Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

RISING SUN 3

Seorang wanita mengajukan pertanyaan lain yang tak

terdengar olehku, dan Morton berkata, "Betul, sebanding

dengan tahun 1962. Saya tahu bahwa ini sukar dipercaya,

tapi coba ingat keadaan di tahun lima puluhan, ketika

pekerja Amerika sanggup memiliki rumah, membiayai

keluarga, dan memasukkan anak-anaknya ke perguruan

tinggi, semuanya dengan gaji yang dia terima. Kini kedua

orangtua terpaksa bekerja, dan sebagian besar orang tetap

tak mampu mendapatkan rumah. Nilai dolar semakin

merosot, segala sesuatu bertambah. mahal. Orang-orang

harus berjuang untuk mempertahankan apa yang mereka

miliki. Mereka tidak bisa maju."

Aku menyadari bahwa aku mendengarkannya sambil

mengangguk-angguk. Sekitar sebulan yang lalu aku mencari

rumah, dengan harapan dapat memperoleh pekarangan

belakang untuk Michelle Tapi harga rumah benar-benar

tidak masuk akal di L.A. Aku takkan pernah sanggup

membeli rumah, kecuali jika aku menikah lagi. Dan itu pun

belum tentu, sebab...

Aku merasakan sebuah sikat mendarat di tulang igaku.

Seketika aku berbalik, dan melihat petugas penjaga pintu.

Ia memberi isyarat kepala ke arah pintu. "Kembali ke sana,

Bung."

Aku marah. Aku menoleh ke arah Connor, tapi ia kembali

ke pintu masuk.

Di ambang pintu, penjaga itu berkata, "Saya sudah

memeriksanya. Di sini tidak ada yang bernama Mr.

Sakamura.

"Mr. Sakamura," kata Connor, "adalah orang Jepang yang

berdiri di belakang sana, di sebelah kanan Anda. Yang

sedang mengobrol dengan wanita berambut merah itu."

Si penjaga pintu menggelengkan kepala. “Maaf, kecuali

jika Anda dapat menunjukkan surat tugas resmi, saya

terpaksa mempersilakan Anda pergi dari sini."

"Sebenarnya tidak ada masalah," ujar Connor. "Mr.

Sakamura teman lama saya. Saya tahu dia mau menemui

saya."

“Maaf, Anda punya surat tugas resmi?"

"Tidak," ujar Connor.

"Kalau begitu, Anda telah masuk tanpa izin. Dan

sekarang saya minta Anda pergi."

Connor tetap berdiri di tempat.

Si penjaga pintu mundur sedikit dan memasang

kuda-kuda. Ia berkata, "Anda perlu tahu bahwa saya

pemegang sabuk hitam."

"Oh, begitu?" ujar Connor.

"Sama halnya dengan Jeff," si penjaga menambahkan

ketika laki-laki kedua muncul.

"Jeff," kata Connor. "Apakah Anda yang akan

mengantarkan rekan Anda ini ke rumah sakit?"

Jeff tertawa sinis. "Hei, saya suka humor. Lucu sekali.

Oke, Mr. Wise Guy. Anda berada di tempat yang salah. Anda

sudah mendengar penjelasan teman saya. Keluar.

Sekarang." Ia menotok dada Connor dengan jari telunjuk.

Connor berkata dengan tenang. "Ini penyerangan.”

Jeff berkata, "Hei, persetan kau. Aku sudah bilang kau di

tempat yang salah ......”

Connor melakukan sesuatu dengan sangat cepat, dan

tiba-tiba saja Jeff sudah tergeletak di lantai,

mengerang-erang kesakitan. Ia berguling-guling sampai

menabrak sepasang kaki yang terbungkus celana berwarna

hitam. Ketika menoleh, aku melihat bahwa orang yang

mengenakan celana itu berpakaian serba hitam-kemeja

hitam, dasi hitam, jas satin hitam. Rambutnya putih, dan ia

menampilkan sikap dramatis yang lazim ditemui di

kalangan Hollywood. "Saya Rod Dwyer. Ini rumah saya. Ada

masalah apa?"

Connor memperkenalkan kami dengan sopan dan

memperlihatkan lencananya. "Kami datang untuk urusan

resmi. Kami ingin bicara dengan salah seorang tamu Anda -

Mr. Sakamura, tuan yang sedang berdiri di pojok sana."

"Dan orang ini?" tanya Dwyer sambil menunjuk Jeff yang

masih terengah-engah dan terbatuk-batuk di lantai.

Connor berkata dengan tenang, "Dia menyerang saya."

"Keparat! Saya tidak menyerang dia!" ujar Jeff sambil

bertumpu pada sikutnya.

Dwyer berkata, "Kau menyentuhnya?"

Jeff diam saja. Matanya mendelik.

Dwyer kembali berpaling pada kami. "Saya minta maaf

atas kejadian ini. Orang-orang ini masih baru. Saya tidak

tahu apa yang mereka pikirkan. Bisa saya ambilkan

minuman untuk Anda?"

"Terima kasih, tapi kami sedang bertugas," kata Connor.

"Kalau begitu, saya akan minta Mr. Sakamura datang ke

sini untuk berbicara dengan Anda. Maaf, nama Anda?"

"Connor."

Dwyer menjauhi kami. Si penjaga pintu membantu Jeff

berdiri. Sambil berlalu, Jeff bergumam, "Setan!"

Aku berkata kepada Connor, "Anda masih ingat dulu,

waktu polisi masih dihormati?"

Tetapi Connor menggeleng-geleng sambil menundukkan

kepala. "Saya malu sekali," katanya.

"Kenapa?"

Ia tak mau menjelaskan.

"Hei, John! John Connor! Hisashiburi dana! Sudah lama

tidak ketemu. Apa kabar? Hei!" Ia menonjok bahu Connor.

Dilihat dari dekat, Eddie Sakamura tidak terlalu tampan.

Kulitnya kelabu, dengan bekas cacar, dan ia berbau

minuman keras. Gerak-geriknya serba tegang, hiperaktif,

bicaranya pun terburu-buru. Fast Eddie bukan orang yang

telah menemukan kedamaian dalam hatinya.

Connor menjawab, "Saya baik-baik saja, Eddie.

Bagaimana denganmu?"

"Yah, lumayanlah, Kapten. Ada satu-dua hal kecil. Saya

dapat lima-nol-satu, mengemudi dalam keadaan mabuk,

sedang berusaha menanganinya, lapi Anda tahu sendiri,

berkas saya sudah menumpuk di kantor polisi, sekarang

semakin sulit. Tapi, hei! Santai saja! Sedang apa Anda di

sini? Lumayan ramai, heh? Mode terbaru, tanpa perabot!

Rod bikin gaya baru. Hebat! Tak ada yang bisa duduk!" Ia

tertawa. "Gaya baru! Hebat!"

Aku mendapat kesan bahwa ia berada di bawah

pengaruh obat bius. Sikapnya terlalu berlebihan. Bekas luka

di tangannya tampak jelas. Wamanya merah

keungu-unguan, berukuran kira-kira empat kali tiga senti.

Sepertinya bekas luka bakar.

Connor merendahkan suara dan berkata, "Sebenarnya,

Eddie, kami datang untuk mengusut yakkaigoto di

Nakamoto tadi."

"Ah, ya," ujar Eddie. Ia pun merendahkan suaranya. "Tak

heran dia bernasib begitu. Dia memang henntai."

"Dia sesat? Kenapa kau berkata begitu?"

Eddie berkata, "Kita keluar sebentar? Saya mau

merokok, tapi Rod melarang orang merokok di dalam

rumah."

"Oke, Eddie."

Kami melangkah ke luar dan berdiri di pinggir taman

kaktus. Eddie menyalakan sebatang Mild Seven Menthol.

"Hei, Kapten, saya tidak tahu seberapa banyak yang sudah

Anda ketahui. Tapi cewek itu... dia tidur dengan sejumlah

orang yang ada di dalam sana. Dia tidur dengan Rod. Dan

beberapa orang lagi. Nah. Jadi lebih mudah kalau kita bicara

di sini, oke?"

"Tentu "

"Saya kenal baik dengan dia. Sangat baik. Anda tahu,

saya hipparidako, heh? Bukan salah saya. Saya memang

populer. Dia terus menempel saya. Terus-menerus "

"Saya tahu itu, Eddie. Tapi kaubilang dia ada masalah?"

l

"Masalah besar, Amigo. Grande'problemos. Sakit, cewek

itu. Dia baru bisa puas kalau kesakitan.”

"Orang seperti itu ada di mana-mana, Eddie.”

Ia mengisap rokoknya. "Hei, bukan," katanya. "Ini lain.

Maksudku, bagaimana dia bisa sampai puas. Kalau

benar-benar disakiti. Dia selalu minta, lagi, lagi. Sekali lagi.

Lebih keras."

Connor berkata, "Lehernya?"

"Yeah. Lehernya. Betul. Cekik lehernya. Yeah. Anda

sudah dengar? Dan kadang-kadang pakai kantong plastik.

Kantong plastik bening. Masukkan ke kepalanya dan jepit

dengan tangan. Cekik lehernya sambil sanggama. Dia

megap-megap, plastiknya menempel di mulut, dan

mukanya jadi biru. Punggung kita dicakar-cakar. Terus

megap-megap. Ya Tuhan! Saya sendiri tidak tertarik. Tapi

asal tahu saja, cewek ini... wow! Kalau dia sampai puncak,

benar-benar luar biasa. Tak bakal lupa. Sumpah. Tapi bagi

saya, terlalu kacau. Selalu menyerempet bahaya. Selalu ada

risiko. Menantang nasib. Mungkin kali ini. Mungkin ini yang

terakhir. Anda mengerti maksud saya?" Ia menjentikkan

rokoknya, yang lalu jatuh di tengah-tengah duri kaktus.

"Kadang-kadang memang seru. Seperti rolet Rusia. Tapi

saya tidak sanggup, Kapten. Sumpah. Tidak sanggup. Dan

Anda kenal saya, saya suka yang liar-liar begitu."

Eddie Sakamura membuatku merinding. Aku berusaha

membuat catatan ketika ia bercerita, tetapi kata-katanya

meluncur begitu cepat, sehingga aku selalu ketinggalan. Ia

kembali menyalakan sebatang rokok, tangannya gemetar.

Ia terus bicara seperti kereta api, melambai-lambaikan

ujung rokok yang membara untuk memberi penekanan.

"Maksud saya, cewek ini, dia jadi masalah," kata Eddie.

"Oke, dia cantik. Cewek cantik. Tapi kadang-kadang dia

tidak bisa keluar rumah, terlalu parah. Kadang-kadang dia

harus pakai rias wajah tebal, karena kulit lehernya sensitif.

Dan di lehernya banyak luka memar. Sekeliling leher.

Gawat. Anda sudah lihat sendiri, mungkin Anda lihat

mayatnya, Kapten?"

"Yeah, saya melihatnya."

"Jadi..." Eddie terdiam sejenak, ragu-ragu. Ia seakan-akan

mundur, mempertimbangkan sesuatu Ia membuang abu

rokok. "Jadi, dia dicekik?"

"Ya, Eddie. Dia dicekik."

Ia mengisap rokoknya. "Yeah. Masuk akal."

"Kau melihatnya, Eddie?"

"Saya? Tidak. Apa maksud Anda? Mana mungkin saya

lihat dia, Kapten?" Ia mengembuskan asap rokok.

"Eddie. Lihat ke sini."

Eddie berpaling kepada Connor.

"Lihat mata saya. Sekarang katakan. Kau melihat

mayatnya?"

"Tidak. Yang benar saja, Kapten." Eddie tertawa kecil,

gelisah, dan memalingkan wajah. Ia menjentikkan

rokoknya, sehingga berputar-putar di udara.

Bunga api beterbangan. "Apa ini? Pengusutan dengan

paksa? Tidak, saya tidak melihat mayatnya."

"Eddie."

"Sumpah, Kapten."

"Eddie. Bagaimana hubunganmu dengan semuanya ini?"

"Saya? Sial. Saya tidak tahu apa-apa, Kapten. Oke, saya

kenal cewek itu. Kadang-kadang saya menemui dia. Saya

tidur dengan dia, memang. Dia agak aneh, tapi asyik. Cewek

asyik. Luar biasa di tempat tidur. Cuma itu, Kapten. Cuma

itu." Ia memandang berkeliling, menyalakan rokok ketiga.

"Bagus, heh, taman kaktus ini? Xeriseape, istilahnya. Mode

terbaru. Los Angeles kembali ke ke hidupan gurun. Ini

haya”erunosa, sangat trendy."

"Eddie."

"Ayolah, Kapten. Ada apa dengan Anda? Kita sudah lama

saling mengenal."

"Tentu, Eddie. Tapi saya ada masalah. Bagaimana dengan

kaset-kaset video dari ruang keamanan?"

Eddie tampak bingung, wajahnya polos. "Kaset-kaset

video?"

"Seorang pria dengan bekas luka di tangan dan dasi

bermotif segi tiga masuk ke ruang keamanan Nakamoto

dan mengambil kaset-kaset video dari sana.”

“Sial! Ruang keamanan? Apa-apaan ini, Kapten?"

"Eddie."

"Siapa yang mengatakannya pada Anda? Itu tidak benar.

Mengambil kaset-kaset video? Saya tidak pernah berbuat

begitu. Anda sudah gila?" Ia membalikkan dasi dan

mengamati labelnya. "Lihat, Polo, Kapten. Ralph Lauren.

Pasti banyak dasi seperti ini."

"Eddie'. Bagaimana dengan Imperial Arms?"

"Ada apa dengan Imperial Arms?"

"Kau pergi ke sana malam ini?"

"Tidak."

"Kau merapikan kamar Cheryl?"

"Apa?" Eddie kelihatan kaget. "Apa? Tidak. Merapikan

kamarnya? Dari mana Anda dapatkan segala omong kosong

ini, Kapten?"

"Dari wanita muda di seberang selasar... Julia Young,"

ujar Connor. "Dia mengaku melihatmu tadi, bersama pria

lain. Di kamar Cheryl di Imperial Arms."

Eddie mengangkat kedua tangannya. "Astaga! Kapten,

dengar baik-baik. Cewek itu takkan tahu apakah dia melihat

saya semalam atau bulan lalu. Dia pecandu heroin. Anda

bisa menemukan bekas suntikan di sela-sela jari kakinya, di

bawah lidah, di kemaluannya. Cewek itu tukang mimpi. Dia

tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Buset. Anda

datang ke sini, menuduh saya macam-macam. Saya tidak

suka." Eddie membuang rokoknya, dan langsung

menyalakan yang berikut. "Saya sama sekali tidak suka.

Anda tidak lihat apa yang terjadi?"

"Tidak," kata Connor. "Coba katakan, Eddie, apa yang

sedang terjadi?" f

"Omong kosong ini tidak benar. Semuanya tidak benar."

Ia mengisap rokoknya beberapa kali. "Anda tahu apa

masalah sebenarnya? Ini bukan mengenai cewek-cewek itu.

Ini menyangkut pertemuan Sabtu. Doyou kai, Connor-san.

Pertemuan rahasia. Itulah masalahnya."

Connor membentak, "Sonna bakana."

"Bukan bakana, Connor-san. Bukan omong kosong."

"Tahu apa wanita muda dari Texas mengenai Doyou

kai?"

"Dia tahu sesuatu. Honto nanda. Dan suka bikin masalah,

cewek ini. Suka bikin onar."

"Eddie, mungkin ada baiknya kalau kau ikut dengan

kami."

"Oke. Silakan. Bantu mereka. Bantu kuromaku." Ia

berbalik dan menghadap Connor. "Tahi kucing. Ayolah,

Kapten. Anda tahu apa yang akan terjadi. Cewek ini

terbunuh di Nakamoto. Anda tahu keluarga saya, ayah saya,

di Daimatsu. Di Osaka mereka akan baca bahwa wanita

muda terbunuh di Nakamoto dan bahwa saya ditangkap

sehubungan dengan itu. Anaknya."

"Ditahan untuk diperiksa lebih lanjut."

"Ditahan. Apa pun namanya. Anda tahu apa artinya ini.

Taihennakoto ni naru zo. Ayah saya akan mengundurkan

diri, perusahaannya harus minta maaf kepada Nakamoto.

Mungkin memberi ganti rugi. Memberi kemudahan dalam

bisnis. Ini osawagi ni naruzo yang hebat. Inilah yang Anda

lakukan kalau Anda menahan saya." Ia mencampakkan

rokoknya. "Hei, kalau Anda pikir saya pembunuhnya,

silakan tangkap saya. Tapi Anda cuma mencari kambing

hitam. Anda bisa sangat merugikan saya, Kapten. Anda tahu

itu."

Connor terdiam untuk waktu lama. Lama ia tidak

mengatakan apa pun. Mereka berjalan-jalan di taman,

berputar-putar.

Akhirnya Eddie berkata, "Na, Connor-san. Ma”e kure yo..."

Suaranya bernada memohon. Sepertinya ia mengharapkan

kebijaksanaan Connor.

Connor menghela napas. "Kaubawa paspormu, Eddie?"

"Yeah, tentu. Selalu."

"Serahkan pada saya."

"Yeah, tentu. Oke, Kapten. Ini dia."

Connor mengamatinya sekilas, lalu menyerahkannya

padaku. Aku menyelipkannya ke dalam saku.

"Oke, Eddie. Tapi awas kalau murina koto. Atau kau akan

dinyatakan persona non grata. Dan aku sendiri yang akan

memasukkanmu ke pesawat berikut ke Osaka. Waka”aka?"

"Kapten, Anda telah melindungi kehormatan keluarga

saya. On ni kiru yo." Dan ia membungkuk dengan formal,

dengan kedua tangan di sisi badan.

Connor membalas dengan cara yang sama.

Aku hanya terbengong-bengong. Aku tak percaya apa

yang kulihat. Connor akan melepaskannya. Aku

benar-benar tak percaya.

Aku menyerahkan kartu namaku kepada Eddie dan

mengulangi pidatoku mengenai bagaimana ia dapat

menghubungi kemudian jika ia teringat pada sesuatu. Eddie

mengangkat bahu dan memasukkan kartu namaku ke

dalam kantong baju, sambil menyalakan rokok. Aku tidak

masuk hitungan, ia berurusan dengan Connor.

Eddie kembali ke rumah, lalu berhenti sejenak.

"Saya ketemu cewek berambut merah di sini, menarik

sekali," katanya. "Setelah pesta ini, saya mau pulang ke

rumah saya di perbukitan. Kalau Anda perlu saya, saya ada

di sana. Selamat malam, Kapten. Selamat malam, Letnan."

"Selamat malam, Eddie."

Kami menuruni tangga.

"Mudah-mudahan Anda tahu apa yang Anda lakukan,"

kataku.

"Mudah-mudahan saja," ujar Connor.

"Sebab di mata saya, dia seperti orang yang bersalah."

"Mungkin."

"Menurut saya, lebih baik kalau dia ditahan Lebih aman."

"Mungkin."

"Kita kembali ke sana untuk membawanya?"

"Tidak." Ia menggelengkan kepala. "Dai rokkan saya

mengatakan jangan."

Aku tahu apa arti kata itu. Artinya indra keenam. Orang

Jepang sangat percaya intuisi. Aku berkata, "Yeah, hmm,

mudah-mudahan Anda benar."

Kami terus menuruni tangga dalam kegelapan.

"Ada sesuatu yang perlu Anda ketahui," ujar Connor.

"Saya berutang padanya."

"Berutang?"

"Suatu ketika, beberapa tahun yang lalu, saya

memerlukan informasi tertentu. Anda masih ingat kasus

keracunan fugu? Tidak? Oke, pokoknya, tak seorang pun

bersedia memberi keterangan. Saya seperti bicara dengan

tembok. Dan saya membutuhkan informasi itu. Eddie yang

memberitahu saya. Dia ketakutan, karena tidak ingin orang

lain tahu. Tapi dia tetap membantu saya. Saya mungkin

berutang nyawa padanya."

Kami sampai di kaki tangga.

"Apakah dia mengingatkan Anda?"

"Dia takkan berbuat begitu. Sayalah yang harus

mengingatnya."

Aku berkata, "Oke, Kapten. Urusan utang budi ini

sungguh mulia. Dan saya mendukung harmoni antarsuku

bangsa. Tapi sementara itu, ada kemungkinan bahwa dia

membunuh Cheryl Austin, mencuri kaset-kaset video, dan

merapikan apartemen wanita muda itu. Bagi saya, Eddie

Sakamura kelihatan seperti pecandu narkotika yang

mengalami korslet. Tingkah lakunya mencurigakan. Dan

kita malah pergi. Membiarkan dia begitu saja."

"Betul."

Kami terus berjalan. Aku merenung, dan semakin cenias.

Aku berkata, "Sebenarnya, secara resmi sayalah yang

memimpin penyidikan ini."

"Sebenarnya Graham yang bertanggung jawab."

"Yeah, oke. Tapi kita akan kelihatan seperti orang tolol

kalau ternyata dia pelakunya."

Connor mendesah, seakan-akan kehilangan kesabaran.

"Baiklah, mari kita bahas kasus ini sesual jalan pikiran

Anda. Eddie membunuh Cheryl Austin, oke?"

"Oke."

"Dia bisa menemuinya kapan saja, tapi dia memutuskan

untuk berhubungan di meja rapat, dan kemudian

membunuhnya. Setelah itu dia turun ke lobi, dan berlagak

sebagai eksekutif Nakamoto, biarpun penampilan Eddie

Sakamura sama sekali bukan seperti eksekutif. Tapi kita

anggap saja penyamarannya sukses. Dia berhasil menyuruh

petugas keamanan pulang lebih awal. Dia mengambil

kaset-kaset video itu. Dia keluar dari ruang keamanan tepat

pada waktu Phillips datang, kemudian dia pergi ke

apartemen Cheryl untuk merapikannya. Tapi entah kenapa

dia menambahkan foto dirinya, menyelipkannya ke bingkai

cermin. Lalu dia mampir di Bora Bora, dan memberitahu

semua orang bahwa dia akan menghadiri sebuah pesta di

Hollywood. Kita menemukannya di sana, di sebuah ruangan

tanpa perabot, sedang merayu wanita berambut merah.

Begitukah Anda membaca kejadian malam ini?"

Aku diam saja. Jika diungkapkan seperti itu,

kecurigaanku tampaknya memang tidak beralasan. Tapi di

pihak lain...

"Saya hanya bisa berharap bahwa bukan dia pelakunya."

"Begitu juga saya."

Kami sampai di tepi jalan. Salah satu petugas parkir

bergegas datang untuk mengambil mobil kami.

"Caranya menceritakan hal-hal tadi," kataku, misalnya

bagaimana dia menutup kepala Cheryl Austin dengan

kantong plastik - mengerikan."

"Oh, itu tidak berarti apa-apa," ujar Connor. "Anda harus

ingat, Jepang tidak terpengaruh oleh ajaran Freud maupun

ajaran Nasrani. Mereka tidak merasa berdosa atau malu

mengenai seks. Tak ada masalah dengan homoseksualitas

atau seks yang menyimpang. Mereka bersikap apa adanya.

Ada orang yang suka ini, ada yang suka itu, apa bedanya.

Orang Jepang tak pernah memahami kenapa kita

ribut-ribut mengenai fungsi biologis yang begitu sederhana.

Mereka menganggap kita tertalu kaku dalam hal seks. Dan

memang ada benarnya." Connor melirik jam tangannya.

Sebuah mobil patroli keamanan swasta berhenti.

Seorang petugas berseragam menyembulkan kepalanya

dari jendela. "Hei, ada masalah di pesta di atas sana?"

"Masalah apa?"

"Perkelahian. Kami menerima laporan mengenai

perkelahian."

"Saya tidak tahu," ujar Connor. "Lebih baik Anda ke sana

untuk memastikannya."

Petugas itu turun dari mobil, menarik celananya yang

agak merosot, lalu mulai menaiki tangga.

Connor menoleh ke belakang, menatap tembok yang

tinggi. "Anda sadar bahwa sekarang ini lebih banyak

petugas keamanan swasta dibandingkan petugas polisi?

Semua orang membangun benteng dan menyewa petugas

satpam. Tapi di Jepang, kita bisa pergi ke taman di tengah

malam buta, duduk di bangku, dan takkan terjadi apa-apa.

Kita aman sepenuhnya, siang dan malam. Kita bisa pergi ke

mana saja. Kita tak perlu takut dirampok, dianiaya, atau

dibunuh. Kita tidak selalu menoleh ke belakang, tidak selalu

dihantui perasaan waswas. Keamanan kita adalah

keamanan seluruh masyarakat. Kita bebas. Perasaan ini

benar-benar menyenangkan. Di sini semua orang harus

mengurung diri. Mengunci pintu. Mengunci mobil. Orang

yang terus-menerus mengurung diri hidup seperti di

penjara. Tidak masuk akal. Tapi keadaan ini sudah

berlangsung begitu lama, sehingga orang Amerika sudah

lupa bagaimana nikmatnya kalau kita merasa benar-benar

aman. Baiklah. Mobil kita sudah datang. Sekarang kita ke

markas divisi."

Kami baru saja mulai menggelinding, ketika operator

DHD memanggil, "Letnan Smith," ia berkata, "ada tugas

untuk Special Services."

"Saya sedang sibuk," kataku. "Apakah bisa ditangani oleh

petugas cadangan?"

"Letnan Smith, beberapa petugas patroli minta bantuan

Special Services untuk kasus TP di wilayah sembilan belas."

Ia sedang memberitahuku bahwa ada masalah dengan

seorang tamu penting. "Saya mengerti," aku membalas,

"tapi saya sedang menangani kasus lain. Serahkan saja

kepada petugas cadangan."

"Tapi lokasinya di Sunset Plaza Drive. Bukankah Anda

berada di..."

"Ya," kataku. Sekarang aku mengerti mengapa ia begitu

ngotot. Kejadian itu berjarak hanya beberapa blok saja.

"Oke, apa masalahnya?"

"Kasus MDKM yang melibatkan TP. Dilaporkan sebagai

tingkat P plus satu. Nama belakang adalab Rowe."

"Oke," kataku. "Kami segera ke sana." Aku

mengembalikan gagang dan memutar mobil.

"Menarik," Connor berkomentar. "Tingkat P plus satu -

apakah itu berarti Pemerintah Amerika?"

"Ya," jawabku.

"Senator Rowe?"

"Sepertinya begitu," kataku. "Mengemudi dalam keadaan

mabuk."

Bab 17

SEDAN Lincoln berwarna hitam itu berhenti di pekarangan

sebuah rumah di bagian Sunset Drive Plaza yang

curam. Dua mobil patroli berhenti di tepi jalan, dengan

lampu berwarna merah berkedap-kedip. Di pekarangan,

setengah lusin orang herdiri di sebelah sedan Lincoln.

Seorang pria bermantel mandi, dengan tangan terlipat di

depan dada; beberapa gadis dengan rok mini berkilaukilau;

seorang pria tampan berambut pirang, berusia empat

puluhan, berpakaian tuksedo; serta seorang pria yang lebih

muda dengan setelan jas warna biru, yang kukenali sebagai

pemuda yang ikut masuk ke lift bersama Senator Rowe tadi.

Para petugas patroli telah mengeluarkan kamera video.

Sebuah lampu menyilaukan diarahkan kepada Senator

Rowe. Ia sedang bersandar pada spakbor depan sedan

Lincoln, sambil melindungi wajahnya dari cahaya dengan

sebelah tangan. Ia mencaci maki keras-keras ketika Connor

dan aku mendekat.

Pria bermantel mandi menghampiri kami dan berkata,

"Saya ingin tahu siapa yang akan bertanggung jawab."

"Tunggu sebentar, Sir." Aku terus berjalan.

"Dia tidak bisa menghancurkan pekarangan saya seperti

ini. Saya menuntut ganti rugi."

"Harap bersabar sejenak, Sir."

"Dia mengagetkan istri saya, dan istri saya menderita

kanker."

Aku berkata, "Sir, beri saya satu menit saja, dan setelah

itu saya akan bicara dengan Anda."

"Kanker telinga," ia menegaskan. "Telinga."

"Ya, Sir. Baik, Sir." Aku terus berjalan ke arah sedan

Lincoln dan lampu yang terang benderang.

Ketika aku melewati asisten Senator Rowe, ia ikut

berjalan di sampingku dan berkata, "Saya dapat

menjelaskan semuanya, Detektif " Usianya sekitar tiga

puluh, dengan wajah tampan berkesan lembut yang lazim

ditemui di kalangan anggota staf Kongres.

"Sebentar," kataku. "Saya ingin bicara dengan Senator

Rowe dulu."

"Beliau sedang tidak enak badan," ujar asistennya.

"Beliau sangat letih." Ia menghalangiku. Aku hanya

berputar sedikit. Ia segera bergegas menyusulku. "Jet lag,

itu masalahnya. Beliau terkena jet lag."

"Saya harus bicara dengannya," kataku, lalu melangkah

ke cahaya yang terang. Rowe masih mengangkat sebelah

tangan. Aku berkata, "Senator Rowe?"

"Matikan lampu keparat itu, persetan," Rowe

mengumpat. Ia demikian mabuk, sehingga ucapannya sukar

dimengerti.

"Senator Rowe," kataku. "Kelihatannya saya terpaksa

minta Anda..."

"Ah, persetan kau."

"Senator Rowe," kataku.

"Matikan kamera keparat itu."

Aku menoleh ke arah petugas patroli dan memberi

isyarat padanya. Dengan enggan ia mematikan kamera.

Lampu pun dipadamkan.

"Astaga," ujar Rowe. Akhirnya ia menurunkan tangan. Ia

menatapku dengan mata muram. "Sialan, ada apa ini?"

Aku memperkenalkan diri.

"Kalau begitu, kenapa Anda tidak berbuat sesuatu

mengenai kebun binatang brengsek ini, heh?" balas Rowe.

"Saya mau pulang ke hotel saya.”

"Saya mengerti, Senator."

"Entah apa..." Ia melambaikan tangan asal saja. "Apa

masalahnya di sini'?"

"Senator, apakah Anda yang mengemudikan mobil ini

tadi?"

"Persetan. Mengemudi." ia berbalik badan. "Jerry?

Jelaskan pada mereka!"

Jerry segera melangkah maju. "Saya sangat menyesal

atas semuanya ini," ia berkata dengan lancar. "Bapak

Senator sedang tidak enak badan. Beliau baru kembali dari

Tokyo semalam. Jet lag. Beliau sangat letih."

"Siapa yang mengemudikan mobil itu?" aku bertanya.

"Saya," si asisten berkata.

Salah satu gadis tadi tertawa cekikikan.

"Bukan, bukan dia," pria bermantel mandi berseru dari

seberang mobil. "Dia yang menyopir. Dan dia tidak sanggup

keluar tanpa terjatuh."

"Astaga, persetan semuanya," Senator Rowe berkata

sambil menggosok-gosok kepala.

"Detektif," ujar asistennya. "Saya yang duduk di belakang

kemudi tadi. Anda dapat menanyakannya kepada kedua

wanita ini." Ia menoleh ke arah kedua gadis bergaun pesta.

Memberi isyarat mata.

"Bohong. Dia bohong," seru pria bermantel mandi.

"Tidak, itu memang benar," pria tampan bertuksedo

angkat bicara. Kulitnya kecoklatan dan sikapnya santai,

seakan-akan sudah terbiasa bahwa semua perintahnya

ditaati. Kemungkinan besar orang Wall Street. Ia tidak

memperkenalkan diri.

"Saya yang mengemudikan mobil ini," Jerry menegaskan.

"Semuanya brengsek," Rowe bergumam. "Saya mau

pulang ke hotel."

"Apakah ada yang cedera?" tanyaku.

"Tak ada yang cedera," ujar Jerry. "Semuanya baik-baik

saja."

Aku bertanya pada petugas polisi yang berdiri di

belakangku. "Kejadian ini akan dilaporkan sebagai kasus

satu-sepuluh?" Satu-sepuluh merupakan kode untuk

kerusakan harta tak bergerak akibat kecelakaan kendaraan

bermotor.

"Tidak perlu," salah seorang petugas patroli berkata

padaku. "Yang terlibat hanya satu mobil, dan jumlah

kerugiannya tidak seberapa." Laporan baru dibuat jika

jumlah kerugian melebihi dua ratus dolar. "Ini cuma kasus

lima-nol-satu. Terserah Anda, mau dilaporkan atau tidak."

Aku memutuskan tidak. Salah satu hal yang kita pelajari

di Special Services adalah SAR, situational appropriate

response, tindakan yang sesuai keadaan SAR berarti bahwa

dalam kasus yang melibatkan pejabat terpilih atau orang

terkenal, kita membiarkannya saja, kecuali jika ada yang

hendak menggugat. Dalam praktek, itu berarti tak ada

penangkapan selain untuk tindak pidana yang tergolong

berat.

Aku berkata pada asisten Senator Rowe, "Catat nama

dan alamat pemilik pekarangan ini, agar Anda dapat

mengurus pemberian ganti rugi."

"Dia sudah tahu nama dan alamat saya," ujar pria

bermantel mandi. "Tapi saya ingin tahu, apa yang akan

dilakukan olehnya?"

"Saya sudah memberitahunya bahwa kami akan

membayar ganti rugi atas semua kerusakan yang terjadi,"

kata Jerry. "Hal itu sudah saya katakan padanya. Tapi

rupanya dia masih..."

"Persetan, lihat itu; semua tanamannya rusak tergilas.

Dan dia menderita kanker, kanker telinga."

"Sebentar, Sir," aku berkata kepada asisten Senator

Rowe. "Siapa yang akan mengemudi sekarang?"

"Saya," katanya.

"Dia," ujar Senator Rowe sambil mengangguk.

"Jerry. Kau pegang kemudi."

Aku berkata kepada asistennya, "Baiklah. Saya minta

Anda menjalani tes kadar alkohol dulu."

"Tentu, ya ....”

"Dan tolong perlihatkan SIM Anda."

"Oke."

Jerry meniup alat penguji kadar alkohol dan

menyerahkan SIM-nya padaku. SIM itu dikeluarkan di

Texas. Gerrold D. Hardin, 34 tahun. Beralamat di Austin,

Texas. Aku mencatat keterangan-keterangan itu, lalu

mengembalikan SIM-nya.

"Baiklah, Mr. Hardin. Untuk malam ini saya serahkan

Senator Rowe ke bawah penjagaan Anda."

"Terima kasih, Letnan. Saya menghargai pengertian

Anda."

Pria bermantel mandi berkata, Anda mau melepaskan

dia?"

"Tunggu sebentar, Sir," aku berkata kepada Hardin.

"Tolong berikan kartu nama Anda kepada tuan ini, dan

hubungi dia. Saya minta urusan ini diselesaikan secara

memuaskan."

"Tentu saja. Ya." Hardin meraih ke dalam saku untuk

mengambil kartu nama. Ia menarik sesuatu berwarna

putih, yang tampak seperti saputangan. Cepat-cepat ia

memasukkannya kembali ke dalam saku, lalu menyerahkan

kartu nama kepada pria bermantel mandi

"Anda harus mengganti semua tanaman begonia."

"Baik, Sir," ujar Hardin.

“Semuanya."

"Ya. Baiklah, Sir."

Senator menegakkan badan. Ia terhuyung-huyung di

kegelapan. malam. "Begonia keparat," katanya. "Astaga,

malam yang brengsek. Anda punya istri?”

"Tidak," kataku.

“Saya punya," ujar Rowe. "Begonia keparat. Sialan."

"Lewat sini, Sir," kata Hardin. Ia membantu Rowe duduk

di kursi depan. Kedua wanita muda duduk di bangku

belakang, di kiri-kanan pria tampan bertuksedo. Hardin

menyelinap ke balik kemudi dan minta kunci mobil dari

Rdwe. Aku menoleh dan memperhatikan mobil-mobil

patroli berangkat. Ketika aku berbalik lagi, Hardin

membuka jendela dan menatapku "Terima kasih atas

bantuan. Anda."

"Hati-hati di perjalanan, Mr. Hardin," aku berpesan.

Ia memundurkan. mobil dari pekarangan, melindas

bunga-bunga lain.

"Dan semua bunga iris," seru pria bermantel mandi,

ketika mobil Senator Rowe mulai melaju di jalanan. "Saya

melihatnya dengan. mata kepala sendiri. Orang yang satu

lagi yang pegang setir tadi, dan dia mabuk."

Aku berkata, "Ini kartu nama saya. Kalau Anda merasa

penyelesaian masalah ini tidak memuaskan, silakan

hubungi saya."

Ia mengamati kartu namaku, menggeleng-geleng, lalu

kembali ke dalam rumah Connor dan aku masuk ke mobil.

Kami menuruni bukit.

Connor berkata, "Anda dapat keterangan mengenai

asisten itu?"

"Ya," kataku.

"Apa yang ada di sakunya?"

"Menurut saya, sebuah celana dalam wanita."

"Menurut saya juga begitu," ujar Connor.

Kami tak mampu berbuat apa-apa. Sebenarnya aku ingin

membalikkan bajingan sombong itu, mendorongnya ke

mobil, dan menggeledahnya di tempat. Tapi kami sadar

bahwa tak ada yang dapat kami lakukan. Kami tidak

mempunyai alasan kuat untuk menggeledah Hardin, atau

menangkapnya. Ia laki-laki muda yang mengendarai mobil

dengan dua wanita muda di bangku belakang, yang

masing-masing mungkin saja tidak mengenakan celana

dalam, serta senator AS di kursi depan. Satu-satunya

tindakan yang masuk akal adalah membiarkan mereka

pergi.

Tetapi aku sudah mulai bosan membiarkan orang-orang

pergi begitu saja.

Pesawat telepon berdering. Aku menekan tombol

pengeras suara. "Letnan Smith."

"Hei, Kawan." Ternyata Graham. "Aku lagi di kamar

mayat, dan coba tebak? Ada orang Jepang yang

memohon-mohon supaya boleh mengikuti autopsi. Percaya

tidak, dia mau duduk di sini dan mengamati semuanya. Dia

kalang kabut karena autopsi dimulai tanpa dia. Tapi hasil

pemeriksaan lab sudah mulai masuk. Keadaannya tidak

menguntungkan bagi Nippon Central. Kelihatannya

pelakunya orang Jepang. Jadi bagaimana, kau ke sini,

tidak?"

Aku melirik ke arah Connor. Ia mengangguk.

"Kami segera ke sana," kataku.

Jalan tercepat untuk mencapai kamar mayat adalah

melalui ruang gawat-darurat di County General Hospital.

Ketika kami lewat, seorang pria kulit hitam yang

berlumuran darah duduk di tandunya dan berteriak-teriak,

"Bunuh Sri Paus! Bunuh Sri Paus! Persetan dengan dia!"

Sepertinya ia berada di bawah pengaruh narkotika.

Setengah lusin tenaga paramedik beduang untuk

membaringkannya. Ia mengalami luka tembak di bahu dan

tangan. Cipratan darah membasahi lantai dan dindingdinding

ruang gawat-darurat. Seorang petugas kebersihan

tampak sibuk mengelap semuanya. Selasar dipenuhi orang

kulit hitam dan Latin. Beberapa dari mereka memangku

anak. Semuanya memalingkan wajah dari lap yang merah

karena darah. Dari ujung selasar masih terdengar

seseorang menjerit-jerit.

Kami masuk ke lift. Hening.

Connor berkata, "Satu pembunuhan setiap dua puluh

menit. Pemerkosaan setiap tujuh menit. Anak kecil

terbunuh setiap empat jam Tak ada negara lain yang tahan

dengan tingkat kekerasan setinggi ini."

Pintu lift membuka. Dibandingkan dengan ruang

gawat-darurat, suasana di selasar kamar mayat di basement

terasa tenteram. Aku mencium bau formaidehida. Kami

menuju meja, tempat Harry Landon yang kurus sedang

membungkuk, mempelajari beberapa berkas, sambil makan

roti. Ia tidak menegakkan badan. "Halo."

"Hei, Harry."

"Apa yang membawa kalian ke sini? Autopsi Austin?"

"Yeah."

"Mereka sudah mulai setengah jam yang lalu. Sepertinya

kasus itu cukup mendesak, ya?"

"Kenapa?"

"Komandan membangunkan Dr. Tim dan minta agar

autopsi dilaksanakan dengan segera. Dia sempat

dibentak-bentak. Kalian tahu sendiri bagaimana Dr. Tim."

Harry Landon tersenyum. "Dan mereka juga memanggil

banyak orang lab. Kalian pernah dengar autopsi lengkap di

tengah malam buta? Coba bayangkan, berapa jumlah uang

lembur yang harus dibayar untuk ini?"

Aku berkata, "Dan bagaimana dengan Graham?"

"Dia ada di sekitar sini. Dia dikejar-kejar oleh orang

Jepang. Terus dibayang-bayangi. Setiap setengah jam, orang

Jepang itu bertanya apakah dia boleh meminjam telepon,

dan dia menelepon seseorang. Bicara dalam bahasa Jepang.

Setelah itu dia kembali mengusik Graham. Dia bilang mau

menyaksikan autopsi. Kalian percaya itu? Terus Memaksa,

Memaksa. Oke, kira-kira sepuluh menit yang lalu si Jepang

menelepon untuk terakhir kah. Aku kebetulan lagi di meja

ini. Aku melihat wajahnya. Matanya tiba-tiba membelalak,

seakan-akan dia tidak percaya pada apa yang baru saja

didengarnya. Dan kemudian dia berlari keluar dari sini.

Benar-benar lari."

"Dan di mana autopsi ini dilaksanakan?"

"Ruang Dua.”

"Thanks, Harry.

"Tutup pintu "

"Hai, Tim," aku berkata ketika kami memasuki ruang

autopsi. Tim Yoshimura, yang dipanggil Dr. Tim oleh semua

orang, berdiri membungkuk, di sebuah meja stainless steel.

Meski sudah pukul 01.40 dini hari, ia berpakaian rapi

sekali, seperti biasanya. Rambutnya tersisir rapi. Dasinya

terikat rapi. Beberapa pena tampak berderet di kantong

baju lab yang terseterika licin.

"Kalian tidak dengar?"

"Akan kututup, Tim." Pintu itu sebenarnya menutup

secara otomatis, tapi rupanya itu masih kurang cepat bagi

Dr. Tim.

"Aku tak ingin orang Jepang itu menuju ke sini. Itu saja."

"Dia sudah pergi, Tim."

"Oh, sudah pergi? Tapi siapa tahu dia kembali lagi nanti.

Dia benar-benar ngotot dan menjengkelkan.

Kadang-kadang orang Jepang memang menyebalkan."

Aku berkata, "Aku tak menyangka kau berpandangan

seperti itu, Tim."

"Oh, aku bukan orang Jepang," ia berkata dengan serius.

"Aku orang Amerika keturunan Jepang. Artinya, di mata

mereka aku termasuk gaijin. Kalau aku pergi ke Jepang, aku

diperlakukan seperti orang asing. Tampangku tidak

penting, aku lahir di Torrance - itulah yang paling

menentukan." Ia menoleh ke belakang. "Siapa yang kauajak

ke sini? John Connor? Sudah lama kita tidak ketemu, John."

"Hai, Tim." Connor dan aku menghampiri meja operasi.

Aku bisa melihat bahwa pembedahan sudah berjalan cukup

jauh. Irisan berbentuk huruf Y sudah dilakukan, dan

sejumlah organ telah dikeluarkan dan diletakkan dengan

rapi pada beberapa baki stainless steel.

"Sekarang tolong beritahukan padaku kenapa kasus ini

begitu penting," ujar Tim. "Graham begitu kesal, sehingga

tak mau menceritakan apa apa. Dia pergi ke lab di sebelah

untuk melihat hasil-hasil yang pertama. Tapi aku tetap

ingin tahu kenapa aku sampai dibangunkan untuk urusan.

ini. Sebenarnya malam ini Mark yang bertugas, tapi

rupanya dia belum cukup senior. Dan petugas pemeriksa

mayat tentu saja sedang di luar kota, mengikuti konferensi

di San Franciseo. Setelah punya pacar baru, dia selalu ke

luar kota. Jadi aku yang dipanggil. Aku bahkan tidak ingat

kapan terakhir kali aku dibangunkan."

"Tidak ingat?" kataku. Dr. Tim selalu sangat teliti, dan

daya ingatnya pun luar biasa.

"Terakhir kali, tiga tahun lalu. Tapi itu untuk membantu.

Sebagian besar staf di sini terserang flu, dan kasus-kasus

sudah mulai menumpuk. Suatu malam kami akhirnya

kehabisan tempat. Mayat-mayat di dalam kantong jenazah

terpaksa dibiarkan tergeletak di lantai. Ditumpuk-tumpuk.

Tak ada pilihan lain. Baunya menyengat sekali. Tapi aku

tidak ingat kapan terakhir kali aku dibangunkan. karena

kasus yang peka dari segi politik. Seperti yang ini."

Connor berkata, "Kami pun tidak tahu persis apa latar

belakang kasus ini."

"Kalau begitu, sebaiknya kalian segera cari jawabannya.

Aku dapat tekanan dari segala arah. Petugas pemeriksa

mayat menelepon dari San Francisco, dan dia terus berkata,

'Kerjakan sekarang juga, malam ini, dan kerjakan sampai

tuntas.' Aku bilang, 'Oke, Bill.' Lalu dia bilang, 'Tim, jangan

sampai ada kesalahan. Kerjakan dengan hati-hati, ambil

foto banyak-banyak, dan buat catatan banyak-banyak. Buat

dokumentasi selengkap-lengkapnya. Pakai dua kamera.

Soalnya aku punya firasat bahwa semua orang yang berhubungan.

dengan kasus ini bisa mendapat kesulitan besar.'

Nah, jadi masuk akal, kan, kalau aku bertanya-tanya?"

Connor berkata, "Jam berapa kau dihubungi?"

"Kira-kira jam setengah sebelas, atau sebelas."

"Petugas pemeriksa mayat memberitahumu siapa yang

menelepon dia?"

"Tidak. Tapi biasanya satu dari dua orang: kalau bukan

Kepala Polisi, Wall Kota."

Tim mengamati hati, menarik-narik cupingnya, lalu

meletakkannya di baki stainless steel. Asistennya memotret

setiap organ, Ialu memindahkannya.

"Oke. Apa yang kautemukan?"

"Terus terang, sejauh ini temuan yang paling menarik

berada di bagian luar tubuhnya," kata Dr. Tim. "Dia

memakai rias wajah tebal untuk menutupi serangkaian luka

memar. Umur luka-luka itu berbeda-beda. Tanpa grafik

spektroskopik untuk sisa penguraian hemoglobin di tempat

luka, aku menaksir luka-luka memar itu berumur sampai

dua minggu. Mungkin lebih. Konsisten dengan pola trauma

kronis pada tulang tengkuk. Kurasa sudah jelas: yang kita

hadapi ini adalah kasus asphyxia seksual.”

"Dia mengidap kelainan seksual?"

"Yeah. Begitulah."

Kelly telah menduganya. Dan ternyata ia benar.

"Kelainan ini lebih sering dijumpai pada pria, tapi juga

terdapat pada wanita. Orang yang bersangkutan hanya

terangsang jika mengalami kekurangan oksigen akibat

pencekikan. Mereka minta dicekik oleh partner mereka,

atau kepalanya di tutup dengan kantong plastik. Jika tidak

ada partner, mereka kadang-kadang mengikatkan tali pada

leher, lalu menggantung diri sambil metakukan masturbasi.

Untuk mencapai efek yang diinginkan, mereka harus

dicekik sampai hampir pingsan. Jadi mudah sekali untuk

melakukan kesalahan dan melangkah terlalu jauh. Dan ini

memang sering terjadi."

"Dan dalam kasus ini?"

Tim mengangkat bahu. "Hmm, yang kutemukan di sini

konsisten dengan sindrom asphyxia seksual. yang

berlangsung sudah cukup lama. Aku juga menemukan

sperma di dalam vagina dan luka lecet pada bibir vagina

sebelah luar, yang menunjukkan hubungan seks secara

paksa pada malam kematiannya."

Connor berkata, "Kau yakin luka-luka lecet di vaginanya

terjadi sebelum dia tewas?"

"Oh, ya. Luka-luka itu jelas-jelas terjadi pada waktu dia

masih hidup. Aku bisa memastikan bahwa dia berhubungan

seks dengan paksa sebelum meninggal."

"Maksudmu, dia diperkosa?"

"Tidak. Coba lihat, luka-luka lecet ini tidak parah, dan

tidak ada tanda-tanda yang mendukung dugaanmu pada

bagian-bagian lain dari tubuhnya. Bahkan tidak ada

tanda-tanda bahwa dia melakukan perlawanan.

Berdasarkan temuan ini, aku menyimpulkan bahwa dia

mengalami penetrasi vagina secara dini, tanpa pelumasan

memadai pada labia ekstemal."

Aku berkata, "Maksudmu, dia kurang basah?"

Tim menyeringai. "Hmm. Dengan bahasa orang awam,

ya."

"Berapa lama sebelum dia tewas luka-luka ini timbul?"

"Bisa satu sampai dua jam. Bukan di sekitar waktu

kematiannya. Ini dapat diketahui dari pelebaran pembuluh

darah dan pembengkakan di daerah-daerah yang

bersangkutan. Seandainya dia meninggal tidak lama setelah

mengalami luka, aliran darah terhenti, dan

pembengkakannya terbatas atau bahkan tidak ada sama

sekali. Tapi dalam kasus ini, seperti yang kalian lihat

sendiri, pembengkakannya cukup jelas."

"Dan sperma yang kautemukan?"

"Sampelnya sudah dikirim ke lab. Berikut semua cairan

tubuh yang biasa." Ia mengangkat bahu. "Kita terpaksa

bersabar. Sekarang tolong jelaskan semuanya ini, oke?

Soalnya, aku mendapat kesan bahwa cepat atau lambat

wanita muda ini pasti akan menemui kesulitan. Maksudnya,

dia manis, tapi ada yang tidak beres dengannya. Jadi...

kenapa dia begitu penting? Kenapa aku dibangunkan

tengah malam untuk melakukan autopsi lengkap terhadap

wanita muda dengan kelainan seksual?"

Aku berkata, "Aku juga tidak tahu."

"Ayolah. Kalian tidak adil," ujar Dr. Tim. "Aku sudah

membeberkan apa yang kuketahui. Sekarang giliran

kalian."

"Kau hanya berkelakar," kata Connor.

"Persetan," balas Tim. "Kalian berutang padaku.

Ayolah."

"Peter tidak bohong," Connor berkata. "Kami hanya tahu

bahwa pembunuhan ini terjadi bersamaan dengan resepsi

besar yang diadakan oleh orang-orang Jepang, dan mereka

ingin segera menuntaskannya."

"Pantas," kata Tim. "Terakhir kali kami dibuat kalang

kabut di sini adalah waktu ada kasus yang menyangkut

Konsulat Jepang. Kalian. masib ingat kasus penculikan

Takashima? Barangkali kalian memang tidak ingat; kasus

itu memang tidak sempat masuk koran. Orang-orang

Jepang berhasil meredamnya. Pokoknya, seorang petugas

satpam terbunuh dalam keadaan mencurigakan, dan

selama dua hari, kami dikejar-kejar terus. Aku benar-benar

tak menyangka bahwa pengaruh mereka begitu kuat. Kami

ditelepon oleh Senator Rowe, dengan berbagai instruksi.

Oleh Gubemur. Semua orang menelepon ke sini. Mereka

benar-benar punya pengaruh."

"Tentu saja mereka punya pengaruh. Mereka bayar

cukup banyak untuk itu," ujar Graham sambil memasuki

ruangan.

"Tutup pintu," kata Tim.

"Tapi kali ini segala pengaruh mereka takkan ada

artinya," Graham melanjutkan. "Sebab kali ini mereka

takkan bisa berkelit. Pembunuhan telah terjadi: dan

berdasarkan hasil pemeriksaan lab sejauh ini, kita bisa

memastikan bahwa pembunuhnya orang Jepang."

Bab 18

LAB patologi di sebelah berupa sebuah ruangan besar

yang diterangi oleh beberapa baris lampu neon. Sederetan

mikroskop tampak ditata dengan rapi. Tetapi berhubung

sudah larut malam, hanya dua teknisi lab bekerja di

ruangan besar itu. Dan Graham berdiri di samping mereka,

memperhatikan mereka dengan rasa puas.

“Silakan lihat sendiri. Mereka menemukan bulu pubic

pria, keriting sedang, berpenampang bulat telur, hampir

bisa dipastikan berasal dari orang Asia. Analisis pertama

terhadap air mani adalah golongan darah: AB, relatif jarang

ditemui pada orang kaukasoid, tetapi cukup umum di

kalangan orang Asia. Analisis pertama terhadap protein

dalam cairan sperma menunjukkan hasil negatif untuk

tanda genetik untuk... apa namanya?”

“Etanol dehidrogenase," ujar salah satu Petugas lab.

"Betul. Etanol dehidrogenase. Nama sebuah enzim. Tidak

dimiliki oleh orang Jepang. Dan tidak ditemukan dalam

cairan sperma ini. Lalu ada faktor Diego, yang merupakan

protein darah. Nah, Masih ada beberapa tes lagi, tapi

sepertinya sudah jelas bahwa cewek itu berhubungan seks

secara paksa dengan laki-laki Jepang sebelum dibunuh

olehnya."

"Yang pasti, kau menemukan sperma orang Jepang di

dalam vaginanya," kata Connor. "Itu saja."

"Astaga," ujar Graham. "Sperma Jepang, rambut pubic

Jepang, faktor darah Jepang. Semuanya menunjukkan

bahwa pelakunya orang Jepang."

Ia telah menggelar beberapa foto dari tempat kejadian,

yang memperlihatkan Cheryl terbaring di meja rapat.

Graham mulai berjalan mondar-mandir di depan foto-foto

itu.

"Aku tahu kalian ke mana tadi, dan aku tahu kalian cuma

buang-buang waktu," katanya. "Kalian mencari kaset-kaset

video itu, tapi semuanya sudah hilang, betul, tidak? Lalu

kalian pergi ke apartemennya: tapi ternyata sudah

dirapikan sebelum kalian sampai di sana. Dan ini sudah

sewajarnya terjadi kalau pelakunya orang Jepang.

Semuanya sudah jelas."

Graham menunjuk foto-foto di hadapannya. "Ini

korbannya. Cheryl Austin dari Texas. Cantik. Segar.

Potongan badan bagus. Seorang aktris. Pernah tampil

dalam beberapa iklan. Mungkin iklan Nissan. Sama sajalah.

Dia bertemu beberapa orang. Membuka hubungan. Lalu

dicantumkan di sebuah daftar. Sejauh ini oke?"

"Oke," aku berkata pada Graham. Connor sedang

mengamati foto-foto itu dengan saksama.

"Entah bagaimana caranya, pokoknya keadaan keuangan

Cheryl cukup baik, sehingga dia bisa memakai gaun

Yamamoto untuk menghadiri resepsi peresmian Nakamoto

Tower. Dia datang bersama seorang pria, mungkin

temannya, mungkin penata rambutnya. Berjenggot.

Barangkali dia mengenal beberapa tamu lain, mungkin juga

tidak. Tapi kemudian ada orang penting yang mengajaknya

menyelinap keluar sebentar. Cheryl setuju naik ke lantai

atas. Kenapa tidak? Cewek ini suka petualangan. Dia suka

bahaya. Dia mencari ketegangan. Jadi dia naik - mungkin

dengan orang itu, mungkin sendiri. Pokoknya, mereka

bertemu di atas, lalu mencari-cari tempat. Sebuah tempat

yang menggairahkan. Dan mereka memutuskan -

kemungkinan besar si pria, dia yang memutuskannya -

untuk berhubungan di meja rapat direksi. Mereka mulai

bersanggama, makin lama makin seru, sampai keadaan tak

terkendali lagi. Si pria mungkin terlalu bernafsu, atau

mungkin juga dia punya kelainan... pokoknya, dia mencekik

leher Cheryl sedikit terlalu keras. Dan Cheryl mati. Oke?"

"Ya."

"Pria itu kelabakan. Dia naik untuk berhubungan seks,

tapi sayangnya dia membunuh cewek itu. Jadi, apa yang

dilakukannya? Apa yang bisa dia lakukan? Dia turun lagi,

bergabung dengan para tamu, dan karena dia samurai

penting, dia memberitahu salah satu anak buahnya bahwa

dia punya masalah kecil. Tanpa sengaja dia telah mencekik

seorang pelacur sampai mati. Sangat tidak menguntungkan

dengan jadwal bisnisnya yang padat. Jadi, para anak

buahnya berlari ke sana kemari dan membereskan

semuanya. Mereka mengamankan semua bukti yang

memberatkan dari lantai di atas. Mereka mengambil

kaset-kaset video. Mereka pergi ke apartemen si pelacur

dan menggeledah tempat itu. Semuanya tidak seberapa

sulit, tapi butuh waktu. Jadi, seseorang harus

menghalang-halangi polisi. Dan itu tugas si pengacara

keparat, Ishiguro. Dia menghalang-halangi kita selama satu

setengah jam. Nah. Bagaimana kedengarannya?"

Tak ada yang berkomentar ketika ia mengakhiri

uraiannya. Aku menunggu sampai Connor angkat bicara.

"Hmm, aku angkat topi, Tom," Connor akhirnya berkata.

"Dalam banyak hal, urut-urutan kejadian yang

kaugambarkan memang masuk akal."

“Memang begitu kejadiannya," Graham menggeram.

Pesawat telepon berdering. Salah satu petugas lab

bertanya, "Ada yang bernama Kapten Connor di sini?"

Connor pergi untuk menjawab telepon. Graham berkata

padaku, "Percayalah, orang Jepang yang membunuh cewek

itu. Dan kita akan menemukannya dan mengulitinya. Ya,

mengulitinya."

Aku berkata, "Kenapa kau begitu sentimen terhadap

mereka?"

Graham menatapku sambil merengut. Ia berkata, "Apa

maksudmu?"

"Kenapa kau begitu benci pada orang Jepang?"

"Hei," ujar Graham. "Dengar baik-baik, Petey-san. Aku

tidak benci pada siapa pun. Aku hanya menjalankan

tugasku. Orang hitam, orang putih, orang Jepang, semuanya

sama saja bagiku."

"Oke, Tom." Malam sudah larut. Aku tidak ingin

berdebat.

"Tidak, persetan. Kaupikir aku penuh prasangka

terhadap mereka."

"Lupakan saja, Tom."

"Persetan. Kita tidak akan melupakannya. Apalagi

sekarang. Begini, Petey-san. Kau berhasil mendapat

pekerjaan sebagai petugas penghubung, bukan begitu?"

"Betul, Tom."

"Dan kenapa kau melamar pekerjaan itu? Karena

kekagumanmu terhadap kebudayaan Jepang?"

"Hmm, waktu itu aku bekerja di bagian hubungan pers..."

"Bukan, bukan, omong kosong. Kau melamar," kata

Graham, "karena ada uang tunjangan khusus, itu sebabnya,

bukan? Dua-tiga ribu dalam setahun. Tunjangan

pendidikan. Dananya berasal dari Yayasan Persahabatan

Jepang-Amerika. Dan oleh Departemen digunakan sebagai

tunjangan pendidikan, diberikan kepada para petugas agar

mereka bisa mengikuti pendidikan bahasa dan kebudayaan

Jepang. Nah. Bagaimana kabarnya pendidikan ini,

Petey-san?"

"Aku masih belajar.”

"Berapa kali?"

"Sekali seminggu."

"Sekali seminggu. Dan kalau kau tidak datang, apakah

tunjangannya dihapus?"

"Tidak."

"Memang tidak. Malah tidak ada pengaruh sama sekali

apakah kau muncul di tempat kursus atau tidak. Asal tahu

saja, Kawan, kau sudah terima uang suap. Kau punya tiga

ribu dolar di kantong, dan uangnya datang langsung dari

Negeri Matahari Terbit. Tentu saja jumlahnya tidak

seberapa. Kau tidak bisa dibeli dengan tiga ribu dolar,

bukan? Tentu saja tidak."

"Hei, Tom..."

"Masalahnya, mereka tidak berniat membelimu. Mereka

hanya mempengaruhimu. Mereka ingin agar kau berpikir

dua kali. Agar kau cenderung berada di pihak mereka. Dan

kenapa tidak? Ini memang watak manusia. Mereka

membuat hidupmu sedikit lebih nyaman. Mereka

mengangkat tingkat kesejahteraanmu. Keluargamu. Anak

perempuanmu. Mereka membantumu, jadi kenapa kau

tidak membantu mereka. Bukan begitu, Petey-san?"

"Bukan, bukan begitu," kataku. Aku mulai marah.

"Oh, ya," ujar Graham. "Sebab begitulah aturan mainnya.

Memang, kau bisa saja menyangkal. Kau bisa bilang itu

tidak benar. Tapi nyatanya? Kau hanya bisa bersih kalau

kau memang bersih. Kalau kau tidak mengambil

keuntungan, kalau kau tidak mendapatkan apa-apa, baru

kau boleh bicara. Kalau kau dibayar oleh mereka, kau jadi

milik mereka."

"Brengsek, nanti dulu..."

"Jadi, jangan sok beri ceramah tentang kebencian. Negeri

ini sedang berperang, dan ada yang mengerti, ada yang

berpihak kepada musuh. Seperti di Perang Dunia II,

beberapa orang dibayar oleh Jerman untuk

mempromosikan propaganda Nazi. Koran-koran di New

York memuat tajuk rencana yang berasal langsung dari

mulut Adolf Hitler. Kadang-kadang orang-orang bahkan

tidak menyadarinya. Tapi itulah yang terjadi. Begitulah keadaan

di masa perang. Dan kau termasuk kaki tangan

mereka."

Aku bersyukur bahwa Connor kembali pada saat itu.

Graham dan aku hampir saja baku hantam, ketika Connor

berkata dengan tenang, "Nah, sekadar supaya semuanya

jelas, Tom. Menurut skenario yang kaususun, setelah Cheryl

Austin terbunuh, apa yang terjadi dengan kaset-kaset video,

itu?"

"Oh, persetan, kaset-kaset itu sudah raib," ujar Graham,

"dan takkan muncul lagi."

"Hmm, menarik. Sebab aku baru saja menerima telepon

dari markas divisi. Rupanya Mr. Ishiguro sedang berada di

sana. Dan dia membawa sekotak kaset video untukku." -

Connor dan aku segera menuju markas. Graham

menggunakan mobilnya sendiri. Aku berkata, "Kenapa

Anda berpendapat bahwa orang-orang Jepang itu tak

mungkin mendekati Graham?"

"Pamannya," jawab Connor. "Dia tawanan perang dalam

Perang Dunia II. Dia dibawa ke Tokyo, dan setelah itu tak

pernah ada kabar lagi darinya. Seusai perang, ayah Graham

pergi ke sana untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan

saudaranya. Kemudian timbul banyak pertanyaan tidak

menyenangkan mengenai apa yang terjadi. Anda mungkin

tahu bahwa sejumlah prajurit Amerika tewas dalam

eksperimen-eksperimen kedokteran di Jepang. Konon hati

mereka dihidangkan kepada para bawahan mereka sebagai

lelucon, hal-hal seperti itulah."

"Tidak, saya tidak tahu," kataku.

"Saya rasa semua orang lebih suka melupakan masa itu,"

ujar Connor. "Barangkali memang lebih baik begitu. Negeri

itu sudah berubah sekarang.”

“Apa yang diributkan Graham tadi?"

"Tunjangan saya sebagai petugas penghubung."

Connor berkata, "Waktu itu Anda bercerita bahwa

jumlahnya lima puluh dolar seminggu."

"Sedikit lebih banyak dari itu."

"Seberapa banyak?"

"Sekitar seratus dolar seminggu. Lima ribu lima ratus

setahun. Tapi itu sudah termasuk uang kursus, uang buku,

biaya transpor, baby si”er, semuanya."

"Oke, Anda dapat lima ribu dolar," ujar Connor. Lalu

kenapa?"

"Graham menuduh bahwa saya terpengaruh oleh uang

itu. Bahwa saya telah dibeli oleh orang-orang Jepang."

Connor berkata, "Hmm, mereka memang berusaha. Dan

cara mereka sangat halus."

"Mereka juga mencoba mempengaruhi Anda?"

"Oh, tentu." Ia terdiam. "Dan saya sering menerima

pemberian mereka. Memberi hadiah untuk menjaga

hubungan baik sudah mendarah daging pada orang Jepang.

Ini tidak berbeda jauh dari kebiasaan kita mengundang

atasan kita untuk makan malam. Iktikad baik tetap iktikad

baik. Tapi kita tidak mengundang atasan kita jika ada

kesempatan untuk memperoleh promosi. Cara yang tepat

adalah mengundangnya pada awal hubungan kita, pada

waktu belum ada yang dipertaruhkan. Pada waktu itu, kita

hanya menunjukkan iktikad baik. Sama halnya dengan

orang Jepang. Mereka percaya bahwa hadiah harus

diberikan pada saat awal, sehingga tidak merupakan usaha

suap, tapi sekadar hadiah saja. Menjalin hubungan sebelum

ada tekanan."

"Dan menurut Anda itu benar?"

"Menurut saya, itulah kenyataan."

"Apakah orang mungkin jadi korup karena itu?"

Connor menatapku dan bertanya, "Menurut Anda?"

Aku butuh waktu lama untuk menjawabnya.

"Ya, saya kira mungkin saja."

Ia mulai tertawa. "Hmm, syukurlah,” katanya, "sebab

kalau tidak, orang-orang Jepang itu ternyata telah

membuang-buang uang dengan sia-sia."

"Apa yang lucu?"

"Kebingungan Anda, Kohai."

"Menurut Graham, kita sedang berperang." Connor

berkata, "Itu memang benar. Kita sedang berperang

melawan Jepang. Tapi coba kita lihat kejutan apa lagi yang

telah disiapkan Mr. Ishiguro untuk kita."

Bab 19

SEPERTI biasa, suasana ruang tunggu di lantai lima

markas divisi detektif di pusat kota tetap sibuk, meski jam

sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Para detektif

mondar-mandir di antara WTS jalanan dan pecandu

narkotika yang ditahan untuk interogasi; di pojok ruangan,

seorang pria dengan jas santai bermotif kotak-kotak sedang

berseru, "Kubilang diam, brengsek!" berulang-ulang kepada

petugas wanita yang membawa clipboard.

Di tengah-tengah kebisingan dan keramaian itu, Masao

Ishiguro seakan-akan salah masuk. Dengan setelan jas biru

bergaris-garis, ia duduk di pojok, merundukkan kepala,

merapatkan lutut. Ia memangku sebuah kardus.

Ketika melihat kami, ia segera berdiri. Ia membungkuk

rendah-rendah sambil menempelkan kedua tangan ke

paha, suatu sikap yang sangat formal. Selama beberapa

detik ia terdiam dalam posisi itu. Kemudian ia segera

membungkuk lagi, dan kali ini menunggu sambil menatap

lantai, sampai Connor menyapanya dalam bahasa Jepang.

Jawaban Ishiguro, juga dalam bahasa Jepang, bernada

tenang dan penuh hormat. Pandangannya tetap tertuju ke

lantai.

Tom Graham menarikku ke pinggir. "Ya ampun,"

katanya. "Sepertinya dia baru saja memberikan pengakuan

lengkap."

"Yeah, mungkin saja," kataku. Tapi aku tidak yakin. Aku

sudah sempat menyaksikan kepandaian Ishiguro dalam

bersandiwara.

Aku memperhatikan Connor ketika ia berbicara dengan

Ishiguro. Orang Jepang itu masih juga membungkuk.

Matanya tetap tertuju ke bawah.

"Tak kusangka dia orangnya," ujar Graham. "Sama sekali

tak kusangka."

"Kenapa?"

"Kau bercanda? Setelah menghabisi cewek itu, dia tetap

berada di ruangan itu dan malah menyuruh-nyuruh kita.

Bajingan itu punya saraf baja. Tapi coba lihat dia sekarang.

Astaga, dia sudah hampir menangis."

Memang benar, kedua mata Ishiguro mulai berkaca-kaca.

Connor mengambil kardus itu dan berbalik, berjalan

melintasi ruangan ke arah kami. "Tolong urus ini. Saya akan

menerima pernyataan dari Ishiguro."

"Jadi," kata Graham, "dia mengaku?"

"Mengaku?"

"Mengaku membunuh Cheryl Austin."

"Tidak," ujar Connor. "Apa yang membuatmu berpikir

begitu?"

"Habis, dia membungkuk-bungkuk seperti itu."

"Itu hanya sumimasen," Connor menjelaskan.

"Jangan ditanggapi terlalu serius."

"Dia hampir menangis," kata Graham.

"Hanya karena dia merasa itu menguntungkan baginya."

"Dia tidak mengaku?"

"Tidak. Tapi dia akhirnya mengetahui bahwa kaset-kaset

itu memang diambil. Ini berarti dia telah melakukan

kesalahan besar dengan ucapannya yang keras di hadapan

Wali Kota. Sekarang dia bisa dikenai tuduhan

menggelapkan barang bukti. Izin prakteknya sebagai

pengacara bisa dicabut. Perusahaan tempatnya bekerja

akan kehilangan muka. Ishiguro berada dalam kesulitan

besar, dan dia pun menyadarinya."

Aku berkata, "Ah, karena itu dia bersikap merendah?"

"Ya. Di Jepang, kalau kita melakukan kesalahan, tindakan

terbaik adalah mendatangi pihak berwajib dan

menunjukkan penyesalan mendalam, lalu meminta maaf,

dan berjanji takkan mengulangi kesalahan itu. Sebenarnya

hanya proforma, tapi pihak berwajib akan terkesan karena

kita telah menarik pelajaran. Itu yang dinamakan

sumimasen: permohonan maaf tanpa akhir. Versi Jepang

dari memohon kemurahan hati pengadilan. Dianggap

sebagai cara terbaik untuk mendapatkan keringanan. Dan

itulah yang sedang dilakukan Ishiguro."

"Maksudnya, dia hanya berpura-pura," ujar Graham.

Sorot matanya menjadi keras.

"Ya dan tidak. Sulit menjelaskannya. Begini saja. Coba

putar kaset-kaset ini. Ishiguro membawa salah satu alat

perekam, sebab format kaset-kaset ini lain dari yang biasa.

Dia takut kita tidak bisa menyaksikan rekamannya. Oke?"

Aku membuka kardus yang diserahkan oleh Connor. Di

dalamnya terdapat dua puluh kaset delapan milimeter yang

mirip kaset musik. Aku juga melihat kotak kecil, kira-kira

seukuran walkman - alat perekam yang dibawa Ishiguro.

Lengkap dengan kabel sambungan ke pesawat TV.

"Oke," kataku. "Coba kita lihat."

Rekaman pertama yang memperlihatkan lantai 46

diambil dari salah satu kamera atrium, dengan sudut

pandang ke bawah. Pada rekaman itu tampak orang-orang

yang sedang bekerja, seperti pada hari kerja biasa. Kami

melewati bagian itu. Berkas sinar matahari yang masuk

melalui jendela menyapu lantai, membentuk busur,

kemudian menghilang. Berangsur-angsur cahaya yang

mengenai lantai terlihat memudar ketika hari mulai gelap.

Satu per satu lampu meja dinyalakan. Para karyawan mulai

agak santai. Akhirnya mereka mulai meninggalkan rueja

masing-masing, pulang, satu demi satu. Ketika jumlah

orang semakin berkurang, kami melihat hal lain. Kini

kamera bergerak sesekali, mengikuti karyawan yang lewat

di bawah. Tetapi dalam kesempatan lain, kamera itu tetap

diam. Akhirnya kami menyadari bahwa kamera tersebut

dilengkapi sistem fokus dan pelacakan otomatis. Jika terjadi

banyak gerakan di depan lensa-beberapa orang yang

menuju arah yang berbeda-beda, kameranya diam saja.

Tapi jika hanya ada satu orang, kamera akan mengikuti

gerakan orang itu.

"Ajaib," Graham berkomentar.

"Tapi masuk akal untuk kamera keamanan," kataku.

"Mereka harus lebih berhati-hati terhadap satu orang

daripada terhadap sekelompok orang."

Kami melihat lampu malam mulai menyala. Semua meja

telah kosong. Kini rekaman yang kami saksikan

berkedap-kedip dengan cepat, hampir seperti stroboskop.

"Ada apa dengan kaset ini?" tanya Graham curiga.

"Jangan-jangan mereka telah mengutak-atiknya."

"Entahlah. Tunggu, bukan itu. Lihat jam di dinding sana."

Pada dinding di seberang ruangan terdapat sebuah jam.

Jarum menitnya tampak berputar dengan cepat dari pukul

19.30 ke pukul 20.00.

"Mereka memadatkan waktu," aku menyimpulkan.

"Apa-apaan ini? Pemutaran slide?"

Aku mengangguk. "Kemungkinan, kalau dalam jangka

waktu tertentu tidak ada orang yang di deteksi, kameranya

hanya membuat satu frame setiap sepuluh atau dua puluh

detik, sampai..."

"Hei. Apa itu?"

Kedap-kedip di layar mendadak berhenti. Kamera mulai

bergerak ke kanan, memperlihatkan ruangan yang kosong.

Tak seorang pun tampak.

Hanya meja-meja kosong dan sejumlah lampu malam

yang kelihatan terang benderang dalam rekaman itu.

"Mungkin ada sensor lebar," kataku, "dengan daya

pantau melebihi batas gambar. Kalau bukan itu, mungkin

kameranya digerakkan secara manual, oleh petugas satpam

di suatu tempat. Mungkin di bawah, di ruang keamanan."

Kamera kini mengarah ke pintu-pintu lift. Pintu-pintu

terletak di sebelah kanan, di bayang-bayang gelap, di

bawah langit-langit rendah yang menghalangi pandangan

kami.

"Jeez, gelap benar. Ada orang di sana?"

"Aku tidak bisa lihat apa-apa," kataku'

Gambar di layar kabur sejenak lalu jelas kembali,

berulang-ulang.

"Sepertinya sistem autofokusnya kewalahan. Mungkin

karena tidak tahu apa yang harus difokus. Mungkin

langit-langit rendah itu yang mengganggu. Kamera videoku

di rumah juga sering begitu. Fokusnya kacau kalau tidak

jelas apa yang kubidik."

"Jadi kameranya berusaha memfokus sesuatu? Soalnya

aku tidak bisa lihat apa-apa. Semuanya gelap gulita."

"Hei, lihat. Ada orang di sana. Kakinya kelihatan.

Samar-samar."

"Astaga," ujar Graham. "Itu dia. Berdiri di depan lift. Eh,

tunggu. Sekarang dia mulai bergerak."

Sesaat kemudian, Cheryl Austin melangkah maju, dan

untuk pertama kali kami melihatnya dengan jelas.

Ia sangat cantik dan penuh percaya diri. Tanpa ragu-ragu

ia melintasi ruangan. Gerak-geriknya mantap, terarah,

tanpa sikap sembrono yang biasa diperlihatkan anak muda.

"Astaga, cantiknya," kata Graham.

Cheryl Austin bertubuh jangkung dan langsing,

rambutnya yang pirang dan dipotong pendek semakin

memperkuat kesan tinggi. Sikapnya tegak.

Ia berputar pelan-pelan, memandang berkeliling,

seakan-akan ruangan itu merupakan miliknya.

"Aku hampir tak percaya kita bisa melihat ini,” Graham

berkomentar.

Aku mengerti maksudnya. Inilah wanita muda yang mati

terbunuh beberapa jam sebelumnya. Kini kami melihatnya

dalam rekaman video, mengelilingi ruangan, hanya

beberapa menit menjelang kematiannya.

Di layar TV, Chery meraih sebuan pemberian kertas dari

salah satu meja, memutarnya, mengembalikannya ke

tempat semula. Ia membuka tas, menutupnya lagi. Ia

menatap jam tangannya.

"Dia mulai gelisah."

"Dia tidak suka disuruh menunggu," kata Graham. "Dan

kujamin dia juga tidak terbiasa menunggu. Cewek seperti

dia, mana mungkin?"

Ia mulai mengetuk-ngetuk meja dengan irama tetap.

Rasanya aku mengenali irama itu. Ia mengangguk-

ang,gukkan kepala, mengikuti irama.

Graham menatap layar sambil mengerutkan kening.

"Apakah dia sedang bicara? Dia mengatakan sesuatu?"

"Kelihatannya begitu," kataku. Samar-samar mulutnya

tampak bergerak-gerak. Dan tiba-tiba semuanya menjadi

jelas. Aku menyadari bahwa aku dapat membaca gerakan

bibirnya. "I chew my nails and I twiddle my thumbs. I'm real

nervous but it sure is fun. Oh, baby, you drive me crazy... "

"Astaga," kata Graham. "Kau benar. Dari mana kau tahu?"

"Goodness, gracious, great balls of..."

Cheryl berhenti menyanyi. Ia berbalik ke arah lift.

"Ah. Ini yang kita tunggu-tunggu."

Cheryl berjalan ke lift. Begitu sampai di bawah

langit-langit rendah tadi, ia mendekap pria yang baru

muncul. Mereka berpelukan dan berciuman. Kami melihat

lengan si pria merangkul Cheryl, tapi wajahnya terlindung

dari pandangan.

“Sial," Graham mengumpat.

“Jangan khawatir," kataku. "Sebentar lagi kita akan

melihatnya. Kalau bukan lewat kamera ini, lewat kamera

lain. Tapi aku yakin itu bukan orang yang baru

dijumpainya. Sepertinya dia sudah akrab dengan orang itu."

"Kecuali kalau dia memang benar-benar ramah. Yeah,

lihat. Orang itu tidak buang-buang waktu."

Tangan pria itu bergerak naik, mengangkat rok Cheryl. Ia

meremas-remas pantatnya. Cheryl Austin mendekapnya

dengan erat. Pelukan mereka penuh gairah. Bersama-sama

mereka berjalan ke tengah ruangan, berputar pelan-pelan.

Kini laki-laki itu membelakangi kami. Rok Cheryl telah terangkat

sampai ke pinggangnya. Cheryl meraba-raba

selangkangan teman kencannya. Mereka setengah berjalan,

setengah terhuyung-huyung ke meja terdekat. Si laki-laki

memaksanya ke meja, dan tiba-tiba Cheryl memprotes,

mendorong-dorong.

"Eh, eh. Jangan cepat-cepat," ujar Graham. "Rupanya

cewek ini punya harga diri juga."

Aku meragukannya. Cheryl seakan-akan sengaja

mengelabuinya, lalu berubah pikiran. Aku memperhatikan

bahwa sikapnya berubah hampir seketika. Aku mulai curiga

bahwa sejak pertama ia hanya bersandiwara, bahwa

gairahnya hanya pura pura saja. Tapi tampaknya pria itu

tidak terlalu heran. Sambil duduk di meja, Cheryl terus

mendorong-dorongnya. Pria itu mundur sedikit. Ia masih

membelakangi kami. Kami tetap tak dapat melihat

wajahnya. Begitu ia melangkah mundur, sikap Cheryl

berubah lagi. Perlahan-lahan ia turun dari meja dan

merapikan rok, menoleh, menggoyang-goyangkan tubuh

dengan cara menantang. Kami melihat telinga dan bagian

samping wajah teman kencannya. Rahangnya tampak

bergerak gerak. Ia sedang berbicara dengan Cheryl. Cheryl

tersenyum dan melangkah maju, merangkulnya. Kemudian

mereka mulai berciuman lagi, saling meraba-raba. Berjalan

pelan-pelan melintasi ruang an, menuju ruang rapat. .

"Ah. Jadi dia yang memilih ruang rapat?"

"Entahlah."

"Sial, mukanya belum kelihatan juga.”

Kini mereka berada hampir di tengah-tengah ruangan,

dan kamera hampir tepat di atas mereka. Hanya bagian atas

kepala pria itu yang terlihat.

Aku berkata, "Menurutmu, apakah dia kelihatan seperti

orang Jepang?"

"Brengsek. Mana mukanya? Ada berapa kamera lagi di

ruangan itu?"

"Empat."

"Hmm. Berarti mukanya pasti terekam. Bajingan itu tak

mungkin lolos."

Aku berkata, "Tom, sepertinya laki-laki ini cukup tinggi.

Dia kelihatan lebih tinggi dari Cheryl. Dan Cheryl termasuk

jangkung."

"Mana kelihatan dari sudut seperti ini? Aku tidak lihat

apa-apa, kecuali bahwa dia pakai jas. Oke. Mereka sudah

menuju ruang rapat."

Ketika mereka menghampiri ruangan itu, Cheryl

tiba-tiba mulai memberontak.

"Oh-oh," kata Graham. "Dia marah lagi. Angin-anginan

sekali."

Pria itu mendekapnya,dengan erat. Cheryl berbalik,

berusaha rnelepaskan diri. Pria itu setengah

menggendongnya, setengah menyeretnya ke ruang rapat.

Di ambang pintu, Cheryl berbalik sekali lagi, berpegangan

pada kusen, meronta-ronta.

"Tasnya jatuh di situ?"

"Mungkin. Semuanya samar-samar."

Ruang rapat terletak tepat di seberang kamera, sehingga

kami dapat melihat seluruh ruangan. Tetapi bagian

dalamnya gelap sekali, sehingga Cheryl dan teman

kencannya hanya tampak sebagai siluet di hadapan

lampu-lampu gedung-gedung pencakar langit di luar

jendela. Pria itu mengangkatnya dan mendudukkannya di

meja, memutarnya sampai telentang. Cheryl bersikap pasif,

pasrah ketika pria itu menyibakkan roknya. Ia malah

bergerak mendekat. Kemudian teman kencannya membuat

gerakan mendadak, dan sesuatu terlihat terbang.

"Itu celana dalamnya."

Sepertinya celana dalam itu jatuh ke lantai, tetap sukar

untuk memastikannya. Wamanya hitam, atau warna gelap

lainnya. Berarti bukan Senator Rowe, aku berkata dalam

hati.

"Celana dalamnya sudah tidak ada waktu aku sampai di

sana," ujar Graham sambil menatap monitor. "Brengsek, ini

jelas-jelas penggelapan barang bukti." Ia menggosok-gosok

tangan. "Kalau kau punya saham Nakamoto, Kawan,

sebaiknya kaujual saja. Sebab besok sore sudah tak ada

harganya."

Di layar, Cheryl masih menunggu, sementara teman

kencannya mengutak-atik ritsleting celana. Tiba-tiba ia

berusaha duduk tegak dan menamparnya dengan keras.

Graham berkata, "Ah, sudah mulai ramai. Sedikit

bumbu."

Pria itu menangkap tangannya, dan mencoba mencium

Cheryl, tetapi Cheryl melawan, membuang muka. Ia dipaksa

telentang lagi. Ia menahan seluruh berat badan teman

kencannya. Kakinya menendang-nendang.

Kedua siluet itu bersatu dan berpisah. Sukar untuk

mengatakan apa yang sedang terjadi. Sepertinya Cheryl

terus berusaha duduk tegak, sedangkan pria itu terus

mendorong ke belakang. Ia menahan Cheryl dengan

sebelah tangan di dadanya, sementara Cheryl

menendang-nendang sambil meronta-ronta. Cheryl tetap

telentang di meja, tetapi adegan itu lebih melelahkan

daripada merangsang. Pikiranku terusik oleh pemandangan

yang kulihat. Apakah ini memang pemerkosaan? Ataukah

Cheryl hanya berpura-pura? Cheryl terus

menendang-nendang dan meronta-ronta, tetapi ia tidak

berhasil membebaskan diri. Pria itu mungkin lebih kuat

dari Cheryl, tapi aku yakin Cheryl dapat mendorongnya jika

ia memang berniat demikian. Dan kadang-kadang kedua

tangan Cheryl seakan-akan merangkul leher pria itu,

bukannya mendorongnya mundur. Namun memang sukar

untuk memastikannya.

"Oh-oh. Ada masalah."

Pria itu menghentikan gerak maju-mundur yang

berirama. Di bawahnya, Cheryl tampak lemas. Kedua

tangannya merosot, jatuh ke meja. Kakinya terkulai.

Graham berkata, "Ini yang kita tunggu-tunggu?"

"Entahlah."

Pria itu menepuk-nepuk pipi Cheryl, lalu mengguncang-

guncangkannya dengan lebih keras. Sepertinya ia

berbicara dengannya. Ia tetap di tempat selama beberapa

saat, mungkin tiga puluh detik, dan kemudian ia

menjauhinya. Cheryl tergeletak di meja. Pria itu berjalan

mengelilinginya. Ia bergerak pelan-pelan, seakan-akan tak

percaya.

Kemudian ia menoleh ke kiri, seolah-olah mendengar

sesuatu. Sesaat ia berdiri seperti terpaku, lalu mengambil

keputusan. Ia mulai sibuk, berputar-putar, mencari-cari

secara sistematis. Ia memungut sesuatu dari lantai.

"Celana dalam tadi."

"Dia sendiri yang mengambilnya," ujar Graham.

"Sialan."

Kini pria itu bergerak mengelilingi Cheryl, dan

membungkuk sejenak.

"Sedang apa dia?"

"Entahlah. Aku tidak bisa lihat apa-apa."

"Brengsek."

Pria itu kembali berdiri tegak dan meninggalkan ruang

rapat, kembali ke atrium. Ia tidak lagi tampak sebagai

siluet. Kini ada kesempatan untuk mengidentifikasinya.

Namun ia memandang ke arah ruang rapat. Ke arah wanita

muda yang telah tewas.

"Hei, Bung," kata Graham kepada gambar di monitor.

"Lihat ke sini, Bung. Ayo. Sebentar saja."

Di layar, pandangan pria itu tetap terarah pada Cheryl

ketika ia berjalan beberapa langkah ke atrium. Kemudian ia

cepat-cepat berjalan ke arah kiri.

"Dia tidak kembali ke lift," kataku.

"Tapi aku tidak bisa lihat mukanya."

"Mau ke mana dia?"

"Di ujung sana ada tangga," ujar Graham. "Tangga

kebakaran."

"Kenapa dia ke sana, bukannya ke lift?"

"Mana aku tahu. Aku cuma ingin lihat mukanya. Sekali

saja "

Kini pria itu berada di sebelah kiri kamera, dan

meskipun ia tak lagi memalingkan wajah, kami hanya dapat

melihat telinga kiri dan tulang pipinya. Ia berjalan dengan

terburu-buru. Tak lama lagi ia akan menghilang dari

pandangan, di bawah langit-langit rendah di ujung ruangan.

"Ah, sialan! Sudut ini tidak membantu sama sekali. Kita

lihat kaset lain saja."

"Tunggu sebentar," kataku.

Pria itu mengarah ke sebuah lorong gelap yang mestinya

menuju tangga. Tetapi sebelum memasuki lorong itu, ia

melewati sebuah cermin dengan bingkai bersepuh emas

yang tergantung di dinding. Ia melewatinya, tepat sebelum

ditelan oleh kegelapan di dalam lorong.

“Itu! “

"Bagaimana caranya mengheintikan ini?"

Dengan tergesa-gesa aku meenekan beberapa tombol

pada alat perekam, sampai akhirnya menemukan tombol

stop. Rekaman itu kumundurkan sedikit, lalu kuputar lagi.

Sekali lagi pria itu berjalan ke arah lorong,

langkah-langkahnya panjang, cepat. Ia melewati cermin,

dan sepintas lalu - satu frame saja – kami melihat wajahnya

terpantul - melihatnya dengan jelas sekali - dan aku

menekan tombol untuk membekukan gambar.

"Bingo," kataku

“Jepang keparat," ujar Graham. "Apa kubilang?"

Terpantul di cermin adalah wajah sang pembunuh ketika

ia hendak menuju tangga. Kami tidak mendapat kesulitan

untuk mengenali wajah tegang itu sebagai wajah Eddie

Sakamura.

Bab 20

"BIAR aku saja," Graham berkata. "Ini kasusku. Aku yang

akan menangkap bajingan itu."

"Tentu," kata Connor.

"Maksudnya," ujar Graham, "aku lebih suka pergi

sendiri."

"Tentu," kata Connor. "Ini kasusmu, Tom. Lakukanlah

yang kauanggap terbaik."

Connor menuliskan alamat Eddie Sakamura untuknya.

"Aku bukannya tidak berterima kasih atas bantuanmu,"

kata Graham. "Tapi aku lebih suka menanganinya sendiri.

Nah, biar jelas, kalian sudah bicara dengan orang ini tadi

malam, tapi kalian tidak menahannya?"

"Betul."

"Hmm, jangan khawatir," ujar Graham. "Soal ini takkan

kusinggung dalam laporanku nanti. Pokoknya, kalian tak

perlu cemas, aku janji." Graham sedang bermurah hati. Ia

gembira karena akan menangkap Eddie Sakamura. Ia

melirik jam tangannya. "Wow, kurang dari enam jam sejak

laporan pertama diterima, dan kita sudah mendapatkan

pembunuhnya. Lumayan juga."

"Kita belum mendapatkan pembunuhnya," kata Connor.

"Kalau aku jadi kau, aku akan segera menangkapnya."

"Aku sudah mau berangkat," ujar Graham.

"Oh, Tom," kata Connor ketika Graham menuju pintu.

"Eddie Sakamura memang aneh, tapi dia bukan orang yang

suka menggunakan kekerasan. Aku sangsi bahwa dia punya

senjata. Kemungkinan besar dia bahkan tidak punya pistol.

Dia pulang dari pesta bersama si Rambut Merah tadi.

Kurasa mereka sedang di tempat tidur sekarang. Kurasa dia

sebaiknya ditangkap dalam keadaan hidup."

"Hei," kata Graham, "ada apa dengan kalian berdua?"

"Sekadar usul saja," ujar Connor.

"Kaupikir aku akan menembak bajingan kecil itu?"

"Kau akan ke sana bersama beberapa mobil patroli,

bukan?" balas Connor. "Para petugas mungkin terpancing

emosi. Aku hanya berharap agar kau waspada."

"Hei. Thanks," kata Graham, lalu pergi. Badannya begitu

lebar, sehingga ia terpaksa berjalan agak miring agar dapat

melewati pintu.

Aku memperhatikannya. "Kenapa Anda membiarkannya

pergi sendiri?"

Connor mengangkat bahu. "Ini kasusnya."

"Tapi sepanjang malam Anda terus menangani kasus ini.

Kenapa sekarang Anda berhenti?"

Connor berkata, "Biarkan Graham saja yang menikmati

hasilnya. Lagi pula, apa hubungannya dengan kita? Saya

petugas polisi yang sedang cuti tanpa batas. Dan Anda

hanya petugas penghubung yang korup." Ia menunjuk kaset

video. "Anda bisa memutarnya dulu, sebelum Anda

mengantar saya pulang?"

"Tentu." Aku memundurkan pita sampai ke awal.

"Barangkali kita bisa minum kopi sekalian," kata Connor.

"Orang-orang di lab SID selalu punya persediaan kopi enak.

Paling tidak, dulunya begitu."

Aku berkata, "Bagaimana kalau saya mengambil kopi

sementara Anda menyaksikan rekaman ini?"

“Terima kasih, Kohai," ujar Connor.

“Kembali." Aku mulai memutar rekaman video, lalu

berbalik.

“Oh, Kohai. Mumpung Anda ke sana, tolong tanyakan

pada petugas jaga, fasilitas video apa saja yang dimiliki

Departemen..Sebab semua kaset ini harus digandakan. Dan

mungkin ada frame-frame tertentu yang perlu dicetak.

Terutama jika ada masalah mengenai penangkapan

Sakamura. Siapa tahu ada plhak luar yang menganggapnya

sebagai pelecehan terhadap orang Jepang. Kita mungkin

perlu mengedarkan foto. Untuk membela diri."

Saran itu memang masuk akal. "Oke," kataku "Nanti saya

tanyakan."

"Saya biasa minum kopi tanpa susu, dengan satu sendok

gula." Ia berbalik dan mengamati layar monitor.

Scientific Investigation Division, atau SID, terletak di

basement Parker Center. Ketika aku sampai di sana sudah

pukul dua dini hari, dan sebagian besar seksi sudah tutup.

Jadwal kerja SID tak berbeda dari kantor-kantor pada

umumnya, masuk jam sembilan, pulang jam lima. Memang,

tim-tim SID juga bekerja pada malam hari, mengumpulkan

barang-barang bukti di tempat-tempat kejadian perkara,

tetapi semuanya disimpan di dalam lemari-lemari sampai

keesokan paginya, atau di markas, atau di salah satu divisi.

Aku mendatangi mesin pembuat kopi di kafetaria kecil di

sebelah Kamar Gelap. Di sekitar ruangan itu terdapat

tanda-tanda peringatan bertulisan ANDA SUDAH MENCUCI

TANGAN? dan JANGAN BAHAYAKAN REKAN-REKAN ANDA.

CUCI TANGAN DULU. Peringatan peringatan ini dipasang

karena tim-tim SID kerap memakai zat-zat beracun,

terutama bagian kriminalistik. Begitu banyak air raksa,

warangan, dan krom digunakan, sehingga di zaman dulu

ada petugas yang jatuh sakit akibat minum dari gelas

plastik yang hanya tersentuh oleh petugas lab yang lain.

Tetapi sekarang orang-orang sudah lebih berhati-hati;

aku mengambil dua gelas kopi dan kembali ke meja.

Petugas jaga malam, Jackic Levin sedang bertugas, seorang

wanita berbadan pendek gemuk. Kakinya dinaikkan ke

meja. Ia mengenakan celana ketat dan rambut palsu

berwarna jingga. Meski penampilannya aneh, ia diakui

sebagai pencetak foto terbaik di seluruh Departemen. Ia

sedang membaca majalah Modern Bride. Aku berkata, "Mau

coba sekali lagi, Jackie?"

"Hei, bukan aku," balasnya. "Anakku."

"Siapa calon suaminya?"

"Bagaimana kalau kita bicara tentang hal yang

menyenangkan saja?" katanya. "Kaubawakan kopi

untukku?"

"Sori," jawabku. "Tapi aku ada pertanyaan untukmu.

Siapa yang menangani barang bukti berupa rekaman video

di sini?"

"Rekaman video?"

"Rekaman dari kamera keamanan. Siapa yang

menganalisisnya, mencetak foto, dan sebagainya?"

"Hmm, kami jarang mendapat tugas seperti itu," kata

Jackie. "Dulu pernah ditangani oleh bagian elektronika, tapi

kurasa mereka sudah berhenti. Sekarang semua video

diserahkan ke Valley atau ke Medlar Hall." Ia duduk tegak,

membalik-balik halaman sebuah direktori. "Kalau mau, kau

bisa menghubungi Bill Harrelson di Medlar. Tapi kalau ada

hal khusus, kami biasa minta tolong ke JPL atau ke

Advanced Imaging Lab di U.S.C. Kau mau nomor telepon

mereka, atau mau lewat Harrelson?"

Nada suaranya memberitahuku mana yang harus

kupilih. "Aku minta nomor telepon saja."

"Yeah, aku juga, kalau aku jadi kau."

Aku mencatat nomor-nomor itu, lalu kembali ke markas

divisi. Connor telah selesai menyaksikan rekaman video,

dan sedang memutarnya maju mundur di bagian di mana

wajah Eddie Sakamura muncul di cermin.

"Bagaimana?" kataku.

"Ini memang Eddie." Ia tampak tenang, hampir tak

peduli. Ia meraih gelas plastik yang kubawa dan menghirup

kopinya. "Huh, payah."

"Yeah, memang."

"Dulu jauh lebih enak." Connor meletakkan gelas plastik,

mematikan alat perekam, berdiri, dan meregangkan badan.

"Hmm, rasanya sudah cukup untuk malam ini. Bagaimana

kalau kita tidur dulu? Besok pagi saya ada janji main golf di

Sunset Hills."

"Oke," kataku. Aku mengembalikan kaset-kaset video ke

dalam kardus, lalu memastikan alat perekamnya.

Connor berkata, "Apa yang akan Anda lakukan dengan

kaset-kaset ini?"

"Saya simpan di lemari barang bukti."

Connor berkata, "Ini rekaman asli. Dan kita tidak punya

duplikat."

"Saya tahu, tapi baru besok saya bisa memperoleh

duplikat."

"Justru itu. Kenapa tidak Anda bawa saja?"

"Maksudnya, dibawa pulang?" Pihak Departemen sudah

sering mengeluarkan larangan untuk membawa barang

bukti ke rumah. Singkatnya hal itu melanggar peraturan.

Ia mengangkat bahu. "Saya takkan mau mengambil

fisiko. Bawalah kaset-kaset itu, dan besok Anda sendiri

yang menangani pembuatan duplikat."

Aku menjepit kardus itu di bawah lengan dan berkata,

"Anda khawatir bahwa seseorang di sini akan..."

"Tentu saja tidak," Connor memotong. "Tapi barang

bukti ini sangat menentukan, dan kita tak ingin seseorang

melewati lemari barang bukti sambil membawa magnet

besar sementara kita sedang tidur nyenyak, bukan?"

Akhirnya kuputuskan untuk membawa pulang

kaset-kaset itu. Ketika keluar, kami melewati Ishiguro yang

masih duduk di sana. Tampaknya ia menyesal sekali.

Connor mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang. Ishiguro

langsung berdiri, membungkuk, lalu bergegas pergi.

"Apakah dia benar-benar setakut itu?"

"Ya," kata Connor.

Ishiguro menyusuri lorong, mendahului kami. Kepalanya

tertunduk. Ia hampir menyerupai karikatur seseorang yang

sedang dihantui ketakutan.

"Kenapa?" aku bertanya. "Dia sudah cukup lama tinggal

di sini. Mestinya dia tahu bahwa kita tidak punya dasar

kuat untuk menuduhnya menahan barang bukti, apalagi

untuk menuntut Nakamoto."

"Bukan itu masalahnya," kata Connor. "Dia tidak

merisaukan persoalan hukum. Dia takut menimbulkan

skandal. Sebab itulah yang akan terjadi seandainya kita

berada di Jepang." Kami melewati tikungan. Ishiguro

berdiri di depan deretan lift, menunggu. Kami ikut

menunggu.

Suasananya serba canggung. Lift pertama tiba, dan

Ishiguro melangkah ke samping agar kami bisa masuk.

Ketika pintu menutup, aku masih sempat melihatnya

membungkuk ke arah kami. Lift mulai turunnya dan

Connor berkata, "Dia Jepang, riwayat perusahaannya bisa

tamat untuk selama-lamanya.”

"Kenapa?"

"Karena di Jepang, skandal merupakan cara yang paling

umum digunakan untuk mengubah hierarki. Untuk

menyingkirkan lawan yang kuat. Di sana, itu merupakan hal

biasa. Kita menemukan suatu kelemahan, dan kita

bocorkan kepada pers, atau kepada penyelidik dari pihak

pemerintah. Ini selalu diikuti dengan skandal, dan orang

atau organisasi bersangkutan akan hancur. Dengan cara

inilah skandal Recruit menjatuhkan Takeshita dari

kedudukannya sebagai perdana menteri. Atau

skandal-skandal keuangan menjatuhkan Perdana Menteri

Tanaka di tahun tujuh puluhan. Sama seperti orang-orang

Jepang menggasak General Electric beberapa tahun lalu."

"Mereka menggasak General Electric?"

"Lewat skandal Yokogawa. Anda pernah mendengar

beritanya? Tidak? Hmm, ini contoh klasik mengenai siasat

Jepang. Beberapa tahun lalu, General Electric merupakan

produsen peralatan scanning terbaik untuk rumah sakit di

seluruh dunia. GE lalu membentuk anak perusahaan,

Yokogawa Medical, untuk memasarkan peralatan tersebut

di Jepang. Dan GE menjalankan usaha ini dengan cara

Jepang, menekan biaya lebih rendah dari

saingan-saingannya untuk merebut pangsa pasar,

menyediakan layanan purnajual yang sangat baik, menjamu

klien – termasuk memberi tiket pesawat dan traveller's

checky kepada calon pembeli yang potensial. Kita

menyebutnya suap, tetapi di Jepang ini merupakan hal

biasa. Dalam waktu singkat Yokogawa berhasil meraih

pangsa pasar terbesar, dan mengalahkan

perusahaan-perusahaan Jepang seperti Toshiba.

Perusahaan-perusahaan Jepang tidak menyukainya, dan

mereka mengeluhkan persaingan tidak sehat. Dan suatu

hari petugas-petugas pemerintah melakukan razia di

kantor-kantor Yokogawa dan menemukan bukti-bukti

mengenai penyuapan. Mereka menangkap beberapa

pegawai Yokogawa dan mencoreng nama perusahaan itu

dengan skandal. Tingkat penjualan GE tidak terlalu

terpengaruh. Dan tidak menjadi masalah bahwa beberapa

perusahaan Jepang menempuh cara yang sama. Karena satu

dan lain hal, perusahaan asinglah yang ditindak. Sangat

mengherankan bagaimana itu bisa terjadi."

Aku berkata, "Seburuk itukah keadaannya?"

"Orang Jepang bisa sangat keras," kata Connor. "Mereka

menyamakan bisnis dengan perang, dan mereka tidak asal

bicara saja. Di zaman dulu, jika warga Jepang membeli

mobil buatan Amerika, dia akan diperiksa oleh petugas

pajak. Jadi, dalam waktu singkat tak ada lagi yang membeli

mobil buatan Amerika. Para pejabat hanya mengangkat

bahu, mereka tak berdaya. Pasar mereka terbukti. Bukan

salah mereka bahwa tak ada yang menginginkan mobil

Amerika. Rintangannya seakan akan tanpa akhir. Setiap

mobil impor harus diuji di pelabuhan untuk memastikan

bahwa mobil tersebut memenuhi peraturan mengenai gas

buang. Ski impor dulu dilarang, sebab saIju di Jepan konon

lebih basah dibandingkan dengan salju di Eropa atau

Amerika. Begitulah mereka memperlakukan negara-negara

lain, jadi tidak mengherankan bahwa mereka khawatir

dibalas dengan cara yang sama.”

"Jadi, Ishiguro sedang menunggu skandal? Karena itu

yang akan terjadi di Jepang?"

"Ya. Dia takut riwayat Nakamoto akan tamat dengan

sekali pukul. Tapi saya menyangsikannya. Kemungkinan

besar, besok semuanya akan berjalan seperti biasa di Los

Angeles."

Aku mengantar Connor ke apartemennya. Ketika ia

turun dari mobil, aku berkata, "Pengalaman malam ini

sangat menarik, Kapten. Terima kasih atas waktu yang

Anda sediakan untuk saya."

"Kembali," kata Connor. "Kalau Anda memerlukan

bantuan lagi, silakan telepon saya kapan saja."

"Mudah-mudahan acara golf Anda besok tidak terlalu

pagi. "

"Sebenarnya kami mulai jam tujuh, tapi kebutuhan tidur

orang seusia saya sudah berkurang. Saya akan bermain di

Sunset Hills."

"Bukankah itu klub Jepang?" Pembelian Sunset Hills

Country Club oleh orang Jepang belum lama ini sempat

menggemparkan L.A. Lapangan golf di West Los Angeles

dibeli dengan harga yang luar biasa: 200 juta dolar di tahun

1990. Ketika itu, pemiliknya yang baru berjanji bahwa

takkan ada perubahan. Tapi sekarang jumlah anggota

Amerika pelan-pelan dikurangi dengan cara yang sangat sederhana:

setiap kali orang Amerika mengundurkan diri,

tempatnya ditawarkan kepada orang Jepang. Di Tokyo,

keanggotaan Sunset Hills dijual seharga satu juta dolar, dan

itu masih dianggap murah; daftar tunggunya panjang

sekali.

"Hmm," ujar Connor, "saya akan bermain dengan

beberapa orang Jepang."

"Seberapa sering Anda bermain golf dengan mereka?"

"Orang-orang Jepang keranjingan golf. Saya berusaha

menyempatkan diri bermain dua kali seminggu.

Kadang-kadang kita mendengar hal-hal yang menarik.

Selamat malam, Kohai."

"Selamat malam, Kapten."

Aku pulang.

Aku baru hendak memasuki Santa Monica freeway ketika

telepon berdering. Ternyata operator DHD. "Letnan, ada

panggilan untuk Special Services. Petugas di lapangan

minta bantuan petugas penghubung."

Aku menghela napas. "Oke." Si operator menyebutkan

nomor telepon mobil.

"Hei, Kawan."

Ternyata Graham. Aku berkata, "Hai, Tom."

"Kau sudah sendirian?"

"Yeah. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Kenapa?"

"Aku pikir-pikir," ujar Graham, "mungkin ada baiknya

kalau petugas penghubung ikut dalam penggerebekan ini."

"Kukira kau ingin menanganinya seorang diri."

"Yeah, ehm, mungkin kau bisa ke sini dan membantu.

Sekadar untuk memastikan bahwa semuanya berjalan

sesuai peraturan."

Aku berkata, "Kau butuh perlindungan?"

"Hei, kau mau bantu atau tidak?"

"Beres, Tom. Aku segera ke sana."

"Kami tunggu sampai kau datang."

Bab 21

EDDIE SAKAMURA tinggal di sebuah rumah kecil, di

salah satu jalan sempit dan berkelok-kelok di perbukitan

Hollywood, di atas freeway 101. Pukul 02.45 dini hari aku

melewati sebuah tikungan dan melihat dua mobil patroli

dengan lampu dipadamkan, serta mobil Graham yang

berwarna coklat, berhenti di satu sisi jalan. Graham berdiri

bersama para petugas patroli. Ia sedang merokok. Aku harus

mundur sekitar dua belas meter untuk mendapatkan

tempat parkir. Kemudian aku menghampiri mereka.

Kami menatap rumah Eddie yang dibangun di atas

garasi, sebuah rumah dengan dua kamar tidur, dengan

dinding diplester putih, dari tahun 1940-an. Lampu-lampu

tampak menyala, dan kami mendengar Frank Sinatra

sedang bernyanyi. Graham berkata, "Dia tidak sendirian.

Ada beberapa cewek di atas sana.

Aku berkata, "Bagaimana rencanamu?"

"Para petugas patroli menunggu di sini," ujar Graham.

"Aku sudah mewanti-wanti mereka supaya tidak

menembak, jadi jangan khawatir. Kau dan aku naik ke sana

untuk menangkapnya."

Sebuah tangga terjal naik dari garasi ke rumah.

"Oke. Kau dari depan dan aku dari belakang?“

"Jangan," kata Graham. "Aku ingin kau ikut bersamaku,

Kawan. Dia tidak berbahaya, bukan?"

Aku melihat siluet seorang wanita lewat di salah satu

jendela. Sepertinya ia sedang telanjang. “Seharusnya tidak,"

kataku.

"Oke, kalau begitu, kita mulai saja."

Kami berbaris satu-satu ketika menaiki tangga.

Frank Sinatra sedang menyanyikan My Way Kami

mendengar suara tawa wanita. Sepertinya ada lebih dari

satu. "Moga-moga ada narkotika berserakan."

Menurutku, kemungkinannya cukup besar. Kami sampai

di puncak tangga, membungkuk, agar tidak terlihat dari

jendela.

Pintu depan rumah Eddie bergaya Spanyol, berat dan

kokoh. Graham berhenti sejenak. Aku bergerak beberapa

langkah ke arah belakang rumah, tempat aku melihat

lampu kolam renang memancarkan cahaya kehijauan. Pasti

ada pintu belakang yang menuju kolam renang. Aku

berusaha menemukannya.

Graham menepuk bahuku. Aku kembali ke depan.

Perlahan-lahan ia memutar pegangan pintu. Ternyata tidak

dikunci. Graham mencabut pistol dan menatapku. Aku pun

meraih pistol.

Ia terdiam, mengacungkan tiga jari. Hitungan ketiga.

Graham menendang pintu dan masuk sambil

membungkuk. Ia berseru, "Tahan, polisi! Jangan bergerak!"

Sebelum aku sempat masuk ke ruang duduk, aku

mendengar suara wanita menjerit-jerit.

Mereka berdua, telanjang bulat, berlari ke sana kemari

sambil berteriak-teriak, "Eddie! Eddie!' Eddie tidak ada.

Graham menghardik, "Mana dia? Mana Eddie Sakamura?"

Wanita berambut merah menarik bantal dari sofa untuk

menutupi tubuhnya, dan membentak, "Keluar, bangsat!"

dan kemudian ia menimpuk Graham dengan bantal. Wanita

yang satu lagi, berambut pirang, berlari ke kamar tidur

sambil memekik. Kami mengikutinya, dan si Rambut Merah

melemparkan satu bantal lagi.

Di kamar tidur, si Pirang terjatuh dan meraung

kesakitan. Graham membungkuk sambil menodongkan

pistol. "Jangan tembak aku!" wanita itu meratap. "Aku tidak

berbuat apa-apa!"

Graham menggenggam pergelangan kakinya. Tubuh

telanjang itu menggeliat-geliat. Wanita muda itu histeris.

"Di mana Eddie?" tanya Graham. "Mana dia?"

“Lagi rapat!" si Pirang memekik.

"Di mana!"

"Lagi rapat!" Dan sambil berbalik, ia menendang

selangkangan Graham dengan kakinya yang satu lagi.

"Aduh," Graham mengaduh sambil melepaskannya. Ia

terbatuk-batuk sampai terduduk di lantai. Aku kembali ke

ruang duduk. Si Rambut Merah mengenakan sepatu

bertumit tinggi, tetapi selain itu ia pun telanjang bulat.

Aku berkata, "Di mana dia?"

"Bajingan," balasnya. "Bajingan keparat."

Aku melewatinya dan menuju sebuah pintu di seberang

ruangan. Pintunya terkunci. Si Rambut Merah mengejarku

dan mulai memukul-mukul punggungku dengan tangan

terkepal. "Biarkan dia! Biarkan dia!" Aku berusaha

membuka pintu yang terkunci, sementara punggungku

terus dipukul-pukul. Sepertinya aku mendengar

suara-suara di balik pintu.

Pada detik berikutnya, tubuh Graham yang gempal

membentur pintu sampai pecah. Aku melihat dapur,

diterangi cahaya hijau dari kolam renang di luar.

Ruangannya kosong. Pintu belakang terbuka lebar.

"Sialan.”

Kini si Rambut Merah telah melompat ke punggungku

dan melingkarkan kedua kakinya pada pinggangku. Ia

menjambak rambutku- sambil meneriakkan kata-kata

kotor. Aku berputar-putar, berusaha mengempaskannya. Di

tengah-tengah kekacauan itu, aku masih sempat berpikir,

"Awas, jangan sampai dia cedera." Sebab kesannya kurang

baik jika wanita muda yang cantik mengalami patah tangan

atau retak pada tulang iga. Orang-orang pasti akan

menyalahkan aku, meskipun ia sekarang menjambak

rambutku sampai copot. Ia menggigit telingaku, dan rasa

nyeri menjalar ke seluruh tubuhku. Aku membenturkan

badanku ke dinding dan mendengarnya mengerang. Ia

melepaskan tangannya.

Di luar jendela, aku melihat sebuah sosok gelap berlari

menuruni tangga. Graham juga melihatnya.

"Persetan," ia mengumpat. Ia segera berlari, begitu juga

aku. Tetapi si Rambut Merah rupanya menjegal kakiku,

sebab aku terjatuh ke lantai. Ketika aku bangkit lagi, aku

mendengar sirene mobil-mobil patroli dan suara mesin.

Kemudian aku sudah di luar, bergegas menuruni tangga.

Aku berada sekitar sepuluh meter di belakang Graham,

waktu Ferrari milik Eddie mundur dari garasi,

memindahkan gigi dengan kasar, dan melesat menyusuri

jalan.

“Kedua mobil patroli langsung mengejar. Graham berlari

ke mobilnya. Ia telah mulai melaju sementara aku masih

berlari ke mobilku yang diparkir agak lebih jauh. Ketika

mobilnya melewatiku, aku melihat wajahnya, cemberut dan

geram.

Aku masuk ke mobilku dan menyusul.

Di daerah perbukitan, kita tak mungkin melaju dengan

kencang sambil berbicara melalui telepon. Aku bahkan

tidak mencobanya. Aku menaksir jarak antara aku dan

Graham sekitar setengah kilometer, sedangkan Graham

sendiri tertinggal agak jauh di belakang kedua mobil

patroli. Ketika aku sampai di kaki bukit, di jembatan 101,

aku melihat lampu-lampu yang berkedap-kedip di freeway.

Aku terpaksa mundur dan berputar ke pintu di Mulholland,

dan kemudian aku bergabung dengan lalu lintas yang

menuju ke selatan.

Pada waktu lalu lintas mulai bertambah pelan, aku

memasang lampu di atap, dan pindah ke jalur

pemberhentian darurat di sebelah kanan.

Aku sampai di dinding pembatas beton kurang lebih tiga

puluh detik setelah Ferrari itu menghantamnya dengan

kecepatan sekitar 160 kilometer per jam. Kurasa tangki

bensinnya meledak seketika. Lidah api menjulang setinggi

lima belas meter ke udara. Panasnya luar biasa. Sepertinya

api akan menjalar ke pohon-pohon di lereng bukit. Mobil

yang hancur berantakan itu sama sekali tak dapat didekati.

Mobil pemadam kebakaran pertama tiba, diikuti tiga

mobil patroli. Di mana-mana ada sirene dan lampu

berkedap-kedip.

Aku memundurkan kendaraanku, memberi tempat

untuk mobil-mobil pemadam, lalu menghampiri Graham. Ia

sedang mengisap rokok ketika para petugas pemadam

kebakaran mulai menyemprotkan busa.

"Ya ampun," ujar Graham. "Semuanya kacau-balau."

"Kenapa para petugas patroli tidak menghentikannya

ketika dia berada di garasi tadi?"

"Karena," kata Graham, "aku telah melarang mereka

menggunakan pistol. Dan kita tidak ada di sana. Mereka

sedang bingung harus berbuat apa waktu dia kabur." Ia

menggelengkan kepala. "Bagaimana aku harus melaporkan

ini?"

Aku berkata, "Tapi memang lebih baik kau tidak

menembaknya."

"Mungkin." Ia mematikan rokoknya.

Api telah berhasil dipadamkan. Ferrari itu telah hangus,

ringsek. Bau tajam tercium di udara.

"Hmm," kata Graham. "Percuma saja kita menunggu di

sini. Aku akan kembali ke rumahnya. Barangkali

cewek-cewek itu masih ada di sana."

"Kau butuh bantuanku?"

"Tidak. Pulang sajalah. Besok masih ada hari lain.

Brengsek, urusan administrasi pasti takkan ada

habis-habisnya." Ia menatapku, lalu terdiam sejenak. "Kita

sepaham mengenai ini? Mengenal apa yang terjadi?"

"Tentu," kataku.

"Kita tidak ada pilihan lain tadi," ujarnya.

"Memang," aku berkata. "Hal-hal seperti ini memang

terjadi."

"Oke, Kawan. Sampai besok."

"Selamat malam, Tom."

Kami naik ke mobil masing-masing

Aku pulang ke rumah.

Bab 22

MRS. ASCENIO sedang mendengkur keras di sofa ketika

aku tiba di rumah pukul 03.45 dini hari. Aku

mengendap-endap melewatinya dan mengintip ke kamar

Michelle. Anakku sedang telentang. Ia telah menyingkirkan

selimut dan tidur dengan tangan di atas kepala. Kakinya

menjorok keluar lewat pagar pembatas tempat tidurnya.

Aku menyelimutinya, lalu masuk ke kamarku.

Pesawat TV masih menyala. Aku mematikannya. Aku

mencopot dasi dan duduk di tempat tidur untuk

melepaskan sepatu. Baru sekarang aku menyadari

seberapa lelahnya aku. Aku membuka mantel dan celana,

dan melemparkan keduanya ke atas pesawat TV. Aku

membaringkan diri di tempat tidur, berniat membuka

kemeja yang terasa lengket dan berbau keringat. Aku

memejamkan mata sejenak, merebahkan kepala ke bantal

yang empuk. Kemudian aku merasakan cubitan, serta

sesuatu menarik-narik kelopak mataku. Aku mendengar

bunyi mengerik, dan sejenak aku dicekam ketakutan bahwa

mataku sedang dipatuk-patuk burung.

Aku mendengar sebuah suara berkata, "Bangun, Daddy.

Bangun." Dan aku menyadari bahwa itu anak perempuanku

yang berusaha membuka mataku dengan jemarinya yang

mungil.

"Oooh," kataku. Aku melihat sinar matahari, membalik

badan, dan membenamkan wajahku ke bantal.

"Daddy? Bangun. Bangun, Daddy."

Aku berkata, "Daddy tidak sempat tidur semalam. Daddy

masih capek."

Tapi ia tak peduli. "Daddy, bangun. Bangun, Daddy.

Bangun, Daddy."

Aku tahu bahwa ia akan takkan berhenti mengucapkan

kata-kata yang sama sampai aku hilang ingatan atau

membuka mata. Aku berbalik lagi dan terbatuk-batuk.

"Daddy masih capek, Shelly. Coba cari Mrs. Ascenio saja."

"Daddy, bangun."

"Kenapa kamu tidak bisa membiarkan Daddy tidur

sedikit lebih lama? Daddy masih mau tidur pagi ini."

"Sekarang sudah pagi, Daddy. Bangun. Bangun."

Aku membuka mata. Michelle benar.

Memang sudah pagi.

Apa boleh buat.

HARI KEDUA

Bab 23

"HABISKAN sarapanmu."

"Sudah kenyang."

“Satu suap lagi, Shelly." Sinar matahari masuk melalui

jendela dapur. Aku menguap. Jam dinding menunjukkan

pukul tujuh pagi.

"Mommy mau datang hari ini?"

"Jangan alihkan pembicaraan. Ayo, Shel. Satu suap lagi.

Oke?"

Kami duduk di meja berukuran anak-anak di pojok

dapur. Kadang-kadang aku bisa membujuk Michelle untuk

makan di meja kecil kalau ia tidak mau makan di meja

besar. Tapi hari ini aku tidak beruntung. Michelle

menatapku.

"Mommy mau datang?"

"Barangkali. Tapi Daddy tidak tahu pasti." Aku tidak

ingin mengecewakannya. "Kita masih tunggu kabar dari

Mommy."

"Mommy mau ke luar kota lagi?"

Aku berkata, "Mungkin." Dalam hati aku bertanya-tanya,

apa arti "ke luar kota" bagi anak berumur dua tahun,

gambaran seperti apa yang terbayang olehnya.

"Dia mau pergi dengan Paman Rick?"

Siapa Paman Rick? Aku menyodorkan garpu ke depan

wajahnya. "Daddy tidak tahu, Shel. Ayo, buka mulutmu.

Satu suap lagi."

"Dia punya mobil baru," ujar Michelle sambil

mengangguk-angguk dengan serius. Ia selalu bersikap

seperti itu kalau menyampaikan informasi penting padaku.

"O, ya?"

“He-eh. Wamanya hitam."

"Begitu. Mobil apa?”

"Sades."

"Mobil Sades?"

"Bukan. Sades.”t

“Maksudmu, Mercedes?"

"He-eh. Wamanya hitam."

"Oh, bagus," kataku.

"Kapan Mommy mau datang?”

"Ayo, satu suap lagi, Shel."

Ia membuka mulut, dan aku mendekatkan garpu. Pada

saat terakhir, ia memalingkan wajah sambil merapatkan

bibir. "Tidak mau, Daddy.”

“Oke,” kataku. "Daddy menyerah."

“Aku tidak lapar, Daddy."

"Daddy sudah tahu."

Mrs. Ascenio sedang membereskan dapur sebelum

kembali ke apartemennya. Masih ada lima belas menit

sampai pengurus rumahku, Elaine, datang dan membawa

Michelle ke tempat penitipan anak. Aku masih harus

berpakaian. Aku baru meletakkan piring-piring di tempat

cuci piring ketika telepon berdering. Ternyata Ellen Farley,

pembantu Wali Kota untuk urusan pers

"Kau lagi nonton?"

"Nonton apa9"

"Berita. Channel tujuh. Mereka menyiarkan kecelakaan

semalam."

“O, ya?"

"Nanti telepon aku lagi."

Aku segera masuk ke kamar tidurku dan menyalakan TV.

Sebuah suara sedang berkata, "...melaporkan pengejaran

berkecepatan tinggi di Hollywood freeway ke arah selatan,

yang berakhir ketika Ferrari yang dikemudikan tersangka

menabrak jembatan Vine Street, tidak jauh dari Hollywood

Bowl. Menurut keterangan saksi mata, mobil yang

menghantam pagar pembatas beton dengan kecepatan

lebih dari seratus mil per jam itu terbakar seketika.

Beberapa unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan,

tetapi tak ada yang selamat. Tubuh pengemudi terbakar

demikian parah, sehingga kacamatanya sampai meleleh. Petugas

yang memimpin pengejaran tersebut, Detektif

Thomas Graham, mengatakan bahwa pengemudi

bersangkutan, Mr. Edward Sakamura, dicari sehubungan

dengan kematian seorang wanita yang diduga sebagai

korban pembunuhan di pusat kota. Tetapi hari ini

teman-teman Mr. Sakamura mengemukakan kesangsian

mereka mengenai tuduhan itu. Berdasarkan keterangan

mereka, sikap berlebihan yang diperlihatkan pihak

kepolisian menyebabkan tersangka menjadi panik, dan

memaksanya melanikan diri. Menurut beberapa sumber,

insiden ini berlatar belakang rasialis. Sampai saat ini belum

jelas apakah pihak kepolisian semula hendak mendakwa

Mr. Sakamura sebagai pelaku pembunuhan. Peristiwa

semalam konon merupakan pengejaran kecepatan tinggi

ketiga dalam dua minggu terakhir di freeway 101. Sikap

polisi dalam pengejaran-pengejaran ini mulai

dipertanyakan sejak seorang wanita warga Compton tewas

dalam suatu pengejaran kecepatan tinggi Januari lalu. Baik

Detektif Graham maupun asistennya, Letnan Peter Smith,

dapat dimintai keterangan, dan kita masih menunggu

apakah petugas-petugas bersangkutan akan dikenakan

sanksi administratif, atau diskors oleh pihak Departemen.”

Astaga!

“Daddy..."

"Tunggu sebentar, Shel."

Aku memperhatikan gambar yang terlihat di layar TV.

Ferrari yang telah hangus dan ringsek sedang diangkat ke

atas truk. Pada dinding beton yang tertabrak tampak

goresan hitam.

Kamera beralih ke studio. Wanita yang membacakan

berita berkata, "KNBC telah memperoleh informasi bahwa

sebelumnya dua petugas polisi sempat meminta

keterangan dari Mr. Sakamura sehubungan dengan kasus

tersebut, tetapi tidak menahannya. Kapten John Connor dan

Letnan Smith mungkin menghadapi pemeriksaan dari pihak

Departemen, untuk memastikan apakah telah terjadi

pelanggaran prosedur. Kabar baik bagi para pengendara

mobil: lalu lintas padafreeway 101 ke arah selatan kembali

lancar. Kini rekan saya akan membacakan berita

selanjutnya. Silakan, Bob."

Aku memandang pesawat TV sambil terbengong-

bengong. Pemeriksaan disipliner?

Telepon berdering. Ellen Farley lagi. "Kaudengar

semuanya itu?"

"Yeah. Ini tidak masuk akal. Apa-apaan ini, Ellen?"

"Asal tahu saja, kantor wali kota tidak terlibat. Tetapi

masyarakat Jepang di sini memang tidak suka kepada

Graham. Mereka menganggapnya sebagai rasialis. Dan

sepertinya dia malah memberi angin pada mereka."

"Aku ada di sana tadi. Graham bertindak sesuai

peraturan.”

"Yeah, aku tahu di mana kau tadi, Pete. Terus terang,

kejadian ini patut disesalkan. Aku tak ingin kau ikut kena

getahnya."

Aku berkata, "Graham tidak melanggar prosedur."

"Kaudengar aku bilang apa, Pete?"

"Bagaimana dengan sanksi administratif dan pemeriksaan

disipliner itu?"

"Baru sekarang aku mendengarnya," ujar Ellen. "Tetapi

itu berasal dari sumber intern, dari departemenmu sendiri.

O, ya, betul tidak, nih? Kau dan Connor menemui Sakamura

semalam?"

"Ya."

"Dan kalian tidak menahannya?"

"Tidak. Ketika bicara dengannya, kami belum memiliki

alasan untuk itu. Tapi kemudian ada perkembangan baru."

Ellen berkata, "Kau benar-benar percaya bahwa dia

pelaku pembunuhan ini?"

"Aku tahu dia pelakunya. Kami punya rekaman

videonya."

"Rekaman video? Kau serius?"

"Yeah. Pembunuhan itu terekam oleh salah satu kamera

keamanan Nakamoto."

Ellen terdiam sejenak. Aku berkata, "Ellen?"

"Begini," katanya, "Off the record, oke?"

"Oke."

"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, Pete. Banyak

yang tidak kupahami."

"Kenapa kau tidak memberitahuku siapa wanita muda

itu, semalam?”

"Sori. Semalam aku lagi banyak urusan."

"Ellen."

Hening. Kemudian, "Pete, pergaulannya sangat luas. Dia

kenal banyak orang."

"Apakah dia kenal Pak Wali Kota?'"

Hening.

"Seberapa akrab dia dengan Pak Wali Kota?"

"Begini saja," ujar Ellen, "dia cantik dan kenal. banyak

orang di kota ini. Menurutku, dia kurang seimbang. Tapi dia

cantik dan pengaruhnya terhadap kaum pria luar biasa. Kau

harus lihat sendiri supaya bisa percaya. Nah, sekarang

banyak orang mendadak sibuk. Kau sudah baca Times hari

ini.”

"Belum."

"Coba baca dulu. Kalau aku boleh beri saran, selama

beberapa hari berikut ini, sikapmu harus baik-baik. Segala

tindak-tandukmu harus sesuai peraturan. Dan

berhati-hatilah."

"Oke. Thanks, Ellen."

"Jangan berterima kasih padaku. Aku tak pernah

meneleponmu." Kemudian nada suaranya menjadi lebih

lembut. "Jaga dirimu, Peter."

Aku mendengar nada kosong.

"Daddy?"

"Sebentar, Shel."

"Aku boleh nonton film kartun?"

"Boleh, Sayang."

Aku mencari film kartun di TV, lalu masuk ke ruang

duduk. Aku membuka pintu depan dan memungut koran

Times dari keset. Baru setelah beberapa waktu aku

berhasil. menemukan artikel yang kucari, di halaman

terakhir bagian Metro.

TUDUHAN RASIALISME POLISI MEMBAYANGI PESTA

JEPANG

Paragraf pertama kubaca sepintas lalu. Pejabat-pejabat

Jepang dari perusahaan Nakamoto mengeluh mengenai

sikap polisi yang "tanpa perasaan dan tidak peka", yang

menurut mereka mencoreng malam peresmian gedung

pencakar langit mereka yang baru di Figueroa. Paling tidak

satu pejabat Nakamoto mengemukakan pandangan bahwa

tindakan polisi berlatar belakang rasial. Seorang juru bicara

berkata, "Kami tidak yakin L.A.P.D. akan bersikap dengan

cara ini seandainya bukan perusahaan Jepang yang terlibat.

Kami berpendapat bahwa tindakan polisi mencerminkan

standar ganda dalam perlakuan petugas-petugas Amerika

terhadap orang Jepang." Mr. Hiroshi Ogura, ketua dewan

direksi Nakamoto, hadir dalam pesta itu, yang antara lain

dihadiri oleh orang-orang terkenal seperti Madonna dan

Tom Cruise, tetapi tidak dapat dihubungi untuk dimintai

komentar atas kejadian tersebut. Seorang juru bicara

berkata, "Mr. Ogura sangat menyayangkan bahwa sikap

pihak berwenang sempat mencoreng pertemuan ini. Ia

menyesalkan segala kekisruhan yang telah terjadi."

Menurut sementara pengamat, Wali Kota Thomas

mengutus salah satu anggota stafnya untuk berunding

dengan polisi, namun hasiInya tidak menggembirakan.

Pihak polisi tidak mengubah sikap, meski telah didampingi

petugas penghubung khusus Jepang, Letnan Peter Smith,

yang bertugas meredam situasi-situasi yang peka dari segi

rasial...

Dan sebagainya.

Kita harus membaca empat paragraf sebelum

mengetahui bahwa telah terjadi pembunuhan. Sepertinya

detail ini nyaris dianggap tidak relevan.

Perhatianku kembali ke judul artikel. Artikelnya berasal

dari City News Service, sehingga, nama wartawan yang

menulisnya tidak dicantumkan.

Aku begitu marah, sehingga aku menelepon kenalan

lamaku di Times, Kenny Shubik. Ken adalah wartawan

Metro yang paling senior. Sudah lama sekali ia bergabung

dengan koran itu, dan ia mengetahui segala sesuatu yang

sedang terjadi. Karena masih pukul delapan pagi, aku

meneleponnya di rumah.

"Ken. Pete Smith."

"Oh, hai," katanya. "Syukurlah kau terima pesanku."

Di latar belakang, aku mendengar seseorang yang

rupanya seorang remaja putri, "Oh, ayolah, Dad. Kenapa

aku tidak boleh pergi?"

Ken berkata, "Jennifer, jangan ganggu aku dulu."

"Pesan yang mana?" tanyaku.

Ken berkata, "Semalam aku meneleponmu, sebab kupikir

kau tentu ingin tahu dengan segera. Dia pasti diberitahu

oleh seseorang. Kau bisa kira-kira apa yang ada di

baliknya?"

"Di balik apa?" ujarku. Aku sama sekali tidak memahami

maksudnya. "Sori, Ken, pesanmu belum kuterima."

"Benar?" katanya. "Aku menelepon sekitar jam setengah

dua belas semalam. Operator DHD bilang kau sedang

menangani kasus, tapi kau punya telepon mobil. Kubilang

urusannya penting, dan minta agar kau meneleponku di

rumah kalau perlu. Sebab aku yakin kau memang ingin

tahu."

Di latar belakang, gadis tadi berkata, "Dad, ayo, dong.

Aku masih harus pilih baju."

"Jennifer, diam dulu," Ken menghardik. Dan padaku ia

berkata, "Kau juga punya anak perempuan, bukan?"

"Yeah," kataku. "Tapi dia baru dua tahun."

"Tunggu saja," ujar Ken. "Begini, Pete. Kau benar-benar

tidak terima pesanku?"

"Tidak," jawabku. "Aku menelepon karena urusan lain.

Artikel di koran pagi ini."

"Artikel yang mana?"

"Liputan mengenai Nakamoto di halaman delapan.

Artikel mengenai 'polisi yang tanpa perasaan dan tidak

peka' pada malam peresmian gedung."

"Jeez, aku tidak tahu berita itu sudah dimuat. Aku tahu

Jodie meliput pesta mereka, tapi seharusnya baru besok

dimuat. Kau tahu sendirl, pesta-pesta Jepang selalu menarik

kaum jetset. Kemarin jadwal Metro di meja Jeff masih

kosong."

Jeff adalah editor bagian Metro. Aku berkata, "Hari ini

ada artikel mengenai pembunuhan itu."

"Pembunuhan yang mana?" tanya Ken. Suaranya

bernada aneh.

"Semalam terjadi pembunuhan di gedung. Nakamoto.

Sekitar jam setengah sembilan. Salah satu tamu tewas."

Ken terdiam. Merangkai-rangkai informasi. Akhirnya ia

bertanya, "Kau terlibat?"

"Seksi pembunuhan minta bantuanku sebagai petugas

penghubung Jepang."

"Hmm," Ken bergumam. "Begini saja. Tunggu sampai aku

tiba di kantor untuk mencari informasi tambahan. Dalam

satu jam, kita bicara lagi. Dan tolong sebutkan

nomor-nomor telepon di mana kau bisa dihubungi, supaya

aku bisa langsung bicara denganmu."

"Oke."

Ia berdehem. “Eh, Pete," katanya. "Ini antara kita saja.

Kau lagi ada masalah?"

"Seperti apa, misalnya?”

"Misalnya, masalah moral, masalah dengan rekening

bankmu. Penyimpangan mengenai penghasilan yang

dilaporkan... apa saja yang perlu kuketahui. Sebagai

temanmu."

"Tidak," kataku.

"Aku tidak butuh detail-detailnya. Tapi kalau ada

sesuatu yang tidak beres ...”

"Tidak ada apa-apa, Ken."

"Soalnya begini, aku mau membantumu, tapi aku tidak

berminat beli kucing dalam karung."

"Ken. Ada apa sebenarnya?"

"Aku tidak bisa cerita banyak sekarang. Tapi sepintas

lalu kelihatannya ada yang mau menikammu dari

belakang," kata Ken. "Telepon aku satu jam lagi, oke?"

"Kau memang teman yang baik. Aku berutang budi

padamu."

"Dan jangan lupa itu," Ken berkata. Ia meletakkan

gagang.

Aku memandang berkeliling di apartemenku. Segala

sesuatu tetap seperti semula. Cahaya matahari pagi masuk

melalui jendela. Michelle duduk di kursi favoritnya,

menonton film kartun sambil mengisap jempol. Tapi entah

kenapa semuanya terasa lain. Aneh. Sepertinya seluruh

dunia mendadak miring.

Tetapi masih banyak hal yang harus kukerjakan.

Hari semakin siang. Aku harus berpakaian sebelum

Elaine datang untuk membawa Michelle ke tempat

penitipan anak. Aku mengatakannya pada Michelle. Ia

mulai menangis. TV kumatikan dan Michelle berbaring di

lantai sambil menendang-nendang dan menjerit-jerit.

"Jangan, Daddy! Kartun, Daddy! "

Aku mengangkatnya dan menggendongnya ke kamar

tidur untuk mengganti pakaiannya. Ia berteriak-teriak

sekuat tenaga. Pesawat telepon kembali berdering. Kali ini

dari operator divisi.

"Pagi, Letnan. Ada beberapa pesan untuk Anda."

"Sebentar, saya ambil pensil dulu," kataku. Aku

menurunkan Michelle. Tangisnya semakin keras. Aku

berkata, "Sekarang kamu pilih sepatu mana yang akan

kaupakai ke sekolah, ya?" "

"Kedengarannya seperti ada pembunuhan di tempat

Anda," si operator telepon berkomentar.

"Dia tidak mau bersiap-siap untuk pergi ke sekolah."

Michelle menarik-narik kakiku. "Tidak mau, Daddy. Aku

tidak mau sekolah, Daddy."

"Kau harus sekolah," aku berkata dengan tegas.

Michelle kembali menangis. "Silakan," aku berkata

kepada si operator.

"Oke, pukul 23.41 semalam, ada telepon dari seseorang

bernama Ken Subotik atau Subotnik, dari LA Times. Dia

minta ditelepon lagi. Pesannya, 'Si Musang sedang

mengintai Anda.' Dia bilang, Anda tahu artinya. Anda bisa

menghubunginya di rumah. Anda punya nomornya?"

"Ya."

"Oke. Pukul 01.42 dini hari, telepon dari Mr. Eddie Saka

kelihatannya seperti Sakamura. Dia bilang penting, harap

telepon ke rumahnya, 5558434. Mengenai kaset yang

hilang. Oke?"

Sialan.

Aku berkata, "Jam berapa dia menelepon?"

"Pukul 01.42 dini hari. Teleponnya disambungkan ke

County General, dan sepertinya operator di sana tak dapat

menemukan Anda. Anda berada di kamar mayat?”

"Yeah."

"Sori, Letnan, tapi begitu Anda keluar mobil, kami

terpaksa melalui pihak ketiga."

"Oke. Ada lagi?"

"Kemudian pukul 06.43 tadi. Kapten Connor

meninggalkan nomor pager yang dapat Anda hubungi. Dia

bilang dia mau main golf pagi ini.”

"Oke."

"Dan pukul 07.10, ada telepon dari Robert Woodson

yang bekerja di kantor Senator Morton. Senator Morton

ingin bertemu dengan Anda dan Kapten Connor pukul satu

siang nanti di Los Angeles Country Club. Dia minta agar

Anda meneleponnya untuk mengkonfirmasikan bahwa

Anda akan menemui Senator Morton. Saya sudah berusaha

menghubungi Anda, tetapi telepon Anda sedang dipakai.

Anda akan menelepon Senator Morton?"

Aku mengatakan bahwa aku akan meneleponnya.

Kemudian aku minta tolong pada operator itu untuk

menghubungi Connor di lapangan golf, dan berpesan agar

Connor meneleponku di mobil.

Aku mendengar kunci pintu diputar. Elaine melangkah

masuk. "Selamat pagi," katanya.

"Maaf, tapi Shelly belum berganti baju."

"Tidak apa-apa," ujar Elaine. "Jam berapa Mrs. Davis

akan menjemputnya?"

"Kami masih menunggu kabar darinya."

Elaine sudah terbiasa menghadapi keadaan ini.

"Ayo, Michelle. Sekarang kita pilih bajumu untuk hari ini.

Sudah waktunya bersiap-siap berangkat sekolah."

Aku melirik jam tangan. Aku baru saja hendak mengisi

cangkirku dengan kopi ketika pesawat telepon berdering.

"Apakah saya bisa bicara dengan Letnan Peter Smith?"

Ternyata dari Wakil Komandan, Jim Olson.

"Hai, Jim."

"Pagi, Pete." Nada suaranya ramah. Tapi Jim Olson tidak

pernah menelepon orang sebelum jam sepuluh pagi, kecuali

jika situasinya memang genting. Olson berkata,

"Kelihatannya kita menghadapi masalah besar. Kau sudah

baca koran pagi ini?"

"Yeah, sudah."

"Dan kau sempat melihat siaran berita?"

"Sebagian."

Pak Komandan meneleponku dan minta saran untuk

mengendalikan situasi ini. Aku butuh keteranganmu

sebelum memberikan rekomendasi. Oke?"

"Oke."

"Aku baru saja bicara dengan Tom Graham lewat

telepon. Dia mengakui bahwa kejadian semalam memang

kacau-balau. Tak ada yang bisa dibanggakan."

"Sepertinya begitu."

"Dua cewek telanjang menghalang-halangi dua petugas

berbadan sehat dan menggagalkan penangkapan seorang

tersangka. Intinya begitu, bukan?"

Kedengarannya konyol sekali. Aku berkata, "Kau harus

ada di sana untuk memahami duduk perkaranya, Jim."

"He-eh," katanya. "Hmm, sejauh ini ada satu hal yang

menguntungkan bagi kita. Aku telah memeriksa apakah

prosedur pengejaran dijalankan secara benar. Rupanya

memang begitu. Kita punya rekaman dari komputer,

rekaman percakapan radio, dan semuanya sesuai

peraturan. Untung saja. Bahkan tak ada yang mengumpat.

Rekaman-rekaman ini bisa kita berikan kepada pihak

media, seandainya situasi bertambah parah. Jadi, dalam hal

ini posisi kita cukup aman. Tapi sayang sekali Sakamura

tewas.”

"Ya."

"Graham sempat kembali untuk mencari kedua cewek

itu, tapi rumah Sakamura ternyata sudah kosong. Mereka

sudah lenyap."

"Begitu."

"Dan tentunya tidak ada yang sempat mencatat

nama-nama mereka?"

"Tidak."

"Berarti kita tidak punya saksi untuk kejadian di rumah

Sakamura. Ini agak berbahaya."

"He-eh."

"Pagi ini mereka sedang mengeluarkan mayat Sakamura

dari mobil itu, untuk mengirim sisa-sisanya ke kamar

jenazah. Menurut Graham, kasus ini sudah selesai. Kalau

tidak salah, ada rekaman video yang memperlihatkan

bahwa Sakamura membunuh cewek itu, bukan? Graham

bilang, dia sudah siap membuat laporan

lima-tujuh-sembilan. Menurutmu bagaimana? Kasus ini

sudah bisa ditutup?"

"Kelihatannya begitu.”

'Kalau begitu, kita sudahi saja,” ujar Olson. "Masyarakat

Jepang merasa jengkel dam tersinggung oleh penyelidikan

Nakamoto. Mereka ingin penyelidikan tersebut bisa

diakhiri secepat mungkin. Jadi, kalau kasus ini bisa

dianggap selesai, itu akan sangat membantu."

"Aku setuiu," kataku. "Kita akhiri saja di sini."

"Syukurlah kalau begitu, Pete," kata Olson.

"Aku akan bicara dengan Pak Komandan. Mogamoga kita

bisa mencegah tindakan disipliner."

"Thanks, Jim."

"Usahakan agar kau jangan terialu khawatir.

Aku sendiri tidak melihat isu disipliner di sini. Asal saja

kita punya rekaman video yang memperlihatkan Sakamura

pelakunya."

"Yeah.”

"Mengenai rekaman-rekaman ini," katanya, "aku sudah

minta agar Marty mengambil semuanya dari lemari barang

bukti. Tapi sepertinya dia tidak menemukannya."

Aku menarik napas panjang dan berkata, "Memang,

soalnya kubawa pulang."

"Kau tidak menyimpan kaset-kaset video itu di lemari

barang bukti semalam?"

"Tidak. Aku ingin membuat kopinya dulu."

Olson terbatuk-batuk. "Pete. Sebenarnya lebih baik kalau

kau mengikuti prosedur."

"Aku ingin membuat kopinya dulu," kataku sekali lagi.

"Begini saja," ujar Jim, "buat kopinya, lalu bawa semua

rekaman asli ke mejaku sebelum jam sepuluh. Oke?"

"Oke."

"Kadang-kadang memang agak lama sebelum bahan

tertentu bisa ditemukan di lemari barang bukti."

Secara tak langsung ia mengatakan bahwa ia akan

melindungiku. "Thanks, Jim."

"Jangan berterima kasih padaku, sebab aku tidak

melakukan apa-apa," jawabnya. "Sepanjang pengetahuanku,

semuanya sesuai prosedur standar."

"Betul."

"Tapi kusarankan, selesaikan semuanya dengan segera.

Aku bisa mengulur-ulur waktu selama beberapa jam. Tapi

di sini sedang terjadi sesuatu. Aku tidak tahu persis dari

mana asal-usulnya. Jadi jangan ambil risiko, oke?"

"Oke, Jim. Aku sudah mau berangkat."

Aku meletakkan gagang.

Bab 24

PASADENA tampak seperti sebuah kota di dasar gelas

berisi susu asam. Laboratorium Tenaga Jet terletak di

perbukitan di kaki gunung di pinggir kota, tidak jauh dani

Rose Bowl. Tapi walaupun sudah pukul 08.30, pegunungan

tetap tak tampak, karena terhalang kabut berwarna putih

kekuning-kuningan.

Aku menjepit kardus berisi kaset-kaset video di bawah

lengan, memperlihatkan lencanaku, mengisi daftar tamu di

gardu jaga, dan bersumpah bahwa aku warga negara

Amerika Serikat. Petugas jaga lalu menyuruhku ke gedung

utama, melintasi pekarangan dalam.

Selama beberapa dekade, Laboratorium Tenaga Jet

berfungsi sebagai pusat komando bagi wahana-wahana

ruang angkasa Amerika yang memotret planet Jupiter serta

cincin-cincin planet Saturnus, dan mengirim foto-fotonya

ke bumi dalam bentuk gambar video. LTJ merupakan

tempat peralatan video modern diciptakan. Jika ada yang

sanggup membuat kopi dari kaset-kaset yang kubawa, LTJ--

lah tempatnya.

Mary Jane Kelleher, sekretaris pers LTJ, membawaku ke

lantai tiga. Kami menyusun sebuah selasar berwarna hijau,

melewati beberapa pintu yang menuju ruang-ruang kantor

yang kosong. Aku menyinggung hal itu.

"Memang benar," ia berkata sambil mengangguk.

"Belakangan ini kami kehilangan sejumlah tenaga ahli,

Peter."

"Ke mana mereka pergi?" tanyaku.

"Sebagian besar ditampung oleh industri. Dari dulu

selalu ada beberapa orang yang pindah ke IBM di Armonk,

atau ke Bell Labs di New Jersey. Tapi lab-lab itu sudah tidak

lagi memiliki perlengkapan terbaik atau dana yang paling

besar. Posisi mereka digantikan oleh lab-lab penelitian

Jepang, misalnya Hitachi di Long Beach, Sanyo di Torrance,

Canon di Inglewood. Banyak peneliti Amerika bekerja

untuk mereka sekarang."

"LTJ tidak prihatin mengenai perkembangan ini?"

“Tentu saja kami prihatin,” katanya. "Semua orang tahu

bahwa cara terbaik untuk mengalihkan teknologi adalah di

dalam kepala seseorang. Tapi kami tak dapat berbuat

apa-apa." Ia mengangkat bahu. "Para peneliti ingin

melakukan penelitian. Dan Amerika kini membatasi diri

dalam bidang riset dan pengembangan. Anggaran

diperketat. Jadi memang lebih baik bekerja untuk orang

Jepang. Mereka berani membayar, dan mereka benar-benar

menghargai penelitian. Kalau kita memerlukan perlengkapan

tertentu, kita akan mendapatkannya. Paling

tidak, itulah yang dikatakan teman-temanku. Nah, kita

sudah sampai."

Ia mengajakku ke sebuah laboratorium yang penuh

sesak dengan peralatan video. Kotak-kotak hitam

ditumpuk-tumpuk di rak-rak logam dan meja-meja logam;

kabel-kabel simpang siur di lantai; ada berbagai jenis

monitor dan layar peraga. Di tengah-tengah semuanya itu

berdiri pria berjanggut bernama Kevin Howzer. Usianya

sekitar 35 tahun. Pada monitor tampak mekanisme gigi,

dengan warna pelangi yang terus berubah-ubah. Mejanya

dipenuhi kaleng-kaleng Coke dan bekas bungkus permen.

Rupanya ia tidak tidur sepanjang malam, bekerja.

"Kevin, ini Letnan Smith dari L.A.P.D. Dia punya

beberapa kaset video yang perlu dikopi."

"Cuma dikopi?" tanya Howzer dengan nada kecewa.

"Kaset-kaset itu tidak perlu diotak-atik?"

"Tidak, Kevin," ujar Mary Jane. "Tidak perlu."

"Beres. "

Aku menunjukkan salah satu kaset pada Howzer. Ia

memutar-mutarnya dan mengangkat bahu.

"Kelihatannya seperti kaset delapan mili standar. Apa

isinya?"

"Rekaman video Jepang, definisi tinggi."

"Maksud Anda, sinyal HDT.”

"Mungkin."

"Mestinya tidak ada kesulitan. Anda punya alat putar

yang bisa saya pakai?"

"Ya." Aku mengeluarkan alat itu dari kotak dan

menyerahkannya.

"Jeez, mereka memang hebat Alat ini benar-benar

bagus." Kevin mengamati tombol-tombol di bagian depan.

"Yeah, memang definisi tinggi. Jangan takut, kalau cuma

begini saja, saya masih sanggup." Ia membalikkan kotak itu

dan memperhatikan colokan-colokan di belakang. Tiba-tiba

ia mengerutkan kening. Ia memindahkan lampu meja dan

membuka tutup kaset, sehingga pitanya kelihatan.

Wamanya keperak-perakan. "Hmm. Apakah isi kaset-kaset

ini menyangkut masalah hukum?"

"Ya."

Ia mengembalikan kasetnya padaku. "Sori, saya tidak

bisa membuat kopi."

"Kenapa tidak?"

"Anda lihat warna perak ini? Itu pita logam yang sudah

menguap. Saya rasa formatnya mencakup kompresi dan

dekompresi real-time. Saya tidak bisa membuat kopi untuk

Anda, karena saya tidak bisa mencocokkan formatnya, yang

berarti saya tidak bisa merekam sinyal dengan cara yang

pasti terbaca. Saya bisa saja membuat kopi untuk Anda, tapi

saya tidak bisa menjamin bahwa hasilnya sempurna,

karena saya tidak bisa mencocokkan fonnatnya. Jadi, kalau

memang ada masalah hukum - dan saya kira ada - Anda

terpaksa membawa kaset-kaset ini ke tempat lain untuk

membuat kopi."

"Ke mana, misalnya.?"

"Ini mungkin format D-empat yang baru. Kalau memang

itu, satu-satunya tempat untuk membuat kopi adalah

Hamaguchi."

"Hamaguchi?"

"Lab penelitian di Glendale, milik Kawakami Industries.

Setiap perlengkapan video yang ada di muka bumi ini ada

di sana."

Aku berkata, "Menurut Anda, mereka akan membantu

saya?"

"Sekadar membuat kopi? Tentu. Saya kenal salah satu

direktur lab, Jim Donaldson. Kalau perlu, saya bisa

meneleponnya untuk Anda."

"Itu akan sangat membantu."

"Beres."

Bab 25

HAMAGUCHI RESEARCH INSTITUTE menempati sebuah

gedung kaca tanpa ciri khas di kawasan industri di sebelah

utara Glendale. Aku memasuki lobi sambil membawa

kotakku. Di balik meja penerima tamu yang bergaya

modern, aku melihat sebuah atrium di bagian tengah

gedung, dengan lab-lab berkaca gelap di semua sisinya.

Aku menanyakan Dr. Jim Donaldson, lalu duduk di lobi.

Sementara aku menunggu, dua pria berjas melangkah

masuk. Dengan gaya akrab mereka menganggukkan kepala

kepada petugas penerima tamu, lalu duduk di sofa di

dekatku. Tanpa memperhatikanku, mereka menggelar

brosur-brosur mengilap di meja.

"Nah, ini," ujar salah seorang dari mereka, "ini yang

kumaksud. Ini adegan terakhir. Adegan penutup."

Aku melirik ke arah mereka dan melihat pemandangan

bunga-bunga liar dan gunung-gunung berselubung salju.

Pria pertama tadi mengetuk-ngetuk foto-foto itu.

"Rocky Mountains. Americana sejati. Percayalah, inilah

daya tarik utamanya Dan lahannya benar-benar luas."

"Seberapa luas katamu tadi?"

"Seratus tiga puluh ribu ekar. Lahan paling luas yang

masih tersedia di Montana. Dua puluh kali sepuluh

kilometer tanah peternakan terbaik, menghadap ke

Rockies. Lahan seluas itu pantas disebut taman nasional.

Bayangkan kemegahannya. Dimensinya. Kualitas terbaik.

Cocok sekali untuk konsorsium Jepang."

"Dan mereka sudah menyinggung harga?"

"Belum. Tapi para peternak, kau tahu sendiri, situasi

mereka pelik. Orang asing kini boleh

mengekspor daging sapi ke Tokyo, dan harga daging sapi

di Jepang sekitar 20 sampai 22 dolar sekilo. Tapi tak

seorang pun di Jepang mau beli daging sapi asal Amerika.

Kalau orang Amerika mengirim daging, dagingnya akan

membusuk di dermaga. Tapi kalau peternakan mereka

dijual kepada orang Jepang, dagingnya bisa diekspor. Sebab

orang Jepang mau beli dari peternakan milik orang Jepang.

Orang Jepang mau melakukan bisnis dengan sesama orang

Jepang. Di mana-mana di Montana dan Wyoming sudah

banyak peternakan yang dijual. Para. peternak yang masih

bertahan kini bisa melihat koboi-koboi Jepang berkuda di

padang rumput. Mereka melihat peternak-peternak lain

melakukan perbaikan, membangun gudang jerami,

menambahkan perlengkapan modern, dan sebagainya.

Sebab peternak-peternak lain itu memperoleh harga tinggi

di Jepang. Nah, para peternak Amerika, mereka tidak

bodoh. Mereka bisa membaca gelagat. Mereka sadar bahwa

mereka tak dapat bersaing. Jadi mereka pun menjual."

"Tapi setelah itu, apa yang dilakukan orang-orang

Amerika itu?"

"Mereka tetap tinggal di tempat dan bekerja untuk orang

Jepang. Tak ada masalah. Orang Jepang membutuhkan

orang untuk mengajarkan cara beternak pada mereka. Dan

semua pekerja memperoleh kenaikan gaji. Orang Jepang

peka terhadap perasaan orang Amerika. Mereka bangsa

yang peka."

"Aku tahu, tapi aku tetap tidak suka. Aku tidak suka

semuanya ini."

"Boleh-boleh saja, Ted. Tapi apa yang akan kaulakukan?

Menulis surat protes kepada anggota Kongres? Mereka

semua bekerja untuk orang Jepang. Asal tahu saja, orang

Jepang menjalankan peternakan-peternakan itu dengan

subsidi dari pemerintah Amerika.” Pria pertama

memutar-mutar gelang emas di pergelangan tangannya. Ia

merapatkan badan ke rekannya. "Begini, Ted. Jangan sok

moralis. Kau dan aku, kita sama-sama butuh kontrak ini.

Ingat, kita bakal dapat lima persen dan pembayaran selama

lima tahun dari transaksi senilai 700 juta dolar. Jangan lupa

itu. Kau sendiri akan memperoleh 2,4 juta, dan itu baru

untuk tahun pertama. Masih ada empat tahun lagi."

"Memang. Tapi tetap saja ada yang terasa mengganjal.”

"Ted, aku yakin hati nuranimu takkan mengganggumu

lagi pada waktu kontrak ini ditandatangani. Tapi sekarang

masih ada beberapa detail yang perlu kita bahas..." Saat itu,

mereka rupanya baru sadar bahwa aku mendengarkan

percakapan mereka. Mereka langsung berdiri dan pindah

ke tempat yang agak jauh. Aku mendengar pria pertama

mengatakan sesuatu mengenai "jaminan bahwa Negara

Bagian Montana menyetujui dan mendukung..." Rekannya

mengangguk pelan-pelan. Pria pertama menonjok bahunya

berusaha menghiburnya.

"Letnan Smith?"

Seorang wanita berdiri di samping tempat dudukku.

"Ya?"

"Saya Kristen, asisten Dr. Donaldson. Kevin dari LTJ

sudah menelepon ke sini. Katanya Anda butuh bantuan

dengan beberapa kaset video?"

"Ya, saya ingin membuat kopi."

"Masalahnya, bukan saya yang menerima telepon dari

Kevin tadi. Dia bicara dengan salah satu sekretaris, dan

orang itu tidak memahami situasinya. "

"Maksud Anda?"

"Dr. Donaldson sedang keluar. Dia memberikan ceramah

pagi ini."

"Oh, begitu."

"Dan ini agak menyulitkan bagi kami. Tanpa dia di lab..."

"Saya hanya ingin membuat kopi dari kaset-kaset ini.

Barangkali ada orang lain yang bisa membantu saya?"

ujarku.

“Biasanya bisa, tapi sayang sekali hari ini tidak.”

Aku menghadapi tembok Jepang. Sangat sopan, namun

tetap sebuah tembok. Aku menghela napas. Memang sudah

dapat diduga bahwa perusahaan riset Jepang takkan mau

membantuku. Biarpun sekadar membuat kopi dari

kaset-kaset video.

"Saya mengerti.”

"Pagi ini belum ada orang di lab. Semalam semuanya

bekerja lembur karena ada proyek yang harus segera

selesai, dan sepertinya mereka baru pulang menjelang dini

hari. Jadi sekarang semuanya masuk agak siang. Inilah yang

tidak diketahui oleh sekretaris tadi. Sayang sekali kami

tidak dapat membantu Anda."

Aku mencoba sekali lagi. "Anda tahu, bukan, saya bekerja

untuk Kepala Departemen Polisi. Ini tempat kedua yang

saya datangi. Saya sudah didesak-desak dari atas agar

kaset-kaset ini segera dikopi."

"Saya ingin sekali membantu Anda. Dan saya tahu Dr.

Donaldson juga begitu. Kami sudah pernah mengedakan

tugas khusus untuk kepolisian. Dan saya yakin, kami

sanggup membuat kopi dari kaset-kaset yang Anda bawa.

Mungkin nanti siang. Atau jika Anda bisa meninggalkan

kaset-kaset itu..."

"Maaf, rasanya tak mungkin."

"Oke. Saya mengerti. Baiklah, saya sangat menyesal,

Letnan. Barangkali Anda bisa kembali nanti siang?"

Aku berkata, "Kelihatannya saya tidak ada waktu lagi.

Mungkin saya memang kurang beruntung, karena semua

orang terpaksa bekerja lembur semalam."

"Ya. Ini memang tidak biasa."

"Ada apa sebenarnya? Masalah mendadak? Masalah

riset?"

"Saya kurang tahu. Peralatan video di sini begitu

lengkap, sehingga kami kadang-kadang menerima

permintaan mendadak untuk mengerjakan tugas khusus.

Iklan TV yang memerlukan efek khusus, misalnya. Video

Michael Jackson yang baru untuk Sony. Atau jika seseorang

ingin memperbaiki rekaman yang sudah rusak. Tapi saya

kurang tahu apa yang mereka kerjakan semalam. Kecuali

bahwa banyak sekali yang harus dikerjakan. Ada sekitar

dua puluh kaset yang perlu ditangani. Dan semuanya harus

selesai cepat. Saya dengar mereka baru selesai setelah

tengah malam."

Dalam hati aku berkata, "Jangan-jangan..."

Aku berusaha mereka-reka tindakan Connor dalam

situasi seperti ini, bagaimana ia akan menanganinya.

Akhirnya aku memutuskan bahwa tak ada salahnya

mencoba-coba. Aku berkata, "Hmm, saya yakin pihak

Nakamoto berterima kasih sekali atas segala jerih payah

Anda."

"Oh, memang. Sebab hasilnya sangat memuaskan bagi

mereka. Mereka senang sekali."

Aku berkata, "Tadi Anda menyinggung bahwa Mr.

Donaldson sedang memberi ceramah..."

"Dr. Donaldson, ya..."

"Di mana dia memberikan ceramahnya?"

"Di sebuah seminar corporate-training di Bonaventure

Hotel. Teknik manajemen dalam riiset. Dia tentu letih sekali

pagi ini. Tapi dia memang penceramah yang hebat."

"Thanks." Kuserahkan kartu namaku. "Anda sangat

membantu, dan bila Anda tiba-tiba teringat sesuatu, atau

jika Anda ingin memberitahukan sesuatu, silakan telepon

saya."

"Oke." Ia membaca kartu namaku. "Terima kasih."

Aku berbalik. Ketika aku hendak pergi, seorang pria

Amerika berusia menjelang tiga puluh, dengan jas Armani

dan penampilan rapi seorang MBA yang gemar membaca

majalah mode, turun dan berkata kepada kedua pria tadi,

"Gentlemen? Mr. Nakagawa sudah siap menerima Anda

sekarang."

Kedua pria itu langsung berdiri, mengumpulkan

brosur-brosur dan foto-foto mereka, lalu mengikuti asisten

yang sedang menuju lift dengan langkah tenang dan

terukur.

Aku melangkah keluar, ke udara yang penuh kabut dan

asap.

Bab 26

PAPAN pengumuman di koridor itu bertulisan: BEKERJA

SAMA: MANAJEMEN GAYA JEPANG DAN AMERIKA. Di

dalam ruang konferensi, aku melihat sebuah seminar bisnis

yang diselenggarakan dalam suasana remang-remang. Pria

dan wanita duduk di meja-meja panjang yang ditutupi

taplak berwarna abu-abu, sibuk membuat catatan;

sementara sang Penceramah berkhotbah di podium.

Ketika aku berdiri di sana, di hadapan sebuah meja

dengan papan nama orang-orang yang datang terlambat,

seorang wanita berkacamata menghampiriku dan berkata,

"Anda sudah mendaftar? Bahan-bahan seminar sudah

diberikan kepada Anda?"

Aku setengah berbalik dan menunjukkan lencanaku. Aku

berkata, Saya ingin bicara dengan Dr. Donaldson."

"Dia pembicara berikut. Dalam tujuh atau delapan menit

dia sudah harus tampil di depan. Barangkali ada orang lain

yang dapat membantu Anda?"

"Saya hanya perlu bicara sebentar.”

Wanita itu tampak ragu-ragu. "Tapi waktunya tinggal

sedikit sebelum dia harus maju..."

"Kalau begitu, sebaiknya Anda segera bertindak."

Ia menatapku, seakan-akan aku baru saia menamparnya.

Aku tidak tahu apa yang diharapkannya. Aku petugas polisi

dan perlu menemui seseorang. Apakah ia mengira

permintaanku bisa ditawar-tawar? Aku merasa jengkel, lalu

teringat pada anak muda dengan jas Armani tadi. Berjalan

dengan langkah terukur, seperti orang penting, ketika

mengantar kedua salesmen real estate. Kenapa ia

menganggap dirinya penting? Barangkali ia memang

memegang gelar MBA, tapi ia tetap hanya petugas

penerima tamu bagi bosnya yang berasal dari Jepang.

Kini aku memperhatikan wanita itu berjalan

mengelilingi ruang konferensi, menuju mimbar tempat

empat pria sedang menanti giliran bicara. Para peserta

seminar masih sibuk membuat catatan ketika pembicara

berambut kuning pasir di podium berkata, "Sebenarnya ada

tempat bagi orang asing dalam perusahaan Jepang. Bukan

di posisi puncak, tentu saja, mungkin juga bukan di

eselon-eselon atas. Tapi yang jelas, ada tempat. Anda perlu

menyadan bahwa sebagai orang asing, Anda menempati

posisi penting di dalam perusahaan Jepang, bahwa Anda

dihormati, dan bahwa ada tugas yang harus Anda kerjakan.

Sebagai orang asing, tentu ada rintangan khusus yang perlu

Anda atasi, tetapi Anda dapat melakukannya. Anda bisa

berhasil jika Anda berpegang pada konsep tahu diri."

Aku mengamati para peserta seminar yang duduk

dengan kepala merunduk, sibuk membuat catatan. Apa

yang sedang mereka tulis? Konsep tahu diri?

Pembicara itu melanjutkan, "Sering kali Anda

mendengar para eksekutif berkata, 'Di perusahaan Jepang

tidak ada tempat bagi saya, dan saya terpaksa berhenti.'

Ada juga yang mengeluh, 'Mereka tidak mau mendengarkan

saya, tidak ada kesempatan untuk mewujudkan

gagasan-gagasan saya, tidak ada peluang untuk maju.'

Orang-orang itu tidak memahami peranan orang asing

dalam masyarakat Jepang. Mereka tidak mampu menyesuaikan

diri, sehingga terpaksa mundur. Tapi itu masalah

mereka. Orang Jepang bersedia menerima orang Amerika

atau orang asing lainnya di dalam perusahaan-perusahaan

mereka. Anda pun akan diterima, asal Anda tahu diri."

Seorang wanita mengacungkan tangan dan berkata,

"Bagaimana dengan prasangka terhadap wanita di

perusahaan-perusahaan Jepang?"

"Tidak ada prasangka terhadap wanita," ujar si

Penceramah.

"Saya mendengar bahwa wanita tidak bisa maju.”

"Itu tidak benar."

"Lalu kenapa ada begitu banyak perkara hukum?

Sumitomo Corporation baru saja berdamai menghadapi

tuntutan antidiskriminasi. Saya pernah

missing

Begitulah ia menjalankan tugasnya. Segala sesuatu siap

di hadapannya, dan ia bisa membuat catatan di

komputernya sambil berbicara. Ketika aku masih bertugas

di bagian pers, kantorku berada di markas polisi di Parker

Center, dua blok dari gedung Times. Namun seorang

wartawan seperti Ken tetap saja lebih suka bicara lewat

telepon daripada berhadapan langsung denganku.

"Kau saja yang mampir, Pete."

Itu sudah cukup jelas.

Ken tidak ingin bicara lewat telepon.

"Oke, baiklah," kataku. "Sepuluh menit lagi aku sudah

sampai di sana."

Bab 27

LOS ANGELES TIMES merupakan koran dengan laba

terbesar di Amerika. Ruang wartawannya menghabiskan

satu lantai di gedung Times, jadi luasnya satu blok.

Ruangan itu dibagi-bagi secara cermat, sehingga kita tidak

sadar akan dimensinya dan bahwa ada ratusan orang yang

bekerja di sana. Tapi rasanya kita bisa berjalan berhari-hari

melewati wartawan-wartawan yang duduk di meja

masing-masing, berhadapan dengan monitor komputer,

pesawat telepon, dan foto anak-anak yang mereka

tempelkan.

Tempat kerja Ken berada di bagian Metro, di sisi timur

gedung. Ketika aku sampai, ia sedang berdiri di dekat

mejanya. Berjalan mondar-mandir. Menunggu. Ia langsungmenarik

sikutku.

"Kopi," katanya. "Kita minum kopi dulu."

"Ada apa ini?" ujarku. "Kau keberatan kalau ada yang

melihatmu bersamaku?"

"Bukan itu. Aku mau menghindari si Musang. Dia lagi

mengganggu cewek baru di bagian Luar Negeri. Cewek itu

belum tahu siapa dia." Ken mengangguk ke ujung ruang

wartawan. Di sana, di dekat jendela, aku melihat sosok

Willy Wilhelm, yang dikenal semua orang sebagai Willy

Musang. Ia sedang bercanda dengan seorang wanita muda

yang duduk menghadapi komputer.

"Cantik juga." ,

"Yeah. Tapi agak keberatan pantat. Orang Belanda," ujar

Ken. "Baru seminggu di sini. Dia belum tahu reputasi si

Musang."

Hampir semua organisasi mempunyai orang seperti si

Musang, seseorang yang dikuasai ambisi pribadi, seseorang

yang pintar mengambil hati orang-orang yang berkuasa,

sementara ia sendiri dibenci oleh semua orang lain. Itulah

Willy Musang. Seperti sebagian besar orang yang tidak

jujur, si Musang selalu berprasangka buruk terhadap orang

lain. Setiap kejadian selalu diceritakannya dari sudut yang

paling tidak menguntungkan, dengan berkeras bahwa ia

sekadar mengungkapkan fakta. Ia mempunyai penciuman

tajam untuk kelemahan manusia, dan cenderung bersikap

melodramatis. Ia tak peduli pada kebenaran, dan

pemberitaan yang seimbang dianggapnya sebagai tanda

kelemahan. Menurut si Musang, kebenaran hakiki selalu

salah. Inilah pedomannya dalam menjalankan profesi. Para

wartawan Times yang lain membencinya. Ken dan aku pergi

ke koridor utama. Aku mengikutinya ke arah otomat kopi,

tetapi ia mengajakku memasuki perpustakaan. Di

tengah-tengah lantai itu, harian Times memiliki

perpustakaan yang lebih luas dan lebih lengkap

dibandingkan dengan perpustakaan di banyak perguruan

tinggi.

"Jadi, ada apa dengan Wilhelm?" kataku.

"Dia ada di sini semalam," ujar Ken. "Aku mampir di sini

setelah nonton teater, untuk mengambil bebempa catatan

yang kuperlukan untuk wawancara jarak jauh yang

kulakukan dari rumah. Dan kulihat si Musang di

perpustakaan. Kira-kira jam sebelas malam. Kau tahu

sendiri betapa ambisius bajingan itu. Aku bisa melihatnya

di wajahnya. Dia telah mencium darah. Bagaimana, kau

ingin tahu lebih banyak mengenai ini?"

"Tentu saja," kataku. Si Musang terkenal pandai

menikam orang dari belakang. Setahun lalu, ia berhasil

mendongkel editor Sunday Calendar, dan baru pada saat

terakhir ia gagal menduduki posisi itu.

Ken berkata, "Jadi, aku berbisik pada Lily, petugas

perpustakaan yang dinas malam, 'Ada apa ini? Apa rencana

si Musang?' Dia berkata, 'Dia lagi memeriksa catatan polisi

mengenai seorang petugas polisi.' Aku langsung lega. Tapi

kemudian aku mulai heran. Sampai sekarang aku masih

wartawan Metro paling senior. Aku masih sering meliput

berita dari Parker Center. Mana mungkin dia mengetahui

sesuatu yang tidak kuketahui? Seharusnya aku yang

meliput berita itu. Jadi aku bertanya pada Lily, siapa

petugas polisi itu."

"Biar kutebak saja," kataku.

"Betul," ujar Ken. "Peter J. Smith."

"Jam berapa itu?"

"Sekitar jam sebelas."

"Bagus," kataku.

"Kupikir kau ingin diberitahu mengenai ini," kata Ken.

"Memang."

"Jadi aku bilang pada Lily – semalam - aku bilang, Lily,

bahan apa saja yang dia ambil? Dan ternyata dia mengambil

segala sesuatu, apa saja yang ada di dalam arsip.

Kelihatannya dia punya sumber di Parker Center yang

membocorkan informasi rahasia. Ada catatan mengenai

kasus penganiayaan anak kecil beberapa tahun lalu:"

"Ah, brengsek," kataku.

"Apa benar?" tanya Ken.

"Memang sempat ada pemeriksaan," ujarku.

"Tapi semuanya hanya omong kosong."

Ken menatapku. "Coba ceritakan."

"Kejadiannya tiga tahun lalu. Waktu aku masih bertugas

sebagai detektif. Partnerku dan aku menerima panggilan

kekerasan rumah tangga di Ladera Heights. Suami-istri

Latin, bertengkar. Kedua duanya mabuk berat. Wanita itu

mendesak agar aku menahan suaminya, dan waktu aku

menolak; dia bilang suaminya menganiaya bayi mereka secara

seksual. Lalu kuperiksa bayi mereka. Tampaknya

baik-baik saja. Aku tetap menolak untuk menahan si suami.

Wanita itu marah-marah. Besoknya dia datang ke markas

dan menuduh bahwa aku melakukan penganiayaan seksual.

Sempat ada pemeriksaan pendahuluan. Akhirnya tuduhan

dibatalkan karena dianggap tidak berdasar."

"Oke," kata Ken. "Sekarang ini, kau pernah melakukan

perjalanan yang tidak jelas tujuannya?"

Aku mengerutkan kening. "Perjalanan?"

"Semalam, si Musang berusaha mengumpulkan catatan

perjalananmu. Perjalanan naik pesawat, perjalanan dinas

sambil berfoya-foya, biaya ditanggung orang lain..."

Aku menggelengkan kepala. "Tidak pernah."

"Yeah, aku memang sudah menduga bahwa dia keliru

mengenai ini. Kau orangtua tunggal, kau takkan

berpelesiran."

"Tidak mungkin."

"Bagus."

Kami menyusuri rak-rak buku. Kami sampai di salah satu

bagian perpustakaan tempat kami dapat melihat bagian

Metro melalui dinding kaca. Sl Musang ternyata masih

mengobrol dengan wanita muda tadi. Aku berkata, "Ada

satu hal yang tidak kumengerti, Ken. Kenapa aku? Aku tidak

punya masalah dengan siapa pun. Tidak ada kontroversi.

Sudah tiga tahun aku tidak bekerja sebagai detektif. Aku

bahkan bukan petugas pers lagi. Aku bekerja sebagai

penghubung. Pekerjaan ku bersifat politik. Jadi, kenapa aku

diincar wartawan Times?"

"Jam sebelas malam pada malam Jumat, maksudmu?"

ujar Ken. Ia menatapku, seakan-akan aku orang paling tolol

di seluruh dunia. Seakan-akan ada ludah yang menetes dari

daguku.

Aku berkata, "Kaupikir ini ulah orang-orang Jepang?"

"Kupikir si Musang menawarkan jasanya kepada umum.

Dia bajingan yang bisa disewa. Dia bekerja untuk studio

film, perusahaan rekaman, perusahaan pialang, bahkan

untuk broker real estate. Dia bertindak sebagai konsultan.

Asal tahu saja, si Musang sekarang naik Mercedes 500SL."

“O, ya?"

"Untuk ukuran wartawan, lumayan juga, bukan?"

"Yeah."

"Nah. Kau pernah menyinggung perasaan seseorang?

Semalam, barangkali?"

"Mungkin."

"Sebab ada yang menelepon si Musang untuk melacak

segala gerak-gerikmu."

Aku berkata, "Ini tidak masuk akal."

"Tapi ini kenyataan," ujar Ken. "Satu-satunya yang

membuatku khawatir adalah sumber informasi si Musang

di Parker Center. Seseorang di sana membocorkan

informasi rahasia. Kau punya musuh di markasmu?"

"Setahuku tidak ada."

"Syukurlah. Sebab si Musang sudah mulai menjalankan

siasatnya. Tadi pagi aku sempat bicara dengan Roger

Roscomb, penasihat kami di sini."

"Dan?"

"Coba tebak siapa yang meneleponnya semalam, serba

genting? Si Musang. Dan kau mau tahu apa yang

ditanyakannya?"

Aku diam saja.

"Pertanyaannya, apakah petugas penghubung pers

termasuk orang yang menjadi milik umum? Orang yang

tidak bisa menuntut karena difitnah?"

Aku bergumam, "Astaga."

"Itulah."

"Dan jawabannya?"

"Masa bodoh dengan jawabannya. Kau tahu sendiri

bagaimana cara kerjanya. Si Musang hanya perlu

menelepon beberapa orang dan berkata 'Halo, ini Bill

Wilhelm dari LA. Times. Besok kami akan memuat berita

bahwa Letnan Smith pernah menganiaya anak kecil.

Bagaimana komentar Anda?' Dengan beberapa kali

menelepon ke alamat yang tepat, artikel itu bahkan tidak

perlu dimuat. Para editor bisa saja membatalkannya, tapi

kau tetap akan kena getahnya."

Aku membisu. Aku tahu bahwa Ken benar.

Sudah lebih dari sekali aku melihat hal itu terjadi.

Aku berkata, "Apa yang bisa kulakukan?"

Ken tertawa. "Kau bisa mengatur insiden kekerasan

polisi L.A. yang terkenal."

"Itu tidak lucu."

"Sumpah, tak seorang pun di harian ini akan meliputnya.

Kalau perlu, kau malah bisa membunuhnya. Dan kalau ada

yang merekamnya dengan kamera video? Hei, orang-orang

di sini bersedia membayar untuk menontonnya."

"Ken."

0 Response to "RISING SUN 3"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified