Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Kepak Sayap Pena

Muttaqwiati

Kupunguti asam-asam yang berjatuhan diterpa angina. Lumayan… walaupun semuanya hanya lima belas biji. Perlahan asam itu kukupas, kutaruh di tampah, dan kujemur diterik matahari. Setiap hari aku mengumpulkannya. Kupikir tak ada salahnya. Per kilo bisa laku Rp 2.500,00. Yah, bias buat Belanja sehari.
“Mi, ada tamu,” teriak anak pertamaku yang berusia empat tahun.
Segera kutinggalkan rimbun pohon asam. Kucuci kaki yang belepotan lumpur.
“Subhanallah…! Ibu-ibu…?” hatiku gembira tak terkira. Sungguh tak menyangka mereka bertandang ke sini. Ya, sejak kedatanganku di kampong ini, sebuah kampong di Jawa Tengah, aku memang sudah berkunjung ke
rumah tetangga. Memang, suamiku bukanlah orang Asing di kampong ini. Beliau lahir dan besar disini. Namun sudah lama sekali ia meninggalkan kampong, yakni sejak kuliah di Jakarta dan menikah denganku. Hanya sesekali saja suamiku berkunjung dan berlibur disini, di rumah orang tuanya. Beber apa waktu lalu kami pulang. Rencananya kami akan menempati rumah Bapak dan Ibu. Tapi… sungguh tak menyangka, rumah itu ternyata menjadi sengketa. Akhirnya kami harus menempati rumah berukuran 6 X 2,5 meter dan mengurus kebun yang tidak terlalu luas. Untuk membangun rumah di kebun itu biayanya terlalu mahal. Masih harus diuruk segala.
“Bu, kok bengong …?” salah seorang tamu menepuk pundakku.
Aku tersenyum. “Wah … mau ditaruh dimana, nih, kita?” seorang Ibu berperawakan seksi dengan dandanan menor berkata sinis. Belakangan baru aku tahu namanya Bu Retno. Lagi-lagi aku tersenyum. Untunglah di depan rumah masih ada teras sedikit. Disitu kutaruh kursi- kursi dan meja bamboo.
“Mari silakan duduk, Ibu-ibu …”
“Ooo …, disini, to, ruang tamunya.”
“Ssst … jangan gitu, to, Bu.” Seorang tamu setengan berbisik sembari menyikut perut Bu Retno.
“Lha, memang iya.”
Setelah berbincang-bincang sebentar, aku ke dalam membuatkan minuman. Kulihat bu Retno melongok-longok ke dalam rumah.
“Alah … sok amat. Lihat, tuh… ada kulkas, magic jar, computer. Orang miskin saja. Lihat, apa pantas rumah sesempit ini dipenuhi barang mewah? Tapi aduh…kasihan. Dipandangnya jadi satu dengan barang-barang itu. Sumpek !” Bu Retno mulai lagi.
Kusabar-sabarkan hatiku. Dengan tenang aku keluar membawa nampan berisi minuman.
“Ngomong-ngomong, Suami kena Phk kok pulang kampong? Duh kasihan…!”
“Bu Retno…” teman- teman mengingatkan.
“Lha, nanya nggak boleh, to? Sekarang ini Negara sedang gonjang-ganjing, ibu-ibu. Perekonomian bangsa lagi semrawut. Orang-orang yang tidak professional kerjanya yang tidak kualiviet harus out. Adik saya yang jadi direktur ASTRA juga bilang, karyawannya banyak yang kena PHK. Kasihan Bu Umaimah ini, ya?”
Pedih juga mendengar omongan perempuan bergincu itu, tapi aku harus sabar.
“Sejak kapan kena PHK-nya, BU?”
“Kami memang sengaja pulang ke sini bu, untuk menjadi penerus Bapak mengurusi masjid disini. Bukan karena PHK.”
Bu Retno diam dan langsung mengajak yang lain pamit.
*****

Jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku padamu. Namun jika kamu ingkar, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
Kututup terjemah Al-Qur ’an dan kutatap mas Hilal yang mendengarkan dihadapanku. Beliau tersenyum.
“Mas kenapa tiap malam kita membaca surat ibrahim ayat 17 ini ?”
“Bosan, ya?”
“Nggak. Bukan begitu mas.”
“Lantas?”
“Mengapa mas seperti punya perhatian khusus terhadap ayat ini ?”
“Apa yang kau rasakan ketika membaca surat itu?”
“Semangat untuk bersyukur.”
“Itulah yang mas harapkan. Dalam keadaan apapun kita harus punya semangat untuk bersyukur.”
“Walau dalam rumah semungil ini dan pendapatan yang seperti sekarang ini …”
Mas Hilal menjentik hidungku.
“Tapi bagaimana dengan sikap para Tetangga yang …”
“Ssst… jangan diteruskan, sayang. Adapun dengan Tetangga yang ummu ceritakan, kita harus
bersabar.”
Kubarungkan kepalaku di pangkuan mas Hilal.
“Punyailah semangat burung Hud-Hud, saying. Semangat yang berlapis-lapis membuat ia mampu terbang dari Negeri Yaman ke negeri Putri Balqis di Saba’. Tanpa semangat, tujuan yang kita cita-citakan atas kepulangan kita ini, kita akan mudah luruh terterpa godaan.”
Kucerna kata-kata mas Hilal. Dan itu memang benar. Dakwah penuh rintangan. Tanpa semangat dan kesabaran, semua akan berhenti di tengan jalan.
“Eh, mas… gimana hasil keliling tadi?” kini aku duduk serius, mengalihkan pembicaraan.
Mas Hilal tersenyum lagi. Benar-benar Suami full smile. “Tadi mas turun di terminal, terus jalan lebih kurang setengah kilometer. Ada wartel, mas tawarkan minyak wangi itu, tapi… nggak mau. Lantas mas jalan lagi sekitar tiga kilometer. Ada wartel lagi, tapi disitu juga menolak. Mas jadi mikir-mikir untuk pulang, Dik. Eh, baru jalan sekitar seratus meter, ada koperasi. Mas Hilal belok ke situ. Alhamdulillah… minyak wangi kita bias dititipkan. Bahkan penjaganya memberi Uang muka Rp 10.000,00. mas jadi semangat untuk jalan lagi, siapa tahu ada yang mau lagi. Dengan semangat membara, mas jalan lagi dua kilometer. Tapi tak ada satu pun yang mau dititipi.”
Aku menitikkan air mata.
“Lho, kok nangis?”
“Sabar, ya, mas? Jangan putus asa dalam berusaha. Yang penting mas Hilal terus berusaha dan
memberi kami hanya yang halal saja.”
Mas Hilal memelukku.
“Anak-anak sudah makan?”
“Sudah, mas. Tadi saya bikinkan bubur untuk mereka.”
“Hampir tiap hari bubur, Dik?”
kutatap suamiku. “Biar cukup berasnya.”
“Sabar, ya, dik. Kuatkan kesabarannya.”
Tok… tok… tok…
Seorang mengetuk pintu. Aku agak terkejut. Bu Retno. Tumben. Ada apa ya? Dengen serenteng rantang? Dengan senyum yang dibuat-buat ia mengawasi seisi rumah.
“Ini, Bu Umai, ada makanan dari saya. Kebetulan tadi saya memotong kambing. saya yakin Bu Umai sudah lama nggak makan daging. Saya maklum, namanya Suami masih pengangguran. Ini juga ada nasi. Saya ini lho bu …”
“Masuk… masuk dulu, bu Retno.”
“Terima kasih. Nggak enak sama pak Hilal. Oya, saya ini lho bu… jadi orang kok nggak bisaan melihat orang lain menderita. Sifat saya ini memang pengiba, suka menolong.”
Aku mulai risih mendengarkannya.
“Saya mendengar anak-anak Ibu menangis. Tiap hari makannya kok bubur. Lha, saya tiap hari nasi kebuang- buang, bu. Daripada ayam saya yang gemuk mendingan …” ingin rasanya membungkam mulut bergincu tebal itu.
“Memang nggak enak, bu, kalau Suami nganggur, luntang-lantung. Sumpek di Hati perempuan-perempuan seperti kita. Tapi …”
“Maaf, bu Retno, saya ganti dulu tempatnya,” potongku untuk menyudahi omongannya yang nggak juga mau berhenti.
“Ah, nggak usah diganti sekarang, bu. Besok-besok juga nggak apa-apa. Nggak usah repot-repot membalas mengisi rantang, bu. Saya jadi orang sangat pengertian. Kasihan kalau bu Umai bingung cari utangan ke sana kemari. Saya sangat paham kalau bu Umai lagi susah.”
Duh, baru kali ini punya Tetangga macam dia.
“Mama… mama…!” seorang bocah tujuh tahun berlari-lari.
“Ma, ada tamu.”
Wuih… lega hatiku. Alhamdulillah, ia akan segera berlalu.
“Saya pulang dulu, bu Umai…”
Aku masuk rumah. Kuletakkan rantang itu diatas damper, seperti bangku, berukkuran 1 X 1,5 meter. Di damper itu pula aku biasa ngobrol santai dan bercanda dengan suami. Di damper itu pula kami shalat bergantian, karena tak cukup untuk shalat berjamaah. Di damper itu aku menyetrika, di damper itu berbagai aktivitas kulakukan.
“Lho… kok dibiarkan saja, dik? Makan gih…! Kau tentu sangat lapar.”
Aku diam saja.
“Ayo, dik…! Kok malah diam?”
Aku menggeleng.
“Kenapa?”
“Nggak tega makannya, mas.”
“Kenapa?”
Aku menangis.
“Kok malah nangis?” mas Hilal membelai kepalaku.
Aku makin tersendu. “Kok ada Tetangga seperti itu ya mas? Mana mungkin aku bisa menelan makanan yang pemberianya disertai pembicaraan menyakkitkan hati?”
“Sabar, dik…! Dia objek dakwah kita. Di tangan adiklah kita berharap orang seperti dia bias berubah.”
Mas Hilal mengambil piring dan sendok. Dituangkannya nasi dan gulai kambing.
“Makan, dik…”
Aku menggeleng.
Mas Hilal mengambil sesendok dan disuapkannya padaku. “Ayo…”
Aku tetap menggeleng. Melihat makanan itu saja rasanya pingin muntah.
“Dik, nggak boleh begitu. Rezeki itu siapapun, dari manapun, dan lewat siapapun hakikatnya dari
Allah. Bukankah begitu dalam wirid Al-Ma’tsurat yang selalu kit abaca?” kutatap mas Hilal.
“Jangan marahi rezeki Allah. Jika kau marah sama yang kebetulan menjadi perantara sampainya rezeki kita, sama artinya dengan …” Mas Hilal menatapki. “Yuk…”
Kini aku mengangguk, tersenyum. “Anak-anak dibangunkan mas ?”
“Jangan, kasihan. Kita sisakan saja buat mereka besok.”
Dengan rasa syukur, kusentuh nasi itu. Sudah beberapa hari tidak ada nasi singgah di perutku. Juga gulai kambing itu. Hmm…. Alhamdulillah, nikmat rasanya.
****
Angin sore semilir. Rerimbunan pohon asam bergoyang diterpa angina. Buahnya berjatuhan. Kupungut satu per satu.

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum-hukum) Taurat, Injil, dan (Al-
Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapatkan
makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (QS Al-Maidah : 66)
“Alhamdulillah..!”

Anginnya makin kencang. Buah asam makin banyak berjatuhan.
“Subhanallah…berkat Allah.”
Dengan semangat aku terus memungutinya. Kudengar anak-anak kutilang bercicitan. Aku berhenti dan mendongak ke atas. “Kalian tentu kelaparan. Sayang, aku tidak punya pisang atau sisa nasi untuk menyuapimu. Tapi aku yakin, sebentar lagi indukmu akan dating dengan membawa makanan.”
Kembali kupunguti buah-buah asam.
“Bu Umai, ada surat nih…”
Aku terkejut. Tiba- tiba bu Retno sudah berada didekatku.
“Sebel, tuh, sama Pak Pos. Masak nggak bias membedakan rumah nomor lima dengan nomor enam? Makannya, to, bu… rumahnya jangan terlalu nyempil. Kalau begini, kan saya yang repot. Memangnya saya tukang antar surat? Benar-benar menyebalkan. Rumah tembok sama rumah gedek kok disamakan. Lha mbok nanya dulu ke orang-orang. Semua juga tahu nomor lima itu siapa dan nomor enam itu siapa. Wong bedanya seperti bumi dan langit.”
Aku segera membuka surat itu. Tak kupedulikan ocehan bu Retno.
“Subhanallah…! Alhamdulillah…!” kudekap surat itu. Andai tanah yang kuinjak ini tidak basah, aku sudah sujud menyatakan syukur.
Bu Retno terbengong- bengong. Aku tak peduli.
“Kenapa, bu Umai ? Kok nangis ? Ditagih utang ? Tenanglah, bu… bu Retno, juragan batik ini, masih bisa membantu. Utangnya berapa sih ? Bu Umai bisa utang saya dulu untuk membayarnya. Perkara mengembalikan itu urusan belakangan. Orang-orang disekitar sini semua ngutang sama saya. Yang penting …,”Bu Retno tertawa kecil, “Yang penting bunganya disepakati. Saya memang nggak bisa membuat orang lain bersedih.”
Kutatap bu Retno.
“Kok menatap saya begitu, bu? Kalau bu Umai tidak percaya, bisa tanya ke semua warga disini. Saya, bu Retno, tidak main-main. Mau utang berapa?”
Aku masih menggeleng dan mendekap surat itu penuh syukur.
“Sudahlah, bu Umai. Untuk Ibu akan saya beri bunga lebih ringan dari orang-orang.”
“Terima kasih bu. Saya tidak butuh utangan. Apalagi… maaf, dengan cara riba seperti itu.”
“Alaaaa…..sok. mana ada orang mau kasih utangan tanpa bunga? Kalau kepepet, jangan panggil bu Retno.”
Kuusap air mata yang belum kering.
“Saya ini sebagai Tetangga ingin membantu meringankan beban Ibu daripada nangis karena ditagih utang sana sini.”
“Bu, saya menangis bukan karena itu.”
Bu Retno menatapku sinis.
“Saya bersyukur karena ada penerbit yang bersedia mebukukan tulisan-tulisan saya.”
Bu Retno melongo seolah tak percaya. Ocehannya langsung berhenti dan ia segera pamit pulang. Kutengadahkan wajahku ke langit. Kutemukan berbagai kenikmatan dan berkah disana.
“Alhamdulillah, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Anak-anak kutilang bercicit ramai. Subhanallah… mereka berebut makanan. Induknya mengepak-ngepakkan sayapnya yang mungil, persis saat kulihat ia terbang pagi tadi. Aku tersenyum menikmati rasa indah seperti rasa burung-burung itu.
Ah, akan kukepakkan sayap penaku, terbang menjelajahi penjuru angkasa. Tak henti-hentinya aku bersyukur atas karunia allah yang baru saja terulur.“
Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”(HR At Tirmudzi)
ibu, buku, tetangga, suami, phk, kampung, belanja, uang, hati, perasaan, asing, jakarta, daerahKepak Sayap Pena – MuttaqwiatiKupunguti asam-asam yang berjatuhan diterpa angina. Lumayan… walaupun semuanya hanya lima belas biji. Perlahan asam itu kukupas, kutaruh di tampah, dan kujemur diterik matahari. Setiap hari aku mengumpulkannya. Kupikir tak ada salahnya. Per kilo bisa laku Rp 2.500,00. Yah, bias buat Belanja sehari.
“Mi, ada tamu,” teriak anak pertamaku yang berusia empat tahun.
Segera kutinggalkan rimbun pohon asam. Kucuci kaki yang belepotan lumpur.
“Subhanallah…! Ibu-ibu…?” hatiku gembira tak terkira. Sungguh tak menyangka mereka bertandang ke sini. Ya, sejak kedatanganku di kampong ini, sebuah kampong di Jawa Tengah, aku memang sudah berkunjung ke
rumah tetangga. Memang, suamiku bukanlah orang Asing di kampong ini. Beliau lahir dan besar disini. Namun sudah lama sekali ia meninggalkan kampong, yakni sejak kuliah di Jakarta dan menikah denganku. Hanya sesekali saja suamiku berkunjung dan berlibur disini, di rumah orang tuanya. Beber apa waktu lalu kami pulang. Rencananya kami akan menempati rumah Bapak dan Ibu. Tapi… sungguh tak menyangka, rumah itu ternyata menjadi sengketa. Akhirnya kami harus menempati rumah berukuran 6 X 2,5 meter dan mengurus kebun yang tidak terlalu luas. Untuk membangun rumah di kebun itu biayanya terlalu mahal. Masih harus diuruk segala.
“Bu, kok bengong …?” salah seorang tamu menepuk pundakku.
Aku tersenyum. “Wah … mau ditaruh dimana, nih, kita?” seorang Ibu berperawakan seksi dengan dandanan menor berkata sinis. Belakangan baru aku tahu namanya Bu Retno. Lagi-lagi aku tersenyum. Untunglah di depan rumah masih ada teras sedikit. Disitu kutaruh kursi- kursi dan meja bamboo.
“Mari silakan duduk, Ibu-ibu …”
“Ooo …, disini, to, ruang tamunya.”
“Ssst … jangan gitu, to, Bu.” Seorang tamu setengan berbisik sembari menyikut perut Bu Retno.
“Lha, memang iya.”
Setelah berbincang-bincang sebentar, aku ke dalam membuatkan minuman. Kulihat bu Retno melongok-longok ke dalam rumah.
“Alah … sok amat. Lihat, tuh… ada kulkas, magic jar, computer. Orang miskin saja. Lihat, apa pantas rumah sesempit ini dipenuhi barang mewah? Tapi aduh…kasihan. Dipandangnya jadi satu dengan barang-barang itu. Sumpek !” Bu Retno mulai lagi.
Kusabar-sabarkan hatiku. Dengan tenang aku keluar membawa nampan berisi minuman.
“Ngomong-ngomong, Suami kena Phk kok pulang kampong? Duh kasihan…!”
“Bu Retno…” teman- teman mengingatkan.
“Lha, nanya nggak boleh, to? Sekarang ini Negara sedang gonjang-ganjing, ibu-ibu. Perekonomian bangsa lagi semrawut. Orang-orang yang tidak professional kerjanya yang tidak kualiviet harus out. Adik saya yang jadi direktur ASTRA juga bilang, karyawannya banyak yang kena PHK. Kasihan Bu Umaimah ini, ya?”
Pedih juga mendengar omongan perempuan bergincu itu, tapi aku harus sabar.
“Sejak kapan kena PHK-nya, BU?”
“Kami memang sengaja pulang ke sini bu, untuk menjadi penerus Bapak mengurusi masjid disini. Bukan karena PHK.”
Bu Retno diam dan langsung mengajak yang lain pamit.
*****

Jika kamu bersyukur, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku padamu. Namun jika kamu ingkar, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
Kututup terjemah Al-Qur ’an dan kutatap mas Hilal yang mendengarkan dihadapanku. Beliau tersenyum.
“Mas kenapa tiap malam kita membaca surat ibrahim ayat 17 ini ?”
“Bosan, ya?”
“Nggak. Bukan begitu mas.”
“Lantas?”
“Mengapa mas seperti punya perhatian khusus terhadap ayat ini ?”
“Apa yang kau rasakan ketika membaca surat itu?”
“Semangat untuk bersyukur.”
“Itulah yang mas harapkan. Dalam keadaan apapun kita harus punya semangat untuk bersyukur.”
“Walau dalam rumah semungil ini dan pendapatan yang seperti sekarang ini …”
Mas Hilal menjentik hidungku.
“Tapi bagaimana dengan sikap para Tetangga yang …”
“Ssst… jangan diteruskan, sayang. Adapun dengan Tetangga yang ummu ceritakan, kita harus
bersabar.”
Kubarungkan kepalaku di pangkuan mas Hilal.
“Punyailah semangat burung Hud-Hud, saying. Semangat yang berlapis-lapis membuat ia mampu terbang dari Negeri Yaman ke negeri Putri Balqis di Saba’. Tanpa semangat, tujuan yang kita cita-citakan atas kepulangan kita ini, kita akan mudah luruh terterpa godaan.”
Kucerna kata-kata mas Hilal. Dan itu memang benar. Dakwah penuh rintangan. Tanpa semangat dan kesabaran, semua akan berhenti di tengan jalan.
“Eh, mas… gimana hasil keliling tadi?” kini aku duduk serius, mengalihkan pembicaraan.
Mas Hilal tersenyum lagi. Benar-benar Suami full smile. “Tadi mas turun di terminal, terus jalan lebih kurang setengah kilometer. Ada wartel, mas tawarkan minyak wangi itu, tapi… nggak mau. Lantas mas jalan lagi sekitar tiga kilometer. Ada wartel lagi, tapi disitu juga menolak. Mas jadi mikir-mikir untuk pulang, Dik. Eh, baru jalan sekitar seratus meter, ada koperasi. Mas Hilal belok ke situ. Alhamdulillah… minyak wangi kita bias dititipkan. Bahkan penjaganya memberi Uang muka Rp 10.000,00. mas jadi semangat untuk jalan lagi, siapa tahu ada yang mau lagi. Dengan semangat membara, mas jalan lagi dua kilometer. Tapi tak ada satu pun yang mau dititipi.”
Aku menitikkan air mata.
“Lho, kok nangis?”
“Sabar, ya, mas? Jangan putus asa dalam berusaha. Yang penting mas Hilal terus berusaha dan
memberi kami hanya yang halal saja.”
Mas Hilal memelukku.
“Anak-anak sudah makan?”
“Sudah, mas. Tadi saya bikinkan bubur untuk mereka.”
“Hampir tiap hari bubur, Dik?”
kutatap suamiku. “Biar cukup berasnya.”
“Sabar, ya, dik. Kuatkan kesabarannya.”
Tok… tok… tok…
Seorang mengetuk pintu. Aku agak terkejut. Bu Retno. Tumben. Ada apa ya? Dengen serenteng rantang? Dengan senyum yang dibuat-buat ia mengawasi seisi rumah.
“Ini, Bu Umai, ada makanan dari saya. Kebetulan tadi saya memotong kambing. saya yakin Bu Umai sudah lama nggak makan daging. Saya maklum, namanya Suami masih pengangguran. Ini juga ada nasi. Saya ini lho bu …”
“Masuk… masuk dulu, bu Retno.”
“Terima kasih. Nggak enak sama pak Hilal. Oya, saya ini lho bu… jadi orang kok nggak bisaan melihat orang lain menderita. Sifat saya ini memang pengiba, suka menolong.”
Aku mulai risih mendengarkannya.
“Saya mendengar anak-anak Ibu menangis. Tiap hari makannya kok bubur. Lha, saya tiap hari nasi kebuang- buang, bu. Daripada ayam saya yang gemuk mendingan …” ingin rasanya membungkam mulut bergincu tebal itu.
“Memang nggak enak, bu, kalau Suami nganggur, luntang-lantung. Sumpek di Hati perempuan-perempuan seperti kita. Tapi …”
“Maaf, bu Retno, saya ganti dulu tempatnya,” potongku untuk menyudahi omongannya yang nggak juga mau berhenti.
“Ah, nggak usah diganti sekarang, bu. Besok-besok juga nggak apa-apa. Nggak usah repot-repot membalas mengisi rantang, bu. Saya jadi orang sangat pengertian. Kasihan kalau bu Umai bingung cari utangan ke sana kemari. Saya sangat paham kalau bu Umai lagi susah.”
Duh, baru kali ini punya Tetangga macam dia.
“Mama… mama…!” seorang bocah tujuh tahun berlari-lari.
“Ma, ada tamu.”
Wuih… lega hatiku. Alhamdulillah, ia akan segera berlalu.
“Saya pulang dulu, bu Umai…”
Aku masuk rumah. Kuletakkan rantang itu diatas damper, seperti bangku, berukkuran 1 X 1,5 meter. Di damper itu pula aku biasa ngobrol santai dan bercanda dengan suami. Di damper itu pula kami shalat bergantian, karena tak cukup untuk shalat berjamaah. Di damper itu aku menyetrika, di damper itu berbagai aktivitas kulakukan.
“Lho… kok dibiarkan saja, dik? Makan gih…! Kau tentu sangat lapar.”
Aku diam saja.
“Ayo, dik…! Kok malah diam?”
Aku menggeleng.
“Kenapa?”
“Nggak tega makannya, mas.”
“Kenapa?”
Aku menangis.
“Kok malah nangis?” mas Hilal membelai kepalaku.
Aku makin tersendu. “Kok ada Tetangga seperti itu ya mas? Mana mungkin aku bisa menelan makanan yang pemberianya disertai pembicaraan menyakkitkan hati?”
“Sabar, dik…! Dia objek dakwah kita. Di tangan adiklah kita berharap orang seperti dia bias berubah.”
Mas Hilal mengambil piring dan sendok. Dituangkannya nasi dan gulai kambing.
“Makan, dik…”
Aku menggeleng.
Mas Hilal mengambil sesendok dan disuapkannya padaku. “Ayo…”
Aku tetap menggeleng. Melihat makanan itu saja rasanya pingin muntah.
“Dik, nggak boleh begitu. Rezeki itu siapapun, dari manapun, dan lewat siapapun hakikatnya dari
Allah. Bukankah begitu dalam wirid Al-Ma’tsurat yang selalu kit abaca?” kutatap mas Hilal.
“Jangan marahi rezeki Allah. Jika kau marah sama yang kebetulan menjadi perantara sampainya rezeki kita, sama artinya dengan …” Mas Hilal menatapki. “Yuk…”
Kini aku mengangguk, tersenyum. “Anak-anak dibangunkan mas ?”
“Jangan, kasihan. Kita sisakan saja buat mereka besok.”
Dengan rasa syukur, kusentuh nasi itu. Sudah beberapa hari tidak ada nasi singgah di perutku. Juga gulai kambing itu. Hmm…. Alhamdulillah, nikmat rasanya.
****
Angin sore semilir. Rerimbunan pohon asam bergoyang diterpa angina. Buahnya berjatuhan. Kupungut satu per satu.

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum-hukum) Taurat, Injil, dan (Al-
Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapatkan
makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (QS Al-Maidah : 66)
“Alhamdulillah..!”

Anginnya makin kencang. Buah asam makin banyak berjatuhan.
“Subhanallah…berkat Allah.”
Dengan semangat aku terus memungutinya. Kudengar anak-anak kutilang bercicitan. Aku berhenti dan mendongak ke atas. “Kalian tentu kelaparan. Sayang, aku tidak punya pisang atau sisa nasi untuk menyuapimu. Tapi aku yakin, sebentar lagi indukmu akan dating dengan membawa makanan.”
Kembali kupunguti buah-buah asam.
“Bu Umai, ada surat nih…”
Aku terkejut. Tiba- tiba bu Retno sudah berada didekatku.
“Sebel, tuh, sama Pak Pos. Masak nggak bias membedakan rumah nomor lima dengan nomor enam? Makannya, to, bu… rumahnya jangan terlalu nyempil. Kalau begini, kan saya yang repot. Memangnya saya tukang antar surat? Benar-benar menyebalkan. Rumah tembok sama rumah gedek kok disamakan. Lha mbok nanya dulu ke orang-orang. Semua juga tahu nomor lima itu siapa dan nomor enam itu siapa. Wong bedanya seperti bumi dan langit.”
Aku segera membuka surat itu. Tak kupedulikan ocehan bu Retno.
“Subhanallah…! Alhamdulillah…!” kudekap surat itu. Andai tanah yang kuinjak ini tidak basah, aku sudah sujud menyatakan syukur.
Bu Retno terbengong- bengong. Aku tak peduli.
“Kenapa, bu Umai ? Kok nangis ? Ditagih utang ? Tenanglah, bu… bu Retno, juragan batik ini, masih bisa membantu. Utangnya berapa sih ? Bu Umai bisa utang saya dulu untuk membayarnya. Perkara mengembalikan itu urusan belakangan. Orang-orang disekitar sini semua ngutang sama saya. Yang penting …,”Bu Retno tertawa kecil, “Yang penting bunganya disepakati. Saya memang nggak bisa membuat orang lain bersedih.”
Kutatap bu Retno.
“Kok menatap saya begitu, bu? Kalau bu Umai tidak percaya, bisa tanya ke semua warga disini. Saya, bu Retno, tidak main-main. Mau utang berapa?”
Aku masih menggeleng dan mendekap surat itu penuh syukur.
“Sudahlah, bu Umai. Untuk Ibu akan saya beri bunga lebih ringan dari orang-orang.”
“Terima kasih bu. Saya tidak butuh utangan. Apalagi… maaf, dengan cara riba seperti itu.”
“Alaaaa…..sok. mana ada orang mau kasih utangan tanpa bunga? Kalau kepepet, jangan panggil bu Retno.”
Kuusap air mata yang belum kering.
“Saya ini sebagai Tetangga ingin membantu meringankan beban Ibu daripada nangis karena ditagih utang sana sini.”
“Bu, saya menangis bukan karena itu.”
Bu Retno menatapku sinis.
“Saya bersyukur karena ada penerbit yang bersedia mebukukan tulisan-tulisan saya.”
Bu Retno melongo seolah tak percaya. Ocehannya langsung berhenti dan ia segera pamit pulang. Kutengadahkan wajahku ke langit. Kutemukan berbagai kenikmatan dan berkah disana.
“Alhamdulillah, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Anak-anak kutilang bercicit ramai. Subhanallah… mereka berebut makanan. Induknya mengepak-ngepakkan sayapnya yang mungil, persis saat kulihat ia terbang pagi tadi. Aku tersenyum menikmati rasa indah seperti rasa burung-burung itu.
Ah, akan kukepakkan sayap penaku, terbang menjelajahi penjuru angkasa. Tak henti-hentinya aku bersyukur atas karunia allah yang baru saja terulur.“
Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”(HR At Tirmudzi)

0 Response to "Kepak Sayap Pena"

Post a Comment