Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Chamber

THE CHAMBER

by John Grisham Copyright O John Grisham 1994 All rights reserved

KAMAR GAS .Alih bahasa Hidayat Saleh GM 402 94.137 Hak cipta terjemahan Indonesia Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat 33-37, Jakarta 10270

Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota KAPI, Jakarta, Desember 1994

Cetakan ketiga: Januari 1995 Cetakan keempat: September 1997 Cetakan kelima: Juni 2006

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

GREHAM, John

Kamar Gas/ oleh John Grisham; alih bahasa, Hidayat Saleh —Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994 992 him.; 18 cm

Judul asli: The Chamber ISBN 979-605-137-0

" 1. Fiksi Amerika L Judul D. Saleh, Hidayat

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta

Isi di luar tanggung jawab percetakan

UCAPAN TERIMA KASIH

Dulu saya seorang pengacara, dan mewakili orang-orang yang dituduh dengan segala macam tindak kejahatan. Syukurlah, saya tak pernah punya klien yang dipidana karena pembunuhan berencana dan divonis mati. Saya tak pernah terpaksa mengunjungi penjara untuk para terpidana mari, tak pernah terpaksa melakukan hal-hal yang dilakukan para pengacara dalam kisah ini.

Karena saya tak menyukai riset, saya melakukan apa yang biasa saya kerjakan sewaktu menulis sebuah novel. Saya menemui pengacara-pengacara ahli, dan menjalin persahabatan dengan mereka. Saya telepon mereka kapan saja dan menggali pengetahuan mereka. Dan di sinilah saya berterima kasih kepada mereka.

Leonard Vincent adalah pengacara untuk Mississippi Department of Correction selama bertahun-tahun, dan ia membuka kantornya bagi saya. Ia membantu saya dalam persoalan hukum, memperlihatkan berkas-berkasnya, membawa saya kepenjara bagi terpidana mati, mengantar saya berkeliling menyaksikan lembaga pemasyarakatan negara yang luas dan, secara ringkas, dikenal dengan nama Pare h man. Ia menceritakan berbagai kisah yang entah bagaimana menyusup dalam kisah ini. Saya dan Leonard masih bergumul dengan kerumitan moral tentang hukuman mati, dan saya rasa kami akan selalu terus bergumul. Terima kasih juga kepada stafnya, serta kepada para penjaga dan personel di Parchman.

Jim Craig adalah orang dengan kasih yang besar dan pengacara yang baik. Sebagai direktur pelaksana di Mississippi Capital Defense Resource Center, ia merupakan pembela resmi bagi sebagian besar terpidana mati. Dengan tangkas ia menuntun saya menyusuri labirin perkara banding dan pertempuran habeas corpus yang tak tertembus. Bila ada kekeliruan yang terlewatkan, itu adalah kekeliruan saya, bukan, kekeliruannya.

Saya kuliari hukum bersama Tom Freeland dan Guy Gillespie, dan saya berterima kasih kepada mereka untuk segala bantuan mereka. Marc Smirnoff adalah sahabat saya dan bekerja sebagai editor The Oxford American, dan, seperti biasa, meneliti naskah ini sebelum saya kirim ke New York.

Terima kasih juga untuk Robert Warren dan William Ballard atas bantuan mereka. Dan, seperti biasa, ucapan terima kasih yang teristimewa untuk sahabat saya yang paling baik, Renee, yang masih setia membaca setiap bab dari balik pundak saya.

Keputusan untuk mengebom kantor pengacara Yahudi radikal itu dicapai dengan relatif mudah. Hanya tiga orang terlibat dalam prosesnya. Yang pertama, seorang laki-laki berduit. Yang kedua, pelaksana lokal yang mengenal daerahnya. Dan yang ketiga, seorang patriot dan fanatik muda dengan keahlian dalam pemakaian bahan peledak dan keterampilan mencengangkan untuk menghilang tanpa jejak. Sesudah pengeboman, ia melarikan diri ke luar negeri dan bersembunyi di Irlandia Utara selama enam tahun.

Nama pengacara itu Marvin Kramer, seorang Yahudi Mississippi generasi keempat yang keluarganya jadi kaya raya sebagai pedagang di daerah Delta. Ia tinggal di sebuah rumah kuno zaman sebelum Perang Saudara di Greenville, sebuah kota di tepi sungai dengan komunitas Yahudi yang kecil tapi kuat, sebuah tempat dengan sedikit sejarah keributan rasial. Ia menjalankan praktek hukum, sebab berdagang membuatnya bosan. Sepertikebanyakan orang Yahudi keturunan Jerman, keluarganya berasimilasi dengan baik dalam kebudayaan Selatan, dan memandang diri mereka sebagai orang Selatan biasa yang kebetulan berbeda agama. Gerakan anti-Semitisme jarang muncul ke permukaan. Secara umum, mereka berbaur dengan masyarakat mapan dan memedulikan urusan mereka sendiri.

Marvin berbeda. Ayahnya mengirimnya ke Brandeis di Utara pada akhir dasawarsa lima puluhan. Ia melewatkan empat tahun di sana, lalu tiga tahun di fakultas hukum Columbia. Ketika ia kembali ke Greenville pada tahun 1964 gerakan perjuangan hak sipil sedang mendapat sorotan utama di Mississippi. Marvin melibatkan diri di dalamnya. Kurang dari sebulan sesudah membuka kantor hukumnya yang kecil, ia ditahan bersama dua rekan kuliahnya di Brandeis karena berusaha memperjuangkan hak orang kulit hitam sebagai pemilih. Ayahnya gusar. Keluarganya malu, namun Marvin tak peduli. Ia menerima ancaman pembunuhan pertama pada umur 25, dan mulai membawa-bawa senapan. Ia membelikan sepucuk pistol untuk istrinya, seorang wanita Memphis, dan memerintahkan pembantu mereka yang berkulit hitam untuk membawa satu dalam dompet. Keluarga Kramer punya putra kembar berumur dua tahun.

Perkara gugatan hak sipil pertama diajukan pada tahun 1965 oleh kantor hukum Marvin B. Kramer and Associates (saat itu belum ada associate) de-

ngan tuduhan bertumpuknya diskriminasi dalam praktek pemilihan umum yang dilakukan petugas setempat. Gugatan itu menjadi berita utama di seluruh negara bagian tersebut, dan Marvin membuat fotonya terpampang di surat kabar. Namanya pun jadi tercantum dalam daftar Ku Klux Klan, sebagai orang Yahudi yang akan diancam. Inilah dia, seorang pengacara Yahudi radikal dengan jenggot dan hati yang baik, dididik oleh orang-orang Yahudi di Utara, dan sekarang berbaris bersama orang-orang negro, serta mewakili mereka di Delta Mississippi. Itu tak bisa dibiarkan.

Sesudahnya, ada desas-desus bahwa Kramer memakai uangnya sendiri untuk membayar jaminan pembebasan bagi para aktivis gerakan hak sipil dan Freedom Riders. Ia mengajukan gugatan hukum menentang fasilitas-fasilitas yang hanya boleh digunakan kaum kulit putih. Ia membayar pembangunan kembali sebuah gereja kulit hitam yang dibom Klan. Ia bahkan terlihat menyambut orang negro ke dalam rumahnya. Ia berpidato di hadapan kelompok-kelompok Yahudi Utara dan mendesak mereka untuk melibatkan diri dalam perjuangan tersebut. Ia menulis banyak surat ke surat kabar, namun hanya sedikit yang dicetak. Kramer berbaris gagah berani, menuju kehancuran.

Kehadiran penjaga malam yang berpatroli santai di sekitar rumpun bunga rumah keluarga Kramer telah mencegah serangan terhadap rumah tersebut. Sudah dua tahun Marvin menggaji penjaga itu.

9Seorang mantan polisi dan bersenjata lengkap, dan keluarga Kramer membiarkan seluruh Greenville tahu bahwa mereka dilindungi penembak ulung. Tentu saja Klan tahu tentang penjaga itu, dan Klan I tahu diri untuk tidak mengusiknya. Dengan demikian, diambil keputusan untuk mengebom kantor Marvin Kramer, dan bukan rumahnya.

Perencanaan operasi itu hanya makan waktu sangat singkat. Ini terutama karena orang yang terlibat di dalamnya sangat sedikit Laki-laki berduit itu, tokoh panutan kaum redneck yang flamboyan bernama Jeremiah Dogan, saat itu menjabat sebagai imperial wizard, pemimpin utama Ku Klux Klan di Mississippi. Pendahulunya sudah diciduk dan dipenjara, dan Jerry Dogan asyik mengatur pengeboman-pengeboman. Ia tidak tolol. Bahkan Ikelak FBI mengakui Dogan sebagai teroris yang efektif, sebab ia mendelegasikan pekerjaan kotornya pada kelompok-kelompok kecil beranggotakan pembunuh-pembunuh otonom yang sepenuhnya tidak tergantung satu sama lain. FBI sudah ahli dalam menyusupkan informan ke tubuh Klan, dan Dogan tak mempercayai siapa pun, kecuali keluarga dan sekelompok kecil pembantunya. Ia punya usaha jual-beli mobil bekas terbesar di Meridian, Mississippi, dan mengeruk banyak uang dari berbagai perdagangan gelap.

Anggota kedua dalam tim itu seorang anggota Klan bernama Sam Cayhall dari Clanton, Ford County, Mississippi, tiga jam perjalanan sebelah utara Meridian, dan satu jam perjalanan dari selatan Memphis. Cayhall sudah dikenal FBI, tapi hubungannya dengan Dogan tidak diketahui. FBI menganggap ia tak berbahaya, sebab ia tinggal di suatu daerah yang nyaris tanpa kegiatan Klan. Beberapa salib pernah dibakar di Ford County baru-baru ini, tapi tak ada pengeboman. FBI tahu ayah Cayhall anggota Klan, tapi secara keseluruhan keluarga itu tampak pasif. Perekrutan Sam Cayhall oleh Dogan merupakan langkah cemerlang.

Pengeboman kantor Kramer dimulai dengan sebuah telepon pada malam 17 April 1967. Karena kecurigaannya yang beralasan kuat bahwa teleponnya disadap, Jeremiah Dogan menunggu sampai tengah malam dan bermobil ke sebuah telepon umum di stasiun pompa bensin di selatan Meridian. Ia juga curiga dirinya dikuntit FBI, dan ia benar. Mereka mengawasinya, tapi tak tahu ke mana telepon itu ditujukan.

Sam Cayhall mendengarkan diam-diam di ujung seberang, mengajukan satu-dua pertanyaan, lalu memutuskan hubungan. Ia kembali ke ranjang dan tidak menceritakan apa pun kepada istrinya Sang istri tahu diri untuk tidak bertanya. Esok harinya ia meninggalkan rumah pagi-pagi dan mengendarai mobil memasuki Clanton. Ia makan pagi di The Coffee Shop, lalu menelepon dari telepon umum di dalam Gedung Pengadilan Ford County.

Dua hari kemudian, 20 April, Cayhall meninggalkan Clanton menjelang malam dan bermobil.

11

selama dua jam menuju Cleveland, Mississippi, sebuah kota perguruan tinggi di Delta, satu jam dari Greenville. Empat puluh menit ia menunggu di halaman parkir sebuah pusat perbelanjaan yang sibuk, tapi tidak melihat tanda-tanda adanya mobil Pontiac hijau. Ia makan ayam goreng di sebuah kedai murahan. lalu bermobil ke Greenville untuk mengamati kantor pengacara Marvin B. Kramer and Associates. Dua minggu sebelumnya, Cayhall sudah menghabiskan waktu dua hari di Greenville, dan mengenal kota itu dengan cukup baik. Ia menemukan kantor Kramer, lalu melaju melewati rumahnya yang megah, lalu sampai ke sinagoga itu lagi. Dogan mengatakan sinagoga itu mungkin akan jadi sasaran berikut, tapi pertama mereka perlu menghajar pengacara Yahudi itu. Pukul 23.00. Cayhall kembali ke Cleveland, dan Pontiac hijau itu diparkir bukan di pusat perbelanjaan, tapi di pangkalan truk di Highway 61, sebuah lokasi cadangan, la menemukan kunci kontak di bawah karpet lantai pengemudi, dan mengendarai mobil itu melintasi ladang-ladang Delta yang subur. Ia berbelok ke jalan kecil dan membuka bagasi. Di dalam kardus terbungkus koran, ia menemukan lima belas batang dinamit, tiga tutup peledak, dan sebuah sumbu. Ia mengemudikan mobil itu memasuki kota, dan menunggu di dalam kafetaria yang buka sepanjang malam.

Tepat pukul 02.00, anggota ketiga dalam tim itu berjalan ke pangkalan truk yang penuh sesak itu dan duduk di hadapan Sam Cayhall. Namanya Rollie Wedge, seorang laki-laki muda tak lebih dari 22 tahun, tapi sudah menjadi veteran andal dalam perang menghadapi perjuangan hak sipil. Ia mengaku berasal dari Louisiana, sekarang tinggal di suatu tempat di pegunungan yang tak bisa ditemukan siapa pun, dan meskipun tak pernah membual, ia pernah beberapa kali mengatakan kepada Sam Cayhall bahwa ia siap mati terbunuh dalam perjuangan mempertahankan supremasi kulit putih. Ayahnya anggota Klan dan kontraktor penghancur bangunan. Darinya Rollie belajar bagaimana menggunakan bahan peledak.

Sam tak banyak tahu tentang Rollie Wedge, dan tidak terlalu mempercayai apa yang dikatakannya Ia tak pernah menanyai Dogan di mana ia menemukan bocah itu.

Mereka menghirup kopi dan bcjakap-cakap ringan selama setengah jam. Cai.gkir Cayhall kadang-kadang gemetar karena gelisah, tapi cangkir Rollie tenang dan mantap. Sekarang sudah beberapa kali mereka melakukan pekerjaan ini bersama-sama, dan Cayhall terkagum-kagum pada ketenangan pemuda ini. Ia pernah melaporkan kepada Jeremiah Dogan bahwa bocah itu tak pernah tegang, sekalipun saat mereka mendekati sasaran dan ia menangani dinamit

Mobil Wedge adalah mobil sewaan dari bandara Memphis. Ia mengambil tas kecil dari jok belakang, mengunci pintunya, dan meninggalkannya

13I pangkalan truk tersebut. Pontiac hijau dengan Cayhall di belakang kemudi meninggalkan Cleveland dan melaju ke selatan di Highway 61. Saat iw hampir pukul 03.00, dan jalanan lengang. Beberapa mil sebelah selatan dusun Shaw, Cayhall berbelok ke jalan batu yang gelap dan berhenti. Rollie memerintahkannya tetap tinggal di mobil, sementara ia memeriksa bahan peledak. Sam melakukan apa yang diperintahkan. Rollie membawa tas ke bagasi tempat ia menginventarisasi dinamit, tatap peledak, dan sumbu. Ia meninggalkan tasnya dalam bagasi, menutupnya, dan menyuruh Sam berangkat ke Greenville.

Mereka melewati kantor Kramer untuk pertama kalinya sekitar pukul 04.00. Jalan itu lengang dan gelap, dan Rollie mengucapkan sesuatu yang intinya mengatakan ini akan menjadi pekerjaan mereka yang paling mudah.

"Sayang kita tak bisa meledakkan rumahnya," Rollie berkata pelan ketika mereka melewati ramah Kramer.

"Yeah, sayang sakali," jawab Sam gugup. "Tapi dia punya penjaga, kau tahu."

"Yeah, aku tahu. Tapi penjaga itu mudah ditangani."

"Yeah, kurasa begitu. Tapi ada anak-anak di sana, kau tahu."

"Bunuh saja mereka selagi masih kecil," kata Rollie. "Bangsat Yahudi kecil akan tumbuh jadi bangsat Yahudi besar."

Cayhall memarkir mobil di lorong di belakang kantor Kramer. Ia mematikan mesin; lalu kedua laki-laki itu membuka bagasi tanpa suara, mengambil kardus dan tas, dan menyelinap sepanjang pagar hijau, menuju pintu belakang. Sam Cayhall mencongkel pintu belakang kantor itu dengan linggis kecil, dalam beberapa detik mereka sudah berada di dalam. Dua minggu sebelumnya, Sam pernah muncul menemui resepsionis di situ, pura-pura menanyakan alamat, lalu minta izin untuk memakai kamar kecil. Di lorong utama, antara kamar kecil dan ruangan yang tampak seperti kantor Kramer, ada lemari sempit penuh dengan tumpukan berkas lama dan sampah urusan hukum lainnya.

"Tinggallah di samping pintu dan awasi lorong itu," Wedge berbisik tenang. Sam berbuat tepat seperti yang diperintahkan. Ia lebih suka menjalankan tugas sebagai penjaga dan mengelak ikut menangani bahan peledak.

Rollie cepat-cepat meletakkan kardus di lantai dalam lemari itu, dan memasang kabel-kabel dinamit. Pekerjaan itu harus dilakukan dengan hati-hati, dan jantung Sam berdebar cepat tiap kali ia menunggu. Punggungnya selalu menghadap ke arah peledak tersebut, berjaga-jaga kalau-kalau ada yang tidak beres.

Mereka berada di dalam kantor itu tak lebih dari lima menit. Kemudian mereka kembali ke lorong tadi dan berjalan santai ke Pontiac hijau itu. Mereka tak terkalahkan. Semua begitu mudah.

15Mereka pernah mengebom sebuah kantor real estate di Jackson, sebab sang pengusaha telah men--' k jual sebuah rumah kepada pasangan kulit hitam, ' ¦Pengusaha real estate itu berdarah Yahudi. Mereka ' pernah mengebom kantor penerbit surat kabar kecil, sebab sang editor pernah mengungkapkan sesuatu yang netral tentang gagasan pemisahan menurut warna kulit. Mereka pernah meruntuhkan sinagoga Jackson, sinagoga terbesar di negara bagian itu.

Mereka mengemudikan mobil menembus lorong, dalam kegelapan. Saat Pontiac hijau tersebut memasuki jalan kecil, lampu depannya menyala.

Pada setiap pengeboman terdahulu, Wedge memakai sumbu lima belas menit, yang dinyalakan begitu saja dengan korek api, sangat mirip petasan. Dan sebagai bagian dari pekerjaan tersebut, tim pengebom itu menikmati perjalanan dengan jendela terbuka di perbatasan kota, tepat ketika ledakan mencabik-cabik sasaran. Mereka telah mendengarkan dan merasakan setiap ledakan terdahulu, pada jarak yang aman, saat mereka meloloskan diri dengan santai.

Tapi malam ini lain. Sam salah berbelok di suatu tempat, dan mendadak mereka harus berhenti di persimpangan kereta api, menatap lampu yang berkedip-kedip saat serangkaian kereta barang berdetak-detak lewat di depan mereka. Rangkaian gerbongnya cukup panjang. Lebih dari satu kali Sam memeriksa jam tangannya. Rollie tidak meng-

ucapkan apa-apa. Kereta api itu lewat, .dan Sam lagi-lagi salah belok. Mereka berada dekat sungai, dengan sebuah jembatan di kejauhan, dan rumah-rumah kumuh berjajar di kiri-kanan jalan. Sam memeriksa jam tangannya lagi. Lima menit lagi bumi akan bergetar, dan ia lebih suka meluncur dalam kegelapan jalan raya bebas hambatan yang sepi saat itu terjadi. Satu kali Rollie memainkan tangan dengan resah, seolah-olah kesal dengan sopirnya, tapi tak mengucapkan apa pun.

Satu tikungan lagi, satu jalan baru lagi. Greenville bukan kota besar, dan kalau terus berbelok, Sam memperhitungkan ia bisa kembali ke jalan yang sudah dikenalnya. Kekeliruan berikutnya terbukti menjadi kekeliruan terakhir. Sam menginjak rem begitu menyadari telah keliru berbelok masuk ke jalan satu arah. Ketika ia menginjak rem, mesin mobilnya mati. Ia mengentakkan persneling ke posisi netral dan memutar kunci kontak. Mesin berputar sempurna, tapi tak mau menyala. Kemudian tercium bau bensin.

"Sialan!" kata Sam dengan gigi dikertakkan. "Sialan!"

Rollie duduk rendah di kursinya, menatap ke luar jendela.

"Sialan! Mesinnya kebanjiran bensin!" Ia kembali memutar kunci. Hasilnya sama.

"Jangan sampai akinya habis," kata Rollie perlahan-lahan, tenang.

Sam nyaris panik. Meskipun tersesat, ia cukup

17yakin mereka tak jauh dari pusat kota. Ia meng- ~ hela napas dalam dan mengamati jalan. Ia melirik jam tangan. Tak terlihat ada mobil lain. Semuanya sunyi. Ini saat yang sempurna untuk ledakan bom. Ia bisa melihat sumbu terbakar di lantai kayu. Ia bisa merasakan tanah bergetar. Ia bisa mendengar kayu dan batu fondasi bergemeretak, juga bata dan kaca. Sialan, pikir Sam sambil mencoba mene- I nangkan diri. Bisa-bisa mereka terkena pecahan kaca.

"Mestinya Dogan menyediakan mobil yang lebih baik," ia bergumam sendiri. Rollie tidak bereaksi, matanya memandang sesuatu di luar jendela.

Sedikitnya lima belas menit sudah berlalu sejak mereka meninggalkan kantor Kramer, dan sudah' saatnya ledakan itu terjadi. Sam menyeka butiran . keringat dari kening, dan sekali lagi memutar kunci kontak. Untunglah mesinnya menyala. Ia ter-1 senyum lebar pada Rollie, yang kelihatannya sama sekali tak peduli. Ia memundurkan mobil beberapa meter, lalu memacunya pergi. Jalan pertama ini tampak sudah dikenalnya, dan dua blok kemudian mereka sudah berada di Main Street. "Sumbu macam apa yang kaupakai?" Sam akhirnya bertanya saat mereka berbelok ke Highway 82, tak lebih sepuluh blok dari kantor Kramer.

Rollie mengangkat pundak, seakan-akan menyatakan itu urusannya dan Sam tak semestinya bertanya. Mereka mengurangi kecepatan ketika melewati mobil polisi yang sedang parkir, lalu me-

ningkatkan kecepatan di pinggir kota. Dalam beberapa menit, Greenville sudah di belakang mereka.

"Sumbu apa yang kaupakai?" Sam bertanya lagi.

Suaranya mengandung nada kesal.

"Aku mencoba sesuatu yang baru," Rollie menjawab tanpa menoleh.

"Apa?"

"Kau takkan mengerti," kata Rollie. Sam jadi

tersinggung.

"Alat pengatur waktu?" ia bertanya sesudah lewat beberapa kilometer.

"Semacam itulah."

Mereka bermobil ke Cleveland tanpa bicara sama sekali. Selama beberapa mil, ketika lampu-lampu di Greenville perlahan-lahan menghilang di balik tanah datar, Sam setengah berharap akan menyaksikan bola api atau mendengar gemuruh di kejauhan. Tapi tak ada apa pun yang terjadi. Wedge bahkan tertidur sebentar.

Kafetaria pangkalan truk itu penuh ketika mereka tiba. Seperti biasa, Rollie meninggalkan tempat duduk dan menutup pintu penumpang. "Sampai ketemu lagi," katanya dengan senyum tersungging melalui jendela terbuka, lalu ia berjalan menuju mobil sewaannya. Sam mengawasinya berlenggang pergi, dan sekali lagi takjub atas ketenangan Rollie Wedge.

Sekarang sudah setengah enam lewat beberapa menit, dan secercah cahaya Jingga menembus ke-gelapan di timur. Sam mengemudikan Pontiac hijau itu di Highway 61, dan melaju ke selatan.

Malapetaka mengerikan dalam pengeboman Kramer sebenarnya dimulai sekitar saat Rollie Wedge dyakin mereka tak jauh dari pusat kota. Ia meng- ~ hela napas dalam dan mengamati jalan. Ia melirik jam tangan. Tak terlihat ada mobil lain. Semuanya sunyi. Ini saat yang sempurna untuk ledakan bom. Ia bisa melihat sumbu terbakar di lantai kayu. Ia bisa merasakan tanah bergetar. Ia bisa mendengar kayu dan batu fondasi bergemeretak, juga bata dan kaca. Sialan, pikir Sam sambil mencoba mene- I nangkan diri. Bisa-bisa mereka terkena pecahan kaca.

"Mestinya Dogan menyediakan mobil yang lebih baik," ia bergumam sendiri. Rollie tidak bereaksi, matanya memandang sesuatu di luar jendela.

Sedikitnya lima belas menit sudah berlalu sejak mereka meninggalkan kantor Kramer, dan sudah' saatnya ledakan itu terjadi. Sam menyeka butiran . keringat dari kening, dan sekali lagi memutar kunci kontak. Untunglah mesinnya menyala. Ia ter-1 senyum lebar pada Rollie, yang kelihatannya sama sekali tak peduli. Ia memundurkan mobil beberapa meter, lalu memacunya pergi. Jalan pertama ini tampak sudah dikenalnya, dan dua blok kemudian mereka sudah berada di Main Street. "Sumbu macam apa yang kaupakai?" Sam akhirnya bertanya saat mereka berbelok ke Highway 82, tak lebih sepuluh blok dari kantor Kramer.

Rollie mengangkat pundak, seakan-akan menyatakan itu urusannya dan Sam tak semestinya bertanya. Mereka mengurangi kecepatan ketika melewati mobil polisi yang sedang parkir, lalu me-

ningkatkan kecepatan di pinggir kota. Dalam beberapa menit, Greenville sudah di belakang mereka.

"Sumbu apa yang kaupakai?" Sam bertanya lagi.

Suaranya mengandung nada kesal.

"Aku mencoba sesuatu yang baru," Rollie menjawab tanpa menoleh.

"Apa?"

"Kau takkan mengerti," kata Rollie. Sam jadi

tersinggung.

"Alat pengatur waktu?" ia bertanya sesudah lewat beberapa kilometer.

"Semacam itulah."

Mereka bermobil ke Cleveland tanpa bicara sama sekali. Selama beberapa mil, ketika lampu-lampu di Greenville perlahan-lahan menghilang di balik tanah datar, Sam setengah berharap akan menyaksikan bola api atau mendengar gemuruh di kejauhan. Tapi tak ada apa pun yang terjadi. Wedge bahkan tertidur sebentar.

Kafetaria pangkalan truk itu penuh ketika mereka tiba. Seperti biasa, Rollie meninggalkan tempat duduk dan menutup pintu penumpang. "Sampai ketemu lagi," katanya dengan senyum tersungging melalui jendela terbuka, lalu ia berjalan menuju mobil sewaannya. Sam mengawasinya berlenggang pergi, dan sekali lagi takjub atas ketenangan Rollie Wedge.

Sekarang sudah setengah enam lewat beberapa menit, dan secercah cahaya Jingga menembus ke-an Sam Cayhall berpisah di Cleveland. Kengerian itu dimulai dengan beker di atas meja kecil tak jauh dari bantal Ruth Kramer. Ketika beker itu berdering pada pukul 05.30, seperti biasa, Ruth langsung tahu bahwa ia sangat sakit. Ia merasa agak demam, pelipisnya nyeri luar biasa, dan ia agak mual. Marvin membantunya ke kamar mandi tak jauh dari ranjang, dan selama setengah jam ia berada di dalamnya Satu bulan ini ada virus flu ganas yang menyebar di Greenville, dan sekarang menyerang rumah keluarga Kramer.

Pembantu rumah tangga membangunkan si kembar. Josh dan John, sekarang umur lima tahun, pada pukul 06.30, dan cepat-cepat memandikan, mengganti pakaian, dan memberi mereka makan. Marvin menganggap sebaiknya membawa mereka ke sekolah seperti sudah direncanakan serta menjauhkan mereka dari rumah dan, mudah-mudahan, dari virus itu. Ia menelepon dokter temannya untuk minta resep, dan meninggalkan dua puluh dolar kepada pembantu untuk membeli obat di apotek satu jam lagi. Ia berpamitan kepada Ruth yang sedang berbaring di lantai kamar mandi dengan bantal di bawah kepala dan sebungkus es pada wajah, lalu meninggalkan rumah bersama anak-anak.

Tidak seluruh praktek hukumnya diabdikan untuk mengurus perkara hak-hak sipil..Perkara macam itu tidak cukup banyak untuk lahan hidup di Mississippi pada tahun 1967. Ia menangani beberapa kasus pidana dan perkara perdata umum lainnya: perceraian, sengketa tanah, kebangkrutan, real estate. Dan meskipun ayahnya nywis tidak bicara dengannya, dan seluruh keluarga Kramer nyaris tak pernah menyebut namanya, Marvin menghabiskan sepertiga waktunya di kantor untuk menangani bisnis keluarganya. Pagi ini ia dijadwalkan hadir di pengadilan pada pukul 09.00 untuk memperdebatkan sebuah mosi dalam gugatan yang melibatkan real estate pamannya.

Si kembar sangat menyukai kantornya. Mereka baru akan bersekolah pukul 08.00, jadi Marvin bisa bekerja sedikit sebelum mengantar anak-anak dan kemudian menghadiri sidang pengadilan. Hal ini terjadi mungkin sekali sebulan. Kenyataannya hampir tak pernah sehari pun lewat tanpa salah satu dari si kembar merengek kepada Marvin agar membawa mereka ke kantornya dulu, baru kemudian ke sekolah.

Mereka tiba di kantor sekitar pukul 07.30, dan begitu berada di dalam si kembar langsung menghampiri meja kerja sekretaris dan setumpuk kertas ketik, semuanya menunggu dipotong, di-copy, di-stapler, dan dilipat jadi amplop. Kantor itu me-

21rupakan bangunan yang simpang siur, dibangun bertahap dengan tambahan di sana-sini. Pintu depannya terbuka ke sebuah serambi sempit tempat meja resepsionis diletakkan nyaris di bawah tangga. Empat kursi bagi para klien yang sedang menunggu berderet dekat dinding. Majalah bertebaran di bawah kursi-kursi. Di sebelah kiri dan kanan serambi itu ada kantor-kantor kecil untuk para pengacara*—Marvin sekarang punya tiga associate yang bekerja untuknya. Sebuah lorong membujur lurus dari serambi, melintasi bagian tengah lantai bawah, sehingga dari pintu depan bagian belakang bangunan itu bisa terlihat sejauh sekitar 24 meter. Kantor Marvin adalah ruangan terbesar di lantai bawah, dan terletak pada pintu terakhir di sebelah kiri, di samping lemari yang penuh sesak. Tepat di seberang lemari di gang itu adalah kantor sekretaris Marvin. Namanya Helen, seorang wanita menawan yang selama delapan belas bulan diimpi-impikan oleh Marvin.

Di lantai dua adalah kantor-kantor yang berjejalan milik satu pengacara lain dan dua sekretaris. Lantai tiga tanpa pemanas atau AC, dan dipakai untuk gudang.

Biasanya ia tiba di kantor antara pukul 07.30 sampai pukul 08.00, sebab ia suka satu jam tenang sebelum orang-orang lain tiba dan telepon mulai berdering. Seperti biasa, ia orang pertama yang tiba pada hari Jumat, 21 April.

Ia membuka kunci pintu depan, menyalakan lampu, dan berhenti di serambi. Dikuliahinya si kembar agar tidak memorak-porandakan meja Helen, tapi mereka sudah kabur ke gang dan tak mendengarkan sepatah kata pun. Josh sudah memegang gunting dan John memegang stapler saat Marvin mengulurkan kepala untuk pertama kali dan memperingatkan mereka. Ia tersenyum sendiri, lalu beranjak ke kantornya dan langsung tenggelam dalam riset.

Sekitar pukul 07.45, seperti diingatnya kelak di rumah sakit, Marvin naik tangga ke lantai tiga untuk mencari berkas lama yang, saat itu ia duga, relevan dengan kasus yang sedang dipersiapkannya. Sambil naik tangga, ia bergumam sendiri. Ketika ledakan itu terjadi, berkas tua itu menyelamatkan nyawanya. Anak-anak sedang tertawa di suatu tempat di gang.

Ledakan itu meletup ke atas dan mendatar dengan kecepatan beberapa ribu kaki per detik. Lima belas batang dinamit di tengah bangunan berangka kayu akan meremukkannya jadi puing dan kepingan-kepingan kecil dalam hitungan detik. Perlu satu menit penuh sebelum potongan-potongan kayu runcing dan puing lainnya kembali ke bumi. Tanah serasa berguncang bagaikan gempa kecil, dan seperti diuraikan para saksi, kepingan-kepingan kaca terpercik di pusat kota Greenville selama beberapa waktu yang serasa berabad-abad.

Josh dan John Kramer berada tak lebih dari empat setengah meter dari episentrum ledakan ter-

23sebut. Untunglah mereka tak pernah tahu apa yang menimpa diri mereka. Mereka .tidak menderita. Tubuh mereka yang hancur ditemukan petugas pemadam kebakaran setempat di bawah timbunan puing setinggi dua setengah meter. Marvin Kramer pertama terlempar menghantam langit-langit lantai tiga, lalu tak sadarkan diri, terjatuh bersama puing-puing atap ke dalam kawah yang mengepulkan asap di tengah bangunan. Dalam tiga jam, dua kakinya diamputasi sebatas lutut.

Ledakan itu terjadi tepat pukul 07.46, dan dari satu segi ini merupakan keberuntungan. Helen, sekretaris Marvin, sedang meninggalkan kantor pos empat blok dari sana dan merasakan ledakan itu. Sepuluh menit lagi ia sudah akan berada di dalam, membuat kopi. David Lukland, seorang associate muda dalam firma hukum itu, tinggal tiga blok dari sana, dan baru saja mengunci pintu apar-k temennya ketika mendengar dan merasakan le-I dakan tersebut. Sepuluh menit lagi ia sudah akan v memilah-milah surat di kantornya di lantai dua. Kebakaran kecil terjadi di gedung perkantoran sebelah, dan meskipun cepat-cepat dipadamkan, hal itu banyak menambah ketegangan. Asap bergulung-gulung tebal beberapa saat, hingga orang-orang berlarian hilir-mudik.

Ada dua pejalan kaki yang terluka. Sebatang kayu ukuran sepuluh kali lima sentimeter sepanjang satu meter mendarat di trotoar sembilan puluh meter dari sana, melenting sekali, lalu menimpa

Mrs. Mildred Talton tepat di wajahnya ketika ia melangkah keluar dari mobil dan memandang ke arah ledakan itu. Ia menderita luka koyak yang

mengerikan dan hidung patah, namun akan sembuh pada saatnya.

Luka pada korban kedua sangat kecil tapi penting. Seorang asing bernama Sam Cayhall sedang

berjalan perlahan-lahan ke arah kantor Kramer ketika tanah bergetar begitu keras, sehingga ia kehilangan keseimbangan dan tersandung pada trotoar. Ketika berusaha berdiri,, ia terhantam oleh kaca yang beterbangan, satu kali di kuduk dan satu kali di pipi kiri. Ia merunduk di belakang sebatang pohon ketika puing dan reruntuhan menghujani sekelilingnya. Ia ternganga menyaksikan kehancuran di hadapannya, lalu berlari pergi.

Darah menetes-netes dari pipi dan menggenang di kemejanya. Ia terperanjat dan kelak tak ingat banyak tentang ini. Dengan Pontiac hijau yang sama, ia bergegas pergi dari pusat kota, dan kemungkinan besar akan berhasil keluar dari Greenville untuk kedua kalinya dengan selamat, seandainya ia berpikir dan menaruh perhatian. Dua polisi dalam mobil patroli sedang melaju ke daerah bisnis untuk menanggapi panggilan atas pengeboman itu ketika mereka berpapasan dengan Pontiac hijau yang, entah karena apa, tak mau menepi untuk membiarkan mereka lewat. Mobil patroli itu membunyikan sirene, lampunya berkeredapan, klaksonnya berdengung, dan polisi-polisi itu mengumpat,

25tanj Pontiac hijau itu tetap diam di jalurnya, tak mau menyisih. Polisi itu berhenti, berian ke sana, mengentakkan pintu sampai terbuka, dan menemukan seorang laki-laki berlumuran darah. Borgol dipasang pada pergelangan tangan Sam. Ia

Bom yang menewaskan anak kembar Kramer adalah jenis yang paling kasar. Lima belas batang dinamit diikat erat satu sama lain dengan selotip. Tapi tak ada sumbu. Sebagai gantinya, Rollie Wedge memakai detonator, sebuah timer, dan sebuah beker pegas murahan. Ia mencabut jarum menit dari beker itu dan mengebor sebuah lubang kecil di antara angka tujuh dan delapan. Ke dalam lubang kecil itu ia menyisipkan jarum besi yang bila disentuh putaran jarum jam akan menyambung sirkuit dan memicu bom tersebut. Rollie menginginkan waktu lebih banyak dari yang bisa disediakan sumbu ukuran lima belas menit. Di samping itu, ia menganggap dirinya pakar dan ingin bereksperimen dengan alat-alat baru.

Barangkali jarum jam itu sedikit bengkok. Barangkali piringan permukaan jam itu tidak sepenuhnya datar. Barangkali Rollie dalam antusiasmenya telah memutarnya terlalu kencang, atau kurang kencang. Barangkali jarum pemicu itu tidak sama rata dengan piringan jam. Bagaimanapun Juga, ini percobaan pertama Rollie dengan sebuah

timer. Atau barangkali alat pengatur waktu itu

bekerja tepat seperti yang direncanakan.

Namun apa pun alasan atau dalihnya, kegiatan pengeboman Jeremiah Dogan dan Ku Klux Klan sekarang telah menumpahkan darah orang Yahudi di Mississippi. Dan, karena segala alasan praktis, kegiatan itu pun usai.DUA

Begitu tubuh-tubuh itu diangkat, polisi Greenville menyegel daerah sekitar reruntuhan dan menjauhkan orang banyak. Dalam beberapa jam, barang-barang bukti diserahkan kepada tim FBI dari Jackson, dan sebelum hari gelap satu unit pembongkar memindahkan puing-puing itu. Puluhan agen FBI dengan serius memulai tugas membosankan, yaitu memungut setiap kepingan kecil, memeriksanya, memperlihatkannya kepada orang lain, lalu me-ngemasinya untuk dicocokkan satu sama lain esok harinya. Sebuah gudang kapas kosong di tepi kota disewa dan dijadikan tempat penyimpanan puing kantor Kramer.

Pada waktunya, FBI akan mengonfirmasikan apa yang sudah diduga dari semula. Dinamit, sebuah timer, dan sejumlah kabel. Cuma sebuah bom sederhana yang dikaitkan satu sama lain oleh seorang amatir yang cukup beruntung tidak ikut terbunuh.

Marvin Kramer cepat-cepat diterbangkan ke ru-

mah sakit yang lebih bagus di Memphis, dan selama tiga hari dimasukkan dalam daftar pasien kritis tapi stabil. Ruth Kramer dirumahsakitkan karena shock, pertama di Greenville, kemudian dipindahkan dengan ambulans ke rumah sakit yang sama di Memphis. Mereka berbagi satu kamar, Mr. dan Mrs. Kramer, dan juga berbagi obat penenang dalam jumlah besar. Para dokter dan sanak saudara yang tak terhitung jumlahnya bergadang menjagai. Ruth dilahirkan dan dibesarkan di Memphis, jadi ada banyak teman yang menjagainya.

Setelah debu di sekitar kantor Marvin mengendap, para tetangga, beberapa di antaranya penjaga toko dan kerani kantor lain, menyapu serpih-an kaca dari trotoar dan saling berbisik ketika menyaksikan polisi dan regu penolong mulai menggali. Desas-desus kuat melanda pusat kota Greenville, mengatakan seorang tersangka sudah ditahan. Sore itu juga kelompok-kelompok penonton sudah tahu bahwa nama orang itu Sam Cayhall, dari Clanton, Mississippi, ia anggota Klan, dan entah bagaimana terluka dalam serangan itu. Satu laporan berita menyajikan gambar-gambar mengerikan dari pengeboman lain yang dilakukan Cayhall dengan segala macam luka mengerikan dan mayat-mayat yang porak-poranda, namun semuanya hanya melibatkan Negro-negro miskin Laporan berita lain menceritakan kecemerlangan polisi Greenville dalam melacak orang gila ini hanya beberapa detik setelah ledakan. Pada siaran

29berita tengah hari, stasiun TV Greenville menegaskan apa yang sudah diketahui, bahwa dua anak kecil itu tewas, ayah mereka luka parah, dan Sam Cayhall sudah ditahan.

Sam Cayhall akan dibebaskan beberapa saat lagi, dengan uang jaminan tiga puluh dolar. Saat dibawa ke kantor polisi, ia tersadar dan minta maaf dengan sopan kepada polisi karena tidak menepi seperti yang mereka harapkan. Ia dituduh melakukan pelanggaran yang amat sepele, dan dikirim ke mang penahanan sementara untuk diproses lebih lanjut dan dibebaskan. Dua petugas yang menahannya bergegas berlalu untuk memeriksa ledakan tersebut.

Seorang petugas pemelihara gedung yang bertugas ganda sebagai petugas kesehatan penjara menghampiri Sam dengan peralatan PPPK yang tidak terurus dan membasuh darah kering dari wajahnya. Perdarahannya sudah berhenti. Sam mengulangi bahwa ia terlibat dalam suatu perkelahian di bar. Malam yang keras. Petugas kesehatan berlalu, dan sejam kemudian seorang sipir muncul di jendela geser ruang tahanan dengan surat-surat lain. Tuduhannya adalah tidak memberi jalan kepada kendaraan emergency, denda maksimumnya tiga puluh dolar, dan bila bisa membayar tunai jumlah tersebut, Sam bebas pergi begitu urusan administrasi selesai- dan mobilnya dilepas. Sam mondar-mandir gelisah sekeliling ruangan, melirik jam tangan, mengelus pelan luka di pipinya.

Ia akan dipaksa menghilang. Ada catatan atas penahanan ini, dan tak lama lagi orang-orang udik ini akan menghubungkan namanya dengan pengeboman itu, dan kemudian... nah, ia harus kabur. Ia akan meninggalkan Mississippi, mungkin bergabung dengan Rollie Wedge dan berangkat ke Brazil atau tempat lain. Dogan akan memberi mereka uang. Ia akan menelepon Dogan begitu meninggalkan Greenville. Mobilnya masih terparkir di pangkalan truk di Cleveland. Ia akan tukar kendaraan di sana, lalu berangkat ke Memphis, dan naik bus Greyhound.

Itulah yang akan dilakukannya. Sungguh tolol ia, kembali ke tempat kejadian. Tapi, pikirnya, kalau ia tetap tenang, badut-badut ini akan melepaskannya.

Setengah jam berlalu sebelum sang sipir tiba dengan satu formulir lain. Sam menyerahkan tiga puluh dolar kontan dan menerima kuitansi. Ia mengikuti laki-laki itu melewati lorong sempit, menuju meja depan penjara. Di sana ia diberi surat panggilan untuk muncul di Pengadilan Negeri Greenville dalam dua minggu. "Mana mobilnya?" ia bertanya sambil melipat surat panggilan.

"Mereka sedang mengambilnya Tunggu saja di sini."

Sam memeriksa jam tangan dan menunggu selama lima belas menit. Melalui jendela kecil pada sebuah pintu besi ia melihat mobil datang dan pergi di halaman parkir di depan penjara. Dua

31pemabuk diseret ke meja oleh seorang polisi bertubuh kekar. Sam bergerak-gerak resah dan menunggu.

Tiba-tiba dari belakangnya terdengar sebuah suara baru memanggilnya perlahan-lahan, "Mr. Cayhall." Ia menoleh dan berhadapan dengan seorang laki-laki pendek dalam jas lusuh. Sebuah lencana dilambaikan di bawah hidung Sam.

"Saya Detektif Ivy, Kepolisian Greenville. Perlu mengajukan beberapa pertanyaan pada Anda." Ivy melambai ke arah sederet pintu kayu di sepanjang lorong, dan Sam mengikuti dengan patuh.

Mulai saat pertama duduk di depan meja kotor, menghadap Detektif Ivy, Sam bicara cuma sedikit Ivy berumur awal empat puluhan, tapi sudah beruban dan berkeriput di sekitar mata. Ia menyalakan sebatang Camel tanpa filter, menawarkan sebatang pada Sam, lalu menanyakan bagaimana wajahnya sampai terluka. Sam memain-mainkan rokok itu, tapi tidak menyalakannya. Sudah bertahun-tahun yang lalu ia berhenti merokok, dan meskipun merasakan dorongan kuat untuk mulai mengepul-ngepulkan asap pada saat kritis ini ia cuma mengeruk-ngetukkannya pelan pada meja. Tanpa memandang Ivy, ia mengatakan mungkin ia terlibat dalam suatu perkelahian.

Ivy seperti mendengus dengan senyum kecil, seolah-olah ia sudah menduga jawaban macam ini dan Sam tahu ia sedang menghadapi seorang pn>

fesional. Sekarang ia takut, tangannya mulai gemetar. Ivy tentu saja memperhatikan semua ini. Di manakah perkelahian itu? Dengan siapa kau berkelahi? Kapan perkelahian itu terjadi? Mengapa kau berkelahi di Greenville sini, sedangkan kau tinggal tiga jam dari sini? Dari mana kau mendapatkan mobil itu?

Sam tidak mengatakan apa-apa. Ivy menghujaninya dengan pertanyaan; semuanya tak bisa dijawab Sam, sebab kebohongan akan berlanjut dengan kebohongan lain, dan Ivy akan menjeratnya dalam beberapa detik.

"Aku ingin bicara dengan seorang penasihat hukum," akhirnya Sam berkata.

"Itu bagus, Sam. Kupikir memang itulah yang harus kaulakukan." Ivy menyalakan sebatang Camel lagi dan mengembuskan asap tebal ke langit-langit.

"Ada ledakan bom pagi ini, Sam. Apa kau tahu itu?" Ivy bertanya, suaranya naik sedikit dengan

nada mengejek. "Tidak."

"Tragis. Kantor seorang pengacara lokal bernama Kramer diledakkan sampai berkeping-keping. Terjadi sekitar dua jam yang lalu. Mungkin pekerjaan orang-orang Ku KIux Klan, kau tahu. Kami tidak punya Ku Klux Klan di sekitar sini, tapi Mr. Kramer orang Yahudi. Coba kuterka... kau tidak tahu apa-apa tentang hal ini^bukan?"

"Benar."

33"Menyedihkan sekali. Sam. Kau tahu, Mr. Kramer punya dua putra yang masih kecil, Josh dan John, dan sudah nasib mereka berada di kantor bersama ayahnya ketika bom itu meledak."

Sam menghela napas dalam dan memandang Ivy. Ceritakan sisanya padaku, matanya berkata.

"Dan dua bocah kecil ini, kembar, umur lima tahun, sangat lucu. meledak berkeping-keping, Sam. Tewas tuntas, Sam."

Sam menundukkan kepala perlahan-lahan, sampai dagunya berjarak satu senti dari dada. Ia terpukul. Pembunuhan, dua orang. Pengacara, pengadilan, hakim, juri, penjara, segalanya menerpa sekaligus dan ia memejamkan mata.

"Ayah mereka mungkin beruntung. Dia ada di rumah sakit sekarang, sedang menjalani operasi. Anak-anaknya ada di kamar jenazah. Sungguh suatu tragedi, Sam. Tidakkah mestinya kau tahu sesuatu tentang bom itu, Sam?"

Tidak. Aku ingin menemui pengacara."

Tentu." Ivy berdiri perlahan-lahan dan meninggalkan ruangan.

Kepingan kaca pada wajah Sam dikeluarkan dokter dan dikirim ke laboratorium FBI. Laporannya tidak mengandung kejutan—kaca yang sama dengan jendela depan kantor itu. Pontiac hijau to dengan cepat dilacak sampai pada Jeremiah Dogan di Meridian. Sebuah sumbu lima belas menit ditemukan dalam bagasi. Seorang pengirim barang

maju ke depan dan menerangkan kepada polisi bahwa ia melihat mobil itu dekat kantor Mr.

Kramer -sekitar pukul 04.00.

FBI memastikan pers langsung mengetahui Mr. Sam Cayhall sebagai anggota lama Ku Klux Klan, dan menjadi tersangka utama dalam beberapa pengeboman lain. Mereka merasa kasus ini sudah terungkap, dan mereka menghujani Kepolisian Greenville dengan pujian. J. Edgar Hoover sendiri mengeluarkan pernyataan.

Dua hari sesudah pengeboman tersebut, si kembar Kramer dibaringkan untuk beristirahat selamanya di sebuah makam kecil. Saat itu ada 146 orang Yahudi tinggal di Greenville, dan kecuali Marvin Kramer dan enam orang lain, setiap orang menghadiri upacara pemakaman. Dan jumlah mereka dikalahkan dua banding satu oleh para wartawan dan fotografer dari berbagai penjuru negeri.

Esok paginya Sam melihat foto-foto dan membaca berita tersebut dalam sel kecilnya. Sang asisten sipir, Larry Jack Polk, adalah orang polos yang sekarang sudah jadi temannya, sebab seperti yang dibisikkannya kepada Sam sebelumnya, ia punya saudara sepupu yang jadi anggota Klan dan ia selalu ingin bergabung, tapi istrinya tak setuju. Ia membawakan Sam kopi segar dan surat kabar tiap pagi. Larry Jack sudah menyatakan kekagumannya atas keterampilan Sam melakukan pengeboman. Selain beberapa patah kata biasa yang diperlu-

kan untuk memanipulasi Larry Jack, Sam boleh dibilang tidak mengucapkan apa-apa. Sehari sesudah pengeboman itu ia dijatuhi tuduhan melakukan dua pembunuhan terencana, maka skenario kamar gas memenuhi pikirannya. Ia menolak mengucapkan sepatah kata pun kepada Ivy dan polisi lain; begitu pula kepada FBI. Para wartawan pun bertanya, tapi tak pernah berhasil melewati Larry Jack. Sam menelepon istrinya dan menyuruhnya tetap tinggal di Clanton dengan pintu terkunci. Ia duduk seorang diri dalam sel dan mulai menulis buku harian.

Kalau ingin menemukan dan mengaitkan Rollie Wedge dengan pengeboman itu, polisi harus mencarinya. Sam Cayhall pernah mengangkat sumpah sebagai anggota klan, dan baginya sumpah itu suci. Ia takkan pemah mengadukan anggota Klan lain. Ia benar-benar berharap Jeremiah Dogan punya perasaan yang sama mengenai sumpahnya, j

Dua hari sesudah pengeboman, seorang pengacara licik dengan tata rambut riap-riap bernama Clovis Brazelton muncul pertama kali di Greenville. Ia anggota rahasia Klan, dan sudah terkenal di Jackson suka mewakili segala macam bajingan. Ia ingin ikut pemilihan sebagai gubernur. Katanya ia berpendirian melestarikan ras putih, FBI adalah iblis, orang kulit hitam harus dilindungi tapi tidak bercampur dengan orang kulit putih, dan lain-lain. Ia dikirim Jeremiah Dogan untuk membela Sam Cayhall, dan yang lebih penting lagi, untuk nX-

mastikan Cayhall tetap tutup mulut. FBI mengawasi Dogan dengan cermat gara-gara Pontiac hijau itu, dan ia takut didakwa sekongkol.

Bersekongkol, Clovis menerangkan kepada klien barunya sejak awal, sama bersalahnya seperti orang yang sesungguhnya menarik pelatuk. Sam mendengarkan, tapi tak banyak bicara. Ia sudah mendengar tentang Brazelton, dan juga tidak mempercayainya.

"Dengar, Sam," kata Clovis, seakan-akan menerangkan persoalan kepada bocah kelas satu, "aku tahu siapa yang memasang bom itu. Dogan menceritakannya padaku. Kalau hitunganku benar, ada empat orang—aku, kau,j Dogan, dan Wedge. -Ute-karang, pada titik ini, Dogan hampir pasti bahwa Wedge takkan pernah ditemukan. Mereka belum bicara, tapi bocah itu cemerlang dan mungkin sudah berada di negara lain saat ini. Namun polisi akan sulit menangkapnya, kecuali mereka bisa membuktikan kalian bekerja sama untuk meledakkan kantor si Yahudi itu. Dan satu-satunya cara membuktikan hal ini adalah bila kau mengatakannya pada mereka."

"Jadi, aku yang harus berkorban?" tanya Sam.

"Tidak. Kau bungkam saja tentang Dogan. Sangkal segalanya. Kita akan mengarang cerita tentang mobil itu. Biar aku yang mengurusnya. Akan kuusahakan agar sidangnya dipindahkan ke county lain, mungkin di daerah perbukitan atau tempat lain yang tidak ada orang Yahudi. Kita cari

37juri yang seluruhnya kulit putih, dan akan kutahan mereka agar tidak mendapatkan keputusan bulat, sehingga kita berdua jadi pahlawan. Biar aku saja yang menanganinya."

"Kaupikir aku takkan dipidana?" "Tidak. Dengar, Sam, pegang kata-kataku. Kita akan dapatkan dewan juri yang penuh dengan patriot, orang-orang macam dirimu, Sam. Semuanya kulit putih. Semuanya khawatir anak-anak mereka akan dipaksa pergi ke sekolah bersama anak-anak Negro. Orang-orang baik, Sam. Kita pilih dua belas di antara mereka, dudukkan mereka di boks juri, dan jelaskan pada mereka bagaimana Yahudi busuk ini mengobar-ngobarkan omong kosong tentang gerakan hak sipil. Percayalah padaku, Sam, ini akan mudah." Bersama dengan itu, Clovis membungkuk di atas meja yang goyah, meremas lengan Sam, dan berkata, "Percayalah padaku, Sam. Aku sudah pernah melakukannya." -

Siang itu Sam diborgol, dikelilingi polisi kota Greenville, dan digiring ke mobil patroli yang sedang menunggu. Antara penjara dan mobil itu ia dipotret oleh sepasukan kecil fotografer. Satu kelompok lain orang-orang yang pantang mundur ini sedang menunggu di gedung pengadilan ketika Sam tiba bersama iring-iringannya.

Ia menghadap hakim kota itu bersama pengacara barunya, Clovis Brazelton, yang menerima saja sidang pemeriksaan pendahuluan dilewatkan dan melakukan beberapa manuver hukum rutin

lain tanpa banyak suara. Dua puluh menit setelah

meninggalkan penjara, ia kembali lagi. Clovis berjanji akan kembali beberapa hari lagi untuk mulai merancang strategi, kemudian ia keluar dan tampil anggun di depan kamera untuk para wartawan.

Butuh waktu satu bulan penuh sebelum kegemparan media surut di Greenville. Sam Cayhall dan Jeremiah Dogan didakwa melakukan pembunuhan berencana pada tanggal 5 Mei 1967. Jaksa penuntut setempat mengumumkan keras akan mengusahakan hukuman mati. Nama Rollie Wedge tak pernah disebut-sebut. Polisi dan FBI tidak mengetahui keberadaannya.

Clovis, yang sekarang mewakili kedua terdakwa, berdebat dengan sukses untuk mendapatkan pemindahan tempat sidang, dan pada tanggal 4 September 1967, sidang dimulai di Nettles County, dua ratus mil dari Greenville. Pengadilan itu berubah jadi sirkus. Klan mendirikan pangkalan di halaman depan gedung pengadilan dan menampilkan pawai riuh rendah hampir setiap saat. Mereka mengirim anggota-anggota Klan dari berbagai negara bagian lain, bahkan punya daftar pembicara tamu. Sam Cayhall dan Jeremiah Dogan digunakan sebagai simbol supremasi kaum kulit putih, dan nama mereka diteriakkan ribuan kali oleh penyanjung mereka yang berkerudung.

Pers mengawasi dan menunggu. Ruang sidang dipenuhi wartawan dan reporter, yang kurang ber-

39untung terpaksa menunggu di bawah naungan pepohonan di halaman depan. Mereka mengawasi orang-orang Klan dan mendengarkan pidato-pidato, dan makin banyak mereka menyaksikan dan memotret, makin panjanglah pidato-pidato tersebut.

Di dalam ruang sidang, segalanya berjalan mulus bagi Cayhall dan Dogan. Brazelton menunjukkan kepiawaiannya dan menempatkan dua belas patriot—menurut istilahnya—duduk sebagai juri, lalu mulai mengorek lubang yang cukup penting dalam dakwaan. Yang

paling penting, bukti-buktinya merupakan bukti tak langsung—tak seorang pun benar-benar melihat Sam Cayhall menanam bom tersebut. Clovis mengkhotbahkan hal ini dengan keras dalam pernyataan pembukaannya. Ia menegaskan bahwa Cayhall memang bekerja untuk Dogan yang mengirimnya ke Greenville untuk suatu urusan, dan kebetulan saja berada di dekat kantor Kramer pada saat yang paling tak menguntungkan. Clovis nyaris menangis ketika memikirkan dua anak kecil yang tak ternilai itu.

Sumbu dinamit di dalam bagasi itu mungkin ditinggalkan di sana oleh pemilik sebelumnya, Mr. Carson lenkins, seorang kontraktor penguruk tanah dari Meridian. Mr. Carson Jenkins memberikan kesaksian bahwa ia selalu memakai dinamit dalam pekerjaannya, dan jelas ia meninggalkan sumbu itu dalam bagasi ketika menjual mobil tersebut kepada Dogan. Mr. Carson Jenkins guru sekolah minggu, seorang laki-laki kecil yang pendiam, pekerja keras,

dan sepenuhnya dapat dipercaya. Ia pun anggota Ku Klux Klan, namun FBI tidak mengetahuinya. Clovis

menyusun kesaksian ini tanpa cacat.

Fakta bahwa mobil Cayhall ditinggalkan di pangkalan truk di Cleveland tak pernah ditemukan polisi atau FBI. Ketika pertama kali menelepon dari penjara, ia sudah memerintahkan istrinya untuk membawa putranya, Eddie Cayhall, dan segera pergi ke Cleveland mengambil mobil itu. Ini sepotong keberuntungan yang penting bagi pembelaan. ,

Tetapi dalih paling kuat yang dikemukakan Clovis Brazelton adalah fakta bahwa tak seorang pun bisa membuktikan kliennya bersekongkol untuk melakukan sesuatu, dan bagaimana bisa kalian, juri Nettles County, mengirim dua laki-laki ini menuju kematian?

Sesudah empat hari bersidang, Dewan Juri mengundurkan diri untuk berunding menentukan keputusan. Clovis menjamin keputusan bebas untuk kliennya. Jaksa nyaris yakin akan mendapatkan keputusan bebas. Orang-orang Klan mencium bau kemenangan dan meningkatkan tempo di halaman depan.

Ternyata tak ada pembebasan dan tak ada pidana. Dengan hebat dua anggota juri dengan berani menghunjamkan kaki dan mendesak untuk menjatuhkan pidana.' Sesudah berunding selama satu setengah hari, Dewan Juri melapor kepada Hakim bahwa mereka menghadapi jalan buntu. Sidang dinyatakan batal dan Sam Cayhall untuk

41pertama kalinya pulang ke rumah setelah lima bulan.

Sidang ulang diadakan enam bulan kemudian di Wilson County, daerah pedesaan lain empat jam dari Greenville dan terletak seratus mil dari tempat sidang pertama. Ada keluhan-keluhan bahwa dalam sidang pertama, Klan telah melakukan tekanan kepada para calon juri, maka sang Hakim, karena alasan-alasan yang tak pernah dijelaskan, memindahkan tempat sidang ke suatu daerah yang penuh dengan orang-orang Ku Klux Klan dan pendukung mereka. Sekali lagi Dewan Juri sepenuhnya terdiri atas orang-orang kulit putih, dan sudah tentu bu-' kan Yahudi. Clovis menceritakan kisah yang sama dengan tekanan-tekanan yang sama. Mr. Carson i Jenkins menceritakan kebohongan yang sama. f Strategi tuntutan diubah sedikit, tapi sia-sia. Jaksa Penuntut mencabut tuduhan pembunuhan berencana dan mendesakkan pidana karena pembunuhan saja. Tak ada hukuman mati, dan kalau dikehendaki, Dewan Juri bisa menetapkan Cayhall dan Dogan bersalah melakukan pembunuhan tak disengaja. Tuduhan ini jauh lebih ringan, tapi yang penting ada keputusan bersalah.

Ada sesuatu yang baru dalam sidang kedua ini. Marvin Kramer duduk di kursi roda di deretan depan dan menatap tajam kepada para juri selama tiga hari. Ruth mencoba menyaksikan sidang pertama, tapi hams pulang ke Greenville dan di»

rumahksakitkan kembali karena masalah emosional. Sejak pengeboman itu, Marvin keluar-masuk kamar bedah, dan para dokter tidak mengizinkannya menyaksikan pertunjukan di Nettles County.

Kebanyakan para juri tidak tahan memandangnya. Mereka menghindarkan pandangan ke arah penonton dan mencurahkan perhatian besar kepada para saksi. Tapi seorang wanita muda, Sharon Culpepper, ibu dari dua anak kembar, tak bisa menahan diri. Ia melirik Marvin berulang-ulang dan beberapa kali mata mereka bertemu. Dengan matanya Marvin memohon keadilan.

Sharon Culpepper adalah satu-satunya di antara dua belas juri yang sejak semula memberikan suara untuk menjatuhkan pidana. Selama dua hari ia dianiaya secara verbal dan dikuliahi rekan-rekannya. Mereka mengejeknya dan membuatnya menangis, namun ia bertahan teguh.

Sidang kedua berakhir tanpa keputusan bulat dari juri, dengan suara sebelas lawan satu. Hakim mengumumkan pembatalan sidang dan mengirim pulang setiap orang. Marvin Kramer kembali ke Greenville, lalu ke Memphis untuk dioperasi lagi. Clovis Brazelton membiarkan pers menyorotnya. Jaksa Penuntut tidak menjanjikan sidang baru. Sam Cayhall diam-diam kembali ke Clanton dan bersumpah tak mau berurusan lagi dengan Jeremiah Dogan. Sang Imperial Wizard sendiri kembali dengan penuh kemenangan ke Meridian. Di sana ia membual kepada orang-orangnya bahwapertempuran membela supremasi kulit putih ban, Jaja dumUd, kebaikan telah mengalahkan kejahatan dan seterusnya, dan seterusnya.

Nama RoUk Wedge hanya disebut satu kali. Saat istirahat makan siang pada sidang kedua, Dogan berbisik kepada Cayhall bahwa ada pesan dari bocah itu. Pembawa pesannya orang tak d*4 kenal yang bicara dengan istri Dogan di gang di luar ruang sidang. Pesannya cukup jelas dan sederhana. Wedge ada di dekat situ, di dalam hutan mengawasi sidang, dan apabila Dogan atau Cayhall menyebut namanya, rumah dan keluarga mereka akan dibom sampai ke neraka.

Ruth dan Marvin Kramer bercerai pada tahun 1970-. Marvin dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa akhir tahun itu, dan bunuh diri pada tahun 1971. Ruth kembali ke Memphis dan tinggal bersama orangtuanya. Meskipun tertimpa masalah, mereka mendesak keras agar diadakan sidang ketiga. Kenyataannya masyarakat Yahudi di Greenville sangat geram dan vokal ketika jelas bahwa sang Jaksa Penuntut bosan menderita kekalahan dan kehilangan antusiasme untuk menuntut Cayhall dan Dogan.

Marvin dikuburkan di samping kedua anaknya. Sebuah taman baru dibangun untuk mengenang Josh dan John Kramer, dan diadakan pemberian beasiswa untuk menghormati mereka. Dengan lewatnya waktu, tragedi kematian mereka mulai memudar. Tahun-tahun berlalu, dan Greenville makin sedikit membicarakan pengeboman tersebut-•

Meskipun ada tekanan dari FBI, sidang ketiga l'dak terlaksana. Tak ada bukti-bukti bani. Hakimtak diragukan lagi akan memindahkan tempat si-"f dang. Tuntutan tampaknya sia-sia, namun FBI tidak menyerah.

Karena Cayhall tak bersedia dan Wedge tidak muncul, kegiatan pengeboman Dogan jadi terhambat. Ia masih memakai jubah dan memberikan pidato, dan mulai membayangkan dirinya sebagai kekuatan politik besar. Para jurnalis dari wilayah Utara tertarik dengan kecemburuan rasialnya yang terang-terangan, dan ia selalu bersedia memakai kerudungnya dan memberikan wawancara kasar. Selama beberapa waktu ia jadi sedikit terkenal, dan ia sangat menikmatinya.

Namun pada akhir dasawarsa tujuh puluhan, Jeremiah Dogan hanya seorang bajingan berjubah dalam organisasi yang merosot pesat. Orang-orang kulit hitam memberikan suara dalam pemilu. Sekolah-sekolah negeri dibaurkan. Tembok penghalang rasial dihancurkan hakim-hakim federal di seluruh wilayah Selatan. Hak-hak sipil telah berlaku di Mississippi, dan Ku Klux Klan secara menyedihkan terbukti tak pantas menahan orang-orang Negro tetap di tempat mereka. Dogan tak mampu menarik lalat sekali pun untuk menghadiri pembakaran salib.

Pada tahun 1979, dua peristiwa penting terjadi dalam kasus pengeboman Kramer yang masih terbuka tapi tidak aktif. Yang pertama adalah dipilihnya David McAllister sebagai jaksa penuntut di Greenville. Pada umur 27 tahun ia menjadi jaksa

termuda dalam sejarah negara bagian itu. Semasa remaja ia pernah berdiri di tengah kerumunan orang banyak, menyaksikan FBI memunguti kepingan-kepingan puing reruntuhan kantor Marvin Kramer. Tak lama sesudah terpilih, ia bersumpah akan menyeret para teroris itu ke pengadilan.

Peristiwa kedua adalah dituntutnya Jeremiah Dogan karena menghindari pajak pendapatan. Setelah bertahun-tahun berkelit dengan sukses dari FBI, Dogan jadi sembrono dan melakukan kekeliruan terhadap IRS. Penyelidikannya berlangsung delapan bulan dan menghasilkan surat dakwaan sepanjang tiga puluh halaman. Menurut dakwaan itu, Dogan tidak melaporkan penghasilan sebanyak seratus ribu dolar antara tahun 1974 sampai 1978. Dakwaan itu menyebutkan 86 pelanggaran yang diancam dengan hukuman penjara maksimum 28 tahun.

Dogan jelas bersalah, dan pengacaranya (bukan Clovis Brazelton) langsung mulai menyelidiki kemungkinan melakukan plea bargain, tawar-menawar masa hukuman. FBI masuk.

Sesudah perundingan panas dan penuh kegusaran dengan Dogan dan pengacaranya, Pemerintah menawarkan kesepakatan dengan syarat Dogan akan memberikan kesaksian terhadap Sam Cayhall dalam kasus Kramer, dan sebagai imbalan ia tak perlu masuk penjara karena menghindari pajak. Nol hari di balik jeruji. Masa percobaan dan denda berat, tapi tidak masuk penjara. Sudah sepuluh

47tahun lebih Dogan tak pernah bicara dengan Cayhall. Dogan tidak lagi aktif dalam Klan. Ada banyak alasan untuk mempertimbangkan kesepakatan ini, dan alasan terpenting adalah apakah ia akan tetap jadi orang bebas atau akan mendekam selama satu atau dua dasawarsa di dalam penjara.

Untuk melecutnya, IRS menyita segala asetnya dan merencanakan lelang kecil. Dan untuk membantunya mencapai keputusan, David McAllister 3 meyakinkan grand jury di Greenville untuk sekali lagi menjatuhkan dakwaan kepadanya dan sobatnya Cayhall atas pengeboman Kramer.

Dogan runtuh dan menerkam kesepakatan itu.

Sesudah dua belas tahun hidup tenang di Ford County, Sam Cayhall ternyata dijatuhi dakwaan, ditahan, dan akan menghadapi sidang pengadilan serta kemungkinan masuk ke kamar gas. Ia terpaksa menggadaikan ramah dan tanah pertanian kecilnya untuk menyewa pengacara. Clovis Brazelton sudah pergi memburu perkara-perkara yang lebih besar, dan Dogan bukan lagi sekutunya.

Banyak yang telah berubah di Mississippi setelah dua sidang pertama. Orang-orang kulit hitam dalam jumlah besar tercatat sebagai pemilih dalam pemilu, dan pemilih-pemilih baru ini memilih petugas-petugas kulit hitam. Dewan jari yang semuanya kulit putih sudah langka. Negara bagian itu punya dua hakim kulit hitam, dua sheriff kulit hitam, dan pengacara-pengacara kulit hitam yang

berkeliaran bersama rekan kulit putih mereka di

lorong-lorong gedung pengadilan. Secara resmi, pemisahan menurut warna kulit sudah berakhir, dan banyak warga kulit putih Mississippi mulai bertanya-tanya untuk apa segala kericuhan dahulu itu. Mengapa ada begitu banyak penentangan terhadap hak-hak yang asasi bagi semua orang? Meskipun masih jauh dari ideal, Mississippi tahun 1980 sangat jauh berbeda dari Mississippi 1967. Dan Sam Cayhall memahami hal ini.

Ia menyewa seorang pengacara terampil dari Memphis, bernama Benjamin Key es. Taktik pertama mereka adalah berusaha mencabut. gugatan, dengan alasan tidak adil mengadilinya lagi sesudah penundaan demikian lama. Alasan ini terbukti persuasif, dan untuk menyelesaikan persoalan ini, Mahkamah Agung Mississippi perlu mengambil keputusan. Dengan suara enam lawan tiga, Mahkamah memutuskan sidang pengadilan itu bisa diteruskan.

Dan berjalanlah sidang itu. Sidang Sam Cayhall yang ketiga dan terakhir itu dimulai pada bulan Februari 1981, di dalam gedung pengadilan kecil yang dingin di Lakehead County, sebuah county perbukitan di sudut timur laut negara bagian itu. Banyak yang bisa diceritakan tentang sidang itu. Di sana ada seorang jaksa muda, David McAllister, yang tampil cemerlang tapi punya kebiasaan menjengkelkan menghabiskan seluruh waktu luangnya dengan pers. Ia tampan, pandai

AObicara, dan penyabar, serta sangat jelas tertihat^ sidang ini punya suatu maksud. Mr. McAllister punya ambisi politik dengan skala raksasa.

Ada dewan juri beranggotakan delapan Orang kulit putih dan empat kulit hitam. Ada sampel kaca, sumbu, laporan-laporan FBI, dan semua foto dan barang bukti lain dari dua sidang pertama.

Dan kemudian ada kesaksian dari Jeremiah Dogan, yang tampil di tempat saksi dalam pakaian kerja denim. Dengan roman bersahaja ia menjelaskan secara serius kepada Juri bagaimana ia bersekongkol dengan Sam Cayhall yang duduk di sana untuk mengebom kantor Mr. Kramer. Sam menatapnya berapi-api dan menyerap setiap patah kata, tapi Dogan memalingkan wajah. Pengacara Sam mencacinya setengah hari penuh dan memaksanya mengaku telah membuat kesepakatan dengan Pemerintah. Namun kerusakan sudah terjadi.

Tak ada gunanya mengangkat masalah Rollie Wedge dalam pembelaan Sam Cayhall. Melakukan hal itu berarti mengakui Sam benar-benar berada di Greenville dengan bom tersebut. Sam akan dipaksa mengakui menjadi pembantu pelaku kejahatan, dan di bawah undang-undang ia pun sama bersalahnya seperti orang yang memasang dinamit itu. Dan untuk menyajikan skenario ini, Sam akan terpaksa memberikan kesaksian, sesuatu yang tak dikehendakinya maupun pengacaranya. Sam tak akan sanggup menghadapi pemeriksaan silang

yang berat, sebab ia akan terpaksa menceritakan

kebohongan demi kebohongan.

Dan pada titik ini tak seorang pun akan percaya pada dongeng mendadak tentang adanya teroris baru yang misterius dan tak pernah disebut-sebut sebelumnya, yang datang dan pergi tanpa terlihat. Sam tahu, mengungkapkan Rollie Wedge adalah tindakan sia-sia, jadi ia tak pernah menyebut nama laki-laki itu kepada pengacaranya sendiri.

Pada penutupan sidang tersebut, David McAllister berdiri di hadapan Dewan Juri dalam ruang sidang yang penuh sesak dan menyajikan argumentasi pe: nutupnya. Ia bicara tentang dirinya sebagai pemuda di Greenville yang memiliki sahabat-sahabat Yahudi. Ia tak tahu mereka berbeda. Ia kenal beberapa anggota keluarga Kramer, orang-orang baik yang bekerja keras dan banyak menyumbang pada kota itu. Ia juga bermain dengan anak-anak kecil kulit hitam, dan tahu mereka adalah sahabat-sahabat yang sangat baik. Ia tak pernah mengerti mengapa mereka pergi ke sekolah yang tidak sama dengannya. Ia menceritakan kisah mencekam ketika merasakan bumi berguncang pada pagi hari tanggal 21 April 1967, dan berlari ke arah pusat kota yang penuh asap melayang-layang ke atas. Selama tiga jam ia berdiri di belakang barikade polisi dan menunggu. Ia melihat regu pemadam kebakaran hilir-mudik ketika mereka menemukan Marvin Kramer. Ia melihat mereka berkerumun dih reruntuhan ketika menemukan anak-anak ^Air mata menitik ke pipinya ketika tubuh-"J f, kecil to dibungkus seprai putih lalu per. ,^-lahan dibawa ke ambulans

Penampilan McAllister sangat bagus. Setelah ia selesai, ruang sidang itu sunyi senyap. Beberapa anggota juri menyeka mata mereka.

Pada tanggal 12 Februari 1981, Sam Cayhall diputuskan bersalah melakukan dua pembunuhan terencana dan satu percobaan pembunuhan. Dua hari kemudian, dewan juri yang sama dalam sidang itu kembali dengan vonis hukuman mati. . Ia dibawa ke penjara negara di Parchman, untuk mulai menunggu janji pertemuannya dengan kamar gas. Pada tanggal 19 Februari 1981, untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di penjara penantian hukuman mati.

Biro hukum kravitz & bane memiliki hampir tiga ratus pengacara yang bekerja bersama dengan damai di bawah satu atap di Chicago. Tepatnya ada 286 orang, meskipun sulit bagi siapa pun untuk mencatat angkanya, sebab setiap saat ada. satu-dua lusin yang meninggalkannya karena berbagai macam alasan, dan selalu ada dua atau tiga lusin anggota baru yang segar dan mengilat, dilatih dan dipoles serta begitu gatal bertempur. Dan meskipun besar, Kravitz & Bane gagal melakukan permainan ekspansi secepat lainnya, dan gagal menelan biro hukum yang lebih lemah di kota-kota lain, terlalu lamban merampas klien dari pesaingnya, dan dengan demikian terpaksa hanya menjadi biro hukum terbesar nomor tiga di Chicago. Mereka punya kantor di enam kota, namun sungguh memalukan °agi partner-partner yang lebih muda karena tidak ada alamat London di kepala suratnya.

Kendati sudah agak melunak, Kravitz & Bane masm dikenal sebagai biro hukum yang ganasdalam mengurus perkara peradilan. Mereka punya departemen-departemen yang lebih jinak untuk urusan real estate, pajak, dan antitrust, tapi uangnya dihasilkan dari membela perkara. Bila biro hukum itu merekrut orang, mereka mencari mahasiswa tahun ketiga yang paling cemerlang dengan nilai tertinggi dalam sidang simulasi dan debat. Mereka menginginkan laki-laki muda (perempuan sebagai pajangan di sana-sini) yang bisa langsung dilatih gaya pukul dan serang yang sudah disempurnakan bertahun-tahun yang lalu oleh para pembela perkara pidana di Kravitz & Bane.

Ada satu unit yang nyaman tapi kecil untuk menguras korban kecelakaan, bisnis bagus dari mana mereka mengambil lima puluh persen dan memberikan sisanya kepada klien mereka. Ada satu bagian yang cukup besar untuk menangani kejahatan kerah putih, tapi terdakwa kerah putih itu butuh penghasilan cukup besar juga untuk bisa memakai Kravitz & Bane. Kemudian ada dua bagian yang paling besar, satu untuk perkara sengketa dagang dan satu untuk perkara asuransi. Dengan perkecualian pada pengaduan kepada pihak yang berwajib, dan dalam persentasenya bagian itu nyaris tidak berarti, uang biro hukum itu diperoleh dari tagihan per jam. Dua ratus dolar per jam untuk perkara asuransi; lebih besar lagi bila para kliennya bisa membayar. Tiga ratus dolar untuk pembelaan kasus pidana. Empat ratus dolar untuk bank besar. Bahkan lima ratus dolar per jam untuk

perusahaan kaya raya dengan pengacara sendiri

yang malas dan tertidur-tidur di dalam kendaraan.

Kravitz & Bane mencetak uang tiap jam dan membangun sebuah dinasti di Chicago. Kantor-kantor mereka bergaya, tapi tidak mewah. Mereka menempati lantai-lantai teratas gedung tertinggi nomor tiga di pusat kota.

Seperti kebanyakan biro hukum besar, mereka memperoleh uang begitu banyak, sehingga merasa wajib membentuk satu bagian pro bono kecil untuk memenuhi tanggung jawab moral kepada masyarakat. Mereka cukup bangga mempunyai partner full-time untuk bagian pro bono ini, seorang eksentrik yang baik hati bernama E. Gamer Goodman, yang memiliki kantor luas dengan dua sekretaris di lantai 61. Ia dibantu seorang paralegal yang juga bekerja untuk partner litigasi. Brosur biro hukum itu, yang dicetak timbul dengan tinta emas, menonjolkan fakta bahwa pengacara-pengacaranya didorong untuk mendapatkan proyek-proyek pro bono. Brosur itu menyatakan bahwa tahun lalu, 1989, para pengacara Kravitz & Bane menyumbangkan 60.000 jam dari waktu mereka yang berharga kepada klien-klien yang tak mampu membayar. Anak-anak telantar, terpidana mati, pendatang asing ilegal, pecandu obat bius, dan sudah tentu biro hukum itu sangat prihatin dengan nasib burak para tuna wisma. Brosur itu bahkan mencantumkan foto dua pengacara muda, tanpa jas, dengan lengan kemeja tergulung, dasi diken-

55aurkan di sekitar leher, keringat di ketiak, mata penuh belas kasih sewaktu mereka melakukan pekerjaan kasar di tengah sekelompok anak golongan minoritas di tempat yang tampak seperti tempat pembuangan sampah kota. Pengacara menyelamatkan masyarakat.

Adam Hall membawa satu brosur itu dalam berkas tipisnya ketika berjalan perlahan-lahan di gang lantai 61, menuju kantor E. Garner Goodman. Ia mengangguk dan bicara dengan seorang pengacara muda lain yang belum pernah dijumpainya sebelumnya. Pada pesta Natal biro hukum itu, tanda pengenal dibagikan di depan pintu. Beberapa partner nyaris tidak kenal satu sama lain. Sejumlah associate cuma bertemu sekali-dua kali setahun. Ia membuka pintu dan memasuki sebuah mangan sempit. Seorang sekretaris berhenti mengetik dan nyaris tersenyum. Ia minta bertemu dengan Mr. Goodman, dan sang sekretaris mengangguk sopan pada sederet kursi tempat ia harus menunggu. Ia lima menit terlalu pagi untuk janji pertemuan pukul 10.00, seolah-olah hal itu penting. Ini bagian pro bono. Lupakan jam. Lupakan tagihan. Lupakan bonus prestasi. Bertentangan dengan seluruh bagian lain dari biro hukum itu, Goodman tidak memasang jam pada dinding-dindingnya.

Adam membalik-balik berkasnya. Ia tertawa kecil melihat brosur itu. Ia membaca lagi resumenya —college di Pepperdine, sekolah hukum di Michigan, editor buletin hukum, artikel tentang

hukuman yang kejam dan luar biasa, komentar-komentar tentang kasus hukuman mati terakhir. Resume ini agak pendek, tapi bagaimanapun juga ia baru 26 tahun. Ia sudah bekerja di Kravitz & Bane selama sembilan bulan sekarang.

Ia membaca dan membuat catatan dari amar keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang panjang-lebar tentang eksekusi di California. Ia melirik jam tangan dan membaca lebih lanjut. Sekretaris itu akhirnya menawarkan kopi, yang ditolaknya dengan sopan.

Kantor E. Gamer Goodman kacau-balau dan mencengangkan. Kantor itu luas, tapi penuh sesak dengan rak-rak buku yang melengkung pada setiap dinding; tumpukan berkas berdebu menutupi lantai. Tumpukan-tumpukan kecil kertas segala macam ukuran menutupi meja di tengah kantor tersebut. Surat penolakan, sampah, dan surat-surat hilang menutupi permadani di bawah meja kerja itu. Kalau tirai kayunya tidak tertutup, jendela besarnya bisa menampilkan pemandangan Danau Michigan yang indah, tapi jelas Mr. Goodman tak pernah menghabiskan waktu di depan jendelanya.

Ia seorang laki-laki tua dengan jenggot kelabu yang rapi dan rambut kelabu lebat. Kemeja putihnya dikanji kaku. Sebuah dasi kupu sutra, ciri khasnya, diikatkan tepat di bawah dagu. Adam memasuki ruangan dan dengan hati-hati berkelok-kelok di antara tumpukan kertas. Goodman tidak

57berdiri, tapi mengangsurkan tangan dengan' salam dingin.

Adam mengangsurkan berkas itu kepada Goodman dan duduk di satu-satunya kursi kosong. Ia menunggu dengan gelisah sementara berkas itu diteliti. Goodman membelai jenggotnya pelan, dasinya dipegang-pegang sembarangan.

"Mengapa kau ingin melakukan pekerjaan pro bonoT Goodman bergumam sesudah keheningan yang panjang. Ia tak mengangkat muka dari berkas itu. Musik gitar klasik mengalun lembut dari speaker di ceruk langit-langit.

Adam bergeser tidak nyaman. "Uh, ada beberapa alasan."

"Coba kuterka. Kau ingin mengabdi demi kemanusiaan, memberikan bakti kepada masyarakat-\ mu, atau mungkin kau merasa bersalah menghabiskan begitu banyak waktu di tempat pemeras keringat yang menagih berdasarkan kerja per jam, sehingga kau ingin membersihkan jiwamu, mengotori tanganmu, melakukan pekerjaan jujur, dan membantu orang lain." -Mata Goodman yang biru memandang Adam tajam dari atas kacamata baca berbingkai hitam yang bertengger di ujung hidungnya yang mancung. "Salah satu di antara tadi?" "Bukan."

Goodman melanjutkan memeriksa berkas itu. "Jadi selama ini kau ditugaskan di bawah Emmitt Wycoff?" Ia membaca sepucuk surat dari Wycoff, partner pembimbing Adam.

"Ya, Sir."

"Dia pengacara bagus. Aku tidak begitu memperhatikannya, tapi dia punya otak kriminal yang hebat, kau tahu? Salah satu di antara tiga bocah kerah putih kita yang paling top. Tapi orangnya agak kasar, bukan begitu menurutmu?" "Dia baik."

"Berapa lama kau bekerja padanya?" "Sejak saya mulai. Sembilan bulan yang lalu." "Kau sudah sembilan bulan di sini?" "Ya, Sir."

"Bagaimana pendapatmu tentang firma ini?" Goodman menutup berkas dan menatap Adam. Perlahan-lahan ia menanggalkan kacamata bacanya dan memasukkan satu batangnya ke dalam mulut. "Sejauh ini, saya menyukainya. Menantang." "Tentu saja. Mengapa kau memilih Kravitz & Bane? Maksudku, dengan catatan prestasimu kau sebenarnya bisa pergi ke mana saja. Mengapa ke sini?"

"Perkara pidana. Itulah yang saya inginkan, dan biro hukum ini punya reputasi."

"Berapa banyak penawaran yang kaudapatkan? Ayolah, aku cuma ingin tahu." "Beberapa."

"Dan dari mana tawaran itu?" "Terutama dari D.C.. Satu dari Denver. Saya tidak berwawancara dengan biro hukum dari New

York."

"Berapa besar gaji yang kami tawarkan kepadamu?"

Adam bergeser lagi. Goodman, bagaimanapun juga, adalah seorang partner. Sudah tentu ia tahu berapa yang dibayarkan biro hukum itu kepada associate baru. "Enam puluh lebih. Berapa yang dibayarkan kepada Anda?"

Ini membuat laki-laki tua itu geli, dan untuk pertama kalinya ia tersenyum. "Mereka membayarku 400.000 dolar setahun untuk membagikan waktu mereka, sehingga mereka bisa menepuk pundak sendiri dan berkhotbah tentang pengacara dan tanggung jawab sosial. Empat ratus ribu, bisa kau-percaya?"

Adam sudah mendengar kabar angin. "Anda tidak mengeluh, bukan?"

"Tidak. Aku pengacara paling beruntung di kota ini, Mr. Hall. Aku mendapat setumpuk uang untuk melakukan pekerjaan yang kusukai, dan aku tidak mencatat waktu kerja, juga tidak khawatir mengajukan tagihan. Ini impian pengacara. Itulah sebabnya aku masih bekerja enam puluh jam seminggu. Aku sudah hampir tujuh puluh, kau tahu."

Menurut legenda di seputar biro hukum itu, Goodman selagi muda pernah jatuh di bawah tekanan dan nyaris bunuh diri dengan minuman keras dan pil. Ia menghentikan kebiasaan minum selama setahun ketika istrinya membawa anak-anaknya dan meninggalkannya, kemudian ia meyakinkan para partner bahwa dirinya cukup berharga untuk diper-

tahankan. Ia cuma butuh sebuah kantor tempat

kehidupan tidak berputar sekitar jam.

"Pekerjaan apa yang kaulakukan untuk Emmitt

Wycoff?" tanya Goodman.

"Banyak penelitian. Saat ini dia membela segerombolan kontraktor, dan itu menghabiskan sebagian besar waktu saya. Saya memperdebatkan sebuah mosi di pengadilan minggu lalu." Adam mengucapkan ini dengan nada bangga. Orang baru biasanya dirantai di meja kerja mereka selama dua belas bulan pertama.

"Mosi benar-benar?" tanya Goodman, tercengang.

"Ya, Sir."

"Dalam ruang sidang asli?" "Ya, Sir."

"Di hadapan hakim asli?" "Benar."

"Siapa yang menang?"

"Hakim memutuskan sidang pengadilan dijalankan, tapi nyaris dibatalkan. Saya benar-benar meringkusnya." Goodman tersenyum mendengar ini, tapi permainan itu dengan cepat berakhir. Ia membuka berkas itu kembali.

"Wycoff mengirimkan surat rekomendasi yang cukup kuat. Ini agak menyimpang dari wataknya."

"Dia mengenali bakat," kata Adam sambil tersenyum.

"Kuasumsikan permintaan ini sangat penting, Mr. Hall. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu?"

61Adam berhenti tersenyum dan berdeham melonggarkan tenggorokan. Ia mendadak gelisah, dan memutuskan berganti menyilangkan kaki. "Ini... ehm... ini kasus pidana matt."

"Kasus pidana mati?" Goodman mengulangi.

"Ya, Sir."

"Mengapa?"

"Saya menentang hukuman mati."

"Bukankah kita semua begitu, Mr. Hall? Aku pernah menulis buku-buku tentang hal ini. Aku pernah menangani dua lusin kasus terkutuk macam ini. Mengapa kau ingin terlibat?"

"Saya sudah baca buku-buku Anda. Saya cuma ingin membantu."

Goodman kembali menutup berkas itu dan bersandar pada meja kerja. Dua lembar kertas merosot dan melayang-layang ke lantai. "Kau terlain muda dan terlalu hijau."

"Anda mungkin akan terkejut."

"Dengar, Mr. Hall, pekerjaan ini tidak sama dengan memberi nasihat pada gelandangan di dapur sup. Ini urusan hidup dan mati. Ini pekerjaan bertekanan tinggi, Nak. Bukan untuk bersenang-senang."

Adam mengangguk, tapi tak mengucapkan apa pun. Matanya terkunci pada mata Goodman, dan ia bertahan tidak berkedip. Telepon berdering di suatu tempat di kejauhan, namun mereka berdua tak menghiraukan.

62

"Kasus tertentu, atau kau punya klien baru untuk Kravitz & Bane?" tanya Goodman. "Kasus Cayhall," kata Adam perlahan-lahan. Goodman menggelengkan kepala dan menarik-narik ujung dasinya.

"Sam Cayhall baru -saja memecat kita. Pengadilan Fifth Circuit minggu lalu memutuskan dia memang punya hak untuk menghentikan kita sebagai wakilnya."

"Saya sudah membaca keputusannya. Saya tahu apa yang dikatakan Pengadilan Fifth Circuit. Laki-laki itu butuh pengacara."

"Tidak. Dia akan mati tiga bulan lagi, dengan atau tanpa pengacara. Terus terang, aku lega dia menyingkir dari hidupku." "Dia butuh pengacara," Adam mengulangi. "Dia mewakili diri sendiri, dan terus terang, dia cukup bagus. Mengetik sendiri mosi dan pleidoi-nya, menangani riset sendiri. Kudengar dia menasihati beberapa rekannya di tahanan untuk terpidana mati, tapi cuma kepada yang kulit putih." "Saya sudah mempelajari seluruh berkasnya." E. Garner Goodman memutar kacamatanya perlahan-lahan dan merenungkan hal ini. "Itu setengah ton kertas. Mengapa kau melakukannya?"

"Saya sangat tertarik pada kasus ini. Sudah bertahun-tahun saya mengamatinya, membaca semua yang ditulis tentang laki-laki ini. Anda tadi bertanya mengapa saya memilih Kravitz & Bane. Nah, alasan sebenarnya adalah saya ingin meng-

63garap kasus Cayhall, dan saya rasa biro hukum ini menanganinya secara pro bono selama... delapan tahun sekarang. Betul?"

"Tujuh, tapi rasanya seperti dua puluh tahun. Mr. Cayhall tidak menyenangkan untuk diajak berurusan."

"Bisa dimengerti, bukan? Maksud saya, dia sudah hampir sepuluh tahun dikurung seorang diri."

"Jangan menguliahi aku tentang kehidupan penjara, Mr. Hall. Pernahkah kau melihat bagian dalam penjara?"

'Tidak."

"Nah, aku sudah. Aku sudah pernah mengunjungi penjara untuk terpidana mati di enam negara bagian. Aku pernah diumpati Sam Cayhall ketika dia dirantai ke kursinya. Dia bukan orang yang menyenangkan. Dia seorang rasis yang tak bisa lagi diperbaiki dan membenci hampir setiap orang, dan dia akan membencimu bila kau bertemu dengannya." "Saya rasa tidak."

"Kau pengacara, Mr. Hall. Dia lebih membenci pengacara daripada orang kulit hitam dan Yahudi. Sudah hampir sepuluh tahun dia menghadapi ke-matian, dan dia yakin dirinya korban persekongkolan pengacara. Persetan, dia mencoba memecat kita selama dua tahun. Biro hukum ini sudah menghamburkan waktu yang setara dengan tagihan senilai dua juta dolar lebih dalam usaha mempertahankan hidupnya, dan dia lebih mengkhawatirkan

rbagaimana cara memecat kita. Entah sudah berapa kali dia menolak bertemu dengan kami, sesudah

kami susah payah pergi ke Parchman. Dia gila, Mr. Hall. Carilah proyek lain. Bagaimana dengan

anak-anak teraniaya atau lainnya?"

"Tidak, terima kasih. Minat saya adalah kasus hukuman mati, dan saya agak terobsesi dengan cerita tentang Sam Cayhall."

Dengan hati-hati Goodman mengembalikan kacamatanya ke ujung hidung, lalu perlahan-lahan mengayunkan kaki ke sudut meja. Ia melipat tangan pada kemeja terkanji itu. "Kalau boleh kutanya, mengapa kau terobsesi dengan Sam Cayhall?"

"Ah, kasus ini memesona, bukan? Ku Klux Klan, gerakan perjuangan hak sipil, pengeboman, tempat penyiksaan. Latar belakangnya adalah periode yang begitu kaya nuansa dalam sejarah Amerika."

Kipas angin berputar perlahan-lahan di langit-langit di atas. Sam menit berlalu.

Goodman menurunkan kaki ke lantai dan menyandarkan siku. "Mr. Hall, aku menghargai minatmu pada bagian pro bono, dan kujamin ada banyak pekerjaan yang bisa digarap. Tapi kau perlu mencari proyek lain. Ini bukan pertandingan sidang simulasi." "Dan saya bukan mahasiswa hukum." "Sam Cayhall sudah menghentikan jasa pelayanan kita secara efektif, Mr. Hall. Rupanya kau tidak menyadari hal ini."

65"Saya ingin mendapat kesempatan bertemu dengannya." "Untuk apa?"

"Saya rasa saya bisa meyakinkannya agar membiarkan saya mewakilinya." "Oh, benarkah?"

Adam menghela napas dalam, lalu berdiri dan berjalan dengan tangkas di antara tumpukan kertas, menuju jendela. Menghela napas dalam lagi. Goodman mengawasi dan menunggu.

"Saya punya rahasia untuk Anda, Mr. Goodman. Tak ada orang lain yang tahu selain Emmitt Wycoff, dan saya terpaksa bercerita padanya. Anda harus merahasiakannya, oke?"

"Aku mendengarkan."

"Apakah Anda berjanji?"

"Ya, kau boleh pegang kata-kataku," kata Goodman sambil menggigit gagang kacamata.

Adam mengintip melalui sebuah celah pada tirai, melihat perahu layar di atas Danau Michigan. Ia bicara pelan, "Saya punya hubungan keluarga dengan Sam Cayhall."

Goodman tak bergerak. "Begitu. Hubungan bagaimana?"

"Dia punya seorang putra, Eddie Cayhall. Eddie Cayhall meninggalkan Mississippi dengan muka tercoreng setelah ayahnya ditahan karena pengeboman tersebut. Dia kabur ke California, ganti nama, dan mencoba melupakan masa lalunya. Namun dia tersiksa aib keluarganya. Dia bunuh diri

tak lama sesudah ayahnya dinyatakan bersalah

pada tahun 1981."

Goodman duduk dengan tegang di tepi kursi.

"Eddie Cayhall adalah ayah saya."

Goodman bimbang sejenak.' "Sam Cayhall kakekmu?"

"Ya. Saya tak mengetahuinya sampai saya hampir tujuh belas tahun. Bibi saya menceritakannya

sesudah kami menguburkan ayah saya."

"Wah!"

"Anda janji takkan cerita."

"Tentu." Goodman memindahkan pantatnya ke tepi meja kerja dan meletakkan kakinya di kursi. Ia menatap tirai. "Apakah Sam tahu..."

"Tidak. Saya dilahirkan di Ford County, Mississippi, di kota kecil bernama Clanton, bukan Memphis. Saya selalu diberitahu saya lahir di Memphis. Nama saya waktu itu Alan Cayhall, tapi saya baru mengetahui hal ini lama sesudahnya. Saya umur tiga tahun ketika kami meninggalkan Mississippi, dan orangtua saya tak pernah bicara tentang tempat itu. Ibu saya yakin tak pernah ada kontak antara Eddie dan Sam sejak kami pergi sampai dia mengirimi Sam surat ke penjara dan menceritakan putranya telah meninggal. Dia tidak membalas."

"Terkutuk, terkutuk, terkutuk," Goodman bergumam pada diri sendiri.

"Ada banyak hal dalam kisah ini, Mr. Goodman. Keluarga ini agak gila."

"Bukan salahmu."

67"Menurut ibu saya, ayah Sam anggota Klan yang aktif, ikut berperan serta dalam pembunuhan tanpa pengadilan dan segala kegiatan macam itu. Jadi, saya berasal dari bibit yang lemah."

"Ayahmu beda."

"Ayah saya bunuh diri. Tak perlu saya uraikan perinciannya, tapi saya menemukan jenazahnya, dan saya membereskannya sebelum ibu dan adik saya pulang."

"Dan waktu itu kau tujuh belas tahun?"

"Menjelang tujuh belas. Saat itu tahun 1981. Sembilan tahun yang lalu. Sesudah bibi saya, adik Eddie, menceritakan peristiwa sebenarnya pada saya, saya jadi terpesona dengan sejarah kotor Sam Cayhall. Saya menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan untuk menggali berita surat kabar dan majalah lama; bahannya cukup banyak. Saya sudah membaca transkrip dari tiga persidangan tersebut Saya sudah mempelajari amar bandingnya. Di sekolah hukum saya mulai mengamati kerja biro hukum ini dalam mewakili Sam Cayhall. Anda dan Wallace Tyner telah melakukan pekerjaan yang patut dicontoh."

"Aku senang kau setuju."

"Saya sudah membaca ratusan buku dan ribuan artikel tentang Amandemen Kedelapan dan perkara hukuman mati. Anda pernah menulis empat buku, saya rasa. Dan sejumlah artikel. Saya tahu saya cuma pemula, tapi penelitian saya tak tercela." 'J

"Dan kaupikir Sam Cayhall akan mempercayaimu sebagai pengacaranya." "Saya tidak tahu. Tapi dia kakek saya, suka

atau tidak, dan saya harus menemuinya."

"Tidak pernah ada kontak..."

"Tidak. Saya umur tiga tahun ketika kami pergi, dan saya pasti tidak ingat padanya. Beribu kali saya pernah mulai menulis surat padanya, tapi itu tak pernah terjadi. Saya tak dapat mengatakan apa sebabnya."

"Itu bisa dimengerti."

"Tak ada yang bisa dimengerti, Mr. Goodman. Saya tak mengerti bagaimana atau mengapa saya berdiri di sini, dalam kantor ini, pada saat ini. Saya selalu ingin jadi pilot, tapi saya kuliah hukum, sebab saya merasakan panggilan samar-samar untuk membantu masyarakat. Seseorang membutuhkan saya, dan saya pikir saya merasa seseorang itu kakek saya yang gila. Saya mendapat empat tawaran kerja, dan saya memilih biro hukum ini, sebab biro ini punya' nyali untuk mewakilinya secara cuma-cuma."

"Seharusnya kauceritakan hal ini dari semula, sebelum kami mempekerjakanmu."

"Saya tahu. Tapi tak seorang pun menanyakan apakah kakek saya klien biro hukum ini."

"Seharusnya kau mengatakan sesuatu."

"Mereka takkan memecat saya, bukan?"

"Aku meragukannya. Di mana saja kau selama sembilan bulan terakhir?"

69"Di sini, bekerja sembilan puluh jam seminggu, tidur di meja kerja, makan di perpustakaan, belajar mati-matian untuk mendapatkan lisensi pengacara. Anda tahu, ujian keras untuk para pelonco yang kalian rancang untuk kami."

"Itu konyol, bukan'1"

"Saya tangguh." Adam membuka celah pada tirai untuk melihat danau dengan lebih baik. Goodman mengawasinya.

"Mengapa tidak Anda buka tirai ini?" tanya Adam. "Pemandangannya indah."

"Aku sudah pernah melihatnya."

"Saya bersedia membunuh untuk mendapatkan kantor dengan pemandangan seperti ini. Bilik kerja saya yang sempit letaknya jauh dari jendela mana pun."

"Bekerjalah dengan keras, masukkan tagihan lebih banyak lagi, dan suatu hari kelak ini akan jadi milikmu."

Tidak."

"Kau akan meninggalkan kami. Mr. Hall?" j

"Mungkin, pada akhirnya nanti. Tapi itu rahasia lain, oke? Saya merencanakan bekerja keras satu-dua tahun, lalu pindah. Mungkin buka kantor sendiri, tempat kehidupan tidak berputar menurut jam. Saya ingin melakukan pekerjaan pelayanan masyarakat, Anda tahu, seperti yang Anda lakukan."

"Jadi, sesudah sembilan bulan, kau sudah siap mengecewakan Kravitz & Bane?"

Tidak Tapi saya bisa melihat hal itu akan

terjadi. Saya tak ingin menghabiskan karier saya

untuk mewakili bajingan-bajingan kaya dan perusahaan-perusahaan yang tidak taat hukum." <

"Kalau begitu, kau pasti berada di tempat keliru."

Adam meninggalkan jendela dan berjalan ke tepi meja. Ia memandang ke bawah pada Goodman. "Saya memang berada di tempat yang salah, dan saya menginginkan transfer. Wycoff akan setuju mengirim saya ke kantor kecil kita di Memphis untuk beberapa bulan mendatang, supaya saya bisa menggarap kasus Cayhall. Semacam cuti, dengan bayaran penuh tentunya."

"Ada lagi?"

"Itu cukup. Itu akan berhasil. Saya cuma pelonco baru rendahan, bisa dihamburkan untuk apa saja di sini. Tak seorang pun akan kehilangan saya. Persetan, banyak tukang gorok muda yang begitu bersemangat bekerja delapan belas jam sehari dan mencatatkan tagihan dua puluh jam."

Wajah Goodman mengendur dan sebuah senyum hangat muncul. Ia menggelengkan kepala, seolah-olah hal ini mengesankannya. ."Kau sudah merencanakan hal ini, bukan? Maksudku, kau memilih biro hukum ini karena mereka mewakili Sam Cayhall, dan karena mereka punya kantor di Memphis."

Adam mengangguk tanpa senyum. "Segalanya berhasil. Saya tidak tahu bagaimana atau kapan saat seperti ini akan tiba, tapi... ya, saya kurang-

71lebih merencanakannya. Jangan tanya saya apa yang akan terjadi selanjutnya."

"Dia akan mati tiga bulan lagi, kalau tidak lebih cepat."

"Tapi saya harus melakukan sesuatu, Mr. Goodman. Kalau biro hukum ini tidak memperkenankan saya menangani kasus ini, saya mungkin akan mengundurkan diri dan mencobanya sendiri."

Goodman menggelengkan kepala dan melompat berdiri "Jangan lakukan hal itu, Mr. Hall. Akan kita usahakan sesuatu. Aku harus mengajukan masalah ini pada Daniel Rosen, partner pelaksana. Kurasa dia akan setuju."

"Dia punya reputasi mengerikan."

"Memang patut dia dapatkan. Tapi aku bisa bicara dengannya."

"Dia akan mengizinkan kalau Anda dan Wycoff memberikan rekomendasi, bukan?"

"Tentu. Apa kau lapar?" Goodman meraih jasnya.

"Sedikit."

"Mari keluar makan sandwich."

Gerombolan orang banyak belum lagi tiba di kedai sudut itu untuk makan siang. Sang partner dan sang pelonco memilih sebuah meja kecil di jendela depan yang menghadap ke trotoar. Lalu lintas bergerak lamban dan ratusan pejalan kaki hilir-mudik, cuma beberapa meter dari mereka. Pelayan me-

nyajikan sandwich Reuben yang berminyak untuk Goodman dan semangkuk sup ayam untuk Adam. "Berapa banyak terpidana mati yang menghuni

penjara di Mississippi?" tanya Goodman.

"Empat puluh delapan, menurut hitungan bulan lalu. Dua puluh lima hitam, dua puluh tiga putih.

Eksekusi terakhir terjadi dua tahun yang lalu— Willie Partis. Sam Cayhall mungkin akan jadi yang berikut, kecuali ada keajaiban kecil."

Goodman mengunyah satu gigitan besar dengan cepat. Ia menyeka mulut dengan lap kertas. "Keajaiban besar, kalau boleh kukatakan. Dari segi hukum, tidak banyak hal lain yang bisa dilakukan."

"Ada berbagai macam mosi upaya terakhir."

"Mari kita tunda pembicaraan tentang strategi untuk nanti. Kurasa kau belum pernah ke Parchman."

"Belum. Sejak tahu peristiwa sebenarnya, saya selalu tergoda kembali ke Mississippi, tapi itu belum terjadi."

"Itu merupakan tanah pertanian luas di tengah Delta Mississippi, yang ironisnya tidak jauh dari Greenville. Sekitar 17.000 ekar. Mungkin tempat paling panas di dunia. Letaknya di Highway 49, mirip dusun kecil di barat. Banyak bangunan dan rumah. Bagian depannya untuk administrasi, dan tempat itu tidak ditutup pagar. Ada sekitar tiga puluh kamp yang berlainan bertebaran di seluruh lahan ini, semuanya dipagari dan dijaga. Masing-masing kamp sepenuhnya terpisah. Beberapa di

73antaranya terpisah beberapa mil. Kau melewati berbagai kamp, semuanya dikelilingi pagar kawat dan kawat duri, semuanya dengan ratusan narapidana berkeliaran, menganggur. Mereka memakai pakaian dengan warna berlainan, tergantung klasifikasi mereka Tampaknya mereka semua pemuda kulit hitam, berkeliaran, beberapa main bola basket, beberapa cuma duduk di teras-teras bangunan. Ada satu-dua wajah putih. Kau lewat dalam mobilmu, seorang diri dan sangat perlahan-lahan, menyusuri jalan tanah, melewati kamp-kamp dan kawat duri, sampai kau tiba di bangunan kecil beratap datar yang tampaknya tidak membahayakan. Bangunan dikelilingi pagar tinggi dengan para penjaga mengawasi dari menara-menara. Fasilitas itu cukup modem. Punya nama resmi, tapi semua orang menyebutnya The Row."

"Kedengarannya tempat itu menyenangkan."

"Tadinya kupikir tempat itu penjara bawah tanah. Kau tahu, gelap dan dingin, dengan air me-netes-netes dari atas. Tapi penjara itu cuma bangunan kecil yang datar di tengah ladang kapas. Sebenarnya tempat itu tidak seburuk penjara terpidana mati di negara bagian lain."

"Saya ingin melihat The Row."

"Kau belum siap melihatnya. Tempat itu mengerikan dan penuh dengan orang-orang menjengkelkan yang menunggu ajal. Aku pertama kali melihatnya ketika berumur enam puluh tahun, dan sesudahnya aku tak bisa tidur seminggu penuh."»

menghirup seteguk kopi. "Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaanmu bila kau pergi ke sana. The Row sudah cukup mengerikan bila kau mewakili

orang yang sama sekali tak kaukenal."

"Dia sama sekali tidak saya kenal."

"Bagaimana kau hendak menceritakan..."

"Entahlah, saya tidak tahu. Akan saya .pikirkan sesuatu. Saya yakin itu akan terjadi."

"Goodman menggelengkan kepala. "Ini aneh."

"Seluruh keluarga ini aneh."

"Sekarang aku ingat Sam punya dua anak, rasanya yang satu perempuan. Itu sudah lama. Tyner yang kebanyakan menggarap pekerjaan ini, kau tahu."

"Anak perempuannya adalah bibi saya, Lee Cayhall Booth, tapi dia berusaha melupakan nama gadisnya. Dia menikah dengan laki-laki Memphis kaya raya. Suaminya memiliki satu atau dua bank, dan mereka tidak bercerita tentang ayahnya kepada siapa pun."

"Di mana ibumu?"

"Portland. Dia menikah lagi beberapa tahun yang lalu, dan kami bicara kira-kira dua kali setahun. Istilah halusnya adalah penyimpangan fungsional."

"Bagaimana kau bisa membiayai kuliahmu di Pepperdine?"

"Asuransi jiwa. Ayah saya tak pernah kerasan bekerja di mana pun, tapi cukup bijaksana untuk beli asuransi jiwa. Masa tunggunya sudah habis bertahun-tahun sebelum dia bunuh diri."

75"Sam tak pernah bicara tentang keluarganya?"

"Dan keluarganya tak pernah bicara tentang dia. Istrinya, nenek saya. meninggal dunia beberapa tahun sebelum dia dipidana. Tentu saja saya tidak tahu tentang hal ini. Sebagian penelitian asal-usul saya didapatkan dan ibu saya. yang telah berhasil dengan baik melupakan masa lalu. Saya tidak tahu bagaimana caranya dalam keluarga normal, Mr. Goodman, tapi keluarga saya jarang berkumpul, dan bila dua atau lebih di antara kami kebetulan bertemu, kami jarang membicarakan masa lain. Ada banyak rahasia gelap."

Goodman mengunggis sepotong kentang goreng dan mendengarkan dengan penuh perhatian. "Kau menyebutkan punya adik perempuan."

"Ya, saya punya adik perempuan—Carmen. Dia umur 23 tahun, gadis yang cerdas dan cantik, sedang kuliah di Berkeley. Dia dilahirkan di LA, jadi tidak perlu ganti nama seperti kami. Kami masih berhubungan."

"Dia tahu?"

"Ya, dia tahu. Bibi saya, Lee, menceritakannya pada saya lebih dulu, tepat sesudah penguburan Ayah, lalu seperti biasa. Ibu meminta saya menceritakannya pada Carmen. Dia baru empat belas tahun saat itu. Dia tak pernah kelihatan tertarik pada Sam Cayhall. Terus terang, seluruh keluarga mengharapkannya berlalu begitu saja dengan tenang."

"Harapan mereka akan segera terlaksana."

"Tapi itu takkan terjadi dengan tenang, bukan,

Mr. Goodman?"

"Tidak. Eksekusi macam itu tak pernah tenang. Selama beberapa saat yang singkat tapi mengerikan, Sam Cayhall akan menjadi orang yang paling banyak dibicarakan di negeri ini. Kita akan menyaksikan kembali potongan film sesudah pengeboman itu, dan sidang pengadilan dengan Ku Klux Klan berpawai sekeliling gedung pengadilan. Perdebatan panjang tentang hukuman mati akan meletup. Pers akan turun membanjiri Parchman. Lalu mereka akan membunuhnya, dan dua hari kemudian semua itu akan dilupakan. Itu terjadi tiap kali."

Adam mengaduk supnya dan dengan hati-hati menyendok sepotong ayam. Ia mengamatinya sejenak, lalu mengembalikannya ke dalam kaldu. Ia tidak lapar. Goodman menghabiskan kentang goreng lagi dan menyekakan lap pada sudut mulutnya.

"Mr. Hall, kurasa kau tidak tahu kau akan bisa meredam semua ini agar berlangsung tenang."

"Saya pernah memikirkannya."

"Lupakanlah."

"Ibu memohon agar saya tidak melakukannya. Adik saya tak mau membicarakannya. Dan bibi saya di Memphis yakin sekali dengan kemungkinan kecil bahwa kami semua akan dikenali sebagai keluarga Cayhall dan hancur untuk selamanya."

"Kemungkinan itu tidak kecil. Bila pers selesai denganmu, mereka akan memajang foto hitam-putih dirimu di pangkuan kakekmu. Itu akan ter-cetak bagus. Mr. Hall. Coba p.k.rkan. Cucu yang terlupakan menyerbu pad* detik-detik terakhir, n*, lakukan upaya heroik untuk menyelamatkan kakek rua vans malang, sementara jam terus berdetak." "Sepertinya saya menyukai hal itu." "Sebenarnya tidak jelek. Hal itu akan menarik perhatian kepada biro hukum kecil kita tercinta." "Dan akan menimbulkan persoalan lain yang tak

menyenangkan."

"Kurasa tidak. Tak ada pengecut dalam Kravitz & Bane, Adam. Kami telah bertahan hidup dan makmur di tengah dunia hukum Chicago yang keras dan jungkir balik. Kita dikenal sebagai bajingan paling keji di kota ini. Kita punya kulit paling tebal. Jangan khawatir dengan biro hukum ini."

"Jadi, Anda setuju dengan ini."

Goodman meletakkan lap di meja dan menghirup kopinya seteguk lagi. "Oh, ini gagasan bagus, dengan asumsi kakekmu menyetujuinya. Kalau kau bisa mendapatkannya, atau hams kukatakan mendapatkannya kembali, kita akan kembali bekerja. Kau jadi orang terdepan. Kami bisa memasokmu dengan apa yang kauperlukan dari sini. Aku akan selalu berada di belakangmu. Ini akafl berhasil. Kemudian mereka akan membunuhnya dan kau takkan pernah melupakan hal itu. Al» sudah menyaksikan tiga klienku tewas, Mr. H*l termasuk satu di Mississippi. Kau takkan ^ jadi orang yang sama sesudahnya."

Adam mengangguk dan tersenyum, memandang

para pejalan kaki di trotoar.

Goodman meneruskan, "Kami akan hadir-untuk memberikan dukungan padamu saat mereka membunuhnya. Kau tak perlu menanggungnya seorang

diri."

"Kasus ini bukannya tanpa harapan, bukan?"

"Nyaris. Kita bicarakan strateginya nanti. Pertama, aku akan rapat dengan Daniel Rosen. Dia mungkin ingin berunding panjang denganmu. Kedua, kau harus menemui Sam dan mengadakan reuni kecil. Itulah bagian terberat. Ketiga, kalau dia setuju, kita mulai bekerja."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih padaku, Adam. Aku sangsi kita akan berbicara baik-baik sesudah hal

ini selesai." "Bagaimanapun juga, terima kasih."

Rapat itu diatur cepat. E Garner Goodman yang pertama menelepon, dan dalam satu jam para peserta yang diperlukan telah diundang. Dalam empat jam mereka hadir di ruang rapat sempit yang jarang digunakan, di samping kantor Daniel Rosen. Tempat ini benteng Rosen, dan Adam amat tak nyaman karenanya.

Menurut legenda, Daniel Rosen seorang monster, meskipun dua kali serangan jantung sudah merontokkan beberapa dun dan sedikit melunakkannya. Selama tiga puluh tahun ia pengacara bengis, paling keji. paling kejam, dan tak diragukan lagi salah satu petarung ruang sidang paling efektif di Chicago Sebelum serangan jantung itu. ia terkenal karena jadwal kerjanya yang brutal— sembilan puluh jam seminggu, pesta pekerjaan sampai tengah malam dengan asisten dan paralegal menggali-gali dan mengambil barang. Beberapa istri telah meninggalkannya. Tak kurang dari empat sekretans pada saat yang sama bekerja mati-mati-

80

an untuk mengikuti iramanya. Dulu Daniel Rosen

adalah jantung dan jiwa Kravitz & Bane, tapi sekarang tidak lagi. Dokternya membatasi agar ia bekerja lima puluh jam seminggu di kantor, dan melarangnya melakukan pekerjaan di ruang sidang.

Sekarang, Rosen berumur 65 tahun dan makin gemuk. Secara aklamasi ia dipilih rekan-rekannya tercinta untuk merumput di padang yang lebih mudah, mengurus manajemen kantor. Ia bertanggung jawab atas birokrasi bertele-tele yang menggerakkan Kravitz & Bane. Itu suatu kehormatan, demikian partner-partner lain menjelaskan dengan lemah ketika mereka melimpahkan tanggung jawab itu kepadanya.

Sampai sejauh ini. kehormatan tersebut merupakan bencana. Setelah tersisih dari medan tempur yang dicintai dan dibutuhkannya setengah mati, Rosen mengelola manajemen biro hukum itu dengan cara yang amat mirip dengan persiapan menghadapi perkara pengadilan yang mahal. Ia melakukan pemeriksaan silang terhadap para sekretaris dan asisten untuk urusan-urusan remeh. Ia berdebat dengan partner-partner lain dan mencaci mereka selama berjam-jam mengenai masalah yang tidak jelas tentang kebijaksanaan biro hukum tersebut. Karena terkurung dalam penjara kantornya, ia memanggil associate-associate muda untuk datang mengunjunginya, lalu bertengkar dengan mereka untuk mengukur ketangguhan mereka di bawah tekanan.

81Ia sengaja mengambil tempat duduk di seberang meja rapat kecil itu,* tepat di depan Adam, dan memegang sebuah berkas tipis seolah-olah berkas itu berisi rahasia mematikan. E. Gamer Goodman duduk dalam-dalam di kursi di samping Adam, memutar-mutar dasi dan menggaruk-garuk jenggot. Ketika ia menelepon Rosen untuk membicarakan permintaan Adam dan mengungkapkan silsilah keturunan Adam, Rosen bereaksi dengan ketololan yang sudah bisa diduga.

Emmitt Wycoff berdiri di salah satu ujung ruangan dengan telepon seluler seukuran kotak korek api tertempel di telinga. Ia hampir lima puluh tahun, tampak jauh lebih tua, dan menjalani hidup setiap hari dalam kepanikan dan telepon terus-menerus.

Dengan hati-hati Rosen membuka berkas di depan Adam dan mengambil sebuah buku tulis kuning. "Mengapa kau tidak memberi tahu kami tentang kakekmu ketika kami mewawancaraimu tahun lalu?" Ia memulai dengan suara cepat dan tatapan ganas.

. "Sebab kalian tidak menanyakan," jawab Adam. Goodman sudah membisiki bahwa rapat itu mungkin akan keras, tapi ia dan Wycoff akan menang. "Jangan berlagak,1' Rosen menggeram. "Sudahlah, Daniel," Goodman berkata dan memutar mata ke arah Wycoff yang menggelengkan kepala dan memandang ke langit-langit. , "Mr. -Hall, tidakkah kau seharusnya memberi-

tahukan bahwa kau punya hubungan keluarga dengan salah satu klien kami? Tentunya kau setuju kami punya hak untuk mengetahui hal ini, bukan, Mr. Hall?" Nada suaranya yang mengejek biasanya disimpannya untuk menanyai saksi yang berbohong dan terperangkap.

"Kalian menanyai saya tentang berbagai hal lain," Adam menjawab, sangat terkendali. "Ingat pemeriksaan kelakuan baik itu? Sidik jari? Bahkan pernah ada pembicaraan untuk memakai poligraf."

"Ya, Mr. Hall, tapi kau tahu berbagai hal yang tidak kami ketahui. Dan kakekmu klien biro hukum ini ketika kau melamar, dan sudah tentu kau seharusnya memberi tahu kami." Suara Rosen berirama, bergerak naik-turun dengan keahlian aktor hebat. Matanya tak pernah lepas dari Adam.

"Bukan kakek seperti umumnya," kata Adam pelan.

"Dia masih tetap kakekmu, dan kau tahu dia klien ketika kau melamar pekerjaan di sini."

"Kalau begitu, saya minta maaf," kata Adam. "Biro hukum ini punya ribuan klien, semuanya berada dan membayar dalam jumlah besar untuk jasa kita. Saya tak pernah membayangkan satu kasus pro bono yang sepele akan menimbulkan masalah."

"Kau licik, Mr. Hall. Kau dengan sengaja memilih biro hukum ini pada saat kami mewakili kakekmu. Dan sekarang, sekonyong-konyong, kau

83mengemis kasus itu di sini. Ini menempatkan kami pada posisi sulit."

"Posisi sulit apa?" Emnutt Wycoff bertanya sambil melipat telepon dan menjejalkannya ke dalam saku. "Dengar, Daniel, kita bicara tentang orang yang sedang menunggu hukuman mati. Dia buruh pengacara, sialan!" "Cucunya sendiri?" tanya Rosen. "Siapa peduli itu cucunya sendiri? Orang itu sudah menapakkan satu kaki ke liang kubur, dan dia butuh pengacara." "Dia sudah memecat kita, ingat?" balas Rosen. "Yeah, dan dia selalu bisa memakai kita lagi. Ini patut dicoba Tenanglah."

"Dengar, Emmitt, sudah jadi tugasku untuk memikirkan citra biro hukum ini. Gagasan mengirim salah satu associate baru ke Mississippi agar dia kalah dan kliennya dieksekusi tidak menarik bagiku. Teras terang, kupikir Mr. Hall harus dipecat dan Kravitz & Bane."

"Oh, hebat, Daniel," kata Wycoff. "Tanggapan keras yang khas untuk masalah peka. Kalau begitu, siapa yang akan mewakili Cayhall? Pikirkanlah dia sejenak. Orang itu butuh pengacara! Mungkin Adam peluang satu-satunya." "Semoga Tuhan membantunya," gumam Rosen. E. Garner Goodman memutuskan berbicara. Ia menangkupkan tangan di atas meja dan menatap tajam pada Rosen. "Citra biro hukum ini? Sejujurnya, apa kau merasa kita segerombolan pekerja

sosial yang kurang bayaran dan membaktikan diri

untuk membantu orang?"

"Atau bagaimana kalau segerombolan biarawati yang menggarap proyek-proyek ini?" Wycoff menambahkan dengan nada mengejek.

"Mengapa kauanggap hal ini bisa merusak citra biro hukum kita?" tanya Goodman.

Konsep mundur tak pernah masuk dalam pikiran Rosen. "Sangat sederhana, Garner. Kita tidak mengirimkan orang baru menangani terpidana mati. Kita boleh menganiaya mereka, mencoba membunuh mereka, menuntut mereka bekerja dua puluh jam sehari, tapi kita tidak mengirim mereka ke medan tempur, sampai mereka siap. Kau tahu bagaimana beratnya proses peradilan yang melibatkan hukuman mati. Nah, kau pernah menulis buku tentang itu. Bagaimana kau bisa mengharapkan Mr. Hall efektif?"

"Aku akan mengawasi semua yang dikerjakannya," jawab Goodman.

"Dia benar-benar bagus," Wycoff menambahkan lagi. "Dia sudah menghafalkan seluruh berkas itu, kau tahu, Daniel."

"Ini akan lancar," kata Goodman. "Percayalah padaku, Daniel, aku sudah cukup banyak melewati kesulitan macam ini. Aku akan terus mengawasi."

"Dan aku akan menyisihkan beberapa jam untuk membantu," Wycoff menambahkan. "Bahkan kalau diperlukan, aku akan terbang ke sana."

85Goodman terenyak dan menatap Wycoff. "Kau! Pro bono?" "Tentu saja. Aku punya nurani." Adam tidak menghiraukan olok-olok itu dan menatap Daniel Rosen. Teruskan dan pecatlah aku, ingin ia berkata begitu. Teruskan, Mr. Rosen, pecatlah aku sehingga aku bisa pergi menguburkan kakekku, lalu bisa terus menjalani sisa hidupku.

"Dan kalau dia dieksekusi?" tanya Rosen ke arah Goodman.

"Kita sudah pernah mengalaminya, Daniel, kau tahu itu. Tiga kali, sejak aku menangani bagian pro bono." "Bagaimana peluangnya?" "Cukup tipis. Saat ini dia belum dieksekusi karena penundaan yang diberikan Pengadilan Fifth Circuit. Penundaan ini bisa dicabut setiap saat sekarang, dan tanggal eksekusi yang baru akan (ditetapkan. Mungkin akhir musim panas." [¦ "Kalau begitu, tak lama lagi."

"Benar. Sudah tujuh tahun kita menangani perkara bandingnya, dan sekarang waktunya sudah habis."

"Dari semua terpidana mati, bagaimana kita bisa mewakili bajingan ini?" tanya Rosen kasar.

"Ceritanya panjang, dan saat ini hal itu sama sekali tidak relevan."

Rosen menuliskan sesuatu yang kelihatan seperti catatan penting pada buku tulisnya. "Kalian tentu tidak berpikir untuk meredam kehebohan, bukan?"

"Mungkin."

"Mungkin apa! Tepat sebelum membunuhnya,

mereka akan membuatnya jadi orang terkenal. Media akan mengerumuni seperti segerombolan serigala. Jati dirimu akan terungkap, Mr. Hall."

"Jadi?"

"Jadi, itu akan jadi berita hebat, Mr. Hall. Tidak bisakah kaulihat judul beritanya? CUCU YANG LAMA HILANG KEMBALI UNTUK MENYELAMATKAN KAKEKNYA."

"Sudahlah, Daniel," kata Goodman.

Namun ia meneruskan, "Tidakkah kaulihat pers akan melahapnya, Mr. Hall? Mereka akan me-nyorotimu dan bicara betapa gila keluargamu,"

"Tapi kita menyukai pers, bukan, Mr. Rosen?" tanya Adam tenang. "Kita pengacara. Bukankah selayaknya kita beraksi untuk kamera? Anda tak pernah..."

"Poin yang sangat bagus," Goodman menyela. "Daniel, mungkin tidak seharusnya kau menasihati pemuda ini untuk mengabaikan pers. Kita bisa menceritakan beberapa penampilanmu."

"Ya, Daniel, kuliahi bocah ini tentang segala hal lain, tapi singkirkan segala sampah tentang media itu," kata Wycoff sambil menyeringai licik. "Kau yang menulis bukunya."

Sejenak Rosen tampak malu. Adam memandangnya lekat-lekat.

"Aku sendiri menyukai skenario ini," kata Goodman, memutar-mutar dasinya dan mengamati

87rak buku di belakang Rosen. "Sebenarnya banyak yang harus diucapkan dalam urusan ini. Bisa bagus untuk kami orang-orang pro bono. Pikirkanlah. Pengacara muda ini pergi ke sana untuk bertempur mati-matian guna menyelamatkan pembunuh terkenal yang sedang menunggu eksekusi. Dan dia pengacara kita—Kravitz & Bane. Tentu akan banyak sorotan dari pers, jadi apa jeleknya?"

"Kalau kau tanya aku, gagasan ini luar biasa bagus," Wycoff menambahkan tepat ketika telepon mininya berbunyi di dalam saku. Ia menempelkannya ke rahang dan berbalik dari rapat itu.

"Bagaimana kalau dia mati? Apa kita tidak kelihatan jelek?" tanya Rosen pada Goodman.

"Dia memang seharusnya mati, oke? Itu sebabnya dia ada di sana,'' Goodman menerangkan.

Wycoff berhenti menggumam dan memasukkan telepon ke dalam saku. "Aku harus pergi," katanya, bergerak ke pintu, gelisah sekarang, tergesa-gesa. "Sampai di mana kita?"

"Aku masih tidak menyukainya," kata Rosen.

"Daniel, Daniel, selalu keras kepala," kata Wycoff ketika ia berhenti di ujung meja dan bertelekan dengan dua tangan pada meja tersebut "Kau tahu ini gagasan bagus, kau cuma marah karena dia tidak memberitahu kita sebelumnya."

"Itu benar. Dia menipu kita, dan sekarang mem-peralat kita."

Adam menghela napas dalam dan menggeleng* kan kepala.

"Tenanglah, Daniel. Wawancaranya sudah setahun yang lalu. Itu sudah lewat, sobat. Lupakanlah. Kita punya urusan yang lebih mendesak sekarang. Dia cerdas. Dia bekerja sangat keras. Cekatan. Risetnya rapi. Kita beruntung memilikinya. Lalu keluarganya kacau. Tentu kita takkan menghentikan setiap pengacara di sini yang punya keluarga gila." Wycoff tersenyum lebar pada Adam. "Di samping itu, semua sekretaris berpendapat dia menarik. Kataku, kita kirim dia ke Selatan selama beberapa bulan, lalu tarik dia kembali ke sini secepat mungkin. Aku membutuhkannya. Aku hams pergi sekarang." Ia menghilang dan menutup pintu di belakangnya.

Ruangan itu sunyi senyap ketika Rosen mencoret-coret bukunya, lalu berhenti dan menutup berkas itu. Adam nyaris kasihan padanya. Inilah pejuang hebat itu, Charlie Hustle yang legendaris dalam dunia hukum Chicago, pengacara besar yang tiga puluh tahun lalu membuai juri, menggentarkan lawan, dan mengintimidasi hakim, sekarang duduk di sini sebagai kerani, berusaha mati-matian mempermasalahkan penugasan seorang pelonco dalam melaksanakan proyek pro bono. Adam melihat kelucuan itu, ironinya, dan kepedihannya.

"Aku akan menyetujuinya, Mr. Hall," kata Rosen dengan nada dramatis pada suaranya yang rendah, nyaris berbisik, seakan-akan sangat kesal dengan semua ini. "Tapi ingat, setelah urusan Cayhall selesai dan kau kembali ke Chicago, aku akan

89merekomendasikan pemecatanmu dari Kravitz &' Bane."

"Mungkin mi tidak perlu," kata Adam cepat.

"Kau melamar pada kami dengan maksud yang tidak jujur," Rosen meneruskan.

"Sudah saya katakan saya menyesal. Takkan terjadi lagi."

"Di samping itu, kau sok pintar."

"Begitu juga Anda, Mr. Rosen. Coba tunjukkan pengacara mana yang tidak sok pintar."

"Sungguh pintar. Nikmatilah kasus Cayhall, Mr, Hall, sebab itu akan jadi pekerjaan terakhirmu untuk biro hukum ini."

"Anda ingin saya menikmati eksekusi?"

"Tenang, Daniel," kata Goodman lembut. "Tenang saja. Tak ada siapa pun yang akan dipecat di

MH."

Rosen menudingkan satu jari kegusaran pada Goodman. "Aku bersumpah akan merekomendasikan pemecatannya."

"Baiklah. Kau cuma bisa merekomendasikan, Daniel. Aku akan membawanya pada komite, dan kita akan bertarung hebat, oke?"

"Aku sudah tak sabar menunggu," bentak Rosen sambil melompat berdiri. "Aku akan mulai melobi dari sekarang. Akan kudapatkan suara mereka akhir minggu ini. Selamat siang!" Ia menghambur keluar dari mangan dan membanting pintu.

Mereka duduk berdampingan tanpa bicara, hanya menatap ke seberang meja di balik punggung

kursi kosong, pada deretan buku hukum tebal yang dijajarkan dengan rapi. menutupi dinding, mendengarkan gema pintu dibanting.

"Terima kasih," akhirnya Adam berkata.

"Dia sebenarnya bukan orang jahat, sungguh," kata Goodman.

"Menawan. Pangeran sejati."

"Aku sudah lama mengenalnya. Sekarang dia menderita, benar-benar frustrasi dan tertekan. Kami tak tahu pasti, apa yang harus dilakukan terhadapnya."

"Bagaimana dengan pensiun?"

"Itu sudah dipertimbangkan, tapi tak pernah ada partner yang dipaksa pensiun. Karena alasan yang jelas, preseden itu ingin kami hindari."

"Apakah dia serius ingin memecat saya?"

"Jangan khawatir, Adam. Itu takkan terjadi. Aku janji. Kau memang salah karena tidak mengungkapkan jati dirimu, tapi itu dosa kecil. Dan sepenuhnya bisa dimengerti. Kau masih muda, ketakutan, naif, dan ingin membantu. Jangan khawatir dengan Rosen. Aku sangsi dia masih di posisi ini setelah tiga bulan nanti."

"Jauh di dalam hati, saya pikir dia menyukai saya."

"Itu cukup jelas."

Adam menghela napas dalam dan berjalan mengelilingi meja. Goodman membuka tutup pena dan mulai membuat catatan. "Waktunya tidak banyak lagi, Adam," katanya."Saya tahu."

"Kapan kau bisa berangkat?"

"Besok. Saya akan berkemas malam ini. Itu sepuluh jam perjalanan."

"Bobot berkasnya ada setengah kuintal. Saat ini sedang dicetak. Aku akan mengirimkannya besok,*

"Coba ceritakan tentang kantor kita di Memphis."

"Aku bicara dengan mereka sekitar satu jam yang lalu. Partner pelaksananya Baker Cooley, dan dia sedang menunggumu. Mereka akan menyiapkan kantor kecil dan seorang sekretaris untukmu, dan mereka akan membantu kalau bisa. Mereka tidak terlalu cakap kalau menyangkut perkara pidana." "Ada berapa pengacara di sana?" "Dua belas. Kantor itu dulu biro hukum kecil yang kita telan sepuluh tahun yang lalu, dan tak seorang pun ingat tepat apa sebabnya. Tapi mereka orang-orang baik. Pengacara-pengacara yang baik. Tempat itu merupakan reruntuhan biro hukum tua yang pernah jaya menangani pedagang kapas dan gandum di sana, dan kupikir itulah hubungannya dengan Chicago. Tapi pokoknya kantor itu membuat kop surat kita kelihatan bagus. Kau pernah ke Memphis?" "Saya lahir di sana, ingat?" "Oh ya."

"Saya pernah sekali ke sana. Saya mengunjungi bibi saya di sana, beberapa tahun yang lalu."

"Sebuah kota tua di tepi sungai. Cukup indah.

Kau akan menyukainya."

Adam duduk di depan meja di seberang Goodman. "Bagaimana saya bisa menikmati beberapa

bulan berikut?" "Poin bagus. Kau harus pergi ke The Row

secepat mungkin." "Saya akan ke sana lusa." "Aku akan menelepon kepala penjaranya. Namanya Phillip Naifeh, yang anehnya orang Lebanon. Ada cukup banyak orang Lebanon di Delta Mississippi. Bagaimanapun, dia teman lama. Aku akan memberitahukan kedatanganmu." "Kepala penjaranya sahabat Anda?" "Ya. Kami bersahabat beberapa tahun yang lalu, ketika menangani Maynard Tole, seorang bocah jahat yang merupakan bencana pertama bagiku dalam perang ini. Dia dieksekusi pada tahun 1986, kurasa, dan kemudian aku dan si kepala penjara jadi bersahabat. Dia menentang hukuman mati, kalau kau bisa percaya." "Saya tidak percaya."

"Dia membenci eksekusi. Kau akan belajar sesuatu, Adam. Hukuman mati mungkin sangat populer di negara kita, tapi orang-orang yang terpaksa melaksanakannya bukanlah pendukungnya. Kau akan menjumpai orang-orang ini: para penjaga yang jadi dekat dengan penghuni penjara; administrator yang harus menyusun rencana pembunuhan secara efisien; pegawai penjara yang harus berlatihsebulan sebelumnya. Tempat itu suatu sudut kecil yang aneh di dunia ini, dan sangat menekan."

"Saya sudah tak sabar menunggu."

"Aku akan bicara dengan kepala penjara, dan minta izin kunjungan. Mereka biasanya memberimu beberapa jam. Tapi kalau Sam tidak menginginkan pengacara,' kau hanya butuh lima menit."

"Dia akan bicara dengan saya, tidakkah begitu menurut Anda?"

"Aku yakin demikian. Aku tak bisa. membayangkan reaksi orang itu, tapi dia akan bicara. Mungkin butuh beberapa kunjungan sebelum dia setuju, tapi kau bisa melakukannya."

"Kapan terakhir kali Anda menemuinya?"

"Beberapa tahun yang lalu. Aku dan Wallace Tyner yang menangani. Kau perlu mempelajari garis besarnya dari Tyner. Dia ujung tombak dalam kasus ini selama enam tahun terakhir."

Adam mengangguk dan bergerak ke pikiran berikutnya. Selama sembilan bulan terakhir miM sudah mengorek isi pikiran Tyner. . "Apa yang pertama kita ajukan ke pengadilan?"

"Kita bicarakan hal ini nanti. Aku akan rapat dengan Tyner besok pagi untuk membahas kasus ini. Tapi semuanya akan ditunda sampai kami mendengar kabar darimu. Kita tidak bisa bergerak kalau tidak mewakilinya."

Adam sedang memikirkan foto-foto surat kabar itu, foto hi tam-putih dari tahun 1967 ketika Sam ditahan, foto berwarna dari majalah saat sidang

ketiga pada tahun 1981, dan potongan siaran berita

yang disusunnya menjadi sebuah video tentang Sam Cayhall sepanjang tiga puluh menit. "Bagaimana tampangnya?"

Goodman meletakkan penanya di meja dan memain-mainkan dasinya. "Tinggi rata-rata. Kurus. Tapi memang jarang ada narapidana gemuk di The Row, karena ketegangan dan makanan tanpa lemak. Dia perokok berantai, dan ini umum, sebab tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan, lagi pula mereka toh akan segera mati. Mereknya aneh, Montclair, kurasa, dalam bungkus biru. Seingatku rambutnya beruban dan berminyak. Tidak setiap hari mereka bisa mandi. Agak panjang di belakang, tapi itu dua tahun yang lalu. Tak banyak yang rontok. Jenggot kelabu. Dia cukup keriput, tapi sudah hampir tujuh puluh. Ditambah merokok terus-menerus. Kau akan melihat orang-orang kulit putih di The Row tampak lebih parah keadaannya daripada yang berkulit hitam. Dua puluh tiga jam sehari mereka terkurung, jadi mereka seperti di-kelantang. Sangat pucat, putih, nyaris kelihatan sakit. Sam bermata biru, raut mukanya bagus. Kurasa dulu Sam tampan."

"Sesudah kematian ayah saya, dan saya tahu tentang Sam, saya mengajukan banyak pertanyaan kepada ibu saya. Dia tak punya banyak jawaban, tapi dia pernah mengatakan tidak banyak kemiripan fisik antara Sam dan ayah saya.""Tidak pula antara kau dan Sara, kalau itu yang kaumaksud." "Yeah, saya rasa begitu." "Dia tak pernah melihatmu sejak balita, Adam. Dia takkan mengenalimu. Itu takkan mudah. Kau harus mengatakan padanya."

Adam menatap kosong ke meja. "Anda benar. Apa yang akan dikatakannya?"

"Mana aku tahu? Kuduga dia akan sangat terperanjat dan tak bisa bicara banyak. Dia sangat cerdas. Walau tidak terdidik di sekolah, dia banyak membaca dan pandai mengutarakan pemikirannya. Dia pasti punya sesuatu untuk diucapkan. Mungkin perlu beberapa menit." "Sepertinya Anda menyukainya." "Tidak. Dia rasis dan fanatik yang mengerikan, dan tjdak memperlihatkan penyesalan sedikit pun atas tindakannya." "Anda yakin dia bersalah?" Goodman mendengus dan tersenyum sendiri, kemudian memikirkan suatu jawaban. Tiga sidang pengadilan telah dilaksanakan untuk menentukan apakah Sam Cayhall bersalah atau tidak. Sekarang sudah sembilan tahun kasus itu diperbincangkan di pengadilan banding dan diteliti banyak hakim. Tak terhitung artikel surat kabar dan majalah menyelidiki pengeboman itu dan orang-orang di belakangnya. "Begitulah pendapat Juri. Kurasa itulah yang penting."

"Tapi bagaimana dengan Anda? Bagaimana pendapat Anda?"

"Kau sudah baca berkasnya, Adam. Kau sudah lama meneliti kasus ini. Tak ada keraguan Sam

ikut berperan dalam pengeboman itu."

"Tapi?"

"Ada banyak tetapi. Selalu ada."

"Dia tak punya sejarah dalam menangani bahan

peledak."

"Benar. Tapi dia teroris Ku Klux Klan, dan mereka melakukan pengeboman di mana-mana. Sam ditahan dan pengeboman itu berhenti."

"Tapi dalam salah satu pengeboman sebelum Kramer, seorang saksi mengatakan melihat dua orang dalam Pontiac hijau itu."

"Benar. Tapi saksi itu tidak diizinkan memberikan kesaksian dalam sidang. Dan saksi itu baru saja meninggalkan bar pada pukul tiga dini hari."

"Tapi saksi lainnya, seorang sopir truk, menyatakan melihat Sam dan seorang laki-laki lain berbicara di sebuah kedai di Cleveland, beberapa jam sebelum pengeboman Kramer."

"Benar. Tapi tiga tahun sopir truk itu tidak mengatakan apa pun, dan tidak diizinkan memberikan kesaksian pada sidang terakhir. Terlalu jauh."

"Jadi, siapa kaki tangan Sam?" "Aku sangsi kita akan pernah tahu. Ingat, Adam, orang ini sudah tiga kali diadili, tapi takpernah memberikan kesaksian. Dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa pada polisi, bicara sedikit dengan pengacara pembelanya, tak separah kata pun kepada Juri, dan dalam tujuh tahun terakhir ini dia tidak memberitahukan apa pun yang baru pada kami."

"Anda pikir dia bertindak seorang diri?"

"Tidak. Dia dibantu. Sam membawa rahasia-rahasia gelap, Adam. Dia takkan pernah bercerita, Dia mengangkat sumpah sebagai anggota Klan, dia punya pandangan sesat dan romantis tentang sumpah suci yang tak boleh dilanggarnya. Kakeknya juga anggota Klan, kau tahu?"

"Yeah, saya tahu. Tak perlu mengingatkan saya."

"Maaf. Lagi pula, sekarang sudah terlambat memancing-mancing mencari bukti baru. Kalau benar dia punya pembantu, mestinya sudah sejak dulu dia bicara. Mungkin dia seharusnya bicara pada FBI. Mungkin dia seharusnya membuat kesepakatan dengan Jaksa. Entahlah, tapi bila kau didakwa melakukan dua pembunuhan berencana dan menghadapi kematian, kau mulai bicara. Kau akan bicara, Adam. Kauselamatkan nyawamu dan kau-biarkan rekanmu mengkhawatirkan nyawanya sendiri."

"Dan kalau tidak ada pembantu?"

"Ada." Goodman mengambil pena dan menulis-kan sebuah nama pada secarik kertas. Ia rael,l>' gesernya ke seberang meja. Adam melihat d*1

berkata, "Wyn Lettner. Nama ini rasanya sudah

pernah saya dengar."

"Lettner agen FBI yang bertanggung jawab atas kasus Kramer. Dia sekarang sudah pensiun dan

tinggal di tepi sungai di Ozarks. Dia suka menceritakan kisah perang tentang Klan dan perjuangan hak sipil waktu itu di Mississippi."

"Dan dia akan bicara pada saya?"

"Oh, tentu. Dia peminum bir, dan kalau sudah setengah mabuk, dia akan menceritakan kisah-kisah luar biasa ini. Dia takkan mengungkapkan apa pun yang rahasia, tapi dia tahu lebih banyak tentang pengeboman Kramer daripada siapa pun. Aku sudah lama curiga dia tahu lebih banyak daripada yang diceritakannya."

Adam melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku. Ia melirik jam tangan. Sudah hampir pukul 18.00. "Saya harus bergegas. Saya harus berkemas dan bersiap."

"Akan kukirimkan berkas itu ke sana besok. Kau hams meneleponku begitu kau bicara dengan Sam."

"Oke. Boleh saya katakan sesuatu?" "Tentu."

"Atas nama keluarga saya—ibu saya, yang menolak bicara tentang Sam; adik perempuan saya, yang hanya membisikkan namanya; bibi saya di Memphis, yang melepaskan nama Cayhall; dan ayah saya almarhum, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda dan biro hukum ini atasapa yang Anda lakukan. Saya sangat mengagy

Anda

"Terima kasih kembali. Dan aku mengagiw juga. Sekarang berangkatlah ke Mississippi."

Apartemen itu berupa sangkar dengan satu kamar tidur, di lantai tiga sebuah gudang awal abad ini

-tepat di Jalan Loop, pada bagian pusat kota yang terkenal dengan berbagai tindak kejahatannya, tapi katanya cukup aman sebelum hari gelap. Gudang tersebut dibeli pada pertengahan tahun delapan puluhan oleh seorang agen sewa-beli swinger yang menghabiskan banyak uang untuk menyanitasi dan memodernkannya. Ia menyekat-nyekatnya menjadi enam puluh unit, menyewa seorang makelar rumah

"yang licin, dan memasarkannya sebagai kondominium untuk yuppie pemula. Ia mendapat banyak uang ketika dalam semalam tempat itu penuh dengan para bankir dan broker muda yang sangat bernafsu mendapatkannya.

Adam benci tempat itu. Masih ada tiga minggu tersisa sebelum sewa enam bulan itu habis, tapi tak ada tempat lain baginya untuk pindah. Ia akan terpaksa memperbaharui sewanya untuk enam bulan lagi, sebab Kravitz & Bane mengharapkan

101delapan belas jam kerja sehari, dan tak ada waktu untuk mencari apartemen lain.

Dan jelas tak banyak pula waktu untuk membeli perabot. Sebuah sofa kulit halus tanpa lengan bertengger sendirian di lantai kayu, menghadap dinding bata kuno. Dua kantong kacang—kuning dan biru—ada di dekatnya, bila sewaktu-waktu ada tamu muncul. Di sebelah kiri ada dapur sempit dengan snack bar dan tiga bangku anyam, dan di sebelah kanan sofa ada kamar tidur dengan ranjang berantakan dan pakaian di lantainya. Dua ratus sepuluh meter persegi, untuk 1.300 dolar sebulan. Gaji Adam, sebagai calon bermasa depan cerah sembilan bulan lalu, mulai dengan 60.000 dolar setahun, dan sekarang 62.000 dolar. Dari gaji kotornya yang secara kasar sekitar 5.000 per bulan, 1.500 dolar disetorkan kepada pemerintah negara bagian dan pemerintah federal sebagai pajak pendapatan. Enam ratus dolar lagi tak pernah sampai ke tangannya, melainkan masuk ke dana, pensiun Kravitz & Bane yang menjamin kehidupan bebas dari tekanan pada usia 55 tahun, kalau mereka tidak lebih dulu membunuhnya. Sesudah uang sewa, listrik, dan air, 400 dolar sebulan dipakai untuk menyewa sebuah Saab dan keperluan-keperluan insidental seperti makanan beku dan pakaian bagus. Maka Adam mengantongi 700 dolar untuk bersenang-senang. Sebagian dari uang yang tersisa ini dibelanjakan untuk wanita-wanita, tapi wanita-wanita yang dikenalnya juga baru lulus

102ambil uangnya dan hidup seperti yang kuinginkan."

"Apakah kau dulu mencintainya?"

"Tentu. Kami jatuh cinta setengah mati ketika menikah. Omong-omong, kami kawin lari. Itu terjadi tahun 1963, dan gagasan mengadakan pesta pernikahan besar dengan keluarganya yang aristokrat dan keluargaku yang dari golongan redneck tidak menarik. Ibunya tak mau bicara denganku, dan ayahku membakari salib. Pada saat itu Phelps tidak tahu ayahku anggota Klan, dan tentu saja aku mati-matian ingin menutupinya."

"Apa dia akhirnya tahu?"

"Begitu Daddy ditahan karena pengeboman itu, aku bercerita padanya. Seterusnya dia bercerita pada ayahnya, dan kabar itu tersebar secara perlahan-lahan dan hati-hati di antara keluarga Booth. Orang-orang ini cukup pandai menyimpan rahasia. Itu satu-satunya persamaan mereka dengan kita, keluarga Cayhall."

"Jadi, hanya sedikit yang tahu kau putri Sam?"

"Sangat sedikit. Aku menginginkannya tetap demikian."

"Kau malu dengan..."

"Ya, aku malu dengan ayahku! Siapa yang tidak?" Kata-katanya mendadak tajam dan pahit. "Kuharap kau tidak memiliki citra romantis tentang laki-laki tua yang menderita di penjara, yang akan disalibkan secara tidak adil karena dosa-dosanya,"

"Menurutku tidak seharusnya dia mati."

"Aku pun berpikir demikian. Tapi memang be-- nar dia sudah membunuh cukup banyak orang—si kembar Kramer, ayah mereka, ayahmu, dan hanya Tuhan yang tahu siapa lagi. Dia hams tinggal di penjara seumur hidupnya."

"Kau tidak kasihan padanya?"

"Kadang-kadang. Kalau suasana hatiku baik dan matahari bersinar, aku suka memikirkannya dan teringat pada peristiwa menyenangkan semasa kanak-kanak. Tapi peristiwa macam itu sangat langka, Adam. Dia menimbulkan banyak penderitaan dalam hidupku dan hidup orang-orang di sekitarnya. Dia mengajar kami untuk membenci semua orang. Dia keji terhadap ibu kami. Seluruh keluarganya yang terkutuk itu berwatak keji."

"Kalau begitu, mari kita bunuh saja dia."

"Bukan itu yang kukatakan, Adam, dan kau tidak adil. Aku terus-menerus memikirkannya. Aku mendoakannya setiap hari. Berjuta kali aku bertanya pada dinding-dinding ini mengapa dan bagaimana ayahku menjadi orang yang demikian mengerikan. Mengapa dia tak bisa menjadi laki-laki tua yang menyenangkan dan sekarang duduk di teras depan dengan pipa dan tongkat, mungkin sedikit bourbon dalam gelas, untuk kesehatan perutnya, tentu saja? Mengapa ayahku hams menjadi seorang anggota Klan yang membunuh anak-anak tak berdosa dan menghancurkan keluarganya sendiri?"

131"Mungkin dia tidak berniat membunuh mereka." "Mereka mati. bukan? Juri mengatakan dia melakukannya. Mereka meledak sampai berkeping-keping dan dikuburkan berdampingan di kuburan kecil yang sama. Siapa peduli apakah dia berniat membunuh atau tidak? Dia ada di sana, Adam." "Itu bisa sangat penting." Lee melompat berdiri dan meraih tangan Adam. "Kemarilah," ia mendesak. Ia melangkah beberapa meter ke tepi teras. Ia menunjuk ke kaki langit Memphis beberapa blok dari sana. "Kaulihat gedung datar yang menghadap sungai di sana? Yang paling dekat ke kita. Tepat di sana, tiga atau empat blok dari sini." I "Ya," jawab Adam perlahan-lahan.

"Lantai teratas adalah lantai lima belas, oke? j Sekarang, dari sebelah kanan, hitung enam tingkat. Kau mengikuti?"

"Ya." Adam mengangguk dan menghitung dengan patuh. Gedung itu tinggi dan mengesankan.

"Sekarang, hitung empat jendela ke kiri. Yang ada lampu menyala. Kau melihatnya?" "Ya."

"Terka siapa yang tinggal di sana."

"Bagaimana aku tahu?"

"Ruth Kramer."

"Ruth Kramer! Sang ibu?"

Tto dia."

"Kau mengenalnya?"

"Kami pernah sekali berjumpa, secara kebetulan

Dia mengenalku sebagai Lee Booth, istri Phelps

Booth yang terkenal brengsek, tapi cuma sebegitu saja. Itu terjadi dalam acara pengumpulan dana untuk balet atau entah apa. Aku selalu menghindarinya bilamana mungkin." "Ini pasti kota kecil."

"Bisa sangat kecil. Kalau kau bisa bertanya padanya tentang Sam, apa yang bakal dikatakannya?"

Adam menatap lampu-lampu di kejauhan. "Entahlah, aku tak tahu. Aku pernah baca bahwa dia masih merasa getir."

"Getir? Dia kehilangan seluruh keluarganya. Dia tak pernah menikah lagi. Kaupikir dia peduli apakah ayahku berniat membunuh anak-anaknya atau tidak? Tentu saja tidak. Dia cuma tahu mereka mati, Adam, mati selama 23 tahun sekarang. Dia tahu mereka terbunuh bom yang ditanam ayahku. Seandainya ayahku berada di ramah bersama keluarga dan bukannya berkeliaran di waktu malam bersama sobat-sobatnya yang idiot, Josh dan John kecil takkan mati. Mereka akan berumur 28 tahun, mungkin berpendidikan tinggi dan menikah, dengan satu atau dua bayi yang bisa diajak bermain Ruth dan Marvin. Dia tak peduli untuk siapa bom itu dimaksudkan, Adam. Dia cuma tahu bom itu ditempatkan di sana dan meledak. Anak-anaknya tewas. Itu saja yang masuk hitungan."

Lee melangkah mundur dan duduk di kursi anyamnya. Ia kembali menggoyang-goyangkan ge-

133las dan meneguknya. "Jangan salah paham, Adam Aku menentang hukuman mati. Mungkin aku satu-satunya wanita kulit putih berusia lima puluh tahun di negara ini yang ayahnya dipenjarakan untuk menantikan eksekusi. Hukuman mati itu biadab, tak bermoral, mendiskriminasikan, kejam, tak beradab—aku menentang semua itu. Tapi jangan rupakan korbannya, oke? Mereka punya hak untuk menginginkan pembalasan. Mereka patut mendapatkannya."

"Apakah Ruth Kramer menginginkan pembalasan?"

"Dari segala segi, ya. Dia tak lagi bicara banyak kepada pers, namun dia aktif dalam kelompok korban kejahatan. Beberapa tahun yang lalu dia dikutip mengatakan akan berada di kamar saksi ketika Sam Cayhall dieksekusi." "Sama sekali bukan jiwa pemaaf." "Aku tak ingat ayahku minta pengampunan." Adam berbalik dan duduk pada langkan dengan punggung menghadap sungai. Ia melirik gedung-gedung di pusat kota, kemudian mengamati kakinya. Lee kembali meneguk minumannya panjang-panjang.

"Nah, Bibi Lee, apa yang akan kita lakukan?"

"Jangan pakai panggilan Bibi."

"Oke, Lee. Aku di sini. Aku takkan pergi. Aku akan mengunjungi Sam besok, dan bila aku berlalu, aku berniat jadi pengacaranya."

"Apa kau berniat membungkam hal ini?"

"Kenyataan bahwa aku benar-benar seorang Cayhall? Aku tak punya rencana untuk memberi-tahu siapa pun, tapi aku akan terkejut kalau hal ini masih rahasia. Bila menyangkut penghuni penjara ' terpidana mati, Sam penghuni yang terkenal. Pers akan segera mulai menggali dengan serius."

Lee melipat kaki ke bawahnya dan menatap ke sungai. "Apakah itu akan merugikanmu?" tanyanya lembut.

"Tentu saja tidak. Aku pengacara. Pengacara membela penganiaya anak, pembunuh, pengedar obat bius, pemerkosa, dan teroris. Kami bukan orang populer. Bagaimana aku bisa dirugikan dengan fakta dia kakekku?"

"Kantormu tahu?"

"Kuceritakan pada mereka kemarin. Mereka tidak begitu senang, tapi mereka mendukung. Sebenarnya aku menyembunyikan hal ini ketika mereka mempekerjakanku, dan aku keliru berbuat demikian. Tapi kurasa segalanya beres."

"Bagaimana kalau dia bilang tidak?"

"Kalau begitu, kita akan aman, bukan? Tak seorang pun akan tahu, dan kau akan terlindung. Aku akan kembali ke Chicago dan menunggu CNN meliput karnaval eskekusi itu. Aku akan datang pada suatu hari yang sejuk di musim gugur, dan meletakkan bunga di atas makamnya, barangkali melihat nisannya dan sekali lagi bertanya pada diri sendiri, mengapa dia melakukannya dan bagaimana dia jadi begitu rendah dan

135mengapa aku terlahir dalam keluarga yang be. berantakan. Kau tahu, pertanyaan-pertanyaan / * sudah kita ajukan selama bertahun-tahun. k5 akan kuundang ikut denganku. Itu akan jadi & macam reuni keluarga, kau tahu, cuma kita keluar-ga Cayhall, merayap-rayap di kuburan dengan ka" rangan bunga murahan dan kacamata hitam tebal sehingga tak seorang pun mengenali kita."

"Hentikan," kata Lee, dan Adam melihat air mata. Air mata itu mengalir dan hampir sampai ke dagu ketika ia menyekanya dengan jari.

"Maaf," kata Adam, lalu berbalik-melihat kapal tongkang lain beringsut ke utara, menembus bayang-bayang sungai. "Maaf, Lee."

DELAPAN

Sesudah 23 tahun, akhirnya ia kembali ke negara bagian kelahirannya. Ia tidak merasa disambut, dan meski tidak takut terhadap apa pun, ia mengemudi dengan hati-hati dengan kecepatan 55 mil per jam dan tak mau melewati siapa pun. Jalan menyempit dan tenggelam ke dataran Delta Mississippi yang rata, dan sejauh satu mil Adam menyaksikan tanggul yang berkelok-kelok seperti ular, menuju ke kanan dan akhirnya menghilang. Ia masuk melewati dusun Walls, kota pertama di sepanjang Highway 61, dan mengikuti lalu lintas menuju selatan.

Dari risetnya yang mendalam, ia tahu selama beberapa dasawarsa jalan raya ini telah berfungsi sebagai penyalur utama ratusan ribu orang kulit hitam miskin dari Delta yang pergi ke utara menuju Memphis, St. Louis, Chicago, dan Detroit, ke tempat-tempat mereka mencari pekerjaan dan perumahan yang layak. Dari kota-kota kecil dan darah pertanian inilah, di rumah-rumah bobrok, toko-toko desa yang berdebu, dan tempat minum anekawarna sepanjang Highway 61, musik blues dilahirkan dan tersebar ke Utara. Musik itu mendapatkan tempat di Memphis; di situ dicampur dengan musik gereja dan country, dan bersama-sama mereka menelurkan rock and roli. Ia mendengarkan sebuah kaset Muddy Waters lama ketika memasuki Tunica County yang terkenal sebagai county termiskin di seluruh negeri.

Musik itu tak banyak menenangkannya. Ia menolak makan pagi di rumah Lee. Katanya ia tidak lapar, tapi sebenarnya perutnya nyeri. Rasa nyeri itu makin menghebat setiap mil.

Tepat di utara kota Tunica, ladang-ladang tampak luas dan membentang ke segala penjuru, sampai ke kaki langit. Kedelai dan kapas tumbuh [ setinggi lutut. Sam pasukan kecil traktor hijau dan i merah dengan garu di belakangnya hilir-mudik di antara deretan dedaunan yang membentang rapi tak terhingga. Meskipun saat itu belum lagi pukul 09.00, udara sudah panas dan lengket. Tanah begitu kering dan awan debu membara di belakang setiap gam. Sekali-sekali sebuah mesin pemanen muncul entah dari mana dan dengan akrobatis memangkas bagian atas ladang itu, lalu menderu ke atas. Lalu lintas padat dan lamban, dan kadang-kadang terpaksa nyaris berhenti ketika sebuah truk John Deere raksasa beringsut maju, seakan-akan jalan itu kosong. Adam penyabar. Ia tidak ditunggu kedatangan- nya sebelum pukul 10.00, dan tidak ada masalah

seandainya ia terlambat.

Di CIarksdale ia meninggalkan Highway 61 dan menuju tenggara melalui Highway 49, melintasi pemukiman-pemukiman kecil Mattson, Dublin, dan Tutwiler, melintasi ladang-ladang kedelai lagi. Ia , melewati rumah-rumah miskin dan rumah-rumah mobil yang kotor, yang semuanya karena alasan tertentu ditempatkan di dekat jalan raya bebas hambatan. Sekali-sekali ia melewati rumah bagus, selalu di kejauhan, selalu berdiri megah di bawah pepohonan ek dan elm besar, dan biasanya dengan kolam renang berpagar di salah satu sisi. Tak ada keraguan siapa yang memiliki ladang-ladang ini.

Sebuah tanda jalan mengumumkan bahwa penjara negara bagian terletak lima mil di depan, dan secara naluriah Adam mengurangi kecepatan mobilnya. Sesaat kemudian ia menghampiri sebuah traktor besar yang beringsut lamban di jalan. Bukannya melewati, ia memilih mengikutinya. Operatornya, seorang laki-laki kulit putih dengan topi kotor, memberi tanda padanya agar menghampiri. Adam melambai dan tetap berada di belakang gam dengan kecepatan dua puluh mil per jam. Tak ada kendaraan lain yang terlihat Sekali-sekali gumpalan tanah terlontar dari ban belakang traktor dan mendarat beberapa senti di depan Saab. Ia mengurangi kecepatan sedikit lagi. Si operator berputar di tempat duduknya dan kembali melambai kepada Adam agar menghampiri. Mulutnya ber-

college dengan pekerjaan baru dan kartu kredit baru, serta biasanya bersikeras membayar keperluan mereka sendiri. Ini bukan masalah bagi Adam. Berkat keyakinan ayahnya pada asuransi

jiwa, ia tak punya pinjaman mahasiswa. Meskipun banyak yang ingin dibelinya, dengan tabah ia menyisihkan 500 dolar sebulan untuk disimpan. Tanpa prospek untuk menikah dan berkeluarga dalam waktu dekat ini, sasarannya adalah bekerja keras, menabung keras, dan pensiun pada umur empat puluh tahun.

Pada dinding bata itu ada sebuah meja dengan televisi di atasnya. Adam duduk di sofa, tanpa pakaian kecuali sebuah boxer short, memegang remote control. Kecuali radiasi tanpa warna dari layar televisi, sangkar itu gelap. Saat itu sudah lewat tengah malam. Video itu adalah potongan-potongan yang ia sambung selama bertahun-tahun —The Adventures of a Klan Bomber, demikian ia menyebutnya. Video itu mulai dengan laporan berita singkat yang disampaikan kru lokal di Jack- ¦ son, Mississippi, pada tanggal 3 Maret 1967, pagi sesudah sebuah sinagoga diruntuhkan ledakan bom. Itu serangan keempat yang diketahui diarahkan pada sasaran Yahudi dalam dua bulan terakhir, kata reporter itu, sementara sebuah buldoser meraung di belakangnya dengan garu yang penuh puing. FBI tidak punya banyak petunjuk, katanya, dan lebih sedikit lagi komentar untuk pers. Se-

103rangan teror Klan terus berlanjut, katanya muram dan mengundurkan diri.

Pengeboman Kramer adalah yang berikutnya. Berita itu dimulai dengan raungan sirene dan polisi mendorong orang-orang menyisih dari tempat kejadian. Seorang reporter lokal dan juru kameranya tiba di tempat cukup cepat untuk merekam kegemparan sebelumnya. Orang-orang terlihat berlarian ke reruntuhan kantor Marvin. Awan debu kelabu tebal bergantung di atas pohon ek kecil di halaman depan. Pepohonan compang-camping dan tak berdaun, tapi masih tegak. Awan itu bergantung diam, tidak menunjukkan tanda-tanda akan menipis. Tidak tersorot kamera, ada suara-suara yang menjeritkan kebakaran, kamera berguncang dan berhenti di depan bangunan sebelah, tempat asap tebal tertumpah dari dinding yang rusak. Sang reporter, kehabisan napas dan terengah-engah ke mikrofon, berceloteh tak keruan tentang seluruh pemandangan yang mengguncangkan itu. Ia menunjuk ke sini, lalu ke sana, sementara melonjak terlambat menanggapi. Polisi mendorongnya menyingkir, tapi ia terlalu asyik dan tidak memedulikannya Kehebohan besar meledak di kota kecil Greenville yang masih mengantuk, dan ini saat paling hebat baginya.

Tiga puluh menit kemudian, dari sudut yang berbeda, suaranya sudah agak lebih tenang ketika ia menguraikan penyelamatan Marvin Kramer dari reruntuhan puing yang penuh kepanikan. Polisi

memperluas barikade dan menggeser mundur kerumunan orang banyak, sementara regu penyelamat dan pemadam kebakaran mengangkat tubuh Marvin dan menggotong usungan di antara reruntuhan. Kamera mengikuti ambulans berlalu dengan kecepatan tinggi. Lalu, satu jam sesudahnya dan dari sudut yang lain lagi, reporter itu tampil tenang dan sadar ketika dua usungan dengan tubuh-tubuh kecil yang tertutup diangkat hati-hati oleh regu pemadam kebakaran. jbg

Video itu terputus dari tempat pengeboman menuju bagian depan penjara, dan untuk pertama kalinya Sam terlihat sepintas. Ia diborgol dan digiring cepat ke dalam mobil yang sudah menunggu.

Seperti biasa, Adam menekan sebuah tombol dan memainkan kembali adegan pendek yang memperlihatkan Sam. Walau itu tahun 1967, 23 tahun yang lalu. Sam berumur 46 tahun. Rambutnya hitam dan dipotong pendek, gaya pada masa itu. Di bawah mata kirinya ada balutan kecil, di balik sorotan kamera. Ia berjalan cepat, melangkah lebar bersanding dengan para deputy, sebab orang-orang menonton, memotret, dan meneriakkan pertanyaan. Ia hanya satu kali menoleh ke suara mereka, dan seperti biasa Adam menghentikan pita video itu serta menatap wajah kakeknya untuk kesejuta kali. Gambar itu hitam-putih dan tidak jelas, tapi mata mereka selalu bertemu.

1967. Kalau saat itu Sam 46 tahun, Eddie 24 tahun, dan Adam hampir 3 tahun. Ia dikenal se-

103bagai Alan waktu itu. Alan Cayhall, tak lama kemudian jadi penduduk sebuah negara bagian yang jauh, tempat seorang hakim menandatangani surat keputusan memberikan nama baru kepadanya Ia sering melihat video ini dan bertanya-tanya dalam hati, di manakah ia pada saat bocah-bocah Kramer itu terbunuh: 07.46, 21 April 1967. Waktu itu keluarganya tinggal di sebuah rumah kecil di kota Clanton, dan mungkin ia sedang tidur tak jauh dari pengawasan ibunya. Ia hampir tiga tahun, dan si kembar Kramer baru lima tahun.

Video itu berlanjut dengan lebih banyak kilasan gambar Sam digiring keluar-masuk berbagai mobil, penjara, dan gedung pengadilan. Ia selalu diborgol dan mengembangkan kebiasaan menatap tanah beberapa meter di depannya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia tak pernah memandang pada reporter, tak pernah memedulikan pertanyaan mereka, tak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Ia bergerak cepat, meluncur keluar dari pintu, menuju mobil yang sudah menunggu.

Dua sidang peradilannya yang pertama direkam panjang-lebar oleh laporan berita harian televisi. Selama bertahun-tahun Adam bisa mendapatkan kembali sebagian besar rekaman itu, dan dengan hati-hati mengedit bahan tersebut. Ada wajah Clovis Brazelton, pengacara Sam, yang berteriak-teriak keras, bergaya di depan pers pada setiap kesempatan. Namun, bersama lewatnya waktu, potongan rekaman tentang Brazelton diedit cukup

banyak. Adam muak pada laki-laki ini. Ada tayangan gambar berwarna menyapu halaman gedung pengadilan, dengan kerumunan penonton yang diam tak bersuara, polisi negara bagian bersenjata lengkap, dan para anggota Klan dengan jubah, kerudung kerucut, dan topeng menyeramkan. Sosok Sam terlihat sepintas-sepintas, selalu bergegas, selalu menyembunyikan diri dari kamera dengan merunduk di balik seorang deputy bertubuh besar. Sesudah sidang kedua dan Juri tak mampu mengambil keputusan bulat untuk kedua kalinya, Marvin Kramer menghentikan kursi rodanya di trotoar, di depan Gedung Pengadilan Wilson County, dan dengan air mata berderai ia mengutuki Sam Cayhall, Ku Klux Klan, dan sistem peradilan Mississippi yang picik. Saat kamera berputar, suatu insiden menyedihkan muncul. Marvin tiba-tiba melihat dua anggota Klan berjubah putih tak jauh dari sana, dan ia mulai menjeriti mereka. Salah satu di antara mereka balas berteriak, namun tenggelam dalam panasnya situasi saat itu. Adam sudah mencoba segala cara untuk menangkap ucapan anggota Klan itu, tapi tidak berhasil. Jawaban itu untuk selamanya takkan pernah diketahui. Beberapa tahun sebelumnya, ketika masih kuliah hukum di Michigan, Adam menemukan salah satu reporter lokal yang berdiri di sana saat itu, memegang mikrofon tak jauh dari wajah Marvin. Menurut reporter itu, jawaban dari seberang lapangan menyinggung tentang keinginan meledak-

107kari anggota badan Marvin yang masih tersisa. Ucapan yang sangat kasar dan kejam ini tampaknya benar, sebab Marvin jadi gusar. Ia meneriakkan umpatan pada orang-orang Klan tersebut, yang kemudian pergi. Marvin memutar roda besi kursinya, memburu mereka. Ia menjerit, mengutuk, dan menangis. Istri dan beberapa kawannya mencoba menahannya, tapi ia melepaskan diri, tangannya mati-matian memutar roda. Ia meluncur sekitar enam meter, dengan istrinya mengejar di belakang. Kamera merekam semuanya, sampai trotoar itu habis dan rumput mulai. Kursi roda itu terguling dan Marvin tersungkur di halaman rumput. Selimut di atas kakinya yang diamputasi terbuka ketika ia terguling keras ke samping sebatang pohon. Istri dan teman-temannya segera menghampirinya, dan selama satu-dua detik ia menghilang di tengah kerumunan. Namun suaranya masih terdengar. Ketika kamera berpindah dan cepat-cepat menyorot dua anggota Klan tadi, yang satu tertawa dan yang satu membeku di tempat, meledaklah lolong tangis aneh dari tengah kerumunan kecil di atas tanah. Marvin merintih, tapi dengan lolongan tinggi menggetarkan, seperti orang gila yang ter-luka. Suara itu sangat menyayat, dan sesudah beberapa detik yang menyedihkan itu video terpotong ke adegan berikutnya.

Air mata menitik di mata Adam ketika pertama kali ia melihat Marvin berguling di tanah, melolong dan merintih. Tapi kini, meskipun gambar

dan suara itu masih membuat kerongkongannya

kaku, ia sudah lama berhenti menangis. Video itu karya ciptanya. Tak seorang pun pernah menyaksikannya kecuali ia sendiri. Dan ia sudah begitu banyak melihatnya, sehingga air mata tak mungkin

lagi mengalir.

Teknologi berkembang pesat dari tahun 1968 sampai 1981, dan rekaman sidang Sam yang ketiga dan terakhir itu jauh lebih tajam dan jelas. Sidang itu diadakan pada bulan Februari 1981, di sebuah kota kecil yang indah dengan alun-alun ramai dan gedung pengadilan kuno dari bata merah. Udara dingin menggigit, dan mungkin inilah yang menyingkirkan kerumunan penonton dan demonstran. Satu laporan berita dari hari pertama sidang itu menayangkan tiga anggota Klan berkerudung bergerombol mengelilingi sebuah pemanas portabel, menggosok-gosokkan tangan dan tampak lebih mirip pengunjung Mardi Gras yang akan berhura-hura daripada penjahat serius. Mereka diawasi satu-dua lusin polisi negara bagian, semuanya berjaket biru.

Karena gerakan hak-hak sipil pada saat itu lebih dipandang sebagai peristiwa sejarah daripada perjuangan yang masih berlanjut, sidang peradilan Sam Cayhall yang ketiga menarik perhatian media lebih banyak daripada dua yang pertama. Inilah orang yang mengaku .anggota Klan, teroris hidup dari zaman Freedom Riders dan pengeboman gereja yang sudah jauh berlalu. Inilah peninggalanlama dari zaman yang terkenal keji, yang telah dilacak dan sekarang diseret menuju keadilan. Analogi yang membandingkannya dengan penjahat perang Nazi pernah»disebutkan lebih dari sekali.

Selama sidangnya yang terakhir, Sam tidak ditahan. Ia orang bebas, dan kebebasan itu membuatnya makin sulit ditangkap dengan kamera. Ada beberapa rekaman pendek dirinya sedang menyelinap ke dalam pintu gedung pengadilan. Tiga belas tahun sejak pengadilan kedua, Sam menua dengan anggun. Rambutnya masih pendek dan rapi, tapi separonya sekarang sudah beruban. Ia tampak sedikit lebih gemuk, tapi sehat. Ia bergerak tangkas menyusuri trotoar dan keluar-masuk mobil, sementara para wartawan memburunya. Satu kamera menangkapnya ketika ia melangkah keluar dari pintu samping gedung pengadilan, dan Adam menghentikan video itu tepat ketika Sam menatap langsung ke kamera.

Sebagian besar rekaman sidang pengadilan ketiga dan terakhir itu berpusat di seputar jaksa muda yang congkak bernama David McAllister, laki-laki muda berjas gelap serta senyum ramah dan gigi sempurna. Tak diragukan David McAllister menyimpan ambisi-ambisi politik besar. Ia punya wajah, rambut, dagu, suara yang memesona, kata-kata yang halus lancar, dan kemampuan menarik kamera.

Tahun 1989, delapan tahun yang pendek sesudah sidang itu, David McAllister terpilih sebagai guber-

nur Negara Bagian Mississippi. Tak mengejutkan bagi siapa pun bahwa iklan terbesar yang terpampang pada dirinya adalah pidana lebih banyak, vonis lebih panjang, dan keteguhannya mempertahankan hukuman mati. Adam pun tak menyukainya, tapi ia tahu bahwa hanya dalam hitungan beberapa minggu, mungkin beberapa hari, ia akan duduk dalam kantor sang Gubernur di Jackson, Mississippi, memohon-mohon pengampunan.

Video itu berakhir dengan Sam, sekali lagi di-borgol, digiring dari gedung pengadilan setelah Juri menjatuhkan vonis hukuman mati kepadanya. Wajahnya tanpa ekspresi. Pembelanya tampak terguncang dan menggumamkan beberapa komentar tak berarti. Sang reporter berhenti dengan berita bahwa beberapa hari lagi Sam akan dipindahkan ke penjara untuk terpidana mati.

Adam menekan tombol rewind dan menatap layar kosong itu. Di belakang sofa tanpa lengan itu ada tiga kardus yang memuat sisa kisah itu: transkrip catatan dari ketiga sidang tersebut, yang dibeli Adam ketika masih kuliah di Pepperdine; copy brief, mosi, dan dokumen lain dari pertempuran di peradilan banding yang membara sejak Sam dipidana; sebuah rangkuman tebal yang diin-deks cermat, berisi copy artikel surat kabar dan majalah tentang petualangan Sam sebagai anggota Klan; materi dan riset tentang hukuman mati; catatan dari sekolah hukum. Ia tahu tentang kakek-banVak daripada siapa pun yang masih

nya le"in

hidUp' Adam tahu ia belum menggores per-

Nafflun3\ menekan tombol lain dan kembali raukaannya- »

menonton video itu.

Penguburan Eddie Cayhall terjadi kurang dari sebulan setelah Sam divonis mati. Upacaranya diadakan dalam kapel kecil di Santa Monica, dan dihadiri sedikit sahabat dan lebih sedikit lagi anggota keluarga. Adam duduk di bangku depan, di antara ibu dan adik perempuannya. Mereka berpegangan tangan dan menatap peti mati tertutup yang hanya beberapa senti di depan mereka. Seperti biasa, ibunya bersikap kaku dan terkendali. Matanya sekali-sekali basah, dan ia terpaksa menyekanya dengan tisu. Ia dan Eddie pernah berpisah dan rujuk berkali-kali, sampai anak-anak mereka tak bisa mengingat lagi pakaian siapa ada di mana- Meskipun tak pemah diwarnai kekerasan, perkawinan itu mereka jalani dalam keadaan persiapan terus-menerus untuk bercerai—ancaman cerai, rencana cerai, percakapan serius kepada anak-anak tentang perceraian, negosiasi perceraian, Pengajuan perceraian, mundur, sumpah menghin-" Perceraian. Pada sidang ketiga Sam Cayhall,ibu Adam diam-diam memindahkan barang-barangnya kembali ke rumah kecil mereka, dan sebanyak mungkin tinggal bersama Eddie. Eddie berhenti bekerja dan sekali lagi menarik diri ke dalam dunia kecilnya yang gelap. Adam menanyai ibunya, tapi ia menjelaskan dengan kata-kata ringkas bahwa Ayah sedang kembali mengalami "masa buruk". Tirai-tirai ditutup, kerai diturunkan, lampu dipadamkan, suara-suara ditahan, televisi dimatikan, sementara keluarga itu sekali lagi menanggung "masa buruk" yang dialami Eddie.

Tiga minggu sesudah vonis, Eddie tewas. Tahu hari itu Adam-lah yang pertama pulang, ia menembak diri di kamar tidur Adam. Ia meninggalkan catatan di lantai dengan instruksi agar Adam bergegas membereskan semua yang berantakan sebelum saudara perempuan dan ibunya pulang. Satu ' catatan lain ditemukan di dapur.

Carmen berusia empat belas tahun saat itu, tiga tahun lebih muda dari Adam. Ia dikandung di Mississippi, tapi dilahirkan di California sesudah kepindahan orangtuanya yang tergesa-gesa ke Barat. Saat ia dilahirkan, Eddie sudah resmi mengubah keluarga kecilnya dari Cayhall menjadi Hal). Alan jadi Adam. Mereka tinggal di L.A. Timur, dalam apartemen tiga kamar dengan tirai-tirai kotor pada jendela. Adam ingat tirai-tirai yang berlubang itu. Tempat itu adalah rumah pertama di antara banyak tempat tinggal -sementara lainnya.

Di sebelah Carmen pada bangku depan Itu du-

duk seorang wanita misterius yang dikenal sebagai Bibi Lee. Ia baru saja diperkenalkan kepada Adam dan Carmen sebagai saudara perempuan Eddie, satu-satunya saudara kandung Eddie. Ketika masih kanak-kanak, mereka diajari tidak mengajukan pertanyaan tentang keluarga mereka, namun sekali-sekali nama Lee muncul. Ia tinggal di Memphis, pernah menikah dengan seorang anggota keluarga kaya di Memphis, punya satu anak, dan tak pernah berhubungan dengan Eddie karena suatu perselisihan lama. Anak-anak, terutama Adam, rindu berjumpa dengan sanak saudara, dan karena Bibi Lee satu-satunya sanak yang pernah disebutkan, mereka banyak berangan-angan tentang dirinya. Mereka ingin berjumpa dengannya, tapi Eddie selalu menolak, sebab sang bibi bukan Orang yang menyenangkan, demikian katanya. Namun ibu mereka membisikkan bahwa Lee benar-benar orang yang baik, dan suatu hari kelak ia akan membawa mereka ke Memphis menemui Lee.

Namun sebaliknya Lee malah pergi ke California, dan mereka bersama-sama menguburkan Eddie Hall. Dua minggu ia tinggal di sana sesudah penguburan, dan bersahabat dengan kemenakannya. Mereka mencintainya, sebab ia cantik dan menarik, memakai blue jeans dan T-shirt, serta berjalan di pantai dengan kaki telanjang. Ia membawa mereka berbelanja dan ke bioskop, mereka berjalan-jalan lama menyusuri pantai. Ia mengajukan berbagai dalih mengapa tidak datang ber-

115kunjung lebih awal. Ia ingin datang, katanya, tapi Eddie takkan mengizinkan. Eddie tak ingin melihatnya, sebab mereka dulu pernah bertengkar.

Dan Bibi Lee pula yang duduk bersama Adam di ujung dermaga, menyaksikan matahari tenggelam di Samudra Pasifik, dan akhirnya bicara tentang ayahnya, Sam Cayhall. Sementara gelombang laut beriak tenang di bawah, Lee menjelaskan kepada Adam muda bahwa dulu, semasa balita, Adam pernah tinggal sebentar di sebuah kota kecil di Mississippi. Ia memegang tangan Adam dan sekali-sekali membelai lututnya ketika mengungkapkan sejarah menyedihkan keluarga mereka. Ia terus terang menguraikan perincian kegiatan Sam sebagai anggota Klan, tentang pengeboman Kramer, dan sidang pengadilan yang akhirnya mengirim Sam ke penjara di Mississippi untuk menunggu hukuman mati. Ada beberapa kesenjangan yang cukup besar dalam kisah lisan tersebut untuk mengisi perpustakaan, namun ia menceritakan peristiwa-peristiwa terpenting dengan cara yang indah.

Bagi seorang remaja enam belas tahun yang belum matang dan baru saja kehilangan ayah, Adam menerima seluruh kisah itu dengan cukup baik. Ia mengajukan beberapa pertanyaan, sementara angin sejuk mengembus ke pantai dan mereka berimpit merapatkan tubuh, tapi kebanyakan ia cuma mendengarkan, tanpa perasaan terguncang atau marah, tapi dengan perasaan terpesona luar biasa. Kisah mengerikan ini secara aneh terasa

memuaskan. Ada keluarga di tempat jauh! Mungkin pada akhirnya ia sama sekali tidak abnormal. Mungkin ada bibi, paman, dan sepupu dengan kehidupan untuk dibagi dan kisah untuk diceritakan. Mungkin ada rumah tua yang dibangun moyangnya yang sejati, serta tanah dan pertanian tempat mereka tinggal. Akhirnya ia punya sejarah.

Akan tetapi Lee bijaksana dan cukup cepat menangkap perasaan tertarik ini. Ia menjelaskan keluarga Cayhall adalah keluarga aneh dan penuh rahasia, senang menyendiri dan tak mau bergaul dengan orang luar. Mereka bukan orang ramah dan hangat yang berkumpul bersama pada Hari Natal dan bereuni pada tanggal 4 Juli. Ia tinggal hanya satu jam dari Clanton, namun tak pernah melihat mereka.

Kunjungan senja ke dermaga itu menjadi sebuah ritual sepanjang minggu berikutnya. Mereka biasa berhenti di pasar dan membeli sekantong anggur merah, lalu memakannya dan meludahkan bijinya ke lautan sampai hari gelap. Lee menceritakan kisah masa kecilnya di Mississippi dengan adiknya, Eddie. Mereka tinggal di sebuah tanah pertanian kecil lima belas menit dari Clanton, dengan kolam-kolam ikan dan kuda poni untuk ditunggangi. Sam ayah yang baik; tidak terlalu keras, tapi yang jelas tidak penyayang. Ibunya wanita lemah yang tidak menyukai Sam, tapi menyayangi anak-anak mereka. Ia kehilangan seorang bayi yang baru saja dilahirkan ketika Lee berumur

117enam tahun dan Eddie hampir empat tahun, dan ia tinggal di kamarnya selama hampir setahun. Sam menggaji seorang wanita kulit hitam untuk merawat Eddie dan Lee. Ibunya meninggal karena kanker, dan itulah kesempatan terakhir bagi keluarga Cayhall untuk berkumpul. Eddie menyelinap ke kota untuk menghadiri pemakaman, tapi berusaha menghindari semua orang. Tiga tahun kemudian Sam ditahan untuk terakhir kali dan dipidana.

Lee tak banyak bicara tentang kehidupannya sendiri. Ia meninggalkan rumah dengan terburu-buru pada umur delapan belas tahun, seminggu sesudah lulus SMA, dan langsung menuju Nashville dengan cita-cita jadi tenar sebagai artis rekaman. Entah bagaimana ia berjumpa dengan : Phelps Booth, mahasiswa pasca sarjana di Vander-| bilt yang keluarganya pemilik sejumlah bank. Mereka akhirnya menikah dan membangun rumah tangga yang tampaknya menyedihkan di Memphis. Mereka punya seorang putra, Walt, yang jelas bersifat pemberontak dan sekarang tinggal di Amsterdam. Inilah informasi satu-satunya. I

Adam tak tahu apakah Lee telah mengubah dirinya menjadi sesuatu yang bukan Cayhall, tapi ia curiga Lee memang berubah. Siapa yang bisa mempersalahkannya?

Lee berlalu diam-diam seperti saat ia datang. Tanpa pelukan atau perpisahan, ia keluar dari rumah mereka sebelum fajar, dan menghilang. Dua

hari kemudian ia menelepon, bicara dengan Adam dan Carmen. Ia mendorong mereka menulis surat,

yang mereka tanggapi dengan bersemangat, namun telepon dan surat darinya jadi makin jarang. Janji untuk suatu hubungan baru perlahan-lahan memudar. Ibu mereka memberikan berbagai dalih. Ia mengatakan Lee orang baik, tapi bagaimanapun juga ia seorang Cayhall, dan dengan demikian punya kesuraman dan keganjilan. Hati Adam hancur.

Musim panas sesudah wisudanya dari Pepper-dine, Adam dan seorang teman bermobil melintasi negeri, menuju Key West. Mereka mampir di Memphis dan melewatkan dua malam bersama Bibi Lee. Ia tinggal sendirian di sebuah kondominium modem yang luas di atas tebing yang menghadap ke sungai, dan selama berjam-jam mereka duduk di teras, hanya mereka bertiga, makan pizza buatan sendiri, minum bir, menyaksikan kapal tongkang, dan bercakap-cakap hampir tentang segala hal. Keluarga tak pernah disebutkan. Adam sangat bergairah dengan sekolah hukum, dan Lee banyak bertanya tentang masa depan Adam. Ia ceria, lucu, dan banyak bicara—nyonya rumah dan bibi yang sempurna. Ketika mereka berpelukan mengucapkan selamat tinggal, matanya basah dan ia meminta Adam agar datang kembali.

Adam dan temannya menghindari Mississippi. Sebaliknya mereka. bermobil ke timur, melewati Tennessee dan Smoky Mountains. Pada suatu titik,

119menurut perhitungan *Adam, mereka berada dalam jarak seratus mil dari Parchman, penjara untuk terpidana mati, Sam Cayhall. Itu kejadian empat tahun yang lalu, musim panas tahun 1986, dan ia sudah mengumpulkan satu kardus besar penuh bahan-bahan tentang kakeknya. Videonya sudah hampir selesai.

Percakapan mereka di telepon kemarin malam berlangsung singkat. Adam mengatakan akan tinggal di Memphis selama beberapa bulan dan ingin bertemu dengan Lee. Lee mengundangnya datang ke. tempat tinggalnya, kondominium yang sama di atas tebing. Ia punya empat kamar tidur dan seorang pembantu paro waktu. Adam harus tinggal bersamanya, desaknya. Kemudian Adam mengatakan akan bekerja di kantor Memphis, menggarap kasus Sam. Tak ada suara di ujung seberang, kemudian tawaran lemah untuk mampir dan mereka akan bicara tentang hal ini.

Adam memencet bel pintu beberapa menit lewat pukul 21.00 dan melirik ke arah Saab convertible hitamnya. Pembangunan daerah itu tak lebih dari satu deret tunggal terdiri atas dua puluh unit rumah, semuanya rapat satu sama lain dengan atap genting merah. Sebuah dinding bata lebar dengan kisi-kisi baja kasar di atasnya melindungi orang-orang di dalamnya dari bahaya pusat kota Memphis. Seorang satpam bersenjata menjaga gerbang satu-satunya Seandainya tidak ada pemandangan

ke arah sungai pada sisi lainnya, kondominium-

kondominium itu sebenarnya tidak berharga.

Lee membuka pintu dan mereka saling mencium pipi. "Selamat datang," katanya, memandang halaman parkir, lalu mengunci pintu di belakang

Adam. "Kau lelah?"

"Tidak. Jarak perjalanannya sepuluh jam, tapi aku menempuhnya dalam dua belas jam. Aku tidak tergesa-gesa."

"Kau lapar?"

"Tidak. Beberapa jam yang lalu aku mampir makan." Ia mengikuti Lee ke ruang duduk. Mereka duduk berhadapan dan mencoba memikirkan sesuatu yang pantas untuk diucapkan. Lee hampir lima puluh tahun, dan menua dengan cepat dalam empat tahun terakhir. Rambutnya sekarang campuran seimbang antara abu-abu dan cokelat, dan jauh lebih panjang. Ia mengikatnya erat jadi ekor kuda. Matanya yang biru lembut tampak merah dan cemas, dan dikelilingi lebih banyak keriput. Ia memakai kemeja button-down dan jeans pudar. Lee masih menarik.

"Senang bertemu denganmu," katanya dengan senyum hangat.

"Benarkah?"

"Sudah tentu. Mari kita duduk di teras." Ia menggandeng tangan Adam dan membimbingnya melewati pintu kaca, menuju dek kayu dengan keranjang-keranjang berisi pakis dan bugenfil bergantung dari tiang-tiangnya. Sungai di bawah me-reka. Mereka duduk di kursi goyang anyaman. "Bagaimana keadaan Carmen?" ia bertanya sambil menuang es teh dari pitcher.

"Baik. Masih kuliah di Berkeley. Kami bicai» sekali seminggu. Dia berpacaran cukup serius dengan seseorang."

"Belajar apa dia sekarang? Aku lupa."

"Psikologi. Ingin mengambil gelar doktor, lalu mungkin mengajar." Teh itu sedikit bergula, tapi banyak mengandung jeruk nipis. Adam meneguknya perlahan-lahan. Udara masih gerah dan panas. "Sudah hampir pukul sepuluh," katanya. "Mengapa masih begini panas?"

"Selamat datang di Memphis, Sayang. Kita akan terpanggang sepanjang bulan September."

"Aku tidak tahan."

"Kau akan terbiasa. Kurang-lebih. Kita minum teh banyak-banyak dan tinggal di dalam rumah, Bagaimana ibumu?"

"Masih di Portland. Sekarang menikah dengan laki-laki yang kaya raya dalam usaha perkayuan. Aku pernah bertemu dengannya sekali. Umurnya mungkin 65 tahun, tapi bisa dikira 70. Ibu umur 47 tahun, tapi kelihatan seperti 40. Pasangan yang serasi. Mereka terbang ke sana kemari. St. Baits. Selatan Prancis, Milan, semua tempat orang-orang kaya perlu dilihat. Dia sangat bahagia. Anak-anaknya sudah dewasa. Eddie sudah tiada. Masa lalunya sudah tersimpan rapi, dan dia punya banyak uang. Hidupnya sangat teratur."

"Kau terlalu kasar."

"Aku terlalu gampang. Dia sama sekali tak

menginginkanku dekat-dekat dengannya, sebab aku mata rantai menyakitkan yang menghubungkannya dengan ayahku dan keluarganya yang menyedihkan."

"Ibumu mencintaimu, Adam." "Aduh, menyenangkan mendengarnya. Bagaimana kau tahu begitu banyak?" "Pokoknya aku tahu."

"Tak pemah kukira kau dan Mom begitu dekat."

"Tidak. Tenanglah, Adam. Tenanglah." "Maaf. Aku tegang, itu saja. Aku perlu minuman yang lebih keras." "Santai. Mari kita bersenang-senang sementara

kau di sini."

"Ini bukan kunjungan untuk bersenang-senang, Bibi Lee."

"Panggil aku Lee saja, oke?"

"Oke. Aku akan menemui Sam besok."

Lee perlahan-lahan meletakkan gelasnya di meja, lalu berdiri dan meninggalkan teras. Ia kembali dengan sebotol Jack Daniel's dan menuangkan cukup banyak ke dalam kedua gelas. Ia meneguk panjang-panjang dan menatap sungai di kejauhan. "Kenapa?" akhirnya ia bertanya.

"Kenapa tidak? Sebab dia kakekku. Sebab dia akan mati. Sebab aku pengacara dan dia butuh bantuan."

"Dia bahkan tidak mengenalmu.""Dia akan kenal besok."

"Jadi. kau akan cerita padanya?"

"Ya. tentu saja aku akan cerita kepadanya. Bisakah kau percaya ini? Aku benar-benar akan menceritakan rahasia keluarga Cayhall yang dalam, gelap, dan mengerikan. Bagaimana?"

Lee memegang gelasnya dengan dua tangan dan perlahan-lahan menggelengkan kepala. "Dia akan mati," gumamnya tanpa memandang Adam.

"Belum. Tapi senang rasanya mengetahui kau prihatin."

"Aku prihatin."

"Oh. benarkah? Kapan terakhir kali kau melihatnya?"

"Jangan memulai ini, Adam. Kau tak mengerti."

"Baiklah. Boleh saja. Kalau begitu, jelaskan padaku. Aku mendengarkan. Aku ingin mengerti.*

"Tidak bisakah kita bicarakan hal lain, Sayang? Aku tidak siap untuk ini."

"Tidak."

"Kita bisa bicara tentang hal ini kelak, aku janji. Sekarang ini aku tidak siap. Tadinya kusangka kita cuma bertukar gosip dan tertawa sejenak."

"Maaf, Lee. Aku muak dengan gosip dan rahasia. Aku tak punya masa lalu, sebab ayahku menghapusnya seenaknya. Aku ingin mengetahuinya, Lee. Aku ingin tahu, seburuk apa sebenarnya masa lalu itu."

"Mengerikan," ia berbisik, nyaris untuk diri sendiri.

"Oke. Aku sudah dewasa sekarang. Aku sanggup menerimanya. Ayahku meninggalkanku sebelum dia terpaksa menghadapi hal ini, jadi aku

khawatir tak ada orang lain selain kau."

"Beri aku waktu."

"Tak ada waktu lagi. Aku akan berhadapan langsung dengannya besok." Adam meneguk minumannya panjang-panjang dan menyeka bibir dengan lengan kemeja. "Dua puluh tiga tahun yang lalu, Newsweek mengatakan ayah Sam juga anggota Klan. Benarkah?"

"Ya. Kakekku."

"Dan juga beberapa paman dan sepupu."

"Seluruhnya."

"Newsweek juga mengatakan sudah diketahui umum di Ford County bahwa Sam Cayhall menembak dan membunuh seorang laki-laki kulit hitam pada awal tahun lima puluhan, dan tak pernah ditahan karena tindakan ini. Tak pernah sehari pun masuk penjara. Apakah ini benar?"

"Apa pentingnya sekarang, Adam? Itu terjadi bertahun-tahun sebelum kau lahir."

"Jadi, itu benar terjadi?"

"Ya. Itu terjadi."

"Dan kau mengetahuinya?"

"Aku menyaksikannya."

"Kau menyaksikannya!" Adam memejamkan mata dengan perasaan tak percaya. Napasnya tersengal-sengal dan ia merosot rendah di kursi goyangnya. Bunyi terompet dari sebuah perahu tam-

125bang menarik perhatiannya, dan ia mengikutinya melaju ke hilir, sampai lewat di bawah sebuah jembatan. Bourbon itu mulai menenangkan saraf.

"Mari kita bicara tentang hal lain," kata Lee pelan.

"Bahkan ketika aku masih kecil," kata Adam, masih memandang sungai, "aku suka sejarah. Aku terpesona dengan cara orang hidup bertahun-tahun yang lalu—para pionir, kereta api, demam emas, koboi dan Indian, penaklukan daerah Barat. Ada seorang bocah di kelas empat yang mengatakan kakek buyutnya pernah merampok kereta api dan menguburkan uangnya di Meksiko. Dia ingin membentuk suatu geng dan kabur mencari uang L itu. Kami tahu dia bohong, tapi bermain sungguh menggembirakan. Aku sering bertanya dalam hati tentang nenek moyangku, dan aku ingat betapa heran hatiku, sebab rasanya aku tak punya." "Apa kata Eddie?"

"Dia mengatakan mereka semua sudah mati'. Katanya lebih banyak waktu dihamburkan untuk sejarah keluarga daripada apa pun lainnya Tiap kali aku mengajukan pertanyaan tentang keluarga kita, Ibu akan menarikku ke samping dan menyuruhku berhenti, sebab itu mungkin akan membuatnya kacau dan Ayah bisa tenggelam dalam kemurungannya yang kelam dan mengurang diri di . kamar selama sebulan. Masa kanak-kanakku kuhabiskan dengan berjalan di atas kulit telur bila aku berada di dekat ayahku. Ketika beranjak de-

wasa, aku mulai menyadari dia laki-laki yang sangat aneh, sangat tidak bahagia, tapi aku tak pernah mimpi dia akan bunuh diri."

Lee menggoyang-goyang gelasnya dan menghirup tegukan terakhir. "Ada banyak hal dalam persoalan ini, Adam."

"Jadi, kapan kau akan menceritakannya padaku?"

Lee pelan-pelan mengambil pitcher dan mengisi kembali gelas mereka. Adam menuangkan bourbon ke dalam dua gelas tersebut. Beberapa menit berlalu sementara mereka meneguk minuman dan mengawasi lalu lintas di Riverside Drive.

"Sudah pernahkah kau ke penjara untuk terpidana mati?" akhirnya ia bertanya, masih menatap lampu-lampu di sepanjang sungai. "Belum," kata Lee, nyaris tak terdengar. "Dia sudah hampir sepuluh tahun di sana, dan kau tak pernah pergi menjenguknya?"

"Sekali aku pernah menulis surat untuknya, tak lama sesudah sidangnya yang terakhir. Enam bulan kemudian dia balas menulisiku dan menyuruhku agar tidak datang. Katanya dia tak ingin aku melihatnya dalam penjara itu. Aku mengirim dua surat lagi, tapi tak satu pun dibalasnya." "Maaf."

"Tak perlu minta maaf. Aku menanggung banyak perasaan bersalah, Adam, dan tidaklah mudah membicarakannya. Beri aku sedikit waktu."

127"Aku mungkin akan tinggal di Memphis beberapa lama." ««mj

"Aku ingin kau tinggal di sini. Kita akan saling membutuhkan." Ia tampak sangsi dan mengaduk minuman dengan telunjuk. "Maksudku, dia akan mati, bukan?"

"Kemungkinan besar."

"Kapan?"

"Dua atau tiga bulan lagi. Permohonan penundaan eksekusinya akhirnya habis. Tak banyak lagi waktu tersisa."'

"Kalau begitu, mengapa kau melibatkan diri?"

"Entahlah. Mungkin karena kita punya peluang untuk bertempur. Aku akan bekerja jungkir balik selama beberapa bulan berikut dan berdoa meminta mukjizat."

"Aku pun akan mendoakan," kata Lee sambil menghirup seteguk lagi.

"Bisakah kita bicara tentang sesuatu?" tanya Adam, mendadak memandang bibinya.

"Tentu."

"Apakah kau tinggal di sini sendiri? Maksudku, ini pertanyaan yang wajar kalau aku akan tinggal di sini."

"Aku tinggal sendiri. Suamiku tinggal di rumah kami di pinggir kota." "Apakah dia tinggal sendiri? Cuma ingin tahu. : "Kadang-kadang. Dia suka gadis-gadis mu* awal dua puluhan, biasanya karyawati di banW Aku sebaiknya menelepon dulu sebelum datang

rumah. Dia juga sebaiknya menelepon dulu sebelum datang ke sini."

"Cara yang bagus dan praktis. Siapa yang menegosiasikan perjanjian itu?"

"Mungkin kami saling mengerti dengan lewatnya waktu. Sudah lima belas tahun kami tidak hidup bersama."

"Sungguh pernikahan yang hebat."

"Sebenarnya itu berjalan cukup baik. Aku mengambil uangnya dan tidak mengajukan pertanyaan tentang kehidupan pribadinya. Kami tampil bersama dalam beberapa acara sosial yang diperlukan, dan dia bahagia."

"Apakah kau bahagia?"

"Kebanyakan."

"Kalau dia serong, mengapa kau tidak meng-; ajukan gugatan cerai dan mengurasnya? Aku akan mewakilimu."

"Perceraian takkan berhasil. Phelps berasal dari keluarga tua kaya raya yang kaku dan penuh sopan santun. Masyarakat Memphis Lama. Selama beberapa dasawarsa keluarga-keluarga ini saling kawin di antara mereka. Sebenarnya Phelps diharapkan menikahi seorang sepupu kelima, tapi ternyata dia jatuh dalam pesonaku. Keluarganya sangat menentang, dan perceraian saat ini akan jadi pengakuan menyakitkan bahwa keluarganya ternyata benar. Di samping itu, mereka orang-orang berdarah biru yang angkuh, dan perceraian akan melecehkan mereka. Aku senang bisa meng-

ambil uangnya dan hidup seperti yang kuinginkan."

"Apakah kau dulu mencintainya?"

"Tentu. Kami jatuh cinta setengah mati ketika menikah. Omong-omong, kami kawin lari. Itu terjadi tahun 1963, dan gagasan mengadakan pesta pernikahan besar dengan keluarganya yang aristokrat dan keluargaku yang dari golongan redneck tidak menarik. Ibunya tak mau bicara denganku, dan ayahku membakari salib. Pada saat itu Phelps tidak tahu ayahku anggota Klan, dan tentu saja aku mati-matian ingin menutupinya,"

"Apa dia akhirnya tahu?"

"Begitu Daddy ditahan karena pengeboman itu, aku bercerita padanya. Seterusnya dia bercerita pada ayahnya, dan kabar itu tersebar secara perlahan-lahan dan hati-hati di antara keluarga Booth. Orang-orang ini cukup pandai menyimpan rahasia. Itu satu-satunya persamaan mereka dengan kita, keluarga Cayhall."

"Jadi, hanya sedikit yang tahu kau putri Sam?"

"Sangat sedikit. Aku menginginkannya tetap demikian."

"Kau malu dengan,.."

"Ya, aku malu dengan ayahku! Siapa yang tidak?" Kata-katanya mendadak tajam dan pahit. "Kuharap kau tidak memiliki citra romantis tentang laki-laki tua yang menderita di penjara, yang akan disalibkan secara tidak adil karena dosa-dosanya."

"Menurutku tidak seharusnya dia mati."

"Aku pun berpikir demikian. Tapi memang be-- nar dia sudah membunuh cukup banyak orang—si kembar Kramer, ayah mereka, ayahmu, dan hanya Tuhan yang tahu siapa lagi. Dia harus tinggal di penjara seumur hidupnya."

"Kau tidak kasihan padanya?1'

"Kadang-kadang. Kalau suasana hatiku baik dan matahari bersinar, aku suka memikirkannya dan teringat pada peristiwa menyenangkan semasa kanak-kanak. Tapi peristiwa macam itu sangat langka, Adam. Dia menimbulkan banyak penderitaan dalam hidupku dan hidup orang-orang di sekitarnya. Dia mengajar kami untuk membenci semua orang. Dia keji terhadap ibu kami. Seluruh keluarganya yang terkutuk itu berwatak keji."

"Kalau begitu, mari kita bunuh saja dia."

"Bukan itu yang kukatakan, Adam, dan kau tidak adil. Aku terus-menerus memikirkannya. Aku mendoakannya setiap hari. Berjuta kali aku bertanya pada dinding-dinding ini mengapa dan bagaimana ayahku menjadi orang yang demikian mengerikan. Mengapa dia tak bisa menjadi laki-laki tua yang menyenangkan dan sekarang duduk di teras depan dengan pipa dan tongkat, mungkin sedikit bourbon dalam gelas, untuk kesehatan perutnya, tentu saja? Mengapa ayahku harus menjadi seorang anggota Klan yang membunuh anak-anak tak berdosa dan menghancurkan keluarganya sendiri?"

131"Mungkin dia tidak berniat membunuh mereka." "Mereka mati. bukan? Juri mengatakan dia melakukannya. Mereka meledak sampai berkeping-keping dan dikuburkan berdampingan di kuburan kecil yang sama. Siapa peduli apakah dia berniat membunuh atau tidak? Dia ada di sana, Adam." "Itu bisa sangat penting." Lee melompat berdiri dan meraih tangan Adam. "Kemarilah," ia mendesak. Ia melangkah beberapa meter ke tepi teras. Ia menunjuk ke kaki langit Memphis beberapa blok dari sana. "Kaulihat gedung datar yang menghadap sungai di sana? Yang paling dekat ke kita. Tepat di sana, tiga atau empat blok dari sini." I "Ya," jawab Adam perlahan-lahan.

"Lantai teratas adalah lantai lima belas, oke? j Sekarang, dari sebelah kanan, hitung enam tingkat. Kau mengikuti?"

"Ya." Adam mengangguk dan menghitung dengan patuh. Gedung itu tinggi dan mengesankan.

"Sekarang, hitung empat jendela ke kiri. Yang ada lampu menyala. Kau melihatnya?" "Ya."

Terka siapa yang tinggal di sana."

"Bagaimana aku tahu?"

"Ruth Kramer."

"Ruth Kramer! Sang ibu?"

Tto dia."

"Kau mengenalnya?"

"Kami pernah sekali berjumpa, secara kebetulan

Dia mengenalku sebagai Lee Booth, istri Phelps Booth yang terkenal brengsek, tapi cuma sebegitu saja. Itu terjadi dalam acara pengumpulan dana untuk balet atau entah apa. Aku selalu menghindarinya bilamana mungkin." "Ini pasti kota kecil."

"Bisa sangat kecil. Kalau kau bisa bertanya padanya tentang Sam, apa yang bakal dikatakannya?"

Adam menatap lampu-lampu di kejauhan. "Entahlah, aku tak tahu. Aku pernah baca bahwa dia masih merasa getir."

"Getir? Dia kehilangan seluruh keluarganya. Dia tak pernah menikah lagi. Kaupikir dia peduli apakah ayahku berniat membunuh anak-anaknya atau tidak? Tentu saja tidak. Dia cuma tahu mereka mati, Adam, mati selama 23 tahun sekarang. Dia tahu mereka terbunuh bom yang ditanam ayahku. Seandainya ayahku berada di rumah bersama keluarga dan bukannya berkeliaran di waktu malam bersama sobat-sobatnya yang idiot, Josh dan John kecil takkan mati. Mereka akan berumur 28 tahun, mungkin berpendidikan tinggi dan menikah, dengan satu atau dua bayi yang bisa diajak bermain Ruth dan Marvin. Dia tak peduli untuk siapa bom itu dimaksudkan, Adam. Dia cuma tahu bom itu ditempatkan di sana dan meledak. Anak-anaknya tewas. Itu saja yang masuk hitungan."

Lee melangkah mundur dan duduk di kursi anyamnya. Ia kembali menggoyang-goyangkan ge-

133las dan meneguknya. "Jangan salah paham, Adam Aku menentang hukuman mati. Mungkin aku satu-satunya wanita kulit putih berusia lima puluh tahun di negara ini yang ayahnya dipenjarakan untuk menantikan eksekusi. Hukuman mati itu biadab, tak bermoral, mendiskriminasikan, kejam, tak beradat)—aku menentang semua itu. Tapi jangan lupakan korbannya, oke? Mereka punya hak untuk menginginkan pembalasan. Mereka patut mendapatkannya."

"Apakah Ruth Kramer menginginkan pembalaj-an?"

"Dari segala segi, ya. Dia tak lagi bicara banyak kepada pers, namun dia aktif dalam kelompok korban kejahatan. Beberapa tahun yang lalu dia dikutip mengatakan akan berada di kamar saksi ketika Sam Cayhall dieksekusi." "Sama sekali bukan jiwa pemaaf." "Aku tak ingat ayahku minta pengampunan." Adam berbalik dan duduk pada langkan dengan punggung menghadap sungai. Ia melirik gedung-gedung di pusat kota, kemudian mengamati kakinya. Lee kembali meneguk minumannya panjang-panjang.

"Nah, Bibi Lee, apa yang akan kita lakukan?"

"Jangan pakai panggilan Bibi."

"Oke, Lee. Aku di sini. Aku takkan pergi. Aku akan mengunjungi Sam besok, dan bila aku berlalu, aku berniat jadi pengacaranya."

"Apa kau berniat membungkam hal ini?"

"Kenyataan bahwa aku benar-benar seorang

Cayhall? Aku tak punya rencana untuk memberi-tahu siapa pun, tapi aku akan terkejut kalau hal ini masih rahasia. Bila menyangkut penghuni penjara ' terpidana mati, Sam penghuni yang terkenal. Pers

akan segera mulai menggali dengan serius."

Lee melipat kaki ke bawahnya dan menatap ke sungai. "Apakah itu akan merugikanmu?" tanyanya

lembut.

"Tentu saja tidak. Aku pengacara. Pengacara membela penganiaya anak, pembunuh, pengedar obat bius, pemerkosa, dan teroris. Kami bukan orang populer. Bagaimana aku bisa dirugikan dengan fakta dia kakekku?"

"Kantormu tahu?"

"Kuceritakan pada mereka kemarin. Mereka tidak begitu senang, tapi mereka mendukung. Sebenarnya aku menyembunyikan hal ini ketika mereka mempekerjakanku, dan aku keliru berbuat demikian. Tapi kurasa segalanya beres."

"Bagaimana kalau dia bilang tidak?"

"Kalau begitu, kita akan aman, bukan? Tak seorang pun akan tahu, dan kau akan terlindung. Aku akan kembali ke Chicago dan menunggu CNN meliput karnaval eskekusi itu. Aku akan datang pada suatu hari yang sejuk di musim gugur, dan meletakkan bunga di atas makamnya, barangkali melihat nisannya dan sekali lagi bertanya pada diri sendiri, mengapa dia melakukannya dan bagaimana dia jadi begitu rendah dan

135mengapa aku terlahir dalam keluarga yang be. berantakan. Kau tahu, pertanyaan-pertanyaan y* sudah kita ajukan selama bertahun-tahun, rv akan kuundang ikut denganku. Itu akan jadi & macam reuni keluarga, kau tahu, cuma kita keluar-ga Cayhall, merayap-rayap di kuburan dengan ka-rangan bunga murahan dan kacamata hitam tebal sehingga tak seorang pun mengenali kita."

"Hentikan," kata Lee, dan Adam melihat air mata. Air mata itu mengalir dan hampir sampai ke dagu ketika ia menyekanya dengan jari.

"Maaf," kata Adam, lalu berbalik-melihat kapal tongkang lain beringsut ke utara, menembus bayang-bayang sungai. "Maaf, Lee."

DELAPAN

Sesudah 23 tahun, akhirnya ia kembali ke negara bagian kelahirannya. Ia tidak merasa disambut, dan meski tidak takut terhadap apa pun, ia mengemudi dengan hati-hati dengan kecepatan 55 mil per jam dan tak mau melewati siapa pun. Jalan menyempit dan tenggelam ke dataran Delta Mississippi yang rata, dan sejauh satu mil Adam menyaksikan tanggul yang berkelok-kelok seperti ular, menuju ke kanan dan akhirnya menghilang. Ia masuk melewati dusun Walls, kota pertama di sepanjang Highway 61, dan mengikuti lalu lintas menuju selatan.

Dari risetnya yang mendalam, ia tahu selama beberapa dasawarsa jalan raya ini telah berfungsi sebagai penyalur utama ratusan ribu orang kulit hitam miskin dari Delta yang pergi ke utara menuju Memphis, St. Louis, Chicago, dan Detroit, ke tempat-tempat mereka mencari pekerjaan dan perumahan yang layak. Dari kota-kota kecil dan darah pertanian inilah, di rumah-rumah bobrok, toko-toko desa yang berdebu, dan tempat minum anekawarna sepanjang Highway 61, musik blues dilahirkan dan tersebar ke Utara. Musik itu mendapatkan tempat di Memphis; di situ dicampur dengan musik gereja dan country, dan bersama-sama mereka menelurkan rock and roli. Ia mendengarkan sebuah kaset Muddy Waters lama ketika memasuki Tunica County yang terkenal sebagai county termiskin di seluruh negeri.

Musik itu tak banyak menenangkannya. Ia menolak makan pagi di rumah Lee. Katanya ia tidak lapar, tapi sebenarnya perutnya nyeri. Rasa nyeri itu makin menghebat setiap mil.

Tepat di utara kota Tunica, ladang-ladang tampak luas dan membentang ke segala penjuru, sampai ke kaki langit. Kedelai dan kapas tumbuh setinggi lutut. Satu pasukan kecil traktor hijau dan i merah dengan garu di belakangnya hilir-mudik di antara deretan dedaunan yang membentang rapi tak terhingga. Meskipun saat itu belum lagi pukul 09.00, udara sudah panas dan lengket. Tanah begitu kering dan awan debu membara di belakang setiap garu. Sekali-sekali sebuah mesin pemanen muncul entah dari mana dan dengan akrobatis memangkas bagian atas ladang itu, lalu mendera ke atas. Lalu lintas padat dan lamban, dan kadang-kadang terpaksa nyaris berhenti ketika sebuah truk John Deere raksasa beringsut maju, seakan-akan jalan itu kosong. Adam penyabar. Ia tidak ditunggu kedatangan-

f nya sebelum pukul 10.00, dan tidak ada masalah

seandainya ia terlambat.

Di CIarksdale ia meninggalkan Highway 61 dan menuju tenggara melalui Highway 49, melintasi pemukiman-pemukiman kecil Mattson, Dublin, dan Tutwiler, melintasi ladang-ladang kedelai lagi. Ia , melewati rumah-rumah miskin dan rumah-rumah mobil yang kotor, yang semuanya karena alasan tertentu ditempatkan di dekat jalan raya bebas hambatan. Sekali-sekali ia melewati rumah bagus, selalu di kejauhan, selalu berdiri megah di bawah pepohonan ek dan elm besar, dan biasanya dengan kolam renang berpagar di salah satu sisi. Tak ada keraguan siapa yang memiliki ladang-ladang ini.

Sebuah tanda jalan mengumumkan bahwa penjara negara bagian terletak lima mil di depan, dan secara naluriah Adam mengurangi kecepatan mobilnya. Sesaat kemudian ia menghampiri sebuah traktor besar yang beringsut lamban di jalan. Bukannya melewati, ia memilih mengikutinya. Operatornya, seorang laki-laki kulit putih dengan topi kotor, memberi tanda padanya agar menghampiri. Adam melambai dan tetap berada di belakang gam dengan kecepatan dua puluh mil per jam. Tak ada kendaraan lain yang terlihat Sekali-sekali gumpalan tanah terlontar dari ban belakang traktor dan mendarat beberapa senti di depan Saab. Ia mengurangi kecepatan sedikit lagi. Si operator berputar di tempat duduknya dan kembali melambai kepada Adam agar menghampiri. Mulutnya ber-

139gerak dan wajahnya gusar, seolah-olah itu jalannya I sendiri dan ia tidak menyukai idiot-idiot yang me- I nguntit traktornya. Adam tersenyum dan melambai g kembali, tapi tetap bertahan di belakangnya.

Beberapa menit kemudian, ia melihat penjara itu, Tak ada pagar kawat tinggi di sepanjang jalan. Tak ada bentangan kawat duri mengilat untuk mencegah pelarian. Tak ada menara dengan penjaga-penjaga bersenjata. Tak ada kerumunan narapidana yang melolong meneriaki orang lewat. Sebaliknya, Adam melihat sebuah gerbang di sebelah kanan dan kata-kata MISSISSIPPI STATE PENITENTIARY terbentang pada lengkungan di atasnya. Di samping gerbang itu ada beberapa bangunan, semuanya menghadap ke jalan raya dan jelas tak dijaga.

Adam melambai sekali- lagi kepada operator traktor, kemudian meluncur keluar dari jalan raya. Ia menghela napas dalam dan mengamati gerbang I itu. Seorang wanita berseragam melangkah dari gardu jaga di bawah lengkungan dan menatapnya. Adam mengendarai mobilnya perlahan-lahan ke arahnya dan menurunkan jendela.

"Pagi," kata wanita itu. Di pinggangnya ada pistol dan di tangannya ada sebuah clipboard. Satu penjaga lain mengawasi dari dalam. "Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?"

"Saya pengacara, datang ke sini untuk menjumpai seorang klien di death row," kata Adam lemah, sangat sadar bahwa suaranya bergetar dan gelisah. Tenanglah, katanya pada diri sendiri.

"Kami tak punya siapa pun di death row, Sir."

"Ya?"

'Tidak ada tempat bernama death row di sini. Kami memang punya banyak narapidana di Maximum Security Unit, atau MSU kependekannya,

tapi Anda bisa mencari di seluruh tempat ini dan

takkan menemukan death row." "Oke."

"Nama?" katanya sambil meneliti clipboard. "Adam Hall." "Dan klien Anda?"

"Sam Cayhall." Ia sudah separo berharap akan mendapatkan tanggapan atas jawaban ini, tapi si penjaga tak peduli. Ia membalik sehelai kertas dan berkata, "Tunggu di sini."

Gerbang itu berubah menjadi jalan masuk dengan pohon-pohon peneduh dan bangunan-bangunan kecil di setiap sisi. Ini bukan penjara. Ini jalan kecil yang bagus di sebuah kota kecil, dan setiap saat sekelompok anak akan muncul dengan sepeda dan sepatu roda. Di sebelah kanan ada sebuah bangunan kuno dengan teras depan dan bunga-bungaan. Sebuah papan tanda menunjukkan tempat itu adalah Balai Pengunjung, seolah-olah cendera mata dan limun tersedia di sana untuk pelancong yang bersemangat. Sebuah pickup putih dengan tiga pemuda kulit hitam di dalamnya dan tulisan Mississippi Department of Correction tercetak pada pintunya lewat tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun.Sepintas Adam melihat penjaga tadi berdiri di belakang mobilnya. Sang penjaga menuliskan sesuatu pada clipboard sambil menghampiri jendela Adam. "Tinggal di mana di Illinois?" tanyanya.

"Chicago."

"Bawa kamera, senjata api, atau tape recorder? Tidak."

Wanita itu mengulurkan tangan ke dalam dan meletakkan sehelai kartu pada dashboard. Kemudian ia kembali ke clipboard-nya dan berkata, "Saya catat di sini bahwa Anda harus menemui Lucas Mann." "Siapa itu?" m

"Dia pengacara penjara." "Saya tak tahu harus menemuinya." Ia memegang secarik kertas semeter dari wajah i Adam. "Begitulah yang tertulis di sini. Belok kiri pada tikungan ketiga di ujung sana, lalu berputar-f lah ke belakang gedung bata merah itu." Ia menunjuk. "Apa yang dia inginkan?" Ia mendengus dan mengangkat pundak bersamaan, lalu berjalan ke gardu jaga sambil menggelengkan kepala. Pengacara tolol.

Adam pelan-pelan menginjak pedal gas dan melewati Balai Pengunjung tadi, meluncur di jalan teduh itu. Di kedua sisinya berjajar rumah-rumah putih yang rapi, yang kelak diketahuinya sebagai tempat tinggal penjaga penjara dan karyawan lain beserta keluarga mereka. Ia mengikuti instruksi

dan parkir di depan sebuah bangunan bata tua. Dua narapidana bercelana penjara biru bergaris-garis putih sampai ke kaki, menyapu tangga depan. Adam menghindari kontak mata dan masuk

ke dalam.

Tanpa banyak kesulitan ia menemukan kantor Lucas Mann yang tanpa tanda apa pun. Seorang sekretaris tersenyum kepadanya dan membuka pintu lain ke sebuah kantor luas tempat Mr. Mann sedang berdiri di belakang meja kerjanya dan berbicara di telepon.

"Silakan duduk," si sekretaris berbisik sambil menutup pintu di belakangnya. Mann tersenyum dan melambaikan tangan dengan canggung, sementara mendengarkan telepon. Adam meletakkan tas kerjanya di sebuah kursi dan berdiri di belakangnya. Kantor itu luas dan bersih. Dua jendela panjang menghadap ke jalan raya dan memberikan banyak cahaya. Pada dinding kiri tergantung sebuah pigura besar berisi foto wajah yang sudah dikenal, seorang laki-laki muda tampan dengan senyum tulus dan dagu kuat. Itulah David McAllister, gubernur Negara Bagian Mississippi. Adam curiga foto yang sama tergantung di setiap kantor pemerintah, juga tertempel di setiap lorong, kamar ganti, dan toilet di gedung-gedung milik pemerintah.

Lucas Mann merentangkan kabel telepon dan berjalan ke jendela, memunggungi meja dan Adam. Penampilannya sama sekali tidak mirip pengacara.Ia berusia pertengahan Jima puluhan dengan rambut kelabu tua yang dibiarkan panjang dan entah bagaimana ditariknya dan tetap melekat di tengkuknya. Pakaiannya seperti pakaian mahasiswa paling modem—kemeja kerja khaki yang dikanji kaku dengan dua saku dan sebuah dasi warna-warni masih terikat tapi dikendurkan; kancing paling atas terbuka, memperlihatkan kaus katun abu-abu; celana panjang dril cokelat yang juga dikanji licin dengan lipatan satu senti pada ujungnya, yang sedikit memperlihatkan kaus kaki putih; dan pantofel yang disemir tanpa cela Jelas Lucas tahu bagaimana cara berpakaian, dan juga jelas ia menjalankan praktek hukum yang berbeda. Seandainya ia memakai anting-anting kecil di daun telinga kiri, k bisa . disangka hippie tua yang pada tahun-tahun terakhir-I nya menyerah pada kemapanan.

Kantor itu diisi rapi dengan perabotan warisan milik pemerintah: sebuah meja kerja usang tampak luar biasa rapi; tiga kursi besi dengan jok vinil; sederet lemari berkas yang tidak seragam menutupi salah satu dinding. Adam berdiri di belakang sebuah kursi dan mencoba menenangkan diri. Apakah pertemuan ini selalu dialami semua pengacara yang datang berkunjung? Pasti tidak. Ada lima ribu narapidana di Parchman. Gamer Goodman tak pernah bicara tentang kunjungan pada Lucas Mann.

Nama itu samar-samar seperti sudah dikenalnya! Di suatu tempat, jauh di dalam salah satu kardus

144

berisi berkas-berkas pengadilan dan kliping koran ia pernah melihat nama Lucas Mann, dan ia mati-matian mencoba mengingat apakah ia orang baik atau bukan. Apa perannya secara tepat dalam perkara tuntutan hukuman mati? Adam tahu pasti musuhnya adalah jaksa negara bagian, namun ia tak bisa menempatkan Lucas secara tepat dalam skenario.

Man n sekonyong-konyong memutuskan sambungan dan mengangsurkan satu tangan kepada Adam. "Senang bertemu dengan Anda, Mr. Hall. Silakan duduk," katanya lembut dengan suara menyenangkan sambil melambaikan tangan ke sebuah kursi. "Terima kasih Anda mau mampir ke sini."

Adam duduk. "Tentu. Senang berjumpa dengan Anda," jawabnya gelisah. "Ada apa?"

"Ada beberapa hal. Pertama, saya cuma ingin bertemu dengan Anda dan berkenalan. Sudah dua belas tahun saya bekerja sebagai pengacara di sini. Saya menggarap sebagian besar perkara perdata yang disemburkan tempat ini. Anda tahu, segala macam gugatan gila yang diajukan tamu-tamu kami—hak-hak narapidana, gugatan kerusakan, hal-hal semacam itulah. Rasanya setiap hari kami digugat. Menurut peraturan, saya juga memainkan peran kecil dalam kasus-kasus hukuman mati, dan saya mengerti Anda ke sini untuk mengunjungi Sam."

"Itu benar."

"Apakah dia sudah menyewa Anda?"

145"Belum."

"Sudah saya duga. Ini menimbulkan sedikit masalah. Anda tahu, Anda tak seharusnya mengunjungi seorang narapidana, kecuali Anda benar-benar mewakilinya, dan saya tahu Sam telah berhasil memecat Kravitz & Bane."

"Jadi, saya tak bisa menemuinya?" tanya Adam, nyaris dengan nada lega.

"Seharusnya Anda tidak menemuinya. Saya bicara lama dengan Garner Goodman kemarin. Saya dan dia menyaksikan eksekusi Maynard Tole beberapa tahun yang lalu. Apa Anda tahu tentang kasus itu?"

"Samar-samar."

"1986. Itu eksekusi kedua bagi saya," katanya, seolah-olah ia sendiri yang menarik saklar. Ia duduk di tepi meja kerja dan memandang ke bawah pada Adam. Kain celananya bergemeresik pelan. Kaki kanannya terayun dari meja. "Saya sudah mengalami empat kali, Anda tahu. Sam bisa jadi yang kelima. Omong-omong, Garner-lah yang mewakili Maynard Tole, dan kami jadi saling kenal. Dia seorang gentleman yang baik dan pembela yang buas."

"Terima kasih," kata Adam, sebab ia tak bisa memikirkan hal lain.

"Saya benci mereka, secara pribadi."

"Anda menentang hukuman mati?"

"Kebanyakan. Saya sebenarnya melewati beberapa tahapan. Setiap kali kami membunuh sese-

orang di sini, saya pikir seluruh dunia sudah jadi gila. Kemudian, tanpa terkecuali, saya telaah kembali salah satu kasus ini dan mengingat betapa

brutal dan mengerikan sebagian dari tindak kejahatan ini. Eksekusi pertama saya adalah Teddy Doyle Meeks, pengangguran yang memerkosa, memotong-motong, dan membunuh seorang bocah kecil. Tak banyak kesedihan di sini ketika dia digas. Tapi, hei, dengar, bisa-bisa waktu kita habis untuk kisah-kisah begini. Mungkin kita punya waktu untuk itu nanti, oke?"

"Tentu," kata Adam berbasa-basi. Ia tak bisa memimpikan kapan ia ingin mendengar kisah tentang pembunuh biadab dan eksekusi mereka.

"Saya katakan pada Garner, menurut saya Anda tak seharusnya diizinkan mengunjungi Sam. Dia mendengarkan sejenak, kemudian menjelaskan, agak samar-samar, mungkin Anda menghadapi situasi khusus, dan Anda sedikitnya diizinkan mengunjunginya satu kali. Dia tidak mengatakan apa yang begitu istimewa tentang hal ini. Anda tahu maksud saya?" Lucas menggaruk dagu ketika mengucapkan ini, seolah-olah nyaris memecahkan teka-teki tersebut. "Kebijaksanaan kita agak keras, terutama untuk MSU. Tapi Kepala Penjara akan melakukan apa saja yang saya minta." Ia mengucapkan ini dengan sangat perlahan-lahan, kata-katanya bergantung di udara.

"Saya... uh... benar-benar perlu menemuinya," kata Adam, suaranya nyaris pecah.

"Ah, dia butuh pengacara. Terus terang, saya gembira Anda di sini. Kita tak pernah mengeksekusi orang, kecuali pengacaranya hadir. Ada segala macam manuver hukum sampai menit terakhir, dan saya lebih lega kalau Sam punya pengacara." Ia berjalan mengelilingi meja dan mengambil tempat duduk di sisi lain. Ia membuka sebuah berkas dan mempelajari sehelai kertas. Adam menunggu dan mencoba bernapas normal. "Kami menyelidiki cukup mendalam-latar be-I lakang para terpidana mati," kata Lucas, masih ' memandang berkas itu. Pernyataan itu mengandung nada peringatan sungguh-sungguh. "Terutama bila waktu penundaan sudah habis dan eksekusi itu akan dilaksanakan. Apa Anda tahu sesuatu tentang keluarga Sam?"

Rasa nyeri itu mendadak terasa bagaikan bola basket dalam perut Adam. Ia mengangkat pundak dan menggelengkan kepala pada saat yang sama, seolah-olah mengatakan tak tahu apa-apa

"Apakah Anda merencanakan bicara dengan keluarga Sam?"

Sekali lagi tak ada tanggapan, cuma gerakan mengangkat pundak yang canggung, pundak yang sangat berat saat ini.

"Maksud saya, biasanya dalam kasus-kasus ini ada cukup banyak kontak dengan keluarga si terhukum menjelang eksekusi. Anda mungkin ingin menghubungi orang-orang ini. Sam punya seorang putri di Memphis, Mrs. Lee Booth. Saya punya

alamatnya, kalau Anda mau." Lucas memandangnya dengan curiga. Adam tak mampu bergerak.

"Saya rasa Anda tak mengenalnya, bukan?"

Adam menggelengkan kepala, tapi tak mengucapkan apa pun.

"Sam punya seorang putra, Eddie Cayhall, tapi laki-laki malang itu bunuh diri pada tahun 1981. Dulu tinggal di California. Eddie meninggalkan dua anak, seorang putra lahir di Clanton, Mississippi, tanggal 12 Mei 1964, yang anehnya, menurut Martindale-Hubbel Law Directory adalah hari ulang tahun Anda. Menurut buku itu, Anda lahir di Memphis pada hari yang sama. Eddie juga meninggalkan seorang anak perempuan yang lahir di California. Mereka cucu Sam. Akan saya coba menghubungi mereka, kalau Anda..."

"Eddie Cayhall ayah saya," kata Adam tanpa berpikir, dan ia menghela napas panjang. Ia tenggelam lebih dalam di kursinya dan menatap permukaan meja. Jantungnya berdebar-debar liar, tapi sedikitnya ia bernapas kembali. Pundaknya sekonyong-konyong jadi lebih ringan. Ia bahkan menyunggingkan senyum yang sangat kecil.

Wajah Mann tidak menunjukkan ekspresi. Ia berpikir panjang, kemudian berkata dengan sedikit nada puas, "Saya kurang-lebih sudah menduganya" Ia langsung membalik-balik kertas, seolah-olah berkas itu mengandung banyak kejutan lain. "Selama ini Sam orang yang sangat kesepian di death row, dan dalam hati saya kerap bertanyatentang keluarganya. Dia menerima sejumlah surat, tapi hampir tak satu pun dari keluarganya. Sama sekali tak ada pengunjung, meskipun tak berarti dia menginginkannya. Namun agak luar biasa bagi seorang narapidana yang begitu terkemuka diabaikan begitu saja oleh keluarganya. Terutama yang berkulit putih. Saya tidak bermaksud mencampuri urusan orang, Anda mengerti." "Tentu."

Lucas tak menghiraukan ini. "Kita harus membuat persiapan untuk eksekusi itu, Mr. Hall. Misalnya, kita perlu tahu apa yang harus dilakukan pada jenazahnya, cara penguburan, dan sebagainya. Di situlah keluarga terlibat. Sesudah bicara dengan Gamer kemarin, saya minta beberapa orang kami untuk melacak keluarganya. Itu cukup mudah. Mereka juga memeriksa dokumen-dokumen Anda, dan langsung menemukan bahwa Negara Bagian Tennessee tidak memiliki catatan kelahiran Adam Hall pada tanggal 12 Mei 1964. Satu hal menuntun pada yang lain. Itu tidak sulit."

"Saya tidak lagi bersembunyi:"

"Kapan Anda tahu tentang Sam?"

"Sembilan tahun yang lalu. Bibi saya, Lee Booth, menceritakannya pada saya sesudah karm menguburkan ayah saya."

"Pernahkah Anda mencoba menghubungi Sara?"

"Tidak."

Lucas menutup berkas itu dan merebahkan kur-

sinya yang berkeriut-keriut. "Jadi, Sam tidak tahu

siapa Anda dan mengapa Anda ke sini?"

"Benar."

"Wow," ia bersiul ke langit-langit.

Adam sedikit tenang dan duduk tegak di kursinya. Si kucing sekarang sudah' keluar dari karung, dan seandainya bukan karena Lee dan ketakutannya dikenali, ia tentu merasa lega sepenuhnya "Berapa lama saya bisa menemuinya hari ini?" ia bertanya.

"Nah, Mr. Hall..."

"Panggil saja aku Adam, oke?"

"Baiklah, Adam, kami sebenarnya punya dua perangkat peraturan untuk The Row."

"Maaf, tapi tadi aku diberitahu penjaga gerbang tidak ada death row di sini."

"Resminya tidak. Kau takkan pernah mendengar penjaga atau personel lain menyebutnya dengan nama lain kecuali Maximum Security Unit atau MSU atau Unit 17. Omong-omong, bila waktu seseorang di The Row sudah hampir habis, kami sedikit melonggarkan peraturan-peraturannya. Biasanya pertemuan dengan pengacara dibatasi sampai satu jam sehari, tapi dalam kasus Sam kau boleh memakai waktu sebanyak yang kaubutuhkan. Kukira ada banyak hal yang ingin kaubicarakan."

"Jadi, tak ada batas waktu?" "Tidak. Kau boleh tinggal sehari penuh kalau mau. Kami mencoba membuat segala urusan mudah pada hari-hari terakhir. Kau bisa datang dan -

151pergi sesukamu, selama tidak ada risiko keamanan. Aku pernah ke death row di lima negara bagian lain, dan percayalah padaku, kami yang terbaik dalam memperlakukan mereka. Astaga, di Louisiana mereka membawa narapidana malang itu keluar dari unitnya dan selama tiga hari mengurungnya dalam tempat yang disebut The Death House sebelum membunuhnya. Bicara tentang kekejaman, kami tidak melakukan hal itu. Sam akan diperlakukan dengan istimewa, sampai hari besar itu tiba." "Hari besar?"

Teah. Itu empat minggu mulai hari ini, kau tahu? 8 Agustus." Lucas meraih sejumlah kertas di sudut mejanya, lalu mengangsurkannya kepada Adam. "Ini datang pagi tadi. Pengadilan Fifth Circuit mencabut penundaan eksekusi kemarin sore, Mahkamah Agung Mississippi baru saja menentukan tanggal eksekusi baru, yaitu 8 Agustus."

Adam memegang dokumen itu tanpa memandangnya. "Empat minggu," katanya, tercengang.

"Aku khawatir begitulah. Aku memberikan satu copy pada Sam sekitar sejam yang lalu, jadi dia sedang murung."

"Empat minggu," Adam mengulangi, hampir kepada diri sendiri. Ia melirik keputusan pengadil» itu. Kasus itu diberi judul State of Mississippi i* Sam Cayhall. "Kurasa sebaiknya aku pergi menemuinya, bagaimana menurutmu?" katanya seenaknya, j

"Yeah. Dengar, Adam, aku bukan salah satu • dari orang-orang jahat itu, oke?" Lucas bangkit berdiri perlahan-lahan dan berjalan ke tepi meja, lalu pelan-pelan menyandarkan pantatnya. Ia melipat tangan dan memandang Adam. "Aku cuma melaksanakan tugas, oke? Aku akan terlibat, sebab aku hams mengurus tempat ini dan memastikan segalanya dilaksanakan sesuai hukum, menurut buku. Aku takkan menikmatinya, tapi ini akan jadi urusan gila dan cukup menekan, dan setiap orang akan meneleponku—Kepala Penjara, asisten-asistennya, kantor Jaksa Agung, Gubernur, kau, dan seratus lainnya. Jadi, aku akan berada di tengah semua ini meskipun tidak menginginkannya. Ini bagian paling tak menyenangkan dalam pekerjaan ini. Aku cuma ingin kau tahu aku ada di sini bila kau membutuhkanku, oke? Aku akan selalu jujur dan terus terang denganmu."

"Kau mengasumsikan Sam mengizinkanku mewakilinya?" "Ya. Aku mengasumsikan demikian." "Bagaimana peluang eksekusi itu akan dilaksanakan empat minggu lagi?"

"Lima puluh-lima puluh. Kau tak pernah tahu apa yang akan dilakukan pengadilan pada menit terakhir. Kami akan mulai bersiap seminggu sebelumnya. Kami punya checklist panjang tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk persiapan." "Semacam cetak biru untuk kematian?"

153"Semacam itulah. Jangan kira kami menyukainya."

"Kurasa semua orang di sini cuma melaksanakan tugas mereka, benar?"

"Itu undang-undang negara bagian ini. Bila masyarakatmu ingin membunuh pelaku tindak kejahatan, hams ada yang melakukannya."

Adam memasukkan surat keputusan pengadilan ke dalam tasnya dan berdiri di depan Lucas. "Terima kasih atas keramah-tamahannya."

"Terima kasih kembali. Sesudah kau menemui Sam, aku perlu tahu apa yang terjadi."

"Akan lcukirim satu copy perjanjian representasi kami kepadamu, kalau dia menandatanganinya." "Itulah yang kuperlukan." Mereka berjabatan tangan dan Adam beranjak ¦ ke pintu.

"Satu hal lain," kata Lucas. "Saat mereka membawa Sam ke mang kunjungan, mintalah penjaga melepaskan borgolnya. Akan kupastikan mereka melakukannya. Itu akan berarti banyak bagi Sam."

"Terima kasih."

"Selamat."

Suhu udara telah naik sedikitnya sepuluh derajat [ ketika Adam meninggalkan bangunan itu dan ber-t jalan melewati dua narapidana sama yang menyapu kotoran yang sama dengan gerakan lamban yang sama. Ia berhenti di tangga depan dan sejenak mengawasi segerombolan narapidana mengumpulkan sampah di sepanjang jalan raya, tak lebih I seratus meter dari sana. Seorang penjaga bersenjata di atas kuda mengawasi mereka dari selokan. Kendaraan lewat tanpa mengurangi kecepatan. Dalam hati Adam bertanya, penjahat macam apa mereka ini, yang diizinkan bekerja di luar pagar dan begitu dekat ke jalan raya. Tampaknya tak seorang pun memedulikan hal itu, kecuali dirinya.

Ia berjalan menempuh jarak pendek ke mobilnya, dan sudah berkeringat saat membuka pintu dan menyalakan mesin. Ia mengikuti jalan mobil, melintasi halaman parkir di belakang kantor Mann, kemudian berbelok ke kiri pada jalan utama penjara itu. Sekali lagi ia melewati rumah-rumah putih

155yang mungil dengan bunga-bungaan dan pepohonan di halaman depannya. Sungguh masyarakat kecil yang beradab. Sebuah panah pada papan tanda jalan menunjuk ke kiri, menuju Unit 17. Ia berbelok, sangat pelan, dan dalam beberapa detik sampai pada jalan tanah yang dengan cepat membawanya ke pagar kawat dan kawat duri ketat.

The Row di Parchman dibangun pada tahun 1954, dan secara resmi disebut sebagai Maximum Security Unit, atau MSU. Sebuah tanda peringatan pada dinding sebelah dalam mencantumkan tang-gal, nama gubernur saat itu, nama berbagai pejabat penting dan sudah lama terlupakan yang menunjang pembangunannya, dan tentu saja nama arsitek dan kontraktornya Bangunan itu tergolong modern untuk saat itu—sebuah bangunan bata merah satu lantai beratap datar, membentang jadi dua empat persegi panjang dari tengahnya.

Adam parkir di halaman tanah, di antara dua mobil lain, dan memandangnya. Tak ada jeruji yang terlibat dari luar. Tak ada penjaga berpatroli di sekitarnya. Kalau bukan karena pagar dan kawat duri tersebut, tempat itu bisa disangka sebagai sekolah dasar di pedesaan. Di dalam halaman yang terkurung pagar di ujung salah satu sayap, seorang narapidana memantu 1-mantuIkan bola basket pads lapangan yang tak berumput dan melemparkannya pada papan sasaran yang bengkok, •

Tinggi pagar di depan Adam sedikitnya tiga setengah meter, bagian atasnya dimahkotai dengan

bentangan kawat duri tebal dan gulungan kawat tajam yang mengancam. Pagar itu membentang lurus ke sudut, sampai bergabung dengan menara

pengawas tempat para penjaga mengawasi ke bawah. Pagar itu mengurung The Row dari empat sisi dengan bentuk yang simetris sempurna, di tiap sudut ada menara serupa, berdiri tinggi dengan mang

penjaga tertutup kaca di puncaknya. Di balik pagar itu tanaman kapas mulai berderet dan serasa membentang tak terhingga. Secara" harfiah, The Row terletak di tengah ladang kapas.

Adam melangkah keluar dari mobilnya, mendadak merasa ngeri berada di tempat tertutup. Ia meremas pegangan tas kerjanya yang tipis, sambil menatap melalui pagar kawat ke bangunan kecil yang datar dan panas itu, tempat mereka membunuh orang. Perlahan-lahan ia menanggalkan jas dan melihat kemejanya sudah basah dan lengket ke dada. Rasa nyeri di perutnya kembali meruyak. Beberapa langkah pertamanya ke gardu jaga lamban dan kaku, terutama karena kakinya goyah dan lututnya bergetar. Pantofel berjumbainya sudah berdebu ketika ia berhenti di bawah menara pengawas dan menengadah. Sebuah ember merah, seperti yang biasa dipakai mencuci mobil, diturunkan dengan tali oleh seorang wanita berseragam yang bertampang serius. "Masukkan kunci Anda ke dalam ember," ia menerangkan dengan efisien, membungkuk di atas susuran. Kawat duri di atas

157pagar itu berjarak satu setengah meter di bawahnya.

Adam cepat-cepat melakukan instruksi tersebut. Dengan hati- hati ia memasukkan kunci-kuncinya ke dalam ember, bergabung dengan selusin ikatan kunci lain. Wanita itu menariknya kembali dan Adam menyaksikannya naik beberapa detik, kemudian berhenti. Wanita itu mengikatkan tali, dan ember merah kecil ini bergantung tak berdaya di udara. Sedikit embusan angin segar akan mengayunnya pelan, tapi saat itu, dalam kevakuman yang mencekik, nyaris tak ada cukup udara untuk bernapas. Angin sudah mati bertahun-tahun yang lalu.

Penjaga itu selesai dengannya. Seseorang entah f di mana menekan tombol atau menarik tuas. Adam tak tahu siapa yang melakukannya, tapi terdengar suara berdengung, dan gerbang kawat pertama di antara dua gerbang berat itu mulai bergeser be- ; berapa meter sehingga ia bisa masuk. Ia berjalan j empat setengah meter di jalan tanah itu, lalu berhenti ketika gerbang pertama menutup di belakangnya. Ia dalam proses mempelajari peraturan dasar pertama tentang pengamanan penjara—setiap pintu masuk yang perlu dilindungi punya dua daun pintu atau gerbang terkunci.

Ketika gerbang pertama berhenti di belakangnya dan terkunci di tempatnya, gerbang kedua dengan patuh bergeser membuka dan bergulir di sepanjang pagar. Ketika ini terjadi, seorang penjaga yang

sangat kekar dengan lengan sebesar kaki Adam muncul di pintu utama unit itu dan mulai melangkah tanpa tergesa-gesa pada jalan setapak bata menuju gerbang. Penjaga itu perutnya keras dan lehernya besar, dan sepertinya, sudah menantikan Adam ketika Adam menunggu gerbang itu terbuka.

Ia mengangsurkan satu tangan hitam raksasa dan berkata, "Sersan Packer." Adam menjabatnya dan langsung memperhatikan sepatu lars koboi mengilat pada kaki Sersan Packer.

"Adam Hall," katanya, mencoba menggenggam tangan itu.

"Kemari untuk menemui Sam?" ucap Packer datar.

"Ya, Sir," kata Adam sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah setiap orang di sini memanggilnya Sam saja.

"Kunjungan pertama ke sini?" Mereka mulai berjalan perlahan-lahan ke depan bangunan.

"Yeah," kata Adam, memandang jendela-jendela terbuka di sepanjang deretan bangunan terdekat. "Apakah semua terpidana mati dikurung di sini?" tanyanya.

"Yap. Sampai hari ini ada 47 orang. Hilang satu minggu lalu."

Mereka hampir sampai ke pintu utama. "Hilang

satu?"

"Yeah. Mahkamah Agung mencabut vonis. Kami harus memindahkannya bersama populasi

159umum. Saya harus menggeledah Anda." Mereka sampai di pintu, dan Adam melirik sekeliling dengan gelisah, ingin tahu di mana Parker ingin melakukan penggeledahan.

"Rentangkan saja kakimu sedikit," kata Packer, lalu mengambil tas kerja Adam dan meletakkannya di beton. Pantofel gaya yang berjumbai itu sekarang terpaku di tempat. Meskipun ia pening dan untuk sementara tak bisa menggunakan segenap pikirannya, pada saat mengerikan ini Adam masih bisa ingat tak seorang pun pernah memintanya merentangkan kaki, meskipun cuma sedikit

Tapi Packer seorang profesional. Ia meraba-raba kaus kaki dengan ahli, bergerak ke atas dengan [ lembut ke lutut, yang lebih lemas, lalu ke ping. j gang dalam waktu singkat. Penggeledahan pertama terhadap Adam selesai dalam beberapa detik, lalu Sersan Packer meraba sepintas di bawah lengannya seolah-olah Adam mungkin memakai selempang pundak dengan pistol kecil di dalamnya Dengan tangkas Packer memasukkan tangan kanannya yang kokoh ke dalam koper, lalu menyerahkannya kembali kepada Adam. "Bukan hari baik untuk menemui Sam," katanya.

"Begitulah yang kudengar," jawab Adam, me-; nyandangkan jasnya sekali lagi ke pundak. I' menghadap pintu besi itu, seakan-akan sudah saatnya memasuki The Row.

"Ke sini," gumam Parker sambil melangkah rumput dan beranjak mengitari sudut. Dengan r*

tuh Adam mengikuti jalan setapak lain dari bata r merah, sampai mereka tiba di sebuah pintu biasa dengan rumput liar tumbuh di sampingnya. Pintu

I itu tanpa tanda atau label apa pun.

"Apa ini?" tanya Adam. Samar-samar ia ingat uraian yang diberikan Goodman tentang tempat i ini, namun saat itu perinciannya kabur.

"Ruang pertemuan." Packer mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu itu. Adam melihat {sekeliling sebelum masuk dan mencoba mengumpulkan ketabahannya. Pintu itu terletak di samping bagian tengah unit tersebut, dan Adam menyadari ! mungkin para penjaga dan administrator mereka tidak menginginkan para pengacara merintangi dan melongok-longok. Jadi, ini jalan masuk bagian luar.

Ia menarik napas dalam dan melangkah masuk. Tak ada pengacara lain yang sedang mengunjungi klien mereka. Adam lega. Pertemuan ini bisa jadi heboh dan mungkin emosional, dan ia lebih suka melakukannya secara pribadi. Setidaknya untuk saat ini mangan itu kosong. Tempat itu cukup besar untuk beberapa pengacara datang berkunjung dan memberikan nasihat hukum; mungkin panjangnya sembilan meter dan lebarnya empat setengah meter, dengan lantai beton dan lampu neon terang benderang. Dinding paling ujung terbuat dari bata merah dengan tiga jendela tinggi di atas, sama seperti bagian luar unit itu. Langsung terlihat jelas mang pertemuan itu mang tambahan. AC di situ berapa perangkat jendela kecil yang

161meraung riuh dan mengembuskan angin sejuk lebih sedikit dari seharusnya. Ruangan itu dibagi rapi dengan dinding bata pejal dan besi; para pengacara menempati sisi mereka dan kliennya di

sisi lain. Dinding pemisahnya terbuat dari bata setinggi hampir satu meter pertama, lalu ada counter untuk para pengacara meletakkan buku catatan mereka dan menuliskan catatan. Sebuah kisi-kisi hijau dari kawat baja tebal bertengger kokoh di atas counter, membentang sampai ke langit-langit.

Adam berjalan perlahan-lahan ke ujung mangan, mengelak dari segala jenis kursi—kursi 'lipat, [ bangku kafetaria yang sempit, dan kursi hijau atau abu-abu buangan kantor pemerintah.

"Aku akan mengunci pintu ini," kata Packer sambil melangkah ke luar. "Kami akan bawa Sam ke sini." Pintu itu terbanting dan Adam pun sendirian. Ia cepat-cepat memilih tempat di ujung mangan itu untuk berjaga-jaga. Kalau ada pengacara lain yang datang ke sana, ia tentu akan mengambil posisi di ujung seberang dan mereka bisa menyusun strategi tanpa didengar orang lain, Ia menarik sebuah kursi ke counter kayu itu, meletakkan jasnya di kursi lain, mengeluarkan buku catatan, membuka tutup pena, dan mulai menggigit-gigit kuku. Ia mencoba berhenti meng-gigit-gigit kuku, tapi tak bisa. Perutnya bergolak liar dan tumitnya berkedut-kedut tak terkendali. Ia memandang ke balik kisi-kisi dan mengamati ba-

gian untuk narapidana—counter kayu yang sama, segala macam kursi tua yang sama. Di tengah kisi-kisi di depannya ada celah, 10 kali 25 senti, dan melalui lubang kecil inilah ia akan berhadapan

muka dengan Sam Cayhall.

Ia menunggu dengan resah, mengatakan pada diri sendiri agar tenang, santai, rileks. Ia bisa menangani ini. Ia mencoret-coretkan sesuatu pada buku, tapi terus terang ia tak bisa membacanya. Ia menggulung lengan baju. Ia memandang sekeliling mangan, mencari mikrofon dan kamera tersembunyi, tapi ruangan itu begitu sederhana, sehingga tak bisa ia bayangkan ada orang yang mencoba menguping. Kalau melihat sikap Sersan Packer, bisa diambil kesimpulan, staf lainnya tentu juga santai, nyaris tak acuh.

Adam mengamati kursi-kursi kosong di kedua sisi kisi-kisi dan bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak orang putus asa, pada jam-jam terakhir hidup mereka, pernah bertemu di sini dengan pengacara mereka dan mencari-cari kata-kata pengharapan. Berapa banyak dalih pembelaan pernah melewati kisi-kisi ini, sementara jam berdetak teratur, lewat bersama waktu? Berapa banyak pengacara pernah duduk di tempatnya sekarang dan mengatakan kepada klien mereka bahwa sudah tak ada yang bisa dilakukan lagi, eksekusi akan dilaksanakan? pemikiran itu menyedihkan, tapi sedikit menenangkan Adam. Ia bukan orang pertama yang datang ke sini, dan ia takkan jadi yang

163terakhir. Ia pengacara, sangat terlatih, diberkahi dengan pikiran cerdas, dan datang ke sini dengan sumber daya besar dari Kravitz ¦& Bane di belakangnya. Ia bisa melaksanakan tugasnya. Per. lahan-lahan kakinya diam, dan ia berhenti meng. gigit-gigit kuku.

Gerendel pintu berdetak dan ia terperanjat setengah mati. Pintu itu terbuka perlahan-lahan, dan seorang penjaga muda berkulit putih melangkah ke " dalam bagian untuk narapidana. Di belakangnya, dalam pakaian terusan merah, terborgol, adalah Sam Cayhall. Ia menatap tajam ke sekeliling mangan, mengerling ke kisi-kisi, sampai matanya terfokus pada Adam. Seorang penjaga menarik sikunya dan membimbingnya tepat ke hadapan sang pengacara. Ia kurus, pucat, dan lima belas senti lebih pendek dari dua penjaga itu, tapi me- \ reka sepertinya memberikan banyak tempat kepadanya.

"Siapa kau?" ia mendesis kepada Adam, yang saat itu sedang menggigiti kuku.

Seorang penjaga menarik kursi ke belakang Sam, dan penjaga lain mendudukkannya ke sana. Ia menatap Adam. Penjaga-penjaga itu mundur dan hendak berlalu ketika Adam berkata, "Bisakah kalian membuka borgolnya?" g "Tidak. Kami tak bisa melakukannya."

Adam menelan ludah dengan keras. "Lepaskan saja, oke? Kami akan berada di sini beberapa lama," katanya, mengerahkan segenap ketegasan

Penjaga-penjaga itu saling bertukar pandang, seolah-olah permintaan ini belum pernah didengar. Lalu sebuah anak kunci cepat-cepat dikeluarkan,

dan borgol itu dibuka.

Sam tidak terkesan. Ia menatap berapi-api pada Adam melalui lubang pada kisi-kisi ketika penjaga berlalu dengan ribut. Pintu terbanting dan gerendel

berdetik.

Mereka sendirian, reuni keluarga versi Cayhall. AC gemeretak dan mengembus, dan selama satu. menit yang panjang hanya ia yang menimbulkan suara. Meskipun mencoba dengan gagah berani, Adam tak sanggup memandang langsung ke mata Sam lebih dari dua detik. Ia menyibukkan dai dengan menuliskan catatan penting pada bukunya, dan ketika menomori setiap baris ia bisa merasakan panasnya tatapan mata Sam.

Akhirnya Adam menyodorkan sehelai kartu nama melalui celah. "Namaku Adam Hall. Aku pengacara dari Kravitz & Bane. Chicago dan Memphis."

Sam dengan sabar mengambil kartu itu dan memeriksanya depan-belakang. Adam mengamati setiap gerakan. Jemarinya keriput dan bernoda cokelat kerena rokok. Wajahnya pucat pasi, warna satu-satunya muncul dari jenggot kelabu putih yang lima hari tidak dicukur. Rambutnya panjang, kelabu, dan berminyak, disisir menempel ke belakang. Adam cepat-cepat memutuskan ia sama sekali tidak mirip dengan gambar-gambar mati dari video itu. Tidak pula mirip dengan foto-foto yangterakhir beredar, foto-foto dari sidang tahun 1981, Ia sudah cukup tua sekarang, dengan kulit halus pucat dan lapisan-lapisan keriput di sekitar mata, Goresan-goresan dalam karena usia dan penderitaan terpeta di keningnya. Satu-satunya bagian menarik adalah sepasang mata tajam berwarna bini tua yang terangkat dari kartu nama itu. "Kalian bocah-bocah Yahudi tak kenal menyerah, bukan?" katanya dengan nada datar, menyenangkan. Tak ada tanda-tanda kegusaran.

"Aku bukan Yahudi," kata Adam, membalas tatapan Sam dengan berhasil.

"Kalau begitu, bagaimana kau bisa bekerja pada Kravitz & Bane?" ia bertanya sambil menyisihkan kartu itu ke samping. Kata-katanya lembut, lamban, dan diucapkan dengan kesabaran orang yang sudah menghabiskan sembilan setengah tahun sendirian di dalam sel berukuran sekitar dua kau tiga meter.

"Kami memberikan kesempatan yang sama untuk semua orang."

"Itu bagus. Semuanya menurut aturan dan legal, kurasa. Sepenuhnya sesuai dengan peraturan hak-hak sipil dan undang-undang federal."

"Tentu."

"Ada berapa partner di Kravitz & Bane sekarang?"

Adam mengangkat bahu. Jumlahnya bervariasi dari tahun ke tahun. "Sekitar 150."

"Seratus lima puluh partner. Dan berapa yang

wanita?"

Adam sangsi sementara mencoba menghitung.

"Aku sungguh tidak tahu. Barangkali selusin."

"Selusin," Sam mengulangi, hampir tidak menggerakkan bibir. Tangannya terlipat dan diam, matanya tak berkedip. "Jadi, kurang dari sepuluh persen dari partner di sana wanita. Berapa partner negro yang kalian miliki?"

"Bisakah kita menyebut mereka orang kulit hitam?"

"Oh, tentu, tapi tentu saja istilah itu pun sudah usang. Mereka sekarang ingin disebut Afro-Ame-rika. Sudah tentu secara politis kau cukup cakap mengetahui hal ini."

Adam mengangguk, tapi tak mengucapkan apa pun.

"Berapa partner Afro-Amerika yang kalian miliki?" "Empat, kurasa."

"Kurang dari tiga persen. Wah, wah. Kravitz & Bane, kubu hebat tempat keadilan sipil dan aksi politik liberal, sebenarnya, mendiskriminasikan orang Afro-Amerika dan Perempuan-Amerika. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakan." • Adam mencoret-coretkan sesuatu yang tak terbaca pada buku tulisnya.- Tentu saja ia bisa mendebat bahwa hampir sepertiga dari associate di sana wanita dan biro hukum itu dengan giat berusaha merekrut mahasiswa hukum kulit hitam de-ngan prestasi terbaik. Ia bisa menerangkan bagai-1 mana mereka pernah diperkarakan karena balik I mendiskriminasikan dua laki-laki kulit putih yang E tawaran kerjanya lenyap pada detik terakhir.

"Berapa banyak partner Yahudi-Amerika yang I kalian miliki? Delapan puluh persen?"

"Entahlah, aku tidak tahu. Itu sama sekali tak I ada sangkut pautnya denganku."

"Nah, itu jelas ada sangkut pautnya denganku, I Aku selalu malu diwakili orang-orang yang terang-terangan fanatik." "Banyak orang berpendapat itu pantas." Sam merogoh satu-satunya saku pada pakaian terusannya dan mengeluarkan sebungkus rokok i Montclair berwarna biru dan korek disposable, h I kaian terusan itu tidak dikancingkan sampai ke I tengah dada, bulu tebal berwarna abu-abu terliat i dari celah itu. Bahannya katun yang sangat ringan. Adam tak bisa membayangkan hidup di tempat ini f tanpa AC.

Ia menyalakan rokok dan mengembuskan asapnya ke langit-langit. "Kukira aku sudah selesai berurusan dengan kalian."

"Mereka tidak mengirimku ke sini. Aku menawarkan diri secara sukarela."

"Kenapa?"

"Entahlah. Kau butuh pengacara dan..." I

"Kenapa kau begitu gelisah?"

Adam mencabut kuku jarinya dari gigi dan bef

henti mengetuk-ngetukkan kaki. "Aku tidak gelisah."

"Jelas kau gelisah. Aku sudah menyaksikan banyak pengacara di tempat ini, dan aku belum pernah melihat yang segelisah kau. Ada apa, Nak? Kau takut aku menerobos kisi-kisi ini untuk mengejarmu?"

Adam mendengus dan mencoba tersenyum. "Jangan konyol. Aku tidak gelisah." "Berapa umurmu?" "Dua puluh enam."

"Kau kelihatan seperti 22 tahun. Kapan kau lulus dari sekolah hukum?" "Tahun lalu."

"Hebat sekali. Bangsat-bangsat Yahudi itu mengirim seorang pelonco untuk menyelamatkanku. Sudah lama aku tahu diam-diam mereka menginginkan aku mati, dan sekarang inilah buktinya. Aku pernah membunuh beberapa orang Yahudi, dan sekarang mereka ingin membunuhku. Selama ini aku benar."

"Kau mengakui membunuh anak-anak Kramer itu?"

"Pertanyaan macam apa itu? Juri mengatakan aku melakukannya. Selama sembilan tahun, Pengadilan Tinggi mengatakan Juri benar. Itulah yang penting. Memangnya kau siapa, berani menanyakan pertanyaan macam itu padaku?"

"Kau butuh pengacara, Mr. Cayhall. Aku di aim untuk membantu.""Aku butuh banyak hal, Nak, tapi yang jelas aku tidak membutuhkan bocah ingusan macam ku menasihatiku. Kau berbahaya, Nak, dan kau terlalu tolol untuk mengetahuinya." Sekali lagi ucapan itu keluar dengan hati-hati dan tanpa emosi. Ia memegang rokok di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanan, dan dengan tak acuh menjentikkan abu menjadi tumpukan teratur di tengah mangkuk plastik. Matanya sekali-sekali berkedip. Wajahnya tidak menunjukkan perasaan atau emosi apa pun.

Adam membuat catatan tanpa makna, lalu kera- 1 bali mencoba menatap mata Sam melalui lubang itu. "Dengar, Mr. Cayhall, aku pengacara, dan aku f punya keyakinan moral yang kuat menentang i hukuman mati. Aku terdidik dan terlatih dengan [ baik, membaca banyak masalah mengenai Aman- I demen Kedelapan, dan aku bisa membantumu. Itu- i lah sebabnya aku ada di sini. Gratis."

"Gratis," Sam mengulangi. "Sungguh murali hati. Apakah kau tahu, Nak, aku menerima sedikit-nya tiga tawaran seminggu dari pengacara-pengacara yang ingin mewakiliku dengan gratis? Pengacara-pengacara besar, tersohor, kaya. Ular-ular yang benar-benar licin. Mereka semua bersedia duduk di tempatmu sekarang, mengajukan mosi dan banding terakhir, memberikan wawancara, mengejar kamera, menggandeng tanganku pada jam-jam terakhir, menyaksikan mereka membunuhku dengan gas, lalu mengadakan jumpa pers lagi, W menandatangani kontrak penulisan buku, pembuat

' an fihn, mungkin kontrak pembuatan miniseri tele-- visi tentang kehidupan Sam Cayhall, seorang Klan pembunuh sejati. Kaulihat, Nak, aku terkenal, dan apa yang dulu kuperbuat kini menjadi legenda. Dan karena mereka akan membunuhku, aku akan jadi lebih terkenal lagi. Jadi, pengacara-pengacara [ itu menginginkanku. Aku menghasilkan uang besar. Negeri yang sakit, bukan?"

Adam menggelengkan kepala. "Aku tidak menginginkan hal-hal itu, aku janji. Aku akan menulis-' kannya hitam di atas putih. Aku akan menandatangani perjanjian menutup rahasia."

Sam terkekeh. "Baik, dan siapa yang akan melaksanakannya kelak sesudah aku mati?" "Keluargamu," kata Adam. "Lupakan saja keluargaku," kata Sam tegas. "Motivasiku mumi, Mr. Cayhall. Biro hukumku sudah mewakilimu selama tujuh tahun sekarang, jadi aku tahu hampir segalanya tentang kehidupanmu. Aku pun sudah melakukan banyak riset tentang latar belakangmu."

"Hebat. Celana dalamku pun sudah diteliti ratusan reporter keledai. Rasanya banyak orang yang tahu banyak tentang diriku, dan seluruh pengetahuan itu tak ada manfaatnya bagi diriku sekarang. Waktuku tinggal empat minggu. Apa kau tahu ini?" "Aku punya copy ke putusan itu." "Empat minggu, dan mereka akan memasukkan aku ke kamar gas.""Jadi, mari kita segera bekerja. Kau boleh pe-gang janjiku, aku takkan pernah bicara dengan pers kecuali kau mengizinkannya, aku takkan per-nah mengulangi apa pun yang kauceritakan pada-ku, dan aku takkan menandatangani kontrak penulisan buku atau pembuatan film. Aku sumpah."

Sam menyalakan sebatang rokok lagi dan menatap sesuatu pada counter. Ia menggosok lembut pelipis kanannya dengan jempol kanan, -rokoknya hanya beberapa senti dari rambut. Untuk beberapa lama yang terdengar hanyalah bunyi dera AC di jendela yang terlalu banyak bekerja. Sam merokok dan merenung. Adam membuat gambar yang tak ada artinya di buku tulis dan merasa agak bangga karena kakinya tidak bergerak dan perutnya tak lagi sakit. Keheningan itu terasa canggung, dan ia I menduga, dengan tepat, Sam bisa duduk samM I merokok dan berpikir selama berhari-hari tanpa bicara sedikit pun.

"Apa kau kenal kasus BarroniV Sam bertanya 1 pelan. "Barroni?"

"Ya, Barroni. Turun dari Pengadilan Ninth Circuit. Kasus California."

Adam memeras otak mencari nama Barroni "Mungkin aku pernah melihatnya." I

"Kau mungkin pernah melihatnya? Kau terlaol. baik, banyak membaca, dan lain-lain, dan b' mungkin pernah melihat kasus Barroni! Pengacu tolol macam apa kau ini?" '

"Aku bukan pengacara tolol."

"Benar. Benar. Bagaimana dengan Texas vs.

Eeekesl Pasti kau sudah baca yang ini."

"Kapan kasus ini turun?"

"Dalam enam minggu."

"Pengadilan mana?"

"Fifth Circuit."

"Amandemen Kedelapan?"

"Jangan tolol," Sam mendengus dengan perasaan benar-benar muak. "Kaupikir aku mengabiskan waktuku untuk membaca kasus-kasus kebebasan mengeluarkan pendapat? Pantatkulah yang duduk di sini, Nak, pergelangan kaki dan tangankulah yang akan diikat. Hidungkulah yang akan diserbu racun."

"Tidak. Aku tidak ingat Eeekes." "Apa yang kaubaca?" "Semua kasus penting." "Kau pernah baca Barefoot?" "Tentu."

"Ceritakan tentang Barefoot padaku." "Apa ini, pop quiz?"

"Terserah apa mauku. Dari mana' Barefoot berasal?" Sam bertanya.

"Aku tidak ingat. Tapi nama lengkapnya adalah Barefoot vs. Estelle, kasus monumental pada tahun 1983 yang diputuskan Mahkamah Agung bahwa terpidana mati tak boleh menahan tuntutan haknya yang sahih pada sidang banding

bahwa

n akan j

g agar Jmereka bisa memakainya lagi kelak. Begitulah, kurang-lebih."

"Wah, wah, kau sudah membacanya. Pernahkah terpikir olehmu betapa aneh bagaimana pengadilan yang sama bisa berubah pendapat bila mereka menghendakinya? Pikirkanlah. Selama dua abad Mahkamah Agung AS mengizinkan pembunuhan legal. Katanya eksekusi itu konstitusional, diuraikan dengan bagus oleh Amandemen Kedelapan, Kemudian, pada tahun 1972, Mahkamah Agung AS membaca konstitusi yang sama, tak berubah, dan menghapuskan hukuman mati. Kemudian, pada tahun 1976, Mahkamah Agung mengatakan eksekusi sebenarnya konstitusional. Gerombolan |j kalkun yang sama memakai jubah hitam yang sama dti gedung yang sama di Washington. Sekarang Mahkamah Agung mengubah peraturan lagi I berdasarkan konstitusi yang sama. Anak buah f Reagan bosan membaca terlalu banyak pengajuan; banding, jadi mereka mengumumkan beberapa jalan tertentu harus ditutup. Rasanya aneh dalam penilaianku." "Rasanya aneh bagi banyak orang." "Bagaimana dengan DulaneyV Sam bertanya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Hanya ada sedikit ventilasi dalam ruangan itu atau sama sekali tidak ada, jadi terbentuklah awan di atas mereka. "Dari mana asalnya?" "Louisiana. Pasti kau sudah membacanya."

"Aku yakin sudah membacanya. Sebenarnya aku mungkin sudah membaca lebih banyak kasus dari-padamu, tapi aku tidak selalu peduli mengingatnya, kecuali aku merencanakan memakainya."

"Memakainya di mana?" "Dalam mosi atau banding." "Jadi, kau sudah pernah menangani kasus hukuman mati sebelumnya? Berapa banyak?" "Ini yang pertama."

"Mengapa aku tidak terhibur dengan ini? Pengacara-pengacara Yahudi-Amerika di Kravitz & Bane mengirimmu ke sini untuk bereksperimen denganku, benar? Kau mendapatkan sedikit pelatihan, agar kau bisa mencantumkannya dalam resumemu."

"Sudah kukatakan tadi, mereka tidak mengirimku ke sini."

"Bagaimana dengan Garner Goodman? Dia masih hidup?" "Ya. Dia seumurmu."

"Kalau begitu, dia tak punya banyak waktu lagi, bukan? Dan Tyner?"

"Mr. Tyner baik-baik saja. Akan kuceritakan padanya kau menanyakannya."

"Oh, silakan. Katakan padanya aku benar-benar merindukannya, mereka berdua. Persetan, aku butuh hampir dua tahun untuk memecat mereka."

"Mereka bekerja jungkir balik untukmu."

"Katakan pada mereka untuk mengirimkan'tagihan padaku." Sam terkekeh sendiri, senyum per-tamanya pada pertemuan ini. Dengan teratur ia menghunjamkan rokok ke dalam mangkuk dan menyalakan yang baru. "Sebenarnya, Mr. Hall, aku benci pengacara." "Itulah cara Amerika."

"Pengacara memburuku, menuntutku, mengadili-ku, mendakwaku, menghancurkanku, lalu mengirimku ke tempat ini. Sejak aku di sini, mereka teras membuntutiku, menyakitiku lebih banyak lagi, membohongiku, dan sekarang mereka kembali dalam bentuk dirimu, fanatik hijau tanpa tabu sedikit pun bagaimana menemukan gedung pengadilan."

"Kau mungkin akan terkejut." "Akan jadi kejutan luar biasa, Nak, kalau kau I tahu membedakan hitam dan putih. Kau akan jadi. f badut pertama dari Kravitz & Bane yang memiliki l informasi seperti itu."

"Mereka telah menjauhkanmu dari kamar gas selama tujuh tahun terakhir ini."

"Dan aku hams berterima kasih? Ada lima belas penghuni The Row yang lebih senior dari aku. Mengapa aku harus jadi yang berikutnya? Sudah : sembilan setengah tahun aku di sini. Treemont sudah di sini selama empat belas tahun. Tentu saja dia seorang Afro-Amerika, dan itu selalu menolong. Mereka punya hak lebih banyak, kau tahu! Jauh lebih sulit mengeksekusi salah satu di antara mereka, sebab apa pun yang mereka perbuat selai» akibat kesalahan orang lain."

"Itu tidak benar."

"Bagaimana kau tahu apa yang benar? Setahun yang lalu kau masih kuliah, masih memakai jeans belel sepanjang hari, masih minum bir pada saat happy hour bersama sobat-sobat kecilmu yang idealis. Kau belum hidup, Nak. Jangan beritahu aku apa yang benar."

"Jadi, kau mendukung eksekusi secepatnya bagi orang Afro-Amerika?"

"Bukan gagasan jelek, sungguh. Sebenarnya sebagian besar dari bajingan-bajingan itu pantas di-gas."

"Aku yakin itu pendapat minoritas di penjara

ini."

"Kau boleh bilang begitu."

"Dan kau, tentu saja, berbeda dan tidak semestinya di sini."

"Benar. Tak seharusnya aku di sini. Aku tahanan politik, dikirim ke sini oleh seorang egomaniak yang memanfaatkan diriku untuk tujuan-tujuan politiknya sendiri."

"Bisakah kita membahas apakah kau bersalah atau tidak?"

"Tidak. Tapi aku tidak melakukan apa yang menurut Juri telah kulakukan."

"Jadi, kau punya sekongkol? Orang lain yang menanam bom itu?"




0 Response to "The Chamber"

Post a Comment