Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Interpretation of Murder 2

“izinkan aku memberimu ketentuan tentang histeria: seseorang yang dalam keadaan mendapatkan perasaan kenikmatan seksual yang besar atau mendapatkannya namun sama sekali tidak bisa dinikmati.”

“Ia baru berusia empatbelas tahun.”

“Dan berapa usia Juliet pada malam pertamanya?”

“Tigabelas tahun,” aku mengakuinya.

“Seorang lelaki yang sangat dewasa dan kasar, yang kita ketahui sebagai lelaki gagah, berbadan tinggi, sukses, tampan, lalu mencium seorang gadis pada bibirnya,” kata Freud, “jelas lelaki itu dalam keadaan gairah secara seksual. Memang, kupikir kita mungkin percaya kalau Nora memiliki sensasi langsung atas gairah lelaki itu. Ketika ia mengatakan kalau ia masih dapat merasakan Banwell menariknya hingga menempel pada tubuhnya, aku agak meragukan bagian tubuh lelaki yang mana yang dirasakannya. Semua ini, pada seorang gadis sehat berusia empatbelas tahun, pastilah akan mengakibatkan rangsangan kenikmatan genital. Namun, Nora dikuasai oleh perasaan yang tidak dapat dinikmatinya, yang terasa pada bagian belakang tenggorokannya atau kerong-kongan, itulah, lantaran rasa jijiknya. Dengan kata lain, gadis itu telah mengalami histeris sebelum ciuman itu.”

“Tetapi mungkinkah sikap Banwell itu sudah…, ditolaknya?”

“Aku sangat meragukan itu. Kau tidak setuju denganku, Younger.”

Aku memang tidak setuju, sangat tidak setuju, walau aku berusaha untuk tidak memp erlihatkannya.

Freud melanjutkan. “Kau bayangkan Tuan Banwell memaksakan diri pada seorang korban yang tidak menginginkan, dan masih lugu. Tetapi mungkin gadis itulah yang menggoda lelaki tampan yang juga adalah kawan ayahnya. Penaklukan itu akan menyenangkan bagi gadis seumurnya; akan bisa menyulut kecemburan ayahnya.”

“Gadis itu menolaknya,” kataku.

“Begitukah?” Tanya Freud, “setelah ciuman itu, ia terus merahasiakanya, bahkan setelah suaranya kembali. Benar?”

“Ya.”

“Apakah itu lebih karena takut adanya pengulangan kejadian atau…, justru ia menginginkannya?”

Aku melihat jalan pikiran Freud, tetapi penjelasan lugu tentang perilaku gadis itu tampak tidak terbukit salah. “Setelah itu ia tidak mau hanya berdua saja dengan lelaki itu,” lanjutku.

“Sebaliknya,” kata Freud. “Ia berjalan bersama lelaki itu berdua saja, dua tahun kemudian, di tepi danau, sebuah lokasi romantis jika memang pernah begitu.”

“Tetapi di sana ia menolaknya lagi.”

“Ia menamparnya,” kata Freud, “itu tidak selalu berarti penolakan. Seorang gadis, seperti seorang pasien analitis, merasa perlu mengatakan tidak lebih dahulu, sebelum

mengatakan iya.”

“Ia mengatakan pada ayahnya.” “Kapan?”

“Segera,” kataku agak terburu-buru. Kemudian aku teringat. “Sebenarnya aku tidak tahu itu. Aku tidak bertanya tentang hal itu.”

“Mungkin ia menginginkan Tuan Banwell melakukannya lagi, dan ketika Tuan Banwell tidak melakukannya, gadis itu mengadu kepada ayahnya karena jengkel.” Aku tidak mengatakan apa pun, tetapi Freud dapat melihat aku sama sekali tidak dapat dipengaruhi. Lalu ia menambahkan, “dalam hal ini, anakku, kau harus ingat kalau kau tidak boleh memihak.”

“Aku tidak mengerti, Tuan,” kataku.

“Tentu saja kau mengerti.”

Aku mempertimbangkannya. “M aksudmu, aku berharap Nona Acton tidak menerima perbuatan Banwell?” “Kau membela kehormatan Nora.”

Aku sadar kalau aku terus saja menyebutnya “Nona Acton,” walau Freud menyebut dengan nama depannya saja. Aku juga sadar darah mengalir deras pada wajahku. “Itu hanya karena aku jatuh cinta padanya,” kataku.

Freud tidak berkata apa-apa.

“Kau harus mengambil alih analisa ini, Dr. Freud. Atau Brill. Seharusnya memang Brill yang melakukannya sejak awal.”

“Omong kosong. Ia pasienmu, Younger. Kau telah melakukan pekerjaanmu dengan baik. Tetapi kau jangan terlalu menganggap serius perasaanmu. Perasaan seperti itu tidak dapat dihindarkan dalam psikoanalisa. Hal itu bagian dari perawatan. Nora sangat mungkin telah berada di bawah pengaruh pemindahan itu, seperti juga kau terpengaruh pemindahan tandingan. Kau harus menanggapi perasaan itu sebagai data; kau harus memisahkan perasaan-perasaan itu. Itu semua khayalan. Perasaan itu tidak lagi memiliki kenyataan, tidak lebih dari perasaan yang diciptakan seorang aktor di atas panggung. Seorang Hamlet yang baik akan merasa marah kepada pamannya, tetapi si aktor tidak akan bersalah jika bersungguh-sungguh memarahi aktor pemeran pamannya itu. Hal yang sama terjadi dengan analisa.”

Sesaat kami tidak saling berbicara. Kemudian aku bertanya, “Pernahkah kau…, mempunyai perasaan terhadap pasienmu, Dr. Freud?”

“Pernah beberapa kali,” jawab Freud perlahan-lahan, “ketika aku menerima perasaan seperti itu; mereka memperingatkan aku kalau aku belum sama sekali melalui gairah itu. Ya, aku memang memilik celah sempit untuk melarikan diri. Tetapi kau harus ingat, aku menjadi seorang dokter ketika aku sudah berusia jauh lebih tua daripada dirimu, sehingga membuatku lebih mudah mengatasinya. Lagipula, aku sudah menikah. Untuk me-ngkui kalau perasaan tersebut hanyalah khayalan, ada tambahan dalam kasusku yaitu sebuah kewajiban moral yang tidak dapat kau langgar.” Ini tampaknya akan jadi menggelikan, tetapi satusatunya pikiran yang ada di kepalaku setelah Freud selesai adalah bagaimana kenyataan menjadi persamaan dari khayalan?

Freud melanjutkan. “Cukup. Mulai sekarang kewajiban utama kita adalah mengungkap trauma masa lalu yang masih ada, yang menyebabkan reaksi histeria pada gadis itu ketika berada di atap gedung. Katakan padaku mengapa Nora tidak malapor pada polisi di mana keberadaan orang tuanya?”

Aku juga mempertanyakan pertanyaan yang sama. Nona Acton telah mengatakan padaku di mana orang tuanya saat ini. Namun ia tidak pernah mengatakan kenyataan itu kepada polisi. Bahkan membiarkan mereka mengirimkan pesan berkali-kali ke rumah musim panas keluargannya sendiri, padahal tidak ada orang di sana. Bagiku, sikap tutup mulut itu tidak misterius, aku selalu merasa iri pada mereka yang mendapatkan perasaan kenyamanan yang tulus dari orang tua mereka pada saat krisis; tidak ada kenyamanan yang dapat dibandingkan dengan perasaan tersebut. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi pada diriku. “Mungkin,” aku menjawab pertanyaan Freud, “nona Acton tidak membutuhkan kedekatan orang tuanya walau setelah terjadi penyerangan itu?”

“Mungkin,” katanya “aku menutupi keraguan yang paling buruk dariku sendiri tentang ayahku selama hidupnya. Seperti juga dirimu.” Freud menyatakan pendapat terakhirnya seolah kami adalah teman akrab; padahal, aku tidak pernah mengatakan apa-apa tentang ayahku padanya. “Tetapi selalu ada unsur neurotis dalam penutupan seperti itu. Mulailah dari titik ini dengan Nora besok, Younger. Itu nasihatku. Ada sesuatu di rumah pedasaan itu. Pasti hal itu akan dihubungkan dengan keinginan yang tak disadari Nona Acton dari ayahnya. Aku mempertim-bankannya.” Freud berhenti berjalan dan lama menutup matanya. Lalu membuka kembali, dan berkata, “aku sudah punya.”

“Apa?” Aku bertanya.

“Welf, aku punya kecurigaan, Younger, tetapi aku tidak akan mengatakannya padamu apa itu. Aku tidak mau menanamkan gagasanku di benakmu…, atau benak Nora. Cari tahu kalau ia memiliki kenangan yang berhubungan

dengan rumah pedesaan itu. Sebuah kenangan yang tanggal kejadiannya jauh sebelum peristiwa di atas atap gedung itu. Ingat, jangan ada yang ditutupi kepadanya. Harus seperti cermin, tidak memperlihatkan apa pun dari dirinya selain apa yang ia perlihatkan. Mungkin ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Ia mungkin akan mengatakannya padamu. Jangan lepaskan dia.”

g

SELASA ITU, SORE MENJELANG MALAM, kelompok Triumvirate berkumpul di perpustakaan. Mereka mempunyai banyak hal penting yang harus didiskusikan. Salah satu dari ketiga Tuan-tuan itu, dengan tangannya yang panjang dan indah, membalikkan sebuah kertas laporan yang baru saja diterimanya itu untuk diperlihatkan kepada yang lainnya. Laporan itu termasuk, antar lain, setumpuk surat. “Yang ini,” katanya, “tidak akan kita bakar.”

“Aku sudah katakan pada kalian, ahlak mereka merosot, mereka semua,” kata si tambun yang duduk di dekatnya, “Kita harus menghapus mereka semua. Satu per satu.”

“Oh, kita akan hapus itu,” kata orang pertama, “kita akan lakukan itu. Tetapi kita akan gunakan mereka dulu.”

Kemudian hening sesaat. Lalu yang botak berkata, “Bagaimana dengan bukti?”

“Tidak akan ada bukti,” kata orang pertama, “kecuali apa yang kita pilih dan sengaja kita tinggalkan.”

DETEKTIF JIMMY LITTLEMORE keluar dari kereta api bawah tanah di Seventy-second Street dan Broadway, yang merupakan perhentian terdekat menuju Balmoral. Hugel mungkin saja bertaruh kalau Banwell adalah orang yang mereka cari, namun Littlemore tidak mau menyerah begitu saja.

Malam sebelumnya, ketika orang Cina itu menghilang, Littlemore belum dapat menemukan apa pun tentangnya. Pekerja binatu lain mengenalnya sebagai Chong, tetapi hanya itu yang mereka. Seorang asisten telah mengatakan padanya untuk kembali pada siang hari dan bertemu dengan Mayhew, si pemegang buku.

Littlemore menemukan Mayhew sedang mencatat angka-angka di bagian belakang kantor lalu bertanya padanya tentang lelaki Cina yang bekerja di binatu.

“Aku baru memberi tanda pada namanya sekarang,” Mayhew berkata tanpa mengangkat kepalanya.

“Karena ia tidak masuk kerja hari ini?” Tanya Littlemore.

“Bagaimana kau tahu itu?”

“Hanya tebakan mujur saja,” kata detektif itu. Mayhew memiliki informasi yang diinginkannya. Nama lengkap lelaki Cina itu adalah Chong Sing. Alamatnya Eight Avenue 782, di Midtown. Littlemore bertanya apakah orang itu pernah mengirimkan cucian ke Alabaster Wing, lebih tepatnya, ke apartemen Nona Riverford?

“Kau pasti bercanda,” Mayhew tampak bingung.

“Mengapa tidak?”

“Lelaki itu orang Cina.”

“Jadi?”

“Ini adalah gedung kelas satu, Detektif. Bahkan biasanya kami tidak pernah mempekerjakan orang Cina.

Chong tidak boleh meninggalkan ruang bawah tanah. Ia beruntung bisa bekerja di sini.”

“Aku yakin orang itu sangat berterimakasih,” kata Littlemore, “mengapa kau memberinya pekerjaan?”

Mayhew menggerakkan bahunya. “Aku tidak tahu. Tuan Banwell menyuruh kami untuk memberinya pekerjaan, dan itulah yang kami dikerjakan. Kenyataannya, ia tidak menyadari betapa beruntung dirinya.”

Tugas berikutnya bagi Littlemore adalah menemukan kereta yang menjemput lelaki berambut hitam pada hari Minggu malam. Si penjaga pintu mengatakan pada detektif itu agar mencarinya di tempat penyewaan kereta kuda di Amsterdam Avenue, di mana semua sais menyewakan kudanya. Tetapi mereka mengatakan kalau ia tidak perlu terburu-buru ke sana. Para pengemudi malam hari tidak akan datang sebelum pukul sembilan tigapuluh atau sepuluh.

Penantian itu tidak mengganggu Littlemore, malah memberinya kesempatan untuk melihat lagi apartemen Nona Riverford. Ia pun singgah ke rumah Betty. Wanita itu sudah merasa lebih baik dan bersedia diajak pergi ke bioskop. Betty memperkenalkan detektif itu pada ibu dan adik-adik lelakinya. Betty, ternyata telah memiliki pekerjaan baru. Ia telah menghabiskan pagi harinya untuk mengunjungi hotel-hotel besar, dengan harapan mendapatkan pekerjaan sebagai seorang pelayan, walaupun belum berhasil. Tetapi sebuah pabrik kemeja di dekat Lapangan Washington, memberinya kesempatan wawancara dengan Tuan Harris, seorang pemiliknya. Betty kemudian mendapat pekerjaan di sana. Ia akan mulai bekerja keesokan harinya.

Jam kerja Betty tidak terlalu menyenangkan yaitu pukul tujuh pagi hingga delapan malam. Ia juga tidak terlalu gembira dengan gajinya. “Setidaknya aku dibayar setiap helainya,” kata Betty, “Tuan Harris mengatakan beberapa orang gadis mampu mendapatkan dua dolar sehari.”

Kira-kira setengah sembilan, Littlemore pergi ke tempat penyewaan kereta di Amsterdam Avenue. Setelah menanti lebih dari dua jam, belasan sais kereta datang untuk mengembalikan atau mengambil kuda. Ketika kandang terakhir kosong, pembersih kandang mengatakan pada Littlemore untuk menunggu seorang sais tua yang menggunakan kudanya sendiri. Pada pukul duabelas kurang sedikit, seekor kuda tua yang dikendalikan oleh seorang sais tua, berjalan masuk dengan perlahan. Pada mulanya orang tua itu tidak mau menjawab pertanyaan, tetapi ketika Littlemore mulai menjentik-jentik kepingan duapuluh lima sen ke udara, ia baru mau berbicara. Ternyata sais itu telah menjemput seorang lelaki berambut hitam di depan Balmoral dua malam lalu. Apakah ia ingat ke mana perginya orang itu? Ia menjawab, “Hotel Manhattan”.

Littlemore menjadi bungkam, tetapi si sais tua masih mempunyai keterangan lainnya.

“Kau tahu apa yang dilakukannya ketika tiba di sana? Tepat di depan mataku, ia segera menaiki taksi lain berwarna merah dan hijau berbahan bakar bensin. Mengambil uang dari sakuku dan memberikannya pada orang lain. Itu yang kukatakan.”

9

FREUD MEMOTONG PEMBICARAAN KAMI begitu saja, dan dengan tegas menjelaskan kalau ia harus kembali ke

hotel segera. Aku mengerti apa yang sedang terjadi. Untunglah, sebuah kereta sudah siap menanti.

Begitu Freud dan aku tiba di hotel, Jung mendekati kami. Ia pasti telah menanti Freud kembali. Dengan semangat yang tak dapat dijelaskan, ia berdiri tegak tepat di depan Freud, menghalangi jalan kami. Ia berniat untuk berbicara dengan Freud saat itu juga. Namun hal itu sangat tidak mungkin. Freud baru saja mengatakan padaku betapa mendesak keperluannya.

“Ya ampun, Jung,” kata Freud, “biarkan aku lewat. Aku harus kembali ke kamarku.”

“Mengapa? Kau punya…, masalah itu lagi?”

“Pelankan suaramu,” kata Freud, “ya masalah itu. Sekarang, biarkan aku lewat. Ini mendesak.”

“Aku tahu itu. Enureis-mu,” kata Jung, dengan menggunakan istilah kedokteran yang artinya berkemih tanpa terkendali, “itu psikogenis.”

“Jung, ini…,”

“Itu neurosis, aku bisa membantumu!”

“Ini…,” Freud berhenti di tengah kalimatnya. Suaranya berubah sama sekali. Ia berbicara datar dan sangat lirih, sambil menatap lurus pada Jung. “Sekarang, terlambat.”

Keheningan yang membuat rasa canggung pun ter-cipta. Kemudian Freud pergi. “Jangan melihat ke bawah, kalian berdua. Jung, kau berputarlah dan berjalan tepat di depanku. Younger, kau berjalan di sebelah kiriku. Jangan, di sebelah kiriku saja. Berjalanlah langsung ke lift. Berjalanlah!”

Maka setelah teratur begitu, kami berbaris kaku ke lift. Salah satu pegawai menatap kami: mengganggu sekali, tetapi kukira ia tidak menduga sama sekali. Betapa

herannya aku karena Jung tidak mau berhenti bicara. “Mimpi Count Thun-mu itulah kunci dari segalanya. Kau izinkan aku menganalisanya?”

“Aku benar-benar dalam posisi tidak dapat menolak,” kata Freud.

Mimpi Freud tentang Count Thun—mantan perdana mentri Austria—dikenal oleh semua orang yang telah membaca karyanya. Ketika mencapai lift, aku coba meninggalkan mereka. Namun aku terkejut ketika Jung menghentikan aku. Ia memerlukan aku, begitu katanya. Kami membiarkan satu lift berlalu; yang berikutnya, kami tempati sendiri.

Di dalam lift, Jung melanjutkan, “Count Thun mewakili aku. Thun sama dengan Jung, jelas sekali. Kedua nama itu memiliki empat huruf. Keduanya mengandung akhiran un, yang artinya jelas. Keluarganya berasal dari Jerman tetapi harus beremigrasi, sebagaimana juga keluargaku. Ia berasal dari keturunan yang lebih tinggi darimu; aku juga. Penampilannya angkuh; aku dianggap angkuh. Di dalam mimpimu, ia adalah musuhmu tetapi juga seorang anggota dari lingkar dalammu; seseorang yang kau pimpin, tetapi seorang yang mengancammu, dan seorang keturunan Aria, jelas sekali Aria. Kesimpulannya dapat dipastikan: kau memimpikan aku, tetapi kau harus mengubahnya, karena kau tidak mau mengakui kalau kau menganggapku sebagai ancaman.”

“Cari,” kata Freud perlahan, “aku bermimpi tentang Count Thun pada tahun 1898. Itu lebih dari satu dekade yang lalu. Kau dan aku baru bertemu pada tahun 1907.”

Pintu lift terbuka. Koridor kosong. Freud berjalan dengan cepat sehingga mengharuskan kami juga berjalan cepat. Aku tidak dapat membayangkan apa yang dipikirkan oleh Jung atau apa yang akan menjadi tanggapannya. Beginilah rupanya: “Aku tahu itu! Kami bermimpi apa yang bagiku seperti juga apa yang telah berlalu. Younger,” ia berseru, matanya sangat cemerlang, “kau bisa menjelaskannya!” “Aku?”

“Ya, tentu saja kau. Kau ada di sana ketika itu. Kau melihat semuanya.” Tibatiba Jung tampak berubah pikirannya dan berkata pada Freud lagi. “Tidak apa-apa. Enurisi-mu menyatakan ambisi. Itu artinya menarik perhatian pada diri sendiri, seperti yang kau lakukan baru saja di lobi. Tampaknya, begitu kau merasa memiliki musuh, seorang dari sisi berlawanan. Seorang dengan nama mengandung un kau harus mengatasinya. Aku sekarang si un itu. Karena itu masalahmu muncul kembali.”

Kami tiba di kamar Freud. Ia mencari kuncinya di dalam sakunya—kini wajahnya tampak tidak nyaman. Akhirnya kunci itu jatuh ke lantai. Tidak seorang pun bergerak. Lalu Freud yang memungutnya sendiri. Ketika ia tegak kembali, ia berkata pada Jung. “Aku sangat meragukan kalau aku akan menikmati hadiah Joseph, tetapi aku dapat katakan ini padamu. Kau adalah pewarisku. Kau akan mewarisi psikoanalisa jika aku mati, dan kau akan menjadi pemimpinnya bahkan sebelum itu. Aku akan melihat itu terjadi. Aku sedang hal itu berlangsung. Aku sudah mengatakan semua ini padamu sebelumnya. Aku harus

mengatakannya lagi kepada yang lain. Tidak ada yang lainnya lagi, Cari. Jangan ragukan itu.”

“Kalau begitu katakan sisa mimpimu tentang Count Thun!” Teriak Jung, “kau selalu mengatakan ada sebagian mimpimu yang tidak kau ungkap. Jika aku pewarismu,

katakan padaku. Itu akan menegaskan analisaku; Aku yakin itu. Ceritakanlah.”

Freud menggelengkan kepalanya. Kupikir ia tersenyum, tapi tampaknya malah bersedih, “Anakku,” katanya kepada Jung, “ada sesuatu yang tidak dapat kuungkap. Seharusnya aku tidak punya kewenangan itu lagi. Sekarang tinggalkan aku, kalian berdua. Aku akan bergabung bersama kalian di ruang makan dalam setengah jam lagi.”

Jung memutar tubuhnya tanpa katakata lagi dan berjalan pergi.

9

PADA MUSIM PANAS TAHUN 1909, pembangunan jembatan Manhattan telah hampir rampung. Itu merupakan tiga dari jembatan gantung terbaru yang dibangun melintasi Sungai East untuk menghubungkan antara pulau Manhattan dan Kota Brooklyn. Ketika dibangun beberapa jembatan itu—Brooklyn, Williamsburg, Manhattan—merupakan jembatan rentang tunggal terpanjang yang dipuji oleh Scientific American sebagai karya insinyur terbesar di dunia yang pernah dikenal. Bersamaan dengan penemuan kabel kawat baja, penemuan teknologis yang istimewa telah memungkinkan pendirian beberapa jembatan tersebut. Vang artinya peti pneumatik yang juga disebut kaison telah menandai sebuah sebuah penemuan dengan makna kecongkakan yang nyata.

Masalah yang menjadi tanggung jawab kaison itu adalah menara-menara besar pendukung untuk jembatan ini, sangat penting untuk menahan kabel-kabel penggantung.

Itu pun harus berdiri pada ladasan yang dibangun di sekitar tigapuluh setengah meter di bawah permukaan air. Landasan-landasan itu tidak dapat diletakkan langsung di dasar sungai yang lunak. Maka lapisan-lapisan pasir, lumpur, serpihan, tanah liat dan batu besar, harus dikeruk, dihancurkan dan terkadang diledakkan dengan dinamit untuk mencapai lapisan batu. Pelaksanakan penggalian di bawah permukaan air biasanya dianggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin hingga munculnya gagasan peti pneumatik kaison.

Peti itu pada dasarnya terbuat dari kayu. Kaison Jembatan Manhattan memiliki area seluas limaratus delapanbelas meter persegi. Dindingnya terbuat dari papan kayu cemara kuning yang tak terhitung jumlahnya. Tiga kaki terbawah dari peti itu diperkuat dengan pelat ketel pada bagian luar dan dalamnya. Berat keseluruhannya lebih dari tigapuluh juta kilogram. Sebuah kaison memiliki langitlangit dan lantainya adalah dasar sungai itu sendiri. Artinya, kaison pneumatik adalah lonceng di dalam air terbesar yang pernah dibuat.

Pada tahun 19D7, kaison Jembatan Manhattan itu ditenggelamkan ke dalam sungai sehingga air mengisi ruang kosongnya. Di daratan, mesin-mesin uap yang besar sekali dinyalakan siang-malam, untuk memompakan udara ke dalam kaison melalui pipa besi yang dipasang menuju kotak besar tersebut. Udara yang mendesak, membentuk tekanan yang sangat besar, sehingga menggiring air keluar melalui lubang-lubang bor di dinding peti itu. Sebuah terowongan lift menghubungkan peti dan dermaga yang harus dipergunakan oleh para pekerja untuk menuju kaison tersebut. Mereka dapat bernafas lantaran pompa yang mengisi udara ke dalam peti itu. Dari sana mereka

memiliki jalan pintas menuju dasar sungai sehingga dapat melaksanakan pembangunan di bawah air yang semula dianggap tidak mungkin. Mereka menghancurkan batu karang, menyendoki lumpur, meledakkan batu besar, dan meletakkan beton. Reruntuhannya dibuang melalui ruangan yang dirancang sederhana, yang mereka sebut jendela, padahal mereka tidak dapat menembus pandangan ke arah luarnya. Tigaratus orang dapat bekerja sekaligus di dalam peti itu.

Ada bahaya yang tampak telah menunggu mereka di sana. Orangorang yang keluar dari kerja seharian di dalam kaison pneumatik, mulai sering merasa pening tidak seperti biasanya. Gejala itu diikuti dengan rasa kaku pada persendian yang disertai kelumpuhan pada siku dan lutut, berikut rasa sakit yang tak tertahankan di seluruh tubuh. Para dokter menyebutnya sebagai penyakit kaisoni. Sementara para pekerja menyebutnya “lengkungan” sebagaimana perubahan postur tubuh yang dialami oleh orang yang menderita penyakit itu. Ribuan pekerja telah rusak kesehatannya, ratusan lainnya mengalami kelumpuhan, dan banyak yang meninggal dunia. Karena ketika itu, belum diketahui jika mereka naik kepermukaan lagi secara perlahan-lahan dapat mencegah kerusakan seperti yang mereka alami.

Pada tahun 1909, pengetahuan tentang pengurangan tekanan telah berkembang secara mengesankan. Tabel-tabel telah digambar untuk menentukan berapa lama sebenarnya seseorang memerlukan pengurangan tekanan. Hal itu tergantung pada seberapa sering ia dikirim ke bawah permukaan air. Dari keterangan dalam tabel-tabel itu, seseorang mempersiapkan diri untuk memasuki kaison pneumatik itu setelah tengah malam

tanggal 31 Agustus 1909. Ada seorang lelaki yang tahu kalau ia dapat berada di bawah selama limabelas menit tanpa memerlukan pengurangan tekanan sama sekali. Ia telah melakukan hal itu beberapa kali. Namun perjalanannya kali ini, akan berbeda. Lelaki tersebut akan berada di sana sendirian.

Ia telah mengemudikan salah satu mobilnya mendekati sungai. Area pembangunan itu sunyi dan sepi, penjaga malam telah selesai menjalankan tugasnya, dan para pekerja giliran pertama tidak akan datang sebelum fajar. Mesin-mesin uap masih tetap menderum, memompa udara ke kaison dan suaranya menutup semua suara lain yang terdengar di sekitarnya.

Dari bagian belakang mobilnya, ia mengeluarkan sebuah koper hitam besar yang dibawanya hingga ke dermaga, lalu ke mulut lorong kaison. Lelaki lainnya tidak mungkin akan mampu melakukannya, tetapi lelaki ini kuat, jangkung dan atletis. Ia tahu caranya mengangkat sebuah koper berat di atas punggungnya. Penampilan itu tampak tidak layak lantaran ia mengenakan jas resmi.

Ia membuka kunci lift, lalu masuk sambil menarik kopernya. Dua pancaran sinar biru memberikan cahaya. Ketika lift meluncur ke bawah, suara derum mesin uap hanya terdengar sebagai denyut di kejauhan. Kegelapan menjadi lebih dingin. Tercium bau tanah, garam yang lembab dan dalam. Lelaki itu mulai merasakan tekanan pada bagian telinga dalamnya. Ia mengendalikan kunci udara tanpa kesulitan, membuka lubang palka, lalu mendorong kopernya ke bawah sebuah jalur melandai. Suaranya menggema mengerikan ketika koper itu jatuh ke atas papan-papan kayu di bawah.

Lampu gas bersinar biru juga menerangi kaison itu.

Mereka membakar oksigen murni, memberikan cukup cahaya untuk bekerja tanpa menebarkan aroma ataupun asap. Dalam cahaya yang tidak tetap, bayangan-bayangan seperti kucing berubah-ubah di atas tanah dan kayu-kayu penyanggah. Lelaki itu melihat jam tangannya, lalu segera pergi menuju Jendela. Ia membuka palka dalamnya, lalu dengan geraman, ia mendorong koper itu ke dalamnya. Jendela itu pun ditutup, lalu ia mengoperasikan dua rantai tarik yang tergantung di dinding. Yang pertama untuk membuka palka luar Jendela. Yang kedua memutar kompartemen Jendela, dan membuang sebuah koper hitam berat ke sungai. Dengan rangkaian rantai yang berbeda, ia menutup palka luar dan menyalakan pipa udara yang menyemburkan air sungai dari kompartemen. Jendela itu kini siap digunakan untuk pemakaian berikutnya.

Ia melihat jam tangannya. Ternyata hanya lima menit telah berlalu sejak ia memasuki kaison itu. Ia pun mendengar kayu berderak. Di antara berbagai macam bunyi yang didengar orang pada malam hari di dalam rumahnya, ada yang dapat segera dikenali. Misalnya, suara hewan kecil, atau dentaman pintu, atau suara seorang yang mengubah posisi tubuhnya atau melangkah di atas lantai kayu. Bunyi itulah yang baru saja didengar oleh lelaki tadi.

Ia berpaling dan berseru. “Siapa itu?”

“Hanya aku, Pak,” ada suara menjawab, seolah terdengar jauh di dalam udara yang tertekan.

“Siapa aku itu?” Tanya lelaki yang mengenakan jas hitam resmi yang runcing bagian bawahnya.

“Malley, Pak.” Dari bayangan di dua belokan yang saling silang, muncullah seorang lelaki berambut merah,

pendek, gendut seperti beruang, berlumpur, tidak bersisir, dan tersenyum.

“Seamus Malley?”

“Satusatunya,” kata Malley, “kau tidak akan memecatku, kan, Pak?”

“Apa yang kau kerjakan di bawah ini?” Kata lelaki itu, “siapa lagi yang bersamamu?”

“Tidak seorang pun. Mereka menyuruhku bekerja duabelas jam pada hari Selasa, Pak. Lalu giliran pagiku pada hari Rabu.”

“Kau menginap di sini?”

“Apa gunanya naik ke atas. Karena begitu aku terbangun besok paginya, aku sudah harus berada di bawah lagi?” Malley adalah pekerja yang disukai di antara rekan kerjanya, terkenal dengan suara tenor merdu yang senang dilatihnya di ruang bergema peti itu. Tampaknya ia juga punya ketakterbatasan meneguk minuman beralkohol jenis apa pun. Bakat terakhirnya itu memberi masalah di dalam keluarganya. Dua hari lalu, tepatnya hari Minggu, seharusnya tidak boleh meminum alkohol sama sekali. Istrinya menjadi marah dan melarangnya untuk tidak keluar rumah hingga ia dapat memperlihatkan kalau ia tidak mabuk lagi pada hari Minggu mendatang. Karena keputusan itulah yang sebenarnya membuat Malley harus tidur di kaison tersebut. “Maka aku mengatakan pada diriku sendiri, ‘Malley, malam ini kau berada di bawah sini saja, maka semuanya akan baik-baik saja.”

“Kau tadi mengamatiku terus, bukan, Seamus?” Tanya lelaki jangkung itu.

“Tidak pernah, pak, seumur hidupku. Aku tadi tidur saja,” kata Malley, yang gemetar seperti orang yang telah tidur dalam ruang yang dingin dan lembab.

Lelaki mengenakan jas resmi itu sangat meragukan pernyataan yang tegas itu, walau ternyata memang benar. Tetapi benar atau tidak, tidak ada bedanya, karena Malley telah melihatnya sekarang. “Aku malu, Malley,” katanya, “jika aku memecatmu hanya karena hal seperti itu. Apakah kau tahu tentang mendiang ibuku? Ia adalah orang Irlandia.”

“Tidak, Pak.”

“Wah, ia membawaku sendiri untuk bertemu dengan Parnel, tigapuluh tahun yang lalu, ketika ia turun dari kapal, tepatnya di atas kepala kita ini sekarang.”

“Kau beruntung sekali, Pak,” kata Malley “Aku akan katakan apa yang kau butuhkan, Seamus, dan itu adalah wiski Irlandia terbaik nomor lima untuk kau nikmati di bawah sini. Kebetulan aku membawanya di mobilku. Ayo, naiklah bersamaku dan aku akan memberikannya padamu. Kau boleh meminumnya sedikit di atas. Lalu kembali ke sini dan wiski itu bisa membuatmu nyaman.”

“Kau terlalu baik, Pak, terlalu baik,” kata Malley.

“Oh, hentikan omong kosong itu. Ayo ke atas.” Bersama Malley, lelaki itu naik menapaki lajur melandai ke arah lift. Ia menarik tuas sehingga lift mulai bergerak naik. “Aku harus menagihmu uang sewa, kau tahu itu. Itu baru adil.”

“Wah, aku akan membayar apa pun hanya untuk melihatnya,” kata Malley. “Lantai pertama sebentar lagi akan terlewat. Kita harus berhenti, Pak.”

“Sama sekali tidak,” kata lelaki yang jangkung itu, “kau harus segera ke bawah lagi dalam lima menit, Seamus. Tidak perlu berhenti jika kau segera kembali ke bawah.”

“Itu saja, Pak?”

“Itu saja. Lunas sudah kalau begitu.” Lalu lelaki itu benar-benar mengeluarkan catatan tabel pengurangan tekanan dari rompinya, dan mengibas-ngibaskannya di depan Malley. Ternyata benar, seseorang di dalam peti itu bisa saja turun dan naik dengan cepat tanpa merasakan sakit, jika ia tidak lebih dari lima menit di permukaan. “Baiklah, bersiap menahan nafasmu?”

“Nafasku?” Tanya Malley.

Lelaki berjas resmi menarik rem lift ke bawah, sehingga kotak lift itu berhenti dengan sentakan. “Apa yang kau pikirkan, bung?” Teriak lelaki itu, “kita akan segera ke atas, sudah aku katakan padamu. Kau harus menahan nafasmu dari sini hingga ke atas permukaan. Kau mau mati dengan tubuh melengkung?” Mereka sudah sampai di sepertiga bagian ke atas lorong lift, sekitar delapanbelas meter lebih di bawah permukaan. “Sudah berapa lama kau berada di bawah, limabelas jam?”

“Hampir duapuluhjam, Pak.”

“Duapuluh jam di bawah, Seamus, kau pasti bisa lumpuh, jika kau masih bisa hidup. Aku akan jelaskan padamu. Kau tarik nafas yang panjang, seperti aku, dan tahanlah demi kehidupan berhargamu. Jangan lepaskan. Kau akan merasakan tekanan sedikit, tetapi tetap jangan kau lepaskan, apa pun yang terjadi. Kau siap?”

Malley mengangguk. Kedua lelaki itu masingmasing menghirup udara hingga paruparu mereka penuh. Lalu lelaki itu menyalakan lift sekali lagi. Ketika mereka naik, Malley merasakan tambahan beban pada dadanya. Lelaki berjas resmi tidak merasakan tekanan seperti itu, karena ia hanya berpura-pura menahan nafasnya. Sebenarnya, tanpa terlihat, ia telah menghembuskan nafasnya ketika

lift bergerak naik. Karena suara berisik denyut mesin uap, bunyi nafasnya itu tidak terdengar ketika dihembuskan.

Dada Malley mulai sakit. Untuk memperlihatkan rasa tidak nyamannya, dan kesulitan menahan nafasnya, ia menunjukkan tangan ke dada dan mulutnya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya seraya menggoyangkan telunjuknya, untuk memberinya petunjuk, betapa pentingnya penahanan nafas itu bagi Malley. Ia memberi isyarat pada Malley, dengan meletakkan tangannya yang besar pada mulut dan hidung Malley, sehingga benar-benar menutup jalan keluarnya nafas. Ia menaikkan alisnya seolah bertanya pada Malley apakah itu terasa lebih baik? Malley mengangguk, sambil tersenyum. Wajahnya menjadi lebih merah, matanya menonjol ke luar, dan begitu lift mencapai ujung terakhirnya, Malley terbatuk tanpa dapat ditahan dalam tangan lelaki berjas resmi. Tangan itu sekarang berlumuran darah.

Paruparu manusia ternyata tidak lentur. Tidak dapat meregang. Pada kedalaman delapanbelas meter dari permukaan bumi, ketika Malley menghirup nafas terakhirnya, tekanan udara di sekelilingnya kira-kira tiga atmosfir. Artinya, Malley telah menghirup udara ke dalam paruparunya tiga kali lipat dari jumlah udara yang biasanya mampu ditampung paruparunya. Ketika lift naik, udara di dalam paruparu Malley mengembang. Paruparunya dengan cepat memompa udara yang di luar batas kemampuannya, seperti balon yang terlalu mengembang. Dengan segera, pluera (ruang di antara dada dan paruparu) mulai meledak, dengan cepat, satu persatu silih berganti. Udara yang terlepas pun masuk ke lubang pluera, mengakibatkan sebuah keadaan yang disebut pneu-mothorax (pengempisan salah satu paruparu).

“Seamus, Seamus, kau tidak menghembuskan nafasmu, kan?” Mereka telah berada di tempat teratas, tetapi lelaki berjas resmi tidak bergerak membuka pintu lift.

“Aku sumpah, aku tidak membuang nafas,” kata Malley tersengal-sengal. “Bunda Maria. Ada apa denganku?”

“Kau kehilangan satu paru-parumu,” kata lelaki jangkung itu, “itu tidak akan membunuhmu.”

“Aku harus…,” Malley terjatuh berlutut, “berbaring.”

“Berbaring? Jangan bung, kau harus terus berdiri, kau dengar aku?” Lelaki yang memang bertubuh lebih jangkung itu memegangi bagian bawah bahu Malley, sehingga Malley tetap berdiri, dan menyandarkannya pada dinding lift. “Nah, lebih baik.”

Seperti gas—pada umumnya—jika terperangkap dalam cairan, gelembung udara dalam aliran darah manusia langsung naik ke atas. Dengan menjaga Malley tetap berdiri, itu memastikan kalau gelembung udara yang masih ada di dalam paruparunya, mendesak jalannya melalui kapiler pleura yang sudah pecah. Hal itu akan berlanjut langsung ke jantung dan dari sana menuju arteri koroner dan karotid.

“Terimakasih,” bisik Malley, “aku tidak apa-apa, kan?”

“Kita akan tahu dalam beberapa menit lagi,” kata lelaki itu.

Malley memegangi kepalanya yang mulai berdenyut cepat. Vena pada pipinya tampak membiru. “Apa yang terjadi padaku?” Tanyanya.

“Yah, menurutku kau mengalami stroke, Seamus.”

“Aku akan mati?”

“Aku akan jujur padamu, bung, jika aku segera membawamu kembali ke bawah lagi sekarang juga, di sepanjang perjalanan, mungkin aku bisa menyelamatkanmu.”

Itu benar. Mendapatkan tekanan lagi adalah satusatunya cara menyelamatkan orang yang sekarat karena pengurangan tekanan udara. “Tetapi kau tahu yang sebenarnya?” Tanya lelaki berjas resmi perlahan-lahan saja, sambil membersihkan darah dari tangannya dengan saputangan bersih sebelum menyelesaikannya, “ibuku bukan orang Irlandia.”

Mulut Malley terbuka seolah ingin berbicara. Ia melihat lelaki yang telah membuhnya. Lalu kepalanya tersentak ke belakang, matanya berkaca-kaca, kemudian ia tidak lagi bergerak. Dengan tenang lelaki berjas resmi membuka pintu lift. Tidak ada siapa pun di sana. Ia kembali ke mobilnya, menemukan sebuah botol wiski di bagian belakang, lalu kembali ke lift untuk meletakkan botol wiski di sebelah tubuh Malley yang terkulai. Jenazah Malley yang malang akan ditemukan beberapa jam kemudian. Mereka akan berduka baginya sebagai salah seorang korban kaison. Seorang lelaki baik-baik. Teman-temannya akan setuju dengan sebutan itu, tetapi juga bodoh karena telah bermalam di bawah sana. Tempat yang tidak cocok bagi manusia atau iblis sekali pun. Mengapa ia mencoba untuk keluar di tengah malam, dan bagaimana ia bisa lupa untuk berhenti di tingkat istirahat? Begitulah tanya beberapa orang. Pastilah ia ketakutan dan mabuk. Di dermaga, tidak seorang pun akan melihat jejak tanah liat merah yang ditinggalkan pembunuh itu. Semua pekerja di peti itu meninggalkan jejak yang sama, dan jejak sepatu lelaki itu yang elegan akan segara terhapus oleh jejak sepatu berat milik pekerja yang berjumlah ribuan.

Sebelas

AKU TERBANGUN PADA PUKUL ENAM PAGI di hari Rabu. Sejauh yang kutahu, aku tidak bermimpi tentang Nora Acton. Namun ketikaku membuka mataku di dalam kamar hotel yang berdinding lapis kayu lilin berwarna putih, aku segera berpikir tentang dirinya. Mungkinkah gairah seksualnya terhadap ayahnya benar-benar merupakakan pokok penyebab penyakit yang diidap Nona Acton? Itu benar-benar merupakan penekanan dari yang dikatakan Freud. Aku tidak mau memercayainya; gagasan itu membuatku mundur.

Aku tidak pernah menyukai Oedipus. Aku tidak suka dramanya, aku tidak suka tokohnya, dan aku tidak suka teori eponymous Freud. Itu adalah sebagian dari psikoanalisa yang tidak pernah kusukai. Teori itu menjelaskan kalau kita memiliki kehidupan mental yang tidak kita sadari, kalau kita selalu menekan gairah seks yang terlarang dan agresi yang dapat muncul ketika gairah tersebut bangkit. Hal-hal yang tertekan itu ingin menunjukkan diri mereka sendiri melalui mimpi-mimpi, ketaksengajaan berbicara, dan neuro sis—aku percaya tentang semua ini. Tetapi lelaki yang ingin bercinta denganibunya, dan gadis yang ingin bersama ayahnya,

aku tidak bisa menerimanya. Tentu saja Freud akan mengatakan kalau keraguanku merupakan “perlawanan.” Ia akan berkata, aku tidak mau mendapati kebenaran dari teori Oedipus. Maka jelas saja seperti itu. Tetapi perlawanan apa pun itu, pasti tidak membuktikan kalau kebenaran gagasan tersebut ditolak.

Karena itulah aku terus kembali ke Hamlet dan solusi teka-tekinya versi Freud yang sangat menarik namun menggusarkan. Dalam dua kalimat, Freud telah membongkar dugaan yang telah lama berlaku bahwa Hamlet, seperti anggapan Goethe, merupakan keindahan yang terlalu cerdas, ketakcakapan secara konstitusi dari tindakan yang pasti. Seperti yang dijelaskan Freud, Hamlet berulang-ulang bersikap tegas. Hamlet membunuh Polonius. Ia merencanakan untuk menjalankan permainan dalam permainannya dengan menjebak Claudius, sehingga ia menebus dosanya. Ia mengirim karangan bunga Mawar dan bunga Guildenstern untuk kematian mereka. Tampaknya hanya satu hal yang tak dapat dilakukannya: membalas dendam pada pembunuh ayahnya yang juga meniduri ibunya.

Menurut Freud alasannya sangat sederhana: Hamlet melihat di dalam perbuatan pamannya itu ada harapan dirinya sendiri yang ingin diwujudkan: harapan Oedipal.

Claudius hanya telah melakukan apa yang seharusnya ingin dilakukan Hamlet sendiri. Mengutip Freud, “Jadi kebenciannya yang seharusnya mendorong Hamlet untuk melakukan pembalasan dendam, telah tergantikan dengan rasa pencelaan terhadap diri sendiri. Hal itu terjadi karena rasa ketidakrelaan dari kesadarannya.” Tidak dapat disangkal kalau Hamlet menderita karena perasaan mencela dirinya sendiri. Ia berkali-kali menghukum dirinya

secara berlebihan, hampir tidak masuk akal. Bahkan ia memikirkan rencana bunuh diri. Atau setidaknya pidato to be, or not to be, selalu ditafsirkan seperti itu. Hamlet bertanya-tanya, apakah ia akan membunuh dirinya sendiri? Mengapa? Mengapa Hamlet merasa bersalah dan berpikir untuk melakukan tindak bunuh diri saat ia mencari jalan guna membalas dendam atas kematian ayahnya? Dalam tigaratus tahun belakangan tidak seorang pun dapat menjelaskan percakapan Hamlet dengan dirinya yang terkenal itu, hingga Freud yang menjelaskannya.

Menurut Freud, Hamlet tahu—tanpa disadarinya— bahwa ia berharap untuk membunuh ayahnya sehingga bisa menggantikannya di tempat tidur ibunya. Itu persis seperti yang telah dilakukan Claudius. Karena itu Caludius adalah perwujudan dari harapan rahasia Hamlet sendiri. Dengan kata lain Claudius adalah cermin dari Hamlet sendiri. Pikiran Hamlet beralih segera dari pembalasan dendam menjadi upaya bunuh diri lantaran ia melihat dirinya sendiri di dalam pribadi pamannya. Membunuh Claudius bisa menjadi penghidupan kembali dari gairah Oedipal sekaligus pembantaian diri. Karena itulah Hamlet lumpuh dan tidak bisa bertindak. Ia histeris dan menderita perasaan berdosa yang berlebihan karena memiliki gairah Oedipal yang tidak berhasil ditekannya.

Namun demikian, aku rasa, pastilah ada beberapa penjelasan lainnya dari makna to be, or not to be. Jika saja aku dapat memecahkan percakapan Hamlet dengan dirinya sendiri, mungkin aku mampu membayangkan hal itu dapat mempertahankan penolakanku atas teori Oedipal. Tetapi aku tidak pernah bisa.

Sewaktu makan pagi, aku menjumpai Brill dan Ferenczi yang sedang duduk bersama di meja yang kemarin

mereka tempati. Cara Brill melahap makanannya seperti seorang yang sedang berperang dengan sepiring stek dan telur. Ferenczi tidak begitu bernafsu, ia bersikeras tidak akan menyentuh secuil makanan pun hari ini. Keduanya tampak agak memaksakan diri ketika berbicara denganku. Kupikir, aku telah mengganggu perbincangan pribadi mereka.

“Para pelayan itu,” kata Ferenczi, “semuanya orang Negro. Hal itu biasa terjadi di Amerika?”

“Hanya di tempat yang lebih mapan,” kata Brill, “orang-orang New York menentang persamaan hak, dan jangan lupa, hingga mereka menyadari apa artinya: mereka harus tetap mempertahankan orang-orang kulit hitam sebagai pelayan mereka hanya karena lebih murah upahnya.”

“Orangorang New York tidak menentang persamaan hak,” aku menyela.

“Apakah kericuhan tidak b erarti penentangan?” Tanya

Brill.

Ferenczi berkata, “Jangan pedulikan ia, Younger.”

“Ya, abaikan saja aku,” kata Brill, “orang lain juga begitu. Lagipula, kita hanya harus memperhatikan Jung, karena ia lebih penting dibandingkan dengan kita semua, bahkan bila kita disatukan.”

Aku mengerti kalau ternyata Jung-lah yang menjadi topik perbincangan mereka sebelum kedatanganku. Aku bertanya, apakah mereka dapat memberikan penjelasan yang lebih jelas tentang hubungan Jung dengan Freud? Lalu mereka pun menjelaskannya.

Baru-baru ini, lebih dari dua tahun yang lalu, Freud telah menarik perhatian sejumlah pengikut baru berkebangsaan Swiss. Jung adalah yang paling menonjol di antara mereka. Orang Zurich itu dibenci oleh murid-murid Freud yang berkebangsaan Austria. Kecemburuan tersebut semakin kuat ketika Freud mengangkat Jung sebagai editor kepala Psychoanalytical Yearbook yaitu buku tahunan Psikoanalitis pertama di dunia yang disediakan bagi psikologi baru. Dalam kedudukannya itu, Jung memiliki kekuasaan untuk membuat peraturan demi kebaikan karya semua orang. Orangorang Wina berkeberatan karena Jung tidak secara bersungguh-sungguh meliput “aetiologi seksual” yaitu penemuan inti Freud yang menekankan bahwa gairah seks tersimpan di balik histeria dan penyakit kejiwaan lainnya. Mereka merasa pengangkatan Jung menunjukkan sikap pilih kasih dari Freud. Di sini Brill berkata padaku kalau orang Wina itu lebih tepat dari yang mereka kira. Freud tidak hanya

mengasihi Jung lebih dari yang lain, tetapi telah memilih sebagai “putra mahkota-nya” dan “seorang pewaris” yang akan menggantikan dirinya dalam mengambil tindakan.

Aku tidak mengatakan kalau aku telah mendengar Freud mengucapkan katakata itu pada Jung kemarin malam. Jika aku katakan maka artinya aku juga harus menceritakan kecelakaan kecil yang dialami Freud. Aku menceritakan kalau Jung tampak terlalu perasa menanggapi penilaian Freud padanya.

“Oh, semua juga mengatakan begitu,” kata Ferenczi, “tetapi tidak diragukan lagi, Freud dan Jung mempunyai hubungan seperti ayah dan putranya. Aku memang melihat sendiri sikap ayah dan putra itu ketika kami berada di atas kapal. Karena itulah Jung menjadi terlalu peka terhadap segala ocehannya. Hal itu bisa membuatnya marah, terutama tentang terapi pemindahan. Jung memiliki…, bagaimana ya aku harus mengatakannya…,

filosofi yang berbeda dalam hal pemindahan pada proses analisa.”

“Begitukah? Apakah ia telah mempublikasikannya?” Tanyaku.

Ferenczi saling bertukar pandangan dengan Brill, “Tidak tepat seperti itu. Aku hanya membicarakan tentang pendekatannya kepada para pasiennya. Para pasien…, wanitanya. Kau mengerti?”

Aku mulai mengerti.

Brill berbisik. “Jung tidur bersama mereka. Ia terkenal karena hal itu.”

“Aku sendiri belum pernah,” kata Ferenczi, “tetapi aku memang belum pernah berhadapan dengan terlalu banyak godaan, maka ucapan selamat bagi kasusku, masih terlalu awal. Sayang sekali.”

“Apakah Dr. Freud tahu?”

Kali ini Ferenczi berbisik, “Salah satu dari pasien Jung menulis surat pada Freud. Wanita itu sangat bersedih, dan menjelaskan segalanya. Freud memperlihatkan surat itu kepadaku di kapal. Bahkan ada surat dari Jung kepada ibu si gadis, sangat aneh. Freud meminta pendapatku,” Ferenczi sangat bangga akan hal itu, “aku mengatakan padanya untuk tidak menggunakan katakata gadis itu sebagai bukti. Tentu saja aku sudah mengetahui hal itu. Semua orang juga tahu. Seorang mahasiswi cantik keturunan Yahudi. Mereka bilang, Jung tidak memperlakukannya dengan baik.”

“Ya ampun,” kata Brill sambil melihat ke ruang makan pagi. Freud sedang menuju masuk, tetapi tidak sendirian. Ia ditemani oleh orang lain yang pernah kutemui di New Haven dalam kongres psikoanalistis beberapa bulan lalu. Ia adalah Ernest Jones, pengikut Freud dari Inggris.

Jones datang ke New York untuk bergabung dengan kelompok kami selama seminggu. Setelah itu ia akan pergi ke Clark bersama kami pada hari Sabtu. Berusia sekitar empatpuluhan, Jones bertubuh sependek Brill tetapi lebih gemuk. Wajahnya sangat putih, rambutnya hitam dan diberi minyak dengan baik. Ia hampir tidak berdagu dan bibir tipisnya terkatup rapat. Maka itu bila tersenyum akan memberi kesan kepuasan pribadi dan penuh ramah tamah. Ia memiliki kebiasaan ganjil yaitu tidak mau menatap orang yang sedang diajaknya berbicara. Freud, jelas terlihat suka padanya. Berbeda dengan Ferenczi dan Brill.

“Sandor Ferenczi,” kata Jones, “kejutan yang menyenangkan, sobat. Tetapi kau tidak diundang, bukan? O leh G. Stanley Hall maksudku, untuk memberikan tulisan di Clark?”

“Tidak,” kata Ferenczi, “tetapi…,”

“Dan Abraham Brill,” lanjut Jones sambil menebarkan pandangan matanya ke sekitar ruangan, seolah sedang menunggu orang lain yang dikenalnya, “bagaimana kabarmu? Masih dengan tiga orang pasien?”

“Empat,” kata Brill.

“Well bersyukurlah, sobat,” kata Jones, “aku sangat sibuk dengan para pasien di Toronto sehingga tidak punya waktu lagi untuk menulis. Semua tulisan yang kukirimkan melalui pipa saluram adalah tulisan tanganku untuk bidang Nuerologi, hal kecil untuk Insanity, serta kuliah yang kuberikan di New Haven, yang ingin dipublikasikan oleh Prince. Bagaimana denganmu, Brill, sudah ada lagi hasil tulisanmu?”

Perkataan Jones telah mengakibatkan suasana meni Biasa terdapat pada kantor-kantor pada masa itu untuk mempercepat pengiriman naskah dari lantai atas ke bawah.

jadi kurang ramah. Brill memperlihatkan tarikan wajah pura-pura kecewa. “Hanya buku histeria karya Freud”, katanya.

Bibir Jones bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Ya, hanya terjemahanku dari karya Freud,” lanjut Brill, “bahasa Jermanku ternyata sudah menjadi lebih berkarat dari yang kukira, tetapi buku itu selesai juga akhirnya.”

Perasaan lega memenuhi wajah Jones, “Freud tidak memerlukan penerjemahan ke bahasa Jerman, kau bodoh,” katanya sambil tertawa keras sekali, “Freud telah menulis dalam bahasa Jerman. Justru ia memerlukan penerjemah bahasa Inggris.”

“Akulah penerjemah bahasa Inggrisnya,” kata Brill.

Jones tampak terpaku. Lalu kepada Freud ia berkata, “Kau…, kau tidak…, kau mengizinkan Brill menerjemahkan bukumu?” Lalu menoleh kepada Brill, “tetapi apakah bahasa Inggrismu memadai untuk itu, sobat? Bukankah kau seorang imigran?”

“Ernest,” kata Freud, “kau memperlihatkan kecem-buruanmu.”

“Aku?” Kata Jones, “cemburu pada Brill? Bagaimana mungkin aku begitu?”

Pada saat itu seorang anak lelaki membawa nampan perak memanggil nama Brill. Nampan itu berisi secarik amplop. Dengan tarikan wajah angkuh karena merasa berposisi sebagai orang penting, Brill memberi sekeping uang logam kepada anak lelaki itu. “Aku selalu ingin menerima sebuah telegram di sebuah hotel,” katanya dengan riang, “aku hampir saja mengirimkan satu telgram untuk diriku sendiri kemarin, hanya untuk tahu bagaimana rasanya.”

Ketika Brill mengeluarkan telegram itu dari amplopnya, wajahnya memb eku. Ferenczi mengambilnya dari tangan Brill dan memperlihatkannya kepada kami. Telegram itu berbunyi:

7(emudian tuhan menghujani sodom dengan Batu 6elerang dan api titik dan lihatlah asap pedesaan mem6um6ung seperti asap cero6ong asap titikjetapi istrinya menoleh kem6ali dari 6elakang sodom dan istrinya menjadi se6uah pilar garam titik se6elum terlam6at titik “7

“Begini,” kata Jones, “tidak ada alasan untuk menganggap telegram itu sebagai salah satu surat kiriman iblis. Itu jelas hanya dari seseorang relijius fanatik. Amerika dipenuhi dengan orang-orang semacam itu.”

“Tetapi bagaimana mereka tahu aku akan ada di sini?” Tanya Brill masih tidak yakin.

g

WALIKOTA GEORGE MCCLELLAN tinggal di salah satu deretan rumah bergaya Greek Revival yang megah di Washington Square North. Ketika meninggalkan rumahnya pada hari Rabu pagi, ia terkejut melihat Hugel bergegas menuju ke arahnya dari taman di seberang jalan. Kedua lelaki itu bertemu di antara pilar-pilar Corinthian yang membingkai pintu depan rumah Walikota itu.

“Hugel,” sapa McClellan, “apa yang kau kerjakan di sini? Ya Tuhan, bung, kau seperti belum tidur dalam beberapa hari.”

“Aku harus bertemu denganmu,” seru Hugel terengah-engah, “Banwell yang melakukannya.” “Apa?”

“George Banwell-lah yang membunuh gadis Riverford,” kata Hugel.

“Jangan bercanda,” kata McClellan, “aku sudah mengenal Banwell selama duapuluh tahun.”

“Begitu aku memasuki apartemen gadis itu,” kata Hugel, “ia sudah berusaha menghalangi penyidikan. Ia mengancamku supaya aku dipecat dari kasus ini. Ia mencoba mencegah tindakan otopsi.”

“Ia mengenal ayah gadis itu, demi Tuhan.” “Lalu, mengapa itu harus mencegah tindakan otopsi?”

“Pada umumnya, Hugel, tidak akan ada orang tua yang tega melihat jenazah putrinya dibedah.”

Jika saat itu McClellan mengharapkan satu petunjuk saja akan kepekaan perasaan Hugel, ahli otopsi itu tidak memperlihatkannya. “Banwell cocok dengan penggambaran si pembunuh itu dari segala hal. Ia tinggal di gedung itu, ia teman keluarga korban, sehingga gadis itu membuka pintu baginya; dan ia telah membersihkan seluruh apartemen gadis itu sebelum Littlemore dapat menyelidikinya.”

“Kau sudah menyelidikinya,” kata Walikota McClellan menambahkan.

“Sama sekali tidak,” kata Hugel, “aku hanya memeriksa kamar tidur. Littlemore yang menyelidiki bagian lainnya dari apartemen itu.”

“Apakah Banwell tahu Littlemore akan datang? Kau mengatakan itu padanya?”

“Tidak,” gerutu Hugel, “tetapi bagaimana kau menjelaskan ketakutannya yang luar biasa ketika ia melihat

Nona Acton di jalan kemarin?” Hugel mengisahkan kejadian kemarin kepada McClellan sebagaimana laporan Littlemore kepadanya, “Banwell mencoba melarikan diri karena ia menduga gadis itu akan mengenalinya sebagai seorang penyerangnya.”

“Tidak mungkin,” kata McClellan, “ia bertemu dengan aku di hotel segera setelah kejadian itu. Kau tahu kalau keluarga Banwell dan keluarga Acton berkawan akrab? Kini Harcourt dan Mildred Acton sedang menginap di pondok musim panas milik George Banwell.”

“Maksudmu ia mengenal keluarga Acton?” Tanya Hugel, “wah, itu juga membuktikannya! Lelaki itu adalah satusatunya orang yang mengenal kedua korban itu.”

Walikota itu menatap Hugel dengan tenang, “Apa yang menempel pada jasmu, Hugel? Kelihatannya seperti telur.”

“Memang telur,” Hugel sambil mengusap bahunya dengan sehelai saputangan yang sudah menguning, “Para hooligans di seberang tamanmu melemparkannya padaku.

Walikota, kita harus segera menangkap Banwell.”

McClellan menggelengkan kepalanya. Sisi selatan dari Washington Square memang tidak ramah, dan ia belum pernah dapat mengusir kelompok anak berengsek di sudut barat daya taman itu. Keberadaan orang-orang itu yang berdekatan dengan rumah McClellan, tentulah merupakan perangsang bagi keberandalan mereka. McClellan berjalan menuju kereta kuda yang telah menunggunya. “Aku heran denganmu, Hugel. Spekulasi yang kau ciptakan hanyalah berdasarkan spekulasi yang lain.”

“Bukanlah spekulasi lagi ketika kau telah mengetahui siapa pembunuhnya.”

“George Banwell tidak membunuh Nona Riverford,”

kata Walikota McClellan. “Bagaimana kau tahu?”

“Aku tahu. Aku tidak mau mendengar fitnah lain yang menggelikan itu. Sekarang pulanglah. Kau tidak pantas untuk pergi ke kantormu dengan keadaan seperti itu. Istirahatlah. Ini perintah.”

g

GEDUNG YANG DITEMUKAN LITTLEMORE di Eight Avenue 782 kemungkinan adalah tempat Chong Sing bertempat tinggal. Gedung berlantai lima itu sangat kotor, dengan aroma tajam babi panggang merah, serta bebek-bebek mati yang digantung dan masih menentes-netes pada jendela-jendela lantai dua, di depan sebuah restoran Cina. Di bawah restoran yang lantainya setinggi jalanan, ada sebuah toko sepeda kumuh. Pemiliknya adalah orang kulit putih. Semua orang di dalam dan sekitarnya—beberapa perempuan tua—sibuk keluar dan masuk pintu depan. Seorang lelaki terlihat sedang merokok dengan menggunakan pipa panjang di serambi muka. Orangorang yang muncul dari lantai atasnya, semuanya berwajah Cina.

Ketika detektif itu mulai menapaki tangga menuju lantai tiga yang tak berpenerangan, seorang lelaki kecil mengenakan tunik panjang muncul dari kegelapan, menghalangi jalan. Lelaki ini berjenggot berunting, rambut kepangnya menggantung pada punggungnya, sementara giginya berwarna karat segar. Littlemore berhenti.

“Kau salah jalan,” kata orang Cina itu tanpa memperkenalkan diri, “restoran ada di belakang sana. Lantai dua.”

“Aku tidak mencari restoran,” jawab Littlemore, “aku

mencari Chong Sing. Ia tinggal di lantai empat. Apakah kau mengenalnya?”

“Tidak,” Orang Cina itu terus menghalangi jalan Littlemore, “tidak ada Chong Sing di atas.”

“Maksudmu, ia sedang pergi, atau ia tidak tinggal di

sini?”

“Tidak ada Chong Sing di atas,” ulang orang itu. Lalu ia mendorongkan ujung jarinya pada dada Littlemore, “pergilah.”

Littlemore mendorong melewati lelaki itu dan melanjutkan menaiki tangga sempit yang berderik pada pijakan kakinya. Bau daging berlemak menemaninya. Ketika ia berjalan di koridor berasap di lantai empat— tanpa jendela dan gelap, padahal waktu itu masih pagi dan cerah—ia melihat beberapa pasang mata mengamatinya dari ambang-ambang pintu yang terkuak sedikit. Tidak ada orang yang menjawab ketukannya pada pintu nomor 4C. Littlemore mengira ia mendengar seseorang bergegas turun di tangga belakang. Pertama, aroma daging bakar telah merangsang nafsu makannya, namun sekarang di lantai atas yang tak berudara, aroma itu bercampur dengan gumpalan asap opium yang membuatnya mual.

g

KETIKA WALIKOTA MCCLELLAN tiba di City Hall, Nyonya Neville memberitahu kalau Tuan Banwell telah menelpon. McClellan meminta untuk disambungkan kepadanya.

“Ini George,” kata George Banwell, “ini George.” “Dari George, memang,” kata McClellan melengkapi tukar sapa yang khas di antara mereka berdua sejak

menjadi anggota muda Manhattan Club duapuluh tahun lalu.

“Hanya ingin memberitahumu, aku berhasil menghubungi Acton kemarin malam,” kata Banwell, “aku katakan kabar yang mengerikan itu. Acton sudah mengemudikan mob ilnya secepat mungkin pagi ini dan akan tiba di hotel siang nanti. Aku akan menemuinya di sana.”

“Bagus sekali,” kata McClellan, “aku akan menemanimu.”

“Apakah Nora sudah dapat mengingat sesuatu?”

“Belum,” kata McClellan, “Hugel sudah memiliki tersangka. Kaulah orangnya.”

“Aku?” Tanya Banwell, “aku tidak suka pada rase [hewan lambang kelicikan] kecil itu begitu aku melihatnya.”

“Tampaknya perasaanmu itu sama dengan yang dirasakannya.”

“Apa yang kau katakan padanya?”

“Kukatakan padanya kalau kau tidak melakukannya,” kata McClellan.

“Bagaimana dengan jasad Elizabeth?” Tanya Banwell,

“Riverford mengirimkan kawat setiap menit.” “Jenazah itu telah dicuri, Goerge,” kata McClellan.

“Apa?”

“Kau tahu masalah-masalah yang kumiliki dengan rumah penyimpanan jenazah itu. Aku berharap mendapatkannya kembali. Kau dapat menenangkan orang tua korban itu satu hari lagi?”

“Menenangkannya?” Ulang Banwell, “putri mereka telah dibunuh.”

“Bisa kau coba?” Tanya Walikota itu.

“Iblis,” kata Banwell, “aku akan lihat apa yang dapat aku lakukan. Kira-kira, siapakah para spesialis yang

merawat Nora itu?”

“Apa aku belum mengatakannya padamu?” Tanya McClellan, “mereka para terapis. Tampaknya dapat menyembuhkan amnesia hanya dengan mengajak pasiennya berbicara. Sebenarnya pekerjaan yang menarik.

Mereka meminta para pasien untuk menceritakan berbagai hal.”

“Hal-hal macam apa?” Tanya Banwell. “Segala hal,” kata McClellan.

g

AHLI OTOPSI HUGEL, mematuhi perintah Walikota McClellan untuk pulang ke rumah. Di rumah kecil berlantai dua itu, ia berbaring di atas pembaringannya yang kusut, namun tidak tidur. Sinarnya terlalu terang, dan teriakan para buruh angkutan terlalu riuh, walau ia sudah menutupi kepalanya dengan bantal.

Rumah tempat tinggal Hugel berada di tepi luar Market District, Manhattan wilayah bawah. Ketika pertama kali ia menyewa kamarnya, daerah itu masih merup akan lingkungan perumahan yang menyenangkan. Pada tahun 1909, tempat itu dikelola menjadi gudang dan gedung pabrik. Hugel tidak pernah pindah. Dengan gaji seorang ahli otopsi, ia tidak mampu menyewa kedua lantai rumah itu di wilayah kota yang lebih modern.

Hugel membenci kamarnya. Langit-langitnya memiliki bekas bocoran air bertepian cokelat. Itu menjijikannya, sebagaimana secara terpakasa ia rasakan juga di kantornya. Hugel bersumpah dengan muram pada dirinya sendiri. Ia adalah ahli otopsi di New York City, mengapa ia harus hidup di kamar yang tidak bermartabat? Mengapa

jasnya harus tampak kumuh dibandingkan dengan jas George Banwell yang dijahit atau disikat secara khusus?

Buktibukti yang memberatkan Banwell cukup untuk menahannya dengan mudah. Mengapa Walikota McClellan tidak bisa melihatnya? Ia berharap dapat menangkap Banwell sendiri. Hugel tidak memiliki kekuasaan untuk melakukan penangkapan walau ia berharap memilikinya. Hugel merenungkan segalanya lagi. Seharusnya masih ada lagi. Harus ada cara untuk menyatukan cerita itu. Jika pembunuh Elizabeth Riverford telah mencuri jenazahnya dari rumah penyimpanan mayat lantaran terdapat bukti pada jasad itu, ia harus tahu bukti itu seperti apa? Tibatiba ia mendapatkan ilham. Ia lupa foto-foto yang dibuatnya di apartemen Nona Riverford. Mungkinkah salah satu foto itu bisa mengungkap petunjuk yang hilang?

Hugel turun dari tempat tidurnya dan segera berpakaian. Ia dapat mencetak foto-foto itu sendiri walaupun jarang melakukannya. Ia memiliki ruang gelap pribadi yang terhubung dengan rumah penyimpanan jenazah. Tetapi tidak, itu akan lebih aman jika Louis Riviere, seorang ahli fotografi kepolisian, yang mengerjakannya.

9

PADA PUKUL SEMBILAN aku pergi ke kamar Nona Acton. Tidak seorang pun di sana. Lalu aku pergi ke meja penerima tamu. Di sana aku mendapat pesan yang telah menungguku. Di dalam pesan itu, Nona Acton memberitahuku kalau ia akan kembali ke kamarnya pada pukul sebelas. Aku boleh mengunjunginya, jika aku mau.

Secara analitis ini semua salah. Pertama, aku tidak “mengunjungi” Nona Acton. Kedua, seharusnya bukan

pasien yang menentukan waktunya, tetapi dokternya.

Namun, aku benar-benar mengunjungi Nona Acton pada pukul sebelas. Ia bertengger di atas sofanya dengan tenang, persis seperti kemarin pagi. Tanpa menatapku, Nona Acton memintaku duduk. Ini sangat menggangguku. Ia terlalu tenang. Suasana terapi analistis seharusnya ada di sebuah ruang praktik sehingga akulah yang memerintah.

Lalu ia mendongak, aku menjadi betulbetul terkejut. Ia gemetar dan sangat marah. “Kepada siapa kau menceritakan tentangku?” Tanyanya tidak menuduh, tetapi cemas, “Tentang apa yang telah dilakukan Tuan Banwell kepadaku.” Lanjutnya.

Hanya kepada Dr. Freud. Mengapa? Apa yang terjadi?”

Ia saling bertatapan dengan Ibu Biggs, yang mengeluarkan secarik kertas terlipat dua. Lalu Nona Acton meminta wanita tua itu menyerahkannya padaku. Pada kertas itu tertulis, dengan pena, Jaga lidahmu.

“Seorang anak lelaki,” kata Nona Acton dengan kesal, “di jalan…, ia meletakkan surat itu pada tanganku kemudian melarikan diri. Kau pikir Tuan Banwell menyerangku?”

“Apa kau pikir juga begitu?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Mengapa aku tidak bisa mengingat? Kau bisa membuatku mengingat?” Ia memohon padaku, “bagaimana jika ia berada di luar sana, mengamatiku? Kumohon, Dokter, kau bisa menolongku?”

Aku belum pernah melihat Nona Acton seperti ini. Ini adalah kali pertamanya ia benar-benar meminta pertolonganku. Juga untuk kali pertamanya, sejak tiba di hotel, ia tampak betulbetul ketakutan.

“Aku bisa mencobanya,” kataku.

Ibu Biggs cukup tahu, maka kali ini ia meninggalkan ruangan atas kemauannya sendiri. Aku meletakkan pesan ancaman itu di atas meja kopi dan menyuruh gadis itu untuk berbaring. Sebenarnya ia tidak menyukainya. Ia begitu gelisah sehingga hampir tidak dapat diam.

“Nona Acton, coba berpikirlah kembali, tiga tahun yang lalu, sebelum kejadian di atap. Kau sedang bersama keluargamu, di rumah pedesaan Banwell.”

“Mengapa kau menanyakanku tentang hal itu?” Semburnya, “aku ingin mengingat kejadian dua hari yang lalu, bukan tiga tahun yang lalu.”

“Kau tidak mau mengingat kejadian tiga tahun yang

lalu?”

“Bukan itu maksudku.”

“Itu yang kau katakan. Dr. Freud percaya mungkin kau telah melihat sesuatu ketika itu. Sesuatu yang telah kau lupakan, sesuatu yang telah menghalangimu untuk mengingatnya sekarang.”

“Aku tidak melupakan segalanya,” jawabnya dengan pedas.

“Kalau begitu kau memang melihat sesuatu.” Ia terdiam.

“Tidak ada yang perlu membuatmu malu, Nona Acton.”

“Jangan katakan itu lagi!” Gadis itu berteriak dengan amarah yang sama sekali tidak pernah kuduga, “apa yang harus membuatku malu?”

“Aku tidak tahu.”

“Pergilah,” katanya.

“Nona Acton.”

“Pergilah. Aku tidak menyukaimu. Kau tidak becus.” Aku tidak bergerak, “Apa yang kau lihat?” Ketika ia

tidak menjawab tetapi menatap ke tempat lain, aku berdiri dan mengambil kesempatan. “Maafkan aku, Nona Acton. Aku tidak dapat menolongmu. Aku berharap aku bisa.”

Ia menarik nafas dalam. “Aku melihat ayahku dan Clara Banwell.”

“Kau bisa menjelaskan apa yang kau lihat?” “Oh, baiklah.” Aku pun duduk.

“Di rumah musim panas keluarga Banwell ada sebuah perpustakaan besar di lantai satu,” katanya, “aku sering kesulitan tidur. Dan setiap kali aku kesulitan tidur, aku selalu pergi ke perpustakaan itu. Aku bisa membaca hanya dengan penerangan cahaya bulan di sana, tanpa harus menyalakan lilin. Pada suatu malam, pintu perpustakaan terbuka. Aku tahu ada seseorang di dalam. Aku mengintai dari celah itu. Aku melihat ayahku sedang duduk di kursi Tuan Banwell, mengahadap ke arahku. Itu adalah kursi yang selalu kududuki. Aku dapat melihatnya dalam cahaya bulan, tetapi kepalanya terdongak ke atas dengan menjijikkan. Clara sedang berlutut di depannya. Pakaiannya tidak tertutup. Melorot hingga ke pinggangnya. Punggungnya betulbetul terbuka. Punggungnya indah sekali, Dokter, sangat putih, tidak bernoda. Benar-benar seputih dan semulus dengan apa yang kau lihat di…, dan berbentuk seperti hourglassz atau sebuah cello. Ia…, aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya…, Clara bergerak seperti gelombang. Kepalanya naik dan turun lambat berirama. Aku tidak dapat melihat

2 Jam pasir yang terdiri dari dua bejana kaca, bagian atas dan bawah. Bagian atas dengan meruncing ke bawah, bagai an bawah meruncing ke atas. Pasir mengucur melalui celah sempit yang berbentuk seperti pinggang manusia.

tangannya. Aku percaya mereka ada di depannya. Setu atau dua kali, Clara mengibaskan rambutnya dari bahunya, tetapi ia terus naik dan turun. Memesonakan. Tentu saja saat itu aku tidak mengerti apa yang sedang kusaksikan. Menurutku gerakannya indah, seperti gelombang lembut mengusap-usap pantai. Tetapi aku sangat tahu mereka sedang melakukan sesuatu yang salah.” “Lanjutkan.”

“Kemudian ayahku mulai mengeluarkan suara yang menjijikan, terdengar parau. Aku bertanya-tanya bagaimana Clara bisa tahan mendengar suara seperti itu. Tetapi ia tidak saja tahan, tapi suara itu bahkan membuat alunan gelombangnya menjadi semakin cepat, dan lebih pasti. Ayahku mencengkeram lengan kursinya. Kepala Clara bergerak naik dan turun lebih cepat lagi. Aku yakin kalau aku terpukau saat itu, tetapi aku tidak mau menontonya lagi. Aku berjingkat-jingkat ke atas, kembali ke kamarku.

“Kemudian?”

“Tidak ada lagi.” Kami saling bertatapan.

“Kuharap rasa ingin tahumu sudah terpenuhi, Dr. Younger, walau aku tidak percaya amnesiaku sudah terobati.”

Aku mencoba memikirkan secara psikoanalitis semua bagian cerita yang baru saja dikisahkannya. Kisah itu bisa menimbulkan trauma, tetapi ada satu kesulitan. Nona Acton tampak tidak mengalami trauma tersebut.

“Apakah setelah itu kau mengalami kesulitan jasmani?” Tanyaku, “seperti kehilangan suara misalnya?”

“Tidak.”

“Kelumpuhan pada bagian tubuhmu yang lainnya?

Atau demam?”

“Tidak juga.”

“Ayahmu tahu kau melihatnya?” “Ia terlalu bodoh untuk itu.”

Aku mengambil kesempatan ini, “ketika kau memikirkan amnesiamu, sekarang apa yang ada dalam benakmu?” “Tidak ada apa-apa,” katanya.

“Tidak mungkin tidak ada apa-apa di dalam benak seseorang.”

“Kau pernah mengatakan itu!” Serunya dengan marah, lalu terdiam. Ia menatapku tajam dengan mata birunya, “hanya satu hal yang pernah kau lakukan, bahkan aku mulai mengira kau dapat menolongku, walau itu tidak ada hubungannya dengan segala pertanyaanmu padaku.”

“Apa itu?”

Ia mengalihkan tatapan matanya, “Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakannya padamu.” “Mengapa?”

“Oh, tidak apa-apa. Itu terjadi ketika di kantor polisi.” “Ketika aku memeriksa lehermu.”

Ia berbicara dengan tenang, kepalanya berpaling da-riku. “Ya. Ketika kau pertama kali menyentuh tenggorokanku, selama satu detik aku hampir melihat sesuatu…, gambaran, memori. Aku tidak tahu apa itu.”

Berita tersebut tidak terduga tetapi masuk akal. Freud sendiri telah menemukan bahwa sebuah sentuhan jasmani dapat membebaskan memori yang tertekan. Aku telah menggunakannya tehnik tersebut pada Priscilla. Mungkin amnesia Nona Acton rentan terhadap cara perawatan seperti itu juga.

“Kau mau mencoba hal yang sama lagi?”

“Itu membuatku takut,” katanya.

“Mungkin juga akan begitu lagi.”

Ia mengangguk. Aku mendekatinya dan menyorongkan telapak tanganku. Ia mulai membuka sapu tangan yang membungkus lehernya. Aku mengatakan padanya kalau ia tidak perlu melakukannya, karena aku hanya akan menyentuh keningnya, bukan lehernya. Ia terkejut. Aku menjelaskan, menyentuh kening adalah salah satu metode dasar Dr. Freud untuk mengembalikan memori. Ia tampak tidak puas, tetapi berkata kalau aku boleh melanjutkan. Perlahan-lahan aku meletakkan telapak tanganku pada keningnya. Tidak ada reaksi. Aku bertanya apakah ada pikiran yang muncul.

“Tidak, cuma tanganmu terasa dingin sekali, Dokter,” katanya.

“Maafkan aku, Nona Acton, tetapi tampaknya kita harus kembali bicara. Sentuhan itu tidak berhasil.” Aku kembali duduk. Ia tampak hampir marah.

“Bisa kau katakan satu hal padaku? Kau mengatakan kalau punggung Nyonya Clara Banwell…, punggungnya…, putih seperti yang pernah kau lihat sebelumnya pada …. tetapi kau tidak mengatakan apa-apa.”

“Dan kau ingin tahu?”

“Karena itulah aku bertanya.”

“Keluar,” katanya sambil duduk tegak.

“Maaf?”

“Keluar!” Teriaknya sambil melemparkan tempat gula batu padaku. Lalu ia berdiri dan melemparkan cangkir dan tatakannya. Atau, yang itu tidak dilemparkannya, tetapi dipukulkannya padaku, sekeras mungkin. Untunglah, kedua benda itu terlepas dan meluncur ke arah lain. Tatakan cangkir terbang ke sisi kiriku, dan cangkirnya melayang tinggi ke sebelah kananku, keduanya pecah

menjadi beberapa bagian ketika menghantam dinding. Nona Acton mengambil poci teh.

“Jangan lakukan itu,” kataku.

“Aku membencimu.”

Aku juga berdiri. “Kau tidak membenciku, Nona Acton. Kau membenci ayahmu karena telah menukarmu dengan Banwell sebagai ganti istrinya.”

Jika aku memikirkan reaksi gadis itu selanjutnya adalah menjatuhkan diri ke sofa dan menangis, maka aku salah. Ia menerkam seperti kucing liar, mengayunkan poci teh padaku. Poci teh itu mengenai bahu kiriku. Kekuatannya mengesankan. Ia ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa untuk ukuran tubuhnya yang mungil. Tutup poci teh itu melayang lepas. Air mendidih panas, terpercik pada lenganku. Sebenarnya sakit sekali. Bukan lantaran hantaman poci teh, tetapi air yang panasnya terasa membakar. Namun aku tidak bergerak ataupun memperlihatkan reaksi apa pun. Ini, kukira, membuatnya marah lagi. Ia mengayunkan poci itu lagi padaku, kali ini ke arah kepalaku.

Aku sangat jauh lebih tinggi darinya, sehingga yang harus kulakukan hanyalah mundur sedikit. Poci itu meleset dari sasaran, dan aku menangkap lengan Nona Acton. Gerakkannya membuat gadis itu berputar sehingga punggungnya menghadapku. Aku memegangi lengannya dengan kuat menempel pada pinggangnya, memelintirnya ke arahku.

“Lepaskan aku,” katanya, “lepaskan aku, atau aku akan berteriak.”

“Lalu? Kau akan mengatakan padamu kalau aku menyerangmu?”

“Aku menghitung hingga tiga,” katanya dengan bengis, “lepaskan aku, atau aku akan berteriak. Satu, dua…,”

Aku menangkap tenggorokannya untuk menghentikan kata yang keluar dari mulutnya. Aku seharusnya tidak melakukan itu, tetapi aku marah, darahku naik. Tindakan itu menghentikan teriakannya tetapi ternyata menghasilkan efek samping juga. Segala ketegangan pada tubuhnya berangsur hilang. Ia menjatuhkan pocinya. Matanya terbuka lebar, bingung, manik matanya yang sebiru batu safir bergerak-gerak cepat ke sana ke mari. Aku tidak tahu apa yang membuatnya menjadi begitu janggal. Serangannya padakukah, atau pemindahan (Transferance) yang tibatiba ini? Aku segera melepaskan pegangan tanganku padanya.

“Aku tadi melihatnya,” bisik gadis itu, “sekarang telah hilang. Kupikir ketika itu aku diikat. Aku tidak dapat bergerak. Oh, mengapa aku tidak dapat mengingat?” Ia tibatiba berpaling padaku, “lakukan lagi.”

“Apa?”

“Apa yang baru saja kau lakukan. Aku akan dapat untuk mengingat. Aku yakin itu.”

Perlahan-lahan, tanpa pernah melepaskan tatapan matanya padaku, ia membuka setangan lehernya, memperlihatkan memar pada lehernya. Ia menggenggam tangan kananku dalam jemarinya yang lembut dan membawanya ke lehernya. Persis seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Aku menyentuh kulit lembut di bawah dagunya, berhati-hati supaya tidak menyentuh memarnya.

“Ada yang kau ingat?” Tanyaku.

“Tidak,” bisiknya, “kau harus melakukan apa yang pernah kau lakukan sebelum ini.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu apakah maksudnya. Apakah tindakan yang pernah aku lakukan ketika kami berada di kantor polisi, ataukah yang baru saja kulakukan sesaat tadi.

“Cekik aku!” Katanya.

Aku tidak melakukan apa-apa.

“Ayolah,” katanya, “cekik aku!”

Aku meletakkan jari telunjuk dan ibu jariku pada lehernya yang masih berbekas kemerahan. Ia mengigit bibirnya, pasti terasa sakit. Dengan memar-memar itu tertutup, tidak terlihat adanya serangan sebelumnya, yang terlihat hanyalah leher yang mengarah dengan indah padaku. Aku meremas tenggorokannya. Dengan segera matanya terutup.

“Lebih keras,” katanya lembut.

Dengan tangan kiriku, aku memegangi punggung kecilnya. Dengan tangan kananku, aku mencekiknya. Punggungnya melengkung, kepalanya terdongak. Ia mencengkeram tanganku erat, tetapi tidak mencoba mengelak.

“Kau melihat sesuatu?” Tanyaku. Ia menggelengkan kepalanya pelan, dan matanya masih tertutup. Aku menariknya lebih ketat, sambil menekan lehernya lebih keras. N afasnya tersekat dalam tenggorokannya, kemudian berhenti sama sekali. Bibirnya, merah terang, terkuak.

Tidak mudah bagiku untuk mengakui seluruh reaksi yang tidak pantas, yang terjadi pada diriku. Aku belum pernah melihat mulut sesempurna itu. Bibirnya, yang agak membengkak, kini bergetar. Kulitnya adalah krim yang paling murni. Rambut panjangnya berkilauan, seperti air terjun yang berubah warna menjadi keemasan lantaran cahaya matahari. Aku menariknya lebih rapat padaku. Salah satu tangannya berada di atas dadaku. Aku tidak

tahu kapan dan bagaimana tangan itu bisa tiba di sana.

Tibatiba aku menjadi sadar akan mata birunya yang menatap mataku. Kapan mata itu terbuka? Ia sedang menggerakkan bibirnya mengucap satu kata. Aku tidak sadar. Kata itu adalah “hentikan”.

Aku melepaskan cengkeramanku pada tenggorokannya. Aku menduga ia akan tersengal mencari udara dengan tergesa-gesa. Namun tidak, bahkan dengan sangat lembut dan hampir tidak kudengar, ia berkata, “cium aku.”

Aku harus mengakui kalau aku tidak tahu apa yang harus kulakukan terhadap undangan itu. Tetapi saat itu juga, tibatiba terdengar suara ketukan keras pada pintu, diikuti oleh sebuah anak kunci yang diputar-putar dengan ketakutan pada lubang kuncinya. Aku segera melepaskannya. Dalam rentang satu detik, ia memungut poci teh dari lantai, dan menempatkannya lagi di atas meja, lalu ia mengambil catatan yang kutinggalkan di sana. Kami berdua menatap pintu.

“Aku ingat,” bisiknya dengan mendesak padaku, ketika gagang pintu terputar, “aku tahu siapa pelakunya.”

Duabelas

PADA TENGAH HARI YANG SAMA, tanggal 1 September, Carl Jung diundang makan oleh Smith Ely Jelliffe, seorang penerbit, dokter, dan profesor penyakit kejiwaan di Fordham University. Siang itu mereka pergi ke sebuah kelab yang berada di Fifty-third Street, yang menghadap

ke taman. Freud tidak diundang, begitu juga Ferenczi, Brill, dan Younger. Ketertutupan pengundangnya tidak mengganggu Jung. Bahkan ia merasa adanya tanda-tanda yang berbeda. Tingkat penghargaan internasionalnya bertambah. Seorang yang tidak terlalu besar namanya akan bisa berkokok menyombongkan diri tentang hal semacam itu, serta membanggakan undangan tersebut pada orang lain. Namun, Jung, menanggapi kedermawanan itu dengan bersungguh-sungguh, maka ia menutupi perasaan tersebut.

Benar-benar menderita, bagaimana juga, ketika harus menyembunyikan begitu banyak hal. Sebenarnya perasaan itu telah mulai muncul sejak hari pertama mereka meninggalkan Bremen. Jung tidak benar-benar berbohong, tentu saja. Hal itu, katanya kepada dirinya sendiri, tidak akan pernah dilakukannya. Tetapi semua itu bukan salahnya: merekalah yang mendorong Jung untuk menyembunyikannya.

Misalnya, Freud dan Ferenczi telah memesan tiket kelas dua kapal George Washington. Apakah ia harus disalahkan jika tidak menadapatkan karcis yang sama? Karena tidak mau mempermalukan mereka, ia harus mengatakan hal itu kepada teman-temannya. Ia mengatakan ketika memesan tiket untuk dirinya sendiri ternyata hanya tiket kelas satu yang tersedia. Kenyataannya hal itu memang sudah ada dalam mimpinya ketika malam pertama di atas kapal. Pesan itu begitu jelas—kalau ia telah melebihi Freud dalam wawasan dan reputasi. Ia tahu hal itu cukup tidak menyenangkan bagi kebanggaan Freud yang peka. Lalu ia menyatakan kalau di dalam mimpinya, tulang belulang yang ditemukannya di dalam lemarinya adalah milik istrinya sendiri, bukan milik Freud. Sebenarnya, ia telah dengan cerdik menambahkan kalau tulang-belulang itu bukan hanya milik istrinya, tetapi juga milik saudara perempuan istrinya: Jung ingin melihat bagaimana reaksi Freud akan mimpinya itu, karena kerangka manusia itu ditemukan di dalam lemari Freud sendiri. Mimpi itu memang hal remeh, tetapi ternyata telah menjadi dasar bagi kepura-puraan yang lebih besar dan yang telah menjadi kebutuhan bagi Jung sejak mereka tiba di Amerika.

Makan siang di kelab Jelliffe begitu menyenangkan. Sembilan atau sepuluh lelaki duduk bersama di meja lonjong. Percakapan campuran antara ilmu pengetahuan yang mereka kuasai dan minuman lezat merupakan takaran hiburan yang selalu dinikmati Jung. Perbincangan tentang pergerakan wanita menuntut hak pilih bagi kaumnya terasa membosankan.

Kini Jung berada di lingkungannya. Untuk pertama kalinya, Jung tidak perlu merasa harus berpura-pura kurang kaya dibandingkan yang lainnya. Tidak ada keharusan untuk menyangkal kalau ia keturunan seseorang penting. Setelah menyantap makanan, jumlah mereka perlahan-lahan berkurang, hingga Jung akhirnya hanya duduk bersama Jelliffe dan tiga orang lelaki yang lebih tua. Salah satu dari Tuan-tuan itu sekarang memberi sinyal dengan tidak kentara. Jelliffe segera bangkit dan pergi. Jung juga berdiri, karena mengira kalau kepergian Jelliffe juga merupakan isyarat baginya untuk pergi. Tetapi Jelliffe mengatakan kalau ketiga bapak itu masih ingin berbincang dengan Jung sendirian. Kereta kuda akan siap mengantarnya pulang begitu mereka selesai.

Sebenarnya, Jelliffe sama sekali bukan anggota perkumpulan itu, walau ia memang sangat ingin menjadi anggotanya. O rangorang yang memiliki kewenangan

atas masyarakat dan keanggotaannya adalah mereka yang kini masih duduk bersamanya. Merekalah yang meminta Jelliffe untuk membawa Jung ke kelab itu.

“Silakan duduk, Dr. Jung,” kata lelaki yang telah menyuruh Jelliffe pergi sambil memberi isyarat menggunakan tangannya yang anggun.

Jung mencoba mengingat nama bapak itu. Namun karena ia baru saja bertemu dengan begitu banyak orang, ditambah minuman anggur bukanlah kebiasaannya, maka ia tidak dapat mengingat nama-nama itu dengan baik.

“Ini Dana,” kata lelaki itu membantunya. O rang itu memiliki alis gelap yang cocok dengan rambut beruban-nya, “Charles Dana. Aku baru saja membicarakanmu, Jung, dengan Ochs, teman baikku di Times. Ia ingin menulis kisah tentangmu.”

“Sebuah kisah?” Tanya Jung, “aku tidak mengerti.”

“Ada hubungannya dengan kuliah-kuliah yang telah kami atur untuk kau sampaikan di Fordham minggu depan. Ia ingin melakukan wawancara dan menulis biografi singkatmu, sekitar dua halaman lebar penuh. Kau akan menjadi sangat terkenal setelah itu. Aku tidak tahu apakah kau akan setuju. Maka aku katakan padanya kalau aku akan bertanya padamu lebih dulu.”

“Wah,” kata Jung, “aku…, aku tidak…,”

“Hanya ada satu kendala. Ochs..,” nama itu diucapkan Dana dengan Oaks, “khawatir kalau kau adalah seorang pengikut Freud. Ia tidak mau korannya berhubungan dengan sebuah…, dengan sebuah…, ah, kau tahu apa yang mereka katakan tentang Freud.”

“Seorang yang rendah dan gila seks,” kata lelaki tambun di sebelah kanan.

“Apakah Freud benar-benar percaya pada apa yang

ditulisnya?” Tanya tuan ketiga yang berkepala botak, “bahwa setiap gadis yang mendapat perawatan darinya cenderung ingin merayunya? Atau apa yang dikatakannya tentang tinja…, tinja, demi Tuhan. Atau tentang lelaki yang tidak mudah puas sehingga ingin melakukan hubungan seks melalui anus?”

“Bagaimana dengan teorinya tentang anak-anak lelaki yang ingin bercinta dengan ibunya sendiri?” Lelaki gendut berbicara lagi dengan tarikan wajah yang memperlihatkan kejijikan yang begitu kuat.

“Bagaimana dengan Tuhan?” Tanya Dana sambil memadatkan tembakau di dalam pipanya, “pastilah sulit bagimu, Jung, karena kau berhubungan dengan Freud.” Jung tidak yakin bahwa sebenarnya hal apakah yang sedang mereka bicarakan. Ia tidak menjawab.

“Aku tahu kau, Jung,” kata Dana, “aku tahu siapakah kau ini. Kau orang Swiss. Beragama Kristen. Ilmuwan, seperti kami juga. Kau adalah seorang lelaki yang bersemangat. Orang yang bertindak menurut gairahnya. Seorang lelaki yang membutuhkan lebih dari seorang wanita untuk tumbuh pesat. Kau tidak perlu menyembunyikan hal seperti itu di sini. Kau bukanlah lelaki yang dikatakan tidak bertindak, yang membiarkan gairahnya membusuk seperti borok, yang ayahnya adalah penjajah, yang selalu merasa rendah diri terhadap kami…, hanya orang-orang seperti itulah yang dapat menyu sun keburukan, khayalan-khayalan hewani, menteorikan Tuhan dan manusia ke dalam saluran pembuangan. Pastilah sulit bagimu untuk dihubungkan dengan orang-orang seperti itu.”

Bagi Jung menjadi semakin sulit untuk menyerap aliran katakata mereka. Alkohol tadi pastilah sudah mulai

memasuki kepalanya. Tuan-tuan itu tampak mengenalinya, tetapi bagaimana mungkin?

“Terkadang memang begitu,” jawab Jung perlahan-lahan.

“Aku sama sekali tidak anti-Yahudi. Kau hanya tinggal bertanya pada Sachs di sini.” Ia menunjuk pada lelaki botak di sebelah kirinya. “Sebaliknya, aku mengagumi orang-orang Yahudi. Rahasia mereka adalah kemurnian ras, sebuah prinsip yang lebih mereka ketahui dibandingkan dengan kita. Itulah yang membuat mereka menjadi ras yang besar.”

Lelaki yang ditunjuk sebagai Sach tidak mengatakan apa-apa, sementara si tambun hampir tidak menggerakkan bibir tebalnya. Dana melanjutkan. “Tetapi hari Minggu yang lalu. Ketika aku melihat pada Juru Selamat kami yang berdarah-darah, lalu membayangkan si orang Yahudi dari Wina itu mengatakan bahwa gairah kita padaNya adalah gairah seksual, kurasa sulit bagiku untuk berdoa setelah mendengar pernyataan seperti itu. Sangat sulit. Sepertinya aku yakin, kau tentulah juga merasakan kesulitan yang sama. Atau murid-murid Freud juga diminta untuk meninggalkan gereja?”

“Aku pergi ke gereja,” kata Jung dengan kikuk.

“Bagiku sendiri,” kata Dana, “aku tidak bisa mengatakan, aku tahu itu adalah kemarahan dari psikoterapi. Aliran-aliran The Emanuels. The New Thought, Dr. Quackenbos…,”

“Quackenbos,” sela lelaki dengan pipi berbercak merah.

“Eddyisme,” lanjut Dana, “psikoanalisa…, menurutku, mereka semua itu adalah sekte. Tetapi separuh dari wanita Amerika bersusah payah mencari mereka, dan

untunglah mereka tidak mendapatkannya dari tempat yang keliru. Mereka akan mendapatkan apa yang mereka cari darimu, percayalah padaku. Tentunya setelah mereka membaca tentang dirimu di Times. Nah, intinya begini, kami dapat membuatmu menjadi psikiatris paling terkenal di Amerika melalui tulisan Ochs. Tetapi Ochs tidak dapat menulis apa-apa tentang dirimu jika kau tidak menjelaskannya dalam kuliah-kuliahmu di Fordham dengan betulbetul jelas, sehingga ia yakin kalau kau tidak terpengaruh kecabulan faham Freud. Selamat siang, Dr. Jung.”

9

GEDORAN pintu kamar hotel Nona Acton terus berlangsung sementara pegangan pintunya terputar-putar ke kiri dan ke kanan. Pintu pun terbuka, di susul menyeruaknya lima orang, yang tiga di antaranya kukenal. Walikota McClellan, Detektif Littlemore dan George Banwell. Dua orang lainnya adalah seorang bapak dan seorang ibu yang terlihat sangat kaya.

Lelaki itu tampak berusia akhir empatpuluhan, berkulit putih tetapi tampak terbakar matahari dan mengelupas. Dagunya mencuat, rambut sudah mulai banyak rontok, dan ada perban putih besar menutupi mata kirinya. Jelaslah kalau lelaki itu adalah ayah Nona Acton, walau tungkai panjang yang anggun miliki Gadis itu berbeda dengan milik ayahnya yang tampak tidak ada gunanya. Wajah Nona Acton lembut dan feminim, sementara wajah ayahnya terkesan malu-malu. Wanita yang kuduga adalah ibu Nona Acton, tinggi tubuhnya mungkin hanya mencapai seratus limapuluh dua sentimeter. Ia tampak lebih gendut

dari suaminya, mengenakan banyak perhiasan dan riasan wajah. Tumit sepatunya pun, yang mungkin digunakan untuk menambah tinggi badannya beberapa sentimeter, tampak berbahaya. Bisa jadi, ketika masih muda, ia adalah seorang yang menarik. Wanita itulah yang berbicara pertama kali sambil menangis, “Nora, kasihan kau anak malang. Aku sudah sangat ketakutan begitu mendengar kabar mengerikan itu. Kami telah melakukan perjalan berjam-jam. Harcourt, apa kau hanya akan berdiam diri di sana saja?”

Ayah Nora meminta maaf, lalu mengulurkan tangannya untuk menuntun wanita gendut itu menuju kursi hingga tampak nyaman. Wanita itu menjatuhkan diri di atas kursi, ia tampak keletihan. Walikota McClellan memperkenalkan aku kepada Acton dan istrinya, Mildred. Ternyata, saat mereka baru saja tiba di lobi hotel, ketika itu juga seseorang dari atas mengeluhkan kericuhan yang terdengar dari kamar Nona Acton. Aku meyakinkan mereka kalau kami tidak apa-apa, walau sedikit berharap kalau cangkir teh itu tidak pecah berserakan di dekat dinding. Untunglah mereka memunggungi tembok, maka kukira mereka tidak melihatnya.

“Segalanya akan menjadi aman, sekarang, Nora,” kata Tuan Acton, “Walikota McClellan-lah yang mengatakan padaku kalau tidak ada berita apa-apa di surat kabar, syukurlah.”

Mildred Acton mempersalahkan suaminya yang meninggalkan Nora di rumah sendirian. Dengan cerewet ia bertanya di mana Ibu Biggs, yang seharusnya sudah mengemas barang-barang milik putrinya dan segara mengajak Nora pergi dari tempat ini. Mildred memiliki firasat kalau penyerang itu masih berada di hotel ini.

Sewaktu berjalan masuk, aku merasakan matanya menatapku. Begitulah kata Mildred.

“Menatapmu, sayangku?” Tanya Acton. Aku tidak bisa mengatakan kalau aku melihat kasih sayang atau perlindungan yang semestinya terlihat ketika Nora menyambut orangtuanya setelah perpisahan lama. Aku juga tidak bisa menyalahkan sikap Nona Acton lantaran arah katakata yang dilontarkan padanya sejauh itu. Anehnya, Nona Acton belum mengatakan sepatah kata pun sejak tadi. Ia memang telah bergerak untuk bicara, namun tidak satu pun dari usahanya pernah berhasil terucapkan. Ada aliran darah kemarahan pada pipinya. Kemudian aku mengerti kalau gadis itu telah kehilangan suaranya lagi. Atau itulah yang kuduga, sampai akhirnya Nona Acton berkata dengan tenang dan datar, “aku tidak diperkosa, Mama.”

“Hus, Nora,” kata ayahnya, “katakata itu tidak patas diucapkan.”

“Kau tidak bisa mengetahui hal itu, anak malang!” Seru ibunya, “kau tidak dapat mengingat kejadian itu. Kau tidak akan pernah tahu.”

Jika gadis itu menghendaki, kinilah saatnya untuk mengatakan kalau ingatannya sudah kembali. Namun Nora tidak melakukan itu. Sebagai gantinya, ia berkata, “aku akan tinggal di hotel ini untuk melanjutkan perawatanku. Aku tidak mau pulang.”

“Kau dengar apa yang dikatakannya?” Teriak ibunya.

“Aku tidak akan merasa aman di rumah,” kata Nona Acton, “lelaki yang menyerangku mungkin sedang mengamatiku di sana. Pak McClellan, bukankah kau yang mengatakan begitu, hari Minggu lalu.”

“Gadis itu benar,” kata Walikota, “ia jauh lebih aman

berada di hotel ini. Pembunuh itu tidak tahu kalau ia berada di sini.”

Aku tahu, itu kebohongan, karena Nona Acton telah menerima surat ancaman ketika ia berada di luar. Jelas, Nona Acton pun tahu akan hal itu. Sebenarnya, ketika ia mendengar katakata McClellan, aku melihat Nona Acton mengepalkan tangannya; ujung dari surat kalengnya tersembul sedikit dari kepalan tangannya itu. Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ia menatap McClellan, lalu orang tuanya, seakan mempertegas posisinya. Aku tahu ia sedang menghindari tatapan Banwell.

Banwell menatap Nora dengan tarikan wajah ganjil.

Secara jasmani, lelaki itu mendominasi yang lainnya. Ia berpostur lebih tinggi dibandingkan orang lain yang berada dalam ruangan ini, kecuali diriku sendiri. Ia juga memiliki dada sebesar tong. Rambut hitamnya tersisir ke belakang dengan sejenis minyak dan sudah mulai berwarna kelabu, yang terlihat indah pada bagian pelipisnya. Tatapannya tajam kepada Nora. Tampak tidak masuk akal. Tatapan itu dapat kukatakan, walau pasti akan disangkal, sepertinya Tuan Banwell berharap untuk melakukan sesuatu kejahatan pada Nona Acton. Lelaki itu pun berbicara, tetapi suaranya tidak dapat menutupi perasaannya, “Tentu yang terbaik bagi Nora adalah tinggal di luar kota,” katanya yang terdengar serak tetapi benar-benar sangat peduli pada keselamatan Nona Acton, “mengapa tidak tinggal saja di rumah pedesaanku? Clara akan mengurusnya.”

“Aku lebih suka tinggal di sini,” kata Nora sambil menatap ke bawah.

“Begitukah?” Kata Banwell, “ibumu menduga si pembunuh ada di hotel ini. Bagaimana kau bisa yakin kalau ia

tidak mengamatimu sekarang ini?”

Wajah Nona Acton memerah mendengar perkataan Tuan Banwell. Bagiku, seluruh tubuhnya tampak bergetar karena ketakutan.

Aku mengatakan kalau aku akan pergi. Nona Acton mendongak dan menatapku dengan cemas. Aku beralasan kalau aku lupa memberikan resep obat Nora. Padahal secarik kertas yang kutulis itu berbunyi, Apakah penyerangm u adalah Ban w ell?

Nora melihat pesanku. Ia mengangguk padaku dengan samar tetapi yakin.

Banwell berkata penuh curiga, mengapa resep itu tidak diberikan saja padanya dan ia bisa menyuruh pegawainya untuk mengambilkan di apotek.

“Baiklah,” kataku. Dari tangan Nona Acton, aku mengambil resepku dan surat ancaman tanpa nama itu. Aku berikan yang terakhir pada Banwell, “coba saja, mungkin pegawaimu dapat mengambilnya.”

Banwell membacanya. Aku sedikit berharap ia akan meremasnya dan mendelik padaku, dan memperlihatkan dirinya sebagai penjahat seperti dalam roman picisan. Namun, ia malah berseru, “Kurang ajar, apa ini…, ‘jaga lidahmu1? Sebaiknya kaujelaskan ini, anak muda.”

“Itu adalah peringatan yang diterima Nona Acton di jalan pagi ini,” kataku “seperti yang kau tahu, Tuan Banwell, karena kaulah penulisnya.” Setelah itu keheningan yang menegangkan terjadi. “Tuan Walikota, Pak Littlemore, lelaki inilah penjahat yang kalian cari. Nona Acton ingat akan serangan terhadapnya itu beberapa menit yang lalu sebelum kalian datang. Aku sarankan untuk menangkapnya segera.”

“Berani sekali kau?” Kata Banwell.

“Apa ia…, ia ini siapa?” Tanya Mildred Acton seraya menunjukku, “darimanakah asalnya?”

“Dr. Younger,” kata Walikota McClellan, “kau tidak akan menerima hukuman karena tuduhan palsu. Tariklah ucapanmu. Jika Nona Acton baru saja mengatakan padamu tentang hal itu, lalu apakah artinya? Ingatannya masih kacau.”

“Tuan Walikota….,” Detektif Littlemore mulai bicara.

“Jangan sekarang, Littlemore,” kata Walikota McClellan dengan tenang, “Dokter, kau harus mencabut tuduhanmu, dan meminta maaf pada Tuan Banwell. Katakanlah apa yang baru saja dikatakan Nona Acton padamu.”

“Tetapi yang Mulia…,” kata detektif itu.

“Littlemore!” Walikota McClellan membentak dengan amarahnya sehingga membuat detektif itu mundur selangkah, “Tidakkah kau mendengarku?”

“Walikota McClellan,” aku menyela, “aku tidak mengerti. Aku baru saja mengatakan padamu kalau Nona Acton dapat mengingat peristiwa penyerangan itu. Detektifmu sendiri tampaknya memiliki sesuatu untuk menegaskannya. Nona Acton dengan jelas telah mengenali Tuan Banwell sebagai penyerangnya.”

“Kami hanya mendengar katakata dari pihakmu, Dokter…, jika memang hanya itu yang kau pedulikan,” kata Banwell. Ia menatap tajam pada Nona Acton. Bagiku, ia sedang berusaha dengan keras untuk mengendalikan perasaannya yang kuat. “Nora, kau tahu betul aku tidak melakukan apa pun padamu. Katakan pada mereka, Nora.”

“Nora,” kata ibu gadis itu, “katakanlah kalau tuduhannya itu salah.”

“Nora, sayang,” kata ayahnya.

“Aku tidak mau mengatakan padanya,” hanya itulah

yang dikatakan Nona Acton.

“Tuan McClellan,” kataku, “kau tidak boleh membiarkan Nona Acton diinterogasi oleh lelaki yang menyerangnya, seorang lelaki yang juga telah membunuh seorang gadis lainnya.”

“Younger, aku percaya, maksudmu baik,” kata Walikota McClellan, “tetapi kau salah. George Banwell sedang bersamaku pada hari Minggu malam, ketika Elizabeth Riverford dibunuh. Ia bersamaku…, kau dengar aku, ia bersamaku…, sepanjang malam itu dan tengah malam hingga menjelang Senin pagi juga. Duaratus limapuluh mil dari kota. Ia tidak mungkin membunuh siapa pun.”

9

DI PERPUSTAKAAN, setelah Jung pergi, ekor asap cerutu yang melingkar-lingkar membumbung ke langitlangit.

“Apa Jung sudah kita dapatkan?” Tanya lelaki botak yang disebut sebagai Sachs.

“Sangat pasti,” kata Dana. “Ia bahkan lebih lemah dari yang semula kubayangkan. Apalagi kita memiliki data lebih dari cukup untuk menghancurkannya kapanpun. Ochs sudah menerima pesanmu, Allen?”

“Oh, ya,” kata si gendut yang berpipi merah dan berbibir tebal. “Ia akan menerbitkan tulisanku tepat pada hari yang sama ketika orang Swiss itu diwawancarai.”

“Bagaimana dengan Matteawan?” Tanya Sachs.

“Serahkan saja padaku,” kata Dana. “Yang belum kita rencanakan adalah menahan maksud mereka yang lain dari penyebaran berita itu. Besok akan sudah beres.”

g

BAHKAN SETELAH MENDENGAR kesaksian McClellan, aku tidak dapat menerima kalau Banwell tidak bersalah. Begitulah subjektifnya. Namun objektifnya, aku tidak punya dasar untuk tidak memercayainya ataupun memprotesnya.

Nora menolak pulang, namun Acton memohonnya. Ibunya marah dan menyebutnya sebagai gadis pembangkang. McClellan mengatasi masalah itu. Kini, setelah melihat surat itu, ia berkata kalau hotel tersebut jelas sudah tidak aman lagi. Tetapi rumah keluarga Acton masih dapat diamankan. Memang, rumah itu dapat dibuat lebih aman dibandingkan dengan hotel yang memiliki begitu banyak jalan masuk. Ia akan menempatkan beberapa orang polisi di luar, di belakang dan di depan rumah sepanjang siang dan malam. Lebih lagi, ia mengingatkan kalau gadis itu masih belum dewasa: di bawah perlindungan hukum, dan ia harus mematuhi perintah ayahnya walau berlawanan dengan keinginannya.

Kupikir Nona Acton akan marahmarah. Tetapi ia menyerah, walau dengan syarat yaitu ia diizinkan untuk melanjutkan terapinya esok pagi. “Terutama,” ia menambahkan, “kini aku tahu kalau ingatanku tak bisa dipercaya.” Kalimat itu dikatakannya dengan penuh kejujuran. Tetapi tidak mungkin dikatakan kalau ia menyalahkan kejujuran ingatannya atau marah kepada orang yang tidak ingin memercayainya.

Ia tidak melihat padaku lagi setelah itu, tak sekali pun. Perjalanan turun dengan menggunakan lift yang hening membuatku tersiksa, tetapi Nona Acton tetap bersikap tenang dan bermartabat. Sikap itu tidak dimiliki

ibunya yang tampak memandang segala yang dihadapinya sebagai musuh pribadi. Sebuah janji dibuat bagiku untuk berkunjung ke rumah mereka di Gramercy Park esok pagi. Lalu mereka pergi ke kota dengan menumpang sebuah mobil. Begitu juga McClellan. Banwell, setelah melirik sekali lagi ke arahku tanpa keramahan, pergi menggunakan kereta kuda, meninggalkan Detektif Littlemore dan aku di tepi jalan.

Detektif Littlemore berpaling padaku, “Ia mengatakan padamu kalau pelakunya adalah Banwell?”

“Ya,” kataku.

“Dan kau percaya padanya, bukan?” “Ya, aku percaya padanya.”

“Aku boleh bertanya padamu?” Kata Littlemore, “misalnya, seorang gadis kehilangan ingatannya. Ia sama sekali tidak dapat mengingat apa pun. Lalu ingatannya itu kembali lagi. Bisakah kau memastikan kapan waktunya ingatan itu kembali lagi?”

“Tidak,” kataku. “Itu bisa jadi kepura-puraannya saja. Itu bisa juga hanya khayalannya, jadi bukan ingatannya yang sesungguhnya.”

“Tetapi kau percaya padanya?”

“Ya.”

“Jadi, bagaimana itu, Dok?”

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa,” kataku, “aku boleh bertanya sesuatu, Detektif? Apa yang akan kau katakan tadi kepada McClellan ketika kita masih berada di kamar Nona Acton?”

“Aku hanya ingin mengingatkannya kalau ahli otopsi Hugel yang berwenang pada kasus ini, tadinya juga berpikir kalau Banwell-lah si pembunuh itu.”

“Apakah tadinya ia berpikir begitu?” Tanyaku,

“maksudmu, apakah kini ia tidak lagi berpikir seperti itu?”

“Well, ia tidak bisa begitu lagi, tidak setelah apa yang dikatakan Tuan Walikota tadi,” jawab Littlemore.

“Mungkinkah Banwell memang menyerang Nona Acton, dan sementara pembunuh Nona Riverford adalah orang lain?”

“Tidak,” jawab detektif itu, “kami sudah punya bukti. Pelakunya adalah orang yang sama.”

Aku kembali ke dalam, tidak yakin pada diriku sendiri, pasienku, atau keadaanku. Mungkinkah McClellan sedang melindungi Banwell? Apakah Nora akan aman berada di rumah orang tuanya?

Petugas di meja depan memanggil namaku. Rupanya ada surat untukku dari G. Stanley Hall, presiden Clark University. Suratnya panjang dan sangat mengganggu pikiranku.

g

DI LUAR HOTEL MANHATTAN, Detektif Littlemore mendekati pangkalan kereta kuda sewaan.

Dari sais tua kemarin malam, Littlemore tahu kalau lelaki b erambut hitam—lelaki yang meninggalkan Balmoral pada hari Minggu, tengah malam itu—telah memasuki taksi berwarna merah dan hijau berbahan bakar bensin di depan Hotel Manhattan. Sepotong informasi itu baginya sangat berarti banyak. Hanya satu dekade sebelumnya, setiap kendaraan sewaan di Manhattan adalah kereta kuda. Pada tahun 1900, seratus trem bermesin berlalu-lalang di sekitar kota, tetapi ketika itu masih bertenaga listrik. Pada tahun 1907, New York Taxicab Company meluncurkan mobil-mobil sewaan pertamanya

menggunakan bahan bakar bensin, yang juga dilengkapi dengan argometer sehingga penumpang tahu berapa ia harus membayar.s Taksi bensin itu dapat dengan mudah dikenali karena warnanya menyolok, merah dan hijau.

Beberapa dari kendaraan tersebut diparkir di pangkalan taksi Hotel Manhattan. Para pengemudi memberitahu Littlemore untuk mencoba mencari tahu di garasi Allen, Fifty-seven, antara Eleventh dan Twelfth av-enue. Di sanalah New York Taxicab berkantor pusat dan dengan mudah dapat diketahui siapakah orang yang telah bergiliran menjaga pemakaman pada hari Minggu. Sungguh baik nasib detektif itu. Dua jam kemudian, ia mendapatkan jawabannya. Seorang pengemudi bernama Luria, telah menjemput seorang lelaki berambut hitam di depan Hotel Manhattan setelah tengah malam hari Minggu lalu. Luria dapat mengingat dengan jelas, karena lelaki itu tidak keluar dari hotel, tetapi dari sebuah kereta kuda. Littlemore juga menjadi tahu ke mana lelaki berambut hitam itu pergi setelahnya. Lalu Littlemore pergi sendirian ke tempat itu—sebuah rumah pribadi. Di sana, nasib mujurnya sirna.

Rumah itu terletak di Fortieth Street di luar Broadway. Littlemore harus mengetuk pintu itu sebanyak lima atau enam kali sebelum seorang wanita muda membukakannya. Wanita itu bisa dianggap berbusana tidak rapi pada tengah hari seperti itu. Ketika Littlemore menjelaskan siapakah dirinya, wanita itu menyuruhnya menunggu.

Ia dibawa masuk ke ruang tamu berpermadani Oriental yang tebal. Terdengar suara bayi menangis di lantai atas. Lima menit kemudian, seorang wanita lainnya, lebih tua dan sangat gemuk, menuruni anak tangga yang

berlapis permadani merah. Wanita itu mengenakan jubah berwarna anggur Perancis.

“Kau pastilah sangat pemberani,” kata wanita itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Susan Merrill. Dari sebuah lemari penyimpan yang tersembunyi di dalam tembok di balik cermin, ia menarik sebuah kotak kuat dari besi berukir, yang dibukanya dengan sebuah kunci. Ia menghitung limapuluh dolar. “Ini. Sekarang, pergilah. Aku sudah terlambat.”

“Aku tidak mau uangmu, Bu,” kata Littlemore.

“Oh, jangan katakan padaku seperti itu. Kau membuatku muak, kalian semua. Greta, kemarilah,”

Seorang gadis yang tak berbusana sopan masuk ke ruangan, sambil menguap. “Greta, detektif ini tidak mau uang kita. Bawa ia ke kamar hijau. Layanilah.”

“Aku ke sini bukan untuk itu juga, Bu,” kata Littlemore, “aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan. Adakah seorang lelaki yang datang ke sini pada hari Minggu tengah malam? Aku sedang mencarinya.”

Ibu Merrill menatap Littlemore dengan ragu, “Jadi, kau kini ingin bertemu dengan pelangganku? Apa yang ingin kau lakukan, menggoyangnya juga?”

“Kau pastilah mengenal beberapa orang polisi jahat,” kata Littlemore.

“Apakah ada jenis lainnya?”

“Seorang gadis telah terbunuh pada hari Minggu malam,” kata Littlemore, “pelakuknya telah mencambukinya, mengikatnya, dan menyayatnya dengan bengis, lalu mencekiknya. Aku ingin menangkap orang itu. Itu saja.”

Wanita itu menarik jubah merah anggurnya yang tfedaitouifcgRafc bhbBh^aiaHa rrt&pf^ito^irerga^BibiSlii upegwpaufes

jalanan?”

“Bukan,” kata Littlemore, “gadis kaya. Sangat kaya. Tinggal di sebuah gedung mewah di kota.”

“Wah, sayang sekali. Apa hubungannya denganku?”

“Lelaki itu datang ke sini,” jawab Littlemore, “kami pikir ia mungkin saja si pembunuh itu.”

“Kau tahu, Detektif, berapakah lelaki yang datang ke sini pada hari hari Minggu malam?”

“Lelaki ini pastilah lain dari yang lainnya. Ia berpostur tinggi, berambut hitam, dan membawa tas atau koper hitam atau sejenisnya.”

“Greta, kau ingat ada orang seperti itu?”

“Coba kuingat-ingat,” kata Greta sambil menguap, “tidak ada.”

“Nah, apa yang kau inginkan dariku?” Tanya Ibu Merrill, “kau telah mendengarnya bukan?”

“Tetapi lelaki itu datang ke sini, Bu. Taksi itu meninggalkannya tepat di depan pintu rumahmu.” “Meninggalkannya? Itu tidak berarti ia masuk ke sini. Aku bukan satusatunya pemilik rumah di blok ini.”

Littlemore mengangguk perlahan. Tampaknya Greta agak tidak peduli, sedangkan Ibu Merrill agak terlalu bersemangat melihatnya pergi.

Tigabelas

NORA TELAH MEMINTAKU untuk menciumnya.

Aku sedang berjalan-jalan di kota di Forty-second Street, tetapi pada mata batinku, aku terus melihat bibir

Nona Acton yang terkuak. Aku terus merasakan kulit tenggorokannya pada tanganku. Dan aku seolah terus mendengarnya membisikkan dua kata itu.

Surat Presiden Hall ada di saku rompiku. Seharusnya aku hanya mempunyai satu ide di benakku yaitu bagaimanakah mengatasi kemungkinan batalnya konferensi minggu depan di Clark berikut seluruh reputasi Dr. Freud, setidaknya di Amerika. Namun yang dapat kulihat hanyalah bibir dan mata yang tertutup milik Nona Acton.

Aku tidak mengolok diri. Aku tahu perasaannya padaku. Aku pernah melihat yang seperti itu, bahkan terlalu sering. Pernah salah satu dari pasienku di Worcester, seorang gadis bernama Rachel, cenderung ingin membuka pakaiannya hingga sebatas pinggangnya setiap sesi analitis. Setiap kali ia mengajukan alasan baru untuk melakukannya. Ia pernah mengatakan kalau detak jantungnya tidak teratur, atau sebuah tulang iga yang dikhawatirkannya patah, atau denyut sakit pada punggung bagian bawahnya. Padahal Rachel hanyalah salah satu dari sekian gadis. Dalam segala kasus seperti itu, aku sebenarnya tidak pernah menolak godaan, tetapi aku belum pernah tergoda. Pasien yang kuanalisa ada yang membuat tipu daya yang menggairahkan, mereka menyerangku dengan mengerikan.

Seandainya saja pasienku lebih menarik hati, aku tidak akan meragukan, perilaku mereka tentu akan memberiku ilham berupa perasaan yang sama dalam ketaksempurnaan seorang manusia. Sebenarnya sifatku tidak istimewa, hanya saja para pasienku itu tidak menarik. Pada umumnya usia mereka cukup untuk menjadi ibuku. Gairah mereka membuatku muak. Namun Rachel

berbeda. Ia menarik, bertungkai jenjang, bermata hitam-dengan letak yang agak berdekatan, tentunya-dan bentuk tubuh yang bisa dikatakan bagus, atau lebih dari sekadar bagus. Sayangnya ia mengidap neurotis agresif, sehingga tidak pernah bisa membangkitkan gairahku.

Aku pernah membayangkan gadis-gadis yang lebih cantik lainnya yang berkonsultasi denganku. Aku pernah mengkhayalkan kejadian yang tidak mungkin di jelaskan-tetapi tidak mustahil terjadi-di ruang praktikku. Maka terjadilah. Setiap kali ada pasien psikoanalitis baru yang datang padaku, aku mulai menilai-nilai kecantikannya. Akibatnya, aku membenci diriku sendiri. Lalu aku berpikir apakah aku harus mempertahankan diri untuk tetap menjadi seorang analis. Aku belum menerima pasien analitis sepanjang musim panas ini, hingga muncul Nona Acton.

Dan sekarang ia telah memintaku untuk menciumnya. Tidak ada yang tersembunyi, dari diriku sendiri, apa yang ingin kulakukan bersamanya. Aku belum pernah mengalami perasaan gairah yang menyiksa seperti ini, gairah untuk menguasai dan memiliki. Aku sangat ragu apakah aku berada dalam ketegangan keadaan transfer-tandingan [timbulnya perasaan kasih sayang pasien terhadap dokternya]. Terus terang, aku sudah merasakan gairah yang sama begitu aku melihat Nona Acton. Tetapi baginya, kasusnya jelas berbeda. Ia bukan saja baru sembuh dari trauma penyerangan jasmani, namun lebih dari itu, ia juga sedang menderita sebuah transisi dari ketegangan yang paling berbahaya.

Ia telah memperlihatkan setiap gejala ketidaksukaannya padaku hingga saat ia merasa kenangannya yang tertekan itu meletup kembali. Ia terbebas dari kenangannya itu karena tekanan jasmani yang telah kulakukan pada lehernya. Pada saat itu, baginya aku telah menjadi semacam penyelamat. Sebelum itu, tidak suka adalah istilah yang terlalu lembut. Ia membenciku, katanya. Namun setelah masa itu berlalu, ia ingin memberikan dirinya padaku, atau begitulah yang ia rasakan. Karena jelas sekali, dengan sesal harus kuakui, kalau cinta yang dirasakannya, jika bisa disebut seperti itu, adalah buatan, sebuah fiksi yang kerap terbentuk karena pertemuan analitis antara dokter dan pasiennya.

Aku tidak ingat kapan aku menyeberangi Sixth atau Seventh Street, namun tibatiba aku sudah berada di tengah-tengah Times Square. Aku pergi ke taman atap di Hammerstein’s Victoria. Di sana aku harus bertemu dengan Freud beserta teman-teman lainnya untuk makan siang.

Di sana, aku tidak dapat menemukan teman-temanku. Aku jelas terlambat, mereka pasti sudah pergi. Maka aku kembali ke gedung Brill di Central Park West. Aku tahu mereka pasti akan kembali ke sana. Tidak seorang pun menjawab bel yang kutekan. Aku menyeberangi jalan dan duduk pada sebuah bangku panjang, menenangkan diriku. Central Park ada di belakangku. Dari tasku, aku keluarkan secarik surat yang ditulis G. Stanley Hall. Setelah membacanya paling tidak sebanyak enam kali, aku akhirnya menyingkirkannya dan mengambil bacaan lainnya, namun aku tidak peduli apa yang kubaca.

g

KAU MENDAPATKANNYA?” Tanya ahli otopsi Hugel pada Louis Riviere, kepala bagian fotografi, di ruang bawah

tanah kantor polisi.

“Aku sedang memvernisnya sekarang,” seru Riviere sambil berdiri di depan sebuah wastafel di ruang gelapnya.

“Tetapi aku meninggalkan lempengan-lempengan itu pukul tujuh tadi pagi,” protes Hugel, “mereka seharusnya sudah siap.”

“Cobalah untuk tenang,” kata Riviere sambil menyalakan lampu, “masuklah, kau bisa melihatnya.”

Hugel masuk ke ruang gelap dan meneliti foto-foto itu dengan tergesa-gesa. Ia juga memperhatikan lempengan-lempengan itu dengan cepat, satu per satu, sambil menyingkirkan yang tidak menarik baginya. Lalu ia berhenti, menatap sebuah foto chse-up leher seorang gadis, yang memperlihatkan memar melingkar dengan jelas.

“Apa ini, ini, yang ada pada leher gadis ini?” Tanyanya.

“Ini memar, bukan?” Tanya Riviere.

“Memar biasa tidak akan tampak begitu sempurna lingkarannya,” kata ahli otopsi, sambil melepas kacamatanya dan mendekatkan foto itu pada wajahnya hingga satu inci. Foto itu memperlihatkan noda hitam bulat berkembang pada leher yang nyaris putih, “Louis, mana gelasmu?”

Riviere mengeluarkan apa yang tampak seperti sebuah gelas seloki terbalik. Hugel segera menyambarnya dari tangan Riviere, lalu menempatkannya di atas foto itu tepat pada noda hitam. Ia menempelkan matanya di sana, “Aku dapat!” Teriaknya, “aku menemukan penjahat itu!”

Dari luar kamar gelap terdengar suara Detektif Littlemore. “Ada apa?”

“Littlemore?” Kata Hugel, “kau di sini? Bagus sekali.”

“Kau menyuruhku datang?”

“Ya, dan sekarang kau akan tahu mengapa,” kata Hugel, sambil memberi isyarat pada Littlemore untuk melihat melalui kaca pembesar Riviere. Detektif itu mematuhinya. Di bawah kaca pembesar itu, garis-garis seperti bercak di dalam lingkaran hitam berubah menjadi gambar yang lebih jelas.

“Wah,” kata Littlemore, “itu huruf-huruf?”

“Betul,” kata Hugel penuh kemenangan, “dua huruf.”

“Ada yang aneh pada huruf-huruf itu,” lanjut Littlemore, “tampak tidak semestinya. Yang kedua tampak seperti huruf J. Yang pertama.., aku tidak tahu.”

“Hurruf-huruf itu tidak tampak seperti semestinya karena terbalik, Littlemore,” kata Hugel, “Louis, coba jelaskan pada detektif ini mengapa huruf itu terbalik.” Riviere melihat gambar melalui kaca pembesar itu.

“Aku melihatnya, dua huruf, saling mengait. Jika mereka terbalik, maka yang satu sebelah kanan, yang disebu Monsieur Littlemore huruf J, bukan J, tetapi G.”

“Tepat,” kata ahli otopsi.

“Tetapi mengapa tulisan itu harus terbalik?” Tanya Riviere.

“Karena tercetak pada leher gadis itu dari peniti dasi si pembunuh,” Hugel berhenti untuk menciptakan suasana dramatis, “ingat bahwa si pembunuh telah mengunakan dasi sutera putihnya sendiri untuk mencekik Nona Riverford. Ia cukup pandai untuk memindahkan dasi itu dari tempat kejadian. Tetapi ia masih membuat kesalahan. Ketika ia melakukan tindakannya, peniti dasi suteranya adalah sebuah peniti dengan cap monogram namanya sendiri. Secara kebetulan, peniti itu menempel secara tidak langsung dengan kulit tenggorokan lembut dan peka

gadis itu. Karena penekanan yang keras dan lama, monogram itu meninggalkan cetakan pada leher, seperti cincin sempit yang akan meninggalkan bekas pada jari pemakainya. Cetakan itu, merekam inisial si pembunuh sama jelasnya seperti ia meninggalkan kartu namanya pada kita, namun ini berupa bayangan cermin. Huruf di sebelah kanan adalah huruf G terbalik, karena G adalah huruf pertama dari nama lelaki yang membunuh Elizabeth Riverford. Huruf pada sebelah kiri adalah huruf B, karena nama lelaki itu adalah George Banwell. Sekarang kita tahu mengapa ia harus mencuri jasad itu dari kamar mayat. Ia melihat memar bukti itu pada leher korbannya dan tahu kalau aku akan mampu mengetahuinya. Apa yang tidak diperkirakannya adalah pencurian mayat itu tidak ada gunanya, karena aku punya foto ini!” “Tapi…,” kata Detektif Littlemore.

Hugel mendesah berat, “Apakah aku harus menjelaskannya sekali lagi, Detektif?”

“Banwell tidak melakukannya,” kata Littlemore, “ia mempunyai sebuah alibi.”

“Tidak mungkin,” kata Hugel, “apartemennya ada di lantai yang sama pada gedung yang sama juga. Pembunuhan itu terjadi antara waktu tengah malam dan pukul dua hari Minggu. Banwell tentunya telah kembali dari segala acara sebelum waktu itu.”

“Ia mempunyai sebuah alibi,” ulang Littlemore, “dan alibi itu kuat. Ia bersama Walikota McClellan sepanjang Minggu malam hingga fajar hari Senin, di luar kota.” “Apa?” Kata ahli otopsi itu.

“Ada kekurangan dalam bantahanmu,” sela Riviere, “kalian tidak begitu akrab dengan fotografi seperti aku. Kau memotret gambar ini sendiri?”

“Ya,” jawab Hugel sambil mengerutkan keningnya, “mengapa?”

“Ini teknik cetak ferro. Paling membingungkan. Kau beruntung aku masih menyimpan persediaan sulfat besi. Gambar yang kau miliki berbeda dengan keadaan yang sesungguhnya. Kiri adalah kanan, dan kanan adalah kiri.”

“Apa?” Kata Hugel lagi.

“Sebuah gambar terbalik. Jadi jika tanda pada leher gadis itu terbalikkan dari monogram yang sesungguhnya, maka foto itu kebalikan dari kebalikannya.”

“Kebalikan ganda?” Tanya Littlemore.

“Foto negatif ganda,” ralat Riviere, “dan sebuah negatif ganda adalah sebuah positif. Artinya foto ini memperlihatkan monogram seperti aslinya, bukan kebalikannya.”

“Tidak mungkin,” teriak Hugel yang lebih kecewa dan tidak percaya pada keterangan itu, seolah Littlemore dan Riviere dengan sengaja mencoba merampoknya.

“Tetapi aku yakin memang begitu, Monsieur Hugel,” kata Riviere.

“Jadi, huruf itu adalah J,” kata detektif Littlemore, “nama lelaki itu adalah Johnson atau yang lainnya. Lalu huruf pertamanya apa?”

Riviere meletakkan matanya pada kaca pembesar lagi. “Sama sekali tidak terlihat seperti huruf. Tetapi mungkin E, kukira…, atau tidak…, mungkin C.”

“Charles Johnson,” kata detektif itu.

Hugel hanya berdiri di tempatnya, sambil mengulang-ulang kata, “Tidak mungkin.”

g

AKHIRNYA SEBUAH KERETA berhenti di depan gedung Brill, dan Freud, Brill, Ferenczi serta Jones pun keluar. Mereka baru saja menikmati film setelah makan siang tadi.

Freud bertanya padaku apakah aku ingin meluangkan waktu selama satu jam bersamanya di taman untuk melaporkan perawatan Nona Acton. Aku mengatakan kalau aku sangat ingin tetapi ada sesuatu hal yang terjadi. Aku telah menerima surat yang tidak menyenangkan.

“Kau bukan satusatunya,” kata Brill, “Jones menerima kawat tadi pagi dari Morton Prince di Boston. Ia ditangkap kemarin.”

“Dr. Prince?” Tanyaku terkejut.

“Karena pencabulan,” lanjut Brill, “pencabulan yang dituduhkan adalah dua artikel yang akan diterbitkannya. Artikel itu menjelaskan penyembuhan penyakit yang diakibatkan oleh histeria melalui metode psikoanalisa.”

“Aku seharusnya tidak perlu khawatir tentang Prince,” kata Jones, “ia pernah menjadi Walikota Boston, kau tahu. Ia akan segera dibebaskan.”

Jones merasa sangat yakin kalau Morton Prince pernah menjadi Walikota Boston bukan ayahnya. Aku tidak mau mempermalukannya walaupun Jones tetap meyakini hal itu. Aku pun bertanya, “bagaimana polisi bisa tahu kalau Prince berencana untuk menerbitkan artikelnya?”

“Memang itulah yang sedang kita pertanyakan,” kata Ferenczi.

“Aku tidak pernah memercayai Sidis,” tambah Brill, dengan menyebut nama seorang dokter yang duduk di dewan jurnal Prince, “tetapi kita harus ingat, ini Boston. Mereka akan menangkap sandwich dada ayam yang tidak dibumbui selayaknya [chicken breast sandwich’s not dressed properly = harfiah: dada ayam yang tidak berpakaian sopan—Brill berkelakar]. M ereka menangkap gadis Australia—Kellerman—seorang perenang itu karena pakaian renangnya tidak menutupi lututnya.”

“Aku khawatir beritaku lebih buruk lagi,” kataku, “dan ini ada hubungannya langsung dengan Dr. Freud. Kuliah-kuliahnya minggu depan diragukan akan terlaksana. Dr. Freud telah diserang secara pribadi. Maksudku, nama baiknya diserang di Worcester. Aku tidak dapat mengatakan betapa menyesalnya aku menjadi si pembawa berita itu.”

Aku melanjutkan untuk merangkum sebanyak mungkin isi surat dari Presiden Hall tanpa menyentuh tuduhan kotor terhadap Freud. Seorang agen mewakili sebuah keluarga sangat kaya New York bertemu dengan Hall kemarin. Mereka menawarkan bantuan bagi Clark University yang menurut penjelasan Hall itu adalah “jumlah yang sangat besar.” Keluarga itu menyediakan sumbangan berupa limapuluh tempat tidur rumah sakit bagi pasien gangguan mental dan syaraf. Mereka juga mendanai pembangunan gedung baru berikut peralatan termodern, perawat, staf, dan gaji yang mencukupi supaya dapat menarik minat para ahli neurologi terbaik dari New York dan Boston.

“Itu akan membutuhkan sejuta dolar,” kata Brill.

“Mungkin juga lebih,” kataku, “itu akan membuat kita menjadi lembaga psikiatris terkemuka dalam waktu singkat di negeri ini. Kita akan melebihi McLean.”

“Siapakah keluarga kaya itu?”

“Hall tidak mengatakannya,” kataku pada Brill.

“Tetapi apakah itu diizinkan?” Tanya Ferenczi, “sebuah keluarga pribadi telah membiayai universitas swasta?”

“Itu yang disebut kedermawanan,” kata Brill, “maka itulah banyak universitas di Amerika bisa menjadi begitu kaya. Dan itulah alasan mengapa mereka dengan cepat akan mengalahkan banyak universitas di Eropa.”

“Omong kosong,” sembur Jones, “hal itu tidak akan pernah terjadi.”

“Lanjutkan Younger,” kata Freud, “tidak ada yang salah dalam berita yang kau katakan kepada kami sejauh ini.”

“Keluarga itu menetapkan dua syarat,” aku melanjutkan, “seorang anggota keluarga mereka tampaknya adalah seorang dokter yang terkenal dengan pandangan-pandangan p sikologinya. Syarat pertama adalah terapi psikoanalisa tidak bisa dipraktikkan pada rumah sakit baru itu atau diajarkan di mana pun dalam kurikiulum Clark. Syarat kedua, kuliah-kuliah Dr. Freud minggu depan harus dibatalkan. Jika tidak, donasi itu akan diberikan kepada rumah sakit lainnya di New York.”

Berbagai seruan kecewa dan penyangkalan mengikuti kalimat tersebut. Hanya Freud yang tetap tenang. “Apa yang dikatakan Hall tentang sikapnya terhadap persa-yaratan itu?” Tanyanya.

“Aku khawatir, ini belum semuanya,” kataku, “bukan juga yang terburuk. Presiden Hall diberi sebuah dokumen tentang Dr. Freud.”

“Lanjutkan, demi Tuhan,” bentak Brill padaku, “jangan main sembunyi-sembunyian.”

Aku menjelaskan kalau dokumen itu berisi berbagai contoh tindakan tak bermoral—atau memang, tingkah laku kriminal —yang disusun oleh Freud. Presiden Hall diberitahu bahwa perilaku menyimpang Freud yang menjijikan akan segera dilaporkan oleh pers New York.

Keluarga itu yakin kalau Hall, setelah membaca isi

dokumen tersebut, akan setuju kalau penampilan Freud di Clark harus ditunda demi kebaikan universitas itu.

“Presiden Hall tidak mengirimkan berkas itu sendiri,” kataku, “tetapi suratnya menyimpulkan tentang tuntutan itu. Boleh aku memberikan surat itu padamu, Dr. Freud? Presiden Hall memintaku secara khusus untuk mengatakan kalau kau berhak diberi tahu tentang segala yang dikatakan orang tentang dirimu.”

“Aku setuju padanya,” kata Brill.

Aku tidak tahu mengapa, mungkin karena akulah pembawa surat tersebut, tetapi aku merasa bertanggungjawab atas bencana itu. Seolah akulah yang secara pribadi mengundang Freud ke Clark, hanya untuk menghancurkannya. Aku tidak cemas hanya karena Freud saja. Aku mempunyai alasan demi kepentingan diriku sendiri untuk tidak mau melihat lelaki ini dikecewakan. Kewibawaan Freud telah kupertaruhkan begitu banyak sebagai kepercayaanku, bahkan sebesar hidupku sendiri. Tidak seorang pun di antara kita adalah orang suci, tetapi aku telah membentuk kepercayaan itu bertahun-tahun yang lalu kalau Freud berbeda dengan kami semua. Aku membayangkan kalau ia (tidak seperti diriku) melalui wawasan psikologisnya itu, telah melampaui ujian yang lebih buruk. Aku sangat berharap berbagai tuduhan di dalam surat Hall adalah palsu semuanya. Tetapi apa daya, mereka memiliki tingkatan tuduhan yang begitu meyakinkan akan kebenarannya.

“Aku tidak perlu membaca surat itu secara pribadi,” kata Freud, “katakan saja segala yang mereka sebutkan tentang diriku. Aku tidak punya rahasia terhadap siapa pun di sini.”

Aku memulainya dengan tuduhan yang paling ringan,

“Kau dikatakan telah menikah dengan seorang perempuan yang hidup bersamamu, walau kau merahasiakan siapa dirinya terhadap dunia.”

“Tetapi itu bukan Freud,” seru Brill, “itu Jones.”

“Maaf,” kata Jones marah.

“O, ayolah, Jones,” kata Brill, “Semua orang pun tahu kau tidak menikah dengan Loe.”

“Freud tidak menikah?” Kata Jones sambil menoleh ke belakang bahu kirinya, “aneh sekali.”

“Apa lagi?” Tanya Freud.

“Bahwa kau dip ecat dari kepegawaian di rumah sakit terhormat,” aku melanjutkan dengan canggung, “karena kau tidak mau berhenti membicarakan khayalan seksual dengan para gadis berusia duabelas dan tigabelas tahun yang ada di rumah sakit untuk menjalani perawatan jasmani murni, bukan karena kondisi kejiwaan.”

“Tetapi yang mereka bicarakan itu adalah Jones!” Seru Brill.

Jones tibatiba tertarik pada detil arsitektur gedung apartemen Brill.

“Bahwa kau pernah dituntut oleh seorang suami dari salah satu pasien perempuanmu dan ditembak oleh suami lainnya,” kataku.

“Jones lagi!” Seru Brill dengan keras.

“Bahwa kau baru-baru ini memiliki hubungan seksual,” aku melanjutkan, “dengan pelayanmu yang masih remaja.”

Brill menatap Freud, lalu aku, ke Ferenczi dan kemudian Jones, yang sekarang sedang menatap ke atas, tampaknya sedang mengamati gambar berjenis-jenis burung di Manhattan.

“Ernest?” Kata Brill, “kau tidak begitu, kan? Katakan pada kami, kau tidak seperti itu!”

Serangkaian bunyi deham nan merdu keluar dari tenggorokan Jones, tetapi tidak ada jawaban berupa katakata.

“Kau menjijikan,” kata Brill pada Jones, “sangat menjijikkan.”

“Apakah itu yang terakhir, Younger?” Tanya Freud.

“Bukan, Pak,” jawabku. Tuduhan tanpa bukti yang terakhir adalah yang paling buruk, “ada satu lagi, akhir-akhir ini kau menjalin hubungan seksual, kali ini dengan seorang pasienmu, seorang gadis Rusia berusia sembilan belas tahun, mahasiswi kedokteran. Perseling-kuhanmu itu dikabarkan sangat terkenal sehingga ibu gadis itu menulis surat kepadamu, memohon kau tidak merusak putrinya. Dokumen itu menyatakan memiliki juga surat yang kau tulis sebagai jawaban kepada ibu gadis itu. Dalam suratmu, kau meminta sejumlah uang dari perempuan itu sebagai pengganti atas usahanya untuk menahan diri dari menjalin hubungan seksual dengan pasien.”

Setelah selesai, tidak seorang pun berbicara dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya Ferenczi meledak, “Tetapi itu salah satu dari surat Jung, demi Tuhan!”

“Sandor!” Seru Freud tajam.

“Jung menulis surat seperti itu?” Tanya Brill, “kepada ibu pasien?”

Ferenczi menutupi mulutnya dengan tangannya. “Eh,” katanya, “tapi Freud, kau tidak bisa membiarkan mereka menuduhmu begitu saja, bukan? Mereka akan memberitakan itu semua di koran-koran. Aku sudah membayangkan judulnya.”

Aku juga: FREUD MEMUTIHKAN SEGALA TUDUHAN

“Jadi,” kata Brill dengan muram, “kita diserang di Boston, di Worcester, dan di New York dalam waktu yang sama. Ini pasti bukan suatu kebetulan.”

“Serangan apa di New York?” Tanya Ferenczi.

“Yeremia, serta urusan Sodom dan Gomorah,” jawab Brill dengan kesal. “Kedua pesan itu bukan satusatunya yang kuterima. Aku menerima banyak.”

Kami semua terkejut dan meminta Brill untuk menjelaskannya.

“Itu dimulai tepat setelah aku mulai menerjemahkan buku histeria Freud,” katanya, “bagaimana mereka tahu aku sedang mengerjakannya, itu sebuah misteri. Tetapi pada minggu pertama aku memulainya, aku menerima pesan pertama, dan menjadi semakin buruk setelah itu. Mereka muncul pada saat yang paling tak kuduga. Aku terancam, aku yakin itu. Setiap kali muncul ayat-ayat Kitab Injil, selalu saja yang berkenaan tentang Yahudi, nafsu, dan api. Mengingatkan aku akan pembantaian orang-orang Yahudi yang terencana.”

9

TIDAK ADA LAGI YANG BERUSAHA UNTUK menghalangi Littlemore ketika ia menaikki tangga di Eight Avenue Street nomor 782. Ketika itu pukul empat, saatnya untuk menpersiapkan makan malam di restoran itu. Ia mendengar seseorang berlari pada lorong di atasnya dan suara bisik-bisik. Di apartemen 4C, ketukan pintunya juga tidak mendapatkan jawaban seperti ketika itu kecuali hanya suara kaki bergegas menuruni tangga di

belakang.

Littlemore melihat jam tangannya. Ia menyalakan rokoknya untuk melawan aroma yang mengembus di koridor, sambil berharap ia akan bisa tiba di rumah Betty tepat pada waktunya untuk mengajaknya makan malam. Beberapa menit kemudian, Opsir John Reardon menaiki tangga seperti berbaris bersama seorang Cina yang tampak takzim, ketakutan di belakangnya.

“Tepat seperti yang kau katakan, Detektif,” kata Reardon, “dia tunggang langgang dari pintu belakang seolah celananya terbakar.”

Littlemore memeriksa Chong Sing yang malang, “Kau tidak mau berbicara denganku, Pak Chong?” Tanyanya, “mungkin kita bisa melihat-lihat tempat tinggalmu. Ayo buka!”

Ia menggerak-gerakkan tangannya tak berdaya, seolah coba menunjukkan kalau ia tidak bisa berbahasa Inggris.

“Buka pintunya,” perintah Littlemore sambil menggedor pintu yang terkunci.

Orang Cina itu mengeluarkan sebuah anak kunci dan membuka pintu. Apartemen satu kamarnya merupakan contoh dari kerapihan dan kebersihan.

“Segalanya telah dibersihkan sebelum kita masuk,” kata Littlemore, “sangat teliti. Tetapi ada yang terlewat.” Dengan mengangkat dagunya, Littlemore memberi tanda ke atas. Baik Chong Sing dan Reardon mendongak. Pada langitlangit yang rendah ada corengan hitam tebal, panjangnya hampir sembilanpuluh satu sentimeter, tepat di atas setiap tempat tidur lipat.

“Apa itu?” Tanya Reardon yang biasa dipanggil Jack.

“Bekas asap opium, Jack,” kata Littlemore, “kau melihat ada yang aneh pada jendela itu?”

Reardon melihat pada sebuah jendela dorong kecil yang tertutup, “Tidak. Ada apa dengan jendela itu?”

“Tertutup,” kata Littlemore, “dengan panas seratus derajat, namun jendelanya tertutup. Lihatlah apa yang ada di luar.”

Reardon membuka jendela itu dan bersandar pada lubang udara sempit itu. Ia kembali dengan segenggam perlengkapan yang ditemukannya pada birai di bawah jendela: sebuah lampu minyak bersemprong kaca, setengah lusin pipa panjang, mangkuk-mangkuk dan sebuah jarum. Chong Sing tampak sangat bingung, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap berpindah-pindah dari Reardon dan Littlemore.

“Pak Chong Sing, apakah kau mengelola perkumpulan penghisap opium di sini?” Tanya Littlemore, “kau pernah datang ke apartemen Nona Riverford di Balmoral?”

“Hah?” Kata Chong Sing, sambil menggerakkan bahunya tak berdaya.

“Bagaimana tanah merah bisa melekat pada sep atumu?” Tanya detektif itu dengan gigih. “Hah?”

“Jack,” kata Littlemore, “bawa Pak Chong ke penjara di Forty Seventh Street. Katakan pada Kapten Post ia adalah pengedar opium.”

Ketika Op sir Reardon menangkap lengannya, Chong akhirnya berbicara, “Tunggu, aku akan katakan padamu. Aku hanya tinggal di apartemen ini pada siang hari. Aku tidak tahu opium. Aku tidak pernah melihat opium itu sebelumnya.”

“Tentu,” kata Littlemore, “bawa ia dari sini, Jack!”

“Hoke, hoke,” kata Chong, “aku akan katakan siapa

yang menjual opium. Hoke?”

“Bawa ia keluar dari sini,” kata detektif itu.

Begitu melihat borgol di tangan Reardon, Chong berteriak, “Tunggu! Aku akan katakan yang lainnya lagi. Aku akan perlihatkan sesuatu padamu. Kau ikuti aku menuju lorong. Aku akan perlihatkan apa yang kau cari.”

Suara Chong telah berubah. Ia terdengar benar-benar takut sekarang. Littlemore memberi tanda untuk membiarkan Chong berjalan mendahului mereka menuju koridor yang gelap dan sempit. Setiap pintu terbuka sedikit supaya orang yang ada di dalam bisa melihat apa yang terjadi. Setiap pintu, kecuali satu. Pintu yang tertutup merupakan bagian dari ruang paling ujung di koridor itu. Di depan pintu itu Chong berhenti. “Di dalam,” katanya, “di dalam.”

“Siapa yang tinggal di sini?” Tanya Littlemore.

“Sepupuku,” kata Chong, “Leon. Ia dulu tinggal di sini. Sekarang tidak ada siapa-siapa lagi di sini.”

Pintu terkunci. Tidak ada jawaban ketika Littlemore mengetuk., Tetapi ketika Littlemore berdiri dengan jarak cukup dekat untuk mengetuk pintu, ia tahu aroma daging yang sangat kuat bukan berasal dari restoran sama sekali. Dari sakunya ia mengeluarkan dua lidi metal tipis. Littlemore ahli dalam membuka pintu terkunci. Ia berhasil membukanya dalam waktu singkat.

Ruangan itu, berukuran sama dengan apartemen Chong Sing, namun isinya sangat berlawanan. Pada ambang jendela ada sebuah kotak merah yang dipernis, dengan sebuah cermin bundar bertengger di belakangnya; di atas meja rias, berdiri sebuah patung Perawan dan Putra yang dicat. Nyaris setiap inci persegi dinding ditutup dengan foto-foto, semuanya berupa lelaki Cina

yang sangat berbeda dengan Chong Sing. Lelaki yang ada di dalam foto berpostur dan sangat tampan, dengan hidung seperti paruh elang dan berkulit halus tak bernoda. Ia mengenakan jas Amerika, kemeja dan dasi. Nyaris semua foto lelaki ini memperlihatkannya bersama seorang wanita muda yang berbeda-beda.

Yang paling menarik perhatian adalah sebuah benda besar yang diletakkan tepat di tengah ruangan yaitu sebuah koper besar tertutup. Itu sejenis koper dengan tepian dari kulit dan engsel kuningan yang digunakan orang-orang kaya jika bepergian. Ukurannya kira-kira setinggi enampuluh sentimeter, kedalamannya enampuluh sentimeter, panjangnya sembilahpuluh satu sentimeter. Lilitan tali tenda yang kaku, mengikatnya dengan erat.

Udara dalam ruangan itu pengap. Littlemore hampir tidak dapat bernafas. Musik Cina berasal dari ruangan tepat di atas mereka, membuat sang detektif sulit berpikir. Koper itu tampak tidak mungkin untuk berderak di udara yang pengap. Littlemore membuka pisau sakunya. Reardon juga. Bersama-sama, tanpa katakata, mereka mendekati peti itu dan mulai menggergaji tali besarnya. Sekumpulan orang Cina, kebanyakan menekankan sapu tangan pada mulut mereka, sambil berkumpul di ambang pintu untuk menonton kedua orang itu bekerja.

“Singkirkan pisaumu, Jack,” kata Littlemore pada Opsir Reardon, “kau awasi Chong saja.”

Detektif Littlemore terus berusaha memotong tali hingga mampu memutuskan pintalan terakhirnya. Tutup koper itu pun tibatiba terbuka. Reardon terhuyung ke belakang, baik karena terkejut atau karena ledakan gas busuk yang terbebas dari bagian dalam koper itu.

Littlemore menutupi mulut dengan lengannya tetapi

tetap berada di tempatnya. Di dalam peti terlihat sebuah topi perempuan dengan hiasan burung yang diawetkan, seikat tebal surat dan amplop yang diikat menjadi satu menggunakan karet, dan mayat wanita muda dengan hanya mengenakan pakaian dalam yang membusuk parah.

Terdapat juga sebuah bandul kalung perak menempel di dadanya dan sehelai dasi putih sutera menempel ketat pada lehernya.

Opsir Reardon tidak lagi mengawasi Chong Sing. Ia bahkan nyaris pingsan. Melihat itu, Chong menyelinap di antara kerumunan orang Cina yang bergumam, lalu keluar pintu.

g

KAMI BERJALAN TANPA BICARA menaiki empat tangga ke apartemen Brill, sambil masingmasing bertanya-tanya di dalam hati. Aku memikirkan bagaimanakah cara mengatasi masalah di Worcester. Kami memiliki beberapa jam yang dapat kami gunakan sebelum pesta makan malam bersama Smith Jelliffe, penerbit Brill, yang telah mengundang kami. Pada bordes di lantai lima, Ferenczi berkomentar tentang bau khas kertas atau daun yang terbakar.

“Mungkin seseorang sedang mengkremasi orang mati di dapurnya?” Katanya mengusulkan satu jawaban.

Brill membuka pintu apartemennya. Apa yang dilihatnya di dalam tak terduga.

Di dalam apartemen Brill turun salju. Debu putih betebaran di seluruh ruangan, berputar-putar dalam aliran udara lantaran Brill membuka pintu; lantainya tertutup oleh debu itu. Semua buku Brill, bersama meja-meja,

tepian jendela, dan kursi-kursi juga terlapisi debu putih itu. Bau api tercium di mana-mana. Rose Brill ada di tengah-tengah ruangan membawa sapu dan pengki, ia tertutupi debu putih dari kepala hingga kaki.

“Aku baru tiba,” serunya, “tutup pintunya, demi Tuhan. Apa ini?”

Aku mengambil sedikit dengan tanganku, “Debu,” kataku.

“Kau meninggalkan sesuatu yang sedang kau masak?” Tanya Ferenczi.

“Tidak ada apa-apa,” kata Rose sambil mengusap debu putih pada matanya.

“Seseorang telah sengaja meletakkannya di sini,” kata Brill. Ia berjalan di sekitar ruangan sambil melamun, tangannya terjulur di depannya, terkadang meraih debu dan mengibaskannya. Tibatiba ia berpaling pada Rose.

“Lihatlah ini. Lihatlah Rose.”

“Ada apa?” Tanya Freud,

“Ini adalah pilar garam.”

9

KETIKA KAPTEN POST tiba dengan bala bantuan dari kantor polisi di West Forty-seventh Street, ia memerintahkan-tanpa mengindahkan keberatan D etektif Littlemore-untuk menangkap enam orang lelaki Cina di Eight Avenue nomor 782, termasuk pengelola restoran dan dua orang pelanggan yang sedang sial, yang kebetulan saja naik ke atas untuk melihat apa yang terjadi. Jenazah itu dibawa dengan kereta ke rumah mayat, lalu mulailah pengejaran penjahat dengan kekuatan berganda. Pikiran yang mula muncul di benak Littlemore adalah

apakah yang baru ditemukannya itu memang jenazah Elizabeth Riverford yang menghilang. Namun jasadnya sudah terlalu banyak membusuk. Ia memang bukan seorang patologis, tetapi ia kini meragukannya. Nona Riverford yang baru dibunuh pada hari Minggu malam, tidak mungkin dapat membusuk seluruhnya pada hari Rabu. Pak Hugel pastilah tahu dengan pasti, pikir Littlemore.

Sementara itu, detektif Littlemore memeriksa surat-surat yang ditemukannya di dalam koper itu. Surat-surat itu ternyata adalah surat-surat cinta, berjumlah lebih dari tigapuluh pucuk. Semuanya diawali dengan Yang Terkasih Leon; semuanya ditandatangani oleh Elsie. Para tetangga menyebut lelaki itu dengan nama yang berbeda-beda tergantung di mana mereka tinggal. Beberapa orang memanggilnya Leon Ling; yang lainnya menyebutnya William Leon. Lelaki itu mengelola sebuah restoran di Pecinan, tetapi tidak seorang pun melihatnya selama sebulan. Ia bisa berbicara bahasa Inggris dengan sangat baik dan hanya mengenakan pakaian Amerika.

Littlemore memeriksa foto-foto yang tergantung di dinding. Para penghuni gedung itu memastikan kalau lelaki dalam foto itu memang Leon, tetapi mereka tidak tahu atau masih bertanya-tanya siapakah para gadis pada foto itu. Littlemore melihat kalau setiap gadis yang bersama Leon berkulit putih. Lalu ia melihat yang lainnya juga.

Sang detektif menurunkan salah satu fotonya. Foto itu memperlihatkan Leon sedang berdiri, tersenyum, berada di antara dua orang wanita muda yang sangat menarik. Pada mulanya, detektif itu mengira kalau ia pasti salah lihat. Namun ia yakin kalau ia tidak salah, dan ia memasukkan foto itu ke dalam saku rompinya, lalu

membuat janji bertemu dengan Kapten Post keesokan harinya. Detektif itu pun pergi meninggalkan gedung.

Udara sore menjelang malam itu masih sangat panas dan lembab. Namun jika dibandingkan dengan kamar yang baru saja ditinggalkannya, udara di luar terasa bagaikan di taman surga. Saat itu baru saja pukul lima lebih sedikit ketika ia tiba di apartemen Betty. Wanita itu tidak berada di rumah. Ibunya mencoba dengan ketakutan, untuk membuat Littlemore mengerti ke mana “Benedetta” pergi. Namun karena Ibu itu berbicara dalam bahasa Italia dengan cepat, Littlemore sama sekali tidak mengerti ujung dan pangkalnya. Akhirnya salah satu dari adik lelaki Betty yang masih kecil masuk dan menerjemahkannya. Katanya, Betty ditahan di penjara.

Segala yang diketahui Ibu Lombardi—dari seorang gadis Yahudi yang bercerita kepadanya—bahwa terdapat masalah di pabrik, tempat Betty baru saja mulai bekerja hari itu. Beberapa gadis lainnya juga telah dibawa, termasuk Betty.

“Dibawa?” Tanya Littlemore. “Ke mana?”

Wanita itu tidak tahu.

Littlemore berlari ke Fifty-ninth Street menuju stasiun kereta api bawah tanah. Ia berdiri selama perjalanan ke kota, terlalu sibuk untuk mencari tempat duduk. Di kantor pusat kepolisian, ia mengetahui kalau terjadi pemogokan pada salah satu pabrik pakaian besar di Greenwich Vil-lage. Para penghasut telah mulai memecahkan jendela-jendela, dan polisi telah menangkap beberapa lusin orang yang paling berbahaya untuk mengamankan jalan. Semua pengacau sudah berada di penjara. Yang lelaki ditahan di Tombs dan yang perempuan di Jefferson Market.

Empatbelas

JEFFERSON MARKET adalah sebuah gedung yang memiliki filosofi bahwa lembaga hukum dan peraturan seharusnya tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Maka itu di sana terdapat penjara yang terhubung dengan gedung besara lainnya, yang merupakan sebuah tempat perdagangan. Setelah jam kerja usai, gedung yang sama itu berubah menjadi Pengadilan Malam kota, tempat kasus-kasus berat proses. Sebagai akibatnya, penjara Jefferson Market sebagian besar ditempati oleh para pelacur yang menanti penempatan dan hukuman. Di penjara itulah, pada hari Rabu petang, Littlemore menemukan Betty terlihat sangat letih tanpa ada bekas luka.

Ia berada di sebuah sel tahanan bawah tanah yang besar. Kira-kira duapuluh lima atau tigapuluh orang perempuan berada di dalamnya. Beberapa gadis itu masih sangat muda, berusia kira-kira tigabelas tahunan.

Belasan kawan-kawan wanita mereka lainnya berasal dari berbagai usia. Namun, ada seorang yang bersuara lebih keras untuk mengeluh dan meminta para penjaga dapat mengerti bagaimana seorang wanita seperti dirinya dipenjara. Littlemore segera mengenalinya. Wanita itu adalah Susan Merrill. Ia adalah satusatunya yang duduk di atas sebuah kursi yang secara khusus disediakan oleh para pekerja lain untuknya. Wanita itu meggendong seorang bayi dengan menggunakan kain berwarna merah anggur yang tersandang pada bahunya. Bayi itu tidur

sangat nyenyak walau ruangan itu terdengar riuh sekali.

Lencana yang dimiliki Littlemore memang membuatnya mudah memasuki ruang tahanan itu, namun tidak dapat membawa Betty keluar.

Sebenarnya Betty tidak ikut mogok. Ketika tiba di pabrik pagi itu, ia segera menuju ke lantai sembilan, lalu bergabung dengan seratus orang gadis lainnya untuk menjahit. Paling tidak ada limapuluh bangku kosong di depan mesin jahit yang menganggur saat itu. Yang terjadi adalah: sehari sebelumnya, seratus limapuluh orang penjahit perempuan telah dipecat karena bergabung dengan “simpatisan perserikatan.” Malam itu juga, sebagai tanggapan, International Ladies Garment Workers Union mengadakan pemogokan terhadap pabrik tempat Betty bekerja. Ketika keesokan harinya masih berlanjut, sekelompok kecil buruh dan anggota perserikatan berkumpul di jalan, berteriak kepada para buruh lainnya di dalam gedung bagian atas.

“Mereka menyebut kami buruh pengkhianat,” jelas Betty, “sekarang aku tahu mengapa mereka menerima kami bekerja begitu cepatnya, karena mereka membutuhkan kami sebagai pengganti para gadis anggota perserikatan buruh. Aku bukan pengkhianat, Jimmy, iya kan?”

“Kukira tidak,” kata Littlemore, “tetapi apa tuntutan dan tujuan mereka?”

“Oh, kau tidak akan memercayainya. Pertama-tama, ruangan kerja kami panas seperti perapian. Lalu mereka menuntut kami membayar penyewaan, apa saja, mulai dari tempat penyimpanan, mesin jahit, jarum, hingga bangku yang kami duduki. Akhirnya uang yang kami terima berkurang lebih dari separuh gaji kami. Jimmy, ada

seorang gadis yang telah bekerja tujuhpuluh dua jam dalam seminggu, dan hanya mendapatkan tiga dolar. Tiga dolar! Itu.., itu.., berapa banyaknya itu?”

“Empat sen per jam,” kata Littlemore, “buruk sekali.”

“Tapi ada hal yang terburuk, mereka mengunci semua pintu supaya gadis-gadis terus bekerja, bahkan pergi ke kamar mandi pun tidak bisa.”

“Ya ampun, Betty, kau seharusnya keluar saja. Kau tidak perlu datang dan bergantian bersama orang-orang yang memecahkan kaca jendela dan segalanya.” Betty menjadi setengah marah, setengah bingung.

“Aku tidak ikut bergiliran datang, Jimmy.”

“Lalu, mengapa mereka menangkapmu?”

“Karena aku berhenti bekerja. Mereka mengatakan kalau kami akan masuk penjara jika berhenti, tetapi aku tidak memercayai mereka. Dan tidak seorang pun memecahkan jendela. Namun polisi-polisi itu terus memukuli orang-orang.”

“Mereka bukan polisi.”

“Jelas sekali mereka adalah polisi.”

“Ya, ampun,” kata Littlemore, “aku harus mengeluar-kanmu dari sini.” Ia memberi syarat pada salah seorang penjaga dan menjelaskan kalau Betty adalah kekasihnya dan bukan termasuk pemogok, dan ia dipenjara karena kesalahfahaman saja. Ketika mendengar kata “kekasihku”, Betty tertunduk menatap lantai, dan tersenyum malu.

Penjaga itu, kawan Littlemore, menjawab dengan menyesal kalau ia hanya menjalankan tugasnya, “Aku tidak punya kewenangan itu. Kau harus berbicara dengan Becker.”

“Beck?” Tanya Littlemore, matanya bersinar, “Beck di

sini?”

Penjaga itu membawa Littlemore melintasi serambi ke sebuah ruangan. Di bawah lampu listrik yang berkerdip dalam ruangan itu, terdapat lima orang lelaki sedang bermain kartu sambil minum dan merokok dengan gaduh. Salah satunya adalah Sersan Charles Becker. Ia adalah veteran yang telah bertugas di kepolisian selama limabelas tahun, dan bekerja sebagai deputi penguasa wilayah Manhattan, di daerah the Tenderloin. Kehadiran Becker di penjara merupakan nasib baik bagi Littlemore, yang pernah menjadi seorang opsir penabuh genderang pada pasukan Becker.

“Hai, Beck,” seru Littlemore.

“Littlemouse!” Teriak Becker, sambil terus membagikan kartu, “anak-anak, kenalkan adikku, detektif dari kota. Jimmy, perkenalkan, ini Gyp, Whitey, Lefty, dan Dago. Kau ingat Dago, kan?”

“Dago,” kata detektif itu.

“Kira-kira dua atau tiga tahun yang lalu,” Becker memberitahu kawan-kawannya tentang Littlemore, “lelaki ini pernah mengatasi masalah kekerasan untukku. Ia menyerahkan pelaku kejahatan” sejak itu mereka menanggung risikonya. Mereka sekarang selalu bertanggungjawab, anak-anak. Apa yang kau lakukan di sini, Jimmy. Mengamati burung-burung?”

Jimmy Littlemore memberikan keterangan kepada Becker yang mendengarkan hingga selesai, lalu mengangguk-angguk, tanpa pernah melepaskan tatapannya pada meja poker. Dengan suara menggelegarnya, Becker memerintahkan para penjaga untuk mengeluarkan kekasih detektif itu. Littlemore sangat berterimakasih pada Becker, kemudian bergegas ke sel untuk menjemput Betty. Ketika mereka berjalan keluar, Littlemore melongokkan kepalanya ke ruang main poker untuk berterimakasih kepada Becker lagi.

“Hei, Beck,” katanya, “satu permintaan lagi?”

“Sebutkan saja, adikku,” kata Becker.

“Di sana ada seorang ibu dengan bayinya. Bisakah kita mengeluarkannya juga?”

Becker mematikan rokoknya. Suaranya masih tetap santai, tetapi gurauan teman-teman Becker tibatiba terhenti. “Seorang ibu?” Tanya Becker.

Littlemore tahu ada yang tidak beres, tetapi ia tidak tahu apa yang salah.

“Maksudnya Susie, Bos,” kata Gyp, yang sebenarnya bernama Horowitz.

“Susie? Susie Merrill tidak ada di penjarku, bukan, Whitey?” Tanya Becker.

“Ia ada di sana, bos,” kata Whitey, yang nama sesungguhnya adalah Seidenschner.

“Kau punya urusan dengan Susie, Jimmy?”

“Tidak, Beck,” kata Littlemore. “aku hanya berharap…, ia dan bayinya serta segala…,”

“Hmm,” kata Becker.

“Lupakan saja yang kukatakan,” kata Littlemore menyela, “maksudku, jika ia…,”

Becker memberi isyarat lagi pada para penjaga untuk mengeluarkan Susie. Ia juga berteriak, jika yang akan datang “ada lagi bayi” di dalam penjara, mereka harus langsung membawa bayi itu padanya. Katakata itu memancing gemuruh tawa para anak buahnya. Littlemore memutuskan untuk lebih baik pergi. Ia berterimakasih kepada Becker untuk ketiga kalinya yang kali itu tidak memerlukan jawaban, lalu membawa Betty pergi.

Tenth Street nyaris sunyi. Angin bertiup dari barat.

Pada tangga rumah tahanan, di dalam bayangan gedung besar bergaya Victoria, Betty berhenti.

“Kau mengenal perempuan yang membawa bayi itu?” Tanya Betty.

“Begitulah.”

“Tetapi Jimmy, ia adalah…, ia seorang mucikari.”

“Aku tahu,” kata Littlemore sambil tersenyum, “aku pernah ke tempatnya.”

Betty menampar geraham sang detektif.

“Aduh,” kata Littlemore, “aku ke sana hanya untuk mengajukan beberapa pertanyaan tentang pembunuhan Riverford.”

“Oh, Jimmy, mengapa kau tidak mengatakannya?” Tanya Betty. Ia meletakkan tangannya pada wajahnya lalu wajah Jimmy, “Maafkan aku.”

Mereka berpelukan. Mereka masih saling berpelukan satu menit kemudian, ketika Susan Merrill berdiri di ambang pintu, sambil menggendong bayi. Littlemore membantunya keluar dari pintu. Betty meminta bayinya, yang segera diberikan oleh ibu yang lebih tua.

“Jadi, kaulah yang mengeluarkan aku,” kata Susie pada Littlemore, “kukira, sekarang kau mengira aku berhutang padamu?”

“Tidak, Bu.”

Susie menegakkan kepalanya untuk dapat melihat detektif itu dengan lebih baik. Lalu ia meminta bayinya pada Betty dan berkata dengan bisikan yang begitu lirih sehingga Littlemore nyaris tak mendengarnya, “Kau akan dibunuh karena ini.”

Baik Littlemore ataupun Betty tidak menjawab. “Aku tahu siapa yang kau cari,” lanjut Susie. Kata-katanya hampir tidak terdengar, “tanggal 18 Maret 1907.” “Apa?”

“Aku tahu siapa, dan aku tahu apa. Kau tidak tahu, tetapi aku tahu. Aku tidak akan melakukan apa pun tanpa dibayar,”

“Bagaimana tentang tanggal 18 Maret 1907?” “Kau cari tahulah, kemudian tangkaplah ia,” desisnya yang terkesan berbisa dan begitu mengancam. “Bagaimana tentang hari itu?” Littlemore kembali mendesak.

“Tanyalah pada tetangga,” bisik Susie Merrill sebelum menghilang dalam kabut yang berkumpul.

g

ROSE MEALAU KAMNGHI keluar dari apartemennya. Ia tidak mau Freud terlibat dalam pembersihan rumahnya. Sedangkan Brill, ia tampak begitu terpaku seperti seorang serdadu yang mengidap penyakit DaCosta. Katanya ia tidak mau ikut makan malam dan menyampaikan permohonan maafnya kepada mereka.

Jones kembali ke hotelnya. Sementara itu Freud, Ferenczi dan aku memutuskan berjalan kaki ke Manhattan, mau tidak mau kami harus menyeberangi taman. Taman New York yang terbesar itu menjadi teramat kosong di malam hari. Pertama kami saling bertukar hip otesa tentang keadaan apartemen Brill yang tidak lazim terjadi, kemudian Freud bertanya pada Ferenczi dan aku bagaimana ia harus menjawab surat Presiden Hall.

Ferenczi menjelaskan kalau kami harus segera mengirimkan penyangkalannya, lebih baik jika melalui telegram, untuk menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan buruk yang dituduhkan kepada Freud sebenarnya adalah perbuatan Jones dan Jung. Satusatunya pertanyaan

yang dikhawatirkan Ferenczi, apakah Hall akan memercayainya.

“Kau mengenal Hall, Younger?” Tanya Freud, “bagaimana pendapatmu?”

“Presiden Hall akan memercayai katakata kita,” begitu kataku, yang artinya, Hall akan memercayai katakataku, “tetapi aku bertanya-tanya, Dr. Freud, mungkinkah mereka sebenarnya tidak menghendaki kau membuat penyangkalan itu.”

“Siapa mereka itu?” Tanya Ferenczi.

“Siapa pun yang ada di belakang ini semua,” kataku.

“Aku tidak mengerti,” kata Ferenczi.

“Aku mengerti apa yang dimaksudkan Younger tadi.” Jawab Freud, “Siapa pun melakukan tuduhan yang menyangkut Jones dan Jung, sebenarnya bukanlah tuduhan terhadap diriku. Jadi, mereka memengaruhi aku untuk menuduh teman-temanku sendiri. Maka Hall tidak lagi dapat mengatakan kalau ia sedang diperhadapkan dengan sekadar kabar angin. Sebaliknya, akulah yang akan membenarkan tuduhan itu, dan Hall hanya akan berkewajiban untuk mengadukan perbuatan itu. Mungkin ia akan menghalangi Jones dan Jung untuk berbicara minggu depan. Sementara aku masih bisa memberi kuliah, dan itu artinya adalah aku telah merendahkan para pengikutku sendiri yang kenyataannya mereka adalah dua orang terbaik pembawa ide-ideku kepada dunia.”

“Tetapi kau tidak bisa berdiam saja,” Ferenczi protes, “seolah kau juga bersalah.”

Freud mempertimbangkannya. “Kita akan menyangkal tuduhan itu, tetapi hanya itu yang akan kita lakukan. Aku akan mengirimkan surat pendek kepada Hall berisi pernyataan kalau aku sudah menikah, aku tidak pernah

dipecat dari kepegawaianku di rumah sakit, aku belum pernah ditembak, dan seterusnya. Younger, apakah itu akan menyulitkan dirimu?”

Aku mengerti pertanyaannya. Ia ingin tahu apakah aku akan merasa keberatan memberitahu Hall kalau Freud tidak bersalah seperti yang dituduhkan, sementara Jones dan Jung yang bersalah. Tentu saja, aku akan melakukan hal itu.

“Sama sekali tidak, Pak,” jawabku.

“Bagus,” kata Freud menyimpulkan. “Setelah itu, kita serahkan segalanya pada Hall. Jika, hanya demi ‘sejumlah besar donasi,’ Hall berusaha untuk menghalangi kebenaran psikoanalis sehingga gagasan itu tidak lagi dapat diajarkan di universitasnya, maka…,” Freud memohon maaf kepoadaku lebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya, “maka ia bukanlah teman yang pantas dimiliki, dan pemerintah Amerika boleh memihak kepada orang-orang tak beradab itu .”

“Presiden Hall tidak akan pernah setuju dengan istilah-istilah mereka,” kataku dengan ketetapan hati yang lebih besar daripada yang kurasakan.

g

DI LUAR PENJARA JEFFERSON MARKET, Betty Longobardi mengatakan lima buah kata kepada Jimmy Littlemore, “Ayo kita pergi dari sini.”

Littlemore tidak terlalu bersemangat untuk pergi. Ia membawa Betty ke Sixth Avenue yang ramai dengan gerombolan orang pulang kerja menuju arah utara. Di sudut, beberapa langkah dari pintu masuk gedung pengadilan, Littlemore berhenti dan tidak mau pindah.

Gemuruh kereta api di atas mereka yang menggetarkan bumi, menjadi suara latar ketika ia bercerita dengan penuh semangat kepada Betty tentang hari-harinya yang penuh dengan segala kejadian.

“Susie mengatakan kau akan terbunuh, Jimmy,” begitulah kata Betty, namun Littlemore menganggapnya gadis itu kurang menghargai keberhasilannya.

“Susie juga mengatakan kita bisa bertanya pada orang-orang di sekitar,” kata Littlemore, “tentulah maksudnya adalah gedung pengadilan itu. Ayolah, kita sudah berada di sini.”

“Aku tidak mau.”

“Itu gedung pengadilan, Betty. Tidak ada hal buruk yang bisa terjadi di gedung pengadilan.”

Ketika mereka kembali ke dalam, Littlemore memperlihatkan lencananya kepada petugas di depan. Petugas itu memberitahu Littlemore di mana letak kantor pencatatan walaupun tentunya pada jam-jam seperti itu tidak akan ada orang di sana. Setelah menaiki dua rangkaian tangga dan melewati koridor kosong yang besar, keduanya tiba di depan sebuah pintu yang bertuliskan PEN CATATAN. Pintunya terkunci, ruangan belakangnya gelap. Merusak pintu dan masuk bukanlah kebiasaan Littlemore, tetapi dalam keadaan seperti ini, ia merasa hal itu boleh saja dilakukan. Dengan gugup, Betty mengerling ke sekelilngnya.

Littlemore mengungkit lubang kunci hingga terbuka, lalu masuk dan menutup pintu di belakangnya. Lampu listrik dinyalakan, dan kini mereka berada di dalam sebuah ruang kantor kecil dengan sebuah meja besar. Ada pintu keluar ke belakang yang tidak terkunci, dan menuju ke sebuah ruang berkas besar dan penuh. Di sini mereka

melihat deretan kabinet dengan laci-laci yang diberi nama.

“Tidak ada tanggalnya,” kata Betty, “hanya huruf-huruf.”

“Pasti ada kalendernya,” kata Littlemore, “biasanya selalu ada kalendernya. Tunggu hingga aku menemukannya.”

Littlemore tidak membutuhkan waktu lama lalu kembali ke meja yang di atasnya terletak dua buah mesin ketik, pengering tinta, tinta dan setumpuk buku besar dengan jilidan dari kulit, masingmasing lebarnya enam puluh sentimeter. Littlemore membuka yang pertama. Semua halaman di dalamnya mewakili satu hari kegiatan Pengadilan Tinggi New York, Masa Persidangan Bagian I hingga III.

“Jam sepuluh lewat limabelas, pagi, kalender (catatan) hari, Bagian III, Wells versus Interborough R.T. Co. Truax, J. Baik, Wells. Kita harus menemukan Wells.” Ia bergegas melewati Betty untuk kembali ke ruang berkas. Lalu mencari laci dengan huruf W. Ia menemukan kasus Wells versus IRT (Transportasi Cepat Dalam Kota): sebuah penjepit menjepit tiga halaman. Namun itu hanyalah kasus biasa, bukan yang dicarinya. Beberpa kasus lainnya pun, yang serupa, ditemukan Littlemore. Hingga detektif itu tanpa sengaja membuka sebuah catatan, “Jam sepuluh lewat tigapuluh pagi, Masa Pengadilan, Bagian I, Masa Pengadilan Kriminal (Januari Masa Pengadilan dilanjutkan). Fitzgerald, J. Masyarakat versus Harry K, Thaw.”

Mereka saling menatap. Sebagaimana semua orang di New York, keduanya segera mengenali nama itu. “Ia adalah orang yang…,” kata Betty,

“…yang membunuh seorang arsitek di Madison Square

Garden,” Littlemore menyelesaikan kalimat yang terputus itu. Kemudian ia sadar mengapa Betty berhenti: terdengar langkah kaki berat di gang. “Siapa itu?” Bisik Betty.

“Matikan lampu,” perintah Littlemore kepada Betty yang berdiri di samping lampu. Ia meraih ke bawah tutup lampu dan meraba-raba dengan gugup untuk mencari tombolnya, tetapi malah menyalakan lampu lainnya. Langkah kaki itu berhenti. Mereka memastikan apakah orang itu mendekati kantor catatan.

“Ya ampun,” kata Betty, “ayo sembunyi di ruang penyimpanan.”

“Kukira tidak mungkin lagi,” kata Littlemore.

Suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat, lalu berhenti tepat di luar pintu. Pegangannya berputar, lalu pintu terbuka. Lelaki pendek itu mengenakan topi dari bahan wol yang lunak, dan setelan jas berompi murahan. Saku bagian dalam jasnya tampak menonjol, seolah ia membawa sepucuk senjata. “Ada kamar mandi untuk pria?” Tanyanya.

“Lantai dua,” kata Littlemore.

“Trims,” kata lelaki itu sambil membanting pintu di belakangnya.

“Ayo,” kata Littlemore sambil bergerak menuju ruang pencatatan. Kasus Masyarakat versus Thaw mengisi dua laci penuh. Littlemore menemukan catatan jalannya pengadilan tersebut: ada ribuan halaman di dalam bundel setebal empat inci yang hanya diikat dengan gelang karet. Beberapa bagian catatan itu tidak terbaca, tulisannya tidak sama, tidak ada tanda baca, sementara kalimatnya tidak teratur. Dari tanggalnya 18 Maret 1907, hanya ada lima atau enampuluh halaman. Littlemore

melihat-lihat halaman itu dengan cepat. Ia tahu kalau ada beberapa halaman yang berbeda dengan lainnya, karena diketik dengan rapi dan teratur hingga beberapa paragraf, dan bertanda baca baik.

“Sebuah pernyataan di bawah sumpah,” katanya.

“Oh, ya ampun,” kata Betty, “lihat!” Betty menunjuk pada kalimat m encengkeram tenggorokanku dan m encam bukiku.

Littlemore bergegas kembali ke halaman pertama dari surat tersumpah itu. Tertanggal 27 Oktober 1903, dan dimulai dengan Evelyn Nesbit, disumpah dengan selayaknya, mengakui:

“ia adalah istri Thaw, seorang gadis penari,” kata Betty. Evelyn Nesbit telah dijelaskan oleh lebih dari satu orang penulis yang tergila-gila padanya waktu itu. Ia adalah gadis yang tercantik dan menikah dengan Harry Thaw pada tahun 1905, satu tahun sebelum Thaw membunuh Stanford White.

“Sebelum ia menjadi istrinya,” kata Littlemore. Mereka berdua terus membaca:

Aku tinggal di Hotel Savoy, Fifth J4venue dan Fifthy-ninth Street, di New York City. J^few 6erusia 18 tahun, dilahirkan pada hari Natal, pada tahun 1884.

Selama 6e6erapa 6ulan se6elum Juni 1903, aku pergi ke rumah sakit Dr. Bell di Jalan West Thirty-third. Di sana aku dioperasi usus 6untu. Selama 6ulan Juni, aku pergi ke Eropa atas permintaan Henry ^(endall Thaw. Titan Thaw dan aku Scergian ke seluruh Holland, dan singgah di 6er6agai tempat dengan menumpangi kereta api sam6ungan. y(emudian kami pergi ke Munich, Jerman. y(ami juga pergi ke Bavaria Highland, hingga akhirnya ke Austria Tyrol. Selama itu 6isa dikatakan Thaw dan aku dikenal seSagai sqasang suami-istri, dan dikenal se6agai Tuan dan Nyonya Dellis.

“Dasar ular,” kata Betty.

“Yah, setidaknya lelaki itu akhirnya menikahinya juga,” a Littlemore.

Setelah Scergian 6ersama-sama kira-kira selama lima atau enam minggu, Thaw telah menyewa se6uah puri di Austria Tyrol, yang letaknya kira-kira setengah perjalan menuju atas gunung terpencil. Puri itu tentu telah di6angun kira-kira Seratus-ratus tahun lalu, karena kamar-kamar dan jendela-jendelanya yang sangat kuno. Aku disewakan se6uah kamar untuk kugunakan secara priSadi. Pada malam pertama aku sangat letih, dan tidur 6egitu selesai makan malam. y(eesokan harinya, aku sarapan Sersama Thaw. Setelah itu Pak Thaw 6erkata 6ahwa ia ingin mengatakan sesuatu padaku, dan memintaku untuk masuk c kamarku. Aku masuk c kamarku, ketika itu Thaw, tanpa mengatakan apa-apa, menangkap leherku dan mero6ekju6ah mandiku dari tuSuhku. Thaw dalam keadaan sangat Serse-mangat. Matanya menyala, dan di tangan kanannya ada pecut kuda dari kulit. Ia menangkapku dan melemparkan aku ke atas

tempat tidur. Aku tidak 6erdaya dan ingin 6erteriak, tetapi Thaw mem6ekap mulutku dan 6erusaha mencekikku.

Ia, kemudian, tanpa 6erkata-kata dan tanpa alasan apa pun, mulai menghujamku dengan 6e6erapa lecutan menyakitkan dan kejam dengan menggunakan cemeti kudanya. Begitu 6rutalnya ia menyerangku hingga kulitku ro6ek dan memar. Aku memohonnya untuk Serhenti, tetapi ia menolak. Ia 6erhenti setiap menit atau hanya untuk Seristirahat, lalu memulai lagi serangannya terhadap diriku. Aku 6enar-6enar sangat ketakutan. Para pelayan tidak dapat mendengar teriakanku, karena suaraku tiiak menemSus dinding puri 6esar itu, karena itu mereka tidak 6isa menolongku. Thaw mengancam akan mem6u-nuhku. y{arena serangan Srutalnya, seperti yang telah kujelaskan, aku tidak dapat 6ergerak.

Keesokan harinya, Thaw kem6ali datang ke kamarku dan melakukan lagi hukuman yang sama dengan hari se6elumnya. Ia mengam6il cemeti kuda dan mencam6ukiku dengan keras pada kulit telanjangku, sehingga kulitku terluka dan aku tidak sadar. Aku jatuh pingsan dan tidak tahu Serapa lama kemudian aku sadar.

“Mengerikan sekali,” kata Betty, “tetapi ia telah menikah dengan lelaki itu…, mengapa?”

“Demi uangnya, kukira,” kata Littlemore. Ia membalik

halaman pernyataan tersumpah lagi, “kau pikir ini yang kita cari? Apa yang dimaksudkan oleh Susie?”

“Mungkin memang ini, Jimmy. Ini adalah peristiwa yang sama dialami oleh Nona Riverford yang malang.”

“Aku tahu,” kata Littlemore, “tetapi ini sebuah pernyataan tersumpah. Apakah Susie mengerti tentang pernyataan tersumpah seperti ini?”

“Apa maksudmu? Ini tidak mungkin kebetulan saja.”

“Mengapa ia bisa ingat harinya, hari tepatnya, pernyataan ini pastilah telah dibacakan dalam persidangan? Tidak ditambahi. Kukira ada sesuatu yang lainnya.” Littlemore duduk di lantai, sambil membaca catatan itu. Betty mendesah tidak sabar. Tibatiba detektif itu berseru, “Tunggu sebentar. Ini dia. Lihat pada huruf T di sini, Betty. Ini adalah penuntutnya, Bapak Jerome, sedang bertanya. Sekarang lihat siapa yang menjadi saksi, yang sedang memberikan jawaban.”

Ketika bagian itu ditunjuk oleh Littlemore, catatan itu berbunyi sebagai berikut:

T : Siapa nama Anda? J : Susan Merrill.

T : Mohon sebutkan pekerjaan Anda.

J : Saya menyewakan kamar-kamar bagi bapak-bapak

di Forty-third Street. T : Anda mengenal Harry K. Thaw? J : Ya.

T : Kapan Anda pertama kali bertemu dengannya? J : Pada tahun 19D3. Ia mengunjungiku untuk menyewa kamar. Ia menyewanya. T : Untuk apa katanya?

J : Katanya ia sedang menguji gadis-gadis untuk dipe—

kerjakan di atas panggung. T : Apakah ia membawa tamu-tamu itu ke dalam kamarnya?

J : Kebanyakan para gadis muda berusia limabelas tahun lebih. Mereka mengatakan ingin naik pentas. T : Setiap kali para gadis muda itu datang, apakah

ada hal yang tidak biasa terjadi? J : Ya. Seorang gadis muda masuk ke dalam kamarnya, tidak lama kemudian, aku mendengar teriakan dan aku berlari ke kamarnya. Gadis itu diikat pada bagian kepala dari tempat tidur. Lelaki itu memegang sebuah cemeti di tangan kanannya, dan ia menyerang gadis itu. Tubuh gadis itu berbilur-bilur. T : Apa yang dikenakan oleh gadis itu? J : Pakaian yang sangat minim. T : Apa yang terjadi kemudian?

Lelaki itu liar dan bergegas pergi. Gadis itu mengatakan padaku bahwa lelaki itu berusaha membunuhnya.

Bisa Anda jelaskan tentang cemeti itu? Cemeti yang digunakan adalah yang digunakan untuk anjing. Pada saat kejadian itu. Ada kejadian lainnya?

Pada lain waktu ada dua orang gadis. Salah satu dari mereka bugil, yang lainnya separuh telanjang. Lelaki itu memecuti mereka dengan cemeti untuk berkuda yang biasa dipakai untuk penunggang perempuan.

Anda pernah bicara dengannya tentang hal itu? Ya, pernah. Aku katakan kepadanya bahwa mereka semua masih gadis kecil dan ia tidak berhak

mencambuki mereka. T : Apa penjelasannya tentang apa yang dilakukannya?

J : Ia tidak memberikan penjelasan sama sekali. Ia

mengatakan mereka memerlukannya. T : Anda pernah memberitahu polisi? J : Tidak.

T : Mengapa tidak?

J : Katanya jika aku melapor, ia akan membunuhku.

Limabelas

“MARI KITA DENGAR BAGAIMANA KEMAJUAN terapimu terhadap Nona Acton,” kata Freud yang mengubah topik pembicaraan ketika kami berjalan melalui taman dari rumah Brill ke hotel.

Aku ragu, tetapi Freud meyakinkan kalau aku boleh berbicara sebebas mungkin kepada Ferenczi seperti juga kepada dirinya. Maka aku menceritakan seluruh kisah secara panjang lebar tentang pertemuan terlarang antara Tuan Acton dan Nyonya Banwell yang terlihat oleh Nora ketika ia masih berusia empatbelas tahun. Entah bagaimana, hal itu telah diperkirakan Freud; kemarahan Nora ketika berada di kamar hotel, saat ia langsung menyerangku. Tampaknya itu dianggap Freud sebagai tanda pulihnya ingatan Nora, karena ia mengenali George Banwell sebagai penyerangnya. Aku juga menceritakan kedatangan Banwell secara tibatiba, bersama orang tua Nora dan McClellan yang memberikan alibi pada Banwell.

Ferenczi, setelah menjelaskan tanggapan pada sikap

seksual Nyonya Clara Banwell terhadap Harcourt Acton, mendadak bertanya mengapa Banwell tidak menyerang Nora Acton walau ia tidak membunuh gadis yang lainnya. Aku sulit mengerti mengapa ia sebagai seorang psikoanalis bisa bereaksi seperti itu. Namun aku menjelaskan juga kalau aku telah bertanya pada detektif Littlemore tentang pertanyaan yang sama dan tampaknya ada bukti pada tubuh korban. Bukti itu menyatakan kalau serangan tersebut dilakukan oleh orang yang sama.

“Sebaiknya kita serahkan masalah forensik kepada polisi saja, bukankah begitu?” Kata Freud, “jika analisa selayaknya membantu polisi, maka itu adalah baik. Jika tidak, sebaiknya kita tolong saja si pasiennya. Aku punya dua pertanyaan untukmu, Younger. Pertama, apakah kau tidak menemukan sesuatu yang aneh pada pernyataan yang tergesa dari Nora Acton. Ia menyatakan, ketika ia melihat Nyonya Banwell bersama ayahnya, ia tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang disaksikannya?”

“Kebanyakan gadis Amerika berusia empatbelas tahun, telah mendapatkan informasi yang salah tentang hal itu, Dr. Freud.”

“Aku hargai itu,” kata Freud, “tetapi bukan itu yang kumaksud. Nora mengisyaratkan kalau ia sekarang mengerti apa yang dilihatnya, bukan?”

“Ya.”

“Apakah kau menduga seorang gadis tujuhbelas tahun mendapatkan informasi yang lebih baik dari pada gadis empatbelas tahun?”

Aku mulai mengerti maksudnya.

“Bagaimana,” lanjut Freud, “sekarang ia tahu apa yang dulu tidak diketahuinya?”

“Ia mengatakannya padaku kemarin,” kataku, “kalau

ia membaca buku yang dengan tegas menjelaskan tentang hal itu.”

“Ah, ya, itu benar, bagus sekali. Vah, kita harus lebih memikirkan tentang hal itu. Tetapi sekarang, pertanyaanku yang kedua. Katakan padaku Younger, mengapa ia beralih padamu?”

“Maksudmu, mengapa ia melemparkan cangkir dan piring kecilnya padaku?”

“Ya,” kata Freud.

“Dan memukulmu dengan poci teh yang mendidih,” tambah Ferenczi.

Aku tidak punya jawaban.

“Ferenczi, bisa kau jelaskan pada teman kita?”

“Aku juga bingung,” kata Ferenczi, “ia jatuh cinta pada Younger. Itu sangat jelas.”

Freud berkata padaku. “Pikirkan lagi. Apa yang kau katakan sebelum ia menjadi begitu bengis padamu?”

“Aku baru saja selesai menyentuh keningnya,” kataku, “yang tidak membuahkan hasil. Aku duduk. Lalu aku memintanya untuk menyelesaikan perumpamaan yang dikatakan sebelumnya. Ia membandingkan betapa putih punggung Nyonya Banwell dengan sesuatu yang lainnya, tetapi ia tidak melanjutkannya. Aku memintanya untuk menyelesaikan pikiran itu.”

“Mengapa?” Tanya Freud.

“Karena, Dr. Freud, kau telah menuliskannya kalau jika seorang pasien memulai kalimatnya, tetapi terganggu dan tidak menyelesaikannya sendiri, berarti ada sebuah penekanan sedang terjadi.”

“Anak pandai,” kata Freud, “dan bagaimana Nora menanggapinya?”

“Ia mengusirku. Tibatiba. Dan ia mulai melempari

benda-benda padaku.”

“Begitu saja?” Tanya Freud.

“Ya.”

“Jadi?”

Kembali aku tidak punya jawaban.

“Apakah kau tidak pernah mengira kalau Nora akan cemburu jika kau memperlihatkan ketertarikanmu pada Clara Banwell? Terutama pada punggung telanjangnya?”

“Tertarik pada Nyonya Banwell?” aku mengulanginya, “aku belum pernah bertemu dengan Nyonya Banwell.”

“Ketidaksadaran [kegiatan yang tidak diketahui alasan atau motifnya] tidak memerlukan hal-hal seperti itu untuk beraksi,” kata Freud, “pikirkan fakta-fakta. Nora baru saja menggambarkan Clara Banwell melakukan felatio [kegiatan seks oral] terhadap ayahnya, yang disaksikannya pada usia empatbelas tahun. Tindakan itu tentu saja menjijikan bagi orang terhormat; itu sangat menjijikan bagi kita. Tetapi Nora tidak memperlihatkan rasa jijik itu kepadamu sama sekali, namun ia menyiratkan kalau ia mengerti makna tindakan itu. Ia bahkan mengatakan kalau gerakan Nyonya Banwell menarik. Sekarang, sangat tidak mungkin kalau Nora melihat hal itu tanpa kecemburuan yang dalam. Seorang gadis memiliki cukup waktu berhubungan dekat dengan ibunya: ia tidak akan pernah membiarkan wanita lain merangsang birahi ayahnya tanpa membenci pengacau yang melakukannya. Karena itu Nora mencemburui Clara. Seharusnya ialah yang ingin melakukan felatio untuk ayahnya. Keinginan itu tertekan dan sejak itu ia menyimpan perasaan itu.”

Sesaat lalu, aku diam-diam telah menghukum Ferenczi karena memperlihatkan reaksi mendadak pada perilaku seksual yang “menyimpang.” Karena beberapa alasan aku

tidak menyetujui reaksi mendadaknya, walau ada pernyataan Freud tentang apa yang dirasakan oleh semua orang santun saat mendengar tentang hal semacam itu. Aku baru saja mengatakan pada diriku sendiri bahwa setiap pelajaran yang diajarkan oleh psikoanalisa mengabaikan larangan masyarakat yang disebut penyimpangan seksual. Sekarang, aku menyadari kalau aku hanyut dalam perasaan yang sama. Harapanku Freud akan menyalahkan Nona Acton membuatku jijik. Rasa jijik begitu meyakinkan; rasanya seperti sebuah bukti moral. Sulit melepaskan perasaan moral yang tertanam oleh rasa jijik. Kita tidak dapat melakukannya tanpa mempersiapkan seluruh penilaian benar dan salah, seolah kita kehilangan panca-ngan yang menunjang seluruh ajaran yang kita percayai.

“Ketika itu juga,” Freud melanjutkan, “Nora merencanakan untuk merayu Tuan Banwell, untuk membalas dendam pada ayahnya. Karena itulah, hanya dalam beberapa minggu kemudian, Nora mau ikut Banwell pergi ke atap sebuah gedung untuk menonton kembang api. Karena itulah ia juga mau berjalan-jalan dengan Banwell sendirian di tepi danau yang romantis dua tahun kemudian. Mungkin Nora mengundangnya dengan isyarat-isyarat ketertarikan selama itu, yang dapat dengan mudah dilakukan oleh semua gadis cantik. Karena itulah Banwell sangat terkejut ketika ternyata Nora menolaknya, tidak hanya satu kali, tetapi dua kali.”

“Penolakan terhadap Banwell itu dilakukan Nora karena seharusnya orang yang digandrunginya adalah ayahnya sendiri,” sela Ferenczi. “Tetapi, mengapa ia menyerang Younger?”

“Ya, mengapa Younger?” Tanya Freud.

“Karena ketika itu aku menggantikan sosok ayahnya?”

“Tepat. Ketika kau menganalisanya, kau mengambil tempat ayahnya. Reaksi pemindahan itu bisa diduga. Sebagai hasilnya, ketidaksadaran gairah Nora sekarang adalah untuk menyerahkan mulut dan tenggorokannya kepada Younger. Khayalan ini menguasainya ketika Younger mendekatinya untuk menyentuh keningnya. Younger mengatakan pada kita, kau akan ingat, kalau ketika itu Nora mulai melepaskan setangan lehernya. Gerakan itu melambangkan undangannya pada Younger untuk mengambil kesempatan darinya. Di sini, aku akan menambahkan, juga merupakan penjelasan dari mengapa sentuhan pada tenggorokannya berhasil, sementara sentuhan pada keningnya tidak. Tetapi Younger menolak undangan itu, dan mengatakan pada Nora untuk mengikat sapu tangan lehernya kembali. Nora merasa ditolak.”

“Ia memang tampak terhina,” aku menambahkan, “aku tidak tahu mengapa ketika itu.”

“Jangan lupa,” lanjut Freud, “ia peduli terhadap luka yang dideritanya. Sebaliknya ia tidak akan mengenakan setangan pada lehernya sama sekali, maka lukanya akan tampak. Jadi, ia sudah mulai peka terhadap bagaimana kau akan menanggapinya jika kau melihat leher atau punggungnya. Ketika kau mengatakan padanya untuk tetap mengenakan setangan, kau melukai perasaannya. Dan ketika, tidak lama setelah itu, kau kembali membicarakan tentang punggung Clara Banwell, itu seolah kau, yang menempati posisi ayah Nora, telah mengatakan padanya, ‘Claralah yang menarik hatiku, bukan kau. Punggung Claralah yang ingin kulihat, bukan punggungmu.1 Jadi, tanpa kau sadari, kau telah memainkan sikap pengkhianatan ayahnya, membangkitkan kemarahan yang tak dapat dijelaskan secara tibatiba. Karena itu kebengisan-nya menyerang, diikuti oleh gairah untuk menyerahkan padamu tenggorokan dan mulutnya.”

“Tak dapat dibantah,” kata Ferenzci sambil menggelengkan kepalanya karena kagum.

9

MASUK KE RUANG DUDUK di rumahnya di Gramercy Park, Nora Acton memberitahu ibunya kalau ia tidak akan tidur di kamarnya malam itu. Namun ia akan tidur di ruang tidur tamu di lantai satu. Dari situ ia dapat melihat para polisi berjaga di luar. Jika tidak, katanya, ia tidak akan merasa aman.

Itu adalah katakata pertama Nora yang ditujukan pada orang tuanya sejak mereka meninggalkan kamar hotel. Ketika mereka tiba di rumah, Nora segera menuju kamarnya. Dr. Higginson telah didatangkan, tetapi Nora menolak bertemu dengannya. Ia juga menolak hadir makan malam dan mengatakan kalau ia tidak lapar. Itu kebohongan. Sebenarnya, ia belum makan sejak pagi, padahal Ibu Biggs sudah mempersiapkan sarapannya.

Nyonya Mildred Acton naik ke sofanya dan mengatakan kalau ia letih. Ia juga mengatakan kalau Nora bersikap sangat tidak masuk akal. Dengan ditempatkannya para op sir polisi yang menjaga pintu depan dan belakang, tidak mungkin ada bahaya lagi. Jadi apa pun alasannya, Nora tidak boleh tidur di ruang tamu. Tetangga akan melihatnya. Apa yang mereka pikirkan? Keluarga harus berusaha sebaik mungkin seakan mereka tidak mengalami peristiwa apa pun yang memalukan.

“Ibu,” kata Nora, “bagaimana kau bisa mengatakan kalau aku baru saja dipermalukan?”

“Wah, aku tidak mengatakan seperti itu. Harcourt, apakah aku tadi mengatakan seperti itu?”

“Tidak, sayangku,” kata Harcourt Acton sambil berdiri di samping meja kopi. Sejak tadi ia membaca-baca kumpulan surat yang tertumpuk selama lima minggu, “tentu saja tidak.”

“Aku secara khusus mengatakan kalau kita harus bersikap seolah kau tidak diperlakukan secara tidak hormat,” ibunya menjelaskan.

“Tetapi aku memang tidak diperlakukan seperti itu,” kata Nora.

“Jangan bodoh, Nora,” ibunya menasihati. Nora mendesah. “Apa yang menempel pada matamu, Ayah?”

“Oh…, kecelakaan,” jelas Acton, “sewaktu bermain Polo, aku tersodok oleh tongkatku sendiri. Aku bodoh sekali. Kau ingat retina tuaku yang sobek? Ini mata yang sama. Aku tidak dapat melihat apa-apa lagi dengan mata ini sekarang. Sial sekali, bukan?”

Tidak seorang pun menanggapinya.

“Well,” katanya lagi, “kecelakaanku tidak dapat dibandingkan denganmu, Nora, tentu saja. Aku tidak bermaksud…,”

“Jangan duduk di situ!” Ibu Acton berteriak pada suaminya, yang baru saja merendahkan tubuhnya untuk duduk di kursi berlengan, “jangan di situ juga. Aku baru saja memperbaikinya sebelum kita berangkat.”

“Tetapi, di mana aku boleh duduk, Sayang?” Tanya Acton.

Nora memejamkan matanya. Ia bergerak akan meninggalkan ruangan.

“Nora,” kata ibunya, “apa nama perguruan tinggimu?”

Gadis itu berhenti, semua ototnya menegang. “Bernard,” katanya.

“Harcourt, kita harus segara menghubungi mereka besok pagi.”

“Mengapa kalian harus menghubungi mereka?” Tanya

Nora.

“Untuk memberitahu mereka kau tidak bisa hadir, tentu saja. Itu sangat tidak mungkin sekarang. Dr. Higginson mengatakan kau harus istirahat. Aku memang tidak pernah menyetujuinya sejak awal. Perguruan tinggi bagi gadis-gadis! Kami tidak pernah mendengarnya pada zamanku.”

Pipi Nora memerah. “Kau tidak bisa berkata begitu.”

“Maaf,” kata Ibu Acton.

“Aku ingin mendapatkan pendidikan.”

“Kau dengar itu? Ia menyebutku tidak terdidik,” kata Ibu Acton pada suaminya, “jangan gunakan kacamata itu, Harcourt, gunakan yang ada di paling atas.”

“Ayah?” Tanya Nora.

“Well, Nora,” kata Acton, “kami harus memikirkan yang terbaik bagimu.”

Nora menatap kedua orang tuanya dengan amarah yang tidak tersembunyi. Ia berlari dari ruangan itu, lalu menaiki tangga, tidak berhenti di lantai dua, tempat kamar tidurnya berada. Nora terus berlari hingga menuju lantai empat yang berlangit-langit rendah dan berisi kamar-kamar kecil. Di sana ia segera menuju kamar tidur Ibu Biggs, lalu membuang dirinya di atas tempat tidur wanita tua itu. Ia membenamkan wajahnya pada bantal dengan sarungnya yang kasar. Jika ayahnya tidak mengizinkannya berkuliah di Barnard, ia berkata pada Ibu Biggs, ia akan melarikan diri.

Ibu Biggs berusaha sekuat tenaga menghibur gadis itu. Tidur yang nyenyak, katanya, akan memberinya kekuatan besar. Saat itu sudah hampir tengah malam ketika, akhirnya, Nora niat berisirahat. Untuk meyakinkan kalau gadis itu memang merasa aman, Ibu Biggs mengatur Pak Biggs untuk tidur di kursi di luar kamar tidur Nora, dan memerintahkannya untuk terus di situ sepanjang malam. Pelayan tua itu tidak pernah meninggalkan temp atnya sekejap pun malam itu, walau tak lama setelah itu, ia tertidur dengan terangguk-angguk. Begitu juga para opsir polisi yang terus berjaga. Namun betapa mengherankan, ketika di dalam kegelapan malam, tibatiba gadis itu merasakan sehelai sapu tangan lelaki menekan mulutnya dengan keras dan pisau silet yang dingin dan tajam pada lehernya.

g

KARENA BELUM PERNAH PERGI KE rumah milik Jelliffe, aku merasa terkejut akan kemewahannya. Kata apartemen tidak pantas untuk menyebut tempat tinggal itu kecuali jika ditambahkan kata bangsawan, seperti misalnya di Versailles. Keramik Cina biru, patung-patung pualam putih, dan berbagai perabotan indah—peti laci tinggi berkaki, sofa besar yang bisa juga digunakan untuk tempat tidur, bufet—dipamerkan di mana-mana. Jika Jelliffe bermaksud memperlihatkan kemakmuran pribadinya pada tetamunya, ia bisa dikatakan telah berhasil.

Kini aku mengenal Freud dengan cukup baik, karena aku dapat melihat ketika ia tampak tidak senang. Demikian juga dengan si orang Boston yang berada dalam diriku, dia memiliki reaksi yang sama. Sebaliknya Ferenczi,

ia tampak sama sekali tidak terpengaruh dengan kemewahan itu. Kudengar ia saling bertukar sapa yang ramah dengan dua orang tamu wanita tua di ruang tamu Jelliffe sebelum makan malam. Di sana para pelayan menawari kami hors d ‘ouvres [kue-kue kecil pembangkit selera makan] dari nampan emas, bukan perak. Ferenczi adalah satusatunya tamu yang tampil mengenakan setelan putih, bukan hitam. Hal itu pun tampaknya tidak mengganggunya sedikit pun.

“Begitu banyak emas,” katanya kepada tetamu wanita sambil mengagumi apa yang tampak pada langitlangit tinggi yang berada di atas kami. Itu adalah pemandangan hiasan plesteran sangat indah karena dibatasi dengan daun-daun emas, “ini mengingatkan aku pada Operhaz kami, karya Ybl, di Budapest. Anda pernah ke sana?” Rupanya kedua wanita tua itu belum pernah ke sana. Mereka memperlihatkan kebingungan. Bukankah Ferenczi baru saja mengatakan kepada mereka kalau ia berasal dari H ongaria?

“Ya, ya,” kata Ferenczi, “oh, lihatlah pada kerubi di sudut itu, dengan anggur-anggur kecil bergantungan pada mulut kecilnya. Manis sekali, ya?”

Freud asik terlibat dalam percakapan dengan James Hyslop, seorang pensiunan prosfesor logika di Columbia University, yang mengenakan terompet telinga sebesar corong sebuah mesin pemutar musik zaman Victoria. Jelliffe asik berbincang dengan Charles Loomis Dana, seorang ahli syaraf yang terkenal. Charles Dana, adalah seorang anggota lingkaran masyarakat kelas sebagaimana bibiku Mamie—tidak seperti tuan rumah kami. Di Bos-ton, keluarga Dana termasuk bangsawan. Aku mengenal salah seorang sepupu jauh keluarga Dana, seorang Miss Draper

dari Newport, yang pernah berkali-kali menggemparkan rumah mode dengan menirukan gaya seorang penjahit Yahudi tua. Jelliffe mengingatkanku pada seorang senator yang dijuluki glad-handing senator. Senator itu memiliki penampilan yang congkak, mengesankan seolah kegemukannya melamb angkan kejantanan.

Jelliffe menarikku bergabung dalam kelompoknya. Saat itu ia sedang menghibur pendengarnya dengan menceritakan tentang kliennya yang terkenal, Harry Thaw, yang tinggal bak seorang raja di rumah sakit yang mengurungnya. Jelliffe berbicara begitu banyak hingga mengutarakan kalau ia bersedia saja bertukar tempat dengan Thaw. Yang kumengerti dalam kalimat itu adalah Jelliffe menikmati ketenarannya sebagai seorang dokter jiwa yang menangani Thaw. “Coba bayangkan,” katanya menambahkan, “setahun lalu ia memaksa kami untuk membuktikan ketidakwarasannya agar terbebas dari tuduhan pembunuhan. Sekarang ia menginginkan kami bersumpah akan kewarasannya sehingga ia bisa keluar dari rumah sakit! Dan kami semestinya bisa mengeluarkannya!”

Jelliffe tertawa terbahak-bahak, lengannya merangkul bahu Dana. Beberapa orang pendengar ikut tertawa bersamanya, kecuali Dana. Kira-kira seluruhnya ada duabelas orang tamu yang tersebar di ruangan itu, tetapi aku tahu kalau masih ada seorang yang lebih ditunggu. Tidak lama kemudian, seorang pelayan lelaki membuka pintu dan berjalan mendahului seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan.

“Nyonya Clara Banwell,” ia berseru untuk mengumumkan.

g

“DAPATKAH KAU MELAKUKAN PSIKOANALISA kepada seseorang, Dr. Freud?” Tanya Nyonya Banwell ketika para tamu memasuki ruangan makan Jelliffe, “Dapatkah kau melakukannya kepada diriku?”

Dalam berbagai kesempatan pertemuan tertentu, umumnya lelaki terhormat dan serius pada bidangnya tanpa mereka sadari mulai bersikap seolah sedang berperan di atas panggung. Mereka mengatur cara mereka berbicara, dan menggerak-gerakkan tangan. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan adalah, wanita. Clara Banwell-lah penyebab para tamu lelaki Jelliffe bersikap seperti itu. Nyonya Banwell berusia duapuluh enam tahun, kulitnya seputih putri Jepang yang dibedaki. Segala tentang dirinya terbentuk dengan sempurna, tubuhnya indah, rambutnya segelap hutan, matanya berwarna hijau laut, dengan kilauan kecerdasan lembut yang menggoda. Sebutir mutiara Oriental yang dapat berubah-ubah warna, tergantung pada setiap telinganya. Sebutir kulit kerang mutiara merah muda besar pun, yang ditempatkan pada keranjang berlian dan platinum, tergantung di bawah lehernya. Ketika ia mengisyaratkan senyuman, dan hanya itulah yang dilakukannya, para lelaki akan jatuh berlutut di kakinya.

Pada tahun 1909, para tamu pada acara pesta makan malam yang mewah ala Amerika membuat barisan saling berpasangan ketika bergerak ke meja makan. Para wanita dikawal dalam lengan seorang lelaki. Nyonya Banwell tidak dalam gandengan Freud. Dengan ringan ia menjatuhkan jemarinya pada pergelangan tangan

Younger, namun demikian ia masih mampu berbicara pada Freud. Tetap saja, perhatian dari seluruh hadirin pesta itu tertuju kepada wanita itu.

Pagi itu, Clara Banwell baru saja kembali dari desa menumpangi mobil Tuan dan Nyonya Hartcourt Acton. Secara kebetulan, Jelliffe bertemu dengannya di lobi gedung mereka. Ketika itu Jelliffe tahu kalau suaminya, Tuan George Banwell, sedang sibuk. Lalu ia memohon Nyonya Clara untuk menghadiri pesta makan malamnya pada petang itu. Ia menjanjikan Clara akan bertemu dengan para tamu yang paling menarik. Bagi Jelliffe, Clara benar-benar tidak dapat ditolak—sementara suaminya benar-benar menyebalkannya.

“Apa yang diinginkan para wanita,” kata Freud bagi pertanyaan Nyonya Clara, ketika para tamu sudah duduk bermandikan cahaya kristal di belakang meja, “adalah sebuah misteri bagi seorang analis juga bagi seorang pujangga. Seandainya saja kalian dapat mengatakan kepada kami, Nyonya Banwell, namun kalian tidak bisa. Kalianlah masalah itu, tetapi kalian juga tidak mampu memecahkannya seperti kami, lelaki yang malang. Sekarang apa yang diinginkan lelaki hampir selalu nyata. Tuan rumah kita, misalnya, ia menginginkan sendoknya, tetapi justru pisaunya yang diambil secara tidak sengaja.”

Semua kepala berpaling pada lelaki gendut yang sedang duduk tersenyum di kepala meja. Memang begitulah, Jelliffe memegangi pisaunya—bukan pisau roti, tetapi pisau makannya, dengan menggunakan tangan kanannya. “Apa artinya itu, Dr. Freud?” Tanya seorang wanita tua.

“Itu tandanya, Nyonya Banwell telah membangkitkan dorongan agresif tuan rumah kita,” kata Freud, “Agresi itu muncul dari keadaan persaingan seksual yang telah

dimengerti oleh semua orang. Ia telah salah memerintahkan tangannya ketika mengambil peralatan makan, menunjukkan keinginan yang tak disadarinya.”

Lalu terdengar gumaman di sekitar meja.

“Baik, baik, aku mengakuinya,” seru Jelliffe dengan riang tanpa rasa malu, sambil menggoyang-goyangkan pisaunya ke arah Clara, “kecuali tentu saja ketika Dr. Freud mengatakan bahwa keinginan itu tidak kusadari.” Kata-katanya yang memalukan namun diucapkan secara beradab mendapatkan sambutan tawa penghargaan dari semua orang.

“Sebaliknya,” Freud melanjutkan, “teman baikku Ferenczi di sini menyelipkan serbetnya pada kerah bajunya dengan hati-hati, seperti sehelai kain alas dada yang dipasangkan pada seorang anak. Ia tertarik pada insting keibuanmu, Nyonya Banwell.”

Ferenczi melihat ke sekeliling meja dengan kebingungan namun juga gembira, walau akhirnya ia menyadari kalau hanya dirinyalah yang menyelipkan serbet dengan cara seperti itu.

“Anda berbincang-bincang dengan suamiku sebelum makan malam, Dr. Freud,” kata Ibu Hyslop, seorang nenek yang duduk di sebelah Jelliffe, “bagaimana pendapat Anda tentang dirinya?”

“Profesor Hyslop,” sapa Freud, “maukah Anda menjelaskan sesuatu padaku? Anda tidak menyebutkan nama depan ibu Anda padaku, bukan?”

“Apa itu?” Kata Hyslop sambil memegangi terompet telinganya tinggi-tinggi.

“Kita tidak membicarakan ibu Anda, bukan?” Tanya Freud.

“Bicara Ibu?” Kata Hyslop, “sama sekali tidak.”

“Namanya Mary,” kata Freud.

“Bagaimana kau tahu?” seru Hyslop. Ia menatap ke sekeliling meja dengan tatapan menuduh. “Bagaimana ia bisa tahu? Aku tidak mengatakan nama ibuku.”

“Tentu saja, kau mengatakannya,” kata Freud, “walau tanpa kau sadari. Yang membingungkan aku adalah siapa nama istrimu. Jelliffe mengatakan padaku dia bernama Alva. Jadi aku punya pertanyaan untuk Anda, Nyonya Hyslop, jika Anda mengizinkan. Apakah suami Anda memiliki nama panggilan sayang untuk Anda?”

“Wah, nama tengahku adalah Maria,” kata Ibu Hyslop yang terkejut, “tetapi ia selalu memanggilku Marie.”

Pada pengakuan Ibu Hyslop itu, Jelliffe bersorak, dan Freud menerima tepukan tangan dari para tamu.

“Aku terbangun dengan radang selaput lendir pagi ini,” sela seorang nyonya di seberang Ferenczi, “pada akhir musim panas juga. Apakah itu menandakan sesuatu, Dr. Freud?”

“Radang selaput lendir, Nyonya?” Tanya Freud lalu berhenti sejenak untuk mempertimbangkannya.

“Terkadang radang selaput lendir, aku khawatir, memang hanyalah radang selaput lendir. Bukan masalah lainnya.”

“Tetapi apakah wanita benar-benar misterius?” Tanya Clara Banwell kembali ke topik awal, “aku kira kau terlalu mudah memberi maaf akan kewanitaanku. Apa yang diinginkan wanita adalah hal yang paling sederhana di dunia.” Ia berpaling pada seorang pemuda yang sangat tampan, berambut gelap di sebelah kanannya, yang dasi kupu-kupu putihnya terlihat agak miring. Selama ini pemuda itu tidak mengatakan apa-apa. “Bagaimana pendapatmu, Dr. Younger? Kau dapat mengatakan pada

kami apa yang diinginkan oleh wanita?”

Stratham Younger merasa kesulitan menerima tatapan Clara Banwell. Walau ia tidak mengetahuinya kalau sebenarnya ia tengah berusaha menghilangkan bayangan punggung indah telanjang Nyonya Banwell yang membuat gerakan bergelombang dengan lembut di bawah sinar rembulan ketika ia menyibakkan rambutnya melewati bahunya. Bayangan itu terus timbul tenggelam dalam benaknya. Sulit juga baginya memisahkan Nyonya Banwell dengan bayangan Tuan Banwell, yang terus menerus dianggapnya sebagai pembunuh sekalipun McClellan memberikan pembelaan padanya.

Younger percaya Nora adalah gadis tercantik yang pernah ditemuinya. Namun Clara Banwell hampir sama menariknya, kalau pun tidak bisa disebut lebih. Gairah lelaki, kata Hegel, selalu berawal dengan keinginan terhadap timbulnya gairah lawan jenisnya. Tidak mungkin bagi setiap lelaki yang melihat Clara Banwell tanpa pernah menginginkan wanita itu untuk dirinya sendiri. Mereka ingin menjadi satusatunya yang dinginkan Clara, menjadi lelaki yang lebih disukainya dari yang lainnya, berharap Clara menginginkan sesuatu darinya. M isalnya, Jelliffe, akan dengan senang hati berduel jika Clara menghendakinya. Ketika berjalan ke ruang makan, ketika tangan Clara telah mendarat pada lengannya, Younger merasakan sentuhan itu di seluruh tubuhnya. Namun ada sesuatu tentang Clara yang menjauhkannya juga. Mungkin itu lantaran Clara telah bertemu dengan Harcourt Acton. Younger tidak menganggap dirinya sendiri sebagai seorang yang taat, tetapi anggapan Nyonya Banwell melayani seorang lelaki yang tampak lemah, secara tidak disadarinya, telah memprovokasinya.

“Aku yakin, Nyonya Banwel,” ia menjawab, “jika kau ingin memberi penjelasan tentang wanita kepada kami, akan jauh lebih menarik dibandingkan dengan jika aku yang mencobanya.”

“Aku dapat memberitahu kepadamu, aku rasa, bagaimana perasaan wanita yang sesungguhnya terhadap lelaki,” kata Clara menantang, “setidaknya tentang lelaki yang mereka cintai. Kalian teratarik?” Suara persetujuan terdengar di sekitar meja, terutama dari para tamu pria, “tetapi aku tidak mau, kecuali kalian, para lelaki, berjanji untuk mengatakan bagaimana perasaan kalian tentang wanita.” Syarat itu itu disepakati oleh sebagian besar pria, walau Younger menahan lidahnya sebagaimana juga Charles Dana, yang terduduk di ujung lainnya meja tersebut.

“Baik, karena kalian memaksaku, Tuan-tuan,” kata Clara, “aku akan mengakui rahasia kami. Wanita merasa rendah diri terhadap lelaki. Aku tahu ini kebodohanku untuk mengatakannya, tetapi jika mengingkarinya, itu merupakan keto lolan. Segala kekayaan manu sia, materi dan spiritual adalah ciptaan lelaki. Kota-kota yang menjulang, ilmu pengetahuan kami, kesenian, dan musik, semua dibangun, ditemukan, dilukis dan dikarang oleh kalian, lelaki. Wanita tahu itu. Kami tidak berdaya jika dikuasai lelaki yang lebih kuat, dan kami tidak bisa tidak membenci kalian karena itu. Cinta seorang wanita kepada seorang lelaki, separuhnya merupakan gairah hewani dan separuhnya lagi kebencian. Semakin kuat seorang wanita mencintai seorang lelaki, semakin ia membecinya. Jika seorang lelaki layak dimiliki, ia pastilah seorang yang lebih dari wanita itu. Jika lelaki itu lebih dari wanita itu, sebagian dari perasaan wanita itu adalah kebencian pada

lelaki itu. Hanya dalam kecantikan, kami mengalahkan kalian, dan karena itulah tidak heran jika kami memuja keindahan di atas segalanya. Karena itulah seorang wanita,” ia menjadi tegang, “akan menjadi paling berbahaya jika berada di hadapan seorang lelaki yang tampan.”

Pendengarnya terpukau, sebuah reaksi yang sudah biasa didapatkan oleh Nyonya Clara Banwell. Younger merasa Clara telah melemparkan tatapan yang paling menggoda pada akhir kalimatnya. Dia bukanlah satusatunya lelaki di meja itu yang mendapatkan kesan itu, tetapi dia mengatakan pada dirinya sendiri kalau dia hanya berkhayal. Itu juga disadari Younger kalau Nyonya Banwell mungkin saja hanya menjelaskan sisi terliar dari konflik emosi ibu Younger yang telah dipertunjukkan kepada ayahnya. Ayah Younger bunuh diri pada tahun 1904, ibunya tidak menikah lagi. Ia bertanya-tanya apakah ibunya telah mencintai namun juga membenci ayahnya, seperti yang dijelaskan Nyonya Banwell. “Rasa iri pasti merupakan kekuatan yang lazim terdapat dalam kondisi mentalitas wanita, Nyonya Banwell,” kata Freud, “karena itulah wanita hanya memiliki begitu sedikit rasa keadilan.”

“Lelaki tidak memiliki rasa iri?” Tanya Clara.

“Lelaki ambisius,” kata Freud, “rasa iri mereka terutama berasal dari sifat ambisius mereka itu. Rasa iri pada wanita, sangat berbeda, selalu bersifat erotis. Perbedaan itu dapat dilihat dari lamunan-lamunan. Kita semua melamun tentu saja. Lelaki, memiliki dua macam lamunan: lamunan erotis dan ambisius. Sedangkan wanita hanya memiliki lamunan erotis.”

“Aku yakin, lamunanku tidak seperti itu,” jelas seorang wanita gemuk yang mengeluhkan radang selaput lendirnya

tadi.

“Kupikir Dr. Freud sangat benar dalam segala hal,” kata Clara Banwell, “terutama tentang ambisi lelaki. Suamiku, George, misalnya. Ia lelaki yang sempurna. Ia tidak terlalu tampan. Tetapi ia gagah, duapuluh tahun lebih tua dariku, orang yang berhasil, kuat, tulus, tak dapat didominasi. Karena semua itulah aku mencintainya. Begitu aku tidak ada di hadapannya, ia sama sekali tidak akan menyadari kalau aku ada; ambisinya begitu besar. Karena itu aku membencinya. Memang begitulah adanya. Akibat yang menyenangkan bagiku, bagaimana juga, aku bebas melakukan apa yang aku suka, seperti berada di sini malam ini pada salah satu pesta makan malam Tuan Smith yang menyenangkan, dan George tidak akan pernah mengetahui kalau aku telah meninggalkan apartemen.”

“Clara,” kata Jelliffe, “aku kecewa. Kau tidak pernah mengatakan padaku kau memiliki kebebasan seperti itu.”

“Telah kukatakan kalau aku bebas melakukan apa saja yang aku suka, Smith,” jawab Clara, “bukan apa saja yang kau suka.” Kemudian terdengar tawa dari semuanya, “Well, sekarang aku harus mengakui. Apa pendapat lelaki? Bukankah diam-diam lelaki membenci keterikatan dalam pernikahan? Tidak, Smith, kumohon. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku ingin mendengar pendapat yang lebih objektif. Dr. Freud, apakah pernikahan itu hal yang baik?”

“Bagi masyarakat atau pribadi?” Kata Freud, “bagi masyarakat, pernikahan tidak diragukan lagi sangat bermanfaat. Tetapi beban moralitas budaya terlalu berat untuk dipikul masyarakat. Sudah berapa lama kau menjadi seorang istri, Nyonya Banwell?”

“Aku menikah dengan George ketika aku berusia sembilanbelas tahun,” jawab Clara. Bayangan Clara Banwell

ketika berusia sembilanbelas tahun pada malam pertamanya memenuhi pikiran beberapa orang tamu, bukan saja tamu lelaki, “jadi sudah tujuh tahun.”

“Dalam hal ini, kau sudah tahu cukup banyak,” lanjut Freud, “jika tidak dari pengalamanmu sendiri, mungkin dari teman-temanmu, dan tidak heran, dari apa yang kukatakan. Persetubuhan yang memuaskan tidak bertahan lama dalam kebanyakan pernikahan. Setelah empat atau lima tahun, pernikahan cenderung gagal dalam hal yang satu ini. Sebagai akibatnya, dalam banyak kasus, pernikahan berakhir dalam kekecewaan, baik secara spiritual maupun secara jasmani. Lelaki dan wanita tercampak ke belakang lagi, dalam istilah psikologi, ke keadaan sebelum mereka menikah, namun dengan hanya satu perbedaan, mereka kini lebih miskin. Miskin karena kehilangan ilusi.”

Clara Banwell menatap Freud dengan tajam.

“Apa yang dikatakannya?” Tanya Profesor Hyslop yang sudah tua dengan suara keras, sambil mencoba mendekatkan corong telinganya ke arah Freud.

“Ia membenarkan p erselingkuhan,” kata Charles Dana. Baru untuk pertama kalinya ia berbicara, “kau tahu, Dr. Freud, terpisah dari obrolan di ruang tamu, adalah perhatianmu pada berbagai penyakit dari keputusasaan seksual yang mengejutkan aku. Masalah kita jelas bukan karena kita menempatkan terlalu banyak pembatasan pada izin seksual; tetapi karena kami menempatkannya terlalu sedikit.”

“Oh?” Kata Freud.

“Satu milyar orang kini hidup di atas bumi. Satu milyar, dan jumlah itu terus bertambah secara geometris. Bagaimana mereka akan hidup, Dr. Freud? Apa yang akan

mereka makan? Jutaan orang membanjiri pantai-pantai kita setiap tahun: orang-orang yang paling miskin, yang paling tidak pandai, yang paling memiliki kecenderungan untuk berbuat jahat. Kota kita nyaris anarki karena mereka. Penjara kita meledak karena terlalu penuh sesak. Mereka berkembang biak seperti lalat. Dan mereka mencuri dari kita. Orang tidak dapat menyalahkan mereka; jika seseorang terlalu miskin untuk memberi makan anak-anaknya, ia pasti akan mencuri. Namun, Dr. Freud, jika aku mengerti gagasanmu, kau tampaknya hanya peduli pada kejahatan penekanan seksual. Aku akan berpikir bahwa ilmuwan harus lebih peduli pada bahayanya emansipasi seksual.”

“Apa usulmu, Charles? Apakah kau ingin imigrasi itu diakhiri?” Tanya Jelliffe.

“Sterilisasi,” kata Dana dengan penuh harap, sambil memb ersihkan mulutnya dengan sebuah serbet, “Peternak yang paling kejam pun tidak akan membiarkan hewan ternaknya yang tidak sehat berkembang biak. Manusia tidak lagi berbeda dengan hewan ternak. Jika hewan ternak diperbolehkan berkembang biak dengan bebas, kita tentunya akan makan daging yang tidak berkualitas. Setiap imigran yang tidak memiliki tujuan di negeri ini, harus dimandulkan.”

“Secara tanpa sengaja, Charles, kau yakin itu?” Tanya Ibu Hyslop.

“Tidak ada yang memaksa mereka datang ke sini, Alva,” katanya, “tidak ada juga yang memaksa mereka untuk tinggal. Lalu bagaimana bisa disebut dimandulkan tanpa sengaja? Jika mereka ingin berkembang biak, biarkan mereka pergi. Arti dari ketidaksukarelaan mereka untuk tidak berkembang biak adalah kita harus memikul

beban berupa anak-anak mereka yang tidak sehat, yang akhirnya hanya akan menjadi pengemis atau pencuri. Aku membuat pengecualian, tentu saja, yaitu bagi siapa saja yang mampu lulus dari tes kecerdasan. Sup yang lezat sekali, Jelliffe, daging penyu asli, bukan? Oh, aku tahu, kalian semua akan mengatakan aku kejam dan tak memiliki perasaan. Tetapi aku hanya mengambil kesuburan mereka. Sedangkan Dr. Freud akan mengambil sesuatu yang jauh lebih penting.” “Apa itu?” Tanya Clara.

“Moralitas mereka,” kata Dana, “dunia ini akan menjadi seperti apa, Dr, Freud, jika pandanganmu menjadi pandangan umum? Aku hampir dapat membayangkannya. Golongan-golongan terendah datang untuk mencaci ‘moralitas berbudaya.’ Kepuasan menjadi dewa. Semua bergabung untuk menolak ketertiban dan penyangkalan pribadi, yang seharusnya dibutuhkan untuk martabat kehidupan. Gerombolan jahat akan memicu kericuhan; mengapa tidak? Dan gerombolan ini, apa yang mereka inginkan jika berbagai peraturan peradaban diangkat? Kalian pikir mereka hanya menginginkan seks? Mereka akan menginginkan peraturan baru. Mereka akan mau menuruti kemauan beberapa orang gila. Mereka akan menginginkan darah, mungkin darahmu, Dr. Freud, jika sejarah adalah petunjuknya. Mereka akan membuktikan bahwa diri mereka unggul, seperti yang selalu dilakukan oleh orang dari golongan terendah. Dan mereka akan membunuh untuk membuktikan itu. Aku membayangkan banjir darah, banjir darah besar, yang belum pernah terjadi. Kau akan menghapuskan moralitas berbudaya sebagai satusatunya hal yang mengendalikan kebrutalan manusia. Apa yang dapat kau tawarkan sebagai gantinya,

Dr. Freud?

g

SEBATANG LILIN BERKERDIP di samping tempat tidur Nona Acton. Cahaya lampu dari Gramercy Park yang pucat menembus tirai kamarnya. Penerangan di kamar itu tidak cukup bahkan untuk membuat bayangan seorang lelaki yang kehadirannya lebih dirasakan Nora, ketimbang dilihatnya. Ia ingin menjerit, tetapi otaknya tidak dapat mempengaruhi tubuhnya. N amun pikirannya membebaskan dirinya, lalu melayang sendiri. Pikirannya itu, atau ia sendiri, tampak melayang tinggi meninggalkan tempat tidurnya, membumbung ke arah langitlangit, meninggalkan tubuh kecilnya yang tidur tergeletak mengenakan baju tidur, yang berada di bawahnya sekarang.

Kini, ia melihat penyerangnya dengan jelas, tetapi dari atas. Ia melihat ke bawah pada dirinya sendiri. Nora melihat lelaki itu memindahkan sehelai saputangan dari wajahnya. Nora melihat lelaki itu membubuhkan gincu berwarna merah pada mulutnya yang pasrah. Mengapa lelaki itu mewarnai bibirnya? Nora menyukainya; dia selalu bertanya-tanya. Apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya? Dari atas, Nora melihatnya menyalakan rokok dengan api dari lilin di samping tempat tidurnya, lalu meletakkan satu lututnya di atas tubuh terlentangnya, dan mematikan nyala rokok itu langsung pada kulit tubuhnya, di bawah sana, hanya kira-kira satu inci atau dua dari bagian tubuhnya yang paling pribadi.

Tubuhnya tersentak di bawah lutut lelaki yang terus menahannya. Nora melihatnya dari atas; ia melihat dirinya sendiri tersentak. Seolah ia sedang kesakitan, tetapi ia tidak merasakannya sama sekali. Ia hanya mengamati semuanya dari atas tanpa merasakan apa pun. Dan jika ia yang mengamati dirinya sendiri, tidak merasa kesakitan, maka tidak ada rasa sakit—tidak ada seorang lain pun yang merasakannya—bukan begitu?

Enambelas

AKU HARUS bersikap seolah aku tidak mencintainya, atau tidak menaruh hati sama sekali kepadanya. Begitulah yang kukatakan pada diriku sendiri ketika sedang bercukur pada hari Kamis pagi. Pada pukul setengah sebelas, aku harus pergi di rumah keluarga Acton untuk menyampaikan kesimpulan analisa. Aku tahu aku bisa mendapatkannya. Namun itu bisa berarti eksploitasi, penyelewengan, dan mengambil keuntungan dari kelemahan terapis pada diri Nora. Itu juga berarti menyalahi sumpah perawatan yang kuucapkan ketika aku menjadi seorang dokter.

Tidak mungkin untuk menggambarkan ide apa yang muncul dalam benakku ketika aku membayangkan Nora, dan aku membayangkan gadis itu nyaris setiap saat aku sadar. Well, bukannya tidak boleh, tetapi tidak arif. Yang benar-benar tidak dapat aku gambarkan adalah kekosongan pada paru-paruku ketika aku tidak berada di hadapannya. Seolah aku tidak bisa hidup tanpa dirinya.

Aku merasa seperti Hamlet, menjadi lumpuh. Dengan perbedaan seperti ini: aku merasa ingin mati jika aku tidak bertindak, sementara Hamlet merasa ia akan mati jika ia bertindak. Bagi Hamlet, to be [ada] bukanlah bertindak. Bertindak adalah mati; jadi not to be [tidak ada]:

Ada atau tidak ada; itulah pertanyaannya: Apakah itu leSih mulia di dalam Senak untuk menderita

Ketapei dan anak-anak panah dari ke6eruntungan yang menyakitkan Atau melawan terhadap lautan kesulitan, Dan dengan menentang mengakhiri mereka. Mati…

Dengan kata lain, to be hanyalah merasakan derita takdir seseorang, tidak melakukan apa-apa, dan hidup dengan cara demikian. Sementara not to be adalah bertindak, melawan, dan mati. Karena bertindak artinya mati, Hamlet berkata kalau ia tahu mengapa ia belum juga bertindak: ketakutan akan mati, kesimpulan dari percakapannya seorang diri, atau tentang sesuatu setelah kematian, semua itu telah membuatnya menjadi seorang pengecut dan tidak diketahui keinginannya.

Jadi bagi Hamlet, to be adalah statis, menderita, kepengecutan, tidak bertindak. Sementara not to be terkait dengan semangat, keberanian, dan tindakan. Atau begitulah yang dimengerti semua orang tentang pidatonya itu. Tetapi aku bertanya-tanya. Va, pada akhirnya, ketika Hamlet bertindak terhadap pamannya, ia akan mati. Mungkin ia tahu ini memang takdirnya. Tetapi tidak dapat dipersamakan dengan tidak bertindak. Hidup dan bertindak begitu menyatu. To be tidak bisa berarti tidak melakukan apa-apa. Tidak bisa. Hamlet lumpuh karena bertindak, entah bagaimana, dipersamakan dengan tidak ada [not being]. Persamaan yang keliru ini, atau kepalsuan persamaan ini, tidak pernah benar-benar dimengerti.

Tetapi lantaran ide Freud, aku tidak lagi dapat memikirkan Hamlet tanpa memikirkan Oedipus. Dan aku khawatir ada sesuatu kesamaan yang juga mulai merundung perasaanku terhadap Nora. Jika Freud benar kalau Nora ingin menyodomi ayahnya sendiri, aku yakin aku bahwa tidak akan mengerti. Aku tahu bahwa ini betulbetul tidak masuk akal bagiku. Jika Freud benar, itu berarti semua orang memang memiliki keinginan seperti itu. Tidak seorang bisa mengelak, dan tidak seorang pun harus dicerca karenanya. Namun, ketika aku memiliki dugaan dalam kasus Nora, aku kehilangan kemampuan mencintainya. Secara total aku kehilangan pegangan pada cinta itu. Yaitu bagaimana seorang dapat dicintai jika seseorang itu memiliki keinginan yang menjijkkan di dalam diri kita?

g

KAMIS PAGI DIAWALI dengan kegaduhan di rumah keluarga Acton. Nora terbangun pada saat fajar, terhuyung-huyung turun dari tempat tidurnya, membuka pintu kamarnya, dan jatuh di atas Pak Biggs, yang tidur di atas kursi tepat di depan kamarnya. Kabar itu tersebar, alarm berbunyi: Nona Ac ton teiah diserang pada maiam hari.

Dua orang penjaga yang ditempatkan di luar, tergopoh-gopoh menaiki tangga, lalu turun, gaduh sekali, dan hanya bisa menyelesaikan hal-hal kecil saja. Dr. Higginson segera dipanggil sekali lagi. Dokter tua yang penuh perhatian itu tampak sedih karena untuk sekali lagi, Nora telah menjadi korban dan menanggung malu lantaran letak luka bakarnya. Ia memberi salep penenang yang boleh digunakan bila diperlukan. Dr Higginson setelah itu

beranjak pulang, sambil menggelengkan kepalanya, untuk meyakinkan pada keluarga kalau Nora tidak menderita luka lainnya. Ada beberapa orang polisi lagi yang datang ke tempat kejadian, Detektif Littlemore, yang telah tertidur di meja kerjanya malam itu, tiba di sana pukul delapan.

Detektif itu menemui mereka bertiga di kamar Nora. Gadis itu tampak kebingungan. Opsir-opsir berseragam sedang memeriksa lantai berpermadani dan jendela-jendela. Littlemore memberikan peralatan penebar debu untuk mencari sidik jari pada salah seorang petugas. Ia memerintahkannya untuk mencari apakah ada sidik jari pada pegangan pintu, kepala tempat tidur, dan bingkai jendela. Nora duduk di sudut tempat tidurnya, masih mengenakan baju tidurnya. Rambutnya pun kusut masai, matanya tampak linglung dan bingung. Pernyataannya tentang kejadian tadi malam terus menerus diminta.

George Banwell. Begitulah ia memberikan jawaban atas setiap pertanyaan mereka. Pelakunya adalah George Banwell dengan rokok dan sebilah pisau pada malam hari. George Banwell akan ditangkap, bukan? Pertanyaan Nora membangkitkan protes kekhawatiran dari Tuan dan Nyonya Acton. Tidak mungkin George, kata mereka, tidak mungkin. Bagaimana Nora bisa begitu yakin padahal ketika itu sudah tengah malam?

Littlemore punya masalah. Ia berharap memiliki bukti lain tentang Banwell selain dari pernyataan gadis itu. Lagipula ingatan Nora tidak benar-benar sekuat batu karang. Lebih buruk lagi, Nora mengaku tidak dapat benar-benar melihat lelaki yang masuk ke kamarnya malam itu. Kamar tidurnya begitu gelap. Nora mengatakan kalau pelakunya adalah Banwell. Littlemore berharap, apa yang dikatakannya, bukan hanya “asal bicara.” Jika

Littlemore menangkap Banwell, McCellan tidak akan senang. Yang Mulia juga bahkan tidak akan setuju walau Banwell ditangkap hanya untuk dimintai keterangan.

Karena itu, Littlemore memutuskan untuk lebih baik menunggu perintah Walikota McClellan. “Jika kau tidak keberatan, Nona Acton,” katanya, “bolehkan aku mengajukan pertanyaan padamu?”

“Silahkan,” katanya.

“Kau mengenal seorang bernama William Leon?” “Maaf?”

“William Leon,” kata Littlemore, “orang Cina, juga dikenal sebagai Leon Ling.”

“Aku tidak mengenal seorang Cina pun, Detektif.”

“Mungkin ini akan membangkitkan ingatanmu, Nona,” kata detektif itu. Dari saku rompinya, ia mengeluarkan selembar foto, lalu menyerahkannya pada gadis itu. Itu adalah foto yang diambilnya dari apartemen Leon, yang memperlihatkan seorang lelaki Cina bersama dua orang gadis muda. Salah satunya adalah Nona Acton.

“Di mana kau dapatkan ini?” Tanya gadis itu.

“Jika kau bisa mengatakan siapa lelaki itu, Nona,” kata Littlemore, “ini sangat penting. Mungkin ia sangat berbahaya.”

“Aku tidak tahu. Aku belum pernah mengenalnya. Ia mendesak untuk berfoto bersama Clara dan aku.” “Clara?”

“Clara Banwell,” kata Nora, “Itu dia yang berada di samping lelaki itu. Ia adalah salah satu teman lelaki Cina Elsie Sigel.”

Kedua nama itu sangat menarik bagi Detektif Littlemore. Selain mengetahui kalau William menyukai Elsie, ia juga baru saja mengenali tidak saja nama gadis lainnya

pada foto itu, tetapi juga penulis surat-surat yang ditemukannya di dalam koper—kemungkinan besar, seorang gadis yang mati itu akan ditemukan bersama-sama juga.

“Elsie Sigel,” ulang Littlemore, “Kau bisa menceritakan tentang dia padaku, Nona? Ia seorang gadis Yahudi?”

“Ya, ampun, bukan,” kata Nora, “Elsie melakukan kegiatan misionari. Kau pastilah pernah mendengar nama keluaraga Sigel. Kakeknya sangat terkenal. Ada patungnya di Riverside Park.”

Littlemore diam-diam bersiul. Jendral Franz Sigel memang terkenal, seorang pahlawan Perang Saudara yang menjadi seorang politikus di New York. Pada hari pemakamannya pada tahun 1902, lebih dari sepuluh ribu orang New York datang untuk memberi penghormatan terakhir pada lelaki tua itu, yang dimakamkan dengan mengenakan seragam lengkap. Para cucu perempuan dari jendral-jendral Perang Saudara, seharusnya tidak boleh menulis surat pada pengelola-pengelola restoran di Pecinan. Mereka bahkan tidak boleh menulis surat pada lelaki Cina sama sekali. Ia bertanya bagaimana Nona Siegel bisa berkenalan dengan William Leon.

Nora mengatakan apa yang diketahuinya walaupun hanya sedikit. Pada musim semi yang lalu, ia dan Clara telah bergabung dengan gerakan relawan perkumpulan dermawan Tuan Riis. Mereka mengunjungi para keluarga yang tinggal di rumah petak di seluruh Lower East Side, menawarkan bantuan yang mereka dapat berikan. Pada suatu hari Minggu di Pecinan, mereka bertemu dengan Elsie Siegel yang sedang mengajar di kelas Kitab Injil. Seorang muridnya membawa sebuah kamera. Nora ingat siapa orang itu yang mengenakan pakaian sangat bagus, dan berbicara bahasa Inggris dengan lebih baik sehingga

terlihat berbeda dari yang lainnya. Nora tidak pernah mengenal namanya, tetapi Elsie tampaknya sangat mengenalnya. Karena lelaki Cinta itu terlihat begitu akrab dengan Elsie, maka Clara dan dirinya merasa kalau mereka tidak bisa menolak permintaannya untuk berfoto.

“Kau tahu di mana Nona Sigel tinggal, Nona Acton?” Tanya Littlemore.

“Tidak, tetapi aku ragu kau akan menemukannya di rumahnya, Detektif,” kata Nora, “Elsie melarikan diri bersama seorang pemuda pada bulan Juli. Kata orang-orang, ia menuju Washington.”

Littlemore mengangguk. Ia berterimakasih pada Nora, kemudian bertanya pada Tuan Acton apakah ada telepon yang dapat digunakannya. Ketika ia menghubungi kantor pusat, Littlemore meninggalkan perintah untuk melacak orang tua Elsie Sigel, cucu perempuan Jendral Franz Sigel. Jika keluarga Sigel mengakui kalau mereka tidak lagi melihat putri mereka sejak bulan Juli, mereka harus dibawa ke rumah penyimpanan jenazah.

Kembali ke kamar tidur Nora, Littlemore hanya mendapati Nora bersama Ibu Biggs. Polisi terakhir baru saja meninggalkan ruangan dan mengatakan pada Littlemore kalau ia tidak menemukan sidik jari sama sekali pada jendela maupun kepala tempat tidur. Sedangkan pada pegangan pintu, ada terlalu banyak orang yang keluar dan masuk. Ibu Biggs bermaksud membereskan kamar yang porak poranda karena pemeriksaan polisi. Nora tetap berada di tempatnya. Littlemore mempelajari kamar itu. “Nona Acton,” katanya, “menurutmu, bagaimana lelaki itu bisa masuk ke kamarmu tadi malam?”

“Yah, ia pastilah memiliki…, wah, aku tidak tahu.” Hal itu, pikir Littlemore, benar-benar

membingungkan. Hanya ada dua pintu di rumah Acton, di depan dan di belakang. Sepanjang malam rumah itu telah dijaga dua orang polisi berbadan besar yang bersumpah kalau tidak ada seorang pun yang melewati mereka. Pastinya, Biggs telah tertidur pada waktu pergantian jaga. Hal itu diakui oleh kedua regu itu. Tetapi Biggs telah menempatkan kursinya dengan tepat, bersandar pada depan pintu kamar gadis itu. Lantaran itulah esok harinya, Nora jatuh menimpanya. Tentunya akan sulit bagi siapa saja untuk melewati Biggs tanpa membangunkannya.

Mungkinkah si penyerang masuk melewati jendela? Kamar tidur Nora terletak di lantai dua. Jelas tidak mungkin bagi seorang lelaki memanjat rumah itu. Karena kamar tidurnya menghadap ke taman, siapa pun yang berniat berbuat itu akan terlihat jelas oleh penjaga yang bersiap di depan. Mungkinkah ia masuk dari atap? Itu mungkin saja. Atap dapat dimasuki melalui gedung-gedung yang berhubungan. Tetapi para tetangga bersumpah kalau rumah mereka tidak dimasuki orang kemarin malam. Juga, bagi Littlemore, seorang lelaki sebesar itu akan mendapat kesulitan menyelinap memasuki salah satu jendela kamar Nora.

Ketika Detektif Littlemore memeriksa jendela-jendela itu—yang tidak memperlihatkan tanda-tanda masuk atau keluarnya seseorang—kisah Nora mulai menampakkan keanehannya. Pertama-tama adalah penemuan Ibu Biggs akan puntung rokok yang terkubur di dalam keranjang sampah kertas Nora. Rokok itu ada bekas gincu. Ibu Biggs tampak terkejut. Juga detektif itu.

“Ini milikmu, Nona?” Tanya detektif itu.

“Tentu saja bukan,” kata Nora, “aku tidak merokok. Aku bahkan tidak mempunyai gincu.”

“Lalu gincu apa yang sekarang menempel pada bibirmu?” Tanya Littlemore.

Nora menutupkan tangannya pada mulutnya, lalu teringat ia melihat Banwell mengenakan gincu pada bibirnya. Namun, ia telah lupa pada fakta penting itu sebelumnya. Bagian kejadian itu seluruhnya begitu buram, begitu tertutup kabut di benaknya. Ia mengatakan, pastilah Banwell yang telah mengoleskan gincu pada rokok itu dan membuangnya di keranjang sampah sebelum pergi. Ia tidak mengatakan keistimewaan terpenting dari ingatannya: ia melihat Banwell dari atas, bukan dari bawah. Lalu bersikeras mengatakan kalau ia tidak pernah mempunyai peralatan rias wajah sama sekali.

“Kau tidak keberatan jika aku melihat-lihat di sekitar kamarmu, Nona Acton?” Tanya Littlemore.

“Orang-orangmu sudah memeriksa kamarku sejam yang lalu,” jawabnya.

“Bolehkah, Nona?”

“Baiklah.”

Tidak seorang polisi pun yang memeriksa barang-barang pribadi Nora sejauh ini. Littlemore sekarang harus melakukannya. Pada laci terbawah dari perlengkapan kecantikannya, ia menemukan beberapa alat rias termasuk bedak, sebotol parfum, dan gincu. Juga sebungkus rokok.

“Itu bukan milikkku,” kata Nora, “aku tidak tahu darimana itu semua.”

Littlemore memanggil kembali para opsirnya ke kamar itu untuk melakukan pemeriksaan yang lebih teliti. Beberapa menit kemudian, seorang polisi menemukan sesuatu yang tidak terduga tepat di atas laci atas di dalam lemari Nora yang tersembunyi di bawah tumpukan baju musim dingin. Sebuah cemeti pendek dengan pegangan bengkok.

Littlemore tidak akrab dengan kegiatan zaman pertengahan yang mengerikan, tetapi ia dapat melihat kalau cemeti khusus ini memungkinkan si penderanya untuk mendera bagian yang sulit dicapai—seperti punggung si penderanya sendiri.

Untung saja kita tidak menahan Banwell, pikir Jimmy Littlemore.

Detektif itu tidak tahu harus berpikir bagaimana, ketika seorang polisi lainnya memperlihatkan penemuan baru di halaman belakang. Polisi penjaga itu telah memanjat pohon untuk mengetahui apakah mungkin mencapai atap melalui pohon. Ternyata tidak mungkin. Tetapi ketika turun, ia melihat benda—kecil, berkilap, metal bundar—yang semula disangkanya sekeping koin. Benda itu terdapat di takik cabang pohon, kira-kira tigapuluh sentimeter dari tanah. Ia menyerahkannya pada Littlemore sebuah peniti emas bulat untuk dasi dengan monogram, dan terdapat benang putih sutera yang terjepit. Inisial pada peniti itu, GB.

9

UNTUK PERTAMA KALINYA BRILL TERLAMBAT datang makan pagi. Ketika muncul, ia tidak bercukur, ketakutan, salah satu ujung kerah bajunya mencuat ke atas, benar-benar tampak kacau. Rose sepanjang malam mendapat gangguan tidur, katanya kepada Freud, Ferenczi dan aku. Satu jam yang lalu ia telah memberinya laudanum. Brill pun sulit untuk menidurkan dirinya. Katanya ia harus bicara dengan kami tanpa dilihat orang lain. Karena itu kami berempat, kembali ke kamar Freud, setelah meninggalkan pesan di bawah bagi Jones dan

Jung, walau tidak ada yang tahu apakah Jung ada di hotel atau tidak.

“Aku tidak bisa melakukannya,” kata Brill meledak ketika kami tiba di kamar Freud, “maafkan aku, tetapi kau tidak bisa. Aku sudah mengatakannya pada Jelliffe.” Tampaknya ia sedang membicarakan terjemahan buku Freud. “Jika itu hanya aku, aku berjanji akan melanjutkannya. Tetapi aku tidak bisa membahayakan Rose. Ia segalanya bagiku. Kau tahu, bukan?”

Kami membujuknya untuk duduk. Ketika ia menjadi cukup tenang untuk berbicara dengan teratur, ia mencoba meyakinkan kami kalau abu yang terdapat di rumahnya berhubungan dengan telegram alkitab yang diterimanya. “Kau melihatnya,” ia membicarakan Rose lagi, “mereka membuatnya menjadi sebuah pilar garam. Itu ada dalam telegram, dan itu telah terjadi.”

“Seseorang telah dengan sengaja mengirimkan abu ke rumahmu?” Tanya Ferenczi, “mengapa?”

“Sebagai peringatan,” kata Brill.

“Dari siapa?” Tanyaku.

“Orang yang sama yang telah membuat Prince ditangkap di Boston. Orang yang sama yang pernah mencoba menghalangi kuliah-kuliah Freud di Clark.”

“Bagaimana mereka tahu rumahmu?” Tanya Ferenczi.

“Bagaimana mereka tahu Jones tidur bersama pembantunya?” Tanya Brill.

“Kita tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan,” kata Freud, “tetapi jelas benar kalau seseorang telah mendapatkan banyak informasi pribadi tentang kita.”

Brill mengeluarkan sepucuk amplop dari saku rompinya. Lalu ia menarik secarik kecil kertas yang terbakar, dengan sisa ketikan yang dapat dibaca. Sebuah huruf u

(dengan titik dua di atas) jelas terlihat. Dengan satu atau dua spasi di sebelah kanannya tertulis huruf yang mungkin adalah huruf kapital H. Lalu tidak ada lagi yang tampak selain itu.

“Aku menemukan ini di ruang dudukku,” kata Brill, “mereka membakar naskahku. Naskah Freud. Lalu mereka menyebarkan bekas bakaran naskah itu di apartemenku. Mereka akan membakar seluruh gedung pada kesempatan lainnya. Itu tertera dalam telegram: “hujan api”; “berhentilah sebelum terlambat.” Jika aku menerbitkan buku Freud, mereka akan membunuhku dan Rose.”

Ferenczi memprotes dan berargumen kalau ketakutan Brill sangat berlebihan untuk peristiwa itu. Tetapi Freud menyela, “Apa pun penjelasannya, Abraham,” katanya sambil meletakkan tangan di atas bahu Brill, “mari kita sisihkan dulu buku itu sekarang. Buku itu bisa menunggu. Buku itu tidak sepenting dirimu bagiku.”

Brill tertunduk dan meletakkan tangannya di atas tangan Freud. Kupikir ia hampir menangis. Ketika itu seorang pelayan mengetuk pintu, lalu masuk dengan membawa kopi dan senampan kue pastri pesanan Freud. Brill berdiri menerima secangkir kopi. Ia tampak sangat lega lantaran mendengar kalimat terakhir Freud. Beban beratnya seakan telah terangkat. Sambil membersihkan hidungnya, ia berkata dengan nada suara yang berbeda sama sekali, “bukan aku yang harus kau khawatirkan. Bagaimana dengan Jung? Freud, apakah kau sadar, Ferenczi dan aku yakin kalau Jung itu psikotik? Itu pendapat medis yang kami pikirkan. Katakan, Sandor.”

“Yah, psikotik aku setuju,” sahut Sandor Ferenczi, “tetapi aku juga melihat bukti adanya kemungkinan gangguan.”

“Tidak mungkin,” kata Freud, “bukti apa?”

“Ia mendengar suara-suara,” kata Ferenczi, “ia mengeluhkan lantai rumah Brill yang lunak ketika diinjaknya. Percakapan yang tidak tersambung dengan baik. Dia juga mengatakan pada siapa saja kalaua kakeknya telah diuduh membunuh.”

“Aku bisa menjelaskan mengapa hal itu terjadi, tanpa ada hubungannya dengan psikosis,” kata Freud. Aku dapat melihat bahwa Freud memikirkan sesuatu, tetapi ia tidak mau mengutarakannya. Aku bertanya-tanya apakah aku harus mengungkap tafsiran Jung yang mengherankan pada mimpi Freud tentang Count Thun. Tetapi aku mempertimbangkan jangan-jangan Freud memang tidak menceritakan hal itu pada Brill dan Ferenczi. Karena itu aku pikir tidak perlu.

“Dan yang paling penting, katanya kau memimpikannya sepuluh tahun yang lalu!” Seru Brill, “lelaki itu gila.”

Freud menarik nafas dan menjawab. “Tuan-tuan, sebagaimana aku, kalian tahu bahwa Jung memiliki keyakinan khusus tentang cenayang dan sekte. Aku senang kalian berbagi keraguanku tentang hal itu, tetapi Jung bukan satusatunya orang yang mampu melihat lebih jauh.”

“Melihat lebih jauh?” Kata Brill, “jika aku memiliki pandangan yang lebih jauh seperti itu, kau akan mengatakan aku berkhayal. Ia juga memiliki pandangan yang lebih jauh tentang Oedipus kompleks. Ia tidak lagi menerima etiologi seksual, kau tahu itu.”

“Kau berharap ia menjadi seperti itu,” kata Freud tenang, “sehingga hal itu akan menyingkirkan dirinya. Jung menerima teori seksual tanpa syarat. Sebenarnya, dia akan memaparkan sebuah kasus infantil seksualitas di

Clark minggu depan.”

“Benarkah? Pernah kau bertanya pada Jung apa yang akan dibicarakannya di Fordham?”

Freud tidak menjawab tetapi menatap Brill dengan mata disipitkan.

“Jelliffe mengatakan padaku, ia dan Jung telah membicarakannya, dan Jung sangat peduli tentang penekanan yang berlebihan pada peran seks dalam p sikoneuro sis. Itu istilahnya adalah overemphasizing (penekanan yang berlebihan).”

“Weil, jelas ia tidak mau menekan itu secara berlebihan,” bentak Freud, “aku tidak mau menekannya secara berlebihan juga. Kalian berdua, dengarkan aku. Aku tahu kalian telah merasa tidak nyaman dengan sikap Jung yang anti-Semit. Ia tidak melibatkan aku, dan karena itu ia melimpahkan energi yang lebih besar kepada kalian. Aku yakinkan kalian kalau aku juga sangat mengetahui tentang kesulitan Jung akan teori seksual. Tetapi kalian harus ingat, hal itu lebih sulit baginya untuk mengikutiku dibandingkan dengan kalian. Juga akan lebih sulit bagi Younger. Seorang Gentil [bukan Yahudi] harus mengatasi penolakan dari dalam yang jauh lebih besar jumlahnya. Dan Jung bukan saja seorang penganut Kristen, ia juga putra seorang pastur.”

Tidak seorang pun berkata-kata, maka aku memberanikan diri memprotesnya, “Maafkan aku, Dr. Freud, mengapa harus menjadi masalah jika orang itu Kristen atau Yahudi?”

“Anakku,” kata Freud dengan keras, “kau mengingatkan aku pada novel-novel karya saudara lelaki James, siapa namanya?”

“Henry, Dr. Freud.”

“Ya, Henry.”

Jika aku membayangkan Freud akan berkata lebih banyak untuk menjawab pertanyaanku, aku salah. Bahkan ia berpaling pada Ferenczi dan Brill. “Kau pastilah lebih suka psikoanalisa menjadi urusan bangsa Yahudi? Tentu saja, aku tidak adil karena mempromosikan Jung, padahal yang lainnya telah mengikutiku lebih lama. Tetapi kami, bangsa Yahudi, harus bersiap untuk diperlakukan dengan sejumlah ketakadilan jika kami akan meraih dunia. Tidak ada pilihan lainnya. Jika saja namaku Jones, kau bisa yakin gagasanku tidak akan menerima terlalu banyak penolakan, walau bagaimanapun. Lihatlah Darwin. Ia tidak setuju dengan Genesis, dan ia dianggap sebagai pahlawan. Hanya seorang Gentil yang dapat membawa psikoanalisa menjadi sebuah harapan. Kami harus mempertahankan Jung sebagai die Sache. Segala harapan kami bergantung padanya.”

Kata yang diucapkan Freud dalam bahasa Jerman itu artinya penyebab. Aku tidak tahu mengapa ia tidak menggunakan bahasa Inggris. Selama beberapa menit tidak seorang pun berbicara. Kami asik dengan makan pagi. Brill tidak makan. Ia sedang menggigiti kukunya. Aku membayangkan kalau tidak akan ada pembicaraan lagi tentang Jung. Ternyata aku salah lagi.

“Dan bagaimana dengan menghilangnya Jung?” Tanya Brill, “Jelliffe mengatakan padaku, Jung meninggalkan Balmoral pada hari Minggu tengah malam. Tetapi petugas penerima tamu di sini bersumpah kalau Jung tidak kembali ke hotel sampai pukul dua dini hari. Itu artinya ada dua jam yang tak terhitung setelah tengah malam. Keesokan harinya, Jung mengaku berada di dalam kamarnya, tidur siang. Tetapi petugas di sini mengatakan ia keluar hingga

malam. Kau dan aku mengetuk pintu Jung dengan keras dan begitu lama pada hari Senin sore, Younger. Kukira ia tidak di dalam sama sekali. Ke manakah ia?”

Aku menyela, “Maafkan aku. Kau tadi mengatakan Jung ada di Balmoral pada hari Minggu malam?”

“Betul,” kata Brill, “gedung Jelliffe. Kau di sana tadi malam.”

“Oh,” kataku, “aku menyadarinya.” “Menyadari apa?” Tanya Brill.

“Tidak apa-apa,” kataku, “hanya kebetulan yang aneh.”

“Kebetulan apa?”

“Gadis lainnya…, gadis yang dibunuh itu…, dia terbunuh di Balmoral,” aku bergerak di atas kursiku dengan tidak nyaman, “pada hari Minggu malam. Antara tengah malam dan pukul dua.”

Brill dan Ferenczi saling menatap. “Tuan-tuan,” kata Freud, “jangan keterlaluan.” “Dan Nora diserang pada hari Senin malam,” Brill menjelaskan, “di mana?”

“Abraham,” sergah Freud.

“Tidak ada yang menuduh siapa pun,” kata Brill polos, tetapi dengan tarikan wajah yang terlalu bersemangat, “aku hanya bertanya pada Younger, di mana rumah Nora.”

“Di Gramercy Park,” kataku.

“Tuan-tuan, aku tidak mau mendengar ini lagi,” jelas Freud.

Ada ketukan pintu lagi. Rupanya yang datang adalah Jung. Kami saling bertegur sapa dengan kaku sebagaimana yang telah diperkirakan. Jung yang tampaknya tidak melihat ketaknyamanan kami, menyendok gula untuk kopinya, dan bertanya apakah kami besenang-senang di

pesta makan malam di rumah Jelliffe.

“Oh, Jung,” sela Brill, “kau terlihat pada hari Senin.” “Maaf?” Tanya Jung.

“Kau mengatakan pada kami,” kata Brill tajam, “kau tidur di sepanjang Senin sore di kamarmu. Tetapi ternyata kau terlihat ada di kota.”

Freud menggelengkan kepalanya, ia berjalan ke arah jendela lalu mendorongnya sehingga lebih terbuka lebar.

“Aku tidak pernah mengatakan kalau aku ada di kamar sepanjang Senin sore,” kata Jung sama tajamnya.

“Aneh,” kata Brill, “aku berani sumpah kalau kau mengatakan begitu. Itu mengingatkan aku, Jung, kami berpikir untuk mengunjungi Gramercy Park hari ini. Kukira kau tidak akan bergabung bersama kami?”

“Aku mengerti,” kata Jung.

“Mengerti apa?” Tanya Brill.

“Mengapa tidak kau katakan saja?” Bentak Jung.

“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan,” kata Brill. Ia dengan sengaja membuat dirinya terdengar seperti aktor buruk yang tidak berhasil memerankan sikap tidak peduli.

“Jadi, aku terlihat di Gramercy Park,” kata Jung dingin, “apa yang akan kalian lakukan, melaporkan aku pada polisi?” Ia berpaling pada Freud, “Welf, tampaknya tujuanmu mengundangku ke sini adalah untuk diinterogasi. Permisi, aku tidak mau makan pagi dengan kalian.” Ia membuka pintu dan keluar sambil mendelik pada Brill, “tidak ada yang perlu membuatku malu.”

g

LANTARAN NAMA BESAR YANG disandang jendral Sigel, polisi tidak menemui kesulitan mencari alamat cucu perempuannya. Ia tinggal bersama orang tuanya di Wadsworth Avenue, dekat 18th street. Seorang opsir dari stasiun Washington Hights, ditugaskan untuk pergi ke rumah itu mengawal Bapak dan Nyonya Sigel, beserta keponakan mereka yang bernama Mabel,, menuju gedung Van den Heuvel. Mereka bertemu detektif Littlemore di ruang tunggu rumah penyimpanan jenazah.

Detektif itu mengetahui dari mereka kalau Elsie yang berusia sembilanbelas tahun memang telah menghilang hampir satu bulan lalu. Ia tidak pernah kembali sejak pergi berlibur mengunjungi Nenek Ellie di Brooklyn. Pada hari-hari pertama menghilangnya Elsie, keluarga Sigel telah menerima sebuah telegram gadis itu dari Washington D.C. yang menunjukkan kalau ia memang berada di sana bersama seorang pemuda, yang jelas dinikahinya. Ia memohon orang tuanya supaya tidak mengkhawatirkan dirinya, meyakinkan mereka kalau ia baik-baik saja, dan berjanji akan pulang ke rumah pada musim gugur. Orang tuanya masih menyimpan telegram itu, yang kemudian diperlihatkan kepada detektif Littlemore. Telegram itu memang telah dikirim dari sebuah hotel di ibu kota, dan nama Elsie tertera di bagian bawah. Namun tentu saja hal itu tidak menjamin kalau Elsie-lah pengirimnya. Tuan Sigel belum menghubungi polisi, karena masih berharap akan mendengar kabar dari putrinya, dan dengan cemas menjauhi skandal.

Littlemore kemudian memperlihatkan surat-surat yang ditemukan di dalam koper William Leon, kepada pasangan Sigel. Setelah itu Litllemore juga memperlihatkan kepada mereka liontin perak yang ditemukan pada jenazah gadis itu berikut topi yang berhiaskan burung. Baik Tuan

maupun Nyonya Sigel belum pernah melihat barang-barang itu, dan dengan tegas menyatakan kalau itu bukan milik Elsie. Namun Mabel menyangkal. Ternyata liontin itu memang milik Elsie; Mabel sendiri yang telah memberikannya kepada Elsie pada bulan Juni.

Littlemore, sambil menarik Tuan Sigel ke tepi, mengatakan kalau ia sebaiknya melihat jasad yang ditemukan di apartemen Leon. Di lantai bawah di rumah penyimpanan jenazah itu, Tuan Sigel pada awalnya tidak dapat mengenali jenazah itu karena sudah terlalu busuk. Dengan murung ia mengatakan pada Littlemore ia akan tahu yang sesungguhnya jika dapat melihat giginya. Gigi taring sebelah kiri anak gadisnya letaknya tidak baik. Ternyata begitulah gigi taring jenazah yang terbaring di atas meja pualam. “Itu memang Elsie,” kata Tuan Sigel lirih.

Ketika kedua lelaki itu kembali ke ruang tunggu, Tuan Sigel menatap istrinya dengan tatapan keras dan menyalahkan. Wanita itu pastilah mengerti, maka meledaklah tangisnya. Membutuhkan waktu yang lama untuk menenangkan dirinya. Kemudian suaminya menceritakan kisahnya.

Nyonya Sigel melakukan kegiatan keagamaan di Pecinan. Selama bertahun-tahun ia telah berusaha keras memindahkan orang-orang Cina menjadi pemeluk agama Kristen. Pada bulan Desember, ia mulai membawa Elsie ke rumah misi. Elsie ikut aktif dengan penuh semangat sehingga menyenangkan hati ibunya, tetapi merisaukan hati ayahnya. Walau Tuan Sigel sangat menentang, gadis itu bahkan berani pergi ke Pecinan seorang diri beberapa kali dalam seminggu dan mengajar di kelas Kitab Suci Minggunya sendiri. Salah satu dari beberapa muridnya yang paling rajin—kenang Tuan Sigel dengan muram—

telah berani mengunjungi mereka ke rumah beberapa bulan lalu. Tuan Sigel tidak tahu nama lelaki itu, namun setelah Littlemore memperlihatkan selembar foto William Leon, sang ayah pun memejamkan matanya dan mengangguk.

Keluarga Sigel meninggalkan rumah jenazah. Mereka meratapi, baik kematian Elsie maupun ketenaran mereka lantaran nyamuk pers telah menunggu di luar. Detektif Littlemore bertanya-tanya di mana Hugel. Littlemore telah menduga kalau ahli otopsi itu akan menginginkan memimpin otopsi itu sendiri dan mendengarkan kesaksian Tuan Sigel. Namun Hugel ternyata tidak ada di tempat. Penggantinya adalah O ‘H anion, seorang dokter yang telah memeriksa jasad itu. Ia melaporkan pada Littlemore kalau Nona Sigel sudah tewas tercekik selama empat minggu. Sementara itu Hugel tengah berada di kantornya yang mengatakan kalau sama sekali ia tidak berminat untuk menangani kasus itu lagi.

Tujuhbelas

SI CAN TIK CLARA BAN WELL yang mengenakan gaun hijau sewarna dengan matanya, kali itu tengah menanggalkan pakaian yang dikenakan oleh Nora Acton—seorang gadis yang sama cantiknya. Clara pun berusaha menenangkan, membuatnya nyaman, dan menghibur gadis itu yang memang nyaris putus asa. Ia datang ke rumah itu tidak lama setelah Littlemore pergi. Dengan begitu anggun, Clara mengantar keluar semua orang yang ada di

kamar, baik itu polisi maupun keluarga. Ketika Nora telah bugil, Clara membawanya ke bak mandi dengan air dingin dan membantunya masuk. Sambil terisak, Nora memohon Clara untuk membiarkannya berbicara sekian banyak hal mengerikan yang telah terjadi padanya.

Clara meletakkan dua jarinya pada bibir Nora, “Sst,” katanya, “jangan bicara, sayang. Pejamkan matamu.”

Nora mematuhinya. Dengan lembut Clara memandikan gadis itu, mencuci rambutnya, dan

mengusapi luka yang sudah sembuh dengan kain basah yang lembut.

“Mereka tidak memercayai aku,” kata Nora sambil menahan air matanya.

“Aku tahu. Tidak apa-apa.” Clara coba megatasi kebingungannya. Ia meminta Ibu Biggs yang berdiri dengan cemas, untuk membawakan salep yang ditinggalkan Dr. Higginson.

“Clara?”

“Ya.”

“Mengapa kau tidak datang lebih awal?”

“Stt,” kata Clara sambil mengolesi salep pada kening Nora, “aku di sini sekarang.”

Setelah air itu terbuang habis, Nora masih terbaring di dalam bak. Bagian atas tubuhnya pun dibungkus dengan handuk putih, dan matanya terpejam, “Apa yang kau lakukan terhadapku, Clara?” Tanya Nora.

“Mencukurmu. Kami harus membersihkan luka bakar yang parah itu. Lagipula, akan tampak lebih cantik seperti ini.” Clara meletakkan tangan Nora untuk melindungi bagian tubuhnya yang paling lembut, “Nah,” katanya, “tekan ke bawah, sayang.” Clara meletakkan tangannya sendiri di atas tangan Nora, sambil tetap menekan dengan

kuat dan mengubah posisi sesekali, sehingga ia dapat melakukan tugasnya. “Nora, George bersamaku sepanjang malam. Polisi bertanya padaku, dan aku harus mengatakan kepada mereka. Kau harus mengatakan kepada mereka sekarang. Jika tidak mereka akan membawamu pergi. Mereka sudah mengaturnya dengan sebuah sanatorium.”

“Aku tidak apa-apa tinggal di sanatorium,” kata Nora.

“Jangan bodoh. Apakah kau tidak lebih senang ikut bersamaku ke desa? Itu yang akan kita lakukan, sayang. Kau dan aku, berdua saja, seperti yang kita sukai. Kita bisa membicarakan semuanya di sana.” Clara telah menyelesaikan pekerjaan dengan siletnya. Lalu ia memberi salep penenang yang ditinggalkan Dr. Higginson, pada luka bakar Nora. “Tetapi kau harus mengatakan pada mereka.”

“Apa yang harus kukatakan pada mereka?”

“Yah, bahwa kau memang melakukan ini semua sendiri. Kau sangat marah pada kami semua: George, ibumu, dan ayahmu, bahkan padaku juga. Kau berusaha membalas dendam pada kami.”

“Tidak, aku tidak akan pernah bisa marah padamu.”

“Oh, sayang, aku juga tidak bisa marah padamu.” Clara mengalihkan perhatiannya pada dua luka sayatan di paha Nora. Pada luka itu ia juga memberi salep dokter. Ia menggerakkan jemarinya dengan lembut, berputar-putar. “Tetapi kau harus mengatakan pada mereka sekarang. Katakan pada mereka betapa kau menyesal atas segalanya. Kau akan merasa sangat tenang. Lalu kau boleh ikut bersamaku selama kau mau.”

9

WALAUPUN PENUH DENGAN SEMANGAT, Hugel jarang mengubah kemarahan menjadi kegembiraan lalu menjadi murung secepat yang dilakukannya ketika mendengarkan laporan D etektif Littlemore tentang kejadian-kejadian di rumah Acton tadi pagi.

Littlemore telah berusaha untuk menarik perhatian ahli otopsi itu pada kasus Elsie Sigel, tetapi Hugel mengabaikannya. Hugel hanya mendengar tentang teriakan-teriakan di rumah Acton secara kebetulan dari salah satu dari kurirnya. Ia marah atas dasar mengapa mereka memberi tahu Littlemore tetapi tidak memberitahukannya? Lalu ketika mendengar cerita Nora, Hugel bersorak, “Ha! Sekarang kita bisa menangkapnya! Sudah Aku katakan padamu, bukan?” Akhirnya, ia mengetahui tentang penemuan gincu, rokok dan cemeti yang ada di kamar gadis itu. Ia duduk melorot lagi di atas kursinya.

“Tamatlah sudah,” kata Hugel lirih. Wajahnya mulai berubah menjadi gelap, “Gadis itu harus dirawat.”

“Tidak, tunggu, dengarkan yang ini.” Littlemore menceritakan tentang peniti dasi yang telah diketemukan itu.

Hugel hampir tidak terkesan akan berita itu. “Terlalu kecil, terlambat,” katanya muram. Ia menggerutu dengan kesal. “Aku percaya semua yang dikatakan gadis itu. Gadis itu harus diasingkan, kau dengar aku?”

“Kau pikir ia tidak waras?”

Ahli otopsi menghela nafas dalam. “Aku mengucapkan selamat padamu, Detektif, atas logikamu yang tajam. Kasus Riverford-Acton sekarang sudah tertutup. Beritahu pak Walikota. Aku tidak mau berbicara dengannya.”

Detektif Littlemore mengedipkan matanya dengan bingung. “Kau tidak bisa menutup kasus itu.”

“Tidak ada kasus,” kata Hugel, “aku tidak bisa menuntut sebuah pembunuhan tanpa ada corpus delicit. Kau mengerti? Tidak ada pembunuhan tanpa ada mayatnya. Dan aku tidak dapat menuntut sebuah penyerangan tanpa adanya penyerang itu. Apakah kita harus menuduh Nona Acton melakukan penganiayaan terhadap dirinya sendiri?”

“Tunggu, aku bahkan belum mengatakan padamu. Ingat lelaki berambut hitam? Aku tahu ke mana ia pergi. Pertama-tama ia pergi ke Hotel Manhattan, lalu pergi ke sebuah rumah pelacuran di Jalan Fortieth. Aku juga sudah pergi ke rumah pelacuran itu sendiri, dan seorang mucikarinya memberitahuku tentang Harry Thaw, yang… “

“Apa yang kau bicarakan, Littlemore?”

“Harry Thaw, lelaki yang membunuh Stanford White.”

“Aku tahu siapa Harry Thaw,” kata Hugel dengan penuh menahan diri.

“Kau tidak akan memercayai ini, tetapi jika bukan lelaki Cina itu pembunuhnya, kukira Harry Thaw mungkin orang yang kita cari.”

“Harry Thaw.”

“Ia selamat, ingat? Bebas dari tuduhan,” kata Littlimore, “Well, pada persidangannya, ia mendapatkan alibi dari istrinya, dan…”

“Kau juga akan melibatkan Harry Houdini ke dalam kasus ini?”

“Houdini? Houdini seniman ahli membebaskan diri?” “Aku tahu siapa Houdini,” kata ahli otopsi dengan sangat lirih.

“Mengapa aku harus melibatkan dirinya?” Tanya Littlemore.

“Karena Harry Thaw ada di dalam penjara, Detektif. Ia

tidak bebas dari hukuman. Ia dikurung di Matteawan State. Rumah Sakit Jiwa bagi Penjahat.”

“Begitukah? Kukira ia bebas, tetapi kemudian…, kalau begitu ia tidak mungkin orang yang kita cari.”

“Memang bukan.”

“Aku tidak mengerti. Mucikari itu, yang rumahnya dimasuki lelaki berambut hitam… 11

“Lupakan lelaki berambut hitam!” bentak Hugel, “tidak ada yang mendengarkan aku dalam segala peristiwa. Aku menulis laporan, tidak ada yang membacanya. Aku memutuskan untuk menangkap seseorang, keputusanku diabaikan. Aku menutup kasus itu.”

“Tetapi benang itu,” tanya Littlemore, “rambut itu. Luka itu. Kau sendiri yang mengatakannya, kau sendiri yang mengatakannya.”

“Apa yang kukatakan?”

“Kau mengatakan lelaki yang membunuh Nona Riverford jugalah yang menyerang Nora Acton. Kau bilang ada buktinya. Itu artinya Nona Acton tidak mengada-ada. Penyerangan itu memang ada. Kasus memang ada. Seseorang menyerang Nona Acton pada hari Senin.”

“Apa yang kukatakan, Detektif, adalah bukti jasmani yang cocok dengan penyerangnya yang sama dalam kedua kasus itu, bukankah sudah terbukti. Baca laporanku.”

“Kau tidak mengira Nona Acton…, mencambuki diri sendiri, bukan?”

Hugel menatap lurus ke depan dengan matanya yang kurang tidur dan muram, “Menjijikan.”

“Lalu bagaimana dengan peniti dasi itu? Kau mengatakan ada peniti dasi dengan hiasan initial Banwell. Bukankah itu yang benar-benar kau cari?”

“Littlemore, kau punya telinga, kan? Kau mendengar apa yang dikatakan Riviere. Initial yang tercetak pada leher Elizabeth Riverford bukanlah GB, aku salah,” gerutu Hugel dengan marah, “aku membuat kesalahan berturut-turut.”

“Lalu mengapa ada juga yang terselip, peniti itu, di pohon sana?”

“Bagaimana aku tahu?” bentak Hugel, “mengapa tidak kau tanyakan padanya? Kita tidak punya apa-apa. Tidak ada apa-apa. Hanya gadis celaka itu. Tidak ada juri di negeri ini yang akan memercayainya sekarang. Mungkin ia sendiri yang meletakkan peniti itu di pohon. Ia…, ia seorang psikopat. Mereka pastilah menyingkirkannya.”

g

SANDOR FERENCZI, tersenyum dan mengangguk dengan yakin, lalu berjalan mundur ke arah pintu kamar hotel Jung seperti seorang pesuruh yang mengundurkan diri dari hadapan seorang raja. Ia sebelumnya, telah dengan keraguan melaksanakan permintaan Freud untuk menemui Jung sendirian.

“Katakan aku akan menemuinya dalam sepuluh menit,” jawab Jung, “dengan senang hati.”

Semula Ferenczi menduga akan menemui seorang Swiss yang sedang tersinggung, namun ternyata Jung tampak tenang dan menyambutnya. Ferenczi merasa aneh sekali ketika akan memberitahu Freud bahwa perangai Jung telah berubah. Lebihlebih ia harus memberi tahu apa yang sedang dilakukan Jung di kamarnya.

Ratusan kerikil dan batu kecil, bersama dengan sepelukan ranting patah dan rumput berserakan di lantai

kamar Jung. Ferenczi tidak dapat membayangkan dari mana semua itu berasal. Mungkin dari area pembangunan, yang tampak ada di mana-mana di New York. Jung sendiri sedang duduk bersila di atas lantai, bermain dengan benda-benda tersebut. Ia telah mendorong semua perabotan ho-tel yang berupa kursi berlengan, lampu, meja ke tepi, sehingga di ruang itu hanya tersisa lantai kosong. Di tengah-tengahnya, Jung membangun sebuah desa dari batu-batu dengan belasan rumah kecil mengelilingi sebuah puri. Setiap rumah memiliki sebidang tanah kecil berumput di belakangnya, mungkin juga kebun sayuran atau halaman belakang. Di tengah puri, Jung mencoba menanam sebuah garpu bercabang dengan rumput panjang terikat pada garpu itu, tetapi ia tidak dapat membuatnya berdiri tegak. Karena itulah, Ferenczi menduga, Jung memerlukan waktu sepuluh menit sebelum datang menemui Freud. Mungkin, kata Ferenczi, keterlambatan itu tidak ada hubungannya dengan senjata revolver yang terletak di atas meja Jung.

g

JELAS TIDAK MUNGKIN jika sebuah rumah dianggap memiliki ekspresi. Tetapi aku berani bersumpah, begitulah adanya ketika pada Kamis siang, aku mendekati rumah keluarga Acton yang terbuat dari batu kapur di Gramercy Park. Sebelum ada yang membukakan pintu, aku tahu ada sesuatu yang salah di dalamnya.

Ibu Biggs membiarkanku masuk. Perempuan itu benar-benar memeras-meras tangannya sendiri. Dengan bisikan kecemasan, ia mengatakan padaku bahwa ini semua kesalahannya. Ia hanya sedang membereskan kamar,

katanya. Seharusnya ia tidak perlu memberitahu siapa pun tentang apa yang diketahuinya.

Perlahan-lahan Ibu Biggs menjadi tenang, dan aku mengetahui darinya tentang segala kekacauan yang terjadi pada malam sebelumnya, termasuk ditemukannya rokok yang membuka rahasia. Setidaknya, kata Ibu Biggs dengan perasaan lega, Nyonya Banwell sedang berada di atas. Wajar saja jika pelayan tua itu menganggap bahwa Clara Banwell mampu mengatasi hal-hal tersebut lebih baik dibandingkan dengan ibu dan ayah gadis itu sendiri. Ibu Biggs meninggalkan aku di ruang duduk. Limabelas menit kemudian, Clara Banwell masuk.

Nyonya Banwell berpakaian untuk bepergian. Ia mengenakan sebuah topi kecil sederhana dengan sebuah cadar yang sangat tipis serta ringan. Ia membawa sebuah payung yang, terlihat dari gagangnya, pasti sangat mahal. “Maafkan aku, Dr. Younger,” katanya, “aku tidak mau menunda pertemuanmu dengan Nora. Tetapi bolehkah aku berbicara sebentar denganmu sebelum aku pergi?”

“Tentu saja, Nyonya Banwell.”

Ketika ia melepaskan topi dan cadarnya, aku tidak sanggup untuk tidak melihat bulu mata panjang dan tebalnya. Semua itu terletak pada matanya yang cemerlang dan menampakkan kecerdasanya. Ia bukanlah salah satu peri dari Ibu Wharton yang “tunduk pada adat.” Bahkan, adat santun itu mempercantiknya. Seolah segala tata cara kami telah diciptakan justru untuk memamerkan tubuhnya, kulit sewarna gadingnya dan mata hijaunya. Aku tidak dapat menyebutkan ekspresinya, karena ia berhasil menampilkan kesan bangga sekaligus ringkih.

“Aku tahu apa yang telah dikatakan Nora padamu,” katanya, “tentang diriku. Aku belum tahu tadi malam.”

“Maafkan aku,” kataku, “itu risiko yang kurang menyenangkan bila menjadi seorang dokter.”

“Kau mengira pasienmu mengatakan yang sebenarnya?”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Yah, dalam hal ini, itu benar,” katanya, “Nora melihatku bersama ayahnya, tepat seperti yang diceritakannya padamu. Tetapi karena kau mengetahui begitu banyak, aku ingin kau mengetahui kejadian selanjutnya. Aku tidak melakukan hal itu tanpa pengetahuan suamiku.”

“Aku yakinkan kau, Nyonya Banwell..,”

“Kumohon, jangan. Kau pikir aku membenarkan dirku sendiri.” Ia mengambil selembar foto dari rak di atas perapin. Foto Nora ketika berusia tigabelas atau empatbelas tahun. “Aku sangat jauh dari pembenaran diri, Dokter. Apa yang ingin kukatakan padamu adalah demi Nora, bukan diriku sendiri. Aku ingat ketika mereka pindah kembali ke rumah ini. George membangun rumah ini untuk mereka. Nora sangat menarik, baru empatbelas tahun. Orang merasakan dewi-dewi segera menyingkirkan perbedaan-perbedaan mereka dan menyatukan diri mereka sebagai persembahan bagi Zeus. Aku tidak mempunyai anak, Dokter.”

“Oh, aku mengerti.”

“Kau mengerti? Aku tidak punya anak karena suamiku tidak membiarkan aku hamil. Katanya itu akan merusak penampilanku. Suamiku dan aku tidak pernah melakukan hubungan seks yang biasa dilakukan orang. Tidak satu kali pun. Ia tidak pernah mengizinkannya.”

“Mungkin ia impoten.”

“George?” Clara tampak geli karena pikiran itu. “Sulit dipercaya jika ada seorang lelaki akan dengan

suka rela menahan diri dalam keadaan seperti itu.”

“Aku yakin kau sedang memujiku, Dokter. Well, George tidak menahan dirinya. Ia membuatku melayaninya dengan…, cara lain. Untuk hubungan yang seperti biasanya, ia melakukan hubungan badan dengan wanita lain. Suamiku menuntut banyak pada wanita muda yang ditemuinya, dan ia memperolehnya. Ia menginginkan Nora. Lalu seperti yang telah terjadi, ayah nora menginginkan aku. George menyuruhku merayu Harcourt Acton. Tentu saja aku tidak diperbolehkan melakukan bersama Harcourt apa yang dilarang suamiku sendiri. Cara itulah yang dilihat Nora.”

“Suamimu percaya bahwa ia dapat membuat Acton menjual putrinya sendiri?”

“Harcourt tidak diminta untuk benar-benar menyerahkan Nora, Dokter. Yang dibutuhkan suamiku hanyalah Harcourt merasa kebahagiaannya tergantung pada diriku sehingga ia akan menentang, sangat menentang, segala keretakan yang muncul di antara keluarganya dan keluarga kami. Karena itu ketika tiba saatnya, Harcourt akan menjadi buta matanya dan tuli telinganya.”

Aku mengerti. Setelah Nyonya Banwell memulai hubungan dengan Tuan Acton, George Banwell mulai merayu Nora. Strateginya itu terbukti berhasil. Ketika Nora memprotes ayahnya, dan memohonnya untuk mengusir Banwell, Tuan Acton memilih untuk tidak memercayai putrinya, bahkan memarahinya—sebagaimana yang diceritakan Nora kepadaku, seolah dialah yang melakukan kesalahan. Bagi ayahnya, Nora memang telah berbuat kesalahan, karena telah mengancam hubungannya dengan Nyonya Banwell.

“Kau pasti sedang berpikir seperti apakah hal itu terjadi,” tambah Nyonya Banwell, “bagi seorang lelaki seperti Harcourt Acton ketika ditawari sesuatu yang semula hanya dapat diimpikannya - memang, apa yang ia tidak memiliki adalah keberanian walaupun untuk sekadar memimpikannya saja. Aku benar-benar percaya bahwa lelaki itu akan melakukan apa pun yang kuminta.”

Aku merasakan tekanan yang ganjil tepat di bawah tulang dadaku. “Apakah suamimu mendapatkan apa yang diinginkannya?”

“Apakah kau bertanya dengan alasan profesional, Dokter?”

“Tentu saja.”

“Tentu saja. Jawabannya, aku yakin, tidak. Belum, bagaimanapun.” Clara mengembalikan foto Nora pada tempatnya di atas rak perapian, di samping sebuah foto kedua orang tua gadis itu. “Dalam segala kesempatan, Dokter, Nora tahu bahwa aku…, tidak bahagia dalam perkawinanku. Aku percaya bahwa sekarang ia berusaha untuk menyelamatkan aku.”

“Bagaimana?”

“Nora memiliki khayalan yang luar biasa. Kau harus ingat bahwa walau dari pandangan mata lelakimu, Nora tampak seperti seorang wanita, sebuah piala yang siap untuk direbut. Namun sesungguhnya ia masih kanak-kanak. Seorang anak yang orang tuanya sama sekali tidak mengerti dirinya. Seorang anak semata wayang. Nora hampir hidup sendirian di dunianya sepanjang umurnya.”

“Kau mengtakan ia berusaha menyelamatkanmu. Bagaimana?”

“Ia mungkin percaya bahwa ia mampu memenjarakan George dengan mengatakan pada polisi bahwa George telah menyerangnya. Ia bahkan mungkin percaya bahwa

George memang melakukannya. Mungkin kami telah berlebihan memperlakukan anak malang itu, dan ia menderita delusi.”

“Atau memang mungkin suamimu menyerangnya.”

“Aku tidak mengatakan George tidak mampu melakukan hal itu. Jauh dari itu. Suamiku mampu melakukan hampir segala hal. Tetapi dalam hal ini, ia tidak melakukannya. George pulang ke rumah kemarin malam, tepat ketika aku kembali dari pesta itu. Waktu itu pukul setengah duabelas. Nora mengatakan ia belum masuk kamarnya sebelum pukul duabelas lebih seperempat.”

“Suamimu mungkin saja keluar lagi pada tengah malam, Nyonya Banwell.”

“Ya, aku tahu, ia mungkin saja melakukan hal itu pada malam-malam lainnya. Tetapi tidak malam itu. Kau tahu, ia terlalu sibuk bersamaku sepanjang malam.” Clara tersenyum simpul, ironis, senyuman yang sempurna, dan tanpa sadar mengusap pergelangan tangannya sendiri. Lengan panjang gaunnya menutupi pergelangan tangannya, namun ia melihat aku menatapnya. Ia menghela nafas dalam. “Kau mungkin juga tahu.”

Ia menghampiriku, sangat dekat, sehingga aku dapat melihat kerlipan berlian pada lubang telinganya dan harum rambutnya. Ia menarik lengan gaunnya sedikit dan memperlihatkan bekas luka yang masih baru, asli, pada kedua pergelangan tangannya. Aku pernah mendengar ada lelaki yang mengikat perempuan untuk kesenangannya. Aku tidak bisa yakin itu adalah penyebab memar pada kulit Clara yang diperlihatkan padaku. Namun jelas, gambaran itulah yang muncul dalam benakku.

Ia tertawa ringan. Suaranya kering, tetapi bukan muram. “Aku pelacur, Dokter, namun sekaligus juga seorang perawan. Kau pernah mendengar hal seperti itu?”

“Nyonya Banwell, aku bukan seorang pengacara, tetapi aku percaya kau memiliki lebih dari banyak alasan untuk perceraian. Memang, mungkin saja kau bahkan belum menikah secara hukum sama sekali, karena pernikahan kalian belum pernah disempurnakan.”

“Perceraian? Kau tidak tahu George. Ia akan membunuhku lebih dulu sebelum melepaskan diriku.” Ia tersenyum lagi. Aku tidak bisa untuk tidak membayangkan bagaimana rasanya mencium wanita itu. “Dan siapa yang akan memilikiku, Dokter? Jika aku bisa pergi? Lelaki mana yang mau menyentuhku, setelah mereka tahu apa yang telah kulakukan?”

“Lelaki mana saja,” kataku.

“Kau baik, tetapi kau berbohong.” Ia menatapku, “kau berbohong dengan begitu keji. Kau bisa saja menyentuhku sekarang. Tetapi kau tidak akan pernah.”

Aku menatap wajah sempurnanya, yang tak terbandingkan. “Tidak, Nyonya Banwell, aku tidak akan pernah melakukannya. Tetapi bukan karena alasan yang kau katakan.”

Ketika itu, Nora Acton muncul di pintu.

g

USAI BERBINCANG-BINCANG DENGAN ahli otopsi, detektif Littlemore berjalan tanpa tergesa-gesa seperti biasanya. Kabar bahwa Harry Thaw masih dipenjara di rumah sakit sangat mengejutkannya. Sejak ia membaca catatan pengadilan Thaw, Littlemore membayangkan bahwa kasus itu lebih besar daripada yang diketahui siapa pun. Padahal ia sendiri sudah berada di tepian untuk

membongkarnya. Bahkan sekarang ini ia tidak menyadari apakah kasus itu memang masih ada untuk dipecahkan.

Detektif Littlemore telah membangun rasa hormat Ahli otopsi Hugel kepada dirinya, walau dengan segala ledakan kemarahan dan keistimewaannya. Littlemore merasa yakin bahwa Hugel dapat memecahkan kasus itu. Polisi seharusnya tidak boleh menyerah begitu saja. Begitu juga Ahli otopsi. Hugel terlalu pandai untuk itu.

Littlemore percaya pada kesatuan polisi. Ia telah mengabdi di sana selama delapan tahun. Ketika itu ia berbohong tentang usianya supaya dapat menjadi seorang petugas pemukul genderang patroli yunior. Itu adalah pekerjaan pertama yang dia dapatkan, dan ia akan terus terikat pada satuannya. Ia senang hidup di dalam barak polisi saat pertama kali bergabung. Ia suka makan bersama polisi lainnya sambil mendengarkan kisah-kisah mereka. Ia tahu ada beberapa orang polisi yang tidak baik, tetapi ia menganggapnya sebagai pengecualian. Jika kalian berkata padanya, misalnya, bahwa pahlawannya, Sersan Becker, memeras setiap rumah pelacuran dan kasino untuk mendapatkan uang keamanan, Littlemore akan menganggapmu sedang mengoloknya. Jika kau mengatakan padanya komisioner polisi yang baru ingin ikut bermain, ia akan mengira kau gila. Pendeknya, sang detektif sangat menghormati atasannya di kepolisian, sementara Hugel telah mengecewakannya.

Tetapi Littlemore tidak pernah berbalik menentang orang yang mengecewakannya. Reaksinya bahkan sebaliknya. Ia ingin agar Hugel kembali berusaha. Ia harus menemukan sesuatu yang akan meyakinkan Hugel bahwa kasus tersebut masih terus berlangsung. Sejak awal Hugel yakin bahwa Banwell adalah pelakunya. Mungkin saja

selama ini memang ia benar.

Yang pasti, Littlemore lebih memercayai Walikota McClellan daripada pada Hugel, apalagi Walikota telah memberikan alibinya untuk memperkuat Banwell atas kasus Nona Riverford. Tetapi mungkin saja Banwell memiliki seorang kaki tangan—mungkin seorang lelaki Cina. Bukankah Banwell sendiri yang mengambil Chong Sing untuk bekerja di binatu Balmoral? Dan sekarang ternyata pembunuh Nona Riverford mungkin bukan penyerang Nona Acton. Itulah yang dikatakan Hugel padanya. Jadi, mungkin kaki tangan Banwell membunuh Nona Riverford, dan Banwell menyerang Nona Acton. Bagi Littlemore, berdasarkan teori ini, Hugel mungkin masih melakukan kesalahan. Tetapi detektif itu tidak menganggap Hugel salah mutlak, karena ia masih terus mempertinggi pengakuannya akan kemampuan Hugel. Littlemore pun tahu Hugel mau saja mengakui kesalahan dalam rinciannya, jika ternyata ia memang benar dalam keseluruhan kasus.

Karena sadar bahwa ia memiliki kasus yang harus diselesaikan, detektif itu pun menambah kecepatan langkahnya. Pertama, ia pergi ke kantor pusat dan bertemu dengan Louis Riviere di ruang gelap bawah tanah. Littlemore bertanya pada Riviere apakah ia bisa mencetak gambar terbalik dari foto yang memperlihatkan tanda pada leher Elizabeth Riverford. Lelaki Perancis itu mengatakan bahwa Littlemore bisa kembali pada sore hari untuk mengambilnya. “Bisakah kau memperbesarnya untukku, Louie?” Pinta Littlemore.

“Mengapa tidak?” Kata Riviere, “Mataharinya sedang cerah.”

Setelah itu sang detektif menuju kota. Ia menumpang kereta api untuk menuju Jalan Forty-second selanjutnya berjalan kaki ke rumah Susie Merrill. Tidak seorang pun yang membukan pintu, maka ia menuju blok dan menyeberangi jalan. Satu jam kemudian, Susie, yang berbadan gemuk, keluar mengenakan topi besar lainnya. Yang ini berhiaskan tumpukan buah-buahan. Littlemore mengikutinya ke sebuah restoran Child’s Lunch Room di Broadway. Ia duduk di dalam sebuah but sendirian. Littlemore menunggu hingga ia dilayani dan melihat apakah ada orang lain yang akan muncul. Ketika Susie mulai menyantap makanan daging cincang bercampur kentangnya, Littlemore menyelinap duduk di depannya.

“Halo Susie,” katanya, “aku sudah menemukan apa yang kau inginkan agar aku menemukannya.”

“Apa yang kau lakukan di sini? Keluar. Aku sudah mengatakan kalau aku tidak mau terlibat.”

“Kau tidak mengatakannya.”

“aYah, sekarang aku katakan itu padamu,” cetus Susie, “kau mau kita berdua terbunuh?”

“Oleh siapa, Susie. Thaw berada di penjara orang gila di kota.”

“Oh, begitu?”

“Ya.”

“Kukira ia tidak bisa menjadi pembunuhmu, kalau begitu,” kata Susie. “Kukira tidak.”

“Jadi tidak ada yang harus dibicarakan, bukan?”

“Jangan sembunyikan apa pun dariku, Susie.”

“Kau mau terbunuh, itu tidak masalah bagiku. Tetapi jangan libatkan aku.” Ibu Merrill berdiri, sambil meletakkan tigapuluh sen di atas meja: lima sen untuk kopinya, duapuluh sen untuk daging cincang dan telurnya, dan lima sen lagi untuk pelayan. “Aku punya bayi di rumah,” katanya.

Littlemore meraih lengannya. “Pikirkan ini Susie. Aku ingin jawaban dan aku akan kembali untuk mengambilnya.”

Delapanbelas

CLARA BAN WELL TIDAK memperlihatkan kecanggungan yang kurasakan di bawah tatapan dingin Nora. Ia mengisi udara dengan katakata selamat tinggal yang mudah mengalir begitu saja, seakan kami tidak pernah kedapatan berdiri berdua hanya beberapa inci jaraknya. Ia mengulurkan tangannya padaku, mencium pipi Nora, dan dengan penuh perhatian menambahkan bahwa kami tidak perlu mengantarnya hingga ke pintu. Ia tidak mau menunda perawatan Nora lebih lama lagi. Beberapa detik kemudian aku mendengar pintu depan tertutup di belakangnya.

Nora berdiri tepat di tempat yang sama yang telah ditempati Nyonya Banwell sebelumnya. Aku tidak mempunyai hak untuk menilai penampilannya, karena kejadian yang mengerikan malam sebelumnya. Tetapi aku tidak dapat menahan diri. Itu adalah mustahil. Seseorang bisa saja berjalan sekian mil di New York City—seperti yang kulakukan pagi ini—atau bermalam satu bulan di Grand Central Station, namun tidak akan pernah melihat sorang wanita dengan kecantikan fisik yang luar biasa. Belum berlalu lima menit, dua orang wanita cantik berdiri menghadapku di ruang duduk Acton. Tetapi betapa berbedanya kedua wanita itu.

Nora tidak mengenakan riasan wajah, tidak ada perhiasan, bahan pakaiannya tidak berenda. Ia tidak membawa payung, tidak mengenakan cadar. Ia mengenakan blus sederhana berwarna putih, lengan bajunya hanya mencapai siku. Blusnya diselipkan pada pinggangnya yang luar biasa ramping ke dalam rok berlipit berwarna biru langit. Bagian atas blusnya dengan lembut mengelopak terbuka menampakkan tulang selangka yang lembut dan leher jenjangnya yang indah. Leher itu sekarang nyaris tak ternoda, memarnya telah menghilang. Rambut pirangnya ditarik ke belakang seperti biasa dalam kepang yang hampir mencapai pinggangnya. Seperti yang dikatakan Nyonya Banwell, Nora masih muda. Rona mudaannya mencuat dari setiap lekuk lekung tubuhnya. Terutama warna lembut pada pipi dan matanya yang memancarkan harapan muda, kesegarannya, dan aku harus menambahkan, juga kemarahannya saat itu.

“Aku membencimu lebih dari aku membenci siapa pun yang pernah kukenal,” katanya kepadaku.

Jadi, aku sekarang, lebih dari yang dulu, terangkat ke posisi ayahnya. Seolah dibawa oleh kenyataan yang tidak dapat dihindari, Nora telah mendatangiku, seperti Clara Banwell yang bertemu secara rahasia bersama ayahnya di sebuah ruang baca. Lalu Clara Banwell bersama ayahnya di ruang baca lainnya—tiga tahun yang lalu. Namun keadaanku tadi berbeda—karena memang tidak ada apa-apa di antara Nyonya Banwell dan aku sendiri—namun hal itu tidak dipahami Nora. Tidak mengherankan. Karena bukan aku yang ditatapnya dengan marah sekarang. Tetapi ayahnya, yang berbusana diriku. Jika aku berusaha mengeratkan perpindahan analitis, aku tidak dapat menemukan cara yang lebih baik. Seandainya aku sedang

berharap untuk membawa analisa hingga mencapai puncaknya, aku tidak dapat berharap konspirasi kejadian yang lebih menguntungkan dari ini. Aku sekarang memiliki kesempatan dan kewajiban untuk mencoba memperlihatkan pada Nora kekeliruan pemindahan yang terjadi di dalam benaknya. Aku ingin ia dapat mengenali bahwa kemarahan yang dibayangkan dan ia rasakan kepadaku adalah sebenarnya kemarahan yang salah arah, yang seharusnya ditujukan pada ayahnya.

Dengan kata lain, aku harus menguburkan emosiku sendiri. Aku harus menutupi setidaknya sepenggal perasaanku padanya, betapa pun tulusnya itu, betapa pun tak kuasanya aku. “Maka aku dirugikan dalam hal ini, Nona Acton,” aku menjawab, “karena aku mencintaimu lebih dari aku mencintai siapa pun yang pernah kukenal.”

Sunyi yang sempurna menyelimuti kami selama beberapa kali degupan jantung.

“Kau merasa begitu?” Tanya Nora. “Ya.”

“Tetapi kau dan Clara tadi sedang… 11

“Kami tidak sedang apa-apa. Aku bersumpah.”

“Kalian tidak?”

“Tidak.”

Nora mulai bernafas dengan berat. Terlalu berat: Baju luarnya tidak terlalu ketat, tetapi tampaknya ia mengenakan sesuatu di baliknya. Nafasnya benar-benar terpusat di bagian atas tubuhnya. Karena aku khawatir ia akan pingsan, aku membawanya ke pintu depan dan membukanya. Ia membutuhkan udara. Di seberang jalan ada semacam hutan kecil di Gramercy Park. Nora melangkah keluar. Aku sarankan ia memberi tahu orang tuanya jika ia ingin keluar.

“Mengapa?” Tanyanya padaku, “Kita hanya pergi ke taman saja.”

Kami menyeberangi jalan, pada salah satu pagar besi yang ditempa, Nora mengeluarkan sebuah anak kunci berwarna emas dan hitam. Ada saat-saat aku merasa kikuk ketika aku membantunya membuka gerbang. Yaitu sebuah keputusan yang harus diambil apakah aku harus menawarkan lenganku ketika berjalan. Aku memutuskan untuk tidak.

Dilihat dari sisi terapis, aku sedang dalam masalah besar. Aku tidak takut bagi diriku sendiri, walau mengagumkan juga bahwa perasaanku terhadap gadis ini tampak tidak terpengaruh dengan kenyataan bahwa mungkin ia tidak stabil, atau bahkan, secara mental ia terganggu. Jika Nora memang benar-benar membakar dirinya sendiri, ada dua kemungkinan. Apakah ia melakukannya dengan sengaja, penuh kesadaran, dan

berdusta pada dunia. Atau ia melakukannya dalam keadaan tidak sadar, dihipnotis, atau mengigau, yang artinya betulbetul dalam keadaan tidak sadar. Secara keseluruhan, aku lebih suka pada pilihan pertama, tetapi kedua-duanya tidak menarik sebenarnya. Aku tidak menyesal telah mengakui perasaanku padanya. Keadaan itu memaksa tanganku. Ketika aku menyatakan cintaku baginya mungkin merupakan kehormatan, tetapi jika aku bertindak, mungkin dampaknya akan sebaliknya. Penjahat terendah pun tidak akan mengambil keuntungan dari keadaan gadis itu. Aku harus menemukan jalan untuk membuatnya mengerti akan hal itu. Aku harus melepaskan diri dari peran kekasih, karena itu aku hanya harus bersikap sebagai dokternya lagi. “Nona Acton,” kataku.

“Tidak maukah kau memanggilku Nora, Dokter?”

“Tidak.”

“Mengapa?”

“Karena aku masih doktermu. Kau tidak boleh menjadi Nora bagiku. Kau adalah pasienku.” Aku tidak yakin bagaimana ia menerima keadaan itu, tetapi aku melanjutkan. “Katakan apa yang terjadi tadi malam. Tidak, tunggu, kau mengatakan di hotel, kemarin bahwa memorimu akan peristiwa penyerangan pada hari Senin telah kembali. Katakan dulu padaku apa yang kau ingat tentang hal itu.”

“Haruskah?”

“Ya.”

Ia bertanya apakah kami boleh duduk, dan aku menemukan sebuah bangku yang terpisah di sudut. Ia masih tidak tahu, katanya, bagaimana semuanya bermula atau bagaimana ia bisa ingat. Bagian dari ingatannya masih hilang. Apa yang diingatnya hanya dirinya terikat di kamar orang tuanya. Ia berdiri, terikat pada pergelangan tangan dengan sesuatu di atas kepalanya. Ia hanya mengenakan celana dalamnya. Semua tirai dan penutup jendela diturunkan.

Lelaki itu ada di belakangnya. Ia telah mengikatkan secarik kain lembut—mungkin sutera—di sekitar lehernya lalu menariknya hingga sangat kuat dan ia tidak dapat bernafas, apalagi berteriak. Lelaki itu juga memukulinya dengan cemeti atau cambuk bergagang. Sakit juga, tetapi masih bisa tertahan—yang lebih mirip pukulan pada bokong. Namun jeratan sutera pada lehernyalah yang membuatnya ketakutan. Ia mengira lelaki itu akan membunuhnya. Tetapi setiap kali ia nyaris pingsan, lelaki itu akan mengendurkan jeratan sedikit saja, hanya cukup

untuk bernafas.

Lelaki itu mulai memukulinya dengan lebih keras. Nora merasa tidak tahan karena pukulannya menjadi semakin kuat. Lalu lelaki itu menjatuhkan cambuknya, melangkah ke belakang Nora, begitu dekat sehingga ia dapat merasakan nafas kasar lelaki itu pada bahunya. Lelaki itu meletakkan tangannya pada Nora. Nora tidak menyebutkan di mana letak tangan itu; aku pun tidak bertanya. Pada saat yang sama, sebagian dari tubuh lelaki itu-11 bagian yang keras,” kata N ora—menyentuh pinggulnya. Lelaki itu mengeluarkan suara yang tidak menyenangkan, kemudian membuat kesalahan yaitu tibatiba ikatan di sekitar leher Nora menjadi kendur. Nora menarik nafas panjang dan berteriak sekuat tenaganya dan sepanjang mungkin. Setelah itu pastilah ia pingsan. Yang ia tahu kemudian adalah Ibu Biggs sudah berada di sampingnya.

Nora menjaga sikapnya sewaktu menceritakan segalanya, tangannya pun terlipat di atas pangkuannya. Tanpa mengubah sikapnya, ia bertanya, “Kau merasa jijik padaku?”

“Tidak,” begitu kataku, “dalam ingatanmu tentang serangan itu, apakah lelaki itu adalah Banwell?”

“Kukira begitu. Tetapi Walikota McClellan mengatakan…”

“Walikota McClellan mengatakan bahwa Banwell bersamanya pada hari Minggu malam, ketika seorang gadis lainnya dibunuh. Jika kau ingat Banwell adalah penyerangmu, kau harus mengatakannya.”

“Aku tidak tahu,” kata Nora dengan penuh lara, “kupikir begitu. Aku tidak tahu. Ia berada di belakangku selama itu.”

“Ceritakan padaku tentang kejadian tadi malam,” kataku.

Lalu ia menumpahkan kisah tentang penyelusup di dalam kamarnya. Kali ini, katanya, ia yakin bahwa lelaki itu adalah Banwell. Ketika kisahnya hampir selesai, Nora tampak berpaling dariku satu kali lagi. Apakah ada yang tidak dikatakannya? “Aku bahkan tidak punya gincu,” katanya mengakhiri kisahnya dengan bersungguh-sungguh, “dan barang-barang mengerikan yang mereka temukan di lemariku. Dari mana aku bisa mendapatkan barang-barang seperti itu?”

Aku membuat pernyataan tegas. “Kau sekarang mengenakan riasan wajah.” Ada bayangan mengkilap begitu samar pada bibirnya, dan pemerah yang sangat redup pada pipinya.

“Ini punya Clara!” Teriaknya, “ia yang memakaikannya padaku. Katanya aku akan cocok mengenakannya.” Kami duduk dalam diam sejenak.

Akhirnya Nora bicara, “Kau tidak percaya sama sekali padaku?”

“Aku tidak percaya kalau kau sedang berbohong padaku.”

“Tetapi aku sudah berbohong,” katanya, “baru saja.” “Kapan?”

“Ketika aku mengatakan bahwa aku membencimu,” katanya setelah terdiam sekian lama.

“Katakan apa yang kau sembunyikan.” “Apa maksudmu?” Tanyanya.

“Ada sesuatu yang lain tentang tadi malam…, yang kau ragu-ragu menceritakannya.”

“Bagaimana kau tahu?” Tanyanya. “Ceritakan saja padaku.”

Dengan enggan, ia mengakui kalau memang ada bagian yang tak dapat dijelaskan dari kejadian itu. Ia melihat kejadian mengerikan itu tanpa halangan, karena ia melihatnya dari satu arah yang sangat baik, bukan dari arah yang sama tinggi dengan matanya, namun dari atas dirinya sendiri dan di atas penyelusup itu juga. Ia benar-benar melihat dirinya terbaring di atas tempat tidurnya seolah ia adalah penonton kejadian itu, bukan korbannya. “Bagaimana hal itu bisa terjadi, Dokter?” Tanyanya sambil menangis lirih, “itu tidak mungkin, bukan?”

Aku ingin menghiburnya, tetapi apa yang harus kukatakan kelihatannya tidak akan membuatnya tenang. “Apa yang tadi kau jelaskan adalah bagaimana kita melihat hal-hal itu seperti dalam mimpi.”

“Tetapi jika aku bermimpi, bagaimana aku bisa terluka bakar?” Bisiknya, “aku tidak melukai diriku sendiri, bukan? Iya kan?”

Aku tidak dapat menjawabnya. Aku sedang membayangkan skenario yang lebih buruk. Mungkinkan ia juga membuat luka-luka mengerikan—luka-luka yang pertama kali di deritanya—pada dirinya sendiri? Aku mencoba membayangkan ia menyayatkan sebuah pisau atau silet di sepanjang kulit lembutnya hingga berdarah. Tidak mungkin bagiku untuk memercayainya.

Dari kejauhan di kota, terdengar suara sorak sorai manusia yang gegap gempita yang tibatiba meledak. Nora bertanya apa gerangan itu. Aku menjawab mungkin para pemogok. Sebuah barisan telah dijanjikan oleh para pemimpin serikat buruh setelah keributan para buruh kemarin di kota. Seorang penghasut terkenal bernama Gompers bersumpah pemogokan itu akan menghentikan industri di kota.

“Mereka mempunyai hak untuk mogok,” kata Nora yang

jelas sangat ingin mengalihkan topik, “para kapitalis seharusnya malu pada diri mereka sendiri, karena mempekerjakan para buruh tanpa dibayar dengan cukup untuk memberi makan keluarganya. Kau pernah melihat tempat tinggal mereka?”

Ia menggambarkan untukku bagaimana, di sepanjang musim semi, Clara Banwell dan dirinya telah mengunjungi rumah-rumah petak mereka di Lower East Side. Kunjungan itu adalah gagasan Clara. Di situlah ia bertemu dengan Elsie Sigel bersama seorang lelaki Cina yang ditanyakan Detektif Littlemore.

“Elsie Sigel?” Aku mengulangi nama itu. Bibi Mamie pernah menyebutkan nama Nona Sigel padaku di pesta galanya, “yang melarikan diri ke Washington?”

“Ya,” kata Nora, “kupikir ia sangat bodoh menjadi misionaris sementara orang mati karena memerlukan makanan dan perumahan. Dan Elsie hanya bekerja bersama orang-orang lelaki, padahal yang sesungguhnya menderita adalah kaum perempuan dan anak-anak.” Nora menceritakan padaku bahwa Clara telah membuat alasan khusus untuk mengunjungi keluarga-keluarga itu yang anggota lelakinya telah melarikan diri atau meninggal dunia dalam kecelakaan kerja. Clara dan Nora berkenalan dengan banyak keluarga pada kunjungan mereka, dan menghabiskan berjam-jam di rumah mereka. Nora memperhatikan anak-anak kecil sementara Clara berkawan dengan para perempuan dan anak-anak remajanya. Mereka mulai mengunjungi keluarga-keluarga itu sekali seminggu, sambil membawakan makanan dan kebutuhan lainnya. Mereka telah membawa bayi-bayi itu ke rumah sakit, menyelamatkannya dari penyakit berbahaya, bahkan kematian. Pernah Nora mengatakan padaku dengan

lebih muram, seorang gadis telah menghilang; Clara dan dirinya mendatangi kantor-kantor polisi dan rumah sakit di kota. Namun akhirnya mereka menemukan gadis itu di rumah penyimpan jenazah. Pemeriksaan medis mengatakan bahwa gadis itu telah diperkosa. Ibu gadis itu tidak punya keluarga untuk menghiburnya atau membantunya. Clara melakukan keduanya bagi ibu tersebut. Nora telah melihat kemiskinan pada musim panas itu, tetapi juga— sebagaimana aku kira—kehangatan kasih sayang keluarga yang tidak pernah dirasakannya sebelum itu. Ketika ia mengakhiri kisahnya, Nora dan aku duduk saling bertatapan. Tibatiba, ia berkata, “Maukah kau menciumku jika aku memintanya?”

“Jangan memintaku, Nona Acton,” kataku.

Ia mengambil tanganku dan membawanya ke arah dirinya, sambil menyentuhkan punggung jemariku ke pipinya.

“Jangan,” kataku tajam. Ia melepaskannya segera. Segalanya adalah kesalahanku. Aku telah memberinya segala alasan sehingga ia merasa bahwa ia boleh melakukan itu. Sekarang aku harus menarik diri dengan sentakan. “Kau harus percaya padaku,” kataku padanya, “tidak ada yang lebih kusukai. Tetapi aku tidak bisa. Aku bisa dianggap mengambil kesempatan darimu.”

“Aku ingin kau mengambil kesempatan itu dariku.”

“Tidak.”

“Karena aku masih berusia tujuhbelas tahun?”

“Karena kau pasienku. Dengarkan aku. Perasaan-perasaan yang mungkin kau rasakan bagiku…, kau tidak boleh memercayainya. Perasaan itu tidak benar. Mereka hanya akibat dari terapi analisamu. Hal itu terjadi pada setiap pasien yang menjalani terapi psikoanalisa.”

Ia menatapku seolah aku sedang bergurau. “Kau pikir

pertanyaan-pertanyaan bodohmu telah membuatku menyukaimu?”

“Pikirkan ini. Saat kau merasa tidak peduli padaku. Lalu kau marah dan cemburu. Kemudian…., perasaan yang lainnya lagi. Perasaan-perasaan itu seharusnya bukan untukku. Bukan karena apa pun yang kulakukan. Sama sekali bukan karena aku. Bagaimana itu bisa terjadi? Kau tidak mengenal diriku. Kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentang diriku. Segala perasaan itu datang dari bagian hidupmu yang lain. Mereka muncul karena beberapa pertanyaan bodoh yang kuajukan padamu. Tetapi itu berasal dari tempat lain. Perasaanmu itu seharusnya untuk orang lain, bukan untukku.”

“Kau pikir aku jatuh cinta pada orang lain? Siapa? Bukan George Banwell, kan?”

“Mungkin saja kau pernah begitu.” “Tidak pernah.” Ekspresi wajahnya memperlihatkan betapa jijiknya ia terhadap lelaki itu., “Aku membencinya.” Aku mengambil kesempatan itu. Aku sebenarnya tidak suka—karena aku berharap mulai sekarang ia akan berubah—dan waktuku sama sekali tidak tepat, tetapi tepat untuk kewajibanku sebagai seorang dokter. “Dr. Freud memiliki sebuah teori, Nona Acton. Mungkin tepat bagimu.”

“Teori apa?” Ia mulai menjadi semakin jengkel.

“Sebelumnya kau kuperingatkan, ini sangat tidak menyenangkan. Freud percaya bahwa kita semua, sejak berumur sangat kecil, menyimpan…, bahwa diam-diam kita berharap…, well, dalam kasusmu, Freud percaya ketika kau melihat Nyonya Banwell bersama ayahmu, ketika kau melihatnya berlutut di depan ayahmu dan…, berhubungan dengannya dalam…,”

“Kau tidak perlu mengatakannya,” ia menyela.

“Freud yakin kau merasa cemburu.”

Ia menatapku dengan tatapan kosong.

Aku mendapat kesulitan untuk menjelaskannya. “C emburu secara langsung, secara jasmaniah. M aksudku, Dr. Freud percaya bahwa ketika kau melihat Nyonya Banwell melakukannya dengan ayahmu, kau berharap kaulah yang…, memiliki khayalan menjadi…, “

“Berhenti!” Ia berteriak. Ia menempelkan kedua tangannya pada telinganya.

“Maafkan aku.”

“Bagaimana ia bisa tahu itu?” Ia terperanjat. Sekarang tangannya menutupi mulutnya.

Aku mencatat reaksinya. Aku mendengar kata-katanya. Tetapi aku mencoba untuk percaya kalau aku tidak mendengarnya. Aku ingin mengatakan, pastilah aku telah mendengar sesuatu. A ku sebenarnya berpikir sesaat kau bertanya bagaim ana Freud tah u ten tang hal itu.

“Aku tidak pernah mengatakan itu kepada siapa pun,” bisiknya. Wajahnya menjadi sangat merah, “tidak pada siapa pun. Bagaimana ia bisa tahu?”

Aku hanya dapat menatapnya dengan kosong, seperti ketika ia menatapku beberapa saat lalu.

“Oh, menjijikannya aku ini!” Ia menangis, lalu berlari, kembali ke rumahnya.

9

SETELAH MENINGGALKAN CHILD’S Littlemore berjalan ke Jalan Forty-seventh, menuju kantor polisi untuk melihat apakah Chong Sing ataupun William Leon telah

tertangkap. Kedua lelaki itu memang telah ditangkap— ratusan kali, kata Kapten Post kepada detektif itu dengan kesal. Dalam beberapa jam keterangan tentang pelaku kejatahan telah keluar, belasan panggilan telepon masuk, dari segala arah kota dan bahkan dari Jersey, dari orang-orang yang mengaku melihat Chong. Sementara Leon lebih buruk lagi. Setiap lelaki Cina yang mengenakan jas dan dasi, mereka anggap sebagai William Leon.

“Jack Reardon telah berlarian ke sekeliling kota seharian, hingga seolah kepalanya copot,” kata Kapten Post ketika membicarakan seorang opsir. Jack Reardon adalah opsir yang pernah bertemu dengan Littlemore ketika jenazah Nona Sigel ditemukan. Ia adalah satusatunya opsir yang dimiliki Post, yang benar-benar pernah melihat Chong Sing. Reardon telah dikirim ke kantor-kantor polisi di mana-mana di seluruh kota setiap kali terdengar “Pak Chong” tertangkap. Namun setiap kali ia pergi untuk memeriksanya, Reardon selalu menyatakan bahwa polisi itu telah salah tangkap. “Itu buang-buang waktu. Kita telah memenjarakan setengah orang Cina dari Pecinan, namun kita masih tetap tidak menemukan orang yang sesungguhnya kita cari. Aku harus mengatakan pada anak-anak itu untuk menghentikan pencarian. Ini. Kau mau memeriksanya?”

Kepada Littlemore, Post melemparkan sebuah catatan laporan saksi tentang keberadaan Chong Sing dan William Leon yang belum dilaksanakan pencariannya. Detektif itu membaca dengan teliti daftar lokasi tersebut, sambil mengurut catatan tulisan tangan dengan jarinya. Lalu ia berhenti di tengah daftar pada catatan yang menarik matanya. Terbaca: Kanal di Sungai: lelaki Cina terlihat bekerja di dermaga, berciri-ciri sama dengan

Chong Sing

“Kau punya mobil?” Tanya Littlemore, “aku ingin melihat yang ini.” “Mengapa?”

“Karena ada tanah merah di dermaga ini,” kata detektif.

Littlemore mengemudikan satusatunya mobil p olisi milik Kapten Post ke kota, dengan ditemani oleh seorang polisi berseragam. Mereka membelok ke Canal Street dan mengikuti jalan itu terus hingga ke tepi timur kota. Littlemore berhenti di pintu masuk area Sungai East, tepatnya di lokasi pembangunan jembatan Manhattan yang besar dan baru yang menjulang tinggi. Ia mengamati para perkerjanya.

“Nah, itu dia,” kata sang detektif sambil menunjuk, “itu dia.”

Tidak sulit menemukan Chong Sing karena ia adalah satusatunya orang Cina di sana, sehingga menyolok di antara sekelompok pekerja berkulit putih dan hitam. Ia sedang mendorong gerobak kecil yang penuh dengan blok-blok sinder.

“Berjalanlah langsung ke arahnya,” perintah Littlemore pada si opsir, “jika ia lari, aku akan menangkapnya.” Chong Sing tidak berlari. Begitu ia melihat ada seorang polisi datang, ia hanya menundukkan kepalanya dan terus mendorong gerobak tangannya. Ketika op sir itu memegang tangannya, Chong menyerah tanpa perlawanan. Para pekerja lainnya berhenti bekerja dan menonton peristiwa yang jarang terjadi, tetapi tidak ada yang turut campur. Ketika si opsir kembali ke mobil, Littlemore sedang menantinya di sana. Setelah itu para pekerja lainnya kembali bekerja seolah tidak hal ada apa pun yang terjadi.

“Mengapa kau melarikan diri kemarin, Pak Chong?” “Aku tidak lari,” kata Chong, “aku pergi bekerja. Benar kan? Aku pergi bekerja.”

“Aku akan menuntutmu sebagai kaki tangan pembunuhan. Kau mengerti maksudnya? Kau bisa digantung.” Littlemore memberi isyarat dengan tangannya untuk menjelaskan arti kata terakhir yang diucapkannya.

“Aku tidak tahu apa-apa,” kata orang Cina itu sambil memohon, “Leon pergi jauh. Lalu tercium bau dari kamar Leon. Itu saja.”

“Tentu saja,” kata detektif itu. Littlemore memerintahkan si opsir membawa Chong Sing ke penjara Tombs. Littlemore tetap tinggal di dermaga. Ia ingin menyelidiki dermaga itu. Kepingan teka-teki mulai tersusun sendiri di dalam benak Littlemore dan mulai saling menyesuaikan. Littlemore tahu ia akan menemukan tanah liat di kaki Jembatan Manhattan.Ia pun telah mendapatkan petunjuk bahwa George Banwell mungkin telah menginjak tanah liat itu.

Semua orang tahu Banwell membangun menara-menara Jembatan Manhattan. Ketika Walikota McClellan menyerahkan kontrak itu kepada American Steel Company milik Banwell, koran Hearts meneriakkan korupsi, mengutuk Walikota McClellan karena memihak pada kawan lama. Mereka juga mengutuk sikap McClellan yang dengan ringan menanggapi penundaan, kerusakan dan pembiayaan yang berleb ihan Seb enarnya, Banwell mendirikan menara-menara itu bukan saja memakan biaya yang sesuai dengan anggarannya, namun juga selesai tepat pada waktunya. Ia sendiri yang memeriksa pembangungan itu—hal itulah yang memberikan gagasan pada Littlemore bahwa Banwell pernah ke dermaga.

Littlemore berjalan ke arah sungai, membaur dengan kurumunan orang. Ia dapat dengan mudah bergaul hampir dengan siapa saja, jika ia mau. Littlemore pandai dan tampak mudah bergaul karena ia memang ramah, terutama jika berbagai hal terjadi secara kebetulan. Ternyata Chong Sing memiliki dua pekerjaan di bawah George Banwell. Menarik, bukan?

Littlemore tiba di pusat dermaga yang penuh sesak tepat pada waktu untuk pergantian giliran kerja. Ratusan pekerja berpakaian kotor, bersepatu tinggi berbaris keluar dari dermaga, sementara sebarisan panjang lainnya menumpangi lift yang membawa mereka ke kaison. Bising suara turbin, yang berdenyut terus menerus, mengisi udara dengan irama yang luar biasa.

Jika kau bertanya pada Littlemore bagaimana ia tahu jikalau ada masalah di suatu tempat, atau kesedihan, ia tidak akan dapat memberitahumu. Sambil asik berbicara dengan orang-orang, ia dapat dengan cepat mengetahui tentang akhir hidup Seamus Malley yang celaka. Kata seseorang, Seamus Malley yang malang adalah korban baru dari penyakit akibat kaison. Kata mereka, ketika membuka pintu lift beberapa pagi yang lalu, mereka menemukan Malley tergeletak mati dengan darah kering membekas pada telinganya dan mulutnya.

Orangorang sangat mengeluhkan kaison yang mereka sebut sebagai “kotak” atau “peti mayat.” Beberapa orang mengira kotak itu terkutuk. Hampir semua orang merasa muak ketika menggambarkannya. Kebanyakan mereka menyatakan rasa gembira karena pekerjaan itu sudah hampir selesai., Tetapi orang-orang yang lebih tinggi jabatannya banyak yang mengeluh dan berkata bahwa mereka akan kehilangan sandhog dalam beberapa hari lagi ketika upah

para pekerja itu dihentikan. Sandhog adalah sebutan bagi kuli yang bekerja di kaison. Upah apa? Salah satu dari pekerja itu menjawab, apakah uang tiga dolar untuk duabelas jam kerja harus disebut upah? “Lihatlah Malley,” kata orang itu, “ia bahkan tidak mampu memiliki atap bagi kepalanya dengan ‘uang’ yang diterimanya. Karena itulah ia mati. Mereka membunuhnya. Mereka akan membunuh kita semua.” Tetapi yang lainnya menjawab bahwa sebenarnya Malley mempunyai rumah, juga seorang istri. Istrinya itulah yang menjadi penyebab mengapa Malley harus bermalam di dalam “kotak”.

Littlemore, mengamati jejak tanah merah di seluruh dermaga, lalu membungkuk untuk menalikan sepatunya, sambil diam-diam mengumpulkan contoh tanah. Ia bertanya apakah Tuan Banwell pernah menginjak dermaga. Jawabannya adalah ya. Sebenarnya, kata seorang pekerja itu, setidaknya pernah satu kali dalam sehari, Tuan Banwell datang ke dalam “peti mati” itu untuk memeriksa pekerjaan. Terkadang Yang Mulia Walikota McClellan akan ikut bersamanya.

Littlemore bertanya untuk apa Banwell bekerja seperti itu. Persetan, begitulah jawaban mereka. Orangorang setuju bahwa Banwell tidak peduli berapa orang yang mati di dalam kaison, asalkan pekerjaan bisa selesai lebih cepat. Mereka teringat, kemarin itulah pertama kalinya Banwell mulai menunjukkan perhatian atas keselamatan nyawa mereka.

“Bagaimana itu?” Tanya Littlemore.

“Ia mengatakan pada kami untuk melupakan Jendela Lima.”

“Jendela”, orang itu menjelaskan pada Littlemore, adalah peluncur sampah kaison. Setiap jendela memiliki

nomor. Jendela Lima sudah macet sejak minggu ini. Biasanya Banwell akan segera memerintahkan mereka untuk membersihkan sumbatan itu, sebuah pekerjaan menyebalkan bagi sandhog, karena sangat sulit dan berbahaya. Setidaknya satu orang harus berada di dalam luncuran ketika sumbatan digelontor dengan air. Tetapi kemarin, Banwell mengatakan pada mereka untuk tidak merisaukannya. Seseorang mengatakan, pastilah ia sudah melunak. Yang lainnya menyangkal dengan mengatakan bahwa Banwell tidak melihat pentingnya melakukan itu karena jembatan tersebut sebentar lagi akan selesai. Littlemore mengolah informasi yang didapat, lalu pergi ke lift.

Penjaga lift—seorang lelaki berkulit keriput yang bersifat aneh, dan tanpa rambut di atas kepalanya—duduk di atas bangku kayu di dalam lift. Detektif itu bertanya kepadanya siapakah yang telah mengunci pintu lift dua malam sebelumnya, tepat pada malam kematian Malley.

“Aku,” jawab lelaki itu dengan rona wajah yang menampakkan bahwa ialah yang mempunyai kewenangan atas kunci itu.

“Apakah lift ini tengah berada di atas atau justru berada di bawah ketika kau menguncinya malam itu?”

“Tentu saja di atas. Kau tidak terlalu pandai rupanya, anak muda? Bagaimana liftku bisa berada di bawah jika aku tengah berada di atas?”

Pertanyaan itu bagus. Lift itu dioperasikan secara manual. Hanya seorang yang berada di dalam lift yang dapat membawanya ke atas atau ke bawah. Karena itu ketika petugas lift itu menyelesaikan tugasnya pada malam hari, lift itu tentunya tengah berada di atas dermaga. Tetapi jika petugas lift itu telah mempertanyakan

pertanyaan yang bagus pada Littlemore, detektif itu pun menjawab dengan pertanyaan yang bagus juga, “Lalu bagaimana lift itu bisa berada di atas sini?” “Apa?”

“Orang yang mati itu,” kata Littlemore, “Malley. Ia menginap di bawah pada hari Selasa malam ketika semua orang sudah ke atas?”

“Benar,” lelaki tua itu menggelengkan kepalanya, “Si Bodoh Malley. Ini bukan yang pertama kalinya. Aku sudah mengatakan padanya, ia tidak seharusnya bermalam di bawah. Aku sudah katakan padanya.”

“Dan mereka menemukannya di sini, di dalam liftmu, di dermaga, keesokan harinya?”

“Benar. Mati seperti ikan mati. Kau masih bisa melihat bekas darahnya. Aku sudah mencoba membersihkannya selama dua hari, tetapi tidak bisa. Aku mencucinya dengan sabun, aku mencucinya dengan soda. Coba kau lihat?”

“Jadi, bagaimana ia bisa ke atas sini?” Tanya detektif itu lagi.

Sembilanbelas

CARL JUNG BERDIRI terlihat tinggi dan tegak di ambang pintu kamar Freud. Ia berpakaian lengkap dan resmi dan bersikap seakan ia bukanlah seorang lelaki yang baru saja asik bermain dengan ranting dan batu di lantai kamar hotelnya.

Freud—yang mengenakan rompi dan kemeja berlengan—meminta tamunya untuk bersikap santai. Nalurinya mengatakan padanya bahwa percakapan ini sangat penting. Namun Jung memang tidak tampak sehat, begitulah Freud menilai. Semula Freud tidak percaya akan tuduhan Brill, tetapi ia kemudian mulai setuju bahwa Jung mungkin saja masih memperpanjang masa kejayaan Freud tanpa berniat mengunggulinya.

Freud tahu, Jung lebih cerdas dan kreatif dibandingkan dengan para pengikutnya yang lain. Ia mungkin adalah orang pertama yang mendobrak tatanan baru. Tetapi tidak diragukan lagi, Jung memiliki kompleksitas seorang ayah. Dalam surat pertamanya, Jung telah memohon selembar foto milik Freud, sambil mengatakan ia akan “memuja”nya. Ketika itu Freud memang merasa tersanjung. Tetapi kemudian Jung secara jelas meminta Freud untuk tidak menganggapnya sebagai rekan setara tetapi sebagai putranya. Freud pun menjadi prihatin dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia harus menaruh perhatian khusus untuk hal itu.

Bagi Freud—sejauh yang diketahuinya—Jung tidak memiliki teman lelaki lainnya dan lebih senang berteman dengan wanita. Sejumlah wanita, bahkan terlalu banyak jumlah. Itulah kesulitan Jung lainnya. Karena komunikasi Hall, Freud tidak lagi dapat menghindari percakapan dengan Jung tentang pasien wanita Jung yang ternyata juga kekasihnya. Freud telah membaca surat Jung yang tidak sopan kepada ibu si gadis. Dan yang paling penting dari semuanya, ada laporan dari Ferenczi tentang keadaan kamar hotel Jung.

Satu hal yang dicemaskan Freud adalah kepercayaan Jung terhadap pokok ajaran psikoanalisa. Dalam beberapa surat dan percakapan pribadi mereka selama berjam-jam, Freud telah menguji, mendorong, serta menggali tentang hal itu. Tidak diragukan lagi, Jung benar-benar percaya

pada etiologi [penyelidikan relasi kausal dalam penyakit] seksual, dan berkeyakinan penuh, mampu mengatasi keraguannya sendiri setelah melihat hipotesa Freud yang telah dipastikan berkali-kali di dalam praktik klinis.

“Selama ini kita selalu saling bicara dengan bebas,” kata Freud, “sekarang, kita juga bisa begitu, bukan?”

“Aku senang sekali,” kata Jung, “terutama sekarang ketika aku khawatir akan kewibawaan paternalmu.”

Freud berusaha untuk tidak memperlihatkan keterkejutannya. “Bagus, bagus. Mau kopi?”

“Tidak, terima kasih. Nah, Itu terjadi kemarin, ketika kau memilih untuk menyembunyikan kebenaran mimpi Count Thun-mu demi menjaga kewibawaanmu. Kau melihat paradoksnya. Kau takut kehilangan kewibawaanmu; akibatnya, justru kau kehilangan kewibawaanmu. Kau lebih peduli pada kewibawaanmu dibandingkan dengan kebenaran; denganku, tidak bisa tidak ada kewibawaan selain kebenaran. Tetapi lebih baik begini. Alasanmu hanya akan menjadi baik daripada kebebasanku. Memang, alasanmu telah membaik. Aku telah memecahkan masalah incest [hubungan badan antara dua orang sedarah]!”

Dari rentetan katakata Jung, Freud menangkap kata, “alasanku?”

“Apa?”

“Kau mengatakan ‘alasanmu’ ” ulang Freud. “Tidak.” “Kau mengatakannya. Dua kali.”

“Yah, itu alasanmu, bukan? Alasanmu dan alasanku. Hal itu akan menjadi lebih kuat tanpa batas sekarang. Tidakkah kau mendengarku? Aku telah memecahkan masalah insest.”

“Apa maksudmu dengan ‘memecahkannya’?” Tanya Freud, “masalah apa?”

“Kita tahu bahwa putra yang sedang tumbuh tidak benar-benar mendambakan ibunya secara seksual, karena ibunya memiliki urat-urat varises dan payudara yang sudah turun. Itu jelas dirasakan siapa pun. Begitu juga putra yang masih kecil, yang tidak memiliki keinginan penetrasi. Lalu mengapa orang neurosis dewasa berputar begitu seringnya di sekitar kompleks Oedipal, seperti kasus-kasusmu dan penegasanku sendiri? Jawabannya aku temukan melalui sebuah mimpi tadi malam. Konflik orang dewasa menghidupkan kem baii materia/ infantii [sudut pandang yang bersifat kebocahan]. Libido yang tertekan pada penderita gangguan jiwa, tertekan ke belakang hingga ke saluran infantii, tepat seperti yang telah selalu kau katakan! Yaitu ke tempat ibunya berada—seorang yang pernah memiliki arti khusus baginya— walau ia tidak benar-benar menginginkan ibunya.”

Kalimat itu menimbulkan reaksi jasmani yang menarik pada diri Sigmund Freud. Darahnya mengalir dengan cepat ke dalam pembuluh di sekitar kortek selebralnya, yang mengakibatkan perasaan berat pada tengkoraknya. Ia menelan liur dan berkata, “Kau menyangkal kompleks Oedipal?”

“Sama sekali tidak. Bagaimana mungkin? Aku yang menciptakan istilahnya.”

“Istilah kompleks memang milikimu,” kata Freud, “kau mempertahankan adanya kompleks namun menyangkal Oedipal.”

“Tidak!” sergah Jung, “aku mempertahankan segala prinsip pendapatmu. Penderita gangguan jiwa memang memiliki kompleks Oedipal. Gangguan jiwa mereka menyebabkan mereka percaya bahwa mereka mendambakan ibu mereka secara seksual.”

“Maksudmu sebenarnya tidak ada keinginan insest. Tidak ada pada orang-orang yang sehat.”

“Bahkan pada orang-orang yang terganggu jiwanya juga tidak! Ini luar biasa. Orangorang yang terganggu jiwanya kemudian mengidap kompleks keibuan karena libidonya terdorong ke saluran infantii. O rang neurotis itu kemudian memberinya alasan untuk menghukum dirinya sendiri. Ia merasa bersalah karena keinginan seksual yang tidak pernah tercapai.”

“Aku mengerti. Lalu apa yang membuat gangguan jiwanya?” Tanya Freud.

“Konflik masa kininya. Apa pun yang diinginkan, si pengidap nerotis tidak mengakuinya. Apa pun kewajiban hidupnya, ia tidak bisa menghadapinya.”

“Ah, konflik masa kini,” kata Freud. Kepalanya tidak lagi terasa berat, malahan ada perasaan ganjil, “jadi tidak ada alasan sama sekali untuk menyelidiki masa lalu keadaan seksual pasien. Atau juga masa kanak-kanaknya.”

“Tepat,” kata Jung, “Aku belum pernah berpikir begitu. Dari pandangan klinis murni,konflik masa kini adalah sesuatu yang harus diungkap dan diusahakan hingga tuntas terungkap. Pengaktifan kembali sudut pandang seksual dari masa kanak-kanak, dapat digali, tetapi itu sebuah godaan, sebuah jebakan. Sekarang yang sedang kutulis adalah usaha pasien itu untuk melarikan diri dari gangguan jiwanya. Kau akan melihat berapa banyak lagi pengikut psikoanalisa yang akan bertambah karena adanya pengurangan perhatian pada peran seksualitas.”

“Oh, kurangi saja semuanya…, lalu kita akan melakukan psikoanalisa itu dengan lebih baik,” kata Freud, “boleh aku bertanya? Jika insest tidak benar-benar

diinginkan penderita, mengapa hal itu menjadi tabu?” “Tabu?”

“Ya,” kata Freud, “mengapa ada larangan insest dalam masyarakat yang pernah ada, jika tidak seorang pun pernah menginginkannya?”

“Karena…, karena…, banyak hal yang ditabukan padahal sebenarnya memang tidak diinginkan.”

“Sebutkan satu saja.”

“Yah, banyak hal. Ada daftar panjang tentang hal itu,” kata Jung.

“Sebutkan satu saja.”

“Jadi…, contohnya, sekte hewan zaman prasejarah, patung-patung, mereka…, ah…” Jung tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.

“Boleh aku bertanya satu hal lagi?” Tanya Freud, “tadi kau mengatakan pandangan ini kau temukan jawabannya melalui tafsir mimpi. Aku ingin tahu seperti apa mimpimu itu. Mungkin ada tafsir lainnya yang bisa digali?”

“Aku tidak mengatakan melalui tafsir mimpi,” kata Jung, “aku mengatakan dalam sebuah mimpi. Memang, aku tidak benar-benar tidur.”

“Aku tidak mengerti,” kata Freud.

“Kau tahu suara-suara yang didengar seseorang pada malam hari, tidak lama sebelum tertidur. Aku telah melatih diri untuk dapat mendengarnya. Salah satu dari mereka berbicara padaku dengan petuah kuno. Aku telah melihatnya. Ia seorang lelaki tua, seorang Gnostiki Mesir, ia disebut disebut Philemon…, benar, ini sebuah gagasan yang tak masuk akal. Ialah yang mengungkap rahasia itu

i Gnostik di sini memiliki pemahaman pelaku praktik kesufianatauirfan

untukku.”

Freud tidak menjawab.

“Aku tidak takut karena kau memperlihatkan keraguanmu,” kata Jung, “ada lebih banyak lagi hal di surga dan di bumi, Sang Professor, dibandingkan dengan mimpi di dalam pengertian pskologimu.”

“Aku percaya itu. Tetapi dipandu oleh suara? Aku kurang dapat menerimanya.”

“Mungkin aku telah memberimu kesan yang salah,” kata Jung, “aku tidak menerima katakata Philemenon tanpa alasan. Ia menyelesaikan kasusnya melalui tafsir sekte-sekte pemuja dewi yang primitif. Aku yakinkan kau, pada awalnya aku tidak memercayainya. Aku mengajukan beberapa keberatan, namun semuanya bisa dijawab olehnya.” “Kau berkomunikasi dengannya?”

“Tampaknya jelas sekali kau tidak bergembira dengan inovasi teoriku.”

“Aku prihatin pada sumber teorimu,” kata Freud.

“Tidak. Kau memikirkan tentang teori-teorimu sendiri, teori-teori seksualmu,” kata Jung dengan kemarahan yang tampak meningkat, ” maka kau mengubah topik pembicaraan dan mencoba memancingku ke percakapan tentang supranatural. Aku tidak mau terpancing. Aku memiliki alasan obyektif.”

“Yang diberikan oleh jiwa?”

“Hanya karena kau tidak pernah mengalami fenomena seperti itu, bukan berarti mereka tidak ada.”

“Aku jamin mereka ada,” kata Freud, “tetapi harus ada pembuktian akan hal itu, Jung.”

“Aku telah melihatnya, aku sudah mengatakannya padamu!” seru Jung, “mengapa itu tidak bisa dijadikan bukti? Ia menangis ketika menjelaskan padaku betapa

para pharaos mengukirkan nama ayah-ayah mereka dari pikiran monumental mereka—sebuah fakta yang tidak kuketahui sebelumnya, tetapi yang kemudian aku pastikan. Siapa dirimu sehingga kau bisa menentukan mana yang bisa dinilai sebagai bukti mana yang bukan? Apakah asumsi kesimpulanmu bahwa ia tidak ada; maka apa yang kulihat dan apa yang kudengar tidak bisa dianggap sebagai bukti?”

“Apa yang kau dengar. Itu bukanlah bukti, Cari, jika hanya satu orang yang bisa mendengarnya.” Tibatiba ada bunyi yang keluar dari belakang sofa yang diduduki Freud, seperti suara retakan atau geraman, seolah ada sesuatu di dalam dinding yang mencoba untuk keluar.

“Apa itu?” Tanya Freud.

“Aku tidak tahu,” sahut Jung. Suara retakan itu terdengar semakin keras sehingga memenuhi ruangan. Ketika bunyi itu seolah sudah mencapai puncaknya, maka berubah menjadi bunyi ledakan, pecah seperti petir.

“Apa sih itu?” Tanya Freud.

“Aku tahu bunyi itu,” kata Jung. Sebuah kilatan kemenangan menyambar dari matanya, “aku sudah pernah mendengar bunyi itu. Itulah bukit untukmu! Itu adalah catalytic exteriorization.”

“Apa?”

“Sebuah aliran di antara jiwa yang mewujudkan dirinya melalui sebuah obyek eksternal,” Jung menjelaskan, “aku yang menyebabkan bunyi itu terdengar.”

“Oh, yang benar saja,” kata Freud, “kukira itu mungkin bunyi tembakan senjata!”

Saat Jung mengucapkan kalimat yang luar biasa itu,

bunyi geraman itu mulai lagi. Dengan cara yang sama, bunyi itu meningkat hingga titik puncaknya yang tidak tertahankan, lalu meledak menjadi bunyi yang menggelegar.

“Apa pendapatmu sekarang?”

Freud tidak mengatakan apa-apa. Ia pingsan dan melorot dari sofanya.

g

DETEKTIF LITTLEMORE., bergegas berjalan dari dermaga Canal Street, sambil menyusun semua informasi yang ada padanya. Ini adalah kasus pembunuhan pertama yang diungkapnya. Hugel akan sangat bahagia bagai di surga.

Jadi, sama sekali bukan Harry Thaw; tetapi George Banwell, sejak awal hingga akhir. Banwell-lah yang membunuh Nona Riverford dan mencuri jenazahnya dari rumah mayat. Littlemore membayangkan Banwell mengemudikan mobilnya ke tepi sungai, menyeret jenazah ke dermaga, dan menurunkan lift ke kaison. Banwell tentunya memiliki kunci untuk membuka pintu lift. Kaison merupakan tempat sempurna untuk melenyapkan mayat.

Tetapi Banwell tentu saja mengira dirinya akan sendirian di kaison itu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Malley. Bagaimana Banwell akan menjelaskan alasannya turun ke kaison di tengah malam dengan menyeret mayat? Betapa ia tidak mampu menjelaskannya, maka ia membunuh Malley.

Penyumbatan di Jendela Lima, dan reaksi Banwell tentang hal itu, memastikan adanya bukti itu. Bukankah ia tidak mau ada seorang pun yang mengetahui apa yang menyumbat Jendela Lima?

Detektif Littlemore telah melihat itu semua ketika ia berjalan bergegas di sepanjang Canal Street—semuanya terlihat kecuali mobil Stanley Steamer besar berwarna hitam dan merah, yang berjalan lambat menguntit Littlemore setengah blok di belakangnya. Di dalam benaknya, sewaktu menyeberangi jalan, Littlemore membayangkan peristiwa promosinya menjadi seorang letnan nanti. Ia melihat pak Walikota sendiri yang menyematkan tanda itu baginya, dan Betty mengagumi seragam barunya.Namun ia tidak melihat Steamer yang tibatiba menyeruduk ke depan. Ia tidak melihat kendaraan yang sedikit membelok untuk menabraknya hingga mati. Tentu saja ia juga tidak melihat dirinya sendiri melambung ke udara karena tungkainya disambar sayap roda mobil itu.

Tubuhnya tergeletak di Canal Street ketika mobil itu melaju cepat menuju ke Second Avenue. Di antara orang-orang yang menyaksikan hal itu, sejumlah orang meneriakkan sumpah serapah pada pengemudi tabrak lari itu. Salah seorang menyebutnya sebagai pembunuh. Seorang polisi patroli kebetulan sedang berada di sudut jalan melihatnya. Ia bergegas menuju arah di mana Littlemore tergeletak, yang masih memilkik cukup kekuatan untuk membisikkan sesuatu pada telinga opsir itu. Petugas patroli itu mengerutkan keningnya, namun kemudian mengangguk. M emerlukan waktu sepuluh menit, sebuah ambulans yang ditarik kuda akhirnya muncul. Mereka tidak peduli pada rumah sakit mana pun. Mereka segera membawa Littlemore ke rumah mayat.

g

JUNG MERAIH TUBUH FREUD dari bawah kedua bahunya, dan meletakkannya di atas sofa. Bagi Jung, Freud tampak begitu tua dan tak berdaya. Pengajar teori-teori yang menakutkan itu sekarang tampak lumpuh dengan lengan dan tungkainya yang menggelantung. Freud sadarkan diri dalam beberapa detik. “Betapa menyenangkannya,” katanya, “jika aku mati.”

“Kau sakit?” Tanya Jung.

“Bagaimana kau melakukannya, suara itu?”

Jung menggerakkan bahunya.

“Aku akan menganggapnya sebagai parapsikologi…, pegang ucapanku,” kata Freud, “Prilaku Brill, aku benar-benar menyesalinya. Ia tidak mewakili ucapanku.”

“Aku tahu.”

“Selama satu tahun aku telah menuntutmu terlalu banyak untuk selalu memberitahuku apa yang sedang kau kerjakan,” kata Freud, “aku tahu itu. Aku akan menarik masalah prilaku yang dipicu oleh libido yang kujanjikan padamu juga. Tetapi aku khawatir, Cari. Ferenczi melihat…, kau bermain dengan desa kecilmu.”

“Ya, aku telah menemukan cara baru untuk menyalakan kembali kenangan masa kanak-kanak. Melalui bermain. Sewaktu kanaka-kanak, dahulu aku membangun kota yang lengkap.”

“O, begitu,” kata Freud berusaha duduk, dan meletakkan sapu tangan pada keningnya. Ia menerima segelas air dari Jung.

“Biarkan aku menganalisa dirimu,” kata Jung, “aku bisa menolongmu.”

“Menganalisaku? Ah maksudmu, pingsanku yang baru saja terjadi itu? Kau pikir aku neurotis?”

“Tentu saja.”

“Aku setuju,” kata Freud, “tetapi aku sudah tahu

penyebabnya.”

“Ambisimu. Itu yang telah membutakan dirimu. Sangat buta. Aku juga pernah seperti itu.” Freud menarik nafas dalam. “Buta, maksudmu, karena aku takut dijatuhkan dari tahta, kecemburuanku pada keberhasilanmu, usahaku yang tak pernah berhenti untuk terus membuatmu ada di bawahku?”

Jung menatapnya. “Kau mengetahuinya?”

“Aku mengetahui apa yang akan kau katakan,” kata Freud, “apa yang telah kulakukan sehingga aku mendapatkan itu semua? Apakah aku belum mengutamakan dirimu pada setiap kesempatan, dengan cara memberikan pasienku padamu, memujimu, menghormatimu? Apakah aku belum melakukan segalanya dalam batas kekuasaanku untukmu, bahkan dengan risiko melukai kawan lama, demi memberikan kedudukan kepadamu yang tidak aku berikan untuk diriku sendiri?”

“Tetapi kau menganggap rendah hal yang paling penting bagiku yaitu berbagai penemuanku. Aku telah memecahkan masalah insest. Itu merupakan sebuah revolusi. Namun kau menyepelekan hal itu.”

Freud meraba alisnya. “Aku yakinkan dirimu, aku tidak seperti itu. Aku betulbetul sangat menghargai nilai pentingnya. Kau menceritakan pada kami sebuah mimpi yang kau alami ketika di atas kapal George Washington. Kau ingat? Kau berada di dalam sebuah gudang atau gua, jauh di bawah permukaan tanah. Kau melihat kerangka manusia. Kau katakan tulang belulang milik Emma— istrimu—dan sudara perempuannya.”

“Kukira begitu,” kata Jung, “mengapa?”

“Kau kira?”

“Ya, begitu. Mengapa?”

“Kepunyaan siapakah tulang-belulang itu sebenarnya?” “Apa maksudmu?” Tanya Jung. “Kau bohong.” Jung tidak menjawab.

“Ayo,” kata Freud, “setelah duapuluh tahun aku berpraktik dan melihat pasien-pasien berbohong, kau pikir aku tidak tahu saat kau berbohong?”

Jung masih tidak menjawab. Kerangka manusia itu milikku, bukan?” Kata Freud.

“Bagaimana jika memang begitu?” Kata Jung, “mimpi itu mengatakan aku akan melampauimu. Aku hanya berharap bisa menjaga perasaanmu.”

“Kau berharap aku mati, Cari. Kau telah menjadikan aku ayahmu, dan sekarang, kau berharap aku mati.”

“Aku mengerti,” kata Jung, “aku mengerti ke mana arah pembicaraanmu. Berbagai penemuan teoritisku bisa menjatuhkan dirimu. Itulah yang selalu kau katakan, bukan? Jika ada yang tidak setuju denganmu, pastilah kau anggap orang itu sakit jiwa. Sebuah perlawanan, sebuah harapan Oedipal, sebuah pembunuhan terhadap ayahnya sendiri…, apa pun, selain kebenaran obyektif. Maafkan aku, aku pastilah telah terpengaruh oleh keinginan untuk dimengerti secara intelektual sekali saja. Bukan didiagnosa, tetapi hanya dimengerti. Namun bisa jadi, itu tidak mungkin dengan psikoanalisa. Boleh jadi fungsi yang sesungguhnya dari psikoanalisa adalah untuk menghina dan melumpuhkan orang lain melalui bisikan halus tentang panyakit mereka…, seolah hal itu merupakan penjelasan dari sesuatu. Teori yang luar biasa!”

“Dengarkan apa yang sedang kau katakan, Jung. Dengarkan suaramu. Aku hanya memintamu untuk mempertimbangkan kemungkinannya, hanya kemungkinannya,

bahwa ‘kompleksitas kebapakanmu, sebagaimana kau sebutkan sebelumnya, sedang terjadi di dalam dirimu sekarang. Sayang sekali jika kau membuat pernyataan kepada khalayak tentang sedikit orang yang motivasi murni psikoanalisanya baru akan terlihat di kemudian hari.”

“Kau minta kita bicara jujur,” kata Jung, “aku berniat untuk itu. Aku mengerti dirimu. Aku tahu permainanmu. Kau mencari-cari penyakit orang-orang itu setiap kali mereka salah bicara, membidik kelemahan mereka, menjadikan mereka semua seperti anak-anak, sementara kau tetap berada di atas, bersuka-ria dalam kewibawaan seorang ayah. Tidak ada yang berani menarik jenggot sang Guru. Yah, aku sama sekali tidak sakit jiwa. Bukan aku yang pingsan. Bukan aku juga yang tidak bisa menahan desakan buang air kecil. Kau katakan satu hal yang benar hari ini: pingsanmu itu adalah penyakit jiwa. Nah, aku telah menderita karena penyakit jiwa…, penyakit jiwamu atas dasar ketentuanmu, bukan penyakit jiwaku. Kupikir kau membenci para penderita sakit jiwa. Kupikir analisa merupakan pembebasan untuk penyakit itu. Kau jadikan kami semua sebagai putra-putramu, lalu kau hanya menunggu ekspresi agresi dari kami seraya berbaring—yang tentunya semua itu kau buat akan terjadi—lalu kau akan meloncat sambil berteriak Oedipus atau harapan kematian. Vah, aku tidak peduli pada diagnosamu.”

Ruangan itu menjadi sangat sunyi.

“Tentu saja kau akan menganggap ini semua sebagai kritikan,” kata Jung dengan nada malu-malu, “tetapi aku bicara atas dasar persahabatan.”

Freud mengeluarkan cerutunya.

“Demi kebaikanmu sendiri,” kata Jung lagi, “bukan kebaikanku.”

Freud menghabiskan air putihnya. Tanpa menyalakan cerutunya, ia berdiri dan berjalan ke pintu ruangan. “Kita memiliki pengertian, kita saling menganalisa di antara kita sendiri,” katanya, “tidak seorang pun harus merasa malu tentang sedikit neurosis yang ada pada diri kita. Tetapi jika seseorang bersumpah bahwa dirinya terlihat sehat sementara bersikap tidak wajar, menandakan kurangnya wawasan orang itu akan penyakitnya sendiri. Bebas saja. Lepaskan aku dari persahabatanmu itu. Selamat tinggal.”

Freud membuka pintu bagi Jung supaya keluar, dan bersamaan dengan itu, Jung mengucapkan kalimat terakhirnya. “Kau akan tahu apa artinya ini bagimu. Selebihnya, aku tidak akan bicara lagi.”

g

GRAMERCY PARK SANGAT sejuk dan damai. Aku tetap duduk di bangku taman itu hingga sekian lama setelah Nora berlari pulang. Aku menatap rumahnya. Begitu juga rumah tua Paman Fish-ku di sekitar sudut jalan. Sewaktu kecil, kerap aku mengunjunginya. Paman Fish tidak pernah mengizinkan kami menggunakan kunci tamannya. Pada awalnya aku bingung juga, karena Nora pulang dengan membawa kuncinya, artinya aku tidak bisa keluar dari taman ini. Namun aku kemudian sadar, tentunya kunci itu hanya dibutuhkan untuk masuk ke taman ini saja, bukan untuk keluar juga.

Walau aku sangat tidak menyukai gagasan itu, paling tidak aku harus mengakui kebenaran teori Oedipus penemuan Freud. Aku telah mempertahankan sangkalanku begitu lama. Untuk meyakinkan hal itu beberapa orang pasienku telah mengeluarkan pengakuan mereka sehingga

aku dapat menyangkal teori itu. Tetapi sayangnya, aku tidak punya pasien yang dengan terus terang mengakui—tanpa imbuhan keterangan—bahwa ia memiliki gairah incest.

Nora telah mengakui gairah insestnya. Kukira aku mengagumi kesadarannya. Tetapi aku jelas sangat terkejut.

To a nunnery, go [pergilah ke biara]. Aku sedang memikirkan perintah Hamlet yang diulang-ulang kepada Ophelia, tepat kalimat to be, or not to be, supaya Ophelia masuk biara. Apakah Ophelia akan menjadi seorang induk bagi para pendosa? tanya Hamlet padanya. Jadilah semurni es…, kau tidak akan terbebas dari fitnahz. Apakah Ophelia akan melukisi wajahnya sendiri? Tuhan telah memberimu seraut wajah, dan kau membuat bagi dirimu sendiri wajah yang laini.

Pertimbangan hatiku adalah aku tahu bahwa aku tidak akan mampu menyentuh Nora sekarang. Aku bahkan nyaris tidak mampu memikirkan dirinya—seperti itu. Tetapi terkutuklah aku jika mampu untuk memikirkan seorang lelaki lain bisa menyentuhnya.

Aku tahu betapa tidak masuk akalnya reaksiku. Nora tidak bertanggungjawab atas apa yang dirasakannya. Ia tidak memilih untuk memiliki gairah insest, bukan? Aku tahu ini, tetapi itu tidak mengubah apa pun.

Aku bangkit dari bangku, mengusapkan tanganku pada rambutku. Aku berusaha memusatkan perhatian pada aspek medis kasus ini. Aku masih seorang dokter yang menanganinya. Secara klinis, pengakuan Nora bahwa ia telah menyaksikan penyerangan kemarin malam dari atas, itu jauh lebih penting dibandingkan dengan pengakuannya

3 Kalimat aslinya berbunyi, be thou as chaste as ice ….thoushalt not escape calumny. 3 God hath given you one face, and you make yourselves another.

akan gairah Oedipal gadis itu. Aku mengatakan padanya bahwa pengalaman semacam itu biasa terjadi dalam mimpi, tetapi ketika dikombinasikan dengan kenyataan luka bakar akibat rokok pada kulitnya, kisahnya terdengar lebih dekat ke psikosis. Ia mungkin memerlukan lebih dari sekadar analisa. Lebih tepat lagi, ia harus dimasukkan rumah sakit. Masukkan ia ke sanatorium.

Namun, aku tidak bisa memercayai bahwa ia sengaja melukai—dengan cambukan yang ganas pada hari Senin— pada dirinya sendiri. Aku juga tidak siap untuk mengakuinya sebagai suatu kepastian bahwa kejadian tadi malam hanyalah sebuah halusinasi. Beberapa kenangan yang berhubungan dengan sekolah kedokteranku berkelebatan masuk dan keluar dalam kepalaku.

New York University tidak terlalu jauh di kota. Ternyata pintu gerbang Gramercy Park memang terkunci. Aku harus memanjat untuk keluar. Ketika melakukannya, aku merasa tidak bertanggungjawab bagaikan seorang penjahat.

Berjalan melintasi Washington Square, aku menyeberang di bawah gerbang monumen Stanford White’s dan bertanya-tanya tentang kekejaman cinta. Apa lagi yang dapat diperbuat seorang arsitek hebat jika ia tidak ditembak mati oleh orang tidak waras, atau seorang suami yang cemburu, atau seorang lelaki seperti yang tengah dicoba oleh Jelliffe untuk dibebaskan dari penjara? Di bawah sana adaperpustakaan New York Univerisity.

Aku mulai dengan karya Profesor James tentang nitrus oksid, yang sudah sangat kukenal sejak di Harvard. Tetapi aku tidak menemukan penjalasan apa pun. Naskah anastesi umum sama sekali tidak ada gunanya bagiku. Maka aku beralih ke literatur tentang kekuatan batin.

Kartu katalognya memiliki catatan tentang PRO YEKSI PERBIN TAN GAN, namun ternyata isinya adalah ocehan teosofis. Lalu aku mendatangi selusin catatan di bawah keterangan B1LO CATION. Dari sini, setelah dua jam pencarian, akhirnya aku menemukan apa yang kucari.

Aku beruntung: Durville memberikan beberapa rujukan dalam bukunya yang baru saja diterbitkan tentang hantu. Bozzano telah melaporkan sebuah kasus yang sangat tidak senonoh. Bahkan Osty dalam Revue Metapsychique periode M ei-Juni, menjelaskan lebih jauh lagi. Tetapi kasus yang kutemukan di Battersby-lah yang mengurangi segala keraguanku.

Aku meronta-ronta dengan ganas sehingga dua orang perawat dan seorang ahli tidak mampu menahanku… Yang kutahu berikutnya adalah terdengar lengkingan tajam, sehingga aku terbangun mengambang di udara, dan melihat ke bawah di atas para perawat dan dokter yang sedang membungkuk di atas tempat tidur. Aku sadar bahwa mereka sedang berusaha, walau gagal, untuk menghentikan teriakanku: sebenarnya aku mendengar mereka mengatakan: “Nona B, nona B, jangan berteriak seperti itu. Kau membuat takut pasien lainnya.” Pada waktu itu juga aku sangat tahu bahwa aku benar-benar terpisah dari tubuhku yang sedang berteriak-teriak yang aku sendiri tak dapat untuk menghentikannya.

Aku tidak punya nomor telepon Detektif Littlemore, tetapi aku tahu ia bekerja di kantor polisi pusat yang baru itu di kota. Jika aku tidak dapat menemukannya di sana secara langsung, setidaknya aku akan dapat meninggalkan pesan.

Duapuluh

DI GEDUNG VAN DEN HEUVEL, seorang anak lelaki pembawa pesan berlari ke kantor ahli otopsi Hugel untuk mengabari bahwa sebuah ambulans baru saja mengirimkan jenazah ke rumah mayat. Tanpa bergerak sedikit pun Hugel mengusirnya, tetapi anak itu tidak mau pergi. Itu bukan sekadar mayat, kata anak lelaki itu. Tetapi itu jenazah Detektif Littlemore. Hugel, yang sedang dikelilingi beberapa buah kardus dan tumpukan kertas yang berserakan di lantai, memaki dan berlari ke lantai bawah tanah lebih cepat daripada anak itu

sendiri.

Jasad Littlemore tidak ada di tempat penyimpanan jenazah. Namun diletakkan di ruang tunggu laboratorium tempat Hugel melakukan otopsi. Jenazah itu telah disorong di atas sebuah tandu beroda dan diletakkan di salah satu meja operasi. Petugas ambulans sudah pergi.

Hugel dan anak lelaki tadi terpaku di sisi mayat Littlemore yang meringkuk. Hugel mencengkeram bahu anak lelaki itu dengan sangat erat.

“Ya Tuhan,” kata Hugel, “Ini salahku.”

“Itu bukan salah Anda, Pak Hugel,” kata mayat itu sambil membuka matanya.

Anak lelaki pembawa berita itu menjerit.

“Keparat kau!” Hugel mencaci.

Littlemore duduk dan membersihkan bahu pakaiannya. Ia melihat ada campuran perasaan bingung, sebanyak itu juga duka yang berkepanjangan serta kemarahan yang menumpuk pada wajah Hugel. “Maaf, Pak Hugel,” kata Littlemore malu-malu, “Aku hanya berpikir kita

mungkin mempunyai rahasia, karena orang yang berusaha membunuhku itu ingin mengambilnya dariku.”

Hugel berjalan menjauh. Littlemore meloncat turun dari meja operasi. Begitu mulai menyentuh lantai, ia menjerit kesakitan. Tungkai kanannya ternyata jauh lebih sakit daripada yang dirasakannya tadi. Ia mengikuti Hugel, sambil menjelaskan teori kematian Seamus Malley.

“Tidak masuk akal,” kata Hugel. Ia melanjutkan menaiki anak tangga, tanpa mau menoleh kepada Littlemore yang terseok-seok di belakangnya, “untuk apa Banwell membunuh Malley, lalu menyeret tubuhnya ke lift? Untuk menemaninya ke atas?”

“Mungkin Malley meninggal dalam perjalanan ke atas di dalam lift.”

“O, begitu,” kata Hugel, “Banwell membunuhnya di dalam lift, lalu meninggalkannya di sana supaya memperbesar kemungkinan tuduhannya telah membunuh dua orang. Banwell tidak bodoh, Detektif. Ia adalah orang yang penuh perhitungan. Jika ia melakukan apa yang kau duga, ia lebih baik menurunkan lift itu langsung ke bawah ke kaison dan membuang mayat Malley

sebagaimana ia membuang mayat gadis Riverford seperti katamu.”

“Tetapi tanah liat itu, Pak Hugel, aku lupa mengatakan tentang tanah liat itu…,”

“Aku tidak mau mendengarnya lagi,” kata ahli otopsi. Saat itu mereka telah tiba di kantor Hugel. “Aku tidak mau mendengar lagi tentang itu. Mengapa kau tidak pergi ke Walikota McClellan? Pasti kau sudah ditunggu olehnya berikut penonton lainnya. Aku sudah katakan padamu, kasus itu sudah ditutup.”

Littlemore mengedipkan matanya dan menggelengkan

kepalanya. Ia melihat setumpukan dokumen dan kotak-kotak pindahan yang tersebar di lantai kantor Hugel. “Kau mau pergi ke suatu tempat, Pak Hugel?”

“Benar,” kata Hugel, “aku mau berhenti kerja.”

“Berhenti?”

“Aku tidak bisa bekerja dalam keadaan seperti ini. Kesimpulanku tidak dihargai.”

“Tetapi ke mana kau akan pergi, Pak Hugel?”

“Kau pikir hanya kota ini yang membutuhkan pemeriksaan medis untuk mayat?” Ahli otopsi itu memeriksa kardus-kardus catatan yang betebaran di kantornya, “sebenarnya, aku tahu ada lowongan di Cleve-land, Ohio. Pendapatku akan dihargai di sana. Mereka akan membayarku tidak sebanyak di sini, tentu saja, tetapi itu tidak menjadi masalah. Aku sudah punya tabungan. Tidak ada yang dapat mengeluhkan catatan pekerjaanku, Detektif. Penggantiku akan menemukan segalanya tercatat dengan sangat rapi yang sudah aku susun. Kau tahu bagaimana keadaan rumah mayat ini sebelum aku datang?”

“Tetapi Pak Hugel,” kata detektif itu.

Ketika itu, Louis Riviere dan Stratham Younger muncul di koridor. “Monsieur Littlemore!” Jerit Riviere, “Ia masih hidup!”

“Sayangnya begitu,” kata Hugel menyetujui. “Bapak-bapak, permisi ya. Aku harus bekerja.”

g

CLARA BAN WELL SEDANG mendinginkan tubuhnya dengan cara berendam di kamar mandi ketika ia mendengar pintu depan tertutup. Kamar mandi itu bergaya Turki, bertatahkan keramik biru Mudejar dari Andalusia,

yang dipasang di apartemen Banwell atas permintaan khusus Clara. Ketika terdengar Banwell memanggilnya dari sebuah serambi di dalam rumah, ia bergegas membungkus tubuhnya dengan dua helai handuk putih. Satu untuk tubuhnya, satu lagi untuk rambutnya.

Dengan tetesan air yang masih terisisa dari tubuhnya, Clara menemui Banwell di ruang tamu yang berukuran empatbelas meter. Suaminya memegang sebuah gelas, sambil menatap ke arah Sungai Hudson. Ia sedang menuangkan bourbon di atas es batu. “Ke sini,” kata Banwell dari seberang ruangan, tanpa menoleh, “kau menemuinya?”

“Ya,” kata Clara masih tetap berada di tempatnya.

“Lalu?”

“Polisi percaya Nora melukai dirinya sendiri. Mereka percaya ia gila atau menuntut balas dendam padamu.”

“Apa yang kau katakan pada mereka?” Tanya Banwell.

“Bahwa kau ada di sini sepanjang malam.” Banwell menggeram. “Apa kata Nora?”

“Nora sangat rapuh, George. Kupikir…,”

Bunyi botol wiski menghantam pelataran meja kaca mengganggu Clara. Mejanya tidak retak, tetapi alkohol terpercik dari mulut botol. George Banwell berpaling menghadap ke istrinya, “Ke sini,” katanya lagi.

“Aku tidak mau.”

“Ke sini.”

Clara mematuhinya. Ketika ia berada di dekatnya, suaminya mengerling ke bawah. “Tidak,” kata Clara. “Ya.”

Clara melepaskan ikat pinggang dari lubang-lubang celana suaminya. Banwell menuangkan minuman lagi.

Clara menyerahkan ikat pinggang dari kulit berwarna hitam itu. Lalu ia mengangkat kedua tangannya, dan mempertemukan kedua telapak tangannya. Banwell mengikatkan ikat pinggang itu pada pergelangan tangan Clara, memasukkan kepala ikat pinggangnya, dan menariknya erat. Clara menyeringai.

Banwell menarik tubuh istrinya padanya, dan mencoba mencium bibirnya. Clara membiarkannya mencium ujung mulutnya, lalu mengalihkan pipinya, dan yang lainnya. Banwell membenamkan kepalanya pada leher telanjang istrinya, Clara menelan udara semulut penuh. “Jangan,” katanya.

Banwell memaksanya untuk berlutut. Walau tangannya terikat dengan ikat pinggang, Clara masih bisa menggerakkan tangannya dengan cukup baik untuk membuka celana panjang suaminya. Banwell melepaskan handuk putih itu dari tubuh Clara.

Beberapa saat kemudian, George Banwell duduk di atas sebuah sofa besar yang bisa digunakan untuk tidur, berpakaian lengkap, sambil menyesap bourbon. Sementara Clara, bugil, berlutut di lantai, punggungnya menghadap ke arah suaminya.

“Katakan apa yang dikatakan Nora,” perintahnya sambil mengendurkan dasinya.

“George,” Clara berpaling dan menatapnya, “bisakah diakhiri sekarang? Ia hanya seorang gadis kecil. Bagaimana ia bisa menyakitimu lagi?”

Clara segara merasakan justru perkataannya malah menyulut, bukannya memadamkan amarah suaminya. Banwell berdiri, sambil mengancingkan pakaiannya. “Hanya seorang gadis kecil,” ulangnya.

9

LELAKI PERANCIS ITU PASTILAH memiliki perasaan simpati pada Detektif Littlemore. Ia mencium kedua belah pipi Littlemore.

“Aku harus berpura-pura mati lebih sering,” kata Littlemore, “sekarang inilah kau menunjukkan penghargaan terbaikmu padaku, Louie.”

Riviere memberikan sebuah map besar kepada detektif itu. “Hasilnya sangat sempurna,” katanya, “sebenarnya aku sendiri terkejut. Aku tidak menduga gambar itu akan terlihat begitu rinci dalam alat pembesar. Sangat luar biasa.” Lelaki Perancis itu pun pulang seraya berseru au revoir [sampai jumpa lagi], bukan adieu [selamat tinggal]. Aku sekarang sendirian bersama detektif Littlemore. “Kau…, berpura-pura mati?” Tanyaku padanya.

“Itu hanya gurauan. Ketika aku sadar, aku sudah berada di dalam ambulan, tibatiba aku mendapatkan gagasan yang mungkin menjadi lucu.”

Aku ingat. “Begitukah?”

Littlemore melihat ke sekelilingnya. “Sangat lucu,” katanya, “hey, apa yang kau kerjakan di sini?”

Aku mengatakan pada Littlemore bahwa aku telah menemukan sesuatu yang mungkin penting bagi kasus Nona Acton. Tibatiba, aku merasa tidak yakin bagaimana menceritakannya. Nora telah mengalami semacam biiocation yaitu sebuah kejadian di mana seseorang berada di dua tempat pada saat yang sama. Ketika masih berkuliah di Harvard, samar-samar aku ingat pernah membaca tentang biiocation dalam hubungannya dengan beberapa percobaan awal penggunaan obat anastesi baru yang telah menjadi sebuah alternatif. Penelitianku memastikan

bahwa aku sekarang yakin kalau Nora telah diberi chloroform (obat pembius), di mana keesokan paginya, tidak akan ada sisa bau atau efek sampingan bagi Nora.

Masalahku, Nora telah mengaku padaku bahwa ia tidak mengatakan apa pun pada detektif Littlemore tentang pengalaman aneh pada saat penyerangan itu terjadi. Ia takut detektif itu tidak akan percaya, begitu katanya. Aku memutuskan untuk langsung mengatakannya: “Ada yang tidak dikatakan Nona Acton padamu tentang penyerangan kemarin malam. Nona Acton telah melihat…, ia…, ia mengalami dua hal dalam waktu yang sama. Ia sebagai korban sekaligus sebagai penonton kejadian itu…, seolah ia adalah bagian luar kejadian itu.” Mendengarkan katakataku yang jelas, aku sadar, aku telah memilih penjelasan yang mungkin paling kurang mudah dimengerti, paling kurang meyakinkan. Wajah detektif Littlemore yang tidak berubah, telah mengesankan seperti itu. Aku menambahkan, “seolah ia melayang di atas tempat tidurnya sendiri.”

“Melayang di atas tempat tidurnya sendiri?” Ulang Littlemore.

“Benar.”

“Chloroform!” Katanya.

Aku terpaku. “Ya, ampun. Bagaimana kau tahu itu?”

“H.G. Wells. Ia adalah penulis kesukaanku. Ia menulis kisah ini tentang kejadian yang sama persis pernah terjadi kepada seorang lelaki yang dioperasi, setelah mereka menidurkannya dengan pengaruh chloroform.”

“Aku sudah membuang waktu seharian di perpustakaan.”

“Tidak, kau tidak membuang waktu,” kata detektif Littlemore, “kau bisa menguatkannya…, secara ilmiah,

maksudku. Kejadian melayang akibat pengaruh chloroform?”

“Ya. Mengapa?”

“Dengarkan, catat ini sebentar, oke? Aku harus memeriksa sesuatu selagi kita di sini. Apa kau bisa ikut denganku?” Littlemore berjalan di sepanjang koridor dan menuruni tangga, benar-benar terlihat pincang. Sambil menoleh ke belakang, ia menjelaskan padaku, “Hugel punya mikroskop yang sangat bagus di bawah ini.”

Di ruang bawah tanah, kami tiba di sebuah laboratorium forensik kecil, dengan meja batu pualam dan peralatan medis bermutu tinggi. Dari sakunya, detektif Littlemore mengeluarkan tiga pucuk amp lop kecil, masingmasing berisi tanah liat merah kering. Salah satu contoh, begitulah penjelasannya padaku, berasal dari apartemen Elizabeth Riverford. Yang kedua berasal dari ruang bawah tanah Gedung Balmoral, dan yang ketiga dari Manhattan Bridge—di dermaga milik George Banwell. Ketiga contoh tanah itu ditekan pada lempengan kaca kecil terpisah, yang kemudian diletakkannya di bawah mikroskop. Ia memindahkan satu lempengan dan dengan cepat menggantinya dengan lempengan lain. “Mereka cocok,” katanya, “ketiganya. Aku sudah tahu.”

Kemudian ia membuka rak milik Riviere. Sebuah foto yang memperlihatkan leher seorang gadis yang bertanda hitam berkembang. Jika aku mengerti maksud detektif Littlemore dengan benar—tetapi tampaknya aku tidak-bercak itu adalah gambar terbalik dari gambar yang tercetak pada leher Nona Riverford yang mereka temukan. Littlemore memeriksa foto itu dengan seksama, sambil membandingkan dengan peniti kecil dasi lelaki yang terbuat dari emas, yang dikeluarkan dari saku lainnya. Ia

memp erlihatkan peniti itu p adaku—memperlihatkan monogram GB. Lalu ia mengajakku untuk membandingkan peniti itu dengan foto tadi.

Aku melakukannya. Dengan peniti dasi di tangan, aku dapat melihat garis luar yang melengkung dari sebuah lencana pada bulatan noda hitam di dalam foto. “Mereka sama,” kataku.

“Ya,” kata Littlemore, “hampir serupa. Hanya masalahnya, menurut Riviere, mereka seharusnya tidak sama. Seharusnya mereka berlawanan. Aku tidak mengerti itu. Kau tahu di mana kami menemukan peniti dasi itu? Di halaman belakang rumah Acton. Bagiku, peniti itu membuktikan lelaki itu memang ke rumah Acton, memanjat pohon, mungkin untuk mencapai jendela kamar Nona Acton.” Ia duduk di kursi, tampaknya tungkai kanannya terlalu sakit untuk berdiri. “Bukankah kau masih mengira itu perbuatan Banwell, Dok?”

“Ya.”

“Kalau begitu kau harus ikut aku ke kantor Walikota McClellan,” kata detektif Littlemore.

g

SMITH ELY JELLIFFE duduk dengan nyaman di deretan kursi depan di Hippodrome, sebuah ruangan teater terbesar di dunia. Ia menangis diam-diam. Begitu juga sebagian besar penonton drama itu. Pertunjukan itu begitu mengharukan bagi mereka: enampuluh empat orang gadis berbaris dengan takzim, kembali ke dalam danau yang dalamnya lima meter yang merupakan bagian dari panggung raksasa Hippodrome. (Air di danau itu adalah air asli; wadah udara di bawah air dan koridor bawah

tanah memberikan jalan keluar di belakang panggung). Siapa yang mampu menahan air mata ketika gadis-gadis cantik dengan pakaian renang yang sopan menghilang ke dalam air bergelombang, dan tidak akan pernah melihat Bumi lagi. Mereka terkutuk untuk tampil selamanya bagi raja Martian dalam sirkusnya, yang berada jauh dari rumah mereka?

Keharuan Jelliffe berkurang, karena tidak lama lagi, ia akan bertemu dengan dua orang di anatar para gadis cantik tadi. Setengah jam kemudian, Jelliffe menggandeng pada sisi kanan dan kiri kedua gadis penyelam yang bersepatu tumit tinggi. Mereka berjalan dengan sangat puas ke ruang makan berpilar di Murray’s Roman’s Garden, Forty-second Street. Di belakang Jelliffe, terjulur dua selendang bulu berwarna merah muda, masingmasing milik kedua gadis itu. Di depannya berdiri pilar-pilar besar terbungkus daun, yang menjulang hingga ke langitlangit atas setinggi tigapuluh setengah meter. Di sana ber-kerdipan gemintang listrik dan bulan buatan yang melintasi cakarawala, maju dengan kecepatan tidak wajar. Airmancur tiga tingkat gaya Pompeii bergemercik di tengah restoran, sementara patung-patung wanita telanjang di dalam lukisan trompe-l’oeik, yang dipasang di setiap dinding di kejauhan.

Ukuran badan Jelliffe seberat kedua gadis itu jika dijadikan satu. Ia percaya usia paruh bayanya itu akan membuat dirinya menjadi lelaki yang paling mengesankan —terutama bagi perempuan. Jelliffe merasakan kegembiraan tersendiri dapat menggandeng para gadis cantik itu, karena sebelumnya, ia cemas bila terlihat tidak mengesankan pada acara makan malam bersama Triumvirate malam itu. Mereka belum pernah mengundangnya makan

malam. Ia merasa semakin mendekati lingkaran dalam ketika ia makan siang pada saat-saat yang tidak pasti waktunya di klub Triumvirate. Tetapi nilai sahamnya meningkat sedikit, karena hubungannya dengan psikotera-peutika baru.

Jelliffe tidak membutuhkan uang. Yang diperlukan adalah ketenaran, penghormatan, kedudukan, harga diri— segala yang dapat diberikan Triumvirate padanya. Misalnya, merekalah yang mengarahkan para pengacara Harry Thaw padanya, sehingga memberi popularitas bagi Jelliffe. Hari teragung dalam hidupnya adalah ketika fotonya muncul di surat kabar, dengan menyebutnya sebagai “salah satu manusia yang berbeda di negara ini.”

Yang mengejutkan adalah bahwa Triumvirate juga telah sangat berminat pada perusahaan percetakannya. Mereka jelas merupakan orang-orang yang berpikiran maju. Pertama-tama mereka melarangnya menerima artikel manapun yang menyebut-nyebut psikoanalis, namun sikap mereka telah berubah. Kira-kira setahun lalu, mereka memerintahkan Jelliffe untuk mengirimkan intisari dari semua aturan yang berhubungan dengan Freud. Lalu mereka memberitahunya mana yang mereka setujui dan mana yang tidak. Triumvirate juga yang memberinya usulan untuk menerbitkan karya Jung. Mereka juga yang mendukungnya untuk menerima buku Freud yang diterjemahkan oleh Brill justru ketika Morton Prince di Boston mungkin akan menerbitkannya. Memang, mereka telah menyewa seorang editor untuk Jelliffe, guna memperhalus terjemahan Brill.

Jelliffe telah memperhitungkan dengan cermat jumlah gadis yang dibawanya pada makan malam kali ini. Gadis-gadis adalah kekhususannya. Ia telah mempererat hubungan sosial maupun profesional dengan orang-orang penentu semacam itu. Ia sangat tahu kemapanan orang-orang penting itu. Ketika ditanya, ia tanpa kecuali menyebutkan Players Club di Gramercy Park. Dengan Triumvirate, Jelliffe tidak pernah ditanya. Ketika mereka mengundangnya untuk bergabung bersama mereka di Roman Garden, Jelliffe merasa bahwa saat itu merupakan saat yang dapat mendatangkan keuntungan. Seperti yang diketahui oleh orang-orang kota, di lantai atas Gardens merupakan duapuluh empat apartemen mewah bagi para lajang. Di dalam tiap apartemen itu berisi pembaringan berukuran ganda, kamar mandi terpisah, dan sebotol sampanye di dalam es. Pada awalnya, Jelliffe telah membayangkan empat orang gadis dan empat kamar, namun jika direnungkan lagi, hal itu tidaklah terlalu cerdas. Maka ia telah mengamankan masingmasing dua: urusan mengambil kesempatan, ia rasakan, akan menambahkan saus kenikmatan pada daging bebek itu.

Jelliffe berhasil mengesankan, tetapi bukan bagi orang yang diharapkannya. Ketika ia dibawa ke ceruk tempat meja Triumvirate berada, ia—yang terlihat puas diri bersama para gadis pengawalnya—jelas-jelas disambut dengan sikap dingin ketiga orang Tuan yang duduk di sana. Tidak seorang pun yang berdiri untuk menunjukkan penghormaannya. Jelliffe tidak berhasil meraba apakah penyebabnya. Ia pun menyapa para pengundangnya dengan besar hati, lalu memanggil kepala pelayan untuk mengatakan kalau di atas tersedia kamar lajang yang telah menunggu mereka sehabis makan malam—berikut dua buah kursi tambahan. Namun dengan lambaian tangannya yang anggun, Dr. Charles Dana membatalkan pesanan kursi tambahan itu. Jelliffe akhirnya meraih kedua

temannya yang kecewa, dan membisikkan kalau mereka lebih baik menunggunya di atas saja.

Tidak lama setelah itu, Triumvirate mendapatkan informasi dari Jelliffe tentang Abraham Brill, yang secara tibatiba menunda penerbitan buku terjemahannya. Sayang sekali, kata Dana. Dan bagaimana tentang kuliah Dr. Jung di Fordham? Jelliffe melaporkan kalau rencananya itu sedang diproses cepat, dan The New York Times telah mengatur sebuah wawancara dengan Jung.

Dana beralih pada temannya yang gemuk dengan pipi berbercak merah sebesar stek domba, “Starr, apa kau telah diwawancarai oleh Times juga?”

Sambil memasukkan isi kerang ke dalam mulutnya, Starr membenarkan, dan telah menjawab wawancara itu dengan jujur. Lalu percakapan mereka beralih ke Harry Thaw, dan Jelliffe dinasihati untuk tidak mengadakan percobaan lebih jauh lagi.

Ketika makan malam hampir selesai, Jelliffe takut ia tidak mendapatkan yang diharapkannya. Dana dan Sachs tidak menjabat tangannya ketika pergi. Tetapi semangatnya yang sudah merosot kembali naik ketika Starr, yang masih tertinggal, bertanya apakah benar kalau Jelliffe telah memesan dua kamar di atas. Jelliffe menegaskannya. Kedua lelaki gemuk itu saling menatap, lalu membayangkan berbaringnya dua orang gadis berselendang boa di sisi botol sampanye dingin yang belum terbuka. Starr menyatakan pendapat kalau apa yang sudah dibayarnya itu, tidak beleh dibuang dengan percuma.

g

“KAU SUDAH GILA, Detektif?” Tanya Walikota McCle—

Ilan di balik pintu kantornya yang tertutup pada Kamis malam.

Littlemore telah meminta sekelompok petugas untuk menyelidiki jendela yang rusak di kaison Manhattan Bridge. Detektif itu dan aku berseberangan meja Walikota. McClellan pun berdiri.

“Pak Littlemore,” kata McClellan yang mewarisi kewibawaan militer ayahnya, “Aku menjanjikan sebuah kereta api bawah tanah bagi kota ini. Aku telah mewujudkannya. Aku menjanjikan Times Square dan Manhattan Bridge, dan aku pun telah mewujudkannya. Demi Tuhan, aku ingin mewujudkannya, jika itu adalah satu hal penting yang bisa kulakukan pada akhir jabatanku. Tidak ada alasan pekerjaan jembatan itu terhalang, tidak satu menit pun. Dan George Banwell tidak boleh mengacaukannya. Kau dengar itu?”

“Ya, pak,” kata Littlemore.

“Elizabeth Riverford terbunuh empat hari lalu dan, sejauh yang keketahui, kalian semua telah kehilangan jenazah busuknya.”

“Sebenarnya aku telah menemukan sebuah mayat, Yang Mulia,” kata Littlemore patuh.

“Oh, ya, jenazah Nona Sigel,” kata McClellan, “yang sekarang membuatkku semakin repot daripada kasus Nona Riverford. Kau sudah melihat surat kabar siang ini? Semua memuat beritanya. Bagaimana Walikota ini membiarkan seorang gadis dari keluarga terhormat ditemukan di dalam koper seorang lelaki Cina? Seolah aku yang bertanggungjawab! Lupakan George Banwell, Detektif. Temukan William Leon untukku.”

“Yang Mulia, dengan segala hormat,” kata Littlemore,

“kukira kasus Riverford dan Sigel ada hubungannya.

Dan kukira Tuan Banwell terlibat dalam keduanya.” McClellan melipat kedua lengannya. “Kau pikir Leon bukan pembunuh Nona Sigel?”

“Kupikir itu mungkin saja, Pak.”

Walikota itu menghela nafas dalam, “Pak Littlemore, lelaki Cina yang kau tangkap sendiri, si Chong itu, telah mengaku satu jam yang lalu. Saudara sepupunya, Leon, telah membunuh Nona Sigel sebulan lalu karena kecem-burannya, setelah ia melihat gadis itu bersama lelaki Cina lainnya. Polisi telah mendatangi lelaki Cina lainnya itu. Di sana mereka menemukan berbagai surat Nona Sigel. Leon mencekiknya hingga mati. Chong menyaksikannya. Ia bahkan membantunya menyimpan jenzah itu di koper Leon. Mengerti? Kau puas sekarang?”

“Aku tidak yakin, Pak,” kata Littlemore.

“Yah, sebaiknya kau yakinkan saja dirimu. Aku ingin jawaban. Di mana Leon? Apakah Nona Acton diserang tadi malam? Apakah ia memang mendapatkan serangan itu atau tidak sama sekali? Apakah aku harus mengerjakan pekerjaan orang lain? Dan izinkan aku mengatakan padamu satu hal lagi, Detektif,” kata McClellan, “Jika kau atau siapa pun berlari masuk ke kantorku dan mengoceh bahwa Elizabeth Riverford telah dibunuh oleh seseorang yang aku tahu tidak mungkin melakukannya, kalian akan aku pecat. Jelas?”

“Ya, Pak, Yang Mulia, Pak,” kata detektif Littlemore.

Kami diperbolehkan pergi. Di sebuah lorong, aku berkata, “setidaknya kita tahu bahwa Walikota itu sama sekali tidak mendukung kita.”

“Aku tidak kehilangan jenazah Nona Riverford,” sangkal Littlemore, sambil memperlihatkan kegusarannya, “ada apa dengan orang-orang itu? Aku sudah menemukan

peniti dasi, tanah liat, seorang pekerja yang tidak jelas sebab kematiannya, dan pelakunya tepat dengan apa yang digambarkan oleh Hugel, ia ketakutan ketika melihat Nona Acton. Nona Acton mengatakan bahwa lelaki itu menyerangnya, terlebih lagi kami tidak diperbolehkan melihat apa yang menyumbat lorong di bawah air itu?”

Jika Banwell berada di luar kota pada malam Nona Elizabeth terbunuh, Aku menegaskan bahwa ia tidak mungkin telah membunuhnya.

“Ya, tetapi mungkin saja ia punya kaki tangan yang melakukannya,” kata Littlemore, “kau tahu tentang sakit kejang urat yang terjadi karena tekanan udara yang tibatiba berubah itu, Doc?”

“Ya. Mengapa?”

“Karena aku tahu apa yang harus kulakukan,” kata Littlemore, yang tungkainya tampak semakin memburuk, “tetapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Kau mau membantuku?”

Ketika aku mendengar rencananya, pada awalnya aku menilai itu sebuah rencana yang paling bodoh yang pernah kudengar. Namun ketika kupikir lagi, aku mulai mengerti.

9




0 Response to "The Interpretation of Murder 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified