Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Chamber II

Sam menggosok kerutan dalam di keningnya dengan jari tengah, seolah-olah memberi isyarat dengan jari itu. Tapi ia tidak memberi isyarat. Iasekonyong-konyong menerawang berkepanjangan, Ruang pertemuan itu jauh lebih sejuk daripada selnya. Percakapan itu tanpa arah, tapi setidaknya itu percakapan dengan orang lain di luar penjaga dan sesama narapidana yang tak terlihat di sebelah selnya. Ia tidak tergesa-gesa, membuatnya berlangsung selama mungkin.

Adam mengamati catatannya dan memikirkan apa yang harus diucapkan selanjutnya. Mereka sudah dua puluh menit bercakap-cakap, saling mengukur, tanpa tujuan jelas. Ia bertekad akan mengungkap sejarah keluarganya sebelum meninggalkan tempat itu. Tapi ia tidak tahu bagaimana melakukannya.

Beberapa menit berlalu. Tak satu pun memandang yang lain. Sam kembali menyalakan sebatang Montclair.

"Mengapa kau merokok begitu banyak?" akhirnya Adam berkata.

"Aku lebih suka mati karena kanker paru-paru. Itu keinginan lumrah di penjara ini."

"Berapa bungkus sehari?"

"Tiga atau empat."

Semenit lagi berlalu. Sam perlahan-lahan menghabiskan rokoknya dan bertanya baik-baik, "Kuliah di mana kau?"

"Fakultas hukum di Michigan. Sarjana muda di Pepperdine."

"Di mana itu?"

"California,"

"Di situkah kau dibesarkan?"

"Yeah." '

"Berapa banyak negara bagian yang memberlakukan hukuman mati?"

"Tiga puluh delapan. Tapi sebagian besar tidak memakainya. Rasanya hukuman itu cuma populer di wilayah Selatan, Texas, Florida, dan California."

"Kau tahu lembaga legislatif kita yang terhormat telah mengubah undang-undang di sini? Sekarang kita bisa mati dengan suntikan mematikan. Itu lebih, manusiawi. Bukankah itu bagus? Tapi itu tidak' berlaku untukku karena vonisku sudah jatuh bertahun-tahun yang lalu. Aku harus menghirup gas."

"Mungkin tidak." "Kau 26 tahun?" "Yeah."

"Lahir tahun 1964?" "Benar."

Sam mencabut sebatang rokok lagi dan mengetukkan Filternya pada counter. "Di mana?"

"Memphis," jawab Adam tanpa memandangnya.

"Kau tak mengerti, Nak.. Negara bagian ini butuh satu eksekusi, dan aku kebetulan jadi korban terdekat. Louisiana, Texas, dan Florida membunuh mereka seperti membunuh lalat, dan para pengabdi hukum di negara bagian ini tak bisa mengerti mengapa kamar gas kita tidak dipergunakan. Semakin keras tindak kejahatan yang kita hadapi, makin banyak orang yang meminta eksekusi.

179Membuat mereka lebih lega. Sepertinya sistem ini bekerja keras untuk melenyapkan para pembunuh Para politisi berkampanye secara terbuka dengan janji menggandakan pidana, memperberat vonis, dan memperbanyak eksekusi. Itulah sebabnya badut-badut di Jackson memberikan suara mendukung suntikan maut. Cara itu dianggap lebih manusiawi, kurang ditentang, jadi lebih mudah diterapkan. Kau mengikuti?"

Adam menganggukkan kepala sedikit.

"Sekarang tiba saatnya mengadakan eksekusi, dan giliranku tiba. Itulah sebabnya mereka mendesak mati-matian. Kau tak dapat menghentikannya"

"Kita tentu bisa mencoba. Aku menginginkan kesempatan itu."

Sam akhirnya menyalakan rokok. Ia menyedotnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap melalui bibirnya. Ia membungkuk sedikit ke depan, bertelekan siku, dan mengintip dari lubang pada kisi-kisi. "Dari California bagian mana asalmu?"

"L.A. Selatan." Adam melirik mata yang menusuk tajam itu, lalu berpaling.

"Keluargamu masih di sana?"

Rasa nyeri yang kejam menghunjam dada Adam. dan untuk sedetik jantungnya membeku. Sam me* ngepul-ngepulkan rokok dan tak pernah berkedip.

"Ayahku sudah meninggal," katanya dengan suara bergetar, dan ia merosot beberapa senti di kursinya.

Satu menit yang panjang berlalu, sementara Sam duduk siaga di kursinya. Akhirnya ia berkata,

"Dan ibumu?"

"Dia tinggal di Portland, menikah kembali."

"Di mana adik perempuanmu?" ia bertanya.

Adam memejamkan mata dan menundukkan kepala. "Dia kuliah di college," gumamnya.

"Kurasa namanya Carmen, benar?" tanya Sam pelan.

Adam mengangguk. "Dari mana kau tahu?" ia bertanya dengan gigi dikatupkan rapat.

Sam mundur dari kisi-kisi dan tenggelam dalam kursi lipat besi itu. Ia menjatuhkan rokok ke lantai tanpa melihatnya. "Mengapa kau datang ke sini?" tanyanya, suaranya jauh lebih tegas dan keras.

"Bagaimana kau tahu ini aku?"

"Suaramu. Kau kedengaran seperti ayahmu. Mengapa kau datang ke sini?"

"Eddie mengirimku."

Mata mereka bertemu sepintas, lalu Sam mengalihkan pandangan. Perlahan-lahan ia membungkuk ke depan dan menempelkan kedua siku pada lutut Tatapan matanya terpaku pada sesuatu di lantai. Ia diam tak bergerak.

Kemudian ditempelkannya tangan kanannya menutupi mata.SEPULUH

Phillip naifeh berumur 63 .tahun, dan menjelang pensiun sembilan belas bulan lagi. Sembilan belas bulan dan empat hari. Sudah 27 tahun ia mengabdi sebagai Inspektur State Department of Corrections, dan dengan demikian telah mengalami pemerintahan enam gubernur, sepasukan legislator negara bagian, seribu gugatan dari para tahanan, campur tangan pengadilan federal yang tak terhitung banyaknya dan eksekusi yang lebih banyak dari yang diingatnya.

Kepala penjara ini—sebutan ini lebih disukainya, meskipun nama ini secara resmi tak ada dalam terminologi Undang-Undang Mississippi— sepenuhnya berdarah Lebanon. Orangtuanya berimigrasi pada tahun dua puluhan dan menetap di Delta. Mereka hidup berkecukupan, mengelola sebuah toko kecil di Clarksdale. Di sana ibunya jadi cukup terkenal karena makanan penutup ala Lebanon buatannya. Ia dididik di sekolah-sekolah negeri, masuk college, kembali ke negara bagian

itu, dan karena alasan-alasan yang sudah lama terlupakan, jadi terlibat dalam pelaksanaan hukum.

Ia benci hukuman mati. Ia mengerti bahwa masyarakat merindukannya, dan sudah lama ia menghafalkan semua alasan steril mengapa hukuman itu diperlukan. Hukuman itu merupakan sarana pencegah. Untuk menyingkirkan para pembunuh. Hukuman terakhir. Sesuai dengan ajaran agama. Memuaskan kebutuhan masyarakat akan pembalasan. Meredakan kepedihan yang dialami keluarga korban. Bila terpaksa, hukuman itu bisa. membuat alasan-alasan ini sepersuasif yang dilakukan jaksa mana pun. Ia bahkan sebenarnya percaya pada satu atau dua alasan itu.

Namun beban pelaksanaan pembunuhan itu ada di pundaknya, dan ia sangat membenci aspek mengerikan dalam pekerjaannya ini. Phillip Naifeh-lah yang berjalan bersama si terhukum dari selnya menuju tempat yang disebut Ruang Isolasi, untuk menanggung jam terakhir sebelum kematian. Phillip Naifeh-lah yang membimbingnya menuju kamar gas di sebelah, dan mengawasi bagaimana harus mengikat kaki, tangan, dan kepalanya. "Ada pesan terakhir?" Kalimat itu sudah ia ucapkan 22 kali selama 27 tahun. Kewajibannyalah memerintahkan penjaga agar mengunci pintu kamar gas, dan kewajibannyalah mengangguk kepada algojo untuk menarik tuas pencampur gas mematikan tersebut. Ia telah menyaksikan dua terpidana pertama saat mereka mati, kemudian memutuskan yang terbaik ada-lah menyaksikan wajah para saksi dalam ruang kecil di belakang kamar gas. Ia harus memilih para saksi. Ia hams melakukan seratus hal yang terdaftar dalam buku pegangan tentang cara membunuh narapidana secara legal, termasuk mengumumkan ke-matian, pengambilan jenazah dari kamar gas, penyemprotan untuk membersihkan pakaiannya dari gas, dan seterusnya, dan seterusnya.

Sekali ia pernah memberi kesaksian di hadapan komite legislatif di Jackson, dan memberikan pendapatnya tentang hukuman mati. Ia punya gagasan yang lebih baik, demikian jelasnya kepada telinga-telinga tuli itu, dan rencananya adalah mengurung para pembunuh yang sudah terbukti bersalah di dalam Maximum Security Unit dan dikucilkan sehingga mereka tak bisa membunuh, tak bisa kabur, dan tak berhak dibebaskan. Pada akhirnya mereka akan mati di penjara itu, tapi tidak di tangan negara. EBOOK

Kesaksian ini menjadi berita besar dan nyaris mengakibatkan dirinya dipecat.

Sembilan belas bulan dan empat hari, pikirnya, sementara jarinya menyisir rambutnya yang tebal kelabu. Perlahan-lahan ia membaca keputusan terakhir dari Pengadilan Fifth Circuit. Lucas Mann duduk di seberang meja dan menunggu.

"Empat minggu," kata Naifeh sambil menggeser surat keputusan itu ke samping. "Berapa kali lagi hak pengajuan banding yang tersisa?" tanyanya dengan suara yang diseret lembut.

"Segala macam usaha terakhir, seperti biasa,"

jawab Mann. "Kapan ini diturunkan?"

"Pagi tadi. Sam akan mengajukannya ke Mahkamah Agung, dan mungkin takkan dihiraukan. Ini

akan makan waktu sekitar seminggu."

"Bagaimana pendapatmu, Pengacara?"

"Pada titik ini, semua dalih yang menunjang sudah diajukan. Menurutku, peluang eksekusi itu dilaksanakan empat minggu lagi adalah lima puluh persen."

"Itu banyak."

"Aku punya firasat bahwa yang ini akan habis."

Dalam rolet hukuman mati yang tak pernah berhenti ini, peluang sebesar lima puluh persen berarti nyaris pasti. Prosesnya harus dimulai. Petunjuk pelaksanaan harus dibahas. Sesudah bertahun-tahun pengajuan banding dan penundaan yang tak habis-habisnya, empat minggu terakhir akan lewat dalam sekejap mata.

"Kau sudah bicara dengan Sam?" sang Kepala Penjara bertanya.

"Sekilas. Aku membawakan copy surat keputusan pagi ini."

"Gamer Goodman meneleponku kemarin. Katanya mereka mengirim salah satu associate muda mereka untuk bicara dengan Sam. Apa kau sudah mengurusnya?"

"Aku bicara dengan Garner dan dengan associate itu. Namanya Adam Hall. Dia- sedang me-nemui Sam sementara kita bicara di sini. Pasti menarik. Sam adalah kakeknya." "Apanya?"

"Kau mendengarku. Sam Cayhall adalah kakek Adam Hall dari pihak ayah. Kami melakukan penyelidikan rutin atas latar belakang Adam Hall kemarin, dan kami melihat beberapa titik samar-samar. Aku menelepon FBI di Jackson, dan dalam dua jam mereka sudah mendapatkan banyak bukti tak langsung. Aku menanyainya langsung pagi ini dan dia mengaku. Kurasa dia tidak mencoba menyembunyikannya" "Tapi namanya berbeda." "Kisahnya panjang. Mereka tak pernah berjumpa sejak Adam masih balita. Ayahnya kabur meninggalkan negara bagian ini sesudah Sam ditahan karena pengeboman itu. Pindah ke Barat, ganti nama, bergelandangan, keluar-masuk kerja. Kedengarannya seperti pecundang sejati. Bunuh diri pada tahun 1981. Tapi Adam masuk college dan mendapat nilai sempurna. Kuliah hukum di Michigan, salah satu sekolah top ten, dan jadi editor buletin hukum. Bergabung dengan sobat-sobat kita di Kravitz & Bane, dan dia muncul pagi ini untuk reuni dengan kakeknya."

Naifeh sekarang menggaruk rambutnya dengan dua tangan dan menggelengkan kepala. "Sungguh hebat. Sepertinya kita butuh publisitas lebih banyak. Lebih banyak lagi reporter idiot pertanyaan tolol."

"Mereka sedang bertemu sekarang. Kuperkira-kan Sam akan setuju membiarkan bocah itu mewakilinya. Aku sungguh berharap demikian. Kita tak pernah mengeksekusi narapidana tanpa pengacara."

"Kita mestinya mengeksekusi para pengacara tanpa narapidana," kata Naifeh dengan senyum dipaksakan. Kebenciannya terhadap pengacara sudah melegenda, dan Lucas tidak keberatan. Ia mengerti. Ia pernah memperkirakan Phillip Naifeh adalah orang yang paling banyak dijadikan tergugat dalam perkara pengadilan daripada siapa pun dalam sejarah negara bagian itu. Ia berhak membenci pengacara.

"Sembilan belas bulan lagi aku akan pensiun," kata Naifeh, seolah-olah Lucas tak pernah mendengar hal ini. "Siapa yang berikutnya sesudah Sam?"

Lucas berpikir sejenak dan mencoba mengurutkan berbagai pengajuan banding dari 47 terpidana mati. "Tak ada siapa-siapa. Si Pizza Man nyaris dieksekusi empat bulan yang lalu, tapi dia mendapatkan penundaan. Mungkin masa penundaannya akan habis sekitar satu tahun, tapi ada masalah lain dengan kasusnya. Aku tak melihat akan ada eksekusi dalam beberapa tahun mendatang."

"Pizza Man? Siapa dia?" .

"Malcolm Friar. Membunuh tiga pengantar pizza dalam seminggu. Dalam sidang dia mengatperampokan bukanlah motifnya. Katanya dia cxunjj lapar."

Naifeh mengangkat dua tangannya dan meag. angguk. "Oke, oke, aku ingat. Dia urutan berikut sesudah Sam?" "Mungkin. Sulit dikatakan." "Aku tahu." Naifeh pelan-pelan beringsut menjauh dari meja dan berjalan ke jendela. Sepatunya ada di bawah meja. Ia memasukkan tangan ke dalam saku, menekankan jari kaki ke karpet, dan berpikir keras beberapa saat. Setelah eksekusi terakhir, ia masuk rumah sakit. Menurut dokternya ¦ karena serangan jantung ringan. Satu rninggu ia habiskan di ranjang rumah sakit sambil mengawasi debar jantungnya pada monitor, dan berjanji pada t istrinya takkan pernah menanggung penderitaan f menyaksikan eksekusi lain. Seandainya ia bisa bertahan hidup sesudah eksekusi Sam, ia dapat berhenti dengan pensiun penuh.

Ia berbalik dan menatap Lucas Mann sahabatnya. "Aku takkan melakukan yang ini, Lucas. Akan kuserahkan tanggung jawabku pada orang lain, salah satu bawahanku, orang yang lebih muda, orang baik yang dapat dipercaya, orang yang belum pernah menyaksikan pertunjukan ini, orang yang gatal mendapatkan percikan darah di tangannya." "Bukan Nugent."

"Itulah orangnya. Kolonel Purnawirawan George Nugent, asistenku yang terpercaya." "Dia orang eila S

"Ya, tapi dia orang kita, Lucas. Dia fanatik dalam menangani detail, disiplin, organisasi, persetan, dia pilihan sempurna. Kuberikan buku panduan padanya, kuceritakan apa yang kuinginkan, dan dia akan melaksanakan tugas membunuh Sam Cayhall dengan baik. Dia pilihan yang sempurna."

George Nugent adalah asisten Kepala Penjara Pare timan. Ia mendapat nama karena mengelola pelatihan paling berhasil untuk narapidana dengan pelanggaran pertama. Program itu berapa latihan berat selama enam minggu yang brutal. Nugent berjalan mondar-mandir dengan lars hitam, mencaci maki habis-habisan bagaikan instruktur tentara, dan mengancam pemerkosaan beramai-ramai atas pelanggaran terkecil sekalipun. Para narapidana yang pertama kali melakukan tindak kejahatan itu jarang kembali ke Parchman.

"Nugent itu gila, Phillip. Tinggal menghitung waktu saja sebelum dia melukai orang."

"Benar! Sekarang kau mengerti. Kita akan biarkan dia melukai Sam, tepat seperti seharusnya. Sesuai buku. Tuhan tahu betapa cintanya Nugent pada buku petunjuk yang harus diikuti. Dia pilihan yang sempurna, Lucas. Eksekusi itu akan berjalan mulus tanpa cacat."

Itu sama sekali tak banyak artinya bagi Lucas. Ia mengangkat pundak, dan berkata, "Kaulah bosnya."

"Terima kasih," kata Naifeh. "Tapi awasi Nugent, oke? Aku mengawasinya dari sisi ini, dan' kau mengawasi segi hukumnya. Kita akan berhasil,""Ini akan jadi yang terbesar," kata Lucas. "Aku tahu. Aku harus bergegas. Aku sudah tua."

Lucas mengumpulkan berkas-berkasnya dari meja dan beranjak ke pintu. "Aku akan meneleponmu sesudah bocah itu pergi. Dia seharusnya menemuiku sebelum pergi."

"Aku ingin bertemu dengannya, "kata Naifeh.

"Dia bocah yang menyenangkan."

"Keluarga hebat, ya?"

Si bocah yang menyenangkan dan kakeknya yang terpidana menghabiskan lima belas menit tanpa bicara; satu-satunya suara dalam mangan itu adalah bunyi gemeretak resah AC yang bekerja teriaki keras. Pada suatu titik, Adam berjalan ke dinding dan mengebaskan tangan di depan lubang angin berdebu itu. Terasa ada sedikit embusan angin sejuk. Ia bersandar pada counter dengan tangan terlipat dan menatap pintu, sejauh mungkin dari Sam. Ia sedang bersandar dan menatap ketika pin-tu itu terbuka dan kepala Sersan Packer muncul Cuma memeriksa apakah segalanya beres, katanya i sambil melirik Adam, lalu ke seberang mangan di balik kisi-kisi, pada Sam yang membungkuk ke depan di kursinya dengan satu tangan menutupi. wajah.

"Kami baik-baik saja," kata Adam tidak begitu yakin.

"Bagus, bagus," kata Packer dan cepat-cepa'

menutup pintu. Pintu itu terkunci, dan Adam perlahan-lahan berjalan kembali ke kursinya. Ia menariknya dekat ke kisi-kisi dan bertelekan siku. Sam tak menghiraukannya selama satu-dua menit, lalu menyeka mata dengan lengan kemeja dan duduk. Mereka saling pandang.

"Kita perlu bicara," kata Adam pelan.

Sam mengangguk, tapi tak mengucapkan apa-apa. Ia kembali menyeka mata, kali ini dengan lengan satunya. Ia mencabut sebatang rokok dan meletakkannya di antara bibir. Tangannya bergetar ketika menyalakan korek. Ia menyedot rokok dengan cepat.

"Jadi, kau benar-benar Alan," katanya dengan

suara rendah parau.

"Suatu ketika dulu, kurasa. Aku tidak mengetahuinya sampai ayahku meninggal." •

"Kau lahir tahun 1964?"

"Benar."

"Cucu pertamaku?"

Adam mengangguk dan melengos.

"Kau menghilang tahun 1967."

"Kurang-lebih begitu. Aku tidak ingat, kau tahu. Memori pertamaku adalah dari California."

"Kudengar Eddie pergi ke California, dan di sana punya satu anak lagi. Sesudah itu, seseorang bercerita padaku nama anak keduanya Carmen. Selama bertahun-tahun ini aku mendengar sedikit-sedikit dan sepotong-sepotong, tahu kalian semuaada di California Selatan, tapi dia benar-be^ menghilang dengan mulus."

"Kami berpindah-pindah ketika aku masih anak anak. Kurasa dia punya kesulitan dalam menjper. tahankan pekerjaan."

"Kau tadinya tidak tahu tentang aku?" * "Tidak. Keluargaku tak pernah menyebutkannya, Aku tahu tentang hal ini sesudah penguburannya."

"Siapa yang menceritakannya?"

"Lee."

Sejenak Sam memejamkan mata rapat-rapat, lab kembali menyedot rokok. "Bagaimana keadaan-aya?"

"Baik-baik saja, kurasa."

"Mengapa kau bekerja untuk Kravitz & Bane?" '

"Itu biro hukum yang bagus."

"Apa kau tahu mereka mewakiliku?"

"Ya."

"Jadi, kau sudah merencanakan ini?" "Sekitar lima tahun." "Tapi kenapa?" "Entahlah."

"Kau pasti punya alasan." "Alasannya jelas. Kau kakekku, oke? Suka atau f tidak, kau adalah kau dan aku adalah aku. Se-karang aku ada di sini, jadi apa yang akan kita I lakukan?" "Kurasa kau harus pergi." "Aku takkan pergi, Sam. Sudah lama aku ber- | siap untuk ini."

"Bersiap untuk apa?"

"Kau butuh pengacara. Kau butuh bantuan. Itu

sebabnya aku ada di sini."

"Aku sudah tak bisa ditolong. Mereka sudah bertekad akan membunuhku dengan gas, oke? Karena banyak alasan. Kau tak perlu terlibat dalam hal ini."

"Mengapa tidak?"

"Ah, pertama, karena sudah tak ada harapan. Kau akan menderita kalau jungkir balik dan gagal. Kedua, identitas aslimu akan terungkap. Itu akan sangat memalukan. Hidupmu akan jauh lebih baik kalau kau tetap Adam Hall."

"Aku Adam Hall, dan aku tak punya rencana mengubahnya. Aku pun cucumu, dan kita tak bisa mengubahnya, bukan? Jadi, apa yang menghebohkan?"

"Ini akan memalukan bagi keluargamu. Eddie sudah melindungimu dengan baik. Jangan mengacaukannya."

"Penyamaranku sudah terungkap. Biro hukumku sudah tahu. Aku bercerita pada Lucas Mann dan..."

"Bangsat itu akan bercerita pada semua orang. Jangan semenit pun mempercayainya."

"Dengar, Sam, kau tak mengerti. Aku tak peduli kalau dia mau bercerita. Aku tak peduli kalau dunia tahu aku cucumu. Aku sudah bosan dengan rahasia keluarga yang kotor ini. Aku sudah dewasa sekarang, aku bisa berpikir sendiri. Plus, akupengacara, dan kulitku mulai tebal. Aku bisa nanganinya."

Sam sedikit rileks di kursinya dan memandang lantai dengan senyum menyenangkan, semacam se. nyum yang kerap dilontarkan orang dewasa pada anak kecil yang berlagak lebih besar dari usianya, Ia menggumamkan sesuatu dan dengan sangat perlahan-lahan menganggukkan kepala "Kau tidal mengerti, Nak," katanya lagi, sekarang dengan nada sabar, terkontrol. "Jadi, jelaskan padaku," kata Adam. "Itu akan butuh waktu lama." "II "Kita punya empat minggu. Kau bisa bicara | banyak dalam empat minggu." "Tepatnya apa yang ingin kaudengar?" Adam membungkuk lebih dekat lagi, bertopang siku, pena dan buku tulisnya siap. Matanya hanya beberapa senti dari lubang di kisi-kisi itu. "Per- | tama, aku ingin bicara tentang kasus ini—pengajuan banding, strategi, sidangnya, pengeboman itu, siapa bersamamu malam itu..." "Tak ada siapa pun bersamaku malam itu." "Kita bisa bicara tentang hal itu nanti." "Kita membicarakannya sekarang. Aku sendiri, kaudengar?"

"Oke. Kedua, aku ingin tahu tentang keluargaku." "Mengapa?"

"Mengapa tidak? Mengapa membiarkannya tenis terkubur? Aku ingin tahu tentang ayahku dan

ayahnya, saudara-saudaramu dan sepupu-sepupu-mu. Aku mungkin tidak menyukai orang-orang ini bila semuanya selesai, tapi aku punya hak untuk tahu tentang mereka. Seumur hidup hakku untuk mengetahui informasi ini telah dirampas, dan aku ingin tahu."

"Tak ada yang luar biasa."

"Oh, benarkah? Nah, Sam, kupikir luar biasa sekali bahwa kau berhasil sampai ke penjara ini. Ini masyarakat yang cukup eksklusif. Masukkan fakta kau kulit putih, kelas menengah, hampir tujuh puluh tahun, dan masalah ini jadi lebih luar biasa lagi. Aku ingin tahu bagaimana dan mengapa kau sampai di sini. Apa yang membuatmu melakukan hal-hal itu? Berapa orang dalam keluargaku yang jadi anggota Klan? Dan mengapa? Berapa banyak orang lain yang terbunuh selama itu?"

"Dan kaupikir aku akan menumpahkan isi perutku begitu saja?"

"Yeah, kurasa begitu. Kau akan melakukannya. Aku cucumu, Sam, satu-satunya sanak yang hidup, bernapas, dan masih peduli padamu. Kau akan bicara, Sam. Kau akan bicara padaku."

"Nah, karena aku akan begitu banyak bicara, apa lagi yang akan kita bicarakan?"

"Eddie."

Sam menghela napas panjang dan memejamkan mata. "Kau tak tahu banyak, bukan?" katanya pelan. Adam mencoret-coretkan sesuatu yang tak

bermakna di buku tulis.Sekarang tiba saatnya untuk ritual menyalakan rokok lagi, dan Sam melakukannya dengan lebih sabar dan hati-hati. Gumpalan asap biru bergabung dengan kabut yang sudah tergantung di atas kepala mereka. Tangannya kembali mantap. "Bila kita sudah selesai dengan Eddie, siapa lagi yang ingin kaubicarakan?"

"Aku tidak tahu. Cerita itu akan menyibukkan kita selama empat minggu." "Kapan kita bicara tentang dirimu?" "Kapan saja." Adam merogoh ke dalam tas dan mengambil sebuah berkas tipis. Ia mengangsurkan kertas dan pena melalui lubang. "Ini perjanjian untuk mewakili kepentingan hukummu. Tanda tanganilah di bagian bawah."

Tanpa menyentuhnya, Sam membaca dari ke- I jauhan. "Jadi, aku memakai Kravitz & Bane lagi?" I "Kurang-lebih."

"Apa maksudmu, kurang-lebih? Di sini dikatakan aku setuju membiarkan Yahudi-Yahudi ini f mewakiliku lagi. Aku butuh waktu lama untuk memecat mereka, padahal... persetan, aku tidak membayar mereka." — "Ini perjanjian denganku, Sam, oke? Kau takkan pernah melihat orang-orang itu, kecuali kau menginginkannya." "Aku tidak ingin."

"Baik. Aku kebetulan bekerja untuk biro hukum itu, maka perjanjian ini hams dibuat dengan biro hukum tersebut. Gampang."

196

"Ah, optimisme orang muda. Segalanya gampang. Di sinilah aku, duduk tak lebih tiga puluh meter dari kamar gas, jam berdetak di dinding sana,

makin keras dan keras, dan segalanya mudah." "Tanda tangani saja dokumen sialan ini, Sam." "Lalu apa?"

"Lalu kita mulai bekerja. Secara hukum, aku tak bisa berbuat apa pun sampai kita punya perjanjian. Kautandatangani surat ini, kita mulai bekerja."

"Dan apa tugas pertama yang ingin kauker-

jakan?"

"Mengupas pengeboman Kramer, perlahan-lahan, selangkah demi selangkah."

"Itu sudah ribuan kali dilakukan."

"Kita akan melakukannya lagi. Aku punya buku catatan tebal penuh dengan pertanyaan."

"Semuanya sudah pernah ditanyakan."

"Yeah, Sam, tapi pertanyaan itu belum dijawab, bukan?"

Sam menancapkan filter di antara bibirnya. "Dan pertanyaan-pertanyaan itu belum kutanyakan, bukan?" "Kaupikir aku bohong?" "Kau bohong?" "Tidak."

"Tapi kau belum menceritakan kisah seutuhnya,

bukan?"

"Apa bedanya, Pengacara? Kau sudah baca kasus Bateman."

197"Yeah. Aku sudah menghafalkan kasus Batt. man. dan ada sejumlah kelemahan di dalamnya."

"Khas pengacara."

"Kalau ada buku baru. selalu ada cara untuk mengajukannya. .Yang kita lakukan, Sam, adalah berusaha menciptakan cukup kebingungan sampai seorang hakim entah di mana berpikir dua kali Kemudian tiga kali. Kemudian dia akan memberikan penundaan agar bisa belajar lebih banyak.'

"Aku tahu bagaimana permainan ini dimainkan Nak."

"Adam oke? Namaku Adam."

"Yeah, dan panggil saja aku Kakek. Kurasa kas merencanakan mengajukan banding kepada Gubernur?"

"Ya"

Sam bergeser ke depan di kursinya dan bergerak dekat ke kisi-kisi. Dengan telunjuk kanan u mulai menuding satu titik di tengah hidung Adam Wajahnya mendadak kasar, matanya menyipit "Dengar aku, Adam," ia menggeram, jarinya n» nunjuk maju-mundur. "Kalau aku menandatangani surat ini, kau sama sekali tak boleh bicara dengan bangsat itu. Sama sekali tidak. Kau mengerti?"

Adam mengawasi jari itu, tapi tak mengatakan apa-apa

Sam memutuskan meneruskan, "Dia bajingan berhati palsu. Dia culas, keji, benar-benar korup-dan sepenuhnya mampu menyembunyikannya * ngan senyum manis dan potongan rambut w

Dialah alasan satu-satunya aku mendekam dalam penjara ini. Kalau kau menghubunginya dengan cara apa pun, kau tidak akan menjadi pengacaraku

tagi."

"Jadi, aku sekarang pengacaramu."

Jari itu turun dan Sam rileks sedikit. "Oh. aku mungkin akan memberimu kesempatan, membiarkanmu berlatih denganku. Kau tahu, Adam, profesi hukum benar-benar busuk. Seandainya aku orang bebas, cuma berusaha cari nafkah, mengurus urusan sendiri, membayar pajak, mematuhi hukum dan lain-lain, aku takkan bisa menemukan seorang pengacara pun yang mau meluangkan waktu untuk bicara denganku, kecuali aku punya uang. Tapi di sinilah aku, pembunuh yang sudah dipidana, di-vonis mati, tak punya uang sepeser pun, tapi segala macam pengacara dari seluruh penjuru negeri memohon-mohon untuk mewakili aku. Pengacara-pengacara besar, kaya raya, dengan nama panjang yang dimulai dengan singkatan dan diikuti dengan angka, pengacara-pengacara tersohor dengan pesawat jet pribadi dan acara televisi sendiri. Bisakah kau menerangkan hal ini?"

"Tentu saja tidak. Dan aku pun tak peduli."

"Kau masuk dalam profesi gila."

"Sebagian besar pengacara-pengacara itu jujur dan bekerja keras."

"Tentu. Dan sebagian besar temanku dalam penjara ini akan jadi pendeta dan misionaris seandainya mereka tidak keliru dipidana."

Ebook ini discan oleh otoy untuk dimhad mohon jangan diperjual belikan,dianjurkan/dimohon untuk membeli buku slinya"Gubernur kemungkinan akan menjadi peluang terakhir kita." '4Hp-'

"Kalau begitu, lebih baik mereka mengegas aku sekarang. Bangsat congkak itu mungkin ingin menyaksikan eksekusiku, lalu akan mengadakan jum. pa pers dan menceritakan kembali setiap detail kepada dunia. Dia cacing tak bertulang yang berhasil sampai sejauh ini karena aku. Dan kalau bisa memerahku lagi. beberapa kali dia akan melakukannya. Jauhilah dia." -"Kita bisa membicarakannya nanti." "Kita sekarang sedang membicarakannya, kurasa. Kau harus berjanji dulu sebelum aku menandatangani surat ini." Pfe-*^ "Ada syarat lain?"

"Yeah. Aku ingin sesuatu ditambahkan di sini, sehingga bila aku memutuskan memecatmu lagi, kau dan biro hukummu takkan menentangku. Itu tentu mudah." "Coba kulihat."

Surat perjanjian itu sekali lagi disodorkan melalui lubang, dan Adam mencetak satu alinea yang rapi di bawahnya. Ia mengangsurkannya kembali pada Sam, yang membacanya perlahan-lahan dan meletakkannya di atas counter.

"Kau tidak menandatanganinya," kata Adam.

"Aku masih berpikir."

"Boleh kuajukan beberapa pertanyaan sementara kau berpikir?"

"Kau boleh bertanya."

"D» mana kau belajar menangani bahan peledak?" "Di sanVsuu."

"Sedikitnya ada lima pengeboman sebelum Kramer, semuanya dengan tipe yang sama, semuanya sangat sederhana—dinamit, penutup, sumbu. Kramer, tentu saja, berbeda, sebab di situ dipakai alat pengatur waktu. Siapa yang mengajarimu cara mempergunakan bom?"

"Pernahkah kau menyalakan petasan?"

"Tentu."

"Prinsipnya sama. Korek api disulutkan. pada sumbu, lari sekencang-kencangnya, dan... bum."

"Alat pengatur waktu itu sedikit lebih rumit. Siapa yang mengajarkan cara merakitnya?"

"Ibuku. Kapan rencanamu kembali ke sini?"

"Besok."

"Bagus. Inilah yang akan kita' lakukan. Aku butuh waktu untuk memikirkan hal ini. Aku tak ingin bicara sekarang juga, dan jelas aku tak ingin menjawab pertanyaan. Coba kupelajari dulu dokumen ini, membuat beberapa perubahan, dan kita akan bertemu lagi besok." "Itu membuang-buang waktu." "Aku sudah menyia-nyiakan hampir sepuluh tahun di sini. Apa arti sehari lagi?"

"Mereka mungkin tidak mengizinkanku kembali kalau secara resmi aku tidak me wakili mu. Kunjungan ini adalah jasa baik mereka." "Orang-orang yang hebat, bukan? Katakan pada

201mereka kau pengacaraku selama 24 jam beriku,

Mereka akan membiarkanmu masuk." "Ada banyak hal yang harus kita bahas, San,

Aku ingin segera mulai."

"Aku perlu berpikir, oke? Bila kau menghabis, kan waktu sendirian selama sembilan tahun lebih kau jadi benar-benar pandai dalam berpikir dan menganalisis. Tapi kau tak bisa melakukannya dengan cepat, mengerti? Butuh waktu lebih lama untuk memilah-milah berbagai hal dan mengurut-kannya. Saat ini rasanya aku berputar-putar, kau tahu? Kau memberiku pukulan keras."

"Oke."

"Aku akan lebih baik besok. Kita bisa bicara. Aku janji*

"Baiklah." Adam memasang tutup pena dan menyelipkannya ke dalam saku. Dimasukkannya berkas tadi ke dalam tas, dan ia bersantai di kursinya. "Aku akan tinggal di Memphis selama beberapa bulan berikut ini." "Memphis? Kukira kau tinggal di Chicago." "Kami punya kantor kecil di Memphis. Aku akan bekerja di sana. Nomor teleponnya tercantum pada kartu. Silakan menelepon kapan saja." "Apa yang terjadi bila urusan ini selesai?" "Entahlah. Mungkin aku kembali ke Chicago." "Kau sudah menikah?" "Belum," "Carmen?" "Belum"

"Bagaimana tampangnya?"

Adam melipat tangan di belakang kepala dan memperhatikan kabut tipis di atas mereka. "Dia sangat cerdas. Sangat cantik. Sangat mirip ibunya."

"Evelyn dulu gadis yang cantik."

"Dia masih cantik."

"Kupikir Eddie beruntung mendapatkannya. Tapi aku tak menyukai keluarganya."

Dan ia pun pasti tak menyukai keluarga Eddie, pikir Adam. Dagu Sam turun sampai hampir ke dadanya. Ia menggosok mata dan mencubit pangkal hidung. "Urusan keluarga ini akan perlu banyak kerja, bukan?" katanya tanpa memandang.

"Ya."

"Aku mungkin tak bisa membicarakan beberapa hal"

"Ya, kau akan bicara. Kau berutang padaku, Sam. Dan pada dirimu sendiri."

"Kau tak tahu apa yang kaukatakan, dan kau tak ingin mengetahui semuanya." "Coba saja. Aku sudah muak dengan rahasia." "Mengapa kau ingin tahu begitu banyak?" "Supaya aku bisa mengerti dan mencoba menalarnya." "Itu hanya buang-buang waktu." "Aku yang harus memutuskan hal itu, bukan?" Sam meletakkan tangan pada lutut dan perlahan-lahan berdiri. Ia menarik napas dalam dan memandang Adam melalui kisi-kisi. "Aku mau pergi sekarang."Mata mereka bertemu melalui lubang..],^ cil pada partisi itu. "Baiklah," kata Adam^ * kah sesuatu yang bisa kubawakan?" ' M

?Tidak ada. Kembalilah saja."

"Aku janji."

204

SEBELAS

packer menutup pintu dan menguncinya, dan mereka bersama-sama melangkah dari naungan sempit di luar mang pertemuan ke bawah sinar matahari siang yang membutakan mata. Adam memejamkan mata dan berhenti sedetik, lalu me-rogoh-rogoh saku, sia-sia mencari kacamata hitam. Packer menunggu dengan sabar, matanya tertutup kacamata Ray-Ban imitasi yang tebal, wajahnya terlindung tepian topi resmi Parchman. Udara mencekik dan nyaris dapat dilihat. Keringat langsung menutupi lengan dan wajah Adam ketika akhirnya ia menemukan kacamata hitam dalam tas dan memakainya. Ia mengernyit dan meringis, dan begitu bisa melihat ia mengikuti Packer menyusuri jalan setapak dari bata dan rumput kering di depan unit tersebut.

"Sam baik-baik saja?" tanya Packer. Tangannya ^ dalam saku dan ia tidak tergesa-gesa. ^Kurasa begitulah." "Kau lapar?"

205Tidak," jawab Adam sambil melirik jam & ngannya. Saat itu hampir pukul 13.00. Ia tak pastj apakah Packer menawarkan makanan penjara atau lainnya, tapi ia tak mau ambil risiko.

"Sayang. Hari ini Rabu, itu berarti turnip greens dan roti jagung. Lezat sekali."

Terima kasih." Adam yakin jauh di dalam gennya ia mestinya merindukan turnip greens dan roti jagung. Menu hari ini seharusnya membuat liurnya menetes dan perutnya berontak. Namun ia menganggap dirinya orang California, dan seingatnya ia belum pernah melihat turnip greens. "Mungkin, minggu depan," katanya, nyaris tak percaya ia ditawari makanan di The Row.

Mereka sampai di gerbang ganda pertama. Sewaktu gerbang itu terbuka, Packer, tanpa mengeluarkan tangan dari saku, berkata, "Kapan kau kembali?" "Besok." "Secepat itu?"

"Yeah. Aku akan berada di sini beberapa lama."

"Nah, senang bertemu denganmu." Ia tersenyum lebar dan berjalan pergi.

Sewaktu Adam berjalan melewati gerbang kedua, ember merah itu turun. Ember itu berhenti hampir satu meter dari tanah, dan ia mengaduk-aduk kumpulan kunci di bagian bawah sampai, menemukan kuncinya. Ia tak pernah menengadah memandang penjaga. Sebuah mini-van patih dengan tulisan-tulisan

resmi pada pintu dan sisinya sedang menunggu di samping mobil Adam. Jendela pengemudinya terbuka dan Lucas Mann melongok ke luar. "Apa

kau tergesa-gesa?" Adam kembali melirik jam tangannya. "Tidak." "Bagus. Masuklah. Aku perlu bicara denganmu.

Kita akan melihat-lihat tempat ini sebentar."

Adam tak ingin melihat-lihat tempat ini, tapi toh ia merencanakan mampir ke kantor Mann. Ia membuka pintu penumpang serta melemparkan jas dan koper ke jok belakang. Syukurlah AC-nya bekerja sempurna. Lucas, bersih dan masih rapi, tampak aneh duduk di belakang kemudi mini-vatt. Ia meluncur meninggalkan MSU dan menuju jalan utama.

"Bagaimana urusanmu?" tanyanya. Adam mencoba mengingat secara tepat uraian Sam tentang Lucas Mann. Garis besarnya, ia tak dapat dipercaya.

"Oke, kurasa," jawabnya, samar-samar waspada.

"Apa kau akan mewakilinya?"

"Kurasa begitu. Dia ingin memikirkannya malam ini. Dan dia ingin menemuiku besok."

"Tak ada masalah, tapi kau perlu mendapatkannya sebagai klien besok. Kami butuh surat kuasa tertulis darinya."

"Aku akan mendapatkannya besok. Akan ke mana kita?" Mereka berbelok ke kiri dan meninggalkan bagian depan penjara. Mereka melewati rumah-rumah putih terakhir dengan pohon-pohon

207rindang dan rumpun bunga, dan sekarang mereka bermobil di tengah ladang kapas dan kacang yang membentang tak terhingga.

"Tak ada tujuan khusus. Cuma kukira kau mungkin ingin melihat sebagian tanah pertanian kami. Kita perlu membahas beberapa hal."

"Aku mendengarkan."

"Keputusan dari Fifth Circuit disampaikan men; jelang siang, dan kita sedikitnya sudah menerima tiga telepon dari wartawan. Mereka mencium bau darah, tentu saja, dan mereka ingin tahu apakah ini akan menjadi akhir riwayat Sam. Aku kenal beberapa dari orang-orang ini, pernah berurusan dengan mereka pada eksekusi lain. Beberapa di antaranya orang-orang yang menyenangkan, sebagian besar bangsat yang memuakkan. Tapi bagaimanapun juga, mereka semua bertanya tentang Sam dan apakah dia punya pengacara atau tidak. Apakah dia akan mewakili diri sendiri sampai saat terakhir? Kau tahu, sampah macam itulah."

Di ladang sebelah kanan ada sekelompok besar narapidana bercelana putih dan tanpa kemeja. Mereka bekerja menggarap ladang itu dan berkeringat hebat, punggung dan dada mereka basah kuyup serta berkilauan di bawah matahari yang membakar. Seorang penjaga di atas kuda mengawasi mereka dengan sepucuk senapan. "Apa kerja orang-orang itu?" tanya Adam. "Memotong kapas." jjw

"Apakah mereka diharuskan bekerja?"

208

"Tidak. Semua sukarela. Pilihannya adalah bekerja atau duduk dalam sel sepanjang hari."

"Mereka memakai seragam putih. Sam pakai yang merah. Aku melihat satu kelompok di tepi jalan raya memakai seragam biru."

"Itu bagian dari sistem klasifikasi di sini. Putih berarti orang-orang ini berisiko rendah."

"Apa kejahatan mereka?"

"Segala macam. Obat bius, pembunuhan, pelanggaran berulang, sebutkan saja. Tapi perilaku mereka baik sejak mereka di sini, jadi mereka memakai seragam putih dan diperbolehkan bekerja."

Mini-van itu berbelok pada sebuah persimpangan, dan pagar serta kawat duri kembali terlihat Di sebelah kiri ada sederet barak modern dibangun dalam dua tingkat dan bercabang ke segala penjuru dari sebuah poros. Kalau bukan karena kawat duri dan menara jaga, unit itu bisa disangka asrama sekolah yang dirancang buruk. "Apa itu?" tanya Adam, menunjuk.

"Unit 30."

"Ada berapa unit di sana?" "Aku tak tahu pasti. Kami terus membangun dan meruntuhkan. Sekitar tiga puluh." . "Itu tampak baru."

"Oh ya Selama hampir dua puluh tahun kami selalu mendapat masalah dari pengadilan federal, jadi kami banyak membangun. Bukan rahasia lagi kepala penjara sebenarnya di tempat ini adalah hakim federal." '

209"Bisakah reporter-reporter ku menunggu sarnpaj besok? Aku perlu melihat dulu apa yang dipikjp. kan Sam. Aku tak suka bicara dengan merely sekarang, dan kemudian urusan ternyata jadi tidal; beres besok."

"Kurasa aku bisa menunda mereka satu hari. Tapi mereka takkan menunggu lama."

Mereka melewati menara jaga terakhir dan Unit 30 menghilang. Mereka bermobil sedikitnya dua mil sebelum kawat duri mengilat dari unit lain mengintip di atas ladang.

"Aku bicara dengan kepala penjara ini, sesudah kau tiba di sini," kata Lucas. "Katanya dia ingin bertemu denganmu. Kau akan menyukainya. Dia benci eksekusi, kau tahu. Dia berharap bisa pensiun dua tahun lagi tanpa perlu melaksanakan eksekusi lagi, tapi sekarang kelihatannya meragukan."

"Coba kutebak. Dia cuma melaksanakan tugas, benar?"

"Kami semua melaksanakan tugas di sini." "Itulah yang kumaksud. Aku mendapat kesan xtiap orang di sini ingin menepuk punggungku dan bicara dengan suara sedih tentang apa yang akan terjadi pada Sam tua yang malang. Tak seorang pun ingin membunuhnya, tapi kalian semua cuma melaksanakan tugas."

"Ada banyak orang yang menginginkan kemati-an Sam." "Siapa7"

"Gubernur dan Jaksa Agung. Aku yakin kau

sudah tahu tantang Gubernur, tapi yang perlu kauwaspadai adalah Jaksa Agung. Dia, sudah tentu, ingin jadi gubernur suatu ketika kelak. Karena suatu alasan, di negara bagian ini kami memilih

politisi-politisi muda yang sangat ambisius dan tak bisa duduk diam-" "Namanya Roxburgh, benar?" "Itu dia. Dia suka kamera, dan kurasa akan ada jumpa pers dengannya siang ini. Kalau beranggapan benar dia akan memikul tanggung jawab penuh atas kemenangan di Fifth Circuit, dan menjanjikan usaha sungguh-sungguh untuk mengeksekusi Sam dalam empat minggu. Kantornya mengurusi masalah-masalah ini, kau tahu. Dan takkan mengejutkan bagiku kalau sang Gubernur sendiri tidak muncul dalam berita malam dengan satu-dua komentar. Maksudku begini, Adam, akan ada tekanan besar dari atas untuk memastikan takkan ada lagi penundaan. Mereka menginginkan Sam mati demi keuntungan politis mereka sendiri. Mereka akan memerah segala yang bisa mereka dapatkan."

Adam mengamati penjara berikutnya sewaktu mereka lewat. Di lantai beton di antara dua bangunan, permainan basket sedang berlangsung de* ngan kekuatan penuh dan dimainkan oleh sedikitnya selusin pemain pada masing-masing sisi. Semuanya berkulit hitam. Di samping lapangan, sederet barbel sedang diangkat dan ditarik beberapa atlet angkat berat. Adam melihat ada beberapa orang kulit putih.

211Lucas berbelok ke jalan lain. "Ada satu alasan lagi," ia meneruskan. "Louisiana membunuh kiri. kanan. Texas tahun ini sudah mengeksekusi enam orang. Florida, lima. Kita tak pernah melaksanakan eksekusi selama dua tahun lebih. Kita terlalu lamban, demikian kata beberapa orang. Sekaranglah saatnya memperlihatkan pada negara bagian lain bahwa kita sama seriusnya dengan mereka dalam melaksanakan pemerintahan yang baik. Baru ming-gu lalu sebuah komite legislatif di Jackson mengadakan dengar pendapat tentang masalah ini. Ada berbagai macam pernyataan gusar dikemukakan oleh pemimpin-pemimpin kita tentang penundaan yang tak ada habisnya dalam urusan ini. Tidak mengejutkan bila disepakati bahwa pihak pengadilan federallah yang hams dipersalahkan. Ada banyak tekanan untuk membunuh orang. Dan Sam kebetulan mendapat giliran berikut." "Siapa sesudah Sam?"

Tak ada siapa-siapa. Bisa makan waktu dua tahun sebelum kita sampai sedekat ini lagi. Burung alap-alap sedang terbang berputar putar." i

"Mengapa kau menceritakan ini padaku?" 1 *• "Aku bukan musuh, oke? Aku pengacara penjara ini, bukan mewakili Negara Bagian Mississippi. Dan kau belum pernah ke sini. Kupikir kau ingin tahu tentang hal-hal ini."

Terima kasih," kata Adam. Meskipun informasi tersebut tidak diminta, informasi itu memang bermanfaat.

212

"Aku akan membantu sebisaku."

Atap bangunan-bangunan itu bisa dilihat di kaki langit. "Apakah itu bagian depan penjara?" tanya Adam.

"Ya."

"Aku mau pergi sekarang."

Kantor Kravitz & Bane di Memphis menempati dua lantai gedung Brinkley Plaza, sebuah bangunan besar 1920-an di sudut antara Main dan Monroe di pusat kota. Main Street juga dikenal sebagai Mid-America Mall. Mobil dan truk dilarang masuk ketika kota itu berusaha menghidupkan kembali pusatnya dan mengganti aspal dengan lantai keramik, air mancur, dan pohon-pohon dekoratif. Cuma lalu lintas pejalan kaki diperbolehkan di Mali itu. «.

Gedung itu sendiri dihidupkan kembali dan diperbaharui dengan penuh gaya. Lobi utamanya terbuat dari marmer dan kuningan. Kantor K&B luas dan didekorasi indah dengan barang antik dan panel-panel kayu ek serta permadani Persia.

Adam diantar seorang sekretaris muda yang menarik ke kantor sudut milik Baker Cooley, sang partner pelaksana Mereka berkenalan, berjabat tangan, dan mengamati si sekretaris saat ia meninggalkan mangan .dan menutup pintu. Cooley melirik sedikit terlalu lama dan sepertinya menahan napas sampai pintu sepenuhnya tertutup dan pemandangan itu lenyap.

213"Selamat datang di Selatan," kata Cooley, akhir, nya mengembuskan napas dan duduk di kursi pu. tar mewah berjok kulit merah anggur.

"Terima kasih. Kurasa Anda sudah bicara dengan Gamer Goodman."

"Kemarin. Dua kali. Dia sudah memberitahu aku. Kita punya mang rapat kecil yang nyaman di ujung lorong ini, dilengkapi dengan telepon dan komputer. Ruangan itu luas. Tempat itu untukmu selama... selama kauperlukan."

Adam mengangguk dan memandang sekeliling kantor itu. Cooley berumur awal lima puluhan, seorang laki-laki rapi dengan meja kerja yang teratur dan mangan yang bersih. Ucapan dan tangannya cepat, dan rambutnya kelabu dengan lingkaran gelap di matanya, bagaikan akuntan yang kecapekan. "Pekerjaan macam *pa yang digarap di 81»?* tanya Adam.

'Tidak banyak perkara gugatan, dan pasti tak ada perkara pidana," ia menjawab cepat, seolah-olah pelaku kejahatan tak diizinkan menginjakkan kaki kotor mereka pada karpet tebal dan permadani indah di tempat itu. Adam ingat uraian Goodman tentang kantor cabang Memphis—sebuah biro hukum pajangan dengan dua belas pengacara cakap yang pembeliannya oleh Kravitz & Bane bertahun-tahun sebelumnya sekarang merupakan misteri. Namun alamat tambahan pada kepala surat kelihatan bagus.

"Kebanyakan urusan perusahaan," Cooley me-

neruskan. "Kami mewakili beberapa bank tema, dan kami banyak menggarap urusan obligasi untuk unit-unit pemerintah." Pekerjaan yang memesona, pikir Adam. "Biro hukum ini sendiri sudah berdiri selama 140 tahun, yang tertua di Memphis. Sudah ada sejak Perang Saudara. Firma ini pernah terpecah dan goyah beberapa kali, lalu bergabung dengan tokoh-tokoh di Chicago."

Cooley menceritakan kronik sejarah singkat itu dengan bangga, seolah-olah silsilah itu ada gunanya dalam praktek hukum tahun 1990.

"Berapa pengacara?" tanya Adam, mencoba mengisi kesenjangan percakapan yang mulai dengan lamban dan berlarut tanpa tujuan.

"Selusin. Sebelas paralegal. Sembilan asisten. Tujuh belas sekretaris. Sepuluh staf pendukung untuk berbagai macam pekerjaan. Bukan operasi yang jelek untuk tempat ini. Tapi memang tidak seperti Chicago."

Kau benar tentang itu, pikir Adam. "Aku sudah berharap akan berkunjung ke sini. Kuharap aku tidak mengganggu."

"Sama sekali tidak. Tapi aku khawatir kami takkan banyak membantu. Kami pengacara perusahaan, kap tahu, pekerja kantoran, banyak pekerjaan tulis-menulis dan semacamnya. Sudah dua puluh tahun aku tak pernah melihat ruang sidang."

"Tidak apa-apa. Mr. Goodman dan orang-orang di sana akan membantuku."Cooley bangkit berdiri dan menggosok-gosokkan tangan, seolah-olah tak tahu apa lagi yang harus mereka kerjakan. "Nah, uh, Darlene akan jadi sekretarismu. Sebenarnya dia bekerja melayani beberapa orang, tapi aku sudah menugaskannya untuk membantumu. Dia akan memberimu sebuah kunci, memberikan informasi tentang parkir, keamanan, telepon, mesin copy, pekerjaan. Semuanya modern. Benar-benar bagus. Kalau kau butuh paralegal, beritahu saja aku. Akan kita curikan dari salah satu partner, dan..." "Tidak, ini tidak perlu. Terima kasih." "Nah, kalau begitu, mari kita lihat kantormu." Adam mengikuti Cooley menyusuri gang yang kosong dan sunyi, dan tersenyum sendiri ketika memikirkan kantor-kantor di Chicago. Di sana lorong-lorongnya selalu penuh dengan pengacara yang terburu-buru dan sekretaris yang sibuk. Telepon berdering tak putus-putusnya; mesin copy, fax, dan interkom berbunyi dan berdengung, mencipta-kan suasana seperti pusat perbelanjaan di sana. Tempat itu seperti rumah sakit gila selama sepuluh jam tiap hari. Keheningan hanya bisa didapatkan dalam bilik-bilik di perpustakaan, atau mungkin di pojok-pojok gedung tempat para partner bekerja.

Tempat ini sesunyi rumah jenazah. Cooley mendorong sebuah pintu dan menekan tombol. "Bagaimana?" tanyanya, melambaikan tangan dalam lingkaran lebar. Ruangan itu lebih dari memadai, sebuah kantor yang panjang sempit dengan meja

indah berpelitur di tengahnya dan lima kursi pada masing-masing sisi. Di salah satu ujungnya telah diatur sebuah tempat kerja sementara dengan telepon, komputer, dan sebuah kursi eksekutif. Adam berjalan sepanjang meja, memandang rak-rak buku berisi buku-buku hukum yang rapi tapi tak terpakai. Ia mengintip melalui tirai jendela. "Pemandangan yang indah," katanya sambil memandang burung merpati dan orang-orang di Mali tiga lantai di bawah.

"Mudah-mudahan ini memadai," kata Cooley.

"Ini sangat bagus. Sangat memadai. Aku akan sibuk dengan urusanku dan takkan mengganggumu."

"Omong kosong. Kalau kau perlu sesuatu, telepon saja aku." Cooley berjalan perlahan-lahan menghampiri Adam. "Tapi ada satu hal," katanya dengan wajah yang mendadak serius.

Adam memandangnya. "Apa itu?"

"Beberapa jam yang lalu ada telepon dari seorang reporter di Memphis sini. Kami tidak kenal orang ini, tapi katanya dia sudah mengikuti kasus Cayhall selama bertahun-tahun. Ingin tahu apakah biro hukum kita masih menangani kasus ini, kau tahu. Kusarankan dia menghubungi orang-orang di Chicago. Kami, tentu saja, tak ada hubungannya dengan itu." Ia mencabut secarik kertas dari saku kemeja dan mengangsurkannya kepada Adam. Di situ tertulis sebuah nama dan nomor telepon. Cooley maju selangkah lebih dekat dan me-nyilangkan lengan di depan dada. "Dengar, Adam, kami bukan pengacara pembela di pengadilan, kau tahu. Kami menangani urusan hukum perusahaan. Uangnya besar. Kami tidak menonjolkan diri, dan kami menghindari publisitas, kau tahu."

Adam mengangguk perlahan-lahan, tapi tak mengucapkan apa pun.

"Kami tak pernah menyentuh kasus kriminal, apalagi yang sebesar ini." "Kau tak mau terperciki kotorannya, benar?" "Bukan itu maksudku. Sama sekali bukan. Tidak Cuma segalanya berbeda di sini. Ini bukan Chicago. Klien terbesar kami kebetulan bankir-bankir lama dan mantap, sudah memakai kami selama bertahun-tahun, dan... ah, kami cuma khawatir dengan citra kami. Kau tahu apa maksudku?" Tidak."

Tentu saja kau tahu. Kami tidak berurusan dengan penjahat, dan... ah, kami sangat sensitif dengan citra yang kami proyeksikan di Memphis sini."

"Kau tidak berurusan dengan penjahat?" "Tidak pernah."

Tapi kalian mewakili bank-bank besar?"

"Ayolah, Adam. Kau tahu dari mana asalku. Wilayah praktek kami berubah dengan cepat. Deregulasi, merger, kegagalan, suatu sektor hukum yang sungguh dinamis. Kompetisi di antara biro-biro hukum berlangsung keras, dan kami tak ingin

kehilangan klien. Ah, semua orang menginginkan bank."

"Dan kau tak ingin klienmu ternoda klienku?"

"Dengar, Adam, kau dari Chicago. Mari kita letakkan urusan ini pada tempatnya, oke? Ini kasus Chicago, ditangani orang-orang sana. Memphis tak ada sangkut paut dengannya, oke?"

"Kantor ini bagian dari Kravitz & Bane."

"Yeah, dan kantor ini tak memperoleh keuntungan apa pun berhubungan dengan sampah masyarakat seperti Sam Cay hall."

"Sam Cayhall adalah kakekku."

"Sialan!" Lutut Cooley terkunci dan lengannya terjatuh dari dada. "Kau bohong!"

Adam maju selangkah ke arahnya. "Aku tidak bohong, dan kalau keberatan dengan kehadiranku di sini kau perlu menelepon Chicago."

"Ini mengerikan," kata Cooley sambil melangkah mundur dan beranjak ke pintu.

"Teleponlah Chicago."

"Aku mungkin akan melakukannya," ia berkata, nyaris kepada diri sendiri, ketika ia membuka pintu dan menghilang sambil menggumamkan sesuatu.

Selamat datang di Memphis, kata Adam sambil duduk di kursi barunya dan menatap layar komputer yang kosong. Ia meletakkan potongan kertas tadi di meja dan melihat nama serta nomor telepon tersebut. Rasa lapar yang tajam menghunjam, dan disadarinya bahwa sudah berjam-jam ia belum ma-

oirvkari. Saat itu sudah hampir pukul 16.00. Mendadak ia merasa lemah, letih, dan lapar.

Pelan-pelan ia meletakkan kedua kaki di atas meja, di samping telepon, dan memejamkan mata. Hari itu terasa kabur, mulai dari kecemasan me. nuju Parchman dan menyaksikan gerbang depan penjara itu, mulai dari pertemuan tak terduga dengan Lucas Mann, kengerian melangkah ke The Row, sampai pada ketakutan menghadapi Sara Dan sekarang Kepala Penjara ingin bertemu dengannya, pers ingin bertanya, kantor cabang Memphis ingin semuanya diredam. Semua ini terjadi kurang dari delapan jam. Apa yang akan dihadapinya besok?

Mereka duduk berdampingan di sofa berjok empuk dengan semangkuk popcorn microwave di antara mereka. Kaki telanjang mereka ada di atas meja, di tengah setengah lusin kardus kosong bekas tempat masakan Cina dan dua botol anggur. Mereka mengintip lewat atas kaki dan menonton televisi, Adam memegang remote control. Ruangan itu gelap. Ia makan popcorn perlahan-lahan.

Lee lama tak bergerak. Matanya basah, tapi ia tak mengucapkan apa-apa. Video itu mulai untuk kedua kalinya.

Adam menekan tombol pause ketika Sam muncul pertama kali, terborgol, digiring dari penjara menuju sidang pemeriksaan. "Di mana kau ketika

mendengar dia ditahan?" ia bertanya tanpa memandang Lee.

"Di Memphis sini," katanya pelan, tapi suaranya keras. "Kami sudah menikah beberapa tahun. Aku ada di rumah. Phelps menelepon .dan mengatakan ada pengeboman di Greenville, sedikitnya dua orang tewas. Kemungkinan perbuatan Klan. Dia menyuruhku melihat berita tengah hari, tapi aku takut melakukannya. Beberapa jam kemudian, ibuku menelepon dan menceritakan mereka sudah menahan Daddy karena pengeboman tersebut. Katanya dia ada di penjara Greenville."

"Bagaimana reaksimu?"

"Aku tidak tahu. Terperanjat. Takut. Eddie menelepon dan menceritakan bahwa dia dan Ibu diperintahkan Sam untuk menyelinap ke Cleveland dan mengambil mobilnya. Aku ingat Eddie terus mengatakan, 'Akhirnya dia melakukannya, akhirnya dia melakukannya. Dia sudah pernah membunuh orang.' Eddie menangis dan aku mulai me* nangis, dan aku ingat saat itu sangat mengerikan."

"Mereka mengambil mobil itu?"

"Yeah. Tak seorang pun tahu. Fakta itu tak pernah muncul dalam sidang mana pun. Kami takut polisi akan mengetahui hal itu, serta memaksa Eddie dan ibuku memberi kesaksian. Tapi itu tak pernah terjadi."

"Di mana aku waktu itu?"

"Coba kuingat. Kalian tinggal di rumah putih yang mungil di Clanton, dan aku yakin kau ada disana bersama Evelyn. Kurasa dia tidak sedang bekerja saat itu. Tapi aku tidak pasti."

"Pekerjaan macam apa yang dilakukan ayahku?"

"Aku tidak ingat. Suatu ketika dia bekerja sebagai manajer sebuah toko suku cadang mobil di Clanton, tapi dia selalu ganti pekerjaan."

Video itu diteruskan dengan potongan rekaman Sam digiring dari dan ke penjara serta gedung pengadilan, kemudian ada laporan berita bahwa ia secara resmi sudah didakwa melakukan pembunuhan. Adam menghentikannya. "Apa di antara kalian ada yang pernah mengunjungi Sam di penjara?"

"Tidak. Tak pernah ketika dia ada di Greenville. Uang jaminan pembebasannya sangat tinggi. Setengah juta dolar, kurasa."

"Benar setengah juta."

"Dan pada mulanya keluarga kita mencoba mengumpulkan uang untuk membebaskannya. Ibu, tentu saja, ingin aku meyakinkan Phelps untuk menulis cek. Phelps, tentu saja, bilang tidak. Dia tak ingin terlibat. Kami bertengkar dengan penuh kepahitan, tapi aku tak bisa benar-benar menyalahkannya. Daddy tetap tinggal di penjara. Aku ingat salah satu saudara laki-lakinya mencoba meminjam uang dengan jaminan tanah, tapi tidak berhasil. Eddie tak mau pergi ke penjara menemuinya, dan Ibu tidak bisa. Aku sendiri tidak yakin Sam menginginkan kami ke sana." "Kapan kami meninggalkan Clanton?"

99?

Lee membungkuk ke depan dan mengambil gelas anggur dari meja. la mereguk dan berpikir sejenak. "Dia sudah di penjara sekitar sebulan, kurasa. Suatu hari aku pergi menjenguk Ibu, dan dia menceritakan bahwa Eddie, mengatakan akan pergi. Aku tak mempercayainya. Ibu mengatakan Eddie malu dan terhina serta tak bisa menghadapi orang-orang di kota itu. Dia baru saja kehilangan pekerjaan dan tak mau keluar rumah. Aku meneleponnya dan bicara dengan Evelyn. Eddie tak mau menerima telepon. Evelyn mengatakan dia tertekan, malu, dan segala macam, dan aku ingat mengatakan kami semua merasa demikian. Kutanyakan padanya apakah mereka akan pergi, dan dm jelas menjawab tidak. Sekitar seminggu sesudahnya, Ibu menelepon kembali dan mengatakan kalian sudah berkemas dan pergi di tengah malam buta. Pemilik rumah menelepon dan menagih sewa rumah, dan tak seorang pun pernah melihat Eddie. Rumah itu kosong."

"Seandainya saja aku ingat kejadian ini."

"Kau baru tiga tahun, Adam. Terakhir kali aku melihatmu, kau sedang bermain di samping garasi rumah putih mungil itu. Kau begitu lucu dan manis."

"Wah, terima kasih."

"Beberapa minggu berlalu, lalu suatu hari Eddie meneleponku dan menyuruhku memberitahu Ibu bahwa kalian ada di Texas dan dalam keadaan baik.""Yeah. Jauh sesudah itu, Evelyn bercerita kepadaku bahwa kalian bagaikan terhanyut ke barat. Dia hamil dan ingin sekali menetap di suatu tempat Eddie menelepon lagi dan mengatakan kalian semua ada di California. Itu telepon terakhirnya selama bertahun-tahun."

"Bertahun-tahun?"

"Yeah. Kucoba membujuknya agar pulang, tapi dia tak bergeming. Bersumpah dia takkan pernah kembali, dan kurasa dia sungguh-sungguh." "Di mana orangtua ibuku?" "Aku tak tahu. Mereka bukan dari Ford County. Rasanya mereka tinggal di Georgia, mungkin Florida."

"Aku tak pernah bertemu dengan mereka." Adam kembali menekan tombol dan video itu berlanjut. Sidang pengadilan pertama dimulai di Nettles County. Camera menyorot halaman gedung pengadilan'dengan sekelompok anggota Klan, deretan polisi, dan serombongan penonton. "Ini luar biasa," kata Lee. Adam menghentikannya lagi. "Apakah kau menghadiri sidang?"

"Sekali. Aku menyelinap ke dalam gedung pengadilan dan mendengarkan argumentasi penutup. Dia melarang kita menyaksikan ketiga sidangnya. Ibu tak bisa datang. Tekanan darahnya tak terkendali, dan dia makan banyak obat. Praktis dia tak bisa meninggalkan ranjang."

224

"Apakah Sam tahu kau ada di sana?"

"Tidak. Aku duduk di bagian belakang ruang

sidang dengan syal menutupi kepala. Dia tak pernah melihatku."

"Apa yang dilakukan Phelps?"

"Bersembunyi di kantornya, mengurus bisnis, berdoa agar tak seorang pun tahu Sam Cayhall adalah mertuanya. Perpisahan pertama kami terjadi tak lama sesudah sidang itu."

"Apa yang kauingat dari sidang tersebut, dari ruang sidang?"

"Aku ingat aku merasa Sam mendapatkan juri yang baik, orang-orang macam dirinya. Aku tak tahu bagaimana pengacaranya melakukan hal itu, namun mereka memilih dua belas redneck paling fanatik yang bisa mereka temukan. Aku mengawasi para anggota juri bereaksi terhadap Jaksa Penuntut, dan aku mengawasi mereka mendengarkan pengacara Sam dengan cermat."

"Clovis Brazelton."

"Dia orator hebat, dan mereka mendengarkan setiap patah» kata. Aku terperanjat ketika Juri- tak dapat mencapai kesepakatan untuk menjatuhkan vonis dan pembatalan sidang diumumkan. Aku sudah yakin dia akan dibebaskan. Kupikir dia pun terperanjat."dang ketiga dimulai dengan berbagai kemiripan seperti yang pertama. "Berapa lama kau mengerjakan ini?" tanya Lee.

"Tujuh tahun. Aku masih mahasiswa bara di Pepperdine ketika gagasan itu muncul. Ini suatu tantangan." Sam mempercepat adegan menyedihkan saat Marvin Kramer terguling dari kursi roda sesudah sidang kedua, dan berhenti pada wajah tersunggingi senyum seorang reporter lokal yang berbicara tentang pembukaan sidang pengadilan ketiga terhadap Sam Cayhall yang legendaris. Itu kejadian tahun 1981.

"Selama tiga belas tahun Sam jadi orang bebas," kata Adam. "Apa yang dikerjakannya?"

"Dia menyendiri, bertani sedikit, mencoba menalar segalanya. Dia tak pernah bicara denganku tentang pengeboman itu atau tentang kegiatannya sebagai anggota Klan, namun dia menikmati perhatian di Clanton. Dia jadi semacam legenda lokal di sana, dan dia agaknya puas dengan hal itu. Kesehatan Ibu mundur, dan Sam banyak tinggal di rumah serta merawatnya." *

"Dia tak pernah punya pikiran untuk kabur?" 'Tidak secara serius. Dia yakin masalah hukumnya sudah selesai. Dia sudah dua kali diadili, dan lolos dari keduanya. Tak ada juri di Mississippi yang akan memidana seorang anggota Kian pada akhir tahun enam puluhan. Pikirnya dia tak terkalahkan. Dia tetap tinggal di Clanton, menghindari Klan, dan menjalani hidup damai. Kurasa dia

226

melewatkan tahun-tahun keemasannya dengan menanam tomat dan memancing ikan bream." "Apa dia pernah bertanya tentang ayahku?" Lee menghabiskan anggurnya dan meletakkan gelas di meja. Tak pernah terpikir oleh Lee bahwa suatu ketika ia akan diminta mengingat kembali sejarah menyedihkan itu dengan begitu terperinci. Ia sudah berusaha keras melupakannya. "Aku ingat selama tahun pertama dia kembali ke rumah, sekali-sekali dia bertanya padaku apakah aku mendengar kabar dari adikku. Tentu saja aku tak pernah mendengar apa pun. Kami tahu kalian ada di suatu tempat di California, dan kami berharap kalian baik-baik saja Sam orang yang angkuh dan keras kepala Adam. Dia tak pernah mempertimbangkan menyusul kalian dan memohon Eddie agar pulang. Kalau Eddie malu dengan keluarganya, Sam merasa dia memang seharusnya tinggal di California." Ia berhenti dan merosot lebih rendah di sofa. "Ibu didiagnosis mengidap kanker pada tahun 1973, dan aku menyewa seorang detektif swasta untuk menemukan Eddie. Enam bulan dia bekerja, menimbuniku dengan banyak tagihan, dan tak menemukan apa pun."

"Waktu itu aku sembilan tahun, kelas empat, berarti di Salem, Oregon."

"Yeah. Kelak Evelyn bercerita padaku bahwa kalian pernah tinggal di Oregon." "Kami terus berpindah-pindah. Setiap tahun se-

227kolah baru sampai aku kelas delapan. Saat itu kami menetap di Santa Monica."

"Kalian sulit dicari. Eddie pasti menyewa pengacara yang baik, sebab semua jejak tentang Cayhall terhapus. Si detektif bahkan memakai beberapa orang di sana, tapi tak ada hasil apa pun." "Kapan Nenek meninggal?" "1977. Kami duduk di depan gereja, hendak memulai upacara pemakaman, ketika Eddie menggeser pintu samping dan duduk di belakangku. Jangan tanya bagaimana dia tahu mengenai ke-matian Ibu. Dia muncul begitu saja di Clanton, lalu menghilang lagi. Tak mengucapkan sepatah kata pun pada Sam. Mengendarai mobil sewaan sehingga tak seorang pun bisa mengecek pelat nomornya. Keesokan harinya aku pergi ke Memphis, dan di sanalah dia, menunggu di jalan masuk ke rumah. Kami minum kopi selama dua jam dan bicara tentang segala hal. Dia membawa fotomu dan Carmen, segalanya indah di California Selatan yang bermandi matahari. Pekerjaan bagus, rumah nyaman di pinggir kota, Evelyn menjual real estate. Impian Amerika. Katanya dia takkan pernah kembali ke Mississippi. Bahkan tidak untuk penguburan Sam sekalipun. Sesudah memintaku bersumpah untuk menyimpan rahasia, dia menceritakan nama-nama baru itu dan memberiku nomor teleponnya. Bukan alamat, cuma nomor telepon. Dia mengancam bila kerahasiaan ini dilanggar, dia akan menghilang lagi. Dia melarangku menelepon-

228

nya, kecuali dalam keadaan darurat. Kukatakan padanya aku ingin melihat kaU dan Carmen, dan dia mengatakan itu mungkin akan terjadi, suatu hari. Kadang kala dia Eddie yang sama seperti duta, dan kadang-kadang dia orang lain. Kami berpelukan dan melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal, dan aku tak pernah melihatnya lagi."

Adam memencet remote control dan video itu bergerak. Gambar-gambar sidang pengadilan ketiga dan terakhir yang jelas dan modern bergerak cepat. Muncullah Sam, mendadak tiga belas tahun lebih tua, dengan pengacara baru, melewati pintu samping Pengadilan Lakehead County. "Apakah kau pergi ke sidang ketiga?"

"Tidak. Dia menyuruhku menyingkir."

Adam menghentikan video itu. "Kapan Sam menyadari mereka memburunya lagi?"

"Sulit dikatakan. Suatu hari ada artikel kecil di koran Memphis tentang jaksa distrik baru di Greenville yang ingin membuka kembali kasus Kramer. Itu bukan berita besar, cuma beberapa alinea di tengah koran itu. Aku ingat membacanya dengan perasaan ngeri. Sepuluh kali aku membaca dan menatapnya selama satu jam: Setelah tahun-tahun ini, nama Sam Cayhall sekali lagi muncul di koran. Aku tak bisa mempercayainya. Aku meneleponnya dan, tentu saja, dia pun sudah membacanya Dia memintaku agar jangan khawatir. Sekitar dua minggu kemudian ada berita lain, kali

229ini sedikit lebih besar, dengan wajah David McAllister di tengahnya. Kutelepon Daddy. Dia mengatakan segalanya beres. Begitulah urusan ini mulai. Agak sepi, kemudian mendidih. Keluarga Kramer mendukung gagasan tersebut, lalu NAACP ikut terlibat. Suatu hari jelaslah McAllister bertekad memaksakan sidang baru, dan hal itu takkan berlalu begitu saja. Sam muak dengannya dan ketakutan, tapi mencoba berlagak berani. Dia sudah dua kali menang katanya, dan bisa menang lagi."

"Apa kau menelepon Eddie?" "Yeah. Begitu sudah jelas akan ada dakwaan baru, aku meneleponnya dan mengabarkan berita ini. Dia tidak berkomentar banyak, sama sekali tidak berbicara banyak. Percakapan itu berlangsung singkat, dan aku berjanji akan terus mengabarinya. Kurasa dia tidak begitu senang menerima berita ini. Tak lama kemudian hal ini jadi berita nasional, dan aku yakin Eddie mengikutinya di media."

Mereka menyaksikan potongan-potongan terakhir sidang ketiga tanpa bicara. Wajah McAllister bersungging senyum ada di mana-mana, dan lebih dari sekali Adam menyesali kenapa tidak menyunting lebih banyak. Sam digiring terakhir kalinya dengan borgol, kemudian layar kosong.

"Apakah ada orang lain yang sudah melihat ini?" tanya Lee. "Tidak. Kau yang pertama." "Bagaimana kau mengumpulkan semua ini?"

230

"Ini butuh waktu, sedikit uang, banyak usaha." "Ini luar biasa."

"Ketika aku masih junior di SMA, kami punya guru ilmu politik yang dungu. Dia menyuruh kami membawa surat kabar dan majalah serta memperdebatkan pokok persoalan saat itu. Seseorang membawa berita dari halaman depan L.A. Times tentang sidang pengadilan Sam Cayhall yang akan datang di Mississippi. Kami membahasnya cukup bagus, kemudian kami memperhatikan dengan cermat saat sidang itu berlangsung. Semua orang, termasuk aku, cukup senang ketika dia dinyatakan bersalah. Tapi terjadi perdebatan besar mengenai hukuman mati. Beberapa minggu kemudian, ayahku meninggal dan kau akhirnya menceritakan yang sebenarnya padaku. Aku ngeri teman-temanku

akan tahu." "Apakah mereka tahu?"

"Tentu saja tidak. Aku seorang Cayhall, empu dalam menyimpan rahasia."

"Rahasia itu takkan bisa bertahan lebih lama lagi." .

"Tidak."

Mereka lama berdiam diri sambil menatap layar televisi yang kosong. Adam akhirnya menekan tombol power dan televisi itu mati. Dilemparkannya remote control ke atas meja. "Aku minta maaf, Lee, kalau ini akan mempermalukanmu. Aku sungguh-sungguh. Kalau saja ada cara untuk menghindarinya."

231"Kau tak mengerti."

"Aku tahu. Dan kau tak bisa menjelaskannya benar? Apakah kau takut pada Phelps dan keluar, ganya?"

"Aku muak pada Phelps dan keluarganya."

"Tapi kau menikmati uang mereka."

"Aku layak mendapatkan uang mereka, oke? Selama 27 tahun aku bertahan dengannya."

"Apakah kau takut klub-klubmu itu mengucil-kanmu? Mereka akan menendangmu 'keluar dari country clubl" "Hentikan itu, Adam."

"Maaf," kata Adam. "Hari ini berat. Aku seperti keluar dari lemari, Lee. Aku menghadapi masa laluku, dan kurasa aku mengharapkan semua orang bersikap seberani itu. Maaf."

"Bagaimana tampangnya sekarang?"

"Sangat tua. Banyak keriput dan pucat. Dia terlalu tua untuk dikurung dalam sangkar."

"Aku ingat bicara padanya beberapa hari sebelum sidang terakhirnya. Kutanyakan padanya mengapa dia tidak kabur saja, menghilang dalam kegelapan malam, dan bersembunyi di suatu tempat seperti Amerika Selatan. Dan kau tahu apa katanya?" "Apa?"

"Dia bilang pernah memikirkan hal itu. Sudah bertahun-tahun sejak Ibu meninggal. Dia pernah membaca buku tentang Mengele. Eichmann, dan penjahat perang Nazi lainnya yang menghilang di

232

Amerika Selatan. Dia bahkan menyebut Sao Paulo. Katanya kota itu berpenduduk 20 juta orang dan penuh dengan segala macam pengungsi. Dia punya seorang teman, juga anggota Klan kurasa, yang bisa membereskan dokumen-dokumen dan membantunya bersembunyi. Dia banyak memikirkannya."

"Seandainya saja dia pergi.. Mungkin ayahku masih tetap bersama kita."

"Dua hari sebelum dia pergi ke Parchman, aku menjenguknya di penjara Greenville. Itu kunjungan terakhir. Aku menanyainya mengapa dia tidak melarikan diri. Dia mengatakan tak pernah mimpi akan mendapatkan hukuman mati. Tak bisa kuper-caya bahwa selama bertahun-tahun dia bebas dan seharusnya bisa dengan mudah melarikan diri. Katanya sungguh kekeliruan besar bahwa dia tidak melarikan diri. Suatu kesalahan yang harus dibayar dengan nyawanya."

Adam meletakkan mangkuk popcorn 41 meja dan perlahan-lahan bersandar ke arah Lee. Kepalanya disandarkan pada pundak Lee. Lee meraih tangannya. "Aku menyesal kau terlibat di tengah semua ini," bisiknya.

"Dia tampak begitu mengibakan duduk di sana, dalam seragam merah penjara itu."

233DUA BELAS

Clyde packer menuang kopi kental banyak-banyalc ke dalam cangkir bertuliskan namanya, dan mulai menggarap pekerjaan administrasi pagi ini. la sudah 21 tahun bekerja di The Row, tujuh tahun terakhir sebagai shift commander. Selama delapan jam tiap pagi ia bertugas sebagai salah satu dari empat tier sergeant, bertanggung jawab atas empat belas narapidana, dua penjaga, dan dua trustee. Ia menyelesaikan formulir-formulirnya dan memeriksa sebuah clipboard. Di situ ada catatan untuk menelepon Kepala Penjara. Satu catatan lain menyebutkan F.M. Dempsey kehabisan pil untuk penyakit jantungnya dan ingin menemui dokter. Mereka semua ingin menemui dokter. Ia menghirup kopi yang mengepul-ngepul seraya meninggalkan kantor untuk melakukan inspeksi pagi. Ia memeriksa seragam dua penjaga di pintu depan dan menyuruh yang muda berkulit putih cukur.

MSU tidak terlalu buruk untuk tempat bekerja. Secara umum para terpidana mati itu tenang dan

berperilaku baik. Mereka menghabiskan 23 jam sehari sendiri dalam sel, terpisah satu sama lain dan dengan demikian tak'bisa menimbulkan masalah. Mereka menghabiskan enam belas jam sehari untuk tidur. Mereka diberi makan di sel mereka. Mereka diizinkan menikmati rekreasi di luar selama satu jam sehari—hour out, demikian mereka menyebutnya, dan mereka bisa menikmati kesempatan ini seorang diri kalau mau. Setiap orang punya satu televisi atau radio, atau keduanya, dan sesudah makan pagi, empat bangunan itu jadi hidup dengan musik, siaran berita, opera sabun, dan percakapan pelan melalui jeruji. Para narapidana itu tak dapat melihat tetangga sebelah mereka, namun mereka bercakap-cakap tanpa banyak kesulitan. Perselisihan sekali-sekali meledak mengatasi bunyi musik, tapi percekcokan kecil ini dengan cepat diselesaikan penjaga. Para narapidana itu punya hak tertentu, dan mereka punya hak istimewa tertentu. Penyitaan televisi atau radio merupakan sesuatu yang sangat berat.

The Row melahirkan persahabatan yang aneh di antara orang-orang hukuman di sana. Separo kulit putih, separo kulit hitam, dan semuanya dipidana karena melakukan pembunuhan brutal. Namun tak banyak keprihatinan atas perbuatan dan catatan kriminal mereka di waktu lampau, dan umumnya tak ada perhatian terhadap warna kulit. Dalam populasi umum penjara di luar sana, ada segala macam geng yang dengan efektif menggolong-

234

golongkan para narapidana, biasanya berdasarkan ras. Akan tetapi di The Row orang dinilai berdasarkan caranya menangani pengucilan itu. Entah mereka saling menyukai atau tidak, semuanya terkurung bersama di sudut dunia mereka yang kecil, semuanya menunggu ajal. Itu adalah asrama kecil compang-camping berisi orang-orang yang tak dapat menyesuaikan diri, pengangguran, bajingan, dan pembunuh berdarah dingin.

Dan kematian satu orang bisa berarti kematian semuanya. Kabar vonis mati baru untuk Sam dibisikkan di antara sel dan jeruji. Ketika vonis itu masuk dalam siaran berita siang kemarin, The Row secara mencolok jadi lebih sunyi. Setiap narapidana sekonyong-konyong ingin bicara dengan pengacaranya. Timbul minat baru terhadap segala urusan hukum, dan Packer melihat beberapa di antara mereka mempelajari berkas-berkas pengadilan mereka dengan televisi dimatikan dan radio dikecilkan.

Ia melewati pintu berat, meneguk minuman lama-lama, dan berjalan perlahan-lahan tanpa menimbulkan kebisingan di sepanjang Tier A. Empat belas sel yang serupa, lebar dua meter dan panjang tiga meter, menghadap ke lorong. Bagian depan setiap sel berupa dinding jeruji besi, maka seorang narapidana tak pernah bisa menikmati privasi penuh. Apa pun yang dikerjakannya—tidur, memakai toilet—selalu bisa diamati penjaga. Mereka semua ada di ranjang ketika Packer

^mperlambat langkah di depan masing-masing ruangan kecil itu dan mencari-cari kepala di bawah seprai. Lampu-lampu sel dipadamkan dan penjara itu gelap. The Hall Man, seorang narapidana dengan hak khusus, akan membangunkan atau mengguncang-guncang mereka pada pukul 05.00. Makan pagi disajikan pukul 06.00—telur, roti bakar, selai, kadang-kadang babi asap, kopi, dan sari buah. Dalam beberapa menit The Row akan terbangun ketika 47 orang mengebaskan kantuk mereka dan meneruskan proses menjemput ajal yang tak bisa dihentikan. Peristiwa itu terjadi perlahan-lahan, sekali setiap hari, sementara matahari kembali terbit dan menyelimuti neraka kecil mereka dengan panas. Dan itu terjadi cepat, seperti hari sebelumnya, ketika pengadilan di suatu tempat menolak dalih pembelaan, mosi, atau banding dan mengatakan eksekusi harus segera dilaksanakan.

Packer meneguk kopi dan menghitung kepala, lalu menyeret kaki diam-diam melewati ritual paginya. Umumnya, MSU berjalan mulus bila kegiatan rutin tidak dilanggar dan jadwal diikuti,. Ada banyak peraturan dalam buku pegangan, tapi peraturan-peraturan tersebut adil dan mudah diikuti. Setiap orang mengetahuinya. Namun eksekusi punya buku pegangan sendiri, dengan kebijaksanaan berbeda dan garis besar panduan berfluktuasi yang biasanya mengacaukan ketenangan The Row. Packer sangat menghormati Phillip Naifeh, tapi terkutuklah kalau ia tidak menuliskankembali buku tersebut sebelum dan sesudah setiap eksekusi. Ada tekanan besar untuk melakukannya dengan benar, secara konstitusional dan berperike. manusiaan. Tak ada dua pembunuhan yang sama.

Packer benci eksekusi. Ia percaya hukuman mad, sebab ia orang yang religius dan karena Tuhan mengatakan satu mata ganti satu mata, bet. arti Tuhan sungguh-sungguh. Tapi ia lebih suka eksekusi itu dilaksanakan di tempat lain, oleh orang lain. Syukurlah eksekusi tersebut begitu langka di Mississippi, sehingga tugasnya berjalan mulus dengan sedikit gangguan. Ia pernah menyaksikan lhnjl belas eksekusi dalam dua puluh tahun, tapi cuma empat sejak 1982.

ia bicara pelan dengan seorang penjaga di ujung penjara. Matahari mulai mengintip melalui jendela-jendela yang terbuka di atas jalan penjara. Hari itu akan panas dan mencekik. Juga akan lebih sunyi. Akan- lebih sedikit keluhan terhadap makanan, lebih sedikit tuntutan untuk menemui dokter, keluhan kecil di sana-sini tentang ini-itu, namun secara keseluruhan mereka akan jadi kelompok yang jinak dan tenang. Sedikitnya sudah setahun dan mungkin lebih lama lagi sejak suatu penundaan ditarik sedekat ini pada pelaksanaan eksekusi. Packer tersenyum pada diri sendiri sambil mencari kepala di bawah selimut. Hari ini akan benar-benar sepi.

Selama beberapa bulan pertama karier Sam di The Row, Packer tak menghiraukannya. Buku pe-

238

tunjuk resmi melarang hubungan apa pun selain kontak seperlunya dengan narapidana, dan Packer mendapati Sam sebagai orang yang mudah dibiarkan sendiri. Ia anggota Klan. Ia benci orang kulit hitam. Ia tidak banyak bicara. Ia orang yang pahit dan pemurung, setidaknya dulu. Namun diam tanpa berbuat apa-apa selama delapan jam sehari perlahan-lahan mengikis kekakuannya, dan dengan lewatnya waktu mereka mencapai tingkat komunikasi yang terdiri atas sejumlah kata-kata pendek dan dengusan. Sesudah sembilan setengah tahun saling melihat tiap hari, Sam sekali-sekali bisa benar-benar tersenyum pada Packer.

Sesudah bertahun-tahun mengamati, Packer berkesimpulan ada dua jenis pembunuh di The Row. Ada pembunuh berdarah dingin yang*akan melakukannya lagi seandainya diberi kesempatan, dan ada yang sekadar melakukan kesalahan dan tak pernah bermimpi mengucurkan darah lagi. Mereka yang masuk dalam kelompok pertama seharusnya digas cepat-cepat. Mereka yang masuk dalam kelompok kedua menimbulkan perasaan tak enak pada Packer, sebab eksekusi mereka tidak memberikan manfaat apa pun. Masyarakat takkan celaka atau bahkan takkan memperhatikan seandainya orang-orang ini dibebaskan dari penjara. Sam termasuk kelompok kedua. Ia bisa saja dikembalikan ke rumahnya, dan tak lama lagi ia akan mati kesepian. Tidak, Packer tak ingin Sam Cayhall dieksekusi.

239

Video itu berlanjut dengan reaksi terhadap pembatalan sidang itu, dengan komentar panjang Clovis Brazelton, dengan satu rekaman Sam saat meninggalkan gedung pengadilan. Kemudian si-Ia berjalan menyeret kakinya kembali menyusuri Tier A, menghirup kopi, dan memandang sel-sel gelap itu. Bagian penjara itu yang paling dekat dengan ruang isolasi, yang terletak di sebelah kamar gas. Sam ada di sel nomor enam Tier A, secara harfiah kurang 27 meter dari kamar gas. Ia mengajukan permohonan pindah setahun sebelumnya karena perselisihan konyol dengan Cecil Duff, waktu itu tetangga sebelahnya.

Sam sekarang sedang duduk dalam kegelapan di tepi ranjang. Packer berhenti, berjalan ke jeruji. "Pagi, Sam," katanya lembut.

"Pagi," balas Sam, mengernyit pada Packer. Sam kemudian berdiri di tengah ruangannya dan menghadap ke pintu. Ia memakai T-shirt putih kumal dan celana pendek baggy, pakaian yang biasa dipakai para narapidana di The Row, sebab tempat itu begitu panas. Peraturan di situ mengharuskan pakaian terusan merah dipakai di luar sel, tapi di dalam mereka memakai sesedikit mungkin pakaian.

"Hari ini akan panas," kata Packer, salam pagi yang biasa. pifc*

. Tunggu sampai Agustus," kata Sam, jawaban baku untuk salam pagi tersebut

"Kau baik-baik saja?" tanya Packer.

"Tak pernah sebaik ini."

"Pengacaramu mengatakan akan kembali han ini."

"Yeah. Itulah yang dia katakan. Kurasa aku butuh banyak pengacara, bukan, Packer?"

"Kelihatannya begitu." Packer menghirup sete-guk kopi dan memandang ke ujung penjara itu. Jendela-jendela di belakangnya menghadap ke selatan, dan secercah sinar menerobos masuk. "Sampai jumpa nanti, Sam," katanya dan beranjak pergi, la memeriksa sel-sel lain dan menemukan semua anaknya. Pintu berdetik di belakangnya ketika ia meninggalkan Tier A dan kembali ke depan.

Satu-satunya lampu dalam sel itu terletak di atas wastafel stainless steel—terbuat dari stainless steel sehingga tak bisa dipecah-pecah dan dipakai sebagai senjata atau alat bunuh diri. Di bawah wastafel itu ada toilet stainless steel. Sam menyalakan lampu dan menggosok gigi. Saat itu hampir pukul 05.30. Tidur merupakan sesuatu yang sulit.

la menyalakan sebatang rokok dan duduk di tepi ranjang, mengamati kaki dan menatap lantai beton bercat yang menahan panas di musim panas dan dingin di musim dingin. Sepatu satu-satunya, sepasang sepatu mandi dari karet yang dibencinya, terletak di bawah ranjang, la punya sepasang kaus kaki wol yang dipakainya untuk tidur pada musim dingin. Asetnya yang lain terdiri atas televisi hi-tam-putih, sebuah radio, mesin tik, enam T-shirt berlubang-lubang, lima pasang celana pendek putih polos, sebuah sikat gigi, sisir, gunting kuku, kipas angin putar, dan sebuah kalender dua belas bulan»Asetnya yang paling berharga adalah koleksi buku. buku hukum yang ia kumpulkan dan hafalkan selama bertahun-tahun. Buku-buku itu pun ditata rapi di atas rak kayu murahan di seberang dipan-nya. Dalam sebuah kardus di lantai antara rak dan pintu ada bertumpuk-tumpuk berkas, sejarah kronologis kasus State of Mississippi vs. Sam Cayhall. Berkas itu pun sudah disimpan dalam ingatan.

Neracanya kurus dan pendek, dan di luar surat perintah hukuman mati tak ada utang lain. Pada mulanya kemiskinan itu mengganggunya, namun keprihatinan itu sudah disisihkannya bertahun-tahun yang lalu. Menurut legenda keluarga, kakek buyutnya orang kaya raya dengan tanah luas dan budak, tapi tak ada keluarga Cayhall modem yang semakmur itu. Ia pernah mengenal para terpidana mati yang bersusah payah meributkan surat wasiat mereka, seolah-olah ahli waris mereka akan bertikai memperebutkan televisi tua dan majalah kotor mereka Ia mempertimbangkan membuat surat wasiat sendiri dan mewariskan kaus kaki wol serta celana dalam kotornya kepada Negara Bagian Mississippi, atau mungkin NAACP.

Di sebelah kanannya adalah J.B. Gullit, bocah kulit putih buta huruf yang pernah memerkosa dan membunuh seorang ratu kecantikan. Tiga tahun sebelumnya, Gullit sudah hampir dieksekusi sampai Sam campur tangan dengan sebuah mosi yang bagus. Sam menunjuk beberapa persoalan yang tak terpecahkan, dan menerangkan kepada Peng

242

Fifth Circuit bahwa Gullit tak punya pengacara. Penundaan langsung diberikan, dan Gullit jadi sahabatnya seumur hidup.

Di sebelah kirinya adalah Hank Henkshaw, pimpinan bereputasi dari sekelompok penjahat yang sudah lama terlupakan, bernama Redneck Mafia. Suatu malam Hank dan gengnya yang campur aduk membajak sebuah truk trailer delapan belas roda, hanya merencanakan merampok muatannya. Sopirnya mengeluarkan senjata dan terbunuh dalam tembak-menembak yang terjadi. Keluarga Hank menyewa pengacara-pengacara pandai, jadi ia diperkirakan tidak akan mati selama bertahun-tahun.

Tiga tetangga itu menyebut bagian kecil MSU itu sebagai Rhodesia.

Sam menjentikkan rokok ke dalam toilet dan berbaring di ranjang. Sehari sebelum pengeboman Kramer ia mampir ke rumah Eddie di Clanton. Ia tak ingat untuk apa, kecuali mengirimkan bayam segar dari kebunnya, dan ia bermain dengan Alan kecil, sekarang Adam, selama beberapa menit di halaman depan. Saat itu bulan April, udaranya hangat, ia ingat, dan cucunya bertelanjang kaki. Ia ingat kaki kecil yang gemuk dengan Band-Aid membalut satu jari. Ia tergores batu, Alan menjelaskan dengan sangat bangga. Bocah itu sangat suka Band-Aid, selalu ada yang tertempel pada jari atau lutut. Evelyn memegang bayam itu dan menggelengkan kepala ketika Alan memperlihai-

243X

kan sekotak penuh segala macam bahan perekat kepada kakeknya.

Itulah terakhir kali ia melihat Alan. Pengeboman itu terjadi keesokan harinya, dan Sam menghabiskan sepuluh bulan berikutnya di penjara. Saat sidang kedua selesai dan ia dibebaskan, Eddie dan keluarganya sudah pergi. Ia»terlalu angkuh untuk mengejar mereka. Ada desas-desus dan gosip tentang tempat mereka tinggal. Lee mengatakan mereka ada di California, tapi ia tak bisa menemukan mereka. Bertahun-tahun kemudian ia bicara dengan Eddie dan mengetahui tentang anak kedua, seorang gadis bernama Carmen.

Terdengar suara-suara di ujung penjara itu. Kemudian suara toilet diguyur, kemudian radio. Penjara itu mulai terbangun. Sam menyisir rambutnya yang berminyak, menyalakan sebatang Montclair lagi, dan mengamati kalender pada dinding. Hari ini tanggal 12 Juli. Ia punya waktu 27 hari.

Ia duduk di tepi ranjang dan kembali mengamati kakinya. J.B. Gullit menyalakan televisi untuk mendengarkan siaran berita, dan sementara mengepulkan asap rokok dan menggaruk perge-langan kaki ia mendengarkan siaran stasiun NBC di Jackson. Sesudah rentetan berita tentang penembakan, perampokan, dan pembunuhan lokal, pembawa berita menyampaikan kabar hangat bahwa eksekusi akan terjadi di Parchman. Dengan penuh semangat ia melaporkan bahwa Fifth Circuit telah

244

mencabut penundaan untuk Sam Cayhall, narapidana Parchman paling tersohor, dan pelaksanaannya ditetapkan pada tanggal 8 Agustus. Pihak berwenang yakin dalih pembelaan Cayhall sudah habis, kata suara itu, dan eksekusi bisa terjadi.

Sam menyalakan televisinya. Seperti biasa, suaranya mendahului gambarnya sekitar sepuluh detik, dan ia mendengarkan sang Jaksa Agung sendiri meramalkan keadilan bagi Mr. Cayhall, sesudah bertahun-tahun ini. Seraut wajah berbintik-bintik muncul di layar, dengan kata-kata menyembur keluar, kemudian muncul Roxburgh tersenyum dan mengernyit bersamaan, berpikir serius sementara ia menguraikan dengan gembira untuk kamera, tentang skenario menyeret Mr. Cayhall ke kamar gas. Kembali ke pembawa berita, seorang pemuda lokal dengan kumis halus kekuning-kuningan meringkas kisah itu dengan menguraikan kejahatan Sam yang mengerikan, sementara di atas pundaknya, di latar belakang, ditayangkan ilustrasi kasar seorang anggota Klan dengan topeng dan kerudung runcing. Sebuah senapan, salib yang berkobar-kobar, dan huruf KKK menutup uraian itu. Pembawa berita itu mengulangi tanggalnya, 8 Agustus, seolah-olah pemirsa harus melingkari kalender mereka dan menyusun rencana untuk libur bekerja. Kemudian mereka beralih ke prakiraan cuaca, la mematikan televisi dan berjalan ke jeruji. "Apakah kau mendengarnya, Sam?" Gullit berseru dari sebelah."Ya."

"Ini pasti akan jadi gila, Man." "Ya."

"Lihat sisi terangnya, Man." "Apa?"

"Kau hanya akan mengalaminya selama empat

minggu." Gullit terkekeh ketika mengucapkan lelucon itu, tapi ia tidak lama tertawa. Sam mencabut beberapa helai kertas dan duduk di tepi ranjang. Tak ada kursi di sel itu. Ia membaca surat perjanjian Adam untuk mewakilinya, sebuah dokumen dua halaman dengan tulisan sepanjang satu setengah halaman. Pada garis tepinya, Sam telah menuliskan catatan-catatan yang rapi dan tepat dengan pensil, dan ia telah menambahkan beberapa alinea di balik lembaran-lembaran itu. Satu gagasan lain terlintas dalam pikiran, dan ia menemukan tempat untuk menambahkannya. Dengan rokok di jari tangan kanan, ia memegang dokumen itu dengan tangan kiri dan membacanya lagi. Dan lagi.

AJdiirnya Sam mengulurkan tangan ke rak dan dengan hati-hati menurunkan mesin tik Royal portabel kuno miliknya. Ia menyeimbangkannya dengan sempurna di atas lutut, menyelipkan sehelai kertas, dan mulai mengetik.

Pukul 06.10, pintu-pintu di ujung utara Tier A berdetak dan terbuka, dan dua penjaga masuk ke gang. Yang satu mendorong kereta dorong dengan

246

empat belas nampan tertumpuk rapi di raknya. Mereka berhenti di sel nomor satu dan menyorongkan nampan logam itu melalui lubang sempit di pintu. Penghuni nomor satu adalah laki-laki Kuba kurus yang sedang menunggu pada jeruji, dengan celana kolor melorot tanpa kemeja, la meraih nampan itu bak pengungsi kelaparan, dan tanpa sepatah kata pun membawanya ke tepi ranjang.

Menu pagi ini dua telur goreng, empat potong roti putih panggang, seiris gemuk daging babi asap, dua wadah kuras berisi selai anggur, sebotol kecil air jeruk siap minum, dan satu cangkir sfyro-foam berisi kopi. Makanan itu hangat dan mengenyangkan, serta telah disetujui pengadilan-pengadilan federal.

Mereka pindah ke sel berikutnya; sang narapidana sedang menunggu. Mereka selalu menunggu, selalu berdiri di samping pintu, bagaikan anjing kelaparan.

"Kau terlambat sebelas menit," kata narapidana itu pelan sambil mengambil nampan. Dua penjaga itu tidak memandangnya. "Tuntut kami," yang satu berkata. "Aku punya hak." "Hakmu itu gombal."

"Jangan bicara seperti itu padaku. Aku akan menuntutmu. Itu menghina." -Penjaga-penjaga itu pindah ke sebelah tanpa

247memberikan tanggapan lebih jauh. Cuma sebagi^ dari ritual harian.

Sam tidak menunggu di pintu. Ia sibuk bekerja dalam kantor hukumnya ketika makan pagi tiba.

"Kurasa kau sedang mengetik," kata seorang penjaga ketika mereka berhenti di depan sel nomor enam. Sam perlahan-lahan meletakkan mesin tik di ranjang.

"Surat cinta," katanya sambil berdiri. "Ah, apa pun yang kauketik, Sam, sebaiknya kau bergegas. Koki sudah bicara tentang makanan terakhirmu."

"Katakan padanya aku ingin pizza microwave. Dia mungkin akan membuatkannya. Atau aku mungkin akan makan hot dog dan kacang saja." Sam mengambil nampannya melalui lubang itu.

"Sekarang giliranmu, Sam. Orang terakhir ingin steak dan udang. Bisakah kaubayangkan? Steak dan udang di tempat ini;" "Apakah dia mendapatkannya?" Tidak. Dia kehilangan selera, dan sebagai gantinya mereka membuatnya kenyang dengan Va-Inm."

"Bukan cara yang jelek untuk mati."

"Diam!" J.B. Gullit berseru dari sel sebelah. Penjaga-penjaga itu menggeser kereta dorong beberapa meter dan berhenti di depan J .B, yang sedang mencengkeram jeruji dengan dua belah tangan. Mereka menjaga jarak.

248

"Wah, wah, apakah kita tidak cekatan pagi ini?" salah satu berkata.

"Mengapa kalian bangsat-bangsat ini tidak menyajikan saja makanan tanpa bicara? Maksudku, apa kalian pikir kami ingin bangun tiap pagi dan memulai hari itu dengan mendengarkan komentar lucu kalian? Berikan saja makanan itu padaku."

"Wah, J.B. Kami sangat menyesal. Kami cuma menyangka kalian kesepian."

"Sangkaanmu keliru." J.B. mengambil nampan dan berbalik.

"Mengharukan, mengharukan," kata seorang penjaga ketika mereka pindah ke korban lain.

Sam meletakkan makanannya di ranjang dan mencampurkan sebungkus gula ke dalam kopinya. Kegiatan rutinnya tidak termasuk telur dan daging babi asap. Ia akan menyimpan roti panggang dengan selai itu dan memakannya sepanjang pagi. ia menghirup kopinya dengan hati-hati, menjatahnya sampai pukul 10.00, saat baginya untuk berolahraga dan menikmati matahari.

Ia meletakkan mesin tik pada lutut dan mulai mengetik.

249

TIGA BELAS

Surat perjanjian versi Sam selesai pukul 09.30. Ia bangga dengannya, salah satu karya terbaiknya pada bulan-bulan terakhir ini. Ia mengunyah sepotong roti bakar sambil memeriksa dokumen itu antuk terakhir kalinya. Ketikannya rapi, tapi ketinggalan zaman—hasil mesin tik kuno. Bahasanya berlebihan dan repetitif, berbunga-bunga dan penuh dengan kata-kata yang tak pernah diucapkan orang awam. Sam nyaris fasih berbahasa hukum dan bisa memperdebatkan pendiriannya sendiri dengan pengacara mana pun.

Pintu di ujung gang terempas membuka, lalu tertutup. Langkah-langkah berat berdetak mantap, dan Packer muncul. "Pengacaramu ada di sini, Sam," katanya sambil melepaskan borgol dari ikat pinggang.

Sam berdiri dan menarik celana pendeknya. "Jam berapa sekarang?"

"Setengah sembilan lewat sedikit. Apa bedanya?"

"Aku seharusnya keluar pukul sepuluh."

"Kau mau keluar atau menemui pengacaramu?"

Sara merenungkan tawaran ini sambil mengenakan pakaian terusan merah dan memasukkan kaki ke dalam sandal. Berpakaian adalah prosedur kilat di penjara ini. "Bisakah aku melakukannya nanti?"

"Kita lihat nanti."

"Aku ingin jatah istirahatku di luar, kau tahu." "Aku tahu, Sam. Ayo pergi." "Itu benar-benar penting bagiku." "Aku tahu, Sam. Itu benar-benar penting bagi semua orang. Kita lihat saja nanti, oke?"

Sam menyisir rambutnya dengan gerakan pelan hati-hati, lalu membasuh tangan dengan air dingin. Packer menanti dengan sabar. Sam ingin mengatakan sesuatu pada I.B. Gullit, sesuatu tentang suasana hatinya pagi ini, tapi Gullit sudah tertidur kembali. Hampir semua di antara mereka tertidur. Kebanyakan narapidana di penjara itu bangun selama makan pagi dan menonton televisi satu-dua jam, lalu berbaring untuk tidur pagi. Meskipun penelitiannya sama sekali tidak ilmiah, Packer memperkirakan mereka tidur lima belas sampai enam belas jam sehari. Dan mereka bisa tidur di tengah udara panas, keringat, hawa dingin, dan hiruk-pikuk keras suara televisi dan radio.

Kebisingan itu jauh berkurang pagi ini. Kipas angin berdengung dan melolong, tapi tak ada teriakan balas-membalas, J^jjJ Sam mendekati jeruji, memunggungi Packer,

251

250

dan mengulurkan dua belah tangan melalui lubang sempit di pintu. Packer memasang borgol, dan Sam berjalan ke ranjang serta memungut dokumen tadi. Packer mengangguk pada seorang penjaga di ujung lorong, pintu Sam terbuka secara elektronis, lalu tertutup.

Dalam situasi ini rantai kaki bisa dipasang bisa tidak. Pada tahanan yang lebih muda, yang banyak tingkah dan staminanya lebih baik, Packer mungkin akan memakaikannya. Tapi ini cuma Sam, Ia orang tua. Seberapa jauh ia bisa lari? Sejauh mana kerugian yang bisa ia timbulkan dengan kakinya?

Dengan lembut Packer meletakkan tangan pada biseps Sam yang kurus dan membimbingnya menyusuri gang. Mereka berhenti di pintu, sederet jeruji lain, menunggunya terbuka dan menutup, dan meninggalkan Tier A. Seorang penjaga lain mengikuti di belakang ketika mereka tiba di pinta baja yang dibuka Packer dengan anak kunci dari saku. Mereka berjalan melewatinya, dan di sana Adam duduk sendiri, di balik kisi-kisi hijau.

Packer melepaskan borgol dan meninggalkan ruangan.

Pertama kali Adam membacanya perlahan-lahan. . Ketika membaca untuk kedua kalinya, ia menulis beberapa catatan dan merasa geli oleh sebagian bahasanya. Ia pernah melihat karya yang lebih buruk dari-pengacara-pengacara terlatih. Dan pernah melihat banyak karya yang lebih baik. Sam

252

menderita penyakit yang juga menimpa kebanyakan mahasiswa hukum tahun pertama. Ia memakai enam kata saat satu kata sudah memadai. Bahasa Latin-nya payah." Seluruh alinea itu tak berguna. Namun secara keseluruhan bukan karya yang jelek untuk orang awam.

Surat perjanjian dua halaman itu sekarang jadi empat, diketik rapi dengan garis tepi sempurna; hanya ada dua koreksi dan satu kata yang salah eja.

"Kau mengerjakannya cukup baik," kata Adam sambil meletakkan dokumen itu pada counter. Sam mengepulkan rokok dan menatapnya melalui lubang. "Pada dasarnya perjanjian ini sama dengan yang kuberikan padamu kemarin."

"Pada dasarnya sangat jauh berbeda," kata Sam, mengoreksinya.

Adam melirik catatannya, lalu berkata, "Kau tampaknya mengkhawatirkan lima hal. Gubernur, buku, film, pemutusan perjanjian, dan siapa yang harus menyaksikan eksekusi."

"Aku mengkhawatirkan banyak hal. Yang itu tadi kebetulan tak bisa ditawar."

"Kemarin aku sudah berjanji takkan berurusan dengan buku dan film." "Bagus. Sesuai dengan ini." "Kalimat tentang pemberhentian ini boleh juga.

Kau ingin hak untuk memutuskan perwakilanku,

juga Kravitz & Bane, kapan saja dan karena alasan

apa saja, tanpa perselisihan."

253

"Dulu aku butuh waktu lama untuk memecat bangsat-bangsat Yahudi itu. Aku tak mau mengalaminya lagi."

"Itu masuk akal."

"Aku tak peduli apakah kaupikir syarat ini masuk akal, oke? Itu tercantum dalam perjanjian, dan tak bisa ditawar."

"Cukup adil. Dan kau tak mau berurusan dengan orang lain selain aku."

"Benar. Tak seorang pun di Kravitz & Bane boleh menyentuh berkasku. Tempat itu penuh sesak orang Yahudi, dan mereka tak boleh terlibat, oke? Juga untuk negro dan perempuan."

"Dengar, Sam, bisakah kita tinggalkan dulu cercaan itu? Bagaimana kalau kita sebut mereka orang kulit hitam?"

"Uups. Maaf. Bagaimana kalau kita melakukan yang benar dan menyebut mereka Afro-Amerika, Yahudi-Amerika dan Perempuan-Amerika? Kau dan aku akan jadi Irlandia-Amerika, juga Laki-laki-Kulit Putih-Amerika. Bila kau butuh bantuan dari biro hukummu, cobalah memintanya dari orang Jerman-Amerika atau Itali-Amerika. Karena kau di Chicago, mungkin memakai beberapa Po-landia-Amerika. Wah, itu menyenangkan, bukan? Kita akan benar-benar sopan dan benar secara politis dan multikultural, bukan?" "Terserahlah."

"Aku sudah merasa lebih baik."

254

Adam membuat tanda centang di samping catatannya. "Aku setuju dengan ini."

"Sudah tentu kau akan setuju, kalau kau menginginkan ada perjanjian. Sisihkan saja orang-orang minoritas dari hidupku."

"Kau mengasumsikan mereka ingin sekali melibatkan diri."

"Aku tidak mengasumsikan apa-apa. Aku punya waktu empat minggu untuk hidup, dan aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan orang-orang yang kupercayai."

Adam membaca kembali satu alinea di halaman tiga konsep Sam. Syarat di situ memberi Sam wewenang penuh untuk memilih dua saksi pada eksekusinya. "Aku tak mengerti klausul tentang saksi ini," kata Adam.

"Itu sangat sederhana. Kalau aku sampai ke titik itu, akan ada sekitar lima belas saksi. Karena aku tamu kehormatan, aku harus memilih dua. Menurut undang-undang, kalau kau punya kesempatan membacanya, harus ada beberapa orang yang hadir. Sang Kepala Penjara, dia orang Lebanon-Amerika, berwenang memilih sisanya. Mereka biasanya mengundi untuk memilih alap-alap pers mana yang diizinkan menyaksikannya."

"Kalau begitu, mengapa kau ingin klausul ini?"

"Sebab si pengacara selalu jadi salah satu dari dua orang yang dipilih terhukum. Yaitu aku."

"Dan kau tak ingin aku menyaksikan eksekusi?"

"Benar."

255

"Kau mengasumsikan aku ingin menyaksikan, nya?"

"Aku tak mengasumsikan apa pun. Itu cuma fakta. Para pengacara biasanya tak sabar lagi ingin menyaksikan klien mereka yang malang digas begitu hal itu tak terelakkan lagi. Kemudian mereka tak sabar ingin muncul di depan kamera dan menangis, lalu bertele-tele mencerca ketidakadilan." "Dan kaupikir aku akan melakukan hal itu?" Tidak. Kupikir kau takkan melakukannya." "Kalau begitu, mengapa ada klausul ini?" Sam mencondongkan tubuh ke depan dan menopangkan siku pada counter. Hidungnya dua setengah send dari kisi-kisi. "Sebab kau takkan menyaksikan eksekusi, oke?"

"Janji," kata Adam tak acuh, dan membalik ke halaman berikutnya. "Kita takkan sampai sejauh itu, Sam."

"Wah, wah. Itulah yang ingin kudengar." Tentu saja kita mungkin butuh Gubernur." Sam mendengus muak dan duduk santai di kursinya, h menyilangkan kaki kanan di atas lutut kiri dan memandang tajam pada Adam. "Perjanjian ini -sangat jelas."

Memang demikian. Hampir sehalaman penuh dicurahkan untuk melontarkan serangan berbisa kepada David McAllister. Sam lupa pada hukum dan memakai kata-kata seperti keji, egois, dan narsis-tik, dan lebih dari satu kali menyebutkan keinginan tak terpuaskan untuk mendapatkan publisitas.

"Jadi, kau punya masalah dengan Gubernur," kata Adam. Sam mendengus.

"Kupikir ini bukan gagasan yang bagus, Sam."

"Aku sama sekali tak peduli apa pendapatmu."

"Gubernur bisa menyelamatkan nyawamu."

"Oh, benar.. Dialah alasan satu-satunya aku ada di sini, di penjara untuk terpidana mati, menunggu ajal, dalam kamar gas. Mengapa dia ingin menyelamatkan nyawaku?"

"Aku tidak mengatakan dia ingin. Aku mengatakan dia bisa. Mari, biarkan pilihan kita tetap terbuka."

Lama Sam tersenyum dibuat-buat, sambil menyalakan sebatang rokok. Ia berkedip dan memutar mata seolah-olah bocah ini orang paling tolol yang pernah dijumpainya dalam beberapa dasawarsa. Kemudian ia membungkuk ke depan, bertelekan siku kiri, dan menuding Adam dengan satu jari kanan yang bengkok. "Kalau kaupikir David McAllister akan memberiku pengampunan pada saat terakhir, kau tolol. Akan kuberitahukan apa yang akan dilakukannya. Dia akan memakaimu, dan aku, untuk menyedot segala publisitas yang ada. Dia akan mengundangmu ke kantornya di gedung gubernuran, dan sebelum kau sampai ke sana, dia akan memberi kisikan kepada media. Dia akan mendengarkan dengan lagak tulus luar biasa Dia akan menyatakan keprihatinan untuk mempertimbangkan apakah aku harus mati. Dia akan menjad-

walkan pertemuan lain, lebih dekat ke saat eksekusi. Sesudah kau pergi, dia akan mengadakan beberapa wawancara dan mengungkapkan semua

yang baru saja kauceritakan padanya. Dia akan menguraikan kembali pengeboman Kramer. Dia

akan bicara tentang hak-hak sipil dan semua omong kosong negro radikal itu. Bahkan mungkin dia akan menangis. Makin dekat aku ke kamar gas, akan makin besar sirkus media massa itu. Dia akan mencoba setiap cara di dunia untuk masuk ke tengahnya. Dia akan berunding denganmu tiap hari, kalau kita mengizinkannya. Dia akan membawa kita di bawah sorotan." "Dia tak dapat melakukan ini tanpa kita." "Dan dia akan melakukannya. Ingatlah kata-kataku, Adam. Satu jam sebelum aku mari, dia akan mengadakan jumpa pers entah di mana— barangkali di sini, mungkin di istana gubernur— dan dia akan berdiri di bawah sorotan seratus kamera; menolak memberikan pengampunan. Dan mata bangsat itu akan berkaca-kaca." 'Tak ada ruginya bicara dengannya." "Baik. Bicaralah dengannya. Dan sesudah kau melakukannya, aku akan melaksanakan alinea dua dan kau akan kembali ke Chicago." "Dia mungkin menyukaiku. Kita bisa berteman." "Oh, dia akan menyukaimu. Kau cucu Sam. Sungguh cerita hebat! Makin banyak lagi reporter, kamera, wartawan, wawancara. Dia akan senang berteman denganmu, supaya dia bisa menyeretmu

258

dalam sorotan. Persetan, kau mungkin bisa membuatnya terpilih kembali."

Adam membalik satu halaman lagi, membuat beberapa catatan lagi, dan berdiam beberapa lama, berusaha menyingkir dari urusan tentang Gubernur. "Di mana kau belajar menulis seperti ini?" tanyanya

"Di tempat yang sama kau mempelajarinya. Aku diajar oleh jiwa-jiwa terpelajar yang juga memberikan kuliah padamu. Hakim-hakim mati. Hakim agung terhormat. Pengacara-pengacara hebat. Profesor-profesor yang membosankan. Aku sudah - baca sampah serupa yang kaubaca."

"Tidak jelek," kata Adam, memeriksa satu alinea lain.'

"Aku senang kau berpendapat begitu."

"Setahuku kau cukup banyak praktek di sini."

"Praktek? Apa itu praktek? Mengapa pengacara berpraktek? Mengapa mereka tidak bisa bekerja saja seperti orang lain? Apakah tukang pipa berpraktek? Apakah sopir truk berpraktek? Tidak, mereka cuma bekerja. Tapi ahli hukum tidak. Sama sekali tidak. Mereka istimewa, dan mereka berpraktek. Dengan segala praktek itu, kau akan mengira mereka tahu apa yang mereka lakukan. Kaupikir mereka akhirnya akan jadi pandai dalam suatu hal." "Ada yang kausukai?" "Itu pertanyaan idiot." "Mengapa idiot?"

"Sebab kau duduk di sisi lain dinding ini. Kau bisa berjalan keluar dari pintu itu dan pergi menaiki mobilmu. Dan malam ini kau bisa makan malam di restoran bagus dan tidur di ranjang empuk. Kehidupan agak berbeda di sisi sini. Aku diperlakukan seperti binatang. Aku punya sangkar, Aku punya vonis mad yang mengizinkan Negara Bagian Mississippi membunuhku empat minggu lagi, dan memang benar, Nak, sulit sekali mencintai dan mengasihi. Sulit menyukai orang lain hari-hari ini. Itulah sebabnya pertanyaanmu tolol."

"Jadi, dulu kau penyayang dan penuh kasih sebelum tiba di sini?"

Sam menatap melalui lubang dan mengepulkan rokok. "Pertanyaan tolol lagi." "Kenapa?"

Tta tidak relevan, Pengacara. Kau ahli hukum, bukan psikolog."

"Aku cucumu. Karena itulah aku boleh mengajukan pertanyaan tentang masa lalumu."

"Tanyakanlah. Pertanyaan itu boleh tidak dijawab." "Mengapa tidak?"

"Masa lalu sudah lewat, Nak. Itu sejarah. Kita tak bisa mencabut apa yang sudah terjadi. Juga tak bisa menerangkan semuanya."

"Tapi aku tak punya masa lalu."

"Kalau begitu, kau benar-benar orang yang beruntung."

"Aku tidak yakin."

"Dengar, kalau kau mengharapkan aku mengisi bagian-bagian yang senjang, aku khawatir kau menemui orang yang salah."

"Oke. Siapa lagi yang harus kuajak bicara?"

"Entahlah. Itu tidak penting."

"Mungkin itu penting bagiku."

"Ah, terus terang, aku tidak terlalu memikirkanmu saat ini. Percaya atau tidak, aku jauh lebih mengkhawatirkan diriku. Aku dan masa depanku. Aku dan leherku. Ada jam besar yang berdetak entah di mana, berdetak agak keras, bukan begitu menurutmu? Karena alasan aneh, jangan kautanya aku mengapa, tapi aku bisa mendengar benda terkutuk itu, dan aku benar-benar cemas. Aku merasa sulit mengkhawatirkan masalah orang lain."

"Mengapa kau jadi anggota Klan?"

"Sebab ayahku bergabung dengan Klan."

"Mengapa dia jadi anggota Klan?"

"Sebab ayahnya bergabung dengan Klan."

"Hebat. Tiga generasi."

"Empat, kurasa. Kolonel Jacob Cayhall bertempur bersama Nathan Bedford Forrest, dan menurut legenda keluarga, dia salah satu di antara anggota pertama Klan. Dia kakek buyutku."

"Kau bangga dengan ini?"

"Apakah itu pertanyaan?"

"Ya."

"Itu tak ada hubungannya dengan kebanggaan." , Sam mengangguk pada counter. "Apa kau akan menandatangani surat perjanjian itu?"

"Ya."

"Kalau begitu, kerjakanlah." Adam membubuhkan tanda tangan di bawah halaman belakang dan mengangsurkannya kepada Sam. "Kau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat rahasia. Sebagai pengacaraku, kau tak bisa membocorkan sepatah kata pun."

"Aku mengerti hubungan ini."

Sam membubuhkan tanda tangannya di samping tanda tangan Adam, kemudian mengamati kedua tanda tangan tersebut. "Kapan kau ganti nama menjadi Hall?"

"Sebulan sebelum ulang tahunku yang keempat. Itu urusan keluarga. Kami semua ganti nama pada saat yang sama. Tentu saja aku tidak ingat."

"Mengapa dia masih memakai nama Hall? Mengapa tidak melepasnya sama sekali dan memilih nama Miller, atau Green, atau entah apa?"

"Apakah itu pertanyaan?"

"Bukan."

"Dia melarikan diri, Sam. Dan dia ingin membuang masa lalunya. Kurasa empat generasi sudah cukup baginya." , j jH

Sam meletakkan surat perjanjian pada kursi di sampingnya dan secara metodis menyalakan sebatang rokok lagi. Ia mengembuskannya ke langit-langit dan menatap Adam. "Dengar, Adam," katanya perlahan-lahan, suaranya mendadak jauh lebih lembut. "Sementara ini mari kita sisihkan urusan keluarga, oke? Mungkin kita akan membicarakan-

262

nya nanti. Saat ini aku perlu tahu, apa yang akan terjadi padaku. Apa peluangku, kau tahu? Hal-hal macam itu. Bagaimana kau menghentikan jam? Apa yang selanjurnya akan kauajukan ke pengadilan'?" fe

"Tergantung beberapa hal, Sam. Tergantung seberapa banyak yang kauceritakan tentang pengeboman itu."

"Aku tak mengerti."

"Kalau ada fakta-fakta baru, kita mengajukannya. Selalu ada jalan, percayalah padaku. Kita akan cari hakim yang mau mendengarkan." -

"Fakta baru macam apa?"

Adam membalik buku tulisnya ke halaman baru, dan menuliskan tanggal saat itu di garis tepinya, "Siapa yang mengirim Pontiac hijau itu ke Cleveland pada malam hari sebelum pengeboman?"

"Aku tidak tahu. Salah satu suruhan Dogan."

"Kau tak tahu namanya?"

"Tidak."'

"Ayolah, Sam."

"Sumpah. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya Aku tak pernah melihat orang itu. Mobil itu dikirim ke sebuah lapangan parkir. Aku menemukannya. Aku diharapkan meninggalkannya di tempatku menemukannya. Aku tak pernah melihat orang yang mengantarkannya."

"Mengapa dia tak pernah ditemukan dalam sidang-sidang itu?" ? "Bagaimana aku tahu? Dia cuma kaki tangan

263

tak berarti, kurasa. Mereka mengincarku. Mengapa repot-repot dengan seorang pesuruh? Entahlah."

"Kramer adalah pengeboman nomor enam, benar?"

"Kurasa begitu." Sam kembali membungkuk ke depan dengan wajah nyaris menyentuh kisi-kisi. Suaranya rendah, kata-katanya dipilih dengan hati-hati, seolah-olah ada orang yang mungkin mendengarkan.

"Kaupikir begitu?"

"Itu sudah lama, oke?" Ia memejamkan mata dan berpikir sejenak. "Yeah, nomor enam."

"Kata FBI, ini yang keenam."

"Kalau begitu, persoalannya beres. Mereka selalu benar."

"Apakah Pontiac hijau itu dipakai juga dalam salah satu atau semua pengeboman sebelumnya?"

"Ya. Seingatku dalam beberapa kejadian. Kami memakai lebih dari satu mobil."

"Semua dipasok Dogan?"

"Ya. Dia dealer mobil."

"Aku tahu. Apakah orang yang sama mengirimkan Pontiac tersebut dalam pengeboman terdahulu?"

"Aku tak pernah melihat atau berjumpa dengan siapa pun yang mengirimkan mobil untuk pengeboman itu. Bukan begitu cara Dogan bekerja. Dia luar biasa hati-hati, dan rencananya terperinci. Aku tak tahu pasti akan hal ini, tapi aku yakin orang yang mengirimkan mobil-mobil itu tidak tahu-menahu siapa aku."

"Apakah mobil itu datang bersama dinamitnya?"

"Ya. Selalu. Dogan punya cukup senapan dan peledak untuk dipakai dalam perang kecil. FBI juga tak pernah menemukan gudang amunisinya."

"Di mana kau belajar tentang peledak?"

"Di kamp latihan KKK dan buku panduan latihan dasar."

"Mungkin bakat turunan, bukan?"

"Bukan."

"Aku serius; Bagaimana kau belajar memakai bahan^eledak?"

"Itu sangat sederhana dan mudah. Orang tolol mana pun bisa mempelajarinya dalam tiga puluh menit."

"Kalau begitu, dengan sedikit latihan kau jadi seorang ahli?"

"Latihan membantu. Itu tidak lebih sulit daripada menyalakan perasan. Kaunyalakan korek, korek apa pun jadi, dan kautempelkan pada ujung sumbu yang panjang, sampai sumbu itu menyala. Lalu kau lari mati-matian. Kalau kau beruntung, dinamit itu takkan meledak sampai kira-kira lima belas menit."

"Dan ini kurang-lebih dipelajari oleh semua anggota Klan?"

"Hampir semua yang kukenal bisa menanganinya"

"Apa kau masih kenal dengan anggota Klan lainnya?"

"Tidak. Mereka sudah meninggalkanku."

264

Adam mengawasi wajahnya dengan cermat. Mata biru yang tajam itu tak bergerak. Keriput pada wajahnya tak bergerak. Tak ada emosi, tak ada perasaan, kesedihan, atau kemarahan. Sam membalas tatapan itu tanpa berkedip.

Adam kembali ke buku catatannya. "Pada tanggal 2 Maret 1967, Kuil Hirsch di Jackson dibom. Apakah kau yang melakukannya?"

"Kau benar-benar to the point rupanya, ya?"

"Ini pertanyaan mudah." t

Sam memutar filter di antara bibirnya dan berpikir sejenak. "Mengapa ini penting?" ' "Jawab saja pertanyaan ini," bentak Adam. "Sudah terlambat untuk main-main."

"Sebelumnya aku belum pernah ditanyai seperti itu,"

"Nah, kurasa hari ini hari besar bagimu. Jawaban sederhana ya atau tidak sudah cukup." "Ya."

"Apakah kau memakai Pontiac hijau itu?" "Kurasa begitu." "Siapa yang bersamamu?" "Apa yang membuatmu berpikir ada seseorang bersamaku?"

"Sebab seorang saksi mengatakan melihat sebuah Pontiac hijau melaju kencang beberapa menit sebelum ledakan itu. Dan dia mengatakan ada dua orang dalam mobil tersebut. Dia bahkan mengidentifikasikan kaulah pengemudinya."

266

"Ah, ya. Sobat kecil kita Bascar. Aku membaca tentang dirinya di surat kabar."

"Dia ada di sudut Jalan Fortification dan State ketika kau dan temanmu lewat." ' "Tentu saja dia ada di sana. Dan dia baru saja meninggalkan bar pada pukul tiga pagi, mabuk seperti kambing dan goblok luar biasa. Aku yakin kau tahu Bascar tak pernah berhasil mendekati mang sidang, tak pernah meletakkan tangan pada Injil dan bersumpah untuk menceritakan kebenaran, tak pernah menghadapi pemeriksaan silang, tak pernah muncul ke depan sampai aku ditahan di' Greenville dan separo isi dunia melihat foto Pontiac hijau itu. Identifikasi itu dia berikan hanya sesudah wajahku terpampang di semua surat kabar." "Jadi, dia bohong?"

"Tidak, dia mungkin cuma bodoh. Perhatikanlah, Adam, aku tak pernah dituduh melakukan pengeboman itu. Bascar tak pernah ditempatkan di bawah tekanan. Dia tak pernah memberikan kesaksian di bawah sumpah. Aku yakin ceritanya terungkap ketika seorang wartawan surat kabar Memphis menggali-gali cukup lama di berbagai bar. dan tempat pelacuran untuk menemukan orang seperti Bascar."

"Mari kita coba begini. Apakah kau bersama seseorang atau tidak ketika kau mengebom sinagoga Kuil Hirsch pada tanggal 2 Maret 1967?"

Tatapan mata Sam .turun beberapa senti di bawah lubang, lalu ke counter, lalu ke lantai. Ia

267

mendorong tubuhnya menjauh sedikit dari partisi

dan bersantai di kursinya. Seperti sudah diduga bungkus biru rokok Montclair dikeluarkan dari saku depan. Ia berlama-lama memilih sebatang, lalu mengetukkan-ngetukkan filternya, lalu menyelipkannya sedemikian rupa di antara bibirnya yang basah. Menggoreskan batang kotek api adalah upacara singkat lain, tapi akhirnya selesai dan kabut asap biru membubung ke langit-langit.

Adam mengawasi dan menunggu sampai jelas takkan ada jawaban segera. Penundaan itu sendiri merupakan pengakuan. Ia mengetuk-ngetukkan pena pada buku tulis dengan gelisah. Ia bernapas cepat dan merasakan denyut jantungnya meningkat. Perutnya yang kosong mendadak jadi resah, Mungkinkah ini bisa menjadi pemecahan? Kalau benar ada kaki tangan, mungkin mereka bekerja sebagai satu regu, dan mungkin Sam tidak benar-benar menanam dinamit yang menewaskan keluarga Kramer. Mungkin fakta ini bisa diajukan kepada seorang hakim yang bersimpati entah di ' mana, mau mendengarkan dan memberikan penundaan eksekusi. Mungkin. Bisakah?

"Tidak," kata Sam pelan tapi tegas, sambil memandang Adam melalui lubang partisi. "Aku tak mempercayaimu." ¦

"Tak pernah ada pembantu." "Aku tak percaya padamu, Sam." Sam mengangkat pundak dengan tak acuh se-

268

olah-olah tak peduli. Ia menyilangkan kaki dan.

menangkupkan jari-jari tangan pada lutut.

Adam menghela napas dalam, menuliskan sesuatu seperti biasa seolah-olah sudah memperkirakan jawaban ini, dan membalik kertas ke halaman baru. "Pukul berapa kau tiba di Cleveland pada malam 20 April 1967?"

"Yang mana?"

"Yang pertama."

"Aku meninggalkan Clanton sekitar pukul enam. « Bermobil dua jam menuju Cleveland. Jadi, aku tiba di sana sekitar pukul delapan." "Ke mana kau pergi?" "Ke pusat pertokoan." "Mengapa kau pergi ke sana?" "Untuk mengambil mobil." "Pontiac hijau itu?"

"Ya. Tapi mobil itu tak ada di sana. Jadi, aku pergi ke Greenville untuk melihat-lihat sedikit."

"Pernahkah kau ke sana sebelum itu?" j

"Ya. Beberapa minggu sebelumnya aku mengamati tempat itu. Aku bahkan masuk ke dalam kantor Yahudi itu untuk melihat dengan jelas."

"Itu agak tolol, bukan? Maksudku, sekretarisnya mengidentifikasikanmu dalam sidang sebagai orang yang datang menanyakan alamat dan ingin memakai kamar kecil."

"Sangat tolol. Tapi aku tidak memperkirakan akan ditangkap. Dia seharusnya tidak melihat wajahku lagi." Ia menggigit filter dan menyedot ke-

269

ras. "Langkah yang sangat buruk. Tentu saja sangat mudah duduk di sini sekarang dan menebak-nebak kembali segala yang mungkin terjadi." "Berapa lama kau tinggal di Greenville?" "Sekitar satu jam. Kemudian aku kembali ke Cleveland untuk mengambil mobil. Dogan selalu punya rencana terperinci dengan beberapa pilihan perubahan. Mobil itu diparkir di tempat B, dekat pangkalan truk."

"Di mana kuncinya?" "Di bawah karpet." "Apa yang kaulakukan?" "Membawanya pergi. Ke luar kota, melewati ladang-ladang kapas. Aku menemukan tempat yang sepi dan memarkir mobil itu. Kubuka bagasi untuk memeriksa dinamit." "Berapa batang?"

"Lima belas, kurasa. Aku memakai antara dua belas sampai dua puluh, tergantung bangunannya Dua puluh untuk sinagoga itu, sebab tempat itu baru dan modem serta dibangun dengan beton dan batu. Tapi kantor Yahudi itu bangunan kayu yang sudah tua, dan aku tahu. lima belas batang akan meruntuhkannya."

"Apa lagi yang ada dalam bagasi?"

"Barang-barang biasa. Satu kardus dinamit, dua tutup peledak, sumbu lima belas menit."

"Itu saja?"

"Ya."

"Kau pasti?"

270

"Tentu saja aku pasti."

"Bagaimana dengan alat pengatur waktu itu? Detonatornya?"

"Oh, yeah, aku lupa tentang itu. Alat itu ada di dalam kardus lain yang lebih kecil."

"Jelaskanlah."

"Kenapa? Kau sudah membaca transkrip sidang-sidang itu. Pakar FBI sudah bekerja sangat baik dalam merekonstruksi bom kecilku. Kau sudah baca ini, bukan?"

"Berkali-kali."

"Dan kau sudah menyaksikan foto-foto yang mereka pakai dalam sidang. Gambar tentang pecahan dan kepingan pengatur waktu itu. Kau sudah lihat semua ini, bukan?"

"Aku sudah melihatnya. Dari mana Dogan mendapatkan jam itu?"

"Aku tak pernah tanya. Kau bisa membelinya di toko mana pun. Itu cuma beker pegas murah an. Tak ada yang istimewa."

"Apakah ini pekerjaan pertamamu dengan alat pengatur-waktu?"

"Kau sudah tahu. Bom-bom lainnya diledakkan dengan sumbu. Mengapa kau menanyaiku dengan pertanyaan-pertanyaan ini?"

"Sebab aku ingin mendengar jawabanmu. Aku sudah membaca segalanya, tapi aku ingin mendengarnya darimu. Mengapa kau ingin menunda bom untuk Kramer?" "Sebab aku bosan menyalakan sumbu dan ber-

271

tari seperti orang gila. Aku ingin tenggang yang lebih panjang antara memasang bom ^ merasakannya meledak."

"Pukul berapa kau memasangnya?" "Sekitar pukul empat pagi." "Pukul berapa bom itu seharusnya meledak?" "Sekitar pukul lima." "Apa yang tidak beres?" "Bom itu tidak meledak pukul lima. Malah meledak beberapa menit sebelum pukul delapan. Saat itu sudah ada orang dalam gedung, dan beberapa di antara mereka tewas. Itulah sebabnya aku duduk di sini dalam pakaian monyet merah ini sambi! menduga-duga bagaimana bau gas itu."

"Dogan memberikan kesaksian bahwa pemilihan Marvin Kramer sebagai sasaran adalah kerja sama antara kalian berdua; Kramer sudah dua tahun masuk dalam daftar sasaran Klan; pemakaian alat pengatur waktu itu kausarankan sebagai cara untuk membunuh Kramer, sebab kerja rutinnya bisa diperkirakan; kau bertindak sendirian."

Sam mendengarkan dengan sabar sambil menge-pul-ngepulkan rokok. Matanya menyipit menjadi garis tipis dan ia mengangguk ke lantai. Kemudian ia nyaris tersenyum. "Ah, aku khawatir Dogan gila, bukan begitu? FBI bertahun-tahun menguntitnya, dan akhirnya dia menyerah. Dia bukan laki-laki yang kuat, kau tahu." Ia menghela napas dalam dan memandang Adam. "Tapi sebagian omongannya benar. Tidak banyak, tapi sebagian."

"Apa kau berniat membunuhnya?"

"Tidak. Kami tidak membunuh orang. Cuma meledakkan bangunan."

"Bagaimana dengan rumah Pinder di Vicksburg? Apakah itu salah satu perbuatanmu?"

Sam mengangguk perlahan-lahan.

"Bom itu meledak pukul empat pagi, ketika seluruh keluarga Pinder sedang tertidur lelap. Enam orang. Ajaibnya cuma satu orang menderita luka kecil."

"Itu bukan mukjizat. Bom itu diletakkan dalam garasi. Seandainya ingin membunuh orang, aku tentu meletakkannya di samping jendela kamar tidur."

"Separo rumah itu runtuh." "Yeah, dan aku mestinya bisa memakai beker dan membunuh segerombolan Yahudi saat mereka sedang makan kue bagel." "Mengapa kau tidak melakukannya?" "Seperti sudah kukatakan, kami tidak mencoba membunuh orang." "Apa yang kalian coba lakukan?" "Mengintimidasi. Melakukan pembalasan. Mencegah Yahudi-Yahudi terkutuk itu membiayai gerakan hak-hak sipil. Kami berusaha menempatkan orang-orang Afrika itu tetap di tempat mereka—di sekolah dan gereja mereka, serta pemukiman dan WC mereka sendiri, terpisah dari wanita dan anak-anak kami. Yahudi macam Marvin Kramer mengupayakan masyarakat antarras dan menghasut

272

orang-orang Afrika itu. Haram jadah itu perlu diberi pelajaran."

"Kalian benar-benar memberi pelajaran kepadanya, bukan?" f

"Dia mendapatkan yang pantas. Aku menyesal tentang anak-anak itu."

"Perasaan belas kasihmu mengagumkan."

"Dengar, Adam, dan dengarkan baik-baik. Aku tidak berniat melukai siapa pun. Bom itu dirancang untuk meledak pukul lima pagi, tiga jam sebelum dia biasanya tiba untuk bekerja. Alasan satu-satunya anak-anaknya ada di sana adalah karena istrinya sakit flu."

"Tapi kau tidak menyesal Marvin kehilangan dua kaki?"

"Tidak."

"Tak ada penyesalan saat dia bunuh diri?" -"Dia yang menarik pelatuk, bukan aku." "Kau orang sakit, Sam."

"Yeah, dan akan lebih sakit lagi saat aku menghirup gas."

Adam menggelengkan kepala dengan muak, tapi ia menahan lidah. Mereka bisa berdebat tentang ras dan kebencian nanti. Bukan berarti ia saat ini, mengharapkan akan mendapatkan kemajuan dalam topik ini dengan Sam. Namun ia bertekad mencoba. Tapi sekarang mereka perlu membicarakan fakta-fakta.

"Sesudah memeriksa dinamit itu, apa yang kaulakukan?"

274

•Kembali ke pangkalan truk. Minum kopi." "Kenapa?"

"Mungkin aku haus."

"Lucu sekali, Sam. Cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan ini." "Aku menunggu." "Menunggu apa?"

"Aku perlu menunggu beberapa jam. Saat itu baru sekitar tengah malam, dan aku ingin menghabiskan waktu sependek mungkin di Greenville. Jadi, aku menghabiskan waktu di Cleveland."

"Apakah kau bicara dengan seseorang di kafe itu?" Tidak."

"Apakah tempat itu penuh?" "Aku benar-benar tidak ingat." "Apakah kau duduk seorang diri?" "Ya."

"Di depan meja?"

"Ya" Sam melontarkan senyum sekilas sebab tahu apa yang akan muncul.

"Seorang sopir truk bernama Torryny rarris mengatakan melihat seorang laki-laki yang sangat mirip denganmu di pangkalan truk malam itu, dan laki-laki itu lama minum kopi dengan laki-laki lain yang lebih muda." „

"Aku tak pernah bertemu dengan Mr. Farris, tapi aku yakin sesudah tenggang tiga tahun, dia tidak lagi mengingat jelas. Seingatku tak pernah ada sepatah kata pun kepada orang lain, sampai

275

wartawan menyorotnya dan namanya tercantum di surat kabar. Sungguh mencengangkan bagaimana saksi-saksi misterius ini muncul sesudah sidang-sidang itu."

"Mengapa Farris tidak memberikan kesaksian dalam sidang terakhirmu?"

"Jangan tanya aku. Kukira itu karena dia tak punya apa pun untuk diceritakan. Fakta aku minum kopi sendiri atau dengan orang lain tujuh jam sebelum pengeboman itu hampir tidak relevan. Plus, acara minum kopi itu terjadi di Cleveland, dan tak ada kaitan dengan apakah aku melakukan kejahatan atau tidak."

"Jadi, Farris bohong?"

"Aku tidak tahu apa yang dikerjakan Farris. Aku sama sekali tak peduli. Aku sendirian. Itu saja yang penting."

"Pukul berapa kau meninggalkan Cleveland?"

"Sekitar pukul tiga, kurasa."

"Dan kau pergi langsung ke Greenville?"

"Ya. Dan aku melewati rumah Kramer, melihat si penjaga duduk di teras, melewati kantornya, putar-putar lagi, dan sekitar pukul empat aku parkir di belakang kantornya, menyelinap lewat pintu belakang, menempatkan bom dalam lemari di gang, berjalan kembali ke mobilku, dan berlalu."

"Pukul berapa kau meninggalkan Greenville?"

"Tadinya aku merencanakan pergi sesudah bom itu meledak. Tapi, seperti kauketahui, bara be-

276

^rapa bulan kemudian aku bisa benar-benar keluar dari kota itu."

.'Ke mana kau pergi setelah kau meninggalkan kantor Kramer?"

"Aku menemukan kedai kopi kecil di tepi jalan, kira-kira setengah mil dari kantor Kramer." "Mengapa kau pergi ke sana?" "Untuk minum kopi." "Pukul berapa saat itu?" "Aku tidak tahu. Sekitar setengah lima." "Apakah tempat itu penuh?" "Ada beberapa orang. Itu cuma kedai biasa yang buka sepanjang malam,. dengan koki gemuk memakai T-shirt kotor dan seorang pelayan yang mendecak-decakkan permen karet." "Apakah kau bicara dengan seseorang?" "Aku bicara dengan pelayan ketika memesan kopi. Mungkin aku makan donat."

"Dan kau cuma menikmati kopi, sibuk dengan urusan sendiri, menunggu bom itu meledak?"

"Yeah. Aku selalu suka mendengarkan bom meledak dan menyaksikan orang-orang bereaksi." "Jadi, sebelum itu kau pernah melakukannya?" "Beberapa kali. Pada bulan Februari tahun itu, aku mengebom kantor real estate di Jackson. Orang-orang Yahudi itu menjual rumah kepada orang negro di wilayah orang kulit putih. Aku baru saja duduk di suatu kedai, tak sampai tiga blok dari sana ketika bom meledak. Waktu itu aku memakai sumbu, jadi aku harus bergegas.

277

parkir cepat-cepat, dan mencari meja. Pelayan bara saja meletakkan kopiku ketika bumi bergetar dan semua orang diam membeku. Aku menyukai itu. Saat itu pukul empat pagi dan tempat itu penuh dengan sopir truk dan pengirim barang, bahkan ada beberapa polisi di sudut. Tentu saja mereka lari ke mobil dan ngebut dengan lampu berkere-dapan. Mejaku bergetar begitu keras, sampai kopi itu tumpah dari cangkir."

"Dan itu membuat hatimu begitu tergetar?"

"Ya benar. Tapi pekerjaan-pekerjaan yang lain itu terlalu riskan. Aku tak punya waktu untuk menemukan kafe atau kedai, jadi aku cuma bermobil putar-putar selama beberapa menit, menunggu keramaian. Aku memeriksa jam dengan hati-hati, jadi aku selalu tahu kapan boni itu akan meledak. Kalau aku ada di dalam mobil, aku suka berada di tepi kota, kau tahu." Sam berhenti dan menyedot rokoknya panjang-panjang. Ucapannya lambat dan hati-hati. Matanya menari-nari sedikit ketika ia bicara tentang petualangannya namun kata-katanya terkendali. "Aku menyaksikan pengeboman Pinder," ia menambahkan.

"Dan bagaimana kau melakukannya?"

"Mereka tinggal di sebuah rumah besar di tepi kota, banyak pepohonan, seperti di lembah. Aku parkir di sisi bukit sekitar satu mil dari sana, dan duduk di bawah pohon ketika bom itu meledak."

"Sungguh damai."

"Memang benar. Bulan purnama, malam yang

278

sejuk. Aku bisa melihat jelas ke jalan itu dan hampir semua atap ramahnya. Suasana begitu tenang dan damai, semua orang tertidur, lalu... glaar, atap itu terempas sampai ke neraka dan kembali lagi."

"Apa dosa Mr. Pinder?'

"Cuma seperti umumnya Yahudi. Mencintai orang negro. Selalu memeluk orang-orang Afrika radikal bila mereka datang dari Utara dan mengagi-tasi semua orang. Dia suka berpawai dan melakukan pemboikotan bersama orang-orang Afrika. Kami curiga dia mendanai banyak kegiatan mereka."

Adam membuat catatan dan berusaha menyerap semua ini. Hal ini sulit dicerna karena nyaris mustahil dipercaya. Barangkali hukuman mati sebenarnya bukan gagasan yang buruk. "Kembali ke Greenville. Di mana letak kedai kopi ini?" "Tidak ingat." "Apa namanya?"

Ttu kejadian 23 tahun yang lalu. Dan itu bukan tempat.yang ingin kaukenang." "Apakah letaknya di Highway 82?" "Kurasa begitu. Apa yang akan kaulakukan? Menghabiskan waktumu untuk mencari-cari si koki gemuk dan si pelayan jembel? Apakah kau meragukan ceritaku?" "Ya Aku meragukan ceritamu." "Mengapa?"

"Sebab kau tak bisa menceritakan di mana kau belajar membuat bom dengan timing detonator."

279

"Di garasi di belakang rumahku." "Di Clanton?"

"Di luar Clanton. Itu tidak sulit." "Siapa yang mengajarimu?" «tf

"Aku belajar sendiri. Aku punya gambar, buklet kecil dengan diagram dan sebagainya. Langkah pertama, kedua, ketiga. Bukan sesuatu yang luar biasa."

. - "Berapa kali kau berlatih dengan alat macam itu sebelum Kramer?" "Sekali."

"Di mana? Kapan?"

"Di dalam hutan tak jauh dari rumahku. Aku bawa dua batang dan peralatan yang diperlukan, dan aku pergi ke sungai kecil jauh di tengah hutan. Bom itu bekerja sempurna"

"Tentu saja Kau belajar dan melakukan semua penelitian ini di garasimu?" "Itulah yang kukatakan." "Laboratorium kecil milikmu sendiri?" "Sebut apa saja semaumu." "Nah, FBI melakukan penggeledahan teliti di rumah, garasi, dan tanahmu ketika kau ditahan. Mereka tak menemukan sedikit pun bukti adanya bahan peledak."

"Mungkin mereka tolol. Mungkin aku benar-benar hati-hati dan tak meninggalkan jejak."

"Atau mungkin bom itu dipasang orang yang berpengalaman memakai peledak." "Tidak. Maaf."

280

«Berapa lama kau tinggal di coffee shop di Greenville?"

«Lama sekali. Pukul lima lewat dengan cepat. Lalu sekonyong- konyong sudah hampir pukul enam. Aku pergi beberapa menit sebelum pukul enam dan bermobil melewati kantor Kramer. Tempat itu tampak baik-baik saja. Beberapa orang yang suka bangun pagi sudah keluar dan berkeliaran, dan aku tak ingin terlihat. Aku menyeberangi sungai dan menuju Lake Village, Arkansas, lalu kembali ke Greenville. Saat itu sudah pukul tujuh, matahari sudah naik, dan orang-orang sudah berkeliaran. Tak ada ledakan. Mobil kuparkir di jalan kecil, dan aku berjalan-jalan sebentar. Benda terkutuk itu tak mau meledak. Aku tak bisa masuk mengambilnya, kau tahu. Aku berjalan dan berjalan, mendengarkan mati-matian, berharap tanah berguncang. Tak ada yang terjadi." •

"Apakah kau melihat Marvin Kramer dan anak-anaknya masuk ke dalam gedung itu?"

"Tidak. Aku berbelok di sudut dan melihat mobilnya diparkir, dan kupikir terkutuk benar urusan itu. Pikiranku jadi kosong. Aku tak dapat berpikir. Tapi kemudian kupikir, peduli - amat, dia cuma seorang Yahudi dan sudah melakukan banyak perbuatan busuk. Kemudian aku memikirkan sekretaris dan orang-orang lain yang akan bekerja di dalam sana, jadi aku berjalan mengelilingi blok itu lagi. Aku ingat melihat jam tangan pada pukul 07.40, lalu terlintas dalam pikiranku mungkin aku

harus menelepon gelap ke kantor itu dan menceritakan kepada Kramer ada bom dalam lemari. Kalau tak mempercayaiku dia bisa pergi melihat-nya. lalu kabur." "Mengapa kau tidak melakukannya?" "Aku tak punya uang receh. Semua uang kera-bahanku kutinggalkan sebagai tip untuk pelayan itu. Aku tak ingin masuk ke toko. tukar uang kecil. Aku benar-benar gelisah. Tanganku gemetar, dan aku tak ingin bertindak mencurigakan di depan siapa pun. Aku orang asing, benar? Bomkulah yang ada di dalam sana. benar? Aku berada di kota kecil tempat semua orang saling kenal, dan mereka pasti ingat orang asing bila ada tindak kejahatan. Aku ingat berjalan menyusuri trotoar, tepat d; seberang kantor Kramer. Di depan tukang pangkas ada rak surat kabar, dan laki-laki itu sedang merogoh-rogoh saku mencari uang receh. Aku nyaris minta uang kecil agar bisa menelepon cepat-cepat, tapi aku terlalu gelisah."

"Mengapa kau gelisah. Sam? Kau baru saja mengatakan tak peduli kalau Kramer sampai ter-luka Itu pengebomanmu yang keenam, benar?"

"Yeah. tapi yang lainnya mudah. Nyalakan sumbu, keluar dari pintu, dan tunggu beberapa menit, Aku terus memikirkan sekretaris kecil yang manis di kantor Kramer, sekretaris yang menunjukkan kamar kecil kepadaku. Sekretaris yang memberikan kesaksian dalam sidang. Dan aku terus memikirkan orang-orang lain yang bekerja di kantor-

282

nya, «bab ketika aku masuk ke sana hari itu. aku melihat orang di mana-mana. Saat itu hampir pukul delapan, dan aku tahu tempat itu akan buka beberapa menit lagi. Aku tahu banyak orang akan terbunuh. Pikiranku berhenti bekerja. Aku ingat berdiri di samping gardu telepon satu blok dari sana, menatap jam tangan, lalu menatap telepon, mengatakan pada diriku sendiri harus menelepon. Akhirnya aku melangkah ke dalam dan mencari nomornya, tapi begitu menutup buku aku melupakannya. Aku mencarinya lagi dan mulai memutar nomornya ketika teringat tak punya uang receh. Jadi, kuputuskan masuk ke tempat pangkas rambut dan tukar uang receh. Kakiku berat dan aku berkeringat habis-habisan. Aku berjalan ke tempat pangkas, berhenti di depan jendela kaca, dan melihat ke dalam. Tempat itu penuh. Mereka antre di depan dinding, bercakap-cakap dan membaca koran, dan di sana ada sederet kursi, semua terisi laki-laki yang bicara berbarengan. Aku ingat beberapa di antara mereka memandangku, lalu satu atau dua lagi mulai menatap, maka aku berlalu." "Ke mana kau pergi?"

"Aku tidak pasti. Ada sebuah kantor di samping kantor Kramer, dan aku ingat melihat sebuah mobil parkir di depannya. Kupikir mungkin itu sekretaris atau seseorang yang akan masuk ke kantor Kramer, dan kurasa aku sedang berjalan ke arah mobil itu ketika bom meledak."

"Jadi, kau ada di seberang jalan?"

283

-Kurasa begitu. Aku ingat terguling ke „. bertumpu tangan dan lutut, sementara kaca* d reruntuhan berjatuhan di sekelilingku. Tapi ak tidak ingat banyak sesudah itu."

Pintu diketuk pelan dari luar, lalu Sersan pack muncul dengan cangkir styrofoam besar, kertas lap, sebatang pengaduk, dm susu bubuk. "Kupikir kau mungkin perlu kopi. Maaf menyela." Ia m. letakkan cangkir dan perlengkapan lainnya pada counter. "Terima kasih," kata Adam.

Packer cepat-cepat berbal ik dan beranjak ke pintu.

"Aku mau dua sendok gula dan sesendok susu," kata Sam dari sisi seberang.

"Ya Sir," tukas Packer tanpa mengendurkan langkah. Ia menghilang. "Bagus sekali pelayanan di sini," kata Adam. "Hebat, hebat sekali."

284

EMPAT BELAS

Sam tentu saja, tidak diberi kopi. Ia langsung tahu „g hal ini, tapi Adam tidak. Jadt sesudah menunggu beberapa menit, Sam berkata. Minumlah,» fa sendiri menyalakan rokok lagi dan mondar-mandir sedikit di belakang kursi, sementara Adam mengaduk gula dengan pengaduk plastik. Saat itu hampir pukul 11.00, dan Sam sudah ketinggalan jam istirahatnya. Ia sama sekali tak yakin Packer akan memberi waktu sebagai penggantinya Ia mondar-mandir dan berjongkok beberapa kali, membungkuk setengah lusin kali, membunyikan lutut dan sendi-sendi ketika bangkit dan me-"nduk goyah. Pada beberapa bulan pertamanya di The Row, ia cukup berdisiplin berlatih. Pada suatu ™*> ia bisa melakukan push-up dan sit-up seratus J* »ap hari di selnya. Bobotnya turun sampai Alapan puluh kilogram dan diet rendah lemak itu "tunjukkan hasil. Perutnya rata dan keras. Berperaan ia sesehat itu.

3pi tak lama sesudahnya datang kesadaran

285

bahwa The Row merupakan rumah terakhirnya, dan suatu hari negara akan membunuhnya di sini. Apa manfaat kesehatan yang baik dan otot biseps yang keras bila ia dikurung 23 jam sehari, menunggu ajal? Latihan itu perlahan-lahan berhenti. Kebiasaan merokok makin hebat. Di antara rekan-rekannya, Sam dianggap beruntung, terutama karena punya uang di luar. Seorang adik laki-laki, Donnie. tinggal di North Carolina dan sekali sebulan mengirimi Sam satu kotak yang dikemas rapi, berisi sepuluh kardus rokok Montclair. Sam rata-rata mengisap tiga sampai empat bungkus sehari. Ia ingin bunuh diri sebelum negara melakukannya. Dan ia lebih suka mati karena penyakit berkepanjangan, penyakit yang menuntut perawatan mahal yang secara hukum harus diberikan Negara Bagian Mississippi.

Namun tampaknya ia akan kalah dalam pacuan itu.

Hakim federal yang memegang kembali kendali atas Parchman melalui suatu sidang hak-hak narapidana telah mengeluarkan perintah menyeluruh untuk menyempurnakan prosedur koreksi mendasar. Dengan cermat ia mendefinisikan hak-hak narapidana. Dan ia mencantumkan perincian-perin-cian kecil, misalnya luas setiap sel di The Row dan jumlah uang yang boleh dimiliki masing-masing narapidana. Dua puluh dolar adalah jumlah maksimum. Uang itu diberi istilah "dust" yang berarti debu, dan selalu berasal dari luar. Para

terpidana mati tidak diperbolehkan bekerja dan mendapatkan bayaran. Mereka yang beruntung, menerima beberapa dolar sebulan dari kerabat dan sahabat. Mereka bisa membelanjakannya di kantin yang terletak di tengah MSU. Minuman ringan disebut sebagai bottle-up. Permen dan makanan kecil adalah zu-zu dan wham-wham. Rokok asli dalam bungkus adalah tight-leg dan ready roll.

Mayoritas narapidana tidak menerima apa-apa dari luar. Mereka berdagang, tukar-menukar, melakukan barter, dan mengumpulkan cukup koin untuk membeli daun tembakau lembaran yang mereka gulung dengan kertas tipis dan diisap perlahan-lahan. Sam benar-benar beruntung.

Ia duduk dan menyalakan satu lagi.

"Mengapa kau tidak memberikan kesaksian dalam sidang?" pengacaranya bertanya dari balik kisi-kisi.

"Sidang yang mana?"

"Poin bagus. Dua sidang pertama."

"Aku tak perlu melakukannya. Brazelton memilih juri yang baik, semua kulit putih, orang-orang baik yang bersimpati dan memahami segala persoalan. Aku tahu takkan dipidana orang-orang itu. Tak ada gunanya memberikan kesaksian."

"Dan sidang terakhir?"

"Itu sedikit lebih rumit. Aku dan Keyes membahasnya beberapa kali. Pada mulanya dia berpendapat itu mungkin membantu, sebab aku bisa menjelaskan kepada juri, apa niatku. Mestinya tak ada

vang terluka. dan seterusnya. Bom itu dimaksud-

kan meledak pukul lima pagi. Tapi kami tahu pemeriksa.'.:; silangnya akan brutal. Hakim sudah memuluskan pengeboman yang lain bisa dibicarakan untuk menunjukkan fakta-fakta tertentu. Aku akan dipaksa mengakui benar-benar memasang bom itu. lima belas batang seluruhnya yang tentu saja lebih dari cukup untuk membunuh orang.*

"Jadi, kenapa kau tidak memberikan kesaksian?"

"Dogan Bangsat pembohong itu mengatakan pada Juri bahwa rencana kami adalah membunuh Yahudi itu. Dia saksi yang sangat efektif. Maksudku, coba kaupikir. inilah mantan imperial Wizzard Ku Khu Klan di Mississippi, memberikan kesaksian memberatkan bagi Jaksa Penuntut terhadap salah satu anak buahnya sendui. Kesaksian itu kuat Juri menelannya begitu saja."

"Mengapa Dogan bohong?"

"Jerry Dogan jadi gila, Adam. Maksudku, benar-benar gila Lima belas tahun FBI memburunya, menyadap teleponnya, menguntit istrinya ke seluruh penjuru kota. menakut-nakuti saruk saudaranya, mengancam anak-anaknya, mengetuk pintunya setiap saat di waktu malam. Hidupnya menyedihkan. Selalu ada orang yang mengawasi dan mendengarkan Lalu dia ceroboh dan IRS ikut campur. Mereka, bersama FBI. mengatakan padanya bahwa dia menghadapi tiga puluh tahun penjara Dogan tak kuat menahan tekanan. Sesudah sidangku, kudengar dia dikirim ke rumah sakit

288

beberapa lama. Kau tahu. ke rumah sakit gila. Dia dirawat, pulang, dan tak lama kemudian mati." "Dogan sudah mati?"

Sejenak Sam berhenti menyedot rokoknya, Asap bocor dari mulut dan bergulung ke atas. melewati hidung dan depan matanya yang saat itu sedang menatap tercengang mata cucunya melalui lubang. "Kau tidak tahu tentang Dogan?" ia bertanya.

Ingatan Adam terbang mencari artikel dan berita tak terhitung jumlahnya yang pernah ia kumpulkan dan susun menurut indeks. Ia menggelengkan kepala. "Tidak. Apa yang terjadi pada Dogan?"

"Kupikir kau tahu segalanya." kata Sam. "Kupikir kau menghafalkan segalanya tentang diriku."

"Aku tahu banyak tentang kau, Sam Tapi aku sama sekali tak peduli dengan Jeremiah Dogan."

"Dia hangus dalam kebakaran rumah. Dia dan istrinya. Suatu malam mereka sedang tidur ketika pipa gas entah bagaimana bocor mengeluarkan gas propan. Para tetangga mengatakan kejadian itu seperti ledakan bom," "Kapan hal ini terjadi?"

"Tepat setahun setelah dia memberikan kesaksian memberatkanku."

Adam mencoba mencatat ini, tapi penanya tak mau bergerak. Ia mengamati wajah Sam, mencari tanda-tanda tertentu. "Tepat setahun?"

"Ya."

"Itu kebetulan yang bagus."

"Aku ada di dalam sini, tentunya, tapi aku

mendengar kabar itu sepotong-sepotong. Polisi mc. ngatakan itu kecelakaan. Bahkan kurasa ada gu. gatan yang diajukan terhadap perusahaan gas." "Jadi, kau tidak berpendapat dia dibunuh?" "Tentu saja aku berpendapat dia dibunuh." "Oke. Siapa yang melakukannya?" "Sebenarnya FBI pernah datang ke sini dan mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku. Bisakah ini kaupercaya? FBI mengendus-endus di sini. Beberapa bocah dari Utara. Tak sabar ingin mengunjungi death row untuk melambaikan lencana mereka dan menemui teroris Klan asli yang masih hidup. Mereka begitu ketakutan melihat bayangannya sendiri. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan tolol selama satu jam, kemudian berlalu, Aku tak pernah dengar apa-apa lagi dari mereka." "Siapa yang mau membunuh Dogan?" Sam menggigit filter dan menyedot asap terakhir semulut penuh dari rokok itu. Lalu ia menghunjamkannya ke asbak sambil mengembuskan asap ke kisi-kisi. Adam mengusir asap itu dengan gerakan yang sengaja dilebih-lebihkan, tapi Sam tak menghiraukannya. "Banyak orang," gumamnya.

Adam menulis catatan di pinggir halaman untuk bicara tentang Dogan nanti. Ia akan melakukan riset lebih dulu, lalu mengangkatnya lagi dalam percakapan kelak.

"Hanya sebagai argumentasi," katanya sambil masih menulis, "rasanya kau seharusnya memberikan kesaksian untuk melawan Dogan."

290

"Aku nyaris melakukannya," kata Sam dengan sedikit nada menyesal. "Pada malam sebelum sidang terakhir, aku, Keyes, dan associate-nya, aku lupa namanya, tidak tidur sampai tengah malam, berunding apakah aku harus bersaksi atau tidak. Tapi coba pikir, Adam, aku akan dipaksa mengaku memasang bom itu, bom itu memakai pengatur waktu yang disetel untuk meledak sesudahnya aku terlibat dalam pengeboman lain, dan aku ada di seberang jalan ketika bangunan itu meledak. Plus, Penuntut sudah membuktikan dengan jelas Marvin Kramer adalah salah satu sasaran. Maksudku, terkutuklah, mereka memutar rekaman hasil sadapan telepon FBI di depan Juri. Kau seharusnya mendengarkannya. Mereka memasang speaker-speaker besar dalam mang sidang, dan meletakkan tape player di meja di depan Juri, sepertinya benda itu bom hidup. Dan terdengarlah suara Dogan bicara dengan Wayne Graves di telepon. Suaranya parau, tapi terdengar sangat jelas, bicara tentang pengeboman Marvin Kramer karena ini dan itu, serta membual bagaimana dia akan mengirim 'kelompoknya', begitulah dia menyebutku, ke Greenville untuk menangani urusan itu. Suara dari tape itu bagaikan setan dari neraka dan Juri mendengarkan setiap patah kata Sangat efektif. Kemudian masih ada kesaksian Dogan sendiri. Aku tentu akan kelihatan konyol saat itu, bila mencoba memberi kesaksian dan meyakinkan Juri bahwa aku bukan orang buruk. McAllister tentu akan menelanku hi-

291

dup-hidup. Jadi. kami putuskan aku takkan bersaksi. Kalau dilihat kembali, keputusan itu merupakan langkah jelek. Seharusnya aku bicara."

"Tapi berdasarkan nasihat pengacaramu kau tak melakukannya?"

"Dengar, Adam, kalau kau berpikir untuk menyerang Keyes atas dasar pemberian nasihat hukum yang tidak efektif, lupakan saja. Aku membayar mahal kepada Keyes, menggadaikan semua yang kumiliki, dan dia bekerja baik. Dulu Goodman dan Tyner pernah mempertimbangkan memburu Keyes, tapi mereka tak menemukan apa pun yang keliru dengan pembelaannya Lupakan saja"

Berkas Cayhall di Kravitz & Bane sedikitnya punya hasil riset dan catatan setebal lima senti mengenai pembelaan yang dilakukan Benjamin Keyes. Nasihat hukum yang tidak efektif oleh pembela merupakan argumentasi bagus dalam pengajuan banding vonis mati, tapi hal itu tak pernah dipakai dalam kasus Sam. Goodman dan Tyner sudah membahasnya panjang-lebar, bertukar memo bolak-balik antara kantor mereka di lantai 61 dan 66 di Chicago. Memo terakhir menyatakan Keyes bekerja begitu baik dalam sidang, sehingga, tak ada apa pun yang bisa diserang.

Berkas itu juga mencantumkan surat tiga halaman dari Sam yang secara tegas melarang serangan apa pun terhadap Keyes. Ia takkan menandatangani petisi apa pun dalam hal itu, demikian janjinya.

Akan tetapi memo terakhir itu ditulis tujuh tabun yang lalu, ketika kematian merupakan kemungkinan kecil. Segalanya berbeda sekarang. Segala persoalan harus dibangkitkan kembali atau bahkan dikarang. Sudah saatnya mencari pegangan pada gelagah sekalipun. "Di mana Keyes sekarang?" tanya Adam. Terakhir kali kudengar dia bekerja di Washington. Dia menulis surat padaku lima tahun yang lalu. Katanya dia tidak lagi berpraktek. Dia sangat terpukul ketika kami kalah. Kurasa tak satu pun di antara kami menduganya," "Kau tak menduga akan divonis bersalah?" Tidak. Sudah dua kali aku menang, kau tahu. Dan dalam dewan juri terakhir ada delapan orang kulit putih, atau seharusnya kusebut orang Anglo-Amerika. Betapapun buruknya sidang itu, kurasa aku tak pernah menyangka mereka akan menjatuhkan vonis bersalah padaku." "Bagaimana dengan Keyes?" "Oh, dia khawatir. Tentu saja kita tidak memandang enteng. Berbulan-bulan kami habiskan untuk menyusun persiapan sidang itu. Dia mengabaikan kliennya yang lain, bahkan keluarganya sendiri, selama berminggu-minggu sementara kami bersiap. McAllister rasanya muncul di surat kabar setiap hari, dan makin banyak dia bicara, makin keras kami bekerja. Mereka mengeluarkan daftar yang potensial akan menjadi anggota juri, dan kami menghabiskan waktu berhari-hari untuk memeriksa

292

293

orang-orang itu. Persiapan prasidangnya tak tercela. Kami tidak naif."

"Lee mengatakan kau pernah mempertimbangkan menghilang."

"Oh, dia cerita?" "Yeah, kemarin malam." Sam mengetukkan rokok berikutnya pada counter, dan mengamatinya sejenak, seakan-akan itu rokoknya yang terakhir. "Yeah, aku pernah mempertimbangkannya. Hampir tiga belas tahun berlalu sebelum McAllister memburuku. Aku orang bebas. Persetan! Aku 47 tahun ketika sidang kedua berakhir dan aku pulang. Empat puluh tujuh tahun, dan aku sudah dibebaskan dua dewan juri. Semua ini sudah di belakangku. Aku bahagia. Hidupku normal. Aku bertani dan mengelola penggergajian, minum kopi di kota dan memberikan suara pada setiap pemilu. FBI mengawasiku beberapa bulan, tapi kurasa mereka yakin aku sudah berhenti melakukan pengeboman. Dari waktu ke waktu, reporter dan wartawan usil muncul di Clanton dan mengajukan berbagai pertanyaan, tapi tak seorang pun bicara pada mereka. Mereka selalu berasal dari Utara, tolol setengah mati, kasar dan tak tahu diri, serta mereka tak pernah tinggal lama. Suatu hari satu orang datang ke rumah dan tak mau pergi. Bukannya mengambil senapan, kulepaskan anjing-anjing mengejarnya dan mereka menggigit pantatnya. Dia tak pernah kembali." Ia terkekeh sendiri dan menyalakan rokok. "Dalam

294

minfi yang paling gila sekalipun tak pernah kubayangkan hal ini. Seandainya aku punya pra-sangka sedikit saja dugaan paling samar sekalipun bahwa ini akan terjadi padaku, aku tentu sudah pergi bertahun-tahun yang lalu. Aku sepenuhnya bebas, kau mengerti? Tak ada pembatasan. Aku bisa pergi ke Amerika Selatan, ganti nama, menghilang dua atau tiga kali, lalu menetap di suatu tempat seperti Sao Paulo atau Rio." "Seperti Mengele.'"

"Seperti itulah. Mereka tak pernah menangkapnya, kau tahu. Mereka tak pernah menangkap orang-orang itu. Saat ini mungkin aku akan tinggal di rumah mungil yang nyaman, bicara bahasa Portugis, dan menertawakan orang-orang goblok seperti David McAllister." Sam menggelengkan kepala dan memejamkan mata membayangkan apa yang mungkin terjadi.

"Mengapa kau tidak kabur ketika McAllister mulai ribut-ribut?"

"Sebab aku tolol. Itu terjadi perlahan-lahan. Seperti mimpi burak yang muncul dalam potongan-potongan kecil. Pertama McAllister terpilih dengan segala janji-janjinya itu. Kemudian, setelah beberapa bulan, Dogan tertangkap IRS. Aku mulai mendengar desas-desus dan membaca sedikit di surat kabar. Tapi aku menolak mempercayai ini bisa terjadi. Sebelum aku menyadari, FBI sudah menguntitku dan aku tak bisa lari." Adam melihat jam tangan dan mendadak letih.

Sudah dua jam lebih mereka bicara, ia butuh udara segar dan sinar matahari. Kepalanya sakit karena asap rokok, dan ruangan itu semakin panas. Ia memutar tutup pulpen dan memasukkan buku ke dalam tasnya. "Sebaiknya aku pergi," katanya ke kisi-kisi. "Aku mungkin akan kembali besok, untuk bicara lagi." '"Aku akan di sini."

"Lucas Mann sudah memberiku lampu hijau untuk berkunjung setiap saat aku mau."

"Hebat sekali dia, bukan?"

"Dia oke. Cuma melaksanakan tugas."

"Begitu juga Naifeh, Nugent, dan semua orang putih itu."

"Orang-orang putih?"

"Yeah, itu sebutan slang untuk pihak berwenang. Tak seorang pun benar-benar ingin membunuhku. Mereka cuma melaksanakan tugas. Ada setan kecil berjari sembilan yang jadi algojo resmi —orang yang mencampur gas dan memasang canister. Tanya apa -yang dilakukannya ketika mereka mengikatku, dan dia akan mengatakan, 'Cuma melaksanakan tugas.' Pendeta penjara, dokter penjara, dan psikiater penjara, bersama para penjaga yang akan menggiringku masuk dan petugas kesehatan yang membawaku keluar, nah, mereka orang-orang baik, tak ada dendam apa pun padaku, tapi mereka cuma melaksanakan tugas." "Takkan terjadi sejauh itu, Sam." "Apakah itu janji?"

296

"Bukan. Tapi berpikirlah positif."

"Yeah, berpikir positif benar-benar populer di sini. Aku dan rekan-rekan di sini sangat gemar dengan acara ceramah motivasi serta program wisata dan belanja di rumah. Orang-orang Afrika lebih suka 'Soul Train'."

"Lee mengkhawatirkanmu, Sam. Dia ingin aku mengatakan padamu bahwa dia memikirkanmu dan berdoa untukmu."

Sam menggigit bibir bawah dan memandang lantai. Ia mengangguk pelan, tidak mengucapkan apa pun.

"Aku akan tinggal bersamanya selama satu-dua bulan."

"Dia masih menikah dengan laki-laki itu?" "Kurang-lebih. Dia ingin melihatmu." "Tidak."

"Mengapa tidak?"

Dengan hati-hati Sam bangkit dari kursi dan mengetuk pintu di belakangnya. Ia menoleh dan memandang Adam dari balik kisi-kisi. Mereka saling pandang, sampai seorang penjaga membuka pintu dan membawa Sam pergi.

297

LIMA BELAS

"Anak itu pulang sejam yang lalu, dengan otorisasi, meskipun aku belum melihatnya dalam bentuk tertulis," Lucas Mann menjelaskan kepada Phillip Naifeh yang sedang berdiri di depan jendela, menyaksikan gerombolan narapidana pembersih sampah di sepanjang jalan raya. Naifeh sakit kepala, sakit punggung, dan sedang di tengah hari yang menyebalkan, termasuk tiga telepon pagi-pagi dari Gubernur dan dua dari Roxburgh, jaksa agung. Sudah tentu Sam-lah alasan telepon-telepon itu.

"Jadi, dia sudah mendapat pengacara," kata Naifeh sambil memijat pelan bagian belakang pinggangnya dengan tinja.

"Yeah, dan aku benar-benar menyukai anak ini. Dia mampir ketika hendak pulang dan tampangnya seperti baru saja ditabrak truk. Kurasa dia baru saja berdebat keras dengan kakeknya tentang hal ini."

"Akan jadi lebih buruk bagi si kakek." "Akan jadi lebih buruk bagi kita semua."

298

"Tahukah kau apa yang ditanyakan Gubernur padaku? Dia ingin tahu apakah bisa mendapat satu copy buku panduan kita tentang pelaksanaan eksekusi. Aku bilang tidak, dia tak bisa mendapatkan

sam copy. Dia mengatakan dia gubernur negara bagian ini dan merasa sepantasnya punya satu copy. Kucoba menjelaskan sebenarnya tidak ada buku pedoman macam itu, cuma lembaran-lembaran lepas dengan binder hitam yang terus direvisi habis-habisan riap kali kita me n gegas seseorang. Dia ingin tahu, apa sebutan buku itu. Kukatakan buku itu tidak disebut apa-apa, sebenarnya tak ada nama resmi, sebab syukurlah buku itu tidak begitu banyak dipakai. Tapi sesudah memikirkannya lagi, aku sendiri menyebutnya buku hitam kecil. Dia mendesak lebih keras, aku jadi tambah marah. Kami memutuskan hubungan, dan lima belas menit kemudian pengacaranya, si bongkok kerdil dengan kacamata menjepit Jtidungnya..." "Larramore."

"Larramore meneleponku dan mengatakan menurut bagian ini dan itu dalam buku undang-undang, dia dan Gubernur punya hak memiliki copy buku pedoman itu. Aku menyuruhnya menunggu, mencari peraturan itu, membiarkannya sepuluh menit, kemudian kami membaca undang-undang itu bersama-sama, dan tentu saja seperti biasa, dia bohong dan menggertak dan menyangka aku tolol. Tak ada kalimat macam itu dalam buku undang-undang milikku. Aku memutuskan sambungan te-

lepon. Sepuluh menit kemudian Gubernur menelepon kembali, bermanis-manis menyuruhku melupakan buka hitam kecil itu, dia sangat prihatin dengan hak konstitusional Sam dan sebagainya, dan cuma ingin aku terus mengabarinya begitu ada perubahan. Sungguh perayu hebat." Naifeh menggeser badannya dan mengganti tinju untuk memijat punggung sambil menatap ke jendela.

"Setengah jam kemudian Roxburgh menelepon, dan coba tebak apa yang ingin dia ketahui? Dia ingin tahu apakah aku sudah bicara dengan Gubernur. Kaulihat, Roxburgh menyangka dia dan aku benar-benar sahabat karib, teman politik lama, kau tahu, dan karena itu kami bisa saling percaya. Dia mengatakan padaku—tentu saja secara konfiden-sial, antara sahabat dan sahabat—bahwa menurutnya Gubernur mungkin akan mencoba mengeksploitasi eksekusi ini antuk kepentingan politiknya sendiri." **

"Omong kosong!" Lucas mencemooh.

"Yeah, kukatakan pada Roxburgh aku tak bisa percaya dia punya pikiran macam itu terhadap gubernur kita. Aku begitu serius, dan dia pun jadi begitu serius. Kami saling berjanji akan mengawasi Gubernur baik-baik. Kalau melihat tanda-tanda dia mencoba memanipulasi situasi, kami akan saling menelepon secepatnya. Roxburgh mengatakan ada beberapa hal yang bisa dia kerjakan untuk menetralisir Gubernur bila keluar jalur. Aku

tak berani menanyakan apa atau bagaimana, tapi dia tampaknya yakin pada dirinya sendiri."

"Jadi, siapa yang lebih tolol?"

"Mungkin Roxburgh. Tapi itu percakapan yang sulit." Naifeh meregangkan tubuh dengan hati-hati dan berjalan kembali ke meja. Sepatunya lepas dan ujung kemejanya keluar. Ia jelas kesakitan. "Mereka berdua punya nafsu yang tak terpuaskan untuk mendapatkan publisitas. Mereka seperti dua bocah kecil yang ketakutan setengah mati kalau-kalau yang satu akan memperoleh permen lebih besar. Aku benci mereka berdua."

"Semua orang benci mereka, kecuali para pemilih.1'

Terdengar ketukan tajam pada pintu, tiga kali gedoran mantap dilakukan dengan interval yang tepat. "Ini pasti Nugent;" kata Naifeh, rasa sakitnya mendadak menghebat. "Masuk."

Pintu terbuka cepat dan Kolonel Purnawirawan George Nugent berjalan tegap ke dalam ruangan, hanya berhenti sebentar untuk menutup pintu,- dan bergerak resmi ke arah Lucas Mann yang tidak berdiri tapi tetap berjabatan tangan. "Mr. Mann," Nugent menyapanya singkat, lalu melangkah ke depan dan menjabat tangan Naifeh di seberang meja.

"Duduklah, George," kata Naifeh, melambai ke kursi kosong di samping Mann. Naifeh ingin memerintahkannya menghentikan sikap kaku militernya, tapi tahu itu tak ada gunanya.

"Ya, Sir," jawab Nugent sambil duduk di kursi, tanpa membungkukkan punggung. Meskipun di Parchman seragam hanya dipakai penjaga dan narapidana, Nugent menciptakan seragam sendiri untuknya. Kemeja dan celananya hijau tua, dibuat dengan ukuran sempurna dan disetrika sempurna dengan lipatan yang tepat, dan pakaian itu secara ajaib melewatkan setiap hari tanpa kusut sedikit pun. Celana itu berhenti beberapa senti di atas mata kaki dan menghilang ke dalam sepasang sepatu lars tempur hitam dari kulit yang disemir dan digosok sedikitnya dua kali sehari agar tetap mengilat. Sekali pernah terdengar desas-desus bahwa seorang sekretaris atau mungkin narapidana memergoki segumpal lumpur pada salah satu solnya, namun desas-desus itu tak pernah dikonfirmasikan.

Kancing teratas dibiarkan terbuka, membentuk segitiga sempurna yang memperlihatkan kaus abu-abu. Saku dan lengan kemejanya polos dan tak berhias apa pun, bebas dari medali dan pita-pita-nya, dan Naifeh sudah lama curiga bahwa ini menimbulkan perasaan terhina yang tidak kecil bagi sang Kolonel. Potongan rambutnya benar-benar gaya militer, dengan kulit' kepala bersih di atas telinga dan lapisan rambut tipis di bagian atas. Nugent berumur 52 tahun, sudah mengabdi bagi negaranya selama 34 tahun, pertama sebagai prajurit satu di Korea dan kemudian sebagai kapten di Vietnam, tempat ia bertempur dari belakang

meja Ia terluka dalam kecelakaan jip dan dikirim pulang dengan satu pita penghargaan lagi.

Sekarang sudah dua tahun Nugent mengabdi tanpa cela sebagai asisten superintenden, seorang bawahan Naifeh yang terpercaya, loyal, dan andal. Ia mencintai detail, peraturan, dan undang-undang. Ia melahap buku-buku panduan, dan secara konstan menulis prosedur-prosedur baru, petunjuk-petunjuk, dan modifikasi-modifikasi untuk dipertimbangkan Kepala Penjara. Sang Kepala Penjara sangat membencinya, tapi bagaimanapun ia dibutuhkan. Bukan rahasia lagi bahwa sang Kolonel menginginkan jabatan Naifeh dalam dua tahun lagi.

"George, aku dan Lucas merundingkan urusan Cayhall. Aku tak tahu berapa banyak yang kauketahui tentang pengajuan bandingnya, tapi Pengadilan Fifth Circuit sudah mencabut penundaan dan kita menghadapi eksekusi dalam empat minggu."

"Ya, Sir," tukas Nugent, menyerap dan menganalisis setiap patah kata. "Saya membaca tentang hal itu di koran hari ini."

"Bagus. Eksekusi ini akan terlaksana, kau tahu. Benar, Lucas?"

"Ada peluang besar. Lebih dari lima puluh-lima puluh," Lucas berkata tanpa memandang Nugent.

"Sudah berapa lama kau bekerja di sini, George?"

"Dua tahun satu bulan."

Sang Kepala Penjara menghitung sesuatu sambit menggosok pelipis. "Kau tidak menyaksikan eksekusi Parris?"

"Ya, Sir. Ketinggalan beberapa rainggu," ja menjawab dengan sedikit nada kecewa. "Jadi, kau belum pernah menyaksikan satu pun?" "Belum, Sir."

"Ah, itu mengerikan, George. Mengerikan. Bagian terburuk dalam pekerjaan ini. Terus terang, aku sama sekali tak sanggup. Aku berharap akan pensiun sebelum kita memakai kamar gas lagi, tapi sekarang tampaknya meragukan. Aku butuh bantuan.'' \

Punggung Nugent, meskipun tampak sudah kaku menyakitkan, serasa lebih tegak lagi. Ia mengangguk cepat-cepat, matanya menari-nari ke segala penjuru.

Naifeh pelan-pelan duduk di kursi, meringis ketika ia turun pada kulit yang halus. "Karena aku tidak sanggup, George, aku dan Lucas berpikir mungkin kau akan melaksanakan tugas ini dengan baik."

Sang Kolonel tak dapat menahan senyum. Tapi senyuman itu cepat-cepat menghilang dan digantikan dengan roman yang sangat serius. "Saya yakin bisa menanganinya. Sir."

"Aku pun yakin kau bisa." Naifeh menunjuk ke binder hitam di sudut meja kerjanya. "Kita punya semacam buku panduan. Itu dia, kumpulan kebijaksanaan yang didapat dari dua lusin kunjungan ke kamar gas selama tiga puluh tahun terakhir."

Mata Nugent menyipit dan terpusat pada buku hitam itu. Diperhatikannya bahwa halaman-hala-

304

mannya tidak semuanya rata dan seragam, segala macam kertas dilipat dan dijejalkan sembarangan dalam teks itu, binder-nya sendiri sudah usang dan jorok. Ia memutuskan dalam beberapa jam buku panduan itu akan berubah menjadi buku yang layak diterbitkan. Itu akan menjadi tugas pertamanya. Pekerjaan tulis-menulisnya takkan tercela.

'Bagaimana kalau kau membacanya malam ini dan kita bertemu lagi besok?"

"Ya, Sir," katanya puas. .

"Jangan katakan apa pun pada orang lain sampai kita membicarakannya lagi, mengerti?"

"Ya, Sir."

Nugent mengangguk sopan pada Lucas Mann dan meninggalkan kantor itu sambil memeluk buku hitam tersebut, seperti anak kecil dengan mainan baru. Pintu tertutup di belakangnya. "Dia gila" kata Lucas. "Aku tahu. Kita akan mengawasinya." "Kita sebaiknya mengawasinya. Dia bahkan begitu bersemangat, sehingga mungkin akan mencoba mengegas Sam akhir pekan ini."

Naifeh membuka laci meja dan mengeluarkan sebotol pil. Ia menelan dua butir tanpa bantuan air. "Aku mau pulang, Lucas. Aku perlu berbaring. Mungkin aku akan mati sebelum Sam." "Sebaiknya kau bergegas."

Percakapan telepon dengan E. Gamer Goodman berlangsung singkat. Adam menerangkan dengan

305

sedikit nada bangga bahwa ia dan Sam sudah punya perjanjian tertulis untuk mewakilinya, dan mereka sudah menghabiskan empat jam bersama-sama, meskipun tak banyak yang dicapai. Goodman menginginkan satu copy surat perjanjian itu, dan Adam menerangkan bahwa saat itu belum ada copy, aslinya disimpan rapi dalam sel di death row, dan hanya akan ada copy kalau klien setuju demikian.

Goodman berjanji akan mempelajari kembali berkas'itu dan mulai bekerja. Adam memberikan nomor telepon Lee dan berjanji akan melapor tiap hari. Ia memutuskan sambungan dan menatap dua pesan telepon yang mengerikan di samping komputernya. Keduanya dari wartawan, satu dari sebuah, koran Memphis dan satu dari stasiun televisi di Jackson, Mississippi.

Baker Cooley sudah bicara dengan dua wartawan itu. Bahkan satu kru TV dari Jackson sudah menghadap resepsionis biro hukum itu dan bara pergi sesudah Cooley melontarkan ancaman. Semua perhatian ini mengacaukan kegiatan rutin yang membosankan di cabang Kravitz & Bane Memphis. Cooley tak menyukai hal ini. Partner-partner lain tak banyak bicara pada Adam. Para sekretaris secara profesional bersikap sopan, tapi jelas ingin menjauhi kantornya.

Wartawan sudah tahu, Cooley memperingatkannya dengan cemas. Mereka tahu tentang Sam dan Adam, tentang hubungan cucu-kakek, dan meski-

306

pun ia tak yakin bagaimana mereka tahu, hal itu pasti bukan berasal darinya. Ia tak pernah bercerita kepada satu jiwa pun, sampai kabar sudah keluar dan ia terpaksa mengumpulkan para partner dan associate tepat sebelum makan siang dan menyampaikan berita itu.

Saat itu hampir pukul 17.00. Adam duduk di depan meja kerja dengan pintu tertutup, mendengarkan suara-suara dalam gang ketika para pekerja, paralegal, dan staf gajian lain bersiap-siap pulang. Ia memutuskan tidak bicara dengan reporter TV. Ia memutar nomor Todd Marks di Memphis Press. Suara rekaman membimbingnya dalam keajaiban pos suara. Setelah beberapa menit, Mr. Marks mengangkat sambungannya yang bernomor lima angka dan bicara dengan tergesa-gesa, "Todd Marks." Suaranya terdengar seperti remaja.

"Ini Adam Hall, dari Kravitz & Bane. Saya menerima pesan untuk menelepon Anda."

"Ya Mr. Hall," sembur Marks tak terkendali, langsung bersikap ramah dan tidak lagi terburu-buru. "Terima kasih atas teleponnya. Saya., uh... well... kami... uh... mendengar kabar angin Anda menangani kasus Cayhall, dan... uh... saya mencoba menelusurinya."

"Saya mewakili Mr. Cayhall," kata Adam dengan kata-kata terkendali.

"Ya... well... itulah yang kami dengar. Dan... uh... Anda dari Chicago?" "Saya dari Chicago."

307

"Begitu. Bagaimana... uh... Anda mendapatkan kasus ini?"

"Biro hukum saya sudah tujuh tahun mewakili Sam Cayhall."

"Ya, benar. Tapi bukankah dia baru-baru ini memutuskan jasa pelayanan Anda?"

"Benar. Dan sekarang dia memakai lagi biro hukum kami." Adam bisa mendengar tombol keyboard berdetak-detak ketika Marks mengumpulkan kata-katanya ke dalam komputer.

"Begini. Kami mendengar kabar angin, cuma kabar angin, saya rasa, bahwa Sam Cayhall adalah kakek Anda." "Dari mana Anda dengar ini?" "Ah, Anda tahu, kami punya narasumber, dan kami harus melindungi mereka Saya tak bisa mengatakan dari mana kabar itu berasal, Anda tahu."

"Yeah, saya tahu." Adam menghela napas dalam dan membiarkan Marks menunggu semenit. "Di mana Anda sekarang?" "Di kantor."

"Di mana? Saya tidak kenal kota ini."

"Di mana Anda?" Marks bertanya

"Pusat kota Di kantor kami."

"Saya tidak jauh. Saya bisa ke sana dalam sepuluh menit."

"Tidak, jangan di sini. Mari kita bertemu di tempat lain. Di bar kecil yang tenang di mana saja"

"Baiklah. Hotel Peabody terletak di Jalan Union,

308

tiga blok dari kantor Anda. Di samping lobinya ada bar yang nyaman bernama Mallards."

"Saya akan ke sana* dalam lima belas menit. Cuma Anda dan saya, oke?"

"Pasti."

Adam meletakkan gagang telepon. Surat perjanjian dengan Sam mencantumkan syarat yang tak jelas dan kendur, berusaha mencegah pengacaranya bicara dengan pers. Kalimat itu punya kelemahan yang bisa dilanggar pengacara mana pun, tapi Adam tak berniat mempersoalkan urusan itu. Sesudah dua kali berkunjung, kakeknya masih tetap merupakan misteri. Ia tak suka pengacara dan siap memecat satu lagi begitu saja, sekalipun itu cucunya sendiri.

Mallards dengan cepat dipenuhi profesional-profesional muda yang letih dan butuh beberapa teguk minuman keras untuk pulang ke pinggir kota. Tak banyak orang yang benar-benar tinggal di pusat kota Memphis, maka para bankir dan broker bertemu di sini dan bar lain yang tak terhitung jumlahnya meneguk bir dalam botol hijau dan menghirup vodka Swedia. Mereka berjajar mengelilingi bar dan berkumpul sekeliling meja kecil untuk membahas arah perubahan pasar dan berdebat tentang masa depan terbaik. Bar itu tempat yang gaya dengan dinding bata asli dan lantai dari kayu keras asli. Sebuah meja di samping pintu me-

309

nyangga nampan berisi sayap dan hati ayam di-bungkus irisan babi asin.

Adam melihat seorang laki-laki muda bercelana jeans memegang buku catatan. Ia memperkenalkan

diri dan mereka menuju meja di sudut. Todd tak lebih dari 25 tahun. Ia memakai kacamata berbingkai kawat, rambutnya sampai ke pundak, sikapnya ramah dan sedikit resah. Mereka memesan Heineken.

Buku catatan itu diletakkan di meja, siap beraksi, dan Adam memutuskan memegang kendali. "Ada beberapa persyaratan pokok," katanya "Pertama, segala yang saya katakan adalah off the record. Anda tak bisa mengutip perkataan saya tentang segala hal. Setuju?"

Marks mengangkat pundak, seolah-olah ini bukan masalah, tapi bukan yang dikehendakinya "Oke," katanya.

"Saya rasa Anda menyebutnya deep background, atau semacam itu."

"Begitulah."

"Saya akan menjawab beberapa pertanyaan Anda, tapi tidak banyak. Saya ada di sini sebab ingin Anda mendapatkan yang benar, oke?"

"Cukup adil. Apakah Sam Cayhall kakek Anda?"

"Sam Cayhall adalah klien saya, dan dia menginstruksikan agar saya tidak bicara kepada pers. Itu sebabnya Anda tak bisa mengutip apa yang saya katakan. Saya di sini untuk mengonfirmasikan atau menyangkal. Itu saja."

310

"Oke. Tapi apakah dia kakek Anda?" "Ya"

Marks menarik napas dalam dan melahap fakta luar biasa yang tak diragukan lagi akan mengarah pada berita luar biasa. Ia sudah bisa melihat kepala beritanya.

Kemudian disadarinya bahwa ia harus mengajukan pertanyaan lagi. Dengan hati-hati ia mengambil pena dari saku. "Siapa ayah Anda?" "Ayah saya sudah meninggal." Mereka lama terdiam. "Oke. Jadi, Sam adalah ayah ibu Anda." "Bukan. Sam adalah ayah dari ayah saya." "Baiklah. Mengapa Anda punya nama keluarga yang berbeda?" "Sebab ayah saya ganti nama." "Mengapa?"

"Saya tak ingin menjawab yang itu. Saya tak ingin mengupas latar belakang keluarga terlalu banyak."

"Apakah Anda besar di Clanton?"

"Tidak. Saya lahir di sana, tapi meninggalkannya ketika saya berumur tiga tahun. Orangtua saya pindah ke California. Di sanalah saya dibesarkan."

"Jadi, Anda tidak berkumpul dengan Sam Cayhall?" "Tidak."

"Apakah Anda mengenalnya?"

"Saya bertemu dengannya kemarin."

Marks mempertimbangkan pertanyaan selanjut-

311

nya, dan syukurlah bir tiba. Mereka meneguknya bersama-sama dan tak mengucapkan apa-apa.

Ia menatap buku catatan, menuliskan sesuatu, lalu bertanya "Sudah berapa lama Anda bekerja di Kravitz & Bane?"

"Hampir satu tahun."

"Berapa lama Anda menangani kasus Cayhall?" - "Satu setengah hari."

Ia minum panjang-panjang dan mengawasi Adam, seolah-olah mengharapkan penjelasan. "Dengar... uh... Mr. Hall..."

"Panggil saja Adam." . "Baiklah, Adam. Rasanya ada banyak kesenjangan di sari. Bisakah kau membantuku sedikit?"

"Tidak."

"Baiklah. Aku membaca bahwa Cayhall memecat Kravitz & Bane baru-baru ini. Apakah kau menangani kasus tersebut ketika hal ini terjadi?"

"Baru saja kukatakan padamu bahwa baru satu setengah hari aku menangani kasus ini."

"Kapan pertama kali kau pergi ke death row?'

"Kemarin."

"Apakah dia tahu kau akan datang?" "Aku tidak mau menjawab itu." "Kenapa tidak?"

"Ini masalah yang sangat konfidensial. Aku tak ingin membicarakan kunjunganku ke death row. Aku hanya akan mengonfirmasikan atau menyangkal hal-hal yang bisa kauverifikasi di tempat lain."

"Apakah Sam punya anak lain?"

312

"Aku tak akan membicarakan keluarga. Aku yakin surat kabarmu sudah pernah meliput hal W

"Tapi itu sudah lama."

"Kalau begitu, carilah lagi."

Sekali lagi'ia meneguk minuman lama-lama dan memandang buku catatan lama-lama. "Bagaimanakah peluang eksekusi ini akan dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus?"

"Itu sangat sulit dikatakan. Aku tak ingin berspekulasi."

"Tapi semua dalih pembelaan sudah habis, bukan?"

"Mungkin. Katakan saja aku mendapatkan pekerjaan yang memang dirancang untukku." "Bisakah Gubernur memberikan pengampunan?" "Ya"

"Apakah itu suatu kemungkinan?" "Sangat kecil. Kau harus bertanya padanya." "Apakah klienmu akan memberikan wawancara sebelum eksekusi?" "Aku meragukannya."

Adam melirik jam tangan, seolah-olah mendadak harus mengejar pesawat terbang. "Ada yang lainnya?" ia bertanya, lalu menghabiskan bir,

Marks menjejalkan pena ke dalam saku kemeja. "Bisakah kita bicara lagi?"

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Tergantung bagaimana caramu menangani ini.

313

Kalau kau menyeret-nyeret urusan keluarga, j kan saja." ^

*Pasti ada yang disembunyikan." "No comment" Adam berdiri dan menaw jabat tangan. "Senang berjumpa denganmu," ^ nya ketika mereka bersalaman. ' ata"

Terima kasih. Aku akan meneleponmu " Adam berjalan cepat-cepat melewati oran nyak di bar dan menghilang lewat lobi hotel *

314

ENAM BELAS

Dari semua peraturan konyol dan rewel yang dikenakan pada penghuni The Row, satu yang paling menjengkelkan Sam adalah peraturan satu setengah senti. Peraturan hasil pemikiran cemerlang ini membatasi banyaknya dokumen hukum yang bisa dimiliki penghuni penjara di dalam selnya. Dokumen-dokumen itu tak boleh lebih tebal dari satu setengah senti bila ditumpuk dan ditekan rapat. Berkas Sam tak jauh berbeda dari milik narapidana lain, dan sesudah sembilan tahun perang hukum, berkas itu sudah mengisi penuh sebuah kardus besar. Bagaimana caranya bisa melakukan riset dan penelitian dan bersiap dengan adanya pembatasan-pembatasan seperti peraturan satu setengah senti itu?

Beberapa kali Packer pernah memasuki selnya dengan penggaris yang dilambai-lambaikannya seperti pemimpin band dan dengan hati-hati menempelkannya pada dokumen-dokumen itu. Tiap kali Sam selalu melewati batas; sekali pernah tertang-

315

dengan dokumen, yang menurut penilaian Packer, setebal enam setengah senti. Dan tiap kali Packer menulis RVR—rules violation report atau laporan pelanggaran peraturan—lebih banyak lagi dokumen yang masuk dalam berkas penjara Sam. Sam kerap kali bertanya-tanya dalam hati, apakah berkasnya di gedung administrasi utama lebih tebal dari satu setengah senti. Ia berharap demikian. Dan siapa yang peduli? Mereka sudah sembilan setengah tahun mengurungnya dalam sangkar dengan satu tujuan untuk mempertahankan nyawanya, sehingga suatu hari mereka bisa mengambilnya. Apa lagi yang bisa mereka lakukan terhadapnya?

Tiap kali Packer memberinya waktu 24 jam antuk menipiskan berkasnya. Sam biasanya mengeposkan beberapa senti kepada saudaranya di North Carolina. Beberapa kali ia pernah dengan enggan mengirimkan satu atau dua senti kepada E. Gamer Goodman.

Pada saat ini dokumennya sekitar tiga setengah senti lebih. Dan ia menyembunyikan sebuah berkas tipis tentang kasus-kasus terbaru yang diputuskan Mahkamah Agung di bawah kasurnya. Dan ia punya setengah senti di sel sebelah, tempat Hank Henshaw mengawasinya di atas rak buku. Dan ia punya hampir satu senti di sel sebelah lagi, di atas tumpukan dokumen J.B. Gullit. Sam memeriksa semua dokumen dan surat untuk Henshaw dan Gullit. Henshaw punya pengacara yang baik, yang dibeli dengan uang keluarga. Gullit mendapatkan

316

pengacara tolol dari sebuah biro hukum besar di D.C. yang tak pernah melihat ruang sidang.

Peraturan tiga buku adalah pembatasan membingungkan lain yang menentukan apa yang bisa disimpan narapidana dalam sel mereka. Peraturan itu menyebutkan seorang terpidana mati boleh memiliki tak lebih dari tiga buku. Sam punya lima belas, enam di dalam selnya, dan sembilan bertebaran di antara klien-kliennya di The Row. Ia tak punya waktu untuk membaca fiksi. Koleksinya terbatas pada buku-buku hukum tentang hukuman mati dan Amandemen Kedelapan.

Ia sudah menghabiskan makan malam yang terdiri atas babi rebus, kacang pinto, dan roti jagung, dan ia sedang membaca kasus dari Pengadilan Ninth Circuit di California tentang narapidana yang begitu tenang menghadapi kematiannya, sam- • pai para pengacaranya memutuskan ia pasti gila. Lalu mereka mengajukan serangkaian mosi, menyatakan klien mereka benar-benar terlalu gila untuk dieksekusi. Pengadilan Ninth Circuit dipenuhi orang-orang California liberal yang menentang hukuman mati, dan mereka melompat pada argumentasi baru ini. Eksekusi ditunda. Sam suka kasus ini. Ia berkali-kali berangan-angan dirinya diawasi Pengadilan Ninth Circuit, bukannya Pengadilan Fifth Circuit.

Gullit di sel sebelah berkata, "Ada layang-layang, Sam," dan Sam pun berjalan ke jeruji. Menerbangkan layang-layang adalah metode korespondensi

satu-satunya bagi para penghuni penjara yang terpisah beberapa sel. Gullit mengangsurkan catatan tersebut kepadanya. Itu dari Preacher Boy, bocah kulit putih yang menyedihkan, tujuh sel dari sana. Pada umur empat belas ia jadi pengkhotbah kampung, pengutuk maksiat, namun karier itu terpotong pendek dan mungkin tertunda selamanya ketika ia dijatuhi vonis bersalah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap istri seorang diaken. Umurnya sekarang 24 tahun, penghuni The Row selama tiga tahun, dan baru-baru ini kembali taat pada ajaran gereja. Catatan itu berbunyi demikian:

Dear Sam,

Aku di sini saat ini, mendoakan dirimu. Aku benar-benar percaya Tuhan akan campur tangan dalam urusan ini dan menghentikannya. Tapi bila tidak, aku memohon pada-Nya untuk mengambilmu dengan cepat, tanpa sakit atau apa pun, dan membawamu pulang.

Salam kasih, Randy.

Sungguh hebat, pikir Sam. Mereka sudah berdoa agar aku pergi dengan cepat, tanpa sakit atau apa pun. Ia duduk di tepi ranjang dan menuliskan pesan pendek pada secarik kertas.

Dear Randy, Terima kasih atas doamu. Aku membutuhkan-

nya. Aku juga butuh salah satu bukuku. Judulnya Bronsterin's Death Penalty Review. Warnanya hijau. Kirimkanlah ke sini.

Sam.

Ia menyerahkannya kepada J.B. dan menunggu dengan tangan terulur di antara jeruji ketika layang-layang itu berjalan sepanjang lorong. Saat itu hampir pukul 20.00, masih panas dan gerah, tapi di luar hari mulai gelap. Malam akan menurunkan suhu sampai sedikit di bawah delapan puluh derajat, dan dengan kipas angin berputar menderu, mereka bisa tahan di dalam sel-sel itu.

Sam menerima beberapa layang-layang sepanjang hari itu. Semua menyatakan simpati dan harapan. Semua menawarkan bantuan apa pun yang tersedia. Musik lebih tenang, dan teriakan yang .meledak sekali-sekali bila hak seseorang dilanggar tak pernah terjadi. The Row pun lebih damai selama dua hari ini. Televisi berbunyi sepanjang hari sampai malam, tapi suaranya dikecilkan. Tie* A secara mencolok terasa tenang.

"Aku dapat pengacara baru," kata Sam pelan, sambil membungkuk bertelekan siku dengan tangan tergantung ke gang. Ia tidak memakai apa-apa kecuali celana kolor. Ia bisa melihat telapak dan pergelangan tangan Gullit, tapi tak pernah bisa melihat wajahnya bila mereka bicara dalam sel masing-masing. Tiap hari, sewaktu digiring keluar

untuk berolah raga selama satu jam, Sam berjalan perlahan-lahan di lorong penjara itu dan menatap mata rekan-rekannya. Mereka balas menatapnya Ia mengingat-ingat wajah mereka dan mengenali suara mereka. Sebab rasanya kejam hidup bersebelahan dengan seseorang selama bertahun-tahun dan bercakap-cakap panjang tentang hidup dan mati, tapi cuma melihat tangannya.

"Itu bagus, Sam. Aku senang mendengarnya."

"Yeah. Anak itu cukup cerdas, kurasa."

"Siapa dia?" Gullit menangkupkan tangan. Kedua tangan itu tak bergerak.

"Cucuku," Sam berkata pelan, sekadar cukup didengar Gullit. Ia bisa dipercaya untuk memegang rahasia.

Jemari Gullit bergerak sedikit ketika ia merenungkan ucapan ini. "Cucumu?"

"Ya Dari Chicago. Biro hukum besar. Menurutnya kita mungkin punya peluang."

"Kau tak pernah cerita kau punya cucu."

"Dua puluh tahun aku tak pernah melihatnya. Muncul kemarin dan mengatakan padaku dia pengacara dan ingin menangani kasusku." -

"Di mana saja dia selama sepuluh terakhir ini?"

"Tumbuh dewasa, kurasa. Dia cuma anak-anak. Dua puluh enam, kurasa."

"Kau akan membiarkan seorang anak umur 26 tahun menangani kasusmu?"

Ucapan ini sedikit mengesalkan Sam. "Aku tak punya banyak pilihan saat ini."

320

"Aduh, Sam, kau lebih banyak tahu tentang urusan hukum daripada dia."

"Aku tahu, tapi rasanya menyenangkan punya pengacara asli di luar sana, mengetik mosi dan pembelaan dengan komputer asli dan mengajukannya ke pengadilan, kau tahu. Rasanya menyenangkan punya seseorang yang bisa lari ke pengadilan dan berdebat dengan para hakim, seseorang yang bisa bertarung dengan negara bagian pada kedudukan setara."

Ini rupanya memuaskan Gullit, sebab selama beberapa menit ia tidak bicara. Tangannya diam, tapi kemudian ia mulai menggosok-gosokkan ujung jari. Ini berarti ada sesuatu yang mengusiknya. Sam menunggu.

"Selama ini aku memikirkan sesuatu, Sam. Sepanjang hari hal ini mengusikku." "Apa itu?"

"Nah, selama tiga tahun ini kau ada di sana dan aku di sini, kau tahu, dan kaulah sahabatku yang pating baik di dunia. Kau satu-satunya yang bisa kupercaya, kau tahu. Entah apa yang akan kulakukan bila mereka menggiringmu di sepanjang gang dan menuju kamar gas. Maksudku, biasanya ada kau untuk memeriksa urusan hukumku, urusan yang tak pernah kumengerti. Kau selalu memberiku nasihat yang bagus dan memberitahukan apa yang hams kulakukan. Aku tak bisa mempercayai pengacaraku di D.C. Dia tidak menelepon

atau menyuratiku, dan aku tak tahu apa yang

321

terjadi dengan kasusku. Maksudku, aku tak tahu apakah waktuku tinggal setahun atau lima tahun

lagi. dan itu saja sudah cukup membuatku giia_ Kalau bukan karena kau, aku tentu sudah gila sekarang. Dan bagaimana kalau kau tak berhasil?" Sekarang tangannya melompat dan menjulur dengan segala macam intensitas. Kata-katanya berhenti dan gerakan tangannya pun reda.

Sam menyalakan rokok dan menawarkan sebatang kepada Gullit, satu-satunya orang di penjara itu dengan siapa ia mau berbagi. Hank Henshaw, di sebelah kirinya tidak merokok. Mereka merokok sejenak, masing-masing mengembuskan awan asap ke deretan jendela di bagian atas gang.

Akhirnya Sam berkata, "Aku takkan ke mana-mana J.B. Pengacaraku mengatakan kita punya peluang besar."

"Kau mempercayainya?"

"Kurasa begitu. Dia bocah yang cerdas." .

"Tentu aneh punya cucu yang jadi pengacaramu. Aku tak dapat membayangkannya." Gullit berumur 31 tahun, sudah menikah, tanpa anak, dan sering mengeluh tentang simpanan istrinya atau pacar dunia bebasnya Ia seorang wanita kejam yang tak pernah datang menjenguk, dan suatu ketika pernah menulis sepucuk surat pendek dengan kabar baik bahwa ia hamil. Dua hari Gullit bersungut murung, sebelum mengaku kepada Sam bahwa selama bertahun-tahun ia sendiri telah memukuli istrinya dan menyeleweng dengan perempuan lain.

322

Sebulan kemudian istrinya menulis lagi dan mengatakan menyesal. Seorang teman meminjaminya uang untuk aborsi, ia menerangkan, dan ia tidak menginginkan cerai. Gullit tak bisa lebih bahagia lap.

"Agak aneh, kurasa," kata Sam. "Dia sama sekali tidak mirip denganku, tapi mirip ibunya"

"Jadi, bocah itu datang begitu saja dan mengatakan dia cucumu yang lama hilang?"

"Tidak. Tidak pada mulanya. Kami bicara beberapa lama dan suaranya seperti sudah kukenal. Kedengaran seperti suara ayahnya."

"Ayahnya putramu, benar?"

"Yeah. Dia sudah mati."

"Anakmu sudah mati?"

"Yeah."

Buku hijau itu akhirnya tiba dari Preacher Boy dengan satu catatan lain tentang mimpi luar biasa yang ia alami dua malam yang lalu. Baru-baru ini ia mendapat anugerah spiritual yang langka untuk menafsirkan mimpi, dan tak sabar lagi untuk berbagi dengan Sam. Mimpi itu masih muncul, dan begitu selesai menyusunnya ia akan menguraikannya menafsirkannya dan mengilustrasikannya untuk Sam. Itu kabar bagus, ia sudah tahu begitu banyak.

Setidaknya ia sudah berhenti bernyanyi, kata Sam pada diri sendiri ketika ia menyelesaikan catatan itu dan duduk di ranjang. Preacher Boy dulu seorang penyanyi gereja dan juga penulis

323

agu, dan secara periodik mendapati dirinya kerasukan roh, sehingga merayu seluruh penjara itu dengan lagu berkekuatan penuh pada segala jam, siang dan malam. Ia penyanyi tenor yang tak terlatih dengan suara sumbang, tapi volumenya luar biasa. Keluhan pun berdatangan dengan cepat dan hebat ketika ia melolongkan lagu barunya ke gang. Packer sendiri biasanya turun tangan untuk menghentikan keributan itu. Sam bahkan mengancam bertindak secara hukum dan mempercepat eksekusi bocah itu bila lolongan kucing kawin itu tidak berhenti, suatu langkah sadis yang kelak ia sesah. Bocah malang itu cuma gila, dan seandainya Sam hidup cukup lama, ia merencanakan akan memakai strategi kegilaan yang pernah dibacanya dari kasus California itu.

Ia berbaring di ranjang dan mulai membaca Kipas angin mengembus halaman buku dan me-nyirkulasikan udara yang lengket, tapi dalam beberapa menit seprai di bawahnya sudah basah. Ia tidur dalam kelembapan sampai pagi sebelum fajar, ketika The Row terasa nyaris sejuk dan seprai nyaris kering.

324

TUJUH BELAS

Auburn house tak pernah menjadi rumah atau tempat tinggal, tapi selama beberapa dasawarsa merupakan gereja antik kecil dari bata kuning dan kaca berwarna. Bangunan itu berdiri tegak, dikelilingi pagar kawat jelek di daerah yang rindang, beberapa blok dari pusat kota Memphis. Tulisan grafiti bertebaran pada bata kuningnya, kaca jendelanya yang warna-warni sudah digantikan dengan kayu lapis. Jemaatnya sudah bertahun-tahun yang lalu kabur ke timur, jauh dari pusat kota, menuju pinggir kota yang aman. Mereka membawa bangku dan buku-buku nyanyian, bahkan juga jok yang dipakai untuk berlutut. Seorang satpam mondar-mandir sepanjang pagar, siap membuka gerbang. Di sampingnya ada gedung apartemen kumuh dan sam blok di belakangnya ada proyek perumnas buruk, tempat 'pasien-pasien Auburn House datang.

Mereka semua adalah ibu-ibu muda, para remaja yang tanpa kecuali juga mempunyai ibu re-

325

yang mereka terima di rumah. Tak seorang pun di antara mereka menikah. Mereka tinggal bersama ibu, bibi, atau nenek. Auburn House didirikan oleh beberapa biarawati dua puluh tahun yang lalu, untuk mengajari anak-anak ini bagaimana memelihara bayi yang sehat."

Adam mengangguk pada poster kondom. "Dan untuk mencegah kehamilan?"

"Ya Kami bukan penyuluh keluarga berencana, tidak ingin jadi begitu, tapi tak ada salahnya menyebut pengendalian kelahiran."

"Mungkin kau harus berbuat lebih dari sekadar menyebutnya"

"Mungkin. Enam puluh persen bayi yang lahir di negara ini tahun lalu adalah anak di luar perkawinan, dan jumlahnya makin meningkat tiap tahun. Dan tiap tahun makin banyak saja kasus anak telantar dan ditinggalkan. Itu akan mematahkan hatimu. Beberapa dari sobat kecil ini tak punya kesempatan." "Siapa yang mendanainya?" "Semuanya swasta. Kami menghabiskan separo waktu kami dalam usaha untuk mendapatkan uang. Kami beroperasi dengan anggaran yang sangat kecil."

"Ada berapa penyuluh sepertimu?"

"Sekitar selusin. Beberapa bekerja beberapa sore seminggu, beberapa lainnya pada hari Sabtu. Aku beruntung. Aku bisa bekerja di sini sepenuhnya"

"Berapa jam seminggu?"

328

"Entahlah. Siapa yang menghitungnya? Aku tiba di sini sekitar pukul sepuluh dan pulang sesudah gelap."

"Dan kau melakukan semua ini tanpa upah?"

"Yeah. Pengacara macam kalian menyebutnya pro bono, kurasa."

"Ini berbeda dengan pengacara. Kami melakukan pekerjaan sukarela untuk membenarkan diri sendiri dan uang yang kami peroleh, sumbangan kecil kami kepada masyarakat. Kami masih tetap mendapat banyak uang, kau mengerti? Ini sedikit berbeda" "Ini bermanfaat."

"Bagaimana kau menemukan tempat ini?" "Entahlah. Kejadian itu sudah lama. Aku jadi anggota sebuah klub sosial, klub peminum teh panas. Kami berkumpul sekali sebulan untuk menikmati makan siang mewah dan merundingkan cara-cara mengumpulkan beberapa sen bagi mereka yang kurang beruntung. Suatu hari seorang biarawati bicara tentang Auburn House kepada kami, dan kami mengambilnya sebagai penerima sumbangan. Satu hal membawa pada lainnya." "Dan kau tak dibayar sepeser pun?" "Phelps punya banyak uang, Adam. Aku bahkan menyumbang banyak untuk Auburn House. Kami sekarang sedang mengadakan acara pengumpulan dana di Hotel Peabody, tamu-tamu berdasi hitam dan minum sampanye. Aku mendesak Phelps untuk membujuk teman-temannya sesama bankir agar

datang bersama istri mereka dan mengeruk uang mereka. Tahun lalu kami mengumpulkan 200.000 dolar."

"Ke mana uang itu?"

"Sebagian untuk biaya overhead. Kami punya dua staf full-time. Bangunan ini murah, tapi masih perlu dibiayai. Sisanya untuk perlengkapan bayi, obat-obatan, dan bacaan. Tak pernah cukup." "Jadi, kau kurang-lebih mengelola tempat ini?" "Tidak. Kami membayar seorang administrator. Aku cuma penyuluh."

Adam mengamati poster di belakang Lee, poster yang memperlihatkan kondom besar berwarna kuning berkelok-kelok seperti ular pada dinding. Dari survei dan penelitian terbaru ternyata bahwa alat kecil ini tidak dipakai para remaja, meskipun ada banyak kampanye televisi, slogan sekolah, dan tayangan MTV oleh bintang-bintang rock yang bertanggung jawab. Ia tak bisa memikirkan apa pun yang lebih buruk daripada duduk dalam mangan sempit yang penuh sesak ini sepanjang hari sambil membicarakan ruam popok dengan ibu-ibu berusia lima belas tahun.

"Aku kagum padamu karena pekerjaan ini," katanya, memandang ke dinding dengan poster makanan bayi.

Lee mengangguk, tapi tak mengucapkan apa-apa. Matanya letih dan is siap untuk pulang. "Mari kita pergi makan," katanya. "Di mana?"

"Entahlah. Di mana saja."

"Aku menemui Sam hari ini. Melewatkan dua jam bersamanya."

Lee merosot di tempat duduknya dan perlahan-lahan meletakkan kaki di atas meja. Seperti biasa, ia memakai jeans pudar dan kemeja button-down.

"Aku pengacaranya."

"Dia menandatangani perjanjian?"

"Ya. Dia menyiapkannya sendiri, empat halaman. Kami berdua menandatanganinya, jadi sekarang terserah aku."

"Kau takut?"

"Ngeri. Tapi aku bisa menanganinya. Aku bicara dengan seorang wartawan dari Memphis Press siang ini. Mereka sudah dengar desas-desus Sam Cayhall adalah kakekku."

"Apa yang kaukatakan padanya?"

"Aku tak bisa menyangkalnya, bukan? Dia ingin mengajukan segala macam pertanyaan tentang keluarga, tapi hanya sedikit yang kuceritakan. Aku yakin dia akan menggali-gali dan menemukan lebih banyak lagi."

"Bagaimana denganku?"

"Sudah tentu aku tidak bercerita tentang dirimu, tapi dia akan mulai menggali. Maaf, aku menyesal." "Menyesal untuk apa?"

"Menyesal karena mungkin mereka akan mengungkapkan identitasmu yang sebenarnya. Kau akan dicap sebagai putri Sam Cayhall, pembunuh, rasis, anu-Semit, teroris, anggota Klan, orang tertua yang

IT

pernah digiring ke kamar gas dan digas sepeuj binatang. Mereka akan mengusirmu ke luar kota." "Aku sudah mengalami yang lebih buruk."

"Apa?"

"Jadi istri Phelps Booth." Adam tertawa mendengar ini dan Lee terse-nyum. Seorang wanita setengah baya berjalan ke pintu yang terbuka dan memberi tahu Lee bahwa ia akan pulang. Lee melompat berdiri dan cepat-cepat memperkenalkan kemenakannya yang muda dan tampan, Adam Hall, pengacara dari Chicago, yang datang berkunjung untuk membuat kegemparan. Wanita itu cukup terkesan ketika mundur keluar dari kantor dan menghilang di gang.

"Kau seharusnya tidak melakukan itu," kata Adam.

"Kenapa tidak?"

"Sebab namaku akan muncul di surat kabar besok—Adam Hall, pengacara dari Chicago, dan cucu."

Mulut Lee terbuka dua setengah senti sebelum ia menyadarinya Ia kemudian mengangkat j>un-dak, seolah-olah tak peduli, tapi Adam melihat ketakutan dalam matanya. Sungguh kekeliruan yang tolol, katanya pada dirinya sendiri. "Siapi peduli?" katanya seraya mengambil dompet dan tas kerja. "Ayo kita pergi cari restoran"

Mereka pergi ke sebuah bistro di dekat tempat itu, sebuah rumah makan kecil milik keluarga Itali

332

dengan meja-meja kecil dan penerangan redup di sebuah bungalo. Mereka duduk di sudut yang gelap dan memesan minuman, es teh untuk Lee dan air mineral untuk Adam. Setelah pelayan berlalu, Lee mencondongkan- tubuh dan berkata, "Adam, ada sesuatu yang perlu kuceritakan padamu."

Adam mengangguk, tapi tak mengucapkan apa-apa.

"Aku seorang pecandu alkohol." Mata Adam menyipit, lalu membeku diam Dua malam terakhir ini mereka minum bersama-sama.

"Sudah sekitar sepuluh tahun sekarang," Lee menjelaskan, masih membungkuk rendah di atas meja. Orang terdekat berjarak lima meter dari mereka. "Ada banyak alasan, oke? Beberapa di antaranya mungkin bisa kauterka. Aku menjalani pengobatan, keluar dengan bersih, dan bertahan sekitar setahun. Kemudian kembali menjalani rehabilitasi. Sudah tiga kali aku menjalani perawatan, yang terakhir lima tahun yang lalu. Itu tidak mudah." Tapi kau minum tadi malam. Beberapa gelas." "Aku tahu. Dan malam sebelumnya. Dan hari ini kukosongkan semua botol dan kubuang birnya Tak ada setetes pun dalam apartemen."

"Itu bukan masalah bagiku. Kuharap bukan aku penyebabnya."

"Tidak. Tapi aku butuh bantuanmu, oke? Kau akan tinggal bersamaku selama beberapa bulan, dan kita akan mengalami saat-saat buruk. Bantulah ~ aku."

333

"Tentu, Lee. Seandainya saja kau memberitahukannya ketika aku tiba. Aku tidak banyak minum. Aku bisa minum atau sama sekali tidak."

"Alkoholisme adalah binatang aneh. Kadang-kadang aku bisa melihat orang minum dan sama sekali tidak terganggu. Kemudian, aku melihat iklan bir dan meneteskan air liur. Aku melihat iklan anggur yang dulu kusuka, dan keinginan itu begitu bebat, sampai aku mual. Sungguh pergulatan berat."

Minuman tiba dan Adam takut menyentuh air mineralnya. Ia menuangkannya di atas es dan mengaduknya dengan sendok. "Apakah itu menurun dalam keluarga kita?" tanyanya nyaris pasti memang demikian halnya.

"Kurasa tidak. Sam dulu suka keluar dan minum sedikit ketika kami masih kanak-kanak, tapi dia menyembunyikannya dari kami. Nenekku dari pihak ibu adalah pecandu alkohol, jadi ibuku tak pernah menyentuh benda itu. Aku tak pernah melihatnya di dalam ramah." "Bagaimana itu terjadi padamu?" "Perlahan-lahan. Ketika meninggalkan rumah, aku tak sabar mencobanya, sebab minuman keras adalah tabu ketika aku dan Eddie tumbuh dewasa. Kemudian aku berjumpa dengan Phelps, dan dia berasal dari keluarga social drinker. Kebiasaan itu jadi pelarian, kemudian jadi penopang." "Akan kulakukan apa saja sebisaku. Maaf." "Tak perlu menyesal. Aku menikmati minum

334

bersamamu, tapi sudah saatnya berhenti, oke? Tiga kali aku gagal. Sebab aku mengira bisa minum satu atau dua gelas dan tetap mengendalikan diri. Suatu saat aku melewatkan satu bulan dengan minum anggur dan membatasi diri sampai segelas sehari. Kemudian jadi segelas setengah, lalu dua, lalu tiga. Lalu rehabilitasi. Aku seorang alkoholik dan takkan pernah sembuh tuntas."

Adam mengangkat gelasnya dan menempelkannya pada gelas Lee. "Untuk kegagalanmu. Kita sama-sama menghadapinya." Mereka meneguk minuman ringan itu.

Si pelayan adalah seorang mahasiswa yang langsung tahu apa yang harus mereka makan. Ia menyarankan ravioli panggang, sebab itu sajian terlezat di kota itu dan bisa disajikan dalam sepuluh menit. Mereka setuju.

"Aku sering bertanya-tanya dalam hati, apa yang kaulakukan dengan waktumu, tapi aku takut menanyakannya" kata Adam.

"Aku pernah punya pekerjaan. Setelah Walt tar hir dan mulai bersekolah, aku jadi bosan, maka Phelps mencarikan pekerjaan untukku pada salah satu perusahaan temannya. Gaji besar, kantor bagus. Aku punya sekretaris pribadi yang tahu lebih banyak tentang pekerjaanku daripada aku sendiri. Sesudah setahun, aku berhenti. Aku menikahi uang, Adam, jadi aku tak perlu bekerja. Ibu Phelps tercengang ngeri mengetahui aku digaji." "Apa kerja wanita-wanita kaya sepanjang hari?"

335

"Memikul beban dunia. Pertama-tama mereka hams memastikan papi berangkat bekerja, lalu mereka harus merencanakan hari itu. Para pelayan hams diberi pengarahan dan petunjuk. Berbelanja dibagi sedikitnya menjadi dua bagian, pagi dan siang. Belanja pagi biasanya terdiri atas telepon beruntun ke Fifth Avenue untuk memesan barang-barang. Belanja siang kadang-kadang dilakukan sendiri, tentu saja dengan sopir menunggu di halaman parkir. Makan siang menghabiskan sebagian besar hari itu, sebab acara itu memerlukan perencanaan berjam-jam dan sedikitnya dua jam untuk pelaksanaannya. Acara itu biasanya berupa pesta kecil yang lebih banyak dihadiri oleh jiwa-jiwa resah serupa. Kemudian ada tanggung jawab sosial sebagai wanita kaya. Sedikitnya tiga kali seminggu dia menghadiri jamuan minum teh di rumah teman-temannya mengunggis biskuit impor dan merengek tentang betapa malang nasib bayi-bayi telantar atau ibu-ibu yang kecanduan obat bius. Kemudian bergegas pulang untuk menyegarkan diri, menyambut papi pulang dari pertempuran di kantor. Lalu dia minum martini pertama bersama suaminya di tepi kolam renang, sementara empat orang mempersiapkan makan malam mereka." "Bagaimana dengan seks?" "Dia terlalu letih. Plus, dia mungkin punya gundik."

"Inikah yang terjadi pada Phelps?"

"Kurasa begitu, meskipun dia tak dapat me-

336

ngeluh tentang seks. Aku punya bayi, aku makin tua, dan dia selalu punya pasokan gadis-gadis mUda berambut pirang dari banknya. Kau takkan percaya keadaan kantornya. Tempat itu penuh dengan wanita-wanita hebat, dengan gigi dan kuku tanpa cacat, semuanya memakai rok mini dan bertungkai panjang. Mereka duduk di belakang meja kerja bagus dan bicara di telepon, menunggu isyarat dan panggilannya. Dia punya kamar tidur kecil

di samping ruang rapat. Laki-laki itu binatang." "Jadi, kau berhenti menjalani kehidupan berat

sebagai wanita kaya dan pindah?" "Yeah. Aku tidak begitu baik menjalani peran

sebagai wanita kaya, Adam. Aku membencinya.

Untuk beberapa saat memang menyenangkan, tapi

aku tidak cocok. Bukan dari keturunan yang tepat.

Percaya atau tidak, keluargaku tidak dikenal dalam

kalangan sosial Memphis." "Kau pasti bercanda."

"Sumpah. Dan untuk jadi wanita kaya yang pantas dan bermasa depan di kota ini, kau harus berasal dari keturunan kaya raya, lebih disukai dengan kakek buyut yang jadi kaya berkat perdagangan kapas. Aku tidak cocok."

Tapi kau masih memainkan permainan sosial itu."

"Tidak. Aku masih muncul dalam berbagai acara, tapi cuma untuk Phelps. Penting baginya punya istri sebaya dan sedikit beruban; istri yang matang, kelihatan menarik dalam gaun malam dan berlian,

serta bisa menahan diri sementara mengobrol dengan teman-teman suaminya yang membosankan. Kami keluar tiga kali setahun. Aku jadi semacam istri pajangan yang mulai menua."

"Rasanya dia ingin istri pajangan asli, salah satu dari gadis pirang berpakaian ketat itu."

Tidak. Keluarganya akan terpukul, dan ada banyak uang dalam trust. Phelps hams hati-hati di depan keluarganya. Pada saat orangtuanya meninggal, dia akan siap keluar dari lemari." "Kusangka orangtuanya membencimu." "Sudah tentu. Ironisnya, karena merekalah kami masih bertahan. Perceraian berarti skandal."

Adam tertawa dan menggelengkan kepala keheranan. "Ini gila."

"Ya, tapi beres. Aku senang. Dia senang. Dia mendapatkan gadis-gadis mungilnya. Aku menyeleweng dengan siapa saja aku mau. Tak ada pertanyaan yang diajukan." "Bagaimana dengan Walt?" Perlahan-lahan Lee meletakkan gelas tehnya di meja dan memalingkan wajah. "Kenapa dia?" tanyanya, tanpa memandang. "Kau tak pernah bicara tentang dia." "Aku tahu," katanya pelan, masih memandang sesuatu di seberang ruangan. "Coba kuterka. Ada sesuatu. Ada rahasia lain." Lee memandangnya dengan sedih, lalu mengangkat pundak sedikit, seolah-olah mengatakan, peduli amat.

"Bagaimanapun, dia sepupuku," kata Adam. "Pan setahuku, bila tak ada rahasia lain terungkap, dialah satu-satunya sepupu yang kumiliki."

"Kau takkan menyukainya."

"Sudah tentu. Dia bagian dari keluarga Cayhall."

"Bukan. Dia sepenuhnya Booth. Phelps ingin seorang putra entah mengapa aku tak tahu. Jadi, kami pun punya anak laki-laki. Phelps, tentu saja, tak punya banyak waktu baginya. Selalu terlalu sibuk dengan bank. Dia membawa Walt ke country club dan mencoba mengajarinya bermain golf, tapi tidak berhasil. Walt tak pernah suka olahraga. Suatu ketika mereka pergi ke Kanada untuk berburu ayam. Ketika pulang, mereka tidak saling berbicara selama seminggu. Walt bukan pesolek, tapi tidak juga atletis. Phelps adalah atlet jagoan di sekolah—sepak bola, rugbi, tinju, semua itu. Walt mencoba bermain, tapi tak punya bakat. Phelps mendorongnya makin keras dan Walt berontak. Jadi, Phelps, dengan tangan besinya seperti biasa, mengirimnya ke asrama. Anakku meninggalkan rumah pada usia lima belas tahun." "Ke college mana dia belajar?" "Dia melewatkan satu tahun di Cornell, lalu

drop out." "Dia drop outV

"Ya. Dia ke Eropa sesudah jadi mahasiswa sebentar, dan sejak itu dia tetap di sana."

Adam mengamati wajah Lee dan menunggu kata-kata lebih lanjut. Ia meneguk air dan akan berbicara

ketika pelayan muncul dan cepat-cepat meletakkan semangkuk besar salad di antara mereka.

"Mengapa dia tinggal di Eropa?"

"Dia pergi ke Amsterdam dan jatuh cinta."

"Gadis Belanda yang cantik?" Pemuda Belanda yang cantik."

"Begitu."

Lee sekonyong-konyong tertarik pada salad. Ia menyendoknya ke piring dan mulai memotongnya

kecil-kecil. Adam turut melakukannya. Selama beberapa' saat mereka makan dalam keheningan, sementara bistro itu mulai terisi dan jadi lebih bising. Sepasang yuppie yang letih dan berpenampilan menarik duduk pada meja kecil di samping mereka dan memesan minuman keras.

Adam mengoleskan mentega pada roti tawar, menggigit sepotong, lalu bertanya, "Bagaimana reaksi Phelps?"

Lee menyeka sudut mulut. "Perjalanan terakhir Phelps bersamaku adalah ke Amsterdam untuk menemukan putra kami. Saat itu dia sudah dua tahun pergi. Dia beberapa kali menulis surat dan sekali-sekali menelepon, tapi kemudian semua korespondensi berhenti. Kami tentu saja khawatir, maka kami terbang ke sana dan menginap di hotel sampai menemukannya." "Apa yang dia kerjakan?" "Menjadi pelayan di sebuah kafe. Memakai anting-anting di kedua telinga Rambutnya dipangkas pendek. Pakaiannya aneh. Dia memakai bakiak

340

sialan itu dengan kaus kaki wol. Bahasa Belandanya sempurna. Kami tak ingin ribut di depan orang banyak, maka kami memintanya datang ke hotel kami. Dia datang. Sungguh mengerikan. Benar-benar mengerikan. Phelps menanganinya seolah-olah dia idiot, dan kerasukan itu tak terpulihkan lagi. Kami pulang. Phelps melakukan perombakan besar-besaran pada surat wasiatnya dan mencabut kembali hak-hak Walt." "Dia tak pernah pulang?"

Tak pernah. Aku bertemu dengannya di Paris sekali setahun. Kami berdua datang sendirian, itulah peraturan satu-satunya. Kami tinggal di hotel bagus dan melewatkan satu minggu bersama-sama, menjelajahi kota, makan-makan, mengunjungi museum. Itulah acara pentingku saat ini. Tapi dia benci Memphis."

"Aku ingin bertemu dengannya."

Lee memandang Adam dengan cermat, matanya basah. "Terpujilah kau. Kalau kau serius, aku akan senang mengajakmu pergi bersamaku."

"Aku serius. Aku tak peduli dia gay. Aku akan senang bertemu dengan sepupu pertamaku."

Lee menghela- napas dalam dan tersenyum. Ravioli tiba dalam piring penuh kepulan uap ke segala penjuru. Sepotong garlic bread panjang diletakkan di tepi meja. dan si pelayan menghilang.

"Apa Walt tahu tentang Sam?" tanya Adam.

"Tidak. Aku tak pernah punya nyali untuk bercerita kepadanya."

341

"Apakah dia tahu tentang aku dan Carmen? Tentang Eddie? Tentang apa pun dalam sejarah keluarga kita yang hebat?"

"Ya sedikit Ketika dia masih kecil, kuceritakan padanya bahwa dia punya saudara sepupu di California tapi mereka tak pernah datang ke Memphis. Phelps, tentu saja mengatakan kepadanya bahwa sepupunya di California termasuk dalam kelas sosial yang jauh lebih rendah, karena itu tidak patut mendapatkan perhatiannya. Walt dididik ayahnya untuk menjadi orang snob, Adam, kau harus mengerti ini. Dia masuk ke sekolah menengah paling bergengsi, berkeliaran di country club paling nyaman, dan keluarganya terdiri atas gerombolan sepupu bermarga Booth yang semuanya sama. Mereka semua orang-orang menyedihkan."

"Bagaimana pendapat keluarga Booth punya anggota keluarga yang homoseks?"

"Mereka membencinya, tentu saja. Dan dia benci mereka"

"Aku sudah menyukainya."

"Dia bukan anak yang jelek. Dia ingin belajar seni dan melukis. Aku selalu mengiriminya uang."

"Apa Sam tahu dia punya cucu homoseks?"

"Kurasa tidak. Aku tak tahu siapa yang akan bercerita kepadanya."

"Mungkin aku akan bercerita kepadanya."

"Jangan. Sudah cukup banyak yang memenuhi pikirannya."

Ravioli itu sudah cukup dingin untuk disantap,

342

mereka menikmatinya tanpa bicara. Pelayan ^ usikan air dan teh lagi. Pasangan di sam-. ffleteka memesan sebotol anggur merah, dan [ee mettnknya lebih dari sekali.

Adam menyeka mulut dan beristirahat sebentar, la membungkuk di atas meja. "Bolehkah aku menanyakan sesuatu yang pribadi?" ia bertanya pelan.

'Semua pertanyaanmu rasanya bersifat pribadi."

"Benar. Jadi, bolehkah aku bertanya satu lagi?"

"Silakan."

"Nah, aku baru saja berpikir. Malam ini kau menceritakan padaku kau pecandu alkohol, suamimu binatang, dan anakmu gay. Itu cukup banyak untuk sekali telan. Tapi adakah hal lain yang harus kuketahui?"

"Coba kuingat. Ya, Phelps pun pecandu alkohol tapi takkan mengakuinya" "Ada lainnya?"

"Dia pernah dua kali diperkarakan karena ^pelecehan seksual."

"Oke. Lupakan keluarga Booth. Ada kejutan lain dari keluarga kita?"

"Kita belum lagi menggores permukaannya, Adam."

"Aku sudah khawatir dengan hal itu."

DELAPAN BELAS

Badai hebat bergulung melintasi Delta sebelum fajar, dan Sam terbangun oleh gemuruh halilintar. Ia mendengar tetes air hujan menerpa keras jendela-jendela terbuka di gang. Kemudian ia mendengarnya menetes dan menggenang pada dinding di bawah jendela, tak jauh dari selnya. Kelem-bapan ranjangnya sekonyong-konyong terasa sejuk. Mungkin hari ini takkan begitu panas. Mungkin hujan akan bertahan satu-dua hari. Ia selalu punya harapan semacam ini bila hari hujan, tapi di musim panas badai yang biasanya berarti tanah becek di bawah terik matahari tak berarti apa-apa, kecuali hawa panas yang lebih mencekik.

Ia mengangkat kepala dan mengawasi air hujan jatuh dari jendela dan terkumpul di lantai. Air berkilau diterpa pantulan cahaya dari lampu kuning di kejauhan. Kecuali sinar redup ini, The Row dalam keadaan gelap. Dan sunyi.

Sam soka hujan, terutama di waktu malam, dan terutama di musim panas. Negara Bagian Missis-

sippi, dalam kebijaksanaannya yang tak terbatas, telah membangun penjaranya di tempat paling panas yang ada. Dan merancang Maximum Security Unit-nya dengan bentuk seperti oven. Jendela-jendela ke luar begitu kecil dan tak berguna, dibuat sedemikian rupa, tentu saja untuk alasan-alasan keamanan. Para perencana cabang neraka kecil ini juga memutuskan tak ada ventilasi dalam bentuk apa pun, tak ada peluang bagi angin segar mengalir masuk atau bagi udara pengap mengalir ke luar. Dan sesudah membangun apa yang mereka anggap fasilitas lembaga permasyarakatan modem, mereka memutuskan tidak memberinya AC. Bangunan itu akan berdiri megah di samping tanaman kedelai dan kapas, menyerap panas serta hawa lembap yang sama dari tanah. Dan ketikatanah itu kering, The Row akan terpanggang begitu saja bersama tanaman tersebut.

Namun Negara Bagian Mississippi tak dapat mengendalikan cuaca, bila hujan datang serta menyejukkan udara, Sam tersenyum sendiri dan memanjatkan doa syukur pendek. Bagaimanapun juga, ada sesuatu yang lebih tinggi yang memegang kendali. Negara tak berdaya bila hari hujan. Itu merupakan kemenangan kecil.

Ia bangkit berdiri dan meregangkan punggung. Ranjangnya terdiri atas sepotong busa, hampir dua kali satu meter, tebal sepuluh senti, yang disebut sebagai kasur. Kasur itu diletakkan pada rangka besi yang ditempel mati pada lantai dan dinding.

Dua lembar seprai menutupinya. Kadang-kadang mereka membagikan selimut pada musim dingin, Sakit punggung adalah sesuatu yang lumrah di The Row, tapi dengan lewatnya waktu, tubuh pun menyesuaikan diri dan tak banyak keluhan. Dokter penjara tidak dianggap sebagai sahabat narapidana di situ.

Ia menapak dua langkah dan bertelekan siku pada jeruji. Ia mendengarkan bunyi angin dan guruh, serta mengawasi tetesan-tetesan air menerpa ambang jendela dan memercik ke lantai. Betapa nikmatnya melangkah menembus dinding itu dan berjalan di rumput basah di sisi seberang, berjalan-jalan di sekitar lahan penjara di bawah hujan lebat, telanjang dan gila, basah kuyup, dengan air menetes dari rambut dan jenggot.

Kengerian di penjara itu adalah kau mati sedikit-sedikit setiap hari. Penantian itu membunuhmu. Kau hidup dalam sangkar, dan ketika bangun kau menandai lewatnya satu hari lagi dan kaukatakan pada dirimu bahwa kau semakin dekat satu hari pada kematian.

Sam menyalakan rokok dan menyaksikan asap melayang ke atas, ke arah air hujan. Berbagai keganjilan terjadi dengan sistem yudisial yang absurd. Pengadilan memutuskan begini suatu hari dan kebalikannya pada hari berikutnya. Hakim-hakim yang sampai mengabaikan mosi atau pengajuan banding selama bertahun-tahun, lalu suatu hari meraihnya dan memberikan pembebasan. Ha-

346

kim-hakim mati dan digantikan hakim yang berbeda cara berpikirnya. Presiden-presiden datang dan pergi serta menunjuk sahabat-sahabat mereka duduk di kursi hakim. Mahkamah Agung hanyut ke satu arah, lalu ke arah lain.

Kadang kala kematian akan disambut gembira. Dan bila diberi pilihan untuk, mati atau hidup di penjara ini, Sam akan cepat-cepat memilih kamar gas. Tapi selalu ada harapan, selalu ada janji yang menyala sepintas, bahwa sesuatu entah di mana dalam rimba raya peradilan yang luas akan mengetuk seseorang, dan kasusnya akan dibatalkan. Setiap penghuni The Row memimpikan mukjizat pembebasan dari surga. Dan impian itu membuat mereka bertahan dari satu hari yang merana ke hari berikutnya.

Sam baru-baru ini membaca bahwa ada hampir 2.500 narapidana divonis mati di Amerika, dan dalam tahun 1989 cuma enam belas orang dieksekusi. Mississippi bam mengeksekusi empat orang sejak 1977, tahun saat Gary Oilmore bersikeras menghadapi regu tembak di Utah. Ada perasaan aman dalam angka-angka itu. Mereka memperkuat tekadnya untuk mengajukan lebih banyak lagi dalih pembelaan.

Ia merokok di antara jeruji, sementara badai lewat dan hujan berhenti. Ia mengambil sarapan ketika matahari naik, dan pukul 07.00 ia menyalakan televisi untuk menyaksikan berita pagi. Ia baru saja menggigit sepotong roti panggang

347

dingin ketika mendadak wajahnya muncul di layar, di belakang pembawa berita pagi Memphis. Dengan penuh semangat wanita itu melaporkan berita paling menggemparkan hari itu, kasus aneh Sam Cayhail dan pengacara barunya. Tampaknya pengacara baru itu adalah cucunya yang lama hilang, Adam Hall, pengacara muda dari biro hukum raksasa di Chicago. Kravitz & Bane, lembaga yang sudah mewakili kepentingan hukum Sam selama tujuh tahun terakhir. Foto Sam sedikitnya sudah berumur sepuluh tahun, foto sama yang selalu mereka pakai tiap kali namanya disebut di TV atau media cetak. Foto Adam agak lebih aneh. Jelas ia tidak berpose untuk itu. Seseorang menjepretnya di luar. ketika ia tak melihat. Si pembawa berita menjelaskan dengan mata berbinar bahwa Memphis Press melaporkan pagi ini bahwa Adam Hall sudah mengonfirmasikan dirinya sebenarnya cucu Sam Cayhall. Ia memberikan garis besar singkat tentang kejahatan Sam. dan dua kali menyebutkan tanggal eksekusinya yang tertunda. Akan ada lebih banyak lagi dalam kisah ini, ia berjanji, mungkin segera pada Laporan Siang. Kemudian ia beralih pada pokok berita tentang pembubuhan tadi malam

Sam melemparkan roti panggang ke lantai di samping rak buku dan menatapnya. Seekor serangga menemukannya nyaris seketika, merangkak di atasnya, dan mengitarinya setengah lusin kali sebelum memutuskan benda itu layak dimakan.

Pengacaranya sudah bicara kepada pers. Apa yang mereka ajarkan kepada orang-orang ini di sekolah hukum? Apakah mereka memberikan pelajaran tentang kontrol media?

"Sam, kau ada di sana?" suara Gullit.

"Yeah. Aku juga di sini."

"Baru saja melihatmu di saluran empat."

"Yeah. Aku sudah melihatnya."

"Kau marah?" ¦ "Aku baik-baik saja."

"Tarik napas dalam, Sam. Tak apa-apa."

Di antara orang-orang yang divonis mati dalam kamar gas, istilah "tarik napas dalam" sering dipakai dan dianggap lak lebih dari suatu usaha untuk humor. Mereka selalu mengatakannya satu sama lain, biasanya bila salah satu sedang marah. Tapi bila diucapkan para penjaga, itu jauh dari lucu. Ucapan itu dianggap pelanggaran hukum Hal itu disebutkan dalam lebih dari satu gugatan, sebagai contoh perlakuan kejam yang terjadi di penjara itu.

Sam setuju dengan serangga itu dan tak menghiraukan sisa sarapannya. Ia menghirup kopi dan menatap lantai.

Pukul 09.30, Sersan Packer berada di dalam penjara, mencari Sam. Saatnya menghirup udara segar. Hujan sudah berhenti dan matahari memanggang Delta. Packer datang bersama dua penjaga

dan membawa sepasang rantai kaki dari besi. Sam menuding rantai itu dan bertanya, "Untuk apa itu?" "Untuk pengamanan, Sam." "Aku cuma keluar untuk bermain, bukan?" "Tidak, Sam. Kami akan membawamu ke perpustakaan hukum. Pengacaramu ingin menemuimu di sana, kalian bisa bicara di antara buku-buku hukum. Sekarang berbaliklah."

Sam mengulurkan kedua tangannya melalui lubang pada pintunya. Packer memborgolnya dengan kendur, lalu pintu terbuka dan Sam melangkah ke gang. Penjaga-penjaga itu berlutut dan memasang borgol kaki. Sam bertanya pada Packer, "Bagaimana dengan jam istirahat keluarku?" "Bagaimana dengannya?" "Kapan aku mendapatkannya?" "NantL"

"Kau bilang begitu kemarin dan aku tidak mendapatkan jam rekreasiku. Kau bohong padaku kemarin. Sekarang kau membohongiku lagi. Aku akan menggugatmu karena ini."

"Gugatan butuh waktu lama. Bertahun-tahun." "Aku ingin bicara dengan Kepala Penjara." "Aku yakin dia pun ingin bicara denganmu, Sam. Sekarang, kau ingin menemui pengacaramu atau tidak?"

"Aku punya hak menemui pengacaraku dan aku punya hak atas waktu rekreasiku."

"Jangan ganggu dia, Packer!" Hank Henshaw berteriak dari jarak sekitar dua meter.

350

"Kau bohong, Packer! Kau bohong!" J.B. Gullit menambahkan dari sisi lain.

"Tenang, anak-anak," kata Packer dingin. "Kita akan tangani Sam."

"Yeah, kau akan mengegosnya hari ini kalau bisa," Henshaw berteriak.

Borgol kaki sudah terpasang, dan Sam tertatih ke dalam selnya untuk mengambil berkas. Ia mendekapnya di dada dan tertatih-tatih menyusuri gang dengan Packer di sampingnya dan para penjaga membuntuti.

"Hajar mereka, Sam," teriak Henshaw ketika mereka berjalan pergi.

Terdengar teriakan lain mendukung Sam dan sialan mengejek Packer ketika meninggalkan penjara. Mereka dipersilakan melewati beberapa pintu dan Tier A sudah di belakang mereka.

"Kepala Penjara mengatakan kau bisa mendapat dua jam siang ini, dan dua jam tiap hari sampai semuanya selesai," kata Packer ketika mereka bergerak perlahan-lahan di lorong pendek.

"Sampai apa selesai?"

"Sampai thang ini selesai."

"Thang apa?"

Packer dan sebagian besar penjaga menyebut eksekusi sebagai thang.

"Kau tahu apa maksudku," kata Packer.

"Katakan pada Kepala Penjara dia benar-benar baik hati. Dan tanya dia apakah aku akan mendapat dua jam kalau thang ini tidak terjadi, oke?

351

Dan sewaktu kau membicarakannya, katakan padanya menurutku dia bangsat pembohong." "Dia sudah tahu."

Mereka berhenti pada tembok jeruji dan menunggu pintu terbuka. Mereka melewatinya dan dihentikan lagi oleh dua penjaga di pintu depan. Packer cepat-cepat menulis catatan pada clipboard, lalu mereka berjalan ke luar. Sebuah van putih sedang menunggu. Penjaga memegang lengan Sam, lalu mengangkat tubuh dan rantainya ke pintu samping. Packer duduk di depan bersama pengemudi.

"Apakah mobil ini ber-AC?" tukas Sam kepada sopir yang jendelanya terbuka.

"Ya," kata si pengemudi ketika mereka mundur dari bagian depan MSU. "Kalau begitu, nyalakan benda sialan itu, oke?" "Hentikan itu, Sam," kata Packer ragu. "Rasanya sudah cukup hebat berkeringat seharian dalam sangkar tanpa AC, tapi sungguh konyol duduk di sini dan tercekik. Nyalakan benda sialan itu. Aku punya hak."

"Tarik napas dalam, Sam," Packer berkata mengejek dan berkedip kepada pengemudi.

"Kau akan membayar ucapanmu, Packer. Kau akan menyesal telah mengucapkannya."

Pengemudi menekan tombol dan udara sejuk mulai bertiup. Van itu dipersilakan lewat melalui gerbang ganda dan perlahan-lahan beringsut di jalan tanah, meninggalkan The Row. Meskipun kaki dan tangannya diborgol, perja-

352

ladan singkat di luar itu menyegarkan. Sam berati mengomel dan langsung tidak mengacuhkan lain dalam van itu. Hujan telah meninggal-^ kubangan-kubangan air dalam selokan-selokan berumput di tepi jalan, dan mencuci tanaman kapas yang sekarang sudah lebih dari selutut. Batang dan daunnya hijau tua. Sam teringat ketika masih kanak-kanak,ia memetik kapas, lalu cepat-cepat menepiskan pikiran itu. Ia telah melatih pikiran untuk melupakan masa lalu, dan pada kesempatan-kesempatan yang jarang itu, ketika memori masa kanak-kanak terlintas di depannya, ia cepat-cepat menepiskannya.

Van itu merangkak pelan, dan ia bersyukur akan hal ini. Ia menatap dua narapidana duduk di bawah pohon, menyaksikan temannya berlatih angkat beban di bawah matahari. Ada pagar mengitari mereka, tapi betapa nikmatnya, pikirnya, berada di luar berjalan-jalan dan bicara, berlatih dan duduk-duduk, tak pernah memikirkan kamar gas, tak pernah mengkhawatirkan pembelaan terakhir.

Perpustakaan hukum itu dikenal sebagai The Twig atau Ranting, sebab tempat itu begitu kecil untuk dianggap satu cabang. Perpustakaan hukum utama di penjara itu terletak lebih jauh dalam perkebunan, di kamp lain. The Twig hanya dipakai terpidana mati. Tempat itu menempel pada bagian belakang gedung administrasi, dengan satu pintu dan tanpa jendela. Sam sudah berkali-kali ke sana

selama sembilan tahun terakhir ini. Perpustakaan itu berupa ruangan sempit dengan koleksi buku-buku hukum baru dan laporan-laporan up-to-date yang lumayan. Sebuah meja rapat usang berdiri di tengah, dengan rak-rak buku menutupi keempat dindingnya. Sekali-sekali seorang narapidana dengan sukarela bekerja sebagai pustakawan, tapi bantuan yang baik sulit didapatkan dan buku-bukunya jarang ditempatkan di tempat semestinya, hi sangat mengesalkan Sam, sebab ia suka kerapian dan membenci orang-orang Afrika itu. Ia yakin sebagian besar—kalau bukan semua-—pustakawan itu kulit hitam, meskipun ia tidak pasti. Dua penjaga itu membuka borgol Sam di pintu. "Kau punya waktu dua jam," kata Packer. "Aku punya waktu selama aku mau," kata Sam sambil menggosok pergelangan tangan, seolah-olah borgol tadi telah mematahkannya.

Tentu, Sam. Tapi bila aku datang menjemputmu dua jam lagi, aku berani bertaruh akan kami angkut pantat tipismu itu ke dalam van."

Packer membuka pintu begitu penjaga mengambil posisi di sampingnya. Sam memasuki perpustakaan itu dan membanting pintu di belakangnya. Ia meletakkan berkasnya di meja dan menatap pengacaranya.

Adam berdiri di ujung lain meja rapat, memegang sebuah buku dan menunggu kliennya b sudah mendengar suara-suara di luar, dan menyaksikan Sam memasuki ruangan tanpa penjaga atau

354

borgol- Sam berdiri dalam pakaian terusan merahnya, kelihatan jauh lebih kecil sekarang, tanpa kisi-kisi besi di antara mereka.

Mereka saling mengawasi beberapa lama dari ujung meja, cucu dan kakek, pengacara dan klien, orang asing dan orang asing. Jeda itu terasa ganjil saat mereka saling mengukur; masing-masing tak tahu apa yang hams dilakukan terhadap lainnya.

"Halo, Sam," kata Adam, berjalan ke arahnya.

"Pagi. Kulihat kita muncul di TV beberapa jam yang lalu."

"Yeah. Sudah kaubaca surat kabarnya?" "Belum. Nanti saja."

Adam menggeser koran pagi ke seberang meja dan Sam menghentikannya. Ia memegangnya dengan dua tangan, bergeser ke kursi, dan mengangkat koran itu dalam jarak lima belas senti dari hidungnya. Ia membacanya dengan cermat dan mengamati foto dirinya dan Adam.

Todd Marks jelas telah menghabiskan sebagian malam harinya untuk menggali-gali data dan menelepon ke sana-sini. Ia telah memverifikasikan bahwa Alan Cayhall dilahirkan di Clanton, Ford County, pada tahun 1964, dan nama ayahnya pada akte kelahirannya adalah Edward S. Cayhall. Ia memeriksa akte kelahiran Edward S. Cayhall dan menemukan ayahnya adalah Samuel Lucas Cayhall, sama dengan orang yang sekarang berada di penjara, menanti hukuman mati. Ia melaporkan Adam Hall telah mengonfirmasikan nama ayahnya

355

telah diganti di California, dan kakeknv a

Sam Cayhall. Ia hati-hati untuk tidak m kutipan langsung dari Adam, tapi bagai-juga ia telah melanggar kesepakatan mereka Tak banyak disangsikan dua orang itu telah berbicara

Mengutip dari sumber yang tak disebutkan namanya, berita itu menjelaskan bagaimana Eddi dan keluarganya meninggalkan Clanton pada tahun 1967 sesudah Sam ditahan, dan melarikan diri ke California, tempat Eddie kelak bunuh diri. Jejak itu berakhir di sana, sebab Marks jelas kehabisan waktu di penghujung hari dan tak bisa mengonfirmasikan apa pun dari California Sumber atau sumber-sumber yang tak disebutkan namanya itu tidak menyebutkan putri Sam tinggal di Memphis, jadi Lee tidak disorot. Cerita itu kehabisan tenaga sesudah serangkaian no comment dari Baker Cooiey, Garner Goodman, Phillip Naifeh, Lucas Mann, dan seorang pengacara dari kantor Kejaksaan Agung di Jackson. Namun Marks mengakhirinya dengan kuat, memberikan ringkasan peristiwa pengeboman atas Kramer.

Berita itu dimuat di halaman depan The Press, di atas berita utama. Foto lama Sam di sebelah kanan, dan di sampingnya ada foto Adam yang aneh dari pinggang ke atas. Beberapa jam sebelumnya Lee membawakan surat kabar itu untuknya, ketika ia duduk di teras dan menyaksikan lalu lintas pagi di sungai. Mereka minum kopi dan sari buah, membaca cerita itu dan membacanya lagi

Sesudah analisis panjang, Adam memutuskan Todd paries telah menempatkan seorang fotografer di seberang Hotel Peabody. Ketika Adam meninggalkan pertemuan kecil mereka kemarin dan melangkah ke trotoar, fotonya diambil. Jas dan dasinya jelas yang dipakai kemarin.

"Apakah kau bicara dengan badut ini?" Sam menggeram sambil meletakkan koran di meja. Adam duduk di seberangnya.

"Kami bertemu."

"Mengapa?"

"Sebab dia menelepon kantor kami di Memphis, mengatakan mendengar desas-desus. Aku ingin dia mendengar versi sebenarnya. Bukan urusan besar."

"Foto kita muncul di halaman depan bukan urusan besar?"

"Kau sudah pernah muncul di koran."

"Dan kau?"

"Aku sama sekali tidak berpose. Itu sergapan, kau tahu. Tapi kupikir aku kelihatan cukup tampan."

"Apakah kau mengonfirmasikan fakta-fakta ini untuknya?"

"Benar. Kami setuju hal itu akan jadi background, dan dia tak boleh mengutip apa pun duriku, atau memakaiku sebagai narasumber. Dia melanggar kesepakatan dan mengecohku. Dia juga menyembunyikan seorang fotografer, jadi aku bicara untuk pertama dan terakhir kalinya dengan Memphis Press"

Sam memandang sural kabar itu sejenak, jj santai, dan ucapannya lambat seperti biasanya. Ia bahkan menyunggingkan senyum sepintas. *Daj> kau mengonfirmasikan kau cucuku?"

"Ya. Sama sekali tak Nsa menyangkalnya bu-kmT

"Apa kau ingin menyangkalnya?" *. "Bacalah koran itu. Sam. Kalau aku ingin menyangkalnya, apakah hal itu akan muncul di halaman depan?"

Sam puas mendengarnya. Senyumnya sedikit melebar. Ja menggigit bibir dan menatap Adam. kemudian secara metodis mengeluarkan sebungkus rokok baru. Adam melirik sekeliling, mencari jendela.

Sesudah rokok pertama dinyalakan. Sam berkata. "Menyingkirlah dari pers. Mereka kejam dan tolol. Mereka pembohong dan suka melakukan kekeliruan yang ceroboh " "Tapi aku pengacara. Sam. Itu sudah tertanam." "Aku tahu. bu sulit, tapi usahakanlah mengendalikan diri. Aku tak ingin hal ini terjadi lagi."

Adam merogoh ke dalam fas, tersenyum, dan mengeluarkan sejumlah dokumen. "Aku punya gagasan bagus tentang cara menyelamatkan nyawamu." Ia menggosokkan kedua tangan, kemudian mencabut pena dan saku. Saat untuk bekerja. "Aku mendengarkan."

"Nah, seperti mungkin sudah kauduga, aku telah banyak melakukan riset." "Untuk itulah kau dibayar."

"Ya. Dan aku sudah punya teon kecil yang luar biasa, klaim baru yang hendak kuajukan pada hari Senin. Teori ini sederhana. Mississippi adalah satu di antara lima negara bagian yang masih memakai kamar gas, benar?"

"Benar."

"Dan Badan Legislatif Mississippi pada tahun 1984 mengesahkan undang-undang yang memberikan pilihan kepada terhukum untuk mati dengan suntikan atau dalam kamar gas. Namun undang-undang baru itu hanya berlaku bagi mereka yang di vonis sesudah tanggal 1 Juli 1984. Tidak berlaku untukmu."

"Itu benar. Kupikir separo orang-orang di The Row akan mendapat pilihan itu. Tapi i m masih bertahun-tahun lagi."

"Salah satu alasan badan legislatif menyetujui suntikan mematikan adalah untuk membuat pembunuhan itu lebih manusiawi. Aku sudah mempelajari sejarah legislatif di belakang undang-undang itu, dan ada banyak perdebatan tentang masalah yang dihadapi negara dalam pelaksanaan eksekusi memakai kamar gas. Teorinya sederhana: buat eksekusi itu cepat dan tak menyakitkan, sehingga lebih sedikit klaim konstitusional bahwa mereka kejam. Suntikan mematikan menimbulkan lebih sedikit masalah hukum, jadi pembunuhan-pembunuhan itu lebih mudah dilaksanakan. Dongan demikian, teori kita adalah karena negara sudah mengesahkan suntikan mematikan, secara

tak langsung mengatakan kamar gas sudah usang. Dan mengapa hal itu usang? Sebab itu merupakan cara yang kejam untuk membunuh manusia." Sam mengepul-ngepulkan rokok selama semenit

dan mengangguk perlahan-lahan. "Teruskan,"

katanya.

"Kita serang kamar gas sebagai metode eksekusi."

"Apakah kau membatasinya pada Mississippi?" ' "Mungkin. Aku tahu ada masalah dengan Teddy Doyle Meeks dan Maynard Tole."

Sam mendengus dan mengembuskan asap ke seberang meja. "Masalah? Kau bisa bilang begitu." "Berapa banyak yang kauketahui?" . "Ayolah. Mereka mati dalam jarak lima puluh meter dariku. Kami duduk di sel sepanjang hari dan memikirkan kematian. Setiap orang di The Row tahu apa yang terjadi pada anak-anak itu." "Ceritakanlah tentang mereka." Sam membungkuk ke depan bertelekan siku dan menatap kosong pada surat kabar di depannya. "Meeks adalah eksekusi pertama di Mississippi sesudah sepuluh tahun, dan mereka tak tahu apa yang mereka kerjakan. Itu terjadi tahun 1982. Aku sudah hampir dua tahun di sini, dan sampai saat itu kami hidup dalam dunia mimpi. Kami tak pernah memikirkan kamar gas, pil sianida, dan santapan terakhir. Kami divonis mati, tapi, persetan, mereka tak membunuh siapa pun, jadi mengapa khawatir? Tapi peristiwa Meeks memba-

360

ngunkan kami. Mereka membunuhnya, jadi mereka tentu bisa membunuh kami semua."

"Apa yang terjadi padanya?" Adam sudah pernah membaca selusin cerita tentang eksekusi Teddy Doyle Meeks yang kacau-balau, tapi ia ingin mendengarnya dari Sam.

"Segalanya kacau. Kau sudah melihat kamar gas itu?"

"Belum."

"Ada mangan kecil di sampingnya, tempat algojo mencampur, larutannya. Asam sulfat ada dalam kaleng yang dibawa dari laboratoriumnya, ke slang yang menjulur sampai ke bagian bawah kamar gas. Waktu mengeksekusi Meeks, si algojo mabuk."

"Ah, Sam."

"Aku tak melihatnya, oke? Tapi semua orang tahu dia mabuk. Undang-undang negara bagian menentukan ditunjuknya seorang algojo resmi, dan Kepala Penjara serta anak buahnya tidak memikirkan hal ini sampai beberapa jam sebelum eksekusi itu. Ingat, tak seorang pun mengira Meeks akan mati. Kami semua menunggu penundaan kembali pada menit terakhir, sebab dia sudah dua kali mengalaminya. Tapi tak ada penundaan, dan pada menit terakhir itu mereka tunggang-langgang mencari algojo resmi. Mereka menemukannya, mabuk. Dia tukang pipa, kurasa. Nah, campurannya yang pertama tidak berhasil. Dia meletakkan kaleng canister ke dalam slang, menarik tuas, dan setiap orang menunggu Meeks menarik napas dalam dan

mati. Meeks menahan napasnya selama mungkin, lalu menghirup. Tak ada yang terjadi. Mereka menunggu. Meeks menunggu. Para saksi menunggu. Setiap orang perlahan-lahan menoleh kepada si algojo, yang juga menunggu dan mengumpat. Dia kembali ke ruangan kecilnya dan membuat lagi campuran asam sulfat. Lalu dia harus mengambil kembali canister lama dari tempat pengisian, dan itu butuh waktu sepuluh menit. Kepala Penjara, Lucas Mann, dan seluruh kelompoknya berdiri di sana, menunggu dan bergerak-gerak resah, mengumpat si tukang pipa pemabuk yang akhirnya menancapkan canister baru dan menarik tuas. Kali ini asam sulfat itu mendarat di tempat semestinya, dalam mangkuk di bawah kursi tempat Meeks diikat. Algojo itu menarik tuas kedua untuk menjatuhkan tablet sianida yang juga ada di bawah kursi, bergelantungan di atas asam sulfat. Tablet itu jatuh dan tentu saja gasnya membubung ke atas, tempat Meeks yang malang sedang menahan napas lagi. Kau bisa melihat uapnya, kau tahu. Ketika akhirnya dia menyedot sehidung penuh, dia mulai gemetar dan meregang, dan ini berlangsung cukup lama. Karena suatu alasan, di sana ada tiang besi yang tegak dari bagian atas kamar gas sampai ke dasarnya, dan tiang itu berada tepat di belakang kursi. Ketika Meeks diam tak bergerak dan semua orang menyangka dia sudah mati, kepalanya mulai mengentak ke depan dan ke belakang, menghantam tiang ini, memukul-mukulnya

362

sekuat tenaga. Matanya terbalik ke belakang, mulutnya terbuka lebar dan mengeluarkan busa, dan dia memukul-mukulkan belakang kepalanya pada tiang itu. Mengerikan."

"Berapa lama yang diperlukan untuk membunuhnya?"

"Siapa tahu? Menurut dokter penjara, kematian terjadi seketika dan tanpa rasa sakit. Menurut beberapa saksi mata, Meeks kejang-kejang dan melonjak-lonjak dan memukul-mukulkan kepalanya selama lima menit."

Eksekusi Meeks telah menyediakan banyak amunisi bagi para penganjur penghapusan hukuman mati. Tak ada keraguan bahwa ia menderita hebat, dan artikel dituliskan mengenai kematian-nya. Versi Sam luar biasa konsisten dengan laporan para saksi mata.

"Siapa yang menceritakan ini padamu?" tanya Adam.

"Beberapa penjaga membicarakannya. Bukan kepadaku, tentu saja, tapi kabar tersebar cepat. Masyarakat protes, dan itu pasti lebih hebat lagi seandainya Meeks dulu bukan orang yang begitu keji. Semua orang membencinya. Dan korban kecilnya menderita sangat hebat, jadi sulit untuk bersimpati."

"Di mana kau ketika dia dieksekusi?"

"Di sel pertamaku, Tier D, di ujung terjauh dari kamar gas. Mereka mengurung semuanya malam itu, setiap narapidana di Parchman. Eksekusi itu

sesudah tengah malam, dan itu meng. geltkan sebab negara punya waktu sehari penuh untuk melaksanakannya Surat keputusan pelaksanaan hukuman itu tidak menyebutkan vvaktu tertentu, cuma hari tertentu. Jadi. bangsat-bangsat tolol itu begitu gatal untuk melaksanakannya secepat mungkin Mereka merencanakan setiap eksekusi dilaksanakan semenit sesudah (engah malam. Dengan demikian, seandainya ada keputusan penundaan, mereka punya sehari penuh agar pengacara mereka mengusahakan pembatalan Busier Moac mengalami yang seperti itu. Mereka meng-

lalu telepon berdering dan ¦ ruang penahanan semen-herkermgat selama enam igacara berlarian dari satu Akhirnya, ketika malahan tnyt antuk terakhir kali

kepala "Aku tidak tahu' itku. laki-laki bermartabat >ak.ih ada pesan terakhir namya dia memang punya H. Dia mengatakan urai mereka masak untuknya sebagai santapan terakhir agak terlalu mentah Naifeh menggumamkan sesuatu, sepertinya mengucapkan akan membicarakan ha) itu pada koki. Kemudian Buster menanyakan apakah Gubernur memberikan pengampunan pada menit terakhir. Naifeh bilang tidak.

ikatnya tengah mal mereka membawan tara. Dia menanti jam. sementara par pengadilan ke laini terbit, mereka mei Kukira kau tabu ap. Adam rnenggelen "Buster adalah s; Naifeh menanyainv Dia miang ya. dan sesuatu untuk diuc

364

Buster lalu Ivik.it.i. 'Nak. katakan pada bangsat nu. dia kehilangan dukunganku.* Mereka membanting pintu dan mengepasnya"

Sam jelas geli mendengarnya. Adam merasa wajib menanggapi dengan tertawa canggung, la memandang buku catatannya, sementara Sam menyalakan sebatang rokok lagi

Empat tahun sesudah eksekusi Teddy Doyle Meeks. pembelaan Maynard Tole sampai ke jalan buntu dan tibalah saat kamar gas itu dipakai lagi Tole adalah proyek pro /' Kravit/ A Bane Seorang pengacara muda bernama Peter Wiesen-berg mewakili Tole, di bawah supervisi E. Garner Goodman Baik Weiscnbcrg maupun Goodman menyaksikan eksekusi itu. yang dan banyak segi sama mengerikannya dengan eksekusi Meeks Adam be-lum membicarakan eksekusi Tole dengan Goodman, tapi ia mempelaian berkas itu dan membaca laporan saksi yang ditulis Wtescnberg dan Goodman

'Bagaimana dengan Maynard Tole?" tanya Adam

"Dia orang Afrika, militan yang membunuh banyak orang dalam perampokan dan tentu saja menjatuhkan segala kesalahan pada sistem. Selalu menyebut dinnya sebagai pejuang Afnka. Dia pernah beberapa kali mengancamku, tapi sebagian besar cuma membual."

"Membual?"

"Ycah. omong kotor, bicara sampah. Lumrah

pada orang-orang Afrika. Mereka semua tak berdosa, kau tahu. Setiap orang di antara mereka. Mereka ada di sini karena mereka hitam dan sistem ini putih. Meskipun mereka memerkosa dan membunuh, itu dianggap kesalahan orang lain. Selalu, selalu kesalahan orang lain." "Jadi, kau senang dia mati?" "Aku tidak berkata begitu. Pembunuhan itu salah. Salah bagi orang-orang Afrika itu melakukan pembunuhan. Salah bagi orang-orang Anglo Saxon membunuh. Dan* salah bagi warga Negara Bagian Mississippi membunuh narapidana di sini. Apt yang kulakukan salah, jadi bagaimana kau membuatnya benar dengan membunuhku?"

"Apakah Tole menderita?"

"Sama seperti Meeks. Mereka menemukan algojo baru dan dia mengerjakannya dengan benar pada kesempatan pertama. Gas itu menerpa Tole dan dia kejang-kejang, mulai membentur-benturkan kepala ke tiang, tepat seperti Meeks. Tapi Tole rupanya punya kepala lebih keras, sebab dia tenis memukul-mukulkannya pada tiang itu. Kejadian itu berlarut-larut, dan akhirnya Naifeh beserta gerombolannya jadi sangat cemas, sebab bocah itu tidak mati-mati dan segalanya jadi berantakan. Maka mereka menyuruh para saksi meninggalkan mangan saksi. Sungguh mengerikan."

"Aku membaca entah di mana, dia butuh sepuluh menit untuk mati."

"Dia bergulat keras, itu saja yang kuketahui.

366

Sudah tentu Kepala Penjara dan dokternya mengatakan kematian berlangsung seketika dan tanpa rasa sakit. Biasa. Tapi mereka benar-benar melakukan sedikit pembahan dalam prosedur, sesudah Tole. * Pada saat mengeksekusi sobatku Moac, mereka merancang berangus kecil yang lucu, terbuat dari tali kulit dan gesper, dan memasangnya pada tiang terkutuk itu. Pada Moac, dan kelak pada Jumbo Parris, mereka mengikat kepala terhukum begitu ketat, sampai tak mungkin lolos dan membenturkannya pada tiang. Cara yang bagus, bukan? Itu memudahkan Naifeh dan saksi, sebab mereka sekarang tak perlu menyaksikan banyak penderitaan."

"Kaulihat poinku, Sam? Itu cara mati yang menyeramkan. Kita serang metode itu. Kita cari saksi-saksi yang akan memberikan kesaksian tentang eksekusi ini, dan kita coba meyakinkan hakim agar menyatakan kamar gas tidak konstitusional."

"Lalu apa? Apakah kita kemudian minta suntikan mematikan? Apa gunanya? Rasanya konyol kalau aku mengatakan lebih suka tidak menemui ajal dalam kamar gas, tapi peduli amat, suntikan mematikan boleh juga. Letakkan aku di atas kereta dorong dan isi tubuhku dengan obat. Aku akan mati, benar? Aku tak mengerti." ' "Benar. Tapi kita akan mendapat tenggang waktu. Kita serang kamar gas, dapatkan penundaan sementara, lalu usahakan lagi melalui pengadilan yang lebih tinggi. Kita bisa menyeret hal ini sampai bertahun-tahun."

367

"Itu sudah pernah dikerjakan." "Apa maksudmu sudah pernah dikerjakan?" "Texas, 1983. Kasus Larson. Argumentasi yang sama diajukan tanpa hasil. Pengadilan mengatakan kamar gas telah ada selama lima puluh tahun, dan terbukti cukup efisien dalam melakukan pembunuhan secara manusiawi."

"Yeah, tapi ada satu perbedaan besar." "Apa?"

"Ini bukan Texas. Meeks, Tole, Moac, dan Parris tidak digas di Texas. Dan, omong-omong, Texas sudah beralih ke suntikan mematikan. Mereka membuang kamar gas, sebab mereka menemukan cara yang lebih baik untuk membunuh. Kebanyakan negara bagian yang dulu memakai kamar gas sudah menggantikannya dengan teknik yang lebih baik."

Sam bangkit berdiri dan berjalan ke ujung lain meja itu. "Ah, bila tiba waktuku, aku tentu saja ingin mati dengan teknologi terbaru." Ia mondar-mandir di sepanjang meja, maju-mundur tiga-empat kali, lalu berhenti. "Cuma lima setengah meter jarak antara ujung ruangan ini dan ujung satunya. Aku cuma bisa berjalan lima setengah meter tanpa menabrak jeruji. Apa kau menyadari bagaimana rasanya menghabiskan 23 jam sehari dalam sel berukuran hampir dua kali tiga meter? Inilah kebebasan, Man." Ia mondar-mandir lagi, mengepul-ngepulkan rokok ketika datang dan pergi.

Adam mengawasi sosok rapuh itu bergerak se-

368

panjang tepi meja, dengan jejak asap di belakangnya. Ia tidak berkaus kaki dan memakai sepatu mandi karet biru tua yang berdecit ketika berjalan. Sekonyong-konyong ia berhenti, menarik sebuah buku dari rak, melemparkannya dengan keras ke meja, dan mulai membalik- balik halaman dengan gerak melambai-lambai. Sesudah beberapa menit mencari-cari dengan tekun, ia dengan tepat menemukan apa yang dicarinya dan menghabiskan lima menit untuk membacanya.

"Ini dia," gumamnya pada diri sendiri. "Aku tahu sudah pernah membaca ini."

"Apa itu?"

"Satu kasus tahun 1984 dari North Carolina. Laki-laki itu bernama Jimmy Old, dan jelas Jimmy tak ingin mati. Mereka hams menyeretnya ke dalam kamar gas. Dia menendang-nendang, menangis, dan berteriak. Butuh beberapa lama untuk mengikatnya. Mereka mengempaskan pintu dan menjatuhkan gas, dan dagunya terbanting ke dada. Kemudian kepalanya berputar ke belakang dan mulai berkedut-kedut. Dia menoleh kepada para saksi yang tak bisa melihat apa pun kecuali bagian putih bola matanya, dan dia mulai mengeluarkan ludah. Kepalanya bergoyang-goyang dan terayun-ayun lama, sementara tubuhnya gemetar dan mulutnya berbusa. Hal itu terus berlanjut. Salah satu saksi—wartawan—muntah. Kepala penjara jadi muak dan menutup tirai hitam di sana, sehingga saksi tak bisa melihatnya lagi. Mereka memper-

369

kirakan Jimmy Old butuh empat belas menit untuk mati."

"Kedengarannya kejam." Sam menutup buku itu dan meletakkannya dengan hati-hati ke rak. Ia menyalakan sebatang rokok dan mengamati langit-langit. "Sebenarnya setiap kamar gas dibangun bertahun-tahun yang lalu oleh Eaton Metal Products di Salt Lake City. Aku membaca entah di mana bahwa kamar gas Missouri dibangun narapidana. Tapi kamar gas kita di sini dibangun Eaton, dan semua pada dasarnya sama terbuat dari baja, berbentuk segi delapan dengan sejumlah jendela di sana-sini, sehingga orang bisa menyaksikan kematian. Tak banyak tempat di dalam kamar itu, cuma kursi kayu dengan berbagai pengikat. Ada mangkuk besi tepat di bawah kursi, dan cuma beberapa senti di atas mangkuk itu ada kantong kecil berisi tablet sianida yang dikendalikan dengan tuas oleh algojo. Dia juga mengendalikan asam sulfat yang dipergunakan dalam urusan ini dengan canister. Canister itu disambungkan ke mangkuk dengan slang, dan sesudah mangkuk terisi asam, dia menarik tuas dan menjatuhkan tablet sianida. Ini akan menimbulkan gas yang mengakibatkan kematian, dan tentu saja dirancang agar berlangsung cepat tanpa rasa sakit."



0 Response to "The Chamber II"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified