Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Motinggo Busye

Keberanian Manusia

Dari sebanyak itu peninggalan Jepang di kota kami, hanya sedikit sekali yang

bisa kuingat. Ketika Jepang datang di situ, aku masih berusia tujuh tahun dan masih

pakai celana monyet. Tapi sampai kini aku masih hafal lagu Kimigayo sebagai suatu

kenang-kenangan masa kecil, seperti aku juga masih bisa mengenang bagaimana

tentara-tentara Jepang itu sama-sama mandi telanjang di kali kota kami. Untukku

sendiri ada peristiwa lucu, ketika seorang Jepang bertamu ke rumah kami untuk pertama

kali. Dia menaiki sepedaku yang kecil, dan tiba-tiba sepedaku patah. Aku jadi geram

dan menjerit dan mengambil batu dan melemparkan batu itu ke kepala Jepang itu. Batu

itu batu kecil, sebesar genggaman telapak tanganku yang kecil, dan menimbulkan satu

benjolan kecil di kepala Jepang itu. Tapi Jepang itu tersenyum saja dan sore harinya ia

membawa sebuah mesin ketik yang diberikannya kepada ayah. Beberapa hari aku

menangis kecil dan memaki-makinya dengan makian kecil.

Tapi dendamku yang kecil tidak berurat berakar begitu lama, sehingga kemudian

Jepang itu menjadi sahabat rumah kami. Aku ingat, namanya Dei-san. Satu hal yang

aku tetap kagum padanya, karena berlain dengan tentara-tentara Jepang yang lain-lain,

ia tidak mandi telanjang. Pernah kutanyakan padanya, kenapa ia tak mandi telanjang

beramai-ramai di kali, dan ia menjawab pertanyaanku dengan memberikan sebuah kue

moci yang enak sekali. Pernah pula kutanyakan kepadanya, kenapa ia tak punya pedang,

dan dia menjawab bahwa pedangnya ketinggalan di Osaka, kampungnya, dan pedang

hanya dipakai untuk bunuh diri atau membunuh musuh, Dan aku bertanya pula, kenapa

orang saling membunuh. Dan Dei-san tidak menjawab apa-apa.

Baru kemudian kuketahui, Dei-san hanya seorang koki. Tapi, biarpun aku tahu

kemudian bahwa dia hanya seorang koki, namun persahabatanku dengan Dei-san tidak

putus tapi semakin erat. Daripadanyalah aku tahu cerita-cerita Momotaro, dan

daripadanyalah aku banyak belajar beberapa lagu.

Daripadanyalah pula kemudian kuketahui, setelah persahabatan kami

berlangsung tiga tahun lamanya, kenapa orang-orang di kota kami disuruh membuat gua

di bukit-bukit kampungku dan mengapa perempuan-perempuan disuruh mengumpulkan

batu-batu kali, dan mengapa tiap-tiap rumah menanam pohon jarak dan kapas, dan

mengapa tiap-tiap rumah di sampingnya atau di burinya dibikin lubang perlindungan.

Dei-san tidak memanggil namaku. Ia memanggilku dengan sebutan “kaibodan”.

“Kaibodan” kata Dei-san suatu kali kepadaku.

“Apa?”

“Kamu berani naik kapal terbang?”

“Berani, berani,” sahutku.

Lalu Dei-san menunjuk ke sebuah bukit. Dari bukit itu sampai kerendahan

lembah ada sebuah kawat yang besar, dan pada besoknya kulihat sebuah kapal terbang

tidak melayang-layang di udara, tapi turun dari bukit itu meluncur ke lembah.

“Untuk apa kapal terbang itu, Dei-san?” tanyaku.

“Untuk berperang.”

“Berperang dengan siapa, Dei-san?” tanyaku.

“Berperang dengan Inggris dan Amerika,”

“Kenapa kita berperang dengan Inggris dan Amerika, Dei-san?”

“Karena kita berani.”

“Kenapa kita berani, Dei-san?”

Dei-san tidak menjawab.

“Kenapa kita berani, Dei-san?”

“Karena Amerika dan Inggris tidak boleh tembak kita.”

“Kenapa Amerika dan Inggris tembak kita, Dei-san?”

“Karena Amerika dan Inggris adalah musuh kita.”

“Kalau orang tembak kita, Dei-san, itu artinya musuh kita?”

“Ya, ya, kalau orang tembak kita itu artinya musuh kita dan kita musti tembak

dia,” kata Dei-san dan kemudian dipusar-pusarnya rambutku.

Percakapan itu sangat mengesan kepadaku. Kuceritakan pada ibu dan abang dan

adik-adikku dan ayahku dan pamanku. Ayah,ibu, dan paman dan nenekku terdiam saja

mendengar ceritaku.

“Jangan dia disuruh ke rumah koki itu lagi ...,” kata ibu.

“Ya, ya. Dia bijak dan pinter ngoceh,” kata nenekku.

“He, kau tidak boleh datang-datang lagi ke rumah koki itu,” kata ayah, kali ini

dipelototkannya matanya kepadaku. Aku heran kenapa ayah dan ibu dan nenek tidak

membolehkan aku datang ke rumah Dei-san, sahabatku itu.

“Dia kawanku. Dia baik,” kataku bersungut-sungut.

“Dia musuh kita,” kata abangku.

“Jangan kau omong begitu, Karel,” kata ibu sambil menjiwir telinga abangku.

Waktu mau tidur kutanyakan kepada abangku, kenapa Dei-san tiba-tiba jadi

musuh kita, sedangkan dia sahabatku dan Inggris dan Amerikalah yang jadi musuh kita.

Abangku mau menceritakan sebab-sebabnya, asal aku mau lebih memberikan telingaku

untuk dijiwir. Aku memberikan telingaku yang kanan untuk dijiwir.

“Sekarang ceritakanlah,” kataku.

“Paman Oni ditembak Jepang,” kata abangku berbisik.

“Paman Oni ditembak Jepang?”

“Ya, Paman Oni ditembak Jepang.”

“Tidak mungkin. Paman Oni musti ditembak Inggris dan Amerika dan bukan

ditembak Jepang. Kau telah membohongiku dan aku musti ganti menjiwir telingamu,”

kataku. Dan kujiwir telinga abangku.

“Kujiwir lagi telingamu sekali lagi. Dan nanti kuceritakan apa sebab Paman Oni

ditembak Jepang.”

Kuberikan telingaku yang kiri sekarang, dan abangku menjiwirnya.

“Ceritakanlah,” kataku.

Abangku bercerita, bahwa tadi sore ayah baru saja menguburkan Paman Oni.

Paman Oni telah ditembak oleh Jepang sebab mencuri makanan.

“Uu salah Paman Oni. Kenapa dia mencuri. Bukankah kita dulu dimasukkan

mami sama-sama di dalam kakus satu hari sebab mencuri uang di bawah bantal?”

kucungirkan telunjukku ke hidung untuk membikin abangku malu.

“Itu sebab Paman Oni lapar.”

“Kenapa dia tidak makan?” tanyaku.

“Karena Jepang itu cuma menyuruh Paman Oni kerja keras, tapi memberi

makannya cuma secemil saja. Itu sebab Paman Oni lapar.”

Aku berpikir sejenak.

“Ya, memang. Itu sebab Paman Oni lapar dan mencuri,” kataku.

“Karena Paman Oni mencuri, Jepang menembak dia,” kata abangku Karel.

“Kenapa Paman Oni ditembak cuma sebab mencuri saja, dan kenapa kita dulu

mencuri rambutan tidak ditembak Papa?” tanyaku.

“Karena Paman Oni berkelahi melawan Jepang,” kata abangku.

“Kenapa Paman Oni berkelahi melawan Jepang?” tanyaku.

“Karena dia lapar. Karena dia berani,” kata abangku.

“Karena dia lapar, Karena dia berani,” kataku mengulangi.

Aku berpikir sejenak.

“Kalau begitu memang betul-betul Dei-san musuh kita. Aku mau

menembaknya,” kataku, menambahi lagi.

“Kau berani menembak si Dei-san koki itu?” tanya abang.

Aku terdiam. Aku lalu ingat Dei-san yang keringatnya busuk itu dan tubuhnya

besar itu dan tiba-tiba aku takut padanya. Aku ingat, sedangkan sama temanku Dulhak

saja aku tak berani, apalagi pada Dei-san, yang lebih besar.

Tapi sejak itulah Dei-san kuanggap musuhku. Aku tak pernah lagi datang masuk

ke dapurnya untuk mengharapkan bubur kacang hijau atau kue moci atau ingin belajar

lagu Jepang.

Esoknya, semalaman aku tak bisa tidur mengenang paman kami yang sudah mati

itu. Paman Oni adalah pamanku yang baik dan tidak patut mati ditembak. Paman Oni

penghabisan kali mengajak aku ke pasar malam dan melihat bioskop di tanah lapang.

Aku ingat kembali lagu itu, dan di layar putih kelihatan pohon-pohon beruntuhan.

Kuingat kalimat lagu itu: “Pohon ditebang dari hutan”.

Dan kemudian pohon-pohon yang runtuh ditebang itu, hanyut dibawa air sungai.

Kuingat lagu itu lagi;

“Hanyut berkumpul di muara”.

“Mari kerjakan jadi kapal”, kulihat kapal, dan kudengar lagi lagu dan bendera

berkibar:

“Untuk Asia Timur Raya”.

Ingatanku mati di situ karena tiba-tiba kuingat lagi wajah paman Oni. Paman Oni

mengatakan akan pergi ke hutan menebang kayu untuk bikin kapal pengawal laut,

menunggu kedatangan musuh.

Kenangan pada Paman Oni makin hari semakin kabur dan hilang, kenangan itu

timbul kembali ketika beberapa waktu kemudian ada lagi pasar malam. Ketika itu aku

duduk-duduk termenung di beranda dan ingat pada Paman Oni yang melarang aku

menghembus-hembus karet pelembungan yang kudapat banyak sekali hanyut di air kali.

Paman Oni marah-marah dan Paman Oni pun membelikan pelembungan berwarna di

pasar malam.

Kawan-kawanku mengajak pergi ke pasar malam. Aku menolak.

“Kita dapat makanan roti keju. Dibagi-bagi,” kata kawanku.

Kutolak.

“Kami kemarin malam dapat limun. Tidak dibayar.” Kutolak.

Tiba-tiba kulihat sepatu sepasang di dekat kakiku. Ketika kepalaku kuangkat,

kulihat Dei-san berdiri di depanku, membawa sebungkusan besar entah apa isinya,

bersenyum kepadaku, dan mengajak aku ke pasar malam. Kutolak.

“Saya tidak mau,” kataku.

Ketika ditariknya tanganku, aku berteriak, “Bagero!”

“Nanda omaya!” katanya dan dipicitnya tanganku dengan gemas.

“Nanda omay lu!” teriakku.

Tiba-tiba kudengar suara ibuku memanggil namaku dan cepat-cepat aku lari ke

dalam. Aku dicubit ibu dengan kukunya yang tajam dan aku menangis dan tiba-tiba

tangisku berhenti sebab mendengar deru kapal terbang.

Tiba-tiba kami dengar bunyi sirene. Dan kemudian abangku yang baru pulang

dari pasar malam membawa sebuah kertas. Dia mengatakan bahwa Amerika dan Inggris

akan membom kota kami.

Semalaman aku tak puas-puasnya bertanya kepada abangku.

“Kau ceritalah kembali Karel,” bujukku.

“Kita harus masuk lubang perlindungan di belakang.”

“Kenapa?”

“Kita musti nyumput. Nanti kita bisa mati.”

“Mati seperti Paman Oni?”

Abangku tiba-tiba menarik selimutnya sebab ibu kami masuk ke kamar kami.

Aku pun menarik selimutku dan ketika ibuku ke luar, kubuka lagi selimut dan bertanya,

“Karel, Karel. Kau sudah tidur?”

“Aku sudah tidur.”

“Kenapa kau bisa ngomong kalau sudah tidur?”

“Aku mimpi,” kata Karel.

Besoknya ibu dan ayahku dan nenekku melarang kami pergi ke pasar malam,

Dua hari kemudian kami mendengar lagi pesawat terbang, dan tidak lama kemudian

mendentumlah dentuman yang menggegar, masuk ke dalam telingaku yang kecil.

Malam itu adalah malam pertama kota menjadi gelap dan untuk pertama kami masuk

lubang perlindungan. Tapi besok paginya, beberapa buah mobil dengan pengeras suara

berkeliling pula di keliling kota kami dan berteriak-teriak mengatakan musuh sudah

kalah dan mengundang orang-orang pergi ke pasar malam. Besok sorenya lagi mobilmobil

pakai pengeras suara itu berputar seputar kota lagi memanggil orang melihat

pasar malam. Dan ketika abangku membawa lagi kertas yang katanya dijatuhkan dari

pesawat udara, panggilan untuk datang ke pasar malam semakin riuh dan esok

berikutnya sudah lebih sepuluh mobil memanggil-manggil.

Ibu tetap melarang kami ke luar. Ibu mengatakan, dua hari lagi “Sekutu” akan

membom kota. Dan memang, pada malam yang dikatakan ibu itu, menggelegarlah kota.

Dan telingaku yang kecil mendengar bunyi yang sebesar itu kusumbat cepat-cepat

dengan kapas dan gigiku cepat-cepat menggigit karet yang menyantol dengan tali

dileherku.

Tiba-tiba ayah masuk lubang perlindungan kami.

“Sekutu membom pasar malam.”

Kemudian ayah ke luar lagi. Dan ketika aku meminta ikut, ibu menjitak

kepalaku. Datang lagi ayah. Ayah cuma berkata pada ibu, “Bukit Guha merah semua

dimakan api.”

“Bukit Guha?” tanya ibu.

“Ya, Bukit Guha.”

Lalu ibu memekik dan menangis, “Adikku ada di sana disuruh membikin

terowongan.”

“Bukan yang di selatan. Yang di utara,” kata ayah.

Ibu menggenggam jarinya dan memelukku.

“Syukur, syukurlah. Coba Pak ke luar melihat yang di selatan.”

“Yang di selatan tidak dibom,” kata ayah.

“Tapi cobalah lihat,” kata ibu. Ibu tampaknya agak marah.

Kenapa ibu tampaknya marah pada ayah, dan kenapa yang di utara, dan kenapa

ibu menangis, dan kenapa ibu masih memelukku dan berkata syukurlah dua kali. Aku

tak tahu. Tapi kenapa ibu masih menangis kelika ayah ke luar lubang perlindungan dan

kami mendengar bunyi dentuman lagi.

Ayah masuk lagi ke lubang perlindungan.

“Bukit di utara dibakarnya semua. Kota juga terbakar dekat gudang Sindenbu.”

“Bukit selatan tidak.”

“Guha selatan tidak.”

“Syukur, syukurlah,” kata ibu.

Sejak kejadian itu memang selama lebih satu minggu kota menjadi ramai

kembali. Kami telah kembali pergi ke sekolah seperti dahulu. Dan kami melihat

toapekong hancur, gudang Sindenbu hancur, rumah Haji Munap hancur. Di tiap-tiap

rubuhan kehancuran itu aku dan kawanku berdebat dan tiap-tiap kami mempunyai cerita

yang berlain-lain.

Suatu sore, ketika aku minta izin untuk main tali ke rumah Wati, ibu melarang.

Ibu berkata, sore itu seluruh isi rumah tidak boleh pergi kecuali ayah. Kami dudukduduk

di beranda ketika itu.

Karel yang paling dulu melihat. Karel menjerit. Ia melihat ke jalan bengkel di

belah utara, sambil menunjuk-nunjuk.

Aku masih ingat dengan ingatanku yang kecil, serombongan beruk berbaris. Ibu

menarik kami semuanya ke dalam rumah. Tapi kami diizinkan ibu mengintip.

Kami tak bisa menghitungnya. Kami cuma bisa melihat berpuluh-puluh ekor

beruk berbaris. Yang di depan besar sekali tubuhnya, dan kukira adalah kakek dari

beruk itu. Ia berjenggot. Ia sebesar kakek dan seperti kakekku.

Kemudian ia berdiri dan berhenti di depan rumah Somad. Lalu kami lihat

berombongan mereka berbaris dan masuk ke pekarangan rumah Somad. Seorang Jepang

memakai senapan tiba-tiba berhenti. Jepang itu berdiri seperti tentara bersiap. Seorang

Jepang lain lagi sedang mengayuhkan sepeda lalu turun, dan berhenti, berhenti seperti

orang bersiap.

Kemudian kami melihat tentara-tentara Jepang yang bersenjata itu berdiri seperti

patung.

“Kenapa mereka tak menembaknya?” kata abang tiba-tiba.

“Apa yang kau katakan, Karel?' tanyaku.

“Mereka tak menembak,” kata Karel.

“Menembak siapa?” tanyaku.

“Menembak binatang-binatang itu,” kata abangku.

“Mereka tak berani melawan binatang-binatang itu? Kenapa berani menembak

Paman Oni,” tanyaku.

Kuperhatikan wajah abangku, ingin tahu apa yang dimaksudkannya.

Lalu abangku mengintip. Lalu aku juga mengintip, kami melihat beruk-beruk itu

memanjati pohon pisang, pohon- pohon sawo, pohon-pohon pepaya di kebun Somad.

“Kebun kita juga,” kata abang berteriak.

Lalu abangku melompat ke ruang tengah, tapi tiba-tiba ibu menangkap

tangannya. Dengan isyarat ibu memanggilku dan dengan isyarat telunjuk ibu menyuruh

kami masuk kamar kami.

Semalaman aku terus bertanya kepada abangku kenapa beruk-beruk itu datang

sebegitu banyak, tapi abangku bertanya kepadaku kenapa Jepang-jepang itu tak mau

menembak. Dan aku menjawab bahwa aku tak tahu. Abangku mengatakan bahwa aku

goblok. Dan aku pun lekas-lekas mengaku bahwa aku goblok dalam hal itu, tapi aku

bertanya pula, untuk apa beruk-beruk itu datang. Dari mana mereka datang?

Biarpun hampir sampai pagi kami tak tidur, tapi kami tetap bangun pagi-pagi

sebelum dibangunkan ibu seperti biasanya.

Ibu menasihatkan agar kami tak ke luar rumah, sebab beruk-beruk itu masih

banyak berkeliaran di seluruh kota.

“Kenapa beruk-beruk itu, Mami? Kenapa mereka ke sini berkeliaran Mami?”

“Mereka lapar?”

Cepat-cepat kuikuti abangku yang mengintip di celah-celah dinding. Tiap-tiap

beruk membawa sepelukan buah-buahan. Jalan sepi, tak ada seorang pun yang lewat

dan juga tak ada satu kendaraan pun yang terdengar lalu. Juga tak ada seorang Jepang

pun kelihatan. Tiba-tiba kuingat ayahku.

“Ke mana ayah kita, Mami?”

Pertanyaanku tidak dijawab ibu dan kuintip kembali dan celah-celah dinding

sambil mengharap ayahku lewat.

Tiada seorang manusia pun kelihatan. Kecuali binatang-binatang itu, yang kini

tampak berkumpul-kumpul, seperti berbisik-bisik.

“Mereka juga berkata-kata, Karel.”

“Diam Pak Cerewet!” gerutu Karel.

“Lihatlah, lihatlah mereka mengatur barisan,” kata Karel tiba-tiba. Kulihat

dengan mataku yang kecil di lubang yang kecil.

Beruk-beruk itu berbaris dan mulai berjalan menuju ke tengah kota, ke arah

pinggir laut, ke arah bukit-bukit di selatan.

Binatang-binatang itu kemudian bergerak makin jauh, sambil memeluk buahbuahan,

dan ketika mereka semakin jauh, abang menoleh kepada ibu yang juga

mengintip, lalu memberi isyarat menunjuk pintu.

Ibu melarang dengan isyarat pula.

Ibu mengintip lagi.

Kemudian abang berteriak, “Jepang-jepang sudah ke luar rumah, Mami.”

“Pak Somad dan Pak Gultom juga,” teriaknya.

Ibulah yang membuka pintu rumah pertama kali. Tapi ketika itu kami sudah tak

bisa melihat lagi binatang-bmatang itu.

Ketika sore-sore kami melihat kebun kami yang sudah gundul, ayah baru pulang.

“Binatang-binatang itu binatang-binatang punya perasaan,” kata ayah.

“Kenapa Pa?”

“Mereka cuma kelaparan, mengambil buah-buahan, lalu pergi.”

“Dari mana mereka Pa?” tanyaku.

“Dari bukit-bukit yang dibom dan terbakar itu.”

Ketika makan malam, kami bercakap-cakap lagi tentang beruk-beruk itu.

Biasanya selama ini kalau kami makan, terutama aku, dilarang sekali untuk ikut

berbicara. Tapi saat itu, seakan-akan aku bebas sekali berbicara. Kutanyakan, dari mana

beruk-beruk itu datang. Kutanyakan untuk apa beruk-beruk itu datang dan ke mana

mereka itu pergi.

Pada waktu itu, ada percakapan-percakapan ayah dan ibu yang tak bisa

kumengerti, misalnya tentang kelaparan, beras, hutan terbakar dan Paman Oni dan

tentang Jepang.

Aku tak bisa menangkap dan mengingat keseluruhannya tentang peristiwa itu,

karena waktu itu telingaku yang kecil dan pikiranku yang kecil dan aku merasa diriku

kecil yang dilarang oleh orang-orang tuaku untuk menanyakan dan mendengarkan dan

memikirkan soal-soal orang besar. Aku ingin bertanya banyak-banyak pada ayah, tapi

aku takut akan dimarahi.

Waktu itu aku memang masih kecil.

TAMAT

Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Kota Kami Dahulu

Kuburan adalah tempat yang paling sunyi, di mana orang-orang mati itu tidak

akan bercakap-cakap lagi dengan dia seperti dahulu. Bahkan dan sebuah kuburan di

mana di bawahnya terbaring tulang-tulang seseorang yang paling banyak cakapnya

semasa hidup pun tidak.

Di bawah tanah itu terpendam ayahnya yang semasa hidupnya, pada malam

Minggu suka mengundang kawan-kawannya ke rumahnya untuk bermain kartu, minum

bandrek, sampai pagi.

Kubur yang sebuah lagi adalah kuburan ibunya, seorang wanita pendiam yang

membikinkan bandrek untuk suaminya dan tamu-tamunya, yang saat itu akan semakin

pendiam, terbaring dalam bumi.

Memang enak masih punya ibu-bapak, pikirnya. Ini hanya dapat dirasakan oleh

orang-orang yang telah yatim piatu. Semasa ayahnya hidup, ayahnya yang tukang

gembira tapi tukang pemarah pula itu, pernah dia doakan agar lekas saja mati disambar

geledeg. Tapi tidak pernah ia mendoakan agar ibunya itu mati. Namun ketika keduaduanya

mati, ia menangis untuk kedua-duanya, dengan kesedihan yang sama, tidak

berbeda-beda.

Kedua orang tuanya mati ditembak Belanda, ini dikenangnya di kuburan itu. Ia

mengenang di kuburan itu, tamparan-tamparan ayahnya pada pipi, bahkan tinju besar

ayahnya di suatu kali, bahkan ayahnya pernah mencambuknya dengan gada kecil yang

sewaktu kecil dirasanya sangat besar. Tapi ia juga mengenang suatu perkataan ayahnya.

Perkataan itu sangat sederhana, “Benci sekali aku pada orang yang lekas putus asa!”

Perkataan itu dulu tidak dipahaminya benar. Suka dikatakan ayahnya kepada

ibunya, lebih-lebih di saat-saat dekat hari kematian mereka ketika Belanda akan

mendarat di kota kecil itu. Perkataan itu, biarpun kurang dipahaminya dulu, sangat

sering didengarnya, bahkan terlalu sering sehingga sekarang ia masih hafal. Dan

sekarang barulah dipahaminya, artinya yang sesungguhnya.

Ia datang ke kuburan hari itu sebenarnya dengan perasaan putus asa. Adiknya,

satu-satunya adiknya yang perempuan, saat itu sedang mengandung. Ia datang seakanakan

untuk mengadu, mengadu kepada orang-orang mati yang tidak akan mendengar

lagi bahasa sehari-hari manusia yang hidup. Tapi ia sejak tadi telah berbisik, terutama di

atas kening kuburan ibunya. Ia memuji ibunya adalah wanita yang paling baik yang

pernah dikenalnya di dunia ini. Ia memuji ibunya adalah wanita penyabar, wanita yang

paling rajin, wanita yang tidak suka pada kemewahan, wanita yang cantik tanpa berhias,

dan tidak ada lagi kata-kata lain. Ibunya adalah wanita sejati. Semasa hidupnya ayahnya

ataupun ibunya ataupun neneknya berkata, bahwa adiknya yang sedang mengandung

kini itu mempunyai wajah yang serupa dengan ibunya. Orang-orang kampung cemas

selalu, bila wajah seorang anak sangat mirip dengan wajah ibunya. suatu pertanda

buruk, bahwa ibunya akan meninggalkannya selagi muda atau si anak sendiri yang akan

mati selagi kecil.

Makin naik dewasa, adiknya makin mirip dengan ibunya.

“Katakanlah, lelaki mana yang telah menghamilkan engkau. Popong,” katanya

pagi-pagi sebelum berangkat menuju kuburan.

Adiknya telah mengirim telegram supaya pulang ke kota kelahiran untuk

menolongnya. Itulah yang harus ditolongnya. Adiknya menangis siang-malam sejak

pertama kali ia masuk pintu, sejak ia dipeluk erat-erat, peluk setahun sekali, tapi

pelukan tahun ini memang pelukan yang aneh, yang kemudian diketahuinya, pelukan itu

adalah pelukan seorang wanita muda yang diam-diam akan menjadi ibu beberapa bulan

lagi.

“Katakanlah, Popong,” katanya. Itulah kata-kata bujukan yang diucapkannya

saban hari, tapi tidak pernah menjemukan dia. Tapi sampai pagi itu adiknya tidak mau

mengatakannya.

Sayang sekali adiknya tidak mau mengatakannya sehingga ia putus asa dan ingin

marah, sangat marah. Sampai memuncak marahnya, sehingga hampir saja ditamparnya

adiknya itu. Tetapi agama telah melarang seseorang menyakiti orang lain dengan paksa,

apalagi menyakiti saudara kandungnya dan perempuan pula.

Di kuburan itu ia tahu, bahwa ia juga ikut bersalah dalam hal itu. Jarang ia

menulis surat kepada adiknya yang terpisah darinya bermil-mil oleh Selat Sunda.

Apalagi memberi suatu nasihat yang baik. Apalagi nasihat untuk seorang gadis yang

sedang lupa pada harga hari remaja dan perawan. Tidak pernah ia berkata kepada

adiknya, “Jagalah dirimu dan masa gadismu,” biarpun dalam sepotong surat dan

membuang uang tujuh puluh lima sen untuk perangkonya. Itu, sebab ia tahu, adiknya

seorang gadis pendiam, pemalu, suka beribadat, pintar di sekolah seperti gurunya

menuliskan di ijazah, tidak pernah ke luar rumah. Itu sebab ia kira, abangnya, si Sompi,

sekali seminggu akan datang menjenguk atau mengawasinya. Dan ia pun tahu, suratsurat

berisi nasihat biasanya membosankan untuk orang-orang remaja. Orang-orang

remaja suka dilepas bebas seperti seekor kuda penuh gairah. Itu sebab ia mengira, di

rumahnya ada neneknya yang sayang pada cucu, dan ada seorang lagi adiknya lelaki

yang pintar berkelahi.

Kepercayaannya kepada Popong sudah tidak ada lagi. Kepercayaannya kepada

abangnya dan adik lelakinya. Tapi juga kepercayaan kepada lelaki-lelaki kota itu yang

dulu dikiranya salih semua.

Sejak pertama ia ke luar rumah, belum pernah ia menegur seseorang, juga

mengangguk pun tidak, tidak seperti dulu-dulu yang selalu dilakukannya. Tapi orangorang

juga tidak menegurnya. Mulanya ia mengira, karena kini setelah memakai kaca

mata, tentu orang-orang itu telah lupa. Kota ini telah jauh berbeda dengan dulu,

pikirnya. Tapi, ia keluar dari gerbang kuburan dengan tidak membawa suatu bekal apa,

bahkan tidak sempat berdoa, ia makin merasakan suatu sebab lain. Orang-orang itu

tidak mau menegur mungkin benci pada keluarganya, sebab apa yang telah dilakukan

adiknya itu bagi mereka adalah suatu nista yang memalukan sekali.

Kampung kelahirannya adalah kampung yang paling suci menurut penduduknya.

Tidak ada dari kampung itu seorang maling, seorang pemabuk ataupun seorang tukang

judi. Ketika Belanda masuk tidak ada kedengaran seorang pun yang jadi mata-mata

Belanda yang berasal dari kampung itu.

Dan kini adiknya mengandung diam-diam. Orang-orang itu jika tahu mungkin

akan amat marah atau mengusir seisi rumah itu dari sana, termasuk neneknya yang

paling mereka hormati sebagai perempuan satu-satunya yang tertua dan tersalih! Ia

merasa ngeri melihat ke kiri dan ke kanan. Sambil berjalan ia tahu, di kanan ada toko

Cinayang ramah dan telah masuk Islam, ia tahu di kirinya ada sebuah kali yang bernama

Kali Wuni yang dalam musim buah-buahan, buah-buah wuni yang merah tua itu

berguguran dan hanyut di kali. Ia tahu di kanan lagi itu ada sebuah mesjid yang ramai

kalau malam-malam bulan puasa. Ia tahu, di depannya kini itu adaiah rumah kepala

kampung, rumah Wak Bek yang sangat pemarah. Ia tahu di kanan jalan berbelok adalah

tanah lapang kecil tempat ia main sepakbola dengan Umar dan Pospos. Umar pencetak

gol yang paling pintar, dikaguminya, juga paling pintar bercerita, paling pintar

berhitung OTT, dikaguminya sebab pintar menggambar. Saban hari Minggu dulu ia

bersama-sama Umar pergi mancing ke Panjang, pelabuhan kota itu. Kalau orang-orang

menegur Umar di jalan, yaitu orang-orang yang pernah mereka kalahkan dalam

pertandingan sepakbola, ia merasa orang-orang itu juga menegur dia.

Orang-orang itu tentu bertanya, siapa yang seorang lagi? Dan dijawab tentu,

kawannya Umar, pemain bola juga. Ia tak tahu di mana Umar sekarang. Tapi ia tahu ia

telah sampai kini dekat kebon petai cina tempat ia menggembalakan kambingnya dulu.

Di belakang itu ada runtuhan gereja yang di bom Belanda. Waktu kecil ia bersekolah di

sebelah gereja itu, Sekolah Xaverius.

Kini ia tahu, rumah-rumah di hadapan itu adalah rumah tetangga-tetangga. Malu

ia menengok ke kiri dan ke kanan, takut kalau ditanyakan soal-soal kehamilan adiknya,

takut akan dimaki atau disumpahi. Seakan-akan ia akan menutup mukanya dengan sapu

tangan.

Kini ia memasuki sebuah pekarangan berpagar batu. Itulah rumahnya. Di dalam

rumah itu, di atas ranjang, adiknya pasti sedang menangis dengan mata yang sembab.

Di rumah itu pasti neneknya sedang menghitung tasbih sambil menunggu kematian di

menara hari tuanya. Di rumah itu pasti adiknya yang lelaki tidak ada.

Semua yang ia duga memang sedang terjadi. Neneknya yang tuli dengan kaki

melunjur berdiang di dapur dengan tasbih digerak-gerakkan dan berbisik-bisik.

Neneknya yang tahun ini sudah pikun dan tak mengenal cucunya lagi sekarang.Bila ia

masuk ke kamar didapatinya adiknya sedang bangun dari tidurnya dengan mata sembab.

“Aku baru dari kuburan pa dan ma,” katanya sambil bersalin pakaian. Lalu dia

pandang wajah adiknya. Dalam wajah itu menyelinap wajah ibunya, persis benar seperti

ibunya kalau barusan menangis.

“Muka ma seperti engkau, “ katanya, tiba-tiba adiknya lantas meloncat dan

memeluk erat-erat,

“Kau telah mengatakan ini pada Bang Sompi,” tiba-tiba Popong menuduh,

“Belum,” katanya menjawab.

“Ya! Pasti Abang telah mengatakan ini pada Bang Sompi.”

Lalu sambil menangis Popong menyumpah-nyumpahi Bang Sompi yang sejak

kawin setahun yang lalu tidak pernah datang lagi, asyik dengan bini dan tidak

mengirimkan uang dan bahkan tidak membuat surat, padahal cuma lima puluh

kilometer saja dan naik oto bis cuma membayar lima ringgit.

“Aku tidak mengatakannya,” katanya kepada adiknya, berusaha meyakinkan.

“Percayalah,” katanya lagi.

Lalu Popong membanding-bandingkan dirinya dengan Abang Sompi. Dia

membandingkan, bahwa Sompi sekarang naik pangkat tapi pengiriman uang makin

dikurangi, sedangkan orang yang sedang dipeluknya tiap bulan mesti bertambah kalau

mengirimkan uang. Adiknya lalu berkata, “Abang Sompi sudah setahun tidak

membantu keuangan kami lagi, sedangkan adik kita si Markus telah pacar-pacaran

dengan gadis sekarang,” dan menangislah ia.

“Bagaimana penghasilan modistemu?” tanyanya tiba-tiba.

“Tidak maju. Hampir semua gadis-gadis membikin rumah mode,” jawabnya.

“Sudahlah, berhentilah menangis. Jangan putus asa tentang itu lagi. Kalau kau

mau saja mengatakan, siapa lelaki itu, abang akan mengurusnya,” katanya pelan-pelan

membujuk.

“Katakanlah.”

Pelan-pelan mata adiknya memandangnya. Tiba-tiba mata itu ditutup, berkata,

“Tidak.”

“Sekarang katakan saja, kenapa Popong berbuat itu?” tanyanya.

“Sebab nenek sakit asal-mulanya.”

“Kenapa?”

“Waktu itu nenek sakit-sakit. Kutulis surat pada Abang, tidak dibalas. Waktu itu

Popong ada kawan lelaki. Dia baik sekali. Dia pertama memberi uang seribu rupiah.

Untuk nenek, untuk obat nenek. Tapi kemudian ternyata, seakan-akan uang yang

diberinya itu ditagihnya dengan suatu permintaan. Dia memeras!”

“Dia memeras,” ulangnya.

“Siapa dia.”

“Umar.”

“Umar?” dan ia terkejut, berulangkali nama itu disebutnya dalam hati.

“Ya, Umar kawan Abang dulu.” Kini, kepercayaannya semakin punah terhadap

kota itu, orang-orangnya, kesalihannya, kawan-kawannya! Dendamnya timbul.

“Rumahnya masih rumah yang dulu?”

“Bukan. Dia sudah punya toko dan tidak dengan bapaknya lagi. Rumahnya dekat

Sekolah Rakyat Abang dulu. Ada sebuah rumah gedung, itulah rumahnya.”

Dia lantas ingat, yang dimaksud dengan sekolahnya bukanlah Sekolah Xaverius,

tapi Sekolah Rakyat pemerintah setelah pindah.

Di sekolah itu dulu ia dididik oleh guru-gurunya agar berbuat baik, agar menjadi

orang yang bertanggung jawab. Umar juga dididik di situ, bahkan sebangku dengan dia.

Dia kagum pada kepandaian Umar berhitung OTT. Sedang ia pernah mencontoh. Dan

ketika ia dikeroyok oleh orang-orang. Umar telah menolongnya.

Kota kami ini dulu kota yang paling indah dalam angan-anganku, pikirnya. Kini

ia membunuh angan-angan itu seperti membunuh seekor lalat yang telah dipeliharanya

selama lebih dua puluh tahun.

“Jangan pula berkelahi dengan dia!” tiba-tiba Popong berteriak.

“Tidak,” jawabnya pelan-pelan, tapi hatinya sudah terkelucak.

Dia menunggu hari sore dengan gelisah dan sore itulah ia datang ke rumah

Umar. Umar hampir lupa padanya. Tapi ia berbuat seakan-akan Umar tetap kawan

karibnya dan bukan musuhnya dan ia datang seakan-akan seperti sahabat lama dengan

kepercayaan dan kekaguman lama.

Angin laut kini mengendap-endap menyuruk ke hatinya ketika mereka berjalan

berdua di pinggir laut, seakan-akan dua sahabat lama. Dulu, di pinggir laut itu mereka

mencari keong dan mendirikan rumah-rumahan dari keong-keong yang mereka susun,

yang seminggu kemudian mereka dapatkan telah punah dihempaskan ombak. Tapi

mereka dirikan lagi rumah-rumahan keong itu, seakan-akan mereka tidak peduli apakah

seminggu yang akan datang rumah-rumahan mereka akan diruntuhkan. Dia

mengingatkan kepada Umar kisah lama itu, seakan-akan mau membujuknya. Lalu ia

memuji Umar yang berani, bahkan berani menolongnya.

“Sekarang, setelah kita besar, aku masih mau minta tolong sebuah lagi,” katanya

pelan-pelan dan menggigil.

“Uang?” tanya Umar.

“Aku tahu nenekmu sakit. Apakah beliau sudah sembuh?”

“Biarpun diobati, nenek sudah tak perlu hidup lagi.”

“Kenapa?” tanya Umar.

“Beliau sudah pikun. Tidak akan banyak merugikan kita yang hidup. Beliau

mengharap mati, sebab sudah waktunya harus mati,” katanya.

“Kenapa kau sampai berpikir begitu?” tanya Umar.

Mendengar pertanyaan itu geramnya timbul. Ia seakan-akan sudah yakin, Umar

yang sekarang bukanlah Umar yang dulu. Umar yang dilihatnya adalah tubuh yang

sekeping berisi kepalsuan-kepalsuan. Inilah gambaran kota dan dunia kini, pikirnya.

Kepercayaannya semakin berkurang mendengar pertanyaan yang sama sekali

kini tak dipercayanya lagi. Digenggamnya tinjunya erat-erat seperti ia menggenggam

kota dengan peradabannya itu.

“Aku memikir yang lebih baik. Bukan aku tak cinta pada nenek. Tapi aku jauh

lebih cinta pada bayi yang sedang dikandung. Dialah yang memegang hari depan

peradaban dan perikemanusiaan ini,” katanya.

Tiba-tiba dalam kepalanya terbayang buku-buku yang pernah dibacanya. Sebuah

pocket book Amerika pernah menceritakan seorang ibu dengan gampang

menggugurkan bayinya dengan sebentar pergi ke seorang dokter. Ia merasa seakan-akan

dunia ini sudah sempit tidak perlu kelahiran baru dengan harapan-harapan baru dan

kemanusiaan baru. Seakan-akan dunia ini tidak punya hari depan lagi. Buku ini sangat

menjijikannya. Tapi seorang sahabat lamanya yang sudah menghilangkan

kepercayaannya. Ia jijik melihat Umar.

“Bagaimana dengan adikku, Umar?” tanyanya tiba-tiba.

Tangannya kini digenggamnya makin erat ketika matanya berkilat-kilat

memandang mata Umar yang merunduk, seakan-akan padi-padi yang tidak bernas tapi

merunduk. Hatinya tiba-tiba terkelocak lagi. Laut dan angin seakan-akan sudah tidak

berharga lagi. Tanah-tanah, semua yang ada dan dapat ditangkap matanya dan kenangan

tentang kota dahulu yang manis itu sudah punahlah! Perahu-perahu dan pohon kelapa

dan rumah-rumah dengan gereja dan mesjid dan langit dan bintang dan awan dan

manusia-manusia yang duduk-duduk jongkok di sana yang mungkin masih

mengimpikan bahagia, sudah punah oleh satu sentuhan saja. Mereka lebur jadi satu

dalam kepalanya.

“Bagaimana Umar! Bagaimana tanggung jawabmu terhadap hari depan

perbuatanmu sendiri?”

“Itulah yang aku pikirkan!”

“Apa?” tanyanya jengkel.

“Bayi yang dikandung Popong, adikmu. Aku tak bisa tidur siang-malam,”

katanya pelan.

Ia malu untuk meminta pada Umar supaya mengulangi perkataannya, sebab ia

kini tak percaya lagi pada telinganya sendiri. Tapi ia merasa memang mendengar suara

itu. Tiba-tiba ia membentak,

“Bagaimana? Kau mau mengawininya apa tidak!”

Dipasangnya telinganya baik-baik sebab ia perlu mendengar jawabannya.

“Aku mau mengawininya, Ating. Cuma, berilah kami jalan keluar untuk itu.

Bagaimana kami harus kawin, ya, ya, biarpun orang-orang belum tahu, selain kau, aku

dan Popong? Tapi percayalah, aku mau mengawininya.”

Pelan-pelan ia merasakan kembali kata-kata sahabat lamanya itu. Pelan-pelan

jari-jari yang tergenggam itu mekar menjadi sepuluh. Dilihatnya jari-jarinya yang mekar

itu, seakan-akan ia membaca pada tiap-tiap jari sebuah perintah Tuhan! Pelan-pelan

matanya dapat menangkap cahaya lampu perahu yang berkelip, tercelup dalam teluk

kotanya, sedikit demi sedikit ia bisa membedakan langit dan laut dan awan dan gereja

dan menara mesjid dan rumah-rumah, rumah-rumah yang tetap miskin dan kotor, tapi

sempat juga saat-saat itu penghuninya menyanyikan lagu.

Ia mendengar dengan telinganya lagu itu. Ia benar-benar telah mendengar

dengan telinganya sendiri. Kaca matanya dipasangnya. Ia melihat makin terang, orangorang

berbondong-bondong dengan kain sarung di leher mengurangi udara laut dingin.

Di pojok sana adalah Pasar ikan tempat ia saban sore dulu berbelanja disuruh ibunya.

Sebelah ujung toko Cina ada tempat binatu bapaknya dulu. Pohon-pohonan menutupi

sebagian pucuk-pucuk rumah, tapi ia tahu benar, pada pucuk gedung bank itu adalah

kampungnya, sekilometer dari pantai. Di sana ia dilahirkan. di Kupangkota, sebagai

bayi yang tidak tahu dan tidak mau tahu apa-apa. Tapi sekarang ia tahu bahwa di situlah

Kupang kota, sedikit di sana itu rumahnya, rumah batu berpagar batu. Dan ia juga tahu,

adiknya sekarang sedang menangis. Ia juga tahu, yang ditangiskannya adalah makhluk

yang sedang dikandungnya diam-diam ketika remaja. Ia sekarang bukan saja tahu

melihat dengan apa yang bisa ditangkap matanya, tapi juga hal-hal yang di luar

jangkauan matanya.

Ketika mereka berdua berjalan kaki di antara sebanyak itu manusia dan sebanyak

itu kendaraan di antara sebanyak itu lampu-lampu dan sebanyak itu jalan raya dan

sebanyak itu rumah-rumah, ia menghisap udara kota itu kembali sebanyak-banyaknya

pula dengan nyaman. Mereka telah sampai di dekat teng bensin yang biasanya kalau

jam satu mereka pulang sekolah dulu mesti ada tukang sulap orang India dengan ularular

sepuluh macam. Di situ dulu mereka berpisah kalau pulang sekolah.

Kini mereka sampai di situ. Ia melihat Umar. Kemudian berkata agak gemetar,

“Maukah besok kau datang ke rumahku?”

“Mau,” jawab Umar.

Saat itu dihisapnya lagi dengan hidungnya bau nafas udara kota itu dan merasa

seakan-akan nafas kota itu bernafas kembali di paru-parunya. Ia berkata dalam hati, bau

kota kami ini masih nyaman. Ia bahkan menambahkan dalam hati, kami masih

menyukai engkau.

TAMAT

Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Amini

Setelah diketahui, dia itu janda, haruslah diketahui pula bahwa dia seorang janda

baik-baik. Sebenarnya tiap-tiap orang boleh senang padanya, atau, kalau ada waktu,

tiap-tiap orang boleh merelakan dirinya untuk menghiburnya setiap hari atau barang

sejam dalam sehari. Celakanya, tak seorang pun mau menghiburnya. Juga kebanyakan

dari mereka membencinya. Tapi sebaliknya, janda itu tidak marah pada mereka atau

menyimpan dendam kesumat pun tidak.

Tiap-tiap orang sebenarnya sangat senang menceritakan perihal orang lain kalau

tidak perihal diri sendiri. Tapi janda itu tidak punya kecakapan demikian, jadi, dia tidak

punya kedua bakat- bakat itu.

Memang tak ada seseorang yang jadi tukang hiburnya, atau setidak-tidaknya bisa

mengisi kesepiannya yang mendalam, Anehnya, janda itu sendiri memang tidak

membutuhkan seorang tukang hibur atau seorang yang akan mengisi kesepiannya.

Janda itu janda baik-baik dan belum pernah ternoda sedetik pun oleh kejahatan

yang dinamakan oleh orang-orang beradab adalah dosa. Suatu dosa yang dikhususkan

dan ditujukan kepada janda-janda. sehingga dengan mudah saja diduga, bahwa

sebenarnya janda-janda itu bagi mereka adalah berbahaya. Dan mereka itu, anak-anak

muda yang bayar makan di rumah janda itu, dan juga orang-orang yang tinggal di luar

pekarangan rumah itu, sering-sering melintaskan pikirannya dengan sangkaan biasa

yang diwariskan nenek moyangnya terhadap janda.

Perempuan-perempuan di sebelah menyebelah rumah itu saban pagi kalau

menjemur pakaian suaminya atau popok-popok anaknya atau celananya atau kain-kain

pakaiannya sendiri, setidak- tidaknya memerlukan sedetik pagi-pagi dan sedetik sore

hari untuk memperhatikan perut janda itu, kalau-kalau ada perubahan.

Atau, diperhatikan mereka pada pagi hari, apakah janda itu mengeramas

rambutnya basah-basah. Atau, memperhatikan sinar muka anak-anak lelaki yang bayar

makan itu, kalau-kalau ada sinar kelainan dari hari kemarinnya. Apakah ini gunanya

Tuhan menciptakan mata bagi manusia, aku sebagai pengarang yang belum banyak

pengalaman, tidak perlu menerangkannya, dan kukira tidak banyak keperluannya bagi

perkembangan kesusastraan abad ini.

Pagi ini pun, perempuan yang sedang menjemur popok-popok anaknya itu

memakai matanya sekejap untuk melihat perut janda itu. Kemudian, entah kenapa, ia

merasa kecewa. Ketika itu janda itu sedang berdiri dan menyandarkan punggungnya

yang empuk di tiang seperti biasanya tiap pagi.

Dia menunggu seorang yang bersepeda.

Sebuah sepeda lewat. Hatinya cemas, dan kemudian kecewa bila dilihatnya

sepeda itu dikendarai oleh polisi atau seorang berkopiah atau seorang gadis remaja.

Yang ditunggunya adalah sepeda yang dikendarai oleh seorang lelaki baya bertopi

bambu, warna topinya coklat, dengan sepedanya berwarna abu-abu dan pada batang

sepedanya ada kantong surat yang terbuat dari terpal yang warnanya coklat juga. Tapi

coklatnya sudah agak luntur, mungkin sering digeser oleh dengkul tukang pos itu ketika

mengayuh sepedanya.

Oh, ini dia.

Laki-laki itu bersepeda, warna sepedanya hijau. Lelaki itu bertopi bambu juga,

warnanya coklat juga, tapi tidak aksi kelihatannya, sebab topi bambu itu dibenamnya

sampai ke kupingnya. Jadi lelaki ini bukan orang yang dinantikannya. Ia kecewa lagi.

Tapi, sekarang sudah jam setengah sepuluh lewat lima. Seharusnya orang itu sudah

lewat. Benar, itu, lelaki yang berkumis itulah orangnya. Sepedanya masuk ke

pekarangannya. Orang itu tukang pos.

“Ada surat?” tanyanya. Seperti biasanya saban pagi ia bertanya dengan kalimat

itu, walau, anehnya, tukang pos itu tidak selalu masuk pekarangannya dan hanya lewat

saja. Tukang pos itu tidak menjawabnya. Memang ia tak menjawab. Sebab, pertanyaan

itu harus diladeninya saban pagi, kecuali pada hari Minggu, 17 Agustus, atau hari-hari

besar umum lainnya. Pagi itu ia memberikan enam buah surat, kemudian janda itu

melepaskan senyum.

Lalu tukang pos itu pergi. Senyum yang dilepaskannya adalah senyum baik-baik

dan bukan senyum yang luar biasa atau mengandung hasrat yang bukan-bukan.

Tapi bagi tukang pos itu, baru pada pagi itulah ia berpikir, kenapa janda itu

melepaskan senyum padanya. Dan terus bertanya dengan kalimat sama, ada surat?

Walaupun ia pasti bahwa surat-surat yang diantarkannya tidak dialamatkan untuk janda

itu, Tidak sebuah pun! Dan tiap-tiap pagi dia bersandar di siang beranda rumahnya. Dan

waktunya adalah jam setengah sepuluh kurang lebih.

Tukang pos itu hampir hafal nama-nama yang biasa dapat surat di rumah itu.

Dan bahkan ia tahu, Kamalsyah adalah seorang penghuni rumah itu yang paling banyak

menerima pos wesel yang datang dari Jambi, tiap-tiap bulan 900 rupiah, dan poswesel

itu selalu diantarkannya sebelum tanggal sepuluh. Tukang pos itu belum kenal siapa

Kamalsyah itu, tapi heran, ia tahu tiap-tiap anak lelaki yang tinggal di rumah itu, kenal

namanya, kenal rupanya, tapi tidak dapat memastikan satu per satu siapa yang bernama

Kamalsyah, siapa yang bernama Salaman. Di alamat-alamat lain memang ia pernah

mengantarkan sejumlah pos wesel dan ada yang poswesel ditutup, tanda jumlahnya

seribu rupiah atau lebih.

Kamalsyah sendiri tidak luar biasa sebenarnya. Bahkan sebenarnya, dengan

menerima 900 rupiah, jumlah itu tidak terlalu banyak. Ia tinggal bayar makan di rumah

janda itu. Ia punya seorang gadis. Gadis itu sering-sering datang ke rumahnya, untuk

menengoknya, tapi sebetulnya masih ada kebutuhan lain yang lebih dari menengok saja.

Anak-anak muda mempunyai siasat yang dikiranya mengagumkan, padahal itu cuma

ulangan dari pengalaman orang-orang tua kita di masa mudanya.

Kamalsyah, seperti juga anak-anak muda yang bayar makan di situ, selalu

memperhatikan kelakuan janda itu dan kemudian mempercakapkannya. Janda itu

biasanya meneliti surat-surat yang datang, sebenarnya tidak ada maksud apa-apa selain

meneliti dan dia pun tidak pernah sekali dalam hidupnya membuka-buka surat orang

lain, untuk mengetahui rahasianya.

Salaman pagi itu menduga dia pasti mendapat surat. Ia mau meloncat ke luar

kamarnya, tapi dia ditahan oleh Kamalsyah.

“Biarkan saja pesuruh kita itu memanggil,” kata Kamalsyah, dan memang betul,

sebentar kemudian Salaman jelas mendengar suara dari dalam rumah, “Rukmiati”.

Dengan sebutan itu berarti Salamanlah yang wajib datang.

Salaman masuk rumah, mengambil suratnya, kemudian masuk ke kamarnya, dan

sambil memeluk bantal guling dibacanya surat itu. Ia tertawa-tawa sendiri tersenyumsenyum

sendiri, kemudian masuk lagi ke dalam rumah, Ia bercerita bahwa Rukmiati

sangat kangen dengan dia, kangen dengan ciuman mesra ketika mereka berpisah enam

bulan yang lalu. Sambil memperhatikan perubahan-perubahan pada muka janda itu, ia

berkata, “Memang enak punya kekasih. Mbak.” Kemudian ia kembali masuk ke

kamarnya dan melepaskan kecewanya di hadapan dua kawan-kawannya.

“Aku membohongi dia. Dia sedih rupanya dan mungkin sekarang sedang

menangis,” kata Salaman.

“Mahmud Syarnubi,” suara dari dalam rumah kedengaran oleh Kamalsyah dan ia

melompat masuk rumah. Diterima surat itu, dan dibukanya sekali, ia tersenyum-senyum

di muka janda itu, kemudian pura-pura heran dan kemudian berkata, “Ibuku melahirkan

lagi,” sebenarnya ibunya tidak melahirkan. “Dan ayahku naik pangkat,” sebenarnya

tidak ada hal itu dituliskan di surat.

Setelah diperhatikannya muka janda itu sebentar, ia cepat-cepat pergi

mendapatkan kawan-kawannya dan dibagi-bagikannya surat-surat yang lain yang

diberikan janda induk semang tadi. Dan ia kemudian menceritakan pada Salaman

bahwa janda itu mengeluarkan air mata. lari ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di

tempat tidur.

Memang perempuan itu kini berada di kamar, tapi tidak menghempaskan

tubuhnya. Dibaringkannya badannya di tempat tidurnya yang putih rapi dan berenda itu,

diperbaikinya rambutnya. Rambutnya tebal ikal dan bagus berurai menyesuaikan diri

dengan keadaan kamar yang bersih selalu itu.

“Alangkah bahagianya mereka,” pikirnya dalam hati dan sekaligus dapat

dibayangkannya ibu Kamalsyah saat itu sedang menyusui bayinya. Dan bulan depan,

gaji yang diterima suami dan istri yang menyusui itu lebih banyak dari bulan sekarang.

Dan tentang Salaman, ia tentu semalaman nanti akan bermimpi dengan Rukmiati.

Alangkah bahagianya mereka, pikirnya. Dan ketika ia memikir itu sama sekali tidak

bersedih hati, tapi malah dengan segala senang hati. Ia merasa ikut berbahagia dengan

orang lain yang mengecap bahagia dan tidak lebih dari itu.

Siang hari sebelum jam dua ditaruhnya makanan untuk makan siang anak-anak

yang bayar makan itu dan ia berada di kamar.

Anak-anak itu kalau makan bercakap-cakap atau tertawa-tawa dan kali ini

mereka agaknya jauh luar biasa bahagianya. Percakapan-percakapan mereka yang keras,

gurau mereka yang menyenangkan dan ketawa-ketawa mereka adalah pertanda dari

bahagia-bahagia yang sedang dialami. Itu didengarnya karena ia mempunyai telinga

belaka.

Ketika ia duduk-duduk merenda sore hari, seorang gadis masuk pekarangan

rumahnya dan ia tahu, gadis itu adalah gadisnya Kamalsyah.

“Kamal ada di belakang,” kata janda itu.

Gadis itu pergi ke belakang menemui Kamalsyah dan ketika makan malam hari

Kamalsyah tidak dilihatnya di meja, mungkin mereka berdua masih membicarakan

sesuatu. Ia masuk ke kamarnya untuk menghidupkan lampu dan ketika ia ke luar untuk

ke dapur dilihatnya di gang yang agak gelap Kamalsyah dan gadisnya berada di situ.

Kepala Kamalsyah dekat benar dengan leher gadis itu sehingga ia membungkuk. Ketika

ia keluar dari dapur untuk masuk ke ruang tengah, dilihatnya Kamalsyah sedang

menjurai rambut gadis itu.

Dan malam pun tiba.

Dan pagi pun tiba.

Kembali ia berdiri menyandarkan punggungnya yang empuk di tiang beranda,

menunggu, kalau-katau ada surat.

Kali ini sudah lewat jam sepuluh dan betapa heran ia, tukang pos bertopi coklat

bsrsepeda abu-abu belum kelihatan. Memang tukang pos itu belum datang. Ketika itu

tukang pos sedang menuntun sepedanya, sebab ban sepedanya meletus. Tapi lebih dari

itu pikirannya kacau, geli, menyesal atau apa saja namanya.

Ia lebih gugup dari biasanya, mukanya lebih pucat dari biasanya. Ketika ia

memasuki pekarangan rumah janda itu, janda itu cepat-cepat mendekatinya, bertanya

seperti biasa, “Ada surat?”

“Ada,” jawab tukang pos itu.

Dan diberikannyalah sebuah surat, kemudian dengan tak sadar dinaikinya

sepedanya, dan, ketika ia sadar bahwa sepedanya kempis, masih dinaikinya sepedanya

yang abu-abu itu untuk beberapa puluh meter.

Ketika itu, janda itu tak habis-habis herannya, sebab surat itu tertuju kepadanya.

Ia heran. Sangat heran sekali ia. Tapi, betapa, surat itu belum dibukanya. Ia tidak kenal

pada seseorang yang bernama Bakri, si pengirim surat itu. Aku tak punya kawan semasa

sekolah yang bemama Bakri. Aku tak punya seorang sanak famili bernama Bakri. Juga

aku tak punya seorang lelaki yang jadi sahabat tetangga yang bernama Bakri. Kalau

begitu, siapakah lelaki ini. Apakah ia tidak salah alamat, atau, ia hanya seorang yang

iseng. Tapi tidak, kita tidak boleh berprasangka.

Kemudian, dibukanya surat itu. Dan betapa heran hatinya.

Surat itu sederhana, menanyakan apakah ia ada dalam sehat-sehat saja. Pada

baris lain surat itu menanyakan kenapa saban pagi ia menunggu surat, sedangkan satu

pun surat tak bakal diterimanya.

“Kenapa pada tiap-tiap jam setengah sepuluh nyonya sudah berdiri di beranda,

menanyakan apakah ada surat untuk nyonya, padahal nyonya pasti, tidak ada sepucuk

surat pun untuk nyonya,”

Dibacanya kalimat itu sekali lagi, sekali lagi, dan entah bagaimana, air matanya

titik. Ia tidak merasa air matanya itu titik, dan air mata itu menggelinding dari

pelupuknya melalui pipinya dan singgah di tepi-tepi bibirnya.

“Tapi hari ini nyonya telah menerima surat dari saya. Ini adalah satu-satunya

surat yang nyonya terima. Tujuan saya menulis surat ini adalah karena simpati saya

yang mendalam pada sikap nyonya yang setia menunggu tukang pos. Semoga simpati

yang saya sisipkan ini dapat nyonya terima dengan simpati yang mendalam pula,”

begitu surat itu berakhir.

Aku tidak memerlukan simpati siapa pun, pikirnya. Tapi siapakah Bakri ini.

Mesti ia lelaki yang iseng. Tiba-tiba ketika air mata itu kering, hatinya merasa dihina.

Hati yang baik tidak selamanya akan selalu baik. Dirobeknya surat itu empat kali

sobekan dan ia menangis tersedu-sedu.

Ketika itu Salaman dan Kamalsyah datang dan didengar mereka ada tangisan di

kamar. Kamalsyah berkata pada Salaman, “Nah, betul nggak kataku. Ia mati kesepian,”

dan mereka tertawa mendengar tangisan itu.

Tukang pos yang mengantarkan surat itu telah melewati jalan terakhir menuju ke

rumahnya. Sebenarnya ia harus kembali ke kantor, tapi kali ini ia terus saja menuju ke

rumahnya. Ia memanggil-manggil nama seseorang. Dan seorang itu adalah seorang

lelaki tetangga di sebelah rumahnya.

“Telah saya sampaikan,” kata tukang pos itu.

“Bagaimana. Tidak kau tunggu dulu?” tanya lelaki itu.

“Badan saya panas-dingin ketika menyampaikannya,” kata tukang pos itu. Lelaki

tetangganya itu ketawa, tapi tukang pos itu pucat.

“Saya takut dia jangan-jangan marah,” kata tukang pos itu.

“Jangan khawatir. Saya telah menulisnya dengan kata-kata bermutu,” kata lelaki

sahabatnya, tapi heran, tukang pos itu tetap merasa khawatir. Ia masuk ke dalam

kamarnya. Duduk ia di meja.

Diisapnya rokok sebatang, kecemasan itu belum juga terbunuh.

Betapa tidak. Memang, tiap-tiap hari ia mengantar surat ke tiap-tiap alamat.

Mungkin di antara surat-surat yang diantarkannya ada juga berupa surat-surat asmara.

Tapi, ia, ia sendiri, belum pernah sekali dalam hidupnya menulis surat. Sungguh belum

pernah. Juga dalam hidupnya belum pernah mengalami percintaan seperti yang pernah

ditontonnya di film-film, yang pernah dibacanya dalam buku-buku yang dipinjamkan

oleh sahabat tetangganya. Adakah, dengan cara ini, sahabatnya itu akan menjerumuskan

dia kepada malapetaka. Dan perempuan itu kemudian mengadukan hal itu kepada polisi,

dan ia ditangkap, dibawa ke pengadilan, dihukum dan kemudian dipecat dari jabatan

sebagai pengantar surat? Aku jadi malu, betapa maluku pada kawan-kawan sekantor,

pada tukang-tukang telegram, pada tukang cap.

Tiba-tiba ia ke luar dan menemui sahabatnya.

“Aku takut, Ting,” katanya.

“Kenapa?” tanya kawannya itu dengan geli melihat perubahan-perubahan pada

wajah tukang pos. Tapi, setelah dilihatnya tukang pos itu sungguh-sungguh takut,

dihiburnya, “Aku jamin dia mau menerimanya. Aku seorang pengarang, Pengarangpengarang

adalah ahli dalam percintaan. Tapi kau harus bersungguh-sungguh. Kau

sudah mau, to, kawin dengan janda?” kata sahabatnya itu.

“Mau. Biarpun ia janda. Aku sudah bosan hidup sendiri.”

“Makanya, tunggu besok,” kata sahabatnya itu.

“Dia amat manis, Ting,” kata tukang pos itu.

“Nah, apalagi,” kata sahabatnya itu gembira dan ditepuknya punggung tukang

pos itu. Lalu, nasihat terakhir dari sahabatnya itu adalah, “Kri! Besok, lihat perubahan

mukanya. Dia pasti bertanya padamu, apakah kau mengenal siapa Bakri. Dan

kaujawablah: 'Saya Bakri'.

Sampai jauh malam tukang pos itu tidak tidur.

Tapi sebetulnya juga janda itu sampai jauh malam tidak bisa tidur. Ketika jam

tangsi kedengaran berbunyi sebelas, tiba-tiba janda itu tersentak, dipungutnya kembali

surat yang disobeknya itu, disusunnya, dilimnya baik-baik, dibacanya. Dibacanya sekali

lagi. Dua kali. Tiga dan empat. Tapi ia tertarik pada kalimat terakhir, “Semoga, simpati

yang saya sisipkan ini, dapat nyonya terima dengan simpati yang mendalam pula”.

Kalimat itu diulang-ulangnya membacanya, sampai kemudian, ia merasa seolah-olah

ditengkuknya ada suatu rabaan yang menyenangkannya. Ia merasa bahagia, tapi ia tidak

tahu kenapa ia merasa begitu bahagia. Dadanya juga dirasanya sejuk, kepalanya dingin,

dan air mata dingin menggeliat dari pelupuk, menggelinding ke pipi, meresap ke bantal.

Siapakah orang ini, lelaki yang bersimpati kepadaku? Siapakah? Siapakah?

Tiba-tiba ia terkejut. Pintu kamarnya tersingkap dan lelaki itu datang. O, bukan,

lelaki itu. Seekor kucing hitam kesayangannya. Juga kucing hitam kesayangan

suaminya yang meninggal. Kucing itu dipeluknya, diciumnya dan ia tertidur. Kucing itu

ikut tertidur di sampingnya.

Pagi sekali ia bangun. Ia menyapu kamar. Ia menyanyi “Kalau bunga anggrek

mulai timbul”. Ia pergi mandi. Ia menyanyi di kamar mandi, kalau bunga anggrek mulai

timbul. Ia memasak, ia menyanyi di dapur, kalau bunga anggrek mulai timbul. Dan

ditambahnya. Aku cinta padamu. Kalau bunga anggrek mulai timbul, aku cinta padamu.

Dan anak-anak itu makan. Ia berada di kamarnya, dan bernyanyi kalau bunga anggrek

mulai timbul.

“Ia sudah gila,” kata Kamalsyah sambil menyeka mulutnya, kemudian pergi ke

gudang dan mengacak bromfietsnya. Dan kemudian, kemudian sekali, rumah itu telah

sunyi sesunyinya, anak-anak telah pergi sekolah dan kuliah, tinggal ia sendiri. la di

beranda. Ia menyanyi, kalau bunga anggrek mulai timbul. Nyanyi itu didengar tetangga

yang menjemur popok, dan mata tetangga itu memperhatikan perut janda itu. Ketika

janda itu berdiri, dilihatnya perut janda itu kempis, ia kecewa. Tapi kesangsian masih

ada, sebab rambut janda itu basah berjurai.

Janda itu tidak tahu ada seseorang memperhatikannya. Ia masuk. Direbahkannya

tubuhnya di tempat tidur.

Jam sepuluh lewat lima, tukang pos itu masuk pekarangan. Dilihatnya janda itu

tidak ada. Hatinya kecut. Dibunyikannya bel sepedanya. Janda itu tidak ke luar. Hatinya

kecut. Dan ia berteriak, “Surat. Surat,” juga tak kedengaran sahutan. Hatinya kecut.

Tapi betapa lega hatinya, dilihatnya janda itu muncul di jendela, memperbaiki

rambutnya. Betapa manisnya dia. Betapa bagusnya rambut yang hitam itu.

“Adakah surat buat saya?” tanya janda itu. Hati tukang pos itu kecut. Dia

terpaksa menggelengkan kepala. Tapi diberikannya surat yang lain kepada janda itu.

Muka janda itu dilihatnya jadi kecewa. Hatinya kecut, ia akan pergi.

“Kemarin saya terima surat,” kata janda itu. Tukang pos itu terdiam.

“Dari seorang bernama Bakri.” kata janda itu. Hati tukang pos itu tambah kecut,

tapi kesenangan bergendang di sana.

“Tapi orang itu, orang yang bernama Bakri itu, tidak menyebut alamatnya,” kata

janda itu, dan tiba-tiba hati tukang pos itu jadi kerdil.

“Kenalkah, ya, kenalkah kira-kira Pak Pos dengan orang yang bernama Bakri,”

tanya janda itu.

Tukang pos itu diam sebentar. Kakinya pada pedal sepeda. Dan kemudian

dijawabnya dengan gugup, “Tidak. Tidak. Saya tidak kenal sama Bakri.” Kata tukang

pos itu dengan gugup sekali. Cepat-cepat sepeda dinaikinya. Bakri. tukang pos itu,

merasa lepas dari siksaan yang menyiksanya sehari semalam, ketika ia sudah menaiki

sadel sepedanya. Sepedanya warna abu-abu tua. Kemudian memasuki rumah-rumah

lain, mengantarkan surat-surat ke alamat- alamat yang harus disampaikannya. Tiap-tiap

hari ia harus melakukan tugas itu, kecuali pada hari Minggu, 17 Agustus dan hari-hari

besar umum lainnya, tanpa melanggar sumpah jabatan. Sebenarnya, tukang-tukang pos

di dunia macam Bakri ini, sebagian besar bisa tergolong orang yang jujur di dunia.

Janda itu masih tetap janda baik-baik. Memang seorang janda senantiasa jadi

sasaran curiga, atau, impian jelek bagi orang lain.

Jandaku ini janda baik-baik. Janganlah dicurigai. Ia bernama Amini.

TAMAT

Dua Tengkorak Kepala

Ada dua tengkorak kepala yang sampai saat ini masih membuat aku harus

menghela napas dalam-dalam. Dua tengkorak kepala manusia yang paling memberikan

arti bagi hidupku. Aku harus berurusan dengan dua tengkorak kepala itu. Ini bermula

dan telepon interlokal Umi - ibuku: aku harus segera berangkat ke Lhok Soumawe,

Aceh.

Umi telah dua kali menginterlokalku. Kata beliau, aku telah diangkat menjadi

Ketua Panitia pemindahan kuburan kakekku. Aku sudah paham benar, Umi jangan

sampai menginterlokal yang ketiga kali. Aku tentu tak mau menjadi anak durhaka.

Kali ini aku memilih pulang kampung lewat jalan darat. Dalam perjalanan dan

Lampung hingga ke Aceh Selatan, banyak sekali jalan raya yang buruk. Lagi pula, kotakota

yang kulewati tak memberikan suasana batin bagiku.

Tapi, menjelang tiba di kota kecil Sidikalang, secara tak sengaja aku buka kaca

mobil. Hidungku langsung menyerap aroma wanginya nilam.Kota ini mengingatkan

sejemput keharuan tentang diri si Ali, sahabat karibku. Kecepatan mobil kuperlahankan.

Mataku menikmati pemandangan pohon-pohon nilam yng merimbuni pelosok kota kecil

ini. Tinggi tanaman ini cuma setinggi pepohonan bayam. Sekiranya Ali mengikuti

pikiran logis Mak Toha-ibunya-ia sekarang ini sudah jadi saudagar kaya karena

berdagang minyak nilam itu. Sebelum meninggalkan kota kecil ini, aku dah. Pikirku,

Ali kini sudah terkubur menjadi tulang-tulang tengkorak karena pembantaian itu.

Seketika itu juga akan menyadari kewajiban mampir ke rumah Mak Toha.

Benar-benar wajib! Dia adalah wanita baik hati yang kukenal sejak remaja di Lhok

Seumawe. Keluarganya sudah kuanggap famili. Salah seorang anaknya Ali adalah

teman sekelasku sejak di SMP. Ali tidak suka, dan tak pernah suka memakai gelar

kebangsawanannya. Kami sepaham. Ini yang membuat aku dan Ali jadi akrab.

Dan senja itu aku mampir kerumah Mak Toha. Beliau sangat terkejut. Aku

berdiri di depan pintu mengucap Assalamu’alaikum. Separuh menjerit beliau menyebut

namaku.

"Kamu membuat Mak merasa Ali hidup kembali," katanya.

"Jadi benarlah cerita Ali telah wafat," kataku.

"Ya kata Mak Toha. "Tapi kami lillahi ta’ala. Kami sudah punya pundi-pundi

surga jihad. Al-hamdulillah.

Aku dipersilakannya duduk menunggu dia membawa teh. "Dimana kamu dengar

Ali telah mendahului kita ?"

"Dari Ja’far," kataku tenang. Namun dalam jiwaku muncul pergolakan batin:

mengapa si Ali, temanku penari Seudati yang piawai, pemain drama dan pendeklamasi

yang handal sampai gugur dengan sangat mengenaskan?

Tiba-tiba kuingat, sepucuk surat Ali yang dia kirim dari Tripoli, ibukota Lybia.

Ketika kubaca suratnya, aku punya kesan fanatisme Ali pada diktator itu. Di akhir

suratnya dia menulis: "dari putra Khadafi". Lalu tanda-tangannya. Namun kesan itu

berubah lagi. Sebab, sepulang dia dan Lybia itu, Ali menulis surat kepadaku lagi. KaIi

ini tidak ada fanatisme "putra Khadafi". Bahkan surat itu datang dari Medan: "Sekarang

aku mengajar privat Bahasa Inggris di Medan. Walaupun Mak kami kaya, aku musti

belajar mandiri. Mak mengajak aku berkebun nilam bila kita rajin bertanam nilam,

harga minyak nilam bisa membuat kita kaya. Tapi menjadi kaya bukan tujuanku," tulis

Ali dalam surat itu. Kalimat terakhir inilah yang terpenting.

Sejak itu aku tidak pernah menerima surat lagi dari Ali. Dan ternyata, tidak akan

pernah lagi, selama-lamanya. Dia telah dibantai bersama teman-temannya tanpa diadili.

Dia sudah menjadi Tengkorak bersama tengkorak-tengkorak lain yang dikubur secara

masal.

Dan kini, diruang tamu Mak Toha si Ali tinggal kenangan. Bahasa Inggrisnya

yang bagus, sampai-sampai dia menguasai serta Inggris tingkat Bahasa William

Shakespeare. Kalau aku ingat semasa SMA dengan segala kelebihannya, Ali tak pantas

dituduh memegang senjata, dan dibunuh. Harusnya mereka tak membunuh Ali

melainkan mengagumi membaca puisi.

Ali hafal hampir semua karya Shakespeare. Suatu sore dia kerumah ku, hanya

untuk memberi berita ini:" Hai, ternyata Shakespeare punya puisi-puisi khusus dia

bukan hanya sutradara dan pengarang drama, dan juga bukan hanya seorang yang suka

melucu. Dia ternyata seorang penyair yang bagus. Pamanku baru saja mengirim buku

ini dari Singapura. Kamu bacalah salah satu puisinya:

So shalf thou feed on Death,

That feeds on men,

And death once dead,

There’s no more dying then

Yang mengejutkanku, dia terjemahkan karya besar itu dalam bahasa Aceh yang

sempurna. Di Aceh Puisi memang sudah menjadi biasa, dan jadi bahasa sehari-hari,

karena negeri ini kaya dengan para penyair lisan. Puisi Shakespear yang dibaca lisan

oleh Ali dalam Bahasa Aceh – apalagi tentang maut-menanamkan ketenangan batin

khusus bagi banyak orang sudawh menjadi karakter orang Aceh, kalau maut sudah

sekali menjemput, tidak ada lagi kematian berikutnya. Mati hanya datang satu kali.

Pernah aku sangat sibuk mencari naskah drama "Tanda Silang," karya penulis

asing yang sudah disadur oleh W.S. Rendra. Kami pernah membaca resensi

pementasannya.

"Kita perlu menanamkan keberanian pada orang Indonesia. Ada yang bilang

pada saya, satu kalimat terhebat dalam drama ‘Tanda Silang’ itu. Mengenai kematian

dan pahlawan. Tapi saya sangsi kalimat itu orisinil. Tolong kamu carilah naskah itu.

Liburan kwartal kamu cari ke Medan. Kita pentaskan untuk perpisahan sekolah," desak

Ali.

Aku tentu dengan mudah menemukan naskah itu di Medan. Medan kota paling

gila drama. Herannya tertera di naskah itu, penerjemahnya adalah Sitor Situmorang,

bukan W.S. Rendra. Tidak penting bagiku meneliti soal siapa penerjemahnya. Kami

akan mementaskan drama ini di Lhok Seumawe. Sudah banyak sekolah SMA di Medan

mementaskan drama ini. Tapi begitu naskah stensilan itu dibaca Ali, dia berteriak

marah:"Wah, ini ada kalimat jiplakan dari drama Julius Caesar karya Shakespeare."

"Jiplakan?" tanyaku

"Ya! Kalimat ini ada dalam drama Julius Caesar."

Ali mengeluarkan buku dari lacinya. Dia menunjukkan dua kalimat itu

sebagaimana tertera di buku aslinya:

Cowards die many times before their deaths, The Valiant never taste of death but

once.

Hampir saja Ali membatalkan rencana pementasan itu. Untung ada Ustadz

Tengku Muhamad Diah- guru agama kami - menyarankan agar si Ali tidak emosional.

"Bukankah kalimat itu agung, Ali?" ucap Ustadz.

"Ya. Terlepas dari orisinalnya, memang agung Pak Ustadz: Para pengecut mati

berkali-kali sebelum ajalnya tiba. Pahlawan tidak merasakan ajal kecuali satu kali."

Setelah dua puluh lima kali latihan selama tiga bulan, ketika dipentaskan benarbenar

sukses. Terutama karena hebatnya permainan Ali. Tapi di balik tepuk tangan riuh

itu, Ali tak gembira. Gadis yang dicintainya, Cut Nur’aini, akan menikah dengan

Tengku Faisal seorang saudagar Aceh yang bermukim di Malaysia.

Mak Toha sempat tahu persis kejadian yang menimpa Ali itu. Beliau bercerita:

"Waktu Mak mengajak Ali pindah ke Sidikalang ini, dia memutuskan melanjutkan

sekolah di Singapura."

Lalu beliau menawarkan suguhan ubi rebusnya:"Ini ubi rebus sebesar paha

kamu. Nah, kembali kepada cerita si Ali tadi," lanjut Mak Toha, "Dia katakan pada

Mak, bahwa dia ada menulis surat pada kamu. Kata almarhum kepada Mak lagi, kamu

melanjutkan sekolah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogya. Katanya

kamu kepingin mengisi ilmu untuk bersiap diri jadi saudagar."

Aku hanya bisa tersenyum.

Aku menambahi cerita Mak Toha: "Saya ada sekali menerima suratnya, Mak,

justru cap pos dari Sidikalang ini."

"Itu benar. Katanya dia tak betah di Singapura. Katanya lagi, malas awak di

Singapura ‘ndak nambah ilmu. Itulah dia, teman kamu: akhirnya mau merantau ke

Mesir. Mumpung uang ada, Mak dorong dia merantau. Niat baik jangan ditunda’kan?

Tapi dasar si Ali. Hatinya diperturutkannya berbelok merantau ke Lybia itu. Tapi demi

Allah, dia ke Lybia tidak di sekolah militer. ABRI bikin isyu, ketika akan menangkap

Ali, dikatannya si Ali latihan militer di Lybia. Itu fitnah. Disana dia malahan jadi

pembantu guru Bahasa Inggris. Muamar Khadafy itu orangnya angkuh, pandai sekali

berbahasa Perancis dan Inggris. Dia suka merendahkan orang bodoh. Si Ali dulu pernah

bercerita, Khadafy sekolah militernya di Inggris, dibiayai oleh Sultan Idris. Bahkan

ketika dia merebut kekuasaan, usianya masih Dua puluh sembilan tahun."

Mak mulai menyeka airmatanya. Aku sudah mulai gelisah ingin segera

meneruskan perjalanan ke Lhok Seumawe. Kulihat tambah banyak cerita Mak, tambah

berlinang airmatanya. Sementara otakku membayangkan, temanku itu sudah jadi

tengkorak sekarang. Maka segera kujelaskan pada Mak Toha, bahwa aku perlu cepat ke

Lhok Seumawe karena harus menjadi Ketua Panitia pemindahan kuburan kakekku.

Namun wanita tua itu merengek-rengek: "Menginaplah di sini semalam, Nak.

Supaya lepas rindu Mak pada almarhum putraku."

Aku wajib pula mengabulkan bujukan itu. Mujur pula, sore itu juga, Ibrahim

adik lelaki Ali, muncul. Dia keren. Bahkan lebih keren dari Ali. Dia memakai jas. Aku

memulai dengan gurau:

"Pakai jas siang-siang apa tidak panas, Brahim?"

"Jika pakai jas, awak tak dituduh orang ekstrem. Tapi jas ini penting, karena

awak sekarang ‘kan pedagang minyak nilam."

"Oh, hebat kau," ucapku gembira. Hadirnya Ibrahim, yang ternyata tukang

ngobrol, membuat aku tak usah mendengar cerita sedih Mak Toha lagi.

Kemudian, Ibrahim memberitahuku: "Kami akan ke Dayah Baureuh. Di sana

kami akan membongkar kuburan orang-orang yang dituduh ikut GAM.1 Kami akan

mencari identitas mayat korban. Lalu kami akan menguburkannya. Dulu di sana mereka

ditembak ABRI secara massal dan dikuburkan juga secara massal."

Aku terhenyak kaget. Kematian Ali yang kudengar dari Yakub tidaklah sekeji

seperti yang diceritakan Ibrahim. Ibrahim lalu menceritakan kapan ancang-ancang

kuburan massal itu akan dibongkar.

"Kalau sudah pasti tanggalnya, saya akan ikut kalian. Teleponlah aku ke Lhok

Seumawe. Kamu punya nomor telepon kami ‘kan?" kataku.

"Mari awak catat," ujar Ibrahim gembira. Semula dia kira aku tak menganggap

penting peristiwa pembongkaran kuburan itu. Karena hal ini jauh lebih penting dari

rencana pemindahan kuburan Kakekku, aku punya alasan minta izin pada Mak Toha

dan Ibrahim untuk malam itu juga pulang ke Lhok Seumawe. Malam itu juga Mak Toha

ikhlas melepasku. Beliau sangat bahagia karena aku akan melibatkan diri pada

pembongkaran kuburan si Ali ini.

Dini hari itu juga, Umi kaget melihat aku muncul di depan rumah, lebih cepat

dari dugaannya.

"Saya sengaja datang lebih awal. Kita perlu mengadakan rapat keluarga untuk

menunda pemindahan kuburan Inyik," kataku pada ibuku. Inyik adalah cara paling

manis yang diajarkan Umi untuk menyebutkan kakekku. Padahal aku belum pernah

bertemu dengan beliau, sebab beliau telah wafat di tahun zaman penjajahan Jepang,

1942. Cerita Umi mengenai kematian Inyik, selalu menyentuh batinku, membuat

almarhum kakekku itu menjadi legenda bagiku. Padahal kelak, aku cuma bertemu

tengkorak kepalanya saja. Dan tengkorak kepala itu pula yang sering membuatku

menghela napas dalam-dalam sebagaimana jika aku membayangkan tengkorak kepala

temanku Ali.

Sebelum aku umumkan pembongkaran kuburan kakek harus ditunda, aku sudah

tahu persis sifat Umi. Ibuku ini orangnya keras. Namun aku yakin, betapa pun kerasnya

Umi, jika dia disuruh memilih mana yang lebih penting, mengikuti upacara

pembongkaran kuburan korban DOM2, atau membongkar kuburan kakek, pastilah Umi

akan memilih lebih penting mendahulukan korban DOM. Aku tahu persis itu.

Lalu aku bercerita mengenai sambutan Mak Toha. Kuceritakan betapa Mak Toha

memaksa aku menginap. Betapa bersemangatnya beliau jika menceritakan si Ali.

Tampak Umi menghapus airmatanya dengan pinggiran kerudung. Tiba-tiba, Umi

membuat aku kaget sewaktu beliau berkata: "Seharusnya kamu yang mati syahid itu.

Jadi kami punya pundi-pundi untuk menyejukkan kami di Padang Mahsyar."

Umi memuji kelemah-lembutan Ali. Bahkan beliau sempat mengingat, suatu kali

pernah diundang Ali untuk hadir pada pembacaan syair dalam bahasa Aceh, di Langsa.

Beliau hadir.

"Kapan itu, Umi?" tanyaku.

"Ketika dia mengajar privat di Medan, sepulangnya dari Tripoli. Bahasa

Acehnya terpuji, bahasa Arabnya fasih, bahasa Inggrisnya cantik, bahasa Indonesianya

terpuji. Bayangkan, dia membaca syair itu dalam empat bahasa. Orang konsulat asing

saja terheran-heran. Sayang kamu tak turut menyaksikannya. Tahu kamu, awak pun

menangis terharu."

Aku tak memberi komentar, karena perempuan-perempuan kami di Aceh, jika

sudah bicara soal mati syahid, tangisnya dilumuri ruh jihad. Aku cuma berkata dalam

hati: "Bagi Ali, mati seakan-akan sudah merupakan kerinduan dan janji."

Di rumahku di Lhok Seumawe, keesokan harinya tamu-tamu banyak datang.

Tamu dari Jakarta dirasakan begitu istimewa. Mereka menanyakan kepadaku,

bagaimana sikap orang Jakarta mengenai DOM. Apa benar DOM akan dihapus. Apa

benar pula Kodam Iskandar Muda akan dihidupkan kembali.

Dalam hal ini, aku harus tidak bersikap netral. Bagi mereka, jika aku netral, aku

akan dianggap munafik. Munafik lebih dibenci dibanding kafir.

Lalu, menjelang lohor, kami sudah sependapat untuk ikut menggali kuburan

korban DOM di dekat desa Dayah Baureuh. Kami sepakat untuk menyenangkan Mak

Toha. Dan tiga hari setelah rapat keluarga itu, sangat gembira aku menerima telepon

dari Sidikalang. Kata Ibrahim:

"Kami akan tiba di desa Dayah Baureuh tanggal 14 hari Rabu. Datanglah hari

Rabu itu. Jumpai kami di sana. Di sana ada Meunasah.3 Kalian kami tunggu di situ.

Kami akan bawa banyak sekali nasi bungkus dan kue-kue."

Aku sangat menguasai peta Aceh Timur. Karena itu, setiba di Meunasah, aku

langsung memeluk satu demi satu rombongan dari Sidikalang, termasuk juga penduduk

desa Dayah Baureuh yang siap membantu membongkar pekuburan massal yang tak jauh

dari desa itu sendiri.

Kami menggali mayat-mayat itu secara hati-hati. Ada pakaian korban yang

masih utuh. Dari KTP yang di laminating dari tiga tengkorak, ada pula beberapa orang

bahkan teman sekelasku di SMP dan SMA. Banyak tengkorak yang sulit dikenali,

karena tanpa KTP. Kami masih terus membolakbalik beberapa tengkorak, tinggal tiga

tengkorak yang masih keliru identitasnya. Ada pula yang keliru karena ditemukan

cincin tembaga yang mengikat batu akik darah.

"ini pasti si Amir," kata ibu Amir.

Seorang ibu mengaku pula: "ini jari tulang anakku. Ini cincin batu pirus Persia si

Buyung."

Mak Toha yang masih merahasiakan kecemasannya.

"Kabarnya Ali melawan waktu itu," ujar Udin, seorang saksi mata, yang

seusiaku.

"Lalu? Setelah dia melawan?" tanyaku.

"Dia ditembak langsung oleh Kapiten," kata Udin.

Inilah yang memberi inspirasi padaku bertanya seorang tentara yang mengawasi

penggalian itu: "Jika komandan, dia menggunakan senjata genggam atau Senjata laras

panjang, Mas?"

"Biasanya pistol," jawabnya.

Langsung kuambil satu tengkorak kepala. Kening batok kepala itu berlubang.

"Kalau cerita Udin tadi betul, ini pasti tengkorak si Ali," kataku.

Kening tengkorak kepala itu berlubang. Lalu aku bersihkan tanah yang mengisi

bagian dalamnya. Dan kutemukan pula sebutir peluru. Kuambil peluru itu, aku

tunjukkan kepada tentara tadi dan bertanya: "ini peluru senjata genggam?"

"Betul. Ini peluru pistol Vickers."

"Mak Toha sudah puas?" tanyaku.

"Alhamdulillah. Tapi itu! Itu giginya coba bersihkan, Nak! Itu gigi platina si

Ali," kata wanita tua itu gembira. Kucabut gigi palsu platina itu, lalu kuberikan pada

Mak Toha. Beliau mencium gigi palsu putranya, lalu memasukkannya ke dalam

dompet. Sedangkan peluru Vickers tadi kumasukkan ke kantong bajuku. Penemuan gigi

palsu ini memberi indikasi bagi seorang pemuda yang berseru:

"Jika ini tengkorak kepala Ali, tentu ini kepala Rozak Harimau," ujar Tengku

Jalal. "Gigi Rozak gingsulnya yang mirip taring harimau."

Mata Mak Toha berpijar-pijar ketika aku bersama semua karib kerabat mulai

mencuci setiap tengkorak sebagaimana upacara pemandian jenazah. Setelah bersih dan

dikafankan, semua tengkorak korban DOM itu dijajar, lalu kami melaksanakan shalat

jenazah. Kemudian satu demi satu dimasukkan ke liang kubur.

Kadangkala aku bertanya, peluru Vickers yang kukantongi inikah yang membuat

aku Sering teringat Ali dan selalu menghela napas dalam-dalam?

Berbeda pula suasana yang aku rasakan seminggu kemudian, sewaktu aku

membongkar kuburan kakekku. Tapi cerita yang sama terjadi. Tengkorak kepala

kakekku juga berlubang tepat di tengah keningnya sebagaimana lubang di kening

tengkorak kepala Ali. Lubang itu cukup besar. Dan dalam batok kepala Inyik tidak

kutemukan butir peluru. Yang ada justru di belakang batok kepala Inyik ada lubang

yang lebih besar lagi. Agaknya, peluru itu menembus bagian batok kepala kakekku.

Kalau begitu, batok belakang kepala Ali lebih kuat sehingga peluru tentara itu tak bisa

menembusnya. Padahal yang menembak kepala kakekku juga tentara. Tapi tentara fasis

Jepang. Di zaman penjajahan Jepang, fasisme militer Jepang sangat kejam.

Pada malam tahlilan selesai penguburan Inyik, muncul usul dalam rapat keluarga

di Lhok Seumawe. Mereka menugaskan aku untuk meminta kepada Pemerintah R.I.,

supaya kakekku diberi penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.

"Tak ada perlunya," kataku.

"Tapi kakekmu korban kekejaman tentara penjajah," kata pamanku.

"Lalu teman saya Ali, bagaimana? Dia malah bukan korban kekejaman tentara

penjajah, melainkan korban kekejaman tentara bangsa sendiri," ujarku.

Semua yang hadir di malam tahlilan itu terdiam.

Diam itu lebih baik, agar mereka bisa merenung.

Jakarta, 1999

Catatan:

1. GAM = Gerakan Aceh Merdeka.

2. DOM = Daerah Operasi Militer.

3. Meunasah = balai desa di Aceh.

Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Tukang Grafir

Hanya ada satu tukang grafir di kota kami dan kebetulan dia adalah paman saya.

Kalau dia bercakap dengan saya akhir-akhir ini, dia takkan bercerita tentang

pekerjaannya, tapi akan lebih banyak bercerita tentang anak perawannya. Tapi pun,

kalau dia bercerita tentang anak perawannya, dia takkan bercerita tentang kecantikan

anak perawannya yang cantik itu, malah sebaliknya, yaitu tentang kecemasannya

kepada anaknya yang mungkin takkan mendapat jodoh.

Hal ini merupakan kesedihan seorang bapak yang sungguh-sungguh. Dan ia,

sepantasnya dihormati, seorang bapak yang bersungguh-sungguh, seperti paman saya

itu, yang mengerti akan kehendak paksa dari zaman ini. Zaman ini makin hari makin

mempunyai mode kehidupan yang beragam-ragam. Seorang pemuda lebih senang

membujang daripada kawin lekas-lekas atau seorang gadis lebih senang bertukar pacar

berkali-kali daripada diikat oleh cincin pertunangan.

Kecemasan paman saya itu pantas dihormati, Kecemasannya terletak pada mode

yang terakhir ini. Hal ini mulai timbul pada suatu malam ketika saya mematahkan

semangat kekagumannya pada sebuah foto seorang gadis yang terpasang di sebuah

majalah,

“Seharusnya tiap-tiap gadis bersikap begini,” katanya.

“Kenapa?”

“Gadis ini bercita-cita menjadi ibu rumah tangga yang baik,” lalu dia

memberikan majalah itu kepada saya, tapi saya tak mengacuhkannya,

“Kau adalah contohnya pemuda-pemuda zaman ini,” katanya.

“Kenapa?”

“Acuh tak acuh,” katanya.

“Soalnya,” kata saya, “tiap-tiap gadis bisa mengucapkan kata-kata itu. Kalimat

klise ini sudah sering saya dengar.”

“Di mana?”

“Di majalah-majalah.”

“Kenapa?”

“Kalimat itu sudah jadi klise, dan bukan cita- cita. Sama halnya nanti mereka

suka pada yurk-yurk yang pendek dan kembang seperti penari balet dan mungkin tahun

depan mereka tak suka lagi.”

Saya sungguh menyesal telah mengucapkan kata-kata itu, sebab tiba-tiba

mukanya jadi murung. Dia mengangguk-angguk sambil membuka kaca matanya yang

setebal mikroskop kacanya itu, lalu menghapus-hapus tahi matanya. Dan kemudian

dikatakannya kepada saya, bahwa anak perawannya akhir-akhir ini memang sering

mendesak dia agar membelikan rok itu.

“Rok itu kau tahu namanya?” tanyanya.

“Saya dengar itulah yang disebut ken-ken,” kata saya.

“Ya, ken-ken.” katanya. Lalu ia tersenyum sesaat walaupun saya tidak merasa

ada sesuatu yang menggelikan. “Saya dengar, begitu kembangnya rok itu, bisa

dimasukkan sepuluh rantang di dalamnya. Zaman ini semakin aneh,” katanya. “Tapi rok

itu sendiri bisa juga dibikin dengan bahan lurik. Cuma, yang di dalamnyalah yang

mahal. Seribu lima ratus di toko.”

“Begitu mahal?” tanya saya,

“Itulah peti-kot,” katanya dengan suara keras, seperti penemuan yang tiba-tiba

dijumpai.

Tapi tiba-tiba pula kami pun kehabisan kata-kata. Sehingga seperti semula tadi,

ia pun menjadi murung.

Dia memang kelihatannya agak pemurung setahu saya, sejak saya kecil dan

mengenalnya sebagai tukang grafir. Di antara sebelas orang paman saya, dialah yang

paling miskin. Saya akan teringat lagi akan kata-kata ayah saya, sewaktu saya sering

membolos dulu semasa sekolah. Ayah saya selalu membandingkan kebolosan saya

dengan menyebutkan nama paman. Kata ayah, bermalas-malaslah kau, nanti kau cuma

bisa jadi tukang gratfir. Dulu terkesan di hati saya, seakan-akan pekerjaan tukang grafir

adalah pekerjaan yang paling hina di dunia ini. Tapi kesan saya ini makin lama makin

berkurang dan makin hilang, setelah saya tahu betapa kita seharusnya menaruh hormat

pada orang-orang yang cinta pada pekerjaannya.

Paman saya tukang grafir itu sangat cinta pada pekerjaannya..

Dia berangkat dari rumah pada jam tujuh pagi, dan pulang pada jam sepuluh

malam, setelah dia tahu tidak akan banyak lagi orang-orang lalu-lalang di jalan raya.

Dia makan siang dan makan malam di tempat dia bekerja, sebuah pojokan kecil di muka

sebuah hotel kepunyaan orang Cina. Dengan tidak berbangga paman saya mengatakan,

bahwa ia pun tahu akan huruf-huruf Cina, karena Cina-cina pun suka meminta supaya

pulpennya atau barang-barang antiknya digrafir dengan huruf-huruf Cina yang

dibuatkannya sendiri contohnya.

Suatu hari saya datang lagi ke tempat paman, bukan untuk melihat anak

perawannya yang cantik di situ, tapi ingin mengobrol saja. Dia termasuk seorang yang

saya kenal yang pandai bercerita tanpa menyombongkan dirinya, melainkan dengan

kerendahan hati. Tiap orang yang diceritakannya, biar orang yang paling jahat dan

terkutuk sekalipun, selalu diceritakannya dengan suatu rasa simpati. Bagi yang terkutuk

dan paling jahat, seakan-akan diberinya maaf dan kadang-kadang seperti ia cuma

merasa kasihan kepada mereka itu. Darinyalah saya banyak belajar arti kebaikan dan

menghargai orang lain.

“Barangkali mata saya akan buta,” katanya, sangat tiba-tiba.

“Mengapa?”

“Huruf-huruf yang saya bikin, kata pemesan-pemesan saya itu, semakin buruk

dan kurang padat. Baik huruf-huruf yang saya bikin di pulpen, maupun di piala ataupun

apa saja. Barangkali mata saya akan buta.”

Saya terdiam.

Dan dia melanjutkan, “Kalau saya buta, ke mana anak-anak itu akan pergi?”

Saya makin terdiam.

“Mereka akan kelaparan, berhenti bersekolah, sedangkan anak gadis saya belum

laku,” katanya.

Lalu saya berusaha menghiburnya. Saya katakan, bahwa anak perawannya yang

cantik pernah saya lihat dibawa oleh seorang pemuda di sebuah bioskop. “Barangkali

nanti akan menjadi jodohnya,” kata saya.

Saya mengira semula kata-kata saya akan menyenangkan hatinya, tapi

sebaliknya ia terdiam agak lama.

“Kalau jodoh, tidak apa. Tapi kalau cuma berpacar-pacaran,” Paman saya

menghapus kaca matanya yang tebal itu dan mengerunyutkan keningnya, melihat suatu

yang jauh.

“Saya seakan-akan tidak melihat apa yang di depan itu lagi,” katanya.

“Sebaiknya diperiksakan ke dokter.”

“Barangkali mata saya akan buta,” katanya.

“Saya punya seorang kawan dokter mata,” kata saya,

“Biarlah saya buta dan tidak melihat semua ini lagi.”

Saya terdiam. Saya lihat dia memasang kaca matanya yang tebal itu lagi.

“Tapi mereka akan kelaparan,” katanya pula.

Ketika itu lewat seorang anaknya dan melihat sebentar kepada kami. Saya tak

tahu itu anaknya ke berapa, sebab anaknya semuanya ada sepuluh orang. Anak itu

meminta kepada ayahnya dibelikan buku komik. Tapi ayahnya terdiam saja. Lain saya

teringat lagi semasa kecil saya, di mana saya sangat menggemari buku.

Saya merasa seorang yang sangat beruntung ketika ini, karena dulu saya cuma

mengucapkan dua-tiga patah kata saja, yaitu nama buku yang saya minta itu, besoknya

ayah saya telah membawa saya ke toko buku itu dan biasanya, saya akan meminta dua

buah buku lagi.

“Semua kawan-kawan sudah membeli, Pak,” kata anak paman itu.

Saya melihat anak itu. Saya melihat matanya seakan-akan saya melihat diri saya

sendiri ketika kecil, yang dalam kepalanya penuh keinginan pada dongeng-dongeng

yang indah, mengerikan, menakjubkan. Anak itu merengek-rengek.

“Saya kepingin tahu bagaimana Flash Gordon naik ke bulan, Pak. Kawan-kawan

yang sudah beli mengatakan, bahwa di bulan ada gunung dan Flash Gordon bikin rumah

di sana,” kata anak paman saya itu.

“Kan kamu tahu ceritanya,” kata paman saya.

“Tapi saya tidak percaya. Saya mau melihat sendiri bagaimana di bulan orang

bikin rumah. Dan apakah Lisa istri si Flash masak seperti ibu masak,” katanya.

Sekali lagi anak ini membuat bayangan masa lampau kepada saya, di mana dulu

sewaktu kecil saya ingin tahu semua dongeng-dongeng kehidupan, Yang setelah besar

saya merasakan, bahwa bukan saja ingin tahu, tapi juga ingin mengatasinya dan

mencintainya.

Anak paman saya duduk terus di ujung kaki ayahnya. Ia tidak pergi dan cuma

berdiam diri selama setengah jam.

Kemudian ia jadi kesal rupanya, dan setelah merusaki susunan taplak meja. ia

lari cepat-cepat karena dipanggil kawannya.

“Bukan buku saja yang mau dimakannya, dongeng-dongeng itu pun mau

dimakannya,” kata paman sambil tersenyum. Dan tiba-tiba tanyanya, “Benar kau lihat

Sumini menonton di bioskop?”

“Benar.”

Saya mengira dia akan senang dengan tekanan keras suara saya yang

membenarkan itu, tapi ternyata tidak. Dia tetap kembali murung dan saya pun

pulanglah.

Sejak itu saya memutuskan tidak akan pergi lagi ke rumah paman itu. Saya

khawatir kalau kedatangan saya menyebabkan keadaannya semakin buruk.

Suatu kali, saya lihat dia tergesa-gesa mengejar saya. Sebenarnya saya sudah

sukar untuk menghindar, tapi saya coba juga.

Akhirnya saya dengar nama saya dipanggilnya. Dia mengundang saya datang ke

rumahnya dan menanyakan kenapa saya jarang-jarang lagi datang ke tempatnya. Hari

sudah agak larut malam dan saya menjanjikan untuk datang besok saja. Tapi dia

mengajak saya juga. Untunglah rumahnya tidak jauh.

“Kenapa agak larut baru tutup?” tanya saya.

“Jam sepuluh tadi saya sudah putus asa. Kebetulan ada orang datang juga pada

jam setengah sebelas tadi,” katanya.

Di rumah diceritakan lagi olehnya, pada jam delapan malam itu ia merasa

matanya semakin berair. Ia merasa makin khawatir akan buta saat itu dan dia menangis.

Dia menangis karena pada hari itu tak seorang pun mengupah membuat huruf

kepadanya, baik pada sebuah pulpen sekalipun.

Pada jam sepuluh sudah akan ditutupnya, seperti biasa. Dan ia melihat jalanan

sudah sepi sekali.

Lampu petromaks sudah diturunkannya, tapi belum lagi dipadamkannya.

Seorang penghuni hotel ke luar dari beranda dan menanyakan kepadanya kenapakah

belum ditutup. Lalu dia menceritakan bahwa dia akan menunggu setengah jam lagi,

akan terjadi kebakaran hebat di kota ini dan semua manusia bersama rumah-rumah akan

musnah dimakan api. Penghuni hotel itu tertarik dan bertanya, dari manakah ia tahu. Ia

merasa gila waktu itu telah menceritakan angan-angannya yang bukan-bukan itu, tapi

tetap tidak diceritakannya apa yang akan dilakukannya kepada penghuni hotel itu.

Tiba-tiba ia melihat ada seorang menuju ke pojok hotel di mana ia bekerja setiap

hari. Ia mengira orang itu akan mengupahkan membuat huruf grafir. Ia melihat orang itu

membuka kotak kecil dan jarak itu masih jauh. Orang itu datang terburu-buru ketika

lampu petromaks diangkat dan cepat-cepat dikatakannya, “Jangan tutup dulu.”

“Mau apa?”

“Saya mau mengupahkan bikin nama.”

Orang itu mengunjukkan sebuah pulpen kepadanya. Pulpen itu berkilat dan

masih baru.

“Ini pulpen mahal. Setidak-tidaknya berharga tiga ribu rupiah,” katanya. Orang

itu agak malu-malu.

“Saudara akan dibikinkan huruf-huruf balok ataukah huruf yang mana?” kepada

orang itu diunjukkannya contoh-contoh huruf. Kemudian diunjukkannya sebuah contoh

huruf.

“Ini agak sukar. Mata saya semakin kabur dan tangan saya agak suka gemetar.

Saya sudah tua. Tapi, huruf-huruf balok juga bagus.”

“Biarlah yang ini saja. Berapa pun akan saya bayar,” kata orang itu.

“Nanti Saudara menyesal, tapi baiklah akan saya coba.”

Diambilnya alat-alat grafir dan dipasangnya lampu petromaks baik-baik.

“Duduklah dulu .Coba tuliskan di kertas ini nama yang akan ditulis di pulpen ini.

Pulpen ini bagus dan mahal! Di mana saudara bekerja?”

“Di sebuah NV, jadi kasir.”

“NV mana?”

“NV Sumbawa.”

“Saudara orang Sumbawa?”

“Ya.”

“Sudah berumah tangga?”

“Belum, Pak. Tapi mungkin tidak lama lagi. “ Kini dilihatnya lelaki itu.

“Sebaiknya jangan lekas-lekas kawin. Umumnya orang-orang yang lekas kawin,

kebanyakan menyesal, tidak bisa lama menikmati masa muda seperti saya. Saya kawin

pada umur sembilan belas,” katanya. Dan diperhatikannya lagi lelaki itu dari balik kaca

matanya yang tebal itu.

“Tapi bukan seperti yang lain itu pendirian saya, Pak. Saya mau kawin karena

ingin mencari keseimbangan dalam hidup ini,” kata orang itu agak malu-malu sambil

tertawa.

Orang itu dipandangnya tepat-tepat.

“Benar-benar ini?” tanyanya dengan suara kepastian.

“Benar-benar,” kata lelaki itu dengan muka agak merah padam.

“Saya senang, Saudara begini muda sudah punya sikap hidup. Tulislah nama

yang akan dibikinkan itu,” katanya.

Diambilnya kertas itu. Dan dibacanya nama yang akan dibikinkannya itu. Ketika

dibacanya, yang mula sekali tidak dipercaya adalah matanya sendiri, kemudian ia tak

percaya pada hati dan perasaan dan pikirannya. Ia telah membaca sebuah nama, nama

anak perawannya sendiri.

“Inikah calon istri Saudara itu?”

“Ya.”

“Pernah Saudara membawa dia ke bioskop?”

“Pernah.”

“Wah, alangkah bahagianya.”

Tapi kegembiraannya tiba-tiba padam, sebab bukan anak perawannya seorang

saja yang bernama Sumini, di dunia yang besar ini. Kemudian ia merasa semakin kecil.

“Saya ini orang tua yang nyinyir. Di mana tinggalnya anak ini? Rasanya saya

pernah kenal,” katanya dengan gugup.

“Di Jalan Pahlawan 45,” kata orang itu.

Kini telinganyalah yang pertama kali tak dipercayanya, demi mendengar alamat

itu.

“Jalan Pahlawan 45?”

“Ya, Jalan Pahlawan 45.”

Sifat-sifat tuanya dalam hal menerima suatu kegembiraan tiba-tiba terkuasai

olehnya. Ia pun bertanya pada orang itu, “Ongkosnya mahal sekali Saudara, bukan

mudah membuat huruf-huruf seperti ini, Seratus rupiah, Saudara,”

“Biarlah, biarlah. Besok dia ulang tahun. Saya harus menggembirakan hatinya.

Berapa saja saya akan membayar untuk menggembirakan dia,” kata orang itu.

“Tapi saya kira tahun depan Saudara akan datang ke sini lagi dan mengupahkan

kepada saya dan namanya adalah nama gadis lain lagi.”

Kini dipandangnya lelaki itu dan ia melihat wajah lelaki itu dengan urat-urat

muka dikeningnya menuncit-nuncit.

“Maaf, maaf,” katanya kemudian.

Telapak tangannya jadi basah dan dihapusnya dengan gugup. Tapi tiba-tiba ia

menguasai kegugupan yang menggelepar di dadanya itu, menangkap kegugupan itu

erat-erat. Dibetulkannya kaca matanya yang tebal. Ia pun mulai bekerja, kerja terakhir

hari itu. Sebagai tukang grafir yang sangat cinta pada pekerjaannya, saya kira, itulah

hari yang paling menyenangkan, dan saya dapat membayangkan sendiri, bagaimana

malam itu paman saya menuliskan sebuah nama yang belum pernah dibikinnya selama

ini. Karena nama itu adalah nama anaknya sendiri. Lalu diceritakannya kepada saya

bagaimana geli hatinya ketika membatalkan niatnya akan membakar kota itu dan

dikatakannya pula kepada saya, bahwa memusnahkan dalam sekejap mungkin lebih

gampang daripada membangunnya dalam waktu bertahun-tahun.

TAMAT

Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Tuhan dengan Suatu Malam

“Maukah kau kawin dengan aku?”

“Kenapa?”

“Aku mau kawin,”

Perempuan ini ketawa sambil menuangkan teh ke cangkir.

Lelaki itu pergi.

“Maukah kau kawin dengan aku?”

“Edan!”

“Edan? Apa kau kira aku ini edan? Aku mengajak kau sungguh-sungguh!”

Dan ketika lelaki itu pergi dari warung itu, diikuti oleh mata perempuan itu

sampai di balik penjual-penjual barang lowak, dan perempuan itu berkata kepada

perempuan di sebelahnya bahwa lelaki itu sudah gila barangkali.

“Mau kau kawin dengan aku?”

“Tidak!”

Lelaki itu terdiam. Ia benar-benar terdiam mendengarnya. Dipandangnya

perempuan itu. Perempuan itu membelah manggis dengan telapak tangannya dan

menawarkannya kepadanya. Ia menolak.

“Aku tidak mau manggis. Aku mau kawin,” katanya.

“Makanlah manggis ini dulu. Nanti kita kawin,” jawab perempuan itu.

Dijamahnya manggis itu satu, tapi ia belum memakannya,

“Minum?” tanya perempuan itu.

“Tidak. Mau kau kubawa jalan-jalan? Aku punya uang banyak sekarang.

Kemarin aku terima gaji.”

“Ke mana kita jalan-jalan?”

“Ke mana saja kamu suka. Asal jangan ke neraka, “ kata lelaki itu.

Perempuan itu ketawa dengan riahnya, kemudian meladeni seorang lagi dan

kemudian memeriksa tas hijaunya, kemudian menepuk bahu lelaki itu, kemudian keluar

dari warung itu.

“Naik becak?” tanya perempuan itu.

“Tidak usah. Jalan saja dulu. Kalau kau capek kita naik becak.”

Lalu mereka jalan.

“Aku pernah melihatmu dulu sering menyanyi di rel-rel kereta api,” kata lelaki

itu.

“Ya, dekat Jembatan Kewek,” jawab perempuan itu sambil tertawa dan

membetulkan selendangnya,

“Siapa namamu?”

“Maria,” jawab perempuan itu.

“Kau Katolik,” kata lelaki itu.

“Ya. Aku masih bisa sembahyang dan hafal lagu-lagu gereja. Kau mau

mendengar aku menyanyikan lagu gereja?”

Lelaki itu terdiam. Dan perempuan itu berpikir sebentar lalu bertanya, “Kau juga

Katolik, Mas?”

“Ya.”

“Siapa nama baptismu?” tanya perempuan itu.

“Ignatius,” jawab lelaki itu.

“Di mana kau tinggal?”

“Dekat palang sepur sana di utara,” jawab lelaki itu. Dan perempuan itu merasa

riang.

“Barangkali namaku yang tepat Maria Magdalena. Aku ingat romo pastor

menceritakan hal itu.

Waktu itu aku menyanyi gereja dekat gereja. Aku habis ditipu oleh lelaki yang

tidak mau bayar. Lalu aku sedih. Aku pikir Tuhan tidak kasihan denganku lagi.

Sehingga aku merasa ditipu, ditipu, ditipu oleh orang-orang. Lalu aku menyanyi.

Nyanyi itu nyanyi missa,” perempuan itu ketawa serak, kemudian menepuk punggung

lelaki itu, bertanya, “Kita ke mana?”

“Ke mana saja kamu suka,” kata lelaki itu.

“Tapi semua tempat-tempat itu sudah tutup. Kita bisa ditangkap polisi,” kata

perempuan itu.

“Besok-besokkan bisa. Jadi gimana kata pastor itu. Maukah pastor itu

menegurmu?” tanya lelaki itu lagi.

“Heran! Heran sekali! Pastor itu mau menegurku dan menanyakan di mana aku

belajar lagu itu. Aku menjawab, lagu itu kupelajari di gereja. Aku ikut ibu ke gereja dan

tiap missa menyanyi sampai pandai.”

“Rupa-rupanya,” lalu perempuan itu ketawa geli, “rupa-rupanya pastor itu heran

kalau ada perempuan macamku ini bisa menyanyi. Tapi kemudian pastor itu bertanya,

siapa namaku. Dan kujawab bahwa namaku Maria. Dan pastor itu menyuruhku insaf.

Aku bilang aku tidak bisa dapat pekerjaan. Dan pastor itu bercerita tentang Maria

Magdalena. Kau kan tahu cerita itu bukan?

“Berapa umurmu?”

Lelaki itu menjawab, “Empat puluh lima.”

“Sudah tua juga kau ini,” kata perempuan itu.

“Memang,” jawab lelaki itu.

“Kau kira aku bisa dimaafkan Yesus seperti Maria Magdalena'?” tanya

perempuan itu.

“Maria Magdalena! Itu cerita kudapatkan dari seorang kawanku yang juga

Katolik. Dongeng itu akan kuingat selalu. Ya, kisah. di mana seorang pelacur akan

dilempari batu oleh semua orang dan Yesus melarangnya,” kata lelaki itu.

Lalu orang-orang itu berkata, “Bunuhlah wanita jalang itu. Ia wanita berdosa.

Lempari dengan batu-batu,” sambung perempuan itu menyambungi cerita lelaki itu.

“Tapi Yesus bertanya: 'Apa kalian sudah bersih dari dosa? Benarkah begitu

ceritanya?” tanya lelaki itu.

“Ya, ya. Kira-kira begitu. Lalu orang-orang itu menyadari, bahwa mereka pun

orang-orang yang berdosa dan setelah dijelaskan Yesus mereka tak jadi melemparinya,”

kata perempuan itu.

Kemudian perempuan itu bertanya, “Ke mana kita sekarang. Aku capek.”

“Kita naik becak.”

“Biarlah kita jalan saja,” kata perempuan itu lagi.

“Kau ini siapa?” tanya perempuan itu.

“Aku?”

“Ya. Kau!”

“Aku orang yang berdosa!” jawab lelaki itu.

“Aku khawatir tadi,” kata perempuan itu.

“Kenapa?”

Perempuan itu melepaskan nafasnya sambil ketawa dan mengebut-ngebut

selendangnya. Kemudian berkata, “Kaukira kamu ini Yesus.”

Laki-laki itu ketawa. Tiba-tiba ia merasa benar-benar senang dengan perempuan

itu.

“Kamu berasal dari mana? “tanya lelaki itu,

“Dari Muntilan,” jawab perempuan itu. “Di Muntilan ada gereja!”

“Aku barusan saja membunuh,” kata lelaki itu tiba. “Tapi bukan aku yang

berbunuh-bunuhan. Tapi aku percaya, rohku telah membunuh mereka. Atau Tuhan telah

membunuh mereka,” kata lelaki itu.

Perempuan itu terdiam. Lelaki itu terdiam pula. Kedua-duanya semakin terdiam.

Tiba-tiba kedua-duanya sama mengingat Tuhan. Bila kedua-duanya sama mengingat

Tuhan, kedua-duanya ingat pada masa kecilnya.

“Kamu mendongeng atau sungguh-sungguh?” tanya perempuan itu.

“Sungguh-sungguh,” kata lelaki itu.

“Nanti kau bisa ditangkap polisi. Apa polisi tidak tahu kejadian itu?” tanya

perempuan itu.

“Barangkali besok polisi tahu.”

“Besok kau dicari polisi dan ditangkap,” kata perempuan itu.

Perempuan itu terdiam, Dalam terdiam ia ingat ayahnya.

“Ayahku setelah membunuh ibuku lalu tertangkap. Biarpun ayah kejam dan aku

sayang padanya. Ayahku sayang padaku. Ibu yang jahat,” kata perempuan itu.

“Ayah dihukum sepuluh tahun. Mati di dalam penjara,” kata perempuan itu.

“Kenapa ibumu dibunuhnya?” tanya lelaki itu.

“Ibu berdosa,” kata perempuan itu.

“Kenapa?”

“Main-main dengan laki-laki,” kata perempuan itu.

“Istriku juga demikian. Rumah itu dekat jembatan dekat palang sepur. Aku

selama ini bekerja sebagai tukang palang sepur. Sampai sore tadi aku masih malang

sepur. Aku bekerja sampai pagi. Aku sudah tahu bahwa istriku main-main. Sudah tiga

kali aku diamkan. Akhirnya hilang kesabaranku. Aku tahu lelaki itu masuk jam delapan

dan pulang jam dua belas. Dan tadi, aku sudah tidak sabar lagi. Aku batuk-batuk

keliling rumah ketika mereka berada di rumahku. Laki-laki itu rupanya tidak berani ke

luar, Aku batuk-batuk kecil, Dekat sumur. Lalu aku batuk-batuk besar dekat pintu. Aku

berkata keras-keras seperti bercakap-cakap dengan seseorang. Dan aku sendiri yang

menjawabnya dengan suaraku: 'Kepung saja rumah ini', kataku seperti bercakap-cakap

dengan seseorang. Lalu kukecilkan suaraku dan berkata seperti menjawab: 'Kamu bawa

pisau?' Dan aku menjawab: 'Si Paidin bawa golok'. Dan dekat pohon-pohon pisang aku

berseru: 'Masuk dari kakus, Paidin', Dan aku lari ke dekat pohon pisang, menjawab

suaraku sendiri: 'Biar dulu. Kalau dia berani ke luar pintu kita bunuh saja'. Lalu aku lari

ke dekat kamarku. Aku mendengar istriku dan laki-laki itu bertengkar. 'Kau larilah ke

luar!' kata istriku. Laki-laki itu tidak berani 'Jangan ribut-ribut. Aku membawa pisau.

Bisa kubunuh kau!' dan istriku menjawab: 'Coba kalau kau berani bunuh aku. Kau tidak

punya tanggung jawab sebagai lelaki'. Lelaki itu mengancam lagi: 'Jangan berisik.

Kucekik kau nanti'. Dan istriku berkata; 'Coba kalau berani. Kau yang kucekik'. istriku

rupanya pintar berkelahi. Mereka bergulat. Akhirnya, akhirnya, kudengar dua-duanya

merintih. Mereka dua-duanya rupa-rupanya saling bunuh-membunuh,” lelaki itu letih

bercerita dan menarik nafas.

“Kedua-duanya mati?” tanya perempuan itu.

“Mati. Betul-betul mati.”

Perempuan itu kemudian berkata, “Kenapa kau lari?”

“Aku tidak lari. Aku jijik menginjak rumah itu. Sebab itu aku jalan-jalan. Aku

mau menghirup udara. Sekarang giliran kawanku jaga palang sepur,” kata lelaki itu.

“Kau tidak sedih istrimu mati?”

'Tidak.”

“Aku memang pernah lihat kau jaga palang. Waktu itu kau lama-lamakan,

sehingga orang-orang menggerutu menunggu palang terbuka,” kata perempuan itu.

“Aku suka sekali bikin lucu,” kata perempuan itu lagi.

Mereka kini telah berada di depan Gereja Bintaran.

“Tahu-tahu kita sudah sampai di Gereja Bintaran,” kata lelaki itu.

“Ke mana kita sekarang?” tanya perempuan itu.

“Masuk ke gereja. Sembahyang. Kau mau?”

“Aku malu. Pastor sedang tidur barangkali,” kata perempuan itu.

“Kita ketuk saja pintunya. Kita katakan kita mau sembahyang,”

“Tapi aku wanita jalang. Gereja akan kotor.”

“Ah, tak apa.”

Perempuan itu berdiri saja. Tapi tangannya kemudian menekan-nekan manggis.

“Kau mau manggis?” kata perempuan itu.

“Aku mau sembahyang,” kata lelaki itu.

“Sudah dua puluh tahun aku tidak masuk-masuk gereja,” kata lelaki itu.

“Aku mau pulang,” kata perempuan itu. “Kau punya uang buat becak aku ke

pasar? Aku tadi ada janji sama seorang lelaki,” kata perempuan itu lagi.

“Marilah masuk. Yesus telah memaafkan Maria Magdalena. Kenapa kau takut

masuk?”

Perempuan itu kemudian berkata, “Sekarang tidak ada lagi orang yang seperti

Yesus yang mau memaafkan Maria Magdalena.”

“Ada!” kata lelaki itu.

“Siapa?” tanya perempuan itu.

“Aku!” teriak lelaki itu.

Perempuan itu terkejut amat sangat. Dipandangnya lelaki tinggi itu. Lelaki itu

berjanggut seperti Yesus dan dengan gemetar ia menangkap sekilas-sekilas dongengdongeng

masa kecil dan gambar-gambar Yesus yang pernah dilihatnya. Lalu perempuan

itu sangat menggigil, tidak dapat berkata, dan lari, ia lari sekuat-kuatnya melewati jalanjalan

Bintaran, Sayidan dan kemudian masuk pasar. Di warung dengan nafas;

mendegap-degap ia berkata, “Aku ketemu Tuhan Yesus. Laki-laki tadi!”

Orang-orang di warung semua heran, tapi mereka kemudian ketawa. Perempuan

itu marah-marah.

Lalu dia bercerita.

Ketika perempuan itu bercerita di warung itu, dalam sebuah gereja, seorang

lelaki berjanggut sedang berlutut berdoa, minta ampun atas segala dosa-dosanya.

Ketika itu ia sendiri. Sangat sendiri.

Ia adalah seorang manusia.

TAMAT

Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Restoran Masih Terbuka

Sudah lima tahun lelaki itu jadi langganan restoran saya. Saya tahu benar siapa

dia itu dulu dan sekarang. Dulu ia seorang mayor. Sekarang ia tidak punya gaji tetap. Ia

pelukis. Karena itu pula saya tahu benar, kalau ia selesai makan dan tersenyum aneh dan

mengacungkan tangannya ke atas, bukan berarti dia akan membayar, tapi berarti dia

akan mengutang pada saya. Saya lantas mengambil buku bon dan menuliskan jumlah

utangnya kepada saya.

Seperti juga saya, dia telah menjadi tua, lebih tua dari umur yang sebenarnya.

Tapi berlainan dengan saya, yang sudah punya anak lima, dia, kawan lama saya itu,

belum punya anak seorang pun. Dia belum punya anak karena belum kawin. Saya tidak

tahu apa sebab dia belum kawin, seperti juga saya tidak tahu apa sebab lelaki-lelaki

lainnya yang menggemari hidup sendiri di dunia ini.

Belakangan ini saya khawatir melihat keadaannya. Dia makin pemurung.

Pekerjaan saya sebenarnya bukan tukang hibur, pekerjaan saya adalah pemilik restoran

ini dan tidak lebih dari seorang suami dan bapak dari lima anak, tapi pada saat saya

mengetahui dia semakin pemurung, tergerak hati saya ingin menghiburnya.

“Mayor,” kata saya, dan ia terkejut sekali seperti seorang yang sedang tidur

dibangunkan. Dia tidak tidur. Dia sedang merokok.

“Mayor kelihatan susah,” kata saya.

“Saya kepingin ada peperangan lagi,” jawabnya.

“Aneh! Kenapa Mayor sampai berpikir begitu?”

“Saya kepingin ada peperangan lagi,” katanya.

Suaranya bukanlah suara peperangan. Suaranya biasa saja dan bukan seperti

suara komandan perang.

“Ke Irian Barat?” tanya saya.

“Ya, ke Irian Barat boleh, Konggo boleh, Aljazair boleh. Saya kepingin

mengulangi riwayat pelukis Goya.”

Ketika saya mengingat film tentang pelukis Goya yang pro revolusi dan dalam

kepala saya terbayang pula keberanian mayor ini dulu, masuklah seorang wanita yang

juga jadi langganan saya. Saya sendiri tidak kenal dengan wanita itu apakah ia perawan

tua atau seorang janda. Yang saya kenal daripadanya cuma ia seorang langganan saya

yang bila masuk terus memesan es kopyor.

“Es kopyor,” katanya.

Kawan saya bekas mayor itu saya perhatikan tidak mengacuhkan wanita itu.

Saya menjadi jengkel. Saya jengkel kalau melihat seorang lelaki yang tidak mempunyai

kegairahan jika melihat wanita, setidak-tidaknya kegairahan pada pandangan matanya

saja dan tidak usah memeluknya di restoran.

“Makan?” tanya saya, ketika saya mengantarkan es kopyor.

“Ya, seperti biasa.”

Seperti biasa dia makan soto dan nasi putih dan sepiring sup. Sup ini biasanya

dimakannya belakangan dan lambat-lambat.

Ketika saya menoleh kembali kepada kawan saya bekas mayor itu, kawan saya

bukan melihat ke arah wanita itu, tapi mengacungkan tangannya tanda akan berhutang.

Lalu dia pergi.

“Siapa dia itu?” tanya wanita itu.

Saya lebih senang dengan pertanyaan wanita ini, dan wanita ini sendiri pada saat

ini, punya kelebihan sedikit, untuk pertama kali dalam mata saya.

“Dulu dia mayor.”

“Sekarang?”

“Sekarang dia pelukis.”

“Rasanya saya pernah kenal dia.”

“Di mana?”

“Saya lupa di mana,” kata wanita itu sambil mengernyitkan keningnya.

Saya semakin senang dengan wanita ini. Bukan berarti saya menaruh hati

kepadanya, sebab saya sudah punya istri dan lima orang anak. Seorang istri buat saya

sudah lebih dari cukup, dan lima orang anak sudah cukup lebih-lebih merepotkan saya.

“Dia belum kawin,” kata saya.

“Ya. Saya tahu dia belum kawin,”

Restoran sudah sepi, dan saya mencoba beramah-tamah sebentar.

“Saya heran,” kata saya memulai keramahan.

“Mengapa?”

“Saya heran dalam zaman di mana kita berpikir secara praktis ini masih ada

orang yang tidak suka pada perkawinan,” kata saya.

“Perkawinan itu menolong hidup praktis.”

Saya terdiam sebentar menunggu jawaban.

“Di mana Nyonya tinggal?”

“Di Jalan Tanjung.”

“Kenapa tidak datang membawa anak-anak?” tanya saya.

“Saya tidak punya anak,” jawabnya.

Sebenarnya saya mau menanyakan, “Kenapa Nyonya tidak bawa suami Nyonya

ke sini?” tetapi saya takut dianggap lelaki tua yang kurang sopan.

Orang-orang tua memang mempunyai kesabaran dalam segala soal, mereka

berusaha berhemat secermat mungkin dalam segala hal, juga dalam pertanyaanpertanyaan.

Kecuali jika mereka tambah tua dan mulai pikun, mereka kembali jadi

anak-anak dan boros kembali dalam segala hal, juga dalam pertanyaan-pertanyaan.

Karena saya belum boros dan belum pikun, saya menanyakan yang lain,

“Nyonya tampaknya dari daerah Sumatera.”

“Memang. Saya masih baru di sini. Baru kira-kira enam bulan. Saya belum

cocok dengan makanan di rumah tempat indekos saya, karena itu selama enam bulan di

sini saja saya makan,” katanya dengan ramah. “Di Sumatera saya tak berani makan di

restoran.”

Pada saat itu dia melihat kehidangan di depannya dan mengatakan pada saya

bahwa dia mau mulai makan dan saya pun minta maaf.

Besoknya saya mengharap kawan saya bekas mayor datang lagi, karena ada hal

penting yang akan saya sampaikan.

“Kenapa Mayor tidak menegur dia?”

“Saya tidak kenal memang.”

“Dia bilang kenal sama Mayor.”

“Mungkin dia ngimpi. Perempuan-perempuan memang lebih pengimpi dan kita

laki-laki.”

Karena saya tahu benar, kawan saya bekas mayor itu memang tidak suka dengan

cerita-cerita perempuan, saya menghentikan pertanyaan saya sampai di situ saja.

“Di mana dia tinggal?” tanya wanita itu ketika ia datang ke restoran saya lagi.

“Tidak tahu saya.”

“Mungkin Nyonya salah,” kata saya kemudian.

“Tidak bisa. Saya kenal betul raut mukanya. Hidungnya itu tidak bisa dirubahrubah

lagi. Tapi dia sudah agak tua sekarang,” kata wanita itu. Dia memesan segelas es

kopyor lagi.

Seperti biasanya, wanita ini datang kalau restoran sudah hampir ditutup dan

pengunjung-pengunjung sudah tidak kelihatan. Tadinya dia menanyakan kepada saya

apakah bekas mayor itu sudah datang. Saya katakan tidak pernah lagi.

“Dia masih keras hati,” kata wanita itu.

“Kalau begitu Nyonya kenal betul dengan dia,” kata saya.

Wanita itu diam agak lama.

“Dulu dia guru saya,” katanya kemudian.

“Di mana?”

“Di Medan.”

Kalau begitu seharusnya kawan saya bekas mayor itu kenal betul dengan wanita

ini. Wanita ini dapat menceritakan semuanya tentang mayor itu.

“Nyonya sekarang guru juga?” tanya saya.

“Jangan panggil saya nyonya.”

Saya terdiam.

“Dia masih keras kepala,” kata wanita itu sambil berdiri dan membuka tasnya

dan memberikan uang. Lalu wanita itu pergi.

Biarpun sebenarnya restoran sudah pantas ditutup, karena saya masih

memikirkan keanehan hidup ini, saya termenung saja di kursi dan minta pada pelayan

segelas kopi. Tiba-tiba kawan saya bekas mayor masuk.

“Dia tadi ke sini lagi?”

“Siapa?”

“Perempuan tidak tahu malu itu,” kata kawan saya.

“Ya,” jawab saya.

“Dia membuntuti saya terus. Perempuan kalau sudah gila sama lelaki begitulah.

Bukan kita yang membuntuti dia, tapi dia membuntuti kita.”

“Ada apa rupanya?”

“Dia murid saya dulu. Enam bulan yang lalu saya melihat dia pertama kali. Saya

benci perempuan tidak berpendirian begitu.”

Lalu kawan saya minta kopi pada pelayan dan memasang rokoknya. Agak lama

dia terdiam dan agak lama pula saya kehabisan kata-kata. Saya melihat pada wajah

kawan saya bekas mayor ini kebencian yang sangat terhadap wanita.

“Saya punya pendirian. Dia tidak,” katanya.

“Tapi zaman telah berubah,” kata saya melembutkan hatinya.

“Siapa bilang zaman telah berubah. Orang-orang yang telah berubah. Dan yang

berubah itu otaknya,” kata mayor itu.

“Kalau begitu saya yang salah,” kata saya.

“Bung tidak salah. Bung betul. Bung buka restoran sehabis perang. Bung kawin.

Bung beranak. Sudah berapa anak Bung?”

“Lima.”

“Nah, lima. Tapi saya? Paling-paling saya akan hidup lima belas tahun lagi dan

jika saya kawin sekarang, ketika saya tua, anak saya baru berumur empat belas tahun

dan sedang lahap dengan cita-cita, sedang gairah kepada hidup ini, dan ketika itu saya

mati dan saya mematahkan cita-cita dan kegairahan hidupnya! Lebih baik saya

mematahkan kegairahan hidup saya daripada saya mematahkan kegairahan hidup anak

muda” katanya dengan lesu.

“Pasti lima belas tahun lagi Mayor akan mati?”

“Tidak pasti. Mungkin sepuluh tahun lagi. Atau mungkin juga besok? Siapa bisa

menerka?”

“Tapi Mayor sudah menerkanya sendiri,” kata saya sambil ketawa, tapi

kemudian menyesal kenapa saya ketawa. Saya ketawa sebab merasa lucu.

“Bung tahu berapa kira-kira umurnya?” tanyanya. Saya menggelengkan kepala.

Dan dia menyatakan, “Tiga puluh setidak-tidaknya.”

“Tiga puluh,” kata saya, “masih cukup muda.”

“Bung tahu, berapa lamanya saya berdendam?”

“Tidak,” jawab saya, sebab memang saya tidak tahu.

“Empat belas tahun saya berdendam. Waktu itu dia masih gadis berumur enam

belas tahun dan murid saya yang baru lulus. Karena kekolotan orang tuanya, lamaran

saya ditolak. Ditolak mentah-mentah. Benar ditolak mentah-mentah. Dan apa yang saya

bilang ketika itu? Ini, seumur hidup anak bapak tidak akan ditawar orang,” kawan saya

tersenyum.

“Benar tidak ramalan mulut saya? Coba, kalau dia pernah kawin, potong telinga

saya. Anak itu sendiri sebenarnya mau. Namanya Nurhayati. Dan dia memang masih

keturunan bangsawan. Tapi si Goya ini, ya, saya ini, mau melamar putri anak

bangsawan, betapa gobloknya si Goya.”

Kawan saya ketawa.

“Tapi bapaknya sudah mati. Bukankah bapaknya yang menolak?”

Dia termenung mendengar kata-kata saya itu. Lama dia termenung. Tapi tibatiba

dia mengunjukkan acungan tangannya, tanda akan berhutang dan katanya,

“Persetan, persetan. Sedang untuk hidup sendiri saja saya tidak sanggup dan berhutang,

Apalagi mengawininya,” katanya dan kemudian pergi begitu saja, sambil ketawaketawa.

Pada suatu kali datang lagi wanita itu. Dia menanyakan pada saya soal-soal

sahabat saya itu, dan lebih dari bertanya, malah memaksa kelihatannya. Satu hal yang

bisa saya katakan, “Dia takkan kawin-kawin.”

“Empat belas tahun dia berdendam pada saya, Pak,” kata wanita itu.

Mulanya wanita itu berwajah sedih. Tapi kemudian mukanya jadi merah padam

dan sekilas saya menangkap kebencian seseorang di matanya,

Dan pada suatu kali restoran saya menerima kabar baru, karena saya melihat

wanita itu tidak datang sendiri, tapi datang berdua.

Saya lihat wanita itu masuk dengan seorang lelaki, dan lelaki itu bukanlah bekas

mayor kawan saya itu. Agaknya ia seorang seniman juga, sebab berjanggut dan

berkumis. Saya mengatakan dia seniman, karena bagi saya tidak susah untuk julukan

itu, karena julukan itu sudah terlalu populer dengan tanda-tandanya yang aneh, biarpun

langganan saya juga ada beberapa orang yang perlente dan tetap seniman.

“Ini suami saya,” kata wanita itu.

“Kau suka es kopyor?” tanya wanita itu lagi. Lelaki itu mengangguk. Saya

gugup sejak mereka datang. Saya gugup betul-betul karena kabar ini akan menarik hati

bila saya kabarkan pada kawan saya itu.

Tapi apa yang terjadi ketika berita itu saya sampaikan pada kawan saya bekas

mayor itu, dia cuma menjawab dengan senyum mengejek, “Beberapa hari yang lalu dia

minta permisi pada saya untuk kawin dengan seniman snobis itu. Empat belas tahun

saya berjanji tidak akan mengucapkan sepatah kata, Bung kira saya ada menjawabnya?

Sepatah kata pun tidak. Dan dia pergi tersedu-sedu dan dia sekarang kawin dengan

seniman picisan itu.”

“Bagaimana Bung pikir? Kalau saya kawin apa tidak menggelikan? Apa nanti

ditertawakan?”

“Tidak,” jawab saya.

“Ada seorang janda yang menarik hati saya di Jalan Mataram. Tapi saya kira

sebaiknya tidak kawin. Masa empat belas tahun akan terhapus oleh hujan sehari?”

tanyanya kepada saya.

Sungguh, selama saya jadi pemilik restoran, belum pernah saya melihat kejadian

yang lebih menarik dari ini. Sebab sebulan kemudian saya melihat kawan saya bekas

mayor datang ke restoran saya membawa seorang wanita berkebaya yang cantik sekali

dan diperkenalkan kepada saya bahwa wanita itu adalah istrinya.

Hari itu malam Minggu. Di Meja nomor 5 duduk sepasang suami-istri, yaitu

wanita dari medan dan suaminya, dan agak jauh sedikit di meja nomor 7 duduk

sepasang suami-istri, yaitu kawan saya pelukis dan bekas mayor, dan istrinya. Kawan

saya itu mendekati saya dan bertanya,

“Apa yang mereka pesan?”

Lalu saya mengunjukkan apa yang dipesan oleh meja nomor 5. Lalu meja nomor

7 meminta supaya pesanan makanan mereka dua kali lipat.

“Saya dan istri saya baru saja dari Kaliurang,” kata kawan saya. Suaranya agak

keras sedikit dari biasa.

“Ya,” kata istrinya.

“Pameran di Jakarta cuma dapat seratus ribu. Bung,” katanya lagi, dengan suara

agak keras.

“Cukup banyak,” kata saya.

“Saya kepingin beli sedan kalau pameran laku lagi,” katanya.

Lalu saya berpikir, memang aneh kehidupan ini, dan saya tidak ingin

mengatakan bahwa kehidupan ini memang gila juga. Saya tidak keberatan jika

pengunjung-pengunjung restoran saya bertanding dalam makan. Sebagai pemilik

restoran yang baik, saya selalu berharap pengunjung-pengunjung restoran saya makan

seenak mungkin dari makanan yang kami hidangkan. Lebih cepat tutup lebih baik,

sebab saya bisa pulang lekas-lekas, bertemu istri dan lima anak saya. Besoknya saya

bangun pagi-pagi dan berangkat ke sini lagi.

Cuma belakangan ini saya ingin membeli radio pick-up barang sebuah membikin

kebun di samping itu dengan lampu-lampu merah biru, lalu memperbesar ruangannya.

Kalau perlu saya akan mencari akal, bagaimana supaya pengunjung-pengunjung lebih

senang.

TAMAT

Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Senjata

Dia memakai ransel yang diikatkan dengan malas dipunggungnya yang bungkuk.

Dan tangannya dimasukkan ke kantong jaket militernya.

Mulanya sama sekali tidak kuperhatikan orang itu. Aku asyik memikirkan uang

sewa kamarku yang belum lunas bulan lalu dan harus dibayar dalam tiga hari ini. Yang

kupikirkan bukan uang itu. Tapi cara yang punya rumah memintanya. Dia tidak tahu

bagaimana kepahitan hidup seorang penulis yang menggantungkan diri kepada

karangan-karangannya.

Malam ini aku tidak pulang ke rumah. Malas dan mengkal. Maka aku memilih

dengan menyusuri jalan-jalan malam hari sampai akhirnya pegal dan kemudian memilih

jalan yang sepi. Dan kemudian kupilih sebuah tembok rumah dan duduk-duduklah aku

di tangganya sambil merokok kretek.

Mulanya memang aku tidak memperhatikan orang itu. Tapi sekali bawah

sadarku merasakan sesuatu dan demi heranku melihat tingkahnya yang agak aneh. Dia

jalan mondar-mandir dalam jarak dua puluh langkah dan itu dilakukannya lebih dari

setengah jam kukira. Kalau pegal dia duduk di pagar jalanan dan kemudian jalan lagi.

Akhir-akhir ini aku takut pada tentara. Dulu aku menabrak seorang tentara

malam-malam dengan sepeda. Untung dia sabar dan tidak memukulku. Anehnya ia

sesudah tidak jadi memukul itu lantas menanyakan kartu penduduk. Dan soal kartu

penduduk itu akhirnya menimbulkan perbuatan yang mencemaskan hidupku.

Aku tidak punya, jawabku dulu.

Ingatan itu belum habis, tentara yang mondar-mandir tadi itu tiba-tiba telah

dihadapanku berdiri dengan tangan masih dimasukkan dalam jeketnya. Aku mulai takut

kalau-kalau ia menanyakan kartu penduduk pula.

“Kau kawannya?” tanyanya tiba-tiba sambil memalingkan mukanya ke seberang

jalan.

“Kawan siapa, Pak?” tanyaku berdebar.

“Maaf!” katanya kemudian dengan bersungguh hati. Dan kemudian menerusi,

“Kau tinggal di mana, Mas?” pertanyaan yang aneh itu kujawab, “Jalan Wahidin.”

Lalu dia duduk begitu saja di sampingku. Aku yakin ia susah, sebab beberapa

kali nafasnya dilepaskannya.

“Kenapa kau duduk-duduk di sini,” suaranya tidak mengancam, tapi isi

kalimatnya terang mencurigaiku.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya cuma kecapekan,” jawabku jujur.

“Betul-betul kau tidak punya kawan lain yang pergi ke seberang sana?” agak

keras suara itu buatku walau diucapkannya lembek sambil menolehkan kepala ke

seberang jalan.

“Tidak!”

“Awas kalau ada!” kini betul-betul mengancam ia rupanya.

“Kau dan dia akan saya tembak,” sambungan suaranya tambah mempertakut

diriku.

Sesaat kami tidak bicara. Ia kelihatan sebenarnya amat lesu. Tapi tetap gelisah.

Aku tak berani memulai bicara sebab takutku. Dan ketika ia bergerak sedikit, darahku

serasa luput semua. Tapi ia cuma berdiri tidak memandangku. Dan kemudian pergi lagi

ke arah tempat ia mondar-mandir semula. Ia tidak mondar-mandir lagi, cuma berdiri

tenang-tenang di bawah tiang listrik. Dan alangkah senangnya hatiku ketika ia bergerak

ke arah pepohonan jeruk dan hilang di antara pagar-pagar gang.

Aku akan cepat-cepat pergi saja. Aku khawatir ia gila. Tapi kemudian kubantah

sendiri: Tidak mungkin tentara gila dilepaskan dari markas pondokannya. Kemudian

kubantah lagi, gila atau tidaknya, tidak peduli. Yang penting aku harus pulang kini-kini

juga dengan segera, agar tidak terlibat dalam persoalannya. Tapi ini pun kubantah, dia

tadi menanyakan alamatku dan aku ada menyebutkan. Dia tadi curiga padaku. Dan tentu

dia akan makin curiga sebab aku pergi. Dan ini akan menjadikannya marah yang akan

disusulnya dengan memburuku dan aku betul-betul akan ditembaknya. Kemudian

kuputuskan, sebaiknya aku tinggal diam di sini sampai pagi datang, biarpun ini akan

menyiksaku.

Aku menyesal telah terhampar ke tempat ini dan mempersulit keadaan diri

sendiri saja. Akhir-akhir ini aku khawatir tentang keadaan diriku dan khawatir pula

kalau diriku dapat kesulitan.

Pernah dulu aku berniat akan bunuh diri. Tapi kubunuh perasaan gila begitu.

Kemudian datang pula seorang kawan. Dia juga penulis. Dan menceritakan juga

kesulitan-kesulitan hidup. Lalu kusuruh secara bergurau, “Bunuh diri saja!” walau aku

menyatakan dengan hati yang bersungguh-sungguh. Tapi seperti juga diriku, dia pun tak

jadi bunuh diri. Dan ketika kami bertemu, kawan itu berkata, “Buat apa kita membunuh

diri kita. Lebih baik kita bunuh saja orang lain,” sambil ketawa. Dan kemudian ia

mengajakku merampok toko, sambi! ketawa pula. Tapi kami tak jadi membunuh orang

atau merampok toko.

Ketika aku senyum sendiri, alangkah kagetku. Orang tadi keluar di antara pohonpohon

jeruk dan terus menjurus ke arahku.

Aku mulai pura-pura menekur dan takutku menyita sampai ke seluruh tulangtulangku.

“Mas,” tapi suara itu pun perlahan kudengar.

“Apa, Pak?”

“Barangkali dia pulang jam empat atau setengah lima.”

“Siapa, Pak?” tanyaku.

Ia tak menjawab tapi terduduk. Kelihatan sukar sekali dia duduk. Dan aku hanya

berdiam diri saja sebab takutku

“Mas!” katanya.

“Ya?”

“Ada lelaki tidur dengan biniku sekarang!” kini barulah aku merasa tenteram.

Dan suara itu dapat kurasakan sebagai tanda persahabatan.

“Mulanya kau kucurigai tadi. Tapi maaf, tadi aku agak pusing,” katanya.

“Aku pulang dari operasi, Kereta masuk jam sembilan malam tadi,” suaranya

makin bersahabat. Dan betapa pun, aku senang kini.

“Aku minum-minum dulu di markas. Sebenarnya aku sudah boleh pulang taditadi.

Tapi jam sebelas aku pulang. Aku bawa oleh-oleh buat biniku, kutaruh di depan

pintu belakang, sebab aku yakin lelaki itu pasti keluar dari pintu belakang.”

Tiba-tiba pula takut menyentaki darahku. Aku tak kepingin ikut-ikut dalam

soalnya dan dalam soal siapa saja dalam saat sekarang ini.

“Bagaimana, Mas?”

“Tembak saja!” kataku tiba-tiba secara tak sadar, terpengaruh oleh perkataan

“tembak” yang dari tadi sering beramuk di hatiku, sejak ketemu dengan orang ini

agaknya.

Begitu senang aku, sebab aku tak ditanyai atas usulku yang terlanjur tadi. Dia

memandangku lama-lama, kemudian mengeluh dalam-dalam. Barangkali ia takut

mengambil resiko penembakan, pikirku. Ini kutangkap di matanya. Barangkali dia

masih sayang pada bininya, pikirku, dan akan dimaafkannya. Dan ini kutangkap di

matanya.

“Apa tadi, Mas? Tembak?”

Aku jadi terpana oleh pertanyaannya. Sebenarnya aku akan meneriakkan

bantahan kembali, tapi aku sendiri nanti akan dicurigai dan diriku jadi korban pelor

secara tak karuan. Dan aku bisa mati anjing.

“Ya. Tembak,” katanya perlahan dan pilu.

Lama ia pandang wajahku.

“Ketika operasi aku dapat menembak musuh dengan sebaik-baiknya. Kau tahu?”

suaranya mengobarkan kebanggaan. “Dan setidak-tidaknya ada lebih lima yang

kupasti,” kemudian ia mengeluh dengan nafas yang sakit.

Kami saling terhening beberapa saat, di saat mana otakku dibalaukan oleh

kebuntuan-kebuntuan pikiran. Dengan tiba-tiba saja ia bersuara, “Kita di sini saja

sampai jam lima. Biarpun dia lewat jalan belakang, gang itu gang buntu,” dan sekaligus

suara-suara persahabatan begitu berakhir dengan ajakan agar aku terlibat dengannya.

“Kau tolong aku nanti. Mau kau menolong?” biarpun tidak kujawab, tapi ia

sendirilah yang menjawabnya, “Tentunya kau mau menolong,” demikian ngeri kuterima

putusan kerja sama ini.

“Sudah jam berapa?” tanyanya gelisah.

“Aku tak punya jam!” jawabku takut-takut.

Ia meraihkan nafas dalam. Kami terdiam agak lama.

“Sudah jam berapa?” tanyanya lagi.

“Aku tak punya jam, Pak,” kujawab dengan heran.

“O, iya, ya!” dan kemudian ia berdiri.

Kelihatan sekarang, dia makin gelisah. Dipandangnya ke arah di seberang dan

matanya mulai menyala-nyala.

“Kau tolong aku!” perintahnya tiba-tiba. Ketika aku terdiam agak lama, ia

menanyai agak mengancam, “Tak mau kau menolong aku?”

“Mau Pak!”

“Ambilkan pistolku di ransel belakang.” Dan ia menunduk ketika itu, sehingga

dengan mudah pistol itu kuambil dan kuberikan padanya.

“Isikan pelornya! Itu kosong,” perintahnya lagi.

Aku benar-benar takut dan pasti, bahwa ia gila. Aku gugup, sebab dalam

hidupku aku belum pernah berkenalan dengan senjata api. Lama-lama aku terdiam

deagan takut dan gelisah, sampai aku kemudian dibentaknya, “Tak mau kau menolong

aku?”

“Aku tak pernah pegang pistol, Pak.”

Matanya jadi merah dan tiba-tiba kurasa tanganku diraihnya, sehingga pistol itu

jatuh.

Kucoba memandang dia dengan mata minta dikasihani, tapi begitu kaget aku

ketika dalam matanya berenang butir-butir air mata putus asa. Biji matanya kemudian

turun mengajak mataku melihat sesuatu.

Kedua tangannya! Tangan-tangannya tidak bertelapak dan berjari lagi, sebab

putus tentang pertengahan lengan.

Ia menggigil. Tak berani aku memandangnya. Yang kudengar hanya tangisnya

yang menggigit-gigit sepi malam.

TAMAT

Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Pisau Karton

Aku membuka dompetku, masih ada uang tiga rupiah untuk becak pulang. Itu

adalah uangku yang terakhir dan sampai akhir bulan aku takkan punya uang lagi. Tapi

aku tak pernah cemas.

Aku memang tak pernah cemas dalam soal uang, seperti aku tak pernah cemas

akan jatuh sakit. Aku merasa sedikit mujur karena untuk dua-duanya itu aku takkan jadi

sekarat. Aku tiba-tiba ingat ibuku, yang fotonya ada di balik kaca plastik dalam

dompetku.

Biasanya, kalau aku ingat ibu, terasa ada sesuatu yang menggelepar dalam

dadaku, karena aku tahu bahwa aku adalah anaknya, karena aku tahu aku tak sempat

berbakti kepadanya seperti layaknya anak-anak terbaik dan ibu-ibu di dunia ini. Buatku

ibu adalah kenang-kenangan yang menggelepar, sebab ia merupakan masa lampau yang

hidup tanggung-tanggung dalam angan-anganku, karena aku cuma bisa sedikit sekali

untuk mengingat wajahnya, kata-katanya yang lembut, dan kesabarannya yang besar.

Suatu saat aku merasa goyah bila aku dihinggapi rasa sentimentil, sebab tiba-tiba

merasa tidak akan punya lagi seseorang tempat aku membagi-bagi keindahan hidup

ketika aku sedang bahagia dan menceritakan dukacita, ketika aku sedang dihantam

kesedihan. Waktu itu aku merasa seperti kanak-kanak yang manja, kanak-kanak yang

telah berusia seperempat abad yang menangis, biarpun aku sadar juga bahwa air mataku

sudah kering untuk semuanya itu.

Kuangkat kepalaku, kulihat mukaku sendiri di kaca. Tapi yang dalam kaca itu

bukanlah wajahku. Wajah itu adalah wajah seorang jejaka tua berumur kira-kira tiga

puluh lima tahun dengan uban-uban di atas telinganya. Jejaka itu selama ini sudah amat

cemas menghadapi hidup dan terutama wanita. Tapi kemudian ia datang ke rumah

seorang gadis yang sudah jadi perawan tua pula dan ingin meminang gadis itu. Tapi

mereka bertengkar. Mereka bertengkar bukan dalam hal pertunangan atau perkawinan.

Mereka bertengkar pada soal-soal kecil yang tak pantas dipertengkarkan,

sehingga hampir saja lamarannya dikembalikan. Namun untuk suatu sukses tak penting

pada cara memulainya, tapi bagaimana cara mendapatkannya kemudian. Kemudian

ternyata lamarannya diterima oleh calon mertua dan gadis itu, dan kemudian diciumnya

tangan perawan tua itu berkali-kali.

Aku mendengar kembali bagaimana sambutan orang ramai bersorak-sorak atas

kemenangan jaka tua itu, Mereka adalah penonton-penonton suatu kehidupan.

Kini seharusnya aku melihat di kaca itu wajah berseri-seri dan jaka tua itu sebab

lamarannya telah diterima. Tapi tidaklah demikian, sebab wajahnya murung.

Kuhapus wajahku dengan handuk. Aku pergi mencuci muka dan rambutku dan

kembali ke kaca. Kini yang kelihatan di kaca itu bukan wajah jejaka tua itu tapi

wajahku sendiri yang baru berusia mendekati dua puluh empat tahun. Dan tiba-tiba, dari

sudut kaca itu kelihatan pintu kamar terbuka. Dua orang berdiri di pintu.

“He, kukira tak ada orang lagi di kamar rias ini,” kata yang perempuan.

“Lagi apa kau?” tanya yang lelaki.

“Engkau tampan,” pikirku. “Engkau lelaki tampan yang menjadi impian tiap-tiap

wanita.” Melewati kaca besar dihadapanku aku menyalam. Yang tampan mengangguk

senyum dan ketika senyum ia semakin tampan. Kukira ia mirip Glenn Ford kalau

tersenyum, dengan gigi yang tak ditunjukkannya itu. Dan yang di sebelahnya juga

tersenyum. Wajahnya tidak mirip siapa-siapa.

Wajahnya cuma satu itu di dunia ini. Setengah jam sebelum itu ia menjadi

seorang perawan tua yang dilamar oleh jejaka tua.

Mereka masih berdiri di pintu.

“Mari pulang bersama-sama.”

“Mengapa kau masih di situ? Kau sakit?” Gadis itu masuk. Ia membawa

bungkusan.

“Kami membawa oleh-oleh pisang goreng untuk mama. Biar mama senang,

sehabis aku main sandiwara ada oleh-oleh pembuka pintu.”

Lalu yang lelaki, yang tampan, berkata, “Kau mau pisang goreng?”

“Terima kasih.”

Mereka menjadi kaku dan kulihat sekilas di kaca yang lelaki memberi isyarat

agar ke luar dan yang gadis menerima isyarat itu setelah menepuk punggungku. Di luar

kudengar suara mereka, barangkali dia sakit.

Lalu kuingat pisang goreng itu. Kenapa tidak kuterima? Aku paling suka pada

pisang goreng, dan sewaktu latihan-latihan aku minta pada sutradara agar makanan

dalam istirahat latihan dibelikan pisang goreng. Biasanya aku berlatih agak malas tanpa

pisang goreng.

Lalu kuingat lagi pisang goreng itu. Tapi kini pisang goreng itu bukan sebagai

suatu jenis makanan kesukaanku dan enak dimakan. Aku ingat perkataan gadis itu,

“Pisang goreng itu sebagai pembuka pintu sehabis main sandiwara.”

Ingat pada pisang goreng, aku ingat kembali pada ibuku. Aku ingat bagaimana

aku mengintip lewat lubang kunci ibuku tertidur dengan kepala di atas meja menantikan

kami pulang. Ayah menjentik bahuku tanda aku boleh mengetuk pintu. Lalu kuketuk

pintu.

“Ma? Ma? Mam?” teriakku kecil. Lalu kuintip lagi lewat lubang kunci. Ibu

sudah berdiri dan membetulkan rambutnya.

Aku menoleh kepada ayah dan menunjukkan jempol jariku tanda keadaan tidak

berbahaya. Ayah selalu memperingatkan, kalau wajah ibu cemberut aku harus

menambahkan sebuah kalimat lagi.

“Aku membawa pisang goreng mam!”

Pintu pun terbuka dan kuberikan bungkusan pisang goreng.

Biasanya, ayah tidak berkata suatu apa lalu terus ke kamar mandi untuk mencuci

muka, membersihkan sisa-sisa coretan di mukanya.

Waktu ayah di kamar mandi, biasanya ibu bertanya, “Bagaimana main papa

tadi?” Aku biasanya berteriak girang, “Tentu, tentu hebat. Penonton-penonton

menjawer sapu tangan dan duit!”

Tapi malam aku pulang itu ibu tak bertanya. Namun aku tetap menceritakan

permainan ayah sebagai si Momba yang kejam adalah baik dan penonton-penonton

bertepuk riuh dan menjawerkan sapu tangan-sapu tangan dan duit dan orang-orang

melihat-lihat kepadaku.

“Mam, orang-orang ada yang tahu aku ini anaknya papa! Mereka memegangmegang

rambutku dan aku marah-marah seperti Momba!” Aku berharap ibu tertawa.

Tapi ibu tidak tertawa mendengar ceritaku dan aku menunjukkan pisau besar dari karton

yang berbacah-bacah darah gincu.

“Mereka itu semua tolol-tolol, Ma. Mereka menjerit-jerit. Perempuan-perempuan

menjerit-jerit dan menangis ketika papa menikamkan pisau ini ke perut Maharani yang

bunting itu. Perempuan-perempuan menangis-nangis melihat papa mengeluarkan orok

yang berdarah-darah dari perut Maharani yang bunting itu. Tapi aku ketawa-tawa,

Mam. Penonton-penonton itu bodoh-bodoh, ya Mam? Ya, Mam?”

Ibuku ketawa. Sangat mahal terasa ketawa itu. Aku melihat ayah muncul masih

membersihkan mukanya dengan handuk dan menyeret aku cepat-cepat kekamar.

Ayah berbisik, “Ibumu kenapa merengut?”

“Ibu ketawa. Bukan merengut, kok,” kataku.

Lalu aku ke luar kamar lagi sebab kamarku berada di sebelah kamar mereka.

Kulihat pisang goreng yang kami beli tadinya belum disentuh ibu. Ibu hanya duduk di

meja. Dari kamarku kuintip ibu sedang duduk saja. Kemudian kudengar ibu memanggil

nama ayah dan ayah keluar dan ayah duduk dan mereka berkata pelan-pelan dan tidak

kudengar percakapan mereka dan bila pun kudengar aku tak mengerti.

Malam itu aku susah untuk tidur. Barangkali mereka bertengkar. Barangkali

kami pulang terlalu larut dan ibu bosan dengan pisang goreng. Barangkali ibu marahmarah

pada ayah. Tapi ibu tak pernah marah pada ayah dan mereka tidak pernah

berkelahi seperti tetangga-tetangga kami. Waktu itu aku teringat pada si Bakar yang

selalu menyebut namanya dengan “Bakau” karena tidak bisa menyebutkan bunyi “r”.

Aku ingat bagaimana siang harinya aku dan Bakar menyelusuri kota kami. Di depan

gedung komidi tertulis.besar-besar huruf- huruf MAHARANI dan tertulis nama ayahku.

Di dekat pojok Bank Escompto ada lagi didirikan papan besar dengan huruf itu juga dan

tertulis juga nama ayahku.

Aku berkata bahwa warna hijau pada poster itu akulah yang mencatnya, disuruh

ayah. Dan aku juga berkata pada Bakar, huruf A dari nama ayahku itu aku yang

mencatnya.

Kami pergi lagi ke dekat lapangan sepakbola dan poster sebuah lagi ada di sana

dan aku tak berani mengatakan apa-apa. Sebab sekali aku pernah berbohong bahwa

poster itu sebagian besar aku yang membuatnya. Bohongku ketahuan dan aku terus saja

mengaku bahwa memang aku berbohong. Aku ingat lagi bagaimana aku berdiri soresore

di depan gedung komidi yang terletak di jantung kotaku, seakan-akan menyuruhnyuruh

agar orang membeli karcis dan seakan-akan hendak menyatakan bahwa

ayahkulah yang main sebagai Momba yang mengerikan dan akan kukatakan bahwa

ayahku pemain baik.

Bila layar terbuka dan penyanyi-penyanyi menyanyi aku menjadi gelisah. Aku

katakan pada orang di sebelahku, bahwa sehabis nyanyi “Hampir Malam Di Jogya”, itu

tandanya sandiwara akan mulai.

Sandiwara dimulai benar-benar setelah lagu “Hampir Malam Di Jogya” berakhir.

Aku tidak ingat lagi bagaimana cerita sandiwara itu. Yang kuingat adalah ayahku

bermain sebagai Momba yang kejam yang membunuh Maharani yang cantik. Ayah

mencabut pisaunya. Perempuan -perempuan menggumam ngeri dan aku berbisik

memberitahu, “Itu bukan pisau betul-betulan. Itu cuma karton!” Perempuan itu marahmarah.

Aku berdiri melihat ke belakang dan seakan-akan mengatakan itu pada penonton

di belakang dan akan mengatakan juga, bahwa yang memegang pisau karton itu adalah

ayahku. Pisau karton itu tiba-tiba menggelegar sebab tangan ayahku menggigil. Dan

ayahku berteriak dengan suara seperti hantu kubur, “Mahaaaaaraniii!” Penontonpenonton

ngeri dan gedung komidi menggumamkan suara penonton dan aku berdiri lagi

dan akan berteriak, kamu tolol semua.

Ayahku pura-pura marah itu! Ayahku berteriak lagi, “Mahaaaaaraniiii!” dan

kemudian tertawa besar menggetar, “Ha-ha-ha-ha-ha!” dan ayah berteriak, “Maharani”

lagi dan aku membalikkan tubuhku ke arah penonton belakang lagi dan akan

menenteramkan hati mereka yang ngeri dan menyatakan bahwa ayahku pura-pura dan

ayahku itu adalah ayahku!

Ayahku dengan rambut kusut masai macam hantu kemudian akan menikamkan

pisau karton itu ke perut Maharani yang bunting. Kemudian Maharani menjerit keraskeras

dan perempuan di sebelahku menutup mukanya dan aku berbisik, “Jangan takut,

perempuan itu cuma pura-pura.” Tapi perempuan di sebelahku tetap menutup mukanya.

Kulihat pisau karton itu seakan-akan menembus ke perut Maharani dan ayahku

tertawa keras-keras lagi ha-ha-ha, dan kemudian, ayah mengeluarkan orok dari perut

Maharani yang bergelimang darah. Aku akan mengatakan sesuatu sekarang. Aku berdiri

menghadap ke belakang. Aku akan mengatakan pada penonton-penonton yang

ketakutan dan menangis-nangis itu, bahwa orok itu bukanlah orok betul-betulan. Itu

adalah popi-popi si Aci. Si Aci adalah adikku. Itu bukan orok, itu popi dan popi bukan

orok. Kamu semuanya tolol-tolol.

“Aduh, seremnya,” kata seorang perempuan tua di belakangku.

“Tidak serem,” kataku membantah.

“Serem. Anak kecil sialan!”

“Itu bohong-bohongan saja!” kataku.

“Lihat darahnya!” kata perempuan tua itu.

“Itu bukan darah betul-betulan,” debatku. “Itu gincu saja. Itu gincu!”

Perempuan tua itu berdiri dan memegang leherku. Aku dimaki-makinya dalam

bahasa Lampung totok. Aku duduk sekarang.

Aku jengkel dan ingin mengumumkan lewat mikropon itu rasanya bahwa kalian

itu bodoh-bodoh semua. Biasanya di sekolah kuceritakan semua cerita bohong itu

kepada kawan-kawan sekelasku, atau kuceritakan di rumah pada adikku yang kecil,

tentang popinya yang menjelma jadi orok, kepada ibuku yang sudah bosan, kepada

siapa saja yang mau mendengar ceritaku.

Malam ini aku teringat lagi pada ibuku, terutama ibuku. Aku ingat sejak malam

beliau tak bergembira itu, ayah tak pernah main sandiwara lagi dan asyik dengan

permainan brigde.

Aku berdiri dan kulihat lagi wajahku di kaca. Jauh lain dari ia yang dulu, penuh

naf'su dan keberahian hidup. Aku ke luar dari kamar rias. Sepi gedung pertunjukan.

Penjaga gedung sedang menyapu. Aku ke luar gedung. Sepi jalan raya. Aku berjalan

menyelusuri Malioboro. Aku teringat pisau karton itu. Hanya pisau dari karton untuk

menyatakan peristiwa pura-pura saja.

Tapi mungkin bagi ibuku dulu pisau karton itu adalah pisau yang sebenarnya

buat beliau, aku tidak tahu benar. Aku waktu itu masih terlalu kanak-kanak untuk

mengetahui kesedihan ibuku, kesedihan banyak orang. Aku waktu berjalan itu tidak

peduli lagi apakah mereka tahu atau akan tahu, bahwa akulah yang bermain sebagai

jejaka tua dalam cerita Anton Chekov yang barusan beberapa jam lalu kuperankan.

Aku lalu ingat pada sebuah cerita pendek Anton Chekov tentang seorang suami

yang kematian istrinya, yang memuji-muji kejujuran istrinya sebagai perempuan setia,

tapi yang semasa hidupnya disebarkannya berita bahwa istrinya main mata dengan

kepala polisi di kota itu. Benih berita itu disebarkan si suami supaya orang-orang tidak

mengganggu istrinya yang cantik dan orang takut mengganggu bukan sebab dia, tapi

sebab orang-orang itu tentu akan takut pada kepala polisi itu.

Kubuka pintu kamar tempat aku memondok. Tidak ada seorang menunggu di

kamar. Ada sebuah patung seorang tua yang bongkok di atas mejaku. Ia memegang

tongkat. Patung itu kubeli di Bali dengan harga murah sekali, — setahun yang lalu. Di

belakang patung itu ada kertas-kertas bekasan beberapa cerita pendekku yang tak jadi.

Di belakang ada buku-buku pocket kumpulan cerita pendek atau novel atau roman dari

pengarang-pengarang besar. Mereka banyak menceritakan tentang perempuan, banyak

sekali.

Ketika kutaruhkan diriku di tempat tidur, tiba-tiba aku merasakan seakan-akan

aku telah punya istri yang tertidur disebelahku.

Seakan-akan kudengar kata-kata, “Betapa pun, jagalah kesehatan engkau.”

Aku tidak malu, bahwa memang aku pernah punya angan-angan demikian.

TAMAT

Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Lima Belas Tahun Tidak Lama

Kota kami telah hampir berusia setengah abad, dan hampir saja hanyut karena

kecelakaan gunung berapi. Beberapa tahun belakangan ini orang-orang sudah tidak lagi

memikirkan apakah bahaya itu akan datang lagi, sehingga orang-orang sudah tidak

memikirkan soal waktu. Kota itu terbentang di pinggir pantai, dengan sebuah jalan

panjang sembilan kilometer ke arah barat laut, dan tepat di pintu kota ada sebuah kantor

bank. Orang-orang pegawai bank tidak memikirkan waktu, mereka banyak berhubungan

dengan angka-angka. Di sebelah bank itu ada sebuah restoran Cina dan orang-orang

Cina itu juga tidak memikirkan waktu. Belakangan mereka malah kesusahan, karena

pemeliharaan babi kurang memuaskan, sebab banyak orang-orang Islam yang jadi

tukang gembala babi-babi itu diganggu keamanannya oleh penduduk sekitarnya.

Di sebelah restoran Cina itu ada sebuah toko kecil, toko sepatu, di mana banyak

sepatu-sepatu. Sepatu-sepatu itu dikerjakan oleh tukang-tukang sepatu dan mereka

berjumlah enam orang. yang termuda dari tukang-tukang sepatu ini berumur dua belas

tahun, tidak perlu disebutkan namanya, karena lebih penting apa yang menyebabkan ia

menjadi tukang sepatu. Ia menjadi tukang sepatu karena hendak memberi makan lima

orang adik-adiknya, hendak membantu penghasilan ibunya yang bekerja sebagai tukang

cuci.

Ia adalah yang paling pendiam. Yang tertua dari tukang-tukang sepatu itu adalah

seorang lelaki, yang mengabdikan pikirannya dan anggota-anggota badannya untuk

membuat sepatu-sepatu yang baik. Dari keenam pekerja itu, dia inilah yang paling

banyak ditegur oleh majikannya, karena ia tidak cepat bekerja, karena ia membuat

sepatu-sepatu itu sebaik-baiknya. Pemilik toko sepatu itu tidak memikirkan membikin

sepatu yang kuat dan baik lebih menguntungkan. Ia lebih banyak memikirkan

bagaimana bisa menghasilkan sepatu sebanyak-banyaknya, tidak peduli jahitan atau

lim-lim sepatu itu akan berumur tiga bulan saja.

Tukang sepatu yang tertua ini, yang tertua karena dialah yang telah berumur dua

puluh lima di antara kelima orang yang lain, juga sangat pendiam, dan sangat tidak

penting untuk menyebutkan namanya. Dia memikirkan sepatu dan waktu. Yang juga

banyak dipikirkannya adalah wajahnya yang buruk itu, bekas-bekas cacar waktu zaman

Jepang. Dia juga merupakan seorang pendiam. Dia pendiam karena panggilan keadaan.

Suatu kali ia berkata, “Kapan kau akan kawin?”

“Kawin? Aku tidak memikirkan hal itu.”

“Apakah selamanya kau tidak akan kawin?”

“Barangkali begitu. Aku tidak punya alis mata.”

“Gila kau!”

“Jangan ganggu aku. Aku sedang melihat sepasang suami-istri yang sedang

berbelanja itu.”

Dia sedang melihat sepasang suami-istri yang sedang berbelanja, jauh di

seberang jalan. Saat itu dia tak mau berkata pada dirinya sendiri lagi. Tapi hatinya

mengusik-usiknya lagi dan bertanya,

“Kau tidak ingin kawin seperti mereka?”

“Jangan ganggu aku. Aku sedang memperhatikan sepasang suami istri yang

sedang berbelanja itu. Mereka sedang berbantah agaknya. Mereka sedang berembuk

barangkali. Mereka mempunyai apa yang aku sendiri tidak punya.”

Itu bukanlah yang pertama kali tukang sepatu itu berbantah-bantahan dan

bersoal-jawab. Dia berbantah-bantah dan bersoal jawab dengan dirinya.

Pandangannya, melewati kaca pajangan toko ke arah sana terganggu karena ada

seorang perempuan sedang menggendong anaknya dan seorang anak perempuan kecil

dengan rambutnya dikelabang. Antara anak perempuan itu dan ibunya agaknya terjadi

percakapan. Kelihatan anak perempuan itu merengek-rengek menunjuk-nunjuk ke

sebuah sepatu kecil.

“Bu, belikan yang itu, Bu.”

“Sssh, sshh.”

“Bu, belikan, Bu. Semua anak-anak di kelas pakai sepatu.”

“Biarkan mereka semua mereka pakai sepatu.”

“Tapi aku ingin juga seperti mereka.”

Aku ingin seperti mereka, barangkali itulah yang dikatakan anak perempuan

kecil itu. Tukang sepatu itu sebenarnya tidak mendengar percakapan ibu dan anak itu.

Perdebatan mereka berdua antara ibu dan anak itu tidak ada. Tukang sepatu itu hanya

melihat mata anak perempuan kecil itu menatapi sepatu kecil, dan sebelah tangannya

menarik-narik baju ibunya. Mereka: ibu dan anak, tidak berkata-kata. Kedua mereka

tenggelam oleh lautan kata-kata, sehingga keduanya tidak bisa berkata lagi sebab sudah

lama tenggelam.

Tapi dia itu, seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun, tampak sekali

dalam matanya yang hitam bilam itu, menginginkan sepatu. Memang, sepatu yang satu

itu kecil dan bagus, dibuat oleh tangan yang mengabdikan dirinya untuk kebagusan.

Sepatu itu dibikin oleh tukang sepatu itu. Anak itu ingin seperti anak-anak yang

lain, punya sepatu. Dan tukang sepatu itu ingin seperti orang-orang muda yang lain,

punya wajah yang tidak buruk karena cacar, punya keinginan yang besar untuk kawin.

Tukang sepatu itu melihat anak kecil itu meneguk air liurnya. Air liur itu lewat di

lehernya yang kecil, masuk di usus-ususnya yang kecil. Tukang sepatu itu tidak bisa

melupakan wajah anak kecil itu, karena ia melihatnya dengan teliti. Ia tidak akan lupa

dengan mata hitam bilam itu. Lalu tukang sepatu itu berjanji, suatu waktu ia akan

memberikan sepasang sepatu untuk anak itu.

Pikirannya segera berkacau. Tukang sepatu itu tiba-tiba ingin menjadi pencuri. Ia

ingin menjadi pencuri dari sepatu yang dibuatnya sendiri.

Kini dipandangnya sepatu kecil itu. Sepatu itu memang kecil. Dan tangannya

menjamah. Alangkah bagus, alangkah bagus sepatu yang kubuat. Alangkah cantik,

alangkah cantik bila anak perempuan kecil itu memakai sepatu kecil ini. Tangan tukang

sepatu itu memegang sepatu itu. Ketika matanya berpaling sekeliling, anak perempuan

itu, juga ibunya, juga bayi yang sedang digendong ibunya, tidak ada lagi dibalik kaca

pajangan itu.

“Apa kerjamu?” bahunya ditepuk oleh majikan tokonya.

Ketika matanya bersua dengan mata majikannya, ia merasa malu. Tapi ia diam

saja, sambil menaruh kembali sepatu dipajangannya.

Sejak itu, tukang sepatu itu merasa ada seorang yang senasib dengan dia. Tiap ia

pulang dari kerja jam enam sore, ia bertemu dengan anak perempuan itu, sedang berdiri

di depan toko lain, berdiri melihat sepatu-sepatu. Tentu yang dilihatnya sepatu-sepatu

kecil.

Tapi ia melihat kejadian itu bukan tahun itu saja. Tiap tahun, menjelang lebaran,

ia melihat anak itu sering-sering berdiri-diri di depan toko-toko sepatu. Tukang sepatu

itu makin kenal baik-baik dengan wajah anak perempuan itu, terutama pada bentuk

mata-nya yang hitam bilam itu.

Kota kami adalah kota yang subur dengan angan-angan. Ketika kota itu sepertiga

tubuhnya hancur dibom oleh Belanda, penduduknya berangan-angan akan

membangunnya kembali menjadi sebuah kota yang baik. Walikota kami adalah

walikota yang dicintai rakyatnya, karena ia telah merubah kota itu sedemikian rupa,

sehingga dalam tempo lima belas tahun kota itu seakan-akan bertukar rupa. Cuma

sebuah tugu kemerdekaan yang tidak ditukar oleh arsitek-arsitek itu.

Tukang sepatu itu masih menjadi tukang sepatu. Tapi ia bukan saja menjadi

tukang sepatunya, juga pemilik toko sepatu. Ia menyuruh anak buahnya, tukang-tukang

sepatu yang lain, membikin sepatu-sepatu yang terbaik. Anak-anak buahnya, membikin

sepatu-sepatu terbaik, sebab pemilik toko mereka telah membikin contoh, bagaimana

membuat sepatu yang sebaik-baiknya.

Kalau sore hari, toko-toko itu terang oleh lampu-lampu neon. Banyak orang

berbelanja dan banyak juga yang tidak berbelanja.

Bagi tukang sepatu yang mukanya capuk-capuk cacar itu, tidak menjadi soal

apakah orang berbelanja atau tidak berbelanja.

Memang, kebanyakan pemilik-pemilik toko agak kurang senang hati terhadap

orang-orang yang ke luar-masuk toko dengan tidak ada kepentingan berbelanja kecuali

melihat-lihat saja.

Pemilik toko itu, yang masih juga bekerja sebagai buruh dirinya sendiri,

sebenarnya belum berapa tua, biarpun ia merasa dirinya sudah tua. Orang yang belum

kawin pada umumnya suka mengira dirinya semakin tua dari umurnya yang sebenarnya.

Mereka seakan-akan bermusuh dengan waktu.

Ia melihat gadis-gadis yang masuk. Ada banyak gadis-gadis yang masuk, dan ia

mendengar dan melihat bagaimana cara kebanyakan gadis-gadis itu memilih. Gadisgadis

umumnya suka memilih dan meniru. Ia ingin memiliki yang pernah dimiliki orang

lain, kalau tidak persis benar, bahkan kepingin melebihi. Gadis-gadis suka bertanding

memang.

“Berapa harga sepatu itu?” tanya seorang gadis.

“Dua ratus lima puluh,” jawab tukang sepatu pemilik toko itu.

“Oh,” kata gadis itu. Sebenarnya ia akan mengucapkan kata-kata, “Oh mahal

sekali, tidak terbeli olehku.”

Ucapan “oh” itu menarik perhatian gadis-gadis di sebelahnya, sehingga mata

gadis-gadis itu sama menunduk, melihat ke kaki gadis-gadis itu. Mulanya maksud

mereka memang tidak melihat ke arah sepatu gadis yang dilihatnya, mereka sebenarnya

mau melihat betis gadis itu. Jadi, tidak benarlah juga anggapan umum, hanya anak-anak

bujanglah yang suka memperhatikan betis gadis.

Gadis-gadis juga menyukainya, untuk ditandingi dengan betisnya sendiri.

Pemilik toko sepatu itu kini terbawa. Ia melihat ke kaki gadis itu. Tidak ada

sepatu melekat di kakinya. Pemilik toko itu mengangkat kepalanya. Ia melihat

wajahnya. Ia melihat matanya. Mata itu seakan-akan kekal dalam ingatannya. Waktu

lima belas tahun seakan-akan tidak menjadi soal buatnya untuk mengenang.

Anak itu masih tidak bersepatu.

Anak itu telah menjadi seorang gadis berusia dua puluh tahun.

Ketika gadis itu cepat-cepat ke luar dari toko, pemilik toko mengikutinya. Ia

mengikuti terus seperti orang tidak waras, sampai ke rumahnya. Di rumah itu ia bertemu

dengan ibunya.

Adiknya yang dulu digendong kini sudah besar.

Lalu ia melamar anak gadis itu kepada ibunya. Ibunya mentertawakan, sebab

anak gadisnya separuh dari usianya. Lalu ia merasa sedih. Sedih sekali dan kembali ke

tokonya.

Ia telah berada di toko.

Memang ia berada di toko sejak tadi. Ia tidak pergi. Angan-angannyalah yang

pergi mengikuti gadis itu, dan angan-angannyalah yang menemui ibunya dan anganangannyalah

yang menolak dirinya sendiri dengan lamarannya.

Tapi, demi malunya yang besar terhadap dirinya sendiri itu, ia berjanji pada

dirinya sendiri untuk benar-benar melaksanakan angan-angannya itu. Di saat main yang

paling hebat, terutama malu pada diri sendiri, seorang manusia menjadi sangat berani.

Tukang sepatu itu, yang kini telah memiliki toko sepatu itu, suatu ketika

didatangi keberanian yang hebat, dan dia pergi ke rumah perawan itu dan benar-benar

melamarnya pada ibu anak perawan itu.

“Saya telah mengenal anak ibu selama lima belas tahun,” katanya untuk pertama

kali.

Ada dua jam ia di rumah itu. Dan pada saat akan pulang, ia berkata, “Terima

kasih Bu. Besok saya datang lagi.”

Dan ketika ia berdiri di pekarangan, ia berkata lagi dengan sangat terharu sebab

gembira, “Terima kasih, Bu.”

Pada waktu itu ia tidak pernah berpikir, bahwa ia telah berusia empat puluh

tahun.Yang dipikirnya ketika itu ialah, akhirnya ia suatu waktu bisa juga menjadi

seorang suami.

Di simpang jalan, ia hampir saja ditabrak mobil.

“Terima kasih!” katanya pada sopir yang tidak jadi menabraknya itu.

TAMAT

0 Response to "Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia""

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified