Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Negeri lima Menara 5

Princess Of Madani

Hari pertama masuk sekolah masih menyisakan hal-hal yang menyenangkan selama liburan. Cerita kami tidak habishabisnya tentang apa yang telah dikerjakan dan akan kami lakukan. Semua senang bertemu teman lagi, tapi juga agak malas harus kembali ke kelas lagi.

“Selamat datang kawan-kawan, ayo mana oleh-oleh kalian untukku yang telah menjaga kamar kalian selama dua minggu?” sambut Kurdi dengan senyum lebar kepada anakanak yang terus berdatangan setelah libur. Beberapa orang memberinya makanan seperti jenang, dodol Garut, dan kerupuk tempe.

Kurdi seorang anak bermuka bundar dan berperut lebih bundar dengan pembawaan riang gembira. Dia kawan satu kamarku dan memilih tidak liburan karena orang tuanya jauh di Kalimantan. Dia sangat menyukai seni lukis dan matematika. Dan dia bertekad menggunakan liburan di PM ini untuk mendalami lukisan minyak. Bosan melukis, dia ke perpustakaan untuk membaca buku-buku teori matematika. Kombinasi hobi yang unik.

Tidak hanya kami yang liburan saja yang punya cerita menarik. Kurdi juga tidak mau kalah. Selama ini dia memang tidak pernah kehabisan cerita-cerita lucu dan gosip terbaru seputar PM. Kakak pertamanya seorang ustad dan kakak keduanya duduk di kelas enam. Tidak heran dia punya informasi yang lebih banyak daripada kami. Kami selalu merubungnya begitu dia mulai menceritakan hal-hal yang membuat kami terbahak-bahak sampai sakit perut. Tapi kali ini ceritanya tidak mengocok perut.

“Saya baru dapat info kalau kita akan punya warga baru yang istimewa di sini. Seorang gadis caaaantik.” Kata cantik diucapkannya dengan hiperbolik. Kontan kami yang masih sibuk membongkar koper masing-masing berhenti, menoleh ke dia, menunggu cerita selanjutnya.

“Nah, kalau cant ik aku bilang, baru kalian tertarik mendengar,” kata Kurdi terbahak menikmati leluconnya sendiri.

“Keluarga Ustad Khalid baru pulang dari Mesir, dan mereka akan tinggal di rumah dosen, tidak jauh dari sini.”

“Lalu, apa hebatnya!” kata kami protes.

“Nah, ini yang kalian tak tahu. Telah jadi legenda di kalangan kakak kelas bahwa ustad ini punya anak gadis cantik yang tidak jauh umurnya dengan kita.”

“Wah!”

“Iya, jadi gosipnya kita akan punya “putri” di sini.”

“Masih ingat tuan putri yang aku ceritakan kemarin? Yang anak Ustad Khalid?” t anya Kurdi retoris di tengah kamar suatu sore.

Saat itu hampir semua anggot a kamar ada. Kami mengangguk-angguk sambil sibuk menutup lemari masingmasing, bersiap-siap ke masjid.

“Aku kemarin melihat dia di depan rumahnya,” lanjut Kurdi bangga. Kami meliriknya iri. “Kalau melihat sih biasa. Banyak yang sudah pernah melihat, dari jauh. Tapi yang tahu namanya baru aku,” kata Kurdi berbinar-binar.

Seketika itu juga terdengar bunyi pintu-pintu lemari ditutup buru-buru. Kami segera merubung di sekitarnya dengan penasaran. Barulah setelah kami janjikan berbagai konsesi makanan serta traktiran, Kurdi akhirnya bersedia menyebutkan rahasia yang dia klaim hanya dia yang tahu.

“Nama tuan putri itu Sarah,” katanya puas dengan imbalan yang dia dapat dari informasi ini.

Sa-rah… Sa-rah. Nama itu seperti bersenandung memasuki kupingku. Indah dan enak didengar. Sejak di PM, semua nama yang kudengar adalah punya laki-laki. Kalau ada yang perempuan, paling banter adalah nama para mbok-mbok di dapur umum seperti Tinem, Sugiyem, dan Jumirah. Tapi Sarah, hmmmm indah sekali didengar.

Di kamar aku bertemu mereka, di kelas aku bertemu mereka lagi, di lapangan bola juga, bahkan di depan kaca, aku pun bertemu makhluk yang sama: laki-laki. Sekolah kami adalah keraja-an kaum lelaki. Tidak ada perempuan di areal belasan hektar ini kecuali mbok-mbok di dapur umum dan kantin, keluarga para guru senior yang kebetulan tinggal di dalam kampus, dan para tamu yang datang dan pergi. Karena itulah, mohon dimaklumi dengan sepenuh hati, bahwa kami agak norak kalau bertemu lawan jenis. Senang tapi gugup. Yang jelas, suatu kebahagiaan tersendiri kalau bisa melihat gadis sebaya apalagi kalau sampai dapat kesempatan mengobrol. Amboi nian rasanya. Kesempatan seperti ini akan terkenang terus sampai berminggu-minggu dan menjadi bahan obrolan di kelas, di kamar, ketika lari pagi, dan di masjid.

Tapi aturannya amat jelas: Mamnu’. Terlarang. Selama di PM, kami tidak diizinkan untuk berpacaran dan berhubungan akrab dengan perempuan. Jangankan saling bertemu, bersurat-suratan saja dilarang. Hukumannya tidak main-main, paling rendah dibotak, dan bisa naik kategori menjadi dipulangkan.

Sore itu ketika akan ke masjid, kami Sahibul Menara yang penasaran ingin melihat Sarah, mengambil jalan memutar sehingga lewat di depan rumahnya. Dan berapa beruntungnya kami, sekilas kami melihat seorang gadis berkerudung hijau di tangkan rumah baru Ustad Khalid. Bersama dengan seorang ibu, dia merapikan beberapa kardus yang bertuliskan Arab. Sambil tetap berjalan lurus ke arah masjid, kami menoleh takut-takut ke arah rumah itu. Walau hanya sekilas wajahnya, tapi aku setuju dengan gosip dari Kurdi, gadis ini seperti seorang putri.

Di bawah menara, kami berlima sering membahas masalah yang satu ini.

“Apa kamu pernah pacaran Lif?” tanya Atang dengan pandangan agak merendahkan umurku. Dia tahu pasti, sebagai anak yang lebih muda tiga tahun dari dia, tentulah aku tidak punya pengalaman.

“Tentu saja,” jawabku pendek membela diri. Dalam pikiranku tergambar peristiwa waktu aku saling pinjam buku pelajaran dengan teman perempuan sekelas. Malu berbicara, aku menyelipkan surat pendek berisi pujian di halaman tengahnya. Sejak itu teman itu menjauh dariku.

“Aku setamat di sini akan mengawini Najwa, dari keluarga pamanku,” sahut Said dari ujung, terpancing pembicaraan kami. Waktu libur kemarin Said telah memperlihatkan fotonya kepada kami.

“Alah, masih tiga tahun lagi kok disebut-sebut sekarang. Sudah keburu direbut orang,” timpal Raja sambil terkekehkekeh. Said merengut mendengarnya, tapi membalas.

“Orangtua kami telah setuju. Dan kami telah sepakat…” sergahnya.

Menurut Said, sejak dia masuk PM, keluarga calonnya semakin kesengsem. Aku kira Said punya semuanya untuk menjadi menantu idaman para mertua. Anak muda yang tampan, berbadan tegap dan baik hati, kaya, punya nasab keluarga yang baik, dan sekarang belajar di PM pula. Ketika melepas kami liburan Kiai Rais pernah mengatakan bahwa semakin lama kami di PM, semakin kami berharga. “Dulu jual paku sekarang jual rambutan, dulu tidak laku sekarang jadi rebutan,” seloroh beliau yang disambut gelak tawa satu aula. Aku biasanya tidak banyak bicara. Apalagi memang tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang hal ini. Tapi nama Sarah yang bersenandung itu membuat aku memberanikan diri berkata, “Kalau aku ingin berkenalan dengan Sarah,” kataku.

Semua mata memandang kepadaku. Pertama dengan sorot kaget, lalu dengan pasti berubah menjadi mengejek. “Wah, ada punguk merindukan bulan nih,” kata Atang sambil terkekeh tanpa suara. Senioritasnya sebagai lulusan SMA muncul.

“Sarah adalah idaman semua orang. Dan dia berada di tempat yang paling tidak bisa ditembus. Bapaknya, Ustad Khalid adalah salah seorang guru yang paling tegas dan disegani. Bagaimana mungkin kau akan bisa?” tanya Raja.

“Tapi, kan kalau ada niat ada jalan. Man jadda u/ajada, kan?” kataku sekenanya. Dalam hati, aku juga tahu, jauh panggang daripada api.

“Aku traktir makrunah sebulan kau kalau sampai kenal dengan dia,” tantang Raja menggebu-gebu seperti biasa. Makrunah adalah menu khas kantin PM berupa mie gemukgemuk bergelimang kecap, bawang goreng dan rajangan cengek. Menu favorit di kantin kami.

“Oke, aku tidak takut tantanganmu. Akan kubuktikan aku bisa. Akhi semua, kalian dengar kan ya?” jawabku agak kesal. Mataku mengedarkan pandangan.

“Oke, janji. Tapi dengan syarat, ada gambar kau dengan dia,” tambah Raja cengengesan.

“Hah, bilang saja kau tidak berani. Kok pakai syarat aneh segala macam.”

“Kalau gak mau ya sudah. Artinya gak berani. Titik. Take it or leave it.”

“Kita lihat saja nanti siapa yang menang!” kataku mulai sengit. Aku agak tersinggung dengan gaya bicara Raja yang me-remehkanku. Aku tahu dia memang lebih baik.

Banyak keajaiban terjadi di dunia karena orang telah memasang tekad dan niat, dan lalu mencoba merealisasikannya. Aku pun percaya dengan man jadda wajada itu. Dan aku akan membuktikan bahwa Raja salah dan tidak boleh meremehkan aku seperti itu. Aku akan membuat pembuktian. Kita lihat saja nanti.

Sementara aku dibakar emosi untuk membuktikan Raja salah, isu tentang Sarah semakin merajai pembicaraan sehari hari d i PM. Dia dibicarakan di mana-mana, t api sekaligus tidak ada di mana-mana. Dia seperti hantu, sosok yang terus dibicarakan dan dibayangkan, tapi tidak ada wujudnya. Obrolan tentang Sarah bahkan kini mengalahkan popularitas Rosadi, penyerang tim sepakbola PM yang bisa lari seperti kijang dan Teguh, juara pidato bahasa Inggris yang baru memenangkan piala gubernur di Surabaya.

Rumah Ustad Khalid dan beberapa guru senior tepat berada di pusat kampus kami. Setiap akan masuk kelas dan ke dapur umum, pasti kami bisa melihat rumahnya. Sering kami mengambil jalan memutar untuk sengaja melewati rumahnya. Dan set iap lewat itulah aku dan ribuan kawan lainnya berkompetisi bebas untuk mencuri pandang ke arah beranda rumahnya dengan harapan: Sarah sedang ada di luar rumah menyiram bunga.

Sayang seribu kali sayang, harapan kolektif kami ini jarang terjadi. Yang kadang terjadi, Sarah sekelebat turun dari mobil dan langsung masuk rumah. Yang kami lihat adalah sekilas punggungnya ketika menuju pintu rumah, dan kalau beruntung, sekilas wajahnya ketika dia menutup pintu dan melihat ke arah luar. Dan walau pemandangan ini hanya sekelebat, setiap penampakan Sarah adalah berita menggemparkan bagi kami semua.

Siapa pun yang bisa melihat penampakan sekelebat itu akan dengan royal bercuap-cuap kepada semua orang, di kamar, di kelas, di bu lis lail dan sebagainya. Tentu tidak ada yang bisa menjamin kalau cerita ini juga telah dibumbui berbagai hal dramatis.

Tiga minggu setelah liburan, dengan pakaian “dinas” ke masjid, kami seperti biasa berkumpul di bawah menara. Dari kejauhan, kami melihat Dulmajid berlari-lari. Mukanya merah, mulutnya seperti mas koki, megap-megap mencari udara, tapi matanya bersinar.

“Ya akhi, tau gak, hari ini aku dapat rezeki besar!” teriaknya kepada kami berempat. Aku yang sedang dalam penantian abadi terhadal wesel berharap dia mendapat wesel atau kiriman makanan. Lumayan bisa meminjam atau dapat makan gratis.

“Makanan atau wesel?” tembakku langsung.

“Bukan… yang ini lain,” katanya mengerlingkan mata. “Tadi, ketika aku jadi piket asrama siang, aku melihat pemandangan yang sangat jarang. Tidak lain dan tidak bukan, si Sarah berkeliling PM dengan keluarganya. Bahkan sempat melihat asrama k ita!” lapornya semangat.

Terus?” perhatian kami semuanya sekarang tersedot. Semua kepala merapat ke Dulmajid.

“Ya aku lihat saja…”

“Kamu tidak berusaha senyum, menyapa, atau berkenalan?”

“Iya, itu dia, kenapa aku tidak melakukannnya,” kata Dulmajid dengan muka masygul. Dia menyesali dengan amat dalam kekeliruannya.

“Bagus nasib kau. Tapi artinya tetap saja kau tidak bisa memenangkan makrunah sebulan dariku. Tak ada fotonya,” sergah Raja cepat dengan iri.

Bukan dia saja yang iri. Kami semua, bahkan semua penduduk PM melihat siapa saja yang beruntung melihat penampakan Sarah dengan penuh benci dan iri. Kok bisa mereka sebe-runtung dengan benci dan iri, kami tetap dengan antusias duduk melingkar mendengarkan si Dulmajid yang sekarang mengulang detik-detik dia melihat Sarah. Walau dalam arti senyatanya memang hanya hitungan beberapa detik. Sekelebat saja.

Kalau dihimpun cerita beberapa saksi mata dan pengalamanku sendiri, Sarah adalah gadis muda berumur 15 tahun yang sangat menarik. Alisnya hitam kelam dan tebal. Ujung kedua alisnya nyaris bertemu saking suburnya. Mungkin ini yang dimaksud dengan ungkapan semut beriring. Mukanya putih dan lonjong dibalut jilbab.

Kini, set iap melewati rumahnya, tidak pernah aku lewatkan untuk menengok ke beranda rumahnya. Apa daya, upaya melengos ke kanan jalan tidak menghasilkan apa-apa. Sarah tidak pernah tampak. Beberapa kali yang muncul adalah Ustad Khalid yang berkumis lebat. Cepat-cepat aku palingkan wajah ketakutan.

Aku mulai menyusun berbagai rencana yang mungkin untuk menembus tembok Cina ini. Ada beberapa kemungkinan yang aku pertimbangkan. Pertama dengan cara paling jantan, datang bertamu ke rumah Ustad Khalid untuk bertanya tentang pelajaran. Di PM, kapan saja seorang murid boleh mengetok pintu rumah ustad untuk bertanya tentang pelajaran. Aku membayangkan, ketika asyik berdiskusi hangat dengan Ustad Khalid di beranda rumahnya, Sarah muncul menating secangkir teh hangat dan pisang goreng. Tapi aku segera menghapus lamunan itu, karena Ustad Khalid tidak mengajar kelasku.

Cara yang kedua yang lebih mungkin adalah memanfaatkan kedudukanku sebagai wartawan majalah kampus Syams. Aku bisa mengajukan surat untuk wawancara panjang dengan Ustad Khalid, untuk dimuat sebagai rubrik “Mengenal Guru Kita”. Wawancara seperti ini sudah beberapa kali aku melakukannya dengan ustad senior. Tapi aku ragu-ragu. Apakah wawancara ini benar? Apakah sebetulnya motivasiku? Ingin mewawancarai seorang tokoh PM yang baru kembali sekolah, atau mencari peluang untuk kenal dengan anaknya, untuk kemudian membuktikan kepada Raja kalau aku bisa? Aku terus terang bingung menjawabnya. Tapi bukankah niatku benar ketika berniat mewawancarai Ustad Khalid? Kalau dari wawancara itu aku bisa kenal Sarah, berarti itu bonus saja? Bolak-balik aku menimbang-nimbang. Keputusanku: wawancara perlu dilakukan.

Aku segera membuat persiapan. Dengan kop surat majalah kampus, aku tulis surat permohonan wawancara, lengkap dengan alasan wawancara dan beberapa pointer pertanyaan. Intinya aku ingin menggali lebih jauh tentang motivasi, semangat dan nasihat dari Ustad Khalid. Aku ingin tahu bagaimana suka duka menuntut ilmu di Mesir, dan bagaimana kami para siswa PM bisa belajar dari pengalamannya. Semoga Ustad Khalid punya waktu.

Pendekar Pembela Sapi

”Yang terpilih malam ini adalah kamar sembilan!” seru Kak Is. Kami sukacita menyambut pengumuman ini. Beberapa orang bahkan bertepuk tangan girang. Akhirnya, apa yang kami nanti-nantikan setengah tahun ini jadi kenyataan juga. Malam ini untuk pertama kalinya kami sekamar mendapat penugasan menjadi bulis lail atau pasukan ronda malam. Inilah kesempatan yang dinantikan semua murid baru dan juga murid yang lebih senior.

Kasur segera kami gelar dan lampu kamar dipudurkan. Sebagai bulis lail, kami dapat keringanan untuk tidur lebih awal jam tujuh malam. Ketika semua orang masih belajar dan tidak boleh masuk kamar, kami malah diwajibkan tidur untuk persiapan begadang. Setelah tidur 3 jam, Kak Is membangunkan kami untuk memulai tugas mulia ini. “Qum ya akhi. Ayo bangun. Waktunya bertugas. Cepat berkumpul di kantor keamanan pusat untuk untuk briefing dan pembagian lokasi kalian,” katanya di depan kami yang masih menguap dan mengucek-ngucek mata.

PM Madani berdiri d i atas kawasan belasan hektar di daerah terpencil di pedalaman Ponorogo. Pondok dan dunia luar hanya dibatasi pohon-pohon rindang dan pohon kelapa yang julang-menjulang, yang berfungsi sebagai pagar alami sekolah kami. Sementara di dalam PM, banyak sekali barang berharga mulai dari komputer sampai ternak sapi pedaging dan sapi perah kepunyaan PM.

Bagaimana agar sekolah kami aman dari pencuri di malam hari? Kiai Rais mengembangkan solusi praktis: bulis lail. Ronda dari jam 10 malam sampai subuh ini melibatkan sekitar seratus murid set iap malamnya untuk menjaga keamanan PM. Tidak seperti ronda malam di kampungku yang harus keliling, sepasang peronda ditempatkan di puluhan sudut sekolah yang dianggap rawan untuk ditembus oleh pencuri atau orang yang bermaksud jahat lainnya.

Di kantor Keamanan Pusat yang sempit ini kami duduk berdesakkan di lantai. Beberapa orang kembali meneruskan tidur yang terganggu sambil duduk. Tapi begitu melihat Tyson yang membagi penugasan, rasa kantuk kami langsung menguap. Aku mengguncang-guncang Atang yang tertidur duduk dengan gugup sambil membisikkan ke kupingnya, “Tyson”. Tidak ampun lagi, leher layu Atang jadi tegak dan mata yang 5 watt menjadi 100 watt. Mengerjap-ngerjap.

Dengan gaya otoritatif dan suara tegas seperti perwira brimob, Tyson mengingatkan bahwa malam ini keamanan PM ada di bahu kita, karena itu tidak seorang pun boleh tidur sepiring pun. Bagi yang tidur akan dipastikan masuk mahkamah keamanan pusat.

“Adik-adik, malam ini kalian harus lebih waspada. Menurut laporan kepolisian, sekarang musim pencurian. Dan pencurinya bersenjata,” kata Tyson lantang. Wajah kami menjadi tegang.

“Kampung sebelah kita sudah beberapa kali kecurian mulai dari motor sampai sapi. Dan seminggu yang lalu beberapa sapi pondok hilang dari kandang yang terletak di pinggir sungai. Melihat kami memasang wajah jeri, Tyson mencoba menghibur. “Tapi jangan takut, kami sudah menyiapkan pasukan patroli khusus dari ustad dan murid Silat Tapak Madani. Mereka akan berkeliling dari satu pos ke pos lain. Tugas kalian adalah menjaga pos masing-masing. Kalau ada apa-apa, beri isyarat dengan peluit. Siapa yang mendengar peluit harus meniup peluitnya sendiri, sehingga nanti menjadi pesan berantai buat semua orang,” katanya lugas sambil membagikan peluit berwarna merah kepada setiap orang. Said, yang merupakan tim inti Tapak Madani memang sudah beberapa hari ini sibuk dengan latihan khusus. Bahkan malam ini pun dia tidak ikut bersama kami di pos, karena dia bagian dari pasukan patroli khusus tadi.

Briefing selesai. Aku dan Dulmajid mendapat pos di pinggir Sungai Bambu, di pojok terujung PM. Begitu bubar dari briefing, kami menyerbu kantin untuk mempersiapkan perbekalan untuk menemani ronda malam ini. Atang yang baru menerima wesel memborong aneka makanan, mulai dari kacang sukro, mie instant, minuman energi, roti, sampai kerupuk. Sayang, aku tidak berpasangan dengan Atang. Aku yang selalu punya wesel mepet merasa cukup dengan setangkup roti mentega saja. Dulmajid yang mungkin lebih parah situasi ekonominya, cukup senang dengan 2 buah plastik kecil kacang telur. Aku tidak lupa membawa gelas kosong untuk jatah kopi dan air panas yang akan diantar oleh dua petugas.

Untunglah aku tidak kebagian tugas sebagai petugas air. Kedua orang ini harus memasak air panas dan menyeduh kopi di sebuah tong besar. Tong besar ini kemudian ditaruh di atas gerobak kayu yang didorong berkeliling ke set iap pos jaga malam. Bayangkan tugas beratnya, ketika seisi PM tidur nyenyak, dua orang malang yang terpilih ini harus mendorong gerobak yang berat ke 50 pos di kawasan seluas lima belas hektar.

Tepat jam 10 malam, aku dan Dulmajid sampai di lokasi kami, sebuah tempat gelap di ujung barat PM.

Sesuai namanya, Sungai Bambu dikawal oleh rumpun bambu yang menyeruak ke sana-sini. Lokasinya jauh dari keramaian PM, pohon bambunya rapat dan besar-besar. Menurut cerita dari mulut ke mulut, sungai ini terkenal angker. Dulu katanya tempat pembuangan korban PKI. Ingat cerita itu, aku melihat ke sekeliling pos dengan takut-takut. Aku merasa sejurus angin dingin berhembus dan menggetargetarkan pucuk-pucuk bambu. Memperdengarkan gesekan daun yang menyerupai rintihan risau dan resah. Dalam imajinasiku, inilah rintihan para korban PKI puluhan tahun silam. Bulu romaku serempak tegak.

“Dul, kenapa bunyi bambunya seperti itu?” tanyaku kepada Dulmajid, untuk memecah sepi.

Tidak berjawab. Dia mengangkat satu tangan memintaku jangan mengganggu.

Dulmajid, si anak Madura yang tidak pernah memperlihatkan rasa takutnya, kali ini tampak serius. Matanya menatap Al-Quran kecilnya. Dia mungkin mengadakan perlawanan atas ketakutan ini dengan membaca Ayat Kursi dan Surat Yasin dari kitab Quran kecilnya, lamat-lamat. Pos penjagaan kami adalah dua kursi dan sebuah meja kayu. Sebuah bola lampu yang redup-terang seperti kunangkunang raksasa tergantung di sebelah meja. Menurut instruksi Tyson, kursi dan meja kami harus dihadapkan ke sungai untuk memantau daerah ini. Sungai ini tenang dan kelam. Bunyi alirannya halus seperti dengkuran kucing.

Belum lagi hatiku tenang, aku ingat rumor lain yang pernah diceritakan teman lain. Dari kegelapan sungai inilah kerap bahaya kriminal mengintai. Inilah salah satu jalur bagi para pencuri untuk masuk ke PM. Biasanya para pencuri ini pelanpelan menyeberangi Sungai Bambu yang dangkal, kira-kira tingginya sepinggang orang dewasa. Lalu mereka membongkar paksa kelas-kelas, mengambil bangku dan meja kayu dan kembali menyeberang sungai sambil menjunjung tinggi-tinggi hasil jarahannya.

Barulah setelah menamatkan surat Yasin, mengecup Quran, dan meletakkan ke dadanya sebelum diletakkan dengan takzim di meja, Dul mau aku ajak ngobrol.

“Oke kawan, aku siap melawan dedemit Sungai Bambu sekarang,” katanya penuh dengan percaya diri. Inilah momen yang menyenangkan dalam pengalaman bulis. Bisa bicara ngalor ngidul, semalam suntuk, tidak ada jadwal lonceng yang mengganggu, dan satu lagi, tidak perlu takut dicatat jasus kalau memakai bahasa Indonesia. Besoknya bisa pula tidur sampai siang. Dulmajid yang 3 tahun lebih tua dariku berkisah tentang kenangannya di SMA yang menyenangkan. Tapi dia selalu merasa beruntung bisa masuk PM karena merasa banyak belajar ilmu dunia dan akhirat. Profesi bapaknya petani garam di Sumenep. Dengan penda’ patan orangtua yang tidak besar, mengirim Dulmajid sampai SMA dan sekarang ke PM adalah sebuah perjuangan. Dulmajid bertekad untuk belajar keras, kalau bisa juga meningkatkan taraf hidup keluarganya yang telah beberapa generasi menjadi petani garam.

“Nasib kami para petani garam masih tetap asin, belum manis. Penghasilan kami naik turun tergantung harga garam nasional. Ekonomi kami lemah dan pendidikan kurang baik,” katanya menerawang, mengingat dulu dia ikut membantu orang-tuanya bertani garam. Padahal untuk membuat garam perlu banyak tenaga.

“Sebelum diisi air laut, tambak garam harus kering dan tanahnya padat. Ini saja butuh waktu minimal 10 hari, tergantung teriknya matahari. Setelah seminggu kami baru bisa memanen garam di tambak yang telah mengering. Sebuah kehidupan yang berat,” katanya.

Nanti, setamat di PM, dia ingin pulang kampung, memerdekakan kampungnya dari keterbelakangan dengan membangun sekolah. Untuk menambah nafkah, dia ingin menjadi guru di berbagai sekolah agama yang butuh seorang lulusan pondok.

Satu jam pertama kami menggebu-gebu bercerita, dipenuhi ke-tawa khas Dul yang selalu berderai. Semua makanan perbekalan kami tamat dengan cepat. Roti tangkup, dua plastik kecil kacang sukro, dan sebungkus mie yang kami bagi rata berdua. Makanan habis, kantuk mengancam. Aku bercerita tentang permainya kampungku di pinggir Danau Maninjau, sebuah danau dari kawah gunung api purba yang maha besar. Aku telah menggebu-gebu, tapi tidak ada reaksi dari sebelahku. Aku lirik, Dul sedang berjuang melawan jajahan kantuknya yang keji. Kepalanya pelan-pelan jatuh ke dadanya, lalu diangkat lagi dan jatuh ke dadanya, lalu diangkat lagi dan jatuh lagi dan diangkat lagi.

Matanya terpejam di balik kacamata tebalnya.

”Qum ya akhi, kok sudah tidur, belum habis ceritaku,” aku goyang-goyang bahunya.

Dia menggeleng-geleng untuk meraih kembali kesadarannya.

Giliran dia bercerita tentang karapan sapi, aku merasa makin lama suaranya makin halus dan sayup dan hilang sama sekali. Sampai tiba-tiba aku terbangun mendengar bunyi berisik dari rumpun bambu di depanku. Dua ekor tikus besar mencericit berlari melintasi bawah meja kami.

Untunglah lomba mengantuk kami dilerai dengan kedatangan petugas kopi. Ali dan Sabrun, dua kawan sekamarku mendorong gerobak besar berisi kopi dengan susah payah ke arah kami.

“Hoi, la tan’as daiman, ini kopi datang!” kata Ali melihat kami yang berwajah tidur. Sabrun menuangkan cairan hitam ke gelas kami dengan gayung plastik.

Ransum kopi panas mengepul-ngepul ini cukup manjur. Setelah beberapa hirup, kantuk berkurang dan kami kembali mengobrol seru tentang cita-cita masa depan. Aku ingin menjadi Habibie atau wartawan, dan Dul ingin menjadi dosen. Aku ingin kuliah di Bandung, Dul ingin ke Surabaya, supaya dekat ke Madura, katanya. Waktu terus bergulir. Sekitar jam dua pagi, aku menghabiskan tegukan terakhir kopi yang tersisa. Dan perlahan tapi pasti, kantuk datang lagi. Takut tertangkap basah oleh Tyson yang sering Jangan ngantuk terus melakukan razia, kami membuat pakta untuk tidur bergantian setiap 30 menit. Seingatku, pakta ini hanya berjalan satu putaran, dan setelah itu aku tidak ingat ada giliran lagi. Kami berdua benar-benar terjerumus dalam tidur yang pulas.

Sekonyong-konyong, butir-butir dingin dan basah menerpa mukaku berulang-ulang. Aku gelagapan dan memaksa mengungkit kelopak mata yang terasa seberat batu. Pandanganku kabur dan rasanya masih melayang-layang. Samar-samar sebuah telapak tangan yang kukuh mendekat ke mukaku. Jari-jarinya tiba-tiba menjentik. Aku tergeragap. Dan mukaku sekali lagi basah oleh air.

“Qiyaman ya akhi5ll” yang punya tangan itu menggeram. Geraman yang kukenal. Geraman Tyson. Ya Tuhan. Tangan kirinya memegang botol air yang digunakan untuk membasahi mukaku. Melihat aku bangun, sekarang dia menjentikkan air ke muka Dul yang segera mencelat dan terjengkang dari kursinya karena kaget.

Tangannya bergerak cepat memilin kuping kami. “Amanah menjaga PM kalian sia-siakan. Sampai ketemu di mahkamah besok!” katanya dengan desis murka sambil berlalu dengan sepeda hitamnya ke dalam gelap malam. Ah, alamat aku menjadi jasus lagi. Kantukku tiba-tiba punah.

Satu jam lagi azan Subuh akan berkumandang dan selesailah tugas kami. Tugas yang tidak kami lakukan dengan baik. Menurut Tyson, satu jam terakhir ini adalah masa kritis. Biasanya kondisi mengantuk, capek dan merasa sebentar lagi selesai sehingga lengah. Padahal di masa satu jam ini sering terjadi pencurian. Para pencuri datang berkelompok dan bersenjata tajam.

Situasi inilah yang membuat Said beberapa hari ini sibuk dengan latihan dan rapat koordinasi. Dia termasuk tim elit Tapak Madani untuk pengamanan yang dipimpin Ustad Khaidir, mantan atlet silat nasional. Ustad yang berasal dari Lintau, Sumatera Barat ini berperawakan sedang tapi liat. Kalau berjalan seperti kucing, ringan dan lincah. Konon dia menguasai berbagai ilmu beladiri klasik dan modern. Mulai dari silek tuo yang sudah langka di Minang, silat Lintau, sampai kung fu dan tentunya silat Tapak Madani. Dialah idola Said setelah Arnold Schwarzenegger.

Aku sedang berdiri meregangkan badanku yang kesemutan ketika tiba-tiba dari arah hulu sungai kami mendengar suara orang berteriak-teriak dan bunyi kaki berlari mendekat ke arah kami. Tapi sungai benar-benar gulita, kami tidak melihat apaapa yang terjadi. Lampu kecil ini hanya menerangi beberapa meter ke depan. Aku dan Dul saling berpandangan dan bersiaga. Apakah ini pencuri? Kapan kami harus meniup peluit Lalu bunyi lengkingan peluit bersahutan merobek gulita. Kami segera membalas, meniup peluit kami kencang-kencang. Tidak salah lagi, PM sudah dimasuki pencuri!

Derap kaki yang heboh tadi kini berhenti. Sekarang yang terdengar adalah bak-buk-bak!

Lalu terdengar teriakan, “awas! satu orang lari, kejar!!!”

Aku tegang. Derap kaki terdengar makin mendekat ke arah pos kami. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, secara refleks kami berdua mengangkat kursi masing-masing, siap menggunakannya sebagai senjata kalau ada serangan. Dan gerombolan semak di dekat akar bambu tiba-tiba tersibak. Sebuah bayangan hitam melompat cepat, langsung menuju ke arah kami. Dengan gugup aku memicingkan mata, membaca zikir, sambil menyorongkan kaki kursi ke arah depan. Aku lihat Dul juga melakukan hal yang sama. Krak… duk… bruk… Ahhh! Kursi yang aku pegang bergetar seperti dihantam karung goni dan terpental ke samping. Aku membuka mata takut-takut. Sosok hitam yang besar tadi terjengkang dan mengerang kesakitan sambil memegang kakinya, tepat di depan kami berdua, di atas onggokan daun bambu kering. Bajunya hitam, tutup kepalanya hitam. Dengan refleks tanganku kembali meraih kursi, siap-siap dengan semua kemungkinan.

Kaki kursi yang kami sorongkan dengan asal-asalan ke depan rupanya menggaet kaki si hitam ini dan membuatnya tersungkur. Tapi sosok hitam-hitam ini tidak menyerah. Dia bangkit berdiri, memperlihatkan badannya yang tinggi besar. Kresak… kresek… daun-daun kering dilindas telapak kakinya yang bergeser ke kanan dan kiri. Tiba-tiba, dengan gerakan cepat, tangannya merogoh pinggangnya. Sebuah benda mengkilat diangkatnya setinggi dada. Memantulkan sinar lampu. Sebuah parang berkilat-kilat Aku dan Dul serentak surut. Darahku berdesir. Kami ciut. Jelas kami kalah besar dan tidak punya senjata sepadan melawan parang ini. Sementara lengkingan peluit terus bersahut-sahutan dari kejauhan. Seisi PM sudah tahu ada pencuri. Aku berharap bantuan segera datang. Sadar nasibnya tersudut, si hitam gelagapan dan mengambil ancang-ancang lari sambil mengayunkan parangnya ke depan. Mengarah kepadaku. Ayunan pertama ini melibas kaki kursi kayu dan mementalkannya dari tanganku.

Parangnya kembali terangkat, siap melancarkan ayunan kedua.

Tiba-tiba, semak kembali terkuak. Bagai kijang, lima orang berlompatan dengan lincah dan mengurung sosok hitam tadi. Tiga di antaranya aku kenal: Tyson, Said dan Ustad Khaidir. Mereka menenteng tongkat, ruyung, dan tali. Tim elit Tapak Madani!

“CEPAT MENYERAH!!! Kau sudah kami kepung!” hardik Ustad Khaidir. Tangannya mengibas ke arahku, menyuruh menjauh.

Sosok hitam ini membisu dan tidak melihatkan tanda-tanda menyerah. Posisi kuda-kudanya merendah dan dia mengedarkan pandangan liar kepada pengepungnya. Lalu tiba-tiba kakinya melenting seperti per, badannya mencelat dan menyabetkan parang ke depan. Langsung menuju ulu hati Ustad Khaidir. Sebuah gerakan yang salah besar.

Dengan kecepatan yang sulit aku ikuti, aku melihat, tangan dan kaki Ustad Khaidir berkelebat ringan dan pendek-pendek. Tahu-tahu, kakinya menghajar lutut dan tangannya menetak per-gelangan tangan si hitam. Detik selanjutnya, aku melihat sosok hitam ambruk di tanah berdebum dan mengerang kesakitan. Parangnya telah berpindah tangan ke Ustad Khaidir yang berdiri kembali dalam posisi sempurna, posisi awal silek tuo. Posisi alif.

Dengan langkah cepat, Tyson mendatangi kami setelah si hitam diringkus.

“Syukran ya akhi, telah menahan dia untuk lari. Kalian bebas dari mahkamah, kesalahan tidur dimaafkan,” katanya. Kali ini dengan nada bersahabat. Dia mengulurkan tangan. Mungkin untuk menghargai usaha kami. Aku jabat dengan ragu-ragu. Cincin kuningannya terasa dingin di telapakku. Di malam yang menegangkan ini dua orang pencuri berhasil diringkus. Mereka ditemukan membuka paksa pintu kandang sapi. Tim elit berhasil melumpuhkan yang satu di dekat kandang, dan yang satu lagi di depan mataku sendiri. Kedua lututku masih gemetar ketika melihat kedua orang digelandang ke arah PM untuk diserahkan ke polisi.

Gemetar tapi juga senang. Senang karena bisa ikut menangkap pencuri dan lebih senang lagi lepas dari kewajiban jadi jasus. Si Punguk dan Sang Bulan Sudah dua minggu sejak aku bertemu Sarah. Tapi rasanya baru kemarin. Pengalaman yang selalu membawa senyum ke wajahku. Pengalaman yang juga mengajarkan bahwa kalau aku mau bercita-cita, selalu ada jalan. Bahkan keajaibankeajaiban bisa diciptakan dengan usaha-usaha tak kunjung menyerah.

Bunyi mesin ketik bertalu-talu. Malam ini kantor majalah Syams cukup ramai karena kami sedang mempersiapkan perencanaan naskah buat majalah edisi berikutnya. Aku membersihkan kamera yang akan aku pakai untuk liputan. Kepala lensa aku tiup-tiup untuk mengusir debu yang menempel. Tiba-tiba pintu kantor majalah kami diketuk keras. Tanpa menunggu jawaban, sebuah sosok gelap membuka pintu, membawa masuk angin dingin malam bersamanya. Sosok t ak diundang ini horor nomor satu kami: Tyson. Tanpa banyak prosedur dia menyalak, “Alif, kamu dipanggil ke Kantor Pengasuhan, menghadap Ustad Torik, sekarang juga!” katanya menunjuk hidungku. Dalam sekejap dia berkelebat pergi, meninggalkan aku yang pucat.

Di dalam ruangan KP aku duduk dengan cemas. Ini adalah tempat paling menakutkan di PM. Mereka ada di atas hukum, yang membuat hukum dan bahkan bisa menghukum Tyson dan anak buahnya. Apa kesalahanku? Tanganku dingin. Ustad Torik muncul. Matanya tajamnya tidak lepas dari wajahku.

“Benar kamu bulan ini mewawancarai Ustad Khalid?” selidiknya.

“Be… betul, Ustad,” jawabku terbata.

“Saya mohon maaf kalau ada yang salah,” jawabku mendahului penghakiman.

Mungkin aku dapat remisi dengan mengaku salah.

“Beliau minta kamu datang besok ke rumahnya jam delapan pagi. Tolong bawa kamera, karena beliau sekeluarga minta tolong difoto keluarga,” perintahnya lurus.

Aku menarik napas longgar.

“Alhamdulillah. Saya kira ada yang salah Tad. Siap saya akan lakukan.”

“Awas jangan terlambat, jam 8 pas. Khalas. Sudah, kamu boleh pergi.”

“Syukran Tad…”

Aku pulang dengan riang dan tidak bisa berhenti tersenyum. Bukannya dihukum, malah aku mungkin akan dapat rezeki bertemu Sarah. Nama yang bersenandung itu. Para Sahibul Menara tidak bisa menyembunyikan rasa irinya ketika aku ceritakan tugasku besok hari.

Aku kembali mengenakan baju terbaikku. Kali ini ditambahkan dengan minyak wangi dari Said. Dan aku sudah berdiri gagah di depan rumah Ustad Khalid jam 7.50. Sebetulnya sudah setengah jam aku ada di sini, tapi berhubung tidak enak terlihat begitu antusias, aku menunggu di sudut belakang rumahnya. Di leherku menggantung kamera yang siap diajak bertempur. Tangan kananku memegang tripod.

“Maaf merepotkan kamu pagi-pagi begini. Sudah sarapan? Istri saya baru memasak gudeg,” tanya Ustad Khalid yang mengenakan jas terbuka dengan baju putih. Kumis tebalnya tampak rapi. Istrinya berdiri di sampingnya mengenakan baju kurung hijau dengan tutup kepala sewarna.

“Sudah Tad, saya malah senang bisa membantu, apalagi…..” Kata-kataku tidak selesai.

Di belakang Ustad Khalid muncul Sarah. Jilbab pink melingkar di wajahnya yang bulat putih. Baju kurung dan rok panjangnya sepadan dengan warna tutup kepalanya. “Assalamulaikum Kak.

Terima kasih telah datang,” katanya pendek sambil tersenyum malu-malu. Aku menyahut salamnya sambil pura-pura sibuk membetulkan tripod. Ujungujung jariku seperti disiram es.

Aku meminta keluarga kecil ini untuk berpose di taman belakang rumah mereka yang penuh pohon, bunga dan rumput hijau. Seperti di beranda, taman ini dipenuhi bunga mawar beraneka warna. “Semua mawar ini adalah ko leksi istri dan anak saya,” jelas Ustad Khalid.

Aku segera memasang kamera di kepala tripod. Seperti teknik yang aku pelajari, aku memakai lensa normal dengan bukaan besar untuk mendapatkan potret berefek bokeh54 yang indah, subyek tajam dengan latar belakang kabur. Sinar pagi akan jatuh di samping muka mereka setelah diperlunak oleh daun dan dinding.

Pencahayaan yang indah buat keluarga kecil yang indah ini.

“Ustad sama Ibu, boleh senyum sedikit, dimiringkan mukanya ke kanan dikit,” arahku dari belakang kamera.

“Ya. Betul. Ehmmm… Sa… Sarah silakan menatap ke arah kamera. Syukran,” lagakku sambil membidik dari balik viewfinder dan mulai menjepret dengan asyik.

Sudah belasan jepretan aku tembakkan, sampai tiba-tiba aku sadar, angka di kameraku tidak berubah. Dari tadi hanya tetap angka 0. Aku rogoh kantong celana depan. Sebuah benda berbentuk silinder ada di sana. Alamak! Aku lupa mengisi film.

“Ustad, mohon maaf, ada kesalahan teknis. Filmnya belum dipasang,” kataku. Mukaku merah seperti kepiting dibakar. Aku menangkap getar di kumisnya, tapi wajah Ustad Khalid tidak berubah. Istrinya bilang

“Tidak apa-apa”. Yang paling aku khawatirkan bagaimana aku di mata Sarah. Alisnya terangkat sebentar, lalu senyum dikulum. Dia mungkin tahu bagaimana gugupnya aku.

Tanganku gelagapan menjangkau film. Hap, tanganku mengail benda penting ini. Butuh beberapa kali usaha sampai aku bisa mengeluarkan fdm dari silinder plastik putih ini. Biasanya dengan sebelah tangan sambil mata terpicing pun ini masalah kecil buatku. Tapi dengan tangan berpeluh, tiba-tiba ini menjadi sulit.

Akhirnya pemotretan selesai. Mungkin karena kasihan melihat aku yang gugup, aku diajak bicara agak santai oleh Ibu Saliha.

“Kalau lihat logatnya, ananda Alif bukan dari Jawa. Dari Sumatera kah?”

“Iya Bu. Saya dari Sumatera Barat, tepatnya di Maninjau, di pinggir danau tempat Buya Hamka lahir.” Aku memberi informasi sebanyak mungkin tentang diriku. Ujung mataku berusaha menangkap ekpresi Sarah. Tiba-tiba Sarah menyeletuk, “Aku pernah melihat foto Danau Maninjau yang bagus itu di buku geografi. Kata guruku, di sana ada pembangkit listrik tenaga air yang besar sekali ya?” Dia bertanya dengan bahasa Indonesia yang beraksen Arab. Sejak kecil merantau ke Arab memang berhasil membuat aksen yang unik. Belum lagi aku menjawab, dia berjalan cepat ke arah peta Indonesia yang tergantung di dinding. Telunjuk kanannya mencoba mencari-cari di mana Danau Maninjau. Sesaat dia berputar-putar dan tampaknya tidak pasti. Dari jauh aku tunjukkan lokasi kampungku. Ustad Khalid yang dari tadi diam melihat dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Saya juga punya teman dari Maninjau ketika belajar di Mesir, namanya Gindo Marajo.”

“Masya Allah, Pak Etek Gindo itu paman saya, Ustad!” jawabku kaget bercampur senang.

“Wah, benarkah? Dunia memang makin kecil. Waktu di Kairo, Sarah ini keponakan kesayangan Gindo. Setiap datang pasti bawa sekantong jeruk buat dia. Ya kan Sarah?”

Sarah mengangguk-angguk. Suasana menjadi lebih cair dan aku menerima tawaran sarapan gudeg dengan keluarga Ustad Khalid di sebuah meja bulat di samping taman. Ternyata setelah dikenal lebih dekat, keluarga ini hangat. Kesan serius Ustad Khalid hilang begitu dia mengeluarkan lelucon yang membuat kami tergelak. Dia bahkan punya banyak cerita yang lucu tentang pamanku. Sarah sendiri ternyata tipe gadis yang periang, aktif, dan tidak malu menyampaikan pendapat.

Aku sempat ragu-ragu. Tapi kemudian aku memberanikan diri untuk meminta izin berfoto bersama dengan mereka sekeluarga. Alasanku, untuk kenang-kenangan dan dikirimkan ke Pak Etek Gindo. Ustad Khalid sama sekali tidak keberatan. Dengan menggunakan timer, aku ikut di dalam frame. Jepret! Wahai Raja, siap-siaplah dengan jatah makrunah sebulan! Aku akan bilang ke Raja bahwa aku bukan lagi si punguk merindukan bulan. Tapi aku adalah seekor garuda yang terbang tinggi dan mendarat di bulan. Waktu aku pamit, Ustad Khalid sendiri yang mengantarku ke halaman.

“Ahki, terima kasih banyak. Foto keluarga ini sangat berarti bagi keluarga kecil kami. Selama ini kami selalu bertiga. Tapi mulai bulan ini kami akan hanya berdua. Sarah kami kirim ke pondok khusus putri di Yogya untuk tiga tahun,” katanya sambil menyalamiku.

Aku tiba-tiba merasa menjadi garuda yang tidak jadi ke bulan dan mendarat darurat di bumi lagi.

“Jangan lupa salam saya buat Gindo,” katanya melambaikan tangan.

………..

beranda rumahnya. Berharap dia sedang libur dan menyiram koleksi mawarnya. Sayangnya, bukan Sarah yang muncul. Yang sering kudapati di depan berandanya adalah kucing belang tiga yang sedang mengejar seekor ayam jago yang kebetulan sedang mengejar seekor ayam betina yang lari terbirit-birit. Kotek… kotek… kotek.

Di bawah menara, kawan-kawanku seperti tidak percaya melihat selembar foto glossy yang aku pamerkan. “Wah, si punguk bisa juga bertemu sang bulan,” kata Atang tergelak sambil melirik Raja yang pura-pura lengah. Kami semua tahu dia harus mentraktirku makrunah selama sebulan. Parlez Vous Francais?

Selanjutnya akan di posting kembali...

1 Response to "Negeri lima Menara 5"

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified