Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Perempuan dan Cincin di Jarinya

Sumber: www.eramuslim.com

Penulis: DH Devita

Jangan bicarakan lagi soal menunggu. Maya sudah menunggu terlalu lama dan kepingan hati yang berharap itu sudah seringkali cemas. Wanita yang telah lama beranjak dari usia belia itu sudah melewati kepala tiga dan masih saja sendiri. Belakangan tampaknya sifat Maya pun mulai berubah. Senyum ceria dan celoteh panjang menjadi barang langka. Ia tampak makin serius dan itu membuat keningnya sering tampak berkerut. Sekujur wajah dan tubuhnya kini gelap, suram, tampak seperti diselimuti kabut pekat. Kecuali ketika kedua matanya menangkap sesuatu yang selalu membuatnya tampak berbinar-binar untuk sesaat. Ya, sesaat saja. Dan kemudian meredup kembali.

Pagi itu mungkin menjadi pagi teraneh yang pernah terjadi seumur hidup Maya. Ia berada dalam ruang interview sebuah perusahaan swasta dan berada di dalamnya tak lebih dari lima menit saja.

“Kamu berasal dari bank, pekerjaanmu sebelumnya …” si interviewer itu bahkan tidak berbasa-basi meminta Maya untuk memperkenalkan diri. Maya, bagaimanapun, bersiap menjawab dengan pantas dan meyakinkan.

“Dan tugas-tugasmu sebelumnya adalah sebagai sekretaris divisi … ya … ya, dengan gaji … sekian?” kalimat terakhir diucapkannya dengan nada terperanjat, sebelum mulut Maya terbuka untuk menjawab. Tidak ada pilihan. Maya mengangguk kecil dan berkata pelan, “Benar, Pak.” Sambil berharap si interviewer mendapat kesan baik dari resume tersebut lantas mempertimbangka posisi yang bagus untuknya di perusahaan itu.

“Berasal dari bank anu, posisi bagus, dan gaji kamu sudah tinggi sekali. Jadi, mau apa kamu mencari pekerjaan di sini?” tajam, dan sedikit sinis. Tak sadar, Maya nyengir.

“Saya yakin bisa menemukan pengalaman dan pelajaran …”

“… dari perusahan ini. Hah! Tidak bisa. Kamu buta, ya? Bank tempat kamu bekerja sudah memiliki segala yang kamu butuhkan. Reputasi bagus, jenjang karir sudah pasti, dan banyak lagi alasan yang tidak perlu saya sebutkan. Cukup. Kamu tidak diterima. Silakan bekerja kembali di sana. Interview selesai.”

Sebetulnya ceramah terakhir tadi tidak Maya butuhkan. Pengalaman bertahun-tahun, sempat pula menjadi kepala bagian keuangan di sebuah perusahaan kantor akuntan, gaji lebih dari cukup, di tempat manapun ia melamar nyaris selalu diterima. Posisi bagus, reputasi terjaga baik, salary lebih. Maya tidak butuh semua itu.

Tantangan baru. Itu dia. Tantangan baru yang akan terus membuat hari-harinya lebih menarik. Sebenarnya pengalaman barusan juga menarik. Belum pernah ia diperlakukan demikian di ruang interview.

Maya menghela napas kuat-kuat. Bus patas AC jurusan Blok M-Pulo Gadung yang dinaikinya membawa sepi yang kembali merayapi hatinya. Penumpang tidak banyak, sebagian besar terlelap dengan nyenyaknya. Maya duduk sendiri di bangku untuk dua orang. Di samping kanannya duduk dua orang wanita muda. Yang satu tertidur, yang satu lagi tampak asyik membaca.

Tak sadar ia perhatikan wanita yang kelihatannya baru berumur dua puluh lima tahunan itu. Tampaknya bukan wanita kantoran. Pakaian yang ia kenakan terlihat terlalu santai, walau tetap rapi. Wanita muda itu membalik halaman majalah yang dibacanya. Alis Maya terangkat. Tangan kanan wanita itu berkilau, jari manisnya. Hhh … Maya mendesah panjang. Ia lantas mengalihkan pandangan ke jendela.

***

“May, kamu mau beli yang ukuran kecil apa yang sedang? Kayaknya harganya nggak jauh beda, deh … mendingan … May! Maya!”

“Oh … eh … sori … apaan, Sis?” Maya mendapati Siska, sahabatnya, berkacak pinggang dengan wajah cemberut dan memegang dua botol pembersih muka di kedua tangannya.

“Mana? Mana dia?” Siska bertanya dengan nada marah. Kepalanya kini menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari-cari sesuatu.

“Mana apanya, Sis? Udah ah, sini, aku ambil yang sedang aja.” Maya merebut sebuah botol dari tangan kanan Siska dan beranjak pergi. Siska masih celingukan, sesaat setelahnya mengikuti.

“Kamu kenapa sih, May? Makin aneh aja belakangan ini.” Protes Siska, ketika mereka berdua tengah bersantai di sebuah restoran cepat saji, di Pasar Festival. Salah satu kebiasaan mereka berdua kala penat telah demikian memuncak akibat kesibukan menyelesaikan laporan kas, kertas-kertas kerja lainnya, dan sedikit omelan dari atasan yang menambah semarak hari. Hang out sepulang kerja, apalagi hiburan selain itu?

“Aneh gimana sih, Sis? Aku nggak kenapa-kenapa kok.”

“Nggak kenapa-kenapa gimana? Belakangan ini kamu sering bengong. Kalau kamu lagi bengong muka kamu jadi aneh. Kayak maling lagi lihat jemuran. Ada apa sih, May? Apa yang kamu pikirin?” Siska meninggalkan bruschetta yang sedang dilahapnya. Ia lebih tertarik untuk mengorek sahabatnya ini.

Mendengar nada mendesak dalam suara Siska, Maya sadar ia tak bisa berpura-pura bersikap cuek kemudian mengalihkan pembicaraan. Ia terdiam sejenak, memilin-milin spaghetti di piringnya. Lalu menatap Siska yang telah meletakkan pisau dan garpunya di meja.

“Nggak ada yang aku pikirin kok … bener, deh.” Sahutnya kalem.

“Ah! Nggak mungkin! Di kantor, kamu sering diam-diam ngeliatin Karina. Terus, setiap kali kamu liatin dia, mukamu jadi aneh. Waktu kita jalan-jalan minggu lalu, kamu tiba-tiba bengong waktu kita lewat toko mainan anak-anak. Dan tadi juga, di supermarket. Kamu kenapa sih, May? Apa yang kamu lihat sampai bengong begitu? Kayak lihat hantu aja!”

Maya menunduk. Siska menatapnya dalam-dalam. Ada simpati di matanya. Benaknya telah menduga-duga, dan ia cuma ingin mendapatkan penjelasan langsung dari sahabatnya itu.

“Mereka semua … memakai … cincin.” Sahut Maya. Siska membelalak.

“Cincin? Cincin apa? Aku nggak ngerti.”

“Hhh … iya. Cincin. Mereka semua. Wanita-wanita itu. Karin juga. Apalagi dia baru. Mereka semua pakai cincin di jari manis tangan kanan.” Jelas Maya sedikit enggan. Dan ia kembali menyantap spaghetti-nya yang mulai dingin.

Siska masih terperangah. Dahinya mulai mengerenyit, ia berpikir, mencoba memahami ucapan Maya. Wanita-wanita itu … Karin … tentu saja! Jadi, selama ini Maya memperhatikan mereka. Hanya mereka yang memakai cincin di jari manis tangan kanan … cincin kawin!

Siska menyeruput lemon tea yang mulai terasa hambar. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Jadi … selama ini … Karin … dan yang membuat kamu adi aneh … ck … cincin kawin!” Siska berkomentar tak jelas. Seketika ia langsung merasa kasihan pada Maya. Seorang wanita karir yang masih single, dengan segudang kesuksesan, memiliki sifat supel dan menyenangkan, yang akhir-akhir ini berselimut kabut hingga menutupi segala keceriaan yang dulu tampak.

“Ya. Cincin itu. Aku iri.” Tukas Maya. Kali ini dengan nada tak acuh.

“Duh, May …” Siska tak tahu lagi musti berkomentar apa. Ibu muda dengan satu anak ini mendesah. Bagaimana perasaannya dulu ya ketika aku menikah, batinnya. Gurat lelah begitu jelas tampak pada wajah Maya, membuatnya terlihat lebih tua dari usianya. Mereka meneruskan makan dalam diam.

Obsesi Maya terhadap wanita-wanita bercincin itu kian menjadi. Ia bukan hanya bisa terbengong dan menatap lama-lama obyek pandangannya, kini ia mulai membenci mereka. Termasuk Karin. Walau tetap saja kebencian yang dibuat-buat itu hanyalah sebuah puncak keinginan yang belum dapat teraih. Maya tak bisa berbuat apa-apa. Kabut yang menyelimuti wanita cerdas ini tak hanya makin pekat, melainkan kian berpusar menenggelamkannya pada kesibukan dan lagi-lagi kesibukan. Produktivitasnya berlipat-lipat, nyaris tak ada waktu barang semenit pun diluangkannya saat rehat di kantor. Ia terus saja bekerja dan bekerja, berhenti hanya untuk makan, ke toilet, dan menunaikan salat. Tak satu pun percakapan maupun teguran yang ia ladeni. Maya semakin tertutup, ketus pada siapa saja. Terutama Karin.

Pandangannya terpaku, hampir-hampir keningnya menempel pada kaca etalase. Matanya tertuju pada sebuah cincin emas bertabur berlian kecil di sampingnya, melingkar cantik. Sebuah mas kawin yang mahal pastinya.

“Makanya May, kamu tidak pernah mau dengar kata-kataku, sih. Kerja sih kerja, tapi mencari jodoh juga perlu konsentrasi.” Siska menasehatinya suatu kali, kira-kira dua tahun lalu, menjelang pernikahannya. Maya hanya mencibir menanggapinya waktu itu. Konsentrasi? Saat mengoreksi laporan keuangan dari staf keuangan di kantor, itu baru berkonsentrasi namanya. Begitu pikirnya waktu itu.

“Sudah umur segini, mau sendiri sampai kapan?” protes dari ayah dan ibunya pun seperti angin lalu. Mereka tidak tahu, betapa sudah sejak lama Maya memimpikan bahwa akan ada yang memberikannya sebuah cincin, walaupun sederhana, dan kemudian ia akan membanggakannya dan memandanginya tanpa bosan. Hanya mimpi.

***

“Bagaimana kalau ada yang mau melamar kamu, tapi kamu harus mau menerima dirinya apa adanya?”

“Ya jelas mau, dong. Kalau memang cocok, dan memang akhirnya aku harus menerimanya apa adanya kan? Seperti halnya dia yang juga harus mau menerima aku apa adanya.”

“Maksudku, kamu harus menerima segala kondisi yang ada pada dirinya. Aku tidak membicarakan masalah cacat tubuh dan yang sejenisnya. Apakah kamu mau menerima konsekuensi dari kondisinya tersebut?”

“Hm … memangnya kondisi seperti apa, sih? Kok aku jadi ngeri.”

“Dia sudah beristri dan beranak lima orang.”

Percakapan terhenti. Maya merenung dalam. Gurat keraguan jelas terpampang di wajahnya. Usia yang melekat pada dirinya sudah bukan lagi waktunya pilah-pilih. Tapi siapapun pasti ingin mendapatkan yang terbaik bagi dirinya. Sekaligus sebuah kesempatan yang mampir saat ini tak mungkin ia tolak dengan serta merta. Jadi apa yang musti ia lakukan? Syariat untuk berpoligami mungkin salah satunya akan memberikan kemaslahatan bagi wanita seperti dirinya. Kering yang selama ini ia rasakan di benak, ah, rupanya malam-malamnya akhir-akhir ini terlalu sepi dari mengadu pada-Nya. Maya bertekad memulai kembali.

***

Seminggu setelah percakapan tersebut, Maya menyempatkan diri menemui Siska di sela kesibukan kantor. Wajahnya kini tak sekelam biasanya. Malah ia tampak agak lebih ceria. Siska sedikit heran, walau juga merasa senang atas kegembiraan yang mungkin sedang dinikmati sahabatnya itu.

“Ada berita besar apa, May? Kok sepertinya kamu habis menang undian berhadiah, begitu.”

“Impianku, Sis …” bukannya meneruskan kalimat sampai selesai, Maya malah memotongnya sambil tersenyum lebar sekali.

“Impian apa? Maksud kamu apa sih, May? Jangan bikin aku bingung begitu, ah.” Siska mulai kesal sekaligus penasaran.

Maya tak menjawab. Ia malah memainkan jari-jemari tangan kanannya di depan muka Siska. Jelas saja Siska membelalak sedikit kaget akan aksi Maya itu. Ia bertambah bingung, tapi lama-kelamaan mulai menebak-nebak. Maya hanya tersenyum-senyum misterius.

“Maksud kamu … ap … siapa … ah! Masa sih, May? Siapa dia?” akhirnya Siska berseru antusias. Maya tergelak, seakan lega.

Maya pun menceritakan, bahwa sekitar sebulan belakangan ini ia sering berbincang dengan seseorang melalui chatting room di intra net perusahaan. Seseorang yang juga salah satu karyawan di departemen yang sama dengannya. Awalnya memang tidak ada pembahasan yang luar biasa. Tapi lama-lama menjurus kepada urusan kebiasaan pribadi, kegemaran, atau hanya iseng saling menyapa di kala suntuk menyerang. Tak sadar pembicaraan yang awalnya singkat-singkat saja itu berubah menjadi sesuatu. Sampai kepada pembicaraan sepekan lalu, ketika urusan lamar-melamar digulirkan menjadi topik utama.

“Maksud kamu orang itu ingin menjodohkan kamu dengan seorang temannya? Begitu, May?”

“Awalnya aku pikir juga begitu, Sis. Sampai ketika ia menanyakan soal penerimaanku terhadap segala kondisi yang ada. Apakah aku siap atau tidak bila harus menerima seseorang dengan apa adanya.”

Dahi Siska mengerenyit.

“Kemudian ia juga menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah urusan cacat fisik dan sejenisnya. Melainkan kondisi si pelamar yang telah beristri dan memiliki tujuh orang anak.” Kalimat terakhir Maya ucapkan dengan sepelan mungkin, namun cukup jelas terdengar di telinga Siska. Kontan saja Siska melotot.

“Maksud kamu?”

“Ya, sebenarnya ia berbicara tentang dirinya sendiri, Sis. Aku baru menyadari ketika ia menjelaskan kondisi yang ia maksud itu.”

Siska tak tahan untuk tidak ternganga lebar. Pembicaraan Maya dengan fasilitas intra net perusahaan, sudah jelas si lawan bicara adalah karyawan di perusahaan yang sama. Temannya juga. Laki-laki, sudah pasti, mengemukakan tentang sudah beristri dan beranak lima. Setahu Siska hanya satu orang di departemen yang sama tempat ia dan Maya bekerja yang memenuhi kriteria tersebut. Dan ia mengenal baik orang itu.

“Lupakan saja, May.” Sahutnya tegas.

“Tapi, Sis … ak …”

“Lupakan, kataku! Bagaimanapun kamu tidak mengenalnya lebih jauh dari itu. Lupakan saja.” Maya terkejut, sekaligus tidak senang dengan reaksi sahabatnya itu. Apa-apaan Siska? Seenaknya saja memupuskan harapan yang kini tengah terbangun perlahan tapi pasti di dalam hatinya.

“Kamu nggak berhak melarang aku, Sis. Aku sudah memikirkan soal ini matang-matang dan …”

“Oh ya? Dengar, May. Bukannya aku menolak poligami. Bukan. Terserah saja bila kamu atau siapa saja yang mampu untuk melakukannya. Tapi dalam hal ini, kita nggak bisa melihatnya dari kepentingan pribadi saja, May. Nggak bisa.”

Lantas Siska berlalu dari hadapan Maya, dengan marah. Walau juga merasa tersinggung, tidak terima atas perlakuan sahabatnya itu, Maya pun bingung atas sikap keras yang Siska tunjukkan. Tak seperti biasanya. Dan tidak sedikit pun tersirat dukungan baginya, padahal itulah yang paling ia harapkan saat ini. Menjadi isteri kedua, bukan suatu hal yang pernah mampir dalam benak Maya satu kali pun. Tapi keinginannya untuk menikah … Maya termenung lama.

***

Suatu siang, Maya dikejutkan oleh sebuah pesan singkat yang ia terima dari nomor tak dikenal, namun si pengirim menuliskan nama di akhir pesan. Sesuatu yang sedikit menyarangkan kecemasan pada diri Maya, namun mau tak mau ia harus hadapi juga. Hari itu, setelah jam pulang kantor, ia bergegas pergi menuju sebuah restoran cepat saji di bilangan Kuningan.

Sampai di lokasi, hatinya berdebar kencang. Dengan seksama ia perhatikan satu per satu pengunjung restoran. Nyaris berharap bahwa si pembuat janji tak jadi datang, namun ia harus kecewa. Kedua matanya jelas menangkap sesosok wanita, kira-kira sepantar atau lebih tua beberapa tahun dari dirinya. Mengenakan jilbab krem rapi serasi dengan baju yang dikenakannya. Wanita itu tampak sedang membaca sebuah buku dengan tenang, jelas sekali tampak sedang menunggu seseorang. Maya menarik napas. Mencoba meneguhkan hati.

“Usia saya empat puluh dua tahun. Kalau mbak Maya sendiri, pasti lebih muda dari saya, ya?” suara lembut itu terdengar tenang namun tegas. Baru kali ini Maya gugup setengah mati menghadapi lawan bicara. Sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi di setiap momen interview maupun presentasi dan meeting di kantornya.

“Ehm … saya tiga puluh tiga, Mbak.” Suaranya terdengar seperti mencicit. Maya menundukkan pandangannya, resah. Wanita di hadapannya mengangguk-angguk pelan.

“Anak saya yang paling besar sekarang sudah masuk sekolah menengah atas dan hidup mandiri di kota lain, dan yang paling kecil masih balita. Semuanya ada tujuh orang. Tentu mbak Maya sudah tahu, ya?” pertanyaan retoris itu entah kenapa begitu menohok. Maya diam saja.

“Selama ini pengeluaran rumah tangga kami pas saja dengan penghasilan suami saya. Alhamdulillah, kami tidak pernah merasa kekurangan, walau tentu kebutuhan sehari-hari makin melonjak harganya. Kalau sudah menikah, uang yang didapat harus dibagi bersama-sama. Tidak bisa menjadi milik sendiri. Apalagi bila anak-anak sudah masuk sekolah.”

Maya memberanikan diri menatap wajah Asri, wanita yang tak lain adalah isteri dari lelaki yang baru-baru ini menyampaikan keinginannya untuk melamar Maya.

“Saya tidak punya penghasilan sendiri, paling hanya berdagang kecil-kecilan antar ibu-ibu arisan. Tidak ada modalnya. Kesibukan mengurus kelima anak yang kini masih tinggal bersama saya di rumah pun sudah menyita banyak waktu saya. Belum lagi kedua orang tua yang juga tinggal bersama kami sakit-sakitan. Maklum, sudah tua. Rasanya saya tidak punya waktu lagi untuk mengurus diri sendiri.” Kalimat yang terakhir diucapkannya sambil tersenyum, yang semakin mengiris hati Maya. Entah kenapa muncul perasaan lain di hatinya.

“Mbak Maya tahu sendiri, suami saya umurnya sudah empat puluh lima tahun. Dengan pengalaman kerja yang tidak banyak. Kalau harus mencari pekerjaan lain, kemungkinannya sangat kecil karena persaingan yang begitu ketat. Jadi ya diusahakan saja untuk loyal pada perusahaan yang sekarang, dengan gaji yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tanpa dijanjikan peningkatan karir. Mau bagaimana lagi? Eh, tapi kalau mbak Maya tentu sudah lebih mapan, ya? Kan posisinya lebih tinggi.”

Sindiran halus itu menyentak hati Maya. Ia sudah tak tahan lagi mendengarnya. Tak satu pun kalimat yang mampu diucapkan Maya, dan kedua matanya hampir tak sanggup membendung kabut yang tampak sangat jelas. Asri menghentikan ucapannya, dan menghela napas panjang. Sungguh tidak terbetik sedikit pun maksud negatif dari seluruh perkataan yang ia ucapkan. Kesabaran dan sikap tegar yang selama ini ia pupuk akhirnya harus dibuktikan pada saat seperti ini.

Dialog di antara mereka berdua tak banyak saling bersambut. Tapi sepertinya kedua wanita itu sama-sama memahami kesimpulannya. Mengalah, itulah yang ada dalam benak masing-masing. Sungguh Maya ingin merasakan ketenangan usai keputusan itu ia teguhkan dalam hati. Bisa saja ia bersikap egois dan tak mau tahu. Toh wanita yang barusan bercakap panjang lebar dengannya tak mengajukan sebuah perlawanan sengit. Tetapi sikap yang ditunjukkan Asri bukanlah sesuatu yang pantas mendapat perlawanan seperti itu darinya.

Kedua matanya melirik jari manis tangan kanan Asri, sebuah cincin emas sederhana masih melingkar di sana. Kali ini tak ada rasa iri menyaput hati Maya. Sudah sepantasnya cincin itu menempati jari tangan Asri. Dan Maya tak lagi punya keinginan untuk membaginya separuh untuk jarinya.

Sengata, Januari 2007

TAMAT

0 Response to "Perempuan dan Cincin di Jarinya"

Post a Comment