Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

RISING SUN 2

"Saya jamin dia tidak sedang menerima tamu," ujar

Connor. “Kore wa keisatsu no shigoto da." Ia berkata bahwa

kami sedang menjalankan tugas resmi dari kepolisian.

Si penjaga pintu membungkuk, dengan kaku. "Kyugo

shitu." Ia menyerahkan sebuah anak kunci kepada Connor.

Kami melewati pintu kaca kedua, dan menyusuri selasar

berkarpet. Di masing-masing ujung selasar terdapat sebuah

meja kecil dan dengan segala kesederhanaannya,

interiornya berkesan anggun.

"Ciri khas orang Jepang," ujar Connor sambil tersenyum.

Aku berkata dalam hati, "Gedung apartemen bergaya

Tudor, tak terurus, di Westford? Ciri khas orang Jepang?"

Dari salah satu ruang di sebelah kanan, sayup-sayup

terdengar musik rap, hit terbaru dari Hammer.

"Bagian luarnya tidak memberi petunjuk mengenai

bagian dalamnya," Connor menjelaskan. "Salah satu prinsip

dasar dalam cara berpikir orang Jepang. Citra yang

ditampilkan kepada umum tidak mengungkapkan apa-apa -

dalam arsitektur, wajah orang, semuanya. Dari dulu sudah

begitu. Lihat saja rumah-rumah samurai zaman dulu di

Takayama atau Kyoto. Dari luar tidak kelihatan apa-apa."

"Ini gedung Jepang?"

"Tentu saja. Kalau bukan, kenapa orang Jepang yang

hampir tidak bisa menguasai bahasa Inggris dijadikan

penjaga pintu? Dan dia anggota yakuza. Mungkin Anda

sempat melihat tatonya tadi."

Aku tidak melihatnya. Yakuza adalah kelompok gangster

di Jepang. Aku baru tahu bahwa mereka sudah melebarkan

sayap ke Amerika, dan aku mengatakannya kepada Connor.

"Anda perlu menyadari," ujar Connor, "bahwa ada dunia

bayangan di L.A. sini, di Honolulu, di New York. Biasanya

dunia itu tidak terlihat oleh kita. Kita hidup di dunia

Amerika, mondar-mandir di jalan-jalan Amerika, dan kita

tak pernah sadar bahwa di samping dunia kita masih ada

dunia lain. Sangat rahasia, sangat tertutup. Di New York,

Anda mungkin melihat pengusaha Jepang masuk melalui

sebuah pintu tanpa tanda-tanda khusus, dan sepintas lalu

Anda sempat melihat kelab yang berada di balik pintu itu.

Barangkali Anda mendengar cerita mengenai sushi bar kecil

di Los Angeles, yang mengenakan charge sebesar 1.200

dolar per orang, sebanding dengan harga-harga di Tokyo.

Tapi kedua-duanya tidak tercantum dalam buku panduan.

Kedua-duanya bukan bagian dari dunia Amerika yang kita

kenal. Tempat-tempat seperti itu merupakan bagian dari

dunia bayangan, sebuah dunia yang hanya bisa dimasuki

oleh orang-orang Jepang."

"Dan tempat ini?"

"Ini sebuah benaku. Sebuah pondok cinta untuk para

wanita simpanan. Dan ini apartemen Miss Austin."

Connor membuka pintu dengan anak kunci yang

diberikan penjaga tadi. Kami melangkah masuk.

Apartemen itu memiliki dua kamar tidur, berisi perabot

sewaan gaya Oriental yang mahal, dengan warna pastel

pink dan hijau. Lukisan-lukisan cat minyak yang tergantung

di dinding juga disewa; sebuah tabel di sisi salah satu

bingkai menunjukkan tempat asalnya, Breuner's Rents.

Meja dapur kosong, hanya ada semangkuk buah-buahan.

Lemari es hanya berisi yogurt dan beberapa kaleng Diet

Coke. Sofa-sofa di ruang duduk tampaknya belum pernah

diduduki. Di meja terdapat buku bergambar dengan potret

bintang-bintang Hollywood, serta vas berisi bunga kering.

Asbak-asbak kosong ada di mana-mana.

Satu dari kedua kamar tidur telah diubah menjadi ruang

kerja, dengan sofa dan pesawat TV, dan sebuah exercise

bike di pojok. Semuanya masih baru. Di pesawat TV masih

menempel stiker bertulisan DIGITAL TUNING FEATURE,

melintang di salah satu sudut. Sedang pada exercise bike

masih dibungkus plastik.

Di kamar tidur utama, aku akhirnya menemukan tanda

mengenai kehadiran orang. Sebuah pintu lemari bercermin

terbuka lebar, dan tiga gaun pesta mahal tergeletak di

tempat tidur. Rupanya Miss Austin sempat memilih-milih

gaun mana yang akan dipakainya. Di meja rias terdapat

beberapa botol parfum, kalung berlian, jam Rolex emas,

foto-foto berbingkai, dan asbak dengan beberapa puntung

rokok Mild Seven Menthol. Laci paling atas di meja rias,

yang berisi celana dalam dan pakaian dalam lainnya,

terbuka sebagian. Aku melihat paspor Miss Austin, dan

segera memeriksanya. Ada satu visa untuk Arab Saudi, satu

untuk Indonesia, dan tiga cap kunjungan ke Jepang.

Stereo set di pojok ruangan masih menyala, dengan

kaset di dalamnya. Aku menghidupkannya, dan Jerry Lee

Lewis menyanyi, "You shake my nerves and you ra”le my

brain, too much love Irives a man insane..." Musik Texas,

terlalu kuno bagi wanita muda seperti ini. Tapi mungkin dia

menyukai lagu-lagu kenangan.

Aku kembali menghadap ke meja rias. Beberapa foto

berbingkai memperlihatkan Cheryl Austin di hadapan latar

belakang Asia - pintu gerbang berwarna merah di sebuah

kuil, taman bergaya formal, jalan dengan gedung pencakar

langit berwarna kelabu, stasiun kereta api. Sepertinya

semua foto itu diambil di Jepang. Sebagian besar memperlihatkan

Cheryl seorang diri, tetapi dalam beberapa foto

ia tampak bersama pria Jepang setengah baya, dengan

kacamata dan rambut yang mulai menipis. Foto terakhir

memperlihatkan ia di suatu tempat yang mestinya terletak

di wilayah barat Amerika. Cheryl berdiri di dekat mobil

pickup berdebu, tersenyum, di samping wanita tua dengan

kacamata hitam. Wanita itu tidak tersenyum dan bahkan

tampak rikuh.

Terselip di bawah meja rias terdapat beberapa gulungan

kertas berukuran besar. Aku membuka salah satu. Rupanya

sebuah poster, dengan Cheryl berbikini, tersenyum sambil

mengacungkan botol bir Asahi. Semua tulisan di poster itu

berbahasa Jepang.

Aku masuk ke kamar mandi.

Aku melihat celana jeans tergeletak di sudut. Di atas

meja rias ada sweater berwarna putih. Sebuah handuk

basah tergantung di samping tempat shower. Butir-butir air

menempel pada dinding tempat shower. Alat pengeriting

rambut listrik masih tercolok di stopkontak. Terselip di

bingkai cermin, foto-foto Cheryl sedang berdiri bersama

pria Jepang lain di dermaga Malibu. Laki-laki ini berusia

tiga puluhan dan tampan. Di salah satu foto, ia merangkul

bahu Cheryl dengan akrab. Bekas luka di tangannya

kelihatan jelas.

"Bingo," kataku.

Connor melangkah masuk. "Anda menemukan sesuatu?"

Toto seorang laki-laki dengan bekas luka di tangan."

"Bagus." Connor mengamati foto itu dengan saksama.

Aku menatap barang-barang yang tergeletak di kamar

mandi dan barang-barang di tempat cuci tangan. "Rasanya

ada yang tidak beres di sini," kataku.

"Apa itu?"

"Saya tahu dia belum lama tinggal di sini. Dan saya juga

tahu semuanya disewa... tapi, entahlah... saya mendapat

kesan bahwa segala sesuatu sengaja diatur seperti ini. Saya

tidak bisa memastikan kenapa.”

Connor tersenyum. "Bagus sekali, Letnan. Tempat ini

memang sengaja diatur. Dan saya sudah tahu kenapa."

Ia menyerahkan sebuah foto Polaroid padaku. Foto itu

memperlihatkan kamar mandi tempat kami berdiri. Celana

jeans yang tergeletak di pojok. Handuk yang tergantung di

dinding. Alat pengeriting. Tetapi fotonya diambii dengan

kamera berlensa ultrawide yang menimbulkan distorsi

hebat, jenis kamera yang kadang-kadang digunakan oleh

tim SID untuk memotret barang bukti.

"Di mana Anda menemukan foto ini?"

"Di keranjang sampah di selasar, di dekat lift."

"Berarti fotonya diambil malam ini."

"Ya. Anda melihat sesuatu yang berbeda?"

Aku memeriksa foto itu dengan teliti. "Tidak,

kelihatannya sama saja... tunggu dulu. Foto-foto yang

terselip di bingkai cermin. Foto-foto itu tidak ada di foto

Polaroid ini. Foto-foto itu dipasang kemudian."

"Tepat sekali." Connor kembali memasuki kamar mandi.

Ia mengambil salah satu foto berbingkai di meja rias.

"Sekarang perhatikan yang ini," katanya. "Miss Austin dan

seorang teman Jepang di Stasiun Shinjuku di Tokyo.

Barangkali dia tertarik ke daerah Kabukicho - atau mungkin

juga dia sekadar berbelanja. Perhatikan tepi kanan foto ini.

Anda lihat garis tipis yang lebih terang itu?"

"Ya." Aku mengerti apa arti garis itu. Sebelumnya ada

foto lain di depan foto ini. Tepi foto ini menyembul keluar

dan menjadi pucat karena sinar matahari. Foto di depannya

telah diambil."

"Ya," ujar Connor.

"Apartemen ini telah digeledah."

"Ya," kata Connor "Dan mereka bekerja dengan hati-hati

sekali. Mereka masuk, membuat foto-foto Polaroid,

menggeledah semua ruangan, lalu mengembalikan

barang-barang ke tempat semula. Tapi mereka tak mungkin

mengembalikan apartemen ini ke keadaan yang persis

sama. Menurut orang Jepang, kesederhanaan merupakan

seni yang paling sukar. Dan orang-orang ini tak bisa

berbuat lain, mereka terobsesi. Jadi mereka meletakkan

foto-foto sedikit terlalu teratur, begitu juga dengan

botol-botol parfum. Semuanya agak dipaksakan. Mata kita

melihatnya, biarpun tanpa disadari oleh otak kita."

Aku berkata, "Tapi untuk apa tempat ini digeledah? Foto

mana yang mereka bawa? Wanita itu bersama

pembunuhnya?"

"Itu belum jelas," ujar Connor. "Kelihatannya, hubungan

Miss Austin dengan Jepang, dan dengan pria-pria Jepang,

tidak bisa dibilang buruk. Tapi ada sesuatu yang harus

segera mereka ambil, dan itu pasti ......

Kemudian, dari ruang tamu, terdengar sebuah suara

yang memanggil dengan hati-hati, "Lynn? Sayang? Kau di

sana?"

Bab 10

IA berdiri di ambang pintu, memandang ke dalam

apartemen. Bertelanjang kaki, dengan celana pendek dan

singlet. Wajahnya tidak kelihatan jelas, tetapi ia termasuk

yang oleh bekas partnerku, Anderson, disebut penari ular.

Connor memperlihatkan lencananya. Wanita muda itu

mengaku bemama Julia Young. Lafalnya berlogat Selatan,

dan kata-katanya agak ditelan. Connor menyalakan lampu,

dan kami bisa melihatnya dengan lebih jelas. Ia sangat

cantik. Ia tampak ragu-ragu ketika melangkah masuk.

"Saya mendengar musik - dia ada di sini? Cherylynn

tidak apa-apa? Dia pergi ke pesta itu, bukan?"

"Saya tidak tahu apa-apa mengenai itu," ujar Connor,

sambil melirik sekilas ke arahku. "Anda mengenal

Cherylynn?"

"Oh, tentu saja. Saya tinggal di seberang, di nomor

delapan. Kenapa semua orang datang ke tempat dia?"

"Semua orang?"

"Ya, Anda berdua. Dan kedua laki-laki Jepang tadi?”

"Kapan mereka ke sini?"

"Saya tidak tahu persis. Mungkin setengah jam yang lalu.

Ada masalah dengan Cherylynn?"

Aku berkata, "Apakah Anda sempat melihat orang-orang

itu, Miss Young?" Siapa tahu ia mengintip melalui lubang

intip di pintu apartemennya.

"Bisa dibilang begitu. Saya sempat mengobrol dengan

mereka.

“O, ya?"

"Saya kenal cukup baik dengan salah satu dari mereka.

Eddie."

"Eddie?"

"Eddie Sakamura. Kami semua kenal Eddie. Fast Eddie."

Aku berkata, "Anda dapat menyebutkan ciri-cirinya?"

Ia menatapku dengan heran. "Dia ada dalam foto-foto

Cherylynn - laki-laki muda dengan bekas luka di tangannya.

Saya pikir semua orang kenal Eddie Sakamura. Dia selalu

muncul di koran-koran. Acara pengumpulan dana, dan

sebagainya. Dia tukang pesta."

Aku berkata, "Anda tahu di mana kami dapat

menemukan dia?"

Connor berkata, "Eddie Sakamura merupakan salah satu

pemilik sebuah restoran Polynesia bernama Bora-Bora di

Beverly Hills. Dia selalu ada di sana."

"Itu dia," kata Julia. "Tempat itu seperti kantornya. Saya

sendiri tidak betah di sana, terlalu bising. Tapi Eddie selalu

berlari mondar-mandir, mengejar-ngejar cewek-cewek

pirang yang jangkung. Dia paling suka cewek yang lebih

tinggi dari dia."

Ia bersandaran pada meja dan menyibakkan rambutnya

yang coklat dengan sikap menggoda. Ia menatapku sambil

merengut sedikit. "Anda berdua partner?"

"Ya," kataku.

"Dia sudah menunjukkan lencananya. Tapi Anda belum

menunjukkan lencana Anda."

Aku mengeluarkan dompet. Ia mengamati lencanaku.

"Peter," ia membaca. "Pacarku yang pertama bernama

Peter. Tapi dia tidak setampan Anda." Ia menatapku sambil

tersenyum.

Connor berdehem dan berkata, "Anda sudah pernah

masuk ke apartemen Cherylynn?"

"Sudah. Saya kan tinggal di seberang gang. Tapi

belakangan ini dia jarang di rumah. Sepertinya dia

bepergian terus."

"Bepergian ke mana?"

"Ke mana saja. New York, Washington, Sea”le, Chicago...

ke mana saja. Dia punya pacar yang sering bepergian. Dia

yang menemuinya. Tapi saya rasa dia hanya menemuinya

kalau istrinya sedang pergi."

"Pacarnya ini sudah menikah?"

"Pokoknya, ada sesuatu yang menghalangi."

"Anda tahu siapa orangnya?"

"Tidak. Cheryl pernah bilang bahwa pacarnya tak

mungkin datang ke apartemennya. Dia orang penting. Kaya

raya. Mereka kirim jet untuk menjemputnya, dan Cheryl

langsung berangkat Siapa pun orangnya, dia membuat

Eddie marah. Tapi Eddie memang cepat cemburu. Dia mau

jadi iro otoko bagi semua cewek. Kekasih yang seksi."

Connor berkata, "Apakah hubungan Cheryl merupakan

rahasia? Dengan pacarnya itu?"

"Saya tidak tahu. Saya tidak pernah berpikir begitu.

Hubungan mereka hebat sekali. Cheryl tergila-gila pada

laki-laki itu."

"Dia tergila-gila?"

"Pokoknya, Anda takkan percaya kalau belum lihat

sendiri. Dia bisa meninggalkan segala sesuatu yang sedang

dikerjakannya untuk menemui orang itu. Suatu malam, dia

datang ke apartemen saya dan memberikan dua tiket untuk

konser Springsteen kepada saya. Tapi dia malah berseriseri,

sebab dia hendak pergi ke Detroit. Dia sudah bawa

koper kecilnya. Dan dia pakai gaun anak manis. Sebab

sepuluh menit sebelumnya pacarnya telepon dan berpesan,

'Temui aku.' Wajahnya ceriah, tampangnya jadi seperti

anak umur lima tahun. Saya tidak habis pikir kenapa dia

tidak menyadarinya."

"Menyadari apa?"

"Bahwa orang itu hanya memanfaatkannya."

"Kenapa Anda berpendapat demikian?"

"Cheryl sangat cantik. Dia sudah mengunjungi seluruh

dunia sebagai model, terutama Asia. Tapi di lubuk hatinya,

dia tetap anak kota kecil. Makmid saya, Midland memang

kota minyak, di sana memang banyak uang, tapi tetap saja

kota kecil. Dan Cheryl mendambakan cincin kawin di jari

manis, anak-anak, dan anjing yang berlari-lari di

pekarangan. Dan orang itu takkan mau membelikan

semuanya itu. Tapi Cheryl belum sadar juga."

Aku berkata, "Tapi Anda tidak tahu siapa orangnya?"

"Tidak, saya tidak tahu." Ia tersenyum simpul.

Ia menggeser tubuhnya, menurunkan sebelah bahu,

sehingga payudaranya menonjol ke depan. "Anda tidak

datang untuk membicarakan pacar Cheryl, bukan?"

Connor menggeleng. "Bukan."

Julia tersenyum penuh pengertian. "Pasti karena Eddie."

"Hmm," Connor bergumam.

"Hah, sudah saya duga," kata Julia. "Dari dulu saya sudah

tahu, cepat atau lambat dia pasti dapat kesulitan. Kami

semua sudah pernah membahasnya, semua cewek yang

tinggal di sini." Ia memberi isyarat tak jelas. "Soalnya

gerak-geriknya terlalu gesit. Fast Eddie. Anda takkan

menduga bahwa dia orang Jepang. Penampilannya terlalu

mencolok."

Connor berkata, "Dia dari Osaka?"

"Ayahnya pengusaha besar di sana, di Daimatsu. Orang

tua yang ramah. Kalau dia berkunjung ke sini,

kadang-kadang dia menemui salah satu cewek di lantai

atas. Dan Eddie. Semula, Eddie hanya datang untuk belajar

selama beberapa tahun, lalu kembali dan bekerja untuk

kaisha, perusahaan ayahnya. Tapi dia tidak mau pulang. Dia

senang tinggal di sini. Kenapa tidak? Dia punya apa saja

yang diinginkannya. Dia beli Ferrari baru, setiap kali yang

lama hancur karena tabrakan. Uangnya lebih banyak dari

raja. Dia sudah begitu lama di sini, dia sudah seperti orang

Amerika. Tampan. Seksi. Dan obat bius. Pokoknya, tukang

pesta sejati. Apa yang bisa dia harapkan di Osaka?"

Aku berkata, "Tapi tadi Anda mengatakan bahwa dari

dulu Anda sudah tahu..."

"Bahwa dia bakal dapat kesulitan? Tentu. Karena sisi

buruk dari wataknya. Sisi gelapnya." Ia mengangkat bahu.

"Banyak dari mereka punya sifat serupa. Mereka datang

dari Tokyo, dan biarpun mereka bawa sodkai, surat

pengantar, kita tetap harus waspada. Bagi mereka, 20.000

atau 30.000 semalam tidak ada artinya. Sekadar tip saja.

Ditaruh di meja rias. Tapi, apa yang mereka minta, paling

tidak, sebagian dari mereka..."

Ia terdiam. Pikirannya menerawang. Aku diam saja,

menunggu. Connor menatapnya sambil mengangguk-

angguk penuh pengertian.

Tiba-tiba saja Julia angkat bicara lagi, seakan-akan tidak

sadar bahwa ia sempat terdiam. "Dan bagi mereka,"

katanya, "segala keinginan mereka, hasrat mereka, itu

wajar-wajar saja. Seperti memberi tip tadi. Saya tidak

keberatan diborgol atau semacamnya, tapi kalau sampai

disayat-nanti duIu. Dipukul di pantat pun masih saya

terima, kalau saya suka orangnya. Tapi saya tidak mau

disayat. Saya tak peduli berapa banyak yang mereka bayar.

Pokoknya, tidak ada yang main pisau atau pedang, tapi

mereka... Banyak dari mereka begitu sopan, begitu baik,

tapi kalau sudah terangsang, mereka jadi jadi aneh. Ia

kembali terdiam, menggelengkan kepala. "Mereka memang

aneh."

Connor melirik jam tangannya. "Miss Young, keterangan

Anda sangat membantu. Mungkin kami perlu menghubungi

Anda lagi. Letnan Smith akan mencatat nomor telepon

Anda."

"Ya, tentu."

Aku membuka buku catatanku.

Connor berkata, "Saya mau bicara sebentar dengan

penjaga pintu tadi."

"Shinichi," ujar Julia.

Connor pergi. Aku mencatat nomor telepon Julia. Ia

menjilat-jilat bibir sambil memperhatikanku menulis.

Kemudian ia berkata, "Anda bisa terus terang kepada saya.

Apakah dia membunuhnya?"

"Siapa?"

"Eddie. Dia membunuh Cheryl?"

Julia memang cantik, tetapi aku melihat gairah terpancar

dari matanya. Ia menatapku dengan mantap. Suasananya

menyeramkan. Aku berkata, "Kenapa Anda berpikir

begitu?"

"Eddie selalu mengancam untuk membunuhnya. Seperti

tadi sore, dia mengancamnya."

Aku berkata, "Eddle datang ke sini tadi sore?"

"Yeah." Ia mengangkat bahu. "Dia selalu datang ke sini.

Tadi sore dia datang menemui Cheryl, dan sepertinya dia

sedang kesal. Semua dinding di gedung ini dibuat kedap

suara ketika orang-orang Jepang membelinya, tapi suara

mereka tetap terdengar, saling membentak. Eddie dan

Cheryl. Cheryl menyetel kaset Jerry Lee Lewis, kaset yang

diputarnya siang dan malam, dan mereka berteriak-teriak

dan melempar-lempar barang. Eddie selalu hilang,

'Kubunuh kau, kubunuh kau, dasar pelacur.' Jadi, memang

dia?"

"Saya tidak tahu."

"Tapi Cheryl sudah mati?"

"Ya."

"Memang tak terelakkan," ujar Julia. Ia tampak lenang

sekali. "Kami semua sudah tahu. Hanya masalah waktu saja.

Kalau mau, Anda bisa menelepon saya. Kalau Anda perlu

informasi tambahan."

"Baiklah." Aku menyerahkan kartu namaku. Dan jika

Anda teringat sesuatu, Anda bisa menghubungi saya di

nomor ini."

Sambil menggeliat, ia menyelipkan kartu namaku ke

kantong celana. "Saya suka bicara dengan Anda, Peter."

"Ya. Oke."

Aku berjalan menyusuri selasar. Ketika sampai di ujung,

aku menoleh. Julia berdiri di ambang pintu apartemennya.

Ia melambaikan tangan.

Bab 11

CONNOR menggunakan telepon di lobi, sementara si

penjaga pintu menatapnya dengan cemberut, seakan-akan

hendak melarang, tetapi tidak menemukan alasan yang

tepat.

“Betul," Connor sedang berkata. "Semua telepon dari

pesawat itu antara pukul delapan dan pukul sepuluh

malam. Betul." Ia terdiam sejenak, mendengarkan lawan

bicaranya. "Saya tidak mau tahu bahwa data Anda tidak

tertata dengan baik, pokoknya dapatkan informasi itu

untuk saya. Kapan saya bisa memperolehnya? Besok? Saya

perlu dalam dua jam. Nanti saya telepon lagi. Ya." Ia

meletakkan gagang. "Ayo, Kohai."

Kami keluar, ke mobil.

Aku berkata, "Cari info ke koneksi-koneksi Anda?"

"Koneksi?" Ia tampak bingung. "Oh. Graham bercerita

mengenai 'koneksi' saya. Saya tidak punya informan

khusus. Dia saja yang berpikir begitu.”

"Dia menyinggung kasus Arakawa."

Connor mendesah. "Lagi-lagi cerita basi itu."

Kami berjalan ke mobil. "Anda ingin mendengar cerita

itu? Sebenarnya sederhana saja. Dua warga negara Jepang

mati terbunuh. Plhak Departemen menugaskan

detektif-detektif yang tidak menguasai bahasa Jepang.

Akhirnya, setelah satu minggu, kasus itu mereka serahkan

pada saya."

"Dan apa yang Anda lakukan?"

"Suami-istri Arakawa menginap di New Otani Hotel. Saya

mendapatkan catatan mengenai nomor-nomor telepon di

Jepang yang mereka hubungi. Saya telepon ke sana, dan

berbicara dengan beberapa orang. Kemudian saya

menelepon ke Osaka dan berbicara dengan pihak

kepolisian setempat. Sekali lagi dalam bahasa Jepang.

Mereka heran ketika mendengar bahwa kisah pasangan

suami istri itu tidak kami ketahui secara lengkap."

"Oh, begitu."

"Ceritanya belum selesai," ujar Connor. "Departemen

kepolisian di sini sudah sempat dipermainkan. Pihak pers

tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengkritik

Departemen. Orang-orang dari segala kalangan mengirim

karangan bunga. Semuanya telah memperlihatkan simpati

bagi pasangan muda itu, yang kemudian diketahui sebagai

gangster. Banyak orang merasa malu. Akhirnya kesalahan

ditimpakan kepada saya. Saya dituduh berbuat curang

dalam memecahkan kasus itu. Terus terang, waktu itu saya

dongkol sekali."

"Karena itu Anda pergi ke Jepang?"

"Bukan. Itu cerita lain lagi."

Kami sampai di mobil. Aku menoleh ke gedung Imperial

Arms dan melihat Julia Young berdiri di jendela,

memandang ke arah kami. "Dia menggairahkan."

"Orang Jepang menyebut wanita seperti itu shirigaru

onna. Mereka bilang dia memiliki pantat yang ringan." Ia

membuka pintu mobil, dan masuk. "Tapi dia menggunakan

obat bius. Kita tidak bisa mempercayai apa pun yang

diceritakannya. Meski demikian, saya mulai melihat pola

yang tidak saya sukai." Ia melirik jam tangannya dan

menggelengkan kepala. "Brengsek. Kita terlalu banyak

menghabiskan waktu. Sebaiknya kita ke Palomino, untuk

menemui Mr. Cole."

Aku mulai menyetir ke selatan, ke arah bandara. Connor

menyandarkan badan dan melipat tangan di depan dada.

Pandangannya tertuju ke kakinya. Ia tampak gundah.

"Kenapa Anda mengatakan bahwa Anda melihat pola

yang tidak Anda sukai?"

Connor berkata, "Bungkus-bungkus plastik di keranjang

sampah. Foto Polaroid tadi. Barang-barang itu seharusnya

tidak ditinggalkan."

"Anda sendiri bilang mereka terburu-buru."

"Mungkin. Tapi perlu Anda ketahui bahwa orang Jepang

menganggap polisi Amerika tidak kompeten.

Kesembronoan ini salah satu buktinya."

"Hah, siapa bilang kita tidak kompeten?"

Connor menggelengkan kepala. "Dibandingkan dengan

orang Jepang, kita memang tidak kompeten. Di Jepang,

setiap penjahat tertangkap. Untuk kejahatan kelas kakap,

99 persen dari para pelaku dijatuhi hukuman. Jadi, setiap

penjahat di Jepang sejak awal sudah tahu bahwa dia akan

tertangkap. Tapi di sini, hanya tujuh belas persen pelaku

kejahatan dijatuhi hukuman. Tidak sampai satu dari lima

orang. Jadi, penjahat di Amerika tahu bahwa dia

kemungkinan besar takkan tertangkap - dan kalaupun

tertangkap, takkan dijatuhi hukuman, berkat segala

pengamanan legal yang dimilikinya. Dan Anda tahu, semua

penelitian mengenai efektivitas polisi menunjukkan bahwa

detektif Amerika bisa memecahkan sebuah kasus dalam

enam jam pertama, atau tidak sama sekali."

"Jadi, apa yang hendak Anda katakan?"

"Maksud saya, pembunuhan ini dilakukan dengan

perhitungan bahwa kasusnya takkan terpecahkan. Dan saya

ingin memecahkannya, Kohai."

Connor membisu selama sepuluh menit berikut. Ia

duduk tanpa bergerak, dengan tangan terlipat dan dagu

menempel di dada. Napasnya tenang dan teratur. Ia

seakan-akan sedang tidur, hanya saja matanya terbuka.

Aku terus menjalankan mobil, dan mendengarkan suara

napasnya.

Akhirnya ia berkata, "Ishiguro.”

"Ada apa dengan dia?"

"Seandainya kita tahu apa yang menyebabkan Ishiguro

bersikap seperti tadi, kita akan memahami kasus ini."

"Saya tidak mengerti."

"Bagi orang Amerika memang sukar untuk

membayangkan dia secara utuh," ujar Connor. "Sebab di

Amerika, sampai taraf tertentu, kesalahan-kesalahan

dianggap wajar. Pesawat yang terlambat dianggap wajar.

Surat yang tidak diantarkan dianggap wajar. Mesin cuci

yang rusak dianggap wajar. Kita menerima kenyataan

bahwa selalu ada sesuatu yang tidak seperti seharusnya.

"Tapi di Jepang, keadaannya berbeda. Segala sesuatu

berjalan dengan lancar. Di stasiun-stasiun kereta di Tokyo,

kita bisa berdiri di suatu titik di peron yang telah diberi

tanda, dan pada waktu kereta berhenti, pintunya membuka

tepat di depan hidung kita. Semua kereta selalu tepat

waktu. Tidak ada koper yang hilang. Tidak ada yang

ketinggalan pesawat. Semua batas waktu dipenuhi. Segala

sesuatu berjalan sesuai rencana. Orang Jepang adalah orang

yang berpendidikan, selalu mempersiapkan diri, dan

bermotivasi. Tak ada pekerjaan yang terbengkalai. Tak ada

yang mengacau.”

“Hmm.”

"Dan malam ini merupakan malam penting bagi

Nakamoto Corporation. Percayalah, mereka telah

merencanakan segala sesuatu sampai ke detail yang

sekecil-kecilnya. Mereka telah menyiapkan hors d'oeuvres

vegetarian kegemaran Madonna dan mengontrak juru foto

yang paling disukainya. Mereka telah menyusun rencana

untuk keadaan darurat dalam bentuk apa pun. Anda tahu

bagaimana mereka. Mereka duduk mengelilingi meja rapat

dan membahas setiap kemungkinan yang ada – bagaimana

kalau ada kebakaran? Bagaimana kalau terjadi gempa

bumi? Ancaman bom? Gangguan listrik? Hal-hal yang

tampak mustahil pun dibahas sampai tuntas. Memang

berlebihan, tapi pada waktu acaranya dimulai, mereka telah

memikirkan segala sesuatu dan mereka menguasai keadaan

sepenuhnya. Di mata mereka, tidak menguasai keadaan

adalah sesuatu yang sangat tidak pantas. Oke?"

"Oke.”

Lalu ada Ishiguro, wakil resmi Nakamoto, berdiri di

depan mayat wanita muda, dan dia jelas-jelas tidak

menguasai keadaan. Dia rikutsuppoi, melakukan

konfrontasi gaya Barat, tapi dia tidak tenang - Anda tentu

melihat keringat di bibirnya. Dan tangannya lembap; dia

terus-menerus mengusapkan tangannya ke celana. Dia

rikutsuppoi, terlalu banyak berdebat. Dia terIalu banyak

bicara.

"Singkat kata, dia bersikap seakan-akan tidak mengenal

wanita muda itu - padahal bisa dipastikan bahwa dia

mengenaInya, karena dia kenal semua orang yang diundang

untuk menghadiri pesta itu - dan berlagak tidak tahu siapa

pembunuhnya. Yang sesungguhnya juga diketahuinya. "

Mobil kami terguncang karena lubang di permukaan

jalan. "Tunggu dulu. Ishiguro tahu siapa yang membunuh

wanita muda itu?"

“Saya yakin sekali. Dan bukan dia saja. Saat ini, paling

tidak sudah ada tiga orang yang mengetahuinya. Bukankah

Anda sempat menyinggung bahwa Anda pernah bekerja

sebagai petugas hubungan pers?"

"Ya. Tahun lalu."

"Anda masih berhubungan dengan orang-orang siaran

berita pers?"

"Dengan beberapa orang," kataku. "Tapi tidak secara

teratur. Kenapa?"

"Saya ingin melihat rekaman yang dibuat malam ini."

"Hanya melihat? Bukan memberi panggilan tertulis

untuk menghadap ke pengadilan?"

"Betul. Hanya melihat."

"Kalau begitu, rasanya tidak terlalu sulit," kataku. Aku

teringat pada Jennifer Lewis di KNBC, atau Bob Arthur di

KEBS. Mungkin lebih baik Bob.

Connor berkata, "Orang itu harus bisa didekati secara

pribadi oleh Anda. Kalau tidak, stasiun-stasiun TV takkan

membantu. Anda pasti menyadari bahwa tidak ada kru TV

di tempat kejadian tadi. Biasanya kita harus berjuang

menerobos kerumunan kamera agar bisa sampai ke pita

pembatas. Tapi malam ini tak ada kru TV, tak ada reporter.

Tak ada apa-apa."

Aku mengangkat bahu. "Kita menggunakan saluran

darat. Orang-orang pers tidak bisa memantau percakapan

lewat radio."

"Mereka sudah ada di sana," ujar Connor, "meliput pesta

dengan Tom Cruise dan Madonna. Dan kemudian seorang

wanita mati terbunuh, satu lantai di atas tempat pesta. Jadi,

ke mana kru-kru TV itu?”

Aku berkata, "Kapten, tuduhan Anda tidak masuk akal."

Salah satu hal yang kupelajari sebagai petugas hubungan

pers adalah bahwa, tidak ada persekongkolan. Pihak pers

terlalu beraneka ragam, dan bisa dibilang tanpa koordinasi.

Bahkan, dalam kesempatan-kesempatan langka ketika

embargo siaran memang diperlukan - misalnya dalam

kasus penculikan yang sedang dalam tahap negosiasi uang

tebusan - kami harus bersusah payah untuk mewujudkan

kerja sama. "Koran-koran tutup lebih awal. Kru-kru TV

harus mengejar siaran berita pukul sebelas. Kemungkinan

semuanya telah kembali untuk menyunting liputan

masing-masing."

"Saya tidak sependapat. Menurut saya, orang-orang

Jepang menyatakan keprihatinan mengenai citra

perusahaan mereka, dan pihak pers menanggapinya

dengan tidak meliput kejadian itu. Percayalah, Kohai,

mereka telah mulai mengerahkan tekanan. "

"Saya tidak percaya."

"Saya jamin," ujar Connor. "Mereka memanfaatkan

pengaruh yang mereka miliki."

Pada saat itulah telepon mobil berdering.

"Persetan, Peter," sebuah suara serak yang sangat

kukenal berkata. "Ada apa dengan pengusutan

pembunuhan itu?" Suara itu milik atasanku. Sepertinya ia

habis minum.

"Bagaimana maksud Anda, Chief?"

Connor menatapku, dan menekan tombol speaker agar ia

bisa ikut mendengar.

Atasanku berkata, "Kalian melecehkan orang-orang

Jepang itu? Kalian ingin Departemen dituduh bersikap

rasialis lagi?"

"Tidak, Sir," kataku. "Sama sekali tidak. Saya tidak tahu

apa yang Anda dengar ......

"Kudengar si tolol Graham melontarkan penghinaan,

seperti biasa," ujar atasanku.

"Ehm, Sir, saya kira kata penghinaan terlalu keras."

"Tahi kucing. Jangan banyak alasan, Peter. Aku sudah

menegur Fred Hoffmann karena menugaskan Graham

untuk menangani kasus ini. Kuminta dia segera ditarik dari

kasus ini. Mulai sekarang, kita semua harus menjaga

hubungan baik dengan orang-orang Jepang itu. Begitulah

aturan mainnya. Kaudengar itu, Peter?"

"Ya, Sir."

"Sekarang mengenai John Connorr. Dia ada bersamamu,

bukan?"

"Ya, Sir."

"Kenapa kauajak dia untuk urusan ini?"

Dalam hati aku berkata, "Kenapa aku mengajak dia?"

Rupanya Fred Hoffmann mengaku bahwa melibatkan

Connor adalah gagasanku, bukan gagasan dia sendiri.

"Maaf," kataku. "Tapi saya..."

"Aku mengerti," ujar atasanku. "Mungkin kaupikir kau

tak sanggup menangani kasus ini seorang diri. Kau butuh

bantuan. Tapi kurasa kau bakal dapat lebih banyak

kesulitan daripada bantuan. Sebab orang-orang Jepang itu

tidak suka pada Connor. Dan asal tahu saja, aku sudah lama

kenal John. Dia dan aku sama-sama masuk akademi tahun

lima sembilan. Dari dulu dia selalu menyendiri dan

membuat masalah. Kau tahu, kalau ada orang yang pergi

dan tinggal di negara lain, itu karena dia tidak mau

mengikuti peraturan yang berlaku di sini. Jangan sampai

dia mengacaukan penyidikan ini."

"Sir ... “

"Menurutku, masalahnya begini, Pete. Kasus

pembunuhan itu harus kauselesaikan dengan cepat dan

rapi. Pokoknya kau yang bertanggung jawab. Mengerti?"

"Ya, Sir."

"Bereskan, Pete. Jangan sampai aku ditelepon lagi

mengenai urusan ini."

"Ya, Sir."

"Paling lambat besok. Sekian." Dan ia memutuskan

hubungan. Aku mengembalikan gagang ke tempatnya.

"Ya," kata Connor. "Saya rasa mereka sudah mulai

mengerahkan tekanan."

Bab 12

AKU menuju ke selatan di freeway 405, ke arah bandara.

Daerah yang kami lalui agak berkabut. Connor memandang

ke luar jendela.

"Dalam organisasi Jepang, Anda takkan pernah

mendapat telepon seperti itu. Anda baru saja dijadikan

tumbal oleh atasan Anda. Dia lepas tangan - semuanya

dibebankan kepada Anda. Dan dia menyalahkan Anda atas

hal-hal yang tidak berhubungan dengan Anda, seperti

Graham, dan saya." Connor menggelengkan kepala. "Orang

Jepang tidak berbuat demikian. Mereka punya pepatah:

Gunakan waktu untuk mengatasi masalah, bukan untuk

mencari siapa yang salah. Dalam organisasi Amerika, yang

paling penting adalah siapa yang salah. Siapa yang harus

bertanggungjawab. Dalam organisasi Jepang, yang paling di

perhatikan adalah apa yang salah, dan bagaimana cara

untuk mengatasinya. Tidak ada yang dituding. Cara mereka

lebih baik "

Connor kembali membisu, memandang ke luar jendela.

Kami sedang melewati Slausan, Marina freeway tampak

melengkung di atas kami, sebuah lengkungan gelap di

tengah kabut.

Aku berkata, "Atasan saya terlalu yakin, itu saja.”

"Ya. Dan kurang informasi, seperti biasa. Tapi, biarpun

begitu, sebaiknya kasus ini kita rampungkan sebelum dia

keluar dari tempat tidurnya besok pagi.”

“Apakah ada harapan?"

"Ada. Jika Ishiguro menyerahkan kaset-kaset yang saya

minta."

Telepon kembali berdering. Aku mengangkatnya.

Ternyata Ishiguro.

Aku menyerahkan gagang telepon kepada Connor.

Sayup-sayup aku mendengar suara Ishiguro. Suaranya

tegang. Ia berbicara tergesa-gesa, "A, moshi moshi,

Connor-san desuka? Keibi no heyani denwa shitandesugane.

Daremo denaindesuyo."

Connor menutup gagang dengan sebelah tangan dan

menerjemahkan. "Dia sudah menelepon petugas keamanan,

tapi ternyata tidak ada yang menyahut."

"Sorede, chuokeibishitsu ni renraku shite, hito wo oku”e

moraimasite, issho ni tipu o kakunin Shite kimashita."

"Kemudian dia menghubungi ruang keamanan pusat dan

minta agar mereka menyertainya untuk memeriksa

kaset-kaset video."

"Tepu wa subete rekoda no naka ni arimasu. Nakuna”emo

torikaeraretemo imasen. Subete daijobu desu. "

"Semua alat perekam berisi kaset. Tidak ada kaset yang

hilang atau ditukar." Connor mengerutkan kening dan

membalas, "Iya, tepu wa surikaerarete iru hazu nanda. Tepu

o sagase!"

"Dakara, daijobi nandesu, Connor-san. Doshiro to iun desu

ka ?"

"Dia berkeras bahwa tak ada kekeliruan."

Connor berkata, "Tepu o sagase!" Kepadaku, ia berkata,

"Saya bilang bahwa saya minta kaset-kaset brengsek. itu."

"Daijobu da to i”erudeshou. Doshite sonnani tipu ni

kodawarundesuka?"

"Ore niwa waka”e irunda. Tepu wa nakuna”e iru. Saya

tahu lebih banyak dari yang Anda sangka, Mr. Ishiguro.

Moichido iu, tepu o sagasunda!"

Connor membanting gagang telepon. Ia menyandarkan

tubuh dan mendengus dengan kesal. "Sialan! Mereka

bertahan pada posisi bahwa tidak ada kaset yang hilang."

"Apa artinya?"

"Mereka telah memutuskan untuk mengadu kekuatan."

Connor menatap ke luar jendela, mengamati lalu lintas,

sambil mengetuk-ngetuk gigi dengan jari. "Mereka takkan

bersikap seperti ini, kecuali kalau mereka merasa memiliki

posisi kuat. Posisi yang tak tergoyahkan. Ini berarti..."

Connor terdiam, sibuk berpikir. Setiap kali kami lewat di

bawah lampu penerangan jalan, aku melihat pantulan

wajahnya di kaca mobiI. Akhirnya ia berkata, "Bukan,

bukan, bukan," seakan-akan berbicara pada orang lain.

"Apanya yang bukan?"

"Pasti bukan Graham." Ia menggelengkan kepala.

"Graham terlalu riskan - terlalu banyak kejadian di masa

lalu. Dan bukan juga saya. Saya berita basi. Berarti pasti

Anda, Peter."

Aku berkata, "Apa maksud Anda?"

"Sesuatu telah terjadi," ujar Connor, "sesuatu yang

menyebabkan Ishiguro merasa berada di atas angin. Dan

saya rasa hal tersebut berkaitan dengan Anda."

"Saya?"

"Yeah. Pasti sesuatu yang bersifat pribadi. Anda pernah

punya masalah di masa lalu?"

"Seperti apa, misalnya?"

"Anda pernah ditahan, diperiksa oleh internal affairs,

dituduh mabuk-mabukkan, homoseksual, atau

mengejar-ngejar wanita? Atau barangkali Anda pernah

mengikuti program rehabilitasi obat bius? Masalah dengan

partner Anda, dengan atasan Anda. Apa saja yang bersifat

pribadi atau profesional. Apa saja."

Aku mengangkat bahu. "Jeez, saya rasa tidak."

Connor hanya menunggu sambil menatapku. Akhirnya ia

berkata, "Mereka merasa mengetahui sesuatu, Peter."

"Saya bercerai. Saya orangtua tunggal. Saya punya anak

perempuan, Michelle. Umurnya dua tahun."

"Ya ... “

"Kehidupan saya biasa-biasa saja. Saya mengurus anak

saya baik-baik. Saya bertanggung jawab."

"Dan istri Anda?"

"Bekas istri saya pengacara. Dia bekerja di kejaksaan."

"Kapan Anda bercerai?"

"Dua tahun lalu."

"Sebelum anak Anda lahir?"

"Segera sesudahnya."

"Kenapa Anda bercerai?"

"Astaga. Kenapa orang-orang bercerai?"

Connor tidak berkomentar.

"Pernikahan kami hanya bertahan satu tahun. Dia masih

muda waktu kami bertemu. Dua puluh empat tahun. Penuh

khayalan. Kami berjumpa di ruang pengadilan. Dia

menyangka saya detektif yang keras, kasar, setiap hari

menghadapi bahaya. Dia suka kalau saya membawa pistol.

Hal-hal seperti itulah. Lalu kami menjalin affair. Lalu, ketika

dia hamil, dia tidak mau menggugurkan bayinya. Dia justru

ingin menikah. Itu salah satu khayalannya. Tapi dia tidak

memikirkannya dengan matang. Tetapi masa hamilnya

terasa berat baginya, dan waktu itu sudah terlambat untuk

menjalani aborsi, dan tak lama kemudian dia menyadari

bahwa dia tidak suka hidup bersama saya karena

apartemen saya kecil, penghasilan saya tidak memadai, dan

saya tinggal di Culver City, bukannya di Brentwood. Dan

pada waktu bayi kami akhirnya lahir, segala

angan-angannya seolah-olah telah buyar. Dia bilang dia

telah melakukan kesalahan. Dia memilih kariernya. Dia

tidak mau menjadi istri polisi. Dia tidak mai membesarkan

anak. Dia bilang dia menyesal, semuanya merupakan kesalahan.

Dan kemudian dia pergi."

Connor mendengarkan penjelasanku dengan mata

terpejam. "Ya..."

"Kenapa semuanya ini begitu penting? Dia pergi dua

tahun yang lalu. Setelah itu, saya tidak sanggup - saya tidak

mau lagi menjalankan jadwal tugas detektif, karena ada

anak kecil yang harus saya besarkan, jadi saya mengikuti

beberapa tes dan pindah ke Special Services, dan saya

bekerja di bagian hubungan pers. Tidak ada masalah.

Semuanya berjalan dengan lancar. Kemudian, tahun lalu,

ada lowongan sebagai petugas penghubung untuk

masyarakat Asia, dan bayarannya lebih besar. Beberapa

ratus dolar lebih banyak per bulan. Jadi saya melamar."

"Hmm."

"Saya betul-betul memerlukan uang itu. Banyak

pengeluaran tambahan yang harus saya tanggung, misalnya

baby sister untuk Michelle. Anda tahu berapa bayaran baby

sister untuk anak dua tahun? Saya juga punya pembantu,

dan Lauren sering lalai membayar uang tunjangan anak.

Dia bilang gajinya tidak mencukupi, tapi beberapa waktu

yang lalu dia beli BMW baru, jadi entahlah. Apa yang bisa

saya lakukan? Mengajukannya ke pengadilan? Dia bekerja

di kejaksaan."

Connor tetap membisu. Di depan, aku melihat pesawat

terbang rendah di atas freeway. Kami sudah di dekat

bandara.

"Pokoknya," kataku, "saya lega ketika diterima sebagai

petugas penghubung. Jam kerjanya lebih menguntungkan,

dan gajinya juga lebih baik. Begitulah ceritanya bagaimana

saya bisa sampai di sini. Duduk semobil dengan Anda."

"Kohai," ia berkata dengan tenang, "saya di pihak Anda.

Katakan saja. Apa masalahnya?"

"Tidak ada masalah apa-apa."

"Kohai."

"Tidak ada."

"Kohai…”

"Hei, John," kataku, "barangkali Anda belum tahu.

Sewaktu kita melamar sebagai petugas penghubung Special

Services, catatan kita diperiksa oleh lima komite berbeda.

Untuk mendapatkan tugas itu, kita harus bersih.

Komite-komite itu sudah meneliti catatan saya. Dan mereka

tidak menemukan sesuatu yang berarti."

Connor mengangguk. "Tapi mereka menemukan

sesuatu"

"Astaga," kataku. "Lima tahun saya bertugas sebagai

detektif. Tak mungkin kita bekerja selama itu tanpa

keluhan sama sekali. Anda tahu itu."

"Dan apa keluhan mengenai Anda?"

Aku menggelengkan kepala. "Biasa. Hal-hal sepele. Saya

menangkap seorang pria dalam tahun pertama saya

bertugas. Dia menuduh saya menggunakan kekerasan

berlebihan. Tuduhan itu dicabut setelah ada pengusutan

lebih lanjut. Saya menangkap seorang wanita karena

perampokan bersenjata. Dia mengaku saya menyelipkan

segram obat bius ke kantongnya. Tuduhan dibatalkan; obat

bius itu ternyata miliknya sendiri. Tersangka pelaku pemhunuhan

mengaku dipukul dan ditendang oleh saya waktu

diinterogasi. Tapi sepanjang interogasi ada

petugas-petugas lain yang hadir. Seorang wanita mabuk

dalam suatu kasus pertengkaran rumah tangga mengaku

bahwa saya menodai anak perempuannya. Dia mencabut

tuduhannya. Pemimpin geng remaja yang ditahan karena

kasus pembunuhan mengaku diajak melakukan hubungan

homoseksual oleh saya. Tuduhan dibatalkan. Hanya itu."

Sebagai petugas polisi, kita tahu bahwa keluhan-keluhan

seperti itu merupakan bagian dari kehidupan kita. Tak ada

yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan suara-suara

sumbang itu. Kita berada di lingkungan yang memusuhi

kita. Kita menuduh orang-orang sebagai pelaku kejahatan.

Mereka balik menuduh kita. Begitulah kenyataannya. Pihak

Departemen tidak memperhatikan keluhan-keluhan itu,

kecuali jika terjadi berulang-ulang atau jika terdapat suatu

pola. Jika Departemen menerima tiga atau empat laporan

selama beberapa tahun bahwa seseorang menggunakan

kekerasan berlebihan, orang itu akan diselidiki. Atau jika

ada serangkaian keluhan yang bermiat rasial, ia akan

diselidiki. Tetapi selain itu, seperti yang selalu dikatakan

oleh Asisten Kepala Jim Olson, pekerjaan polisi adalah

pekerjaan untuk orang berkulit tebal.

Connor membisu cukup lama. Ia mengerutkan kening,

merenung. Akhirnya ia berkata, "Bagaimana dengan

perceraian Anda? Ada masalah?"

"Tidak ada masalah khusus."

"Anda dan bekas istri Anda masih saling menyapa?"

"Ya. Hubungan kami baik-baik saja. Tidak akrab. Tapi

lumayan."

Ia masih mengerutkan kening. Masih mencari-cari

sesuatu. "Dan Anda meninggalkan divisi detektif dua tahun

yang lalu?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Anda sudah mendengar alasan saya tadi."

"Anda bilang Anda tidak sanggup lagi menjalankan

jadwal tugas detektif."

"Ya, itu yang utama."

"Itu, dan apa lagi?"

Aku mengangkat bahu. "Setelah bercerai, saya tidak mau

menangani kasus pembunuhan lagi. Saya merasa...

entahlah. Kecewa, mungkin. Saya punya anak kecil dan istri

saya meninggalkan saya. Dia melanjutkan hidupnya,

berkencan dengan seorang jaksa yang hebat. Saya ditinggal

bersama anak kecil. Saya patah semangat. Saya tak ingin

bekerja sebagai detektif lagi."

"Anda menemui psikiater waktu itu? Untuk menjalani

terapi?"

"Tidak."

"Ada masalah dengan obat bius atau alkohol?"

"Tidak."

"Wanita lain?"

"Beberapa."

"Sewaktu Anda masih menikah?"

Aku terdiam sejenak.

"Farley? Di kantor Wali Kota?"

"Bukan. Itu baru kemudian."

"Tetapi ada wanita lain sewaktu Anda masih menikah."

"Ya. Tapi dia tinggal di Phoenix sekarang. Suaminya

dipindahkan ke sana."

"Dia juga bekerja di Departemen?"

Aku mengangkat bahu.

Connor kembali bersandar. "Oke, Kohai," katanya. "Kalau

memang hanya itu, Anda aman-aman saja." Ia menatapku.

"Memang hanya itu."

"Tapi saya perlu memperingatkan Anda," ia berkata.

"Saya sudah pernah mengalami hal seperti ini, dengan

orang-orang Jepang. Kalau mereka berniat mengadu

kekuatan, mereka bisa membuat hidup Anda tidak

menyenangkan. Sangat tidak menyenangkan."

“Anda ingin menakut-nakuti saya?"

"Tidak. Saya hanya berkata apa adanya."

"Persetan dengan orang-orang Jepang," aku mengumpat.

"Tidak ada yang perlu saya sembunyikan."

"Baiklah. Sekarang Anda sebaiknya menelepon

teman-teman Anda di stasiun TV. Beritahu mereka bahwa

kita akan mampir, setelah kunjungan berikut ini."

Bab 13

SEBUAH 747 bergemuruh di atas kami, lampu-lampu

pendaratannya menyala terang di tengah kabut. Pesawat

itu melewati papan reklame neon yang bertulisan GIRLS!

GIRLS! ALL NUDE! GIRLS! Ketika kami masuk sudah sekitar

pukul 23.30.

Kelab Palomino termasuk tempat hiburan murahan.

Gedung yang ditempatinya merupakan bekas tempat

boling, dengan gambar-gambar kaktus dan kuda di dinding.

Ruang dalamnya berkesan lebih sempit dibandingkan

bayangan kita kalau kita melihatnya dari luar. Seorang

wanita setengah telanjang menari di bawah cahaya jingga.

Ia berusia sekitar empat puluh tahum. Tampaknya ia tak

kalah jemu dari para pengunjung yang duduk membungkuk

di meja-meja kecil yang berwarna pink. Pelayan-pelayan

wanita dengan dada terbuka berjalan mondar-mandir.

Musik dari tape recorder diiringi desis yang keras.

Seorang laki-laki di dekat pintu berkata, "Dua belas

dolar. Minimum dua minuman." Connor memperlihatkan

lencananya. Laki-laki itu berkata, "Oke, masuk saja."

Connor memandang berkeliling dan berkomentar, "Saya

baru tahu bahwa ada orang Jepang yang berkunjung ke

sini." Aku melihat tiga pengusaha dengan setelan jas warna

biru duduk di sebuah meja pojok.

"Hampir tidak pernah," balas si penjaga pintu.

"Mereka lebih suka Star Strip di pusat kota. Lebih

mentereng, barangnya lebih mulus. Menurut aku sih,

Jepang-Jepang itu terpisah dari rombongan tur mereka."

Connor mengangguk. "Saya mencari Ted Cole."

"Di bar. Si kacamata itu."

Ted Cole, sedang duduk di bar. Jaket yang dikenakannya

menutupi seragam Nakamoto Security. Ia menatap dengan

acuh tak acuh ketika kami mendekat dan duduk di

sebelahnya.

Petugas bar menghampiri kami., Connor berkata,

"Dua Budweiser."

"Tidak ada Bud. Asahi saja, oke?"

"Oke.”

Connor menunjukkan lencananya. Cole menggelengkan

kepala dan berbalik Dengan saksama ia mengamati penari

telanjang tadi.

"Saya tidak tahu apa-apa."

Connor berkata, "Mengenai apa?"

"Mengenai semuanya. Saya tidak ada urusan dengan

Saudara. Saya sedang bertugas." Ia agak mabuk.

Connor berkata "Jam berapa Anda selesai tugas?"

"Saya pulang lebih cepat malam ini."

"Kenapa?"

"Sakit mag. Saya kena tukak lambuing, kadang-kadang

kumat. Jadi saya pulang lebih cepat."

"Jam berapa?"

"Sekitar jam delapan lima belas."

"Bisa dibuktikan dengan kartu absensi?"

"Tidak. Di tempat kami tidak ada mesin absensi. “

“Dan siapa yang mengambil alih tugas Anda?"

"Saya digantikan."

"Oleh siapa?"

"Penyelia saya."

“Siapa namanya?"

"Saya tidak tahu. Orang Jepang. Baru tadi saya Iihat dia."

"Dia penyelia Anda, dan Anda belum pernah

melihatnya?"

"Dia orang baru. Orang Jepang. Saya tidak kenal dia. Apa

tujuan Saudara sebenarnya?"

"Saya hanya ingin mengaiukan beberapa pertlanyaan,"

kata Connor.

"Silakan, tak ada yang perlu saya sembunyikan," ujar

Cole.

Salah satu orang Jepang berjalan ke arah kami. Ia

berkata pada petugas bar, "Rokok apa saja yang ada di

sini?"

"Marlboro," jawab si petugas bar.

"Apa lagi?"

"Mungkin Kools. Saya harus periksa dulu. Tapi Marlboro

pasti ada. Anda mau Marlboro?"

Si Jepang dipelototi oleh Ted Cole. Tapi ia tidak

memperhatikannya. "Kent?" ia bertanya. "Anda punya Kent

Light?"

"Tidak. Tidak ada."

"Oke, kalau begitu Marlboro saja," ujar orang Jepang itu.

"Marlboro juga boleh." Ia menoleh dan tersenyum kepada

kami. "Ini Marlboro country, betul tidak?"

"Betul," kata Connor.

Cole meraih botol dan mereguk birnya. Kami semua

membisu. Si Jepang mengetuk-ngetuk meja layan, seirama

dengan musik. "Tempat bagus," katanya. "Meriah."

Aku tak mengerti apa yang dimaksudnya. Tempat itu

benar-benar parah.

Si Jepang duduk di kursi di samping kami. Cole

mengamati botol birnya, seolah-olah belum pernah melihat

botol bir sebelunrnya. Ia memutar-mutarnya dengan

tangan.

Petugas bar membawa sebungkus rokok, dan si Jepang

melemparkan selembar lima dolar ke atas meia. "Ambil saja

kembaliannya." Ia membuka bungkus rokoknya, dan

menarik sebatang. Ia tersenyum kepada kami.

Connor mengeluarkan korrk apinya untuk menyalakan

rokok orang Jepang itu. Ketika si Jepang membungkuk

untuk menyulut rokoknya, Connor berkata, "Doko kaisha

iuenno?"

Orang itu berkedip-kedip. "Maaf?"

"Wakanni no?" ujar Connor. "Doko kaisha i”enno?"

Si Jepang tersenyum dan berdiri. "Soro soro ikanakutewa.

Shitsurei shimasu." Ia melambaikan tangan asal saja, dan

kembali kepada rekan-rekannya di seberang ruangan.

"Dewa mata," kata Connor. Ia pindah ke kursi yang

diduduki orang Jepang itu.

Cole berkata, "Ada apa ini?"

"Saya hanya bertanya di perusahaan mana dia bekerja,"

Connor menjelaskan. "Tapi dia tidak berminat mengobrol.

Sepertinya dia ingin cepat-cepat kembali ke

teman-temannya." Cole meraba-raba di bawah bar.

"Sepertinya bersih."

Connor kembali berpaling pada Cole dan berkata, "Oke,

Mr. Cole. Tadi Anda mengatakan bahwa Anda digantikan

oleh penyelia Anda. Jam beiapa itu?"

"Delapan lima belas."

"Dan Anda tidak mengenalnya?"

"Tidak."

"Dan sebelum itu, waktu Anda bertugas, Anda merekam

gambar-gambar dari kamera-kamera video?"

"Tentu. Bagian keamanan selalu merekam gambar-

gambar dari semua kamera."

"Dan apakah penyelia Anda mengambil kaset-kaset itu?"

"Mengambil kaset-kaset itu? Saya kira tidak. Setahu saya,

semuanya masih di sana."

Ia menatap kami dengan heran.

"Saudara berminat pada kaset-kaset itu?"

"Ya," kata Connor.

"Saya sendiri tidak terlalu peduli pada kaset-kaset itu.

Saya tertarik pada kamera-kamera."

"Kenapa?"

"Seluruh gedung dipersiapkan untuk menghadapi pesta

besar, dan sampai saat terakhir memang masih banyak

detail-detail kecil yang harus ditangani. Tapi saya tetap

heran kenapa begitu banyak kamera dipindahkan dari

tempat-tempat lain di dalam gedung, lalu dipasang di lantai

itu."

"Dipindahkan?" aku bertanya.

"Kemarin pagi, kamera-kamera itu belum ada di lantai

46," ujar Cole. "Semuanya masih terpasang di tempat lain.

Rupanya ada yang memindahkan semuanya.

Kamera-kamera itu memang mudah dipindah-pindah,

karena tidak pakai kabel."

"Kamera-kamera itu tidak memakai kabel?"

"Tidak. Di dalam gedung kami memakai transmisi

selular. Memang sudah dirancang begitu. Karena itu kami

tidak pakai audio, dengan sistem selular, kapasitas

transmisinya terbatas. Kamera-kamera itu hanya mengirim

gambar. Tapi semuanya bisa dipindah-pindah sesuai

kebutuhan. Mereka bisa melihat apa saja yang ingin mereka

lihat. Saudara tidak tahu itu?"

"Tidak," kataku.

"Aneh, kenapa tidak ada yang memberitahu Saudara?

Padahal itu salah satu kelebihan Nakamoto Tower yang

paling mereka banggakan." Cole kembali mereguk birnya.

"Satu-satunya hal yang belum jelas bagi saya adalah kenapa

seseorang mengambil lima kamera, lalu memasang

semuanya di lantai di atas tempat pesta. Soalnya, dari segi

keamanan itu tidak perlu. Semua lift bisa diprogram supaya

hanya naik sampai lantai tertentu. Jadi, kamera-kamera

hanya diperlukan di lantai-lantai di bawah tempat pesta.

Bukan di atasnya."

"Tapi lift-lift itu tidak diprogram agar hanya naik sampai

lantai 46."

"Memang. Saya sendiri juga heran." Ia menatap

orang-orang Jepang di seberang ruangan. "Sebentar lagi

saya harus pergi," katanya.

"Baiklah," ujar Connor. "Kami sangat menghargai

bantuan Anda, Mr. Cole. Mungkin kami perlu minta

keterangan tambahan dari Anda."

"Saya akan menuliskan nomor telepon saya untuk

Saudara," kata Cole, sambil mencoret-coret sebuah serbet

kertas.

"Dan alamat Anda?"

"Oh, ya. Tapi sebenarnya saya akan ke luar kota untuk

beberapa hari. Ibu saya tidak enak badan, dan dia minta

agar saya membawanya ke Meksiko untuk beberapa hari.

Kemungkinan besar saya berangkat akhir pekan ini."

"Liburan panjang?"

"Seminggu, mungkin. Saya masih ada jatah cuti, dan

sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk

mengambilnya."

"Ya," kata Connor, "tentu saja. Sekali lagi, terima kasih

atas bantuan Anda." Ia bersalaman dengan Cole, dan

menonjok bahunya. "Jangan lupa perhatikan kesehatan

Anda."

"Oh, jangan khawatir."

"Berhentilah minum, dan hati-hati dalam perjalanan

pulang nanti." Ia terdiam sejenak. "Atau ke mana pun Anda

akan menuju malam ini."

Cole mengangguk. "Saya rasa Saudara benar. Itu ide yang

baik."

"Saya tahu bahwa saya benar."

Cole bersalaman denganku. Connor sudah menuju pintu.

Cole berkata, "Saya tidak mengerti kenapa Saudara masih

repot-repot."

"Dengan kaset-kaset itu?"

"Dengan orang-orang Jepang. Apa yang bisa kita

lakukan? Mereka selalu satu langkah di depan kita. Dan

semua orang besar sudah ada di kantong mereka. Kita tak

bisa mengalahkan mereka. Kalian berdua takkan

mengalahkan mereka. Mereka terlalu hebat."

Di luar, di bawah papan reklame neon yang

berkedap-kedip, Connor berkata, "Tepat, waktu tinggal

sedikit."

Kami masuk ke mobil. Ia menyerahkan serbet tadi

padaku. Di atasnya tertulis dengan huruf cetak:

MEREKA MENCURI KASET-KASET ITU.

"Ayo, jalan," kata Connor.

Aku menghidupkan mesin mobil.

Bab 14

BERITA jam sebelas malam telah selesai, dan ruang

wartawan sudah hampir kosong. Connor dan aku

menyusuri selasar menuju studio rekaman, di tempat tanda

Action News masih menyala.

Di dalam studio, siaran malam diputar ulang tanpa

suara. Si pembaca berita menunjuk monitor. "Aku tidak

bodoh, Bobby. Aku memperhatikan hal-hal seperti ltu.

Sudah tiga malam berturut-turut dia yang membacakan

ringkasan berita utama dan penutup." Ia menyandarkan

badan dan menyilangkan tangan. Aku menunggu

jawabanmu, Bobby."

Temanku Bob Arthur, produser berita jam sebhelas yang

berbadan pendek kekar, menghirup scotch dari gelas yang

sebesar kepalan tangannya. Ia berkata, "Jim, ini hanya

kebetulan saja."

"Omong kosong," balas si pembaca berita.

Rekannya yang tengah dibicarakan adalah seorang

wanita cantik berambut merah, dengan bentuk tubuh

menggiurkan. Ia sengaja berlama-lama ketika

membereskan catatannya, untuk memastikan bahwa ia

mendengar seluruh percakapan antara Bob dan Jim

"Begini," ujar Jim. "Kita sudah sepakat Ringkasan dan

penutup dibaca bergantian. Setengahnya dia, setengahnya

aku. Itu tercantum dalam kontrakku."

"Tapi, Jim, berita utama malam ini menyangkut

perkernbangan mode di Paris dan pesta Nakamoto. Human

interest."

"Seharusnya laporan mengenai kasus pembunuhan

berantai itu dijadikan berita utama."

Bob mendesah. “Pembacaan tuduhan terhadap dia

ditunda. Lagi pula masyarakat sudah bosan dengan kasus

pembunuhan berantai."

Si pembaca berita tampak terheran-heran.

"Masyarakat sudah bosan dengan kasus pembunuhan

berantai? Wah, di mana kaudengar itu?"

"Baca saja hasil angket yang lalu, Jim. Pembunuhan

berantai sudah terlalu sering diliput. Penonton kita

khawatir mengenai keadaan ekonomi. Mereka tidak

berminat pada pembunuh berantai."

"Penonton kita khawatir mengenai keadaan ekonomi,

jadi kita membuat berita utama mengenai Nakamoto dan

perkembangan mode di Paris?"

"Betul, Jim," Bob Arthur berkata. "Dalam masa sulit, kita

meliput pesta yang gemerlapan. Itulah yang diminati oleh

para penonton: fashion dan impian."

Si pembaca berita merengut. "Aku wartawan, aku di sini

untuk meliput berita, bukan fashion."

"Betul, Jim," ujar si produser. "Karena itulah Liz yang

membacakan ringkasan berita utama. Kami berupaya agar

citramu tidak luntur."

"Ketika Teddy Roosevelt mengangkat negeri ini dan

kesulitan ekonomi di tahun 30-an, dia tidak memakai

fashion dan impian.

"Franklin Roosevelt."

"Sama saja. Kau tahu maksudku. Kalau orang-orang

memang khawatir, mari kita liput ekonomi. Mari kita liput

neraca pembayaran atau apa pun masalahnya."

"Betul, Jim. Tapi ini berita jam sebelas untuk pasar lokal,

dan para penonton tidak mau mendengar..."

"Dan itulah yang salah di Amerika," Jim berkata.

"Orang-orang tidak mau mendengar berita sebenarnya."

"Betul, Jim. Kau betul sekali." Bob merangkul si pembaca

berita. "Sekarang istirahat dulu, oke? Besok kita bicara

lagi."

Rupanya itu semacam isyarat, sebab pembaca berita

yang satu lagi segera merapikan catatannya dan pergi.

"Aku wartawan," ujar Jim. "Aku hanya ingin melakukan

pekerjaan yang kupelajari."

"Betul, Jim. Besok kita lanjutkan lagi. Selamat malam."

"Dasar tolol," kata Bob Arthur. Ia menyusuri sebuah

selasar bersama kami. "Teddy Roosevelt. Astaga. Mereka

bukan wartawan Mereka aktor. Dan mereka

menghitung-hitung jumlah kata yang mereka ucapkan,

sama seperti semua aktor lainnya." Ia mendesah, lalu

kembali menghirup scotch-nya. "Oke, tolong ceritakan

sekali lagi apa yang hendak kalian lihat.”

"Rekaman resepsi Nakamoto."

"Maksudnya, rekaman yang mengudara? Berita yang

kami tayangkan tadi?"

"Bukan, kami ingin melihat rekaman yang asli, yang

langsung dari kamera."

"Rekaman lapangan. Jeez. Moga-moga masih ada.

Mungkin sudah dihapus."

"Dihapus?"

"Yeah. Di sini kami merekam empat puluh kaset setiap

hari. Sebagian besar langsung dihapus. Dulu, semua

rekaman lapangan disimpan selama seminggu, tapi

maklum, kami harus menekan biaya. “

Di salah satu sisi ruang wartawan terdapat rak-rak berisi

deretan kaset Betamax. Bob menyusuri deretan itu dengan

jarinya. "Nakamoto... Nakamoto... Hmm, sepertinya tidak

ada." Seorang wanita melewati kami. "Cindy, Rick masih di

sini?"

"Tidak, dia sudah pulang. Kau perlu sesuatu?"

"Rekaman lapangan dari resepsi Nakamoto.

Kaset-kasetnya tidak ada di rak."

"Coba periksa ruangan Don. Dia yang menyuntingnya."

"Oke." Bob mengajak kami ke bilik-bilik penyuntingan di

seberang ruang wartawan. Ia membuka sebuah pintu, dan

kami memasuki ruangan sempit yang berantakan. Ruangan

itu berisi dua monitor, sejumlah alat perekam, serta meja

penyuntingan. Kaset-kaset video tampak berserakan di

lantai. Bob segera mulai mencari. "Oke, kalian beruntung.

Rekaman yang asli. Ada beberapa kaset. Saya akan minta

Jenny untuk mengamati semuanya. Matanya paling jeli. Dia

kenal semua orang." Ia menyembulkan kepala dari pintu.

"Jenny? Jenny!"

"Oke, coba kita lihat," ujar Jenny Gonzales beherapa

menit kemudian. Ia memakai kacamata, berbadan pendek

tegap, berusia empat puluhan. Ia mengamati catatan

penyunting dan mengerutkan kening. "Sudah berkali-kali

saya beritahu mereka, tapi mereka tidak pernah mau

belajar. Akhirnya. Ini dia. Empat kaset. Dua di pintu masuk,

dua lagi di tempat pesta. Apa yang hendak kalian lihat?"

Connor berkata, "Kita mulai dengan rekaman di pintu

masuk." Ia melirik jam tangannya. "Apakah ini bisa

diselesaikan dengan cepat? Kami sedang terburu-buru. "

"Bisa saja. Saya sudah biasa. Kita putar dengan

kecepatan tinggi saja."

Ia menekan sebuah tombol. Kami melihat limo-limo

berhenti, pintu-pintu membuka, para penumpang turun,

lalu berjalan dengan gerakan tersentak-sentak.

"Kalian cari orang tertentu? Soalnya sudah ada yang

membuat catatan mengenai orang-orang terkenal dalam

proses penyuntingan tadi."

“Kami tidak mencari orang terkenal."

"Sayang sekali. Rasanya cuma itu yang direkam." Kami

memperhatikan gambar di layar monitor. Jenny berkata,

"Itu Senator Kennedy. Dia kelihatan lebih kurus, bukan? Oh,

sudah hilang. Dan Senator Morton. Dia tampak fit. Tidak

mengherankan. Dan itu asistennya yang menakutkan. Gigi

saya selalu gemeletukan kalau melihatnya. Senator Rowe,

tanpa istrinya, seperti biasa. Itu Tom Hanks. Orang Jepang

ini saya tidak kenal."

Connor berkata, "Hiroshi Masukawa, wakil presiden

Mitsui."

"Oke. Senator Chalmers, transplantasi rambutnya

lumayan sukses. Anggota Kongres Levine. Anggota Kongres

Daniels. Tumben tidak mabuk. Terus terang, saya tak

menyangka Nakamoto bisa menarik begitu banyak orang

dari Washington."

"Kenapa?"

"Hmm, kalau dipikir-pikir, ini hanya acara peresmian

sebuah gedung baru. Acara biasa. Tempatnya di Pantai

Barat. Dan sekarang-ini posisl Nakamoto cukup

kontroversial. Barbara Streissand. Saya tidak tahu siapa

laki-laki yang menemaninya."

"Posisi Nakamoto sedang kontroversial? Kenapa?"

"Karena penjualan MicroCon."

Aku berkata, "MicroCon? Apa itu?"

"MicroCon adalah sebuah perusahaan Amerika yang

membuat peralatan komputer. Kabarnya akan dibeli oleh

perusahaan Jepang bernama Akai Ceramics. Kongres

menentang penjualan itu, karena takut teknologi Amerika

akan jatuh ke tangan Jepang.”

Aku berkata, "Dan apa hubungannya dengan

Nakamoto?"

"Nakamoto adalah perusahaan induk Akai." Kaset

pertama telah tamat. "Belum ketemu yang kalian cari?"

"Belum. Coba yang berikutnya."

"Oke." Ia memasukkan kaset kedua. "Pokoknya, saya

heran bahwa begitu banyak senator dan anggota Kongres

merasa pantas muncul di sini tadi. Oke, ada lagi. Roger

Hillman, deputi menteri negara untuk urusan Pasifik. Itu

asistennya Kenichi Aikou, konsul jenderal Jepang di L.A.,

Richard Meier, arsitek. Dia bekerja untuk Ge”y. Wanita ini

saya tidak kenal. Beberapa orang Jepang..."

Connor berkata, "Hisashi Koyama, wakil presiden Honda

untuk Amerika."

"Oh, yeah," ujar Jenny. "Dia sudah sekitar tiga tahun di

sini. Sebentar lagi dia akan pulang Itu Fena Morris, dia

mengepalai delegasi AS ke perundingan GA” - General

Agreement on Tariffs and Trade. Wah, berani benar dia

muncul di sini, ini jelas-jelas perselisihan kepentingan. Tapi

dia malah penuh senyum. Chuck Norris. Eddie Nakamura.

Semacam playboy lokal. Saya tidak tahu siapa wanita yang

menemaninya itu. Tom Cruise, berikut istri. Dan Madonna,

tentu saja."

Di layar monitor, lampu-lampu kilat seakan-akan

menyala tanpa henti ketika Madonna turun dari

limousine-nya dan bergenit-genit di depan para wartawan.

"Kalian tertarik?"

Connor berkata, "Malam ini tidak."

"Hmm, dia pasti disorot terus," Jenny berkomentar. Ia

menekan tombol fast-forward - kecepatan sangat tinggi -

dan gambar menjadi kelabu bergaris-garis. Ketika

dikembalikan ke kecepatan semula, Madonna sedang

melenggak-lenggok ke tangga berjalan sambil

bergandengan tangan dengan pemuda Latin yang langsing

dan berkumis. Gambar di monitor mendadak kabur karena

kamera kembali diarahkan ke jalanan.

"Itu Daniel Okimoto. Pakar mengenai kebijaksanaan

industri Jepang. Itu Arnold, dengan Maria. Dan di belakang

mereka ada Steve Martin, bersama Arata Isozaki, arsitek

yang merancang Museum..."

Connor berkata, "Tunggu."

Jenny menekan sebuah tombol. Gambarnya membeku.

Jenny tampak heran. "Anda tertarik pada Isozaki?"

"Tidak. Tolong mundurkan."

Gambar bergerak mundur, berkedap-kedip ketika

kamera beralih dari Steve Martin dan kembali mengarah ke

jalanan untuk merekam kedatangan berikutnya. Tapi

sekilas saja, kamera melewati sekelompok orang yang

sudah turun dari limo-limo mereka, dan sedang berjalan di

trotoar yang telah dilapisi karpet.

Connor berkata, "Itu."

Sekali lagi gambar membeku. Agak kabur, aku melihat

wanita pirang dengan gaun koktail warna hitam berjalan di

sebelah pria tampan dengan setelan jas berwarna gelap.

“Oh," kata Jenny. "Anda tertarik pada prianya, atau

wanitanya?"

"Wanitanya."

"Sebentar, saya ingat-ingat dulu," ujar Jenny sambil

mengerutkan kening. "Saya sudah beberapa kali melihat dia

di pesta orang-orang Washington, kira-kira sejak sembilan

bulan yang lalu. Dia Kelly Emberg-nya tahun ini. Atletis,

seperti model. Sophisticated, seperti kembaran Tatiana.

Namanya... Austin. Cindy Austin, Carrie Austin... Cheryl

Austin. Itu dia."

Aku berkata, "Anda mengetahui sesuatu mengenai dia?"

Jenny menggelengkan kepala. "Hei, sudah bagus Anda

mendapatkan namanya. Gadis-gadis seperti ini terus

bermunculan. Mereka ada di mana-mana selama enam

bulan, setahun, lalu mereka hilang lagi. Entah ke mana.

Siapa yang bisa mengingat semuanya?"

"Dan pria yang datang bernmanya?"

"Richard Levi”. Ahli bedah plastik. Dia sering menangani

bintang-bintang terkenal."

"Kenapa dia ada di sini?"

Jenny mengangkat bahu. "Pergaulan. Dia menemani para

bintang di masa-masa sulit. Kalau di antara

pasien-pasiennya ada yang bercerai atau sebagainya, dia

mengawal para istri. Dan kalau dia tidak mengawal klien,

dia mengajak gadis-gadis model, seperti yang ini. Mereka

tampak serasi."

Di layar monitor, Cheryl dan pengawalnya melangkah

tersendat-sendat ke arah kami, satu frame setiap tiga puluh

detik. Pelan-pelan. Aku memperhatikan bahwa mereka tak

pernah saling berpandangan. Cheryl kelihatan tegang,

seakan-akan mengharapkan sesuatu.

Jenny Gonzales berkata, "Oke, seorang ahli bedah plastik

dan seorang model. Kalau saya boleh tahu, kenapa mereka

berdua begitu penting? Soalnya dalam kesempatan seperti

ini, mereka sekadar... ehm... meramaikan suasana."

Connor berkata, "Wanita itu terbunuh tadi."

"Oh, rupanya dia? Menarik."

Aku berkata, "Anda sudah tahu soal pembunuhan itu?"

"Oh, tentu."

"Apakah ada laporan dalam siaran berita?"

"Tidak, berita jam sebelas tidak menyiarkannya," kata

Jenny. "Dan rasanya besok pun takkan disiarkan.

Sebenarnya ini memang bukan berita."

"Kenapa begitu?" aku bertanya sambil melirik Connor.

"Habis, di mana letak nilai beritanya?"

"Maksud Anda?"

“Pihak Nakamoto pasti berdalih bahwa peristiwa itu

dianggap berita hanya karena terjadi di resepsi peresmian

mereka. Mereka tentu akan mengambil sikap bahwa setiap

liputan mengenai kejadian itu merupakan usaha untuk

menjelek-jelekkan mereka Dan pada dasarnya mereka

benar. Maksud saya, seandainya gadis ini tewas di jalan

raya, takkan ada yang meliputnya. Seandainya dia terbunuh

dalam perampokan toko, dia takkan masuk berita. Jadi,

biarpun dia terbunuh di sebuah pesta, siapa yang peduli?

Dia muda dan cantik, tapi tidak istimewa. Dia bukan

pemain film atau semacamnya.”

Connor melirik jam tangannya. "Bagaimana kalau

kaset-kaset yang lain diputar?"

"Rekaman di tempat pesta? Oke. Anda mencari gadis

ini?"

"Ya."

"Oke, kita mulai saja." Jenny memasukkan kaset ketiga.

Kami melihat beberapa adegan dari pesta di lantai 45:

para pemain band, orang-orang berdansa di bawah hiasan

gantung. Dengan bersusah payah kami mencari gadis itu di

tengah keramaian. Jenny herkomentar, "Kalau di Jepang,

pekerjaan seperti ini tak perlu dilakukan secara manual.

Orang Jepang punya video recognition software yang canggih

sekarang. Mereka punya program di mana kita

mengidentifikasi sebuah gambar, sebuah wajah misalnya,

dan programnya mencari wajah itu secara otomatis. Kita

diberitahu setiap kali wajah itu muncul. Di tengah-tengah

kerumunan, atau di mana saja. Cukup dengan identifikasi

dari satu sudut pandang saja, setiap objek tiga dimensi bisa

ditemukan, meskipun objek itu tampak dari sudut pandang

lain. Kabarnya program itu cukup bagus. Sayangnya

lambat."

"Kenapa stasiun ini belum memilikinya?"

"Oh, program itu tidak dijual di sini. Perlengkapan video

Jepang yang paling cangglh tidak bisa diperoleh di Amerika.

Mereka membiarkan kita ketinggalan tiga sampai lima

tahun. Itu hak mereka. Mereka yang mengembangkan

teknologi itu, jadi mereka bebas berbuat apa saja. Tapi

dalam kasus seperti ini pasti banyak gunanya."

Adegan demi adegan silih berganti.

Tiba-tiba Jenny mengunci gambar.

"Itu. Kamera latar belakang sebelah kiri. Cheryl Austin

sedang mengobrol dengan Eddie Sakamura. Eddie tentu

saja mengenalnya Dia kenal semua gadis model. Kecepatan

normal?"

"Ya, tolong," ujar Connor sambil menatap layar monitor.

Kamera berputar dengan pelan. Cheryl Austin kelihatan

hampir selama adegan itu berlangsung. Tertawa bersama

Eddie Sakamura, menengadahkan kepala, meletakkan

tangan di lengan Eddie, bergembira karena berada

bersamanya. Eddie membadut. Kelihatannya ia senang

membuat Cheryl tertawa. Tapi sekali-sekali mata Cheryl

berpaling ke arah lain, memandang berkeliling.

Seakan-akan menunggu sesuatu. Atau seseorang.

Sakamura akhirnya menyadari bahwa tidak seluruh

perhatian Cheryl terarah padanya. Ia menggenggam lengan

gadis itu, dan menariknya dengan kasar. Cheryl membuang

muka Eddie mencondongkan badan ke depan dan

mengatakan sesuatu dengan kesal. Kemudian seorang pria

berkepala botak melangkah maju, sangat dekat dengan kamera.

Cahaya memantul pada wajahnya, sehingga

tampangnya tidak kelihatan, kepalanya menutupi Eddie

dan Cheryl. Kemudian kamera beralih, Eddie dan Cheryl

menghilang dari pandangan kami.

"Sial."

"Mau diulang?" Jenny memundurkan rekaman dan kami

melihatnya sekali lagi.

Aku berkata, "Eddie tampak dongkol."

"Yeah."

Connor mengerutkan kening. "Sulit sekali mengartikan

ini. Apakah ada rekaman suara?"

Jenny berkata, "Tentu, tapi kemungkinan besar tidak

jelas." Ia menekan beberapa tombol dan mengulangi

adegan itu. Jenny benar. Suaranya memang tidak jelas.

Hanya sesekali kami dapat menangkap sepotong kalimat.

Pada suatu ketika, Cheryl Austin menatap Eddie

Sakamura dan berkata, "...bukan salahku kalau kau

penasaran karena aku."

Jawaban Eddie tenggelam dalam kebisingan di sekeliling

mereka, tetapi kemudian ia berkata dengan jelas, "Tidak

mengerti... mengenai pertemuan Sabtu..."

Dan dalam detik-detik terakhir adegan itu, ketika ia

menarik Cheryl, ia mengucapkan sesuatu yang terdengar

seperti "...jangan bodoh... no cheapie..."

Aku berkata, "Dia bilang 'no cheapie'?"

"Mirip itu," ujar Connor.

Jenny bertanya, "Perlu diulang lagi?"

"Tidak," kata Connor. "Tak ada lagi yang bisa dipelajari

di sini. Teruskan saja."

"Oke," Jenny berkata.

Gambar bertambah cepat, para pengunjung pes” tampak

berjalan mondar-mandir, tertawa, mengangkat gelas untuk

minum sedikit. Dan kemudian aku berkata, "Tunggu!"

Kembali ke kecepatan normal. Seorang wanita pirang

dengan jas sutra buatan Armani sedang bersalaman dengan

pria botak yang kami lihat beberapa saat yang lalu.

"Ada apa?" tanya Jenny sambil menatapku.

"Itu istrinya," kata Connor.

Wanita itu maju sedikit untuk mengecup bibir si Botak.

Kemudian ia mundur lagi dan berkomentar mengenai

setelan jas yang dikenakan pria itu.

"Dia pengacara di kejaksaan," kata Jenny. "Lauren Davis.

Dia ikut membantu dalam beberapa kasus besar. Sunset

Strangler, penembakan Kellermann. Dia sangat ambisius.

Pintar dan banyak koneksi. Katanya, dia punya masa depan

kalau dia tetap bekerja di kejaksaan. Rasanya memang

benar, sebab Wyland tak pernah membiarkan dia tampil di

depan karnera. Anda lihat sendiri, penampilannya cukup

meyakinkan, tetapi Wyland selalu menjauhkannya dari

mikrofon-mikrofon. Laki-laki botak yang sedang mengobrol

dengannya adalah John MeKenna, dari Regis MeKenna,

sebuah perusahaan humas di San Francisco. Sebagian besar

perusahaan high-tech merupakan klien mereka."

Aku berkata, "Sudah bisa dilanjutkan lagi."

Jenny menekan tombol. "Dia benar-benar istri Anda, atau

partner Anda hanya bercanda?"

"Benar, dia istri saya. Bekas istri saya."

"Anda bercerai?"

"Yeah."

Jenny menatapku. Sepertinya ia hendak mengatakan

sesuatu. Namun kemudian ia membatalkan niatnya dan

kembali memperhatikan monitor. Di layar, pesta itu

berlanjut dengan kecepatan, tinggi.

Aku menyadari bahwa aku sedang memikirkan Lauren.

Ketika aku mengenalnya, ia memang cerdas dan penuh

ambisi, tetapi ada banyak hal yang tidak dipahaminya. Ia

berasal dari kalangan atas, ia belajar di sekolah-sekolah

yang termasuk jajaran Ivy League, dan keyakinan khas

kalangan atas telah mendarah daging dalam dirinya, yaitu

bahwa apa pun yang dipikirkannya kemungkinan besar

memang benar. Tak ada yang perlu dibandingkan dengan

kenyataan.

Ia muda, bagian dari dunia yang sedang berputar. Ia

masih meraba-raba, mempelajari cara kerja dunia. Ia penuh

antusiasme, dan dalam menguraikan pandangannya, ia bisa

berapi-api. Tetapi pandangannya selalu berubah-ubah,

tergantung pada siapa yang terakhir berbincang-bincang

dengannya. Ia sangat mudah terkesan. Ia mencoba

gagasan-gagasan baru seperti wanita lain mencoba topi. Ia

selalu tahu trend terbaru. Mula-mula sifatnya itu kuanggap

menarik, lucu, tetapi lama-lama aku mulai jengkel.

Karena ia tidak memiliki isi. Bagaikan pesawat TV, ia

hanya menampilkan pertunjukan terakhir Apa pun

pertunjukannya. Ia tak pernah mempertanyakannya.

Pada hakikatnya, bakat Lauren yang paling besar adalah

menyesuaikan diri. Ia ahli dalam memperhatikan TV, koran,

atasannya - apa saja yang dianggapnya sebagai sumber

otoritas - dan menyimpulkan arah perkembangan dunia.

Dan menempatkan diri, sehingga ia berada di tempat ia

seharusnya berada. Aku tidak heran bahwa kariernya maju

pesat. Tata nilai yang dianutnya, sama seperti pakaiannya,

selalu bagus dan up-to-date.

"...kepada Anda, Letnan, tapi sekarang sudah malam...

Letnan?"

Aku terperanjat. Suara Jenny membuyarkan lamunanku.

Ia menunjuk layar monitor, di mana Cheryl Austin dengan

gaun hitamnya sedang berdiri bersama dua pria setengah

baya.

Aku menoleh ke arah Connor, tapi ia sedang menghadap

ke arah lain dan berbicara melalul telepon.

"Letnan? Apakah Anda tertarik pada adegan ini?"

"Ya, tentu. Siapa mereka?"

Jenny memutar rekaman itu dengan kecepatan normal.

"Senator John Morton dan Senator Stephen Rowe.

Mereka sama-sama anggota Komite Keuangan Senat.

Komite yang mengadakan dengar pendapat mengenai

penjualan MicroCon."

Di layar, Cheryl tertawa dan mengangguk. Ia sangat

cantik, berkesan lugu sekaligus sensual. Sesekali raut

wajahnya tampak keras. Sepertinya ia mengenal kedua pria

itu, walaupun tidak kenal baik. Ia tidak mendekati

keduanya atau menyentuh mereka, kecuali pada waktu

bersalaman. Sedangkan kedua senator itu tampaknya

menyadari kehadiran kamera, dan terus menampilkan

sikap ramah, namun resmi.

"Negara kita sedang menuju kehancuran, tapi pada

malam Jumat, senator-senator AS malah mengobrol dengan

gadis model," Jenny berkomentar. "Pantas saja kita dalam

kesulitan. Dan mereka ini termasuk orang penting. Morton

bahkan disebut-sebut sebagai calon presiden dalam pemilu

berikut. "

Aku berkata, "Apa yang Anda ketahui mengenai pribadi

mereka?"

"Kedua-duanya berkeluarga. Tapi, ya, Rowe sudah pisah

ranjang. Istrinya tinggal di Virginia. Rowe sendiri tukang

pesta. Dia cenderung terlalu banyak minum."

Aku menatap Rowe di monitor. Rowe-lah yang hendak

naik ke lift bersama kami di tempat pesta tadi. Dan waktu

itu ia kelihatan mabuk, nyaris tak sanggup berdiri. Tetapi di

monitor sekarang ia belum tampak mabuk.

"Dan Morton?"

"Kabarnya, dia Mr. Dean. Bekas atlet, gila fitness.

Penggemar health food. Mengutamakan keluarga. Bidang

keahlian Morton adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.

Lingkungan hidup. Daya saing Amerika. Tata nilai Amerika.

Hal-hal seperti itulah. Tapi dia tak mungkin sebersih itu.

Saya dengar desas-desus bahwa dia punya pacar gelap yang

masih muda."

"Betul itu?"

Jenny mengangkat bahu. "Katanya, para anggota stafnya

berusaha untuk memutuskan hubungan itu. Tapi siapa yang

tahu mana yang benar mana yang tidak."

Rekaman berakhir dan Jenny memasukkan kaset

berikutnya. "Ini yang terakhir."

Connor meletakkan gagang telepon dan berkata,

"Lupakan saja." Ia berdiri. "Kita harus berangkat,

Koshai."

"Kenapa?"

"Saya baru saja bicara dengan perusahaan telepon

mengenai percakapan-percakapan yang dilakukan dari

pesawat telepon umum di lobi gedung Nakamura antara

jam delapan dan jam sepuluh."

"Lalu?"

"Ternyata pesawatnya tidak dipakai selama dua jam itu."

Aku tahu bahwa Connor menduga seseorang keluar dari

ruang keamanan dan menelepon dari telepon umum itu -

Cole, atau salah satu orang Jepang. Kini harapan untuk

melacak percakapan itu telah pupus. "Sayang sekali,"

kataku.

"Sayang sekali?" ujar Connor dengan nada heran. "Ini

justru sangat membantu. Ruang gerak kita jadi lebih

terbatas. Miss Gonzales, Anda punya rekaman mengenai

orang-orang yang meninggalkan tempat pesta?"

"Meninggalkan tempat pesta? Tidak. Begitu para tamu

sudah datang, semua kru naik untuk meliput pesta. Mereka

sudah kembali ke sini pada waktu pesta masih

berlangsung."

"Baiklah. Saya kira urusan kami di sini sudah selesai.

Terima kasih atas bantuan Anda. Pengetahuan Anda sangat

luar biasa. Kohai, mari berangkat."

Bab 15

KEMBALI naik mobil. Kali ini kami menuju ke sebuah

alamat di Beverly Hills. Aku lelah, jam tanganku

menunjukkan pukul satu dini hari. "Kenapa telepon umum

di lobi itu demikian penting?"

“Karena," ujar Connor, "pandangan kita tentang kasus ini

bertumpu pada pertanyaan apakah ada yang menelepon

dari pesawat itu atau tidak. Masalahnya sekarang,

perusahaan mana di Jepang yang bertikai dengan

Nakamoto."

"Perusahaan di Jepang?" kataku.

"Ya. Dan bisa dipastikan bahwa perusahaan itu termasuk

keiretsu yang lain."

Aku berkata, "Keiretsu?"

"Orang Jepang menyusun bisnis mereka dalam

organisasi-organisasi besar yang mereka sebut keiretsu. Di

Jepang ada enam keiretsu utama, dan keenam-enamnya

berukuran raksasa. Sebagai contoh, keiretsu Mitsubishi

terdiri atas tujuh ratus perusahaan yang bekerja sama, atau

memiliki keuangan yang berkaitan atau berbagai

persetujuan khusus lainnya. Organisasi raksasa seperti ini

tidak ada di Amerika, karena melanggar undang-undang

antitrust, lain halnya dengan di Jepang. Kita menganggap

bahwa sebuah perusahaan berdiri sendiri. Untuk

melihatnya dari sudut pandang orang Jepang, Anda harus

membayangkan gabungan antara, misalnya, IBM dan

Citibank dan Ford dan Exxon, dan semuanya menjalin

hubungan kerja sama secara rahasia, dan berbagi dana atau

riset. Artinya, perusahaan Jepang tak pernah berdiri sendiri

- selalu ada kerja sama dengan ratusan perusahaan lain.

Dan semuanya bersaing dengan perusahaan-perusahaan

yang tergabung dalam keiretsu lain.

"Jadi, kalau Anda bertanya apa yang dilakukan

perusahaan Nakamoto, Anda harus bertanya apa yang

dilakukan keiretsu Nakamoto di Jepang sana. Dan

bagaimana tanggapan dari keiretsu-keiretsu lainnya. Sebab

pembunuhan ini sangat memalukan bagi Nakamoto.

Bahkan bisa dianggap sebagai serangan terhadap

Nakamoto."

"Serangan?"

"Coba pikirkan. Nakamoto merencanakan resepsi

besar-besaran untuk peresmian gedung baru mereka.

Mereka ingin semuanya berjalan dengan sempurna. Lalu,

salah satu tamu mati terbunuh. Pertanyaannya adalah,

siapa yang memberitahu kita?"

"Siapa yang melaporkan pembunuhan itu?"

"Betul. Harap diingat, Nakamoto sepenuhnya

mengontrol tempat itu. Itu pesta mereka, gedung mereka.

Mudah saja bagi mereka untuk menunggu sampai pesta

berakhir dan semua tamu pulang, untuk melaporkan

pembunuhan itu. Seandainya saya sangat memperhatikan

pandangan umum dan, citra saya di masyarakat, itulah yang

akan saya lakukan. Sebab semua tindakan lain dapat

mengancam citra Nakamoto di mata umum."

"Oke."

"Tetapi laporannya tidak ditunda," Connor berkata.

"Justru sebaliknya, laporannya masuk puktil 20.32, pada

waktu pesta tengah berlangsung, dan dengan demikian,

mengancam acara itu. Jadi, kembali ke pertanyaan tadi,

siapa yang melaporkannya?"

Aku berkata, "Anda menyuruh Ishiguro mencari orang

itu. Dan sampai sekarang dia belum melakukannya."

“Betul. Karena dia tidak bisa."

"Dia tidak tahu siapa yang menelepon polisi?"

"Betul."

"Anda pikir peneleponnya bukan orang Nakamoto?"

"Betul."

"Musuh Nakamoto?"

"Hampir pasti."

Aku berkata, "Jadi, bagaimana kita mencari orang itu?"

Connor tertawa. "Untuk itulah saya memeriksa telepon

umum di lobi. Pesawat itu sangat penting dalam mencari

jawaban atas pertanyaan kita."

"Kenapa begitu?"

"Andaikan Anda bekerja untuk sebuah perusahaan

saingan, dan Anda ingin tahu apa yang terjadi di dalam

tubuh Nakamoto. Anda tidak bisa mengetahuinya, karena

perusahaan Jepang mempekerjakan para eksekutif mereka

untuk seumur hidup. Para eksekutif merasa sebagai bagian

dari sebuah keluarga besar. Dan mereka takkan

mengkhianati keluarga sendiri. Jadi, Nakamoto

menampilkan topeng yang tak tertembus kepada dunia,

dan ini menyebabkan detail-detail paling kecil pun

memiliki arti: eksekutif mana saja yang berkunjung dari

Jepang, siapa bertemu dengan siapa, orang-orang yang

datang dan pergi, dan sebagainya. Dan kita bisa

mempelajari detail-detail itu jika kita menjalin hubungan

dengan petugas keamanan Amerika yang sepanjang hari

duduk di depan deretan monitor. Terutama jika petugas itu

sudah mencicipi prasangka orang Jepang terhadap orang

kulit hitam."

"Teruskan," kataku.

"Orang Jepang sering berusaha menyuap petugas

keamanan setempat yang bekerja untuk perusahaan

saingan mereka. Orang Jepang orang terhormat, tetapi

tradisi mereka menghalalkan penyuapan. Dalam cinta dan

perang, semuanya halal, dan orang Jepang memandang

bisnis sebagai perang. Penyuapan boleh-boleh saja, kalau

kita bisa menanganinya."

"Oke."

"Nah, dalam detik-detik pertama setelah pembunuhan

terjadi, kita bisa memastikan kematian gadis itu diketahui

hanya oleh dua orang. Yang pertama adalah pembunuhnya

sendiri. Yang satu lagi adalah si petugas keamanan, Ted

Cole, yang menyaksikannya di layar monitor."

"Tunggu dulu! Ted Cole menyaksikan kejadian itu di

layar monitor? Dia tahu siapa pembunuhnya?"

"Tentu."

"Dia mengaku pulang pukul 20.15."

"Dia berbohong."

"Tapi kalau Anda tahu itu, kenapa kita tidak..."

"Dia takkan memberitahukan apa-apa kepada kita," ujar

Connor. "Sama seperti Phillips. Karena itulah saya tidak

menahan Cole dan membawanya untuk diinterogasi. Sebab

pada akhirnya kita hanya akan buang-buang waktu - dan

waktu sangat penting sekarang. Kita sudah tahu bahwa dia

takkan buka mulut. Pertanyaan saya, apakah dia memberitahu

orang lain?"

Aku mulai memahami maksud Connor. "Maksud Anda,

apakah dia keluar dari ruang keamanan dan pergi ke

telepon umum untuk memberitahu seseorang bahwa telah

terjadi pembunuhan?"

"Betul. Karena dia takkan mau menggunakan telepon di

ruang kerjanya. Dia tentu menggunakan telepon umum,

dan menghubungi seseorang - salah satu musuh Nakamoto,

saingan mereka."

Aku berkata, "Tapi sekarang kita sudah tahu bahwa

telepon umum itu tidak dipakai."

"Betul," kata Connor.

"Artinya, kita harus mulai dari nol lagi."

"Oh, tidak. Hal itu justru memperkuat teori saya. Jika

Cole tidak menghubungi orang lain, siapa yang melaporkan

pembunuhan itu? Hanya ada satu jawaban, yaitu

pembunuhnya sendiri."

Aku merinding.

"Dia menelepon untuk mempermalukan pihak

Nakamoto?"

“Saya pikir begitu."

"Tapi dari mana dia menelepon?"

"Itu belum jelas. Tapi dugaan saya, dari dalam gedung

Nakamoto. Dan ada beberapa detail membingungkan yang

belum kita pikirkan

"Misalnya?"

Telepon berdering. Connor menyahut, lalu menyerahkan

gagangnya padaku. "Untuk Anda."

"Bukan, bukan," ujar Mrs. Ascenio. "Si Kecil baik-baik

saja. Saya baru saja menengoknya beberapa menit yang

lalu. Dia baik-baik saja. Letnan, saya ingin memberitahu

Anda bahwa Mrs. Davis menelepon." Itulah sebutan yang

digunakannya untuk bekas istriku.

“Kapan?"

"Kira-kira sepuluh menit yang lalu."

"Apakah dia meninggalkan nomor telepon?"

"Tidak. Dia bilang dia tidak bisa dihubungi malam ini.

Tapi dia ingin memberitahu Anda bahwa ada acara

mendadak, dan bahwa dia mungkin harus ke luar kota. Jadi,

dia mungkin tidak sempat membawa si Kecil selama akhir

pekan."

Aku menghela napas. "Oke."

"Dia bilang, besok dia akan menelepon Anda lagi untuk

memastikannya."

"Oke.”

Aku tidak heran. Begitulah Lauren. Selalu ada perubahan

pada saat terakhir. Kita tak pernah bisa membuat rencana

yang melibatkan Lauren, sebab ia selalu berubah pikiran.

Perubahan terakhir ini mungkin berarti bahwa ia

mempunyai pacar baru dan hendak bepergian dengannya.

Tapi ia belum bisa memastikannya sampai besok.

Tadinya aku beranggapan bahwa sikap Lauren itu

berpengaruh buruk pada Michelle, dan akan membuatnya

tidak percaya diri. Tetapi anak-anak sangat pragmatis.

Tampaknya Michelle mengerti bahwa ibunya memang

begitu, dan ia tidak terganggu.

Akulah yang terganggu.

Mrs. Ascenio berkata, "Anda akan pulang cepat, Letnan?"

"Tidak. Kelihatannya saya baru akan pulang pagi. Anda

bisa menginap?”

"Bisa, tapi jam sembilan besok saya harus berangkat.

Saya tidur di ruang duduk saja, seperti biasa."

Aku mempunyai sofa merangkap tempat tidur di ruang

duduk. Mrs. Ascenio biasa memakainya kalau terpaksa

menginap. "Tentu, silakan."

"Oke, selamat malam, Letnan."

"Selamat malam, Mrs. Ascenio."

Connor berkata, "Ada masalah?" Aku terkejut karena

suaranya bernada tegang.

"Tidak. Bekas istri saya macam-macam, seperti biasa. Dia

belum tahu apakah dia bisa membawa si Kecil selama akhir

pekan. Kenapa?"

Connor mengangkat bahu. "Sekadar tanya saja."

Perasaanku mengatakan bahwa ada sesuatu di balik

sikapnya itu. "Apa maksud Anda tadi, waktu Anda

mengatakan bahwa kasus ini bisa berakibat buruk?"

"Belum tentu," balas Connor. "Jalan keluar yang terbaik

adalah memecahkan kasus ini dalam beberapa jam berikut.

Dan saya rasa ada harapan. Ah, itu restorannya, di depan,

sebelah kiri."

Aku melihat papan reklame neon. Bora Bora.

"Ini restoran milik Eddie Sakamura?"

"Ya. Sebenarnya dia bukan pemilik penuh. Jangan

serahkan kunci pada petugas parkir. Berhenti saja di bawah

tanda larangan. Kita mungkin harus pergi cepat-cepat."

Bora Bora merupakan restoran yang sedang in di L.A.

minggu ini. Dekorasinya berupa topeng-topeng dan

perisai-perisai Polinesia. Perahu dayung berwarna hijau

tergantung di atas bar. Di atas dapur yang terbuka, videoclip

Prince terlihat pada layar selebar lima meter. Makanan

yang dihidangkan adalah makanan Pacific Rim; kebisingan

di sini memekakkan telinga; para pengunjung terdiri atas

orang-orang yang berharap dapat menembus industri film.

Semuanya berpakaian serba hitam.

Connor tersenyum. "Seperti Trader Vic's setelah ada

ledakan bom, bukan? Jangan melotot begitu. Anda tidak

pernah ke luar rumah?"

"Tidak," kataku. Connor berbicara dengan petugas

penerima tamu, seorang wanita peranakan Asia. Aku

memandang ke bar, tempat dua wanita sedang berciuman.

Lebih ke ujung, pria Jepang dengan jaket penerbang tampak

merangkul gadis pirang yang jangkung. Kedua-duanya

sedang mendengarkan seorang pria dengan rambut

menipis dan sikap menantang, yang kukenali sebagai sutradara.

"Ayo," ujar Connor. "Kita pergi."

"Apa?"

"Eddie tidak ada di sini."

"Di mana dia?"

"Dia ada di sebuah pesta di perbukitan. Ayo kita ke sana

saja."

Bab 16

ALAMAT itu berada di sebuah jalan berkelok-kelok di

perbukitan di atas Sunset Boulevard. Seharusnya kota

kelihatan jelas dari sini, tetapi kabut telah

menyelubunginya. Ketika mendekat, kami melihat

mobil-mobil mewah berderet di kedua sisi jalan. Sebagian

besar sedan Lexus, ada juga Mercedes dua pintu dengan

kap terbuka dan sedap Bentley. Para petugas parkir tampak

heran ketika kami muncul naik sedan Chevy, dan menuju

rumah itu.

Seperti rumah-rumah lain di jalan itu, rumah ini

dikelilingi tembok setinggi tiga meter, dan jalan masuknya

terhalang oleh gerbang besi yang di- lengkapi alat

pengendali jarak jauh. Di atas gerbang terdapat kamera

keamanan, satu lagi tampak di jalan menuju rumah.

Seorang petugas keamanan swasta berdiri di sisi jalan dan

memeriksa identitas kami.

Aku berkata, "Rumah siapa ini?"

Sepuluh tahun yang lalu, orang yang menggunakan

pengamanan seperti ini hanya para anggota Mafia, atau

bintang film seperti Stallone, yang melalui film-filmnya

yang keras mengundang perhatian yang juga penuh

kekerasan. Tapi belakangan ini, tampaknya semua

penghuni di lingkungan tempat tinggal orang kaya memiliki

pengamanan serupa. Hal itu telah lazim, bahkan hampir

menjadi mode. Kami menaiki tangga yang melewati taman

kaktus, menuju rumah yang berbentuk modem,

menyerupai benteng. Musik terdengar mengentak-entak.

"Ini rumah pemilik Maxim Noir." Rupanya Connor

melihat bahwa aku terbengong-bengong. "Toko pakaian

mahal yang terkenal karena pelayannya yang congkak. Jack

Nicholson dan Cher biasa berbelanja di sana."

"Jack Nicholson dan Cher," aku mengulangi sambil

geleng-geleng. "Dari mana Anda tahu?"

"Sekarang banyak orang Jepang yang berbelanja di sana.

Maxim Noir sama saja dengan sebagian besar toko Amerika

yang mahal - mereka terpaksa gulung tikar seandainya

tidak ada pengunjung darl Tokyo. Mereka tergantung pada

orang-orang Jepang."

Ketika kami menghampiri pintu depan, seorang pria

tinggi besar dengan jas santai muncul. Ia membawa daftar

nama. "Maaf, pesta ini khusus untuk undangan, Gentlemen."

Connor memperlihatkan lencananya. "Kami ingin bicara

dengan salah satu tamu Anda," katanya.

"Tamu yang mana itu, Sir?"

"Mr. Sakamura."

Orang itu tampak enggan "Silakan tunggu di sini."

Dari pintu masuk, kami bisa melihat ke ruang duduk.

Ruangan itu penuh tamu, yang sepintas lalu sama dengan

orang-orang yang menghadiri resepsi Nakamoto. Seperti di

restoran tadi, hampir semua orang mengenakan pakaian

berwarna hitam. Tapi justru ruangan itu sendiri yang

menarik perhatianku. Semuanya serba putih, sama sekali

tanpa hiasan. Tak ada lukisan di dinding. Tak ada perabot.

Hanya dinding-dinding putih dan karpet polos. Para tamu

tampak canggung. Mereka memegang gelas dan serbet,

memandang berkeliling, mencari tempat untuk meletakkan

semuanya.

Sepasang pria dan wanita melewati kami ketika mereka

menuju ruang makan. "Rod selalu tahu apa yang harus

dilakukannya," ujar wanita itu'.

"Ya," jawab pria yang bersamanya. "Minimalis penuh

keanggunan. Kaulihat detail di ruangan itu? Aku tidak tahu

bagaimana dia bisa mengecat dinding seperti itu.

Sempurna. Tanpa bekas kuas, tanpa belang. Sempurna."

"Memang sudah seharusnya. Ini bagian integral dari

seluruh konsepsinya."

"Sangat berani."

"Berani?" aku berkomentar. "Apa yang mereka sebut

berani? Saya hanya melihat ruangan kosong.”

Connor tersenyum. "Saya menyebutnya faux zen. Gaya

tanpa isi."

Aku mengamati para tamu.

"Senator Morton ada." Ia berdiri di sebuah pojok.

Penampilannya memang pantas sebagai calon presiden.

"Begitu."

Karena penjaga pintu tadi belum kembali, kami maju

beberapa kaki. Ketika aku mendekati Senator Morton, aku

mendengarnya berkata, "Ya, saya bisa menjelaskan

mengapa saya keberatan dengan tingkat kepemilikan

Jepang dalam industri Amerika. Kalau kita kehilangan

kemampuan membuat produk-produk kita sendiri, kita

kehilangan kontrol atas nasib kita. Sederhana saja. Sebagai

contoh, tahun 1987 kita mendapat laporan bahwa Toshiba

menjual teknologi yang menentukan kepada Rusia, yang

memungkinkan Angkatan Laut Soviet mengurangi

kebisingan yang ditimbulkan oleh baling-baling kapal

selam mereka. Sekarang kapal selam nuklir Rusia berada di

lepas pantai dan kita tidak sanggup melacak mereka,

karena mereka memiliki teknologi dari Jepang. Kongres

marah sekali, dan para warga Amerika pun geram. Dan

memang beralasan, sebab kejadian itu sangat keterlaluan.

Pihak Kongres lalu berniat mengenakan sanksi ekonomi

kepada Toshiba. Tetapi rencana itu akhirnya dibatalkan

atas imbauan perusahaan-perusahaan Amerika, sebab

perusahaan-perusahaan Amerika seperti Hewle”-Packard

dan Compaq tergantung pada Toshiba untuk memperoleh.

komponenkomponen komputer. Mereka tak sanggup mendukung

rencana boikot, karena mereka tidak memiliki

sumber lain. Singkat kata, kita tak sanggup mengambil

langkah balasan. Jepang menjual teknologi vital kepada

musuh kita, dan kita tak dapat berbuat apa-apa. Itulah

masalahnya. Kita, sekarang tergantung pada Jepang, dan

menurut saya, Amerika tidak boleh tergantung pada negara

mana pun."

Seseorang mengajukan pertanyaan dan Senator Morton

mengangguk. "Ya, memang benar bahwa keadaan industri

kita tidak terlalu baik. Upah nyata kini sebanding dengan

upah nyata, di tahun 1962. Daya beli angkatan kerja

Amerika mundur sekitar tiga puluh tahun. Dan itu

berpengaruh, juga terhadap orang-orang berada yang saya

lihat di ruangan ini, sebab itu berarti para konsumen Amerika

tidak mempunyai uang untuk nonton film, membeli

mobil, pakaian, atau apa pun yang Anda jual. Kenyataannya

bangsa kita sedang merosot."



0 Response to "RISING SUN 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified