Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Chamber

Darlene membawakan deli sandwich pada pukul j 12.30. Adam melahapnya dengan cepat, lalu tidur j di kursi, sementara komputernya memuntahkan satu brief lagi.

Goodman membalik-balik majalah otomotif semen- j tara menunggu sendirian di ruang tamu di samping I kantor Gubernur. Sekretaris cantik yang sama merapikan kuku di sela-sela telepon di switchboard- . nya. Pukul 13.00 tiba dan lewat tanpa komentar. Demikian juga pukul 13.30. Pukul 14.00, sang resepsionis yang sekarang berkuku kuning Jingga

720

cerah minta maaf. Tidak apa-apa, kata Goodman dengan senyum hangat. Keindahan karier pro bono adalah pekerjaan yang tidak diukur dengan waktu. Sukses berarti membantu orang, tak peduli berapa jam yang ditagihkan.

Pukul 14.15, seorang wanita muda yang tangkas dalam setelan gelap muncul entah dari mana dan berjalan menghampiri Goodman. "Mr. Goodman, saya Mona Stark, kepala staf Gubernur. Gubernur akan menemui Anda sekarang." Ia tersenyum sopan, Goodman mengikutinya melewati pintu berdaun ganda dan masuk ke mangan panjang dan resmi dengan meja kerja di salah satu ujung dan meja rapat jauh di ujung lainnya.

McAllister sedang berdiri di depan jendela dengan jas dilepas, dasi dikendurkan, dan lengan kemeja tergulung. Penampilannya seperti layaknya abdi masyarakat yang penuh dedikasi dan kelebihan beban kerja. "Halo, Mr. Goodman," katanya dengan tangan terulur dan gigi berkilat cemerlang.

"Gubernur, terima kasih," kata Goodman. Ia tidak membawa tas kerja, tanpa aksesori yang biasa dibawa pengacara. Ia kelihatan seperti kebetulan lewat di jalan serta memutuskan mampir dan menemui Gubernur.

"Anda sudah bertemu dengan Mr. Larramore dan Miss Stark," kata Mc Allister, melambaikan tangan pada kedua orang itu.

"Ya. Kami sudah bertemu. Terima kasih atas kesediaan Anda menemui saya dengan pemberi-

tahuan sesingkat ini." Goodman mencoba meria» dingi senyum Gubernur yang cemerlang, tapi jj. sia. Saat ini sikapnya sangat merendah dan kagu», berada daiam kantor besar ini.

"Mari duduk di sini," kata Gubernur, melanj. baikan tangan ke meja rapat dan memimpin dj depan. Mereka berempat duduk di sisi terpisah pada meja itu. Larramore dan Mona mencabut pena dan siaga membuat catatan serius. Goodman tidak memegang apa-apa, kecuali meletakkan fa- j ngan di depannya.

"Setahu saya ada banyak pengajuan dalih hukum I dalam beberapa hari terakhir ini," kata McAllister.

"Ya, Sir. Sekadar ingin tahu, apakah Anda per-nah mengalami yang seperu' ini sebelumnya?" tanya Goodman. "Belum. Syukurlah."

"Nah, ini tidak luar biasa. Saya yakin kami akan terus mengajukan petisi sampai detik terakhir."

"Boleh saya tanya sesuatu, Mr. Goodman?" Gubernur berkata tulus.

"Tentu."

"Saya tahu Anda telah menangani kasus macam ini. Bagaimana perkiraan Anda pada titik inil Se- ; besar apa peluangnya?"

"Anda tak pernah tahu. Sam sedikit berbeda j dari kebanyakan narapidana di death row, sebab j dia punya pengacara-pengacara yang bagus—pe- I nasihat hukum yang bagus dalam sidang, lalu upa- | ya banding yang sempurna."

722

"Oleh Anda, saya kira."

Goodman tersenyum, McAllister tersenyum, lalu Mona juga melontarkan senyum lebar. Larramore tetap membungkuk di atas buku tulis, wajahnya bersungut dalam konsentrasi hebat.

"Benar. Jadi, klaim Sam yang utama sudah diputuskan. Yang Anda saksikan sekarang adalah langkah-langkah tanpa harapan, tapi kerap kali berhasil. Bisa saya katakan peluangnya fifty-fifty hari ini, tujuh hari menjelang eksekusi."

Mona cepat-cepat mencatat ini di kertas, seolah-olah komentar tersebut mengandung nilai hukum yang sangat penting. Sejauh ini Larramore mencatat setiap patah kata.

McAllister merenungkannya beberapa detik. "Saya agak bingung, Mr. Goodman. Klien Anda tidak tahu kita bertemu. Dia menentang gagasan diadakannya sidang untuk mempertimbangkan pengampunan. Anda menginginkan pertemuan ini tidak disiarkan. Jadi, mengapa kita ada di sini?"

"Masalah berubah, Gubernur. Sekali lagi, saya sudah pernah ke sini berkali-kali sebelum ini. Saya sudah pernah menyaksikan orang menghitung-hitung hari terakhirnya. Itu menimbulkan pengaruh aneh dalam pikiran. Orang berubah. Sebagai pengacara, saya harus meliput setiap pokok persoalan, setiap sudut."

"Apakah Anda minta diadakan sidang pemeriksaan?"

"Ya, Sir. Sidang tertutup."

723

"Kapan?"

"Bagaimana kalau hari Jumat?"

"Dua hari lagi," kata McAllister sambil ^ nerawang ke sebuah jendela. Larramore herder)^ melonggarkan tenggorokan dan bertanya, "s^ macam apa yang kira-kira akan Anda ajukan?"

"Pertanyaan bagus. Seandainya saya punvj nama, saya akan memberikannya pada Anda sg. karang, tapi saya tidak punya. Presentasi katnj akan ringkas."

"Siapa yang akan memberikan kesaksian di pj. j hak negara bagian?" McAllister bertanya pada Lar- f ramore, giginya berkilat ketika ia berpikir. Goodman berpaling.

"Saya yakin keluarga korban tentu ingin mengatakan sesuatu. Tindak kejahatannya biasanya j dibahas. Mungkin perlu seseorang dari penjara un- i tuk menerangkan narapidana macam apa dia se- f lama ini. Sidang ini cukup fleksibel."

"Saya lebih tahu tentang tindak pidana itu dari- f pada siapa pun," kata McAllister, nyaris pada diri [ sendiri.

"Ini situasi yang aneh," Goodman mengakui. : "Saya sudah pernah terlibat dalam sidang pemberian pengampunan, dan jaksa penuntut biasanya menjadi saksi pertama yang bersaksi memberatkan terdakwa Dalam kasus ini, Andalah jaksa penuntutnya"

"Mengapa Anda menginginkan sidang ini tertutup?"

"Sejak dulu Gubernur adalah penganjur sidang, terbuka," Mona menambahkan.

"Ini sungguh yang terbaik unjuk semua pihak," kata Goodman, mirip profesor yang pandai. "Tidak begitu menekan bagi Anda, Gubernur, sebab ini tidak dipaparkan dan Anda takkan menerima banyak nasihat yang datang tanpa diminta. Kami, tentu saja, ingin sidang ini tertutup." "Mengapa?" tanya McAllister. "Ah, terus terang, Sir, kami tak ingin masyarakat melihat Ruth Kramer bicara tentang anak-anaknya" Goodman mengawasi mereka saat ia melontarkan komentar ini. Alasan sebenarnya adalah masalah lain. Adam yakin satu-satunya cara membujuk Sam agar mau menerima sidang pertimbangan pemberian pengampunan adalah dengan menjanjikan hal itu takkan jadi tontonan umum. Apabila sidang itu tertutup, barangkali Adam bisa meyakinkan Sam bahwa McAllister bisa dicegah memanfaatkan hal ini untuk popularitas sendiri.

Goodman kenal berpuluh-puluh orang di seluruh penjuru negeri ini, yang dengan senang hati akan datang ke Jackson dengan pemberitahuan mendadak untuk bersaksi di pihak Sam. Ia sudah mendengar orang-orang ini mengajukan argumentasi detik terakhir yang persuasif menentang hukuman mati. Biarawati, pastor, pendeta, psikolog, pekerja sosial, penulis, dosen, dan beberapa mantan narapidana di death row. Dr. Swinn akan memberikan kesaksian tentang betapa menyedih-

kan keadaan Sam .akhir-akhir ini, dan ia ^ bekerja dengan baik untuk meyakinkan Gubetw bahwa negara hendak membunuh orang yang j« valid.

Di kebanyakan negara bagian lain, narapioV berhak mendapatkan sidang terakhir memper% bangkan pengampunan, biasanya di depan guber-nur. Tapi di Mississippi sidang itu merupakan kebijaksanaan. "Saya rasa itu masuk akal," kata Gubernur. "Saat ini sudah cukup banyak perhatian," kata Goodman, tahu bahwa McAllister sudah gatal dengan angan-angan kehebohan media yang akan muncul. "Tak ada manfaatnya bagi siapa pun bila I sidang ini diadakan secara terbuka." - Mona, si pendukung gigih sidang terbuka, me- I ngemyit makin keras dan menulis sesuatu dengan huruf besar. McAllister tenggelam pikiran.

"Tak peduli apakah sidang ini terbuka atau ter- I tutup," katanya, "tak ada alasan kuat untuk sidang j macam ini, kecuali Anda dan klien Anda punya j sesuatu yang baru untuk ditambahkan. Saya tahu kasus ini, Mr. Goodman. Saya mencium bau asapnya. Saya melihat mayat-mayat itu. Saya tak bisa mengubah pikiran, kecuali ada sesuatu yang baru." j 'Seperti?"

"Seperti ada sebuah nama. Anda beri saya nama asisten Sam, dan saya akan setuju mengadakan sidang. Tanpa janji untuk memberikan pengampunan, Anda mengerti, cuma sidang pertimbangan

biasa. Kalau tidak, ini hanya buang waktu percuma."

"Apakah Anda yakin ada orang yang membantu?" tanya Goodman. "Kami selalu curiga. Bagaimana menurut Anda?" "Mengapa itu penting?"

"Itu penting, sebab sayalah yang menentukan keputusan terakhir, Mr. Goodman. Sesudah berbagai pengadilan selesai dengannya dan jam berdetak terus Selasa malam nanti, sayalah satu-satunya orang di dunia yang bisa menghentikannya Bila Sam memang layak menerima hukuman mati, tak ada masalah bagi saya untuk duduk-duduk sementara eksekusi berlangsung. Tapi bila dia tidak layak, eksekusi itu harus dihentikan. Saya masih muda. Saya tak mau dihantui hal ini sepanjang sisa hidup saya. Saya ingin mengambil ke-putusan yang tepat."

Tapi kalau Anda percaya akan adanya pelaku pembantu, dan jelas Anda memang percaya mengapa tidak menghentikannya saja?"

"Sebab saya ingin pasti. Anda sudah bertahun-tahun jadi pengacaranya. Apakah menurut Anda dia punya asisten?"

"Ya. Saya menduga ada dua orang. Saya tak tahu siapa pemimpin dan siapa pengikutnya, tapi Sam mendapat bantuan."

McAllister membungkuk lebih dekat pada Goodman dan menatap matanya. "Mr. Goodman, bila Sam bersedia mengatakan yang sebenarnya

pada saya, saya akan mengadakan sidang tertt%, i dan saya akan mempertimbangkan pengampun^ I

Saya tidak menjanjikan apa pun, Anda mengerti 1 hanya sidang itu. Bila tidak demikian, tak ada y I baru untuk ditambahkan dalam cerita ini."

Mona dan Larramore menulis lebih cepat dari. t pada notuiis pengadilan.

"Sam mengatakan dia menceritakan yang sebenarnya."

"Kalau begitu, lupakan saja sidang ini. Saya sibuk."

Goodman mengembuskan napas dengan kesal, tapi tetap menyunggingkan senyum. "Baiklah, kita akan bicara lagi dengannya. Bisakah kita bertemu lagi di sini besok?"

Gubernur memandang Mona, yang memeriksa kalender saku dan mulai menggelengkan kepala, seolah-olah esok hari penuh sesak dengan pidato, penampilan, dan pertemuan. "Jadwal Anda penuh," katanya dengan nada memerintah.

"Bagaimana dengan makan siang?"

"Tidak. Tidak bisa. Anda akan bicara di pertemuan NRA."

"Mengapa anda tidak menelepon saya?" Larramore menawarkan.

"Gagasan bagus," kata Gubernur, kini berdiri dan mengancingkan lengan kemeja.

Goodman berdiri dan berjabat tangan dengan mereka bertiga. "Saya akan menelepon bila ada

perkembangan baru. Tapi bagaimanapun, kami memohon sidang pertimbangan secepat mungkin."

"Permohonan ini ditolak, kecuali Sam bicara," Kata Gubernur.

Tolong ajukan permohonan ini secara tertulis, Sir, kalau Anda tidak keberatan," kata Larramore. * "Tentu."

Mereka mengantar Goodman ke pintu. Setelah ia meninggalkan kantor tersebut, McAllister duduk di kursi resminya di belakang meja kerja. Ia kembali membuka kancing lengan kemeja. Larramore mohon diri dan pergi ke ruang sempit di ujung gang.

Miss Stark mengamati sebuah printout sementara Gubernur mengawasi deretan tombol yang berkedip-kedip di teleponnya. "Berapa banyak di antara telepon masuk ini tentang Sam Cayhall?" ia bertanya. Mona menyusuri sebuah kolom pada printout dengan jari.

"Kemarin Anda menerima 21 telepon tentang eksekusi Cayhall. Empat belas mendukung agar dia digas. Lima mengatakan agar mengampuninya.

Dua tidak memberikan pendapat tegas." "Itu peningkatan."

"Yeah, tapi surat kabar memuat artikel tentang upaya hukum terakhir Sam. Di situ disebutkan kemungkinan diadakannya sidang pertimbangan pemberian pengampunan." n

"Bagaimana dengan pol dengar pendapat? "Tak ada perubahan. Sembilan puluh persen

warga kulit putih di negara bagian ini mendukun hukuman mati, dan sekitar separo warga kulit tam mendukung. Secara keseluruhan, jumlahnya sekitar 84 persen." "Berapa dukungan untukku?" "Enam puluh dua. Tapi bila Anda mengampuni Sam, saya yakin angka itu akan merosot jadi satu digit"

"Jadi, kau menentang gagasan itu." "Sama sekali tak ada yang bisa didapat, dan banyak yang harus dikorbankan. Lupakanlah pol I dan angka Bila Anda memberikan pengampunan j pada salah satu penjahat di sana, lima puluh lain- j nya akan mengirimkan pengacara, nenek, dan pendetanya ke sini, memohon pengampunan yang ! sama. Banyak yang harus Anda pikirkan. Gagasan ini tolol."

"Kau benar. Mana rencana medianya?" "Akan siap satu jam lagi." "Aku perin melihatnya." "Nagel sedang memolesnya. Saya pikir Anda tetap hams mengabulkan permohonan untuk sidang pertimbangan pengampunan itu. Tapi adakanlah hari Senin. Umumkan besok. Biarkan memanas dulu selama akhir pekan." "Sidang itu seharusnya tidak tertutup." "Benari Kita ingin Ruth Kramer menangis di f depan kamera"

"Sidang ini keputusanko. Sam dengan pengacaranya tak bisa mendiktekan persyaratannya. Ka-

lau mereka menghendakinya mereka harus melakukannya dengan caraku."

"Benar. Tapi harap diingat, Anda menginginkannya juga. Liputannya luar biasa besar."

Goodman menandatangani sewa tiga telepon genggam untuk pemakaian tiga bulan. Ia memakai kartu kredit Kravitz & Bane dan dengan cekatan menepiskan rentetan pertanyaan salesman muda yang cerewet itu. Ia pergi ke perpustakaan umum di State Street dan menemukan meja referensi yang penuh dengan buku telepon. Dengan menilai tebalnya ia memilih buku telepon dari kota-kota yang agak besar di Mississippi, tempat-tempat seperti Laurel, Hattiesburg, Tupelo, Vicksburg, Biloxi, dan Meridian. Kemudian ia memilih yang lebih tipis—Tunica, Calhoun City, Bude, Long Beach, West Point. Di meja informasi ia menukarkan uang kertas dengan pecahan 25 sen, dan menghabiskan dua jam untuk meng-copy halaman-halaman buku telepon.

Dengan gembira ia mengerjakan tugas. Tak seorang pun akan percaya bahwa laki-laki kecil berpakaian rapi dengan rambut acak-acakan dan dasi kupu-kupu itu sebenarnya partner pada biro hukum besar di Chicago dengan sekretaris dan paralegal yang akan datang begitu mendengar panggilan dan isyarat darinya. Tak seorang pun akan percaya ia punya penghasilan 400.000 dolar lebih setahun. Dan ia sama sekali tak peduli. E. Gamer Good-

man menyukai pekerjaannya. Ia sedang berusak sebaik mungkin menyelamatkan satu nyawa Jagj

agar tidak dibunuh secara legal.

Ia meninggalkan perpustakaan dan mengemudi, kan mobil beberapa blok ke Mississippi College School of Law. Seorang profesor di sana, John Bryan Glass, adalah dosen yang mengajar hukum dan hukum acara pidana, dan juga mulai menerbjf. kan artikel ilmiah menentang hukuman mati. Goodman ingin menemuinya untuk melihat barangkali sang Profesor punya beberapa mahasiswa pandai yang tertarik pada suatu proyek riset.

Sang Profesor sudah pulang, tapi dijadwalkan akan mengajar pukul 09.00 hari Kamis nanti. Goodman memeriksa perpustakaan sekolah hukum itu, lalu meninggalkannya. Ia mengemudi beberapa blok ke Old State Capitol Building, sekadar n»- j lewatkan waktu, dan berlama-lama melihat-lihat 1 tempat itu. Acara itu berlangsung tiga puluh menit, separonya dilewatkan di Civil Rights Exhibit di j lantai dasar. Ia menanyakan hotel pada penjaga j toko cendera mata yang menyarankan Millsaps-Buie House, sekitar satu mil di jalan itu. Ia menemukan rumah besar gaya Victoria lepat sepan' I yang dikatakan penjaga toko itu, dan mengambil ruangan kosong terakhir. Rumah itu direstorasi dengan indah, perabotan dan ornamennya kuno. Petugas menyiapkan wiski dan air, dan ia membawanya ke kamar

TIGA PULUH SEMBILAN

Auburn house buka pukul 08.00. Seorang satpam berseragam jelek yang lesu dan tak bersemangat membuka gerbang di depan jalan masuk, dan Adam adalah orang pertama yang memasuki halaman parkir. Ia menunggu di dalam mobil selama sepuluh menit, sampai satu mobil lain parkir di dekatnya. Ia mengenali wanita itu sebagai konselor yang dijumpainya di kantor Lee dua minggu sebelumnya. Ia menghentikannya di trotoar ketika wanita itu akan memasuki pintu samping. "Permisi," katanya, "Kita sudah pernah bertemu. Saya Adam Hall. Kemenakan Lee. Maaf, tapi saya tidak ingat nama Anda."

Wanita itu menjinjing tas kerja usang di satu tangan dan kantong cokelat berisi makan siang di tangan lain. Ia tersenyum dan berkata, "Joyce Cobb. Saya ingat. Di mana Lee?"

"Entahlah. Saya tadi berharap Anda tahu sesuatu. Anda belum mendengar kabar darinya?" "Tidak. Sejak Selasa."

"Selasa? Sejak Sabtu saya belum bicara den» nya. Apakah Anda bicara dengannya hari Sel kemarin?"

"Dia menelepon ke sini, tapi saya tidak ojc^ dengannya. Hari itulah mereka memuat berita $ nangkapannya karena mengemudi dalam Jceadaj» mabuk."

- "Di mana dia waktu itu?" "Dia tak mengatakannya. Dia minta bicara de-ngan administrator, katanya dia akan keluar sebentar, harus mencari pertolongan, hal-hal macam itu. /ah. Tak pernah mengatakan dia ada di mana atau kapan akan kembali." "Bagaimana dengan pasien-pasiennya?" "Kami menangani mereka. Ini selalu jadi per- f gulatan, Anda tahu. Tapi kami bisa mengatasinya." I

"Lee takkan melupakan gadis-gadis ini. Menurut Anda, adakah kemungkinan dia bicara dengan me-reka minggu ini?"

"Dengar, Adam, kebanyakan gadis-gadis ini ti- j dak punya telepon, oke? Dan Lee pasti takkan melibatkan diri dalam proyek-proyek ini. Kati i mengurus gadis-gadisnya, dan saya tahu mereka tidak bicara dengannya."

Adam mundur setapak dan memandang ke gerbang. "Saya tahu. Saya harus menemukannya. Saya sungguh khawatir."

"Dia akan baik-baik saja. Dia sudah pemati melakukan hal yang sama, dan segalanya beres." Joyce mendadak terburu-buru hendak ke dalam.

"Kalau saya dengar sesuatu, Anda akan saya beri' jrabar."

Terima kasih. Saya tinggal di apartemennya." "Saya tahu."

Adam mengucapkan terima kasih kepadanya, dan berlalu. Pukul 09.00 ia berada di kantor, terkubur dalam kertas.

Kolonel Nugent duduk di ujung sebuah meja panjang dalam ruangan yang penuh penjaga dan staf. Meja itu terletak di atas platform pendek, sekitar tiga puluh senti di atas yang lain,' dan pada dinding di- belakangnya ada sebuah papan tulis besar. Sebuah podium portabel berdiri di satu sudut Kursi-kursi di sisi kanan meja itu kosong, sehingga para penjaga dan staf yang duduk di kursi lipat bisa melihat wajah orang-orang penting di sebelah kiri Nugent Morris Henry dari kantor Jaksa Agung ada di sana, makalah-makalah tebal berjajar di' hadapannya. Lucas Mann duduk di ujung, menulis catatan. Dua asisten kepala duduk di samping Henry. Seorang pesuruh dari kantor gubernur duduk di samping Lucas.

Nugent melirik jam tangan, lalu memulai pidato pendeknya. Ia mengacu pada catatan dan mengarahkan komentarnya pada penjaga dan staf. "Sampai pagi ini, tanggal 2 Agustus, segala penangguhan eksekusi sudah dicabut oleh berbagai pengadilan, dan tak ada yang akan inengheiirikan eksekusi. Kita anggap eksekusi ini akan berlangsung

seperti yang direncanakan, satu menit lewat tengah malam Rabu depan. Kita punya enam hari penuh untuk bersiap, dan saya bertekad hal ini terlaksana dengan lancar, tanpa gangguan.

"Narapidana ini sedikitnya punya tiga petisi dan dalih yang sedang digarap di berbagai pengadilan, dan, tentu saja, tak mungkin meramalkan apa yang mungkin terjadi. Kita terus berhubungan dengan kantor Jaksa Agung. Bahkan Mr. Morris Henry ada di sini bersama kita hari ini. 'Menurut pendapatnya, -dan sesuai dengan pendapat Mr. Lucas Mann, eksekusi ini kemungkinan besar akan terlaksana Penundaan bisa diberikan sedap saat, tapi tampaknya meragukan. Bagaimanapun juga kita h-arus siap. Narapidana ini diperkirakan akan memohon sidang mempertimbangkan pengampunan, tapi, terus terang, hal ini diperkirakan takkan berhasil. Mulai sekarang sampai Rabu depan, kita akan terus dalam keadaan siaga."

Kata-kata Nugent kuat dan jelas. Ia menguasai pentas tengah, dan jelas menikmati setiap saat. Ia melirik catatan dan meneruskan, "Kamar gas itu sendiri sedang dipersiapkan. Kamar gas itu sudah tua, dan dua tahun tak pernah dipakai, jadi kita sangat hati-hati dengannya. Seorang wakil dari pabrik pembuatnya tiba pagi ini; dia akan melakukan tes hari ini dan malam ini. Kita akan melakukan geladi resik lengkap selama akhir pekan, mungkin minggu malam, dengan asumsi tak ada penundaan lagi. Saya sudah mengumpulkan daftar sukarela-

736

wan anggota regu eksekusi, dan saya akan menetapkannya siang ini.

"Saat ini kita dibanjiri permintaan dari media untuk segala macam hal. Mereka ingin mewawancarai Mr. Cayhall, pengacaranya, pengacara kita. Kepala Penjara, penjaga, narapidana lain di The Row, algojo, setiap orang. Mereka ingin menyaksikan eksekusi. Mereka ingin foto selnya dan kamar gas itu. Khas kekonyolan media massa. Tapi kita harus menghadapinya. Tidak boleh ada kontak apa pun dengan anggota pers, kecuali saya lebih dulu menyetujuinya. Itu berlaku bagi setiap karyawan lembaga. Tak ada perkecualian. Kebanyakan reporter ini tidak berasal dari sini, dan mereka hiruk-pikuk membuat kita tampak seperti segerombolan redneck bodoh. Jadi, jangan bicara dengan mereka. Tak ada perkecualian. Saya akan memberikan pernyataan yang sesuai bila saya anggap perlu. Berhati-hatilah dengan orang-orang ini. Mereka pemakan bangkai.

"Kita juga memperkirakan akan ada masalah dari luar. Sekitar sepuluh menit yang lalu, kelompok pertama Ku Klux Klan tiba di gerbang depan. Mereka diarahkan ke tempat biasanya antara jalan raya dan gedung administrasi, tempat semua protes berlangsung. Kita juga mendengar ada kelompok-kelompok lain semacam itu akan ke sini sebentar lagi, dan tampaknya mereka merencanakan protes sampai urusan ini selesai. Kita akan mengawasi mereka dengan ketat. Mereka punya hak melaku-

kan ini, asalkan tanpa kekerasan. Meskipun ^ tidak di sini pada empat eksekusi terakhir, say, sudah diberitahu bahwa kelompok-kelompok pen dukung hukuman mati biasanya juga muncul ^ menimbulkan keributan. Kita merencanakan m», misahkan dua kelompok tersebut, karena alasan yang sudah jelas."

Nugent tak bisa duduk lebih lama lagi dan j berdiri kaku di ujung meja. Semua mata tertuju I padanya, la mengamati catatan sejenak.

"Eksekusi kali ini akan berbeda, karena ke- 1 tenaran Mr. Cayhall. Ini akan menarik banyak j perhatian, banyak media, banyak orang gila. Kita I harus selalu bertindak profesional, dan saya takkan menolerir pelanggaran apa pun terhadap peraturan, j Mr. Cayhall dan keluarganya berhak menerima I perlakuan hormat selama hari-hari terakhir ini. Tak I ada komentar melecehkan tentang kamar gas atau eksekusi tersebut. Saya tidak akan membiarkannya, I Ada pertanyaan?"

Nugent mengamati ruangan itu dan cukup puas dengan diri sendiri, la sudah meliput semuanya, J Tak ada pertanyaan. "Baiklah. Kita akan bertemu j lagi besok pagi pukul sembilan." Ia membubarkan mereka dan ruangan itu kosong dengan cepat.

Garner Goodman menemui Professor John Bryan Glass ketika ra sedang meninggalkan kantor dan hendak pergi memberi kuliah. Kelas itu terlupakan saat keduanya berdiri di gang dan saling memuji,

Glass sudah membaca semua buku Goodman, dan Goodman sudah membaca sebagian besar artikel terbaru Glass yang mengutuk hukuman mati. Percakapan itu dengan cepat beralih ke kekacauan kasus Cayhall, dan secara spesifik pada kebutuhan mendesak Goodman akan beberapa mahasiswa hukum yang dapat dipercaya dan bisa membantu melaksanakan proyek riset selama akhir pekan. Glass menawarkan bantuannya, dan mereka berdua setuju makan siang bersama beberapa jam lagi, guna menuntaskan persoalan tersebut

Tiga blok dari Mississippi College School of Law, Goodman menemukan kantor Southern Capital Defense Group yang kecil dan berjejalan. Organisasi ini adalah lembaga swasta federal dengan kantor-kantor sempit, berjejalan di setiap negara bagian yang masih memberlakukan hukuman mati. Direkturnya seorang pengacara muda kulit hitam lulusan Yale bernama Hez Kerry, yang telah meninggalkan kekayaan biro-biro hukum besar dan mengabdikan hidupnya untuk menghapuskan hukuman mati. Goodman sudah pernah menemuinya dalam dua konferensi. Meskipun kelompok yang disebut Kerry's Group ini tidak langsung mewakili setiap narapidana di death row, kelompok ini punya tanggung jawab memantau setiap kasus. Hez berusia 31 tahun dan menua dengan cepat Ubannya adalah bukti tekanan dari 47 orang yang menghadapi hukuman mati. Pada dinding di meja kerja sekretaris di serambi

ada kalender kecil, dan melintang di atasnya seorang telah menuliskan kata-kata BIRTHDAY^ ON DEATH ROW. Setiap orang mendapat sebuah kartu, tidak lebih. Anggaran belanjanya ketat, dai, kartu-kartu itu biasanya dibeli dengan uang kembalian yang dikumpulkan di kantor.

Kelompok itu punya dua pengacara yang bekerja di bawah supervisi Kerry, dan cuma punya satu sekretaris tetap. Beberapa mahasiswa dari sekolah hukum bekerja cuma-cuma beberapa jam seminggu.

Satu jam lebih Goodman bicara dengan Hez Kerry. Mereka merencanakan gerakan untuk Selasa mendatang. Kerry sendiri akan bersiaga di kantor panitera Mahkamah Agung Mississippi. Goodman akan tinggal di kantor Gubernur. John Bryan Glass akan diminta tinggal di kantor satelit Pengadilan Fifth Circuit di gedung pengadilan federal Jackson. Salah satu mantan associate Goodman yang sekarang bekerja di Washington sudah setuju menunggu di kantor panitera Mahkamah Agung AS. Adam akan ditinggalkan sendiri di The Row dengan klien dan mengoordinasikan telepon-telepon pada saat terakhir. »jj

Kerry setuju berperan serta dalam proyek analisis pasar yang dilakukan Goodman selama akhir pekan.

Pukul 11.00, Goodman kembali ke kantor Gubernur di gedung kapitol. dan menyerahkan permohonan tertulis kepada Larramore untuk tidang pertimbangan pemberian pengampunan. Gubernur

tak ada di kantor, sangat sibuk hari-hari ini, dan ia, Larramore, akan menemuinya tepat setelah makan siang. Goodman meninggalkan nomor teleponnya di Millsaps-Buie House dan mengatakan akan

menelepon secara berkala.

Ia kemudian menuju kantornya yang baru, sekarang dilengkapi dengan mebel terbaik yang disewa selama dua bulan, tunai tentunya. Menurut tanda yang tertulis di bawah tempat duduk, kursi-kursi lipat itu sisa dari sebuah balai pertemuan gereja. Meja-mejanya yang reyot juga sudah pernah dipakai untuk makan seadanya dan resepsi pernikahan.

Goodman mengamati sarangnya yang disusun dengan tergesa-gesa. Ia duduk, dan dengan telepon genggam baru ia menelepon sekretarisnya di Chicago, kantor Adam di Memphis, istrinya di rumah,

dan saluran hotline Gubernur.

Pokul 16.00 hari Kamis, Mahkamah Agung Mississippi masih belum menolak klaim berdasarkan dalih inkompetensi mental Sam. Sudah tiga puluh jam berlalu sejak Adam mengajukannya. Ia membuat kesal diri sendiri dengan menelepon panitera. Ia bosan menjelaskan sesuatu yang sudah jelas ia butuh jawaban. Tak ada secercah pun tanda optimisme bahwa pengadilan itu benar-benar mempertimbangkan kebenaran klaim tersebut. Menurut Adam, pengadilan sedang berlambat-lambat dan menunda langkahnya ke pengadilan federal. Pada

saat ini, ia merasa keringanan di mahkamah agu„ negara bagian adalah sesuatu yang mustahil. | Ia pun tidak optimis di pengadilan federal. M4 I kamah Agung AS belum lagi memutuskan per. I mohonannya untuk mempertimbangkan dalih bah- i wa pemakaian kamar gas tidak konstitusional, 1 Pengadilan Fifth Circuit berlama-lama dengan da- | lih nasihat hukum yang tidak efektif.

Tak ada perkembangan pada hari Kamis. Peng. I adilan-pengadilan itu cuma duduk-duduk, seolah-olah ini dalih perkara biasa yang diajukan dan dipertimbangkan dan dicatat, lalu diteruskan dan ditunda selama bertahun-tahun. Ia menginginkan tindakan, lebih disukai pemberian penundaan pada tingkat tertentu, atau bila bukan penundaan, suatn argumentasi lisan atau pemeriksaan tentang kesahihan dalih itu, atau bahkan penolakan, sehingga ia bisa bergerak ke pengadilan berikutnya.

Ia mondar-mandir mengelilingi meja di kantornya dan menunggu telepon. Ia sudah lelah mondar-mandir dan muak dengan telepon. Kertas-kertas sisa puluhan makalah berserakan dalam kantor itu. Mejanya diselimuti tumpukan kertas yang porak-poranda. Pesan-pesan telepon berwarna merah jambu dan kuning tertempel di sepanjang salah satu rak buku.

Adam mendadak benci tempat itu. la butuh udara segar. Ia mengatakan pada Darlene akan pergi jalan-jalan, lalu meninggalkan gedung. Saat itu hampir pukul 17.00, masih terang dan sangat

hangat, la berjalan ke Hotel Peabody di Jalan Union dan minum di sudut lobi, dekat piano. Itu minuman keras pertama sejak hari Rabu di New Orleans, dan meskipun menikmatinya, ia khawatir dengan Lee. Ia mencarinya di tengah kerumunan .peserta suatu pertemuan yang bergerombol di sekitar meja registrasi. Ia melihat meja-meja di lobi itu terisi dengan orang-orang berpakaian bagus, berharap entah dengan alasan apa Lee akan muncul. Di manakah kau akan bersembunyi bila kau berumur Hma puluh dan melarikan diri dari kehidupan?

Seorang laki-laki dengan buntut kuda dan sepatu lars hiking berhenti dan menatap, lalu berjalan menghampiri. "Permisi. Apakah Anda Adam Hall, pengacara Sam Cayhall?"

Adam mengangguk.

Laki-laki itu tersenyum, jelas senang mengenali Adam, dan berjalan ke mejanya. "Saya Kirk Kleckner dari New York Times:' Ia meletakkan sehelai kartu nama di depan Adam. "Saya berada di sini untuk meliput eksekusi Cayhall. Sebenarnya saya baru saja tiba. Boleh saya duduk?"

Adam melambaikan tangan ke kursi kosong di seberang meja bundar kecil itu. Kleckner duduk. "Beruntung menemukan Anda di sini," katanya penuh senyum.* Ia berusia sekitar awal empat puluhan, dengan raut bagaikan wartawan kawakan yang sudah melompat-lompat ke segala penjuru dunia—jenggot lebat, vest katun tanpa lengan di

atas kemeja denim, dan celana jeans. "Saya ^ j ngenal Anda dari foto-foto yang saya pelajar, ^ I lam penerbangan ke sini."

"Senang berjumpa dengan Anda," kata Ad^ t datar.

"Bisakah kita bicara?" "Tentang apa?"

"Oh, tentang banyak hal. Saya mengerti klien J Anda tidak akan memberikan wawancara." "Itu benar."

"Bagaimana dengan Anda?"

"Sama. Kita bisa bercakap-cakap, tapi tak ada yang boleh dimuat"

"Itu membuat urusan jadi sulit."

"Terus terang saya tak peduli. Saya tak peduli betapa sulitnya pekerjaan Anda."

"Cukup fair." Seorang pelayan muda yang luwes dengan rok pendek mampir cukup lama untuk menerima pesanan. Kopi hitam. "Kapan terakhir kali Anda menemui kakek Anda?"

"Selasa."

"Kapan Anda akan menemuinya lagi?" "Besok."

"Bagaimana keadaannya?" "Dia masih hidup. Tekanan makin berat, tapi sampai sejauh ini dia menerimanya.dengan baik." "Bagaimana dengan Anda?" "Senang sekali."

"Serius. Apakah Anda sampai kurang tidur? Anda tahu, hal-hal macam itulah."

-Saya lelah. Yeah, saya kurang tidur, saya lembur berjam-jam, berlarian bolak-balik ke penjara. Masalah ini sudah mendekati batas akhir, jadi beberapa hari berikut ini akan sangat sibuk."

"Saya meliput eksekusi Bundy di Florida. Macam sirkus saja. Beberapa hari pengacaranya tidak tidur." * "Memang sulit bersantai." "Apakah Anda akan melakukannya lagi? Saya tahu ini bukan bidang khusus Anda, tapi apakah Anda mempertimbangkan menangani kasus hukuman mati lain?"

"Hanya bila saya menemukan sanak lain di death row. Mengapa Anda meliput hal seperti ini?"

"Sudah bertahun-tahun saya menulis tentang hukuman mati. Memesona. Saya ingin mewawancarai Mr. Cayhall."

Adam menggelengkan kepala dan menghabiskan minuman. "Tidak. Tidak mungkin. Dia takkan bicara pada siapa pun." a

Maukah Anda membantu saya menanyainya?" "Tidak."

Kopi tiba. Kleckner mengaduknya dengan sendok. Adam melihat ke orang banyak. "Kemarin saya mewawancarai Benjamin Keyes di Washington," kata Kleckner. "Dia mengatakan tidak terkejut kalau Anda sekarang mengatakan dia melakukan kekeliruan dalam sidang. Katanya dia su-dah memperkirakan hal itu akan muncul."

Saat ini Adam tak peduli tentang Benjamin

Keyes atau pendapatnya. "Itu langkah baku. ^

harus pergi. Senang berjumpa dengan Anda."

"Tapi saya ingin bicara tentang..." "Dengar. Anda beruntung berpapasan dengan saya." kata Adam sambil cepat berdiri.

"Cuma beberapa hai lagi," kata Kleckner ketika Adam berjalan pergi. *

Adam meninggalkan Peabody dan berjalan-jalan ke Front Street dekat sungai, sepanjang jalan melewati kelompok-kelompok orang muda berpakaian rapi yang sangat mirip dirinya, semuanya bergegas pulang. Ia ui pada mereka: apa pun bidang pekerjaan atau karier mereka, apa pun tekanan yang mereka alami saat ini. mereka tidak memikul beban seberat dirinya.

la makan sandwich di sebuah deli, dan padi pakui 19.00 sudah kembali ke kantor.

Kelinci itu dijebak di hutan Parch man oleh dua penjaga, yang menamakannya Sam. Kelinci cokelat berekor bulat, terbesar di antara yang berhasil ditangkap. Tiga lainnya sudah dimakan.

Kamis larut malam, Sam si kelinci dan para pengurusnya, bersama Kolonel Nugent dan regu eksekusi, memasuki Maximum Security Unit dengan von dan pickup penjara. Mereka melaju pet-lahan-lahan melewati bagian depan dan mengitari lapangan bermain di ujung barat. Mereka parkir A samping bangunan persegi dari bata merah yang menempel di sudut barat daya MSU.

Dua pintu baja putih tanpa jendela menuju bagian dalam bangunan persegi itu. Satu menghadap ke selatan, menuju sebuah mangan sempit, dua kali empat setengah meter, tempat para saksi duduk selama eksekusi berlangsung. Mereka menghadap ke deretan tirai hitam, yang bila dibuka akan memperlihatkan bagian belakang kamar gas itu sendiri, cuma beberapa senti dari situ. •¦

Pintu lainnya menuju Kamar Gas, sebuah mangan berukuran empat setengah kali tiga setengah meter dengan lantai beton bercat. Kamar Gas ber-bentuk segi delapan berdiri di tengah, berkilat cerah karena lapisan enamel perak baru dan baunya pun seperti itu. Seminggu sebelumnya Nugent sudah menginspeksinya dan memerintahkan pengecatan. Tempat yang disebut ruang ke matian itu tak bernoda setitik pun dan bersih. Tirai hitam di jendela di belakang kamar gas itu terbuka.

Sam si kelinci ditinggalkan dalam pickup sementara seorang penjaga bertubuh kecil, dengan tinggi dan bobot seukuran Sam Cayhall, digiring dua rekannya yang lebjh besar menuju Kamar Gas. Nugent melangkah tegap dan menginspeksi bagaikan Jenderal Patton—menunjuk, mengangguk, dan mengernyit. Penjaga bertubuh kecil itu didorong lebih dulu ke dalam Kamar Gas, lalu diikuti dua penjaga yang memutarnya dan membawanya ke kursi kayu. Tanpa sepatah kata atau senyum, tanpa tawa atau gurauan, mereka mengikat pergelangannya lebih dulu dengan pengikat

kulit ke lengan kursi. Laku lututnya, lalu ^ langan kaki. Kemudian salah satu penjaga angkat kepalanya satu atau dua senti dan roe|3 gangnya, sementara yang lain mengikatkan pe„ ikat kepala dari kulit.

Dua penjaga itu melangkah dengan hati-hati luar dari Kamar Gas. Nugent menunjuk ke sah anggota lain dari regu itu, yang melangkah maju seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu kepada sj terhukum.

"Sampai di sini, Lucas Mann akan membacakan 1 keputusan hukuman mati kepada Mr. Cayhall" I Nugent menjelaskan bagaikan sutradara film arna- I tir. "Kemudian saya akan menanyakan apakah dia j punya pesan terakhir." Ia menunjuk lagi; penjaga f yang ditunjuk menutup pintu tebal ke kamar gas r itu dan menyegelnya.

"Buka," Nugent menyalak, dan pintu itu terbuka. Si penjaga bertubuh kecil dibebaskan.

"Ambil kelincinya," perintah Nugent Salah satu I pengurus mengambil Sam si kelinci dari pickup. Ia i duduk dalam sangkar kawat, tak tahu-menahu akan bahaya. Sangkar itu diserahkan kepada dua penjaga yang baru saja meninggalkan Kamar Gas. Mereka dengan hati-hati meletakkannya di kursi kayu, lalu melaksanakan tugas mereka mengikat manusia imajiner, Pergelangan tangan, lutut per-gelangan kaki, kepala, dan kelinci itu pun siap t digas. Dua penjaga itu meninggalkan Kamar Gas. Pintu ditutup dan disegel. Nugent memberi isya-

rat kepada algojo, yang meletakkan kaleng berisi asam sulfat ke dalam slang yang menjulur sampai

Ice bagian bawah Kamar Gas. Ia menarik tuas, terdengar suara berdetak, dan asam sulfat itu sampai ke mangkuk di bawah kursi.

Nugent melangkah ke salah satu jendela dan mengawasi dengan penuh perhatian. Anggota lain dalam regu itu berbuat sama. Sudut-sudut jendela itu sudah diolesi vaselin untuk mencegah kebocoran.

Gas beracun itu dilepas perlahan-lahan. Kabut asap tipis terlihat membubung dari bawah kursi, naik ke atas. Pada mulanya sang kelinci tidak bereaksi terhadap uap yang merembes ke dalam sel kecilnya, tapi gas itu menyerangnya cukup cepat. Ia menegang kaku, lalu melompat beberapa kali, menumbuk dinding sangkarnya beberapa kali, lalu kejang-kejang hebat, melompat dan meregang dan menggeliat liar. Kurang dari saru menit ia diam tak bergerak.

Nugent tersenyum sambil melirik ke jam tangannya. "Bereskan," perintahnya, dan lubang ventilasi di atas Kamar Gas dibuka untuk melepaskan gas.

Pintu dari Kamar Gas ke luar dibuka, dan hampir semua anggota regu eksekusi itu berjalan.ke luar, mencari udara segar atau merokok. Sedikitnya butuh lima belas menit lagi sebelum Kamar Gas bisa dibuka dan kelinci itu disingkirkan. Kemudian mereka hams menyemprot dan membersihkannya. Nugent masih berada di dalam, meng-

awasi segalanya. Jadi, mereka merokok dan te tawa-fawa sedikit.

Tak lebih delapan belas meter dari sana, u. dela-jendela di atas gang Tier A terbuka. Sam bjs mendengar suara mereka. Saat itu sudah le^„ pukul 22.00 dan lampu-lampu sudah padam, tanj dalam setiap sel di sepanjang tier itu dua tang^ terjulur di antara jeruji, ketika empat belas orang mendengarkan dalam kesunyian gelap.

Narapidana penghuni death row hidup dalam sel berukuran dua kali tiga meter selama 23 jam se- j hari. Ia mendengar segalanya—suara berdetak aneh dari sepasang sepatu lars baru di gang; nada j suara atau aksen yang belum biasa terdengar; de- J ngung mesin pemangkas rumput di kejauhan. Dan I sudah tentu ia bisa mendengar suara pinta ke j Kamar Gas dibuka dan ditutup. Ia bisa mendengar suara tawa puas dan pongah dari regu eksekusi.

Sam bertelekan pada lengan, memandangi jen- j dela di atas gang. Di luar sana, mereka sedang berlatih membunuhnya.

EMPAT PULUH

Di antara tepi barat Highway 49 dan halaman depan gedung administrasi Parchman, terbentang sepetak tanah berumput halus selebar 45 meter. Tanah itu menarik perhatian, sebab dulu di situ ada jalur rel kereta api. Di situlah tempat pemrotes hukuman mati berkumpul dan memantau setiap eksekusi. Mereka selalu datang, biasanya kelompok-kelompok kecil orang-orang penuh komitmen yang duduk di kursi lipat dan mengacungkan plakat-plakat buatan sendiri. Mereka menyalakan lilin di waktu malam dan menyanyikan lagu-lagu pujian pada jam-jam terakhir. Mereka menyanyi, memanjatkan doa, dan menangis ketika kematian diumumkan.

Suatu kejutan baru terjadi pada jam-jam sebelum eksekusi Teddy Doyle Meeks, seorang pemerkosa dan pembunuh anak-anak. Protes yang tenang dan nyaris khusyuk itu dikacaukan gerombolan mahasiswa yang susah diatur dan mendadak muncul tanpa peringatan serta bersuka ria menuntut darah. Mereka minum bir dan memainkan mu-

N

kaitan ada di sini?" tanya ^ mencoba menyelamatkan Sam t

N** ' "Kami takkan pergi

akhir."

Kami akan

nya kau tidak akan berhasil melakukannya

Anggota Kran yang masih muda dengan merah dan batara» keringat di kening men^? ahh pimpinan. *^'*n «ah dekat /agi ^ Adam. Tidak. Dia/ah alasan mengapa fcamj i sini. Aku belum lahir ketika Sam membunuh y hudi- Y ahudr itu. /adi kau tak bisa mempersaJaJij^ aha. Kami ada di sini untuk memprotes eksekusi nya. Dia diadili karena a/asan politis."

"Dia takkan berada di «ini kaJau bukan ^ gars Kian. Mana topeng ka/un? Kupikir hj« selalu menyembunyikan wajah."

Kelompok itu fterenyak dan bergerak-gerak sah, tah tahu pasti apa yang mesti dilakukan «!& jutnya. Bagaimanapun juga, pemuda ini cucu Sag Cay ha/f. jdofej dan juara mereka. Ia pengacau yang sedang berusaha menyelamatkan simbol paling berharga

"Mengapa katai tidak pergi saja7" tanya Adat "Sam tidak menghendaki kalian di %ha."

"Mengapa km tidak enyah ke neraka?" 10 laki-laki mudm itu mencemooh.

'Muh* besar Pergilah sap, oke7 .Sam jauh fe-bfh berharga bagi kalian dalam keadaan

mati d*

pada hidup, biarkan dia meninggal dengan tenang lalu kalian akan punya martir yang hebat."

Dan bagaimana kalau Sam minta kalian pergi? Apa kalian mau pergi'.'"

Tidak." kalanya mencemooh lagi. lalu melirik pada yang lainnya. Semua tampaknya setuju untuk tidak menyingkir. "Kami merencanakan akan membuat keributan besar."

"Bagus. Foto kalian terpampang di surat kabar. Itulah maksud semua ini, kan? Badut sirkus dongan pakaian lucu selalu menarik perhatian."

Terdengar pintu-pintu mobil dibanting di belakang Adam. dan ketika menoleh, ia melihat kru televisi bergegas keluar dari van yang diparkir dekat Saab-nya.

"Wah, wah," katanya pada kelompok itu, "Senyum, teman-teman. Inilah peristiwa besar yang kalian tunggu."

"Enyahlah ke neraka," laki-laki itu membentak marah. Adam berbalik memunggungi mereka dan berjalan ke mobilnya. Seorang reporter bergegas ke arahnya, dibuntuti seorang juru kamera.

"Apakah Anda Adam Hall?" ia bertanya terengah engah. "Pengacara Cayhall?" "Ya," kata Adam tanpa berhenti. "Bisakah kita bicara sebentar?" Tidak Tapi bocah-bocah itu ingin sekali bicara/' katanya, menunjuk ke belakang. Wartawati itu mengikuti di sebelahnya, sementara juru kamera sibuk dengan peralatannya. Adam membuka

94U

pintu mobil, lalu membantingnya sambil men» kunci kontak.

Louise, penjaga gerbang, mengangsurkan se kartu bernomor untuk diletakkan pada dashb, lalu melambaikan tangan, mempersilakannya^

1

Packer melakukan penggeledahan wajib di d pintu depan The Row. "Apa di dalam saiuf I tanyanya, menunjuk kotak pendingin kecil I dibawa Adam dengan tangan kiri. ", "Eskimo Pie, Sersan. Mau satu?" "Coba kulihat." Adam mengangsurkan pendingin I itu kepada Packer, yang membuka tutupnya cukup | lama untuk menghitung setengah lusin Eskimo masih beku di bawah selapis es.

Ia mengangsurkan kembali pendingin itu kepada Adam dan menunjuk ke pintu kantor depan, beberapa meter dari sana. "Mulai sekarang kalian bertemu di sini," ia menjelaskan. Mereka melangkah ke dalam ruangan.

"Kenapa?" tanya Adam sambil memandang se- I keliling ruangan. Di sana ada sebuah meja besi ] dengan telepon, tiga kursi, dan dua lemah arsip dalam keadaan terkunci.

"Memang begini cara kami melaksanakannya. Kami meringankan peraturan begitu hari besar itu makin dekat Sam harus menerima tamunya di sin'- *»ga tak ada pembatasan waktu." i

"Sungguh manis." Adam meletakkan tas di meja

dan mengangkat telepon. Packer berlalu untuk menjemput Sam. Wanita baik hati di kantor panitera Jackson memberitahu Adam bahwa baru beberapa menit yang lalu Mahkamah Agung menolak petisi kliennya yang memohon keringanan hukuman dengan alasan mentalnya tidak kompeten. Adam mengucapkan terima kasih kepadanya, mengatakan sudah menduga, dan seharusnya ini bisa dilakukan sehari sebelumnya. Lalu dimintanya si sekretaris mem-/flx copy keputusan pengadilan ke kantornya di Memphis, juga ke kantor Lucas Mann di Parchman. la menelepon Darlene di Memphis dan memerintahkannya mem-/euc-kan petisi baru itu ke pengadilan distrik federal, serta copy-nya ke Peng- • adilan Fifth Circuit dan ke kantor Mr. Olander yang sibuk di Mahkamah Agung Washington, la -menelepon Mr. Olander untuk mengabarkan petisi itu akan datang, dan diberitahu bahwa Mahkamah Agung bara saja menolak meninjau klaim Adam bahwa kamar gas tidak konstitusional.

Sam memasuki kantor depan tanpa borgol ketika Adam masih bicara di telepon. Mereka ber-I jabat tangan dengan cepat, lalu Sam duduk. Bukannya mengambil rokok, ia membuka kotak pendingin dan mengambil sebatang Eskimo Pie. la memakannya perlahan-lahan sambil mendengarkan Adam berbicara dengan Olander. "Mahkamah Agung AS baru saja menolak permohonan penhv

jauan ulang," Adam berbisik pada Sam (W tangan menutupi kop telepon.

Sam tersenyum aneh dan mengamati beber^ amplop yang dibawanya.

"Mahkamah Agung Mississippi juga menolak» Adam menjelaskan kepada kliennya sementara L memencet beberapa nomor lagi. "Tapi itu mernato sudah diduga. Sekarang kita sedang mengajukan, nya ke pengadilan federal." Ia menelepon ke Pen». adilan Fifth Circuit untuk memeriksa status klaim, nya tentang bantuan hukum yang tidak efektif Panitera di New Orleans memberitahu bahwa be-lum ada tindakan apa pun yang diambil pagi itu. Adam meletakkan gagang telepon dan duduk di tepi meja.

"Pengadilan Fifth Circuit masih memendam klaim bantuan hukum yang tidak efektif itu," ia melapor kepada kliennya yang tahu tentang hukum dan prosedur serta menyerapnya bagaikan ahli hukum terpelajar. "Dari segala segi, pagi ini tidak begitu baik."

"Stasiun televisi Jackson pagi ini mengatakan aku telah minta Gubernur mengadakan sidang pertimbangan pemberian pengampunan," kata Sam di sela-sela gigitan. "Tentu saja ini tidak benar. Aku tidak menyetujuinya." • Tenang, Sam. Itu langkah rutin." "Rutin apa! Tadinya kupikir kita punya kesepakatan. Mereka bahkan menayangkan McAllister di TV, bicara betapa pedih perasaannya dalam

ambil keputusan tentang pemberian pengam-itu. Aku sudah memperingatkanmu." McAllister tidak penting, Sam. Permohonan itu coma formantas. Kita tidak harus terlibat."

Sam menggelengkan kepala dengan kesal. Adam memperhatikannya dengan cermat, la tidak benar-benar marah, tidak pula benar-benar peduli dengan apa yang telah dilalaikan Adam. la sudah menyerah, nyaris kalah. Sedikit omelan itu muncul secara wajar. Seminggu sebelumnya ia tentu sudah mencaci maki.

"Tadi malam mereka berlatih, kau tahu. Mereka menggarap kamar gas itu, membunuh tikus atau entah apa, segalanya bekerja sempurna, dan sekarang semua orang tegang menunggu eksekusiku. Bisakah kaupercaya? Mereka mengadakan geladi resik dengan pakaian lengkap untukku. Bangsat-bangsat ito." . "Aku ikut sedih, Sam."

"Tahukah kau seperti apakah bau gas sianida?" "Tidak."

"Kayu manis. Baunya tercium di udara kemarin malam. Idiot-idiot itu tidak mau repot-repot menutup jendela di tier kami, dan aku mengendusnya."

Adam tidak tahu ini benar atau tidak. Ia tahu bahwa kamar gas itu dibiarkan terbuka ventilasinya selama beberapa menit sesudah eksekusi, dan gas itu lepas ke udara. Tentu saja gas itu tak bisa merembes ke tier. Mungkin Sam mendengar cerita tentang gas itu dari para penjaga. Mungkin itu

cuma bagian dari dongeng di sana. Ia dud^ 't pinggir meja, mengayun-ayunkan kaki, menjJ I

orang tua dengan lengan kurus dan rambut ^ f minyak yang tampak menyedihkan itu. Sungg^ j suatu dosa mengerikan membunuh makhluk ^ 1 seperti Sam Cayhall. Kejahatannya terjadi satu ge. nerasi yang lalu. Ia sudah menderita dan matj I berkali-kali dalam selnya yang bemkuran dua j tiga meter. Bagaimana negara bisa mendapatkan !

faedah dengan membunuhnya sekarang? Ada banyak hal dalam pikiran Adam, tak satu '•

pun di antaranya bisa menjadi usaha terakhir.

"Aku menyesal, Sam," katanya lagi, penuh iba,

"Tapi kita perlu bicara tentang beberapa hal." "Apakah orang-orang Klan itu ada di luar pagi

iai? Televisi menayangkan gambar mereka di sini

kemarin."

"Ya Kuhitung ada tujuh beberapa menit yang lalu. Berseragam lengkap, tapi tanpa topeng."

"Aku dulu pernah memakai pakaian seperti itu, kau tahu," katanya, sangat mirip veteran perang yang membual kepada anak-anak kecil. .

"Aku tahu, Sam: Dan karena memakainya kau sekarang duduk di death row ini dengan pengacaramu, menghitung jam sebelum mereka mengikatmu dalam Kamar Gas. Kau seharusnya benci pada orang-orang tolol di luar sana."

"Aku tidak membenci mereka. Tapi mereka tak punya hak berada di sini. Mereka telah meninggalkanku. Dogan mengirimku ke sini, dan ketikS/li

1Cl\

saksi memberatkanku, dia adalah Imperial Wizaid Mississippi. Mereka tidak memberiku sepeser pun untuk biaya pembelaan. Mereka melupakanku."-

"Apa yang kauharapkan dari segerombolan penjahat? Kesetiaan?"

"Aku setia."

"Dan lihat akibatnya, Sam. Kau seharusnya mengadukan Klan dan minta mereka enyah, menyingkir dari eksekusimu." :'$$m

Sam memainkan amplop-amplopnya, lalu meletakkannya dengan hati-hati pada sebuah kursi.

"Kusuruh mereka menyingkir," kata Adam.

"Kapan?"

"Baru beberapa menit yang lalu. Aku bertengkar dengan mereka. Mereka sama sekali tak peduli denganmu, Sam; mereka memanfaatkan eksekusi ini, sebab kau akan menjadi martir yang hebat, orang yan^ bisa dipakai untuk berpawai dan dibicarakan selama bertahun-tahun yang akan datang. Mereka akan meneriakkan namamu bila membakar salib, dan mereka akan berziarah ke makammu. Mereka ingin kau mad, Sam. Itu cara humas yang hebat."

"Kau langsung menghadapi mereka?" Sam bertanya dengan sedikit nada geli dan bangga.

"Yeah. Bukan urusan besar. Bagaimana dengan Carmen? Kalau boleh datang dia perlu mengatur perjalanannya."

Sam mengisap rokoknya sambil berpikir. "Aku mau menemuinya, tapi kau harus memperingatkan-

nya tentang penampilanku. Aku tak ingin a-kejut." * ^

"Kau kelihatan hebat, Sam."

"Wah. teruna kasih. Bagaimana dengan Lee>

'Bagaimana dengan dia?"

"Bagaimana keadaannya? Kami punya koran 4 sini. Aku melihatnya di koran Memphis kemarin, lalu membaca tentang penangkapan^ karena mengemudi dalam keadaan mabuk hari Se lasa. Dia tidak dipenjara, kan?"

"Tidak. Dia ada di klinik rehabilitasi," ^ Adam seolah-olah tahu tepat di mana Lee.

"Apa dia bisa datang berkunjung?"

"Apa kau menginginkannya?"

"Kurasa begitu. Mungkin hari Senin. Kita tunggu saja."

"Tak ada masalah," kata Adam sambil berpikir bagaimana ia bisa menemukan Lee. "Aku akan bicara dengannya akhir pekan ini."

Sam mengangsurkan salah satu amplop tak tertutup kepada Adam. "Berikan ini pada orang-orang di luar. Ini daftar pengunjung yang kusetujui mulai sekarang sampat nanti. Bukalah."

Adam melihat daftar itu. Di situ ada empat nama Adam, Lee. Carmen, dan Donnie Cayhall "Tidak begitu panjang."

"Aku punya banyak sanak saudara, tapi aku tak ingin mereka ke sini. Sembilan setengah tahun mereka tak pernah mengunjungiku, maka terkutuklah aku kalau mereka datang ke sini pada menit

terakhir untuk mengucapkan selamat tinggal. Mereka bisa menyimpannya untuk penguburan."

"Akn menerima segala macam permintaan dari reporter dan wartawan untuk mengadakan wawancara."

"Lupakan saja."

"Itulah yang kukatakan pada mereka. Tapi ada permintaan yang mungkin menarik minatmu. Ada orang bernama Wendall Sherman, pengarang yang cukup punya reputasi dan sudah menerbitkan empat atau lima buku serta memenangkan beberapa penghargaan. Aku belum pernah membaca karyanya, tapi dia menghubungiku. Dia sah. Aku bicara melalui telepon dengannya kemarin. Dia ingin duduk bersamamu dan merekam kisahmu. Rasanya „ dia sangat jujur, dan katanya rekaman itu bisa makan waktu berjam-jam. Dia akan terbang ke Memphis hari ini, kalau kau bilang ya." "Mengapa dia ingin merekam aku?" - "Dia ingin menulis buku tentang dirimu," "Novel roman?"

"Aku meragukannya. Dia bersedia membayar 50.000 dolar di muka, dengan persentase royaltinya kelak."

"Hebat. Aku mendapat 50.000 dolar beberapa hari sebelum mati. Apa yang akan kulakukan dengan uang itu?"

"Aku cuma menyampaikan tawaran." "Katakan padanya untuk pergi ke neraka. Aku tidak tertarik."

"Baiklah."

"Aku ingin kau menyusun konsep p^., bahwa aku menyerahkan semua hak atas hidupku padamu, dan sesudah aku pergi kau (J^ berbuat apa saja dengannya." ^

"Bukan gagasan buruk merekamnya." "Maksudmu..."

"Bicaralah dengan mesin kecil dan pita ^ I Aku bisa membawakannya untukmu. Duduklah

"Betapa membosankan." Sam menghabiskan & kirno Pie dan melemparkan gagangnya ke dalam tempat sampah.

"Tergantung bagaimana kau melihatnya. Semi} rasanya sangat menegangkan sekarang."

"Yeah, km benar. Hidup yang cukup man- j bosankan, tapi akhirnya sangat sensasional." 'l "Kurasa bisa jadi bestseller." "Aku akan memikirkannya." Sam mendadak melompat berdiri, meninggalku l sepatu mandi karet di bawah kursi. Ia berjalan f dengan langkah lebar menyeberangi ruangan, mengukur dan merokok sambil berjalan. "Tiga tela* kali enam belas setengah," gumamnya pada diri sendiri, lalu mengukur lagi.

Adam menulis catatan pada buku tulis dan men- i coba mengabaikan sosok merah yang mondar-mandir di antara dinding. Sam akhirnya berhenti dan bersandar pada lemari arsip. "Aku ingin kau membantuku," katanya, menatap dinding di seberani

ruangan itu. Suaranya jauh lebih rendah. Ia bernapas perlahan-lahan. "Aku mendengarkan," kata Adam. Sam maju selangkah ke kursi dan memungut

satu amplop. Ia menyerahkannya pada Adam dan jcembalj ke posisinya, bersandar pada lemari arsip. Amplop itu terbalik, sehingga Adam tak dapat melibat tulisan di atasnya. "Aku ingin kau mengirimkannya," kata Sam. "Kepada siapa?" "Quince Lincoln."

Adam meletakkannya di meja di sisinya dan mengamati Sam dengan cermat. Tapi Sam sedang berkelana di dunia lain. Matanya yang keriput menatap kosong pada sesuatu di dinding seberangnya. "Seminggu aku menulisnya," katanya, suaranya nyaris parau, "tapi sudah empat puluh tahun aku memikirkannya."

"Apa isi surat itu?" Adam bertanya perlahan-lahan.

"Permintaan maaf. Sudah bertahun-tahun aku memikul perasaan bersalah, Adam. Joe Lincoln orang yang baik, ayah yang baik. Aku kehilangan akal sehat dan membunuhnya tanpa alasan. Dan sebelum menembaknya, aku tahu aku bisa lolos dari hukuman. Aku tak bisa lepas dari perasaan bersalah. Sangat bersalah. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang, kecuali mengatakan aku menyesal."

"Aku yakin itu sangat berarti bagi keluarga Lincoln."

"Mungkin. Dalam surat itu aku mohon pengatn, pun an mereka, yang kupercaya merupakan cara orang Kristen bertindak. Aku ingin mati, dengan keyakinan aku telah mencoba menyatakan penyesalanku."

"Tahu di mana aku mungkin akan menemukan, nya?"

"Itulah bagian yang sulit. Dari sanak keluarga, aku mendengar keluarga Lincoln masih ada di Ford County. Ruby, jandanya, mungkin masih hidup. Aku khawatir kau harus pergi ke Clanton dan bertanya-tanya di sana. Di sana sheriff-nya orang Afrika, jadi kau akan mulai dengannya. Barangkali dia kenal semua orang Afrika di county itu." "Dan kalau aku menemukan Quince?" "Katakan padanya siapa dirimu. Berikan surat Ku padanya Katakan padanya aku mati dengan setumpuk perasaan bersalah. Bisakah kau melakukannya?"

"Dengan senang hati. Tapi aku tak pasti kapan , bisa melakukannya"

"Tunggulah sampai aku mati. Kau akan punya J banyak waktu begitu urusan ini selesai."

Sam sekali lagi berjalan ke kursi, dan kali ini ia mengambil dua amplop. Ia menyerahkannya pada Adam, dan mulai mondar-mandir perlahan-lahan, majo-mundur melintasi ruangan. Nama Ruth Kramer terketik pada salah satu amplop, tanpa alamat, dan Elliot Kramer pada yang satunya. "Itu untuk keluarga Kramer. Serahkanlah pada mereka, tapi tunggu sampai selesai eksekusi."

"Mengapa menunggu?"

"Sebab motifku mumi. Aku tak ingin mereka f mengira aku melakukan hal ini untuk menimbul-I kan simpati di saat kematianku."

Adam meletakkan surat untuk keluarga Kramer j di samping surat untuk Quince Lincoln—tiga surat, tiga mayat. Berapa surat lagi yang akan dibuat Sam selama akhir pekan? Berapa korban lagi yang ada di luar sana? "Kau yakin akan mati, kan, Sam?" Ia berhenti di samping pintu dan merenungkan hal ini sejenak. "Kita tak punya peluang. Aku sedang bersiap." "Kita masih punya kesempatan." "Benar. Tapi aku bersiap, kalau-kalau ini terjadi. Aku telah menyakiti banyak orang, Adam, dan aku tak pernah berusaha memikirkannya. Namun bila kau punya janji dengan maut, kau memikirkan kerusakan yang telah kauperbuat."

Adam memungut tiga amplop itu dan memandangnya. "Apakah ada yang lain?"

Sam menyeringai dan memandang ke lantai. "Cuma itu saja, untuk sekarang."

Surat kabar Jackson pada pagi hari Jumat memuat berita halaman depan tentang permohonan Sam Cayhall untuk suatu sidang pengampunan. Berita itu termasuk foto rapi Gubernur David McAllister, foto Sam yang buruk, dan komentar panjang untuk kepentingan sendiri oleh Mona Stark, kepala staf

Gubernur—semuanya mengatakan Gubernur dang bergumul mengambil keputusan.

Karena ia benar-benar pengabdi rakyat, hamba seluruh warga Mississippi, McAllister memasan» sistem telepon hotline yang mahal tak lama setek ia terpilih. Nomor toll free itu tertempel di seloM penjuru negara bagian, dan para pemilihnya term. menerus dihujani iklan layanan masyarakat untuk memakai People's Hotline tersebut. Teleponlajj Gubernur. Dia memperhatikan pendapat Anda. Demokrasi dalam bentuknya yang terbaik. Para operator selalu siaga.

Dan karena ambisinya lebih besar daripada keuletannya, McAllister dan stafnya memantau fe- i lepon-telepon itu setiap hari. Ia pengikut, bukan I pemimpin. Ia menghabiskan banyak uang untuk I mengadakan pol dengar pendapat, dan terbukti se- j cara diam-diam mahir menemukan masalah-ma- f salah yang mengusik masyarakat, lalu melompat ke depan memimpin parade.

Goodman dan Adam mencurigai bal ini. Mc- j Ailister tampak terlalu terobsesi dengan panggilan untuk melontarkan inisiatif baru. Orang itu penghitung suara pemilik yang tak kenal malu, jadi mereka memutuskan akan memberikan sesuatu un- . tuk dihitung.

Goodman membaca berita itu pagi-pagi sambil menikmati kopi dan buah-buahan, dan pukul 07,30 j bicara melalui telepon dengan Profesor John Bryan Glass dan Hez Kerry. Pukul 08.00, tiga mahasiswa

I Glass sudah minum kopi dari cangkir kertas di kantor sementara yang kumuh. Analisis pasar itu akan dimulai.

Goodman menjelaskan cara kerja dan perlunya r menjaga kerahasiaan. Mereka tidak melanggar hukum, ia meyakinkan mereka, cuma memanipulasi I opini publik. Telepon-telepon genggam itu terletak f di meja, bersama halaman-halaman buku telepon yang di-copy Goodman pada hari Rabu. Mahasis-1 wa-mahasiswa itu sedikit khawatir, tapi toh, bergairah untuk mulai. Mereka akan dibayar dengan baik. Goodman mendemonstrasikan tekniknya dengan melakukan telepon pertama. Ia memutar nomornya.

"People's Hotline," jawab sebuah suara yang menyenangkan.

Ya. Saya menelepon mengenai berita koran pagi ini, tentang Sam Cayhall," kata Goodman perlahan-lahan, menirukan aksen yang diseret-seret. Ia mengucapkannya dengan enggan. Mahasiswa-mahasiswa itu sangat geli.

"Dan nama Anda?"

"Ya. Saya Ned Lancaster, dari Biloxi, Mississippi," balas Goodman sambil membaca dari daftar telepon. "Dan saya memilih untuk Gubernur. Dia orang yang baik," ia membumbui dengan baik.

"Dan bagaimana perasaan Anda tentang Sam Cayhall?"

"Saya pikir tidak seharusnya dia dieksekusi. Dia orang tua yang sudah banyak menderita, dan saya

769

ingin Gubernur memberikan pengampunan, g,^ kan dia mari dengan tenang di Parch man sana."

"Oke. Akan saya pastikan Gubernur tahu |e /epon Anda." "Terima kasih."

Goodman menekan satu tombol pada teleporj dan membungkuk di hadapan penontonnya. "Gam-mng sekati Man kita mulai."

Mahasiswa kulit putih itu memilih satu nomor telepon Percakapan itu berlangsung seperu ini, j "Halo. in; Lester Crosby dari Bude. Mississippi Saya menelepon mengenai eksekusi Sam Cavhif Ya, Ma'am. Nomor saya? 553-9084 Ya, beat. I Bude. Mississippi, di Franklin County. Benar Nah, nenurut saya tidak seharusnya Sam Cayrufl dikinm ke kamar gas. Saya tidak setuju. Sm I pikir Gubernur harus turun tangan dan menghentikannya. Ya. Ma'am, benar Terima kasih." fa ter- j senyum kepada Goodman yang sedang memencet

Wanita kulit putih itu mahasiswi setengah bm la berasal dan kota kecil di daerah pedesaan negara bagian itu dan aksennya memang sengau. "Halo, ini kantor Gubernur? Bagus. Sayi me-berkenaan dengan berita Cayhall di kotm hari ini. Susan Barnes. Decatur. Mississippi. Benar Nak, d»a sudah tua dan mungkin akan mati juga beberapa tahun lagi. Apa manfaatnya bagi negara membunuhnya sekarang? Ampuni dia. Apa? U saya mgin Gubernur menghentikannya Saya

berikan suara untuk Gubernur, dan menurut saya dia orang baik. Ya. Terima kasih juga."

Mahasiswa kulit hitam itu berusia akhir dua puluhan. Ia memberitahu operator hotline bahwa ia warga kulit hitam Mississippi, sangat menentang gagasan yang diperjuangkan Sam Cayhall dan Ku Klux Klan, tapi bagaimanapun juga menentang eksekusi ini. "Pemerintah tak berhak menentukan hidup-mati orang," katanya. Dalam keadaan apa pun ia tidak mendukung hukuman mati.

Demikianlah hal itu berlangsung. Telepon membanjir dari segala penjuru negara bagian itu, susul-menyusul, masing-masing dari orang yang berlainan dengan alasan berlainan untuk menghend-kan eksekusi tersebut. Mahasiswa-mahasiswi itu jsdi kreatif, mencoba segala macam aksen dan alasan-alasan baru. Sekali-sekali telepon mereka terantuk sinyal sibuk, dan rasanya menggelikan mengetahui mereka telah memadati hotline tersebut. Karena aksennya yang tegas, Goodman mengambil peran sebagai orang luar, semacam abo-lisionis hukuman mati yang berdatangan dari segala penjuru negeri dengan berbagai nama alias dan tempat asal yang sangat bervariasi.

Goodman pernah mengkhawatirkan McAllister cukup paranoid untuk melacak telepon-telepon ke hotline-nya, tapi ia memutuskan operator-operator itu akan terlalu sibuk.

Dan mereka memang sibuk. Di sisi lain kota itu John Bryan Glass membatalkan kuliah dan

mengunci piatu ke kantornya, la bergembira

menelepon berulang-ulang dengan berbagai rtia^

nama. Tak jauh darinya, Hez Kerry dan salah SJ pengacara stafnya juga membombardir hotktk dengan pesan yang sama.

Adam bergegas ke Memphis. DarJene ada di kan. tornya, sia-sia berusaha mengatur gunungan dokumen, fa menunjuk ke satu tumpukan yang pj. img dekat ke komputer. "Keputusan menolak pe- i ninjauan ulang ada di atas, lalu keputusan dan* I Mahkamah Agung Mississippi. Di sampingnya I adalah petisi habeas corpus yang akan diajukan k pengadilan distrik federal. Aku sudah mengirimkan semuanya dengan fox."

Adam melepas jas dan melemparkannya ke kursi. Ia melihat sederet pesan telepon pada kertas merah jambu yang ditempel pada rak baku "Siapa orang-orang ini?"

"Reporter, penulis, pembual, beberapa adalah pengacara lain yang menawarkan bantuan. Satu dari Garner Goodman di Jackson. Katanya analisis pasar itu berjalan baik, jangan menelepon. Apakah analisis pasar itu?"

"Jangan tanya. Tidak ada kabar dari fifth Gt- t cwttT Tidak."

Adam menghela napas dalam dan duduk di . kursi.

"Makan siang?" tanya Darlene.

"Sandwich saja, kalau kau tidak keberatan. Bisakah kau bekerja besok dan hari Minggu?"

"Tentu.".

"Aku butuh kau tinggal di sini selama akhir pekan, di samping telepon dan fax. Maaf."

"Aku tidak keberatan. Akan kuambilkan sandwich."

Ia berlalu, menutup pintu di belakangnya. Adam menelepon kondominium Lee. Tak ada jawaban. Ia menelepon Auburn House, tapi tak seorang pun mendengar kabar darinya. Ia menelepon Phelps Booth yang sedang rapat direksi. Ia menelepon Carmen di Berkeley dan menyuruhnya bersiap terbang ke Memphis hari Minggu.

Ia melihat pesan-pesan telepon itu dan memutuskan tak satu pun patut dibalas.

Pukul 13.00, Mona Stark bicara dengan orang-orang pers yang berkeliaran di sekitar kantor Gubernur di gedung kapitol. Ia mengatakan bahwa setelah mempertimbangkan banyak hal. Gubernur memutuskan mengadakan sidang mempertimbangkan pengampunan pada hari Senin pukul 10.00. Dalam kesempatan itu, Gubernur akan mendengarkan berbagai persoalan dan dalih, serta mengambil keputusan yang adil. Ia menjelaskan bahwa menimbang hidup atau mati merupakan tanggung jawab yang luar biasa berat, namun David McAllister akan melakukan apa yang adil dan benar.

EMPAT PULUH SATU

Packer pergi ke sel pada pukul 05.30 hari Sabtu dan tak peduli dengan borgol. Sam sedang roe. nunggu dan mereka diam-diam meninggalkan Tier A. Mereka berjalan melewati dapur tempat para narapidana sedang menggoreng telur dan bacon, I Sam belum pernah melihat dapur, dan ia berjalan perlahan-lahan, menghitung langkah, memeriksa 1 ukurannya. Packer membuka sebuah pintu dan memberi tanda pada Sam agar bergegas dan mengikuti. Mereka melangkah ke luar, dalam kegelapan. Sam berhenti dan memandang mangan bata persegi di sebelah kanan, bangunan kecil tempat Kamar Gas. Packer menarik sikunya dan mereka berjalan bersama ke ujung timur The Row, tempat satu penjaga lain sedang mengawasi dan menunggu. Penjaga itu mengangsurkan secangkir besar kopi kepada Sam, lalu membawanya melewati gerbang, ke dalam halaman rekreasi yang mirip tempat bermain di ujung barat The Row. Tempat Ha dipagari dan dipasangi kawat duri,

dengan ring bola basket dan dua bangku. Packet

mengatakan akan kembali satu jam lagi, dan berlalu bersama si penjaga.

Sam berdiri lama di tempatnya, menghirup kopi panas dan menyerap pemandangan di sana. Sel pertamanya terletak di Tier D, di sayap timur, dan ia sudah berkali-kali ke sini. la tahu ukurannya dengan tepat—lima belas setengah kali sebelas meter, la melihat penjaga di menara yang sedang duduk di bawah lampu dan mengawasinya. Di balik pagar dan melalui bagian atas deretan tanaman kapas, ia bisa melihat lampu gedung-gedung lain. Ia berjalan perlahan-lahan ke sebuah bangku dan duduk.

Sungguh baik orang-orang ini, mengabulkan perrmntaannya untuk terakhir kalinya menyaksikan matahari terbit. Sudah sembilan setengah tahun ia tak pernah melihatnya. Pada mulanya Nugent bilang tidak, lalu Packer turun tangan dan menjelaskan pada sang Kolonel bahwa itu tidak apa-apa, tak ada risiko keamanan apa pun, dan peduli amat, orang ini akan mati empat hari lagi. Packer akan bertanggung jawab.

Sam melihat langit timur, tempat secercah cahaya Jingga mengintip melalui awan yang bertebaran. Pada hari-hari pertamanya di The Row, ketika pengajuan bandingnya masih segar dan belum diputuskan, ia menghabiskan waktu berjam-jam mengingat kesibukan membosankan dari kehidupan sehari-hari, hal-hal kecil seperti mandi air

n an gat tiap hari, kehadiran anjingnya, madu pada biskuitnya. Saat itu ia benar-benar pg bahwa suatu hari ia akan bisa kembali f,e % bajing dan burung puyuh, memancing ifc^ \

dan bream, duduk-duduk di teras dan meny^?*1 matahari terbit, minum kopi di kota, dan menp darai pickup tuanya ke mana saja ia mau. ' nya dalam angan-angan awal di The Row arj^ terbang ke California dan mencari cucu-cucuoy. Ia tak pernah terbang.

Namun impian akan kebebasan telah lama rm terhapus kehidupan monoton yang membosanka»' dalam sel, dan terbunuh pendapat kasar banyak hakim.

Matahari terbit ini akan jadi yang terakhir bagi- i nya. la benar-benar percaya itu. Terlalu banyak j orang menginginkannya mati. Kamar gas- tidak c», j kup sering dipakai. Sudah saatnya melaksanakan J satu eksekusi, terkutuk, dan ia orang berikutnya f dalam antrean.

Langit makin terang dan awan menipis. Meski- I pun ia terpaksa menyaksikan fenomena alam yang luar biasa ini melalui pagar kawat, hal itu tetap memuaskan. Tinggal beberapa hari lagi dan pagar-pagar itu akan lenyap. Jeruji besi, kawat duri, dan I sel penjara akan ditinggalkan untuk orang lain.

Dua wartawan merokok dan minum kopi dari me- : sin sambil menunggu di samping pintu masak i gedung kapitol pada pagi hari Sabtu. Ada kabar

ang bocor bahwa Gubernur akan melewatkan satu hari yang panjang di kantornya, berkutat dengan masalah Cayhall.

Pukul 07.30, mobil Lincoln hitamnya menggelinding sampai berhenti di dekat gedung, dan ia cepat-cepat keluar. Dua pengawal pribadi berpakaian rapi mengawalnya ke pintu masuk, bersama Mona Stark beberapa langkah di belakang.

"Gubernur, apakah Anda merencanakan menghadiri eksekusi?" reporter pertama bertanya terburu-buru. McAllister tersenyum dan mengangkat tangan, seolah-olah ingin berhenti dan bercakap-cakap tapi urusan terlalu kritis untuk itu. Kemudian ia melihat sebuah kamera tergantung pada leher reporter satunya.

"Saya belum lagi memutuskan," jawabnya, berhenti cuma sedetik.

"Apakah Ruth Kramer akan memberikan kesaksian dalam sidang pertimbangan pemberian pengampunan hari Senin nanti?"

Kamera diangkat dan siap. "Saya tak bisa mengatakannya sekarang," jawabnya, tersenyum ke lensa. "Maaf, sobat, saya tidak bisa bicara sekarang."

la memasuki gedung dan naik lift ke kantornya di lantai dua. Pengawal-pengawal itu mengambil posisi di serambi, di belakang surat kabar pagi.

Pengacara Larramore sedang menunggu dengan laporan terakhir. Ia menerangkan kepada Gubernur dan Miss Stark bahwa tak ada perubahan dalam

berbagai petisi dan dalih Cayhall sejak pgy 17.00 kemarin. Tak ada apa pun yang terjadj malam itu. Menurutnya, petisi-petisi itu jadi lebjjj mendesak, dan pengadilan akan menolaknya Hit cepat. Ia sudah bicara dengan Morris Henry dj kantor Jaksa Agung, dan menurut penilaian ahli Dr. Death, sekarang peluang eksekusi itu bakal terlaksana adalah delapan puluh persen.

"Bagaimana dengan sidang pemberian pengampunan hari Senin? Apakah ada kabar dari peng- J acara Cayhall?1* tanya McAllister.

"Tidak. Saya sudah minta Garner Goodman un- | tuk mampir pukul sembilan pagi ini. Saya pikir f kita akan membicarakan hal ini dengannya. Saya I akan berada di kantor kalau Anda membutuhkan j saya"

Larramore minta diri. Miss Stark melaksanakan ritual pagi, membaca cepat harian-harian dari seluruh negara bagian dan meletakkannya di meja j rapat. Dari sembilan surat kabar yang ia pantau, f delapan memuat berita kasus Cayhall di halaman ' depan. Pengumuman akan diadakannya sidang pertimbangan pengampunan menjadi sorotan khusus Sabtu pagi. Tiga dari koran-koran itu memuat foto AP tentang orang-orang kian yang terpanggang di I bawah matahari bulan Agustus yang ganas di Juar Parchman.

McAllister melepas jas, menggulung lengan kemeja, dan mulai melihat koran-koran itu. "Ambil : angkanya," katanya tingkat.

Mona meninggalkan kantor, dan kembali kurang dari satu menit. Ia membawa printout komputer yang jelas membawa kabar mengerikan. "Aku mendengarkan," katanya. "Telepon-telepon itu berhenti sekitar pukul sembilan semalam, yang terakhir pukul 21.07. Jumlah keseluruhan hari itu adalah 486, dan sedikitnya sembilan puluh persen menyatakan tantangan keras terhadap eksekusi tersebut."

"Sembilan puluh persen." McAllister tercengang, tak percaya. Namun ia tak lagi terguncang. Siang kemarin, para operator hotline melaporkan telepon masuk dalam jumlah yang luar biasa, dan pukul 13.00 Mona menganalisis printout. Mereka menghabiskan banyak waktu kemarin siang untuk memandangi angka-angka itu, merenungkan langkah selanjurnya. Ia hanya tidur sedikit

"Siapakah orang-orang ini?" katanya sambil menatap ke luar jendela.

"Pemilih Anda. Telepon-telepon ini datang dari seluruh penjuru negara bagian. Nama-nama dan nomor-nomornya kelihatannya benar." "Bagaimana catatan terdahulu?" "Entahlah. Rasanya kita menerima sekitar seratus telepon sehari, ketika DPR memutuskan kenaikan gaji bagi anggotanya Tapi tidak seperti ini." ' "Sembilan puluh persen," gumamnya lagi. "Dan masih ada lagi. Ada banyak telepon masuk ke berbagai nomor di kantor ini. Sekretaris saya menerima sekitar selusin."

Tfn\ semuanya menenun»: eksekusi Saya ^ bicara dengan beberapa orang kita, dan «*mt^ mendapat telepon macam itu. Dan Roxburgh ^ nelepon saya di rumah tadi malam, mengata-kantornya diserbu dengan telepon yang mentm^ eksekusi tersebut '

"Bagus Aku ingin dia berkeringat juga."

"Apakah kita akan menutup hotlineT

"Berapa operator yang bekerja pada han Sj^ dan Minggu?"

"Hanya satu."

"Tidak. Biarkan terbuka han ini. Coba km apa yang terjadi han ini dan besok." la beo*!* ^ jendela lain dan mengendurkan dasi Kapan pen$. hitungan pol muistT

kan kepala.

"Sembilan puluh persen lebih.* ralat Mona. Ruang pertempuran itu dipenuhi kotak piuo dan

Satu nampan berisi donat hangat dan wderrt cast; ¦a? kertas tinggi berisi kopi ¦«•karang menungg» para analis itu. dua di antaranya baru saja tiba

kapital tiga blok dari sana. dan memberikan per-h.ni.m khusus pada jendela kantor Gubernar. Saat

bosan kemarin, ia pergi ke pusat pertokoan, mencari toko buku. la menemukan teropong l,u * jendela sebuah toko kulit, dan sepanjang uang ia bersenang-senang mengintip Gubernur sedang berpikir di jendelanya, tak disangsikan lagi tentu bertanya-tanya dari mana telepon-telepon terkutuk itu berasal

Mahasiswa-mahasiswa . itu melahap donat dan surat kabar. Terjadi suatu diskusi pendek tapi serius mengenai kekurangan procedural dalam undang-undang pembelaan setelah vonis dijatuhkan Anggota ketiga dalam shift mi, seorang mahasiswa tahun pertama dari Nov Orleans, tiba pukul 08.00, dan telepon itu dimulai.

Segera jelas bahwa hntlint itu tidak seefisien «hari sebelumnya Sulit menghubungi operator. Tak ada masalah. Mereka memakai nomor-nomor lain telepon di istana Gubernur, kantor-kantor re-ponsJ kecil yang ia dinkan di tengah-tengah penggemar di seluruh penjuru negara bagian sehingga ia. sebagai orang biasa, bisa berada dekat dengan rakyat Rakyat menelepon.

Goodman meninggalkan kantor dan berjalan menyusuri Congress Street, menuju gedung kapital, la mendengar suara kmdsptaktr sedang dicoba, dan kemudian melihat orang orang Ku Khu Klan. Mereka sedang mengatur diri, sedikitnya

781

satu lusin berpakaian parade lengkap, di sekelii

«'S

monumen wanita. Konfederasi di dasar pan menuju gedung kapitol. Goodman berjalan dj samping mereka, bahkan mengucapkan halo pada salah satunya, sehingga bila kembali ke Q]j. cago, ia bisa mengatakan dirinya pernah bicara dengan orang Ku Klux Klan asli.

Dua reporter yang sudah menunggu Gubernur sekarang berada di tangga depan, menyaksikan pemandangan di bawah. Satu kru televisi lokal riba ketika Goodman memasuki gedung.

Gubernur terlalu sibuk untuk menemuinya, Mona Stark menjelaskan dengan prihatin, tapi Mr. i Larramore bisa memberi waktu beberapa menit, Ia tampak amat letih, dan ini membuat Goodman sangat senang. Ia mengikutinya ke kantor Lar- j ramore. Mereka menemukan sang pengacara se- | dang bicara di telepon. Goodman berharap in salah satu teleponnya Ia duduk dengan patuk Mona menutup pintu dan meninggalkan mereka,

"Selamat pagi," kata Larramore setelah selesai bicara.

Goodman mengangguk sopan dan berkata, "Terima kasih atas sidang itu. Kami tidak berharap Gubernur akan mengabulkannya, mengingat apa yang dikatakannya hari Rabu kemarin."

"Dia mengalami banyak tekanan. Kami semua. Apakah klien Anda bersedia bicara tentang asistennya?"

Tidak. Tak ada perubahan."

Larramore menyisir rambutnya yang lengket dengan jari dan menggelengkan kepala dengan kesal. "Kalau begitu, apa gunanya diadakan sidang pertimbangan pengampunan? Gubernur takkan mengubah keputusan ini, Mr, Goodman."

"Kami sedang membujuk Sam, oke? Kami sedang bicara dengannya. Mari kita teruskan dengan sidang itu hari Senin. Mungkin Sam akan berubah pikiran."

Telepon berdering dan Larramore mengangkatnya dengan marah. "Bukan, ini bukan kantor Gubernur. Siapa ini?" Ia menuliskan satu nama dan nomor telepon. "Ini bagian hukum gubernuran." Ia memejamkan mata dan menggelengkan kepala. "Ya, ya, saya yakin Anda memberikan suara untuk Gubernur." Ia mendengarkan lebih jauh. "Terima kasih, Mr. Hurt. Akan saya sampaikan pada Gubernur bahwa Anda menelepon. Ya, terima kasih."

Ia mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. "Jadi, Mr. Gilbert Hurt dari Dumas, Mississippi, tidak setuju dengan eksekusi itu," katanya, menatap ke telepon. "Telepon di sini jadi gila."

"Banyak telepon masuk, ya?" tanya Goodman, bersimpati. "Anda takkan percaya" "Setuju atau tidak?"

"Bisa saya katakan fifty-fifty," kata Larramore. Ia kembali mengangkat telepon dan menekan nomor Mr. Gilbert Hurt dari Dumas, Mississippi. Tak seorang pun menjawab. "Aneh," katanya sam-

7r3

bil meletakkan kembali gagang telepon "0 bara saja menelepon, meninggalkan nom 81,11 ! benar, sekarang tak ada jawaban." Vang

"Mungkin baru saja keluar. Coba iagi ! Goodman berharap ia tak punya waktu UnLnanti1 coba lagi nanti. Selama satu jam pertama arrr pasar kemarin, Goodman melakukan sedikit ubahan teknik. Ia menginstruksikan para n Pet" ponnya untuk lebih dulu memeriksa nomor tel6 6 tersebut, memastikan tak ada jawaban, hi 00^ mencegah orang-orang yang suka ingin tahu ma ! cam Larramore atau mungkin operator hotliiu yang usil menelepon kembali dan menemukan orang sebenarnya. Besar kemungkinan orang ter-sebut sangat mendukung hukuman mati. hi memang memperlambat pekerjaan, tapi Goodman merasa lebih aman.

"Saya sedang menyusun rancangan sidang itu, berjaga-jaga kalau benar akan dilaksanakan," kata. Larramore. "Kita mungkin akan melaksanakannya di House Ways and Means Committee Room, di ujung gang ini." "Apakah ini sidang tertutup?" "Tidak. Apakah itu jadi masalah?" "Kami punya sisa empat hari, Mr. Larramore. Segalanya jadi masalah. Tapi Gubernur berhak menentukan sidang ini. Kami. hanya bersyukur dia mengadakannya."

"Saya punya nomor Anda. Tetaplah berhubungan."

784

a takkan meninggalkan Jackson sampai Mereka berjabat tangan cepat dan Goodman me-iinggaJkan kantor. Ia duduk di tangga depan se-IgBH setengah jam, menyaksikan orang-orang Klan gengatur diri dan menarik perhatian orang-orang

'ahli.

785

EMPAT PULUH DUA

Meskipun di waktu muda pernah memakai jubah putih dan kerudung runcing. Donnie Cayhall menjaga jarak dengan deretan orang Klan yang berpatroli di lapangan rumput dekat gerbang depan Pare h man. Keamanan dijaga ketat, dengan penjaga-penjaga bersenjata mengawasi para pemrotes. Di samping payung besar tempat orang-orang Klan berkumpul ada sekelompok skinhead dengan kemeja cokelat. Mereka memegang spanduk menuntut pembebasan Sam Cayhall.

Donnie -melihat pemandangan itu sebentar, lalu mengikuti petunjuk seorang penjaga dan parkir di tepi jalan raya. Namanya diperiksa di gardu jaga, dan beberapa menit kemudian sebuah van penjara datang menjemputnya. Kakaknya sudah sembilan setengah tahun di Parchman. dan Donnie mencoba mengunjungi sedikitnya sekait setahun. Namun kunjungan terakhir adalah dua tahun yang lalu, ia malu mengakui Donnie Cayhall berumur 61 tahun, termuda di

786

antara enin-n k

ikuti ajaran Li,dara C**hM- Semuanya meng-„„„„ L dJ"an mereka dan bergabung dengan Klan pada usia belasan tahun. Keputusan itu sederhana, tanpa banyak pemikiran-keputusan yang diharapkan seluruh keluarga. Kelak ia b*> gabung dalam ketentaraan, berperang di Korea, dan keliling dunia. Dalam proses tersebut, ia kehilangan minat memakai jubah dan membakari salib. Ia meninggalkan Mississippi pada tahun 1961 dan bekerja pada perusahaan mebel di North Carolina Ia sekarang tinggal dekat Durham.

Sedap bulan sepanjang sembilan setengah tahun, ia mengirimi Sam satu kardus rokok dan sedikit uang. Ia menulis beberapa surat, tapi baik ia maupun Sam tidak berminat dalam surat-menyurat. Tak banyak orang di Durham yang tahu bahwa ia punya kakak di death row.

Ia digeledah di pintu depan, dan ditunjuki jalan ke kantor depan. Sam dibawa beberapa menit kemudian, dan mereka dibiarkan sendiri. Donnie memeluknya lama-lama. Ketika saling melepaskan pelukan, mata mereka berdua berkaca-kaca. Tinggi dan perawakan mereka mirip, meskipun Sam kelihaian dua puluh tahun lebih tua. Ia duduk di pinggir meja dan Donnie mengambil kursi di dekatnya.

Mereka berdua menyalakan rokok dan menerawang ke awang-awang. "Ada kabar baik?" Donnie akhirnya bertanya,

yakin akan jawabannya.

Tidak. Sama sekali tidak ada. Berbagai adilan menolak segalanya. Mereka akan melalu kannya, Donnie." Mereka akan membunuhku. 1^

reka akan menggiringku ke kamar gas dan me. 1 ngegasku seperti binatang."

Wajah Donnie menunduk. "Aku ikut sedih, Sam."

"Aku juga, tapi persetan, aku akan senang bila semuanya selesai."

"Jangan berkata begitu."

"Aku sungguh-sungguh. Aku muak hidup dalam sangkar. Aku sudah tua dan saatku sudah tiba."

Tapi kau tak layak dibunuh, Sam."

Itulah bagian terberat, kau tahu. Bukan karena aku akan mati, persetan, kita semua akan mati, Aku cuma tak tahan memikirkan bangsat-bangsat ini bersenang-senang membunuhku. Mereka akan menang. Dan hadiah mereka adalah mengikatku dan menyaksikan aku tersedak. Gila."

Tak bisakah pengacaramu melakukan sesuatu?"

"Dia mencoba segalanya, tapi tampaknya tak ada harapan. Aku ingin kau menemuinya."

"Aku melihat fotonya di surat kabar. Dia tidak mirip golongan kita."

"Dia beruntung. Tampangnya lebih mirip ibunya."

"Bocah yang cerdas?"

Sam tersenyum. "Yeah, dia hebat. Dia benar benar bersedih atas hal ini." "Apakah dia akan ke sini hari ini?" "Mungkin. Aku belum dengar kabar darinys

pia tinggal bersama Lee di Memphis," kata Sam dengan bangga. Karena dirinya, putri dan cucunya jadi dekat, bahkan tinggal bersama dengan rukun.

"Aku bicara dengan Albert pagi ini," kata Donnie. "Katanya dia terlalu sakit untuk datang menjenguk."

"Bagus. Aku tak menginginkannya di sini. Aku juga tidak menginginkan anak-anak dan cucu-cucunya."

"Dia ingin datang, tapi tak bisa." "Suruh dia datang saat penguburan." "Sudahlah, Sam."

"Dengar, tak seorang pun akan menangisiku saat aku mati. Aku tak ingin belas kasihan palsu sebelum itu.

"Aku perlu sesuatu darimu, Donnie, dan itu butuh sedikit uang." "Tentu. Apa saja."

Sam menarik pinggang pakaian terusan merahnya "Kaulihat benda sialan ini? Mereka menyebutnya si merah, dan aku sudah memakainya setiap hari selama hampir sepuluh tahun. Inilah yang diharapkan Negara Bagian Mississippi untuk kupakai saat mereka membunuhku. Tapi, kau tahu, aku punya hak memakai apa pun yang kuinginkan. Aku ingin mati dengan pakaian yang layak."

Donnie mendadak terbawa emosi, la mencoba bicara, tapi tak ada kata-kata yang keluar. Matanya basah dan bibirnya gemetar. Ia mengangguk dan berhasil mengatakan, "Tentu, Sam."

"Kau tahu celana kerja yang dinaroav Dickies? Bertahun-tahun aku memakainya, Sep^l celana khaki."

~- Donnie masih mengangguk-angguk.

"Celana seperti itu akan menyenangkan, deng^ kemeja putih, bukan pullover, tapi kemeja b», kancing. Kemeja small, celana small, pinggang ukuran 32. Sepasang kaus kaki putih, dan sepatu murah an. Persetan, aku cuma akan memakainya sekali, kan? Pergilah ke Wal-Mart atau entah ke ! mana. Kau mungkin bisa mendapatkan semuanya dengan harga kurang dari tiga puluh dolar. Kas tidak keberatan?"

Donnie menyeka mata dan mencoba tersenyum, ; Tidak, Sam."

"Aku akan jadi pesolek, kan?"

"Di mana kau akan dikuburkan?"

"Clanton, di samping Anna. Aku yakin itu akan mengusik istirahatnya yang damai. Adam akan mengurasnya"

"Apa lagi yang bisa kulakukan?"

Tidak ada. Cukup kalau kau membawakan pakaian untuk ganti."

. "Aku akan mengerjakannya hari ini."

"Kaulah satu-satunya orang di dunia yang peduli padaku selama bertahun-tahun ini, tahukah kau? Bibi Barb menulisiku surat selama bertahun-tahun sebelum meninggal, tapi suratnya selalu kaku dan kering, dan kurasa dia melakukannya supaya bisa bercerita pada tetangga."

"Siapa i»1 Bibi Barb?"

"Ibu Hubert Cain. Aku bahkan tidak yakin dia „asih sanak kita. Aku hampir tak mengenalnya sampai tiba di sini, lalu dia mulai mengirim surat-surat yang menyebalkan itu. Perasaannya terkoyak-koyak oleh fakta bahwa salah satu anggota keluarganya dikirim ke Parchman." "Semoga dia beristirahat dengan damai." Sam terkekeh dan teringat pada cerita lama semasa kecil. Ia menceritakannya dengan antusias, dan beberapa menit kemudian dua bersaudara itu tertawa keras. Donnie teringat pada kisah lain, dan demikianlah pertemuan itu berlangsung selama satu jam.

Saat Adam tiba Sabtu sore, Donnie sudah berjam-jam berlalu. Ia dibawa ke kantor depan. Di situ ia menggelar beberapa surat kabar di meja. Sam dibawa masuk, borgolnya dilepaskan, dan pintu ditutup di belakang mereka. Ia membawa beberapa amplop lagi, yang langsung dilihat Adam. "Ada tugas lagi untukku?" tanyanya curiga. . "Yeah, tapi ini bisa menunggu sampai segalanya selesai." "Untuk siapa?"

"Satu untuk keluarga Pinder yang kubom di Vicksburg. Satu untuk sinagoga Yahudi yang kubom di Jackson. Satu untuk agen real estate Yahudi itu, juga di Jackson. Mungkin ada lainnya. Tak perlu tergesa-gesa, aku tahu kau sedang sibuk

sekarang. Tapi setelah aku pergi, aku akan fe, terima kasih kalau kau melaksanakannya."

"Apa isi surat-surat ini?"

"Menurutmu apa?"

"Entahlah. Kurasa kau mengatakan menyesal."

"Bocah pintar. Aku minta maaf atas perbuatan. I ku, bertobat atas dosa-dosaku, dan meminta me- I reka memaafkanku."

"Mengapa kau melakukan ini?"

Sam berhenti dan bersandar pada lemari arsip, 1 "Sebab aku duduk dalam sangkar sempit sepanjang I hari. Sebab aku punya mesin tik dan banyak kertas. Aku bosan setengah mati, oke? Jadi, mungkin aku ingin menulis. Karena aku punya had nurani, tidak begitu besar, tapi ada, dan makin dekat ajal, makin bersalah saja perasaanku tentang semua yang telah kulakukan."

"Maaf. Surat-surat itu akan kukirim." Adam melingkari sesuatu pada checklist. "Kita masih punya dua dalih. Pengadilan Fifth Circuit masih berlama-lama dengan klaim ketidakefektifan bantuan hukum. Aku mengharapkan akan muncul sesuatu sekarang, tapi sudah dua hari tak ada gerakan. Pengadilan distrik masih memproses klaim inkompeten-si mental."

"Percuma, Adam."

"Mungkin, tapi aku takkan menyerah. Akan kuajukan selusin petisi lagi kalau perlu." "Aku takkan menandatangani apa-apa lagi. Kau

tak bisa mengajukannya kalau aku tidak menan-(jatanganinya." "Bisa. Ada banyak cara.' "Kalau begitu, kau dipecat." "Kau tak bisa memecatku, Sam. Aku cucumu." "Kita punya perjanjian yang mengatakan aku bisa memecatmu kapan saja aku mau. Perjanjian itu tertulis hitam di atas putih."

"Itu dokumen yang tidak kompeten, dikonsep oleh ahli hukum penghuni penjara yang baik, tapi toh tidak kompeten secara fatal."

Sam menyedot dan mengepulkan asap rokok dan mulai berjalan lagi di deretan tegel. Setengah .tasin kali ia lewat di depan Adam, pengacaranya kini, besok, dan sepanjang sisa hidupnya, la tahu tak bisa memecatnya.

"Akan diadakan sidang pertimbangan pemberian pengampunan pada hari Senin," kata Adam, melihat buku tulis, dan menunggu ledakan. Namun Sam menerimanya dengan baik, kakinya tak pernah berhenti melewatkan satu langkah pun. "Apa tujuan sidang itu?" "Memohon pengampunan." "Kepada siapa?" "Gubernur."

"Dan kaupikir Gubernur akan mempertimbangkan memberiku pengampunan?" "Apa ruginya?"

"Jawab pertanyaan itu, bocah sok pintar. Apakah kau, dengan segala pendidikan, pengalaman,

dari kecemerlangan yudisialmu, serius mengharap, lean gubernur ini memberikan pengampunan paj, ku?" "Mungkin."

"Mungkin gombal. Kau tolol" 'Terima kasih, Sam."

"Kembali." Ia berhenti tepat di depan Adam dan menudingkan saru jarinya yang bengkok pada Adam. "Sejak permulaan sudah kukatakan padamu bahwa aku, sebagai klien, dan dengan demikian I berhak dipertimbangkan pendapatnya sama sekali I tak mau berhubungan dengan David McAllister. I Aku takkan memohon pengampunan pada si go- j blok itu. Aku takkan minta keringanan. Aku tak I mau mengadakan kontak dengannya dalam ke- I adaan apa pun. Itu kehendakku, dan aku sudah j menjelaskan hal ini dengan tegas kepadamu, anak I muda, sejak hari pertama. Kau sebaliknya, sebagai I pengacara, telah mengabaikan keinginanku dan se- ¦ enaknya bersenang-senang melakukan apa yang J kauinginkan. Kau pengacara, tidak kurang tidak j lebih. Aku, sebaliknya, adalah klien. Aku tak tahu I apa yang mereka ajarkan di sekolah hukum cang- j gih itu, tapi akulah yang mengambil keputusan."

Sam berjalan ke kursi kosong dan memungut j satu amplop lain. Ia mengangsurkannya pada I Adam dan berkata, "Ini surat untuk Gubernur, I memintanya membatalkan sidang hari Senin. Kalau i kau menolak sidang itu dibatalkan, aku akan mem- i buat copy mm ini dan menyebarkannya kepada

pers. Aku akan mempermalukanmu dan Gamer Goodman, serta Gubernur. Kau mengerti?'' "Cukup jelas."

Sam mengembalikan amplop itu ke kursi, lalu menyalakan sebatang rokok lagi. Adam membuat satu lingkaran lagi pada daftarnya. "Carmen akan ke sini hari Senin. Aku tidak pasti dengan Lee."

Sam bergeser ke kursi dan duduk. Ia tidak memandang Adam. "Apakah dia masih di lembaga rehabilitasi?"

"Ya dan aku tidak pasti kapan dia keluar. Kau ingin dia datang berkunjung?"

"Coba kupikir dulu."

"Pikirkanlah cepat-cepat, oke?"

"Lucu, sungguh lucu. Saudaraku Donnie tadi datang. Dia adikku, kau tahu. Dia ingin bertemu denganmu."

"Apakah dia pernah bergabung dengan Klan?" "Pertanyaan macam apa itu?" "Ini pertanyaan ya atau tidak yang sederhana" "Ya. Dia pernah jadi anggota Klan." "Kalau begitu, aku tak ingin bertemu, dengannya."

"Dia bukan orang jahat."

"Aku percaya kata-katamu."

"Dia adikku, Adam. Aku ingin kau menemui

adikku."

"Aku tidak mau bertemu dengan Cayhall-Cayhall baru, Sam, apalagi yang suka mengenakan jubah dan kerudung."

795

"O ya? Padahal tiga minggu yang lalu kau «w tahu segalanya tentang keluarga kita. Tenis ^ tanya ini-iru."

"Aku menyerah, oke? Sudah cukup aku o*» dengar."

"Oh, (api masih banyak yang lain." "Cukup, cukup, tak usah diceritakan padaku." Sam menggerutu dan tersenyum puas sendiri, j Adam melihat catatannya dan berkata, "Kau aku senang mengetahui orang-orang Klan di luar sana I sekarang disusul kelompok Nazi, Arya, skinhead, I dan kelompok pembenci lainnya. Mereka berbaris I di sepanjang jalan raya, melambai-lambaikan pas- [ ler pada mobil-mobil yang lewat Poster-poster itu, I tentu saja, menuntut kebebasan Sam Cayhall, pan- i lawan mereka. Sirkus biasa." "Aku melihatnya di televisi." "Mereka juga berbaris di Jackson, di sekitar J gedung kapitol." "Apa ini salahku?"

"Bukan. Ini eksekusimu. Kau jadi simbol se- { karang. Akan jadi martir." "Apa yang harus kulakukan?" Tidak ada. Teruskan saja dan mati, dan mereJca semua akan senang." "Apakah kau bukan bangsat hari ini?" "Maaf, Sam. Tekanan ini mempengaruhiku." "Menyerah saja. Aku sudah melakukannya. Aku sangat merekomendasikannya," "Lupakan saja. Aku telah membuat badut-badttt ¦

itu lari jungkir balik, Sam. Aku belum lagi bertempur." ,

'Teah, kau sudah mengajukan tiga petisi, dan tujuh pengadilan semua menolakmu. Nol banding tujuh- Aku benci melihat apa yang akan terjadi saat kau benar-benar ganas." Sam mengucapkan ini dengan senyum licik, dan humor itu mengenai sasaran. Adam tertawa, dan mereka berdua bernapas lebih lega. "Aku punya gagasan hebat untuk mengajukan gugatan setelah kau pergi," katanya, pura-pura bergembira. "Sesudah aku pergi?"

Tentu. Kita gugat mereka mengakibatkan ke-matian yang tidak sah. Kita tuding McAllister, Nugent,- Roxburgh, Negara Bagian Mississippi Kita seret semua orang."

"Itu belum pernah dilakukan," kata Sam sambil membelai jenggot, seolah-olah berpikir keras.

"Yeah, aku tahu. Semua itu kupikirkan sendiri. Kita mungkin takkan memenangkan satu peser pun, tapi bayangkan keramaiannya. Aku akan menganiaya bangsat-bangsat itu selama lima tahun mendatang."

"Kau mendapat izinku untuk mengajukannya. Gugat mereka!"

Senyum mereka perlahan-lahan lenyap dan humor tersebut menghilang. Adam menemukan hal lain dalam cheeklist-nya. "Cuma beberapa hal lagi. Lucas Mann memintaku menanyakan saksi-saksimu. Kau berhak menunjuk dua orang untuk hadir

dalam ruang saksi, kalau urusan berlanjut samp* sejauh itu."

"Donnie tak mau melakukannya. Aku takkan mengizinkanmu berada di sana. Aku tak bisa membayangkan orang lain lagi yang ingin nte-nyaksifcannya."

"Baiklah. Bicara tentang mereka, aku sedikitnya menerima tiga puluh permintaan untuk wawancara. Sebenarnya sedap surat kabar dan majalah terkemuka ingin mendapatkan hak itu." Tidak/

"Baiklah. Ingat penulis yang kita bicarakan pada pertemuan terakhir—Wendall Sherman? Orang yang ingin merekam kisahmu dan..." "Yeah, Untuk 50.000 dolar." "Sekarang tawarannya seratus ribu. Penerbitnya akan menyediakan uang itu. Dia ingin merekam I semuanya, menyaksikan eksekusi, melakukan riset j ekstensif, lalu menulis buku tebal tentang ini." Tidak." "Baiklah."

"Aku tak ingin menghabiskan tiga hari berikat J ini bicara tentang hidupku. Aku tak ingin ada orang asing mengendus-endus di Ford County. J Dan aku sama sekali tidak butuh seratus ribu dolar ] pada titik kehidupanku yang sekarang."

"Baik. Kau dulu pernah bicara tentang pakaian. yang ingin kaupakai." "Donnie sedang mengurusnya." "Oke. Selanjutnya. Seandainya rak ada penun-

/ dm< kau boleh ditemani dua orang pada jam-jam f terakhir. Seperti biasa, penjara punya formulir yang harus kautandatangani untuk menentukan orang-orang ini." "Orangnya selalu si pengacara dan pendeta, kan?" "Benar."

"Kalau begitu, orangnya adalah kau dan Ralph Griffin, kurasa."

Adam mengisikan nama-nama itu pada sehelai formulir. "Siapakah Ralph Griffin?"

"Pendeta baru di sini. Dia menentang hukuman mati, bisakah kau percaya? Pendahulunya berpendapat kami semua harus digas, dalam nama Yesus, tentunya."

Adam mengangsurkan formulir itu pada Sam. "Tanda tangani di sini."

Sam mencoretkan namanya dan mengangsurkan-nya kembali.

"Kau berhak melakukan hubungan suami-istri untuk terakhir kali."

Sam tertawa keras. "Sudahlah, Nak. Aku sudah tua."

"Itu tercantum dalam checklist, oke? Lucas Mann kemarin dulu membisiki aku bahwa aku hams menyebutkan hal ini."

"Oke. Kau sudah menyebutkannya."

"Aku punya formulir lain di sini untuk barang-barang pribadimu. Siapa yang akan menerimanya?"

"Maksudmu hartaku?"

"Kurang-Iebih."

"Ini luar biasa sinting, Adam u rang kita melakukannya?" ' en8apa

"Aku pengacara, Sam. Kami dibav nangani detail. Ini cuma masalah dok» *2 "Kau ingin barang-barangku?" men" Adam memikirkan hal ini sejenak ia menyakiti perasaan Sam, tapi juga tak V* ^ bayangkan apa yang akan dUakukannya Y**" pakaian tua yang lusuh, buku-buku kusut t?8*" kecil, dan sepatu mandi dari karet. "Tentu," kata^' "Kalau begitu, semuanya untukmu. Ambil !L bakarlah."

"Tanda tanganilah di sini," kata Adam, men. dorong formulir itu ke bawah wajahnya. Sam menandatangani, lalu melompat berdiri dan mulai mondar-mandir lagi. "Aku benar-benar ingin bn menemui Donnie."

"Baiklah. Apa pun yang kau mau," kata Adam, menjejalkan buku catatan dan formulir-formulir tadi ke dalam tas kerja. Perincian-perincian kecil itu sekarang sudah lengkap. Tas itu terasa jauh lebih berat.

"Aku akan kembali besok pagi," katanya kepada Sam.

"Bawa kabar baik untukku, oke?"

Kolonel Nugent berjalan pongah menyusuri tepi jalan raya, dengan selusin penjaga penjara bersenjata di belakangnya. Ia menatap tajam orang-orang Klan ta, yang pada hitungan terakhir bernur

dan ja cemberut pada orang-orang Nazi

260ian?' c0]celat, yang semuanya ada sepuluh ^"ja berhenti dan menatap kelompok skinhead 0,81,8 bercampur di sebelah kelompok Nazi. Ia ya"?lan angkuh mengelilingi tepian lapangan rum-

temp1* protes itu berlangsung, berhenti sejenak Suk bicara dengan dua biarawati Katolik yang duduk di bawah payung besar, sejauh mungkin dari para demonstran. Suhu saat itu nyaris men-capai 38 derajat Celcius, dan biarawati-biarawati itu terpanggang di bawah naungan. Mereka meneguk air es, poster-poster mereka bersandar di lutut, menghadap ke jalan raya.

Para biarawati itu menanyakan siapa dirinya dan apa yang ia inginkan. Dijelaskannya bahwa ia bertindak sebagai kepala penjara, dan hanya ingin memastikan demonstrasi itu berlangsung tertib.

Mereka memintanya pergi.

EMPAT PULUH TIGA

Mungkin ku karena hari Minggu, atau mungkin gara-gara hujan, tapi Adam minum kopi paginya dalam ketenteraman yang tak terduga. Hari masih gelap di luar. dan tetesan lembut gerimis hangat musim panas di teras terasa menyihir, (a berdiri di tengah pintu yang terbuka, mendengarkan tetesan hujan. Hari masih terlalu pagi untuk lalu lintas di Riverside di bawah. Tak ada suara dari perahu tambang di sungai. Semuanya hening dan damai.

Dan begitu banyak urusan yang harus dikerjakan hari ini. hari ketiga sebelum eksekusi. Ia akan mulai di kantor, tempat petisi detik terakhir lainnya harus disiapkan. Intinya begitu konyol, sampai Adam nyaris malu mengajukannya. Kemudian ia akan pergi ke Parchman dan duduk bersama Sam untuk bercakap-cakap

Rasanya takkan ada gerakan apa pun dari pengadilan pada hari Minggu. Itu mungkin karena para panitera pengurus hukuman mati dan staf mereka letalu siaga ketika eksekusi sudah mendekat Nfr

m „„i Jumat dan Sabtu berlalu tanpa keputusan Ta pun, dan ia siap menghadapi ketidakaktifan yang sama hari ini. Menurut pendapatnya yang tak terlatih dan belum teruji, besok keadaan akan jauh berbeda.

Besok tak akan ada apa-apa kecuali hiruk-pikuk. Dan hari Selasa, yang tentunya dijadwalkan menjadi hari terakhir Sam sebagai makhluk bernapas, akan jadi mimpi buruk penuh ketegangan.

Namun hari Minggu ini tenang luar biasa. Ia tertidur hampir tujuh jam, rekor baru belakangan ini. Kepalanya jernih, denyut nadinya normal, dan napasnya teratur. Pikirannya tenang dan tidak kusut.

Ia membalik-balik koran Minggu, memeriksa judul-judul berita, tapi tidak membaca apa pun. Sedikitnya ada dua berita tentang eksekusi Cayhall, satu dengan foto-foto lebih banyak tentang sirkus yang makin menghebat di luar gerbang penjara. Hujan berhenti ketika matahari muncul, dan ia duduk di kursi goyang basah selama satu jam, melihat-lihat majalah arsitektur milik Lee. Sesudah beberapa jam menikmati ketenangan dan keheningan, Adam bosan dan siap beraksi.

Ada urusan yang belum tuntas dalam kamar tidur Lee, urusan yang ingin dilupakan Adam tapi tak bisa. Sudah sepuluh hari sekarang, pertempuran tanpa suara berkecamuk dalam jiwanya tentang buku dalam laci Lee. Lee dalam keadaan mabuk ketika bercerita tentang foto pembunuh-sewenang-wenang itu. tapi'itu bukan .gauan se-

orang pecandu alkohol. Adam tahu buku itu ada Ada buku smgguhan dengan foto asli seorang laki-laki muda berkulit hitam tergantung pada tali dan di bawah kakinya ada segerombolan orang kulit purih yang bangga, bergaya di depan kamera, kebal terhadap tuntutan hukum. Secara mental ia sudah menyusun foto itu, menambahkan wajah-wajah, menggambarkan pohon itu, melukiskan talinya, menambahkan judui di bawahnya Namun adi beberapa bal yang tidak diketahuinya dan tak dapat ia bayangkan. Apakah wajah orang man' ini bisa terlihat? Apakah ia memakai sepatu atau bertelanjang kaki? Apakah Sam yang masih sangat muda bisa dikenali dengan mudah? Berapa banyak wajah putih dalam foto itu? Dan berapa usia mereka? Apakah ada wanita? Senapan? Darah? Lee mengatakan laki-laki itu dicambuk. Apakah cambuk ku ada dalam foto? Sudah berhari-hari ia membayangkan foto itu, dan sudah tiba saatnya melihat buku tersebut. Ia tak bisa menunggu sampai nanti. Lee mungkin akan kembali segar bugar. Ia mungkin akan memindahkan buku itu, menyembunyikannya lagi. la merencanakan akan menghabiskan dua atau tiga malam mendatang di sini, tapi itu bisa berubah dengan satu hubungan telepon. Ia bisa saja terpaksa pergi ke Jackson atau tidur dalam mobilnya di Parchman. Urusan-urusan i rutin- macam makan siang, makan malam, dan i tidur sekonyong-konyong jadi tak dapat diramal- '

km bila klienmu cuma punya waktu kurang dari seminggu untuk hidup. Ini saat yang tepat, dan ia memutuskan dirinya • sudah siap menghadapi gerombolan pembunuh itu. Ia berjalan ke pintu depan dan memeriksa halaman parkir, untuk memastikan Lee tidak memutuskan kembali. Ia mengunci pintu ke kamar tidur Lee dan menarik laci paling atas. Laci itu penuh dengan pakaian dalam, dan ia malu melakukan penggeledahan ink •

-Buku itu ada di laci ketiga, tergeletak di atas sweatshirt yang sudah pudar warnanya Buku itu tebal dan dijilid dengan kain. hijau—Southern Negroes and the Great Depression. Diterbitkan pada tahun 1947 oleh Toffler Press, Pittsburgh. Adam mengambilnya dan duduk di tepi ranjang. Halaman-halamannya amat bersih dan rapi, seolah-olah buku itu tak pernah disentuh atau dibaca. Lagi pula siapa di daerah Deep South yang akan membaca buku macam itu? Bila buku itu telah beberapa dasawarsa menjadi milik keluarga Cay-hall, Adam yakin buku itu tak pernah dibaca. Ia mengamati sampul dan merenungkan keadaan macam apa yang menjadikan buku ini milik keluarga Sam Cayhall.

Buku itu berisi foto-foto yang terdiri atas tiga bagian. Yang pertama adalah sejumlah foto rumah dan gubuk reyot tempat orang-orang kulit hitam . dipaksa tinggal di perkebunan. Ada foto-foto keluarga di teras depan dengan puluhan anak, ada

foto-foto wajib pekerja perkebunan yang „. bungkuk rendah di ladang sedang memetik kapa» Bagian kedua ada di tengah buku, jumlah-ada dua puluh halaman. Ada dua foto pSn^ nuhan, yang pertama berupa pemandangan pe^i darah yang mengerikan dengan dua orang & Klux Klan berjubah dan berkerudung memegang senapan dan bergaya di depan kamera. Seorang laki-laki kulit hitam yang dianiaya berat tergantung dari rambang di belakang mereka, matanya separo terbuka, wajahnya hancur lebur dan berdarah. Tu-lisan di bawahnya menerangkan: Pembunuhan semena-mena KKK, Central Mississippi, 1939. Seolah-olah ritual ini bisa diterangkan sekadar dengan memberikan tempat dan waktu.

Adam ternganga ngeri melihat foto itu, kemudian membalik halaman, melihat pemandangai pembunuhan kedua. Yang ini nyaris bukan apa-apa dibandingkan dengan yang pertama. Tubuh tak bernyawa di ujung tali itu hanya bisa dilihat dari dada ke bawah. Pakaiannya robek-robek, mungkin karena cambuk, bila benar alat itu dipakai. Laki-laki hitam itu sangat kurus, celananya yang kedodoran dieratkan di pinggang, la bertelanjang kaki. Tak ada darah yang terlihat.

Tali yang menopang tubuhnya bisa dilihat ter- I ikat pada dahan yang lebih rendah di latar be- J lakang. Pohon itu besar, dengan dahan-dahan ke- J kar dan batang besar. Satu kelompok yang gembira berkumpul cuma f

berapa senti dari kaki yang bergelantungan. f ^kijaki, wanita, dan anak-anak membadut di depan kamera, beberapa orang bergaya menunjukkan kemarahan dan kejantanan yang dilebih-lebihkan— alis berkerut dalam, mata ganas, bibir bertaut rapat, seolah-olah mereka memiliki kekuasaan tak terbatas untuk melindungi kaum wanita mereka dari agresi orang Negro; sebagian lainnya tersenyum dan tampak seperti tertawa kecil, "terutama yang wanita, dua di antaranya cukup cantik; satu bocah laki-laki memegang pistol dan mengarahkannya ke kamera dengan lagak mengancam; seorang laki-laki muda memegang botol minuman keras yang diarahkan ke kamera untuk menunjukkan labelnya Kebanyakan mereka tampak gembira dengan peristiwa ini. Adam menghitung ada tujuh belas orang dalam kelompok tersebut, setiap orang menatap ke kamera tanpa malu atau khawatir, .tanpa sedikit pun tanda telah terjadi suatu kesalahan. Mereka sepenuhnya kebal dari tuntutan hukum. Mereka baru saja membunuh manusia lain, dan jelas terlihat bahwa mereka melakukannya tanpa perasaan takut akan konsekuensi.

Ini sebuah pesta. Terjadi di waktu malam, udara hangat, ada minuman keras dan wanita cantik Tentu mereka membawa makanan dalam keranjang dan akan menggelar tikar di tanah untuk menikmati piknik di sekeliling pohon itu.

Pembunuhan semena-mena di pedesaan Missu-. ^ 1936 demikian bunyi tulisan di bawahnya.

Sam ada di deretan depan, membunga

benekkan pada lutut di antara dua I adalah laki-laki muda yang mirip dengan Sam, tapi

mustahil mengatakannya dengan pasti.

ter.

lain. Mereka bertiga bergaya hebat di depa», mera. Umurnya lima belas atau enam belas m. wajahnya yang kurus berusaha keras, kelfa^' mengancam—bibir bertaut, alis merapat, dag angkat. Kepongahan seorang bocah laki-laki y^. berusaha menyamai. bajingan-bajingan yang fe^ matang di sekelilingnya.

Ia bisa dikenali dengan mudah, sebab seseorang telah menorehkan garis dengan tinta bini yang sudah pudar ke tepi foto itu, di mana-nama Sam Cayhall tertulis dengan huruf besar. Garis itu me-lintasi tabuh dan wajah orang lain dan berhenti pada telinga kiri Sam. Eddie. Ini pasti perbuat® Eddie. Lee mengatakan Eddie menemukan buku ini di gudang di atas pata-para, dan Adam bisa membayangkan ayahnya bersembunyi dalam kegelapan, menangisi foto itu, mengidentifikasikan Sam dengan menudingkan panah yang menuduh ke kepalanya.

Lee juga mengatakan ayah Sam adalah pemimpin gerombolan kecil ini, namun Adam tak dapat mengenalinya. Mungkin Eddie pun tak bisa mengenalinya, sebab tak ada tanda-tanda apa pun. Di situ sedikitnya ada tujuh laki-laki yang cukup tua untuk jadi ayah Sam. Berapa di antara orang-orang ini bermarga Cayhall? Lee mengatakan saudara-saudara Sam juga terlibat, dan barangkah merdu

ja mengamati mata kakeknya yang jernih dan indah, lalu hatinya sakit. Sam cuma seorang bocah, dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah ramah tangga di mana kebencian terhadap orang jmlit hitam dan golongan lain merupakan jalan hidup. Berapa banyak kesalahan yang bisa ditimpakan padanya? Lihatlah orang-orang di sekelilingnya, ayahnya, sanak saudara, teman-teman, dan tetangga, semuanya mungkin orang-orang jujur, miskin, dan rajin yang terekam pada akhir sualu upacara kejam yang merupakan hal lumrah dalam masyarakat mereka. Sam tak punya pilihan. Inilah dunia satu-satunya yang ia ketahui.

Bagaimana Adam bisa mendamaikan masa lalu dengan masa kini? Bagaimana ia bisa menuai orang-orang dan perbuatan mengerikan ini dengan adil bila perbedaan nasib bisa membuatnya berada di tengah-tengah mereka, seandainya ia lahir empat puluh tahun lebih awal?

Sewaktu memandangi wajah-wajah mereka, suatu perasaan lega yang aneh memeluknya. Meskipun Sam jelas peserta sukarela, ia cuma salah satu anggota gerombolan itu, cuma bersalah sebagian. Jelas beberapa lelaki yang lebih tua dengan wajah keras itulah yang melaksanakan pembunuhan, dan sisanya ikut datang untuk menyaksikan. Melihat foto tersebut, mustahil membayangkan Sam dan sobat-sobatnya yang lebih muda

telah melaksanakan kebrutalan ini. Sam

buat apa-apa untuk menghentikannya, jy mungkin ia tak berbuat apa pun untuk mendoro nya.

Pemandangan itu menimbulkan seratus penani an yang tak* terjawab. Siapa fotografernya, ^ bagaimana ia bisa berada di sana dengan fcaiw nya? Siapakah pemuda kulit hitam itu? Di ^ kah keluarganya, ibunya? Bagaimana mereka r^. nangkapnya? Apakah sebelumnya ia dipenjara^ dan kemudian diserahkan kepada gerombolan k oleh yang berwajib? Apa yang mereka kkukm dengan mayatnya setelah ini selesai? Apakft orang yang mengaku sebagai korban pemerkosa® itu salah satu wanita muda yang tersenyum pada kamera? Apakah ayahnya salah satu dari laki-laki itu? Saudara-saudaranya?

Seandainya Sam melakukan pembunuhan sewenang-wenang pada usia semuda itu, apa yang bisa diharapkan darinya sebagai orang dewasa? Seberapa seringkah orang-orang ini berkumpul dan berpesta seperti ini di pedesaan Mississippi?

Bagaimana dalam dunia ciptaan Tuhan ini Sm Cayhall bisa menjadi orang lain selain dirinya? h tak pernah punya kesempatan.

Sam menunggu dengan sabar di kantor depan, menghirup kopi dari poci yang lain. Kopi ini kental dan sedap, berbeda dengan godokan ampas yang mereka sajikan setiap pagi kepada para nas- i

810

dana Packer memberikannya dalam cangkir Vet-0s besar. Sam duduk di meja, dengan kaki di kursi.

Pintu terbuka dan Kolonel Nugent melangkah tegap ke dalam, dengan Packer di belakang. Pintu ditutup. Sam menegak dan memberi hormat cepat.

"Selamat pagi, Sam," kata Nugent muram. "Bagaimana keadaanmu?" "Hebat. Kau?" "Sibuk."

"Yeah, aku tahu ada banyak urusan dalam pikiranmu. Ini berat bagimu, berusaha mengatur eksekusiku dan memastikannya berjalan benar-benar lancar. Tugas berat. Aku angkat topi untukmu."

Nugent tak menghiraukan sindiran itu. "Perlu bicara denganmu tentang beberapa hal. Pengacaramu sekarang mengatakan kau gila, dan aku cuma ingin melihat sendiri keadaanmu." "Aku merasa seperti jutawan." "Nah, kau kelihatannya sehat-sehat saja." "Wah, terima kasih. Kau pun kelihatan sehat-sehat. Sepatu lars yang bagus."

Lars tempur hitam itu berkilauan seperti biasa. Packer meliriknya dan tersenyum lebar.

"Ya," kata Nugent sambil duduk di kursi dan melihat sehelai kertas. "Psikiater mengatakan kau tidak kooperatif."

"Kuharap begitu. Sudah hampir sepuluh tahun aku di sini, dan dia akhirnya membawa pantat

„ h* .ini untuk melihat bagaimana ke-

besamya Ke

811

i

adaanku ketika satu kakiku sudah berada di kabur. Yang dia inginkan adalah memberiku «J

bius, sehingga aku melayang-layang saat to ' badut-badut membunuhku. Membuat tugas to^ lebih mudah, kan?"

"Dia cuma berusaha membantu." "Kalau begitu, semoga Tuhan memberkatinya Katakan padanya aku menyesal. Itu takkan terjadi lagi. Cafaf pelanggaranku dalam RVR. Masukkag laporan itu dalam berkasku." "Kita perlu bicara tentang makanan terakhirmu; "Mengapa Packer ada di sini?" Nugent melirik Packer, lalu memandang Sam, "Sebab begitulah prosedurnya."

"Dia ada di sini untuk melindungimu, kan? Kau takut padaku. Kau takut ditinggalkan sendirian bersamaku dalam ruangan ini, kan, Nugent? Aku hampir tujuh puluh tahun, lemah sekali, separo mati karena rokok, dan kau takut padaku, seorang pembunuh." "Sama sekali tidak."

"Aku akan menendangi pantatmu ke seluruh penjuru ruangan ini, Nugent, kalau aku mau."

"Aku betul-betul takut. Dengar, Sam, mari kita selesaikan urusan ini. Apa yang kauinginkan sebagai makanan terakhirmu?"

"Sekarang hari Minggu. Makanan terakhirku di- j jadwalkan untuk Selasa malam. Mengapa kau me- j repotiku dengan urusan itu sekarang?"

"Kami harus menyusun rencana. Kau boleh

minta apa saja, dalam batas yang wajar." "Siapa yang akan memasaknya?"

"Akan disiapkan di dapur sini." "Oh, hebat! Oleh koki pintar yang selama sembilan setengah tahun memberiku sampah. Sungguh menyebalkan!"

"Apa yang kauinginkan, Sam? Aku mencoba bersikap wajar."

"Bagaimana kalau roti panggang dan wortel godok? Aku tak suka membebani mereka dengan sesuatu yang baru."

"Baiklah, Sam. Bila kau sudah memutuskan, •katakanlah pada Packer di sini, dan dia akan mem-beritahu dapur."

"Takkan ada makanan terakhir, Nugent Pengacaraku akan melontarkan artileri berat besok. Kalian badut-badut takkan tahu apa yang menimpa diri kalian." "Kuharap kau benar."

"Kau bangsat penipu. Kau tak sabar lagi ingin menggiringku ke sana dan mengikatku. KaU tak tahan dengan angan-angan menanyaiku apakah ada pesan terakhir, lalu mengangguk pada salah satu kacungmu untuk menutup pintu. Dan ketika segalanya selesai, kau akan menghadapi pers dengan wajah sedih dan mengumumkan bahwa 'Pada pukul 24.15, pagi ini, # Agustus, Sam Cayhall dieksekusi dalam kamar gas di Parchman sini, sesuai dengan keputusan Circuit Court Lakehead County,

813

Mississippi.' Itu akan jadi saat terhebat fagj^ Nugent. Jangan bohong padaku.*

Sang Kolonel tak pernah mengalihkan pandang, aa dari kertas. "Kami perlu daftar saksimu." Temui pengacaraku." "Dan kami perlu tahu. apa yang harus dilaku^ dengan barang-barangmu." Temui pengacaraku."

"Oke. Kami menerima banyak permintaan wawancara dari pers." "Temui pengacaraku."

Nugent melompat berdiri dan menghambur keluar dari kantor itu. Packer memegang pintu, menunggu beberapa detik, lalu dengan tenang berkata, "Duduklah dS tempat, Sam, ada orang lain lagi yang ingin menemuimu."

Sam tersenyum dan mengedipkan mata padi Packer. "Kalau begitu, tolong ambilkan kopi lagi, Packer."

Packer mengambil cangkir, dan beberapa menit kemudian kembali membawa kopi. la juga memberikan koran Minggu dari Jackson kepada Sam, dan Sam sedang membaca segala macam berita tentang eksekusinya ketika sang Pendeta, Ralph Griffin, mengetuk dan masuk.

Sam meletakkan koran di meja dan mengamati sang Pendeta. Griffin memakai sepatu sport putih, jeans pudar, dm kemeja hitam dengan keran pendeta berwarna putih. "Pagi, Pak Pendeta," kala Sam sambi/ meneguk kopi.

/Apa kabar, Sam?" Griffin bertanya seraya menarik kursi sangat dekat ke meja, lalu duduk.

"Saat ini hati saya penuh dengan kebencian," kata Sam muram.

"Saya sedih mendengarnya. Kepada siapa kebencian itu ditujukan?"

"Kolonel Nugent. Tapi saya akan mengatasinya"

"Apakah Anda sudah berdoa, Sam?" "Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Mengapa tergesa-gesa? Saya masih punya hari ini, besok, dan hari Selasa. Saya rasa Anda dan saya akan berdoa banyak-banyak Selasa malam

•nanti,"

'Kalau Anda menginginkannya. Itu terserah Anda. Saya akan berada di sini."

Saya ingin Anda bersama saya sampai saat terakhir, Pak Pendeta, kalau Anda tidak keberatan. Anda dan pengacara saya. Kalian diizinkan duduk bersama saya selama jam-jam terakhir." "Saya merasa mendapat kehormatan besar." "Terima kasih."

"Tepatnya apa yang Anda ingin saya doakan,

Sam?"

Sam meneguk kopinya lama-lama. "Ah, yang pertama, saya ingin tahu saat saya meninggalkan dunia, segala perbuatan buruk yang saya lakukan sudah diampuni."

"Dosa-dosa Anda?"

815

"Benar."

Tuhan mengharapkan kita mengaku dosa ^ pada-Nya dan meminta pengampunan." "Semuanya? Sekaligus?" "Ya, yang bisa kita ingat." "Kalau begitu, lebih baik kita mulai dari se-karang. Akan butuh waktu beberapa lama."

"Terserah Anda. Apa lagi yang ingin Anda doakan?"

"Keluarga saya, seperti apa adanya. Ini akan berat bagi cucu saya, dan adik saya, dan mungkin anak perempuan saya. Takkan banyak air mata yang bakal dicucurkan untuk saya, Anda mengerti, namun saya ingin mereka mendapat penghiburan, ' Dan saya ingin memanjatkan doa bagi teman-' j teman saya di The Row sini. Ini akan berat bagi mereka" "Ada lainnya?"

"Yeah. Saya ingin memanjatkan doa yang tulus bagi keluarga Kramer, terutama untuk Ruth." "Keluarga korban?" "Benar. Juga untuk keluarga Lincoln." "Siapakah keluarga Lincoln?" "Kisahnya panjang. Korban lain." ¦ "Ini bagus, Sam. Anda perlu mengeluarkan ini f dari dada Anda, untuk membersihkan jiwa."

"Perlu waktu bertahun-tahun untuk membersih- I kan jiwa saya, Pak Pendeta." J

"Ada korban lain?" I

Sam meletakkan cangkir di meja dan perlahan- i

f m menggosok-gosokkan kedua belah tangannya. Ia mengamati mata Ralph Griffin -yang hangat dan penuh kepercayaan. "Bagaimana kalau ada

f korban lain?" tanyanya. "Orang mati?"

ISam mengangguk, sangat perlahan. "Orang-orang yang telah Anda bunuh?" Sam terus mengangguk. Griffin menghela napas dalam dan merenungkan masalah itu sejenak. "Ah, Sam, terus terang, saya tak ingin Anda mati tanpa mengakui dosa-dosa ini dan meminta pengampunan dari Tuhan." J Sam teras mengangguk.

"Berapa banyak?" tanya Griffin. Sam bergeser menjauh dari meja dan memakai sandal mandi. Ia perlahan-lahan menyalakan rokok dan mulai mondar-mandir di belakang kursi Griffin. Sang Pendeta berganti posisi agar bisa melihat dan mendengar Sam.

"Ada Joe Lincoln, tapi saya sudah menulis surat pada keluarganya dan mengatakan menyesal." "Anda membunuhnya?"

"Ya. Dia orang Afrika Tinggal di tempat kami. Saya sangat menyesalinya. Kejadiannya sekitar

I950."

Sam berhenti dan bersandar pada lemari arsip. Ia bicara ke lantai, seolah-olah melamun. "Dan ada doa laki-laki kulit putih yang membunuh ayah saya dalam suatu pemakaman, bertahun-tahun yang lalu. Mereka dipenjarakan beberapa lama, dan ke-

tika keluar, saya dan saudara-saudara saya me- ' nunggu dengan sabar. Kami bunuh mereka berdua, tapi, terus terang, saya tak pernah terlara menyesal. Mereka penjahat, dan mereka membunuh ayah kami."

"Membunuh selalu keliru, Sam. Anda sedang bergulat melawan pembunuhan legal terhadap diri Anda sekarang."

"Saya tahu."

"Apakah Anda dan saudara-saudara Anda ditangkap?"

'Tidak. Sheriff tua itu mencurigai kami', tapi tak bisa membuktikan apa-apa. Kami terlalu hati-hati, Di samping itu, mereka benar-benar sampah masyarakat, dan tak seorang pun peduli." "Itu tidak membuat tindakan Anda benar." "Saya tahu. Tapi saya menganggap mereka mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan, lalu saya dibuang ke tempat ini. Hidup jadi punya arti baru bila tinggal di death row. Kita menyadari betapa berharganya hidup. Sekarang saya menyesal telah membunuh bocah-bocah itu. Sungguh menyesal." "Ada lainnya?"

Sam berjalan melintasi ruangan, menghitung setiap langkah, dan kembali ke lemari arsip. Sang Pendeta menunggu. Waktu tak berarti apa-apa sekarang.

"Ada dua pembunuhan tanpa pengadilan, ber-

tahun-tahun yang lalu," kata Sam, tak mampu memandang mata Griffin.

"Dua?".

"Saya rasa dua. Mungkin tiga. Tidak... ya... ada tiga, tapi pada yang pertama saya masih kanak-kanak, masih kecil, dan yang saya lakukan hanyalah menyaksikan, Anda tahu, dari semak-semak. Itu pembunuhan oleh Klan, ayah saya terlibat. Saya dan kakak saya Albert menyelinap ke dalam hutan dan menyaksikannya. Jadi, itu tidak masuk hitungan, bukan?"

"Tidak."

Pundak Sam merosot pada dinding. Ia memejamkan mata dan menundukkan 'kepala. "Yang kedua dilakukan oleh satu gerombolan. Saya rasa saya sekitar lima belas tahun, dan saya tepat berada di tengah-tengah kejadian itu. Seorang gadis diperkosa laki-laki Afrika, setidaknya itulah yang dia katakan. Reputasi perempuan itu menimbulkan banyak keraguan, dan dua tahun kemudian dia punya bayi separo Afrika. Jadi, siapa tahu? Nah, dia menudingkan jari, kami menangkap bocah itu, menyeretnya keluar, dan membunuhnya. Saya sama bersalahnya seperti anggota lain dalam.kelompok itu."

"Tuhan akan mengampuni Anda, Sam."

"Anda pasti?"

"Positif."

"Berapa pembunuhan yang akan Dia ampuni?" "Semuanya. Bila Anda mohon pengampunan de-

ngan sepenuh hati, Dia akan mengh

batu tuhsnsa. Itu tertulis dalam Kitab SiT - ^

"Itu terlain tadah sebagai kenyataan "

"bagaimana dengan pembunuhan lainnya?»

Sam mulai menggelengkan kepala ke d ke belakang, matanya terpejam. "Saya t? J* bicara tentang yang itu. Pak Pendeta" mengembuskan napas dengan berat.

"Anda tidak perlu bicara pada saya tentang haj itu. Sam. Tapi bicaralah pada Tuhan."

"Saya tak tahu apakah bisa bicara kepada *• seorang tentang hal itu."

"Tentu Anda bisa. Pejamkanlah mata Anda «• malam, antara sekarang sampai hari Selasa, saa Anda berada dalam sel. dan aknkanlah segala perbuatan ini kepada Tuhan. Dia akan langsung memaafkan Anda"

"Rasanya tidak benar. Anda tahu. Saya membunuh orang, lalu dalam hitungan beberapa menit Tuhan mengampuni saya Begitu saja Terlalu gampang.'

"Anda harus benar-benar menyesal."

"Oh, saya benar-benar menyesal. Sumpah.

"Tahan melupakannya, Sam, tapi manusia tidak. Kita bertanggung jawab pada Tuhan, tapi kita 0 tertanggung jawab terhadap hukum manusia. Tu ban akan mengampuni Anda. namun Anda nanggung konsekuensi menurut apa yang dlten tukan pemerintah "

„-getuklah pemerintah. Saya toh sudah siap

. Iliar dan sini" -pish, mari kita l';,s,lk;m bahw* Anda siap.

Sam berjalan ke meja dan duduk di sudutnya, di sumping Griffin. "Anda tetaplah di sini. oke. Pak Pendeta? Saya butuh pertolongan. Ada berbagai hal buruk terkubur dalam jiwa saya Akan butuh waktu beberapa lama untuk mengeluarkannya" ' "Itu takkan suhu Sam, kalau Anda benar-benar

iiap"

Sam menepuk lututnya. Teruslah datang, oke?"

EMPAT PULUH EMPAT

Kantor depan itu penuh dengan asap biru ketib

Adam masuk. Sam sedang mengepul-ngepulkag rokok di meja, membaca berita tentang dirinya, sendiri di koran Minggu. Tiga cangkir kopi kosong dan pembungkus permen bertebaran di meja. ] "Kau sudah betah di sini, kan?" kata Adam, mem- j perhatikan sampah itu.

"Yeah. Sudah seharian aku di sini."

"Banyak tamu?"

"Aku takkan menyebut mereka tamu. Hari ini dimulai dengan kedatangan Nugent, jadi itu cukup merusak segalanya. Pendeta mampir untuk memeriksa apakah aku sudah berdoa. Kupikir perasaannya tertekan ketika berlalu. Kemudian adikku Donnie mampir menjenguk sebentar. Aku benar-benar ingin kau menemuinya. Katakan padaku kau membawa kabar baik."

Adam menggelengkan kepala dan duduk. "Tidak. Tak ada yang berubah sejak kemarin ft adilan-pengadikn itu istirahat akhir pekan."

«Apa mereka sadar Sabtu dan Minggu juga masak hitungan? Juga jam itu tidak berhenti berdetak antukku pada akhir pekan?"

"Itu bisa jadi kabar baik. Mereka bisa jadi sedang mempertimbangkan dalihku yang cemerlang.* "Mungkin, tapi aku curiga para hakim itu ada di rumah mereka di tepi danau, minum bir dan memanggang daging. Tidak begitu menurutmu?" "Yeah, kau mungkin benar. Ada berita apa di f koran?"

"Ulasan lama yang sama tentang diriku dan kejahatanku yang brutal, foto orang-orang yang berdemonstrasi di luar sana, komentar dari McAllister. Tak ada yang baru. Aku belum pernah menyaksikan kegemparan macam ini." M "Kau adalah tokoh saat ini, Sam. Wendajl Sher-Y man dan penerbitnya sekarang menawarkan 150.000, tapi batas waktunya pukul enam sore ini. Dia ada di Memphis, duduk dengan tape recorder, gatal untuk datang ke.sini. Katanya dia butuh sedikitnya dua hari penuh untuk merekam kisahmu."

"Hebat. Apa yang mesti kulakukan dengan uang itu?" *-

"Berikanlah kepada cucu-cucumu tercinta."

"Kau serius? Apa kau akan memakainya? Aku akan melakukannya kalau kau mau memakainya."

"Tidak. Aku hanya bercanda. Aku tak ingin uang itu, dan Carmen tidak membutuhkannya. Aku tak dapat memakainya dengan hati nurani bersih."

"Bagus. Sebab antara sekarang dan Selas» tak ingin duduk dengan orang asing dan bi^ tentang masa lalu. Aku tak peduli berapa. banv uang yang dia miliki. Aku lebih suka tak ada tentang kehidupanku."

"Sudah kukatakan padanya untuk melupa^ urusan ini."

"Bocah hebat." Sam berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir melintasi ruangan. Adam mengarn. bil posisi di tepi meja dan membaca berita olah raga di koran Memphis.

"Aku akan senang bila semua ini selesai, Adam," kata Sara, masih berjalan, bicara dengan tangannya. "Aku tak tahan menunggu seperti ini, Sumpah, aku berharap eksekusi itu dilaksanakan malam ini." Ia mendadak gelisah dan kesal, suaranya lebih keras.

Adam meletakkan korannya. "Kita akan menang, Sam. Percayalah padaku."

"Menang apa.'" bentaknya marah. "Memenang-kan penangguhan hukuman mati? Hebat! Keuntungan apa yang kita dapatkan? Enam bulan? Setahun? Tahukah kau apa arti hal itu? Itu berarti suatu hari kelak kita harus melakukan hal ini lagi: Aku harus menjalani seluruh ritual terkutuk ini lagi—menghitung hari, kurang tidur, merencanakan strategi terakhir, mendengarkan Nugent dan orang-orang goblok lain, bicara dengan psikiater, berbisik pada pendeta, pantatku ditepuk-tepuk dan digiring ke kurungan ini, sebab aku istimewa." Ia berhenti

ji depan Adam dan memandang tajam padanya. Wajahnya gusar, matanya basah dan pahit "Aku muak dengan semua ini, Adam! Dengarkan aku! Ini lebih burak daripada mati." "Kita tak bisa menyerah, Sam." "Kita? Siapakah kita? Leherkulah yang jadi taruhan, bukan lehermu. Kalau aku mendapat penangguhan, kau akan kembali ke kantormu yang indah di Chicago dan meneruskan hidupmu. Kau akan jadi pahlawan, sebab kau menyelamatkan klienmu. Fotomu akan terpampang dalam Lawyer's Quarterly, atau entah majalah apa yang kalian pea. Bintang muda cemerlang yang telah menaklukkan banyak orang di Mississippi. Menyelamatkan kakeknya anggota Klan celaka. Klienmu, se-f baliknya, akan digiring kembali ke sangkarnya yang sempit, tempat dia kembali menghitung hari." Sam melemparkan puntung rokok ke lantai dan meraih pundak Adam. "Lihatlah aku, Nak. Aku tak bisa mengalami ini lagi. Aku ingin kau menghentikan segalanya. Batalkan. Teleponlah pengadilan dan katakan pada mereka bahwa kita mencabut semua petisi dan dalih. Aku sudah tua. Biarkan aku mati dengan bermartabat."

Tangannya gemetar. Napasnya memburu. Adam .mengamati matanya yang biru cemerlang, dike- , lilingi kerut-merat gelap, dan melihat secercah air mata meluncur di satu sudut jatuh perlahan-lahan ke pipi, lalu menghilang dalam jenggotnya yang kelabu.

Untuk pertama kali Adam bisa mejicjW. kakeknya. Aroma nikotin yang kuat berca keringat kering menimbulkan bau yang ' nyenangkan. Tapi bau itu tidak memuakkan, J"*' ti bau yang dipancarkan orang yang biasa makai banyak sabun dan air panas, AC, dan

doran. Setelah tarikan napas kedua, bau jni „ ^

* anja

sekali tidak mengganggu Adam. "Aku tak ingin kau mati, Sams" Sam meremas pundaknya lebih keras. "Meng^ tidak?" ia mendesak.

"Sebab aku baru saja menemukanmu. Kau h kekku."

Sam menatap sedetik lebih lama, lalu mengej. dux. la melepaskan Adam dan mundur selangkah "Aku menyesal kau menemukanku dalam keadaan seperti ini," katanya sambil menyeka mata. "Tak perlu minta maaf." Tapi aku harus melakukannya. Aku menyesal tidak menjadi kakek yang lebih baik. Lihatlah aku," katanya, memandang ke kaki. "Laki-laki celaka dalam baja monyet merah. Pembunuh yang akan digas bagaikan binatang. Dan lihatlah dirimu, Laki-laki muda tampan dengan pendidikan bail dan masa depan cemerlang. Di manakah aku keliru? Apa yang terjadi padaku? Kuhabiskan hidu ku untuk membenci orang lain, dan lihat apa yai harus kuterima. Kau, kau tidak membenci siap jpun. Dan lihatlah ke mana kau menuju. Kita P nya darah yang sama. Mengapa aku ada di sini?

sm perlahan-lahan duduk di kursi, tapi sikunya bertumpu pada lutut, matanya terpejam. Lama tak -alu pun bergerak atau bicara. Sekali-sekali terdengar suara penjaga di gang, tapi mangan itu sunyi.

"Kau tahu, Adam, aku lebih suka tidak mati dengan cara mengerikan seperti ini," kata Sam parau dengan tinju menempel di pelipis, masih memandang kosong ke lantai. "Tapi kematian ini sendiri tidak mengkhawatirkanku lagi sekarang. Sudah lama aku tahu akan mati di sini, dan ketakutanku yang terbesar adalah mati tanpa ada orang yang peduli. Bayangan itu mengerikan, kau tahu. Mati dan tak seorang pun peduli. Tak seorang pun menangis atau bersedih, berdukacita sepantasnya di pemakaman. Aku pernah bermimpi melihat'mayatku dalam peti mati kayu murahan, tergeletak di rumah jenazah di Clanton, dan tak seorang pun berada dalam mangan itu bersamaku. Bahkan Donnie pun tidak. Dalam mimpi yang sama, sang pendeta terkekeh selama upacara pemakaman, karena yang hadir cuma kami berdua, sendirian dalam kapel, berderet-deret bangku dalam keadaan kosong. Tapi sekarang berbeda. Aku tahu ada orang yang peduli padaku. Aku tahu kau akan sedih saat aku mati, sebab kau peduli. Dan aku tahu kau akan berada di sana saat aku dikuburkan, untuk memastikan pemakaman itu dilaksanakan dengan benar. Aku benar-benar siap pergi sekarang, Adam. Aku siap." "Baiklah, Sam, aku menghormati itu. Dan aku

janji akan berada di sini sampai akhir yang ^ I Aku akan berdukacita dan berkabung, dan selaju | [ semuanya selesai, aku akan memastikan kau 4' kuburkan dengan pantas. Tak seorang pun ^ mempermainkanmu, Sam, selama aku ada di sinj Tapi kuharap kau melihatnya dari sudut pandang. I ku. Aku harus mengusahakan yang terbaik, sebab I aku muda dan masih punya sisa hidup. Jangan i membuatku menyesal karena tidak berusaha lebih baik. Itu tidak adil bagiku."

Sam melipat tangan di depan dada dan memandang Adam. Wajahnya yang pucat tampak tenang, j matanya masih basah. "Begini saja," katanya, 'j suaranya masih rendah dan pedih. "Aku siap pergi. Akan kuhabiskan besok dan hari Selasa untuk mengurus persiapan terakhir. Kuasumsikan ini akan terjadi Selasa tengah malam, dan aku akan siap; Kau, sebaliknya, mainkanlah peranmu. Kalau kau bisa memenangkannya, bagus untukmu. Kalau kau kalah, aku siap menghadapi nasib." "Jadi, kau akan bekerja sama?" "Tidak. Tak ada sidang pemberian pengampunan. Tak ada lagi petisi atau dalih lain. Sudah cukup banyak sampah yang kaubuat berkeliaran di luar sana untuk menyibukkan dirimu. Dua dalil masih belum diputuskan. Aku takkan menanda tangani petisi lain lagi."

Sam berdiri, lututnya berkeretak dan goyah. 1 berjalan ke pintu dan bersandar di sana. "Baga

828

mana dengan Lee?" ia bertanya lembut sambil

mengambil rokok. "Dia masih berada di lembaga rehabilitasi*

Adam berbohong. Ia tergoda untuk mengungkapkan urusan sebenarnya. Rasanya kekanak-kanakan berbohong kepada Sam pada saat-saat terakhir hidupnya, namun Adam masih menaruh harapan besar bahwa Lee akan ditemukan sebelum hari Selasa. "Kau ingin menemuinya?" "Kurasa begitu. Bisakah dia keluar?" "Mungkin sulit, tapi akan kucoba. Keadaannya lebih parah dari yang semula kuduga." "Dia pecandu alkohol?" "Ya."

"Cuma itu? Tidak kecanduan obat bius?" "Cuma alkohol. Dia bercerita padaku bahwa dia sudah bertahun-tahun mengalami masalah ini. Lembaga rehabilitasi bukan sesuatu yang baru:"

"Diberkatilah hatinya. Anak-anakku tak punya kesempatan."

"Dia orang baik. Dia mengalami banyak kesulitan dalam perkawinannya. Putranya meninggalkan rumah dalam usia muda dan tak pernah I kembali."

"Walt, benar?"

"Benar," jawab Adam. Sungguh gerombolan orang patah hati yang malang. Sam bahkan tidak i yakin nama cucunya. "Berapa umurnya?"

"Aku tak tahu pasti. Mungkin hampir seumurku." g|^^ 829 _

"Apakah dia tahu tentang diriku?" "Entahlah. Dia sudah bertahun-tahun mem>| lang. Tinggal di Amsterdam."

Sam mengambil sebuah cangkir dari meja da mengisinya dengan kopi dingin. "Bagaimana de ngan Carmen?" tanyanya.

Secara naluriah Adam melirik jam tangan. Tig jam lagi aku akan menjemputnya di bandara Memphis. Dia akan ke sini besok pagi." "Aku jadi ketakutan setengah mati." Tenang, Sam. Dia orang yang hebat. Dia cerdas, ambisius, cantik, dan aku sudah menceritakan segalanya tentang dirimu." "Mengapa kau melakukan itu?" "Sebab dia ingin tahu." "Bocah malang. Apakah kauceritakan padanya bagaimana tampangku?"

"Jangan khawatir tentang itu, Sam. Dia tak peduli bagaimana tampangmu."

"Apakah kaukatakan padanya aku bukan monster buas?"

"Kuceritakan padanya kau orang yang mania, baik hari, dengan anting-anting, ekor kuda, per-gelangan tangan lemah, dan dengan sepatu mandi karet lucu ini kau tampak meluncur."

"Gombal!''

"Dan kau tampaknya tokoh favorit di kalangan orang-orang penjara ink.0

"Kau bohong! Kau tidak menceritakan semua itu kepadanya!" Sam tersenyum lebar, tapi separo

830

serius; keprihatinannya menggelikan. Adam tertawa, agak terlalu panjang dan keras, tapi humor itu

bisa diterima. Mereka berdua terkekeh dan mencoba sebaik mungkin kelihatan benar-benar geli oleh lelucon itu. Mereka mencoba merentangnya lebih panjang, tapi dengan cepat suasana ringan itu lewat dan suasana berat mengendap. Dengan se~, gera mereka duduk di tepi meja, berdampingan, kaki pada kursi yang terpisah, menatap lantai, sementara awan tebal asap tembakau mendidih di atas mereka dalam udara yang tak bergerak.

Begitu banyak yang ingin dibicarakan, tapi begitu sedikit yang terucap. Teori-teori dan manuver hukum sudah mati. Mereka sudah membahas tentang keluarga sejauh keberanian mereka. Cuaca hanya bisa diterka tak lebih dari lima menit mendatang. Dan kedua laki-laki itu tahu mereka akan melewatkan sebagian besar dari dua setengah hari mendatang bersama-sama. Masalah-masalah serius bisa menunggu. Pokok pembicaraan yang tak menyenangkan bisa disisihkan sedikit lebih lama. Dua kali Adam melirik jam tangan dan mengatakan sebaiknya ia pergi, dan dua kali pula Sam mendesaknya agar tinggal. Sebab begitu Adam berlalu, mereka akan datang menjemputnya dan membawanya kembali ke sel, sangkar kecilnya tempat temperatur mencapai lebih dari 38 derajat. Tinggallah, ia memohon.

Larut malam itu, beberapa saat setelah tengah ma-

831

lama setelah Adam menceritakan k

tpntino T m Han ma^aUL____

ada Cjf Lettner

lam.

men tentang Lee dan masalahnya, dan Walt, tentang McAllister dan Wyn serta teori tentang adanya asisten, berjam-telah mereka menghabiskan pizza dan bicara1 * tang ibu. ayah, kakek, dan seluruh keluar» fen~

=a yang

saat mereka

menyedihkan itu, Adam mengatakan bahwt yang takkan pernah ia lupakan adalah saat

berdua duduk di meja, melewatkan waktu dalam keheningan, seolah-olah jam yang tak terlihat berdetak, dengan Sam membelai lututnya. Sepertinya ia harus menyentuhku dengan cara yang penuh kasih sayang, katanya kepada Carmen, seperti kakek yang baik menyentuh cucu kecil yang ia cintai Carmen sudah mendengar cukup banyak untuk semalam. Empat jam ia berada di teras, tersiksa hawa lengas dan menyerap kisah lisan sejarah ayahnya yang menyedihkan.

Namun Adam sangat hati-hati. fa mendaki puncak-puncak dan melewatkan jurang-jurang yang menyedihkan—tak disebutnya tentang Joe Lincoln atau pembunuhan sewenang-wenang atau gambaran tentang kejahatan lain. Ia melukiskan Sam sebagai orang keras yang melakukan kesalahan mengerikan dan sekarang dibebani penyesalan. Ia bermain-main dengan gagasan memperlihatkan video pengadilan Sam kepada adiknya, tapi akhirnya memutuskan tidak melakukannya. Itu akan dilakukannya kelak. Carmen cuma bisa menerima sebanyak itu dalam semalam. Kadang-kadang ia sendiri tak

berbagai hal yang ia dengar -akhir ini. Kejam memukul a itu dalam semalam. Ia sa-SC a Mereka punya waktu ber-

dua

«#" dengan

EMPAT PULUH LIMA

Senin, 6 Agustus, pukul 06.00. Empat puluh du; jam tersisa. Adam memasuki kantornya dan mengunci pintu.

Ia menunggu sampai pukul 07,00, lalu menelepon kantor Slattery di Jackson. Tak ada jawaban, tentu saja, namun ia berharap akan ada pesan rekaman yang mengarahkannya ke nomor lain yang mungkin mengarahkannya pada seseorang yang bisa mengatakan sesuatu kepadanya. Slattery masih membiarkan saja klaim inkompetensi mental itu; mengabaikannya seolah-olah itu cuma gugatan kecil lain.

Ia menelepon penerangan dan mendapatkan nomor rumah F. Flynn Slattery, tapi memutuskan j tidak mengganggunya. Ia bisa menunggu sampai j pukul 09J0O.

Adam tidur kurang dari tiga jam. Jantungnya j berdenyut-denyut keras, adrenalinnya terpompa, j Kliennya sekarang hanya punya- waktu 42 jam, j dan sialan, Slattery harus memutuskan, apa jM I

teputusan itu. Tidak adil berlama-lama dengan

petisi itu, sementara ia bisa bergegas ke pengadilan lain dengannya.

Telepon berdering dan ia melonjak meraihnya. Death Clerk dari Pengadilan Fifth Circuit me-ogabarinya bahwa pengadilan itu menolak dalih Sam tentang bantuan hukum yang tidak efektif. Menurut pendapat pengadilan, klaim tersebut secara prosedural tidak sah. Seharusnya sudah diajukan bertahun-tahun yang lalu. Pengadilan tidak menerima kesahihan persoalan itu.

"Kalau begitu, mengapa pengadilan membiarkannya selama seminggu?" desak Adam. "Mereka bisa mengambil keputusan remeh ini sepuluh hari yang lalu."

Aku akan mengirimkan copy-nya dengan fax sekarang," kata si panitera. "Terima kasih. Maaf, oke?" Tetaplah berhubungan, Mr. Hall. Kami akan ada di sini menunggu Anda."

Adam menutup telepon dan beranjak mengambil kopi. Darlene tiba pagi-pagi pukul 07.30 dalam keadaan letih dan kumal. Ia membawa fax dari Pengadilan Fifth Circuit, bersamaJcue bagel raisin. Adam memintanya mengirimkan permohonan peninjauan atas klaim ketidakefeJmfan ke Mahkamah Agung AS dengan fax. Itu sudah dipersiapkan selama tiga hari, dan Mr. Olander di Washington mengatakan pada Darlene bahwa Mahkamah sudah memeriksanya.

835

N

Darlene kemudian membawakan dua aspirin dan segelas air. Kepala Adam serasa pecah ketika ia mengemasi hampir semua berkas Cayhall ke da- ] lam koper besar dan kardus. Ia memberi Darlene sebuah daftar instruksi.

Kemudian ia meninggalkan kantor cabang Kravitz & Bane di Memphis, dan takkan pernah kembali. *

Kolonel Nugent menunggu tak sabar agar pintu tier terbuka, lalu menyerbu ke dalam gang dengan delapan belas anggota regu eksekusi pilihan di belakangnya. Mereka menyerbu ke dalam ketenangan Tier A dengan segala kecanggihan regu tentara Gestapo—delapan laki-laki bertubuh besar, separo berseragam, separo berpakaian preman, mengikuti jago kecil yang melangkah tegap di depan. Ia berhenti di sel enam, tempat Sam sedang berbaring di ranjang, sibuk dengan urusannya sendiri. Narapidana-narapidana lainnya langsung menyaksikan dan mendengarkan, tangan mereka tergantung di antara jeruji.

"Sam, sudah saatnya pindah ke Sel Observasi," kata Nugent, seolah-olah benar-benar khawatir dengan urusan ini. Anak buahnya memagari dinding

di belakangnya, di bawah deretan jendela. • Sam perlahan-lahan menyeret tubuh dari ranjang

dan berjalan ke jeruji. Ia menatap tajam pada

Nugent dan bertanya, "Mengapa?" "Sebab aku mengatakannya demikian."

-Tapi mengapa memindahkan aku delapan pinta dalam tier ini? Apa tujuannya?" «Ini prosedur, Sam. Ada di buku." "jadi, kau tak punya alasan yang bagus, kan?" "Aku tak membutuhkannya. Berbahklah." Sam berjalan ke wastafel dan menyikat gigi lama-lama. Lalu ia berdiri di atas toilet dan kencing dengan tangan pada pinggul. Lalu ia cuci tangan, sementara Nugent dan anak buahnya mengawasi dan menggerutu. Kemudian ia menyalakan sebatang rokok, menyelipkannya di antara gigi. menggeser tangan ke punggung, dan meng-ulurkannya ke lubang pada pintu. Nugent mengikatkan borgol pada pergelangan tangan dan mengangguk ke ujung tier agar pinta dibuka. Sam melangkah ke tier. Ia mengangguk kepada J.B. GuUit yang mengawasi dengan ngeri, siap menangis. Ia mengedipkan mata pada Hank Henshaw.

Nugent memegang lengannya dan menuntunnya ke ujung gang, melewati GuUit, Loyd Eaton, Stock Turner, Harry Ross Scott, Buddy Lee Harris, dan —akhirnya—melewati Preacher Boy yang saat itu sedang berbaring di ranjang, telungkup sambil menangis. Tier itu sampai pada dinding jeruji besi sama dengan jeruji di depan sel, dan di tengah dinding itu ada pintu yang berat. Di sisi seberangnya ada kelompok lain anak buah Nugent, semuanya mengawasi tanpa suara dan menikmati setiap saat Di belakang mereka ada lorong pendek dan

sempit menuju Ruang Isolasi. Dan kemudian ke Kamar Gas.

Sam dipindahkan sejauh empat belas setengah meter lebih dekat ke maut. Ia bersandar pada dinding, mengepulkan rokok, mengawasi dengan tenang membisu. Tak ada apa pun yang pribadi di sini, cuma bagian dari kegiatan mtin.

Nugent berjalan kembali ke sel enam dan menyalakkan perintah. Empat penjaga memasuki sel Sam dan mulai mengemasi barang-barangnya. Buku-buku, mesin tik, kipas angin, televisi, keperluan mandi, pakaian. Mereka memegangnya seolah-olah barang-barang itu beracun dan membawanya ke Sel Observasi. Kasur dan ranjangnya digulung dan dipindahkan oleh seorang penjaga kekar berpakaian preman yang tak sengaja menginjak ujung seprai dan merobekkannya.

Para narapidana menyaksikan kesibukan mendadak itu dengan perasaan ingin tahu bercampur sedih. Sel-sel sempit mereka seperti lapisan kulit tambahan, dan melihat salah satu sel itu diperlakukan semena-mena tanpa belas kasihan, terasa menyakitkan. Itu bisa terjadi pada mereka. Realita eksekusi menerpa; mereka bisa mendengarnya pada suara sepatu lars berat yang hilir-mudik di tier, dan suara-suara regu eksekusi yang tegas tapi teredam. Suara pintu dibanting di kejauhan tentu takkan diperhatikan seminggu yang lalu. Sekarang suara itu jadi kejutan yang mengenyakkan dan menggetarkan saraf.

Petugas-petugas itu mondar-mandir dengan ba-lang-barang Sam sampai sel enam kosong. Pekerjaan fa berlangsung cepat. Mereka mengatur barang-barang di rumah barunya tanpa banyak peduli.

Tak seorang pun di antara delapan orang itu bekerja di The Row. Nugent membaca pada suatti bagian catatan Naifeh yang berantakan bahwa anggota regu eksekusi haruslah orang-orang yang sama sekali tak dikenal sang narapidana Mereka barus diambil dari kamp lain. Tiga puluh satu petugas dan penjaga secara sukarela mengajukan diri untuk tugas ini. Nugent hanya memilih yang terbaik.

"Semua sudah masuk?" ia bertanya keras pada

salah satu orangnya. "Ya, Sir."

"Baik. Semua ini untukmu, Sam."

"Oh, terima kasih, Sir," kata Sam mencemooh ketika memasuki sel itu. Nugent mengangguk ke ujung gang, dan pintu tertutup. Ia melangkah ke depan dan mencengkeram jeruji dengan dua belah tangan. "Sekarang, dengarkan, Sam," katanya muram. Sam menyandarkan punggung pada dinding, memalingkan wajah dari Nugent. "Kami akan berada di sini kalau kau butuh sesuatu, oke? Kami memindahkanmu ke-ujung sini agar kami bisa i mengawasimu lebih baik. Oke? Adakah yang bisa

kulakukan untukmu?"

839

Sam terus berpaling, sama sekali tak meng-hiraukannya.

"Baik." Ia mundur dan memandang anak buah-nya. "Mari kita pergi." katanya kepada mereka. Pintu tier terbuka tak sampai tiga meter dari Sam, dan regu eksekusi itu berbaris keluar. Sam menunggu. Nugent memandang gang itu dari ujung ke ujung, lalu melangkah keluar dari tier.

"Hei, Nugent!" Sam mendadak berseru. "Bagaimana kalau kau melepaskan borgol ini!"

Nugent diam membeku dan regu eksekusi itu berhenti.

"Kau keledai tolol!" Sam berteriak lagi, semen-tara Nugent terburu-buru mundur, mencari-cari kunci, meneriakkan perintah. Suara tawa meledak di sepanjang tier, suara terbahak-bahak dan siulan riuh. "Kau tak bisa meninggalkanku dengan tangan terborgol!" Sam berteriak ke gang.

Nugent ada di pintu Sam, mengenakkan gigi, mengumpat, akhirnya mendapatkan kunci yang tepat. "Berbalik," perintahnya.

"Kau haram jadah goblok!" Sam berteriak di antara jeruji, langsung ke wajah merah sang Kolonel yang hanya terpisah kurang dari satu meter. Suara tertawa menderu lebih keras lagi.

"Dan kau yang bertanggung jawab atas eksekusiku!" kata Sam marah, cukup keras untuk di dengar yang lain. "Kau mungkin akan mengega diri sendui!"

-Tak usah macam-macam," kata Nugent pendek. •Sekarang berbalikiah"

Seseorang, entah Hank Henshaw atau Harry loss Scott, berteriak keras, "Barney Fife!" dan seketika seman itu bergema di sepanjang tier. "Barney Fife! Barney Fife! Barney Fife!" "Diam!" Nugent balas berteriak. "Barney Fife! Barney Fife!" "Diam!"

Sam akhirnya berbalik dan mengulurkan tangannya agar Nugent bisa mencapainya. Borgol dilepaskan dan sang Kolonel bergegas menerobos melewati pintu tier.

"Barney Fife! Barney Fife! Barney Fife!" mereka bernyanyi dengan paduan sempurna sampai pintu berdentang menutup dan lorong itu kosong kembali. Suara mereka seketika berhenti dan suara tertawa lenyap. Perlahan-lahan tangan mereka menghilang dari jeruji.

Sam berdiri menghadap gang, menatap tajam dua penjaga yang sedang mengawasinya dari seberang pintu tier, la menghabiskan beberapa menit untuk mengatur tempat itu—menancapkan kabel . kipas angin dan televisi, menyusun buku-buku dengan rapi, seolah-olah akan dipakai, memeriksa apakah toiletnya bisa diguyur dan airnya mengalir, la duduk di ranjang dan memeriksa seprai yang

k 10selnya yang keempat di The Row dan tak disangsikan lagi merupakan sel yang pahng smg-

841

kat ditempatinya, la mengenang kembali doa « pertama, terutama yang kedua, di Tier B, temp,,

sahabat dekatnya. Buster Moac, tinggal di sebelah Suatu hari mereka mengambil Buster dan mem. bawanya ke sini, ke Sel Observasi; mereka meng. awasinya 24 jam sehan agar ia tidak bunuh din. Sam menangis ketika mereka menjemput Buster.

Pada akhirnya setiap narapidana yang berhasil hidup sejauh ini juga akan sampai pada perhentian berikutnya. Lalu pada perhentian terakhir.

Gamer Goodman adalah tamu pertama hari itu di dalam serambi mewah kantor Gubernur. Ia menandatangani buku ramu. berbincang-bincang ramah dengan si resepsionis cantik, dan cuma ingin tahu apakah Gubernur bisa ditemui Resepsionis hendak mengatakan sesuatu ketika telepon berdering pada switchboard. Ia menekan tomboi, meringis, mendengarkan, mengernyit pada Goodman yang me-malingkan wajah, lalu mengucapkan terima kasih \ kepada si penelepon. "Orang-orang ini," ia mengeluh.

"Maaf," kata Goodman seolah tidak tahu-menahu

"Ya, kasut mi sangat emosional. Rasanya seakan-akan sebagian besar masyarakat di situ mendukung hukuman mati."

"Tidak untuk yang ini," katanya, mencatat telepon itu pada sehelai formulir merah muda. "Hampa semua telepon ini menentang eksekusinya.'

-Benarkah? Sungguh suatu kejutan." -Akan saya beritahu Miss Stark bahwa Anda

ada di sini."

Terima kasih." Goodman duduk di tempat biasa dalam serambi itu. la kembali melihat-lihat koran pagi. Pada hari Sabtu, harian di Tupelo melakukan kesalahan dengan mulai melakukan survei telepon untuk menyaring opini masyarakat terhadap eksekusi Cayhall. Sebuah nomor telepon toll-free dicantumkan pada halaman depan bersama dengan instruksinya, dan—tentu saja—Goodman dan tim analis pasarnya membombardir nomor itu sepanjang akhir pekan. Edisi hari Senin memuat hasilnya untuk pertama kali, dan angka itu sungguh mencengangkan. Di antara 320 telepon masuk, 302 menentang eksekusi tersebut Goodman tersenyum sendiri ketika membaca surat kabar itu.

Tidak terlalu jauh dari sana, sang Gubernur duduk di depan meja panjang di kantornya memeriksa surat kabar yang sama. Wajahnya prihatin. Matanya sedih dan khawatir.

Mona Stark melintasi lantai marmer dengan secangkir kopi. "Gamer Goodman ada di sini. Menunggu di serambi." "Biarkan dia menunggu." "Hotline kita sudah kebanjiran." McAllister dengan tenang melihat jam tangan. Pukul 08.49. Ia menggosok dagu dengan buku jari. Dari pukul 13.00 hari Sabtu sampai pukul 20.00 hari Minggu, orang-orang pembuat pol sudah me-

nefcpon ktnh dm dm rum warga Mmttw Tu;uh pu/uft (Jtr/jpjn pmen rmndtokong mati. dan itu Kit an ha/ ysuvg mengejoifcn \ num. dari sampc/ jwf -u ma. 31 persen jrjjj. Mh« Sum CayfcaJI ndak afn a*M MM * PkfCMmjtf

pofit» Hm. m oam? kulit putih, dan McAfee* MM WMJ WMf mttfumpmi MdM M ill M«j MtMT M HMI pCMMJ. MsdaM « M

MT

Ml JMM dan f AO MM Mrt ke«erunjha»» aemfcihnya 41 f f^M rnrnrnfanf e**efcus. -/aft hirru*

den g An vrnbtkM put mrnentjtng t/kmkmmfu Dan «JtJf kniMi >i' * kan

MttSth ada tag* Kantor kenfnr ree uh merofrinjirnv i trlepon

uru opmftr MM eel ggu Snai

i fj pencil

nj

•Ijffl fcftiA Wm«

hampir semu" Mggnte anggnta 0

bi felepon masuk '

nrarlcp« uduk mcngi

Gubernur sudah Irtih [Mv'.t tnik.ii.ms.i kepad "Ya. pertemuan dengd "Batalkan Sampaikan wal ulangkan Aku tid int Sebaiknya aku tingg.

Ada acara pukul ^puluh Mana tanpa melihatnya -kelompok Pramuka" permintaan maafku. J.ul berselera dipotret pagi di miii Maka siang?" • r Anda diharapkan

membahas gugatan terhadap im ¦ • i utmcrMtas."

'Aku lak tahan dengan Prcssgrove. Batalkan, lan pesankan ayam Dan. sesudah kupikir pikir. Goodman masuk.* MiHia Stari herialan ke pintu, menghilang »• jeaak. dan kembali be nama Garner Goodman McAllister »edang herdiri di depan tendela. menatap gedung gedung di pusat kota b hrrbalik dan mclortlarkan vnvum letih "Selamat pagi. Mr. Goodman

Mereka her diaman «lan duduk Minggu sore. Goodman mengirimkan k r nadi lanamore aurat permohonan untuk membatalkan sulang pembenM pengampunan, sesuai dengan keinginan keras klien

mereka

"Masih tidak menghendaki sidang, huh?" kata Oubemur dengan satu lagi senyum letih.

•Klien kami hilang tidak. Dia lak punya apa-af |agi untuk ditampahkan Kami sudah mencoba segalanya.* MM mengangsurkan secangkir kon iam kepada CJoodman

.i .t|>ti a uh u hi-

"Dia keras kepala. Selalu demikian, saya ras» mana petisi-petisinya sekarang?" kata McA/j-begitu tulus. "Diproses sesuai yang diharapkan." "Anda sudah pernah mengalami hal seperti jjj Mr. Goodman. Saya belum. Bagaimana prakira^ Anda, menilik keadaan sekarang?"

Goodman mengaduk kopi dan merenungi^ pertanyaan itu. Tak ada ruginya bertenis teran» kepada Gubernur. Pada titik ini tak ada kerugian apa pun. "Saya salah satu pengacaranya, jadi cenderung optimis. Bisa saya katakan peluangnya tujuh puluh persen ini akan terjadi.''

Gubernur merenungkan kata-kata ini sejenak. Ia nyaris bisa mendengar telepon berdering dari balik \ dinding. Bahkan orang-orangnya sendiri jadi resah dan tak pasti. "Tahukah Anda apa yang'Saya inginkan, Mr. Goodman?* tanyanya sungguh-sungguh.

Yeah, kau ingin telepon-telepon terkutuk itu berhenti berdering, pikir Goodman pada diri sendiri. "Apa?"

"Saya benar-benar ingin bicara dengan Adam Hall. Di mana dia?"

"Mungkin di Parchman. Saya bicara dengannya i satu jam yang lalu." "Bisakah dia datang ke sini hati ini?" "Ya, bahkan sebenarnya dia merencanakan kc j Jackson sore ini." "Bagus. Saya akan menunggunya,"

846

Goodman menahan senyum. Mungkin sudah ada

lubang yang pecah pada bendungan.

Namun anehnya tanda-tanda pertama kemungkinan pemberian pengampunan itu muncul pada

front yang berbeda dan tak terduga.

Enam blok dari gedung pengadilan federal, Breck Jefferson memasuki kantor bosnya, Hakim F. Flynn Slattery, yang sedang bicara di telepon dan agak jengkel terhadap seorang pengacara. Breck memegang petisi tebal berisi permohonan peninjauan kembali keputusan pengadilan yang lebih rendah, dan sebuah buku yang penuh dengan catatan.

"Ya?" Slattery menyalak sambil membanting telepon.

"Kita perlu bicara tentang Cayhall," kata Breck muram. "Anda tahu kita sedang menangani petisinya yang menyatakan inkompetensi mental."

"Mari kita tolak dan keluarkan dari sini. Aku terlalu sibuk mengurusinya. Biarkan Cayhall membawanya ke Pengadilan Fifth Circuit. Aku tak ingin benda terkutuk itu berada di sini."

Breck tampak tertekan, dan ucapannya keluar lebih lamban. Tapi ada sesuatu yang perlu Anda libat."

"Ah, sudahlah, Breck. Apakah itu?" "Dia mungkin mengajukan klaim yang sahih." Wajah Slattery turun dan pundaknya merosot. "Sudahlah. Apa kau bercanda? Apa itu? Kita akan

menghadapi sidang tiga puluh menit lagj ^ dewan juri yang sedang menunggu di luar sana,-

Breck Jefferson dulu mahasiswa nomor dua «j kelasnya, di Sekolah Hukum Emory. Slatt^ diam-diam mempercayainya. "Mereka menyatakan Sam tidak memiliki kompetensi mental untuk menghadapi eksekusi, sesuai dengan satu undang, undang Mississippi yang bisa ditafsirkan luas." "Setiap orang tahu dia gila." "Mereka punya ahli yang bersedia memberikan kesaksian. Kita tak bisa mengabaikan itu." "Aku tidak percaya ini." 'Sebaiknya. Anda melihatnya.'' Pak Hakim memijat kening dengan ujung jari. "Duduklah. Coba kulihat."

"Cuma beberapa mil lagi," kata Adam ketika m j la/u kencang menuju penjara. "Bagaimana keada- I an mu?"

Carmen tak banyak bicara sejak mereka we- I ntnggalkan Memphia. Perjalanan pertamanya ke t Mississippi dihabiskan untuk menyaksikan luasnya j daerah Delta, mengagumi bermil-mil tanaman ka- j pas dan kacang yang tumbuh lebat, menyaksikan I mesin pemetik menggelinding di ladang-ladang itu I dengan penuh kekaguman, menggelengkan kepali f menyaksikan gerombolan gubuk miskin, "Aku ge- j lisah," ia mengaku, bukan untuk pertama kalinya. I Mereka bicara singkat tentang Berkeley dan Chi- J cago serta apa yang akan mungkin terjadi

hun-tahun mendatang. Mereka tidak bicara apa pun tentang ibu atau ayah mereka. Demikian pula

Sam dan keluarganya tidak disinggung. "Dia pun cemas."

"Rasanya aneh, Adam. Melaju di jalan raya di daerah liar ini, bergegas untuk menjumpai kakek yang akan dieksekusi."

Adam membelai lutut adiknya dengan kuat. "Kau mengambil tindakan yang benar." Carmen memakai celana khaki oversize, sepatu hiking, dan kemeja denim merah yang sudah pudar. Benar-benar seperti mahasiswi pascasarjana di bidang psikologi.'

"Itu dia." Adam mendadak menunjuk ke depan. Di kedua sisi jalan raya, mobil-mobil diparkir dengan bumper berhadapan. Lalu lintas berjalan lambat, sementara orang-orang berjalan ke arah penjara.

"Apakah semua ini?" tanya Carmen.

"Ini sirkus."

Mereka melewati tiga anggota Klan yang sedang berjalan di tepi trotoar. Carmen menatap mereka, lalu menggelengkan kepala tercengang. Mereka beringsut ke depan, melaju sedikit lebih cepat daripada orang-orang yang bergegas menghadiri demonstrasi. Di tengah jalan raya di depan pintu masuk, dua polisi negara bagian mengarah-kan lalu lintas. Mereka memberi tanda kepada Adam agar berbelok ke kanan, dan Adam me-

n urun.-Seorang penjaga Parchman menung suaru bidang di dekat selokan dangkal.

Mereka bergandengan tangan dan berjalan t gerbang depan, berhenti sejenak untuk melihat ^ tuhan orang Klan berjubah yang bSk-mudfc . depan penjara. Pidato berapi-api disiarkan den^ megafon yang setiap beberapa detik tidak ^ /ungsi dengan benar. Satu kelompok berset&g^ cokelat berdiri dengan pundak saling merapat, n^. megang poster, dan menghadap ke jalan raya. Tat kurang dari lima van televisi diparkir di seberang jalan raya. Kamera ada di mana-mana. Sebuajj helikopter peliput berita berputar-putar di atas.

Di gerbang depan, Adam memperkenalkan Car-men kepada teman barunya, Louise, penjaga yang mengurus izin masuk. Ia cemas dan resah. Ada satu-dua perselisihan seru antara orang-orang Klan, pers, dan penjaga. Segalanya gaduh saat itu, dan menurutnya bal itu takkan membaik.

Seorang penjaga berseragam mengawal merela ke mobil van penjara, dan mereka bergegas meninggalkan gerbang depan. "Sungguh sulit dipercaya," kata Carmen. "Makin buruk saja setiap hari. Tunggulah sam- j pai besok." j

Mobil van itu mengurangi kecepatan saat tot- f nyusuri jalan utama, di bawah naungan pepohonan, j di depan rumah-rumah putih yang rapi itu. Carmen mengawasi segalanya.

"Ini tidak kelihatan

penjara," katanya.

«Ini tanah pertanian. Tujuh belas ribu ekar. gawai penjara tinggal di rumah-rumah itu."

"Bersama anak-anak," katanya sambil melihat sepeda dan skuter yang bergeletakan di halaman depan. "Sungguh damai. Di mana tahanannya?" "Tunggu saja."

Van itu berbelok ke kiri. Lapisan batu habis dan jalan tanah mulai. Tepat di depannya adalah The

Row.

"Kaulihat menara-menara di sana?" Adam menunjuk. "Pagar dan kawat duri?" Carmen mengangguk.

"Itulah Maximum Security Unit Rumah Sam selama sembilan setengah tahun terakhir." jj

"Di mana kamar gasnya?" "Di dalam sana."

Dua penjaga melihat ke dalam van, lalu memberi tanda agar melewati gerbang ganda. Van itu berhenti dekat pintu depan, tempat Packer sedang menunggu. Adam memperkenalkannya kepada Carmen, saat ini nyaris tak bisa bicara. Mereka ^ berhenti di dalam; Packer menggeledah mereka dengan lembut. Tiga penjaga lain mengawasi. "Sam sudah di dalam sana," kata Packer sambil mengangguk ke kantor depan. "Masuklah."

Adam menggandeng tangan adiknya dan menggenggamnya dengan erat. Carmen mengangguk dan mereka berjalan ke pintu. Adam membukanya.

Sam sedang duduk di tepi meja, seperti biasa. Kakinya berayun-ayun di bawah, ia tidak merokok.

Udara dalam ruangan itu bersih dan sejuk. j. melirik Adam, lalu memandang Carmen. Pacta . menutup pinto di belakang mereka.

Carmen melepaskan tangan Adam dan berjalan ke meja, memandang langsung ke mata Sam, "Aku Carmen," katanya lembut. Sam turun dari meja. "Aku Sam, Carmen. Kakekmu yang sesat." Ia menarik Carmen ke dekatnya dan mereka berpelukan.

Adam butuh satu-dua detik untuk menyadari Sam telah mencukur jenggotnya, rambutnya lebih pendek dan tampak jauh lebih rapi. Pakaian terusannya dikancingkan sampai ke leher,

Sam memegang pundak Carmen dan mengamati wajahnya. "Kau secantik ibumu," katanya parau. Matanya berkaca-kaca dan Carmen bergulat menahan air mata. "Kau kelihatan hebat," katanya. "Jangan mulai berbohong, Carmen," kata Adam, memecahkan kekakuan. "Dan mari berhenti menangis sebelum keadaan jadi tak terkendali."

"Duduklah," kata Sam kepadanya sambil menunjuk ke sebuah kursi. Ia duduk di samping Carmen, memegang tangannya.

"Urusan bisnis dulu, Sam," kata Adam sambil bersandar pada meja. "Fifth Circuit baru saja me- i nolak permohonan kita pagi ini. Jadi, kita lepas ke padang yang lebih hijau."

"Kakakmu ini sungguh pengacara yang hebat," ,

kata Sam pada Carmen. "Dia membawakan kabar

yang sama untukku setiap hari."

Tentu saja, tak banyak yang bisa kukerjakan," leata Adam.

"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Sam. "Dia baik-baik saja."

"Katakan padanya aku menanyakannya. Aku

mengingatnya sebagai orang yang baik." "Akan kusampaikan."

"Ada kabar dari Lee?" Sam bertanya pada Adam.

Tidak. Apakah kau ingin menemuinya?"

"Kurasa begitu. Tapi kalau dia tak bisa datang, aku mengerti."

"Coba kulihat apa yang bisa kulakukan," kata Adam yakin. Dua teleponnya kepada Phelps tak dijawab. Terus terang, saat ini ia tak punya waktu untuk mencari Lee.

Sam memiringkan tubuh lebih dekat pada Garmen. "Kata Adam kau'belajar psikologi."

"Benar. Aku mahasiswi pascasarjana di Cal Berkeley. Aku akan..."

Ketukan tajam pada pintu menyela percakapan itu. Adam membukanya sedikit dan melihat wajah cemas Lucas Mann. "Permisi sebentar," katanya pada Sam dan Carmen, lalu melangkah ke gang.

-"Ada apa?" tanya Adam.

"Garner Goodman sedang mencarimu," kata Mann, nyaris berbisik. "Dia ingin kau langsung ke Jackson."

"Mengapa? Apa yang terjadi?"

"Kelihatannya salah satu klaimmu

'e/ah

nai sasaran. '" ^

Jantung Adam berhenti. "Yang mana?" "Hakim Slaterry ingin bicara tentan»

6 '"W

petensi mental. Dia menjadwalkan sidai

nS de,

pendapat pukul lima sore ini. Jangan kataK pun padaku, sebab aku mungkin akan jadi sepihak negara

Adam memejamkan mata dan dengan membenturkan kepala pada dinding. Seribu pjfo^ bergulung liar dalam otaknya. "Pukul lima 50re ini. Slaterry9"

"Sulit dipercaya Dengar, kau perlu bergerai cepat " "Aku butuh telepon "

"Ada satu di dalam sana." kata Mann,

meng-

angguk ke pintu di belakang Adam. "Dengar, Adam, ini sama sekali bukan urusanku, tapi seandainya jadi kau. aku takkan menceritakannya padu Sam. Ini masih berupa kemungkinan kecil, dan tak ada gunanya membangkitkan harapannya. Seandainya kepufusan ada di tanganku, aku akan we- I nunggu sampai sidang itu selesai." "Kau benar Terima kasih, Lucas." "Kembali. Sampai jumpa di Jackson." Adam kembali ke ruangan; percakapan sudah I melantur sampai pada kehidupan di Bay Ana. "Tak ada apa-apa." kata Adam sambil mengernyit , dan berjalan tak acuh ke telepon, la tak meng

hiraukan nomor.

percakapan tenang mereka saat menekan

¦Gamer, mi Adam. Aku ada di sini bersama

Sam. Ada apa?"

"Datanglah ke sini, Big Guy," Goodman berkata tenang. "Segalanya bergerak."

"Aku mendengarkan." Sam sedang menceritakan perjalanannya yang pertama dan satu-satunya ke San Francisco berpuluh-puluh tahun yang lampau.

"Pertama, Gubernur ingin bicara pribadi denganmu. Tampaknya dia menderita. Kita membuatnya jungkir balik dengan telepon-telepon itu, dan dia merasa kepanasan. Yang lebih penting lagi, Slat-tery mempertimbangkan klaim inkompetensi mental itu. Aku bicara dengannya tiga puluh menit yang lalu, dan dia sepenuhnya kebingungan. Aku tidak membantu membereskan urusan. Dia ingin mengadakan sidang pukul lima sore ini. Aku sudah bicara dengan Dr. Swinn. dan dia siap. Dia akan mendarat di Jackson pukul setengah empat dan siap memberikan kesaksian."

"Aku segera berangkat," kata Adam dengan membelakangi Sam dan Carmen. "Temui aku di kantor Gubernur." Adam meletakkan telepon. "Baru saja mengajukan dalih," ia menerangkan kepada Sam, yang saat itu sama sekali tak peduli. "Aku harus ke Jackson."

¦ "Mengapa terburu-buru? tanya Sam, bagaikan . „no vanc masih punya waktu bertahun-tahun un-

tuk hidup dan tak perlu melakukan pekerjaan pun. ^

"Terburu-buru? Apakah kau bilang terW buru? Sekarang pukul sepuluh, Sam, hari Senj. Kita punya waktu 38 jam untuk menemukan ] jizat."

"Takkan ada mukjizat, Adam." Ia menoleh Carmen, masih memegang tangannya. "Jangan biarkan harapanmu bangkit, Sayang."

"Mungkin..."

'Tidak. Sekaranglah saatku, oke? Dan aku $a-ngat siap. Aku tak ingin kau bersedih bila semua ini berakhir."

"Kami harus pergi, Sam," kata Adam, menyen-tuh pundaknya. "Aku akan kembali larut malam ini atau besok pagi-pagi."

Carmen membungkuk dan mencium pipi Sam, "Hatiku bersamamu, Sam," bisiknya.

Sam memeluknya sedetik, lalu berdiri di samping meja. "Hati-hatilah, Nak. Belajarlah dengan giat. Dan jangan berpikir buruk tentang diriku, oke? Aku ada di sini karena suatu alasan, Bukan salah siapa pun kecuali diriku. Ada kehidupan yang lebih baik sedang menungguku di luar tempat ini."

Carmen berdiri dan memeluknya lagi. Ia menangis ketika mereka meninggalkan ruangan itu.

EMPAT PULUH ENAM

Siang hari, Hakim Slattery telah tenggelam sepenuhnya dalam kegentingan saat itu, dan meskipun berusaha keras menyembunyikannya, ia sangat menikmati interval singkat di tengah badai tersebut. Pertama, ia membubarkan juri dan pengacara dalam sidang perdata yang dipimpinnya dan sekarang ditunda, la sudah dua kali bicara dengan panitera Pengadilan Fifth Circuit di New Orleans, lalu dengan Hakim McNeely sendiri. Peristiwa besar itu muncul beberapa menit selewat pukul 11.00, ketika Hakim Mahkamah Agung F. All-bright menelepon dari Washington, meminta laporan terbaru. Allbright memantau kasus itu setiap jam. Mereka bicara tentang undang-undang dan teori. Tak seorang pun di antara mereka menentang hukuman mati, dan mereka berdua punya masalah dengan undang-undang Mississippi yang sedang dibahas. Mereka khawatir undang-undang itu bisa disalahgunakan oleh terpidana mati yang

bisa berpura-pura gila dan menemukan dokter sin ting untuk ikut berperan.

Para wartawan dengan cepat mengetahui suaft sidang entah apa telah dijadwalkan, dan mereka bukan saja membanjiri kantor Slattery dengan telepon, rapi juga parkir di kantor resepsionisnya Marshall dipanggil untuk membubarkan wartawan-wartawan itu.

Sekretaris membawa pesan setiap menit. Breck Jefferson menggali buku-buku hukum yang tak terhitung jumlahnya dan hasil-hasil riset yang bertebaran di meja rapat. Slattery bicara dengan Gubernur, Jaksa Agung, Garner Goodman, dan puluhan orang lain. Sepatunya ada di bawah mejanya yang besar. Ia berjalan mengelilinginya sambil -memegang pesawat telepon dengan kabel panjang, sepenuhnya menikmati kegilaan ini.

Kalau kantor Slattery sibuk, kantor Jaksa Agung sepenuhnya kacau. Roxburgh terjingkrak-jingkrak mendengar kabar bahwa salah saru tembakan asal-asalan Cayhall telah mengenai sasaran. Sepuluh tahun bergulat melawan beruang-beruang ini, naik-turun mendaki jenjang pengadilan, keluar-masuk ruang sidang, bertempur melawan hasil pemikiran hukum kreatif dari ACLU dan lembaga serupa, memproduksi cukup banyak dokumen untuk menghancurkan hutan tropis, dan tepat ketika kau melihatnya dalam sasaran, ia mengajukan satu ton dalih terakhir dan salah satunya mendapatkan per-hatian seorang hakim yang hatinya kebetulan sedang lembut entah di mana.

Ia menghambur menyusuri gang ke kantor Morris Henry, Dr. Death sendiri, dan mereka berdua dengan tergesa-gesa mengumpulkan tim terbaik mereka dalam hukum pidana. Mereka berkumpul dalam perpustakaan besar dengan berderet-deret dan bertumpuk-tumpuk buku terbaru. Mereka meninjau petisi Cayhall dan undang-undang yang bisa diterapkan, serta menyusun strategi. Dibutuhkan beberapa saksi. Siapa yang -pernah menemui Cayhall pada bulan terakhir? Siapa yang bisa memberi kesaksian tentang hal-hal yang ia ucapkan dan perbuat? Sudah tak ada waktu lagi bagi dokter-dokter mereka untuk memeriksanya. Ia punya dokter, sedangkan mereka tidak. Ini masalah yang signifikan. Untuk membuktikan kewarasannya dengan dokter yang bereputasi, negara akan terpaksa minta waktu. Dan waktu berarti penundaan eksekusi. Penundaan tak mungkin diberikan.

Para penjaga melihatnya setiap hari. Siapa lagi? Roxburgh menelepon Lucas Mann, yang menyarankan agar ia bicara dengan Kolonel Nugent. Nugent mengatakan baru menemui Sam beberapa jam sebelumnya, dan... ya, tentu ia akan senang memberikan kesaksian. Bangsat itu tidak gila. Dia cuma jahat. Sersan Packer melihatnya setiap hari. Psikiater penjara, Dr. N. Stegall, sudah menemui Sam, dan ia bisa bersaksi. Nugent sangat ber-

semangat untuk membantu. Ia juga mengusulkan

pendeta penjara. Dan ia akan memikirkan lainnya, Morris Henry menugaskan satu regu pasukan tempur beranggotakan empat pengacara untuk tidak melakukan apa pun kecuali mencari-cari kelemahan Dr. Anson Swinn. Temukan kasus-kasus lain di mana ia pernah terlibat. Bicaralah dengan pengacara-pengacara lain di seluruh penjuru negeri. Cari transkrip kesaksiannya. Orang itu bukan apa-apa kecuali orang sewaan, saksi profesional. Cari bahan-bahan untuk mendiskreditkannya.

Begitu selesai mengatur rencana penyerangan dan orang lain melaksanakan pekerjaannya, Roxburgh naik lift ke lobi gedung itu untuk bicara dengan pers.

Adam parkir di tempat kosong di halaman gedung kapitol negara bagian. Goodman sedang menunggu di bawah pohon peneduh dengan jas terlepas dan lengan kemeja tergulung, dasi kupunya sempurna. Adam cepat-cepat memperkenalkan Carmen kepada Mr. Goodman.

"Gubernur ingin menemuimu pukul dua. Aku baru saja meninggalkan kantornya, untuk ketiga kalinya pagi ini. Mari jalan ke tempat kita," katanya, melambaikan tangan ke arah pusat kota. "Jaraknya cuma beberapa blok."

"Apakah kau menemui Sam?" Goodman menanyai Carmen.

"Ya. Pagi ini."

«Aku senang kau melakukannya." "Apa yang sedang dipikirkan Gubernur?" tanya Adam. Semua ini terlalu lamban baginya. Tenang, katanya pada diri sendiri. Tenang saja.

"Siapa tahu? Dia ingin bertemu denganmu secara pribadi. Barangkali analisis pasar itu mempengaruhinya. Mungkin dia merencanakan akrobat untuk media. Mungkin dia sungguh-sungguh. Aku tak dapat menebak apa-apa. Tapi dia kelihatan letih." "Telepon-telepon itu berhasil?" "Luar biasa." "Tak ada yang curiga?" "Belum. Terus terang, kita menyerang mereka begitu cepat dan keras, sehingga aku sangsi tte-reka punya waktu untuk melacak telepon-telepon itu."

Carmen melantarkan pandangan kosong pada kakaknya yang terlalu sibuk dengan pikiran sendiri untuk melihatnya.

"Apa kabar terakhir dari. Slattery?" tanya Adam ketika mereka menyeberangi jalan, berhenti sejenak tanpa bicara untuk melihat demonstrasi yang tengah berlangsung di tangga depan gedung kapitol.

"Tak ada apa-apa sejak pukul sepuluh pagi ini. Paniteranya meneleponmu di Memphis, dan sek- . retarismu memberikan nomorku di sini. Begitulah mereka menemukanku. Dia menceritakan sidang itu, dan mengatakan Slattery ingin para pengacara berkumpul di mang hakim pada pukul tiga untuk menyusun rencana."

"Apa arti semua ini?" tanya Adam, sangat be harap gurunya mengatakan mereka berada di tepj kemenangan besar.

Goodman merasakan keresahan Adam. "Term terang aku tidak. tahu. Ini kabar baik, tapi t$ seorang pun tahu sampai sejauh mana akan bet-tahan. Sidang pada tahap ini bukan sesuatu yang /uar biasa."

Mereka menyeberangi jalan lain dan memasuki gedung itu. Di lantai atas, kantor sementara ini berdengung sibuk sementara empat mahasiswa hukum bicara pada telepon cordless. Dua duduk dengan kaki di meja. Satu berdiri di depan jendela dan bicara dengan serius. Satu sedang mondar-mandir di dinding seberang dengan telepon tertempel di telinga. Adam berdiri di samping pintu, mencoba menyerap pemandangan itu. Carmen sepenuhnya bingung.

Goodman menjelaskan segalanya dengan bisikan keras. "Kami rata-rata menelepon enam puluh M sejam. Kami memutar lebih dari itu, tapi salurannya jelas penuh terus-menerus. Kami bertanggung jawab atas kemacetan itu, dan ini mencegah telepon orang lain masuk ke sana. Pada akhir pekan kegiatan lebih lambat. Hotline itu cuma memakai satu operator* Ia menyampaikan laporan ringkas ini bagaikan manajer pabrik yang bangga memamerkan mesin otomatis model terakhir. "Siapa yang mereka telepon?" tanya Carmen. Seorang mahasiswa melangkah ke depan dan

„emperkenalkan diri pada Adam kemudian pada

Carmen. Ia sedang bersenang-senang, katanya.

"Kalian mau makan?" tanya Goodman.."Kami punya sandwich." Adam menolak.

"Siapa yang mereka telepon?" Carmen bertanya lagi.

"Telepon hotline Gubernur," Adam menjawab tanpa memberikan penjelasan. Mereka mendengarkan .penelepon terdekat ketika ia mengubah suara dan membaca sebuah nama dari daftar telepon. Ia sekarang menjadi Benny Chase dari Hickory Flat, Mississippi; ia memberikan suara untuk Gubernur dan berpendapat bahwa Sam Cayhall tidak seharusnya dieksekusi. Sudah tiba saatnya Gubernur melangkah ke depan dan menangani situasi ini.

Carmen melontarkan pandangan pada kakaknya, namun Adam tak menghiraukan.

"Mereka berempat mahasiswa hukum di Mississippi College," Goodman menerangkan lebih jauh. "Sejak Jumat kami sudah memakai kira-kira selusin mahasiswa berlainan usia, hitam dan putih, laki-laki dan perempuan. Profesor Glass yang paling membantu menemukan orang-orang ini. Dia juga menelepon. Begitu pula Hez Kerry dan anak buahnya di Defense Group. Sedikitnya kami punya dua puluh orang untuk menelepon."

Mereka menarik tiga kursi ke ujung sebuah . meja dan duduk. Goodman mengambil minuman ringan dari kotak pendingin dan meletakkannya di meja Ia meneruskan bicara dengan suara rendah.

"John Bryan sedang melakukan riset sewaktu ki\ bicara. Dia akan menyiapkan makalah pukul empat nanti. Hez Kerry Juga sedang bekerja. Dia sedasi menghubungi rekan-rekan lain di negara bagian yang masih memberlakukan hukuman mari, untai memeriksa apakah undang-undang yang sama per-nah digunakan baru-baru ini." "Kerry orang kulit hitam itu?" tanya Adam. "Yeah, dia direktur Southern Capital Defense Group. Sangat cerdas."

"Seorang pengacara kulit hitam bekerja jungkir balik untuk menyelamatkan Sam."

"Bagi Hez, itu tak ada bedanya. Ini cuma kasus hukuman mati lainnya." "Aku ingin menemuinya." "Kau akan bertemu dengannya. Semua orang ini akan hadir dalam sidang."

"Dan mereka bekerja cuma-cuma?" tanya Car-men. j

"Kurang-lebih. Kerry digaji. Sebagian pekerjaan- j nya adalah memantau setiap kasus hukuman mati di negara bagian ini, tapi karena Sam punya pengacara sendiri, Kerry tidak terlibat langsung. Dia menyumbangkan waktunya, sebab dia memang ingin melakukan ini. Profesor Class digaji oleh sekolah hukum, tapi ini pasti di luar lingkup tugasnya di sana. Kami membayar mahasiswa-maha-siswi ini lima dolar sejam." "Siapa yang membayar mereka?" tanya Adam. "Kravitz & Bane tercinta."

Adam meraih buku telepon terdekat. "Carmen harus memesan tiket pesawat untuk sore ini." katanya sambil membalik-balik halaman kuning.

"Akan kuurus," kata Goodman, mengambil buku

telepon itu. "Mau ke mana?" • "San Francisco."

"Akan kulihat apa yang tersedia. Dengar, ada deU kecil di pojok sana. Mengapa kalian berdua tidak makan di sana? Kita akan jalan ke kantor Gubernur pukul dua."

"Aku perlu pergi ke perpustakaan," kata Adam, melihat jam tangan. Saat itu hampir pukul 13.00.

"Pergilah makan, Adam. Dan cobalah santai. Bta punya waktu nanti untuk duduk mengumpulkan gagasan dan membicarakan strategi. Saat ini kau perlu menenangkan diri dan makan."

"Aku lapar," kata Carmen, gelisah ingin sendirian bersama kakaknya selama beberapa menit. Mereka keluar dari ruangan dan menutup pintu.

Carmen menghentikan Adam di gang yang jorok sebelum mereka sampai ke tangga. Tolong jelaskan padaku," ia mendesak, memegang lengan Adam. "Apa?"

"Ruangan sempit di sana."-'p. "Cukup jelas, kan?" "Apakah itu legal?" "Itu tidak ilegal."

A^m menela napas dalam dan menatap din-

ding. "Apa yang mereka rencanakan Sam'7"

"Mengeksekusinya."

"Eksekusi, gas, exterminate, membunuh, Se^ apa saja semaumu. Tapi itu pembunuhan, Carrr^ Pembunuhan legai. Itu keliru, dan aku beru^. menghentikannya Itu pekerjaan busuk, dan kalau aku harus membengkokkan sedikit etika, aku ^ peduli."

"Itu busuk."

"Begitu juga kamar gas itu."

Carmen menggelengkan kepala dan menahan ucapannya. Dua puluh empat jam yang lalu ia menikmati makan siang bersama pacarnya di sebuah kafe di San Francisco. Sekarang ia tak tahu pasti di mana dirinya.

"Jangan menyalahkan aku karena ini. Carmen. Sekarang saat-saat genting."

"Oke," katanya, dan beranjak ke tangga.

Gubernur dan pengacara muda itu sendirian dalam kantor yang luas, duduk di kursi nyaman berjok kulit, kaki disilangkan, dan ujungnya nyaris bersentuhan Goodman mengantar Carmen ke bandara, mengejar penerbangan. Mona Stark tidak terlihat di sana

"Rasanya aneh. Anda tahu? Anda cucunya dan baru mengenalnya kurang dari sebulan." Kata-kata McAllister tenang, nyaris letih. "Tapi saya sudah bertahun-tahun mengenalnya. Dia sudah menjadi

h,fiian kehidupan saya dalam jangka panjang. Dan

1 pikir sudah lama saya menunggu-nunggu datangnya hari ini. Selama ini saya menginginkannya mau, Anda tahu, agar dia dihukum karena membunuh anak-anak itu." la menyisihkan poninya dan pelan-pelan menggosok mata. Kata-katanya begitu tulus, bagaikan dua sahabat lama yang sedang bertemu untuk bertukar gosip. "Tapi sekarang saya tidak pasti. Harus saya katakan pada Anda, Adam, urusan ini menimbulkan tekanan berat pada saya."

Kalau bukannya benar-benar jujur, ia tentu aktor yang sangat cakap. Adam tak dapat membedakan. "Apa yang akan dibuktikan negara bila Sam mati?" tanya Adam. "Apakah negara bagian ini akan menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup bila matahari terbit pagi hari Rabu dan dia mati?"

Tidak. Tapi Anda tidak percaya pada hukuman mati. Saya percaya." j I "Mengapa?"

"Sebab harus ada hukuman akhir untuk pembunuhan. Tempatkanlah diri Anda pada posisi Ruth Kramer, dan Anda akan merasa berbeda. Masalah Anda, Adam, juga orang-orang seperti diri Anda, adalah karena Anda melupakan korbannya."

"Kita bisa berdebat berjam-jam tentang hukuman mati."

"Anda benar. Mari kita sisihkan hal itu. Apakah Sam sudah menceritakan sesuatu yang baru ten-| tang pengeboman itu?"

"Saya tak bisa mengemukakan apa yang ^ ceritakan Sam. Tapi jawabnya tidak."

"Mungkin dia bertindak sendirian, entahlah."

"Apa bedanya saat ini, sehari sebelum ek%. tosi?"

"Saya tidak tahu pasti, terus terang. Tapi bila saya tahu Sam cuma pembantu, dan ada orang lain yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu, mustahil saya membiarkan dia dieksekusi. Saya bisa menghentikannya. Anda tahu. Saya bisa melakukannya Saya akan menempuh kesulitan apa pun untuk itu. Secara politis, itu mungkin akan merugikan saya. Kerusakannya bisa tak terpulihkan, tapi saya tidak keberatan. Saya bosan dengan politik. Dan saya tidak menikmati ditempatkan sebagai posisi pemberi dan pencabut nyawa. Tapi saya bisa mengampuni Sam, kalau saya tahu yang sebenarnya."

"Anda yakin dia mendapat pertolongan. Anda sudah mengatakannya pada saya. Agen FBI yang bertanggung jawab dalam penyelidikan juga yakin demikian. Mengapa Anda tidak bertindak atas keyakinan Anda dan memberikan pengampunan?"

"Sebab kami tidak pasti."

"Jadi, sepatah kata dari Sam, cuma satu nama diungkapkan pada jam-jam terakhir, dan—bingo, Anda mengambil pena dan menyelamatkan nyawanya?"

"Tidak, tapi mungkin saya bisa memberikan penangguhan hukuman, sehingga nama itu bisa diselidiki.'

-itt takkan terjadi. Pak Gubernur. Saya sudah „coba. Saya sudah begitu sering menanyakan-

dan dia menyangkal, sampai hal itu tak panah lagi dibicarakan." "Siapa yang dia lindungi?" ""Kalau saja saya tahu."

"Barangkali kita keliru. Pernahkah dia memberi

Anda perincian pengeboman itu?"

"Sekali lagi, saya tak bisa membicarakan percakapan kami. Tapi dia memikul tanggung jawab sepenuhnya."

"Kalau begitu, mengapa saya hams mempertimbangkan pemberian pengampunan? Kalau si pelaku kejahatan sendiri menyatakan melakukannya dan bertindak sendirian, bagaimana saya bisa menolongnya?"

Tolonglah dia, sebab dia orang tua yang tak lama lagi tentu akan mati juga. Tolonglah dia, sebab itulah tindakan yang benar, dan jauh di dalam hati Anda ingin melakukannya. Itu butuh keberanian." "Dia membenci saya, bukan?" "Ya. Tapi dia bisa berubah pendapat Beri dia pengampunan dan dia akan jadi pengagum Anda yang paling hebat"

McAllister tersenyum dan membuka bungkus permen. "Apakah dia benar-benar tidak waras?"^ "Ahli kami mengatakan demikian. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkan Hakim Slattery."

"Saya tahu, tapi benarkah? Anda sudah men I habiskan waktu berjam-jam bersamanya. Apakah j dia tahu apa yang sedang terjadi?"

Pada titik ini, Adam memutuskan menyisihkan kejujuran. McAllister bukan sahabat, dan tak bisa sepenuhnya dipercaya. "Dia sangat sedih," Adam mengaku. "Terus terang, saya heran kalau orang bisa mempertahankan kewarasan sesudah beberapa bulan di death row. Sam sudah ma ketika masuk ke sana, dan kondisinya perlahan-lahan memburuk. Itulah salah satu alasan dia menolak semua wawancara. Dia sungguh mengundang kasihan,"

Adam tidak tahu apakah Gubernur mempercayai ucapan ini, tapi yang pasti menyerapnya.

"Bagaimana jadwal Anda besok?" tanya McAllister.

"Entahlah. Tergantung apa yang terjadi di pengadilan Slattery. Saya merencanakan melewatkan sebagian besar hari itu bersama Sam, tapi mungkin juga berlarian mengajukan dalih detik terakhir."

"Saya sudah memberikan nomor pribadi saya. Mari saling menghubungi besok."

Sam makan tiga suap kacang pinto dan sebagian roti jagung, lalu meletakkan nampan di ujung ranjang. Penjaga idiot yang sama dengan wajah kosong mengawasinya melalui jeruji pintu tier itu. Hidup sudah cukup buruk dalam sangkar-sangkar sempit berjejalan ini, tapi hidup seperti binatang dan diawas» terus sungguh tak tertahankan rasanya.

Saat to pukul 1800, saat siaran berita malam, la sangat ingin mendengar apa yang dikatakan dunia tentang dirinya. Stasiun Jackson mulai dengan mengungkapkan berita sidang pemenksaan menit terakhir oleh Hakim Federal F. Flynn Slattery. Laporan itu dipotong sampai ke depan gedung pengadilan federal Jackson, tempat seorang laki-laki muda penuh semangat dengan sebuah mikrofon menerangkan sidang itu tertunda sedikit sementara para pengacara berdebat dalam kantor Slattery. la mencoba sebaik mungkin untuk menjelaskan secara ringkas pokok persoalannya Pembela sekarang menyatakan Mr. Cayhall tidak me-rmliki kapasitas mental yang memadai untuk memahami mengapa dirinya dieksekusi. Dalih pembelaan itu menyatakan ia sudah pikun dan gila, sehingga dibutuhkan seorang psikiater terkemuka dalam usaha terakhir untuk menghentikan eksekusi M. Sidang itu diharapkan akan dimulai setiap saat, dan tak seorang pun tahu kapan keputusan bisa diambil oleh Hakim Slattery. Kembali ke wanita pembawa berita, yang mengatakan bahwa, sementara itu, di penjara negara di Parchman, seluruh sistem sudah siaga untuk melaksanakan eksekusi. Seorang lelaki muda lain dengan ttftrjofon sekonyong-konyong muncul di layar, berdiri di suatu tempat dekat gerbang depan penjara, menjelaskan peningkatan penjagaan keamanan, la menunjuk ke kanan, dan kamera menyorot ke daerah di dekat jalan raya tempat karnaval

petti biasanya. PoJisi patroli jalan raya ^

dengan kekuatan penuh, mengarahkan lalu /jn(^

dan mengawasi dengan mata waspada satu bolan yang terdiri atas beberapa lusin anggota ^ Klux Klan. Pemrotes-pemrotes lain, termasuk ber bagai kelompok pengagung keunggulan ras putj. dan aboiisionis hukuman mati, demikian katanya

Kamera berayun kembali ke reporter itu, y^ sekarang berdiri bersama Kolonel George Nugem orang yang bertindak sebagai kepala penjara Parchman dan bertanggung jawab atas eksekusi itu. Nugent dengan muram menjawab beberapa pertanyaan, mengatakan segalanya terkendali, dan bila pengadilan memberi lampu hijau, eksekusi itu akan dilaksanakan menurut undang-undang.

Sam mematikan televisi. Dua jam sebelumnya Adam sudah menelepon dan menjelaskan sidang tersebut, jadi ia siap mendengar bahwa dirinya sudah pikun dan gila serta hanya Tuhan yang tahu entah apa lagi. Namun ia tak menyukainya. Menunggu dieksekusi sudah cukup mengerikan, tapi mendengar kewarasannya dibicarakan dengan begitu enteng serasa bagaikan pelanggaran keji atas privasi.

Tier itu panas dan sepi. Televisi dan radio dikecilkan. Di sampingnya, Preacher Boy dengan pelan menyanyikan The Old Rugged Cross dan kedengaran cukup menyenangkan.

Di lantai dekat dinding tertumpuk pakaian barunya—kemeja katun putih polos, celana Dickies,

872

kaus kaki putih, dan sepasang pantofel cokelat Siang itu Donnie melewatkan satu jam bersama-

nya. .

Ia mematikan lampu dan bersantai di ranjang.

Tiga puluh jam lagi untuk hidup.

Ruang sidang utama- di gedung federal itu penuh sesak ketika Slattery akhirnya membebaskan para pengacara dari ruangannya untuk ketiga kalinya Perdebatan terakhir dari serangkaian perdebatan panas yang berlarut-larut hampir sepanjang siang. Sekarang sudah hampir pukul tujuh.

Mereka berduyun-duyun ke mang sidang dan mengambil tempat di belakang meja yang sudah ditetapkan. Adam duduk bersama Gamer Goodman. Pada sederet kursi di belakang mereka duduk Hez Kerry, John Bryan Glass, dan tiga mahasiswa hukumnya. Roxburgh, Morris Henry, dan setengah ' lusin asisten berkerumun di sekitar meja untuk pihak negara bagian. Dua deret di belakang mereka, di belakang jerjak, duduklah sang Gubernur bersama Mona Stark di satu sisi dan Larramore di sisi lain.

Sisa kerumunan orang banyak itu terutama wartawan—kamera tidak diizinkan di sana. Ada beberapa penonton yang ingin tahu, mahasiswa hukum, dan pengacara-pengacara lain. Sidang itu terbuka untuk umum. Di deretan belakang, memakai jas Sport dan dasi yang gaya, duduklah Rollie Wedge.

Slattery keluar dan semua orang berdiri

"Silakan duduk," katanya ke mikrofon. "Uhfujtg--catat," katanya kepada notulis pengadilan. Ia njg " berikan ulasan ringkas mengenai petisi itu ^ undang-undang yang dipakai, lalu menguraikan pa ramerer sidang tersebut. Ia tidak berminat mend., ngarkan argumentasi berkepanjangan dan periang, an-pertanyaan tanpa tujuan, jadi bekerjalah dengan cepat, katanya kepada para pengacara.

"Apakah pihak yang mengajukan petisi sudah siap?" ia bertanya ke arah Adam. Adam berdiri gelisah dan berkata, "Ya, Sir. Pihak pengaju petis] memanggil Dr. Anson Swinn."

Swinn berdiri dari deretan pertama dan berjalan ke podium saksi; di situ ia disumpah. Adam berjalan ke podium di tengah ruang sidang, memegang catatan dan menabahkan diri. Catatannya terketik rapi, hasil riset dan persiapan sempurna oleh Hez Kerry dan John Bryan Glass. Merela berdua, bersama staf Kerry, telah mencurahkan sehari itu antuk Sam Cayhall dan sidang ini. Dan mereka siap bekerja sepanjang malam dan sepanjang hari besok.

Adam mulai mengajukan beberapa pertanyaan pokok pada Swinn tentang pendidikan dan training-nya. Jawaban Swinn diwarnai aksen tegas dari daerah upper Midwest, dan itu bagus. Seorang abu' harus bicara dengan cara berbeda dan bepergian menempuh jarak jauh agar dipandang tinggi. Dengan rambut hitam, jenggot hitam, kacamata

874

hitam, dan setelan jas hitam, ia benar-benar menunjukkan penampilan seorang master brilian di

bidangnya. Pertanyaan-pertanyaan pendahuluan itu pendek dan to the point, tapi cuma karena Slattery sudah memeriksa kualifikasi Swinn dan memutuskan ia bisa memberikan kesaksian sebagai ahli. Pihak negara bagian bisa menyerang surat mandatnya pada pemeriksaan silang, tapi kesaksian itu tetap akan dicatat.

Dengan Adam memimpin jalan, Swinn bicara tentang pertemuannya selama dua jam dengan Sairi Cayhall hari Selasa lalu. Ia menguraikan kondisi fisiknya dan melakukannya sedemikian rupa, sehingga Sam kedengaran seperti mayat. Kemungkinan besar ia gila, meskipun kegilaan di sini merupakan istilah hukum, bukan istilah medis/ Ia bahkan mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan sederhana seperti: Apa yang kaumakan untuk sarapan pagi? Siapa yang ada di sel di sampingmu? Kapan istrimu meninggal? Siapa pengacaramu pada sidang pertama? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Swinn dengan sangat hati-hati menutupi jejak dengan berkali-kali mengatakan kepada pengadilan bahwa dua jam sama sekali tidak cukup untuk memberikan diagnosis mendalam terhadap Mr. Sam Cayhall. Dibutuhkan lebih banyak waktu untuk itu.

Menurut pendapatnya, Sam Cayhall tidak memahami fakta bahwa ia akan mati, tidak mengerti mengapa ia dieksekusi, dan sama sekali tak me-

nyadari dihukum karena suafu kejahatan. ^ mengenakkan gigi agar riap kali tidak merjn ", rapi Swinn benar-benar meyakinkan. Mr. Cayjf'f' sepenuhnya tenang dan santai, tak tahu apa pU|) tentang nasibnya, menghabiskan hari-harinya de ngan percuma dalam sel dua kali tiga meter, rv kup menyedihkan. Satu di antara kasus terhuni yang pernah ia temui.

Dalam situasi berbeda, Adam tentu ngeri raeng. ajukan saksi yang jelas penuh kebohongan seperti itu. Namun saat ini ia bangga luar biasa akan laki-laki kecil yang aneh ini. Nyawa seorang manusialah yang jadi taruhan.

flattery takkan memotong kesaksian Dr. Swinn. Kasus ini akan langsung diperiksa Pengadilan Fifth Circuit dan mungkin Mahkamah Agung AS, dan ia lak ingin siapa pun di atas salah mengerti tentang dirinya. Jadi, dengan keleluasaan yang diberikan sidang, Swinn melontarkan hal-hal yang kemungkinan besar menjadi penyebab masalah Sam. Ia menguraikan kengerian hidup dalam sel j selama 23 jam sehari; tahu bahwa kamar gas cuma J berjarak selemparan batu; tak punya hak untuk ditemani, mendapat makanan yang baik, seks, ke- J leluasaan bergerak, latihan, udara segar. Ia sudah j banyak menangani terpidana mati di seluruh peti-juru negeri dan tahu betul masalah mereka. Sam, i tentu saja, jauh berbeda karena usianya. Usia rata- i rata terpidana mati adalah 31 tahun, dan biasanya i mereka melewatkan empat tahun menunggu tor J

876

matian. Sam umur enam puluh tahun ketika per-eama kali tiba di Parchman. Secara fisik dan mental, ia tidak tahan dengan itu. Tak terhindarkan

lagi kondisinya memburuk.

Selama 45 menit Swinn diperiksa langsung oleh Adam. Ketika kehabisan pertanyaan, Adam duduk. Steve Roxburgh melangkah ke podium dan menatap Swinn.

Swinn tahu apa yang akan terjadi, dan sedikit pun tidak khawatir. Roxburgh mulai dengan menanyakan siapa yang membayar jasanya, dan berapa yang dimintanya. Swinn mengatakan Kravitz & Bane membayarnya dua ratus dolar per jam. Hebat. Tak ada juri di boks. Slattery tahu bahwa semua ahli dibayar, atau mereka takkan bisa memberikan kesaksian. Roxburgh mencoba mencari kelemahan kualifikasi profesional Swinn, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Laki-laki ini psikiater yang berpendidikan baik, terlatih baik, dan berpengalaman. Jadi, apa salahnya kalau bertahun-tahun yang lalu ia memutuskan bisa mendapatkan uang lebih banyak sebagai saksi ahli. Kualifikasinya tidak memudar. Dan Roxburgh memutuskan takkan berdebat tentang masalah medis dengan seorang dokter.

Pertanyaan-pertanyaan jadi makin aneh ketika Roxburgh mulai menanyakan perkara-perkara lain di mana Swinn memberikan kesaksian. Ada anak yang terbakar dalam' kecelakaan mobil di Ohio, dan Swinn memberikan pendapat bahwa anak itu sepenuhnya cacat mental. Tidak terlalu ekstrem.

877

"Apa tujuan Anda sebenarnya?".'" Slattery menyela dengan keras.

Roxburgh melihat catatan, lalu berkata, "Yang Mulia, kami mencoba mendiskreditkan saksi ini."

"Saya tahu. Tapi itu takkan ada hasilnya, Mr. Roxburgh. Sidang ini tahu bahwa saksi sudah memberikan kesaksian dalam banyak sidang di seluruh penjuru negeri. Apa maksudnya?"

"Kami mencoba menunjukkan bahwa dia bersedia memberikan opini yang aneh bila uangnya tepat."

"Pengacara melakukan hal itu setiap liari, Mi. Roxburgh."

Terdengar suara tawa sangat pelan di antara penonton, tapi sangat terkendali.

"Saya tak ingin mendengarnya," Slattery membentak. "Sekarang teruskan."

Roxburgh seharusnya duduk, tapi terlalu sayang melewatkan kesempatan itu. Ia pindah ke ladang ranjau berikutnya dan mulai menanyakan pemeriksaan Swinn terhadap Sam. Ia tak mencapai apa pun, Swinn menangkis setiap pertanyaan dengan jawaban lancar yang makin menguatkan kesaksiannya dalam pemeriksaan langsung. Ia banyak mengulangi uraian menyedihkan tentang keadaan Sam Cayhall. Roxburgh tidak mendapatkan angka sama sekali, dan setelah terpukul habis, akhirnya kembali ke tempat duduknya. Swinn dipersilakan meninggalkan tempat saksi. Saksi selanjutnya, saksi terakhir bagi pihak yang

pengajukan petisi, merupakan kejutan, meskipun Slattery sudah menyetujuinya. Adam memanggil yix. E. Gamer Goodman ke tempat saksi.

Goodman disumpah, lalu duduk. Adam bertanya mengenai representasi biro hukumnya bagi Sam Cayhall, dan secara ringkas Goodman menguraikan sejarahnya untuk dicatat. Slaterry sudah tahu sebagian besar dari hal itu. Goodman tersenyum ketika teringat usaha Sam untuk memecat Kravitz &Bane.

"Apakah Kravitz & Bane mewakili Mr. Cayhall

saat ini?" tanya Adam. "Benar."

"Dan saat ini Anda berada di Jackson untuk

menangani kasus ini?" "Benar."

"Menurut pendapat Anda, Mr. Goodman, apakah Anda percaya Sam Cayhall sudah menceritakan

segalanya tentang pengeboman Kramer kepada pengacaranya?" "Tidak."

Rollie Wedge menegak sedikit dan mendengarkan dengan penuh perhatian. "Bisakah Anda jelaskan?" "Tentu. Selama ini ada bukti tak langsung yang menunjukkan ada orang lain bersama Sam Cayhall pada saat pengeboman Kramer, dan pengeboman-pengeboman lain yang mendahuluinya. Mr. Cayhall selalu menolak bicara tentang hal ini dengan saya, pengacaranya, dan bahkan sampai sekarang

879

tidak bersedia bekerja sama dengan pengacaranya Sudah jelas bahwa pada titik ini, sangatlah penting dia mengungkapkan segalanya kepada pengacara-nya. Dia tak mampu melakukannya. Ada beberapa fakta yang harus kami ketahui, namun dia tak mau menceritakannya."

Wedge gelisah dan sekaligus lega. Sam bersikeras, tapi pengacaranya mencoba segala cara.

Adam mengajukan beberapa pertanyaan lain, lalu duduk. Roxburgh cuma mengajukan satu pertanyaan. "Kapan Anda terakhir bicara dengan Mr. Cayhall?"

Goodman sangsi dan memikirkan jawabannya. Terus terang ia tak bisa mengingat secara tepat, kapan hal itu terjadi. "Saya tidak pasti. Sudah dua atau tiga tahun."

"Dua atau tiga tahun? Dan Anda pengacaranya?"

"Saya salah satu pengacaranya. Mr. Hall sekarang pengacara utama dalam kasus ini, dan dia sudah menghabiskan waktu yang tak terhitung banyaknya bersama klien dalam bulan terakhir ini."

Roxburgh duduk, dan Goodman kembali ke tempat duduknya di belakang meja.

"Kami tak punya saksi lain, Yang Mulia," kata Adam.

"Panggil saksi pertama Anda, Mr. Roxburgh," kata Slattery.

"Negara memanggil Kolonel George Nugent," Roxburgh mengumumkan. Nugent ditemukan ber-ada di gang, dan dikawal ke tempat saksi. Kemeja

dan celana hijau zaitunnya bebas keratan, sepatu

bisnya mengilat, la menyatakan siapa dirinya dan apa yang ia kerjakan untuk dicatat. "Saya ada di

paichman satu jam yang lalu," katanya sambil melihat jam tangan. "Baru saja terbang ke sini

dengan helikopter milik negara."

"Kapan Anda terakhir melihat Sam Cayhall?" tanya Roxburgh.

"Dia dipindahkan ke Sel Observasi pukul sembilan pagi ini. Saat itu saya bicara dengannya."

"Apakah secara mental dia sadar, atau hanya meneteskan liur di sudut seperti idiot?" Adam akan melompat dan mengajukan kebe-^ tatan, tapi Goodman memegang lengannya.

"Dia sangat sadar," kata Nugent bersemangat. "Sangat cerdas. Dia bertanya pada saya, mengapa i dia dipindahkan dari selnya ke sel lain. Dia menyadari apa yang terjadi. Dia tak menyukainya, tapi Sam memang tak menyukai apa pun akhir-akhir ini." "Apakah Anda melihatnya kemarin?" "Ya."

"Dan apakah dia bisa bicara, atau cuma berbaring tak berdaya?"

"Oh, dia cukup banyak bicara."

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Saya punya checWist tentang beberapa hal yang perlu saya bahas bersama Sam. Dia sangat memusuhi bahkan mengancam saya dengan kekerasan fisik Dia orang yang sangat kasar dengan lidah

tajam. Setelah dia tenang sedikit, kami bicara tentang santapan terakhirnya, saksi-saksinya, apa yang harus dilakukan dengan barang-barang pribadinya, Beberapa hal seperti itu. Kami bicara tentang efc sekusi tersebut."

"Apakah dia sadar dirinya akan dieksekusi?"

Nugent meledak tertawa. "Pertanyaan macam apa itu?"

"Jawab saja," kata Slattery tanpa senyum.

"Tentu saja dia tahu. Dia tahu benar apa yang sedang terjadi. Dia tidak gila. Dia berkata pada saya bahwa eksekusi itu takkan terjadi, sebab pengacara-pengacaranya akan membongkar artileri berat, begitulah istilahnya. Mereka sudah merencanakan semua ini." Nugent mengibaskan kedua tangannya pada seluruh ruang sidang.

Roxburgh bertanya tentang pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan Sam, dan Nugent tak menyisakan perincian kecil sekalipun. Rasanya ia ingat setiap patah kata yang diucapkan Sam dalam dua minggu terakhir ini, terutama sarkasme menyengat dan sindiran tajam.

Adam tahu semua itu benar. Ia cepat-cepat mendekat pada Garner Goodman, dan mereka memutuskan membatalkan pemeriksaan silang. Tak banyak yang bisa didapatkan.

Nugent berjalan tegap di gang dan keluar dari ruang sidang. Laki-laki itu punya misi. Ia dibutuhkan di Parchman.

Saksi kedua dari pihak negara adalah Dr. N

Stegall, psikiater pada Department of Corrections. la berjalan ke tempat saksi, sementara Roxburgh

berunding dengan Morris Henry.

"Harap beritahukan nama Anda untuk dicatat," kata Slattery.

"Dr. N. Stegall."

"Ann?" tanya Hakim.

"Bukan. N. Itu singkatan."

Slattery menatapnya, lalu memandang Roxburgh yang mengangkat pundak, seolah-olah tak tahu apa yang hams diucapkan.

Hakim bergeser lebih dekat ke tepi mejanya dan memandang ke tempat saksi di bawah. "Dengar, Dokter, saya tidak meminta singkatan nama Anda, saya minta nama Anda. Sekarang, tolong Anda sebutkan untuk dicatat, dan kerjakanlah dengan cepak9

Ia mengalihkan tatapan dari Hakim, berdeham melonggarkan tenggorokan, dan dengan enggan berkata, "Neldeen."

Tak heran, pikir Adam. Mengapa dia tidak * mengubahnya dengan nama lain saja?

Roxburgh memanfaatkan saat tersebut dan dengan cepat mengajukan sejumlah pertanyaan tentang kualifikasi dan pendidikannya. Slattery sudah memutuskan bisa memberikan kesaksian.

"Sekarang, Dr. Stegall," Roxburgh mulai, hati-hati menghindari panggilan Neldeen, "kapan Anda bertemu dengan Sam Cayhall?»

883

Stegall menatap kertas di tangannya. "Kamis tanggal 26 Juli."

"Dan maksud kunjungan ini?"

"Sebagai bagian dari tugas saya, secara rutin saya mengunjungi narapidana penghuni death row, \ terutama yang akan segera menghadapi eksekusi, Saya memberikan konseling dan pengobatan, bila mereka memintanya."

"Harap jelaskan kondisi mental Mr. Cayhall."

"Sangat waspada, sangat cerdas, sangat tajam lidahnya, nyaris kasar. Bahkan dia sebenarnya cukup kasar pada saya, dan dia minta saya agar tidak kembali."

"Apakah dia bicara tentang eksekusinya?"

"Ya. Dia bahkan tahu cuma punya waktu tiga belas han lagi. dan menuduh saya mencoba memberinya obat, sehingga dia tidak menimbulkan kesulitan bila saatnya tiba. Dia juga mengungkapkan keprihatinan atas narapidana lain, Randy Dupree, yang menurutnya kondisi mentalnya memburuk, Dia sangat prihatin dengan Mr. Dupree, dan mempersalahkan saya karena tidak memeriksanya."

"Menurut pendapat Anda, apakah dia menderita suatu bentuk penurunan kapasitas mental?"

"Sama sekali tidak. Pikirannya sangat tajam."

Tidak ada pertanyaan lain," kata Roxburgh, lalu duduk. Igfc

Adam berjalan ke podium dengan mantap. "Ce-makanlah pada kami, Dr. Stegall, bagaimana ke-

daan Randy Dupree?" ia bertanya dengan volume

penuh.

"Saya... uh... saya belum punya kesempatan untuk menemuinya."

"Sam menceritakan tentang dia sebelas hari yang lalu, dan Anda sama sekali tak peduli untuk

menengoknya?" "Selama ini saya sibuk." "Berapa lama Anda sudah memegang jabatan

sekarang?" "Empat tahun."

"Dan selama empat tahun ini, berapa kali Anda

bicara dengan Sam Cayhall?" "Satu kali."

"Anda tidak begitu peduli dengan para narapidana di death row, bukan, Dr. Stegall?" "Tentu saja saya peduli." "Ada berapa orangkah di death row sekarang

ini?"

"V/ell... uh... saya tidak pasti. Sekitar empat puluh, saya rasa."

"Berapa orang yang sudah pernah Anda ajak bicara? Beri kami beberapa nama."

Apakah itu ketakutan, kegusaran, atau ketidaktahuan, tak seorang pun bisa mengatakannya. Tapi Neldeen diam membeku, la meringis dan menggoyangkan kepala ke satu sisi, jelas berusaha mencabut satu nama dari udara, dan jelas tak mampu melakukannya. Adam membiarkannya tergantung

Hie.

sejenak. Ulu berkata. "Terima kasih, Dr. Stegajj la berbaJik dan berjalan pelan-pelan ke kursinya

"Panggil saksi Anda selanjutnya" Slattery menatahkan "Negara memanggil Sersan Clyde Packer." Packer dijemput dan gang dan dikawal ke b*, gun depan ruang sidang. Ia masih terseragam tapi pistolnya sudah ditanggalkan Ia bersumpal) untuk mengatakan yang sebenarnya, dan duduk di tempat saksi.

Adam tidak terkejut dengan kesaksian Packer. Ia laki-laki jujur yang sekadar menceritakan apa yang dilihatnya. Ia sudah sembilan setengah tahun mengenal Sam. dan keadaannya sekarang sama dengan saat ia pertama tiba. Ia mengetik surat dan dokumen hukum sepanjang hari. membaca banyak buku, terutama buku-buku hukum, la mengetik permohonan peninjauan ulang untuk rekan-rekannya di The Row, dan ia mengetik surat kepada istri dan pacar untuk beberapa orang yang tak bisa membaca, fa terus-menerus merokok, sebab ingin mati dengan sendirinya sebelum negara melakukannya Ia meminjamkan uang kepada teman-teman. Menurut pendapnt Packer yang sederhana. Sam secara mental waras seperti halnya sembilan setengah tahun yang lalu Dan pikirannya sangat

Slattery membungkuk lebih dekat ke ujung meja Hakim ketika Packer menceritakan permainan checker Sam melawan f/ensbaw dan Gullit

f -Apakah dia menang?" Hakim menyela I "Hampir selalu. T. . ..

I Mungkin titik balik sidang itu terjadi ketika I packer bercerita tentang keinginan Sam melihat I matahari terbit sebelum ajal. Itu terjadi minggu lalu, ketika suatu pagi Packer sedang bertugas jaga. Sam diam-diam mengajukan permohonan itu. Ia tahu akan mati. katanya ia siap pergi, dan ingin keluar pagi-pagi ke halaman bermain di ujung timur dan menyaksikan matahari terbit. Jadi, Packer mengurusnya, dan Sabtu kemarin Sam menghabiskan satu jam menghirup kopi dan menunggu matahari terbit. Sesudahnya ia sangat berterima kasih.

Adam tak punya pertanyaan untuk Packer. Ia dipersilakan berlalu dan meninggalkan ruang sidang.

Roxburgh mengumumkan saksi berikutnya adalah Ralph Griffin, pendeta penjara. Griffin dikawal ke tempat saksi dan memandang sekeliling mang sidang dengan perasaan tak enak. Ia menyebutkan nama dan pekerjaannya, lalu memandang cemas pada Roxburgh.

"Apakah Anda kenal Sam Cayhall?" tanya Roxburgh

"Ya." ^

"Apakah Anda memberikan konseling kepadanya akhir-akhir ini?"

"Ya."

"Kapan Anda terakhir melihatnya?" "Kemarin. Minggu."

887

"Dan bagaimana Anda menjelaskan kead mentalnya?" ^

"Saya tak bisa menjelaskannya." "Maaf?"

"Saya katakan saya tak bisa menjelaskan koncfiSj mentalnya."

"Mengapa tidak?"

"Sebab saat ini saya pendetanya, dan apa pun yang dia katakan atau kerjakan di depan saya sepenuhnya rahasia. Saya tak bisa memberikan kesaksian yang memberatkan Mr. Cayhall."

Roxburgh terenyak sejenak, mencoba memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jelaslah ia ataupun bawahannya yang pandai tak pernah memikirkan situasi ini. Barangkali mereka berasumsi bahwa karena bekerja untuk negara, pendeta ini akan bekerja sama dengan mereka. Griffin bersiaga menunggu serangan dari Roxburgh.

Slattery menyelesaikan persoalan dengan cepat. "Pendapat yang sangat bagus. Mr. Roxburgh. Saksi ini tidak seharusnya berada di sini. Siapa berikutnya?"

Tidak ada saksi lain." kata sang Jaksa Agung, terburu-buru ingin meninggalkan podium dan kembali ke tempat duduknya.

Hakim menulis sejumlah catatan panjang, lalu memandang ruang sidang yang penuh sesak. "Saya akan membawa urusan ini untuk dipertimbangkan, dan saya akan memberikan keputusan, mungkin besok pagi-pagi Begitu keputusan siap, kita akar

memberitahu para pengacara. Anda tak perlu tinggal di sini. Kami akan menelepon Anda. Sidang

C

dibubarkan."

Semua orang berdiri dan bergegas ke pintu belakang. Adam mengejar Pendeta Ralph Griffin dan

mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu kembali ke meja tempat Goodman, Hez Kerry, Profesor Glass, dan para mahasiswa sedang menunggu. Mereka berkerumun dan berbisik sampai orang banyak menghilang, lalu meninggalkan mang sidang itu. Seseorang bicara tentang makanan dan minuman. Saat itu hampir pukul 21.00.

Para reporter sedang menunggu di luar pintu ruang sidang. Adam melontarkan no comment so-j pan dan terus berjalan. Rollie Wedge menyelinap di belakang Adam dan Goodman sewaktu mereka beringsut melintasi gang yang penuh sesak, la menghilang saat mereka meninggalkan gedung.

Dua kelompok kamera sudah siap di luar. Di tangga depan, Roxburgh sedang melayani sekelompok wartawan, dan tak jauh dari trotoar, Gubernur sedang memberikan komentar. Ketika Adam berjalan melewatinya, ia mendengar McAllister mengatakan pemberian pengampunan sedang dipertimbangkan, dan'malam ini akan menjadi malam panjang. Esok akan lebih berat lagi. Apakah ia Stan menghadiri eksekusi? tanya seseorang. Adam tak dapat mendengar jawabannya.

Mereka bertemu di Hal and Mai's, sebuah restoran

dan tempat minum populer di pusat kota

H,

mendapatkan meja besar di sudut dekat f>a .e*

depan dan memesan bir. Sekelompok band y bermain di belakang. Ruang makan dan bar ngn J sesak. *

ior kami.

Salah satu orangku beralih ke praktek

Adam duduk di sudut, di samping Hez, ^ untuk pertama kalinya bersantai setelah berj^ jam. Bir masuk dengan cepat ke perutnya ^ menenangkannya. Mereka memesan kacang merjj, dan nasi. dan berbincang-bincang tentang sidang tadi. Hez mengatakan ia tampil luar biasa, fjan para mahasiswa itu penuh dengan pujian. Suasana. nya optimis. Adam mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka. Goodman dan Glass berada di ujung meja itu, tenggelam dalam percakapan ten tang kasus hukuman mati lain. Waktu berlalu perlahan-lahan, dan Adam menyerbu santap malamnya begitu disajikan.

"Sekarang mungkin bukan saat yang lepat untuk mengemukakan urusan ini," Hez berbisik, h tik ingin siapa pun mendengarnya, kecuali Adam. Band itu makin keras lagi sekarang.

"Kurasa kau akan kembali ke Chicago begitu urusan ini selesai," katanya sambil melirik Goodman, untuk memastikan ia masih terlibat percakapan dengan G las s

"Kurasa begitu," kata Adam, tidak begitu yakin, la tak punya banyak waktu untuk memikirkan apa pun setelah besok. "Nah, asal kau tahu saja, ada lowongan di kan-

BtaTdan kami mencari pengacara bara. Tak ada Wgas lain kecuali menangani kasus hukuman mati,

jrau tahu."

"Kau benar," kata Adam pelan. "Sekarang saat

yang buruk untuk mengemukakannya"

"Pekerjaannya berat, namun memuaskan. Juga meremukkan hati. Dan perlu." Hez mengunyah

sepotong sosis dan mengguyurnya dengan bir. "Uangnya sedikit, dibanding dengan apa yang kau-

terima dari biro hukum sekarang. Anggaran belan-f ja ketat, jam kerja panjang, banyak klien." "Berapa?"

"Aku bisa mulai memberimu 30.000." "Saat ini aku mendapat. 62.000. Dan lebih banyak lagi akan menyusul."

Aku pernah mengalaminya. Aku mendapat 70.000 di sebuah biro hukum besar di D.C., sara-! pai aku berhenti dan datang ke sini. Aku dipersiapkan untuk jadi partner, tapi mudah saja untuk berhenti. Uang bukan segalanya." "Kau menikmati ini?"

"Lama-kelairjaan... ya. Perlu keyakinan moral yang kuat untuk melawan sistem seperti ini. Cobalah kaupert imbangkan."

Goodman sekarang memandang ke arah mereka. "Apa kau akan kembali ke Parchman malam ini?" tanyanya keras. Adam sedang menghabiskan bir kedua. Ia mgm ketiga, tapi tidak lebih. Keletihan mengendap

yang

iJ>de,

dengan cepat. "Tidat A

berdetak. Tak J SUdah ^esa?^ ^da dalam taW * ^nu"C

^ menghaL m°h0n a^ Tuh^l^ sertai C^n' ^'^Wya

la ponya waJctu 24 iam e,fJcJcan-

EMPAT PULUH TUJUH

Nugent menunggu sampai pukul 07.30 tepat untuk menutup pintu dan memulai rapat. Ia berjalan ke depan ruangan, dan memeriksa pasukannya. "Aku baru saja meninggalkan MSU," katanya muram. "Narapidana itu jaga dan waspada, sama sekali bukan mayat hidup seperti yang kita baca di koran pagi ini." Ia berhenti dan tersenyum, mengharapkan setiap orang menikmati humornya. Lelucon itu lewat tajk tertangkap.

"Dia bahkan sudah sarapan, dan mengomel meminta waktu rekreasi. Jadi setidaknya ada sesuatu yang normal di sini. Sekarang belum ada kabar dari pengadilan federal di iBckson, jadi mm m berjalan sesuai jadwal kecuali kita mendengar kabar sebaliknya. "Benar, Mr..M^«J meja di bagian Lucas sedang duduk feabar dan mencoba

depan ruangan, mefflbaC^ei. "Benar."

tak menghiraukan sang* ^ diperhatikan.

"Sekarang, ada duai» ^ menUgaskan Ser-Pertama adalah pers- Sa/

san Moreland di sini untuk menangani bang$» 1 bangsat ini. Kita akan pindahkan mereka ke Balai Pengunjung tepat di dalam gerbang depan, dan berusaha menahan mereka di sana. Kita akan ka. ' rung mereka dengan penjaga, dan tantang mereka untuk berkeliaran. Pukul empat sore ini, saya akan mengundi reporter mana yang bisa menyaksikan eksekusi. Menurut hitungan kemarin, ada seratus nama lebih dalam daftar permintaan. Mereka mendapat lima tempat duduk.

"Masalah kedua adalah apa yang terjadi di luar gerbang. Gubernur sudah setuju menugaskan tiga lusin tentara untuk hari ini dan besok, dan mereka akan sampai ke sini tak lama lagi. Kita harus menjaga jarak dari orang-orang gila itu, terutama para skinhead, bajingan-bajingan itu sinting, tapi kita juga harus menjaga ketertiban. Kemarin terjadi dua perkelahian, dan urusan bisa memburuk cepat seandainya kita tidak mengawasi. Bila eksekusi berlangsung, mungkin akan ada saat-saat tegang. Ada pertanyaan?"

Tak ada satu pertanyaan pun.

"Baiklah. Saya harap setiap orang bertindak profesional hari ini, dan laksanakanlah tugas ini dengan sikap bertanggung jawab. Bubar." Ia memberikan hormat cepat, dan dengan bangga mengawasi mereka meninggalkan ruangan.

Sam duduk di bangku dengan papan checker di depannya, dan dengan sabar menunggu J.B. Gullil

masuk ke halaman rekreasi, la meneguk sisa kopi dingin dalam cangkir.

Gullit melangkah melewati pintu, dan berhenti sementara borgol dilepaskan. Ia menggosok per-gelangan tangan, melindungi mata dari matahari, dan memandang temannya duduk seorang diri. Ia berjalan ke bangku dan mengambil posisi di seberang papan. Sam tak pernah mengangkat muka. "Ada kabar baik, Sam?" Gullit bertanya cemas. "Katakan padaku itu takkan terjadi." "Jalanlah saja," kata Sam, menatap biji checker. "Itu tak bisa terjadi, Sam," ia merengek. "Sekarang giliranmu jalan dulu. Jalanlah." Gullit perlahan-lahan menurunkan pandangan mata ke papan checker.

Teori yang beredar pagi itu mengatakan makin lama Slattery duduk di atas petisi tersebut, makin besar kemungkinan pemberian penangguhan hukuman. Namun ini merupakan kebijaksanaan konvensional dari mereka yang berdoa memohon penangguhan. Tak ada kabar apa pun pada pukul 09.00, tak ada apa pun pada pukul 09.30.

Adam menunggu di kantor Hez Kerry, yang sudah dijadikan pusat operasi selama 24 jam terakhir. Goodman ada di bagian lain kota itu. memimpin serangan tak kenal ampun ke totfroe Gubernur, tugas yang kelihatannya sangat dinikmatinya. John Bryan Glass parkir di luar kantor Slattery.

Apabila Slattery menolak penangguhan, mer^ akan langsung mengajukan banding ke Pengadil^ Fifth Circuit. Naskah banding itu selesai puy 09.00, berjaga-jaga kalau diperlukan. Kerry ju»4 sudah menyiapkan sebuah petisi meminta peninjauan oleh Mahkamah Agung AS, bila Fifth Circuit menolak mereka. Berkas-berkas itu menunggu, Segalanya menunggu.

Untuk menyibukkan pikiran, Adam menelepon setiap orang yang bisa diingatnya. Ia menelepon Carmen di Berkeley. Ia sedang tidur dan baik-baik saja. Ia menelepon kondominium Lee, dan—tentu saja—tak ada jawaban. Ia menelepon kantor Phelps dan bicara dengan seorang sekretaris. Ia menelepon Darlene untuk memberitahu bahwa ia tidak tahu kapan akan kembali. Ia menelepon nomor pribadi McAllister, tapi terantuk pada sinyal sibuk. Barangkali Goodman juga menjejalinya dengan telepon.

Ia menelepon Sam dan bicara tentang sidang kemarin malam, dengan tekanan khusus pada Pendeta Ralph Griffin. Packer juga memberikan kesaksian, ia menjelaskan, dan hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Nugent, seperti biasa, adalah seorang bangsat. Ia mengatakan pada Sam bahwa ia akan ke sana sore hari. Sam memintanya bergegas. Pukul 11.00, nama Slattery dikutuk dan diumpat

dengan kegusaran yang memang pada tempatnya.

Adam sudah cukup tinggal di sana. Ia menelepon

Goodman dan mengatakan akan pergi ke

Parchman. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada

«ez Kerry, dan sekali lagi mengucapkan tenma

kasih. . «*2Sj

Kemudian ia memacu mobilnya, keluar dan Jackson, menuju ke utara di Highway 49. Parchman akan dicapai dalam dua jam bila ia mengemudi dalam batas kecepatan. Ia menemukan stasiun radio yang menjanjikan berita terbaru dua kali tiap jam, dan mendengarkan diskusi berkepanjangan tentang perjudian kasino di Mississippi. Tak ada apa pun yang baru tentang eksekusi Cayhall pada siaran berita pukul 11.30.

Ia mengemudi dengan kecepatan delapan puluh sampai sembilan puluh mil per jam, melewati garis kuning dan tikungan dan jembatan. Ia melaju melewati zona-zona berbatas kecepatan di kota-kota dan desa-desa kecil. Ia tak tahu pasti apa yang menariknya ke Parchman dengan kecepatan seperti itu. Tak banyak yang bisa ia kerjakan begitu sampai di sana. Manuver-manuver hukum sudah ditinggalkan di Jackson. Ia akan duduk bersama Sam dan menghitung jam. Atau mungkin mereka akan merayakan hadiah luar biasa dari pengadilan federal.

la mampit di sebuah toko di tepi jalan dekat kota kecil Flora untuk membeli bensin dan sari buah dan ketika mengemudi meninggalkan pompa bensin ia mendengar berita itu. Ta& shew yang membosankan dan tak.putus-putusnya sekarang dipenuhi ketegangan ketika ia mendengarkan uraian

tentang kasus Cayhall. Hakim Pengadilan Dis^ Amerika Serikat F. Flynn Slattery bani saja me nolak petisi terakhir Cayhall, klaimnya yang me. nyatakan inkompetensi mental. Urusan itu akan diajukan ke Pengadilan Fifth Circuit dalam satu jam. Sam Cayhall baru saja mengambil satu Jangkah raksasa menuju kamar gas Mississippi, demikian kata pembawa berita dengan dramatis.

Bukannya menginjak pedal gas, Adam malah mengurangi kecepatan dan meneguk minuman. Ia mematikan radio, la membuka jendela membiarkan udara hangat bersirkulasi, la mengumpat Slattery sampai bermil-mil, berbicara sia-sia pada kaca depan dan mencaci dengan segala macam cacian kotor. Sekarang sudah beberapa saat lewat tengah hari. Slattery, dengan segala pertimbangan, seharusnya bisa memutuskan lima jam yang lalu. Sialan, seandainya punya nyali dia bisa mengambil keputusan tadi malam. Mereka tentu sudah bisa berada di depan Pengadilan Fifth Circuit, h mengumpat Breck Jefferson juga dengan cukup hebat.

Sam sudah mengatakan padanya sejak awal bahwa Mississippi menginginkan eksekusi. Negara bagian ini sudah ketinggalan di belakang Louisiana, Texas, dan Florida, bahkan Alabama, Georgia, dan Virginia membunuh dalam jumlah lebih besar dan patut dicemburui. Suatu tindakan harus diambil. Pengajuan banding itu tak berujung-pangkal. Para penjahat itu dimanja. Kejahatan merajalela. Sudah saatnya mengeksekusi seseorang dan menunjukkan

kepada seluruh negeri bahwa negara bagian ini

serius dengan hukum dan ketertiban. Adam akhirnya mempercayainya. Sesudah beberapa lama ia menghentikan sumpah serapah itu. Ia menghabiskan minuman dan melemparkan botol dari mobil ke dalam selokan, terang-terangan melanggar undang-undang Missis-, sippi tentang pembuangan sampah secara semba-rangan. Sulit mengungkapkan pendapatnya sekarang tentang Mississippi dan hukumnya.

Ia bisa membayangkan Sam duduk dalam selnya, menyaksikan televisi, mendengarkan berita.

Hati Adam sakit mengingat orang tua itu. Sebagai pengacara ia telah gagal. Kliennya akan mati di tangan pemerintah, dan tak ada apa pun yang bisa ia kerjakan.

Kabar itu menggegerkan pasukan wartawan dan juru kamera yang sekarang merayap-rayap di sekitar Balai Pengunjung yang sempit tepat di dalam gerbang depan. Mereka berkumpul di seputar televisi portabel dan menyaksikan siaran stasiun mereka di Jackson dan Mississippi. Sedikitnya ada empat potong tayangan langsung dari Parchman sementara wartawan lain yang tak terhitung jumlahnya mondar-mandir di daerah itu. Wilayah mereka yang sempit dibatasi dengan tali dan barikade, serta diawasi ketat oleh pasukan Nugent. Keributan meningkat hebat di sepanjang jalan ketika kabar tersebut menyebar. Orang

-orang

Klan, sekarang berkekuatan seratus orang, mulai berseru-seru keras ke arah gedung administrasi. Para skinhead. Nazi, dan Arya melontarkan cacian kepada siapa pun yang mendengarkan. Para biarawati dan pemrotes tenang lainnya duduk di bawah payung dan mencoba mengabaikan tetangga mereka yang gaduh.

Sam mendengarkan berita itu ketika ia sedang memegang* semangkuk turnip green, makanan terakhir sebelum santapan penghabisan. Ia menatap televisi, menyaksikan adegan-adegan beralih dari Jackson ke Pare h man dan kembali lagi. Seorang pengacara muda berkulit hitam yang belum pernah didengarnya bicara dengan seorang reporter dan menjelaskan apa yang akan dilakukannya bersama tim pembela Cayhall selanjutnya.

Temannya Buster Moac pernah mengeluh tentang banyaknya pengacara yang terlibat dalam kasusnya pada hari-hari terakhir sampai ia tak bisa lagi mengingat siapa yang ada di pihaknya dan siapa yang mencoba membunuhnya. Namun Sara yakin Adam dalam kendali.

Ia menghabiskan turnip green itu, dan meletakkan mangkuknya di atas nampan di kaki ranjang. Ia berjalan ke jeruji dan mengejek ke wajah kosong penjaga yang mengawasinya dari balik pintu tier. Gang itu sunyi. Televisi di tiap sel menyala, semuanya disetel kecil dan ditonton dengan minat yang tak lazim. Tak ada satu suara pun bisa terdengar, dan keadaan itu sendiri luar biasa langka.

la melepaskan pakaian terusan merahnya untuk

«ang terakhir kali, menggulungnya, dan melemparkannya ke pojok, la menendang sepatu mandi karet itu ke bawah ranjang dan takkan pernah melihatnya lagi. Dengan hati-hati ia meletakkan pakaian barunya di atas ranjang, mengaturnya sedemikian rupa, lalu perlahan-lahan membuka kancing kemeja lengan pendek itu dan mengenakannya. Kemeja itu cocok, la memasukkan kaki ke dalam celana khaki yang tersetrika kaku, menarik ritsleting, dan mengancingkan "pinggangnya. Celana itu dua inci terlalu panjang, maka ia duduk di ranjang dan melipat ujungnya dengan rapi. Kaus kaki katun itu tebal dan nyaman. Sepatunya sedikit terlalu besar tapi cukup pas.

Perasaan memakai pakaian benar-benar membawa kembali memori menyakitkan akan dunia bebas. Ini adalah celana yang ia pakai selama empat puluh tahun, sampai dirinya dipenjarakan. Ia dulu membelinya di toko tua di alun-alun Clanton, selalu menyimpan empat atau lima celana di laci terbawah lemari pakaiannya yang besar. Istrinya menyetrika tanpa kanji, dan sesudah dicuci setengah lusin kali celana itu terasa seperti piama tua. la memakainya untuk bekerja dan ke kota. Ia memakainya dalam perjalanan memancing bersama Eddie, dan ia memakainya di teras sambil meng-II.. ifecil. Ia memakainya ke coffee ^-ayunkan 1***^ Klan. Ya, ia bah-shop dan pertemuanp ymg kan memakainya pa"8"

kan nasib ke Greenville .untuk mengebom kantor Yahudi radikal tersebut.

Ia duduk di atas ranjang dan menjepit lipatan tajam di bawah lutut. Sudah sembilan tdmn enam bu/an sejak terakhir ia memakai celana ini. Rasanya cocok, cuma sekarang ia harus memakainya untuk ke kamar gas.

¦ Celana itu akan dipotong dari tubuhnya, dimasukkan ke dalam tas, dan dibakar.

Adam lebih dulu mampir ke kantor Lucas Mann. Louise di gerbang depan memberinya sehelai catatan yang mengatakan itu urusan penting. Mann menutup pintu di belakangnya dan menawarkan tempat duduk. Adam menolak. Ia ingin buru-buru menemui 5am.

"Pengadilan Fifth Circuit menerima pengajuan banding itu tiga puluh menit yang lalu," kata Mann. "Kupikir kau mungkin ingin memakai teleponku untuk menghubungi Jackson."

'Terima kasih. Tapi aku akan pakai telepon di The Row."

"Baiklah. Aku bicara dengan kantor Jaksa Agung tiap setengah jam, jadi kalau dengar se-suatu aku akan meneleponmu." "Terima kasih." Adam bergerak-gerak resah. "Apakah Sam ingin santapan terakhir?' "Akan kutanyakan sebentar lagi." "Baiklah. Teleponlah aku, atau beritahu saja Packer. Bagaimana dengan saksi?"

«Sam tak menginginkan adanya saksi.* | 'gagairnana denganmu?" Tidak. Dia takkan mengizinkannya. Kita sudah ^nyepakatinya sejak lama."

Baiklah. Aku tak bisa memikirkan hai lain lagi. ^Itu punya fox dan telepon, dan segalanya sedikit lebih tenang di sini. Silakan saja kalau kau mau memakai kantorku."

"Terima kasih," kata Adam, melangkah keluar dari kantor. Ia mengemudi perlahan-lahan ke The Row dan parkir untuk terakhir kalinya di halaman tanah di samping pagar. Ia berjalan perlahan-lahan ke menara jaga dan memasukkan kuncinya ke dalam ember.

Empat minggu yang lalu ia berdiri di sana dan menyaksikan ember merah itu turun untuk pertama kafinya, dan ia berpikir betapa sederhana tapi efektifnya sistem kecil ini. Cuma empat minggu! Rasanya seperti sudah bertahun-tahun.

Ia menunggu gerbang ganda itu, dan menemui Tiny di anak tangga.

Sam sudah berada di kantor depan, duduk di tepi meja, mengagumi sepatunya. "Aku baru saja memeriksa pakaian baru ini," katanya bangga ke-tika Adam masuk.

Adam melangkah mendekat dan niemeriksa pakaian tersebut dari sepatu sampai kemeja.^ Saur bersinar-sinar. Wajahnya tercukur bersin. 'Rapi. Sungguh rapi." "Aku pesolek biasa, kan?"

"Kau kelihatan bagus, Sam, sungguh bagus. Apakah Donn/e membawakan ini semua?"

"Yeah. Dia membelinya di toko obral. Aku sebenarnya ingin memesan pakaian dari desainer di New York, tapi peduli amat. Ini cuma eksekusi. Kukatakan padamu aku takkan membiarkan mereka membunuhku dalam pakaian terusan merah itu. Sudah beberapa saat yang lalu aku melepaskannya, takkan pernah memakainya lagi.. Harus kuakui, Adam, rasanya menyenangkan." "Kau sudah dengar perkembangan terakhir?" "Tentu. Semuanya ada dalam siaran berita. Maaf tentang sidang itu."

"Petisi itu sekarang ada di Fifth Circuit, dan aku lebih lega. Aku suka dengan peluang kita di sana."

Sam tersenyum dan berpaling, seolah-olah bocah kecil ini sedang menceritakan kebohongan yang tak berbahaya kepada kakeknya. "Siang tadi ada seorang pengacara kulit hitam di televisi yang mengatakan dia bekerja untukku. Apakah yang terjadi?"

"Itu mungkin Hez Kerry." Adam meletakkan kopernya di atas meja dan duduk. "Apakah aku membayarnya juga?" "Yeah, Sam, kau membayarnya dengan farip yang sama seperti kau membayarku."

"Sekadar ingin tahu. Dokter sinting itu, siapa namanya—Swinn? Dia pasti bicara banyak tentang diriku."

"Sangat menyedihkan, Sam. Ketika dia selesai

-ikan kesaksian, seluruh ruang sidang bisa Vmu berkeliaran di selmu, menggaruk-garuk * dan kencing & atas lantai." 1 Ih, aku akan dilepaskan dari pendentaan." pn Sam terdengar kuat dan keras, nyaris meriang. Tak ada sedikit pun tanda-tanda ketakut-0 "Dengar, aku ingin minta bantuan kecil dari-0,' katanya sambil merogoh untuk mengambil situ amplop lain.

'Siapakah orangnya kali ini?" Sam menyerahkannya kepada Adam. "Aku ingin jaii membawa ini ke jalan raya di pinggir gerbang depan, dan aku ingin kau menemui pimpinan gembolan orang Klan di luar sana, dan aku ingin Kau membacakan ini kepadanya. Coba kumpulkan lamera untuk merekamnya, sebab aku ingin masyarakat tahu apa bunyi surat itu." Sam memegangnya dengan curiga. "Apakah buinya?"

"Ringkas dan to the point. Aku minta mereka semua pulang. Membiarkanku sendiri, sehingga aku mati dengan damai. Aku tak pernah dengar tentang kelompok-kelompok itu, dan mereka mendapatkan banyak perhatian dari kematianku."

Kau tak bisa membuat mereka menyingkir, kau tahu."

"Aku tahu. Dan aku tak berharap mereka akan i. Tapi televisi membuatnya seolah-olah mt-reka ini teman-teman dan sahabat-sahabatku. Ata

kenal seorang pun di luar sana."

Aim tidak yakin kalau ini gagasan ya„

* Acara Adam, berpikir dengan ba'k

sekarang i keras.

"Mengapa tidak?

"Sebab saat kita

bicara sekarang, kita seda mengatakan kepada Fifth Circuit bahwa pada J samya kau adalah tanaman, tak mampu menyuSni) pemikiran seperti ini."

Sam sekonyong-konyong gusar. "Kalian neng. acara," katanya mencemooh. "Apakah kau tak per. nah menyerah? Urusan ini sudah selesai, Adam berhentilah bermain." "Belum."

"Dari pihakku, urusan ini sudah selesai. Sekarang, bawa/ah surat itu dan kerjakan seperti yang kukatakan." \flm

"Sekarang juga?" Adam bertanya, melihat jam tangan. Saat itu pukul 13.30.

"Ya! Sekarang juga. Aku akan menunggu di sini."

Adam parkir di samping gardu jaga di gerbang depan, dan menjelaskan kepada Louise apa yang akan ia lakukan. Ia cemas. Louise mengerling curiga pada amplop putih di tangannya, dan berseru kepada dua penjaga terseragam agar mengantarkan. Mereka mengawal Adam melewati gerbang depan dan menghampiri daerah demonstrasi. Beberapa reporter yang sedang meliput para pemrotes itu mengenali Adam, dan langsung mengerumuni-

u dan dua penjaga itu berjalan cepat me-* - pagar depan, tak menghiraukan pertanyaan

ja berjalan langsung ke payung biru dan putih flig menandai markas Klan, dan saat ia berhenti, kelompok jubah putih sudah menunggunya. Pers mengelilingi Adam, penjaganya, dan orang-orang flan tersebut. "Siapakah pimpinan di sini?" Adam deltanya sambil menahan napas. "Siapa yang ingin tahu?" tanya seorang laki-laki muda bertubuh besar dengan jenggot hitam dan pipi yang terbakar matahari. Keringat menetes-netes dari alis ketika ia melangkah ke depan.

"Aku membawa pernyataan ini dari Sam Cay-tell," kata Adam keras, dan lingkaran itu merapat. Kamera berbunyi "klik-klik". Para reporter menyorongkan mikrofon dan recorder ke sekitar Adam. "Diam," seseor

ng berseru. "Mundur!" salah satu penjaga membentak. Sekelompok anggota Klan yang tegang, semuanya dengan jubah yang seragam tapi kebanyakan tanpa kerudung, berdesakan lebih rapat di depan Adam. Ia tak mengenali orang-orang yang ia hadapi Jumat kemarin. Orang-orang ini tidak kelihatan terlalu ramah.

Kegaduhan berhenti di lapangan ™mpf''u sementara kerumunan orang itu mendesak lebih dekat untuk mendengarkan pengacara Sam.

Adam mencabut catatan itu dari amplop dat)

memegangnya dengan dua belah tangan. "Nama saya Adam Hal/, dan saya pengacara Sam Cayhali, Ini adalah pernyataan dari Sam," ia mengulangi. "Pernyataan ini tertanggal hari ini, dan ditujukan kepada semua anggota Ku KIiu Klan, serta ke-fompofc-kelompofc lain yang berdemonstrasi untuknya di saat hari ini. Saya kutip, 'Harap pergi. Kehadiran kaitan di sini tidak menyenangkanku. Kalian memakai eksekusiku sebagai alat untuk mengejar kepentingan sendiri. Aku tak kenal satu pun di antara kalian, dan aku sama sekali tak berminat Menemui kalian. Harap kalian segera pergi. Aku /ebih suka mati tanpa pertunjukan kalian."

Adam melink wajah keras orang-orang klan itu. semua kepanasan dan berkeringat "Alinea terakhir berbunyi sebagai berikut, saya kutip. 'Aku bukan lagi anggota Ku K lux Klan. Aku melepaskan diri dan organisasi itu dan segala yang diperjuangkannya. Aku akan /adi orang bebas hari ini seandainya aku tak pernah mendengar rentang Ku KJui Klan.' Ditandatangani oleh Sam Cayhali." Adam membaliknya dan menyodorkannya ke arah orang-orang Klan itu. yang semuanya tak sanggup b/cara dan tercengang.

Laki-laki dengan jenggot hitam dan pipi terbakar rmuhan itu melompat pada, Adam dan mencoba merebut surat itu. "Berikan padaku!" ia berseru, fapr Adam menariknya. Penjaga di lebe/an Adam melangkah cepat ke depan dm mens

laki.Jaki itu." yang mendorong si penjaga ^„)api balas mendorongnya, dm selama be-detik yang menegangkan .pengawal Adam ',„l;,t dengan beberapa orang Klan. Penjaga-

\0f

si pemimpin balas ber-

lain selama ini mengawasi di dekat tempat dan dalam beberapa detik sudah berada di ' ah pertarungan saling mendorong. Ketertiban dipulihkan dengan cepat. Kerumunan orang itu mundur

Adam mengernyit pada orang-orang Klan tersebut. "Enyahlah!" teriak Adam. "Kalian sudah dengar apa yang dia katakan! Dia malu dengan

jgtianf"

"Enyahlah ke neraka!' teriak,

Dua penjaga tadi memegang Adam dan membawanya pergi sebelum ia membakar mereka lagi. Mereka bergerak cepat ke arah gerbang depan, menumbuk para reporter dan kru kamera yang

menghalangi jalan. Mereka praktis berlari melewati gerbang, melewati sederet penjaga lain. melewati kerumunan reporter lain. dan akhirnya ke mobil Adam.

"Jangan kembali ke sini, jaga itu memohon padanya.

oke?" salah satu pen-

Kantor McAllister dikenal bocor lebih hebat daripada toilet tua Menjelang sore, hari Selasa, gosip paling panas yang beredar di Jackson mengatakan Gubernur secara serius mempertimbangkan pent-

berian pengampunan kepada Sam Ca itu menyebar cepat dari gedung kapitof G°siP para wartawan di luar tempat desas-des kepada kutip wartawan-wartawan lain dan pen S 'tu d'-diulangi lagi, bukan hanya sebagai gosip"*0" Serta bagai desas-desus kuat. Dalam satu jam ^ Se~ bocor, desas-desus itu telah menanjak sa SeteIah tingkat hampir mendekati fakta. mpai ke

Mona Stark bicara dengan pers di rotunda menjanjikan pernyataan Gubernur bebera ^ lagi. Beberapa pengadilan belum selesai** ^ ngani kasus tersebut, jelasnya. Ya, GubernuT?' di bawah tekanan luar biasa. ada

EMPAT PULUH DELAPAN

Pengadilan fifth ciRcuiTbutuh kurang dari empat jam untuk melemparkan' banding gangplank terakhir ke Mahkamah Agung AS. Rapat pendek melalui telepon diadakan pada pukul 15.00. Hez Kerry dan Gamer Goodman bergegas ke kantor Roxburgh di seberang gedung kapital negara bagian. Sang Jaksa Agung punya sistem telepon yang cukup canggih untuk secara bersamaan menghubungkan dirinya, Goodman, Kerry, Adam, dan Lucas Mann di Parchmanr Hakim Agung Robichaux di Lake Charles, Hakim Agung Judy di New Orleans, dan Hakim Agung McNeely di Amarillo, Texas. Panel tiga hakim itu memperkenankan Adam dan Roxburgh mengemukakan argumentasi mereka, lalu rapat itu dibubarkan. Pukul 16.00, pnitera pengadilan itu menelepon semua p«. IWngabarkan penolakan, danjfc Kerry dan Goodman cepat-cepat ¦

kah banding ke Mahkamah Ag»*. ^ Sam sedang dalam proses men,

saan fisik terakhir ketika Adam menyelesaikan percakapan pendeknya dengan panitera itu. Ia pelan-pelan meletakkan telepon. Sam menatap tajam dokter muda yang • dengan takut-takut mengukur tekanan darahnya. Packer dan Tiny berdiri di dekatnya, atas permintaan dokter tersebut. Dengan kehadiran lima orang, kantor depan itu jadi sesak.

"Fifth Circuit baru saja menolak," kata Adam murung. "Kita dalam perjalanan ke Mahkamah Agung."

"Sama sekali bukan tanah perjanjian," kata Sam, masih menatap si dokter.

"Aku optimis," kata Adam setengah hati, karena kehadiran Packer.

Si dokter cepat-cepat memasukkan peralatannya ke dalam tas. "Selesai," katanya seraya beranjak ke pintu.

"Jadi, aku cukup sehat untuk mati?" tanya Sam. Dokter itu membuka pintu dan berlalu, diikuti Packer dan Tiny. Sam berdiri dan meregangkan punggung, lalu mulai mondar-mandir perlahan-lahan melintasi mangan itu. Tumitnya terasa licin dalam sepatu itu, sehingga mempengaruhi langkahnya. "Apa kau cemas?" ia bertanya dengan senyum nakal.

Tentu saja. Dan kurasa kau tidak." "Kematian itu tak mungkin lebih buruk daripada saat menunggunya. Persetan, aku sudah siap. Aku ingin menyudahi semua ini," Adam nyaris mengucapkan hal usang tentang

luang mereka di Mahkamah Agung, tapi tak Jrselera menerima umpatan. Sam mondar-mandir

L, merokok, tidak berminat bicara. Adam, seperti kjasa, sibuk dengan telepon. Ia menelepon Good-.jun dan Kerry, tapi percakapan mereka pendek Tak banyak yang dibicarakan, dan tak ada 0ptimisme apa pun.

Kolonel Nugent berdiri di teras Balai Pengunjung n meminta mereka tenang. Di lapangan rumput depannya berkumpul pasukan kecil reporter dan wartawan, semuanya resah menunggu undian. Di sampingnya ada meja dengan ember kaleng. Setiap ta pers memakai lencana oranye bernomor yang dibagikan pengurus penjara sebagai tanda pengenal. Kerumunan orang banyak itu luar biasa tenang.

Menurut peraturan penjara, ada delapan tempat duduk untuk jatah anggota pers," Nugent menerangkan perlahan-lahan, kata-katanya bergema sampai hampir ke gerbang depan. Ia menikmati sorotan perhatian. "Satu tempat duduk dijatahkan untuk AP, satu untuk UPI, dan saru untuk Missis-i Network. Berarti tersisa lima yang harus dipilih secara acak. Saya akan mencabut lima nomor dari ember ini, dan bila salah satu cocok jan nomor pengenal Anda, hari ini adalah hari keberuntungan Anda. Ada pertanyaan?" Beberapa lusin reporter sekonyong-konyong kehabisan pertanyaan. Banyak di antara mereka

mengambil lencana oranyenya untuk memeriksa nomor mereka. Gelombang ketegangan menyapu kelompok itu. Dengan dramatis Nugent merogoh ke dalam ember dan mencabut secarik kertas. "Nomor 4843."

"Di sini," seorang laki-laki muda dengan tegang berseru membalas, mencabut lencana keberuntungannya.

"Nama Anda?" Nugent berseru. "Edwin King, dari Arkansas Gazzette." Seorang wakil kepala penjara di samping Nugent menuliskan nama orang itu serta surat kabarnya. Edwin King dikagumi rekan-rekan sekerjanya.

Nugent dengan cepat memanggil empat angka Jain dan menyelesaikan undian itu. Gelombang kekecewaan dengan jelas bergulung menimpa kelompok itu ketika nomor terakhir diserukan. Mereka yang kalah sangat kecewa. "Pukul 11.00 tepat, dua van akan berhenti di sana." Nugent menunjuk jalan masuk utama. "Kedelapan saksi harus hadir dan siap. Kalian akan dibawa ke Maximum Security Unit untuk menyaksikan eksekusi. Tanpa kamera atau alat perekam apa pun. Kalian akan digeledah begitu tiba di sana. Sekitar pukul 12.30, kalian akan naik kembali ke van dan kembali ke sini. Sesudah itu jumpa pers akan diadakan di aula utama gedung administrasi yang baru, yang akan dibuka pukul 21.00 untuk kenyamanan Anda. Ada pertanyaan?"

Berapa orang yang akan menyaksikan eksepsi?" seseorang bertanya.

"Akan ada sekitar tiga belas atau empat belas B(ilDg dalam ruang saksi. Dan di dalam Kamar

"Apakah keluarga korban akan menyaksikan eksekusi ini?"

"Ya. Mr. Elliot Kramer, sang kakek, direncanakan akan menjadi saksi."

"Bagaimana dengan Gubernur?"

"Menurut peraturan, Gubernur punya hak atas dua tempat duduk dalam ruang saksi. Salah satu I (empat duduk itu akan diberikan kepada Mr. Kramer. Saya belum diberitahu apakah Gubernur akan berada di sini."

"Bagaimana dengan keluarga Mr. Cayhali?"

Tidak. Tak satu pun sanaknya akan menyaksikan eksekusi."

Nugent telah membuka sekaleng umpan. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di mana-mana, dan ia punya urusan yang harus dikerjakan. "Tidak ada pertanyaan lain. Terima kasih," katanya, lalu beranjak meninggalkan teras.

Donnie Cayhali tiba untuk kunjungan terakhir beberapa menit menjelang pukul 18.00. Ia langsung dibawa ke kantor depan, dan mendapati saudara-

914

915

nya yang berpakaian rapi tertawa-tawa bersama Adam Hall. Sam memperkenalkan mereka berdua.

Selama ini Adam dengan hati-hati menghindari adik Sam. sampai sekarang. Donnie ternyata bersih dan rapi. terurus dan berpakaian pantas. Ia pun mirip Sam, setelah Sam bercukur, memangkas rambut, dan menanggalkan pakaian terusan merah itu. Tinggi mereka sama, dan meskipun Donnie tidak kegemukan, Sam jauh lebih kurus.

Donnie jelas bukan orang udik seperti yang ditakutkan Adam. Ia benar-benar senang bertemu Adam dan bangga dengan fakta bahwa ia pengacara. Ia laki-laki yang menyenangkan dengan senyum ramah dan gigi bagus, tapi matanya sangat sedih saat ini. "Bagaimana keadaannya?" ia bertanya sesudah beberapa menit percakapan ringan. Yang ia maksudkan pengajuan banding itu. "Semuanya ada di Mahkamah Agung." "Jadi, masih ada harapan?" Sam mendengus mendengar gagasan ini. ;j "Sedikit," kata Adam, berserah pada nasib, Mereka terdiam lama ketika Adam dan Donnie mencari bahan pembicaraan yang tidak begitu sensitif. Sam sama sekali tak peduli. Ia duduk tenang di kursi, kaki disilangkan, dan mengepul-ngepul-kan rokok. Pikirannya dipenuhi berbagai hal yang tak dapat mereka bayangkan.

"Aku mampir ke Albert hari ini," kata Donnie. Sam masih menatap lantai. "Bagaimana prostatnya?"

I -Entahlah. Dia menyangka kau sudah mati."

"Itulah kakakku." [ "Aku juga menemui Bibi Finnic"

"Kupikir dia sudah mati," kata Sam sambil tersenyum.

"Hampir. Dia 91 tahun. Benar-benar terguncang dengan apa yang terjadi padamu. Katanya sejak dulu kau kemenakan favoritnya."

"Dia tak pernah menyukaiku, dan aku tak menyukainya. Persetan, lima tahun sebelum aku sampai ke sini, aku tak pernah menemuinya."

"Ah, dia benar-benar terguncang dengan kejadian ini."

"Dia akan pulih."

Wajah Sam tiba-tiba menyunggingkan senyum lebar, dan ia mulai tertawa. "Ingat saat kita melihatnya pergi ke kakus di belakang rumah Nenek, lalu melemparinya dengan batu? Dia keluar sambil menjerit-jerit dan menangis."

Donnie tiba-tiba teringat, dan mulai tertawa terbahak-bahak. "Yeah, atap kakus itu dari seng," katanya di sela-sela napas, "dan setiap batu kedengaran seperti ledakan bom."

"Yeah, waktu itu kita bertiga—aku, kau, dan Albert. Kau pasti belum lagi empat tahun." I, "Tapi aku ingat."

Cerita itu berkembang dan tawa mereka menular. Adam mendapati dirinya terkekeh menyaksikan dua orang tua ini tertawa seperti anak kecil. Cerita tentang Bibi Finnic dan kakus beralih ke

tas keji

wa mereka berlanjut.

Santapan terakhir adalah penghinaan yang disengaja terhadap koki-koki tak berjati di dapur dan ransum membosankan yang telah menyiksanya selama sembilan setengah tahun, la minta sesuatu yang rinsan. makanan dari karton, dan bisa didapatkan dengan mudah. Ia kerap kali kagum pada para pendahulunya yang memesan santapan dengan tujuh macam makanan—steak, lobster, dan cheesecake. Suster Mo*, melahap dua lusin kerang mentah, lalu salad ala Yunani, lalu sepotong daging iga dan beberapa masakan lain h tak mengerti bagaimana mereka biaa mengerahkan selera seperti itu cuma beberapa j tm menjelang ajal Sedikit pun ia tidak merasa lapar ketika Nugent mengetuk pintu pada pukul 19 30 Di belakangnya berdiri Packer, dan di belakang Packer ada narapidana pembawa nampan Di lengah nampan itu ada mangkuk besar dengan f iga Eskimo Pie di dalamnya, dan di sebelahnya ada satu termos kecil berisi kopi French Market, favorit Sam. Nampan di meja.

malam yang sangat sederhana. Sam."

"Bisakah aku menikmatinya dengan tenang, atau kau akan berdiri di sana dan menggangguku dengan omongan idiotmu?"

Nugent terenyak kaku dan menatap Sam berapi-

I »pi. "Kami tikan kembali satu jam lagi. Saat itu umumu hams pergi, dan kami akan mengenv

tulikanmu ke Sel Observasi. Oke'" "Enyahlah saja." kata Sam. duduk di bangku. Begitu mereka menghilang, Donnie berkata.

"Sialan. Sam. mengapa kau tidak memesan sesuatu

yang bisa kita nikmati? Santapan terakhir macam

apa ini?"

"Ini santapan terakhirku. Bila saatmu tiba. pesanlah apa saja yang kauinginkan." Ia mengambil

garpu dan dengan hati-hati mengerik es krim vanili dan balutan cokelatnya dan batang la melahap satu gigitan besar, lalu perlahan lahan menuang kopi ke dalam cangkir. Kopi itu hitam dan kental, dengan aroma sedap

Donnie dan Adam duduk di kursi sepanjang dinding, mengawasi punggung Sam sementara ia menikmati santapan terakhirnya.

Mereka berdatangan sejak pukul 17.00. Mereka dalang dan segala penjuru negara bagian itu, semuanya mengemudi sendirian, semuanya memakai mobil besar empat pintu bermacam warna dengan simbol, emblem, dan tanda-tanda rumit pada pintu dan spat bor Beberapa di antaranya memakai rak untuk lampu darurat di atapnya. Beberapa mt» majang senapan pada kisi-kisi di atas jok depan. Semuanya memakai antena tinggi yang b$nym-ayun diterpa angin. Mereka adalah para sheriff, masing-masing #

I

P.l.h county mereka untuk menjaga keten w tam masyarakat. Sebagian besarkuT* W

tohun mengabdi dan sudah ambil ba^' ritual jamuan eksekusi yang tak tercatat^ ^

Seorang koki bernama Miss Mazola menv;a . jamuan itu, dan menunya tak pernah ber2? menggoreng ayam besar dengan minyak hewan i memasak kacang black eyed dengan babi as Dan ia membuat biskuit buttermilk seukuran phi™ kecil. Dapurnya terletak di belakang kafetaria kecil, dekat gedung administrasi. Makanan selalu dihidangkan pukul 19.00, tak peduli berapa sheriff yang hadir.

Kerumunan orang malam itu adalah yang terbesar sejak Teddy Doyle Meeks diantar ke tempat istirahat terakhir pada tahun 1982. Miss Mazola sudah bersiap akan hal ini, sebab ia membaca koran dan setiap orang tahu tentang Sam Cayhali. Ia memperkirakan sedikitnya akan ada lima puluh

^M^reka dipersilakan lewat dengan lambaian ta-

kir sembarangan di sepU ! noan buncit dan

selera makan besar. Mei

telah perjalanan panjang mereka ringan-

w serpihan ayam dan gigi dan meng°re*akar, Miss Mazola. Mereka irakan dio berkuak-kuak, seolah-olah ka-rlCa" Cayhatt akan disiarkan setiap saat.

¦"""kernanan ------—-

V bicara tentang eksekusi dan kejahatan keji ^di ter"Pat asal mereka> dan tentang orang-lokal di The Row. Kamar gas terkutuk itu

'J cukup sering dipakai. " Mereka memandang tercengang pada ratusan demonstrator di dekat jalan raya di depan mereka. Mereka mengorek gigi lagi, lalu kembali ke dalam

menikmati kue cokelat.

ntuk mem ' Saat itu huku"1-

malam yang

luar biasa bagi penegakan

EMPAT PULUH SEMBILAN

Kegelapan membawa kebeningan mencekam di jalan raya di depan Parchman. Orang-orang Klan —tak satu pun mempertimbangkan meninggalkan tempat itu setelah Sam memintanya—duduk di kursi lipat dan rumput yang telah terinjak-injak, dan menunggu. Para skinhead dan kelompok-kelompok semacamnya yang telah terpanggang di bawah matahari bulan Agustus duduk dalam kelompok-kelompok kecil dan minum air es. Para biarawati dan aktivis lain disusul rombongan Amnesty International. Mereka menyalakan lilin, memanjatkan doa, menyenandungkan lagu-lagu. Mereka mencoba menjaga jarak dari kelompok-kelompok pembenci. Pilih hari lain, eksekusi lain, narapidana lain, dan para pembenci yang sama akan berteriak-teriak menuntut darah.

Ketenangan itu terputus sejenak ketika satu pickup penuh remaja mengurangi kecepatan di gerbang depan. Mereka mendadak mulai berteriak keras bersama-sama, "Gas dia! Gas dia! Gas dia!"

om

m, truk itu menetek dan melaju pergi. Beberapa ^gota Klan melompat berdiri, siap bertempur, ppi bocah-bocah itu sudah menghilang, tak pernah kembali lagi.

Kehadiran mencolok polisi patroli jalan raya membuat situasi terkendali. Pasukan itu berdiri berkelompok-kelompok, mengawasi lalu lintas, mengawasi dengan ketat para anggota Klan dan kaum skinhead. Sebuah helikopter berputar-putar di atas.

Goodman akhirnya memerintahkan kegiatan analisis pasar dihentikan. Selama lima hari yang panjang, mereka membukukan dua ribu telepon. Ia membayar para mahasiswa itu, menyingkirkan telepon genggam, dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada mereka. Tak seorang pun di antara mereka rasanya bersedia menyerah, maka mereka berjalan bersamanya ke gedung kapitol, tempat demonstrasi menyalakan lilin sedang berlangsung di tangga depan. Gubernur masih berada di kantornya di lantai dua.

Salah satu mahasiswa itu menawarkan diri untuk membawakan telepon pada John Bryan Glass yang sedang berada di Mahkamah Agung Mississippi di seberang jalan. Goodman meneleponnya, lalu menelepon Kerry, lalu menelepon Joshua Caldwell, seorang sahabat lama yang setuju menunggu di meja kerja Death Clerk di Washington. Goodman sudah menempatkan setiap orang pada

posisi. Semua telepon bekerja. Ia menelepon Adam. Sam sedang menghabiskan santapan terakhirnya, kata Adam. dan ia tak ingin bicara dengan Goodman. Namun ia ingin mengucapkan terima kasih atas segalanya.

Ketika kopi dan es krim itu habis, Sam berdiri dan meregangkan kaki. Donnie lama terdiam. Ia menderita dan siap pergi. Nugent akan segera datang, Donnie ingin mengucapkan selamat tinggal sekarang

Ada noda es krim pada kemeja Sam, Donnie mencoba menghapusnya dengan serbet. "Itu tidak penting." kata Sam. menyaksikan adiknya.

Donnie terus menangis. "Yeah, kau benar. Lebih baik aku pergi sekarang. Sam. Mereka akan ke sini sebentar lagi "

Dua laki-laki itu berpelukan lama. saling menepuk lembut punggung masing-masing. "Aku menyesal, Sam," kata Donnie, suaranya bergetar. "Aku sungguh menyesal"

Mereka memisahkan diri, masih saling memegang pundak, mata kedua laki-laki itu berkaca-kaca, tapi tidak meneteskan air mata. Mereka tak sampai hati menangis di hadapan satu sama lain. "Jaga dirimu." kata .Sam "Kau juga Panjatkan doa, Sam. okc7" "Ya. Terima kasih atas segalanya. Kau satu-satunya yang peduli." Donnie menggigit bibir dan menyembunyikan

' dari tatapan Sam. la berjabatan dengan ttan tapi wk sanggup mengucapkan sepatah kata

la berjalan di belakang Sam sampai kc pintu.

jju meninggalkan mereka.

Tak ada kabar dari Mahkamah Agung?" tanya Sam tak terduga, seolah-olah mendadak percaya masih ada peluang.

"Tidak." kata Adam sedih.

"Di Cina. mereka menyelinap di belakangmu dan menembakkan sebutir peluru ke kepalamu. Tak ada mangkuk nasi terakhir. Tak ada selamat tinggal. Tak ada saat menunggu. Bukan gagasan buruk.* ,

Adam melihat jam tangan untuk kesejuta kali dalam satu jam terakhir ini. Sejak sore terasa kesenjangan-kesenjangan saat jam seakan-akan lenyap, lalu mendadak waktu berhenti. Waktu terbang, lalu merangkak. Seseorang mengetuk pintu. "Masuk," kata Sam samar-samar.

Pendeta Ralph Griffin masuk dan menutup pintu, la sudah dua kali menemui Sam siang tadi, dan jelas terguncang berat. Ini eksekusinya yang pertama, dan ia sudah memutuskan ini akan jadi yang terakhir baginya. Sepupunya di senat negara bagian harus mencarikan pekerjaan lain untuknya, h mengangguk pada Adam dan duduk di samping Sam di bangku. Saat ttu hampir pukul 21.00.

"Kolonel Nugent ada di luar sana, Sam Katanya dia sedang menunggu Anda." "Nih, kalau- begitu, kita jangan keluar. Kita

duduk di sini saja."

sempit itu dan melangkah ke Kamar Gas, tempat sedang diadakannya persiapan terakhir. Sang algojo sedang sibuk dan sangat terkendali.

¦ Ia seorang laki-laki pendek kuras bernama Bill

¦ Monday. Ia benari sembilan dan akan mendapatkan lima ratus dolar untuk jasanya bila eksekusi benar-benar berlangsung. Menurut undang-undang, ia dipilih Gubernur. Ia ada dalam bilik sempit yang dikenal sebagai Ruang Kimia, kurang dari saru setengah meter dari Kamar Gas. Ia sedang mengamati checklist pada. clipboard. Di hadapannya, di atas counter, ada kaleng berisi satu pon pellet sodium sianida, botol sembilan pon asam sulfat, kaleng satu pon asam kaustik, botol besi berisi lima puluh pon amonia, dan satu botol berisi lima galon air suling. Di sampingnya, di atas counter lain yang lebih kecil, ada tiga masker gas, tiga pasang sarung tangan karet, sebuah corong, sabun, handuk tangan, dan lap pel. Di antara dua counter itu ada pot pencampur asam, ditempatkan di atas pipa bergaris tengah lima senti yang terjulur ke dalam lantai, ke bawah dinding, dan muncul lagi ke permukaan di samping Kamar Gas dekat tuas-tuas.

Monday punya tiga checklist. Satu berisi instruksi untuk mencampurkan bahan-bahan kimia itu: asam sulfat dan air suling dicampur sampai mencapai konsentrasi sekitar 41 persen, larutan soda kaustik dibuat dengan melarutkan satu pon asam kaustik dalam dua setengah galon air, dan ada beberapa

098

bahan lain yang harus dicampurkan untuk membersihkan Kamar Gas setelah eksekusi selesai. Sam 0tar berisi segala bahan kimia dan perlengkapan yang diperlukan. Daftar ketiga adalah prosedur yang hams diikuti pada eksekusi sebenarnya.

Nugent bicara dengan Monday; segalanya berjalan seperti yang direncanakan. Salah satu asisten Monday mengoleskan gemuk di tepian jendela Kamar Gas. Seorang anggota tim eksekusi berpakaian preman memeriksa sabuk dan pengikat pada kursi kayu. Dokter sedang mengotak-atik monitor EKG. Pintu terbuka ke luar, tempat sebuah ambulans sudah terparkir.

Nugent melihat checklist itu sekali lagi, meskipun sudah lama menghafalnya. Bahkan ia sebenarnya sudah menulis satu checklist lagi, suatu bagan yang disarankannya untuk mencatat eksekusi tersebut. Bagan itu akan dipakai oleh Nugent, Monday, dan asisten Monday. Bagan itu berisi daftar kronologis bernomor tentang peristiwa-peristiwa dalam eksekusi itu: air dan asam dicampur, tahanan memasuki kamar gas, pintu kamar gas di-[ kunci, sodium sianida dimasukkan dalam asam, gas menimpa wajah tahanan, tahanan terlihat jelas tak sadarkan diri, tahanan pasti tak sadarkan diri, gerakan-gerakan tubuh tahanan, gerakan terakhir yang terlihat, jantung berhenti, pemapasan berhenti, katup ventilasi dibuka, katup pembersih dibuka, katup udara dibuka, pintu kamar gas dibuka, tahanan dikeluarkan dari Kamar Gas, tahanan di-

929

nyatakan mati. Di samping masing-masing catatan itu ada garis kosong untuk mencatat waktu antara peristiwa sebelumnya.

Dan ada satu daftar eksekusi, bagan berisi 29 langkah untuk memulai dan menyelesaikan tugas itu. Tentu saja daftar eksekusi itu punya lampiran, daftar tentang lima belas hal yang harus dilakukan setelah eksekusi terlaksana—yang terakhir adalah membawa narapidana itu ke dalam ambulans.

Nugent tahu setiap langkah dalam setiap daftar. Ia tahu bagaimana mencampur bahan-bahan kimia, bagaimana membuka katup, berapa lama harus membiarkannya terbuka, dan bagaimana menutupnya. Ia tahu semuanya.

Ia melangkah ke luar untuk bicara dengan sopir ambulans dan mencari udara, lalu berjalan kembali melewati Ruang Isolasi, menuju Tier A. Seperti yang lainnya, ia sedang menunggu Mahkamah Agung terkutuk itu memutuskan eksekusi jadi dilaksanakan atau tidak.

Ia mengirimkan dua penjaga bertubuh paling tinggi ke tier untuk menutup jendela-jendela di atas dinding luar. Seperti bangunan itu sendiri, jendela-jendela itu sudah berumur 36 tahun dan tidak dapat ditutup dengan tenang. Penjaga-penjaga itu mendorongnya sampai terbanting dengan suara keras, tiap kali bergema di tier itu. Semuanya ada 35 jendela, setiap narapidana tahu jumlahnya dengan tepat, dan setiap kali satu jendela tertutup, tier itu jadi lebih gelap dan sunyi.

930

Dua penjaga itu akhirnya selesai dan berlalu. The Row sekarang terkunci rapat—setiap narapidana ada di dalam sel, semua pintu terkunci,

puma jendela tertutup.

Sam mulai gemetar bersama tertutupnya jendela. Kepalanya tertunduk makin rendah. Adam melingkarkan lengan pada'pundaknya yang rapuh.

"Aku selalu menyukai jendela-jendela itu," kata Sam, suaranya rendah dan parau. Satu regu penjaga berdiri tak sampai empat setengah meter dari sana, mengintip lewat pintu tier seperti anak-anak di kebun binatang, dan Sam tak ingin ucapannya terdengar. Sulit membayangkan Sam menyukai apa pun di tempat ini. "Dulu, bila hujan lebat turun, airnya akan bepercikan ke jendela, sebagian akan masuk dan menetes ke lantai. Aku suka hujan.

• Dan rembulan. Kadang-kadang, bila tak ada awan, aku bisa berdiri di selku dan sepintas memandang bulan melalui jendela-jendela itu. Aku selalu ber-

'¦ tanya-tanya dalam hati, mengapa mereka tidak memasang lebih banyak jendela di sini. Maksudku, aduh, maaf, Pak Pendeta, bila mereka bertekad mengurungku dalam sel sepanjang hari, mengapa

laku tak boleh melihat ke luar? Aku tak pernah mengerti. Kurasa aku tak pernah mengerti banyak hal." Suaranya mengecil, lalu lenyap, dan beberapa

[ lama ia tidak bicara lagi.

Dari kegelapan bergaung suara tenor sendu si

tPreacher Boy menyanyikan Just a Closer Walk with Thee. Nyanyian itu cukup merdu.

931

"Just a closer walk with Thee, Grant it, Jesus, is my plea, Daily walking close to Thee..."

"Diam!" seorang penjaga berseru. "Biarkan dia!" Sam balas berseru, membuat Adam dan Ralph terkejut. "Nyanyikanlah, Randy," kata Sam, cukup keras untuk didengar di sebelah. Preacher Boy berhenti beberapa saat, perasaannya jelas terluka, lalu mulai lagi.

Sebuah pintu terempas entah di mana, dan Sam melonjak. Adam menekan pundaknya dan ia tenang kembali. Matanya menerawang dalam kegelapan lantai.

""Kurasa Lee takkan datang," katanya, ucapannya datar.

Adam berpikir sejenak, dan memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya. "Aku tak tahu di mana dia. Sudah sepuluh hari aku tidak bicara dengannya."

"Kupikir dia ada di klinik rehabilitasi."

"Kupikir begitu, tapi aku tidak tahu di mana. Maaf. Sudah kucoba segala cara untuk menemukannya.".

"Aku banyak memikirkannya hari-hari terakhir ini. Tolong katakan padanya."

"Baiklah." Bila Adam bertemu lagi dengan Lee, ingin rasanya ia mencekik bibinya itu.

"Dan aku banyak memikirkan Eddie."

"Dengar, Sam, kita tak punya banyak waktu.

Mari kita bicara tentang hal-hal yang menyenang-Ican, oke?"

"Aku ingin kau memaafkan apa yang kuperbuat

terhadap Eddie."

"Aku sudah memaafkanmu, Sam. Itu sudah selesai. Aku dan Carmen memaafkanmu."

Ralph menundukkan kepala di samping kepala Sam dan berkata, "Mungkin ada beberapa orang lain yang harus kita pikirkan juga, Sam."

"Mungkin nanti," kata Sam.

Pintu tier terbuka di ujung gang, dan terdengar suara langkah bergegas ke arah mereka. Lucas Mann, dengan seorang penjaga di belakangnya, berhenti di sel terakhir dan melihat tiga sosok samar-samar berkerumun rapat di ranjang. "Adam, ada telepon untukmu," katanya cemas. "Di kantor depan."

Tiga sosok bayangan itu menegak bersamaan. Adam melompat berdiri dan tanpa sepatah kata pun melangkah keluar dari sel ketika pintu dibuka. Perutnya bergolak hebat ketika ia setengah berlari melintasi tier itu. "Kalahkan mereka, Adam," kata J.B. Gullit ketika ia lewat dengan terburu-buru.

"Dari siapa?" tanya Adam pada Lucas Mann yang ada di sebelahnya, mengikuti setiap langkah.

"Garner Goodman."

Mereka berkelok-kelok di tengah MSU dan tergopoh-gopoh ke kantor depan. Telepon tergeletak di meja. Adam meraihnya dan duduk di bangku.

"Garner, ini Adam."

"Aku ada di gedung kapitol, Adam, di rotunda di luar kantor Gubernur., Mahkamah Agung baru saja menolak semua petisi permohonan peninjauan u Jang kita. Tak ada lagi yang tersisa di sana."

Adam memejamkan mata dan terdiam. "Ah, kurasa inilah akhirnya," katanya, memandang Lucas Mann. Lucas mengernyit dan menjatuhkan kepala.

"Tetaplah di sana. Gubernur akan memberikan pengumuman. Aku akan meneleponmu lima menit lagi." Goodman menghilang.

Adam meletakkan telepon dan menatapnya. "Mahkamah Agung menolak segalanya," ia melapor kepada Mann. "Gubernur akan memberikan pernyataan. Sebentar lagi dia akan menelepon kembali."

Mann duduk. "Aku ikut sedih, Adam. Sangat sedih. Bagaimana perasaan Sam?"

"Kurasa Sam jauh lebih tabah menghadapi hal ini daripadaku."

"Aneh, kan? Ini eksekusiku yang kelima, dan aku selalu tercengang melihat betapa tenangnya mereka pergi. Mereka menyerah ketika cuaca jadi gelap. Mereka menikmati santapan terakhir, mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga, dan jadi tenang menghadapi segalanya. Kalau aku, mungkin aku akan menendang-nendang, menjerit, menangis. Akan butuh dua puluh orang untuk menyeretku keluar dari Sel Observasi."

Adam berhasil melontarkan senyum sepintas, lalu melihat kotak sepatu dalam keadaan terbuka

di meja. Kotak itu dilapisi aluminium foil dan ada beberapa potong remah kue di dasarnya Benda itu tak ada di sana ketika mereka berlalu satu jam yang lalu. "Apa itu?" ia bertanya, tidak benar-benar ingin tahu.

"Itu kue eksekusi."

"Kue eksekusi?"

"Yeah, wanita kecil yang tinggal di ujung jalan

itu membuatnya tiap kali ada eksekusi." >

"Kenapa?"

"Entahlah. Aku sama sekali tidak tahu."

"Siapa yang memakannya?" tanya Adam, melihat kue dan remah-remah yang tersisa seolah-olah melihat racun.

"Para penjaga dan narapidana pekerja"

Adam menggelengkan kepala. Terlalu banyak urusan dalam otaknya untuk menganalisis maksud di balik sajian kue eksekusi tersebut.

Untuk peristiwa itu, David McAllister berganti memakai setelan jas biru tua, kemeja putih yang bani disetrika, dan dasi merah anggur. Ia menyisir dan menyemprot rambut, menggosok gigi, lalu berjalan ke dalam kantornya dari pintu samping. Mona Stark sedang meneliti angka-angka.

"Telepon-telepon itu akhirnya berhenti," katanya lega.

"Aku tak ingin mendengarnya," kata McAllister, memeriksa dasi dan giginya di cermin. "Mari berangkat."

Ia membuka pintu dan melangkah ke serambi; dua pengawal pribadi menemuinya. Mereka mengapitnya sewaktu ia berjalan ke rotunda tempat lampu-lampu terang sedang menanti. Serombongan reporter dan kamera mendesak ke depan untuk mendengarkan pengumuman. Ia melangkah ke podium sementara, dengan selusin mikrofon tergabung jadi satu. Ia meringis terkena sinar lampu-lampu itu, menunggu mereka tenang, lalu^ bicara.

"Mahkamah Agung Amerika Serikat baru saja menolak pengajuan peninjauan kembali vonis terhadap Sam Cayhali," katanya dramatis, seolah-olah para reporter itu belum mendengar hal tersebut. Ia berhenti lagi, sementara kamera berdetakan dan mikrofon menunggu. "Dengan demikian, setelah tiga sidang di hadapan juri, setelah sembilan tahun upaya banding melalui setiap pengadilan yang ada di bawah konstitusi kita, setelah kasus ini diperiksa kembali oleh tak kurang dari 47 hakim, akhirnya keadilan tiba bagi Sam Cayhali. Kejahatannya dilakukan 23 tahun yang lalu. Keadilan mungkin berjalan lamban, tapi tetap bekerja. Saya menerima banyak telepon yang meminta saya mengampuni Mr. Cayhali, tapi saya tak dapat melakukannya. Saya tak dapat mengabaikan kebijaksanaan juri yang memvonisnya, dan saya tak bisa pula memaksakan pertimbangan saya sendiri atas keputusan yang telah diambil oleh berbagai pengadilan kita. Saya pun tidak bersedia menentang keinginan keluarga Kramer, sahabat-sahabat saya." Berhenti lagi.

Ia bicara tanpa catatan, dan langsung terlihat bahwa ia sudah lama mempersiapkan komentar ini. "Besar harapan saya bahwa eksekusi terhadap Sam Cayhali akan membantu menghapuskan bab menyedihkan dalam sejarah negara bagian kita. Saya menghimbau semua warga Mississippi untuk bersatu sejak malam yang menyedihkan ini, dan mengupayakan persamaan. Semoga Tuhan mengampuni jiwanya."

Ia mundur sementara pertanyaan-pertanyaan beterbangan. Pengawal pribadi membuka pintu samping dan ia pun menghilang. Mereka menuruni tangga dan keluar dari pintu utara, tempat sebuah mobil sudah menunggu. Satu mil dari sana, sebuah helikopter juga sedang menunggu.

Goodman berjalan keluar dan berdiri di samping meriam tua, yang entah mengapa dibidikkan ke gedung-gedung tinggi di tengah kota. Di bawahnya, di kaki tangga depan, sekelompok besar pemrotes memegang lilin. Ia menelepon Adam dengan berita itu, lalu berjalan menerobos orang banyak yang memegangi lilin itu, dan meninggalkan gedung kapitol. Sebuah lagu pujian mulai dinyanyikan ketika ia menyeberangi jalan, dan setelah dua blok nyanyian itu perlahan-lahan menghilang. Ia berkeliaran sebentar, lalu berjalan ke arah kantor Irlez Kerry.

LIMA PULUH

Perjalanan kembali ke Sel Observasi jauh lebih panjang dari sebelumnya. Adam seorang diri menyusuri tempat itu, yang sekarang terasa begitu biasa. Lucas Mann menghilang entah di mana dalam labirin The Row.

Sewaktu menunggu di depan pintu berat berjeruji di tengah bangunan itu, Adam mendadak tersadar akan dua hal. Pertama, banyak orang berlalu lalang sekarang—lebih banyak penjaga, lebih banyak orang tak dikenal dengan lencana plastik dan pistol di pinggang, lebih banyak laki-laki berwajah keras dengan kemeja lengan pendek dan dasi poliester. Ini suatu fenomena besar, peristiwa oti terlalu menegangkan untuk dilewatkan. Adam memperkirakan setiap pegawai penjara yang punya cukup kekuasaan dan pengaruh tentu akan berada di The Row saat vonis mati Sam dilaksanakan.

Hal kedua yang ia sadari adalah kemejanya telah basah kuyup dan kerahnya menempel ke leher. Ia mengendurkan dasi ketika pintu berdetak

teras, lalu bergeser terbuka diiringi dengung motor listrik tersembunyi. Seorang penjaga di suatu tempat di "tengah simpang siurnya dinding beton, jendela, dan jeruji sedang mengawasi dan menekan tombol yang tepat. Ia melangkah lewat, masih sambil mengendurkan ikatan dasi dan kancing di bawahnya, dan berjalan ke penghalang berikutnya, sebuah dinding jeruji menuju Tier A. Ia menyeka kening, tapi tak ada keringat di sana. Ia mengisi paru-paru dengan udara panas dan lembap.

Karena semua jendela tertutup, tier itu sekarang terasa mencekik. Terdengar suara klik keras lagi, dengung motor listrik lain, dan ia melangkah ke gang sempit yang kata Sam lebarnya dua meter lebih. Tiga lampu neon kusam melontarkan sinar redup ke langit-langit dan lantai. Ia mendorong kakinya yang berat melewati sel-sel gelap, semua terisi dengan pembunuh brutal yang sekarang berdoa atau merenung, beberapa bahkan menangis.

"Kabar baik. Adam?" J.B. Gullit bertanya dari kegelapan

Adam tak menjawab. Masih terus berjalan, ia menengadah memandangi jendela-jendela dengan berbagai warna cat tertempel pada daunnya yang kuno, dan ia tersentak oleh pertanyaan berapa banyak pengacara sebelum dirinya yang pernah melakukan perjalanan terakhir dari kantor depan ke Sel Observasi untuk memberitahu orang yang sedang sekarat bahwa helaian tipis harapan terakhir sekarang sudah lenyap. Tempat itu punya sejarah

eksekusi yang sangat kaya, jadi ia menyimpulkan sudah ada banyak orang lain yang menderita di sepanjang jalan ini. Gamer Goodman sendiri pernah membawakan berita terakhir itu untuk Maynard Tole, dan ini memberi Adam sedikit kekuatan yang sangat ia butuhkan.

Ia tak menghiraukan tatapan ingin tahu sekelompok orang yang berdiri dan mengawasinya di ujung tier. Ia berhenti di sel terakhir, menunggu, dan pintu itu dengan patuh membuka. Sam dan sang Pendeta masih duduk di ranjang, . berbisik-bisik, kepala mereka hampir bersentuhan dalam kegelapan. Mereka mengangkat muka memandang Adam yang duduk di samping Sam dan melingkarkan lengan pada pundaknya, pundak yang sekarang serasa lebih rapuh lagi. "Mahkamah Agung baru saja menolak segalanya," katanya sangat pelan, suaranya di ambang tangis. Sang Pendeta mengembuskan rintihan pedih. Sam mengangguk, seolah-olah ini memang sudah terduga. "Dan Gubernur baru saja menolak memberikan pengampunan."

Sam mencoba mengangkat pundak dengan berani, tapi tak ada cukup tenaga. Ia terpuruk makin rendah lagi.

"Semoga Tuhan mengampuni," kata Ralph Griffin.

"Kalau begitu, semuanya selesai," kata Sam. "Tak ada apa pun yang tersisa," bisik Adam. Gumam tegang dapat terdengar dari pasukan

pelaksana hukuman mati yang berjejalan di ujung

tier. Akhirnya ini terjadi juga. Pintu terbanting entah di mana di belakang mereka, dari arah Kamar Gas, dan lutut Sam terentak.

Ia diam beberapa saat—satu atau lima belas menit, Adam tak tahu. Waktu masih melesat tiba-tiba, dan berhenti.

"Kurasa kita hams berdoa sekarang, Pak Pendeta," kata Sam.

"Kurasa begitu. Kita sudah cukup lama menunggu."

"Bagaimana Anda akan melakukannya?"

"Ah, Sam, tepatnya apa yang ingin Anda doa-

ykan?"

Sam merenungkannya sejenak, lalu berkata, "Saya ingin memastikan Tuhan tidak marah pada

saya saat saya mati." "Gagasan bagus. Dan mengapa Anda berpikir

Tuhan mungkin marah pada Anda?" "Cukup jelas, bukan?"

Ralph menggosokkan kedua belah tangan. "Saya rasa cara terbaik adalah mengakui dosa-dosa Anda, dan memohon agar Tuhan mengampuni Anda."

"Semuanya?"

"Anda tak perlu mendaftar semuanya, minta saja

agar Tuhan mengampuni segalanya." "Semacam pertobatan total?" vfifl "Yeah, begitulah. Dan itu akan berhasil, bila

Anda serius."

t "Saya sangat serius mati."

"Apakah Anda percaya akan neraka, Sam?" "Saya percaya."

"Apakah Anda percaya akan surga. Sam?" "Saya percaya"

"Apakah Anda percaya semua orang Kristen masuk ke surga?"

Sam memikirkan hal ini lama-lama, lalu mengangguk sedikit sebelum bertanya. "Anda percaya?" "Ya. Sam. Saya percaya." "Kalau begitu, saya percaya apa kata Anda" "Bagus. Percayalah pada saya tentang hal ini,

"Rasanya terlalu mudah. Anda tahu. Saya memanjatkan doa pendek, dan segalanya diampuni." "Mengapa itu meresahkan Anda?" "Sebab saya telah melakukan beberapa perbuatan buruk. Pak Pendeta."

"Kira semua pernah melakukan perbuatan buruk. Tuhan kita adalah Tuhan dengan kasih tak ter-bmgga

"Anda tak pernah melakukan apa yang saya

"Apakah Anda akan merasa lebih lega bila membicarakannya ?"

"Yeah. rasanya tidak enak kecuali saya mengatakannya." "Saya ada di sini, Sam." "Apakah aku harus pergi dulu?" tanya Adam. am mencengkam iutut. Tidak.

"Kita tak punya banyak waktu. Sam," kata Ralph, sambil melihai sepintas ke balik jeruji.

Sam menghela napas dalam, lalu bicara dengan suara rendah yang monoton, berhati-hati supaya hanya Adam dan Ralph yang bisa mendengar. "Saya membunuh Joe Lincoln dengan darah dingin. Saya sudah mengatakan saya menyesal."

Ralph menggumamkan sesuatu pada diri sendiri sambil mendengarkan. Ia sudah tenggelam dalam doa.

"Dan saya membantu saudara-saudara saya membunuh dua orang yang membunuh ayah kami. Terus terang, saya tak pernah menyesali hal itu sampai sekarang. Hidup manusia rasanya jauh lebih berharga hari-hari ini. Saya keliru. Dan saya ambil bagian dalam penghukuman semena-mena sampai mati ketika saya berumur lima belas atau enam belas tahun. Saya cuma bagian dari gerombolan itu, dan mungkin saya lakkan mampu menghentikannya seandainya mencoba. Tapi saya tak mencobanya, dan saya merasa bersalah akan hal itu."

Sam berhenti. Adam menahan napas dan berharap pengakuan itu sudah selesai. Ralph menunggu dan menunggu, dan akhirnya bertanya, Ttu saja. Sam?" "Tidak. Masih ada satu lagi." Adam memejamkan mata dan bersiaga mendengarnya. Matanya berkunang-kunang dan ia ingm muntah.

"Ada pembunuhan tanpa peradilan lainnya. Seorang bocah bernama Cetus. Saya tak ingat nama keluarganya. Pembunuhan oleh Klan. Saya berumur delapan belas tahun. Itu saja yang bisa saya katakan. "

Mimpi buruk ini takkan pernah berakhir, pikir Adam.

Sam menarik napas daiam dan terdiam beberapa menit. Ralph berdoa keras. Adam cuma menunggu.

"Saya tidak membunuh anak-anak Kramer itu," kata Sam, suaranya bergetar. "Saya tak ada urusan berada di sana, dan saya salah telah terlibat dalam kekacauan itu. Bertahun-tahun saya menyesalinya, semuanya. Keliru bergabung dengan Klan, ntem-bencj semua orang, dan memasang bom. Tapi saya tidak membunuh anak-anak itu. Tak ada niat mencelakakan siapa pun. Bom itu seharusnya meledak tengah malam, ketika tak ada siapa pun di dekat tempat itu. Itulah yang benar-benar saya yakini. Samun bom itu dirakit orang lain, bukan saya. Saya cuma mata-mata, sopir, pesuruh. Orang lain m) menyetel bom itu agar meledak jauh lebih lama dari yang saya sangka. Saya tak pernah tahu pasti apakah dia berniat membunuh seseorang, tapi saya curiga dia memang punya niat itu."

Adam mendengarkan kata-kata itu, menerimanya, menyerapnya, tapi terlalu tercengang untuk bergerak.

"Tapi saya seharusnya bisa menghentikannya. Dan itu membuat saya merasa bersalah. Anak-anak

kecil itu akan hidup seandainya saya bertindak lain setelah bom itu dipasang. Darah mereka ada di

tangan saya, dan bertahun-tahun saya menyesali hal ini."

Ralph dengan lembut meletakkan satu tangan di f belakang kepala Sam. "Berdoalah bersama saya, Sam." Sam menutup mata dengan dua belah tangan dan menumpukan siku pada lutut.

"Apakah Anda percaya bahwa Yesus Kristus adalah putra Allah; bahwa Dia datang ke bumi ini, dilahirkan dari seorang perawan, hidup tanpa dosa, dihukum, dan wafat di salib sehingga kita bisa mendapatkan keselamatan abadi? Apakah Anda percaya ini, Sam?" "Ya," bisiknya.

"Dan bahwa Dia bangkit dari kubur dan naik ke

surga?"

"Ya."

I "Dan bahwa melalui diri-Nya segala dosa Anda j diampuni? Segala hal mengerikan yang membe-I bani hati Anda sekarang diampuni. Apakah Anda I percaya ini, Sam?" f "Ya, ya."

Ralph melepaskan kepala Sam dan menyeka air mata. Sam tak bergerak, cuma pundaknya bergun-1 cang. Adam merapatkan tubuh makin erat.

Randy Dupree mulai menyiutkan bait lain dari \Just a Closer Walk with Thee. Nadanya jernih dan tepat, dan nyanyian itu bergema merdu di sepanjang tier.

"Pak Pendeta," kata Sam dengan punggung menegak, "apakah anak-anak Kramer itu ada di surga?"

"Ya."

"Tapi mereka Yahudi."

"Semua anak masuk ke surga, Sam."

"Apakah saya akan bertemu mereka di sana?"

"Saya tidak tahu. Banyak hal tentang surga yang tidak kita ketahui. Tapi Injil menjanjikan bahwa takkan ada penderitaan saat kita sampai di sana."

"Bagusi Kalau begitu, saya berharap bisa bertemu dengan mereka."

Suara Kolonel Nugent yang tak mungkin salah didengar memecahkan ketenangan itu. Pintu tier berdentang, berderak, dan membuka. Ia berjalan satu setengah meter ke pintu Sel Observasi. Enam penjaga berdiri di belakangnya. "Sam, sudah saatnya pindah ke Ruang Isolasi," katanya. "Sekarang pukul 23.00."

Tiga laki-laki ku berdiri berdampingan. Pintu sel terbuka, dan Sam melangkah ke luar. Ia tersenyum pada Nugent, lalu berbalik dan memeluk sang Pendeta. "Terima kasih," katanya.

"Aku mengasih i mu, saudaraku!" Randy Dupree berteriak dari selnya, tak sampai tiga meter dari sana.

Sam memandang Nugent dan bertanya, "Bisakah aku mengucapkan selamat tinggal pada teman-temanku?"

Suatu penyimpangan. Panduan itu cuma mengatakan bahwa tahanan langsung dibawa dari Sel Observasi ke Ruang Isolasi, tanpa menyebut-nyebut salam perpisahan terakhir di tier itu. Nugent ter-enyak bingung, tapi setelah beberapa detik pulih dengan baik. "Tentu, tapi lakukanlah dengan cepat."

Sam berjalan beberapa langkah dan memegang tangan Randy melalui jeruji. Kemudian ia melangkah ke sel berikutnya dan bersalaman dengan Harry Ross Scott.

Ralph Griffin menyelinap melewati para penjaga dan meninggalkan tier. Ia menemukan sudut gelap dan menangis bagaikan anak kecil. Ia takkan melihat Sam lagi. Adam berdiri di pintu sel, dekat Nugent, dan bersama-sama mereka menyaksikan Sam menyusuri gang, berhenti di setiap sel, membisikkan sesuatu kepada masing-masing narapidana. Ia menghabiskan waktu paling lama bersama JB. Gullit yang sedu sedannya bisa terdengar.

Kemudian ia berbalik dan berjalan kembali dengan tegar ke arah mereka, menghitung langkah sambil berjalan, tersenyum pada sahabat-sahabatnya sepanjang jalan. Ia menggandeng tangan Adam. "Ayo berangkat," katanya pada Nugent.

Begitu banyak penjaga berdesakan di ujung tier, sehingga agak sulit mereka melewatinya. Nugent berjalan lebih dulu, lalu Sam dan Adam. Kerumunan manusia yang berjejalan itu menambah suhu udara beberapa derajat dan beberapa lapis udara lengas. Show of forte itu tentu saja dibutuh-

kan untuk menaklukkan tahanan yang bandel, atau mungkin untuk menakut-nakutinya agar menurut. Rasanya konyol luar biasa dengan orang tua kecil seperti Sam Cay hall.

Perjalanan dari satu ruang ke ruang lain hanya butuh beberapa detik, jaraknya sejauh enam meter, tapi Adam meringis bersama setiap langkah menyakitkan. Melewati lorong penjaga bersenjata, melewati pintu baja yang berat, ke dalam ruangan sempit Pintu di dinding seberang tertutup. Pintu itu menuju Kamar Gas.

Kasur lipat lusuh itu dibawa masuk ke sana untuk peristiwa ini. Adam dan Sam duduk di atasnya. Nugent menutup pintu dan berlutut di hadapan mereka. Mereka bertiga sendirian. Adam kembali melingkarkan tangan pada pundak Sara.

Nugent memperlihatkan ekspresi amat pedih. Ia meletakkan satu tangan pada lutut Sam dan berkata, "Sam, kita menyelesaikan semua ini bersama-sama. Sekarang..."

"Kau tolol," kata Adam tanpa pikir, tercengang atas komentar luar biasa ini.

"Dia tak bisa lain," kata Sam pada Adam. "Dia memang tolol. Dia bahkan tak menyadarinya." . Nugent merasakan cacian tajam itu dan berusaha memikirkan sesuatu yang pantas diucapkan. "Aku cuma berusaha menangani ini, oke?" katanya pada Adam.

"Mengapa kau tidak enyah saja?" kata Adam. "Kau tahu, Nugent?" tanya Sam. "Aku sudah

membaca berton-ton buku hukum. Dan aku sudah membaca berhalaman-halaman peraturan penjara, pan di mana pun tak pernah kubaca peraturan

yang mengharuskan aku melewatkan jam-jam terakhirku bersamamu. Tak ada undang-undangnya,

peraturannya, atau apa pun."

"Keluarlah saja dari sini," kata Adam, siap menyerang bila perlu.

Nugent melompat berdiri. "Dokter akan masuk melalui pintu itu pukul 23.40. Dia akan menempelkan stetoskop ke dadamu, kemudian berlalu. Pukul 23.55, aku akan masuk, juga lewat pintu itu. [ Saat itu kita akan; pergi ke Kamar Gas. Ada pertanyaan?"

"Tidak. Pergilah," kata Adam, mengibaskan tangan ke pintu. Nugent keluar dengan cepat.

Sekonyong-konyong mereka sendirian. Dengan t satu jam tersisa.

Dua mobil van penjara yang serupa menggelinding lalu berhenti di depan Balai Pengunjung, diisi de-; lapan wartawan yang beruntung dan seorang sheriff. Undang-undang mengizinkan, tapi tidak mengharuskan sheriff dari county tempat kejahatan itu terjadi untuk menyaksikan eksekusi. L Orang yang menjadi sheriff Washington County pada tahun 1967 sudah lima belas tahun mati, (api meriff yang sekarang tentu tak mau melewatkan peristiwa ini. Hari itu ia sudah memberitahu Lucas Mann bahwa ia sepenuhnya berniat menunaikan

apa yang disebutkan oleh undang-undang. Katanya ia merasa berutang pada masyarakat Greenville dan Washington County.

Mr. Elliot Krammer tidak hadir di Parchman. Ia sudah merencanakannya bertahun-tahun, tapi dokternya campur tangan pada detik terakhir. Jantungnya lemah dan itu terlalu riskan. Ruth tak pernah secara serius berpikir untuk menyaksikan eksekusi tersebut. Ia ada di rumahnya di Memphis, duduk bersama teman-teman, menunggu hal itu berakhir.

Takkan ada anggota keluarga korban yang hadir untuk menyaksikan pembunuhan Sam Cayhall.

Mobil-mobil van itu difoto berkali-kali dan direkam saat mereka berangkat dan menghilang di jalan masuk utama. Lima menit kemudian, keduanya berhenti di gerbang MSU. Setiap orang diminta keluar, lalu diperiksa apakah membawa kamera atau alat perekam. Mereka kembali naik van dan dipersilakan melewati gerbang. Dua van itu melaju melintasi rumput di sepanjang bagian depan MSU, mengelilingi lapangan rekreasi di ujung barat, lalu berhenti sangat dekat dengan ambulans.

Nugent sendiri sedang menunggu. Para wartawan itu turun dari van dan secara naluriah mulai melihat nyalang ke sekeliling, mencoba menyerap semua untuk direkam nanti. Mereka tepat berada di luar bangunan persegi dari bata merah yang tertempel pada bangunan datar dan rendah, yaitu

MSU. Bangunan kecil itu punya dua pintu. Satu tertutup, satu lagi sedang menunggu mereka.

Nugent tidak berselera menghadapi wartawan-wartawan yang ingin tahu. Ia bergegas membawa -mereka melewati pintu yang terbuka itu. Mereka melangkah ke dalam ruangan sempit tempat dua deret kursi lipat sudah menunggu, menghadap pa- • nel tirai hitam yang menyeramkan.

"Duduklah," katanya kasar. Ia menghitung delapan reporter, satu sheriff. Tiga tempat duduk dalam keadaan kosong. "Sekarang pukul 23.10," katanya dramatis. "Tahanan ada di Ruang Isolasi. Di depan kalian, di balik tirai-tirai ini, adalah Kamar Gas. Dia akan dibawa masuk pukul 23.55, diikat, pintu dikunci. Tirai akan dibuka tepat tengah malam, dan saat kalian melihat Kamar Gas, sang tahanan sudah akan berada di dalam, tak .: sampai setengah meter dari jendela. Kalian hanya akan melihat belakang kepalanya. Saya tidak merancang ini, oke? Perlu sekitar sepuluh menit sebelum dia dinyatakan mati. Saat itu tirai akan ditutup dan kalian kembali ke van. Kalian akan menunggu lama, dan maaf kalau mangan ini tak ber-AC. Ketika tirai dibuka, segalanya akan berlangsung cepat. Ada pertanyaan?"

"Apakah Anda sudah bicara dengan tahanan itu?"

fW

I "Bagaimana sikapnya?

"Saya tidak akan menjawab semua itu. Jumpa pers direncanakan pukul 01.00, dan saat itulah saya

llliilb J/k 951 jiigjji

akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Saat ini saya sibuk." Nugent meninggalkan ruang saksi dan mengempaskan pintu di belakangnya. Ia berjalan di sekitar pojokan dan memasuki Kamar Gas.

"Kita punya waktu kurang dari satu jam. Apa • yang ingin kaubicarakan?" tanya Sam.

"Oh, banyak hal. Tapi kebanyakan tak menyenangkan."

"Rasanya sulit melakukan percakapan yang menyenangkan pada titik ini, kau tahu."

"Apa yang kaupikirkan saat ini, Sam? Apa yang terlintas dalam pikiranmu?"

"Segalanya."

"Apa yang kautakuti?"

"Bau gas itu. Apakah itu menyakitkan atau tidak. Aku tak ingin menderita, Adam. Aku berharap itu berlangsung cepat. Aku ingin menghirupnya banyak-banyak, dan mungkin aku langsung melayang tak sadarkan diri. Aku tidak takut pada kematian, Adam, tapi saat ini aku takut sekarat. Aku cuma berharap semua ini selesai. Saat menunggu ini mengerikan." "Apakah kau siap?"

"Hati kecilku yang keras ini sudah damai. Aku telah melakukan berbagai perbuatan buruk, Nak, tapi aku merasa Tuhan akan memaklumi. Tentu saja aku tak layak menerimanya."

"Mengapa kau tidak menceritakan padaku tentang orang yang bersamamu?"

"Panjang ceritanya. Kita tak punya banyak

waktu."

"Itu seharusnya bisa menyelamatkan nyawamu."

"Tidak, tak seorang pun akan percaya. Pikirkanlah. Dua puluh tiga tahun kemudian aku mendadak mengubah cerita dan menimpakan semua kesalahan kepada orang misterius. Janggal sekali."

"Mengapa kau bohong padaku?"

"Aku punya alasan."

"Untuk melindungiku?"

"Itu salah satunya."

"Dia masih di luar sana, kan?"

"Ya. Dia ada di dekat sini. Bahkan saat ini dia mungkin ada di depan sana bersama orang-orang gila lain. Cuma mengawasi. Tapi kau takkan pernah melihatnya."

"Dia membunuh Dogan dan istrinya?"

"Ya."

"Dan putra Dogan?" "Ya."

"Dan Clovis Brazelton?"

"Mungkin. Dia pembunuh yang sangat cakap, Adam. Dia mematikan, dia mengancam aku dan Dogan pada sidang pertama,"

"Apakah dia punya nama?" r "Tidak. Aku toh takkan mengatakannya padamu. Kau takkan boleh mengucapkan sepatah kata pun tentang ini."

"Kau mati karena kejahatan orang lain."

"Tidak. Seharusnya aku bisa menyelamatkan

bocah-bocah itu. Dan Tuhan tahu aim sudah cukup banyak membunuh orang. Aku pantas menerima ini, Adam."

"Tak seorang pun pantas menerima ini." "Ini jauh lebih baik daripada hidup. Seandainya mereka membawaku kembali ke sel saat Tni juga dan mengatakan padaku aku akan tinggal di sana sampai mati, tahukah kau apa yang akan kulakukan?" "Apa?"

"Aku akan bunuh diri."

Setelah menghabiskan jam terakhir itu dalam sebuah sel, Adam tak dapat mendebat ini. Ia bisa memahami kengerian hidup 23 jam sehari dalam sangkar sempit.

"Aku hipa rokokku," kata Sam, meraba saku kemeja. "Kurasa sekarang saat yang tepat untuk berhenti."

"Apakah kau mencoba melucu?" "Yeah."

"Itu tak berhasil."

"Apakah Lee pernah memperlihatkan padamu buku dengan foto pembunuhanku di dalamnya?"

"Dia tidak memperlihatkannya padaku. Dia mengatakan tempat buku itu, dan aku menemukannya."

"Kaulihat foto itu?" "Ya."

Testa biasa, kan?" "Menyedihkan."

"Apakah kau melihat foto lainnya, satu halaman sesudah itu?"

fpgTa. Dua anggota Klan." "Dengan jubah, kerudung, dan topeng?" "Ya, aku rnelihatnya."

"Itu aku dan Albert. Aku bersembunyi di balik

salah satu topeng itu."

Saraf Adam sudah melewati titik batas terguncang. Foto-foto mengerikan itu berkelebat dalam pikiran, dan ia mencoba menyisihkannya. "Mengapa kau menceritakan ini padaku, Sam?"

"Sebab rasanya melegakan. Sebelum ini aku tak pernah mengakuinya, dan ada kelegaan dalam menghadapi kebenaran. Aku sudah merasa lebih baik." "Aku tak ingin mendengar lebih banyak lagi." "Eddie tak pernah tahu. Dia menemukan buku 1 itu di gudang atas, dan entah bagaimana menduga aku ada di foto lainnya. Tapi dia tidak tahu aku salah satu dari dua orang Klan itu." "Mari jangan bicara tentang Eddie, oke?"' "Gagasan bagus. Bagaimana dengan Lee?" "Aku marah pada Lee. Dia lari dari kita." "Tentu menyenangkan seandainya bisa bertemu dengannya, kau tahu. Itu menyakitkan. Tapi aku begitu senang Carmen datang."

Akhirnya, pokok pembicaraan yang menyenangkan. "Dia orang yang menyenangkan," kata Adam.

"Gadis hebat. Aku sangat bangga denganmu, Adam, dan dengan Carmen. Kalian punya semua gen bagus dari ibumu. Aku sungguh beruntung punya dua cucu yang hebat." Adam mendengarkan dan tidak berusaha me-

nanggapi. Sesuatu berdentang di sebelah, dan mereka berdua melonjak.

"Nugent pasti sedang main-main dengan peralatannya di sana," kata Sam, pundaknya bergetar lagi. "Tahukah kau apa yang menyakitkan?" "Apa?"

"Aku sudah berpikir banyak tentang ini, benar-benar memeras otak beberapa hari terakhir ini. Aku melihatmu, dan melihat Carmen, dan aku menyaksikan dua anak muda cemerlang dengan pikiran dan hati terbuka. Kalian tidak membenci siapa pun. Kalian toleran dan berpikiran luas, berpendidikan baik, ambisius, pergi ke mana-mana tanpa beban yang kubawa sejak lahir. Dan aku melihatmu, cucuku, darah dagingku, dan aku bertanya pada diri sendiri. Mengapa aku tidak menjadi sesuatu yang lain? Seperti kau dan Carmen? Sulit untuk mempercayai kita benar-benar punya hubungan keluarga." "Sudahlah, Sam. Jangan lakukan ini." "Aku tak tahan." "Sudahlah, Sam."

"Oke, oke. Sesuatu yang menyenangkan." Suaranya menghilang dan ia membungkuk. Kepalanya tertunduk dalam dan bergantung nyaris di antara kaki.

Adam ingin percakapan mendalam tentang pelaku kejahatan yang misterius itu. Ia ingin mengetahui semuanya, perincian sebenarnya dari pengeboman tersebut, pelariannya, bagaimana dan me-

956

1

ngapa Sam tertangkap. Ia juga ingin tahu apa yang terjadi dengan orang ini, terutama karena ia ada di bar sana, mengawasi dan menunggu. Namun pertanyaan-pertanyaan ini takkan dijawab, jadi ia membiarkannya. Sam akan membawa banyak rahasia ke kuburnya.

Kedatangan helikopter Gubernur menciptakan kegaduhan sepanjang pintu depan Parchman. Heli-I kopter itu mendarat di sisi lain jalan raya, tempat sebuah van penjara sudah menunggu. Dengan seorang pengawal di masing-masing siku dan Mona Stark memburu di belakang, McAllister berlari tergesa-gesa ke dalam van. "Itu Gubernur!" seseorang berseru. Suara nyanyian dan doa terhenti sejenak. Kamera berpacu merekam van yang melewati gerbang depan dan menghilang.

Beberapa menit kemudian, kamera berhenti dekat ambulans di belakang MSU. Para pengawal dan Miss Stark tetap berada dalam van. Nugent menyambut Gubernur dan mengawalnya ke dalam mang saksi; ia duduk di deretan depan. Ia mengangguk kepada saksi-saksi lain, sekarang semuanya sudah berkeringat dan basah kuyup. Ruangan itu panas seperti oven. Nyamuk-nyamuk hitam beterbangan menumbuk dinding. Nugent bertanya apakah ada sesuatu yang bisa ia ambilkan untuk Gubernur.

"Popcorn," McAllister melucu, tapi tak seorang pun tertawa. Nugent mengernyit dan meninggalkan mangan.

957

"Mengapa Anda ada di sini?" seorang reporter bertanya.

"No comment," kata McAllister muram. Sepuluh orang itu duduk dalam keheningan, menatap tirai hitam, dan dengan resah memeriksa jam tangan mereka. Percakapan gelisah sudah berakhir. Mereka saling menghindari kontak mata, seolah-olah malu menjadi partisipan dalam peristiwa mengerikan itu.

Nugent berhenti di pintu Kamar Gas dan memeriksa sebuah checklist. Saat itu pukul 23.40. Ia memerintahkan dokter untuk masuk ke Ruang Isolasi, lalu melangkah ke luar dan memberi tanda agar para penjaga turun dari empat menara jaga sekitar MSU. Sangat kecil kemungkinan gas yang lolos sesudah eksekusi bakal mencelakakan penjaga menara, tapi Nugent menyukai detail.

Ketukan pada pintu itu benar-benar sangat samar, tapi saat itu terdengar bagaikan suara bor beton. Ketukan itu merobek keheningan, mengejutkan Adam dan Sam. Pintu terbuka Dokter muda itu melangkah masuk, mencoba tersenyum, menekuk satu lutut, dan meminta Sam membuka kancing kemeja. Sebuah stetoskop bundar ditempelkan pada kulitnya yang pucat, dengan kabel pendek dibiarkan tergantung sampai ke sabuk.

Tangan dokter itu gemetar. Ia tak mengucapkan apa-apa.

1

LIMA PULUH SATU

Pukul 23.30, Hez Kerry, Gamer Goodman, John Bryan Glass, dan dua mahasiswanya menghentikan percakapan ringan mereka dan bergandengan tangan di sekitar meja yang sesak acak-acakan di dalam kantor Kerry. Masing-masing memanjatkan doa hening bagi Sam Cayhall, lalu Hez memanjatkannya dengan suara keras untuk kelompok tersebut. Mereka duduk di kursi mereka, tenggelam dalam pikiran, dalam keheningan, dan memanjatkan doa singkat untuk Adam.

Akhir peristiwa itu berlangsung cepat. Jam yang berdesis dan berjalan lamban selama 24 jam terakhir ini mendadak melaju kencang.

Selama beberapa menit setelah dokter berlalu, mereka melakukan percakapan ringan dan resah sementara Sam berjalan dua kali melintasi mangan sempit itu, mengukurnya, lalu bersandar pada dinding di seberang ranjang. Mereka bicara tentang (Chicago dan Kravitz & Bane. Sam tak dapat

membayangkan bagaimana tiga ratus pengacara hidup dalam gedung yang sama. Satu-dua kali ada tawa gelisah, dan beberapa kali senyum tegang saat mereka menunggu ketukan mengerikan berikutnya.

Ketukan itu terdengar tepat pukul 23.55, tiga ketukan tajam, lalu jeda panjang. Sam menarik napas dalam dan merapatkan rahang. Ia menudingkan satu jari pada Adam. "Dengar aku," katanya tegas. "Kau boleh berjalan ke dalam sana bersamaku, tapi kau tak boleh tinggal." "Aku tahu. Aku tak ingin tinggal, Sam." "Bagus." Jari bengkok itu turun, rahang mengendur, wajahnya melayu. Sam mengulurkan tangan ke depan dan meraih pundak Adam. Adam menariknya rapat dan memeluknya lembut.

"Katakan pada Lee aku mencintainya," kata Sam, suaranya serak. Ia menjauh sedikit dan menatap mata Adam. "Katakan padanya aku memikirkannya sampai akhir. Dan aku tidak marah padanya karena tidak datang. Aku pun tak ingin datang ke sini kalau tidak terpaksa."

Adam mengangguk cepat, dan ia berusaha keras menahan tangis. Apa saja, Sam, apa saja.

"Sampaikan salam untuk ibumu. Aku selalu menyukainya. Sampaikan sayangku pada Carmen, dia anak yang hebat. Aku menyesal atas semua ini, Adam. Ini warisan beban berat bagi kalian." "Kami akan baik-baik saja, Sam."

960

"Aku tahu. Aku akan mati sebagai orang yang sangat bangga, Nak, karena kau."

"Aku akan merindukanmu," kata Adam, air matanya bergulir ke pipi.

Pintu terbuka dan sang Kolonel melangkah masuk. "Sudah saatnya, Sam," katanya sedih.

Sam menghadapinya dengan senyum tegar. "Mari kita laksanakan!" katanya mantap. Nugent berjalan lebih dulu, lalu Sam, lalu Adam. Mereka melangkah ke dalam Kamar Gas yang sudah penuh orang. Setiap orang menatap Sam, lalu langsung berpaling. Mereka malu, pikir Adam. Malu berada di sini, ambil bagian dalam tindakan keji ini. Mereka tak mau memandang Adam.

Monday, sang algojo, dan asistennya ada di dekat dinding di samping Ruang Kimia. Dua penjaga berseragam berdiri di samping mereka. Lucas Mann dan seorang wakil kepala penjara ada di dekat pintu. Sang dokter sedang sibuk di'sebelah kanannya, menyetel EKG dan berusaha kelihatan tenang.

Dan di tengah ruangan, sekarang dikelilingi berbagai partisipan, adalah kamar gas itu, sebuah tabung berbentuk segi delapan dengan lapisan cat baru keperakan. Pintunya terbuka, kursi kayu penentu nasib itu menunggu, sederet jendela tertutup ada di belakangnya.

Pintu keluar ruangan itu terbuka, tapi tak ada angin masuk. Ruangan itu bagaikan sauna, setiap orang basah kuyup oleh keringat. Dua penjaga

membawa Sam dan menggiringnya ke dalam Kamar Gas. Ia menghitung langkah—cuma lima langkah dari pintu ke kamar gas itu—dan sekonyong-konyong ia sudah berada di dalam, duduk, melihat sekeliling orang-orang itu, mencari Adam. Tangan orang-orang itu bekerja cepat.

Adam berhenti tepat di dalam pintu. Ia bersandar pada dinding, mencari kekuatan, lututnya lemas dan lemah. Ia memandang orang-orang dalam ruangan itu, pada Kamar Gas, pada lantai, EKG. Semuanya begitu bersih! Dinding-dinding yang baru dicat. Lantai beton yang mengilat. Dokter dengan mesin-mesinnya. Kamar sempit yang bersih dan steril dengan kilauannya yang cemerlang. Bau antiseptik dari Ruang Kimia. Segalanya tanpa noda dan higienis. Seharusnya kamar ini dijadikan klinik tempat orang mendapatkan pengobatan.

Bagaimana kalau aku muntah di lantai, tepat di sini, di kaki dokter yang baik ini, apa akibatnya terhadap ruangan sempit suci hama ini, Nugent? Bagaimana buku panduan menangani hal itu, Nugent, seandainya aku memuntahkannya di sini di depan Kamar Gas? Adam mendekap perutnya.

Pengikat terpasang pada lengan Sam, dua pada masing-masing lengan, lalu dua lagi untuk kaki, di atas celana Dickies baru yang mengilat, lalu pengikat kepala yang menyeramkan itu agar ia tidak melukai diri sendiri ketika gas menyerang. Ini dia, semua sudah terpasang dan siap untuk gas itu, Semuanya rapi, tanpa noda, dan suci hama, tak

ada darah yang tercecer. Tak ada apa pun yang mencemari pembunuhan bermoral yang mulus tanpa cacat ini.

Para penjaga mundur keluar dari pintu sempit itu, bangga dengan pekerjaan mereka.

Adam memandangnya duduk di sana. Mata mereka bertemu dan seketika Sam memejamkannya.

Dokter itu yang berikutnya. Nugent mengatakan sesuatu kepadanya, tapi Adam tak dapat mendengar kata-kata itu. la melangkah ke dalam dan memasang kabel yang menyambung ke stetoskop. Ia melaksanakan pekerjaan dengan cepat.

Lucas Mann melangkah ke depan dengan sehelai kertas. Ia berdiri di pintu Kamar Gas. "Sam, ini'surat Keputusan hukuman mati. Aku diwajibkan oleh undang-undang untuk membacakannya kepadamu."

"Cepatlah," Sam mendengus tanpa membuka bibir.

Lucas mengangkat kertas itu dan membacanya. "Sesuai dengan vonis bersalah dan vonis hukuman mati yang dijatuhkan padamu oleh Pengadilan Circuit Washington County pada tanggal 14 Februari 1981, dengan ini kau dihukum mati dengan gas mematikan dalam Kamar Gas Penjara Negara Bagian Mississippi di Parchman. Semoga Tuhan mengampuni jiwamu." Lucas mundur, lalu meraih telepon pertama di antar dua telepon yang tergantung pada dinding. Ia menelepon kantornya untuk memeriksa apakah ada mukjizat penundaan pada

963

detik terakhir. Tak ada apa pun. Saluran telepon kedua disiapkan untuk menghubungi kantor Jaksa Agung di Jackson. Sekali lagi semua sistem berjalan. Sekarang tengah malam lewat tiga puluh

detik. Rabu, S Agustus. Tak ada penangguhan," katanya kepada Nugent.

Kata-kata itu berloncatan di sekeliling ruangan yang lengas itu dan menerpa dari segala penjuru. Adam melirik kakeknya untuk terakhir kali. Tangan Sam terkepal. Matanya terpejam rapat, seolah-olah ia tak bisa memandang Adam lagi. Bibirnya bergerak, seolah-olah ia memanjatkan satu doa pendek lagi.

"Apakah ada alasan „eksekusi ini tidak bisa dilaksanakan?" Nugent bertanya secara formal, mendadak mengharapkan nasihat hukum yang mantap.

Tidak ada," kata Lucas dengan penyesalan sungguh-sungguh.

Nugent berdiri di pintu Kamar Gas. "Ada pesan terakhir, Sam?" ia bertanya.

"Bukan untukmu. Sudah saatnya Adam berlalu." "Baiklah." Nugent perlahan-lahan menutup pintu, gasket karetnya yang tebal menahan suara. Tanpa suara, Sam sekarang terkunci, dan terikat. Ia memejamkan mata rapat-rapat Cepatlah.

Adam bergeser ke belakang Nugent yang masih menghadap pintu Kamar Gas. Lucas Mann membuka pintu keluar, dan mereka berdua cepat-cepat keluar. Algojo meraih sebuah tuas. Asistennya beringsut ke samping untuk mengintip. Dua penjaga

tadi mencari posisi, agar bisa menyaksikan bangsat tua itu mati. Nugent, wakil Kepala Penjara, dan dokter berkerumun di sepanjang dinding lain, semuanya beringsut lebih dekat, kepala bermunculan dan tumpang tindih, masing-masing takut melewatkan sesuatu.

Suhu 32 derajat di luar terasa jauh lebih sejuk. Adam berjalan ke ujung ambulans dan sejenak bersandar di sana.

"Kau baik-baik saja?" tanya Lucas.

"Tidak."

Tenanglah."

"Kau tak menyaksikannya?"

Tidak. Aku sudah melihat empat Bn cukup untukku. Yang ini betul-betul sulit."

Adam menatap pintu putih di tengah dinding bata. Tiga van diparkir di dekatnya. Sekelompok penjaga merokok dan berbisik-bisik di samping van. "Aku ingin pergi," katanya, takut ia akan muntah.

"Ayo." Lucas memegang sikunya dan membimbingnya ke van pertama. Ia mengucapkan sesuatu kepada seorang penjaga yang melompat ke jok depan. Adam dan Lucas duduk di bangku di tengahnya.

Adam tahu, pada saat ini kakeknya ada di tengah gas, terengah mencari napas, paru-parunya hangus oleh racun yang membakar. Tepat di sana, dalam bangunan bata merah kecil itu, saat ini, ia sedang mengisapnya, mencoba menelan sebanyak

mungkin, berharap langsung terapung menuju dunia yang lebih baik.

Ia mulai menangis. Van itu bergerak mengitari lapangan rekreasi dan melintasi rumput di depan The Row. Ia menutupi mata dan menangis untuk Sam, untuk penderitaannya saat ini, untuk cara mengerikan ia dipaksa mati. Ia tampak begitu mengibakan, duduk di sana dengan pakaian bani, diikat seperti binatang. Ia menangisi Sam dan sembilan setengah tahun terakhir yang ia habiskan memandang lewat jeruji, mencoba menangkap pandangan sepintas pada rembulan, bertanya-tanya dalam hati apakah ada seseorang di luar sana yang peduli padanya. Ia menangis untuk seluruh keluarga Cayhall yang menyedihkan dan sejarah mereka, yang mengerikan. Ia menangis untuk diri sendiri, untuk penderitaannya saat ini, untuk hilangnya orang yang dicintai, untuk kegagalannya menghentikan kegilaan ini.

Lucas menepuk-nepuk pundaknya dengan lembut. Van itu meluncur, lalu berhenti, lalu menggelinding, dan berhenti lagi. "Aku ikut menyesal," katanya lebih dari satu kali.

"Ini mobilmu?" tanya Lucas ketika mereka berhenti di luar gerbang. Lapangan parkir tanah itu terisi penuh. Adam menarik pegangan pintu dan melangkah ke luar tanpa sepatah kata pun. Ia bisa mengucapkan terima kasih nanti.

Ia memacu mobil di sepanjang jalan tanah, di antara deretan kapas, sampai tiba ke jalan masuk

utama. Ia melaju cepat ke gerbang depan, hanya sebentar mengurangi kecepatan sewaktu berkelok melintasi barikade, lalu berhenti di gerbang depan, supaya penjaga bisa memeriksa bagasinya. Di sebelah kirinya ada segerombolan reporter. Mereka berdiri, resah menunggu kabar dari The Row. Mini-cam mereka siap.

Tak ada siapa pun dalam bagasinya, dan ia dipersilakan melintasi barikade lain, nyaris menabrak seorang penjaga yang tidak cukup cepat bergerak. Ia berhenti di jalan raya dan melihat acara menyalakan lilin yang sedang berlangsung di sebelah kanannya. Lagu himne sedang dinyanyikan dari suatu tempat.

Ia memacu mobilnya, melewati polisi-polisi negara bagian yang lalu lalang, menikmati istirahat mereka. Ia melewati mobil-mobil yang diparkir di bahu jalan sejauh dua mil, dan tak lama Parchman sudah di belakangnya. Ia menekan tombol turbo dan dengan segera mencapai sembilan puluh mil per jam.

Ia menuju utara karena suatu alasan, meskipun tak berniat pergi ke Memphis. Kota-kota kecil seperti Tutwiler, Lambert, Marks, Sledge, dan Crenshaw terbang lewat. Ia membuka jendela dan udara hangat bergulung di sekitar tempat duduk. Kaca depan ditaburi kutu dan serangga besar, yang ^ketahuinya sebagai hama di wilayah Delta. I Ia cuma mengemudikan mobil, tanpa tujuan ter-tentu. Perjalanan ini tak pernah direncanakan. Ia

967

tak pernah memikirkan ke mana akan pergi segera setelah Sam meninggal, sebab ia tak pernah benar-benar percaya hal itu akan terjadi. Mungkin ia

akan berada di Jackson sekarang, minum dan merayakan kemenangan bersama Garner Goodman dan Hez Kerry, mabuk berat karena mereka berbasil mengeluarkan kelinci dari topi. Mungkin ia ada di The Row, masih menelepon sana-sini, berusaha mendapatkan perincian penangguhan yang kelak akan jadi permanen. Mungkin banyak hal.

Ia tak berani pergi ke rumah Lee, sebab ia mungkin benar-benar ada di sana. Pertemuan mereka berikutnya mungkin akan berat, dan ia lebih suka menundanya. Ia memutuskan mencari motel yang layak. Melewatkan malam. Mencoba tidur. Memikirkan segalanya besok setelah matahari Baik. Ia berpacu melewati puluhan desa dan kota kecil yang tak 'satu pun punya kamar untuk disewa. Ia mengurangi kecepatan. Satu highway beralih ke lainnya. Ia tersesat, tapi tak peduli. Bagaimana bisa tersesat bila tak tahu ke mana akan menuju? Ia mengenali kota-kota dari rambu-rambu jalan, berbelok ke sini, lalu ke sana. Perhatiannya tertuju pada sebuah toko yang buka sepanjang malam di luar Hernando, tak jauh dari Memphis. Tak ada mobil diparkir di depannya. Seorang wa-nita setengah baya dengan rambut hitam pekat berdiri di belakang counter, merokok, mengunyah permen karet, dan bicara di telepon. Adam meng-

968

hampiri pendingin bir dan mengambil satu bungkus isi enam kaleng.

"Maaf, Sayang, tidak bisa beli bir setelah jam dua belas."

"Apa?" Adam bertanya keras sambil merogoh saku.

Wanita itu tak suka bentakannya. Dengan hati-hati ia meletakkan telepon di samping cash register. "Kami di sini tak bisa menjual bir setelah tengah malam. Itu undang-undang."

"Undang-undang?" st/Ya. Undang-undang."

"Dari Negara Bagian Mississippi?"

"Benar," katanya manis.

"Kau tahu apa yang kupikir saat ini tentang undang-undang negara bagian ini?" "Tidak, Sayang. Dan teras terang aku tak peduli." Adam meletakkan selembar pecahan sepuluh dolar di atas counter dan membawa bir itu ke mobil. Wanita itu mengawasinya pergi, lalu menyisipkan uang ke dalam saku dan kembali ke telepon. Mengapa harus merepotkan polisi karena enam kaleng bir?

Adam berangkat lagi, menuju selatan di jalan raya dua lajur, mematuhi batas kecepatan dan meneguk bir pertama. Berangkat lagi mencari kamar bersih dengan sarapan gratis, kolam renang, televisi kabel, HBO, tanpa anak-anak.

Lima belas menit untuk mati, lima belas menit untuk mengangini Kamar Gas, sepuluh menit un-

969

tak bernyawa itu, mutt total, menurut dokter muda dan EKG-nyj. Nugent menunjuk ke sana kemah -pakai masker gas, pakai sarung tangan, bawa re. porter-reporter terkutuk itu ke van dan keluar dari

Adam bisa membayangkan Sam d) sana. kepala H rkulai ke satu sisi. masih tenkat dengan pengikat kulit yang kokoh itu. Bagaimana waraa kulitnya sekarang? Pasti bukan putih pucat seperti sembilan setengah tahun ini. Pasti gas itu mengubah bibirnya jadi ungu dan dagingnya jadi merah muda. Kamar gas itu sekarang benih, sama «nun Masuk kc Kamar Gas. kata Nugent, buka ikatannya Ambil

luar'.7 Apakah kandung kemihnya bocor? Im «cUki terjadi. Hati-hati. Ini. ini tas pin tik Masukkan pakaiannya ke sini Semprot tubuh telanjang itu.

Adam bisa melihat pakaian hara itu—celana Mati k.iku. sepatu yang kebesaran, kaus kati putih tanpa noda. Sam begitu bangga kembali memakai pakaian siingguhan Sekarang pakaian itu , gombal dalam kantong sampah hijau, dita-

celana penjara biru dan kaus putih? Ambil Masuk ke Kamar Gas. Pakaikan padi mayat mi Tak perlu sepatu. Tak perlu kaus kakl peduli amat. dia cuma akan pergi ke rumah Biarkan pihak keluarga yang

^""irsungmi Baw. dia keluar Kc

Atl.un sampai « dekat sebuah danau entah di ^na. melewati jembatan, melewati bawahnya ^, mendadak Icmbap dan sejuk. Tersesal lagi

LIMA PULUH DUA

. Kilauan pertama matahari terbit itu berupa lingkaran merah muda di bukit di atas Clanton. Cahayanya menerobos pepohonan, dan dengan cepat berubah jadi kuning, lalu oranye. Tak ada awan, tak ada apa pun kecuali warna-warna cerah di langit yang gelap.

Dua kaleng bir yang belum terbuka bertengger di rumput. Tiga kaleng kosong telah dilemparkan pada batu nisan di dekatnya. Kaleng kosong pertama masih ada di mobil.

Fajar merekah. Bayang-bayang jatuh ke arahnya dari deretan batu nisan. Matahari segera menginapnya dari balik pepohonan.

Ia sudah dua jam berada di sana, meskipun sudah kehilangan jejak waktu. Jackson, Hakim Slattery, dan sidang hari Senin terasa seperti sudah bertahun-tahun yang lalu. Sam meninggal beberapa menit yang lalu. Atau meninggalkah dia? Apakah mereka sudah selesai melakukan tindakan kotor mereka? Waktu masih bermain-main.

972

f . Ia tak menemukan motel, dan tidak pula mencari dengan sungguh-sungguh. Ternyata dirinya sampai di dekat Clanton, lalu tertarik ke sini, tempat ia menemukan nisan Anna Gates Cayhall. Sekarang ia bersandar di sana. Ia minum bir hangat dan melemparkan kalengnya pada monumen terbesar yang ada dalam jangkauan. Bila polisi menemukannya di sini dan membawanya ke penjara, ia tak peduli. Ia sudah pernah masuk sel. "Yeah, baru saja keluar dari Parchman," ia akan berkata kepada rekan seselnya, partnernya. "Baru saja keluar dari death row." Dan mereka akan membiarkannya sendiri.

Jelas polisi-polisi itu sibuk di tempat lain. Kuburan itu aman. Empat bendera merah kecil ditan-- capkan di samping kubur neneknya. Adam melihatnya ketika" matahari terbit di timur. Kuburan lain akan digali.

Terdengar pintu mobil ditutup di suatu tempat di belakangnya, tapi ia tak mendengarnya. Satu sosok berjalan ke arahnya, namun ia tak mengetahuinya. Sosok ¦ itu bergerak perlahan-lahan, memeriksa tempat pemakaman itu, hati-hati mencari sesuatu.

Suara ranting patah mengejutkan Adam. Lee sedang berdiri di sampingnya, tangannya ada pada nisan ibunya. Adam memandangnya, lalu berpaling. I "Apa yang kaukerjakan di sini?" ia bertanya, terlalu kebas untuk terkejut. Lee perlahan-lahan berlutut, lalu duduk sangat

973

dekat dengan Adam, punggungnya menempel pada ukiran nama ibanya. Ia melingkarkan lengan pada siku Adam. "Ke mana saja kau selama ini, Lee?" "Menjalani pengobatan." "Kau mestinya bisa menelepon, sialan." "Jangan marah, Adam, aku mohon. Aku butuh teman." Ia menyandarkan kepala pada pundak Adam.

"Aku tak yakin kalau aku temanmu, Lee. Apa yang kaulakukan sungguh menyebalkan." "Dia ingin menemuiku, kan?" "Benar. Kau, tentu saja, sedang tersesat dalam dunia kecilmu sendiri, tenggelam dalam persoalan sendiri, seperti biasa. Tidak memikirkan orang lain."

"Sudahlah, Adam, aku menjalani perawatan. Kau tahu betapa lemah diriku. Aku butuh pertolongan." "Kalau begitu, carilah."

Lee memperhatikan dua kaleng bir itu, dan Adam cepat-cepat membuangnya. "Aku tidak minum,1' kata Lee, mengundang iba. Suaranya sedih dan kosong. Wajahnya yang cantik terlihat letih dan berkerut.

"Aku mencoba menemuinya," katanya.

"Kapan?"

"Tadi malam. Aku pergi ke Parchman. Mereka tak mengizinkan ku masuk. Katanya sudah terlambat"

Adam menundukkan kepala, hatinya melunak. Ia takkan mendapatkan apa pun dengan mengumpat

974

Lee. Lee pecandu alkohol, bergulat mengatasi iblis yang ia harap tak pernah Adam jumpai. Dan Lee adalah bibinya, Lee-nya tercinta. "Sampai akhir dia menanyakan dirimu. Dia memintaku menyampaikan bahwa dia mencintaimu, dan dia tidak marah karena kau tidak datang menjenguknya."

Lee mulai menangis pelan. Ia menyeka pipi dengan punggung tangan, dan menangis lama.

"Dia pergi dengan penuh keberanian dan martabat," kata Adam. "Dia sangat tegar. Dia mengatakan hatinya bersama Tuhan, dan dia tak membenci siapa pun. Dia sangat menyesal atas semua yang telah diperbuatnya. Dia orang hebat, Lee, prajurit tua yang siap teras berjuang."

"Tahukah kau ke mana aku selama ini?" Lee bertanya di sela-sela sedu sedan, seolah-olah tak mendengar apa pun yang diucapkan Adam. "Tidak. Ke mana?"

"Aku berada di rumah lama itu. Tadi malam dari Parchman aku pergi ke sana." "Untuk apa?"

"Sebab aku ingin membakarnya. Dan ramah itu terbakar dengan indah. Rumah dan ilalang di sekitarnya. Api besar, semua habis jadi asap."

"Aduh, Lee."

"Itu benar. Aku nyaris tertangkap, kurasa. Aku barangkali melewati sebuah mobil sewaktu meninggalkannya. Tapi aku tidak khawatir. Kubeli tempat itu minggu lalu. Kubayarkan 13.000 dolar

975

ke bank. Kalau kau memilikinya, kau bisa membakarnya, benar? Kau kan pengacara." "Kau serius?"

"Pergilah, lihat sendiri. Aku parkir di depan gereja satu mil dari sana, untuk menunggu mobil pemadam kebakaran. Mereka tak pernah datang. Rumah terdekat jaraknya dua mil. Tak seorang pun melihat-kebakaran itu. Pergi dan lihatlah. Tak ada yang tertinggal kecuali cerobong asap dan setumpuk abu." "Bagaimana..."

"Bensin. Ini, cium tanganku." Ia menyodorkannya ke bawah hidung Adam. Kedua tangannya mengeluarkan bau bensin yang menusuk. Tapi kenapa?" ^28

"Seharusnya itu kulakukan bertahun-tahun yang lalu."

"Itu tak menjawab pertanyaannya. Kenapa?" "Banyak kejahatan terjadi di sana. Tempat itu penuh iblis dan roh jahat. Sekarang mereka hilang." "Jadi, mereka mati bersama Sam?" Tidak, mereka tidak mati. Mereka pergi menghantui orang lain."

Adam cepat-cepat memutuskan takkan ada gunanya menuntaskan pembicaraan ini. Mereka harus pergi, maagkin kembali ke Memphis, tempat ia bisa mengembalikan Lee agar pulih. Dan mungkin terapi. Ia akan tinggal bersama Lee dan memastikan bibinya mendapatkan pertolongan. Sebuah truk pickup kotor memasuki .pemakaman

976

ia, melalui gerbang besi di bagian lama, dan melaju perlahan-lahan di jalan setapak beton, di an-lara monumen-monumen kuno. Truk itu berhenti di gudang peralatan kecil di sudut pemakaman itu. Tiga laki-laki kulit hitam perlahan-lahan keluar dan meregangkan punggung. "Itu Herman," kata Lee. "Siapa?"

"Herman. Aku tak tahu nama keluarganya. Sudah empat puluh tahun dia menggali liang kubur at sini."

Mereka menyaksikan Herman dan dua orang lainnya melintasi lembah batu nisan. Mereka bisa mendengar suara lamat-lamat ketika laki-laki itu bersiap.

Lee menghentikan sedu sedan dan tangisnya. Matahari tepat di atas pucuk pepohonan, sinarnya menerpa langsung ke wajah mereka. Hawa sudah hangat. "Aku senang kau datang," kata Lee. "Aku tahu itu sangat besar artinya baginya."

"Aku kalah, Lee. Aku mengecewakan klienku, dan sekarang dia mati."

"Kau sudah mencoba sebaik mungkin. Tak seorang pun bisa menyelamatkannya." "Mungkin."

"Jangan menghukum diri sendiri. Malam pertama di Memphis, kau mengatakan padaku bahwa ke-mungkinannya amat kecil. Kau sudah hampir berhasil. Kau bertarung dengan baik. Sekarang saatnya kembali ke Chicago dan meneruskan sisa hktapmu."

977

"Aku takkan kembali ke Chicago." "Apa?"

"Aku ganti pekerjaan." "Tapi kau baru setahun jadi pengacara." "Aku masih akan jadi pengacara. Cuma jenis prakteknya berbeda." "Mengerjakan apa?" "Litigasi hukuman mati." "Kedengarannya mengerikan." "Ya, memang. Terutama pada hidupku saat ini. Tapi aku akan terbiasa. Aku tidak cocok untuk biro hukum besar." "Di mana kau akan praktek?" "Jackson. Aku akan menghabiskan waktu lebih banyak lagi di Parchman."

Lee menggosok wajah dan menarik rambut ke belakang. "Kurasa kau tahu apa yang kaukerjakan," katanya, tak mampu menyembunyikan keraguan. "Jangan terlalu yakin."

Herman berjalan mengitari sebuah mesin pengeruk tanah usang berwarna kuning yang diparkir di bawah pohon peneduh di samping gudang. Ia mengamatinya dengan penuh perhatian, sementara laki-laki lainnya meletakkan sekop ke dalam pe-ngeruknya. Mereka meregangkan tubuh lagi, tertawa tentang sesuatu, dan menendang ban depan.

"Aku punya gagasan," katanya. "Ada sebuah kafe kecil di utara kota, namanya Ralph's. Sam dulu membawaku ke sana..." "Ralph's?"

07«ottoys@yahoo.com

"Yeah."

"Pendeta Sam bernama Ralph. Dia bersama kami kemarin malam."

"Sam punya pendeta?"

"Ya. Pendeta yang baik."

"Omong-omong, Sam membawa aku dan Eddie ke sana pada hari ulang tahun kami. Tempat itu sudah berdiri seratus tahun. Kami makan biskuit besar, minum cokelat panas. Mari kita lihat apakah tempat itu masih buka." "Sekarang?"

"Yeah." Ia jadi bersemangat dan bangkit berdiri. "Ayolah. Aku lapar." Adam meraih batu nisan dan menarik tubuhnya j berdiri. Ia tidak tidur sejak Senin malam, dan kakinya terasa berat dan kaku. Bir itu membuatnya I pening.

Di kejauhan, sebuah mesin dihidupkan. Suaranya bergema tak teredam, menembus tempat pemakaman itu. Adam diam membeku. Lee menoleh untuk melihatnya. Herman sedang mengoperasikan mesin pengeruk tanah, asap biru mendidih dari knalpot. Dua rekan kerjanya ada di pengeruknya dengan kaki tergantung. Pengeruk tanah itu maju dengan gigi rendah, lalu beringsut di jalan masuk, sangat perlahan, melewati deretan makam, lalu berhenti dan berputar. Mesin itu mendatangi ke arah mereka.

sekian

0 Response to "The Chamber"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified