Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

RISING SUN 4

Ken menghela napas. "Mimpi yang indah. Oke. Ada satu

hal. Tahun lalu, setelah Wilhelm terlibat dalam... ehm...

perubahan manajemen di Calendar, aku terima surat

kaleng. Begitu juga beberapa orang lain. Waktu itu tidak

ada yang bereaksi. Permainannya agak jorok. Kau tertarik?"

"Yeah."

Ken mengeluarkan sebuah amplop coklat dari kantong

jasnya. Amplop itu dilengkapi sepotong tali untuk

menutupnya. Di dalanrnya ada sejumlah foto, dicetak

berurutan. Willy Wilhelm terlihat sedang berhubungan

intim dengan pria berambut gelap. Wajahnya terbenam di

pangkuan orang itu.

"Muka Willy kurang jelas," ujar Ken, "tapi ini memang

dia. Foto seorang wartawan yang sedang menjamu sumber

informasinya. Bisa dibilang, minum-minum bersama."

"Siapa orang itu?"

"Mencari identitasnya ternyata makan waktu agak lama.

Namanya Barry Borman. Dia kepala divisi penjualan Kaisei

Electronics untuk California bagian selatan."

"Apa yang bisa kulakukan dengan foto-foto ini?"

"Mana kartu namamu?" ujar Ken. "Biar kutempel ke

amplop ini. Nanti kusuruh orang mengantarnya kepada si

Musang."

Aku menggelengkan kepala. "Sebaiknya jangan."

"Tapi dia pasti akan berpikir dua kali."

"Jangan," kataku. "Aku tidak suka cara seperti ini."

Ken mengangkat bahu. "Yeah. Mungkin memang tidak

ada gunanya. Biarpun kita tekan si

Musang, orang-orang Jepang itu pasti masih punya jalan

lain. Aku tetap belum tahu bagaimana artikel itu sampai

bisa dimuat semalam. Yang kudengar cuma, 'Perintah dari

atas, perintah dari atas.' Entah apa artinya."

"Tapi pasti ada yang menulisnya."

"Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak berhasil

menggali informasi lebih lanjut. Tapi orang Jepang punya

pengaruh besar di harian ini. Bukan hanya karena

iklan-iklan yang mereka pasang. Bukan hanya karena

mereka punya petugas humas yang hebat di Washington,

atau karena mereka jago lobi, atau karena sumbangan yang

mereka berikan kepada tokoh-tokoh dan

organisasi-organisasi politik. Keseluruhannya yang

menentukan. Dan keadaan ini sudah mulai membahayakan.

Bayangkan saja, kadang-kadang kita sedang mengikuti

rapat staf untuk membahas beberapa artikel yang mungkin

akan dimuat, dan tiba-tiba kita sadar bahwa tak ada yang

mau membuat mereka tersinggung. Tak jadi masalah

apakah sebuah artikel benar atau salah, berita atau bukan.

Dan masalahnya juga lebih pelik dari 'Kita tidak bisa

memuat ini, sebab mereka akan membatalkan pemasangan

iklan.' Urusannya jauh lebih rumit. Kadang-kadang aku

memandang para editor di sini, dan aku tahu bahwa

mereka keberatan terhadap cerita-cerita tertentu karena

mereka takut. Mereka bahkan tidak tahu apa yang mereka

takutkan. Mereka cuma takut."

"Tamatlah kebebasan pers."

"Hei," ujar Ken. "Ini bukan waktunya untuk

mengumandangkan idealisme mahasiswa. Kau tahu sendiri

bagaimana situasinya. Pers Amerika memberitakan

pendapat umum. Pendapat umum adalah pendapat

kelompok yang sedang berkuasa. Dan sekarang ini orang

Jepang yang berkuasa. Pihak pers memberitakan pendapat

umum seperti biasa. Tak ada yang perlu dipertanyakan.

Pokoknya, berhati-hatilah."

"Oke.

"Dan jangan ragu-ragu meneleponku jika kau

memutuskan untuk menggunakan jasa pos."

Aku perlu berbicara dengan Connor. Aku mulai paham

kenapa Connor begitu cemas, dan kenapa ia ingin

merampungkan penyelidikan ini secepat mungkin. Sebab

fitnah yang dilontarkan secara cermat merupakan senjata

yang mengerikan. Seseorang yang terampil dalam hal ini -

dan si Musang termasuk terampil - akan mengatur agar selalu

ada berita baru, hari demi hari, biarpun tak ada

perkembangan sama sekali. Kita membaca judul berita

seperti JURI AGUNG BELUM SEPAKAT MENGENAI

KESALAHAN PETUGAS POLISI atau JAKSA WILAYAH TIDAK

BERSEDIA MENUNTUT POLISI YANG DITUDUH BERSALAH.

Akibat yang ditimbulkan judul berita seperti itu sama

buruknya dengan keputusan bersalah.

Dan tak ada cara untuk pulih dari pemberitaan negatif

selama berminggu-minggu. Semua orang mengingat

tuduhan yang dilontarkan. Tak seorang pun mengingat

bukti tak bersalah yang terungkap. Begitulah sifat manusia.

Sekali kita menjadi tertuduh, sulit sekali untuk kembali ke

kehidupan normal.

Keadaannya mulai mengkhawatirkan, dan aku dihantui

firasat buruk. Aku sedang sibuk dengan pikiranku sendiri,

ketika aku memasuki lapangan parkir di sebelah

Departemen Fisika di U.S.C. dan telepon mobitku berdering.

Ternyata Jim Olson.

"Peter."

"Ya, Sir."

"Sudah hampir jam sepuluh. Seharusnya kau sudah

datang ke sini untuk menyerahkan kaset-kaset video itu.

Kau sudah berjanji tadi."

"Aku mengalami kesulitan untuk membuat kopinya."

"Itu yang kaulakukan dari tadi?"

"Ya. Kenapa?"

"Sebab berdasarkan telepon-telepon yang kuterima, aku

mendapat kesan bahwa kau belum menutup kasus ini," ujar

Jim Olson. "Dalam satu jam terakhir, kau mencari informasi

di sebuah lembaga riset Jepang. Setelah itu kau

menginterogasi seorang ilmuwan yang bekerja untuk

sebuah lembaga riset Jepang. Kau muncul di sebuah

seminar Jepang. Terus-terang saja, Peter. Penyidikan ini

sudah berakhir atau belum?"

"Sudah," kataku. "Aku hanya ingin membuat kopi dari

kaset-kaset ini."

"Pastikan bahwa kau tidak melangkah lebih jauh dari

itu," ia berpesan.

"Oke, Jim."

"Demi kepentingan seluruh Departemen - dan semua

orang yang ada di sini - kuminta kasus ini ditutup."

"Oke, Jim."

"Aku tak ingin situasi ini sampai lepas kendali."

"Aku mengerti.”

"Mudah-mudahan saja," katanya. "Selesaikan urusanmu,

lalu datang ke sini. Segera." Ia meletakkan gagang telepon.

Aku memarkir mobil dan memasuki gedung fisika.

Bab 28

AKU menunggu di sudut ruang kuliah sementara Phillip

Sanders menyelesaikan kuliahnya. Ia berdiri di hadapan

papan tulis yang dipenuhi rumus-rumus rumit. Ada sekitar

tiga puluh mahasiswa di dalam ruang kuliah, sebagian

besar duduk di bagian depan. Hanya bagian belakang

kepala mereka yang terlihat dari tempatku menunggu.

Dr. Sanders berusia empat puluhan. Ia termasuk orang

yang penuh energi, tak bisa diam, selalu mondar-mandir,

menunjuk-nunjuk persamaan-persamaan di papan tulis

dengan sepotong kapur sambil membahas signal covariant

ratio detennination dan factorial delta bandwith noise. Aku

bahkan tak sanggup menebak apa yang diajarkannya.

Akhirnya aku menyimpulkan bahwa bidangnya adalah

teknik listrik.

Ketika bel tanda kuliah telah usai berbunyi, seluruh

kelas berdiri dan meraih tas masing-masing. Aku

terperanjat; hampir semua peserta berasal dari Asia, baik

para pria maupun para wanita. Mereka yang bukan dari

Timur Jauh berasal dari India atau Pakistan. Dari tiga puluh

mahasiswa, hanya tiga yang berkulit putih.

"Memang benar," ujar Sanders kemudian, ketika kami

menyusuri selasar menuju laboratoriumnya. "Mahasiswa

Amerika tidak berminat pada mata kuliah seperti Fisika

101. Sudah bertahun-tahun begitu. Pihak industri pun

mengalami kesulitan serupa. Kita pasti akan kewalahan

seandainya tidak ada orang-orang Timur Jauh atau

orang-orang India yang datang untuk meraih gelar doktor

dalam bidang matematika atau bidang teknik, lalu bekerja

untuk perusahaan-perusahaan Amerika."

Kami menuruni sebuah tangga, kemudian membelok ke

kiri. Kami berada di selasar di basement. Sanders berjalan

dengan cepat.

"Masalahnya, keadaannya mulai berubah," ia

melanjutkan. "Para mahasiswa saya yang berasal dari Asia

mulai pulang ke tempat asal masing-masing. Orang-orang

Korea kembali ke Korea. Sama halnya dengan orang-orang

Taiwan. Orang-orang India pun mulai pulang ke sana. Taraf

hidup di negara-negara mereka semakin meningkat, dan di

sana sekarang lebih banyak peluang. Beberapa dari

negara-negara asing ini mempunyai tenaga terlatih dalam

jumah besar." Kami kembali menuruni tangga. "Anda tahu

kota mana yang menduduki peringkat pertama dalam

jumlah doktor per kapita?"

"Boston?"

"Seoul, Korea. Ingat itu pada waktu kita lepas landas

menuju abad ke-21."

Kini kami menyusuri selasar lain lagi. Kemudian keluar

sebentar, ke bawah cahaya matahari, melewati selasar

beratap, lalu masuk ke bangunan lain. Berulang kali

Sanders melirik ke belakang, seakan-akan takut aku

tertinggal. Tapi ia tak pernah berhenti berbicara.

"Dan berhubung mahasiswa-mahasiswa pulang ke

negara masing-masing, kini kita menghadapi kekurangan

tenaga untuk melakukan penelitian di Amerika. Jumlah

tenaga terlatih tidak memadai. Bahkan

perusahaan-perusahaan raksasa seperti IBM pun mulai

mengalami kesulitan. Tenaga terlatih benar-benar tidak

dapat ditemukan. Awas, pintu."

Pintu yang dimaksudnya mengayun ke arahku. Aku

melangkah masuk. Aku berkata, "Tapi kalau kesempatan

kerja di bidang high-tech begitu luas, bukankah para

mahasiswa akan tertarik?"

"Tetap kalah dengan bidang perbankan investasi. Atau

hukum." Sanders tertawa. "Amerika mungkin kekurangan

ahli teknik dan ilmuwan, tapi kita tetap nomor satu dalam

mencetak sarjana hukum. Setengah dari pengacara di

seluruh dunia berada di Amerika. Bayangkan itu." Ia

menggelengkan kepala.

"Kita punya empat persen populasi dunia. Kita

menguasai delapan belas persen perekonomian dunia. Tapi

kita punya lima puluh persen - dari seluruh pengacara di

dunia. Dan setiap tahun - ada 35.000 sarjana hukum baru.

Ke sanalah arah produktivitas kita. Itulah fokus nasional

kita. Setengah dari acara TV kita menyangkut pengacara.

Amerika telah menjadi Negeri Pengacara. Semua orang

saling menuntut. Semua orang berselisih paham. Semua

orang lari ke pengadilan. Habis, tiga perempat juta

pengacara Amerika harus mempunyai sesuatu untuk

menyibukkan diri. Mereka harus memperoleh 300.000

setahun. Negara-negara lain pikir kita gila."

Ia membuka kunci pada sebuah pintu. Aku melihat

papan nama LABORATORIUM PENGOLAHAN GAMBAR

TINGKAT LANJUT yang ditulis dengan tangan, serta sebuah

anak panah. Sanders mengajakku menyusuri selasar

panjang di basement.

"Anak-anak kita yang paling cerdas pun dididik secara

buruk. Anak-anak Amerika yang paling pintar kini

menduduki peringkat dua belas di dunia, setelah

negara-negara industri di Asia dan Eropa. Dan ini yang

paling pintar. Di bawah lebih buruk lagi. Sepertiga lulusan

high sehool tidak bisa membaca jadwal keberangkatan bus.

Mereka buta huruf."

Kami tiba di ujung selasar dan membelok ke kanan.

"Dan anak-anak yang saya temui rata-rata malas. Tak

ada yang mau bekerja dengan giat. Saya mengajar fisika.

Untuk menguasai bidang ini diperlukan waktu

bertahun-tahun. Tapi semua anak ingin berpakaian seperti

Charlie Sheen dan menghasilkan sejuta dolar sebelum usia

28. Satu satunya cara untuk mendapatkan uang sebanyak

itu adalah dengan terjun ke dunia hukum, perbankan, atau

Wall Street. Tempat-tempat yang menghasilkan

keuntungan kertas. Tapi itulah cita-cita anak-anak

sekarang."

"Mungkin di U.S.C."

"Percayalah. Di mana-mana. Semuanya nonton.”

Ia membuka sebuah pintu. Lagi-lagi sebuah koridor.

Yang ini berbau apak, lembap.

"Saya tahu, saya tahu. Pandangan saya kuno," ujar

Sanders. "Saya masih percaya bahwa setiap manusia

mempunyai peran tertentu. Anda mempunyai peran

tertentu. Saya mempunyai peran tertentu. Hanya dengan

berada di planet ini, dengan mengenakan baju yang kita

pakai, kita semua mempunyai peran tertentu. Dan di sudut

terpencil ini," ia berkata, "kami berperan mengungkapkan

kebenaran. Kami menganalisis siaran berita untuk

menentukan bagian mana saja yang telah dimanipulasi.

Kami menganalisis iklan-iklan TV dan menunjukkan

trik-trik yang dipakai..."

Sanders berhenti mendadak

"Ada apa?"

"Bukankah ada orang lain tadi?" ia bertanya. "Anda

ditemani orang lain, bukan?"

"Tidak. Saya sendirian."

"Oh, syukurlah." Sanders kembali berjalan dengan cepat.

"Saya selalu khawatir kehilangan orang di bawah sini. Ah,

oke. Kita sudah sampai. Lab saya. Bagus. Pintunya belum

pindah tempat "

Penuh semangat ia membuka pintu itu. Aku menatap

ruangan di hadapanku, kaget.

"Saya tahu, tempatnya kurang mengesankan," ujar

Sanders.

Dalam hati aku berkata, "Kurang mengesankan masih

terlalu bagus."

Aku menghadapi ruang bawah tanah yang penuh

pipa-pipa berkarat dan kabel-kabel listrik yang tergantung

dari langit-langit. Di beberapa tempat, lapisan linoleum

berwarna hijau mulai terkupas di lantai, sehingga beton di

bawahnya kelihatan jelas. Di sekeliling ruangan terdapat

meja-meja reyot, masing-masing dengan peralatan

bertumpuk dan kabel-kabel bergelantungan di kiri-kanan.

Di setiap meja ada mahasiswa yang duduk di depan beberapa

monitor. Di sana-sini air tampak menetes ke dalam

ember-ember. Sanders berkata, "Satu-satunya tempat yang

tersedia adalah di basement, dan kami tidak punya dana

untuk mengurus hal-hal sepele seperti langit-langit. Biar

saja, itu tidak penting. Tapi awas, jaga kepala Anda. "

Ia melangkah maju. Tinggi badanku sekitar 180 senti,

tidak sampai enam kaki, dan aku terpaksa merunduk agar

dapat memasuki ruangan itu. Dari suatu tempat di

langit-langit di atas, aku mendengar bunyi memarut yang

kasar.

“Pemain ice skate," Sanders menjelaskan.

"Maaf?"

"Kita di bawah gelanggang ice skate. Lama-lama Anda

akan terbiasa. Sebenarnya ini belum seberapa. Nanti sore,

pada waktu mereka berlatih hoki es, nah, itu baru agak

ribut."

Kami masuk lebih jauh. Rasanya seperti berada di dalam

kapal selam. Aku mengamati para mahasiswa di tempat

kerja mereka. Semuanya berkonsentrasi pada tugas

masing-masing; tak ada yang menoleh ketika kami lewat.

Sanders berkata, "Kaset video seperti apa yang hendak

Anda kopi?"

"Delapan milimeter, buatan Jepang. Rekaman keamanan.

Mungkin agak sukar."

"Sukar? Saya rasa tidak," ujar Sanders. "Anda tentu tidak

tahu, dulu, waktu saya masih muda, saya yang menyusun

hampir semua algoritma dasar untuk mempertajam

gambar video. Misalnya menghilangkan titik-titik dan

inversi serta mempertajam garis tepi. Hal-hal seperti itulah.

Dulu semua orang memakai kumpulan algoritma Sanders.

Waktu itu saya masih mahasiswa pascasarjana di Cal Tech.

Dan waktu luang saya manfaatkan dengan bekerja di LTJ.

Jangan khawatir, kami pasti sanggup.”

Aku menyerahkan sebuah kaset. Ia mengamatinya.

"Hmm, manis."

Aku berkata, "Apa yang terjadi? Dengan kumpulan

algoritma Anda, maksud saya."

"Waktu itu belum ada kegunaan komersial," katanya.

"Dulu, di tahun delapan puluhan, perusahaan-perusahaan

Amerika seperti RCA dan GE angkat kaki dari industri

elektronik komersial. Program-program yang saya susun

tidak bermanfaat di Amerika." Ia mengangkat bahu. "Jadi

saya mencoba menjual semuanya kepada Sony, di Jepang."

"Dan?"

"Orang-orang Jepang ternyata telah memegang hak

paten untuk produk-produk itu. Di Jepang."

"Maksud Anda, mereka telah memiliki algoritma yang

sama?"

"Bukan. Mereka hanya memegang hak paten. Di Jepang,

urusan hak paten merupakan semacam perang. Orang

Jepang tergila-gila pada hak paten. Dan mereka punya

sistem yang aneh. Baru delapan tahun setelah permohonan

diajukan kita memperoleh hak paten di Jepang, tetapi

permohonan kita sudah diumumkan setelah delapan belas

bulan. Dan tentu saja mereka tidak mempunyai

kesepakatan lisensi timbal balik dengan Amerika. Ini salah

satu cara agar mereka tetap lebih maju dari kita.”

"Pokoknya, ketika sampai di Jepang, saya menemukan

bahwa Sony dan Hitachi telah memegang hak paten serupa.

Mereka telah melakukan sesuatu yang dinamakan 'paten

borongan'. Artinya, mereka telah mengajukan permohonan

hak paten atas segala kegunaan yang dapat dihubunghubungkan.

Mereka tidak memiliki hak untuk

menggunakan kumpulan algoritma, tapi ternyata saya pun

tidak memiliki hak itu. Karena mereka telah memegang hak

paten atas penggunaan penemuan saya." Ia mengangkat

bahu. "Memang agak sukar dijelaskan. Tapi itu dulu.

Sekarang orang Jepang telah menciptakan perangkat lunak

video yang jauh lebih rumit, jauh melebihi apa yang kita

miliki. Kita tertinggal beberapa tahun dibandingkan dengan

mereka. Tapi kami masih terus berjuang di lab ini. Ah. Ini

orang yang kita perlukan. Dan. Kau sedang sibuk?"

Seorang wanita muda mengalihkan pandangan dari

monitor komputer. Mata besar, kacamata berbingkai tebal,

rambut gelap. Wajahnya tertutup sebagian oleh pipa-pipa

di langit-langit.

"Kau bukan Dan," ujar Sanders dengan nada heran. "Di

mana Dan, Theresa?"

"Ada ujian tengah semester," jawab Theresa. "Saya

hanya membantu menjalankan progresi realtime ini. Sudah

hampir selesai." Aku mendapat kesan bahwa ia lebih tua

dari mahasiswa-mahasiswa yang lain. Sukar untuk

mernastikan penyebabnya. Yang pasti bukan karena

pakaiannya; ia memakai ikat rambut berwarna cerah, dan

kaus U2 di bawah jaket jeans. Tetapi ia memiliki sikap

tenang yang membuatnya kelihatan lebih tua.

"Kau bisa pindah ke tempat lain?" ujar Sanders sambil

mengelilingi meja untuk menatap monitor. "Ada pekerjaan

mendesak. Kita harus membantu polisi." Aku mengikuti

Sanders, membungkuk agar tidak membentur pipa.

"Bisa saja," kata wanita itu. Ia mulai mernatikan

unit-unit di mejanya. Ia membelakangiku, dan kemudian

aku akhirnya bisa melihatnya. Kulitnya gelap, wajahnya

eksotis, hampir seperti orang Eurasia. Ia cantik, cantik

sekali. Ia tampak seperti gadis model dalam

majalah-majalah. Dan sepintas lalu aku merasa bingung,

karena wanita ini terlalu cantik untuk bekerja di

laboratofiurn elektronik di sebuah basement. Rasanya tidak

masuk akal.

"Ini Theresa Asakuma," kata Sanders. "Satu-satunya

mahasiswa pascasarjana Jepang yang bekerja di sini."

"Hai," kataku. Aku tersipu-sipu. Aku merasa

diberondong oleh informasi baru. Dan pada dasarnya, aku

lebih suka kalau kaset-kaset itu tidak ditangani oleh orang

Jepang. Tapi nama depannya bukan nama Jepang, dan.

wajahnya pun bukan seperti orang Jepang. Ia tampak

seperti orang Eurasia atau mungkin keturunan Jepang,

begitu eksotik, mungkin ia malah...

"Selamat pagi, Letnan," katanya. Ia mengulurkan tangan

kiri, tangan yang salah, untuk bersalaman. Ia

menyodorkannya secara menyamping, seperti seseorang

yang mengalami cedera pada tangan kanan.

Aku bersalaman dengannya. "Halo, Miss Asakuma."

"Theresa."

"Oke.”

"Dia cantik sekali, bukan?" ujar Sanders dengan bangga.

"Luar biasa cantik."

"Ya," kataku. "Sebenarnya, saya heran bahwa Anda

bukan foto model."

Sejenak suasananya serba kikuk. Aku tidak tahu kenapa.

Theresa langsung berbalik.

"Saya tidak pernah tertarik," katanya.

Sanders segera angkat bicara dan berkata,

"Theresa, Letnan Smith punya beberapa kaset video

yang perlu dikopi. Kaset-kaset ini."

Sanders menyerahkan salah satu kaset. Theresa

menerimanya dengan tangan kiri dan mengamatinya di

bawah larnpu. Lengan kanannya tetap tertekuk di sikut,

merapat ke pinggangnya. Kemudian aku melihat bahwa

lengan kanannya buntung. Kelihatannya seperti lengan bayi

thalidomide.

"Hmm, menarik juga," katanya sambil mengamati kaset

itu. "Delapan milimeter high density. Barangkali ini format

digital baru yang belakangan sering dibicarakan. Format

yang langsung meningkatkan mutu gambar."

“Maaf, saya tidak tahu," kataku. Aku merasa seperti

orang tolol karena menyinggung soal foto model tadi. Aku

meraih ke dalam kotak yang kubawa dan mengeluarkan

alat playback.

Theresa segera mengambil obeng dan melepaskan

tutupnya. Ia membungkuk dan mengamati bagian dalam.

Aku melihat circuit board berwarna hijau, motor berwarna

hitam, dan tiga silinder kristal berukuran kecil. "Ya. Ini

memang format yang baru. Benar-benar hebat. Dr. Sanders,

lihatl mereka hanya menggunakan tiga head. Alat ini pasti

menghasilkan sinyal RGB, soalnya di sebelah sini... Menurut

Anda, ini rangkaian kompresi?"

"Kemungkinan rangkaian konversi digital ke analog,"

ujar Sanders. "Bagus sekali. Serba kecil." Ia berpaling

padaku sambil mernegang kotak itu. "Anda tahu kenapa

orang Jepang bisa menghasilkan produk-produk seperti ini

sedangkan kita tidak? Mereka melakukan katzen. Sebuah

proses penyempurnaan yang berulang-ulang, terusmenerus.

Setiap tahun produk bersangkutan menjadi

sedikit lebih baik, sedikit lebih kecil, sedikit lebih murah.

Cara berpikir orang Amerika berbeda. Orang Amerika

selalu mencari terobosan yang gemilang, langkah maju

yang besar. Orang Amerika berusaha membuat home run -

memukul bola keluar dari arena - lalu duduk-duduk dengan

santai. Orang Jepang melakukan langkah-langkah kecil

sepanjang hari, dan tidak pernah merasa puas. Jadi, dengan

barang seperti ini, Anda sekaligus menghadapi perwujudan

sebuah falsafah hidup."

Selama beberapa waktu ia berbicara seperti itu,

memutar-mutar silinder-silinder tadi, terkagum-kagum.

Akhirnya aku berkata, "Anda dapat membuat kopi dari

kaset-kaset ini?”

"Tentu," jawab Theresa. "Setelah melalui alat konversi,

kita bisa mengeluarkan sinyal dari mesin ini dan

merekamnya pada media apa saja yang Anda pilih. Anda

ingin tiga perempat? Opticalmaster? VHS?”

“VHS," kataku.

"Itu mudah," ujarnya.

"Tapi, apakah hasilnya akurat? Orang-orang di LTJ tidak

bisa menjamin hasilnya akurat."

"Oh, persetan LTJ," kata Sanders. "Mereka cuma bilang

begitu karena mereka bekerja untuk pemerintah. Di sini,

kita memecahkan masalah. Betul, Theresa?"

Tapi Theresa tidak mendengarnya. Aku memperhatikannya

menancapkan kabel-kabel, bergerak cekatan

dengan tangannya yang sehat, sementara tangannya yang

buntung menjepit alat playback. Seperti kebanyakan orang

cacat, gerak-geriknya demikian lancar, sehingga hampir

tidak ketahuan bahwa tangan kanannya tidak ada. Dalam

sekejap ia telah menyambung alat playback dengan alat

perekam lain, serta beberapa monitor.

"Untuk apa ini semua?"

"Untuk memantau sinyalnya."

"Maksud Anda, untuk memutar rekaman itu?"

"Bukan. Gambarnya akan terlihat pada monitor besar ini.

Yang lain akan saya pakai untuk memantau karakteristik

sinyal dan peta data: bagaimana gambar direkam pada

pita."

Aku berkatal "Ini memang diperlukan untuk membuat

kopi?”

"Tidak. Saya hanya ingin tahu bagaimana mereka

menyusun format high density ini."

Sanders berkata padaku, "Dari mana rekaman ini

berasal?"

"Dari kamera keamanan sebuah gedung kantor."

“Dan kaset ini berisi rekaman asli?"

"Saya pikir begitu. Kenapa?"

"Kalau ini memang rekaman asli, kita harus lebih

berhati-hati," ujar Sanders. Ia berbicara dengan Theresa,

memberikan petunjuk. "Jangan sampai permukaan media

dikacaukan oleh umpan balik. Dan jangan sampai

kebocoran sinyal dari head mengganggu keutuhan aliran

data."

"Jangan khawatir," ujar Theresa. "Saya takkan membuat

kesalahan." Ia menunjuk rangkaian alat yang telah

disiapkannya. "Anda lihat ini? Alat ini akan memberikan

peringatan kalau ada pergeseran impedansi. Dan saya juga

memantau prosesor utama.”

"Oke," kata Sanders. Ia tampak berseri-seri, seperti

orangtua yang bangga akan anaknya.

"Berapa lama sampai semuanya selesai?" tanyaku.

"Tidak lama. Kita bisa merekam sinyal dengan kecepatan

sangat tinggi. Batas kecepatannya ditentukan oleh alat

playback ini, dan sepertinya ada fast-forward scan. Jadi,

sekitar dua sampai tiga menit per kaset."

Aku melirik jam tanganku. "Saya ada janji jam setengah

sebelas, dan saya tidak boleh terlambat. Tapi saya juga

tidak ingin meninggalkan kaset-kaset ini ......

"Semuanya perlu dikopi?"

"Sebenarnya hanya lima yang paling penting."

"Kalau begitu, kita kerjakan yang itu saja dulu."

Kami memutar lima detik pertama dari setiap kaset, satu

per satu, untuk mencari kelima kaset yang berisi rekaman

kamera di lantai 46. Pada waktu masing-masing kaset

mulai diputar, aku melihat gambar yang terekam oleh

kamera pada monitor utama di meja Theresa. Pada

monitor-monitor di samping, jejak-jejak sinyal tampak bergerak

naik-turun, melompat-lompat, seperti pada unit

perawatan intensif.

"Memang benar," ujar Theresa. "Perawatan intensif

untuk rekaman video." Ia mengeluarkan sebuah kaset,

memasukkan kaset lain, lalu mulai memutarnya. "Oh, tadi

Anda mengatakan bahwa ini rekaman asli? Ternyata bukan.

Kaset-kaset ini merupakan kopi."

"Dari mana Anda tahu?"

"Sebab ada tanda ancang-ancang." Theresa membungkuk

di atas peralatannya, mengamati jejak-jejak sinyal,

melakukan penyesuaian halus dengan beberapa tombol.

"Kelihatannya memang seperti hasil kopi," Sanders

berkata padaku. "Begini, dengan rekaman video, sulit untuk

menentukan apakah suatu rekaman merupakan kopi atau

bukan berdasarkan gambar yang tampil di monitor. Pada

sistern analog dulu memang terjadi pengurangan mutu

gambar pada generasi-generasi berikut, tapi pada sistem

digital seperti ini sama sekali tidak ada perbedaan. Setiap

kopi boleh dibilang sama persis seperti aslinya."

"Kalau begitu, dari mana Anda tahu bahwa kaset-kaset

ini tidak berisi rekaman asli?"

"Perhatian Theresa tidak terarah pada gambar di

monitor," kata Sanders. "Dia memperhatikan sinyal yang

terbaca. Meskipun tidak ada perbedaan pada gambar yang

tampak, kadang-kadang kita dapat menentukan bahwa

gambarnya berasal dari alat playback yang lain, bukan dari

sebuah karnera."

Aku menggelengkan kepala. "Bagaimana caranya?"

Theresa menjelaskan, "Ini berkaitan dengan cara

sinyalnya direkam selama setengah detik pertama. Jika

video perekam dinyalakan sebelum video playback,

kadang-kadang ada fluktuasi kecil dalam keluaran sinyal

pada waktu alat playback mulai berputar. Ini merupakan

keterbatasan mekanik: motor playback tidak bisa mencapai

kecepatan normal dengan seketika. Memang ada rangkaian

elektronik di dalam alat playback untuk memperkecil

pengaruhnya, tetapi tetap saja selalu ada jangka waktu

tertentu untuk mencapai kecepatan normal.."

"Dan ini yang terbaca oleh Anda?"

Ia mengangguk. "Itu yang disebut tanda ancang-ancang."

Sanders berkata, "Dan itu tidak pernah terjadi jika

sinyalnya berasal dari sebuah kamera, sebab kamera tidak

mempunyal bagian-bagian yang bergerak. Sebuah kamera

selalu bekerja pada kecepatan normal."

Aku mengemyitkan dahi. "Jadi kaset-kaset ini sudah

merupakan kopi."

"Apakah ada pengaruhnya?" tanya Sanders.

"Entahlah. Kalau kaset-kaset ini memang sudah dikopi,

ada kemungkinan rekamannya sudah dimanipulasi,

bukan?"

"Secara teori, ya," ujar Sanders. "Tapi dalam praktek kita

harus mengamatinya dengan cermat. Dan sukar sekali

untuk memastikannya. Kaset-kaset ini berasal dari

perusahaan Jepang?"

"Ya."

"Nakamoto?"

Aku mengangguk. "Ya."

"Sebenarnya saya tidak heran bahwa mereka

memberikan kopi rekaman asli kepada Anda," kata

Sanders. "Orang Jepang sangat berhati-hati. Mereka tidak

percaya pada orang luar. Dan perusahaan Jepang di

Amerika merasakan hal yang sama seperti jika kita

melakukan bisnis di Nigeria. Mereka menganggap bahwa

mereka dikelilingi oleh orang-orang liar."

"Hei," kata Theresa.

"Sori," ujar Sanders, "tapi kau tahu maksudnya. Orang

Jepang merasa bahwa mereka terpaksa bersabar terhadap

kita. Terhadap kebodohan kita, kelambanan kita,

ketidakmampuan kita. Ini menyebabkan mereka selalu

bersikap melindungi diri. Jadi, kalau isi kaset-kaset ini

menyangkut masalah hukum, sudah bisa dipastikan bahwa

mereka takkan menyerahkan rekaman asli kepada petugas

polisi barbar seperti Anda. Mereka pasti akan memberikan

kopi dan menyimpan yang asli, untuk berjaga-jaga kalau

diperlukan untuk membela diri. Dan mereka yakin

sepenuhnya bahwa dengan teknologi video Amerika yang

ketinggalan zaman, Anda takkan pernah tahu bahwa Anda

diberi rekaman kopi."

Aku mengerutkan kening. "Berapa lama diperlukan

untuk membuat kopi dari kaset-kaset ini?"

"Tidak lama," ujar Sanders sambil. gelenggeleng kepal.a.

"Kalau melihat cara kerja Theresa sekarang, sekitar lima

menit per kaset. Saya yakin orang Jepang sanggup

mengerjakannya lebih cepat lagi. Katakanlah, dua menit per

kaset."

"Kalau begitu, mereka punya waktu cukup banyak untuk

membuat kopi semalam."

Sambil bicara, Theresa masih terus menukar-nukar

kaset, menyaksikan bagian awal masing-masing. Setiap kali

gambarnya muncul, ia melirik ke arahku. Aku

menggelengkan kepala. Yang terlihat adalah rekaman dari

kamera-kamera lain. Akhirnya kaset pertama yang berisi

rekaman dari lantai 46 muncul, menampakkan ruang

kantor yang sudah pernah kulihat.

"Ini yang pertama."

"Oke. Langsung saja. Transfer ke VHS." Theresa memulai

kopi pertama. Ia memutar rekaman itu dengan kecepatan

tinggi. Adegan demi adegan silih berganti, cepat, kabur.

Pada monitor-monitor di samping, jejak-jejak sinyal

tampak melompat-lompat. Ia berkata, "Apakah rekaman ini

berkaitan dengan pembunuhan semalam?"

"Ya. Anda sudah mengetahuinya?"

Ia mengangkat bahu. "Saya melihatnya di siaran berita.

Pembunuhnya tewas dalam kecelakaan mobil?"

"Benar," kataku.

Ia memalingkan wajah. Profil tiga perempat dari

wajahnya benar-benar cantik, mempertegas lengkungan

tulang pipinya yang tinggi. Aku teringat reputasi Eddie

Sakamura sebagai playboy. "Anda mengenalnya?" tanyaku.

"Tidak," jawabnya. Sesaat kemudian ia menambahkan,

"Dia orang Jepang."

Sekali lagi suasana menjadi serba kikuk. Rupanya

Theresa dan Sanders mengetahui sesuatu yang tidak

diketahui olehku. Tapi aku tidak tahu cara menanyakannya.

Karena itu aku kemball memperhatikan gambar di monitor.

Sekali lagi aku melihat sinar matahari menyapu lantai.

Kemudian lampu-lampu mulai menyala. Para pegawai

kantor semakin berkurang. Kini ruangannya kosong. Dan

kemudian, dengan kecepatan tinggi, Cheryl Austin muncul,

diikuti seorang pria. Mereka berciuman penuh gairah.

"Ah-ha," ujar Sanders. "Ini yang Anda cari?"

"Ya."

Ia mengerutkan kening ketika menyaksikan perkembangan

selanjutnya. "Maksud Anda, pembunuhannya

sempat terekam?"

"Ya," kataku. "Lewat beberapa kamera."

"Anda main-main."

Sanders terdiam, menatap monitor. Dengan gambar

yang kabur, sukar untuk melihat lebih dari

kejadian-kejadian dasar. Kedua orang melintas ke ruang

rapat. Pergulatan mendadak. Cheryl dipaksa berbaring di

meja. Si pria melangkah mundur. Meninggalkan ruangan

dengan tergesa-gesa.

Tak ada yang berbicara. Kami semua memandang

monitor.

Aku melirik Theresa. Wajahnya tidak berekspresi.

Gambar video terpantul di kacamatanya.

Eddie berjalan melewati cermin lalu masuk ke selasar

yang gelap. Pitanya masih diputar selama beberapa detik,

dan kemudian kasetnya meloncat keluar.

"Kaset pertama sudah selesai. Anda bilang ada beberapa

kamera? Berapa banyak?"

"Lima, kalau tidak salah," kataku.

Theresa menandai kaset pertama dengan sebuah stiker.

Ia memutar kaset kedua, dan kembali memulai proses kopi

kecepatan tinggi.

Aku berkata, Apakah semua kopi ini persis sama dengan

aslinya?"

"Oh, tentu."

"Jadi sah menurut hukum?"

Sanders mengerutkan kening. "Sah dalam arti?"

"Sebagai barang bukti di pengadilan ...?”

"Oh, tidak," ujar Sanders. "Oleh pengadilan, rekaman ini

takkan diterima sebagai barang bukti."

"Tapi kalau isinya persis sama dengan aslinya..."

"Tidak ada hubungan dengan itu. Semua barang bukti

berupa foto, termasuk video, tidak lagi diterima oleh

pengadilan."

"Ini belum pernah saya dengar," kataku.

"Memang belum pernah terjadl," balas Sanders.

"Undang-undangnya masih kurang jelas. Tapi kita tinggal

tunggu tanggal mainnya saja. Sekarang ini semua foto

dicurigai. Sebab sekarang, berkat sistem digital, semua foto

dapat dimanipulasi secara sempurna. Sempurna. Dan ini

sesuatu yang baru. Anda masih ingat, bertahun-tahun lalu,

ketika orang Rusia menghilangkan tokoh-tokoh politik

tertentu dari panggung kehormatan pada peringatai Hari

Mei? Mereka menggunakan cara gunting-tempel yang

kasar, dan kita selalu langsung melihat bahwa ada sesuatu

yang diubah. Selalu ada celah di antara bahu orang-orang

yang tetap kelihatan. Atau perbedaan warna pada dinding

di balik mereka. Atau bekas goresan kuas dari orang yang

berusaha menutup-nutupi kerusakannya. Tapi yang

penting, perubahannya segera kelihatan. Kita bisa melihat

bahwa fotonya telah dimanipulasi. Usaha mereka

benar-benar menggelikan."

"Saya ingat itu," kataku.

"Dari dulu foto-foto dipandang meyakinkan sebagai

barang bukti, karena tidak mungkin diotak-atik. Jadi, kita

sudah terbiasa menganggap foto sebagai cerminan realitas.

Tapi sejak beberapa tahun terakhir, komputer membuka

peluang untuk mengubah foto secara sempurna. Beberapa

tahun lalu, National Geographic memindahkan Piramida

Besar di Mesir pada gambar sampul mereka. Para editor

tidak suka letak piramida itu; menurut mereka, komposisi

gambar sampul akan lebih bagus kalau piramidanya

digeser. Jadi mereka melakukan manipulasi foto. Tak ada

yang tahu. Tapi kalau Anda pergi ke Mesir dengan

membawa kamera dan mencoba membuat foto yang sama,

Anda akan menemukan bahwa itu tidak mungkin. Sebab di

dunia nyata tidak ada sudut pandang di mana

piramida-piramida tersebut membentuk komposisi seperti

itu. Gambar sampul itu tidak lagi mewakili realitas. Tapi

kita tidak menyadarinya. Ini hanya contoh kecil."

"Dan kaset-kaset ini bisa dimanipulasi dengan cara yang

sama?"

"Secara teori, setiap rekaman video bisa dimanipulasi."

Di layar monitor, aku menyaksikan adegan pembunuhan

untuk kedua kalinya. Kamera ini berada di seberang

ruangan. Adegan pembunuhannya sendirl tidak terialu

kelihatan, tetapi sesudahnya, Sakamura tampak jelas ketika

ia berjalan ke arah kamera.

Aku berkata, "Bagaimana gambar ini bisa diubah?"

Sanders tertawa. "Sekarang ini, Anda bisa mengubah apa

saja yang Anda inginkan."

"Apakah identitas pembunuhnya bisa diganti?"

"Secara teknis, ya," kata Sanders. "Anda bisa memetakan

wajah pada sebuah objek kompleks yang bergerak. Secara

teknis, kemungkinannya ada. Tapi dalam praktek, sukar

sekali."

Aku diam saja. Mungkin memang lebih baik begitu.

Sakamura merupakan tersangka utama, dan ia telah tewas;

Komandan menginginkan kasus ini segera ditutup. Begitu

juga aku.

"Di pihak lain," ujar Sanders, "orang Jepang mempunyai

segala macam algoritma canggih untuk pemetaan

permukaan dan transformasi tiga dimensi. Mereka mampu

melakukan hal-hal yang bahkan tak terbayang oleh kita." Ia

mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. 'Bagaimana urutan

kronologis kaset-kaset ini?"

Aku berkata, "Pembunuhannya terjadi pukul setengah

sembilan semalam, seperti yang terlihat pada jam dinding

di dalam rekaman. Kami diberitahu bahwa sekitar pukul

sembilan kurang seperempat, kaset-kaset ini diambil dari

ruang keamanan. Kami menuntut kaset-kaset ini sebagai

barang bukti, dan kemudian kami terlibat perdebatan

dengan pihak Jepang."

"Seperti biasa. Dan jam berapa Anda akhirnya

memperoleh kaset-kaset ini?"

"Semuanya diserahkan ke markas divisi sekitar pukul

setengah dua dini hari."

"Oke," ujar Sanders. Berarti dari jam 20.45 sampai jam

01.30 kaset-kaset ini berada di tangan mereka."

"Benar. Lima jam kurang sedikit. "

Sanders mengerutkan kening. "Lima kaset, dengan lima

sudut kamera yang berbeda, diubah dalam lima jam?" la

menggelengkan kepala. "Tidak mungkin. Waktunya tidak

cukup, Letnan."

Aku berkata, "Anda yakin?"

"Hmm," Theresa bergumam, "satu-satunya cara mereka

bisa mengerjakannya secepat itu adalah dengan

menggunakan program otomatis, dan dengan

program-program yang paling canggih pun tetap ada

detail-detail yang harus dipoles secara manual. Blur yang

buruk bisa membongkar semuanya."

"Blur buruk?" kataku. Aku mulai ketagihan mengajukan

pertanyaan padanya. Aku suka menatap wajahnya.

"Gambar yang kabur akibat gerakan," Sanders

menjelaskan. "Rekaman video dibuat dengan kecepatan

tiga puluh frame per detik. Setiap frame video bisa

dianggap sebagai foto yang diambil dengan kecepatan

sepertiga puluh detik. Dan ini lambat sekali - jauh lebih

lambat dibandingkan dengan kamera ukuran saku. Jika kita

merekam pelari dengan kecepatan sepertiga puluh detik,

kakinya kelihatan kabur.

"Itu yang disebut blur akibat gerakan. Dan kalau kita

mengubahnya secara mekanis, gambarnya akan kelihatan

ganjil. Gambarnya terIalu tajam. Garis-garis tepi akan

tampak janggal. Kembali ke masalah yang dihadapi orang

Rusia tadi, kita bisa melihat bahwa ada sesuatu yang

diubah. Untuk gerakan yang realistis, kita memerlukan blur

dalam jumlah yang tepat."

"Oh, begitu."

Theresa berkata, "Lalu masih ada masalah pergeseran

warna."

"Betul," ujar Sanders. "Di dalam blur terjadi pergeseran

warna. Sebagai contoh, coba lihat ke monitor Pria itu

memakai jas biru, dan jasnya tampak mengembang pada

waktu dia berputar-putar sambil menggendong teman

kencannya. Nah. Jika kita ambil satu frame dari adegan itu,

kita akan melihat bahwa jasnya berwarna navy blue, tetapi

blur-nya semakin muda, sampai hampir transparan pada

tepinya - kita tidak bisa menentukan batas antara jas dan

dinding dengan mengamati satu frame saja."

Samar-samar aku dapat membayangkannya. "Oke..."

"Jika warna-warna tepi tidak berbaur secara sempurna,

kita langsung bisa melihatnya. Untuk membersihkan

rekaman sepanjang beberapa detik saja, misalnya untuk

iklan, dibutuhkan waktu berjam-jam. Tapi kalau tidak

dilakukan, manipulasinya akan ketahuan secepat ini." Ia

menjentikkan jari.

"Jadi, kalaupun mereka sempat membuat kopi dari

kaset-kaset ini, mereka tak mungkin mengubah isinya?"

"Dalam lima jam, tidak, kata Sanders. "Waktunya tidak

cukup."

"Kalau begitu, adegan itu memperlihatkan kejadian

sesungguhnya."

"Betul," ujar Sanders. "Tapi kami akan terus meneliti

rekaman ini setelah Anda pulang. Theresa pasti ingin

mengotak-atiknya. Dan saya juga. Coba hubungi kami nanti

sore. Kami akan memberitahu Anda jika kami menemukan

kejanggalan. Tapi pada dasarnya, kaset-kaset ini tak

mungkin dimanipulasi secepat itu. Dan yang pasti, bukan di

sini."

Bab 29

KETIKA aku memasuki pelataran parkir Sunset Hills

Country Dub, aku melihat Connor berdiri di depan

clubhouse yang besar. Ia membungkuk ke arah tiga pemain

golf Jepang yang menemaninya, dan mereka membalas

dengan cara yang sama. Kemudian ia bersalaman dengan

semuanya, lalu melemparkan stik-stik golf ke bangku

belakang dan masuk ke mobil.

"Anda terlambat, Kohai."

"Sori. Hanya beberapa menit. Saya tertahan di U.S.C."

"Keterlambatan Anda merepotkan banyak orang. Untuk

menjaga sopan santun, mereka merasa berkewajiban

menernani saya di depan, sementara saya menunggu Anda.

Orang-orang dengan posisi seperti mereka merasa tidak

nyaman kalau terpaksa berdiri menunggu. Mereka orang

sibuk. Tapi mereka merasa berkewajiban dan tidak bisa

meninggalkan saya. Anda sangat mempermalukan saya.

Anda juga menimbulkan citra buruk bagi seluruh

Departemen."

"Maaf. Saya tidak tahu."

"Sudah waktunya Anda mulai sadar, Kohai. Anda tidak

sendirian di dunia."

Aku memasukkan gigi dan mulai menjalankan mobilku.

Aku memperhatikan orang-orang Jepang tadi melalui kaca

spion. Mereka melambaikan tangan. Mereka tidak kelihatan

kesal maupun terburu-buru. "Siapa teman main Anda tadi?"

"Aoki-san kepala Tokio Marine di Vancouver Hanada-san

wakil presiden Mitsui Bank di London. Dan Kenichi Asaka

membawahi semua pabrik Toyota di Asia Tenggara dari

K.L. ke Singapura. Kantornya di Bangkok."

"Sedang apa mereka di sini?"

"Mereka sedang berlibur," kata Connor. "Liburan singkat

di AS untuk bermain golf. Mereka suka bersantai di negara

yang berirama lebih lambat seperti di sini."

Aku menyusuri jalan berkelok-kelok yang menuju Sunset

Boulevard, dan berhenti untuk menunggu lampu hijau. "Ke

mana sekarang?"

"Ke Four Seasons Hotel."

Aku membelok ke kanan, ke arah Beverly Hills. "Kenapa

orang-orang itu mau bermain golf dengan Anda?"

"Oh, kami sudah lama saling mengenal," katanya.

"Sekali-sekali membantu di sana-sini. Saya bukan orang

penting, tapi hubungan baik harus tetap dijaga. Menelepon,

memberi hadiah kecil, bermain golf bersama kalau

kebetulan berkunjung. Karena kita takkan pernah tahu

kapan kita memerlukan jaringan kita. Koneksi merupakan

sumber informasi, katup pengaman, sekaligus sistem peringatan

dini. Dalam falsafah hidup orang Jepang."

"Siapa yang mengajak bermain?"

"Hanada-san memang sudah punya rencana bermain.

Saya hanya bergabung. Permainan golf saya cukup baik."

"Kenapa Anda ingin bergabung dengannya?"

"Karena saya ingin tahu, lebih banyak mengenai

pertemuan Sabtu," kata Connor.

Aku masih ingat. Dalam rekaman video yang kami tonton

di ruang wartawan, Sakamura menangkap Cheryl Austin

dan berkata, "Kau tidak mengerti, ini semua menyangkut

pertemuan Sabtu."

"Dan mereka memberitahu, Anda?"

Connor mengangguk. "Rupanya tradisi pertemuan Sabtu

sudah berlangsung lama," katanya. "Sejak sekitar tahun

delapan puluh. Mula-mula diadakan di Century Plaza,

kemudian di Sheraton, dan akhirnya pindah ke Biltmore."

Connor memandang ke luar jendela. Kami

terguncang-guncang karena mobilku masuk ke sebuah

lubang di Sunset Boulevard.

"Selama beberapa tahun, pertemuan-pertemuan itu,

diselenggarakan secara rutin. Pengusaha-pengusaha

terkemuka dari Jepang yang kebetulan berada di sini,

berkumpul untuk mengikuti diskusi mengenai apa yang

harus dilakukan dengan Amerika. Bagaimana

perekonomian Amerika harus ditangani."

"Apa?"

"Ya.”

"Keterlaluan!"

"Kenapa?" tanya Connor.

"Kenapa? Karena ini negara kita. Masa sekelompok

orang asing melakukan pertemuan rahasia untuk

memutuskan bagaimana mereka akan mengelola Amerika!"

"Orang Jepang melihatnya dari sudut lain," ujar Connor.

"Oh, pasti! Saya yakin mereka malah merasa berhak."

Connor mengangkat bahu. "Memang begitu. Dan mereka

percaya bahwa sudah sewajarnya mereka memperoleh hak

untuk memutuskannya."

"Astaga!"

"Karena mereka menopang perekonomian kita dengan

investasi besar-besaran yang telah mereka lakukan. Jumlah

uang yang mereka pinjamkan kepada kita sangat besar,

Peter. Sangat besar. Ratusan miliar dolar. Hampir

sepanjang lima belas tahun terakhir Amerika Serikat

mengalami defisit perdagangan dengan Jepang sebesar satu

miliar dolar per minggu. Artinya, setiap minggu Jepang

memperoleh satu miliar dolar, dan uang itu harus

digunakan untuk sesuatu Mereka kebanjiran uang. Padahal

mereka sebenarnya tidak menginginkan dolar dalam

jumlah sedemikian besar. Apa yang harus mereka lakukan

dengan uang yang berlimpah-limpah itu?

"Akhirnya mereka memutuskan untuk mengembalikan

uang itu, kepada kita, dalam bentuk pinjaman. Tahun demi

tahun pemerintah kita mengalami defisit anggaran. Bukan

kita yang membayar program-program kita. Orang Jepang

yang membiayai semuanya. Mereka melakukan investasi.

Dan mereka memberikan pinjaman dana, atas

jaminan-jaminan tertentu dari pemerintah kita.

Washington berjanji kepada orang Jepang bahwa kita akan

membereskan urusan dalam negeri. Kita akan memotong

defisit. Kita akan meningkatkan mutu pendidikan,

memperbaiki prasarana-prasarana, bahkan menaikkan

pajak jika diperlukan. Singkat kata, kita akan membenahi

diri. Sebab hanya dengan demikian investasi di Amerika

dapat dipertanggungjawabkan."

"He-eh," gumamku.

"Tapi kita lalai. Kita membiarkan defisit semakin

membengkak, dan kita melakukan devaluasi dolar. Di tahun

1985, nilai dolar dipotong setengahnya. Anda tahu

bagaimana pengaruh kebijaksaan ini terhadap

investasi-investasi Jepang? Rencana-rencana mereka

berantakan. Semua investasi di tahun 1984 hanya memberi

hasil setengah dari jumlah semula."

Samar-samar aku ingat kejadian itu. Aku berkata, "Saya

pikir, cara itu ditempuh untuk membantu defisit

perdagangan kita, untuk menggalakkan ekspor. "

"Memang, tapi ternyata tidak berhasil. Neraca

perdagangan kita dengan Jepang semakin memburuk.

Biasanya, jika nilai mata uang didevaluasi 50%, harga

barang-barang impor akan menjadi dua kali lipat. Tetapi

orang Jepang langsung memotong harga alat-alat video dan

mesin fotokopi, dan mempertahankan pangsa pasar yang

telah mereka kuasai. Ingat, bisnis adalah perang.

"Efek nyata yang akhirnya dicapai hanyalah bahwa tanah

Amerika dan perusahaan-perusahaan Amerika menjadi

lebih murah bagi orang Jepang, sebab yen kini dua kali

lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Kepemilikan

bank-bank terbesar di dunia pindah ke tangan Jepang. Dan

kita membuat Amerika menjadi negara miskin."

"Apa hubungan semua ini dengan pertemuan Sabtu?"

"Begini," ujar Connor, "andaikata Anda punya paman

yang gemar minum-minum. Dia berjanji akan

menghentikan kebiasaannya itu jika Anda meminjamkan

uang padanya. Tapi kemudian dia mengingkari janjinya.

Dan Anda ingin agar uang Anda kembali. Anda ingin

menyelamatkan sisa-sisa investasi Anda yang buruk. Selain

itu, Anda juga tahu bahwa paman Anda mungkin saja minum

sampai mabuk dan mencederai orang lain. Paman

Anda lepas kendali. Anda harus berbuat sesuatu. Dan

kemudian seluruh keluarga berkumpul untuk membahas

tindakan apa yang harus diambil. Itulah yang dilakukan

oleh orang-orang Jepang."

"He-eh."

Connor rupanya menangkap nada sangsi dalam suaraku.

"Kelihatannya Anda curiga bahwa mereka melakukan

persekongkolan. Sebaiknya pikiran itu Anda buang

jauh-jauh. Anda berminat mengambil alih Jepang? Tentu

saja tidak. Negara berakal sehat takkan mengambil alih

negara lain. Melakukan bisnis, ya. Membina hubungan, ya.

Tapi bukan mengambil alih. Tak ada yang menginginkan

tanggung jawab sebesar itu. Tak ada yang mau repot. Sama

halnya dengan paman Anda yang pemabuk - Anda hanya

mengadakan rapat keluarga jika memang terpaksa. Kalau

tidak ada jalan lain."

"Begitukah pandangan orang Jepang?"

"Mereka melihat bermiliar-miliar dolar milik mereka,

Kohai. Ditanam di sebuah negeri yang dililit masalah.

Sebuah negeri yang penuh orang aneh yang individualistis

dan berbicara tanpa titik koma. Yang selalu bentrok. Saling

mendebat. Orang-orang tanpa pendidikan yang baik.

Orang-orang yang tidak tahu banyak mengenai dunia, dan

mengandalkan TV sebagai sumber informasi. Orang-orang

yang tidak bekera keras, yang membiarkan kekerasan dan

penggunaan narkotika merajalela, dan sepertinya tidak

terganggu. Orang Jepang menanam miliaran dolar di negeri

aneh ini, dan mereka ingin mendapat laba yang pantas. Dan

walaupun perekonomian Amerika sedang menuju

kehancuran - sebentar lagi kita akan turun ke peringkat tiga

dunia setelah Jepang dan Eropa - tetap harus ada yang

mencoba bertahan. Dan peran inilah yang dijalankan oleh

orang Jepang."

"Hanya itu?" aku bertanya. "Mereka sekadar membantu

menyelamatkan Amerika?"

"Harus ada yang melakukannya," ujar Connor. "Kita

tidak bisa terus seperti ini."

"Kita pasti berhasil."

"Ini yang dulu biasa dikatakan orang Inggris.”

Ia menggelengkan kepala. "Tapi nyatanya sekarang

Inggris jatuh miskin. Dan tidak lama lagi Amerika akan

menyusul."

"Kenapa kita harus jatuh miskin?" kataku. Tanpa

sengaja, suaraku menjadi keras.

"Sebab, menurut orang Jepang, Amerika telah menjadi

negeri tanpa isi. Kita telah melalaikan industri perakitan.

Kita tidak lagi menghasilkan barang-barang. Kalau kita

membuat produk-produk, kita memberi nilai tambah

kepada bahan-bahan baku, dan dengan demikian kita

menciptakan kemakmuran. Tapi Amerika sudah berhenti

melakukan itu. Kini orang Amerika menghasilkan dengan

manipulasi di atas kertas, yang menurut orang Jepang

merupakan senjata makan tuan, karena keuntungan di atas

kertas tidak mencerminkan kekayaan nyata. Mereka heran

sekali bahwa kita tergila-gila pada Wall Street dan

spekulasi saham."

"Dan karena itu orang Jepang merasa berhak mengatur

kita?"

"Mereka merasa harus ada yang mengatur kita. Mereka

lebih suka kalau kita melakukannya sendiri."

"Astaga."

Connor bergeser sedikit. "Jangan marah dulu, Kohai.

Menurut keterangan Hanada-san, tradisi pertemuan Sabtu

berakhir pada tahun 1991."

"Oh.

"Ya. Waktu itu orang Jepang memutuskan untuk tidak

ambil pusing apakah Amerika membenahi diri atau tidak.

Mereka melihat keuntungan dalam situasi sekarang:

Amerika sedang tidur lelap, dan semakin murah untuk

dibeli."

"Berarti tidak ada pertemuan Sabtu lagi?"

"Sekaii-sekali masih. Karena nichibei kankei: hubungan

Jepang-Amerika yang terus berjalan. Perekonomian kedua

negara ini sudah saling terkait. Kedua-duanya tidak dapat

menarik diri, biarpun mereka menginginkannya. Tetapi

pertemuan-pertemuan itu tak lagi penting. Kini sifatnya

lebih sebagai acara ramah-tamah. Jadi, apa yang dikatakan

Sakamura kepada Cheryl Austin ternyata keliru. Dan

kematiannya tidak berhubungan dengan pertemuan Sabtu."

"Lalu, hubungannya dengan apa?"

"Menurut teman-teman saya tadi, kejadian itu bersifat

pribadi. Chijou no motsure, kejahatan bermotif nafsu.

Melibatkan wanita cantik, irokichigai, dan pria

pencemburu."

"Dan Anda percaya pada mereka?"

"Masalahnya, mereka semua sependapat. Ketiga-tiganya.

Memang, orang Jepang merasa canggung untuk

memperlihatkan perbedaan pendapat di antara mereka,,

bahkan di lapangan golf di sebuah negara miskin. Tapi

berdasarkan pengalaman saya, jika mereka bersikap

seperti itu terhadap gaijin, mungkin ada yang

ditutup-tutupi."

"Maksud Anda, mereka bohong?"

"Tidak juga." COnnor menggelengkan kepala. "Tetapi

saya mendapat kesan bahwa mereka menceritakan sesuatu

kepada saya dengan tidak menceritakannya. Acara tadi pagi

adalah permainan hara no saguriai. Teman-teman saya

tidak membuka diri."

Connor menggambarkan acara main golf tadi. Sepanjang

pagi, semuanya lebih banyak membisu. Semuanya sopan,

tetapi jarang sekali ada yang memberi komentar, dan itu

pun singkat-singkat. Hampir sepanjang waktu mereka

berjalan mengelilingi lapangan golf dalam suasana hening.

"Padahal Anda pergi ke sana untuk mencari informasi?"

kataku. "Bagaimana Anda bisa tahan?"

"Oh, saya tetap memperoleh informasi." Tetapi ketika ia

menjelaskannya, ternyata semuanya dalam bentuk tidak

terucapkan. Karena mereka hidup dengan budaya yang

sama selama berabad-abad, di antara orang-orang Jepang

telah terjalin pengertian yang mendalam, dan mereka

mampu menyampaikan perasaan tanpa kata-kata. Di

Amerika, keakraban serupa dapat ditemui antara orangtua

dan anak-anak kecil sering kali memahami segala sesuatu

hanya dengan "membaca" tatapan orangtuanya. Tetapi

pada umumnya orang Amerika tidak mengandalkan

komunikasi bisu, berbeda dengan orang Jepang. Semua

orang Jepang seakan-akan merupakan anggota sebuah

keluarga, dan mereka sanggup berkomunikasi tanpa

kata-kata. Bagi orang Jepang, sikap membisu mengandung

makna

"Tidak ada yang ajaib atau luar biasa," Connor

melanjutkan. "Pada dasarnya, orang Jepang begitu

terkekang oleh peraturan dan adat kebiasaan, sehingga

mereka akhirnya tak dapat mengucapkan apa-apa. Demi

menjaga sopan santun, untuk menyelamatkan muka, lawan

bicara mereka berkewajiban membaca situasi, membaca

konteks, memahami tanda-tanda yang diberikan melalui

sikap tubuh, dan menangkap hal-hal yang tak terucap.

Sebab orang pertama merasa bahwa ia tak dapat

menuangkan perasaannya ke dalam bentuk kata-kata.

Dalam situasi seperti itu, berbicara dianggap tidak pantas.

Jadi, mereka terpaksa menggunakan cara lain."

Aku berkata, "Dan Anda menghabiskan pagi ini seperti

itu? Dengan tidak berbicara?"

Connor menggelengkan kepala. Ia merasa telah menjalin

komunikasi lancar dengan para pemain golf Jepang itu, dan

sama sekali tidak terganggu oleh keheningan yang terjadi.

"Karena saya bertanya mengenai orang-orang Jepang

lain - sesama anggota keluarga mereka - saya terpaksa

merumuskan pertanyaan-pertanyaan saya dengan

hati-hati. Sama seperti kalau saya bertanya apakah adik

perempuan Anda dipenjara, atau menanyakan hal lain yang

menyakitkan bagi Anda. Saya akan memperhatikan

seberapa lama Anda terdiam sebelum menjawab, nada

suara Anda, dan sebagainya. Hal-hal di balik komunikasi

verbal. Oke?"

"Oke."

"Artinya, kita memperoleh informasi melalui intuisi."

"Dan intuisi apa yang Anda peroleh?"

"Mereka bilang, 'Kami tidak lupa bahwa Anda pernah

berjasa bagi kami di masa lalu. Sekarang kami berkeinginan

membantu Anda. Tetapi pembunuhan ini merupakan

masalah orang Jepang, karena itu ada banyak hal yang tak

dapat kami ungkapkan. Berdasarkan sikap bungkam ini,

Anda dapat menarik kesimpulan yang berguna mengenai

masalah sesungguhnya.' Itulah yang mereka sampaikan

pada saya."

"Dan apa masalah sesungguhnya yang mereka maksud?"

"Hmm," Connor bergumam, "nama MicroCon sempat

disinggung beberapa kali."

"Perusahaan high-tech itu?"

"Ya. Perusahaan yang akan dijual. MicroCon rupanya

sebuah perusahaan kecil di Silicon Valley yang

mengkhususkan diri di bidang peralatan komputer.

Rencana penjualan itu diliputi masalah-masalah politik.

Masalah-masalah itu juga sempat disinggung-singgung tadi

"

"Jadi pembunuhan ini berkaitan dengan MicroCon?"

"Saya kira begitu." Sekall lagi ia bergeser di kursinya. "O,

ya, apa yang Anda peroleh di U.S.C. mengenai kaset-kaset

itu?"

"Pertama-tama, semuanya berisi rekaman kopi."

Connor mengangguk. "Memang sudah saya duga,"

katanya.

“O, ya?”

"Ishiguro tak mungkin menyerahkan rekaman asli.

Orang Jepang menganggap semua orang yang bukan Jepang

sebagai barbar. Dalam arti harfiah: barbar. Bau, vulgar,

bodoh. Mereka tidak menunjukkannya secara

terang-terangan, sebab mereka tahu bahwa bukan salah

kita tidak dilahirkan sebagai orang Jepang. Tapi mereka

tetap berpendapat begitu."

Aku mengangguk. Itu kurang lebih sama dengan apa

yang dikatakan Sanders.

"Kecuali itu," ujar Connor, "orang Jepang memang sangat

berhasil, tapi mereka bukan pemberani. Mereka bersiasat

dan berkomplot. Jadi, mereka tak mungkin menyerahkan

rekaman asli, karena mereka tidak mau ambil risiko.

Informasi apa lagi yang Anda peroleh mengenai kaset-kaset

itu?"

"Kenapa Anda menyangka bahwa masih ada hal lain?"

tanyaku.

"Pada waktu menyaksikan rekaman itu," katanya, "Anda

tentu memperhatikan detail penting yang..."

Dan kemudian percakapan kami terputus oleh telepon

yang berdering.

"Kapten Connor," sebuah suara bernada riang berkata

lewat speaker, "ini Jerry Orr. Di Sunset Hills Country Club.

Anda lupa membawa formulir Anda."

"Formulir?"

"Formulir pendaftaran," kata Orr. "Anda harus

mengisinya, Kapten. Sebenarnya ini hanya formalitas

belaka Saya jamin takkan ada masalah, mengingat siapa

sponsor Anda."

"Sponsor saya?" ujar Connor.

"Ya, Sir," balas Orr. "Saya mengucapkan selamat. Anda

tentu tahu, sekarang ini hampir mustahil untuk

memperoleh keanggotaan di Sunset. Tapi beberapa waktu

lalu perusahaan Mr. Hanada telah membeli keanggotan

corporate, dan mereka memutuskan untuk mencantumkan

nama Anda. Terus terang, teman-teman Anda sangat

berbaik hati."

“Ya, saya Juga sependapat dengan Anda," kata Connor

sambil mengerutkan kening.

Aku menatapnya.

"Mereka tahu Anda senang sekali bermain golf di sini,"

Orr meneruskan. "Anda sudah tahu syarat-syaratnya,

bukan? Hanada akan membeli keanggotaan untuk jangka

waktu lima tahun, tetapi setelah itu, keanggotaannya

menjadi atas nama Anda. Jadi, jika Anda memutuskan untuk

mengundurkan diri, Anda bebas menjualnya. Oke? Anda

akan mengambil formulirnya di sini, atau lebih baik kalau

saya kirim ke rumah Anda?"

Connor berkata, "Mr. Orr, tolong sampaikan ucapan

terima kasih saya kepada Mr. Hanada atas kebaikannya

yang luar biasa. Saya hampir kehilangan kata-kata. Tapi

saya belum bisa memutuskannya sekarang. Saya terpaksa

menghubungi Anda lagi nanti."

"Baiklah. Nanti tolong beritahu kami ke mana formulir

Anda harus kami kirim."

"Nanti saya akan menelepon Anda," jawab Connor.

Ia menekan tombol untuk mengakhiri percakapan, lalu

memandang lurus ke depan. Selama beberapa saat kami

berdua duduk membisu.

Akhirnya aku berkata, "Berapa nilai keanggotaan di klub

itu?"

"Tujuh ratus lima puluh. Mungkin satu juta."

Aku berkata, "Hadiah yang menarik dari teman-teman

Anda." Dan kemudian aku teringat pada Graham, dan

bagaimana Graham menyindir bahwa Connor sudah dibeli

oleh orang-orang Jepang. Kelihatannya kini kebenaran

desas-desus itu tak perlu diragukan lagi.

Connor geleng-geleng kepala. "Saya tak mengerti.”

"Kenapa Anda bingung?" ujarku. "Ah, Kapten. Bagi saya

semuanya sudah jelas."

"Saya benar-benar tak mengerti," Connor berkata sekali

lagi.

Dan kemudian telepon kembali berdering. Kali ini

untukku.

"Letnan Smith? Di sini Louise Gerber. Saya lega sekall

karena bisa menghubungi Anda."

Aku tidak mengenali namanya. Aku berkata,

"Ya?"

"Karena besok hari Sabtu, saya pikir Anda mungkin

punya waktu untuk melihat rumahnya."

Baru sekarang aku teringat siapa wanita itu. Sebulan

sebelumnya, aku sempat berkeliling kota dengan seorang

broker untuk melihat-lihat rumah. Michelle semakin besar,

dan aku lebih suka kalau ia tak perlu tinggal di apartemen.

Kalau bisa, aku ingin menyediakan halaman belakang

untuknya. Tapi harapannya tipis. Walaupun bisnis real

estate sedang lesu, harga rumah-rumah yang paling kecil

pun masih berkisar antara 400.000 sampai 500.000 dolar.

Dan aku tidak memenuhi syarat, dengan gaji yang kuterima.

"Ini situasi yang sangat tidak lazim," ia berkata, "dan

saya langsung teringat pada Anda dan putri Anda.

Rumahnya terietak di Palms, kecil - sangat kecil - tapi di

pojok jalan, dengan halaman belakang yang indah. Ada

bunga-bunga dan rumput yang bagus sekali. Harga yang

diminta 300.000. Tapi saya rasa masih bisa ditawar. Anda

berminat melihatnya'?"

Aku berkata, "Siapa pemiliknya?"

"Saya pun tidak mengenalnya. Situasinya memang tidak

lazim. Rumah itu milik wanita tua yang kini tinggal di panti

werda, dan putranya, yang tinggal di Topeka, ingin

menjualnya. Tapi dia lebih suka menerima sejumlah uang

setiap bulan daripada setumpuk uang sekaligus. Rumah itu

belum dipasarkan secara resmi, tapi saya tahu bahwa

penjualnya serius. Jika Anda ada waktu besok, mungkin

Anda dapat berbuat sesuatu. Dan halaman belakangnya

benar-benar indah. Putri Anda pasti senang sekali."

Kini giliran Connor menatapku. Aku berkata, "Miss

Gerber, saya butuh informasi lebih banyak. Siapa

penjualnya, dan sebagainya."

Wanita itu rupanya merasa heran. "Wah, saya sangka

Anda takkan berpikir dua kali. Situasi seperti ini tidak bisa

ditemui setiap hari. Anda tidak berminat melihat rumahnya

dulu?"

Connor memandangku sambil mengangguk-angguk. Ia

menggerak-gerakkan mulut, katakan ya. "Saya akan

menghubungi Anda lagi mengenai ini," ujarku.

"Baiklah, Letnan," kata wanita itu. Nadanya ragu-ragu.

"Tolong hubungi saya kalau Anda sudah mengambil

keputusan."

"Saya akan menelepon Anda."

Aku meletakkan gagang.

"Persetan, ada apa ini?" tanyaku. Sebab aku tak bisa

menutup mata. Connor dan aku baru saja disodori uang

dalam jumlah banyak. Sangat banyak.

Connor menggelengkan kepala. "Saya tidak tahu."

"Apakah ada hubungannya dengan MicroCon?"

"Saya tidak tahu. Saya kira MicroCon hanya perusahaan

kecil. Ini tidak masuk akal." Ia tampak gelisah sekali.

"Sebenarnya, ada apa di balik MicroCon?"

Aku berkata, "Saya tahu siapa yang harus kita tanyai."

Bab 30

"MICROCONT?” ujar Ron Levine sambil menyalakan

sebatang cerutu besar. "Tentu, aku bisa bercerita banyak

mengenai MicroCon. Kisahnya tidak menyenangkan."

Kami sedang duduk di ruang wartawan American

Financial Network, sebuah stasiun TV kabel khusus berita,

yang berlokasi di dekat bandara. Melalui jendela-jendela di

ruang kerja Ron, aku melihat sejumlah antena parabola

berwarna putih di atas gedung parkir di sebelah. Ron

mengisap cerutunya dan menatap kami sambil tersenyum.

Ia wartawan keuangan di Times sebelum menerima

pekerjaan di muka kamera di sini. AFN termasuk satu dari

sedikit stasiun TV yang para pembawa acaranya tidak

diberi naskah; mereka harus memahami permasalahannya,

dan Ron sangat memahaminya.

"MicroCon," ia berkata, "dibentuk lima tahun yang lalu

oleh konsorsium perusahaan-perusahaan komputer

Amerika. Perusahaan ini diharapkan untuk

mengembangkan mesin litografi sinar-X generasi berikut

untuk chips komputer. Pada waktu MicroCon didirikan, tak

ada perusahaan Amerika yang membuat mesin litograft -

semuanya terpaksa gulung tikar di tahun delapan puluhan,

karena tak sanggup menghadapi persaingan ketat dari

Jepang. MicroCon mengembangkan teknologi baru, dan

membuat mesin-mesin untuk perusahaan-perusahaan

Amerika. Oke?"

"Oke," kataku.

"Dua tahun lalu, MicroCon dijual kepada Darley-Higgins,

sebuah perusahaan manajemen yang berpusat di Georgia.

Kemudian anak-anak perusahaan mereka yang lain

mengalami masalah, sehingga Darley memutuskan menjual

MicroCon, untuk memperoleh dana baru. Calon pembelinya

adalah Akai Ceramics, sebuah perusahaan dari Osaka yang

sudah membuat mesin-mesin litografi di Jepang. Akai

mempunyai uang tunai berlebih, dan bersedia membeli

perusahaan Amerika itu dengan harga tinggi. Kemudian

pihak Kongres mengambil langkah untuk menghentikan

penjualan tersebut."

"Kenapa?"

"Kongres pun sudah mulai terusik oleh kemerosotan

bisnis Amerika. Sudah terlalu banyak industri dasar yang

jatuh ke tangan Jepang - baja dan perkapalan di tahun enam

puluhan, pesawat TV dan chips komputer di tahun tujuh

puluhan, perkakas mesin di tahun delapan puluhan. Suatu

hari, seseorang terbangun dan menyadari bahwa

industri-industri itu sangat penting bagi pertahanan

Amerika. Kita telah kehilangan kemampuan untuk

membuat komponen-komponen vital untuk keamanan

nasional kita. Kita sepenuhnya tergantung kepada Jepang

sebagai pemasok barang-barang tersebut. Jadi, Kongres

mulai resah. Tapi kabarnya rencana penjualan itu tetap

dilanjutkan. Kenapa? Kalian terilbat dalam penjualan ini?"

"Secara tidak langsung," ujar Connor.

"Beruntunglah kalian," kata Ron sambil menyedot

cerutunya. "Kalau kalian terlibat dalam suatu penjualan

kepada orang Jepang, itu sama saja de ngan menemukan

sumber minyak. Semua pihal menjadi kaya. Kurasa kalian

disodori hadiah hadiah menggiurkan."

Connor mengangguk. "Sangat menggiurkan."

"Pasti," kata Ron. "Mereka akan mengurus kalian dengan

baik, membelikan rumah atau mobil, mengusahakan kredit

dengan bunga ringan, hal-hal seperti itulah."

Aku berkata, "Kenapa mereka berbuat begitu?"

Ron tertawa. "Kenapa mereka makan sushi? Beginilah

mereka menjalankan bisnis."

Connor berkata, "Tapi nilai penjualan MicroCon tidak

seberapa, bukan?"

"Yeah, memang kecil. Perusahaan itu bernilai sekitar

seratus juta dolar. Akai membelinya seharga 150 juta.

Selain itu, mereka mungkin masih menambahkan dua

puluh juta sebagai insentif untuk para eksekutif, sekitar

sepuluh juta untuk urusan hukum, sepuluh juta untuk

dibagi-bagi sebagai fee konsultan di Washington, dan

sepuluh juta lagi untuk berbagai hadiah untuk orang-orang

seperti kalian. Totalnya katakanlah dua ratus juta."

Aku berkata, "Dua ratus juta untuk perusahaan bernilai

seratus juta? Kenapa mereka membayar lebih dari nilai

sesungguhnya?"

"Mereka tidak membayar lebih," kata Ron. "Dari sudut

pandang mereka, harga itu malah masih miring."

"Kenapa begitu?"

"Sebab," ujar Ron, "jika kita menguasai barang-barang

yang digunakan untuk membuat barang lain, chips

komputer, misalnya, kita menguasai industri hilir yang

tergantung pada barang-barang itu. Dengan membeli

MicroCon, mereka akan menguasai industri komputer

Amerika. Dan seperti biasa, kita membiarkan hal itu terjadi.

Sama seperti ketika kita kehilangan industri pesawat TV

dan industri perkakas mesin."

"Apa yang terjadi dengan industri TV?" tanyaku.

Ron melirik jam tangannya. "Seusai Perang Dunia II,

Amerika merupakan produsen TV terbesar di dunia. Dua

puluh tujuh perusahaan Amerika seperti Zenith, RCA, GE,

dan Emerson mempunyai keunggulan teknologi

dibandingkan dengan pesaing-pesaing mereka dari luar

negeri. Perusahaan-perusahaan Amerika menikmati sukses

besar di seluruh dunia, kecuali di Jepang. Mereka tak

sanggup menembus pasar Jepang yang tertutup. Mereka

diberitahu bahwa jika mereka hendak menjual

produk-produk mereka di Jepang, mereka wajib

mernberikan lisensi atas teknologi mereka kepada

perusahaan-perusahaan Jepang. Dan mereka

melakukannya dengan enggan, di bawah tekanan

Pemerintah Amerika yang ingin mempertahankan Jepang

sebagai sekutu terhadap Rusia. Oke?”

"Oke.

"Nah, pemberian lisensi merupakan gagasan buruk. Ini

berarti Jepang bisa menggunakan teknologi kita untuk

kepentingan mereka sendiri, dan kita kehilangan Jepang

sebagai sasaran ekspor. Tak lama kemudian Jepang mulai

membuat TV hitam-putih yang murah, dan melakukan

ekspor ke Amerika - sesuatu yang tak bisa kita lakukan di

Jepang. Tahun 1972, enam puluh persen TV hitam-putih

yang dijual di Amerika rnerupakan TV impor dari Jepang.

Tahun 1976, angkanya meningkat menjadi seratus persen.

Kita kehilangan pasar TV hitam-putih. Pekerja-pPekerja

Amerika tidak lagi merakit TV hitam-putih. Lapangan kerja

itu telah hilang dari Amerika.

"Kita bilang, tak jadi soal. Perusahaan-perusahaan kita

sudah beralih ke TV warna. Tapi Pemerintah Jepang lalu

memprakarsai program intensif untuk mengembangkan

industri TV warna. Sekali lagi Jepang membeli lisensi atas

teknologi Amerika, menyempumakannya di pasar tertutup

mereka, dan membanjiri kita dengan TV ekspor. Sekali lagi

perusahaan-perusahaan terpaksa gulung tikar. Ceritanya

persis sama. Tahun 1980 tinggal tiga Perusahaan Amerika

yang'masih merakit TV warna. Tahun 1987 tinggal satu,

Zenith.”

"Tapi TV buatan Jepang memang lebih baik dan lebih

murah," kataku.

"TV mereka mungkin lebih baik," ujar Ron, "tetapi

harganya bisa lebih murah karena dijual di bawah biaya

produksi, untuk menyapu bersih pesaing-pesaing di

Amerika. Ini disebut dumping. Dan praktek ini dinyatakan

dilarang, baik di bawah hukum Amerika maupun di bawah

hukum internasional."

"Kalau begitu, kenapa kita tidak menghentikannya?"

"Pertanyaan yang bagus. Terutama karena dumping

hanya salah satu di antara sekian banyak teknik pemasaran

Jepang yang ilegal. Mereka juga mengatur harga; mereka

membentuk kelompok bernama Grup Sepuluh Hari. Setiap

sepuluh hari manajer-manajer Jepang berkumpul di sebuah

hotel di Tokyo untuk menentukan harga-harga yang akan

diberlakukan di Amerika. Kita mengajukan protes, tapi

pertemuan-pertemuan itu terus berlanjut. Mereka juga

mendongkrak distribusi produk-produk mereka melalui

cara-cara yang berbau kongkalikong. Kabarnya

orang-orang Jepang memberi komisi berjumlah jutaan

dolar kepada distributor-distributor Amerika seperti Sears.

Mereka melakukan penipuan bea masuk dalam skala besar.

Dan mereka menghancurkan industri Amerika yang tak

mampu bersaing.

"Perusahaan-perusahaan kita tentu saja memprotes, dan

menuntut lewat jalur hukum-puluhan kasus dumping,

penipuan, dan penggabungan industri yang melibatkan

perusahaan-perusahaan diajukan ke meja hijau.

Kasus-kasus dumping biasanya selesai dalam satu tahun.

Tetapi pemerinta kita tidak memberi dukungan, dan orang

Jepang pandai mengulur-ulur waktu. Mereka membayar

jutaan dolar kepada perunding-perunding Amerika untuk

memperjuangkan kepentingan mereka. Pada waktu

kasus-kasus itu disidangkan dua belas tahun kemudian,

pertempuran di pasar telah berakhir Dan selama itu,

perusahaan-perusahaan Amerik tidak dapat menyerang

balik di Jepang. Mereka bahkan tak dapat menjejakkan kaki

di Jepang. "

"Maksud Anda, industri TV diambil alih secara ilegal oleh

orang Jepang?"

"Mereka takkan berhasil tanpa bantuan kita," kata Ron.

"Pemerintah kita memanjakan Jepang, yang dianggap

sebagai negara kecil yang sedang berkembang. Dan industri

Amerika dianggap tidak butuh uluran tangan Pemerintah;

Dari dulu selalu ada perasaan antibisnis di Amerika. Tapi

pemerintah kita rupanya tak pernah sadar bahwa keadaannya

berbeda di sini. Waktu Sony mengembangkan

walkman, kita tidak bilang, 'Produk bagus. Sekarang kalian

harus memberikan lisensi kepada GE dan menjualnya lewat

perusahaan Amerika.' Kalau mereka mencari distributor,

kita tidak bilang, 'Maaf, toko-toko di Amerika sudah terikat

perjanjian dengan pemasok-pemasok Amerika. Produk

kalian harus didistribusi melalui perusahaan Amerika'

Kalau mereka minta hak paten, kita tidak bilang, 'Proses

pemberian bak paten makan waktu delapan tahun, dan

selama itu permohonan kalian akan diumumkan secara

terbuka, agar perusahaan-perusahaan kami dapat meneliti

ciptaan kalian dan menjiplaknya tanpa perlu membayar,

sehingga pada waktu kami mengeluarkan hak paten,

perusahaan-perusahaan kami telah memiliki versi sendiri

dari teknologi kalian.'

"Kita tidak melakukan hal-hal seperti itu. Jepang

melakukan semuanya. Pasar mereka tertutup. Pasar kita

terbuka lebar. Medan tempurnya menguntungkan mereka.

Sebenarnya malah tidak ada medan tempur. Ini lebih

pantas disebut jalan satu arah.

"Dan sekarang kita menghadapi iklim usaha yang serba

lesu di negeri ini. Perusahaan-perusahaan Amerika dipaksa

gigit jari dalam kasus TV hitam-putih. Juga dalam kasus TV

warna. Dan Pemerintah AS menolak membantu

perusahaan-perusahaan kita melawan praktek-praktek

perdagangan ilegal yang dilakukan oleh Jepang. Jadi, ketika

Ampex menciptakan video, mereka tidak berusaha

mengembangkannya sebagai produk komersial. Lisensi

atas teknologi tersebut mereka jual ke Jepang, lalu mereka

mengerjakan proyek berikutnya. Dan tidak lama kemudian

kita menemukan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika

tidak melakukan riset. Untuk apa repot-repot

mengembangkan teknologi baru jika pemerintah kita sendiri

menghalang-halangi usaha kita, sehingga kita tak dapat

memasarkannya?"

"Tapi bisnis Amerika memang lemah dan di kelola secara

buruk, bukan?"

"Itu alasan standar," ujar Ron. "Seperti yang selalu

digembar-gemborkan oleh orang-orang Jepang dan para

juru bicara mereka di sini. Hanya dalam beberapa

kesempatan terungkap bagaimana orang Jepang

sesungguhnya. Dalam kasus Houdaille misalnya. Kalian

tahu kasus itu? Houdaillt merupakan perusahaan perkakas

mesin yang mengaku bahwa paten-paten dan lisensi-lisensi

mereka dilanggar oleh sejumlah perusahaan di Jepang.

Seorang hakim federal mengirim pengacara Houdaille ke

Jepang untuk mengumpulkan bukti. Tetapi orang-orang

Jepang menolak memberikan visa padanya."

"Yang benar?"

"Peduli apa mereka?" kata Ron. "Mereka tahu bahwa kita

takkan membalas. Ketika kasus

Houdaille sampai ke hadapan pemerintahan Reagan,

mereka tidak berbuat apa-apa. Akhirnya Houdaille mundur

dari industri perkakas mesin. Sebab tak ada yang dapat

bersaing melawan produk-produk dumping - dan itulah

tujuan yang hendak dicapai."

"Bukankah kita kehilangan uang kalau kita melakukan

dumping?"

"Untuk sementara waktu, ya. Tapi kita menjual jutaan

unit, sehingga kita bisa menyempurnakan proses produksi

dan memotong biaya. Beberapa tahun kemudian, kita

benar-benar sanggup menghasilkan produk kita dengan

biaya yang lebih rendah. Sementara itu, saingan-saingan

kita telah terpaksa gulung tikar dan kita menguasai pasar.

Masalahnya begini, orang Jepang berpikir secara strategis -

mereka membuat rencana jangka panjang, lima puluh

tahun ke depan Perusahaan Amerika harus

memperlihatkan keuntungan setiap tiga bulan; kalau tidak,

para eksekutifnya akan ditendang. Tapi orang Jepang sama

sekali tidak peduli pada keuntungan jangka pendek. Mereka

ingin merebut pangsa pasar. Bagi mereka, bisnis sama

dengan peperangan. Merebut wilayah musuh. Menghancurkan

lawan. Menguasai pasar. Itulah yang mereka

lakukan selama tiga puluh tahun terakhir.

"Jadi, orang Jepang melakukan praktek dumping

terhadap baja, pesawat TV, barang elektronik rumah

tangga, chips komputer, perkakas mesin - dan tak seorang

pun mencegah mereka. Dan kita kehilangan

industri-industri tersebut. Perusahaan-perusahaan Jepang

bersama Pemerintah Jepang mengincar industri-industri

tertentu, yang kemudian diambil alih oleh mereka. Industri

demi industri, tahun demi tahun. Sementara kita

duduk-duduk dan sibuk membicarakan perdagangan bebas.

Padahal perdagangan bebas tak ada artinya tanpa

perdagangan adil. Sedangkan orang Jepang tidak berminat

pada perdagangan adil. Kalian tahu, ada alasan kenapa

orang Jepang begitu menyukai Reagan. Di masa

pemerintahannya, mereka melakukan gerakan sapu bersih.

Atas nama perdagangan bebas, dia merentangkan kaki kita

lebar-lebar."

"Kenapa orang Amerika tidak memahami hal ini?"

tanyaku.

Connor tertawa. "Kenapa mereka makan hamburger?

Memang begitu sifat mereka, Kohai."

Dari ruang wartawan, seorang wanita berseru, "Ada

yang bernama Connor di sini? Ada telepon dari Four

Seasons Hotel."

Connor melirik jam tangannya dan berdiri. "Permisi

sebentar." Ia meninggalkan ruang wartawan. Melalui

dinding kaca, aku melihatnya berbicara lewat telepon dan

membuat catatan.

"Anda harus menyadari," ujar Ron, "bahwa hal itu masih

berlanjut sampai sekarang. Kenapa kamera buatan Jepang

lebih murah di New York dibandingkan dengan di Tokyo?

Kamera itu diangkut keliling dunia, ada bea masuk dan

biaya distribusi yang harus dibayar, namun harganya tetap

lebih rendah. Bagaimana mungkin? Turis-turis Jepang

membeli barang-barang buatan Jepang di sini, karena lebih

murah. Sementara itu, produk-produk Amerika di Jepang

tujuh puluh persen lebih mahal dibandingkan dengan di

sini. Kenapa Pemerintah Amerika tidak mengambil sikap

tegas? Saya juga tidak tahu. Sebagian jawabannya ada di

atas sana."

Ia menunjuk monitor di ruang kerjanya. Seorang pria

berpenampilan penuh wibawa tampak berbicara di atas

mesin teleks yang sedang bekerja. Suaranya dipelankan.

"Kalian lihat orang itu? Dia David Rawlings. Profesor bidang

bisnis di Stanford. Spesialis Pacific Rim. Dia contoh khas -

tolong keraskan suaranya. Barangkali dia sedang

membahas rencana penjualan MicroCon."

Aku memutar tombol pada monitor, dan mendengar

Rawlings berkata, "...berpikir sikap Amerika sangat

irasional. Bagaimanapun juga, perusahaan-perusahaan

Jepang membuka lapangan kerja bagi orang-orang

Amerika, sementara perusahaan-perusahaan Amerika

justru hijrah ke luar negeri, menjauhi masyarakat mereka

sendiri. Orang Jepang tidak memahami kenapa kita

berkeluh kesah."

Ron menghela napas. "Omong kosong, seperti biasa,"

katanya.

Di layar monitor, Profesor Rawlin berkata, “Saya

berpendapat bahwa orang-orang Amerika seharusnya

berterima kasih atas bantuan yang diperoleh negeri kita

dari para investor asing."

Ron tertawa. "Rawlings termasuk kelompok yang kami

juluki Pencinta Bunga Krisan. Pakar-pakar akademis yang

menyerukan propaganda Jepang. Mereka tidak punya

pilihan, sebab mereka butuh akses ke Jepang untuk

berkarya, dan kalau ucapan mereka mulai terlalu kritis,

kontak-kontak mereka di Jepang akan terputus. Pintu-pintu

mendadak tertutup. Dan di Amerika, orang Jepang akan

berbisik ke telinga pihak-pihak tertentu bahwa orang yang

bersangkutan tak dapat dipercaya, atau bahwa

pandangannya 'sudah ketinggalan zaman'. Atau lebih parah

lagi, bahwa ia penganut rasialisme. Setiap orang yang

mengkritik Jepang otomatis seorang rasialis. Dalam waktu

singkat pakar-pakar tersebut tidak lagi diundang untuk

memberi ceramah, dan mereka pun kehilangan pekerjaan

sebagai konsultan. Mereka tahu bahwa nasib ini menimpa

rekan-rekan mereka yang melanggar aturan main. Dan

mereka takkan membuat kesalahan yang sama."

Connor kembali memasuki ruangan. Ia berkata, "Apakah

ada segi ilegal pada rencana penjualan MicroCon?"

"Tentu," ujar Ron. "Tergantung pada sikap yang diambil

Washington. Akai Ceramics sudah menguasai enam puluh

persen pasar Amerika. Dengan membeli MicroCon, mereka

akan memegang monopoli. Seandainya Akai perusahaan

Amerika, Pemerintah pasti akan melarang penjualan itu,

dalam rangka mencegah penggabungan industri. Tapi

berhubung Akai bukan perusahaan Amerika, penjualan itu

tidak diawasi secara ketat. Akhirnya takkan ada hambatan

apa pun."

"Maksudnya, perusahaan Jepang bisa memegang

monopoli di Amerika, tapi perusahaan Amerika tidak?"

"Itulah yang biasanya terjadi," kata Ron. "Tapi sistem

hukum Amerika sering kali. mendukung penjualan

perusahaan-perusahaan kita kepada pihak asing. Seperti

waktu Matsushita membeli Universal Studios. Sudah

bertahun-tahun Universal hendak dijual. Beberapa

perusahaan Amerika ingin membelinya, tetapi tidak

diizinkan. Westinghouse mencobanya di tahun 1980. Gagal,

melanggar undangundang anti penggabungan industri. RCA

mencobanya. Juga gagal, pertentangan kepentingan. Tapi

waktu Matsushita muncul sebagai calon pembeli, ternyata

tidak ada undang-undang yang menghalanginya. Baru

kemudian undang-undang kita diubah. Di bawah

undang-undang yang berlaku sekarang, RCA boleh membeli

Universal. Tapi dulu tidak. MicroCon hanya contoh terakhir

dari peraturan-peraturan aneh yang berlaku di Amerika."

Aku berkata, "Bagaimana pandangan perusahaan-

perusahaan komputer Amerika mengenai penjualan

MicroCon?"

Ron menjawab, "Perusahaan-perusahaan Amerika tidak

suka rencana itu. Tapi mereka juga tidak menentangnya."

"Kenapa tidak?"

"Karena perusahaan-perusahaan Amerika merasa

bahwa sekarang pun gerak-gerik mereka terialu dibatasi

oleh Pemerintah. Empat puluh persen ekspor Amerika

dibatasi oleh peraturan-peraturan keamanan. Pemerintah

kita tidak mengizinkan penjualan komputer ke

negara-negara Eropa Timur. Perang Dingin telah berakhir,

tapi peraturannya masih ada. Sementara itu, orang Jepang

dan orang Jerman melakukan penjualan besar-besaran. Jadi

orang Amerika menginginkan deregulasi. Dan mereka

memandang setiap usaha untuk mencegah penjualan

MicroCon sebagai campur tangan Pemerintah."

Aku berkata, "Tapi itu tidak masuk akal."

"Aku sependapat," ujar Ron. "Dalam beberapa tahun

mendatang, perusahaan-perusahaan Amerik akan dibantai.

Sebab kalau Jepang menjadi produsen tunggal mesin-mesin

pembuat chips, mereka bisa saja memutuskan untuk tidak

menjual mesin-mesin itu kepada perusahaan-perusahaan

Amerika.

"Mungkinkah mereka berbuat begitu?"

"Contohnya sudah ada," kata Ron. "Ion implanters dan

mesin-mesin lain. Masalahnya, perusahaan-perusahaan

Amerika tak dapat bersatu Mereka malah cekeok di antara

mereka sendiri Sementara itu, orang Jepang terus saja

memborong perusahaan-perusahaan high-tech. Setiap

sepuluh hari ada satu yang berpindah tangan. Dan ini

berlangsung selama enam tahun terakhir. Kita dicincang

habis-habisan. Tapi pemerintah kita tidak menaruh

perhatian, sebab kita punya lembaga bernama CFIUS -

Commitee on Foreign Investment in the United States,

semacam badan koordinasi penanaman modal asing di AS -

yang memantau penjualan perusahaan-perusahaan

high-tech. Dari lima ratus penjualan terakhir, hanya satu

yang dihentikan. Perusahaan demi perusahaan dijual, dan

tak seorang pun di Washington angkat bicara. Akhirnya

Senator Morton merasa perlu bertindak, dan berkata,

'Tunggu dulu.' Tapi tak ada yang mendengarkannya."

"Jadi, MicroCon tetap dijual."

"Itulah yang saya dengar hari ini. Mesin humas Jepang

sedang bekerja keras, menampilkan pemberitaan yang

menguntungkan bagi mereka. Dan mereka ulet sekali.

Segala sesuatu telah dikuasai oleh mereka..."

Mendadak pintu diketuk dari luar, dan seorang wanita

berambut pirang menyembulkan kepala. "Maaf

mengganggu, Ron," katanya, "tapi Keith baru saja terima

telepon dari perwakilan stasiun TV nasional Jepang, NHK,

untuk Los Angeles. Mereka ingin tahu kenapa wartawan

kita menjelek-jelekkan Jepang."

Ron mengerutkan kening. "Menjelek-jelekkan Jepang?

Apa maksud-mereka?"

“Menurut mereka, wartawan kita berkata on air,

'Jepang-Jepang keparat itu mengambil alih negeri ini.”

"Yang benar saja," ujar Ron. "Mana mungkin ada yang

berkata begitu - on air. Siapa wartawan yang mereka

maksud?"

"Lenny. Di New York. Lewat backhaul," wanita itu

menjelaskan.

Ron bergeser di kursinya. "Oh-oh," katanya.

"Rekamannya sudah diperiksa?"

"Mereka sedang melacaknya di ruang kendali utama.

Tapi kurasa memang benar."

"Brengsek."

Aku berkata, "Apa itu, backhaul?"

"Sinyal awal yang dikirim lewat satelit. Setiap hari kami

menerima segmen-segmen dari New York dan Washington,

untuk diputar ulang. Selalu ada waktu satu menit sebelum

dan sesudah bahan yang ditayangkan. Kami memotong

bagian-bagian itu, tapi transmisi kasarnya bisa ditangkap

oleh semua orang yang punya antena parabola, asal mereka

mau melacak sinyal kami. Dan hanya yang melakukannya.

Kami selalu memperingatkan para wartawan untuk

berhati-hati di depan kamera Tapi tahun lalu, Louise

membuka kancing blusnya untuk memasang mikrofon, dan

kami ditelepon dari seluruh pelosok negeri."

Telepon Ron berdering. Sejenak ia mendengarkan lawan

bicaranya, lalu berkata, "Oke, aku mengerti," dan

meletakkan gagang. "Mereka sudah selesai memeriksa

rekaman. Lenny bicara di depan kamera sebelum sinyal dan

berkata pada Louise, 'Jepang-Jepang keparat itu bakal jadi

pemilik negeri ini kalau kita tidak segera bertindak.' Dia

memang mengatakannya, meskipun tidak disiarkan." Ron

menggelengkan kepala dengan lesu. "Orang NHK itu sudah

tahu bahwa kita tidak menyiarkannya?"

"Sudah. Tapi dia berdalih bahwa sinyalnya bisa

ditangkap, dan atas dasar itulah dia mengajukan protes."

"Sialan. Jadi mereka juga memantau sinyal awal kita.

Astaga! Apa kata Keith?"

"Keith bilang, dia sudah bosan memperingatkan

orang-orang di New York. Dia minta agar kau yang

menanganinya."

"Dia ingin agar aku menelepon orang NHK itu?”

"Terserah kau, katanya. Tapi kita punya kontrak dengan

NHK untuk acara setengah jam yang kita kirim setiap hari,

dan Keith tidak mau ambil risiko. Dia menyarankan agar

kau minta maaf."

Ron mendesah. "Sekarang aku harus tninta maaf untuk

sesuatu yang bahkan tidak ditayangkan. Persetan." Ia

menatap kami. "Sori, aku harus pergi. Masih ada

pertanyaan lagi?"

"Tidak," kataku. "Selamat berjuang."

"Hei," ujar Ron. "Kita semua harus berjuang. Soalnya

NHK akan membentuk Global News Network dengan modal

awal satu miliar dolar. Mereka akan menyaingi CNN-nya

Ted Turner di seluruh dunia. Dan kalau kita mengamati

sejarah..." Ia mengangkat bahu. "Selamat tinggal, media

Amerika."

Ketika kami meninggalkan ruang kerjanya, aku

mendengar Ron berkata lewat telepon, "Mr. Akasaka? Ini

Ron Levine, dari AFN. Ya, Sir. Ya, Mr. Akasaka. Sir, saya

ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf

yang sebesar-besarnya mengenai ucapan wartawan kami

melalui satelit..."

Kami menutup pintu dan pergi.

"Sekarang ke mana?" tanyaku.

Bab 31

FOUR SEASONS HOTEL biasa dikunjungi oleh para

bintang dan tokoh-tokoh politik, dan mempunyai pintu

masuk yang elegan, tapi kami parkir di bagian belakang, di

dekat pintu untuk mengantar barang. Sebuah truk besar

berhenti di tempat bongkar-muat, dan pegawai-pegawai

dapur sedang menurunkan kardus-kardus susu. Sudah lima

menit kami menunggu di sana. Connor melirik jam tangannya.

Aku berkata, "Kenapa kita berhenti di sini?"

"Kita harus menaati keputusan Mahkamah Agung,

Kohai."

Seorang wanita dengan setelan jas muncul di tempat

bongkar-muat, memandang berkeliling, dan melambaikan

tangan. Connor membalas lambaiannya. Wanita itu

menghilang lagi. Connor mengeluarkan dompet dan

mengambil beberapa lembar dua puluh dolar.

"Salah satu hal yang paling dulu saya ketahui ketika

mulai bertugas sebagai detektif," ujar Connor, "adalah

bahwa dalam keadaan tertentu, pegawai hotel sangat

memudahkan tugas kita. Terutama karena polisi kini diatur

oleh demikian banyak peraturan. Kita tidak boleh

memasuki kamar hotel tanpa surat perintah. Kalau kita

nekat masuk, segala sesuatu yang kita temukan dalam

penggeledahan itu dianggap tidak sah sebagai barang bukti.

Begitu, bukan?"

"Yeah."

"Tapi para pelayan boleh masuk. Para petugas

kebersihan boleh masuk."

"Hmm."

"Jadi, saya membiasakan diri untuk memelihara

hubungan baik di semua hotel besar." Ia membuka pintu.

"Ini hanya makan waktu sebentar."

Ia berjalan menyusuni tempat bongkar-muat dan

menunggu. Aku mengetuk-ngetuk kemudi. Lirik sebuah

lagu timbul dalam benakku:

I changed my mind, this love is fine.

Goodness, gracious, great balls of fire.

Di tempat bongkar-muat barang, aku melihat seorang

pelayan wanita berseragam berbicara sebentar dengan

Connor. Connor membuat catatan. Wanita itu

menggenggam sesuatu berwarna emas di tangannya.

Connor tidak menyentuhnya, ia hanya mengamatinya dan

mengangguk. Pelayan itu menyelipkannya kembali ke

dalam kantong. Kemudian Connor menyerahkan sejumlah

uang. Wanita itu pergi.

You shake my nerves and you rattle my brain.

Too much love drives a man insane.

You broke my will, but what a thrill...

Seorang pelayan pria keluar ke tempat bongkar muat,

membawa setelan jas pria berwarna biru yang tergantung

pada gantungan baju. Connor mengajukan sebuah

pertanyaan, dan pelayan itu menatap arlojinya sebelum

menjawab. Kemudian Connor membungkuk dan

mengamati ujung bawah jas. Ia membuka jas itu dan

memeriksa celana pada gantungan baju.

Si pelayan keluar sambil membawa setelan jas itu, lalu

masuk lagi dengan setelan jas lain. Yang ini berwarna biru

dengan motif garis-garis. Sekali lagi Connor melakukan

pemeriksaan. Dan rupanya ia berhasil menemukan sesuatu,

yang kemudian dimasukkannya ke dalam suatu kantong

plastik bening berukuran kecil. Ia memberi sejumlah uang

kepada si pelayan dan kembali ke mobil.

Aku berkata, "Cari petunjuk mengenai Senator Rowe?"

"Saya mencari petunjuk mengenai beberapa hal,"

jawabnya, "termasuk Senator Rowe."

"Semalam, asisten Rowe membawa celana dalam wanita

berwarna putih. Tapi Cheryl memakai celana dalam

berwarna hitam "

"Itu benar," ujar Connor. "Tapi sepertinya kita sudah

mulai memperoleh kemajuan."

"Apa yang Anda temukan?"

Ia mengeluarkan kantong plastik tadi. Aku melihat

sejumlah serat berwarna gelap "Saya rasa serat karpet.

Berwarna gelap, seperti karpet di ruang rapat Nakamoto.

Tapi harus dibawa ke lab untuk memastikannya. Sementara

itu, ada masalah lain yang harus kita pecahkan. Nyalakan

mesin."

"Ke mana kita?"

"Darley-Higgins. Pemilik MicroCon."

Bab 32

DI lobi di samping petugas penerima tamu, seorang

tukang sedang memasang huruf-huruf emas berukuran

besar di dinding: DARLEY-HIGGINS INC. Di bawahnya

terbaca KEUNGGULAN MANAJEMEN. Beberapa tukang lain

sedang memasang karpet di selasar.

Kami memperlihatkan lencana masing-masing dan minta

bertemu dengan pimpinan Darley-Higgins, Arthur Greiman.

Lafal si petugas penerima tamu berlogat daerah Selatan.

"Mr. Greiman ada rapat sepanjang hari. Anda sudah

membuat janji?"

"Kedatangan kami menyangkut penjualan MicroCon."

"Kalau begitu, Anda bicara dengan Mr. Enders saja, wakil

presiden kami untuk urusan humas."

"Oke," kata Connor.

Kami duduk di sofa, di dekat meja resepsionis. Di sofa di

seberang ruangan ada wanita cantik dengan rok ketat. Ia

membawa segulungan blueprint. Para tukang terus

memalu. Aku berkata, "Saya pikir perusahaan ini sedang

menghadapi masalah keuangan. Kenapa mereka malah

mengubah interior?"

Connor mengangkat bahu.

Si sekretaris menerima telepon-telepon. "Darley-Higgins,

tunggu sebentar. Darley-Higgins... Oh, mohon ditunggu

sejenak, Senator... Darley-Higgins, ya, terima kasih."

Aku meraih sebuah brosur dari meja. Ternyata laporan

tahunan Darley-Higgins Management Group, dengan

kantor-kantor cabang di Atlanta, Dallas, Seattle, San

Francisco, dan Los Angeles. Aku menemukan foto Arthur

Greiman. Ia tampak bahagia dan puas dengan diri sendiri.

Laporan itu memuat sebuah esai karya Greiman, berjudul

Komitmen terhadap Keunggulan.

Si sekretaris berkata kepada kami, "Mr. Enders akan

segera menerima Anda."

"Terima kasih," ujar Connor.

Sesaat kemudian, dua pria dengan setelan jas melangkah

ke selasar. Wanita dengan gulungan blueprint tadi langsung

berdiri. Ia berkata, "Halo, Mr. Greiman."

"Halo, Beverly," balas pria yang lebih tua. "Tunggu

sebentar, ya."

Connor ikut berdiri. Si sekretaris segera berkata, "Mr.

Greiman, tuan-tuan ini..."

"Sebentar," Greiman memotong. Ia berpaling pada pria

yang menyertainya. Pria itu lebih muda, sekitar tiga

puluhan. "Pastikan agar Roger memahami situasinya."

Pria yang lebih muda menggelengkan kepala. "Dia

takkan suka."

“Aku tahu. Pokoknya, beritahu dia. Enam koma empat

juta sebagai kompensasi langsung bagi EO, tidak kurang

dari itu."

"Tapi, Arthur..."

"Pokoknya, beritahu dia."

"Oke, Arthur," ujar pria yang lebih muda sambil

meluruskan dasi. Ia merendahkan suara. "Tapi Dewan

Komisaris pasti marah-marah karena kauminta kenaikan di

atas enam pada waktu pendapatan perusahaan lagi anjlok

......

"Kita tidak bicara mengenai pendapatan," kata Weiman.

"Kita bicara mengenai kompensasi. Tak ada sangkut

pautnya dengan pendapatan. Dewan harus mengimbangi

tarif kompensasi bagi CEO yang berlaku sekarang. Kalau

Roger tidak bisa meyakinkan Dewan, aku akan

membatalkan pertlemuan Maret dan menuntut perubahan.

Katakan ini padanya."

"Oke, Arthur, aku akan memberitahunya, tapi..."

"Pokoknya, kerjakan saja. Telepon aku nanti malam."

"Oke, Arthur."

Mereka bersalaman. Pria yang lebih muda pergi. Si

penerima tamu berkata, "Mr. Greiman, tuan-tuan ini..."

Greiman berpaling pada kami. Connor berkata, "Mr.

Greiman, kami ingin bicara sebentar mengenai MicroCon."

Kemudian ia berputar sedikit dan memperlihatkan

lencananya.

Greiman meledak. "Oh, demi Tuhan. Lagi? Rupanya

kalian tidak bosan-bosannya menteror saya."

"Menteror?"

"Saya sudah didatangi anggota staf Kongres, saya sudah

didatangi FBI. Dan sekarang polisi L.A.? Kami bukan

penjahat. Kami pemilik sebuah perusahaan dan kami

berhak menjualnya. Mana Louis?"

Si resepsionis berkata, "Mr. Enders sedang menuju ke

sini."

Connor berkata dengan tenang, "Mr. Greiman, maaf

kalau kami terpaksa mengganggu Anda. Kami hanya ingin

mengajukan satu pertanyaan. Takkan makan waktu lama."

Greiman melotot. "Apa pertanyaan Anda?"

"Berapa banyak penawaran yang Anda terima untuk

MicroCon?"

"Itu bukan urusan Anda," balas Greiman. "Lagi pula,

kesepakatan kami dengan Akai menetapkan bahwa

penjualan itu tidak boleh dibahas dengan pihak luar."

Connor berkata, "Apakah calon pembelinya lebih dari

satu?"

"Begini, kalau Anda mau bertanya, bertanyalah pada

Enders. Saya sibuk." Ia berpaling pada wanita dengan

gulungan blueprint tadi. "Beverly? Coba lihat apa yang

kaubawa."

"Saya membawa revisi denah ruang rapat, Mr. Greiman,

dan contoh-contoh tegel untuk kamar kecil. Ada warna

abu-abu yang bagus sekali. Saya pikir Anda akan suka."

"Bagus, bagus." Greiman dan wanita itu menyusuri

selasar, menjauhi kami.

Connor memperhatikan mereka pergi, lalu tiba-tiba

berbalik ke arah elevator. "Ayo, Kohai. Lebih baik kita cari

udara segar saja."

Bab 33

"KENAPA Anda menanyakan apakah ada peminat lain?"

ujarku, ketika kami kembali ke mobil. "Apakah ada

pengaruhnya?"

"Ini berkaitan dengan pertanyaan awal,” kata Connor.

"Siapa berniat mempermalukan Nakamoto? Kita tahu

bahwa penjualan MicroCon punya arti strategis. Itulah

sebabnya Kongres keberatan. Tapi itu hampir pasti berarti

bahwa masih ada pihak-pihak lain yang juga keberatan."

"Di Jepang?"

"Persis."

"Tapi siapa yang bisa memberi informasi mengenai ini.”

"Akai."

Resepsionis Jepang itu tertawa gelisah ketika melihat

lencana Connor. Connor berkata, "Kami ingin bertemu

dengan Mr. Yoshida." Yoshida merupakan pimpinan

perusahaan.

"Mohon tunggu sebentar." Ia berdiri dan bergegas,

nyaris berlari, pergi.

Akai Ceramics menempati lantai lima sebuah gedung

perkantoran yang tidak mencolok di El Segundo. Penataan

interiornya sederhana bergaya industri. Dari meja

resepsionis, kami melihat sebuah ruangan besar yang tidak

disekat-sekat: banyak meja logam dan orang yang sedang

menelepon. Sayup-sayup terdengar suara keyboard

komputer.

Aku mengamati ruangan itu, "Kosong sekali."

"Seperlunya saja," ujar Connor. "Di Jepang, sifat suka

pamer tidak disukai. Anda akan dianggap tidak serius.

Waktu Mr. Matsushita masih menjabat sebagai pimpinan

perusahaan ketiga terbesar di Jepang, dia tetap

menggunakan pesawat komersial biasa untuk

mondar-mandir antara kantor-kantor pusatnya di Osaka

dan Tokyo. Padahal dia pimpinan perusahaan bernilai 50

miliar dolar. Tapi dia tidak memakai jet pribadi."

Sambil menunggu, aku mengamati orang-orang yang

sedang bekerja. Hanya segelintir orang Jepang, sebagian

besar orang kulit putih. Semuanya mengenakan setelan jas

warna biru. Dan hampir tidak ada wanita.

"Di Jepang," Connor melanjutkan, "jika sebuah

perusahaan mengalami kesulitan, tindakan pertama yang

diambil oleh para eksekutif adalah memotong gaji mereka

sendiri. Mereka merasa bertanggung jawab atas sukses

perusahaan, dan mereka menganggap waJar bahwa

keberuntungan mereka mengikuti keberhasilan atau

kegagalan perusahaan."

Resepsionis tadi kembali, dan duduk di balik mejanya

tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Hampir seketika, seorang pria Jepang dengan setelan jas

biru berjalan ke arah kami. Ia berambut kelabu, memakai

kacamata berbingkai tebal, dan bersikap serius. Ia berkata,

"Selamat pagi. Saya Mr. Yoshida."

Connor memperkenalkan kami. Kami semua

membungkuk dan saling menukar kartu nama. Mr. Yoshida

menerima kartu nama kami dengan kedua tangannya, dan

setiap kali ia kembali membungkuk. Kami melakukan hal

yang sama. Aku memperhatikan bahwa Connor tidak

berbahasa Jepang ketika berbicara dengannya.

Yoshida mengajak kami ke ruang kerjanya. Jendelanya

menghadap ke bandara. Perabotnya seadanya saja.

"Anda ingin minum kopi atau teh?"

"Tidak, terima kasih," kata Connor. "Kedatangan kami

untuk urusan resmi."

"Begitu." Yoshida mempersilakan kami duduk.

"Kami ingin membicarakan pembelian MicroCon dengan

Anda."

"Ah, ya. Masalah yang menyusahkan. Tapi saya baru tahu

bahwa hal ini juga melibatkan polisi."

"Mungkin tidak perlu," ujar Connor. "Apakah Anda dapat

memberi keterangan mengenai penjualan itu, atau

kesepakatannya bersifat tertutup?"

Mr. Yoshida tampak terkejut. "Tertutup? Sama sekali

tidak. Semuanya sangat terbuka, sejak awal. Kami

dihubungi oleh Mr. Kobayashi, wakil Darley-Higgins di

Tokyo, bulan September tahun lalu. Waktu itu kami

mula-mula mengetahui bahwa perusahaan tersebut hendak

dijual. Terus terang, kami tidak menyangkanya. Proses

negosiasi dimulai bulan Oktober. Sekitar pertengahan

November, kedua tim perunding berhasil mencapai

kesepakatan secara garis besar. Kami berlanjut ke tahap

akhir negosiasi. Tetapi kemudian Kongres menyatakan

keberatan pada tanggal enam belas November."

Connor berkata, "Anda terkejut bahwa perusahaan itu

hendak dijual'?"

"Ya. Tentu."

"Kenapa begitu?"

Mr. Yoshida meletakkan kedua tangannya di atas meja

dan berkata pelan-pelan, "Kami mengetahui bahwa

MicroCon merupakan perusahaan milik Pemerintah, yang

dibiayai sebagian dengan dana dari Pemerintah Amerika.

Tiga belas persen dari modal keseluruhan, kalau saya tidak

salah. Di Jepang, ini berarti perusahaan tersebut

merupakan perusahaan milik Pemerintah. Jadi, dengan sendirinya

kami bersikap hati-hati ketika memasuki

perundingan. Kami tidak ingin menyinggung perasaan

pihak lain. Tetapi kami memperoleh jaminan dari

wakil-wakil kami di Washington bahwa takkan ada masalah

dengan pembelian ini."

Connor mengangguk-angguk.

"Tapi sekarang timbul kesulitan, seperti yang kami

khawatirkan sejak semula. Rupanya ada pihak-pihak di

Washington yang merasa keberatan. Kami tak ingin hal ini

terjadi."

"Anda tidak menduga bahwa Washington akan

menyatakan keberatan?"

Mr. Yoshida mengangkat bahu dengan malu-malu.

"Kedua negara kita berbeda. Di Jepang, kami dapat

menduga apa yang akan terjadi. Di sini, selalu ada

seseorang yang mempunyai pandangan lain, dan

membeberkannya kepada umum. Tapi Akai Ceramics tidak

ingin mencolok. Situasinya serba salah sekarang."

Connor kembali mengangguk-angguk. "Sepertinya Anda

ingin menarik diri."

"Banyak orang di kantor pusat mengkritik saya karena

saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi saya berkata

kepada mereka, memang tidak mungkin mengetahuinya.

Washington tidak mempunyai kebijaksanaan yang tegas.

Setiap hari ada perubahan, tergantung situasi politik." Ia

tersenyum dan menambahkan, "Atau, lebih tepatnya,

begitulah kesan yang kami peroleh."

"Tapi menurut Anda, penjualan ini akan berjalan terus?”

"Ini tidak bisa saya katakan. Barangkali kritik-kritik dari

Washington terlalu gencar. Dan Anda tahu bahwa

pemerintah di Tokyo ingin bersahabat dengan Amerika.

Mereka menekankan pada dunia bisnis, jangan melakukan

pembelian yang akan memancing kemarahan Amerika.

Rockefeller Center dan Universal Studios,

pembelian-pembelian itu menimbulkan kritik pedas. Kami

disuruh bersikap yojinbukai. Artinya..."

"Bijaksana."

"Berhati-hati. Ya. Waspada," Ia menatap Connor. "Anda

bisa berbahasa Jepang?"

"Sedikit."

Yoshida mengangguk. Sejenak ia seakan-akan

mempertimbangkan untuk beralih ke bahasa Jepang, tapi

kemudian ja membatalkan niatnya. "Kami ingin membina

hubungan baik," katanya. "Kritik yang ditujukan kepada

kami, kami anggap kritik itu tidak adil. Perusahaan

Darley-Higgins mengalami banyak masalah keuangan.

Mungkin karena manajemen yang buruk, mungkin karena

alasan lain. Saya tidak tahu. Tapi itu bukan kesalahan kami.

Bukan kami yang bertanggung jawab atas itu. Dan kami

tidak mengejar MicroCon. Kami memperoleh tawaran

Sekarang kami dicela karena ingin membantu." Ia

mendesah.

Di luar, sebuah pesawat besar lepas landas dari bandara.

Jendela-jendela bergetar.

Connor berkata, "Bagaimana dengan pihak-pihak lain

yang berminat pada MicroCon? Kapan mereka

mengundurkan diri?"

Mr. Yoshida mengerutkan kening. "Tidak ada peminat

lain. Perusahaan itu ditawarkan hanya kepada kami.

Darley-Higgins tidak ingin kesulitan keuangan mereka

diketahui umum. Jadi, kami bekerja sama dengan mereka.

Tapi sekarang... pihak pers banyak memutarbalikkan fakta

mengenai kami. Kami merasa sangat... kizutsuita. Sakit

hati?"

“Ya."

Ia mengangkat bahu. "Begitulah perasaan saya.

Moga-moga Anda memaklumi bahasa Inggris saya yang

buruk."

Semuanya terdiam. Selama satu menit berikutnya tak

ada yang angkat bicara. Connor duduk menghadapi

Yoshida. Aku duduk di samping Connor. Sekali lagi ada

pesawat yang lepas landas, dan jendela-jendela kembali

bergetar. Belum juga ada yang memecahkan keheningan.

Yoshida menarik napas panjang. Connor mengangguk. Yoshida

bergeser di kursinya, melipat tangan di depan perut.

Connor mendesah, dan berdehem. Yoshida mendesah.

Kedua-duanya tampak sedang memusatkan pikiran.

Sesuatu tengah terjadi, tapi aku tidak tahu apa. Aku

menyimpulkan bahwa inilah komunikasi tanpa kata-kata

yang dimaksud Connor.

Akhirnya Yoshida berkata, "Kapten, saya ingin mencegah

salah paham. Akai Ceramics perusahaan terhormat. Kami

tidak terlibat dalam... komplikasi apa pun yang terjadi.

Kami berada dalam posisi sulit. Tapi saya akan membantu

Anda semampu saya."

Connor berkata, "Saya berterima kasih."

"Tidak apa-apa."

Kemudian Yoshida berdiri. Connor berdiri. Aku berdiri.

Kami semua membungkuk, dan setelah itu bersalaman.

"Saya harap Anda tidak segan-segan menghubungi saya,

bila ada yang dapat saya bantu."

"Terima kasih," ujar Connor.

Yoshida mengantar kami sampai ke pintu ruang

kerjanya. Kami membungkuk sekali lagi, dan ia

membukakan pintu.

Di luar berdiri pria Amerika berwajah segar, berusia

empat puluhan. Aku segera mengenalinya. Pria pirang yang

berada di mobil bersama Senator Rowe semalam. Pria yang

tidak memperkenalkan diri.

“Ah, Richmond-san," kata Yoshida. "Beruntung sekali

Anda ada di sini. Tuan-tuan ini mencari informasi mengenai

baisha MicroCon." Ia berpaling kepada kami. "Barangkali

Anda ingin bicara dengan Mr. Richmond. Bahasa

Inggris-nya jauh lebih baik dibandingkan saya. Dia bisa

memberikan lebih banyak detail yang mungkin ingin Anda

ketahui."

"Bob Richmond. Myers, Lawson, dan Richmond." Jabatan

tangannya mantap. Kulitnya kecoklat-coklatan akibat

matahari, dan sepertinya ia sering bermain tenis. Ia

tersenyum cerah. "Dunia memang kecil, bukan?"

Connor dan aku memperkenalkan diri. Aku berkata,

"Apakah Senator Rowe selamat sampai di hotelnya

semalam?"

“Oh, ya," jawab Richmond. "Terima kasih atas bantuan

Anda." Ia tersenyum. "Saya tidak mau membayangkan

perasaannya pagi ini. Tapi saya rasa ini bukan pertama

kali.” Ia berayun maju mundur, seperti pemain tenis yang

sedang bersiap-siap menerima servis. Ia tampak agak

cemas. "Terus terang, saya tak menyangka akan bertemu

Anda berdua di sini. Apakah ada sesuatu yang perlu saya

ketahui? Saya mewakili Akai dalam negosiasi MicroCon "

"Tidak ada," jawab Connor. "Kami hanya mencari

informasi latar belakang."

"Apakah ada hubungan dengan kejadian di Nakamoto

semalam?"

Connor berkata, "Tidak juga. Sekadar latar belakang

saja."

"Kalau Anda mau, kita bisa bicara di ruang rapat."

"Sayangnya," ujar Connor, "kami sudah terlambat untuk

janji lain. Tapi barangkali nanti."

"Boleh saja," kata Richmond. "Dengan senang hati. Satu

jam lagi saya sudah kembali ke kantor." Ia menyerahkan

kartu namanya.

"Baiklah," balas Connor.

Tapi Richmond masih tampak cemas. Ia menemani kami

ke lift. "Mr. Yoshida pengusaha gaya lama," ia menjelaskan.

"Saya percaya bahwa dia bersikap ramah. Tapi sebenarnya

dia marah sekali karena urusan MicroCon ini. Sekarang dia

dicecar oleh Akai Tokyo. Padahal ini bukan kesalahannya

Dia benar-benar dikerjai oleh Washington. Dia sudah

memperoleh jaminan bahwa takkan ada masalah dengan

penjualan itu, dan kemudian Morton menjegalnya."

Connor berkata, "Begitukah kejadiannya?"

Richmond mengangguk. "Saya tidak tahu kenapa Johnny

Morton begitu gencar menyerang kami. Kami telah

mengikuti prosedur permohonan izin. CFIUS tidak

menyatakan keberatan sampai lama setelah negosiasi

selesai. Kita tidak bisa menjalankan bisnis seperti ini. Saya

hanya bisa berharap agar Johnny menyadarinya, dan

mengakhiri kontroversi ini. Sebab sekarang ini masalahnya

sangat berbau rasial."

"Rasial? Masa?"

"Tentu. Persis seperti kasus Fairchild. Anda masih ingat?

Fujitsu ingin membeli Fairchild Semiconductor pada tahun

86, tapi Kongres mencegah penjualan itu dengan alasan

keamanan nasional. Pihak Kongres keberatan Fairchild

dijual kepada perusahaan asing. Beberapa tahun kemudian,

Fairchild hendak dijual kepada perusahaan Prancis, dan

kali ini Kongres diam saja. Rupanya tidak apa-apa menjual

kepada perusahaan asing-asal bukan perusahaan Jepang.

Menurut saya, ini prakiek rasialisme." Kami tiba di lift.

"Pokoknya, silakan hubungi saya. Saya akan menyediakan

waktu."

"Terima kasih," ujar Connor.

Kami masuk ke lift. Pintu menutup. "Dasar bajingan,"

kata Connor.

Bab 34

KAMI sedang mengarah ke utara, menuju pintu keluar

Wilshire, untuk menemui Senator Morton. Aku berkata,

"Kenapa Anda menyebutnya bajingan?”

"Bob Richmond bertugas sebagai asisten juru runding

perdagangan untuk Jepang di bawah Amanda Marden

sampai tahun lalu. Satu tahun kemudian, dia berbalik dan

mulai bekerja untuk orang-orang Jepang. Sekarang dia

dibayar 500.000 setahun, ditambah bonus untuk menutup

transaksi ini. Dan dia pantas dibayar setinggi itu, sebab dia

mengetahui segala sesuatu yang bisa diketahui."

"Apakah itu diperbolehkan oleh undang-undang?"

"Tentu. Itu sudah menjadi prosedur standar. Semua

orang berbuat begitu. Seandainya Richmond bekerja untuk

perusahaan high-tech seperti MIcroCon, dia wajib

menandatangani surat pernyataan bahwa dia takkan

bekerja untuk perusahaan saingan selama lima tahun.

Sebab tidak seharusnya kita membeberkan rahasia

perusahaan kepada para pesaing. Tapi pemerintah kita

punya aturan main yang lebih longgar."

"Kenapa Anda menyebutnya bajingan?"

"Masalah rasialisme itu," balas Connor. "Dia tahu itu

tidak benar. Richmond tahu persis apa yang terjadi dalam

penjualan Fairchild. Itu tidak ada hubungannya dengan

rasialisme."

"Tidak?"

"Dan ada satu hal lagi yang diketahui Richmond. Orang

Jepang orang paling rasialis di seluruh dunia."

"Masa?"

"Benar. Bahkan kalau diplomat-diplomat Jepang ...”

Telepon mobil berdering. Aku menekan tombol pengeras

suara. "Letnan Smith."

Lewat pengeras suara, seseorang berkata, "Oh, akhirnya.

Kemana saja kalian? Kalau begini caranya, kapan aku bisa

tidur?"

Aku mengenali suara itu: Fred Hoffmann. Petlugas piket

semalam.

Connor berkata, "Terima kasih kau mau menelepon

kami, Fred."

"Kalian ada perlu apa?"

"Ehm, aku masih penasaran," ujar Connor, "mengenai

telepon-telepon dari Nakamoto yang kauterima semalam."

"Kau dan semua orang di kota ini," balas Hoffmann. "Aku

diuber-uber separo Departemen gara-gara ini. Jim Olson

sampai berkemah di mejaku. Dia sibuk memeriksa semua

catatan. Padahal waktu itu semuanya cuma tugas rutin."

"Barangkali kau bisa mengulangi apa yang terjadi?"

"Tentu Mula-mula aku dihubungi Metro, mengenai

telepon yang pertama. Mereka kurang paham apa yang

dimaksud si penelepon, karena dia berlogat Asia dan

sepertinya sedang bingung. Atau di bawah pengaruh obat

bius. Dia terus bicara tentang 'mayat yang harus diurus'.

Kukirim mobil patroli ke sana, sekitar jam setengah

sembilan. Lalu, setelah pasti bahwa ada pembunuhan, kutugaskan

Tom Graham dan Roddy Merino - dan gara-gara

ini, aku dapat segala macam masalah."

"He-eh."

"Habis, bagaimana lagi. Aku sudah mengamati jadwal

tugas, dan memang mereka yang mendapat giliran berikut.

Kalian tahu, kami wajib memakai sistem rotasi untuk

penugasan detektif. Untuk mencegah kesan pilih kasih.

Perintah dari atas. Aku cuma menjalankannya."

"He-eh."

"Oke. Lalu Graham menelepon sekitar jam sembilan,

untuk melaporkan bahwa ada masalah di tempat kejadian.

Dia minta bantuan petugas penghubung dari Special

Services. Sekali lagi kupelajari jadwal tugas. Ternyata Pete

yang lagi standby. Kuberikan nomor telepon rumahnya

kepada Graham. Dan kurasa dia lalu meneleponmu, Pete."

"Ya," kataku. "Dia memang meneleponku."

"Oke," ujar Connor. "Apa yang terjadi sesudah itu?"

"Kira-kira dua menit setelah Graham menelepon,

mungkin jam sembilan lewat lima, aku terima telepon dari

seseorang berlogat kental. Seperti logat Asia, tapi aku tidak

pasti. Dan orang itu bilang bahwa atas nama Nakamoto, dia

minta agar Kapten Connor ditugaskan untuk menangani

kasus itu."

"Dia tidak menyebutkan namanya?"

"Tentu. Kupaksa dia. Dan aku sempat mencatat

namanya. Koichi Nishi."

"Dan dia bekerja di Nakamoto?"

"Itu yang dikatakannya," ujar Hoffmann. "Aku cuma

duduk di sana, menerima telepon, jadi mana kutahu. Nah,

tadi pagi Nakamoto menyampaikan protes resmi tentang

penugasan Connor dan mengaku bahwa mereka tidak

punya pegawai bernama Koichi Nishi. Menurut mereka,

semuanya itu hanya akal-akalan saja. Tapi percayalah, aku

ditelepon seseorang. Aku tidak mengada-ada."

"Aku percaya," kata Connor. "Kaubilang si penelepon

berlogat kental?"

“Yeah. Bahasa Inggrisnya cukup baik, tapi dengan logat

asing. Satu-satunya hal yang kuanggap aneh adalah bahwa

dia rupanya tahu banyak mengenaimu."

"Oh?"

"Yeah. Hal pertama yang dikatakannya padaku adalah

apakah aku tahu nomor teleponmu, ataukah dia perlu

menyebutkannya. Aku bilang bahwa aku tahu nomormu.

Dalam hati aku berkata, aku tidak butuh bantuan orang

Jepang untuk mendapatkan nomor telepon sesama anggota

kepolisian. Lalu dia bilang, 'Anda perlu tahu, Kapten Connor

tidak selalu mengangkat telepon. Sebaiknya Anda kirim

orang ke sana untuk menjemputnya."'

"Menarik," Connor berkomentar.

"Jadi kutelepon Pete Smith, dan minta agar dia ke

rumahmu untuk menjemputmu. Cuma itu yang kuketahui.

Ini semua pasti berkaitan dengan masalah politik di

Nakamoto. Aku tahu bahwa Graham kesal. Aku menduga

bahwa ada orang lain yang juga kesal. Dan semua orang

tahu bahwa Connor punya hubungan khusus dengan orangorang

Jepang, jadi permintaan itu kusampaikan saja. Dan

sekarang aku yang menghadapi masalah. Aku benar-benar

tidak mengerti."

"Masalah apa?" tanya Connor.

"Kira-kira jam sebelas semalam, aku ditelepon

Komandan. Kenapa aku menugaskan Graham. Aku

memberitahunya kenapa. Tapi dia tetap marah-marah. Lalu

menjelang akhir shift, munkin sekitar jam lima pagi, timbul

pertanyaan bagaimana sampai Connor dilibatkan. Kapan,

dan kenapa. Dan sekarang ada artikel di Times, mengenai

rasialisme di dinas kepolisian. Aku tidak tahu ke mana

harus berpaling. Aku sudah capek menjelaskan bahwa aku

cuma mengikuti prosedur standar. Sesuai peraturan. Tak

ada yang percaya. Tapi itu memang benar."

"Aku percaya," kata Connor. "Satu hal lagi, Fred. Kau

sempat mendengar telepon pertama yang diterima oleh

Metro?"

"Yeah, tentu. Sejam lalu. Kenapa?"

"Apakah suara si penelepon mirip suara Mr. Nishi?"

Hoffmann tertawa. "Astaga. Mana kutahu, Kapten?

Mungkin. Kalau aku ditanya apakah suara orang Asia mirip

suara orang Asia yang kudengar sebelumnya, terus terang

aku tidak tahu. Suara si penelepon pertama bernada

gelisah. Barangkali karena bingung. Barangkali karena obat

bius. Aku tidak bisa memastikannya. Aku cuma tahu bahwa

siapa pun Mr. Nishi, dia tahu cukup banyak mengenaimu."

"Oke, informasi ini sangat membantu. Beristirahatlah

dulu." Connor mengucapkan terima kasih, dan aku

memutuskan hubungan. Aku keluar dari freeway dan

menyusuri Wilshire, untuk pertemuan kami dengan

Senator Morton.

Bab 35

"OKE, Senator, tolong lihat ke sini... sedikit lagi... ya,

tahan, sangat kuat, sangat jantan, saya suka sekali. Ya,

bagus sekali. Sekarang saya butuh tiga menit lagi." Si

sutradara, seorang pria tegang dengan jaket penerbang dan

topi baseball, menjauhi kamera dan menyerukan

perintah-perintah. Lafalnya berlogat Inggris. "Jerry, bawa

penghalang matahari ke sini. Cahayanya terlalu terang. Dan

tolong tangani matanya. Tambahkan sedikit cahaya ke

matanya. Ellen? Kaulihat pantulan di pundaknya itu?

Hilangkan. Rapikan kerahnya. Mikrofon di dasinya

kelihatan. Dan warna kelabu di rambutnya kurang

mencolok. Tambahkan sedikit. Dan tarik karpet di lantai,

supaya dia jangan tersandung waktu jalan nanti. Ayo,

semuanya, cepat sedikit. Kita bisa kehilangan cahaya yang

indah ini."

Connor dan aku berdiri di pinggir, bersama asisten

produksi yang cantik bernama Debbie, yang membawa

papan catatan dan berkata dengan bangga, "Sutradara itu

Edgar Lynn."

"Siapa itu?" tanya Connor.

"Dia sutradara iklan paling mahal dan paling dicari di

dunia. Dia seniman luar biasa. Edgar membuat iklan Apple

tahun 1984 yang fantastis, dan... oh, masih banyak lagi. Dan

dia juga menyutradarai film-film terkenal. Edgar sutradara

terbaik." Ia terdiam sejenak. "Dan tidak terlalu sintling.

Sungguh."

Di seberang kamera, Senator Morton berdiri dengan

sabar sementara empat orang mengotak-atik dasi, jas,

rambut, serta rias wajahnya. Morton mengenakan setelan

jas. Ia berdiri di bawah pohon, dengan lapangan golf yang

berbukit-bukit dan gedung-gedung pencakar langit Beverly

Hills di latar belakang. Kru produksi telah menggelar

sepotong karpet, tempat ia akan berjalan menuju kamera.

Aku berkata, "Dan bagaimana Senator Morton?"

Debbie mengangguk. "Lumayan. Kelihatannya dia punya

peluang."

Connor berkata, "Maksud Anda, untuk memenangkan

pemilihan presiden?"

"Yeah. Terutama kalau Edgar mengerahkan seluruh

kemampuannya. Senator Morton bukan Mel Gibson, Anda

tahu maksud saya, bukan? Hidungnya besar, rambutnya

sudah menipis, dan dia punya masalah dengan bintik-bintik

di wajahnya, karena kelihatan jelas di kamera. Bintik-bintik

itu mengalihkan perhatian pemirsa dari matanya. Padahal

mata merupakan senjata utama untuk menjual seorang

calon."

“Mata," Connor mengulangi.

"Oh, ya. Orang dipilih berkat matanya." Debbie

mengangkat bahu, seakan-akan hal itu diketahui semua

orang. "Tapi jika Senator Morton mempercayakan

kampanye TV-nya kepada Edgar... Edgar seniman hebat. Dia

bisa mengusahakannya."

Edgar Lynn berjalan melewati kami, berdua dengan juru

kamera. "Ya ampun, bereskan daerah di bawah matanya,"

ujar Lynn. "Dan tonjolkan dagunya. Tambahkan makeup

agar dagunya kelihatan lebih tegas. "

Si asisten produksi berpamitan, dan kami menunggu

sambil menonton. Senator Morton masih berdiri agak jauh

dari kami. Ia sedang ditangani oleh para juru rias dan

penata busana.

"Mr. Connor? Mr. Smith?" Aku berbalik. Seorang pria

muda dengan jas biru bermotif garis-garis berdiri di

samping kami. Ia tampak seperti anggota staf Senat:

berpendidikan, penuh perhatian, sopan. "Saya Bob

Woodson. Dari kantor Senator Morton. Terima kasih atas

kedatangan Anda."

"Sama-sama," ujar Connor.

"Saya tahu bahwa Senator Morton ingin sekali bicara

dengan Anda," kata Woodson. "Tapi saya minta maaf,

kelihatannya kami agak terlambat dari jadwal. Seharusnya

pengambilan gambar sudah selesai pukul satu." Ia melirik

jam tangannya. "Mungkin masih makan waktu agak lama.

Tapi saya tahu Senator Morton ingin bicara dengan Anda."

Connor berkata, "Anda tahu mengenai apa?"

Seseorang berseru, "Tes! Tes suara dan kamera.

Semuanya harap tenang!"

Kerumunan orang di sekeliling Senator Morto bubar, dan

perhatian Woodson beralih ke kamera.

Edgar Lynn kembali mengintip melalui kamera. "Warna

kelabunya tetap kurang menonjol. Ellen Tambahkan warna

kelabu ke rambutnya. Masih kurang kelihatan."

Woodson berkata, "Mudah,mudahan dia tidak kelihatan

tua nanti."

Debbie, si asisten produksi, menjelaskan, "Ini hanya

untuk pengambilan gambar. Warna kelabunya kurang

kelihatan lewat kamera, jadi kami tambahkan sedikit. Lihat.

Ellen hanya menambahkan warna kelabu di sekitar pelipis.

Senator Morton akan tampak lebih berwibawa.”

"Saya tidak mau dia tampak tua. Terutama kalfau lagi

lelah, dia kadang-kadang tampak tua."

"Jangan khawatir," ujar si asisten.

“Oke," kata Lynn. "Cukup sekian. Senator? Bagaimana

kalau kita melakukan uji coba sekarang?"

Senator Morton bertanya, "Dari mana saya harus

mulai'?"

"Naskah?"

Petugas naskah menjawab, "Anda tentu sependapat

dengan saya..."

Morton berkata, "Kalau begitu, bagian pertama sudah

selesai?"

"Sudah," ujar Lynn. "Kita mulai dari sini: Anda berpaling

ke arah kamera, tatapan Anda lurus ke arah kamera,

mantap, jantan. Lalu Anda berkata, 'Anda tentu sependapat

dengan saya.' Oke?"

"Oke," kata Morton.

"Ingat. Jantan. Mantap. Memegang kendali."

Morton bertanya, "Apakah bisa direkam?"

"Lynn bakal marah-marah," bisik Woodson.

Edgar Lynn berkata, "Oke. Kamera, siap! Kita mulai."

Senator Morton berjalan ke arah kamera. "Anda tentu

sependapat dengan saya," katanya, "bahwa erosi posisi

nasional dalam tahun-tahun terakhir ini telah mencapai

tingkat yang memprihatinkan. Amerika masih merupakan

kekuatan militer nomor satu, tetapi keamanan kita

tergantung pada kemampuan membela diri secara militer

dan ekonomi. Dan justru dari segi ekonomi, Amerika kini

telah tertinggal. Seberapa jauh? Well, selama dua masa

pemerintahan terakhir, posisi Amerika telah merosot dari

negara pemberi kredit terbesar menjadi negara pengutang

terbesar di dunia. Industri kita tertinggal jauh. Tingkat

pendidikan para pekerja kita lebih rendah dibandingkan

dengan para pekerja di negara-negara lain. Para penanam

modal kita menginginkan laba jangka pendek, dan mereka

menghancurkan kemampuan industri kita untuk menyusun

rencana jangka panjang. Akibatnya taraf hidup kita

menurun dengan cepat. Masa depan anak-anak kita tampak

suram."

Connor bergumam, "Akhirnya ada juga yang mau

mengakuinya."

"Dan di tengah krisis nasional ini," Morton melanjutkan,

"banyak warga Amerika mulai menyadari ancaman lain.

Seiring dengan semakin berkurangnya kekuatan ekonomi

kita, kita menjadi sasaran invasi model baru. Banyak warga

Amerika cemas bahwa kita akan menjadi koloni ekonomi

Jepang, atau Eropa. Tapi terutama Jepang. Banyak warga

Amerika berpendapat bahwa orang Jepang mengambil alih

industri, lahan rekreasi, bahkan kota-kota kita." Ia

menunjuk ke lapangan golf dengan gedung-gedung

pencakar langit di latar belakang.

"Akibat praktek ini, banyak warga khawatir bahwa

Jepang kini memiliki kemampuan untuk membentuk serta

menentukan masa depan Amerika. “

Morton berhenti sejenak di bawah pohon. Ia memberi

kesan seolah-olah sedang berpikir.

"Berdasarkah kekhawatiran akan masa depan Amerika

ini? Haruskah kita merasa prihatin? Sementara pihak

berkilah bahwa penanaman modal asing merupakan

berkah yang membantu kita. Pihak-pihak lain mengambil

sikap berlawanan, dan merasa bahwa kita sedang menjual

hak asasi yang sangat berharga. Pandangan mana yang

benar? Pandangan mana yang harus... yang sebaiknya...

yang... oh, sialan! Bagaimana kelanjutannya?" .

"Cut, cut!" seru Edgar Lynn. "Istirahat dulu, semuanya.

Saya perlu membereskan beberapa hal. Setelah itu kita

mulai dengan pengambilan gambar sesungguhnya. Bagus

sekali, Senator. Saya suka sekali."

Si petugas naskah berkata, "'Pandangan mana yang

harus kita yakini demi masa depan Amerika,' Senator."

Senator Morton mengulangi, "Pandangan mana yang

harus kita yakini demi masa depan..." Ia menggelengkan

kepala. "Pantas saja saya tidak bisa mengingatnya. Baris itu

diubah saja. Margie? Tolong ubah baris itu. Ah, sudahlah.

Tolong ambilkan naskah. Biar saya saja yang

mengubahnya."

Dan ia kembali dikerumuni para juru rias dan penata

busana.

Woodson berkata, “Tunggu di sini, barangkali dia bisa

meluangkan beberapa menit untuk Anda."

Kami berdiri di samping trailer generator yang

berdengung-dengung. Begitu Morton menghampiri kami,

dua pembantunya mengejarnya sambil menyodorkan

printout komputer yang tebal. "John, ini ada yang perlu

dipelajari."

"John, ada baiknya kalau kau memperhatikan

angka-angka ini."

Morton berkata, "Apa itu?"

"John, ini hasil pengumpulan pendapat Gallup dan

Fielding yang terakhir." "John, ini analisis referensi silang

berdasarkan kelompok umur pemilih."

"Lantas?"

"Kesimpulannya, Presiden benar."

"Aku tidak mau dengar itu. Aku mencalonkan diri untuk

menantang dia."

"Tapi, John, dia benar mengenai kata-K itu. Kau tidak

bisa mengucapkan kata-K dalam iklan televisi."

"Aku tidak bisa bilang 'konservasi'?"

"Jangan, John."

"Jangan cari perkara

"Angka-angka ini membuktikannya."

"Kau ingin melihat angka-angkanya?"

"Tidak," ujar Morton. Ia melirik kepada Connor dan aku.

"Sebentar," katanya sambil tersenyum.

"Coba perhatikan ini duiu, John."

"Semuanya sudah jelas, John. Konservasi berarti

kemerosotan gaya hidup. Sekarang saja orang-orang sudah

mengalami kemerosotan. Mereka tidak menginginkannya."

"Tapi itu salah," kata Morton. "Bukan begitu duduk

perkaranya."

"John, itulah yang ada dalam pikiran para pemilih."

"Tapi mereka keliru."

"John, kalau kau berniat menggurui, silakan."

"Ya, aku berniat mendidik mereka. Konservasi tidak

sama dengan kemerosotan gaya hidup. Konservasi berarti

peningkatan kesejahteraan, kekuasaan, dan kebebasan.

Intinya, kita mencapai hasil yang lebih besar dengan modal

yang lebih kecil. Kita tetap melakukan hal-hal yang kita

lakukan sekarang - menghangatkan rumah, mengemudi

kendaraan - dengan menggunakan lebih sedikit bahan

bakar minyak. Kita butuh alat-alat pemanas yang lebih

efisien di rumah-rumah kita, dan mobil-mobil yang lebih

efisien di jalanan. Kita butuh udara yang lebih bersih,

kesehatan yang lebih baik. Dan kita bisa berhasil.

Negara-negara lain telah melakukannya. Jepang telah

melakukannya."

"John, yang benar saja."

"Jangan sebut-sebut Jepang."

"Dalam dua puluh tahun terakhir," kata Morton, "Jepang

telah memotong biaya energi untuk barang-barang jadi

sebanyak enam puluh persen. Jepang kini sanggup

membuat barang-barang dengan biaya lebih rendah

dibandingkan kita, karena Jepang telah mengarahkan

penanaman modal untuk pengembangan teknologi hemat

energi. Konservasi meningkatkan daya saing. Dan kalau kita

tidak mampu bersaing..."

"Bagus, John. Konservasi dan statist. Benar-benar

menjemukan."

"Tak ada yang peduli, John."

"Para warga Amerika peduli," balas Morton.

"John, mereka sama sekali tidak peduli."

"Dan mereka takkan mendengarkanmu. Begini, John.

Coba perhatikan pendapat rata-rata untuk berbagai

kelompok umur ini, terutama untuk kelompok di atas 55

tahun, yang merupakan kelompok pemilih yang paling

berpengaruh. Semuanya sependapat: mereka tidak

menginginkan pengurangan. Mereka tidak menginginkan

konservasi. Orang-orang Amerika berusia lanjut tidak

menginginkannya."

"Tapi orang-orang itu punya anak dan cucu. Mereka

pasti peduli pada masa depan."

"Mereka tidak peduli sedikit pun, John. Lihat ini, hitam

atas putih. Mereka beranggapan bahwa anak-anak mereka

tidak peduli pada mereka, dan mereka benar. Jadi mereka

juga tidak peduli pada anak-anak mereka. Sederhana saja."

"Tapi tentunya anak-anak itu..."

"Anak-anak tidak ikut memilih, John."

"Percayalah, John. Ikuti saran kami."

“Jangan singgung isu konservasi. Daya saing, oke.

Menatap masa depan, oke. Menghadapi masalah, oke.

Semangat baru, oke. Tapi jangan bawa-bawa konservasi.

Perhatikan saja angka-angka ini. Jangan lakukan itu."

Morton berkata, "Nanti kupertimbangkan lagi."

Kedua pembantunya rupanya menyadari bahwa mereka

takkan berhasil meyakinkan Morton. Mereka langsung

menutup laporan-laporan yang mereka bawa.

"Apa Margie perlu ke sini untuk menyesuaikan naskah?"

"Tidak. Biar kupikirkan dulu."

"Barangkali Margie bisa menyusun beberapa baris.”

Tidak."

"Oke, John. Oke."

"Suatu hari," Morton berkata kepada kami, "politisi

Amerika akan mengatakan apa yang dianggapnya benar,

bukan apa yang disarankan oleh pengumpulan pendapat.

Dan dia akan tampil sebagai pendobrak."

Kedua pembantu tadi kembali lagi. "Ayo, John. Kau pasti

lelah."

"Perjalanannya panjang. Kami mengerti."

"John. Percayalah pada kami, angka-angkanya sudah ada

di tangan kami. Kami bisa membaca perasaan para pemilih

dengan tingkat kepastian sebesar 95 persen."

"Aku tahu perasaan mereka. Mereka merasa frustrasi.

Dan aku tahu kenapa. Sudah lima betas tahun mereka tidak

mempunyai pemimpin."

"John. Kita sudah pernah membahas ini. Kita berada di

abad kedua puluh. Kepemimpinan adalah kemampuan

untuk berbicara sesuai dengan keinginan rakyat."

Mereka pergi.

Seketika Woodson mendekat, membawa handphone. Ia

baru hendak membuka mulut, tetapi Morton keburu

mengangkat tangan. "Jangan sekarang, Bob."

"Senator, saya pikir Anda perlu menjawab..."

“Jangan sekarang."

Woodson mundur. Morton melirik jam tangannya. "Anda

Mr. Connor dan Mr. Smith?"

"Ya," ujar Connor.

I'Mari kita jalan-jalan," kata Morton. Ia mulai menjauhi

rombongan film, menuju bukit di samping lapangan golf.

Hari itu hari Jumat. Hanya segelintir orang sedang bermain.

Kami berdiri sekitar lima puluh meter dari lokasi

pengambilan gambar.

"Saya minta Anda datang," kata Morton, "karena saya

tahu bahwa Anda menangani masalah Nakamoto itu."

Aku baru hendak memprotes bahwa itu tidak benar,

bahwa Graham yang ditugaskan, tetapi Connor keburu

angkat bicara, "Betul, kami yang menanganinya."

"Saya punya beberapa pertanyaan menyangkut kasus

itu. Anda sudah berhasil memecahkannya?"

"Kelihatannya begitu."

"Penyelidikan Anda sudah selesai?"

"Secara praktis, ya," jawab Connor. "Penyelidikan sudah

selesai."

Morton mengangguk. "Saya diberitahu bahwa Anda

berdua memiliki pengetahuan khusus mengenai

masyarakat Jepang. Benar itu? Salah satu dari Anda pernah

tinggal di Jepang?"

Connor membungkuk sedikit.

"Anda yang bermain golf dengan Hanada dan Asaka pagi

ini?” tanya Morton.

"Informasi Anda cukup lengkap."

"Saya sempat bicara dengan Mr. Hanada tadi. Sebelum

ini, kami sudah pernah berhubungan unluk urusan lain."

Morton mendadak berbalik dan berkata, "Pertanyaan saya,

apakah masalah Nakamoto ini berkaitan dengan

MicroCon?"

"Bagaimana maksud Anda?" ujar Connor.

"Masalah penjualan MicroCon kepada orang Jepang telah

diajukan ke hadapan Komite Keuangan Senat yang diketuai

oleh saya. Kami diminta memberi rekomendasi oleh staf

Komite Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang nantinya

harus mengesahkan penjualan tersebut. Anda tentu tahu,

penjualan MicroCon telah menimbulkan kontroversi. Di

masa lalu, saya secara terbuka menentang rencana itu.

Karena berbagai alasan. Anda mengetahui

permasalahannya?"

"Ya," jawab Connor.

"Sampai sekarang pun saya masih keberatan. Teknologi

canggih yang dikembangkan MicroCon antara lain dibiayai

dengan dana yang berasal dari para wajib pajak Amerika.

Saya keberatan bahwa para wajib pajak membayar untuk

riset yang akhirnya dijual kepada orang Jepang - yang

kemudian akan memanfaatkannya untuk menyaingi

perusahaan-perusahaan kita sendiri. Saya berpendapat

bahwa kita harus melindungi kapasitas Amerika dalam

bidang high-tech. Saya berpendapat bahwa kita harus

melindungi sumber daya intelektual yang kita miliki. Saya

berpendapat bahwa kita harus membatasi penanam modal

asing ke dalam perusahaan-perusahaan dan

universitas-universitas kita. Tapi rupanya hanya saya

sendiri yang berpendapat demikian. Saya tidak memperokh

dukungan, baik di Senat maupun di kalangan industri.

Pihak perdagangan juga tidak mau membantu saya. Mereka

tahu bahwa itu akan mengganggu negosiasi beras. Beras.

Bahkan Pentagon pun menentang saya dalam urusan ini.

Dan saya sekadar ingin tahu, mengingat Nakamoto

merupakan perusahaan induk Akai Ceramics, apakah

kejadian semalam berhubungan dengan rencana penjualan

itu."

Ia terdiam dan menatap kami dengan tajam. Sepertinya

ia berharap kami mengetahui sesuatu.

Connor berkata, "Setahu saya tidak ada hubungan

apa-apa."

"Apakah Nakamoto melakukan tindakan curang atau

tidak pantas untuk mensukseskan penjualan itu?”

"Setahu saya tidak."

"Dan penyidikan Anda telah ditutup secara resmi?”

"Ya. "

"Saya ingin menjernihkan permasalahannya. Sebab bila

saya menarik keberatan saya atas penjualan ini, saya tidak

ingin kena getahnya di kemudian hari. Orang mungkin saja

berdalih bahwa pesta di Nakamoto merupakan usaha untuk

membujuk para penentang rencana itu. Perubahan posisi

seperti ini kadang-kadang merisaukan. Gara-gara hal

seperti ini, kita bisa naik daun atau malah tenggelam di

Kongres."

Connor berkata, "Anda hendak menarik keberatan Anda

atas penjualan itu?"

"Hmm." Morton mengangkat bahu. "Saya berjuang

seorang diri. Tak ada yang mendukung sikap saya

mengenai MicroCon. Secara pribadi, saya kira ini ulangan

kasus Fairchild. Tapi kalau pertempuran tak dapat

dimenangkan, lebih baik jangan bertempur. Lagi pula masih

banyak pertempuran lain." Ia menegakkan badan,

merapikan jas.

"Senator? Kalau Anda sudah siap, kita mulai saja. Mereka

cemas mengenai cahayanya."

"Mereka cemas mengenai cahayanya," ujar Morton

sambil geleng-geleng.

"Kami tak ingin menyita waktu Anda lebih banyak," kata

Connor.

"Pokoknya," Morton berkata, "saya memang

membutuhkan masukan dari Anda. Jadi, menurut Anda,

kejadian semalam tidak berkaitan dengan MicroCon.

Orang-orang yang terlibat juga tidak mempunyai hubungan

apa pun. Jangan sampai bulan depan saya membaca bahwa

seseorang kasak-kusuk di belakang layar, untuk

mensukseskan atau menghalangi penjualan tersebut.

Takkan ada hal seperti itu."

"Setahu saya, tidak," jawab Connor.

"Gentlemen, terima kasih atas kedatangan Anda," kata

Morton. Ia bersalaman dengan kami, lalu menuju lokasi

pengambilan gambar. Kemudian ia berbalik sekali lagi.

"Saya akan berterima kasih sekali jika Anda menangani

urusan ini secara rahasia. Sebab, Anda tahu sendiri, kita

harus waspada. Kita sedang berperang melawan Jepang." Ia

tersenyum dengan masam. "Loose lips sink ships."

"Ya," kata Connor. "Dan ingat Pearl Harbor."

"Astaga, itu juga." Ia menggelengkan kepala, lalu

merendahkan suara dan berkata, "Anda tahu, beberapa

rekan saya berpendapat bahwa cepat atau lambat kita

harus menjatuhkan bom lagi." Ia tersenyum. "Tapi saya

tidak sepaham dengan mereka. Biasanya."

Sambil tetap tersenyum, ia menuju ke arah rombongan

film. Orang-orang kembali berkerumun di sekelilingnya.

Mula-mula seorang wanita yang membawa perubahan

naskah, lalu seorang penata busana, lalu seorang pria yang

mengotak-atik mikrofon serta tempat baterai di

pinggangnya, lalu juru rias, sampai akhirnya Senator

Morton menghilang dari pandangan, dan yang terlihat

hanyalah sekelompok orang yang berjalan melintasi

rumput.

Bab 36

AKU berkata, "Saya suka orang itu."

Kami sedang meluncur kembali ke Hollywood. Semua

gedung terselubung asap dan kabut.

"Tentu saia Anda suka dia," ujar Connor. "Dia politisi.

Tugasnya memang membuat Anda suka padanya."

"Kalau begitu, dia berhasil."

"Sangat berhasil."

Sambil membisu Connor menatap keluar jendela. Aku

mendapat kesan bahwa ada sesuatu yang mengganggunya.

Aku berkata, "Anda tidak setuju dengan apa yang

dikatakannya dalam iklan TV tadi? Kedengarannya sama

seperti ucapan-ucapan Anda."

"Ya. Memang."

"Lalu, apa masalahnya?"

"Tidak ada," Ujar Connor. "Saya hanya memikirkan apa

sesungguhnya yang dikatakannya."

"Dia menyinggung Fairchild."

"Tentu saja," kata Connor. "Morton tahu persis apa yang

terjadi dengan Fairchild."

Aku baru hendak bertanya, tapi Connor sudah mulai

menceritakannya.

"Anda pernah mendengar nama Seymour Cray? Selama

bertahun-tahun dia perancang komputer super terbaik di

seluruh dunia. Cray Research menciptakan komputer

tercepat di dunia. Orang Jepang berusaha mengejar

ketinggalan mereka, tapi sia-sia. Cray terlalu gemilang. Tapi

pada pertengahan delapan puluhan, praktek dumping yang

dilakukan orang Jepang dalam bidang chips telah

menyebabkan sebagian besar pemasok Cray di dalam

negeri gulung tikar. Cray terpaksa memesan chips dengan

desain khusus dari perusahaan-perusahaan Jepang. Tak

seorang pun di Amerika sanggup membuatnya. Dan

kemudian para pemasok Jepang itu mengalami

penundaan-penundaan misterius. Pada suatu ketika,

mereka memerlukan satu tahun untuk menyerahkan chips

tertentu yang dipesan oleh Cray - dan selama itu, para

pesaingnya di Jepang mengalami kemajuan pesat. Timbul

pertanyaan, apakah mereka mencuri teknologinya yang

baru. Cray marah sekali. Dia sadar bahwa mereka

mempermainkannya. Dia memutusk.m bahwa dia harus

membentuk persekutuan dengan pabrik Amerika, dan

karena itu dia memilih Fairchild Semiconductor, walaupun

perusahaan tersebut lemah dari segi keuangan. Tapi Cray

tidak lagi bisa mempercayai orang Jepang. Dia terpaksa

bekerja sama dengan Fairchild. Jadi, sejak saat itu Fairchild

membuat chips khusus generasi berikut untuknya, dan

kemudian dia mendapat kabar bahwa Fairchild akan dijual

kepada Fujitsu. Saingannya yang paling besar. Keprihatinan

mengenai situasi seperti inilah, serta implikasinya terhadap

keamanan nasional, yang mendorong Kongres untuk

mencegah penjualan tersebut.



0 Response to "RISING SUN 4"

Post a Comment