Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Interpretation of Murder

THE INTERPRETATION OF MURDER

Diterjemahkan dari The Interpretation of Murder

karya Jed Rubenfeld

Copyright Š 2006, Jed Rubenfeld Hak cipta dilindungi undang-undang A/i rights reserved Hak terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia ada pada UFUK Press

Pewajah Sampul: Expertoha Studio Pewajah Isi: Ahmad Bisri Penerjemah: Isma B. Soekoto Penyunting: Mehdy Zidane

Cetakan I: Maret 2007

ISBN: 979-1238-30-8

UFUK PRESS PT. Cahaya Insan Suci Jl. Warga 23A, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12510, Indonesia Phone: 62-21-7976587, 79192866 Homepage: www.ufukpress.com Blog : http://ufukpress.blogspot.com Email : info@ufukpress.com

Untuk Amy, Sophia, dan Lousia

Sigmund Freud Car/ G. Jung

PADA TAHUN 1909, Sigrnund Freud, ditemani oleh seseorang yang kemudian menjadi muridnya, Carl Jung, mengunjungi Amerika Serikat untuk kali pertama dan terakhir kalinya. Ia menyampaikan kuliah psikologinya di Clark University, di Worcester, Massachussetts. Gelar kehormatan yang diberikan oleh Clark merupakan satusatunya penghargaan publik terhadap karya Freud. Namun, setelah beberapa tahun berlalu, Freud selalu mengeluhkan kunjungannya ke Amerika Serikat. Ia menganggap orang-orang Amerika “biadab”. Setelah kunjungan tersebut, ia jatuh sakit. Para penulis biografi Freud telah sejak lama memikirkan misteri ini, karena mengira telah terjadi sesuatu yang tak mereka ketahui. Mungkin saja hal tersebut telah menimbulkan reaksi yang berlawanan yang tak dapat dijelaskan.

Prolog

Minggu malam, tanggal 29 Agustus 19D9, pemandangan dari luar Alabaster Wing memang menggetarkan. Seorang wanita muda ramping sedang berdiri di dalam salah satu kamarnya. Ia diterangi oleh belasan nyala lilin. Tubuh indahnya nyaris bugil. Kedua pergelangan tangannya menumpuk terikat di atas kepalanya. Tenggorokannya terikat dengan pengikat lain. Ia tercekik oleh sehelai dasi sutra, yang erat disimpulkan oleh tangan seorang lelaki.

Seluruh tubuhnya berkilatan lantaran suhu udara bulan Agustus yang panas. Tungkai jenjangnya telanjang, demikian juga kedua lengannya. Bahu anggunnya juga nyaris terbuka. Kesadarannya semakin berkurang. Ia mencoba berbicara. Ada sesuatu yang harus ditanyakannya. Namun semua itu tersedak, lalu menghilang. Gadis itu pun bertanya lagi dengan berbisik, “Namaku. Siapa namaku?”

Apartemen itu menjulang tinggi di atas daratan New York. Satu set peralatan tergeletak di atas tempat tidurnya. Dari kiri ke kanan, terlihat sebuah pisau cukur lelaki bergagang tulang, lalu sebuah

cambuk kuda terbuat dari kulit sepanjang enampuluh sentimeter. Terlihat juga tiga bilah pisau operasi berukuran besar, dan sebuah botol kecil berisikan setengah cairan bening. Si penyerang tampak sedang mempertimbangkan, sebelum mengambil salah satu dari perlengkapan itu.

Gadis itu menggelengkan kepalanya sesaat ia melihat kilatan pisau cukur di dinding. Ia mencoba berteriak, tetapi tenggorokannya telah menyempit, suara permohonannya berubah menjadi bisikan saja.

Dari belakangnya, terdengar suara rendah, “Kau ingin aku menunggu?”

Gadis itu mengangguk.

“Aku tidak bisa.” Pergelangan tangan gadis itu masih disilangkan dan saling bertumpuk di atas kepalanya. Pergelangan itu ramping sekali, jemarinya sangat cantik, tungkai jenjangnya indah. “Aku tidak bisa menunggu.” Gadis itu mengedipkan matanya ketika gerakan teramat lembut mulai menyayat bagian paha telanjangnya. Pisau cukur itu menghasilkan warna merah terang yang meluncur di atas kulitnya. Ia menjerit. Punggungnya melengkung bagaikan lengkungan jendela-jendela, sehingga rambut hitam legamnya jatuh ke punggungnya. Gadis itu pun kembali menjerit ketika kali keduanya tindakan itu terulang pada bagian paha lainnya. Kali ini, lebih nyaring terdengar.

“Jangan,” suara itu memperingatkan dengan tenang. “Jangan ada teriakan.”

Gadis itu hanya dapat menggelengkan kepalanya. Rupanya ia tidak mengerti.

“Kau harus mengeluarkan suara yang berbeda.” Gadis itu menggeleng lagi. Ia ingin berkata-kata tetapi tidak mampu.

“Ya. Kau harus bisa. Aku tahu kau bisa. Sudah aku ajari bagaimana caranya. Apakah kau ingat?”

Pisau cukur itu sekarang diletakkan di atas tempat tidur. Sementara pada dinding, dalam cahaya lilin yang bergoyang-goyang, gadis itu melihat bayangan cambuk kulit terangkat sebagai ganti benda tajam tadi.

“Kau mau ini? Bersuaralah seolah kau memang menginginkannya. Kau harus bersuara seperti itu.”

Dengan perlahan namun pasti, dasi sutra tadi ditarik lebih erat di sekeliling tenggorokan gadis itu. “Bersuaralah!”

Gadis itu berusaha melakukan apa yang diminta. Ia pun mengerang secara perlahan. Erangan permohonan seorang gadis, yang belum pernah dilakukannya.

“Bagus. Seperti itu.”

Sambil memegangi ujung dasi putih dengan tangan satunya, dan cemeti kulit pada tangan lainnya, si penyiksa mencambuki bagian punggung. Gadis itu pun kembali mengeluarkan suara erangan. Satu cambukan lagi, lebih keras. Sengatan itu membuat si gadis menjerit, tetapi ia segera menahannya dan mengeluarkan suara erangan lagi.

“Semakin baik.” Cambukan berikutnya mendarat pada punggungnya tetapi agak ke bawah. Gadis itu membuka mulutnya, namun pada saat yang bersamaan, dasi itu ditarik lebih erat, sehingga benar-benar tercekik, uara erangannya kali ini terdengar tidak dibuat-buat,lebih serak, si penyiksa itu pun menjadi sangat senang. Satu cambukan berikutnya, lalu berikutnya dan begitu seterusnya

degan lebih keras dan lebih cepat, mengenai bagian tubuhnya yang paling lembut, mengoyak-ngoyak pakaiannya, meninggalkan bekas berkilat pada kulit putihnya. Pada setiap cambukan, gadis itu tidak berteriak kesakitan, namun mengerang seperti yang telah diajarkan padanya. Tangisannya pun menjadi lebih keras dan semakin cepat.

Sebelum cambukan itu berhenti, pastilah gadis itu telah pingsan. Namun tali dari langitlangit—yang mengikat pergelangan tangannya—tetap membuatnya berdiri tegak. Tubuhnya sekarang berbilur bekas cambukan. Darah mengalir dari satu atau dua goresan lukanya. Bagi gadis itu, sesaat segalanya menjadi gelap. Kemudian secerca cahaya datang kembali. Tubuhnya bergetar.

Matanya terbuka. Bibirnya bergerak. “Di mana aku berada,” ia mencoba berbisik, namun tidak ada yang mendengar.

Si penyiksa mengamati leher indah gadis itu, lalu melonggarkan ikatan dasi sutranya. Untuk beberapa saat, gadis itu bernafas dengan bebas. Namun kepalanya masih tergolek ke belakang, gelombang rambut hitam melambai hingga pinggangnya. Ikatan di sekitar lehernya pun mengerat lagi.

Gadis itu tidak lagi dapat melihat dengan jelas. Ia merasakan kehadiran jemari tangan pada mulutnya yang menyentuh bibirnya dengan lembut. Jemari itu pun menarik dasi sutra hingga semakin erat menjerat. Gadis itu berhenti tersedak. Untuknya, cahaya lilin tadi telah padam, tanpa pernah kembali lagi.

BAGIAN

Satu

TIDAK ADA MISTERI dalam kebahagiaan.

Orangorang yang tak bahagia hampir sama semuanya. Beberapa telah terluka sejak lama. Beberapa berusaha menyangkalnya. Beberapa coba menutupinya dengan keangkuhan. Dan beberapa menyalakan api cinta lalu memadamkannya dengan cemoohan, atau dengan ketidakpedulian yang terus melekat. Atau sebaliknya, merekalah yang melekat pada luka itu sehingga masa lalu selalu menyelubungi kehidupannya. Orang yang bahagia tidak menoleh ke belakang. Tidak juga melihat ke depan. Ia hanya hidup di dalam hari ini.

Tetapi ada juga kesulitan. Masa kini tidak pernah mampu melahirkan satu hal: makna. Arah kebahagiaan dan makna tidak sama. Untuk menemukan kebahagiaan, seseorang hanya harus hidup pada satu waktu—ia hanya harus hidup bagi waktu itu saja. Namun, jika ia menghendaki sekian makna dari mimpinya, rahasianya, kehidupannya, ia harus menghidupkan kembali masa lalunya. Segelap apa pun itu. Ia juga harus hidup bagi masa depan. Betapapun tidak menentunya. Jadi, alam mempermainkan kebahagiaan dan makna di depan kita hanya agar

kita bisa memilih satu di antara keduanya.

Bagi diriku sendiri, aku selalu memilih makna. Aku rasa karena itulah malam ini, Minggu 29 Agustus 1909, di pelabuhan Hoboken yang terik dan penuh sesak, aku menunggu kedatangan kapal uap Nord-deutsch Lloyd George Washington dari Bremen, membawa seorang penumpang yang paling ingin kutemui di dunia ini.

Pada pukul tujuh malam, belum ada tanda-tanda kapal itu akan tiba. Abraham Bill, seorang kawan yang juga kolega psikiaterku, telah berada di pelabuhan itu dengan tujuan sama. Ia nyaris tidak dapat menenangkan dirinya, gelisah, merokok tanpa henti. Luar biasa teriknya, udara terasa pengap dengan aroma amis ikan. Kabut yang tak lazim tampak naik dari permukaan air, seolah laut mengepulkan asap. Peluit kapal terdengar berat seolah berasal dari air yang lebih dalam, sementara kapalnya tidak terlihat. Bahkan pekikan burung layang-layang pun hanya terdengar tanpa terihat di mana mereka beterbangan. Yang menggelikan, dalam benakku mulai muncul anggapan kalau kapal uap itu telah kandas di balik kabut. Dua ribu limaratus orang penumpangnya tenggelam di bawah kaki Patung Liberty. Senja pun datang, tetapi suhu udara tidak mereda. Kami tetap menunggu.

Tibatiba, sebuah kapal putih besar muncul—tanpa terlihat seperti titik di cakrawala sebelumnya. Secara mengejutkan kapal itu terlihat seperti seekor gajah besar yang muncul dari balik kabut di depan mata kami. Semua orang di galangan terpekik, dan mundur. Namun semua itu pudar lantaran teriakan para petugas pelabuhan, dan tali tambang kapal dilemparkan untuk ditangkap. Kesibukan serta kerumunan orang pun mengikutinya. Dalam beberapa menit, seratus buruh pelabuhan membongkar muatan

kapal.

Brill berseru padaku supaya mengikutinya, berdesakan melalui jalan sempit. Izin masuk ke kapalnya ditolak, tidak seorang pun diperbolehkan naik atau turun dari kapal. Satu jam kemudian Brill menarik lengan bajuku dan menunjuk ke arah tiga orang penumpang yang menuruni jembatan. Yang pertama adalah seorang lelaki penting, sangat kurus, dengan rambut dan jenggot beruban, yang segera kukenali sebagai ahli ilmu jiwa dari Wina, Dr. Sigmund Freud.

g

PADA TAHUN 1909, telepon mulai luas digunakan penduduk New York City untuk mempercepat komunikasi, dan selanjutnya, mengubah bentuk hubungan antara manusia. Senin, 30 Agustus pukul delapan pagi, pengelola Balmoral mengangkat gagang teleponnya, kemudian terburu-buru menelpon pemilik gedung.

Sebuah penthouse Gedung apartemen Travertine Wing, di situlah Tuan George Banwell menerima panggilan itu. Ia berada enam belas tingkat di atas ruang si pengelola. Sang pemilik gedung itu dikabari kalau seorang pelayan telah menemukan Nona Riverford, yang menempati Alabaster Wing, tewas di kamarnya. Gadis itu telah menjadi korban pembunuhan atau kemungkinannya, lebih buruk dari itu.

Banwell tidak segera menanggapi. Untuk sekian lama si pengelola tidak mendengar suara Tuan Banwell. Ia pun bertanya, “Anda masih di sana, Tuan?”

Banwell menjawab dengan suara parau, “Perintahkan semua orang untuk keluar, kunci pintunya, jangan ada

seorang pun yang masuk, dan perintahkan orang-orangmu untuk menutup mulut jika mereka tidak ingin dipecat.”

Lalu Banwell menghubungi Walikota New York City yang kebetulan adalah seorang kawan lamanya. Pada akhir pembicaraannya itu, Banwell berkata, “Aku tidak mungkin mengizinkan polisi memasuki gedungku, McClellan. Tidak seorang polisi pun. Akulah yang akan me\ngatakan pada keluarganya sendiri. Riverford adalah teman satu sekolahku. Ya betul, ayah gadis itu, si bedebah yang malang.”

g

AHLI OTOPSI HUGEL masuk sambil melontarkan kemarahannya atas kondisi rumah penyimpanan jenazah kota tersebut. Walikota McClellan, yang telah mendengar serangkaian keluhan itu sebelumnya, segera menghentikan Hugel. Lalu ia menceritakan kejadian di Balmoral dan memerintahkan ahli otopsi itu pergi ke sana dengan menggunakan mobil tanpa tanda dinas. Para penghuni gedung itu tidak diperbolehkan untuk mengetahui kehadiran seorang polisi. Seorang detektif akan menyusul kemudian.

“Mengapa aku?” Tanya ahli otopsi itu, “seseorang dari kantorku bernama O’Hanlom, bisa melakukan itu.”

“Tidak,” kata Walikota McClellan, “aku ingin kau sendiri yang pergi ke sana. George Banwell adalah teman lamaku. Aku membutuhkan seorang berpengalaman dan terper-caya untuk menyimpan rahasia. Kau termasuk salah satu dari sedikit orang-orang kepercayaanku.”

Ahli otopsi itu menggerutu namun akhirnya menyerah. “Aku punya dua syarat. Pertama, siapa pun yang bertanggung jawab di gedung itu harus segera diberitahu kalau tidak ada satu pun yang boleh disentuh. Jangan harap aku bisa memecahkan kasus ini jika buktibuktinya sudah terinjak-injak dan rusak sebelum aku tiba,”

“Sangat masuk akal,” kata Walikota McClellan, “apa lagi syaratnya?”

“Kedua, aku harus memiliki kewenangan penuh atas penyidikan itu, termasuk detektif mana yang aku pilih.”

“Baik,” kata Walikota McClellan, “kau bias mendapatkan orang yang paling handal dari lembaga itu.”

“Justru itu yang aku tidak mau,” jawab Hugel, “sungguh menyenangkan bila aku mendapatkan seorang detektif yang tidak akan menjual kasus yang telah kupe-cahkan. Ada seorang detektif baru namanya Littlemore. Aku mau orang itu yang membantuku.”

“Littlemore? Bagus sekali,” kata Walikota McClellan seraya mengalihkan perhatiannya pada setumpuk kertas di atas mejanya, “Bingham pernah berkata kalau Littlemore adalah salah seorang detektif muda terpandai yang dimilikinya.”

“Terpandai? Sebenarnya ia adalah seorang detektif yang betulbetul tolol.”

Walikota itu terkejut, “Jika kau menganggapnya begitu, lalu mengapa kau menginginkannya, Hugel?”

“Karena ia tidak dapat disuap, setidaknya ia belum bisa.”

g

KETIKA AHLI OTOPSI HUGEL tiba di Balmoral, ia diminta menunggu Tuan Banwell. Hugel tidak suka menunggu. Kini ia berusia limapuluh sembilan tahun. Tigapuluh tahun

terakhirnya telah dihabiskan dalam masa dinas pelayanan ruang jenazah yang tidak sehat di kotamadya, sehingga wajahnya menjadi agak pucat kelabu. Ia mengenakan kacamata tebal dan kumis yang terlalu besar di antara sepasang pipi cekungnya. Ia betulbetul botak, kecuali ada sejumput rambut keriting mencuat di belakang telinganya. Hugel adalah seorang yang tidak mudah dibuat senang. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, benjolan pada dahinya memberi kesan kalau dia adalah seorang yang sedang marah.

Setelah limabelas menit menunggu sambil marahmarah, Tuan Banwell akhirnya muncul. Seharusnya ia tidak terlalu lebih tinggi dari Hugel, namun tampaknya Tuan Banwell berdiri menjulang di sampingnya. “Dan kau siapa?” Tanyanya.

“Ahli otopsi New York City,” kata Hugel seraya coba memperlihatkan kewibawaan, “Hanya aku yang boleh menyentuh jenazah itu. Segala kecacatan pada bukti akan dituntut sebagai usaha penghalang-halangan. Anda mengerti?”

George Banwell sangat tahu kalau dirinya lebih tinggi, lebih tampan, berpakaian lebih bagus, dan lebih kaya dibandingkan ahli otopsi itu. “Omong kosong,” katanya, “ikuti aku, dan jangan bicara terlalu keras ketika kau berada di gedungku.”

Banwell membawa Hugel ke lantai teratas Alabaster Wing. Hugel, mengikutinya sambil mengertakkan giginya. Dalam lift itu tidak ada yang bicara. Hugel menatap lantai dengan sikap tegas, matanya mengawasi celana panjang Tuan Banwell yang bergaris-garis tipis dan sepatu berkilap dan bertumit rendah miliknya yang sudah jelas lebih mahal dibanding harga jas, rompi, dasi, dan sepatu ahli otopsi

itu bila digabungkan jadi satu. Seorang pelayan lelaki, yang berdiri berjaga di luar apartemen Nona Riverford, membukakan pintu bagi mereka. Tanpa suara, Banwell memimpin Hugel beserta kepala pengelola dan pelayan tadi memasuki koridor menuju kamar gadis itu.

Jasad yang nyaris bugil itu tergeletak di atas lantai, wajahnya pucat, matanya tertutup, rambut hitam legam indah terserak di atas permadani bercorak Oriental mewah. Ia masih tampak sangat jelita dengan lengan dan tungkainya masih tampak anggun, namun di seputar lehernya ada bercak kemerahan yang mengerikan, dan tubuhnya bergaris-garis bekas lecutan cambuk. Pergelangan tangannya masih terikat, gontai di atas kepalanya. Ahli otopsi itu berjalan cepat ke arah jasad itu. Ia menempelkan ibu jarinya pada kedua pergelangan tangan korban, tepat pada urat nadi.

“Bagaimana keadaannya, bagaimana dia bias terbunuh?” Tanya Banwell dengan suara muram dan lengan terlipat.

“Kau tidak tahu?” Tanya ahi otopsi itu.

“Untuk apa aku bertanya jika aku tahu?”

Hugel menoleh ke bawah tempat tidur. Ia berdiri dan menatap jasad itu dari beberapa arah. “Menurutku, ia tewas karena tercekik. Mati perlahan-lahan.”

“Apakah ia…?”

“Mungkin saja,” sela Hugel atas perkataan Banwell yang belum sempat diselesaikan, “tapi aku tidak yakin sebelum aku memeriksanya.”

Dengan sepotong kapur merah, Hugel membuat lingkaran bergaris tengah kira-kira dua setengah meter, mengelilingi jasad gadis itu dan menyatakan tidak seorang pun boleh memasuki lingkarannya. Ia memeriksa ruangan,

dan semuanya sangat teratur, bahkan seprei yang terbuat dari bahan linen mahal masih terpasang sangat rapi. Hugel membuka lemari milik Nona Riverford, berikut rak pakaian dan kotak perhiasannya. Tidak ada yang tampak hilang. Gaun-gaun gemerlapan tergantung rapi dalam lemari gantung, pakaian-dalam berenda terlipat rapi dalam beberapa laci, sebuah tiara berlian dengan anting dan kalung yang serasi, masih terletak dalam susunan harmonis di dalam sebuah kotak beledu biru tua di atas lemari berlaci.

Hugel bertanya, siapakah yang pernah berada di ruangan itu. Hanya si pelayan yang menemukan jasad itu yang menjawab. Setelah itu, apartemen tersebut dikunci, dan tidak seorang pun yang diperbolehkan memasukinya. Si ahli otopsi itu memanggil si pelayan, yang semula menolak melewati pintu kamar tidur. Dia adalah gadis cantik berdarah Italia yang berusia sembilanbelas tahun, dengan rok panjang dan celemek putih.

“Nona muda,” kata Hugel, “kau mengganggu benda-benda di dalam kamar ini?”

Si pelayan menggelengkan kepalanya. Walau terdapat jenazah yang tergeletak di lantai dan majikannya menatap ke arahnya, si pelayan tetap tenang dan menatap mata sang penyidik. “Tidak, Pak,” jawabnya.

“Kau membawa sesuatu ke dalam ruangan ini atau mengambil sesuatu?”

“Aku bukan pencuri,” katanya.

“Kau memindahkan benda-benda perabotan atau pakaian?” “Tidak.”

“Bagus sekali,” ujar Hugel.

Si pelayan menatap Tuan Banwell, yang tidak

menyuruhnya pergi. Ia bahkan berkata pada sang ahli otopsi. “Selesaikanlah.”

Hugel menatap tajam pemilik Balmoral itu. Lalu mengambil pena dan kertas. “Nama?”

“Nama siapa?” Tanya Banwell dengan geraman sehingga membuat si pengelola ketakutan, “namaku?”

“Nama korban.”

“Elizabeth Riverford,” jawab Banwell.

“Usia?” Tanya Hugel.

“Bagaimana aku tahu?”

“Aku tahu kau mengenal keluarganya.”

“Aku mengenal ayahnya,” ujar Banwell, “penduduk Chicago. Dia adalah seorang bankir.”

“Aku mengerti. Kau tidak tahu alamatnya?” Tanya Hugel.

“Tentu saja aku tahu alamatnya.” Kedua lelaki itu saling menatap.

“Maukah kau berbaik hati memberitahuku di manakah alamatnya?” Tanya Hugel.

“Aku akan memberikan alamatnya pada McClellan,” kata Banwell.

Hugel mulai menggertakkan giginya lagi. “Aku yang berwenang dalam penyidikan ini, bukan Walikota.”

“Kita akan tahu berapa lama kau akan berwenang dalam penyidikan ini,” jawab Banwell yang sekali lagi memerintahkan ahli otopsi itu untuk menyelesaikan penyidikan tersebut. Keluarga Riverford, jelas Banwell, menginginkan jasad anak gadis mereka dibawa pulang. Banwell ingin segera melaksanakan kewajibannya itu.

Hugel berkata, ia tidak mungkin mengizinkannya, apa pun alasannya. Dalam kasus pembunuhan, jenazah harus dilindungi oleh hukum demi keperluan otopsi.

“Tidak jasad ini,” kata Banwell. Ia memerintahkan ahli otopsi itu untuk menelpon Walikota jika ia memerlukan penjelasan atas perintahnya.

Hugel menanggapinya dengan mengatakan kalau ia tidak akan menerima perintah kecuali dari seorang hakim. Jika ada yang mencoba menghentikan proses otopsi jasad itu, ia akan memastikan adanya tuntutan dengan hukuman yang seberat-beratnya. Ketika peringatan itu gagal menggeser Banwell, ahli otopsi itu menambahkan kalau ia mengenal seorang wartawan di Herald yang menganggap pembunuhan dan menghalangi hokum adalah berita hangat. Akhirnya dengan enggan Banwell menyerah.

Ahli otopsi itu membawa sebuah kamera kotak besar. Sekarang ia menggunakannya, mengganti lempeng kamera dengan yang baru setelah terjadi ledakan berasap dari lampu kilatnya. Banwell mengatakan, jika foto-foto itu dimuat di Herald, ia yakin kalau Hugel tidak akan bekerja lagi di New York atau di mana pun. Hugel tidak menjawabnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara erangan mengisi ruangan. Suaranya seperti biola bernada tinggi yang digesek secara perlahan. Tidak diketahui dari mana sumber suara itu. Seperti terdengar dari segala arah, namun juga tidak dari mana pun. Suara itu semakin keras, hingga akhirnya menjadi raungan. Si pelayan tadi menjerit. Dan ketika ia berhenti menjerit, di ruangan itu tidak ada suara apa pun lagi.

Tuan Banwell memecah kesunyian. “Apa yang terjadi tadi?” Tanyanya pada si pengelola.

“Aku tidak tahu, Tuan,” kata si pengelola. “Itu bukan untuk pertama kalinya. Mungkin ada sesuatu di dalam dinding?”

“Baik, carilah,” ujar Banwell.

Ketika ahli otopsi itu selesai memotret, ia mengatakan akan pergi dan membawa jasad korban. Ia tidak berniat menanyai para tetangga si korban atau si pelayan karena itu bukan bagian pekerjaannya. Ia juga tidak akan menunggu Detektif Littlemore. Dalam suhu sepanas itu, jelasnya, pembusukan akan terjadi dengan cepat jika jasad tidak segera dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Dengan bantuan dua petugas lift, jasad gadis itu dibawa ke lantai bawah tanah menggunakan lift barang, dan selanjutnya menuju lorong belakang, tempat supir pribadi Hugel menantinya.

Dua jam kemudian, ketika tiba di kantor polisi pusat di Centre Street tanpa mengenakan seragam, Detektif Jimmy Littlemore terlihat bingung. Pembawa pesan Walikota membutuhkan waktu untuk menemukan Littlemore. Rupanya, detektif itu sedang berada di ruang bawah tanah gedung baru itu yang masih belum selesai pembangunannya. Ia sedang mencoba jarak jangkau pistolnya. Perintah bagi Littlemore adalah melakukan pemeriksaan menyeluruh di tempat kejadian pembunuhan itu. Ketika berada di sana, Littlemore bukan saja tidak menemukan tempat kejadian pembunuhan, ia juga tidak menemukan korbannya. Tuan Banwell tidak mau berbicara dengannya, begitu juga para pegawai lainnya.

Dan ada seorang yang tidak sempat diwawancarai oleh Detektif Littlemore yaitu si pelayan yang menemukan jenazah korban. Setelah ahli otopsi Hugel pergi, sebelum detektif tiba, sang pengelola memanggil pelayan muda itu ke kantornya. Ia memberinya secarik amplop yang berisi gaji sebulannya, dikurangi satu hari kerja karena hari itu masih tanggal 30 Agustus. Pengelola memberitahu gadis itu kalau ia diberhentikan. “Maafkan aku, Betty,” katanya,

“aku sangat menyesal.”

Dua

DR. FREUD akhirnya dapat kutemui. Ia sama sekali tidak tampak seperti orang gila. Air mukanya berwibawa, kepalanya berbentuk sempurna, janggutnya mencuat, rapi, profesional. Tingginya sekitar seratus tujupuluh tiga sentimeter, bulat, namun sangat bugar dan tegap bagi seorang lelaki berusia limapuluh tiga tahun. Jasnya terbuat dari bahan yang sangat bagus, dengan jam rantai dan dasi bergaya kontinental. Secara keseluruhan, ia tampak sangat tenang bagi seorang yang baru saja melakukan pelayaran mengarungi laut selama seminggu.

Matanya menjelaskan lain hal. Brill telah memperingatkanku tentang hal itu. Ketika Freud menuruni tangga kapal, matanya begitu menakutkan, seolah ia sedang marah. Boleh jadi fitnah yang lama dialaminya di Eropa telah membentuk raut cemberut menetap pada alisnya. Atau bisa jadi ia tidak senang berada di Amerika. Enam bulan lalu, ketika G. Stanley Hall, Direktur Utama Clark University—pimpinanku—pertama kali mengundang Freud ke Amerika Serikat, ia menolak kami. Kami tidak yakin mengapa, namun Hall bersikeras menjelaskan bahwa Clark berharap dapat menganugerahkan penghargaan akademis tertinggi universitas pada Freud. Ia bermaksud menjadikannya sebagai pusat perhatian pada ulang tahun keduapuluh kami, dan memintanya memberikan serangkaian kuliah tentang psikoanalisai, yang pertama di Amerika, Akhirnya Freud menerimanya. Apakah kini ia menyesali keputusannya?

Segera kutahu segala perkiraan itu tidak terbukti. Begitu ia melangkah keluar dari tangga kapal, Freud menyulut cerutu—tindakan pertamanya pada tanah Amerika. Saat itu juga kesan cemberutnya menghilang, senyumannya tersungging, dan segala kemuraman sirna. Ia menghisapnya dalam-dalam sambil melihat ke sekelilingnya, dan menganggap segala keriuhan di pelabuhan itu sebagai hiburan baginya.

Brill menyapa Freud dengan hangat. Mereka telah saling mengenal di Eropa, bahkan Brill pernah berkunjung ke rumah Freud di Wina. Ia menjelaskannya malam itu kepadaku kalau rumah Dr. Freud anggun dan berisikan barang-barang antik. Ia bersifat kekanakan dan sangat sayang pada anak-anak, lalu mereka berjam-jam berbincang seru—begitu seringnya Brill menceritakannya sehingga aku menjadi hafal.

Entah dari mana, tibatiba sekelompok wartawan muncul. Mereka mengerumuni Freud dan melontarkan pertanyaan yang pada umumnya dalam bahasa Jerman. Ia menjawabnya dengan Jenaka namun tampak tergagap sehingga wawancara itu seperti berlangsung serampa-ngan. Akhirnya Brill berhasil mengusir mereka dan menarikku ke depan.

“Izinkan aku,” kata Brill kepada Freud, “memperkenalkan Dr. Stratham Younger, seorang yang baru lulus dari Harvard University, sekarang mengajar di Clark. Ia secara khusus dikirim ke sini oleh Hall untuk mengurus segala

i Psikoanalisa adalah salah satu bagian ilmu psikologi yang pertama kali dicetuskan oleh Freud Teori ini sangat menekankan pada aspek ketidaksadaran Teori ini juga menekankan bahwa jiwa memiliki tiga sistem: id, ego, dan superego.

keperluanmu selama berada di New York. Younger, tak diragukan lagi adalah psikoanalis yang paling berbakat dan juga satusatunya di Amerika.”

“Apa,” sergah Freud, “kau tidak bisa menyatakan dirimu sendiri sebagai seorang analis, Abraham?”

“Aku tidak menyebut diriku sendiri orang Amerika,” kata Brill. “Aku salah satu dari kelompok Roosevelt, penghipnotis orang Amerika, yang menurut dirinya sendiri, ia tidak diakui di negara ini.”

“Aku selalu senang,” kata Freud kepadaku dengan bahasa Inggrisnya yang sempurna, “berkenalan dengan anggota baru pergerakan kecil kita. Terutama di sini, di Amerika, aku memiliki harapan seperti itu.” Ia memintaku untuk menyampaikan terimakasihnya pada Direktur Utama Hall karena Clark telah memberinya kehormatan.

“Kehormatan itu ada pada kami, Pak,” kataku, “tetapi aku khawatir aku tidak bisa disebut sebagai seorang psikoanalis yang baik.”

“Jangan bodoh,” kata Brill, “tentu saja kau seorang psikoanalis yang baik.” Kemudian ia memperkenalkan aku kepada dua orang teman perjalanan Freud. “Younger, kenalkan Sandor Ferenczi yang terkenal dari Budapest, yang namanya merupakan persamaan kata dari kelainan jiwa di Eropa. Dan ini sama terkenalnya, Carl Jung dari Zurich, yang Dementiaz-nya akan dikenal dalam peradaban dunia.”

“Sangat senang,” ujar Ferenczi dalam aksen kental Hongaria, “saya sangat senang. Tetapi kumohon, abaikan saja katakata Brill tadi, semua orang begitu, percayalah

2 Merosotnya proses intelektual daya nalar dan emosional (Kamus Lengkap Psikologi, J.P Chaplin, Divisi Buku Perguruan Tigggi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1968 (Pent).

padaku.” Ferenczi ramah, berambut pirang-pasir, usianya berada di penghujung tigapuluh tahunan, berpakaian stelan jas serba putih, cerah. Jelas terlihat kalau ia dan Brill berteman akrab. Secara jasmani, keadaan mereka kontras namun masih menyenangkan untuk dilihat, Brill adalah lelaki terpendek yang pernah kukenal, dengan mata yang saling berdekatan dan dahi lebar datar. Sedangkan Ferenczi, walau tidak jangkung, memiliki lengan panjang, jemari panjang dan batas rambut yang surut ke belakang sehingga memperpanjang bentuk wajahnya.

Aku segera menyukai Ferenczi walaupun aku belum pernah berjabat tangan dengan seseorang yang sepertinya tak memiliki kekuatan. Tangannya seperti seonggok daging yang dijual di toko daging. Memalukan sekali, ia mengaduh keras dan menarik jemarinya seolah mereka terhimpit hancur oleh tanganku. Aku benar-benar memohon maaf, namun ia menegaskan kalau ia senang karena “segera mulai mengenal tembok Amerika yang menghimpit,” itu sebuah pernyataan yang hanya bias kuangguki dengan sopan,

Jung, yang kira-kira berusia tigapuluh lima tahun, memberikan kesan yang jelas berbeda. Kemungkinan tingginya lebih dari seratus delapanpuluh centimeter. Ia tidak tersenyum, bermata biru, berambut gelap, dengan hidung bengkok seperti paruh burung, berkumis setipis pensil, dan berdahi sangat lebar. Menurutku, ia sangat menarik bagi kaum wanita. Lelaki ini tidak setenang Freud. Genggaman tangannya kuat dan dingin seperti baja. Ia berdiri setegak patung, bisa jadi ia berpangkat letnan jika berada dalam satuan Garda Swiss, Namun kacamata bundarnya menyatakan dirinya adalah seorang cendikiawan. Kesan simpati Brill pada Freud dan Ferenczi sama sekali tidak tampak ketika ia menjabat tangan Jung.

“Bagaimana pelayaran kalian, Tuan-tuan?” Tanya Brill. Kami belum bisa pergi ke mana pun sebelum koperkoper-tamu kami diambil. “Tidak terlalu meletihkan?”

“Benar-benar hebat,” ujar Freud, “kau tidak akan percaya. Aku melihat seorang pelayan kapal membaca bukuku Psychopathofogy of Everyday Life.”

“Tidak mungkin!” Sergah Brill. “Ferenczi pasti telah memberikan buku itu padanya.”

“Memberikan buku itu kepadanya?” seru Ferenczi,

“aku tidak mungkin melakukannya,”

Freud tidak memperhatikan tanggapan Brill. “Itu mungkin merupakan saat yang paling kusyukuri dari kehidupan profesionalku, yang mungkin saja tidak pernah tampak pada kehidupan pribadiku. Pengakuan dating pada kami, kawanku. Hal itu datang perlahan, tapi pasti.”

“Berapa lamakah penyeberangannya?” Tanyaku dengan bodoh.

“Seminggu,” kata Freud, “dan kami melewatkan waktu itu sebaik mungkin dengan melakukan hal-hal yang berguna: kami menganalisa mimpi kami masingmasing.”

“Ya ampun,” seru Brill. “Kuharap aku ikut bersama kalian. Bagaimana hasilnya, tolong katakan, cepat.”

“Yah, kau tahu,” jawab Ferenczi, “analisa itu seperti menelanjangi orang di depan umum. Namun setelah kau mampu melewati rasa malu, kau akan merasa segar.”

“Begitulah yang kukatakan pada semua pasienku,” kata Brill, “terutama pasien-pasien perempuan. Lalu, bagaimana denganmu, Jung? Apakah kau juga menganggap malu itu menyegarkan?”

Jung, yang hampir tigapuluh sentimeter lebih tinggi

dari Brill, menatap ke bawah seolah menatap pada hewan percobaan di laboratorium. “Tidak terlalu tepat,” katanya, “jika dikatakan kami bertiga saling menganalisa mimpi kami.”

“Benar,” Ferenczi mempertegasnya. “Freud agak menganalisa kami, sedangkan Jung dan aku saling menganalisa mimpi masingmasing dengan tajam.”

“Apa?” Seru Brill, “maksudmu, tidak ada yang berani menganalisa sang Pakar?”

“Tidak ada yang diperbolehkan,” kata Jung, tanpa menutupi rasa kekagumannya.

“Ya, ya,” ujar Freud, sambil tersenyum mengerti,

“tetapi kalian semua menganalisaku habis-habisan begitu aku berpaling, begitu kan, Abraham?”

“Memang begitu,” kata Brill, “karena kami semua anak-anak yang baik, dan kami tahu kewajiban Oedipah kami.”

g

PENUMPANG yang baru tiba di Amerika Serikat hanya harus memberi tanda bagasinya dengan nama hotelnya di Manhattan. Para petugas akan menyimpan koperkoper tersebut di dalam gerbong bagasi, kemudian diambil alih oleh petugas lainnya untuk melakukan tugas berikutnya. Kami menggunakan kemudahan itu, lalu berjalan keluar peron, yang menghadap ke sungai. Dengan latar belakang matahari yang mulai tenggelam, kabut mulai terangkat, maka terkuaklah kaki langit Manhattan yang sibuk penuh taburan lampu.

3 Sifat yang muncul akibat kompleks Oedipus (keinginan seseorang anak untuk menggantikan tempat seorang ayah di hadapan ibunya).

Perdebatan terjadi tentang apakah pengajaran Freud mendiktekan penentangan moral seksualitas yang konvensional. Jung yakin begitu; memang, ia melanjutkan, siapa pun yang gagal melihat pengertian itu artinya tidak mengerti Freud. Keseluruhan pendapat psikoanalisa, katanya, bahwa larangan masyarakat merupakan ketidakpedulian dan tidak sehat. Hanya kekecutan hati yang akan membuat orang tunduk pada moralitas yang beradab begitu mereka telah mengerti penemuan-penemuan Freud.

Brill dan Ferenczi menyangkal pada pendapat itu dengan bersemangat. Psikoanalisa menuntut seorang manusia menyadari betul apa harapan seksualnya, bukannya tunduk saja terhadapnya. “Ketika kami menyimak mimpi klien kami,” kata Brill, “kami menafsirkannya. Kami tidak menyuruh mereka untuk memenuhi keinginannya yang tidak mereka nyatakan. Bagaimanapun, aku tidak lakukan itu. Kau bagaimana, Jung?”

Aku melihat, baik Brill ataupun Ferenczi, diam-diam melirik Freud ketika mereka menguraikan gagasan mereka —sambil berharap mendapatkan dukungan. Jung tidak pernah begitu. Ia sangat yakin atau berpura-pura yakin pada kedudukannya. Sedangkan Freud, ia tidak memihak siapa pun, tampaknya ia senang melihat per-debabatan itu berkembang.

“Beberapa mimpi tidak perlu ditafsirkan,” kata Jung, “mereka hanya membutuhkan tindakan. Pertimbangkanlah mimpi Profesor Freud tadi malam tentang pelacur. Maknanya tidak diragukan: libido yang tertekan, dipicu oleh pengharapan pada kedatangan kami di dunia baru. Tidak ada gunanya membicarakan mimpi semacam itu.” Lalu Jung berpaling pada Freud.

“Mengapa kau tidak mewujudkan impianmu? Kita di

Amerika; kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan.”

Untuk pertama kalinya Freud mengangkat alisnya, mengangguk, tetapi tidak menyahut. Aku memberitahu kawan-kawanku kalau sudah waktunya kita masuk ke kereta api. Freud menatap melintasi jembatan untuk terakhir kalinya. Angin kencang menerpa wajah kami. Ketika kami semua menatap lampu-lampu Manhattan, ia tersenyum. “Seandainya saja mereka tahu apa yang kita bawa untuk mereka.”

g

SEBELUM SEORANG PUN bangun, aku membaca Koran Senin pagi di ruang bundar mewah Hotel Manhattan, tempat Clark University memberi penginapan pada Freud, Jung dan Ferenczi, juga padaku, selama seminggu. (Brill, yang rumahnya di New York, tidak memerlukan kamar). Tidak satu koran pun yang memuat berita tentang Freud atau seminar mendatangnya di Clark, kecuali New Yorker Staats-Zeitung yang memuat berita tentang kedatangan seorang “Dr. Freud dari Wina.”

Aku tidak pernah berniat menjadi seorang dokter. Itu hanyalah harapan ayahku. Dan apa yang diharapkannya itu sudah seharusnya menjadi perintah bagi kami. Ketika berusia delapan tahun dan masih tinggal di rumah orangtuaku di Boston, aku mengatakan padanya kalau aku akan menjadi sarjana Shakespeare Amerika yang paling terkemuka. Jawab ayahku, aku bisa menjadi sarjana Shakespeare Amerika yang paling terbelakang. Namun di muka atau di belakang, jika aku tidak mau mengejar karir di dunia kedokteran, aku harus mencari biaya sendiri untuk berkuliah di Harvard.

Ancamannya itu tidak memengaruhiku. Aku tidak peduli pada keluarga yang terlalu mencintai Harvard. Aku akan bahagia, ujarku kepada ayah, dan menyelesaikan pendidikan di tempat lain. Itu adalah percakapan terakhirku dengan ayahku.

Ironisnya, aku mematuhi harapan ayahku hanya ketika ia tidak lagi memiliki uang untuk membiayaiku. Kebangkrutan Bank Colonel Winslow pada November 19D3 tidak dapat dibandingkan dengan kepanikan di New York empat tahun kemudian, tetapi itu sudah cukup bagi ayahku. Ia kehilangan segalanya, termasuk sedikit yang ibu miliki. Wajah ayah menjadi sepuluh tahun lebih tua dalam semalam. Kerutan dalam muncul tibatiba pada keningnya. Ibuku berkata, aku seharusnya kasihan padanya, tetapi aku tidak pernah kasihan padanya. Ibuku yang penuh kasih itu, menghindari upacara pemakamannya. Untuk pertama kalinya, aku sadar kalau aku harus melanjutkan kuliahku di kedokteran, tentunya jika aku mampu. Apakah setelah itu ada kebutuhan baru yang mendorong keputusanku atau memang ada hal lain, aku ragu untuk mengatakannya.

Ketika semuanya berantakan, akulah yang seharusnya dikasihani, dan Harvard-lah yang akhirnya mengasihaniku. Setelah pemakaman ayahku, aku memberitahu Harvard bahwa aku akan mengundurkan diri pada akhir tahun, uang kuliah sebesar duaratus dolar menjadi sangat tak terjangkau bagiku. Namun, Presiden Eliot memberikan uang kuliah itu. Mungkin ia menyimpulkan kalau minat jangka panjang Harvard akan lebih berguna jika tidak mengeluarkan Stratham Younger III dan membiarkannya terseok melalui Yard. Dengan membebaskan beban uang kuliah pada anak yatim ini dan harapan pengembalian di

masa mendatang, semuanya akan lebih baik. Apa pun motivasinya, aku akan selalu berterimakasih kepada Harvard karena mengizinkan aku terus berkuliah di sana.

Hanya di Harvard-lah aku dapat mengikuti kuliah tentang neurologi yang terkenal dari Profesor Putnam. Ketika itu aku sudah menjadi mahasiswa kedokteran. Aku telah memenangkan beasiswa, tetapi kenyataannya, aku hanyalah seorang calon dokter yang tidak bersemangat. Pada suatu pagi musim semi, dalam sebuah catatan tentang penyakit syaraf, Putnam mengemukakan bahwa “teori seksual”-nya Sigmund Freud adalah satusatunya karya menarik dalam topik neurosa obsesional dan histeria. Setelah kuliah berakhir, aku bertanya karya siapakah yang harus aku baca. Putnam menyebutkan Havelock Ellis, yang menyetujui dua penemuan radikal Freud yaitu keberadaan yang disebut Freud dengan istilah “the unconscious [tidak sadar]” dan seksual aetiologi neurosa. Putnam juga memperkenalkan aku dengan Dr. Morton Prince, yang ketika itu baru memulai jurnal tentang psikologi abnormal. Dr. Prince—yang ternyata mengenal ayahku—memiliki koleksi besar terbitan luar negeri dan memintaku untuk menjadi seorang pembaca akhir bukunya. Melalui dirinyalah, aku bisa memperoleh segala karya Freud yang telah dipublikasikan. Mulai dari The Interpretation of Dreams hingga Three Essays. Penguasaan bahasa Jermanku baik, dan tanpa disadari selama bertahun-tahun, aku menjadi pembaca karya-karya Freud yang fanatik. Pengetahuan Freud luar biasa, dan berbagai tulisannya seperti barang berharga yang sangat indah. Gagasangagasannya, jika kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan, akan mengubah dunia.

Kecintaanku pada karya Freud semakin menguat ketika aku menemukan solusi Freud bagi Ham/et. Bagi Freud, itu hanyalah sebuah tulisan tidak berarti, yaitu sebuah penyimpangan sebanyak duaratus halaman di tengah-tengah risalah mimpi-mimpi. Namun, di situlah rupanya, sebuah jawaban terbaru bagi teka-teki yang paling terkenal dalam kesusastraan Barat.

Hamlet karya Shakespeare telah dipentaskan menggunakan bahasa apa pun sebanyak ribuan kali melebihi drama lainnya. Ini adalah karya yang paling banyak diulas dalam kesusastraan. (Aku tidak memasukkan Kitab Injil, tentu saja). Namun ada kekosongan yang janggal atau kehampaan pada inti drama tersebut: segala tindakan ditemukan dalam citra ketidakmampuan pahlawannya untuk bertindak. Drama itu terdiri dari serangkaian pengelakan dan berbagai alas an yang digunakan Hamlet. Itu digunakan untuk membenarkan penundaan balas dendamnya terhadap pembunuh ayahnya: Claudius, pamannya sendiri, yang saat itu menjadi Raja Denmark, dan menikahi ibu Hamlet. Hal itu dijelaskan dengan monolog sedih yang memburuk-burukkan dirinya sendiri karena kelumpuhannya. Yang paling terkenal dari monolog itu dimulai dengan, tentu saja, To be. Hanya karena berbagai penundaan dan kesalahannya^ telah mengakibatkan kerusakan baginya. Hamlet, pada adegan terakhir drama tersebut, membunuh pamannya.

Mengapa Hamlet tidak bertindak? Bukan karena kurangnya kesempatan terbaik yang diberikan oleh Shakespeare untuk membunuh Claudius, namun Hamlet,

4 Kesalahnnya itu di antaranya: peristiwa Ophelia yang akhirnya bunuh diri, ibunya yang akhirnya terbunuh lantaran meminum racun yang seharusnya disediakan Claudius untuk Hamlet, dan resepnya sendiri yang berakibat fatal atas pedang beracun Laertes.

faktanya, tetap menghindar. Hamlet, padahal sebelumnya, mengakui, sekarang mungkinkah kulakukan itu. Lalu apa yang menghalanginya? Mengapa keraguan yang tak dapat dijelaskan ini, keraguan yang tampak seperti kelemahan dan nyaris disebut kepengecutan, telah mampu memukau penonton di seluruh dunia selama tiga abad terakhir? Pemikir sastra terbesar dalam zaman kita yaitu Goethe dan Coleridge, telah mencoba mencabut pedang itu dari batu namun gagal. Ratusan benak cendikiawan yang kurang pandai, telah pecah di atas batu tersebut.

Aku tidak menyukai jawaban Oedipal Freud. Sebenarnya aku jijik karenanya. Aku tidak mau memercayainya lagi sebagaimana aku percaya pada Oedipus kompleks sendiri. Aku harus menyangkal teori Freud yang mengguncangkan itu, aku harus menemukan kekuarangannya, namun aku tidak mampu. Punggungku sudah letih ketika aku duduk di Yard dari hari ke hari selama berjam-jam untuk membaca karya Freud dan Shakespeare. Diagnosa Freud pada Hamlet tampaknya menjadi semakin tidak dapat aku sangkal. Itu tidak saja telah menghasilkan pemecahan lengkap bagi teka-teki drama, namun juga menjelaskan mengapa tidak seorang pun yang mampu memecahkannya. Sehingga dalam waktu yang bersamaan, pembahasan yang memesona atas sebuah tragedi itu, telah menjadi acuan universal. Hanya Freudlah ilmuwan yang mengunakan penemuannya untuk memahami karya Shakespeare. Ini adalah obat yang menjalin hubungan dengan jiwa. Ketika membaca dua halaman tulisan Dr. Freud The Interpretation of Dreams, terasa masa depanku menjadi jelas. Jika aku tidak dapat membuktikan kesalahan teori psikologi Dr. Freud, aku akan mengabdikan

hidup ini pada teori tersebut

9

AHLI OTOPSI CHARLES HUGEL tidak suka pada bunyi mengganggu yang keluar dari dinding kamar tidur Nona Riverford. Bunyi itu seperti jiwa yang terperangkap di dalam dinding dan mengerang minta dibebaskan. Hugel tidak dapat melupakan suara itu dari ingatannya. Lebihlebih ketika ia merasa yakin kalau ada sesuatu yang hilang dari ruangan itu. Sekembalinya ke kota, Hugel menelpon seorang pesuruh dan menyuruhnya mencari Detektif Littlemore.

Ada lagi yang tidak disukai Hugel yaitu ruang kantornya sendiri. Ahli otopsi itu belum juga diundang untuk pindah ke kantor pusat kepolisian yang megah atau ke First Precinct yang dibangun di Old Slip. Kedua gedung itu tentunya dilengkapi dengan pesawat-pesawat telepon. Para hakim telah mendapatkan Parthenon mereka belum lama berselang. Namun dirinya, yang bukan saja kepala pemeriksa jenazah kota, namun juga seorang pejabat sipil legal, yang tentunya sangat membutuhkan perlengkapan modern itu, justru ditinggalkan di gedung Van den Heuvel yang hampir roboh. Gedung itu dindingnya sudah terkelupas dan berjamur. Lebih buruk lagi, langit-langitnya bebercak air. Ia benci pada bercak-bercak air itu, dengan warna tepian bergerigi kecokelatan. Ia semakin membencinya hari ini karena rasa-rasanya, bercak itu semakin membesar. Ia juga mengira, mungkinkah langitlangit itu akan terbelah dan jatuh menimpanya? Tentu saja seorang ahli otopsi harus berdekatan dengan rumah penyimpanan jenazah. Ia tahu itu. Namun ia betulbetul tidak bisa

mengerti mengapa tempat penyimpanan jenazah modern tidak dapat dibangun jadi satu gedung dengan kantor-kantor polisi yang baru.

Littlemore bergegas memasuki kantor ahli otopsi. Detektif itu berusia duapuluh lima tahun. Tidak jangkung tidak juga pendek, Jimmy Littlemore tidak jelek, namun juga tidak terlalu tampan. Rambutnya, yang dipangkas sangat pendek, berwarna tidak gelap tapi tidak juga pirang; lebih tepat jika dikatakan merah. Ia berwajah khas Amerika, terbuka dan ramah, yang jika tidak ada beberapa nodanya, wajah itu tidak mudah untuk diingat. Jika Anda berpapasan dengannya di jalan, Anda sepertinya tidak akan mengingatnya kembali. Namun mungkin Anda akan teringat senyumannya yang siap terkembang, atau dasi kupu-kupu merah untuk melengkapi topi jeraminya.

Ahli otopsi itu, yang berusaha terdengar berwibawa dan tegas, menyuruh Littlemore melaporkan apa saja yang telah ditemukannya dalam kasus Nona Riverford. Sementara untuk hal-hal paling khusus dalam penyidikan ini, kewenangannya masih berada pada Hugel. Karena itu ia ingin Littlemore mengerti betapa seriusnya akibat yang akan ditimbulkan jika ia tidak mendapatkan hal-hal yang berguna.

Suara ahli otopsi itu ternyata gagal menanamkan kesan pada si detektif muda. Walaupun Littlemore belum pernah mendapat tugas menangani kasus bersama Hugel, ia sangat mengenal, sebagaimana siapa pun lainnya di dalam kepolisian, kalau ahli otopsi itu tidak disukai oleh Komisaris. Hugel juga memiliki nama ejekan “si ghoul” [maling kuburan] lantaran pekerjaannya yang berhubungan dengan mayat-mayat. Namun sayangnya, ia tidak

memiliki wewenang kuat di dalam departemen tersebut. Bagaimana juga Littlemore adalah seorang yang ramah sekali, maka itu ia tidak mempertunjukan rasa kurang hormatnya kepada Hugel.

“Aku sama sekali tidak tahu kasus Nona Riverford, Pak Hugel. Kecuali kalau si pembunuh berusia lebih dari limapuluh tahun, tingginya seratus tujuhpuluh lima sentimeter, tidak menikah, terbiasa melihat darah, tinggal di bagian bawah Canal Street, dan pergi ke pelabuhan dua hari sebelum kejadian itu.”

Mulut Hugel ternganga. “Bagaimana kau bisa tahu semua itu?”

“Aku bercanda, Pak Hugel. Aku tidak tahu apa-apa tentang si pembunuh. Aku bahkan tidak tahu mengapa mereka repot-repot menyuruhku ke sana. Anda tidak meninggalkan sidik jari sedikit pun di sana, kan?”

“Sidik jari?” Tanya Hugel, “tentu saja tidak. Pengadilan tidak pernah menerima sidik jari sebagai bukti kejahatan.”

“Yah, aku datang terlambat. Tempat itu sudah dibersihkan ketika aku datang. Semua barang milik gadis korban telah hilang.”

Hugel menjadi sangat marah. Ia menyebut pembersihan itu merusak bukti. “Tetapi kau seharusnya mengetahui sesuatu tentang Nona Riverford,” tambahnya.

“Ia penghuni baru,” sahut Littlemore, “ia baru tinggal di sana sekitar dua atau tiga bulan.”

“Balmoral baru dibuka pada bulan Juni, Littlemore. Semua penghuni di sana baru tinggal sekitar sebulan atau dua bulan.”

“Oh.”

“Tidak ada lainnya?”

“Yah, gadis itu pendiam sekali. Tidak punya banyak

teman.”

“Ada yang melihatnya bersama orang lain?” Tanya Hugel.

“Ia masuk sekitar pukul delapan. Sendirian. Tidak ada tamu setelah itu. Ia masuk ke apartemennya dan tidak keluar lagi, begitu setahu mereka.”

“Ia punya tamu tetap?”

“Tidak. Tak seorang pun yang ingat siapa saja tamu gadis itu.”

“Mengapa pada usia sedewasa itu dan di apartemen yang sebesar itu, ia tinggal sendirian di New York City?”

“Itulah yang ingin kuketahui,” sahut Littlemore, “tetapi orang-orang Balmoral sama sekali bungkam padaku. Aku sangat serius tentang pelabuhan, Pak Hugel. Aku menemukan sedikit sisa tanah liat di lantai kamar Nona Riverford. Masih agak basah. Kupikir itu tanah pelabuhan.”

“Tanah liat? Apa warnanya?” Tanya Hugel.

“Merah. Agak menggumpal.”

“Itu bukan tanah liat, Littlemore,” sergah Hugel seraya menggulung matanya ke atas, “itu kapur merahku.”

Detektif itu mengerutkan dahinya. “Aku heran, mengapa berbentuk lingkaran besar.”

“Tolol kau ini, supaya orang tidak menyentuh jasad korban itu!”

“Aku hanya bercanda, Pak Hugel. Itu bukan kapurmu. Aku melihat kapur merahmu. Tanah liat itu kulihat di dekat perapian. Beberapa jejak kecil. Aku butuh kaca pembesar untuk dapat melihatnya. Tanah itu kubawa pulang untuk kubandingkan dengan contoh-contoh tanah yang kukoleksi. Tanah itu sangat mirip dengan tanah yang ada di galangan pelabuhan.”

Hugel menerimanya. Ia menimbang-nimbang sebelum

memercayainya. “Apakah tanah di pelabuhan itu unik? Mungkinkah tanah itu berasal dari tempat lain, misalnya Central Park?”

“Bukan dari sana,” sahut detektif muda itu, “itu tanah sungai, Pak Hugel. Tidak ada sungai di taman.”

“Bagaimana dengan tanah dari Hudson Valley?”

“Mungkin juga berasal dari sana.”

“Atau Fort Tyron, di kota bagian atas, tempat Billings baru saja mengeduk begitu banyak tanah?”

“Menurutmu ada tanah liat di atas sana?”

“Aku ucapkan selamat untuk kerja detektifmu yang hebat, Littlemore.”

“Terima kasih, Pak Hugel.”

“Mungkin kau mau tahu tentang gambaran si pembunuhnya?”

“Jelas aku mau.”

“Lelaki itu berusia paruh baya, kaya raya, dan menggunakan tangan kanan. Rambutnya mulai beruban, namun semula berwarna cokelat tua. Tingginya sekitar seratus delapanpuluh dua sentimeter. Dan aku percaya ia mengenal korban itu dengan baik.”

Littlemore tampak kagum. “Bagaimana itu bias dipastikan?”

“Ini ada tiga helai rambut yang kuambil dari tubuh si korban.” Hugel menunjuk dua potong kaca segi empat yang dijepit menjadi satu di atas meja kerjanya, di sebelah sebuah mikroskop. Terapit di antara kaca-kaca itu, terdapat tiga helai rambut. “Warnanya gelap tetapi ada semburat kelabu, menunjukkan lelaki paruh baya. Pada leher gadis itu ada benang sutra putih, sangat mungkin itu adalah dasi lelaki yang digunakan untuk mencekiknya. Mutu sutranya paling tinggi. Maka lelaki itu

pastilah orang berduit. Dari keterampilannya, deksteritas-nya, tidak diragukan lagi ternyata luka-luka itu dibuat dari sebelah kanan ke kiri.” “Deksteritasnya?”

“Ketrampilan tangan kanannya, Detektif.” “Tetapi bagaimana kau tahu ia sudah mengenal si korban?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya menduga, Jawab pertanyaanku ini, bagaimanakah posisi Nona Riverford ketika ia dicambuki?”

“Aku tidak pernah melihatnya,” sahut si detektif seperti keberatan dengan pertanyaan itu, “aku bahkan tidak tahu penyebab kematiannya.”

“Strangulasi melengkung, dipastikan dengan keretakan pada pangkal tulang lidah, seperti yang kulihat ketika aku membuka dadanya. Patahan yang bagus, aku bisa katakan begitu, seperti percabangan tulang dada unggas. Ini memang dada perempuan cantik: tulang iganya berbentuk sempurna, paruparu dan jantung, begitu kuangkat, aku melihat jaringan bagian dada yang sehat. Aku senang memeganginya dalam satu tanganku. Tetapi ternyata, Nona Riverford dicabuki dalam keadaan berdiri. Buktinya, darahnya menetes langsung dari luka-luka cambukan. Kedua tangannya pasti terikat di atas kepalanya dengan tali besar atau sejenisnya. Hampir pasti ditempelkan pada sebuah alat yang berada di langitlangit kamar. Aku melihat tali itu terikat pada alat yang tergantung di langitlangit. Tidakkah kau melihatnya? Well, kembalilah ke sana dan kau menemukannya. Pertanyaannya, mengapa lelaki itu menggunakan dasi sutra yang lembut untuk mencekik Nona Riverford padahal ia memiliki tali yang kuat? Kesimpulan, Pak Littlemore, ia

tidak mau menempelkan sesuatu yang kasar pada leher si gadis. Mengapa begitu? Menurutku, ia mempunyai perasaan tertentu pada gadis itu. Sekarang, tentang tinggi badan lelaki itu, saya tahu pasti. Tinggi tubuh nona Riverford seratus enampuluh sentimeter. Dilihat dari luka-lukanya, pencambukan itu dilakukan oleh seorang yang tingginya duapuluh sentimeter di atas si korban. Jadi, tinggi tubuh si pembunuh sekitar seratus delapan puluh tiga sentimeter.”

“Kecuali jika ia berdiri di atas sesuatu,” kata Littlemore.

“Apa?”

“Di atas bangku atau sejenisnya.” “Di atas bangku?” Hugel mengulangi. “Itu mungkin saja,” kata Littlemore. “Seorang lelaki tidak berdiri di atas sebuah bangku ketika mencambuki seorang gadis, Detektif.” “Mengapa tidak?”

“Karena itu menggelikan. Ia bisa saja terjatuh.”

“Tidak, jika ia berpegangan pada sesuatu,” kata si detektif, “sebuah tiang lampu, mungkin, atau gantungan topi.”

“Gantungan topi?” Kata Hugel, “mengapa ia harus melakukan hal itu, Detektif?”

“Untuk membuat kita mengira ia lebih tinggi.”

“Berapa banyak kasus pembunuhan yang pernah kau selidiki?” Tanya Ahli Otopsi Hugel.

“Ini yang pertama bagiku,” kata Littlemore, dengan kegembiraan yang tak ditutupinya, “sebagai seorang detektif.”

Hugel mengangguk. “Aku rasa paling tidak kau sudah berbicara dengan si pelayan?” “Pelayan?”

“Ya, pelayan nona Riverford. Apakah kau menanyainya tentang suatu hal yang tidak seperti biasanya?” “Tidaka kukira.”

“Aku tidak mau kau berpikir,” bentak sang koroner, “aku ingin kau mencari tahu. Kembalilah menuju Balmoral dan bicaralah pada si pelayan lagi. Gadis itulah yang pertama kali memasuki kamarnya. Suruh ia menggambarkan dengan tepat apa yang dilihatnya ketika ia masuk dalam kamar itu. Dengan rinci, kau dengar?”

g

DI SUDUT Fifth Avenue Street dan Fifty-third Street, pada sebuah ruangan yang tidak pernah dimasuki seorang wanita, bahkan untuk sekadar membersihkan debu atau memukuli tirai, seorang pelayan lelaki menuangkan minuman dari sebuah karaf anggur ke dalam tiga buah gelas kristal. Bagian mangkuk gelas tersebut diukir begitu halus dan sangat dalam, sehingga dapat menampung seluruh isi botol anggur. Si pelayan menuangkan sedikit anggur merah pada setiap gelas kristal itu.

Gelas-gelas itu ditawarkannya kepada tiga orang lakil—

aki.

Mereka duduk di beberapa kursi berlengan lapis kulit yang diatur di sekeliling perapian di tengah ruangan. Ruangan itu adalah sebuah perpustakaan yang menyimpan lebih dari seribu tigaratus jilid buku, dan pada umumnya berbahasa Yunani, Latin, atau Jerman. Pada satu sisi perapian yang tidak dinyalakan, berdiri sebuah patung dada Aristoteles dengan pilar penyangga dari pualam hijau lumut. Pada sisi lainnya, terdapat patung dada Hindu kuno. Di atas perapian terdapat sebuah

rangka yang memamerkan seekor ular besar melingkari sebuah gelombang sine [lambang gerakan harmonis], di depan latar belakang nyala api. Kata CHARAKA terukir dengan huruf-huruf kapital di bawahnya.

Asap dari pipa ketiga lelaki itu mengusap langitlangit yang tinggi. Tangan kanan seorang lelaki yang duduk di tengah, bergerak hampir tidak kentara. Tangan itu mengenakan seukuran besar cincin perak yang berbentuk unik. Usianya di penghujung limapuluhan, terlihat anggun, wajahnya cekung, kurus namun kokoh, dengan bola mata hitam, alis hitam di bawah rambut peraknya, dan memiliki tangan bagaikan seorang pianis.

Sebagai tanggapan atas gerakan tangan itu, si pelayan menyalakan perapian, Tumpukan kertas yang ada di dalamnya pun tersentuh percikan api, kemudian terbakar, Perapian itu menyala dan berderak-derak dengan tarian api Jingga. “Pastikan kau menyimpan abunya,” kata sang majikan kepada pelayannya.

Si pelayan mengangguk tanda mengerti, lalu pamit, dan menutup pintu,

“Hanya ada satu cara melawan api,” lanjut lelaki

bertangan pianis tadi. Ia mengangkat gelas anggurnya “Tuan-tuan.”

Ketika kedua lelaki lainnya juga mengangkat gelas kristal mereka—bila saja ada seseorang yang mengamati—terlihat seakan mereka juga mengenakan cincin perak yang sama pada tangan kanan mereka. Salah satu dari kedua orang lelaki itu bertubuh gendut dan berpipi merah lantaran noda terbakar sebesar potongan stik daging domba. Ia pun menyempurnakan ajakan bersulang lelaki anggun tadi, “Dengan api,” kemudian ia menghabiskan isi gelasnya.

Lelaki ketiga berkepala botak, bermata tajam, dan kurus. Ia tidak berkata-kata namun mereguk Chateau Lafite, anggur keluaran tahun 187D.

“Kau mengenal Baron?” Tanya lelaki anggun itu sambil menoleh pada lelaki berkepala botak, “Aku kira kau memiliki hubungan keluarga dengannya,”

“Yang kau maksud adalah si Rothschild?” Tanya si botak dengan lembut, “aku belum pernah bertemu dengannya. Ikatan kami hanyalah sama-sama berasal dari Inggris.”

Tiga

UNTUK KUNJUNGAN PERTAMA FREUD ke Amerika, dari semua tempat wisata yang ada, Brill memilihkan Coney Island. Dengan berjalan kaki, kami hanya menuruni blok dari hotel ke Grand Central Station. Langit tak berawan, matahari sudah panas, jalan-jalan padat dengan lalulintas Senin pagi. Mobil-mobil berjalan cepat, tak sabar di sekitar kereta-kereta kuda pembawa barang kiriman. Kami tidak mungkin untuk berbincang-bincang. Di seberang hotel, di jalan Forty Second Street, tiang besar telah didirikan di sebuah gedung akan dibangun, dan sebuah alat pengebor bertekanan angin mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.

Di dalam terminal, tibatiba menjadi senyap. Freud dan Ferenczi berhenti kebingungan. Kami berada di dalam sebuah terowongan kaca dan baja, panjangnya seratus sembilahpuluh delapan meter, dengan ketinggian tiga puluh meter, diterangi oleh lampu gas gantung yang dipasang di sepanjang langit-langitnya yang melengkung. Itu adalah hasil karya para insinyur yang jauh melampaui menara karya Tuan Eiffel di Paris. Hanya Jung yang tampak tidak terkesan. Aku mengira apakah ia sehat-sehat saja; ia tampak agak pucat dan bingung. Freud tampak sangat terkejut, seperti juga aku, ketika tahu kalau mereka akan membongkar stasiun itu. Namun stasiun itu dulu dibangun untuk lokomotif bertenaga uap, sementara zaman mesin uap sudah berakhir.

Ketika kami menuruni tangga ke IRT, suasana hati Freud menjadi meredup. “Ia takut pada kereta api bawah tanah kalian,” bisik Ferenczi di telingaku. “Neurosa yang tak dapat dianalisa. Ia mengatakan begitu padaku tadi malam.”

Perasaan Freud belum juga membaik ketika kereta api kami tibatiba tersentak berhenti di dalam sebuah terowongan antara stasiun satu dan yang lainnya, lampunya berkerdip mati, membenamkan kami ke dalam kegelap gulitaan yang pengap. “Gedung-gedung di langit, kereta api di bumi,” kata Freud dengan suara kesal. “Ini Virgil bersama kalian orang Amerika: jika kau tidak bias menurunkan surga, kau memutuskan untuk mengangkat neraka.”

“Itu prasasti-mu, kan?” Tanya Ferenczi.

“Ya, tetapi tidak seharusnya menjadi tulisan pada nisan-ku,” kata Freud.

“Tuan-tuan!” Seru Brill tibatiba, “Kalian masih belum mendengar analisa Younger tentang tangan yang lumpuh.”

“Sebuah sejarah kasus?” Kata Ferenczi bersemangat. “Kami harus mendengarnya.”

“Jangan, jangan. Itu belum lengkap,” kataku.

“Omong kosong,” Brill mengomeliku. “Itu adalah analisa yang sempurna yang pernah kudengar. Itu menegaskan setiap prinsip psikoanalisa.”

Karena hanya mempunyai sedikit pilihan, aku pun menceritakan keberhasilan kecilku, sambil menunggu dalam kegelapan hingga kereta api berjalan kembali.

g

AKU LULUS DARI HARVARD pada tahun 19D8, dengan kesarjanaan tidak saja dari kedokteran namun juga dari psikologi. Para profesorku terkesan atas keberhasilanku, sehingga menarik perhatian G. Stanley Hall, orang pertama yang lulus dari fakultas psikologi di Harvard, seorang pendiri American Psychological Association, dan sekarang menjabat President Clark University di Worcester. Hall berambisi agar Clark menjadi lembaga terdepan dalam bidang penelitian ilmiah di negeri ini. Ketika ia menawariku kedudukan sebagai seorang asisten dosen di fakultas psikologi, sementara aku masih boleh memulai praktik dokterku—dan keluar dari Boston—aku langsung menerimanya

Satu bulan kemudian, aku mendapatkan pasien analitisku yang pertama: seorang gadis bernama Priscilla, berusia enambelas tahun, dibawa ke ruang praktikku oleh ibunya yang kebingungan. Hall bertanggungjawab atas keputusan keluarga mereka untuk membawa gadis itu padaku. Aku tidak dapat menceritakan lebih dari itu tanpa membuka jati diri gadis tersebut.

Priscilla pendek dan berat namun wajahnya menyenangkan dan pribadinya yang tidak suka mengeluh. Selama setahun ia menderita nafas tersengal-sengal, kadang-kadang sakit kepala yang tak tertahankan dan

tangan kirinya lumpuh total—semuanya itu membuatnya gagap dan malu. Histeria jelas merupakan penyebab kelumpuhan, yang menyerang seluruh tangannya, termasuk pergelangannya. Seperti yang telah dijelaskan Freud, kelumpuhan seperti ini tidak ada hubungannya dengan perubahan pada kulit, dan karena itu dapat dinyatakan tidak sebagai penyakit yang berdasarkan jasmaniah. Misalnya, kerusakan syaraf asli mungkin menyebabkan jemari tertentu tidak dapat berfungsi, namun tidak menjalar hingga pergelangan tangan. Atau ibu jari yang tidak dapat berfungsi, sehingga menyebabkan jemari yang lainnya juga tidak dapat berfungsi. Tetapi, ketika kelumpuhan menyerang seluruh tubuh, itu bukan masalah fisiologi tetapi psikologi yang harus dikonsultasikan. Karena serangan seperti ini hanya berhubungan dengan satu hal, citra kejiwaan—dalam kasus Priscilla, citra dari tangan kirinya.

Dokter yang merawat gadis itu tentu saja tidak menemukan penyebab kelumpuhannya. Tidak juga sang ahli chirologi dari New York yang menyarankan agar beristirahat dan betulbetul melakukan aktifitas. Tentu saja hal itu memperburuk keadaan Priscilla. Bahkan mereka telah memanggil seorang ahli tulang, yang tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah mengenyampingkan berbagai kemungkinan neurologis dan orthopedis—palsi, penyakit kegilaan Kien-bock, dan seterusnya—aku memutuskan untuk mencoba psikoanalisa. Pertama-tama aku tidak membuat kemajuan. Alasannya adalah kehadiran sang ibu gadis itu. Tidak ada petunjuk yang cukup untuk memintannya meninggalkan dokter dan pasiennya berdua saja seperti yang disyaratkan dalam perawatan psikoanalisa. Setelah kunjungan

ketiga, aku memberitahu sang ibu kalau aku tidak akan dapat membantu Priscilla, atau menerimanya sebagai pasienku lagi, kecuali sang ibu tidak ikut hadir. Meskipun demikian, awalnya aku tetap tidak dapat membuat Priscilla. Mengikuti kemajuan-kemajuan terapi Freud yang paling baru, aku menyuruh Priscilla berbaring dengan mata terpejam. Aku menyuruhnya untuk memikirkan tangannya yang lumpuh dan mengatakan apa saja yang muncul dalam pikirannya yang ada hubungannya dengan gejala penyakitnya, menyuarakan setiap pikiran yang masuk ke dalam benaknya, apa pun itu, betapapun tampak tidak ada hubungannya, tidak pantas, atau bahkan tidak sopan. Namun demikian, Priscilla menanggapinya hanya dengan mengulang-ulang penggambaran yang paling biasa tentang awal penderitaannya.

Apa yang ia ceritakan tidak ada yang baru. Hingga pada suatu hari penting tanggal 10 Agustus 19D7, Priscilla teringat hari yang penting. Hari itu adalah sehari setelah pemakaman kakak perempuan kesayangannya, Mary, yang tinggal di Boston bersama suaminya, Bradley. Pada musim panas itu, Mary meninggal dunia karena influensa, meninggalkan Bradley dengan dua anak balitanya untuk dirawat. Pada hari setelah pemakaman, Priscilla diberti tugas oleh ibunya untuk menulis ucapan terima kasih pada begitu banyak teman dan keluarga yang turut berduka cita, Malam itu, tangan kirinya—yang biasa digunakannya untuk menulis—terasa sakit luar biasa. Ia tidak mengira itu wajar-wajar saja karena ia memang sudah menulis begitu banyak surat. Ia pun terkadang merasakan sakit itu selama beberapa tahun terakhir. Malam itu, ia terbangun dari tidurnya, tidak dapat bernafas. Ketika gangguan pernafasan itu mereda, ia

mencoba untuk kembali tidur, tetapi tidak bisa. Pada pagi hari, ia menderita, untuk pertama kalinya, sakit kepala yang terus mengganggunya hingga tahun berikutnya. Lebih buruk lagi, ternyata tangan kirinya juga lumpuh. Saat itu tangannya tidak berfungsi hanya sebatas pergelangannya.

Ini dan aspek lainnya terus diulang-ulangnya padaku. Setelah itu ia akan terdiam, lama. Betapapun aku memaksa dan meyakinkannya kalau pasti masih ada yang bisa ia ceritakan padaku, ia berkeras mengaku tidak mampu bercerita lagi.

Aku berniat untuk menghipnotisnya. Ia gadis yang sangat mudah dipengaruhi. Tetapi Freud secara tegas menolak hipnotis. Pada awalnya tehnik itu pernah menjadi cara yang disukai Freud ketika ia masih bekerja bersama Breuer. Namun kemudian Freud menemukan bahwa hipnotis tidak bertahan dampaknya, juga tidak menghasilkan kenangan yang dapat dipercaya. Aku lebih baik menggunakan tehnik baru yang dicetuskan Freud begitu ia meninggalkan tehnik hipnotis. Cara itulah kemudian yang membawaku ke terobosan baru.

Aku katakan pada Priscilla kalau aku akan meletakkan tanganku di atas keningnya. Aku yakinkan pada dirinya bahwa ada kenangan yang masih ingin keluar. Kenangan itulah yang menjadi pusat kepentingan segala yang telah dikatakannya padaku. Tanpa kenangan itu kami tidak akan mengerti apa pun. Aku katakan juga bahwa ia sangat mengenal kenangan itu, walau ia tidak tahu kalau ia mengetahui kenangan itu. Lalu kenangan itu segera muncul begitu tanganku menempel pada keningnya.

Aku ragu melakukan itu, karena aku telah mempertaruhkan otoritasku. Jika gagal, reputasiku akan lebih

buruk dibandingkan sebelumnya. Namun, kenangan itu muncul juga, begitu Priscilla merasakan tekanan tanganku pada kepalanya, tepat seperti yang tertulis pada tulisan Freud.

“Oh, Dr. Younger,” serunya. “Aku melihatnya!” “Apa?”

“Tangan Mary.” “Tangan Mary?”

“Di dalam peti jenazah. Mengerikan sekali. Mereka menyuruh kami melihat jenazah Mary.”

“Lanjutkan,” kataku. Priscilla tidak mengatakan apa-apa.

“Ada yang salah pada tangan Mary?” Tanyaku.

“Oh, tidak, Dokter. Tangan itu sempurna. Tangannya selalu sempurna. Ia dapat memainkan piano dengan indah, tidak seperti aku.” Priscilla berjuang mengatasi perasaan yang tidak dapat kujelaskan. Warna pipi dan dahinya memperingatkanku; warnanya menjadi hampir merah terang. “Ia masih sangat cantik. Bahkan peti jenazahnya pun indah, semua dilapis beledu dan kayu putih. Ia tampak seperti Sleeping Beauty, Tetapi aku tahu ia tidak tidur.”

“Ada apa dengan tangan Mary?”

“Tangannya?”

“Ya, tangannya, Priscilla.”

“Kumohon, jangan suruh aku mengatakannya padamu,” katanya. “Aku malu.”

“Kau tidak perlu malu. Kita tidak bertanggungjawab atas perasaan kita; karena itu tidak ada perasaan yang bisa membuat kita malu.”

“Betul begitu, Dr. Younger?”

“Betul.” “

“Tetapi aku salah.”

“Tangan kiri Mary, bukan?” Tanyaku mereka-reka. Ia mengangguk seolah sedang mengakui sebuah kejahatan.

“Ceritakan padaku tentang tangan kiri, Priscilla.”

“Cincin itu,” bisiknya, dengan suara yang sangat lirih.

“Ya,” kataku. “Cincin itu.” Kata ‘ya’ yang kuucapkan adalah kebohongan. Kuharap kata itu akan membuat Priscilla mengira aku sudah tahu segalanya, padahal sebenarnya, aku tidak tahu apa-apa. Tindakan tipu daya ini adalah satusatunya aspek dari segala pekerjaan ini yang kusesali. Tetapi ternyata aku melakukan tipu daya itu berulang-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, pada setiap tindakan psikoanalisa yang kulakukan.

Ia melanjutkan, “Itu adalah cincin emas yang diberikan Brad padanya. Kupikir, sayang sekali. Sayang sekali jika cincin itu terkubur bersamanya.”

“Seharusnya tidak perlu malu tentang hal itu. Sebenarnya itu adalah suatu kearifan saja, bukan sifat buruk,” kataku meyakinkannya dengan ketegasan seperti biasanya.

“Kau tidak mengerti,” katanya. “Aku menginginkan cincin itu untuk diriku sendiri.” “Ya.”

“Aku ingin mengenakannya, Dokter,” ia hamper berteriak. “Aku ingin Brad menikahi aku. Masa sih aku tidak bisa merawat dua bayi malang itu? Aku bias membuatnya bahagia.” Ia membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya dan menangis. “Aku senang Mary meninggal, Dr. Younger. Aku senang. Karena sekarang Brad bebas untuk menikahiku.”

“Priscilla,” kataku. “Aku tidak bisa melihat wajahmu.”

“Maafkan aku.”

“Maksudku, aku tidak bisa melihat wajahmu karena tangan kirimu menutupinya.”

Ia tersedak. Benar: ia menggunakan tangan kirinya untuk menyeka air matanya. Gejala histerianya telah menghilang begitu ia mengingat kembali kenangan yang mengakibatkan timbulnya penyakit itu. Sekarang setahun telah berlalu, dan kelumpuhan itu tidak pernah muncul lagi. Demikian pula masalah sesak nafas dan sakit kepalanya.

Kelanjutan kisahnya cukup sederhana. Priscilla telah jatuh cinta pada Bradley sejak lelaki itu datang mengunjungi Mary. Ketika itu, Priscilla berusia tigabelas tahun. Aku tidak akan mengejutkan siapa pun, kuharap, karena penelitianku menyimpulkan bahwa cinta seorang gadis berusia tigabelas tahun bisa melibatkan gairah birahi, walau ia sendiri tidak mengerti hal seperti itu. Priscilla tidak pernah mengakui gairah itu, atau kecemburuan yang dirasakannya pada kakak perempuannya. Akibatnya tak dapat dielakkan bahwa pikiran anak itu mengarah ke oportunistis, jika saja Mary meninggal dunia, akan ada jalan terbuka baginya. Segala perasaan itu menekan Priscilla, bahkan juga pada bawah sadarnya. Tekanan itu pasti merupakan penyebab utama rasa saki pada tangan kirinya yang terkadang muncul, yang mungkin bermula sejak hari pernikahan itu sendiri. Ketika itu Priscilla pertama kali melihat cincin emas diselipkan ke jari kakak perempuannnya. Dua tahun kemudian, pandangan cincin pada tangan Mary di dalam peti jenazah membangkitkan pikiran yang sama. Itu nyaris muncul— atau mungkin, memang muncul sesaat—pada kesadaran Priscilla. Tetapi sekarang, selain memiliki perasaan

cemburu dan gairah yang tabu, ada juga kepuasan yang tak dapat dimaklumi pada kematian kakak perempuannya yang terlalu cepat. Sehingga tekanan baru, betulbetul yang lebih kuat dari yang pertama.

Peran yang dimainkan oleh secarik surat terima kasihnya ternyata lebih pelik. Orang hanya dapat membayangkan bagaimana Priscilla menderita ketika menatap tangan kirinya yang kosong, tidak dipercantik dengan sebentuk cincin kawin. Ia juga selalu terlihat lara atas kematian kakak perempuannya. Boleh jadi ini adalah pertentangan yang tak tertahankan bagi Priscilla. Pada waktu yang bersamaan, keletihan menulis mungkin juga menjadi pemicu atas apa yang muncul kemudian. Dalam segala kesempatan, tangan kirinya menjadi suatu bentuk penghinaan baginya, yang mengingatkan dirinya akan keadaannya yang tidak menikah juga pada harapannya yang tak tercapai.

Tiga hal yang harus dilakukan Priscilla menjadi beban yang sangat besar. Pertama, ia tidak mau memiliki tangan seperti itu; ia harus menyingkirkan tangan yang seharusnya mengenakan cincin kawin. Kedua, ia harus menghukum dirinya sendiri karena keinginannya menggantikan Mary menjadi istri Bradley. Ketiga, pelaksanaan harapannya harus terwujud. Ketiga hal ini masingmasing terselesaikan melalui panyakit histerianya; bagaimana alam bawah sadarnya melaksanakan ketiga hal tersebut, menurutku, benar-benar mengagumkan. Secara simbolis, Priscilla memisahkan dirinya sendiri dari tangannya yang memalukan itu, bersamaan dengan itu ia memenuhi harapannya dan menghukum dirinya sendiri karena terpenuhinya harapan itu. Dengan membuat dirinya cacat, ia juga meyakinkan kalau ia tidak dapat lagi merawat anak-anak

Bradley, atau yang dengan cerdik dikatakan sebagai “membuat Bradley bahagia.”

Perawatan Priscilla, dari awal hingga akhir, memakan waktu selama dua minggu. Setelah aku meyakinkannya kalau harapannya betulbetul wajar dan di luar kendalinya, maka tidak saja penyakitnya sembuh tetapi juga menjadi lebih ceria. Berita tentang kesembuhan seorang cacat tersebar melalui Worcester seolah Sang Penyelamat telah mengembalikan penglihatan Isaiah yang buta. Kisah yang tersebar tentang Priscilla seperti ini: Priscilla telah jatuh sakit karena cinta, dan aku telah menyembuhkannya. Penempelan tanganku pada keningnya telah diberi kekuatan mistik yang sesungguhnya tidak ada. Hal itu membuat reputasi dan praktik kedokteranku maju dengan cepat, namun juga membuat berkurangnya kenyamananku. Datanglah sekitar empatpuluh orang pasien psikoanalitis ke kantorku. Masingmasing mengaku menderita gejala yang sama dengan Priscilla dan semuanya mengharapkan diagnosa tentang cinta tak berbalas dan minta penyembuhan dengan penempelan tanganku.

g

KERETA API ITU memasuki stasiun City Hall ketika aku selesai bercerita. Tidak seorang pun menanggapi kasus Priscilla. Kukira aku telah memperolok diriku sendiri. Namun Brill menyelamatkan aku. Ia berkata kepada Freud kalau aku berhak tahu pendapat “Sang Guru” tentang analisaku.

Freud menoleh dan menatap padaku dengan, hampir-hampir aku percayai, sinar mata yang menyenangkan. Ia mengatakan, jika beberapa bagian kecil diabaikan, analisa itu tidak dapat dikembangkan lagi. Ia menganggap analisaku cemerlang, dan minta izin padaku untuk menghubungkan analisaku dengan karya berikutnya. Brill menepuk punggungku; Ferenczi tersenyum dan menjabat tanganku. Ini tidak hanya patut disyukuri dalam karir profesionalku; tapi patut disyukuri di sepanjang hidupku.

Aku tak pernah menyadari betapa bagusnya stasiun City Hall. Semua tamuku terkesan karenanya—kecuali Jung, yang tibatiba memberitahu kalau ia tidak akan ikut bersama kami. Jung juga tidak mengatakan apa-apa, baik ketika atau setelah aku menceritakan sejarah kasusku. Ia bilang, ia harus segera tidur.

“Tidur?” Tanya Brill. “Kau tadi malam tidur jam sembilan.” Jung telah pergi ke kamarnya begitu kami tiba dan tidak turun lagi. Sementara kami makan malam bersama di hotel, dan baru masuk kamar setelah lewat tengah malam.

Freud bertanya pada Jung apakah ia sehat-sehat saja. Jung menjawab kalau hanya kepalanya saja yang sakit. Freud memintaku membawanya kembali ke hotel. Tetapi Jung tidak mau dibantu. Ia meyakinkan kami kalau ia bisa mengikuti jalan yang kami lalu tadi dengan mudah. Kemudian kami, tanpa Jung, melanjutkan perjalanan.

9

KETIKA DETEKTIF JIMMY LITTLEMORE kembali ke Balmoral pada Senin malam, salah satu penjaga pintu baru saja tiba untuk memulai tugas. Clifford, penjaga itu, telah mendapat giliran bertugas sebagai penjaga makam pada malam sebelumnya. Littlemore bertanya padanya apakah ia mengenal Nona Riverford.

Tampaknya Clifford tidak menerima perintah untuk tutup mulut dari atasannya. “Tentu, aku ingat gadis itu,”

katanya. “Cantik sekali.”

“Kau pernah bicara dengannya?” Tanya Littlemore. “Ia tidak banyak bicara, setidaknya kepadaku.” “Kau ingat adakah sesuatu yang khusus tentang gadis itu?”

“Aku pernah membukakan pintu untuknya beberapa kali pada pagi hari,” jawab Clifford. “Apa istimewanya?”

“Aku selesai bertugas jam enam pagi. Gadis-gadis yang kulihat pada jam itu hanyalah para pekerja, sedangkan Nona Riverford kelihatannya bukan gadis seperti itu. Kau tahu maksudku, kan? Ia mungkin saja pergi pada jam lima atau setengah enam, aku tidak tahu pastinya.”

“Ke mana?” Tanya Littlemore.

“Mana aku tahu.”

“Bagaimana dengan kemarin malam? Kau melihat seseorang atau apa pun yang tidak lazim?”

“Apa maksudmu dengan tidak lazim?” Tanya Clifford.

“Apa saja yang berbeda, orang lain yang belum pernah kau lihat.”

“Ada seorang lelaki,” ujar Clifford, “ia pergi sekitar tengah malam. Tergesa-gesa sekali. Kau melihat lelaki itu, Mack? Ada yang tidak beres padanya, menurutku.”

Penjaga pintu lainnya yang dipanggil Mack menggelengkan kepalanya.

“Merokok?” Tanya Littlemore pada Clifford, yang menerima rokok itu, kemudian memasukkannya ke dalam saku, karena ia tidak boleh merokok ketika bertugas, “Mengapa ia tidak beres?”

“Tidak beres saja. Mungkin ia orang luar negeri.” Clifford tak dapat menyebutkan kecurigaannya secara lebih jelas. Namun jelas ia menyatakan kalau lelaki itu tidak

tinggal di gedung ini. Littlemore mencatat gambaran tentang lelaki itu: berambut hitam, jangkung, ramping, pakaiannya bagus, dahi lebar, berusia pertengahan-akhir tigapuluhan, berkacamata, membawa tas hitam atau sejenisnya. Lelaki itu menumpang taksi tua di luar Balmoral, menuju ke kota. Littlemore menginterogasi para penjaga pintu itu selama sepuluh menit. Tidak seorang pun yang dapat mengingat. Mungkin saja lelaki yang dicari itu telah memasuki apartemen tanpa diketahui bersama salah seorang penghuni. Setelah itu Littlemore bertanya di mana letak ruang para pelayan Balmoral. Mereka menunjuk ke arah ruang bawah tanah.

Di ruang bawah tanah, Littlemore memasuki ruangan berlangit-langit rendah dan pengap dengan pipa-pipa bersilang-silang pada dindingnya, dan sekelompok pelayan yang sedang melipati kain linen. Semuanya mengetahui siapa pelayan Nona Riverford, namanya Betty Longobardi. Dengan berbisik, mereka menceritakan kepada detektif kalau ia tidak akan dapat menemukan Betty di tempat mana pun gedung ini. Betty telah pergi tadi pagi tanpa mengucapkan selamat tinggal pada siapa pun. Mereka tidak tahu mengapa. Betty sangat sibuk tetapi ramah. Ia tidak pernah mau menerima katakata kasar, bahkan dari pengelola sayap gedung ini. Begitulah kata seorang pekerja wanita kepada Littlemore di ruang itu. Mungkin Betty bertengkar lagi dengan si pengelola. Salah satu pelayan tahu di mana tempat tinggal Betty. Setelah informasi ini, Littlemore pergi. Kemudian ia melihat seorang berdarah Cina.

Lelaki itu mengenakan kaos-dalam putih dan celana pendek berwarna gelap. Ia memasuki ruangan sambil membawa sebuah keranjang anyaman rotan dipenuhi

kain-kain cucian. Setelah mengeluarkan isi keranjangnya, ia keluar ruangan lagi. Itulah yang menarik perhatian Littlemore. Detektif itu menatap betis gemuk dan sandal lelaki tadi. Seharusnya ia tak terlalu tertarik pada hal seperti itu, termasuk cara lelaki itu berjalan yang menimbulkan suara seretan langkah kaki. Akibatnya, menarik. Dua garis basah membekas di lantai setelah lelaki itu berlalu. Kedua garis itu bernoda tanah liat merah gelap berkilau.

“Hei kau!” Seru detektif itu. Lelaki itu berhenti, masih membelakangi Littlemore, bahunya menggantung, namun mulai bergerak. Kemudian ia berlari sambil membawa keranjangnya, dan menghilang di sebuah sudut. Detektif itu berlari kencang mengejarnya, berbelok di sudut, tepat ketika ia melihat lelaki itu mendorong sepasang pintu angin di ujung koridor panjang. Littlemore berlari di sepanjang koridor. Ia melewati pintu tadi dan melihat ke sekeliling ruang binatu yang besar dan bising. Di sana terdapat orang bekerja di atas papan-papan setrikaan, papan cuci, pengepres uap, dan alat pencuci yang harus diputar dengan tangan. Para pekerja itu adalah orang-orang Negro, kulit putih, Italia, dan Irlandia—wajah berbagai bangsa—tetapi tidak ada orang Cina. Sebuah keranjang rotan tergeletak menghadap ke atas, di dekat papan setrika, masih bergerak sedikit seolah baru saja diletakkan. Seluruh lantainya basah, sehingga tidak ada jejak yang dapat diikuti. Littlemore mengangkat sedikit tepi topi jeraminya dan menggelengkan kepalanya.

g

TAMAN GRAMERCY, di kaki Lexington Avenue, merupakan satusatunya taman pribadi di Manhattan. Yang berhak memasukinya hanyalah para pemilik rumah di seberang pagar indah yang terbuat dari besi tempa. Setiap pemilik rumah memiliki kunci pintu gerbang taman, yang memberikan jalan masuk ke surga kecil bebungaan dan penuh kehijauan di dalamnya.

Hari itu Senin 30 Agustus. Malam baru saja turun. Seorang gadis baru saja keluar dari salah satu rumah. Sebuah kunci—yang terbuat dari emas, kokoh, dan dilapisi warna hitam—akan selalu menjadi benda ajaib. Sewaktu masih menjadi seorang bocah, gadis itu diperbolehkan oleh Ibu Biggs tua—pelayannya—untuk membawa kunci tadi di dalam sebuah tas kecil putihnya bila mereka hendak menyeberangi jalan. Gadis itu masih terlalu kecil untuk dapat memutar kunci itu dengan tangannya, namun Ibu Biggs akan membantunya. Ketika terbuka, seakan-akan dunialah yang tengah tersingkap lebar di hadapannya.

Namun taman bebungaan itu telah jauh mengecil ketika bocah tadi telah tumbuh menjadi seorang gadis. Kini, pada usianya yang ke tujuhbelas, tentu saja ia dapat memutar kunci itu tanpa bantuan siapa pun. Itulah yang dilakukannya pada malam itu. Ia masuk ke taman sendiri dan berjalan perlahan-lahan ke arah sebuah bangku yang selalu biasa didudukinya. Ia mengempit buku pelajarannya di lengannya. Juga sebuah buku rahasianya, The House of Mirth. Ia masih menyukai bangkunya walaupun kini taman itu hanyalah sebagai pelengkap rumah ketimbang tempat berlindungnya. Sejak lima minggu lalu, Ayah dan Ibunya sedang pergi ke desa, meninggalkannya bersama Ibu

Biggs dan suaminya. Gadis itu senang melihat kedua orang tuanya pergi.

Hari itu sangat panas. Tetapi bangku itu terletak di bawah sepokok pohon willow dan kanopi tua yang rindang. Buku-buku terbuka di sampingnya. Dua hari lagi, September sudah tiba, suatu kesempatan yang dinantinya sejak lama sekali. Akhir minggu depan, ia akan berusia delapanbelas tahun. Tiga minggu setelah itu, ia akan masuk kelas matrikulasi di Barnard College. Ia adalah salah satu gadis yang sekian lama tertahan untuk menjadi dewasa. Sehingga pada usia ketigabelas, empatbelas dan limabelas tahun, ia masih saja bermain dengan boneka kapuknya. Sebenarnya, ia sangat berharap dapat hidup dengan cara berbeda. Setidaknya seperti teman-teman sekolahnya yang telah membicarakan stoking, gincu, dan berbagai acara undangan. Pada usia enambelas tahun, boneka kapuknya telah disimpan ke atas lemari yang sulit dijangkau. Pada usia tujuhbelas tahun, ia telah menjadi seorang gadis yang luwes, bermata biru, dan cantik menawan. Rambut pirangnya panjang, diikat dengan pita di belakang.

Ketika lonceng Gereja Calvary berdentang enam kali, ia melihat Bapak dan Ibu Biggs berjalan dari depan serambi muka. Mereka berdua bergegas menuju toko-toko sebelum tutup sambil melambaikan tangan. Gadis itu pun membalasnya. Beberapa menit kemudian, ia beranjak pulang ke rumah sambil mengusap air matanya dan mengempit buku-buku tadi di dadanya. Ia melihat rumput dan daun semanggi, juga lebah-lebah yang beterbangan. Jika menoleh ke kiri, ia mungkin akan melihat, di kejauhan taman, seorang lelaki memandanginya dari bagian luar pagar.

Lelaki yang telah mengamatinya sejak lama ini, membawa sebuah tas hitam di tangan kanannya. Ia berbusana serba hitam. Berlebihan sebenarnya, sehingga tampak kegerahan. Tatapannya tak pernah dilepaskan. Gadis itu terlihat menyeberangi jalan lau menaiki tangga menuju rumah besarnya. Rumah indah itu terbuat dari batu kapur, dihiasi dengan dua buah patung singa bak para penjaga pada setiap sisi pintu depan. Lelaki itu melihat si gadis membuka pintu tanpa membuka kuncinya.

Lelaki itu telah mengamati dua orang pelayan tua yang baru saja meninggalkan rumah. Setelah mengerlingkan mata ke kiri, kanan dan ke belakang, ia pun beranjak. Dengan cepat ia tiba di rumah itu, menaiki tangga, mencoba membuka pintu, dan tahu kalau pintu itu masih belum terkunci.

Setengah jam kemudian, keheningan Taman Gramercy pecah karena teriakan seorang gadis. Jeritan itu merambat dari ujung satu jalan ke ujung lainnya, mengambang di udara, terus mengambang lebih lama dari perkiraan orang biasanya. Tidak lama setelah itu, seorang lelaki menyeruak keluar dari pintu belakang rumah tadi. Sebuah benda metal berukuran tidak lebih besar dari sekeping uang logam, melayang dari tangannya ketika lelaki itu tersandung anak tangga belakang. Logam itu mengenai tiang bendera dan, anehnya, melambung tinggi ke udara. Lelaki itu sendiri hampir terjerambab, namun bisa menguasai keseimbangannya. Ia terus berlari ke arah bangsal pot-pot di taman, lalu meloloskan diri dari sana melalui lorong di belakang.

Bapak dan Ibu Biggs yang baru saja tiba dengan membawa tas-tas sayuran dan bunga, mendengar jeritan itu. Dengan penuh ketakutan dan secepat mungkin, mereka berebutan menaiki tangga. Di lantai dua, pintu kamar tidur utama terbuka, padahal sebelumnya tertutup. Di dalam ruangan itulah mereka menemukan seorang gadis. Keranjang belanjaan jatuh terlepas dari tangan Pak Biggs. Setengah kilogram tepung terigu berserakan di sekitar sepatu hitamnya. Ada yang membentuk awan debu kecil putih. Bawang kuning pun menggelinding ke arah kaki telanjang gadis itu.

Gadis itu berdiri di tengah kamar tidur orangtuanya, hanya mengenakan pakaian dalam. Ia selayaknya tidak terlihat para pelayan itu. Tungkainya telanjang. Lengan ramping jenjangnya terangkat ke atas kepalanya. Pergelangan tangannya terikat menjadi satu dengan tali tebal yang kuat terkait di langitlangit, tempat sebuah lampu gantung kecil tergantung. Jemari gadis itu hampir menyentuh prisma kristal. Celana dalamnya robek pada bagian depan dan belakangnya, seolah tercabik oleh cambuk rotan. Sehelai selendang leher lelaki berwarna putih diikatkan erat di lehernya, dan di antara bibirnya.

Bagaimanapun juga, ia belum mati. Matanya tampak liar menatap, namun hanya tatapan kosong. Ia menatap para pelayan yang sudah sangat dikenalnya itu tanpa tatapan lega dan meneror. Seolah kedua orang itu adalah pembunuh, atau iblis. Seluruh tubuhnya gemetar, walau udara panas. Ia mulai menjerit lagi, namun tidak ada suara yang keluar, seolah ia sudah kehabisan suara.

Ibu Biggs sadar. Ia pun memerintahkan suaminya keluar ruangan untuk memanggil dokter dan polisi. Dengan hati-hati ia mendekati gadis itu, berusaha menenangkannya, dan membuka ikatan talinya. Ketika telah terbebas, mulutnya membuat gerakan, pertanda ia ingin berbicara. Namun tetap saja tidak ada suara yang

terucap. Bahkan sepatah kata pun tidak terdengar. Tidak juga sebuah bisikan. Ketika polisi tiba, mereka cemas. Gadis itu tidak dapat berbicara. Kertas dan pensil pun mereka bawakan. Polisi meminta gadis itu untuk menuliskan apa yang terjadi. Aku tidak bisa, tulisnya. Mengapa, tanya mereka. Dia menjawab; Aku tak bisa mengingatnya.

Empat

SENIN MALAM KETIKA HAMPIR pukul tujuh. Freud, Ferenczi, dan aku kembali ke hotel. Brill telah tiba di rumah dengan letih dan bahagia. Aku percaya Coney Island adalah tempat kesukaannya di Amerika. Sebelumnya, Brill telah mengejek cara terapi para dokter Amerika terhadap para wanita histeris. Terapi mereka dengan pijatan, atau melalui getaran, dan penyembuhan dengan air. “Itu semacam perdukunan dan separuh industri seks,” katanya. Ia menjelaskan tentang alat getar ukuran besar yang baru-baru ini dibeli seharga empatratus dolar oleh seorang profesor di Columbia yang juga dokter kenalannya. “Tahukah kau apa yang sebenarnya mereka lakukan? Tak seorang pun yang mau mengakui, tetapi mereka membuat klimaks para pasien wanitanya.”

“Kau kelihatannya heran,” tanya Freud, “Ibnu Sina melakukan hal yang sama di Persia sembilanratus tahun lalu.”

“Mereka menjadi kaya karena praktik semacam itu?” Tanya Brill, dengan nada sedih.

“Ribuan dolar setiap bulannya. Begitulah kira-kira. Tetapi yang terburuk adalah kepura-puraan mereka. Aku

pernah menyatakan ini kepada dokter besar itu, kebetulan ia adalah atasanku. Aku katakan jika cara pengobatannya berhasil, itu merupakan bukti psikoanalisa bahwa ada hubungan kuat antara seksualitas dan histeria. Kau harus melihat wajah mereka saat itu. Tidak ada unsur seksual di dalam perawatannya, begitu kata dokter itu, sama sekali tidak ada. Ia hanya membiarkan si pasien melepaskan kelebihan rangsangan neural. Jika saja aku berpikir sebaliknya, maka aku akan merusak isi dari teori-teori Freud. Aku beruntung ia tidak memecatku.”

Freud tersenyum. Ia tidak terpengaruh pada kekesalan Brill, atau pada pembelaannya. Orang tidak bisa menyalahkan ketidaktahuan, ujarnya. Di samping kesulitan yang memang telah ada dari pengungkapan kebenaran histeria, ada tekanan kuat yang terkumpul selama lebih dari seribu tahun. Tekanan itu tak mungkin mampu dihilangkannya dalam sehari. “Begitu juga dengan setiap penyakit,” ujar Freud, “hanya dengan mengerti penyebabnya, kita dapat mengakui bahwa kita mengerti penyakitnya. Karena itulah, kita dapat melakukan terapi. Kini, mereka belum mampu mengetahui penyebabnya. Sehingga mereka masih saja berada di Zaman Kegelapan. Mereka merawat pasiennya hingga berdarah-darah namun menyebut tindakan itu sebagai pengobatan.”

Kemudian percakapan itu berubah mengagumkan. Freud bertanya apakah kami ingin mendengar salah satu kasus barunya tentang seorang pasien yang dihantui tikus besar. Tentu saja kami mengatakan ya.

Aku belum pernah mendengar seorang pun berbicara seperti Freud. Dengan begitu lancar, ia menceritakan kembali kasus itu. Sungguh berpengetahuan dan berwawasan. Kami pun menyimak selama tiga jam dengan

takzim. Kami bertiga sesekali menyela, menguji berbagai kesimpulannya dengan keberatan atau beberapa pertanyaan. Freud pun menjawabnya, bahkan sebelum kami mempertanyakannya. Dalam tiga jam kesempatan itu, hidupku terasa lebih bersemangat dibanding saat-saat lainnya dalam hidupku. Di tengah gonggongan, teriakan anak-anak, dan para pencari ketegangan di Coney Island, aku rasa, kami berempat sedang menelusuri pengetahuan diri manusia. Kami mulai menjelajahi negeri yang belum terungkap. Atau, menapaki jalan yang belum terpetakan, yang pada suatu hari kelak akan menjadi panutan dunia. Segala yang diduga telah diketahui manusia: impian, kesadaran, atau gairah mereka sendiri yang paling rahasia, akan berubah selamanya.

Di hotel, Freud dan Ferenczi bersiap pergi makan malam di rumah Brill. Sayangnya, aku berjanji makan malam di tempat lain. Jung seharusnya ada bersama ketiganya, namun kami tidak bisa menemukannya. Freud memintaku mengetuk pintu kamar Jung, tetapi tidak ada jawaban. Mereka menunggu hingga pukul delapan, lalu menuju rumah Brill tanpa dirinya. Aku bergegas berganti pakaian malam dengan kesal. Bagaimanapun keadaannya, aku tidak terlalu senang dengan suasana pesta besar. Kehilangan kesempatan makan malam bersama Freud betulbetul merupakan penderitaan yang tak terbayangkan.

9

HARRY THAW adalah seorang ahli waris tambang Pitssburgh yang sederhana. Ia tidak akan terhitung sebagai pesohor New York City jika saja tidak membunuh Stanford White, seorang arsitek termashur, di atas atap Madison Square Garden pada tahun 1906. Walau Thaw menembak White tepat pada wajahnya di depan seratus orang tamu jamuan makan malam, namun dua tahun kemudian seorang juri membebaskannya dengan alasan gangguan kejiwaan. Kata beberapa pengamat, tidak ada seorang hakim Amerika pun yang akan menghukum seseorang karena membunuh seorang bejat yang meniduri istrinya. Meskipun, pada saat Harry Thaw menikahi White, ia masih seorang gadis panggung, belum menjadi wanita terhormat. Yang lainnya berpendapat, hakim itu tak menghukumnya, karena telah menerima sejumlah besar uang dari pembela Thaw, sehingga tuntutan pengadilan dengan mudah dipatahkan.

g

IBUKU ADALAH seorang dari keluarga Schermerhorn. Saudara perempuannya telah menikah dengan salah satu anggota keluarga Fish. Memiliki pertalian dengan dua keluarga penting itulah yang membuatku diundang ke setiap pesta bangsawan Manhattan.

Lantaran bertempat tinggal di Worcester, Massachusetts, sering membuatku memiliki alasan yang cukup untuk mengelak dari berbagai undangan seperti itu. Tetapi aku harus membuat pengecualian untuk pesta yang satu ini. Itu karena diadakan oleh Bibi Mamie. Dia lebih dikenal dengan nama Nyonya Stuyvesant Fish. Sesungguhnya ia bukanlah bibiku, namun aku telah dipaksa untuk memanggilnya begitu sejak masih kecil. Ketika itu aku menghabiskan musim panas di rumahnya di

Newport. Setelah ayahku meninggal dunia, bibi Mamie-lah yang memastikan kalau ibuku hidup nyaman dan tidak perlu mengosongkan rumahnya di Back Bay yang telah ditinggalinya sepanjang usia pernikahan ibuku. Aku berdampingan dengan Belva, sepupuku, di lorong itu.

“Apa tadi?” Belva kembali menanyakan judul lagu itu ketika kami berjalan di lorong yang seakan tidak berujung dengan segerombolan penonton di samping kami.

“Aida, karya Tuan Verdi. Dan kita ini adalah hewan-hewan yang berbaris, persis seperti yang dikatakan oleh lirik lagu itu,” jawabku.

Belva menunjuk pada seorang perempuan gemuk yang dikawal suaminya tidak jauh di depan kami. “Oh, lihat itu! Pasangan Arthur Scott Burden. Aku belum pernah bertemu dengan Nyonya Burden dalam balutan serban besar berwarna merah tua. Dia kelihatan seperti gajah ya?”

“Belva,” Younger coba memperingatkan.

“Dan di sana ada Conde Nasts. Topi Directoire-nya lebih cocok, bukan? Hiasan bunga Gardenia-nya juga cocok, tetapi aku kurang yakin pada bulu burung kasuarinya. Orangorang pasti akan menertawainya kalau ia lewat.”

“Belva, sopan sedikit. Sadarkah kau kalau kini ada ribuan orang menonton kita?”

Belva jelas merasa senang karena perhatian itu, “aku bertaruh kau tidak punya yang seperti ini di Boston.”

“Sayang sekali, kami memang serba ketinggalan di Boston,” kataku.

“Yang mengenakan hiasan sempurna dan banyak pada rambutnya itu adalah Tuan Baroness von Haefton. Ia pernah mengucilkan aku dari pestanya musim salju yang

lalu demi seorang Marquis de Charette. Yang di sana itu adalah John Jacob Astor. Orangorang mengatakan, dia terlihat di mana-mana bersama Maddie Forge, yang baru berusia enambelas tahun. Lalu yang di sana itu adalah tuan rumah kita, keluarga Stuyvesant Fishes.”

“Fish,” Aku menyangkal.

“M aaf?”

“Bentuk plural untuk Stuyvesant Fish adalah Stuyvensant Fish. Orang menyebutnya ‘keluarga Fish1 bukan ‘keluarga Fishes,’” Aneh sekali, aku bisa berlagak mengoreksi Belva tentang sopan-santun New York.

“Tadi aku tidak percaya,” katanya, “tetapi, Nyonya Fish sendiri nyaris terlihat plural malam ini.”

“Jangan mengolok bibiku dengan satu kata pun, Belva.” Belva betulbetul seusia denganku, dan aku telah mengenalnya sejak bayi. Tetapi gadis kurus kering dan tampak canggung yang malang itu, telah mulai bergaul walau tak seorang pun tertarik padanya. Pada usia duapuluh tujuh tahun, aku khawatir, ia sangat putus asa. Khawatirnya, dunia telah menganggapnya sebagai perawan tua.

“Setidaknya, bibi Mamie tidak membawa anjingnya malam ini.”

Bibi Mamie pernah mengadakan sebuah pesta di Newport demi seekor anjing pudel Prancis barunya. Anjing itu berjalan berjingkrak-jingkrak di atas permadani merah dengan kalung bertabur berlian.

“Tetapi lihat, ia memang membawa anjingnya,” Belva menunjuk pada Marion Fish, putri termuda bibi Mamie, “dan masih mengenakan kalung berlian itu.” ujar Belva dengan senang. Belva tidak diundang pada pesta meriah pertamanya.

“Cukup, sepupu. Kau sendirian sekarang.” Setelah tiba di ujung koridor, aku meninggalkan Belva. Aku menyebut dia dihadiahkan padaku, dia dipasangkan denganku, bukannya dengan Nona Hyde yang cukup kaya dan memiliki sedikit pesona lainnya. Aku berdansa dengan beberapa orang nona juga, termasuk dengan Eleanor Sears yang jangkung seperti penari balet. Ia sangat ramah, walau aku harus menunduk karena topinya persis seperti som-brero. Dan tentu saja giliran itu membawa aku sampai juga pada Belva yang malang.

Menurut kartu menu yang berkilap tepiannya, selain hidangan koktail kerang tertulis sebagai hidangan wajib, juga ada buffet russe, daging domba pegunungan yang dipanggang dengan puree kacang dan asparagus, serbat sampanye, penyu Mariland punggung berlian, dan bebek merah dengan selada jeruk. Itu semua hanya makan malam pertama, sementara yang kedua akan disajikan setelah tengah malam. Setelah makan malam kedua, dansa dilanjutkan dengan dansa resmi—mungkin sebuah Mir-ror, setahuku begitulah kebiasaan bibi Mamie—yang dimulai sekitar pukul setengah dua pagi.

“Nah, ini dia, Stratham!” Seru Bibi Mamie, “oh, mengapa kau bersepupu dengan Marion? Seharusnya aku menikahkanmu dengannya bertahun-tahun lalu. Sekarang dengarkan aku. Nona Crosby sedang bertanya siapakah kau pada semua orang. Ia akan berusia delapanbelas pada tahun ini, ia gadis tercantik nomor dua di New York. Sedangkan kau sendiri adalah lelaki tertampan di New York. Maksudku, bujangan tertampan. Kau harus berdansa dengannya.”

“Aku harus berdansa dengannya,” kataku, “dan aku menerimanya karena perintah, padahal ia seharusnya

menikah dengan Tuan de Menocal.”

“Tetapi, aku tidak mau ia menikah dengan de Menocal,” jawab Bibi Mamie, “aku ingin de Menocal menikahi cucu perempuan Franz dan Ellie Sigel. Namun, ia melarikan diri ke Washington. Itu perkiraanku saja, orang tentunya lari ke Washington. Apa ya yang dipikirkan gadis itu? Seharusnya jika orang kawin biasanya mereka menuju Kongo. Kau sudah menyapa Stuyvie?”

Stuyvie, tentu saja adalah nama panggilan bagi suaminya yaitu Stuyvesant. Karena aku belum bertegur sapa dengan Paman Fish, Bibi Mamie membawaku kepadanya. Ia sedang asik bercakap-cakap dengan dua orang lelaki. Pertama adalah Louis J. de G. Milhau, yang kukenal sebagai kawan saat berkuliah di Harvard. Lelaki satunya, mungkin berusia empatpuluh lima tahun, tampak akrab, namun aku tidak ingat padanya. Rambutnya dipangkas sangat pendek, matanya tampak cerdas, tidak berjenggot, berkesan wibawa. Bibi Mamie menolong ingatanku ketika ia berkata, sambil menahan nafasnya, “Itu Walikota McClellan. Ayo kita hampiri dia.”

Walikota McClellan, ternyata sudah beranjak pulang. Bibi Mamie berseru mengeluh, tidak setuju karena ia tidak akan menyaksikan Caruso. McClellan memohon maaf, berterimakasih atas kemurahan hati Bibi Mamie yang telah menyumbang uang kepada kota New York, dan ia bersumpah tidak akan pulang pada jam seperti itu jika tidak ada keperluan penting. Bibi Mamie bahkan lebih berkeberatan. Kali ini lantaran penggunaan kata “keperluan penting”. Seraya beranjak, Bibi Mamie berkata, ia tidak mau mendengarkan hal itu. Kami pun kebingungan.

Aku terkejut ketika Milhau berkata pada Walikota, “Younger ini adalah seorang dokter. Mengapa tidak kau

ceritakan tentang kejadian itu padanya?”

“Demi Tuhan,” seru Paman Fish, “benar itu. Seorang dokter lulusan Harvard. Younger akan mengenal orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Ceritakan padanya, McClellan.”

Walikota McClellan menelitiku, kemudian membuat semacam keputusan di dalam hatinya. Ia pun bertanya, “Kau mengenal Acton, Younger?”

“Lord Acton?” Tanyaku.

“Bukan, tapi Harcount Acton dari Gramercy Park. Ini tentang putrinya.”

Nona Acton tampaknya telah menjadi korban penyerangan brutal tadi sore di rumah keluarganya. Penjahatnya belum tertangkap tanpa seorang pun yang melihatnya. Walikota McClellan, yang mengenal keluarga itu, dengan putus asa menginginkan penjelasan Nona Acton tentang penjahat tersebut. Namun gadis itu tidak dapat berbicara atau mengingat apa pun yang baru saja terjadi padanya. Walikota McClellan segera kembali ke kantor polisi pusat. Gadis itu masih ada di sana. Dokter keluarga yang merawat gadis itu, menyatakan kebingungannya. Tidak ada tanda luka fisik pada gadis itu sebagai petunjuk masalah yang tengah dihadapinya.

“Gadis itu histeris,” kataku, “ia menderita kriptomne—

sia.”

“Kripto-amnesia?” Ulang Milhau.

“Kehilangan ingatan karena tekanan kejadian traumatis. Istilah itu diciptakan oleh Dr. Freud dari Wina. Keadaan itu pada dasarnya histeris dan bisa juga disertai oleh aphonia atau tidak dapat berbicara.”

“Demi Tuhan,” seru Paman Fish lagi, “kau bilang tidak dapat berbicara? Itu dia!”

“Dr. Freud,” lanjutku, “mempunyai sebuah buku tentang gangguan bicara.” Risalah Freud tentang gangguan bicara dibaca di Amerika sejak lama sebelum tulisan psikologinya menjadi terkenal. “Ia mungkin orang yang paling paham di dunia dalam masalah ini dan secara khusus telah memperlihatkan keterkaitan dengan trauma histeris, terutama trauma seksual.”

“Sayang, Dr. Freud-mu ada di Wina,” kata Walikota McClellan.

lima

AKU MENGGEDOR PINTU RUMAH Brill hingga Rose, istrinya, yang membukakan pintu. Aku masuk dan menceritakan rencana konsultasi Freud dengan orang Amerika pertama. Sebuah mobil berserta pengemudinya— yang telah disediakan Walikota McClellan—telah menunggu di bawah untuk membawa sang ahli itu ke sana. Berita yang kusampaikan begitu bersemangat dan menggembirakan sehingga aku sendiri tidak bisa berhenti berbicara.

Selain Brill, terdapat Jung, Ferenczi, dan Freud. Kesemuanya berkerumun di sekitar meja makan bundar kecil di tengah-tengah ruang utama yang juga berfungsi sebagai dapur, ruang makan dan ruang tamu. Brill berseru menyuruhku duduk dan menikmati brisket buatan Rose. Anggur yang disajikan untukku pun telah dituangkan sekali lagi sebelum aku sempat memintanya. Brill dan Ferenczi tengah bercerita tentang being analyzed yang dikemukakan Freud. Ketika itu Brill berlagak berperan sebagai Freud. Semuanya tertawa, bahkan Jung, yang

matanya terus menerus menatap istri Brill.

“Ayolah, kawan,” kata Freud, “itu tidak menjawab pertanyaan: mengapa Amerika?”

“Pertanyaannya, Younger,” kata Brill menjelaskan padaku, “begini, psikoanalisa dikucilkan di daratan Eropa mana pun. Namun di sini, di Amerika yang puritan, Freud menerima gelar kehormatannya yang pertama dan diminta memberi kuliah di sebuah universitas bergengsi. Bagaimana itu bisa terjadi?”

“Kata Jung,” sambung Ferenczi, “itu karena kalian orang Amerika tidak mengerti teori-teori seksual Freud. Begitu kalian mengerti, kalian akan memakan psikoanalisa seperti memakan apel merah.”

“Kukira tidak begitu,” kataku, “psikoanalisa akan tersebar seperti api liar.”

“Mengapa?” Tanya Jung.

“Tepatnya karena puritanisme kami, tetapi ada sesuatu yang aku…”

Belum aku melanjutkan, tibatiba Ferenczi berkata; “Itu sebaliknya, masyarakat puritan seharusnya akan melarang kami.”

“Mereka memang akan melarang kalian,” kata Jung sambil tertawa keras-keras, “begitu mereka mengerti apa yang kalian bicarakan.”

“Orangorang Amerika puritan?” Sela Brill, “iblis—lah yang lebih puritan.”

“Diamlah kalian semua,” kata Rose, seorang wanita berambut gelap, sorot matanya tajam dan tidak suka omong kosong, “biarkan Dr. Younger menjelaskan apa maksudnya.”

“Tidak, tunggu,” kata Freud, “ada hal lain yang ingin dikatakan Younger. Apa itu, anakku?”

g

KAMI MELUNCUR MENURUNI empat tangga secepat mungkin. Mobil itu rupanya menyediakan empat buah tempat duduk. Berarti ada kelebihan satu tempat duduk, Freud pun mengajak Ferenczi. Semula Freud mengajak Jung. Anehnya, ia tampak tidak berminat dan menarik diri. Bahkan ia tidak ikut mengantar kami ke mobil.

Sebelum kami berangkat, Brill sempat berkata, “Aku tidak suka kalian meninggalkan Jung sendiri di sini. Aku akan memanggilnya, kau bisa membawanya, lalu menurunkannya di hotel.”

“Abraham,” kata Freud dengan tajam tak terduga, “aku sudah katakan berkali-kali bagaimana perasaanku tentang hal ini. Kau harus menghentikan rasa tidak sukamu pada Jung. Ia lebih penting dibanding dengan kita. Bahkan ketika kita disatukan.”

“Bukan itu, ya ampun,” Brill protes, “aku baru saja memberinya makan di rumahku sendiri, kan? Tetapi— keadaannya—itulah yang kubicarakan.”

“Keadaan apa?” Tanya Freud.

“Ia tidak sehat. Wajahnya kemerah-merahan, terlalu gembira. Ia bergelora. Terkadang bersemangat dan terkadang mendingin. Kau pasti memerhatikannya. Beberapa kata yang diucapkannya tidak masuk akal sama sekali.”

“Itu karena ia baru saja meminum anggur yang kau sediakan.”

“Itu lain lagi,” kata Brill, “Jung tidak pernah menyentuh alkohol.”

“Itu pengaruh Bleuler,” kata Freud, “aku telah menyembuhkannya. Kau tidak keberatan kan jika Jung

minum, Abraham?” ^^^^^^n

“Tentu saja tidak. Itu akan semakin baik daripada Jung berubah murung. Biarkan saja kita buat dia mabuk sepanjang waktu. Tetapi ada yang aneh padanya. Sejak ia masuk rumahku, kau dengar kan ia bertanya mengapa lantai kayuku begitu halus?” K

“Kau mengkhayalkan sesuatu,” kata Freud, “dan di belakang khayalan selalu saja ada sebuah harapan. Jung hanya tidak terbiasa dengan alkohol. Pastikan saja ia kembali ke hotel dengan selamat.”

“Baiklah.” Brill mendoakan keberhasilan kami, Ketika kami berangkat, ia berseru, “Tetapi bisa saja selalu ada harapan yang tidak dikhayalkan.”

DI DALAM MOBIL DENGAN ATAP TERBUKA, berderak-derak menuju ke Broadway, Ferenczi bertanya padaku apakah di Amerika orang biasa makan campuran buah apel, kacang, seledri, dan mayones. Rose Brill ternyata baru saja menjamu tamunya dengan selada Waldrof.

Freud terdiam. Ia tampak sedang berpikir. Aku mengira apakah komentar Brill itu mengganggunya. Aku sendiri mulai berpikir mungkinkah ada yang tidak beres pada Jung. Aku juga mengira apa yang dimaksudkan Freud kalau Jung lebih penting dibandingkan kami semua.

“Brill adalah seorang paranoik,” kata Ferenczi dengan kesal kepada Freud, “itu bukanlah apa-apa.”

“Paranoid tidak pernah salah sepenuhnya,” kata Freud, “apakah kau mendengar Jung tadi salah berbicara?”

“Salah berbicara apa?” Tanya Ferenczi. “Ia salah berbicara,” kata Freud, “ia mengatakan,

‘Amerika akan melarang ‘kalian1, bukan kami, tetapi kalian.”

Freud kembali terdiam. Kami melewati Broadway menuju ke Union Square, lalu Fourth Avenue melewati Bowery Road dan selanjutnya Lower East Side. Ketika melewati kios-kios tutup di pasar jalan Hester, kami harus memperlambat laju mobil. Walau ketika itu sudah hampir pukul sebelas, orang-orang Yahudi dengan janggut panjang dan pakaian khas berwarna hitam dari kepala hingga kaki, telah memadati jalanan. Mungkin mereka merasa terlalu panas untuk tertidur di dalam rumah petak tanpa udara, yang ditinggali oleh begitu banyak imigran kota. Orangorang Yahudi itu berjalan sambil bergandengan tangan atau berkumpul dalam lingkaran kecil, dengan melakukan banyak gerakan tangan dan bertengkar. Bahasa Jerman kasar, yang dalam bahasa Ibrani disebut Yiddish, terdengar di mana-mana.

“Jadi inilah Dunia Baru itu,” kata Freud sambil melihat-lihat dari kursi di depan, tanpa rasa senang, “mengapa mereka harus jauh-jauh pergi hanya untuk membangun kembali apa yang telah mereka tinggalkan?”

Aku memberanikan diri mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah kau bukan seorang yang relijius, Dr. Freud?”

Pertanyaan yang tak patut diajukan. Awalnya kukira, ia tidak mendengarku. Ferenczi-lah justru yang menjawab, “Tergantung apa maksudmu dengan relijius. Jika, misalnya, relijius artinya percaya kepada Tuhan itu adalah

ilusi im&k Y^fe^ift^Ji^, ^^UŤBom§h^fepl^^lam^§fea p’#Ťdya^afffiftskulihat di dermaga. “Akan kukatakan proses berpikirmu ketika kau menanyakanku hal itu,” katanya, “Tadi aku bertanya mengapa orang-orang Yahudi itu datang ke sini. Tampaknya terpikir olehmu untuk mengatakan Mereka datang karena atasan kem erdekaan

beragama, namun kau mempertimbangkan lagi, karena hal itu tampak terlalu pasti. Kemudian kau berpikir, jika aku, yang seorang Yahudi, tidak dapat melihat bahwa mereka datang ke sini untuk kebebasan beragama. Karena mungkin saja agama itu sungguh tidak terlalu penting bagiku. Sehingga aku tidak dapat melihat betapa pentingnya agama bagi mereka. Lalu muncullah pertanyaanmu tadi. Bukankah begitu?

“Seluruhnya,” jawabku.

“Jangan khawatir,” sela Ferenczi, “ia melakukan hal itu pada semua orang.”

“Jadi kau mengajukan pertanyaan langsung padaku,” kata Freud, “maka aku akan segera menjawabnya juga. Aku benar-benar tidak beriman. Semua neurosis merupakan agama bagi pengidapnya, dan relijius adalah neurosis bagi umat manusia. Yang masih diragukan, sifat-sifat yang kita berikan kepada Tuhan, mereflesikan ketakutan dan harapan yang kita rasakan sejak bayi, dan ketika kita masih kanak-kanak. Semua orang yang tidak melihat sebegitu banyak, tidak akan pernah dapat mengerti hal pertama dalam psikologi manusia. Jika yang kau cari adalah agama, jangan ikuti aku.”

“Freud, kau tidak adil,” kata Ferenczi, “Younger tidak mengatakan ia mencari agama.”

“Anak itu tertarik pada gagasan-gagasanku. Ia mungkin juga tahu maksudnya.” Freud mengamatiku dengan cermat. Saat itu juga, ketegangan itu sirna, dan ia menatapku nyaris penuh kebapakan. “Dan aku mungkin tertarik pada gagasannya. Aku mengembalikan pertanyaan itu. Apakah kau seorang yang relijius, Younger?”

Aku malu, karena aku tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. “Ayahku seorang yang beragama,” ujarku.

“Kau menjawab sebuah pertanyaan yang berbeda dari apa yang telah dipertanyakan,” kata Ferenczi.

“Tetapi aku mengerti,” kata Freud, “maksudnya karena ayahnya beriman, maka ia cenderung meragukan.”

“Betul begitu,” kataku.

“Tetapi ia juga bertanya, apakah keraguan yang begitu dalam merupakan keraguan yang baik, sehingga Younger cenderung menjadi percaya.” Kata Frued.

Aku hanya dapat menatapnya. Ferenczi mengajukan pertanyaanku kepada Freud. “Bagaimana kau bisa tahu.”

“Itu semua berlanjut saja,” jawab Freud, “Semalam ia bilang, ia mengambil kuliah kedokteran karena dipaksa ayahnya, bukan keinginannya. Lagipula,” ia menambahkan, sambil mengeluarkan sebatang cerutunya dengan perasaan puas, “aku merasakan hal yang sama ketika aku masih lebih muda.”

g

GEDUNG KANTOR PO LISI YANG BARU TERLETAK di Centre Street 240 lebih terlihat seperti sebuah istana dibanding sebuah gedung kota praja. Hal itu lantaran bagian depannya terbuat dari pualam, pedimen Yunani, dan kubah yang luar biasa, lalu diterangi dengan temaram lampu jalanan. Ketika melewati sepasang pintu besar terbuat dari kayu ek, kami bertemu seorang berseragam di balik meja setengah bundar yang tingginya mencapai sebatas dada. Lampu listrik mengeluarkan sinar kuning di sekitarnya. Ia memutar pesawat telepon, dan tidak lama setelah itu kami disambut oleh Walikota McClellan yang ditemani Higginson. Ia adalah orang berusia lanjut, tampak khawatir, dan berperut tambun, yang ternyata

adalah dokter pribadi keluarga Acton.

McClellan menyalami tangan kami semua, lalu minta maaf sedalam-dalamnya pada Freud karena telah merepotkan. “Younger mengatakan padaku kalau Anda juga mendalami kebudayaan Romawi kuno. Aku akan memberikan kepada Anda bukuku tentang Wina. Tetapi aku harus membawa kalian ke atas. Nona Acton dalam keadaan yang sangat buruk.”

Walikota McClellan mengantar kami menaiki tangga pualam. Dr. Higginson berbicara banyak tentang pemeriksaan yang dilakukannya. Katanya, tidak ada yang terlihat membahayakan. Kami pun merasa beruntung. Kami memasuki sebuah kantor besar bergaya klasik, dengan kursi berlapis kulit, banyak benda kuningan, dan meja yang mengagumkan. Di belakang meja itu, seorang gadis didudukkan. Ia terlalu kecil untuk ukuran meja tadi, terbungkus selimut tipis, dan dijaga seorang polisi pada setiap sisinya.

McClellan benar, gadis itu dalam keadaan yang memprihatinkan. Ia baru saja menangis menjerit, sehingga wajahnya memerah dan membengkak. Rambut pirang panjangnya terurai dan masai. Ia menatap kami dengan mata yang paling membelalak dan paling ketakutan yang pernah kulihat. Tepatnya ketakutan dan tertekan.

“Kami telah mencoba berbagai cara,” jelas McClellan, “ia hanya dapat mengatakan segala kejadian kepada kami melalui tulisan. Tetapi sepertinya, ah, peristiwa itu sendiri, tidak dapat diingatnya sama sekali.” Di samping gadis itu ada beberapa helai kertas dan pena.

Nora, begitulah Walikota McClellan memperkenalkan nama gadis itu kepada kami. Ia menjelaskan kalau kami adalah dokter khusus untuk membantu memulihkan suara

dan ingatannya. Ia berbicara pada gadis itu seolah ia adalah seorang anak berusia tujuh tahun. Rupanya Walikota McClellan agak bingung antara kesulitan berbicara dan kesulitan untuk mengerti. Padahal orang dapat segera mengetahui dari sorot mata gadis itu jika ia tidak memiliki kekurangan tersebut. Dapat diduga kalau kedatangan tiga orang lelaki asing menimbulkan kebingungan tersendiri baginya. Air mata mulai berlinang di pelupuknya, tetapi ditahan. Gadis itu pun menulis permohonan maaf kepada kami, seolah ia bersalah karena amnesianya.

“Silakan, lanjutkan Tuan-tuan,” kata McClellan.

Pertama-tama Freud ingin menyingkirkan dasar psikologis untuk penyakit gadis itu. “Nona Acton,” katanya, “aku ingin meyakinkan kalau benar-benar tidak terdapat luka di kepalamu. Bolehkah aku melihatnya?” Nona Acton mengangguk. Setelah memeriksa dengan seksama, Freud menyimpulkan, “Tidak ada luka apa pun pada tengkorak atau sejenisnya.”

“Kerusakan pada pangkal tenggorokan dapat menyebabkan afonia,” kataku, mengingat gadis itu kehilangan suaranya.

Freud mengangguk, dengan isyarat tangannya, ia memintaku untuk memeriksa gadis itu.

Ketika mendekati Nona Acton, aku merasa adanya kegugupan yang tak dapat dijelaskan. Aku tidak dapat mengetahui sumber kecemasan itu. Tampaknya aku merasa takut terlihat tidak berpengalaman di hadapan Freud. Namun sesungguhnya, aku pernah melakukan serangkaian pemeriksaan yang lebih rumit tanpa merasa canggung di hadapan profesorku di Harvard. Aku menjelaskan pada Nona Acton betapa pentingnya memastikan

apakah ketidakmampuannya berbicara itu mungkin disebabkan oleh luka fisiknya. Aku bertanya apakah ia mau memegangi tanganku dan menempelkan pada lehernya untuk mengurangi ketidaknyamanannya. Aku mengulurkan tanganku, dengan dua jari teracung. Dengan enggan, ia membawa jariku ke arah tenggorokannya, lalu menempelkan pada tulang selangkanya. Aku meminta agar ia mengangkat kepalanya. Ia mematuhiku. Jariku pun bergerak naik hingga pangkal tenggorokannya. Yang aku temukan ternyata bukan lukanya, namun gadis itu memiliki leher dan dagu lembut dengan garis sempurna, sepereti pualam yang telah dipahat oleh Bernini. Ketika aku menekanan pada beberapa titik lehernya, ia berkedik, tetapi tidak mengelak. “Tidak ada bukti luka pada tenggorokan,” begitulah kataku.

Nona Acton sekarang tampak lebih curiga dibandingkan dengan ketika kami baru tiba. Aku tidak menyalahkannya. Karena jika tidak diketemukan masalah fisik pada dirinya, maka akan bisa menjadi lebih menyedihkan dibandingkan baru diketemukan kelak nanti. Lagipula, ia tidak bersama keluarganya, namun dikelilingi oleh beberapa orang lelaki asing. Tampaknya ia sedang menerka kami semua, satu per satu.

“Sayangku,” kata Freud padanya, “kau cemas karena kehilangan ingatan dan suaramu. Memang harus begitu. Amnesia setelah kejadian seperti itu adalah hal yang biasa. Aku sering melihat orang kehilangan suaranya. Ketika tidak ada luka fisik ditemukan, dan memang tidak mengalami cidera seperti itu sama sekali, maka aku selalu berhasil mengurangi kedua keadaan tersebut. Sekarang aku akan mengajukan beberapa pertanyaan, tetapi bukan mengenai kejadian yang kau alami hari ini. Aku hanya

ingin kau mengatakan padaku bagaimana perasaanmu saat ini. Apakah kau mau meminum sesuatu?” Gadis itu mengangguk dengan senang. McClellan memerintahkan seorang petugas, yang kemudian secepatnya kembali membawa secangkir teh. Sementara itu, Freud telah bercakap-cakap dengan gadis itu. Nona Acton menuliskan jawabannya. Tetapi hanya fakta-fakta umum tentang dirinya yang adalah seorang mahasiswi baru di Barnard dan mulai berkuliah bulan depan. Akhirnya ia menulis kalau ia menyesal tidak dapat menjawab berbagai pertanyaan polisi, dan ia ingin pulang.

Freud menunjukkan kalau ia ingin berbicara dengan kami tanpa didengar gadis itu. Maka berbarislah kami dengan muram. Freud, Walikota McClellan, Ferenczi, Dr. Higginson, dan aku menjauh ke sudut di kantor yang luas itu. Dengan suara yang sangat lirih, Freud bertanya, “Apakah ia dianiaya?”

“Tidak. Syukurlah,” bisik McClellan.

“Tetapi luka-lukanya,” kata Higginson, “terkumpul di suatu tempat, jadi mencurigakan, di sekitar…, bagian pribadinya.” Ia berdeham, “selain di punggungnya, tampaknya ia dicambuki berulang-ulang di sekitar bokong dan.., pinggul. Lalu kedua pahanya, disayat satu kali dengan sebilah silet cukur yang tajam.”

“Monster seperti apa yang melakukan hal semacam itu?” Tanya McClellan.

“Pertanyaannya, mengapa hal itu tidak terjadi lebih sering,” kata Freud dengan tenang, “melepaskan hasrat buas tidak dapat dibandingkan dengan melampiaskan hasrat yang sopan. Karena yang pertama terasa lebih memuaskan. Dalam segala kejadian, alasan terbaik untuk malam ini adalah tidak melakukan apa-apa lagi. Aku tidak

memastikan amnesianya itu akibat dari histerianya. Sesak nafas yang parah dapat menimbulkan akibat yang sama. Sebaliknya, ia hanya menderita perasaan mencela diri sendiri terus menerus. Ia harus tidur, ia mungkin telah terbangun dengan adanya gejala gangguan. Jika gejala itu terus ada, analisa akan segera dilaksanakan.” “Mencela diri?” Tanya McClellan.

“Rasa bersalah,” kata Ferenczi, “gadis itu menderita bukan saja karena serangan itu, namun juga karena dosa yang dirasakan dalam hubungannya dengan kejadian itu.”

“Ya ampun, mengapa ia harus merasa berdosa?” Tanya Walikota McClellan.

“Kemungkinan sebabnya banyak sekali,” kata Freud, “tetapi dasar dari mencela diri nyaris selalu ada dalam kasus penyerangan seksual terhadap orang muda. Ia sudah dua kali meminta maaf pada kami karena kehilangan memori. Menghilangnya suara jauh lebih membingungkan.”

“Karena disodomi, mungkin?” Tanya Ferenczi sambil berbisik. “Per os?”

“Tuhan Maha Agung,” seru McClellan, juga dalam bisikan, “apakah itu mungkin?”

“Mungkin saja,” jawab Freud, “tetapi sepertinya tidak begitu. Jika sebuah penetrasi oral merupakan sumber penyakitnya, ketidakmampuannya menggunakan mulutnya akan mungkin terlihat dibanding ketidakmampuannya untuk menelan. Tetapi bukankah kau telah melihat ia tadi meminum tehnya tanpa kesulitan. Karena itulah tadi aku bertanya apakah ia haus.”

Kami merenungkan ini sebentar. McClellan berbicara, tidak lagi berbisik, “Dr. Freud, maafkan ketidaktahuanku, tetapi apakah ingatan akan kejadian itu masih ada, atau bisa dibilang, terhapus?”

“Kita anggap itu amnesia histeria, memori itu masih ada,” jawab Freud, “itulah penyebabnya.”

“Memori itu penyebab amnesianya?” Tanya McClellan.

“Memori akan penyerangan itu…, berikut Ingatan yang lebih dalam, yang dipicu olehnya…, ia tidak dapat menerima. Karena itu ia harus memendamnya sehingga mengakibatkan amnesia.”

“Ingatan yang lebih dalam?” Ulang Walikota McClellan, “aku tidak mengerti.”

“Sebagian peristiwa yang dialami gadis itu,” kata Freud, “betapapun brutalnya, betapapun mengerikannya, pada usianya, biasanya tidak akan menyebabkan amnesia. Si korban ingat, asalkan ia dalam keadaan sehat. Tetapi jika si korban menderita penyakit lainnya, traumatis yang dialaminya sebelumnya begitu traumatisnya, sehingga memori akan kejadian itu betulbetul harus ditekan dari kesadarannya, maka sebuah serangan dapat saja mengakibatkan amnesia. Karena serangan yang baru terjadi tidak dapat diingat tanpa memicu kenangan kejadian lampau, padahal kesadarannya melarang untuk itu.”

“Ya Tuhan,” seru Walikota McClellan.

“Apa yang harus dilakukan?” Tanya Higginson. “Kau dapat menyembuhkannya?” Sela Walikota McClellan, “Hanya gadis itu yang dapat memberikan gamb aran tentang si penyerangnya.”

“Hipnotis?” Usul Ferenczi.

“Aku sangat menganjurkan untuk tidak menggunakannya,” kata Freud, “itu tidak akan membantunya, dan kenangan yang diungkit oleh hipnotis tidak dapat diandalkan.”

“Apa maksud analisa yang kau sebutkan itu?” Tanya

Walikota.

“Kami dapat memulainya paling awal besok,” kata Freud, “tetapi aku harus memperingatkanmu kalau psikoanalisa merupakan perawatan intensif. Pasien harus bertemu setiap hari, selama paling tidak satu jam setiap hari.”

“Kurasa tidak ada masalah,” jelas McClellan, “pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan pada Nona Acton malam ini.” Orangtua gadis itu sedang berlibur musim panas di rumah mereka di pedesaan Berkshire, dan mereka tidak dapat dihubungi. Higginson menyarankan mengundang beberapa orang keluarga, tetapi Walikota McClellan tidak mengizinkan. “Acton tidak akan mau kalau kejadian ini tersebar ke luar. O rang mungkin akan beranggapan kalau gadis itu telah terluka selamanya.”

Nona Acton hampir pasti mendengar komentar terakhir. Aku melihatnya sekarang sedang menulis sebuah pesan baru bagi kami. Aku mendekatinya dan menerimanya. A ku in gin pulang, katanya, Sekarang.

McClellan segera mengatakan kepada gadis itu kalau ia tidak dapat mengizinkannya. Penjahat sudah diketahui, ia memperingatkannya. Penjahat itu menginginkan gadis itu kembali ke tempat terjadinya kejahatan. Si penyerang mungkin terus mengawasi rumahnya, bahkan mungkin sekarang ini. Karena penjahat itu takut kalau korbannya dapat mengenalinya. Mungkin ia akan percaya kalau satusatunya harapan untuk meloloskan diri dari hukuman adalah dengan membunuh si korban. Karena itu, kembali ke Gramercy Park sama sekali tidak mungkin, setidaknya hingga ayahnya kembali ke kota sehingga keamanannya terjamin. Karena alasan itu wajah Nona Acton berubah. Ia pun memberi isyarat dengan tangannya, menyatakan

perasaannya yang tidak dapat kumengerti.

McClellan mengatakan cara terbaiknya adalah membawa Nona Acton ke Hotel Manhattan—tempat kami menginap. Walikota McClellan sendiri yang akan membayar biayanya. Sampai nanti orangtuanya kembali, Nona Acton akan menginap di sana bersama Ibu Biggs, yang mengetahui kebutuhan dan perlengkapan yang pantas bagi gadis itu. Aturan ini bukan saja yang paling aman, tetapi juga yang paling nyaman untuk memulai perawatannya.

“Ada kesulitan lebih lanjut,” kata Freud, “psikoanalisa memerlukan tanggung jawab waktu yang kuat dari dokter. Jelas aku tidak dapat membuat keterikatan semacam itu. Dr. Ferenczi juga tidak bisa. Bagaimana denganmu, Younger? Kau mau merawatnya?”

Freud melihat keraguanku. Aku ingin menjawab pertanyaannya secara pribadi. Lalu ia mengajakku ke pinggir.

“Seharusnya Brill,” kataku, “jangan aku.”

Freud menatapku lagi dengan tatapan yang dapat menembus batu. Ia menjawab dengan tenang. “Aku tidak meragukan kemampuanmu, anakku. Sejarah kasusmu membuktikan itu. Aku ingin kau merawatnya.”

Ini perintah yang tidak dapat kulawan dan sekaligus sebuah pernyataan kepercayaan yang memiliki pengaruh untukku, yang tidak dapat aku gambarkan. Aku setuju.

“Bagus,” katanya dengan suara keras. “Ia pasienmu. Aku akan membimbing selama aku berada di Amerika. Tetapi Dr. Younger-lah yang akan melakukan analisas. Tentu saja, jika pasien kita setuju dengan itu,” tambah Freud.

Enam

PIPI CEKUNG AHLI OTOPSI HUGEL yang terlihat oleh detektif Littlemore pada hari Selasa pagi, tampak semakin cekung dibandingkan dengan biasanya. Matanya pun kini memiliki kantung tersendiri, lingkaran hitamnya juga memiliki lingkaran hitamnya sendiri. Littlemore merasa yakin penemuannya akan memompa semangat sang ahli otopsi.

“Baiklah, pak Hugel,” kata si detektif, “aku kembali ke Balmoral. Tunggu sampai kau mendengar apa yang kudapat.”

“Kau sudah berbicara dengan si pelayan?” Tanya Hugel langsung.

“Ia tidak bekerja di sana lagi,” jawab si detektif, “ia dipecat.”

“Aku tahu itu!” Seru Hugel. “Kau punya alamatnya?”

“Oh, aku sudah menemukannya. Tetapi ini hal pertama. Aku kembali ke kamar tidur Nona Riverford untuk melihat pada hiasan di langitlangit. Kau tahu mengenai bola bowling. Kau pernah berkata kalau gadis itu diikat pada sebuah bola bowling.”

“Bagus. Aku yakin kau telah selamatkan barang itu,” kata Hugel.

“Aku mendapatkannya, juga seluruh bolanya,” Perkataan Littlemore ternyata membangkitkan tatapan menakutkan di wajah Hugel. Detektif itu melanjutkan, “Aku tidak tahu kalau langitlangit itu tidak terlalu kuat, maka aku naik ke atas tempat tidur dan menariknya kuat-kuat. Maka runtuhlah langitlangit itu.”

“Kau tidak mengira langitlangit itu sangat kuat,” ulang Hugel, “maka itu kau menariknya, lalu runtuh? Kerja yang bagus sekali, Detektif.”

“Terimakasih, Pak Hugel.”

“Mungkin kau bisa saja merusak seluruh kamar itu lain kali. Ada bukti lain yang kau rusak?”

“Tidak,” kata Littlemore, “aku hanya tidak mengerti mengapa bisa runtuh begitu mudah. Bagaimana pengait itu bisa menahan tubuh gadis itu supaya tegak?”

“Ya, begitulah faktanya.”

“Ada dua lagi, Pak Hugel, dan ini sangat penting.” Littlemore menjelaskan seorang lelaki tak dikenal yang meninggalkan gedung Balmoral pada sekitar tengah malam pada hari Minggu sambil membawa sebuah tas hitam. “Bagaimana, Pak Hugel?” Tanya si detektif dengan bangga.

“Mereka yakin orang itu bukan penyewa gedung?”

“Benar. Mereka tidak pernah melihat orang itu sebelumnya.”

“Membawa tas, katamu?” Tanya Hugel. “Dengan tangan yang mana?”

“Clifford tidak tahu.” “Kau sudah tanyakan itu?”

“Tentu,” kata Littlemore. “Aku harus memeriksa ketrampilan orang itu.”

Hugel menggumam lega. “Yah, ia bukan orang yang kita cari.”

“Mengapa bukan?”

“Karena orang kita cari itu rambutnya beruban, dan tinggal di gedung itu.” Hugel menjadi bersemangat, “kita tahu Nona Riverford tidak mempunyai tamu tetap. Kita tahu ia tidak memiliki tamu dari luar gedung pada hari Minggu malam. Bagaimana si pembunuh itu masuk ke apartemennya? Pintunya tidak dibuka secara paksa. Hanya ada satu kemungkinan. Ia mengetuk pintu, dan gadis itu membukakannya. Sekarang, apakah seorang gadis yang tinggal sendirian mau membukakan pintu bagi semua or-ang pada tengah malam? Terutama orang asing? Aku sangat meragukan itu. Namun tentu gadis itu akan membukakan pintu bagi tetangganya, atau seseorang yang tinggal di gedung itu…, seseorang yang ditunggunya, mungkin, atau seseorang yang sudah pernah bertamu ke apartemennya.”

“Tukang binatu.” Kata Littlemore.

Ahli otopsi itu menatap si detektif.

“Itu hal lain, Pak Hugel. Dengarkan ini. Aku turun ke ruang bawah tanah di Balmoral, lalu melihat jejak tanah liat orang Cina itu, tanah liat merah. Aku mengambil contohnya, ternyata sama dengan apa yang aku dapati di kamar Nona Riverford. Aku yakin itu. Mungkin a-lah pembunuhnya.”p>

“Orang Cina,” kata sang ahli otopsi.

“Aku berusaha menghentikannya, tetapi ia lolos. Ia petugas binatu. Mungkin saja orang itu mengantarkan baju bersih pada hari Minggu malam. Nona Riverford telah membukakan pintu baginya, lalu ia membunuhnya. Kemudian orang Cina itu kembali ke ruang binatu, dan tidak ada seorang pun yang tahu.”

“Littlemore,” kata Hugel sambil menghela nafas panjang, “pembunuhnya bukan orang Cina yang bekerja sebagai binatu, tapi seorang kaya raya. Aku tahu itu.”

“Tidak, Pak Hugel, kau mengira ia orang kaya karena ia mencekiknya menggunakan dasi sutera mewah. Tetapi jika kau bekerja di binatu, kau mencuci dasi sutera setiap waktu. Mungkin orang Cina itu mencurinya dari sana untuk membunuh nona Riverford.”

“Apa motifnya?” Tanya Hugel.

“Aku tidak tahu. Mungkin ia suka membunuh gadis-gadis, seperti orang di Chicago. Misalnya, Nona Riverford berasal dari Chicago. Kau tidak mengira…”

“Tidak, Detektif, aku tidak mengira demikian. Aku juga tidak mengira kalau orang Cina itu memiliki hubungan dengan pembunuhan itu.”

“Tetapi tanah liat itu…”

“Lupakan tanah liat itu.”

“Tetapi orang Cina itu lari ketika…”

“Tidak ada orang Cina! Kau dengarkan aku, Littlemore? Tidak ada orang Cina di dalam kasus pembunuhan ini. Setidaknya pembunuh tersebut memiliki tinggi seratus delapanpuluh tiga centimeter. Ia seorang kulit putih: rambut yang kutemukan pada tubuh si gadis adalah rambut seorang Kaukasian. Tapi si pelayan…, si pelayan itulah kuncinya. Apa yang dia katakan kepadamu?”

9

AKU HARUS MAKAN PAGI dengan memburu waktu yang tersisa hanya limabelas menit sebelum mengunjungi Nona Acton. Freud baru saja duduk. Brill dan Ferenczi sudah ada di meja. Brill baru saja menghabiskan tigar

piring makanannya, dan kini tengah menyelesaikan yang keempat. Aku sudah mengatakan padanya kemarin bahwa Clark akan membayar sarapannya. Ia benar-benar menggunakan kesempatan itu.

“Di mana Jung?” Tanya Freud.

“Aku tidak tahu di mana ia sekarang,” kata Brill, “tetapi aku tahu ke mana ia pergi hari Minggu malam.”

“Minggu malam? Ia pergi tidur lebih awal pada Minggu malam itu,” kata Freud.

“Oh tidak, tidak begitu,” kata Brill, dengan nada menggoda, “aku tahu ia bersama siapa. Ini, akan aku perlihatkan pada kalian. Lihatlah.”

Dari bawah kursinya, Brill menarik sebuah lipatan koran tebal, diikat dengan karet gelang, mungkin ada tigaratus halaman. Pada halaman teratas terbaca, Maka/ah Pilihan tentang Histeria dan Psikoneurosis Lainnya oleh Sigmund Freud, terjemahan dan kata pengantar oleh A.A. Brill.

“Buku dalam bahasa Inggris pertamamu,” kata Brill sambil menyerahkan naskah itu kepada Freud dengan perasaan bersinar bangga yang belum pernah kulihat sebelumnya, “ini akan menjadi karya hebat, kau lihat saja.”

“Aku sangat gembira, Abraham,” kata Freud seraya mengembalikan naskah itu, “sungguh, aku gembira sekali. Tetapi, tadi kau sedang menceritakan tentang Jung pada kami.”

Wajah Brill langsung berubah muram. Ia berdiri, mengangkat dagunya, dan berkata dengan suara angkuh, “Jadi hanya begitu kau memperlakukan karya hidupku yang kukerjakan selama duabelas bulan? Beberapa mimpi tidak perlu ditafsirkan: mereka hanya perlu dilakukan. Selamat tinggal.”

Lalu ia duduk lagi.

“Maaf, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku,” katanya. “Kupikir, aku adalah Jung dalam beberapa saat tadi.” Cara meniru Jung yang dip eragakan Brill—yang luar biasa itu—membuat Ferenczi kesal, namun Freud tidak terpengaruh. Setelah berdeham, Brill mengarahkan perhatian kami pada nama penerbitnya, Smith Ely Jelliffe, yang tertera pada halaman judul naskahnya. “Jelliffe mengelola Journal of Nervous Disease, * kata Brill, “ia adalah seorang dokter, juga kaya raya seperti Croesus. Demi Tuhan, aku akan membuat Gomorrah ini seperti surga bagi psikoanalisa. Kau lihat saja. Kawan kita, Jung, diam-diam telah bertemu dengan Jelliffe pada hari Minggu malam itu.”

Ternyata Jelliffe, ketika Brill mengambil naskah itu darinya pagi ini, telah mengatakan kalau Jung telah mengadakan makan malam bersama di apartemennya pada hari Minggu malam. Jung tidak mengatakan apa pun pada kami tentang pertemuannya. “Tampaknya topik utama percakapan mereka adalah tempat pelacuran terbaik di Manhattan. Tetapi, dengar dulu yang ini,” Brill melanjutkan, “Jelliffe meminta Jung memberikan serangkaian kuliah tentang psikoanalisa minggu depan di Fordham University, sekolah Jesuit.”

“Itu kan berita yang hebat!” Seru Freud.

“Begitukah?” Tanya Brill, “mengapa Jung, bukan Anda?”

“Abraham, aku memberikan kuliah setiap hari di Massachusetts, mulai hari Selasa minggu depan. Aku tidak mungkin memberikan kuliah di New York pada waktu yang bersamaan.”

“Tetapi mengapa merahasiakan? Mengapa menutupi pertemuannya dengan Jelliffe?”

Tidak seorang pun dari kami yang dapat menjawab pertanyaan itu. Namun, Freud tidak mempersoalkannya. Menurutnya, pastilah terdapat alasan mengapa Jung bersikap bungkam seperti itu.

Selama percakapan itu, aku memegangi naskah tebal kepunyaan Brill. Setelah membaca beberapa halaman pertamanya, dan terkejut ketika membalik halaman berikutnya. Halaman itu benar-benar kosong. Di atasnya hanya tercetak lima baris, di tengah-tengah, dengan huruf besar, dan dicetak miring. Itu adalah ayat Kitab Suci atau sejenisnya.

“Apa ini?” Tanyaku, sambil memperlihatkan halaman

tu.

Ferenczi mengambil halaman itu dari tanganku dan membacanya:

7

hei orang yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murkaku mengamuk sepert api. Dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamka.

7(arena per6uatan-per6uatanmu yangjahat.

“Yeremia, bukan?” Tanya Ferenczi seraya memamerkan pengetahuannya akan Kitab Suci yang bisa dianggap lebih jauh dari pengetahuanku, “Apa gunanyan Yeremia ada di dalam buku histeria?”

Masih lebih aneh lagi, pada bagian paling bawah halaman tergambar cap tinta seraut wajah. Wajah Oriental yang keriput atau semacamnya, dengan pembungkus

kepala, hidung panjang, jenggot panjang, dan mata yang terbelalak memesona.

“Seorang Hindu?” Tanya Ferenczi.

“Atau seorang Arab?” Aku mengusulkan.

Yang paling aneh, pada halaman berikutnya dari naskah itu juga sama, selain kosong tidak berisi, cuplikan dari kitab suci itu juga terdapat di tengah-tengahnya, walaupun tanpa gambar cap wajah tadi. Begitupun halaman berikutnya.

“Apakah ini lelucon, Brill?” Tanya Freud.

Dia pun coba menilainya dari wajah Brill, dan buku itu bukanlah lelucon.

9

DETEKTIF LITTLEMORE sangat kecewa hasil temuannya ditolak oleh Hugel. Tetapi ia membiarkan ketika ahli Hugel mengubah topik untuk membicarakan pelayan Nona Riverford, yang juga memberikan informasi menarik.

“Betty, si pelayan itu, telah dipecat, Pak Hugel. Kuharap aku bisa melakukan sesuatu untuknya,” kata si detektif. Sebenarnya, ia telah menemukan Betty yang mulanya enggan berbicara. Namun Littlemore membawanya ke sebuah airmancur soda. Di sana Betty meratapi ketidakadilan itu ketika Littlemore menyinggung masalah pemecatannya. Mengapa mereka memecatnya? Bukankah ia tidak melakukan kesalahan. Mengapa mereka tidak memecat beberapa gadis mencuri sesuatu di apartemen? Apa yang akan dilakukannya sekarang? Ternyata ayah Betty telah meninggal dunia setahun sebelumnya. Selama dua bulan terakhir, Betty-lah yang membiayai ibunya beserta tiga orang adik lelakinya.

“Apa yang dikatakannya padamu, Detektif?” Tanya Hugel sambil menggigit bibirnya.

“Betty berkata, ia tidak suka pergi ke apartemen Nona Riverford. Katanya, di sana ada hantunya. Pernah dua kali, ia benar yakin telah mendengar suara bayi menangis tanpa ada seorang bayi pun di sana. Ternyata apartemen itu kosong. Katanya, Nona Riverforid aneh. Ia hanya muncul satu kali saja, sekitar empat minggu yang lalu. Tanpa pernah ada truk pindahan, tanpa ada apa-apa, apartemen penuh berprabotan sebelum ia tiba di sana. Sifat Nona Riverford berbeda dengan yang lain. Ia gemar menyendiri tanpa pernah membuat kamarnya terlihat berantakan. Tempat tidurnya selalu terlihat rapi, dan barang-barangnya tetap berada pada tempatnya. Bahkan salah satu lemarinya selalu terkunci. Ia pernah mencoba memberi Betty sepasang anting-anting. Betty bertanya, apakah anting-anting itu adalah berlian asli? Nona Riverford mengatakan ya. Betty tidak mau mengambilnya. Selama bekerja di sana, Betty hampir-hampir tidak pernah bertemu dengannya. Tidak setiap harinya Betty bekerja pada malam hari, maka itu ia hanya berkesempatan ketemu beberapa kali saja. Selain itu, ia selalu masuk dan keluar sebelum pukul tujuh. Ketika itu Betty baru saja masuk bekerja. Salah satu penjaga pintu mengatakan padaku, Nona Riverford meninggalkan gedung beberapa kali sebelum pukul enam. Apa itu artinya, Pak Hugel?”

“Artinya, kau akan mengirim orang ke Chicago.”

“Untuk berbicara dengan keluarganya?”

“Tepat. Apa yang dikatakan pelayan itu tentang kamar tidurnya ketika pertama kali ia menemukan mayat Riverford?”

“Masalahnya, Betty juga tidak ingat dengan tepat

tentang hal itu. Yang dapat diingatnya hanya wajah Nona Riverford.”

“Apakah ia melihat sesuatu di dekat mayat gadis itu atau sesuatu yang berada di atas tubuhnya?”

“Aku sudah menanyakan hal itu, Pak Hugel, tapi ia tidak dapat mengingatnya.”

“Tidak satu pun?”

“Ia hanya dapat mengingat mata Nona Riverford, terbuka dan menatap.”

“Orang tolol kecil yang lemah.”

Littlemore terkejut. “Kau tidak akan mengatakan itu jika kau yang berbicara dengannya,” kata Littlemore, “bagaimana kau tahu ada yang berubah?”

“Apa?”

“Kau bilang ada yang berubah di kamar itu sejak kali pertama Betty masuk ke kamar itu sebelum kau yang memasukinya. Tetapi kukira mereka segera mengunci apartemen itu dan menyuruh pelayan di lorong untuk mengusir siapa pun hingga kau tiba di sana.”

“Kukira juga begitu,” kata Hugel, sambil melangkah menyeberangi ruang kantornya yang sempit, “itu yang dikatakan pada kita.”

“Jadi, mengapa kau mengira ada orang yang telah memasuki kamar itu?”

“Mengapa?” Ulang Hugel, dengan cemberut, “kau ngin tahu mengapa? Baiklah, Pak Littlemore. Ikuti aku.”

Hugel berjalan ke luar pintu. Littlemore mengikutinya untuk menuruni tiga tangga tua dan menembus koridor berkelok-kelok dengan cat tembok yang terkelupas. Akhirnya mereka berada di ruang penyimpanan jenazah. Ketika Hugel membuka sebuah pintu besi, Littlemore merasakan sambaran udara apak yang beku. Kemudian ia

melihat deretan mayat di dalam laci-laci kayu. Beberapa di antaranya bugil dan tergeletak begitu saja, yang lainnya tertutup kain. Littlemore tidak dapat menahan diri untuk tidak melihat bagian mereka yang paling pribadi sehingga ia terhenyak mundur.

“Tidak ada orang lain yang mungkin telah memeriksa jasad itu dengan cukup teliti untuk melihat petunjuk ini. Tidak seorang pun,” kata Hugel. Ia pun berjalan ke belakang ruangan itu, tempat di mana satu jenazah tergeletak di laci yang paling jauh. Sehelai kain putih menutupinya, dengan tulisan Riverford, E.:29.8.09. “Sekarang lihat padanya dengan teliti, dan katakan sebenarnya apa yang kau lihat, Detektif?”

Ketika Hugel menyibak kain putih itu, mata Littlemore terbelalak. Tetapi Hugel tampak lebih terkejut dibanding detektif itu. Di bawah kain itu yang terbaring bukanlah jenazah Elizabeth Riverford, tetapi seorang lelaki tua dengan kulit berkeriput dan bergigi hitam.

g

AKU MEN GUNAKAN LIFT untuk menuju tempat Nona Acton menginap. Kemudian teringat kalau aku harus ke kamarku lebih dahulu untuk mengambil kertas dan pena. Cuplikan Kitab Suci yang aneh di dalam naskahnya telah sangat mempengaruhi Brill. Ia tampak betulbetul ketakutan. Katanya ia akan segera kembali ke Jelliffe, penerbitnya, untuk meminta penjelasan. Aku mengira ada sesuatu yang mungkin tidak dikatakannya kepada kami.

Aku mengharap Freud akan hadir pada sesi pertamaku dengan Nona Acton. Namun ia hanya mengatakan agar aku melaporkan padanya nanti. Kehadirannya, ia merasa,

akan mengacaukan pemindahan {transference}.

Pemindahan merupakan fenomena psikoanalisa. Freud menemukannya secara kebetulan, dan membuatnya terkejut sekali. Setiap pasien silih berganti untuk menunjukkan reaksi pada analisanya dengan cara memujanya, atau ada kalanya, dengan cara membencinya. Pada awalnya, ia coba mengabaikan perasaan itu, memandang mereka sebagai pengagungan yang tidak disukainya dan tidak terkendali menjadi hubungan pengobatan saja. Lama kelamaan, ia menemukan betapa pentingnya mereka, baik bagi penyakit si pasien maupun pengobatannya. Di dalam ruang praktik sang analis, si pasien diingatkan kembali tentang konflik-konflik bawah sadar yang merupakan keinginan terpendam dan berada dalam inti penyakit tersebut. Konflik bawah sadar yang dipindahkan oleh dokter itulah yang menjadi penyebab penyakit si pasien. Menurut Freud, ini bukanlah secara kebetulan, keseluruhan penyakit histeria itu terdiri dari harapan-harapan terpendam atau perasaan yang terbentuk pada masa kanak-kanak tanpa pernah terungkap. Padahal seharusnya, itu dipindahkan dari orang tersebut kepada orang lain, atau terkadang obyek lainnya. Dengan membagi fenomena bersama pasien—dengan cara membawa hal yang dipindahkan kepada kepastian dan mengatasinya hingga tuntas—analisa membuat yang tidak sadar menjadi sadar dan memindahkan sebab penyakit tersebut.

Jadi pemindahan ternyata menjadi penemuan Freud yang paling penting. Akankah aku memiliki gagasan tentang pentingnya perbandingan? Sepuluh tahun yang lalu, kupikir aku telah memilikinya. Pada tanggal 31 Desember 1899, aku memberi tahu ayahku tentang hal itu. Sebenarnya saat itu Ayah terganggu oleh kehadiranku di ruang kerjanya, beberapa jam sebelum kedatangan para tamu untuk merayakan malam tahun baru. Aku mengatakan padanya, aku telah membuat suatu penemuan yang mungkin akan menjadi peristiwa besar. Aku meminta izin untuk mengungkapkannya. Ia mengangkat kepalanya, “Teruskan,” katanya.

Sejak awal zaman modern, aku menyatakan, sebuah fakta ganjil terbukti benar yaitu segala perubahan luar biasa yang terjadi pada kemanusiaan merupakan ledakan dari pemikiran jenius. Baik yang menyangkut bidang kesenian ataupun ilmu pengetahuan. Revolusi tersebut terjadi pada dekade pertama pergantian abad yang baru itu.

Dalam dunia seni dan ilmu pengetahuan, baik orangnya maupun terutama karyanya, memiliki pengakuan terbaik sebagai jenius yang mengubah dunia. Kejeniusan yang mengubah perjalanan sejarah? Dalam dunia seni rupa, orang-orang hebat itu semuanya menunjuk ke Scrovegni Chapel. Giotto memperkenalkan lagi figurasi tiga dimensi kepada dunia modern. Dalam dunia sajak, Dante adalah satusatunya orang diakui dengan karyanya Inferno. Dalam bidang seni patung, Michelangelo mengguncang dengan karyanya David, yang dipahat dari sebongkah batu pada tahun 1501. Pada tahun itu pula, muncul revolusi mendasar dari ilmu pengetahuan modern. Seorang bernama Nicolaus dari Torus (Copernicus) melakukan perjalaan ke Padua untuk berpura-pura belajar ilmu kedokteran. Namun sesungguhnya, melanjutkan penelitian astronomis yang membawanya menemukan satu kebenaran yang terlarang. Dalam bidang sastra, pilihan harus jatuh pada dedengkot novel, Don Quixote(l 604). Sementara di bidang musik, tidak seorang pun yang

menyaingi Beethoven. Dialah pencipta musik terobosan yang jenius.

Itulah hal yang kusampaikan pada Ayahku. Aku baru berusia tujuhbelas tahun waktu itu. Kupikir, sungguh luar biasa menjalani kehidupan pada pergantian abad itu. Aku memperkirakan akan ada karya dan gagasan yang meng-goncang kemanusian pada beberapa tahun ini. Dan karena itu, orang akan menciptakan sesuatu yang hebat untuk kehidupan mereka di tengah pergantian milenium seratus tahun kemudian.

“Kau benar-benar…, bersemangat,” itulah tanggapan dingin dan satusatunya jawaban ayahku. Mungkin aku salah karena masuk ke ruang kerjanya untk memperlihatkan kegembiraanku. Kata bersemangat, bagi ayahku merupakan sebuah istilah untuk celaan.

Namun semangatku mendapat balasan. Pada tahun 19D5, seorang keturunan Vahudi-Jerman dari Swiss, menghasilkan sebuah teori yang disebutnya relativitas. Dalam duabelas bulan, para profesorku di Harvard mengatakan, Einstein telah mengubah pikiran kami tentang ruang dan waktu untuk selamanya. Dalam bidang seni, aku mengaku memang tidak ada perubahan. Pada tahun 19D3, kerumunan orang di St. Botolph ramai membicarakan teratai Perancis, yang kemudian terbukti merupakan karya seorang seniman yang mulai kehilangan penglihatanya. Ketika tiba pada pengertian manusia akan dirinya sendiri, perkiraanku kembali terpenuhi. Sigmund Freud menerbitkan bukunya Interpretation of Dreams pada tahun 1900. Ayahku mungkin akan mengejek, tetapi aku yakin kalau Freud juga akan mengubah cara berpikir kita selamanya. Setelah Freud, penilaian kita pada diri kita sendiri atau orang lain akan berubah.

Ayahku tidak pernah berkata dengan keras kalau kegemaranku akan karya Shakespeare b erlebihan. Katanya, ada sesuatu yang tidak sehat dalam keterta-rikanku yang besar terhadap fiksi, terutama Ham-let. Seharusnya aku lebih realistis. Ia hanya sekali mengatakan perasaannya. Ketika berusia tigabelas tahun, waktu itu aku kira tidak ada seorang pun di rumah, maka aku mengatakan beberapa kalimat fiksi Hamlet: Apa artinya Hecuba baginya, atau ia bagi Hecuba, sehingga ia harus m enangis karena perempuan itu ? Mungkin aku agak mendapat kesulitan ketika mengucapkan bagian ini, Oh, pem batasan dendam,’ Atau Huh untuk itu! Hahf Ayahku, tanpa setahuku, menyaksikan semua itu. Ketika aku selesai, ia berdeham dan bertanya apa arti Hamlet bagiku, atau artiku bagi Hamlet, sehingga aku harus menangis karenanya?

Tidak perlu dikatakan, namun aku tidak menangis, seingatku. Maksud Ayah, kecintaanku pada Hamlet bisa tidak berguna sama sekali dalam berbagai hal. Baik itu untuk masa depanku, atau untuk dunia. Ia ingin aku mengerti tentang hal ini sejak awal. Ia telah berhasil dan, lagi pula, aku tahu ia benar.

Namun pengetahuan itu tidak mengurangi kecintaanku pada Shakespeare. Seperti diketahui, aku telah menghapus penyair Avon dari daftar orang jenius pengubah dunia. Penghapusan itu merupakan strategi. Aku ingin tahu apakah ayahku memakan umpanku atau tidak. Tampaknya ayahku menggunakan “Shakespeare-ku tercinta,” untuk melawanku. Ayahku jauh lebih mudah menyebutnya daripada menyebut nama Dickens atau Tolstoy. Ayahku tahu kalau aku akan segera menyebut mereka hanya sebagai tokoh besar sastra klasik pertengahan abad, bukan sebagai penemu hal baru. Tetapi ia tahu kalau aku tak akan pernah menghapus gelar jenius revolusioner bagi Shakespeare sebagaimana sebuah argumen dan bantahanku.

Boleh jadi ayahku mencurigai adanya sebuah jebakan, atau sejarah buku itu sudah diketahuinya dengan baik dari yang kuduga. Namun ia tidak bertanya. Aku pun tidak menceritakannya bahwa Hamlet ditulis pada tahun 16DD.

Aku tidak juga berkesempatan untuk menjelaskan kalau aku bukanlah satusatunya penggemar Shakespeare. Banyak orang yang rela mati demi Hamlet. Ayahku tidak tahu itu. Dan semuanya itu tidak ada gunanya, begitulah yang mungkin akan dikatakan ayahku: demi Hamlet. Namun memang begitu, orang biasanya lebih memer-dulikan hal yang justru kurang nyata. Contohnya kedokteran, bagiku, mewakili kenyataan. Semua yang kulakukan sebelum aku kuliah kedokteran, tidak tampak nyata lagi, semuanya hanya permainan. Karena itulah para ayah harus meninggal: untuk membuat dunia menjadi nyata bagi putra-putra mereka.

Ini serupa dengan pemindahan dalam perawatan: si pasien membentuk sebuah hubungan emosional yang pal-ing menengangkan dengan dokternya. Seorang pasien perempuan akan menangis demi dokternya; ia akan memberikan dirinya dan rela mati bagi dokternya. Namun itu semua hanya fiksi. Dalam dunia nyata, perasaan pasien itu tidak ada hubungan dengan dokternya. Kepada dokter itulah si pasien mewujudkan beberapa kekerasan, mengendapkannya dengan mempergunakan orang lain. Kekacauan terburuk dalam analisa yang mungkin terjadi adalah kesalahan membangun perasaan tiruan. Apakah itu

perasaan menggairahkan atau kebencian, untuk dijadikan kenyataan. Maka aku menguatkan diri ini ketika berjalan menuju kamar Nona Acton.

Tujuh

WAN ITA TUA ITU membiarkan aku masuk ke kamar, lalu berseru, “Dokter muda itu sudah datang!”

Nona acton duduk di sofa tepat di bawah jendela. Satu kakinya tertekuk di bawah tubuhnya. Ia membaca sebuah buku pelajaran matematika, lalu mendongak kepadaku tanpa memberi salam. Hal itu dapat dimengerti lantaran ketidakmampuannya untuk bicara. Sebuah lampu bergantung di langitlangit, dan kepingan kristal yang menyerupai tetesan air mata itu sedikit bergetar, mungkin pengaruh kereta api yang berjalan di bawah kami.

Nona Acton hanya mengenakan pakaian putih dengan tepian biru tanpa perhiasan. Di sekeliling lehernya, tepat di atas belahan dadanya yang lembut, ada setangan berwarna biru langit. Lantaran panasnya udara musim itu, hanya ada satu kemungkinan mengapa ia mengenakan setangan itu: memar pada lehernya masih terlihat, rupanya ia ingin menyembunyikanya.

Penampilannya sangat berbeda dari malam sebelumnya sehingga bisa saja aku tidak mengenalinya. Rambut panjang yang sebelumnya kusut masai, sekarang halus bercahaya dan dikepang sempurna. Kemarin ia gemetar tak terkendali, sekarang bak sebuah lukisan keanggunan, dengan dagunya terangkat tinggi di atas leher jenjangnya. Hanya bibirnya yang masih terlihat agak bengkak.

Aku mengeluarkan beberapa kertas catatan, pena

dan tinta yang aku gunakan mempermudah komunikasi dengan gadis itu. Sesuai nasihat Freud, aku mencatat apa saja selama sesi analisa berlangsung. Aku hanya mencatatkan semuanya yang mampu kuingat setelah sesi selesai.

“Selamat pagi, Nona Acton,” sapaku, “ini untukmu.” “Terimakasih,” katanya, “apa yang seharusnya kusu-guhkan?”

“Apa saja,” kataku, “Kau sudah dapat berbicara.” “Ibu Biggs,” katanya, “tolong tuangkan teh untuk dokter.”

Aku menolak tehnya. Rasa kesal yang kurasakan lantaran terkejut, kini bertambah dengan kenyataan kalau aku adalah seorang dokter yang bisa saja kesal karena keadaan pasiennya membaik tanpa bantuanku.

“Kau sudah membaik sejak kemarin?” Tanyaku.

“Belum. Tetapi temanmu, dokter tua itu, berkata kalau semuanya akan kembali secara alamiah, bukankah begitu?”

“Dr. Freud berkata suaramu mungkin saja akan kembali secara alamiah, tetapi bukan ingatanmu.” Bagiku itu merupakan pernyataan aneh, karena aku sendiri tidak yakin apakah pernyataan itu benar.

“Aku benci Shakespeare,” katanya.

Matanya terus menatap mataku, tetapi aku melihat apa penyebab tercetusnya kata-katanya itu. Rupanya buku Hamlet-ku tersembul dari tumpukan buku catatan yang tadi kutawarkan padanya. Aku memasukkanbuku daram itu ke dalam tas. Rasanya aku ingin bertanya mengapa ia membenci Shakespeare, tetapi ada gagasan lain yang lebih baik, “Bisa kita mulai perawatanmu, Nona Acton?”

Sambil mendesah seperti seorang pasien yang telah

terlalu sering menemui banyak dokter, ia berpaling dan menatap jendela, sehingga punggungnya-lah yang menghadap padaku. Gadis itu tampak sedang berpikir. Rupanya ia mengira aku akan menggunakan stetoskop untuk perawatannya. Aku memberitahu kalau kami hanya sekadar berbicara saja.

Ia bertukar pandang ragu dengan Ibu Biggs. “Itu perawatan macam apa, dokter?” Tanyanya.

“Namanya psikoanalisa. Sangat sederhana. Aku harus minta pelayanmu untuk meninggalkan kita. Lalu, silahkan berbaring, Nona Acton, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan. Kau hanya menjawab dengan apa saja yang ada di dalam pikiranmu. Mohon jangan khawatir jika jawabanmu itu nanti tampak tidak berhubungan atau tidak akan menjawab pertanyaanku sama sekali. Bahkan kalau jawabanmu itu terdengar tidak sopan. Katakan saja hal pertama yang muncul dalam benakmu, apa pun itu.”

Ia berkedip padaku. “Kau bercanda.”

“Sama sekali tidak.” Aku memerlukan beberapa menit untuk mengatasi keraguan gadis itu, termasuk beberapa menit lainnya untuk mengatasi pernyataan Ibu Biggs tadi kalau ia belum pernah mendengar adanya perawatan semacam itu. Ibu Biggs pun pergi, dan Nona Acton mulai berbaring di sofa. Ia memperbaiki letak setangannya, lalu merapikan pakaiannya. Wajar saja kalau ia tampak tidak tenang. Aku bertanya apakah cidera pada punggungnya itu mengganggu? Ia menjawab tidak. Aku mengambil tempat pada sebuah kursi yang tidak terlihat olehnya, lalu memulai. “Kau bisa katakan padaku tentang mimpimu tadi malam?”

“Maaf?”

“Aku yakin kau mendengarku, Nona Acton.”

“Aku rasa mimpiku tidak ada hubungannya dengan ini semua.”

“Mimpi itu,” aku menjelaskan, “terbentuk dari potongan-potongan berbagai pengalaman sehari-hari kita. Mimpi apa pun yang kau ingat mungkin bisa membantu mengembalikan ingatanmu.”

“Bagaimana jika aku tidak mau mengatakannya?” Tanyanya.

“Kau punya mimpi yang kau merasa lebih baik jika tidak kau ceritakan?”

“Aku tidak mengatakan begitu,” katanya, “bagaimana jika aku sudah melupakannya? Mengapa kalian mengira aku masih mau mengingat kejadian itu.”

“Aku menduga kau tidak mau mengingat itu kembali. Jika kau mau mengingatnya, kau pasti bisa.”

“Apa maksudmu?” Ia duduk, dan mendelik padaku dengan sangat jelas untuk menunjukkan permusuhan. Seharusnya, aku tidak mungkin dibenci oleh seseorang yang baru saja kukenal, namun kali ini tampaknya suatu pengecualian. “Kau pikir aku berpura-pura?”

“Tidak berpura-pura, Nona Acton. Terkadang kita tidak mau mengingat beberapa kejadian karena itu terlalu menyakitkan. Maka kita menguncinya, terutama kenangan masa kanak-kanak.”

“Aku bukan anak-anak.”

“Aku tahu itu,” kataku, “maksudnya, mungkin saja kau memiliki kenangan akan kejadian beberapa tahun lalu yang kau simpan di luar kesadaranmu.”

“Apa maksudmu? Baru saja kemarin aku diserang, bukan beberapa tahun yang lalu.”

“Ya, dan karena itulah aku mempertanyakan mimpimu tadi malam.”

Ia menatapku dengan curiga, tetapi dengan sedikit membujuk, aku bisa membuatnya kembali berbaring. Sambil menatap pada langitlangit ia berkata, “Kau juga meminta pasien wanita lain untuk menceritakan mimpinya, Dokter?”

“Ya.”

“Pasti menyenangkan sekali,” ujarnya, “tetapi bagaimana jika mimpi mereka sangat membosankan? Apakah mereka kemudian mengarang mimpi yang lebih menarik?”

“Harap jangan memikirkan tentang hal itu.”

“Tentang apa?”

“Tentang apakah mimpimu membosankan,” kataku. “Aku tidak bermimpi. Kau pastilah menyukai Ophelia.” “Maaf?”

“Karena kepatuhannya. Semua tokoh wanita Shakespeare bodoh, tetapi Ophelia-lah yang paling parah.”

Ini mengejutkanku. Kupikir aku memang selalu menyukai Ophelia. Sebenarnya, segala yang kuketahui tentang perempuan, kurasa aku telah mendapatkannya dari Shakespeare. Nona Acton benar-benar mengubah topik, dan sesi bisa saja terhenti. Namun membiarkan seorang pasien yang berusaha menghindar, terkadang berguna juga dalam sebuah analisa. Seiring setelah itu, mereka akan kembali ke masalah terpenting, “Mengapa kau tidak menyukai Ophelia?” Tanyaku.

“Ia bunuh diri karena ayahnya mati. Ayahnya bodoh dan tidak memiliki tujuan. Apakah kau akan bunuh diri jika ayahmu meninggal dunia?”

“Ayahku memang sudah meninggal dunia.”

Tangannya menutupi mulutnya. “Maafkan aku.”

“Dan aku memang bunuh diri,” tambahku, “semua itu lumrah bagiku.”

Ia tersenyum.

“Nona Acton, ketika kau memikirkan kejadian kemarin, apa yang muncul dalam benakmu?”

“Tidak ada,” katanya, “aku percaya, begitulah artinya jika mengalami amnesia.”

Penolakan gadis itu tidak mengejutkanku. Sebuah nasihat Freud padaku adalah pantang menyerah terlalu mudah. Dalam amnesia histeris, beberapa bagian terlarang dan yang sudah lama terlupakan dari masa lalu seorang pasien, dapat saja muncul kembali dalam kehidupannya lantaran peristiwa yang baru saja dialaminya, yang menekan kesadarannya. Kesadarannya itu kemudian melawan dengan segala kekuatannya untuk tetap menjauhi memori yang tak dapat diterimanya tersebut. Psikoanalisa berpihak pada memori untuk melawan kekuatan penekanan; karena itu bangkitlah kebencian secra tak terduga dari si pasien terhadap dokternya.

“Tak pernah tidak ada apa-apa di benak seseorang,” ujarku, “apa yang ada di benakmu saat ini?”

“Saat ini?”

“Ya, jangan mengingat-ingat, katakan saja.” “Baiklah. Ayahmu sudah meninggal dunia. Ia bunuh

diri.”

Ada hening sesaat. “Bagaimana kau tahu itu?” “Clara Banwell mengatakannya padaku.” “Siapa?”

“Ia adalah teman ayahmu. Clara mengajakku ke pameran kuda tahun lalu. Kami melihatmu di sana. Kau hadir di pesta Nyonya Fish tadi malam?”

Aku mengakui kenyataan itu.

“Kau mereka-reka apakah keluargaku diundang,” katanya, “tetapi kau takut bertanya, karena kau takut

jika kami memang tidak diundang.”

“Tidak, Nona Acton, aku mereka-reka bagaimana Nyonya Banwell tahu tentang kematian ayahku.”

“Apakah aneh jika ada orang lain yang mengetahuinya?”

“Kau sedang mencoba membuat hal itu menjadi aneh?”

“Clara mengatakan, semua gadis berpendapat kalau peristiwa bunuh diri Ayahmu adalah kenyataan yang menarik. Mereka mengira kejadian itu memberimu jiwa. Jawaban pertanyaanmu adalah kami memang diundang, tetapi selamanya aku tidak akan pernah hadir dalam pesta-pesta kalian.”

“Begitukah?”

“Ya, begitu. Pesta-pestamu memuakkan.” “Mengapa?”

“Karena mereka sangat…, sangat membosankan.”

“Mereka memuakkan dan membosankan?”

“Kau tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang baru saja bergabung dalam masyarakat kelas atas? Pertama, ia harus datang ke rumah semua kenalan ibunya…, mungkin ada seratus rumah. Aku ragu apakah kau bisa membayangkan betapa menyiksanya hal itu. Di dalam setiap rumah, para wanita itu berkomentar tentang betapa dewasanya penampilanmu. Padahal maksudnya sangat menjijikkan. Ketika hari yang dinanti itu tiba, kau akan dipamerkan seperti hewan berjalan. Seperti ada pengumuman pembukaan sebuah sesi. Lalu kau dipaksa berdansa dengan setiap lelaki yang percaya kalau mereka mempunyai hak untuk bercinta denganmu. Tidak peduli siapa dirimu, betapa tuanya dirimu, tidak peduli sebau apa nafasmu. Aku belum pernah berdansa dengan mereka. Aku mulai kuliah bulan ini, karena itu aku

tidak akan pernah keluar lagi.”

Aku memilih untuk tidak menanggapinya, walau keseluruhannya tampak benar. Sebagai gantinya, aku pun berkata, “Katakanlah kepadaku apa yang terjadi ketika kau mencoba untuk mengingat.”

“Apa maksudmu dengan apa yang terjadi?”

“Aku ingin kau mengatakan padaku, gagasan atau gambar atau perasaan apa pun itu yang muncul ketika kau berusaha mengingat kejadian kemarin.”

Ia menarik nafas dalam. “Tempat kejadian itu? Yang kulihat hanyalah kegelapan. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya.”

“Kau ada di sana, di dalam kegelapan itu?”

“Aku di sana?” Tanyanya lirih, “kukira ya.”

“Ada yang lain di sana?”

“Seseorang,” ia gemetar, “seorang lelaki.”

“Apa yang kau pikirkan ketika melihat lelaki itu?”

“Aku tidak tahu. Ia membuat jantungku berdebar cepat.”

“Seolah ada yang kau takuti?”

Ia menelan liurnya. “Takut? Coba kupikir. Aku baru diserang di rumahku sendiri, si penyerang belum ditangkap. Mereka pun tidak mengetahui siapakah orang itu. Mereka percaya mungkin saja ia sedang mengamati rumahku, dan merencanakan untuk membunuhku jika aku kembali. Lalu pertanyaanmu yang menjengkelkan adalah apakah ada yang kutakuti?”

Aku seharusnya bersikap lebih simpatik padanya, namun aku memutuskan untuk kehilangan satusatunya anak panah yang kumiliki. “Ini bukan untuk pertama kalinya kau kehilangan suaramu, Nona Acton?”

Ia mengerutkan keningnya. Tanpa kusadari, aku melihat garis dagu dan profil wajahnya yang anggun. “Ibu Biggs yang mengatakannya padaku kemarin.” “Itu tiga tahun lalu,” jawabnya, wajahnya agak berubah warna, “dan sama sekali tak ada hubungannya.” “Kau tidak perlu malu, Nona Acton.”

“Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat membuatku malu?”

Aku mendengar penekanan pada kata ‘aku” tetapi tak dapat kumengerti. “Kita tidak bertanggungjawab akan perasaan kita,” kataku, “makanya, tidak ada perasaan yang dapat membuat kita malu.”

“Itu adalah katakata terbodoh yang pernah kudengar selama hidupku.”

“Oh, begitukah?” Tanyaku, “bagaimana dengan ketika aku bertanya padamu apakah kau punya hal yang menakutkanmu?”

“Tentu saja perasaan dapat membuat orang malu. Itu selalu terjadi.”

“Apakah kau malu karena apa yang terjadi ketika kau untuk pertama kalinya kehilangan suaramu?”

“Kau tidak tahu apa yang terjadi,” katanya. Walau tidak terdengar melemah, tapi tibatiba ia menjadi rapuh. “Karena itu aku bertanya.”

“Well, aku tidak akan mengatakannya padamu,” ia bangkit dari sofa, “ini bukan terapi. Ini.., ini namanya mengungkit-ungkit.” Ia meninggikan suaranya, “Ibu Biggs? Ibu Biggs, kau ada di sana?”

Pintu terbuka, dan Ibu Biggs bergegas masuk. Tentunya wanita tua itu telah sejak lama berada di koridor dengan telinganya menempel di lubang kunci. “Dr. Younger,” kata Nona Acton padaku, “aku akan pergi untuk membeli sesuatu. Kurasa tidak ada yang tahu sampai

berapa lama aku harus tinggal di sini. Dokter, aku yakin kau tahu jalan menuju ke kamarmu sendiri.”

9

WALIKOTA MCCLELLAN MEMAKSA Hugel untuk menunggu selama satu jam. Ahli otopsi itu tidak sabar dengan keadaan yang sudah umum terjadi ini. Kini ia tampak berang. “Ini pelanggaran tingkat pertama,” serunya ketika ia pun diterima di kantor Walikota, “aku menuntut diadakannya penyidikan.”

George Brinton McClellan, Jr. adalah putra seorang jendral Perang Saudara. Ia adalah seorang tercerdas dengan pikiran jauh ke depan. Ia pun pernah menjabat sebagai Walikota New York City. Pada tahun 19D9, hanya sedikit orang Amerika yang bisa diakui sebagai seorang ahli sejarah Italia. McClellan adalah salah satunya. Pada usia ke empatpuluh tiga, ia telah menjadi seorang editor koran, pengacara, penulis, anggota dewan, pengajar sejarah Eropa di Princeton University, anggota kehormatan American Society of Architects [Persatuan Arsitek Amerika], dan Walikota dari kota terbesar itu. Ketika anggota dewan kotapraja New York City mengeluarkan peraturan pada tahun 1908 yang melarang perempuan merokok di depan umum, McClellan menolaknya.

Pandangannya terhadap moralitas bisa dibilang rendah. Jadwal Pemilihan Walikota berikutnya masih kurang sembilan minggu lagi. Nama para calon belum disebutkan, tetapi McClellan masih belum mendapatkan tawaran partai besar atau kelompok sebagai nominasi. Di atas meja Walikota yang terbuat dari kayu walnut, selain dari lima belas terbitan koran kota, ada satu set cetak biru. Cetak

biru itu menggambarkan jembatan gantung yang menjulang tinggi, dijangkari dengan dua menara raksasa yang sangat tipis dan megah. Trem kota digambarkan berlalu-lalang di bagian atas jembatan, sementara di bagian bawahnya ada enam jalur kereta kuda, mobil dan jalur kereta api.

“Kau adalah orang kelima yang telah meminta penyidikan ini dan itu.”

“Ke mana jenazah itu?” Kata Hugel, “apakah ia bisa bangun dan berjalan dengan kedua kakinya?”

“Coba lihat ini,” Walikota itu berkata, sambil menatap cetak birunya. “Jembatan Manhattan. Memakan biaya tigapuluh juta dolar untuk pembangunnya. Aku akan meresmikannya tahun ini jika itu memang adalah hal terakhir yang kukerjakan di kantor ini. Menara ini sebagai pemandangan New York yang merupakan tiruan dari portal St. Denis di Paris, hanya saja ini ukurannya dua kali lebih besar. Satu abad lagi, jembatan ini…,”

“Walikota McClellan, gadis Riverford…,”

“Aku tahu tentang gadis Riverford,” kata McClellan dengan suara yang tibatiba berwibawa. Ia menatap Hugel tepat pada wajahnya, “apa yang harus kukatakan pada Banwell? Apa yang harus ia katakan pada keluarga gadis itu? Jawab aku, Hugel! Tentu saja harus ada penyidikan, kau seharusnya sudah menyelesaikannya sejak lama.”

“Aku?” Tanya Hugel, “sejak lama?”

“Berapa banyak jenazah yang hilang dari kita selama enam bulan terakhir ini, Hugel, termasuk dua yang tak tercatat setelah kita memperbaiki kebocoran? Duapuluh jenazah? Sebagaimana aku, kau juga tahu ke manakah mayat-mayat itu pergi.”

“Kau tidak mengatakan kalau aku…,”

“Tentu saja tidak,” kata Walikota, “tetapi seseorang dari staf-mu telah menjual mayat-mayat itu kepada fakultas kedokteran. Aku diberitahu harganya lima dolar per kepala.”

“Apakah itu salahku?” Tanya Hugel. “Dengan keadaanku yang tanpa perlindungan, tanpa penjaga, tentu saja mayat-mayat itu menghilang, tidak ada ruangan cukup untuk mereka semua, bahkan terkadang sudah membusuk sebelum dapat dimusnahkan? Setiap bulan aku melaporkan tentang keadaan yang memalukan di rumah jenazah. Tetapi kau tidak mempedulikan aku.”

“Maafkan aku atas keadan rumah jenazah itu,” kata McClellan, “dari laporan yang kuterima tidak ada seorang pun yang mampu mengelolanya sebaik kemampuanmu. Kau telah berpura-pura tidak melihat adanya pencurian mayat-mayat itu, lalu aku yang harus bertanggungjawab. Kau harus menginterogasi setiap orang dalam staf. Kau harus menghubungi setiap fakultas kedokteran di kota ini. Aku ingin jasad itu ditemukan.”

“Mayat itu tidak berada di fakultas kedokteran,” kata Hugel keberatan, “aku sudah melakukan otopsi padanya. Aku telah melubangi paruparunya, untuk meyakinkan adanya kesulitan bernafasnya.”

“Apa hubungannya?”

“Tidak ada satu fakultas kedokteran pun yang mau membeli mayat yang sudah diotopsi. Mereka menginginkan mayat yang utuh.”

“Maka si pencuri itu membuat kesalahan.”

“Tidak ada kesalahan di sini. Si pembunuh itulah yang mencuri jasad Riverford.”

“Kendalikan dirimu, Hugel. Kau tak terkendali.”

“Aku mampu mengendalikan diriku dengan sempurna.”

“Aku tidak mengerti maksudmu. Kau mengatakan, si pembunuh merampok ruang jenazah kemarin malam dan melarikannya?”

“Tepat,” kata Hugel.

“Mengapa?”

“Karena ada pada tubuh gadis itu terdapat bukti yang menurut si pembunuh, tidak boleh kita miliki.” “Bukti apa?”

Rahang Hugel bekerja terlalu keras sehingga pelipisnya berubah seperti buah plum. “Buktinya…, adalah.., aku belum yakin apakah buktinya. Karena itulah mengapa kita harus mendapatkan kembali mayatnya!”

“Hugel, kau telah mengunci kamar mayat itu, kan?”

“Pasti.”

“Bagus. Apakah kunci itu rusak tadi pagi? Apakah ada bukti perampokan?”

“Tidak,” kata Hugel dengan geram, “tetapi seseorang dengan kunci pencuri yang bagus…,”

“Hugel, inilah yang harus kau kerjakan. Segera beritahu semua anak buahmu kalau ada hadiah sebesar limabelas dolar bagi siapa saja yang dapat ‘menemukan’ gadis Riverford di salah satu fakultas kedokteran. Duapuluh lima dolar jika mereka menemukannya hari ini. Hadiah itu pasti akan membawanya kembali. Kini, izinkan aku, aku sangat sibuk. Selamat siang.” Ketika Hugel dengan enggan memutar tub uhnya untuk pergi. Tibatiba McClellan mendongak menatap dari balik mejanya. “Tunggu. Tadi kau bilang gadis Riverford mengalami sesak nafas?”

“Ya, mengapa?”

“Bagaimana ia bisa sesak nafas?” “Karena jeratan.”

“Ia dicekik?” “Ya. Mengapa?”

McClellan mengabaikan pertanyaan Hugel untuk kedua kalinya. “Bagian tubuh mana lagi yang terluka?”

“Semua sudah kutulis dalam laporanku,” kata Hugel yang kecewa. Ia merasa terhina begitu mengetahui ternyata McClellan belum membaca laporannya. “Gadis itu dicambuki. Ada beberapa luka goresan pada bokong, punggung, dan dada. Ia disayat sebanyak dua kali dengan silet sangat tajam, pada bagian pertemuan S-dua dan L dua dermatom.”

McClellan tampak tidak paham, “Di mana? Tolong gunakan bahasa Inggris, Hugel.”

“Pada paha dalam bagian atas pada tiap tungkai.” “Demi Tuhan,” kata McClellan.

9

AKU TURUN untuk makan pagi sambil mencoba memikirkan pertemuanku dengan Nona Acton. Aku bergabung bersama Jung yang sedang membaca koran Amerika di sana. Yang lainnya telah berangkat ke Metropolitan Museum. Jung tertinggal, katanya menjelaskan, karena pagi-pagi ia akan mengunjungi Dr. Onuf, seorang neuropsikiatris di Ellis Island.

Ini adalah pertama kalinya aku berdua saja dengan Jung. Kali itu, ia tampak ramah tamah dan menyenangkan. Katanya, sepanjang sore kemarin ia tertidur. Dan hal itu akan berakibat baik baginya. Memang tampangnya pucatnya kemarin telah membuatku dibanding bagaimana ia terlihat kali ini. Katanya, pendapatnya tentang Amerika juga membaik, “Orangorang Amerika hanya kurang membaca karya sastra,” katanya, “jadi, bukan budayanya yang kurang baik.”

Jung bersungguh-sungguh. Kupikir itu suatu pujian. Karena itu aku ingin memperlihatkan kalau orang-orang Amerika tidak semuanya buta sastra. Lalu aku menggambarkan kisah keributan di Astor Place ketika dipentaskan drama Shakespeare padanya.

“Jadi, orang-orang Amerika ingin Hamlet yang berotot,”

Jung merenung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kisahku menegaskan pendapatku. Seorang Hamlet yang jantan merupakan kontradiksi dalam istilah. Seperti yang pernah dikatakan kakekku, tokoh Hamlet mewakili sifat keperempuanan lelaki: kecerdasannya, jiwanya, cukup peka dalam melihat dunia spiritual tetapi tidak cukup kuat untuk menanggung beban yang ditimbulkan. Tantangannya adalah untuk melakukan keduanya: mendengarkan suara-suara dari dunia lain tetapi hidup di dunia ini— menjadi lelaki yang bertindak.”

Aku bingung dengan “suara-suara” yang disebutkan Jung. Mungkin suara di alam tak sadar? Tetapi aku senang ia punya pendapat tentang Hamlet. “Kau menjelaskan tentang tokoh Hamlet benar-benar hampir seperti penjelasan Goethe,” kataku, “itu adalah penjelasan Goethe tentang ketakmampuan Hamlet dalam bertindak.”

“Aku yakin, itu adalah pendapat kakek buyutku,” kata Jung sambil menghirup kopinya.

Aku menunggu sebentar. Lalu, “Goethe kakek buyutmu?”

“Freud memuji Goethe lebih dari semua penyair,” kata Jung. “Sebaliknya, Jones, menyebutnya dithyram bist [penyair yang biasa saja]. Bisa kau bayangkan? Jones hanya seorang Inggris. Aku tidak mengerti apa yang

dilihat Freud pada diri Jones.” Jones yang dibicarakan Jung pastilah Ernest Jones, seorang pengikut Freud. Kini ia tinggal di Kanada dan diharapkan akan bergabung dengan kelompok kami besok. Aku telah menyimpulkan kalau Jung bermaksud menghindari pertanyaanku. Lalu ia menambahkan, “Ya, aku Carl Gustav Jung ketiga; yang pertama adalah kakekku, putra Goethe. Semua orang tahu itu. Dugaan pembunuhan memang menggelikan.”

“Aku tidak tahu Goethe didakwa membunuh.”

“Goethe? Tentu saja tidak,” kata Jung marah, “jelas aku sangat mirip dengan kakekku dalam segala hal. Mereka menangkapnya dengan tuduhan pembunuhan, tetapi itu hanya dalih. Kakekku memang menulis novel pembunuhan, judulnya The Suspect, karya apik tentang seorang tanpa sebuah kesalahan namun dijatuhi hukuman karena pembunuhan. Atau setidaknya, ada satu orang yang menganggapnya tidak bersalah. Itu sebelum Humboldt melindunginya. Kau tahu, Younger, aku sebenarnya berharap universitasmu tidak memberiku penghormatan sebagaimana yang kalian telah berikan kepada Freud. Ia sangat perasa dalam hal seperti itu.”

Aku tidak bisa menjawab dengan baik pernyataan kasar Jung terhadap Freud. Clark tidak memberikan penghormatan yang sama pada Freud dan Jung. Seperti yang diketahui semua orang, Freud adalah pusat perhatian dalam acara perayaan Clark. Ia adalah pembicara utama yang akan membawakan lima kuliah penuh. Sementara Jung, setidaknya cadangan terakhir jika ada seorang panelis yang berhalangan hadir.

Tetapi Jung tidak menanti jawabanku. Ia melanjutkan, “Aku tahu maksudmu ketika kau mempertanyakan apakah Freud seorang beriman. Sebuah pertanyaan

cerdik, Younger.” Ini juga adalah sebuah hal yang terlihat lain untuk pertama kalinya. Jung sebelum ini tidak pernah memperlihatkan reaksi suka pada apa pun yang kukatakan.

“Tentu saja Freud mengatakan kalau ia tidak beriman. Ia seorang jenius, namun wawasannya membahayakan dirinya. Seseorang yang terjebak karena menggunakan waktu seumur hidupnya untuk meneliti patologis, ada kemungkinan menjadi buta akan kemurnian, ketinggian, dan jiwa. Aku tidak percaya sama sekali bahwa jiwa harus merupakan jasmani. Bagaimana pendapatmu?” Tanya Jung padaku.

“Aku tidak yakin, Dr. Jung.”

“Tetapi kau tidak terseret ke dalam gagasan itu. Gagasan itu tidak secara mendasar menarik hatimu. Mungkin bagi mereka, begitu.”

Aku harus bertanya padanya, siapakah yang sedang dibicarakannya.

“Mereka semua. Brill, Ferenczi, Abraham, Stekel, dan banyak lainnya. Freud membungkus dirinya sendiri dengan ini, jenis ini. Mereka semua ingin merobek apa pun yang tinggi, untuk menurunkannya hingga berubah menjadi aurat dan kotoran. Jiwa itu tidak bisa diturunkan maknanya menjadi jasmani. Bahkan Einstein, salah satunya, tidak percaya bahwa Tuhan dapat dibunuh.” “Albert Einstein?”

“Ia tamu makan malam di rumahku yang kerap datang,” kata Jung, “tetapi ia juga mempunyai kecenderungan untuk memp erkecil alam semesta menjadi hukum matematika. Jelas itu merupakan khas pemikiran seorang Yahudi. Lelaki Yahudi, tentunya. Wanita Yahudi bertipe agresif. Istri Brill adalah jenis yang seperti itu. Cerdas, menarik, tetapi sangat agresif.”

“Aku percaya Rose bukan orang Yahudi, Dr. Jung,” kataku.

“Rose Brill?” Tanya Jung sambil tertawa, “seorang wanita dengan nama seperti itu, pastilah dari agama yang satu itu.”

Aku tidak menjawab. Jung jelas lupa kalau nama Rose tidak harus selalu terkait dengan Brill.

“Bangsa Aria itu,” Jung melanjutkan, “bersifat mistis. Ia tidak berusaha untuk menurunkan segalanya hingga menjadi setingkat dengan manusia. Di sini, di Amerika, ada kecenderungan yang sama untuk menurunkannya, tetapi berbeda. Di sini, segalanya dibuat untuk anak-anak. Segalanya dibuat sederhana mungkin sehingga mudah dimengerti anak-anak: tanda-tanda, iklan, segalanya, bahkan betis yang digunakan orang untuk berjalan, juga dibuat seperti anak-anak. Cara mengayunkan lengan juga seperti itu. Aku menduga itu hasil percampuran kalian dengan Negro. Mereka bangsa bersifat baik dan sangat beragama, tapi berpikiran sederhana. Mereka sangat memengaruhimu. Aku mendengar gaya bicara orang-orang Selatanmu. Mereka benar-benar berbicara dengan aksen Negro. Ini juga penjelasan bagi sifat matriarki negerimu. Wanita Amerika jelas merupakan tokoh dominan. Kalian, lelaki Amerika adalah domba, sementara wanita kalian berperan sebagai srigala-srigala malam.”

Aku tidak suka warna paras Jung. Pada mulanya aku menganggapnya sebagai satu kemajuan, namun sekarang wajah tampak terlalu merah. Cara berpikirnya memb ingungkanku, karena alasan tertentu. Percakapannya tidak fokus, logikanya kacau, sindirannya menyakitkan. Yang terparah, kupikir Jung menganggap dirinya sangat

mengerti tentang Amerika, padahal dua hari ia berada di sini. Terutama pengetahuannya tentang wanita Amerika. Aku mengubah topik pembicaraan dengan memberitahunya tentang sesi pertama p sikoanalisaku dengan Nona Acton yang baru saja usai.

“Apa?” Tanya Jung dengan suara yang terdengar dingin “Ia menginap di kamar lantai atas.”

“Kau menganalisa gadis itu? Kau, di sini, di hotel ini?”

“Ya, Dr. Jung.”

“O, begitu.” Ia berharap aku berhasil, walau tidak terlalu meyakinkan, dan bangkit untuk pergi. Aku memintanya menyampaikan hormatku pada Dr. Onuf. Sesaat ia menatapku seolah aku meracau. Lalu ia berkata kalau ia akan menyampaikannya dengan senang hati. Delapan

Delapan

DI TEPI TIMUR SUN GAI HUDSON, enampuluh mil ke utara New York City, berdiri sebuah gedung besar, melebar, terbuat dari batu merah zaman Victoria. Itu adalah gedungRumah Sakit Negara Matteawan bagi Narapidana Sakit Jiwa. Rumah sakit Matteawan memiliki pengamanan yang relatif kecil. Lagipula, kelimaratus limapuluh penghuninya bukanlah penjahat. Mereka hanyalah penjahat yang disebabkan karena ketidakwarasannya. Banyak di antaranya tidak dijatuhi hukuman sama sekali. Bahkan ada juga yang tidak dinyatakan bersalah.

Pada tahun 1909, pengetahuan medis akan ketidakwarasan belum merupakan ilmu pengetahuan sempurna. Di Matteawan, kira-kira 10 persen penghuninya dinyatakan tidak waras hanya karena ia melakukan

masturbasi. Sebagian besar dari mereka menderita ketidakwarasan karena keturunan. Para dokter telah dipaksa untuk menyatakan penyebab penyakit itu dari sejumlah besar penghuninya di sana, atau, bahkan menyatakan mereka tidak waras sama sekali.

Pasien di kamar 3121 melewatkan hari-harinya dengan cara berbeda. Pasien ini juga menempati kamar 3122-24. Ia tidur tidak di atas tempat tidur lipat, seperti penghuni lainnya, tetapi di atas ranjang besar. Dan ia tidur larut malam. Ia bukan pembaca buku, namun setiap hari ia menerima beberapa helai surat dari New York dan segala majalah mingguan, yang dibacanya sambil makan telur rebus. Sementara penghuni rumah sakit lainnya berbaris dan bekerja di kebun sebagai bentuk kegiatan pagi mereka. Ia bertemu dengan pengacaranya beberapa kali seminggu. Yang paling hebat, Chef, seorang koki kepala, mempersiapkan makan malamnya di ruang makan pribadinya. Sampanye dan minuman keras lainnya dengan bebas dibagikannya kepada sebagian kecil staf penjaga di Matteawan ketika bermain poker bersama pada malam hari. Ketika kalah dalam permainan poker, ia akan memecahkan barang-barang seperti jendela, botol-botol, terkadang kursi. Maka para penjaga berusaha supaya ia tidak kalah terlalu banyak. Beberapa sen bisa saja mereka korbankan bagi permainan kartu dibandingkan dengan pembayaran yang dilakukan si pasien untuk mendapatkan pengecualian dari peraturan rumah sakit. Mereka dapat mengantungi keuntungan sedikit ketika mereka membawa para wanita untuk hiburannya.

Namun membawa masuk para wanita ke sana tidaklah terlalu mudah, karena pasien di kamar 3121 memiliki selera tertentu. Ia menyukai wanita yang muda dan cantik.

Permintaan semacam itu saja telah membuat para penjaga di sana kerepotan. Sialnya, ketika mereka menemukan yang sesuai, wanita itu hanya mampu bertahan hingga kunjungan kedua saja, meskipun pembayarannya sangat royal. Setelah hanya duabelas bulan, para penjaga benar-benar itu telah kehabisan persediaan wanita baginya.

Kedua lelaki itu keluar dari kamar 3121 tepat pukul satu pada hari Selasa di penghujung bulan Agustus 1909. Mereka bukanlah penjaga. Tarikan wajah salah satu orang yang mengenakan topi bowling, memperlihatkan kepuasan yang tinggi. Satu lagi adalah seorang lelaki lebih tua dengan sebuah jam rantai yang menggelantung dari saku rompinya. Ia berwajah tirus dan jemarinya bak pemain piano.

g

PEN JELASAN WALIKO TA MCCLELLAN tentang peristiwa yang terjadi di kamar Nona Acton, telah membuat ahli otopsi marahmarah panjang-pendek.

“Ada apa denganmu, Hugel?” Tanya pak Walikota.

“Aku tidak diberitahu. Mengapa aku tidak diberitahu?”

“Karena kau adalah ahli otopsi,” kata McClellan, “tidak seorang pun yang terbunuh.”

Tetapi kejahatan itu dapat terlihat jelas,” bantah Hugel.

“Aku tidak tahu itu,” kata Walikota McClellan.

“Jika kau telah membaca laporanku, kau akan tahu!”

“Demi Tuhan, tenanglah Hugel.” Lalu McClellan memerintahkannya untuk duduk. Setelah kedua orang itu meneliti kembali kejahatan tersebut dengan lebih rinci,

Hugel menegaskan, jelaslah pembunuh Elizabeth Riverford adalah orang yang menyerang Nora Acton.

“Maha Besar Tuhan,” kata McClellan perlahan, “haruskah aku mengeluarkan peringatan?” Hugel tertawa mengejek, “Seorang pembunuh para gadis kaya raya sedang menghantui kota kita?”

McClellan bingung karena nada kalimat Hugel. “Wah, ya begitu, kukira, atau paling tidak begitu.”

“Lelaki tidak menyerang perempuan muda begitu saja,” jelas Hugel, “kejahatan harus memiliki motif. Scot-land Yard tidak pernah bisa menangkap Ripper karena mereka tidak pernah menemukan hubungan antara si penjahat dan para korbannya. Mereka tidak pernah mencari motif itu. Saat mereka memutuskan kalau pelaku kejatahan itu adalah orang gila, kasus itu menghilang begifWabJB .Besar Tuhan, wah, kau tidak sedang mengatakan si Ripper itu berkeliaran lagi, kan?”

“Tidak, tidak, tidak,” kata Hugel sambil menggerak-gerakkan tangannya dengan jengkel, “aku mengatakan, kedua serangan itu tidak asal saja. Ada sesuatu yang menghubungkan mereka. Saat kita menemukan hubungan itu, kita akan tahu siapa penjahatnya. Kau tidak perlu memperingatkan masyarakat, dan kau harus melindungi gadis itu. Penjahat itu sudah menginginkan kematiannya, dan gadis itu sekarang adalah satusatunya orang yang dapat mengenalinya di pengadilan. Jangan lupa, ia tidak tahu jika si gadis korban itu kehilangan memorinya. Pasti ia akan menyelesaikan pekerjaannya.”

“Syukurlah aku telah memindahkannya ke hotel,” kata McClellan.

“Ada yang tahu di mana gadis itu berada sekarang?”

“Para dokternya tentu saja.”

“Kau mengatakan pada teman dan keluarganya?” Tanya Hugel.

“Tentu saja tidak,” kata McClellan.”

“Bagus. Kalau begitu ia selamat sekarang. Apakah hari ini ia sudah dapat mengingat sesuatu?”

“Aku tidak tahu,” kata McClellan muram, “aku belum bisa menghubungi Dr. Younger.” Walikota McClellan mempertimbangkan pilihannya. Ia berharap ia dapat menghubungi Jendral Bingham, mantan komisaris polisinya yang lama, Namun McClellan-lah yang mendorongnya hingga Bingham pensiun sebulan yang lalu. Bingham telah menolak untuk memperbaiki citra polisi, tetapi ia sendiri tidak dapat disuap, Ia pasti tahu apa yang harus $&tem^9tan Wajjl^ $Sffin$$JlSiŁBtU-hM&rf?ia Ba^p

uang yang bisa dihasilkan darinya. Seingat McClellan, Hugel adalah salah satu dari orang-orang yang paling berpengalaman dalam satuan itu. Bukan itu saja, dalam kasus pembunuhan, ia adalah yang paling berpengalaman. Jika ia tidak menganggap peringatan sebagai sesuatu yang penting, mungkin ia benar. Berbagai surat kabar tentu saja akan mendapat keuntungan dari berita itu, karena masyarakat berubah histeris dan Walikota akan dihujat. Mereka pasti juga akan tahu tentang hilangnya jasad korban pertama. McClellan telah meyakinkan Banwell kalau polisi akan coba mengungkap kasus tanpa diketahui publik. George Banwell adalah salah seorang teman Walikota yang telah ditinggalkan. Akhirnya McClellan memutuskan untuk mengikuti saran Hugel.

“Baiklah,” kata McClellan, “Tidak ada peringatan sekarang, kau harus benar, Pak Hugel. Temukan orang itu

untukku. Pergilah ke rumah Nona Acton sekarang juga. Kau akan memimpin penyidikan di sana. Dan katakan pada Littlemore aku ingin bertemu dengannya segera.”

Hugel protes. Sambil membersihkan kacamatanya, ia mengingatkan McClellan kalau itu bukan bagian dari tugas ahli otopsi untuk berkeliaran di kota seperti detektif biasa. McClellan menelan rasa jengkelnya. Ia meyakinkan kalau hanya dialah yang dapat dipercaya lantaran penting dan pekanya kasus ini, apalagi matanya terkenal paling awas di satuan ini. Hugel, mengedipkan matanya karena tampaknya ia setuju dengan pernyataan-pernyataan itu. Ia pun setuju untuk pergi ke rumah Nona Acton.

Begitu Hugel meninggalkan kantornya, McClellan memanggil sekretarisnya, “Telepon George Banwell.” Sekretarisnya memberi tahu kalau Banwell telah menelponnya sepanjang pagi itu.

“Apa yang diinginkannya?” Tanya McClellan. “Ia agak kasar, Yang Mulia,” katanya.

“Tidak apa, Nyonya Neville. Apa yang diinginkannya?”

Nyonya Neville membaca dari catatan stenonya. “Untuk mengetahui siapa iblis yang membunuh gadis Riverford, apa yang membuat Hugel begitu lama menyelesaikan otopsinya, dan ke mana uangnya.”

McClellan mendesah dalam, “Siapa, apa, di mana. Ia hanya tidak menyebutkan kapan.” McClellan melihat jam tangannya. Ternyata kapannya itu sudah tinggal sedikit lagi baginya. Dalam dua minggu paling lama, para calon Walikota akan diumumkan. Kini ia tidak mempunyai harapan menjadi calon dari Tammany. Kesempatannya hanya sebagai calon bebas atau gabungan, tetapi kampanye seperti itu membutuhkan uang. Hal itu juga membutuhkan wartawan handal, bukan berita-berita

omong kosong tentang penyerangan para gadis kaya raya yang tidak terungkap. “Telepon Banwell lagi,” tambahnya pada Nyonya Neville. “Katakan padanya untuk bertemu denganku di Hotel Manhattan dalam satu setengah jam ini. Ia tidak akan menolak, karena ia punya pekerjaan di dekat sana, jadi ia tentu mengawasinya sesekali waktu. Lalu panggil Littlemore.”

Setengah jam kemudian, detektif itu melongokkan kepalanya ke kantor Walikota, “Anda ingin bertemu denganku, Yang Mulia?”

“Pak Littlemore,” kata Walikota, “kau tahu kita mendapatkan serangan lain lagi?” “Ya. Pak Hugel telah mengatakannya padaku.”

“Bagus. Kasus ini penting sekali bagiku, Detektif. Aku mengenal Acton, dan George Banwell adalah teman lamaku. Aku ingin selalu diberitahu setiap ada perkembangan. Dan aku ingin kasus ini dirahasiakan. Segera pergilah ke Hotel Manhattan, temui Dr. Younger, cari tahu apakah ia telah membuat kemajuan. Jika ada informasi baru, segera hubungi aku. Dan Detektif, jangan menarik perhatian. Jangan sampai ada kebocoran kalau kita mempunyai saksi penting yang menginap di hotel. Hidup Nona Acton bergantung pada kerahasiaan itu. Kau mengerti?”

“Ya, Tuan Walikota,” kata Littlemore, “kepada siapakah aku harus melapor? Kepada Anda, atau kepada Kapten Carey di bagian Pembunuhan?”

“Kau melapor kepada Hugel,” jawab Walikota, “dan juga kepadaku. Kasus ini harus dituntaskan, Littlemore. Dengan segala cara. Kau telah mempunyai penjelasan tentang pembunuhnya?”

“Ya, Tuan Walikota.” Littlemore ragu-ragu, “Hmm, satu

pertanyaan lagi bagaimana jika penjelasan Hugel itu ternyata salah?”

“Kau punya alasan menganggapnya salah?” “Kupikir…,” kata Littlemore, “kupikir ada seorang lelaki Cina yang kemungkinan terlibat.”

“Seorang lelaki Cina?” Ulang McClellan, “kau telah memberitahu Hugel?”

“Ia tidak setuju, Tuan.”

“Oh begitu. Well, aku mengatakan padamu, sebaiknya kau percaya saja pada Pak Hugel. Aku tahu ia peka pada hal-hal tertentu, Detektif. Tetapi kau harus ingat betapa sulitnya bagi seorang jujur untuk melaksanakan tugasnya dalam ketidakjelasan, sementara orang yang tak jujur berhasil menjadi kaya dan ternama. Karena itulah korupsi sangat merusak. Korupsi mematahkan niat orang-orang baik. Hugel punya kemampuan luar biasa, dan ia menghormatimu, Detektif. Ia memintamu secara khusus untuk menangani kasus ini.”

“Begitukah, Tuan?”

“Betul. Sekarang pergilah, Littlemore.”

9

KETIKA MENINGGALKAN HOTEL, aku bertemu dengan Nona Acton dan Ibu Biggs yang akan pergi berbelanja. Sebuah kereta kuda sewaan baru saja berhenti untuk mereka. Karena jalanan buruk, berdebu dan tidak rata lantaran lumpur kering dan tanah, aku membantu Nona Acton untuk menaiki kereta kuda. Ketika aku melakukannya, aku mengetahui kalau pinggang rampingnya hampir dapat kubungkus dalam dua tanganku. Aku juga berniat membantu Ibu Biggs, namun perempuan baik

hati itu tidak memerlukannya.

Kepada Nona Acton aku katakan harapanku untuk dapat bertemu lagi dengannya esok pagi. Ia bertanya apa maksudku. Aku mengingatkannya dengan cara menjelaskan tentang sesi psikoanalisa berikutnya. Tanganku masih memegangi pintu kereta kudanya yang terbuka. Ia menarik pintu itu dan menutupnya, sehingga tanganku melepaskannya. “Aku tidak mengerti ada apa dengan kalian semua,” katanya, “aku tidak mau sesimu lagi. Aku akan dapat mengingat semuanya dengan caraku sendiri. Jangan ganggu aku lagi, itu saja.”

Kereta kuda itu bergerak. Sulit menggambarkan perasaanku ketika aku menatap kepergian mereka. Kecewa, bukanlah ungkapan yang benar-benar memadai. Aku berharap tubuhku yang terlalu tegap ini sebaiknya remuk dan melebur dengan tanah jalanan. Brill seharusnya yang menjadi analis. Sementara aku lebih patut disebut sebagai seorang pekerja medis, seorang dokter umum. Akan terlalu hebat jika aku berpura-pura menjadi seorang psikoanalis.

Aku telah gagal sebelum memulainya. Gadis itu telah menolak analisa, dan aku tidak berhasil mengubah pendapatnya. Tidak, akulah yang menyebabkan penolakannya itu, karena pertanyaanku terlalu mengejar gadis itu sebelum dasar sesi tersebut diletakkan. Sebenarnya aku tidak siap dengan keadaannya yang sudah dapat berbicara. Aku telah lupa pada perkiraan Freud sendiri kalau gadis itu mungkin saja akan dapat berbicara lagi dalam semalam. Kembalinya suara itu, seharusnya menjadi anugerah bagi perawatannya. Suatu perkembangan yang paling menyenangkan. Namun, bagiku itu justru mengacaukan. Aku seharusnya membayangkan diriku bersama

seorang pasien dan aku seorang dokter yang sangat membantu. Tetapi aku menanggapi penolakannya justru dengan cara membela diri. Aku merasa seperti seorang amatir yang kacau.

Apa yang akan kukatakan pada Freud nanti?

9

KETIKA MEMASUKI HOTEL MANHATTAN, Detektif Littlemore melewati seorang gadis yang sedang dibantu seorang pemuda untuk memasuki kereta kuda. Kedua orang itu, bagi Littlemore, mewakili sebuah dunia yang tidak mungkin dimasukinya. Mereka menyenangkan untuk dipandang, berpakaian dari bahan lembut yang hanya dapat dibeli oleh orang kaya. Lelaki muda itu jangkung, berambut gelap, dan tulang pipinya tinggi. Sementara gadis itu, lebih menyerupai bidadari dibandingkan dengan apa yang pernah ada dalam benak Littlemore. Ketika pemuda itu mengayun gadis ke dalam kereta kuda, caranya begitu luwes, sehingga Littlemore tahu kalau ia tak memiliki kemampuan seperti itu juga.

Tidak seorang pun memperhatikan Littlemore. Ia tidak membenci lelaki muda itu, dan ia menyukai Betty dibandingkan gadis tadi yang terlihat seperti bidadari. Tetapi ia memutuskan untuk mempelajari gerakan pemuda itu. Ia membayangkan dirinya mengangkat Betty naik ke kereta kuda. Tentunya jika ia mampu menyewa kereta kuda, dan mengajak Betty.

Satu menit kemudian, setelah melakukan tanya jawab kilat dengan pegawai di meja penerima tamu, Littlemore bergegas ke luar ke arah pemuda itu. Dengan tangan saling terkait di belakang punggungnya, pemuda itu

menaatap kereta kuda yang semakin mengecil. Matanya terpusat penuh perhatian dengan mata garang. Littlemore menduga kalau ada yang tidak beres pada pemuda itu. “Anda Dr. Younger, bukan?” Tanya Littlemore. Tidak ada jawaban. “Kau tidak apa-apa, bung?”

“Maaf?” Jawab pemuda itu.

“Anda Dr. Younger, bukan?”

“Sayangnya, begitu.”

“Aku Detektif Littlemore. Walikota menugaskanku. Apakah gadis di kereta kuda itu Nona Acton?” Littlemore dapat melihat kalau lawan bicaranya tidak menyimaknya. “Aku minta maaf,” kata Younger, “siapakah Anda?”

Littlemore memperkenalkan dirinya sekali lagi, lalu menjelaskan kalau penyerang Nona Acton telah membunuh seorang gadis pada hari Minggu malam lalu, tetapi polisi masih tidak memiliki saksi. “Apakah Nona Acton sudah dapat mengingat sesuatu, Dok?”

Younger menggelengkan kepalanya, “Nona Acton memang telah mampu berbicara, tetapi masih tidak mampu mengingat kejadian itu.”

“Semuanya tampak sangat aneh bagiku,” kata Littlemore, “apakah orang sering kehilangan memori?”

“Tidak,” kata Younger, “tetapi hal itu bisa terjadi, terutama setelah peristiwa seperti yang baru dialami oleh Nona Acton.”

“Hei, mereka kembali.”

Begitulah rupanya. Kereta kuda Nona Acton telah berputar di ujung blok dan berjalan ke arah hotel lagi. Ketika kereta itu menepi, Nona Acton menjelaskan kepada Dr. Younger dan Ibu Biggs kalau ia lupa mengembalikan kunci kamar hotel mereka pada petugas.

“Berikan padaku,” kata Younger sambil mengulurkan

tangannya, “aku akan mengembalikannya untukmu.”

“Terimakasih, tetapi aku sanggup melakukannya,” kata Nona Acton sambil meloncat keluar dari kereta tanpa bantuan dan melangkah melewati Dr. Younger tanpa mengerling sedikit pun padanya. Dr. Younger tidak memperlihatkan perasaannya, tetapi Littlemore mengenal penolakan seorang gadis itu. Ia pun menunjukkan simpatinya pada Younger. Lalu ada pikiran lain muncul pada benaknya.

“Begini, Dok,” katanya, “kau membiarkan Nona Acton berkeliaran di hotel seperti itu…, sendirian, maksudku?”

“Aku tidak bisa banyak bicara tentang hal itu, Detektif. Tidak sama sekali sebenarnya. Tetapi, tidak, kupikir ia bersama pelayannya atau polisi yang hampir ada setiap saat. Mengapa? Ada bahaya?”

“Seharusnya tidak,” kata Littlemore. Hugel mengatakan padanya kalau si pembunuh tidak tahu di mana Nona Acton berada. Namun, Littlemore merasa tidak nyaman. Keseluruhan kasus itu terasa begitu terpotong-potong: seorang gadis tewas, sementara tidak ada yang tahu tentang hal itu, orang kehilangan memorinya, orang Cina melarikan diri, dan jenazah menghilang dari tempat penyimpannya. “Tidak ada ruginya kalau Anda melihat-lihat di sekeliling.”

Littlemore masuk kembali ke hotel, sementara Dr. Younger berjalan di sampingnya. Littlemore menyalakan rokoknya ketika mereka menatap Nona Acton yang terlihat mengecil ketika menyeberangi barisan pilar menuju lobi bundar. Seseorang yang mengembalikan kunci kamarnya hanya harus meletakkan kuncinya di atas meja lalu pergi. Namun Nona Acton berdiri dengan sabar di depan meja, menanti bantuan. Tempat itu penuh sesak

dengan para pengembara, keluarga dan pelaku bisnis. Littlemore mengawasi kalaukalau separuh dari orang-orang yang ada di sana, bisa saja dapat sesuai dengan penggambaran Hugel tentang pembunuh itu.

Seorang lelaki, menarik perhatian Littlemore. Ia menunggu di depan lift: jangkung, berambut hitam, mengenakan kaca mata, dan memegang koran. Littlemore tidak berada di sudut yang baik untuk dapat mengamatinya, tetapi ada sesuatu yang agak asing pada potongan jasnya. Namun surat kabarnya itulah yang paling menarik perhatian. Lelaki itu memeganginya sedikit lebih tinggi daripada biasanya. Apakah ia mencoba menutupi wajahnya? Nona Acton telah mengembalikan kuncinya, sekarang ia berjalan kembali. Lelaki itu menatap gadis itu sekilas justru ke arah Littlemore sendiri, lalu mengubur wajahnya lagi pada surat kabarnya. Sebuah lift terbuka, lelaki itu masuk, sendirian.

Nona Acton tidak tahu akan kehadiran Younger ataupun Littlemore ketika ia berjalan keluar melewati mereka. Namun Dr. Younger mengikutinya keluar, hingga melihatnya memasuki kembali kereta sewaannya.

Littlemore tetap di belakang. Tidak ada apa-apa, begitulah ia berkata dalam hati. Nyaris semua lelaki di lobi itu menatap Nona Acton ketika ia berjalan tanpa pengawal menyeberangi lantai pualam. Demikian juga Littlemore, ia terus menatap anak panah kecil di atas lift yang dimasuki lelaki itu. Anak panah kecil itu bergerak perlahan, tersentak-sentak ke arah angka yang lebih tinggi. Littlemore tidak melihat tempat terakhir yang ditunjuk jarum itu. Jarum itu masih bergerak ketika ia mendengar jeritan melengking menusuk telinga dari luar.

9

JERITAN ITU BUKAN DARI MANUSIA. Itu suara ringkik kuda yang kesakitan. Kuda yang meringkik itu adalah hewan penarik kereta yang baru saja muncul dari area pembangunan di Forty-second Street. Penumpang kereta kuda itu berpakaian lengkap sekali: topi tinggi dan tongkat rotan halus melintang di atas lututnya. Dialah Tuan George Banwell.

Walau George Banwell menyukai mobil sebagaimana juga lelaki yang duduk di sampingnya, namun sesungguhnya ia adalah pecinta kuda. Ia tumbuh besar bersama kuda dan belum siap untuk melepaskan kuda. Saat itu ia bersikeras untuk mengendarai kencananya sendiri, dan membuat saisnya duduk canggung di sampingnya.

Banwell telah nyaris menghabiskan paginya di Canal Street, tempat ia mengawasi proyek yang sangat besar. Pada pukul setengah duabelas, ia berkendaraan ke Forty-second Street di antara Madison avenue. Tetapi setelah memegang tali kendalinya, ia menghentaknya dengan kuat dan kasar. Hentakan itu membuat besi gigitan menyakiti mulut hewan malang itu. Kuda itu berhenti dan meringkik tajam. Ringikikannya tidak memengaruhi, bahkan Banwell terlihat tidak mendengarnya. Ia menatap tajam ke satu titik yang berjarak kurang dari satu blok di depannya. Ia terus membuat besi kekang menekan geraham kuda lebih dalam sehingga saisnya tersentak.

Kuda itu mengangkat kepalanya dari sisi yang satu ke sisi lainnya, berusaha melepaskan diri dari besi kekang walaupun gagal. Hewan itu pun berdiri pada kedua kaki belakangnya, dan meringkik pilu seperti yang didengar Littlemore dan semua orang yang ada di sana. Kuda itu

menapakkan kembali kakinya tetapi segera tegak lagi, namun kali ini menjadi bertambah liar. Kencana pun mulai terguling. Banwell dan saisnya meloncat ke luar bak seorang pelaut yang meloncat dari kapalnya yang terbalik. Kencana itu jatuh ke bumi beserta kudanya.

Si sais-lah yang pertama kali berdiri. Ia mencoba membantu, tetapi Banwell mendorong kasar sambil membersihkan tanah pada lutut dan sikunya. Orangorang mulai berkerumun di sekeliling mereka. Suara klakson dari pengemudi yang tak sabaran mulai terdengar. Akhirnya keterpakuan Banwell teratasi. Ia bukanlah lelaki yang pasrah begitu saja setelah dilemparkan jatuh oleh kudanya, apa lagi digulingkan dari kencananya, itu sama sekali tidak bisa diterimanya. Matanya bersinar marah kepada pengendara mobil, pada penonton yang bekerumun, dan terutama pada kuda yang bingung dan letih. Kuda itu sedang berusaha untuk berdiri, tapi gagal. “Senjataku,” kata Banwell pada saisnya dengan dingin, “ambilkan senjataku.”

“Anda tidak bisa membunuhya, Tuan,” si sais keberatan. Ia sekarang berjongkok di sisi kuda itu, sambil melepaskan kuku hewan itu dari jeratan tali yang kusut. “Tidak ada yang patah. Ia hanya terjerat. Nah, ini dia. Kau sudah beres?” itu dikatakan pada kudanya sambil membantunya berdiri, “ini bukan salahmu.”

Jelas si sais berniat baik, namun seharusnya ia bisa memilih katakata yang lebih tepat. Banwell tidak dapat menerima apabila bila dirinya yang dipersalahkan. Ia marah kepada saisnya, merampas tali kekang dan dengan kasar melilitkannya pada leher kudanya. Ia berusaha melontarkan amarahnya kepada hewan itu. Dengan menghentakkan balok kereta hingga lepas dari kekangnya,

Banwell merampas tali kekang dan menaikki punggung kuda itu tanpa pelana. Ia mengendarainya kembali ke area pembangunan dan berputar di sana hingga tiba di kaitan besar yang tergantung pada sebuah derek yang menjulang tinggi di tengah-tengah sebidang tanah. Banwell meraih kaitan itu dengan kedua tangannya, kemudian memasangnya ke tali leher kudanya yang juga terhubung dengan kuat pada bagian bawah perutnya. Ia melompat turun dari kudanya dan berteriak pada petugas derek untuk mengangkat kuda itu. Petugas derek bereaksi dengan lamban. Namun akhirnya ia menarik roda gigi mesin besar itu. Kabel panjangnya menjadi tegang; kaitannya tergenggam pada dudukannya. Kuda itu berputar dan kakinya bergerak-gerak karena sensasi yang tidak menyenangkan. Sesaat tidak ada yang terjadi.

“Angkat, bung,” teriak Banwell, “angkat atau kau pulang ke istrimu malam ini tanpa pekerjaan!”

Petugas derek mulai menggerakkan pengangkatnya lagi. Dengan hentakan, kuda itu terangkat dari tanah. Begitu kaki-kakinya meninggalkan tanah, kepanikan yang tak dimengerti menyerang hewan itu. Ia meringkik dan meronta-ronta, yang akibatnya hanya membuat tubuhnya terpelintir liar di udara, tergantung pada kaitan derek yang tebal.

“Lepaskan kuda itu!” Terdengar suara seorang gadis menjerit marah dan melabrak. Dia adalah Nona Acton. Karena melihat tidak ada yang bergerak, ia bergegas menyeberangi Forty-second Street dan kini sudah berada di depan kerumunan itu. Younger ada di sisi kanannya, sedangkan Littlemore beberapa baris di belakang mereka. Nona Acton berteriak lagi, “Turunkan kuda itu. Tolong hentikan orang itu!”

“Naikkan,” perintah Banwell. Ia mendengar suara gadis itu. Sesaat ia menatap gadis itu. Kemudian perhatiannya kembali pada kudanya, “lebih tinggi.”

Petugas derek itu terus menaikkan hewan itu semakin tinggi hingga empatpuluh kaki di atas tanah. Para filsuf mengatakan bahwa orang tidak tahu apakah hewan memiiki perasaan yang dapat dibandingkan dengan manusia. Tetapi siapa pun yang melihat sinar ketakutan pada mata kuda itu, tidak pernah meragukan bahwa hewan punya perasaan seperti itu juga.

Lantaran semua mata manusia tertuju pada hewan yang bergantungan, menggelepar-gelepar tak berdaya, maka tidak seorang pun yang melihat balok baja yang bergerak tiga lantai di atas perancah. Balok baja itu terikat aman pada sebuah tali yang terhubung dengan kaitan derek. Ketika tali itu masih dalam keadaan kendor, balok baja itu tergeletak tak membahayakan di tempatnya di atas perancah. Tetapi begitu terangkat, tali itu juga akhirnya menjadi tegang, dan kini, tanpa peringatan apa pun, balok baja itu berguling lepas dari papan kayu perancah. Dari sana balok baja itu terayun bebas. Lantaran terhubung dengan kaitan derek, maka wajar saja jika balok itu terayun ke arah kaitannya, yang artinya, ke arah George Banwell.

Banwell belum pernah melihat balok baja yang mematikan itu deras meluncur ke arahnya. Di udara, balok itu menjadi tak terkendali, maka balok itu meluncur mematikan ke arahnya, seperti tombak raksasa diarahkan ke perutnya. Jika saja balok itu mengenainya, ia pasti akan mati. Ketika balok meluncur, ternyata meleset satu kaki darinya. Namun sebenarnya itu adalah serangan yang sangat tepat. Tidak biasanya Banwell bernasib sebaik itu.Maka, akibatnya luncuran itu kini terus melaju ke arah kerumunan orang. Beberapa orang berteriak ketakutan, belasan orang bertiarap di atas tanah untuk melindungi diri.

Hanya satu di antara mereka, yang seharusnya bertiarap: Nona Acton. Kini balok baja itu meluncur tepat ke arahnya. Namun dia tidak berteriak ataupun bergerak. Apakah karena balok yang sedang meluncur itu membuatnya seakan terikat, atau karena sulit baginya menentukan ke mana harus berlari. Nona Acton berdiri terpaku di tempatnya, terkejut dan hampir mati.

Younger meraih gadis itu, dan menarik tangannya dengan keras ke dalam pelukannya. Itu bukanlah cara yang terlalu sopan. Balok baja yang meluncur berdesir di atas mereka, begitu dekat sehingga keduanya dapat merasakan sambaran anginnya, lalu melayang tinggi lagi di belakang mereka.

“Aduh!” Kata Nona Acton.

“Maaf,” kata Younger. Kemudian ia menarik rambutnya lagi, ke arah yang berlawanan sekarang.

“Aduh!” Kata Nona Acton kali ini lebih bersungguh-sungguh ketika balok baja itu kembali meluncur ke arah semula, melayang melewati mereka sekali lagi, dan hanya meleset di atas kepala gadis itu.

“Tolong antar aku kembali ke kamarku,” kata Nona Acton kepada Younger.

g

KERUMUNAN ITU MASIH BERADA DI SANA hingga agak lama, mereka seperti mengagumi kerusakan yang mereka lihat untuk dapat menceritakannya kembali. Kuda

itu dikembalikan pada si sais, yang sekarang didekati oleh detektif Littlemore. Sang detektif telah mengenali George Banwell. “Hei, bagaimana keadaan kuda malang itu?” Tanya Littlemore pada si sais, “Apakah kuda itu berjenis Perch?”

“Setengah Perch,” jawab si sais, sambil mencoba sekuat mungkin untuk menenangkan kuda yang masih gemetar, “mereka menyebutnya seekor Cream.”

“Ia cantik, sungguh.”

“Begitulah,” kata si sais sambil mengusap-usap hidung kuda itu.

“Wah, aku bertanya-tanya apa yang membuat kuda itu menaikkan kakinya seperti tadi? Seperti ada yang dilihatnya, mungkin.”

“Lebih tepatnya sesuatu yang dilihat oleh majikanku.”

“Aku tidak mengerti.”

“Sama sekali bukan salah kuda ini,” gerutu si sais, “tetapi Tuan Banwell. Ia mencoba memundurkan kencananya. Kereta berkuda tidak bisa mundur.” Ia berbicara kepada kudanya. “Mencoba memundurkanmu, itulah yang dilakukannya. Karena ia takut.”

“Takut? Takut apa?”

“Tanya saja padanya. Ia biasanya tidak mudah merasa takut, tidak Tuan Banwell. Seolah ia melihat iblisnya sendiri.”

“Asik juga kan?” Kata Littlemore, sebelum beranjak kembali ke hotel.

g

PADA SAAT YANG SAMA, di lantai teratas Hotel Manhattan, Carl Jung berdiri di balkon kamarnya, mengamati pemandangan di bawahnya. Ia baru saja melihat kejadian yang luar biasa di area pembangunan. Kejadian itu tidak saja membuatnya takut, namun juga mengisi hatinya dengan perasaan sangat gembira, yang hanya dirasakannya satu atau dua kali di sepanjang hidupnya. Ia kembali ke kamarnya, lalu duduk di lantai tanpa berpikir apa pun. Punggungnya bersandar pada pembaringannya. Ia seakan melihat wajah-wajah yang tidak dapat dilihat oleh orang lain, mendengar suara yang tidak terdengar oleh orang lain.

Sembilan

KETIKA KAMI KEMBALI KE KAMAR Nona Acton, Ibu Biggs sangat ketakutan. Mulanya ia meminta Nona Acton untuk berbaring, kemudian duduk, lalu berjalan supaya wajahnya tidak pucat lagi. Nona Acton tidak memperhatikan perintah tersebut. Ia bahkan pergi ke dapur kecil dan mulai membuat secangkir teh. Ibu Biggs mengangkat tangannya protes. Seharusnya dirinyalah yang membuatkan minuman itu. Ibu Biggs tidak mau diam hingga Nona Acton mendudukkannya dan mencium tangan pelayannya.

Gadis itu memiliki kemampuan luar biasa untuk mengembalikan ketenangannya setelah kejadian yang paling mengerikan maupun untuk menciptakan ketenangan yang sesungguhnya tidak dirasakannya. Ia menghab iskan tehnya dan menyerahkan cangkirnya pada Ibu Biggs.

“Kau bisa saja terbunuh, Nona Nora,” kata Ibu Biggs, “jika tidak ada dokter muda itu, pastilah kau sudah mati.”

Nona Acton meletakkan tangannya di atas tangan Ibu Biggs, memintanya untuk mengambilkan secangkir teh lagi. Ketika Ibu Biggs beranjak, gadis itu berkata padanya untuk meninggalkan kami karena ia harus berbicara sendiri denganku. Setelah didesak-desak, akhirnya Ibu Biggs terbujuk juga untuk pergi.

Ketika kami tinggal berdua, Nona Acton berterimakasih padaku.

“Mengapa kau menyuruh pelayanmu pergi?” Tanyaku.

“Aku tidak ‘menyuruhnya’ pergi,” kata gadis itu, “kau ingin tahu keadaan yang menyebabkan aku tidak bisa bicara tiga tahun yang lalu. Aku ingin mengatakannya padamu.”

Poci teh itu mulai bergetar dalam tangannya. Ketika berniat mengisi cangkirnya, ia menumpahkan teh. Ia meletakkan pocinya kemudian menyatukan jemarinya. “Kuda yang malang. Bagaimana ia bisa bertingkah seperti itu?”

“Bukan salahmu, Nona Acton.”

“Ada apa denganmu?” Ia menatapku marah, “mengapa aku yang disalahkan?”

“Tidak ada alasannya. Tetapi kau terdengar menyalahkan dirimu sendiri.”

Nona Acton berjalan ke jendela. Ia lalu menguak tirai, sehingga memperlihatkan balkon di belakang pintu model Prancis dan membuka ke panorama indah kota di bawahnya. “Kau tahu siapakah lelaki tadi?”

“Tidak.”

“Itu George Banwell, suami Clara. Ia teman ayahku,” Nafas gadis itu menjadi tidak teratur, “Di tepi danau dekat

rumah musim panasnya. Ia memintaku.” “Berbaringlah, Nona Acton.” “Mengapa?”

“Ini bagian dari perawatan.” “Oh, baiklah.”

Ketika ia sudah berbaring di atas sofa, aku melanjutkan. “Tuan Banwell meminangmu ketika kau berusia empatbelas tahun?”

“Aku berusia enambelas tahun, Dokter, dan ia tidak meminangku untuk menikah.”

“Lalu ia minta apa?”

“Untuk.., untuk,” ia berhenti berbicara.

“Untuk berhubungan badan denganmu?” Pembahasan kegiatan seksual dengan pasien perempuan muda, selalu menjadi hal yang peka, karena tidak diketahui sejauh mana mereka mengetahui ilmu biologi. Namun lebih buruk lagi untuk membiarkan keadaan genting menambah kerusakan dari perasaan malu yang seorang gadis bisa saja berikan kepada sebuah pengalaman..

“Ya,” ia menjawab, “kami menginap di rumah pedesaannya bersama seluruh keluargaku. Ia dan aku sedang berjalan-jalan di sepanjang jalan setapak di sekitar danau mereka. Ia berkata telah membeli pondok lainnya di dekat rumah tersebut. Kami bisa pergi ke sana. Ada tempat tidur besar yang indah, kami berdua bisa berdua saja dan tidak ada yang tahu.”

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Aku menampar wajahnya dan berlari,” kata Nona Acton, “aku mengatakan itu pada ayahku, namun ia tidak mau membelaku.”

“Ia tidak memercayaimu?” Tanyaku.

“Ia bersikap seolah akulah yang bersalah. Aku bersikeras memintanya mempertanyakan hal itu kepada Tuan Banwell. Seminggu kemudian, ayahku mengatakan padaku kalau ia telah menanyakannya. Tetapi Tuan Banwell mengingkarinya dengan marah, kata ayahku. Aku yakin wajahnya sama dengan apa yang kau lihat tadi. Tuan Banwell hanya mengaku telah menceritakan pondok barunya padaku. Ia meyakinkan ayah kalau akulah yang salah mengerti, karena.., karena terpengaruh jenis buku yang kubaca. Ayahku lebih memilih memercayai Tuan Banwell. Aku membencinya.”

“Membenci Tuan Banwell?”

“Ayahku.”

“Nona Acton, kau kehilangan suaramu tiga tahun yang lalu. Tetapi kau menceritakan kejadian yang berlangsung tahun lalu.”

“Tiga tahun yang lalu ia menciumku,” kata Nona Acton. “Ayahmu?”

“Bukan, menjijikan sekali,” kata Nona Acton, “Tuan Banwell.”

“Kau berusia empatbelas tahun?” Tanyaku. “Apakah matematika menyulitkanmu di sekolah, Dr. Younger?” “Lanjutkan, Nona Acton.”

“Hari itu hari Kemerdekaan,” katanya, “orang tuaku telah bertemu dengan Tuan Banwell beberapa bulan sebelumnya, tetapi ayahku dan Tuan Banwell sudah menjadi teman akrab. Orangorang Tuan Banwell sedang membangun rumah kami. Kami hanya melewatkan waktu selama tiga minggu bersama mereka di desa ketika mereka menyelesaikan pembangunan itu. Clara sangat baik padaku. Ia adalah wanita yang paling kuat dan paling cerdas yang pernah kukenal, Dr. Younger. Dan yang paling cantik. Kau pernah menonton Salome-nya Lina

Cavalier?”

“Belum,” jawabku. Nona Cavalier yang ternama dan cantik telah tampil di Opera House di Manhattan musim salju lalu, tetapi ketika itu aku tidak dapat meninggalkan Worcester untuk menontonya.

“Clara sangat mirip dengannya. Ia juga tampil di panggung, beberapa tahun lalu. Pak Gibson membuat film tentang dirinya. Karena Tuan Banwell memiliki salah satu dari gedung-gedung besar itu, maka ia mengundang kami untuk ke kota, ke gedung Hanover, kukira. Kami merencanakan untuk naik ke atap gedung itu untuk melihat kembang api, tetapi ibuku sakit, ia selalu sakit, jadi ia tidak ikut. Ketika sudah mau berangkat, ayahku tidak dapat ikut ke kota juga. Aku tidak tahu mengapa. Kukira ia juga sakit. Tampaknya ada musim demam pada musim panas itu. Demi aku, Tuan Banwell bersedia mengantarku ke atap gedung, karena aku sudah menanti-nanti kesempatan itu.”

“Hanya kalian berdua?”

“Ya. Ia membawaku dengan keretanya. Ketika sudah malam. Ia memacu kereta kudanya ke Broadway. Aku ingat angin panas menerpa wajahku. Kami naik lift bersama. Aku sangat gugup; karena ini pertama kalinya aku menumpang lift. Aku tidak sabar menunggu acara kembang api, tetapi ketika kanon pertama meledak, aku ternyata sangat ketakutan. Mungkin aku berteriak. Kemudian aku merasa Tuan Banwell memegangiku dengan kedua tangannya. Aku masih merasakan ia menarik tubuh…, tubuh bagian atasku ke arahnya. Kemudian ia menekankan mulutnya pada bibirku.” Gadis itu menyeringai, seolah ia akan meludah. “Kemudian?” Tanyaku.

“Aku melepaskan diri darinya, tetapi aku tidak bisa lari ke mana pun. Aku tidak tahu bagaimana melarikan diri dari atap gedungnya. Ia memberi isyarat padaku untuk tenang, untuk tidak ribut. Ia mengatakan kalau itu akan menjadi rahasia kami, dan ia mengatakan kami hanya akan melihat kembang api. Begitulah.”

“Kau mengatakan pada orang lain?”

“Tidak. Ketika itulah aku kehilangan suaraku, tepatnya malam itu. Semua orang mengira aku terkena demam. Mungkin saja. Suaraku kembali keesokan harinya, seperti kemarin juga. Tetapi aku tidak mengatakan kepada siapa pun hingga hari ini. Setelah itu, aku tidak akan mau berdua saja dengan Tuan Banwell.”

Ruangan menjadi sunyi sekian lama. Gadis itu benar-benar dapat mengingat hingga ingatan yang segera disadarinya. “Kau ingat kejadian kemarin, Nona Acton. Kau ingat sesuatu?”

“Tidak,” katanya tenang, “maafkan aku.”

Aku minta izinnya untuk melaporkan apa yang dikatakannya kepada Dr. Freud. Ia setuju. Lalu aku memberitahu kalau kami harus melanjutkan percakapan ini besok.

Ia tampak terkejut, “apa lagi yang akan kita bicarakan. Dokter? Aku telah mengatakan segalanya padamu.”

“Mungkin masih ada yang bisa kau ingat.”

“Mengapa kau mengatakan begitu?”

“Karena kau masih menderita amnesia. Ketika kita sudah membuka semuanya yang berhubungan dengan kejadian itu, aku percaya ingatanmu akan kembali padamu.”

“Kau menduga aku menyembunyikan sesuatu?”

“Itu bukan penyembunyian, Nona Acton. Atau lebih

baik kusebut, sesuatu yang kau sembunyikan dari dirimu sendiri.”

“Aku tidak mengerti maksudmu,” kata gadis itu. Ketika aku selangkah lagi mencapai pintu, ia menghentikanku dengan suara lirih dan jelas. “Dr. Younger?”

“Ya, Nona Acton?”

Mata birunya basah karena air mata. Ia mengangkat dagunya tinggi. “Ia memang menciumku. Ia memang…, memintaku ketika kami berada di tepi danau.”

Aku tidak sadar betapa cemasnya ia tentang kemungkinan kalau aku juga tidak percaya pada apa yang dikatakannya padaku—seperti ayahnya. Ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan tentang caranya ia memilih kata “meminta” bukannya “mengusulkan.” “Nona Acton,” aku menjawab, “aku percaya setiap kata yang kau ucapkan.”

Meledaklah tangisnya. Aku meninggalkannya dan mengucapkan selamat siang pada Ibu Biggs ketika aku melewatinya di gang.

9

DI SUDUT PRIBADI di sebuah ruang tamu Hotel Manhattan, George Banwell duduk bersama Walikota McClellan. Walikota itu berkata kalau Banwell tampak seperti baru saja berkelahi. Banwell menggerakkan bahunya. “Sedikit masalah dengan kuda betinaku,” katanya.

Walikota itu mengeluarkan sepucuk amplop dari saku dadanya dan memberikannya pada Banwell. “Ini cekmu. Aku sarankan untuk segera pergi ke bank sore ini juga. Itu jumlah yang sangat besar. Dan yang terakhir. Tidak akan ada lagi, apa pun yang terjadi. Kita saling mengerti?”

Banwell mengangguk. “Jika ada ongkos tambahan, aku yang akan atasi sendiri.”

Walikota McClellan kemudian menjelaskan kalau pembunuh Nona Riverford telah menyerang lagi. Apakah Banwell mengenal Harcourt Acton?

“Tentu saja aku mengenal Acton,” kata Banwell, “kini, ia dan istrinya sedang berada di rumah musim panasku, bergabung dengan Clara kemarin.”

“Jadi karena itu kami tidak dapat menghubungi mereka,” kata McClellan.

“Ada apa dengan Acton?” Tanya Banwell.

“Korban kedua adalah putrinya.”

“Nora? Nora Acton? Aku baru saja melihatnya di jalan, belum ada satu jam yang lalu.”

“Ya, terima kasih Tuhan, ia selamat,” kata McClellan.

“Apa yang terjadi?” Tanya Banwell, “apakah ia telah mengatakan siapa pelakunya?”

“Tidak. Ia kehilangan suaranya dan tidak bisa mengingat apa pun. Ia tidak tahu siapa pelakunya, kami juga tidak. Beberapa orang ahli sedang memeriksanya. Ia berada di sini, sebenarnya. Aku telah menyewakan kamar di Manhattan hingga Acton kembali.”

Banwell mengerti. “Seorang gadis yang baik.”

“Memang,” kata McClellan setuju.

“Diperkosa?”

“Tidak, syukurlah tidak.”

g

AKU BERTEMU DENGAN TEMAN-TEMAN LAINNYA di serambi barang-barang antik Roma dan Yunani di Musium Metropolitan. Pengetahuan Freud sangat mengagumkan.

Itu terlihat ketika ia sedang asik berbincang dengan seorang pemandu, sementara aku tertinggal di belakang bersama Brill. Ia merasa lebih baik tentang naskahnya. Penerbitnya, Jelliffe, semula juga kebingungan seperti kami. Namun Freud ingat kalau ia telah meminjamkan mesin pencetak kepada seorang pendeta seminggu sebelumnya. Pendeta itu mencetak serangkaian pamflet biblikal yang diperbaiki. Maka secara tidak sengaja kedua pekerjaan itu tercampur.

“Apa kau tahu kalau Goethe itu adalah kakek buyut Jung?” Aku bertanya pada Brill.

“Omong kosong,” kata Brill yang tinggal di Zurich selama satu tahun, dan bekerja untuk Jung di sana, “legenda keluarga yang dibesar-besarkan. Apakah dia juga punya hubungan keluarga dengan von Humboldt?”

“Ya, memang,” kataku.

“Kau kira cukup bagi seorang lelaki untuk menikahi keluarga kaya raya tanpa menciptakan garis keturunan bagi dirinya sendiri?”

“Jadi, karena itulah ia menciptakannya?” Kataku.

Brill menggerutu tanpa menyatakan pendapatnya. Kemudian, dengan sikap santainya namun janggal, ia menarik rambut depannya ke belakang dan memperlihatkan goresan parah pada keningnya. “Kau lihat itu? Rose yang melakukan itu tadi malam, setelah kau pergi. Ia melemparkan penggorengan padaku.”

“Ya Tuhan,” kataku, “mengapa?”

“Jung penyebabnya.”

“Apa?”

“Aku mengatakan pada Rose katakata yang kuucapkan pada Freud tentang Jung. Rose marah sekali. Ia bilang, aku cemburu pada Jung, karena Freud menghar—

gainya. Lalu ia juga mengatakan kalau aku bodoh, karena Freud akan melihat melalui kecemburuanku dan akan menganggapku buruk juga. Aku menjawab kalau aku punya alasan bagus untuk cemburu pada Jung, lantaran caranya menatap Jung tadi malam. Ketika kuingat-ingat lagi, kupikir itu mungkin saja aku telah salah mengerti, karena sebenarnya Jung-lah yang menatap Rose. Kau tahu kalau Rose menjalani pelatihan medis yang sama dengan yang kujalani? Tetapi ia tidak bisa menjadi dokter, dan aku bisa membiayainya dari penghasilan merawat empat orang pasienku.”

“Ia melemparkan wajan itu padamu?” Tanyaku.

“Oh, jangan tatap aku dengan tatapan diagnosis seperti itu. Perempuan senang melemparkan apa saja. Semuanya, cepat atau lambat. Kau akan tahu itu. Semuanya kecuali Emma, istri Jung. Emma hanya memberi Jung keberuntungan, menjadi ibu bagi anak-anaknya, dan tersenyum ketika Jung berselingkuh. Emma juga menyajikan makan malam bagi kekasih Jung ketika Jung membawa mereka ke rumah. Lelaki itu memang tukang sihir. Tidak, jika aku mendengar kata tentang Goethe dan von Humboldt, aku mungkin akan membunuh Jung.”

Sebelum kami meninggalkan musium, nyaris terjadi keadaan darurat. Freud tibatiba harus buang air kecil seperti yang terjadi di Coney Island. Si pemandu itu pun menyuruh kami ke lantai bawah tanah. Dalam perjalan ke bawah, Freud berkata, “Jangan katakan padaku kalau aku harus berjalan melalui koridor yang panjangannya bermil-mil tak berujung, dan akhirnya aku melihat istana pualam.” Ia benar untuk kedua kekhawatirannya itu. Kami tiba di istana pualam tepat pada waktunya.

9

HUGEL TIDAK KEMBALI KE KANTORNYA hingga hari Selasa malam. Ia melewatkan sore itu di Gramercy Park. Ia tahu kalau ia akan menuliskan dalam laporannya beberapa bukti fisik yang terdiri dari rambut, benang sutera, dan secabik tali. Namun bila sekarang pembunuh Elizabeth Riverford dan penyerang Nora Acton adalah lelaki yang sama, semua tampak mulai meragukan. Tetapi Hugel menyumpahi dirinya sendiri karena hal yang tidak ditemukannya. Ia sudah memeriksa ruang tidur utama. Ia telah memeriksa taman belakang dengan seksama, bahkan ia telah merangkak di taman itu menggunakan tangan dan lututnya. Ia tahu ia akan menemukan ranting patah, bunga terinjak, dan banyak tanda orang melarikan diri. Tetapi sepotong bukti pun yang dapat menunjukkan jatidiri pelaku kejahatan itu tidak ditemukan.

Ia sangat letih ketika tiba di kantornya sampai-sampai ia tidak menyampaikan hadiah dari Walikota bagi siapa saja yang menemukan jenazah Riverford pada stafnya. Tetapi ia hampir tidak dapat disalahkan untuk itu, kata Hugel pada dirinya sendiri, McClellan-lah yang menyuruhnya segera pergi ke rumah keluarga Acton, selanjutnya menuju rumah jenazah.

Di serambi, ia bertemu dengan Littlemore yang memang menuggunya. Littlemore melaporkan kalau Gitlow, seorang polisi, sedang dalam perjalanan menuju Chicago menggunakan kereta api. Ia akan tiba di sana esok malam. Dengan semangat seperti biasanya, Littlemore juga menceritakan peristiwa Banwell dan kudanya. Hugel menyimak dengan seksama dan berseru, “Banwell! Ia pasti sudah melihat gadis Acton di luar hotel. Itu yang

membuatnya ketakutan!”

“Aku tidak mengatakan Nona Acton menakutkan baginya, Pak Hugel,” kata Littlemore.

“Kau bodoh,” kata Hugel, “tentu saja tidak, tetapi Banwell mengira gadis itu sudah tewas!”

“Mengapa ia menduga Nona Acton sudah tewas?”

“Pakai otakmu, Detektif.”

“Jika Banwell orang yang kita cari, Pak Hugel, ia pasti tahu korbannya masih hidup.” “Apa?”

“Kau tadi mengatakan Banwell-lah orangnya, bukan? Tetapi siapa pun yang menyerang Nona Acton tahu kalau gadis itu masih hidup. Jadi jika Banwell adalah penjahatnya, ia tidak akan mengira gadis itu sudah tewas.”

“Apa? Tidak masuk akal. Ia mungkin mengira telah menghabisi gadis itu. Atau…, atau ia takut gadis itu akan mengenalinya. Kalau bukan, ia tidak akan panik jika melihat gadis itu.”

“Mengapa kau mengira Banwell adalah orang yang kita cari?”

“Littlemore, tinggi orang itu seratus delapanpuluh tiga sentimeter. Ia lelaki paruh baya, kaya, rambutnya berwarna hitam dan sekarang sudah beruban. Ia menggunakan tangan kanannya, dan tinggal di gedung yang sama dengan korban pertama. Makanya ia panik ketika melihat korban keduanya.”

“Bagaimana kau tahu itu?”

“Kau mengatakannya begitu. Kau bilang saisnya mengatakan padamu ia menjadi ketakutan. Penjelasan apa lagi yang ada?”

“Tidak, maksudku, bagaimana kau tahu ia menggunakan tangan kanan?”

“Karena aku pernah bertemu dengannya kemarin, Detektif, dan aku menggunakan mataku.”

“Wah, wah, kau hebat sekali, Pak Hugel. Lalu aku apa? Tangan kanan atau tangan kiri?” Detektif itu menyembunyikan kedua tangan ke belakang punggungnya.

“Hentikan, Littlemore!”

“Aku tidak tahu, Pak Hugel. Kau seharusnya melihat setelah kejadian itu berakhir. Ia sangat tenang, memberi perintah pada para pekerjanya untuk membersihkan segalanya.”

“Tidak mungkin. Ia adalah seorang pelakon hebat, sekaligus seorang pembunuh. Kita telah mendapatkan orang yang kita cari, Detektif.”

“Kita belum betulbetul mendapatkannya.”

“Kau benar,” kata Hugel sambil berpikir, “aku masih belum mendapatkan bukti kuat. Kita butuh sesuatu lagi.”

Sepuluh

KAMI MENINGGALKAN METROPOLITAN dengan cara menumpang kereta kuda lalu menyeberangi taman ke kampus baru Columbia University. Aku sudah tidak pernah ke sana lagi sejak tahun 1897. Waktu itu aku masih berusia limabelas tahun dan ibuku menarik kami mengabdi pada keluarga Schemerhorn. Untungnya Brill tidak tahu tentang hubungan tipisku dengan keluarga itu. Kalau tidak, ia pasti akan memberitahu Freud.

Kami mengunjungi klinik psikiatris, Brill memiliki kantor di sana. Setelah itu Freud mengatakan padaku kalau ia

berharap akan mendengar tentang sesiku dengan Nona Acton. Maka ketika Brill dan Ferenczi tetap berada di belakang sambil membicarakan teknik teraputis, Freud dan aku berjalan-jalan di Riverside Drive. Jalan untuk pejalan kaki memiliki pemandangan indah di Palisades, tebing liar yang curam New Jersey di seberang Sungai Hudson.

Aku jelaskan semuanya kepada Freud, baik mengenai sesi pertamaku yang berakhir dengan kegagalan, atau masalah gadis itu dalam kaitannya dengan Tuan Banwell. Dengan cermat, Freud menanyaiku. Ia ingin mengetahui secara rinci tanpa peduli betapa pun pertanyaannya itu tampak tak berhubungan. Ia menegaskan agar aku seharusnya tidak menguraikan sesi itu dengan katakataku, melainkan dengan apa yang telah diucapkan Nona Acton sendiri. Pada penutupannya, Freud mengeluarkan cerutunya di tepi jalan, lalu bertanya, apakah peristiwa yang terjadi di atap gedung tiga tahun lalu adalah penyebab gadis itu kehilangan suaranya dahulu?

“Tampaknya begitu,” jawabku, “ada keterlibatan mulut dan perintah untuk tidak mengatakan apa pun. Sesuatu yang tak dapat dikatakan, telah dilakukan kepadanya. Maka itu ia membuat dirinya sendiri tidak bisa berbicara.”

“Bagus. Jadi ciuman tak tahu malu pada gadis berusia empatbelas tahun di atap gedung membuatnya histeris?” Kata Freud sambil mengukur reaksiku.

Aku mengerti kalau yang dimaksudkannya adalah kebalikan dari yang dikatakannya. Peristiwa di atap gedung, seperti yang dianggap Freud, tidak mungkin merupakan penyebab histeris bagi Nona Acton. Bagian itu tidak terjadi ketika ia masih kecil, tidak juga Oedipal. Hanya trauma pada masa kanak-kanak dapat menyebabkan neurosis. Walau kejadian yang terjadi setelahnya biasanya menjadi pemicu bangkitnya kenangan konflik yang sudah lama ditekan, sehingga mengakibatkan gejala histeria. “Dr. Freud,” aku bertanya, “tidakkah mungkin dalam kasus ini trauma masa remaja bisa mengakibatkan histeria?”

“Mungkin saja, anakku, kecuali untuk satu hal: tingkah laku Nona Acton ketika berada di atap gedung itu sudah merupakan histeria keseluruhan dan lengkap.” Freud mengeluarkan sebuah cerutu lagi dari saku




0 Response to "The Interpretation of Murder"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified