Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Pelangi Retak


Penggalan 1


Suatu pagi di sebuah sudut ibukota yang buram
Muram
Berselimut jelaga hitam
Sebuah potret pagi yang terperangkap miris
Mengiris
Ditingkahi gerimis
Rintik dan begitu ritmis...
Menyapa sudut hati yang tersipu...
Tuhan... cinta macam apalagikah yang kini menyapaku?









Suatu pagi di sebuah sudut ibukota yang buram. Muram. Berselimut jelaga hitam. Sebuah potret pagi yang terperangkap miris. Mengiris. Bukan karena sepi. Tapi nyaris tanpa pelangi.
BE CAREFUL WITH A WOMAN!!
Kakiku mengejang. Ruangan apa ini? Kenapa pula tulisan tak bermutu itu terpampang dengan angkuhnya di dinding bercat elegan ini? Huruf-hurufnya yang tercetak tebal semakin menambah keangkuhannya. Seakan ingin memberitahuku bahwa dialah yang berkuasa di sini. Tidak! Bukan tulisan itu yang berkuasa, tapi orang yang memasangnya di sana. Perlahan kuatur desahan nafasku yang lebih cepat dari biasanya.
Aku mengurungkan niat untuk duduk ketika sebuah suara bariton menyapaku dengan sangat tidak ramah. Tepat di belakang telingaku.
"Anda siapa?" tanyanya kasar. Sebenarnya aku ingin segera menoleh dan melihat seperti apa bentuk orang yang menyapaku itu. Tapi otakku berhasil menahan gerakan tubuhku.
Ah, dia pasti manajer departemen ini. Bukankah kata pak satpam tadi hanya manajer dan asistennya yang boleh memasuki ruangan ini. Huhh! Kalau dia memang manajerku, mana betah aku di sini. Orangnya pasti galak dan amat sangat tidak menyenangkan. Dari suara beratnya aku bisa membayangkan tubuhnya yang tinggi besar dengan perut agak buncit hingga jasnya terkesan kekecilan dan hampir tak cukup di tubuhnya. Belum lagi kumis hitam tebal yang melintang di atas bibirnya akan menambah seramnya wajah itu.
"Saya karyawan baru di sini, Pak..." ujarku setenang mungkin setelah menyudahi pengembaraan imajinasiku. Kuputar tubuhku pelan mengikuti irama kalimatku. Aku yakin manajer itu sudah menangkap kegugupanku.
Tiba-tiba memoriku seperti berbalik. Seretonin di otakku mengalami penipuan besar-besaran. Ternyata...pemilik suara itu hanya seorang laki-laki bertubuh kurus, pendek. Kukatakan pendek karena badannya tak jauh lebih tinggi dariku. Tak berkumis seperti yang kubayangkan sebelumnya. Juga tak memakai jas seperti manajer pada umumnya. Kulit putihnya hanya terbalut kaos berkerah dengan bawahan celana jins yang sudah agak pudar warnanya. Satu kelebihannya kukira, yaitu rambutnya yang mengkilat karena mungkin terlalu banyak diminyaki. Mungkinkah dia manajerku? Ah...jangan-jangan aku salah orang!
"Oooh...Anda berani sekali. Siapa yang menyuruh Anda masuk ke ruangan ini!"
Hii...bulu kudukku bergidik. Suaranya masih terdengar keras. Marahkah dia?
"Security yang mengantarkan saya ke sini, Pak. Dan...saya membawa surat pengantar dari bagian personalia... tadi kebetulan bapak belum datang. Jadi... saya langsung masuk..." Suaraku terbata-bata. Bodoh! Kenapa aku mesti takut? Toh, dia juga manusia. Bahkan wajahnya tak menakutkan sedikitpun.
"Oh ya..? Memangnya apa posisi Anda di kantor ini?"
Aku benci tatapannya yang terkesan mengejekku. Apalagi gerakan alisnya yang sedikit terangkat seakan memandang rendah orang yang diajaknya bicara. Sebenarnya aku ingin menjelaskan lebih banyak lagi tapi suaraku tertahan di kerongkongan. Kalau dia tidak menghargaiku, untuk apa aku menghargainya?
Hanya tanganku yang kemudian bergerak cepat membongkar isi tasku dan menyerahkan surat panggilan kerja yang kuterima dari perusahaan ini seminggu yang lalu. Berikut selembar surat pengantar dari Human & Resources Department yang kudapatkan tadi pagi.
"Oh... IT Asisstant Manager? Jadi Anda yang akan jadi asisten saya? Kapan Anda menjalani tes masuk?"
"Sebulan yang lalu, " jawabku pendek. Sebenarnya aku enggan menjawab pertanyaannya. Hatiku semakin kesal dengan tatapannya yang menyebalkan.
"Sepertinya Anda salah prosedur!"
Hahh? Aku terperanjat.
"Maksud... ba...pak?" tanyaku gugup.
"Tidak... santai saja! Saya tidak akan memecat Anda hanya karena Anda lancang memasuki ruangan ini tanpa seizin saya."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, dia berjalan menuju kursinya dengan santai. Duduk di sana dan dengan santai pula dia memutar kursinya seakan memamerkan padaku betapa empuknya kursi itu. Kejam sekali. Hingga detik ini dia belum menyuruhku duduk. Rasanya lututku sudah tak mampu lagi menyangga beban tubuhku.
"Tapi ya, sudah. Tidak usah dipikirkan. Kelancangan Anda saya maafkan. Anda sudah diterima, kan? Jadi... saya ucapkan "Selamat Datang" di kantor ini. I T Department."
Begitu formalnya dia mengucapkan kalimat itu hingga membuatku risih. Entah sudah semerah apa pipiku saat itu. Lancang? Ah, baru kali ini aku dikatakan lancang oleh seseorang. Atasan baruku lagi. Memalukan! Atau justru manajer itulah yang sebenarnya tak punya perasaan?
"Ok! Anda staf baru. Saya juga manajer baru di Departemen ini. Sebulan yang lalu, saya masih menduduki posisi anda sebagai asisten manajer. Anda tahu, enam bulan pertama adalah masa percobaan. Dan selama masa percobaan Anda hanya akan menerima 50% dari gaji Anda. Kalau Anda tidak menunjukkan prestasi, maka bersiaplah untuk tidak mendapatkan gaji sama sekali. Tapi saya percaya, anda tipe pekerja keras."
Ah, sok tahu. Aku hanya diam saja mendengar ocehannya yang kuanggap tidak bermutu. Toh, kemarin aku sudah mendengarnya dari HRD.
"Ok! Untuk hari pertama, anda belum boleh menyentuh apapun di ruangan ini. Bisa meledak nanti! Jadi, biar saya yang bekerja."
"Mak...sud Bapak?"
Bodoh! Kenapa aku mesti gugup lagi?
"Mm...ternyata saya harus menggunakan bahasa anak kecil untuk membuat Anda mengerti. Maksud saya... Anda tidak usah bekerja! Anda tinggal melihat apa yang saya kerjakan. Catat baik-baik di otak Anda! Itu latihan sebelum Anda benar-benar menangani sistem IT di sini! Ok?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa selain mengangguk. Tumitku sudah semakin nyeri. Tak sabar rasanya menunggu manajer aneh itu menyuruhku duduk.
Beberapa jam berikutnya aku menghabiskan waktu untuk mengawasi dia bekerja. Mengutak-atik laptop dan komputer di ruangan server yang begitu dingin...
"Hhh! Begini ini kalau nggak bisa bikin server sendiri. Masih menggantungkan perusahaan lain."
"Kenapa, Pak?"
"ADSL-nya macet. Sudah lima hari yang lalu. Server cadangan sudah tak mampu lagi memback-up semua informasi yang masuk. Kapasitasnya rendah. User juga gitu! Maunya terima beres. Nggak peduli orang IT pusing tujuh keliling!"
"Lalu?" tanyaku culun.
"Kok lalu? Kamu lulusan informatika kan? Kok bego, sih! Atau memang belum punya pengalaman?"
Mata itu melotot ke arahku. Tapi aku merasa tatapan itu sedikit bersahabat. Bahkan, dari serangkaian pembicaraan kami, baru sekarang "Si Sombong" itu memanggilku dengan "sebutan kamu". Bukan lagi "Anda".
"Ma..af Pak! Saya hanya bingung. Apa yang harus saya kerjakan?"
"Oohh.. Ya! Saya mengerti. Ini hari pertama Anda bekerja. Ya, sudah. Sekarang anda duduk saja. Saya akan hubungi Telkom lagi. Sepertinya tidak mungkin lagi mengandalkan server cadangan itu untuk selanjutnya..."
Hhhhh!!! Aku menarik nafas panjang. Lega sekaligus kesal. Setelah beberapa jam dia baru menyuruhku duduk. Setelah seluruh pembuluh vena di kakiku melebar entah berapa senti... dan satu lagi yang kucatat. Dia kembali memanggilku dengan sebutan "Anda".
Kulihat manajer pendek itu meraih gagang telepon dan menekan beberapa angka. Aku hanya bisa diam menatap lantai. Sambil menunggu perintah selanjutnya.
"Hei, kenapa menunduk? Ini juga bagian dari pekerjaan Anda nantinya! Jadi, perhatikan semua yang saya kerjakan!"
Ya, Tuhan... punya hati nggak sih orang itu?
Kutarik nafas dalam-dalam. Benar-benar keterlaluan! Aku tak tahu lagi sudah berapa kali dia membentakku. Aku ingin berontak tapi akhirnya suaraku tertahan. Hanya mataku yang kualihkan ke arah telepon yang digenggamnya.
"Halo, Pak... Saya Aan Ardhianti dari Pena Mas!"
"Ya, Pak... saya mau mengulang laporan saya kemarin. ADSL kami macet sejak tiga hari yang lalu. Dan sampai saat ini belum ada petugas yang memperbaikinya..."
Tiga hari? Kenapa tadi dia bilang lima hari? Hah...dasar orang aneh!
"Oh ya, ya Pak... Ok!"
"Tapi Bapak tahu kan? Kami online 24 jam. Jadi kami tidak bisa menunggu terlalu lama!"
"Ya, saya tunggu!"
"Terima kasih."
"Siang..."
Bruakkk!! Ah, hampir lepas jantungku rasanya. Gagang telepon dibantingnya dengan kasar. Diikuti sumpah serapah tak jelas yang mendesis dari bibirnya.
"Ok! Sekarang kita nggak bisa bekerja sebelum ada petugas yang memperbaiki sistem ADSL itu datang. So, waktu kita gunakan untuk perkenalan. Setuju?"
Sudah tidak berminat! Kalimat itu akhirnya hanya kusimpan dalam hati. Aku tidak ingin mencari masalah.
"Kenapa diam? Nggak mau! Ya, sudah!"
Ya ampun... temperamen banget sih!
"Maaf, Pak. Saya diam karena berpikir bahwa seharusnya itu yang harus saya lakukan sejak pertama kali saya bertemu bapak tadi."
"Yah, gitu aja kok "mbulet". Bilang aja "setuju". Titik. Lebih hemat kata-kata. Atau...mungkin, respon Anda memang lambat sekali ya? Kalo semua komputer di kantor ini meniru cara kerja otak Anda, bisa bangkrut perusahaan..."
Ya, Allah... beraninya dia menghina ciptaan-Mu. Sejelek-jeleknya otakku pasti masih lebih pintar daripada komputer yang hanya benda mati itu. Sayang, aku malas berdebat. Jadi, kubiarkan saja dia mau bilang apa. Masa bodoh!
"Ok! Siapa nama Anda?"
Benar-benar aneh. Dari tadi kurasa, sudah lebih dari lima kali dia menambahkan kata "OK" dalam kalimat-kalimatnya.
"LILI."
"Oh, sorry. Saya lupa kalau respon Anda lambat. Jadi saya harus mengulang pertanyaan saya. Siapa nama lengkap Anda?"
"Rienita Vilyastuti." tukasku kesal. Sampai kapan dia akan terus menghinaku?
"Jadi, Lili panggilan Anda?"
Aku hanya mengangguk. Telingaku sudah cukup sakit mendengarkan kata-katanya. Dan diam adalah pilihan terbaik kukira.
"Tidak bertanya nama saya? Oh ya, saya lupa. Anda toh bisa membacanya di sana!" Pandangannya mengarah ke dinding di atas kursi kerjanya. Sebuah nama terpampang besar-besar di sana. Tepat di bawah tulisan IT MANAGER.
Aan Ardhiantie. Tanpa sadar aku mengernyitkan keningku. Nama itu kurasa lebih cocok untuk seorang wanita? Jangan-jangan dia... Ah!
"Itu nama Bapak?" Rasa penasaran memaksa kata-kata itu melompat begitu saja dari bibirku.
"Kenapa? Itu memang nama saya. Nama pemberian orang tua saya. Mungkin memang terlalu indah untuk seorang laki-laki. Oh ya. Anda bisa memanggil saya Pak Aan, Mas Aan, Kak Aan. Atau bos atau apalah. Yang jelas, saya masih single, jadi belum pantas dipanggil bapak. Tapi kalau Anda mau memanggil saya "Mas" saya rasa anda cukup tahu diri dan punya etika bahwa ini kantor."
PD sekali sih orang ini. Masalah panggilan aja kok "Mbulet". Huhh...
"Status Anda?"
"Belum meni..."
"Oh, masih single juga? Baguslah! Tapi jangan takut, saya tidak akan mengganggu Anda. Dan siapapun yang bernama "WANITA". Ok?"
Manajer sombong itu menekan suaranya pada kata "wanita". Memoriku membuat kepalaku refleks menoleh ke arah tulisan yang telah membuatku galau sejak pertama kali menginjakkan kakiku di ruangan ini.

"BE CAREFUL WITH A WOMAN"
"Oh, tulisan itu? Maaf kalau menyinggung perasaan Anda!" ujarnya seakan mengerti arti tatapanku.
"Bapak tidak menyukai wanita?"
"Bukan tidak suka. Saya hanya malas berinteraksi dengan makhluk itu!"
"Berarti seharusnya saya tidak berada di sini?" tanyaku datar tanpa ekspresi.
"HRD yang memilih Anda. Jadi, saya kira Anda adalah orang yang tepat. Meskipun... sampai sekarang, saya belum bisa melihat ketepatan itu. Tenang saja! Saya cukup profesional. Saya tidak akan mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi. Ok?"
"Sepertinya Bapak punya masa lalu yang kurang menyenangkan dengan seorang wanita."
Entah setan mana yang membuatku bisa bertanya seperti itu. Pertanyaan yang terlalu sensitif kukira.
"Tepat!"
"Boleh saya tahu?"
Bodoh! Kenapa pula aku jadi sok akrab? Jangan bermain api, Li!
"Mmm... Anda tahu rasanya kehilangan? Kehilangan itu sangat menyakitkan. Perih. Dan itu yang membuat saya tidak ingin mengenal wanita. Cukup sekali saya terluka!"
Dia berhenti. Tapi aku tak ingin menyela ceritanya. Dia terlalu jujur kurasa. Dan kejujurannya telah membuatku menyesal kenapa membiarkan diriku masuk terlalu jauh dalam kehidupan pribadinya. Dia toh bukan siapa-siapa. Bahkan baru kukenal beberapa jam yang lalu sebagai sosok lelaki yang sangat menyebalkan!
"Saya sudah mempersiapkan segalanya. Rumah, mobil bahkan undangan. Tapi ternyata... dia mendahului saya melihat kehidupan abadi..."
Aku merinding melihat tatapannya mendadak kosong. Oh... sejauh itukah kematian mengubah pribadinya?
"Ah, sudahlah. Perkenalan ini terlalu aneh untuk dilanjutkan, " ujarnya. Sambil melirik arlojinya dia menyambung kalimatnya.
"Kita menghabiskan dua puluh menit untuk perkenalan ini. Sekarang sudah jam makan siang. Silahkan beristirahat. Saya akan keluar sebentar! Sepertinya ada yang harus saya cek di bagian Finance."
Dia beranjak dari kursinya. Melangkah keluar tapi... kemudian langkahnya tertahan.
"Oh ya... Selamat Datang di Pena Mas Media" serunya lepas dari ambang pintu. Begitu lepas sampai-sampai aku tak melihat beban itu lagi di matanya. Beban yang begitu berat yang tadi kulihat mengantung dalam tatapannya. Ah, sejak kapan aku menjadi sok perhatian pada orang yang telah menghinaku habis-habisan hanya dalam waktu beberapa jam?




































Penggalan 2




Kuhempaskan tubuhku di kasur kos yang tak pernah terasa empuk mesti telah dijemur seharian. Penat. Lelah. Seluruh tubuhku seperti kehilangan daya. Hari pertama yang begitu menguras semua persediaan energi yang kusiapkan dengan sepiring pecel dalam sarapanku tadi pagi. Sore ini, aku tidak tahu apakah besok aku masih punya alasan atau pun sisa keberanian untuk menginjakkan kakiku di kantor itu lagi.
Hhh!!! That's life! Entah sudah berapa tahun terakhir ini aku lebih banyak menghabiskan waktuku di luar rumah. Bahkan, sebelum Subuh pun kadang aku sudah harus berangkat untuk menghindari kemacetan. Dan hari ini...tanpa kusadari, dua belas jam waktuku kuhabiskan di kantor. Berangkat jam delapan pagi. Tiba di rumah jam delapan malam. Tapi apa yang kudapat? Kenalan baru yang menyebalkan. Suasana yang begitu gerah dan cukup membuat jalinan syaraf di otakku berpilin tak karuan. Semoga saja migrain-ku tidak kambuh. Kalau penyakit lamaku itu datang lagi... berarti aku akan kehilangan waktu istirahatku malam ini.
Mataku telah terpejam. Tapi rasanya, banyak hal singgah di pikiranku tanpa kuminta. Padahal, saat ini otakku tak mau kuajak berpikir lagi. Ah, satu kemampuanku hilang. Biarlah. Untuk sementara tak apa kukira. Asal aku tak kehilangan dua kemampuanku yang lain. Kemampuan emosi dan spiritual... Sebenarnya aku ingin segera tidur. Sepulas-pulasnya. Tanpa sebutir mimpipun berani menyapa. Tapi, upps! Aku belum salat Isya.

***
Paginya aku merasa seluruh tubuhku dihinggapi ngilu. Faringitisku juga tak mau kompromi. Penyakit yang telah empat tahun terakhir ini menjadi sahabatku itu pasti selalu datang kalau aku kelelahan. Ah, kutatap jam dinding. Masih menunjukkan angka dua belas. Busyet!! Kenapa pula benda penunjuk waktu itu marah padaku. Kenapa dia harus mogok kerja saat aku sangat membutuhkan bantuannya? Mana tidak punya persediaan baterai lagi! Akhirnya aku hanya bisa marah pada diriku sendiri. Kenapa mesti lupa mengganti baterainya. Tapi kemudian aku tersenyum...kuusap debu yang menempel di permukaan benda mungil itu. Benda yang jujur dan setia. Bahkan, di saat mati pun, dia masih bisa menunjukkan angka yang benar meski hanya dua kali dalam sehari.
Sedang aku? Bayangan suasana kantorku kemarin terpampang dengan jelasnya. Betapa tak satupun pekerjaan yang kulakukan bernilai "benar" di mata atasanku.
Ah, lagi-lagi aku melakukan kebodohan. Aku terlonjak ketika sebuah semburat merah kekuningan menyapa daun jendela kamar. Segera aku meloncat dari kasur dan bergegas ke kamar mandi. Melaksanakan salat Subuh dengan tergesa-gesa dan perasaan gundah karena terlambat sekali...matahari sudah tersenyum lebar saat itu. Aaah!! Malas rasanya berangkat ke kantor lagi. Aku gagal menemukan alasan untuk bisa memaksa kakiku kembali melangkah ke tempat yang sama.
Siemensku berdering. Sederet nomor tak kukenal terpampang di layar mungilnya.
"Assalamu'alaikum..."
"Pagi! Saya atasan anda. Hanya ingin mengingatkan agar anda datang lebih awal pagi ini. Ada banyak data yang harus di back-up, dan untuk hari ini, itu menjadi tugas anda. OK! Thank you..."
Telepon ditutup. Tanpa salam. Dasar!! Kalau memang mau ngirit pulsa kenapa tidak dengan sms saja. Praktis. Tidak usah pakai salam. Tidak perlu meminta pernyataan setuju dari lawan bicara. Tidak perlu memperdengarkan suara baritonnya yang lebih mirip suara kok...dan tentu saja tidak perlu menyakitiku karena aku merasa tidak dihargai sedikitpun.
Semenit kemudian, pintu kamarku diketuk orang...
"Rien...! Telepon..." teriak suara di luar sana dan segera kujawab dengan langkah cepat menuju telpon.
"Halo, manis... Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam. Eh, Hilma! Gimana?"
"Lho kok? Emang kamu baru bangun ta? Atau mungkin masih mimpi. Seharusnya aku yang nanya dong! Gimana first day-nya di PMM? Pasti menyenangkan."
"Nggak. Nggak sama sekali!!!"
"Lho? Ini Lili, kan? Rienita Vilyastuti..."
"Hilma! Apa-apaan sih? Ya jelas, ini aku. Rienita Vilyastuti."
"Tapi...kamu kenapa, sobat? Aku kok seperti bicara dengan orang lain ya? Bukan Lili yang biasanya selalu lembut dan selalu tersenyum. Ciee..."
"Kenapa, nada bicaramu kasar sekali, Li? What happen with you, honey?"
"Ceritanya panjang, non! Dan sepertinya aku nggak bisa cerita sekarang. Aku harus berangkat lebih awal. Pekerjaanku numpuk hari ini."
"What?? Ini kan baru hari kedua kamu bekerja, Li? Sepadat itukah? Sulit dipercaya. Pasti ada sesuatu."
"Hil...sori, ya! Aku harus segera..."
"Ok, OK... tapi kamu nggak pa-pa kan manis?"
"Nggak pa-pa kok! Maafin aku, yah! Aku lagi nggak mood hari ini."
"Mmm... ya udah deh! Met, kerja, ya! Ingat, bahwa sesuatu yang kita mulai dengan penuh kesulitan akan membuahkan sesuatu yang lebih memuaskan. Dan...jangan lupa, tetap jadi Lili yang selalu semangat dan always smile... Ok, have a nice day, sobat!"
"Thanks ya...makasih banyak supportnya."
Aku tidak tahu bagaimana dengan tiba-tiba aku beranjak ke kamar. Mengganti baju tidurku dengan pakaian kantor dan bergegas berangkat. Kata-kata Hilma menohokku. Dan aku menjadi tertantang untuk terus melalui jalan berliku ini.

***



"Pagi... selamat datang di PMM!"
Manajer aneh itu masih seperti kemarin. Dengan rambut tersisir rapi dan kaos berkerah. Bukan kemeja. Bawahannya masih juga celana berbahan jins. Tapi kaos dan celana itu bukan celana yang kulihat kemarin.
Hmm... rajin juga dia berganti pakaian, pikirku.
"Pagi, Pak! Terima kasih atas sambutannya, " susah payah aku mencari nada ramah dalam suaraku meski akhirnya kutemukan juga. Selerat senyum tipis kupaksakan menggantung di bibirku.
"Gimana? Masih betah di sini?"
"Mm...ya, Pak. Akan saya usahakan, " jawabku berat.
"Saya sudah print semua flow chart dan arsip desain sistem perusahaan ini. Silahkan anda pelajari. Selamat memulai pekerjaan Anda. Jangan sungkan bertanya apabila memang benar-benar tidak tahu. Jangan sembarangan... Ok?"
Aku hanya mengangguk. Setumpuk berkas sistem telah tertata rapi di mejaku. Dan aku boleh sedikit gembira karena hari ini aku mulai benar-benar diperbolehkan bekerja sesuai profesiku. Dunia sistem informasi!
Hari ketiga masih menjadi hari yang menyenangkan bagiku. Meski lelah aku akhirnya dapat menikmati pekerjaanku sekarang. Tak jauh berbeda dengan pekerjaanku sebelumnya. Back up, controlling system, planning program, clearing database dan lain-lain.
Manajer aneh itupun perlahan sudah mulai menanggalkan kecerewetannya. Tapi, ternyata...jam-jam selanjutnya tak semulus dugaanku. Tepat pada jam makan siang, Pak Aan membuat keributan. Kukatakan keributan karena aku yakin bahwa seorang manajer tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu.
Bruakk!! Dia melempar sebuah buku yang cukup tebal dari arah ruangannya. Tepat mengenai mejaku yang hanya tersekat dinding tipis dengan ruangannya. Buku itu jatuh tepat di atas gelas tehku dan hancurlah benda yang tak bersalah itu. Aku hanya bisa menatap kepingan-kepingan kaca yang berhamburan dengan mata yang ikut mengaca.
Bulu kudukku bergidik. Entah perasaan apa saja yang bercampur aduk di hatiku saat itu. Takut, heran, kaget, marah, bingung dan entah apa lagi. Yang jelas, aku sempat menatap manajer aneh itu dengan tatapan tak berkedip dan saat itulah tatapan kami bertemu. Duh! Mata itu begitu berat. Menyimpan luka yang cukup dalam, kukira.
"Maaf, Bu Rien...saya labil. Saya benci pada diri saya sendiri."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, manajer aneh itu masuk ke ruangannya dan menutup pintu dengan kasar. Beberapa menit kemudian yang kudengar adalah lantunan lagu-lagu populer dari sebuah grup musik terkenal. Syairnya yang berisi tentang penyesalan dan perpisahan membuatku gundah. Belum lagi suara sesenggukan yang kudengar sayup di antar lantunan lagu itu. Menangiskah dia? Aku diselimuti kebingungan.
Ada apa sebenarnya di balik masa lalu laki-laki bertubuh kecil yang sok perfeksionis itu? Oh, sayang. Dia laki-laki. Aku tidak mau mengambil resiko untuk masuk lebih jauh dalam kehidupannya. Lagipula, siapa aku? Toh, aku hanya karyawan baru di sini. Mungkin dia memang atasanku. Tapi kami punya kehidupan sendiri-sendiri. Rasanya, belum saatnya untuk berempati pada masalahnya. Aku yakin, duniaku dan dunianya benar-benar berbeda...
Entah berapa lama aku memandangi pintu ruangannya sambil melamun ketika kemudian kulihat tiba-tiba pintu itu terbuka. Dan sosok manajer aneh itu terlihat begitu lemah. Berdiri dengan kepala terkulai di sudut pintu. Mirip orang yang baru saja bangun tidur dan berusaha menemukan kembali sisa-sisa tenaganya. Matanya memerah saga terlapisi sisa air mata. Tak salah lagi, dia pasti baru saja menangis.
"Bapak teringat dia?"
Bodoh!!
Untuk kesekian kalinya aku mengulangi kebodohanku. Entah setan mana yang membuatku berhasil mengumpulkan keberanian hingga mampu melontarkan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang kurasa terlalu lancang. Ah, kenapa harus bermain api? Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk memulai. Aku hanya tidak mau dikatakan wanita tak berperasaan. Masa, atasannya sedih tidak menunjukkan sikap simpati sama sekali? Aku juga tidak mau dibilang sok perhatian. Lagipula, buat apa perhatian sama orang menyebalkan seperti dia.
"Saya benci pada diri saya sendiri. Ah, tapi sudahlah, mungkin memang beginilah kehidupan."
Nada suaranya memang pasrah. Tapi aku tidak melihat kepasrahan di matanya. Ada ambisi terpendam yang tertanam di sana. Tergambar sebuah kekecewaan dan ketidakmampuan untuk menerima kenyataan dari sikapnya.
"Bu Rien nggak makan siang?"
"Eh, masih ada yang belum selesai, Pak!"
"Bu, kalau ngikutin pekerjaan ya nggak akan ada habisnya. Nggak pa-pa. Dipending aja dulu. Ini kan memang jam istirahat."
Ah, kukira Andalah yang lebih butuh istirahat dan refreshing, Pak! Namun kata-kata itu akhirnya tak jadi kuucapkan.
"Iya, Pak, " aku menata kertas-kertas di hadapanku. Sebenarnya perutku sudah sejak tadi minta diisi tapi lapar ini mendadak hilang setelah melihat kepingan pecahan gelas tehku. Kerasnya suara lemparan buku tadi pun sudah cukup membuat mood-ku untuk melakukan sesuatu mendadak pergi entah ke mana. Baik untuk makan atau meneruskan pekerjaan.
Aku tetap tak beranjak dari tempatku duduk. Makan siang yang kupilih adalah sepiring novel "Negeri Senja" karangan Seno Gumira Ajidarma yang baru kubeli sekitar seminggu yang lalu namun belum selesai kubaca. Kupikir manajer aneh itu sudah pergi makan siang sehingga aku bebas menghabiskan waktu untuk menekuni hobi membacaku. Tapi ternyata laki-laki pendek itu masuk lagi.
"Lho, bu Rien nggak makan?"
"Sudah, Pak." Jawabku pendek. Dahinya berkerut mendengar jawabanku.
"Di mana?" Tanyanya lagi.
"Makan siang kan nggak harus melahap nasi, Pak! Saya makan siang di sini dengan ini..." kuangkat buku yang kugenggam dan mulai kubaca.
"Hahh?" dia tersenyum kecut.
"Kalo gitu, saya juga akan makan siang di sini."
"Maksud bapak?" tanyaku dengan nada menyesal.
"Saya akan meniru anda untuk tidak makan siang dengan nasi."
"Lho, kok?"
Aneh sekali sih tuh orang. Benar-benar sulit dimengerti. Hh! Aku ikut-ikutan tersenyum kecut.
Terserah! Yang jelas aku tidak pernah mempengaruhi anda untuk mengikuti apa yang kulakukan. Jadi, jangan pernah menyalahkan aku kalau tiba-tiba anda terserang maag.
Suara MP3 kembali menjerit dari ruangannya. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Jelas aku merasa terganggu. Tapi apa boleh buat?
Tepat saat aku melirik ke ruangannya, aku melihat sebuah tulisan yang ditulis dengan huruf balok di papan kerjanya. Tulisan itu begitu besar hingga mataku dapat membacanya dengan mudah tanpa harus berpindah dari kursi kerjaku.
"NO BODY CARE WITH ME"
Ya ampuuun... Ternyata orang seangkuh dia masih juga menginginkan perhatian? Jelas aja nggak ada yang mau perhatian sama anda. Gimana mau diperhatikan oleh orang lain, kalau dirinya sendiri nggak pernah menghargai apalagi memperhatikan orang lain.
"Bu Rien... Anda begitu tenang. Pasti dunia Anda penuh pelangi, " suara itu tidak terlalu keras tapi kudengar begitu jelas. Penuh Pelangi? Oh, ungkapan yang indah. Aku mengalihkan perhatianku ke buku yang kugenggam. Aku tidak ingin dia tahu kalau diam-diam aku memperhatikan gerak-geriknya.
"Hidup berjalan seperti apa yang kita bayangkan, Pak. Kalau kita menggunakan kacamata hitam dalam memandang hidup ini, tentu saja yang terlihat hanya warna-warna kelabu. Tetapi, ketika kita mencoba menggunakan kacamata hati yang bening untuk melihatnya, niscaya yang terlihat adalah barisan pelangi yang menyejukkan."
Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku mampu menyusun kalimat-kalimat itu. Sepertinya aku menyalin kalimat itu dari sebuah buku. Tapi entah buku apa. Mungkin, buku-buku motivasi dan pengembangan diri yang sering kupinjam dari Hilma.
"Luar biasa. Anda hebat, Bu. Tapi sampai saat ini saya belum menemukan kacamata itu. Boleh tahu, anda membelinya di mana?"
"Anda pasti sudah pernah membelinya, Pak. Tapi lupa meletakkannya di mana."
"Oh, ya? Sekali lagi saya ucapkan luar biasa untuk anda, Bu Rien. Sepertinya saya perlu banyak belajar dari anda. Maukah anda membantu saya mencari kacamata itu?"
"Terima kasih atas pujiannya, Pak. Tapi, ada syaratnya!"
"Oh ya? What is it?"
"Bersiaplah untuk selalu menerima kritikan dan saran dari orang lain. Siapa pun dia. Dengarkan lingkungan tapi juga jangan mengabaikan kata hati yang terdalam."
"OK! Kritik dan saran dari orang seperti Anda pasti akan menjadi anugerah terindah bagi orang sebodoh saya."
Ah, ternyata anda memang bodoh. Kurang jelaskah kata "siapapun dia". Bukankah itu sudah cukup untuk menjelaskan bahwa kritikan itu bisa berasal dari siapapun. Tak hanya aku. Dasar!! Awas kalau berani macam-macam.
"Maaf, pak. Sebagai manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan, saya rasa harus siap untuk selalu dikeritik, dicela, dicaci, tetapi saya rasa saya belum siap untuk dipuji."
"Kenapa?"
"Karena kebaikan yang kelihatannya kita miliki sebenarnya bukanlah milik kita sepenuhnya. Semua itu hanya titipan dari yang Maha Pembuat Hidup. Jadi, seharusnya hanya Dia-lah yang berhak menerima pujian."
"Bu Rien...saya seperti kembali ke masa saat saya menjadi mahasiswa dulu. Begitu idealis. Dan itu yang saya tangkap dari Anda saat ini. Sikap seperti itu tidak salah, tapi kita hidup dalam realitas. Dan kadang, realitas itu tidak sama dengan idealisme yang ada di pikiran kita."
"Saya rasa apa yang saya katakan tadi bukanlah sebuah idealisme, tapi sebuah prinsip. Dan dalam hidup, kita harus punya prinsip. Kita melakukan sesuatu berdasarkan prinsip yang kita yakini. Dengan demikian, kita akan menjadi pribadi yang tegar. Tidak plin-plan."
"Dan itu akan membuat anda kaku dalam bersikap!"
Hmm...pintar juga orang ini. Tidak! Aku tidak boleh kalah. Ego membuatku semakin semangat untuk melanjutkan perdebatan ini. Ah, bukan perdebatan sebenarnya. Hanya sebuah pertukaran pandangan.
"Saya kira tidak! Prinsip yang saya pegang memiliki dasar yang berasal dari wahyu. Sesuatu yang saya yakini bersifat universal dan akan selalu sesuai dengan nilai yang berlaku kalam kehidupan."
"Ah, anda masih terlalu muda untuk berpikir serumit itu, Bu Rien! Anda masih terlalu mudah terkontaminasi. Dan itulah yang membuat saya kurang menyukai wanita. Mudah menggunakan emosi sesaat. Sama seperti anda."
Deg! Aku tercekat. Sebegitu jujurnya orang ini sampai-sampai tidak memikirkan perasaan lawan bicaranya. Sebegitu dinginkah segumpal darah yang tertanam di dalam dadanya?
"Bu Rien...hidup itu terlalu rumit. Dan konsep anda saya rasa terlalu klise untuk menjangkau semua sisi kehidupan yang rumit ini."
"Hidup itu mudah, Pak. Manusia sendirilah yang membuat hidup itu rumit. Manusia suka membesar-besarkan masalah yang dihadapinya. Mendramatisir suasana. Akhirnya, hidup mereka lihat tak ubahnya seperti jalinan benang ruwet. Itu tidak akan terjadi kalau orang tidak melihatnya dari kain yang terbalik. Jalinan benang itu akan tampak sebagai sulaman episode kehidupan yang indah, karena tangan-Nya yang Maha Pandai telah menyulamnya dengan penuh kasih sayang. Begitulah Tuhan merenda setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita."
"Puitis. Sepertinya Anda lebih cocok menjadi seorang penyair, Bu. Atau mungkin Anda terlalu sering membaca novel hingga anda mengira bahwa hidup itu seperti fiksi yang sering Anda baca! Dan itu tidak cocok dengan orang seperti Saya. Saya tahu, Anda adalah seorang gadis agamis."
"Saya rasa setiap orang bisa mencoba untuk menjadi lebih baik jika dia mau!"
"Oh, jadi Anda pikir saya tidak mau mencoba? Saya sudah sering mencobanya dan selalu gagal. Mungkin, Tuhan sudah melupakan Saya. Bahkan, Dia telah mengambil satu-satunya orang yang saya cintai. Dan yah, seperti inilah kehidupan yang harus saya jalani sekarang. Hampa."
"Maaf, Pak. Saya rasa..."
"Oh, nggak pa-pa. Saya tahu, dunia kita memang berbeda. Very-very...different. Tapi, jangan khawatir, saya akan mencoba menghargai Anda. Meskipun dunia kita jauh berseberangan."
"Ya, saya juga akan memahami Bapak."
"Oh, jangan Bu! Tidak usah. Saya tidak butuh untuk dipahami. Dunia Anda terlalu cerah untuk bersentuhan dengan dunia Saya yang buram. Ok! Sekarang, waktu makan siang sudah habis. Dan kita harus segera kembali ke dunia pekerjaan...setuju?"
Huhh...dasar aneh.
Aku hanya bisa mengangguk. Kesal. Jengkel. Baru kali ini aku berhadapan dengan orang seaneh dia. Tidak mau dipahami? Ah, angkuh. Memangnya anda siapa? Aku toh cuma basa-basi. Aku pikir kita adalah rekan kerja yang cocok. Yang akan memulai hari-hari baru dengan mencoba memahami karakter masing-masing. Tapi ternyata? Aku memang takkan pernah bisa memahamimu, Tuan...
Jam-jam berikutnya kulalui di depan komputer hingga jam kerjaku habis. Manajer aneh itupun asyik di ruangannya. Aku berharap dia memang tidak akan pernah keluar ruangan sebelum jam kerjanya habis. Agar aku tidak usah mendengar kalimat-kalimat pedasnya.
***
"Bu Rien langsung pulang?" tanyanya ketika dilihatnya aku mengemasi barang-barangku dan bersiap untuk pulang.
"Tidak, Pak! Saya akan ke musholla dulu, " jawabku datar.
"Oh ya, nanti pulang naik apa?"
"Bis."
"Boleh saya antar?"
Wah, dia mulai menawarkan api, nih. Hati-hati Rien...
"Saya belum memerlukannya, Pak, " tukasku cepat.
Bodoh! Kenapa tadi tidak kubilang saja "tidak memerlukannya". Kata"belum" terlalu sopan untuk orang seangkuh dia.
"Mm...belum. Berarti suatu saat Anda akan memerlukan mobil Saya untuk mengantar Anda."
"Saya harap tidak!"
Aku segera berlalu dari hadapannya. Kupercepat langkahku agar tak lagi mendengar ocehannya yang menyakitkan. Benar-benar menyebalkan. Kapan sih, orang itu akan terdengar "very nice"seperti yang dikatakan banyak orang di perusahaan ini. Security, driver, cleaning service, dan... ah, semua orang-orang itu bilang bahwa Mr. Aan itu orangnya baik, perhatian, dan hih!!!
Berkali-kali bibirku mengucapkan istighfar. Aku tak ingin hari-hariku dipenuhi kebencian. Byur...kuusapkan air wudhu perlahan ke wajahku yang kering akibat serangan air conditioning. Air itu membelai lembut wajahku. Menyisakan segumpal kesegaran di sana. Seakan ingin bersahabat dengan udara yang mulai sejuk karena hari ini mulai merambat gelap. Tak hanya berhenti di wajahku, namun kesegaran ini menembus ke dalam relung-relung hatiku yang akhir-akhir ini sering terasa hampa.
Ah, kok Pak Aan nggak salat ya? Tanganku jadi gatal untuk mengingatkan. Dan refleks jemariku mengetikkan sebaris kalimat di layar mungil handphoneku.
Nggak salat, Pak?
Saya lagi cuti. Entah sampai kapan. Jadi tidak perlu mengingatkan Saya.
Duh, Ya Rabbii... balasannya sungguh menyakitkan. Tebersit sebait sesal di hatiku. Kalau tahu seperti ini, lebih baik tidak pernah berusaha mengingatkannya. Aku tidak mau dinilai sok perhatian. Nanti dia malah ge-er lagi.
Hh! Terserah. Aku tidak mau lama-lama memikirkannya. Dan menit berikutnya aku telah tenggelam di lautan teduh kasih-Nya. Bersama semburat saga yang selalu tersenyum manis menyambut sang malam.

















Penggalan 3





Hilma sudah berbaring manis di kamar kosku ketika aku pulang sore itu. Senyum centilnya memaksaku mengubah ekspresi wajahku yang kurasakan kering sejak tadi.
"Waalaikum salam..." serunya dari dalam kamar ketika aku langsung masuk tanpa suara.
"Assalamu'alaikum... Sorry, Hil. Kupikir nggak ada orang. Eh, kapan nyampe? Kok nggak sms dulu, sih. Tahu kamu ke sini kan aku bisa pulang lebih awal."
"Baru sedetik yang lalu, kok!"
"Hah, dasar! Masa sedetik saja kamu udah bisa ngacak-ngacak kamarku sampai nggak karuan gini?"
"Wah... kantor barumu, hebat ya! Tiga hari saja sudah bisa mengubah seorang "Rienita" yang lembut dan murah senyum ini jadi sensitif dan paranoid! Li... di kantor kamu boleh jadi "Rienita" yang tegas, lugas dan perfeksionis. Tapi ini di rumah...jangan lupa sama karakter "Lili" yang..."
"Iya, deh. Maaf...aku kan capek. So, harap dimaklumi kalau masih bawa angin kantor ke rumah."
"Yang capek pasti nggak hanya badanmu."
"Kok tahu?"
"Aku kan punya indera keenam..."
"Oh, iya ya...aku lupa kalau sahabatku ini lulusan psikologi!"
"Oh, ya, setelah mandi, kamu harus cerita banyak tentang kantor barumu... Eh, mana buku barunya?"
"Belum selesai kubaca. Nih!" kulempar sebuah buku dari dalam tasku.
"Negeri Senja? Kok kamu tertarik sama buku beginian, sih? Menurut psikologi..."
Hilma terlambat melontarkan pertanyaannya. Aku sudah berada di kamar mandi saat kalimat itu selesai dibuatnya. Meski tak menjawab, tapi mau tak mau otakku berpikir juga.
Hil...aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku menyukai buku-buku seperti itu. Aku takut, Hil. Mungkinkah hari-hari yang akan kulalui nanti selalu berbingkai temaram senja seperti dunia yang dilukiskan dalam roman itu?
Ah, tidak. Skenario-Nya pasti jauh lebih indah dari apa yang pernah kubayangkan. Tidak! Aku tidak boleh pesimis. Aku tidak mau ketularan manajer angkuh itu. Baginya, hidup mungkin adalah gumpalan awan kelabu. Tapi bagiku, hidup adalah barisan pelangi. Yang melengkung indah di setiap pagi...


*****



"Mandinya kok lama, sih? Berendam ya?"
"Nggak, kok. Cuma main air..." aku tersenyum lebar. Ahh... lega rasanya bisa tersenyum selepas ini. Makanya, tersenyumlah sebelum senyum itu dilarang.
"Li! Tadi pas kamu mandi ada sms tuh!"
"Dari siapa?"
"Ya nggak tahu... mana berani aku buka. Jangan-jangan rahasia lagi. Atau mungkin tukang kredit yang nanyain tunggakanmu!"
Aku kembali tersenyum mendengar kelakar Hilma. Penasaran... cepat-cepat kubuka layar mungilku.
Rien... jangan munafik. Aku yakin, setiap orang pernah merasakan saat-saat di mana dia harus menangis dan kecewa. Hidup tak hanya pelangi, bukan? Akuilah!
Terlalu panjang untuk ukuran sebuah sms tetapi terlalu pendek untuk ukuran sebuah kalimat yang menyakitkan.
Kenapa nggak sekalian nulis surat aja untuk menyakitiku sepuas hatimu, wahai tuan manajer! Benar-benar kurang kerjaan. Dasar, sok tahu.
"Kenapa, Li?" tanya Hilma heran. Dia menangkap perubahan di raut wajahku.
"Baca sendiri, nih!"
"Dari siapa? Dari Bos?"
Mata Hilma membulat saat dilihatnya aku mengangguk. Mengiyakan pertanyaannya.
"Kok? Aku bingung, Li! Ini dari bosmu yang baru? Atau bosmu di kantor sebelumnya? Sejauh mana hubungan kalian?" Hilma mengekspresikan semua kebingungannya setelah membaca sepotong short message itu.
"Yah, begitulah. Bos baru. Orangnya unik. Angkuh. Sombong. Sok tahu. Tapi juga labil.Nggak bis kendalikan emosi."
"Hahh? Dia sakit, Li! Kamu harus hati-hati..."
"Maksudmu?" kini giliran aku yang melongo mendengar kata-kata Hilma.
"Mm... Psikoneurosa... penyakit kejiwaan yang disebabkan karena seseorang selalu tertekan dan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ah, benar. Ajak dia ke psikiater, Li!"
"Apa? Ngaco, kamu. Memangnya aku isterinya?"
"Lho, dia atasanmu, kan... Kalau nggak, kamu akan benar-benar ketularan. Sekarang aja, kamu udah mulai terkontaminasi."
"Hilma!" kulempar guling ke arahnya. Anak itu kalau sudah menggoda memang keterlaluan.
"Berikan dia empati, Li! Dengarkan keluhannya. Sentuh hatinya... aku yakin kamu bisa mengubahnya menjadi pribadi yang normal. Sepertinya... dia tertarik padamu."
"Hil, aku bukan psikolog atau psikiater. Kamu kan lebih tahu. Gimana, kalo kita tukar kantor?"
"Bisa hancur tuh jaringan sistem di PMM kalo aku yang ngurusin..." Hilma nyengir mendengar usulku yang tidak masuk akal.
"Li..."
"Hmm..."
"Kamu benci dia, ya?"
"Sangat!" tukasku mantap.
"Hati-hati lo...orang yang sangat kita benci kadang-kadang berubah jadi orang yang paling kita cintai..."
"Apa?" aku menatap Hilma tajam.
"Kok marah?" Hilma hanya tersenyum melihat reaksiku.
"Ah, udah ah! Aku nggak mau ngomongin dia lagi. Capek!"
"Li, kamu betah kan di sana?"
Ah, akhirnya Hilma menanyakan hal ini. Entah sudah untuk keberapa kalinya aku mendapatkan pertanyaan senada. Sejak kepindahanku dari Alta Mara. Sebuah perusahaan industri kaca terbesar di ibukota. Tempatku dan Hilma pertama kali bekerja setelah lulus kuliah. Aku sendiri sudah pindah tiga kali. Sedangkan Hilma... masih bertahan di sana. Kemampuannya di bidang psikologi industri mengantarkannya ke kursi manajer personalia perusahaan itu.
Perusahaan kedua yang kumasuki adalah sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang produksi barang-barang convenience. Di sana aku bertemu dengan atasan yang suka berganti-ganti wanita. Entah sudah berapa kali aku membohongi isterinya untuk menyembunyikan perselingkuhan suaminya.
Perusahaan ketiga yang menerimaku adalah perusahaan real estate ternama. Sebenarnya aku senang bekerja di sana. Bisa belajar banyak tentang arsitektur dan memanjakan mataku dengan beragam model rumah yang unik dan cantik. Tapi manajerku yang bukan main genitnya selalu membuatku pusing tujuh keliling. Kerjaannya tiap hari hanya berdandan dan tidak hentinya menghina jilbabku yang menurutnya tidak modis sama sekali.
"Li, kenapa diam? Kamu nggak betah ya?"
"Entah. Aku sudah nyiapin surat pengunduran diri yang entah kapan akan kuberikan."
"Jadi kamu akan keluar juga dari perusahaan itu?"
"Aku nggak bisa jawab sekarang, Hil. Terlalu dini untuk mengambil keputusan."
"Yap. Itu baru Lili yang aku kenal. Yang lembut dan penuh pertimbangan..."
"Doakan aku, ya..."
"He-eh. Pasti..."
Hilma menipiskan bibirnya. Tangannya menggenggam tanganku erat. Seakan ingin menyalurkan sebuah kekuatan dari sana.
"Tetap tegar, yah! Aku yakin, suatu saat kamu akan menemukan yang terbaik."
"Ma kasih, Hil..."
Kami berangkulan hangat. Ah, hatiku mulai lega. Semakin aku percaya, bahwa sahabat memang anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk kita.
"Boleh mengajak anda makan siang dengan nasi, siang ini?" suara bariton itu kembali terngiang di telingaku, setelah seharian aku terbebas darinya. Dari tadi pagi ia menghadiri meeting dengan klien.
"Gimana hasil meetingnya, pak?"
"Anda belum menjawab pertanyaan saya!"
"E...saya..."
"Jangan bilang iya kalau ingin berkata tidak, " tukasnya tegas. Datar. Aku hanya bisa menarik nafas panjang. Apa sih maunya?
"Ternyata anda memang lebih menyukai buku itu daripada nasi, ya?"
Mata manajer aneh itu menatap sinis ke arah novel remaja yang tergeletak di mejaku.
"Kali ini yang lapar bukan perut saya, Pak!"
"Oh, ya? Anda mengingatkan saya pada seseorang."
"Semoga bukan pacar Anda!"
"Oh, no. Anda sangat berbeda dengannya. Dia terlalu baik. Sangat baik."
Yah, itu kan menurut Anda... Memangnya siapa yang mau disamakan dengan pacar Anda? Apalagi dia sudah meninggal. Hhh!! Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.
"Terima kasih atas smsnya semalam. Cukup menyakitkan!"
"Ehm...maaf, tapi saya memang lebih suka hidup dalam realitas. Apa adanya. Bukan fiksi."
"Tapi realitas tidak harus menyakiti. Sepertinya Bapak masih harus belajar untuk menghargai perasaan orang lain."
"Begitu juga dengan anda, Bu Rien..."
Hhh!! Benar-benar nggak mau kalah. Tapi biarlah. Dia punya hak untuk berbicara apapun. Dan aku juga berhak untuk tidak mendengarkannya. Lebih baik berpura-pura tuli daripada kepalaku migrain.
"Maaf. Saya rasa hubungan kita begitu aneh. Kalau kita saudara, pasti akan bertengkar setiap hari."
Semoga saja saya tidak pernah punya saudara seperti Anda. Tapi kalimat itu tak jadi kulontarkan. Tersangkut di tenggorokanku yang mulai nyeri. Dan menit selanjutnya aku hanya bisa menelan ludah.
Mencoba membalikkan kain hidup ini, agar aku mampu melihat sulaman yang sebenarnya. Tapi jalinan ruwet itu tetap saja terpampang di hadapanku. Bahkan, semakin bertumpuk. Berjejalan seperti ratusan ikan yang tergelepar karena tertangkap jala.
"Saya rasa kita bisa saling berbagi. Dan saya yakin, anda sebenarnya adalah pribadi yang lembut. Tidak seketus yang saya lihat saat ini."
Kemarin saya berpikir demikian, Bapak manajer. Tapi sekarang pikiran itu hilang entah ke mana...
"Bapak tidak menyukai wanita, bukan?"
"Please! Lupakan itu. Kita partner satu departemen. Pekerjaan kita akan hancur kalau kita terus-terusan bertengkar."
Anda yang memulai, Tuan manajer!
"Ok! Sekarang kita berdamai!"
Aku hanya mengangguk. Aku benar-benar malas untuk mengeluarkan suara. Apalagi berhadapan dengan orang egois seperti dia.
"Selama ini saya menganggap wanita itu bisa membawa madu perdamaian dan racun kehancuran. Pengalaman saya mengatakan bahwa hanya sekitar 10% wanita yang mampu membawa madu itu, sedangkan 90% sisanya adalah pembawa racun. Tapi, saya yakin, anda termasuk kelompok 10%. Jadi, saya tidak perlu membangun benteng pertahanan untuk menghadapi anda."
"Bapak egois."
"Masa lalu telah membentuk pola pikir saya."
"Sebuah pembelaan ego yang sempurna!" ujarku dingin.
"Yah, beginilah kehidupan. Dan Anda tidak akan berkata demikian kalau Anda berada dalam posisi saya."
Sepertinya tidak akan pernah. Karena cara pandang kita berbeda. Tentu saja efek dari masalah itu tidak akan seberapa bagiku.
"Anda pikir saya tidak pernah kehilangan orang yang sangat saya cintai? Saya juga pernah mengalaminya tapi saya cukup sadar bahwa pertemuan dan perpisahan adalah yang biasa terjadi dalam kehidupan. Demikian juga tangis dan tawa. Kuncinya, jangan terlalu gembira dengan apa yang didapat dan tidak terlalu sedih dengan apa yang hilang dari kita. Karena itu semua sifatnya hanyalah titipan."
"Jadi kita tidak berhak untuk merasa memiliki?"
"Jangan pernah merasa memiliki kalau tidak ingin merasa kehilangan. Semua hanya milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Cukuplah kita merasa memiliki Allah kalau ingin merasakan kebahagiaan dalam hidup."
"Anda benar. Tapi itu tidak berlaku bagi saya. Karena saya sudah terlanjur merasa memiliki. Saya sudah yakin bahwa dia adalah jodoh saya tapi ternyata Tuhan mengambilnya. Jadi, saya pikir saya memang harus hidup sendiri di dunia ini."
"Anda menyalahkan Tuhan?"
"Saya akan menyalahkan diri saya sendiri kalau mencoba mencari penggantinya."
"Aneh."
"Yah, begitulah kehidupan saya kira. Aneh. Sulit dimengerti."
"Seharusnya kita sadar, betapa agungnya Sang Maha Pembuat cerita kehidupan ini."
"Itu dunia Anda."
"Jangan pernah menyalahkan Tuhan!"
"Saya lebih tahu apa yang harus saya lakukan."
Ya Robb...sekeras itukah hatinya? Semoga dia menemukan jalan kembali pada-Mu...
"Jam makan siang sudah berakhir, Pak, " ujarku kemudian. Lelah rasanya setiap hari, jam istirahatku harus kuisi dengan perdebatan tak berujung seperti ini.
"Ah, ya. Terima kasih."
Manajer aneh itu beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Menuju ruangannya dan menutup pintu. Suatu hal yang hanya dilakukannya jika dia sedih. Katanya sih. Dan benar dugaanku. Beberapa saat kemudian kudengar musik itu lagi. Syair-syair yang sama. Kenangan sepahit apakah yang terkandung dalam lagu-lagu itu?
Huhh! Aneh. Biarlah dia asyik dengan dunianya sendiri. Toh, aku juga punya duniaku sendiri yang jauh lebih menyenangkan. Kubuka mushaf kecilku. Dan mengalunlah nada-nada lembut itu merayapi hatiku yang mulai gersang.
Ini adalah hari ketujuh aku menghirup udara sedingin 16 derajat celsius di ruangan server. Rasanya seperti sudah setahun. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan. Di tanganku sudah tergenggam dua lembar amplop. Surat Pengunduran Diri.
Aku memang tidak punya alasan kuat untuk memilih keputusan ini. Aku hanya tidak ingin melangkah terlalu jauh. Apalagi berhadapan setiap hari dengan orang seaneh Mr. Aan Ardhantie...
Yah, waktu seminggu mungkin begitu singkat tapi sudah terlalu panjang untuk membuat manajer angkuh itu menceritakan semua. Memaksaku masuk ke dalam masa lalunya. Dan itu berarti...aku telah menyalakan api. Sebelum terbakar, aku benar-benar menjauh. Aku tidak mau menjadi lilin yang rela dirinya hancur luluh hanya karena ingin menerangi sekitar.
"Sepertinya kehadiran Rieni akan membawakan setitik cahaya dalam hidupku." Ujarnya kemarin. Dan itu untuk pertama kalinya dia memanggilku tanpa embel-embel "Bu". Ah, menakutkan. Dan adalah langkah terbaik kalau pagi ini aku benar-benar harus berjanji pada diriku bahwa ini adalah untuk yang terakhir kalinya aku melangkahkan kaki di perusahaan ini.
***
"Selamat pagi, Rien... Selamat datang. Gimana perasaanmu hari ini? Enjoy? Masih betah di sini kan?"
Sepagi ini dia sudah datang dengan sederet pertanyaan yang tak mungkin bisa kujawab. Apa dia sudah punya firasat ya?
"Saya ingin menyerahkan ini, Pak!"
Kusodorkan salah satu surat pengunduran diriku. Yang satunya lagi masih kugenggam dan akan kuserahkan ke bagian personalia.
"Apa ini?"
"Bapak bisa membacanya di ruangan Bapak!"
"Kok?" alisnya menyatu. Tapi aku tak peduli. Mungkin juga, ini adalah saat terakhir aku bertemu dengannya.
Tapi bukannya menuruti keinginanku, dia malah langsung menyobek kasar sudut surat itu. Dan dengan gerakan mata yang cepat, manajer aneh itu membaca suratku.
"Mengundurkan diri? Kamu?"
"Ya, Pak! Saya merasa kurang cocok bekerja di sini."
"Kurang cocok dengan pekerjaan atau dengan saya?"
"Yang pasti dengan pekerjaan. Saya tidak tahan dengan kondisi ruangan server yang terlalu dingin, Pak. Saya alergi dingin. Farangitis saya sering kambuh kalau terlalu lama berada di udara dingin."
Ah, akhirnya kalimat yang telah kupelajari semalam itu mengalir dengan lancar. Meyakinkan. Dan cukup logis kukira.
"Ya...saya kira saya bisa bertahan di sini. Tapi ternyata tidak. Tadi malam mimisan saya kambuh dan saya tahu pasti apa penyebabnya."
"Oh, kenapa selama ini Bu Rien tidak pernah cerita? Mungkin pihak perusahaan memiliki alternatif solusi atas masalah Anda."
"Tidak, Pak. Keputusan saya sudah bulat."
"Saya harap Bu Rien akan mempertimbangkannya sekali lagi."
Saya sudah terlalu lama mempertimbangkannya, Pak...
"Ok! Saya tidak bisa memaksa Anda untuk tetap bekerja di sini. Yang jelas, saya pribadi tidak rela kalau anda meninggalkan kantor ini sekarang. Dan saya harap, hubungan kita tidak akan terputus sampai di sini."
Simpan saja basa-basimu, Tuan Manajer. Sepertinya harapan terbesar saya adalah menghindari Anda.
"Anda tahu, dengan masa kerja sesingkat ini, anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari perusahaan. Tidak menyesal?"
"Ini yang terbaik buat saya, Pak!"
Ah, seharusnya aku tidak perlu berkata begitu. Kenapa aku harus membohongi diriku sendiri? Bukankah aku menyukai pekerjaan ini? Kenapa begitu mudah meninggalkannya, padahal, bukan hal yang mudah untuk bisa masuk ke perusahaan ini. Di luar sana, orang-orang kebingungan mencari pekerjaan, sedangkan aku... dengan santainya meninggalkan pekerjaan yang dicari banyak orang.
"Pak, saya minta maaf kalau saya melakukan banyak kesalahan."
"Oh, ya. Sama-sama. Saya juga minta maaf kalau sering menyakiti Anda. Senang bisa mengenal Anda. Semoga menemukan apa yang Anda cari!"
"Terima kasih, Pak."
Nyess. Dadaku seperti baru dibebaskan dari sebuah beban maha berat yang menghimpit. Lega rasanya. Selamat tinggal PMM... selamat tinggal Mr. Aan yang super aneh. Semoga anda menemukan jalan-Nya.....

***

"Apa, Li? Kamu sudah benar-benar keluar dari perusahaan itu? Kamu sadar kan dengan apa yang kamu pilih?"
"Of course. Masa aku gak sadar, sih!"
"Li! Kamu tau kan... cari kerjaan sekarang itu sulitnya bukan main. Dan ini... adalah perusahaan keempat yang kau tinggalkan. Dengan alasan senada. Mungkin lebih baik kalau kamu mendirikan perusahaan sendiri atau LSM yang isinya perempuan yang semuanya satu misi denganmu."
"Biarkan aku menuruti kata hatiku, sobat."
"I see, honey. Tapi aku jadi bingung. Apa sih sebenarnya yang kau cari?"
"Aku nyari tempat dan lingkungan kerja yang membuatku save. Itu aja."
"Dan itu belum kau temukan?"
"Hmm...yah, begitulah."
"Li...tidak ada yang sempurna di dunia ini. Nggak ada yang seideal bayangan kita. Kau tahu, ideal itu hanya sesuatu yang utopis. Rasional, dong!"
"Kalau memang nggak cocok kenapa harus menyiksa diri?"
"Kau berubah, Li!"
"Hilma...kita ganti topik, saja ya... daripada ntar jadi berantem."
"Tapi kau harus sudah memikirkan masa depan, Li..."
"Masa depan kan tidak hanya bisa dibangun dengan uang!"
"Ok! I trust you, sobat. Kau tahu ke mana harus mencari pelita ketika semuanya terasa gelap..."

***















PENGGALAN 4





Pagi ini aku sibuk menyiapkan segala sesuatu agar aku tampil sempurna. Tak sempat lagi menikmati barisan pelangi dan semburat kemerahan sang mentari yang juga mulai berbenah untuk menunaikan tugas rutinnya menyinari dunia.
"Ingat, Li! Ini adalah kantor kelima yang kau masuki. Aku berharap kamu akan menemukan apa yang kau cari. Dan berusahalah untuk lebih bisa menerima keadaan. Terimalah kekurangan orang lain. Kehidupan sering kali tidak seideal impian kita!" begitu pesan Hilma kemarin yang masih tercatat rapi di memoriku. Kali ini aku sengaja meneleponnya lebih dulu sebelum memulai hari pertamaku di Citra Persada, sebuah perusahaan outsourcing software di kawasan Jakarta Timur.
Perusahaan ini tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan PMM atau tiga perusahaan yang kumasuki sebelumnya. Namun, bangunannya yang kecil tertata begitu artistik. Dua pilar beton berelief halus menyangga tepat di kedua sisi bangunan. Pintu utama seluruhnya terbuat dari glass art dengan lukisan natural dengan warna-warna cerah. Di tengah-tengah halaman kantor terdapat sebuah taman kecil berbentuk setengah lingkaran. Ditumbuhi rumput jarum dan kolam air mancur mungil di tengahnya. Semuanya serba mungil, tapi terkesan mewah. Elegan.
"Selamat datang di Citra Persada, Mbak. Selamat memulai hari-hari yang lebih menyenangkan di sini." Kalimat pertama yang kudapat dari seorang wanita yang tak terlalu muda, tapi dandanannya yang naturalis cukup menyiratkan wibawanya. Dia atasanku di sini. Dari sikapnya yang ramah, aku punya keyakinan bahwa aku akan bertahan lebih lama di sini.
"Untuk hari pertama, mungkin Mbak Rienita belum bisa mengerjakan banyak hal. Pelajari saja semuanya terlebih dulu. Saya sudah buatkan job description dan beberapa penjelasan penting tentang tugas anda nantinya. Silahkan buka di hard disk. Silahkan tanyakan apapun yang belum jelas. Saya yakin, anda punya kemampuan di atas rata-rata. Jadi, saya harap kemampuan itu bisa tersalurkan dengan optimal di sini. Ok, selamat bekerja!"
Sebelum pergi menuju ruangannya sendiri, wanita itu sempat menyalamiku hangat. Ah, begitu berbeda dengan manajerku sebelumnya...
Ya Allah, segala puji bagimu. Aku merasa begitu dihargai dengan kepercayaan yang diberikannya. Tapi, baru saja aku akan memulai pekerjaanku, Siemensku berdering. Sebuah nama terpampang di sana. Enggan aku mengangkatnya. Tapi suara ringtonenya yang terus melengking memaksa tanganku untuk menekan tombol terima.
"Ass...."
"Pagi, Rien!" dadaku berdegup kencang. Suara bariton itu membangunkan memoriku pada peristiwa demi peristiwa beberapa minggu yang lalu. Peristiwa yang sempat membuatku down. Apa pula ini? Untuk apa dia meneleponku pagi-pagi dengan gaya sok akrab.
"Kok diam? Kaget, ya. Maaf, ganggu. Gimana kabarnya?
"Baik, Pak." Sahutku datar.
"Ayolah...santai saja. Sekarang saya bukan lagi atasanmu. Jadi tidak usah memanggil saya, "Pak". Gimana? Biar lebih akrab."
"Tapi..."
"Oh, I see. Ok-lah. Nggak pa-pa. Sudah dapat pekerjaan baru?"
"Sudah, Pak. Ini adalah hari pertama saya bekerja. Saya baru akan memulai pekerjaan ketika Anda menelepon saya dan menanyakan sesuatu yang tidak terlalu penting."
"Oww, maaf. Selamat kalau begitu. Saya tahu pekerjaan itu sangat penting bagi anda. Ok, kapan-kapan saya call lagi. Terima kasih waktunya."
"Klik!"
Sambungan terputus. Tapi aku sudah kehilangan seleraku untuk melanjutkan pekerjaan. Hingga jam makan siang berlangsung, tetap tak banyak yang kulakukan. Hanya membolak-balik contoh-contoh design program beberapa perusahaan asing yang kebetulan menyerahkan Technology information systemnya ke Citra Persada. Penat rasanya. Membuat satu desain flowchart saja aku melakukan banyak kesalahan. Hhh!!
Sudah dua kali handphone-ku berdering namun tak pernah kuangkat. Sengaja kuprogram silent agar suara ringtone-nya tak terdengar. Masih nama yang sama. Apa sih, maunya orang ini?

***

Sore itu tol Bekasi Timur macet total. Bis hanya bergerak sekitar lima belas menit sekali. Suara klakson bersahutan. Dan waktu berlalu seperti dengungan lebah yang mengamuk karena sarangnya dirusak. Kacau dan ruwet. Ah, jalan-jalan ini membuatku ingin kembali ke masa-masa kuliah saja. Datang, duduk, diam, denger dan moga-moga aja enggak dapat D. Begitu semboyan teman-temanku dulu. Nggak ada waktu yang terbuang untuk memusingkan sikap atasan yang aneh, gaji dipotong karena kesalahan pembuatan program, deretan bahasa pemrograman COBOL dan syntax 4GL yang memusingkan. Belum lagi serangkaian complain dari user-user bawel tipe-tipe perfeksionis.
Berbeda dengan Hilma yang tiap hari menghadapi manusia. Manajemen motivasi, menyemangati karyawan, seleksi bakat dan minat, memberikan konseling, dan sederetan pekerjaan kemanusiaan lainnya. Ah, pasti dia selalu bahagia karena setiap

hari mendapatkan ucapan terima kasih dari karyawannya. Kenapa dulu aku nggak masuk psikologi aja, ya...?
Perjalanan ke tempat kos terasa amat melelahkan. Dan baru saja kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur, Siemensku berdering lagi. Tapi kali ini hanya tanda "message receive".
Li, aku jadian. Sama atasanku. Saat makan siang tadi. Kasih selamat dong...
What?? Aku terlonjak. Anak ini memang benar-benar gila. Apa-apaan sih tuh anak. Katanya nggak mau pacaran. Semua yang ditampakkan semu, munafik, de el el...sekarang buktinya? Hilma...Hilma... Sekarang aku bersyukur dulu nggak jadi masuk psikologi. Bisa-bisa aku ketularan sciezofremia sepertimu.
Selamat! Kenapa nggak nikah aja sekalian?
Aku berharap Hilma tak lagi membalas smsku. Anak itu biasanya kalo dituruti bisa jadi chatting. Aku butuh waktu untuk meluruskan otot-otot tubuhku. Dan memang...Hilma tak membalasnya. Hingga akhirnya aku bisa tertidur lelap... zzhh...zzhh...

***

















PENGGALAN 5




Kehilangan seorang sahabat memang sangat menyedihkan. Apalagi sahabat sebaik Hilma. Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba dia menghilang. Sudah dua bulan aku tak berhasil menghubunginya. Pindah kos pun tanpa sepengetahuanku. Operator telepon di kantornya mengatakan bahwa Hilma sakit. Sakit apa? Kenapa begitu lama? Tak seorang pun dapat membantuku. Kenapa pula Hilma begitu tega tak memberi kabar padaku. Padahal, saat terakhir kami bertemu, tak ada masalah. Bahkan, dia sempat bercanda, "Li, kalau aku menikah nanti kamu bawa kado "Jaguar" ya..."katanya.
Tak henti-hentinya aku menyalahkan diriku sendiri yang terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga sempat melupakannya. Aku tak peduli kenapa suaranya tak pernah lagi muncul di horn telepon kosku. Aku juga tak peduli kenapa sms-sms nya tak lagi terpampang di layar mungilku. Sekarang, setelah aku menyadari kepergiannya, sepertinya sudah terlambat. Dia sudah sulit dilacak. Handphonenya nggak pernah aktif. Pasti sudah ganti nomor. Tapi untuk apa? Mungkinkah untuk menghindar dariku? Tapi kenapa? Apa salahku? Ah, gelap. Tak ada setitik keteranganpun yang dapat menjawab kebingunganku.

***

Dua minggu berikutnya...
Hilma...maafkan aku. Aku memang bukan sahabat yang baik. Bahkan tak pantas lagi disebut sahabat. Akulah orang yang paling pantas disalahkan kalau sekarang...
Mataku memanas. Layar mungil itu seakan berduplikasi menjadi ratusan layar. Demikian juga dengan tulisan mini yang menghiasinya.
Lili...maafkan aku. Aku bukan sahabat yang baik. Aku hamil, Li. Dengan dia...
Aku ingin menjerit. Kenapa secepat itu, Hil? Smsmu malam itu masih kusimpan rapi di inbox. Kau bilang bahwa kau jadian. Resmi pacaran dengan atasanmu. Dan setelah itu...kau menghilang. Pergi begitu saja tanpa pesan dan alasan. Mungkinkah kepergianmu karena...
"Rien...berkas-berkasnya sudah siap?"
"Eh...ya, Bu!" aku tergagap. Tanpa sadar aku melamun. Waktu lima belas menit yang diberikan bu Indah padaku untuk menyiapkan semua berkas-berkas itu berlalu sudah Tapi belum satu dokumenpun yang dapat kusiapkan.
"Bu, saya..." aku mencari pengertian di mata bu Indah.
"Kamu kenapa, Rien? Wajahmu pucat. Matamu juga agak merah. Kamu sakit?"
"Eh, nggak, Bu. Hanya saja... saya kurang fit hari ini. Tapi, gak pa-pa kok, Bu. Saya rasa saya masih bisa melakukan presentasi hari ini. Beri saya waktu lima menit lagi untuk menyiapkan semuanya, Bu. Tinggal nge-print sedikit lagi kok!"
Aku segera membenahi desain prototype yang kusiapkan beberapa hari terakhir ini. Kurang dari lima menit aku sudah menyelesaikan semuanya. Tak kupedulikan tatapan heran bu Indah yang kurasa mengawasi ketergesaanku dari mejanya.
"Jangan dipaksakan, Rien... Kesehatanmu jauh lebih penting. Biar ibu yang menggantikanmu."
Ah, bu Indah. Kau memang selalu mengingatkanku pada ibuku. Bijaksana, penuh empati dan kasih sayang. Itulah faktor utama yang masih membuatku begitu betah di kantor mungil ini.
"Sudah siap, kok bu. Kita ke meeting room sekarang?"
"Ok! Tapi sepertinya ada yang perlu dibenahi..." bu Indah menunjuk ke arah jilbabku. Refleks aku berbalik ke arah cermin yang tergantung di sudut ruangan. Ya ampun... Bentuk jilbabku sudah mencong tak karuan. Untung bu Indah mengingatkan. Kalau tidak, presentasiku pasti tambah berantakan.
"Jajaran direksi perusahaan ini dikenal sebagai konglomerat yang manja, Rien! Mereka sangat disiplin, teliti dan rapi. Sangat menghargai profesionalisme. Bahkan dalam hal penampilan. So, kamu harus tampil perfect untuk meyakinkan mereka." Bu Indah menjelaskan sambil menungguku merapikan jilbab.
"Begini cukup, bu?"
Aku berpose di depan bu Indah. Wanita tiga puluhan itu mengacungkan jempol ke arahku.
"Berdo'alah! Tidak ada yang menandingi kekuatan dari-Nya, bukan?"
Aku mengangguk. Yah, mungkin sekedar anggukan formalitas. Karena kegalauan hatiku akhirnya justru telah membuatku melupakan saran manajer lajang itu. Memang kuakui, akhir-akhir ini aku sepertinya kehilangan banyak hal dalam hubunganku dengan Tuhan... Ah, siapa yang harus kusalahkan? Pekerjaan? Atau justru diriku sendiri.
Presentasiku amburadul. Entah sudah berapa kali lidahku keseleo dalam melontarkan sebuah penjelasan. Kalimat-kalimat yang berhasil kubuat dengan susah payah pun, lebih banyak menghasilkan kerutan alis daripada segaris senyuman. Setelah keluar dari ruangan itu baru kusadari, bahwa aku telah melupakan satu hal besar yang seharusnya lebih kusiapkan.
Bu Indah, maafkan aku...nasehatmu belum kulaksanakan.
"Selamat, bu! Presentasi anda cukup meyakinkan. Sepertinya kita akan bertemu lagi sebagai mitra kerja dalam proyek berikutnya."
Seorang eksekutif muda menjajari langkahku. Kulihat, dia adalah salah satu delegasi dari perusahaan calon mitra kerja kantorku. Tapi apa katanya barusan? Presentasiku meyakinkan? Nggak salah? Kulirik wajah itu. Lumayan...cakep. Tapi...kok sepertinya aku pernah melihatnya ya? Tapi di mana? Ah, jangan-jangan hanya perasaanku saja.
"Apa? Hh.. saya rasa anda terlalu berlebihan. Atau mungkin anda ingin menyindir saya. Saya tahu, presentasi saya jelek sekali dan mungkin hanya orang ngantuklah yang akan mengatakan presentasi buruk itu disebutkan meyakinkan."
Aku menyadari nada ketus dalam suaraku. Sebuah ekspresi kekesalan karena orang itu justru mengatakan pujiannya pada saat yang tidak tepat.
"Anda terlalu merendah. Tapi bukan karena tadi saya tertidur kalau saya katakan bahwa presentasi anda sangat meyakinkan. Sampai jumpa dalam meeting berikutnya."
PD amat orang itu. Memangnya posisi dia apa, sih? Kenapa dia begitu yakin bahwa dia akan bertemu denganku lagi...
Laki-laki itu mempercepat langkahnya. Meninggalkanku setelah menyelesaikan kalimatnya. Sepertinya dia agak tersinggung atas kata-kataku tadi. But, who care? Apa peduliku. Aku sudah kecewa dengan penampilan. Belum lagi, aku belum menemukan alasan terlogis yang akan kuberikan pada bu Indah atas kecerobohanku tadi. Tapi semua itu belum terlalu penting untuk saat ini. Ada hal yang jauh lebih penting dan harus kupikirkan...
Kutatap lagi deretan short message dari Hilma. Dengan cepat kutekan tombol panggil untuk nomor asing itu.
The number you are calling is not active or...
Hhhh!! Tidak aktif lagi! Hilma... kamu di mana sayang? Gimana keadaanmu? Pertanyaan demi pertanyaan kekhawatiran menghantuiku. Kenapa semua ini bisa terjadi?
Siang itu aku melanjutkan pekerjaan dengan perasaan gundah. Bu Indah tidak ada di ruangannya. Kata Tari, bu Indah pulang lebih awal tadi. Ada urusan keluarga yang harus diselesaikan. Ah, berarti bu Indah bukan keluar dari meeting room lebih dulu. Bahkan mungkin, beliau tidak sempat melihat presentasiku tadi...syukurlah, berarti aku tidak perlu berbohong. Tapi...bu Indah kan bisa menonton rekaman CD-nya? Duh...kenapa semuanya kini jadi rumit?
Aku biasanya tidak pernah mempedulikan lingkunganku. Tiba-tiba aku seperti menjadi orang lain. Ada banyak hal yang seakan datang padaku secara serentak untuk menuntut perhatian. Perasaan bersalahku pada Hilma memaksa otakku untuk meneliti satu persatu kejadian yang kulalui hari ini. Mulai dari meja kerjaku yang kelihatan sangat berantakan karena tadi aku tergesa-gesa. Sampai gelas tehku yang kemasukan lalat gara-gara aku lupa menutupnya. Dan semua itu menyadarkanku, bahwa selama ini aku sering bertindak ceroboh dan kurang perhatian dengan lingkungan.....

***

"Assalamu'alaikum..."
"Wa alaikumsalam... Ini ibu Rienita, kan?"
"Ya, Anda siapa?"
Aneh. Darimana orang itu tahu nomor ponselku. Sepertinya aku pernah mengenal suaranya. Suara itu pernah...
"Mmm... ternyata ibu lupa dengan suara saya. Padahal baru kemarin kita bertemu. Sedikit berdebat bahkan. Karena Anda ternyata tidak percaya bahwa presentasi Anda meyakinkan..."
Aku berusaha mencari jejak suara itu di layar memoriku. Dan yah, pasti dia...
"Anda salah satu dari direksi Mitra Mandiri yang kemarin..."
"Yup, tepat sekali. Ternyata ingatan bu Rien masih cukup tajam. Sangat diperlukan oleh seorang IT seperti Anda. Karena biasanya seorang IT harus banyak menghafal password."
"Tapi...maaf, saya tidak kenal Anda dan rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan urusan kantor. Ini hari libur dan saya terbiasa menggunakan hari libur saya untuk beristirahat."
"Oh, maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat Anda. Saya rasa saya tidak salah karena apa yang ingin saya sampaikan bukanlah masalah kantor. Dan saya yakin, masalah ini sangatlah penting bagi seorang Lili."
Upss! Dadaku tersentak. Darimana dia tahu panggilan kecilku? Dan di Jakarta ini hanya Hilma yang memanggilku demikian.
"Apa maksud Anda!" nada suaraku meninggi. Kekesalanku memaksa pita suaraku agar menaikkan kekuatan gelombang suara yang diproduksinya.
"Maaf, Anda sahabat nona Hilma Ardhani kan?"
Kali ini jantungku yang berpacu lebih cepat. Darimana dia tahu tentang Hilma? Siapa sebenarnya orang ini? Apa yang dia ketahui tentang Hilma? Ketakutan merayapi hatiku. Jangan-jangan dia bermaksud jahat seperti dalam sinetron-sinetron yang kadang aku tonton...
"Tolong jelaskan, apa maksud Anda. Saya tidak punya banyak waktu."
"Sahabat Anda itu sekarang sedang dirawat di bagian kandungan Rumah Sakit Siloam Lippo Cikarang. Dia mengalami pendarahan hebat."
"Darimana Anda tahu?"
"Sebaiknya Anda segera ke sana. Anda tidak punya banyak waktu kan?"
Klik. Telepon terputus. Hhh! Kenapa orang itu tidak mau menjelaskan sedikit lagi... Keraguan menyelimuti hatiku. Benarkah apa yang dikatakannya? Hilma? Pendarahan hebat? Ah, bukankah seminggu yang lalu Hilma mengatakan dia hamil? Lalu sekarang, dia mengalami pendarahan...mungkinkah Hilma melakukan aborsi...
Hilma... ah, tidak ada waktu untuk berpikir lebih banyak. Perjalanan ke Lippo Cikarang memerlukan waktu sekitar satu jam. Belum lagi kalau macet. Lalu, kalau informasi itu ternyata salah, gimana? Duh, ruwet. Tapi, jalan tengah yang lebih aman adalah mencoba mempercayai informasi itu dan tetap ke rumah sakit. Apapun yang terjadi.
***
Rumah sakit itu cukup tinggi dan megah. Entah terdiri dari berapa puluh lantai. Hampir sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca. Dan dinding itu memantulkan warna langit yang kebiruan sehingga menghasilkan gradasi pelangi yang mengagumkan. Fantastis. Sayang, aku tidak punya waktu terlalu banyak untuk meneliti detil bangunannya lebih jauh.
Lagipula, sebagus apapun bangunannya, gedung itu tetaplah bernama rumah sakit. Tempat di mana wajah-wajah penuh kekhawatiran, penuh kesakitan, berlukis bayang kematian dan ketakutan, bertemu di sana.
"Mbak, ada pasien yang bernama Hilma Ardhani?" tanyaku penuh harap di bagian informasi.
"Sakit apa, Bu?" seorang resepsionis cantik balik bertanya.
"Hm... pendarahan, hm...kandungan, mbak!" sahutku gugup. Aku bingung harus menjawab apa. Aku sendiri tidak tahu pasti apakah Hilma benar-benar dirawat di sini atau tidak.
"Sebentar saya lihat, Bu..." wanita muda itu kemudian terlihat mengetikkan sesuatu pada tuts keyboard di depannya. Dan...
"Kamar D 202, Bu! Arahnya ke kanan lalu dari sana ibu naik lift ke lantai 4. Ruangan pasien kandungan terletak persis di depan lift."
Hatiku sedikit lega mendengar penjelasan resepsionis itu. Terlupa mengucapkan terima kasih, setengah berlari aku melangkah menuju ke arah yang ditunjukkan tadi. Ah, tak apa. Nanti saja terima kasihnya. Pasti resepsionis itu telah terbiasa dengan sikap-sikap kebingungan dan kepanikan. Namanya juga rumah sakit...

***

Hilma terbaring lemah di atas ranjang. Sebuah jarum infus menancap di lengan kirinya dan jarum transfusi di lengan kanannya. Lubang hidungnya tersumbat selang oksigen. Wajahnya begitu pucat dan tirus. Nyaris seperti tak berdarah. Pasti Hilma telah mengalami kehilangan banyak darah. Lalu bagaimana nasib janin yang dikandungnya? Selamatkah? Ah, aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri.
Hil...begitu beratkah penderitaanmu...secepat inikah waktu tiga bulan membuat perubahan dalam hidupmu...
Aku duduk di sisi pembaringan dengan hati teriris. Kutatap mata Hilma yang begitu cekung dan terpejam dengan berat itu. Berat. Seperti ada ribuan kilo beban yang menggantung di sana.
Sekilas aku teringat ibu. Seberat itukah dulu penderitaannya saat akan melahirkanku. Kusentuh lembut tangan Hilma. Rindu mengguncang hatiku. Di mana sahabatku yang dulu selalu tersenyum dan konyol. Di mana Hilma yang selalu melontarkan kalimat-kalimat semangatnya di saat aku rapuh.
Hil... maafkan aku. Aku tak di dekatmu saat kau mesti menghadapi saat tersulit itu. Aku hanyalah sahabat yang begitu bodoh dan datang terlambat saat kau telah jadi seperti ini...
Tetesan air mataku yang jatuh tanpa kusadari, mengenai lengan Hilma. Dan mata cekung itupun perlahan membuka. Wajah tirusnya terlihat semakin tua.
"Li... Kau? Kapan datang?" ada keterkejutan yang kutangkap di mata cekung itu. Tak tahukah dia bahwa aku datang?
"Baru saja, Hil. Maafkan aku... Apa yang terjadi, sayang?" satu lagi air mataku terjatuh. Kuusap anak rambut yang jatuh di dahi Hilma. Sekedar mencari kekuatan agar aku tak terlihat sedih di depannya.
"Ceritanya panjang, Li... Kau masih bertahan di Citra Persada? Selamat ya!"
Hilma masih mengucapkan sepotong kalimat itu sebelum kemudian air matanya membelah pipinya yang mulai keriput. Kugenggam erat tangannya. Seakan ingin menyalurkan kepingan partikel semangat yang baru saja kutemukan.
"Li, aku yang harusnya minta maaf. Aku bukan sahabat yang baik. Aku munafik, aku bodoh, Li..." serunya dalam isak tangis yang menyayat.
Oh, Tuhan... Sedalam apa pengkhianatannya pada-Mu?

"Hilma...sudahlah. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Kalau kau ingin berbagi padaku, mungkin beban itu akan sedikit terkurangi... Aku masih sahabatmu yang dulu, honey..."
"Li...aku malu padamu. Kini, tak hanya masa laluku yang hancur. Tapi aku juga tak mungkin lagi memiliki masa depan. Mungkin lebih baik aku mati..."
Hatiku semakin galau. Aku benar-benar telah kehilangan Hilma-ku yang dulu penuh semangat.
"Sstt! Hil... kamu nggak boleh ngomong gitu. Kamu tidak kehilangan semuanya. Kamu masih punya aku. Dan yang pasti, kamu masih punya Allah... Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kita bisa bertahan..."
"Allah mungkin sudah membenciku, Li..."
Aku terhenyak. Ya, Allah... ampuni Hilma. Itu pasti bukan pribadinya yang sesungguhnya… dia hanya termakan emosi sesaat.
"Hil... masa lalu sudah berlalu. Sedangkan masa depan belum pasti. Yang kita miliki hanyalah hari ini. Jadi, kita masih bisa melakukan banyak hal untuk hari ini. Optimis, ya... aku ingin melihat Hilma yang dulu. Yang penuh semangat. Suka guyon..."
"Li, kau tak akan berkata seperti itu kalau berada dalam posisiku. Aku tak tahu ke mana lagi berharap. Allah telah menghukumku. Setelah pendarahan itu, aku tak hanya kehilangan anakku. Tapi aku juga... harus menjadi penderita A...IDS..."
Tangis Hilma semakin menjadi. Hatiku semakin hancur luluh. Membayangkan betapa pahitnya kenyataan yang harus dia terima. AIDS? Oh, penyakit mematikan itu telah menyapa sahabatku dan akan menjadi teman setianya di hari-hari terakhirnya menanti ujung usia.
Ya Allah, kenapa separah itu? Kenapa seberat itu ujian yang Kau berikan padanya?
"Hilma...ampunan-Nya jauh lebih luas daripada dosa-dosa kita. Please, jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Yakinlah, kamu masih punya banyak hal. Kamu masih punya banyak orang yang menyayangimu… Kamu harus yakin, Hil!"
Aku sudah kehabisan kata-kata untuk bisa meyakinkan Hilma. Padahal, baru kemarin aku bersyukur bahwa Hilma jauh lebih beruntung daripada aku. Tapi sekarang? Dia begitu rapuh. Dia begitu pantas dikasihani. Dan, aku semakin menyadari bahwa kita tak pernah punya apapun dalam hidup ini... selain harapan pada-Nya.
"Hil, kamu harus tegar. Allah akan menguji hamba yang disayangi-Nya. Dan ujian itu tidak akan pernah melebihi kemampuan kita... Dia memberikan penyakit itu padamu karena Dia Maha Tahu bahwa kamu akan mampu melawannya..."
"Semua orang akan menghina aku, Li. Menjauhiku. Lalu apalah artinya hidup ini ketika tak lagi bisa berguna bagi orang lain..."
"Hil, orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan orang yang menyadari kesalahannya dan memperbaikinya."
"Kau tahu penyakit ini tidak ada obatnya. Lalu, darimana aku akan memperbaikinya?"
"Dengan menatap hidup ini sama seperti sebelum kamu dihinggapi penyakit itu. Toh, dia hanya merusak fisikmu. Jangan biarkan dia menggerogoti jiwamu. Kamu harus bangkit, Hil... Aku percaya padamu!"
Hilma diam. Aku berharap kata-kataku akan menyentuh hatinya. Karena pada saat-saat seperti ini, bahasa hati akan jauh lebih bermakna untuk memberikan pencerahan.

***

Aku berjalan meninggalkan kamar Hilma dengan perasaan berat. Ingin rasanya aku terus menemaninya di sana. Tapi dokter yang menanganinya hanya mengizinkan jam besuk yang sangat terbatas. Dan kini... Hilma sendirian di ruangan itu. Ah, betapa sepinya. Semoga dalam kesepian itu Hilma dapat menemukan banyak hal yang akan mampu membuatnya bangkit dari keputusasaan.
"Lili..!!"
Suara itu melengking di daun telingaku. Membelah lorong rumah sakit yang mulai lengang. Sepertinya tak ada orang lain selain aku. Tapi mungkinkah teriakan itu ditujukan padaku? Di Jakarta, tak ada yang memanggilku Lili selain Hilma. Mungkinkah dia...?
"Li, sudah ketemu Hilma?"
Aku berbalik. Suara itu terdengar tepat di belakang tubuhku. Dan pemilik suara itu...
"Ee... iya. Baru saja saya dari kamarnya. Anda sia..a..pa?"
Ah, bodoh. Aku mengenal wajah tampan itu. Tapi kenapa aku bisa lupa namanya? Ah, bukan lupa. Aku hanya...
"Kamu lupa ya?"
"Perkenalkan, Janindra Setiawan. Mantan kapten basket SMU 2 Panarukan!"
Aku tersenyum kecil melihat caranya memperkenalkan diri. Ah, Mas Indra. Dia masih seperti dulu. Kakak kelasku yang kocak dan penuh pesona. Mantan kapten tim basket ini juga mantan playboy sekolah. Hampir semua cewek cantik di sekolah pasti ditaklukkannya. Hm... nostalgia masa lalu. Tapi...kenapa dia bisa ada di sini?
"Iya, aku ingat sekarang. Lho, darimana Mas Indra tahu kalau Hilma dirawat di sini?" aku menatap heran laki-laki bertubuh jangkung itu.
"Kamu sendiri? Tahu darimana kalau Hilma dirawat di sini?"
Aneh. Sepertinya Mas Indra menyimpan sesuatu. Kalau tidak, kenapa pula dia balik bertanya?
"Tadi... ada seseorang memberitahuku, " tuturku ragu.
"Kau tahu orang itu siapa?"
Aku mengingat-ngingat wajah seseorang dan bayangan eksekutif muda itupun tercetak sempurna di layar memoriku...
"Jadi, Mas Indra yang meneleponku? Mas Indra juga yang memuji presentasiku yang kacau itu, hah? Dasar!!" aku pura-pura marah. Kesal juga dipermainkan olehnya. Yah, mungkin aku saja yang kurang teliti. Maklum, sudah sepuluh tahun tak pernah bertemu. Sejak dia lulus SMU.
"Selamat. Tebakan anda benar!" ujar Mas Indra meledekku. Aku tersipu. Malu.
"Mas Indra kok masih ingat aku, sih? Nggak takut salah orang ta?"
"Kamu aja yang nggak konsen. Kalau kamu mau melihatku kemarin pasti sudah tahu kalau itu aku. Lagipula, siapa yang akan lupa dengan caramu presentasi. Masih gayamu yang dulu...menunduk. Nggak mau liat audience yang memang cowok semua. Takut ditaksir, ya?"
"Jadi bener kan? Presentasiku jelek?"
"Perusahaan nggak akan liat caramu presentasi tapi model prototype yang kamu ajukan. Makanya, aku bilang bagus. Karena baru kali ini aku melihat sebuah desain sistem yang begitu teliti dan internal controlling yang cukup kuat. Aku tak yakin, itu murni hasil karyamu."
Ah, Mas Indra memang selalu sok tahu. Jelas aja bukan murni hasil karyaku. Aku kan baru tiga bulan di Citra Persada. Mana bisa menghasilkan desain sebagus itu.
"Manajerku adalah seorang system analist yang handal, Mas. Dia yang membantuku."
"Sudah kuduga. Eh, kok malah ngomongin soal kantor sih. Gimana keadaan Hilma?"
Ya ampuuunn…. Kenapa aku jadi sibuk dengan reuni kecil ini. Sampai-sampai melupakan Hilma. Ternyata Mas Indra masih membawa pesona itu di hatiku. Dulu aku sempat memperjuangkan bagitu banyak cara agar bisa mendapatkannya. Tapi justru Hilmalah yang berhasil merebut hatinya dan mereka sempat pacaran. Ah, masa lalu.
Tapi…kenapa Mas Indra yang tahu lebih dulu tentang keadaan Hilma ya? Apakah selama ini mereka masih berhubungan? Mungkinkah… yang menghamili Hilma itu Mas Indra?
"Gimana keadaan Hilma, Li?" Mas Indra mengulang pertanyaannya ketika dilihatnya aku diam saja.
"Mm… dia masih lemah. Tapi sudah mampu bicara. Kami sempat bercerita tentang banyak hal tadi…" susah payah aku merangkai kalimat-kalimatku.
"Lalu, sekarang kamu mau ke mana?"
"Pulang." Jawabku pendek.
"Naik apa?"
"Taksi, " sahutku kemudian
"Oh, ya udah. Hati-hati ya…"
Aku mengangguk dan meninggalkannya dengan perasaan galau yang masih menghantuiku.


0 Response to "Pelangi Retak"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified