Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Chamber III

Kebanyakan negara bagian yang dulu memakai kamar gas sudah menggantikannya dengan teknik yang lebih baik."

Sam bangkit berdiri dan berjalan ke ujung lain meja itu. "Ah, bila tiba waktuku, aku tentu saja ingin mati dengan teknologi terbaru." Ia mondar-mandir di sepanjang meja, maju-mundur tiga-empat kali, lalu berhenti. "Cuma lima setengah meter jarak antara ujung ruangan ini dan ujung satunya. Aku cuma bisa berjalan lima setengah meter tanpa menabrak jeruji. Apa kau menyadari bagaimana rasanya menghabiskan 23 jam sehari dalam sel berukuran hampir dua kali tiga meter? Inilah kebebasan, Man." Ia mondar-mandir lagi, mengepul-ngepulkan rokok ketika datang dan pergi.

Adam mengawasi sosok rapuh itu bergerak se-

368

panjang tepi meja, dengan jejak asap di belakangnya. Ia tidak berkaus kaki dan memakai sepatu mandi karet biru tua yang berdecit ketika berjalan. Sekonyong-konyong ia berhenti, menarik sebuah buku dari rak, melemparkannya dengan keras ke meja, dan mulai membalik- balik halaman dengan gerak melambai-lambai. Sesudah beberapa menit mencari-cari dengan tekun, ia dengan tepat menemukan apa yang dicarinya dan menghabiskan lima menit untuk membacanya.

"Ini dia," gumamnya pada diri sendiri. "Aku tahu sudah pernah membaca ini."

"Apa itu?"

"Satu kasus tahun 1984 dari North Carolina. Laki-laki itu bernama Jimmy Old, dan jelas Jimmy tak ingin mati. Mereka hams menyeretnya ke dalam kamar gas. Dia menendang-nendang, menangis, dan berteriak. Butuh beberapa lama untuk mengikatnya. Mereka mengempaskan pintu dan menjatuhkan gas, dan dagunya terbanting ke dada. Kemudian kepalanya berputar ke belakang dan mulai berkedut-kedut. Dia menoleh kepada para saksi yang tak bisa melihat apa pun kecuali bagian putih bola matanya, dan dia mulai mengeluarkan ludah. Kepalanya bergoyang-goyang dan terayun-ayun lama, sementara tubuhnya gemetar dan mulutnya berbusa. Hal itu terus berlanjut. Salah satu saksi—wartawan—muntah. Kepala penjara jadi muak dan menutup tirai hitam di sana, sehingga saksi tak bisa melihatnya lagi. Mereka memper-

369

kirakan Jimmy Old butuh empat belas menit untuk mati."

"Kedengarannya kejam." Sam menutup buku itu dan meletakkannya dengan hati-hati ke rak. Ia menyalakan sebatang rokok dan mengamati langit-langit. "Sebenarnya setiap kamar gas dibangun bertahun-tahun yang lalu oleh Eaton Metal Products di Salt Lake City. Aku membaca entah di mana bahwa kamar gas Missouri dibangun narapidana. Tapi kamar gas kita di sini dibangun Eaton, dan semua pada dasarnya sama terbuat dari baja, berbentuk segi delapan dengan sejumlah jendela di sana-sini, sehingga orang bisa menyaksikan kematian. Tak banyak tempat di dalam kamar itu, cuma kursi kayu dengan berbagai pengikat. Ada mangkuk besi tepat di bawah kursi, dan cuma beberapa senti di atas mangkuk itu ada kantong kecil berisi tablet sianida yang dikendalikan dengan tuas oleh algojo. Dia juga mengendalikan asam sulfat yang dipergunakan dalam urusan ini dengan canister. Canister itu disambungkan ke mangkuk dengan slang, dan sesudah mangkuk terisi asam, dia menarik tuas dan menjatuhkan tablet sianida. Ini akan menimbulkan gas yang mengakibatkan kematian, dan tentu saja dirancang agar berlangsung cepat tanpa rasa sakit."

"Bukankah cara ini dirancang untuk menggantikan kursi listrik?"

"Ya. Dulu, pada dasawarsa dua puluhan dan tiga puluhan, setiap tempat punya kursi listrik, dan

benda itu alat paling hebat yang pernah ditemukan. Aku ingat ketika masih kanak-kanak mereka punya kursi listrik portabel yang dibawa dengan trailer ke berbagai county. Mereka berhenti di penjara setempat, membawa terhukum keluar dalam keadaan terborgol,, membariskan mereka di luar trailer, kemudian membunuh mereka. Itu cara efisien untuk meringankan beban penjara yang terlampau sesak." Ia menggelengkan kepala tak percaya. "Tapi mereka tentu saja tak tahu apa yang mereka lakukan, dan ada beberapa cerita mengerikan tentang orang-orang yang menderita. Ini hukuman mati, benar? Bukan penyiksaan. Dan itu bukan cuma Mississippi. Banyak negara bagian memakai kursi, listrik tua yang brengsek ini dengan segerombolan orang tolol menarik sakelar, dan ada segala macam masalah. Mereka mengikat orang malang itu, menarik sakelar, memberikan sengatan hebat kepadanya, tapi tak cukup hebat; orang itu terpanggang bagian dalamnya, tapi tidak mati, maka mereka menunggu beberapa menit daa menyetrumnya lagi. Ini mungkin berlangsung selama lima belas menit. Mereka mungkin tidak memasang elektrodanya dengan benar, dan bukan hal aneh kalau ada percikan lidah atau bunga api melompat dari mata dan telinga. Aku membaca laporan tentang orang yang dilistrik dengan tegangan yang tidak tepat. Asap mengepul di kepalanya dan bola matanya meletup ke luar. Darah mengucur dari wajahnya. Saat electrocution itu,

371

kulit jadi begitu panas sampai mereka tak bisa menyentuhnya beberapa lama, jadi zaman dulu mereka harus membiarkannya mendingin sebelum bisa tahu apakah dia sudah mati. Ada banyak cerita tentang orang-orang yang duduk diam setelah kejutan pertama, lalu mulai bernapas lagi. Jadi, mereka tentu saja menghantamnya lagi dengan aliran listrik. Ini mungkin bisa terjadi empat atau lima kali. Itu sangat mengerikan, maka dokter tentara ini menciptakan kamar gas sebagai cara yang lebih manusiawi untuk membunuh orang. Cara ini, seperti katamu, sekarang jadi usang karena ada suntikan mematikan."

Sam mendapat pendengar, dan Adam terpesona. "Berapa orang telah mati dalam kamar gas Mississippi?" ia bertanya.

"Kamar gas itu pertama dipakai di sini tahun 1954, atau sekitar itu. Antara saat itu sampai tahun 1970, mereka membunuh 35 laki-laki. Tak ada wanita. Sesudah Furman pada tahun 1972, kamar gas itu menganggur sampai Teddy Doyle Meeks pada tahun 1982. Mereka telah memakainya tiga kali sejak itu, jadi jumlah seluruhnya ada 39. Aku akan jadi nomor empat puluh."

Ia mulai mondar-mandir lagi, sekarang jauh lebih lambat. "Ini cara yang sangat tidak efektif untuk membunuh orang," katanya, mirip sekali seperti dosen di depan kelas. "Dan berbahaya. Berbahaya tentu saja bagi orang malang yang diikat di kursi, tapi juga bagi mereka di luar kamar gas. Alat-alat

372

^tuk itu sudah tua dan semuanya sudah bocor sampai tingkat tertentu. Segel dan gasketnya sudah membusuk dan aus, dan biaya membangun kamar gas yang tidak bocor tak terjangkau. Satu kebocoran kecil bisa mematikan bagi si algojo atau siapa pun yang berdiri di dekatnya. Di sana selalu ada beberapa orang—Naifeh, Lucas, mungkin seorang pendeta, dokter, seorang penjaga atau dua—berdiri dalam ruangan kecil tepat di luar kamar gas. Ada dua pintu ke ruangan sempit ini, dan keduanya selalu tertutup selama eksekusi. Kalau ada gas bocor dari kamar gas ke ruangan itu, barangkali Naifeh atau Lucas akan terkena dan mereka akan berkuak mati di lantai sana. Bukan gagasan jelek, kalau dipikir-pikir.

"Para saksi juga dalam bahaya besar, dan mereka sama sekali tak tahu-menahu. Tak ada apa pun antara mereka dan kamar gas, kecuali sederet jendela yang sudah tua dan sama kemungkinannya mengalami kebocoran. Mereka juga berada dalam ruangan sempit dengan pintu tertutup, dan bila ada kebocoran gas sebesar apa pun, orang-orang goblok yang menonton ini pun akan tergas.

Tapi bahaya sesungguhnya datang sesudah itu. Ada seutas kabel yang mereka tempelkan ke igamu. Kabel itu dijulurkan melalui sebuah lubang di kamar gas menuju ke luar, tempat seorang dokter memantau detak jantung. Begitu dokter mengata-. kan orang itu sudah mati, mereka membuka katup di atas kamar gas dan gas itu diharapkan meng-

373

uap. Sebagian besar memang menguap. Mereka menunggu sekitar lima menit, lalu membuka pintu. Udara sejuk dari luar yang dipergunakan untuk membersihkan kamar gas akan menimbulkan masalah, sebab bercampur dengan gas yang tersisa dan berkondensasi pada segala yang ada di dalam, mencintakan perangkap maut bagi siapa pun yang masuk ke dalam. Itu sangat berbahaya, dan kebanyakan badut-badut, ini tidak menyadari betapa serius masalah ini. Ada residu asam prusi pada segalanya—dinding, jendela, lantai, langit, pintu, dan tentu saja orang mati itu.

"Mereka menyemprot kamar gas dan mayat itu dengan amonia untuk menetralkan gas yang tersisa, kemudian tim pembersih atau apa pun namanya masuk dengan masker oksigen. Mereka akan mencuci narapidana itu untuk kedua kalinya dengan amonia atau khlor, sebab racun itu merembes melalu pori-pori kulit. Sementara dia masih terikat di kursi, mereka menggunting pakaiannya, memasukkannya ke dalam tas, dan membakarnya. Di zaman dulu mereka membiarkan si terhukum cuma memakai celana pendek, agar pekerjaan mereka lebih mudah. Tapi sekarang mereka begitu baik hati dan membiarkan kita memakai apa yang kita mau. Jadi, kalau aku sampai sejauh itu, aku akan punya banyak waktu untuk memilih koleksi pakaianku."

Ia meludah ke lantai ketika memikirkan hal ini.

Ia mengutuk tertahan dan mengentak-entakkan

kaki di ujung meja itu.

"Apa yang terjadi dengan mayatnya?" tanya Adam, merasa agak malu mengorek-ngorek masalah peka macam itu, tapi toh ingin menyelesaikan kisah tersebut.

Sam mendengus sekali-dua, lalu menancapkan rokok ke mulut. "Kau tahu bagaimana koleksi pakaianku?"

"Tidak."

"Terdiri atas dua pakaian monyet merah ini, empat atau lima set pakaian dalam bersih, dan sepasang sepatu mandi karet lucu ini, yang kelihatan seperti sisa obralan untuk membantu korban kebakaran. Aku menolak mati dalam pakaian merah ini. Aku akan memakai hak konstitusionalku dan berjalan ke kamar gas dengan telanjang bulat. Bukankah itu akan jadi pemandangan, hebat? Bisakah kaubayangkan bangsat-bangsat itu mencoba mendorong-dorongku dan mengikatku dan berusaha setengah mati tidak menyentuh alat vitalku? Dan setelah mereka selesai mengikatku, akan kuulurkan tanganku untuk mengambil alat monitor denyut jantung dan menempelkannya ke buah pelitku. Bukankah dokter akan menyukainya? Dan akan kupastikan para saksi melihat pantatku yang telanjang. Kupikir itulah yang akan kulakukan."

"Apa yang terjadi dengan mayatnya?" Adam bertanya lagi.

"Nah, sesudah mayat dicuci dan dibersihkan,

mereka memakaikan seragam penjara dari .kursi, lalu memasukkannya ke tas menariknya reka meletakkannya di usungan dan Me.

ke ambulans yang mengangkutnya ke'te"***4'1*11 zah entah di mana. Pada titik ini v i m')atJena-ambil alih. Kebanyakan keluarga."' men8-

Sam sekarang berdiri membelakangi Ada bicara ke dinding, dan bersandar pada rak bub!** terdiam lama, diam tak bergerak sementara nerawang ke sudut, memikirkan empat orang pernah dikenalnya dan sudah pergi ke kamar ^ itu. Ada peraturan tak tertulis di The Row bahwa bila tiba saatmu, kau tidak pergi ke kamar gas dalam pakaian penjara berwarna merah itu. Kau tidak memberi mereka kepuasan membunuhmu dalam pakaian yang telah mereka paksakan untuk kaupakai.

Mungkin saudaranya, yang tiap bulan mengirim pasokan rokok, akan membantunya dengan satu kemeja dan celana. Kaus kaki bara akan menyenangkan. Dan apa saja kecuali sepatu mandi dari karet. Ia lebih suka pergi bertelanjang kaki daripada memakai benda terkutuk itu.

Ia berbal ik dan berjalan perlahan-lahan ke arah Adam di ujung meja dan duduk. "Aku suka gagasan ini," katanya, sangat tenang dan terkendali. "Patutdicoba." .

"Bagus. Mari kita mulai bekerja. Aku ingin Kau menemukan kasus-kasus lain seperti dari North Carolina. Mari kita gali setiap ekse

yang berantukan dan kacau yang pernah ^aang Kita masukkan semuanya dalam °Aku ingin kau membuat daftar orang ^mungkin mau memberikan kesaksian tentang el&kusi Meeks dan Tole. Mungkin bahkan Moac Sam sudah berdiri lagi, mengambil buku dari ok, dan bergumam sendiri. Ia menumpuknya di „eja, berlusin-lusin buku, lalu mengubur diri di antara tumpukan-tumpukan itu.

SEMBILAN BELAS

Ladang gandum yang bergulung-gulung itu membentang bermil-mil, lalu jadi lebih curam ketika sampai di kaki bukit. Pegunungan yang memesona memagari tanah pertanian di kejauhan. Di bukit luas di atas ladang-ladang itu, dengan pemandangan bermil-mil ke depan dan dengan gunung-gunung sebagai batas belakang, kamp Nazi itu terbentang membujur lebih dari seratus ekar. Pagar kawat durinya disamarkan dengan pagar tanaman dan semak-semak. Lapangan tembak dan latihan tempurnya juga disamarkan untuk mencegah deteksi dari udara. Cuma ada dua kabin kayu yang tidak mencolok dan bila dilihat dari luar hanya kelihatan seperti kabin untuk persiapan memancing. Tapi di bawahnya, jauh di dalam bukit-bukit, ada dua terowongan dengan lift yang turun ke dalam labirin gua-gua alam dan buatan, manusia. Terowongan-terowongan besar, cukup lebar untuk kereta golf, membentang ke segala penjuru dan dihubungkan dengan selusin mangan yang ber-

378

lainan. Satu ruangan berisi mesin cetak. Dua me-' nyimpan senjata dan amunisi. Tiga mangan besar merupakan tempat untuk tinggal. Satu jadi perpustakaan kecil. Ruangan terbesar, sebuah gua setinggi dua belas meter dari atas ke bawah, merupakan aula tengah tempat para anggota berkumpul untuk mendengarkan pidato, menyaksikan film, serta baris-berbaris.

Tempat itu merupakan kamp modem, dengan antena-antena yang menangkap pancaran satelit untuk memasok televisi dengan berita-berita dari seluruh penjuru dunia, komputer-komputer yang dihubungkan dengan kamp-kamp lain untuk mendapatkan arus informasi dengan cepat, mesin-mesin fax, telepon seluler, dan setiap peralatan elektronik terbaru yang muncul.

Tak kurang dari sepuluh surat kabar diterima di kamp itu setiap hari, dan dibawa ke sebuah meja dalam ruangan di samping perpustakaan, tempat seorang laki-laki bernama Roland membacanya. Sebagian besar ia tinggal di kamp itu, bersama beberapa anggota lain yang merawat tempat tersebut. Saat koran-koran itu tiba dari kota, biasanya sekitar pukul 09.00, Roland menuangkan secangkir besar kopi dan mulai membaca. Itu bukan tugas rumah sehari-hari. Ia sudah berkali-kali bepergian keliling dunia, bicara empat bahasa, dan haus pengetahuan. Bila sebuah berita menarik perhatiannya, ia akan menandainya, dan- sesudahnya membuat copy-nya, lalu memberikannya ke meja komputer.

Minatnya beragam. Ia nyaris tidak membaca berita olahraga dan tak pernah melihat iklan mini. Artikel fashion, mode, kehidupan, tokoh, dan bagian yang berkaitan dilihatnya sekilas dengan sedikit rasa ingin tahu. Ia mengumpulkan cerita-cerita tentang kelompok lain yang mirip dengan kelompoknya—Aryan, Nazi, KKK. Akhir-akhir ini ia memajang banyak artikel dari Jerman dan Eropa Timur, dan cukup tergetar dengan bangkitnya fasisme di sana. Ia bicara bahasa Jerman dengan lancar dan sedikitnya menghabiskan satu bulan setiap tahun di negara besar itu. Ia mengawasi para politisi dengan keprihatinan mereka yang dalam terhadap kejahatan dan keinginan mereka untuk membatasi hak-hak kelompok seperti kelompoknya. Ia mengawasi Mahkamah Agung. Ia mengikuti sidang pengadilan para skinhead di Amerika Serikat. Ia mengikuti kesengsaraan KKK.

Ia biasanya menghabiskan dua jam tiap pagi untuk menyerap berita terakhir dan memutuskan berita mana yang hams disimpan untuk referensi di masa depan. Itu kegiatan rutin, namun ia sangat menikmatinya.

Pagi ini berbeda. Tanda pertama akan timbulnya masalah adalah foto Sam Cayhall yang terkubur dalam di halaman depan harian San Francisco. Kisah itu tak lebih dari tiga alinea, tapi cukup meliput berita panas bahwa orang tertua di death row Amerika sekarang diwakili cucunya. Roland membacanya tiga kali sebelum bisa mempercayai-

380

nya, lalu menandai artikel itu untuk disimpan. Setelah satu jam, ia sudah membaca berita yang sama lima atau enam kali. Dua surat kabar mencantumkan foto Adam Hall muda yang muncul di halaman depan koran Memphis sehari sebelumnya.

Roland telah bertahun-tahun mengikuti kasus Sam Cayhall, karena beberapa alasan. Pertama, biasanya kasus macam itulah yang menjadi minat komputer mereka—seorang teroris Klan tua dari dasawarsa enam puluhan menunggu ajalnya di death row. Data tentang Cayhall sudah setebal lebih dari tiga puluh senti. Meskipun bukan pengacara, Roland sependapat dengan umum bahwa pembelaan Sam sudah berakhir dan ia akan mati. Bagi Roland ini cocok, tapi ia menyimpan pendapatnya untuk diri sendiri. Sam Cayhall adalah pahlawan bagi supremasi kulit putih, dan kelompok Nazi di bawah Roland sudah diminta berpartisipasi dalam demonstrasi sebelum eksekusi. Mereka tak punya hubungan langsung dengan Cayhall, sebab ia tak pernah menjawab surat mereka, tapi ia adalah suatu simbol dan mereka ingin menarik manfaat sebanyak mungkin dari kematiannya.

Nama keluarga Roland, Forchin, berasal dari kaum Cajun di sekitar Thibodaux. Ia tak punya nomor Social Security, tak pernah melaporkan pembayaran pajak, dan sepanjang pengetahuan pemerintah ia tak pernah ada. Ia punya tiga paspor palsu yang dibuat dengan sempurna, salah satunya adalah paspor Jerman, dan satu lagi dikeluarkan

381

Republik Irlandia. Roland bisa menyeberangi berbagai perbatasan negara dan melewati imigrasi tanpa khawatir.

Salah satu nama lain Roland, yang hanya diketahuinya dan tak pernah diungkapkan pada siapa pun, adalah Rollie Wedge. Ia kabur dari Amerika Serikat pada tahun 1967 setelah pengeboman Kramer, dan tinggal di Irlandia Utara. Ia pun pernah tinggal di Libya, Munich, Belfast, dan Lebanon. Pada tahun 1967 dan 1968 ia pernah kembali sebentar ke Amerika Serikat untuk mengamati dua sidang Sam Cayhall dan Jeremiah Dogan. Saat itu ia bepergian tanpa kesulitan, dengan dokumen-dokumen sempurna.

Ada beberapa kali perjalanan pendek lain ke Amerika Serikat, semuanya terpaksa, gara-gara kekacauan dengan kasus Cayhall. Namun dengan berjalannya waktu, ia tidak begitu mengkhawatirkannya lagi. Ia pindah ke lubang perlindungan ini tiga tahun sebelumnya, untuk menyebarkan pesan naziisme. Ia tidak lagi menganggap dirinya anggota Klan. Sekarang ia seorang fasis yang bangga.

Setelah menyelesaikan bacaan paginya, ia sudah menemukan cerita Cayhall dalam tujuh di antara sepuluh surat kabar. Ia menuang kopi lagi ke dalam cangkir styrofoam-nya. dan naik lift 24 meter ke sebuah serambi di kabin kayu. Hari itu cerah, sejuk, dan bermandi matahari; tak ada awan terlihat. Ia berjalan ke atas, menyusuri jalan setapak sempit ke arah gunung, dan dalam sepuluh

menit sudah memandang lembah di bawahnya. Ladang-ladang gandum ada di kejauhan.

Roland sudah 23 tahun memimpikan kematian Cayhall. Mereka menyimpan rahasia bersama, suatu beban berat yang akan terangkat hanya bila Sam dieksekusi. Ia sangat mengagumi laki-laki itu. Tidak seperti Jeremiah Dogan, Sam menghormati sumpahnya dan tak pernah bicara. Menghadapi tiga sidang pengadilan, beberapa pengacara, tak terhitung pengajuan banding, dan jutaan pertanyaan, Sam Cayhall tak pernah menyerah. Ia laki-laki terhormat, dan Roland menginginkannya mati. Oh, memang ia pernah terpaksa mengirim beberapa ancaman kepada Cayhall dan Dogan selama dua sidang pertama, tapi itu sudah begitu lama. Dogan menyerah di bawah tekanan, ia bicara dan bersaksi memberatkan Sam. Dan Dogan mati.

Bocah ini membuatnya khawatir. Seperti semua orang lainnya, Roland kehilangan jejak putra Sam dan keluarganya. Ia tahu tentang putri Sam di Memphis, tapi putranya menghilang. Dan sekarang •ini—pengacara muda yang terdidik baik, tampan, dari biro hukum Yahudi kaya raya, muncul entah dari mana, siap menyelamatkan kakeknya. Roland tahu cukup banyak tentang eksekusi untuk memahami bahwa dalam waktu yang semakin sempit, pengacara akan mencoba segala hal. Kalau Sam Ingin buka mulut, ia tentu akan melakukannya sekarang, di depan cucunya. Ia melemparkan sepotong batu ke punggung bu-

383

kit dan mengawasinya melompat-lompat hilang dari pandangan. Ia harus pergi ke Memphis.

Sabtu adalah hari biasa penuh kerja keras di Kravitz & Bane Chicago, tapi segalanya sedikit lebih lamban di cabang Memphis. Adam tiba di kantor pukul 09.00 dan hanya menemukan dua pengacara lain dan satu paralegal sedang bekerja. Ia mengunci diri dalam mangannya dan menutup tirai.

Ia dan Sam telah bekerja dua jam kemarin. Saat Packer kembali ke perpustakaan dengan borgol dan rantai kaki, mereka sudah menutupi meja dengan berpuluh-puluh buku hukum dan catatan. Packer menunggu dengan tak sabar ketika Sam perlahan-lahan mengembalikan buku-buku itu ke rak.

Adam mempelajari kembali catatan mereka. Ia memasukkan risetnya sendiri ke komputer dan merevisi petisi itu untuk ketiga kalinya. Ia sudah mengirimkan satu copy dengan fax kepada Gamer Goodman, yang merevisi dan mengirimkannya kembali.

Goodman tidak optimis dengan pemeriksaan yang adil terhadap gugatan itu, tapi pada tahap ini tak ada ruginya dilakukan. Bila kebetulan pemeriksaan diadakan di pengadilan federal, Goodman siap memberikan kesaksian tentang eksekusi Maynard Tole. Ia dan Peter Wiesenberg menyaksikannya. Bahkan Wiesenberg begitu jijik menyaksikan manusia hidup digas sampai mengundurkan diri dari firma tersebut dan mengambil pekerjaan

384

sebagai guru. Kakeknya selamat dari Holocaust— pembantaian orang Yahudi oleh Nazi; neneknya tidak. Goodman berjanji akan menghubungi Wiesenberg dan yakin ia pun mau bersaksi.

Siang hari, Adam bosan dengan kantor. Ia mengunci pintunya dan tidak mendengar suara apa pun di lantai itu. Pengacara-pengacara lain sudah menghilang. Ia meninggalkan gedung itu.

Ia bermobil ke barat, menyeberangi sungai ke Arkansas, melewati pangkalan truk dan lapangan pacuan anjing di Memphis Barat, dan akhirnya melewati kemacetan, sampai di tanah pertanian luar kota. Ia melewati dusun-dusun kecil Earle, Parkin, dan Wynne, tempat bukit-bukit mulai tampak. Ia berhenti untuk membeli Coke di toko desa. Tiga lelaki tua dalam overall pudar sedang duduk di teras sambil mengusir lalat dan menderita dalam hawa panas. Ia menurunkan kap mobil dan memacunya.

Dua jam kemudian ia berhenti lagi, kali ini di kota Mountain View untuk makan sandwich dan menanyakan arah. Calico Rock tidak jauh di jalan ini, demikian ia diberitahu, ikuti saja White River. Jalan itu indah, berkelok-kelok di kaki perbukitan Ozarks, melewati hutan lebat dan menyeberangi sungai-sungai pegunungan. White River berkelok-kelok seperti ular ke arah kiri, dihiasi para pemancing ikan trout dalam sampan kecil.

Calico Rock adalah kota kecil pada tebing di atas sungai. Tiga dok untuk memancing ikan trout

385

ijar di tepi timur sungai dekat jembatan. Adam parkir di tepi sungai dan berjalan ke dok pertama, sebuah tempat bernama Calico Marina. Bangunan itu terapung pada ponton dan ditahan dekat ke tepian dengan tambang-tambang tebal. Sederet perahu sewaan kosong diuntai jadi satu di samping dermaga. Bau bensin dan minyak pelumas yang menusuk memancar dari pompa bensin tunggal. Sebuah papan tanda mencantumkan tarif perahu, pemandu, peralatan, dan izin memancing.

Adam berjalan di dok itu dan mengagumi sungai beberapa meter dari sana. Seorang laki-laki muda dengan tangan kotor muncul dari ruang belakang dan bertanya apakah ada yang bisa ia bantu. Ia mengamati Adam dari atas ke bawah, dan jelas memutuskan orang ini bukan pemancing. "Aku mencari Wyn Lettner." Nama Ron terjahit di atas saku kemeja dan sedikit tertutup dengan corengan minyak pelumas. Ron berjalan kembali ke ruangannya dan berseru, "Mr. Lettner!" ke arah pintu kasa yang menuju sebuah toko kecil. Lalu Ron menghilang.

Wyn Lettner seorang laki-laki bertubuh besar, tingginya lebih dari 180 senti dengan rangka besar yang cukup kelebihan beban. Garner mengatakan ia peminum bir, dan Adam ingat hal ini ketika j melirik ke perut Lettner yang buncit. Umurnya akhir enam puluhan, dengan rambut kelabu yang sudah menipis, tertutup rapi di bawah topi EVIN-RUDE. Sedikitnya ada tiga foto surat kabar Agen

386

Khusus Lettner tersusun pada suatu tempat dalam

berkas Adam, dan pada setiap foto itu ia berpenampilan sebagai agen FBI biasa—jas gelap, kemeja putih, dasi sempit, rambut model militer.

Dan waktu itu ia jauh lebih ramping.

"Ya Sir," katanya keras ketika berjalan melewati pintu kasa, sambil menyeka remah makanan

dari bibir. "Saya Wyn Lettner." Suaranya dalam

dan senyumnya menyenangkan.

Adam mengangsurkan tangan dan berkata, "Saya Adam Hall. Senang berjumpa dengan Anda."

Lettner menyambut tangannya dan mengguncangnya dengan keras. Lengannya besar dan bi-sepsnya menggelembung. "Ya," katanya menggelegar. "Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?" Syukurlah tak ada orang lain di dok itu, kecuali Jfcon yang tak terlihat, tapi menimbulkan suara dengan suatu alat di ruangannya. Adam bergerak-gerak sedikit gelisah dan berkata, "Ah, saya pengacara, dan saya mewakili Sam Cayhall."

Senyum itu melebar dan memperlihatkan dua deret gigi kuning yang kuat. "Kau mendapatkan pekerjaan yang memang dirancang untukmu, bukan?" katanya sambil tertawa dan menepuk pundak Adam.

"Saya rasa begitu," kata Adam canggung, sambil menunggu serangan lain. "Saya ingin bicara tentang Sam."

Lettner mendadak serius. Ia menggosok dagu dengan tangannya yang gemuk dan mengamati

Adam dengan mata menyipit. "Aku melihatnya di koran, Nak. Aku tahu Sam kakekmu. Pasti berat bagimu. Urusan pun akan jadi lebih keras lagi." Kemudian ia tersenyum kembali. "Berat pula bagi Sam." Matanya berkedip-kedip, seakan-akan ia baru saja melontarkan lelucon menggelikan dan ingin Adam menanggapinya dengan tertawa.

Adam tidak menangkap humor itu. "Sam punya waktu kurang dari sebulan, Anda tahu," katanya, yakin bahwa Lettner juga sudah membaca tentang tanggal eksekusi tersebut.

Satu tangan berat sekonyong-konyong menempel ke pundak Adam dan mendorongnya ke arah toko. "Masuklah ke sini, Nak. Kita akan bicara tentang Sam. Kau mau bir?"

Tidak. Terima kasih." Mereka memasuki sebuah mangan sempit dengan peralatan memancing bergantungan dari dinding dan langit-langit, serta rak-rak kayu reyot tertutup makanan—biskuit asin, sarden, sosis kalengan, roti, babi, kacang polong, dan cupcake—segala keperluan untuk sehari di sungai. Pendingin minuman ringan berdiri di satu sudut.

"Duduklah," kata Lettner, melambai ke sudut dekat cash register. Adam duduk di kursi kayu yang rapuh, sementara Lettner mengaduk-aduk kotak es dan menemukan sebotol bir. "Kau betul tidak mau?"

"Mungkin nanti." Saat itu hampir pukul 17.00.

Ia memutar tutupnya, mengeringkan sedikitnya

sepertiga botol pada tegukan pertama mendecakkan bibir, lalu duduk di kursi kulit usang yang tak disangsikan tentu diambil dari sebuah van yang dirakit menurut pesanan. "Apakah mereka akhirnya akan mengeksekusi Sam?" tanyanya.

"Mereka berusaha sangat keras."

"Bagaimana peluangnya?"

"Tidak bagus. Kami punya berbagai pembelaan detik terakhir seperti biasa, tapi jam terus berdetak."

"Sam bukan orang jelek," kata Lettner dengan sedikit nada penyesalan, lalu minum satu tegukan panjang lagi. Lantai berkeriut pelan ketika dok itu bergeser bersama guncangan air sungai.

"Berapa lama Anda tinggal di Mississippi?" tanya Adam.

"Lima tahun. Hoover memanggilku setelah tiga orang pekerja hak sipil menghilang. 1964. Kami membentuk unit khusus dan mulai bekerja Sesudah Kramer, Klan seperti kehabisan bahan bakar." "Dan Anda bertanggung jawab menangani apa?" "Mr. Hoover sangat spesifik. Dia memerintahkan aku agar menginfiltrasi Klan dengan taruhan apa pun. Dia ingin menggulungnya- Terus terang, kami mulai dengan lamban di Mississippi. Banyak alasannya. Hoover benci keluarga Kennedy dan mereka mendesaknya dengan keras, maka dia sengaja berlama-lama. Namun ketika tiga bocah itu hilang, kami mulai bekerja keras. 1964 adalah tahun yang luar biasa di Mississjr

"Saya lahir tahun itu."

"Yeah. menurut koran kau lahir di Clanton."

Adam mengangguk. "Lama saya tidak mengetahui hal itu. Orangtua saya mengatakan saya lahir di Memphis."

Pintu berbunyi dan Ron masuk ke dalam toko. Ia memandang mereka, lalu mengamati biskuit asin dan sarden. Mereka mengawasinya dan menunggu. Ia melirik Adam, seolah-olah mengatakan, "Teniskan berbicara. Aku tidak mendengarkan."

"Kau mau apa?" tukas Lettner kepadanya

Ron meraih sekaleng sosis Wina dengan tangannya yang kotor dan menunjukkannya kepada mereka. Lettner mengangguk dan melambaikan tangan ke pintu. Ron berjalan ke sana, memandangi cupcake dan keripik kentang ketika beranjak pergi.

"Dia usil luar biasa," kata Lettner sesudah ia pergi. "Aku beberapa kali bicara dengan Gamer Goodman. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Sekarang, rasanya aneh."

"Dia bos saya Dia memberikan nama Anda pada saya. Katanya Anda akan bicara dengan saya"

"Bicara tentang apa?" tanya Lettner, lalu meneguk minumannya lagi. "Kasus Kramer."

"Kasus Kramer sudah ditutup. Satu-satunya yang tersisa adalah Sam dan kencannya dengan kamar gas."

"Anda ingin dia dieksekusi?"

Terdengar suara orang, diikuti langkah kaki, lalu

pintu terbuka lagi. SeoTang laki-laki dan seorang bocah masuk. Lettner bangkit berdiri. Mereka butuh makanan dan bekal, dan selama sepuluh menit mereka berbelanja dan berbicara, dan memutuskan di mana ikan mau memakan umpan. Lettner meletakkan birnya di bawah counter kalau ada pelanggan datang.

Adam mengambil soft drink dari pendingin dan meninggalkan toko itu. Ia berjalan menyusuri tepi-an dok kayu di samping sungai dan berhenti di pompa bensin. Dua remaja dalam perahu sedang melemparkan pancing dekat jembatan. Adam bani sadar bahwa seumur hidupnya tak pernah memancing. Ayahnya bukan orang yang gemar menikmati hobi -dan bersantai. Ia pun tak mampu mempertahankan pekerjaan. Pada saat ini, Adam tak bisa mengingat dengan tepat apa yang dikerjakan ayahnya dengan waktunya. . Pelanggan berlalu dan pintu terempas. Lettner berjalan pelan ke pompa bensin. "Kau suka memancing troutV ia bertanya sambil mengamati su-r ngai.

"Tidak. Tak pernah melakukannya" "Mari kita pergi jalan-jalan. Aku perlu memeriksa suatu tempat di hilir. Mestinya banyak ikan

di sana."

Lettner membawa kotak esnya yang ia letakkan dengan hati-hati ke dalam perahu. Ia melangkah turun dari dok, dan perahu itu bergoyang hebat dari satu sisi ke sisi lainnya, sementara ia meraih motor-

391

"Ay0-" seninya pada Adam, yang sedang mengaman jarak 76 senti antara dirinya dan perahu itu. "Dan ambil tali itu," Lettner berseru lagi, menunjuk ke tali tipis yang terikat pada kaitan.

Adam melepaskan tali itu dan dengan cemas melangkah ke dalam perahu yang bergoyang tepat ketika kakinya menyentuhnya. Ia tergelincir, mendarat pada kepala, dan nyaris berenang. Lettner tertawa sambil menarik tali starter. Ron, tentu saja, menyaksikan semua ini dan menyeringai tolol di atas dok. Adam malu tapi tertawa juga, seolah-olah semua ini sangat lucu. Lettner menyalakan mesin, bagian depan perahu terentak ke atas, dan mereka meluncur.

Adam mencengkeram pegangan di kedua sisi ketika perahu melaju cepat & «r dan lewat di bawah jembatan. Calico Rock dengan cepat mereka tinggalkan. Sungai itu berbelok dan menikung, melewati bukit-bukit indah dan mengitari tebing-tebing karang. Lettner mengendalikan pe-i rahu dengan satu tangan dan meneguk bir segar dengan tangan saurnya Sesudah beberapa menit, Adam lebih santai sedikit dan bisa meraih sebotol bir dari kotak pendingin tanpa kehilangan keseimbangan. Botol itu sedingin es. Ia memegangnya dengan tangan kanan dan mencengkeram perahu dengan tangan kiri. Lettner bersenandung atau menyanyikan sesuatu di belakangnya. Deru motor yang melengking tinggi menghalangi percakapan. Mereka melewati sebuah dok kecil untuk me-1

mancing trout. Sekelompok pemancing dari kota sedang menghitung ikan dan minum bir, dan mereka melewati satu armada kecil perahu karet dengan para remaja jorok sedang merokok sesuatu dan berjemur. Mereka melambaikan tangan kepada pemancing yang sedang bekerja keras.

Perahu itu akhirnya mengurangi kecepatan dan Lettner mengendalikannya dengan hati-hati melalui tikungan, seolah-olah ia bisa melihat ikan di bawah dan hams mengatur posisi dengan sempurna. Ia mematikan mesin. "Kau mau mancing atau minum bir?" ia bertanya, menatap ke air. "Minum bir."

"Cocok." Botolnya sekonyong-konyong jadi nomor dua ketika ia mengambil gagang pancing dan melempar pancing ke suatu titik ke arah tepian. Adam mengawasi sejenak, dan ketika melihat tak ada hasil, segera ia merebahkan tubuh dan menggantungkan kaki di atas air. Perahu itu tidak nyaman.

"Seberapa sering Anda memancing?" tanya

Adam.

"Tiap hari. Ini bagian dari pekerjaanku, kau tahu, bagian dari pelayananku kepada pelanggan. Aku harus tahu tempat ikan makan umpan."

"Pekerjaan sulit."

"Seseorang harus melakukannya."

"Apa yang membawa Anda ke Calico Rock?"

"Aku mendapat serangan jantung pada tahun 1973, jadi harus pensiun dari FBI. Aku mendapat

pensiun yang lumayan dan segala macam, tapi... sialan, aku jadi bosan duduk-duduk saja. Aku dan istriku menemukan tempat ini. Ada dok yang akan dijual. Saru kekeliruan mengarah pada kekeliruan lain, dan di sinilah aku. Beri aku sebotol bir."

Ia melempar lagi ketika Adam memberikan bir. Ia cepat-cepat menghitung ada empat belas botol tersisa dalam es. Perahu itu hanyut mengikuti sungai. Lettner meraih dayung. Ia memancing dengan satu tangan dan mendayung perahu dengan tangan satunya dan entah bagaimana meletakkan bir baru di antara lutut. Kehidupan pemandu pemancing.

Mereka mengurangi kecepatan di bawah pepohonan, matahari terhalang sejenak. Caranya melempar pancing kelihatan mudah. Ia melecutkan gagangnya dengan gerak pergelangan tangan yang lancar halus, dan melemparkan senar ke mana saja

r

yang ia inginkan. Tapi tak ada ikan yang menggigit umpan. Ia melempar ke tengah sungai.

"Sam bukan orang jelek." Ia sudah pernah mengucapkan ini satu kali.

"Anda pikir dia harus dieksekusi?"

"Itu tidak tergantung padaku, Nak. Rakyat negara bagian ini menginginkan hukuman mati, maka itu tercatat di buku. Rakyat mengatakan Sam bersalah dan harus dieksekusi, jadi apa hakku?"

"Tapi Anda punya pendapat."

"Apa gunanya? Pemikiranku sama sekali tak ada nilainya:*

"Mengapa Anda mengatakan Sam bukan orang

jelek?" "Panjang kisahnya."

"Kita masih punya empat belas botol bir tersisa."

Lettner tertawa dan senyum lebar itu kembali, la meneguk dari botol dan memandang ke sungai, jauh dari senarnya. "Sam bukan sasaran kami, kau tahu. Dia tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan yang benar-benar kotor, setidaknya pada permulaannya. Ketika para pekerja hak-hak sipil itu menghilang, kami melacak dengan geram. Kami menebar uang di semua tempat, dan tak lama kemudian kami punya segala macam informan Klan. Orang-orang ini pada dasarnya cuma redneck bodoh yang tak pernah punya uang sepeser pun, dan kami memanfaatkan kehausan mereka akan uang. Kami takkan pernah menemukan tiga orang itu seandainya kami tidak menabur sejumlah uang. Seingatku ada sekitar 30.000, meskipun aku tidak berurusan langsung dengan si informan. Sialan, Nak, mereka dikubur dalam sebuah bendungan. Kami menemukan mereka. Prestasi kami jadi kelihatan bagus, kau mengerti. Akhirnya kami berhasil melakukan sesuatu. Melakukan banyak penahanan, tapi pemidanaan sulit sekali. Kekerasan berlanjut. Mereka mengebomi gereja dan rumah orang-orang kulit hitam begitu sering sampai kami tak bisa mengejar. Kejadian di sana seperti perang saja. Hal

195

7

itu makin parah dan Mr. Hoover makin gusar da kami menebar uang lebih banyak lagi.

"Dengar, Nak, aku takkan menceritakan apa pun yang bermanfaat, kau mengerti?"

"Kenapa tidak?"

"Beberapa hal bisa kubicarakan, beberapa lainnya tidak."

"Sam tidak sendirian ketika mengebom kantor Kramer, bukan?"

Lettner kembali tersenyum dan mengamati senar pancingnya. Gagang pancing itu tergeletak di pangkuannya. "Tapi pada akhir tahun 1965 dan awal 1966, kami punya jaringan informan yang sangat luas. Sebenarnya tidak sesulit itu. Kami sudah tahu seseorang masuk Klan, kemudian kami menguntitnya. Kami membuntutinya pdiang di waktu malam, mengedipkan lampu mobil kami di belakangnya parkir di depan rumahnya. Itu biasanya membuatnya ketakutan setengah mati. Lalu kami membuntutinya pergi bekerja, kadang-kadang kami berbicara dengan bosnya, mengibaskan lencana ke sana kemari, berlagak seperti akan menembak seseorang. Kami bicara dengan orangtua-nya, memperlihatkan lencana kami pada mereka, datang dalam setelan jas gelap, membiarkan mereka mendengarkan aksen Yankee kami, dan orang-orang kampung yang malang ini secara harfiah buka mulut tepat di depan kami. Bila orang itu pergi ke gereja, kami mengikutinya pada suatu hari Minggu, lalu keesokan harinya kami akan

bicara pada pendetanya; kami ceritakan padanya

kami mendengar desas-desus hebat bahwa Mr. Ini dan Itu anggota aktif Klan, apakah dia tahu sesuatu tentang hal itu. Kami berlagak seolah-olah menjadi anggota Klan merupakan tindak kejahatan. Bila orang itu punya anak remaja, kami menguntit mereka pergi berkencan, duduk di belakang mereka dalam gedung bioskop, menangkap mereka parkir dalam hutan. Sepenuhnya bukan apa-apa kecuali gangguan, tapi selalu berhasil. Biasanya mereka jadi sangat gelisah, sampai tak sabar lagi untuk bekerja sama. Aku pernah melihat mereka menangis, Nak, kalau kau bisa mempercayainya Benar-benar menangis ketika mereka akhirnya datang ke altar dan mengakui dosa mereka." Lettner tertawa ke arah senarnya yang tidak aktif.

Adam menghirup birnya. Barangkali bila mereka meminumnya semua, akhirnya lidah Lettner akan lebih lancar.

"Pernah ada satu orang, aku. takkan bisa melupakannya. Kami menangkapnya di ranjang bersama gundik kulit hitamnya dan itu bukan sesuatu yang luar biasa. Maksudku, orang-orang ini pergi membakari salib dan menembaki rumah orang-orang kulit hitam, lalu menyelinap seperti orang gila untuk menemui pacar mereka yang kulit hitam. Aku tak mengerti mengapa perempuan-perempuan kulit hitam itu bisa membiarkan hal ini. Nah, dia punya gubuk berburu di tengah hutan dan memakainya sebagai tempat kencan. Suatu siang

397

dia menemui gundiknya di sana untuk kencan. Setelah selesai dan siap pergi, dia membuka pintu depan dan kami memotretnya. Perempuan itu pun kami potret, kemudian kami bicara dengan si pria. Dia diaken atau tetua di suatu gereja desa, tokoh, kau tahu. dan kami bicara kepadanya seolah-olah dia anjing. Kami menyuruh perempuan itu pergi dan mendudukkan si pria di dalam pondok kecil itu. dan tak lama kemudian dia menangis. Kelak terbukti dia salah satu di antara saksi terbaik kami. Namun kemudian dia masuk penjara." "Kenapa?"

"Nah, rupanya sementara dia main-main dengan pacarnya, istrinya juga melakukan hal yang sama dengan bocah kulit hitam yang bekerja di tanah pertaniannya. Perempuan itu hamil, bayinya campuran, maka informan kami pergi ke rumah sakit dan membunuh ibu dan anak itu. Dia menghabiskan lima belas tahun di Parchman."

"Bagus."

"Waktu hu kami tak banyak mendapatkan pemidanaan, tapi kami mengganggu mereka sampai ke suatu titik yang membuat mereka takut berbuat banyak. Kekerasan menurun luar biasa, sampai Dogan memutuskan mengincar orang-orang Yahudi. Harus kuakui, kami kecurian. Kami tidak tahu apa-apa."

"Kenapa tidak?"

"Sebab dia jadi lebih waspada. Dengan pahit dia mendapati orang-orangnya sendiri yang berbicara

398

kepada kami, maka dia putuskan beroperasi dengan unit kecil yang tak banyak bicara."

"Unit? Berarti lebih dari satu orang?"

"Seperti itulah."

"Jadi, Sam dan siapa lagi?"

Lettner mendengus dan terkekeh sekaligus, dan memutuskan bahwa ikan telah pindah ke tempat lain- Ia meletakkan gagang dan gulungan pancingnya dalam perahu dan menarik tali starter. Mereka pindah, sekali lagi berpacu ke hilir. Adam membiarkan kakinya bergantung di sisi perahu; sepatu' moccasin serta mata kakinya yang telanjang langsung basah. Ia meneguk bir. Matahari akhirnya mulai menghilang di balik perbukitan, dan ia menikmati keindahan sungai itu.

Perhentian berikutnya adalah air tenang di bawah tebing dengan seutas tali tergantung dari atas. Lettner melempar dan menggulung pancing, semuanya tanpa hasil, dan mengambil peran sebagai interogator. Ia mengajukan seratus pertanyaan tentang Adam dan keluarganya—perjalanan kabur ke barat, identitas baru, bunuh diri itu, Ia menerangkan bahwa ketika Sam dipenjara, mereka memeriksa keluarganya dan tahu ia punya seorang putra yang baru saja meninggalkan kota itu, tapi karena Eddie tampak tidak membahayakan, mereka tidak meneruskan penyelidikan. Sebaliknya, mereka menghabiskan waktu untuk mengawasi saudara-saudara dan sepupu Sam. Ia sangat tertarik dengan

masa muda Adam. dan bagaimana ia dibesarkan tanpa tahu apa-apa tentang sanak saudaranya.

Adam mengajukan beberapa pertanyaan, namun jawabannya kabur dan langsung dibelokkan pada pertanyaan lain tentang masa lalunya. Adam sedang ber-sparing dengan orang yang sudah berpengalaman 25 tahun mengajukan pertanyaan.

Tempat memancing ketiga dan terakhir tidak jauh dari Calico Rock, dan mereka memancing sampai hari gelap. Sesudah lima botol bir, Adam mengerahkan keberanian untuk melempar pancing. Lettner instruktur yang sabar, dan dalam beberapa menit Adam menangkap ikan trout dengan ukuran mengesankan. Selama selingan yang pendek itu, mereka lupa tentang Sam, Klan. dan mimpi buruk lain dan masa lampau. Mereka hanya memancing. Minum dan memancing.

Nama pertama Mrs. Lettner adalah Irene, dan ia menyambut suami dan tamu tak diundangnya dengan sikap ramah dan santai. Wyn menerangkan, ketika Ron membawa mereka pulang, bahwa Irene sudah terbiasa dengan tamu mendadak. Sikapnya sangat tenang ketika mereka terhuyung-huyung melewati pintu depan dan memberikan seuntai trout kepadanya.

Rumah Lettner berupa sebuah cottage di tepi sungai, satu mil di utara kota Teras belakangnya ditutup kasa untuk melindunginya dari serangga, dan tak jauh di bawahnya terlihat pemandangan

sungai yang menakjubkan. Mereka duduk di kursi

goyang anyaman di beranda dan membuka bir lagi. sementara Irene menggoreng ikan.

Menyajikan makanan di meja adalah pengalaman baru bagi Adam. dan ia makan ikan tangkapannya dengan lahap. Sambil mengunyah makanan dan minum, Wyn meyakinkannya bahwa rasanya selalu lebih lezat bila ikannya ditangkap sendiri. Setelah makan beberapa lama, Wyn beralih ke scotch. Adam menolak. Ia cuma ingin segelas air, tapi machismo mendorongnya terus minum bir. Ia tak bisa mengelak lagi pada titik ini. Lettner pasti akan memarahinya.

Irene meneguk anggur dan bercerita tentang Mississippi. Beberapa kali ia pernah diancam, dan anak-anak mereka menolak mengunjungi mereka. Mereka berdua berasal dari Ohio, dan keluarga mereka terus mengkhawatirkan keselamatan mereka. Begitulah saat itu. katanya lebih dan saru kali dengan nada penuh kerinduan akan ketegangan. Ia bangga luar biasa terhadap suaminya dan prestasinya selama perang perjuangan hak sipil.

Ia meninggalkan mereka Sesudah makan malam dan menghilang dalam cottage itu. Saat itu hampir pukul 22.00, dan Adam sudah siap tidur. Wyn bangkit berdiri sambil berpegangan pada tiang kayu, dan minta diri ke kamar mandi. Ia kembali dengan scotch bani dalam dua gelas tinggi. Ia mengangsurkan satu kepada Adam. lalu kembali ke kursi goyangnya.

Mereka bergoyang-goyang dan meneguk mi numan tanpa berbicara selama beberapa lama, lalu Lettner berkata, "Jadi, kau yakin Sam punya asisten,adam sadar

"Tentu saja dia punya asisten." Adam sadar benar bahwa lidahnya tebal dan kata-katanya lamban. Kata-kata Lettner jelas luar biasa. "Dan apa yang membuatmu begitu yakin?" Adam menurunkan gelas besar itu dan bersumpah tidak akan minum lagi. "FBI menggeledah rumah Sam sesudah pengeboman itu, benar?" "Benar."

"Sam ada di penjara Greenville, dan kalian mendapat surat perintah penggeledahan."

"Aku ada di sana, Nak. Kami masuk dengan selusin agen dan menghabiskan waktu tiga hari."

"Dan tak menemukan apa pun."

"Begitulah."

"Tak ada bekas dinamit. Tak ada sisa tutup peledak, sumbu, detonator. Tak ada jejak alat atau zat yang dipakai dalam pengeboman. Benar?"

"Benar. Jadi, apa maksudmu?"

"Sam tidak punya pengetahuan tentang peledak, tidak pula punya sejarah pernah memakainya."

"Tidak, bisa kukatakan dia punya sejarah memakainya. Seingatku, Kramer adalah pengeboman keenam. Bangsat-bangsat gila itu mengebom mem-babi buta, Nak, dan kami tak bisa menghentikan mereka. Kau tak ada di sana. Aku terlibat di tengahnya. Kami telah menakut-nakuti dan meng-

402

infiltrasi Klan sampai mereka takut bergerak, lalu sekonyong-konyong peperangan lain meletus dan bom berjatuhan di mana-mana. Kami mendengarkan di tempat semestinya. Kami memuntir tangan orang sampai patah untuk memaksakan pengakuan. Dan kami tidak mendapat jejak apa pun. Informan kami tak tahu apa-apa. Sepertinya ada satu cabang lain dalam Klan yang mendadak menyerbu Mississippi tanpa memberi tahu cabang lama."

"Apakah waktu itu Anda tahu tentang Sam?"

"Namanya ada dalam catatan kami. Seingatku ayahnya anggota Klan, dan mungkin juga satu atau dua saudara laki-lakinya. Jadi, kami punya nama mereka. Tapi mereka tampaknya tidak membahayakan. Mereka tinggal di bagian utara negara bagian itu, di suatu daerah yang tidak dikenal dengan kekerasan serius oleh Klan. Mereka mungkin membakar salib, mungkin menembaki beberapa rumah, tapi bukan apa-apa dibanding dengan Dogan dan kelompoknya. Tangan kami sudah penuh dengan para pembunuh. Kami tak punya waktu untuk menyelidiki setiap orang yang mungkin jadi anggota Klan di negara bagian itu."

"Kalau begitu, bagaimana kau menjelaskan peralihan Sam secara mendadak pada tindak kekerasan?"

"Aku tak bisa menjelaskannya. Dia bukan bocah alim anggota paduan suara, oke? Sebelum itu dia

sudah pernah membunuh." "Anda pasti?"

"Kau sudah mendengarku. Dia menembak dan membunuh salah satu pegawainya yang berkulit hitam pada awal tahun lima puluhan. Tak pernah melewatkan sehari pun dalam penjara karena tindakan itu. Bahkan, aku tidak yakin, tapi aku me rasa dia tak pernah ditangkap karena urusan itu. Mungkin ada lagi pembunuhan lain. Korban kulit hitam lain."

"Saya lebih baik tidak mendengarnya."

Tanya dia. Lihat apakah bangsat tua itu punya cukup nyali untuk mengakuinya di depan cucunya sendiri." Ia menghirup seteguk lagi. "Dia orang yang kejam, Nak, dan dia pasti punya kemampuan untuk menanam bom dan membunuh orang. Jangan naif."

"Saya tidak naif. Saya cuma mencoba menyelamatkan nyawanya."

"Kenapa? Dia membunuh dua anak kecil yang sama sekali tak berdosa. Dua bocah. Apakah kau menyadari hal ini?"

"Dia dipidana karena membunuh. Tapi bila pembunuhan itu keliru, negara pun keliru membunuhnya."

"Aku tak percaya sampah macam itu. Hukuman mati terlalu enak untuk orang-orang ini. Terlalu bersih dan steril. Mereka tahu mereka akan mati, maka mereka punya waktu untuk memanjatkan doa dan mengucapkan selamat tinggal. Bagaimana dengan korbannya? Berapa banyak waktu yang mereka miliki untuk bersiap?"

404

"Jadi, Anda ingin Sam dieksekusi?" "Yeah. Aku ingin mereka semua dieksekusi." "Tadi saya pikir Anda mengatakan dia bukan orang jelek."

"Aku bohong. Sam Cay hall pembunuh berdarah

dingin. Dia bersalah besar. Bagaimana lagi kau bisa menerangkan fakta bahwa pengeboman itu

berhenti begitu dia ditahan?" "Mungkin mereka ketakutan sesudah kasus

Kramer?"

"Mereka? Siapa gerangan mereka?" "Sam dan partnernya. Dan Dogan." "Oke. Aku ikuti permainanmu. Mari kita asum- , sikan Sam punya asisten."

"Tidak. Mari kita asumsikan Sam adalah si asisten dan orang lain itu pakar bahan peledak."

"Pakar? Bom itu sangat kasar, Nak. Lima yang pertama tak lebih dari beberapa batang dinamit diikat jadi satu dengan sumbu. Kaunyalakan korek api, lari mati-matian, dan lima belas menit kemudian... buum! Bom untuk Kramer tak lebih dari bom gombal dengan beker dihubungkan ke sana. Mereka beruntung bom itu tidak meledak ketika mereka bermain-main dengannya."

"Apa Anda pikir bom itu sengaja disetel untuk meledak pada saat kejadian itu?"

"Juri berpendapat demikian. Dogan mengatakan mereka merencanakan membunuh Marvin Kramer." "Kalau begitu, mengapa Sam berkeliaran di

sana? Mengapa dia begitu dekat ke bom itu sampai tertimpa reruntuhan?"

"Kau harus tanya Sam, dan aku yakin sudah kaulakukan. Apakah dia menyatakan punya asisten

tidak

"Kalau begitu, bereslah urusannya. Kalau klienmu sendiri sudah bilang tidak, apa lagi yang kaucari -cari

"Sebab saya pikir klien saya bohong."

"Kalau begitu, kasihan klienmu. Kalau dia ingin berbohong dan melindungi identitas seseorang, mengapa kau repot?"

"Mengapa dia berbohong pada saya?"

Lettner menggelengkan kepala dengan kesal, lalu menggumamkan sesuatu dan minum. "Bagaimana aku bisa tahu? Aku tak ingin tahu, oke? Sejujurnya aku tak peduli apakah Sam bohong atau menceritakan yang sebenarnya. Tapi bila dia tidak berterus terang kepadamu, pengacara dan cucunya sendiri, kubilang gas saja dia,"

Adam menghirup minuman panjang-panjang dan menerawang pada kegelapan. Sebenarnya ia pun merasa konyol menggali ke sana kemari, mencoba membuktikan kliennya sendiri berbohong kepadanya Ia akan mencoba hal ini sekali lagi, lalu bicara tentang hal lain. "Anda tidak percaya pada saksi-saksi yang melihat Sam dengari orang lain?"

Tidak. Seingatku mereka agak goyah. Laki-laki di pangkalan truk itu tidak maju untuk waktu yang

406

lama. Yang lain baru saja meninggalkan honky-tonk. Mereka tak dapat dipercaya."

"Apakah Anda percaya Dogan?"

"Juri percaya."

"Saya tidak tanya tentang Juri." Napas Lettner akhirnya memberat, dan ia tampak mulai kabur. "Dogan gila, tapi juga jenius. Dia mengatakan bom itu dimaksudkan untuk membunuh, dan aku percaya. Ingat, Adam, mereka nyaris menghabisi sekeluarga penuh di Vicksburg. Aku tidak ingat nama..."

"Pinder. Dan Anda terus mengatakan mereka melakukan ini dan itu."

"Aku cuma mengikuti permainanmu, oke? Kita mengasumsikan Sam punya teman. Mereka memasang bom di rumah keluarga Pinder di tengah malam buta. Satu keluarga bisa saja tewas semua."

"Sam mengatakan dia meletakkan bom itu di garasi, sehingga tak seorang pun akan terluka."

"Sam bilang begitu padamu? Sam mengaku dia melakukannya? Kalau begitu, mengapa kau me-nanyaiku tentang adanya asisten? Sepertinya kau perlu mendengarkan klienmu sendiri. Bangsat itu bersalah, Adam. Dengarkan dia."

Adam kembali meneguk minuman, kelopak matanya makin berat. Ia memandang jam tangan, tapi tak bisa melihatnya. "Ceritakan pada saya tentang pita rekaman itu," katanya sambil menguap.

"Pita rekaman apa?" tanya Lettner, menguap.

407

"Pita rekaman FBI yang diputar dalam ruang sidang Sam. Yang merekam percakapan Dogan dengan Wayne Graves untuk mengebom Kramer."

"Kami punya banyak pita rekaman, dan mereka punya banyak sasaran. Kramer cuma satu di antara sekian banyak. Persetan, kami punya pita rekaman dengan dua Klucker berbicara tentang pengeboman sebuah sinagoga ketika berlangsung upacara perkawinan. Mereka ingin mengunci pintu-pintunya dan menembakkan gas melalui saluran pemanas sehingga seluruh jemaat tewas. Bangsat-bangsat gila. Itu bukan Dogan, cuma sepasang anggotanya yang idiot berbicara sampah, jadi kami menyisihkannya. Wayne Graves juga Klucker yang masuk dalam daftar gaji kami, dan dia membiarkan kami menyadap teleponnya. Suatu malam dia menelepon Dogan, mengatakan dia ada di telepon umum, dan mereka bicara akan meledakkan Kramer. Mereka juga bicara tentang sasaran-sasaran lain. Itu sangat efektif dalam sidang Sam. Namun rekaman itu tidak membantu kami menghentikan satu pengeboman pun. Tidak pula membantu kami mengidentifikasi Sam."

"Anda tidak tahu Sam Cayhall terlibat?"

"Sama sekali tidak. Seandainya si tolol itu meninggalkan Greenville pada saat seharusnya, mungkin dia masih jadi orang bebas."

"Apakah Kramer tahu dia jadi sasaran?"

"Kami memberitahu dia. Tapi saat itu dia sudah terbiasa dengan ancaman. Dia mempekerjakan pen-

jaga dirumahnya. Kata-katanya mulai sedikit ter-

seret dan dagunya jatuh tiga peremoat senti.

Adam mohon diri dan hati hati berjalan kekamar mandi,ketika kembali ke teraS) ia mendengar

dengkuran berat Lettner tersuruk di kursinya dan tak sadarkan diri dg minuman di tangan,adam mengambilnya,lalu beranjak mencari sofa

409

DUA PULUH

Hawa pagi menjelang siang itu hangat, tapi rasanya menimbulkan demam di depan jip tentara yang tidak memiliki AC dan peralatan penting lain. Adam berkeringat dan terus meletakkan tangan pada pegangan pintu yang ia harapkan akan segera terbuka saat makan pagi Irene siap.

Ia terbangun di lantai di samping sofa sempit, dalam sebuah ruangan yang ia sangka ruang duduk, tapi sebenarnya ruang cuci di samping dapur. Dan Lettner menerangkan sambil tertawa terbahak-bahak bahwa sofa itu bangku yang biasa dipakainya duduk bila melepaskan sepatu lars. Irene akhirnya menemukan tubuhnya sesudah mencari-cari di dalam rumah, dan Adam minta maaf sebesar-besarnya, sampai mereka memintanya berhenti. Irene bersikeras mereka sarapan besar. Hari itu hidangannya daging babi yang disajikan sekali seminggu, tradisi di cottage Lettner. Adam duduk di depan meja dapur, meneguk air dengan rakus sementara babi asin digoreng; Irene bersenandung

dan Wyn membaca koran. Ia juga menggoreng

telur orak-arik dan mencampur bloody maty.

Vodka itu mematikan sebagian rasa sakit di kepalanya, tapi tak bisa menenangkan perutnya. Ketika mereka terentak-entak menuju Calico Rock melalui jalan yang tidak rata, Adam ngeri akan mabuk.

Meskipun lebih dulu jatuh tak sadarkan diri,

Lettner luar biasa sehat pagi ini. Tak ada sisa-sisa mabuk. Ia makan sepiring penuh makanan berlemak dan biskuit, dan hanya minum bloody mary. Ia membaca koran dengan penuh perhatian dan berkomentar tentang ini-itu. Adam memperkirakan ia satu di antara pecandu alkohol fungsional yang minum tiap malam, tapi bisa menepiskan mabuknya dengan cepat.

Desa itu terlihat. Jalannya mendadak lebih halus dan perut Adam berhenti melonjak-lonjak. "Maaf tentang semalam," kata Lettner.

"Apa?" tanya Adam.

"Tentang Sam. Aku kasar. Aku tahu dia kakekmu dan kau sangat prihatin. Aku berbohong tentang sesuatu. Aku sebenarnya tak ingin Sam dieksekusi. Dia bukan orang jelek."

"Akan saya katakan padanya."

"Yeah. Kurasa dia akan sangat senang."

Mereka memasuki kota dan berbelok ke arah jembatan. "Ada hal lain," kata Lettner. "Kami curiga Sam punya partner."

Adam tersenyum dan memandang ke luar jen-

dela. Mereka melewati sebuah gereja kecil dengan orang-orang tua berdiri di bawah naungan pohon dalam gaun indah dan jas yang rapi.

"Kenapa?" tanya Adam.

"Karena alasan yang sama. Sam tak punya sejarah dengan bom. Dia tidak terlibat dalam tindak kekerasan Klan. Dua saksi itu, terutama sopir truk di Cleveland, selalu mengusik kami. Sopir truk itu tak punya alasan untuk berbohong, dan tampak begitu yakin pada dirinya. Sam rasanya bukan jenis yang akan memulai serangan bomnya sendiri."

"Jadi, siapakah orang itu?"

"Terus terang aku tak tahu." Mereka berhenti di tepi sungai dan Adam membuka pintu, berjaga-jaga kalau mabuk. Lettner membungkuk bertelekan kemudi dan menganggukkan kepala ke arah Adam. "Setelah pengeboman ketiga atau keempat—kurasa sinagoga di Jackson—beberapa tokoh Yahudi di New York dan Washington rapat dengan LBJ, yang pada gilirannya menelepon Mr. Hoover, yang kemudian memanggilku. Aku pergi ke D.C. Aku berbicara dengan Mr. Hoover dan Presiden, dan* mereka menekanku cukup hebat. Aku kembali ke Mississippi dengan tekad baru. Kami mendesak keras informan-informan kami. Maksudku, kami mencederai beberapa orang. Kami mencoba segalanya, tapi sia-sia. Sumber-sumber kami tak tahu siapa yang melakukan pengeboman. Hanya Dogan yang tahu, dan jelas tidak menceritakannya pada

412

siapa pun. Namun setelah pengeboman kelima— kurasa kantor surat kabar—kami mendapat terobos an."

Lettner membuka pintunya dan berjalan ke depan jip. Adam mengikutinya ke sana, dan mereka menyaksikan sungai mengalir melewati Calico Rock. "Kau mau bir? Aku mendinginkannya di toko pancing." "Tidak. Saya sudah separo mabuk." "Cuma bercanda. Omong-omong, Dogan mengelola tempat jual-beli mobil bekas, dan salah satu pegawainya laki-laki kulit hitam tua yang bertugas mencuci mobil dan menyapu lantai. Kami sudah pernah mendekati lelaki tua itu sebelumnya, tapi sikapnya kasar. Tapi entah dari mana sekonyong-konyong dia bercerita kepada salah satu agen kami bahwa dia melihat Dogan dan satu orang lain meletakkan sesuatu dalam bagasi Pontiac hijau beberapa hari sebelumnya. Katanya dia menunggu, lalu membuka bagasi itu dan melihat isinya adalah dinamit Keesokan harinya dia mendengar ada pengeboman lain. Dia tahu FBI sedang mengawasi Dogan dengan ketat, jadi dia pikir hal itu perlu diberitahukan pada kami. Pembantu Dogan seorang Klucker bernama Virgil, dia juga pegawai. Jadi, aku pergi menemui Virgil. Kuketuk pintunya pada pukul tiga pagi, menggedornya keras-keras, kau tahu, seperti yang selalu kami lakukan waktu itu. Tak lama kemudian dia menyalakan lampu dan melangkah ke teras. Aku datang bersama sekitar

delapan agen, dan kami semua mengacungkan lencana ke muka Virgil. Dia ketakutan setengah mati. Kukatakan padanya kami tahu dia mengirimkan dinamit ke Jackson malam sebelumnya, dan dia sedang menghadapi ancaman tiga puluh tahun penjara. Melalui pintu kasa kau bisa mendengar istrinya menangis. Virgil gemetar dan siap menangis juga. Kutinggalkan kartu namaku dengan instruksi untuk meneleponku sebelum tengah hari itu juga, dan aku mengancamnya agar tidak memberitahu Dogan atau siapa pun lainnya. Kukatakan kami akan mengawasinya setiap saat.

"Aku sangsi Virgil kembali tidur. Matanya merah dan bengkak ketika dia menemuiku beberapa jam kemudian. Kita harus berteman. Dia mengatakan pengeboman itu bukan pekerjaan kelompok Dogan yang biasanya. Dia tak tahu banyak, tapi mendengar cukup banyak dari Dogan dan percaya bahwa pelaku pengeboman itu seorang laki-laki yang sangat muda dari negara bagian lain. Orang ini muncul entah dari mana, dan mestinya sangat pandai memakai peledak. Dogan yang memilih sasaran, merencanakan pekerjaan, lalu memanggil orang-ini, yang menyelinap ke dalam kota, melaksanakan pengeboman, lalu menghilang." "Apakah Anda mempercayainya?" "Sebagian besar, ya. Itu sangat masuk akal. Pasti orang baru, sebab saat itu kami sudah melubangi tubuh Klan dengan informan. Kami sebenarnya tahu setiap gerakan yang mereka ambil."

"Apa yang terjadi pada Virgil?"

"Aku melewatkan beberapa waktu bersamanya, memberinya sejumlah uang, kau tahu, rutin seperti biasanya. Mereka selalu menginginkan uang. Aku jadi yakin dia tak tahu siapa yang memasang bom-bom tersebut. Dia takkan pernah mengaku

dirinya terlibat, serta mengirim mobil dan dinamit

itu, dan kami tidak menekannya. Bukan dia yang

kami buru."

"Apakah dia terlibat dalam pengeboman Kramer?"

"Tidak. Dogan memakai orang lain untuk itu. Kerap kali Dogan seperti punya indra keenam tentang kapan harus mengganti campuran atau mengubah kegiatan rutin."

"Orang yang dicurigai Virgil sama sekali tidak mirip dengan Sam Cayhall, bukan?" tanya Adam. "Tidak."

"Dan Anda tak punya tersangka?" "Tidak."

"Ayolah, Wyn. Pasti kalian tahu sesuatu." "Sumpah. Kami tidak tahu. Tak lama setelah kami menemui Virgil, Kramer dibom dan semuanya berakhir. Seandainya Sam punya teman, teman itu pasti meninggalkannya."

"Dan FBI tidak mendengar apa pun sesudahnya?"

"Sedikit pun tidak. Kami sudah mendapatkan Sam, yang tampang dan baunya benar-benar bersalah."

415

"Dan, tentu saja, kalian bernafsu sekali menutup kasus itu."

"Benar. Dan pengeboman itu berhenti, ingat Tak ada pengeboman lain setelah Sam tertangkap, jangan lupakan itu. Kami sudah mendapatkan orang kami. Mr. Hoover senang. Orang-orang Yahudi senang. Presiden senang. Lalu mereka tak dapat memidananya selama empat belas tahun, tapi itu lain cerita. Setiap orang lega ketika penge-boman-pengeboman itu berhenti."

"Jadi, kenapa Dogan tidak buka mulut tentang pengebom sebenarnya ketika mengadukan Sam?"

Mereka berjalan menuruni bantaran sungai, ke suatu titik beberapa senti di atas air. Mobil Adam berdiri di dekat situ. Lettner berdeham melonggarkan tenggorokan dan meludah ke sungai. "Apa kau akan bersaksi memberatkan seorang teroris yang tidak ada dalam tahanan?"

Adam berpikir sejenak. Lettner tersenyum, memperlihatkan giginya yang kuning besar, lalu terkekeh ketika ia mulai beranjak ke dok. "Mari kita minum bir."

"Tidak. Terima kasih. Saya harus pergi." Lettner berhenti, mereka berjabatan tangan serta berjanji untuk bertemu lagi. Adam mengundangnya ke Memphis, dan Lettner mengundangnya kembali ke Calico Rock untuk memancing dan minum lagi. Saat itu undangannya tak dapat diterima. Adam menitipkan salam untuk Irene, minta maaf lagi karena tidur di kamar cuci, dan kembali meng-

416

ucapkan terima kasih kepadanya atas percakapan itu.

Ia meninggalkan kota kecil itu, mengemudi dengan sangat waspada melewati tikungan dan perbukitan, masih berhati-hati untuk tidak mengacaukan perutnya.

Lee sedang bergulat memasak pasta ketika Adam memasuki apartemennya. Meja sudah ditata dengan peralatan makan keramik, perak, dan bunga segar. Resep itu untuk manicoti panggang, dan pekerjaan di dapur tidak berjalan dengan baik. Lebih dari satu kali pada minggu-minggu yang lalu Lee mengaku dirinya tidak pandai memasak. Sekarang ia membuktikannya. Panci dan wajan bertebaran di counter. Celemeknya yang jarang dipakai tertutup percikan saus tomat. Ia tertawa ketika mereka saling mencium pipi dan ia mengatakan ada pizza beku bila urusan jadi makin parah.

"Kau tampak lesu," katanya, mendadak menatap

ke mata Adam. "Aku melewatkan malam yang berat." "Kau bau alkohol."

"Aku minum dua gelas bloody mary untuk sarapan. Dan aku perlu satu lagi sekarang." yjffl

"Bar sudah tutup." Ia mengambil pisau dan memotong setumpuk sayuran. Zuchini adalah korban berikutnya. "Apa yang kaulakukan di sana?"

abuk-mabukan dengan orang FBI itu. Tidur di lantai, di sebelah mesin cucinya."

"Menyenangkan sekali." Selisih satu sentimeter saja ia nyaris teriris. Ia menarik tangan dari papan pemotong dan memeriksa satu jari. "Apa kau sudah baca koran Memphis?"

"Belum. Apakah aku perlu membacanya?" "Ya. Ada di sana." Ia mengangguk ke sudut snack bar.

"Kabar buruk?" "Baca saja."

Adam mengambil edisi-Minggu Memphis Press dan duduk di kursi di depan meja. Pada halaman depan bagian kedua, ia sekonyong-konyong melihat wajahnya sedang tersenyum. Itu foto yang sudah dikenalnya, yang diambil belum lama, ketika ia masih mahasiswa tahun kedua di Michigan. Beritanya mengisi setengah halaman, dan fotonya digabungkan dengan banyak foto lain—Sam, tentu saja, Marvin Kramer, Josh dan John Kramer, David McAllister sang jaksa penuntut, Steve Roxburgh, Naifeh, Jeremiah Dogan, dan Mr. Elliot Kramer, ayah Marvin.

Todd Marks sibuk. Narasinya mulai dengan sejarah ringkas kasus tersebut yang menempati satu kolom penuh, lalu ia bergerak cepat ke keadaan sekarang dan menguraikan kembali kisah yang sudah ditulisnya dua hari yang lalu. Ia menemukan sedikit lagi data biografi Adam—masuk college di Pepperdine, sekolah hukum di Michigan, editor

418

ulah fakultas hukum, sejarah ringkas pekerjaan» di Kravitz & Bane. Naifeh sangat sedikit

jejuni, cuma mengatakan bahwa eksekusi akan dilaksanakan sesuai undang-undang. McAllister, sebaliknya, penuh dengan kata-kata bijak. Selama 23 tahun ia hidup dengan mimpi buruk Kramer, katanya muram. Ia merasa tersanjung dan dihargai untuk menuntut Sam Cayhall dan menggiring pembunuh itu pada keadilan, dan hanya eksekusi yang bisa menutup bab mengerikan dalam sejarah Mississippi ini. Tidak, katanya sesudah merenung lama, gagasan memberikan pengampunan sama sekali di luar pertimbangan. Sama sekali tidak adil bagi anak-anak kecil Kramer. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Steve Roxburgh jelas menikmati wawancaranya. Ia berdiri, siap melawan usaha terakhir yang diambil Cayhall dan pengacaranya untuk menggagalkan eksekusi itu. la dan stafnya siap bekerja delapan belas jam sehari untuk melaksanakan kehendak rakyat. Persoalan ini sudah terlalu lama terseret-seret dan sudah tiba saatnya keadilan dilaksanakan, demikian ia dikutip mengucapkannya lebih dan satu kali. Tidak, ia tidak khawatir dengan tantangan upaya hukum terakhir dari Mr. Cayhall.

Sam Cayhall menolak memberi komentar. Marks menjelaskan, dan Adam Hall tak dapat dihubungi, seolah-olah Adam sangat bergairah untuk bicara, tapi tak dapat ditemukan.

Komentar keluarga terdengar menarik sekaligus

mengecilkan hati. Elliot Kramer, sekarang 77 tahun dan masih bekerja, digambarkan masih bersemangat dan sehat, meskipun mengalami masalah jantung. Ia juga sangat getir. Ia menyalahkan Klan dan Sam Cayhall yang bukan saja telah membunuh dua cucunya, tapi juga bertanggung jawab atas kematian Marvin. Sudah 23 tahun ia menunggu Sam dieksekusi, dan sudah tak sabar lagi. Ia mengutuk sistem yudisial yang membiarkan seorang terpidana hidup selama hampir sepuluh tahun setelah juri menjatuhkan vonis hukuman mari. Ia tak yakin apakah akan menyaksikan eksekusi tersebut Itu tergantung dokternya, katanya, tapi ia ingin melakukannya. Ia ingin berada di sana dan menatap mata Cayhall ketika mereka mengikatnya.

Ruth sedikit lebih moderat. Waktu telah menyembuhkan banyak luka, katanya, dan ia tidak pasti bagaimana perasaannya setelah eksekusi itu, Tak ada yang bisa mengembalikan anak-anaknya. Tak banyak yang bisa diceritakannya kepada Todd Marks.

Adam melipat surat kabar itu dan meletakkannya di samping kursi. Mendadak perutnya yang rapuh terasa nyeri, akibat Steve Roxburgh dan David McAllister. Sementara sang pengacara berharap bisa menyelamatkan nyawa Sam, rasanya mengerikan melihat musuh-musuhnya begitu bersemangat menghadapi pertempuran terakhir. Ia orang baru. Mereka veteran. Roxburgh khususnya sudah pernah mengalami hal ini, dan punya staf

420

berpengalaman, termasuk seorang spesialis yang terkenal sebagai Dr. Death, ahli hukum cakap yang sangat bergairah menanggapi eksekusi. Adam tak punya apa-apa kecuali setumpuk berkas penuh dengan pembelaan yang tak berhasil, dan doa semoga terjadi mukjizat. Saat ini ia sama sekali lemah dan tanpa harapan.

Lee duduk di sampingnya dengan secangkir kopi espresso. "Kau kelihatan khawatir," katanya sambil membelai lengan Adam.

"Temanku di dok pemancingan sama sekali tidak membantu." "Kedengarannya si tua Kramer sangat kukuh." Adam menggosok pelipis dan mencoba meredakan rasa saktt. "Aku butuh pereda rasa sakit." "Bagaimana dengan Valium?" "Bagus,"

"Apa kau lapar sekali?"

"Tidak. Perutku agak kacau."

"Bagus. Makan malam dibatalkan. Ada masalah kecil dengan resepnya. Pilihannya adalah pizza dingin atau sama sekati tidak makan."

"Tak ada yang enak buatku. Tak ada apa pun kecuali Valium."

DUA Pl L UH SATU

Adam menjatuhkan kuncinya ke dalam ember me. rah itu dan memandangnya naik ke

Gerbang kedua tertutup di belakangnya da Packer menunggu di dekatnya *SeJamat siang." katanya. Waktu itu hampir pakal 1400. «¦ terpanas di siang hari Penyiar prakiraan cuaca pagi di radio meramalkan hari pertama tahun itu dengan suhu sekitar 31 derajat Celcms

"Halo. Sersan." kata Adam. senlah olah mereka sekarang sudah menjadi sahabat lama. Mereka menyusuri jalan bata. menuju pintu kecil dengan rum-

put li.it Ji licp.imK.... Packet mctni-uk.i tammv.i

dan Adam melangkah I r il.il.iio

"Akan kujemput S.un. k.u.i Packer, tidak terhuni buru. lalu menghilang

Kursi-kursi p.ul.i bagiannya di Kilik km-ki« besi «u berterakan Dua kuna bahkan terguling, seakunakan .ul.i pengacara dan berkelahi di sana Adam mmank v.iiu kc counter di ujung, aatauh mungkin dari AC

la mengeluarkan -..itu copy peltu yang ia pukul 09.00 pagi itu Mrnurui undang undang, tak ada klaim atau prnoalan hna dikrmulakan ke pengadilan federal, kevuali hal itu diajukan dan ditolak di prngadilai Petisi yang menyerang kamar ga\ cudah diajukan kr Mahkamah Agung Mivtmippi di ha» ah peringanan hukuman setelah vonis danat Adam. itu cuma formalitas, demikian pula menurut Garnci Ooodman Gamer menggarap klaim itu «cpaniang akhir pekan la bahkan bekerja sehari penuh p.i.l.i hari Sabtu, sementara Adam minum bir dan memancing trout beruma W) nn 1 etlncr.

Sam tiba «cperti biasa, tangan terborgol di punggung, wajahnya tanpa rksprew. rutan merah yang tak dikancingkan ke pinggang Rambut kelabu di dadanva J Mg p» cat tampak mengilat karena keringat tang yang terlatih baik. ia menghadap Packer yang cepttl cepat borgol, kemudian berlalu melewati pmtu Sam

langsung mengambil rokok dan memastikan bahwa sebarang sudah dinyalakan sebelum ia duduk dan berkata. "Selamat datang kembali."

"Aku mengajukan ini pukul sembilan pagi ini," kata Adam. menggeser petisi itu melalui lubang sempil pada kisi-kisi. "Aku bicara dengan panitera pengadilan tinggi di Jackson. Tampaknya dia berpendapat pengadilan akan memutuskan hal ini dengan cepat."

Sam mengambil dokumen itu dan memandang Adam. "Kau bisa bertaruh begitu: Mereka akan menolaknya dengan sangat senang."

"Negara bagian dituntut segera menanggapinya, jadi kita sekarang sedang membuat Jaksa Agung sibuk,*

"Bagus. Kita bisa menyaksikan berita terbaru dalam siaran berita malam. Mungkin dia mengundang kamera ke kantornya, sementara mereka menyiapkan jawaban."

Adam menanggalkan jas dan mengendurkan dasi. Ruangan itu iembap dan ia sudah berkeringat. "Apakah nama Wynn Lettner menyentuh sesuatu dalam ingatanmu?"

Sam melemparkan petisi itu ke sebuah kursi kosong dan menyedot keras filternya. Ia mengembuskan aliran asap buangan ke langit-langit. "Ya. Kenapa?"

"Apakah kau pernah bertemu dengannya?" Sam memikirkan ini sejenak sebelum bicara, dan—seperti biasa—kata-katanya terkendali.

"Mungkin. Aku tak pasti. Aku tahu siapa dia

waktu itu. Kenapa?"

"Aku menemuinya selama akhir pekan. Dia sudah pensiun sekarang, dan mengelola dok pemancingan trout di White River. Kami bercakap-cakap

panjang."

"Menyenangkan. Apa yang kaudapat?"

"Katanya dia masih berpendapat ada seseorang yang bekerja bersamamu."

"Apakah dia menyebutkan sebuah nama kepadamu?"

"Tidak. Mereka tak pernah punya tersangka, atau begitulah yang dikatakannya. Tapi mereka punya informan, salah satu anak buah Dogan, yang mem-beritahu Lettner bahwa orang lain itu orang baru, bukan salah satu dari kelompok biasanya. Menurut mereka dia dari negara bagian lain. dan sangat muda. Itu saja yang diketahui Lettner." "Dan kau percaya ini?" "Aku tak tahu apa yang kupercaya." "Apa bedanya sekarang?" "Entahlah. Itu bisa kupakai dalam usaha menyelamatkan nyawamu. Tak lebih dari itu. Aku habis akal, kurasa." "Dan aku tidak?"

"Aku berpegangan pada jerami, Sam. Meraih-raih dan mengisi lubang-lubang."

"Jadi, ceritaku berlubang-lubang?"

"Kurasa begitu. Lettner mengatakan sangsi, sebab mereka tak menemukan jejak bahan peledak

ketika menggeledah rumahmu. Dan kau tak punya sejarah pernah memakainya. Dia mengatakan rasanya kau bukan jenis orang yang akan mengambil prakarsa melakukan pengeboman sendiri."

"Dan kau percaya segala yang dikatakan Lettner?" "Yeah. Sebab itu masuk akal." "Coba kutanya. Bagaimana kalau kukatakan padamu ada orang lain? Bagaimana kalau kuberikan nama. alamat, nomor telepon, golongan darah, dan analisis urinenya? Apa yang akan kaulakukan dengan itu?"

"Mulai berteriak-teriak sehebat-hebatnya. Aku akan mengajukan mosi dan dalih satu truk penub. Aku akan menimbulkan kegemparan di media dan membuatmu jadi kambing hitam. Akan kucoba menjadikan ketidakbersalahanmu sensasional dan berharap seseorang memperhatikan, seseorang seperti hakim pengadilan tinggi."

Sam mengangguk perlahan-lahan, seolah-olah ini cukup konyol dan tepat seperti diduganya. "Itu takkan berhasil, Adam," katanya hati-hati, seperti sedang menguliahi seorang bocah. "Aku punya waktu tiga setengah minggu. Kau tahu undang-undang. Tak ada cara untuk mulai meneriakkan bahwa John Doe yang melakukannya, bila John Doe tak pernah disebut-sebut."

"Aku tahu. Tapi aku tetap akan melakukannya."

"Takkan berhasil. Berhentilah mencoba mencari-cari John Doe."

"Siapakah dia?" "Dia tidak ada."

"Ada."

"Mengapa kau begitu yakin?"

"Sebab aku ingin percaya kau tak bersalah, Sam. Itu sangat penting bagiku."

"Sudah kukatakan aku tak bersalah. Aku memasang bom itu, tapi aku tak punya niat membunuh siapa pun."

"Tapi kau memasang bom? Mengapa kau mengebom rumah Pinder, dan sinagoga itu. dan kantor real estate itu? Mengapa kau mengebomi orang-orang tak berdosa?"

Sam cuma mengepul-ngepulkan asap dan memandang ke lantai.

"Mengapa kau membenci, Sam? Mengapa itu terjadi begitu mudah? Mengapa kau diajar membenci orang kulit hitam. Yahudi, Katolik, dan siapa saja yang sedikit berbeda darimu? Pernahkah kau bertanya pada diri sendiri mengapa?"

'Tidak. Aku tak punya rencana seperti itu."

"Jadi, kaulah persoalannya, benar? Karaktermu, pembawaanmu, sama seperti tinggi badan dan matamu yang biru. Sesuatu yang kaubawa sejak lahir dan tak bisa berubah. Itu diturunkan ayah dan kakekmu dari gennya, semuanya Klucker yang setia, dan itu akan kaubawa ke kuburmu dengan bangga, benar?"

"Itu adalah jalan hidup. Itu saja yang kuketahui."

"Lalu «j» van- terjadi padi ayahku? Mengapa kau tak bisa menulari Eddic "'

Sam membanting rokok ke lantai dan membungkuk ke depan, bertelekan saka. Kerutmenit m sudut mata dan di keningnya Wajah tepat pada lubang kisi-kisi. tapi ia lak memandangnya. Sebaliknya ia menatap ke bagian bawah kisi-kisi "Jadi. begitulah Saatnya untuk bicara tentang Fddie " Suaranya iauh lebih lembut dan kata-katanya lebih lambat lagi "Di manakah kau keliru menuntunnya?" "bn. tentu saja. Irit ada «angkut pautnya dengan pesta gas kecil yang «dan* mereka rencanakan untukJnj. Benar? Tik ada bubungannya dengan dalih pembelaan dan pktdot, pengacara dan hakim, mosi dan penundaan fm penghamburan waktu *

"Jangan pengecut, Sam Ceritakan padaku di mana kau keliru menuntun Eddie. Apa kau mengajarinya mengucapkan kata negro'' Api kau mengajarinya membenci bocah-bocah kecil berkulit m-tam1 Apa kau mencoba mengajarinya cara membakari salib atau merakit bom7 Apa kau membawanya melakukan pembunuhan pertamanjfi? Apa yang kaulakukan padinya. Sam1 Di mana kau keliru?"

"Eddie tak raba aku bergabung dalam Klan. sampai dia di sekolah menengah atas

'Kenapa tidak? Tentunya kau tidak malu akan hal itu Itu sumber kebanggaan besar dalam fc>J* luarga. bukan?"

"Kami lak pernah membicarakan itu 'Mengapa tidak? Kau generasi keempat keluarga Cayhall yang jadi anggota Klan. dengan akar tertanam dalam sampai zaman Perang Saudara, atau kurang-lebih seperti itu Bukankah itu yang kauccniakan padaku '"

"Ya"

"Kalau begitu, mengapa kau tidak mendudukkan Eddie dan memperlihatkan padanya foto-foto dan album keluarga ini'' Mengapa tidak kaucentakan kisah pengantar tidur tentang marga Cayhall vang heroik dan bagaimana mereka berkeliaran di waktu malam dengan topeng menutupi wajah mereka yang beraur dan membakari gubuk gubuk negro? Kau tahu. kisah kisah perang Ayah kepada anak."

"Kuulangi lagi. itu bukan sesuatu sang kami perbincangkan "

"Nah. setelah dia besar, apakah kau mencoba merekrutnya' "Tidak Dia lain " "Maksudmu dia tidak memhena?" Sam tersentak ke depan dan batuk, batuk pendek yang serak dan dalam dan seorang perokok heran UU Wajahnya memerah ketika ia bergulat memari napas Batuk batuk itu makin hebat dan ia meludah ke lantai Ia berdiri dan membungkukkan badan dengan dua tangan di paha. terbatuk batuk sambil terguncang guncang, mencoba menghentikannya,

Akhirnya batuknya berhenti, la berdiri lagak dan bernapas cepat, ia menelan dan meludah lagi.

lalu mundur dan menarik napas perlahan-lahan. Kejang-kejang itu selesai, wajahnya yang merah mendadak pucat kembali. Ia duduk di seberang Adam dan menyedot rokok dengan hebat, seolah-olah batuk-batuk itu harus ditimpakan pada kesalahan kebiasaan atau benda lain. Ia mengambil waktu, bernapas dalam, dan berdeham melonggarkan tenggorokan.

"Eddie anak yang lembut," ia mulai dengan suara parau. "Seperti ibunya. Dia bukan pesolek. Sebenarnya dia setangguh anak laki-laki lain." Istirahat panjang, satu lagi sedotan nikotin. "Tak jauh dari rumah kami ada keluarga negro..."

"Bisakah kita sebut mereka kulit hitam, Sam? Aku sudah pernah memintamu."

"Maaf. Ada satu keluarga Afrika di daerah kami. Keluarga Lincoln. Namanya Joe Lincoln, dan dia sudah bertahun-tahun bekerja untuk kami. Punya satu istri sah dan selusin anak sah. Salah satu dari anak-anak itu sebaya dengan Eddie, dan mereka tak terpisahkan, teman paling akrab. Bukan sesuatu yang terlalu luar biasa saat itu. Kau bermain dengan siapa pun yang ada di dekatmu. Aku bahkan punya teman-teman Afrika kecil, percaya atau tidak. Ketika Eddie mulai bersekolah, dia jadi sangat bingung, sebab dia dan teman Afrika-nya naik bus yang berlainan. Nama bocah itu Quince. Quince Lincoln. Mereka tak sabar menunggu saat pulang sekolah dan pergi bermain di ladang. Aku ingat Eddie selalu resah sebab mereka tak bisa

pergi ke sekolah bersama-sama. Quince tak bisa bermalam di rumah kami, dan Eddie tak dapat bermalam bersama keluarga Lincoln. Dia selalu menanyaiku mengapa orang-orang Afrika di Ford County begitu miskin, tinggal di rumah kumuh, tak punya pakaian bagus, dan ada begitu banyak anak dalam setiap keluarga. Dia benar-benar menderita oleh hal ini, dan itu membuatnya berbeda. Setelah lebih dewasa, dia bahkan jadi lebih bersimpati kepada orang-orang Afrika. Kucoba bicara dengannya."

"Sudah tentu kau melakukannya. Kau mencoba meluruskannya, bukan?" "Aku mencoba menjelaskan berbagai persoalan

kepadanya."

"Seperti misalnya?"

"Seperti kebutuhan untuk menjaga pemisahan antarras. Tak ada salahnya dengan sekolah-sekolah yang terpisah tapi setara. Tak ada salahnya dengan undang-undang yang melarang perkawinan antarras. Tak ada salahnya menjaga kaum Afrika di tempat mereka."

"Di manakah tempat mereka?"

"Di bawah kendali. Biarkan mereka lepas bebas, dan lihat apa yang terjadi. Kejahatan, obat bius, AIDS, anak haram, kehancuran umum dalam tatanan moral masyarakat."

"Bagaimana dengan perkembangan nuklir dan lebah pembunuh?"

"Kau paham maksudku."

"Bagaimana dengan hak asasi, konsep-konsep radikal seperti hak untuk memberikan suara, memakai WC umum, makan di restoran dan tinggal di hotel, hak untuk tidak didiskriminasikan dalam perumahan, pekerjaan, dan pendidikan?"

"Kau kedengaran seperti Eddie."

"Bagus."

"Sewaktu menyelesaikan sekolah menengah, dia menyembur-nyemburkan ucapan seperti itu, bicara tentang betapa buruknya orang-orang Afrika itu diperlakukan. Dia meninggalkan rumah ketika berumur delapan belas tahun."

"Apakah kau merindukannya?"

"Pada mulanya tidak, kurasa. Kami banyak bertengkar. Dia tahu aku anggota Klan, dan dia benci melibatku. Setidaknya dia mengatakan benci."

"JarJL kau lebih memikirkan Klan daripada memikirkan putramu sendiri?"

Sam menatap lantai. Adam mencoret-coret buku. AC berdengung dan mereda, dan akhirnya berhenti. "Dia anak yang manis," kata Sam pelan. "Dulu kami sering memancing bersama. Itu kegemaran kami. Aku punya perahu tua, dan kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk memancing ikan crappie dan bream, kadang-kadang bass. Kemudian dia dewasa dan membenciku. Dia malu padaku. Tentu saja itu menyakitkan. Dia mengharapkan aku berubah, dan aku mengharapkannya bisa mengerti seperti semua bocah kulit putih lain seusia-nya. Itu tak pernah terjadi. Kami makin jauh ter-

pisah ketika dia masuk sekolah menengah, kemudian rasanya omong kosong hak-hak sipil itu mulai, dan tak ada harapan lagi sesudah itu." "Apakah dia berpartisipasi dalam gerakan itu?" "Tidak. Dia tidak tolol. Dia mungkin bereimpati, tapi tetap tutup mulut. Kau tidak berkeliling ke mana-mana membicarakan sampah itu kalau kau orang setempat. Cukup banyak Yahudi dan orang-orang radikal dari Utara untuk membuat hal itu terus bergolak. Mereka tidak membutuhkan bantuan."

"Apa yang dia kerjakan setelah meninggalkan

rumah?"

"Bergabung dalam Angkatan Bersenjata. Cara_ mudah untuk keluar dari kota, jauh dari Mississippi. Dia pergi selama tiga tahun, dan ketika kembali dia membawa istri. Mereka tinggal di Clanton dan kami hampir tak pernah bertemu. Sekali-sekali dia bercakap-cakap dengan ibunya, tapi tak pernah bicara banyak padaku. Saat itu awal tahun enam puluhan, dan gerakan orang Afrika sedang, meroket. Ada banyak rapat Klan, banyak kegiatan, hampir semuanya terjadi di selatan kami. Eddie tetap menjaga jarak. Dia sangat pendiam, lagi pula tak banyak yang ingin dia katakan." "Kemudian aku lahir."

"Kau lahir sekitar saat tiga pekerja hak sipil. tersebut menghilang. Eddie berani-beraninya bertanya apakah aku terlibat dalam hal itu."

"Kau terlibat?"

"Tidak. Selama setahun aku tak tahu siapa yan melakukannya." g

"Mereka anggota Klan, bukan?" "Mereka orang Klan."

"Apa kau senang ketika orang-orang itu ter, bunuhr

"Apa hubungannya urusan ini denganku dan kamar gas di tahun 1990?"

"Apakah Eddie tahu ketika kau terlibat dalam pengeboman?"

"Tak seorang pun di Ford County tahu. Sebelumnya kami tidak terlalu aktif. Seperti tadi kukatakan, sebagian kegemparan itu terjadi di selatan kami, sekitar Meridian."

"Dan kau tak sabar untuk ikut bergabung?"

"Mereka butuh bantuan. FBI sudah menginfiltrasi begitu dalam, sampat tak ada siapa pun yang bisa dipercaya. Gerakan hak sipil menggelinding pesat bagaikan bola salju. Harus ada tindakan. Aku tidak malu dengannya."

Adam tersenyum dan menggelengkan kepala. "Eddie malu, bukan?"

"Eddie tidak tahu apa pun tentang hal itu, sampai pengeboman Kramer."

"Mengapa kau melibatkannya?"

"Tidak,"

"Ya, kau melibatkannya. Kau menyuruh istrimu membawa Eddie dan pergi ke Cleveland mengambil mobilmu Dia pelengkap dalam kejadian ini."

•Aku ada dalam penjara, oke? Aku ketakutan. Dan tak seorang pun tahu. Itu tidak berbahaya." "Barangkali Eddie tidak berpikir demikian" "Aku tak tahu apa yang dipikirkan Eddie, oke? Saat aku keluar dari penjara, dia sudah menghilang. Kalian semua pergi. Aku tak pernah melihatnya lagi sampai penguburan ibunya, dan saat itu dia menyelinap masuk dan keluar tanpa sepatah kata pun kepada siapa pun." la menggosok kerut pada keningnya dengan tangan kiri, lalu menyisir-kannya pada rambutnya yang berminyak. Wajahnya sedih, dan ketika ia melirik ke lubang. Adam melihat secercah air mata di matanya. "Terakhir kali aku melihat Eddie, dia sedang masuk ke mobilnya di luar gereja setelah upacara pemakaman. Dia tergesa-gesa. Hati kecilku mengatakan aku takkan pernah melihatnya lagi. Dia datang karena ibunya meninggal, dan aku tahu itulah kunjungan terakhirnya ke rumah. Tak ada alasan lain baginya untuk kembali. Aku ada di tangga depan gereja, Lee bersamaku, dan kami berdua menyaksikannya berlalu. DI sanalah aku menguburkan istriku, dan pada saat yang sama menyaksikan putraku menghilang untuk terakhir kalinya."

"Apakah kau pernah mencoba menemukannya?" "Tidak. Tidak sungguh-sungguh. Lee mengatakan punya nomor teleponnya, tapi aku tak ingin mengemis. Sudah jelas dia tak ingin berurusan apa pun denganku, jadi aku membiarkannya. Aku sering memikirkanmu, dan aku ingat pernah ber-

cerita kepada nenekmu betapa menyenangkan melihatmu. Tapi aku tak ingin menghabiskan banyak waktu mencoba melacak kalian." "Pasti akan sulit menemukan kami." "Itulah yang kudengar. Sekali-sekali Lee bicara dengan Eddie, dan dia melaporkannya padaku. Kedengarannya kalian berpindah-pindah ke seluruh penjuru California."

"Selama dua belas tahun aku bersekolah di enam tempat.'

Tapi kenapa? Apa yang dia kerjakan?" "Beberapa macam pekerjaan Dia kehilangan pekerjaan, dan kami pindah karena dia tak bisa membayar sewa rumah. Kemudian lho mendapat pekerjaan, dan kami pindah ke tempat lain lagi. Lalu Dad gusar dengan sekolahku karena alasan yang tidak jelas, dan dia mengeluarkanku." "Pekerjaan macam apa yang dia lakukan?" "Suatu ketika dia bekerja di kantor pos, sampai dipecat. Dia mengancam akan menggugat mereka, dan untuk waktu lama dia mempertahankan perang kecil yang hebat terhadap sistem pos. Dia tak dapat menemukan pengacara untuk menangani hal ini, maka dia mengganggu mereka dengan surat-surat Dia selalu punya meja kerja kecil dengan mesin tik tua dan kardus-kardus berisi surat-suratnya, dan itu adalah miliknya yang paling berharga. Tiap kali kami pindah, dengan hati-hati dia mengurus kantornya, demikian dia menyebut benda-benda itu. Dia tak peduli dengan barang lain. Tak

ada banyak memang, tapi dia melindungi kantornya mati-matian. Aku ingat beberapa malam berbaring di tempat tidur, mencoba tidur dan mendengarkan mesin tik terkutuk itu berketak-ketik sepanjang malam. Dia benci pemerintah federal." "Itulah anakku."

"Tapi karena alasan-alasan berbeda, kurasa. Suatu kali Internal Revenue Service memburunya. Kupikir ini aneh, sebab dia tak punya penghasilan cukup untuk membayar pajak tiga dolar. Jadi, dia mengumumkan perang kepada IRS yang disebutnya sebagai Infernal Revenue, dan gusar selama bertahun-tahun. Pemerintah California mencabut SIM-nya selama setahun ketika dia tidak memperpanjangnya, dan ini melanggar segala macam hak asasi dan hak sipil. Ibu harus menyopirinya selama dua tahun, sampai dia menyerah pada birokrasi. Dia selalu menulis surat kepada gubernur, Presiden, senator AS, anggota kongres, siapa saja yang punya kantor dan staf. Dia ribut saja tentang ini-itu, dan bila mereka membalas suratnya, dia mengumumkan kemenangan kecil. Dia menyimpan setiap surat. Suatu hari dia bertengkar dengan tetangga sebelah, tentang anjing yang kencing di teras kami, dan mereka saling berteriak di seberang pagar hijau. Makin seru mereka berkelahi, makin kuat saja teman-teman mereka, dan keduanya nyaris menelepon segala macam orang penting yang bisa langsung memberikan hukuman kepada lawannya. Dad lari masuk ke ramah, dan dalam

beberapa detik kembali dalam pertengkaran itu dengan tiga belas surat dari Gubernur Negara Bagian California. Dia menghitungnya keras-keras dan melambai-lambaikannya di depan hidung tetangga itu, sampai akhirnya orang malang itu runtuh. Itulah akhir pertengkaran tersebut. Akhir dari anjing mengencingi teras kami. Tentu saja setiap surat itu memintanya, dengan cara halus, agar menyingkir."

Meskipun tak menyadarinya, mereka berdua tersenyum di akhir cerita pendek ini.

"Kalau dia tak dapat mempertahankan pekerjaan, bagaimana kalian semua bertahan hidup?" Sam bertanya sambil menatap melalui lubang.

"Entahlah. Ibu selalu bekerja. Dia sangat produktif dan kadang-kadang punya dua pekerjaan sekaligus. Jadi kasir di toko sayur. Juru tulis di apotek. Dia bisa mengerjakan apa saja, dan aku ingat beberapa pekerjaan yang cukup baik sebagai sekretaris. Pada suatu titik, Dad mendapat lisensi untuk menjual asuransi jiwa, dan itu jadi pekerjaan paro waktu permanen. Kurasa dia bagus dalam pekerjaan itu, sebab segalanya membaik ketika aku makin besar. Dia bisa mengatur waktunya sendiri, dan tidak melapor pada siapa pun. Ini cocok baginya, meskipun dia mengatakan benci perusahaan asuransi. Dia memperkarakan satu perusahaan karena membatalkan sebuah polis atau entah apa, aku benar-benar tak mengerti, dan dia kalah dalam kasus itu. Tentu saja dia menimpakan segala kesalahan pada pengacaranya, yang melakukan ke- j

keliruan mengiriminya surat panjang penuh pernyataan keras. Selama tiga hari Dad mengetik, dan ketika karya besarnya selesai, dengan bangga dia memperlihatkannya kepada Ibu. Dua puluh satu

halaman berisi kekeliruan dan kebohongan si

pengacara. Ibu cuma menggelengkan kepala. Dia bertempur dengan pengacara malang itu selama

bertahun-tahun." "Ayah macam apakah dia?" "Aku tidak tahu. Itu pertanyaan sulit, Sam."

"Kenapa?"

"Karena cara matinya. Lama sesudah kematian-nya aku masih marah padanya. Aku tak mengerti bagaimana dia bisa memutuskan hams meninggalkan kami, kami tak membutuhkannya lagi, dan sudah tiba saatnya mati. Dan sesudah mengetahui yang sebenarnya, aku marah padanya karena mem-bohongiku selama bertahun-tahun itu, karena mengganti namaku dan kabur. Itu sangat membingungkan bagi seorang anak muda. Masih membingungkan." "Apa kau masih marah?" "Tidak begitu. Aku cenderung mengingat hal-hal baik dalam diri Eddie. Dia satu-satunya ayah yang pernah kumiliki, jadi aku tak tahu bagaimana menilainya. Dia tidak merokok, minum, berjudi, memakai obat bius, menyeleweng, memukuli anaknya, atau apa pun semacam itu. Dia punya masalah dalam mempertahankan' pekerjaan, tapi kami tak pernah kelaparan atau tanpa tempat berteduh.

Dia dan Ibu terus-menerus bicara tentang perceraian, tapi itu tak pernah terjadi. Beberapa kali Ibu pindah, kemudian Dad pindah. Itu mengganggu, tapi aku dan Carmen jadi terbiasa. Dia mengalami hari gelap, atau dikenal sebagai saat-saat buruk, ketika dia mengurung diri dalam kamar, mengunci pintu, dan menutup tirai. Ibu akan mengumpulkan kami di sekitarnya dan menjelaskan Dad sedang tidak sehat, dan kami harus sangat tenang. Tak boleh menyalakan televisi atau radio. Ibu sangat membantu bila Dad sedang menarik diri. Berhari-hari dia tinggal dalam kamar, lalu sekonyong-konyong keluar seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kami belajar hidup dengan saat-saat burak Eddie. Dia tampak normal dan berpakaian normal. Dia hampir selalu ada bila kami membutuhkannya. Kami main bisbol di halaman belakang dan ikut dalam karnaval. Dia beberapa kali membawa kami ke Disneyland. Kurasa dia orang baik, ayah yang baik, tapi memiliki sisi gelap dan aneh yang sekali-sekali muncul."

"Tapi kalian tidak dekat?" - "Benar, kami tidak dekat. Dia membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dan proyek-proyek ilmu alam, dan dia menuntut rapor yang sempurna. Kami bicara tentang tata surya dan lingkungan, tapi tak pernah bicara tentang perempuan, seks, dan mobil. Tak pernah bicara tentang keluarga dan nenek moyang. Tak ada keakraban. Dia bukan

orang yang hangat. Ada saat-saat aku membutuhkannya dan dia mengunci diri dalam kamarnya."

Sam menggosok sudut-sudut matanya, lalu kem- • bali membungkuk ke depan, bertelekan lutut dengan wajah dekat ke kisi-kisi dan memandang langsung pada Adam. "Bagaimana kematiannya?" ia bertanya. "Maksudmu?" "Bagaimana itu terjadi?"

Adam menunggu lama sebelum menjawab. Ia bisa menceritakan kisah ini dengan beberapa cara. Ia bisa kejam, penuh kebencian, dan jujur secara brutal. Itu bisa menghancurkan laki-laki tua ini. Ada godaan besar untuk melakukannya. Itu perlu dilakukan, katanya pada diri sendiri berkali-kali sebelumnya. Sam perlu menderita; perlu ditampar wajahnya dengan perasaan bersalah atas bunuh dirinya Eddie. Adam benar-benar ingin menyakiti bangsat tua ini dan membuatnya menangis.

Tapi pada saat yang sama ia ingin menceritakan kisah itu dengan cepat, menyentuh bagian-bagian yang menyakitkan, kemudian pindah ke sesuatu yang lain. Laki-laki tua yang duduk terkurang di seberang kisi-kisi itu sudah cukup menderita. Pemerintah merencanakan membunuhnya kurang dari empat minggu lagi. Adam merasa ia taliu lebih banyak tentang kematian Eddie daripada yang diungkapkannya.

"Dia sedang mengalami saat buruk," kata Adam, memandang kisi-kisi, tapi menghindari Sam. "Dia

441

mengurung diri dalam kamar selama tiga minggu; lebih lama dari biasa. Ibu tenis mengatakan pada kami dia akan membaik, cuma beberapa hari lagi dan dia akan keluar, sebab dia rasanya selalu pulih kembali. Dia memilih suatu hari ketika Ibu sedang bekerja dan Carmen pergi ke rumah teman, suatu hari ketika dia tahu akulah yang pertama pulang. Aku menemukannya tergeletak di lantai kamar tidurku, masih memegang pistol, kaliber 38. Satu tembakan ke pelipis kanan. Di kepalanya ada lingkaran darah yang rapi. Aku duduk di tepi ranjang." "Berapa umurmu saat itu?" "Hampir tujuh belas. Masih di sekolah menengah. Dengan nilai A. Kusadari dia telah mengatur setengah lusin handuk dengan hati-hati di lantai, kemudian menempatkan diri di tengahnya. Aku memeriksa denyut nadi di pergelangannya, dan dia sudah kaku. Dokter pemeriksa jenazah mengatakan dia sudah tiga jam meninggal. Di sebelahnya ada catatan, terketik rapi pada kertas putih. Catatan itu ditujukan kepada Dear Adam. Dia mengatakan mencintaiku, menyesal, ingin aku menjaga ibu dan adikku, dan suatu hari kelak aku akan mengerti. Kemudian dia mengarahkan perhatianku pada kantong sampah plastik, juga di lantai, dan mengatakan aku harus memasukkan handuk kotor ke kantong sampah, menyeka yang berantakan, kemudian menelepon polisi. Jangan sentuh pistolnya, katanya. Dan bergegaslah, sebelum yang lain pulang."

Adam melonggarkan tenggorokan dan memandang

ke lantai.

"Aku berbuat tepat seperti yang dia tuliskan, dan aku menunggu polisi. Selama lima belas menit kami sendirian, cuma kami berdua. Dia tergeletak di lantai dan aku berbaring di ranjang, memandanginya. Aku mulai menangis dan menangis, bertanya kepadanya mengapa, bagaimana, apa yang terjadi, dan seratus pertanyaan lain. Di sanalah ayahku, ayah satu-satunya yang pernah kumiliki, tergeletak dalam jeans pudar, kaus kaki kotor, dan sweatshirt UCLA favoritnya. Dilihat dari leher ke bawah dia seperti tertidur saja, tapi kepalanya berlubang dan darah sudah mengering di rambutnya. Aku membencinya karena kematian itu, dan aku kasihan padanya, sebab dia mati. Aku ingat bertanya padanya mengapa dia tidak bicara padaku sebelum ini. Kuhujam dia dengan banyak pertanyaan. Aku mendengar suara-suara, dan mendadak mangan itu penuh dengan polisi. Mereka membawaku ke mang duduk dan membungkusku dengan selimut. Dan itulah akhir riwayat ayahku."

Sam masih bertelekan siku, tapi satu tangannya sekarang menutupi mata. Cuma ada beberapa hal lain yang ingin dikatakan Adam.

"Setelah pemakaman, Lee tinggal bersama kami beberapa lama. Dia bercerita padaku tentang kau dan keluarga Cayhall. Dia mengisi banyak celah tentang ayahku. Aku jadi terpesona olehmu dan pengeboman Kramer, dan aku mulai membaca ar-

tikeJ-artikel dalam majalah dan surat kabar lama. Aku perlu sekitar satu tahun untuk memahami mengapa Eddie bunuh diri seperti itu. Dia bersembunyi dalam kamarnya selama sidangmu, dan dia bunuh diri ketika sidang itu berakhir."

Sam menyisihkan tangannya dan menatap tajam pada Adam dengan mata basah. "Jadi, kau menyalahkan kematiannya gara-gara aku, benar, Adam? Itu yang sebenarnya ingin kaukatakan, bukan?"', | "Tidak. Aku tidak sepenuhnya menyalahkanmu." "Kalau begitu seberapa? Delapan puluh persen? Sembilan puluh persen? Kau punya waktu untuk menghitung angkanya. Seberapa banyak kesalahanku?"

"Aku tidak tabu, Sam. Mengapa bukan kau yang mengatakannya padaku?"

Sam menyeka mata dan menaikkan suaranya. "Oh, persetan! Aku akan katakan seratus persen. Akan kupikul tanggung jawab penuh atas kematiannya, oke? Itukah yang kauinginkan?"

"Terserah apa katamu."

"Jangan menguliahi akui Tambahkan saja nama anakku dalam daftarku, itukah yang kauinginkan? Anak kembar Kramer, ayah mereka, lalu Eddie. Empat orang yang telah kubunuh, benar? Ada lagi yang ingin kautambahkan di ujangnya? Lakukanlah segera, bocah besar, sebab jam terus berdetak."

"Ada berapa lagi di sana?"

"Mayat?" fljjg

"Ya. Mayat. Aku sudah dengar desas-desus."

444

"Dan tentu saja kau percaya, bukan? Kau tampak begitu bersemangat mempercayai segala yang

buruk tentang diriku."

"Aku tidak mengatakan percaya."

Sam melompat berdiri dan berjalan ke ujung ruangan. "Aku muak dengan percakapan ini!" ia berteriak dari jarak sembilan meter. "Dan aku muak denganmu! Aku nyaris berharap pengacara-pengacara Yahudi terkutuk itulah yang ada di sini; menggangguku lagi."

"Kami bisa menyediakannya untukmu," balas Adam.

Sam berjalan perlahan-lahan kembali ke kursinya, "Di sinilah aku, mengkhawatirkan nyawaku, 23 hari dari kamar gas, tapi kau malah bicara tentang orang mati. Teruslah berceloteh, bocah besar, dan sebentar lagi kau bisa mulai bicara tentang aku. Aku ingin tindakan."

"Aku mengajukan petisi pagi ini."

"Bagus! Kalau begitu pergilah, sialan. Keluar saja dari sini dan berhentilah menyiksaku!" >

DUA PULUH DUA

Pintu di sisi Adam terbuka dan Packer masuk bersama dua laki-laki di belakangnya. Mereka jelas pengacara—setelan jas gelap, roman cemberut, tas-tas kerja yang tebal melembung. Packer menunjuk beberapa kursi di bawah AC dan mereka duduk. Ia memandang Adam dan secara khusus memperhatikan Sam yang masih berdiri di sisi seberang. "Semua beres?" ia bertanya pada Adam.

Adam mengangguk dan Sam duduk di kursinya. Packer berlalu. Dua pengacara baru tadi dengan efisien menggarap pekerjaan mereka, menarik dokumen-dokumen berat dari berkas-berkas tebal. Dalam semenit, dua jas mereka sudah dilepas.

Lima menit berlalu tanpa sepatah kata pun dari Sam. Adam menangkap beberapa lirikan dari pengacara di ujung seberang. Mereka berada dalam mangan yang sama bersama narapidana paling terkenal di The Row, narapidana berikutnya yang akan digas, dan mereka tak tahan untuk tidak

mencuri pandang ingin tahu pada Sam Cayhall dan

pengacaranya. Kemudian pintu di belakang Sam terbuka, dan

dua penjaga masuk bersama seorang laki-laki hitam kurus yang diborgol dan dirantai, seakan-akan ia bisa meledak setiap saat dan membunuh puluhan orang dengan tangan kosong. Mereka menggiringnya ke kursi di seberang pengacaranya dan sibuk membebaskan sebagian anggota badannya. Tangan narapidana itu tetap terborgol di punggung. Salah satu penjaga meninggalkan mangan, tapi yang lain mengambil posisi di tengah, antara Sam dan narapidana kulit hitam itu.

Sam melirik rekannya di counter itu, jenis manusia yang gelisah dan jelas tak menyukai pengacaranya. Pengacaranya pun tidak kelihatan gembira. Adam memandang mereka dari tempatnya di balik kisi-kisi. Dalam beberapa saat kepala mereka merapat dan mereka bicara bersama-sama melalui lubang, sementara klien mereka duduk dengan angkuh, bersandar tangan. Suara mereka yang rendah bisa terdengar, tapi ucapan mereka tak dapat dipahami.

Sam beringsut maju lagi, bertelekan siku, dan memberi tanda pada Adam agar berbuat sama. Wajah mereka bertemu dalam jarak beberapa senti dengan lubang kisi-kisi di antara mereka.

"Itu Stockholm Turner," kata Sam, nyaris berbisik.

"Stockholm?"

"Yeah, tapi dia dipanggil Stock. Orang-orang Afrika pedesaan ini suka nama-nama yang luar biasa. Katanya dia punya saudara laki-laki bernama Denmark dan sahi lagi bernama Germany. Mungkin benar."

"Apa yang dia lakukan?" tanya Adam, sekonyong-konyong ingin tahu.

"Merampok toko wiski, kurasa. Menembak pemiliknya. Sekitar dua tahun yang lalu dia mendapat surat pengukuhan hukuman mati, dan eksekusi nyaris dilaksanakan. Dia cuma dua jam dan kamar gas."

"Apa yang terjadi?"

"Pengacaranya berhasil mendapatkan penundaan, dan sejak itu mereka selalu bertempur. Kau takkan pernah bisa tahu, tapi dia mungkin orang berikutnya sesudah aku."

Mereka berdua memandang ke ujung ruangan, tempat rapat memanas berlangsung dengan kekuatan penuh. Stock tidak lagi bersandar pada tangan. Ia duduk di tepi kursi dan berteriak-teriak ribut pada pengacaranya.

Sam tersenyum lebar, lalu terkekeh, lalu mencondongkan tubuh lebih dekat lagi pada kisi-kisi. "Keluarga Stock sangat miskin, dan mereka tak banyak berurusan dengannya. Itu bukan hal yang luar biasa, terutama dengan orang-orang Afrika. Dia jarang menerima surat atau kunjungan. Dia dilahirkan lima puluh mil dari sini, tapi dunia bebas sudah melupakan dirinya. Ketika pembelaan

X

bandingnya habis harapan; Stock mulai mengkhawatirkan hidup dan mati dan segala urusan umumnya. Di sini, bila tak seorang pun mengklaim mayatmu, negara menguburmu seperti pengemis di kuburan murahan. Stock jadi prihatin dengan nasib mayatnya, dia mulai mengajukan segala macam pertanyaan. Packer dan beberapa penjaga menanggapinya, mereka meyakinkan Stock bahwa mayatnya akan dikirim ke krematorium untuk dibakar. Abunya akan dijatuhkan dari udara dan ditaburkan di Parchman. Mereka mengatakan padanya bahwa karena dia toh penuh dengan gas, dia akan meledak seperti bom saat mereka menyulut korek. Stock hancur. Dia jadi sulit tidur dan berat badannya merosot. Kemudian dia mulai menulis sarat kepada keluarga dan teman-temannya, mengemis beberapa dolar agar bisa mendapatkan apa yang disebutnya pemakaman Kristen. Uang mengalir datang dan dia menulis surat lebih banyak lagi. Dia menulis kepada para pendeta dan kelompok-kelompok pembela hak sipil. Bahkan pengacaranya pun mengirim uang.

"Ketika masa penantiannya dicabut. Stock punya hampir empat ratus dolar, dan siap mati. Atau begitulah menurutnya."

Mata Sam menari-nari dan suaranya ringan. Ia menceritakan kisah itu perlahan-lahan, dengan suara rendah, dan menikmati detailnya. Adam lebih geli karena caranya bercerita daripada kisah itu sendiri.

449

"Di sini mereka punya satu peraturan kendur yang memperkenankan kunjungan tak terbatas selama 72 jam sebelum eksekusi. Selama tidak ada risiko keamanan, mereka mengizinkan si terhukum

melakukan hampir segala hal. Di depan ada kantor sempit dengan meja dan telepon, dan itu jadi ruang kunjungan. Tempat itu biasanya terisi dengan segala macam orang—nenek, kemenakan, sepupu, bibi— terutama pada orang-orang Afrika ini. Gila, mereka datang berbus-bus. Sanak saudara yang tak pernah menghabiskan lima menit pun untuk memikirkan si narapidana sekonyong-konyong muncul untuk berbagi saat-saat terakhir. Itu nyaris jadi peristiwa sosial.

"Mereka juga punya satu peraturan lain, tak tertulis kurasa, yang memperkenankan satu kali kunjungan untuk melakukan hubungan suami-istri. Bila tak ada istri, Kepala Penjara dengan belas kasihan yang luar biasa akan mengizinkan pertemuan singkat dengan seorang pacar. Satu hubungan badan cepat-cepat untuk terakhir kali sebelum sang kekasih pergi." Sam melirik Stock di ujung counter, lalu membungkuk lebih dekat lagi.

"Nah, si Stock ini adalah salah satu penghuni The Row yang populer, dan entah bagaimana dia berhasil meyakinkan Kepala Penjara bahwa dia punya seorang istri dan seorang pacar, dan wanita-wanita iiB setuju untuk melewatkan beberapa saat bersamanya sebelum dia mati. Pada saat bersamaan! Mereka bertiga, bersama-sama! Kepala Penjara

mengaku tahu ada sesuatu yang mencurigakan, tapi-semua orang suka Stocky dan... nah, mereka toh akan membunuhnya, jadi apa salahnya. Maka Stock pun duduk dalam ruangan sempit itu bersama ibu, saudara-saudara, sepupu, kemenakan, dan segerombolan orang Afrika, kebanyakan di antaranya tak pernah menyebut-nyebut namanya selama sepuluh tahun. Dia menikmati santapan terakhirnya yang terdiri atas steak dan kentang, sementara yang lain menangis, meratap, dan berdoa. Dengan empat jam masih tersisa, mereka mengosongkan ruangan dan mengirim keluarga ke kapel. Stock menunggu beberapa menit sementara satu van lain membawa istri dan pacarnya ke The Row sini. Mereka tiba bersama penjaga dan dibawa ke kantor kecil di depan tempat Stock siap menunggu dengan mata liar. Laki-laki malang itu sudah dua belas tahun tinggal di The Row.

"Nah, mereka membawa kasur kecil untuk pertemuan ini, dan Stock serta perempuan-perempuan-nya memakainya. Kelak para penjaga mengatakan wanita-wanita Stock itu bertampang lumayan, dan para penjaga juga mengomentari betapa muda penampilan mereka. Stock baru saja akan, melakukan hajatnya entah dengan istri atau pacarnya, itu tidak penting—ketika telepon berdering. Itu dari pengacaranya. Pengacaranya menangis dan terengah-engah sambil meneriakkan berita besar bahwa Pengadilan Fifth Circuit lelah mengeluarkan ke-putusan penundaan hukuman.

"Stock menutup percakapan. Dia ada urusan yang lebth penting d j. depan mata. Beberapa menit berlalu, kemudian telepon berdering lagi. Stock mengangkatnya. Dari pengacaranya lagi. dan kali ini dia jauh lebih terung ketika menceritakan pada Stock tentang manuver hukum yang telah menyelamatkan nyawanya, untuk sementara. Stock memberikan pujian, kemudian meminta pengacaranya agar tidak menceritakan hal ini sampai saru jam kemudian."

Adam kembali melirik ke kanan, dan dalam hati bertanya manakah di antara dua pengacara itu yang telah menelepon Stock sementara ia menikmati hak konstitusionalnya atas kunjungan ber-setubuh terakhir.

"Nah, pada saat itu. kantor Jaksa Penuntut sudah bicara pada Kepala Penjara, dan eksekusi itu ditunda, atau dibatalkan seperti istilah yang mereka pakai Tak ada bedanya bagi Stock. Dia meneruskan hajatnya, seolah-olah dia takkan pernah lagi melihat perempuan lain. Pintu ke kamar itu tak dapat dikunci dari dalam, karena alasan-alasan yang jelas Maka Naifeh. setelah menunggu dengan sabar, mengetuk pintunya pelan dan meminta Stock keluar. Saat untuk kembali ke selmu, Stock, katanya. Stock mengatakan dia cuma butuh lima menit lagi. Tidak, kata Naifeh. Sebentar, Stock memohon, dan mendadak terdengar suara-suara lagi. Maka sang Kepala Penjara tersenyum lebar kepada penjaga yang balas tersenyum, dan

selama lima menit mereka mengamati lantai sementara ranjang berderit dan terguncang-guncang dalam ruangan sempit itu. "Stock akhirnya membuka pintu dan berjalan

keluar bagaikan juara dunia tinju kelas berat. Penjaga mengatakan dia lebih gembira dengan penampilannya daripada dengan penundaan eksekusinya. Mereka cepat-cepat menyingkirkan perempuan-perempuan itu, yang ternyata sama sekali bukan istri dan pacarnya."

"Siapa mereka?"

"Sepasang pelacur."

"Pelacur!" Adam mengucapkannya terlalu keras,

dan salah satu pengacara itu menatapnya.

Sam membungkuk begitu dekat, sampai hidungnya nyaris berada di celah kisi-kisi. "Yeah, pelacur setempat. Entah bagaimana saudaranya mengaturnya untuknya. Ingat uang penguburan yang dia usahakan dengan susah payah."

"Kau bercanda."

"Itu dia! Empat ratus dolar dihabiskan untuk pelacur, yang pada mulanya tampak sedikit mahal, terutama untuk pelacur Afrika setempat, tapi tampaknya mereka ketakutan setengah mati harus datang ke death row. Kurasa ini masuk akal. Mereka mengambil seluruh uang Stock. Kelak dia mengatakan padaku dia sama sekali tak peduli bagaimana mereka menguburnya. Katanya cukup pantas untuk setiap sen. Naifeh malu dan mengancam akan melarang kunjungan untuk bersetubuh. Na-

man pengacara Stock, yang kecil berambut hitam di sana, mengajukan gugatan dan- mendapatkan keputusan yang menjamin adanya sekali hubungan badan terakhir. Kurasa Stock nyaris berharap mendapatkan kesempatan berikutnya."

Sam bersandar kembali di kursinya dan senyumnya perlahan-lahan lenyap. "Aku pribadi tidak begitu memikirkan kunjungan bersetubuh. Itu dimaksudkan untuk hubungan suami-istri saja, kau tahu, begitulah arti istilah tersebut. Tapi Kepala Penjara mungkin akan menekuk peraturan untukku. Bagaimana menurutmu?"

"Aku sama sekali belum memikirkannya."

"Aku cuma bercanda, kau tahu. Aku sudah tua. Aku akan cukup puas dengan gosokan punggung dan minuman keras."

"Bagaimana dengan santapan terakhirmu?" tanya Adam, masih sangat pelan.

"Itu tidak lucu."

"Kupikir kita sedang bercanda."

"Mungkin sesuatu yang menjijikkan seperti babi rebus dan kacang polong karet. Sampah serupa dengan yang mereka berikan padaku selama hampir sepuluh tahun. Mungkin sepotong roti panggang ekstra. Aku tak suka memberikan kesempatan pada koki menyiapkan santapan yang cocok untuk manusia di dunia bebas."

"Kedengarannya lezat."

"Oh, aku akan membaginya denganmu. Aku sering kali heran, mengapa mereka memberi ma-

kan si terhukum sebelum membunuhnya. Mereka juga mendatangkan dokter dan memberikan pemeriksaan fisik praeksekusi. Bisakah ini kauper-caya? Harus memastikan bahwa kau cukup bugar Untuk mati. Dan mereka punya psikiater dalam staf di sini, yang akan memeriksamu sebelum eksekusi. Dia harus memberikan laporan tertulis pada Kepala Penjara bahwa secara mental kau cukup sehat untuk digas. Dan dalam daftar gaji mereka punya seorang pendeta yang akan berdoa dan bermeditasi bersamamu, dan memastikan jiwamu berjalan ke arah yang benar. Semuanya dibayar para pembayar pajak di Negara Bagian Mississippi dan dikelola orang-orang penyayang di sini. Jangan lupakan kunjungan untuk bersetubuh. Kau bisa mati dengan nafsu terpuaskan. Mereka memikirkan segalanya. Mereka amat baik hati. Benar-benar memperhatikan seleramu, kesehatanmu, dan kesejahteraan spiritualmu. Sampai saat terakhir, mereka memasang kateter di alat vitalmu dan menjejali pantatmu dengan slang agar kau tidak mengeluarkan kotoran. Ini untuk kepentingan mereka, bukan kepentinganmu. Mereka tak mau terpaksa member-sihkanmu sesudahnya. Jadi, mereka memberimu makanan lezat, apa saja yang kauinginkan, kemudian mereka memasangimu dengan slang. Gila, bukan? Gila, gila, gila, gila." "Mari kita bicara tentang hal lain." m Sam menghabiskan rokok terakhir dan melemparkannya ke lantai di depan penjaga. "Tidak.

Mari kita berhenti bicara. Ini sudah cukup untll, j sehari." "Baiklah."

"Dan tak ada percakapan lain tentang Eddie oke? Sama sekali tidak adil kau datang ke sini dan menyerangku dengan persoalan seperti itu."

"Maaf. Tak ada pembicaraan lagi tentang Eddie."

"Mari kita coba pusatkan perhatian pada diriku selama tiga minggu mendatang, oke? Itu lebih dari cukup untuk membuat kita sibuk."

"Baiklah, Sam."

Sepanjang Highway 82 dari timur, Greenville berkembang sebagai daerah yang acak-acakan, tak sedap dipandang mata, dengan deretan pusat perbelanjaan yang penuh dengan persewaan video dan toko kecil menjual minuman keras, deretan franchise fast-food yang tak berujung-pangkal serta motel-motel dengan makan pagi dan televisi kabel gratis. Sungai menghalangi perkembangan seperti ku ke barat, dan karena Highway 82 merupakan koridor utama, daerah itu jelas menjadi wilayah favorit para developer.

Dalam 25 tahun terakhir, Greenville telah berkembang dari kota kecil di tepi sungai dengan penduduk 35.000 menjadi kota besar yang sibuk dengan 60.000 jiwa. Kota itu makmur dan maju. Tahun 1990, Greenville adalah kota terbesar nomor lima di negara bagian itu.

Jalan-jalan menuju distrik pusat diteduhi dan

456

dipagari rumah-rumah tua yang anggun. Pusat

kotanya kuno dan indah, dilestarikan dengan baik dan jelas tak berubah, pikir Adam, begitu kontra»

dengan kekacau-balauan tanpa akhir di sepanjang Highway 82. Ia parkir di Washington Street beberapa menit selewat pukul 17.00, ketika para pedagang di pusat kota dan pelanggan mereka sibuk berkemas mengakhiri hari itu. Ia melepaskan dasi dan meninggalkannya bersama jas dalam mobil, sebab suhu udara masih berkisar pada sembilan puluhan derajat dan tak menunjukkan tanda-tanda akan menurun.

Ia berjalan tiga blok dan menemukan taman dengan patung perunggu dua bocah kecil seukuran aslinya di tengahnya. Keduanya berukuran sama, dengan senyum dan mata yang sama. Salah satu sedang berlari, sedangkan lainnya bermain lompat tali, dan si pematung mewujudkannya dengan sempurna. Josh dan John Kramer, lima tahun untuk selamanya, membeku dalam waktu dengan tembaga dan timah. Sebuah pelat kuningan di bawahnya menyatakan*.

JOSH DAN JOHN KRAMER MENINGGAL 21 APRIL 1967 (2 MARET 1962-21 APRIL 1967)

Taman itu persegi sempurna, separo dari blok kota itu yang dulu pernah ditempati kantor hukum Marvin dan bangunan tua di sampingnya. Lahan

457

itu telah bertahun-tahun menjadi milik keluarga Kramer, dan ayah Marvin memberikannya kepada kota itu untuk dipakai sebagai tempat peringatan. Sam benar-benar telah meratakan kantor hukum tersebut dengan bomnya, dan pemerintah kota sudah memangkas gedung di sampingnya. Sejumlah uang dibelanjakan untuk mendirikan Kramer Park, dan banyak pemikiran dicurahkan untuk itu. Taman itu sepenuhnya dipagari dengan besi tempa ornamental dan sebuah gerbang masuk dari trotoar pada setiap sisinya. Deretan pohon ek dan mapk yang sempurna mengikuti pagar itu. Jajaran semak yang terpangkas rapi bertemu tepat di sudut-sudutnya, laki rumpun bunga begonia dan geranium berbentuk melingkar. Sebuah amfiteater kecil berdiri di salah satu sudut di bawah pepohonan, dan di seberangnya sekelompok anak kulit hitam berayun-ayun di udara dengan ayunan kayu.

Taman ku kecil dan penuh warna, kebun kecil yang menyenangkan di tengah jalan-jalan dan gedung-gedung. Sepasang remaja bertengkar mulut di sebuah bangku ketika Adam berjalan lewat. Segerombolan bocah delapan tahun mengendarai se-. peda mengitari air mancur. Seorang polisi tua berjalan santai dan memberi salam kepada Adam sambil memegang ujung topinya.

Adam duduk di sebuah bangku dan menatap Josh dan John, tak lebih sembilan meter dari sana. "Jangan pernah melupakan korbannya," Lee pernah memperingatkan. "Mereka punya hak untuk meng-

458

inginkan pembalasan. Mereka layak mendapatkannya."

Ia ingat semua detail mengerikan dari sidang-sidang itu—para pakar FBI yang bersaksi tentang bom dan kecepatannya dalam meruntuhkan gedung tersebut, dokter yang dengan cermat menguraikan tubuh-tubuh kecil ku dan apa yang membunuh mereka, regu pemadam kebakaran yang berusaha menolong, tapi sangat terlambat dan cuma bisa mundur kembali. Ada foto-foto gedung dan anak-anak itu, serta hakim pengadilan harus susah payah» menahan diri dan hanya mengizinkan beberapa foto ini sampai pada juri. McAllister, seperti biasa, ingin memperlihatkan foto berwarna besar tubuh yang koyak porak-poranda, tapi ditolak.

Adam sekarang duduk di tanah yang dulu pernah menjadi kantor Marvin Kramer. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan tanah itu berguncang. Ia melihat puing-puing membara dan awan debu yang tergantung di atas tempat kejadian dalam potongan videonya. Ia mendengar, suara cemas penyiar berita, sirene melengking di latar belakang.

Bocah-bocah perunggu itu tidak jauh lebih tua darinya ketika kakeknya membunuh mereka. Mereka umur lima dan ia hampir umur tiga tahun, dan entah mengapa ia sebaya dengan mereka. Hari ini ia 26 tahun dan mereka seharusnya 28.

Perasaan bersalah menghunjam keras di bawah perutnya. Ia menggigil dan berkeringat. Matahari bersembunyi di belakang dua pohon ek besar di

459

sebelah barat. Ketika cahavanva berkedip-kedip menerobos ranting-ranting, wajah anak-anak itu berseri memantulkan cahaya.

Bagaimana Sam bisa melakukan ini? Mengapa Sam Cayhall kakeknya dan buRan kakek orang lain' Mengapa ia memutuskan berperan serta dalam perang suci Klan melawan orang Yahudi'' Apa yang membuatnya benihah dan pembakar salib yang tak berbahaya meniadi ttrom sepenuhnya?

Adam duduk di bangku, menatap patung itu. dan membenci kakeknya b merasa bersalah karena berada di Mivsi.usippi. mencoba membantu si bangsat tua.

b menemukan Hotel Holiday Inn dan membayar satu kamar la menelepon Lee dan melaporkan keadaannya, lalu menyaksikan henta malam di saluran Jackson Jelas han itu cuma han musim panas yang lesu di Mississippi, dengan sedikit kejadian Sam Cayhall dan usaha terakhirnya untuk bertahan hidup menjadi topik hangat. Setiap stasiun pemancar menayangkan komentar-komentar suram dari Gubernur dan Jaksa Penuntut tentang petisi terbaru untuk meminta keringanan yang diajukan pembela pagi ini. Masing-masing sudah muak dan bosan dengan berbagai pembelaan banding yang tak ada ujungnya, dan masing-masing akan bertempur dengan gagah berani untuk menuntaskan masalah ini. sampai keadilan terwujud Saru stasiun sudah memulai hitungan mundurnya sendiri—23 hari sampai eksekusi, penyiar

460

mengoceh, seolah olah menghafalkan hari-hari yang temui untuk berbelanja sampai tiba Han Natal Angka 23 juga ditempelkan di bawah (oto Sam Cayhall yang sudah begitu banyak dipakai.

Adam makan malam di icbtiah kafe kecil di pusat kota. b duduk seorang din di mejanya, mengunyah daging sapi bakar dan kacang polong, mendengarkan percakapan santai di sekitarnya. Tak seorang pun menyebut-nyebut Sam

Di waktu senja, ia berjalan menyusuri trotoar di depan toko-toko. dan membayangkan Sam mondar-mandir di jalan yang sama. di beton yang sama. menunggu bom meledak dan bertanya-tanya dalam hati, apa yang keliru, b berhenti di samping sebuah telepon umum. mungkin telepon sama yang hendak dipakai Sam untuk menelepon dan memperingatkan Kramer.

Taman itu sepi dan gelap. Dua lampu jalan berdiri di depan gerbang, menyediakan satu-satunya cahaya. Adam duduk di bawah patung, di bawah anak-anak itu. di bawah pelat kuningan dengan nama dan tanggal lahir serta kcmatian mereka. Di tempat inilah, pelat itu mengatakan mereka tewas.

Lama ia duduk di sana. tak menyadari kegelapan, memikirkan yang tak terpikirkan, menghamburkan waktu dengan pertimbangan tanpa hasil tentang apa yang mungkin telah terjadi Bom itu telah menggariskan hidupnya, ia tahu itu. Bom itu telah membawanya pergi dari Mississippi dan mc

nyimpannya di dunia lain dengan nama baru; telah mengubah orangtuanya menjadi pengungsi, melari-kan diri dari masa lalu dan bersembunyi dari masa kini. Kemungkinan besar bom itu pulalah yang telah membunuh ayahnya, meski tak seorang pun dapat memperkirakan apa yang mungkin terjadi pada Eddie Cayhall. Bom tersebut memainkan peran utama dalam keputusan Adam untuk menjadi pengacara, suatu panggilan yang tak pernah ia rasakan sampai ia tahu tentang Sam. Ia dulu bermimpi menerbangkan pesawat.

Dan sekarang bom itu menuntunnya kembali ke Mississippi, dalam usaha melakukan pertolongan dengan dibebani kepedihan dan sedikit harapan. Sangat besar kemungkinan bom itu akan menyeret korban terakhir dalam 23 hari lagi, dan Adam . bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan terjadi pada dirinya sesudah itu.

Apa lagi yang masih tersimpan di balik bom itu untuk dirinya?

DUA PULUH TIGA

Kebanyakan pleidoi dalam kasus hukuman mati terseret-seret selama bertahun-tahun dengan kecepatan seperti siput. Siput yang sangat tua. Tak seorang pun bergegas. Masalahnya rumit. Brief, mosi, petisi, dan lain-lain, semuanya tebal dan berat. Berkas perkara pengadilan penuh sesak oleh urusan yang lebih mendesak.

Namun sekali-sekali keputusan bisa turun dengan kecepatan mencengangkan. Keadilan bisa jadi luar biasa efisien. Terutama pada hari-hari yang makin menyusut, ketika tanggal eksekusi telah ditetapkan dan pengadilan sudah muak dengan mosi lain, dalih pembelaan lain. Adam menerima dosis pertama keadilan kilat itu ketika sedang berkelana menyusuri jalanan Greenville Senin sore.

Mahkamah Agung Mississippi menengok sekali pada petisinya yang memohon peringanan hukuman pascavonis, dan menolaknya sekitar pukul 17.00 hari Senin. Adam baru saja tiba di Greenville dan tidak tahu-menahu tentang hal itu. Pe-

463

nolakan itu jelas bukan kejutan, namun kecepatannya benar-benar suatu kejutan. Pengadilan menyimpan petisi itu tak lebih dari delapan jam. Dengan segala keadilan, pengadilan telah berurusan dengan Sam Cayhall putus-sambung selama sepuluh tahun lebih.

Pada hari-hari terakhir dalam kasus hukuman mati, pengadilan saling mengawasi dengan cermat. Copy pengajuan pleidoi dan keputusan dikirim dengan fax, sehingga pengadilan yang lebih tinggi tahu apa yang bakal datang. Penolakan Mahkamah Agung Mississippi secara rutin dikirim dengan fax kepada pengadilan distrik federal di Jackson, forum berikutnya bagi Adam. Pleidoi itu dikirimkan kepada Hakim F. Flynn Slattery, hakim federal muda yang baru saja menjabat sebagai hakim. Ia belum terlibat dalam pleidoi perkara Cayhall.

Kantor Hakim Slattery mencoba mencari Adam Hall antara pukul 17.00 dan 18.00 hari Senin, tapi ia sedang duduk-duduk di Kramer Park. Slattery menelepon Jaksa Agung, Steve Roxburgh, dan pada pukul 20.30 sebuah rapat pendek berlangsung di kantor Hakim. Sang Hakim kebetulan pecandu kerja, dan ini kasus hukuman mati pertama baginya. Ia dan paniteranya mempelajari petisi itu sampai tengah malam.

Seandainya menyaksikan berita malam hari Senin, Adam tentu tahu petisinya telah ditolak Mahkamah Agung. Tapi ia sudah tertidur lelap.

Selasa pagi pukul 06.00, dengan santai ia meng-

ambil koran Jackson dan mengetahui Mahkamah Agung telah menolak petisinya, dan urusan itu sekarang sudah sampai ke pengadilan federal, diserahkan pada tanggung jawab Hakim Slattery, Jaksa Agung maupun Gubernur menyatakan akan memperoleh kemenangan lagi. Aneh, pikirnya, sebab ia belum lagi mengajukan apa pun secara resmi ke pengadilan federal. Ia melompat ke dalam mobil dan memacunya ke Jackson, dua jam dari sana. Pukul 09.00 ia memasuki gedung pengadilan federal di Capitol Street di tengah kota, dan sejenak menemui Breck Jefferson, seorang laki-laki muda tanpa senyum, baru saja lepas dari sekolah hukum dan menduduki posisi penting sebagai panitera Slattery. Adam diperintahkan kembali pukul 11.00 untuk rapat dengan sang Hakim.

Meskipun ia tiba di kantor Slattery pukul 11.00 tepat, jelas ada rapat yang sudah berlangsung beberapa lama. Di tengah kantor Slattery yang luas-ada meja rapat dari kayu mahoni yang panjang dan lebar, dengan delapan kursi kulit di setiap sisi. Singgasana Slattery terletak di salah satu ujung, dekat meja kerjanya, dan di meja di hadapannya ada tumpukan dokumen, buku-buku, dan kertas-kertas lain. Di sebelah kanannya ada kerumunan laki-laki muda kulit putih dalam jas biru tua, semuanya berkerumun di sepanjang meja, bersama sederet ksatria lain yang- penuh semangat duduk dekat di belakangnya. Sisi ini milik negara, de-

ngan Yang Mulia, sang Gubernur, Mr. David McAllister, duduk paling dekat dengan Slattery. Yang Mulia, Jaksa Agung, Steve Roxburgh, tersisih ke tengah meja, jelas kalah dalam perebutan kedudukan. Setiap abdi masyarakat terkemuka itu membawa r^mikir dan ahli hukum paling terpercaya ke meja itu, dan satu skuadron perancang strategi ini jelas telah berapat dengan sang Hakim dan menyusun rencana jauh sebelum Adam riba.

Breck, sang panitera, membuka pintu dan menyambut Adam dengan cukup ramah, kemudian memintanya masuk. Ruangan itu langsung sepi ketika Adam perlahan-lahan mendekati meja Slattery dengan enggan bangkit dari kursi dan memperkenalkan diri pada Adam. Jabatan tangannya dingin dan ringan. "Silakan duduk," katanya tak ramah, mengibaskan tangan kirinya ke arah delapan kursi kulit di sisi meja untuk pembela. Adam sangsi, lalu memilih yang terletak tepat di seberang wajah yang dikenalinya sebagai Roxburgh. , Ia meletakkan tas kerjanya di meja, dan duduk. Di sebelah kanannya, ke arah Slattery, ada empat kursi kosong dan di sebelah kirinya ada tiga kursi, la merasa dirinya bagaikan pelanggar wilayah orang lain yang kesepian.

"Saya kira Anda sudah mengenal Gubernur dan Jaksa Agung," kata Slattery, seolah-olah setiap orang sudah pemah bertemu secara pribadi dengan dua orang ini.

"Tak satu pun," kata Adam, menggelengkan kepala sedikit.

"Saya David McAllister, Mr. Hall, senang berjumpa dengan Anda," kata Gubernur cepat-cepat, seperti layaknya politisi ramah bertangan terbuka, dengan kilatan luar biasa cepat dari gigi tanpa cacat.

"Senang berjumpa dengan Anda," kata Adam, hampir tidak menggerakkan bibir. "Dan saya Steve Roxburgh," kata Jaksa Agung. Adam cuma mengangguk kepadanya. Ia sudah pernah melihat wajahnya di surat kabar.

Roxburgh mengambil inisiatif. Ia mulai bicara dan menunjuk orang-orang itu. "Ini para pengacara dari Divisi Banding Pidana Kevin Laird, Bart Moody, Morris Henry, Hugh Simms, dan Joseph Ely. Mereka menangani semua kasus hukuman mati." Mereka semua mengangguk patuh sambil mempertahankan kernyit curiga. Adam menghitung ada sebelas orang di sisi lain meja itu.

McAllister memilih tidak memperkenalkan gerombolan pembantunya, yang semua sedang menderita sakit kepala atau hemorrhoid. Wajah mereka bersungut-sungut karena kesakitan, atau mungkin karena seriusnya pertimbangan urusan hukum di depan mata.

"Semoga kami tidak mulai terlalu awal, Mr. Hall," Slattery berkata sambil memasang kacamata baca di hidungnya. Ia berumur awal empat puluhan, salah satu orang pilihan Reagan yang masih

muda. "Kapan Anda berniat mengajukan petisi Anda secara resmi di pengadilan federal ini?"

"Hari ini," kata Adam gelisah, masih tercengang dengan kecepatan semua ini. Tapi ini perkembangan positif, demikian ia memutuskan ketika mengemudi ke Jackson. Apabila Sam mendapatkan keringanan, itu akan diperolehnya dari pengadilan federal, bukan dari pengadilan negara bagian.

"Kapan pihak negara bagian bisa memberikan jawaban?" sang Hakim bertanya pada Roxburgh.

"Besok pagi, dengan anggapan petisi di sini mengemukakan persoalan yang sama seperti yang diajukan ke Mahkamah Agung."

"Persoalannya sama," kata Adam pada Roxburgh, lalu ia menoleh pada Slattery. "Saya disuruh ke sini pukul sebelas. Pukul berapa rapat mulai?"

"Rapat dimulai bila saya memutuskan mulai, Mr. Hall," kata Slattery dingin. "Anda ada masalah dengan itu?"

"Ya. Jelas rapat ini sudah dimulai sejak tadi, tanpa saya."

"Apa salahnya? Ini kantor saya, dan saya akan memulai rapat kapan saja saya inginkan."

"Yeah, tapi itu petisi saya, dan saya diundang ke sini untuk membahasnya. Rasanya saya harus berada di sini selama seluruh rapat."

"Anda tidak mempercayai saya, Mr. Hall?" Slattery beringsut ke depan bertelekan siku, sepenuhnya menikmati ini.

"Saya tidak mempercayai siapa pun," kata Adam, menatap sang Hakim.

"Kami mencoba mempermudah pekerjaan Anda, Mr. Hall. Klien Anda tidak punya banyak waktu, dan saya cuma mencoba mempercepat segalanya Saya pikir Anda akan senang kami bisa mengatur rapat ini dengan kecepatan seperti itu."

"Terima kasih," kata Adam, dan memandang buku tulisnya. Suasana hening sejenak ketika ketegangan sedikit mengendur.

Slattery memegang sehelai kertas. "Ajukanlah petisi itu hari ini. Negara bagian akan menyatakan tanggapannya besok. Saya akan menimbangnya selama akhir pekan dan mengeluarkan keputusan pada hari Senin. Apabila saya putuskan mengadakan sidang dengar pendapat, saya perlu tahu dari dua belah pihak, berapa lama waktu yang diperlukan untuk persiapan. Bagaimana dengan Anda, Mr. Hall? Berapa lama untuk bersiap menghadapi sidang dengar pendapat?"

Sam punya waktu 22 hari untuk hidup. Sidang dengar pendapat apa pun harus dilakukan secepatnya, perkara ringkas dengan saksi-saksi cepat dan, ia berharap, keputusan kilat pengadilan. Menambah tekanan pada saat ini adalah fakta bahwa Adam tak tahu berapa lama yang diperlukan untuk bersiap menghadapi sidang dengar pendapat, sebab ia belum pernah mencoba urusan macam itu. Ia pernah berperan serta dalam beberapa pertempuran kecil di Chicago, tapi selalu bersama Emmitt

WycotY di dekatnya. Ia cuma peJonco, sialan! Ia bahkan tak tahu dengan tepat lokasi mang sidang.

Dan sesuatu mengatakan padanya bahwa sebelas burung pemangsa yang sedang mengamatinya saat ini tahu benar bahwa ia tak tahu apa yang ta lakukan. "Saya bisa siap dalam seminggu," katanya dengan wajah poker yang mantap dan keyakinan sebanyak yang bisa ia kerahkan.

"Baik," kata Slattery, seakan-akan mengatakan ini boleh juga, jawaban bagus, Adam, bocah baik. Seminggu cukup memadai. Kemudian Roxburgh membisikkan sesuatu kepada salah satu prajuritnya dan seluruh kelompok tersebut merasa itu menggelikan. Adam tak menghiraukan mereka.

Slattery menuliskan sesuatu, lalu mengamatinya Ia memberikannya kepada Breck, si panitera, yang memperhatikannya dengan cermat dan beranjak cepat untuk melakukan sesuatu yang lain dengannya. Yang Mulia memandang sepanjang dinding sebelah kanannya yang penuh dengan pasukan hukum, lalu menjatuhkan tatapan pada Adam muda. "Sekarang, Mr. Hall, ada hai lain yang ingin saya bahas. Seperti Anda ketahui, eksekusi ini dijadwalkan untuk dilaksanakan 22 hari lagi, dan saya ingin tahu apakah pengadilan ini akan menerima dalih pembelaan Jain atas nama Mr. Cayhail. Saya tahu ini pertanyaan yang luar biasa, tapi kita di sini bekerja dalam situasi yang luar biasa. Tertlf terang, ini keterlibatan pertama saya dalam kasus hukuman mati yang sudah sejauh ini, dan saya

pikir paling baik kalau kita semua bekerja sama di

sini."

Dengan kata lain. Yang Mulia, Anda ingin memastikan takkan ada penundaan. Adam berpikir sejenak. Permintaan itu luar biasa dan agak tidak adil. Tapi Sam punya hak konstitusional untuk mengajukan apa saja kapan saja, dan Adam tak dapat diikat dengan janji-janji yang dibuat di sini. Ia memutuskan bersikap sopan. "Saya sungguh tak bisa mengatakannya, Yang Mulia. Tidak sekarang. Mungkin minggu depan."

"Tentu saja Anda akan mengajukan banding gangplank seperti biasanya," kata Roxburgh. Bangsat-bangsat yang menyeringai di sekelilingnya semua memandang Adam dengan tampang tercengang.

"Terus terang, Mr. Roxburgh, saya tidak diwajibkan merundingkan rencana saya dengan Anda. Atau dengan pengadilan sekalipun,"

"Tentu saja tidak," McAllister menyela karena suatu alasan, mungkin cuma karena tak mampu . berdiam diri lebih dari lima menit.

Adam memperhatikan pengacara yang duduk di sebelah kanan Roxburgh, jenis teratur dengan mata dingin yang jarang meninggalkan Adam. Ia masih "¦' muda tapi beruban, bercukur bersih dan, sangat rapi. McAllister sangat menyukainya, dan beberapa kali memiringkan tubuh ke kanan, seolah-olah menerima nasihat. Yang lain dari kantor Jaksa Agung tampaknya juga ikut menyetujui pemikiran dan

gerakannya. Ada satu referensi di antara ratusan artikel yang dikumpulkan dan disusun Adam tentang seorang ahli hukum tenar di kantor Jaksa Agung yang dikenai sebagai Dr. Death, burung yang pandai dengan kegemaran mendesakkan ka- 1 sus-kasus hukuman mati sampai pada kesimpulannya. Nama pertama atau entah nama terakhirnya adalah Morris, dan Adam samar-samar teringat pada seorang Morris entah siapa, yang disebut beberapa saat tadi ketika Roxburgh memperkenalkan stafnya.

Adam menduga ia Dr. Death yang keji. Namanya Morris Henry.

"Nah, kalau begitu, bergegas dan ajukanlah," kata Slattery jengkel. "Saya tak ingin bekerja 24 jam sehari saat urusan ini sampai pada titik genting." "Tidak, Sir," kata Adam, pura-pura bersimpati. Slattery menatapnya sejenak dengan pandangan tajam, lalu kembali pada tulis-menulis di depannya. "Baiklah. Saudara-saudara, saya sarankan Anda sekalian berada di dekat telepon Minggu malam dan Senin pagi. Saya akan menelepon segera setelah mengambil keputusan. Pertemuan ini dibubarkan."

Persekongkolan bubar disertai kebisingan dokumen-dokumen dan berkas-berkas yang diambil dari meja serta dengung percakapan yang tiba-tiba. Adam berada paling dekat ke pintu. Ia mengangguk pada Slattery, dengan lemah mengucapkan -Selamat siang, Yang Mulia," dan meninggalkan

472

kantor itu. Ia melontarkan senyum sopan kepada sekretaris dan beranjak ke lorong ketika seseorang memanggil namanya. Ternyata Gubernur, dengan dua bawahan membuntuti. • "Bisakah kita bicara sebentar?" McAllister bertanya sambil mengangsurkan sebelah tangan ke pinggang Adam. Mereka berjabatan sebentar. "Tentang apa?" "Cuma lima menit, oke?" Adam melihat ajudan Gubernur menunggu dalam jarak beberapa meter. "Sendirian. Pribadi. Dan off the record" katanya

"Tentu," kata McAllister, lalu menunjuk ke pintu ganda. Mereka melangkah ke dalam mang sidang kecil kosong dengan lampu-lampu padam. Tangan Gubernur tidak memegang apa-apa. Ada orang lain yang membawakan koper dan tas kerjanya Ia menyisipkan tangannya dalam-dalam ke saku dan bersandar pada jerjak. Ia ramping dan berpakaian bagus, jas indah, dasi sutra bergaya, kemeja katun putih wajib. Ia belum lagi empat puluh tahun dan beranjak tua dengan baik. Cuma sedikit uban menghiasi pelipisnya. "Bagaimana keadaan Sam?" ia bertanya, pura-pura menunjukkan keprihatinan yang dalam.

Adam mendengus, memalingkan wajah, lalu meletakkan tasnya di lantai. "Oh, keadaannya baik sekali. Akan saya katakan padanya Anda menanyakannya. Dia akan senang." tv "Saya dengar kesehatannya buruk."

473

"Kesehatan? Anda sedang mencoba membunuhnya. Bagaimana Anda bisa mengkhawatirkan kesehatannya?"

"Cuma mendengar desas-desus."

"Dia membenci Anda, oke? Kesehatannya buruk, tapi dia bisa bertahan sampai tiga minggu lagi."

"Kebencian bukan sesuatu yang baru bagi Sam, Anda tahu."

"Sebenarnya apa yang ingin Anda bicarakan?"

"Cuma ingin menyampaikan salam. Saya yakin tak lama lagi kita akan bertemu kembali."

"Dengar, Gubernur, saya sudah menandatangani kontrak dengan klien saya yang secara tegas melarang saya bicara dengan Anda. Saya ulangi, dia benci Anda. Andalah penyebab dia ada di death raw. Dia menyalahkan Anda atas segalanya, dan kalau tahu kita sekarang bicara, dia akan memecat saya."

"Kakek Anda sendiri akan memecat Anda?"

"Ya Saya benar-benar mempercayainya. Jadi, kalau besok saya membaca di koran bahwa Anda menemui saya hari ini dan kita bicara tentang Sam Cayhall, saya akan terpaksa kembali ke Chicago, dan itu mungkin akan mengacaukan eksekusi Anda, sebab Sam takkan punya pengacara. Tak bisa membunuh orang bila dia tak punya pengacara." "Kata siapa?"

"Pokoknya jangan diributkan, oke?"

"Anda boleh pegang ucapan saya. Tapi kalau

474

kita tak bisa bicara, bagaimana kita membahas masalah pengampunan?" "Entahlah. Saya belum lagi sampai ke titik ita* Wajah McAllister selalu menyenangkan. Senyum ramahnya selalu tersungging atau tampak samar-samar. "Anda sudah memikirkan pengampunan, bukan?"

"Ya. Dengan tiga minggu tersisa, saya sudah memikirkan pengampunan. Setiap terpidana mati memimpikan pengampunan, Gubernur, dan itulah sebabnya Anda tak bisa memberikannya. Anda mengampuni satu narapidana, dan Anda akan dikerumuni lima puluh lainnya, meminta keputusan yang sama. Lima puluh keluarga menulis surat dan menelepon siang-malam. Lima puluh pengacara mengusik dan berusaha masuk ke kantor Anda. Anda dan saya tahu, itu tak bisa dilakukan." "Saya tidak yakin dia harus mati." Ia mengucapkan ini sambil berpaling, seolah-olah terjadi perubahan hati, seolah-olah waktu bertahun-tahun telah membuatnya matang dan melunakkan kegigihannya untuk menghukum Sam. Adam hendak mengucapkan sesuatu, lalu menyadari besarnya pengaruh kata-kata terakhir ini. Semenit ia menatap lantai, memusatkan perhatian pada pantofel berjumbai milik sang Gubernur. Gubernur tenggelam dalam pikiran.

'Saya pun tidak yakin dia harus mati," kata

475

"Berapa banyak yang sudah dia ceritakan pada Anda?" Tentang apa?"

Tentang pengeboman Kramer."

"Dia mengatakan sudah menceritakan segalanya."

"Tapi Anda ragu?"

"Ya."

"Begitu juga saya. Saya selalu punya kesangsian." "Kenapa?"

"Ada banyak alasan. Jeremiah Dogan adalah pembohong terkenal, dan dia ketakutan setengah mari harus masuk penjara. IRS menangkapnya basah, Anda tahu, dan dia yakin bila masuk penjara, dia akan diperkosa, disiksa, dan dibunuh geng orang-orang kulit hitam. Dia adalah Imperial Wizard, Anda tahu. Dogan juga tak tahu-menahu tentang banyak bal. Dia licin dan sulit ditangkap bila melakukan terorisme, .tapi dia tidak memahami sistem peradilan pidana. Saya selalu curiga ada seseorang, mungkin FBI, mengatakan pada Dogan bahwa Sam harus dipidana, atau mereka akan mengirimnya ke penjara. Tak ada vonis bersalah, tak ada kesepakatan. Dia saksi yang bersemangat di mimbar. Dia mati-matian menginginkan juri menjatuhkan vonis bersalah pada Sam." "Jadi, dia bohong?" "Saya tidak tahu. Mungkin." "Tentang apa?"

"Pernahkah Anda menanyai Sam apakah dia punya asisten?"

Adam berhenti sedetik dan menganalisis pertanyaan itu. "Saya benar-benar tak bisa membicarakan apa yang telah saya bicarakan dengan Sam. Itu rahasia."

"Tentu saja. Banyak orang di negara bagian ini yang diam-diam tak ingin menyaksikan Sam dieksekusi." McAllister sekarang mengawasi Adam dengan cermat. "Apakah Anda salah satu di antara mereka?" " "Entahlah. Tapi bagaimana kalau Sam tidak merencanakan membunuh Marvin Kramer dan anak-anaknya? Sam pasti ada di sana, terlibat langsung di tengahnya. Tapi bagaimana kalau orang lain yang punya niat membunuh?"

"Kalau begitu, Sam tidak begitu berdosa seperti yang kita pikir."

"Benar. Dia pasti bukan tanpa kesalahan, tapi tidak cukup bersalah untuk dieksekusi. Ini mengusik saya, Mr. Hall. Boleh saya panggil Anda Adam?" "Tentu."

"Saya kira Sam tidak menyebut-nyebut adanya

asisten?"

"Saya sungguh tak bisa membicarakan itu. Tidak sekarang."

Gubernur menarik satu tangannya dari saku dan memberikan sehelai kartu nama kepada Adam. "Di belakangnya ada dua nomor telepon. Satu nomor kantor pribadi saya. Satunya lagi nomor rumah. Semua telepon dijaga kerahasiaannya, saya sum-

pah. Saya kadang-kadang bermain untuk kamera, Adam, itu bagian dari pekerjaan, tapi saya juga bisa dipercaya."

Adam mengambil kartu dan melihat angka tulisan tangan tersebut.

"Saya tak dapat menghadapi diri sendiri kalau saya gagal memberikan pengampunan kepada orang yang tidak sepantasnya mati," McAllister berkata seraya berjalan ke pintu. "Teleponlah saya, tapi jangan tunggu terlalu lama. Urusan ini sudah memanas. Saya menerima dua puluh telepon tiap hari." .^aj

Ia berkedip pada Adam, sekali lagi memperlihatkan giginya yang mengilat, dan meninggalkan mangan.

Adam duduk di kursi besi pada dinding, dan melihat bagian depan kartu itu. Hurufnya dicetak timbul dengan tinta emas, disertai simbol resmi. Dua puluh telepon sehari. Apa artinya? Apakah si penelepon menginginkan Sam mati atau mereka ingin ia diampuni?

Banyak orang di negara bagian ini tak ingin melihat Sam dieksekusi, demikian katanya, seolah-olah ia sudah menimbang antara suara yang memilihnya dan yang tidak.

DUA PULUH EMPAT

Senyum sekretaris di serambi itu tidak sespontan biasanya, dan ketika Adam berjalan ke kantornya, ia mendeteksi suasana yang lebih muram di antara staf dan pengacara itu. Suara percakapan jadi satu oktaf lebih rendah. Segalanya jadi sedikit lebih mendesak.

Chicago datang. Itu terjadi sekali-sekali, tidak selalu dengan maksud melakukan inspeksi, tapi lebih sering untuk memberikan layanan kepada klien lokal atau mengadakan rapat birokratis dalam firma itu. Tak seorang pun pernah dipecat ketika Chicago datang. Tak seorang pun pernah dicerca atau diumpat. Namun kejadian itu selalu menimbulkan keresahan, sampai Chicago berlalu dan kembali ke Utara.

Adam membuka pintu kantornya dan nyaris membentur wajah E. Gamer Goodman yang gelisah, lengkap dengan dasi sutra hijau, kemeja putih yang tersetrika licin, dan rambut beruban yang acak-acakan. Ia sedang mondar-mandir se-

479

putar ruangan dan kebetulan berada dekat pintu ketika pintu tersebut terbuka. Adam menatapnya, lalu meraih tangannya dan menjabatnya cepat.

"Masuk, masuk," kata Goodman, menutup pintu sambil mengundang Adam masuk ke dalam kantornya sendiri, la belum tersenyum.

"Apa yang kaukerjakan di sini?" tanya Adam, melemparkan tasnya ke lantai dan berjalan ke meja kerjanya. Mereka berhadapan.

Goodman mengelus jenggot kelabunya yang rapi, lalu merapikan dasinya. "Aku khawatir ada sedikit urusan darurat. Bisa jadi kabar buruk."

"Apa?"

"Duduk, duduk, hi mungkin butuh sedikit waktu."

"Tidak. Aku baik-baik saja. Apa ini?" Pasti kabar mengerikan bila ia perlu duduk segala.

Goodman memain-mainkan dasinya, menggosok jenggot, lalu berkata, "Nah. ini terjadi pukul sembilan pagi ini. Kau tahu. Komite Personalia terdiri atas lima belas partner, hampir semuanya partner-partner muda. Komite ini sudah tentu punya beberapa subkomite, satu untuk perekrutan—pencarian tenaga baru, satu untuk disiplin, satu untuk urusan perselisihan, dan seterusnya, dan seterusnya Dan. seperti mungkin sudah kauduga, ada satu untuk pemutusan hubungan kerja. Subkomite Pemutusan Hubungan Kerja rapat pagi ini, dan terka siapa yang memimpin segalanya."

"Daniel Rosen."

"Daniel Rosen. Rupanya dia telah sepuluh hari menggarap Subkomite Pemutusan Hubungan Kerja, berusaha mengumpulkan cukup suara untuk

pemecatanmul" Adam duduk di kursi di depan meja, Goodman

duduk di seberangnya.

"Ada tujuh anggota dalam subkomite itu, dan pagi ini mereka rapat atas permintaan Rosen. Lima anggota hadir, jadi mereka mencapai kuorum. Rosen, tentu saja, tidak memberitahu aku atau yang lainnya. Rapat pemutusan hubungan kerja sepenuhnya rahasia karena alasan-alasan yang jelas, jadi tak ada kewajiban memberitahu orang lain."

"Bahkan aku pun tidak?" Tidak, bahkan kau pun tidak. Kau satu-satunya topik dalam agenda, dan rapat itu berlangsung kurang dari satu jam. Rosen sudah bersiap sebelum masuk, tapi dia mengajukan kasusnya dengan kuat. Ingat, dia tukang berkelahi di ruang sidang selama tiga puluh tahun. Mereka mencatat semua rapat pemutusan hubungan kerja, kalau-kalau ada tuntutan di kemudian hari, Rosen membuat catatan lengkap. Dia, tentu saja. menyatakan kau menipu ketika melamar di Kravitz & Bane; menyatakan hal itu menimbulkan conflict of interest dalam firma, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan dia punya copy selusin artikel surat kabar tentang kau dan Sam dan hubungan kakek-cucu. Dia berdalih kau mempermalukan firma. Dia

sangat siap. Kupikir Senin kemarin kita teriah memandang enteng padanya." "Dan kemudian mereka ambil suara." "Empat lawan satu untuk memecatmu." "Bangsat.*"

"Aku tabu. Aku sudah pernah melihat Rosen dalam situasi rumit, dan orang itu bisa persuasif secara brutal. Dia biasanya mendapatkan yang diinginkannya. Dia tak bisa lagi pergi ke ruang sidang, maka dia menantang pertempuran di kantor. Dia akan pensiun enam bulan lagi." "Itu hiburan kecil untuk saat ini." "Masih ada harapan. Kabar akhirnya merembes ke kantorku sekitar pukul sebelas siang, dan untunglah Emmitt Wycoff ada di tempat. Kami pergi ke kantor Rosen dan bertengkar hebat, lalu kami menelepon. Pokok persoalannya adalah ini—Komite Personalia akan rapat pukul sebelas untuk membahas pemecatanmu. Kau perlu hadir di sana." "Pukul delapan besok pagi.'" Teah. Orang-orang ini sibuk. Banyak yang punya janji pukul 09.00 di pengadilan. Beberapa hams memberikan pernyataan di depan sidang sepanjang hari. Di antara lima belas orang, kita akan beruntung kalau bisa mendapatkan kuorum." "Berapa banyak untuk mencapai kuorum?" "Dua pertiga. Sepuluh orang. Dan bila kuorum tidak tercapai, kita mungkin akan menghadapi masalah."

"Masalah! Kausebut apa ini?"

482

"Itu bisa lebih buruk. Bila tidak tercapai kuorum besok pagi, kau berhak meminta pembahasan lagi

dalam tiga puluh hari." "Dalam tiga puluh hari Sam akan mati." "Mungkin tidak. Bagaimanapun juga, kurasa rapat itu akan berlangsung besok pagi. Aku dan Emmitt sudah mendapatkan komitmen dari sembilan anggota untuk hadir di sana."

"Bagaimana dengan empat orang yang memberikan suara untuk memecatku pagi ini?*

Goodman menyeringai dan memalingkan wajah. "Coba terka. Rosen memastikan pendukungnya bisa hadir besok pagi."

Adam sekonyong-konyong menepuk meja dengan dua belah tangan. "Aku keluar! Sialan!" "Kau tak bisa keluar. Kau baru saja dipecat" "Kalau begitu, aku takkan bertahan. Bajingan!" "Dengar, Adam..." ''Bajingan!"

Goodman mundur sejenak untuk memberi kesempatan kepada Adam agar tenang. Ia meluruskan dasi dan memeriksa jenggotnya. Ia mengetukkan jari pada meja, lalu berkata, "Dengar, Adam, kita akan baik-baik saja besok pagi, oke? Emmitt berpendapat demikian. Aku berpendapat demikian. Firma kita mendukungmu dalam urusan ini. Kami yakin pada apa yang kaulakukan, dan, teras terang, kita telah menikmati publisitasnya. Banyak kisah bagus di koran Chicago." "Firma ini tampaknya tidak mendukung.

"Dengar saja kataku. Kita bisa batalkan urusan ini besok Aku yang akan bicara. Wycoff sedang membujuk orang-orang sekarang Kita punya orang lain lagt yang juga sedang memuntir tangan."

"Rosen tidak tolol, Mr. Goodman. Dia ingin menang, itu saja. Dia tak peduli denganku, tak peduli dengan Sam. atau kau. atau siapa pun lainnya yang terlibat. Dia pokoknya ingin menang. Ini suatu pertandingan, dan aku berani bertaruh dia sekarang sedang menelepon untuk mencari dukungan suara "

"Kalau begitu, mari kita lawan dia, oke? Mari kita hadiri rapat besok dengan dada tegak. Mari kita buat Rosen jadi si jahat Tenis terang. Adam, orang itu tak punya banyak teman '

Adam berjalan ke jendela dan mengintip melalui tirai. Lalu lintas pejalan kaki sangat padat di Mali di bawah. Saat itu hampir pukul 17.00. Ia punya hampir lima ribu dolar dalam tabungan. Bila ia berhemat dan mengubah gaya hidup tertentu, uang itu mungkin akan berlahan sampai enam bulan. Gajinya 62.000 dolar, dan akan sulit mencari gantinya dalam waktu dekat. Namun ia bukan orang yang sering mengkhawatirkan uang. dan ia tak mau memulainya sekarang. Ia jauh lebih prihatin dengan tiga minggu berikutnya. Setelah sepuluh han berkarier sebagai pengacara yang menangani kasus hukuman mati, ia tahu dirinya butuh bantuan

"Bagaimana kemungkinan akhirnya?" ia bertanya setelah keheningan yang berat.

Goodman perlahan-lahan bangku dari kursinya dan berjalan ke jendela lain. "Cukup gila Kau takkan tidur banyak dalam empat hari terakhir Kau akan berlarian ke segala penjuru. Pengadilan tak dapat diterka. Sistem ini tak dapat diterka Kau terus mengajukan petisi dan dalih pembelaan dan tahu benar semua itu takkan berhasil Pers akan memburumu. Dan, yang paling penang, kau harus menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama klienmu. Itu pekerjaan gila dan semuanya gratis." "Jadi, aku akan butuh bantuan?" "Oh ya. Kau tak dapat melakukannya seorang diri. Ketika Maynard Tole dieksekusi, kami punya seorang pengacara dari Jackson dipasang di kantor Gubernur, satu di kantor panitera Mahkamah Agung di Jackson, satu di Washington, dan dua di death raw. Itulah sebabnya kau hams bertempur besok, Adam. Kau butuh biro hukum ini dan sumber dayanya. Kau tak dapat melakukannya seorang diri. Butuh suatu tim." "ini benar-benar pukulan telak." "Aku tahu. Setahun yang lalu kau masih kuliah, sekarang kau dipecat. Aku tahu ini menyakitkan. Tapi percayalah padaku, Adam, ini cuma kebetulan. Ini takkan bertahan. Sepuluh tahun dari sekarang, kau akan jadi partner di biro hukum ini, dan kau akan meneror para associate muda," "Jangan bertaruh itu akan terjadi."

"Mari kita ke Chicago. Aku sudah punya dua tiket untuk penerbangan pukul tujuh seperempat. Kita akan tiba di Chicago pukul setengah sembilan, dan kita cari restoran yang bagus." "Aku perlu mengambil pakaian." "Baiklah. Temui aku di airport pukul setengah tujuh."

Urusan itu diselesaikan dengan efektif sebelum rapat mulai. Sebelas anggota Komite Personalia hadir, jumlah yang memadai untuk mencapai kuo- -rum. Mereka berkumpul dalam perpustakaan tertutup di lantai enam puluh, mengelilingi meja panjang dengan bergalon-galon kopi di tengahnya. Mereka membawa berkas-berkas tebal, dictaphone portabel, dan agenda saku yang sudah penuh. Salah satu membawa sekretarisnya; sekretaris itu duduk di gang dan bekerja mati-matian. Mereka orang-orang sibuk, cuma punya waktu kurang dari satu jam sebelum memasuki hari yang sibuk dengan konferensi tanpa akhir, rapat, brifing, deposition, sidang, telepon, dan jamuan makan siang penting. Sepuluh laki-laki, satu wanita, semua pada akhir tiga puluhan atau awal empat puluhan, semua partner di K&B, semua tergesa-gesa untuk kembali ke meja kerja mereka yang penuh sesak.

Urusan mengenai Adam Hall merupakan gangguan menjengkelkan bagi mereka. Komite Personalia ini, sebenarnya merupakan gangguan menjengkelkan bagi mereka. Komite ini bukan salah

satu di antara panel yang menyenangkan, tapi mereka telah terpilih sebagai anggotanya dan tak seorang pun berani menolak. Semuanya demi biro

hukum ini. Bekerjasamalah!

Adam tiba di kantor pukul 07.30. Sudah sepuluh hari ia meninggalkannya, paling lama selama ini. Emmitt Wycoff telah menyerahkan pekerjaan Adam kepada associate muda lain. Tak pernah ada kekurangan pelonco di Kravitz Sc, Bane.

Pukul 08.00 ia bersembunyi di ruang konferensi sempit yang tak terpakai di dekat perpustakaan lantai enam puluh. Ia gelisah, tapi berusaha keras menyembunyikannya. Ia meneguk kopi dan membaca koran pagi. Parchman ada di dunia lain. Ia mempelajari daftar lima belas nama dalani Komite Personalia, dan tak satu pun dikenalnya Sebelas orang asing yang akan mempermainkan masa depannya selama satu jam mendatang, lalu cepat-cepat mengambil suara dan beranjak pada urusan lain yang lebih penting. Wycoff muncul dan mengucapkan halo beberapa menit sebelum pukul 08.00. Adam mengucapkan terima kasih kepadanya untuk segalanya, minta maaf karena telah menimbulkan begitu banyak masalah, dan mendengarkan ketika Emmitt menjanjikan hasil yang cepat dan memuaskan.

Garner Goodman membuka pintu pada pakai < 08 05 "Kelihatannya cukup bagus," katanya, nya-ris berbisik. "Saat ini ada sebelas orang hadir. Kita

487

mendapatkan komitmen sedikitnya dari lima orang. Tiga di antara pemihak Rosen ada di sini, tapi kelihatannya dia akan mendapatkan satu atau dua suara abstain."

"Apakah Rosen di sini?" tanya Adam, tahu jawabannya, tapi berharap mungkin bangsat tua itu' mati dalam tidurnya

"Ya, tentu saja. Dan kupikir dia khawatir. Emmitt masih menelepon ke sana kemari pukul sepuluh tadi malam. Kita sudah mendapatkan suara, dan Rosen tahu itu." Goodman beranjak ke pintu dan menghilang.

Pada pukul 08.15, ketua membuka rapat dan mengumumkan kuorum. Pemecatan Adam Hall adalah satu-satunya pokok bahasan dalam agenda, sebenarnya satur-satunya alasan rapat istimewa ini diadakan. Emmitt Wycoff yang pertama bicara, dan dalam sepuluh menit berhasil menceritakan dengan bagus betapa hebatnya Adam. Ia berdiri di salah satu ujung meja di depan sederet rak buku dan berbicara santai, seolah-olah mencoba membujuk suatu dewan juri. Sedikitnya separo dari sebelas orang itu tak mendengarkan sepatah kata pun. Mereka memeriksa dokumen dan berkutat dengan kalender.

Garner Goodman yang berikutnya berbicara. Dengan cepat ia menyampaikan ringkasan kasus Sam Cayhall dan memberikan penilaian jujur bahwa dari segala sudiut, Sam kemungkinan besar akan dieksekusi tiga minggu lagi. Kemudian ia

488

membual tentang Adam, mengatakan ia mungkin keliru tidak mengungkapkan hubungannya dengan Sam, tapi peduli amat. Itu kejadian dulu, sekarang adalah sekarang. Saat ini jauh lebih penting bila klienmu cuma punya waktu tiga minggu untuk hidup.

Tak satu pun pertanyaan diajukan kepada Wycoff maupun Goodman. Pertanyaan-pertanyaan itu jelas disimpan untuk Rosen.

Pengacara punya ingatan panjang. Kau bisa menggorok leher seseorang hari ini, dan ia akan menunggu dengan sabar di tengah semak-semak selama bertahun-tahun, sampai ia bisa membalas hal itu. Daniel Rosen punya banyak jasa bertebaran di lorong-lorong Kravitz & Bane, dan sebagai pelaksana dia sedang dalam proses mengumpulkannya. Ia telah menginjak orang, orang-orangnya sendiri, selama bertahun-tahun. Ia penganiaya pembohong, bajingan keji. Pada hari-hari kejayaannya, ia adalah jantung dan jiwa biro hukum itu, dan ia tahu itu. Tak seorang pun akan menantangnya. Ia mencerca associate-associate muda dan menyiksa sesama partner. Ia kasar terhadap komite-komite, tak mengindahkan kebijaksanaan firma, mencuri klien dari pengacara lain di Kravitz & Bane, dan sekarang dalam masa surut kariernya ia sedang menuai hasil perbuatannya.

Dua menit dalam presentasinya ia disela untuk pertama kalinya oleh seorang partner muda yang suka bermotor dengan Emmitt Wycoff. Rosen se-

489

dang mondar-mandir, seolah-olah bermain dalam ruang sidang yang penuh sesak di masa jayanya, ketika pertanyaan tersebut menghentikannya. Sebelum ia bisa memikirkan jawaban sarkastis, pertanyaan lain menerpanya. Saat ia bisa-memikirkan satu jawaban untuk salah satu dari dua pertanyaan pertama itu, pertanyaan ketiga muncul entah dari mana. Pertempuran itu mulai.

Tiga interogator bekerja bagaikan regu bisbol yang efisien, dan jelas mereka sudah berlatih sebelumnya. Secara bergiliran mereka menghujani Rosen dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kenal belas kasihan, dan dalam semenit ia pun mengumpat dan melontarkan caci maki. Mereka secara keseluruhan bersikap tenang. Masing-masing punya buku tulis dengan sesuatu apa yang tampak seperti daftar panjang berisi pertanyaan. "Di manakah conflict of interest-nya, Mr. Rosen?" "Sudah tentu seorang pengacara bisa mewakili seorang anggota keluarga, benar, Mr. Rosen?"

"Apakah dalam wawancara spesifik Mr. Hail ditanya apakah biro hukum ini mewakili salah saru anggota keluarganya?"

"Apakah Anda keberatan terhadap publisitas, Mr. Rosen?"

"Mengapa Anda menganggap pub/isitas sebagai sesuatu yang negatif?"

"Apakah Anda akan mencoba membantu seorang anggota keluarga yang sedang menunggu hukuman mati?"

"Bagaimana perasaan Anda tentang bukuman

mati, Mr. Rosen?"

"Apakah Anda diam-diam menginginkan Sam Cayhall dieksekusi karena dia membunuh orang Yahudi?"

"Menurut Anda, apakah Anda tidak menyergap Mr. Hall?"

Sungguh tak menyenangkan. Sebagian dari kemenangan terbesar di ruang sidang dalam sejarah Chicago belakangan ini milik Daniel Rosen, tapi di sini ia terpaksa menerima mulutnya ditendangi dalam suatu pertarungan tak bermakna di depan sebuah komite. Bukan di hadapan dewan juri. Bukan di hadapan hakim. Komite. *

Gagasan untuk mundur tak pernah masuk dalam pikirannya. Ia terus mendesak, makin keras dan makin menyengat. Bantahan dan jawabannya yang kecut jadi makin pribadi, dan ia mengucapkan sesuatu yang keji tentang Adam.

Tindakannya keliru. Yang lain bergabung dalam percekcokan itu, dan dengan cepat Rosen tercabik-cabik bagaikan mangsa yang terluka, cuma beberapa langkah di depan kawanan serigala. Ketika jelas takkan pernah mendapat suara mayoritas dalam komite itu, ia menurunkan suara dan menenangkan sikap.

Ia menutup pembicaraannya dengan kesimpulan tenang tentang pertimbangan etika dan usaha menghindari munculnya sesuatu yang tidak sah, dogma yang dipelajari para pengacara di sekolah

hukum dan saling dilontarkan ketika bertarung, tapi tak dihiraukan bila dirasa perlu.

Setelah selesai berbicara, Rosen menghambur keluar dari ruangan, dalam hati mencatat siapa saja yang telah berani melecehkannya. Ia akan menulis nama mereka dalam sebuah berkas begitu sampai ke meja kerja dan suatu hari... nah. suatu han kelak ia akan melakukan pembalasan.

Kertas-kertas, buku catatan, dan peralatan elektronik menghilang dari meja yang mendadak bersih. Yang ada hanya kopi dan cangkir-cangkir kosong Ketua melakukan pengambilan suara. Rosen mendapat- lima. Adam mendapat enam. Komite Personalia langsung bubar dan menghilang dengan tergesa-gesa.

"Enam lawan lima?" Adam mengulangi saat memandang wajah Goodman dan Wycoff yang lega tapi tidak tersenyum.

"Kemenangan total, seperti biasa," Wycoff melucu.

"Bisa lebih buruk." kata Goodman. "Kau bisa saja dipecat."

"Mengapa aku tidak terlalu gembira? Maksudku, kurang satu suara saja dan aku akan jadi sejarah."

Tidak begitu," Wycoff menjelaskan. "Penarikan suara itu sudah dihitung sebelum rapat. Rosen mungkin mendapat dua suara tegas, dan yang lain tetap memihaknya, sebab mereka tahu kau akan menang. Kau tidak tahu betapa hebatnya persuasi

yang berlangsung tadi malam. Ini akan menghabisi

Rosen. Dalam tiga bulan dia akan menyingkir."

"Mungkin lebih cepat," Goodman menambahkan. "Dia meriam yang tak terkendali. Semua sudah muak dengannya."

Termasuk aku," kata Adam.

Wycoff melirik jam tangan. Saat itu pukul 08.45, dan ia harus hadir di pengadilan pukul 09.00. "Dengar, Adam, aku harus bergegas," katanya sambil mengancingkan jas. "Kapan kau akan kembali ke Memphis?"

"Hari ini, kurasa."

"Bisakah kita makan siang bersama? Aku ingin

bicara denganmu." Tentu."

Ia membuka pintu dan berkata, "Bagus. Sekretarisku akan meneleponmu. Aku harus bergegas. Sampai jumpa." Dan ia menghilang.

Goodman mendadak melirik jam tangan juga. Jamnya berjalan lebih lamban daripada pengacara-pengacara asli di biro hukum tersebut, tapi ia pun punya janji pertemuan yang harus ditepati. "Aku hams menemui seseorang di kantorku. Aku akan ikut makan siang bersama kalian."

"Satu suara keparat," Adam mengulangi, menatap ke dinding.

"Sudahlah, Adam. Sebenarnya tidak setipis itu."

"Rasanya benar-benar tipis."

"Dengar, kita harus melewatkan beberapa jam bersama-sama sebelum kau berangkat. Aku ingin

493

Adam duduk di atas meja, kan kepala

dengar tentang Sam, oke? Ma makan siang." Ia membuka pir

Mari kita mu* P«ntu dan rner

"^nggelen

DUA PULUH LIMA

Baker cooley dan pengacara-pengacara lain d! kantor Memphis mungkin tahu sesuatu tentang pemecatan Adam yang mendadak dan pembatalannya yang seketika, namun hal itu tidak kentara. Mereka memperlakukannya dengan cara sama, yang berarti mereka sibuk dengan urusan sendiri dan menjauh dari kantornya. Mereka tidak kasar kepadanya, sebab—bagaimanapun juga, ia dari Chicago. Mereka tersenyum bila terpaksa, dan merelakan waktu beberapa saat untuk percakapan singkat di gang bila Adam sedang berselera Namun mereka pengacara corporate, dengan kemeja terkanji licin dan tangan lembut yang tidak terbiasa dengan kotoran dan debu dalam pembelaan kasus pidana. Mereka tidak pergi ke rumah tahanan atau penjara

atau berkotor-kotor mengunjungi klien. Mereka terutama bekerja di belakang meja dan di sekeliling meja rapat dari kayu mahoni. Waktu mereka dihabiskan untuk bicara dengan klien yang mampu membayar beberapa ratus dolar sejam untuk men-

dapatkan nasihat, dan bila tidak bicara dengan klien, mereka bertelepon atau makan siang bet- ¦ sama pengacara lain. bankir, dan eksekutif perusahaan asuransi.

Sudah cukup banyak berita di surat kabar untuk menimbulkan kegeraman di kantor. Sebagian pengacara di sana malu melihat nama biro hukum mereka dikaitkan dengan seorang tokoh macam Sam Cayhall. Sebagian besar di antara mereka tidak tahu-menahu bahwa selama tujuh tahun ia telah diwakili kantor Chicago. Sekarang teman-teman mengajukan pertanyaan. Beberapa pengacara lain melontarkan jawaban lucu dan mengena. Para istri dicemoohkan dalam jamuan minum teh di garden club. Para ipar mendadak tertarik pada karier hukum mereka

Sam Cayhall dan cucunya dengan cepat menjadi duri dalam daging bagi kantor Memphis, tapi tak ada yang bisa dilakukan tentang hal itu.

Adam bisa merasakan hal ini. tapi tak memedulikannya Ini kantor sementara cocok untuk tiga minggu, dan mudah-mudahan tidak sehari lebih lama. Jumat pagi ia melangkah keluar dari lift, tidak menghiraukan resepsionis yang mendadak sibuk mengatur majalah. Ia bicara dengan sekretarisnya seorang wanita muda bernama Darlene, yang mengangsurkan pesan telepon dari Todd Marks di Memphis Press.

Ia membawa pesan telepon merah jambu itu ke kantornya dan melemparkannya ke keranjang sam-

pah. Ia menggantungkan jasnya dan mulai menutupi meja dengan kertas. Ada beberapa halaman catatan yang ia buat dalam penerbangan ke dan dari Chicago, dan pleidoi-pleidoi yang mirip yang dipinjamnya dari berkas Goodman, serta puluhan copy keputusan terakhir pengadilan federal.

Dengan cepat ia tenggelam dalam dunia teori dan strategi hukum. Chicago jadi kenangan yang memudar.

Roflie Wedge memasuki gedung Brinkley Plaza melalui pintu depan ke Mali. Ia sudah menunggu dengan sabar pada sebuah meja di kafe tepi jalan, sampai Saab hitam itu muncul lalu berbelok ke tempat parkir di dekatnya. Ia memakai kemeja putih dengan dasi, celana panjang katun keriput, dan pantofel santai, la meneguk es teh sambil mengawasi Adam berjalan menyusuri trotoar dan memasuki gedung itu.

Lobinya kosong ketika Wedge mengamati dengan cepat denah petunjuk gedung itu. Kravitz & Bane menempati lantai tiga dan empat. Ada empat lift yang serupa, dan ia masuk ke salah satu, menuju lantai delapan. Ia melangkah ke dalam serambi sempit. Di sebelah kanan ada pintu* dengan nama perseroan pengawas harta terpampang dalam huruf kuningan, dan di sebelah kiri ada lorong yang berhubungan dengan pintu-pintu dari segala macam perusahaan. Di samping pancuran air ada pintu ke tangga. Dengan santai ia turun

delapan tingkat, memeriksa pintu-pintu sambil berjalan. Tak seorang pun berpapasan dengannya di tangga itu. Ia masuk kembaJi ke lobi, lalu naik lift lain. seorang diri, ke lantai tiga. Ia tersenyum kepada resepsionis yang masih sibuk dengan majalah, dan akan menanyakan jalan ke perseroan pengurus harta tadi ketika telepon berdering dan sekretaris itu sibuk dengannya. Satu set pintu ganda kaca memisahkan tempat menerima tamu dari jalan masuk ke lift. Ia naik ke lantai empat dan menemukan satu set pintu yang sama, tapi tanpa resepsionis. Pintu-pintu itu terkunci. Pada dinding di sebelah kanan ada panel masuk berkode dengan sembilan tombol bernomor.

Ia mendengar suara-suara, dan melangkah ke ruang tangga. Pada pintu itu tak ada kunci dari kedua sisinya. Ia menunggu sejenak, lalu melewati pintu itu dan minum air lama-lama. Satu lift terbuka, seorang laki-laki muda bercelana khaki dan berblazer biru melangkah keluar dengan kardus dijepit pada satu tangan dan sebuah buku tebal di tangan kanan. Ia beranjak ke pintu Kravitz & Bane. Ia bersenandung keras, tidak memperhatikan Wedge menyelinap di belakangnya. Ia berhenti dan dengan hati-hati menyeimbangkan buku hukum tadi di atas kardus, membebaskan tangan kanan untuk memencet kode. Tujuh, tujuh, tiga. Panel itu berbunyi pada setiap nomor. Wedge cuma beberapa senti di belakangnya, mengintip dari atas pundak dan mencatat kode itu.

Laki-laki muda itu cepat-cepat memegang buku, baru akan berbalik ketika Wedge menubruknya

sedikit dan berkata, "Sialan! Maaf! Saya tidak..." Wedge mundur selangkah dan memandang tulisan di atas pintu. "Ini bukan Riverbend Trust," katanya, tercengang dan bingung. "Bukan. Ini Kravitz & Bane." "Lantai berapa ini?" tanya Wedge. Sesuatu berdetak dan kunci pintu terbuka. "Empat. Riverbend Trust ada di lantai delapan." "Maaf," Wedge berkata lagi, sekarang malu dan nyaris mengundang kasihan. "Saya pasti keluar di lantai yang salah."

Laki-laki muda itu mengernyit dan menggelengkan kepala, lalu membuka pintu.

"Maaf," kata Wedge untuk ketiga kalinya sambil mundur. Pintu tertutup dan bocah itu menghilang. Wedge naik lift ke lobi utama dan meninggalkan gedung itu.

Ia meninggalkan pusat kota, mengemudi ke timur dan utara selama sepuluh menit, sampai ke bagian kota yang penuh dengan perumahan pemerintah. Ia berhenti di jalan masuk di samping Auburn House dan dihentikan seorang penjaga berseragam. Ia cuma berputar, katanya, tersesat lagi, dan ia sangat menyesal. Sewaktu mundur ke jalan, ia melihat Jaguar merah anggur milik Lee Booth diparkir di antara dua bangunan.

Ia menuju sungai, ke arah pusat kota lagi, dan dua puluh menit kemudian parkir di sebuah gu-

serambi-serambi kayu yang sebagiaa bergantung tiga meter di udara, sementara tebing itu menurun curam di bawahnya. Ia berhenti di kondominium

ketujuh dan menyelinap cepat ke serambi.

Ia beristirahat sejenak di kursi anyaman dan bermain dengan kabel telepon di luar, seolah-olah sedang melakukan servis rutin. Tak seorang pun melihatnya. Keleluasaan pribadi amat penting bagi orang-orang kaya ini; mereka membayar mahal, dan setiap teras kecil di sana ditutupi dari teras sebelahnya dengan papan-papan dekoratif dan segala macam tanaman gantung. Kemejanya sekarang sudah basah dan lengket ke punggung.

Pintu geser kaca yang menghubungkan serambi luar ke dapur terkunci, tentu saja. Kuncinya cukup sederhana, menghambatnya selama hampir satu menit. Ia mengoreknya tanpa meninggalkan kerusakan atau jejak, lalu melirik sekitarnya untuk memeriksa sekali lagi sebelum masuk. Ini bagian yang rumit. Ia perkirakan di sana ada sistem pengamanan, mungkin sistem pengaman dengan kontak pada setiap jendela dan pintu. Karena tak.ada seorang pun di rumah, kemungkinan besar sistem itu diaktifkan. Pertanyaan rumitnya adalah sehebat apa kebisingan yang timbul bila ia membuka pintu. Apakah tanda bahaya tanpa suara, ataukah ia akan terperanjat dengan sirene melengking?

Ia menarik napas, lalu perlahan-lahan menggeser pintu itu terbuka. Tak ada sirene menyambutnya.

Ia memandang cepat pada monitor di atas jendela, lalu melangkah ke dalam.

Kontak itu langsung menyiagakan Willis, pe„. jaga di gerbang, yang mendengar bunyi "tit rit" riuh meskipun tidak keras dari layar monitornya, Ia melihat lampu merah berkedip-kedip di Nomor 7, rumah Lee Booth, dan menunggunya sampai berhenti. Mrs. Booth

tersandung alarmnya paling sedikit dua kali sebulan, dan itu adalah rata-rata bagi orang-orang yang dijaganya. Ia memeriksa clipboard dan melihat Mrs. Booth pergi pada pukul 09.15. Namun ia kadang-kadang menerima penginap, biasanya laki-laki, dan sekarang keponakannya tinggal bersamanya. Maka Willis mengawasi lampu merah itu selama 45 detik sampai lampau berhenti berkedip dan kembali pada posisi on permanen.

Ini luar biasa, tapi tak perlu panik. Orang-orang ini tinggal di balik dinding-dinding dan membayar penjaga-penjaga bersenjata 24 jam sehari, jadi mereka tidak serius dengan sistem alarm mereka. Ia cepat-cepat memutar nomor Mrs. Booth. Tak ada jawaban. Ia menekan satu tombol dan mengirimkan berita rekaman ke 911, meminta bantuan po-lisi- Ia membuka laci kunci dan memilih anak kunci Nomor 7, kemudian meninggalkan gardu jaga dan berjalan cepat melintasi lapangan parkir, untuk melihat keadaao kondominium Mrs. Booth. Ia membuka sarung pistol, sehingga ia ia bisa meraih revolvernya seandainya diperlukan.

RoUie Wedge melangkah ke dalam gardu jaga dan melihat laci kunci yang terbuka. Ia mengambil satu set, bertanda untuk Unit 7, bersama sehelai kartu dengan kode alarm dan instruksi, dan dengan sengaja mengambil pula kunci serta kartu untuk Nomor 8 dan 13, sekadar untuk membingungkan y/illis dan polisi.

DUA PULUH ENAM

Mula-mula mereka pergi ke makam, untuk memberikan penghormatan kepada yang telah meninggal. Makam itu meliputi dua bukit kecil di tepi Clanton. yang satu ditaburi nisan dan monumen rumit, tempat para keluarga terkemuka menguburkan anggota keluarga mereka selama beberapa waktu, dan mengukir nama mereka pada batu granit tebal. Bukit kedua untuk makam yang lebih baru. dan bersama lewatnya waktu di Mississippi, batu nisan pun jadi lebih kecil. Pohon-pohon ek dan elm besar menaungi sebagian besar tempat pemakaman itu. Rumputnya terpangkas pendek dan semak-semaknya rapi. Bunga azalea tumbuh di tiap sudut Clanton memberi prioritas pada ke-nang-kenangannya.

Hari itu hari Sabtu yang indah, tak berawan, dan angin berembus pelan sejak malam, mengusir kelembapan. Hujan sudah berhenti beberapa lama, dan punggung bukit tampak lebat menghijau dengan tanaman dan bunga liar. Lee berlutut di

504

samping nisan ibunya dan meletakkan karangan bunga kecil di bawah namanya. Ia memejamkan mata, sementara Adam berdiri di belakangnya, menatap makam itu. Anna Gates Cayhall. 3 September 1922-18 September 1977. Ia berusia 55 tahun ketika meninggal, Adam menghitung; berarti dirinya berusia tiga belas tahun waktu itu, masih hidup dalam ketidaktahuan yang penuh kebahagiaan di suatu tempat di California Selatan.

Ia dimakamkan sendirian, di bawah nisan tunggal. Ini saja sudah menimbulkan sejumlah masalah. Pasangan hidup biasanya dimakamkan berdampingan, setidaknya di wilayah Selatan, dengan yang pertama menempati tempat pertama di bawah nisan ganda. Setiap berziarah mengunjungi yang meninggal, yang hidup akan melihat namanya sendiri sudah terukir dan menunggu di sana.

"Ayah berumur 56 ketika Ibu meninggal," Lee menerangkan sambil menggandeng tangan Adam dan beringsut menjauhi makam itu. "Aku ingin dia menguburkan Ibu sedemikian rupa, sehingga suatu hari kelak dia bisa bergabung, tapi dia menolak. Kurasa dia memperkirakan masih punya beberapa tahun tersisa, dan dia mungkin akan menikah lagi."

"Kau pernah bercerita padaku dia tak menyukai Sam."

"Aku yakin dia mencintainya dengan caranya sendiri. Mereka hampir empat puluh tahun bersama-sama. Namun mereka tak pernah dekat. Setelah lebih dewasa, aku menyadari dia tak suka

505

berada di sekitar Sam. Kadang-kadang dia mengungkapkan perasaannya padaku. Dia gadis desa sederhana yang menikah pada usia muda, punya anak, tinggal di rumah bersama mereka, dan diharapkan mematuhi suaminya. Ini bukan sesuatu yang luar biasa pada saat itu. Kupikir dia sangat tertekan."

"Mungkin dia tak ingin Sam berada di sampingnya selama-lamanya."

"Aku pernah memikirkan hal itu. Sebenarnya Eddie menginginkan mereka terpisah dan dimakamkan di ujung berseberangan di pemakaman ini." "Sungguh bagus gagasan Eddie." "Dia pun tidak bergurau." "Berapa banyak yang dia ketahui tentang Sam dan Klan?"

"Aku tak tahu. Kami tak pernah membicarakan itu. Aku ingat dia sangat terhina setelah penangkapan Sam. Dia bahkan tinggal bersama Eddie dan kalian beberapa lama, sebab para reporter terus mengusiknya." "Dan dia tak pernah menghadiri pengadilannya?" "Tidak. Sam tak ingin dia menyaksikannya. Dia punya masalah tekanan darah tinggi, dan Sam memakai itu sebagai dalih untuk menjauhkannya ' dari pengadilan."

Mereka berbalik dan berjalan menyusuri jalan sempit, melintasi bagian lama pemakaman itu. Mereka bergandengan tangan dan melewati nisan-nisan. Lee menunjuk ke sederet pepohonan di se-

berang jalan di bukit yang lain. "Di sanalah orang-orang kulit hitam dimakamkan," katanya. "Di bawah pohon-pohon itu. Pemakaman itu sempit." "Kau bercanda?*Bahkan sampai hari ini?" "Benar, kau tahu, taruh mereka di tempat mereka. Orang-orang ini tidak tahan dengan gagasan ada seorang negro berbaring di antara nenek moyang mereka."

Adam menggelengkan kepala dengan tercengang. Mereka menaiki bukit dan beristirahat di bawah pohon ek. Berderet-deret makam terbentang damai di bawah mereka, kubah Gedung Pengadilan Ford County berkilauan di bawah cahaya matahari beberapa blok dari sana.

"Ketika masih kecil, aku suka bermain-main di sini," katanya pelan. Ia menunjuk ke kanan, ke utara. "Setiap tanggai 4 Juli, kota merayakannya dengan pesta kembang api, dan tempat duduk terbaik adalah di pemakaman ini. Ada sebuah taman di bawah sana, dan di sanalah mereka menembakkan kembang api. Kami naik sepeda dan datang ke kota untuk menyaksikan pawai, berenang di kolam kota, dan bermain dengan teman-teman kami. Dan tepat setelah gelap, kami semua akan berkumpul di sini, di tengah orang-orang mati, duduk di nisan-nisan ini untuk menyaksikan kembang api. Laki-laki dewasa bergerombol di samping truk mereka, tempat bir dan wiski disembunyikan, dan para perempuan berbaring di kasur serta merawat

bayi. Kami berlarian, bermain-main gembira, dan mengendarai sepeda ke segala penjuru tempat ini." "Eddie?"

Tentu saja. Eddie adik yang" normal, kadang-kadang nakal luar biasa, tapi benar-benar menyenangkan. Aku merindukannya, kau tahu. Aku sa-ngat merindukannya. Hubungan kami selama bertahun-tahun tidak begitu dekat, tapi bila kembali ke kota ini, aku memikirkan adikku." "Aku pun merindukannya." "Aku dan dia datang ke sini, tepat di tempat ini, pada malam dia lulus sekolah menengah. Aku sudah dua tahun tinggal di Nashville, dan aku kembali sebab dia ingin aku menyaksikannya luks. Kami membawa sebotol anggur murahan, dan kurasa itulah pertama kau' dia minum minuman keras. Aku takkan pernah melupakannya. Kami duduk di sini, di atas nisan Emil Jacob, dan meneguk anggur sampai botol itu kosong." Tahun berapa itu?"

"1961, kurasa. Dia ingin bergabung dengan Angkatan Bersenjata, sehingga bisa meninggalkan Clanton dan menyingkir dari Sam. Aku tak ingin adikku masuk ketentaraan, dan kami membicarakannya sampai matahari muncul/

"Dia bingung?"

"Dia umur delapan belas, mungkin sebingung kebanyakan anak-anak yang bani saja lulus sekolah menengah. Eddie ngeri kalau tetap tinggal di Clanton akan terjadi sesuatu pada dirinya, cacat genetik

508

akan muncul pada dirinya lalu dia akan jadi seperti Sam. Satu Cayhail lagi dengan kerudung. Dia setengah mati ingin lari dari tempat ini." "Tapi kau lari begitu bisa." "Aku tahu, tapi aku lebih tangguh daripada Eddie, setidaknya pada umur delapan belas tahun. Aku tak bisa melihatnya meninggalkan rumah semuda itu. Jadi, kami meneguk anggur dan mencoba mendapatkan pegangan hidup."

"Apakah ayahku pernah mendapatkan pegangan hidup?" "*

"Aku menyangsikannya, Adam. Kami berdua disiksa ayah kami dan kebencian keluarganya. Ada beberapa hal yang kuharap kau tak pernah tahu, kisah-kisah yang kudoakan tetap tak pernah diceritakan. Kurasa aku berhasil menyingkirkannya, sedangkan Eddie tak bisa."

Ia kembali menggandeng tangan Adam. Mereka berjalan di bawah cahaya matahari, menyusuri jalan setapak, menuju bagian baru pemakaman itu. Ia berhenti dan menunjuk sederet nisan kecil. "Di sinilah kakek buyutmu, bersama para bibi, paman, dan anggota Cayhail lain."

Adam menghitung semuanya. Delapan. Ia membaca nama-nama dan tanggalnya, dan mengucapkan dengan keras puisi serta ayat Kitab Suci serta kata-kata perpisahan yang terpahat pada granit, r

"Ada banyak lainnya di desa," kata Lee. "Kebanyakan marga Cayhail berasal dari sekitar Ka-raway, lima belas mil dari sini. Mereka orang-

509

orang desa, dan dikubur di belakang gereja-gereja desa."

"Apakah kau datang ke sini menghadiri semua pemakaman ini?"

"Beberapa di antaranya. Keluarga ini tak punya hubungan erat, Adam. Sebagian dari orang-orang ini sudah mati bertahun-tahun sebelum aku tahu." "Mengapa ibumu tidak dimakamkan di sini?" "Sebab dia tidak menginginkannya. Dia tahu akan meninggal, dan dia memilih tempat. Dia tak pernah menganggap dirinya seorang Cayhail. Dia menganggap dirinya marga Gates." "Wanita cerdik."

Lee mencabut segenggam rumput liar dari makam neneknya dan menggosokkan jari pada nama

Lydia Newsome Cayhail, yang meninggal pada tahun 1961 pada usia 72 tahun. "Aku ingat betul padanya," kata Lee, berlutut di rumput "Seorang wanita Kristen yang baik. Dia akan berbalik dalam kuburnya bila tahu putra ketiganya sedang menanti hukuman mati."

"Bagaimana dengannya?" tanya Adam, menunjuk suami Lydia, Nathaniel Lucas Cayhail, yang meninggal tahun 1952 pada usia 64 tahun. Kemesraan meninggalkan wajah Lee. "Dia laki-laki tua yang jahat," katanya. "Aku yakin dia akan bangga dengan Sam. Nat, begitulah dia biasa dipanggil, terbunuh dalam upacara pemakaman." "Upacara pemakaman?"

"Ya. Secara tradisi, pemakaman merupakan pe-

510

ristiwa sosial di sini. Upacara itu didahului dengan berjaga, dengan banyak kunjungan dan makan-makan. Dan minum-minum. Di pedesaan Selatan kehidupan amat berat, dan kerap kali pemakaman berubah menjadi perkelahian mabuk-mabukan. Net sangat kasar, dan dia berkelahi dengan orang yang salah, tepat sesudah upacara pemakaman. Mereka memukulinya sampai mati dengan sepotong kayu."

"Di mana Sam saat itu?"

"Tepat di tengahnya. Dia pun dipukuli, tapi selamat. Aku masih kecil, dan aku ingat pemakaman Nat. Sam ada di rumah sakit dan tak bisa hadir."

"Apakah dia balas dendam?" "Tentu saja." "Bagaimana?"

"Tak ada bukti apa pun, tapi beberapa tahun

kemudian dua laki-laki yang memukuli Nat dibebaskan dari penjara. Mereka muncul sebentar di sini, lalu menghilang. Satu mayat ditemukan berbulan-bulan kemudian, di daerah sebelah di Milburn County. Dianiaya, tentu saja. Laki-laki lainnya tak pernah ditemukan. Polisi menanyai Sam dan saudara-saudaranya, tapi tak ada bukti apa pun." "Menurutmu dia yang melakukannya?" "Pasti dia. Tak seorang pun pernah mengganggu keluarga Cayhail waktu itu. Mereka dikenal separo gila dan luar biasa keji." |S|

Mereka meninggalkan makam keluarga dan terus menyusuri jalan setapak. "Jadi, Adam, per-

511

tanyaan bagi kita adalah, di mana kita akan menguburkan Sam?"

"Kurasa kita harus menguburkannya di sana, bersama orang-orang kulit hitam. Itu cocok baginya."

"Kaupikir mereka menghendakinya?"

"Poin bagus."

"Serius."

"Aku dan Sam belum lagi sampai ke titik itu."

"Kaupikir dia ingin dimakamkan di sini? D! Ford County?"

"Entahlah. Kami belum membicarakannya, karena alasan yang jelas. Masih ada harapan."

"Berapa banyak?" • "Setitik. Cukup untuk terus berjuang."

Mereka meninggalkan tempat pemakaman dengan berjalan kaki, menyusuri jalan yang tenang dengan trotoar usang dan pohon-pohon ek tua. Rumah-rumah di sana sudah tua dan dicat indah, dengan teras-teras panjang dan kucing-kucing berbaring di tangga depan. Anak-anak berpacu dengan sepeda dan skateboard, dan orang-orang tua berayun-ayun di ayunan teras sambil berkipas-kj-pas pelan. "Ini tempatku dulu bermain, Adam," kata Lee ketika mereka berjalan-jalan tanpa tujuan. Tangannya disisipkan dalam-dalam ke saku celana denim, matanya basah dengan kenangan yang menyedihkan sekaligus menyenangkan. Ia memandang setiap rumah, seolah-olah ia pernah ke sana sebagai kanak-kanak dan bisa mengingat gadis-

gadis kecil yang pernah jadi temannya. Ia bisa mendengar suara terkekeh dan tertawa, permainan-permainan konyol dan perselisihan serius di antara

bocah-bocah sepuluh tahun. "Apakah itu saat-saat yang bahagia?" tanya

Adam.

"Entahlah. Kami tak pernah tinggal di kota, jadi kami dikenal sebagai bocah-bocah desa. Aku selalu menginginkan salah satu dari rumah-rumah ini, dengan teman-teman di sekitarnya dan toko-toko beberapa blok dari sana. Anak-anak kota menganggap diri mereka sedikit lebih baik dari kami, tapi itu bukan masalah besar. Teman-teman terdekatku tinggal di sini, dan aku menghabiskan banyak waktu bermain di jalan-jalan ini, memanjat pohon-pohon ini. Itu saat yang indah, kurasa. Kenangan dari rumah di desa tidak menyenangkan." "Karena Sam?"

Seorang wanita tua memakai gaun berbunga-bunga dan topi jerami lebar sedang menyapu tangga depannya ketika mereka mendekati. Ia melirik mereka, kemudian diam membeku dan menatap. Lee memperlambat langkah dan berhenti dekat jalan masuk ke rumah. Ia memandang wanita tua itu, dan wanita tua itu memandang Lee. "Selamat pagi, Mrs. Langston," kata Lee dengan suara ramah.

Mrs. Langston mencengkeram gagang sapu dan menegakkan punggung, dan tampak puas menatap saja.

513

"Aku Lee Cayhail. Kau ingat aku," kata Lee lagi.

Ketika nama Cayhail hanyut melintasi halaman rumput sempit itu, Adam mendapati dirinya melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang lain yang mendengarnya, la siap malu bila nama itu jatuh ke telinga lain. Entah Mrs. Langston ingat atau tidak pada Lee. Ia mengangguk sopan, cuma gerakan naik-turun yang cepat, agak canggung, seolah-olah mengatakan, "Selamat pagimu. Sekarang pergilah."

"Senang bertemu denganmu lagi," kata Lee, dan mulai berjalan pergi. Mrs. Langston terburu-buru menaiki tangga dan menghilang ke dalam. "Aku berpacaran dengan anaknya di sekolah menengah," kata Lee sambil menggelengkan kepala tak percaya.

"Dia tercengang melihatmu." "Dia selalu agak aneh," kata Lee, tidak begitu yakin. "Atau mungkin dia takut bicara dengan seorang Cayhail. Takut akan apa yang mungkin dikatakan tetangga."

"Kurasa paling baik kita bepergian secara incognito sepanjang hari ini. Bagaimana?" "Janji.*

Mereka melewati orang-orang lain yang sedang mengurus rumpun bunga dan menunggu tukang pos, tapi mereka tak mengucapkan apa pun. Lee menutupi mata dengan kacamata hitam. Mereka berkelok-kelok menyusuri daerah itu ke arah alun-alun, bercakap-cakap tentang teman-teman lama

514

Lee dan di mana mereka sekarang. Ia tetap berhubungan dengan dua di antara mereka, satu di

Clanton dan satu di Texas. Mereka menghindari percakapan tentang sejarah keluarga, sampai berada di sebuah jalan dengan rumah-rumah kayu yang lebih kecil berimpitan. Mereka berhenti di sudut, dan Lee mengangguk pada sesuatu di ujung jalan.

"Kaulihat rumah ketiga di sebelah kanan, yang

kecil cokelat di sana?" "Ya."

"Di sanalah kau dulu tinggal. Kita bisa berjalan ke sana, tapi kulihat ada orang mondar-mandir di

sana."

Dua anak kecil bermain-main dengan senapan mainan di halaman depan dan seseorang sedang berayun-ayun di teras depan yang sempit. Rumah itu persegi, kecil, rapi, sempurna untuk pasangan muda dengan bayi.

Adam hampir berumur tiga tahun ketika Eddie dan Evelyn menghilang. Ketika berdiri di sudut, ia berusaha keras mengingat sesuatu tentang rumah ini, tapi tak dapat.

"Waktu itu catnya putih, dan tentu saja pepohonannya lebih kecil. Eddie menyewanya dari agen real estate lokal." "Apakah rumah itu nyaman?" "Cukup nyaman. Mereka belum lama menikah. Mereka cuma bocah-bocah dengan bayi yang baru lahir. Eddie bekerja di toko suku cadang mobil,

515

kemudian di departemen jalan raya negara bagian.

Lalu dia mengambil pekerjaan lain." ** "Kedengaran biasa."

"Evelyn bekerja paro waktu di toko permata di alun-alun. Kurasa mereka bahagia. Evelyn tidak berasal dari sini, kau tahu, jadi dia tidak kenal banyak orang. Mereka menyendiri."

Mereka berjalan melewati rumah itu. Salah satu dari anak-anak tersebut mengarahkan senapan mesin oranye ke arah Adam. Tak ada kenangan apa pun tentang tempat tersebut untuk diingat saat itu. Ia tersenyum pada anak kecil itu dan berpaling. ; Mereka kemudian sampai di jalan lain dengan alun-alun kelihatan.

Lee mendadak jadi pemandu wisata dan sejarawan. Kaum Yankee pernah membakar Clanton pada tahun 1863, bajingan-bajingan itu, dan se-' sudah perang, Jenderal Clanton, seorang pahlawan Konfederat yang keluarganya memiliki county ini, kembali dengan satu kaki, kaki satunya lagi hilang di medan pertempuran di Shiloh. Ia merancang gedung pengadilan baru dan jalan-jalan di sekelilingnya Gambar aslinya tertempel pada dinding lantai atas gedung pengadilan. Ia ingin banyak peneduh, maka ia menanam pohon ek dalam barisan sempurna di sekeliling gedung pengadilan. Ia orang yang punya visi dan dapat melihat kota kecil itu bangkit dari abu dan menjadi makmur, maka ia merancang jalan-jalannya dalam bentuk persegi sempurna di sekeliling gedung pengadilan.

Mereka telah berjalan melewati makam orang besar tersebut beberapa saat yang lalu, kata Lee, dan ia akan menunjukkannya pada Adam nanti.

Ada sebuah pusat perbelanjaan yang kembang-kempis di utara kota dan sederet supermarket discount di sebelah timur, namun penduduk Ford County masih menikmati berbelanja di sekeliling alun-alun di pagi hari Sabtu, kata Lee ketika mereka berjalan menyusuri trotoar di sebelah Washington Street; Lalu lintas lamban dan para pejalan kaki lebih lamban lagi. Gedung-gedung di sana sudah tua dan saling menempel, penuh dengan pengacara dan agen asuransi, bank-bank dan kafe, toko-toko peralatan dan pakaian. Trotoarnya ditutupi payung-payung besar, awning, serta beranda kantor dan toko-toko. Kipas angin yang ber-keriat-keriut tergantung rendah dan berputar malas. Mereka berhenti di depan sebuah apotek tua dan Lee melepaskan kacamata hitamnya. "Ini tempat bersantai," ia menerangkan. "Ada mesin soda di belakang, dengan sebuah jukebox dan rak-rak buku komik. Dengan seperempat dolar kau bisa membeli cherry sundae banyak-banyak, dan butuh waktu berjam-jam untuk memakannya. Butuh waktu lebih lama lagi kalau bocah-bocah ada di sini."

Seperti adegan di film, pikir Adam. Mereka berhenti di depan sebuah toko perkakas, dan entah kenapa memeriksa sekop, bajak, dan garu yang bersandar pada jendela. Lee memandang pintu ganda yang sudah usang, terbuka dan diganjal

517

dengan bata, dan memikirkan sesuatu dari masa

kecilnya. Tapi ia menyimpannya untuk diri sendiri.

Mereka menyeberangi jalan, bergandengan tangan, melewati sekelompok orang tua yang sedang meraut kayu dan mengunyah tembakau di sekeliling monumen peringatan perang. Lee mengangguk pada sebuah patung dan dengan pelan memberi-tahu Adam bahwa inilah Jenderal Clanton, dengan dua kaki. Gedung pengadilan buka pada hari Sabtu. Mereka membeli cola dari sebuah mesin di luar dan meneguknya di gazebo di halaman depan. Lee menceritakan kisah pengadilan paling terkenal dalam sejarah Ford County, sidang pembunuhan Cari Lee Hailey pada tahun 1984. Ia laki-laki kulit hitam yang menembak dan membunuh dua redneck kulit putih yang telah memerkosa anak perempuan kecilnya. Ada pawai-pawai dan protes oleh orang-orang kulit hitam di satu sisi dan para anggota Klan di sisi lain, dan pasukan National Guard benar-benar berkemah di sini, di sekeliling gedung pengadilan, untuk menjaga keamanan. Lee datang dari Memphis untuk menyaksikan keramaian itu. Cari Lee divonis bebas oleh dewan juri yang semuanya kulit putih.

Adam ingat sidang pengadilan itu. Waktu itu ia masih mahasiswa junior di Pepperdine, dan mengikuti kasus tersebut di surat kabar, sebab sidang itu terjadi di kota kelahirannya.

Ketika Lee masih kanak-kanak, hiburan sangat langka, dan sidang pengadilan selalu dikunjungi

518

orang. Suatu ketika Sam pernah membawanya bersama Eddie ke sini, untuk menyaksikan pengadilan seorang laki-laki yang dituduh membunuh anjing pemburu. Ia dinyatakan bersalah dan melewatkan

satu tahun dalam penjara. County itu terbelah— orang-orang kota menentang pidana atas kejahatan yang begitu sepele, sementara orang-orang county memberikan nilai lebih tinggi pada anjing beagle yang bagus. Sam sangat senang melihat laki-laki itu dikirim ke penjara.

Lee ingin memperlihatkan sesuatu kepadanya. Mereka berjalan mengitari gedung pengadilan, ke pintu belakang tempat dua pancuran air minum berdiri terpisah sejauh tiga meter. Tak satu pun pernah dipakai selama bertahun-tahun. Yang satu untuk orang kulit putih, yang lain untuk orang kulit hitam. Ia teringat pada kisah Rosia Alfie Gatewood, yang .dikenal sebagai Miss Allie, orang kulit hitam pertama yang minum dari pancuran untuk orang kulit putih dan lolos tanpa cedera. Tak lama setelah itu pipa airnya diputus, f

Mereka mendapatkan meja di sebuah kafe yang penuh sesak dan terkenal dengan nama The Tea Shoppe, di sisi barat alun-alun. Lee terus bercerita, semuanya menyenangkan dan sebagian besar lucu, sementara mereka makan BLT dan kentang goreng. Ia terus memakai kacamata hitam, dan Adam melihatnya mengawasi orang-orang.

Mereka meninggalkan Clanton sesudah makan

siang, dan kemudian setelah berjalan-jalan santai, kembali ke tempat pemakaman. Adam mengemudi dan Lee menunjuk ke sana-sini, sampai mereka berada di jalan county yang menerobos sejumlah tanah pertanian kecil dan rapi dengan sapi-sapi merumput di punggung bukit. Sekali-sekali mereka melewati kumpulan hunian orang kulit putih miskin—trailer-trailer doublew'ide bobrok dengan mobil-mobil butut berserakan—dan rumah-rumah bobrok yang masih dihuni orang-orang kulit hitam. Namun sebagian besar pemandangan daerah pedesaan yang berbukit-bukit itu indah; hari itu pun indah.

Lee menunjuk lagi, dan mereka berbelok ke jalan batu yang lebih sempit dan lebih dalam, ke pedusunan. Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah rumah kayu bercat putih yang tak dihuni, dengan rumput liar mencuat dari teras dan tanaman rambat menyerbu sampai ke jendela-jendela. Letaknya lima puluh meter dari jalan. Jalan masuk berkerikil ke rumah itu berlubang-lubang dan rak dapat dilewati. Halaman depannya penuh ditumbuhi rumput Johnsongrass dan zonthium. Kotak suratnya nyaris tak terlihat dalam selokan di samping jalan.

"Inilah tanah keluarga Cayhail," Lee bergumam. Mereka duduk lama di dalam mobil, memandang rumah kecil yang menyedihkan itu.

"Apa yang terjadi pada rumah ini?" tanya Adam akhirnya.

"Oh, rumah ini dulu bagus. Tapi tak punya banyak peluang. Orang-orangnya sungguh mengecewakan." Ia perlahan-lahan melepaskan kacamata hitam dan menyeka mata. "Delapan belas tahun aku tinggal di sini, dan aku tak sabar meninggalkannya."

"Mengapa rumah ini tak dihuni?" Lee menarik napas dalam, berusaha menyusun kisahnya. "Kurasa rumah ini sudah lunas bertahun-tahun yang lalu, tapi Daddy menggadaikannya untuk membayar pengacara dalam sidangnya yang terakhir. Sudah tentu dia tak pernah pulang lagi, dan pada suatu titik bank menyitanya. Tanah di sekitarnya ada delapan puluh ekar, dan segalanya hilang. Aku tak pernah kembali ke sini sejak penyitaan itu. Aku minta Phelps agar membelinya, dan dia bilang tidak. Aku tak bisa menyalahkannya. Aku sendiri tidak benar-benar ingin memilikinya Kelak aku mendengar dari beberapa teman di sini rumah ini disewakan beberapa kali, dan kurasa akhirnya tidak dihuni. Aku tidak tahu rumah ini masih berdiri." "Bagaimana dengan barang-barang pribadi?" "Sehari sebelum penyitaan, bank mengizinkan aku masuk dan mengemasi segala yang kuinginkan. Aku menyimpan beberapa barang—album foto, tanda mata, buku tahunan, Injil, dan beberapa barang berharga milik Ibu. Barang-barang itu disimpan di Memphis." "Aku ingin melihatnya."

«01

"Mebelnya tidak cukup berharga untuk disimpan, bukan perabot yang bagus. Ibuku sudah meninggal, adikku baru saja bunuh diri, ayahku baru saja dikirim ke death row, dan aku tidak berselera menyimpan banyak barang kenangan. Sungguh pengalaman mengerikan, masuk ke rumah kecil yang kotor itu dan mencoba menyelamatkan barang-barang yang suatu hari kelak mungkin akan menghadirkan senyum. Aduh, aku ingin membakar segalanya. Nyaris saja aku melakukannya." "Kau tidak serius."

"Tentu saja aku serius. Sesudah beberapa jam di sini, kuputuskan membakar saja rumah terkutuk ini serta segala isinya. Sering terjadi, bukan? Aku menemukan sebuah lentera tua dengan minyak tanah di dalamnya. Aku duduk di meja dapur dan bicara padanya sambil mengemasi barang-barang. Saat itu tentu mudah melakukannya." "Mengapa kau tidak melakukannya?" "Entahlah. Kalau saja aku punya nyali untuk melakukannya. Tapi aku khawatir tentang bank dan penyitaan itu, dan... pembakaran merupakan tindak kejahatan, bukan? Aku ingat tertawa dengan bayangan akan masuk penjara, tempat aku akan tinggal bersama Sam. Itulah sebabnya aku tidak menyalakan korek api. Aku takut akan terlibat kesulitan dan masuk penjara."

Mobil itu panas sekarang, dan Adam membuka pintunya. "Aku ingin melihat-lihat," katanya sambil keluar. Mereka berhati-hati memilih jalan pada

jalan pasir itu, melangkahi hibuang-Iubang selebar satu meter. Mereka berhenti di depan teras dan memandang papan-papan yang membusuk.

"Aku takkan masuk ke sana," kata Lee tegas, menarik tangannya dari pegangan Adam. Adam mengamati teras yang lapuk dan memutuskan tidak menginjaknya. Ia berjalan menyusuri bagian depan ramah, melihat jendela-jendela pecah dengan tanaman rambat menghilang ke dalam. Ia menyusuri jalan masuk itu mengitari rumah; Lee membuntuti.

Halaman belakangnya diteduhi pohon-pohon ek dan maple tua, serta pada bagian-bagian yang tidak terkena sinar matahari tanahnya gundul. Halaman itu membentang sejauh seperdelapan mil dan menanjak sedikit sampai berhenti pada semak belukar. Tempat itu dikelilingi hutan di kejauhan.

Lee kembali menggandeng tangannya, dan mereka berjalan ke sebatang pohon di samping gudang kayu, yang entah karena apa, kondisinya lebih baik daripada rumahnya. "Ini pohonku," kata Lee, menengadah memandang cabang-cabangnya. "Pohon kemiriku." Suaranya sedikit bergetar. "Pohon yang bagus."

"Bagus untuk dipanjat. Aku melewatkan berjam-jam di sini, duduk di cabang-cabang itu, mengayun-ayunkan kaki dan menyandarkan dagu pada salah satu cabang. Di musim semi dan panas aku suka memanjat sampai separonya, dan tak seorang pun bisa melihatku. Aku punya dunia kecil sendiri di atas sana."

Tiba-tiba ia memejamkan mata dan menutupi mulut dengan satu tangan. Pundaknya gemetar. Adam memeluknya dengan satu tangan dan mencoba memikirkan sesuatu untuk diucapkan.

"Di sinilah peristiwa itu terjadi," katanya setelah beberapa saat. Ia menggigit bibir dan menahan air mata. Adam tak mengucapkan apa-apa.'

"Kau pernah menanyaiku tentang suatu kejadian," katanya dengan gigi dikertakkan sambil menyeka pipi dengan punggung tangan. "Kisah Daddy membunuh seorang kulit hitam." Ia mengangguk ke arah rumah. Tangannya gemetar, maka ia menyisipkannya ke dalam saku.

Satu menit berlalu sementara mereka menatap ramah itu, tak seorang pun ingin bicara. Pintu belakang satu-satunya terbuka menuju teras sempit persegi, dengan susuran jerjak di sekelilingnya. Angin lembut mengusik dedaunan di atas mereka dan menimbulkan satu-satunya suara.

Ia menghela napas dalam, lalu berkata, "Namanya Joe Lincoln. Dia tinggal di ujung jalan sana, bersama keluarganya." Ia mengangguk ke jejak jalan setapak yang membentang di tepi ladang, lalu menghilang ke dalam hutan. "Dia punya sekitar selusin anak." "Quince Lincoln?" tanya Adam. "Yeah. Bagaimana kau tahu tentang dia?" "Sam menyebut namanya ketika kami bicara tentang Eddie. Katanya Quince dan Eddie sahabat baik ketika mereka masih anak-anak."

"Dia tidak bicara tentang ayah Quince, bukan?" "Tidak."

"Sudah kuduga. Joe bekerja pada kami di tanah pertanian ini, dan keluarganya tinggal di ramah bobrok yang juga milik kami. Dia orang baik dengan keluarga besar. Seperti kebanyakan orang kulit hitam miskin saat itu, mereka sekadar bertahan hidup. Aku kenal beberapa anaknya, tapi kami tidak bersahabat seperti Quince dan Eddie. Suatu hari bocah-bocah itu bermain di halaman belakang ini. Saat itu musim panas dan kami tidak bersekolah. Mereka bertengkar tentang mainan kecil prajurit Konfederasi, dan Eddie menuduh Quince mencurinya. Urusan biasa pada anak-anak, kau tahu. Kurasa mereka umur delapan atau sembilan tahun. Daddy kebetulan lewat di sana. Eddie berlari padanya dan menceritakan Quince mencuri mainannya. Quince menyangkalnya. Dua anak itu benar-benar marah dan nyaris menangis. Sam, seperti biasa, jadi sangat gusar dan mengumpat Quince, menyebutnya dengan segala macam cacian seperti 'negro maling kecil' dan 'negro haram jadah'. Sam meminta prajurit mainan itu dan Quince mulai menangis. Dia teras mengatakan tidak mengambilnya, sedangkan Eddie teras mengatakan dia mengambilnya. Sam mencengkeram bocah itu, mengguncangnya keras-keras, dan mulai memukuli pantarnya. Sam berteriak-teriak, menjerit, dan mengumpat. Quince menangis dan meminta ampun. Mereka berputar-putar di halaman

525

beberapa kali, dengan Sam mengguncang-guncang dan memukulinya. Quince akhirnya lepas dan berlari pulang. Eddie berlari ke dalam rumah, Daddy mengikutinya ke dalam. Tak lama kemudian, Sam keluar lagi, membawa tongkat, yang dia letakkan dengan hati-hati di teras. Kemudian dia duduk di tangga, menunggu dengan sabar. Dia merokok dan mengawasi jalan setapak. Rumah keluarga Lincoln tidak jauh, dan seperti sudah diduga, dalam beberapa menit Joe berlari-lari keluar dari pepohonan, diikuti Quince tepat di belakangnya. Sampai di dekat.ramah, dia melihat Daddy sedang menunggunya. Dia memperlambat langkah dan berjalan. Daddy berseru, 'Eddie.' Ke sini.' Lihat aku menghajar negro ini.'"'

Lee mulai berjalan sangat perlahan-lahan ke rumah, lalu berhenti beberapa meter dari teras. "Ke-s\ tika Joe sampai kira-kira di sini, dia berhenti dan memandang Sam. Dia mengucapkan sesuatu seper-. ti, 'Quince bilang Anda memukulnya, Mr. Sam.' Ayahku menjawab, 'Quince adalah negro kecil pencuri, Joe. Kau harus mengajari anakmu untuk tidak mencuri.' Mereka mulai bertengkar, dan jelas akan terjadi perkelahian. Sam mendadak melompat dari teras dan melontarkan pukulan pertama. Mereka jatuh ke tanah, kurang-lebih di sini, dan berkelahi bagaikan kucing. Joe beberapa tahun lebih muda dan lebih kuat, tapi Daddy begitu kejam dan marah, sehingga perkelahian itu cukup seimbang. Mereka saling memukul wajah, mengumpat,

dan menendang seperti sepasang binatang." Lee menghentikan narasi itu dan memandang sekeliling halaman, lalu menunjuk ke pintu belakang. "Pada suatu titik, Eddie melangkah ke teras menyaksikannya, Quince sedang berdiri beberapa meter darinya, berteriak pada ayahnya. Sam berlari cepat ke teras dan meraih tongkat, lalu urusan jadi tak terkendali. Dia memukul wajah dan kepala Joe sampai Joe jatuh berlutut, lalu dia menusuk perutnya sampai Joe nyaris tak dapat bergerak. Joe memandang Quince dan berteriak kepadanya agar lari mengambil senapan. Quince kabur. Sam berhenti memukuli dan menoleh pada Eddie. 'Pergi ambil senapanku!' katanya. Eddie membeku dan Daddy berteriak lagi kepadanya. Joe tergeletak di tanah, tengkurap, mencoba mengumpulkan kekuatan. Ketika dia baru akan berdiri, Sam memukulnya lagi dan menjatuhkannya. Eddie masuk ke dalam dan Sam berjalan ke teras. Eddie kembali dalam beberapa detik dengan senapan, dan Daddy menyuruhnya masuk. Pintu ditutup."

Lee berjalan ke teras dan duduk di tepinya. Ia membenamkan wajah dalam tangannya dan menangis lama. Adam berdiri beberapa meter darinya, menatap tanah, mendengarkan suara isakan. Ketika Lee akhirnya memandangnya, matanya berkaca-kaca, maskaranya luntur, hidungnya basah. Ja menyeka wajah dengan tangan, lalu menggosokkan tangannya pada jeans. "Maaf," bisiknya. "Tolong selesaikan," kata Adam cepat.

Lee menarik napas dalam sejenak, lalu kembali menyeka mata. "Joe ada di sana," katanya, menuding ke suatu titik di rerumputan tak jauh dari Adam. "Dia berhasil berdiri, lalu berbalik dan melihat Daddy dengan senjata. Dia melibat sekeliling, ke arah rumahnya, tapi tak ada tanda-tanda Quince dan senapannya. Dia berbalik kembali pada Daddy yang berdiri tepat di sini, di tepi teras. Kemudian ayahku tersayang mengangkat senapan perlahan-lahan, sangsi sejenak, memandang sekeliling untuk memastikan tak ada orang lain yang melihat, lalu menarik pelatuk. Begitu saja, Joe terjengkang keras dan tak bergerak lagi."

"Kau melihat ini terjadi, bukan?" --"Ya." "Di mana kau?"

"Di sana." Lee mengangguk, tapi tak menunjuk,1 "Di pohon kemiriku. Tersembunyi dari dunia." "Sam tak bisa melihatmu?" Tak seorang pun bisa melihatku. Aku menyaksikan semuanya." Ia kembali menutupi mata dan berusaha menahan air mata. Adam bergeser ke teras dan duduk di sebelahnya.

Lee berdeham dan berpaling. "Dia melihat Joe selama semenit, siap menembak lagi bila diper- ' lukan. Namun Joe tak pernah bergerak. Dia sudah mati. Ada darah di rumput di sekitar kepalanya, dan aku bisa melihatnya dari pohon. Aku ingat mencengkeramkan kuku jari ke kulit pohon agar tidak terjatuh, dan aku ingat ingin menangis, tapi

terlalu ketakutan. Aku tak ingin dia mendengarku. Quince muncul sesudah beberapa menit. Dia mendengar tembakan itu dan menangis saat aku melihatnya. Dia berlari seperti orang gila dan menangis. Ketika melihat ayahnya di tanah, dia mulai menjerit seperti yang bakal dilakukan bocah mana pun. Ayahku mengangkat senjata lagi, dan selama sedetik aku yakin dia akan menembak bocah itu. Namun Quince melemparkan senapan Joe ke tanah dan berlari menghampiri ayahnya. Dia melolong dan menangis keras. Dia memakai kemeja berwarna terang, dan dengan cepat kemeja itu tertutup darah. Sam bergeser ke samping dan mengambil senapan Joe, lalu masuk ke dalam dengan kedua senapan."

Lee bangkit perlahan-lahan dan mengambil beberapa langkah terukur. "Quince dan Joe ada tepat di sini," katanya, memberi tanda dengan tumit. "Quince menyangga kepala ayahnya di samping

perut, darah ada di mana-mana, dan dia mengeluarkan lolongan aneh, seperti lengking binatang yang sedang sekarat." Ia berbalik dan memandang pohonnya. "Dan aku ada di sana, duduk di atas bagaikan burung kecil, menangis juga. Aku sangat membenci ayahku saat itu." "Di mana Eddie?"

"Di dalam rumah, dalam kamarnya yang terkunci." Ia menunjuk ke sebuah jendela dengan daun-daun pecah dan tak beitirai. "Itulah kamarnya. Kelak dia bercerita padaku dia melihat ke luar

529

ketika'mendengar tembakan, dan dia melibat Quince memeluk ayahnya. Dalam beberapa menit, Ruby Lincoln berlari mendatangi, diiringi anal? anak di belakangnya Mereka semua tersungkur di sekeliling Quince dan Joe. Oh, Tuhan, sungguh mengerikan. Mereka menjerit dan menangis, berteriak pada Joe agar bangun, agar jangan meninggalkan mereka

"Sam masuk ke dalam dan memanggil ambulans. Dia juga menelepon salah satu saudaranya, Albert, dan beberapa tetangga. Tak lama kemudian orang sudah berkerumun di halaman belakang. Sam dan gerombolannya berdiri di teras dengan senapan mereka, menyaksikan orang-orang yang sedang berdukacita, yang menyeret mayat ini ke bawah pohon di sana." Ia menuding ke sebatang pohon ek besar. "Ambulans tiba tak lama kemudian dan membawa jenazah itu. Ruby dan anak-anaknya berjalan kembali ke rumah mereka, ayahku dan teman-temannya tertawa-tawa di teras." "Berapa lama kau tinggal di pohon itu?" "Entahlah. Begitu semua orang pergi, aku turun dan berlari ke hutan. Aku dan Eddie punya tempat favorit di tepi sungai kecil, dan aku tahu dia akan datang mencariku.-Dia benar datang. Dia ketakutan dan kehabisan napas. Dia menceritakan segalanya tentang penembakan itu padaku. Kukatakan padanya aku sudah melihatnya. Pada matanya dia tak mempercayaiku, tapi kuceritakan detailnya. Kami berdua ketakutan setengah mati. Dia merogoh ke

dalam saku dan mencabut sesuatu. Ternyata mainan

prajurit Konfederasi yang menyebabkan dia dan Quince berkelahi. Dia menemukannya di bawah ranjang, maka langsung memutuskan di tempat semua ini kesalahannya. Kami bersumpah untuk menyimpan rahasia. Dia berjanji takkan bercerita pada siapa pun bahwa aku menyaksikan pembunuhan itu, dan aku berjanji takkan bercerita pada siapa pun bahwa dia menemukan prajurit mainan itu. Dia melemparkannya ke dalam sungai."

"Apakah kalian pernah bercerita?"

Lee menggelengkan kepala lama-lama.

"Sam tak pernah tahu kau ada di pohon itu?* tanya Adam.

"Tidak. Aku tak pernah menceritakannya pada ibuku. Sekali-sekali aku dan Eddie membicarakannya selama bertahun-tahun itu, dan dengan lewatnya waktu, kami seperti menguburkannya Ketika kami kembali ke rumah, orangtua kami sedang bertengkar hebat. Ibu histeris, Sam bermata liar dan gila. Kurasa dia memukul Ibu beberapa kali. Ibu menarik kami dan menyuruh kami masuk ke mobil. Sewaktu kami mundur di jalan masuk, sheriff datang. Kami berputar-putar sebentar, Ibu di jok depan, sedangkan aku dan Eddie di belakang. Kami berdua terlalu takut untuk bicara. Sam tak tahu apa yang harus dikatakan. Kami kira dia akan dibawa ke penjara, tam* ketika kami parkir di jalan masuk, dia sedang duduk di tetas depan, seolah-olah tak ada apa pun yang terjadi."

"Apa yang dilakukan sheriff!''

"Tidak ada, sunggguh. Dia dan Sam bicara sebentar. Sam memperlihatkan senapan Joe kepadanya dan menjelaskan kejadian itu sekadar masalah bela diri. Cuma satu negro lain binasa."

"Dia tidak ditahan?"

'Tidak, Adam. Ini Mississippi pada awal dasawarsa lima puluhan. Aku yakin sheriff itu tertawa mendengarnya, menepuk punggung Sam, dan menyuruhnya menjadi anak baik, lalu pergi. Dia bahkan membiarkan Sam menyimpan senapan Joe."

"Luar biasa."

"Kami berharap dia akan masuk penjara beberapa tahun."

"Apa yang dilakukan keluarga Lincoln?"

"Apa yang bisa mereka perbuat? Siapa yang bakal mendengarkan mereka? Sam melarang Eddie menemui Quince, dan untuk memastikan anak-anak itu tidak berkumpul lagi, dia mengusir mereka keluar dari rumah mereka."

"Astaga!"

"Dia memberi mereka waktu satu minggu untuk keluar, dan sheriff datang menunaikan tugas tersumpahnya dengan memaksa mereka keluar dari rumah. Pengusiran itu legal dan sah, demikian Sam meyakinkan Ibu. Kupikir Ibu akan meninggalkan Sam. Aku berharap dia melakukannya.'' j

"Apakah Eddie pernah menemui Quince?"

"Bertahun-tahun kemudian. Ketika Eddie mulai bisa mengemudikan mobil, dia mulai mencari ke-

luarga Lincoln. Mereka pindah ke pemukiman kecil di sisi lain kota Clanton, dan Eddie menemukan mereka di sana. Dia minta maaf dan beratus kali mengatakan menyesal. Namun mereka tak pernah bersahabat lagi. Ruby memintanya menyingkir. Dia bercerita padaku bahwa mereka tinggal di gubuk bobrok tanpa listrik."

Lee berjalan ke pohon kemirinya dan duduk bersandar ke batangnya. Adam mengikuti dan bersandar di sana. la memandang Lee, membayangkan tahun-tahun yang dilaluinya dengan memikul beban tersebut. Dan ia memikirkan ayahnya, ten-tang kepedihan dan penderitaannya, tentang luka yang tak terhapuskan sampai kematiannya. Adam sekarang mendapatkan petunjuk pertama penyebab kehancuran ayahnya, dan bertanya-tanya dalam hati, apakah kepingan-kepingan ini suatu hari nanti akan tersusun utuh. Ia memikirkan Sam, dan ketika melirik ke teras, ia bisa membayangkan seorang laki-laki yang lebih muda dengan senapan dan kebencian di wajahnya. Lee terisak-isak pelan.

"Apa yang dilakukan Sam sesudahnya?" . Lee bergulat mengendalikan diri. "Rumah ini begitu sunyi selama seminggu, mungkin sebulan, entahlah. Tapi rasanya baru bertahun-tahun kemudian kami bercakap-cakap saat makan malam. Eddie bermain dalam kamarnya, dengan pintu terkunci. Aku mendengarnya menangis di waktu ma-lam, dan dia mengatakan padaku berkali-kali, betapa benci dia pada ayahnya. Dia menginginkan-

nya mati. Dia ingin lari dari rumah. Dia menyalahkan diri sendiri antuk segala hal. Ibu jadi prihatin dan menghabiskan banyak waktu bersamanya Sedangkan aku, mereka pikir aku sedang bermain-main di hutan ketika hal itu terjadi Tak lama setelah aku dan PheJps menikah, aku diam-diam menemui psikiater. Aku berusaha menanggulanginya dengan terapi, dan aku ingin Eddie berbuat sama. Tapi dia tak mau. Terakhir kali aku bicara dengan Eddie sebelum dia meninggal, dia menyebut-nyebut pembunuhan itu. Dia tak pernah bisa mengatasinya." "Dan kau'bisa mengatasinya?" "Aku tidak berkata begitu. Terapi menolong, tapi aku masih bertanya-tanya, apa yang mungkin terjadi seandainya aku berteriak pada Daddy sebelum dia menarik pelatuk. Apakah dia tetap akan membunuh Joe sementara putrinya menyaksikan? Kurasa tidak."

"Sudahlah, Lee. Itu sudah empat puluh tahun yang lalu. Kau tak dapat menyalahkan diri sendiri."

"Eddie menyalahkan aku. Dia menyalahkan diri sendiri, dan kami saling menyalahkan sampai dewasa. Kami masih kanak-kanak ketika itu terjadi, dan kami tak dapat berlari pada orangtua kami. Kami tak berdaya."

Adam ingin mengajukan seratus pertanyaan tentang pembunuhan Joe Lincoln. Persoalan ini tampaknya tak mungkin diungkit lagi dengan Lee, dan

ia ingin tahu segala yang terjadi, setiap detail kecil. Di mana Joe dikuburkan? Apa yang terjadi pada senapannya? Apakah penembakan itu dilaporkan di surat kabar lokal? Apakah kasus itu diajukan pada grand jury! Apakah Sam pernah menyebutnya di depan anak-anaknya? Di mana ibu mereka saat terjadi perkelahian? Apakah dia mendengar pertengkaran dan tembakan itu? Apa yang terjadi pada keluarga Joe? Apakah mereka masih tinggal di Ford County?

"Mari kita bakar rumah ini, Adam," kata Lee tegas sambil menyeka wajah dan menatapnya tajam.

"Kau tidak serius."

"Ya, aku serius! Mari kita bakar seluruh tempat terkutuk ini, rumahnya, gudangnya, pohon ini, rumput dan ilalangnya. Tidak sulit. Cuma beberapa

korek di sana dan di sini. Ayolah." "Tidak, Lee." "Ayolah."

Adam membungkuk pelan dan menggandeng lengannya. "Mari kita pergi, Lee. Aku sudah mendengar cukup untuk satu hari."

Lee tidak menolak. Ia pun sudah menderita cukup untuk sehari. Adam membantunya melewati ilalang, mengelilingi ramah, melewati reruntuhan jalan masuk, dan kembali ke mobil.

Mereka meninggalkan rumah Cayhail tanpa se-patah kata pun. Jalan berubah menjadi jalan batu, lalu berhenti pada persimpangan jalan raya Lee menunjuk ke kiri, lalu memejamkan mata, seakan-

akan mencoba tidur. Merek» m , berhenti di toko keci,

mengatakan butuh cola dan L ^ ^gs > belinya sendiri. Ia kemb^ ^

kotak bir isi enam botol dan T* den^* botol pada Adam. "Apa iai^?^

—uoioi a an menawai botol pada Adam. "Apa ini?" tanya Adam

"Cuma beberapa," kata Lee. "Sarafku tegang Jangan biarkan aku minum lebih dari dua botol oke? Cuma dua." "Kurasa kau tidak seharusnya minum, Lee." "Aku baik-baik saja," ia bersikeras sambil mengernyit, lalu minum.

Adam tak ingin minum dan memacu mobil meninggalkan toko itu. Lee mengeringkan dua botol dalam lima belas menit, lalu tertidur. Adam memindahkan kotak bir ke jok belakang dan memusatkan perhatian pada jalan.

Sekonyong-konyong ia ingin meninggalkan Mississippi dan merindukan lampu-lampu di Memphis.

DUA PULUH TUJUH

Tepat seminggu sebelumnya ia terbangun dengan sakit kepala hebat dan perut lemah, serta dipaksa menghadapi babi asin berlemak dan telur berminyak sajian Irene Lettner. Dan dalam tujuh hari terakhir ia sudah ke ruang sidang Hakim Slattery, pergi ke Chicago, Greenville, Ford County, dan Parchman. Ia sudah berjumpa dengan Gubernur dan Jaksa Agung. Ia sudah bicara dengan kliennya selama enam hari.

Persetan dengan kliennya. Adam duduk di beranda, menyaksikan lalu lintas sungai dan menghirup kopi tanpa kafein sampai pukul 02.00. Ia menepuki nyamuk dan bergulat dengan bayangan Quince Lincoln memeluk tubuh ayahnya, sementara Sam Cayhail berdiri di teras dan mengagumi hasil kerjanya. Ia bisa mendengar suara tawa tertahan Sam dan teman-temannya di teras sempit itu, sementara Ruby Lincoln dan anak-anaknya mengelilingi mayat dan akhirnya menyeretnya melintasi halaman, ke bawah naungan pohon. Ia bisa

J

melihat Sam di halaman depan dengan dua senapan, memberikan penjelasan kepada sheriff bagaimana negro gila itu akan membunuhnya, dan bagaimana ia bertindak sepantasnya untuk tujuan bela diri. Sang sheriff sudah tentu tahu maksud Sam dengan cepat. Ia bisa mendengar bisikan anak-anak yang tersiksa itu, Eddie dan Lee, saat mereka menyalahkan diri sendiri dan bergulat dengan perbuatan Sam yang mengerikan. Dan ia mengutuk masyarakat yang bersedia mengabaikan kekerasan terhadap golongan tersisih.

Ia tidur dengan resah, dan pada suatu titik 'm I duduk di tepi ranjang, dan mengatakan pada dirinya Sam bisa mencari pengacara lain, hukuman mati sebenarnya cocok bagi sejumlah orang, termasuk kakeknya, dan ia akan langsung kembali ke Chicago untuk ganti nama lagi. Namun impian itu pergi, dan ketika ia terbangun untuk terakhir kali, sinar matahari sudah merembes melalui tirai, melontarkan garis-garis rapi di seberang ranjangnya. | Ia merenung memandangi langit-langit dan panel-panel sepanjang dinding selama setengah jam, sambil mengingat perjalanan ke Clanton. la berharap hari ini akan menjadi hari Minggu santai dengan surat kabar tebal dan kopi kental. Ia akan pergi ke kantor nanti siang. Kliennya punya waktu tujuh belas hari.

Lee menghabiskan bir ketiga setelah mereka tiba di kondominium, kemudian tidur. Adam mengawasinya dengan hati-hati, separo bersiaga

kalau-kalau bibinya pesta minum gila-gilaan atau pingsan mendadak karena alkohol. Tapi Lee sangat tenang dan terkendali, dan Adam tidak mendengar apa pun sepanjang malam.

Ia mandi, tidak bercukur, dan berjalan ke dapur, tempat sisa kopi kental pertama sudah menunggu. Lee ternyata sudah beberapa lama bangun. Adam memanggilnya, lalu berjalan ke kamar tidurnya. Ia cepat-cepat memeriksa serambi, lalu menjelajahi kondominium itu. Lee tak ada di sana. Koran Minggu tertumpuk rapi di meja kopi di ruang duduk.

Ia membuat kopi baru dan roti panggang, dan menikmati makan pagi di serambi. Saat itu hampir pukul 09.30, dan syukurlah langit tidak berawan dan suhu tidak mencekik. Hari Minggu yang bagus untuk bekerja di kantor. Ia membaca koran, mulai dengan bagian depan.

Mungkin Lee pergi ke toko atau entah apa. Mungkin ia pergi ke gereja. Mereka belum sampai pada tahap saling meninggalkan catatan. Tapi tak pernah ada pembicaraan bahwa Lee akan pergi ke suatu tempat pagi ini.

Adam baru makan sepotong roti panggang dengan selai strawberry ketika seleranya mendadak lenyap. Pada halaman depan, bagian Metro mencantumkan kisah Sam Cayhail, dengan foto sama Sepuluh tahun yang lalu. Artikel itu merupakan ringkasan pendek tentang perkembangan minggu terakhir ini, lengkap dengan diagram kronologis

yang mencantumkan tanggal- tanggal penting dalam sejarah kasus tersebut. Satu tanda tanya yang lucu dibiarkan tergantung pada tanggal 8 Agustus 1990. Apakah akan terjadi eksekusi pada saat itu? Rupanya jelas Todd Marks diberi ruang kolom tak terbatas oleh editor, sebab kisah itu nyaris tak memuat apa pun yang baru. Bagian yang merisaukan adalah beberapa kutipan dari dosen hukum di Ole Miss, pakar dalam masalah konstitusional yang sudah menangani banyak kasus hukuman mari. Profesor pintar itu sangat murah hati dalam memberikan pendapat, dan inti uraiannya menyatakan kasus Sam sudah cukup matang. Ia sudah mempelajari berkasnya cukup lama, bahkan sudah mengikutinya selama bertahun-tahun, dan berpendapat bahwa pada dasarnya tak ada hal lain yang bisa dilakukan Sam. Ia menjelaskan bahwa dalam banyak kasus hukuman mati, mukjizat kadang-kadang bisa terjadi pada detik terakhir, sebab biasanya si narapidana mendapatkan pembelaan pengacara yang kurang bagus, bahkan selama pengajuan bandingnya. Dalam kasus-kasus itu, pakar seperti dainya kerap kali bisa menarik kelinci dari topi, seperti tukang sulap, sebab mereka begitu cemerlang dan dapat menggali persoalan-persoalan yang diabaikan pengacara yang kurang pandai. Tapi, patut disesalkan, kasus Sam berbeda, sebab ia telah diwakili secara kompeten oleh pengacara-pengacara yang sangat cakap dari Chicago. Pengajuan banding Sam telah ditangani dengan

terampil, dan sekarang kesempatan mengajukan dalih sudah habis. Sang profesor, jelas seorang penjudi, memberikan peluang lima banding satu bahwa eksekusi itu akan terlaksana pada tanggal 8 Agustus. Dan untuk semua ini, segala pendapat dan ramalannya, ia menampangkan fotonya di surat kabar.

Adam mendadak gelisah. Ia sudah membaca berpuluh-puluh kasus hukuman mati. Pada detik terakhir pengacara-pengacaranya meraih tali yang sebelumnya tak pernah dipegang, dan meyakinkan para hakim agar mendengarkan argumentasi baru. Tradisi perkara besar penuh dengan kisah masalah hukum laten yang tak ditemukan dan tak tergali, sampai seorang pengacara yang berbeda dengan mata segar memasuki arena dan berhasil mendapatkan penundaan. Namun profesor hukum itu benar. Sam beruntung. Meskipun Sam tidak menyukai pengacara-pengacara di Kravitz & Bane, mereka telah memberikan karya pembelaan yang luar biasa. Sekarang tak ada lagi yang tersisa kecuali setumpuk mosi putus asa, yang dikenal sebagai banding gangplank.

Ia melemparkan koran itu ke dek kayu dan pergi ke dalam mengambil kopi lagi. Pintu sorong berbunyi, suara baru dari sistem pengaman baru yang dipasang Jumat lalu, setelah yang lama tak berfungsi dan sejumlah kunci hilang secara misterius. Tak ada bukti telah terjadi pembongkaran. Keamanan dijaga ketat di kompleks itu. Dan Wil-

lis tak tahu pasti berapa set anak kunci yang disimpannya untuk masing-masing unit. Kepolisian Memphis memutuskan bahwa pintu sorong itu dibiarkan tak terkunci, dan entah bagaimana tergeser

membuka. Adam dan Lee tidak mengkhawatirkan

hal itu.

Karena kurang hati-hati, ia menyenggol gelas di samping tempat cuci. Gelas itu hancur berkeping-keping ketika menerpa lantai. Kepingan-kepingan kaca bertebaran di sekitar kakinya yang telanjang, dan ia berjingkat hati-hati ke kamar sepen untuk mengambil sapu dan pengki. Dengan hati-hati ia menyapu pecahan gelas itu menjadi tumpukan rapi, tanpa mengucurkan darah, lalu membuangnya ke keranjang sampah di bawah wastafel. Sesuatu menarik perhatiannya. Perlahan-lahan ia meraih ke dalam kantong sampah dari plastik hitam itu, dan meraba-raba ampas kopi hangat serta pecahan gelas, sampai ia menemukan sebuah botol dan mencabutnya ke luar. Ternyata botol vodka kosong.

Ia mengerik ampas kopi dari botol itu dan mengamati labelnya. Keranjang sampah itu kecil dan biasanya dikosongkan dua hari sekali, kadang-kadang sekali tiap hari. Sekarang keranjang itu setengah penuh. Botol itu belum lama di sana. Ia membuka lemari es dan mencari tiga botol bit yang tersisa dari enam botol kemarin. Lee minum dua dalam perjalanan kembali ke Memphis, lalu satu lagi di kondominium. Adam tak ingat di mana botol-botol itu disimpan, tapi semuanya tak

ada dalam lemari es. Tidak pula dalam keranjang sampah di dapur, ruang duduk, kamar mandi, atau kamar tidur. Semakin mencari, semakin' kuat tekadnya untuk menemukan botol-botol tersebut. Ia memeriksa kamar sepen, lemari tempat menyimpan sapu, lemari tempat menyimpan seprai, lemari dapur. Ia menggeledah lemari dan laci-laci Lee, dan merasa dirinya seperti pencuri dan penipu, tapi teras menggeledah, sebab ia ketakutan.

Botol-botol itu ada di bawah ranjangnya, kosong tentu saja, dan disembunyikan dengan hati-hati dalam kotak sepatu Nike lama. Tiga botol Heineken kosong disusun rapi jadi .satu, seolah-olah mereka akan dikirim ke suatu tempat sebagai hadiah. Ia duduk di lantai dan memeriksanya. Botol-botol itu masih segar, dengan beberapa tetes bir masih merembes di sekitar dasarnya.

Ia menduga berat badan Lee sekitar 65 kilogram, dan tingginya sekitar 170 sentimeter. Ia ramping tapi tidak terlalu kurus. Tubuhnya tak dapat menahan terlalu banyak minuman keras. Ia tidur cepat, sekitar pukul 21.00, kemudian pada suatu ketika menyelinap di kondominium itu untuk mengambil bir dan vodka. Adam bersandar ke dinding, pikirannya ke mana-mana, Lee telah memikirkan tempat penyembunyian botol-botol hijau itu, namun tahu akan tertangkap. Ia tahu Adam nanti akan mencarinya. Mengapa ia tidak lebih hati-hati dengan botol vodka kosong itu? Mengapa

botol itu disembunyikan di tempat sampah, dan botol-botol bir diselipkan di bawah ranjang?

Kemudian Adam menyadari sedang mengikuti jalan pikiran yang rasional, bukan pikiran yang mabuk. Ia memejamkan mata dan mengetukkan belakang kepala pada dinding. Ia telah membawa Lee ke Ford County; mereka melihat makam-makam dan menghidupkan kembali suatu mimpi buruk, dan Lee- harus memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan wajah. Sekarang sudah dua minggu ia menuntut berbagai rahasia keluarga, dan kemarin beberapa kali ia pedih mendengar beberapa fakta. Ia perlu tahu, katanya pada diri sendiri. Tidak jelas mengapa, tapi ia merasa harus tahu mengapa keluarganya begitu aneh, kejam, dan penuh kebencian.

Dan sekarang, untuk pertama kali disadarinya hal ini mungkin jauh lebih rumit daripada kisah keluarga biasa. Mungkin ini menyakitkan bagi setiap orang yang terlibat. Mungkin minatnya pada rahasia-rahasia keluarga tidak sepenting stabilitas Lee, Ia mendorong kotak .sepatu itu ke posisi semula, lalu melemparkan botol vodka tadi ke keranjang sampah untuk kedua kalinya. Ia cepat-cepat berpakaian dan meninggalkan kondominium itu. ia menanyakan Lee kepada penjaga gerbang. Menurut catatan pada clipboard-nya, Lee pergi hampir dua jam yang lalu, pukul 08.10.

Sudah menjadi kebiasaan para pengacara di

Kravitz & Bane Chicago menghabiskan hari Minggu di kantor, tapi jelas praktek seperti itu tak disukai di Memphis. Seluruh kantor itu sepenuhnya untuk Adam, tapi ia tetap mengunci pintunya, dan dengan segera tenggelam dalam praktek dunia hukum habeas corpus federal yang keruh.

Namun pikirannya sulit dipusatkan. Ia mengkhawatirkan Lee dan membenci Sam. Akan sulit untuk memandangnya lagi, mungkin besok, melalui kisi-kisi besi di The Row. Sam rapuh, pucat, dan penuh kerut-merut. Dari segala segi, ia berhak mendapatkan simpati orang. Pembicaraan terakhir mereka adalah tentang Eddie, dan sesudahnya Sam memintanya agar meninggalkan urusan keluarga di luar The Row. Saat ini sudah cukup banyak yang mengisi pikirannya. Tidaklah adil menyiksa seorang terhukum dengan dosa-dosa lamanya.

Adam bukan penulis biografi, bukan pula sejarawan. Ia tak pernah dididik dalam sosiologi atau psikiatri, dan—terus terang—pada saat ini, ia cukup khawatir dengan ekspedisi lebih lanjut ke dalam sejarah remang-remang keluarga Cayhall. Ia hanya pengacara yang masih agak hijau, tapi bagaimanapun juga dibutuhkan kliennya.

Sudah tiba saatnya untuk praktek hukum dan melupakan kisah sejarah.

Pukul 11.30 ia menelepon nomor Lee dan mendengarkan telepon berdering. Ia meninggalkan pesan pada alat perekam, memberitahukan di mana ia berada dan meminta Lec menelepon kembali. Ia

menelepon lagi pada 13.00, dan 14.00. Tak ada jawaban. Ia sedang menyiapkan surat pembelaan ketika telepon berdering.

Bukan suara Lee yang menyenangkan yang didengarnya, melainkan kata-kata pendek Hakim F. JFTynn Slattery. "Ya, Mr. Hall, Hakim Slattery di sini. Saya sudah mempertimbangkan masalah ini dengan hati-hati, dan saya menolak memberikan segala keringanan, termasuk permohonan Anda akan penundaan eksekusi," kata sang Hakim, nyaris dengan nada riang. "Ada banyak alasan, tapi kita takkan membahasnya. Panitera saya akan mengirimkan keputusan saya dengan fax sekarang juga, jadi Anda akan mendapatkannya sebentar lagi." "Ya. Sir," kata Adam.

"Anda perlu mengajukan dalih lain secepat mungkin, Anda tahu. Saya sarankan Anda melakukannya besok pagi."

"Saya sedang menggarapnya sekarang, Yang Mulia. Sebenarnya sudah hampir selesai."

"Bagus. Jadi, Anda sudah memperkirakan hal ini?"

"Ya, Sir. Saya mulai menggarap dalih lain segera setelah meninggalkan kantor Anda pada hari Selasa." Rasanya sangat menggoda untuk mengejek Slattery satu atau dua kali. Lagi pula ia berada dua ratus mil dari sana. Namun orang ini hakim federal. Adam menyadari benar bahwa suatu hari, dalam waktu dekat ini, ia mungkin membutuhkan hakim itu lagi.

"Selamat siang, Mr. Hall." Slattery menggantung telepon.

Adam berjalan mengelilingi meja selusin kali, lalu menyaksikan cahaya menghujani Mali di bawah. Diam-diam ia menyumpahi hakim-hakim federal pada umumnya dan Slattery pada khususnya, lalu kembali ke komputer, menatap layarnya, dan menunggu inspirasi.

Ia mengetik dan membaca, meriset dan mencetak, -melihat-lihat ke luar jendela, serta memimpikan terjadinya mukjizat sampai hari gelap. Ia menghabiskan waktu beberapa jam dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh, dan salah satu alasan ia bekerja sampai pukul 20.00 adalah memberikan banyak kesempatan kepada Lee untuk kembali ke kondominium. Tak ada tanda-tanda dari Lee. Satpam menga-: takan ia belum kembali. Tak ada pesan lain dalam mesin perekam, kecuali darinya tadi. Sebagai santap malam, ia makan popcorn microwave dan menonton dua film video. Gagasan menelepon Phelps Booth begitu menjijikkan, sampai ia nyaris menggigil memikirkannya.

Ia pikir-pikir akan tidur di sofa di ruang duduk, agar bisa mendengar bila Lee pulang, tapi setelah film terakhir ia kembali ke kamarnya di lantai atas dan menutup pintu.

DUA PULUH DELAPAN

Penjelasan tentang hilangnya Lee kemarin muncul dengan lambat, tapi kedengaran masuk akal pada saat ia menceritakannya. Ia berada di rumah sakit sehari penuh bersama salah satu anak asuhnya dari Auburn House, katanya sambil bergerak perlahan-lahan sekeliling dapur. Gadis kecil yang malang itu baru tiga belas tahun, bayi pertama, tapi pasti akan ada lainnya, dan ia harus melahirkan sebulan' *»' lebih awal. Ibunya ada di penjara, bibinya pergi menjual obat bius, dan ia tak punya siapa pun-untuk mengadu. Lee terus memegangi tangannya selama persalinan yang rumit. Gadis itu baik-baik saja dan bayinya sehat, dan sekarang ada satu lagi anak yang tak diinginkan di ghetto Memphis.

Suara Lee parau, matanya sembap dan merah. Ia mengatakan kembali beberapa menit setelah pukul 01.00, dan seharusnya menelepon lebih pagi, tapi mereka berada enam jam di dalam kamar pasien dan dua jam lagi di kamar bersalin. Rumah Sakit St. Peter's Charity seperti kebun binatang,

548

terutama pada bagian bersalinnya, dan... yah, ia tak berhasil mendapatkan telepon.

Adam duduk di depan meja dengan piama, menghirup kopi, dan mengamati surat kabar ketika Lee bicara. Ia tidak meminta penjelasan itu. Ia mencoba sebaik mungkin berlagak tidak khawatir. Lee bersikeras akan menyiapkan makan pagi: telur goreng dan biskuit kalengan. Ia menyibukkan diri di dalam dapur sambil bicara dan menghindari kontak mata.

"Siapa nama bocah itu?" tanya Adam serius, seolah-olah ia benar-benar prihatin mendengar cerita Lee.

"Uh, Natasha. Natasha Perkins."

"Dan dia baru tiga belas tahun?"

"Ya. Ibunya 29 tahun. Bisakah kau percaya? Seorang nenek umur 29 tahun."

Adam menggelengkan kepala tercengang. Ia kebetulan sedang melihat bagian kecil Memphis Press yang memuat catatan penting di county itu. Akte perkawinan. Perkara perceraian. Kelahiran. Penahanan. Kematian. Ia memeriksa daftar kelahiran kemarin, seolah-olah sedang memeriksa angka-angka, dan tidak menemukan catatan tentang ibu baru bernama Natasha Perkins.

Lee menyelesaikan pergulatannya dengan biskuit kalengan. Ia meletakkannya di piring kecil bersama telur dan menyajikannya, lalu duduk di ujung lain meja itu, sejauh mungkin dari Adam. "Bon appetit," katanya dengan senyum dipaksakan.

549

Masakannya sudah merupakan sumber humor yang kaya.

Adam tersenyum, seolah-olah segalanya baik-baik saja. Mereka butuh humor saat ini, tapi tak dapat bercanda. "Cubs kalah lagi," katanya sambil, menggigit sepotong telur dan melirik koran yang terlipat itu.

"Cubs selalu kalah, kan?"

"Tidak selalu. Kau mengikuti bisbol?"

"Aku benci bisbol. Phelps membuatku membenci setiap olahraga yang pernah dikenal manusia."

Adam menyeringai dan membaca koran. Beberapa menit mereka makan tanpa bicara, dan keheningan itu jadi berat. Lee memencet tombol remote control; televisi di atas counter menyala dan menimbulkan kebisingan. Mereka berdua mendadak tertarik pada prakiraan cuaca yang kembali panas dan kering. Lee memain-mainkan makanannya, mengorek-ngorek biskuit yang separo terpanggang dan mendorong telur di sekitar piringnya. Adam curiga saat ini perut Lee sedang lemah.

Ia menghabiskan sarapan cepat-cepat dan membawa piringnya ke bak cuci dapur, lalu duduk kembali di depan meja menyelesaikan membaca surat kabar. Lee menatap televisi, apa saja untuk menghindari kontak mata dengan keponakannya.

"Aku mungkin akan pergi menemui Sam hari ini," kata Adam. "Sudah seminggu aku tidak menjenguknya."

Tatapan mata Lee jatuh pada suatu titik di

tengah meja. "Seandainya saja kita tidak pergi ke Clanton Sabtu kemarin." "Aku tahu."

"Itu bukan gagasan yang bagus."

"Maaf, Lee. Aku bersikeras pergi, dan itu bukan gagasan yang bagus. Selama ini aku telah mendesakmu dengan banyak hal, dan mungkin aku keliru."

"Itu tidak adil...."

"Aku tahu ini tidak adil. Sekarang kusadari bahwa mengungkapkan sejarah keluarga ini bukan urusan sederhana."

"Itu tidak adil baginya, Adam. Rasanya kejam menghadapkannya dengan hal-hal ini saat dia cuma punya waktu dua minggu untuk hidup."

"Kau benar. Dan salah membuatmu membayangkannya kembali."

"Aku akan baik-baik saja." Ia mengucapkan ini seolah-olah ia sama sekali kurang baik sekarang, tapi mungkin ada sekeping harapan di masa depan. "Maaf, Lee. Aku sungguh menyesal." "Tak apa. Apa yang akan kaulakukan dengan Sam hari ini?"

"Bicara, kebanyakan. Pengadilan federal lokal menolak permohonan kami kemarin, jadi kami akan mengajukan dalih lain pagi ini. Sam suka membicarakan strategi hukum." "Katakan padanya aku memikirkannya." ' "Akan kusampaikan."

la mendorong piringnya dan memegang cangkir-

nya dengari dua tangan. "Dan tanya dia apakah ingin aku datang menengoknya."

"Kau benar-benar ingin melakukannya?" tanya Adam, tak mampu menyembunyikan perasaan kagetnya.

"Aku merasa harus melakukannya. Sudah bertahun-tahun aku tak pernah melihatnya." "Akan kutanya dia."

"Dan jangan sebut-sebut Joe Lincoln, oke, Adam? Tak pernah kuceritakan pada Daddy apa yang kusaksikan."

"Kau dan Sam tak pernah bicara tentang pembunuhan itu?" -

"Tak pernah. Peristiwa itu diketahui luas dalam masyarakat Aku dan Eddie tumbuh dewasa dengannya dan membawanya sebagai beban, tapi— terus terang, Adam, kejadian itu bukan urusan besar bagi para tetangga. Ayahku membunuh orang kulit hitam. Itu tahun 1950, dan terjadi di Mississippi. Peristiwa itu tak pernah dibicarakan dalam ramah kami."

"Jadi, Sam berhasil sampai ke kuburnya tanpa dihadapkan pada pembunuhan itu?"

"Apa yang kaudapat dengan menghadapkannya pada pembunuhan tersebut? Itu sudah empat puluh tahun yang lalu."

"Entahlah. Mungkin dia akan mengatakan menyesal."

"Kepadamu? Dia minta maaf padamu, dan itu membuat segalanya beres? Aduh, Adam, kau ma-

sih muda dan tak mengerti. Biarkan saja urusan ini. Jangan sakiti lagi orang tua itu. Saat ini, kaulah satu-satunya .titik cerah dalam hidupnya yang menyedihkan." "Oke, oke."

"Kau tak berhak menyergapnya dengan kisah Joe Lincoln."

"Kau benar. Aku takkan melakukannya. Janji."

Ia menatap Adam dengan mata merah, sampai Adam memandang ke televisi, lalu cepat-cepat minta diri dan menghilang lewat ruang duduk. Adam mendengar pintu kamar mandi ditutup dan dikunci. Ia berjalan melintasi karpet dan berdiri di gang, mendengarkan sementara Lee muntah-muntah. Toilet diguyur, dan Adam lari ke atas, ke kamarnya, untuk mandi dan berganti pakaian.

Pukul 10.00, Adam telah menyempurnakan dalih pembelaan kepada Pengadilan Banding Fifth Circuit di New Orleans. Hakim Slattery sudah mengirim satu copy keputusannya dengan fax kepada panitera di Pengadilan Fifth Circuit, dan Adam mengirimkan pembelaannya dengan fax segera setelah tiba di kantor. Aslinya ia kirimkan dengan Federal Express.

Ia juga bercakap-cakap untuk pertama kalinya dengan Death Clerk, pegawai penuh Mahkamah Agung AS yang tidak mengerjakan apa pun selain memantau dalih-dalih pembelaan terakhir dari semua terpidana mati. Death Clerk kerap kali beker-

ja 24 jam sehari, bila eksekusi sudah hampir tiba saatnya. E. Garner Goodman telah menjelaskan secara ringkas pada Adam. tentang akal bulus Death Clerk dan kantornya, lalu dengan enggan Adam menelepon untuk pertama kalinya.

Nama panitera itu Richard Olander, jenis orang yang efisien dan kedengaran agak letih pada pagi hari Senin. "Kami sudah menunggu ini," katanya pada Adam, seolah-olah urusan terkutuk ini seharusnya sudah diajukan beberapa saat yang lalu, Ja menanyai Adam, apakah ini eksekusinya yang pertama

"Saya khawatir begitulah," kata Adam. "Dan saya harap ini yang terakhir."

"Ah, Anda jelas telah memilih seorang pecundang," Mr. Olander berkata, lalu menjelaskan dengan detail berkepanjangan bagaimana pengadilan mengharapkan dalih-dalih pembelaan terakhir ini ditangani. Setiap pengajuan apa pun mulai saat ini sampai selanjutnya, sampai akhir, tak peduli di mana dalih itu diajukan atau apa isinya, harus juga diajukan ke kantornya secara bersamaan, ia menguraikan dengan datar, seolah-olah membaca dari buku teks. Bahkan ia akan langsung mem-fox-kan kepada Adam copy keputusan Mahkamah, yang semuanya harus diikuti dengan cermat sampai akhir. Kantornya selalu siap, 24 jam sehari, demikian ia mengulangi lebih dari sekali, dan yang sangat penting adalah mereka menerima copy dari segalanya. Itu tentunya bila Adam ingin kliennya

mendapatkan sidang pemeriksaan yang adil oleh Mahkamah. Bila Adam tak peduli, nah, ikuti saja peraturan-peraturan dengan ceroboh dan kliennya akan menerima akibatnya.

Adam berjanji akan mengikuti peraturan. Mahkamah Agung jadi sangat letih dengan klaim yang tak ada habisnya dalam kasus-kasus hukuman mati, dan ingin mengumpulkan semua mosi dan dalih pembelaan untuk mempercepat urusan. Dalih pembelaan Adam untuk Pengadilan Fifth Circuit akan diamati dengan teliti oleh para hakim agung dan panitera mereka, jauh sebelum Mahkamah benar-benar menerima kasus tersebut dari New Orleans. Hal yang sama juga berlaku bagi semua pembelaan detik terakhir. Dengan demikian, Mahkamah bisa langsung memberikan keringanan, atau menolaknya dengan cepat.

Begitu efisien dan cepat kerja Death Clerk, sampai baru-baru ini Mahkamah dipermalukan dengan menolak suatu dalih pembelaan sebelum dalih tersebut diajukan secara resmi. Kemudian Mr. Olander menjelaskan kantornya punya checklist dari setiap mosi dan dalih pembelaan menit terakhir yang mungkin diajukan, dan ia bersama stafnya yang cakap memantau setiap kasus, untuk melihat apakah semua pembelaan yang mungkin diajukan telah diajukan. Dan bila seorang peng- ^ acara di suatu tempat melewatkan suatu pokok yang potensial, mereka akan memberi tahu pengacara itu bahwa ia harus meneliti klaim yang

terlupakan tersebut. Apakah Adam menginginkan copy checklist mereka?

Tidak, Adam menerangkan sudah punya satu copy. E. Garner Goodman telah menulis buku tentang banding gangplank.

Baik, kata Mr. Olander. Mr. Cayhall punya waktu enam belas hari, dan—sudah tentu—banyak hal bisa terjadi dalam enam belas hari. Tapi, -menurut pendapatnya, kepentingan hukum Mr. Cayhall telah diwakili dengan baik, dan urusan itu telah diperiksa dengan cermat. Ia akan terkejut, demikian ia berkomentar, kalau ada penundaan lebih lanjut. Terima kasih atas komentar itu, pikir Adam. Mr. Olander dan stafnya sedang mengawasi suatu kasus di Texas dengan ketat, ia menjelaskan. Eksekusinya ditetapkan sehari sebelum eksekusi j Sam, tapi, menurut pendapatnya, kemungkinan besar akan ada penundaan. Florida punya satu yang dijadwalkan akan dilaksanakan dua hari sesudah eksekusi Mr. Cayhall, Georgia punya dua yang dijadwalkan seminggu sesudahnya, tapi, nah, siapa tahu. Ia dan seseorang dalam stafnya akan berada di tempat setiap saat, dan ia sendiri akan berada di samping telepon selama dua belas jam terakhir sebelum eksekusi.

Teleponlah kapan saja, katanya, lalu mengakhiri percakapan dengan janji tegas akan membuat segalanya semudah mungkin bagi Adam dan klien-

-Adam membanting telepon dan berputar-putar

sekeliling kantornya. Pintunya terkunci, seperti biasa, dan gang di luar sibuk dengan gosip Senin pagi yang penuh semangat Wajahnya kemarin muncul lagi di surat kabar, dan ia tak ingin dilihat Ia menelepon Auburn House dan minta bicara dengan Lee Booth, tapi Lee tidak masuk. Ia menelepon kondominiumnya. Tak ada jawaban. Ia menelepon Parchman dan memberi tahu petugas di gerbang depan untuk menunggunya sekitar pukul 13.00.

Ia pergi ke komputernya dan menemukan salah satu proyek terakhirnya—sejarah kronologis singkat dari kasus Sam.

Dewan Juri Lakehead County memutuskan Sam bersalah pada tanggal 12 Februari 1981, dan dua hari kemudian menyampaikan vonis hukuman mati kepadanya. Ia langsung naik banding ke Mahkamah Agung Mississippi, mengajukan segala macam keberatan terhadap sidang pengadilan dan tuntutannya, tapi sama sekali mengecualikan fakta bahwa sidang itu terjadi hampir empat belas tahun setelah pengeboman. Pengacaranya, Benjamin Keyes, berdebat dengan penuh semangat bahwa 'Sam tidak mendapatkan sidang secepatnya, dan mengalami risiko berganda karena diadili tiga kali atas tindak kejahatan yang sama. Keyes mengajukan argumentasi' yang sangat kuat. Mahkamah Agung Mississippi dengan pahit terbelah pend

nya tentang masalah ini, dan pada tanggal 23 Jujj 1982 menurunkan keputusan kontroversial yang mengukuhkan vonis Sam. Lima hakim tinggi memberikan suara untuk mengukuhkan, tiga menolak, dan satu abstain.

Keyes kemudian mengajukan petisi peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung AS, yang meminta Mahkamah untuk meninjau kembali kasus Sam. Biasanya Mahkamah Agung jarang memberikan peninjauan ulang pada suatu kasus, karenanya menjadi suatu kejutan ketika pada tanggal 4 Maret 1984 Mahkamah setuju melakukan peninjauan kembali atas vonis Sam.

Mahkamah Agung AS juga terpecah nyaris sama hebatnya dengan Mahkamah Mississippi tentang masalah tuntutan berganda, namun mereka* sampat pada kesimpulan yang sama. Dua juri Sam yang pertama sama sekali macet, tak dapat mengambil keputusan, digantung oleh permainan Clovis Brazelton. Dengan demikian, Sam tidak dilindungi oleh klausa tuntutan ganda dari Amandemen Kelima Ia tak pernah dinyatakan bebas o/eh satu pun di antara dua dewan juri pertama. Masing-masing tak dapat mencapai keputusan bulat, jadi tuntutan ulang merupakan sesuatu yang konstitusional. Pada tanggal 21 September 1983, Mahkamah Agung AS memutuskan dengan enam suara banding tiga bahwa vonis Sam harus dikukuhkan. Keyes langsung mengajukan beberapa mosi, meminta sidang pemeriksaan ulang, tapi sia-sia.

Sam menyewa Keyes untuk mewakilinya selama sidang pengadilan dan sidang banding di Mahkamah Agung Mississippi, bila diperlukan. Pada saat Mahkamah Agung AS mengukuhkan vonisnya, Keyes sudah bekerja tanpa bayaran. Kontraknya untuk mewakili kepentingan hukum Sam sudah habis, dan ia menulis surat panjang kepada Sam, menerangkan sekarang tiba saatnya bagi Sam untuk mengambil cara lain. Sam memahami hal ini.

Keyes juga menulis surat kepada seorang rekan pengacara ACLU di Washington, yang kemudian menulis surat kepada sahabatnya, E. Garner Goodman, di Kravitz & Bane Chicago. Surat tersebut mendarat di meja kerja Goodman pada saat yang amat tepat. Sam sedang kehabisan waktu dan putus asa. Goodman sedang mencari proyek pro bono. Mereka bertukar surat, dan pada tanggai 18 Desember 1983, Wallace Tyner, seorang partner di bagian pembelaan kejahatan kerah putih di Kravitz & Bane mengajukan petisi untuk mendapatkan keringanan vonis dari Mahkamah Agung Mississippi.

Tyner menyatakan banyaknya kesalahan dalam sidang Sam, termasuk diterimanya foto-foto mayat John dan Josh Kramer yang penuh darah sebagai bukti, Ia menyerang pemilihan anggota juri dan IMnuduh McAllister secara sistematis memilih orang-orang kulit hitam di atas orang kulit putih. Ia menyatakan sidang yang adil tak mungkin terlaksana, sebab lingkungan sosial pada tahun 1981 sudah jauh berbeda dari tahan 1967. Ia berdalih

tempat pengadilan yang dipilih Hakim tidak adil. Ia mengangkat lagi masalah tuntutan ganda dan pengadilan secepatnya. Secara keseluruhan, Wallace Tyner dan Garner Goodman mengangkat delapan pokok masalah yang terpisah dalam petisi tersebut. Tetapi mereka tidak mempersoalkan Sam telah dirugikan dengan pembelaan yang tidak efektif—klaim utama dari semua terpidana mati. Mereka ingin, melakukannya, tapi Sam tak mengizinkan. Pada mulanya ia menolak menandatangani petisi tersebut, sebab petisi itu menyerang Benjamin Keyes, pengacara yang sangat disukai Sam.

Pada tanggal 1 Juni 1985, Mahkamah Agung Mississippi menolak semua keringanan pascavonis yang diminta. Tyner kembali mengajukan permohonan peninjauan ulang kepada Mahkamah Agung AS, tapi ditolak. Ia kemudian mengajukan petisi . Sam pertama mengenai writ of habeas corpus— agar narapidana dihadapkan ke sidang dalam jangka waktu 24 jam setelah ditahan, untuk menghin-dari penahanan ilegal—serta memohon penundaan eksekusi di Pengadilan Federal Mississippi. Seperti biasanya, petisi itu cukup tebal dan berisi setiap pokok persoalan yang sudah diangkat di pengadilan negara bagian.

Dua tahun kemudian, pada tanggal 3 Mei 1987, pengadilan distrik menolak segala keringanan, dan Tyner naik banding ke Pengadilan Fifth Circuit di New Orleans, yang pada gilirannya mengukuhkan penolakan pengadilan di bawahnya. Pada tanggal

20 Maret 1988, Tyner mengajukan petisi untuk sidang pemeriksaan ulang dengan Pengadilan Fifth

Circuit, yang juga ditolak. Pada tanggal 3 September 1989, Tyner dan Goodman kembali berpaling pada Mahkamah Agung dan memohon agar Mahkamah memerintahkan peninjauan kembali keputusan pengadilan di bawahnya. Seminggu kemudian Sam menulis surat pertama di antara banyak lainnya kepada Goodman dan Tyner, berisi' ancaman memecat mereka.

Mahkamah Agung AS memberi Sam penundaan terakhir pada tanggal 14 Mei 1989, sesuai dengan keputusan Mahkamah yang memberikan peninjauan ulang kepada sebuah kasus dari Florida. Tyner berdebat dengan sukses bahwa kasus Florida tersebut menimbulkan persoalan serupa, dan Mahkamah Agung memberikan penundaan pada beberapa lusin kasus hukuman mati lain di. seluruh negeri.

Tak ada apa pun yang diajukan dalam kasus Sam, sementara Mahkamah Agung menunda ke-putusan dan berdebat tentang kasus Florida itu. Akan tetapi Sam memulai usahanya sendiri untuk melepaskan diri dari Kravitz & Bane. Ia mengajukan sendiri beberapa mosi konyol, yang semuanya dengan cepat ditolak. Tapi ia berhasil mendapatkan surat keputusan dari Pengadilan Fifth Circuit yang secara efektif menghentikan pelayanan pro bono dari pengacaranya. Pada tanggal 29 Juni 1990, Pengadilan Fifth Circuit mengizinkan-

nya mengurus kepentingan hukumnya se h-Garner Goodman menutup berkas Sam dan Berkas itu tidak ditutup lama. ^ayha|f

Pada tanggal 9 Mi 1990, Mahkamah a mencabut penundaan eksekusi Sam Pan gUn§ 10 Juli 1990, Pengadilan Fifth Circuit penundaan eksekusi Sam, dan pada h but sama Mahkamah Agung Mississippi meniaril ^g -ggal 8 Agustus, empat mingg^ bagai han eksekusi. ' Se-

Setelah sembilan tahun peperangan pengadilan -sekarang punya waktu enam belas^n^

pUA PULUH SEMBILAN

The row sunyi sepi, sementara satu hari lagi berjalan lamban menjelang siang. Berbagai kipas angin berdengung dan berderak dalam sel-sel sempit, dengan penuh semangat mencoba mendorong udara yang makin lama makin pengap.

Berita pagi di televisi diisi dengan laporan-laporan seru bahwa Sam Cayhall telah kalah dalam pertempuran hukumnya yang terbaru. Keputusan Slattery dikumandangkan ke seluruh penjuru negara bagian, seolah-olah itu paku terakhir pada peti mati. Stasiun Jackson meneruskan hitungan mundurnya—tinggal enam belas hari tersisa. Hari keenam belas! Demikian tertulis dalam huruf tebal di bawah foto tua Sam yang sama. Para reporter dengan mata berbinar, makeup tebal, dan tanpa pengetahuan apa pun tentang hukum, menyemburkan kata-kata ke arah kamera dengan ramalan yang tak kenal takut. "Menurut sumber-sumber kami, upaya hukum Sam Cayhall akhirnya habis. Banyak orang percaya eksekusinya akan teriak-

sana, seperti dijadwalkan, pada tanggal 8 Agustus." Kemudian diteruskan dengan berita olahraga dan prakiraan cuaca.

Di The Row, percakapan lebih jarang terjadi, teriakan ke sana-sini makin berkurang, layang-layang lebih sedikit dikirimkan di antara sel-sel. Akan terjadi eksekusi.

Sersan Packer tersenyum sendiri ketika berlenggang di Tier A. Suara umpatan dan omelan yang sudah menjadi bagian pekerjaan hariannya nyaris lenyap. Sekarang para narapidana itu prihatin memikirkan dalih pembelaan banding dan pengacara mereka. Permintaan paling umum dalam dua minggu terakhir ini adalah memakai telepon untuk menelepon pengacara.

Packer tidak antusias ingin menyaksikan eksekusi lain, tapi ia benar-benar menikmati ketenangan itu. Dan ia tahu itu cuma sementara. Apabila Sam menerima keputusan penundaan eksekusi besok, kebisingan akan langsung meningkat.

Ia berhenti di depan sel Sam. "Jam istirahat di luar, Sam."

Sam sedang duduk di ranjangnya, mengetik dan merokok seperti biasa. "Pukul berapa ini?" ia bertanya, meletakkan mesin tik di sebelahnya dan berdiri.

"Sebelas."

Sam berbalik memunggungi Packer dan mengulurkan pergelangan melalui lubang di pintunya.

Packer dengan hati-hati memborgolnya. *Kau keluar sendiri?" tanyanya. Sam berbalik dengan tangan di belakangnya.

"Tidak. Henshaw ingin keluar juga."

"Aku akan menjemputnya," kata Packer sambil mengangguk pada Sam, lalu mengangguk ke ujung tier. Pintu terbuka, dan Sam perlahan-lahan mengikutinya melewati sel-sel lain. Setiap narapidana bersandar pada jeruji dengan tangan dan lengan bergelantungan ke luar, masing-masing mengawasi Sam dengan cermat ketika ia berjalan lewat.

Mereka berjalan melewati jeruji-jeruji dan lorong-lorong lagi, dan Packer membuka kunci sebuah pintu besi yang tak dicat. Sam benci bagian ini dalam istirahat keluarnya. Ia melangkah ke rumput dan memejamkan mata rapat-rapat ketika Packer membuka borgol, lalu membuka mata perlahan-lahan sampai pandangannya terfokus dan bisa menyesuaikan diri dengan kilau matahari yang menyakitkan.

Packer menghilang ke dalam tanpa sepatah kata pun. Sam berdiri di titik yang sama selama satu menit penuh, sementara cahaya berkilat terang dan kepalanya berdenyut-denyut. Hawa panas tidak mengganggunya, sebab ia sudah terbiasa, namun cahaya matahari menghunjam bagaikan laser dan menimbulkan sakit kepala hebat tiap kali ia diizinkan keluar dari selnya. Ia sebenarnya bisa dengan mudah membeli kacamata hitam, mirip dengan kacamata Packer, tapi tentunya itu terlalu

berlebihan. Kacamata hitam tidak termasuk dalam

daftar barang-barang yang boleh dimiliki narapidana di sana.

Ia berjalan goyah di rumput yang terpangkas pendek, memandang ke ladang-ladang kapas di balik pagar. Halaman rekreasi itu tak lebih dari lapangan tanah dan rumput berpagar, dengan dua bangku kayu dan sebuah ring bola basket untuk orang-orang Afrika. Tempat itu oleh para penjaga dan narapidana disebut kandang banteng. Sam sudah beribu kali melangkah di sana, dan sudah membandingkan pengukurannya dengan narapida-na-narapidana lain. Lapangan itu panjangnya lima belas meter dan lebarnya sebelas meter. Pagarnya setinggi tiga meter dan dimahkotai kawat duri setinggi 45 senti. Di balik pagar terbentang lapangan rumput sejauh kurang-lebih tiga puluh meter ke pagar utama, yang diawasi para penjaga di menara.

Sam berjalan mengikuti garis lurus di samping pagar, lalu berbalik sembilan puluh derajat dan meneruskan kegiatan rutinnya, menghitung setiap langkah sepanjang jalan. Lima belas kali sebelas meter. Selnya berukuran hampir dua kali tiga meter. The Twig, perpustakaan hukum, berukuran lima setengah kali empat setengah meter. Bagian dalam ruangan pengunjung adalah dua kali sembilan meter. Ia pernah diberitahu bahwa kamar gas berukuran empat setengah kali tiga setengah meter,

dan biliknya sendiri hanya berupa kubus selebar satu seperempat meter.

Selama tahun pertama pengurungannya, ia berlari mengelilingi lapangan itu di tepinya, mencoba mengeluarkan keringat dan melatih jantungnya. Ia juga melemparkan bola ke ring bola basket, tapi berhenti setelah berhari-hari tidak berhasil memasukkan bola. Akhirnya ia berhenti berlatih dan selama bertahun-tahun memakai satu jam istirahat ini tanpa berbuat apa-apa, kecuali menikmati kebebasan dari selnya. Suatu ketika ia jatuh dalam kebiasaan berdiri di depan pagar dan menatap pepohonan di seberang ladang. Di situ ia membayangkan segala hal. Kebebasan. Jalan raya. Memancing. Makanan. Seks sekali-sekali. Ia hampir bisa membayangkan tanah pertaniannya yang kecil di Ford County tak jauh di sebelah sana, di antara dua petak hutan. Ia memimpikan Brazil, Argentina, atau tempat persembunyian sunyi lain. tempat ia seharusnya hidup dengan nama baru.

Dan kemudian ia berhenti bermimpi. Ia berhenti menatap ke balik pagar seolah-olah suatu mukjizat akan membawanya pergi. Ia berjalan dan merokok, hampir selalu sendirian. Kegiatan utamanya adalah bermain checker.

Pintu kembali terbuka dan Hank Henshaw berjalan melewatinya. Packer membuka borgolnya sementara ia menyipitkan mata dan melihat ke tanah. Ia menggosok pergelangan begitu dibebaskan, lalu meregangkan punggung dan kaki. Packer berjalan

fce salah satu bangku dan meletakkan kardus tua di atasnya.

Dua narapidana itu mengawasi Packer sampai meninggalkan halaman tersebut, lalu mereka berjalan ke bangku dan mengambil posisi masing-masing, menunggangi papan kayu dengan kardus di antara mereka. Sam dengan hati-hati meletakkan papan checker di atas bangku, sementara Henshaw menghitung buah checker. "Giliranku main merah," kata Sam. "Yang lalu kau main merah," kata Henshaw, menatapnya. "Yang lalu aku main hitam." "Tidak, terakhir aku main hitam. Sekarang giliranku main merah."

"Dengar, Hank. Aku cuma punya enam belas hari, dan kalau aku ingin main merah, aku harus main merah.*

Henshaw mengangkat pundak dan menyerah. Mereka mengatur buah checker dengan sangat rapi.

"Kurasa kau yang pertama melangkah," kata Henshaw.

"Tentu." Sam menggeser sebuah biji checker ke petak kosong, dan pertandingan itu mulai. Matahari tengah hari memanggang tanah di sekeliling mereka, dan dalam beberapa menit pakaian terusan merah mereka sudah melekat pada punggung. Mereka berdua memakai sepatu mandi karet tanpa kaus kaki.

Hank Henshaw berumur 41 tahun, sekarang su-

dah tujuh tahun jadi penghuni The Row, tapi diperkirakan takkan pernah melihat kamar gas. Ada dua kekeliruan penting terjadi dalam sidang, dan Henshaw punya cukup peluang untuk mendapatkan pembatalan vonis dan dibebaskan dari The Row.

"Kabar buruk kemarin," katanya, sementara Sam

memikirkan langkah selanjurnya.

"Ya, segalanya tampak agak suram, bukan begitu menurutmu?"

"Yeah. Apa kata pengacaramu?" Tak satu pun di antara mereka mengangkat wajah dari papan checker.

"Dia mengatakan kita punya peluang bertempur."

"Apa artinya?"- tanya Henshaw sambil melangkah.

"Kupikir itu berarti mereka akan mengegas aku,

tapi aku akan mengelak." "Apakah bocah itu tahu apa yang dia lakukan?"

"Oh, yeah. Dia cerdas. Sudah keturunan, km. tahu."

"Tapi dia masih begitu muda." "Dia bocah yang pandai. Pendidikannya hebat. Nomor dua di kelasnya di Michigan, kau tahu.

Editor buletin hukum." "Apa artinya?"

"Artinya dia cemerlang. Dia akan memikirkan suatu jalan keluar." "Kau serius, Sam? Kaupikir itu akan terjadi?"

569

Sam mendadak melompati dua biji checker hj. tam dan Henshaw mengumpat. "Kasihan kau," kata Sam sambil menyeringai. "Kapan terakhir kau mengaJa "Dua

ihun kau belum per-

Henshaw mengambil langkah hati-hati. dan Sam melompatinya lagi. Lima menit kemudian, permainan itu selesai dengan Sam kembali meraih ke-menangan. Mereka membenahi papan dan mulai

Tengah hari Packer dan satu penjaga fam muncul dengan borgol, dan kegembiraan jfo selesai Mereka digiring ke sel; makan siang sedang disiapkan. Kacang, kacang polong, kentang pure, dan beberapa potong roti kering Sam cuma menghabiskan sepertiga makanan lunak di piringnya, dan menunggu dengan %abar sampai seorang penjaga menjemputnya, h memegang celana pendek benih dan sepotong sabun Saat mandi

Penjaga tiba dan menggiring Sam ke pancuran kecii di ujung tier. Menurut keputusan pengadilan, para terpidana mati diizinkan mandi cepat-cepat sebanyak lima kafi seminggu, tak peduli mereka membutuhkannya atau tidak, demikian kata para penjafa

Sam mandi dengan cepat, mencuci rambutnya dua kali dengan sabun, dan membasuh tubuhnya

cukup bersih, tapi dipakai empat telat narapidana

di tkr itu. Judi, «lop mandi karet itu tetap terpasang di kaki. Setelah lima menit, air berhenti mengalir, dan Sam berbasah-basah selama beberapa menit lagi sambil menatapi dinding keramik yang berlumut. Ada beberapa hal di The Row yang takkan ia rindukan.

Dua puluh menit kemudian ia dinaikkan ke sebuah van penjara dan dibawa sejauh setengah mil ke perpustakaan hukum.

Adam sedang menunggu di dalam, n menanggalkan jas dan menggulung lengan kemeja ketika penjaga membuka borgol Sam dan meninggalkan ruangan Mereka saling memben salam dan berjabat tangan. Sam cepat-cepat duduk dan menyalakan sebatang rokok. "Ke mana saja kauT tanyanya.

"Sibuk," kata Adam. duduk di seberang meja. "Aku mendadak terpaksa pergi ke Chicago Rabu dan Kamis lalu." "Ada hubungannya dengan urusan ku?" "Boleh kaukatakan demikian. Goodman ingin menelaah kasus ini. dan ada beberapa urusan lain." "Jadi, Goodman masih terlibat?" "Goodman bosku saat ini. Sam Aku harus melapor kepadanya kalau aku ingin mempertahankan pekerjaanku. Aku tahu kau membencinya, tapi dia J sangat prihatin denganmu dan kasusmu. Percaya atau tidak, dia tak ingin melihatmu digas." "Aku tidak lagi membencinya."

"Mengapa hatimu berubah?"

"Entahlah. Bila kau sampai sedekat ini pada ajal. kau banyak berpikir."

Adam sangat ingin mendengar lebih banyak, f tapi Sam menghentikannya. Adam memandanginya t merokok dan berusaha tidak berpikir tentang Joe ] Lincoln. Ia berusaha tidak memikirkan ayah Sam j dipukuli dalam perkelahian mabuk-mabukan pada suatu pemakaman, dan mencoba mengabaikan se- j gala kisah menyedihkan lain yang diceritakan Lee padanya di Ford County. Ia mencoba menepis hal-hal ini dari pikirannya, namun tak dapat melakukannya.

la sudah berjanji pada Lee takkan menyebut-nyebut lagi mimpi buruk masa lalu. "Kurasa kau sudah dengar tentang kekalahan terakhir kita," ': katanya sambil menarik berkas-berkas dari tas.

"Tidak lama, kan?"

"Benar. Kekalahan yang agak cepat, tapi aku sudah mengajukan dalih lain kepada Pengadilan Fifth Circuit." "Aku tak pernah menang di Fifth Circuit." "Aku tahu. Tapi pada titik ini kita tak bisa memilih pengadilan peninjau kasus kita." "Apa yang bisa kita lakukan pada titik ini?" "Beberapa hal. Aku kebetulan bertemu dengan Gubernur Selasa kemarin, setelah rapat dengan hakim federal. Dia ingin bicara empat mata. Dia memberiku nomor telepon pribadinya dan mengundangku untuk menelepon dan bicara tentang kasus

ini. Katanya dia punya beberapa keraguan tentang

sejauh mana kesalahanmu."

Sam menatapnya berapi-api. "Keraguan? Dialah satu-satunya alasan aku ada di sini. Dia sudah tak sabar lagi ingin melihatku dieksekusi."

"Kau mungkin benar, tapi..."

"Kau janji tidak akan bicara dengannya. Kau menandatangani perjanjian denganku, yang dengan tegas melarang kontak apa pun dengan si tolol itu."

"Tenang, Sam. Dia mencegatku di luar kantor hakim."

"Aku heran dia tidak mengadakan jumpa pers untuk membicarakannya."

"Aku mengancamnya, oke? Aku membuatnya berjanji untuk tidak bicara." - "Kalau begitu, kaulah orang pertama dalam sejarah yang berhasil membungkam bangsat itu."

"Dia terbuka dengan gagasan memberikan pengampunan."

"Dia bilang begitu padamu?"

"Ya."

"Kenapa? Aku tidak percaya ini."

"Aku tidak tahu mengapa, Sam. Dan aku sama sekali tak peduli. Tapi bagaimana hal ini bisa merugikan kita? Apa bahaya memohon sidang pemeriksaan untuk mendapatkan pengampunan? Memang fotonya akan terpampang lagi di surat kabar. Memang kamera TV akan mengejarnya lagi. Kalau ada peluang, dia akan mendengarkan. Mengapa

kau harus peduli bila dia mendapat sorotan lebih lanjut dari hal ini?"

'Tidak. Jawabnya tidak. Aku takkan memberimu wewenang untuk mengajukan permohonan sidang pemeriksaan pemberian pengampunan. Sama sekali tidak. Seribu kali tidak. Aku kenal dia, Adam. Dia mencoba menyedotmu ke dalam rencana permainannya. Semua itu palsu, pertunjukan untuk masyarakat. Dia akan bersedih atas hal ini sampai akhir, memerah semua yang bisa dia dapatkan. Dia akan mendapatkan perhatian lebih banyak daripada aku, padahal ini eksekusiku." "Jadi, apa ruginya?"

Sam menepuk meja dengan telapak tangannya. "Sebab itu tidak akan ada gunanya, Adam. Dia takkan berubah pikiran." -

Adam menuliskan sesuatu pada buku tulis dan membiarkan beberapa saat lewat. Sam bergeser mundur di kursinya dan menyalakan sebatang rokok lagi. Rambutnya masih basah dan ia menyisirnya ke belakang dengan kuku jari.

Adam meletakkan pena di meja dan memandang kliennya. "Apa yang ingin kaulakukan, Sam? Menyerah? Kaupikir kau tahu banyak tentang hukum. Katakan padaku, apa yang ingin kaulakukan?"

"Ah, selama ini aku sudah memikirkannya."

"Aku yakin kau sudah memikirkannya."

"Pembelaan yang dalam perjalanan ke Fifth Circuit itu memang ada gunanya, tapi tampaknya

tidak begitu menjanjikan. Menurut pengamatanku,

tak banyak lagi yang tersisa."

"Kecuali Benjamin Keyes."

"Benar. Kecuali Keyes. Dia bekerja dengan baik untukku dalam sidang dan sidang banding, dan dia hampir merupakan sahabat. Aku tak suka mengejarnya."

"Ini tindakan baku dalam kasus hukuman mati, Sam. Kau selalu memburu pengacaramu dalam sidang dan menyatakan telah mendapatkan nasihat hukum yang tidak efektif. Goodman mengatakan padaku ingin melakukannya, tapi kau menolak. Itu seharusnya sudah dilakukan bertahun-tahun yang lalu."

"Dia benar tentang itu. Dia meminta aku melakukannya, tapi aku bilang tidak. Kurasa itu suatu

kesalahan."

Adam bertengger di tepi kursinya sambil membuat catatan. "Aku sudah mempelajari catatan, dan kupikir Keyes melakukan kesalahan ketika dia tidak mengajukanmu untuk memberi kesaksian."

"Aku ingin bicara pada Juri, kau tahu. Kupikir aku sudah mengatakan itu padamu. Setelah Dogan memberikan kesaksian, kupikir sangat penting bagiku menjelaskan pada Juri bahwa aku memang benar memasang bom itu, tapi sama sekali tak ada niat membunuh siapa pun. Itulah yang sebenarnya, Adam. Aku tak berniat membunuh siapa pun."

"Kau ingin memberikan kesaksian, tapi pengacaramu bilang tidak."

Sara tersenyum dan memandang ke lantai. "Itukah yang kau ingin aku katakan?" "Ya."

"Aku tak punya banyak pilihan, kan?" "Benar."

"Oke. Begitulah kejadiannya. Aku ingin memberikan kesaksian, tapi pengacaraku tak mengizinkan."

"Aku akan mengajukan dalih ini besok pagi-pagi"

"Ini sudah terlambat, kan?"

"Ah, ini jelas terlambat, dan masalah ini seharusnya sudah diajukan dulu. Tapi apa ruginya sekarang?"

"Apakah kau akan menelepon Keyes dan menceritakan hal ini padanya?" . .. •

"Kalau aku punya waktu. Saat ini aku sama sekali tak peduli dengan perasaannya."

"Kalau begitu, aku pun tidak. Persetan dengannya Siapa lagi yang bisa kita serang?" "Daftarnya agak pendek." Sam melompat berdiri dan mulai mondar-mandir sepanjang meja dengan langkah terukur. Panjang ruangan itu lima setengah meter. Ia berjalan mengelilingi meja di belakang Adam dan sepanjang tiap-tiap dinding, menghitung sambil berjalan. Ia berhenti dan bersandar pada sebuah rak buku.

Adam menyelesaikan sejumlah catatan dan mengawasinya dengan cermat. "Lee ingin tahu apakah bisa datang berkunjung," katanya.

Sam menatapnya, lalu perlahan-lahan kembali ke tempat duduknya di seberang meja. "Dia ingin datang?"

"Kurasa begitu."

"Aku hams memikirkannya."

"Nah, bergegaslah."

"Bagaimana keadaannya?"

"Lumayan, kurasa. Dia menyampaikan cinta dan doanya, dan dia banyak memikirkanmu akhir-akhir ini."

"Apakah orang-orang di Memphis tahu dia anakku?"

"Kurasa tidak. Itu belum muncul di surat kabar."

"Kuharap mereka tetap tidak membicarakannya."

"Aku dan dia pergi ke Clanton Sabtu kemarin."

Sam memandangnya dengan sedih, lalu menerawang ke langit-langit. "Apa yang kaulihat?" tanyanya.

"Banyak. Dia menunjukkan makam nenekku dan kuburan anggota Cayhall lainnya."

"Dia tak ingin dikuburkan bersama keluarga Cayhall, apakah Lee menceritakan itu padamu?"

"Ya. Lee menanyaiku di mana kau ingin dikuburkan."

"Aku belum lagi memutuskan."

"Baiklah. Beritahu aku bila kau sudah mengambil keputusan. Kami berjalan-jalan di kota, dan dia memperlihatkan rumah tempat kami tinggal. Kami pergi ke alun-alun dan duduk dalam gazebo di halaman gedung pengadilan. Kota itu sangat

sibuk. Orang-orang berkerumun di sekitar alun-' akin."

"Kami biasa menyaksikan kembang api di kuburan."

"Lee menceritakan semua itu padaku. Kami makan siang di Tea Shoppe dan bermobil ke pinggir kota. Dia membawaku ke rumah masa kecilnya."

"Apa rumah itu masih ada?" - "Yeah, tak dihuni. Rumah itu rusak dan rumput tumbuh dengan liar merajalela. Kami berjalan mengelilingi tempat itu. Dia menceritakan banyak kisah masa kanak-kanaknya. Bicara banyak tentang Eddie."

"Apa dia punya kenangan indah?" "Tidak."

Sam menyilangkan tangan dan memandang meja. Satu menit lewat tanpa sepatah kata. Akhirnya Sam bertanya, "Apa dia bercerita tentang Quince Lincoln, bocah Afrika kecil sahabat Eddle?"

Adam mengangguk perlahan-lahan, mata mereka saling terkunci.."Ya"

"Dan tentang ayahnya, Joe?"

"Dia menceritakan kisah itu padaku."

"Apakah kau mempercayainya?"

"Aku percaya Haruskah aku percaya?"

"Itu benar. Semua itu benar,"

"Kupikir begitu."

"Bagaimana perasaanmu ketika dia menceritakan kisah itu padamu? Maksudku, bagaimana reaksimu?"

"Aku benci padamu.''

"Dan bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Lain."

Sam bangkit perlahan-lahan dari tempat duduk dan berjalan ke ujung meja. Ia berhenti dan berdiri dengan punggung menghadap Adam. "Itu empat puluh tahun yang lalu," ia bergumam, nyaris tak terdengar.

"Aku tidak datang ke sini untuk bicara tentang ini," kata Adam, sudah merasa bersalah.

Sam berbalik dan bersandar pada rak buku yang sama. Ia berdekap tangan dan menatap dinding. "Aku berharap seribu kali itu tak pernah terjadi."

"Aku berjanji pada Lee takkan mengungkitnya, Sam. Maaf."

"Joe Lincoln orang yang baik. Aku sering bertanya dalam hati, apa yang terjadi pada Ruby, Quince, dan anak-anaknya yang lain."

"Lupakanlah, Sam. Mari kita bicara tentang hal lain."

"Kuharap mereka bahagia saat aku mati."

579

TIGA PULUH

Ketika Adam mengemudikan mobil melewati pos keamanan di gerbang utama, penjaga itu melambaikan tangan, seolah-olah saat ini ia sudah jadi pelanggan tetap. Ia balas melambai sambil mengurangi kecepatan dan menekan tombol untuk membuka bagasi. Tidak dibutuhkan administrasi apa pun bagi pengunjung yang akan pergi, cuma pemeriksaan sepintas pada bagasi untuk memastikan tak ada narapidana yang membonceng. Ia berbelok ke jalan raya bebas hambatan, menuju selatan, menjauh dari Memphis, dan menghitung ini kunjungannya yang kelima ke Parchman. Lima kunjungan dalam dua minggu. Ia merasa tempat ini akan jadi rumahnya yang kedua selama enam belas hari mendatang. Sungguh pikiran yang menyebalkan.

Ia tidak berselera berurusan dengan Lee malam ini. Ia merasa ikut bertanggung jawab atas kekam-buhannya kecanduan alkohol, tapi menurut pengakuan Lee sendiri ini sudah menjadi cara hidupnya selama bertahun-tahun. Ia pecandu alkohol, dan

bila ia memilih minum, tak ada apa pun yang bisa dilakukan Adam untuk menghentikannya. Ia akan ke sana besok malam, untuk membuat kopi dan bercakap-cakap. Malam ini ia butuh istirahat.

Saat itu tengah hari, hawa panas memancar dari aspal jalan raya, dan ladang-ladang dalam keadaan kering dan berdebu, alat-alat pertanian lesu dan lamban, lalu lintas sepi* dan lengang. Adam berhenti ke bahu jalan dan menaikkan atap konver-tibel mobilnya. Ia berhenti di toko Cina di Rule-ville dan membeli sekaleng es teh, lalu memacu mobilnya di sepanjang jalan raya yang sepi ke arah Greenville. Ia punya urusan yang hams dikerjakan, mungkin tak menyenangkan, tapi rasanya wajib ia kerjakan. Ia berharap punya keberanian untuk menuntaskannya.

Ia terus mengambil jalan-jalan samping, jalan county yang sempit berlapis paving stone, dan melesat nyaris tanpa tujuan, melintasi Delta Dua kali ia tersesat, namun berhasil mencari jalan sendiri. Ia tiba di Greenville beberapa menit sebelum pukul 17.00, dan menjelajahi daerah pusat kota dalam mencari sasarannya. Ia melewati Kramer Park dua kali. Ia menemukan sinagoga di seberang Gereja Baptis Pertama. Ia parkir di ujung Main Street, di tepi sungai, tempat sebuah tanggul membentengi kota tersebut. Ia meluruskan dasi dan berjalan menyusuri Washington Street sejauh tiga blok, menuju sebuah bangunan bata tua dengan tanda Grosir Kramer tergantung dari beranda di

atas trotoar di depannya. Pintu kacanya yang berat membuka ke dalam, dan lantai kayu kunonya ber-keriut ketika ia berjalan di atasnya. Bagian bangunan itu dilestarikan menyerupai toko eceran model kuno, dengan counter-counter kaca di depan rak-rak lebar yang tegak sampai ke langit-langit. Rak-rak dan counter-counter itu diisi dengan kardus dan bungkus makanan yang pernah dijual bertahun-tahun lalu, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Ada sebuah cash register kuno sebagai pajangan. Museum kecil itu dengan cepat menyerah pada perdagangan modern. Sisa bangunan besar itu sudah direnovasi dan penampilannya cukup efisien. Sebuah dinding lempengan kaca memotong serambi depan, lorong lebar berkarpet membentang di tengah bangunan dan, tak diragukan, menuju kantor-kantor serta para sekretaris, dan di suatu tempat di belakang pasti ada gudang.

Adam menikmati barang-barang yang diperagakan di counter depan. Seorang laki-laki muda ber-jeans muncul dari belakang dan bertanya, "Bisa saya bantu?"

Adam tersenyum dan mendadak resah. "Ya, saya ingin menemui Mr. Elliot Kramer." "Apakah Anda salesman?" "Bukan."

"Apakah Anda pembeli?" "Bukan."

Laki-laki muda itu sedang memegang sebatang pensil dan pikirannya penuh dengan banyak hal.

"Kalau begitu, boleh saya tanya apa yang Anda

perlukan?"

"Saya perlu menemui Mr. Elliot Kramer. Apakah dia ada di sini?"

"Dia melewatkan sebagian besar waktunya di gudang utama' di selatan kota."

Adam maju tiga langkah ke arah laki-laki itu dan mengangsurkan sehelai kartu nama padanya. "Nama saya Adam Hall. Saya pengacara dari Chicago. Saya benar-benar perlu menemui Mr. Kramer."

Laki-laki itu mengambil kartu itu dan mengamatinya beberapa detik, lalu memandang Adam dengan kecurigaan besar. "Tunggu sebentar," katanya, dan berjalan pergi.

Adam bersandar pada sebuah counter dan mengamati cash register tadi. la sudah pernah membaca di suatu tempat dalam risetnya yang sangat besar, bahwa keluarga Marvin Kramer pedagang-pedagang kaya raya selama beberapa generasi di Delta. Seorang nenek moyang mereka turun dari kapal uap secara tergesa-gesa di Greenville dan memutuskan tinggal di kota ini. Ia membuka toko kecil yang menjual makanan kering, lalu berkembang ke usaha-usaha lain. Selama masa-masa penuh cobaan dalam persidangan Sam, keluarga Kramer berkali-kali dijelaskan sebagai keluarga kaya.

Setelah dua puluh menit menunggu, Adam sudah siap berlalu, dan cukup lega. ia sudah berusaha. Kalau Mr. Kramer tidak mau menemuinya, tak ada apa pun yang bisa ia lakukan.

583

Ia mendengar Jangkah kaki pada lantai kayu,

dan berbalik. Seorang laki-laki tua berdiri dengan sehelai kartu nama di tangannya. Ia tinggi dan kurus, dengan rambut beruban yang berombak, mata coke/at tua dengan bayang-bayang gelap di bawahnya, wajah ramping, wajah kuat yang saat itu tidak tersenyum. Ia berdiri tegak, tanpa tongkat untuk membantunya berdiri, tanpa kacamata untuk membantunya melihat. Ia bersungut memandang Adam, tapi tak mengucapkan apa pun.

Seketika itu juga Adam berharap sudah berlalu lima menit yang lalu. Kemudian ia bertanya pada diri sendiri, mengapa ada di sana. Kemudian ia memutuskan, bagaimanapun ia akan meneruskan niatnya. "Selamat sore," katanya, ketika jelas laki-laki itu takkan bicara. "Mr. Elliot Kramer?"

Mr. Kramer mengangguk mengiyakan, tapi anggukannya begitu lambatnya, seolah-olah tertantang oleh pertanyaan tersebut

"Nama saya Adam Hall. Saya pengacara dari Chicago. Sam Cayhall kakek saya, dan saya mewakilinya" Jelas Mr. Kramer sudah memperkirakan hal ini, sebab ucapan Adam tidak mempengaruhinya. "Saya ingin bicara dengan Anda."

"Bicara tentang apa?" Mr. Kramer berkata dengan suara terseret lamban. Tentang Sam."

"Aku berharap dia membusuk di neraka," katanya, seolah-olah sudah yakin akan tempat tujuan abadi Sam. Matanya begitu cokelat, nyaris hitam.

Adam memandang lantai, menghindari mata itu, dan berusaha memikirkan sesuatu yang tidak menimbulkan ledakan. "Ya, Sir," katanya, sangat menyadari ia berada di Deep South, tempat sopan santun masih dipegang erat. "Saya mengerti bagaimana perasaan Anda. Saya tidak menyalahkan Anda, tapi saya cuma ingin bicara beberapa menit dengan Anda."

"Apakah Sam menyampaikan permintaan maaf?" tanya Mr. Kramer. Fakta bahwa ia memanggil dengan Sam saja terasa aneh bagi Adam. Bukan Mr. Cayhall, bukan Cayhall, cuma Sam, seolah-olah mereka berdua sahabat lama yang dulu berselisih dan sekarang tiba saatnya untuk rujuk. Katakan saja kau menyesal, Sam, dan segalanya akan beres.

Pikiran untuk berbohong melintas cepat dalam benak Adam. Ia bisa saja mengarang, mengatakan betapa pedih perasaan Sam pada hari-hari terakhir ini, dan betapa ia menginginkan pengampunan. Namun Adam tak dapat memaksa diri melakukannya. "Apakah ada bedanya?" ia bertanya.

Mr. Kramer dengan hati-hati menyisipkan kartu dalam saku kemejanya, dan menatap lama kepada Adam, menembus jendela depan. "Tidak," katanya, "takkan ada bedanya. Mestinya itu sudah dilakukan sejak dulu." Kata-katanya mengandung aksen berat dari daerah Delta, dan meskipun artinya tidak menyenangkan, suaranya kedengaran sangat menghibur. Kata-kata itu lambat dan hati-hati, di-

ucapkan seolah-olah waktu tak berarti apa-apa Ucapan itu juga mencerminkan penderitaan bertahun-tahun, dan tanda bahwa hidup sudah berhenti sejak lama.

• "Tidak, Mr. Kramer. Sam tidak tahu saya ada di sini, jadi dia tidak mengirimkan permintaan maafnya. Tapi saya akan menyampaikannya."

Tatapan menerawang melalui jendela dan menuju masa lampau itu tidak goyah atau bergeser. Tapi ia mendengarkan.

Adam meneruskan, "Saya merasa wajib, bagi diri saya sendiri dan putri Sam, untuk setidaknya mengatakan kami sangat menyesal atas semua yang terjadi."

"Mengapa Sam tidak mengatakannya bertahun-tahun yang lalu?" "Saya tak dapat menjawab itu." "Aku tahu. Kau baru."

Ah, kekuatan pers. Sudah tentu Mr. Kramer membaca koran seperti semua orang lain.

"Ya, Sir, Saya mencoba menyelamatkan nyawanya."

"Mengapa?"

"Ada banyak alasan. Membunuhnya takkan mengembalikan cucu Anda, tidak pula anak Anda. Dia salah, tapi pemerintah juga salah bila membunuhnya."

"Begitu. Dan kaupikir aku belum pernah mendengar ini?"

"Tidak, Sir. Saya yakin Anda sudah pernah ,

mendengar semuanya ini. Anda sudah menyaksikan semuanya. Anda sudah merasakan semuanya. Saya tak bisa membayangkan apa yang telah Anda alami. Saya cuma mencoba menghindari hal itu terjadi pada saya."

"Apa lagi yang kauinginkan?"

"Bisakah Anda memberi waktu lima menit?"

"Kita sudah tiga menit bicara, kau punya dua menit lagi." Ia melirik jam tangannya, seolah-olah mengatur pencatat waktu, lalu menyelipkan jemarinya yang panjang ke dalam saku celana. Matanya kembali ke jendela dan jalan di luarnya.

"Surat kabar Memphis mengutip Anda mengatakan ingin hadir saat mereka mengikat Sam Cayhall dalam kamar gas; Anda ingin menatap matanya."

"Itu kutipan yang akurat. Tapi aku tak percaya itu akan terjadi."

"Mengapa tidak?"'

"Sebab kita punya sistem peradilan pidana yang busuk. Sudah hampir sepuluh tahun sekarang dia* dimanja dan dilindungi dalam penjara. Pembelaan bandingnya berlarut-larut. Kau mengajukan berbagai macam pembelaan dan berupaya keras agar dia tetap hidup. Sistem ini sakit. Kami tidak mengharapkan keadilan."

"Saya beri Anda jaminan bahwa dia tidak dimanja. Death raw tempat yang mengerikan. Saya baru saja meninggalkannya."

"Yeah, tapi dia hidup. Dia hidup, bernapas, menonton televisi, dan membaca buku. Dia bicara

587

denganmu. Dia mengajukan gugatan. Bila dan ketika kematian mendekat, dia akan punya banyak waktu untuk menyusun rencana menghadapinya. Dia bisa mengucapkan selamat tinggal. Memanjatkan doa. Cucuku tak punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal, Mr. Hal). Mereka tak bisa memeluk orangtua mereka dan memberikan cium perpisahan. Mereka meledak begitu saja sampai berkeping-keping saat sedang bermain."

"Saya mengerti itu, Mr. Kramer. Tapi membunuh Sam takkan mengembalikan mereka"

"Tidak. Tapi itu akan membuat kami merasa jauh lebih lega. Itu akan meredakan banyak kepedihan. Sudah sejuta kali aku berdoa agar bisa hidup cukup panjang untuk menyaksikannya mati. Lima tahun lalu aku mendapat serangan jantung. Dua minggu mereka mengikatku pada mesin, dan satu hal yang membuatku tetap hidup adalah keinginan untuk hidup lebih lama dari Sam. Aku akan ada di sana, Mr. Halt, kalau dokterku mengizinkan. Aku akan ada di sana menyaksikannya mati, lalu aku akan pulang dan menghitung hari."

"Saya menyesal Anda merasa seperti ini/

"Aku pun menyesal aku seperti ini. Aku menyesal pernah mendengar nama Sam Cayhall."

Adam mundur selangkah dan bersandar pada counter dekat cash register. Ia menatap lantai dan Mr. Kramer menatap ke luar jendela. Matahari sedang turun ke barat, di belakang gedung itu,

museum kecil yang tua dan menarik itu jadi makin

redup.

"Saya kehilangan ayah saya gara-gara ini," kata Adam lembut.

"Maaf. Aku membaca bahwa dia bunuh diri tak lama setelah sidang ketiga." '$89

"Sam juga sudah menderita, Mr. Kramer. Dia menghancurkan keluarganya, dan dia menghancurkan keluarga Anda. Dan dia memikul perasaan bersalah lebih dari yang bisa Anda atau saya bayangkan."

"Mungkin dia takkan begitu terbebani bila mati."

"Mungkin. Tapi mengapa tidak kita hentikan pembunuhan ini?"

"Bagaimana kau mengharapkan aku menghentikannya?"

"Saya membaca entah di mana bahwa Anda dan

Gubernur adalah sahabat lama." "Mengapa itu jadi urusanmu?" . "Itu benar, bukan?"

"Dia orang setempat. Sudah bertahun-tahun aku mengenalnya."

"Minggu lalu saya bertemu dengannya untuk pertama kali. Dia punya kekuasaan memberikan pengampunan, Anda tahu."

"Aku takkan mengandalkan itu." "Saya tidak mengandalkannya. Saya tak punya pilihan, Mr. Kramer. Sampai titik ini tak ada kerugian apa pun, kecuali kakek saya. Bila Anda dan

keluarga Anda bersikeras mendesakkan eksekusi Gubernur pasti akan mendengarkan Anda." "Kau benar."

"Dan bila Anda memutuskan tak ingin eksekusi, saya pikir Gubernur mungkin juga akan mendengarkan itu."

"Jadi, ini terserah padaku," katanya, akhirnya bergerak. Ia berjalan di depan Adam dan berhenti dekat jendela. "Kau bukan saja putus asa, Mr. Hall, kau juga naif." "Saya takkan menyangkal itu." "Rasanya menyenangkan mengetahui aku punya kekuatan demikian besar. Seandainya sejak dulu aku tahu hal ini, kakekmu tentu sudah mati bertahun-tahun yang lalu."

"Dia tak layak mati, Mr. Kramer," Adam berkata seraya berjalan ke pinta. Ia tak berharap akan mendapatkan simpati. Yang penting hanyalah agar Mr. Kramer melihatnya dan tahu ada hidup orang lain yang terpengaruh. 'Tidak pula cucuku, tidak pula anakku." Adam membuka pintu dan berkata, "Maaf atas gangguan ini, dan saya berterima kasih atas waktu Anda. Saya punya seorang adik perempuan, seorang sepupu, dan seorang bibi—anak perempuan Sam. Saya cuma ingin Anda tahu Sam punya keluarga, seperti inilah. Kami akan menderita bila dia mati. Bila tidak dieksekusi, dia takkan pernah meninggalkan penjara. Dia akan layu begitu saja

dan dalam waktu dekat akan meninggal karena sebab alami." "Kau akan menderita?"

"Ya, Sir. Keluarga ini sungguh menyedihkan, Mr. Kramer, penuh dengan tragedi. Saya mencoba menghindarkan satu tragedi lagi."

Mr. Kramer berbalik dan memandangnya. Wajahnya tanpa ekspresi. "Kalau begitu, aku turut menyesal bagi kau."

"Sekali lagi terima kasih," kata Adam.

"Selamat siang," Mr. Kramer berkata tanpa senyum.

Adam meninggalkan bangunan itu dan menyusuri jalan yang teduh sampai berada di tengah kota. Ia menemukan taman peringatan itu dan duduk di bangku yang sama, tak jauh dari patung perunggu anak-anak itu. Namun setelah beberapa menit ia muak dengan perasaan bersalah dan ke-, nangan masa lalu, kemudian berjalan pergi.

Ia pergi ke kafe yang sama satu blok dari sana, minum kopi, dan bermain dengan keju bakar. Ia mendengar percakapan tentang Sam Cayhall beberapa meja darinya, tapi tak dapat menangkap tepat apa yang dikatakan.

Ia menyewa kamar di sebuah motel dan menelepon Lee. Lee kedengaran segar, dan mungkin sedikit lega karena Adam takkan berada di sana malam itu. Ia janji akan kembali besok malam. Saat hari gelap, Adam tertidur selama setengah jam.

TIGA PULUH SATU

Adam mengemudikan mobil melintasi pusat kota Memphis sebelum fajar, dan pada pukul 07.00 mengunci diri dalam kantornya. Pukul 08.00 ia sudah tiga kali bicara dengan E. Garner Goodman. Rasanya Goodman resah dan juga sulit tidur. Mereka membicarakan panjang-lebar masalah pembelaan Keyes dalam sidang. Berkas Cayhall diisi dengan memo dan hasil riset tentang apa yang keliru dalam sidang itu, tapi hanya sedikit yang menimpakan kesalahan pada Benjamin Keyes.

Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu, ketika kamar gas serasa terlalu jauh untuk dikhawatirkan. Goodman senang mendengar Sam sekarang merasa seharusnya memberikan kesaksian dalam sidang dan Keyes telah melarangnya. Pada titik ini Goodman merasa skeptis dengan kebenarannya, namun percaya pada ucapan Sam.

Baik Goodman maupun Adam tahu masalah itu seharusnya sudah dikemukakan bertahun-tahun yang lalu, dan berbuat demikian pada saat ini

merupakan upaya coba-coba dengan kemungkinan

berhasil yang kecil. Buku-buku hukum jadi makin tebal seuap minggu dengan keputusan-keputusan

Mahkamah Agung yang menyisihkan klaim absah karena tidak diajukan pada saatnya. Namun ini masalah penting, sesuatu yang selalu diperiksa pengadilan, Adam merasa tegang dan bergairah ketika mengonsep dan mengonsep ulang klaim tersebut serta bertukar fax dengan Goodman.

Sekali lagi klaim tersebut pertama kali akan diajukan di bawah undang-undang postconviction relief di pengadilan negara bagian. Ia mengharapkan penolakan cepat di sana, agar bisa langsung lari ke pengadilan federal.

Pukul 10.00 ia mengirimkan konsep akhirnya dengan fax kepada panitera Mahkamah Agung Mississippi, dan juga mem-/ax-kan satu copy kepada Breck Jefferson di kantor Slattery. Fax-fax juga dikirimkan kepada panitera Pengadilan Fifth Circuit di New Orleans. Kemudian ia menelepon Death Clerk di Mahkamah Agung, dan mengatakan apa yang dilakukannya. Mr. Olander memerintahkannya agar langsung mem-jox-kan satu copy ke Washington.

Darlene mengetuk pintu dan Adam membuka kuncinya. Ada tamu sedang menunggunya di tempat resepsionis—Mr. Wyn Lettner. Adam mengucapkan terima kasih kepadanya, dan beberapa menit kemudian berjalan menyusuri gang dan menyapa Lettner yang Sedang sendirian dan berpa-

kaian seperti laki-laki yang memiliki dok pemancingan ikan trout—sepatu lars, topi memancing. Mereka saling berbasa-basi—ikannya mulai makan. Irene baik-baik saja, kapan dia kembali ke Calico Rock.

"Aku berada di kota untuk urusan bisnis, dan aku ingin menemu i mu sebentar," katanya dengan. bisikan rendah, dengan punggung menghadap resepsionis.

Tentu," Adam berbisik. "Kantorku di ujung gang sana." Tidak. Mari kita jalan-jalan." Mereka naik lift menuju lobi, dan melangkah dari gedung itu ke mail pejalan kaki. Lettner membeli sekantong kacang panggang dari penjaja berkereta dorong, dan menawarkan.segenggam ke- J pada Adam. Adam menolak. Mereka berjalan perlahan-lahan ke utara, ke arah balai kota dan gedung federal. Lettner bergantian memakan kacang dan melemparkannya kepada burung-burung dara.

"Bagaimana keadaan Sam?" akhirnya ia bertanya Kr

"Dia punya dua minggu. Bagaimana perasaanmu seandainya kau punya waktu dua minggu?" "Kurasa aku akan banyak-banyak berdoa." "Dia belum lagi sampai ke titik itu, tapi itu takkan lama." "Itu akan terjadi?"

"Yang pasti eksekusi ittf sedang direncanakan.

Tak ada apa pun dalam bentuk tertulis untuk

menghentikannya."

Lettner melemparkan segenggam kacang ke dalam mulut. "Nah, selamat untukmu. Sejak kau datang menemuiku, ternyata aku terus memikirkan kau dan Sam."

Terima kasih. Dan kau datang ke Memphis untuk memberi selamat padaku?"

"Bukan begitu. Setelah kau pergi, aku banyak berpikir tentang Sam dan pengeboman Kramer. Aku melihat-lihat berkas-berkas dan catatan pribadiku—barang-barang yang tak pernah kupikirkan selama bertahun-tahun. Itu membawa kembali banyak kenangan. Aku menelepon beberapa sobat lamaku dan kami bertukar kisah perang tentang Klan. Itu adalah zamannya." "Sayang aku tidak mengalaminya." "Omong-omong, aku memikirkan beberapa hal yang mungkin seharusnya kuceritakan padamu." "Misalnya?"

"Ada lebih banyak lagi dalam kisah Dogan. Kau tahu dia mati setahun setelah memberikan kesaksian?"

"Sam menceritakannya padaku."

"Dia dan istrinya tewas ketika rumah mereka meledak. Ada kebocoran gas propan pada alat pemanas. Rumah itu penuh dengan gas, dan sesuatu menyalakannya. Meledak seperti bom, bola api besar. Menguburkan mereka dalam kantong sandwich."

"Menyedihkan, tapi bagaimana lagi?" "Kami tak pernah percaya itu kecelakaan. : Orang-orang laboratorium kriminal di sana men- \ coba merekonstruksi alat pemanas itu. Sebagian besar sudah hancur, tapi mereka berpendapat benda itu dibor sampai bocor."

"Apa pengaruh hal ini pada Sam?" "Ini tidak ada pengaruhnya bagi Sam." "Kalau begitu, mengapa kita membicarakannya?" "Ini mungkin bisa mempengaruhimu." "Aku tidak benar-benar mengerti." . "Dogan punya satu anak laki-laki, seorang bocah yang bergabung dalam ketentaraan pada tahun 1979. Pada suatu hari di musim panas 1980, Dogan dan Sam kembali dituntut pengadilan ciraat di Greenville, dan tak lama sesudahnya diketahui luas Dogan setuju bersaksi memberatkan Sam. Itu berita besar. Pada bulan Oktober 1980, putra Dogan melakukan AWOL di Jerman. Hilang." Ia mengupas kacang dan melemparkan kulitnya pada segerombolan merpati. "Kami juga tak pernah menemukannya. Angkatan Bersenjata mencari ke mana-mana. Berbulan-bulan lewat, lalu setahun. Dogan mati tanpa mengetahui apa yang terjadi pada anaknya." "Apa yang terjadi pada dirinya?" "Entahlah. Sampai hari ini, dia tak pernah muncul/

"Dia tewas?"

"Mungkin. Tak ada tanda-tanda darinya."

"Siapa yang membunuhnya?"

"Mungkin sama dengan orang yang membunuh orangtuanya."

"Dan siapa kira-kira orang itu?"

"Kami punya satu teori, tapi tak ada tersangka. Waktu itu kami mengira si anak diculik sebelum sidang, sebagai peringatan kepada Dogan. Mungkin Dogan tahu beberapa rahasia."

"Kalau begitu, mengapa Dogan dibunuh sesudah sidang?"

Mereka berhenti di bawah sebatang pohon peneduh dan duduk di bangku di Court Square.

Adam akhirnya mengambil kacang.

"Siapa yang tahu detail pengeboman itu?" tanya Lettner. "Seluruh detailnya."

"Sam. Jeremiah Dogan."

"Benar. Dan siapa pengacara mereka dalam dua sidang pertama?" "Clovis Brazelton."

"Apakah aman mengasumsikan Brazelton tahu detail tersebut?"

"Kurasa begitu. Dia aktif dalam Klan, kan?"

"Ya, dia anggota Klan. Jumlahnya jadi tiga— Sam, Dogan, dan Brazelton. Siapa lagi?"

Adam berpikir sedetik. "Mungkin asisten misterius itu."

"Mungkin. Dogan sudah mati. Sam tak mau bicara. Dan Brazelton mati bertahun-tahun yang

lalu."

"Bagaimana dia meninggal?'

"Kecelakaan pesawat terbang. Kasus Kramer membuatnya jadi pahlawan di sana, dan dia dapat memanfaatkan ketenarannya dalam praktek hukum yang sangat berhasil. Dia suka terbang, maka dia membeli sebuah pesawat terbang dan terbang ke mana-mana menguras gugatan pengadilan. Orang hebat. Suatu malam dia terbang kembali dari Coast ketika pesawat itu menghilang dari radar..Mereka menemukan mayatnya pada sebatang pohon. Cuaca cerah. FAA mengatakan ada kerusakan mesin." "Satu lagi kematian misterius." "Ya. Jadi, semua sudah mati kecuali Sam, dan saatnya makin dekat."

"Apakah ada kaitan antara kematian Dogan dan I kematian Brazelton?"

"Keduanya terpisah selama bertahun-tahun. Tapi I menurut teori kematian mereka merupakan hasil kerja orang yang sama." "Jadi, siapa pelakunya di sini?" "Orang yang sangat memprihatinkan rahasia itu. Bisa jadi asisten Sam yang misterius, si John Doe."

"Teori itu cuma hasil rekaan."

"Ya, benar, dan sama sekali tanpa bukti untuk menunjangnya, tapi sudah kukatakan padamu di Calico Rock bahwa kami selalu curiga Sam punya asisten. Atau mungkin Sam cuma sekadar asisten j bagi John Doe. Bagaimanapun kejadiannya, ketika < Sam mengacaukan urusan dan tertangkap, si John

Doe menghilang. Barangkali dia bekerja melenyapkan para saksi."

"Mengapa dia membunuh istri Dogan?"

"Sebab dia kebetulan berada di ranjang bersama Dogan ketika rumah itu meledak."

"Mengapa dia membunuh putra Dogan?"

"Untuk membungkam Dogan. Ingat, ketika Dogan memberikan kesaksian, anaknya sudah.empat bulan menghilang."

"Aku tak pernah membaca apa pun tentang anak itu."

"Hal itu tak banyak diketahui. Kejadiannya di Jerman. Kami menyarankan agar Dogan tidak meributkannya."

"Aku bingung. Dogan tidak menuding orang lain dalam sidang. Hanya Sam. Mengapa si John Doe membunuhnya juga sesudah itu?" -.

"Sebab dia masih tahu beberapa rahasia. Dan sebab dia memberikan kesaksian memberatkan terhadap sesama anggota Klan."

Adam mengupas dua kacang dan menjatuhkan bijinya ke depan seekor merpati gemuk. Lettner menghabiskan isi kantong dan melemparkan segenggam kulit lagi ke trotoar dekat pancuran air. Saat itu hampir tengah hari, berpuluh-puluh karyawan bergegas melewati taman itu untuk mengejar setengah jam waktu makan siang mereka. "Kau lapar?" tanya Lettner, melirik jam tangan. "Tidak."

"Haus? Aku perlu bir."

Tidak. Bagaimana John Doe mempengaruhi, ku?"

"Sam satu-satunya saksi yang tersisa, dan dijad. walkan akan dibungkam dua minggu lagi. Bila dia mati tanpa membuka mulut, John Doe dapat hidup tenteram. Bila Sam tidak mati dalam dua minggu, John Doe masih cemas. Bila Sam mulai bicara, seseorang mungkin akan celaka." "Aku?"

"Kaulah orang yang berusaha menemukan ke- benaran." "Kaupikir dia ada di luar sana?" "Bisa jadi. Atau mungkin dia sedang menge- i mudikan taksi di Montreal. Atau mungkin tak per- j nah ada."

Adam melirik dengan pandangan takut yang dilebih-lebihkan. "Aku tahu ini kedengaran gila," kata Lettner. "Mm Doe aman. Sam takkan bicara." "Ada bahaya potensial, Adam. Aku cuma ingin kau tahu."

"Aku tidak takut. Seandainya saat ini Sam j memberiku nama John Doe, aku akan meneriakkannya di jalanan dan mengajukan mosi satu truk j penuh. Dan itu tak akan ada gunanya. Sudah ter- j lambat untuk mengajukan teori baru tentang salah j atau tidak."

"Bagaimana dengan Gubernur?"

"Aku meragukannya."

"Nah, aku ingin kau berhati-hati."

"Terima kasih, aku mengerti." "Mari kita beli bir."

Aku harus menjauhkan orang ini dari Lee, pikir Adam. "Sekarang baru lima menit menjelang tengah hari. Tentu kau tidak mulai sepagi ini."

"Oh, kadang-kadang aku mulai saat makan pagi."

John Doe duduk di bangku taman dengan sebuah surat kabar di depan wajah dan merpati di sekeliling kaki. Jaraknya 24 meter dari mereka, jadi ia tak dapat mendengar apa yang mereka katakan. Ia pikir ia mengenali laki-laki tua yang bersama Adam itu sebagai.agen FBI yang wajahnya pernah muncul di surat kabar bertahun-tahun yang lalu. Ia akan mengikuti laki-laki ini dan mencari tahu siapa dia dan di mana dia tinggal.

Wedge sudah bosan dengan Memphis, tapi ini bukan masalah. Bocah itu bekerja di kantor, pergi ke Parchman, dan tidur di kondominium, serta rasanya bekerja keras. Wedge mengikuti berita dengan cermat. Namanya tak pernah disebut. Tak seorang pun tahu tentang dirinya.

Pesan di atas counter itu diberi tanggal dengan cermat. Ia menuliskan waktunya pukul 19.15. Itu tulisan tangan Lee yang memang tidak rapi, tapi sekarang lebih kusut lagi. Ia mengatakan berada di j ranjang karena flu. Harap jangan diganggu. Ia sudah ke dokter yang menyuruhnya istirahat. Un-

tuk mendapatkan efek tambahan, sebotol 0h apotek lokal berdiri di samping gelas aiT^ separo kosong. Pada botol itu tercantum hari ini. ^

Adam cepat-cepat memeriksa keranjang Sam

di bawah wastafel—tak ada tanda-tanda sisa ^

numan keras.

la diam-diam memasukkan pizza beku ke dalam oven microwave dan pergi ke serambi untuk n*, nyaksikan kapal tongkang di sungai.

TIGA PULUH DUA

Layang-layang pertama pagi itu tiba tak lama setelah sarapan, ketika Sam berdiri dalam celana pendek baggy-nya dan bersandar di antara jeruji dengan sebatang rokok. Layang-layang ini dari si Preacher Boy, dan berisi kabar buruk. Bunyinya demikian:

Dear Sam,

Mimpi itu selesai. Tuhan bekerja padaku tadi malam dan akhirnya menunjukkan sisanya padaku. Aku berharap Dia tak melakukannya. Ada banyak hal dalam mimpi ini, dan aku akan menjelaskan semuanya kalau kau mau. Intinya, tak lama lagi kau akan bersama-Nya. Dia menyuruhku memberitaku agar kau bersiap bertobat. Dia sedang menunggu. Perjalanannya akan berat, tapi ganjarannya akan setimpal. Aku menyayangimu.

Brother Randy.

Bon voyage, Sam bergumam pada diri sendiri

sambil meremas kertas itu dan melemparkannya k lantai. Bocah itu makin memburuk keadaannya dan tak ada jalan apa pun untuk menolongnya, Sam sudah menyiapkan serangkaian mosi untuk diajukan pada suaru saat, entah kapan, pada saat Brother Randy sepenuhnya gila.

Ia melihat tangan Gullit keluar di antara jeruji di sebelah.

"Bagaimana keadaanmu, Sam?" Gullit akhirnya bertanya.

Tuhan murka kepadaku," kata Sam. "Benarkah?"

"Yeah. Preacher Boy menyelesaikan mimpinya tadi malam." "Syukurlah."

"Itu lebih menyerupai mimpi buruk." "Aku takkan khawatir terlalu banyak dengannya. Bangsat gila itu bermimpi saat sedang bangun. Mereka mengatakan sudah seminggu dia menangis."

"Bisakah kau mendengarnya?" Tidak. Syukurlah."

"Bocah malang. Aku sudah membuat beberapa mosi untuknya, cuma berjaga-jaga kalau aku nw- \ ninggalkan tempat ini. Aku ingin meninggalkannya i

padamu."

"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan." "Akan kutinggalkan instruksi. Mosi-mosi itu harus dikirimkan kepada pengacaranya." Gullit bersiul pelan, "Aduh, aduh, Sam. Apa

604

yang harus kulakukan kalau kau pergi? Sudah setahun aku tak pernah bicara dengan pengacaraku."

"Pengacaramu orang pandir."

"Kalau begitu, bantulah aku memecatnya, Sam. Tolonglah. Kau baru saja memecat pengacaramu. Bantu aku memecat pengacaraku. Aku tak tahu bagaimana melakukannya."

"Kalau begitu, siapa yang akan mewakilimu?"

"Cucumu. Katakan padanya dia bisa mengurus kasusku."

Sam tersenyum, lalu terkekeh. Kemudian ia tertawa dengan gagasan mengumpulkan sobat-sobatnya di The Row dan menyerahkan kasus mereka yang tanpa harapan kepada Adam.

"Apa yang lucu?" Gullit mendesak.

"Kau. Apa yang membuatmu berpikir dia meng-inginkan kasusmu?"

"Ayolah, Sam. Bicaralah pada bocah itu untukku. Dia pasti pandai kalau cucumu."

"Bagaimana bila mereka mengegas aku? Apakah kau menginginkan pengacara yang baru saja kehilangan klien death row-nya yang pertama?"

"Peduli amat. Aku tak bisa serewel itu saat ini."

"Tenang, J.B. Kau masih punya waktu bertahun-tahun untuk dijalani." •

"Berapa tahun?"

"Sedikitnya lima, mungkin lebih." "Kau sumpah?"

"Kau boleh pegang kata-kataku. Aku akan me-

605

nulisnya hitam di atas putih. Kalau aku keliru, kau boleh memperkarakan aku."

"Sungguh lucu, Sam. Sungguh lucu."

Pintu berdetak terbuka di ujung lorong, dan langkah-langkah berat mendekati ke arah mereka. Itu Packer, ia berhenti di depan nomor enam. "Pagi, Sam," katanya.

"Pagi, Packer."

"Pakai seragam merahmu. Ada tamu untukmu." "Siapa?"

"Seseorang ingin bicara denganmu."

"Siapa?" Sam mengulangi sambil cepat-cepat memakai pakaian terusan merah. Ia meraih rokoknya. Ia tak peduli siapa pengunjung itu atau apa yang ia inginkan. Kunjungan merupakan pembebasan dari sel yang selalu disambut

"Bergegaslah, Sam," kata Packer.

"Apakah pengacaraku?" Sam bertanya sambil memasukkan kaki ke dalam selop mandi karet.

"Bukan." Packer memborgolnya melalui jeruji, dan pintu selnya terbuka. Mereka meninggalkan Tier A dan menuju ruangan kecil yang sama, tempat para pengacara biasa menunggu.

Packer melepaskan borgol dan membanting pintu di belakang Sam, yang memusatkan pandangan pada seorang wanita gemuk yang duduk di balik kisi-kisi. Ia menggosok pergelangannya dan mengambil beberapa langkah ke tempat duduk di depan wanita itu. Ia tidak mengenal wanita itu. Ia duduk, menyalakan rokok, dan menatap tajam padanya.

Wanita itu maju di kursinya, dan dengan gelisah berkata, "Mr. Cayhall, nama saya Dr. Stegall." Ia -menggeser sehelai kartu nama melalui lubang. "Saya psikiater untuk State Department of Corrections."

Sam mengamati kartu di counter di depannya. Ia memungutnya dan memeriksanya dengan curiga. "Di sini tertulis nama Anda N. Stegall. Dr. N. Stegall."

"Benar."

"Itu nama yang aneh, N. Saya belum pernah bertemu dengan wanita bernama N."

Senyum kecil dan gelisah itu menghilang dari wajahnya dan tulang punggungnya menegak. "Sa cuma inisal, oke? Ada beberapa alasan untuk 'tim.*< span=""><>

"Apa kepanjangannya?"

"Itu sama sekali bukan urusan Anda."

"Nancy? Nelda? Nona?"

"Kalau saya ingin Anda tahu, saya tentu sudah mencantumkannya pada kartu nama, bukan?"

"Entahlah. Pasti sesuatu yang mengerikan, apa pun nama itu. Nick? Ned? Saya tak bisa membayangkan diri saya bersembunyi di balik suatu singkatan."

"Saya tidak bersembunyi, Mr. Cayhall."

"Panggil saya S saja, oke?"

Rahang wanita itu terkatup rapat dan ia memandang marah melalui kisi-kisi. "Saya ada di sini .untuk membantu Anda." "Anda terlambat, N."

panggil saya Dr Stegall * baiklah, kalau begitu Anda boleh menung i Pengacara Cayhall "

» Cayhall?" Saya tahu hukum lebih banyak daripada ikan badut yang duduk di tempat Anda

la melontarkan senyum sepintas, bernada menggurui, lalu berkata. "Saya diharapkan menanyai Anda pada tahap ini. untuk melihat apakah saya

bis* membantu. Anda tidak wajib bekerja sama

bila Anda tidak menginginkannya."

"Kalau Anda ingin bicara dengan s iya, atau kalau butuh obat-obatan sekarang atau nanti, beri-tate saya/

"Bagaimana dengan wiski'1"

"Saya tak bisa memberikan if 11 "

"Kenapa tidak?"

"Peraturan penjara, saya rasa."

"Apa yang bisa Anda berikan1"

"Penenang. Valium, pil tidur, seperti itulah."

"Untuk apa?"

"Untuk saraf Anda "

"Saraf saya baik-baik saja."

"Apa Anda bisa tidur?"

Sam berpikir sejenak. "Ah. terus terang, saya ada sedikit masalah. Kemarin saya tidur putus-sambung tak lebih dari dua belas jam. Biasanya saya bisa tidur lima belas atau enam belas jam."

"Dua belas jam?"

"Yeah. Berapa sering Anda datang ke death nm "Tidak terlalu sering."

"Sudah saya duga Kalau tahu apa yang And! kerjakan. Anda akan tahu kami rata-rata tidui

enam belas jam sehari."

"Begitu. Dan apa lagi yang mungkin saya peta jari?"

"Oh, banyak. Anda akan tahu Randy Dupm perlahan-lahan jadi gila. dan tak seorang pun d sini peduli padanya. Mengapa Anda tak pernah menjenguknya'"

"Ada lima ribu narapidana di sini, Mr. Cayhall.

Saya..."

"Kalau begitu, pergilah. Menyingkirlah Pergi urus mereka. Saya sudah sembilan setengah tahun di sini dan tak pernah bertemu dengan Anda Sekarang begitu kalian akan mengegas saya. Anda dalang berlari ke sini dengan satu tas penuh obat untuk menenangkan saraf saya, supaya saya bersikap manis dan lembut ketika kalian membunuh saya. Mengapa Anda harus peduli dengan saraf dan kebiasaan tidur saya? Anda bekerja untuk negara dan negara sedang bekerja mati-matian untuk mengeksekusi saya."

"Saya menjalankan tugas saya, Mr. Cayhall."

"Tugas Anda kotor, Ned. Carilah pekerjaan sejali di mana Anda bisa menolong orang. Anda sekarang ada di sini karena saya punya waktu tiga

belas hari dan Anda ingin saya pergi dengan da-fflai. Anda cuma pesuruh pemerintah yang lain." "Saya tidak datang ke sini untuk dihina." "Kalau begitu bawa pantat Anda yang besar keluar dari sini. Enyahlah. Pergi dan jangan berbuat dosa lagi."

Ia melompat berdiri dan meraih tasnya. "Anda punya kartu nama saya. Kalau Anda butuh sesuatu, beri tahu saya."

Tentu, Ned. Tak usah duduk di samping telepon." Sam berdiri dan berjalan ke pintu di sisinya. Ia menggedornya dua kali dengan telapak tangan, dan menunggu dengan memunggungi psikiater itu, sampai Packer membukanya.

Adam sedang mengemasi tasnya, bersiap, melakukan kunjungan pendek ke Parchman ketika telepon berdering. Darlene mengatakan itu mendesak. Ia benar.

Penelepon itu memperkenalkan diri sebagai panitera dari Pengadilan Banding Fifth Circuit di New Orleans, dan sikapnya ramah luar biasa. Ia mengatakan petisi Cayhall yang menyerang aspek konstitusional kamar gas telah diterima pada hari Senin, sudah dibahas suatu panel dengan tiga hakim, dan panel itu ingin mendengarkan argumentasi lisan dari kedua, belah pihak. Bisakah ia berada di New Orleans pukul 13.00 besok, hari Jumat, untuk argumentasi lisan itu? Adam nyaris menjatuhkan telepon. Besok. Tentu

saja, katanya setelah ragu sejenak. Pukul 13.00 tepat, kata panitera itu, lalu menerangkan bahwa

pengadilan biasanya tidak mendengarkan argumentasi lisan di siang hari, tapi karena mendesaknya urusan ini, pengadilan telah menjadwalkan sidang' istimewa. Ia menanyai Adam apakah pernah berdebat di Pengadilan Fifth Circuit sebelum ini.

Apa kau bercanda, pikir Adam. Setahun yang lalu aku masih belajar untuk menempuh ujian sebagai ahli hukum. Ia mengatakan tidak, sama sekali belum, dan panitera itu mengatakan akan langsung mem-^u-kan satu copy peraturan pengadilan tentang presentasi lisan. Adam mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, lalu meletakkan telepon.

Ia duduk di tepi meja dan mencoba mengumpulkan pikirannya. Darlene membawakan fax itu kepadanya, dan ia memintanya untuk, memeriksa penerbangan ke New Orleans.

Apakah ia menarik perhatian pengadilan dengan pokok masalah ini? Apakah ini kabar baik atau cuma formalitas? Dalam kariernya yang pendek sebagai pengacara, ia hanya pernah satu kali berdiri di hadapan hakim untuk memperdebatkan posisi seorang klien. Tapi Emmitt Wycoff duduk di dekat situ, berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Dan hakimnya sudah dikenalnya. Dan hal itu terjadi di tengah kota Chicago, tak jauh dari kantornya. Besok ia akan berjalan memasuki ruang sidang asing di kota asing, mencoba membela dalih detik ter-

611

akhir di depan panel hakim yang belum pernah didengarnya.

Ia menelepon E. Garner Goodman dengan berita

itu. Goodman sudah berkali-kali ke Pengadilan Fifth Circuit, dan ketika ia bicara, Adam bersantai. Menurut pendapat Goodman, itu bukan kabar baik atau buruk. Pengadilan jelas tertarik pada gugatan itu, tapi mereka sudah pernah mendengar semuanya sebelum ini. Baik Texas dan Louisiana telah mengirimkan klaim konstitusional yang serupa kepada Pengadilan Fifth Circuit pada tahun-tahun terakhir ini.

Goodman meyakinkannya ia bisa menangani perdebatan ini. Tapi bersiaplah, katanya. Dan cobalah santai. Mungkin ia bisa terbang ke New . Orleans dan berada di sana, tapi Adam bilang tidak. Ia mengatakan bisa mengerjakannya sendiri. Teruslah memberi kabar, kata Goodman.

Adam mengecek Darlene, lalu mengunci diri di i kantornya. Ia menghafalkan peraturan-peraturan untuk argumentasi lisan, mempelajari gugatan yang menyerang pemakaian kamar gas, membaca berbagai makalah dan kasus, menelepon Parchman dan meninggalkan pesan untuk Sam bahwa ia {takkan ke sana hari ini.

Ia bekerja sampai gelap, lalu melakukan perjalanan yang menakutkan ke kondominium Lee. Catatan yang sama bertengger di atas counter, tak tersentuh dan masih menyatakan ia ada di ranjang ka- ^•m'

rena flu. Ia mengitari apartemen itu dan tak melihat tanda-tanda gerakan atau kehidupan selama siang itu.

Pintu kamar tidur Lee terbuka sedikit. Ia mengetuknya sambil mendorong. "Lee," ia berseru pelan ke dalam kegelapan. "Lee, kau tidak apa-apa?"

Ada gerakan di ranjang, meskipun ia tak dapat melihat gerakan apa itu. "Ya, Sayang," kata Lee. "Masuklah."

Perlahan-lahan Adam duduk di tepi ranjang dan mencoba memusatkan pandangan padanya Satu-satunya cahaya adalah seberkas sinar dari gang. Lee mendorong dirinya bangkit dan bersandar pada bantal. "Aku sudah lebih baik," katanya dengan suara serak. "Bagaimana keadaanmu, Sayang?"

"Aku baik-baik saja, Lee. Aku mengkhawatir-kanmu."

"Aku akan sembuh. Ini cuma virus kecil yang jahat."

Bau tajam pertama mengembus dari seprai dan selimut, dan Adam ingin menangis. Bau itu adalah bau busuk vodka basi atau gin atau pure asam, atau mungkin kombinasi segalanya. Ia tak dapat melihat mata Lee dalam bayang-bayang keruh itu, cuma sosok kabur wajahnya. Lee memakai kemeja warna gelap, entah apa.

"Apa obatnya?" tanya Adam.

"Entahlah. Cuma beberapa pil. Dokter mengata» kan ini akan berlangsung beberapa hari, lalu

menghilang dengan cepat. Aku sudah merasa fe^, haik sekarang."

Adam mulai mengucapkan sesuatu tentang ^ ganjilan virus semacam flu pada akhir bulan M tapi membatalkannya. "Apa kau bisa makan?"

Tak ada selera, sungguh."

"Adakah yang bisa kulakukan?"

Tidak, Sayang. Bagaimana keadaanmu bela. kangan ini? Hari apa ini."

"Kamis."

"Aku merasa seperti sudah seminggu berada dalam gua."

Adam punya dua pilihan. Ia bisa mengikuti permainan pura-pura percaya akan virus jahat itu dan berharap Lee berhenti minum sebelum keadaan jadi lebih parah. Atau ia bisa menghadapinya sekarang dan membuatnya sadar bahwa ia tak dapat mengecohnya. Mungkin mereka akan bertengkar, dan mungkin inilah yang seharusnya dilakukan terhadap pemabuk yang sudah parah. Bagaimana ia tahu apa yang harus dilakukan?

"Apa doktermu tahu kau minum?" ia bertanya sambil menahan napas.

Mereka terdiam lama. "Aku tidak minum," katanya, nyaris tak terdengar.

"Sudahlah, Lee. Aku menemukan botol vodka itu di keranjang sampah. Aku tahu tiga botol bir lainnya menghilang hari Sabtu kemarin. Baumu seperti penyulingan alkohol sekarang. Kau tak

614

membohongi siapa pun, Lee. Kau banyak minum, dan aku ingin menolong."

Ia duduk lebih tegak dan menarik kakinya ke dada. Lalu ia diam beberapa lama. Adam melihat bayangannya. Menit-menit berlalu. Apartemen itu sunyi senyap.

"Bagaimana keadaan ayahku?" ia bergumam. Kata-katanya lamban, tapi masih pahit. "Aku tidak menemuinya hari ini." "Apa kaupikir kita takkan lebih baik bila dia

mati?"

Adam memandang sosoknya, "Tidak, Lee, aku takkan lebih baik. Kau?"

Ia bungkam dan tak bergerak sedikitnya selama satu menit. "Kau kasihan padanya, kan?" ia akhirnya berkata.

"Ya."

"Apakah dia menyedihkan?" "Ya."

"Bagaimana tampangnya?"

"Sangat tua, dengan banyak uban yang selalu berminyak dan ditarik ke belakang. Jenggotnya pendek kelabu. Banyak kerut-merut. Kulitnya sangat pucat."

"Apa pakaiannya?"

"Terusan merah. Semua terpidana mati memakai pakaian yang sama."

Keheningan panjang kembali ketika ia memikirkan hal ini. Lalu ia berkata, "Mudahkah merasa

kasihan padanya?"

615

"Bagiku mudah."

"Tapi kaulihat, Adam, aku tak pernah melihatnya dalam keadaan seperti yang kaulihat. Aku melihat orang yang berbeda." "Apa yang kaulihat?"

Lee membetulkan letak selimut di sekitar kakinya, lalu terdiam lagi. "Ayahku adalah orang yang kupandang hina."

"Apa kau masih memandangnya hina?" "Ya. Sangat. Kupikir dia harus terus dan mati. Tuhan tahu dia layak mendapatkannya." "Mengapa dia layak mendapatkannya?" Ini menimbulkan keheningan lagi. Ia bergerak sedikit ke kiri dan mengambil sebuah cangkir atau , gelas dari meja samping. Ia meneguk isinya per- j lahan-lahan, sementara Adam memandang bayang-bayangnya. Ia tidak bertanya apa yang diminum Lee.

"Apakah dia bicara tentang masa lampau de- ' nganmu?"

"Cuma bila aku bertanya. Kami sudah bicara i tentang Eddie, tapi aku berjanji kami takkan melakukannya lagi."

"Dialah penyebab kematian Eddie. Apakah dia menyadari ini?"

"Mungkin."

"Apa kau mengatakannya padanya? Apa kau menyalahkannya karena Eddie?" "Tidak."

"Kau seharusnya melakukannya. Kau terlalu lu-

nak terhadapnya. Dia perlu tahu apa yang telah dia perbuat."

"Kurasa dia tahu. Tapi kau sendiri mengatakan tak adil menyiksanya pada titik ini."

"Bagaimana dengan Joe Lincoln? Apa kau bicara tentang Joe Lincoln dengannya?"

"Kuceritakan pada Sam bahwa aku dan kau pergi ke rumah lama milik keluarga. Dia me-nanyaiku apakah aku tahu tentang Joe Lincoln. Kukatakan aku tahu." "Apakah dia menyangkalnya?" "Tidak. Dia menunjukkan penyesalan hebat." "Dia pembohong." -3}$m

"Tidak. Kurasa dia sungguh-sungguh." Kembali berlangsung keheningan panjang, sementara Lee duduk tak bergerak. Lalu, "Apakah dia bercerita tentang pembunuhan semena-mena itu?"

Adam memejamkan mata dan meletakkan siku pada lutut. "Tidak," gumamnya. "Sudah kuduga."

"Aku tak ingin mendengarnya, Lee."

"Ya, kau ingin. Kau datang ke sini penuh dengan pertanyaan-tentang keluarga dan masa lalumu. Dua minggu yang lalu kau tidak cukup tahu tentang kesengsaraan keluarga Cayhall.. Kau menginginkan semua lumuran darah itu."

"Aku sudah mendengar cukup," kata Adam.

"Hari apa ini?" tanya Lee.

"Kamis, Lee. Kau sudah menanyakannya sah. kali."

"Salah satu gadis asuhanku melahirkan hari jn; Anak kedua. Aku tidak menelepon ke kantor, ft. rasa gara-gara obat-obat ini."

"Dan alkohol."

"Baiklah, sialan. Aku pecandu alkohol Siapa bisa menyalahkan aku? Kadang-kadang aku ingin punya nyali untuk bertindak seperti Eddie." "Sudahlah, Lee. Biarkan aku menolongmu." "Oh, kau memang sudah menolong banyak, Adam. Aku baik-baik saja, sehat dan bebas alkohol sampai kau datang."

"Oke. Aku keliru. Maaf. Aku cuma tidak me- , nyadari..." Suaranya mengecil, lalu berhenti.

la bergerak sedikit dan Adam menyaksikannya I minum seteguk lagi. Keheningan berat melingkupi mereka, sementara menit-menit berlalu. Bau busuk memancar dari ujung ranjang tempat ia duduk.

Tbu menceritakan kisah itu padaku," katanya pelan, nyaris berbisik. "Dia mengatakan sudah bertahun-tahun mendengar desas-desus tentang itu. Lama sebelum mereka menikah, dia tahu Sam pernah membantu membunuh seorang laki-laki muda kulit hitam." "Sudahlah, Lee."

"Aku tak pernah menanyakan hal itu padanya, tapi Eddie pernah. Sudah bertahun-tahun kami berbisik-bisik membicarakan hal itu, dan akhirnya suatu hari Eddie menanyakannya langsung. Mereka

618

bertengkar hebat, tapi Sam mengakui itu benar. Itu

sama sekali tak mengusik perasaannya, katanya. Bocah kulit hitam itu, kata orang, telah memerkosa seorang wanita kulit putih, tapi perempuan itu sampah dan banyak orang meragukan apakah itu benar-benar pemerkosaan. Ini menurut versi Ibu. Sam berumur sekitar lima belas tahun saat itu, dari segerombolan laki-laki pergi ke penjara, mengambil bocah hitam itu dan membawanya ke hutan. Ayah Sam sudah tentu menjadi pemimpin gerombolan; saudara-saudaranya juga terlibat." "Cukup, Lee."

"Mereka melecutnya dengan cambuk, lalu menggantungnya pada sebatang pohon. Ayahku tercinta berada tepat di tengah-tengahnya. Dia sama sekali tak bisa menyangkalnya, kau tahu, sebab seseorang memotretnya." "Potret?"

"Yeah. Beberapa tahun kemudian foto itu dimasukkan dalam sebuah buku tentang keadaan orang negro di Deep South. Buku itu diterbitkan tahun 1947. Ibuku menyimpan satu copy selama bertahun-tahun. Eddie menemukannya di loteng." "Dan Sam ada dalam foto itu?" "Benar. Tersenyum lebar. Mereka berdiri di bawah pohon. Kaki orang kulit hitam itu bergelantungan di atas kepala mereka. Semua orang bergembira. Cuma pembunuhan orang negro. Tak ada tulisan pada foto itu, tak ada nama. Foto itu berbicara sendiri, menjelaskan pembunuhan tanpa

619

pemeriksaan di daerah pedesaan Mississippi tahun 1936." "Di mana buku itu?"

"Di dalam laci. Aku menyimpannya bersama harta lain milik keluarga sejak penyitaan itu. Kemarin dulu aku mengeluarkannya. Kupikir kau mungkin ingin melihatnya." 'Tidak. Aku tak ingin melihatnya." "Lihatlah. Kau ingin tahu tentang keluargamu. Nah, inilah dia. Kakek, buyut, dan segala macam warga Cayhall dalam keadaan puncaknya. Tertangkap basah dalam perbuatan itu, dan cukup bangga dengannya." "Hentikan, Lee."

"Ada juga pembunuhan lain, kau tahu?"

"Diamlah, Lee. Oke? Aku tak ingin mendengarkan lagi"

Ia memiringkan tubuh ke samping dan meraih meja.

"Apa yang kauminum, Lee?" "Sirap obat batuk."

"Omong kosong!" Adam melompat berdiri dan berjalan dalam kegelapan, menuju meja kecil. Lee cepat-cepat meneguk sisa cairan itu. Adam meraih gelas itu dari tangannya .dan mengendus bagian atasnya. "Ini bourbon."

«"Masih ada lagi di sepen. Maukah kau meng-ambilkannya untukku?" "Tidak! Kau sudah minum lebih dari cukup." "Kalau ingin, aku akan mengambilnya."

"Tidak, Lee. Kau takkan minum lagi malam ini. Besok aku akan mengantarmu ke dokter, dan kita

minta bantuan." "Aku tidak butuh bantuan. Aku butuh senapan."

Adam meletakkan gelas di atas lemari rias dan menyalakan lampu. Lee menutupi matanya selama beberapa detik, lalu memandangnya. Matanya merah dan sembap. Rambutnya acak-acakan, kotor, dan tak tersisir.

"Bukan pemandangan yang bagus, ya?" katanya, menyeret ucapannya, dan memalingkan wajah.

Tidak, tapi kita akan cari pertolongan, Lee. Kita akan melakukannya besok."

"Ambilkan aku minuman, Adam. Please."

"Tidak."

"Kalau begitu, tinggalkan aku sendiri. Semua ini salahmu, kau tahu. Sekarang pergilah, please. Pergilah tidur."

Adam meraih bantal dari tengah ranjang dan melemparkannya ke pintu. "Aku akan tidur di sini malam ini," katanya sambil menunjuk ke bantal tadi. "Pintunya akan kukunci, dan kau takkan meninggalkan ruangan ini."

Lee memandang Adam dengan berapi-api, tapi tak mengucapkan apa pun. Adam memadamkan lampu, ruangan itu sepenuhnya gelap. Ia menekan kunci pada kenop pintu dan menarik karpet ke pintu. "Sekarang tidurlah, Lee."

"Pergilah ke ranjangmu, Adam. Aku janji takkan meninggalkan ruangan ini."

621

" "Tidak. Kau mabuk, dan aku takkan bergeser Bila kau mencoba membuka pintu ini, akan k», kembalikan kau ke ranjang."

"Kedengarannya romantis."

"Hentikanlah, Lee. Tidurlah."

"Aku tak bisa tidur."

"Cobalah."

"Mari kita cerita tentang keluarga Cayhall, oke, Adam? Aku tahu beberapa kisah pembunuhan semena-mena lainnya."

"Diam, Lee!" Adam berseru, dan Lee mendadak terdiam. Ranjang berkeriut ketika ia bergoyang dan berbalik, mengatur posisi. Setelah lima belas menit, ia tertidur. Sesudah tiga puluh menit, lantai jadi terasa tak nyaman dan Adam berguling dari satu sisi ke sisi yang lain.

Tidurnya terputus-putus, disela dengan saat-saat panjang menatap ke langit-langit, mengkhawatirkan Lee, dan Pengadilan Fifth Circuit. Suatu saat pada malam itu ia duduk dengan punggung bersandar pintu dan menatap kegelapan, ke arah laci. Apakah buku itu benar-benar ada di sana? Ia tergoda untuk menyelinap dan mengambilnya, lalu pergi ke kamar mandi mencari foto itu. Namun ia tak bisa ambil risiko akan membangunkan Lee, dan ia tak ingin melihatnya.

TIGA PULUH TIGA

Ia menemukan sebuah botol bourbon isi setengah liter tersembunyi di belakang sekaleng biskuit asin dalam sepen, dan mengosongkannya ke dalam wastafel. Di luar gelap. Matahari masih satu jam lagi. Ia membuat kopi kental dan menghirupnya di sofa, sambil melatih kembali argumentasi yang akan dipresentasikannya beberapa jam lagi di New Orleans.

Ia memeriksa kembali catatannya di serambi waktu fajar, dan pada pukul 07.00 ia ada di dapur, membuat roti panggang. Tak ada tanda-tanda dari Lee. Ia tak menginginkan konfrontasi, namun hal itu perlu dilakukan. Ia punya beberapa hal untuk dikatakan, dan Lee harus mengajukan permintaan maaf. Ia membunyikan piring serta garpu di counter. Volume TV dibesarkan untuk mendengarkan berita pagi.

Tapi tak ada gerakan apa pun dari bagian kondominium tempat Lee berada. Sesudah mandi dan berpakaian, perlahan-lahan ia memutar kenop pintu

kamar Lee. Pintu itu terkunci. Lee sedang mengurung diri dalam guanya, mencegah percakapan menyakitkan pada pagi berikutnya. Adam menulis pesan dan menjelaskan ia akan berada di New Orleans siang dan malam ini, dan mereka akan membicarakannya nanti. Ia meminta agar Lee tidak minum.

Catatan itu diletakkan di atas counter. Lee pasti melihatnya. Adam meninggalkan kondominium dan menuju bandara.

Penerbangan langsung ke New Orleans butuh waktu 55 menit. Adam minum sari buah dan mencoba duduk dengan nyaman untuk melemaskan punggungnya yang kaku. Ia tidur kurang dari tiga jam di lantai di samping pintu, dan bersumpah takkan melakukannya lagi. Menurut pengakuan Lee sendiri, selama bertahun-tahun itu ia telah tiga kali menjalani pengobatan terhadap kecanduannya, dan bila ia tak dapat menghindarkan diri dari mabuk-mabukan, tentu tak ada apa pun yang dapat dilakukan Adam untuk membantu. Ia akan tinggal di Memphis sampai kasus menyedihkan ini selesai, dan bila bibinya tak dapat menghindarkan diri dari alkohol, ia bisa menangani urusannya dari kamar hotel. :

Selama beberapa jam berikutnya ia bergulat untuk melupakan bibinya. Ia perlu memusatkan pikiran pada urusan hukum, bukan pembunuhan semena-mena, foto-foto, dan kisah-kisah horor masa J silam; bukan pada bibinya tercinta dan masalahnya,

Pesawat mendarat di New Orleans, dan sekonyong-konyong konsentrasinya jadi lebih tajam. Dalam hati ia memilah-milah nama berpuluh-puluh kasus hukuman mati terbaru dari Pengadilan Fifth Circuit dan Mahkamah Agung AS.

Mobil sewaan itu sebuah sedan Cadillac. Urusan sewanya ditangani Darlene dan tagihannya dimasukkan ke Kravitz & Bane. Mobil itu datang dengan seorang pengemudi, dan ketika duduk santai di jok belakang, Adam mengakui bahwa hidup di biro hukum besar memang punya keuntungan-keuntungan tertentu. Adam belum pernah ke New Orleans, dan perjalanan dari bandara rasanya sama dengan perjalanan di kota mana pun. Cuma lalu lintas dan jalan raya bebas hambatan. Si pengemudi berbelok ke Poydras Street di samping Su-perdome, dan mendadak mereka sampai di pusat kota. Ia menerangkan kepada penumpangnya bahwa French Quarter terletak beberapa blok dari sana, tak jauh dari hotel Adam. Mobil berhenti di Camp Street, dan Adam melangkah ke trotoar, di depan sebuah gedung yang disebut Pengadilan Banding Fifth Circuit. Gedung itu mengesankan, dengan kolom-kolom gaya Yunani dan banyak anak tangga menuju pintu depan.

Ia menemukan kantor panitera di lantai utama dan menanyakan orang yang pernah berbicara dengannya, Mr. Feriday. Mr. Feriday orang yang tulus dan sopan, seperti caranya berbicara di telepon. Ia mencatat Adam dalam registrasi dan men- ./

jelaskan beberapa peraturan pengadilan itu. Ia ber. tanya apakah Adam ingin melihat-lihat tempat ini sebentar. Saat itu hampir tengah hari, tempat itu tidak sibuk, dan itu saat yang tepat untuk melihat-lihat. Mereka menuju ruang sidang, melewati berbagai kantor hakim dan staf.

"Pengadilan Fifth Circuit punya lima belas hakim," Mr. Feriday menjelaskan ketika mereka berjalan santai di lantai marmer, "dan kantor mereka ada di sepanjang lorong-lorong ini. Pada saat ini pengadilan punya tiga tempat lowong, dan nominasinya tersangkut di Washington." Koridor-koridor itu gelap dan sepi, seolah-olah pemikir-pemikir j besar itu sedang bekerja di balik pintu-pintu kayu lebar tersebut. srlm

Mr. Feriday pertama-tama pergi ke Ruang Sidang En Bane, sebuah pentas besar, angker, dengan lima belas kursi bertengger rapat membentuk setengah lingkaran di depan ruangan. "Sebagian pekerjaan di sini ditangani panel beranggotakan ' tiga hakim. Tapi sekali-sekali seluruh anggota hadir," ia menjelaskan dengan tenang, seolah-olah masih terpesona oleh ruangan spektakuler itu. Tempat hakim dinaikkan lebih tinggi dari bagian lain mangan itu, sehingga para pengacara di po- . dium di bawahnya harus memandang ke atas sewaktu mengajukan pembelaan. Ruangan itu terbuat dari marmer dan kayu gelap, dengan tirai-tirai tebal dan lampu gantung besar. Tempat itu penuh hiasan, tapi tidak mencolok; tua, tapi dipelihara

dengan baik, dan sewaktu memeriksanya, Adam agak ngeri. Sangat jarang seluruh bakim anggota pengadilan itu berkerja bersama di situ, Mr. Feriday menjelaskan lagi, seakan-akan sedang memberikan kuliah kepada mahasiswa hukum tahun pertama. Keputusan-keputusan besar tentang hak-hak sipil pada dasawarsa enam puluhan dan tujuh puluhan diambil di sini, katanya dengan nada bangga yang cukup kentara. Potret hakim-hakim yang sudah almarhum tergantung di belakang tempat hakim.

Meskipun tempat itu indah dan anggun, Adam berharap takkan pernah melihatnya lagi, sedikitnya tidak sebagai pengacara yang mewakili klien. Mereka berjalan menyusuri gang menuju Ruang Sidang Barat yang lebih kecil daripada yang pertama, tapi sama menakutkan. Di sinilah panel dengan tiga hakim anggota bekerja, Mr. Feriday menjelaskan sewaktu mereka berjalan melewati tempat duduk di bagian untuk penonton, melewati jerjak, dan menuju podium. Tempat hakim di sini. pun dibuat lebih tinggi, meskipun tidak tinggi angkuh seperti di En Banc.

"Lazimnya semua argumentasi lisan diadakan di pagi hari, mulai pukul sembilan," kata Mr. Feriday. "Kasus Anda sedikit berbeda sebab ini kasus hukuman mati yang sudah sangat dekat." Ia menuding dengan jari dibengkokkan ke arah tempat duduk di belakang. "Anda harus duduk di sana beberapa menit sebelum pukul satu, dan panitera

627

akan memanggil kasusnya. Lalu Anda melewati jajak dan duduk di meja pembela di sini. Anda yang harus mulai lebih dulu. dan Anda punya waktu dua puluh menit."

Adam tahu tentang hai ini, tapi sudah tentu senang ditunjuk i semua ini.

Mr. Feriday menunjuk sebuah alat di podium yang menyerupai lampu lalu lintas. "Ini penunjui waktu," katanya serius. "Dan ini sangat penting Dua puluh menit, oke? Ada cerita-cerita menyedihkan tentang pengacara yang bicara berkepanjangan dan mengabaikan ini. Bukan pemandangan yang bagus. Lampu hijau menyala sewaktu Anda bicara. Lampu kuning akan menyala bila Anda menginginkan peringatan—dua menit, lima menu, tiga puluh detik, terserah. Bila yang merah menyala, Anda harus berhenti di tengah kalimat dan duduk Begitu saja. Ada pertanyaan?" "Siapa saja hakim-hakimnya?" "McNeely, Robichaux, dan Judy." jawabnya seolah-olah Adam mengenal mereka bertiga. "Ada ruang tunggu di sana, dan perpustakaan ada di lantai tiga. Datanglah ke sini sekitar sepuluh menit sebelumnya. Ada pertanyaan lagi?" "Tidak, Sir. Terima karib." "Saya ada di kantor bila Anda membutuhkan saya. Selamat." Mereka berjabatan tangan. Mr. Fenday meninggalkan Adam berdiri di podium.

Pukul 12.50, untuk kedua kalinya Adam berjalan

melewati pintu kayu ck tebal Ruang Sidang Barat, dan menemukan pengacara-pengacara lain bersiap menghadapi pertempuran. Pada deretan pertama di belakang jerjak, Jaksa Agung Steve Roxburgh dan kelompok asistennya berkerumun menyusun taktik. Mereka diam ketika Adam melangkah masuk, beberapa orang mengangguk dan mencoba tersenyum. Adam duduk sendirian di pinggir gang, tidak menghiraukan mereka.

Lucas Mann duduk di ruang sidang itu pada sisi mereka, beberapa deret di belakang Roxburgh dan anak buahnya. Ia membaca koran dengan tak acuh. dan melambaikan tangan kepada Adam ketika mata mereka bertemu. Rasanya menyenangkan bertemu dengannya. Dari kepala sampai ujung kaki ia memakai pakaian khoki berkerut, dan dasinya cukup mencolok, sehingga menyala dalam kegelapan. Tampak jelas Man n tidak gentar pada Pengadilan Fifth Circuit dan keangkerannya, dan jelas ia menjaga jarak dari Roxburgh. Dialah satu-satunya pengacara bagi Parchman, hanya melaksanakan tugasnya Bila Fifth Circuit memberikan penundaan dan Sam tidak mari, Lucas Mann akan senang. Adam mengangguk dan tersenyum padanya.

Roxburgh dan kelompoknya berkerumun kembali. Morris Henry—Dr.Death—ada di tengahnya, menjelaskan berbagai hal kepada orang-orang yang tidak secakap dirinya. Adam menarik napas dalam dan mencoba san-Cukup sulit. Parutnya bergolak dan kakinya

berkedut, dan ia terus mengatakan pada diri sendiri bahwa urusan ini hanya akan berlangsung dua puluh menit. Ia bisa menahan apa pun selama dua puluh menit. Ia melihat catatannya, dan untuk menenangkan diri ia mencoba memikirkan Sam— bukan Sam si rasis, pembunuh, bajingan anggota gerombolan pembantai, tapi Sam sang klien, orang tua yang hidup percuma di death row, yang berhak mati dengan tenang dan bermartabat. Sam akan mendapatkan waktu dua puluh menit yang berharga dalam sidang ini, jadi pengacaranya harus berbuat sebaik mungkin.

Pintu yang berat berdetak tertutup di suatu tem- . pat dan Adam terlonjak di tempat duduknya Petugas pembawa acara muncul di belakang tempat hakim dan mengumumkan sidang yang mulia ini sekarang akan dimulai. Ia diikuti tiga sosok dalam jubah hitam berkibaran—McNeely, Robichaux, dan Judy, yang masing-masing membawa berkas dan tampak sama sekali tanpa humor atau niat baik. Mereka duduk di kursi besar berjok kulit, di atas tempat hakim dari kayu ek berwarna tua, mengilat, dan memandang mang sidang di bawah. Kasus Negara Bagian Mississippi vs. Sam Cayhall diumumkan, dan para pengacara dipanggil dari belakang ruangan. Adam dengan gelisah berjalan melewati pintu ayun pada jerjak, diikuti Steve Roxburgh. Para asisten Jaksa Agung tepat di tempat duduk mereka, seperti juga Lucas Mann dan

sekelompok kecil penonton. Adam mengetahui sesudahnya bahwa kebanyakan dari mereka reporter.

Hakim pemimpinnya adalah Judy—Yang Mulia T. Eileen Judy—seorang wanita muda dari Texas. Robichaux berasal dari Louisiana, dan berumur akhir lima puluhan. McNeeley tampak seperti sudah berumur 120 tahun, dan juga berasal dari Texas. Judy memberikan pernyataan pendek tentang kasus tersebut, lalu bertanya kepada Mr. Adam Hall dari Chicago apakah sudah siap. Adam berdiri cemas, lututnya bagaikan karet, perutnya bergejolak, suaranya tinggi dan gelisah, dan ia mengatakan, ya, ia* memang sudah siap mulai. Ia menuju podium di tengah mangan dan memandang ke atas, rasanya jauh ke atas, pada panel di belakang tempat hakim.

Lampu hijau di sampingnya menyala dan ia mengasumsikan dengan tepat bahwa ini berarti tanda untuk mulai. Ruangan itu sunyi. Para hakim memandang tajam kepadanya. Ia berdeham melonggarkan tenggorokan, memandang potret mendiang para hakim yang tergantung di dinding, dan mulai terjun menyerang kamar gas sebagai alat eksekusi. ' Ia menghindari kontak mata dengan mereka bertiga, dan selama sekitar lima menit dibiarkan mengulangi apa yang sudah ia masukkan dalam makalah tertulisnya. Saat itu sudah lewat jam makan siang, dalam hawa panas musim panas, dan para hakim itu perlu beberapa menit untuk menepiskan jaring labah-labah dalam kepala mereka.

"Mr. Hall, saya pikir Anda cuma mengulangi \ apa yang sudah Anda uraikan dalam makalah," l kata Judy tak sabar. "Kami cukup mampu mem- | baca Mr. Hall."

Mr. Hall menerimanya dengan baik, berpikir bahwa ini dua puluh menirnya, bila ingin berlam- i bat-lambat dan mengeja setiap huruf, ia seharusnya I diizinkan berbuat demikian. Selama dua puluh me- ! nit. Meskipun masih hijau dan belum berpengalaman, Adam sudah pernah mendengar komentar t macam ini dari hakim pengadilan banding. Itu [ terjadi ketika ia masih kuliah dan menyaksikan f suatu kasus sedang diperdebatkan. Komentar-ko- : mentar itu adalah baku dalam argumentasi lisan.

"Ya, Yang Mulia," kata Adam, hati-hati untuk E tidak memakai panggilan yang menunjukkan jenis I kelamin. Ia kemudian pindah membahas efek gas f sianida pada tikus laboratorium, suatu penelitian J yang tidak tercantum dalam makalahnya. Eksperimen itu dilakukan bertahun-tahun yang lalu oleh j beberapa ahli kimia di Swedia, dengan tujuan , membuktikan bahwa manusia tidak mati seketika j bila mereka menghirup racun. Penelitian itu di- j danai suatu organisasi Eropa yang bekerja untuk I menghapuskan hukuman mati di Amerika. ^

Tikus-tikus ita kejang dan menggelepar-gelepar. J Paru-paru dan jantung mereka berhenti dan mulai bekerja lagi dengan kacau selama beberapa menit. Gas itu memecahkan pembuluh darah pada seluruh tubuh, termasuk otak mereka. Otot-otot mereka

632

gemetar tak terkendali. Ludah mereka menetes-netes dan mereka mencictt-cicit.

Inti yang jelas dalam penelitian itu adalah tikus tidak mati dengan cepat, tapi sebenarnya menderita luar biasa. Pengujian-pengujian tersebut dilaksanakan dengan integritas ilmiah. Binatang-binatang kecil itu menerima dosis yang sesuai. Rata-rata dibutuhkan waktu sepuluh menit sampai kematian terjadi. Adam bekerja keras menguraikan detailnya, dan saat ia menghangat dalam presentasinya, sarafnya sedikit mengendur. Para hakim bukan hanya mendengarkan, tapi tampaknya menikmati uraian tentang tikus-tikus sekarat itu.

Adam menemukan penelitian itu dalam catatan kaki sebuah kasus baru dari North Carolina. Penelitian itu tercetak baik dan belum dilaporkan secara luas.

"Sekarang, coba saya tegaskan," Robichaux menyela dengan suara tinggi. "Anda tak ingin klien Anda mati dalam kamar gas, sebab itu cara yang kejam untuk mati, tapi apakah Anda mengatakan pada kami bahwa Anda tidak keberatan bila dia dieksekusi dengan suntikan mematikan?"

"Tidak, Yang mulia. Bukan itu yang saya katakan. Saya tak ingin klien saya dieksekusi dengan metode apa pun."

"Tapi suntikan mematikan adalah yang paling tidak kejam?"

"Semua cara kejam, tapi suntikan mematikan rasanya yang paling tidak kejam. Tak disangsikan

lagi bahwa kamar gas merupakan cara mengerikan untuk mati.''

"Lebih buruk daripada dibom? Diledakkan de-ngan dinamit?" -

Keheningan yang berat turun menyelimuti ruang sidang itu saat kata-kata Robicahux mengendap, la menekankan kata "dinamit" dan Adam bergulat mencari sesuatu yang pantas diucapkan. McNeely melontarkan pandangan tak senang kepada rekan- ; nya di sisi lain tempat hakim.

Itu komentar murahan, dan Adam geram, la f mengendalikan kegusarannya dan berkata tegas, "Kita sedang membicarakan metode eksekusi, t Yang Mulia, bukan tindak kejahatan yang me- ' ngirim orang pada hukuman mari."

"Mengapa Anda tak ingin bicara tentang tindak kejahatan itu?"

"Sebab hal itu bukan pokok pembicaraan di sini. ' Sebab saya cuma punya dua puluh menit, dan klien saya cuma punya dua belas hari."

"Mungkin seharusnya klien Anda tidak memasang bom?"

"Sudah tentu tidak. Tapi dia sudah dinyatakan bersalah atas kejahatannya, dan sekarang dia menghadapi kematian dalam kamar gas. Pokok persoalannya, kamar gas adalah cara yang kejam untuk mengeksekusi orang."

"Bagaimana dengan kursi listrik?"

"Argumentasi yang sama juga berlaku di situ. Ada beberapa kasus mengerikan tentang orang-

orang yang menderita hebat di kursi listrik sebelum mereka mati."

"Bagaimana dengan regu tembak?"

"Kedengaran keji bagi saya."

"Dan hukum gantung?"

"Saya tidak tahu banyak tentang hukum gantung, tapi itu pun kedengaran keji luar biasa." ¦¦

"Tapi Anda menyukai gagasan suntikan mematikan?"

"Saya tidak mengatakan menyukainya. Saya yakin mengatakan itu tidak sekejam metode lain."

Hakim McNeely menyela dan bertanya, "Mr. Hall, mengapa Mississippi beralih dari kamar gas ke suntikan mematikan?"

Hal ini sudah diliput secara mendalam dalam gugatan dan makalah itu, dan Adam langsung merasakan McNeeley adalah teman. "Saya sudah meringkas sejarah legislatif dari undang-undang itu dalam makalah saya, Yang Mulia, tapi pada pokoknya itu dibuat untuk memudahkan eksekusi. Badan pembuat undang-undang mengakui ini cara yang lebih mudah untuk mati, dan dengan demikian mengelak dari tantangan konstitusional seperti sekarang ini, maka metodenya diganti."

"Jadi, negara secara efektif mengakui ada cara yang lebih baik untuk mengeksekusi orang?"

"Ya. Tapi undang-undang itu berlaku tahun 1984, dan hanya diterapkan pada terpidana yang divonis sesudahnya. Itu tidak berlaku bagi Sam Cayhall.". "Saya mengerti itu. Anda meminta kami men-

635

coret kamar gas sebagai suatu cara eksekusi. Apa yang terjadi bila kami melakukannya? Apa yang terjadi pada klien Anda dan orang-orang macam dia yang di vonis sebelum 1984? Apakah mereka akan lolos? Tak ada ketentuan dalam undang-undang itu untuk mengeksekusi mereka dengan suntikan mematikan."

Adam sudah mengantisipasi pertanyaan jelas ini. Sam sudah menanyakannya. "Saya tak dapat menjawab itu. Yang Mulia, kecuali mengatakan saya j punya keyakinan besar pada kemampuan dan kesediaan Badan Penyusun Undang-undang Mississippi untuk membuat undang-undang baru yang mencakup klien saya dan mereka yang ada dalam posisinya."

Hakim Judy menyelipkan diri pada titik ini. I "Dengan asumsi bahwa mereka membuatnya Mr. Hall, apa yang akan Anda ajukan sebagai dalih f bila Anda kembali ke sini tiga tahun lagi?"

Syukurlah, lampu kuning menyala, dan Adam cuma punya satu menit tersisa. "Saya akan memikirkan sesuatu," katanya dengan senyum lebar. "Beri saja saya waktu."

"Kami sudah melihat kasus seperti ini, Mr. j Cayhall," kata Robichaux. "Bahkan sebenarnya hal itu Anda kutip dalam makalah Anda. Kasus dari Texas." •-

"Ya, Yang Mulia. Saya mohon sidang mempertimbangkan kembali keputusannya atas masalah ini. Pada akhirnya setiap negara bagian dengan

kamar gas atau kursi listrik telah beralih ke suntikan mematikan. Alasannya jelas."

Ia punya beberapa detik tersisa, tapi memutuskan harus berhenti sekarang. Ia tak menginginkan pertanyaan lain. "Terima kasih," katanya, lalu berjalan mantap kembali ke tempat duduknya. Presentasi itu selesai. Ia telah menunda sarapan pagi, presentasinya itu cukup baik sebagai pelonco. Lain kali akan lebih mudah.

Roxburgh kaku dan metodis, serta siap sepenuhnya. Ia mencoba beberapa lelucon tentang tikus dan kejahatan yang mereka lakukan, tapi hasilnya menyedihkan. McNeely menaburinya dengan pertanyaan-pertanyaan mirip tentang mengapa negara-negara bagian bergegas beralih, ke suntikan mematikan. Roxburgh bertahan pada senjatanya dan menguraikan sederet panjang kasus di mana berbagai pengadilan federal mengesahkan hukuman mati dengan gas, listrik, gantung, dan regu tembak. Undang-undang yang mapan ada di pihaknya, dan ia memanfaatkannya sebaik mungkin. Dua puluh menit jatahnya lewat dengan cepat, dan ia kembali ke tempat duduknya secepat Adam.

Hakim Judy bicara ringkas tentang mendesaknya urusan ini, dan menjanjikan keputusan dalam beberapa hari. Semua orang berdiri bersamaan, dan tiga hakim itu menghilang dari tempat mereka. Pembawa acara mengumumkan bahwa urusan ditunda sampai Senin pagi. Adam berjabat tangan dengan Roxburgh dan

berhasil melewati pintu sebelum seorang wartawan menghentikannya. Ia bekerja untuk sebuah harian di Jackson, dan cuma punya beberapa pertanyaan. Adam bersikap sopan, tapi menolak memberi komentar. Ia kemudian melakukan hal yang sama kepada dua reporter lagi. Roxburgh, seperti biasa, punya beberapa hai untuk dikatakan, dan ketika Adam berjalan pergi, para wartawan mengelilingi sang Jaksa Agung dan menyorongkan alat perekam ke dekat wajahnya.

Adam ingin meninggalkan gedung ;tu. Ia melangkah ke dalam hawa panas tropis, dan cepat-cepat menutupi mata dengan kacamata hitam. "Apa kau sudah makan siang?" sebuah suara bertanya dekat di belakang. Lucas Mann, dengan kacamata pilot. Mereka bersalaman di antara tiang-tiang. "Aku tak bisa makan," Adam mengaku. "Kenamu bagus. Ini cukup mengguncang saraf, kan?"

"Benar. Mengapa kau ada di sini?" "Ini bagian dari pekerjaanku. Kepala Penjara memintaku terbang ke sini, menyaksikan perdebatan ini. Kami akan menunggu sampai ada ke-putusan sebelum kami mulai bersiap. Mari kita pergi makan."

Sopir Adam menghentikan mobil di tepi jalan, dan mereka masuk.

"Apa kaukenal kota ini?" tanya Mann.

Tidak. Ini kunjungan pertamaku."

"Bon Ton Cafe," kata Mann kepada pengemudi.

-Itu restoran tua yang bagus di balik sudut sana.

Mobil bagus."

"Beginilah untungnya bekerja di biro hukum

yang kaya."

Makan siang mulai dengan sesuatu yang sangat baru—tiram mentah dengan separo tempurungnya. Adam sudah pernah mendengar tentang makanan ini, tapi tak pernah tertarik. Mann dengan indah mendemonstrasikan cara mencampur saus horseradish, jeruk nipis, Tabasco, dan saus koktail, lalu menjatuhkan tiram pertama ke dalam campuran, tersebut. Tiram itu kemudian diletakkan dengan hati-hati di atas sepotong biskuit asin dan dimakan dengan sekali gigitan. Tiram pertama Adam tergelincir dari biskuit dan jatuh ke meja, tapi yang kedua meluncur sempurna ke dalam kerongkongan.

Jangan dikunyah," Mann menginstruksikan. "Biarkan saja bergeser turun sendiri." Enam tiram berikutnya bergeser turun dan tidak cukup cepat bagi Adam. Ia senang ketika selusin kerang di piringnya telah kosong. Mereka meneguk bir Dixie dan menunggu remoulade udang.

"Aku lihat kau mengajukan klaim akan bantuan hukum yang tak memadai," kata Mann. menggigit» gigit sepotong biskuit. "Aku yakin kami akan mengajukan apa saja

mulai sekarang."

"Mahkamah Agung tidak menghamburkan waktu dengannya."

Tidak. Rasanya mereka sudah muak der^ Sam Cayhall. Aku akan mengajukannya di Den» adilan distrik hari ini, tapi aku tak mengharap]^ keringanan dari Slattery." "Aku pun tidak."

"Bagaimana peluangku dengan dua belas hari yang tersisa?"

"Makin tipis saja tiap hari, tapi urusan ini sama sekali tak bisa diramalkan. Mungkin masih sekitar fifty-fifty. Beberapa tahun yang lalu kami sudah sangat dekat dengan Stockholm Turner. Dengan dua minggu tersisa, eksekusi itu tampaknya pasti. Dengan satu minggu tersisa, sebenarnya tak ada dalih apa pun untuk diajukan. Dia punya pengacara yang cakap, tapi upaya hukumnya sudah J habis. Dia diberi makanan terakhir dan..." "Dan kunjungan suami-istri, dengan dua pelacur." "Bagaimana km tahu?" "Sam menceritakan semua ini." "Itu benar. Dia mendapatkan penundaan pada menit terakhir, dan sekarang dia masih bertahun-tahun dari kamar gas. Kau tak pernah tahu." Tapi bagaimana firasatmu?" Mann minum bir dalam satu tegukan panjang dan bersandar ke belakang ketika dua.piring besar berisi remoulode udang diletakkan di hadapan mereka. "Aku tak punya firasat apa pun kalau urusan sampai pada eksekusi. Apa pun bisa terjadi. Tapi teruslah mengajukan dalih dan banding. Ini jadi suatu maraton. Kau tak bisa menyerah. Pengacara

jumbo Parris tumbang ketika masih ada dua belas

jam tersisa, dan berada di ranjang rumah sakit ketika kliennya dieksekusi."

Adam mengunyah udang rebus, lalu minum bir. "Gubernur ingin aku bicara dengannya. Haruskah aku melakukannya?" "Apa yang diinginkan klienmu?" "Bagaimana menurutmu? Dia benci Gubernur. Dia melarangku bicara dengannya."

"Kau harus memohon sidang pemberian pengampunan. Itu praktek baku." "Sebaik apa kau mengenal McAllister?" "Tidak terlalu baik. Dia binatang politik dengan ambisi besar, dan aku takkan mempercayainya semenit pun. Tapi dia memang punya kekuasaan untuk memberikan pengampunan. Dia bisa mengubah hukuman mati. Dia bisa menjatuhkan hukuman seumur hidup, atau bisa membebaskan terpidana. Undang-undang memberikan kekuasaan luas kepada Gubernur untuk mengambil keputusan. Dia mungkn akan menjadi harapanmu yang terakhir." "Semoga Tuhan membantu kita." "Bagaimana remoulode-nya?" tanya Mann dengan mulut penuh. "Lezat."

Mereka menyibukkan diri dengan makanan selama beberapa saat. Adam berterima kasih atas kehadiran Mann dan percakapan itu, namun memutuskan untuk membatasi pembicaraan tentang strategi pembelaan. Ia menyukai Lucas Mann, tapi

kliennya tidak. Seperti kata Sam, Mann bekerja untuk negara dan negara bekerja untuk mengeksekusi dirinya.

Penerbangan sore sebenarnya dapat membawanya kembali ke Memphis pukul 18.30, lama sebelum hari gelap. Dan begitu tiba di sana, ia bisa menghabiskan satu-dua jam di kantor sebelum kembali ke apartemen Lee. Tapi ia tak berniat melakukannya. Ia punya kamar nyaman di sebuah hotel modem di tepi sungai, dibayar tanpa banyak tanya oleh orang-orang di Kravitz & Bane. Semua biaya ditutup. Ia belum pernah melihat French Quarter.

Dan ia terbangun pada pukul 06.00 sesudah tiga jam tidur akibat tiga bir Dixie dan malam yang kurang istirahat, la berbaring melintang di ranjang dengan sepatu masih terpasang, mengamati kipas angin di langit-langit selama setengah jam sebelum bergerak. Tidurnya tadi sangat lelap.

Lee tidak menjawab telepon. Ia meninggalkan pesan pada alat perekamnya, dan berharap bibinya tidak minum-minum. Dan seandainya ia minum, Adam berharap ia mengunci diri di kamarnya, tempat ia tak dapat mencelakakan orang lain. la menggosok gigi dan menyisir rambut, dan naik lift ke lobi luas, tempat sebuah band jazz sedang mengadakan pertunjukan untuk happy hour. Tiram dalam tempurungnya dijajakan seharga lima sen di sebuah bar di sudut, la berjalan di bawah terik matahari sepanjang

Canal Street, sampai tiba di Royal Street. Ia berbelok ke kanan dan langsung hilang di tengah kerumunan turis. Suasana Jumat malam di Quarter terasa hidup. Ia melotot memandangi klub-klub tari telanjang, sia-sia mencoba mengintip sedikit ke dalam. Ia dihentikan oleh pintu terbuka yang memperlihatkan sederet penari telanjang pria di atas panggung—laki-laki yang tampak seperti wanita cantik. Ia makan sate telur gulung dari sebuah kedai Cina. Ia berjalan mengitari seorang gelandangan yang muntah-muntah di jalan. Ia menghabiskan satu jam di sebuah meja kecil di sebuah klub jazz, mendengarkan combo yang menggembirakan dan meneguk bir seharga empat dolar. Ketika hari gelap, ia berjalan ke Jackson Square, menyaksikan para pelukis mengemasi kuda-kuda dan berlalu. Pemusik dan penari jalanan keluar dengan kekuatan penuh di depan sebuah katedral tua, bertepuk tangan menyaksikan kuartet musik gesek beranggotakan mahasiswa Tulane. Orang ada di mana-mana, makan, minum, dan menari, menikmati kemeriahan French Quarter.

Ia membeli seporsi es krim vanila, dan menuju Canal Street. Pada malam lain dan dalam situasi yang jauh berbeda, ia mungkin akan tergoda menyaksikan pertunjukan tari telanjang, tentu saja duduk di belakang, tempat tak seorang pun bisa melihatnya, atau mungkin duduk-duduk di bar trendi mencari wanita-wanita cantik kesepian. Tapi tidak malam ini. Para pemabuk mengingat-

kannya pada Lee. dan ia menyesal tidak kembali ke Memphis untuk menjenguknya. Musik dan suara tawa mengingatkannya pada Sam. yang pada saat ini sedang duduk dalam oven panas, menatap jeruji dan menghitung hari. berharap dan mungkin saat ini berdoa agar pengacaranya membuat mukjizat. Sam takkan pernah melihat New Orleans, tak pernah lagi makan tiram atau kacang merah dan nasi, tak pernah mencicipi bir dingin atau kopi yang enak. Ia takkan pernah mendengar jazz atau menyaksikan seniman melukis. Ia takkan pernah lagi terbang dengan pesawat terbang atau tinggal di hotel bagus. Ia takkan pernah memancing, me- : ngemudikan mobil, atau melakukan seribu hal yang diabaikan saja oleh orang bebas.

Bahkan seandainya hidup melewati tanggal 8 Agustus, Sam hanya akan meneruskan proses menghampiri kematian sedikit demi sedikit tiap hari.

Adam meninggalkan Quarter dan bergegas ke hotelnya. Ia butuh istirahat. Maraton akan dimulai.

TIGA PULUH EMPAT

Penjaga bernama Tiny memborgol Sam dan membawanya meninggalkan Tier A. Sam membawa kantong plastik yang terisi penuh dengan surat penggemar selama dua minggu terakhir. Selama kariernya sebagai narapidana di death row, sebulan ia rata-rata menerima segenggam surat dari pendukung—anggota Klan dan pendukung mereka, pengagung kemurnian ras, anti-Semit, segala macam orang fanatik, Selama satu-dua tahun ia menjawab surat-surat ini, dan dengan berjalannya waktu ia jadi letih dengannya. Apa manfaatnya? Bagi beberapa orang, ia pahlawan, tapi semakin banyak ia bertukar kata dengan pemujanya, makin sintinglah mereka. Banyak orang edan di luar sana. Pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ia mungkin lebih aman di The Row daripada di dunia bebas.

Surat telah dinyatakan pengadilan federal sebagai suatu hak, bukan keistimewaan. Jadi, itu tak bisa dicabut Akan tetapi hal itu bisa diatur. Setiap surat dibuka pemeriksa, kecuali jika sampulnya menun-

jukan itu dari pengacara. Selain seorang narapidana terkena sensor surat, surat-surat itu tidak dibaca Surat-surat Itu dikirim ke The Row pada saatnya dan dibagikan kepada para narapidana. Kardus dan paket juga dibuka dan diperiksa.

Bayangan akan kehilangan Sam terasa menakut-kan bagi banyak orang fanatik, dan suratnya meningkat secara dramatis sejak Pengadilan Fifth Circuit mencabut penundaan eksekusi. Mereka menawarkan dukungan teguh dan doa. Beberapa menawarkan uang. Surat-surat mereka cenderung panjang saat mereka tanpa terkecuali mencerca orang Yahudi, orang kulit hitam, kaum liberal, dan begundal lainnya. Beberapa mengomel tentang pajak, pengawasan senjata, dan utang nasional. Beberapa memberikan khotbah.

Sam muak dengan surat. Rata-rata ia menerima enam surat per hari. Ia meletakkannya di. counter ketika borgol dilepas, lalu minta penjaga membuka pintu kecil pada kisi-kisi. Penjaga itu mengangsurkan tas plastik tersebut melalui pintu dan Adam mengambilnya di sisi lain. Si penjaga berlalu, mengunci pintu di belakangnya.

"Apa ini?" Adam bertanya sambil memegang tas itu.

"Surat penggemar." Sam duduk di tempat biasanya dan menyalakan sebatang rokok. "Apa yang harus kulakukan dengannya?" ¦ "Bacalah. Bakarlah. Aku tak peduli. Aku membersihkan selku pagi ini dan barang ini meng-

halangi. Aku tahu kau ada di New Orleans kemarin. Ceritakan padaku."

Adam meletakkan surat-surat itu di kursi, dan duduk di seberang Sam. Suhu di luar mencapai 39 derajat Celcius, dan di dalam ruang kunjungan pun tak jauh lebih sejuk. Saat itu hari Sabtu, dan Adam memakai jeans, pantofel, dan kemeja polo katun yang sangat ringan. "Fifth Circuit menelepon hari Kamis, dan mengatakan ingin mendengar argumentasiku hari Jumat. Aku pergi ke sana, mencengangkan mereka dengan kecemerlanganku, dan terbang kembali ke Memphis pagi ini." "Kapan mereka mengambil keputusan?" "Segera."

"Panel dengan tiga hakim?"

"Ya"

"Siapa?"

"Judy, Robichaux, dan McNeely."

Sam merenungkan nama-nama. itu sejenak. "McNeely adalah pejuang tua yang akan membantu kita. Judy adalah bangsat konservatif—ups, maaf—maksudku, perempuan Amerika konservatif, orang yang ditunjuk kaum Republik Aku sangsi dia akan menolong. Aku tidak begitu mengenal Robicahux. Dari mana asalnya?" ' "Louisiana Selatan."

"Ah, seorang Amerika-Cajun."

"Kurasa begitu. Dia keras. Dia takkan membantu."

"Kalau begitu, kita akan kalah dua lawan satu.

Kupikir kau tadi mengatakan kau memesona me. reka dengan kecemerlanganmu."

"Kita belum lagi kalah." Adam terperanjat men. dengar Sam bicara dengan sikap begitu mengenal masing-masing hakim. Tapi ia memang sudah bertahun-tahun mempelajari pengadilan itu.

"Di mana klaim tentang bantuan hukum tidak efektif itu?" tanya Sam.

"Masih di pengadilan distrik di sini. Itu diajukan beberapa hari di belakang yang lain." "Mari kita ajukan sesuatu yang lain, oke?" "Aku sedang mengerjakannya." "Kerjakanlah cepat. Aku cuma punya sebelas hari. Ada kalender di dindingku, dan sedikitnya j tiga jam kuhabiskan untuk menatapnya. Saat ba- j ngun pagi kubuat tanda X pada tanggal sebelum- i nya. Tanggai 8 Agustus kulingkari. Tanda X-nya makin dekat ke lingkaran. Lakukanlah sesuatu."

"Aku sedang bekerja, oke? Sebenarnya aku sedang mengembangkan teori serangan baru." "Bocah hebat."

"Kupikir kita bisa membuktikan bahwa secara mental kau tak seimbang." "Selama ini aku sudah mempertimbangkan itu." "Kau sudah tua. Kau pikun. Kau terlalu tenang menghadapi semua ini. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Kau tak mampu memahami alasan eksekusimu." "Kita sudah membaca kasus-kasus yang sama." "Goodman kenal seorang ahli yang bersedia me-

ngatakan apa saja untuk sejumlah bayaran. Kami sedang mempertimbangkan akan membawanya ke sini untuk memeriksamu."

"Bagus. Aku akan mencabuti rambut dan mengejar kupu-kupu sekeliling ruangan."

"Kupikir kita bisa berjuang keras dengan klaim ketidakmampuan mental."

"Aku setuju. Kerjakanlah. Mari kita ajukan dalih sebanyak-banyaknya." "Aku akan melakukannya." Sam mengepul-ngepulkan rokok dan berpikir selama beberapa menit. Mereka berdua berkeringat, dan Adam butuh udara segar. Ia harus ke mobil-' nya yang berjendela tertutup dan menyalakan AC pada posisi high. C-jS

"Kapan kau kembali?" tanya Sam. "Senin. Dengar, Sam, ini bukan pembicaraan yang menyenangkan, tapi kita perlu mengemukakannya.. Kau akan mati hari-hari ini. Mungkin tanggal 8 Agustus, atau mungkin lima tahun dari sekarang. Dengan kecepatanmu merokok sekarang, kau takkan bertahan lama."

"Merokok bukan masalah kesehatanku yang paling mendesak."

"Aku tahu. Tapi keluargamu, Lee dan aku, perlu mempersiapkan penguburan. Itu tak dapat diker- | jakan dalam semalam."

Sam menatap deretan segi tiga pada kisi-kisi. Adam mencoret-coret buku. AC menyembur dan mendesis, tak banyak membantu.

/

"Nenekmu wanita yang baik, Adam. Sayang Jcail tak mengenalnya. Dia layak mendapatkan yang lebih baik daripada aku." "Lee membawaku ke makamnya." "Aku menyebabkan banyak penderitaan baginya, dan dia menanggungnya dengan tabah. Kuburlah aku di sampingnya, dan mungkin aku bisa mengatakan padanya aku menyesal." "Aku akan mengurusnya." "Kerjakanlah. Bagaimana kau akan membayar tempatnya?" "Aku bisa mengurusnya, Sam." "Aku tak punya uang, Adam. Aku menghabis- 3 kannya bertahun-tahun yang lalu, karena alasan yang mungkin jelas. Aku kehilangan tanah dan rumah, jadi tak ada yang tersisa." "Apakah kau punya surat wasiat?" "Ya. Aku menyiapkannya sendiri." "Kita akan melihatnya minggu depan." "Kau janji akan ke sini hari Senin?" "Aku janji, Sam. Bisakah kubawakan sesuatu untukmu?" R*""

Sam sangsi sedetik dan nyaris kelihatan malu. "Kau tahu apa yang benar-benar kusukai?" ia bertanya dengan senyum kekanak-kanakan. "Apa? Apa saja, Sam."

"Ketika aku masih kanak-kanak, aku senang sekali makan Eskimo Pie." "Eskimo Pie?"

"Yeah, es krim batangan kecil. Vanila, dengan

lapisan cokelat. Aku makan es krim itu sampai tiba di tempat ini. Kupikir mereka masih membuatnya."

"Eskimo Pie?" Adam mengulangi. "Yeah. Aku masih bisa merasakannya. Es krim terhebat di dunia. Bisakah kaubayangkan betapa nikmat rasanya saat ini dalam oven ini?"

"Kalau begitu, Sam, kau akan mendapatkan Eskimo Pie." "Bawakan lebih dari satu.". "Akan kubawa selusin. Kita akan memakannya di sini, sambil berkeringat."

Pengunjung Sam yang kedua pada hari Sabtu itu tidak terduga. Ia berhenti di gardu penjaga di gerbang depan dan mengeluarkan SIM North Carolina dengan fotonya tertempel di sana. Ia menerangkan kepada penjaga bahwa ia saudara Sam Cayhall, dan telah diberitahu bisa menjenguk Sam Cayhall di death row kapan saja antara sekarang dan saat eksekusi yang sudah dijadwalkan. Ia sudah bicara dengan seorang Mr. Holland di bagian Administrasi kemarin, dan Mr. Holland meyakinkannya bahwa peraturan kunjungan untuk Sam Cayhall memang dikendurkan. Ia bisa berkunjung kapan saja antara pukul 08.00 sampai pukul 17.00, hari apa saja. Penjaga melangkah ke dalam dan menelepon.

Lima menit berlalu sementara si pengunjung duduk dengan sabar dalam mobil sewaannya. Pen-

651

jaga itu menelepon dua kali lagi, lalu menyalin nomor registrasi mobil tersebut pada clipboard-nya. Ia menginstruksikan pengunjung itu untuk parkir beberapa meter dari sana, mengunci mobil-nya, dan menunggu di samping gardu penjaga, Tamu itu melakukan seperti diinstruksikan, dan dalam beberapa menit sebuah van putih milik penjara muncul. Seorang penjaga bersenjata dan ber-seragam ada di belakang kemudi, dan ia memberi landa kepada tamu itu untuk masuk.

Van itu dipersilakan lewat melalui gerbang ganda di MSU, dan dikemudikan ke pintu depan, tempat dua penjaga lain menunggu. Mereka menggeledahnya di tangga. Ia tak membawa tas atau bungkusan apa pun.

Mereka membawanya mengitari sudut, masuk ke dalam ruang pengunjung yang kosong. Ia duduk dekat bagian tengah kisi-kisi. "Kami akan menjemput Sam," salah satu penjaga itu berkata. "Perlu sekitar lima menit."

Sam sedang mengetik surat ketika penjaga itu berhenti di pintunya. "Ayo, Sam. Kau ada tamu." . Sam berhenti mengetik dan menatap mereka. Kipas anginnya sedang meniup keras dan televisinya menyala menangkap siaran bisbol. "Siapa?" tukasnya. "Saudaramu."

Sam perlahan-lahan meletakkan mesin tik di atas rak buku dan meraih pakaian terusannya. "Saudara yang mana?"

"Tidak kami tanya, Sam. Pokoknya saudaramu. Sekarang ayolah."

Mereka memborgolnya dan ia mengikuti mereka sepanjang tier. Sam punya tiga saudara laki-laki, tapi yang tertua sudah meninggal karena serangan jantung sebelum Sam dikirim ke penjara. Donnie, yang termuda, berumur 61 tahun, sekarang tinggal dekat Durham, North Carolina. Albert, 67 tahun, kesehatannya buruk dan tinggal jauh di tengah hutan di pedesaan Ford County. Donnie mengirim rokok tiap bulan, juga uang beberapa dolar, dan sekali-sekali surat. Albert sudah tujuh tahun tak pernah menulis apa pun. Seorang bibi yang tak pernah kawin menulisinya sampai kematiannya pada tahun 1985. Anggota keluarga Cayhall lainnya sudah melupakan Sam.

Ini pasti Donnie, katanya pada diri sendiri. Donnie-lah satu-satunya yang cukup peduli untuk berkunjung. Sudah dua tahun ia tak pernah bertemu dengannya, dan ia melangkah lebih ringan ketika mereka mendekati pintu ke ruang pengunjung. Sungguh kejutan yang menyenangkan.

Sam melangkah melewati pintu dan memandang laki-laki yang duduk di sisi lain kisi-kisi. Wajah itu tidak dikenalinya. Ia memandang sekeliling ruangan, dan memastikan ruangan itu kosong, kecuali tamu ini, yang saat itu sedang memandang Sam dengan tatapan dingin dan mantap. Para penjaga mengawasi dengan cermat sementara mereka melepas borgol. Sam tersenyum dan mengangguk

653

kepada laki-laki itu, kemudian ia menatap penjaga-penjaga itu sampai mereka meninggalkan mangan dan menutup pintu. Sam duduk di depan tamunya, menyalakan sebatang rokok, dan tak mengucapkan apa pun.

Ada sesuatu yang sudah dikenalnya pada laki-laki .ini, namun ia tak dapat mengidentifikasikannya. Mereka saling pandang melalui lubang pada kisi-kisi.

"Apakah aku mengenalmu?" Sam akhirnya bertanya.

"Ya," laki-laki itu menjawab. "Dari mana?"

"Dari masa lalu, Sam. Dari Greenville, Jackson, dan Vicksburg. Dari sinagoga, kantor real estate, rumah Pinder, dan Marvin Kramer."

"Wedge?"

Laki-laki itu mengangguk perlahan-lahan. Sara memejamkan mata dan mengembus ke langit-langit. Ia menjatuhkan rokoknya dan terpuruk.di kursi. "Tuhan, aku berharap kau sudah mati."

"Sayang."

Sam menatap liar padanya. "Kau bangsat," katanya dengan gigi terkatup. "Bangsat. Dua puluh tiga tahun aku berharap dan memimpikan kau mati. Aku sendiri sudah membunuhmu sejuta kali, dengan tangan kosong, dengan tongkat dan pisau dan setiap senjata yang dikenal manusia. Aku telah menyaksikanmu mengucurkan darah dan mendengarmu menjerit minta ampun."

^fij^L 654 . I

"Maaf. Di sinilah aku, Sam." "Aku membencimu lebih dari siapa pun yang pemah kubenci. Seandainya aku punya senjata, sekarang juga akan kuledakkan kepalamu ke neraka sampai kembali lagi. Akan kupompa kepalamu sampai penuh timah dan tertawa sampai aku menangis. Tuhan, betapa aku membencimu."

"Apakah kau memperlakukan semua tamumu seperti ini, Sam?" "Apa yang kauinginkan, Wedge?" "Apakah mereka bisa mendengarkan kita di sini?"

"Mereka sama sekali tak peduli apa yang kita bicarakan."

"Tapi tempat ini bisa jadi disadap, kau tahu."

"Kalau begitu enyahlah, tolol, enyah saja."

"Aku akan enyah sebentar lagi. Tapi lebih dulu aku ingin mengatakan aku ada di sini, dan aku mengawasi segalanya dengan cermat, dan aku sa-. ngat senang karena namaku tak pemah disebut. Aku tentu berharap ini berlanjut. Aku selalu sangat efektif dalam membungkam orang." "Kau sangat halus."

"Terimalah ini seperti layaknya lelaki, Sam. Matilah dengan penuh martabat. Kau dulu bersamaku. Kau menjadi asisten dan konspirator, dan menurut undang-undang kau sama bersalahnya seperti aku. Benar aku bebas, tapi siapa yang mengatakan hidup ini adil. Pergilah saja dan bawalah -

- 655

rahasia kecil kita ke kuburmu, dan tak seorang pun akan celaka, oke?"

"Di mana saja kau selama ini?" "Di mana-mana. Namaku sebenarnya bukan Wedge, Sam, jadi tak perlu menebak. Namaku tak pernah Wedge. Bahkan Dogan sekalipun tak tahu nama asliku. Aku dipanggil masuk tentara pada tahun 1966, dan aku tak ingin pergi ke Vietnam. Jadi, aku pergi ke Kanada dan kembali ke bawah tanah. Sejak itu terus di sana. Aku tidak ada, Sam." "Kau seharusnya duduk di sebelah sini." "Tidak, kau keliru. Aku tidak seharusnya duduk I di sana, dan tidak pula kau. Kau tolol karena kembali ke Greenville. FBI tak punya jejak. Mereka takkan pemah menangkap kita. Aku terlalu cerdik. Dogan terlalu cerdik. Tapi kau kebetulan jadi mata j rantai yang lemah. Kejadian itu pun sebenarnya akan jadi pengeboman terakhir, kau tahu, dengan mayat-mayat dan semua itu. Sudah saatnya berhenti. Aku kabur dari negeri ini dan takkan pemah kembali ke tempat menyedihkan ini. Kau seharusnya pulang pada ayam dan sapimu. Siapa tahu apa yang bakal Dogan lakukan J Tapi alasan kau duduk di sana, Sam, adalah karena kau tolol." "Dan kau tolol karena datang ke sini hari ini." "Sama sekali tidak. Tak seorang pun akan mempercayaimu bila kau mulai menjerit. Persetan, mereka semua akan berpikir kau gila. Tapi sama saja, aku lebih suka menjaga segalanya tetap seperti ini.

Aku tak ingin kehebohan. Terima sajalah apa yang akan terjadi, Sam, dan lakukan dengan tenang." . .

Dengan hati-hati Sam menyalakan sebatang rokok lagi, lalu mengetukkan abunya ke lantai. ' "Enyahlah, Wedge. Dan jangan pernah kembali." "Tentu. Aku benci mengatakannya, Sam tapi aku berharap mereka mengegasmu."

Sam berdiri dan berjalan ke pintu di belakangnya. Seorang penjaga membukanya dan membawanya pergi.

Mereka duduk di bagian belakang gedung bioskop itu, makan popcorn bagaikan dua remaja. Rim itu adalah gagasan Adam. Lee menghabiskan tiga hari dalam kamarnya, dengan virus itu, dan Sabtu pagi pesta minuman keras itu selesai. Adam memilih sebuah restoran untuk makan malam, restoran dengan makanan cepat dan tanpa alkohol dalam daftar menu. Lee melahap waffle kemiri dengan whipped cream.

Film itu sebuah kisah western, secara politis benar dengan orang-orang Indian sebagai orang baik dan para koboi sebagai bajingan. Semua wajah pucat adalah jahat dan akhirnya terbunuh. Lee minum dua gelas besar Dr. Peppers. Rambutnya bersih dan disisir ke belakang, di atas telinga. Matanya jernih dan indah kembali. Wajahnya ditata dan luka minggu terakhir ini disembunyikan. Ia secantik dulu dalam jeans dan kemeja katun button-down. Dan ia bebas alkohol.

657

Tak banyak yang dikatakan tentang Kami lam, ketika Adam tidur di depan pintu. Me^' telah setuju untuk membicarakannya kelak, suatu titik yang jauh di masa depan ketika ia ^ menanganinya. Adam bisa menerima hal ini. u . sedang berjalan meniti bentangan tali yang g0yJ * maju-mundur untuk terjun ke dalam kegela^J dipsomania. Adam akan melindunginya dari penderitaan dan tekanan. Ia akan membuat segalanya menyenangkan. Tak ada lagi pembicaraan tentang - Sam dan pembunuhan-pembunuhannya. Tak ada lagi pembicaraan tentang Eddie. Tak ada lagi se- j jarah keluarga Cayhall.

Lee adalah bibinya, dan Adam sangat mencintainya. Lee rapuh dan sakit, serta butuh suara yang ' kuat dan pundak yang lebar.

TIGA PULUH LIMA

Philup naifeh terbangun pada pagi hari Minggu dengan dada sakit luar biasa. Ia cepat-cepat dibawa ke rumah sakit di Cleveland. Ia tinggal di sebuah rumah modern di lahan Parchman, bersama istri berumur 41 tahun. Perjalanan dengan ambulans butuh dua puluh menit, dan ia dalam keadaan stabil ketika memasuki ruang gawat darurat dengan kereta dorong.

Istrinya menunggu dengan cemas di koridor, sementara para perawat berlalu lalang. Ia sudah pemah menunggu di sana, tiga tahun sebelumnya, ketika suaminya mengalami serangan jantung pertama. Seorang dokter berwajah segar menerangkan bahwa serangan itu ringan, keadaan Naifeh cukup stabil dan aman, dan ia bisa istirahat nyaman dengan bantuan obat. Ia akan dipantau terus-menerus selama 24 jam mendatang, dan bila segalanya berlangsung seperti yang diharapkan, ia bisa pulang kurang dari seminggu. Ia sama sekali dilarang berada di dekat

pun yang berkaitan dengan eksekusi Cayhall. B4 kan telepon dari ranjangnya pun tidak.

Tidur jadi terasa sulit. Adam punya kebiasaan membaca satu atau dua jam di ranjang, dan dan i pengalaman di sekolah hukum ia tahu bahwa jurnal S hukum merupakan alat bantu tidur yang menakjub- S kan. Tapi sekarang semakin banyak membaca, ia J jadi semakin khawatir. Pikirannya dibebani peris- j tiwa-peristiwa dalam dua minggu terakhir—orang-orang yang ia temui, hal-hal yang ia pelajari, tempat-tempat yang pemah ia kunjungi. Dan pikirannya berpacu liar dengan apa yang akan terjadi, Sabtu malam tidurnya gelisah, dan ia terbangun beberapa kali dalam waktu panjang. Ketika akhirnya ia terbangun untuk terakhir kali, matahari sudah naik. Waktu itu hampir pukul 08.00. Lee menyebut-nyebut kemungkinan akan melakukan percobaan lain dalam dapur. Dulu ia cukup pandai memasak sosis dan telur, katanya, dan semua orang bisa menangani biskuit kalengan, tapi Adam tidak mencium bau masakan apa pun ketika ia mengenakan jeans dan memakai T-shirt.

Dapur itu sunyi. Ia memanggil Lee sambil memeriksa poci kopi—separo penuh. Pintu kamar tidur Lee terbuka dan lampunya padam. Ia cepat-cepat memeriksa setiap ruangan. Lee tak ada di teras, menghirup kopi atau membaca koran. Rasa mual menerpanya dan jadi makin hebat setiap

melihat ruangan kosong. Ia berlari ke tempat pat-kir—tak ada tanda-tanda mobil Lee. Dengan bertelanjang kaki ia melintasi aspal panas dan bertanya kepada satpam, kapan Lee pergi. Satpam itu memeriksa clipboard dan mengatakan sudah dua jam yang lalu. Dia tampak baik-baik saja, katanya.

Adam menemukan setumpuk berita dan iklan setebal tujuh setengah senti di sofa ruang duduk— edisi Minggu Memphis Press. Surat kabar itu ditinggalkan dalam tumpukan rapi dengan berita Metro di bagian atas. Wajah Lee terpampang di bagian ini, fotonya diambil pada suatu pesta amal bertahun-tahun sebelumnya. Foto close-up Mr. dan Mrs. Phelps Booth, tersenyum cerah untuk kamera. Lee tampak anggun dalam gaun hitam strapless. Phelps bergaya dengan dasi hitam. Mereka tampak sebagai pasangan yang sangat bahagia.

Artikelnya adalah eksploitasi terbaru Todd Marks mengenai kehebohan kasus Cayhall. Setiap laporan membuat berita itu jadi makin mirip tabloid. Awalnya cukup .ramah, dengan ringkasan mingguan tentang peristiwa-peristiwa yang bergolak di sekitar eksekusi itu. Terdengar juga suara-suara yang sama—"no comment" McAllister, Roxburgh, Lucas Mann, dan Naifeh. Kemudian cerita itu dengan cepat berubah jadi kejam, ketika dengan ceria memaparkan Lee Cayhall Booth: tokoh sosial Memphis terkemuka, istri bankir Phelps Booth dari keluarga Booth yang kaya dan ternama.

661

sukarelawati masyarakat, bibi Adam Hall, dan-. percaya atau tidak—putri Sam Cayhall yang tenar! I

Cerita itu ditulis seolah-olah Lee sendiri bersalah atas kejahatan yang mengerikan. Berita itu mengutip orang-orang yang mengaku teman, sudah tentu tanpa menyebut nama, bahwa mereka merasa terguncang mengetahui identitasnya yang sejati; juga menyinggung tentang keluarga Booth dan uangnya, dan bertanya bagaimana seorang berdarah biru seperti Phelps bisa menikah dengan anggota keluarga Cayhall. Disebutkan pula tentang putra mereka, Walt, dan sekali mengutip sumber tanpa nama yang berspekulasi tentang penolakan- I nya kembali ke Memphis. Walt tak pernah menikah, demikian cerita itu melaporkan dengan penuh semangat, dan tinggal di Amsterdam.

Dan kemudian, yang paling hebat, kisah itu mengutip sumber lain tanpa nama dan bercerita tentang jamuan pengumpulan dana amal beberapa tahun yang lalu. Waktu itu Lee dan Phelps Booth hadir dan duduk di sebuah meja dekat Ruth Kramer. Sumber tersebut juga hadir pada jamuan itu, dan ingat jelas tempat orang-orang ini duduk. Sumber itu seorang sahabat Ruth dan kenalan Lee, dan sangat terkejut mengetahui Lee punya ayah macam itu.

Sebuah foto Ruth Kramer yang lebih kecil menyertai kisah itu. Ia masih tampak menarik di usia awal lima puluhan.

Sesudah mengungkapkan Lee secara sensasional,

cerita itu berlanjut menguraikan argumentasi lisan hari Jumat di New Orleans dan manuver terbaru pembelaan Cayhall.

Dilihat, secara keseluruhan, kisah itu adalah narasi buruk yang tak menghasilkan apa pun, kecuali mendorong berita pembunuhan harian ke halaman kedua.

Adam melemparkan surat kabar itu ke lantai dan menghirup kopi. Tadi Lee terbangun di hari Minggu yang hangat ini dalam keadaan bersih dan segar, tanpa alkohol untuk pertama kali sejak berhari-hari ini, mungkin dengan semangat lebih bagus. Ia duduk di sofa dengan kopi segar dan surat kabar, lalu dalam beberapa menit pukulan berat ini kembali menghantamnya. Sekarang ia pergi lagi. Di mana ia saat ini? Di mana tempat perlindungannya? Pasti ia menjauh dari Phelps. Mungkin ia punya pacar entah di mana, yang akan menerima dan menghiburnya, tapi itu meragukan. Adam berdoa semoga ia tidak bermobil di jalanan tanpa tujuan, dengan botol di tangan.

Pasti terjadi kehebohan di rumah keluarga Booth pagi ini. Rahasia kecil mereka terungkap, terpampang pada halaman depan surat kabar, untuk dilihat dunia. Bagaimana mereka menanggulangi penghinaan ini? Bayangkan, seorang Booth menikah dan menghasilkan keturunan dengan sampah putih macam itu, dan sekarang setiap orang tahu. Keluarga ini takkan pemah pulih. Madame Booth sudah pasti sangat tertekan, dan mungkin

haru

harus istirahat di ranjang. Bagus untuk mereka pikir Adam. la mandi dan ganti pakaian, lalu menurunkan atap Saab. la tidak berharap akan melihat Jaguar merah tua milik Lee di jalanan Memphis yang sepi. tapi toh ia mengemudikan mobilnya berputar-putar, la mulai dari Front Street dekat sungai, dan dengan Springsteen meraung keras dari speaker ia secara acak menuju ke timur, melewati rumah sakit-rumah sakit di Union, melewati rumah-rumah indah di kota tengah, dan kembali ke proyek dekat Auburn House. Tentu saja ia tak menemukan Lee, tapi perjalanan itu menyegarkan. Siang hari lalu lintas memadat kembali, dan Adam pergi ke kantor.

Satu-satunya pengunjung Sam pada hari Minggu lagi-lagi tamu yang tak terduga. Ia menggosok pergelangan tangan ketika borgol dilepas, dan duduk di depan kisi-kisi, di seberang seorang laki-laki beruban dengan wajah gembira dan senyum hangat.

"Mr. Cayhall. nama saya Ralph Griffin. Saya pendeta di Parchman sini. Saya masih baru, jadi kita belum pemah bertemu."

Sam mengangguk dan berkata, "Senang bertemu Anda"

"Terima kasih. Saya yakin Anda kenal pendahulu saya."

"Ah ya, Pendeta Rucker. Di mana dia sekarang?" "Pensiun,"

"Bagus. Saya tak pernah peduli dengannya Saya sangsi dia bisa sampai ke surga."

"Ya, saya sudah dengar dia tidak terlalu populer."

"Populer? Dia dibenci setiap orang di sini. Entah karena alasan apa, kami tak mempercayainya. Entah mengapa. Bisa jadi karena dia mendukung hukuman mati. Bisakah Anda bayangkan? Dia dipanggil Tuhan untuk menjadi pendeta kami, tapi dia percaya kami harus mati. Katanya itu ada dalam Injil. Anda tahu, satu mata ganti satu mata."

"Saya sudah pernah dengar itu."

"Saya yakin begitu. Pendeta macam apa Anda? Sekte apa?"

"Saya ditahbiskan di gereja Baptis, tapi saya tidak tergabung dalam sekte apa pun sekarang. Saya pikir Tuhan mungkin kesal dengan segala sektarianisme ini." "Dia pun kesal dengan saya, Anda tahu." "Bagaimana bisa begitu?" "Anda tentu kenal Randy Dupree, narapidana di sini. Dalam tier yang sama dengan saya. Pemerkosaan dan pembunuhan."

"Ya. Saya sudah membaca berkasnya. Dulu dia pernah jadi pengkhotbah."

"Kami memanggilnya Preacher Boy, dan baru-baru ini dia mendapat anugerah spiritual untuk menafsirkan mimpi. Dia juga menyanyi dan memberikan penyembuhan. Dia mungkin akan bermain dengan ular seandainya mereka mengizinkan. Anda

tahu, memegang ular, seperti dalam Injil karang-Markus, pasal enam belas, ayat delapan belas Omong-omong, dia baru saja menyelesaikan mim.

pi panjangnya ini, berlangsung sebulan lebih, se- ! macam miniseri, dan akhirnya diilhamkan kepadanya bahwa saya benar akan dieksekusi, dan Tuhan sedang menunggu membersihkan perbuatan saya."

"Bukan gagasan buruk, Anda tahu. Untuk bersiap membereskan segalanya."

"Mengapa tergesa-gesa? Saya punya sepuluh hari."

"Jadi, Anda percaya Tuhan?" v

"Ya. Apakah Anda percaya pada hukuman mati?" Tidak."

Sam mengamatinya sejenak, kemudian berkata, "Anda serius?"

"Pembunuhan adalah keliru, Mr. Cayhall. Seandainya Anda benar bersalah atas kejahatan Anda, Anda salah telah membunuh. Tapi pemerintah juga salah membunuh Anda."

"Haleluya, Saudara."

"Saya tak pernah yakin Yesus menghendaki kita melakukan pembunuhan sebagai hukuman. Dia tidak mengajarkan itu. Dia mengajarkan kasih dan pengampunan,"

"Begitulah yang saya baca di Injil. Bagaimana Anda bisa mendapat pekerjaan di sini?"

"Saya punya saudara sepupu di senat negara bagian."

Sam tersenyum dan terkekeh mendengar jawab-

an ini. "Anda takkan bertahan lama. Anda terlalu jujur."

Tidak. Sepupu saya Ketua Komite Pemasyarakatan dan cukup berpengaruh."

"Kalau begitu, sebaiknya Anda berdoa agar dia dipilih kembali."

"Saya melakukannya tiap pagi. Saya cuma ingin mampir dan. memperkenalkan diri. Saya ingin bicara dengan Anda selama beberapa hari mendatang. Saya ingin berdoa dengan Anda kalau Anda mau. Saya belum pemah menyaksikan eksekusi." "Saya pun belum." "Apa Anda takut?"

"Saya sudah tua, Pendeta. Beberapa bulan lagi umur saya tujuh puluh tahun, kalau saya selamat. Kadang-kadang pikiran tentang kematian cukup menyenangkan. Meninggalkan tempat terkutuk ini akan menjadi suatu pembebasan." "Tapi Anda masih bergumul." "Tentu, meskipun kadang kala saya tak tahu mengapa. Rasanya seperti pergumulan panjang melawan kanker. Kondisi kita berangsur-angsur merosot dan melemah. Kita mati sedikit setiap hari, dan mencapai suatu titik di mana kematian akan disambut gembira. Tapi tak seorang pun benar-benar ingin mati. Bahkan saya pun tidak."

"Saya sudah membaca tentang cucu Anda. Pasti sungguh menghangatkan hati. Saya tahu Anda bangga dengannya."

Sam tersenyum dan memandang ke lantai.

"Omong-omong," sang Pendeta meneruskan, "saya akan berada di sini. Apakah Anda ingin saya datang kembali besok?" "Boleh juga. Sekarang saya ingin berpikir, oke?" "Baiklah. Anda tahu prosedur di sini, bukan? Selama beberapa jam terakhir, Anda hanya diizinkan bersama dua orang. Pengacara dan penasihat spiritual. Saya merasa mendapat kehormatan mendampingi Anda."

Terima kasih. Dan bisakah Anda mengatur waktu untuk bicara dengan Randy Dupree? Bocah ku gila, dan dia benar-benar butuh pertolongan." "Saya akan mampir ke tempatnya besok." Terima kasih."

Adam menyaksikan film sewaan sendirian, dengan telepon di dekatnya. Tak ada kabar apa pun dari Lee. Pukul sepuluh ia menelepon dua kali ke Pantai Barat Yang pertama kepada ibunya di Portland, la agak sedih, tapi senang mendengar kabar dari Adam, katanya. Ia tidak bertanya tentang Sam, dan Adam tidak mengatakan apa pun. Ia melaporkan bahwa ia bekerja keras, ia menyimpan harapan, dan kemungkinan besar ia akan kembali ke Chicago dalam dua minggu. Ibunya sudah membaca beberapa berita di surat kabar dan memikirkannya Lee baik-baik saja, kata Adam.

Telepon kedua untuk adik perempuannya, Carmen, di Berkeley. Suara seorang laki-laki menjawab telepon di apartemennya, Kevin entah siapa,

kalau Adam mengingatnya dengan benar, pacar tetap selama beberapa tahun sekarang. Carmen langsung ke telepon dan kedengaran bergairah mendengar perkembangan di Mississippi. Ia pun mengikuti berita dengan cermat, dan Adam memberikan nada optimis mengenai urusan itu. Adiknya mengkhawatirkan dirinya di sana, di tengah orang-orang rasis dan anggota-anggota Klan yang mengerikan itu. Adam menegaskan bahwa ia aman, suasana sebenarnya cukup tenteram. Orang-orangnya baik dan ramah tak terduga. Ia tinggal di apartemen Lee dan mereka baik-baik saja. Mengejutkan bagi Adam, Carmen ingin tahu tentang Sam—bagaimana tampangnya, penampilannya, sikapnya, kesediaannya bicara tentang Eddie. Ia bertanya apakah perlu terbang ke situ dan menemui Sam sebelum tanggal 8 Agustus. Ini tak pernah terpikirkan oleh Adam. Adam berkata akan memikirkannya dan akan bertanya pada Sam. Ia tertidur di sofa, dengan televisi menyala. Pukul 03.30 Senin, ia terbangun oleh dering telepon. Sebuah suara yang belum pemah ia dengar dengan ringkas memperkenalkan diri sebagai Phelps Booth. "Kau pasti Adam," katanya. Adam duduk dan menggosok mata. "Ya, benar." "Apa kau. sudah lihat Lee?" tanya Phelps, tidak tenang maupun mendesak.

Adam melirik jam pada dinding di atas televisi. "Tidak. Ada apa?" "Ah dia dalam kesulitan. Polisi meneleponku

sekitar satu jam yang lalu. Mereka menangkapnya karena mengemudi dalam keadaan mabuk pukul 20.20 tadi malam, dan membawanya ke tahanan." "Oh, tidak," kata Adam. "Ini bukan yang pertama. Dia ditangkap, sudah tentu menolak tes alkohol, dan dimasukkan ke tahanan untuk pemabuk selama lima jam. Dia menuliskan namaku pada registrasi, jadi polisi meneleponku. Aku pergi ke tahanan, tapi dia sudah membayar uang jaminan dan keluar. Kupikir dia i mungkin meneleponmu."

Tidak. Dia tak ada di sini waktu aku bangun kemarin pagi, dan inilah pertama kali kudengar tentang dia. Siapa yang mungkin dia hubungi?"

"Siapa tahu? Aku tak suka mulai menelepon teman-temannya dan membangunkan mereka. Mungkin sebaiknya kita menunggu saja."

Adam merasa tak enak dengan keterlibatannya secara mendadak dalam mengambil keputusan. Dua orang ini, bagaimanapun juga, sudah tiga puluh tahan menikah, dan jelas mereka telah mengalami hal ini sebelumnya. Bagaimana ia bisa tahu apa yang harus dilakukan? "Dia tidak pergi dengan mobil dari tahanan, kan?" ia bertanya takut-takut, yakin akan jawabannya.

"Tentu saja tidak. Seseorang menjemputnya. Ini menimbulkan masalah lain. Kita perlu mengambil mobilnya Mobil itu ada di halaman parkir di samping tahanan. Aku sudah membayar biaya untuk menyeretnya."

m

"Kau punya kuncinya?"

"Ya Bisakah kau membantuku mengambilnya?" Sekonyong-konyong Adam teringat pada berita koran dengan foto Phelps dan Lee yang sedang tersenyum. Ia pun teringat spekulasinya tentang reaksi keluarga Booth terhadap berita itu. Ia yakin sebagian besar kesalahan tentu diarahkan padanya. Seandainya ia tetap tinggal di Chicago, semua ini takkan terjadi. "Tentu. Katakan saja apa yang..." "Tunggulah di gardu jaga. Aku akan ke sana dalam sepuluh menit."

Adam menggosok gigi dan mengikat tali sepatu Nike-nya, lalu menghabiskan lima belas menit bercakap-cakap tentang ini-itu dengan Willis, penjaga di gerbang. Sebuah Mercedes hitam, model terpanjang dalam sejarah, mendekat dan berhenti. Adam mengucapkan selamat tinggal kepada Willis dan masuk ke mobil itu.

Mereka berjabat tangan, sopan santun yang perlu dilakukan. Phelps memakai jogging suit putih dan topi regu bisbol Cubs. Ia mengemudi perlahan-lahan di jalan kosong itu. "Kurasa Lee sudah menceritakan sesuatu tentang diriku," katanya tanpa nada prihatin atau penyesalan. "Beberapa hal," kata Adam hati-hati. "Ah banyak yang bisa diceritakan, jadi aku takkan bertanya masalah apa yang dia bahas." Gagasan yang sangat bagus, pikir Adam.

"Mungkin sebaiknya kita bicara tentang bisboj

atau

apa saja. Kurasa kau penggemar kelompok Cubs • "Sudah sejak dulu. Kau?"

"Tentu. Ini musim pertamaku di Chicago, ^ aku sudah ke Wr^gley puluhan kali. Aku tinggi cukup dekat dengan lapangan itu."

"O ya? Aku pergi ke sana tiga atau empat kaj; setahun. Aku punya teman yang punya tempat di luar base pertama. Sudah bertahun-tahun aku melakukannya. Siapa pemain favoritmu?" "Sandberg, kurasa. Bagaimana denganmu?" "Aku suka pemain-pemain lama. Ernie Banks dan Ron Santo. Mereka adalah hari-hari kejayaan bisbol, ketika para pemain memiliki loyalitas dan kita tahu siapa yang akan ada dalam tim tahun demi tahun. Sekarang kita tak pernah tahu. Aku ; suka permainan itu, tapi keserakahan merusaknya." Adam heran Phelps Booth mencerca keserakahan. "Mungkin, tapi para pemiliknya menulis buku tentang keserakahan selama seratus tahun pertama sejarah bisbol. Apa salahnya bila pemain meminta semua uang yang dapat mereka peroleh?" "Siapa yang bernilai lima ribu dolar setahun?" "Tak seorang pun. Tapi bila bintang musik rock menghasilkan lima puluh juta, apa salahnya pemain bisbol mendapat bayaran beberapa juta? Ini hiburan. Para pemain adalah permainan itu, bukan pemilik. Aku pergi ke Wrigley untuk menyaksikan pemain, bukan karena Tribune kebetulan jadi pemilik yang sekarang,"

"Yeah, tapi lihatlah harga tiketnya. Lima belas (frlar untuk menonton pertandingan."

"Jumlah penonton meningkat. Para penggemar tampaknya tidak keberatan."

Mereka melewati pusat kota, lengang pada pu-Jcul 04.00, dan dalam beberapa menit sudah sampai ke dekat tahanan. "Dengar, Adam, aku tidak tahu berapa banyak yang sudah Lee ceritakan tentang masalah minumnya."

"Dia menceritakan padaku bahwa dia pecandu alkohol."

"Pasti. Ini penangkapan kedua karena mengemudi dalam keadaan mabuk. Yang pertama duly bisa kuatur agar tidak muncul di surat kabar, tapi aku tidak tahu dengan yang ini. Dia tiba-tiba jadi bahan pembicaraan di seluruh kota. Syukurlah dia tidak mencelakakan siapa pun." Phelps menghentikan mobil di tepi jalan dekat halaman parkir berpagar. "Dia keluar-masuk program pengobatan setengah lusin kali."

"Setengah lusin. Dia bilang pemah tiga kali menjalani pengobatan."

"Pecandu alkohol tak bisa dipercaya. Dalam lima belas tahun terakhir aku tahu sedikitnya lima kali. Tempat favoritnya adalah sebuah pusat rehabilitasi mewah bernama Spring Creek. Letaknya di tepi sungai, beberapa mil di sebelah utara kota, sangat nyaman dan tenteram. Itu hanya untuk golongan kaya. Mereka dibebaskan dari alkohol dan dimanja.«Makanan enak, latihan, sauna, kau tahu,

673

segala macam layanan. Begitu nyamannya temp* itu, sampai kupikir orang-orang ingin pergi ^ sana. Omong-omong, aku punya firasat dia akart muncul di sana hari ini. Dia punya beberapa teman yang akan membantunya masuk ke sana. Dia terkenal di tempat itu. Semacam rumah kedua baginya."

"Berapa lama dia akan tinggal di sana?"

"Bervariasi. Minimum seminggu. Dia pemah tinggal sampai sebulan. Biayanya dua ribu dolar sehari, dan tentu saja mereka mengirimkan tagihannya padaku. Tapi aku tidak keberatan. Aku akan bayar berapa saja untuk menolongnya."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Pertama, kita coba menemukannya. Akan kuminta sekretarisku menelepon beberapa jam lagi, dan kita akan melacaknya. Sampai titik ini tindakannya bisa diramalkan. Aku yakin dia akan muncul di bangsal detox, mungkin di Spring Creek. Aku akan bekerja keras beberapa jam lagi dan mengusahakan agar urusan ini tidak masuk ke surat kabar. Takkan mudah, melihat dari apa yang dicetak akhir-akhir ini."

"Maaf."

"Begitu kita menemukannya, kau perlu pergi menemuinya. Bawalah bunga dan permen. Aku tahu kau sibuk,' dan aku tahu apa yang akan terjadi dalam... uh,./

"Sembilan hari,"

"Sembilan hari. Benar. Nah, cobalah menemui-

Begitu urusan di Parchman selesai, kusarankan kau kembali ke Chicago dan membiarkannya

sendiri." "Membiarkannya sendiri?"

"Yeah. Kedengarannya kasar, tapi perlu. Ada berbagai alasan atas masalah-masalahnya. Kuakui aku salah satunya, tapi banyak hal yang tidak kauketahui. Keluarganya adalah alasan lain. Dia mencintaimu, tapi kau juga membawa kembali berbagai mimpi buruk dan penderitaan. Jangan berpikir burak padaku karena mengatakan ini. Aku tahu ini menyakitkan, tapi itulah yang sebenarnya."

Adam menatap pagar kawat di seberang trotoar di samping pintunya.

"Dia pemah bebas alkohol selama lima tahun," Phelps meneruskan. "Dan kami mengira dia akan tetap demikian selamanya. Kemudian Sam dipidana dan Eddie meninggal. Ketika kembali dari pemakaman, dia' depresi berat. Berkali-kali aku mengira dia takkan pernah bisa mengatasinya. Yang paling baik adalah kalau kau menjauh." "Tapi aku mencintai Lee." "Dia pun mencintaimu. Tapi kau harus mencintainya dari jauh. Kirimi dia surat dan kartu dari Chicago. Bunga -antuk ulang tahunnya. Telepon sekali sebulan dan bicara tentang film dan buku, tapi hindarilah urusan keluarga." "Siapa yang akan merawatnya?" "Dia hampir lima puluh tahun, Adam, dan pada umumnya dia sangat mandiri. Sudah bertahun-ta-

nun dia jadi pecandu alkohol. Tak ada apa pU|| yang dapat kau atau aku lakukan untuk menolong, nya. Dia tahu penyakitnya. Dia akan menghindari alkohol bila ingin. Kau bukan pengaruh yang baik. Aku pun bukan. Maaf."

Adam menghela napas dalam dan meraih pegangan pintu. "Maaf, Phelps, kalau aku telah mempermalukanmu dan keluargamu. Itu tidak ku-sengaja."

Phelps tersenyum dan meletakkan satu tangan di pundak Adam. "Percaya atau tidak, keluargaku dari berbagai segi lebih disfungsional dari keluargamu. Kami pernah mengalami yang lebih burak." j "Sungguh sulit dipercaya." "Itu benar." Phelps mengangsurkan sebuah gantungan kunci dan menuding ke sebuah bangunan kecil di dalam pagar. "Melaporlah ke sana, dan mereka akan menunjukkan mobilnya padamu."

Adam membuka pintu dan keluar. Ia menyaksikan Mercedes itu meluncur pergi dan menghilang. Sewaktu berjalan melintasi gerbang, Adam tak dapat menepis perasaan yang tak mungkin salah bahwa Phelps Booth sebenarnya masih mencintai istrinya

TIGA PULUH ENAM

Kolonel purnawirawan george nugent nyaris tak terusik oleh kabar serangan jantung Naifeh. Senin pagi keadaan laki-laki tua itu cukup baik, beristirahat dengan nyaman dan lepas dari bahaya, dan peduli amat... ia toh beberapa bulan lagi pensiun. Naifeh orang baik, tapi sudah melewati masa aktifnya dan bertahan cuma. untuk memastikan pensiunnya. Nugent mempertimbangkan akan mengajukan diri. menduduki posisi kepala bila ia bisa menjaga politiknya dalam jalur yang benar.

Tapi sekarang ia didesak dengan urusan yang lebih kritis. Eksekusi Cayhall tinggal sembilan hari lagi; sebenarnya hanya delapan hari, sebab eksekusi itu dijadwalkan berlangsung satu menit se-lewat tengah malam hari Rabu* minggu depan, yang berarti Rabu dihitung sebagai satu hari lagi, meskipun baru satu menit yang terpakai. Selasa minggu depan sebenarnya hari terakhir.

Di meja kerjanya ada buku catatan berlapis kulit mengilat dengan tulisan Mississippi Protocol ter-

cetak secara profesional di bagian depan. Ini ^ 1 rupakan karya agungnya, hasil kerja keras tak ^ 1 nal lelah selama dua minggu. Mulanya ia ter^. I ngang melihat panduan, tuntunan, dan cfcecifij, r kacau-balau yang dilontarkan Naifeh untuk 4 f sekusi-eksekusi terdahulu. Suatu keajaiban bahwj mereka benar-benar mampu mengegas orang. Na- 1 mun sekarang ada rencana, sebuah blueprint ter-1 perinci dan tersusun cermat yang menurutnya telah I mencantumkan segalanya. Tebalnya lima senti fe. 1 bih, panjangnnya 180 halaman, dan tentu saja namanya bertebaran di segala bagian.

Lucas Mann memasuki kantornya pukul 08.15, Senin pagi. "Kau terlambat," bentak Nugent, orang yang bertanggung jawab atas segalanya sekarang. Mann cuma pengacara biasa. Nugent kepala tim eksekusi. Mann puas dengan pekerjaannya. Nugent punya cita-cita, yang dalam 24 jam terakhir men-j dapat dorongan luar biasa.

"Jadi, kenapa?" kata Mann sambil berdiri di samping kursi yang menghadap ke meja kerja. Nugent memakai pakaian standarnya, celana hijau zaitun tanpa kerut sedikit pun dan kemeja hijau zaitun yang terkanji keras dengan kaus abu-abu di bawahnya Sepatu larsnya mengilat dengan gosokan semir. Ia melangkah tegap ke belakang meja kerja. Mann membencinya.

"Kita punya delapan hari," kata Nugent, seolah-olah hanya dialah yang tahu tentang hal ini.

678

»Kupikir sembilan," kata Mann. Kedua laki-laki

itu masih berdiri. «Rabu depan tidak masuk hitungan. Kita punya

sisa delapan hari kerja" "Terserahlah."

Nugent duduk dengan kaku di kursinya. "Ada dua hal. Pertama, ini buku pegangan yang sudah kususun untuk eksekusi. Suatu protokol. Dari A sampai Z. Tersusun lengkap, diurutkan menurut indeks. Aku ingin kau memeriksa peraturan yang tercantum di sini dan memastikan semuanya masih bedaku."

Mann menatap binder hitam, tapi tak menyentuhnya.

"Dan kedua, aku ingin laporan harian tentang status semua dalih pembelaan yang diajukan. Setahuku tak ada rintangan hukum apa pun sampai pagi ini." "Itu benar, Sir," jawab Mann. "Aku ingin laporan tertulis tiap pagi, tentang keadaan terakhir."

"Kalau begitu, sewa saja pengacara. Kau bukan bosku, dan terkutuklah aku kalau aku harus menulis makalah sebagai temanmu minum kopi pagi. Aku akan mengabarimu kalau ada sesuatu yang terjadi, tapi aku takkan menyodorkan laporan tertulis kepadamu."

Ah masalah menjengkelkan dalam kehidupan sipil. Nugent merindukan disiplin dalam dunia mi-

679

Pengacara-pengacara terkutuk. "Baiklaj, h kau memeriksa protokol ini?" n membukanya dan membalik beberapa ha. /aman. "Kau tabu. kita berhasil melaksanakan em. pat eksekusi tanpa semua ini."

Teras terang, kuanggap hal itu sangat mence-ngangkan."

Terus terang, aku tidak. Aku sedih mengatakan bahwa kami jadi cukup efisien."

"Dengar, Lucas, aku tidak menikmati ini,* km Nugent muram. "Phillip memintaku melakukannya. Kuharap akan ada penundaan. Aku sungguh ber- \ harap demikian. Tapi bila tidak, kita harus siap. | Aku ingin ini berjalan lancar."

Mann menerima kebohongan terang-terangan ini dan memungut manual itu. Nugent harus menyaksikan suatu eksekusi, dan ia sedang menghitung jam, bukan hari. b tak sathar ingin melihat Sn diikat di kursi, menghirup gas.

Lucas mengangguk dan meninggalkan kantor Di gang. ia melewati Bill Monday, algojo negara bagian itu. Tak diragukan lagi. Bill sedang menuju kantor Nugent untuk suatu percakapan pendek pembangkit semangat

Adam tiba di The Twig tak lama sebelum pukul 15.00. Hari itu dimulai dengan kepanikan karena

Lee mengemudi dalam keadaan mabuk dan tidak

membaik

la menghirup kopi di meja kerja, berkutat de-

ngan sakit kepala, dan mencoba melakukan riset. Dalam sepuluh menit Darlcne membawa fax dari

New Orleans dan dari pengadilan distnk. Ia kalah dua kali. Pengadilan Fifth Circuit meneguhkan ke-putusan pengadilan federal atas klaim yang diajukan Sam bahwa kamar gas tidak konstitusional karena sudah usang dan kejam, dan pengadilan distrik menolak klaim bahwa Benjamin Keye • bekerja tidak efektif dalam sidang. Sakit kepala mendadak terlupakan. Dalam satu jam. Death Clerk— Mr. Richard Olander—menelepon dan Washington, menanyakan rencana Adam untuk pengajuan dalih selanjutnya. Ia pun ingin tahu, apakah ada hal lain yang dirancang pembela, la mengatakan pada Adam bahwa tinggal delapan hari kerja lagi yang tersisa, seolah-olah Adam hams diingatkan. Tiga puluh menit setelah telepon dari Olander. seorang panitera dari Pengadilan Fifth Circuit yang menangani hukuman mati menelepon dan bertanya pada Adam, kapan ia merencanakan mengajukan banding atas keputusan pengadilan distrik.

Kepada dua panitera dari dua pengadilan itu, Adam menjelaskan ia akan menyempurnakan dalihnya secepat mungkin, dan ia berusaha mengajukannya pada penghujung hari ini. Ketika memikirkannya, rasanya mengerikan menjalankan praktek hukum dengan penonton macam ini. Pada proses sekarang ini, beberapa pengadilan dan hakim sedang mengawasi apa yang akan ia kerjakan selanjutnya. Ada panitera yang menelepon dan me-

namakan apa yang sedang ia rencanakan. Ala

nya jelas dan mengguncangkan hati. Mereka peduli apakah Adam bisa mengajukan alasan ajaji j yang bisa mencegah eksekusi atau tidak. Mere^ cuma peduli dengan logistik. Para panitera y^ menangani kasus hukuman mati telah diinstruU 1 kan oleh atasan mereka untuk memantau hari-hari E yang makin menyusut, sehingga pengadilan dapat mengambil keputusan dengan cepat—biasanya rne- i nolak permohonan si terpidana. Hakim-hakim igj t tak suka membaca makalah hukum pada pukul i 03.00. Mereka ingin copy segala permohonan detik terakhir ada di meja mereka, lama sebelum per- f mohonan itu tiba secara resmi.

Phelps meneleponnya di kantor, tepat sebelum tengah hari, dengan kabar Lee belum ditemukan. Ia sudah memeriksa setiap fasilitas detox dan rehabilitasi dalam radius seratus mil, dan tak satu pun menerima pasien bernama Lee Booth. Ia masih mencari, tapi saat ini sangat sibuk dengan berbagai rapat dan segala macam urusan.

Sam tiba di perpustakaan penjara tiga puluh menit kemudian. Ia tampak muram. Ia sudah mendengar berita buruk itu pada tengah hari, dari televisi Jackson yang meneruskan hitungan mundurnya. Tinggal sembilan hari lagi. Ia duduk di depan meja dan menatap kosong pada Adam. "Mana Eskimo Pie-nya?" tanyanya sedih, seperti bocah kecil yang menginginkan permen.

Adam meraih ke bawah meja dan mengeluarkan

682

kotak pendingin styrofoam kecil, la meletakkannya

di meja dan membukanya. "Mereka hampir saja menyita ini di gerbang depan. Lalu penjaga memeriksa dalamnya dan mengancam akan membuangnya. Jadi, nikmatilah."

Sam mengambil satu, mengamatinya dalam satu detik yang panjang, lalu dengan hati-hati mengupas pembungkusnya. Ia menjilat lapisan cokelatnya, lalu menggigit dengan satu gigitan besar, la mengunyahnya perlahan-lahan dengan mata terpejam.

Beberapa menit kemudian. Eskimo Pie pertama lenyap, dan Sam mulai dengan yang kedua. "Bukan hari yang baik," katanya, menjilati tepinya.

Adam menggeser sejumlah dokumen kepadanya. "Ini kedua keputusan itu. Pendek, to the point, dan tegas menentang kita. Kau tak punya banyak teman di pengadilan-pengadilan ini, Sam."

"Aku tahu. Tapi setidaknya sisanya di dunia ini mencintaiku. Aku tak ingin membaca sampah itu. Apa yang kita lakukan selanjutnya?*

"Kita akan membuktikan bahwa kau terlalu gila untuk dieksekusi, karena usiamu yang sudah lanjut, kau sama sekali tak memahami hakikat hu-kumanmu."

Takkan berhasil." e» "Kau suka gagasan itu Sabtu kemarin. Ada apa?" "Itu takkan berhasil." "Mengapa tidak?"

"Sebab aku tidak gila. Aku tahu benar mengapa aku dieksekusi. Kau sudah melakukan yang ter-

683

baik—memimpikan teori-teori aneh, lalu mei^ pakar-pakar sinting untuk membuktikan teori k. Ja menggigit sepotong besar es krim dan menjjw bibir.

"Kau ingin aku menyerah?" kata Adam keras, Sam mengamati kuku jarinya yang kuning "Mungkin," katanya sambil menjilat cepat satu jari.

Adam bergeser, ke tempat duduk di sampingnya ] berbeda dengan posisi biasanya sebagai pengacara di seberang meja, dan mengamatinya dengan cer- I mat "Ada apa, Sam?" "Entahlah. Selama ini aku berpikir." ¦. "Aku mendengarkan."

"Ketika aku masih sangat muda, sahabat baikku 1 tewas dalam kecelakaan mobil. Umurnya 26 tahun, punya istri, bayi, rumah baru, hidup terbentang di -hadapannya. Sekonyong-konyong dia tewas. Aku sudah 43 tahun hidup lebih lama darinya. Kakakku yang tertua meninggal ketika berumur 56 tahun. Aku sudah tiga belas tahun hidup lebih lama darinya Aku sudah tua, Adam. Sangat tua. Aku letih. Aku rasanya ingin menyerah." "Ayolah, Sam."

"Lihatlah keuntungannya. Kau tidak akan tertekan lagi. Kau takkan dipaksa menghabiskan minggu depan berlarian seperti orang gila dan mengajukan berbagai klaim tak berguna. Kau takkan merasa gagal bila urusan selesai. Aku takkan menghabiskan hari-hari terakhirku untuk berdoa memohon mukjizat, tapi sebaliknya aku akan bet-

684

siap. Kita bisa memakai lebih banyak waktu untuk berkumpul. Banyak orang akan senang—keluarga Kramer, McAllister, Roxburgh, delapan puluh persen rakyat Amerika yang mendukung hukuman mati. Itu akan menjadi momen kejayaan lagi bagi hukum dan ketertiban. Aku bisa pergi dengan lebih bermartabat, tidak seperti orang putus asa yang takut mati. Sungguh menarik."

"Ada apa denganmu, Sam? Sabtu kemarin kau masih siap bertempur."

"Aku lelah bertempur. Aku sudah tua. Hidupku sudah panjang. Dan apa yang terjadi bila kau berhasil menyelamatkanku? Apa yang kudapatkan? Aku takkan pergi ke mana. pun, Adam. Kau akan kembali ke Chicago dan mengubur diri dalam kariermu. Aku yakin kau akan datang bila kau bisa. Kita akan bertulis surat dan mengirim kartu. Tapi aku harus hidup di The Row. Kau tidak. Kau tidak tahu apa-apa."

"Kita takkan menyerah, Sam. Kita masih punya peluang."

"Itu bukan keputusanmu." Ia menghabiskan Eskimo Pie kedua dan menyeka mulut dengan lengan

kemeja.

"Aku tidak suka kau seperti ini, Sam. Aku suka

ketika kau marah, geram, dan melawan."

"Aku capek, oke?"

"Kau tak bisa membiarkan mereka membunuhmu. Kau harus bertempur sampai titik darah terakhir, Sam."

685

"Kenapa?"

"Sebab ini keliru. Secara moral, negara Icelk kalau membunuhmu. Itulah sebabnya kita tak bk menyerah.* "Tapi bagaimanapun kita akan kalah." "Mungkin. Mungkin tidak. Tapi kau sudah hampir sepuluh tahun bertarung. Mengapa menyerah setelah tinggal seminggu?"

"Sebab mi sudah berakhir, Adam. Urusan ini akhirnya berjalan menurut jalurnya."

"Mungkin, tapi kita tak bisa menyerah. Jangan putus asa. Aku ada kemajuan. Aku membuat ba- i dut-badut itu sibuk berlarian."

Sam melontarkan senyum lembut dan tatapan sebagai orang tua.

Adam beringsut lebih dekat dan meletakkan telapak tangan pada lengan Sam. "Aku sudah memikirkan beberapa strategi baru," katanya sungguh-sungguh. "Bahkan sebenarnya besok seorang ahli akan datang memeriksamu." Sam memandangnya. "Ahli macam apa?". g "Psikiater." "Psikiater?" "Yeah. Dari Chicago."

"Aku sudah bicara dengan psikiater. Tidak bagas."

"Orang ini lain. Dia bekerja untuk kita dan dia ' akan mengatakan kau sudah kehilangan kemampuan mentalmu."

"Kau mengasumsikan aku punya kemampuan

mental ketika aku sampai di sini dulu."

"Ya, kita berasumsi demikian. Psikiater ini akan memeriksamu besok, lalu dia cepat-cepat menyiapkan laporan bahwa kau sudah pikun, gila, dan idiot, dan entah apa lagi yang akan dia katakan." "Bagaimana kau tahu dia akan mengatakan ini?" "Sebab kita membayarnya untuk mengatakan ini." "Siapa yang membayarnya?" "Kravitz & Bane, orang-orang Yahudi-Amerika penuh dedikasi di Chicago yang kaubenci itu, tapi yang pemah jungkir balik mempertahankan nyawamu. Ini sebenarnya gagasan Goodman." "Pasti pakar yang hebat." "Pada titik ini, kita tak bisa terlalu pilih-pilih. Dia pemah dipakai dalam berbagai kasus oleh beberapa pengacara lain dalam firma, dan dia akan mengatakan apa pun yang kita kehendaki. Berting-kahlah ganjil ketika kau bicara dengannya" "Itu tentu tidak sulit."

"Ceritakan padanya segala kisah horor tentang tempat ini. Buatlah kedengaran kurang ajar dan

menyedihkan." "Tak ada masalah."

"Katakan padanya keadaanmu makin mundur selama bertahun-tahun ini, dan betapa hal ini sangat berat bagi orang seusiamu. Kau narapidana tertua di sini, Sam, jadi katakan padanya bagaimana penjara ini mempengaruhimu. Buatlah meyakinkan. Dia akan menyusun laporan yang me

mesona, dan aku akan /ari ke pengadilan dengan-

nya."

"Itu takkan berhasil." . "Itu patut dicoba."

"Mahkamah Agung mengizinkan Texas mengeksekusi seorang bocah terbelakang."

"Ini bukan Texas, Sam. Setiap kasus selalu berbeda. Bekerjalah bersama kami dalam hal ini, oke?" "Kami? Siapakah kami?" "Aku dan Goodman. Katamu kau tidak lagi j membencinya, jadi kupikir aku akan membiarkannya terlibat. Serius, aku butuh bantuan. Terlalu j banyak pekerjaan untuk ditangani sendirian."

Sam mendorong kursi menjauh dari meja, dan J berdiri. Ia meregangkan tangan dan kaki, dan mulai mondar-mandir di sepanjang meja, menghitung langkah sambil berjalan.

"Aku akan mengajukan petisi ke Mahkamah I Agung untuk memeriksa keputusan pengadilan di I bawahnya besok pagi," kata Adam seraya melihat f checklist di buku tulisnya. "Mereka mungkin tidak setuju memeriksanya, tapi pokoknya aku akan melakukannya. Aku juga akan menyelesaikan dalih ketidakefektifan ke Pengadilan Fifth Circuit. Psi- i kiater akan ke sini besok siang. Aku akan meng-ajukan, klaim tentang inkompetensi mental Rabu ¦ pagi."

"Aku lebih suka pergi dengan tenang, Adam." "Lupakanlah, Sam. Kita takkan menyerah. Aku <

bicara dengan Carmen tadi malam, dan dia ingin datang menengokmu."

Sam duduk di tepi meja, dan memandang lantai. Matanya menyipit dan sedih. Ia menyedot dan mengepulkan asap ke kaki. "Mengapa dia ingin datang?"

"Aku tidak tanya sebabnya, atau menyarankannya. Dia yang mengajukan gagasan. Kukatakan padanya aku akan bertanya padamu."

"Aku tak pemah berjumpa dengannya."

"Aku tahu. Dia cucu perempuanmu satu-satunya, Sam, dan dia ingin datang."

"Aku tak ingin dia melihatku seperti ini," kata Sam, mengibaskan tangan ke pakaian terusan merahnya.

"Dia takkan keberatan."

Sam merogoh ke dalam kotak pendingin dan mengambil satu Eskimo Pie lagi. "Kau mau?" tanyanya.

"Tidak. Bagaimana dengan Carmen?" "Kupikirkan dulu. Apakah Lee masih ingin menengok?"

"Uh, tentu. Sudah dua hari aku tidak bicara dengannya, tapi aku yakin dia ingin."

"Kupikir kau tinggal bersamanya."

"Memang. Dia pergi ke luar kota."

"Coba kupikir-pikir. Saat ini aku tak menginginkannya. Sudah hampir sepuluh tahun aku tak pemah bertemu Lee, dan aku tak ingin dia mengingatku seperti ini. Katakan padanya aku sedang

689

mempertimbangkan hal itu, tapi saat ini kurasa aku tak menginginkannya."

"Akan kukatakan padanya," Adam berjanji, tak pasti apakah ia akan bertemu dengan Lee dalam waktu dekat. Kalau benar Lee pergi mencari pengobatan, tak disangsikan lagi ia pasti akan dikurung beberapa minggu.

"Aku akan senang bila ini berakhir, Adam. Aku sungguh muak dengan semua ini." Ia menggigit sepotong besar es krim.

"Aku mengerti, tapi mari kita sisihkan itu sebentar."

"Kenapa?" ,

"Kenapa? Sudah jelas. Aku tak ingin menghabiskan seluruh karier hukumku dibebani pikiran. bahwa aku kalah dalam kasus pertamaku."

"Bukan alasan buruk"

"Bagus. Jadi, kita tidak menyerah?"

"Kurasa tidak. Bawalah psikiater itu. Aku akan bertingkah segila mungkin."

"Begitu lebih baik."

Lucas Mann sedang menunggu Adam di gerbang depan penjara. Saat itu hampir pukul 17.00, hawa masih panas dan udara masih lengas. "Ada waktu sebentar?" ia bertanya melalui jendela mobil Adam. "Ya. Ada apa?"

"Parkirlah di sana. Kita duduk di bawah pohon." Mereka berjalan ke sebuah meja piknik di samping Bangsal Pengunjung, di bawah pohon ek

raksasa dengan pandangan ke jalan raya yang tak jauh dari sana. "Ada beberapa hal," kata Mann. "Bagaimana keadaan Sam? Apakah dia baik-baik

saja?''

"Sebaik yang bisa diharapkan. Kenapa?"

"Cuma prihatin, itu saja. Menurut hitungan terakhir, kita mendapat lima belas permintaan untuk wawancara. Keadaan memanas, pers sedang dalam perjalanan ke sini."

"Sam takkan bicara."

"Beberapa orang ingin bicara denganmu."

"Aku pun takkan bicara."

"Baiklah. Kami ada satu formulir yang harus ditandatangani Sam. Formulir itu memberikan wewenang • untuk menyuruh wartawan-wartawan itu menyingkir. Apakah kau sudah dengar tentang Naifenf

"Aku membacanya di koran pagi ini."

"Dia akan sembuh, tapi tak bisa memimpin eksekusi. Ada orang gila bernama George Nugent, asisten kepala penjara, yang akan mengkoordinasi-kan segalanya. Dia seorang komandan. Purnawirawan militer dan lain-lain, benar-benar jenis jagoan."

"Itu sama sekali tak ada bedanya bagiku. Dia tak bisa melaksanakan keputusan hukuman mati itu, kecuali pengadilan mengizinkannya."

"Benar. Aku cuma ingin kau tahu siapa dia."

"Aku tak sabar lagi ingin bertemu dengannya."

"Satu hal lagi. Aku punya teman, sahabat lama

dari sekolah hukum yang sekarang bekerja £ tor administrasi Gubernur. Pagi ,„, dja „Wn([ Sepeninya Gubernur banyak prihatin deng^ sekusi Sam. Menurut temanku, yang tak dira t lagi disuruh Gubernur untuk membujukku bic denganmu, mereka ingin mengadakan pemeriW untuk mempertimbangkan pengampunan, lebih disukai dalam beberapa hari ini." "Apakah kau dekat dengan Gubernur?" "Tidak. Aku muak dengan gubernur." "Aku juga. Begitu pula klienku." "Itulah sebabnya te manku dipakai untuk menelepon dan membujukku. Menurut pengakuan. Gubernur sangat bimbang apakah Sam memang harus dieksekusi."

"Kau mempercayainya?" "Meragukan. Reputasi Gubernur sebenarnya dibuat dengan mengorbankan Sam Cayhall. dan aku yakin dia sedang menyusun rencana menghadapi media selama delapan hari mendatang. Tapi apa ruginya?"

"Ini bukan gagasan buruk " "Aku sepenuhnya setuju. Tapi klienku sudah memberikan perintah tegas untuk tidak meminta sidang pemeriksaan macam itu."

Mann mengangkat pundak, seakan-akan benar-benar tak peduli apa yang dilakukan Sam. "Kalau begrtu, terserah pada Sam. Apa dia punya surat wasiat?" "Ya"

"Bagaimana cara penguburannya?" -Aku sedang menggarapnya. Dia ingin dikubur-

l^djClanten." .

Mereka mulai berjalan kc arah gerbang. "Jenazah akan dikirim ke rumah jenazah di Indianola. tidak jauh dari sini. Di sana fenuah itu diserahkan pada keluarga. Semua kunjungan habis empat jam sebelum eksekusi yang dijadwalkan. Mulai taat itu, Sam hanya boleh ditemani dua orang—pengacaranya dan penasihat spiritualnya Dia juga perlu memilih dua saksinya, kalau mau " "Aku akan bicara dengannya." "Kami butuh daftar tamu yang dia setujui antan sekarang sampai saat itu. Biasanya itu sanak saudara dan sahabat-sahabat dekat." "Daftar itu pasti sangat pendek.* "Aku tahu."

693

TIGA PULUH TUJUH

Setiap penghuni The Row tahu prosedur tersebut, meskipun prosedur itu tak pernah dituliskan. Para veteran, termasuk Sam, telah menyaksikan empat eksekusi selama delapan tahun terakhir, dan pada masing-masing eksekusi, prosedur itu diikuti variasi kecil. Penghuni-penghuni lama berbicara dan berbisik-bisik di antara mereka, dan biasanya dengan cepat menyebarkan keadaan saat-saat terakhir kepada orang-orang baru, yang kebanyakan tiba di The Row dengan pertanyaan-pertanyaan bisu tentang bagaimana hal itu dilaksanakan. Para penjaga juga suka membicarakannya.

Santapan terakhir dimakan dalam sebuah ruangan sempit dekat bagian depan The Row, mangan yang hanya disebut sebagai kantor depan, dilengkapi dengan sebuah meja, beberapa kursi, telepon, dan AC. Dalam mangan inilah si terhukum menerima tamu terakhir. Ia duduk dan mendengarkan, sementara pengacaranya mencoba menjelaskan mengapa urusan tidak berkembang seperti yang diren-

694

canakan. Ruangan itu kosong dan jendela-jendelanya terkunci. Kunjungan untuk melakukan hubungan suami-istri juga dilakukan di sini, apabila si narapidana sanggup melakukannya. Para penjaga dan adnunistrator hilir-mudik di gang di luar.

Ruangan itu tidak dirancang untuk melewatkan jam-jam terakhir, tapi ketika pada tahun 1982 Teddy Doyle Meeks menjadi orang pertama yang akan dieksekusi setelah bertahun-tahun, mangan macam itu mendadak dibutuhkan untuk segala macam keperluan. Suatu ketika mangan itu milik seorang letnan, kemudian seorang manajer kasus. Ruangan itu tak punya nama lain kecuali kantor depan. Telepon di meja itu yang terakhir kali dipakai pengacara si terpidana ketika menerima keputusan terakhir bahwa takkan ada lagi penundaan, takkan ada lagi pengajuan banding. Kemudian ia berjalan kembali ke Tier A, ke ujung terjauh, tempat kliennya menunggu dalam Sel Observasi.

Sel Observasi itu tak lebih dari sel biasa di Tier A, cuma delapan pintu dari sel Sam. Ukurannya dua kali tiga meter, dengan sebuah dipan, sebuah wastafel, dan toilet, tepat seperti milik Sam, tepat seperti sel-sel yang lain. Itu sel terakhir di tier tersebut, dan yang paling dekat ke Ruang Isolasi yang terletak di samping Kamar Gas. Sehari sebelum eksekusi, narapidana itu untuk terakhir kali dibawa dari selnya dan dimasukkan ke Sel Observasi. Barang-barang pribadinya juga dipindahkan,

695

dan itu biasanya terlaksana dengan cepat. Di sana I ia menunggu. Biasanya ia menyaksikan drama pri- ] nadinya di televisi, ketika stasiun televisi lokal I memantau usaha banding terakhirnya. Pengacaranya menunggu bersamanya, duduk di ranjang tipis, dalam sel gelap, menonton laporan berita. Si peng- ' acara berlari bolak-balik ke kantor depan. Seorang pendeta atau penasihat spiritual juga diperkenankan berada dalam sel.

The Row akan gelap dan sunyi, berbau ke-matian. Beberapa narapidana akan berdiri di depan televisi mereka. Lainnya berpegangan tangan melalui jeruji dan berdoa. Lainnya lagi berbaring di ranjang dan berpikir kapan giliran mereka tiba. ; Jendela-jendela luar di atas gang semuanya ditutup dan digerendel. The Row dikunci. Tapi ada suara-suara di antara tier, dan ada cahaya dari luar. Bagi orang-orang yang berjam-jam duduk dalam sel sempit, melihat dan mendengar segalanya, kesibukan kegiatan aneh itu terasa meruntuhkan saraf.

Pukul 23.00, kepala penjara dan regunya memasuki Tier A dan berhenti di Sel Observasi. Saat ini habislah sudah harapan akan penundaan pada menit terakhir. Si terhukum akan duduk di ranjang, berpegangan tangan dengan pengacara dan pendetanya. Kepala penjara mengumumkan sudah saatnya pergi ke Ruang Isolasi. Pintu sel berdetak dan terbuka, lalu narapidana itu melangkah ke dalam gang. Akan ada teriakan mendukung dan menghibur dari narapidana lain, banyak di antan

„Tereka bercucuran air mata. Ruang Isolasi tak lebih dari enam meter dari Sel Observasi. Si terhukum berjalan di tengah dua deret penjaga bersenjata dan bertubuh kekar, penjaga paling besar

yang bisa ditemukan kepala penjara. Tak pemah ada perlawanan. Takkan ada gunanya.

Kepala penjara memimpin si terhukum ke dalam sebuah mangan sempit, tiga kali tiga meter, tanpa apa pun di dalamnya kecuali ranjang lipat. Si terhukum duduk di ranjang dengan pengacara di sampingnya. Pada titik ini, kepala penjara, karena alasan yang tidak jelas, merasa perlu melewatkan beberapa saat bersama si terpidana, seolah-olah ia—sang kepala penjara—merupakan orang terakhir yang ingin diajak bercakap-cakap oleh si terhukum. Kepala penjara akhirnya berlalu. Ruangan itu.akan sunyi, kecuali sekali-sekali ada ketukan atau pukulan dari mangan sebelah. Doa biasanya selesai dipanjatkan pada titik ini. Cuma beberapa menit lagi yang tersisa.

Di samping Ruang Isolasi terletak Kamar Gas itu sendiri. Ukurannya kurang-lebih empat setengah kali tiga setengah meter, dengan kamar gas di tengahnya. Algojo akan sibuk bekerja, sementara si terhukum berdoa sendirian. Kepala penjara, pengacara penjara, dokter, dan sejumlah penjaga bersiap-siap. Ada dua telepon di dinding untuk izin menit terakhir. Di sebelah kiri ada mangan sempit tempat algojo mencampur larutannya. Di belakang Kamar Gas ada tiga jendela, 45 kali 75

697

senti, dan sementara itu ditutup dengan tirai hitam « Di sisi lain jendela-jendela itu terletak mang saksi

Dua puluh menit menjelang tengah malam, dokter memasuki Ruang Isolasi dan menempelkan stetoskop ke dada terhukum. Ia kemudian berlalu, dan kepala penjara masuk untuk membawa si terhukum melihat Kamar Gas.

Kamar Gas itu selalu penuh orang, semuanya bersemangat membantu, semuanya akan menyaksikan seseorang menemui ajal. Mereka akan memasukkannya ke dalam Kamar Gas, mengikatnya, menutup pintu, dan membunuhnya.

Prosedur itu cukup sederhana, bervariasi sedikit, disesuaikan dengan kasus individual. Sebagai contoh, Buster Moac sudah duduk di kursi dengan separo pengikat terpasang ketika telepon berdering di Kamar Gas. Ia kembali ke Ruang Isolasi dan menunggu selama enam jam yang menyiksa, sampai mereka kembali menjemputnya. Jumbo Parris adalah yang paling cerdik di antara empat orang itu. Sebagai pemakai obat bius kawakan sebelum tiba di The Row, ia mulai minta Valium kepada psikiater beberapa hari sebelum eksekusi. Ia memilih menghabiskan beberapa jam terakhirnya seorang diri, tanpa pengacara atau pendeta, dan ketika mereka datang menjemputnya dari Sel Observasi, ia dalam keadaan teler. Jelaslah ia memakai Valium yang dikumpulkannya, dan harus diseret ke Ruang Isolasi, tempat ia tidur dalam damai, Ia

kemudian diseret ke Kamar Gas dan diberi dosis terakhir.

Prosedur itu berperikemanusiaan dan dipikirkan

dengan cermat. Si terhukum tetap dalam selnya, di samping rekan-rekannya, sampai saat terakhir. Di Louisiana, mereka dikeluarkan dari The Row dan ditempatkan dalam bangunan kecil yang dikenal sebagai Death House. Mereka melewatkan tiga hari terakhir di sana, di bawah pengawasan terus-menerus. Di Virginia, mereka dipindahkan ke kota lain.

Sam cuma'berjarak delapan pintu dari Sel Observasi, sekitar empat belas meter. Kemudian enam meter lagi ke Ruang Isolasi, lalu empat meter lagi ke Kamar Gas. Dari suatu titik di tengah ranjangnya, ia sudah berkali-kali menghitung kira-kira berjarak 25,5 meter dari Kamar Gas.

Dan ia menghitung lagi Selasa pagi, ketika ia dengan hati-hati membuat tanda X pada kalender. Delapan hari. Pagi itu gelap dan panas. Ia tidur putus-sambung dan melewatkan sebagian besar malam itu duduk di depan kipas angin. Sarapan dan kopi masih sejam lagi dari sekarang. Ini akan jadi hari ke-3.449 di The Row, dan jumlah total itu tidak termasuk waktu yang dilewatkan dalam penjara county di Greenville selama dua sidang pertamanya. Cuma delapan hari lagi.

Seprainya basah oleh keringat. Sewaktu berbaring di ranjang dan menatap langit-langit untuk kesejuta kalinya, ia memikirkan kematian. Kemati-

an ini sendiri takkan terlalu mengerikan. Karen, alasan yang jelas, tak seorang pun tahu deriga]) tepat efek gas tersebut. Mungkin mereka akan memberinya dosis ekstra, sehingga ia mati Jama sebelum tubuhnya mengejang. Mungkin tarikan n* pas pertama akan membuatnya tak sadarkan diri, Bagaimanapun juga, ia berharap itu takkan berlangsung lama. Ia telah menyaksikan istrinya mengerut layu dan menderita luar biasa karena kau-ker. Ia telah menyaksikan sanak saudara menjadi j tua dan hidup seperti invalid. Ini pasti cara yang I lebih baik untuk menemui ajal. "Sam," J.B. Gullit berbisik, "kau sudah bangun?" Sam berjalan ke pintunya dan bersandar pada j jeruji. Ia bisa melihat tangan dan lengan Gullit j "Yeah, aku bangun. Rasanya tak bisa tidur." Ia r menyalakan rokok pertama hari itu.

"Aku pun tidak. Katakan padaku itu takkan I terjadi, Sam." "Itu takkan terjadi." sot9

"Kau serius?"

"Yeah, aku serius. Pengacaraku akan melon- j tarkan sesuatu yang berat. Dia mungkin akan menuntunku keluar dari sini satu-dua minggu lagi." "Kalau begitu, kenapa kau tak bisa tidur?" "Aku merasa begitu resah dengan pikiran akan I keluar dari sini."

"Apa kau sudah bicara dengannya tentang ka- I susku?"

"belum, banyak yang dia pikirkan. Begitu M I

keluar, kami akan menggarap kasusmu. Tenang ' sajalah. Cobalah tidur."

Tangan dan lengan Gullit perlahan-lahan lenyap dari pandangan, lalu ranjangnya berkeriut. Sam menggelengkan kepala atas kebodohan bocah itu. Ia menghabiskan rokok dan melemparnya ke gang, suatu pelanggaran yang bisa membuatnya menerima laporan pelanggaran. Tapi ia tak peduli.,

Dengan hati-hati ia mengambil mesin tik dari rak. Ada beberapa hal yang hendak ia katakan dan ada beberapa surat yang harus ia tulis. Ada beberapa orang di luar sana yang ingin dihubunginya.

George Nugent memasuki- Maximum Security Unit bagaikan seorang jenderal berbintang lima. Ia menatap tajam rambut dan sepatu lars tak tersemir seorang penjaga kulit putih dengan pandangan mencela. "Cukur rambutmu," geramnya, "atau kau akan kucatat dalam laporan. Dan semir sepatu lars itu."

"Ya, Sir," kata orang itu, nyaris memberi hormat.

Nugent menggerakkan kepala dan mengangguk pada Packer yang memimpin di depan, -melewati bagian tengah The Row, menuju Tier A. "Nomor enam," kata Packer sewaktu-pintu terbuka.

"Tetap di sini," Nugent menginstruksikan. Sol sepatunya berdetak ketika ia melangkah tegap di far itu, menatap dengan pandangan menghina ke dalam masing-masing sel. Ia berhenti di sel Sam

dan mengintip ke dalam. Sam bertelanjang dada hanya memakai celana pendek, kulitnya yang tipjs dan kisut berkilauan keringat sementara ia mengetik. Ia memandang orang asing yang menatapnya melalui jeruji, lalu kembali ke pekerjaannya. "Sam, namaku George Nugent." Sam mengetuk beberapa tombol. Nama itu tak dikenalnya, namun Sam memperkirakan ia bekerja entah di mana di atas hierarki, sebab ia punya wewenang masuk ke tier. "Apa yang kauinginkan?" Sam bertanya tanpa melihat. "Ah, aku ingin menemuimu." Terima kasih, sekarang enyahlah." Gullit di sebelah kanan dan Henshaw di kiri mendadak bersandar pada jeruji, cuma beberapa meter dari Nugent Mereka terkekeh mendengar jawaban Sam.

Nugent menatap mereka tajam dan berdeham., "Aku asisten Kepala Penjara. Phillip Naifeh telah menyerahkan tanggung jawab eksekusimu padaku. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan."

Sam memusatkan pikiran pada suratnya, dan mengumpat ketika ia mengetuk tombol yang keliru, Nugent menunggu. "Bisakah aku mendapatkan beberapa menit dari waktumu yang berharga, Sam?"

"Lebih baik panggil dia Mr. Cayhall," tambah Henshaw membantu. "Dia beberapa tahun lebih tua dari mu, dan itu sangat berarti baginya."

"Dari mana kau mendapat sepatu lars itu?" tanya Gullit, menatap ke kaki Nugent.

"Kalian mundur," kata Nugent tegas. "Aku perlu bicara dengan Sam."

"Mr. Cayhall sedang sibuk sekarang," kata Henshaw. "Mungkin kau harus kembali nanti. Dengan senang hati aku akan menjadwalkan janji pertemuan untukmu."

"Apakah kau semacam bangsat militer?" tanya Gullit.

Nugent berdiri kaku dan melirik ke kanan dan ke kiri. "Aku perintahkan kalian berdua mundur, oke? Aku perlu bicara dengan Sam."

"Kami tidak menerima perintah," kata Henshaw.

"Dan apa yang akan kaulakukan?" tanya Henshaw. "Melempar kami ke dalam pengasingan? Memberi kami makan umbi dan buah liar? Merantai kami ke dinding? Mengapa tidak kauteruskan saja dan membunuh kami?"

Sam meletakkan mesin tiknya di ranjang dan melangkah ke jeruji. Ia menyedot rokoknya dalam-dalam dan mengembuskan asap melalui jeruji ke arah Nugent. "Apa yang kauinginkan?" tanyanya.

"Aku butuh beberapa hal darimu."

"Misalnya?"

"Apa kau punya surat wasiat?"

"Itu sama sekali bukan urusanmu. Surat wasiat adalah dokumen pribadi yang hanya boleh dilihat apabila sudah disahkan hakim, dan surat itu hanya disahkan setelah orangnya mati. Begitulah hukum-

"Sungguh goblok!" Henshaw tertawa terbahak- | bahak.

- "Aku tak percaya ini," Gullit menambahkan. "Dari mana Naifeh menemukan idiot ini?" ia bertanya.

"Ada lainnya?" tanya Sam. Wajah Nugent berubah warna. "Kami perlu tahu apa yang harus dilakukan pada barang-barangmu.'' "Itu tertulis dalam surat wasiatku, oke?" "Kuharap kau takkan menyulitkan, Sam." "Panggil dia Mr. Cayhall," kata Henshaw lagi. "Sulit?" tanya Sam. "Mengapa aku akan menyulitkan? Aku berniat membantu negara sepenuhnya dalam melaksanakan pekerjaannya membunuhku. Aku patriot yang baik. Aku akan memberikan suara dan membayar pajak seandainya bisa. Aku bangga jadi orang Amerika, orang Amerika-Irian-dia, dan saat ini aku masih sangat mencintai negaraku yang berharga, meskipun dia berencana mengegasku. Aku tahanan teladan, George. Tak ada masalah dariku."

Packer sepenuhnya menikmati ini, sementara menunggu di ujung tier. Nugent berdiri tegak.

"Aku perlu daftar orang yang kauinginkan untuk menyaksikan eksekusi," katanya. "Kau diperbolehkan memilih dua."

"Aku belum lagi menyerah, George. Mari kita tunggu beberapa hari lagi."

"Baiklah. Aku juga perlu daftar tamumu selama beberapa hari mendatang."

»Nah. sore ini aku akan dikunjungi dokter dari Chicago, kau tahu. Dia psikiater. Dia akan bicara denganku dan melihat betapa gila diriku, lalu pengacaraku akan berlari ke pengadilan dan mengatakan bahwa kau, George, tak bisa mengeksekusi aku, sebab aku gila. Dia akan menyediakan waktu untuk memeriksamu, kalau kau mau. Tak* kan makan banyak waktu."

Henshaw dan Gullit tertawa terpingkal-pingkal, dan dalam beberapa detik sebagian besar narapidana lainnya ikut berteriak-teriak dan tertawa [ keras. Nugent mundur selangkah dan memandang tier itu dari ujung ke ujung dengan marah. "Diam!" perintahnya, tapi suara tawa itu makin meningkat. Sam terus menyedot dan mengepulkan asap melalui jeruji. Suara siulan dan ejekan bisa didengar di tengah keributan itu,

"Aku akan kembali," Nugent berseru marah pada Sam.

I "Dia akan kembali'." Henshaw berteriak, dan keributan itu jadi makin keras. Sang komandan menghambur pergi, berjalan cepat ke ujung gang, dan teriakan-teriakan "Heil Hitler" berkumandang dalam tier itu.

Sejenak Sam tersenyum ke jeruji sementara ke-bisingan mereda, lalu kembali ke posisinya di tepi ranjang, la menggigit sepotong roti kering, menghirup seteguk kopi dingin, lalu kembali mengetik.

Bermobil di siang hari menuju Parchman bukan

sesuatu yang menyenangkan. Garner Goodman duduk di jok depan, sementara Adam mengemudi. Mereka membahas strategi dan mencari gagasan tentang dalih pembelaan dan prosedur terakhir, Goodman merencanakan kembali ke Memphis selama akhir pekan, dan berada di sini selama tiga hari terakhir. Sang psikiater adalah Df. Swinn, laki-laki yang dingin, tanpa senyum, dalam setelan hitam. Rambutnya berantakan, acak-acakan, matanya tersembunyi di balik kacamata tebal, dan ia I sama sekali tak bisa melakukan pembicaraan kecil. Kehadirannya di jok belakang menimbulkan pe- ! rasaan tak enak. Ia tak mengucapkan sepatah kata f pun sejak dari Memphis sampai ke Parchman.

Pemeriksaan yang diatur Adam dan Lucas Mann f berlangsung di rumah sakit penjara, sebuah fasi- j litas yang luar biasa modem. Swinn dengan sangat ! jelas memberitahu Adam bahwa baik Adam mau- [ pon Goodman tak bisa ikut hadir saat ia mengevaluasi Sam. Ini sama sekali bukan masalah bagi I Adam dan Goodman. Sebuah van penjara menjem- | put mereka di gerbang depan, dan membawa Dr. . Swinn ke rumah sakit jauh di dalam tanah per-tanian.

Goodman sudah beberapa tahun tak pernah bertemu Lucas Mann. Mereka berjabat tangan bagai- j kan sahabat lama, dan langsung tenggelam dalam kisah-kisah perang berkaitan dengan eksekusi. Per- \ cakapan itu tidak menyinggung-nyinggung Sam, dan Adam sangat berterima kasih.

Mereka berjalan dari kantor Mann melintasi halaman parkir, menuju sebuah bangunan kecil di belakang kompleks administrasi. Bangunan itu adalah restoran, dirancang sesuai dengan bentuk tavern di daerah sekitar itu. Tempat yang disebut The Place itu menyajikan makanan biasa untuk pekerja kantor dan pegawai penjara. Tak ada alkohol. Tempat itu terletak di tanah negara.

Mereka minum es teh dan bicara tentang masa depan hukuman mati. Goodman dan Mann setuju bahwa eksekusi kelak akan dianggap lebih umum. Mahkamah Agung terus makin condong ke kanan, dan lelah oleh berbagai kasasi yang tak ada habisnya. Sama juga dengan pengadilan federal di tingkat yang lebih bawah. Plus, juri Amerika jadi makin reflektif dengan penolakan masyarakat atas tindak kejahatan dengan kekerasan. Simpati terhadap terpidana mati jauh berkurang, dan keinginan menghukum bangsat-bangsat itu makin besar. Uang pemerintah federal makin sedikit dibelanjakan untuk mendanai kelompok-kelompok yang menentang hukuman mati, serta makin sedikit pengacara dan biro hukum yang bersedia mengambil komitmen menangani kasus pro bono besar. Populasi death row berkembang lebih cepat daripada jumlah pengacara yang bersedia menangani kasus hukuman mati.

Adam agak bosan dengan percakapan itu. Ia sudah membaca dan mendengarnya beratus kali. Ia mohon diri dan menemukan sebuah telepon umum

di sudut Phelps tak ada di tempat, kata sekretaris muda, tapi ia meninggalkan pesa^^8 I Adam: Tak ada kabar dari Lee. j^, ^ hadir di pengadilan dua minggu lagi; mungkin^ itu ia akan muncul. Saat

Darlene mengetik laporan Dr. Swinn, sementara Adam dan Gamer Goodman menggarap petisi u tuk diajukan bersama laporan tersebut. Laporan itu panjangnya dua puluh halaman dalam konsep kasar, dan kedengaran seperti musik ringan. Swirm merupakan senjata sewaan, pelacur yang akan menjual pendapatnya kepada penawar tertinggi, dan Adam tak menyukai orang macam itu. Ia berkeliaran menjelajahi negeri ini sebagai saksi profesional, mampu mengatakan ini hari ini. dan itu esok harinya, tergantung siapa yang punya kantong paling tebal. Namun saat ini ia pelacur mereka, dan ia cukup bagus. Sam menderita kepikunan taraf lanjut. Kemampuan mentalnya telah terkikis sampai ke suatu titik di mana ia tidak tahu dan tidak memahami hakikat hukumannya. Ia tidak memiliki kompetensi yang diperlukan untuk menjalani eksekusi; karena itu, eksekusi tak akan memberikan manfaat apa pun. Argumentasi ini tidak sepenuhnya unik, dan pengadilan pun tidak sepenuhnya menerima. Namun, seperti yang dikatakan Adam tiap hari, apa ruginya? Goodman tampaknya cukup optimis, terutama karena usia

a» eksekusi terhadap hisa^ng^aVla;muh tahun lebih-

o^8 V tetra®*** rj-M

^2300. pir P^123

TIGA PULUH DELAPAN

Rabu pagi Gamer Goodman tidak kembali Chicago, namun sebaliknya terbang ke Jackson, Mississippi. Penerbangan itu berlangsung tiga puluj menit, hampir tak cukup untuk menikmati secangft kopi dan croissant yang belum lagi melunak j. menyewa mobil di bandara dan mengemudikannya langsung ke gedung DPR negara bagian. Dewan sedang tidak bersidang, dan banyak tempat luang untuk parkir. Seperti banyak gedung pengadil» county yang dibangun kembali setelah Perang Saudara, gedung itu dengan angkuh menghadap it selatan. Ia berhenti untuk mengagumi monumen perang untuk para wanita Selatan, namun menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengaman magnolia Jepang di dasar tangga depan.

Empat tahun sebelumnya, pada hari-hari dan jam-jam menjelang eksekusi Maynard ToJe, Goodman pernah dua kali menempuh perjalanan yan$ sama. Saat itu gubernurnya berbeda, kliennya fer-beda. dan kejahatannya berbeda. Tole membumi*

beberapa orang dalam suatu pesta kejahatan selama dua hari. dan cukup sulit membangkitkan simpati untuknya. Ia berharap Sam Cayhall berbeda. Ia laki-laki tua yang mungkin akan mati juga dalam lima tahun mendatang. Bagi banyak warga Mississippi, kejahatannya merupakan sejarah kuno. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Sepagian Goodman melatih apa yang akan dibicarakannya. Ia memasuki gedung kapitol dan sekali lagi mengagumi keindahannya. Gedung ini merupakan versi lebih kecil dari U.S. Capitol di Washington, dan tak ada yang dihemat untuk membangunnya. Gedung itu dibangun pada tahun 1910 dengan tenaga kerja dari penjara. Negara bagian memakai uang hasil gugatan terhadap jawatan kereta api untuk membangun monumen ini.

Ia memasuki kantor Gubernur di lantai dua dan menyerahkan kartu nama kepada seorang resepsionis cantik. Gubernur tak ada di tempat pagi ini, katanya, dan apakah ia punya janji? Tidak, Goodman menerangkan dengan sopan, tapi urusan ini sangat penting, dan apakah mungkin dia menemui Mr. Andy Larramore, kepala penasihat hukum gubernur.

Ia menunggu sementara resepsionis menelepon beberapa kali, dan setengah jam kemudian Mr. Larramore muncul. Mereka saling memperkenalkan diri dan menghilang ke dalam gang sempit yang membentang di tengah berbagai kantor kecil. Petak kerja Larramore penuh sesak dan acak-acakan sangat menyerupai orangnya sendiri. Ia ber-

rubuh kecil dengan bungkuk yang kentara rw,

pinggang dan sama sekali tanpa leber. DagyJ yang panjang menempel ke dada, dan bila ia b» bicara, mata, hidung, dan mulurnya merapati satu. Pemandangan yang mengerikan. Goodman tak bisa mengatakan apakah ia berumur tiga puluj, atau lima puhih tahun. Ia pasti orang jenius.

"Gubernur sedang bicara pada pertemuan agen asuransi pagi ini," kata Larramore sambil rre-megang jadwal, seolah-olah benda itu permata berharga. "Kemudian dia akan mengunjungi sekolah negeri di pusat kota."

"Saya akan menunggu," kata Goodman. "Urusan ' ini sangat penting, dan saya tidak keberatan menunggu."

Larramore menyisihkan sehelai kertas ke samping dan melipat tangan di atas meja. "Bagaimana dengan anak muda itu, cucu Sam?"

"Oh, dia masih penasihat hukum utama Saya r direktur bagian pro bono di Kravitz & Bane, jadi saya di sini untuk membantunya."

"Kami memantau masalah ini dengan sangat cermat," kata Larramore, wajahnya berkerut hebat di tengah, lalu mengendur di ujung setiap kalimat "Tampaknya urusan ini akan gawat."

"Selalu demikian," kata Goodman. "Sejauh mana Gubernur serius mempertimbangkan sidang pemberian pengampunan?"

"Saya yakin dia serius mempertimbangkan si-1 dang ini. Namun pemberian pengampunan urusan-

nya sama sekali berbeda. Hukumnya sangat luas, dan saya yakin Anda sudah tahu. Dia bisa mengubah hukuman mati dan langsung melepaskan si terpidana. Dia bisa mengubahnya jadi kurungan

seumur hidup, atau lebih ringan dari itu." ¦

Goodman mengangguk. "Bisakah saya menemuinya?"

"Dia dijadwalkan kembali ke sini pukul sebelas. Nanti saya akan bicara dengannya. Dia mungkin akan makan siang di meja kerja, jadi mungkin ada waktu senggang sekitar pukul satu. Bisakah Anda

ke sini?"

"Ya. Urusan ini harus disimpan rapat. Klien kami sangat menentang pertemuan ini."

"Apakah dia menentang gagasan pemberian pengampunan?"

"Kami punya sisa waktu tujuh hari, Mr. Larramore. Kami tidak menentang apa pun."

Mr. Larramore mengerutkan hidung dan memperlihatkan gigi atas, lalu kembali mengambil jadwal. "Datanglah ke sini pukul satu. Akan saya lihat apa yang bisa saya kerjakan."

"Terima kasih." Mereka bercakap-cakap tanpa arah selama lima menit, lalu Larramore disergap serangkaian telepon mendesak. Goodman mohon diri dan meninggalkan gedung kapitol. Ia berhenti lagi di depan bunga-bunga magnolia Jepang dan melepaskan jas. Saat itu pukul 09.30, kemejanya sudah basah di ketiak dan lengket di punggung. Ia berjalan ke selatan, ke arah Capitol Straw,.

empat blok dari sana dan dianggap sebagai jajan utama kota Jackson. Di tengah gedung-gedung dan lalu lintas pusat kota, istana Gubernur berdiri me, gah di lahan yang terpangkas rapi dan menghadap gedung kapitol. Rumah itu merupakan bangunan kuno yang luas, dikelilingi gerbang-gerbang dan pagar. Sekelompok kecil penentang hukuman mati berkumpul di trotoar pada malam Tole dieksekusi dan berteriak-teriak pada Gubernur. Jelas ia tidak mendengar mereka. Goodman berdiri di trotoar dan teringat akan istana itu. Ia dan Peter Wiesen-berg pernah berjalan tergesa-gesa melewati sebuah gerbang di sebelah kiri jalan masuk utama dengan permohonan terakhir mereka, cuma beberapa jam f sebelum Tole digas. Saat itu Gubernur sedang makan malam dengan orang-orang penting, dan agak kesal dengan interupsi mereka. Ia menolak permohonan terakhir mereka yang meminta pengampunan, lalu dengan sikap sopan gaya Selatan, mengundang mereka untuk tinggal makan malam.

Dengan sopan mereka menolak. Goodman menjelaskan Kepada Yang Mulia bahwa mereka harus bergegas kembali ke Parchman untuk menemani klien mereka saat ia menjemput ajal. "Hati-hati," { kata Gubernur pada mereka, lalu kembali ke jamuan makan malamnya.

Dalam hati Goodman bertanya-tanya, berapa banyak pemrotes yang akan berdiri di tempat ini beberapa hari lagi, menyanyi dan berdoa dan membakar lilin, melambai-lambaikan poster dan

berteriak-teriak pada McAllister untuk mengampuni Sam. Mungkin tidak begitu banyak.

Di tengah distrik bisnis di kota Jackson jarang terjadi kekurangan ruang kantor, dan Goodman tidak banyak menemui kesulitan mendapatkan apa yang ia inginkan. Sebuah tanda mengarahkan perhatiannya pada tempat kosong di lantai tiga sebuah bangunan bobrok. Ia mencari informasi di bagian depan kantor keuangan di lantai dasar, dan satu jam kemudian pemilik gedung itu tiba dan menunjukkan tempat yang tersedia. Tempat itu merupakan suite dua ruangan yang kumal, dengan karpet usang dan lubang-lubang pada dindingnya Goodman berjalan ke satu-satunya jendela dan memandang ke bagian depan gedung kapitol tiga blok dan sana. "Sempurna," katanya

"Harganya tiga ratus sebulan, plus listrik. Kamar kecil ada di ujung gang. Minimum enam bulan."

Aku cuma membutuhkannya untuk dua bulan," kata Goodman, merogoh ke dalam saku dan mencabut segepok uang tunai yang terlipat rapi.

Si pemilik memandang uang itu dan bertanya, "Bisnis macam apa yang kaukerjakan?"

"Analisis pemasaran." ' "Dari mana asalmu?"

"Detroit. Kami mempertimbangkan mendirikan cabang di negara bagian ini, dan kami butuh tempat {„j Untuk mulai. Tapi cuma untuk dua bulan. Semua kontan. Tak ada catatan apa pun. Kami

akan keluar sebelum kau tahu. Takkan menim bulkan kegaduhan."

Si pemilik mengambil uang kontan itu dan me. nyerahkan dua anak kunci kepada Goodman, satu untuk kantor, yang lainnya untuk pintu masuk dan Congress Street Mereka berjabat tangan dan perjanjian itu ditutup.

Goodman meninggalkan tempat kumuh itu dan kembali ke mobilnya di gedung kapitol. Sepanjang jalan ia terkekeh memikirkan rencana yang akan ia t f lakukan. Gagasan itu ditelurkan Adam, satu lagi i tembakan jarak jauh dalam serangkaian upaya tan- I pa harapan untuk menyelamatkan Sam. Tak ada f yang ilegal dalam hal ini. Biayanya sedikit, dan siapa peduli dengan uang beberapa dolar pada titik | M? Lagi pula, bukankah ia Mr. Pro Bono di firma ini, sumber kebanggaan dan kebajikan di antara rekan-rekannya. Tak seorang pun akan mempertanyakan pengeluarannya untuk sewa kantor dan beberapa telepon, bahkan Daniel Rosen pun tidak.

Setelah tiga minggu menjadi pengacara death row, Adam malai merindukan suasana kantornya di Chicago, kalau memang ia masih ptinya kantor di sana. Sebelum pukul 10.00 hari Rabu, ia sudah menyelesaikan klaim untuk meminta keringanan vonis, la sudah empat kali bicara dengan berbagai panitera pengadilan, lalu dengan seorang administrator pengadilan. Ia dua kali bicara dengan Richard Olander mengenai hasil pertimbangan ter-

hadap klaim menentang kamar gas, dan dengan seorang panitera pengurus kasus hukuman mati di Pengadilan Fifth Circuit, New Orleans, mengenai klaim ketidakefektifan bantuan hukum.

Klaim yang menyatakan Sam tidak memiliki kompetensi mental untuk dieksekusi sekarang sudah dikirim dengan fax ke Jackson, sedangkan aslinya menyusul dengan Federal Express, dan Adam terpaksa memohon dengan sopan kepada administrator pengadilan untuk mempercepat segalanya. Bergegaslah dan tolaklah, katanya, meskipun bukan dengan kata-kata seperti itu. Seandainya ada penundaan eksekusi, hal itu kemungkinan besar akan dikeluarkan hakim federal.

Setiap klaim baru membawa secercah harapan baru, dan seperti yang dipelajari Adam dengan cepat, hal itu juga membawa potensi kekalahan lain. Sebuah klaim harus melewati empat halangan sebelum disisihkan—Mahkamah Agung Mississqj- , pi, pengadilan distrik federal, Pengadilan Fifth Cir- $ cuit, dan Mahkamah Agung AS. Jadi, peluang Untuk berhasil cukup kecil, temtama pada tahap 'ini. Berbagai kemungkinan dalam .perkara Sam sudah ditangani secara cermat oleh Wallace Tyner dan Garner Goodman bertahun-tahun yang lalu. Adam sekarang mengajukan remah-remah sisanya.

Panitera di Pengadilan Fifth Circuit menyangsikan pengadilan akan mau merepotkan diri mendengarkan argumentasi lisan lagi, terutama karena tampak jelas Adam akan mengajukan klaim baru

setiap hari. Panel tiga hakim di sana munglcig hanya mempertimbangkan makalahnya. Telepon berantai akan dipakai bila hakim-hakim itu inght mendengarkan suaranya.

Richard Olander menelepon lagi untuk menyatakan Mahkamah Agung sudah menerima petisi Adam yang meminta peninjauan keputusan pengadilan di bawahnya, atau permintaan untuk menyidangkan kasus itu, dan petisi itu sudah dibahas. Tidak, menurutnya Mahkamah takkan mau repot mendengarkan argumentasi lisan. Tahap ini sudah terlalu lanjut. Ia juga memberitahu Adam bahwa ia sudah menerima melalui fax, copy klaim terbaru tentang keterbatasan mental, dan ia akan memantau perjalanannya di pengadilan lokal. Menarik, kata- J nya. Ia bertanya lagi, klaim baru apa yang terpikir I -oleh Adam, tapi Adam tidak mengatakannya.

Panitera Hakim Slaterry, Breck Jefferson, si pe- j murung abadi, menelepon untuk memberitahu Adam bahwa Pak Hakim sudah menerima lewat fax, copy klaim terbaru yang diajukan ke Mah- | kamah Agung Mississippi, dan terus terang Pak Hakim tidak begitu memikirkannya, tapi akan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh begitu klaim itu tiba di pengadilan mereka.

Adam merasa agak puas mengetahui ia berhasil membuat empat pengadilan yang berbeda melompat-lompat pada saat yang sama.

Pukul 11.00, Morris Henry, Dr. Death yang terkenal dari kantor Jaksa Agung, menelepon un- J

tuk memberitahu Adam bahwa mereka sudah menerima klaim terbaru dari banding gangplank, dan Mr. Roxburgh sendiri sudah menugaskan selusin pengacara menggarap jawabannya. Henry cukup menyenangkan di telepon, tapi telepon itu benar-benar menyampaikan maksudnya—kami punya banyak pengacara, Adam.

Dokumen-dokumen diproduksi dalam hitungan kilo sekarang, dan meja rapat kecil itu tertutup dengan tumpukan-tumpukan rapi dokumen tersebut. Darlene terus-menerus keluar-masuk kantor itu—membuat copy, menyampaikan pesan telepon, mengambil kopi, membaca dan mengoreksi makalah dan petisi. Ia pernah dilatih dalam bidang obligasi pemerintah yang melelahkan, maka dokumen-dokumen terperinci dan panjang itu tidak menggentarkannya. Lebih dari sekali ia mengaku bahwa ini merupakan selingan menarik dari tugas normalnya yang membosankan. "Apa yang lebih menarik daripada eksekusi yang mengintai begini dekat?" tanya Adam.

Bahkan Baker Cooley juga menyisihkan waktu dari kesibukannya mempelajari peraturan perbankan federal terbaru dan muncul untuk menjenguk.

Phelps menelepon sekitar pukul 11.00 untuk menanyakan apakah Adam mau menemuinya untuk makan siang. Adam tak ingin bertemu, dan menolak dengan alasan ketatnya deadline dan ha-kim-hakim yang lekas marah. Tak seorang pun mendengar kabar dari Lee. Phelps mengatakan se-

belum ini ia sudah pernah menghilang, tapi tai pernah lebih dari dua hari. Ia khawatir dan mera. pertimbangkan akan menyewa detektif swasta, k akan terus memberi kabar.

"Ada reporter ke sini untuk menemui mu," kata Darlene sambil mengangsurkan sehelai kartu nama yang menyatakan kehadiran Anne L. Piazza, koresponden Newsweek. Ia reporter ketiga yang menghubungi kantor ini hari Rabu. "Katakan padanya aku tidak bisa," kata Adam tanpa penyesalan, "Sudah kukatakan, tapi kupikir karena ini Newsweek, kau mungkin ingin tahu."

"Aku tak peduli siapa dia. Katakan padanya klien kita juga tak ingin bicara."

Ia berlalu dengan tergesa-gesa ketika telepon berdering. Dari Goodman, melapor dari Jackson j akan menemui Gubernur pukul 13.00 nanti. Adam j menginformasikan kesibukan dan telepon terbaru.





0 Response to "The Chamber III"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified