waktu."

"Orang lain? Maksud Anda, orang ketiga?"

"Ya. Ada yang menyaksikan mereka. Dan orang ketiga itu

telah dihapus secara sistematis."

"Brengsek," kataku.

Kepalaku serasa berputar-putar. Aku menatap Connor.

Seluruh perhatiannya terarah pada monitor-monitor. Ia

tampaknya sama sekali tidak terkejut. Aku berkata, "Anda

sudah tahu sebelumnya?"

"Saya menduga ada hal seperti ini."

"Kenapa?" tanyaku.

Connor tersenyum. "Detail-detailnya, Kohai. Hal-hal kecil

yang terlupakan oleh kita." Ia melirik kepada Theresa,

seakan-akan enggan berbicara terIalu banyak di

hadapannya.

Aku berkata, "Tunggu, saya minta Anda

menjielaskannya. Mulai kapan Anda tahu bahwa rekaman

ini telah diotak-atik?"

"Sejak di ruang keamanan Nakamoto."

"Kenapa?"

"Karena kaset yang hilang itu."

"Kaset yang mana?" ujarku. Sebelumnya ia sudah sempat

menyinggung hal ini.

"Coba Anda ingat-ingat lagi," kata Connor. "Waktu kita di

ruang keamanan, petugas di sana mengatakan bahwa dia

mengganti semua kaset ketika mulai berdinas, sekitar jam

sembilan."

"Ya."

"Dan semua alat perekam dilengkapi penunjuk waktu,

yang memperlihatkan masa rekam sekitar dua jam.

Masing-masing alat perekam menunjukkan waktu yang

berbeda sepuluh sampai lima belas detik dari alat perekam

sebelumnya. Sebab itulah waktu yang diperlukan untuk

mengganti satu kaset."

"Betul." Aku masih ingat itu semua.

"Dan saya menanyakan kenapa ada satu alat perekam

yang tidak cocok dengan urutan waktu itu. Alat tersebut

baru bekerja setengah jam."

"Anda bertanya apakah alat itu rusak, dan si petugas

keamanan membenarkannya."

"Ya. Itu kata dia. Saya sengaja tidak bertanya lebih lanjut.

Sebenarnya dia tahu persis bahwa alat itu tidak rusak."

"Alat itu tidak rusak?"

"Tidak. Itu merupakan satu dari sedikit kesalahan yang

dilakukan orang-orang Nakamoto. Tapi mereka hanya

berbuat begitu karena tidak ada pilihan lain. Mereka tak

sanggup mengakali teknologi mereka sendiri."

Aku bersandar ke dinding. Aku menatap Theresa dengan

pandangan menyesal. Dalam cahaya remang-remang, ia

tampak cantik sekali. "Sori, saya tak dapat mengikuti jalan

pikiran Anda."

"Karena Anda menolak penjelasan yang sudah ada di

depan mata, Kohai. Coba ingat-ingat lagi. Kalau Anda

melihat sederet alat perekam, masing-masing

menunjukkan waktu yang berbeda detik dari alat perekam

sebelumnya dan kemudian Anda melihat satu yang

menyimpang dari urut-urutan itu, apa yang Anda

pikirkan?"

"Bahwa kaset di alat itu baru diganti belakangan.”

"Ya. Dan itulah yang terjadi."

"Satu kaset ditukar belakangan?"

"Ya."

Aku mengerutkan kening. "Tapi kenapa? Semua kaset

sudah diganti pukul sembilan, jadi tak satu pun

memperlihatkan adegan pembunuhan itu."

"Benar," ujar Connor.

"Lantas, kenapa ada satu kaset yang kemudian diganti

lagi?"

"Pertanyaan bagus. Ini memang membingungkan. Cukup

lama saya memikirkan pertanyaan ini. Tapi sekarang saya

tahu," Connor berkata. "Anda harus mengingat urut-urutan

waktunya. Kaset-kaset itu diganti pukul sembilan.

Kemudian satu kaset diganti lagi pukul sepuluh

seperempat. Kita bisa berasumsi bahwa ada kejadian

penting antara pukul sembilan dan pukul sepuluh

seperempat, bahwa kejadian itu direkam, dan bahwa itulah

sebabnya kaset tersebut diambil. Lalu saya bertanya pada

diri sendiri: Kira-kira apa kejadian penting itu?"

Aku berusaha mengingat-ingat, tapi tidak menemukan

apa pun.

Theresa mulai tersenyum dan mengangguk, seakan-akan

merasa geli karena suatu hal. Aku berkata, "Anda tahu?"

"Saya bisa menebaknya," jawabnya sambil tersenyum.

"Hmm," gumamku. "Syukurlah kalau semua orang selain

saya sudah tahu jawabannya. Sebab setahu saya tidak ada

kejadian penting yang sempat direkam. Pukul sembilan,

tempat kejadian sudah diamankan dengan pita kuning.

Mayat wanita itu berada di seberang ruangan. Di dekat lift

ada sekelompok orang Jepang, dan Graham menelepon saya

untuk minta bantuan. Tapi penyelidikan baru dimulai

sekitar pukul sepuluh, setelah saya tiba di sana. Kemudian

kami berdebat panjang-lebar dengan Ishiguro. Saya rasa

tidak ada yang melewati pita kuning itu sampai menjelang

pukul setengah sebelas. Jadi, kalau seseorang melihat

rekaman itu, dia akan melihat ruangan kosong, dan seorang

wanita tergeletak di atas meja. Hanya itu."

"Daya ingat Anda cukup baik," ujar Connor. "Tapi Anda

melupakan satu hal."

Theresa berkata, "Apakah ada orang yang melintasi

ruangan? Siapa saja?"

"Tidak ada," ujarku. "Pita kuning sudah terpasang. Tidak

ada yang melewati batas itu. Malahan..."

Dan kemudian aku teringat. "Tunggu dulu! Ada satu

orang! Laki-laki pendek yang membawa kamera," kataku.

"Dia berada di balik pita, sibuk memotret."

"Betul," kata Connor.

"Laki-laki pendek yang mana?" tanya Theresa.

"Orang Jepang. Dia sibuk memotret. Kami sempat

menanyakannya pada Ishiguro. Namanya, ehm..."

"Mr. Tanaka," kata Connor.

"Ya, Mr. Tanaka. Dan Anda minta pada Ishiguro agar

orang itu menyerahkan film dari kameranya." Aku

mengerutkan kening. "Tapi film itu tak pernah sampai ke

tangan kita."

"Tidak," ujar Connor. "Dan terus terang, sejak semula

saya memang sudah menyangsikannya."

Theresa berkata, "Orang ini, dia mengambil foto?"

"Saya ragu bahwa dia memotret," kata Connor.

"Tapi mungkin juga, sebab dia memakai kamera Canon

yang baru."

"Yang membuat gambar video diam, bukan foto biasa?"

"Benar. Apakah itu ada gunanya, untuk mengubah

rekaman video?"

"Mungkin saja," balas Theresa. "Gambar-gambar itu bisa

dimanfaatkan untuk pemetaan tekstur. Prosesnya lebih

cepat, karena gambar-gambarnya sudah berbentuk digital."

Connor mengangguk. "Kalau begitu, mungkin saja dia

memang memotret. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Dia

ingin berjalan di balik pita pembatas. "

"Ah," ujar Theresa sambil mengangguk.

Aku berkata, "Dan mana Anda tahu itu?"

"Coba Anda ingat-ingat lagi," kata Connor.

Aku sedang berdiri menghadap Ishiguro ketika Graham

berseru, "Oh, astaga, apa-apaan ini?" Aku menoleh ke

belakang dan melihat pria Jepang berbadan pendek sekitar

sepuluh meter di balik pita pembatas. Orang itu

membelakangiku. Ia sedang memotret-motret tempat

kejadian. Kameranya kecil sekali, kira-kira seukuran

telapak tangan.

"Anda masih ingat bagaimana dia bergerak?", tanya

Connor. "Gerakannya tidak biasa."

Aku berusaha mengingat-ingatnya. Sia-sial.

Graham menghampiri pita pembatas dan berkata, "Demi

Tuhan, keluar dari sana. Ini tempat kejadian perkara.

Saudara tidak boleh memotret di sana!" Lalu suasana

menjadi hiruk-pikuk. Graham membentak-bentak Tanaka,

tapi Tanaka rupanya berkonsentrasi penuh pada

pekerjaannya. Ia terus memotret dan berjalan mundur ke

arah kami, meski Graham berteriak-teriak. Tanaka tidak

bereaksi seperti orang pada umumnya - berbalik dan berjalan

menghampiri pita pembatas. Ia tetap berjalan

mundur, dan masih sambil membelakangi kami,

membungkuk dan lewat di bawahnya.

Aku berkata, "Dia tak pernah berbalik. Dia terus berjalan

mundur."

"Tepat. Itu teka-teki pertama. Kenapa dia berjalan

mundur? Saya rasa kita sudah menemukan jawabannya

sekarang."

“O, ya?”

Theresa berkata, "Dia menyusuri jalur yang dilewati oleh

wanita itu dan pembunuhnya, tapi dari belakang ke depan.

Semuanya direkam, agar mereka bisa mengamati

bayangan-bayangan yang ada

"Benar," ujar Connor.

Aku teringat bahwa ketika aku memprotes, Ishiguro

berkata padaku, "Itu pegawai kami. Dia bekerja untuk

Nakamoto Security "

Lalu aku berkata, "Ini keterlaluan. Dia tidak boleh

memotret di sini."

Dan Ishiguro menjelaskan, "Tapi ini demi kepentingan

perusahaan kami."

Dan sementara itu, Tanaka menghilang di tengah

kerumunan, menyusup di antara orang-orang yang berdiri

di depan lift.

Tapi ini demi kepentingan perusahaan kami.

"Brengsek!" umpatku. "Jadi, setelah Tanaka menghilang,

dia turun ke lantai dasar dan mengambil satu kaset, sebab

kaset itu berisi rekaman yang memperlihatkannya

melintasi ruangan, lengkap dengan bayangan yang

ditimbulkannya?"

"Tepat."

"Dan dia membutuhkan kaset itu untuk mengotak-atik

rekaman yang asli?"

"Tepat."

Akhirnya aku mulai mengerti. "Tapi, biarpun kita bisa

mengusut bagaimana rekaman itu dimanipulasi, pengadilan

takkan menerimanya sebagai barang bukti, bukan?"

"Benar," ujar Theresa. "Pengacara mana pun akan

memastikan bahwa rekaman itu dinyatakan tidak sah."

"Jadi, satu-satunya cara untuk memecahkan kasus ini

adalah mencari seseorang yang bisa memberi kesaksian.

Sakamura mungkin tahu, tapi dia sudah tewas. Artinya, kita

menghadapi jalan buntu, kaecuali kalau kita bisa

menemukan Mr. Tanaka. Saya rasa dia sebaiknya segera

ditahan."

"Jangan berharap terlalu banyak," kata Connor.

"Kenapa? Anda pikir mereka akan menyembunyikannya?"

"Tidak, mereka tidak perlu repot-repot. Kemungkinan

besar Mr. Tanaka sudah mati."

Bab 41

CONNOR segera berpaling pada Theresa. "Anda mahir

dalam bidang Anda?"

"Ya," jawabnya.

"Sangat mahir?"

"Saya kira begitu."

"Waktu kita tinggal sedikit. Saya minta Anda bekerja

sama dengan Peter. Coba lihat apa yang dapat Anda peroleh

dari kaset itu. Gambatte: berusahalah sekeras-kerasnya.

Dan jangan khawatir, jasa Anda takkan dilupakan.

Sementara itu, ada beberapa orang yang perlu saya

hubungl."

Aku berkata, "Anda mau pergi?"

"Ya. Dan saya perlu kendaraan."

Aku menyerahkan kunci mobilku. "Anda mau ke mana?"

"Saya bukan istri Anda."

"Saya cuma bertanya."

"Jangan pikirkan itu. Saya harus menemui beberapa

orang." Ia berbalik untuk pergi.

"Tapi, kenapa Anda mengatakan bahwa Tanaka sudah

mati?"

"Hmm, mungkin juga belum. Kita akan membahas soal

ini kalau waktunya lebih banyak. Sekarang ini, tugas kita

masih menumpuk. Dan semuanya harus selesai sebelum

jam empat sore. Itu batas waktu kita yang sesungguhnya.

Saya rasa saya punya sejumlah kejutan untuk Anda, Kohai.

Anggap saja bisikan chokkan, naluri saya. Oke? Kalau ada

kesulitan, atau perkembangan tak terduga, hubungi saya

lewat telepon mobil. Semoga sukses. Sekarang silakan

bekerja dengan waiiita cantik ini. Urayamashii ne!"

Dan ia pergi. Kami mendengar pintu belakang menutup.

Aku bertanya pada Theresa, "Apa katanya?"

"Dia bilang, dia iri pada Anda." Theresa tersenyum dalam

kegelapan. "Mari kita mulai."

Dengan jemarinya yang lincah ia menekan beberapa

tombol berturut-turut. Rekaman itu kembali ke titik awal.

Aku berkata, "Bagaimana kita akan menanganinya?"

"Ada tiga pendekatan pokok untuk mempelajari

bagaimana rekaman video ini diotak-atik. Yang pertama

adalah blur dan tepi-tepi warna. Yang kedua adalah garis

bayangan. Kita bisa menggunakan elemen-elemen itu, tapi

saya sudah mencobanya selama dua jam terakhir, dan

hasiInya tidak menggembirakan."

"Dan cara ketiga?"

"Elemen pantulan. Saya belum sempat memeriksanya."

Aku menggelengkan kepala.

"Pada dasarnya, elemen-elemen pantulan merupakan

bagian-bagian suatu gambar yang tercermin dalam gambar

itu sendiri. Seperti waktu Sakamura berjalan meninggalkan

ruangan, dan wajahnya terlihat di cermin. Hampir pasti ada

pantulan lain di ruangan itu. Mungkin ada lampu meja

berlapis krom yang memantulkan bayangan orang, meski

dengan distorsi, pada waktu mereka lewat. Dinding-dinding

ruang rapat terbuat dari kaca. Barangkali kita bisa

mendapatkan pantulan dari sana. Atau dari pemberat

kertas di salah satu meja. Atau dari vas kaca berisi bunga.

Apa saja yang cukup mengilap."

Aku mengamatinya ketika ia bersiap-siap untuk

memutar rekaman itu. Tangannya yang utuh berpindah-

pindah dengan cepat dari satu mesin ke mesin lain.

Janggal rasanya, berdiri di samping wanita yang begitu

cantik, dan yang begitu tidak sadar akan kecantikannya.

"Dalam hampir semua gambar ada permukaan yang

menimbulkan pantulan. Di luar ada bemper mobil, jalanan

basah, kaca jendela. Dan di dalam ruangan ada bingkai foto,

cermin, tempat lilin dari perak, kaki meja berlapis krom...

Selalu ada sesuatu."

"Tapi pantulan-pantulan itu tentu juga sudah diubah,

bukan?"

"Kalau mereka punya waktu, ya. Sebab sekarang ada

program-program komputer yang dapat memetakan

gambar pada sebuah objek berlekuk-lekuk. Tapi itu butuh

waktu. Nah. Mudah-mudahan saja mereka tidak sempat

melakukannya."

Ia mulai memutar rekaman itu. Bagian pertamanya

gelap. Cheryl Austin muncul di dekat lift. Aku menatap

Theresa. Aku bertanya, "Bagaimana kesan Anda mengenai

urusan ini?"

"Maksudnya?"

"Membantu kami. Polisi."

"Maksud Anda, karena saya orang Jepang?" Ia melirik ke

arahku dan tersenyum. Senyumnya aneh, mencong. "Saya

tidak punya bayangan yang muluk-muluk mengenai Jepang.

Anda tahu di mana Sako?"

"Tidak."

"Sako adalah sebuah kota - sebenarnya sebuah desa - di

utara. Di Hokkaido. Daerah pedalaman. Di sana ada

pangkalan Angkatan Udara AS. Saya lahir di Sako. Ayah

saya ahli mesin, seorang kokujin. Anda tahu kata ini,

kokujin? Niguro. Orang kulit hitam. Ibu saya bekerja di

warung mi yang biasa dikunjungi anggota Angkatan Udara.

Mereka menikah, tapi ayah saya tewas dalam suatu kecelakaan

waktu saya berumur dua tahun. Sebagai janda, ibu

saya memperoleh pensiun kecil. Jadi kami punya sedikit

uang. Tapi sebagian besar diambil kakek saya, sebab dia

berkeras bahwa dia tertimpa aib karena kelahiran saya.

Saya dianggap ainoko dan niguro. Artinya tidak bagus. Tapi

ibu saya tetap ingin di sana, di Jepang. Jadi saya pun tinggal

di Sako. Di... tempat itu..."

Suaranya bemada getir.

"Anda tahu arti burakumin?" tanyanya. "Tidak? Itu tidak

aneh. Di Jepang, di tempat setiap orang konon dianggap

sama, tak ada yang membicarakan burakumin. Tapi

sebelum pernikahan, keluarga pengantin pria akan

menyelidiki latar belakang keluarga pengantin wanita,

untuk memastikan bahwa tidak ada burakumin dalam

silsilah mereka. Keluarga pengantin wanita akan

melakukan hal yang sama. Dan kalau ada keraguan sekecil

apa pun, pemikahannya batal. Burakumin adalah golongan

paria di Jepang. Orang buangan, golongan paling hina.

Mereka keturunan tukang samak dan pengrajin kulit, yang

dalam ajaran Buddha dianggap najis."

"Begitu."

"Dan saya lebih hina dari burakumin, karena saya cacat.

Bagi orang Jepang, cacat fisik adalah hal yang memalukan.

Bukan menyedihkan, atau menjadi beban. Memalukan.

Tanda bahwa kita berdosa. Cacat membawa aib pada kita,

keluarga kita, dan lingkungan sekitar kita. Orang-orang di

sekeliling kita berharap kita mati saja. Dan kalau kita

setengah berkulit hitam, ainoko dari orang Amerika

berhidung besar..." Ia menggelengkan kepala. "Anak-anak

kejam sekali. Dan ini kota kecil di pedalaman."

Ia menyaksikan rekaman di monitor.

"Jadi, saya bersyukur bisa tinggal di sini. Kalian orang

Amerika tidak menyadari kesentosaan yang ada di negeri

ini. Kebebasan yang kalian nikmati. Anda tidak bisa

membayangkan pahitnya hidup di Jepang, jika Anda

dikucilkan dari kelompok. Tapi saya tahu persis. Jadi saya

tidak keberatan kalau sekarang orang Jepang menderita

sedikit, berkat usaha saya dengan tangan saya yang sehat."

Ia menatapku. Wajahnya tampak bagaikan topeng,

akibat gejolak perasaan di hatinya. "Apakab pertanyaan

Anda sudah terjawab, Letnan?"

"Ya," kataku.

"Ketika saya datang ke Amerika, saya pikir pandangan

orang Amerika mengenai orang Jepang sangat naif - tapi

sudahlah. Ini adegan yang kita tunggu. Anda amati dua

monitor di atas. Saya akan memantau ketiga monitor di

bawah. Carilah benda-benda dengan permukaan mengilap.

Carilah dengan saksama. Oke, kita mulai."

Bab 42

DALAM kegelapan aku mengamati layar-layar monitor.

Theresa Asakuma tidak suka pada orang Jepang, tapi

begitu juga aku. Insiden dengan Wilhelm si Musang telah

menyulut kemarahanku. Kemarahan seseorang yang

sedang diliputi rasa takut. Satu kalimat terus

terngiang-ngiang di telingaku.

Dalam keadaan seperti sekarang, apakah Anda tidak

sependapat bahwa pengadilan telah membuat kekeliruan

dengan memberikan hak asuh atas putri Anda kepada Anda?

Aku tak pernah menuntut hak asuh. Dalam suasana

perceraian, Lauren pindah, mengemasi barang-barang, ini

punyaku, itu milikmu - dalam suasana seperti ltu, hal

terakhir yang kuinginkan adalah hak asuh atas bayi berusia

tujuh bulan. Shelly baru belajar melangkah, dengan

berpegangan pada perabot. Ia bisa bilang "Mama".

Ucapannya yang pertama. Tapi Lauren tak ingin mengemban

tanggung jawab dan terus berkata, "Aku tidak sanggup,

Peter. Aku tidak sanggup." Jadi aku yang mengasuh

Michelle. Apa lagi yang dapat kulakukan?

Tapi itu terjadi dua tahun lalu. Aku telah mengubah cara

hidupku. Aku pindah tugas, mengubah jadwal kerjaku.

Michelle sudah menjadi anakku sekarang. Dan bayangan

bahwa aku harus merelakannya terasa seperti pisau yang

diputar-putar di perutku.

Dalam keadaan seperti sekarang, Letnan, apakah Anda

tidak sependapat...

Di monitor, Cheryl Austin menanti kedatangan teman

kencannya dalam kegelapan. Aku memperhatikan caranya

memandang berkeliling.

Pengadilan telah membuat kekeliruan...

Tidak, pikirku, pengadilan tidak membuat kekeliruan.

Lauren tidak sanggup mengatasinya, dan dari dulu ia

memang tak pernah sanggup. Ia sering lalai menjemput

Michelle pada akhlr pekan. Ia terlalu sibuk, hingga tak

sempat menemui putrinya sendiri. Suatu kali ia mengantar

Michelle pulang setelah berakhir pekan. Michelle menangis.

Lauren berkata, "Aku benar-benar kehabisan akal menghadapi

anak ini." Aku segera memeriksa Michelle. Ternyata

popoknya basah, dan ia terkena ruam hebat. Michelle selalu

terkena ruam kalau popoknya tidak segera diganti.

Rupanya Lauren tidak cukup sering mengganti popok

selama akhir pekan. Aku langsung mengganti popok

Michelle, dan menemukan sisa tinja di vaginanya.

Bayangkan, anaknya sendiri tidak dibersihkan secara

benar.

Anda tidak sependapat bahwa pengadilan telah membuat

kekeliruan?

Tidak, sama sekali tidak.

Dalam keadaan seperti sekarang, apakah Anda tidak

sependapat..

"Brengsek!" kataku.

Theresa menekan sebuah tombol, menghentikan alat

playback. Gambar pada semua monitor di sekitar kami

langsung membeku. "Ada apa?" tanyanya. "Apa yang Anda

lihat?"

"Tidak ada apa-apa."

Ia menatapku. '

"Sori. Saya memikirkan urusan lain."

"Jangan. “

Ia meneruskan rekaman itu.

Pada beberapa monitor sekaligus, Cheryl Austin sedang

dipeluk teman kencannya. Gambar-gambar dari semua

kamera dikoordinasikan secara menyeramkan. Sepertinya

kami bisa mengamati kejadian itu dari semua sisi-dari

depan dan belakang, atas dan samping. Seperti gambar

arsitektur yang bisa bergerak.

Bulu kudukku berdiri ketika menyaksikan mereka.

Kedua monitor yang kuamati memperlihatkan

pandangan dari seberang ruangan, dan dari atas, lurus ke

bawah. Pada monitor pertama, Cheryl dan teman

kencannya tampak kecil, pada monitor yang satu lagi,

hanya bagian atas kepala mereka yang kelihatan. Tapi aku

terus memantau gerak-gerik mereka.

Theresa Asakuma, yang berdiri di sampingku, menarik

napas secara berirama. Aku meliriknya.

"Perhatikan monitor."

Pandanganku kembali ke layar.

Kedua sejoli itu sedang berpelukan penuh gairah. Si pria

mendorong Cheryl ke sebuah meja. Dari pandangan atas,

aku bisa melihat wajah Cheryl ketika berbaring. Di

sampingnya, sebuah foto berbingkai tersenggol dan jatuh.

"Itu," kataku.

Theresa menghentikan rekaman.

"Apa?" tanyanya.

"Ini." Aku menunjuk foto berbingkai. Foto itu tergeletak

di meja, menghadap ke atas. Terpantul di kaca, kami

melihat cerminan kepala si pria ketika ia membungkuk di

atas Cheryl. Gelap sekali. Hanya sebuah siluet.

"Anda bisa membuatnya lebih jelas?" kataku.

"Entahlah. Tapi bisa dicoba."

Tangannya menyentuh beberapa tombol kontrol.

"Gambar video ini berbentuk digital," ujar Theresa. "Dan

sekarang sudah saya pindahkan ke komputer. Coba lihat

apa yang bisa kita lakukan."

Gambar itu mulai membesar, ketika Theresa memfokus

bingkai foto. Gambarnya melewati wajah Cheryl yang diam,

kepalanya mendongak akibat luapan gairah, lalu menyusuri

bahu dan mendekati bingkai.

Semakin lama gambarnya semakin kasar, sampai

membentuk pola titik-titik, seperti foto di koran yang

diamati dari jarak yang terlalu dekat. Kemudian titik-titik

itu pun membesar, memperlihatkan garis tepi, dan berubah

menjadi kotak-kotak kecil berwarna kelabu. Dalam waktu

singkat aku tak sanggup lagi mengenali gambar yang ada di

hadapan kami.

"Apakah ini akan berhasil?"

"Saya sangsi. Tapi itu tepi bingkai, dan itu wajahnya."

Untung saja Theresa bisa melihatnya. Sebab aku tidak

bisa.

"Sekarang kita pertajam.”

Ia menekan beberapa tombol. Menu-menu komputer

muncul, lalu menghilang lagi. Gambarnya bertambah jelas.

Bertambah kasar. Tapi sekarang aku bisa melihat bingkai

itu. Dan sebuah kepala.

"Pertajam lagi."

Theresa mengusahakannya.

"Oke. Kalau kita bisa menyesuaikan susunan warna

kelabu..."

Wajah di bingkai mulai timbul perlahan-lahan.

Menyeramkan sekali.

Akibat pembesaran berulang-ulang, gambarnya kasar

sekali - setiap pupil mata hanya berupa titik hitam -

sehingga kami tidak dapat melakukan identifikasi. Kami

hanya melihat bahwa mata pria itu terbuka, mulutnya agak

mencong, mungkin karena bergairah, atau terangsang, atau

benci. Tapi kami tak sanggup memastikannya.

"Apakah ini wajah orang Jepang?"

Theresa menggelengkan kepala. "Detailnya tidak cukup."

"Tidak bisa dipertajam lagi?"

"Nanti saya coba. Tapi harapannya tipis. Lebih baik kita

cari pantulan lain."

Gambar di monitor kembali bergerak. Cheryl tiba-tiba

mendorong pria itu, mendorong dadanya dengan telapak

tangan. Wajah di bingkai langsung lenyap.

Kami kembali mengamati kelima monitor.

Pasangan itu saling menjauh. Cheryl marah-marah.

Berulang kali ia mendorong si pria. Ia tampak gusar.

Setelah melihat wajah pria itu terpantul pada bingkai foto,

aku curiga babwa Cheryl mendadak merasa takut. Tapi aku

tak bisa memastikannya.

Kedua sejoli itu berdiri di tengah ruangan, membahas ke

mana mereka akan pergi. Cheryl memandang berkeliling. Si

pria mengangguk. Cheryl menunjuk ke ruang rapat. Teman

kencannya rupanya setuju.

Mereka berciuman, berpelukan. Aku menangkap kesan

akrab dalam cara mereka berangkulan, saling menjauh, lalu

berangkulan lagi.

Theresa juga melihatnya. "Wanita itu mengenalnya.”

"Ya. Saya kira begitu."

Sambil berciuman, mereka melintasi ruangan, menuju

ruang rapat. Monitor-monitor yang kuamati tidak berguna

lagi. Kamera pertama memperlihatkan seluruh ruangan,

dan pasangan itu melintas dari kanan ke kiri. Tapi sosok

mereka terlalu kecil, nyaris tak terlihat. Mereka berjalan di

antara meja-meja, menuju ke...

"Tunggu," kataku. "Apa itu?"

Theresa memundurkan rekaman, frame demi frame.

"Itu, " kataku.

Aku menunjuk monitor. “Anda lihat ini? Apa ini?"

Ketika sepasang sejoli itu melintasi ruangan, kamera

sempat merekam lukisan kaligrafi Jepang berukuran besar

yang tergantung pada dinding di dekat lift. Lukisan itu

berada di balik kaca. Sepintas terlihat pantulan cahaya pada

kaca itu. Itulah yang menarik perhatianku.

Pantulan cahaya.

Theresa mengerutkan kening. "Itu bukan pantulan

mereka," katanya.

"Bukan."

"Mari kita periksa."

Ia kembali memperbesar gambar, bergeser ke lukisan

itu. Dengan setiap langkah, gambarnya bertambah kasar.

Pantulan tadi membesar, terbelah dua. Di salah satu sudut

tampak titik terang yang kabur. Dan sebuah garis vertikal,

hampir setinggi lukisan.

"Sekarang kita goyangkan," ujar Theresa.

Ia mulai memaju-mundurkan gambar itu, setiap kali satu

frame. Bolak-balik di antara dua frame. Di satu frame, garis

vertikal itu tidak tampak. Di frame berikut, ada. Garis

vertikal itu bertahan selama sepuluh frame. Lalu lenyap,

dan tak pernah muncul lagi. Tetapi titik terang di sudut

tetap kelihatan.

"Hmm."

Ia mulai memeriksa titik itu. Di bawah pembesaran

beberapa kali, titik itu terurai sampai menyerupai

sekumpulan bintang di foto astronomi. Tapi sepertinya ada

keteraturan tertentu. Aku hampir bisa membayangkan

bentuk X. Aku mengatakannya kepada Theresa.

"Ya," katanya. "Coba kita pertajam."

Ia menekan sebuah tombol. Komputer-komputer sibuk

mengolah data. Titik kabur itu mulai lebih tajam. Sekarang

kelihatannya seperti angka-angka Romawi.

"Brengsek, apa itu?" tanyaku.

Theresa terus bekerja. "Sekarang kita pertajam bagian

pinggir," katanya. Garis tepi angka-angka Romawi itu mulai

lebih jelas.

Theresa berusaha untuk semakin mempertajam gambar.

Dari beberapa segi, mutu gambar bertambah baik; dari segi

lain malah semakin tidak jelas. Tapi akhirnya kami dapat

mengenalinya.

"Itu pantulan tanda EXIT," ujar Theresa. "Di ujung

ruangan, di seberang lift, ada pintu keluar, bukan?"

"Ya," kataku.

"Tanda itulah yang terpantul. Hanya itu." Ia maju ke

frame berikut. "Tapi garis terang yang vertikal ini. Ini

menarik. Anda lihat? Muncul sebentar, lalu lenyap." Ia

memaju-mundurkan bagian itu beberapa kali.

Dan kemudian aku menemukan jawabannya.

"Di sana ada pintu kebakaran," kataku. "Dan tangga

darurat. Garis itu pasti pantulan cabaya dari tangga pada

waktu seseorang membuka pintu, lalu menutupnya lagi."

“Maksud Anda, ada orang lain masuk ke ruangan itu?"

tanya Theresa. "Lewat tangga belakang?"

"Ya."

"Menarik. Coba kita lihat siapa orangnya."

Ia memutar rekaman. Dengan pembesaran seperti ini,

gambarnya yang kasar tampak meledak-ledak seperti

kembang api. Sepertinya setiap komponen menari-nari

sesuai keinginannya sendiri, tanpa penghiraukan gambar

yang dibentuknya. Aku menggosok-gosok mata. "Astaga."

"Oke. Itu dia."

Aku menatap monitor. Theresa telah membekukan

gambar. Aku tidak melihat apa-apa selain titik-titik hitam

dan putih. Sepertinya ada pola tertentu, tapi aku tak bisa

memastikannya. Tampilan di monitor mirip sonogram yang

kulihat ketika Lauren mengandung. Dokternya

menjelaskan,

"Itu kepalanya, dan itu perut janin..." Tapi aku tidak

melihat apa-apa. Gambarnya terlalu abstrak. Putriku masih

di dalam rahim.

Dokternya berkata, "Nah, Anda lihat itu? Dia baru saja

menggerakkan jari. Dan itu? Jantungnya berdenyut."

Aku melihat itu. Aku melihat jantungnya berdenyut.

Jantungnya yang mungil dan tulang iganya yang kecil.

Dalam keadaan seperti sekarang, Letnan, apakah Anda

tidak berpendapat bahwa...

"Lihat," ujar Theresa. "Itu bahunya. Itu kepalanya.

Sekarang dia bergerak maju - lihat, sosoknya bertambah

besar - dan sekarang dia berdiri di selasar, mengintip dari

balik pojok. Dia berhati-hati. Profil hidungnya kelihatan

pada waktu dia menoleh. Anda lihat itu? Saya tahu,

memang tidak mudah. Anda harus mengamatinya dengan

saksama. Sekarang dia melihat mereka. Dia menonton

mereka."

Dan tiba-tiba saja aku bisa melihatnya. Titik-titik itu

dapat membentuk sebuah gambar. Aku melihat siluet

seorang pria berdiri di selasar, di dekat pintu kebakaran.

Ia sedang menonton.

Di seberang ruangan, Cheryl dan teman kencannya

masih berciuman. Mereka tidak mengetahui kedatangan

orang ketiga itu.

Tapi orang itu menonton mereka. Bulu kudukku berdiri.

"Anda bisa mengenalinya?"

Theresa menggelengkan kepala. “Tidak bisa. Saya telah

mengerahkan seluruh kemampuan peralatan ini.

Gambarnya tidak bisa diperjelas lagi."

"Kalau begitu, kita lanjutkan saja."

Adegan itu kembali diputar dengan kecepatan penuh.

Aku sempat bingung melihat gambar di monitor berubah ke

ukuran normal. Aku memperhatikan sepasang sejoli itu

melintasi ruangan sambil terus berciuman.

"Jadi, sekarang mereka jadi tontonan," ujar Theresa.

"Menarik. Wanita macam apa ini.

Aku berkata, "Kalau tidak salah, istilahnya torigaru

onnai."

Ia bertanya, "Burungnya ringan? Tori apa?"

"Maksud saya, dia perempuan gampangan."

Theresa menggelengkan kepala. "Pria selalu

berkomentar seperti ini. Menurut saya, dia mencintai

laki-laki itu, tapi pikirannya terganggu."

Cheryl dan pasangannya sudah hampir sampai di ruang

rapat, tiba-tiba Cheryl memberontak, berusaha melepaskan

diri.

"Kalau dia mencintainya, dia punya cara aneh untuk

memperlihatkannya."

"Dia sadar bahwa ada yang tidak beres."

"Kenapa Anda berkata begitu?"

"Entahlah. Barangkali dia mendengar sesuatu. Laki-laki

yang satu lagi, mungkin. Saya tidak tahu."

Apa pun alasannya, Cheryl tampak meronta-ronta. Pria

itu merangkul pinggangnya dengan kedua tangan dan

setengah menyeretnya ke ruang rapat. Ketika mereka

sampai di pintu, Cheryl memberontak sekali lagi.

"Mungkin ada sesuatu untuk kita di sini," ujar Theresa.

Dinding-dinding ruang rapat terbuat dari kaca. Melalui

dinding-dinding luar, kami bisa melihat lampu-lampu di

kota. Tapi dinding-dinding bagian dalam, yang menghadap

ke atrium, cukup gelap untuk berfungsi sebagai cermin.

Karena Cheryl dan teman kencannya berdiri di dekat

dinding dalam, bayangan mereka terpantul di kaca ketika

mereka bergelut.

Theresa memajukan rekaman secara perlahan-lahan,

frame demi frame, mencari gambar yang bermanfaat bagi

kami. Sesekali ia memperbesar gambar, mengamati

titik-titik warna, lalu kembali ke ukuran semula. Bukan

pekerjaan mudah. Kedua orang itu bergerak dengan cepat,

dan sering kali mereka tampak kabur. Dan lampu-lampu

dari gedung-gedung pencakar langit di luar kadangkadang

menimpa pantulan yang seharusnya memadai.

Sangat melelahkan.

Sangat lambat.

Berhenti. Perbesar gambar. Cari bagian gambar dengan

detail cukup banyak. Angkat tangan. Maju lagi. Berhenti

lagi.

Akhirnya Theresa menghela napas. "Percuma saja. Kita

hanya membuang-buang waktu."

"Kalau begitu, putar rekamannya lagi."

Aku melihat Cheryl berpegangan pada kusen pintu,

berusaha agar tidak ditarik ke ruang rapat. Pria itu

akhirnya berhasil merenggutnya; Cheryl terseret. Ia tampak

ketakutan. Ia mengayunkan tangan untuk memukul teman

kencannya. Tasnya terpental. Kemudian mereka berada di

dalam ruangan. Siluet-siluet yang bergerak cepat, berputar.

Cheryl didorong ke meja, dan ia muncul di kamera yang

membidik lurus ke bawah di ruang rapat. Rambut

pirangnya yang pendek sangat kontras dengan meja yang

terbuat dari kayu berwarna gelap. Sikapnya berubah lagi.

Selama satu menit ia berhenti meronta-ronta. Ia tampak

berharap. Bergairah. Ia menjilat-jilat bibir. Matanya

mengikuti gerak-gerik pria yang membungkuk di atasnya.

Ia membiarkan roknya diangkat sampai ke pinggang.

Ia tersenyum, merengut, berbisik ke telinga teman

kencannya.

Laki-laki itu menarik celana dalamnya dengan gerakan

menyentak.

Cheryl menatapnya sambil tersenyum. Senyumnya

berkesan tegang - setengah terangsang, setengah

memohon.

Gairahnya bangkit akibat rasa takutnya sendiri.

Tangan pria itu mengelus-elus lehernya.

Bab 43

DI tengah kegelapan di laboratorium, dengan suara para

pemain ice skating di atas kepala, kami menyaksikan

adegan penghabisan itu berulang-ulang. Adegan itu terlihat

pada lima monitor, dari sudut yang berbeda-beda. Cheryl

mengangkat kaki ke bahu teman kencannya. Pria itu

membungkuk, mengotak-atik celana. Setelah kesekian kali,

aku melihat hal-hal kecil yang semula luput dari perhatiank-

u. Cara Cheryl menggeliat-geliut di atas meja,

menggoyang-goyangkan pinggang. Bagaimana laki-laki itu

mendorong badannya ke belakang pada saat penetrasi.

Perubahan pada senyum Cheryl, bagaikan kucing, penuh

arti. Penuh perhitungan. Bagaimana ia mendesak pria itu

dengan mengatakan sesuatu. Perubahan sikapnya yang

mendadak, kilatan marah di matanya, tamparan yang tak

terduga. Cara ia memberontak, mula-mula untuk

merangsang teman kencannya, dan kemudian

meronta-ronta dengan cara yang berbeda, karena ada

sesuatu yang tidak beres. Bagaimana ia membelalakkan

mata. Ia kelihatan benar-benar takut. Ia berusaha

melepaskan tangan laki-laki itu, mendorong lengan jasnya

sampai mansetnya yang berkilauan kelihatan jelas. Lalu

lengannya terkulai, dengan telapak terbuka. Lima jari pucat

di atas meja yang hitam. Tangannya gemetar, jarinya menegang,

lalu hening.

Pria itu kebingungan. Ia tidak segera sadar bahwa ada

yang tidak beres. Ia terdiam sejenak, lalu memegang kepala

Cheryl dengan kedua tangannya, menggerak-gerakkannya,

berusaha merangsang Cheryl, sebelum akhirnya mundur.

Dari belakang pun kengerian yang melandanya hampir bisa

dirasakan. Gerak-geriknya serba pelan, seakan-akan tidak

sadar sepenuhnya. Ia berjalan mondar-mandir tanpa

tujuan, mula-mula ke sini, lalu ke sana. Berusaha mencari

akal, memutuskan langkah berikutnya.

Setiap kali adegan itu diulang, perasaanku berbeda. Pada

awalnya ada semacam ketegangan, ketegangan yang

hampir bersifat seksual. Kemudian aku merasa semakin tak

terlibat, semakin analitis. Seakan-akan aku bergerak

menjauhi monitor. Dan akhirnya seluruh adegan itu terurai

di depan mataku, sosok-sosok itu kehilangan identitas

sebagai manusia, berubah menjadi abstraksi, elemen desain,

bergeser dan bergerak dalam bidang yang gelap.

Theresa berkata, "Wanita ini sakit."

"Kelihatannya begitu."

"Dia bukan korban."

"Mungkin bukan."

Kami menyaksikannya sekali lagi. Tapi aku tidak tahu

lagi kenapa kami menontonnya. Akhirnya aku berkata,

"Kita lanjutkan saja, Theresa."

Sampai saat itu, kami menyaksikan adegan itu sampai

titik tertentu, lalu mundur untuk mengulanginya.

Penggalan itu telah kami tonton berulang-ulang, tapi

sisanya sama sekali belum kami lihat. Hampir seketika

setelah Theresa kembali memutar rekaman itu terjadi

sesuatu yang menarik perhatian kami. Pria itu terdiam dan

menengok ke samping - seakan-akan melihat atau

mendengar sesuatu.

"Laki-laki yang satu lagi?" tanyaku.

"Mungkin." Theresa menunjuk ke monitor "Di bagian

inilah saya menemukan bayangan-bayangan yang janggal.

Sekarang kita tahu apa sebabnya."

"Karena ada sesuatu yang dihapus?"

Ia memundurkan rekaman itu. Pada monitor pandangan

samping, kami melihat teman kencan Cheryl menoleh ke

arah pintu darurat. Sepertinya ia telah melihat seseorang.

Tetapi ia tidak tampak takut atau bersalah.

Theresa membesarkan gambarnya. Orang itu hanya

kelihatan sebagai siluet. "Apa yang Anda perhatikan?"

"Profilnya."

"Ada apa dengan profilnya?"

"Saya mengamati rahang orang itu. Nah. Anda lihat?

Rahangnya bergerak-gerak. Dia sedang bicara.”

“Dengan orang yang satu lagi?"

"Mungkin, atau dengan dirinya sendiri. Dan sekarang dia

mendadak bersemangat lagi."

Laki-laki itu melintasi ruang rapat. Gerak-geriknya pasti.

Aku teringat betapa membingungkan bagian, ini, ketika aku

melibatnya di markas polisi pada malam sebelunrnya. Tapi

dengan lima kamera, semuanya jelas. Ia memungut celana

dalam Cheryl dari lantai.

Dan kemudian ia membungkuk di atas wanita yang

sudah tak bernyawa itu dan melepaskan jam tangannya.

"Dia mengambil arlojinya," komentarku.

Aku hanya bisa memikirkan satu alasan kenapa ia

berbuat begitu: arloji itu digravir dengan namanya. Pria itu

menyelipkan celana dalam dan arloji ke dalam kantong. Ia

baru saja berbalik untuk pergi, ketika gambarnya membeku

lagi. Theresa menghentikannya.

"Ada apa?" tanyaku.

Ia menunjuk satu dari kelima monitor. "Itu," katanya. Ia

menatap monitor dengan pandangan samping, yang

memperlihatkan ruang rapat dari arah atrium. Aku melihat

siluet Cheryl di atas meja, dan teman kencannya di dalam

ruang rapat.

"Yeah? Jadi?"

“Itu," ujar Theresa sambil menunjuk. "Mereka lupa

menghapus yang ini." Di sudut monitor, aku melihat sebuah

sosok yang tampak samar-samar. Seorang laki-laki.

Si orang ketiga.

Ia telah melangkah maju, dan kini berdiri di

tengah-tengah atrium, memandang ke arah si pembunuh di

dalam ruang rapat. Bayangan orang ketiga itu tercermin

pada dinding kaca. Utuh, namun kabur.

"Bisa diperjelas?"

"Akan saya coba," jawab Theresa.

Ia mulai mernperbesar gambar, memainkan tombol-

tombol, melihat bayangan itu terurai. Ia mempertajamnya,

meningkatkan kontras. Gambar itu menjadi

pucat. Theresa memperbaikinya, lalu melakukan

pembesaran lagi. Kami hampir dapat mengidentifikasi

orang itu.

Hampir, tapi belum.

"Sekarang saya akan memajukan rekaman frame demi

frame," Theresa memberitahuku.

Bayangan pria itu menjadi lebih tajam, kabur lagi, tajam.

Dan akhlrnya kami dapat melihatnya dengan jelas.

"Ini baru kejutan," kataku.

"Anda tahu siapa dia?"

"Ya," ujarku. "Itu Eddie Sakamura

Bab 44

SETELAH itu tak ada kesulitan lagi. Kini kami

mengetahui dengan pasti bahwa rekaman itu telah

dimanipulasi, dan bahwa identitas si pembunuh telah

diubah. Kami melihat si pembunuh keluar dari ruang rapat

dan menuju pintu darurat. Ia menoleh satu kali dan

menatap Cheryl. Sepertinya ia menyesal.

Aku berkata,, "Bagaimana mereka bisa mengganti

identitas si pembunuh dalam waktu beberapa jam saja?"

"Mereka punya software yang sangat canggih," jawab

Theresa. "Paling canggih di seluruh dunia. Orang Jepang

semakin jago membuat software. Tak lama lagi mereka

akan melampaui Amerika, seperti yang sudah mereka

lakukan dalam. bidang komputer."

"Jadi mereka menggunakan software yang lebih baik?"

"Dengan software yang paling baik pun tetap banyak

masalah risiko. Dan orang Jepang termasuk bangsa yang

lebih suka menghindari masalah. Jadi saya kira pekerjaan

ini tidak terlalu berat. Soalnya si pembunuh terus-menerus

berciuman, atau berdiri di tempat gelap, sehingga wajahnya

tidak kelihatan. Saya rasa, baru belakangan mereka

memutuskan untuk mengganti identitas si pembunuh.

Sebab mereka melihat bahwa mereka hanya perlu

mengganti bagian yang terlihat sekarang ini. Nah, ini.

Waktu dia lewat di depan cermin."

Pantulan wajah Eddie Sakamura kelihatan jelas.

Tangannya mengenai dinding, memperlihatkan bekas

lukanya.

"Anda lihat sendiri," ujar Theresa, "jika mereka

mengubah ini, sisanya tak perlu diapa-apakan. Ini

kesempatan emas, dan mereka tidak menyia-nyiakannya.

Itu dugaan saya."

Di semua monitor, Eddie Sakamura terlihat berjalan

melewati cermin, menuju tempat gelap. Theresa

memundurkan rekaman.

Ia memfokus pantulan di cermin dan memperbesarnya

secara bertahap, sampai wajah itu terurai menjadi

bidang-bidang. "Ah," ujar Theresa. "Lihat titik-titik warna

ini. Semuanya serba teratur. Ini hasil manipulasi. Di sini, di

tulang pipi, di tempat ada bayangan di bawah mata.

Biasanya pertemuan antara dua bidang warna agak

tumpang tindih. Tapi di sini garis tepinya lurus. Sudah

dibersihkan. Dan coba saya lihat..."

Gambar itu bergerak menyamping.

"Ya. Di sini juga."

Aku hanya melihat bidang-bidang kelabu. Entah apa

yang dilihat Theresa. "Apa itu?"

"Tangan kanannya. Bekas luka di tangan kanannya.

Bekas luka ini merupakan tambahan. Itu kelihatan dari

susunan titik-titik warna."

Aku tidak melihatnya, tapi aku percaya penuh pada

Theresa. "Kalau begitu, siapa pembunuh Chery Austin?"

Theresa menggelengkan kepala. "Rasanya sukar untuk

menentukannya. Kita sudah memeriksa semua pantulan

dan belum menemukan petunjuk. Masih ada satu cara lagi.

Saya belum mencobanya, karena ini yang paling mudah,

tapi yang juga paling mudah diotak-atik. Detail bayangan."

"Detail bayangan?"

"Ya. Kita bisa memperbesar daerah-daerah gelap di

dalam gambar, daerah bayang-bayang dan siluet-siluet.

Mungkin ada satu bagian dengan cukup cahaya, sehingga

kita bisa mengenali wajah si pembunuh. Bisa dicoba."

Sepertinya ia tidak berharap terlalu banyak.

"Menurut Anda, ini takkan berhasil?"

Ia mengangkat bahu. "Saya menyangsikannya. Tapi kita

coba saja dulu. Ini pilihan terakhir."

"Oke," kataku. "Mari kita mulai."

Ia memutar rekaman secara terbalik. Eddie Sakamura

tampak berjalan mundur dari cermin ke arah ruang rapat.

"Tunggu dulu," ujarku. "Apa yang terjadi setelah dia

melewati cermin? Kita belum melihat bagian itu."

"Saya sudah sempat mengamatinya. Dia melangkah ke

bawah langit-langit rendah dan bergerak menjauh, ke arah

tangga."

"Bisa saya lihat dulu?"

"Silakan."

Theresa menekan sebuah tombol. Eddie Sakamura

menuju pintu darurat. Wajahnya terpantul di cermin ketika

ia melewatinya. Semakin sering kulihat adegan itu,

kesannya semakin dibuat-buat. Sepertinya orang itu

sempat berhenti sejenak, agar kami lebih mudah

mengenalinya.

Si pembunuh terus berjalan, memasuki selasar gelap,

menuju tangga kebakaran yang terletak di balik pojok,

tidak kelihatan. Dindingnya berwarna terang, sehingga si

pembunuh tampak sebagai siluet. Tetapi siluetnya tidak

memperlihatkan detail-detail. Semuanya serba gelap.

"Hmm," ujar Theresa. "Saya ingat bagian ini. Di sini tidak

ada apa-apa. Terlalu gelap. Kuronbo. Dulu saya biasa

dipanggil begitu. Orang hitam."

"Saya pikir Anda bisa mempertajam detail bayangan."

"Memang, tapi di sini tidak mungkin. Lagi pula, saya

yakin bagian ini sudah diotak-atik. Mereka tahu kita akan

memeriksa bagian sebelum dan sesudah cermin. Mereka

tahu kita akan menelitinya frame demi frame. Jadi, bagian

ini pasti telah dikerjakan dengan saksama. Bayangan orang

ini sudah dibuat hitam."

"Oke, tapi biarpun begitu..."

"Hei!" Theresa mendadak berseru. "Apa itu?"

Gambar di monitor membeku.

Aku melihat sosok si pembunuh, berjalan ke arah

dinding putih di latar belakang. Di atas kepalanya ada tanda

exit.

"Kelihatannya seperti siluet."

"Ya, tapi ada yang janggal."

Rekaman itu diputar mundur dalam gerak lambat.

Sambil menonton, aku berkata, "Machigai no umi oshete

kudasaii." Sebuah ungkapan yang kupelajari dalam kursus

bahasa Jepang.

Theresa tersenyum dalam kegelapan. "Anda harus lebih

giat belajar bahasa Jepang, Letnan. Anda ingin tahu apakah

ada kesalahan?"

"Ya."

"Kata yang tepat adalah umu, bukan umi. Umi berarti

samudra. Umu berarti Anda menanyakan ya atau tidak

mengenai sesuatu. Dan ya, saya kira mereka telah membuat

kesalahan."

Rekaman terus diputar mundur. Siluet si pembunuh

mendekati kami. Theresa menghela napas, terkejut.

"Memang ada kesalahan. Anda melihatnya?"

"Tidak," kataku.

Ia memutar rekaman ke arah yang benar untukku. Aku

memperhatikan sliluet pria itu bergerak menjauh.

"Nah, Anda melihatnya sekarang?"

"Tidak. Sori."

Theresa mulai jengkel. "Jangan melamun. Amati

bahunya. Pusatkan perhatian Anda pada bahu pria itu.

Anda lihat bagaimana bahunya bergerak naik-turun waktu

dia melangkah, berirama, dan kemudian... Nah, itu dia!

Anda melihatnya?"

Ya. Akhirnya. "Sepertinya siluetnya berubah. Jadi lebih

tinggi."

"Betul. Tepat sekali." Ia memutar beberapa tombol.

"Perbedaan tingginya cukup mencolok, Letnan. Mereka

berusaha menutup-nutupinya, tapi sepertinya asal-asalan

saja."

"Dan ini berarti?"

"Ini berarti mereka terlalu takabur," ujar Theresa.

Sepertinya ia marah. Aku tidak tahu kenapa.

Jadi aku menanyakannya.

"Ya. Ini menyebalkan sekali," kata Theresa. Ia sedang

memperbesar gambar di monitor. Tangannya yang sehat

bergerak dengan lincah. "Soalnya mereka membuat

kesalahan mencolok. Mereka yakin kita akan ceroboh. Kita

tidak teliti, tidak cerdas, tidak bersikap Jepang."

"Tapi..."

"Oh, saya benci mereka." Gambar di monitor tampak

bergeser. Theresa sedang memfokus tepi kepala. "Anda

tahu Takeshita Noboru?"

Aku berkata, "Pengusaha Jepang?"

"Bukan. Takeshita mantan perdana menteri. Beberapa

tahun lalu; dia berkelakar mengenai pelaut-pelaut Amerika

yang sedang berkunjung dengan kapal angkatan laut.

Katanya Amerika sekarang begitu miskin, sehingga para

pelautnya tidak mampu turun ke darat untuk menikmati

Jepang. Semuanya terlalu mahal untuk mereka. Dia bilang,

mereka hanya bisa tinggal di atas kapal dan saling

menularkan AIDS. Semua orang Jepang tahu lelucon itu."

"Dia bilang begitu?"

Theresa mengangguk. "Kalau saya orang Amerika, dan

saya diejek seperti itu, saya akan mengambil kapal saya dan

menyuruh Jepang membiayai sendiri pertahanannya. Anda

tidak tahu Takesbita berkata begitu?"

"Tidak..."

"Pers Amerika." Ia menggelengkan kepala. "Payah."

Ia kesal sekali, dan bekerja dengan tergesa-gesa. Jarinya

salah menekan tombol. Seketika gambarnya menjadi kabur.

"Brengsek."

"Tenang saja, Theresa."

"Omong kosong. Kita akan berhasil sekarang.”

Ia memperbesar kepala siluet, memisahkannya dari sisa

gambar, lalu mengikutinya, frame demi frame.

"Nah, ini sambungannya," katanya. "Di sini gambar yang

telah diubah kembali ke rekaman aslinya. Inilah pembunuh

sebenarnya."

Siluet itu bergerak menuju dinding seberang. Theresa

memajukan gambar frame demi frame. Kemudian sosok itu

mulai berubah bentuk.

"Ah. Oke. Bagus, ini saya harapkan..."

"Ada apa?"

"Dia menoleh untuk terakhir kali. Menoleh ke arah ruang

rapat. Anda lihat? Kepalanya berputar. Itu hidungnya, dan

sekarang hidungnya hilang lagi, karena dia sudah

menengok ke belakang. Sekarang dia melihat ke arah kita."

Siluet itu tampak hitam pekat.

"Tidak banyak gunanya."

"Tunggu saja."

Ia kembali mengotak-atik panil kontrol.

"Detailnya ada di situ," katanya. "Seperti foto yang

terlalu gelap. Detailnya terekam, tapi kita belum bisa

melihatnya. Nah... sekarang lebih jelas. Dan sekarang saya

akan mengatur detail bayangan... Yeah!"

Secara mendadak dan mengejutkan, siluet gelap itu

bertambah jelas. Dinding putih di belakangnya tampak

menyilaukan, menimbulkan semacam lingkaran cahaya di

sekitar kepala. Wajahnya menjadi lebih terang, dan untuk

pertama kali kami dapat melihatnya dengan jelas.

"Huh, orang kulit putih," Theresa berkomentar dengan

nada kecewa.

"Ya Tuhan," kataku.

"Anda tahu siapa dia?"

"Ya," kataku.

Wajah itu tampak tegang. Bibirnya agak mencong. Tapi

identitasnya tak perlu dipertanyakan lagi.

Aku menatap wajah Senator John Morton.

Bab 45

AKU menyandarkan punggung, menatap gambar beku di

monitor. Aku mendengar mesin-mesin berdengung. Aku

mendengar air menetes ke ember-ember, di tengah

kegelapan yang meliputi laboratorium. Aku mendengar

suara napas Theresa di sampingku, tersengal-sengal,

seperti pelari seusai pertandingan.

Aku hanya duduk dan menatap layar monitor. Segala

sesuatu mendadak jelas.

Julia Young: Dia punya pacar yang sering bepergian. Dia

sendiri selalu bepergian. New York, Washington, Seattle...

dia menemuinya. Dia tergila-gila pada orang itu.

Jenny, di studio TV: Morton punya simpanan yang masih

muda. Wanita itu membuatnya cemburu. Dia masih muda.

Eddie: Dia suka membuat masalah, cewek ini. Dia suka

membuat onar.

Jenny: Aku sudah beberapa kali melihat wanita itu di

pesta-pesta orang Washington dalam enam bulan terakhir.

Eddie: Dia tidak waras. Dia menikmati rasa sakit.

Jenny: Morton mengetuai Komite Keuangan Senat.

Komite yang menangani penjualan MicroCon.

Cole, si petugas satpam, di bar: Orang-orang penting

sudah ada di kantong mereka. Sudah dikuasai oleh mereka.

Kita tidak mungkin mengalahkan mereka.

Dan Connor: Seseorang menginginkan penyidikan ini

ditutup. Mereka ingin kita menyerah.

Dan Morton: Jadi penyidikan Anda sudah resmi ditutup?

"Sialan," kataku.

Theresa bertanya, "Siapa dia?"

"Seorang senator."

"Oh." Ia menatap layar. "Dan apa urusan mereka dengan

orang itu?"

"Orang itu menduduki posisi penting di Washington. Dan

saya kira dia ikut berperan dalam penjualan sebuah

perusahaan. Mungkin masih ada alasan lain lagi."

Theresa mengangguk.

Aku berkata, "Apakah gambar ini bisa dicetak dalam

bentuk foto?"

"Tidak. Kami tidak punya peralatannya."

"Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Saya perlu membawa

sesuatu."

"Saya bisa membuat foto Polaroid," ujar Theresa.

"Mutunya tidak terlalu baik, tapi untuk sementara,

lumayan." Ia mulai mencari, meraba-raba dalam gelap.

Akhirnya ia kembali dengan membawa sebuah kamera. fa

mendekat ke layar dan meng ambil beberapa foto.

Kami menunggu hasilnya.

"Thanks," kataku, "atas segala bantuan Anda."

"Sama-sama. Dan saya turut menyesal."

"Kenapa?"

"Saya tahu Anda berharap pembunuhnya orang Jepang."

Aku sadar bahwa ia sedang mengungkapkan

perasaannya sendiri. Aku tidak berkomentar apa-apa.

Foto-foto itu bertambah gelap. Hasilnya cukup baik,

gambarnya kelihatan jelas. Ketika aku menyelipkan

semuanya ke dalam kantong, aku merasakan sebuah benda

keras. Aku segera mengeluarkannya.

"Anda punya paspor Jepang?" tanya Theresa.

"Tidak. Ini bukan milik saya. Paspor ini milik Eddie." Aku

memasukkannya kembali. "Saya harus pergi sekarang,"

kataku. "Saya harus mencari Kapten Connor."

"Oke." Theresa berpaling ke monitor-monitor di

hadapannya.

"Apa yang akan Anda lakukan sekarang?" ujarku.

"Masih ada pekerjaan yang perlu diselesaikan."

Aku meninggalkannya, keluar melalui pintu belakang,

dan menyusuri selasar gelap.

Cahaya matahari yang terang benderang membuatku

berkedip-kedip. Aku mencari telepon umum dan

menghubungi Connor. Ia sedang duduk di dalam mobil.

"Di mana Anda sekarang?" tanyaku.

"Di hotel."

"Hotel mana?"

"Four Seasons," ujar Connor. "Hotel tempat Senator

Morton menginap."

"Sedang apa Anda di sana?" kataku. "Anda tahu bahwa..."

"Kohai," Connor mernotong. "Ingat, saluran terbuka.

Panggil taksi dan temui saya di 1430 Westwood Boulevard.

Kita ketemu di sana dalam dua puluh menit."

"Tapi bagaimana..."

"Jangan banyak bertanya." Dan ia meletakkan gagang-

Aku mengamati bangunan di 1430 Westwood Boulevard.

Tampak depannya berwarna coklat polos, hanya ada satu

pintu dengan nomor bangunan. Di samping kirinya

terdapat toko buku, Prancis. Di sebelah kanan, toko

reparasi jam tangan.

Aku mengetuk pintu. Aku melihat sejumlah aksara

Jepang di bawah nomor bangunan.

Tidak terjadi apa-apa, jadi aku membuka pintu. Aku

memasuki restoran sushi yang kecil dan rapi. Hanya ada

empat kursi untuk para pengunjung. Connor duduk seorang

diri, di ujung meja layan. Ia melambaikan tangan. "Letnan,

ini Imae. Pembuat sushi terbaik di Los Angeles. Imae-san.

Sumisu-san."

Orang itu mengangguk sambil tersenyum Ia menaruh

sesuatu di rak, di depan tempat dudukku. Wore o doszo,

Sumisu-san."

Aku menarik kursi. "Dõmo, Imae-san."

"Hai."

Aku menatap sushi yang tersaji - sejenis telur ikan

berwarna merah muda dengan kuning telur di atasnya.

Selera makanku mendadak lenyap.

Aku berpaling kepada Connor.

Ia berkata, “Kore o tabetakoto arukai?"

Aku menggelengkan kepala. "Sori, saya tidak mengerti."

"Anda harus banyak berlatih bahasa Jepang, demi pacar

Anda yang baru."

"Pacar baru yang mana?"

Connor berkata, "Seharusnya Anda berterima kasih

kepada saya. Saya telah memberi kesempatan

seluas-luasnya kepada Anda."

"Maksud Anda, Theresa?"

Ia tersenyum. "Masih banyak pilihan yang lebih buruk,

Kohai. Dan sepertinya Anda sudah sering terjebak di masa

lalu. Oke, tadi saya bertanya apakah Anda tahu apa ini." Ia

menunjuk sushi di meja layan.

"Tidak, saya tidak tahu."

"Telur puyuh dan telur ikan salmon," katanya. "Kaya

protein. Energi. Anda akan membutuhkannya."

Aku bertanya, "Haruskah saya memakan ini?"

Imae berkata, "Anda jadi kuat, untuk pacar."

Dan ia tertawa. Ia mengatakan sesuatu dalam bahasa

Jepang kepada Connor.

Connor menjawab, dan keduanya terbahak-bahak.

"Apa yang lucu?" ujarku. Tapi aku ingin mengalihkan

pembicaraan, jadi kusantap saja potongan sushi yang

pertama. Rasanya ternyata enak, hanya agak berlendir.

"Bagaimana, enak?" tanya Imae.

"Enak sekali," jawabku. Aku meraih potongan kedua, lalu

berpaling pada Connor. "Anda tahu apa yang saya temukan

dalam rekaman itu? Anda takkan percaya."

Connor mengangkat tangan. "Tunggu. Anda harus

belajar cara Jepang untuk bersantai. Semua ada waktunya.

Oaiso onegai shimasu."

"Hai, Connor-san."

Tukang sushi itu menyodorkan rekening, dan Connor

mengeluarkan sejumlah uang. Ia membungkuk, lalu mereka

berbicara sejenak dalam bahasa Jepang.

"Kita pergi?"

"Ya," ujar Connor. "Saya sudah makan, dan Anda, Kohai,

Anda tidak boleh terlambat."

"Terlambat untuk apa?"

"Anda ada janji dengan bekas istri Anda, bukan?

Sebaiknya kita segera ke apartemen Anda dan

menemuinya."

Aku kembali menyetir. Connor memandang ke luar

jendela. "Dari mana Anda tahu bahwa Morton

pembunuhnya?"

"Saya tidak mengetahuinya," kata Connor. "Sampai tadi

pagi. Tapi semalam sudah jelas bagi saya bahwa mereka

memanipulasi rekaman itu."

Aku teringat segala jerih payah Theresa dan aku

memperbesar gambar, memeriksanya, dan

mengotak-atiknya. "Maksudnya, Anda sudah tahu bahwa

rekaman itu dimanipulasi, hanya dengan menontonnya?"

"Ya."

"Bagaimana caranya?"

"Mereka membuat satu kesalahan besar. Anda masih

ingat waktu Anda bertemu Eddie di pesta itu? Di tangannya

ada bekas luka."

"Ya. Kelihatannya seperti bekas luka bakar."

"Di tangan sebelah mana lukanya?"

"Di tangan sebelah mana?" Aku mengerutkan kening,

berusaha mengingat-ingat. Eddie di taman kaktus,

merokok, membuang puntung rokok Eddie berbalik,

gerak-geriknya yang serba gelisah. Memegang rokok. Bekas

luka itu ada di... "Tangan sebelah kiri," ujarku.

"Benar," kata Connor.

"Tapi bekas lukanya juga kelihatan dalam rekaman video

itu," kataku. "Jelas sekali, waktu dia berjalan melewati

cermin. Tangannya sempat mengenai dinding ......

Aku terdiam.

Dalam rekaman itu tangan kanannya yang mengenai

dinding.

"Astaga," ujarku.

"Ya," kata Connor. "Mereka telah melakukan kesalahan.

Mungkin mereka bingung, mana yang pantulan, mana yang

bukan. Tapi saya rasa mereka bekerja terburu-buru, jadi

mereka tidak ingat di tangan sebelah mana Sakamura

punya bekas luka, jadi mereka menambahkannya asal saja.

Kesalahan seperti itu bisa saja terjadi."

"Jadi, semalam Anda melihat bekas luka itu di tangan

yang salah."

"Ya. Dan saya langsung tahu bahwa rekamannya telah

dimanipulasi," kata Connor. "Saya perlu menyiapkan Anda

untuk menganalisis kaset-kaset itu pada keesokan paginya.

Jadi saya menyuruh Anda ke SID, untuk mencari tahu

tempat mana saja yang bisa membantu kita. Dan setelah itu

saya pulang dan tidur."

"Tapi Anda membiarkan kami menangkap Eddie.

Kenapa? Waktu itu Anda sudah tahu babwa Eddie bukan si

pembunuh."

"Kadang-kadang kita harus mengikuti permainan

lawan," Connor menjelaskan. "Sudah jelas mereka ingin

agar kita menyangka bahwa Eddie yang membunuh wanita

itu. Jadi saya memutuskan untuk bersikap sesuai harapan

mereka."

"Tapi akibatnya satu orang yang tak berdosa tewas,"

kataku.

"Eddie tidak bisa disebut tak berdosa," balas Connor.

"Dia ikut terlibat dalam urusan ini."

"Dan Senator Morton? Dari mana Anda tahu bahwa

Morton pembunuhnya?"

"Saya belum tahu, sampai dia memanggil kita untuk

menemuinya tadi. Kemudian dia sendiri yang memberi

petunjuk menentukan."

"Yaitu?"

"Dia sangat cerdik. Tapi Anda harus ingat apa yang

sesungguhnya ia katakan," ujar Connor. "Di sela-sela segala

omong kosongnya, dia bertanya tiga kali apakah penyidikan

kita sudah selesai. Dan dia bertanya apakah pembunuhan

itu berkaitan dengan MicroCon. Kalau dipikir-pikir,

pertanyaan itu terasa janggal."

"Kenapa? Dia banyak koneksi. Mr. Hanada. Orang-orang

lain. Dia sendiri yang bilang begitu."

"Tidak," Connor membantah. "Pada dasarnya, yang

diungkapkan oleh Senator Morton adalah jalan pikirannya:

Apakah penyidikan Anda sudah selesai? Dan apakah Anda

bisa mengaitkannya dengan MicroCon? Sebab saya akan

mengubah sikap mengenai penjualan MicroCon."

"Oke."

"Tapi ada satu hal penting yang tak pernah

disinggungnya. Kenapa dia berubah sikap mengenai

penjualan MicroCon?"

"Dia sudah menjelaskannya," kataku. "Dia tidak

memperoleh dukungan, tak ada yang peduli."

Connor menyerahkan selembar fotokopi padaku. Aku

mengamatinya sekilas. Ternyata halaman depan sebuah

koran. Aku mengembalikannya. "Saya sedang menyetir.

Anda saja yang menjelaskannya."

"Ini wawancara dengan Senator Morton yang dimuat di

The Washington Post. Dia menegaskan sikapnya mengenai

MicroCon. Rencana itu melanggar kepentingan keamanan

nasional dan daya saing Amerika. Blah blah. Mengikis

fondasi teknologi kita dan menjual masa depan kita kepada

orang Jepang. Blah blab. Begitulah sikapnya pada Kamis

pagi. Pada Kamis malam, dia menghadiri sebuah pesta di

California. Dan pada Jumat pagi dia berubah pikiran

mengenai penjualan MicroCon. Sekarang dia tidak

keberatan. Menurut Anda, kenapa ini bisa terjadi?"

"Astaga," kataku. "Apa yang harus kita lakukan

sekarang?"

Menjadi petugas polisi memang tidak mudah. Biasanya

kita merasa cukup bangga. Tapi pada saat-saat tertentu,

kita menyadari bahwa kita hanya petugas polisi.

Sebenarnya posisi kita termasuk rendah. Dan kita enggan

menghadapi orang-orang tertentu dan jenis-jenis

kekuasaan tertentu. Kita tak berdaya. Kita tak dapat

menguasai keadaan. Bisabisa malah kita yang menjadi

korban.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku sekali lagi.

"Jangan terburu-buru," ujar Connor. "Apakah itu

apartemen Anda, di depan sana?"

Mobil-mobil pemancar TV tampak berderet di jalanan.

Ada beberapa sedan dengan tanda PERS tertempel di kaca

depan. Segerombolan wartawan berdiri di depan pintu

apartemenku dan di sepanjang jalan. Di antara mereka aku

melihat Wilhelm si Musang, bersandar pada mobilnya. Aku

tidak melihat bekas istriku.

"Jangan berhenti, Kohai," ujar Connor. "Setelah sampai di

ujung blok, belok ke kanan."

"Kenapa?"

"Saya tidak bermaksud lancang, tapi saya telah

menelepon kantor kejaksaan dan mengatur pertemuan

dengan istri Anda di taman di sana."

“O, ya?"

"Saya pikir itu yang terbaik untuk semua pihak yang

terlibat."

Aku membelokkan mobil. Hampton Park bersebelahan

dengan sebuah sekolah dasar. Pada sore hari seperti ini,

banyak anak kecil bermain baseball. Aku menyusuri jalanan

pelan-pelan, mencari tempat parkir. Aku melewati sebuah

sedan dengan dua penumpang. Seorang laki-laki di kursi

penumpang, merokok. Seorang wanita di balik kemudi,

mengetuk-ngetuk dashboard dengan jarinya. Ternyata

Lauren.

Aku memarkir mobil.

"Saya tunggu di sini saja," ujar Connor. "Semoga sukses.”

Bab 46

DARI dulu ia selalu memilih warna-warna pastel. la

memakai setelan jas berwarna beige dan blus sutra

berwarna krem. Rambutnya yang pirang di ikat ke

belakang. Tak ada perhiasan. Seksi sekaligus meyakinkan,

salah satu bakat yang dimiliki Lauren

Kami berjalan menyusuri trotoar di pinggir taman,

menyaksikan anak-anak bermain baseball. Kami

sama-sama membisu. Pria yang datang bersama Lauren

menunggu di mobil. Satu blok lebih jauh, kami melihat

nyamuk-nyamuk pers berkerumun di depan apartemenku.

Lauren memandang ke arah mereka, "Astaga, Peter.

Apa-apaan ini? Keterlaluan. Kau sama sekali tidak

memikirkan posisiku."

Aku berkata, "Siapa yang memberitahu mereka?"

"Bukan aku."

"Pasti ada seseorang yang memberitahu mereka bahwa

kau akan datang pukul empat sore."

"Pokoknya bukan aku."

"Jadi, hanya kebetulan saja kau muncul dengan makeup

lengkap?"

"Tadi pagi ada sidang di pengadilan."

"Oke. Oke."

"Persetan kau, Peter."

"Aku bilang, oke."

"Selalu menyelidik."

Ia berbalik, dan kami berjalan ke arah berlawanan,

menjauhi para wartawan.

Ia menghela napas. "Begini," katanya, "kita bisa

menyelesaikan masalah ini secara beradab."

"Oke," kataku.

"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa terjerumus sepertl

ini, Peter. Aku menyesal, tapi kau terpaksa melepaskan hak

asuh. Aku tidak rela anak perempuanku dibesarkan dalam

lingkungan yang mencurigakan. Aku tidak bisa

membiarkannya. Aku harus memikirkan posisiku.

Reputasiku di kantor."

Lauren selalu repot memikirkan penampilan. "Apa yang

kaumaksud dengan 'lingkungan yang mencurigakan'?"

"Peter, penganiayaan terhadap anak di bawah umur

merupakan tuduhan serius."

"Aku tidak pernah melakukan penganiayaan."

"Tuduhan-tuduhan di masa lalumu tidak bisa

ditutup-tutupi.”

"Kau tahu duduk perkara sesungguhnya," kataku.

"Waktu itu kita sudah menikah. Kau tahu persis apa yang

terjadi."

Ia berkeras. "Michelle harus menjalani pemeriksaan."

"Oke. Hasilnya pasti negatif."

"Saat ini aku tak peduli bagaimana hasilnya. Itu tidak

relevan lagi, Peter. Aku terpaksa mengambil alih hak asuh

atas Michelle. Supaya aku bisa hidup dengan tenang."

"Oh, demi Tuhan."

"Ada apa, Peter?"

"Kau tidak tahu apa-apa mengenai cara membesarkan

anak kecil. Waktumu akan tersita banyak. Bagaimana

dengan karierrnu?"

"Aku tidak punya pilihan, Peter. Kau tidak menyisakan

pilihan lain untukku." Sekarang ia bersikap seakan-akan

telah lama menderita. Lauren memang pandai bersikap

sebagai martir.

Aku berkata, "Lauren, kau tahu tuduhan-tuduhan itu tak

berdasar. Kau mengungkit-ungkit masalah ini hanya karena

Wilhelm meneleponmu."

"Dia tidak menelepon aku. Dia menelepon asisten Jaksa

Wilayah. Dia menelepon atasanku."

"Lauren."

"Sori, Peter. Kau sendiri yang cari masalah."

"Lauren."

"Aku bersungguh-sungguh."

"Lauren, ini sangat berbahaya."

Ia tertawa melecehkan. "Memangnya aku tidak tahu.

Kaupikir aku tidak tahu betapa besar bahayanya, Peter?

Bisa-bisa aku yang kena getahnya."

"Apa maksudmu?"

"Jangan berlagak bodoh," ia berkata dengan gusar. "Las

Vegas, itu yang kumaksud."

Aku diam saja. Aku tak bisa mengikuti jalan pikirannya.

"Begini," katanya, "berapa kali kau berkunjung ke Las

Vegas?"

"Hanya satu kali."

"Dan dalam satu-satunya kunjungan itu, kau menang

banyak?"

"Lauren, kau tahu persis..."

"Ya, aku tahu. Dan berapa lama setelah tuduhan

penganiayaan itu muncul, kau pergi ke Las Vegas?

Seminggu? Dua minggu?"

Jadi itu masalahnya. Ia cemas bahwa seseorang

menghubungkan kedua kejadian itu, bahwa ia akan terlibat.

"Seharusnya tahun lalu kau ke sana lagi."

"Aku sibuk."

"Kalau kau masih ingat, Peter, aku menyuruhmu

mengunjungi Las Vegas setiap tahun, selama beberapa

tahun berikut. Membentuk pola."

"Aku sibuk. Aku harus membesarkan anak kecil."

"Hmm." Ia menggelengkan kepala. "Sekarang kita ada di

sini."

Aku berkata, "Di mana letak masalahnya? Mereka takkan

pernah tahu."

Dan kemudian Lauren benar-benar meledak. "Takkan

pernah tahu? Mereka sudah tahu. Mereka sudah tahu, Peter.

Aku yakin mereka sudah bicara dengan suami-istri

Martinez atau Hemandez atau siapa pun nama mereka."

"Tapi mana mungkin..."

"Ya Tuhan! Menurutmu, bagaimana seseorang

memperoleh pekerjaan sebagai petugas penghubung

Jepang? Bagaimana caranya kau mendapatkan pekerjaan

itu, Peter?"

Aku mengerutkan kening, berpikir. Kejadiannya setahun

yang lalu. "Waktu itu ada iklan lowongan di markas.

Beberapa orang melamar..."

"Ya. Dan sesudah itu?"

Aku terdiam. Sebenarnya aku tidak tahu persis

bagaimana lamaranku ditangani oleh bagian administrasi.

Aku hanya memasukkan lamaran, lalu melupakannya,

sampai aku mendapat jawaban. Waktu itu aku sibuk sekali.

Bekerja di bagian pers benar-benar merepotkan.

"Kau mau tahu bagaimana kelanjutannya?" tanya

Lauren. "Kepala Special Services menentukan calon-calon

yang dianggap cocok, berdasarkan hasil konsultasi dengan

anggota-anggota masyarakat Asia."

"Oke, mungkin memang begitu, tapi aku tidak melihat..."

"Dan kau tahu berapa lama para anggota masyarakat

Asia mempelajari daftar calon? Tiga bulan, Peter. Itu cukup

lama untuk menyelidiki segala sesuatu mengenai

orang-orang yang tercantum dalam daftar itu. Segala

sesuatu. Mereka tahu segala sesuatu, mulai dari ukuran

bajumu sampai keadaan keuanganmu. Dan percayalah,

tuduhan penganiayaan itu takkan luput dari perhatian mereka.

Begitu juga kunjunganmu ke Las Vegas. Dan mereka

bisa menghubung-hubungkannya. Semua orang bisa

menghubung-hubungkannya."

Aku hendak memprotes, tapi kemudian aku teringat

pada ucapan Ron sebelumnya, "Jadi mereka juga memantau

sinyal awal kita."

Lauren berkata, "Ada apa, Peter? Kau tidak tahu aturan

mainnya? Kau tidak memperhatikan prosesnya? Astaga,

Peter, yang benar saja. Kau tahu konsekuensi pekerjaanmu

yang baru. Kau tergiur oleh uangnya. Sama seperti semua

orang yang berurusan dengan orang Jepang. Kau tahu bagaimana

mereka melakukan bisnis. Semua pihak dapat

bagian. Kau dapat bagian. Departemen dapat bagian.

Komandan dapat bagian. Semua orang memperoleh

keuntungan. Dan sebagai imbalan, mereka memilih orang

yang mereka inginkan sebagai petugas penghubung. Sejak

semula mereka sudah tahu bahwa mereka bisa menekanmu

kalau perlu. Dan sekarang mereka juga bisa menekanku.

Gara-gara kau tidak pergi ke Las Vegas tahun lalu dan

membentuk pola, seperti yang kusuruh."

"Dan sekarang kau merasa harus mengambil alih hak

asuh atas Michelle?"

Ia menghela napas. "Sekarang ini kita hanya mernainkan

peranan- yang telah diberikan pada kita."

Ia melirik jam tangannya, lalu memandang ke arah para

wartawan. Aku menyadari bahwa ia sudah tak sabar,

bahwa ia hendak menemui pers dan menyarnpaikan pidato

yang sudah dipersiapkannya. Dari dulu Lauren memang

sudah pandai mendramatisir keadaan.

"Kau yakin bahwa kau tahu apa peranmu, Lauren? Sebab

dalam beberapa jam berikut ini, keadaan mungkin

bertambah gawat. Barangkali kau tidak ingin terlibat."

"Aku sudah terlibat "

"Belum." Aku mengeluarkan foto Polaroid dari kantong

dan menyerahkannya kepada Lauren.

"Apa ini?"

"Ini frame video dari rekaman keamanan Nakamoto

semalam. Pada waktu Cheryl Austin terbunuh."

Ia mengerutkan kening ketika mengamati foto itu. "Kau

bercanda."

"Tidak."

"Kau mengandalkan ini?"

"Terpaksa."

"Kau akan menangkap Senator Morton? Kau

benar-benar sudah tidak waras."

"Mungkin."

"Kau takkan pernah melihat matahari lagi, Peter.

"Mungkin."

"Mereka akan menguburmu begitu cepat dan begitu

dalam, sehingga kau tak sempat tahu apa yang terjadi."

"Mungkin."

"Kau takkan berhasil. Dan kau juga tahu. Akhirnya

Michelle yang terkena akibatnya."

Aku tidak menanggapinya. Semakin lama aku semakin

tidak menyukai Lauren. Kami terus berjalan, sepatu hak

tingginya berceklak-ceklek di trotoar.

Akhirnya ia berkata, "Peter, kalau kau tetap berkeras

untuk menjalankan rencana yang tidak bertanggung jawab

ini, aku tidak bisa berbuat apaapa. Sebagai teman,

kusarankan jangan. Tapi kalau kau berkeras, tak ada yang

bisa kulakukan untuk menolongmu."

Aku tidak menjawab. Aku menunggu dan memperhatikannya.

Di bawah sinar matahari, aku melihat

kerut-kerut yang mulai timbul di sekitar matanya. Aku

melihat akar rambutnya yang gelap. Bercak lipstik di

giginya. Ia melepaskan kacamata hitamnya dan menatapku

dengan pandangan cemas. Kemudian ia memalingkan

wajah, memandang ke arah pers. Ia mengetuk-ngetukkan

kacamata ke telapak tangan.

"Kalau memang ini yang akan terjadi, Peter, mungkin

lebih baik kalau aku menunggu satu hari untuk melihat

perkembangan selanjutnya."

"Baiklah."

"Jangan salah paham. Urusan kita belum selesai, Peter."

"Aku mengerti."

"Masalah hak asuh atas Michelle sebaiknya jangan

dicampuradukkan dengan kontroversi yang lain."

"Tentu.

Ia kembali memakai kacamata. "Aku merasa kasihan

padamu, Peter. Sungguh. Dulu kau punya masa depan yang

bagus di Departemen. Aku pernah mendengar namamu

disebut-sebut untuk jabatan di bawah Komandan. Tapi tak

ada yang bisa menyelamatkanmu kalau kau nekat

melakukan ini."

Aku tersenyum. "Apa boleh buat."

"Kau tidak punya bukti selain foto ini?"

"Kurasa tidak pada tempatnya kalau aku membeberkan

semua detail padamu."

"Sebab kalau begitu, kau tidak punya apa-apa, Peter.

Kejaksaan takkan menerima foto sebagai barang bukti.

Terlalu mudah diotak-atik. Pengadilan juga tahu. Kalau kau

hanya punya foto orang ini melakukan pembunuhan, kau

takkan bisa berbuat apa- apa."

"Kita lihat saja nanti."

"Peter," katanya. "Kau akan kehilangan segala-galanya.

Pekerjaanmu, kariermu, anakmu, semuanya. Bangunlah.

Jangan lakukan ini."

Ia kembali ke mobil. Aku berjalan di sebelahnya. Kami

sama-sama membisu. Aku menunggu ia menanyakan kabar

Michelle, tetapi ia diam saja. Aku tidak heran. Banyak hal

lain yang perlu ia pikirkan. Akhirnya kami tiba di mobilnya,

dan ia membuka pintu sopir.

"Lauren."

Ia menatapku lewat atap mobilnya.

"Jangan ada apa-apa selama 24 jam berikut, oke? Jangan

telepon siapa pun mengenai ini."

"Jangan khawatir. Aku tidak ada urusan dengan ini. Dan

sebenarnya aku berharap tak pernah ada urusan

denganmu."

Dan kemudian ia masuk ke mobil dan pergi. Ketika aku

memperhatikan mobilnya menjauh, aku tiba-tiba merasa

terbebas dari suatu ketegangan. Penyebabnya bukan

sekadar karena aku berhasil mencapai tujuanku - aku

berhasil membuat Lauren membatalkan niatnya, paling

tidak untuk sementara waktu. Masih ada hal lain, yang

akhirnya lenyap.

Bab 47

CONNOR dan aku menaiki tangga belakang di gedung

apartemenku, menghindari pers. Aku menceritakan

percakapanku dengan Lauren tadi. Ia mengangkat bahu.

"Anda heran? Anda tidak tahu bagaimana petugas

penghubung dipilih?"

"Saya tidak pernah memperhatikannya."

Ia mengangguk. "Begitulah caranya. Orang Jepang sangat

terampil dalam memberikan yang mereka sebut insentif.

Mula-mula pihak Departemen memang keberatan

membiarkan orang luar ikut campur dalam menentukan

petugas mana yang dipilih. Tapi orang Jepang berdalih

bahwa mereka hanya ingin diajak berkonsultasi.

Rekomendasi mereka tidak bersifat mengikat. Menurut

mereka, justru menguntungkan kalau mereka memberi

masukan mengenai pemilihan para petugas penghubung."

"Hmm..."

"Dan untuk membuktikan bahwa mereka tidak mau

menang sendiri, mereka mengusulkan sumbangan untuk

dana pensiun kepolisian yang akan dinikmati oleh seluruh

Departemen."

"Dan seberapa besar jumlahnya?"

"Saya kira sekitar setengah juta. Dan Komandan

diundang ke Tokyo untuk mengadakan studi banding

mengenai sistem pengarsipan catatan polisi. Kunjungan

tiga minggu. Satu minggu di Hawaii. Semuanya kelas satu.

Dan kunjungan diberitakan secara luas oleh pers, yang

sangat disukai Komandan."

Kami sampai di lantai dua, lalu naik ke lantai tiga.

"Jadi," ujar Connor, "setelah semuanya selesai,

Departemen sukar mengabaikan rekomendasi dari

masyarakat Asia. Terlalu banyak yang dipertaruhkan."

"Rasanya saya ingin berhenti saja," kataku.

"Pilihan itu selalu terbuka," ujar Connor. "Tapi kembali

ke masalah pokok. Anda berhasil menghalau istri Anda?"

"Bekas istri saya. Dia langsung memahami persoalannya.

Lauren punya penciuman tajam dalam urusan politik. Tapi

saya terpaksa mengungkapkan identitas si pembunuh."

Connor mengangkat bahu. "Dia tidak bisa berbuat

banyak dalam beberapa jam mendatang."

Aku berkata, "Tapi bagaimana dengan foto-foto ini?

Lauren bilang, foto-foto ini takkan diterima sebagai barang

bukti. Dan Sanders mengatakan hal yang sama. Zaman foto

sebagai bukti tak terbantah sudah berlalu. Apakah kita

punya bukti lain?"

"Saya sudah memikirkan hal itu," ujar Connor.

"Dan sepertinya kita tidak perlu terlalu khawatir."

“O, ya?"

Connor mengangkat bahu.

Kami tiba di pintu belakang apartemenku. Aku

membukanya, dan kami masuk ke dapur, yang ternyata

kosong. Aku menyusuri selasar ke ruang depan. Pintu ke

ruang duduk tertutup rapat. Tapi aku mencium bau asap

rokok.

Elaine, pengurus rumahku, berdiri di ruang depan,

memandang ke luar jendela, memperhatikan kerumunan

wartawan dt bawah. Ia berbalik ketika mendengar kami. Ia

tampak ketakutan.

Aku berkata, "Michelle tidak apa-apa?"

"Dia baik-baik saja."

"Di mana dia?"

“Sedang bermain di ruang duduk."

'Saya ingin menemuinya."

Elaine berkata, "Letnan, ada sesuatu yang perlu saya

bentahukan kepada Anda "

"Tenang saja," ujar Connor. "Kami sudah tahu

Ia membuka pintu ke ruang duduk. Dan aku mendapat

kejutan yang paling hebat seumur hidup.

Bab 48

JOHN MORTON sedang duduk di kursi rias di studio TV,

dengan tisu kertas terselip di balik kerah, sementara

keningnya diberi bedak. Woodson berdiri di sebelahnya.

Asisten Morton itu berkata, "Ini rekomendasi dari mereka."

Ia menyerahkan selembar fax kepada Morton.

"Intinya," ujar Woodson, "penanaman modal asing

memperkuat Amerika. Amerika bertambah kuat akibat

dana dari luar negeri. Amerika bisa belajar banyak dari

Jepang."

"Dan kita belum belajar apa-apa," Morton berkomentar

dengan lesu.

"Argumen mereka cukup berdasar," kata Woodson.

"Posisi itu bisa dipertanggungjawabkan, dan kaulihat

sendiri, dengan kata-kata yang disusun oleh Madorie, kau

takkan dianggap berubah sikap. Ini lebih merupakan

pengembangan dari pandanganmu semula. Kau sanggup

menanganinya, John. Kurasa takkan ada yang

mempersoalkannya."



0 Response to "RISING SUN 5"

Post a Comment