Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Pelangi Retak 2

Penulis: Dewi Anjani

Pagi yang indah di Citra Persada.....
Ada selengkung pelangi yang mengantar keberangkatanku tadi. Jalanan juga tak seramai biasanya. Ah...pagi yang menyenangkan.
"Rien...kamu terlihat lebih segar pagi ini. Selamat ya!"
Sapaan bu Indah yang selalu ramah seperti biasanya. Heran juga, tiga bulan di sini aku tak pernah bisa menyainginya untuk tiba lebih awal di kantor.
Tapi apa tadi katanya? Selamat? Atas apa? Padahal kemarin aku sudah menyiapkan diri untuk menerima keluhannya atas hasil presentasiku yang kurang memuaskan. Ditambah lagi kemarin aku nggak masuk dengan alasan sakit, padahal aku menjenguk Hilma.
"Makasih, bu..." sahutku masih dalam ketidakmengertian.
"Sudah sehat, ya?"
"Ee... iya. Alhamdulillah. Tapi...selamat untuk apa, Bu?"
"Hm...masa sih belum tahu? Presentasimu kemarin berhasil meyakinkan pihak Mitra Mandiri dan mereka menyetujui kontrak kerja dengan kita. Semua design program, testing dan controling intern ekstern mereka percayakan ke kita. Dan ini... adalah proyek besar yang harus kamu tangani sungguh-sungguh. Ibu sudah memilihmu sebagai pimpinan konseptornya. Untuk aplication software yang tidak bisa kita buat sendiri bisa ibu carikan dari luar. Yang penting, sekarang kamu siapkan energi sebanyak-banyaknya untuk proyek ini."
"Mm...kenapa harus saya, Bu?"
"Karena Ibu tahu kamu mampu. Jangan panik gitu dong! Be Confidence! Kamu masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Proyek ini baru akan mulai satu bulan lagi."
"Satu bulan lagi?"
"Iya. Delegasi Mitra Mandiri yang menangani proyek ini masih mengurusi saudaranya yang sakit. Lagipula anak perusahaan yang akan kita tangani itu baru bisa beroperasi sekitar satu tahun ke depan. Oh ya, sudah tahu orangnya belum? Nanti kamu akan banyak bekerja sama dengannya."
Aku hanya menggeleng meski sebuah nama sudah melintas di otakku.
"Janindra Setiawan. Biasa dipanggil Pak Indra."
Deg! Kerongkonganku tercekat. Dugaanku tepat. Nama itulah yang tadi melintas di pikiranku. Makanya, laki-laki itu begitu yakin bahwa kami akan bertemu lagi dalam proyek selanjutnya. Ah..., sebuah tantangan baru menghadang jalanku.
Ya, Tuhan... bantu aku menstabilkan emosi... Jangan hanya karena ini aku akan punya pikiran untuk meninggalkan Citra Persada.

*****

Akhir pekan.
Aku berharap pekerjaanku tak terlalu banyak hari ini. Agar aku bisa pulang lebih awal dan menjenguk Hilma di rumah sakit. Sudah empat hari aku tak tahu keadaannya.
Aku baru akan memulai pekerjaan ketika Siemens-ku berdering. Kutatap sejenak nama yang terpampang di layar mungil itu. Mas Indra? Ada apa dia meneleponku sepagi ini? Tentang Hilmakah? Atau tentang proyek itu?
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam... Li! Kamu bisa ke rumah sakit sekarang juga? Hilma mencoba bunuh diri. Dia butuh kamu saat ini. Emosinya sangat labil."
"Hah? Bunuh diri?" darahku terkesiap. Inikah arti dari diamnya kemarin? Hilma...kenapa kau berubah sejauh ini?
"Li, bisa kan? Biar aku yang minta izin ke Bu Indah. Akan kukatakan bahwa ini ada hubungannya dengan proyek kita."
Nah, benar kan? Mas Indra sampai bela-belain menunda proyek ini demi Hilma. Ada apa sebenarnya dengan mereka?
"Ng...nggak usah, Mas. Kukira Mas Indra nggak perlu berbohong. Biar aku sendiri yang minta izin, " Tukasku cepat. Untuk apa pula dia membohongi atasanku? Bodoh! Kenapa pula aku tadi memanggilnya dengan sebutan mas bukan bapak. Ini kan kantor dan sekarang dia adalah mitra kerjaku.
"Yakin? Ya sudah, kalo gitu. Aku tunggu di rumah sakit."
Klik. Telepon terputus setelah terdengar ucapan salam. Aku hanya bisa menarik nafas berat. Lalu melangkah gontai ke ruangan bu Indah.
"Permisi, Bu..."
"Eh, Rien. Masuk! Ada apa?"
"Sa...saya mau minta izin, Bu..." entah kenapa tiba-tiba aku gugup. Ada segumpal perasaan tak enak di hatiku. Kemarin aku sudah nggak masuk. Sekarang minta izin pulang lebih awal... mana tanggung jawabku?
"Kenapa, Rien? Wajahmu pucat. Kamu sakit lagi?"
Aku menggeleng. Tapi wanita anggun itu memang punya empati yang cukup besar pada siapapun.
"Seharusnya kamu istirahat dulu di rumah. Sebelum benar-benar pulih kamu bisa izin. Mungkin badanmu terlalu lelah karena persiapan presentasi kemarin. Sudahlah, kesehatanmu jauh lebih penting. Sekarang, ibu izinkan kamu pulang. Segera ke dokter dan istirahat sebanyak mungkin. Makan yang bergizi. Oh ya, satu lagi... tenangkan pikiran!"
Duh, bu Indah...aku sampai bingung bagaimana caranya berterima kasih. Hanya hatiku yang tiada henti mengucapkan syukur bisa memiliki atasan sebaik dia. Sebenarnya aku ingin menjelaskan hal yang sebenarnya tapi kurasa ini bukan waktu yang tepat...
Aku segera beranjak dari ruangan bu Indah. Tujuanku sekarang adalah rumah sakit!

*****

Kamar Hilma kosong. Apa dia dipindahkan ya? Mas Indra juga tidak kelihatan. Ponselnya tidak aktif.
"Sus, kok pasien di kamar ini nggak ada ya? Apa dia dipindahkan?" tanyaku pada seorang perawat yang kebetulan lewat di depan kamar Hilma.
"Oh, mbak Hilma... lho, Mbak ini siapa ya? Mbak Hilma kan sudah dibawa pulang?" seru suster itu heran mendengar pertanyaanku. Aku ikut-ikutan heran mendengar jawabannya.
"Dibawa pulang? Apa dia sudah sembuh? Kapan dibawa pulang?"
"Baru sekitar sejam yang lalu, Mbak. Belum sembuh total tapi menurut dokter...sebenarnya fisiknya sudah sembuh. Dia hanya mengalami depresi. Jadi, dokter menyarankan agar mbak Hilma ditangani psikiater." Takut-takut perawat itu melontarkan penjelasannya.
"Berapa lama dia dirawat di sini, Sus?"
"Mm...kira-kira dua puluh hari, mbak."
Dua puluh hari? Selama itukah? Kenapa Mas Indra baru menghubungiku empat hari yang lalu?
"Hm.. Sus, maaf, ini pertanyaan terakhir... Selama di sini, siapa saja yang sering menjenguknya?"
"Mm... sepertinya nggak ada, Mbak. Selama di sini hanya ada seorang laki-laki yang katanya kakak sepupunya. Laki-laki itulah yang selalu menemaninya saat dia di sini."
Oohh... terjawablah sudah kebingunganku. Tapi aku tetap tak boleh mengambil keputusan karena emosi sesaat. Mungkin Mas Indra melakukannya karena kasihan. Hilma kan tidak punya saudara di sini. Mungkin juga, karena mereka memang punya hubungan khusus...

Pagi terasa begitu dingin ketika pelan-pelan kubuka jendela kamar. Tak seperti biasanya. Entah karena memang udara yang dingin atau justru hatiku yang dingin. Saat ini aku tak hanya merasa kehilangan, tapi juga kecewa. Hilma. Dia pergi entah ke mana. Ponsel Mas Indra juga nggak pernah aktif sejak kemarin. Aneh.
Aku merasa dibohongi oleh mereka. Sahabatku sendiri. Tapi aku masih berharap suatu saat akan menemukan mereka. Setidaknya ada banyak misteri yang terus menderaku dalam rantai belenggu tanda tanya.
"Kriing..."
Lamunanku terhenti ketika bel pintu depan berbunyi. Ada seseorang yang datang. Entah siapa. Tapi suara bel itu justru mengingatkanku untuk segera mandi dan bergegas ke kantor.
"Rien...! Ada kiriman untukmu!" teriak Rita. Teman sebelah kamarku yang biasanya rajin menjadi penerima tamu.
"Dari siapa, Ta?" tanyaku penasaran.
"Kata pak posnya, si pengirim nggak mau menyebutkan namanya. Di bingkisan ini juga tidak ada tulisannya..."
"Lho, kok? Memangnya kamu udah nanya ke pak posnya?"
"Iya, dong. Kamu kan jarang dapat kiriman. Jadi wajar kalo aku penasaran..."
Rita nyengir melihat aku mengernyitkan alis. Tangannya menyerahkan bingkisan itu ke arahku. Sebuah kotak bersampul putih. Terikat pita berwarna merah jambu dan sekuntum mawar kuncup di ujungnya. Elegan. Pasti pengirimnya adalah orang yang romantis. Tapi siapa? Dalam rangka apa? Aku tidak punya pacar...
Di dalam kamar, kubuka kotak itu perlahan. Sebuah kue tart berwarna putih bersih dengan ornamen berbentuk benang terpilin. Kue itu dikelilingi tumpukan mahkota mawar berwarna senada. Sehelai kartu ucapan berwarna merah jambu terselip di antara tumpukan mahkota mawar itu.

Selamat Ulang Tahun
Semoga kau tak pernah lupa pada hari kelahiranmu hingga terus dapat berpikir tentang hari kematianmu...

Deg! Darahku seperti berhenti mengalir. Jantungku serasa berhenti berdetak. Kulirik kalender meja yang terletak di sisi pembaringan. Hari ulang tahunku? Ah, ya. Hari ini usiaku tepat dua puluh lima tahun. Hampir saja aku melupakannya kalau saja bingkisan itu tidak pernah datang...
Lagipula buat apa diingat. Momen itu hanya tahun-tahun yang berulang, tapi...
Hari kematian? Bukankah itu satu-satunya kepastian dalam kehidupan. Selain kematian, semuanya hanyalah jalinan dari begitu banyak benang kemungkinan yang kadang terpintal tak karuan. Begitu rumit menguraikannya. Bayangan ibu, Hilma, Mas Indra, Bu Indah, Pak Aan dan beberapa orang yang akhir-akhir ini menyapa hari-hariku melintas satu persatu di layar pikiranku. Laksana pemutaran slide yang telah terprogram secara otomatis...
Tubuhku lemas seketika. Semangatku untuk berangkat ke kantor menghilang tiba-tiba.

*****

Bingkisan tanpa nama pengirim itu membuatku menyadari banyak hal. Begitu banyak kejadian tak terduga yang kualami akhir-akhir ini. Semuanya menyita perhatianku. Hingga sering kali aku lalai mengingat kematian. Aku tak lagi berpikir apa tujuan sesungguhnya dari hidup yang melelahkan ini. Kusadari, banyak hal yang kulakukan tanpa tujuan. Hanya menuruti ke mana emosiku meminta kepuasan.
Sepotong kalimat dalam bingkisan itu memaksaku menelusuri kembali kejadian demi kejadian yang kulalui...
Lili kecil adalah gadis mungil yang lincah, murah senyum namun suka menjahili orang. Dia menjalani kesederhanaan hidupnya dengan riang. Tanpa perlu mengerti beragam masalah yang tumbuh subur bagai jamur di musim hujan dalam lingkungan keluarganya. Yang dia tahu hanyalah sosok ibu yang tegar membesarkannya seorang diri. Dia juga tak pernah merasa kekurangan kasih sayang meski tak mengenal sosok ayah seperti teman-temannya. Harapan kecilnya yang sederhana adalah bisa menjadi seperti kuntum bunga Lili yang tumbuh subur di bawah jendela kamarnya. Tetap tersenyum dan selalu merekah menyambut kejora yang berganti pelangi pagi. Dia ingin seperti daun-daun bunga Lili yang tumbuh rimbun. Kelihatan lemah namun tak mudah tercabut meski oleh terpaan banjir sekalipun...
Lili remaja adalah seorang gadis yang enerjik. Dan kemampuan berpikirnya yang mulai mengalami dinamisasi memaksanya untuk belajar menghadapi badai. Membantu ibunya mencari nafkah dan tetap giat belajar. Dia tak ingin terkalahkan oleh apapun dan siapapun. Dan itu membawanya ke puncak prestasi. Namun, Lili remaja ternyata gagal meraih cintanya. Saat itu dia mulai kehilangan impian kecilnya. Dan terobsesi untuk mengubah apapun yang pernah menjadi masa lalunya. Dia bertekad untuk menjadi wanita berpendidikan tinggi, memiliki karir yang sukses dan tidak pernah bergantung pada siapapun, termasuk pada seorang lelaki.
Akhirnya gadis itu meraih pendidikan tinggi meski tanpa dukungan sedikitpun dari sang ibu. Wanita bijak yang sangat dihormatinya masih berpikir bahwa tempat seorang wanita hanyalah di dapur, kasur dan sumur. Ah, sesuatu yang sangat kolot bagi Lili. Bahkan, wanita yang sangat dicintainya pun tak pernah mau menghadiri event terbesar dalam hidupnya, tak mau mendampinginya saat wisuda sarjana. Kecewa memang. Tapi hal itu tak pernah membuat Lili mengurangi cintanya sedikitpun terhadap wanita yang mulai renta itu.
Lili yang mulai beranjak dewasa adalah seorang gadis yang mulai ambisius. Mulai meniti karirnya yang melesat laksana roket dan mulai menumbuhkan titik keangkuhan dalam hatinya. Terpaan badai yang kerap kali menghempaskan dirinya pada ketertindasan membentuk pribadinya menjadi pribadi yang kuat. Tegar dalam menghadapi apapun. Namun, dia sering tak bisa menerima kekurangan orang lain. Tidak ingin dikuasai oleh siapapun yang tidak sejalan dengan keinginannya. Kemampuan emosinya meningkat drastis. Tak heran, jika dalam usianya yang baru dua puluh lima tahun, dia sudah meninggalkan empat perusahaan yang pernah memberinya tempat bernaung.
Di tengah perjalanan karirnya itulah, Lili bertemu Bu Indah. Seorang wanita bijak yang selalu mengingatkannya pada sang ibu yang pernah melahirkannya. Darinya Lili banyak belajar tentang bagaimana harus bersikap dalam hidup. Sedikit demi sedikit, Lili mulai belajar arti sebuah kedewasaan berpikir. Saat hidupnya mulai stabil, Lili justru harus menemukan batu sandungan yang cukup kuat menghadang langkahnya.
Dia dikecewakan oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang selama ini mendampinginya meski tak penah menjadi bagian dari hatinya. Dan kepergian sahabatnya itu justru menghadirkan hormon phenylathylamine dari kisah masa lalunya. Hormon itu menyingkap memori dalam ingatannya tentang cinta remajanya... Indra hadir kembali dalam hidupnya yang mulai terasa gersang...
Mungkinkah pengirim bingkisan itu adalah pangeran yang akan membawanya ke sebuah dermaga nan indah untuk menyudahi pengembaraan hidup yang melelahkan ini...
Ataukah dia adalah seekor merpati jantan yang akan mengajaknya terbang untuk menemukan taman terindah dalam hidupnya...

"Assalamu'alaikum..ya akhi..…ya ukhti…"
senandungnya Opick di handphone membuyarkan lamunanku. Hah..., siapa sih?! Kusambar benda mungil itu…
"Assalam..."
"Pagi, Rien... Pa kabar?" huuh!! Suara bariton itu menyapa telingaku. Dasar! Kapan sih dia berhenti menggangguku?
"Baik, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Oww...begitukah? Kapan kamu akan menghilangkan kekakuanmu, Rien? Berapa kali aku harus katakan bahwa aku bukan atasanmu lagi? Atau mungkin...pikiranmu memang belum pindah dari PMM?"
Kudengar suara tawa dari seberang sana. Ah, orang aneh. Sayang, kau datang pada waktu yang tidak tepat...
"Maaf, pak. Saya sibuk."
"Lho, kata operator telepon di kantormu, kamu nggak masuk hari ini?"
"Maaf, saya tidak punya waktu. Dan saya harap Bapak menghargai saya."
"Ok! Maaf sudah mengganggu. Oh ya, kuenya sudah dimakan? Saya harap tanggal lahir yang tertulis di CV-mu tidak salah. Yah, setidaknya makan siangmu hari ini bukan hanya novel!"
Klik.
Hah? Jadi pengirim kue dan kartu ucapan itu...? Reaksiku memang terlalu lambat. Sambungan telepon telah terputus. Seperti biasa. Tanpa basa-basi meski hanya sekedar salam.
Kutatap kue itu lagi dengan muram. Tak bersemangat. Tak sedikitpun seleraku untuk menyentuhnya. Kenapa Manajer aneh itu tiba-tiba perhatian padaku? Darimana pula dia belajar menulis kalimat tentang kematian... dengan kalimat yang filosofis lagi. Kalimat yang cukup membuatku berpikir sampai-sampai malas pergi ke kantor hari ini. Ahh...
Li! Jangan pernah melihat siapa yang mengatakan tapi apa yang dikatakan...
PENGGALAN 6
"Li, proyek kita akan dimulai Minggu depan. Kamu siapkan segala rancangan desain sistem seperti yang kamu presentasikan kemarin."
Suara mas Indra begitu datar di telepon. Aku jadi sungkan untuk menanyakan apapun. Bahkan tentang Hilma.
"Oh ya, aku yakin, kamu adalah staff yang cukup profesional. Jadi aku rasa kita bisa bersikap lebih formal kalau di kantor. Bagaimana, Bu Rienita? Saya kira anda sangat setuju dengan usul saya."
"Ya, Pak. Semua itu sudah saya pertimbangkan sebelumnya, " ujarku sama datarnya. Aku harus menjaga image di depannya. Kali ini tak hanya profesionalisme yang aku pikirkan tapi juga harga diri.
"Untuk peristiwa kemarin itu..., saya minta maaf. Hilma tidak mau bertemu kamu. Saya tidak tahu apa alasannya. Dia langsung terbang ke Surabaya hari itu juga. Jadi, saya juga tidak berani menghubungi kamu untuk beberapa waktu. Kebetulan juga, kakaknya yang menjemput. Tapi saya rasa... masalahnya sekarang sudah selesai. Hilma sudah aman di rumah keluarganya."
Penjelasan itu sebenarnya tidak lagi kubutuhkan, Mas. Aku rasa kalian memang tidak ingin aku mengetahui sesuatu antara kalian.
"Ok, itu saja dulu, Bu Rienita. Besok saya akan hubungi Anda lagi untuk keperluan meeting."
Selanjutnya kerja sama itu berjalan seperti biasanya. Hubunganku dengan Mas Indra hanya sebatas formalitas. Kepentingan bisnis. Profit oriented. Dan semoga saja akan terus begitu.

*****

"Rien... masih betah di Citra Persada?"
Ini pertanyaan Pak Aan yang entah sudah keberapa kalinya. Sejak pengiriman kue itu, dia jadi sering ke kosku. Yah, mesti mampir hanya beberapa menit dan sedikit berbasa basi. Sikapnya tak lagi sesombong dulu. Dan akupun mulai bersikap lunak padanya. Karena kupikir, tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain menerima sikap persahabatannya. Sebenarnya aku tak terlalu peduli. Dia kan pernah bilang bahwa dia tidak suka wanita. Dia akan marah pada dirinya sendiri kalau mencoba mencari pengganti pacarnya yang meninggal itu.
Jadi kurasa... paling-paling dia hanya menganggapku sebagai teman biasa. Tidak lebih. Toh, tidak ada yang menarik dalam diriku. Begitu juga dia. Tak ada satupun kelebihannya yang membuatku tertarik.
"Masih, pak! Dan saya kira... saya akan terus bertahan di sana."
"Oh ya? Hebat. Pasti gajimu besar di sana."
"Ya, lumayan. Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga di kampung."
"Baguslah! Lalu, kapan kamu akan menikah? Sudah siap kan?"
"Kenapa menanyakan hal itu, Pak?"
"Ya, iya. Kamu kan perempuan. Nggak baik menunda pernikahan terlalu lama. Nanti bisa nggak laku, lho!"
"Pak Aan sendiri belum menikah!"
"Aku tidak memerlukannya, Rien. Pernikahan itu hanya untuk orang-orang sepertimu."
Sejak pertama kali mengenalnya, laki-laki ini memang selalu sensitif dengan masalah pernikahan. Memang pribadi yang aneh. Kenapa juga terlalu berkutat dalam kubangan masa lalu.
"Lalu?"
"Kok malah nanya sih! Aku carikan, ya. Aku punya teman seorang eksekutif muda. Belum beristri dan kebetulan minta dicarikan isteri. Kaya. Karirnya sukses. Ganteng juga."
"Agamanya, Pak?"
"Oh, aku rasa dia masih jauh lebih baik daripada aku. Salatnya rajin, kok!"
Wahai Pak Manajer, tahukah Anda...bahwa itu saja tidak cukup untuk seorang Rienita
"Gimana, Rien...? Besok aku ajak dia ke sini ya? Biar kalian bisa kenalan."
"Mm... ini kan bukan zaman Siti Nurbaya, Pak!"
"Yah, aku rasa kenalan dulu nggak ada salahnya. Kalau nggak cocok ya jangan diteruskan..."

*****

"Hah... Mas... eh Pak Indra?!"
"Oh...jadi Lili yang dimaksud..."
"Lho, jadi kalian sudah kenal? Sejak kapan? Wah, salah alamat dong aku?"
Mata Pak Aan membulat setelah melihat ekspresi kami. Malam ini, Pak Aan memang sengaja mengajak bertemu di sebuah restoran. Terus terang kemarin aku sempat menaruh harapan bahwa Pak Aan akan menghadirkan seseorang sebagai episode baru dalam hidupku. Tapi ternyata... dia adalah kepingan masa lalu yang telah kuhapus. Tapi aku salah. Aku menghapusnya dengan tip ex dan tentu saja berbekas.
"Dia adik kelasku waktu SMA, An!" ujar mas Indra santai... tidak seformal kalau kami bertemu di kantor untuk penggarapan proyek itu. Sepandai itukah eksekutif muda ini menyimpan dualisme dalam dirinya?
"Wah, asyik dong! Reunian nih. Tadi kamu panggil dia Lili kan? Aku jadi ingat waktu pertama kali dia memperkenalkan diri di kantor. Lili panggilan masa kecil ya?"
Pak Aan tertawa. Mas Indra hanya tersenyum tipis. Aku yang tersipu malu mengingat kejadian itu. Mengenang kembali betapa jahatnya Pak Aan dulu.
"Oh ya, Li... gimana kabarnya?"
"Baik. Mas Indra sendiri gimana? Masih sering komunikasi dengan Hilma?" aku meredakan nada sinis dalam suaraku. Tapi aku merasa ini adalah sebuah kesempatan langka yang tidak mungkin kudapatkan di kantor. Kesempatan untuk membicarakan hal-hal berbau privacy.
"Lho, Hilma itu siapa?" Pak Aan menyela.
"Pacarnya Mas Indra, Pak. Orangnya cantik. Teman sekelas saya dulu..."
Entah darimana aku menemukan kalimat itu. Aku hanya ingin Pak Aan tidak lagi menyinggung rencana perjodohan kami.
"Ohh...jadi... Kok kamu nggak pernah cerita, Ndra? Awas ya!"
Pak Aan menepuk bahu Mas Indra. Aku melihat laki-laki itu melirikku tajam. Sepertinya dia tidak ingin aku menyebut nama Hilma di sini.
"Wah... aku tinggal dulu ya. Mau ke toilet. Sekalian pesan makanan. Silahkan dilanjutkan reuninya..."
Pak Aan memilih meninggalkan kami. Sepertinya dia ingin memberi kami kesempatan untuk berbicara banyak hal...
"Li, aku tahu kamu mencurigaiku. Sejak lulus SMA, aku tidak pernah lagi bertemu Hilma. Pertama kali aku melihatnya ketika baru akan dirawat di rumah sakit kemarin. Aku kasihan padanya. Tak ada yang membantunya waktu itu."
Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba Mas Indra menjelaskan tentang Hilma. Mimik wajahnya yang begitu serius membuatku terbius untuk mendengarkan penjelasan itu dengan seksama...
"Kata suster di sana, Hilma dirawat selama dua puluh hari... kok Mas Indra baru menghubungiku setelah dua Minggu kemudian?"
"Hilma tidak memberitahuku kalau kamu juga di Jakarta. Justru aku yang kaget setelah melihat presentasimu di Citra Persada. Aku juga nggak tahu kalau ternyata Hilma terjangkit penyakit AIDS. Awalnya kukira pendarahan biasa. Dan saat terakhir dia mencoba bunuh diri itu, karena aku memaksanya untuk menunggumu sebelum dia pulang ke Surabaya. Entah kenapa, sepertinya dia mengalami depresi yang amat berat waktu itu. Dia tidak mau bertemu siapapun. Untung ada kakaknya yang menjemput..."
Ooh... jadi ternyata Mas Indra tidak tahu apa-apa... berarti memang Hilma yang tidak mau bertemu denganku. Da menghindariku. Tapi karena apa? Malukah dia?
Mas, maafkan aku... selama ini aku berburuk sangka padamu...
Tuhan...bagaimanakah keadaan Hilma sekarang? Selamatkah dia dari dekapan penyakit ganas itu? Ijinkan kami bertemu kembali, Ya Robb...
"Li, kamu nggak pa-pa kan? Kamu menangis?"
Ah, airmataku mengalir tanpa sengaja. Sejak kapan aku jadi sentimentil begini? Jadi malu. Di depan Mas Indra lagi! Lho, kok? Kenapa tiba-tiba aku menyimpan harapan padanya? Bukankah tujuan Pak Aan mempertemukan kami adalah untuk... Ah, tidak mungkin! Aku sudah tahu sejak dulu Mas Indra tidak pernah tertarik denganku.
"Nggak kok, Mas. Aku cuma sedih. Hilma kan sahabatku sejak SMA."
"Ya... waktu itu aku juga kaget saat dokter yang memvonis penyakitnya. Bagaimanapun juga..."
"Mas Indra masih mengharapkannya, kan?"
Laki-laki itu tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri, Li."
"Masa sih?" aku berpura-pura tak percaya. Tapi... sebenarnya ada perasaan senang yang diam-diam mengalir di hatiku.
"Kamu sendiri... kenapa belum menikah?"
"Belum ada yang cocok. Mas Indra juga kenapa belum menikah?"
"Aku sih belum siap..."
"Kok?"
"Belum siap diatur wanita!" serunya sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa.
"Wah...seru, nih! Jadi ngiri. Asyik ya... ketemu teman lama?" ujar Pak Aan yang datang sebelum tawa kami selesai.
"Asyik... makanya kamu cari pacar dong, An!" giliran Mas Indra yang meledek Pak Aan. Aku melihat perubahan di wajah Pak Aan. Dan beban itu...kulihat lagi menggantung berat dalam pandangannya. Mas Indra masih cengengesan. Ah, dasar laki-laki. Nggak peka! No body care to me. Ah, tulisan itu kembali membayang di pelupuk mataku.
"Cari pacar? Aku pingin liat kalian menikah dulu, deh! Nanti aku belajar dari kalian..." ujarnya.
Sepertinya dia sudah tidak selabil dulu...
"Sudah, ah! Ayo, kita makan. Mumpung masih hangat..." serunya lagi ketika waitress meletakkan hidangan di meja kami. Lalu keduanya menyantap makanan di meja seperti kucing kelaparan. Aku sendiri sudah kehilangan selera sejak tadi...

***

"Rien... ada acara malam ini?" suara Mas Indra di handphone terdengar aneh, membuat jantungku kehilangan ritme-nya yang teratur.
"Nggak ada, Mas. Kenapa?"
"Mau menemaniku pergi malam ini?"
"Hm...ke mana?"
" Ke toko buku."
Toko buku? Ah, senangnya. Kebetulan aku sudah lama tidak meluangkan waktu untuk hobiku yang satu ini.
"Hm...boleh. Tapi jangan lama-lama ya."
"Tentu ibu manajer. Saya tahu waktu anda terbatas... Lagipula kalau kamu ngantuk di kantor, perusahaanku bisa bangkrut karena sistem yang kau kendalikan jadi kacau!"
Ah, bu manajer. Rasa bangga menyapaku mendengar Mas Indra memanggilku demikian.
"Aku jemput satu jam lagi, ya..."
Sambungan telepon terputus. Dan aku segera bergegas menuju lemari. Warna apa yang cocok ya... Hitam, biru, cokelat, hijau tua... ah, warna bajuku gelap semua.
Bersikaplah seperti biasa, Li. Ingat, jaga hatimu. Dia bukan siapa-siapa, bukan?
"Assalamu'alaikum... Ya akhi...Ya ukhti..." Siemens-ku berdering lagi.
Hah? Pak Aan? Mataku membulat menatap nama yang terpampang di layar kecil itu.
"Rien...kamu nggak ada acara malam ini?"
"Hm... saya sibuk, Pak. Saya membawa pulang pekerjaan. Ada beberapa data yang harus saya back-up malam ini. Jadi..." Ah, lancar sekali mulutku berbohong. Astagfirullah...
"Oh, ya sudah. Tadinya aku ingin mengajakmu ke toko buku. Biasanya kan kamu suka novel. Tapi, nggak pa-pa. Selamat melanjutkan pekerjaan."
"Ya, Pak. Makasih..."
Maafkan aku tuan manajer... Anda memang selalu datang pada waktu yang tidak tepat...

***
"Li, kamu suka buku apa?"
"Biasanya sih fiksi, Mas!"
"Novel atau cerpen?"
"Dua-duanya... tapi kalau beli buku, aku lebih suka novel daripada kumpulan cerpen. Kalo baca cerpen sih lebih senang di majalah atau koran."
"Mm...pernah baca The Alchemist?"
Dahiku berkerenyit. Judul buku apa itu? Kok aku nggak pernah tahu? Akhirnya aku hanya menggeleng.
"Wah...sayang sekali. Itu novel bagus, lho... Mengisahkan tentang perjalanan Santiago, sang tokoh utama yang mencari harta karun. Ternyata, dalam perjalanan dia banyak mengalami rintangan berat yang membuatnya banyak belajar tentang misi hidupnya. Dan kesimpulannya, meski tidak menemukan harta karun di tempat tujuan, sebenarnya dia telah banyak mengumpulkan harta karun di sepanjang perjalanannya. Karena harta karun yang dimaksud adalah pembelajaran tentang hidup itu sendiri..."
"Bagus, kok! Cari aja di bagian filsafat! Atau itu... cerpen Pertobatan Aryati tulisannya Ahmadun Y.H. Cerpen itu banyak mengajarkan kita tentang keikhlasan... Atau noveletnya Asma Nadia, Rembulan di Mata Ibu..."
Kok Mas Indra tahu banyak tentang penulis besar itu ya? Malah yang disebutkannya karya-karya surrealis lagi! Sejak kapan mantan kapten tim basket ini tertarik pada dunia fiksi?
"Aku lebih senang membaca fiksi aslinya daripada yang sudah difilmkan. Biasanya aku lebih mudah tersentuh. Sayang, impianku untuk menjadi penulis nggak pernah kesampaian. Malah terdampar jadi analist..."
Setelah bercerita banyak dan memilih beberapa novel religius, Mas Indra beralih ke deretan buku-buku agama. Entah sudah berapa buku yang dimasukkannya ke dalam keranjang belanja. Hakikat Sabar, Definisi Sabar, Nikmatnya Syukur, Hikmah Sabar dan Syukur, lalu entah apa lagi. Untuk apa dia memborong buku-buku itu?
"Mas, kok bukunya satu tema, sih? Sabar dan syukur semua. Apa nggak mubadzir? Kan paling-paling yang dibahas sama semua..."
"Sabar dan syukur kan telaga yang tak pernah kering. Orang akan bahagia kalau bisa menghayati keduanya."
Aku terdiam. Dulu, aku yang sering mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu pada orang lain. Sekarang, kenapa justru orang seperti Mas Indra yang mengatakannya padaku? Egoku mulai merasa tersaingi...
"Lagipula semua buku ini buat perpustakaan, Li. Aku punya teman yang mengelola perpustakaan masjid dan kebetulan kemarin dia titip buku-buku ini ke aku."
"Kalo Mas Indra sendiri referensinya yang mana?"
"Nggak ada di situ. Pokoknya lebih tebal dari semua buku-buku itu."
"Oh ya? Judulnya apa?"
"Al-Qur'an"
Hah? Aku terhenyak. Tak kusangka Mas Indra telah jauh berlari meninggalkanku...
"Pulang, yuk! Kayaknya kamu sudah mengantuk, ya?"
Aku mengangguk dan kemudian mengekor di belakangnya menuju tempat parkir.
"Mas, boleh tanya sesuatu?" tanyaku pada Mas Indra ketika kami telah berada di dalam mobil. Sopirnya yang mendengar pertanyaan itu, melirikku lewat kaca spion. Mungkin dia risih. Ah, cuek aja.
"Tanya apa?"
"Sabar itu apa, sih?"
"Menurut kamu apa?"
"Ya...pokoknya bisa mengendalikan diri dan menghadapi semua masalah dengan tenang."
"Ya...miriplah. Intinya adalah keteguhan hati untuk memahami bahwa semua berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ketika hati sudah berpijak di sana, maka kita akan menganggap bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini adalah yang terbaik yang diberikan oleh Allah. Orang yang memiliki pemahaman ini tidak akan pernah mengeluh dan akan selalu bahagia dalam menjalani hidup."
Darahku berdesir mendengar penjelasan Mas Indra. Kalimat-kalimat seperti itu begitu sering kudengar. Dulu. Entah darimana. Mungkin guru agamaku waktu SMA atau dari para ustad yang sering mengisi ceramah di kampung, atau serial siraman rohani di televisi... Ah, bayangan ibu yang kurasa dulu juga sering menasihatiku demikian tiba-tiba berkelebat di benakku.
Bu... sabarkan tidak harus diam di desa. Menunggu rezeki turun dari langit...
"Li, sudah sampai.."
"Eh, iya. Makasih Mas..."
"Sama-sama. Aku langsung pulang ya. Assalamu'alaikum..."
"Wa alaikum salam..."
Ada sedikit perasaan tak nyaman di hatiku. Perasaan kehilangan. Ah, tidak. Aku tidak boleh merasa memiliki apapun dan siapapun kalau tidak ingin merasa kehilangan dan sakit hati. Lagi-lagi bayangan Ibu menyergap sisi lain hatiku yang rapuh.
"Nak, apa yang kau cari?" suara tuanya yang serak terngiang jelas di telingaku...
***

"Rien...ada surat untukmu. Heran, akhir-akhir ini kamu sering dapat kiriman ya? Aku jadi punya saingan nih..."
Rita meledekku. Bibirnya yang tipis membentuk sepotong kerucut, membuat wajahnya tampak menggelikan. Tapi aku sedang tidak ingin tertawa sore ini. Pikiranku sedang ruwet. Pekerjaan kantor nggak ada yang beres...
"Kalo surat, aku nggak usah di bagi, nggak pa-pa, Rien! Tapi kalo kue, awas kalo kamu makan sendiri..."
Masih dengan suara centilnya Rita terus saja menggodaku. Tapi kali ini aku langsung mengambil langkah panjang menuju kamar. Tentu saja setelah merebut surat itu dari tangannya.
"Makasih, Ta!" ujarku sambil menutup pintu kamar...
Kamarku yang sepi. Kasurnya pun masih tertata rapi. Kemarin malam aku tak sempat menyentuh kasur itu karena semalaman aku tertidur pulas di depan monitor. Hanya beberapa kertas print out yang berserakan di sudut meja kerjaku. Teronggok sedih karena tak sempat kugunakan semalam. Ah, that's life!
Surat tanpa nama pengirim...
Dulu aku menganggap wanita itu begitu sempurna. Hingga penyakit ganas itu menjemputnya menuju kehidupan lain. Kehidupan yang tak pernah lagi dapat kusentuh. Meski suatu saat, aku pasti akan menemuinya juga. Dan hingga dua tahun lamanya, aku tetap yakin bahwa tak seorang pun yang layak menggantikan posisinya dalam hatiku. Termasuk karyawan baru yang cukup cantik ini. Rienita. Seorang gadis muda yang filosofis. Hampir setiap hari aku berdebat dengannya. Tapi dari sanalah dia banyak menegurku dari kekeliruanku dalam memandang hidup selama ini.
Kalimat-kalimat puitisnya sering menjadi tetes air yang mengaliri kekeringan jiwaku. Tapi, akhirnya dia memilih pergi. Pasti karena sikapku yang tak menyenangkan. Sebenarnya aku tak rela dia pergi, hanya saja waktu itu aku terlalu angkuh untuk mengakuinya...
Gadis itu pernah memintaku untuk menanggalkan kacamata hitamku dan dia pernah berjanji untuk membantuku menemukan kaca mata pelangi yang hilang dari hatiku...
Rien... aku mungkin bukan lelaki yang baik. Tapi kau telah sedikit demi sedikit membuatku berusaha untuk memahami makna hidup ini. Aku mulai melihat sulaman indah itu... Tapi samar...
Dan aku ingin kau bersedia mendampingiku untuk menemukan kacamata pelangi itu. Agar aku benar-benar mampu melihat sulaman indah itu dalam mahligai suci...
Meski mungkin pelangi tak akan muncul di hatiku yang segersang gurun, namun aku akan mencoba melukiskannya untukmu...
Aan Ardhianti.
Ah, pak Aan... akhirnya dia mulai mau mengenal wanita. Mahligai suci? Berarti dia mau menikah? Wow... amazing! Tapi kenapa aku yang kau pilih, tuan manajer? Tak tahukah anda bahwa di hatiku sebenarnya telah tertulis sebuah nama...
Mataku menatap setiap sudut ruang kerjaku yang tiba-tiba berubah menjadi semburat pelangi. Tapi bentuknya bukan lengkung seperti biasanya, melainkan acak. Lebih mirip lukisan abstrak. Jiwaku gamang. Jawaban apa yang harus kuberikan?
***
"Halo... Mas Indra, aku mau cerita sesuatu. Nanti siang kita bisa ketemu di resto?"
"Cerita apa? Penting ya?"
"Sangat. Bisa kan?"
"Tapi siang ini aku banyak kerjaan. Gimana kalo nanti malam aku yang ke kosmu? Kebetulan ada yang ingin aku berikan, ok?"
"Hah? Mau ngasih apa?"
"Lihat saja nanti..."
"Ya udah. Kalo gitu aku tunggu di kos. Makasih, Mas!"
"Sama-sama..."
Ternyata Mas Indra juga ingin memberikan sesuatu padaku. Jangan-jangan...cincin lamaran? Ah, tidak. Paling-paling buku. Tapi... apa pantas ya, kalo aku ceritakan masalah ini ke Mas Indra? Pak Aan kan temannya Mas Indra... Pak Aan pula yang dulu memang mau menjodohkan aku dan Mas Indra... Duh, ruwet!
"Gimana pekerjaannya hari ini?"
"Lumayan lancar. Eh, katanya mau ngasih aku sesuatu? Mau ngasih apa?"
"Nih!" Mas Indra mengeluarkan benda setebal kamus dari tasnya. Tuh kan...bener, hanya sebuah buku. Tapi, upps! Kok judulnya..."Kiat menjadi Ibu yang Baik".
Hah? Apa-apaan ini? Apa Pak Aan sudah cerita sama Mas Indra kalau dia akan melamarku?Ah, tapi nggak mungkin.
"Katanya kamu mau cerita sesuatu? Cerita apa?"
"Mmm... sebenarnya sih tentang proyek kita. Tapi, tadi sudah aku konsultasikan sama bu Indah. Nggak jadi cerita, deh. Masalahnya sudah selesai..."
"Memangnya masalah apa?"
"Cuma masalah kecil kok. Ah, sudahlah. Never mind!"
"Kalo gitu... aku aja yang cerita!"
"Kali ini aku serius, Li! Jadi, tolong kamu juga serius."
Apa? Serius...memangnya masalah apa? Aku hanya menjawab kalimat Mas Indra dengan anggukan kecil. Enggan mengeluarkan suara.
"Li, aku sudah lama mempertimbangkan semua ini. Aku tahu Hilma adalah sahabat dekatmu. Apalagi sekarang dia sedang sakit. Sempat aku berpikir bahwa pilihanku ini tidak akan pernah kau setujui. Makanya, beberapa saat kemarin aku mencoba menghindarimu. Lalu, mencoba memposisikan diriku untuk menjadi sekedar teman yang baik. Tapi aku menyadari...aku hanya manusia biasa. Apalagi kita begitu sering bertemu di kantor. Aku ingin mengubah banyak hal dalam hidupku. Aku ingin mewarnai masa laluku yang kelabu. Tapi ternyata..aku haya melihat cahaya bulan sabit. Aku tahu untuk meraih purnama, aku harus..."
Lama Mas Indra terdiam. Aku yang tak mengerti alur ceritanya hanya menaikkan alis. Bingung. Mungkinkah kalimat itu akan berakhir dengan....
"Li, aku minta maaf kalau hal ini tidak kau sukai."
"Aku...aku ingin menikahimu, Li!"
Bruakkkkk! Sebuah pot bunga kecil yang ada di pagar tembok rumah sebelah, terjatuh... Tak hanya aku yang kaget. Mas Indra juga kulihat tampak lebih terkejut. Bagaimana tidak? Kucing tetangga yang memang dari tadi duduk manis di atas tembok itu seakan mengerti apa yang kami bicarakan. Dia menjatuhkan pot bunga itu tepat setelah Mas Indra menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tidak harus menjawabnya sekarang, kan?" tanyaku setelah berhasil menguasai perasaan. Mas Indra tersenyum. Mungkin sudah menduga bahwa kalimat itu yang akan menjadi jawabanku.
"Pikirkanlah, dulu.Jangan tergesa-gesa.Ini adalah sebuah keputusan besar dalam hidupmu!".
Sangat besar, Mas! Bahkan dulu, aku berharap aku tidak akan pernah memikirkannya....

***

Malam itu kuhabiskan untuk mendata kelebihan dan kekurangan Mas Indra maupun Pak Aan. Yang satu, manajer. Tampang biasa. Labil. Angkuh. Sombong. Egois. Tapi sekarang mulai berubah, meski tidak mustahil akan kambuh lagi. Dan aku punya beban moral padanya. Kalau menolaknya, what will happen with him? Apa dia tidak akan bunuh diri?
Yang satu lagi, mantan kapten tim basket SMA. Matang. Tampan. Manajer juga. Dulu sih, agak badung. Mantan Playboy. Bekas pacar Hilma.T api sekarang tampak religius dan lebih dewasa…
Ah, keduanya sama-sama pilihan yang memberatkan…

***

"Bu Indah, pernah nggak merasa bingung untuk memutuskan sesuatu. Misalnya... karena ada dua pilihan yang sama-sama punya beban yang sama untuk dipilih?"
"E..e..e..e... kok tumben tanya yang beginian? Ada apa, sih? Kamu dilamar ya?"
"Yah, Bu Indah… Cuma nanya gitu aja, udah diledek..."
"Kalo memang iya, kenapa? Itu wajar, Rien... Lagian, kamu juga sudah cukup dewasa untuk itu.."
Wajar sih... tapi aku tidak tega menceritakan semua ini pada bu Indah. Usianya sepuluh tahun diatasku. Tapi sampai sekarang, dia belum menikah... Apa dia tidak akan sakit hati kalau aku yang lebih muda dilamar dua orang dalam waktu yang bersamaan....
"Bukan masalah itu kok, Bu!"
"Masalah itu juga nggak pa-pa. Ibu ngerti kalau kamu malu menceritakanya."
"Ah, bener bu. Bukan itu!"
"Kalau bukan ya sudah... gitu aja kok, ngotot? Jadi curiga, deh!"
Akhirnya aku hanya tersenyum tipis. Dan sepertinya bu Indah menangkap arti senyumku.
"Bingung menetukan pilihan? Kamu sudah sholat istikharah? Minta aja petunjuk pada Yang Di atas..."
Oh, iya.Kok aku jadi lupa… Bukankah hanya pada-Nya manusia bisa memohon petunjuk? Wah, ternyata aku masih belum tahu apa-apa dalam hal agama. Seperti ini, sudah mau nikah. Apa yang bisa dijadikan bekal?

***

Istikharoh panjangku akhirnya menghasilkan sebuah keputusan.. Mas Indra lah yang kupilih. Dan Pak Aan...dia ternyata jauh lebih tegar dari yang pernah kuduga.
"Ah, Rien..menyesal aku pernah mau menjodohkan kalian. Tapi nggak pa-pa...keputusanmu justru membantuku untuk terus menepati janjiku padanya untuk tidak pernah menikah. Selamat ya!"
Hanya itu yang terlontar dari bibir Pak Aan. Terasa sedikit menyayat memang. Tapi itulah kehidupan. Yang selalu menyajikan pilihan dengan resikonya masing-masing. Pilihlah jalan mendaki yang sulit dan penuh duri. Maka kaupun akan sampai ke puncak keindahan...


PENGGALAN 7





Surat pengunduran diri telah kuajukan ke HRD dan bu Indah, seminggu yang lalu. Satu tahun bekerja di Citra Persada dengan pimpinan sebaik bu Indah, membuatku berat meninggalkan Citra Persada...
Bu Indah, terima kasih. Darimu aku banyak belajar tentang hidup ini. Maaf, aku tak bisa berada di sini lebih lama lagi. Aku harus pulang kampung dan mempersiapkan pernikahanku... Masa depanku...
Perjalanan menuju kampung halaman adalah sebuah pengulangan masa lalu bagiku. Sudah tiga tahun aku tidak melakukannya lagi. Bahkan saat hari raya sekalipun. Karena aku tak tahu lagi siapa yang harus kutemui. Ibu... ah, perempuan renta itupun kini hanya menyisakan gundukan tanah merah untukku. Begitu banyak kenangan yang dulu kami lalui bersama di antara pematang sawah dan lambaian bunga-bunga jagung yang telah berganti dengan kemacetan metropolitan.
Meski menyesal karena aku tak pernah bisa memenuhi keinginan ibu untuk tinggal di kampung, tapi aku yakin ibu lebih bahagia saat ini. Sebuah kampung mungil yang listrik saja tak ada, hanya akan membuat pengetahuanku tentang informatika terbuang sia-sia. Padahal, aku tak meraihnya dengan mudah. Kukira ibu pasti cukup mengerti dan akan setulus hati membiarkan anaknya menyumbangkan ilmu yang dimilikinya. Meski wanita sederhana itu tak pernah mau kuajak tinggal di Jakarta yang katanya penuh kemaksiatan. Hingga akhirnya sosok agung itu menjemput ajal dalam kesendirian...
Ah, ibu... Betapa tak bergunanya anakmu ini...
Kerinduan membuncah dalam hatiku. Kerinduan akan banyak hal. Rindu dengan omelan-omelan ibu yang bijak. Rindu dengan segala pernak-pernik suasana perkampungan yang polos dan khas. Rindu dengan rumah mungilku yang hanya beratap genteng tua penuh jelaga. Rindu dengan kamar mandi mungil berlantai kerikil yang hanya bisa digunakan setelah bersusah payah menimba air dari sumber mata air di lereng bukit. Rindu dengan cericit kenari yang membangunkanku setiap pagi. Ah, tapi Jakarta telah jauh mendominasi pribadiku. Aku tahu, tak akan betah bertahan lebih lama di kampung kecil itu...

***

"Apa? Ba'na akabina, Li? Kamu mau kawin? Dengan siapa?" suara pak de tampak terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba untuk memintanya menjadi wali pernikahanku. Logat Maduranya yang kental mengingatkanku pada Ibu...
"Sareng kanca sakantor, Pak de. Oreng Situbanda kiya. Tapi campok na neng e kotthana."
(Dengan teman sekantor, Pakde. Dia juga orang Situbondo. Tapi rumahnya di kota)
"Baddiyanna ba'na a raja, Li! Rassana buru ba'arik ba'na egindhung bik ebuna. Tape satiya ebuna la tak bisa nyandingi ba'na. Pasabbar ya, Nak. Pak de perak bisa mojiyagi. Dhar katemuwa apa ekaarep..."
(Ternyata kamu sudah dewasa, Li! Rasanya baru kemarin kamu berada dalam gendongan ibumu. Tapi sekarang, ibumu sudah tidak bisa lagi bersamamu. Bersabarlah, Nak. Pakde hanya bisa berdoa semoga kau menemukan apa yang kamu inginkan...)
Aku melihat tetes-tetes bening mengaliri wajah tua yang mulai keriput itu. Ah, kalau ayah dan ibu masih ada, akan menangis pulakah seperti Pakde?
Aku sebenarnya tak hanya ingin menangis. Tapi lebih dari itu... aku ingin menjerit...
Ibu... ini adalah peristiwa terbesar kedua dalam hidupku yang tak bisa kau hadiri...

***

Acara sakral itu dilangsungkan secara sederhana. Aku sudah memohon dengan hormat kepada keluarga mas Indra untuk tidak menampakkan kemewahan apapun di kampungku yang masih terlalu lugu. Biarlah, mereka tetap mengenalku sebagai Lili yang dulu... Polos dan sederhana. Biarlah mereka tidak pernah tahu tentang Lili di kota metropolitan sana. Biarlah mereka menganggap bahwa aku masih gadis desa yang bersahaja...
Semuanya berjalan dengan begitu khidmat. Meskipun di hatiku yang paling dalam rasa kepedihan itu masih membayangi, rasa kebahagiaan yang datang perlahan...
"Te ngate mon odhik e kottha, Li. Pakde tak ngarep pa apa dhari bha'na. Perak pa teppa'ajalani odhik ya... Ja'samape dha'ka se Kobasa..."
"Nak, cang manto... matoro'a Lili ya! Jaga pa teppak. Ja'sampe bilu' jalanna."
("Hati-hati hidup di kota, Li. Pakde tidak mengharap apa-apa darimu. Hanya pesanku, tetaplah berada di jalan yang benar. Jangan pernah lupa ada Yang Maha Kuasa")
("Nak, mantuku. Aku titipkan Lili padamu. Jagalah dia dengan baik. Jangan sampai melangkah di jalan yang salah...")
Itulah pesan terakhir Pakde sebelum kami pergi meninggalkan kampung kecil itu. Ah..., serpihan masa lalu yang harus kutinggalkan kembali.
Ibu... maafkan aku. Aku tak bisa menjaga rumah kita. Tapi aku janji, akan selalu mendo'akanmu dalam sujud panjangku...

***




PENGGALAN 8




Sebulan sudah usia pernikahanku. Ah, tiada terasa. Akhir-akhir ini aku baru menyadari bahwa aku sudah melalui pintu gerbang ajaib itu. Sebuah pintu gerbang yang membuatku harus menyandang sebutan baru sebagai seorang isteri. Sebuah judul dari antologi sederhana yang berisikan rangkaian kisah kehidupan. Sederhana namun sarat perenungan.
Bahagia. Mungkin itulah satu kata pertama yang dapat kutuliskan dari deretan perasaan lain yang bergema di dalam hati ini. Dia ternyata adalah suami yang begitu baik, sabar, pengertian, penuh kasih sayang dan penuh nasihat.
Aneh. Ah, perasaan itu akhirnya harus kuakui juga. Perasaan yang kukira muncul akhir-akhir ini tanpa sengaja. Di antara sekian banyak kesibukannya, kadang mas Indra masih sempat membuatkan aku segelas teh atau sepiring roti bakar untuk sarapan pagi. Masih sempat melayaniku berdiskusi tentang banyak hal. Masih sempat mengoreksi detil bajunya yang kadang kurang licin kusetrika, dan masih banyak hal lain yang tak luput dari perhatiannya. Kecuali satu hal!
Kenapa mas Indra tak pernah menyentuhku sebagai seorang isteri? Hingga akhirnya malam-malam kami cukuplah berlalu dengan menikmati mimpi masing-masing. Kapan dia mencoba menawarkan diri untuk menikmati mimpi-mimpi itu berdua, terbang bersama dan menjelajahi keindahan itu... Adakah yang salah?

***

"Sayang … hari ini kita belanja. Siap-siap ya! Banyak yang harus kita beli."
Aku hanya berkerenyit heran. Belanja? Perasaan baru kemarin kami pergi ke supermarket. Sayuran masih banyak. Keperluan kamar mandipun masih lengkap. Apalagi yang mau dibeli?
"Belanja apaan?" tanyaku kemudian. Suamiku tak menjawab. Dia hanya menunjukkan dua lembar kertas.
Hah … tiket? Ke Eropa? Ternyata suamiku telah menyiapkan bulan madu paling romantis seperti yang pernah kubayangkan…
Inikah jawaban dari keanehan sikapmu, Mas…?
"Mas, beneran? Kita ke Eropa? Ke Paris?"
"Nggak… aku bosan ke Paris. Nanti kita akan ke Mesir, Macedonia, Albania, Yugoslavia, Bosnia…."
"Hah…nakal! Ngapain ke sana? Mau jadi peneliti arkeologi atau mau ngeliput perang, sih?"
"Ha…ha…ha… Gitu aja kok marah. Ok, kita ke Eropa. Aku akan ajak putri kecilku terbang ke mana pun dia suka…" Mas Indra mengacak-acak rambutku mesra. Ah, akhirnya perasaan aneh itupun terjawab sudah…

***

"Mas… kita beneran mau ke Mesir? Mau ngapain di sini? Mau lihat piramid? Mau meneliti mumi?"
Mas Indra hanya tersenyum tipis. Dia tampak tak peduli dengan tatapan keherananku.
Kota yang pertama kali kami kunjungi adalah Sinai. Lembah suci legendaris tempat nabi Musa pernah mengadakan dialog dengan Tuhan. Walaupun hampir seluruh dataran Sinai kebanyakan hanya berupa padang pasir dan gunung-gunung batu namun pemandangannya cukup mengesankan. Menyaksikan dari dekat mata air bersejarah yang oleh penduduk setempat disebut 'Uyun Musa' membawa nuansa tak terlukiskan dalam hatiku. Tempat ini berupa dua belas mata air yang berasal dari sebuah batu yang dipecahkan oleh nabi Musa A.S dengan tongkatnya untuk memberi minum dua belas suku kaumnya. Meski saat ini tak semua sumur itu dapat ditemukan karena tertutup pasir gurun, namun tetap saja hati ini bergetar menyaksikannya….
"Mas, kenapa mengajakku ke sini?"
"Kamu nggak suka?"
"Suka. Tapi… aneh aja. Bulan madu kan biasanya ke Paris?"
"Itukan biasanya. Aku ingin memberikan yang luar biasa untuk putri cantikku! Selain itu, agar perjalanan ini nggak sia-sia tapi akan membuat kita semakin mencintai-Nya…"
Aku terdiam mendengar alasan mas Indra. Sejauh apakah sebenarnya dia berubah, Tuhan…
Hari sudah sore ketika kami meninggalkan mata air itu. Mas Indra kemudian mengajakku menikmati kilau senja di Dahab. Sebuah pantai elok berpasir kuning keemasan. Sinar baskara yang kemerahan dipantulkan oleh bulir-bulir pasir hingga menghasilkan leratan cahaya menyilaukan yang begitu fantastis. Pemandangan senja yang menakjubkan.
"Mas, aku pingin mandi…!"
"Coba aja kalo berani!" Mata itu melotot jenaka mendengar permintaanku.

***

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan ke Aswan, salah satu kota di Mesir Selatan yang paling kaya dengan peninggalan kebudayaan kuno berbau Afrika. Terletak sekitar 81 mil sebelah selatan Luxor. Berjalan-jalan di kota Aswan seperti memasuki toko rempah-rempah. Aroma khas tanaman obat itu menyengat di mana-mana di setiap sudut kota kecil itu…
Dari pinggiran kota kecil yang cantik ini kami dapat menyaksikan pemandangan sungai Nil yang memanjakan mata. Menatap sungai terpanjang itu mengalir membelah hamparan padang pasir dan batu karang, jajaran pulau Jamrud yang tertutup hutan tropis. Kapal yang lalu lalang di atasnya dan indahnya langit biru sambil menikmati musik Nubian dan sajian ikan segar di atas restoran terapung.
Subhanallah… Benar-benar laksana surga di dunia.
Yang paling jelas terlihat di kota Aswan adalah pulau Elephantine. Sebuah pulau cantik yang penuh dengan peninggalan sejarah abadi sejak dahulu kala. Konon pulau itu adalah pulau terbesar di Aswan yang sering disebut Geziret el-Nabatat (pulau tumbuh-tumbuhan). Dinamakan demikian untuk mengenang Jendral Kitchener, seorang jendral Inggris Haratio Kitchener (1858-1916) yang dikirim ke Mesir pada tahun 1883 untuk membekali tentara Mesir, yang kemudian memimpin perang melawan Sudan. Jendral itulah yang menanam banyak tanaman langka di pulau ini.
Menatap satu persatu bangunan Mesir kuno bergaya arsitektur Dinokrates yang tersebar di pelataran kota Iskandariyah seperti membawa diri ini terbang ke masa lalu. Mercusuar-mercusuar kuno Alexandria yang menjadi kebanggaan kota ini menggambarkan kecerdasan dan tingginya peradaban para pendirinya di masa lalu.
Kota yang dibangun oleh Iskandar Zulkarnaen sekitar tahun 323 SM ini juga kaya ilmu pengetahuan. Terbukti dengan adanya sebuah perpustakaan yang disinyalir merupakan perpustakaan terbesar di dunia. Luasnya saja tidak kurang dari 40 hektar. Di sana tersimpan rapi manuskrip-manuskrip kuno dari berbagai negara.
Ah, perjalananku benar-benar lebih mirip study tour daripada bulan madu…
"Mas, kita enggak jadi ke Eropa ya?"
"Lho, ini kan sudah Eropa manis? Mau ke mana lagi?"
"Ke Paris...." sahutku manja. Aku tidak peduli akan dibilang kekanak-kanakan oleh suamiku.
"Kita kan belum liat piarmid, sphinx, mumi..."
"Aku enggak mau liat. Bosen...!"
"Lho koq marah? Ok, kalo gitu besok kita ke Perancis!"
"Hah? Beneran Mas? Kita ke Eiffel?" aku meloncat girang. Mas Indra hanya tersenyum tipis melihatku seperti anak kecil.
"Yah... ke mana aja, pokoknya Puteri Kecilku yang manja ini senang...!"
Puteri... besok akan kutunjukkan padamu bahwa di Perancis enggak hanya ada Eiffel.
"Gitu dong Mas! Makasih ya..."

***

Jerman...
Kastil Heidelberg terletak di lereng bukit yang indah. Dari sana orang bisa melihat ke arah bawah, menyaksikan pucuk-pucuk bangunan abad pertengahan kota Heilderberg yang dibelah Sungai Neckar.
"Mas, naik yuk!"
"Kamu enggak takut?"
"Berani dong! Kan di sampingku sudah berdiri seorang pangeran yang selalu siap sedia melindungiku dari bahaya apapun... ciee..."
"Ok, kalo gitu kita berlomba. Siapa yang sampai di atas duluan, dapat ciuman!"
Aku tertawa mendengar tawaran Mas Indra. Kutatap kastil tua itu dengan takjub. Ada sekitar limapuluh anak tangga yang harus dinaiki untuk sampai puncak. Dinding bata merah tua yang melatarbelakanginya semakin menambah antik bangunan kuno itu.
"Gimana?" bukannya menunggu aku menjawab setuju, Mas Indra malah langsung menyeret tanganku dan memaksaku berlari menaiki anak-anak tangga itu.
"Mas, capek. Istirahat dulu."
"Tanggung, tinggal sepuluh tangga lagi!"
Terengah-engah aku megimbangi langkah suamiku. Tangannya yang kekar seakan menambah kekuatanku untuk bisa mencapai puncak bangunan itu, dan... wow indahnya di bawah sana...
"Ada sesuatu yang lebih indah di sampingku!" seru Mas Indra mendengar bibirku sibuk mengucapkan tasbih dan mengagumi keindahan pemandangan di bawah sana.
"Li... kau tahu bahwa wajahmu yang kecapekan itu jauh lebih indah..."
"Lalu ngapain menjakku naik setinggi ini! Sampai jantungku mau copot!" seruku pura-pura marah.
"Ntar, kalo copot beneran pake aja jantungku!"
Aku jadi tersenyum. Punya suami sekonyol dia mana bisa marah?

"Ya udah. Nih, minum dulu!" Mas Indra menyodorkan segelas air kemasan ke bibirku. Gerakan tangannya yang lembut membuat air itu berubah rasa... tak hanya sejuk tapi juga manis, asem, asin... nano-nano! Yah, begitulah cinta...

***

Paris...
Lyon -Satolas adalah sebuah stasiun kereta api super cepat TGV (Train a Grand Vitesse) yang cantik di kota Paris. Mulai dibangun sekitar tahun 1987 dan dirancang oleh arsitek ternama Santiago Calatrava dengan disain mewah dan megah. Mode Zoomorphic yaitu perpaduan antara arsitektur dan biologi yang menjadi ilham dari bangunan ini, benar-benar membuatnya tampak seperti seekor serangga raksasa. Tiang-tiang beton yang tersusun melingkar-lingkar penopang bangunan ini menjadikannya mirip sangkar berbingkai. Cahaya-cahaya hijau dan biru yang menandai setiap sisi bangunan menghadirkan sensasi fantastis bagi setiap mata yang memandangnya.
Dari Lyon-Satolas kami menuju stasiun Montparnasse. Dari stasiun ini kami berangkat ke Loire yang lebih dikenal dengan sebutan "Lembah Seribu Kastil." Di musim dingin, kota ini sangat lambat menyongsong matahari. Perjalanan dengan kereta ke kota ini, kunikmati sambil terkantuk-kantuk karena udara yang sangat dingin. Wilayah Loire yang membentang sepanjang Sungai Loire dengan lebar 100 meter dan panjang 200 kilometer ini, dikaruniai bentuk geografis yang strategis, dipagari sungai yang lebar dan berarus deras, serta dataran tinggi. Tak ada jumlah resmi rumah kastil di kawasan ini, tapi diyakini mendekati angka seratus.
Mas Indra memutuskan untuk menyewa mobil di Tours untuk membawa kami menyusuri "negeri dongeng" di Loire di mana hampir semua kastil memiliki cerita masa lampau yang sarat dengan hedonisme, pertarungan kekuasaan, pengkhianatan cinta dan pertumpahan darah. Mobil yang kami naiki kemudian menyusuri jalanan mulus dan panjang di sepanjang Sungai Loire menuju kota tua Amboise dan dilanjutkan ke Blois yang jaraknya sekitar 55 kilometer. Pemandangan di kiri kanan jalan meliputi deretan kebun-kebun anggur yang telah usai dipanen, tanah-tanah lapang berkabut yang dijadikan arena berkemah dan sejumlah pemukiman kaum gipsi.
Kastil Blois terletak di jantung kota tua Vieux Blois. Kastil ini dibangun dengan gaya campuran yang komplit antara Ghotic, Flamboyant, Renaissance dan Classicism. Bagian paling indah di kastil ini adalah sayap bangunan Francois I yang memiliki anak tangga memutar membentuk menara oktagonal dengan ornamen khas renaisans. Dinding-dinding kastil penuh dengan lukisan-lukisan masa renainsans (sejumlah koleksi juga tersimpan rapi di Museum Kastil di lantai dua), termasuk sejarah kelam kastil ini yang diwarnai dengan pembunuhan Duc de Guise tahun 1588, yang dilakukan oleh para pengawal di kamar Raja Henri III. Guise dicurigai menyusun rencana kudeta untuk menggulingkan Henri III. Di bagian itu juga ada kamar kerja Catherine de Medici, permaisuri Henri II, yang menyimpan perhiasan permata dan surat-surat penting kerajaan.
Dari Blois kami menyusuri Menars. Suevres dan Mer, kemudian memotong ke arah timur menuju Kastil Chambord, yang rancangan arsitekturnya dinilai paling spektakuler dalam mencitrakan kebangkitan renaisans Perancis. Konsep awal pembangunan Chambord diyakini datang dari Leonardo da Vinci, seniman serba bisa asal Italia yang menetap di Amboise selama tiga tahun terakhir hidupnya (tahun 1519). Chambord yang dikelilingi hutan luas dan taman yang sangat lapang, memiliki deretan "atap" mempesona yang terdiri dari aneka menara dan teras dengan ragam rancangan. Antara lain, menara lampu setinggi 32 meter yang ditopang oleh pilar-pilar melengkung dan dimahkotai ornamen fleurs-de-lys yang mengundang decak kagum dari setiap mata yang memandangnya.
Seperti juga Blois, Chambord memiliki tangga berbentuk spiral yang di tempatkan di tengah ruangan dan menjadi bagian dari suguhan arsitektur double-belix di mana orang yang turun dari naik tangga tidak saling berpapasan. Ruangan paling besar dan mewah dalam kastil ini adalah kamar tidur Raja Louis XIV yang didominasi warna merah dan keemasan. Uniknya, tempat tidur para raja kelihatan sempit dan tidak nyaman. Rupanya, kaum bangsawan di masa lalu tidak pernah tidur terlentang, tetapi selalu tidur dalam posisi duduk karena posisi terlentang dianggap simbol kematian.
Selanjutnya kami melewati rute yang lebih berliku dengan pemandangan kota-kota kecil nan permai di wilayah Loire seperti Bracieux, Cheverny, Pontlevoy, Montrichard dan akhirnya tiba di Chenonceaux. Kastil Chenonceau memiliki kecantikan khas, yaitu tamannya yang terletak di kiri dan kanan kastil yang dirancang dengan konsep simetris. Sebuah kolam besar dengan pncuran diletakkan persis di simpang "pertemuan" garis-garis taman.
Taman kastil ini menjadi istimewa karena dilatarbelakangi persaingan Catherine de Medici dan Diane de Poitiers dalam memperebutkan cinta Raja Henry II. Meskipun Henri II menikahi Medici, namun cintanya pada Poitiers tak pernah padam. Chenonceau adalah hadiah Henri untuk Poitiers yang diambil alih Medici ketika Henri II meninggal dunia.
Poitiers membangun taman di sisi kiri kastil, termasuk membangun jembatas di atas Sungai Cher. Sedangkan Medici membangun taman tandingan di sisi kanan kastil yang disebut taman Chaterine de Medici.
"Mas, nanti aku dibangunkan apa sebagai bukti cintamu?"
"Akan kubuatkan sistem program software dan hardware alat masak otomatis. Jadi, kamu tinggal duduk di depan monitor sambil mengendalikan piranti masaknya... jadi deh oseng-oseng kangkung ala komputer..."
"Huh! Mentang-mentang programmer..."
Selain itu, ada istana Versailles dengan taman bunganya yang cantik, Avenue des Champ Elysees (pusat butik artis dunia), Notre Dame dengan Sungai Seine-nya yang tenang, pelabuhan cantik Mont Juic di Barcelona, Musee de Louvie yang terletak sejajar dengan Kapel Vincentius de Paul, Pantheon (taman makam pahlawan Perancis) dan Universitas Sorbone tempat Erasmus dan Marthin Luther menghabiskan masa-masa kuliahnya. Serta serangkaian tempat-tempat menakjubkan lainnya yang sulit kuhafal namanya...
"Mas, makasih ya!"
"Makasih untuk apa?"
"Sudah mengajakku keliling dunia. Mengajakku untuk melihat betapa lebih banyak lagi pemandangan yang menakjubkan selain Jakarta. Semuanya membuatku lebih banyak bersyukur..."
"Masih ada yang jauh lebih indah dari semua ini sayang..."
"Jangan bilang lagi kalau itu wajahku."
"Ge-er banget..."
"Lalu apa?"
"Ketika kita bisa mencintaiNya di atas segala cinta..."
"Ya, Allah... aku sampai bingung bagaimana caranya bersyukur pada-Mu atas semua ini..."
*****

Penggalan 9




Kembali ke Jakarta seperti kembali ke sangkar sendiri. Menghirup lagi udara tropis yang memanjakan hidung. Tidak seperti Eropa yang dingin dan telah berkali-kali membuatku mimisan. Belum lagi lidah dan perutku yang sudah tidak tahan ingin mencicipi masakan Indonesia yang pedas, gurih, dan pasti cacing-cacing di perutku akan berdisko gembira menikmati makanan sepeti lalapan ayam, bakso dan seafood ala Indonesia. Mana tahan cacing-cacing itu dengan makanan-makanan instan berbahan dasar keju, susu, roti dan saus …
Hari-hari kembali berlalu seperti biasanya. Rutinitas pekerjaan rumah kembali menanti dan tak ada yang tersisa dari Eropa selain capek! Bulan madu itu tetap tak menjawab apa-apa … selain berkeliling ke tempat-tempat wisata, tak ada lagi yang kami lakukan …
Suamiku yang pengertian itu tetap melupakan satu kewajibannya sebagai suami …

***

"Assalamu'alaikum ya akhi…ya ukhti…"
"Ya, halo …" sengaja tak kuucapkan salam atas nomer asing itu.
"Hello, honey? Pa kabar? Selamat ya! Wah, kok undangannya nggak sampai ke aku?"
Dadaku tiba-tiba bergemuruh. Suara itu membuat aliran darah di tubuhku seakan mengalir dua kali lebih deras. Suara itu… Ah, aku tidak mungkin salah. Itu suara Hilma! Darimana dia tahu kalau aku sudah menikah?
"Mm... Hilma, ya! Ke mana aja, kamu? Kok menghilang lalu tiba-tiba muncul seperti ini?"
"E..e..e..e.. langsung nodong, nih! Seharusnya aku yang marah. Tega tidak mengundangku? Mentang-mentang aku sekarang penyakitan, lalu dilupakan…"
"Kamu yang menghilang tiba-tiba… Lagipula, aku nggak rame-rame, kok. Teman-teman tak satupun yang kuundang…"
"Eh, Li! Ketemuan, yuk! Kangen banget, nih!"
"Ya, aku juga kangen. Lho, memangnya kamu sekarang di mana?"
"Aku di Jakarta, Li. Alhamdulillah aku masih bisa bertahan. Kini aku menjadi salah satu nara sumber dalam sebuah seminar tentang AIDS. Udah ya, ntar ceritanya aku teruskan. Kita ketemuan di mana?"
"Hm… gimana kalo di kantin Alta Mara…?"
"Ok, aku tunggu ya. Paling telat dua jam lagi kita ketemu di sana."

***
Hilma datang bersama seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan… Mirip bu Indah kukira. Tapi kelihatannya wanita itu lebih enerjik dan tipe-tipe pekerja lapangan. Begitu besar pancaran semangat yang terlihat menggenangi pandangannya. Ah, mata seorang aktivis! Wah, sejak kapan aku jadi sok tahu tentang pribadi orang lain ya?
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam…"
Hilma berdiri menyambut kedatanganku. Kamipun berpelukan penuh kerinduan. Ah, Hilma. Semakin banyak lagi perubahan yang kulihat di wajah sahabatku itu. Jilbabnya kini makin lebar. Roknya juga lebih mirip sarung. Ataukah itu hanyalah efek dari tubuhnya yang aku yakin begitu kurus kini. Tadi, saat berpelukan… aku seperti memeluk tulang…
"Gimana kabarmu, Hil? Tega kamu, ya…! Bikin orang cemas dan hampir mati penasaran! Ke mana aja sih kamu?" pertanyaan itu muncul begitu saja. Aku tidak ingin Hilma melihat kekecewaan yang pernah kusimpan atas sikapnya dulu.
"Yaah… seperti yang kau lihat. Aku masih bisa berdiri tegak. Masih bisa sampai di Jakarta lagi. Ya, Li. Sorry, dulu itu aku benar-benar down. Aku nggak ingin bertemu siapapun. Rasanya semua orang hanya memandangku dengan tatapan menghina. But, life must change. Sekarang aku sudah menemukan semangat itu lagi! Bahkan aku menemukan sesuatu yang lebih berarti gara-gara penyakit ini mampir di tubuhku."
Tak ingin bertemu siapapun? Termasuk aku? Tapi dulu kamu bertemu Mas Indra setiap hari? Benarkah Mas Indra masih lebih penting bagimu, Hil? Apa reaksimu kalau tahu bahwa laki-laki itu kini telah menjadi suamiku?
"Berat badanku kini hanya 35 kilo, Li. Tapi untungnya aku masih kuat menyangga tubuhku dan masih bisa terbang ke sana kemari… Oh, ya, kenalkan! Ini mbak Farah. Dia sekretaris umum sebuah yayasan AIDS di Surabaya. Dia yang setia menemaniku mengikuti seminar-seminar AIDS atau sekedar curhat-curhatan sesama penderita…"
Begitu semangatnya Hilma bercerita sampai-sampai aku berpikir bahwa dia tak pernah sakit. Hebat. Sebegitu cepatnya dia menemukan kembali semangat itu… Mbak Farahkah yang membantunya? Tatapan mata perempuan yang bercahaya itu begitu sejuk. Senyumnya lembut. Wajahnya yang syahdu mengingatkanku pada seseorang. Ah, ibu… bayangan wanita itu kembali menyelusup perlahan di ruang batinku.Ibu, aku ingin menjadi seperti bunga Lili… cantik tapi tetap damai. Dia tidak berduri seperti mawar…
"Nah, Li… Aku kan sudah cerita banyak, sekarang kamu harus cerita tentang pangeranmu. Gimana proses kalian sampai bisa menikah? Lalu, pergi bulan madu ke mana?"
Aku tergugu mendengar permintaan Hilma. Siapkah dia dengan cerita ini? Bagaimana kalau dia masih menyimpan cinta untuk mas Indra? Aku melirik ke mbak Farah. Perempuan anggun itu kemudian bergegas meninggalkan kami dengan alasan akan memesan makanan. Sepertinya dia mengerti bahwa ada sebuah rahasia yang tidak ingin kuperdengarkan padanya. Dan Hilma masih menatapku dengan tatapannya berlumur kebahagiaan. Hatiku semakin tak enak.
"Ah… cerita tentang itu ntar aja… kamu kan belum selesai… Di mana kamu kenal mbak Farah? Hm… mengenai atasanmu itu apa ada kabar? Dan tanggapan keluarga di Surabaya mengenai kondisi kamu, bagaimana?"
Aku berhasil mengalihkan perhatian Hilma. Dugaanku tepat. Diapun memulai lagi ceritanya yang mengalir seperti es.
"Hm…. sepertinya sekarang aku memang harus menceritakan semuanya. Biar kamu nggak penasaran lagi... Atasanku itu sudah pergi entah ke mana. Saat itu sebenarnya aku berpikir bahwa aku bisa membesarkan anakku. Tapi Allah berkehendak lain. Aku mengalami pendarahan ketika meeting di Bekasi. Makanya aku sampai terdampar di rumah sakit itu."
Hilma diam. Sepertinya bagian selanjutnya adalah bagian yang sulit untuk diceritakan. Aku hanya bisa menebak-nebak.
"Li! Umurku mungkin tak panjang lagi. Tapi aku beruntung. Keluargaku di Surabaya mau menerimaku meski Mama sempat shock juga. Papa yang memperkenalkanku dengan mbak Farah dan akhirnya aku bergabung dengan yayasan itu. Berkumpul sesama penderita. Saling menguatkan. Menjalani berbagai macam terapi yang membuatku akhirnya menemukan arti hidup ini yang sesungguhnya. Maafkan aku, Li! Dulu aku sempat mengira bahwa kita tak bisa lagi bersahabat. Tapi ternyata kamu masih begitu baik padaku…"
Hilma tiba-tiba menangis. Satu-satu titik kristal bening membasahi pipinya. Ada apa sebenarnya...?
"Li, aku bahagia sekali ketika kemarin aku menelpon ke kantormu. Operator bilang kamu sudah lama resign karena menikah. Kamu telah berhasil menggenapkan separuh agama. Aku malu padamu, Li! Laki-laki yang kukcintai ternyata hanya menginginkan tubuhku…"
Hilma terdiam lagi. Isaknya semakin keras. Aku sengaja tak menyela ceritanya sedikitpun. Hanya tanganku yang kemudian bergerak merangkul tubuhnya yang terguncang isak tangis…
"Dia telah membuatku tak mungkin menikah lagi untuk selama-lamanya…"
"Maksudmu…?" kerongkonganku mulai tercekat.
"Mas Indralah yang menularkan virus HIV itu. Mas Indralah yang mengambil semua yang pernah kumiliki…"
Apa, Hil? Kamu nggak salah ucap kan?
Jadi… inilah sebabnya kenapa selama ini Mas Indra tak pernah menyentuhku sebagai seorang isteri?
Jantungku tiba-tiba serasa tersayat ribuan sembilu lalu luka yang tercipta itu disiram air cuka. Darahku seakan berhenti mengalir karena alat pemompanya tak mampu lagi bekerja… Sesak! Pedih! Perih!
"Li…aku memang tidak pernah cerita ke kamu kalau kami pernah bertemu beberapa kali setelah atasanku itu entah pergi ke mana. Dan aku yakin, saat ini dia masih di Jakarta. Jadi seandainya suatu saat kamu bertemu dia, kamu harus menjaga rahasia ini, Li! Bersikaplah biasa. Jangan pernah membencinya. Semua tak hanya salahnya, tapi juga salahku. Mungkin itu adalah hukuman Allah padaku. Dan alhamdulillah… akhirnya aku berhasil menemukan hikmah dari semua ini…"
Aku tak lagi mampu mendengar kalimat-kalimat Hilma yang terakhir. Jantungku rasanya sudah berhenti berdenyut. Ada perih yang menusuk begitu tajam di uluh hatiku, karena separuh cinta yang tumbuh subur di sana seperti dipaksa untuk tercerabut dari akarnya.
Kenapa mas Indra begitu kejam? Kenapa dia memilihku untuk mendampinginya? Mungkinkah aku hanya akan menjadi sepotong boneka yang dipajang di etalase toko. Setiap orang akan mengiraku seperti ratu yang hidup dalam kemewahan. Begitu dilindungi bahkan dari gigitan nyamuk sekalipun. Padahal, sebenarnya aku terbelenggu. Aku tak pernah bisa merasakan arti sesungguhnya menjadi seorang isteri. Aku juga tidak pernah tahu bahwa sesungguhnya suamiku adalah mantan pezina. Dengan sahabatku sendiri…
Kupaksakan segaris senyum untuk Hilma. Meski perih, aku tak ingin Hilma tahu. Biarlah, cukup aku yang sakit. Hilma tidak. Dia sudah cukup menderita dengan penyakit itu. Tak akan kubiarkan Hilma semakin menderita jika harus mendengar bahwa laki-laki yang pernah dicintainya kini telah menjadi suamiku…
"Aku bangga padamu, Hil! Kamu hebat… aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik untukmu."
"Amin…"
Hilma menghapus sisa air matanya yang sudah mulai berhenti mengalir.
"Oh iya, kamu bulan madu ke mana, Li? Pasti romantis…"
"Ah, biasa saja. Tidak ada yang istimewa…"
"Lho, kok?"
"Ah…begitulah. Tapi kami bahagia, kok. Aduh, Hil! Aku lupa, hari ini juga ada janji penting dengan orang lain! Hm…aku kan tetap kerja walau di rumah… freelance..."
Aku pura-pura kaget dan sedikit terbata sambil menatap jam di handphoneku. Sekedar untuk mengalihkan perhatiannya agar dia tak lagi menyuruhku bercerita lebih banyak lagi tentang pernikahanku.
"Yah…! Sebenarnya aku masih ingin bercerita banyak hal padamu. Kamu sendiri juga belum cerita banyak. Padahal kesempatan bertemu hanya hari ini karena nanti malam aku sudah harus kembali ke Surabaya… Ya udah, deh. Ceritanya kita lanjutkan kapan-kapan saja. Oh iya, salam untuk suamimu ya, Li!"
Aku hanya menjawab permintaan Hilma dengan senyuman terpaksa. Lalu bergegas meninggalkannya setelah mengucapkan sebait salam…

***

Beruntung aku masih bisa menahan air mataku di depan Hilma. Tapi di mobil yang sunyi ini… Aku tak mungkin membohongi diriku sendiri bahwa aku juga berhak untuk rapuh. Segera kularikan mobilku menuju rumah. Aku ingin menangis sepuasnya. Di atas ranjangku yang selalu kering. Di atas cinta yang ternyata semu. Di atas harapan yang ternyata sebentar lagi akan runtuh. Baru kusadari… bahwa ternyata aku hanya membangun kastil impian itu di atas pasir. Dan badai sebentar lagi datang. Aku hanya tinggal menunggu waktu. Kastil itu akan hanyut hingga tinggal puing-puing yang menyisakan pedih…
Cintaku ternyata tak sebesar yang pernah kubayangkan, mas. Aku ternyata hanyalah seorang wanita lemah. Sama seperti wanita lainnya. Yang tidak mungkin rela dibohongi… Aku tetap punya impian untuk bisa menjadi seorang isteri yang sesungguhnya. Aku tak menyangka, bahwa kau ternyata tega mengubur impian itu…

***










PENGGALAN 10




Brakk!!!
Ah, terlalu tergesa-gesa aku membuka pintu depan. Dan mas Indra ternyata sudah tiba di rumah lebih awal. Kulihat wajah mas Indra pucat. Ada sisa darah yang mengotori hidungnya. Aku melihat segurat keterkejutan di wajahnya.
"Li…, kok pulang cepat? Katanya mau ketemu teman lama…"
"Iya, mas… Aku…" entah kenapa tiba-tiba aku gugup. Sosok itu seakan berubah menjadi orang asing yang tak pernah kukenal sebelumnya. Sedangkan kantong air mata yang tersimpan di tulang wajahku serasa akan segera meledak…
"Matamu kenapa? Kok basah?"
Ah, kenapa kau masih juga sempat memperhatikan wajahku, mas! Padahal aku tahu… kau menyimpan masalah besar dalam hidupmu.
"Uhuk! Huk!....Huk! Huk!"
Tiba-tiba mas Indra terbatuk-batuk. Cukup keras. Dan aku melihat ada segumpal darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Mas, kenapa?" tanyaku basa-basi. Aku belum punya kekuatan yang cukup besar untuk menanyakan semuanya sekarang.
"Li… maafkan aku!"
Ya, Allah… suara itu begitu berat. Seperti ada ribuan beban yang harus ditanggungnya. Apakah dia akan membuat semacam pengakuan? Kuatkan aku, Tuhan…
"Mas, aku sudah tahu!"
Akhirnya kukeluarkan kalimat itu. Aku tidak akan sanggup melihatnya membuat semacam pengakuan. Aku bukan hakim yang bisa tetap tegar mengadili terdakwa. Aku hanya seorang wanita yang rapuh karena merasa dibohongi oleh orang yang teramat kucintai. Dan aku tak ingin dia melihat kerapuhan itu…
"Mak…sud…mu?" mas Indra tampak gugup. Tangannya yang mendadak kulihat begitu kurus itu menyeka keringat di dahinya.
"Aku adalah wanita yang cukup beruntung. Mas Indra memilihku untuk menjalani hari-hari terakhir mas. Makasih, mas Indra masih begitu baik dengan tidak pernah menyentuhku sebagai seorang isteri. Aku hanya kecewa… kenapa selama ini mas Indra membohongiku? Mas Indra telah membeli impianku dengan kebahagiaan semu yang menyakitkan!"
Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja dengan nada sinis. Aku tak peduli apakah saat itu dia akan kecewa. Aku juga sakit, Mas!
"Li… kamu boleh mengatakan apapun. Tapi percayalah… aku benar-benar mencintaimu!"
"Tapi tidak dengan menipuku dan mengorbankan kebahagiaanku, kan?"
"Tadinya kupikir aku akan segera mati. Dan… aku ingin kamu yang mendampingiku di saat-saat terakhirku…"
"Mas Indra egois!"
"Maafkan aku, Li! Tadinya aku yakin… tak ada perempuan sebaik dirimu. Yang bisa menerimaku apa adanya. Tapi ternyata aku salah…"
Kau salah besar, mas… Cinta saja tidak cukup, bukan?
"Kalau memang perpisahan yang kamu inginkan… aku akan menceraikanmu!"
Semudah itu kau akan mencampakkanku? Kamu pikir tidak menyakitkan menyandang status sebagai seorang janda?
Li, kamu yang bodoh. Kenapa dulu kau memilihnya? Sudahlah, itu konsekuensi yang harus kamu terima…
Sekarang dia membutuhkanmu, Li. Tegakah kau meninggalkannya dalam keadaan seperti ini?
Li, kamu masih punya masa depan. Untuk apa mempertahankan seorang pengkhianat seperti dia?
Dualisme dalam pribadiku saling berebut memenangkan perasaanku. Antara ego dan moral kemanusiaan…
"Mas… apa salahku?"
Tangisku akhirnya pecah juga. Tubuhku jatuh terduduk di sofa. Kali ini aku merasa duniaku benar-benar runtuh. Cinta… kenapa kau harus ada jika hanya untuk menyakiti… Tidak! Cinta tak pernah salah. Keegoisanlah yang membuatnya kehilangan makna.
Hilma, seandainya masalah ini tidak ada hubungannya denganmu, aku ingin berbagi padamu. Aku tak sanggup memikulnya sendirian…
Kurasakan tubuh mas Indra memelukku hangat. Kehangatan itu masih sama seperti pelukan yang kemarin kurasakan… Tapi hatiku tetap saja membeku. Dingin…
"Maafkan jika aku memaksamu untuk ikut merasakan penderitaan ini, Li…"
Suara itu terdengar begitu rapuh. Ya Allah… benarkah aku sanggup meninggalkannya? Benarkah sudah tak tersisa cinta di hatiku?

***

"Mas, aku mau pulang hari ini. Mungkin di kampung aku akan lebih bisa menenangkan diri…"
"Baiklah, kalau memang itu yang kamu inginkan. Maafkan aku… Mintalah petunjuk pada-Nya. Ikuti kata hatimu. Jangan pernah merasa terpaksa…"
Aku tahu, mas. Hatimu sebenarnya tak setegar seperti yang kulihat dalam senyummu. Dan itu sudah cukup bagiku…
Mas Indra masih mengantarku ke airport. Dia memang tak lagi terbatuk-batuk seperti kemarin. Tapi aku mulai menyadari, ada yang lain di wajahnya. Aku mulai melihat rasa sakit itu…
Tak ada sepatah katapun yang kami bicarakan dalam perjalanan. Aku dan mas Indra sama-sama membisu dalam lamunan masing-masing. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas hatiku masih menyimpan kepedihan itu, meski sedikit demi sedikit ada perasaan lain yang kini menghentak-hentak di sana. Perasaan berbentuk keraguan. Aku ragu apa benar-benar bisa melupakan laki-laki itu… Laki-laki yang telah membuat otakku begitu aktifnya memproduksi oxytocine. Hormon yang membuat aku selalu membutuhkan dirinya. Tapi sejenak kemudian keraguan itu berganti kebencian yang menyesakkan.

***

Kutatap makam ibu yang sudah mulai rata dengan tanah. Ah, tak terasa. Tiga tahun sudah aku tak pernah lagi mendengar suaranya. Tiga tahun sejak aku dinyatakan lulus dari gelar kesarjanaanku.
"Apalagi yang kau cari, nak?"
Ibu… itu pertanyaan terakhirmu yang tak pernah bisa kujawab. Pertanyaan terakhir yang kau lontarkan ketika aku meminta restumu untuk mengadu nasib di Jakarta. Waktu itu aku tidak pernah menyangka bahwa itu adalah benar-benar saat terakhir aku masih bisa merasakan belaian tanganmu. Dulu aku berpikir banyak sekali yang akan kucari. Tapi ternyata sampai saat ini aku tetap tak menemukan apa-apa yang bisa kubanggakan padamu…
Ah, ibu. Yang kutemukan hanyalah tempat terluas itu. Yang dulu kau pernah bilang bahwa tempat terluas di dunia ini adalah hati. Segumpal darah itu sering tak pernah bisa cukup terisi oleh apapun. Dia kadang tak pernah merasa puas meski telah terpenuhi dengan harta, tahta, cinta atau hal-hal duniawi lainnya. Tapi aku belum berhasil menemukan Sang Maha Luas dalam arti yang sesungguhnya. Yah, Sang Maha Luas yang menurutmu, hanya Dia-lah yang dapat memenuhi keluasan hati itu…
Ibu… kini anakmu berada di tengah lautan. Terombang-ambing oleh keegoisan diri sendiri. Aku tak tahu ke mana harus kudayung perahu kecilku ini. Sedangkan sisi-sisinya telah mulai retak. Dan aku akan tenggelam jika tak segera menepi. Tapi dermaga mana yang harus kutuju? Kekuatanku telah hilang… Aku kini bukan Lili yang tegar itu.
Ibu… aku ingin punya tujuan. Aku ingin punya sesuatu yang berarti. Yang pantas untuk kuperjuangkan dalam hidup ini. Entah apa itu. Cintakah? Agamakah? Atau mungkin sebuah prinsip… Tapi kini aku tak punya semua itu. Atau mungkin pernah memilikinya, hanya saja aku tak pernah mampu mendefinisikannya…
Ibu… aku rindu padamu. Lihatlah, bidadari kecilmu ini sudah dua puluh lima tahun. Namun tetap tak pernah menemukan arti dewasa. Aku lelah, ibu. Lelah. Lelah…
***
"Li, ba'na kodhu ka dokter, nak! Kole'na ce' panassa.." ujar pakde diselimuti kekhawatiran. Tangannya yang kasar mengusap keningku dengan kain basah.
"Enggi, pakde. Lagguna bai…" sahutku kemudian.
"Kamu pasti kecapekan, kenapa tidak datang bersama suamimu?"
"Dia sibuk, pakde…"
Untung saja pakde tak menanyakan lebih lanjut kenapa suamiku terlalu sibuk sampai-sampai tidak bisa mengambil sendiri dokumen pernikahan yang tertinggal di kampung. Sebuah alasan yang kulontarkan ke pakde kemarin, ketika aku tiba-tiba sudah berada di rumahnya. Semoga saja dia juga tak menangkap kegelisahan dalam tatapanku.

***


"Kenapa harus tes urine segala, dok?" tanyaku heran pada dokter muda itu.
"Sepertinya ada hal lain yang menyebabkan anda pusing dan mual-mual. Sistole diastole anda normal. Jadi, saya yakin pusing itu bukan disebabkan oleh tekanan darah…"
"Tunggu sebentar, bu! Saya baca hasil tesnya…"
Aku hanya diam menunggu. Dokter itu pasti lebih tahu. Jadi aku pasrah saja pada diagnosanya.
"Berapa usia pernikahan anda, Bu?"
Aku menaikkan alis. Untuk apa dokter itu menyinggung masalah perkawinan?
"Mm… sekitar dua bulan, dok!"
"Oh ya? Selamat, bu, Anda hamil…!"
Apa? Dokter ini tidak gila bukan? Bagaimana aku bisa hamil, sedangkan suamiku tak pernah menyentuhku sedikitpun…
Catatan:
Percakapan dalam bahasa Madura.
1) Li, ba'na kodhu ka dokter, nak! Kole'na ce' panassa.. " artinya, "Li, kamu harus ke dokter. Badanmu panas sekali."
2) "Enggi, pakde. Lagguna bai…" artinya: "Ya, pakde. Besok saja."
"Dok, itu tidak mungkin. Anda pasti salah, dokter! Tolong, jangan katakan bahwa saya hamil. Anda pasti salah! Saya tidak mungkin hamil, dokter…"
Aku panik. Dokter itu menatapku keheranan. Mungkin baru kali ini ada seorang wanita yang sudah menikah justru tidak mau dibilang hamil. Bukankah itu adalah sebuah anugerah terindah bagi pasangan yang sudah menikah?
"Ibu…tenang, Bu. Anda punya masalah dalam rumah tangga Anda?"
Aku menggeleng lemah. Menyadari kebodohanku yang tidak mampu mengontrol emosi.
"Saya yakin tes ini tidak salah, Bu. Coba Ibu ingat, kapan tanggal terakhir ibu melakukannya dengan suami…"
Tatapan dokter itu mengisyaratkan kalau dia mencari sesuatu di mataku.
Ah…suatu malam di hotel De Ville dekat Notre Dame yang mewah dan indah. Malam itu aku memang begitu lelah dan mengantuk, tapi mas Indra bersikap begitu romantisnya padaku... Mungkinkah malam itu... Ya Allah...mengapa aku melupakan saat-saat itu? Aku ingat sekarang!
Tidak!! Aku memang menginginkan hal itu... tapi dengan kondisi mas Indra yang sebenarnya, hanya sesal dan benci yang ada di hatiku. Mengapa dia tega melakukannya? Bukankah tujuannya untuk menikahiku hanya untuk menemani saat-saat terakhirnya menjemput maut…
Tidak! Aku tidak boleh hamil! Takkan kubiarkan anakku mewarisi penyakit ayahnya… Takkan kubiarkan anakku menjadi seorang anak pezina… Tidak!!!
"Bu, anda tidak apa-apa bukan?"
"Saya harus tes darah sekali lagi, dok!" tukasku kemudian. Dokter itu semakin heran.
"Untuk apa?"
"Suami saya penderita AIDS, dok! Saya tidak boleh hamil. Saya tidak mau anak saya tertular penyakit ayahnya…"
Lagi-lagi aku tak mampu mengontrol emosi. Dan keluarlah kalimat itu begitu saja... Dokter itu kembali terkejut walau hanya sejenak. Dan menit berikutnya wajahnya kembali tenang.
"Baiklah, kalau itu yang Ibu inginkan. Kita akan segera melakukan tes darah sekali lagi…"
"Maaf, dok. Saya terlanjur mengatakannya. Saya harap dokter bisa menjaga rahasia ini."
"Tenang, Bu. Itu bagian dari profesionalisme saya. Saya jamin, rahasia itu hanya kita dan Tuhan yang tahu…"

***

Menunggu hasil tes darah itu bagiku seperti menunggu kematian. Tiga malam berturut-turut aku tidak bisa tidur nyenyak. Hanya sujud-sujud panjangku tempat aku berharap kini. Aku yakin, Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuanku. Tapi tetap saja kegalauan itu tak mau menjauh dari otakku.
Dan pagi itu adalah pagi yang begitu menegangkan. Aku menyusuri koridor rumah sakit yang masih sepi. Perasaanku tak karuan. Kebencian di hatiku tetap saja tak mau sirna. Belum lagi ketakutan bahwa aku juga akan tertular penyakit itu. Mungkinkah aku juga akan bernasib sama seperti Hilma? Menjalani hari-harinya dengan…
"Hasil tes HIV nya negatif, Bu!"
Deg! Aku tidak tahu harus tersenyum atau menangis. Aku takut terjadi kesalahan dalam tes itu…
"Dokter tidak salah?"
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Bu. Karena saya tahu ini sangat menentukan bagi nasib kandungan Ibu. Saya yakin tesnya negatif… Jadi tidak ada masalah dalam kehamilan ibu. Jangan lupa untuk berdiskusi dengan suami ibu mengenai hal ini. Mungkin ini yang terbaik dari Allah untuk Anda berdua…"
Ya Allah…benarkah ini? Tapi mana mungkin mas Indra tidak menularkan virus itu padaku? Adakah yang masih tersembunyi… Ya Allah, izin aku mengetahuinya… Ini menentukan keputusanku…

***

Hari itu juga aku terbang ke Jakarta. Aku harus tahu semuanya. Apa sebenarnya yang terjadi.
Mas Indra masih di kantor ketika aku menelponnya dari rumah.
"Mas, ceritakan tentang penyakitmu. Sejujurnya. Jangan sampai ada yang kau sembunyikan…" pintaku di ujung telepon tanpa basa-basi lagi.
"Lili..kapan datang? Kok nggak telpon dulu. Aku kan bisa menjemput kamu di bandara…"
"Mas, jawab dulu pertanyaanku! Ini menyangkut masa depan kita…" ujarku datar. Sepertinya mas Indra tidak menangkap kegelisahanku.
"Ok, tapi tidak di sini. Aku akan pulang sekarang."

***

"Li… aku menderita bronchitis akut. Dokter memvonisku akan sulit untuk mempunyai keturunan. Karena nafasku yang abnormal cenderung menyebabkan aku tidak akan mampu memenuhi kewajibanku sebagai seorang lelaki. Makanya aku takut ketika kemarin kamu bilang sudah mengetahui semuanya…"
"Bronkhitis? Bukan AIDS?"
"Hah? Apa maksudmu, Li?" kini giliran mas Indra yang bingung. Aku pun bingung. Apa mungkin Hilma memberikan keterangan yang salah?
"Mas pikir, aku tahu penyakit mas darimana?"
"Hasil rontgenku hilang. Kupikir kamu yang menemukan dan kemudian membacanya…"
"Hasil rontgen? Aku tidak pernah melihatnya. Mungkin terbuang Bi Inah. Lalu…?" aku termangu kebingungan…
"Li? Sebenarnya ada apa? Kenapa?"
Tuhan… aku harus siap. Aku tidak mau terus tenggelam dalam ketidakpastian…
"Sebenarnya kemarin aku ketemu Hilma. Dia bercerita banyak hal tentang apa yang menimpanya. Hilma juga bercerita tentang siapa sebenarnya laki-laki yang menghamilinya. Dan laki-laki itulah yang menularkan virus itu padanya. Sekarang jujurlah, mas. Aku sudah terlanjur sakit. Jangan bohongi aku lagi…!"
"Li… aku memang pernah melakukannya dengan Hilma. Tapi itu sebuah kecelakaan… aku khilaf, Li! Aku pikir Hilma tidak akan menceritakannya padamu. Aku sudah bertekad untuk memperbaiki diri hingga akhirnya menikahimu…"
Apa? Kecelakaan? Khilaf? Tidak sesederhana itu, mas…
Mas Indra tertunduk sedih. Perih itu menusuk hatiku lagi. Sekarang, perih itupun harus kubagi dengan makhluk mungil yang kini mendekap hangat dalam rahimku. Semakin sakit rasanya.
"Tapi aku bukan pengidap AIDS, Li! Kalau kau tidak percaya aku bisa melakukan tes darah. Dan aku tahu persis, dokter yang merawat Hilma mengatakan bahwa Hilma tertular dari transfusi darah…bukan dari aku! Aku tidak mengerti kenapa Hilma tetap berprasangka bahwa aku yang menularkannya."
Sayang, penjelasanmu tidak berpengaruh apapun bagiku, mas. Aku sudah terlanjur sakit. Tapi… anakku juga membutuhkan seorang ayah. Apa yang akan dirasakannya kalau aku akhirnya memilih untuk bercerai?
"Maafkan aku, mas!" lirihku. Aku tidak tahu harus meminta maaf untuk apa. Mungkin untuk bayi tak bersalah ini…
"Akulah yang harus minta maaf, Li. Kamu pasti sudah mengambil keputusan, bukan? Semoga itu yang terbaik bagimu. Yang pasti… aku masih sangat mencintaimu."
"Aku sudah menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian kita. Semoga kamu menemukan pendamping yang bisa membahagiakanmu. Bisa menjadikanmu seorang isteri yang sesungguhnya. Bisa memberimu keturunan. Bisa…"
"Mas, cukup! Aku tidak tahu keputusan terbaik itu apa!!"
Aku berteriak dalam isak yang semakin menghimpit dadaku. Tergesa-gesa aku mengulurkan secarik kertas…
Mungkin aku tak lagi punya cinta untukmu, mas. Tapi anak ini…
"Mas, aku hamil…"
"Hah…apa, Li?" Mas Indra menatap kertas itu tak berkedip. Menyusul sebuah senyuman yang kemudian mewarnai wajahnya. Senyuman yang justru merobek batinku yang telah penuh luka.
Mata mas Indra masih meneliti satu persatu tulisan di atas kertas itu. Sepertinya dia masih ragu dengan tanda positif yang tergambar besar di kertas itu. Setelah itu tatapannya beralih ke wajahku. Mata itu nanar… dilumuri rasa bersalah.
"Di hotel De Ville…" suara mas Indra terdengar lirih. Ucapannya seakan membenarkan ingatanku.
"Li, kamu akan menjadi seorang ibu?"
"Kamu kejam, mas!" sahutku dalam selimut kebencian.
"Li…kumohon, maafkan aku. Demi anak itu… demi anak kita…"
Kalimatnya memelas. Tangan kekarnya kemudian menggenggam tanganku seperti tak berdaya. Ada permohonan yang begitu dalam di sinar matanya.
"Li…kumohon, ikhlaskan kesalahanku. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita…!"
Ya, Allah… Ini adalah pilihan yang maha berat…
Akhirnya aku menjatuhkan diri dalam pelukan mas Indra. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sakit itu masih begitu menusuk … Tapi aku sadar, cinta memang selalu butuh pengorbanan. Dan aku akan melakukan apapun demi cinta sejati itu..
Cinta sejati seorang ibu…
***
Ya Allah… Biarlah masa lalu itu benar-benar berlalu
Sekarang kami ingin merajut masa depan…
Dan kini, sempurna sudah kebahagiaan yang Kau anugerahkan pada kami…
Kumohon, tunjukkan pada kami bagaimana caranya bersyukur atas anugerah yang begitu agung ini, Robbi…
Ibu… kini aku menemukan tujuan itu.. tujuan yang akan aku perjuangkan.
Tujuan yang dulu mungkin begitu kau junjung tinggi…
Mendidik anakku menjadi orang yang bisa membuat orang tuanya bangga di hadapan Allah… di akhirat kelak…
"Mas… anak kita kembar! Kamu pilih yang mana?"
"Pilih yang tidak mirip ibunya…"
"Kalau semua mirip ayahnya, aku juga nggak mau..!"
Ah, kastil yang terbangun di atas pasir itu ternyata masih begitu kokoh. Karena pondasinya dibuat dengan gaya arsitektur tercanggih bernama keihklasan…
Dan pagi-pagiku selanjutnya diwarnai lengkungan pelangi yang terpancar dari kerlip-kerlip cahaya dalam sepasang mata mungil kedua boneka kecilku…

0 Response to "Pelangi Retak 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified