Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Interpretation of Murder 3

NORA ACTON BERDIRI di atas atap rumahnya. Angin meniup untingan rambut lembut pada keningnya. Ia dapat melihat seluruh Gramercy Park, termasuk bangkunya, yang baru beberapa jam lalu ia duduk berdua dengan Dr. Younger. Apakah masih ada kesempatan untuk mengulanginya lagi berdua lelaki itu, Nora meragukannya.

Ia tidak tahan berada di rumah. Ayahnya mengunci

diri di dalam ruang kerjanya. Nora tahu tidak ada yang dikerjakan di sana, ayahnya sudah tidak mempunyai pekerjaan. Bertahun-tahun lalu, ia pernah menemukan buku rahasia ayahnya. Buku-buku yang menjijikan. Di bagian depan dan belakang luar rumah, dua orang penjaga sekali lagi diperintahkan untuk menjaga rumahnya. Tadi pagi mereka meninggalkan rumahnya, tetapi kini kembali lagi.

Nora mengira-ngira apakah ia akan mati jika meloncat dari atap. Ia pikir tidak. Gadis itu pun kembali ke dapur. Dari laci yang paling dalam, ia mengambil salah satu dari beberapa pisau ukir yang biasa dipakai Ibu Biggs, dan membawanya ke kamar untuk disembunyikan di bawah bantalnya.

Apa yang dapat dilakukannya? Ia tidak dapat mengatakan yang sebenarnya pada siapa pun. Padahal ia tidak bisa berbohong lagi. Tidak seorang pun akan memercayainya. Tidak seorang pun memercayainya.

Nora tidak berniat menggunakan pisau itu pada dirinya sendiri. Ia tidak mau mati. Ia bisa saja mati, tetapi setidaknya setelah melindungi dirinya sendiri jika lelaki itu datang lagi.

Duapuluh Satu

LIT T LEM ORE BERUSAHA MEMBUKA KUNCI sementara aku berdiri di belakangnya. Ketika itu kira-kira pukul dua pagi. Tugasku adalah mengawasi, tetapi aku tidak bisa melihat apa pun di dalam kegelapan. Aku juga tidak dapat mendengar apa pun karena semuanya ditelan bunyi derum mesin. Aku justru melihat ke kanopi gemintang di atas kami.

Littlemore berhasil membukanya dalam waktu singkat. Tidak aku kira kotak lift itu berukuran sebesar ini. Littlemore mendorong pintunya, lalu kami berdua berada di dalam kabin remangremang. Dua nyala api gas cukup meneb arkan cahaya sehingga memungkinkan Littlemore mengoperasikan tuasnya. Dengan sekali hentakan, kami berdua mulai turun perlahan menuju ke kaison itu.

“Kau yakin tidak apa-apai?” Tanya Littlemore padaku. Aku kira, salah satu dari nyala api biru itu memantul pada matanya dan satunya lagi memantul pada mataku. Tidak ada lainnya yang dapat dilihat. Dentaman bunyi mesin di atas kami terus menabuhkan irama yang sama. Seakan kami sedang bergerak menuju aliran darah pada urat nadi seorang raksasa. “Ini belum terlambat. Kita masih bisa

kembali ke atas.”

“Kau benar,” kataku, “ayo ke atas lagi.” Lift itu tersentak berhenti. “Kau serius?” Tanya Littlemore.

“Tidak. Aku hanya bercanda. Ayo, kita ke bawah.”

“Trims,” katanya.

Littlemore mengingatkanku pada seseorang. N amun setelah lama berpikir, aku baru teringat akan seseorang di masa kanak-kanaku. Waktu itu, orang tuaku membawa kami ke pedesaan setiap musim panas. Bukan ke “gubuk” Bibi Mamie di Newport, tetapi ke sebuah tempattanpa air ledengmilik kami sendiri di dekat Springfield. Aku mencintai rumah kecil itu. Aku punya seorang sahabat di sana. Tommy Nolan yang tinggal di peternakan di sekitar kami. Tommy dan aku sering berjalan-jalan di sepanjang pagar kayu yang memisahkan setiap peternakan satu dengan yang lainnya. Bermil-mil jauhnya. Sudah lama sekali aku tidak memikirkan Tommy.

“Kau pikir apa yang akan dilakukan Walikota padamu jika ia tahu?” Tanyaku.

“Memecatku.” Kata Littlemore, “Kau merasakan sesuatu pada telingamu? Pencet hidungmu dan hembuskan nafasmu keluar. Begitulah caranya untuk menghilangkan rasa itu. Ayah yang mengajariku.”

Ada cara khusus di antara sekian ketrampilan yang kumiliki. Yaitu kepandaian untuk mengendalikan otot telinga bagian dalam yang membuka tube-tube pipa pembuluh. Lift itu bergerakan teramat lambat hingga. Menyebalkannya, kami hampir tidak merasa bergerak sama sekali.

“Butuh berapa lama untuk tiba di bawah?” Tanyaku.

“Lima menit, begitulah kata para pekerja,” kata Littlemore, “Ayahku mampu menyelam lebih dari dua menit.”

“Kedengarannya kau sangat mengidolakannya.” “Sampai saat ini. Ia lelaki terbaik yang pernah kukenal.” “Bagaimana dengan ibumu?”

“Perempuan terbaik,” kata Littlemore, “Akan kulakukan apa saja untuknya. Wah, aku pernah berpikir, jika saja aku dapat menemukan gadis sepertinya, aku akan segera menikahinya.”

“Lucu juga kau mengatakan itu.”

“Hingga aku bertemu Betty. Ialah pelayan kamar Nona Riverford. Pertama kali aku melihatnya, kapan ya…, tiga hari yang lalu, dan aku segera tergila-gila padanya. Gila yang benar-benar gila. Padahal ia sama sekali tidak seperti Ibuku. Ia orang Italia. Cepat marah, kukira. Ia memukulku kemarin malam. Aku masih bisa merasakannya.”

“Ia memukulmu?”

“Ya. Ia pikir aku berbuat tidak baik. Baru tiga hari kukenal dia, dan aku sudah tidak bisa lagi main-main. Bisa kau pahami?”

“Mungkin. Nona Acton memukulku dengan poci teh mendidih kemarin.”

“Aduh,” kata Littlemore, “aku memang menemukan piring kecilnya di atas lantai kamar itu.”

Bunyi seperti bersiul mulai terdengar di dalam lift ketika alat pengangkut itu mengeluarkan udara di terowongan. Bunyi berdentam mesin di permukaan, kini terdengar lebih jauh. Namun denyut samar-samarnya, lebih terasa daripada yang dapat terdengar.

“Aku punya seorang pasien gadis, sudah lama sekali,” kataku, “Ia mengatakan padaku…, ia mengatakan padaku…, bahwa ia ingin bercinta dengan ayahnya.”

“Apa?”

“Kau mendengarku?”

“Itu menjijikkan.” “O, ya?” “

“Itu hal yang paling menjijikkan yang pernah kudengar,” kata Littlemore. “Yah, aku…,” “Jangan dilanjutkan.”

“Baik.” Suaraku keluar jauh lebih keras daripada yang kumaksudkan, sehingga gemanya terdengar berkepanjangan di dalam kabin lift. “Maaf,” kataku.

“Tidak apa-apa. Salahku,” kata Littlemore, walau itu sama sekali bukan kesalahannya.

Bagi ayahku, membentak seperti itu tidak akan pernah terbayangkan. Ia tidak pernah membentak seperti itu. Ia tidak pernah memperlihatkan perasaannya. Ayahku hidup dengan prinsip sederhana: jangan pernah memperlihatkan rasa sakit. Aku pikir, selama itu, sakit adalah satusatunya perasaan yang dirasakannya. Karena jika ada yang lainnya, pastilah ia akan memperlihatkannya tanpa melanggar prinsipnya. Hanya setelah itu aku mengerti. Segala perasaan adalah sakit. Sedikit atau banyak kasus. Kegembiraan yang paling indah adalah sebuah tusukan pada hati, dan cinta. Cinta adalah sebuah krisis dari jiwa. Lantaran hal itu memberikannya banyak prinsip, ayahku tidak dapat memperlihatkan perasaannya. Bukan saja tidak dapat memperlihatkan apa yang dirasakannya, ia juga tidak dapat memperlihatkan bahwa ia merasakannya.

Ibuku membenci kesulitan komunikasi ayahku. Kata ibu, itulah yang membunuhnya pada akhirnya. Tetapi memang cukup aneh, justru hal itulah yang paling kukagumi darinya. Pada acara makan malam sebelum Ayah bunuh diri, sikapnya tidak berbeda dari biasanya. Aku juga, sepanjang hidupku, diam-diam tengah menghidupkan

kembali prinsip ayahku. Walau aku tidak mampu memainkan separuh dari separuh dirinya dengan begitu baik. Sudah lama berselang aku memutuskan bahwa aku akan mengatakan apa yang kurasakan, dengan cara penggambaran emosi mana pun. Itu yang kumaksudkan dengan separuh. Sebenarnya, aku tidak benar-benar percaya dalam mengungkapkan perasaan seseorang selain melalui bahasa. Pengungkapan perasaan dengan cara lain merupakan bentuk memainkan peranan. Mereka semua hanya pertunjukan. Mereka semua perumpamaan.

Hamlet mengatakan hal yang sama. Sebenarnya itu adalah ucapan pertamanya dalam drama itu. Ibunya bertanya pada Hamlet mengapa ia masih tampak bersedih karena kematian ayahnya. Perumpamaanya, Bu? Katanya, “aku tidak mengenal perumpamaan. Lalu ia mencela segala ungkapan kesedihan yang terlihat: jubah berwarna gelap, dan pakaian biasa berwarna hitam, mata yang berkaca-kaca. Penggambaran itu, katanya, umpam anya memang, karena mereka itu tindakan yang mungkin diperankan orang.

“Ya Tuhanku!” Kataku di dalam kegelapan, “ya Tuhanku, aku sudah mengerti.”

“Aku juga!” Littlemore berseru dengan sama bersemangatnya, “Aku tahu bagaimana ia membunuh Elizabeth Riverford, walau ia sedang berada di luar kota. Banwell, maksudku. Nona Riverford bersamanya sebelum kematiannya. Tidak ada orang lainnya yang tahu. McClellan tidak tahu. Banwell membunuhnya di manapun mereka saat itu…, mengerti? Lalu ia membawa tubuhnya ke apartemennya, mengikatnya, dan membuatnya tampak seolah pembunuhan itu terjadi di sana. Aku tidak dapat memercayainya. Aku tidak mengerti sebelumnya. Apakah

seperti itu yang kau pikirkan?” “Tidak.”

“Tidak? Lalu bagaimana menurutmu, Dok?” “Tidak apa-apa,” kataku, “hanya sesuatu yang sudah lama kupikirkan.” “Apa itu?”

Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku memutuskan untuk mengatakannya pada Littlemore, “Kau pernah mendengar To be, or not to be?”

“Apakah ada sebuah pertanyaan seperti itu? “Ya.”

“Shakespeare. Semua orang tahu itu,” kata Littlemore, “Apa artinya? Aku selalu ingin tahu itu.” “Itu yang baru saja kubayangkan.”

“Hidup atau mati, benar? Ia akan membunuh diri atau…?”

“Itulah yang selalu dipikirkan oleh semua orang,” kataku, “tetapi sama sekali bukan itu.”

Hal itu muncul dalam sekejap: keseluruhannya, semua menjadi jelas, seperti matahari yang muncul setelah badai. Ketika itu, lift tiba di tujuannya, teresentak berhenti. Ada sebuah benda yang harus kami atur. Littlemore berlutut untuk memutar alat tekanan udara, yang berada di dekat lantai. Semburan udara yang kuat keluar darinya. Aromanya ganjil: kering dan sekaligus pengap. Tekanan udaranya menjadi tidak tertahankan. Kepalaku mulai berdenyut. Mataku terasa seolah tertekan ke otakku. Tampaknya Littlemore juga merasakan hal yang sama. Ia menghembuskan udara dari hidungnya dengan panik, yang sesekali dipencetnya. Aku takut gendang telinganya akan meledak. Tetapi akhirnya ia berhasil beradaptasi dengan tekanan itu, seperti juga aku. Kami membuka pintu kaison.

g

NORA ACTON BANGKIT dari tempat tidurnya pada pukul dua tigapuluh pagi itu, resah tetapi tidak bisa tidur. Dari jendelanya, ia dapat melihat polisi-polisi yang berjaga di tepi jalan. Ada tiga orang malam ini, satu orang di depan, satu lagi di belakang, dan yang lainnya di atap, yang datang ketika malam tiba.

Di bawah cahaya lilin, Nora menulis surat pendek. Tulisan tangannya rapi di atas kertas putih. Lalu dimasukkan ke dalam amplop kecil yang diberinya alamat dan perangko. Lalu ia diam-diam turun dan menyelipkan amplop tersebut melalui lubang surat di pintu depan, sehingga surat itu jatuh ke kotak surat di luar pintu. Surat datang dua kali sehari. Tukang pos akan datang mengambil suratnya sebelum pukul tujuh pagi itu, dan akan dikirimkan sebelum sore hari.

g

AKU TIDAK TAHU betapa besarnya kaison itu ternyata. Cahaya gas biru memberi titik pada dinding kaison, menangkap kilatan cahaya dan bayangan ke kasau di atas dan lantai yang berair di bawah. Dari lift, kami menuruni jalan miring yang curam. Littlemore mengalami kesulitan, menyeringai setiap kali ia harus memindahkan berat tubuhnya ke tungkai kanannya. Kami berada di pusat dari jalan yang terbuat dari setengah lusin papan kayu, yang membawa ke segala arah. Yang dapat terlihat dari kejauhanhanyalah ruangan dan ruangan lainnya.

“Berapa lama lagi yang kita punya, Dok?” Tanya Littlemore.

“Duapuluh menit,” kataku, “setelah itu kita harus mengurangi tekanan saat ke atas.”

“Baik. Jendela lima yang kita cari. Pasti ada angkanya. Ayo menyebar.”

Detektif Littlemore beranjak pergi, terpincang-pincang parah, ke satu arah. Aku berjalan ke arah yang lainnya. Pada awalnya segalanya sunyi, kesunyian yang menakutkan dan dalam, yang terdengar hanya bunyi tetesan air dan langkah kaki tak seimbang Littlemore. Kemudian aku sadar akan adanya bunyi berat, seperti geraman hewan buas. Bunyi itu mendekat, kupikir berasal dari sungai itu: bunyi dari air yang dalam.

Kaison itu anehnya kosong. Aku berharap akan melihat mesin pembor sebagai sebuah tanda adanya pekerjaan atau penggalian. Namun yang terlihat sesekali hanyalah linggis dan sekop rusak, tergeletak ditinggalkan di antara batu besar dan genangan air hitam. Aku melewati sebuah ruangan besar, tetapi itu pastilah sebuah ruangan dalam, karena aku tidak melihat adanya lorong pembuangan reruntuhan. Bunyi derak diikuti oleh bunyi seperti langkah berlari. Mungkinkah ada tikus di bawah sini, tigapuluh setengah meter di bawah permukaan bumi?

Tibatiba bunyi berlarian itu berhenti sehingga aku tidak yakin apakah itu hanya di dalam kepalaku atau benar-benar ada bunyi itu. Aku berjalan melewati ruangan lainnya yang sama kosongnya. Aku pun tiba di ujung. Sekarang aku harus melangkah melewati genangan air di atas lantai berlumpur, setiap percikan air memperkuat gema langkahku. Di ruangan berikutnya, serangkaian yang terdiri dari tiga lempengan baja beberapa meter dari lantai, berbaris di dinding yang paling jauh; aku telah

menemukan jendela-jendela itu. Sebarisan rantai, semacam tali untuk ditarik, tergantung di samping dan di antaranya. Yang pertama digoresi nomor tujuh. Yang berikutnya, nomor enam. Ketika aku membungkuk untuk melihat yang terakhir, ada tangan menyentuh bahuku.

“Kita telah menemukannya, Dok,” kata Littlemore.

“Kristus, Littlemore,” kataku.

Ia membuka lempengan yang bertuliskan nomor lima dan menariknya pada tuasnya. Lempengan itu terangkat seperti tirai, dan masuk ke dinding kayu di atasnya. Di dalamnya ada ruangan seukuran peti mati. Tingginya sekitar enampuluh sentimeter dan lebarnya sekitar kurang dari dua meter. Pada setiap sisinya berlapis besi, kotor oleh bebatuan, dan puing. Pastilah dinding yang jauh dari ruangan itu merupakan pintu keluar menuju arah sungai: salah satu dari rantai kerekan pasti akan membukanya.

“Tidak ada apa-apa di sini,” kataku.

“Memang seharusnya begitu,” kata Littlemore. Dengan susah payah, ia duduk dan mulai membuka sepatunya. “Baik, begitu aku ada di dalam, kau tutup jendela ini, dan siramlah. Kau beri aku waktu satu menit, Dok, benar-benar satu menit, lalu…,”

“Tunggu, kau tidak akan masuk ke air, kan?” “Aku memang akan ke sana,” katanya sambil menggulung celananya. “Jenazah Riverford tepat berada di luar pintu keluar itu. Pasti. Aku akan menariknya masuk kembali. Kemudian kau menarikku keluar, lalu kita akan pulang.”

“Dengan tungkaimu yang sakit?”

“Aku tidak apa-apa.”

“Untuk berjalan saja kau terlihat sulit,” kataku. Pastilah akan sangat sakit baginya untuk berenang, karena

keadaan tungkainya - yang kukhawatirkan adalah retakan rambut - tetapi bergulat di antara reruntuhan dan harus menarik jenazah dari bawah air, tigapuluh koma lima meter di bawah, sama sekali tidak mungkin baginya. Arus kuat akan menghanyutkannya.

“Hanya ada satu cara,” kata Littlemore.

“Tidak, ada lagi,” kataku. “Aku akan turun.”

“Tidak jika kau masih hidup,” kata Littlemore. Ia membungkukkan tubuhnya untuk menyelinap sendiri ke dalam terowongan itu, tetapi tungkai kanannya tidak dapat ditekuk. Ia memutar tubuhnya dan mencoba memasuki terowongan dengan cara mundur, namun gagal. Ia pun menatapku tanpa daya.

“Oh, keluar dari situ,” kataku. “Lagipula, kaulah yang mengetahui cara mengoperasikan alat ini.”

Jadi, mengagumkan, satu menit kemudian, orang yang menyelinap masuk ke jendela itu adalah aku sendiri, telanjang hingga dada, sepatu dan kaus kaki juga kubuka. Aku memeriksa lorong itu secermat mungkin, karena aku tahu sebentar lagi aku akan dibenamkan ke air yang dingin. Sebatang tuas besi mencuat keluar dari langitlangit. Aku berpegangan erat padanya. Tube-tube karet menonjol dari dinding. Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku akan memberanikan diri memasuki air dalam waktu sesingkat mungkin. Setelah enampuluh detik, Littlemore membuka kembali jendela itu dari dalam. Aku benar-benar menduga bahwa aku tidak akan menemukan mayat itu untuk dibawa ke atas lagi. Teori Littlemore kini tampak tidak mungkin sama sekali. Lempengan jendela terlalu kuat dan berat. Aku tidak melihat kemungkinan adanya tubuh seorang gadis yang mampu menghalangi pekerjaan pembuangan itu.

Terdengar Littlemore meneriakkan untuk melakukan pemeriksaan terakhir. Dari belakangku pintu bagian dalam tertutup dengan suara keras. Kegelapan itu begitu pekat hingga aku tidak tahu arah. Bagaimana juga aku mengalihkan perhatian, sehingga aku merasa tidak berada dalam kegelapan. Bunyi gemuruh dari sungai di luar sekarang terdengar lebih keras, menggema di dalam selku. Aku mendengar suara ketukan pada dinding. Itu adalah tanda dari Littlemore bahwa ia akan membukaatau mencoba membukapintu luar.

Ketika itu juga aku dilanda perasaan khawatir. Kami seharusnya mencoba jendela itu sebelumnya. Kami sudah tahu ada yang salah pada jendela itu. Bagaimana jika Littlemore tidak dapat membukanya setelah aku kembali dari air? Aku menggedorkan tinjuku pada dinding untuk menghentikan Littlemore. Tetapi apakah ia tidak mendegar atau justru menafsirkan gedoranku itu sebagai jawaban pasti dari gedorannya tadi. Setelah itu terdengar gemerincing rantai dan tibatiba air dingin menyiram deras. Seluruh lorong itu terbalik, dan aku dituang ke sungai, tanpa dapat dihindari.

g

DI LUAR PAGAR BESI TEMPA yang mengelilingi Gramercy Park, seorang lelaki jangkung, berambut hitam berdiri di dalam kegelapan. Ketika itu pukul tiga pagi. Taman kosong, diterangi oleh lampu gas yang tersebar di dalam taman. Sebagian besar rumah di sekitarnya gelap. Kecuali, rumah Players Club yang lampunya belum padam, dan bunyi musik dimainkan pun terdengar. Gereja Calvary gelap dan sunyi, menaranya seperti kegelapan tumbuh

seperti pepohonan.

Lelaki berambut hitam itu mengamati opsir polisi yang sedang berjaga di depan rumah Acton. Di dalam lingkaran kecil dari cahaya sebuah lampu jalanan, Carl Jung melihat opsir itu sedang berbicara dengan polisi lainnya. Beberapa menit kemudian, mereka pergi dari situ, membelok ke sudut di sebuah gang yang menuju bagian belakang rumah itu. Jung mempertimbangkan pilihannya. Setelah beberapa menit, ia memutar tubuhnya dan dengan kecewa ia kembali ke Hotel Manhattan.

g

LITTLEMORE TIBATIBA memiliki gagasan yang mengerikan. Ia telah diberitahu bahwa Jendela Lima tidak dapat bekerja dengan baik. Ia membayangkan Younger yang berada di bawah air, menggedor-gedor dinding kaison dengan putus asa dan matanya mendeliksementara Littlemore, berdiri di dalam, menarik-narik rantai tanpa daya. Mengapa bukan ia sendiri yang masuk ke sana?

Tepat satu menit kemudian, Littlemore menggerak-gerakkan tuas dan bergantian secara cepat, meluruskan jendela dan lubang palka luar. Setelah itu mekanisme bekerja dengan sempurna. Ia membuka palka bagian dalam. Bergalon-galon air menyembur keluar. Ia telah menduga ini. Tetapi yang tidak diduganya, kompartemen itu kosong.

“Ya ampun,” kata Littlemore. “Ya ampun.”

Ia menutup jendela itu lagi dengan bantingan, lalu membuka lubang palka luar, menghitung hingga sepuluh detik, kemudian mengulangi cara tadi. Jendela pun dibuka. Lebih banyak air yang keluar, namun tidak ada Younger.

Dengan tergesa-gesa seperti orang yang tidak wa-ras, Littlemore melakukannya lagi, tetapi kini dengan satu perbedaan. Ia berdoa dengan sepenuh hati dan kekuatannya agar dapat menemukan dokter itu di dalam jendela tadi. “Kumohon, Tuhan. Biarkan ia berada di sana. Lupakan yang lainnya. Hanya izinkan ia berada di sana.”

Untuk ketiga kalinya, Littlemore membuka lempengan baja dari Jendela Lima hingga sepatu dan celana belakangnya hingga basah kuyup. Sekarang kompartemen itu benar-benar tercuci dengan bersih. Keempat dinding metalnya berkilauan. Tetapi tetap saja kosong melompong. Detektif Littlemore memeriksa jam tangannya: dua seperempat menit telah berlalu. Padahal rekor ayahnya hanya dua menit limabelas detik, tetapi ayahnya mengambangtanpa harus menguras tenagadi dalam kolam hangat dan tenang. Dr. Younger tidak mungkin dapat bertahan demikian lama, Littlemore tahu itu, tetapi ia tidak bisa menerima keadaan tersebut. Dengan kaku, layaknya sebuah mesin, ia terus berusaha untuk kali keempat dan kelima. Hasilnya tetap sama. Ia jatuh berlutut, sambil menatap kompartemen kosong. Ia tidak merasakan sakit pada kakinya lagi. Lalu ia melihat kaison yang beratnya sejuta ton itu mengalami getaran yang sangat kuat di bawahnya, namun Littlemore tidak bisa bergerak. Geteran itu diikuti oleh bunyi garutan-garutan metalis yang terus menerussetara dengan yang berada jauh di atas kepalanya. Seolah atap kaison itu telah dihantam oleh bagian bawah kapal selam.

Ketika bunyi itu berkurang, ia menjadi sadar akan sesuatu yang lain. Bunyi lemah. Sebuah ketukan. Littlemore melihat ke sekelilingnya. Ia tidak dapat menemukan sumber bunyi itu. Ia merangkak ke kiri, sambil menahan

nafasnya tanpa berani berharap. Ketukan itu berasal dari belakang lempengan baja di Jendela Enam. Dari lututnya, Littlemore menarik tarikan itu, membuka lempengan itu, dan mendorongnya hingga terbuka. Satu lagi jendela yang dipenuhi air, tumpah keluar tepat mengenai wajahnya yang sedang berlutut. Dari jendela itu jatuh berguling-guling sebuah koper hitam besar, yang menubruknya sehingga jatuh terjengkang. Lalu diikuti oleh kepala Stratham Younger, dengan selang karet pada mulutnya.

Air yang mengalir masuk tidak berhenti sama sekali, persis seperti bak mandi yang kelebihan air. Dengan koper di atas perutnya, Littlemore menatap Younger tanpa bicara. Dokter itu pun meludahkan selangnya.

“T-tabung bernafas,” kata Younger. Ia begitu kedinginan sehingga tidak dapat mengendalikan gemetarnya. “Di dalam jendela.”

“Tetapi mengapa kau tidak keluar dari Jendela Lima?”

“T-t-tidak bisa,” kata Younger, giginya gemertak, “Palka luar tidak mau membuka cukup besar. Jendela Ee-enam terbuka.”

Littlemore membebaskan diri dari tindihan koper itu, lalu berkata, “Kau telah menemukannya, Dok! Kau menemukannya! Kau mau melihatnya!” Detektif Littlemore membersihkan lumpur dari koper itu. “Ini persis seperti yang kami temukan di kamar Leon!”

“Bukalah,” kata Younger, kepalanya masih tetap terlihat muncul di Jendela Enam.

Littlemore baru saja akan menjawab kalau kaitan koper itu telah terkunci, tibatiba geteran luar biasa kembali terasa di kaison itu yang diikuti satu kali bunyi garukan metal.

“Apa itu?” Tanya Younger.

“Aku tidak tahu,” kata Littlemore, “tetapi itu yang kedua. Ayo kita pergi,”

“Ada masalah kecil,” kata Younger. Ia masih belum keluar dari jendela, yang terus mengeluarkan air. “Kakiku terjepit.”

Palka luar dari Jendela Enam telah tertutuplayaknya sebuah perangkap beruangpada mata kaki Younger. Karena itulah air terus mengalir masuk melalui dasar jendela: palka luar masih tetap terbuka, dan kaki Younger masih terjulur ke sungai. Dengan kaki bebasnya, Younger mendorong palka luar sekuat mungkin, tetapi palka itu tidak dapat digerakkan.

“Jangan khawatir,” kata Littlemore sambil terpincang-pincang melewati rantai tarik di dinding. “Aku akan membukakannya untukmu. Sebentar lagi.”

“Awas!” Kata Younger, “Kita akan kedatangan air berton-ton lagi.”

“Aku akan menutupnya lagi, begitu kakimu keluar. Siap? Mulai. O,oh.” Littlemore menarik-narik rantai namun tanpa hasil dan tidak mau bergerak. “Mungkin kau tidak bisa membuka palka luar jika palka dalam tidak ditutup lebih dahulu. Masukkan kembali kepalamu ke dalam.”

Younger mematuhinya dengan tidak senang. Ia menarik kepalanya kembali ke dalam Jendela Enam dan menje-pitkan rahangnya pada tube pernafasan, bersiap untuk mendapatkan air bah lagi. Tetapi sekarang Littlemore tidak dapat menutup palka dalam. Ia menarik tuas dengan sekuat tenaganya, tetapi lempengan itu tidak mau turun. Mungkin, usul Younger, palka dalam tidak bisa dioperasikan jika palka luar masih terbuka.

“Tetapi sekarang keduanya terbuka,” kata Littlemore.

“Jadi keduanya tidak dapat bergerak.”

“Bagus,” kata Littlemore. Ia berniat memelintir kaki Younger sampai keluar dan coba menariknya dengan segera. Ia juga mencoba untuk melintirnya. Itu tanpa ada hasilnya bahkan membuat dokter itu kesakitan.

“Littlemore.”

“Apa?”

“Mengapa semua lampu mati?”

Seluruh kumpulan cahaya gas biru, di sisi lain ruangan, telah berkurang dari kekuatan obornya untuk mengeluarkan cahaya yang sama. Lalu padam sama sekali. “Seseorang telah mematikan gasnya,” kata Littlemore setelah menyelinap keluar dari jendela.

Sekali lagi, terdengar bunyi jelek mengerikan dari metal yang menggaruk kayu di bagian atas. Kali ini, garukan itu diakhiri dengan suara dentangan metal di kejauhan, yang diikuti oleh suara baru. Littlemore dan Younger menatap ke atas, ke kasau yang terlihat remangremang. Mereka mendengar seperti bunyi sebuah kereta api yang mendekat. Lalu mereka melihat sejumlah air, berdiameter satu kaki, jatuh dari langitlangit dengan anggunnya. Ketika menghantam lantai, air itu membuat pukulan besar, meledak ke segala arah. Sungai East membanjiri kaison.

“Ya ampun,” kata Littlemore.

“Maha Besar Tuhan,” tambah Younger.

Sungai East sekarang tidak hanya tercurah ke dalam ruangan, tapi dari setengah lusin lubang yang tersebar di seluruh kaison, tercurah juga air terjun yang sama. Gemuruhnya memekakkan telinga

Apa yang terjadi sesungguhnya adalah pekerjaan pembangunan Jembatan Manhattan telah selesai. Karena itulah Younger tidak melihat adanya mesin ataupun peralatan pekerjaan. Rencananya tidak berubah, mereka tetap

akan membanjiri kaison setelah pekerjaan selesai. Tidak lama sebelum itu, Pak George Banwell tibatiba memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan rencana itu. Ia membangunkan dua insinyurnya dengan perintahperintah larut malamnya. Mengikuti perintah, para insinyur itu pergi ke area Jalan Kanal dan menyalakan mesin-mesin yang sudah lama menganggur.

Pada dasarnya, para insinyur itu menjalankan system penyiraman air yang dipasang ke dalam atap kaison setebal enam meterlantaran perancangnya khawatir akan adanya kebakaran. Pencegahan mereka terbukti benar. Di dalam kaison itu memang pernah terjadi kebakaran. Satusatunya penyelamat adalah dengan membanjiri ruanganruangan bagian dalamnya. Tiga lapis lempengan besi potong harus dibuka untuk memberi jalan bagi air. Inilah yang berulang kali menimbulkan suara garutan.

Banjiran air itu sudah mencapai setinggi tulang kering dan terus naik dengan cepat. Younger berusaha dengan lebih kuat untuk membebaskan kakinya tetapi tidak bisa. “Ini menyebalkan,” katanya. “Apakah kau membawa pisau?”

Dengan bersemangat Littlemore memberikannya pisau sakunya kepada Younger. Younger menatapan pisau kecil tiga inci itu dengan tidak senang.

“Ini tidak akan ada gunanya.”

“Untuk apa?” Teriak Littlemore. Mereka nyaris tidak dapat saling mendengar karena suara banjir itu.

“Kukira aku akan memotongnya,” teriak Younger. “Memotong apa?”

Waktu itu Air sudah mencapai lututnya dan bertambah dengan lebih cepat.

“Kakiku,” kata Younger. Ia masih menatap pisau Littlemore, lalu berkata, “Kukira aku bisa saja bunuh diri. Itu lebih baik daripada mati tenggelam.”

“Berikan pisau itu padaku,” kata Littlemore sambil merampas pisaunya dari tangan Younger. Kini air sudah mencapai satu inci dari dasar jendela. “Gunakan tube untuk bernafas!”

“Oh, ya benar. Ide bagus,” kata Younger, sambil memasang kembali selang itu pada mulutnya. Tetapi dengan segera ia melepaskannya lagi, “Kau tahu, Littlemore? Mereka telah mematikan aliran udaranya.”

Littlemore meraih selang lainnya dan merasakannya sendiri. Hasilnya memang tidak ada perbedaan.

“Nah, Detektif,” kata Younger, sambil menegakkan dirinya, “kupikir sudah saatnya bagimu untuk…,”

“Diamlah!” Kata Littlemore, “Jangan katakan itu. Aku tidak akan pergi ke mana pun.”

“Jangan bodoh. Bawalah koper itu dan kembali ke lift.”

“Aku tidak mau pergi ke mana pun,” kata Littlemore. Younger mengulurkan tangannya dan menjambret kemeja Littlemore, menariknya sehingga mendekat, dan berbisik dengan penuh kecemasan pada telinganya. “Nora. Aku meninggalkannya. Sebelum ini aku tidak memercayainya, tetapi aku telah meninggalkanya. Sekarang mereka akan mengurungnya. Kau dengar aku? Mereka akan mengasingkannya, atau Banwell akan membunuhnya.” “Dok…,”

“Jangan panggil aku Dok! Kau harus menyelamatkannya. Dengarkan aku. Aku bisa saja mati. Kau tidak memaksaku untuk ikut ke bawah sini. Aku hanya ingin melihat bukti. Sekarang kaulah satusatunya yang memercayainya. Kau harus keluar. Kau harus keluar. Selamatkan dia. Dan katakan padanya…, oh, lupakan saja.

Cepat keluar!”

Younger mendorong Littlemore dengan begitu kuat sehingga detektif itu terhuyung ke belakang dan terjatuh ke dalam air. Ia berdiri. Air yang naik telah melebihi dasar jendela. Littlemore menatap lama dokter itu, lalu berpaling. Ia berjalan pergi. Dengan bersusah payah, ia melewati air terjun dan melintasi air setinggi pahanya. Lalu menghilang.

“Kau lupa kopernya!” Teriak Younger padanya. Tetapi detektif Littlemore tampaknya tidak mendengar. Kini air itu sudah mencapai setengah dinding jendela. Dengan usaha yang keras, Younger berhasil menahan kepalanya satu inci di atas air. Kemudian Littlemore muncul kembali. Di tangannya ia memegangi pipa sepanjang lima kaki dan sebuah batu besar.

“Littlemore!” Teriak Younger. “Kembali!”

“Pernah mendengar Archimedes?” Tanya Littlemore. “Pengungkit.”

Ia memercikkan air pada Younger dan meletakkan batu besar itu pada jendela, yang sekarang hampir dipenuhi air hingga ke tepian. Littlemore memasukkan kepalanya ke air, lalu mendorong ujung pipa ke bawah palka bagian luar, tepat di sebelah mata kaki Younger yang terjepit. Sisa pipa pun diletakkan di atas batu besar agar bisa menghasilkan gaya-ungkit. Dengan kedua tangannya, ujung pipa itu ditekan ke bawah lalu mencuat ke atas. Sayangnya, satusatunya hal yang terjadi, batu besar itu meleset dari bawah pipa. “Sial,” kata Littlemore, sambil muncul dari dalam air.

Mata Younger masih berada di atas air, tetapi mulutnya sudah tenggelam. Begitupun hidungnya. Ia menaikkan alisnya pada Littlemore.

“O, ya ampun,” kata detektif itu. Ia mengambil nafas dan masuk ke dalam air lagi. Ia mengatur kembali letak batu dan pipa dengan cara semula, lalu menekan sisa pipanya. Kali ini batu besar itu tidak goyah, namun palka luar masih tidak bergerak. Littlemore meloncat keluar setinggi mungkin dari air dan menibani pengungkit itu dengan seluruh berat badannya. Tetapi pipa itu patah menjadi dua. Saat sebelum pipa itu patah, palka luar dari jendela itu terangakt ke atas, namun hanya cukup untuk membebaskan kaki Younger.

Kedua lelaki itu keluar dari air secara bersamaan, tetapi Littlemore menelan air dan berusaha susah payah, sementara Younger hampir tidak menggerakkan air sama sekali. Ia hanya menghirup nafas sekali saja sepenuh paruparunya dan berkata, “Itu tadi melodramatis, bukan?”

“Terima kasih kembali,” kata Littlemore sambil meluruskan tubuhnya.

“Bagaimana tungkaimu?” Tanya Younger.

“Tidak apa-apa. Bagaimana dengan kakimu?”

“Tidak apa-apa,” Balas Younger, “Bagaimana pendapatmu? Kita telah merusak lubang neraka ini?”

Sambil menarik koper di belakang mereka sementara berusaha melewati pilar-pilar air yang mengucur deras, mereka akhirnya berhasil kembali ke ruang utama. Jalan mendaki menuju ke lift sudah hampir tenggelam. Air masuk ke bawah dari atas juga, menumpahi jalan miring itu dan membuat tirai air di sekeliling lift. Namun di belakang tirai air, kabin lift itu tampak kering.

Di antara keduanya, Littlemore dan Younger berusaha keras mendorong dan menarik koper itu menaiki jalan miring itu, mengangkatnya hingga ke lift, lalu keduanya terjatuh. Dengan terengah-engah, Younger menutup

pintu besi. Tibatiba semuanya menjadi diam. Banjir di kaison hanya terdengar sayup di luar. Di dalam lift, lampu gas biru masih menyala. Littlemore berkata, “aku akan membawamu ke atas.”

Ia menekan tuas operasi ke posisi naik. Namun ternyata lift itu tidak bergerak. Ia mencoba lagi dan tetap saja tidak berhasil.

“Heran sekali,” kata Littlemore.

Younger menaiki koper itu agar bisa mengetuk langit-langitnya. “Lorong itu sudah tertutupi banjir,” katanya.

“Lihat!” kata detektif Littlemore sambil menunjuk ke atas, “Ada pintu di langitlangit.”

Benar, di tengah langitlangit lift ada sepasang panel engsel.

“Dan itu yang bisa membukanya,” kata Younger sambil menunjuk pada rantai tebal di dinding dengan tuas kayu merah bergantung di ujungnya. Ia meloncat turun dan mengambil tuas itu. “Kita akan naik, detektif…, agak lebih cepat daripada ketika kita turun.”

“Jangan!” Teriak Littlemore, “Kau gila? Kau tahu berapa berat seluruh air di atas kita? Seakan itulah satusatunya cara agar kita tidak tenggelam tapi kita akan mati lebih dulu.”

“Tidak. Ini adalah kabin bertekanan,” kata Younger. “Bertekanan sangat tinggi. Begitu aku membuka palka itu, kau dan aku akan naik melalui lorong air itu seperti geyser.”

“Kau mempermainkan aku,” kata Littlemore.

“Dengarkan aku. Kau harus menghembuskan nafasmu sepanjang kita meluncur ke atas. Aku serius. Jika kau menahan nafasmu, bahkan hanya beberapa detik saja, paru-parumu benar-benar akan meledak seperti balon.”

“Bagaimana jika kita tersangkut pada kabel lift?”

“Nah, baru kita akan tenggelam,” kata Younger.

“Rencana yang menyenangkan.”

“Aku masih mau menerima pilihan lain.”

Sebuah celah berkaca pada pintu lift, memungkinkan Littlemore melihat ke dalam kaison. Hampir gelap sekarang di sana. Air tercurah dari mana-mana. Detektif Littlemore mengangguk. “Bagaimana dengan koper ini?”

“Kita bawa.” Koper itu memiliki dua pegangan dari kulit. Masingmasing memegang satu. “Jangan lupa berteriak, Littlemore. Apakah kau siap?”

“Kukira begitu.”

“Satu, dua…, tiga.” Younger menarik tuas merah. Panel langitlangit langsung terbuka, kedua lelaki itu berteriak demi hidup mereka. Dengan sebuah koper besar di tangan, mereka melesat ke atas melalui sebuah lorong lift yang penuh dengan air seperti ditembakkan dari sebuah kanon.

Duapuluh Dua

RUANG DEPAN PENTHOUSE MILIK Banwell yang mewah di Balmoral, memiliki lantai pualam seputih susu dengan urat-urat perak. Pada bagian tengahnya tertata dua huruf GB yang saling berkaitan dengan warna hijau gelap. Singkatan GB ini memberikan kepuasan setiap kali Banwell melihatnya. Ia senang memberi tanda inisialnya pada segala yang dimilikinya.

Jumat, pukul sepuluh pagi, seorang pelayan di serambi itu menerima surat untuk Banwell. Salah satu amplop

bertuliskan tulisan elok dari Nora Acton. Surat itu ditujukan bagi C\ara Banwell. Celakanya bagi Nora, George Banwell masih berada di rumah saat itu. Untungnya, sudah merupakan kebiasaan si pelayan itu untuk menyerahkannya lebih dulu kepada Nyonya Banwell. Sayangnya, Clara masih memegangi surat Nora ketika Banwell masuk ke kamar tidurnya.

Clara, dengan punggungnya menghadap ke pintu, merasakan kehadiran suaminya di belakangnya. Ia menoleh untuk menyapanya, sambil memegangi surat Nora di belakang punggungnya. “George,” katanya, “kau masih di sini.”

Banwell menatap istrinya dengan teliti. “Gunakan itu untuk orang lain,” katanya. “Apa itu?”

“Ekspresi tak bersalahmu itu. Aku ingat itu ketika kau berada di atas panggung.”

“Kukira kau menyukai gayaku di panggung,” kata Clara.

“Aku memang menyukainya. Tetapi aku tahu apa itu artinya.” George Banwell mendekati istrinya, lalu melingkari tubuh istrinya dengan tangannya. Ia merebut surat itu dari tangannya.

“Jangan,” kata Clara. “George, surat itu hanya akan membuatmu marah.”

Membaca surat orang lain memberikan kesan pelanggaran bagi dua orang sekaligussi pengirim dan si penerima, Ketika Banwell melihat bahwa surat itu dari Nora Acton, perasaan itu menjadi lebih manis. Ketika ia mulai membacanya, saat itu pula ia kehilangan kemanisannya.

“Ia tidak mengerti apa-apa,” kata Clara.

Banwell terus membaca, wajahnya tampak mengeras.

“Lagi pula, tidak seorang pun akan memercayainya, George.”

George Banwell mengulurkan surat itu pada istrinya. “Mengapa?” Tanya Clara tenang, sambil mengambilnya. “Mengapa apa?”

“Mengapa Nora begitu membencimu?”

g

FAJAR MEREKAH bertepatan Littlemore dan aku akhirnya berada kembali di mobil polisi yang sudah menunggu beberapa blok ke selatan dari Jembatan Manhattan. Kami melaju melalui terowongan lift dan melayang di udara setinggi tiga meter sebelum jatuh lagi ke air. Kami tidak mampu untuk naik ke dermaga. Kami harus berpegangan pada kabel-kabel lift, kedinginan dan letih, hingga air pasang cukup tinggi dan kami bisa memanjat ke dermaga. Dari situ, kami memasukkan koper itu ke perahu dayung. Sebuah perahu yang sama seperti yang kami gunakan untuk ke dermaga pada malam sebelumnya. Untunglah, mobil Littlemore masih menunggu di dermaga kira-kira dua blok ke selatan. Aku merasa kita berdua tidak ada yang sanggup mendayung labih jauh lagi. Kurasa Littlemore telah melanggar peraturan dengan membawa mobil polisi. Namun itu urusannya.

Aku mengatakan pada Littlemore bahwa kami harus menelpon keluarga Acton; tidak boleh ada waktu yang terbuang. Aku mempunyai dugaan bahwa ada yang telah terjadi di sana malam itu. Detektif Littlemore mengemudikan mobilnya dengan basah kuyup ke kantor polisi. Aku menunggu di mobil ketika Littlemore dengan terpincang-pincang masuk. Ia kembali setelah beberapa menit. Ia

mengatakan bahwa di rumah Acton sangat sunyi. Nora tidak apa-apa.

Dari kantor polisi pusat, kami menuju apartemen Littlemore di Jalan Mulberrry. Di sana kami mengganti pakaian kering. Littlemore meminjamiku sebuah jas yang tidak pas untuk ukuran tubuhku. Lalu kami masingmasing, meminum segalon kopi. Setelah itu melaju menuju rumah penyimpanan mayat. Aku mengusulkan untuk menghancurkan bagian atas koper dengan kapak, tetapi Littlemore bersikeras untuk melakukannya sesuai aturan bukunya. Ia menyuruh seorang anak untuk memanggil seorang ahli kunci, dan menunggu. Dengan rambut yang masih basah, kami menunggu sambil berjalan hilir mudik tidak sabar. Atau akulah yang berjalan setelah membalut pergelangan kakiku. Littlemore duduk di atas meja operasi, mengistirahatkan tungkainya yang sakit. Koper itu tergeletak di bawah kakinya. Kami berdua saja, Littlemore berharap dapat menemukan Hugel, orang yang kukenal kemarin. Tetapi orang itu tidak ada di sana.

Aku harus meninggalkan Littlemore. Aku harus melapor kepada Dr. Freud dan para tamuku lainnya di hotel. Hari ini, Jumat, adalah saat-saat berjadwal padat bagi kami. Ini adalah hari terakhir kami di New York. Kami semua akan berangkat ke Worcester besok malam. Tetapi aku ingin melihat koper itu dibuka. Jika gadis Riverford ada di dalam, pasti itu akan membuktikan bahwa Banwell adalah pembunuhnya. Dan akhirnya Littlemore dapat menangkapnya,

“Dok,” seru Littlemore, “kau bisa memastikan dari melihat mayatnya, apakah ia mati karena tercekik?”

Lalu Littlemore membawaku ke ruang mayat yang dingin. Ia menemukan dan membuka jenazah Elsie Sigel

yang separuh dibalsem. Ia sudah mengatakan padaku apa yang diketahuinya tentang gadis itu. “Gadis ini tidak dicekik,” kataku.

“Artinya, Chong Sing berbohong. Bagaimana kau bisa tahu?”

“Tidak ada edema pada leher,” jawabku. “Dan lihat pada tulang kecil di sini. Masih utuh. Normalnya, tulang itu akan patah jika ia dicekik hingga mati. Tidak ada bukti trauma pada tracheal dan esophageal. Sungguh tidak biasa. Tetapi ini sepertinya mati karena kesulitan bernafas.”

“Apa bedanya?”

“Ia mati karena kekurangan oksigen. Tetapi bukan karena pencekikan.”

Littlemore menyeringai. “Maksudmu seseorang menguncinya di dalam koper selagi ia masih hidup, dan ia kehabisan nafas?”

“Sepertinya begitu,” kataku. “Aneh. Lihat kukunya?”

“Kelihatannya normal bagiku, Dok.”

“Itu yang aneh. Ujungnya tetap halus, tidak rusak.” Ketika itu juga Littlemore mengerti. “Ia tidak pernah berjuang,” katanya. “Ia tidak pernah berusaha untuk keluar.”

Kami saling bertatapan. “Chloroform,” seru Littlemore,

Ketika itu, ada ketukan pada pintu luar laboratorium. Ahli kunci, Samuel dan Isaac Friedlander, telah tiba. Dengan peralatan yang menyerupai gunting taman yang terlalu besar, mereka memotong dua kunci pada bagian pegangan koper itu. Littlemore telah meminta mereka menandatangani surat tersumpah bukti tindakan mereka, lalu menyuruh mereka menunggu sehingga mereka dapat

melihat apa isi koper itu. Sambil menarik nafas, Littlemore membuka tutup koper itu.

Tidak ada bau. Yang pertama kulihat adalah setumpukan berbagai macam pakaian yang lembab karena air, bertabur perhiasan. Kemudian Littlemore menunjuk pada segumpal rambut hitam kusut masai. “Nah itu dia,” katanya. “Ini pasti akan sangat mengerikan.”

Dengan mengenakan sepasang sarung tangan, Littlemore meraih rambut itu, dan tangannya mengangkat segumpal rambut basah dan kusut.

“Ia memotong-motongnya,” kata salah satu dari Friedlander bersaudara itu.

“Memotongnya kecil-kecil,” kata yang satunya lagi.

“Ya ampun,” kata Littlemore, sambil merapatkan giginya dan melemparkan rambut itu ke atas meja. Lalu ia menarikknya kembali. “Tunggu. Ini adalah rambut palsu.”

Detektif Littlemore mulai mengosongkan satu persatu jenis barang pada koper itu, dan mencatatnya sebagai daftar inventaris, lalu menempatkannya pada tempat penyimpanan lainnya. Selain rambut palsu itu, ada beberapa pasang sepatu bertumit tinggi, koleksi pakaian dalam, setengah lusin gaun malam, sejumlah perhiasan dan perlengkapan kamar mandi, jubah bulu mink, mantel ringan wanita. Namun tidak ada wanitanya.

“Apa-apaan ini?” Tanya Littlemore, sambil menggaruk kepalanya. “Di mana gadis itu? Pastilah ada koper yang lainnya. Dok, kau pasti salah mengambil koper.”

Aku menawarkan pikiranku pada hipotesanya itu.

g

LITTLEMORE MENEMANIKU ke jalan yang sangat terang. Aku bertanya apakah yang akan dilakukannya setelah ini. Rencananya, katanya, adalah memeriksa koper dan segala isinya untuk dihubungkan dengan Banwell atau siapa pun pembunuhnya. Mungkin keluarga Riverford di Chicago dapat mengenali beberapa barang milik gadis itu. “Jika aku dapat menandai salah satu saja barang itu dengan nama Elizabeth Riverford, maka aku mendapatkan pembunuh itu.” Kata Littlemore. “Maksudku, siapa lagi kecuali Banwell yang dapat mengemasi barangnya di dalam koper di bawah Jembatan Manhattan pada hari gadis itu dibunuh? Mengapa Banwell melakukan itu jika bukan ia pembunuhnya?”

“Mengapa ia melakukannya jika ia pembunuhnya?” Tanyaku.

“Mengapa ia akan melakukan itu jika ia bukan pembunuhnya?”

“Ini percakapan yang sangat berguna,” kataku.

“Baik, aku tidak tahu mengapa.” Lalu Detektif Littlemore membakar rokoknya. “Kau tahu, ada banyak hal dalam kasus ini yang tidak kumengerti. Semula kukira pembunuhnya adalah Harry Thaw.”

“Si bajingan itu?”

“Ya. Aku sudah bersiap mendapatkan penghargaan terbesar yang pernah diterima oleh detektif mana pun. Lalu ternyata Thaw dipenjara di sebuah pertanian yang aneh di desa.”

“Aku tidak akan menyebutnya dipenjara, sebenarnya,” aku menjelaskan apa yang kuketahui dari Jelliffe bahwa keadaan Thaw sebenaranya sangat menyenangkan. Littelmore ingin tahu sumber informasiku. Aku mengatakan padanya bahwa Jelliffe adalah salah satu dari penasihat psikiatris utamanya dan bahwa, menurutku, keluarga

Thaw tampaknya menyuap staf rumah sakit itu.

Detektif Littlemore menatapku. “Nama itu…, Jelliffe. Aku mengenalnya dari suatu tempat. Ia tidak tinggal di Balmoral, mungkin?”

“Ia tinggal di sana. Aku makan malam bersamanya dua malam yang lalu.”

“Keparat,” kata Littlemore.

“Kukira itu pertama kalinya aku mendengar kau mencaci, Detektif.”

“Kukira itu juga pertama kalinya aku mencaci. Selamat tinggal, Dok.” Ia lalu bergerak secepatnya, kembali ke gedung, berterimakasih padaku lagi sambil menoleh sebelum menghilang.

Aku sadar bahwa aku tidak membawa uang. Dompetku ada di saku celanaku yang tergantung pada jemuran di jendela dapur Littlemore. Aku menemukan lima sen di dalam saku pakaian detektif Littlemore. Untunglah aku terbangun ketika kereta apiku memasuki stasiun kereta bawah tanah Grand Central. Jika tidak, aku tidak tahu akan dibawa sampai mana.

g

PADA RUMAH BERTINGKAT DUA di Jalan Fortieth, di pinggir Broadway, dengan garang Detektif Littlemore menggedor sebuah pengetuk pintu yang terlalu mencolok. Pintu itu pun dibuka oleh seorang gadis yang belum pernah dikenalnya, “di mana Susie?” Tanya Littlemore.

Gadis itu, dengan rokok yang tidak pernah terlepas dari mulutnya, mengatakan bahwa Ibu Merrill sedang keluar. Namun lataran mendengar suara-suara perempuan di gang, Littlemore segera masuk ke ruang tamu. Di sana

ada setengah lusin gadis di dalam ruangan bercermin mewah, dengan pakaian yang beraneka ragam. Warna hitam dan merah merupakan warna kesukaan bagi jenis pakaian yang mereka kenakan. Di tengah-tengah adalah perempuan yang dicari Littlemore. “Helo, Greta,” katanya.

Perempuan itu berkedip padanya, namun tidak menjawab. Ia jelas tampak tidak terlalu mengantuk dibandingkan dengan sebelumnya.

“Minggu lalu lelaki itu datang ke sini, bukan?” Tanya Littlemore.

Greta masih tidak menjawab.

“Kau tahu siapa yang sedang kubicarakan,” kata Littlemore. “Harry.”

“Kami mengenal banyak Harry,” kata seseorang. “Harry Thaw,” kata Littlemore.

Greta terisak. Baru kali itu Littlemore melihat Greta dapat menangis. Perempuan itu berusaha menahannya, tetapi ia tidak sanggup dan menyembunyikan wajahnya di balik sehelai saputangan. Gadis-gadis lainnya langsung mengerumininya, sambil mengatakan katakata bersimpati.

“Kaulah perempuan itu, bukan?” Tanya Littlemore kepada Greta. “Kaulah perempuan yang dicambukinya. Apakah ia melakukannya lagi hari Minggu yang lalu?” Ia mempertanyakan pertanyaan itu pada semua perempuan di ruangan itu. “Apakah Thaw melukainya? Itukah yang terjadi?”

Oh, jangan ganggu dirinya,” kata seorang gadis dengan rokok menempel pada mulutnya.

Selain saputangan, Greta memegangi juga secarik kain merah muda dengan tali kecil merah muda bergantungan pada satu sisinya. Itu adalah kain tutup dada bayi. Detektif Littlemore kemudian sadar bahwa suara

tangis bayi, yang begitu menusuk pada kunjungan pertamanya, tidak terdengar lagi hari ini. “Apa yang terjadi pada bayi itu?” Tanyanya. Greta terdiam.

Littlemore mengambil kesempatan itu. “Apa yang terjadi pada bayimu, Greta?”

“Mengapa aku tidak boleh memeliharanya?” Kata Greta dengan tangis yang meledak mengarah pada orang tertentu. Ia mulai terisak. Yang lainnya berusaha sebisa mereka untuk menenangkannya, tetapi Greta tidak bisa ditenangkan. “Ia tidak pernah melukai siapa pun.”

“Ada yang membawa bayi itu pergi?” Tanya Littlemore.

Greta membenamkan wajahnya. Salah satu dari gadis itu berbicara, “Susie mengambilnya. Sangat kejam, menurutku. Ia punya keluarga di Hell’s Kitchen yang mau mengambil bayi itu. Ia bahkan tidak mau mengatakan pada Greta siapa mereka.”

“Ia juga memotong uang Greta untuk itu,” yang lainnya menambahkan. “Tiga dolar seminggu. Itu tidak adil.”

“Dan aku yakin, Susie hanya membayar mereka satu setengah dolar,” kata si perokok dengan cerdik.

“Aku tidak peduli pada uangku,” kata Greta. “Aku hanya ingin Fannie. Aku ingin bayi itu kembali.”

“Mungkin aku bisa mendapatkannya kembali,” kata Littlemore.

“Kau bisa?” Tanya Greta penuh harap.

“Aku bisa berusaha,”

“Aku akan melakukan apa saja yang kau mau,” kata Greta memohon. “Apa saja.”

Littlemore mempertimbangkan keuntungan menggali informasi dari seorang perempuan yang bayinya baru saja

diambil orang. “Tidak perlu,” katanya sambil mengenakan topinya lagi. “Katakan pada Susie aku akan kembali.”

Littlemore baru mencapai pintu depan ketika ia mendengar suara Greta di belakangnya. “Lelaki itu ke sini,” katanya. “Ia datang ke sini sekitar pukul satu pagi.”

“Thaw?” Tanya Littlemore. “Hari Minggu yang lalu?” Greta mengangguk. “Kau bisa bertanya pada semua gadis di sini. Ia tampak gila. Ia memintaku. Aku selalu menjadi kesayangannya. Aku mengatakan pada Susie aku tidak mau, tetapi ia tidak peduli. Susie meminta uang pada lelaki itu supaya kami tidak bicara, tetapi lelaki itu hanya ter tawa keras dan…,”

“Apakah itu uang untuk tutup mulut?”

“Uang supaya kami tidak bersaksi di pengadilan atas apa yang dilakukan lelaki itu pada kami. Susie mendapat seratus dolar. Susie mengatakan uang itu untuk kami. Tetapi ia menyimpannya sendiri. Kami tidak pernah mendapatkan sesen pun. Tetapi ibunya berhenti membayarnya setelah ia dikirim pergi. Karena itulah Susie sangat marah. Ia mengatakan pada lelaki itu untuk membayar di muka dua kali lipat sebelum ia boleh mendapatkan aku. Susie memaksanya untuk bersikap manis. Tetapi lelaki itu tidak baik.” Greta tampak melamun, seolah ia sedang menceritakan kejadian yang terjadi pada orang lain. “Setelah ia menyuruhku melepas bajuku, ia menarik sprei dan berkata ia akan mengikatku, seperti biasanya. Aku mengatakan padanya untuk pergi atau aku akan…, lelaki itu berkata, ‘Atau kau mau apa?1 dan ia tertawa seperti gila. Kemudian berkata ‘Kau tidak tahu aku gila? Aku bisa melakukan apa pun yang kumau. Apa yang akan mereka lakukan? Memenjarakan aku?’ Ketika itulah Susie masuk. Kurasa ia memang telah mendengarkan kami selama ini.”

“Tidak begitu,” kata seorang gadis lain dengan suara kecil. Kelompok itu berkumpul di ruang. “Akulah yang mendengarkan. Aku mengatakan pada Susie apa yang dilakukan lelaki itu. Maka Susie bergegas masuk. Lelaki itu sangat takut pada Susie. Tentu saja Susie tidak akan melakukan apa pun jika lelaki itu telah membayar di muka seperti yang diinginkan Susie. Tetapi kau harus melihat betapa ia lari keluar kamar, seperti tikus kecil.”

“Ia masuk ke kamarku,” kata gadis lainnya, “menangis dan melambai-lambaikan tangannya seperti anak kecil. Kemudian Susie masuk dan mengejarnya hingga keluar lagi.”

Gadis dengan rokoknya yang mengakhiri cerita itu: “Susie mengejarnya di rumah ini. Kau tahu di mana ia bersembunyi? Di belakang kotak es. Ia menggigiti kukunya. Susie menarik telinganya keluar, menariknya di sepanjang gang, dan mengusirnya ke jalan, seperti sekantung plastik sampah. Karena itulah Susie dipenjara sekarang, kau tahu. Becker datang beberapa hari kemudian.”

“Becker?” Tanya Littlemore.

“Ya, Becker,” katanya, “Tidak ada yang terjadi jika Becker tidak campur tangan di dalamnya.”

“Maukah kalian bersaksi bahwa Thaw datang ke sini hari Minggu yang lalu?” Tanya Littlemore.

Tidak ada yang menjawab hingga Greta berkata, “aku mau, jika kau bisa menemukan Fannie-ku.”

Lagi, Littlemore sudah beranjak pergi, ketika si perokok bertanya. “Kau mau tahu ke mana ia pergi setelah ia keluar?”

“Bagaiamana kau tahu?” Littlemore balik bertanya. “Aku mendengar temannya mengatakan pada si pengemudi. Dari jendela di lantai dua.”

“Teman apa?”

“Teman yang datang bersamanya.”

“Kukira ia sendirian,” kata Littlemore.

“Ngga,” katanya. “Lelaki gendut. Aku kira ia adalah utusan Tuhan. Ia siap dengan uangnya. Aku akan beri tahu namanya. Dr. Smith, ia menyebut dirinya sendiri.”

“Dr. Smith,” ulang detektif Littlemore, dan merasa pernah mendengar nama itu akhir-akhir ini. “Ke mana mereka pergi?”

“Gramercy Park. Aku mendengar ia mengatakan itu pada si pengemudi dengan keras dan jelas.” “Keparat,” kata Littlemore.

9

AKU TIBA DI HOTEL SUDAH LEBIH dari pukul sepuluh. Petugas itu memberikan kunciku sambil menatap sinis padaku. Itu semua karena jas Littlemore yang usang, dan berlubang mencolok di antara kedua ujung lengannya dan pada ujung tanganku. Ada sepucuk surat untukku, aku diberitahu, tetapi Dr. Brill menerimanya atas namaku. Lalu petugas itu memberi isyarat ke arah sudut lobi. Di sana aku melihat Brill duduk bersama Rose dan Ferenczi.

“Ya, ampun, Younger,” kata Brill. “Kau tampak kacau sekali. Apa saja yang telah kau kerjakan sepanjang malam?”

“Hanya berusaha supaya kepalaku tetap berada di atas air,” kataku.

“Abraham,” Rose mengomeli suaminya, “Ia hanya mengenakan pakian orang lain.”

“Rose ada di sini,” kata Brill padaku, “untuk mengatakan pada semua orang betapa pengecutnya aku.”

“Tidak,” kata Rose tegas. “Aku di sini untuk mengatakan pada Dr. Freud bahwa ia dan Abraham harus terus melanjutkan penerbitan buku Dr. Freud. Si pengecutlah yang meninggalkan pesan-pesan yang mengerikan itu. Abraham telah mengatakan semuanya padaku, Dr.Younger. Kami tidak mau diancam. Bayangkan, membakar buku di negeri ini. Apakah mereka tidak tahu kita memiliki kebebasan pers?”

“Mereka telah memasuki apartemen kita, Rosie,” kata Brill. “Mereka menguburnya di dalam abu.”

“Dan kau mau bersembunyi di lubang tikus?” Kata Rose.

“Aku sudah bilang padamu,” kata Brill padaku, sambil menaikkan alisnya tak berdaya.

“Yah, aku tidak mau. Dan aku juga tidak mau kau bersembunyi di balik rokku, seolah akulah yang kau lindungi. Dr. Younger, kau harus membantuku. Tolong katakan pada Dr. Freud kalau itu akan menghinaku jika lantaran demi keselamatanku penerbitan buku itu harus ditunda. Ini Amerika. Untuk apa orang-orang muda itu mati di Gettysburg?”

“Untuk menyakinkan bahwa segala perbudakan akan menjadikan upah seperti budak?” Kata Brill.

“Diamlah,” kata Rose. “Abraham telah bekerja keras untuk buku itu. Buku itu memberikan arti bagi hidupnya. Kami tidak kaya, tetapi kami memiliki dua hal di negeri ini yang membuat kami bernilai lebih dari yang lainnya: martabat dan kebebasan. Apa yang tersisa jika kita menyerah pada orang-orang seperti itu?”

“Sekarang ia berpidato untuk menjadi presiden,” komentar Brill sehingga membuat Rose menyerang bahunya dengan tas tangannya. “Tetapi kalian lihat mengapa aku

menikahinya.”

“Aku serius,” lanjut Rose sambil memperbaiki letak topinya. “Buku Freud harus diterbitkan. Aku tidak akan meninggalkan hotel ini hingga aku mengatakan padanya tentang hal itu sendiri.”

Aku menghargai keberanian Rose, namun Brill justru memarahi aku sambil menjelaskan kalau risiko terbesar yang pernah aku ambil adalah berdansa sepanjang malam dengan para pendatang baru yang sudah tua. Aku mengatakan, mungkin ia benar dan meminta Freud. Tampaknya ia tidak turun sama sekali pagi ini. Menurut Ferenczi yang sebelumnya mencoba mengetuk pintu kamarnyaia “belum dicernakan”. Lebihlebih, Ferenczi menambahkan, dalam suara samar-samar tadi malam terjadi pertengkaran hebat antara Freud dan Jung.

“Itu akan menjadi yang terburuk jika Freud melihat apa yang dikirimkan oleh Hall kepada Younger pagi ini,” kata Brill, sambil memberikan surat yang diambilnya dari petugas hotel.

“Kau tidak benar-benar membuka suratku, Brill?” Tanyaku.

“Ia benar-benar payah, kan?” Kata Rose, merujuk kepada suaminya. “Ia melakukannya tanpa memberitahu kami. Aku pasti akan melarangnya.”

“Itu dari Hall, demi Tuhan,” kata Brill protes. “Younger telah menghilang. Jika Hall berniat membatalkan kuliah Freud, apakah kita tidak perlu tahu?”

“Tidak mungkin,” kataku.

“Sangat jelas,” kata Brill. “Lihatlah sendiri.”

Amplopnya terlalu besar. Di dalamnya ada lembaran kulit hewan yang terlipat. Ketika aku meluruskannya, aku melihat satu halaman penuh, tujuh kolom artikel dalam

jenis koran dengan judul besar, “AMERIKA MENGHADAPI SAAT PALING TRAGISNYA”Dr. Carl Jung. Di bawahnya adalah sebuah foto sosok utuh Jung yang bermartabat dan berkacamata, yang disebut sebagai “psikiatris Swiss yang terkenal.” Yang aneh, kertas yang digunakan terlalu tebal dan bermutu terlalu tinggi untuk kertas koran. Lebih membingungkan lagi, tanggal yang tertera di atas adalah Minggu, 5 September, dua hari dari sekarang.

“Itu merupakan bukti tertulis dari sebuah artikel yang akan muncul di Times, hari Minggu,” kata Brill. “Bacalah catatan Hall.”

Dengan menekan rasa tidak senangku, aku mengikuti katakata Brill. Surat Hall berbunyi seperti ini:

Yang terhormat Younger,

Aku menerima tampiran itu hari ini dari keluarga yang telah menawarkan sejumlah besar donasi pada Universitas. Aku diberitahu tentang hal itu dari New York Times, yang akan terbit pada hari Minggu. Kau akan membaca apa yang tertulis. Keluarga itu cukup baik dengan memberitahuku sebelumnya bahwa aku mungkin akan bertindak sekarang, lebih baik dari pada setelah noda skandal itu menjadi tak terhindarkan. Mohon pastikan Dr. Freud bahwa aku tidak bermaksud membatalkan kuliahnya, yang sudah sangat aku tunggu. Namun jelas itu tidak akan memenuhi kebutuhannya atau kita, jika penampilannya di sini menarik perhatian secara khusus. Tentu saja aku sendiri tidak percaya pada ucapan yang tidak bertanggungjawab itu. Tetapi aku wajib mempertimbangkan apa yang mungkin dipikirkan orang

lain. Aku sangat berharap bahwa artikel koran ini tidak asli dan bahwa niat kita akan berlanjut tanpa keraguan dan tanpa gangguan. Hormatku, dll, dll.

Aku tidak setuju, namun surat itu menegaskan pandangan Brill kalau Hall akan membatalkan kuliah Freud. Siapa yang mengatur kampanye melawan Freud? Dan apa hubungannya Jung dengan ini semua?

‘Terus terang,” kata Brill, sambil merampas artikel koran itu dari tanganku, “aku tidak tahu siapa yang dirugikan dalam kisah bodoh ini, Freud atau Jung. Dengarkan ini. ‘Gadis-gadis Amerika menyukai gaya bercinta lelaki Eropa.’ Itu perkataan teman kita si Jung. Kau percaya itu? ‘Mereka lebih menyukai kita karena mereka pikir kita tidak terlalu berbahaya.’ Yang bisa ia katakan hanyalah betapa para gadis Amerika menginginkannya. ‘Wajar bagi perempuan untuk ingin merasa takut ketika mereka mencintai. Wanita Amerika ingin dikuasai dan dimiliki dengan cara Eropa kuno. Lelaki Amerika kalian hanya ingin menjadi putra yang patuh dari istrinya. ‘Tragedi Amerikan ini’ Ia benar-benar lepas kendali.”

“Tetapi itu bukan serang terhadap Freud,” kataku.

“Mereka menyuruh orang lain untuk menyuarakan Freud.”

“Siapa?” Tanyaku.

“Sumber yang tidak dikenal,” kata Brill, “dikenali hanya sebagai dokter yang berbicara bagi komunitas dokter yang ‘ternama’. Dengarkan apa yang dikatakannya:

“Aku sangat mengenal Dr. Sigmun Freud dari Wina sejak beberapa tahun yang lalu. Wina bukan kota yang wajar. Justru sebaliknya. Homoseksualitas, misalnya, di

sana dianggap sebagai tanda tempteramen asli. Pengalaman bekerja sama dengan Freud dalam laboratorium di sepanjang musim dingin, aku mengetahui bahwa ia menikmati kehidupan Winamenikmatinya secara keseluruhan. Ia tidak merasa menyesal terhadap praktik kumpul kebo, atau bahkan menjadi ayah dari hubungan luar nikah. Ia bukanlah seorang lelaki yang hidup dengan rencana besar istimewa. Teori ilmiahnya, jika memang begitulah seharusnya disebut, adalah hasil dari lingkungan Romawi kunonya dan kehidupan ganjil yang berlangsung di sana.” “Ya Tuhan,” kataku.

“Ini benar-benar serangan pribadi,” kata Ferenczi. “Apakah koran Amerika akan menerbitkan hal seperti itu?”

“Itu adalah kebebasan pres kalian,” kata Brill, yang menerima tatapan sayu dari istrinya. “Mereka telah menang. Hall akan membatalkannya. Apa yang dapat kita lakukan?”

“Freud tahu?” Tanyaku.

“Ya. Ferenczi mengatakan hal itu padanya,” kata Brill. “Aku memberikan garis besar artikel koran itu,” jelas Ferenczi, “lewat pintu. Ia tidak terlalu marah. Ia sudah pernah mendengar yang lebih buruk lagi.”

“Tetapi Hall belum,” kataku mengamati. Freud telah difitnah sejak lama. Ia sudah menduganya. Ia sudah terbiasa. Hall sendiri memiliki skandal yang sangat mengerikan seperti juga orang New Englander lainnya dari kelompok Puritan. Setelah menyatakan Freud sebagai seorang yang bebas di New York Times sehari sebelum inagurasi, perayaan Clark akan menjadi terlalu berat baginya. Dengan keras aku berkata, “Apakah Freud tahu siapakah orang di New York ini yang tahu bagaimana keadaannya di Wina?”

“Tidak ada,” seru Brill. “Kata Freud ia belum pernah bekerja sama dengan orang Amerika.”

“Apa?” Tanyaku. “Wah, itu kesempatan kita. Mungkin seluruh artikel itu hanya buatan. Brill, coba kau hubungi temanmu di Times. Jika mereka memang merencanakan untuk memuat ini, katakan pada mereka, itu palsu. Mereka tidak boleh menerbitkan kebohongan besar itu.”

“Dan apakah mereka akan memercayai katakataku?” Katanya.

Sebelum aku dapat menjawab, aku melihat Ferenczi dan Rose telah menatap ke sesuatu di belakangku. Aku berpaling dan melihat sepasang mata biru menatapku. Nora Acton.

Duapuluh Tiga

KUKIRA JANTUNGKU benar-benar berhenti berdetak selama beberapa detik. Setiap kali gambaran Nora Acton munculhelaian rambutnya yang terlepas menari-nari di atas pipinya, mata birunya yang memohon, lengannya yang ramping, tangan-tangan bersarung putih, bentuk meramping dari dada ke pinggangnyasemuanya bersatu melawanku.

Melihat Nora di lobi hotel, aku mengira aku lebih membutuhkan perawatan darinya. Pada satu sisi aku meragukan bahwa aku akan merasakan hal ini pada seseorang yaitu pada sisi lainnya, aku merasa jijik. Di kaison, ketika kematian menjadi begitu dekat denganku, aku hanya memikirkan Nora. Ketika sekarang melihatnya sendiri, sekali lagi, aku tidak dapat melupakan rahasia

kerinduanku padanya.

Aku pastilah telah berdiri untuk menatapnya lebih lama dari selayaknya batasan kesopanan. Rose Brill menyelamatkan aku, dan berkata, “Kau pastilah Nona Acton. Kami teman-teman dari Dr. Freud dan Dr. Younger. Ada yang bisa kami bantu, Nona?”

Dengan keanggunan yang mengagumkan, Nora menjabat tangan, sambil mengucapkan katakata ramah, dan memberi tahu tanpa mengatakannya bahwa ia ingin berbicara denganku. Aku tahu pasti bahwa gadis ini sedang terguncang batinnya. Sikapnya memukau,bukan lantaran ia baru tujuhbelas tahun.

Setelah berada jauh dari yang lainnya, ia berkata, “Aku sudah melarikan diri. Aku tidak tahu harus ke mana. Maafkan aku. Aku tahu aku tidak suka padamu.”

Kalimat terakhirnya seperti pisau pada jantungku. “Bagaimana kau bisa memiliki pengaruh itu pada seseorang, Nona Acton?”

“Aku melihat itu pada wajahmu. Aku benci Dr. Freud-mu. Bagaimana ia bisa tahu?”

“Mengapa kau melarikan diri?”

Mata gadis itu membelalak. “Mereka berencana untuk mengurungku. Mereka menelpon sanatorium, mereka menyebutnya perawatan istirahat. Ibuku telah menelpon mereka sejak fajar. Ia mengatakan pada mereka bahwa aku memiliki khayalan yang datang menyerang pada malam hari. Ia mengatakan itu dengan meninggikan suaranya supaya ia yakin kalau aku, Bapak dan Ibu Biggs dapat mendengarnya. Mengapa aku tidak bisa mengingatnya lagi…, dengan lebih wajar?”

“Karena lelaki itu memberimu chloroform.”

“Chlorofrom?”

“Obat bius untuk melakukan operasi,” aku melanjutkan. “Itu membuatmu mengalami apa yang kau alami.”

“Kalau begitu ia memang ada di sana malam itu. Aku tahu itu. Mengapa ia lakukan itu?”

“Sehingga tampaknya kau melakukan hal itu sendiri. Lalu tidak ada yang memercayaimu tentang serangan itu,” kataku.

Ia menatapku lalu berpaling.

“Aku telah mengatakan pada Detektif Littlemore,” kataku.

“Apakah Tuan Banwell akan datang padaku lagi?” “Aku tidak tahu.”

“Setidaknya orang tuaku tidak bisa mengirimku ke sana sekarang.”

“Mereka bisa,” kataku. “Kau anak mereka.” “Apa?”

“Keputusan berada pada tangan mereka, selama kau masih di bawah umur,” aku menjelaskan. “Orang tuamu mungkin tidak memercayaiku. Kita tidak dapat membuktikannya. Chloroform tidak meninggalkan jejak.”

“Seseorang harus berumur berapa hingga bisa dianggap bukan anak-anak lagi?” Tanyanya dengat tibatiba mendesak.

“Delapanbelas.”

“Aku akan berumur delapanbelas hari Minggu ini.”

“Begitukah?” Aku baru akan berkata bahwa karena itu ia tidak perlu takut akan kurungan paksa, tetapi ada dugaan yang menghalangiku.

“Ada apa?” Tanyanya.

“Kita harus mencegah mereka hingga hari Minggu, Jika mereka berhasil memasukkanmu ke rumah sakit hari ini, atau besok, kau tidak bisa dikeluarkan hingga orang

tuamu mengizinkanmu.”

“Walau aku sudah berusia delapanbelas tahun?” “Walau setelah itu.”

“Aku akan melarikan diri,” katanya, “aku tahu…, sebuah pondok musim panas kami. Sekarang mereka sudah kembali. Di sana kosong. Mereka tidak akan mencariku ke sana sebelum mencari ke tempat lainnya. Itu adalah tempat yang paling tidak mereka curigai. Kau bisa membawaku ke sana? Hanya satu jam perjalanan dengan ferry. The Day Line berhenti tepat di Tarry town jika kau bertanya pada mereka. Kumohon, Dokter. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”

Aku mempertimbangkannya. Membawa Nora ke luar kota sangat masuk akal. George Banwell benar-benar telah memasuki kamarnya tanpa diketahui. Mungkin saja ia akan melakukannya lagi. Nora hampir tidak mungkin pergi naik ferry sendirian: tidak aman bagi seorang perempuan muda, terutama lantaran daya pikatnya. Semuanya dapat menunggu hingga malam ini. Freud terperangkap di tempat tidurnya. Jika usaha Brill untuk menghubungi kawannya di New York Times tidak berhasil, langkah berikutnya bagiku adalah pergi ke Worcester sendiri untuk berbicara dengan Hall, tetapi aku bisa melakukannya besok.

“Aku akan mengantarmu,” kataku.

“Kau akan mengenakan jas ini?” Tanyanya.

g

SETENGAH JAM SETELAH harian pagi dikirimkan, pelayan Tuan Banwell memberitahu Clara kalau seorang tamu menunggunya di ruang depan. Clara mengikuti pelayannya

ke ruang itu yang berlantai pualam. Di sana pelayannya sedang memegangi topi milik seorang tamu lelaki berbadan kecil, pucat dalam jas cokelat, dengan mata seperti manik-manik yang hampir putus asa, kumis seperti semak-semak, dan alis yang juga seperti semak-semak.

Clara terkejut ketika melihatnya, “Dan Anda ini siapa?” Tanyanya dengan kaku.

“Ahli otopsi Charles Hugel,” katanya dengan tidak kurang kakunya, “Aku kepala penyidikan pembunuhan Elizabeth Riverford. Aku ingin berbiara denganmu, kalau boleh.”

“Aku mengerti,” kata Clara. Ia berpaling kepada Parker, pelayannya. “Jelas ini adalah urusan Tuan Banwell, Parker, bukan aku.”

“Maaf, Bu,” kata Parker, “Bapak ini ingin bicara dengan Ibu.”

Clara berpaling kembal pada Hugel. “Anda ingin bicara denganku, Pak…, Pak…?”

“Hugel,” kata Hugel. “Aku…, tidak, aku hanya berpikir, suamimu sudah pergi, Bu Banwell, maka…,”

“Suamiku belum pergi,” kata Clara. “Parker, beritahu Tuan Banwell bahwa ada tamu, Pak Hugel. Aku yakin Anda bisa membiarkan saya masuk.” Beberapa menit kemudian, dari ruang riasnya, Clara mendengar aliran sumpah serapah dalam suara berat George Banwell, diikuti dengan sebuah bantingan pintu depan. Lalu Clara mendengar langkah kaki berat suaminya mendekat. Sesaat kemudian, tangan Clara yang sedang membedaki wajah cantiknyamulai bergetar, hingga ia menekannya sampai diam.

9

SATU SEPEREMPAT JAM KEMUDIAN, Nora Acton dan aku berlayar di Sungai Hudson dengan menumpangi sebuah kapal uap menuju ke utara melewati Orange clift (tebing Jingga) yang spektakuler di New Jersey. Kami telah meninggalkan Hotel Manhattan melalui sebuah pintu ruang bawah tanah setelah aku mengganti pakaian. Di pinggiran sungai di New York, sebuah armada kapal-kapal kayu dengan tiang sebanyak tiga buah, berlabuh di bawah Grant’s Tomb. Layar putihnya lambat berkibaran di bawahnya. Mereka adalah bagian dari perayaan Hudson Fulton musim gugur ini. Beberapa gumpal awan mengambang di langit bersih. Nona Acton duduk pada sebuah bangku dekat haluan kapal. Rambutnya seperti mengalir dan kusut karena tiupan angin.

“Indah, bukan?” Katanya.

“Jika kau menyukai kapal,” kataku.

“Kau tidak suka?”

“Aku benci kapal,” kataku. “Pertama-tama anginnya. Jika orang ingin menikmati angin menerpa wajahnya, mereka seharusnya berdiri di depan sebuah kipas angin listrik saja. Lalu asap pembuangannya, dan peluit nerakanya…, pemandangan menjadi sangat jelas, tidak ada orang di sekitarnya sejauh bermil-mil, namun mereka tetap saja meniupkan peluit itu begitu keras sehingga bisa membunuh sekumpulan ikan.”

“Ayahku menarikku dari Barnard pagi ini. Ia membatalkan pendaftaran. Ibu yang menyuruhnya.”

“Itu bisa dikembalikan,” kataku dengan rasa malu karena telah meracau begitu menggelikan.

“Apakah ayahmu mengajarimu menembak, Dr. Younger?” Tanyanya.

Pertanyaan itu mengejutkanku. Aku tidak dapat mengatakan apakah yang dimaksud dengan hal itu, atau apakah ia sendiri tahu apa maksud dari pertanyaannya?

“Apa yang membuatmu menduga aku dapat menembak?” Tanyaku.

“Bukankah semua lelaki di kelas sosial kita dapat menembak?” Ia mengucapkan kata kelas sosial terdengar nyaris menghina.

“Tidak,” kataku, “kecuali kau memasukkan menembak mulut orang (shooting one’s mouth off).”

“Nah, kau bisa,” katanya. “Aku melihatmu.”

“Di mana?”

“Aku sudah katakan: di pameran kuda tahun lalu. Kau bersenang-senang di galeri menembak.” “Begitukah?”

“Ya,” katanya. “Kau tampak sangat menikmatinya.”

Aku lama menatapnya, untuk melihat seberapa banyak hal yang diketahuinya. Peristiwa bunuh diri yang menimpa ayahku melibatkan senjata. Tidak bermaksud menyatakan hal yang terlalu peka, tetapi otaknya berhamburan. “Pamanku mengajariku,” kataku. “Bukan ayahku.”

“Pamanmu yang mana, Schermerhorn atau Fish?”

“Kau tahu tentang diriku lebih banyak dari yang kukira, Nona Acton.”

“Lelaki yang mendaftarkan dirinya di Daftar Sosial, seharusnya tidak boleh mengeluh jika hubungannya menjadi diketahui umum.”

“Aku tidak mendaftarkan diriku. Aku terdaftar seperti juga dirimu.”

“Apakah kau bersedih ketika ia meninggal?”

“Siapa?”

“Ayahmu.”

“Apa yang ingin kau ketahui, Nona Acton?” “Kau bersedih?”

“Tidak seorang pun akan berduka untuk orang yang bunuh diri.”

“Begitukah? Ya, kukira kematian seorang ayah adalah hal lumrah. Ayahmu kehilangan ayahnya, dan ayah yang itu juga kehilangan ayahnya.”

“Kukira kau membenci Shakespeare.”

“Bagaimana rasanya, Dokter, dibesarkan oleh orang yang kau benci?”

“Bukankah kau lebih tahu dari aku, Nona Acton?” “Aku?” Tanyanya. “Aku dibesarkan oleh seseorang yang kucintai.”

“Kau tidak memperlihatkan perasaan itu ketika kau berbicara tentang orang tuamu.”

“Aku tidak berbicara tentang orang tuaku,” kata Nora. “Aku bicara tentang Ibu Biggs.” “Aku tidak membenci ayahku,” kataku.

“Aku membenci ayahku. Setidaknya aku tidak takut mengatakannya.”

Angin bertiup semakin keras. Mungkin cuaca berubah. Nora terus menatap pantai. Apa yang sebenarnya dikehendaki Nora dariku? Aku tidak tahu.

“Kita punya persamaan, Nona Acton,” kataku. “Kita berdua tumbuh besar dengan harapan tidak mau menjadi seperti orang tua kita. Keduanya. Tetapi Dr. Freud mengatakan, pertentangan memperlihatkan banyak kasih sayang seperti juga kepatuhan.”

“Aku mengerti kau telah mencapai pemisahan diri itu.”

Beberapa menit kemudian, ia memintaku menceritakan lebih banyak padanya tentang teori-teori Freud. Aku menjelaskannya, namun menghindari setiap makna kata

Oedipus dan apa pun yang berhubungan dengannya. Dengan menerobos etika profesional, aku menggambarkan baginya beberapa pasienku yang terdahulu tentu saja tanpa menyebutkan namanyaberharap untuk dapat memberikan gambaran tentang proses pemindahan (transference) dan efek ekstrimnya pada pasien analitis. Hingga di sini aku menceritakan padanya tentang Rachel, gadis yang mencoba membuka pakaiannya untukku pada setiap sesi perawatannya.

“Apakah ia menarik?” Tanya Nora.

“Tidak,” kataku berbohong.

“Kau bohong,” katanya. “Lelaki selalu suka gadis semacam itu. Kukira kau bercinta dengannya.”

“Tentu saja tidak,” kataku yang terkejut lantaran keterusterangannya.

“Aku tidak jatuh cinta padamu, Dokter,” katanya seolah-olah itu adalah jawaban yang sempurna dan logis. “Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku sudah salah mengira bahwa aku memiliki perasaan padamu kemarin, tetapi ternyata itu adalah hasil dari keadaan yang diciptakan dan pernyataan kasih sayangmu sendiri padaku.”

“Nona Acton…,”

“Jangan takut. Aku tidak menyalahkan dirimu. Aku mengerti bahwa apa yang kau katakan kemarin, tidak lagi merupakan cerminan perasaanmu yang sesungguhnya, seperti yang kukatakan kemarin juga bukan lagi perasaanku yang sesungguhnya. Aku tidak mempunyai perasaan terhadapmu. Ini, pemindahanmu, yang membuat para pasienmu bisa mencintaimu atau membencimu, tidak ada hubungannya denganku. Aku pasienmu, seperti yang kau katakan. Itu saja.”

Aku membiarkan kata-katanya berlalu tanpa jawaban

ketika ferry meluncur di atas sungai

g

MENJELANG SORE pada hari Jumat, Detektif Littlemore berdiri di luar sebuah sel kecil yang kotor di dalam sebuah bangunan besar berwarna kelabu yang dikenal sebagai Tombs. Tidak ada cahaya matahari, tidak jendela di manapun. Di samping Littlemore adalah seorang penjaga penjara. Mereka berdua sedang menatap, melalui sebuah pintu berjeruji besi, tubuh terlentang Chong Sing. Dia tergeletak tidak sadar di atas tempat tidur lipat yang kusam. Pakaian dalam putihnya kotor sekali. Kakinya telanjang dan kotor.

“Ia sedang tidur?” Tanya Littlemore.

Dengan tertawa si penjaga menjelaskan bahwa Sersan Becker telah membuat Chong tidak tidur tadi malam. Littlemore pada awalnya terkejut mendengar nama Becker di sebut. Lalu ia sadar kalau Nona Sigel ditemukan di Tenderloin, maka interogasi tentu saja dilakukan oleh Becker. Namun, detektif Littlemore bingung, Chong telah bicara kemarin; ia telah mengakui melihat Leonsepupunyamembunuh gadis itu. Begitulah kata McClellan. Apa lagi yang diinginkan Becker darinya tadi malam?

Si penjaga penjara dapat menjawab pertanyaan itu. Becker-lah yang membuat Chong berbicara. Tetapi Chong tidak mau mengakui ia telah membantu pembunuhan itu. Ia bersikeras telah masuk ke kamar Leon setelah gadis itu tewas.

“Dan Becker tidak percaya?” Tanya Littlemore. Si penjaga bergumam sedikit dan menggelengkan kepalanya. “Ia benar-benar membuatnya tidak tidur semalaman. Seperti yang kukatakan. Kau harus melihatnya tadi malam.”

Chong Sing yang tertidur, berbalik badan di atas ranjang sambil membuka mata kanannya yang ungu dan bengkak seperti buah plum. Darah kering tampak di bawah hidung dan di bawah telinganya. Hidungnya mungkin telah patah, tetapi Littlemore tidak yakin hal itu.

“Ya, ampun,” kata detektif Littlemore, “Ia terluka?”

“Hmm.”

Littlemore meminta penjaga itu membuka sel. Ia mernbangungkan Chong. Detektif Littlemore menarik sebuah kursi dan menyalakan rokok, lalu menawarkannya juga pada lelaki Cina itu. Chong melihat interrogator barunya dengan tidak senang. Ia mengambil rokoknya.

“Aku tahu, kau mengerti bahasa Inggris, Pak Chong,” kata Littlemore, “aku mungkin bisa membantumu. Kau hanya menjawab beberapa pertanyaanku saja. Kapan kau mulai bekerja pada Banwell, akhir bulan Juli?”

Chong Sing mengangguk.

“Bagaimana tentang di bawah jembatan?” Tanya detektif Littlemore.

“Mungkin sama harinya,” katanya serak. “Mungkin beberapa hari kemudian.”

“Jika kau tidak di sana, Chong, bagaimana kau melihatnya?” Tanya Littlemore.

“Hah?”

“Jika kau masuk ke dalam kamar Leon setelah ia membunuh gadis itu, bagaimana kau tahu ia telah membunuhnya?”

“Aku sudah mengatakannya,” kata Chong, “aku mendengar perkelahian, Aku melihatnya dari lubang kunci.”

Littlemore mengerling pada si penjaga, yang

menegaskan bahwa Chong telah menceritakan kisah yang sama sebelum ini. Detektif Littlemore kembali berpaling pada Chong Sing. “Benar begitu?” “Benar,” kata Chong Sing

“Tidak, tidak begitu. Aku di sudah pernah ke kamar Leon, Pak Chong, ingat?” Kata Littlemore. “Aku mengambil kuncinya. Aku mengintai melalui lubang kunci yang sama. Aku tidak bisa melihat apa-apa dari sana.”

Chong Sing terdiam.

“Bagaimana kau mendapatkan pekerjaan itu, Chong? Bagaimana kau mendapatkan dua pekerjaan dari Tuan Banwell?”

Lelaki Cina itu menggerakkan bahunya. “Aku sedang mencoba menolongmu,” kata Littlemore. “Leon,” kata orang Cina itu lirih, “Ia yang mencarikan pekerjaan untukku.”

“Bagaimana Leon mengenal Banwell?” “Aku tidak tahu.” “Kau tidak tahu?”

“Aku tidak tahu,” kata Chong pasti. “Aku tidak membunuh siapa pun.”

Littlemore berdiri dan memberi tanda pada si penjaga untuk membuka pintu sel lagi. “Aku tahu kau tidak membunuh,” katanya.

g

PONDOK MUSIM PANAS MILIK KELUARGA ACTON adalah sebuah tempat yang khas di New Port. Artinya, sebuah rumah yang memang mengesankan melebihi kelas para raja Eropa yang lebih rendah. Aku ingin kembali ke kota setelah mengantar Nora hingga ke depan pintu,

tetapi ternyata aku tidak bisa. Aku tidak mau meninggalkannya sendirian, walau di sini.

Para pelayan menyambut Nora dengan hangat. Mereka membuka pintu-pintu dan jendela dengan heboh. Mereka tampaknya tidak tahu apa-apa tentang hal yang tengah menimpa Nora. Walau hampir tidak terucap, tampaknya Nora ingin memperlihatkan kepadaku segalanya. Ia membawaku mengelilingi lantai satu rumah utama. Tangga pualam sayap ganda membawa naik dari ruang depan berlantai dua. Ke sebelah kanan ada kubah dari kaca patri; ke sebelah kiri sebuah ada perpustakaan segi delapan yang bertiang kayu. Pilar-pilar pualam dan gips kemilau ada di mana-mana.

Di bagian belakang ada beranda berlangit-langit keramik. Sebuah halaman berumput hijau dan pepohon ek yang tinggi tampak berjajar menuju ke jauh sungai di bawah. Gadis itu beranjak memasuki kehijauan. Aku mengikutinya, dan tidak lama kami tiba di kandang kuda, yang udaranya tercium aroma kuda dan jerami segar. Tampaknya tukang masak telah mengambil inisiatif menyediakan keranjang piknik di kandang kuda, kalaukalau Nona Nora menghendaki berkuda.

Gadis itu ternyata penunggang kuda sebaik diriku. Setelah berkuda dengan cepat, kami berhenti dan menebar alas di bawah teduhan pepohonan dengan pemandang indah sungai Hudson. Di dalam keranjang piknik, kami menemukan selusin kepiting besar yang dibungkus dalam es, ayam dingin, kroket kentang, satu kaleng penuh biscuit soda, selada ceri dan semangka. Disertakan juga satu teko ice tea, dan setengah botol minuman beralkohol, yang ternyata untuk “Tuan-tuan.” Aku belum makan apa pun sejak kemarin malam.

Ketika kami selesai makan, Nora bertanya padaku, “Kau seorang yang jujur?”

“Kalau aku salah,” kataku, “tetapi itu juga karena aku aktor yang buruk. Apakah para pelayanmu akan mengatakan pada orang tuamu kau ada di sini?”

“Tidak ada telepon di sini.” Ia membuka topi pana-manya, membiarkan sinar matahari terperangkap di dalam rambutnya. “Aku minta maaf karena sikapku di ferry tadi, Dokter. Aku tidak tahu mengapa aku mengungkit soal ayahmu. Maafkan aku, kumohon. Aku merasa aku berada di dalam sebuah rumah yang sedang terbakar musnah dan tidak ada jalan keluar. Clara adalah satusatunya orang yang dapat kumintai pertolongan. Sekarang ia tidak bisa lagi.”

“Ada satu jalan keluar,” kataku. “Kau tinggal di sini hingga hari Minggu. Kau akan berusia delapanbelas tahun sehingga aku sudah bisa terlepas dari pengendalian orang tuamu. Ketika itu juga aku, kalau aku beruntung, bersama Detektif Littlemore akan melacak buktibukti yang kami temukan untuk menangkap Banwell.”

“Bukti apa?”

Aku pun mengatakan pada Nora tentang perjalananku ke kaison. Bahkan sekarang, aku menjelaskan, Detektif Littlemore mungkin sudah dapat menegaskan bahwa barang-barang di dalam koper itu adalah milik Nona Riverford, yang akan kami gunakan untuk menangkap Banwell. Mungkin Banwell sudah ditangkap sekarang.

“Aku sangat meragukannya,” kata Nora sambil memejamkan matanya. “Katakan yang lainnya.”

“Apa?”

“Ceritakan apa saja selama itu bukan menyangkut George Banwell.”

9

DI DALAM RUMAH KELUARGA ACTON, di Gramercy Park, ibu Nora sedang menggeledah kamar putrinya. Nora telah menghilang. Mildred Acton menyuruh Ibu Biggs mencari Nora di taman, tetapi gadis itu tidak ada di sana. Perasaan tertipu oleh putrinya membuatnya marah. Tampaknya putrinya gila, jahat dan gila. Segala yang dikatakannya tidak dapat dipercaya. Ibu Acton telah melihat rokok dan alat rias yang ditemukan di kamar putrinya. Apa lagi yang mungkin disembunyikannya di sana?

Ibu Acton tidak menemukan apa-apa lagi yang dapat disita hingga ia meraba di bawah batal putrinya. Ia heran karena menemukan sebilah pisau dapur.

Penemuan itu mengakibatkan keanehan pada diri Mildred Acton. Dalam beberapa detik, serangkaian gambar mengerikan berkelebatan di dalam benaknya. Di antaranya adalah tentang kelahiran anak satusatunya. Setelah itu ia menjadi ingat betapa setelah kejadian tersebut, ia dan suaminya tidur berpisah kamar. Sesaat kemudian, bayangan yang dipenuhi darah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal itu telah menghilang. Ibu Acton telah benar-benar melupakannya, tetapi kenangan itu membuatnya mengambil satu sikap. Ia merasa sangat perlu melindungi putrinya dari dirinya sendiri, lalu mengembalikan pisau tersebut ke tempatnya di dapur.

Ibu Acton berharap suaminya akan melakukan sesuatu dan tidak menjadi selemah itu. Tuan Harcourt Acton selalu bersembunyi di ruang kerjanya atau bermain polo di desa. Ia sangat memanjakan Nora. Tetapi kemudian

Harcourt merupakan orang yang gagal dalam segala hal. Jika ia tidak mewarisi harta sedikit dari orang tuanya, lelaki itu akan berakhir di rumah miskin. Mildred sering kali mengatakan hal itu.

Ibu Acton memutuskan kalau ia harus menelpon Dr. Sachs untuk mendapatkan pijat elektro lagi. Benar, ia baru saja menerima perawatan itu kemarin dan harus membayarnya dengan biaya yang sangat mahal. Tetapi ia merasa tidak dapat hidup tanpa itu. Dr. Sachs sangat ahli dengan peralatannya. Seandainya saja ia dapat menemukan dokter Kristen yang sama ahlinya, maka akan lebih baik lagi, begitulah yang terbetik dalam benaknya. Tetapi bukankah semua orang mengatakan bahwa dokter terbaik adalah orang Yahudi?

g

TENTU SAJA OTAKKU MENJADI KOSONG ketika Nora memintaku mengatakan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya. Kemudian aku ingat sesuatu. “Tadi malam,” kataku, “aku memecahkan To be, or not to be.”

“Aku tidak tahu bahwa itu harus ada pemecahannya,” katanya.

“Oh, orang-orang sudah berusaha untuk memecahkannya selama berabad-abad. Tetapi tidak seorang pun bisa, karena semua orang selalu menganggap bahwa not to be artinya mati.”

“Bukankah memang begitu?”

“Well, terdapat masalah jika kau membacanya seperti itu. Dilihat dari seluruh isi pidatonya yang menyetarakan not to be dengan tindakan seperti mengangkat senjata,membalas dendam, dan seterusnya. Jadi jika not to be

berarti mati, maka kematian akan memiliki sebutan dari tindakan pada sisi dari mati, padahal jelas nama itu milik hidup. Bagaimana tindakan berada di sisi kematian? Jika kita bisa menjawab pertanyaan itu, kita akan tahu mengapa, bagi Hamlet, to be artinya tidak bertindak, dan kemudian kita harus memecahkan teka-teki yang sesungguhnya yaitu mengapa ia tidak bertindak, mengapa ia lumpuh begitu lama. Aku telah membuatmu bosan, maafkan aku.”

“Tidak sama sekali. Tetapi not to be hanya bisa berarti kematian,” kata Nora. “Not to be artinya,” ia menggerakkan bahunya, “not to be.”

Sebelumnya aku sedang berbaring miring, tapi sekarang aku duduk. “Tidak. Maksudku ya. Maksudku, not to be memiliki arti kedua. Lawan dari hidup tidak hanya kematian. Tidak bagi Hamlet. Mati juga artinya tampaknya (seem).”

“Tampaknya apa?”

“Tampaknya, saja.” Aku berdiri, berjalan dan, aku malu mengatakan, sambil mengertakkan jemariku dengan kuat, “Kuncinya sudah ada di sana sejak lama, pada awal drama tersebut, ketika Hamlet berkata, ‘Tampaknya, Bu? Tidak, aku tidak mengenal tampaknya’i. Coba pikirkanlah. Denmark berduka. Semua orang harus berduka cita atas kematian ayah Hamlet. Ibunya terutama harus berduka. Ia, Hamlet, harus menjadi Raja. Namun, Denmark merayakan pernikahan ibunya denganyang bagi semua orang paman yang paling mereka benci, yang juga telah mendapatkan tahta.

“Dan apa yang paling menyakitkan baginya adalah

i Dalam bahasa inggris kalimat itu berbunyi, ‘Seems, madam? Nay it is. I know not seems’

keberpura-puraan untuk berduka, tampaknya, pakaian hitam itu, telah dikenakan oleh orang-orang yang sebenarnya tidak sabar menunggu untuk berpesta di depan meja-meja pernikahan dan bergembira seperti hewan di atas tempat tidur mereka. Hamlet tidak mau menjadi bagian dari dunia seperti itu. Ia tidak mau berpura-pura. Ia menolak menjadi orang yang tampaknya sedang berduka. Karena dia memang berduka.

“Lalu ia mengetahui siapa pembunuh ayahnya. Ia bersumpah untuk membalas dendam. Tetapi dari situ dan selanjutnya, ia memasuki dunia yang tampaknya adalah dunia. Langkah pertamanya adalah untuk berpura-pura bersikap tertawa-tawa menjadi gila. Kemudian ia mendengarkan dengan kagum pada seorang aktor yang menangisi Hecuba. Kemudian ia benar-benar menyuruh para pemain untuk berpura-pura dengan lebih meyakinkan. Ia bahkan menulis sebuah naskah untuk dirinya sendiri, tetapi itu sebenarnya akan menghidupkan kembali peristiwa pembunuhan ayahnya, sehingga membuat pamannya terkejut dan mengakui kesalahannya.

“Ia gagal memasuki area permainan, dalam keberpura-puraan. Bagi Hamlet, To be, or not to be bukanlah to be, atau tidak ada. Baginya ‘to be, atau to seem’ [ada atau berpura-pura]: itulah keputusan yang harus dibuatnya. Berpura-pura adalah bertindak atau berperanmemainkan sebuah peranan. Itu adalah pemecahan dari seluruh drama Hamlet. Di sana itulah, di depan hidung semua orang. Not to be itulah yang dimaksud dengan to seem. Karena itu To be, bukanlah ‘tidak berperan.1 Karena itulah ia menjadi lumpuh! Ham-let bersikeras untuk tidak berpura-pura, dan itu artinya tidak pernah bertindak. Jika ia terus berpegang pada niatnya itu, jika ia mau ada,

maka ia tidak bisa bertindak. Tetapi jika ia ingin mengangkat sejata dan membalas kematian ayahnya, ia harus bertindak. Berarti ia harus memilih untuk berpura-pura, bukan memilih ada.”

Aku menatap wajah pendengarku satusatunya.

“Aku mengerti,” katanya. Karena ia harus menipu untuk mengalahkan pamannya.”

“Ya, ya, tetapi itu juga universal. Semua tindakan itu adalah berperan. Segala penampilan itu pertunjukan. Ada alasan mengapa kata itu mempunyai arti ganda. Merancang artinya merencanakan, tetapi juga menipu. Membuat adalah menciptakan dengan keahlian, tetapi juga menipu. Kesenian artinya tipu daya. Keahlian juga tipu daya. Tidak terhindarkan. Jika kita ingin berperan di dunia, kita harus bertindak. Misalnya, seorang lelaki melakukan terapi psikoanalisa kepada seorang wanita. Ia menjadi dokternya, lelaki itu memangku sebuah peran. Itu tidak berbohong, tetapi berperan. Jika ia melepaskan peran bersama gadis itu, lelaki itu memerankan peran yang lainnya sebagai teman, kekasih, suami, atau apa pun namanya. Kita bisa memilih peran apa yang akan kita mainkan, tetapi hanya itu.”

Alis Nora bertaut. “Aku telah berperan,” katanya. “Denganmu.”

Hal itu memang terkadang terjadi: saat kebenaran meledak tepat di tengah skenario yang lain, di saat pemeranan ada di tempat lain dan perhatian teralihkan. Aku tahu apa yang seharusnya ia bicarakan yaitu khayalan rahasianya tentang ayahnya, yang telah diakuinya kemarin. Tetapi ia juga berusaha untuk menutupinya, tentu saja. “Itu kesalahanku,” jawabku. “Aku tidak ingin mendengarkan kebenaran itu. Aku merasakan hal yang

sama tentang Hamlet sejak lama sekali. Aku tidak mau memercayai bahwa pandangan Freud tentang drama itu benar.”

“Dr. Freud mempunyai pandangan tentang Hamlet?” Tanyanya.

“Ya, itu…, itu yang tadi kukatakan padamu. Bahwa Hamlet memiliki keinginan terpendam untuk…, untuk bercinta dengan ibunya.”

“Dr. Freud mengatakan begitu?” Serunya. “Dan kau memercayainya? Menjijikkan sekali.”

“Yah, begitulah, tetapi aku agak terkejut mendengarmu berkata begitu.”

“Mengapa?” Tanyanya.

“Karena yang telah kau ucapkan kemarin.”

“Apa yang kukatakan?”

“Kau mengaku,” kataku, “kau memiliki keinginan semacam incest.” “Kau gila.”

Aku merendahkan suaraku tetapi berbicara dengan tegas. “Nona Acton, kau mengakuinya padaku di taman kemarin, dengan sangat jelas, bahwa kau cemburu ketika melihat Clara Banwell bersama ayahmu. Kau berkata kau berharap bahwa kaulah yang…,”

Wajahnya memerah. “Hentikan! Ya, aku mengatakan aku cemburu, tetapi bukan pada Clara! Menjijikkan sekali! Aku cemburu pada ayahku!”

Kami saling berhadapan, sama-sama berdiri sekarang, dibatasi oleh selimut wol. Sepasang bajing, yang sejak tadi bermain-main di dekat dahan pohon, terpaku dari kegiatannya dan menatap kami dengan curiga. “Karena itu kau berpikir kau menjijikkan?” Tanyaku.

“Ya,” bisiknya.

“Itu tidak menjijikkan,” kataku, “setidaknya tidak untuk dibandingkan.”

Kalimatku tidak menghiburnya. Aku menyentuh pipinya. Ia tertunduk. Aku memegangi dagunya. Aku mengangkat wajahnya ke dekat wajahku, kemudian aku membungkuk ke dekatnya. Nora mendorongku.

“Jangan,” katanya.

Ia tidak mau menatapku. Ia menjauh dariku dan membereskan perlengkapan piknik, mengumpulkan sisa-sisanya, memasukkannya ke dalam keranjang, dan membersihkan remah-remah dari selimut. Tanp a bicara, kami menunggang ke kandang kuda dan masuk ke rumah.

Maka semua keberatan lantaran etika kesopanan terhadap mengambil keuntungan dari perpindahan ketertarikan Nora kepadakuseandainya memang begitutelah melebur ketika ia mengakui bahwa ia memiliki gairah Sapphic [lesbianisme], bukan incest. Aku malu karena telah mengetahuinya, tetapi masuk akal juga. Ketika aku mengetahui yang sebenarnya, aku tidak lagi merasa Nora akan mencium ayahnya seperti ia menciumku. Mungkin aku harus menyimpulkan ia akan mencium Clara, tetapi rasanya tidak seperti itu.

Rumah utama sekarang sunyi. Udara sore musim panas benar-benar senyap. Ruang-ruang berperabotan besar, berbayang-bayang dan kosong. Semua jendela ditutup lagi untuk menjaga sinar matahari agar tidak merusak tirai dan perabotanAku kira. Nora, sambil termenung tanpa bicara, membawaku ke perpustakaan segi delapan yang berisi barang-barang ukiran kayu indah. Ia mengunci pintu di belakang kami, lalu menunjuk pada sebuah kursi bertangan. Aku disuruh duduk di atasnya, dan aku mematuhinya. Nora berlutut di lantai, di depanku.

Untuk pertama kalinya sejak ia menolakku ia berkata, “Kau ingat ketika pertama kali kau melihatku? Ketika aku tidak bisa bicara?”

Aku tidak bisa membaca ekspresi wajahnya. Ia tampak sangat menyesal dan sekaligus polos. “Tentu saja,” kataku.

“Aku tidak kehilangan suaraku.” “Maaf?”

“Aku hanya berpura-pura,” katanya.

Aku tidak ingin memperlihatkan betapa tibatiba mulutku terasa kering sekali. “Karena itulah kau dapat berbicara keesokan harinya,” kataku.

Ia mengangguk.

“Mengapa?” Tanyaku.

“Dan amnesiaku.”

“Ada apa dengan itu?”

“Itu juga bukan amnesia yang sesungguhnya,” katanya.

“Kau tidak mengalami amnesia?” “Aku hanya berpura-pura.”

Gadis itu menatapku. Aku merasakan hal yang aneh, kurasa ia adalah seseorang yang belum pernah kukenal.

Aku berusaha untuk kembali menjajaki kembali apa yang kutahu, atau apa yang kukira bahwa aku tahu, tentang fakta ini. Aku berusaha untuk menyusun kembali semua berbagai kejadian minggu lalu, supaya aku mengertitetapi tidak bisa.

“Mengapa?”

Ia menggelengkan kepalanya, sambil menggigit bibir bawahnya.

“Kau mencoba untuk menghancurkan Banwell?” Tanyaku. “Kau akan mengatakan ia yang melakukannya?”

“Ya.”

“Tetapi artinya kau berbohong.”

“Ya. Tetapi yang lainnyahampir semuanya benar.”

Ia tampak memohon simpatiku. Aku tidak merasakan apa-apa. Tidak heran ia mengatakan pemindahan itu tidak berpengaruh padanya. Aku tidak melakukan terapi psikoanalisa padanya sama sekali. “Kau mempermainkan aku,” kataku.

“Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak bisa…, itu terlalu…,”

“Segala yang kau katakan padaku itu bohong?”

“Tidak. Banwell memang merayuku ketika aku berusia empatbelas tahun. Ia mencoba lagi ketika aku berusia enambelas tahun. Dan aku memang melihat ayahku bersama Clara. Di sini, di ruangan ini.”

“Kau mengatakan kau melihat ayahmu dan Clara di rumah Banwell.”

“Ya.”

“Mengapa kau berbohong tentang itu?” “Aku tidak berbohong.”

Pikiranku berputar dan meraba-raba. Aku ingat sekarang yaitu rumah musim panas orangtuannya di Berkshires, di Massachusetts. Kami tidak berada di rumah musim panas orang tuanya sama sekali. Kami ada di rumah Banwell. Para pelayan mengenalnya bukan karena mereka adalah pelayannya, tetapi karena Nora sering datang ke rumah ini. Kenyataan dari keadaan ini, tibatiba menjadi rapuh, seolah akan retak. Aku berdiri. Ia menggoyangkan tangannya dan menatapku.

“Kau melakukan itu semua pada tubuhmu sendiri,” kataku. “Kau mencambuki dirimu sendiri. Kau takut pada dirimu sendiri. Kau membakar dirimu sendiri.”

Ia meggelengkan kepalanya.

Serangkaian kenangan muncul dalam benakku. Pertama, membantu Nora menaiki kereta kuda di luar hotel. Tanganku hampir membungkus pinggangnya, termasuk bagian bawah tulang punggungnya, namun ia tidak meringis kesakitan. Ketika aku menyentuh lehernya, untuk memancing kenangannyayang ternyata adalah kebohonganaku memegangi punggung kecilnya sekali lagi. Lagi, ia tidak meringis. “Kau tidak terluka sama sekali,” kataku. “Kau memalsukan semuanya. Kau menggambari tubuhmu, dan tidak memperbolehkan siapa pun menyentuhmu. Kau tidak pernah diserang.”

“Tidak,” katanya.

“Tidak pernah, atau kau memang pernah?” “Tidak,” ulangnya.

Aku menarik pergelangan tangannya. Ia terhenyak. “Pertanyaanku sederhana. Kau dicambuki? Aku tidak peduli siapa yang melakukannya. Adakah seseorang lelaki…, jika bukan Banwell, berarti orang lain…, yang mencambukimu? Iya atau tidak. Katakan padaku!”

Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak,” ia berbisik. “Ya. Tidak. Ya. Begitu keras sehingga kukira aku akan mati.”

Jika itu tidak terlalu aneh, pengubahan ceritanya sebanyak empat kali dalam lima detik akan menjadi lucu. “Perlihatkan punggungmu,” kataku.

Ia menggelengkan kepalanya. “Kau tahu itu benar. Dr. Higginson mengatakan padamu.”

“Kau membodohinya juga.” Aku menjambret bagian atas gaunnya, merobeknya, dan membiarkan jatuh ke bahunya. Ia terhenyak tetapi tidak bergerak atau mencoba untuk menghentikanku. Bahunya tidak terluka. Aku melihat bagian atas payudaranya; telanjang, tidak terluka. Aku memutarnya. Tampaknya tidak ada luka pada punggungnya, tetapi aku tidak bisa melihat bagian bawah tulang selangkanya. Korset putih ketat berwarna putih berenda menutupinya dari tulang belikat hingga ke bawah.

“Kau mau merobek korsetku juga?” Tanyanya.

“Tidak. Aku sudah cukup melihat. Aku akan kembali ke kota, dan kau ikut bersamaku.” Mungkin seharusnya ia memang dirawat di sebuah sanatorium. Jika tidak, aku tidak tahu di mana seharusnya ia dirawat. Tetapi ia harus berada di bawah pengawasan seseorang, dan itu bukan aku. Aku juga tidak akan bertanggungjawab karena telah membawanya naik kapal ke rumah pedesaan Banwell. “Aku akan membawamu pulang.”

“Baiklah,” katanya.

“Oh, kau tidak takut lagi akan dimasukkan di asilum? Itu juga kebohongan yang lain lagi?”

“Tidak. Itu benar. Tetapi aku harus pergi dari sini.”

“Kau pikir aku bodoh?” Aku bertanya, karena tahu jawabannya adalah “iya”. “Jika kau dalam bahaya karena akan dikurung, kau akan menolak untuk pergi dari sini.”

“Aku tidak bisa bermalam di sini. Tuan Banwell akan menemukan aku akhirnya. Para pelayan itu akan menga-barinya dengan kawat malam ini.”

“Lalu apa?” Tanyaku.

“Ia akan datang dan membunuhku,” katanya.

Aku tertawa dengan jijik, tetapi ia hanya menatapku. Aku memeriksa mata biru bohongnya sedalam mungkin. Apakah ia memercayai apa yang dikatakannya atau ia memang pembohong paling ulung yang pernah kutemui yang pernah kutahu menjadi sebuah kasus. “Kau membo-hongiku lagi,” kataku. “Tetapi aku akan percaya kalau kau

bersungguh-sungguh dengan apa yang kau katakan. Banwell tahu kau menyebutkan namanya sebagai penyerangmu; mungkin kau punya alasan untuk takut padanya, walau kau sebenarnya mengarang penyerangan itu. Bagaimana pun juga, aku harus membawamu pulang.”

“Aku tidak bisa pulang dengan begini,” katanya sambil melihat pada pakaiannya yang robek. “Aku akan mencari sesuatu di lemari Clara.”

Ketika ia mendekati pintu, aku berseru memanggilnya. “Mengapa kau membawaku ke sini?”

“Untuk mengatakan yang sebenarnya.” Ia membuka pintu dan berlari menaiki tanggap pualam, sambil memegangi gaunnya dengan kedua tangannya. Untunglah, tidak seorang pelayan pun yang melihatnya. Mereka mungkin bisa memanggil polisi dan melaporkan pemerkosaan.

Duapuluh Empat

AKU TIDAK MENGATAKAN KALAU IA TELAH MEMBUNUHNYA, Yang Mulia. Aku hanya mengatakan ia menyembunyikan sesuatu,” kata Detektif Littlemore kepada Walikota McClellan di kantor barunya pada hari Jumat sore menjelang malam. Ia sedang membicarakan George Banwell.

“Apa buktimu?” Tanya McClellan yang jengkel. “Cepatlah, bung, aku tidak bisa memberimu lebih dari lima menit.”

Littlemore mempertimbangkan ingin memberitahukan McClellan tentang koper yang telah diketemukannya

bersama Younger di kaison. Tetapi ia urung karena, sa-mapai saat ini koper itu tidak bisa dijadikan bukti. Lagipula, seharusnya ia tidak memasuki kaison itu. “Aku baru mendengar dari Gitlow, Pak, di Chicago. Bersama polisi ia telah memeriksanya. Ia pergi ke segala tempat di kota itu. Ia juga melihat “buku biru”. Gadis itu tidak berasal dari Chicago, Pak. Tak seorang pun yang pernah mendengar nama Elizabeth Riverford di Chicago.”

McClellan menatap Littlemore dengan tajam sekian lama. “Aku bersama George Banwell pada Minggu malam,” katanya. “Aku telah mengatakannya padamu tiga kali.”

“Aku tahu, Pak. Dan aku yakin Nona Riverford tidak mungkin ada di sana, di tempatmu, tanpa kau ketahui, benar Pak?”

“Apa?”

“Aku yakin Tuan Banwell tidak membawa Nona Riverford secara diam-diam, dan membunuhnya pada tengah malam itu, dan kemudian membawanya kembali ke kota dan menempatkannya di apartemennya, sehingga kukira ia dibunuh di sana. Jika kau mengerti maksudku, Yang Mulia.”

“Ya Tuhan, Detektif.”

“Hanya saja, aku tidak tahu di mana kau berada, atau bagaimana Tuan Banwell masuk ke sini, atau kau selalu bersamanya.”

McClellan menarik nafas panjang. “Baiklah, Pak Littlemore. Pada hari Minggu malam, aku makan malam bersama Charles Murphy di Grand View Hotel di dekat Saranac Inn. Makan malam itu diadakan…, oleh George Banwell. Pak Haffen adalah salah satu tamu yang juga hadir.”

Littlemore sangat terkejut. Boss Murphy adalah kepala Tammany Hall. Louise Haffen, seorang anggota Tammany, adalah presiden daerah Bronxhingga hari Minggu lalu. “Tetapi bukankah Anda baru saja memecat Haffen?” Tanyanya kapada McClellan.

“Hughes sedang berada di rumah Pak Colgate, bersama Gubernur Fort.”

“Aku tidak mengerti, Pak.”

“Aku di sana, Detektif, untuk mendengarkan persyaratan apa yang akan diminta Murphy agar aku bisa jadi calon Walikota utama dari Tammany.”

Littlemore tak mengatakan apa-apa. Kabar itu mengherankannya. Semua orang tahu, Walikota McClellan telah mengumumkan dirinya sebagai musuh Tammany Hall. Ia telah bersumpah tidak akan bekerja sama lagi dengan Murphy.

McClellan melanjutkan. “George meyakinkan aku untuk melakukan hal itu. Ia memastikan bahwa dengan dipecatnya Haffen, Murphy mungkin mau bekerja sama. Ia mau. Murphy ingin aku menempatkan Haffen di bagian pengawas keuangan. Tidak langsung saat itu juga, tetapi satu atau dua bulan kemudian. Jika aku setuju, Hakim Gaynor akan mengundurkan diri. Setelah itu aku menjadi calon, dan akan menang dalam pemilihan itu. Mereka mengaku bahwa Hughes ingin aku menjadi calon. Itu agak mengherankan bagiku, dan dengan suka rela mereka mendukungku menjadi gubernur jika aku mau berjanji malam itu juga.”

“Lalu bagaimana pendapatmu, Pak?”

“Aku mengatakan padanya bahwa Pak Haffen memang tidak memerlukan jab atan baru itu, karena telah menggelapkan seperempat juta dolar dari kota ini pada masa jabatannya. George sangat kecewa. Ia ingin aku menerima tawaran itu. Tidak diragukan, George telah

mendapatkan keuntungan dari rekanan kami, Littlemore. Tetapi ia memang berhak atas setiap dolar yang dibayarkan kota ini padanya. Sebenarnya, aku memberikan pembayaran terakhirku minggu ini, tidak lebih satu sen pun dari awal penawaran. Dan, aku tidak melihat adanya kemungkinan kalau ia telah membunuh Nona Riverford di Saranac Inn. Kami meninggalkan Grand View pada pukul sembilan tigapuluh atau sepuluh, singgah di rumah Colgate, dan kembali ke kota bersama-sama. Kami bermobil bersama, tiba di Manhattan pada pukul tujuh pagi. Aku tidak percaya Banwell menyelinap dari pandanganku lebih dari lima atau sepuluh menit sepanjang malam itu. Aku tidak tahu mengapa ia bisa salah memberikan alamat keluarga Nona Riverford, itu misteri bagiku…, jika ia memang sengaja melakukannya. Mungkin saja maksudnya agar Riverford tinggal di salah satu kota di sekitarnya.”

“Kami sedang memeriksa mereka, Pak.”

“Bagaimanapun juga, ia tidak mungkin membunuh gadis itu.”

“Aku tidak percaya ia melakukan itu, Yang Mulia. Aku tidak ingin melibatkannya. Tetapi aku sudah dekat pada pemecahan kasus ini, Pak. Sangat dekat. Aku punya petunjuk bagus tentang pembunuhan itu,”

“Ya ampun, Littlemore. Mengapa tidak kau katakan? Siapa dia?”

“Jika tidak berkeberatan, Pak, aku akan tahu apakah petunjukku itu benar malam ini. Aku sudah tidak sabar menunggu hingga saat itu tiba.”

McClellan setuju. Tetapi sebelum ia menyuruh Littlemore pergi. Ia memberinya sehelai kartu, “Itu adalah nomor telepon rumahku,” katanya. “Telepon aku segera, kapan saja, jika kau menemukan apa pun.”

g

PADA PUKUL DELAPAN TIGA PULUH, hari Jumat sore, Sigmund Freud membuka pintu kamar hotelnya. Ia masih mengenakan jubah mandinya, walau sudah siap dengan celananya, kemeja putih, dan jas resmi untuk makan malam. Di luar, berdiri seorang pemuda berpostur tinggi, jiwa dan raganya tampak letih.

“Younger, ini dia,” kata Freud. “Ya ampun, kau tampak kacau sekali.”

Stratham Younger tidak menjawab. Freud segera melihat ada sesuatu yang terjadi pada pemuda itu. Tetapi rasa simpati Freud sudah habis. Kekusutan pemuda itu baginya menandakan kesemerawutan yang biasa terjadi sejak kedatangannya ke New York. Haruskah setiap orang Amerika terlibat dalam semacam bencana? Tidak bisakah salah satu dari mereka tetap menjaga kemejanya agar berada di balik celananya?

“Aku datang untuk melihat keadaanmu, Pak,” kata Younger.

“Selain gangguan pencernaan, aku baru saja kehilangan pengikut terpentingku, well, keadaanku sangat baik, terima kasih,” kata Freud. “Pembatalan ceramahku di universitasmu, tentu saja akan menjadi sumber kepuasan. Semuanya merupakan perjalanan yang paling berhasil ke negerimu.”

“Apakah Brill pergi ke Times, Pak?” Tanya Younger. “Apakah ia bisa tahu kalau artikel itu asli atau tidak?”

“Ya. Artikel itu asli,” kata Freud. “Jung memang diwawancarai.”

“Aku akan pergi ke Presiden Hall besok, Dr. Freud. Aku sudah membaca artikel itu. Itu hanya gosip, gosip yang

anonimous. Aku yakin, aku dapat meyakinkan Hall untuk tidak membatalkan ceramahmu. Jung tidak mengatakan apa pun untuk menentangmu.”

“Tidak mengatakan apa pun untuk menentangku?” Kata Freud sambil tertawa mengejek. Itu karena ia teringat perdebatan terakhirnya dengan Jung. “Ia telah menyangkal Oedipus dan menolak etiologi seksual. Ia menyangkal bahwa pengalaman masa kanak-kanak seorang lelaki merupakan sumber dari penyakit jiwanya. Sebagai akibat, penegasan medismu telah mempengaruhinya lebih daripada aku memp engaruhinya. Dan Presiden Hall-mu tampaknya bersikeras untuk mengikuti Jung.”

Kedua lelaki itu tetap berada di depan kamar Freud, saling berhadapan. Freud tidak mengundang Younger masuk. Ataupun berbicara.

Younger memecah kesunyian. “Aku berusia duapuluh dua tahun ketika pertama kali membaca bukumu, Dr. Freud. Waktu itu, aku tahu akan ada perubahan di dunia ini. Gagasanmu adalah hal yang terpenting pada abad ini. Amerika sangat membutuhkannya. Aku yakin itu.”

Freud membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi jawabannya terhenti pada bibirnya. Ia melembut, “Kau anak baik, Younger,” katanya sambil mendesah, “Maafkan aku. Tentang kebutuhan Amerika, aku tidak terlalu memercayainya. Karena bagiku seorang yang lapar, akan memakan segalanya. Bicara soal makan, kita akan pergi ke rumah Brill lagi untuk makan malam. Ferenczi sedang dalam perjalanan. Apakah kau akan ikut bersama kami?”

“Aku tidak bisa,” kata Younger, “Aku tidak akan mampu menjaga mataku supaya terus terbuka.”

“Ya, ampun, apa yang kau lakukan semalaman?” Tanya Freud.

“Sulit untuk menggambarkan peristiwa yang kualami selama duapuluh empat jam yang lalu. Aku bersama Nona Acton.”

“O, begitu,” kata Freud yang mengerti kalau Younger ingin diundang masuk ke kamarnya. Tetapi ia tidak mau mengundangnya. Sebenarnya Freud merasa seletih Younger. “Well, kau akan menceritakan semuanya padaku besok.”

“Besok…, baik,” kata Younger sambil beranjak pergi.

Karena merasakan kekecewaan Younger, Freud menambahkan, “ah, aku berniat mengatakan padamu. Clara Banwell, kita harus memikirkannya.”

“Maaf, Pak?”

“Semua kehidupan keluarga diatur di sekitar orang yang paling terluka di dalamnya. Kita tahu Nora telah menganggap pasangan Banwell sebagai pengganti orang tuanya sendiri. Pertanyaannya kini, orang manakah dalam kelompok itu yang telah mengalami luka kejiwaan yang paling dalam.”

“Kau pikir itu mungkin adalah Nyonya Banwell?”

“Kita tidak seharusnya menduga kalau orang itu adalah Nora. Nyonya Banwell merupakan sosok pemaksa, seperti juga para penderita narsis lainnya. Orangorang di dalam kehidupannya pasti telah memperlakukannya dengan buruk. Jelas ia diperlakukan buruk oleh suaminya. Kau dengar apa yang dikatakan Nyonya Banwell.”

“Ya,” kata Younger, “Ia mengatakan hal itu padaku.”

“Ketika di rumah Jelliffe?”

“Tidak. Aku berbicara lagi dengannya di rumah Nona Acton.”

“Aku mengerti,” kata Freud sambil menaikkan alisnya. “Aku menduga, darinyalah Nora mengetahui kalau ia telah

melakukan felatio terhadap ayahnya.” “Maaf?”

“Kau ingat,” kata Freud. Ia memejamkan matanya dan, tanpa membukanya, ia mengulangi percakapan dirinya dan Younger tentang masalah itu dua hari sebelumnya. Dimulai dengan katakata: “‘Apakah kau tidak menganggap ada sesuatu yang aneh pada pernyataan tegas Nora, ketika ia melihat apa yang dilakukan Clara bersama ayahnya? Sebenarnya ia tidak mengerti apa yang sedang dilihatnya.’ ‘Kebanyakan gadis Amerika yang berusia empatbelas tahun tidak memiliki informasi yang baik tentang hal itu, Dr. Freud.’ ‘Aku menghargai hal itu, tetapi bukan itu maksudku. Nora mengisyaratkan, kini ia telah mengerti apa yang pernah dilihatnya, bukan begitu?”

Younger menatap. “Kau memiliki daya ingat berdasarkan suara, Pak?”

“Ya. Ketrampilan yang berguna bagi seorang analis. Kau harus melatihnya. Aku pernah mampu mengingat percakapan yang terjadi beberapa bulan lalu, tapi kini hanya yang terjadi beberapa hari lalu saja. Namun, kau akan tahu kalau Nyonya Banwell-lah yang mengajarkan kepada Nora tentang hal itu. Aku menduga Nyonya Banwell telah adalah orang kepercayaan gadis itu, karena ia memberinya simpati. Jika tidak demikian, maka perasaan Nora pada Nyonya Banwell menjadi tak dapat dijelaskan.”

“Perasaan Nora pada Nyonya Banwell,” ulang Younger.

“Ayolah, nak, berpikirlah. Nora tidak membenci Nyonya Banwell seperti yang seharusnya ia lakukan, sebaliknya Nora menganggap Nyonya Banwell sebagai pengganti ibunya. Itu artinya, Nyonya Banwell bisa dengan mudah membentuk ikatan khusus dengan gadis itu. Sebuah hasil

yang luar biasa dalam keadaan itu. Hampir dapat dipastikan, ia telah menceritakan rahasia erotis yang terlarang pada Norasebuah kegiatan kegemaran mereka untuk mencapai keintiman.”

“Aku mengerti,” kata Younger, walau agak bingung.

“Kau mengerti? Itu jelas telah membuat berbagai hal menjadi lebih sulit bagi Nora. Dan itu menunjukkan sebuah kerendahan moral dari Nyonya Banwell. Seorang wanita tidak akan menceritakan hal-hal seperti itu kepada seorang gadis yang ingin tetap dijaga keluguannya. Well, aku tahu, kau ingin mengatakan sesuatu padaku, tetapi kau terlalu letih. Katakataku juga tidak akan berguna bagimu jika kini aku berbicara. Kita akan bicara besok. Berisitrahatlah.”

g

JUMAT MALAM ITU, SMITH ELY JELLIFFE menyanyikan sebuah lagu ketika berjalan memasuki Balmoral pada pukul sebelas. Ia memberi uang rokok yang banyak pada penjaga pintu. Tanpa ditanya ia mengatakan pada mereka, ia telah melewatkan malamnya di Metropolitan, ditemani oleh wanita dari jenis yang terbaik jenis yang tahu bagaimana menyibukkan diri mereka selama pertunjukkan opera. Wajahnya berseri-seri, Jelliffe tampak seperti seorang lelaki yang yakin akan kebesaran jiwanya sendiri.

Rona wajahnya meredup karena kedatangan seorang pemuda berjas lusuh. Ia menghadang jalannya menuju lift. Ketika pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang detektif, hatinya merasa semakin.

“Kau adalah dokter pribadi Harry Thaw, bukan, Dr.

Jelliffe?” Tanya Littlemore.

“Kau sadar jam berapa sekarang ini, kawanku yang baik?” Kata Jelliffe.

“Jawab saja pertanyaanku.”

“Pak Thaw di bawah perawatanku,” Jelliffe mengaku. “Semua orang tahu itu. Sudah dilaporkan secara meluas.”

“Apakah ia dalam perawatanmu,” kejar Littlemore, “di sini, di kota ini minggu lalu?”

“Aku tidak mengerti maksudmu,” kata Jelliffe. “Tentu saja kau tidak mengerti,” kata Littlemore sambil memberi isyarat pada seorang gadis, yang berpakaian mencolok, yang menunggu di sisi lain lobi berlantai pualam itu. Greta sekarang mendekat. Littlemore bertanya padanya apakah ia mengenali Jelliffe.

“Ia memang lelaki itu, Dr. Smith. Datang bersama Harry dan pergi juga bersamanya.” Kata Greta. Sore itu, sebelum mengunjungi Walikota, Littlemore telah kembali ke kantornya, membaca kembali catatan pengadilan, dan menemukan kesaksian Jelliffe yang bernama depan Smith. Ia menggabungkan informasi tersebut. “Nah, Dr. Smith,” kata Littlemore, “Mau menjelaskannya di siniatau di kota?”

Detektif Littlemore tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan sebuah pengakuan. “Itu bukan keputusanku sama sekali,” kata Jelliffe meledak. “Tetapi Dana. Dana yang bertanggungjawab.”

Littlemore mengatakan pada Jelliffe untuk membawa mereka masuk ke apartemennya yang mewah. “Wah, kau bisa banyak kehilangan, Dr. Smith,” kata Littlemore. “Jadi kau membawa Thaw ke kota minggu lalu? Bagaimana caranya? Kau menyogok penjaganya?”

“Ya, tetapi itu keputusan Dana, bukan aku,” tegas

Jelliffe. Ia menjatuhkan diri ke sebuah kursi di belakang meja makannya. “Aku hanya melakukan apa yang dikatakan Dana padaku.”

Littlemore menatapnya. “Apakah membawa Thaw ke rumah Susie adalah gagasanmu ?”

“Thaw yang memilih rumah itu, bukan aku. Kumohon, Detektif. Hal itu hanya untuk kepentingan medis. Seorang yang sehat bisa menjadi gila bila dikurung di tempat seperti Matteawan. Keadaan itu menghilangkan hak pemenuhan kebutuhan jasmaninya.”

“Tetapi Thaw tidak waras,” kata Littlemore. “Karena itulah ia dikurung di rumah sakit jiwa.”

“Ia tidak gila. Ia hanya sangat mudah gugup,” jawab Jelliffe. “Ia memiliki sifat gugup. Tidak ada kebaikannya jika dikurung seperti itu.”

“Namun sayangnya, kau mengatakan yang sebaliknya ketika di persidangan,” kata Littlemore, “Ini bukan yang pertama kali kau membawa Thaw ke kota, bukan? Kau membawanya ke sini kira-kira sebulan yang lalu?”

“Tidak, aku bersumpah,” kata Jelliffe. “Itu yang pertama kalinya.”

“Pasti,” kata Littlemore. “Dan bagaimana Thaw mengenal Nona Sigel?”

Jelliffe menyangkal pernah mendengar nama Elsie Sigel sebelum ia membaca tentang gadis itu di koran kemarin sore.

“Ketika kau membawa Thaw ke rumah Susie,” lanjut Littlemore, “tahukah kau apa yang senang ia lakukan pada para gadis itu? Apakah itu juga untuk kepentingan pengobatan?”

Jelliffe tertunduk. “Aku pernah mendengar tentang kecenderungan prilaku seperti itu,” ia menggumam, “tetapi

kupikir kami telah mengatasinya.”

“Hmm,” Detektif Littlemore menatap kuku Jelliffe dengan jijik. Saat itu tangan Jelliffe sedang men cengkeram pinggang besarnya. “Sebelum kau pergi ke rumah Susie, ketika kau membawa Thaw ke apartemenmu, berapa lama ia tidak terlihat olehmu? Apakah kau membiarkannya sendirian? Apakah ia keluar? Apa yang terjadi?”

“Di sini?” Tanya Jelliffe dengan cemas dan bingung. “Aku tidak pernah membawanya ke sini.”

“Jangan main-main denganku, Smith. Aku punya cukup bukti untuk membuatmu dituntut sebagai kaki tangan pembunuhan.”

“Pembunuhan?” Tanya Jelliffe. “Ya Tuhan. Tidak mungkin. Tidak ada pembunuhan.”

“Seorang gadis telah terbunuh di sini, di gedung ini, pada Minggu malam tepat kau sedang membawa Thaw ke apartemenmu.”

Wajah Jelliffe menjadi pucat. “Tidak,” katanya. “Thaw datang ke kota pada Sabtu malam. Aku bersamanya menumpang kereta ke Matteawan pada Minggu pagi. Ia juga berada di sana pada Minggu dan Senin. Kau tanya saja pada Dana. Kau bisa memeriksa catatan di Matteawan. Mereka akan membuktikannya.”

Keputusasaan Jelliffe terdengar tidak dibuat-buat. Tetapi Littlemore memiliki bukti yang berlawanan dengan ucapannya. “Usaha yang baik, Smith,” katanya, “tetapi aku mempunyai enam orang gadis yang akan bersaksi kalau kau dan Thaw berada di rumah Susie hari Minggu yang lalu. Bukan begitu, Greta?”

“Ya,” kata Greta. “Sekitar pukul satu atau dua Minggu pagi. Seperti yang sudah kukatakan padamu.”

Littlemore terpaku. “Tunggu sebentar. Maksudmu

Sabtu malam atau Minggu pagi?”

“Sabtu malam…, Minggu pagi… sama, berbeda,” kata Greta.

“Greta,” kata Littlemore. “Aku harus yakin tentang hal itu. Kapan Thaw datang, Sabtu malam atau Minggu malam?”

“Sabtu malam,” kata Greta. “Aku tidak bekerja pada hari Minggu malam.”

Littlemore sekali lagi merasa tersesat. Fakta-fakta yang menghubungankan kasus Thaw telah tenggelam lagi. Tetapi faktanya, Thaw berada di rumah Susie pada malam yang salah…, malam sebelumnya. “Aku akan memeriksa catatan rumah sakit,” kata Littlemore kepada Jelliffe, “dan sebaiknya berharaplah yang kau katakan itu benar. Ayo, Greta. Kita pergi.”

Jelliffe, mendegut, cegukan di kursinya. “Kukira kau harus minta maaf padaku, Detektif,” katanya.

“Mungkin,” kata Littlemore. “Tetapi jika kau menagihnya lagi, aku akan melakukannya di dalam penjara Sing Sing selama satu atau lima tahun karena kau telah meloloskan tahanan negara. Belum lagi izin praktik doktermu akan dicabut.”

g

PADA MALAM KEDUA berikutnya, Carl Jung berjalan di bawah Gereja Calvary di seberang Gramercy Park. Kali ini, ia membawa pistolnya di dalam saku. Mungkin senjata itu telah membuatnya berani. Tanpa gentar, ia berjalan di sepanjang pagar besi tempa ke Gramercy Park South. Ia menyeberangi jalan, dan berjalan lurus ke arah petugas yang berjaga di depan rumah keluarga Acton. Polisi itu

bertanya apa tujuannya. Jung menjawab kalau ia mencari perkumpulan teater: Mungkin polisi itu bisa memberi tahunya?

“The Players Club, itu yang kau mau,” kata polisi itu. “Nomor enambelas, empat pintu dari sini.”

Jung mengetuk pintu bernomor enambelas dan, ketika menyebutkan nama Smith Jelliffe, ia diperbolehkan masuk. Udara dipenuhi bunyi musik dan tawa wanita. Sekarang ia ada di dalam, Jung tak percaya betapa bodohnya ia. Ia telah datang ke pintu itu sebanyak dua kali, namun menjadi ketakutan. Bayangkan: seorang lelaki yang berkedudukan, takut memasuki sebuah rumah tempat para wanita dapat diperoleh jika kau punya uang.

Ada gadis penerima tamu di club itu yang menyambut Jung di bagian depan, lalu tertegun sesaat ketika Jung mencabut revolvernya. Untuk menunjukkan adat Eropanya, Jung menyerahkannya pada gadis itu. Jung menjelaskan, karena ia melihat ada polisi berjaga beberapa rumah dari sini, ia khawatir kalau mungkin sudah terjadi pembunuhan. “Tidak apa-apa,” kata gadis itu sambil tersenyum manis padanya. “Sesaat tadi, kukira, kaulah pembunuhnya.”

Ketika keduanya tertawa dan pintu depan tertutup, seorang lelaki lainnya turun dari sebuah kereta, terselu-bung bayangan Gereja Calvary. Kereta itu menjauh, meninggalkan lelaki itu sendirian tepat hampir di tempat Jung berdiri pada malam sebelumnya. Ia mengenakan jas putih. Walau saat itu musim panas, ia masih mengenakan selembar jas luar berikut sarung tangan putih dari kulit rusa. Topinya ditarik ke bawah serendah mungkin hingga menutupi wajahnya. Lelaki itu tidak bergerak. Ia menatap dari kegelapan, sehingga para polisi di rumah Acton tidak

dapat melihatnya

g

BEG ITU IA MENDENGAR pintunya tertutup, Jelliffe menuju ke pesawat teleponnya. Ia meminta operator untuk menyambungkannya ke Rumah Sakit Negara Matteawan. Membutuhkan waktu limabelas menit untuk tersambung. Jelliffe mulai berbicara dengan sangat ketakutan tetapi si penjaga itu menyelanya dengan cepat.

“Kau terlambat,” kata penjaga itu. “Ia sudah pergi.”

“Sudah pergi?”

“Ia berangkat tiga jam yang lalu.”

Jelliffe meletakkan teleponnya. Lalu dengan jari gugupnya, ia memutar nomor telepon rumah Charles Dana di Fifth Avenue. Tidak ada jawaban, ketika sudah menjelang tengah malam, setelah enam kali berdering, Jelliffe meletakkan teleponnya.

“Ya Tuhan,” katanya.

g

DI SEBERANG JALAN DEKAT Balmoral, Littlemore mengucapkan selamat tinggal pada Greta di bawah lampu jalanan. Malam itu ketika mereka tiba di sana, udara terasa panas dan lembab. “Aku seharusnya bisa saja mengatakan kalau ia datang pada Minggu malam,” kata Greta, “jika kau mau aku begitu.”

Littlemore tertawa. Ia menggelengkan kepalanya, sambil memanggil kereta.

“Kau tidak akan mencari Fannie-ku sekarang, kan?” Tanya Greta dengan muram.

“Tidak. Aku tidak akan mencarinya,” kata Littlemore. “Aku akan menemukannya.”

Ia mengatakan alamatnya pada sais dan membayar orang itu sebesar satu dolar sebagai ongkos. Greta menatapnya. “Kau seorang yang hebat, kau tahu itu?” Katanya. “Tetapi kau tidak akan menikahiku, bagaimanapun juga? Padahal kita berdua berambut merah.”

Littlemore tertawa lagi. “Maaf, sayang. Aku sudah terikat.”

Greta mencium pipi Littlemore. Ketika kereta sewaan itu menjauh, Littlemore berpaling dan melihat Betty Lombardi sedang berdiri tepat di belakangnya. Sebelum Littlemore pergi ke kota, ia telah singgah ke rumah Betty Lombardi dan meninggalkan pesan untuk menemuinya di Balmoral begitu Betty tiba di rumah.

“Mulailah menjelaskan,” kata Betty, “dengan baik.”

Littlemore berkata kalau Betty harus memercayainya, kemudian ia mengajak Betty ke mobilnya yang diparkir. Dari bagasi mobilnya, Littlemore mengeluarkan sebuah kantung kasar. “Aku harus memperlihatkan beberapa barang yang mungkin adalah milik Nona Riverford. Kaulah satusatunya yang dapat mengenali mereka.”

Littlemore menuangkan semua isi kantong itu di dalam bagasi mobilnya. Pakaian-pakaian itu terlalu basah untuk dapat dikenali. Betty tampaknya mengenali perhiasan dan sepatu-sepatu itu, tetapi ia tidak yakin. Kemudian ia melihat sebuah perhiasan untuk lengan yang menempel pada kain kusut. Betty membawanya ke bawah lampu. “Ini punya Nona Riverford. Aku pernah melihat ia mengenakan gaun ini.”

“Tunggu sebentar,” kata Littlemore. “Tunggu sebentar.” Ia mengaduk-aduk pakaian itu. “Apakah di sini ada

pakaian yang bisa dikenakan pada siang hari?”

“Yang ini semua tidak bisa,” kata Betty, sambil menaikkan alisnya ketika memilih-milih di antara pakaian dalam. “Tidak ini juga. Tidak ada, Jimmy. Ini semua gaun malam.”

“Gaun malam,” ulang Jimmy Littlemore perlahan. “Ada apa?” Tanya Betty.

Littlemore tidak mengatakan apa-apa, ia sedang keras berpikir.

“Apa, Jimmy?”

“Tetapi, kalau begitu Pak Hugel lalu ia bergegas menepuk sakunya lalu merogoh hingga menemukan sebuah amplop yang berisi foto-foto. Salah satunya ia perlihatkan kepada Betty. “Kau mengenali wajah ini?” Tanyanya.

“Tentu saja,” katanya, “tetapi mengapa..?”

“Kita akan kembali ke atas,” sela Littlemore. Dari bagasinya ia meraih sebuah lampu senter bertenaga listrik. Lalu ia mengajak Betty kembali ke Balmoral. Mereka menaiki lift di Alabaster Wing menuju lantai teratas.

“Berapa tinggi Nona Riverford?” Tanya Littlemore ketika mereka bergerak ke atas.

“Sedikit lebih tinggi dariku,” kata Betty yang tinggi tubuhnya seratus limapuluh sentimeter lebih. “Setidaknya ia tampak lebih tinggi.”

“Apa maksudmu?” “Ia selalu memakai sepatu bertumit tinggi,” jelas Betty. “Sangat tinggi. Aku tidak terbiasa dengan sepatu seperti itu.”

“Beratnya?”

“Aku tidak tahu, Jimmy. Mengapa?” Lorong di lantai delapanbelas kosong. Walau Betty

keberatan, Littlemore tetap mengambil kunci apartemen Elizabeth Riverford dan membuka pintu depannya. Di dalam, semuanya gelap dan sunyi. Tidak ada lampu besar. Lampu-lampunya telah diambil.

“Apa yang kita lakukan di sini?” Tanya Betty.

“Mencoba membayangkan sesuatu.” Littlemore menuju koridor ke arah kamar tidur Nona Riverford, sambil mengarahkan nyala lampu senternya ke kegelapan.

“Aku tidak mau masuk ke situ,” kata Betty, sambil mengikutinya dengan enggan.

Mereka tiba di pintu. Ketika Littlemore akan meraih pegangan pintu, tangannya berhenti di udara. Tibatiba terdengar bunyi nada tinggi di udara. Bunyi itu berasal dari bagian dalam kamar tidur itu. Bunyi itu terdengar lebih keras, dan sayup-sayup berubah menjadi suara erangan.

Betty meraih lengan Littlemore. “Itu adalah bunyi yang kuceritakan padamu, Jimmy. Bunyi yang kami dengar pagi hari itu ketika Nona Riverford ditemukan tewas.” Detektif Littlemore membuka pintu, dan bunyi itu terdengar lebih keras.

“Jangan masuk,” bisik Betty.

Tibatiba keributan itu berhenti. Sunyi senyap. Littlemore memasuki ruangan. Karena takut tinggal sendirian, Betty juga masuk dengan cara berpegangan pada lengan Littemore. Perabotan: tempat tidur, cermin, meja, laci-laci, masih tetap pada tempatnya. Semuanya menciptakan bayang-bayang yang menakutkan di bawah sinar lampu senter itu. Littlemore menempelkan telinganya pada dinding, mengetuk-ngetukkan tulang jemarinya, dan mendengarkan dengan seksama. Ia merendahkan tubuhnya, lalu melakukan hal yang sama.

“Apa yang kau lakukan?” Bisik Betty.

Littlemore menjentikkan jemarinya. “Perapian,” katanya. “Aku melihat tanah liat di dekat perapian.” Lalu Littlemore bergerak ke perapian dan menyingkirkan tirai besi berlubang-lubang, lalu merengangkan diri di atas lantai. Dengan senternya, ia menerangi perapian itu. Pada dinding perapian itu, Littlemore melihat batu bata, adukan semendan kumpulan dari tiga lubang yang tersusun menjadi sebuah segitiga, yang teratas berbentuk lingkaran.

“Itu dia,” kata Littlemore. “Pasti itu. Sekarang, bagaimana ia…?”

Littlemore menerangi besi penyangga kayu bakar yang tergantung di sebelah perapian. Salah satunya adalah alat berbentuk garpu trisula. Dua dari tiga ujungnya meruncing tajam, yang lainnya membulat. Ketiga ujung itu disatukan, membentuk segitiga. Littlemore berdiri, mengambil penusuk bara itu, lalu digunakan untuk menusuk-nusuk cerobong asap. Ketika ia menyentuh lubang di dalam, ujung penusuk itu cocok masuk ke dalamnya, seolah sengaja dibuat untuk itusebagai kunci tentunya. Sesaat kemudian, seluruh perapian itu terbuka pada engsel bagian dalamnya, lalu angin kuat berhembus menerpa wajah Littlemore.

“Coba lihat ini!” Kata Littlemore. Di dalamnya, terlihat beberapa nyala api kecil berwarna biru membuat titik-titik pada dinding. “Di mana aku pernah melihat yang seperti ini, ya? Ayo, Betty.”

Mereka memasuki gang, Betty memegangi tangan Littlemore. Ketika mereka melewati sebuah garangan besi yang besar pada salah satu dinding, Littlemore menempelkan telinganya di sana dan menyuruh Betty melakukan

hal sama. Di kejauhan, mereka dapat mendengar suara erangan yang sama, yang telah membuat Betty ketakutan.

“Lorong udara,” kata Littlemore. “Semacam sistim tekanan udara. Pasti ada pompa. Ketika pompa berfungsi, maka terdengarlah bunyi itu. Ketika pompa berhenti, maka bunyi itu pun tak terdengar.” Mereka mengikuti lorong sepanjang beberapa meter, melewati belasan garangan yang sama dan membelok tajam pada tiga atau empat sudut. Akhirnya mereka tiba di ujung. Ada dinding menghalangi jalan mereka, tetapi pada dinding itu, terdapat sebuah panel logam yang berkilauan di bawah lampu gas biru yang terakhir. Littlemore menekan pelat itu. Dinding pun terbuka.

Dalam cahaya lampu listrik, mereka dapat melihat sebuah ruang kerja lelaki yang berperabotan mewah. Rak buku menutupi dinding, walau isinya bukan buku-buku. Rak itu penuh berisi model-model jembatan dan gedung. Di tengah-tengah ruang kerja itu, ada sebuah meja besar dengan sebuah lampu kuningan di atasnya. Littlemore menyalakan lampu itu. Tanpa suara, Littlemore dan Betty meninggalkan ruangan itu lalu berjalan menelusuri lorong.

Mereka menyeberangi ruang depan yang berlantai pualam putih. Lalu mereka mendengar suara tertahan. Jauh di ujung gang, melewati ruang duduk yang luas dan belum pernah dilihat oleh keduanya, terdapat sebuah pintu bergetar. Gagangnya berputar-putar. Jelas seseorang ada di balik pintu itu dan mencoba untuk membukanya walau gagal. Littlemore berseru, menyatakan dirinya sebagai seorang detektif.

Suara seorang wanita menjawabnya. “Bukakan pintunya. Keluarkan aku.”

Littlemore dengan cepat membuka pintu itu. Ketika terbuka, ternyata ruang itu adalah sebuah lemari penyimpan kain linen. Tampak punggung seorang wanita, yang tertekan pada ruangan itu dengan tangan yang terikat di belakangnya. Clara Banwell berputar, dan berterimakasih kepada Littlemore. Ia memohon untuk membuka ikatannya.

g

PELUH BERKILAP PADA kening Henry Kendall Thaw ketika ia melihat polisi di seberang Gramercy Park. Mereka sedang berpatroli, berjalan hilir mudik di bawah lampu gas jalanan. Keringatnya membasahi kemeja di bawah jas makan malamnya. Peluhnya menetes ke lengannya dan celana panjangnya.

Dari posisinya yang menguntungkan di East Twenty-first Street, di antara Fourth dan Lexinton avenue, Thaw dapat melihat seluruh deretan rumah yang mengagumkan di Selatan Gramercy Park. Ia dapat melihat Players Club, yang terang benderang pada Jumat malam itu.

Mata Thaw lebih baik dibandingkan dengan mata Jung. Ia mengetahui, tiga lantai di atas polisi-polisi patroli itu, tertangkap sebuah gerakan di atap rumah Acton. Di sana, di depan langit malam, ia melihat bayangan polisi lainnya dan garis luar sepucuk senapan yang dibawanya. Thaw adalah seorang yang kurus tetapi kuat. Kurus mendekati rapuh, dengan lengan yang agak lebih panjang dari yang seharusnya. Anehnya, wajah Thaw tampak kekanakan bagi seorang lelaki berusia akhir tigapuluhan. Ia mungkin pernah terlihat tampan, kecuali mata kecilnya agak terletak terlalu dalam dan bibirnya agak terlalu tebal. Ketika bergerak atau diam, ia nyaris terengah-engah.

Kini Thaw bergerak ke selatan di dalam kegelapan. Ia menarik tepian topinya lebih ke bawah ketika menyeberangi Lexintong Avenue, karena ia mengenali rumah di sudut itu dengan sangat baik. Dahulu, ia pernah mengamati selama berjam-jam sambil menunggu seorang gadis tertentu yang akan keluar dari rumah itu. Gadis itu cantik namun Thaw sangat ingin menyakitinya hingga membuat gadis itu menggeliat. Ia menelusuri pagar besi taman itu hingga tiba di sudut selatannya. Istana Irving memisahkannya dari para polisi yang sedang berjaga. Para polisi itu tidak melihatnya ketika ia menyelinap ke lorong belakang di balik rumah-rumah di Gramercy Park South.

DUA MIL DARI TEMPAT ITU, di lantai dua apartemennya, Charles Hugel telah mengepak tasnya. Ia berdiri di tengah-tengah ruang duduknya, sambil menggigiti tulang-tulang genggaman tangannya. Ia telah mengirim surat pengunduran dirinya kepada Walikota. Ia telah pergi ke bank dan menutup bukunya, Semua uang yang dimilikinya ada di depannya, tertumpuk rapi di atas lantai. Ia harus memutuskan bagaimana cara membawanya. Ia membungkuk danuntuk ketiga kalinyamulai menghitung uangnya sambil mengira apakah itu akan cukup untuk menghidupinya di kota lain yang lebih kecil. Tangannya terhentak terbuka, dan lembaran limapuluh dolar itu terbang melayang di udara ketika ia mendengar ketukan pintunya.

g

SEANDAINYA SAJA PENJAGA di depan rumah keluarga Acton mendongak ke atas, mungkin ia akan melihat pada jendela kamar Nora ada bagian yang tampak lebih gelap. Mungkin ia sadar kalau lelaki itu telah melewati tirai di balik jendela itu. Tetapi ia tidak mendongak.

Si penyusup melepaskan dasi sutra yang membungkus lehernya. Tanpa bersuara, ia menarik dasi itu dari kerah baju dan membungkuskan ujungnya pada tangannya. Ia mendekati tempat tidur Nora. Walau gelap, ia dapat melihat bentuk tubuh seorang gadis yang tertidur di atas ranjangnya. Ia dapat melihat garis yang terbuka di bawah dagu indah, di atas tenggorokan yang tak terlindungi. Ia menyelipkan dasinya di antara kepaka tempat tidur dan bantal, lalu menurunkannya secara perlahan-lahan ke lehernya hingga kedua ujungnya keluar dari bawah bantal.

Sesaat ia mendengarkan nafas gadis itu yang lembut tanpa terganggu,

Pertanyaan bagus, seandainya pisau dapuryang telah dikembalikan Mildred Actontidak dipindahkan dari bawah bantal, apakah benda itu bisa menghalangi jalannya dasi tadi? Mungkinkah Nora Acton tersentak bangun karena seorang lelaki telah meraih pisau itu? Jika Nora meraihnya, apakah ia bisa menggunakannya? Nora selalu tidur terlentang. Walau tangannya ada di bawah bantal memegangi pisau itu, dapatkah iadalam keadaan tercekikmenyelamatkan hidupnya?

Segala pertanyaan bagus, semuanya sangat masuk akal, karena pisau dapur itu tidak lagi berada di sana, dan ternyata Nora juga tidak.

“Letakkan, Tuan Banwell,” kata suara di belakang. Sebuah senter listrik, dipegangi oleh seorang polisi berseragam yang berdiri di ambang pintu, tibatiba menerangi kamar. George Banwell menutupi wajahnya dengan tangannya.

“Menjauh dari tempat tidur, Tuan Banwell,” kata Littlemore, sambil mengacungkan moncong pistolnya ke arah punggung Banwell. “Oke, Betty, kau bisa bangun sekarang.”

Betty Longobardi bangkit dari tempat tidur itu, dengan ketakutan tetapi menantang. Ketika Littlemore menggeledah saku Banwell, ia mengerling pada perapian di kamar Nora. Di sana, ia menduga, sebuah panel dinding telah tergeser, membuka jalan masuk di belakangnya.

“Oke. Turunkan tanganmu sekarang. Di belakang punggungmu. Perlahan-lahan.”

Banwell tidak bergerak. “Berapa hargamu?” Tanyanya.

“Lebih dari yang mampu kau bayarkan,” kata Littlemore.

“Duapuluh ribu,” kata Banwell tangannya masih ada di atas kepalanya. “Aku akan memberi kalian masingmasing duapuluh ribu dolar.”

“Letakkan tangan di belakang punggungmu,” ulang Littlemore.

“Limapuluh ribu,” kata Banwell. Matanya menyipit akibat sinar senter. Ia dapat melihat ada dua orang lelaki di ambang pintu. Satu sedang memegangi senter, dan satu lagi berdiri di belakangnya. Lalu ada seorang lainnya yang menempelkan moncong pistol pada punggungnya. Ketika Banwell menyebutkan angka “limapuluh ribu,” dua or-ang di ambang pintu itu, bergerak tidak tenang. Banwell berbicara lagi kepada mereka. “Pikirkanlah, nak. Kalian pandai. Aku bisa mengatakan itu dari penampilan kalian. Dari mana kau pikir Pak Byrnes mendapatkan uangnya?

Kau tahu berapa banyak uangnya di bank? Tigaratus limapuluh ribu. Benar. Akulah yang membuatnya kaya, dan aku juga bisa membuat kalian kaya.”

“Walikota McClellan tidak akan senang mendengar kau mencoba menyuap kami,” kata Littlemore, sambil menurunkan tangan Banwell dan memasangkan borgol pada pergelangan tangannya.

“Kau mau mendengarkan orang tolol di belakangku ini?” Teriak Banwell masih berbicara kepada kedua polisi di ambang pintu dengan suara kuat meyakinkan walau kesakitan. “Aku akan mengalahkannya di pengadilan. Aku akan mengalahkannya, kau dengar aku? Jangan bodoh. Kau mau miskin seumur hidupmu. Pikirkan istrimu, anak-anakmu. Kau mau mereka miskin selama hidup mereka? Jangan khawatir tentang Walikota. Dia milikku.”

“Benarkah, George?” Kata seorang lelaki di belakang polisi yang memegangi lampu senter. Lelaki itu adalah McClellan. “Kau benar memiliki aku?”

Littlemore menghentak borgol itu pada pergelangan tangan Banwell yang lainnya, lalu menguncinya. Dengan kecepatan yang mengejutkan bagi seorang dengan badan sebesar itu, Banwell menggeliat melepaskan diri dari cengkeraman Littlemore dan kuncian lengan di belakang punggungnya. Tetapi ia harus berhenti dan tunduk menyerah, karena Littlemore memegang pistol di tangannya. Ia dapat saja dengan mudah menembaknya, tetapi ia tidak melakukannya. Namun ia melangkah lebar ke depan dan memukulkan bagian belakang pistolnya pada kepala Banwell. Banwell berteriak keras dan terjatuh ke lantai.

Beberap a menit kemudian, Littlemore mendudukkan Banwell yang setengah pingsan pada tangga rumah Acton, dan memborgolnya pada jeruji tangga dengan

borgol kedua yang dipinjamnya dari polisi berseragam. Darah menetes pada wajah Banwell. Polisi yang lainnya membiarkan Harcourt dan Mildred Acton yang kebingungan, keluar dari kamar mereka.

9

DI DALAM PLAYERS CLUB, gadis penyimpan topi menyambut seorang tamu baru, yang juga membuatnya heran. Tidak saja karena masuk dari pintu belakang, tetapi juga karena lelaki ini mengenakan mantel pertengahan musim panas. Harry Thaw merasakan kegembiraan tersendiri ketika dengan bebas bisa memasuki ruangan yang dirancang oleh Stanford White: lelaki yang dibunuhnya beberapa tahun lalu. Ia memberikan nama palsunya kepada gadis itu: Monroe Reid dari Philapdelphia. Dengan nama itu, ia juga memperkenalkan dirinya pada tamu di ruang dansa kecil itu yang berasal dari luar negeri. Di sana para penari mempertunjukkan tariannya di sebuah panggung yang ditinggikan. Ketika Jung menyebutkan nama seorang anggota klub yang dikenalnya dengan baik, Smith Jelliffe, Thaw berseru kalau ia juga mengenal baik orang itu tanpa menyebutkan apakah hubungan sebenarnya.

g

“HEBAT, DETEKTIF,” kata McClellan di ruang duduk keluarga Acton. “Aku tidak akan pernah memercayainya jika aku tidak melihatnya dengan mataku sendiri.”

Ibu Biggs sedang merawat luka kepala Banwell. Tuan Acton menuangkan minuman pada gelas besar untuk

dirinya sendiri. “Kau mungkin akan menceritakan pada kami apa yang terjadi, McClellan?” Tanyanya.

“Aku khawatir, aku sendiri tidak mengetahuinya,” kata McClellan, “Aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana George dapat membunuh Nona Riverford.”

Bel pintu berdering. Ibu Biggs menatap majikannya, yang balik menatap McClellan. Littlemore berkata kalau ia akan membukakan pintu. Sesaat kemudian, semua or-ang di dalam ruangan itu melihat Charles Hugel memasuki ruangan, dengan dicengkeram erat oleh Opsir John Reardon.

“Aku sudah menangkapnya, Detektif,” kata Reardon. “Ia sudah berkemas seperti yang kau duga.”

Duapuluh Lima

DERINGAN TELEPON DI KAMAR HOTEL, membangunkan aku yang tidak sadar telah jatuh tertidur. Bahkan aku hampir tidak ingat ketika berjalan kembali ke kamar. Penelpon adalah petugas di meja depan.

“Pukul berapa ini?” Tanyaku.

“Sebentar lagi tengah malam.” “Hari apa?” Kabut di otakku tidak mau membuyar.

“Masih hari Jumat. Maaf Dr. Younger, tetapi Anda meminta untuk diberitahu jika Nona Acton menerima tamu.”

“Ya?”

“Kini Nyonya Banwell sedang dalam perjalanan menuju kamar Nona Acton.”

“Nyonya Banwell?” Tanyaku. “Baiklah. Jangan

bangunkan orang lain tanpa memberitahu aku dulu.”

Nora dan aku telah menumpang kereta api dari Tarry Town. Kami hampir tidak berbicara. Ketika kami tiba di Grand Central, Nora memohonku untuk mengantarnya kembali ke Hotel Manhattanuntuk mengetahui apakah kamarnya masih disewa atas namanya. Jika begitu, pintanya, bisakah ia tetap menginap di sana hingga hari Minggu, hingga ia tidak perlu mengkhawatirkan lagi rencana orang tuanya untuk mengirim gadis itu ke rumah sakit dengan paksa?

Walau aku seharusnya tidak setuju, namun akhirnya aku mengantarnya ke hotel. Aku memperingatkannya, besok pagi, apa pun yang terjadi, aku akan memberitahu ayahnya kalau ia berada di hotel ini. Kataku padanya, aku merasa yakin kalau ia akan dapat mengarang kisah khayalan untuk melawan mereka, hingga mereka menunda selama duapuluh empat jam. Seperti yang terjadi, ia benar tentang kamarnya: masih disewa atas namanya. Petugas memberikan kuncinya, dan Nora menghilang memasuki lift.

Aku tidak menganggap kunjungan tengah malam Nyonya Banwell ini merupakan kunjungan yang arif. Karena mungkin saja suaminya akan mengikutinya. Nora pastilah telah menelponnya. Tetapi jika Nora dapat mengelabui aku dengan begitu baik, tentunya Clara juga mampu mengelabui suaminya tentang kepergiannya malam ini.

Aku ingat kembali pernyataan Freud tentang perasaan Nora terhadap Clara. Tentu saja Freud masih percaya kalau Nora memendam keinginan incest. Aku tidak lagi berpendapat begitu. Sebenarnya, sejak aku menafsirkan To be, or not to be, aku berani menganggap kalau akhirnya aku membalik seluruh teori kompleks Oedipus. Freud

selama ini memang benar: ya, ia telah memegangi cermin itu menghadap ke alam, tetapi ia telah melihat pantulan dari kenyataannya.

Yang menjadi pokok utamanya adalah sang ayah, bukan putranya. Ya, ketika si putra kecil itu memasuki arena kehidupan bersama ibu dan ayahnya, salah satu tokoh dalam trio itu, merasakan betapa pedihannya kecemburuan ituyaitu sang ayah. Wajar saja jika ia merasa kalau putranya menyelinap ke dalam hubungannya yang unik dan khusus dengan istrinya. Ia mungkin saja setengah menginginkan untuk menyingkirkan putra penyusup yang menyusu, dan merengek-rengek, dan yang disebut si sempurna oleh ibunya. Sang ayah mungkin saja mengharapkan kematiannya.

Kompleks Oedipus adalah nyata, tetapi subjek dari segala dugaan adalah orang tua, bukan si anak. Keadaan itu bertambah buruk ketika si anak tumbuh besar. Seorang gadis segera akan melawan ibunya menggunakan kacantikan dan masa belia yang sangat dicemburui ibunya tanpa dapat ditahan. Seorang anak lelaki akhirnya akan melebihi ayahnya yang merasa digerogoti dari bawah ketika putranya tumbuh.

Namun orang tua mana yang mau mengakui harapannya untuk membunuh anaknya sendiri? Ayah seperti apa yang mau mengakui kecemburuan terhadap anak lelakinya sendiri? Maka kompleks Oedipus harus diproyeksikan pada anak-anak. Tentu, ada suara yang berbisik di telinga ayah Oedipus bahwa bukan dirinya sang ayah yang mempunyai sebuah rahasia harapan kematian terhadap putranya, tetapi Oedipus-lah yang mendambakan ibunya sehingga menginginkan kematian ayahnya. Semakin kerap kecemburuan itu menyerang orang tua, semakin

merusak sikap mereka terhadap anak-anak. Jika hal ini terjadi, maka bisa saja anak-anak akan melawan mereka: mengantarkan kepada sebuah keadaan yang mereka takutkan. Walau ia mengajarkan tentang Oedipus, Freud telah salah menafsirkan Oedipus: harapan rahasia Oedipal terletak pada hati sang orang tua, bukan pada anak-anak mereka.

Sayangnya jika demikian, penemuan ini, tampaknya kini sudah basi tanpa ada gunanya lagi bagiku. Apa gunanya? Apa yang dapat dilakukan dengan pemikiranku itu?

9

“INI KETERLALUAN/’ kata Hugel penuh marah. “Aku minta penjelasan.”

George Banwell menggeram kesakitan ketika Ibu Biggs menempelkan plester pada kepalanya. Darah masih menggumpal pada rambutnya, namun tidak mengalir ke pipinya lagi.

“Apa artinya ini semua, Littlemore?” Tanya McClellan.

“Kau mau mengatakannya pada Walikota, Pak Hugel?” Kata Littlemore. “Atau harus aku yang mengatakannya?”

“Katakan apa?” Tanya McClellan.

“Lepaskan aku,” kata Hugel pada Reardon.

“Lepaskan ia, Opsir,” perintah McClellan. Reardon segera mematuhinya.

“Apakah ini leluconmu yang lain lagi, Littlemore?” Tanya Hugel, sambil merapikan jasnya. “Jangan dengarkan segala yang dikatakannya, McClellan. Ini adalah lelaki yang berpura-pura mati di atas meja operasiku kemarin.” “Begitukah?” Tanya Walikota pada Littlemore. “Ya, Pak.”

“Kau lihat?” Kata Hugel kepada McClellan dengan suara yang meninggi. “Aku bukan lagi pegawaimu. Surat pengunduran diriku akan berlaku pada pukul lima hari ini; sudah ada di atas mejamu, McClellan. Aku yakin kau belum membacanya. Aku mau pulang. Selamat malam.”

“Jangan biarkan ia pergi!” Kata Littlemore.

Hugel tidak peduli. Ia memasang topinya, lalu mulai berjalan ke arah pintu.

“Jangan biarkan ia pergi!” Ulang Littlemore kepada McClellan.

“Hugel, tetaplah di tempatmu, kumohon,” perintah McClellan. “Detektif Littlemore telah memperlihatkan padaku satu hal malam ini, yang tidak akan kupercaya bisa terjadi. Aku ingin mendengarkannya hingga tuntas.”

“Terimakasih, Yang Mulia,” kata Littlemore. “Aku lebih baik mulai dari foto. Ahli otopsi Hugel membuat foto, Pak. Foto dari Nona Riverford dengan inisial Banwell terlihat pada lehernya.”

Banwell bergerak dari duduknya di anak tangga. “Apa itu?” Tanyanya.

“Inisialnya? Apa maksudmu?” Tanya McClellan.

“Aku mempunyai sebuah hasil cetak fotonya di sini, Pak,” kata Littlemore. Ia menyerahkan foto itu pada McClellan. “Agak rumit, Pak. Kau tahu, Hugel mengatakan kalau jenazah Nona Riverford dicuri dari rumah penyimpanan mayat karena ada petunjuk padanya.”

“Ya, kau mengatakannya padaku tentang hal itu, Hugel,” kata Walikota.

Hugel tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Littlemore dengan waspada.

“Lalu Riviere mencetak lagi pelat-pelat foto Pak Hugel,” lanjut Littlemore, “dan cukup pasti, kami dapat

melihat foto leher Nona Riverford dengan semacam cetakan pada lehernya. Riviere dan aku tidak mengerti, tetapi Hugel menjelaskanya pada kami. Si pembunuh mencekik Nona Riverford dengan dasinya, sementara penitinya masih tersemat pada dasinya. Peniti tersebut ada inisialnya. Maka, kau tahu, Yang Mulia, foto itu memperlihatkan inisial si pembunuh pada leher Nona Riverford. Begitukah yang kau ceritakan padaku, Hugel?”

“Aku heran,” kata Walikota yang menatap foto dari dekat. “Demi Tuhan, aku dapat melihatnya, GB.”

“Ya, aku juga mempunyai salah satu peniti Tuan Banwell. Anda bisa membandingkannya. Mereka sama.” Lalu Littlemore mengeluarkan peniti dasi dari saku celananya, dan memberikannya pada McClellan.

“Coba lihatlah,” kata McClellan. “Serupa.”

“Omong kosong,” kata Banwell. “Aku dijebak.”

“Ya Tuhan, Hugel,” kata McClellan sambil mengabaikan Banwell, “mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Kau mempunyai bukti positif untuk menangkapnya.”

“Tetapi aku tidak…, aku tidak bisa begitu saja…, coba kulihat foto itu,” kata Hugel.

McClellan memberikan foto itu. Hugel menggelengkan kepalanya ketika menelitinya. “Tetapi fotoku…,”

“Hugel tidak pernah melihat foto itu, Yang Mulia,” kata Littlemore.

“Aku tidak mengerti,” kata McClellan.

“Pada foto Hugel…, pada foto pertamanya…, inisial pada leher gadis itu terlihat bukan GB. Tetapi kebalikan dari GB, seperti pantulan dalam cermin.”

“Well, sebenarnya, inisial memang seharusnya tampak terbalik, bukan?” Jelas McClellan. “Monogram itu memang meninggalkan bekas secara terbalik, seperti pada perekat

di amplop.”

“Itu akal-akalannya,” kata Littlemore. “Anda benar, Yang Mulia. Peniti itu akan meninggalkan bekas terbalik, maka cetakan terbalik dari GB pada foto Hugel, membuatku berpikir kalau Tuan Banwell-lah pembunuhnya. Itulah tepatnya apa yang dikatakan Hugel. Namun satusatunya masalah adalah di dalam foto Hugel, inisial itu sudah tampak terbalik. Riviere mengatakan pada kami. Itulah yang tidak disadari oleh Hugel. Fotonya memperlihatkan gambar GB terbalik… ,oke? Tetapi foto leher korbannya sudah menunjukkan keterbalikan inisial itu. Artinya, bekas yang tertinggal di leher korban adalah cetakan GB yang sesungguhnya. Artinya monogram si pembunuh bukan GB tetapi seharusnya adalah kebalikan dari GB.”

“Coba ulangi,” kata McClellan.

Littlemore mengulanginya. Bahkan, ia mengulangi bagian pentingnya beberapa kali hingga McClellan mengerti. Ia juga menjelaskan, ia telah meminta Riviere mencetak selembar foto kebalikan dari foto Hugel. Memutar GB lagi, membuatnya menghadap ke depan, sehingga ia dapat membandingkan inisial itu dengan monogram Banwell yang sesungguhnya. Foto terbalik itu adalah yang baru saja diperlihatkannya kepada pak Walikota.

“Tetapi itu masih tidak masuk akal,” kata McClellan kesal. “Itu sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana monogram yang terlihat pada foto pertama Hugel, betulbetul merupakan kebalikan dari inisial George Banwell?”

“Hanya ada satu cara, Yang Mulia,” kata Littlemore. “Seseorang telah menggambarnya.”

“Apa?”

“Seseorang telah menggambarnya. Seseorang menggoreskannya pada lempengan kering sebelum Riviere

mencetaknya. Seseorang yang pastinya telah memiliki peniti dasi Banwell dan juga lempengan foto Hugel. Seseorang yang membuat kita mengira kalau Tuan Banwell membunuh Elizabeth Riverford. Siapa pun yang melakukan itu, telah melakukannya dengan susah payah. Mereka mengerjakan semuanya dengan nyaris sempurna, tetapi mereka membuat satu kesalahan: mereka membuat foto itu memperlihatkan gambar pantulan cermin, padahal seharusnya tidak perlu begitu. Mereka tahu kalau tanda bekas pada leher Nona Riverford merupakan gambar pantulan cermin dari monogram yang sesungguhnya. Maka mereka membayangkan kalau seharusnya foto itu menampilkan gambar pantulan cermin. Tetapi apa yang mereka lupakan adalah negatif foto sudah memperlihatkan gambar pantulan cermin. Itulah kesalahan besar mereka. Ketika GB mereka terbalik di dalam foto, mereka kalah dalam permainan itu.”

Hugel menyela, “Wah, aku bahkan tidak dapat mengerti apa yang dikatakan si jenius itu. Kita memiliki foto leher gadis itu yang jelas di sini. Dan foto itu memperlihatkan GB pada lehernyabukan sebuah negatif atau negatif ganda, atau negatif tiga kali lipat, atau apa pun yang diocehkan Littlemore. Tapi hanyalah gambar GB yang sederhana. Itu menunjukkan bahwa Banwell-lah pembunuhnya.”

Ada hening sejenak. Lalu Walikota memecah kesunyian, “detektif,” katanya, “aku yakin aku mengerti jalan pikiranmu. Tetapi aku harus mengaku ada beberapa hal yang berputar-putar sehingga aku bingung. Aku tidak tahu siapa yang benar. Apakah ini satusatunya alasan yang kau miliki untuk meyakinkan kalau Hugel ini telah merusak bukti? Apakah mungkin Hugel yang benar? Bahwa

fotomu membuktikan kalau George Banwell telah melakukan pembunuhan?”

Littlemore mengerutkan keningnya. “Coba kita lihat,” katanya, “kukira ada banyak bukti yang memberatkan Tuan Banwell, bukan? Yang Mulia, boleh aku mengajukan beberapa pertanyaan kepada Tuan Banwell?”

“Silakan,” kata McClellan.

“Tuan Banwell, Anda bisa mendengarku, Pak?”

“Apa maumu?” Geram Banwell.

“Anda tahu, Tuan Banwell, kini aku sangat yakin kalau kami bisa mendakwamu sebagai pembunuh Nona Riverford. Aku menemukan jalan rahasia antara beberapa apartemenmu.”

“Bagus,” kata Banwell.

“Ada tanah liat di apartemen Nona Riverford yang cocok dengan tanah liat yang ada di area pembangunanmu.”

“Itu bukti untukmu.”

“Dan kami menemukan koper yang berisi barang-barang Nona Riverford…, yang Anda kuburkan di Sungai East di bawah Jembatan Manhattan.”

“Tidak mungkin!” Seru Banwell.

“Kami menemukannya tadi malam, Tuan Banwell. Tepat sebelum Anda menenggelamkan kaison itu.”

“Kau berada di dalam kaison Jembatan Mahattan tadi malam, Littlemore?” Tanya McClellan.

“Ya, Pak,” kata Littlemore malu-malu. “Maaf, Yang Mulia.”

“Oh, tidak apa-apa,” kata McClellan. “Lanjutkan.”

“Aku dijebak,” kata Banwell menyela, “McClellan, aku bersamamu sepanjang hari Minggu malam itu. Di Saranac Inn. Kau tahu aku tidak mungkin membunuh gadis itu.”

“Para penuntut tidak akan melihat seperti itu,” jawab Littlemore. “Ia akan mengatakan kalau kau telah menyuruh seseorang membawa Nona Riverford ke Saranac Inn. Ketika itu kau menyelinap dari acara makan malam bersama Walikota, bertemu dengan gadis itu di suatu tempat selama beberapa menit, lalu membunuhnya. Kemudian kau membawa jenazahnya kembali ke Balmoral sehingga tampaknya gadis itu tewas di sana. Kau berpikir kalau kau bisa menggunakan McClellan sebagai alibimu. Sialnya, kau meninggalkan inisialmu pada leher gadis itu. Itu yang akan digunakan para penuntut, Tuan Banwell.”

“Aku tidak membunuhnya,” kata Banwell. “Aku bisa membuktikannya.”

“Bagaimana kau bisa membuktikannya, George?” Tanya McClellan.

“Tidak ada yang membunuh Elizabeth Riverford,” kata Banwell.

“Apa?” Tanya McClellan. “Ia masih hidup? Di man a?” Banwell menggelengkan kepalanya. “Demi Tuhan. Jelaskan padaku.” seru McClellan. “Tidak ada yang bernama Elizabeth Riverford,” kata Banwell.

“Tidak pernah ada,” tambah Littlemore. Banwell menghembuskan nafas panjang, Hugel juga. McClellan memohon. “Kumohon, jelaskan padaku apa yang terjadi. Siapa saja yang bisa.”

“Yang pertama membuatku berpikir adalah berat tubuh si korban,” kata Littlemore, “Menurut laporan Hugel, Nona Riverford tinggi tubuhnya seratus enampuluh tiga sentimeter dan beratnya limapuluh tujuh setengah kilogram. Tetapi benda yang menempel di langitlangit tempat ia diikat akan segera patah jika menahan tubuh seberat itu.

Aku sudah mengujinya.”

“Bisa saja aku agak salah dalam menilai tinggi dan berat tubuh,” kata Hugel. “Aku sangat tegang ketika itu.”

“Kau bukannya khilaf, Hugel,” kata Littlemore. “Kau sengaja melakukannya. Kau juga tidak menyebutkan kalau rambut Nona Riverford sebenarnya tidak berwarna hitam.”

“Tentu saja rambutnya berwarna hitam,” kata Hugel. “Semua orang di Balmoral bersaksi, rambutnya berwarna hitam.”

“Hanya rambut palsu,” sergah Littlemore. “Kami menemukan yang lainnya lagi di koper Banwell.” Hugel memohon pada McClellan, “Ia gila. Seseorang telah membayarnya untuk mengatakan seperti itu. Untuk apa aku memalsukan keterangan jasmani Nona Riverford dengan sengaja?”

“Mengapa, Detektif?” Tanya McClellan.

“Karena jika ia mengatakan pada semua orang kalau Elizabeth Riverford tingginya seratus limapuluh lima, beratnya limapuluh satu setengah kilogram, dengan rambut pirang panjang, semuanya akan menjadi terlalu berhubungan ketika Nona Acton muncul dengan luka-luka yang sama dan pada hari yang sama seperti yang ada pada tubuh Nona Riverford yang hilang pada hari yang sama. Nona Acton tingginya seratus limapuluh lima sentimeter dan beratnya limapuluh satu kilogram, berambut panjang pirang. Bukan begitu, Hugel?”

g

NORA MEMELUK CLARA dengan erat ketika wanita itu masuk ke kamarnya.

“Sayangku,” kata Clara. “Syukurlah kau tidak apa-apa.

Aku sangat senang kau menelponku.”

“Aku akan mengatakan pada mereka segalanya,” seru Nora, “aku sudah mencoba menyimpan rahasia itu, tetapi aku tidak bisa.”

“Aku tahu,” kata Clara, “kau sudah mengatakannya di dalam suratmu. Tidak apa-apa. Katakan saja semuanya pada mereka.”

“Tidak,” kata Nora, hampir menangis, “Maksudku…, semuanya.”

“Aku mengerti. Tidak apa-apa.”

“Ia sama sekali tidak percaya kalau aku terluka,” kata Nora. “Dokter Younger berpikir kalau aku menggambari semua luka-luka itu.”

“Menyebalkan sekali.”

“Aku pantas mendapatkannya, Clara. Segalanya jadi berantakan. Aku tidak baik. Semuanya tidak ada gunanya. Aku lebih baik mati.”

“Sst. Kita perlu sesuatu untuk menenangkan syarafmu…, kita berdua.” Clara pergi ke kradensa. Di sana tersedia wadah minuman keras yang terisi separuh, dan beberapa buah gelas. “Ini. Oh, brendi yang payah. Tetapi aku akan menuangkan sedikit untuk kita. Kita akan berbagi.”

Ia memberikan gelas anggur berbentuk buah pir pada Nora yang berisi minuman beralkohol. Nora belum pernah minum brendi, tetapi Clara membantunya untuk mencicipinya. Setelah rasa membakar yang pertama berlalu, ia juga diajarkan bagaimana menghabiskannya. Ada percikan tumpah ke pakaian Nora.

“Ya ampun,” kata Clara. “Ini pakaianku yang kau ken akan?”

“Ya,” kata Nora. “Maaf, aku pergi ke Tarry Town. Kau

marah?”

“Tentu saja tidak. Kau cocok mengenakannya. Barang-barangku selalu pantas kau kenakan.” Clara menuangkan sedikit brendi ke dalam gelas dan meminumnya sedikit sambil memejamkan matanya. Lalu ia menempelkan gelas itu pada bibir Nora. “Kau tahu,” katanya, “aku membeli gaun itu sambil memikirkanmu? Sepatu ini dipasangkan dengan gaun itu…, ini, yang sedang kupakai sekarang. Ini, cobalah. Tumitmu lembut. Lupakan segalanya dan berdandanlah, seperti biasanya.”

“Boleh?” Tanya Nora mencoba untuk tersenyum.

g

“MAKSUDMU ELIZABETH RIVERFORD adalah Nora Acton?” Tanya McClellan yang kebingungan bertanya kepada Littlemore.

“Aku dapat membuktikannya, Yang Mulia,” kata Littlemore. Ia memberi isyarat pada Betty ketika ia mengeluarkan selembar foto dari sakunya. “Walikota, Betty pernah menjadi pelayan Nona Riverford di Balmoral. Ini adalah foto yang kutemukan di apartemen Leon Ling. Betty, ceritakan pada mereka ini siapakah wanita ini.”

“Itu adalah Nona Riverford di sebelah kiri,” kata Betty. “Rambutnya berbeda, tetapi itu memang dirinya.”

“Tuan Acton, mohon lihat foto ini sekarang?” Kata Littlemore sambil menyerahkan foto Nora Acton, William Leon, dan Clara Banwell, kepada Harcourt Acton.

“Ini Nora,” kata Acton.

McClellan menggelengkan kepalanya. “Nora Acton tinggal di Balmoral dengan nama Elizabeth Riverford? Mengapa?”

“Ia tidak tinggal di sana,” geram Banwell. “Ia hanya menginap di sana beberapa malam dalam seminggu, itu saja. Apa yang kau lihat? Lihatlah Acton!”

“Kau tahu?” Tanya McClellan kepada Tuan Acton dengan tidak percaya.

“Tentu saja tidak,” jawab Nyonya Acton. “Nora pasti telah melakukannya sendiri.”

Harcourt Acton tidak mengatakan apa-apa.

“Jika ia tidak tahu, ia adalah ayah yang tolol sekali.” Kata Banwell, “Tetapi aku tidak pernah menyentuhnya. Itu semua gagasan Clara.”

“Clara juga tahu?” Tanya McClellan semakin tidak percaya lagi.

“Tahu? Dialah yang mengatur…,” suara Banwell tibatiba terputus. Lalu ia melanjutkan, “sekarang, lepaskan aku. Aku tidak terbukti melakukan kejahatan.”

“Kecuali menabrakku, kemarin,” kata Littlemore. “Ditambah dengan percobaan penyuapan seorang anggota polisi, percobaan pembunuhan Nona Acton, dan membunuh Seamus Malley. Aku bisa mengatakan kau akan sibuk sekali pada minggu ini, Tuan Banwell.”

Ketika nama Malley disebut, Banwell berjuang untuk berdiri dari lantai, walau ia tahu borgol itu menghubungkannya dengan terali tangga. Ketika keributan itu terjadi, Hugel kabur melalui pintu. Kedua lelaki itu gagal mencapai tujuannya. Banwell hanya berhasil melukai pergelangan tangannya sendiri. Ahli otopsi ditangkap lagi oleh opsir Reardon.

“Tetapi mengapa, Hugel?” Tanya McClellan. Hugel tidak berbicara.

“Ya, Tuhan,” McClellan melanjutkan. Ia masih berbicara kepada Hugel, “Kau tahu Eilzabeth Riverford adalah

Nora Acton. Apakah kau yang mencambukinya? Ya Tuhan.”

“Bukan aku,” teriak Hugel dengan kesal masih dalam cengkeraman Reardon. “Aku tidak mencambuki siapa pun. Aku hanya mencoba membantu. Aku harus membuat Banwell terpidana. Wanita itu telah berjanji padaku. Aku tidak akan pernah…, wanita itu merencanakan segalanya…, wanita itu mengatakan apa yang harus kulakukan…, wanita itu telah berjanji padaku…,”

“Siapa wanita itu? Nora?” Tanya Walikota McClellan. “Ya, ampun. Apa yang dijanjikannya padamu?”

“Bukan Nora,” kata Hugel. Ia menyentakkan kepalanya ke arah Banwell. “Istrinya.”

g

NORA ACTON MELEPAS sepatunya sendiri dan mencoba sepatu Clara. Tumitnya tinggi dan runcing, tetapi sepatu itu dibuat dengan kulit hitam yang cantik dan lembut. Ketika gadis itu mendongak, ia melihat pada tangan Clara sebuah benda yang tak terduga: sepucuk pistol kecil, dengan gagang terbuat dari kerang.

“Panas sekali di sini, sayangku,” kata Clara, “ayo kita keluar ke balkonmu.”

“Mengapa kau mengacungkan pistolmu padaku, Clara?” Tanya Nora.

“Karena aku membencimu, sayangku. Kau bercinta dengan suamiku.”

“Aku tidak bercinta dengannya,” sangkal Nora.

“Tetapi ia menginginkannya. Begitu menginginkannya. Itu sama saja, tidak, bahkan lebih buruk lagi.” “Tetapi kau membenci George.”

“Begitukah? Kukira begitu,” kata Clara, “aku membenci kalian berdua.”

“Oh, jangan. Jangan kau katakan itu. Aku lebih baik mati.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Tetapi Clara, kau yang membuatku…,”

“Ya, aku membuatmu begitu,” kata Clara, “Dan sekarang aku ingin merusakmu. Pertimbangkan saja kedudukanku, sayangku. Bagaimana aku bisa membiarkanmu melaporkan itu pada polisi apa yang kau tahu? Aku sudah nyaris berhasil. Hanya tinggal dirimu yang menghalangiku. Berdirilah, sayangku. Ayo ke balkon. Jangan sampai aku menembakmu.”

Nora berdiri. Ia berjalan terhuyung-huyung. Sepatu bertumit tinggi dan runcing Clara benar-benar terlalu tinggi baginya. Ia hampir tidak dapat berjalan. Sambil berpegangan pada sofa, lalu pada lengan sebuah kursi, lalu pada meja, hingga berhasil mencapai pintu Prancis yang menuju ke balkon.

“Nah, sudah,” kata Clara. “Sedikit lagi.” Nora melangkah memasuki balkon, dan tersungkur. Ia dapat menangkap tepian pagar dan berdiri menghadap ke arah kota. Di lantai kesebelas itu, angin kencang bertiup. Nora merasakan angin dingin itu pada kening dan pipinya. “Kau menyuruhku memakai sepatu ini,” katanya, “sehingga kau mudah untuk mendorongku ke bawah, bukan?”

“Tidak,” kata Clara, “sehingga itu tampak seperti kecelakaan. Kau tidak terbiasa memakai sepatu bertumit tinggi. Kau tidak terbiasa minum brendi, yang bisa mereka cium pada gaunmu. Kecelakaan yang mengerikan. Aku tidak mau mendorongmu, sayangku. Kau mau meloncat? Biarkan saja dirimu terjatuh. Kukira lebih baik begitu.”

Nora melihat jam di menara Metropolitan Life satu mil ke selatan. Ketika itu sudah tengah malam. Ia melihat cahaya benderang dari Broadway ke arah barat. “To be or not to be,” bisiknya.

“Tidak ada (not to be)…, aku khawatirnya,” kata Clara.

“Bisa minta satu hal?”

“Aku tidak tahu, sayangku. Apa itu?” “Kau mau menciumku?” Tanya Nora. “Satu kali saja, sebelum aku mati?”

Clara Banwell mempertimb angkan permintaan itu. “Baiklah,” katanya.

Nora berpaling, perlahan, lengannya di punggungnya, mencengkeram pagar, mengedipkan matanya supaya air-matanya tidak menetes dari mata birunya. Ia mengangkat dagunya, sedikit saja. Clara, dengan tetap menempelkan pistolnya pada pinggang Nora, mengusapkan rambutnya dari mulut Nora. Nora memejamkan matanya.

g

AKU BERDIRI DI DEPAN wastafel kamar hotelku dan memercikkan air dingin pada wajahku. Jelas bagiku kini kalau Nora, di tengah keluarganya, adalah sasaran dari kompleks Oedipus dari jenis bayangan cermin yang baru saja kususun. Dapat dipastikan, ibunya sangat cemburu padanya. Tetapi pada kasus Nora hal itu lebih rumit karena keterlibatan pasangan Banwell. Freud benar. Dalam hal itu, pasangan Banwell menjadi pengganti ayah dan ibu bagi Norasekali lagi adalah kompleks Oedipus yang terbaliktetapi Nora tampaknya menginginkan Clara. Itu tidak cocok. Begitu pula Clara. Kedudukan Clara merupakan yang paling rumit di antara semuanya. Sebagaimana penjelasan Freud, Clara telah menjadi teman bagi Nora, menjadi kepercayaannya, dan menjelaskan pengalaman seksualnya. Freud percaya bahwa Nora pastilah cemburu pada Clara. Tetapi menurutku, Claralah yang cemburu pada Nora. Ia pastilah membencinya. Ia pastilah ingin…

Segera aku meloncati tempat tidur dan berlari keluar kamar.

9

SAAT BIBIR KEDUANYA BERTEMU, Nora menangkap tangan Clara yang memegang pistol. Pistol itu meledak. Nora tidak dapat merampas pistol itu dari tangan Clara, tetapi berhasil mengalihkan moncongnya menjauh dari tubuhnya. Peluru melayang ke udara di atas kota.

Nora mencakar wajah Clara, sehingga darah mengalir pada bagian atas dan bawah matanya. Ketika Clara menjerit kesakitan, Nora menggigit lagi tangan Clara dengan sekuat-kuatnya. Revolver itu jatuh di atas lantai beton balkon, dan meluncur ke dalam kamar hotel.

Clara menyerang wajah Nora. Ia memukulnya dua kali, sambil menarik rambut gadis itu ke arah tepi balkon. Nora terbungkuk ke luar pagar. Rambut panjang Nora melayang turun ke arah jalan, jauh di bawahnya.

Nora mengangkat salah satu kakinya yang bertumit sepatu runcing dan menginjak kaki Clara. Tumit runcingnya menancap pada kaki telanjang Clara. Clara menjerit dan menangis lalu melepaskan cengkeramannya pada Nora yang menggeliat melepaskan diri. Ia berhasil melewati Clara melalui pintu Prancis, tetapi terjatuh. Nora

tidak terbiasa dengan tumit tinggi sepatu itu. Dengan merangkak, ia melanjutkan usahanya meraih pistol. Sebenarnya ujung jarinya telah berhasil menyentuh gagang pistol itu ketika Clara menarik gaunnya ke belakang. Clara menangkap Nora, meloncatinya, berjalan ke tengah ruangan, dan merampas pistol itu.

“Bagus sekali, sayangku,” kata Clara sambil terengah-engah. “Aku tidak tahu kau punya pikiran semacam itu.”

Mereka terganggu oleh bunyi benturan. Pintu yang terkunci itu terbuka, pecahan kayu betebaran di udara. Stratham Younger menyerbu masuk.

“DR. YOUNGER,” KATA Clara Banwell sambil berdiri di tengah ruang duduk kamar Nora dan mengacungkan sepucuk revolver kecil tepat pada pinggangku, “senang sekali bertemu denganmu. Tolong tutup pintunya.”

Nora tergeletak di atas lantai beberapa kaki dariku. Aku melihat memar pada pipinya, terima kasih Tuhan, tidak ada darah di mana pun. “Kau terluka?” Tanyaku padanya.

Nora menggelengkan kepalanya.

Dengan menghembuskan nafas yang tanpa kusadari telah tertahan, aku menutup pintu. “Dan kau, Nyonya Banwell,” kataku, “apa kabarmu malam ini?”

Sudut bibir Clara terangkat sedikit. Wajahnya tergores parah di atas dan di bawah mata kirinya. “Aku akan sembuh dalam waktu singkat,” katanya. “Pergilah ke balkon, Dokter.”

Aku tidak bergerak.

“Ke balkon, Dokter,” ia mengulanginya.

“Tidak, Nyonya Banwell.”

“Betulkah?” Clara berputar. “Aku harus menembakmu

di tempatmu berdiri?”

“Kau tidak bisa,” kataku, “aku memberikan namamu di bawah. Jika kau membunuhku, mereka akan menggantungmu karena pembunuhan.”

“Kau sangat salah,” kata Clara. “Mereka akan menggantung Nora, bukan aku. Aku akan katakan kepada mereka dialah yang membunuhmu, dan mereka akan memercayaiku. Kau lupa? Ia gila. Dialah yang membakar dirinya sendiri dengan sebatang rokok. Bahkan orangtuanya pun berpikir begitu.”

“Nyonya Banwell, kau tidak membenci Nora. Kau membenci suamimu. Kau telah menjadi korbannya selama tujuh tahun. Nora juga korbannya. Jangan menjadi alat suamimu.”

Clara menatapku. Aku melangkah ke arahnya. “Berhenti di situ saja,” kata Clara dengan tajam. “Sebagai seorang dokter psikolog, mengherankan juga jika ternyata penilainmu salah, Dr. Younger. Tidak masuk akal. Kau kira apa yang kukatakan padamu itu benar. Kau percaya segala yang dikatakan oleh seorang wanita padamu? Atau kau memercayai mereka hanya ketika kau ingin tidur dengan mereka?”

“Aku tidak mau tidur denganmu, Nyonya Banwell.”

“Setiap lelaki ingin tidur denganku.”

“Mohon turunkan senjata itu,” kataku, “Kau terlalu letih. Kau punya alasan untuk itu, tetapi kau salah mengarahkan amarahmu. Suamimu memukulimu, Nyonya Banwell. Ia tidak pernah menyempurnakan pernikahannya denganmu. Ia membuatmu…, membuatmu melakukan…,”

Clara tertawa. “Oh, hentikan. Kau terlalu lucu. Kau akan membuatku muak.”

Bukan karena tawanya yang seperti itu, tetapi kesan

rendah diri yang tersirat di dalamnya itulah yang membuatku terkejut.

“Ia tidak pernah menyuruhku melakukan apa pun,” kata Clara. “Aku bukan korban dari siapa pun, Dokter.

Pada malam pengantin kami, aku mengatakan padanya kalau ia tidak akan pernah mendapatkan aku. Aku, bukan dirinya. Betapa mudahnya. Aku mengatakan padanya kalau ia adalah lelaki yang paling kuat yang pernah kutemui. Aku katakan padanya kalau aku akan melakukan hal-hal yang disukainya bahkan yang lebih baik lagi. Dan aku memang melakukannya untuk George. Aku katakan padanya, aku akan membawakannya gadis-gadis lainnya, yang muda, yang dapat diperlakukan sesukanya. Aku melakukan itu. Aku katakan padanya kalau ia bisa melukaiku, dan aku akan membuatnya bahagia sambil melukaiku. Aku lakukan itu.”

Nora dan aku menatap Clara tanpa bersuara.

“Dan ia menyukainya,” Clara menambahkan sambil tersenyum.

Kembali menjadi sunyi sesaat. Aku akhirnya menyela, “Mengapa?”

“Karena aku mengenalnya,” jawab Clara. “Seleranya tidak pernah terpuaskan. Tentu saja ia menginginkanku, tetapi bukan hanya aku. Harus ada yang lainnya. Banyak, banyak yang lainnya. Kau pikir aku dapat bahagia menjadi satu dari yang banyak itu, Dokter? Aku membencinya begitu aku melihatnya.”

“Bukan salah Nora,” kataku, “bukan Nora yang mengakibatkan itu semua padamu.”

“Nora-lah penyebabnya,” bentak Clara. “Ia merusak segalanya.”

“Bagaimana aku bisa begitu?” Tanya Nora.

“Keberadaanmu itu,” kata Clara dengan kebencian yang tampak jelas walaupun ia tidak mau melihat ke arah Nora, “George…, George jatuh cinta padanya. Jatuh cinta. Seperti seekor anjing. Bukan anjing yang pintar. Anjing yang tolol. Nora begitu manja namun juga tidak terlalu manja. Kontradiksi yang menyenangkan. Ia menjadi seperti tergila-gila. Maka aku harus mengambilkan tulang bagi anjing itu, bukan? Aku tidak bisa hidup dengan lelaki yang menetes-netes air liurnya seperti itu.”

“Karena itulah kau sepakat untuk bermain api dengan ayahku?” Tanya Nora.

“Aku tidak menyetujuinya,” kata Clara dengan menghinakan, namun ditujukan kepada Younger, bukan Nora, “Itu bukan gagasanku. Acton adalah lelaki yang paling lemah, paling membosankan yang pernah kukenal. Seandainya ada surga bagi perempuan yang tidak mementingkan diri sendiri, aku…, tetapi kemudian ia merusaknya. Ia menolak George. Ia benar-benar menolaknya.” Clara menarik nafas dalam-dalam hingga sikapnya kembali ceria. “Aku mencoba banyak cara untuk menyembuhkan George dari keadaannya. Berbagai cara. Sungguh.”

“Elsie Sigel,” kataku.

Sebuah sentakan pada sudut bibirnya memperlihatkan keterkejutan Clara, tetapi ia tidak menjawab. “Kau benar-benar memiliki bakat dalam bidang mendeteksi. Kau sudah mempertimbangkan untuk berganti pekerjaan?”

“Kau mencarikan gadis-gadis dari keluarga baik-baik untuk suamimu,” aku melanjutkan, “kau pikir hal itu akan membuatnya melupakan Nora.”

“Bagus sekali. Aku tidak percaya ada seorang wanita pun selain diriku yang mampu melakukan itu. Tetapi ketika aku menemukan lelaki Cina-nya, maka aku menemukan

perempuan semacam itu. Ia menulis surat pada lelaki Cina itu! Lelaki Cina itu menjual surat-surat itu padaku. Lalu aku mengatakan pada Elsie kalau aku berkewajiban untuk memberi tahu ayahnya. Kecuali jika ia mau membantuku. Tetapi anjingku yang juga suamiku itu tidak tertarik pada Elsie. Seharusnya kau melihatnya. Pikirannya,” kini Clara mengarah pada Nora yang masih tampah lemah, “Anjing itu hanya tertuju pada tulang yang ini.”

“Kau membunuh Nona Sigel,” kataku. “Dengan chloroform seperti yang kau berikan pada suamimu untuk digunakannya kepada Nora.”

Clara tersenyum, “Sudah kukatakan, sebaiknya kau menjadi seorang detektif saja. Elsie hanya tidak dapat menahan mulutnya. Dan suaranya tidak menyenangkan juga. Ia tidak memberikan pilihan. Ia seharusnya mengatakannya saja. Aku dapat melihat hal itu di matanya.”

“Mengapa tidak kau bunuh saja aku?” Nora berteriak.

“Oh, aku memang berniat untuk itu, sayangku. Tetapi sama sekali belum kulaksanakan. Tahukah kau seperti apa wajah George ketika ia tahu kalau kau, cinta matinya, dengan segala kekuatan kecilmu berusaha menghancurkannya, memusnahkannya. Hal itu bernilai lebih dari seluruh uangnya. Well, hampir melebihi. Aku akan memiliki uangnya. Dr. Younger, kupikir kau telah membiarkan aku terus bicara cukup lama,”

“Kau tidak bisa membunuh kami, Nyonya Banwell,” kataku, “Jika mereka menemukan kami berdua mati, tertembak pistolmu, mereka tidak akan pernah percaya kalau kau tidak bersalah. Mereka akan menggantungmu. Turunkan.” Aku maju selangkah.

“Berhenti!” Teriak Clara dengan mengarahkan pistolnya kepada Nora, “Kau begitu tidak peduli pada nyawamu

sendiri. Kau tidak akan begitu ceroboh dengan nyawanya. Sekarang, pergilah ke balkon.”

Aku melangkah maju lagi…, tidak ke arah balkon, tetapi ke arah Clara.

“Berhenti!” Ulang Clara. “Kau gila? Aku akan menembaknya.”

“Kau akan menembaknya, Nyonya Banwell,” kataku, “dan tembakanmu akan meleset. Pistol jenis apa itu? Sebuah pistol moncong tunggal kaliber duapuluh dua? Kau tidak bisa menembus pintu lumbung dengan pistol itu, kecuali kau berdiri dua kaki darinya. Aku berada dalam jarak dua kaki denganmu, Nyonya Banwell. Tembaklah aku.”

“Baiklah,” kata Clara sambil menembakku.

Dengan jelas, walau itu terkesan hanya omong kosong, namun aku dapat melihat ketika sebutir peluru keluar dari moncong pistol Clara, dan peluru itu melayang perlahan ke arahku, menembus kemeja putihku. Aku merasa tusukan di iga kiri paling bawah. Setelah itu aku mendengar suara tembakan.

Pistol itu bergetar sedikit. Aku menangkap pergelangan tangan Clara. Ia melawan untuk membebaskan diri, tetapi tidak dapat. Aku menariknya ke arah balkonaku berjalan ke depan mendorongnya. Pistol itu di atas kepala kami, mengarah ke langitlangit. Nora berdiri, tetapi aku menggelengkan kepalaku. Clara menendang sebuah meja lampu yang besar ke arah Nora. Meja itu pecah karenanya dan menyebarkan serpihan pecahan kaca pada tungkainya. Aku terus memaksanya ke arah balkon. Kami melintasi perbatasannya. Aku mendorongnya dengan kasar ke arah pagar balkon, sementara pistol itu masih berada di atas kepala kami.

“Kau berada di tempat tinggi, Nyonya Banwell,” aku berbisik dalam kegelapan sambil meringis ketika peluru itu mulai masuk ke perutku. “Lepaskan pistolmu.”

“Kau tidak bisa melakukan itu,” katanya, “kau tidak sanggup membunuhku.”

“Aku tidak sanggup?”

“Tidak. Itulah perbedaan antara aku dan dirimu.”

Tibatiba perutku merasa seolah ada sepotong besi panas merah di dalamnya. Aku tadi yakin akan kemampuanku untuk mengungguli kekuatannya, namun kini tidak lagi. Aku sadar kekuatanku akan hilang sebentar lagi. Panas terbakar di dalam igaku mulai terasa lagi. Aku mengangkatnya tigapuluh sentimeter dari lantai tanpa melep askan pergelangan tangannya, lalu menurunkannya dengan keras hingga menghempas dinding samping balkon. Kami diam berdiri, saling berhadapan, dada kami berhadapan, lengan dan tangan saling lilit di antara dada kami, punggung Clara tertekan di dinding, mata kami dan mulut kami hanya berjarak beberapa senti saja. Aku menatap Clara ke bawah, dan Clara menatapku ke atas. Kemarahan membuat wajah beberapa wanita menjadi buruk, namun ada juga yang semakin rupawan. Clara termasuk jenis yang kedua.

Clara masih memegangi pistolnya, jemarinya menempel pada pelatuknya, di antara tubuh kami berdua. “Kau tidak tahu ke mana pistol itu mengarah, bukan?” Tanyaku, sambil menekannya lebih kuat ke arah dinding, sehingga membuatnya tersengal. “Mau tahu? Ke arahmu. Pada jantungmu.”

Aku dapat merasakan darah mulai banyak mengalir menuruni kemejaku. Clara tidak mengatakan apa-apa, matanya menatap mataku.

Dengan mengumpulkan tenagaku, aku melanjutkan, “Kau benar. Mungkin saja aku hanya menggertak. Mengapa kau tidak menarik saja pelatuknya sehingga kau tahu? Itu satusatunya kesempatanmu. Tidak lama lagi aku akan menguasaimu, Ayo. Tarik pelatuknya, Tarik, Clara.”

Ia menarik pelatuknya. Suara ledakan itu tertahan. Matanya terbelalak. “Tidak,” katanya. Tubuhnya menjadi kaku. Ia menatapku, tak berkedip. “Tidak,” ia mengulanginya. Kemudian ia berbisik. “Tindakanku.”

Mata itu tidak pernah tertutup. Tubuhnya merosot. Ia jatuh, mati, ke lantai.

Kini aku memegangi pistol itu. Aku kembali masuk ke ruang hotel. Aku mencoba mendekati Nora, tetapi tidak berhasil. Aku tersandung sofa. Kemudian aku merebahkan diri di atasnya sambil memegangi perutku. Darah mengalir di antara jemariku, sebuah noda merah besar menjadi semakin luas pada kemejaku. Nora berlari ke arahku.

“Tumit sepatu,” kataku. “Aku suka kau memakai sepatu bertumit.”

“Jangan mati,” bisiknya.

Aku tidak berbicara.

“Kumohon, jangan mati,” ia memohon padaku. “Kau akan mati?”

“Aku khawatir begitu, Nona Acton.” Aku mengalihkan tatapanku pada jenazah Clara, kemudian ke pagar balkon. Di luar aku dapat melihat beberapa bintang di langit kejauhan. Sejak orang-orang itu menerangi Broadway, kerlip gemintang telah menjadi cahaya yang meredup di atas Midtown. Akhirnya, aku menatap mata biru Nora sekali lagi. “Perlihatkan padaku,” kataku.

“Apa yang harus kuperlihatkan kepadamu?”

“Aku tidak mau mati sebelum mengetahuinya.”

Nora mengerti. Ia memutar tubuh bagian atasnya, memperlihatkan punggungnya padaku, seperti ketika pada hari pertama sesinya, di kamar ini juga. Aku terbaring di atas sofa. Aku meraih dengan satu tangan…, tangan yang bersih…, dan mulai membuka kancing gaunnya. Ketika punggung itu akhirnya terbuka, aku melepas ikatan korsetnya. Di balik renda yang bersilang-silang, di bawah dan di antara tulang-tulang belikatnya yang indah, ada beberapa bekas cambukan yang masih berdarah. Nora menjerit, lalu diam-diam menangis.

“Bagus,” kataku sambil bangkit dari sofa, “sudah pasti jika begitu. Segera panggil polisi dan bantuan medis, aku membutuhkannya,”

“Tetapi,” kata Nora menatapku bingung, “kau katakan tadi, kau akan mati.”

“Memang,” kataku. “Suatu hari kelak. Tetapi bukan karena gigitan kutu seperti ini.”

Duapuluh Enam

SABTU SIANG ITU, KETIKA AKU TERBANGUN, hari sudah siang. Seorang perawat mengantar dua orang tamu, Abraham Brill dan Sandor Ferenczi.

Brill dan Ferenczi tersenyum tipis. Mereka mencoba menguatkan hatiku. Lalu mereka bertanya, bagaimana kabar “pahlawan kita”, sambil menemaniku hingga aku menceritakan semua kisah kejadian. Tetapi akhirnya, mereka tidak bisa menyembunyikan kesedihan mereka. Aku bertanya apa yang terjadi.

“Habislah sudah semuanya,” kata Brill, “Ada surat lagi dari G. Stanley Hall.”

“Sebenarnya, untukmu,” kata Ferenczi.

“Yang telah dibaca Brill, tentu saja,” kataku menyimpulkan.

“Demi Tuhan, Younger,” Brill berseru, “kami semua sudah mengira kau mati.”

“Sehingga kau menganggap diperbolehkan untuk membaca semua suratku?”

Ternyata surat Hall berisi kabar baik dan juga kabar buruk. Ia telah menolak donasi untuk Clark dengan alasan kebebasan akademis universitas akan menjadi terbatas. Kini, ia telah memutuskan mengenai ceramah-ceramah Dr. Freud. Namun jika ia tidak mendengar pernyataan dari kami secara pasti bahwa Times tidak akan mencetak artikel yang telah dilihatnya, paling lambat pukul empat sore hari ini, kuliah Freud akan dibatalkan. Ia benar-benar meminta maaf. Freud tentu saja akan menerima honor yang telah dijanjikannya. Hall akan mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa kesehatan Freudlah yang menghalanginya untuk berbicara. Namun sebagai gantinya, Hall akan memilih salah satu pengganti penceramah utama yang ia yakin Freud akan menyetujuinya: Carl Jung.

Aku kira itu adalah kalimat terakhirnya yang paling menyakitkan hati Brill. “Kalau saja kita tahu siapa yang ada di belakang ini semua,” katanya. Aku benar-benar dapat mendengar suara kertakan giginya.

Ada suara ketukan pintu. Littlemore menjulurkan kepalanya ke dalam. Setelah memperkenalkan dirinya, aku mendesak Brill untuk menjelaskan keadaan kami kepada detektif itu. Yang terburuk, Brill menyimpulkan, mereka tidak tahu siapa yang tengah dihadapi. Siapa yang begitu

bernafsu menahan buku Freud dan menghalangi cerama-ceramahnya di Worcester?

“Jika kau mau nasihat,” kata Littlemore, “kita harus berbincang sedikit dengan teman kalian, Dr. Smith Jelliffe.”

“Jelliffe?” Tanya Brill. “Lucu sekali. Ia penerbitku. Ia hanya akan mendapat keuntungan bila ceramah-ceramah Freud berlangsung dengan baik. Ia mendesak agar dapat menyelesaikan terjemahanku sejak berbulan-bulan.”

“Cara berpikir yang salah,” kata Littlemore. “Jangan memikirkannya sekaligus. Si Jelliffe ini mengambil naskah bukumu, dan ketika ia mengembalikannya, naskah itu penuh berisi hal-hal aneh. Lalu ia mengatakan hal-hal tersebut dimasukkan oleh seorang pastur yang meminjam mesin cetaknya? Kisah yang paling mencurigakan yang pernah kudengar. Ia adalah orang pertama yang harus kalian tanyai.”

Mereka mencoba menghentikan aku, tetapi aku terus saja berpakaian lalu ikut bersama mereka. Aku hampir saja merobek jahitan lukaku saat melakukannya. Sebelum pergi ke rumah Jelliffe, kami singgah di apartemen Brill. Ada satu bukti yang diminta Littlemore untuk kami bawa ke kota.

g

LITTLEMORE MELAMBAIKAN TAN GANNYA PADA seorang opsir di lobi Balmoral. Polisi itu telah memeriksa apartemen Banwell yang sudah kosong sepanjang pagi.

Littlemore memang orang kesayangan di kalangan polisi tak berseragam, dan kini ia pun terkesan semakin penuh wibawa. Kabar tentang keberhasilannya menangkap Banwell dan Hugel, telah tersebar di seluruh lembaga

kepolisian.

Smith Ely Jelliffe membuka pintu dengan masih mengenakan piyamanya, serta sehelai handuk basah yang membungkus kepalanya. Kehadiran Dr. Younger, Brill, dan Ferenczi mengejutkannya, namun tak lama berubah menjadi ketakutan ketika ia melihat seorang hamba hukum. Detektif yang kemarin malam berkunjung ke apartemennya, kini berjalan tegap di belakang mereka.

“Aku tidak tahu,” seru Jelliffe pada Littlemore. “Aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu sampai kau pergi. Ia ada di kota hanya beberapa jam. Tidak ada kecelakaan ataupun yang sejenisnya, aku sumpah. Ia sudah kembali ke rumah sakit. Kau bisa menelpon. Itu tidak akan terjadi lagi.”

“Kalian berdua sudah saling mengenal?” Tanya Brill.

Littlemore bertanya pada Jelliffe tentang Harry Thaw selama beberapa menit, sehingga teman-temannya terheran-heran. Ketika akhirnya Littlemore merasa puas, ia masih bertanya lagi mengapa ia mengirimkan ancaman tanpa nama kepada Brill, lalu membakar naskah, dan membuang abu di apartemennya? Mengapa juga ia telah mengumpat Freud di koran?

Jelliffe bersumpah ia tidak bersalah. Ia menyatakan kalau ia tidak tahu apa-apa tentang pembakaran buku dan pengiriman ancaman.

“Oh, ya?” Tanya Littlemore. “Lalu siapa yang menyelipkan halaman-halaman dari Kitab Injil itu ke dalam naskah?”

“Aku tidak tahu,” kata Jelliffe. “Itu pastilah ulah dari orang-orang gereja itu.”

“Tentu saja begitu,” kata Littlemore. Ia memperlihatkan Jelliffe bukti artikel yang kami ambil dari apartemen Brill sejam yang lalu. Artikel itu hanya berupa sehelai kertas dari naskah Brill yang berisi tidak saja ayat Yeremia, tetapi juga gambar stempel seorang lelaki memakai pembungkus kepala, berjenggot, dan tampak marah. Ia lalu melanjutkan. “Lalu bagaimana ini bisa berada di dalamnya? Kelihatannya tidak terlalu bersifat gerejawi bagiku.”

Mulut Jeliffe ternganga.

“Apa itu?” Tanya Brill, “Kau mengenalinya?”

“Itu Charaka,” kata Jelliffe.

“Apa?” Tanya Littlemore.

“Charaka, seorang dokter Hindu kuno,” kata Ferenczi. “Aku bilang, Hindu. Kau ingat aku pernah mengatakannya?” Younger berkata. “Si Triumvirate.” “Bukan,” kata Brill. “Ya,” Jelliffe mengaku. “Apa?” Tanya Ferenczi.

Younger berkata pada Brill. “Seharusnya kita sudah melihat ini sejak lama. Siapakah anggota dewan jurnal Morton Prince di New York ini, yang mengetahui apa saja yang akan diterbitkan Prince, dan mampu memerintahkan penangkapan di orang Boston semudah membalikkan telapak tangan?”

“Dana,” kata Brill.

“Dan siapakah keluarga yang menawari donasi pada Clark? Hall mengatakan pada kita salah satu dari mereka adalah seorang dokter yang terkenal dalam bidang psikoanalisa. Hanya ada satu keluarga kaya raya di negeri ini yang mampu mendanai seluruh rumah sakit, dan mampu membual tentang anggota kelompoknya yang ahli neurologi terkenal di dunia.”

“Bernard Sachs!” Seru Brill. “Dan dokter tanpa nama

di Times adalah Starr. Aku seharusnya sudah tahu katakata congkak itu begitu aku membacanya. Starr selalu membual pengalaman belajarnya di laboratorium Char-cot beberapa dekade yang lalu.”

“Siapa?” Tanya Ferenczi. “Apa itu Triumvirate?”

Dengan bergantian Younger dan Brill menjelaskannya. Orangorang yang baru saja mereka sebutkanCharles Louis Dana, Bernard Sachs, dan M. Allen Starr merupakan tiga ahli neurologi yang paling berpengaruh di negeri ini. Secara bersamaan, mereka terkenal dengan nama Triumvirate New York. Mereka memiliki harga diri mereka sendiri dan kekuatan atas sebuah kombinasi yang mengesankan dari prestasi, silsilah, dan uang. Dana adalah penulis naskah terkemuka tentang penyakit jiwa orang dewasa. Sachs memiliki reputasi dunia, terutama lantaran karyanya mengenai sebuah penyakit yang pertama kali ditemukan oleh Warren Tay yang berkebangsaan Inggris.

Dana juga menulis buku teks pertama tentang keadaan jiwa anak-anak. Tentu saja, keluarga Sachs secara sosial tidak setara dengan keluarga terbaik Dana; mereka tidak bisa ikut serta dalam lingkungan sosial itu sama sekali, karena perbedaan agama. Tetapi keluarga Sachs lebih kaya. Saudara lelaki Bernard Sachs telah menikah dengan keluarga Goldman; seorang pendiri bank swasta. Sebagai akibat dari hubungan itu, ia menjadi benteng Wall Street. Starr, seorang dosen di Columbia, setidaknya adalah yang paling kurang dari ketiganya.

“Ia adalah kantung angin,” kata Brill menjuluki Starr, “ia adalah boneka Dana.”

“Tetapi mengapa mereka begitu berniat merusak Freud?” Tanya Ferenczi.

“Karena mereka neurolog,” kata Brill. “Freud membuat mereka takut.” “Aku bingung.”

“Mereka termasuk pengikut faham somatis,” jelas Younger. “Mereka berpendapat bahwa segala penyakit jiwa berasal dari gangguan syaraf, bukan karena faktor kejiwaan. Mereka tidak percaya pada trauma masa kanak-kanak; mereka tidak percaya bahwa penekanan gairah seksual dapat menimbulkan penyakit jiwa. Psikoanalisa adalah kutukan bagi mereka. Mereka menyebut psikoanalisa sebagai sekte.”

“Hanya karena perbedaaan ilmiah,” kata Ferenczi, “mereka bisa melakukan hal-hal seperti membakar naskah, mengancam, menyeb arkan tuduhan?”

“Ilmu pengetahuan tidak ada hubungannya di sini,” kata Brill. “Para ahli syaraf itu mengendalikan segalanya. Mereka adalah ‘ahli syaraf, jadi mereka ahli dalam ‘keadaan-keadaan syaraf.’ Semua wanita pergi kepada mereka baik untuk mengobati histerianya, atau menyembuhkan debaran jantung mereka, atau menghilangkan kecemasan dan kekecewaan mereka. Praktik itu menghasilkan jutaan dolar bagi mereka. Jelas saja mereka menganggap kita sebagai iblis. Kita bisa menggulung-tikarkan usaha mereka. Tak seorang pun akan berobat kepada mereka begitu menyadari bahwa penyakit jiwa disebabkan oleh kejiwaan, bukan gangguan syaraf.”

“Dana ada di Pihakmu, Jelliffe,” kata Younger melanjutkan. “Dia memusuhi Freud sebagaimana dia memusuhi lainnya seperti yang pernah kudengar selama ini. Apakah dia tahu tentang buku Brill?”

“Ya,” kata Jelliffe, “tetapi ia tidak akan membakarnya. Ia menyetujui penerbitan buku itu. Ia mendorongku untuk

menerbitkannya. Bahkan ia mencarikanku seorang editor untuk membantu mempersiapkan penyebaran.”

“Seorang editor?” Tanya Younger. “Apakah editor itu membawa naskahmu ke luar kantormu?”

“Tentu,” kata Jelliffe. “Bahkan ia membawanya pulang untuk dikerjakan.”

“Nah, sekarang kita tahu,” kata Brill. “Si anak jadah

itu.”

“Bagaimana dengan urusan Charaka?” Tanya Littlemore.

“Itu perkumpulan mereka,” kata Jelliffe. “Salah satu perkumpulan yang paling tertutup di kota ini. Nyaris tidak ada orang lain yang dibiarkan masuk. Para anggotanya mengenakan cincin stempel bergambar seraut wajah. Wajah yang seperti kalian lihat pada halaman itu.”

“Itu sebuah komplotan,” kata Brill. “Sebuah perkumpulan rahasia.”

“Tetapi mereka para ilmuwan,” Ferenczi protes. “Namun mengapa mereka membakar buku dan menyebarkan abunya di rumah Brill?”

“Tentunya mereka juga membakar kemenyan dan mengorbankan para perawan,” kata Brill.

Pertanyaannya, apakah mereka bertanggungjawab akan kisah tentang Jung di Times,” kata Younger. “Itu yang perlu kita ketahui.”

“Mereka bertanggungjawab?” Tanya Littlemore pada Jelliffe.

“Wei/, aku…, aku mungkin saja mendengar mereka membicarakan tentang itu satu kali,” kata Jelliffe. “Dan mereka membuat jadwal bagi Jung sehingga ia bisa berbicara di Fordham.”

“Tentu saja,” kata Brill. “Mereka menaikkan Jung untuk

menjatuhkan Freud. Lalu G. Stanley Hall turut jatuh bersamanya. Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa melawan Charles Dana.”

“Aku tidak tahu tentang ketakmampuan kita,” kata Littlemore. Ia lalu berkata lagi pada Jelliffe. “Kau menyebutkan sebuah nama, Dana, tadi malam, bukan? Orang yang sama dengan Dana yang kalian bicarakan tadi?”

Jelliffe mengangguk.

g

PELAYAN DI RUMAH ITU membukakan pintu. Rumah itu kecil namun anggun, berada di Fifty-third Street pada Fifth Avenue. Pelayan itu mengatakan kepada kami bahwa Dr. Charles Dana tidak ada di rumah. “Katakan padanya, seorang detektif ingin bertanya tentang Harry Thaw,” kata Littlemore. “Dan katakan juga bahwa aku baru saja menemui Dr. Smith Jelliffe. Mungkin setelah mendengar itu ia akan ada di rumah.”

Atas nasihat Littlemore, maka Littlemore dan aku saja yang pergi ke rumah Charles Dana, sementara Brill dan Ferenczi kembali ke hotel. Satu menit kemudian kami berdua diundang masuk.

Rumah Dana sama sekali tidak mirip dengan rumah Jelliffe yang megah, ataupun serupa dengan rumah-rumah lainnya yang baru dibangun di Fifth Avenuetermasuk juga rumah saudaraku di sana. Rumah Dana adalah bangunan yang terbuat dari bata merah. Perabotannya indah tanpa kesan berat. Ketika Littlemore dan aku memasuki ruang depan, kami melihat Dana muncul dari kegelapan sebuah perpustakaan yang lengkap. Ia menutup pintu perpustakaan itu dan menyambut kami. Ia terkejut karena kehadiranku, aku yakin. Tetapi ia bereaksi dengan kepercayaan diri yang sempurna. Ia bertanya padaku tentang Bibi Mamie, lalu para sepupuku, dan keadaanku setelah itu. Ia tidak mempertanyakan alasanku menemani Littlemore. Keanggunannya sangat mengagumkan. Ia tampil sesuai dengan usianya yang mungkin sekitar enampuluh tahun. Ia membawa kami ke ruangan lain, yang kupikir adalah tempat dirinya berdiskusi dengan rekan-rekan usahanya dan bertemu pasiennya.

Percakapan kami dengan Dana singkat saja. Nada suara Littlemore berubah. Dengan Jelliffe, ia terdengar mendominasi. Ia menuduh dan menantang Jelliffe untuk menyangkalnya. Dengan Dana, ia jauh lebih berhati-hati walau masih menyiratkan kalau ia mengetahui sesuatu yang ingin dirahasiakan oleh Dana.

Dana tidak memperlihatkan segala perasaan takut yang tadi diperlihatkan Jelliffe. Ia mengakui kalau Thaw telah menggunakan jasanya di pengadilan. Tetapi Dana menekankan kalau perannya tidak seperti Jelliffe, ia hanya sebagai penasihat. Ia tidak memberikan pendapat apa pun tentang keadaan mental Thaw, baik itu sekarang ataupun pada masa silam.

“Apakah kau memberikan pendapat tentang kedatangan Thaw di New York minggu lalu?” Tanya Littlemore.

“Apakah Pak Thaw ada di New York minggu lalu?” Tanya Dana.

“Jelliffe mengatakan hal itu adalah keputusanmu.”

“Aku bukan dokter Pak Thaw, Detektif. Jelliffe-lah dokternya. Aku memutuskan hubungan kerja dengan Pak Thaw tahun lalu. Catatan umum akan memperlihatkan hal itu. Dr. Jelliffe terkadang meminta pendapatku, dan aku

memberikannya sedikit nasihat sebisaku. Aku tidak tahu apa-apa tentang keputusan perawatan, dan pasti tidak dapat dianggap membuat keputusan bagi mereka.”

“Cukup adil,” kata Littlemore. “Kukira aku dapat menangkapmu karena bekerja sama sehingga seorang tahanan negara kabur, tetapi tampaknya aku tidak dapat menghukummu.”

“Aku sangat meragukan hal itu,” kata Dana. “Tetapi jelas aku bisa membuatmu dipecat jika kau berani mencobanya.”

“Dan kukira,” kata Littlemore, “kau juga tidak mampu membuat keputusan apa pun tentang pencurian sebuah naskah, membakarnya, dan menyebarkan abunya di rumah Dr. Abraham Brill?”

Untuk kali pertama, Dana tampak bingung.

“Wah, cincinmu bagus sekali, Dr. Dana,” kata Littlemore melanjutkan. Tak seorang pun berbicara. Dana menyatukan jemarinya yang jenjangtidak untuk menyembunyikan cincinnyakemudian b ersandar p ada kursinya. “Apa yang kau inginkan, Pak Littlemore?” Tanyanya. Ia menoleh padaku. “Atau mungkin aku harus mempertanyakan pertanyaan itu padamu, Dr. Younger.”

Aku berdeham. “Tentang berbagai kebohongan itu,”

kataku. “Berbagai tuduhan yang kau tujukan pada Dr. Freud? Seluruhnya bohong.”

“Kupikir aku tahu apa maksudmu,” kata Dana, “aku bertanya lagi padamu, apa yang kau inginkan?”

“Kini sudah pukul setengah empat,” kataku. “Dalam setengah jam lagi, aku akan menulis kawat kepada G. Stanley Hall di Worcester. Aku ingin mengatakan kalau ada berita tertentu yang tidak akan dipublikasikan di Times besok. Aku ingin telegramku itu mengabarkan hal

yang sesungguhnya.”

Dana duduk diam, sambil menatap mataku. “Aku akan katakan satu hal,” akhirnya ia berkata. “Masalahnya adalah: pengetahuan kami tentang otak manusia tidak sempurna. Kami tidak memiliki obat-obatan untuk mengubah cara berpikir manusia. Untuk menyembuhkan penyakit khayalan mereka. Untuk membebaskan gairah seksual mereka sementara harus menjaga agar dunia tidak kelebihan penghuni. Untuk membuat mereka bahagia. Itu semua urusan neurologi, kau tahu itu. Pasti. Psikoanalisa akan membuat kita mundur lagi. Kecabulannya akan menarik bagi ilmuwan muda, bahkan yang sudah tua sekalipun. Masyarakat akan menjadi tukang pamer dan dokter berubah menjadi dukun. Tetapi suatu ketika orang akan sadar akan fakta bahwa itu hanya satu gaya perawatan baru saja. Kami akan menemukan obat-obatan untuk mengubah cara orang berpikir, cepat atau lambat. Untuk mengendalikan cara mereka merasakan. Pertanyaanya, apakah ketika itu kita akan masih memiliki rasa malu untuk dipermalukan oleh fakta bahwa setiap orang berlarian sambil telanjang? Kirimkan telegrammu, Dr. Younger. Beritamu akan benar adanya…, sekarang ini.”

9

SETELAH MENINGGALKAN RUMAH DANA, Littlemore membawaku ke kota. “Jadi, Dok,” katanya, “aku tahu apa yang kau rasakan pada Nora dan semuanya. Tetapi tidakkah kau…, maksudku, mengapa Nora melakukan itu semua?”

“Demi Clara,” jawabku.

“Tetapi mengapa?”

Aku tidak menjawab.

Littlemore menggelengkan kepalanya, “semua orang melakukan segalanya demi Clara.”

“Ia menyediakan para gadis untuk Banwell,” kataku. “Kau tahu?”

“Tadi malam,” katanya, “Nora mengatakannya pada Betty dan aku tentang pekerjaan yang dilakukan oleh Clara, dirinya dan beserta keluarga-keluarga pendatang di kota. Setelah aku mendengar segalanya, menurutku, pekerjaan itu tidak terlalu baik. Kau mengerti maksudku. Setelah itu, aku mendapatkan beberapa nama dan alamat dari Nora, dan memeriksanya pagi tadi. Aku menemukan keluarga yang ‘dibantu’ Clara. Pada umumnya mereka tidak mau bicara, tetapi akhirnya aku mendapatkan cerita itu. Buruk sekali. Clara mencari gadis-gadis tanpa ayah, terkadang tidak ada orang tuanya sama sekali. Betulbetul gadis muda…, tigabelas, empatbelas, limabelas tahun. Clara membayar siapa pun yang merawat gadis itu, lalu membawa gadis itu ke Banwell.”

Littlemore terus mengemudi tanpa bicara.

“Kau menemukan,” tanyaku, “jalan tembus ke kamar Nora?”

“Hmm. Banwell juga mengatakan hal itu pada kami tadi pagi,” kata Littlemore. “Ia menyalahkan semuanya pada Clara. Hingga kemarin, Banwell tidak pernah mengira kalau Clara ternyata melawannya. Dua atau tiga tahun yang lalu, Acton menyewanya untuk membangun rumah mereka di Gramercy Park. Karena itulah mereka akhirnya berkenalan.”

“Dan Banwell menjadi tergila-gila kepada Nora,” kataku.

“Sepertinya begitu. Nora…, berapa ya? Kira-kira

berusia empatbelas tahun, tetapi Banwell merasa harus mendapatkannya. Jadi begini: Ketika para tukangnya bekerja, mereka menemukan ada jalan kecil tua yang menjalar dari salah satu dari kamar di lantai dua ke halaman belakang. Tampaknya keluarga Acton tidak tahu sebuah lorong itu. Mereka tinggal di luar kota ketika itu, dan Banwell tidak pernah memberitahu mereka tentang lorong itu. Ia bahkan memperbaiki lorong itu sehingga dapat menggunakannya sebagai jalan masuk dari lorong belakang rumah tanpa melintasi halaman rumah Acton. Kemudian ia merancang rumah tersebut sedemikian rupa hingga kamar di lantai dua itu menjadi kamar Nora. Aku bertanya kepadanya, apakah rencananya itu hanya untuk masuk ke kamar Nora satu malam dan memerkosanya. Kau percaya tidak? Ia menertawakan aku. Katanya, ia tidak pernah memerkosa siapa pun. Para gadis itulah yang menginginkannya. Dengan Nora, ia telah membayangkan akan merayunya, karena itu ia membutuhkan jalan untuk masuk dan keluar tanpa sepengetahuan orangtuanya. Tetapi kukira Nora tidak tergoda dengan rayuannya.” “Ia menolaknya,” kataku.

“Itu yang dikatakan Banwell pada kami. Ia bersumpah tidak pernah menyentuhnya. Tidak pernah menggunakan jalan rahasia itu hingga minggu ini. Kau tahu, kupikir hal itu benar-benar membuatnya marah. Mungkin belum pernah ada gadis yang menolaknya.”

“Boleh jadi,” kataku. “Mungkin Banwell jatuh cinta padanya.”

“Kau pikir begitu?”

“Kukira begitu. Lalu Clara memutuskan untuk mengambil Nora bagi suaminya.”

“Bagaimana cara Clara melakukannya?” Tanya Littlemore.

“Kupikir Clara mencoba membuat Nora jatuh cinta pada dirinya.”

“Apa?” Tanya Littlemore. Aku tidak menjawab.

“Aku tidak tahu tentang hal itu,” lanjut Littlemore, “tetapi aku akan jelaskan ini: Banwell mengatakan bahwa Claralah yang menyuruh Nora untuk memerankan Elizabeth Riverford. Ketika Banwell membangun Balmoral, ia membuat jalan lagi, hanya kali ini, terhubung dengan ruang kerjanya sendiri. Apartemen itu menjadi sarangnya. Ia mengatur dengan sesuka hatinya: tempat tidur besar dari kuningan, sprei sutra, karya-karya. Ia mengisi lemarinya dengan pakain dalam dan bulu. Meletakkan beberapa setel jasnya, juga di dalam lemari yang berbeda, tetapi ia menguncinya. Belum lama berselang, jika kau percaya padanya, Clara mengatakan pada Banwell kalau Nora akhirnya mengatakan setuju. Gagasannya: Nora akan menyewa apartemen dengan nama palsu, dan menemuinya kapanpun ia berkesempatan. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Tetapi aku tidak mau bertanya pada Nora tentang hal itu.”

Aku tahu. Nora telah mengatakannya padaku semuanya tadi malam, ketika aku menunggu polisi datang. Pada suatu hari di bulan Juli, Clara dengan berurai airmata mengatakan pada Nora kalau ia tidak dapat mempertahankan pernikahannya. George mencambuki dan memerkosanya hampir setiap malam. Ia takut akan dibunuhnya. Tetapi ia tidak bisa meninggalkannya, karena George akan membunuhnya jika ia pergi.

Nora sangat ketakutan, tetapi Clara berkata kalau tidak ada yang bisa lakukan oleh siapa pun. Hanya satu hal

yang dapat menyelamatkannya, tetapi itu tidak mungkin. Clara tahu seorang lelaki yang berkedudukan tinggi di lembaga kepolisian yaitu Hugel. Jelas sekali Clara telah menemuinya ketika Nora dan Clara “membantu” sebuah keluarga imigran yang anak perempuannya mati. Menurut Clara, ia menyatakan permohonannya. Hugel merasa iba namun mengatakan bahwa hukum tidak punya kekuatan, karena seorang suami memiliki hak hukum untuk memerkosa istrinya. Lalu Clara menambahkan, George juga memerkosa para wanita lainnya yang keluarganya telah dibayar oleh George agar tidak melapor polisi. Namun akhirnya ia membunuh gadis itu, kata Clara. Ketika itu Hugel menjadi marah. Boleh jadi ketika itu Hugel memutuskan hanya ada satu hal yang harus dilaksanakan yaitu mereka harus memperlihatkan adanya pembunuhan.

Seorang gadis harus seolah ditemukan tewas di apartemen tempat George telah menyembunyikannya sebagai kekasih gelap. Kematian itu harus tampak seperti ia tewas karena terbunuh dengan tangan. Itu bisa dilaksanakan, karena Hugel-lah yang akan memberikan obat katalepsi, dan ia sendiri yang akan melakukan pemeriksaan medis. Sepotong bukti yang tertinggal di tempat kejadian akan menunjukkan kalau Banwell-lah pelakunya. Clara membuat Nora percaya skenario yang dibuat oleh Hugel, seluruhnya.

Nora ingat betapa ia sangat terkejut karena rencana berani itu. Ia bertanya pada Clara, apakah ia benar-benar memercayai keberhasilan rencana itu?

Tidak, kata Clara. Clara tidak akan meminta siapa pun untuk menjadi kekasih gelap sekaligus korban Banwell. Namun Clara terus membuat Nora percaya padanya. Ketika itu Nora berkata kalau ia mau melakukannya.

Clara mananggapinya dengan berpura-pura terkejut.

Jangan, katanya. Gadis yang memerankan korban harus membiarkan dirinya dilukai oleh Banwell. Nora bertanya pada Clara, apakah dilukai artinya diperkosa. Tentu saja tidak, jawab Clara, tetapi si korban harus mau diikat dengan pita atau tali di sekitar lehernya, dan Clara juga boleh meninggalkan satu atau dua tanda pada leher si korban. Nora bersikeras mau melakukannya. Akhirnya Clara menyerah. Mereka pun melanjutkan rencana persekongkolan itu. Nora diyakinkan kalau apa yang terjadi di Balmoral pada Minggu malam itu, benar-benar jelas karena obat bius katalepsi dari Hugel. Nora ingat, Clara mengatakan padanya untuk tidak berteriak. Nora juga teringat kalau ia terus lupa siapakah nama palsunya. Selanjutnya, sudah jelas. Seperti yang sudah kujelaskan segalanya kepada Littlemore.

“Aku tahu apa yang terjadi berikutnya,” katanya. “Ketika Nora sadar pada Senin pagi, ia sudah berada di rumah mayat bersama Hugel. Lalu Hugel mengatakan padanya kabar buruk itu: seharusnya ia menemukan dasi sutra putih dengan monogram Banwell di tempat kejadian, yang bisa membuktikan kalau Banwell-lah pelakunya. Tetapi dasi itu tidak ada di sana. Karena Banwell segera pergi melalui jalan rahasia begitu ia tahu tentang rencana ‘pembunuhan’ itu. Banwell harus mengeluarkan pakaiannya dari apartemen itu, sehingga kami tidak menghubungkannya dengan Nona Riverford.”

“Tetapi Banwell berada di luar kota pada bersama McClellan pada Minggu malam itu,” kataku. “Hugel tidak tahu?”

“Tidak seorang pun yang tahu. Banwell diharapkan makan malam bersama Walikota di Saranac Inn, ia datang hampir terlambat. Segalanya serba rahasia. Clara pun

tidak tahu tentang hal itu, karena tidak ada pesawat telepon di rumah desa Banwell. Maka itu Clara menyelinap dari Tarry Town malam hari, ia mengerjakan urusannya dengan Nora sekitar pukul sembilan, dan kembali lagi ke Tarry Town. Clara meminta Hugel untuk menyatakan waktu kematian korban antara tengah malam dan pukul dua, karena Banwell diharapkan sudah berada di rumah saat itu.”

“Tetapi Banwell melihat dasinya di sana keesokan harinya dan mengambilnya sebelum Hugel datang.”

“Benar. Tanpa dasi itu, Hugel dalam kesulitan. Ketika itu ia tidak dapat menghubungi Clara. Maka ia memutuskan untuk mencipatkan fakta palsu penyerangan, kali ini di rumah Nora, di mana kali ini ia bisa meletakkan barang bukti lagi. Ia harus dapat memidanakan Banwell, bukankah begitu? Itu merupakan perjanjiannya dengan Clara. Clara telah memberinya uang muka sebesar sepuluh ribu dolar, dan Hugel akan mendapatkan tigapuluh ribu lagi jika Banwell berhasil dipidana. Tetapi ada yang salah, untuk kedua kalinya. Aku tidak tahu. Tetapi Hugel membisu.”

Lagi, aku dapat mengisi kekosongan itu. Nora masih mau mengalami serangan kedua baik karena masih merasa kalau ia melakukan hal itu demi menyelamatkan Clara, atau karena ia tidak tahu dari mana asal luka-luka yang dideritanya ketika terbangun dari tidurnya. Pada ‘serangan’ kedua, Hugel hanya akan mengikatnya lalu meninggalkannya. Ia tidak akan dilukai lagi, sama sekali. Kenyataannya memang ia tidak dilukai lagi. (Itulah sebabnya Nora tidak dapat menjawab pertanyaanku kemarin). Aku bertanya padanya apakah lelaki itu mencambukinya. Nora takut mengatakan yang sebenarnya padaku, karena Clara telah bersumpah Banwell akan membunuh dirinya jika

Banwell tahu, sementara itu, Nora tidak ingin Clara terbunuh. Tetapi ketika Hugel mengikat Nora, lelaki itu menjadi ragu. Ia terus menatap Nora. Hugel berkeringat dan tampaknya mengalami kesulitan menelan, kata Nora. Lelaki itu tidak pernah mengancamnya’ tidak juga menganiayanya. Tetapi ia terus memperbaiki tali pengikat pada pergelangan tangannya. Ia tidak mau pergi. Kemudian, ia menggesekkan tubuhnya pada tubuh Nora.

“Tampaknya ahli otopsi-mu sendiri kehilangan kendali,” kataku tanpa penjelasan lebih lanjut lagi. “Nora pun berteriak.”

“Dan Hugel menjadi panik, benar?” Kata Littlemore. “Ia kemudian lari melalui halaman belakang. Ia membawa peniti Banwell. Seharusnya ia meninggalkannya di kamar tidur Nora, tetapi ia lupa karena panik. Lalu dibuangnya saja peniti itu di halaman, sambil berharap kami akan menemukannya ketika menyelidiki taman.”

Setelah Hugel melarikan diri, Nora tidak tahu harus berbuat apa. Ahli otopsi itu seharusnya membuat Nora tidak sadar, tetapi ia lupa. Ia melarikan diri tanpa memberikan obat bius pada Nora. Karena bingung, Nora berpura-pura tidak bisa bicara atau ingat segala yang telah terjadi. Suaranya memang pernah hilang tiga tahun seb elumnya, dan amnesianyawalau tidak terlalu banyak sesungguhnya telah memberinya gagasan.

“Mengapa Banwell membuang koper di sungai?” Tanyaku.

“Lelaki itu terjepit,” jawab Littlemore. “Coba pikirkan. Jika ia membiarkan kita memeriksa barang-barangnya di apartemennya, ia tahu kita akan menemukannya, dan menangkapnya dengan tuduhan pembunuhan. Ia juga tidak bisa mengatakan begitu saja kepada kita kalau

Elizabeth sebenarnya adalah Nora. Bahkan jika kita percaya padanya, artinya ia akan memiliki sebuah skandal besar, dan ia mungkin akan dipenjara karena menganiayai anak di bawah umur. Maka ia mengatakan kepada McClellan kalau ia telah mengirimkan semua barang-barang Elizabeth kembali ke Chicago. Ia memasukkan semuanya ke dalam koper besar dan membawanya ke kaison. Ia mengira itu adalah tempat yang sempurna. Tetapi ternyata ia bertemu dengan Malley.”

“Ia nyaris memperdaya kita,” kataku.

“Dengan kasus Malley?”

“Tidak. Ketika ia…, ia membakar Nora.” Pikiran itu membuatku merasa harus membunuh Banwell yang sadis itu.

“Hmm,” kata Littlemore. “Ia ingin kita mengira Nora gila sehingga melakukan penyiksaan dirinya sendiri. Ia membayangkan jika ia berhasil mengelabui kita, ia akan selamat dari semua tuduhan. Apa pun yang dikatakan Nora, tidak ada yang memercayainya.”

“Apa yang membuatnya kembali untuk membunuhnya tadi malam?” Tanyaku.

“Nora mengirimkan sebuah surat kepada Clara.” kata Littlemore. “Nora menegaskan kalau ia akan mengatakan kepada polisi tentang segala yang dilakukan Banwell kepada Clara dan gadis-gadis lainnya, gadis-gadis imigran. Tampaknya Banwell melihat surat itu.”

“Aku heran mengapa Clara membiarkan Banwell melihatnya,” kataku.

“Bisa saja. Tetapi kemudian Hugel mengunjunginya. Banwell masih di rumah ketika Hugel ke sana. Lalu Banwell mulai menghubung-hubungkan segala fakta. Malam itu, ia mengikat Clara supaya tidak menghalanginya. Setelah itu

ia langsung ke rumah Acton. Ketika itulah kami menemukan jalan rahasia di Balmoral. Wah, Clara baik sekali. Ia mengatakan padaku kalau suaminya akan membunuh Nora, tetapi ia membuatnya seakan akulah yang memaksanya mengatakan semua itu. Kukira ketika itu ia tidak tahu kalau Nora tidak di rumah sama sekali. Bagaimana ia tahu kalau Nora ada di hotel?”

“Nora menelponnya,” kataku. “Bagaimana dengan si lelaki Cina itu?”

“Leon? Mereka tidak akan pernah menemukannya,” jawab Littlemore. “Aku sudah berbicara panjang dengan Chong Sing hari ini. Tampaknya ia menyambangi Leon sebulan yang lalu. Leon mengatakan, ada seorang kaya yang mau membayar mereka mengambil sebuah kopernya. Malam itu, kedua orang Cina itu pergi ke Balmoral dan membawa kembali koper Banwell ke kamar Leon dengan menggunakan kereta kuda sewaan. Keesokan harinya, Leon berkemas, lalu kembali ke Cina. Chong menjadi bingung. Apa isi koper itu? Tanyanya. Lihat saja sendiri, jawab Leon. Maka Chong membukanya, dan melihat salah satu kekasih Leon mati di dalamnya. Chong menjadi marah; ia berkata, polisi akan mengira Leon-lah yang membunuhnya. Leon juga mengatakan pada Chong untuk pergi ke Balmoral keesokan harinya, dan mereka akan memberinya pekerjaan bagus. Chong sangat senang karenanya. Ia membayangkan Leon mendapat uang banyak, kalau tidak, bagaimana Leon bisa pulang ke Cina. Maka, sebagai seorang Cina, Chong meminta dua pekerjaan sebagai upahnya, bukan hanya satu. Maka Leon pun mengatur itu untuknya.”

Kami berhenti di depan hotel, masingmasing dengan pikiran kami.

Littlemore berkata, “ada satu hal lagi. Mengapa Clara begitu bersusah payah mendapatkan Nora bagi Banwell jika Clara akhirnya begitu cemburu padanya? Itu tidak masuk akal.”

“Oh, aku tidak tahu,” kataku sambil keluar dari mobil. “Beberapa orang akan mengira kalau harus mendatangkan hal yang paling menyakitkan bagi mereka.”

“Begitukah?”

“Ya.”

“Mengapa?” Tanya Littlemore.

“Aku tidak tahu, Detektif. Itu merupakan misteri yang tak terkuak.”

“Itu mengingatkan aku: Aku bukan detektif lagi,” katanya. “Walikota McClellan mengangkatku menjadi seorang Letnan.”

g

HUJAN LEBAT mengguyur kami semua di pelbuhan South Street Sabtu malam. Freud dan Jung tampak sangat tidak tenang. Ketika barang-barang mereka dinaikkan ke kapal semalam dari New York ke Fall River, Freud menarikku menepi.

“Kau tidak ikut bersama kami?” Tanya Freud padaku di bawah payung.

“Tidak, Tuan. Dokter bedahku mengatakan sebaiknya aku tidak melakukan perjalanan selama satu atau dua hari.”

“Aku mengerti,” katanya ragu. “Dan Nora, tentu saja akan tetap di sini, di New York?” “Ya,” jawabku.

“Tetapi masih ada sesuatu yang lain, bukan?” Kata Freud sambil mengelus jenggotnya.

Aku lebih senang mengganti topik pembicaraan. “Bagaimana urusan dengan Dr. Jung, Tuan?” Aku tahu sebagaimana Freud tahu kalau aku tahu tentang kejadian aneh antara Jung dan Freud yang terjadi malam sebelumnya.

“Lebih baik,” kata Freud, “Kau tahu, aku yakin, ia cemburu padamu.” “Padaku?”

“Ya,” kata Freud. “Akhirnya aku sadar itu. Karena aku memilihmu untuk menganalisa Nora. Ia menganggapku berkhianat. Ketika aku menjelaskan kepadanya kalau aku menunjukmu hanya karena kau tinggal di sini, hal itu segera memperbaiki keadaan kami.” Ia melihat hujan. “Hujan ini tidak akan terus begini. Tidak lama lagi akan berhenti.”

“Aku tidak mengerti Nyonya Banwell, Dr. Freud,” kataku. “Aku tidak mengerti perasaannya pada Nona Acton.”

Freud merenung. “Well, Younger, kau telah memecahkan misteri itu. Hebat.”

“Kaulah yang memecahkannya, Tuan. Kau memperingatkan aku tadi malam kalau mereka semua dalam pengaruh Nyonya Banwell dan persahabatan antara Clara dan Nona Acton tidak betulbetul murni. Aku tidak terlalu mengerti Nyonya Banwell, Dr. Freud. Aku tidak mengerti apa yang menggerakkannya.”

“Jika aku harus menerka,” kata Freud, “aku akan mengatakan kalau Nora, bagi Nyonya Banwell, adalah bayangan cermin. Nyonya Banwell melihat dirinya sendiri di dalam diri Nora seperti sepuluh tahun yang lalu. Yang dilihatnya adalah kebalikannya dari yang terjadi pada dirinya sekarang ini. Jelas hal itu membuatnya merasa

ingin memperdaya Nora, dan menyakitinya. Kau harus ingat, ada tahun-tahun di mana ia menjadi obyek penderita lantaran kesadisan suaminya.”

“Ya, namun ia tetap bersamanya.” Tidak mungkin jika alasannya hanya karena uang yang membuatnya tetap bersama Banwell. “Clara seorang masokis?”

“Tidak ada hal seperti itu, Younger, tidak dalam bentuk yang hakiki. Setiap pelaku masokis juga adalah seorang sadistis. Pada lelaki, kebanyakannya, prilaku masokis tidak pernah dominansadisme itulah yang mengubah dirinyadan Nyonya Banwell, tidak diragukan lagi, memiliki pribadi maskulin yang kuat. Mungkin ia telah sejak lama merencanakan untuk menghancurkan suaminya suatu waktu nanti.”

Aku memiliki satu pertanyaan lagi. Aku tidak yakin apakah yang keluar dari mulutku itu suaraku. Terdengar tidak berperasaan dan tak acuh. Tetapi aku memutuskan untuk melanjutkan. “Apakah lesbian (homoseksualitas) itu merupakan penyakit patologis, Dr. Freud?”

“Kau mengira apakah Nora seorang lesbian?” Tanya Freud.

“Sedemikian transparankah aku? ” “Tak seorang pria pun yang mampu menyimpan rahasia,” jawab Freud. “Jika bibirnya tak bersuara, ia bicara dengan ujung jemarinya.”

Aku menahan dorongan untuk melihat pada ujung jemariku.

“Tidak perlu melihat ujung jemarimu,” lanjut Freud. “Kau tidak sedemikian transparan. Denganmu, anakku, aku hanya bertanya pada diriku sendiri bagaimana perasaanku jika aku menjadi dirimu. Tetapi aku akan menjawab pertanyaanmu. Lesbian jelas bukan suatu yang baik,

tetapi tidak bisa digolongkan sebagai penyakit. Tidak perlu merasa malu, bukan merupakan sifat buruk, tidak menghinakan sama sekali. Bagi perempuan khususnya, mungkin pada awalnya adalah sifat narsisme, cinta pada diri sendiri, yang mengarahkan gairah mereka pada orang lain sesama jenis. Aku tidak akan menyebut Nora sebagai lesbian. Akan lebih tepat jika kusebut ia dirayu. Tetapi aku seharusnya bisa segera melihat cintanya pada Nyonya Banwell. Itu hanya merupakan arus terkuat bawah sadarnya dalam kehidupan mentalnya. Kau mengatakan padaku pada hari pertama, betapa Nora senang sekali berbicara tentang Nyonya Banwell. Padahal seharusnya, ia cemburu ketika mengetahui kalau Clara melakukan kegiatan seksual dengan ayahnyasesuatu yang seharusnya ia ingin lakukan sendiri terhadap ayahnya. Hanya saja kekuatan gairah Nora kepada Clara dapat menekan perasaan cemburu kepada ayahnya itu.”

Tentu saja aku tidak bisa menyetujui penelitian itu sepenuhnya. Namun aku hanya mengangguk sebagai tanda meresponnya.

“Kau tidak setuju?” Tanya Freud.

“Aku tidak percaya Nora cemburu terhadap Clara,” kataku, “dalam hal itu.”

Freud menaikkan alisnya. “Kau tidak bisa tidak percaya akan hal itu, kecuali kau menolak Oedipus.”

Lagi, aku tidak mengatakan apa-apa.

“Ah,” kata Freud. Lalu ia mengulanginya. “Ah.” Ia mendesah dalam, dan menatapku dengan cermat. “Karena itulah kau tidak mau ikut ke Clark bersama kami.”

Aku ingin mulai membicarakan tafsiran-ulangku akan kompleks Oedipus bersama Freud. Aku sangat ingin; aku akan lebih senang lagi jika kami membahas Hamlet

dengannya. Tetapi ternyata tidak bisa. Aku tahu bagaimana menderitanya ia lantaran pengkhianatan Jung. Aku tahu akan ada kesempatan lainnya. Aku akan ada di Worcester Selasa depan, hari di mana ia akan memberikan kuliah pertamanya.

“Dalam hal itu,” Freud menyimpulkan, “izinkan aku mengajukan satu kemungkinan padamu sebelum aku pergi. Kau bukanlah satusatunya orang yang menolak kompleks Oedipus. Dan kau juga bukan yang terakhir. Namun kau mungkin memiliki alasan khusus untuk melakukan hal itu, berhubungan dengan pribadiku. Kau telah mengagumiku dari jauh, anakku. Selalu ada semacam kasih keayahan dalam hubungan semacam itu. Sekarang, kau bertemu secara langsung denganku, dan memiliki kesempatan untuk melengkapi kateksis, kau takut melakukannya. Kau takut aku akan menjauh darimu, sebagaimana yang terjadi pada ayahmu. Maka, kau mencegah penarikan diriku karena penolakanmu terhadap kompleks Oedipus.”

Hujan mulai mereda. Freud menatapku dengan mata ramah. “Seseorang telah mengatakan padamu kalau ayahku bunuh diri?” Kataku.

“Ya.”

“Tetapi ia tidak melakukan hal itu.” “Oh?” Tanya Freud. “Aku membunuhnya.” “Apa?”

“Itu satusatunya jalan,” kataku, “untuk mengatasi Oedipus kompleksku.”

Freud menatapku. Sesaat aku takut ia akan benar-benar menganggapku serius. Lalu ia tertawa keras dan menjabat tanganku. Ia berterimakasih karena telah membantunya selama seminggu berada di New York, terutama karena aku telah menyelamatkan ceramah-ceramahnya di Clark. Aku menemaninya masuk ke kapal. Wajahnya tampak jauh lebih mengerut dibandingkan minggu lalu, punggungnya agak membungkuk, matanya terlihat satu dekade lebih tua. Ketika aku mulai beranjak pergi, ia memanggil namaku. Ia berada di pagar: Aku sudah melangkah satu atau dua langkah di lorong. “Izinkan aku bersikap jujur padamu, anakku,” katanya di bawah payungnya yang masih dirintiki hujan. “Negaramu ini: aku merasa curiga padanya. Berhati-hatilah. Amerika membawa hal yang paling buruk bagi orang-orang kekasaran, ambisius, kebuasan. Kalian memiliki terlalu banyak uang. Aku melihat keanehan yang menjadikan negaramu terkenal, tetapi itu rapuh. Hal itu akan goyah dalam perputaran gratifikasi yang disebabkannya. Amerika, aku khawatir, merupakan sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan besar, pastinya, tetapi tetap sebuah kesalahan.”

g

ITULAH KALI TERAKHIR aku bertemu dengan Freud di Amerika. Pada malam terakhir, aku melihat Freud di Amerika. Pada malam yang sama, aku membawa Nora ke puncak Gedung Gillender di sudut Nassau dan Wal, sebuah tempat penghasil kekayaan serta kerugian setiap hari. Pada Sabtu malam, Wall Street sunyi senyap.

Aku segera pergi ke rumah Acton setelah mengantar Freud pergi. Ibu Biggs menyambutku seperti kawan lama. Harcourt dan Mildred Acton tidak terlihat; jelas mereka tidak ingin menerimaku. Aku bertanya tentang keadaan Nora. Ibu Biggs dengan gaduh mengundurkan diri. Setelah

itu Nora tampak turun dari tangga.

Tidak seorang pun di antara kami yang sanggup menemukan katakata untuk diucapkan. Akhirnya aku bertanya apakah ia mau berjalan-jalan denganku; aku mengatakan juga kalau itu baik bagi kesehatannya. Tibatiba aku yakin Nora akan menjauh dan aku tidak akan bisa bertemu lagi dengannya.

“Baiklah,” katanya.

Hujan berhenti. Aroma jalan beraspal basah tercium menyenangkan mengisi udara menyegarkan kota. Di kota, jalan beraspal itu berubah menjadi susunan batu bulat, dan terdengar bunyi keteplak-ketephk sepatu kuda di kejauhan. Tidak terlihat mobil ataupun bis umum, mengingatkan aku pada New York di masa kecilku. Kami hanya berbicara sedikit sekali.

Penjaga pintu Gedung Gillender mendengar harapan kami untuk dapat melihat pemandangan yang terkenal itu. Lalu ia mengizinkan kami masuk. Di ruang kubah, di lantai sembilanbelas, empat buah jendela runcing besar menghadap ke kota, masingmasing menghadap ke arah mata angin pada kompas. Di kota bagian atas, kami dapat melihat bermil-mil meluas ke arah utara dari kota Manhattan dengan barisan lampu listriknya. Ke arah selatan terlihat puncak pulau itu, air laut, dan obor menyala Patung Liberty.

“Mereka akan meruntuhkan gedung ini suatu saat,” kataku. Gedung Gillender yang dibangun pada tahun 1879 adalah salah satu gedung pencakar langit Manhattan. Gedung itu memiliki bentuk ramping dan proporsi klasik sehingga dikagumi secara meluas. “Gedung itu akan menjadi gedung tertinggi yang dirobohkan.”

“Kau pernah merasa bahagia?” Tanya Nora tibatiba.

Aku mempertimbangkannya. “Dr. Freud mengatakan kalau penderitaan disebabkan karena kita tidak dapat melepaskan kenangan.”

“Apakah ia juga mengatakan bagaimana orang bisa melepaskan diri dari kenangan.”

“Dengan cara mengingatnya.”

Tidak seorang pun bicara.

“Kedengarannya tidak terlalu masuk akal, Dokter,” kata Nora akhirnya. “Memang tidak.”

Nora menunjuk pada sebuah atap kira-kira satu blok ke arah timur. “Lihat. Itu adalah Gedung Hanover, tempat Banwell memaksaku tiga tahun yang lalu.”

Aku terdiam.

“Kau tahu?” Tanya Nora, “Kau sudah tahu aku akan bisa melihat gedung itu dari sini?” Lagi, aku tidak menjawab. “Kau masih merawatku,” kata Nora. “Aku tidak pernah merawatmu.”

Nora menatap ke kejauhan. “Aku sangat bodoh dulu.” “Tidak sebodoh diriku.”

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya Nora.

“Kembali ke Worcester,” kataku. “Berpraktik dokter. Para mahasiswa akan segera kembali kuliah beberapa minggu mendatang.”

“Kuliahku mulai pada tanggal duapuluh empat,” kata

Nora.

“Jadi, kau kuliah juga di Barnard?”

“Ya. Aku sudah membeli buku-bukuku. Aku meninggalkan rumah orang tuaku. Aku akan tinggal di kota atas, di sebuah asrama yang bernama Brooks Hill.”

“Dan apa yang akan kau pelajari di Barnard, Nona

Acton?” Tanyaku. “Perempuan-perempuan Shakespeare?”

“Memang itu,” katanya ringan. “Aku akan memusatkan perhatianku pada drama masa Elizabeth dan psikologi. Oh… termasuk juga deteksi.”

“Sebuah gabungan minat yang aneh. Tidak akan ada yang percaya.”

Ada keheningan lagi.

“Kukira,” kataku, “kita harus mengucap selamat tinggal.”

“Aku pernah merasa bahagia,” katanya. “Pernah?”

“Tadi malam,” katanya. “Selamat tinggal, Dokter. Terima kasih.”

Aku tidak menjawabnya. Itu hal yang baik. Seandainya aku tidak memberinya pancingan itu, Nora mungkin tidak mengatakan katakata yang sangat ingin kudengar.

“Kau tidak akan menciumku selamat tinggal, setidaknya?” Tanyanya.

“Menciummu?” Kataku. “Aku masih dibawah umur, Nona Acton. Bermimpi pun aku tidak.”

“Aku seperti Cinderella,” katanya, “hanya sebaliknya. Pada tengah malam aku menjadi delapanbelas tahun.”

Tengah malam tiba. Dan terbuktilah, aku tak akan pernah meninggalkan kota New York ini demi bibir seorang gadis belia itu.

Epilog

PADA BULAN JULI 1910, George Banwell dinyatakan tidak bersalah atas pembunuhan Seamus Malley. Sang hakim membatalkan tuntutan karena kekurangan bukti. Namun Banwell terpidana juga karena percobaan membunuh Nora Acton. Ia mendapat ganjaran penjara seumur hidup.

Charles Hugel harus menjalani hukuman penjara selama delapanbelas bulan lantaran menerima suap dan memalsukan bukti. Ia tidak bisa tidur nyenyak, bahkan beberapa malam tidak tidur sama sekali. Karena itu ia menderita penyakit jiwa, dan tidak pernah sembuh.

Pada suatu hari di musim panas yang hangat pada tahun 1913, Harry Thaw berjalan keluar dari pintu depan Rumah Sakit Jiwa Negara bagi Narapidana, lalu masuk ke sebuah mobil yang menunggu. Ia pergi ke Kanada setelah itu. Di sana ia tertangkap dan dikembalikan ke New York. Di sana, ia diadili karena percobaan melarikan diri. Tuntutan itu tidak arif. Untuk memidana Thaw, jaksa harus meyakinkan kelompok juri bahwa ia waras pada saat melarikan diri. Tetapi jika juri menganggapnya waras, maka Thaw memiliki hak hukum untuk melarikan diri, karena secara hukum, orang waras tidak bisa dikurung di dalam rumah sakit jiwa. Pada akhir persidangan, Thaw menerima pembebasan sepenuhnya tanpa syarat. Sembilan tahun kemudian, ia mencambuki seorang lelaki dengan cemeti kuda sehingga ia dikurung lagi.

Chong Sing dibebaskan dari penjara pada tanggal 9 September 1909. Pengakuan pertamanya dianggap sebagai hasil dari paksaan. Tidak ada tuntutan terhadap dirinya, walau William Leon, yang buron internasional itu belum juga tertangkap.

George McClellan tidak mengikuti pemilihan Walikota untuk tahun 1909 dan tidak pernah terpilih lagi setelah itu. Tetapi ia berhasil dengan baik dalam penyelesaian proyek Jembatan Manhattan, jika itu merupakan tugas terakhirnya pada saat menjabat. Pada zaman itu, masa jabatan seorang Walikota berakhir pada tanggal terakhir kalender. Pada tanggal 31 Desember 1909, McClellan memotong pita pada pembukaan lalulintas Jembatan Manhattan.

Jimmy Littlemore secara resmi dinaikkan pangkatnya menjadi letnan pada 15 September 1909. Ia dan Betty menikah sehari sebelum Natal. Greta beserta bayinya adalah salah tamu mereka.

Ernest Jones tidak pernah tahu keterlibatan Freud dalam penyelidikan kejahatan George dan Clara Banwell. Freud tidak mau perannya, yang seperti itu, diketahui umum. Ia juga tidak memercayai Jones dalam hal menyimpan rahasia. Namun, Jones akhirnya mengetahui tentang perkumpulan Charaka. Ia terkesan terutama pada cincin bercap milik para anggotanya. Ia yakin memiliki sebuah cincin semacam itu yang dibuat khusus untuk pengikut setia Freud yang asli, untuk membedakan diri mereka dari

yang lainnya, ke mana pun mereka pergi. Jung, jelas, tidak memilikinya.

g

DALAM DEKADE-DEKADE berikutnya setelah ceramah Freud di Clark, menjadi jelas bahwa tahun 1909 menandai sebuah batas antara psikiatri dan budaya di Amerika. Penampilan Freud di universitas itu merupakan tanda keberhasilan. Terjemahan Brill dari naskah-naskah Freud tentang histeria terbitagak terlambat dari yang dijadwalkansetelah ceramah-ceramah itu hampir selesai. Psikoanalisa mengakar di tanah Amerika dan berkembang dengan cepat menjadi besar. Teori-teori Freud tentang seksualitas mencapai kemenangannya, dan budaya psikoterapeutis mulai menyebarkan akarnya.

Ceramah-ceramah Jung di Fordham akhirnya terlaksana pada tahun 1912. Pada kuliah-kuliah itu secara terbuka ia memisahkan diri dari Freud. Pada tahun yang sama, Times menerbitkan kisah tentang Jung dan Moses Allen Starr yang menulis kehidupan Freud yang aneh di Wina. Kedua cerita itu dicetak sehalaman penuh dengan kekaguman. Namun terlambat. Bintang Jung tidak pernah menyingsing tinggi mendekati bintang Freud. Perselisihannya dengan Freud mempercepat teggelamnya Jung dalam perasaan tertekan, yang ditandai dengan kejadian-kejadian psikotis atau psikotis pura-pura. Jung kemudian mencemooh gagasan-gagasan Freud sebagai “psikologi Yahudi.”

Psikoanalisa memisahkan hubungan antara neurologi dan penyakit jiwa. Memang, hal itu membuat istilah penyakit jiwa menjadi tidak terpakai, dan menggantikannya

dengan kosa kata yang sama sekali baru untuk istilah gairah yang tertekan, khayalan bawah-sadar, ide, ego, superego, dan tentu saja seksualitas. Psikologi terlahir kembali, dan perawatan neurologis somatis pada penyakit-penyakit jiwa, dalam hampir satu abad ditolak sebagai hal yang tidak terpakai, kemunduran, dan tidak tercerahkan.

Freud sendiri tidak pernah mengambil kepuasan dari keberhasilan psikoanalisa di negeri ini, seperti yang diharapkan orang. Freud membuat bingung para koleganya karena ia menyebut Smith Ely Jelliffe sebagai seorang penjahat. Mungkin gagasan-gagasan Jelliffe terkenal di Amerika, kata Freud, namun gagasan-gagasan itu tidak bisa dimengerti. “Kecurigaanku terhadap Amerika,” Freud menceritakan pada seorang temannya sebelum ajalnya, “tidak terkalahkan.”

Catatan Pengarang

The Interpretation of Murder merupakan karya fiksi dari awal hingga akhir, namun banyak didasari oleh fakta-fakta aktual. Sigmund Freud memang, tentu saja, mengunjungi Amerika Serikat pada tahun 1909. Ia turun dari kapal uap George Washington bersama Carl Jung, dan Sandor Ferenczi pada malam tanggal 29 Agustus (meski kenyataan bahwa biografi klasik Ernest Jones pada awalnya memberikan data tanggal 27 September, lalu ‘diperbaiki’ dalam edisi terakhirnya, dan masih dalam keadaan salah: 27 Agustus). Freud memang menginap di Hotel Manhattan di New York City selama seminggu sebelum menuju Clark University untuk memberikan ceramah-ceramah terkenalnya. Ia juga memang bersinggungan dengan hal-hal mengerikan di Amerika. Sementara di Amerika Serikat, Freud memang diminta untuk memberikan psikoanalisa dadakan, walau sejauh yang kami tahu, bukan oleh seorang Walikota New York City.

Manhattan pada tahun 1909 yang dilukiskan pada buku ini benar-benar telah diteliti. Arsitekturnya, jalan-jalan kota, masyarakat kelas atasnyahampir setiap rinci, hingga ke warna panel taksi, benar-benar berdasarkan fakta. Tentu saja masih ada kesalahan-kesalahan. Bagi

pembaca yang menemukannya, kumohon untuk mengatakannya padaku melalui www.interpretationofmurder.com Segala kesalahan yang ada adalah tanggung jawabku,

Namun begitu, aku tidak bisa, terus menerus terpaku pada fakta rinci New York City. Aku mulai dengan pengubahan beberapa lokasi. Rumah penyimpanan mayat utama kota, misalnya, sebenarnya ketika itu ada di Bellvue Hospital, di Jalan Twenty-sixth. Aku menempatkan Hugelseorang tokoh fiktifdi rumah penitipan mayatnya di kota bagian bawah yang aku ciptakan. Sama dengan gedung Balmoral, tempat jenazah Nona Riverford ditemukan, juga kuciptakan. Bagi pembaca yang mengetahui, akan langsung mengenali gedung yang sesungguhnya yaitu Ansonia. Gedung Balmoral adalah jelmaannya, termasuk air mancur yang lengkap dengan anjing-anjing laut yang berlompatan di dalamnya. Lalu kaison Jembatan Mahattan itu benar ada, dan diisi menjadi beton pada bulan September 1909. Tetapi kaison itu tidak memiliki ruang-ruang puing yang diberi tekanan, dan terbuka menuju sungai seperti yang dijelaskan sebagai ‘Jendela’ dalam buku. Dalam kenyataannya, lorong itu lebih panjang. Aku membutuhkan ‘Jendela’ agar tidak perlu menjelaskan lagi bagi mereka yang telah membaca buku itu.

Satu lagi penggeseran peristiwa penting adalah saat Jung bertengkar dengan Freud. Dalam kenyataan, hal itu terjadi tiga tahun sebelumnya dan memuncak pada sekitar tahun 1912. Aku telah meneliti kejadian-kejadian yang berhubungan, yang terjadi di tempat lain, lalu memindahkan beberapa di antaranya ke Amerika. Penulis biografi Jung tidak setuju dengan dugaan sifat Jung yang berangan-angan memikat hati perempuan dan anti-semit.

Penggambaran sifat Jung dalam buku ini hanyasebuah penggambaran, berdasarkan tulisannya sendiri, surat-suratnya, dan kesimpulan yang ditarik oleh beberapa orang, yang tidak semuanya menulis tentang Jung.

Pembaca mungkin bertanya-tanya apakah Freud dan Jung benar-benar menyatakan pendapat mereka yang tertulis dalam buku The Interpretation of Murder. Jawabannya, nyaris pada setiap kejadian, mereka mengatakannya. Banyak dari percakapan antara Jung dan Freud diambil dari surat-surat pribadi mereka, essay, dan pernyataan yang dilaporkan dalam sumber-sumber terbitan. Misalnya, dalam bukuku Freud berkata, “Memuaskan naluri liar jauh lebih dapat dinikmati tak terbandingkan dari pada memuaskan naluri yang berbudaya.” Pembaca yang berminat dapat menemukan penelitian yang bersangkutan dalam buku Freud tahun 1930 berjudul Civi/zation and Its Discontents, pada jilid 21, halaman 79, dari Edisi Standard dari kumpulan karya Freud.

Charles Loomis Dana, Bernard Sachs, dan M. Allen Starr merupakan para tokoh sejarah. Mereka memang terkenal sebagai The Triumvirate: semuanya adalah musuh sejati Freud dan psikoanalisa. Aku ingin menekankan, betapapun jahatnya mereka di dalam buku ini, namun tindakan mereka sekadar rekaan. Tak ada persekongkolan pembatalan kuliah Freud di Clark.

Catatan tentang serangan sadis Thaw kepada istrinya dan wanita lainnya, sepenuhnya bersumber dari dokumentasi. Kesaksian Ibu Merrill yang mengagumkan diambil ketika ia bersaksi pada persidangan awal pembuktian kewarasan Thaw yang berikutnya, bukan pada sidang kasus pembunuhan.

Jenazah Nona Elsie Sigel, cucu Jendral Franz Sigel,

memang ditemukan dalam sebuah koper besar pada musim panas 1909. Koper itu berada di apartemen di Eight Avenue miliki Leon Ling. Tokoh Chong Sing dalam buku ini adalah gabungan fakta kehidupan nyatanya dan or-ang lain yang juga terlibat kasus itu. Jenazah Nona Sigel ditemukan kira-kira dua setengah bulan sebelum kedatangan Freud di New York, dan tentu saja penemuan tersebut bukanlah oleh Detektif Jimmy Littlemore, yang sepenuhnya adalah tokoh fiktif.

Begitu juga Dr. Stratham Younger, dan percintaannya dengan Nora.

Terima Kasih

Rasa terimakasihku yang mendalam pada istriku yang sangat cerdas, Amy Chua, karena gagasannyalah maka buku ini ada. Kepada kedua orang anak perempuanku, Sophia dan Louis yang (membaca versi PG) melihat kesalahan-kesalahan yang tak ditemukan orang lain, sejak awal halaman buku ini. Aku berutang banyak pada Suzanne Gluck dan John Sterling untuk kepercayaannya pada terbitnya novel ini, dan pada Jennifer Barth dan George Hodgman yang telah membuatnya lebih baik. Aku berterimakasih juga pada kedua orangtuaku, saudara lelakiku, dan saudara perempuanku karena wawasan mereka yang dalam dan kasih sayang mereka. Debby Rubenfeld, Jordan Smoller, Alexis Contant, Anne Dailey, Marina Santilli, Susan Birke Fiedler, Lisa Gray, Anne Tofflemire, dan James Bundy yang telah dengan baik hati membaca dan memberikan kritik yang sangat berharga. Heather Halberstadt adalah pencari fakta yang luar biasa, dan aku sangat berterimakasih pada Kenn Russel karena ketelitiannya.

0 Response to "The Interpretation of Murder 3"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified