Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Negeri lima Menara 3

Thank God It’s Friday

Bagi kami, kemuliaan hari Jumat lebih dari hari favorit Nabi Muhammad. Bagi kami, kalimat thanks God it’s Friday bukan basa-basi. Karena hari yaang mulia ini adalah hari libur mingguan kami di PM. Minggu dan Sabtu kami masuk kelas seperti biasa.

Jumat artinya bebas memakai kaos sepanjang hari, punya waktu untuk antri berebut kran untuk mencuci baju yang sudah seminggu menggunung, bisa tidur siang membalas jam tidur yang selalu tekor, dan dapat menu makan dengan lauk daging ditambah segelas susu atau Milo, bahkan kacang hijau. “Ayo Lif, mari kita segera serbu dapur umum. Hari ini menunya rendang…,” proklamir Said sambil mengangkat piring dan gelas plastiknya tinggi-tinggi. Baju kaosnya lengket dan masih basah setelah lari pagi. Bersamanya telah lengkap para Sahibul Menara.

Di PM, dapur tidak menyediakan alat makan, kami harus membawa piring dan gelas sendiri-sendiri. Untuk mendapatkan lauk kami harus membawa potongan kupon makan. Setiap bulan kami mendapat selembar kertas besar seperti kalender yang memuat angka dari satu sampai tiga puluh satu. Setiap kali makan kami membawa sobekan angka yang sesuai dengan tanggal hari itu.

“Intadzir. Tunggu. Saya lupa di mana menaruh kupon makan,” balasku sambil mengaduk-aduk lemari.

“Cepat, kita akan kalah dengan asrama sebelah!”

“Iya, tapi saya tidak punya kupon.”

“Ma fisy. Tidak ada. Ya nasib hari ini kurang baik,? gumamku berlalu tanpa kupon penting ini. Aku pasrah, tidak ada kupon tidak ada rendang. Sambil menenteng piring dan gelas masing masing, kami berlari-lari kecil ke dapur umum. Kalau kami terlambat sedikit saja, antrian bisa mengular sampai ke halaman dapur.

Kami antri di depan loket makan yang mirip dengan loket tiket kereta api. Di balik loket yang dibatasi kawat ini menunggu tiga orang petugas, dua orang mbok berkebaya dan bersarung Jawa dan satu lagi Kak Saif, pengurus dapur umum. Tugasnya berat: memastikan semua orang di PM mendapatkan makanan cukup setiap hari.

Mbok dapur pertama menuang nasi, mbok kedua menuang sayur dan susu cokelat dan Kak Saif seharusnya memberikan yang aku tunggu-tunggu: rendang. Dengan muka memelas aku menyorongkan piring berisi nasi. Dia tidak bereaksi sama sekali melihat aku tidak memperlihatkan kupon.

“Maaf Kak, kupon saya hilang.”

“Akhi, sudah tahu aturannya, kan? Tidak ada kupon tidak ada rendang.”

“Baru sekali ini hilang, Kak.”

Dia menggeleng dengan muka datar seperti tembok.

“Ayolah Kak, tolong dibantu… sudah seminggu saya terbayang bayang rendang…,” aku mencoba melancarkan bujuk rayu.

Dengan muka kesal, akhirnya tangannya bergerak ke panci rendang. Mungkin dia iba melihat mukaku yang memelas. Aku bersorak dalam hati.

“Kuahnya saja cukup ya!”

Memang nasibku tidak baik hari ini. Melihat aku tidak bisa menikmati menu istimewa ini, kawan-kawanku yang baik hati menyumbang serpihan-serpihan rendang mereka.

Sebetulnya ada menu yang hebat lagi selain menu Jumat. Hanya ada di hari biasa, di jam istirahat pertama, bagi kami yang tidak sempat makan pagi. Kami di PM menyebutnya salathah rohah, atau sambal istirahat. Apa yang membuatnya sangat fenomenal? Penampilan sambalnya bersahaja saja. Campuran cabe merah dan hijau yang digiling kasar, bersatu di dalam cairan minyak yang berlinang-linang kehijau-hijauan. Tapi begitu disendokkan mbok dapur ke piring kami, wangi cabe yang meruap-ruap langsung menawan saraf-saraf lidah. Air liur rasanya mencair di dalam mulut.

Begitu duduk di meja, tangan kami berlomba cepat menyuap nasi. Nyusss….pedasnya terasa menyerang sampai ubun-ubunku, tapi enaknya membuat kami melayang. Keringat mengalir dari muka kami yang merah. Dengan modal sesendok sambal ini, kami bisa makan bagai kesurupan dan gampang saja Menandaskan 2-3 piring nasi. Rasanya dahsyat sampai jilatan terakhir. Tapi setelah itu kami akan berlari terbirit-birit ke keran air minum, menyiram mulut dan muka yang kebakaran salathah.

Tapi yang lebih ditunggu-tunggu, di hari Jumat kami boleh minta izin keluar dari kompleks untuk pelesir ke Ponorogo, Madiun dan tempat lain, asal b isa kembali lagi hari itu juga. Ini waktu bebas, seperti pelaut yang telah terapung berbulanbulan dan dapat kesempatan merapat dan mendarat.

Hari Jumat ini, Said mengajak kami Sahibul Menara ke Ponorogo. Untuk refreshing, katanya. Aku dan Raja menyambut ajakan ini. Tapi Baso, Dulmajid dan Atang raguragu karena meski tidak merasa punya keperluan untuk pergi ke luar. Apalagi mereka malas untuk minta izin dari ustad piket di Kantor Pengasuhan atau KP.

Kalau ustad piketnya ketat, dia akan banyak bertanya ini-itu sebelum menandatangani izin. Kalau alasan tidak kuat, bisa tidak dapat izin atau ghairu mufbul.

“Ayolah kawan-kawan. Kapan lagi kita bersepeda bersama ke kota. Aku akan traktir kalian semua di warung sate paling enak di sana,” bujuk Said.

Keimanan mereka goyah dengan janji traktiran ini. Masingmasing sepakat untuk mempersiapkan alasan yang masuk akal. Alasan ini kami hapalkan dan latih sebentar supaya tidak kelihatan bikin-bikinan.

Dengan harap-harap cemas, aku bersama kawan-kawan menuju KP untuk meminta izin keluar. Tiba-tiba Atang yang berjalan paling depan berhenti dan surut beberapa langkah. Dengan takut-takut dia melirik ke meja perizinan di depan kantor pengasuhan.

“Ya ampun, lihat siapa yang piket hari ini…” wajah Atang seperti orang kurang darah. Duduk di depan meja putih itu seorang memakai surban Arafiat. Dialah yang mengamati kami dijewer oleh Tyson beberapa bulan lalu. Pemilik mata setajam sembilu ini kurus kering dan tinggi semampai. Jenggot ringkasnya tumbuh jarang-jarang. Mukanya dingin seperti besi, mulutnya lebih sering terkatup, membentuk garis tipis yang tegas. Gerakannya tenang menggelisahkan.

Mengingatkan aku kepada belalang sembah yang dalam diam bisa tiba-tiba melesatkan kaki gergajinya menangkap lalat yang sedang terbang siang.

“Ustad Torik…,” bisik Baso dengan nada khawatir. Menurut Kak Is, Ustad Torik inilah yang memegang kasta tertinggi dalam hierarki ketertiban dan keamanan di Madani. Di tangannyalah semua kebijakan yang berhubungan dengan penghukuman, pengusiran sampai perizinan. Dialah orang yang paling tidak kami harapkan duduk di meja perizinan hari ini.

Menurut rumor di kalangan murid lama, dia merekam semua yang dilihatnya seperti memotret. Tidak ada yang terlewat. Dan kalau memberi izin, dia yang paling alot . Padahal seharusnya dia tahu bahwa kami para anak muda perlu jalan-jalan, keluar dari rutinitas pondok yang sangat melelahkan. Kenapa sih dia tidak mempermudah kita saja, batinku.

“Apa kita batalkan saja hari ini. Kita coba lagi minggu depan?” tanya Atang.

“Jangan. Kita coba dulu. Aku saja yang maju duluan,” usul Raja memberanikan diri. Supaya tidak mencurigakan, kami sepakat untuk maju dua-dua dan sisanya menunggu di bawah menara. Dengan terantuk-antuk aku dan Raja meneruskan langkah..

“Hmmm… Anak-anak baru. Saya ingat kalian dulu dihukum di depan masjid,” kata Ustad Torik pendek. Matanya memandang kami penuh selidik.

“Sudah siap mengikuti disiplin PM?” hajarnya lagi.

Kami berdiri tidak berdaya, cuma bisa menunduk. Padahal aku tadinya bertekad kuat untuk tidak kalah oleh tatapan elang nya.

Raja yang paling pede maju selangkah ke depan dan membuka pembicaraan.

“Siap disiplin Tad… Ehmm… tapi hari ini kami ingin minta’ izin untuk ke Ponorogo untuk…” katanya berusaha menegaskan dialek Bataknya yang agak layu karena takuttakut.

“Kami? Dalam perizinan tidak ada yang mewakili. Kamu minta izin untuk dirimu sendiri.”

Dalam hati aku menghapal ulang alasanku. “Iya… iya… Ustad, maksudnya saya sendiri. Saya perlu beli buku tambahan yang tidak ada di koperasi.” “Buku apa yang tidak ada di sini?”

Aku ulang lagi hapalan dalam hati.

“Judulnya Oxford Dictionary of Current Idiomatic Engiish. Itu buku yang sangat baik buat yang ingin mempelajari bagaimana mefetfj takkan idiom dalam konteks yang tepat. Buku ini diterbitkan hanya oleh Oxford,” kata Raja dengan panjang lebar. Dia senang mendapat kesempatan menjelaskan buku-buku bahasa Inggris koleksinya.

“Baik, saya kasih izin sampai jam 5 sore. Dan jangan ulangi melanggar aturan,” katanya sambil membubuhkan tanda tangan pada sebuah karcis tashrik yang sangat berharga. Raja dengan mata sukacita menerima karcisnya. “Semoga berhasil,” bisiknya sambil menepuk punggungku sebelum berlalu. Sekarang giliranku tiba. Apa alasanku?

“Lembar kecil surat keterangan yang mengesahkan izin Ehm… ehm… saya mendalami kaligrafi Tad… ehm dan perlu ke Ponorogo untuk tambah alat….” Kalimat yang sudah aku bayangkan tadi berantakan di bawah sorot mata Ustad Torik yang membikin ngilu.

“Kamu ngomong apa? Bicara yang jelas, lihat mata saya!” potongnya. Matanya yang dalam mencorong tajam. Aku mengangkat muka, walau jeri, aku coba pandang mukanya, hanya sampai bagian jenggot. Matanya terlalu tajam. Dengan susah payah aku coba kembali susun kalimat di kepala.

“Ustad, saya mau beli kalam kaligrafi di kota karena di sini tidak ada….”

“Tidak mungkin. Saya juga kaligrafer, semua alat tersedia di sini,” katanya memotong cepat.

“Tapi… tapi… kalam yang ada hanya untuk kaligrafi biasa. Saya ingin mencoba kaligrafi khoufi yang penuh garis-garis dan hiasan daun, Tad. Lebih dibutuhkan spidol tebal tipis dan penggaris dibandingkan kalam biasa,” belaku.

“Saya tahu. Dan seharusnya di sini juga ada. Tapi sudahlah, bagus, kau punya minat kaligrafi. Sama ya, jam 5 sudah di sini,” katanya dengan raut muka yang lebih bersahabat. Karcis bertanda tangan mahal ini pindah ke tanganku. Di ujung koridor aku lihat Said, Baso, Atang dan Dul berkomat-kamit. Mereka pasti menghapal skenario masing-masing. Syukurnya setelah wawancara yang mendebarkan itu, mereka berempat pun mendapat izin dengan alasan masing-masing.

Dengan penuh kemenangan kami keluar dari gerbang PM. Rasanya udara pagi lebih segar daripada biasa. Untuk menuju Ponorogo yang berjarak sekitar 20 kilometer, kami menyewa sepeda ontel dari rumah penduduk. Kami memilih sepeda ketimbang naik angkot, karena lebih bebas dan waktu tidak mengikat.

Sekali bayar, kami bisa memakai sampai sehari penuh. Maka pagi itu beriring-iringanlah rombongan demi rombongan siswa keluar dari gerbang PM, persis seperti kawanan kelelawar buah terbang berkelompok untuk mencari makan.

Tentu saja tujuan kami bukan hanya membeli buku dan kalam. Di bawah menara kami sudah sepakat untuk menyamakan rute hari ini. Pertama, kami ingin perbaikan gizi dan makan sate di warung Cak Tohir dan terus membeli berbagai kebutuhan sekolah di pasar Ponorogo. Kedua kami ingin melewati Ar-Rasyidah, pesantren khusus putri yang terkenal dan mendengar siswi-siswinya senang kalau bisa berkenalan dengan anak PM. Tentunya kami tidak berani berhenti dan berkenalan, karena itu melanggar qanun. Kami cuma penasaran saja dan ingin mengayuh sepeda pelan-pelan di depan pesantren itu. Dan yang ketiga, yang agak berisiko, melewati 2 bioskop yang ada di kota. Hanya melewati. Masalah bioskop ini sebetulnya permintaan khusus dari Said. Waktu di SMA dulu, dia sangat tergila-gila dengan segala film action yang melibatkan aktor berotot.

“Minggu lalu, saudaraku menulis surat dan bilang betapa bagusnya film Terminator.”

“Di film ini, pemeran utamanya Arnold Schwarzenegger yang punya badan bukan main kuat. Dia mantan Mr. Universe. Tahu gak kalian apa yang aku ceritakan. Mr. Universe adalah manusia terhebat sedunia, karena tidak ada yang bias mengalahkan kegagahan otot dan tubuhnya. Aku bahkan punya posternya sebelum dia main film. Jadi aku ingin paling tidak melihat poster filmnya di depan bioskop nanti,” katanya. Aku, Dul dan Raja set uju, apalagi sewaktu di bus dulu aku menonton Rambo II. Atang, dan Baso ragu-ragu. Tapi setelah kami yakinkan bahwa hanya lewat saja, mereka menurut. Setelah kenyang makan sate dan belanja, kami menuju pesantren putri. Begitu sampai di depan bangunan asrama bercat putih, kami mengayuh sepeda sepelan mungkin dengan pasang mata ke arah asrama di sebelah kiri. Tampak dari jendela asrama, kepala-kepala berkerudung putih sedang sibuk belajar. Mereka tidak libur hari Jumat. Kami menegakkan badan setegap mungkin berharap ada yang melirik kami. Hanya Baso dan Atang yang tidak terlalu peduli dengan misi ini. Bagi mereka, ini tidak ada gunanya.

“Melihat yang bukan muhrim bisa menghilangkan hapalan Al-Quranku,” kata Baso dengan suara rendah.

Mukanya ditunduk ke stang sepeda.

Kring… kring… kami membunyikan bel sepeda, mencoba menarik perhatian. Berhasil. Beberapa kepala berkerudung putih menjenguk ke arah jendela. Melirik dan kemudian ketawa bersama teman lainnya sambil menutup mulut Kami membalas dengan senyuman dan anggukan. Itu saja rasanya sudah menyenangkan.

Dan memang hanya sampai di sana batas keberanian kami.

Kami meneruskan kayuhan ke bioskop. Tiga poster raksasa dari kain berkibar-kibar tertiup angin di depan gedung bioskop ini. Masing-masing Terminator, Naga Bonar, dan Dongkrak Antik.

“Wah luar biasa. Ck…ck…” Said terpana sampai sepeda nya hampir menyelonong masuk selokan. Dengan mukanya tidak lepas dari poster Terminator, dia merebahkan sepedanya di pinggir jalan. Wajah Arnold Schwarzenegger yang dilukis di kain maha besar ini bergerak-gerak ditiup angin. Said terpana melihat idolanya berkacamata hitam memegang senapan dan. otot bertonjolan hampir sebesar sapi bunting.

Karena Said berhenti, kami terpaksa ikut turun dari sepeda, ‘ Ini di luar rencana awal yang hanya sambil lewat Ini mengundang mara bahaya. Bisa saja ada jasus yang melintas dan menganggap kami ingin menonton bioskop. Mata kami nanar melihat kiri kanan jalan.

“O, ini yang kau cari-cari. Kalau menurutku, Sisimangaraja tidak kalah kekarnya dengan dia. Pakai jenggot dan cambang lagi bah,” kata Raja menggoda. Said hanya melempar pandangan sebal sekilas. Mukanya kembali mengagumi Arnold.

Dulmajid tidak mau kalah. “Di kampungku kalau lagi carok, orang juga telanjang dada dan tidak kalah sama Arnold ini.” Said tidak mau peduli.

“Said, ingat, jangan kita jadi kasus dua kali dalam dua bulan!” teriak Atang kesal. Atang yang paling patuh aturan terpaksa menarik-narik tubuh raksasa Said dan memapahnya ke sepedanya.

“Tenang kawan. Aku hanya butuh beberapa menit untuk merasakan aura idolaku ini. Pokoknya liburan nanti aku akan tonton kau Arnold!” teriak Said menunjuk hidung Arnold, seolah-olah membuat janji dengan sobat dekatnya. Tidak terasa kebebasan itu cepat berlalu. Sudah jam 4 sore dan kami punya waktu 1 jam untuk kembali ke “Waduh, kayaknya mau hujan,” tunjuk Baso ke awan hitam yang berarak-arak. Tidak lama kemudian gerimis turun dan makin lama makin rapat. Petir saling tembak-menembak. Semua belanjaan kami ikat erat di dalam tas plastik. Kami berenam, takut terlambat, memacu sepeda di tengah hujan yang kuyup.

Genangan-genangan air kami terabas tidak peduli. Kami ngos-ngosan dan basah kuyup sampai ke celana dalam. Sementara waktu semakin dekat dengan jam lima sore, tenggang waktu kami.

Ustad Torik berdiri menunggu kami di pelataran kantornya. Mukanya masam. Jam dinding besar di atas pintu kantornya menunjukkan jam 5:05. Terlambat 5 menit. Badai besar segera datang, batinku.

Kami berdiri kaku, kedinginan, dan cemas di depan Ustad Torik. Air menetes dari baju yang kuyup, membasahi lantai. Dia menggeram-geram seperti singa lapar. Berjalan mengelilingi kami yang pasrah. “Tahu kesalahan kalian?” desisnya.

“Na’am Ustad, kami terlambat kembali. Hujan sangat deras,” jawab Said takut-takut. Dia merasa bertanggung jawab membawa kami ke jurang masalah ini.

“Hujan tidak bisa jadi alasan. Kalian yang harus atur waktu.”

Hujan lebat dan guruh masih bersahut-sahutan di luar sana.

“Iya” Lamat-lamat, lonceng berdentang di luar. Waktunya tiba. Dia pasti segera mengambil keputusan.

Ustad Torik menarik napas panjang.

orang merasakan bagaimana melafalkan kata baru ini dengan baik dia memberikan contoh kata ini di dalam kalimat sempurna. Tanpa pertolongan bahasa Indonesia, dia menerangkan apa arti kata ini. Lalu giliran kami untuk mencoba membuat kalimat dengan menggunakan kosakata ini.

Sebelum ditutup, kami kembali disuruh meneriakkan kata ini bersama dengan kuat. Setelah di-drill meneriakkan, meletakkan dalam kalimat, kakak ini untuk pertama kali membalik papan tulis kecilnya dan memperlihatkan kepada kami bagaimana tulisan dan salah satu contohnya dalam kalimat. Papan tulis kecil itu akan ditinggalkan di kamar sampai pagi berikutnya. Tugas kami selanjutnya adalah menyalin kosa kata baru ini dan membuat 3 contoh penggunaannya kalimat.

Bayangkan, ini benar-benar proses belajar yang menggunakan semua indera. Meneriakkan kosa kata baru di subuh buta, memaksakan diri untuk memahami dan memasukkan ke kalimat, lalu melihat tulisannya dan terakhir mengikat ilmu baru ini ke dalam memori terdalam kami dengan menuliskannya. lakukan set iap hari, 7 kali seminggu. Sebuah metode sederhana yang sangat kuat dan mampu melekatkan bahasa baru ke dalam alam bawah sadar untuk tidak lepas lagi selamanya.

Sementara 2 kali seminggu, set iap selesai Subuh dalam suasana temaram, terang-terang tanah, kami membuat dua barisan panjang di lapangan, dan diharuskan melakukan percakapan ngan teman di depan kami menggunakan suara sekeras-kerasnya sampai serak. Kembali para kakak penggerak bahasa in action.

Mereka akan mondar-mandir, mendengarkan, mengoreksi, memberi kalimat yang baik. Bagi yang menolak ikut ke dalam suasana belajar yang spartan ini, mereka akan melawan arus deras. Bagi yang tidak berusaha dan seenaknya masih berbahasa Indonesia setelah beberapa bulan, maka artinya mereka telah melamar jadi jasus bahasa. Konsep jasus yang bergentayangan di manamana sangat efektif untuk menjaga kesadaran set iap orang untuk selalu ber-bahasa resmi.

Bagai sebuah konspirasi besar untuk mencuci otak, metode totol immenion bahasa ini cocok dengan lingkungan yang sangat mendukung. Apa yang kami dengar, kami lihat, kami tulis dan kami rasakan, semua dalam bahasa resmi, Arab dan Inggris. Mulai dari public announcement di masjid, berita radio yang selalu memutar BBC, VOA dan radio Timur Tengah, papan peng-umuman, bahkan sampai komunikasi dengan mbok-mbok yang mengurusi nasi di dapur. Para mbok yang sudah separo baya ini telah dikursuskan sehingga kalau memberi sepiring nasi kepada kami bukannya bilang “monggo” tapi akan bilang “tafadhal ya bunayya”, walau dengan aksen jawa timuran yang medok.

Tidak cukup dengan itu, entah siapa yang menyuruh, banyak di antara kami ke mana-mana membawa kamus. Kalau bukan kamus cetak, kami pasti membawa buku mufradhat, buku tulis biasa yang dipotong kecil sehingga lebih tipis dan gampang dibawa ke mana-mana karena tinggal diselipkan di kantong celana atau baju. Murid dengan buku mufradhat di tangan gampang ditemukan sedang antri mandi, antri makan, berjalan, bahkan di antara kegiatan olahraga sekalipun. Kami sedang giia meru perkaya kosa kata.

Lambat laun, dengan cara ini, kami mulai bisa berbicara Arab dan Inggris sepotong-sepotong. Tapi di saat yang sama kami juga agak frustrasi. Sudah habis-habisan belajar, rapi rasanya hasilnya masih belum maksimal. Kami masih terbatabata atmt gado-gado, separuh Arab separuh Indonesia.

Bahkan khusus buat Atang, dia mencampurnya dengan potongan bahasa Sunda. Tidak gampang menyambungkan apa yang dibaca dan diucapkan.

Rasanya mudah frustrasi kalau kami tidak selalu mendapatkan encouragement dari guru, teman, dan kakak kelas. Mereka pendukung fanatik setiap orang yang ingin belajar dan mempraktikan kemampuan bahasa. Kami diajarkan untuk berani mencoba dan tidak takut salah. Kalau salah, kami tidak ditertawakan sama sekali. Tapi malah ditunjuki dan dibenarkan. Semua dibuat berkonspirasi untuk membuat kami mempraktekkan bahasa Arab dan Inggris dengan nyaman.

Sampai pada suatu Jumat, jam 4 subuh. Seperti biasa, bagi yang sulit bangun, Kak Is akan menggelitikkan ujung bulubulu sajadahnya ke hidung kami. Geli membuat kami bangun atau bersin. Biasanya, aku dalam proses mengumpulkan kesadaran dan nyawa, akan mengulet dan menguap lagi., Tapi pagi ini lain. Memang aku masih mengulet dan menepis-nepis bulu-bulu sajadah di depan hidungku, tapi yang keluar secara otomatis ucapan: “Maathtu an’as kak, ayyatu saa’atin haaza?” Ini kalimat Arab yang sempurna yang berarti, “masih ngantuk banget, jam berapa sih?”

Ajaib! Dalam posisi setengah sadar, aku bisa menggunakan kalimat lengkap berbahasa Arab. Bahkan samar-samar aku ingat, mimpi semalam pun campuran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Inikah tanda-tanda sebagian kepalaku sudah berpikir dalam bahasa Arab? Aku benar-benar takjub.

Pagi itu, aku tidak henti-henti berbicara kepada kawankawanku— tidak peduli mereka menanggapi atau tidak, kepada lemariku, kepada kopiah hitam Sjarbaini, kepada piring, kepada pohon, kepada sandal, kepada apa yang ada di depanku, dalam bahasa Arab. Kalau aku ada di komik, maka semua bubble kataku pasti bertuliskan Arab.

Sejak hari itu, aku merasa semakin fasih mengungkapkan diri dengan Arab, tidak lagi bercampur-campur bahasa Indonesia. Tidak sia-sia aku memaksakan diri dan berpurapura bisa berbahasa Arab. Rasanya luar biasa dan kepalaku berdendang-den-dang. Mungkin ini salah satu keajaiban yang paling penting dalam hidupku di PM selama ini. Alhamdulillah ya rabbi.

Ternyata kawan-kawanku anak baru lainnya juga lambat laun merasakan perubahan yang sama. Aku perhatikan hampir semua anggota asrama Al-Barq telah berceloteh dengan bahasa Arab.

Dulu aku pernah menyangsikan Kiai Rais yang mengatakan dalam beberapa bulan saja kami bisa bercakap dengan bahasa asing. Aku tidak sangsi lagi.

Suara Kiai Rais yang penuh semangat terngiang-ngiang di telingaku: “Pasang niat kuat, berusaha keras dan berdoa khusyuk, lambat laun, apa yang kalian perjuangkan akan berhasil. Ini sunnattullah-hukum Tuhan.”

Abu Nawas dan Amak

Amak adalah perempuan berbadan mungil tapi punya idealisme raksasa. Dia tidak hanya tepat waktu tapi awal waktu. Di SD-nya, Amak satu-satunya guru yang selalu datang’ paling pagi.Kadang-kadang lebih cepat dari Ajo Pian, penjaga sekolah, sehingga dia membuka sendiri pintu pagar dan kelas-kelas. Sambil menunggu guru lain dan para murid datang, dia sibuk mematangkan buku persiapan mengajar. Sementara di rumah, beliau adalah ibu dan istri yang perhatian. Suatu kali aku pulang bermain bola di sawah yang baru saja dipanen. Mukaku centang perenang, rambut awutawutan dan badan kotor seperti kerbau dari kubangan. Mataku bengkak dan bibir luka karena bacakak—berkelahi setelah main bola. Amak tidak marah-marah.

“Apakah kawan-kawan yang main dan berkelahi tadi orang Islam?” tanya Amak lembut.

Aku mengangguk sambil memajukan bibirku, merengut

“Apa perintah Nabi kita kepada sesama muslim?”

“Memberi salam.”

“Yang lain?”

“Tersenyum.”

“Yang lain?”

“Bersaudara.”

“Nah, bersaudara itu berteman, tidak berkelahi, saling menyayangi. Itu perintah Nabi kita. Mau ikut Nabi?”

“Mau.”

“Jadi harus bagaimana ke kawan-kawan?”

Kali ini Amak bertanya sambil tersenyum damai.

“Bersaudara dan tidak berkelahi,” kataku

“Itu baru anak Amak dan umat Nabi Muhammad,” katanya sambil merengkuh kepalaku dan menyuruh mandi. Begitulah Amak. Di saat hatiku rusuh dan nyeri, dia selalu datang dengan sepotong senyum yang sanggup merawat hatiku yang buncah. Senyumnya adalah obat yang sejuk.

Ketika aku duduk di kelas satu SD, kebetulan wali kelasku Amak sendiri. Ujian catur wulan pertama tiba dan Amak mengadakan ujian kesenian. Seperti teman sekelas lainnya aku harus maju ke depan untuk menyanyikan sebuah lagu sebagai persyaratan mendapatkan nilai. Sayang sekali aku tidak hapal satu lagu pun karena tidak pernah masuk TK. Selain itu aku memang pemalu dan merasa suaraku sumbang. Jadi aku menolak maju ke depan kelas.

Tiga kali Amak memanggilku dari meja guru. “Berikutnya Alif Fikri untuk maju ke depan”. Tiga kali pula aku menggeleng dan tidak beringsut. Amak akhirnya menyerah dengan muka kecewa. Dua minggu kemudian, di hari penerimaan rapor, aku baru tahu efeknya. Ayah yang datang untuk mengambil rapor sampai terbelalak.

Sebuah angka merah bertengger di raporku, pelajaran kesenianku dapat angka 5. Dan nilai itu dari Amak sendiri!

“Bang, ambo ingin berlaku adil, dan keadilan harus dii dari diri sendiri, bahkan dari anak sendiri. Aturannya adalah siapa yang tidak mau praktek menyanyi dapat angka merah,” kata Amak ketika Ayah bertanya, kok tega memberi angka bond|i buat anak sendiri.

“Tapi ini kan hanya masalah kecil, cuma pelajaran kesenian,” bela Ayah.

“Justru karena ini hal kecil. Jangan sampai d ia meremehkan suatu hal, sekecil apa pun. Semuanya pilihan hidupnya ada konsekuensi, walau hanya sekadar pelajaran kesenian. Itu juga supaya dia belajar bahwa tidak ada yang diistimewakan. Semuanya harus berdasarkan usaha sendiri,” timpal Amak.

“Tapi kan dia baru 6 tahun.”

“Justru malah dari usia ini kita didik dia.”

Ayah diam saja. Dia cukup mafhum cara berpikir Amak yang keras hati. Aku menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Amak tidak memandang bulu.

Di lain kesempatan, aku dengar Amak bercerita kepada Ayah tentang rapat majelis guru menyambut Ebtanas. Beberapa guru sepakat untuk melonggarkan pengawasan ujian dan bahkan memberikan bantuan jawaban buat pertanyaan sulit, supaya ranking sekolah kami naik di tingkat kecamatan. setuju, atau terpaksa setuju karena takut kepada kepala sekolah.

Hanya Amak sendiri yang berani angkat tangan dan berkata, “Kita di sini adalah pendidik dan ini tidak mendidik. Ke mana muka kita disembunyikan dari Allah yang Maha Melihat. Amak tidak mau ikut bersekongkol dalam ketidakjujuran frontal dan pas di ulu hati. Sejenak ruang rapat hening. Sebelum kepala sekolah bisa mengatupkan mulutnya yang ternganga, Amak keluar ruang rapat.

Walau resah harus berbeda dengan kawan-kawannya, dia puas karena berhasil menegakkan kebenaran.

Amak pun mengulang sebuah hadist yang cukup masyhur, “Bila kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu, kalau tidak mampu, ubahlah dengan kata-kata, kalau tidak mampu juga, dengan hatimu”. Walhasil, berbulan-bulan Amak tidak disapa, dilihat dengan sudut mata, dan dibicarakan di belakang punggung. Amak adalah orang idealis dan keras hati.

Mungkin aku mewarisi semua ini dari beliau.

Seperti layaknya anak SD di kampungku dulu, sepulang sekolah pagi, sorenya aku masuk madrasah. Guru madrasahku, Ang-ku Datuak Rajo Basa, punya sebuah hadist favorit yang selalu diulang-ulangnya, seminggu tiga kali kepada kami anak-anak kampung; “Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu”.

“Janganlah ananda lihat dibawah selop ibu kalian ada surga, yang ada hanya tanah. Yang harus kalian cari adalah ridho ibu, karena dengan ridhonyalah pintu-pintu surga terbuka buat kalian. Surga yang air sungainya adalah madu dan susu, dan buah-buah aneka warna dan rasa bergelantungan setinggi tangan saja,” jelas angku berjenggot panjang meranggas ini. Sebuah sorban tua bertotol-totol merah dibelitkan di lehernya. Kopiah hitamnya sebuah Sjarbaini usang, terlihat dari bagian hitam di ujung kopiah yang semakin pirang.

“Apa yang ada di bawah telapak kaki ayah, Angku?” tanyaku polos.

Dia terdiam sejenak. Mungkin agak kaget dengan pertanyaan asal-asalanku. “Kita disuruh berbakti kepada kedua orangtua, tapi surga memang hanya dekat dengan kaum ibu”. Perihal apa yang ada di bawah telapak kaki ayah tidak dijawab.

Begitulah, aku diajarkan untuk selalu berbakti kepada orang tua, dan yang lebih utama adalah ibu. Amak bagiku adalah junjungan dan bos besar. Beliau juga penguasa pintu masuk surga bagiku.

Aku adalah anak kesayangan yang selalu patuh sepenuh hati pada Amak. Patuh ini berubah jadi kesal ketika aku diharuskan masuk sekolah agama. Memang aku akhirnya tetap bersedia mengikuti perintah Amak, tapi di saat yang sama hatiku jengkel. Kontakku terakhir dengan Amak terjadi berbulan-bulan lalu, ketika mengabarkan lulus ujian masuk PM melalui telegram Setelah itu, aku diam, tidak berkabar berberita. Hatiku selalu berat untuk mulai bicara dan menulis buat beliau.

Di suatu Kamis sore, di acara wejangan rutin Kiai Rais di depan seluruh penduduk PM, beliau dengan lemah lembut berbicara kepada kami.

“Tahukah kalian birrul walidain? Artinya berbakti kepada orang tua. Mereka berdua adalah tempat pengabdian penting kalian di dunia. Jangan pernah menyebutkan kata kasar dan menyebabkan mereka berduka. Selama mereka tidak membawa kepada kekafiran, wajib bagi kalian untuk patuh.” Seorang pernah bertanya urutan orang yang harus dihormati dan dihargai. Rasulullah menjawab, “ibumu”. Dia bertanya ”kemudian siapa?”. Beliau menjawab, “ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”. Beliau menjawab, “ibumu”, dia bertanya lagi, “kemudian siapa?”. Beliau menjawab, “ayahmu”.

Jadi, ibu punya posisi lebih tinggi lagi dari pada ayah. Karena itu, beruntunglah kalian yang masih punya orangtua, karena pintu pengabdian itu terbuka lebar. Bayangkan bagaimana susahnya dulu kalian dikandung dan dibesarkan sampai seperti sekarang. Bagi yang punya orangtua, pergunakan kesempatan sekarang ini untuk membalas budi, gembirakan mereka, beri kabar mereka, surati mereka,” anjur Kiai Rais kepada kami. Aku tercenung. Kiai Rais seakan-akan bukan berbicara kepada ribuan orang, tapi hanya kepadaku seorang. Sudah berapa bulan aku sengaja tidak menghubungi Amak sebagai protes tidak boleh masuk SMA?

Cerita Kiai Rais terus berputar di kepalaku. Tentang susahnya seorang ibu mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui, menyuapi, dan menepuki set iap langkah pertamaku bagai sebuah kemenangan besar sebuah tim nasional. Kini setelah tegak gagah, tiba-tiba aku menjauh darinya. Apa perasaan beliau? Punya hak apa aku mendiamkan perempuan yang membesarkan dan menyayangiku dengan seluruh helaan napas dan hidupnya? Apakah pantas sebuah perintah untuk sekolah agama membuat aku merasa berhak untuk melupakannya? Apalagi sekarang aku mulai merasa perintah

Amak itu mungkin yang terbaik buatku? Kenapa hatiku begitu keras? Aku tidak mau menjadi Malin Kundang yang menjadi batu karena melawan ibunya. Aku tiba-tiba merasa menjadi seorang egois yang hitam dan sangat berdosa pada Amak. Lebih-lebih lagi aku juga merasa bersalah kepada Allah karena tidak menuruti perintah birrul walidain ini.

Untuk pertama kalinya aku hanyut ketika melagukan syair nakal Abu Nawas bersama sebelum shalat Maghrib. Syair ini kami lantunkan dengan syahdu, meminta segala ampun hadap segala dosa kami yang bertabur seperti butir pasir ribuan orang bersipongang bagai guruh ke segala arah. naik dengan nada meratap. Efeknya menjalar dalam ke urat hatiku. Aku jiwai dengan sepenuh hati setiap bait-baitnya… Ilahi lastu lilfirdausi ahla, Walaa aejwa ‘ala naaril jahiimi Fahabli taubatan uaghfir dzunubi, Fainaka ghafirudz-dzanbil ‘adzimi….

Dzunubi mitslu a’daadir-rimali, Fahabli taubatan ya Dzal Jalaali, Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi, Wa dzanbi zaaidun kaifa -htimali Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataak, Mwjirran bi dzunubi Wa qad di’aaka Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun, Wain tadrud aman narju siwaaka wahai Tuhanku… aku sebetulnya tak layak masuk surgaMu, tapi… aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu, karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku, sesungguhnya Engkaulah maha pengampun dosa-dosa besar Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang Maha Agung. Setiap hari umurku terus berkurang sedangkan dosaku terus menggunung, bagaimana aku menanggungkannya wahai Tuhan, hambamu yang pendosa ini datang bersimpuh kehadapanMu mengakui segala dosaku mengadu dan memohon kepadaMu kalau engkau ampuni itu karena Engkau sajalah yang bisa mengampun tapi kalau tolak, kepada siapa lagi kami mohon ampun selain kepada Mu?

Setiap bait aku lantunkan dengan sepenuh hati, mohon ampun kepada Tuhan dan mohon ampun kepada Amak. Dadaku terasa luruh dan plong. Rasanya pengaduanku didengar olehNya. Pengaduan pendosa yang tidak ada tempat lain untuk mengadu selain kepadaNya.

Malam itu, dengan mata berkaca-kaca, aku menulis surat kepada Amak:

Amak, maafkan ananda ini karena sudah lama tidak memberi kabar berita. Ambo telah banyak membuat Amak sedih akhir-akhir ini. Ambo memang sempat kesal karena tidak boleh masuk SMA. Tapi kini ambo sadar kalau Amak benar. PM adalah sebuah sekolah yang baik dan banyak yang ambo bisa dipelajari di sini.

Tadi sore, Kiai Rais memberi nasehat yang membuat ambo sadar kalau selama beberapa bulan ini ambo tidak bersikap baik kepada Amak. Semoga Amak bersedia memaafkan kesalahan-kesalahan ambo supaya hati ambo tenang. Sekolah ambo berjalan lancar walau terasa berat. Selain masuk kelas, sangat banyak kegiatan yang harus kami jalani seperti pramuka, latihan pidato, lari pagi dan lainnya. Kata Kiai Rais, apa yang kami lihat, kami dengar, kami rasakan, kami baca, adalah pendidikan.

Kawan-kawan di kelas dan di kamar datang dari berbagai daerah di Indonesia. Sudah diatur supaya tidak ada orang satu daerah tinggal di satu kamar. Juga anggota kamar akan diacak set iap 6 bulan sehingga kami makin banyak teman. Jadwal harian kami luar biasa ketat dan penuh disiplin. Hukuman langsung ditegakkan bagi yang melanggar aturan. Ambo pernah kena, dijewer berantai di depan orang ramai karena terlambat 5 menit.

Kalau Amak jadi anak laki-laki, pasti cocok sekolah di PM ini.

Supaya Amak tidak penasaran, ini adalah jadwal harian kami:

04.00- 5.30

Kegiatan kami set iap hari dimulai jam 4. Agak susah bangun sepagi ini. Waktu ini diisi untuk shalat Subuh berjamaah di dalam kamar masing-masing. Kami bergantian menjadi imam untuk teman-teman sekamar. Setelah itu ada praktek bahasa dan penambahan kosa kata (Arab dan Inggris), serta membaca Quran.

05.30-07.00

Aktifitas bebas. Digunakan untuk pengembangan minat dan bakat baik di bidang olahraga, kesenian, bahasa. Selain itu, ini juga waktu kami untuk mandi, cuci, dan makan pagi. Kalau sudah mencuci baju, biasanya tidak sempat sarapan.

07.00-12.30

Masuk kelas pagi. Tidak bisa terlambat sedikit pun. Ada jadwal istirahat setengah jam yang bisa dipakai kalau belum sempat makan pagi.

12.30-14.00

Shalat Zuhur berjamaah di kamar masing-masing dan makan siang di dapur umum. Oya, untuk makan kami bawa piring dan gelas sendiri dan sebuah kupon makan untuk mendapatkan sepotong lauk. Lauknya sering sepotong tempe atau tahu.

14.00-14.45

Masuk kelas sore untuk pelajaran tambahan pagi hari.

14.45-15.30

Shalat Ashar berjamaah dan membaca Al Quran di kamar.

15.30-17.15

Waktu bebas. Biasanya dipakai untuk olahraga, mandi, cuci, dan kegiatan lainnya. Yang paling enak adalah bersantai sejenak di bawah menara di dekat masjid bersama beberapa teman dekat.

17.15-18.30

Kami sebanyak 3000 orang murid sudah harus berkumpul di masjid Jami untuk membaca Quran, shalat berjamaah dan kemudian dilanjutkan membaca Quran di kamar. 18.30-19.30 Makan malam. Antrian makan biasanya agak panjang.

19.30-20.00

Shalat berjamaah Isya di kamar lagi.

20.00-22.000

Belajar malam dibimbing wali kelas di kelas. Kami bebas membaca buku pelajaran apa saja.

22.00-04.00

Istirahat dan tidur Selain jadwal harian, ada juga jadwal mingguan. Misalnya set iap hari Minggu dan Kamis adalah waktu khusus latihan pidato. Selasa dan Jumat ada latihan percakapan bahasa asing dan lari pagi.

Sementara Kamis sore adalah latihan pramuka. Begitulah Amak, kehidupan ambo dan kawan-kawan di sini. Padat, penuh, capek, tapi banyak yang bisa dipelajari. Sekali lagi mohon maaf atas kesalahan ambo selama ini. Tolong didoakan ambo sehat walafiat dan bisa belajar dengan baik disini.

Sembah sujud ananda

Alif

Berbekal dua kepala Pak Harto sebagai prangko di amplopnya, aku kirim surat pertamaku kepada Amak. Semoga dengan surat ini, Amak terhibur dan aku termasuk bagian orang yang ber-untung mendapat ridha dan doa dari ibu. Seperti kata Angku Datuak Rajo Basa dulu, surga itu dekat, sangat dekat, dia di bawah kaki Sejak itulah aku teratur menulis surat ke Amak. Satu sampai dua kali sebulan.

Bung Karno

Seandainya ada yang berdiri di pucuk menara masjid kami yang sangat tinggi pada set iap malam Jumat, dia pasti mengira telah terjadi demonstrasi, pemberontakan, penyerangan, bahkan kudeta politik besar di PM. Bagaimana pun malam itu seisi pondok riuh rendah dengan teriakanteriakan penuh semangat, pukulan-pukulan di meja, teriakan massa, dan tepuk tangan memekakkan telinga. T iga kali dalam seminggu, semua murid terlibat dalam sebuah ritual gegap gempita: belajar pidato.

Menurutku, bila ingin mendapatkan pelatihan hebat untuk menjadi orator tangguh dan singa podium, maka PM adalah tempat yang tepat. Bagaimana tidak, tiga kali seminggu, selama 2 jam kami diwajibkan mengikuti muhadharah, atau latihfljy. berpidato di depan umum. Setiap orang mempunyai kelompolc pidato berisi sekitar 40 anak-anak dari kelas lain. Setiap orang dapat giliran untuk berbicara 5 menit di depan umum. Tidak hanya harus berpidato tanpa teks, bahkan tingkat kesulitannya ditingkatkan dengan kewajiban harus berpidato dalam 3 bahasa, Indonesia, Inggris dan Arab.

Kalau dipukul rata, setiap orang akan dapat giliran menjadi pembicara utama set iap bulan. Minggu ini tiba giliranku, dan kebagian pidato bahasa Inggris. Bulan lalu aku sudah kebagian pidato dalam Bahasa Indonesia. Sebuah pengalaman menb&rkan karena pada dasarnya aku kurang nyaman di depan publik, menjadi pusat perhatian, apalagi sekarang menyampaikan pidato, dalam bahasa asing pula. Lima menit bukan waktu yang singkat, apalagi begitu berdiri di depan pendengar yang mendambakan pidato membakar. Tapi, kali ini aku berniat untuk meningkatkan kualitas pidatoku dengan berlatih lebih banyak dan meminta Raja yang ahli pidato menjadi mentor.

Untuk menjadi speaker ada prosedurnya. Pertama aku harus menulis skrip pidato dengan lengkap di sebuah buku khusus. Empat puluh delapan jam sebelum pidato, naskah sudah harus disetor ke kakak pembimbing dari kelas 5 atau 6. Hanya setelah naskahku diperiksa dan ditandatangani maka aku bisa naik mimbar. Inilah repotnya, jadwal dan kewajibanku padat sekali. Ada hapalan mahfudzhat, lalu tugas membuat kalimat lengkap, tugas pramuka, belum lagi baju bersihku telah habis dan harus segera dicuci. Kapan aku punya waktu untuk menulis naskah pidato yang harus melalui riset pustaka? Dalam bahasa Inggris lagi.

Telat menyetor naskah atau nekad tidak punya naskah sama sekali, you are in a big trouble. Di malam muhadharah itu, ada banyak petugas pemeriksa naskah yang berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Tugasnya memastikan kalau para orator hari ini telah melengkapi kewajiban mereka, skrip yang telah ditandatangani pembimbing. Hukuman berat menunggu para pelanggar. Takut dengan potensi hukuman ini, dengan susah payah aku berhasil menyelesaikan naskahku, setelah berkorban harus pakai baju yang sama dua hari berturut-turut karena tidak sempat mencuci dan sekali melewatkan mandi pagi. Masalahnya, tenggatwaktu penyerahan tinggal 10 menit lagi, dan kamar Kak Jamal, pembimbingku terletak jauh di ujung barat PM. Tidak ada jalan lain, aku singsingkan sarung dan berlari sekencangnya. Kak Jalai hanya geleng-geleng kepala melihatku tersuruk-suruk berlari datang ke kamarnya untuk menyerahkan naskah ini. Bel berdentang, tepat jam 4 sore: deadline pengumpulan naskah. f mode it.

Tapi itu baru langkah pertama. Aturan mainnya, speaker tidak boleh membaca naskah selama berpidato, tapi harus menghapalkannya dengan fasih. Artinya, aku harus membaca teks berulang-ulang supaya lengket di kepala. Supaya paten, aku harus melakukan latihan pidato di depan beberapa orang, agar nanti tidak kagok ketika berada di hadapan 40 orang. Maka aku kumpulkan Sahibul Menara, 5 kawanku di pelataran jemuran baju yang luas, di atas gedung asrama Kordoba, untuk menjadi penonton latihanku. Sebetulnya ada beberapa tempat latihan populer bagi calon speaker, yaitu dapur kosong, kelas kosong, dan tempat jemuran baju. Para calon speaker biasanya akan praktek dengan berteriak-teriak kepada pendengar bisu seperti bangku, meja, tiang, papan tulis sampai gantungan baju. Aku memilih tempat jemuran karena ruangan outdoor yang luas, tidak terganggu orang lain karena jauh dari keramaian, dan tidak takut malu karena bisa terlalu ekspresif.

Maklum wajahku pasti tertutup jemuran yang berkibar-kibar ditiup angin. Di. kelilingi jemuran berbagai rupa dan warna, kawankawanku duduk melingkar di lantai dan aku berdiri di tengah dengan gaya seorang orator. Pidatoku yang berjudul “The Decandence of the World, How Islam Solves It” aku peragakan. Tapi tiga kali aku coba, tiga kali pula aku mandeg di tengah jalan, tidak jauh dari kalimat pembuka. Kalau bukan karena hapalanku hilang, tiba-tiba suaraku bergetar dan mengecil seperti lilin habis sumbu. Kawan-kawan memandangku dengan wajah prihatin. Baso membenarkan hapalan ayat dan hadistku. Atang yang pemain teater mengajarkanku agar menggunakan napas perut supaya suara menjadi bulat dan lantang.

“Lif, coba tahan napas di perut, dan keluarkan seakan-akan suara dari perut. Dijamin suara lebih lantang,” katanya sambil memperagakan. Rajalah yang paling banyak memberi masukan baik dari pro-nounciation bahasa Inggrisku yang sangat kepadangpadangan, maupun dari segi teknik penyampaian. Rupanya dia punya jurus lebih hebat. Daripada latihan di antara jemuran baju, menurutnya lebih baik di pinggir Sungai Bambu yang mengalir deras di pinggir PM.

Menurut Raja, air sungai yang berbunyi konstan dan gesekan daun bambu cenderung membuat suara kita hilang, tapi di saat yang sama melatih suara menjadi lebih lantang. Karena itu, akan lebih gampang nanti menggoncang podium.

“Untuk menarik perhatian pendengar, selain menggunakan suara yang lantang, ikat mereka dengan matakau. Pandang mata mereka dengan lekat,” saran Raja sambil mengarahkan dua jari ke mataku. Dia mendekat mempraktekkan. Matanya yang besar seperti gundu berkilat-kilat pas di depan mukaku, hidungnya mendengus-dengus. Dia memang sangat menyenangi pidato dan selalu merasa bisa membius pendengarnya. Latihan pinggir sungaiku selesai seiring dengan bunyi lonceng ke masjid. Suaraku serak.

Malam muhadharah ini aku ingin tampil gagah. Kopiah beludru hitam merek Sjarbaini Iungsuran Ayah kuseka dengan sikat halus. Karena aku belum sempat mencuci, baju lengan panjang agak kebesaran aku pinjam dari Dulmajid. Seutas dasi belang hitam biru abu-abu, aku ikatkan di leher.

Aku patut-patut diri di depan kaca umum yang Cuma sebelah tu di sebuah kamar. Kopiah aku pasangkan dan aku telengkan sedikit supaya mirip Bung Karno atau Bung Tomo. Ada yang kurang, aku belum punya jas. Bergerilyalah aku dari kamar ke kamar mencari jas pinjaman. Untunglah Zulham kawanku, punya jas pemberian pamannya dari Padang Panjang. Warnanya cokelat muda, yang bikin gaya adalah di bagian kedua sikunya dilapisi kain berwarna lebih terang, persis seperti jas-jas di f ilm koboi yang dulu pernah kutonton. Bawahannya aku gm| dan dengan celana hitam semi baggy dan sepatu fantofelku. Mengenakan kopiah, dasi dan jas adalafct kewajiban bagi setiap speaker yang bertugas. Jreng… Jreng… aku duduk bersama tujuh orang pembicara di depan massa yang heboh bertepuk tangan dan berdiri bagai menyambut kedatangan dai kondang. Jantungku berdeburdebur tidak karuan. Temanku di sebelah kanan melinting dasinya, gugup, sementara yang sebelah kiri mengibasngibaskan fora piahnya kepanasan. Kami bertujuh tidak ada yang damai dan : tentram mendengar antusiasme massa. Untunglah, Taufik, yang bertugas menjadi chairman atau MC mengetok meja menenangi kan massa dan mulai membuka acara.

“…and my brothers, our next speaker is a young orator from West Sumatera, Mr. Alif Fikri. Time is yours Mr. Fikri!” teriak Taufik dengan bahasa Inggris berlogat Tegal. Diiring i tepuk tangan meriah aku maju ke depan, menunduk ragu kepada hadirin dan akhirnya melangkah ke pedium tripleks bercat kuning di tengah ruangan. Masih menunduk, aku coba tarik napas yang dalam dan aku ingat-ingat nasehat Raja: pandanglah mata hadirin. Pelanpelan aku angkat wajahku menghadap ke massa dan untuk beberapa detik aku diam mematung. Lalu pelan-pelan pandangan aku edarkan kepara hadirin. Kata Raja, ini namanya commanding by eyes, tips yang dibacanya di buku Tuntutan Menjadi Orator Ulung. Lalu pelan-pelan aku hembuskan napas dari dada lewat hidung. Ini saatnya angkat bicara, dengan suara yang aku bulat-bulatkan dari perut, seperti petuah Atang.

“My beloved Madanian, Assalaaaamualaikum Warahmatullaaaahi Wabarakaaatuh!” Suaraku terdengar menggeram berat dari dalam perut. Sengaja aku ayun-ayunkan suara, dengan tekanan dan nada tertinggi di akhir kalimat salam. Serta merta koor balasan salam mengaum, bersemangat. Aku merangsek dengan jurus berikutnya. Lemparkan pertanyaan provokatif, tapi sederhana.

“Do you know why you are stupid?”

Tidak ada jawaban. Hening. Tapi lamat-lamat terdengar komentar bisik-bisik tidak yakin. Jadi aku ulang lagi dengan suara lebih lantang.

“Do you know?” aku ulang lagi,

“Do you know?” Keheningan retak dan pecah menjadi gaduh. Para pendengar mulai menggeleng-gelangkan kepala sampai menjawab tidak jelas. Sebelum mereka bereaksi lebih jauh, aku bom mereka dengan kata-kata: “Because you forget the alhadits and Koran. Because you forget what Allah and his prophets taught ust”

Nada suaraku semakin meninggi set iap aku tambahkan jawaban atas pertanyaan hipotetik tadi. Ini adalah gaya Bung Karno, orator terbaik Indonesia, ketika membakar semangat revolusi. Pendengar yang tadi diam mulai bergumam, jadi berdiri dan meletus. Tempik sorak membahana memekakkan telinga. Beberapa orang pendengar bahkan sampai tersengal sengal dengan muka merah karena kebanyakan bertepuk tangan dan berteriak. Hadirinku telah tersihir. I just won my audience.

Selanjutnya, bagai mitraliur, aku paparkan berbagai dalil dari kitab suci dan hadist tentang dekadensi umat manusia ketika meninggalkan agama. Masih menurut buku Raja, kalau emosi pendengar sudah berkobar, isi pembicaraan bisa jadi nomor dua, karena apa pun yang disebut pasti akan ditepuki. Pidatoku berapi-api aku lengkapi dengan gesture yang sesuai. Aku kepalkan tinju, aku acungkan ke udara, aku pukul mimbar. Aku goyang ruangan ini.

Dalam sekejap 10 menit lewat. Aku menutup pidato dengan salam yang bersemangat, dan aku turun dari podium diselimuti tepuk tangan dan sorak sorai gempita. Badanku bersmbah keringat, dasiku morat-marit, kopiahku juga telah miring kiri kanan. Tapi aku puas.

Kakak pembimbing pun tersenyum-senyum. Mereka senang karena tugas mereka memastikan kami menulis teks pidato dani membawakan dengan semangat, serta memastikan suasana pidato kami gegap gempita, t idak mau kalah dengan grup di ruang sebelah.

Waktu terasa bagai beliung yang menyedot hari-hariku dengan kencang. Telah hampir setengah tahun aku di PM. Dan selama ini PM benar-benar tidak memberiku waktu berlehaleha. Semua terjadi cepat, padat, ketat. Mulai dari yang remeh temeh seperti mencuci sarung dan baju pramuka, belajar habis-habisan sampai menuliskan naskah pidato tentang perjuangan Palestina di acara muhadharah. Sebuah pengalaman hidup dengan akselerasi luar biasa. Raja sering bercanda, “Kita seperti sedang belajar silat di kuil Shaolin yang ketat.” Aku agak setuju dengan dia.

Seiring waktu, pertemanan kami berenam sebagai Sahibul Menara semakin kuat. Pelan-pelan aku merasa Said tumbuh menjadi pemimpin informal kami. Perawakan yang seperti orangtua dan cara berpikirnya yang dewasa membuat kami menerimanya sebagai yang terdepan. Dia kerap jadi tempat kami bertanya kata akhir kalau ada masalah. Aku sendiri mengagumi caranya melihat segala sesuatu dengan positif. Dalam hati aku menganggap dia abang laki-laki yang aku tidak pernah punya.

Walaupun kami punya kepribadian dan kegiatan yang berbeda-beda, sehingga sering pula bertengkar, tapi entah kenapa kami merasa cocok. Satu hal yang kami selalu sepakat menikmatinya adalah melewatkan waktu menjelang Maghrib di bawah menara masjid, sambil menatap awan senja yang memerah terbakar mentari sore. Di awan jingga itu kami saling bercerita tentang mimpi-mimpi.

Aku akhirnya mulai berdamai dengan rupa-rupa aturan disiplin dan beban pelajaran yang berjibun. Semua aku terima dan aku anggap bagian dari konsekuensi keputusan setengah hatiku untuk datang ke PM.

Bagaimanapun aku semakin menikmati pengalaman baru di PM, t etap saja ada yang masih sering hilang timbul dan kerap mengganggu pikiranku: kandasnya cita-cita masuk SMA. Surat-surat Randai yang terus datang dan bercerita tentang SMA-nya bagai meniup api dalam sekam.

Aku tahu benar betapa senangnya Randai menuntut ilmu d i SMA. Bahkan mungkin, 3 tahun lagi dia akan terbang ke Bandung untuk masuk ITB. Di bawah naungan menara, aku masih sering berkeluh-kesah kepada kawan-kawanku tentang masa depan setelah PM.

Sialnya, Said, Atang dan Dulmajid yang sudah merasakan bangku SMA tidak memungkiri keindahan masa lalu mereka. “Lif, cobalah kau dengar baik-baik. Memang SMA itu masa yang indah. Dunia setiap hari adalah dunia yang indah, senang dan gembira. Kita cuma agak stres kalau mau ujian saja. Selebihnya adalah bermain. Kalau di PM, set iap hari kita seperti ujian,” kata Atang menerawang sambil tersenyum. Dia tampaknya menikmati kenangan SMA-nya. Dulmajid mengangguk-angguk mengiyakan seperti burung betet sedang girang.

“Betul, masa yang tidak terlupakan. Tapi yang indah bukan berarti masa yang paling berguna untuk mempersiapkan mental dan kepribadian kita. PM adalah tempatnya,” pidato Said dengan gayanya yang selalu sok dewasa.

“Karena tidak merasa mendapatkan sesuatu buat mental dan kalbu, aku memutuskan ke sini,” tambah Atang. Kali ini dia tidak menerawang lagi. Matanya tertuju ke tangannya yang memegang buku tugas hapalan Mahfudzhat dan AlQuran untuk besok. Dulu aku anak yang sangat pemalu untuk tampil di depan umum, apalagi harus berpidato panjang lebar. Kini, tiga kali latihan pidato dalam seminggu, latihan menjadi imam sha-lat, belum lagi berbagai kegiatan seperti pramuka, pelan-pelan menambah kepercayaan diriku di muka umum. Kalau dulu tanganku dingin dan suaraku bergetar-getar seperti mau menangis, sekarang tanganku terkepal dan suaraku mulai bisa normal. Perubahan ini tidak terjadi semalam dua malam. Awalnya semua kebiasaan baru ini aku paksakan terjadi. Aku buat-buat saja seakan-akan aku orator ulung, mengikuti contoh kawan-kawan dan kakak-kakak yang lebih hebat. Memekik sana memekik sini, mengepalkan tangan di udara, tunjuk sana dan sini sampai menggedor-gedor podium.Ternyata lama-lama, kepura-puraan positif ini menjadi kebiasaan dan kenyataan yang sebenarnya.

Ajaib! Wejangan Kiai Rais terasa dekat, “Jangan berharap dunia yang berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. Ingat anak-anakku, Allah berfirman, Dia tidak akan mengubah nasib sebuah kaum, sampai kaum itu sendirilah yang melakukan perubahan. Kalau kalian mau sesuatu dan ingin menjadi sesuatu, jangan hanya bermimpi dan berdoa, tapi berbuadah, berubahlah, lakukan saat ini. Sekarang juga!” Maradona Hapal Ouran

“Selamat dan jaga etika menulis dan patuhi deadline kata Ustad Salman. Tapak tangan kurusnya menjepit tanganku erat. Lalu bagai mengalungkan medali emas olimpiade, dengan hikmat dia menyampirkan tanda pengenal dengan foto diriku dan tulisan berhuruf tebal di atas kertas seukuran KTP: Wartawan. Wow, perasaanku melayang dan senang bukan main. Rasanya saat itu aku siap menjelma menjadi Goenawan Muhammad, bos TEMPO, majalah yang selalu menjadi referensi kami. Aku baru saja menyelesaikan pelatihan 3 hari untuk menjadi wartawan majalah kampus kami, Syams, matahari.

Untuk kegiatan luar kelas, aku memilih bergabung dengan majalah kampus karena aku sangat tertarik belajar menulis dan memotret. Untuk urusan tulis-menulis ini, sebelumnya beberapa kali aku menjadi finalis lomba menulis di PM. Ini yang membakar semangat, selalu menjadi finalis, tidak pernah Padahal aku merasa cukup baik di bidang ini.

Untuk memperkuat skill menulis inilah kemudian aku melamar dan ikut tes menjadi wartawan Syams. Setelah tercatat sebagai kuli tinta majalah kampus, aku banyak belajar dari mentor-mentor menulisku, salah satunya Ustad Salman. Bahkan aku berani menulis puisi dan cerpen untuk di-kirim ke majalah dan Koran yang terbit di Jawa dan Sumatera. Hasilnya? Berkali-kali aku mendapatkan amplop tebal koran-koran ini, berisi naskahku sendiri dan surat permintaan maaf belum bisa memuat tulisanku dengan beraneka alasan. Tapi sesuai kata sakti yang aku percayai itu, man jadda wajada, aku berusaha tidak kendor.

Mungkin memang tulisanku belum cukup bagus. Satu-satunya tulisan kirimanku yang dimuat oleh surat kabar Jawa Pos adalah sebuah tulisan 3 paragraf: sebuah surat pembaca. Walau hanya surat pembaca, aku tetap senang. Rasanya hebat sekali opini kita—walau dalam bentuk surat pembaca— dimuat di koran besar dan dibaca banyak orang. Kliping surat pembaca ini bahkan aku abadikan di dalam diariku, sebagai bukti tulisanku juga bisa dicetak di luar PM.

Privilege yang aku punya sebagai wartawan kampus adalah izin untuk memegang kamera dan menggunakannya. Tanpa menjadi anggota klub fotografi dan kru majalah, tidak ada yang boleh menggunakan kamera di PM. Selain mengirimkan naskah tulisan, aku juga pernah mengirimkan foto-foto kegiatan PM ke majalah-majalah Islam. Tapi tidak pernah dimuat.

Untuk urusan potret-memotret, aku sudah belajar sejak kelas lima SD. Pada suatu Idul Fitri, Ayah menerima hadiah kamera Yashica bekas dari Pak Etek Gindo yang pulang berlibur dari kepalang. Ke mana saja dia membawa kamera ini dan memotret apa saja. Waktu itu jarang sekali orang punya kamera pribadi. Lama-lama dia menjadi fotografer tidak resmi di acara-acara kampung kami. Dia dengan senang hati memotret tanpa memungut bayaran. Sedangkan orang sekampung juga senang ada tukang potret gratisan. Sedikit-sedikit Ayah mengajariku memotret dan mulai memberiku kepercayaan untuk memotret acara seperti perpisahan kelas enam di SD, khatam Al-Quran di madrasah, sampai ke adikku.

Sedangkan untuk bidang olahraga, aku memilih silat dan sepakbola. Aku antusias sekali bergabung dengan perguruan silat Tapak Madani. Apalagi dulu waktu kecil belajar silek kumango, salah satu aliran silat Minngkabau dari lingkungan surau dan dikembangkan oleh Alam Basifat Syekh Abdurahman Al Khalidi di Surau Kumango, Tanah Datar. Yang menarik perhatianku adalah langkah sfefciraaF simbolkan sebagai langkah Alif, Lam, Lam, Ha dan Mim, Ha, Mim, Dai, yang merupakan huruf Arab dari kalimat Allah dan Muhammad Sayang, jadwal latihan silat tidak cocok dengan jadwal latihan menulis di Syams. Akhirnya aku memilih sepakbola saja. Kaca Kiai Rais, “pilihlah kegiatan berdasarkan minat dan bakatmu sehingga bisa mengerjakannya dengan penuh kesenangan dan hasil bagus.” Memang kalau sudah main bola dan menulis, rasanya tidak ada capeknya.

Untuk sepakbola aku bergabung dengan tim asrama Al-Barq Banyak piala yang diperebutkan setiap tahun di PM, mulai dari lomba drama, pertunjukan musik, kesenian, majalah dinding, pidato, sampai lomba menghias asrama. Tapi tidak ada yang mengalahkan kepopuleran Liga Madani, kompetisi antar delapan asrama yang berjalan sepanjang tahun dan berakhir dengan final d i setiap akhir tahun. Juaranya menggondol Piala Madani, lambang supremasi sebuah asrama di PM. Walau ikut latihan bersama tim asrama, aku bukan tim inti dalam kompetisi ini. Kata Kak Is, postur tubuhku yang kurus kurang pas untuk bertarung keras dengan tim lain. Alhasil, aku menjadi anggota tim penggembira untuk melayani latihan tim utama saja. Tapi itu saja sudah membuatku senang. Apalagi tim kami sekarang berpeluang masuk babak selanjutnya setelah menang dua kali melawan asrama lain dengan Said sebagai top scoret dengan tiga gol.

Di Maninjau dulu, tidak ada lapangan bola yang bagus untuk latihan. Aku dan teman masa kecilku belajar main bola di atas tanah sawah yang habis disabit. Setelah akar padi dibersihkan, tanah di sawah itu berlubang-lubang, basah, dan liat. Ketika mengejar bola, sering kami terjerembab karena kaki kami melesak ke dalam tanah yang gembur. Keadaan semakin parah ketika hujan turun. Sawah yang gembur berlinang-linang dengan lumpur yang tebal. Risikonya semakin gampang terpeleset dan berguling-guling di lumpur. Yang terjatuh jadi bahan ejekan dan sorakan kami.

Setelah lelah bermain, kami tidak ubahnya seperti kerbau keluar dari kubangan. Supaya tidak dimarahi orangtua karena berlepotan tanah, kami mencebur dan berenang dulu di Danau Maninjau. Badan boleh bersih, tapi sayang bau lumpur tidak bisa hilang. Amak tetap tahu dan memarahiku sampai di rumah*

Sebaliknya, Said dengan semangat memilih hampir semua cabang olahraga yang ada, mu lai silat, sepakbola dan terakhir body building. Aku tidak habis pikir bagaimana dia membagi waktu latihan. “Kalau diniatkan, semuanya bisa diatur akhi,” jawabnya sambil bergegas memakai sepatu bola. Belakangan dia menyerah juga dan hanya memilih 4 cabang olahraga. Atang yang memakai kacamata bergagang tebal seperti Clark Kent, sesuai bakatnya, langsung larut dengan latihan latihan teater yang menurutku terlalu dibuat-buat. Kalau bukan melolong-lolong tanpa sebab dengan memasang muka masam dan serius, maka pemain teater ini bisa tertawa-tawa sambil bergulingan. Sungguh tidak bisa aku mengerti. “Inilah namanya penjiwaan, dasar ente tidak mengerti seni,” begitu jawab sinis mendengar hujatanku. Tangannya membetulkan kacamatanya yang tidak melorot.

Selain teater, Atang mengaku punya sebuah keinginan terpendam, yaitu menjelma menjadi Teuku yang membaca AlQuran dengan suara bak gelombang lautan yang bergelora. Walau tahu modal suaranya yang

pas-pasan, Atang tetap membulatkan tekad . untuk menjadi anggota Jammiatul Qura, sebuah grup mengasah suara dan kefasihan melantunkan ayat Tuhan.

Namun, di antara kami berlima yang paling tahu apa mau adalah Raja. Bahkan sejak kami pertama menjejakkan, kaki d i PM dia telah pernah bergumam akan belajar menjadi singa podium, yang mampu membakar semangat pendengar, dalam berbagai bahasa dunia pula, seperti Bung Karno. Untuk itu dia langsung bergabung dengan English Club yang mengajarkan bar gaimana berpidato, berdiskusi, dan berdebat dengan baik. Baso si pemilik photographic memory ini telah bertekad bulat untuk bisa menghapal tiga puluh juz Al-Quran selama di PM segera bergabung dengan kelompok Thahfidzul Quran. Sejauh ini, dia telah berhasil menghapal juz Amma yang punya surat pendek-pendek. Selain itu dia juga terdaftar sebagai anggota kelompok Kajian Islam, kelompok diskusi yang membahas tentang, ilmu-ilmu Al-Quran. Uniknya, pengganti olahraga, dia memilih ikut kursus pijit refleksi telapak tangan dan kaki untuk pengobatan.

Sedangkan Dulmajid, tidak lain dan tidak bukan, memuaskan nafsu membacanya dengan bergabung sebagai tim perpustakaan. Dengan menjadi bagian tim ini dia bisa set iap hari dikelilingi buku. Sesekali dia ikut membantu majalah Syams. Dan dalam rangka ing in menjadi seperti Icuk Sugiarto, Dulmajid juga mendaftar sebagai anggota klub bulutangkis.

Dua kali seminggu aku mengikuti lari pagi bersama yang mirip karnaval kepagian. Tepat setelah Subuh, ribuan murid dengan seragam olahraga asrama masing-masing berbaris rapi, dikomandoi seorang petugas olahraga yang memakai peluit. Lari pagi hukumnya wajib, setiap tindakan tidak lari pagi adalah kunjungan ke mahkamah.

Prit… prit. prit.. begitu irama peluit mereka agar langkah pasukannya teratur. Selama setengah jam lebih kami lari pagi melintas jalan-jalan desa yang masih disaput kabut, melewati peternakan, rumah-rumah sederhana, sawah, dan kali. Kalau lari dilakukan bersama karena wajib, maka sepakbola kami wajibkan sendiri karena permainannya yang heboh. Apalagi khusus masalah si kulit bundar ini, PM punya sebuah kompetisi antar asrama yang riuh. Setiap pertandingan dipenuhi suporter kedua belah pihak. Selain itu, juga ada pertandingan persahabatan PM Selection dengan para tim tamu yang datang dari kota-kota lain. Tidak ketinggalan pula turnamen sepakbola yang lebih kecil untuk para ustad dan pegawai E almukanam, pimpinan PM, Kiai Rais sendiri kabarnya akan main.

“Kapan ya kita bisa lihat beliau main bola?” kepada siapasiapa ketika kami berkumpul di bawah menara.

“Mana mungkin Kiai Rais main bola. Beliau itu kiai dan hapal Quran pula,” sergah Baso dengan wajah paling hakul yakin yang dia punya.

“Main bola bukan barang haram, mungkin saja,” sangkal Said agak kesal.

Kiai Rais adalah sosok yang bisa menjelma menjadi apa saja. Setiap Jumat sore, di depan ribuan muridnya, sambil mengehlfci elus jenggotnya yang rapi, dia dengan telaten membimbing kami menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan cara yang sangat memikat. Pada kesempatan ini dia memakai pakaian jubah putih panjang, kopiah haji dan sorban tersampir di bahu, layaknya seorang syaikh pengajar di Masjid Nabawi.

Tidak salah, dulu dia menuntut ilmu di Madinah University. Selain menggondol gelar MA di bidang tafsir, dia juga menggondol pengakuan sebagai seorang haafiz, penghapal AlQuran.

Setiap awal musim ujian, dia kembali tampil di podium aula dengan gaya motivator yang membakar semangat kami. Kali ini tanpa sorban, dia memakai kemeja putih, berdasi, bercelana hitam, sepatu mengkilat dan memakai kopiah hitam. Penampilannya pas sekali sebagai seorang administrator pendidikan yang terpandang. Matanya mendelik-delik lincah, mengingatkan aku pada salah satu cita-cita profesiku dulu, menjadi Habibie. Setelah mendengar dia bicara, rasanya apa saja bisa kami terjang dan pelajari.

Bagi Baso, Kiai Rais adalah kiai yang cocok jadi guru, bukan pemain bola.

Sampai pada suatu hari, TOA pengumuman yang terpasang di ujung koridor asrama kami beibunyi nyaring:

“Ayuhal ikhwan, saksikan besok sore, sebuah pertandingan bergengsi antara Klub Guru dan Kelas 6 Selection. Menghadirkan pemain-pemain tangguh yang ada di PM, bahkan Kiai Rais sendiri akan ikut turun, jangan ketinggalan… saksikan…..

“Kiai Rais main bola? Kok bisa ya?” kata Baso tergagap bingung. Dia yang selama ini begitu mengidolakan kehebatan Kiai Rais menghapal Al-Quran rupanya gagal menyambungkan penghafal Quran dan sepakbola.

Baginya itu dua dunia yang benar-benar berbeda.

“Nah apa kubilang. Ya bisa lah, boleh kan, seorang kiai pun main bola!” bela Said bersemangat. Tangannya digosok-gosok’ kan, seperti seorang kelaparan akan menyambar hidangan lezat. Matanya berkilat-kilat, tidak sabar menonton pertandingan ini.

“Kenapa bingung kamu Baso? Rugi kalau kita tidak nonton,” katanya lagi.

Aku, Said, Raja, Atang dan Dulmajid sepakat kami harus ada di lapangan. Kami sepakat tidak ada jadwal kumpul di bawah menara besok. Kami akan langsung ke lapangan sepakbola lengkap dengan sarung dan kopiah, supaya nanti tidak perlu lagi pulang ke asrama begitu bel ke masjid berbunyi. Baso masih menerawang, matanya tidak yakin. Baginya, kaitan antara penghapal Al-Quran dan pemain sepakbola tetap sebuah misteri.

Said seperti mendidih melihat kawannya yang satu ini tidak mengerti juga.

“Eh Baso, anta kan hapal banyak hadist. Nah, ingat gak hadist yang bilang bahwa Nabi itu ingin umatnya sehat dan kuat. Makanya dianjurkan kita bisa berbagai keterampilan fisik, mulai dari memanah, berkuda dan berenang. Itu artinya olah raga, Nabi saja olahraga, masak Kiai Rais tidak. Apalagi kamu …,” katanya menyorongkan telunjuknya ke muka Baso sampai Baso terlonjak kaget menghindari telunjuk Said yang hampir mengenai hidungnya. Baso tampak berpikir keras sebelum akhirnya setuju untuk ikut ke lapangan besok.

Tepat setelah Ashar, kami setengah berlari menuju kelapangan karena tidak mau kehabisan tempat. Sarung kami pakai agak tinggi supaya bisa melangkah lebih lebar. Benar saja pinggir lapangan telah dijejali oleh banyak murid, ustad juga orang-orang dari luar PM. Sejumlah kursi yang terbatas Mulai terisi, yang tinggal hanya daerah untuk berdiri. Delapan corong TOA besar yang dipasang melingkari lapangan kemerosok sebentar sebelum kemudian mengeluarkan suara gegap gempita komentator bola PM yang paling terkenal, bernama Amir Tsani. Dengan suara berat dia mulai memperkenalkan kedua tim kepada penonton.

“Ayyuhal ikhwan. Saudara-saudara semua. Selamat datang dalam pertandingan penting ini. Saya akan perkenalkan para pemain dari kedua tim, yaitu…” Dia menyampaikan semua komentar dalam Bahasa Arab, karena minggu ini minggu wajib berbahasa Arab.

Sebagai kelas paling senior, kelas 6 menurunkan pemain terbaik yang muda dan sigap. Di antaranya adalah Rajab Sujai, yang dianggap sebagai bek terbaik PM karena kecepatan dan postur tubuhnya yang liat menghadang penyerang mana pun. Kak Rajab ini tidak lain adalah Tyson yang menjabat bagian keamanan.

Sementara, kelompok guru yang relatif lebih tua juga tidak mau kalah, mereka punya playmaker Ustad Torik yang selama ini dikenal sebagai sang don dalam masalah keamanan PM. Para siswa kelas 6 ini sangat paham reputasi si don ini. Kata-katanya adalah hukum. Mendengar namanya saja, siswa kelas satu bisa pucat pasi. Tim guru juga diperkuat oleh pemain bertahan Ustad Abu Razi, dedengkot mabikori, badan tertinggi pramuka di PM. Badannya bongsor, bercambang, gempal, kira-kira seperti Hulk, tapi edisi warna hitam. Dengan tongkrongan raksasa ini, penyerang mana pun akan jeri untuk menusuk pertahanan lawan.

Nah, yang paling dapat sambutan meriah adalah ketika Amir Tsani berteriak, “Dan sebagai striker utama tim guru, fahuwa alkiram Kiai Rais…!” Suara Amir hilang tertelan tepuk dan sorak-sorai seisi lapangan.

Kiai Rais masuk ke lapangan dengan takzim dan melambai sekilas ke arah penonton. Yang paling membuat aku terperanjat adalah penampilannya. Surban berganti topi baseball, sarung berganti celana training panjang berwarna hitam, jubah berganti kaos sepakbola bernomor sepuluh, bertuliskan Maradona, pahlawan Argentina di Piala Dunia 1986. Yang masih sama adalah jenggotnya yang panjang terayun-ayun setiap dia menyepak bola. Konon, ketika dia masih menjadi murid seperti kami, Kiai Rais adalah striker andalan PM, dan sering merobek gawang lawan dengan tendangan kanonnya yang melengkung-lengkung. Pertandingan berjalan seru. Awalnya tim kelas 6 tampak masih malu-malu berhadapan dengan guru mereka, apalagi dengan Kiai Rais. Di paruh pertama, Kiai Rais memperlihatkan kemampuannya mengolah bola lengkung dan beberapa kali mengancam pertahanan lawan. Barulah menjelang turun minum Kiai Rais dengan lincah mampu meliuk-liuk melewati bertahan lawan dan dengan gaya yang efisien, mencungkil bola ke atas kepala kiper yang terlanjut maju. …

yarmi kurrah ila w asat, ilal yu sra, wa gooool.’ Teriak Amir sang komentator heboh.

1-0 untuk para guru. Penonton bergemuruh. Said berteriak ke telinga Baso, “Tuh, ini namanya Maradona”. Baso sama sekali tidak merasa tersindir karena terpana dengan kehebatan idolanya.

Masuk babak kedua, barulah umur yang berbicara. Kiai Rais digantikan guru yang lebih muda. Tim guru seperti kehabisan gas, lemas, dan mudah terbawa angin permainan kelas 6. Dengan fisik lebih muda, mereka merajalela dan menutup pertandingan dengan skor 3-1. Walau tim guru kalah, kami tetap senang karena berhasil melihat Kiai Rais junjungan kami membuat gol dengan indah.

“Ayyuha ikhwan, Terima kasih atas kehadiran semua, dan sebuah pengumuman dari keamanan pusat agar semua otang segera ke masjid karena waktunya telah tiba,” tutup Amir dek ngan penuh otoritas, masih dengan bahasa Arab yang fasih, kefasihannya ini sempat membawa sengsara bulan lalu, ketika orang wali murid yang berkunjung protes karena mendengar ada ayat-ayat suci diteriakkan di lapangan dengan cara serampangan, di tengah pertandingan bola lagi. Untung ada Kak Burhan, sang pemandu tamu yang selalu punya jawaban, bahwa ini bukan mengaji, tapi komentator sepakbola. Wali murid ini dengan muka merah mengangguk-angguk malu. Berlian dari Belgia

Salah satu bagian penting dari qanun adalah pengaturan arus informasi yang sampai kepada kami para murid. Agar semua informasi mengandung pendidikan, semua saluran hamil dikont rol dan disensor. Di PM, kami hanya bisa membaca 3 koran nasional yang telah disensor oleh bagian keamanan dan pengajaran. Potongan kertas putih ditempel khusus di bagian tulisan yang disensor.

Lembar-lembar koran ditempel di panel kaca bolak balik yang tersebar di beberapa sudut PM dan selalu dirubung oleh banyak murid. Karena kami tidak bisa membolak-balik halaman kertas koran, yang kami lakukan kalau ingin membaca sambungan berita adalah berpindah ke panel yang lain, atau pindah ke seberang panel, tergantung lanjutan berita ada di mana. Beberapa bagian yang disensor selalu menjadi perhatian kami, khususnya bagian iklan film. Dengan menerawang melawan matahari, kadang kala kami bisa membaca judul filmnya samar-samar, seperti: Bangkitnya Nyi Roro Kidul, Ratu Buaya Putih, Golok Setan, Dongkrak Antik dan lainnya. Sedangkan pemain filmnya tidak jauh dari sekitar Barry Prima, Suzanna, atau Warkop.

Said paling kesal dengan sensor ini. Kekesalan ini menjelma jadi c ita-cita. “Aku ingin menjadi tukang sensor ini saja nanti,” katanya setiap kami berdesakkan membaca koran sore hari. Artinya dia harus jadi bagian keamanan pusat Seperti Tyson! Panel kaca tidak bisa mengakomodasi majalah sehingga tidak ada sumber berita tertulis selain koran. Tapi kalangan guru boleh membaca majalah seperti Tempo. Untunglah sebagai bagian dari awak majalah sekolah, aku punya akses ke perpustakaan khusus guru yang menyediakan majalah Tempo.

“Kalau kalian ingin bisa menulis berita dengan baik dan enak dibaca, menggunakan bahasa yang bercerita dan sastrawi, maka sering-seringlah membaca Tempo. Mereka punya standar bahasa yang tinggi,” begitu petuah Ustad Salman berkali-kali, set iap kami mengadakan pertemuan bulanan redaksi dan pena-sehat majalah.

Dengan mata berbinar-binar aku selalu larut dengan berbagai laporan seru wartawan Tempo langsung dari Mesir, Amerika, Australia, sampai Jepang. Semua dikemas dengan bahasa yang enak dibaca dan istilah-istilah yang canggih, yang terus terang aku hanya berpura-pura mengerti saja. Walau sekarang ada di PM, belajarnya adalah agama, aku tidak malu bermimpi suatu saat bisa menjadi wartawan Tempo yang melaporkan berita-berita penting dan terhormat dari berbagai belahan dunia. Diam-diam aku mulai mempertimbangkan mengganti cita-citaku dari Habibie menjadi wartawan Tempo. Yang juga tidak aku lewatkan adalah Catatan Pinggirnya Goenawan Muhamad. Bagiku ini adalah bahasa para peri yang membuai. Sejujurnya, lebih banyak yang tidak aku mengerti, tapi tetap aku paksakan membacanya. Rasanya kok aku menjadi lebih pintar dan terhormat kalau bisa bilang pada orang lain bahwa minggu ini aku telah membaca tulisan GM— begitu namanya diringkas di Tempo.

Walau media lokal disensor ketat, PM membebaskan kami menerima majalah dari luar negeri, karena ini bagian! yek mendalami bahasa Arab dan Inggris. Maka berbondong bondonglah kami melayangkan surat ke seluruh dunia, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Inggris, Pakistan, sampai Arab Saudi. Tidak perlu susah mengarang karena senior kami sudah punya template surat puja-puji yang manjur untuk membujuk siapa pun mengirimi kami majalah dan buku gratis. Sebenarnya, inti suratnya cuma satu: Dengan hormst, Wshsi orang baik di luar negeri sana, tolong

Dialamatkan ke mana? Senior kami juga sudah list organisasi daftar yang bisa dihubungi. Alamat ini telah bertahun-tahun teruji mampu dan mau meladeni surat-surat dari PM. Tapi ada yang mengirim surat membabi buta. Asal melihat ada alamat luar negeri yang kayaknya ada free pwMtcation-nya, dikirim saja. Yang jelas, akibat hysteria menulis surat ke luar negeri ini set iap hari bertumpuk-tumpuk paket-paket dan amplop berisi barang cetakan datang dari berbagai negara.

Sebulan yang lalu kami berenam sama-sama mengirim bp? berapa surat untuk dapat majalah gratis. Dari pengalaman selama ini, barulah setelah sebulan ada kemungkinan jtoflfiMfg datang. Sudah beberapa hari ini aku, Raja dan Said rajin berdesak-desakkan dengan puluhan murid lainnya di pengumuman penerima paket yang selalu diperbarui set iap jam 4 sore. Hanya Said yang tinggi besar le luasa melihat tanpa berjinjit-jinjit seperti penguin sedang kasmaran. “Alif dan Raja, kalian ada di daftar penerima barang tuh!” teriak Said. Dia hanya butuh memanjangkan leher untuk bisa membaca semua nama. Matanya terus menuruni daftar nama sampai ke paling terakhir sebelum akhirnya menyerah. “Nggak ada lagi… nggak ada lagi… Kapan ya BBC mengirimi brosur liga Inggris,” keluhnya dengan wajah seperti anak TK kehilangan mobil-mobilan.

Said memang sangat bersemangat mendapatkan segala terbitan yang berhubungan dengan kompetisi sepakbola Eropa, khususnya liga Italia dengan idolanya Marco van Basten dan Ruud Gullit dari AC Milan. Sebelumnya, dia telah dapat brosur dari liga Jerman dan Italia, tinggal Inggris yang dinanti-nantinya.

Hari ini aku menerima tiga kiriman sekaligus. Dua amplop putih kecil dan sebuah amplop cokelat tebal diserahkan oleh petugas sekretariat setelah mencek papan namaku memang sama dengan alamat penerima. Membuka bungkusan kiriman luar negeri adalah sensasi yang sulit digambarkan. Senang, harap-harap cemas, bangga, dan tidak sabar. Ujung amplop berlabelkan “par avion” dan cap bergambar burung elang ini aku robek pelan-pelan, seakan-akan sebuah kertas berharga. Sebuah buku tebal aku tarik keluar dengan riang. “Wah, buku percakapan Indonesian-American English dari Radio Amerika!” teriakku kaget. Secarik surat pendek menyertai dan berbunyi: “Mr. Fikri, enjoy your free copy of this book. Thank you. VOA Indonesian Service.”

Sudah lama aku minta buku ini tanpa ada balasan dan sudah hampir lupa kalau pernah menulis ke sana. Giliran amplop kecil aku robek. Sebuah surat berlogo gambar singa dari sebuah museum Inggris meminta maaf karena tidak bisa mengirimkan publikasi gratis karena hanya diperuntukkan untuk member saja. Luar biasa, untuk bilang tidak bisa saja sampai harus mengirim surat sendiri, jauh-jauh ke PM. Aku tidak habis pikir dan terkesan dengan gaya dan etika mereka. Amplop yang berisi brosur penerimaan mahasiswa baru di sebuah universitas di India.

Puas rasanya bahwa dunia ini mendengar dan meresponsku. Puas rasanya menyadari kalau kita mau berusaha mengetok pintu, kemungkinan besar akan ada yang menjawab. Di lain kesempatan aku pernah dapat inflight magazine JAL Airlines, bulletin tiga bulanan bahasa Arab tentang Pakistan, sampai jadwal siaran Radio Rusia. Raja yang paling agresif dalam perkara kirim mengirim surat ini, khususnya untuk penerbitan berbahasa Inggris. Seakan-akan di matanya dunia ini toko buku serba ada yang gratis. Tinggal minta, nanti pasti datang. Tidak sia-sia, paket rupa-rupa kerap datang untuknya. Ada katalog ekspo teknologi di Jerman, buku belajar bahasa Inggris dari Radio Australia, newsletter dari Radio Belanda dan yang paling aneh katalog perhiasan intan berlian dari Antwerp, Belgia. Selama itu untuk kepentingan belajar berbahasa Inggris, hampir semua publikasi dari Negeri Barat ini dibolehkan oleh PM. Sahirul Lail Kalau sudah dibakar oleh motivasi Kiai Rais, aku tetap agak grogi menghadapi ujian ini. Beda sekali dengan semua ujian yang pernah aku rasai sebelum ini. Bebanku terasa berlipat ganda, karena terdiri dari ujian lisan dan tulisan. Selain itu pelajaran lebih sulit karena tidak dalam bahasa Indonesia. Yang membuat aku gamang adalah kelemahanku dalam bahasa Arab dan hapalan. Aku bahkan tidak tahu apakah kualitas bahasa Arab yang aku punya cukup untuk membuatku naik kelas. Kalau belajar bersama, aku selalu minder dengan kehebatan Baso dan Raja. Keduanya, terutama Baso, sangat gampang dalam menghapal. Sementara kualitas bahasa Arabnya tinggi dengan tata bahasa dan kosakata yang kaya. Sementara aku? Semua pelajaran bagiku adalah kerja keras dan perjuangan. Yang aku syukuri, dua kawan cerdasku ini orang baik yang selalu mau membantu dan berbagi ilmu. Mereka masih bersedia berulang-ulang menerangkan bab-bab yang aku tidak paham-paham berkali-kali. Aku mencoba menghibur diri bahwa aku tidak sendiri.

Atang, Dulmajid dan Said juga punya masalah yang mirip, dan kami sangat berterima kasih kepada Baso dan Raja.

Maka, di diari terpercayaku, aku tuliskan rencana konkrit untuk mengatasi masalah ujian ini. Yang pertama, aku ingin meningkatkan doa dan ibadah. Salah satu hikmah ujian bagiku ternyata menjadi lebih mendekat padaNya. Bukankah Tuhan telah berjanji kalau kita meminta kepadaNya, maka akan dikabulkan?

Aku akan menerapkan praktik berprasangka baik bahwa doaku akan dikabulkan. Tapi berdoa saja rasanya kurang cukup. Aku mencanangkan untuk menambah ibadah dengan shalat sunat Tahajjud setiap jam 2 pagi. Di papan pengumuman asrama telah tertulis, “Daftarkan diri kalau ingin dibangunkan shalat Tahajud malam ini”. Aku langsung mendaftar untuk dua minggu ke depan.

Bawaan alamiku, seperti juga keluarga Ayah dan Amak, berbadan kurus dan kecil. Masalah vitamin ini cerita lama. Waktu aku masih SD, Ayah kadang-kadang di awal bulan membelikan kami vitamin C yang berwarna oranye di botol plastik kecil dan rasanya asam-asam manis. Sekali-sekali beliau pulang membawa sebotol minyak ikan yang berwarna putih. “Minum minyak ikan dan vitamin ini supaya cepat tinggi dan besar,” bujuk Ayah waktu itu. Mendengar iming-iming tinggi dan besar, aku yang berbadan mungil langsung bersedia menelan minyak ikan walau rasanya membikin mual-mual. Di lain waktu Ayah pulang membawa tablet obat cacing. “Agar cacing mati dan waang cepat gapuak_ kata Ayah menerangkan. Aku sekarang tahu kalau dia sangat risau dengan nasib anak bujangnya satu-satu ini yang tetap kurus dan kecil. Selama minum vitamin dan minyak ikan, beratku naik dan pipiku lebih tembem. Tapi begitu berhenti, aku kembali tetap saja kurus dan kecil.

Dan aku hakul yakin, kerja keras selama dua minggu dan belajar malam pasti membuatku lebih kurus lagi. Karena itu rencana lain yang aku tulis adalah memperbanyak makan dan menambah gizi. Kini, set iap makan, aku usahakan makan selalu menambah nasi, walau tanpa tambahan lauk karena set iap orang hanya dapat satu kupon lauk.

Untuk mendongkrak stamina dan gizi, aku berketetapan untuk membeli multivitamin, madu, dan telur ayam kampung.

Janji yang ditawarkan vitamin dan segala macam pil membuat aku selalu mau membelinya sekali-sekali.

Adapun telur dan madu adalah resep rahasia Said. Menurutnya, dengan mencampur kuning telur dan beberapa sendok madu setiap pagi, akan menjaga stamina tubuh untuk belajar sampai jauh malam. Rencana lainnya, ya tidak lain tidak bukan, begadang dan bangun malam untuk belajar. Sahirul lail.



0 Response to "Negeri lima Menara 3"

Post a Comment