Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Cerpen Islami Di Ujung Mimpi Itu

Buliran air mataku terus menderas menggenangi ujung mataku yang semakin meredup menatap wajah tirus itu memucat dan dingin membeku, nafasku tertahan ngilu yang merajam hati.

“Mereka harus tahu keadaan Pia…”

Aku menunggu jawaban dari seberang. Namun tidak lama, suara lembutnya terdengar, “Tante…”



***

Pia lahir sebagai bayi piatu prematur sesaat setelah Ibunya mengejan meregangkan nyawa ketika melahirkannya. Setelah itu hari-harinya hanya ada Ayahnya , Neneknya dan Aku. Sedari bayi Pia harus keluar masuk rumah sakit karena penyakit yang silih berganti menyerangnya, menggerogoti tubuh mungilnya, aku hanya bisa berikhtiar pasrah setelah berusaha menjaganya di setiap detik yang dilaluinya.

Aku hanya bisa menatap datar wajah tirusnya sembari mengelusnya pelan ketika gerimis mulai terdengar sakral menari di atas genteng dan bocah-bocah sebayanya mulai jingkrak-jingkrak menikmati konvoi gerimis yang meramaikan alam, sedang dia hanya mampu meracik kenikmatan monolog gerimis tanpa basah kuyub lewat jendel kaca. Tapi aku lega ketika dia mulai mengulum senyum menatap pelangi yang mulai melukis langit.

" Pia ingin ikut persami, Pia ingin ikut marcing band, Pia ingin ikut lomba gerak jalan, Pia ingin ikut pertukaran pelajar, Pia ingin seperti yang lain, lalu kenapa mereka menjulukiku sebagai manusia robot yang hidupnya hanya bergantung dengan batterai? Apa karena Pia pesakitan dan setiap saat harus menelan pahitnya obat-obatan? Pia ingin seperti yang lain..." Nafasnya tersengal-sengal menahan tangis yang terus menderas.

"Pia yakin! Pia bisa seperti mereka karena Pia punya hak untuk menikmati setiap nafas hangat yang Pia hembuskan. Biar! Meski Pia pesakitan, suatu saat Pia takkan lagi merasakan ngilunya sakit. Toh orang yang sering jatuh hanya akan merasakan sakitnya sekali dua kali, selanjutnya dia akan kebal ketika terjatuh lagi, dan Pia percaya, suatu saat Pia akan sekebal orang yang telah terbiasa jatuh, dan penyakit Pia ini hanyalah bungkus dari indahnya kado Tuhan"

Sore itu menyisakan senyap yang merundung keluarga Pia, aku yang telah biasa mengurusinya sejak bayi tergugu dalam tangis. Dia semakin tegar, segala keluh dan lara luruh bersama senyum semangat yang dia tahbiskan meski penyakit silih berganti merajamnya.

***

Seingatku di usia kelahirannya yang baru setahun, Pia mungil mengalami demam tinggi dan kejang-kejang, dan setelah itu rutin setiap bulan dia keluar masuk rumah sakit, ketika SD baru kita ketahui paru-parunya mulai bermasalah dan tervonis terserang pneumonia, namun ternyata bukan hanya itu, penyakit-penyakit lain mulai ngiri untuk singgah di tubuh mungilnya yang semakin kering mengingat berbagai macam obat yang terus dikonsumsinya meninggalkan efek samping bagi organ-organ tubuhnya. Dan dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya Ayah dan Neneknya memutuskan Home scholling untuknya, aku terus menemani hari-harinya, merekam semua semangatnya yang meletup-letup untuk terus belajar dan untuk sembuh. "Karena Pia punya mimpi," kata-kata itulah alibi mautnya untuk terus semangat belajar, dan selalu percaya suatu saat dia akan sembuh.

"Be brave and reach your dream!" ku sahuti letupan semangatnya dengan dukunganku yang tiada henti untuk mimpi-mimpinya.

***

Kerlip bintang gemintang diantara gumpalan awan tipis menyerinai malam indah ulang tahunnya yang ke-15, Pia mendapatkan kado spesial dari Ayah dan Neneknya, kado itu bukan pernak-pernik yang wah, tapi kado itu janji, janji seseorang yang menyayanginya untuk buah hati tersayangnya, kado untuk tahun-tahun yang Pia lewati dengan ketegaran dan semangat untuk terus mendekap mimpinya. Ayah dan Neneknya memberi izin kepadanya untuk melanjutkan SMA di luar.

"Tante Rena! Pia senang sekali hari ini, hmmm Pia bakalan punya banyak teman, Pia bisa sekolah di luar rumah seperti anak, nanti tante Rena tetap temenin Pia ya!"

"Tentu dong sayang ! Tante akan selalu ada untuk Pia"

Pia tersenyum puas melihat reaksiku. Sekejap kemudian dia sudah berpindah tempat, mendekatiku dan memelukku. Meskipun aku hanya abdi ndalem almarhum bundanya, Pia juga Ayah dan Neneknya menganggapku seperti keluarga sendiri, dan aku merasa seperti mendapatkan kehormatan karena telah dipercaya untuk merawat dan menjaga Pia.

***

Aku terlonjak kaget, Pia pulang dengan basah kuyup dengan air muka yang meletup-letup dan cerah

"Pia? Kok hujan-hujanan? " tanyaku penuh kehawatiran

"Hmmm, Pia seneng tante, akhirnya Pia bisa bersenggama dengan rinai hujan yang sakral itu Ppokoknya Pia seneeeeeeeng banget !

"Tapi Pia…"

"Makasih ya tante! Kemarin kan tante ngelarang Pia ikut Pramuka gara-gara gerimis tu, eh hari ini Pia dapat ganjarannya, entah Karena Pia nurut omongan tante atau karena nggak ikut Pramuka, yang jelas hari ini Pia dapat hukuman, hehe dihujan-hujanin sama kakak Pembina gara-gara kemarin bolos Pramuka, argh…satu rasa yang baru Pia rasakan selama hidup, tante! Bilang selamat dong ke Pia!"

Aku senang jika dia senang, tapi aku hawatir dengan keadaannya akhir-akhir ini meskipun dia tidak pernah mengeluh dan mengaduh, tiap malam batuknya menggigil dan aku juga sering menemukan sisa percikan darah di westavel bahkan di selimutnya, dia sering sompoyongan dan lemas, kehawatiranku semakin menjadi ketika kutemukan dirinya meminum bergelas-gelas air dengan alasan ginjalnya nyeri.

***

Semangat Pia tak juga luruh meski dari hasil tes skrining dia dinyatakan mengidap kanker paru-paru primer jenis NSCLC ( Non-small cell lung cancer) yang disebabkan oleh Pneumonia yang diidapnya mulai kecil, dia tak gentar meski vonis kanker mematikan itu menanamkan sekat pada tiap detik yang dilewatinya.

" Pia masih punya mimpi "

Sentuhan mimpi-mimpi menyihirnya menjadi sosok yang lebih kuat dan tegar meski penyakitnya terus merongrong dan menggrogoti tubuhnya…

***

Pia

Ketika tidak sengaja turun dari kamar, aku melihat semua orang rumah sedang berkumpul di ruang tengah. Aku sedikit mendekat dan mencoba mencuri dengar pembicaraan mereka. Ayah tampak serak mengungkapkan pandangannya.

“Ya sudahlah bu, lagipula Pia sama sekali tidak pernah mengeluh akan penyakitnya. Kita izinkan saja selagi itu bermanfaat untuk dirinya.”

Aku melihat nenek menggeleng keras. Aku beranjak dari tempatku. Sudah paham aku akan keputusan nenek. Dan ayah juga tante Rena pasti tidak akan bisa menolak dawuh beliau.

Itu tentang permintaanku untuk tetap melanjutkan pendidikanku ke bangku kuliah. Parahnya lagi-mungkin bagi mereka- aku diam-diam ikut tes beasiswa di tiga universitas luar negeri sekaligus. Dan semua dengan jurusan yang sama: Kedokteran. Awalnya aku memang membenci dokter dan segala sesuatu yang berbau kedokteran. Aku benci rumah sakit, bahkan aku benci ruangan putih. Namun mungkin karena aku terlalu sering menghabiskan waktu di rumah sakit, karena harus beberapa kali rawat inap, keadaan berbalik di tahun terakhirku di bangku SMA. Aku jatuh hati pada kedokteran. Dan aku ingin tahu lebih banyak lagi tentang penyakit-penyakit yang mematikan dan bagaimana cara mengobatinya. Aku tidak percaya dengan kata-kata dokter yang bilang bahwa ada penyakit yang tidak ada obatnya. Sungguh kasihan bukan mereka yang harus megidap penyakit yang belum ditemukan obatnya? Hidup mereka akan sia-sia saja. Dan aku ingin mencari jalan keluar untuk itu. Makanya, dengan mantap aku memilih untuk kuliah kedokteran.

Pintu kamarku terbuka, tante Rena mengintip. Aku pura-pura tidur. Aku malas berbicara dengan siapapun, maka aku memilih memejamkan mata.

“Maafin tante Pia, tante belum bisa mempertahankan mimpimu.”

Dalam hati aku menyaut, “Iya! Ke mana semangat yang selalu tante umbar untuk Pia dulu?”

***

“Maaf Pia, untuk yang satu ini papa belum bisa mengizinkan. Semua pasti akan sangat mengkhawatirkan keadaanmu di sana. Siapa yang akan menjagamu dan merawatmu kalau tiba-tiba penyakitmu kambuh?”

Aku terdiam, melirik nenek dan tante Rena yang juga hanya diam. Selalu begini, seakan yang mengambil keputusan adalah papa. Padahal itu semua adalah kemauan nenek. Ku tatap tante Rena yang seakan mencoba untuk tidak ikut campur. Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja.

“Tante Rena kan bisa ikut menemani Pia.”

Semua tersentak kaget dan langsung menatapku, aku tersenyum. Kemudian ganti menatap tante Rena. Tante Rena menunduk.

“Lagi pula, hanya dia yang setia dan perhatian dengan Pia dari kecil.”

“Rena, apa kau sanggup menemani Pia di sana?”

Tante Rena masih menunduk. Dalam hati aku seakan mengajaknya bicara, “Ayo tante, Bantu Pia mewujudkan mimpi ini!”

Hingga akhirnya tante Rena mengangguk. Aku bersorak riang, menang! Yessss!!!

***

Akhir-akhir ini aku kembali merasakan kekhawatiran berlebihan dari tante Rena. Itu semua sangat mengganggu proses belajarku dalam menghadapi ujian akhir perkuliahan. Tapi aku mencoba memaklumi, memang beberapa bulan terakhir kondisiku memburuk. Bahkan dua hari ini, aku mengakui bahwa ini adalah kondisi terlemah yang aku hadapi selama aku hidup.

Tapi bagaimana lagi, aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku mencoba kuat melawan penyakit ini. Sepengetahuanku, penyakit yang aku idap ini bisa sedikit hilang rasa sakitnya dengan kekuatan yang ditanamkan oleh si pengidap penyakit. Makanya selama ini aku mencoba untuk tidak merasakan ketika penyakit itu datang menyerang. Biarlah, toh itu hanya batuk yang kadang keluar darah. Sejauh ini tidak mengganggu belajarku sama sekali.

Namun malam ini tante Rena benar-benar tidak mau beranjak dari kasurku sambil menahanku untuk tetap tidur.

“Sudahlah tante, Pia baik-baik saja. Pergilah ke kamar dan tidur. Pia bukan anak bayi lagi yang tidur…uhuk uhuk.” Rengekanku terhenti dengan batukku sendiri.

Seperti biasa, tante Rena hanya diam dalam menghadapiku sambil terus mengusap punggungku dengan minyak untuk menghangatkanku. Batukku semakin mengeras. Tante Rena kewalahan. Ia mulai kebingungan dan akhirnya memutuskan untuk menelpon pihak apartemen. Malam itu juga aku diantar ke rumah sakit.

***

Ketika mataku terbuka, aku langsung ingat bahwa hari ini ada ujian. Aku langsung mencari tante Rena. Tidak jauh dia duduk di sofa, sedang menelpon. aku memiliki firasat, ia pasti hendak menelpon ayah dan nenek, memberi kabar tentang keadaanku.

“Tante…” panggilku, berusaha menghentikan usahanya untuk menelpon.

Berhasil! Tante Rena langsung menaruh hpnya dan menghampiriku dengan tersenyum.

“Please tante, nggak usah kasih tahu ayah dan nenek!” rengekku melas.

Selama kami tinggal di Singapura, keadaanku hanya menjadi rahasia aku dan tante Rena. Setiap hari tante Rena hanya mengabarkan kalau kondisiku baik-baik saja, dan sebenarnya memang begitu adanya, walaupun tidak kupungkiri rasa sakit itu sering sekali aku rasakan. Namun aku juga berusaha menyembunyikannya dari tante Rena. Walau aku tahu, tante Rena tahu kalau aku masih merasakan sakit itu, karena aku semakin kurus dan wajahku semakin tirus. Tapi aku terus memohon padanya dan meyakinkannya kalau aku baik-baik saja. Kekurusanku hanya karena aku sibuk dengan kuliahku.

***

Aku kembali menatap diri dari kaca. Hari ini hari wisuda kelulusanku. Aku merasa puas dengan apa yang telah aku gapai. Meraihnya memerlukan perjuangan dalam hidupku. Aku tersenyum, baru sadar kalau wajahku memang begitu tirus. Pucat. Tapi mungkin hanya karena kelelahan saja.

Dari luar, tante Rena memanggilku untuk cepat berangkat. Aku meraih tasku.

“Uhuk, uhuk,” lagi-lagi batuk itu datang. Tapi aku tidak menghiraukannya. Semakin keras! Akhirnya aku duduk di kasur. Menutup mulutku supaya suara batukku tidak terdengar.

Aku memegang dadaku, menahan sakit ketika batuk keluar. Darah bercipratan keluar dari mulutku mengotori sekitarku. Sayup-sayup aku mendengar panggilan tante Rena, yang hanya aku jawab dengan seuntai senyum

THE END

[www.himmahfm.com]

0 Response to "Cerpen Islami Di Ujung Mimpi Itu"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified