Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Brethren 3

“Jadi? Kita bayar tagihannya, dan memangnya kenapa kalau mereka tahu kita berusaha menelepon Aaron Lake? Sekarang ini, setengah penduduk negeri ini berusaha meneleponnya. Argrow tak bakal tahu kenapa kita melakukannya.”

Ide cemerlang, lama mereka memikirkannya. Ricky di klinik rehabilitasi bisa menelepon dan meninggalkan pesan. Spicer di Trumble bisa melakukan hal yang sama. Lake yang malang akan dihantui.

Lake yang malang. Begitu deras uang mengalir ke kantongnya sampai dia tidak bisa menghitungnya.

Sejam kemudian, Argrow keluar ruangan dan

di s

memberitahu bahwa ada kemajuan. “Aku harus m minggu sejam, lalu menelepon beberapa orang W ť katanya. “Bagaimana kalau kita makan” siang?” ‘ Mereka tidak sabar untuk melanjutkan disku mereka, dan mereka melakukannya dengan penuh semangat sambil makan coleslaw.

Tiga Puluh Tiga

SESUAI instruksi Mr. Lake yang terperinci, Jayne mengemudi sendirian ke Chevy Chase. Dia menemukan pusat perbelanjaan di Western Avenue itu, dan parkir di depan Mailbox America Dengan kunci Mr. Lake, dia membuka kotak pos, mengeluarkan delapan surat sampah, dan memasukkannya ke map. Tidak ada surat pribadi. Dia berjalan ke meja layan dan memberitahu si pegawai bahwa dia ingin menutup kotak pos atas nama atasannya, Mr. Al Konyers.

Pegawai itu menekan-nekan keyboard beberapa kali. Catatan menunjukkan bahwa seorang pria bernama Aaron L. Lake menyewa kotak tersebut atas nama Al Konyers sekitar tujuh bulan yang lalu. Sewanya telah dibayar untuk dua belas bulan, jadi tidak ada utang.

“Orang itu ikut pemilihan presiden? tanya si pegawai sambil menyodorkan formulir ke seberang

me”Ya,” jawab Jayne, membubuhkan tanda tangan pada tempat yang ditunjuk-

“Tidak.”

Jayne pergi membawa map dan menuju selatan, kembali memasuki kota. Dia tidak mempertanyakan kisah Lake yang katanya menyewa kotak pos itu untuk secara diam-diam membeberkan penipuan di Pentagon. Itu bukan masalah baginya, dia juga tidak punya waktu untuk banyak bertanya. Lake membuat mereka bekerja keras delapan belas jam sehari, dan banyak hal yang jauh lebih penting yang harus dipikirkannya.

Atasannya itu menunggu di kantor kampanyenya, sendirian. Seluruh ruangan dan koridor di sekitarnya penuh asisten bermacam-macam bidang, semua berlarian ke sana kemari seakan perang akan meletus. Namun Lake menikmati semua kesibukan itu. Jayne menyerahkan map itu dan pergi.

Lake menghitung delapan pucuk surat sampah taco delivery, jasa interlokal, tempat cuci mobil, kupon-kupon untuk Ini-itu. Dan tidak ada surat dari Ricky. Kotak itu telah ditutup, tidak ada alamat bara. Anak malang itu harus mencari orang lain untuk membantunya menjalani hidup baru. Lake memasukkan surat-surat sampah dan perjanjian pembatalan tersebut ke mesin penghancur kertas kecil di kolong mejanya, lalu tepekur sebentar untuk bersyukur. Nyaris tak ada hal negatif dalam hidupnya, dan hanya beberapa kali dia melakukan kesalahan. Menyurati Ricky merupakan perbuatan bodoh, namun dia berhasil lolos tanpa kurang suatu apa. Betapa mujurnya!

Dia tersenyum dan hampir tertawa sendiri, lalu

melompat bangun dari kursi, menyambar jas, dan berkeliling. Sang kandidat harus menghadiri berbagai rapat, kemudian makan siang dengan para kontraktor pertahanan. Oh, betapa mujurnya!

Kembali di pojok perpustakaan hukum, dengan ketiga teman barunya menjaga tempat itu bagai pengawal-pengawal mengantuk, Argrow bermain-main dengan telepon cukup lama untuk meyakinkan mereka bahwa dia telah menghubungi koneksi-koneksinya di dunia perbankan luar negeri yang gelap dan misterius. Setelah dua jam mondar-mandir, bergumam, dan menempelkan telepon ke kepala seperti pialang panik, akhirnya dia keluar ruangan.

“Kabar baik, gentlemen” katanya sambil tersenyum lelah.

Mereka berkerumun, ingin mendengar hasilnya.

“Uang itu masih ada,” dia memberitahu.

Lalu pertanyaan terpenting, yang sudah lama mereka rencanakan, yang akan mengungkapkan apakah Argrow penipu atau sungguhan.

“Berapa?” tanya Spicer.

“Sekitar 190.000,” sahut Argrow, dan mereka serentak mengembuskan napas. Spicer tersenyum. Beech membuang muka. Yarber memandang Argrow dengan kening berkerut, tapi ekspresi wajahnya ramah.

Menurut catatan mereka, saldonya $189.000, plus entah berapa tingkat bunga yang dibayarkan bank.

“Dia tak mencurinya,” gumam Beech, dan mereka mengenang almarhum pengacara mereka, yang tiba-tiba tidak sejahat yang mereka kira semula.

“Aku ingin tahu kenapa,” kata Spicer, nyaris tak terdengar.

‘Yah, uangnya masih ada,” kata Argrow. “Butuh banyak tindakan hukum.”

Kelihatannya memang begitu, dan karena ketiganya tidak bisa memikirkan komentar yang tepat, mereka diam saja.

“Kusarankan kalian memindahkannya, kalau kalian tak keberatan aku mengatakannya,” kata Argrow. “Bank ini terkenal bocor.”

“Dipindah ke mana?” tanya Beech.

“Kalau itu uangku, aku akan segera memindahkannya ke Panama.”

Ini masalah baru, ide yang belum mereka pikirkan karena terobsesi dengan Trevor dan pencuriannya. Namun mereka tetap mempertimbangkannya dengan hati-hati, seolah hal tersebut sudah sering dibicarakan.

“Kenapa dipindah?” tanya Beech. “Tempat yang sekarang aman, kan?”

“Kurasa,” jawab Argrow, bereaksi cepat. Dia tahu tujuannya, mereka tidak. “Tapi kalian lihat betapa longgar kerahasiaannya. Aku tak mau menggunakan bank-bank di Bahama sekarang ini, terutama yang satu ini.”

“Dan kami tak tahu apakah Trevor memberitahu seseorang tentang rekening kami,” timpal Spicer, selalu ingin menjatuhkan pengacara itu.

“Kalau kalian ingin uang itu terlindung, pindahkan,” saran Argrow. “Prosesnya tak sampai sehari dan kalian takkan perlu mengkhawatirkannya lagi. Dan manfaatkan uang itu. Rekening ini teronggok saja, bertambah cuma beberapa sen dari bunga.

Serahkan pada manajer dana dan biarkan uang kalian bertambah lima belas atau dua puluh persen. Kalian toh takkan menggunakannya dalam waktu dekat”

Kaukira begitu, pai, pikir mereka. Namun omongan Argrow memang masuk akal.

“Dan kuduga kau bisa memindahkannya?” tanya Yarber.

“Tentu saja bisa. Sekarang kalian meragukanku?”

Mereka bertiga menggeleng. Tidak, mereka tidak meragukannya.

“Aku punya beberapa kontak hebat di Panama. Pikirkanlah.” Argrow melirik jam tangan seolah sudah tidak berminat lagi pada rekening mereka dan punya seratus urusan mendesak di tempat lain. Pukulan telak sebentar lagi akan dilontarkan, dan dia tidak mau terburu-buru. ^fe

“Kami sudah memikirkannya,” kata Spicer. “Ayo kita pindahkan sekarang.”

Argrow memandang tiga pasang mata di hadapannya, semuanya balas memandangnya. “Ada masalah pembayaran,” katanya, bagai pencuci uang kawakan.

“Pembayaran seperti apa?” tanya Spicer.

“Sepuluh persen, untuk transfernya.”

“Siapa yang mendapat sepuluh persen?”

“Aku.”

“Banyak sekali,” komentar Beech.

“Skalanya memang begitu. Jumlah di bawah sejuta membayar sepuluh persen. Jumlah di atas seratus juta membayar satu persen. Itu biasa dalam bisnis ini, dan itulah sebabnya sekarang aku mengenakan seragam penjara, bukan setelan seribu dolar.”

“Licik,” tukas Spicer, orang yang menggelapkan keuntungan bingo dalam acara amal.

“Tak usah berkhotbah, oke? Kita bicara tentang pemotongan sedikit uang yang jelas ternoda. Terserah kalian.” Suara Argrow dingin, veteran tanpa belas kasihan yang sering menangani transaksi-transaksi yang jauh lebih besar.

Jumlahnya hanya $19.000, dan ini dari uang yang mereka yakin sudah lenyap. Setelah dipotong sepuluh persen untuk Argrow, mereka masih punya $170.000, setiap orang kira-kira $60.000, dan mestinya lebih banyak kalau saja si Trevor pengkhianat itu tidak memotong begitu banyak. Lagi pula, mereka yakin sebentar lagi akan memperoleh sapi perahan yang lebih gemuk. Uang di Bahama itu hanya uang saku.

“Oke,” kata Spicer sambil memandang kedua temannya untuk minta persetujuan. Mereka mengangguk perlahan. Ketiganya memikirkan-hal yang sama sekarang. Jika pemerasan Aaron Lake berlangsung sesuai dengan khayalan mereka, uang dalam jumlah raksasa akan mengalir ke kantong mereka. Mereka akan membutuhkan tempat untuk menyembunyikannya, dan mungkin orang untuk membantu mereka. Mereka ingin mempercayai Argrow. Mari kita beri dia kesempatan.

“Plus, kalian menangani permohonan bandingku,” tambah Argrow.

“Ya, kami akan menanganinya.” W^^”

Argrow tersenyum dan berkata, “Lumayan juga ‘ kesepakatan ini. Biar kutelepon beberapa orang lagi.” “Ada satu hal yang harus kauketahui,” kata Beech. “Oke.”

“Nama pengacara itu Trevor Carson. Dia membuka rekening, mengurus uangnya, melakukan semuanya

sebetulnya. Dan dia dibunuh dua malam lalu di

Kingston, Jamaika.”

Argrow memandang wajah mereka dengan tatapan bertanya. Yarber menyerahkan surat kabar, yang dibacanya dengan sangat teliti. “Kenapa dia menghilang?” dia bertanya setelah lama diam.

“Kami tak tahu,” jawab Beech. “Dia meninggalkan kota, dan kami mendapat kabar dari FBI bahwa dia menghilang. Kami cuma berasumsi dia mencuri uang kami.”

Argrow mengembalikan koran itu pada Yarber, dan bersidekap. Dia memiringkan kepala, menyipitkan mata, dan berhasil tampak curiga. Biarkan mereka kalut

“Seberapa kotor uang ini?” tanyanya, seolah ada kemungkinan dia tidak mau terlibat sama sekali.

“Bukan uang dari obat bius,” sahut Spicer cepat-cepat, bersikap defensif, seakan uang dari semua sumber lain pasti dianggap bersih.

“Kami tak bisa memberitahumu,” jawab Beech.

“Kita sudah sepakat,” kata Yarber. “Terserah kau mau menerimanya atau tidak.”

Hebat juga kau, bocah tua, kata Argrow dalam hati. “FBI terlibat?” dia bertanya.

“Hanya dengan hilangnya pengacara itu,” jawab Beech. “FBI tak tahu-menahu tentang rekening di luar negeri itu.”

“Coba kuulangi. Urusan ini melibatkan pengacara mati, FBI, rekening luar negeri yang menyembunyikan uang kotor, betul? Apa sih yang kalian lakukan?”

“Kau tak ingin tahu,” tukas Beech. “Kurasa kau benar.”

“Tak ada yang memaksamu terlibat,” timpal Yarber.

Jadi harus diputuskan. Bagi Argrow, bendera-bendera merah telah dikibarkan, ladang ranjau telah ditandai. Jika melanjutkan ini, dia melakukannya dengan waspada, karena sudah diperingatkan bahwa ketiga teman barunya mungkin berbahaya. Tentu saja ini bukan masalah bagi Argrow. Tapi bagi Beech, Spicer. dan Yarber, pemberian kesempatan untuk memasuki hubungan kerja sama mereka, seberapa kecil pun kesempatan itu, berarti mereka menerima seorang konspirator lagi. Mereka takkan memberitahu Argrow tentang tipuan mereka, dan jelas tidak tentang Aaron Lake. Argrow juga tidak akan mendapat uang mereka lagi, kecuali kalau orang itu menangani masalah transfer Tapi pria itu sudah tahu lebih banyak daripada yang semestinya. Mereka tidak punya pilihan.

Mereka memutuskan itu juga karena kehabisan akal. Ketika ada Trevor, mereka punya akses ke luar, hal yang baru mereka sadari sekarang. Setelah pengacara itu pergi, dunia mereka menyempit.

Meskipun tidak mau mengakuinya, mereka melakukan kesalahan ketika memecatnya. Setelah tahu tentang Lake, seharusnya mereka memperingatkan Trevor, dan memberitahukan segala sesuatu tentang anggota, Kongres itu dan surat-suratnya yang telah diutak-atik. Trevor memang jauh dari sempurna, tapi mereka membutuhkan semua bantuan yang bisa mereka dapat.

Mungkin mereka akan mempekerjakannya lagi satu-dua hari kemudian, tapi itu tak mungkin dilakukan lagi. Trevor pergi, dan kini untuk selamanya.

Argrow memiliki akses. Dia punya telepon dan teman-teman; dia punya nyali dan tahu cara membereskan masalah. Mungkin mereka memang membutuhkannya, tapi mereka akan melakukan ini pelan-pelan.

Dia menggaruk kepala dan mengerutkan kening seakan sakit kepala. “Jangan beritahu aku apa-apa lagi,” katanya. “Aku tak ingin tahu.”

Dia kembali ke ruang rapat dan menutup pintunya, lalu duduk di pinggir meja dan sekali lagi tampak seperti sibuk menelepon ke seluruh penjuru Karibia.

Mereka mendengarnya tertawa dua kali, mungkin bercanda dengan teman lama yang kaget menerima teleponnya. Mereka mendengarnya memaki sekali, tapi tidak bisa menebak siapa sasarannya atau apa alasannya. Suaranya meninggi dan menurun. Meskipun sudah berusaha keras membaca putusan-putusan pengadilan, membersihkan buku-buku lama, dan mempelajari pasar taruhan Vegas, mereka tidak dapat mengabaikan suara dari ruangan tersebut

Argrow berakting lumayan hebat, dan setelah sejam berceloteh tidak keruan dia keluar dan berkata, “Kurasa aku bisa menyelesaikannya besok, tapi kami membutuhkan affidavit yang ditandatangani salah satu dari kalian yang menyatakan kalian pemilik tunggal Boomer Realty.”

“Siapa yang akan membaca affidavit itu?” tanya Beech.

“Cuma bank di Bahama itu. Mereka tahu nasib Mr. Carson, dan menginginkan verifikasi tentang kepemilikan rekening itu.”

Mereka ngeri memikirkan harus menandatangani

dokumen yang berisi pengakuan bahwa mereka ada hubungannya dengan uang kotor tersebut Tapi permintaan itu masuk akal.

“Ada mesin faks di sini?” tanya Argrow.

‘Tidak, tidak untuk kita,” jawab Beech.

“Aku yakin sipir punya,” kata Spicer. “Datangi saja dia dan bilang kau perlu mengirim dokumen ke bank luar negerimu.”

Smdirannya pedas. Argrow melotot, lalu tidak menanggapi. “Oke, beritahu aku cara mengirim affidavit itu dari sini ke Bahama. Bagaimana cara kalian mengirim surat?”

“Pengacara itu kurir kami,” Yarber berkata. “Surat-surat lain harus diperiksa.”

“Seberapa cermat mereka memeriksa surat-surat hukum?”

“Mereka meliriknya,” jawab Spicer.. “Tapi tak bisa membukanya.” BSS

Argrow mondar-mandir sebentar, berpikir keras. Kemudian dia menyelinap di antara dua rak buku, sehingga tidak bisa dilihat dari luar perpustakaan hukum. Dengan sigap dia membuka teleponnya, menekan angka-angka, dan menempelkannya ke telinga. Dia berkata, “Ya, Wilson Argrow di sini. Jack ada? Ya, beritahu dia ini penting.” Dia menunggu.

“Siapa Jack?” tanya Spicer dari seberang ruangan. Beech dan Yarber mendengarkan tapi sambil mengawasi situasi.

acafa^^ di Boca” sahut Argrow. “Dia peng; Ulu k Tate-Dia akan mengunjungiku besok.’ Kau’ dat Tn’ dia berkata> “Hei, Jack, ini aku. 8 besok? Bagus, bisa kau kemari P^1’

pagi? Bagus. Sekitar pukul sepuluh. Aku akan mengirim surat. Bagus. Bagaimana kabar Mom? Bagus. Sampai ketemu besok pagi.”

Prospek berlanjutnya lagi surat-menyurat menarik perhatian Majelis. Argrow punya saudara pengacara. Di samping dia punya telepon, otak, dan nyali.

Pria itu memasukkan teleponnya ke saku dan berjalan menjauhi rak. “Aku akan menyerahkan affidav#-nya pada saudaraku besok pagi. Dia akan mengirimnya dengan faks ke bank. Siangnya uang itu sudah akan berada di Panama, aman dan bertambah lima belas persen. Gampang.”

“Saudaramu bisa kami percayai?” tanya Yarber.

“Seutuhnya,” jawab Argrow, nyaris tersinggung karena pertanyaan itu. Dia melangkah ke pintu. “Sampai nanti. Aku mau mencari udara segar.”

Tiga Puluh Empat

IBU Trevor datang dari Scranton. Wanita itu ditemani saudaranya, bibi Trevor yang bernama Helen. Mereka sama-sama berusia tujuh puluhan dan cukup sehat Mereka tersesat empat kali antara bandara dan Neptune Beach, lalu bolak-balik di jalanan selama sejam sebelum tanpa sengaja menemukan rumah Trevor, tempat yang sudah enam tahun tidak dikunjungi ibunya. Dia terakhir bertemu Trevor dua tahun lalu. Bibi Helen paling tidak sudah sepuluh tahun tidak bertemu dengannya, tapi tidak terlalu merindukan keponakannya itu.

Si ibu memarkir mobil sewaan di belakang Beetle kecil Trevor, dan menangis tersedu-sedu sebelum turun.

Kumuh sekali, kata Bibi Helen dalam hati.

Pintu depan tidak dikunci. Tempat tersebut terbengkalai, tapi lama sebelum pemiliknya kabur, piring-piring telah menumpuk di bak cuci, sampah berserakan, mesin penyedot debu tersimpan di lemari.

Baunya membuat Bibi Helen keluar lebih dulu, dan ibu Trevor segera mengikutinya. Mereka tidak

tahu harus berbuat apa. Mayatnya masih di Jamaika, di kamar mayat yang penuh, dan menurut pria muda tidak ramah di Departemen Luar Negeri yang bicara dengannya, biaya pemulangannya $600. Perusahaan penerbangan mau bekerja sama, tapi administrasi di Kingston ruwet.

Butuh waktu setengah jam untuk menemukan kantornya. Saat itu, kabar telah menyebar. Chap si paralegal menunggu di meja penerimaan, berusaha tampak sedih dan sibuk pada saat yang bersamaan. Wes si manajer kantor berada di mang belakang, hanya mendengar dan mengamati. Telepon berdering tanpa henti pada hari berita kematian Trevor dimuat, tapi setelah beberapa ucapan belasungkawa dari sesama pengacara dan satu-dua klien, telepon senyap kembali.

Di pintu depan terpampang karangan bunga muarahan, yang dibelikan CIA. “Manisnya,” kata ibunya ketika mereka berjalan di trotoar.

Tempat kumuh lagi, pikir Bibi Helen.

Chap menyambut mereka dan memperkenalkan diri sebagai paralegal Trevor. Dia sedang dalam proses menutup kantor, tugas yang sangat sulit.

“Mana perempuan itu?” tanya si ibu, matanya merah karena habis menangis.

“Dia pergi beberapa waktu lalu. Trevor memergokinya mencuri.”

“Ya ampun.”

“Anda ingin kopi?” tanyanya.

“Ya, terima kasih.” Mereka duduk di sofa berdebu dan tidak rata, sementara Chap mengambilkan dari teko tiga cangkir kopi yang kebetulan baru dibuat.

Dia duduk di seberang mereka di kursi rotan yang goyah. Si ibu kalut. Si bibi ingin tahu, matanya memandang ke sana-sini, mencari tanda-tanda kemakmuran. Mereka tidak miskin, tapi di usia mereka, kekayaan takkan pernah mereka miliki.

“Saya sangat berduka atas kematian Trevor,” kata Chap.

“Memang mengerikan,” kata Mrs. Carson, bibirnya bergetar. Cangkirnya bergoyang dan kopi tepercik ke gaunnya Dia tidak menyadarinya.

“Apakah dia punya banyak klien?” tanya Bibi Helen.

“Ya, dia sangat sibuk. Pengacara yang andal. Salah satu yang terbaik yang pernah kukenal.”

“Dan kau sekretarisnya?” tanya Mrs. Carson.

“Bukan, saya paralegal. Malam hari saya kuliah hukum.”

“Kau menangani semua urusannya?” Bibi Helen bertanya.

“Yah, tidak juga,” jawab Chap. “Saya berharap itulah alasan kedatangan Anda kemari.”

“Oh, kami terlalu tua,” kata ibunya.

“Berapa banyak uang yang ditinggalkannya?” si bibi bertanya.

Chap menaikkan suaranya sedikit. Wanita tua ini mata duitan. “Saya tak tabu. Saya tidak mengurus uangnya.”

“Siapa yang mengurusnya?”

“Saya rasa akuntannya.”

“Siapa akuntannya?”

“Saya tak tahu. Trevor sangat tertutup dalam banyak hal.”

“Memang,” timpal ibunya sedih. “Waktu kecil juga.*’ Dia menumpahkan kopinya lagi, kali ini ke sofa.

“Kau yang membayar tagihan-tagihan tempat ini, kan?” tanya si bibi. “Tidak. Trevor mengurus sendiri keuangannya.” “Yah, dengar, anak muda, mereka minta $600 untuk menerbangkannya pulang dari Jamaika.” “Kenapa sih dia di sana?” potong si ibu. “Berlibur sebentar,” jawab Chap. “Dan ibunya tak punya $600,” Helen menyelesaikan omongannya tadi. “Aku punya kok.”

“Oh, di sini juga ada uang,” kata Chap, dan Bibi Helen tampak puas. “Berapa?” tanyanya.

“Sembilan ratus dolar lebih sedikit. Trevor senang menyimpan uang kecil.”

“Berikan padaku,” desak Bibi Helen.

“Menurutmu kami boleh mengambilnya?” tanya si ibu.

“Sebaiknya Anda ambil,” kata Chap muram. “Kalau tidak, uang itu akan dihitung sebagai kekayaannya dan IRS akan mengambilnya.”

“Apa lagi yang akan dihitung sebagai kekayaannya?” tanya si bibi.

“Semua ini,” jawab Chap, melambaikan tangannya ke’ seluruh ruangan sambil menghampiri meja kerja. Dikeluarkannya amplop kusut yang penuh dengan uang dalam berbagai nilai nominal, uang yang baru saja mereka ambil dari rumah sewaan di seberang jalan. Diberikannya amplop tersebut pada Helen, yang menyambarnya dan menghitung isinya.

“Sembilan ratus dua puluh, dan uang kecil,” Chap memberitahu. “Bank apa yang digunakannya?” tanya Helen. “Saya tak tahu. Seperti kata saya tadi, dia sangat tertutup dalam hal uangnya.” Dan dari sudut pandang tertentu, Chap memang mengatakan yang sebenarnya. Trevor memindahkan $900.000 dari Bahama ke Bermuda, dan dari sana jejaknya menghilang. Uang itu sekarang tersembunyi di suatu bank entah di mana, dalam rekening yang hanya bisa diakses Trevor Carson. Mereka tahu dia menuju Grand Cayman, namun bankir-bankir di sana terkenal dalam memegang kerahasiaan mereka. Penyelidikan intensif selama dua hari tidak menghasilkan apa-apa. Si penembak Trevor mengambil dompet dan kunci kamarnya. Sementara polisi memeriksa lokasi kejahatan, penembak itu menggeledah kamar hotelnya. Di laci tersembunyi uang kontan sekitar $8.000, dan tidak ada benda penting lainnya. Tidak ada petunjuk tentang di mana Trevor menyimpan uangnya.

Orang-orang di Langley menyimpulkan bahwa entah mengapa, Trevor curiga dirinya dibuntuti. Sebagian besar uangnya lenyap, meskipun mestinya dia bisa menyimpannya di bank di Bermuda. Kamar hotelnya tidak dipesan lebih duludia datang begitu saja dan membayar tunai untuk satu malam.

Orang yang melarikan diri, memindahkan $900.000 dari satu pulau ke pulau berikutnya, seharusnya punya bukti tentang kegiatan perbankannya. Namun Trevor tidak memilikinya sepotong pun.

Sementara Bibi Helen asyik menghitung uang yang pasti merupakan satu-satunya jatah mereka dari kekayaan Trevor, Wes memikirkan harta karun yang lenyap di suatu tempat di Karibia itu.

“Kita harus berbuat apa sekarang?” tanya ibu Trevor.

Chap mengangkat bahu dan menjawab, “Saya rasa Anda harus memakamkannya.”

“Bisakah kau membantu kami?”

“Sebetulnya itu bukan tugas saya. Saya

“Apakah sebaiknya dia kami bawa pulang ke Scranton?” tanya Helen.

“Terserah Anda.”

“Berapa biayanya?” tanya Helen.

“Saya tak tahu. Belum pernah saya mengurus hal seperti ini.”

“Tapi semua temannya di sini,” kata ibunya, menyeka matanya dengan tisu.

“Sudah lama dia meninggalkan Scranton,” kata Helen, matanya memandang ke segala arah, seakan ada kisah panjang di balik kepergian Trevor dari Scranton. Pasti, pikir Chap.

“Aku yakin teman-temannya di sini ingin mengadakan acara, untuk mengenangnya,” kata Mrs. Carson.

“Sebetulnya, kami sudah merencanakannya,” kata Chap.

“Aduh!” katanya, senang. “Ya, pukul empat besok.” “Di mana?”

“Tempat yang bernama Pete’s, beberapa blok dari

sini.”

“Pete’s?” tanya Helen.

“Tempat itu, yah, semacam restoran.”

“Restoran. Kenapa tidak di gereja?”

“Saya kira dia tak ke gereja.”

“Waktu masih keciL ya,” tukas ibunya sengit.

Untuk mengenang Trevor, happy hour pukul 17.00 akan dimulai pukul 16.00, dan berlangsung sampai tengah malam. Bir lima puluh sen, favorit Trevor.

“Haruskah kami datang?” tanya Helen, merasa bakal ada masalah.

“Saya rasa jangan.”

“Kenapa?” tanya Mrs. Carson.

“Suasananya mungkin akan tak enak. Sekumpulan pengacara dan hakim, Anda tahu sendiri bagaimana.” Dia mengerutkan kening pada Helen, dan wanita tua itu memahami maksudnya.

Mereka bertanya tentang rumah pemakaman dan pekuburan, Chap merasa semakin terseret ke dalam masalah mereka. CIA membunuh Trevor. Apakah mereka berkewajiban menguburkannya dengan pantas?

Menurut Klockner tidak.

Setelah wanita-wanita itu pergi, Wes dan Chap menyelesaikan pembongkaran kamera, kabel, mikrofon, dan alat penyadap. Mereka merapikan tempat itu, dan ketika mereka mengunci pintu-pintu untuk terakhir kalinya, kantor Trevor tidak pernah serapi itu.

Setengah tim Klockner sudah meninggalkan kota. Setengah lainnya memonitor Wilson Argrow di dalam Trumble. Dan mereka menunggu.

Setelah para pemalsu di Langley selesai membuat >, arsip pengadilan Argrow, arsip itu dimasukkan ke kardus dan diterbangkan ke Jacksonville dengan jet Ś kecil bersama tiga agen. Di antara sekian banyak 1

benda lainnya, kardus itu berisi dakwaan setebal 51 halaman yang disampaikan di hadapan grand jury di Dade County, arsip korespondensi berisi surat-surat dari pembela Argrow dan kejaksaan, map tebal berisi berbagai mosi dan manuver prapersidangan lain, memo-memo penelitian, daftar saksi, ringkasan persidangan, catatan persidangan, analisis juri, ringkasan persidangan, laporan sebelum pengambilan putusan, dan hukuman akhirnya sendiri. Arsip itu cukup teratur, meskipun tidak terlalu rapi supaya tidak mencurigakan. Beberapa halaman kotor, dan ada yang hilang, staples terlepas, sentiman-sentuhan kecil realitas yang dengan hati-hati ditambahkan orang-orang Dokumen untuk menimbulkan kesan autentik. Sembilan puluh persen di antaranya takkan dibutuhkan Beech dan Yarber, namun ketebalannya membuatnya tampak meyakinkan. Bahkan kardusnya pun tampak lusuh.

Kardus itu dibawa ke Trumble oleh Jack Argrow, pengacara real estate yang hampir pensiun dari Boca Raton, Florida, dan saudara si narapidana. Sertifikat Pengacara Argrow telah difaks ke birokrat Trumble, dan namanya tercantum dalam daftar pengacara yang diizinkan datang.

Jack Argrow sebetulnya Roger Lyter, sudah -tiga belas tahun bergabung dengan CIA dan memiliki gelar hukum dari Texas. Dia belum pernah bertemu dengan Kenny Sands, yang menyamar sebagai Wilson Argrow. Keduanya bersalaman dan saling menyapa sementara Link menatap curiga kardus di atas meja.

“Apa isinya?” dia bertanya.

“Catalan pengadilanku,” jawab Wilson. “Cuma surat-surat,” tambah Jack.

Link merogoh kardus dan menggeser-geser beberapa map. dalam beberapa detik pemeriksaan selesai dan dia pun keluar ruangan.

Wilson menyodorkan selembar kertas ke seberang meja, dan berkata, “hai affidavit-nya. Transfer uangnya ke bank di Panama, lalu buatkan aku verifikasi tertulis supaya ada yang bisa kutunjukkan pada mereka.”

“Berkurang sepuluh persen.”

“Ya, itu yang mereka kira.”

Geneva Trust Bank di Nassau belum dihubungi. Sia-sia dan riskan melakukannya. Tak satu bank pun mau mengeluarkan dana dalam situasi yang diciptakan Argrow. Dan pertanyaan-pertanyaan akan timbul jika dia mencobanya.

Yang ditransfer ke Panama itu uang baru.

“Langley agak waswas,” kata si pengacara.

“Aku lebih cepat dari jadwal,” tukas si bankir.

Kardus itu dikosongkan di meja perpustakaan hukum. Beech dan Yarber memilah-milah isinya sementara Argrow, klien baru mereka, mengawasi sambil berpura-pura berminat. Spicer punya kegiatan lain. Dia sedang asyik bermain poker mingguannya.

“Mana laporan penjatuhan hukumannya?” tanya Beech, mencari-cari.

“Aku ingin melihat dakwaannya,” gumam Yarber. Mereka menemukan yang mereka inginkan, lalu duduk di kursi untuk membaca sepanjang siang. PiHhan Beech cukup membosankan. Pilihan Yarber tidak.

Dakwaannya seperti cerita kriminal. Argrow, bersama tujuh bankir lain, lima akuntan, lima pialang sekuritas, dua pengacara, sebelas pria yang hanya disebut sebagai pengedar obat bius, dan enam pria dari Colombia telah mengorganisir dan mengelola usaha yang bertujuan mengubah uang hasil obat bius menjadi deposito-deposito terhormat. Setidaknya $400 juta telah dicuci sebelum kelompok tersebut disusupi, dan tampaknya posisi Argrow tepat di intinya. Yarber mengaguminya. Jika separo saja dari tuduhan-tuduhan itu benar, berarti Argrow pelaku keuangan yang sangat pintar dan berbakat.

Argrow bosan dengan suasana hening, dan menyingkir untuk berjalan-jalan di sekitar penjara. Setelah selesai membaca dakwaan itu, Yarber menyela Beech dan menyuruhnya membacanya Beech juga menyukainya. “Pasti,” katanya, “dia menyembunyikan sebagian uang itu di suatu tempat.”

“Jelas,” Yarber menyetujui. “Empat ratus juta dolar, dan itu hanya yang bisa mereka temukan. Bagaimana dengan permohonan bandingnya?”

“Kelihatannya tak bagus. Hakimnya bertindak sesuai dengan aturan. Aku tak melihat ada kesalahan.”

“Kasihan.”

“Kasihan apanya. Dia akan bebas empat tahun lebih dulu dariku.”

“Kurasa tidak, Beech. Natal kemarin adalah Natal terakhir kita di penjara.”

“Kau betul-betul percaya itu?”

“Persis.”

Beech meletakkan kembali dakwaan itu di meja, lalu berdiri, menggeliat, dan mondar-mandir. “Mestinya sekarang kita sudah mendapat kabar,” katanya, sangat pelan meskipun tidak ada orang lain di situ. “Sabar.”

“Tapi pemilihan pendahuluan sudah hampir berakhir. Dia hampir selalu di Washington. Sudah seminggu surat itu diterimanya.”

“Dia tak bisa mengabaikannya, Hatlee. Dia sedang memutar otak untuk tindakannya selanjutnya. Itu saja.”

Memo terakhir dari Bureau of Prisons membingungkan sipir. Apakah orang-orang di atas sana tidak punya kegiatan selain memandangi peta penjara-penjara federal dan menentukan akan mengerjai siapa hari ini? Dia punya saudara yang memperoleh $150.000 dari menjual mobil bekas, dia sendiri mendapat setengahnya dengan mengurus penjara dan membaca memo-memo tolol dari bos-bos yang digaji $100.000 dolar, padahal tidak melakukan sesuatu yang produktif. Dia sudah muak!

RE: Kunjungan Pengacara, Penjara Federal Trumble

Abaikan perintah sebelumnya, perintah tersebut membatasi kunjungan pengacara pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, dari pukul 15.00 sampai 16.00.

Sekarang pengacara diizinkan berkunjung tujuh hari seminggu, dari pukul 09.00 sampai 19.00.

“Harus ada pengacara mati supaya peraturan-peraturan bisa berubah,” gumamnya pelan.

Tiga Puluh Lima

JAUH di garasi ruang bawah tanah, mereka mendorong Teddy Maynard ke dalam van dan mengunci pintunya. York dan Deville duduk bersamanya. Seorang sopir dan pengawal mengurus van, yang dilengkapi televisi, stereo, dan bar kecil dengan air botolan dan soda, semuanya tidak dipedulikan Teddy. Direktur CIA itu tidak banyak bicara, dan tidak suka menghadapi satu jam mendatang. Dia capekcapek karena pekerjaannya, capek karena perjuangannya, capek memaksa diri menjalani satu hari lagi, lalu satu hari lagi. Berjuanglah enam bulan lagi, begitu katanya dalam hati berulang kali, setelah itu menyerahlah dan biarkan orang lain mengkhawatirkan cara menyelamatkan dunia. Dia akan pergi diam-diam ke tanah pertanian yang kecil di West Virginia. Di sana dia akan duduk di tepi kolam, memandangi dedaunan jatuh ke air, dan menunggu akhir hayatnya. Dia begitu capek merasakan sakit ini.

Di depan mereka ada mobil hitam dan di belakang ada mobil abu-abu. Konvoi kecil itu melaju mengitari

Beltway, kemudian ke timur menyeberangi Roosevelt Bridge dan memasuki Constitution Avenue.

Teddy diam, jadi York dan Deville pun begitu. Mereka tahu betapa atasan mereka itu membenci apa yang akan dilakukannya.

Dia berbicara dengan Presiden sekali seminggu, biasanya Rabu pagi, selalu melalui telepon jika Teddy bisa menentukan. Terakhir mereka bertemu sembilan bulan lahi waktu Teddy di rumah sakit dan Presiden perlu di ben tahu sesuatu.

Mereka biasanya sama-sama berhak menentukan, tapi Teddy tidak senang berkedudukan sejajar dengan presiden yang mana pun. Permintaannya akan dituruti, tapi memintanya membuatnya merasa terhina.

Selama tiga puluh tahun dia berurusan dengan enam presiden, dan senjata rahasianya jadi andalannya Kumpulkan informasi rahasia, timbun, jangan beritahu presiden semuanya, dan sesekali bungkus mukjizat kecil dan antarkan ke Gedung Putih.

Presiden yang ini masih marah karena kekalahan memalukan bersangkutan dengan perjanjian larangan uji coba nuklir yang ikut disabot Teddy. Sehari sebelum Senat menolaknya, CIA membocorkan laporan rahasia yang menimbulkan keprihatinan tentang perjanjian tersebut, dan Presiden pun dibantai habis-habisan. Dia akan meninggalkan kursi kepresidenan, singa ompong yang lebih memikirkan peninggalannya daripada masalah-masalah negara yang mendesak.

Teddy sudah pernah menghadapi singa-singa ompong, dan mereka sangat mengesalkan. Karena tidak perlu memikirkan para pemilih lagi, mereka berkutat dengan rencana besar mereka. Di akhir masa

kejayaan mereka, mereka suka bepergian, bersama banyak teman, ke berbagai negeri asing dan mengadakan pertemuan puncak dengan singa-singa ompong lain di sana. Mereka mengkhawatirkan perpustakaan kepresidenan mereka. Dan foto-foto mereka. Dan biografi mereka, jadi mereka menghabiskan waktu dengan para ahli sejarah. Seiring berjalannya waktu mereka jadi semakin bijaksana dan filosofis, pidato mereka semakin hebat. Mereka bicara tentang masa depan, tantangan-tantangan, dan bagaimana berbagai masalah seharusnya ditangani, sengaja mengabaikan fakta bahwa mereka telah diberi waktu delapan tahun untuk melakukan semua yang perlu dilakukan.

Tidak ada yang lebih buruk daripada singa ompong. Dan Lake akan seburuk itu juga jika dan ketika punya kesempatan untuk berbuat begitu.

Lake. Penyebab Teddy pergi ke Gedung Putih, merunduk, merendahkan diri sebentar.

Mereka diizinkan masuk lewat Sayap Barat, Teddy hams menahan kekesalan karena kursi rodanya diperiksa agen Secret Service. Mereka lalu mendorongnya ke kantor kecil di samping ruang kabinet. Seorang sekretaris yang sibuk memberitahu tanpa meminta maaf bahwa Presiden akan terlambat. Teddy tersenyum, melambaikan tangan, dan menggumamkan sesuatu yang intinya adalah presiden yang satu ini memang tidak pernah tepat waktu dalam hal apa pun. Dia sudah menghadapi banyak sekretaris cerewet seperti wanita itu, di posisi yang sama dengan posisinya sekarang, dan yang lain sudah lama pergi. Wanita itu membawa York, Deville, dan orang-orang lainnya pergi ke ruang makan, tempat mereka akan makan sendirian.

Teddy menunggu, seperti yang sudah dikiranya. Dia membaca laporan tebal seolah waktu tak penting. Sepuluh menit berlalu. Mereka menghidangkan kopi. Dua tahun lalu Presiden datang ke Langley, dan Teddy membuatnya menunggu 21 menit. Saat itu Presiden membutuhkan pertolongannya, ada masalah kecil yang perlu dibereskan.

Satu-satunya keuntungan jadi orang lumpuh adalah tidak perlu melompat berdiri saat Presiden memasuki ruangan. Akhirnya orang itu datang bergegas-gegas, miringi para asisten yang terbmt-birit, seolah ini akan membuat Teddy Maynard terkesan. Mereka bersalaman dan saling menyapa dengan sopan, sementara para asisten menghilang. Pelayan datang dan meletakkan piring-piring kecil berisi salad sayuran di hadapan mereka.

“Senang bertemu denganmu,” kata Presiden dengan suara lembut dan senyum semanis madu. Simpan saja untuk televisi, pikir Teddy, dan tidak sanggup memaksa diri membalas kebohongan pria itu. “Anda kelihatan sehat,” katanya, hanya karena itu memang ada benarnya. Rambut Presiden baru dicat, dan dia tampak lebih muda. Mereka makan salad, dan keheningan menyelubungi mereka.

Tak satu pun menginginkan makan siang yang panjang. “Prancis menjual mainan pada Korea Utara lagi,” kata Teddy, menawarkan serpihan informasi.

“Mainan seperti apa?” tanya Presiden, meskipun tahu persis mengenai jual-beli itu. Dan Teddy tahu dia tahu.

“Radar stealth versi mereka, yang sebetulnya tindakan bodoh, karena mereka belum menyempurnakannya.

Tapi Korea Utara lebih bodoh lagi karena mau membayarnya. Mereka bersedia membeli apa pun dari Prancis, terutama jika Prancis berusaha menyembunyikannya. Tentu saja Prancis tahu ini, jadi semuanya serba diam-diam dan Korea Utara membayar mahal.”

Presiden menekan tombol dan pelayan datang untuk mengambil piring-piring mereka. Pelayan lain membawakan ayam dan pasta.

“Bagaimana kesehatanmu?” tanya Presiden.

“Begitulah. Saya mungkin akan pergi bersamaan dengan Anda.”

Berita ini menyenangkan mereka berdua, prospek bahwa yang lain akan pergi. Tanpa alasan yang jelas, Presiden lantas asyik bercerita panjang-lebar tentang wakil presidennya, dan betapa hebat orang itu nanti di Ruang Oval. Dia mengabaikan makan siang dan sangat bersungguh-sungguh ketika mengatakan betapa wakilnya itu sangat baik, pemikir yang brilian, dan pemimpin yang andal. Teddy mempermainkan ayamnya.

“Bagaimana pendapatmu tentang pemilihan presiden ini?” Presiden bertanya.

“Sejujurnya, saya tak peduli,” kata Teddy, berbohong lagi. “Seperti kata saya tadi, saya akan meninggalkan Washington bersamaan dengan Anda, Mr. President. Saya akan pergi ke tanah pertanian kecil saya. Di sana tak ada televisi ataupun surat kabar, saya cuma akan memancing sedikit dan banyak beristirahat. Saya lelah, Sir.”

“Aaron Lake menakutkanku,” kata Presiden.

Kau tak tahu apa-apa, pikir Teddy. “Kenapa?”

tanyanya, sambil mengunyah makanannya. Makanlah, biarkan dia bicara.

“Isu tunggal. Hanya masalah pertahanan. Begitu diberi sumber daya tak terbatas, Pentagon akan menghamburkan dana yang cukup untuk memberi makan dunia ketiga. Dan semua uang ini membuatku waswas.”

Sebelum ini kok tidak. Teddy sama sekali tidak menginginkan perbincangan panjang dan tak berguna tentang politik. Mereka membuang-buang waktu. Makin cepat dia menyelesaikan urusannya, makin cepat dia bisa kembali ke Langley yang aman. “Saya kemari untuk minta pertolongan,” katanya perlahan.

“Ya, aku tahu. Apa yang bisa kubantu?” Presiden tersenyum dan mengunyah,, menikmati ayam dan kesempatan langka berada di atas angin.

“Ini agak tak biasa. Saya ingin meminta grasi untuk tiga narapidana federal.”

Presiden berhenti mengunyah dan tersenyum, bukan karena terkejut, melainkan karena bingung. Grasi biasanya masalah sepele, kecuali kalau melibatkan mata-mata, teroris, atau politisi bereputasi buruk. “Mata-mata?” tanya Presiden.

“Bukan. Hakim. Satu dari California, satu dari Texas, satu dari Mississippi. Mereka dihukum bersama di penjara federal di Florida.”

“Hakim?”

“Ya, Mr. President”

“Aku kenal orang-orang ini?”

“Saya rasa tidak. Yang dari California pernah menjadi hakim ketua Mahkamah Agung di sana. Dia ditarik, lalu punya masalah sedikit dengan IRS.”

“Kurasa aku ingat.”

“Dia didakwa mengelak membayar pajak dan dihukum tujuh tahun. Dia sudah menjalani dua tahun. Yang dari Texas adalah hakim persidangan, ditunjuk di masa pemerintahan Reagan. Dia mabuk dan menewaskan sepasang pejalan kaki di Yellowstone.”

“Aku ingat, tapi samar-samar.”

“Kejadiannya beberapa tahun lalu. Yang dari Mississippi adalah hakim perdamaian yang ketahuan menggelapkan keuntungan bingo”

“Aku pasti tak mendengar tentang yang satu ini.”

Lama suasana hening sementara mereka memikirkan berbagai pertanyaan. Presiden bingung dan tidak tahu mesti mulai dari mana. Teddy tidak tahu pasti apa yang akan terjadi, jadi mereka menghabiskan makanan dalam kesunyian. Tidak ada yang menginginkan hidangan penutup.

Permintaan itu enteng, setidaknya bagi Presiden. Ketiga narapidana itu bisa dianggap tak dikenal, seperti juga korban-korban mereka. Jika terjadi kesalahan, akibatnya akan cepat berlalu dan tidak menyakitkan, terutama bagi politisi yang kariernya berakhir kurang dari tujuh bulan lagi. Dia pernah ditekan untuk mengabulkan permintaan-permintaan yang jauh lebih sulit. Selalu ada beberapa mata-mata Rusia yang mereka lobi supaya dipulangkan. Ada dua usahawan Meksiko dipenjara di Idaho gara-gara mengedarkan obat bius, dan setiap kali ada pembicaraan tentang suatu perjanjian, grasi mereka selalu jadi masalah. Ada seorang Yahudi Kanada yang dipenjara seumur hidup karena kegiatan spionase, dan Israel bertekad mengeluarkannya.

Tiga hakim yang tak dikenal? Presiden bisa menggoreskan tanda tangannya tiga kali dan masalah akan selesai. Teddy akan berutang budi padanya.

Masalahnya sepele, namun tak ada alasan untuk mempermudah urusan Teddy.

“Aku yakin ada alasan yang kuat untuk permintaan ini,” katanya. “Tentu saja.”

“Masalah keamanan nasional?” ‘Tidak juga. Cuma untuk menolong teman-teman lama.”

“Teman-teman lama? Kau kenal orang-orang ini?”

“Tidak. Tapi saya kenal teman-teman mereka.”

Kebohongannya begitu mencolok sehingga Presiden nyaris bisa melihatnya dengan mata terpejam. Bagaimana Teddy bisa mengenal teman-teman tiga hakim yang kebetulan dipenjara bersama?

Percuma saja mencecar Teddy Maynard, cuma bikin frustrasi. Dan Presiden tidak mau berbuat serendah itu. Dia tidak sudi meminta informasi yang takkan pernah diperolehnya. Apa pun motif Teddy, orang itu akan membawanya sampai ke liang kubur.

“Ini agak membingungkan,” komentar Presiden sambil mengangkat bahu.

“Saya tahu. Biarkan saja begitu.”

“Apa risikonya?”

“Tak banyak. Keluarga kedua anak yang tewas di Yellowstone itu mungkin akan memprotes, dan saya takkan menyalahkan mereka.”

“Kapan kejadiannya?”

“Tiga setengah tahun yang lalu/’

“Kau ingin aku memaafkan seorang hakim federal Republik?”

“Dia sudah bukan Republik lagi, Mr. President.

Mereka harus melepaskan diri dari politik begitu menduduki kursi hakim. Karena sekarang dia dipenjara, mengikuti pemilu pun tak boleh. Saya yakin jika Anda mengabulkan grasinya, dia akan jadi pengagum berat Anda.” “Aku yakin.”

“Jika akan membuat masalahnya jadi lebih mudah, orang-orang itu akan setuju untuk meninggalkan negeri ini selama paling tidak dua tahun.”

“Kenapa?”

“Mungkin akan timbul kesan tak enak kalau mereka pulang ke tempat asal mereka. Orang-orang akan tahu mereka dibebaskan lebih cepat. Urusan ini bisa dilakukan dengan sangat diam-diam.”

“Apakah hakim dari California itu akhirnya membayar pajak yang hendak dihindarinya?”

“Ya.”

“Dan apakah pria dari Mississippi itu mengganti

uang yang dicurinya?” “Ya, Sir.”

Semua pertanyaan tersebut tidak penting. Dia hanya harus bertanya.

Permintaan tolong terakhir berhubungan dengan spionase nuklir. CIA punya laporan yang mendokumentasikan penyusupan luas mata-mata Cina di dalam dan melalui semua tingkat program senjata nuklir AS. Presiden mengetahui laporan tersebut hanya beberapa hari sebelum dijadwalkan mengunjungi Cina untuk pertemuan puncak yang sangat digembar-gemborkan. Dia mengundang Teddy makan siang, dan sambil menikmati ayam dan pasta yang sama dia minta laporan itu disimpan dulu selama beberapa minggu. Teddy setuju. Belakangan, dia ingin laporan tersebut dimodifikasi supaya kesalahan lebih banyak ditimpakan pada pemerintahan sebelumnya. Ketika laporan itu akhirnya dikeluarkan, Presiden berhasil menangkis sebagian besar kesalahan.

Spionase Cina dan keamanan nasional, versus tiga mantan hakim tak dikenal. Teddy tahu dia akan memperoleh pengampunannya.

“Jika meninggalkan negara ini, mereka akan pergi ke mana?” tanya Presiden.

“Kami belum memastikan.”

Pelayan menghidangkan kopi. Setelah dia pergi, Presiden bertanya, “Apakah ini bisa merugikan Wakil Presiden?”

Dengan wajah tanpa ekspresi juga, Teddy menjawab, “Tidak. Bisa merugikan bagaimana?”

“Mana aku tahu. Aku tak tahu apa yang sedang kaurencanakan.”

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Mr. President. Saya cuma minta tolong sedikit. Jika mujur, masalah ini takkan muncul dalam laporan apa pun.”

Mereka meminum kopi dan sama-sama ingin pergi. Siang ini jadwal Presiden penuh dengan urusan-urusan yang jauh lebih menyenangkan. Teddy ingin tidur. Presiden lega permintaannya begitu gampang. Teddy berpikir, Kalau saja kau tahu.

“Beri aku beberapa hari untuk memikirkan latar belakangnya,” kata Presiden. “Permintaan-permintaan seperti ini banyak sekali, kau pasti bisa menduganya.

Kelihatannya semua orang minta bagian, karena sekarang hari-hariku sudah bisa dihitung.”

“Bulan terakhir Anda di sini akan jadi bulan paling membahagiakan,” kata Teddy sambil tersenyum, sesuatu yang jarang terjadi. “Saya tahu karena sudah berhubungan dengan beberapa presiden.”

Setelah bersama selama empat puluh menit, mereka bersalaman dan berjanji akan bicara lagi beberapa hari yang akan datang.

Ada lima mantan pengacara di Trumble, dan yang terbaru tengah menggunakan perpustakaan ketika Argrow masuk. Orang malang itu berkutat menyusun argumen di buku catatannya, sibuk bekerja, pasti sedang menggarap permohonan banding terakhirnya yang lemah.

Spicer sedang menata buku-buku .hukum dan berhasil tampak cukup sibuk. Beech di dalam ruangan, menulis sesuatu. Yarber absen.

Argrow mengeluarkan kertas putih terlipat dari saku, dan memberikannya pada Spicer. “Aku baru saja bertemu dengan pengacaraku,” dia berbisik.

“Apa ini?” tanya Spicer, memegang kertas tadi.

“Konfirmasi transfer. Uangmu sekarang di Panama.”

Spicer memandang si pengacara di seberang ruangan, tapi orang itu tidak memperhatikan apa pun selain buku catatannya. “Terima kasih,” bisiknya. Argrow keluar ruangan, dan Spicer membawa kertas itu pada Beech, yang mempelajarinya dengan cermat.

Jarahan mereka sekarang aman dijaga First Coast Bank of Panama.

Tiga Puluh Enam

BERAT badan Joe Roy turun empat kilo lagi, merokok hanya sepuluh batang sehari, dan berjalan kaki rata-rata 40 kilometer per minggu di trek. Argrow menemukannya di sana, berjalan bolak-balik di panas matahari siang. “Mr. Spicer, kita harus bicara,” kata Argrow. “Dua putaran lagi,” kata Joe Roy tanpa menghentikan langkahnya.

Argrow memandanginya selama beberapa detik, kemudian berlari 50 meter sampai menyusulnya. “Keberatan aku ikut?” tanyanya. “Sama sekali tidak.”

Mereka berjalan ke putaran pertama, langkah demi langkah. “Aku barusan bertemu pengacaraku lagi,” Argrow memberitahu.

“Saudaramu?” tanya Spicer, terengah-engah. Langkahnya tidak seringan Argrow, pria yang dua puluh tahun lebih muda.

“Ya. Dia sudah bicara dengan Aaron Lake.”

Spicer langsung berhenti seperti menabrak dinding. Dia melotot pada Argrow, lalu melihat sesuatu di kejauhan.

“Seperti kataku tadi, kita harus bicara.”

“Kurasa begitu,” kata Spicer.

“Kutemui kau di perpustakaan hukum setengah jam lagi,” kata Argrow, dan melangkah pergi. Spicer mengawasinya sampai dia lenyap.

Tidak ada Jack Argrow, pengacara, di halaman kuning Boca Raton,

Sesaat sebelum dia tiba, mantan pengacara yang sama memasuki ruangan sambil membawa map tebal, jelas siap menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencoba menyelamatkan dirinya. Memintanya pergi bisa menimbulkan perkelahian dan membangkitkan kecurigaan, lagi pula dia bukan tipe yang menghormati hakim. Satu per satu mereka masuk ke ruang rapat kecil, tempat Argrow bergabung dengan mereka. Ruangan tersebut terasa sesak ketika Beech dan Yarber bekerja di situ, menulis surat. Dengan

datangnya Argrow, yang membawa kabar menyesakkan, belum pernah ruangan itu terasa begitu penuh. Mereka duduk di sekeliling meja kecil, masing-masing bisa mengulurkan tangan dan saling menyentuh.

“Aku cuma tahu apa yang diberitahukan padaku,” Argrow memulai. “Saudaraku adalah pengacara setengah pensiun di Boca Raton. Dia punya uang, dan selama bertahun-tahun aktif dalam politik Partai Republik di South Florida. Kemarin dia didekati orang-orang yang bekerja pada Aaron Lake. Mereka sudah menyelidiki dan tahu bahwa aku saudaranya, dan bahwa aku di Trumble sini bersama Mr. Spicer. Mereka berjanji, menyuruhnya bersumpah supaya tutup mulut dan sekarang dia menyuruhku bersumpah supaya tutup mulut. Karena sekarang semua sudah jelas dan terjamin kerahasiaannya, kurasa kalian bisa bercerita.”

Spicer belum mandi. Kaus dan wajahnya masih basah, tapi napasnya sudah lebih pelan. Beech dan Yarber tidak bersuara sedikit pun. Majelis sama-sama terpesona. Teruskan, kata mata mereka.

Argrow memandang ketiga wajah itu, dan semakin berani. Dia merogoh saku dan mengeluarkan selembar kertas, yang dibuka dan diletakkannya di hadapan mereka. Itu kopi surat terakhir mereka kepada Al Konyers, surat keluar, tuntutan pemerasan, ditandatangani Joe Roy Spicer, beralamat di Trumble Federal Prison. Mereka sudah hafal kata-kata itu, jadi tidak perlu membacanya lagi. Mereka mengenali tulisan tangannya, tulisan si Ricky malang, dan sadar bahwa lingkaran telah terbentuk. Dari Majelis ke Mr. Lake, dari Mr. Lake ke saudara Argrow, dari saudara

Argrow kembali ke Trumble, semua dalam tiga belas hari.

Spicer akhirnya mengambil kertas itu, dan membaca sekilas kata-katanya. “Kurasa kau tahu semuanya, ya?” tanyanya.

“Aku Ijak tahu seberapa banyak yang kuketahui.”

“Beritahu karni apa yang mereka katakan padamu.”

“Kalian melakukan tipuan, kalian bertiga. Kalian memasang iklan di majalah-majalah homo, kalian menjalin hubungan dengan pria-pria tua, melalui surat, kalian entah bagaimana mengetahui identitas asli mereka, lalu kalian peras uang mereka.”

“Itu ringkasan yang cukup tepat,” komentar Beech.

“Dan Mr. Lake melakukan kesalahan dengan menjawab salah satu iklan kalian. Aku tak tahu kapan dia melakukannya, dan aku tak tahu bagaimana kalian tahu siapa dia sebenarnya. Ada beberapa hal yang masih gelap, sepanjang pengetahuanku.”

“Sebaiknya biarkan tetap begitu,” kata Yarber.

“Cukup adil. Aku tak mengajukan diri untuk pekerjaan ini.”

“Apa yang akan kaudapatkan dari semua ini?” tanya Spicer.

“Pembebasan lebih cepat. Aku akan di sini beberapa minggu lagi, lalu mereka akan memindahkanku. Aku akan bebas akhir tahun nanti. Kalau saat itu Mr. Lake terpilih, aku akan memperoleh pengampunan penuh. Lumayan, kan? Presiden yang berikutnya berutang budi banyak pada saudaraku.”

“Jadi kau juru rundingnya?” tanya Beech.

“Bukan, aku pembawa pesannya.”

“Kalau begitu bagaimana kalau kita mulai?”

453

“Kalian yang harus bergerak duluan.” “Kau sudah mendapat surat itu. Kami menginginkan uang dan keluar dari tempat ini.” “Berapa?”

“Masing-masing dua juta,” jawab Spicer, dan kelihatan jelas bahwa ini sudah berkali-kali dibicarakan. Enam mata mengawasi Argrow, menunggunya mengernyit, mengeratkan kening, terkejut. Tapi tidak ada reaksi, hanya ada keheningan saat dia membalas tatapan mereka. “Aku tak punya wewenang, oke? Aku tak bisa menerima atau menolak tuntutan kalian. Aku cuma menyampaikan detail-detailnya pada saudaraku.”

“Kami membaca surat kabar setiap hari,” kata Beech. “Mr. Lake punya lebih banyak uang daripada yang bisa dihabiskannya. Enam juta cuma setetes air dalam ember.”

“Dia memiliki 78 juta di tangan, tanpa utang,” tambah Yarber.

“Terserah apa katamu,” kata Argrow. “Aku hanya kurir, tukang antar surat, seperti Trevor.”

Mereka terpaku lagi, mendengar nama almarhum pengacara mereka disebut. Mereka menatap tajam Argrow, yang asyik memandangi kuku-kukunya, dan mereka bertanya-tanya dalam hati apakah komentar tentang Trevor tadi diucapkan sebagai semacam peringatan. Seberapa bahayanya permainan mereka sekarang? Mereka asyik memikirkan uang dan kebebasan, tapi seberapa aman mereka saat ini? Seberapa aman mereka nanti?

Mereka akan selalu mengetahui rahasia Lake.

“Dan cara pembayarannya?” Argrow bertanya.

“Sangat sederhana,” kata Spicer. “Semua dibayar di muka, semua ditransfer ke tempat yang aman,

mungkin Panama.”

“Oke. Sekarang bagaimana dengan pembebasan kalian?” tanya Argrow.

“Memangnya kenapa?” tanya Beech.

“Ada usul?”

“Tidak juga. Kami pikir Mr. Lake bisa mengaturnya. Dia punya banyak teman akhir-akhir ini.”

“Ya, tapi dia belum menjadi presiden. Dia belum bisa mengandalkan orang-orang yang tepat.”

“Kami tak mau menunggu sampai Januari waktu dia dilantik,” tukas Yarber. “Kami malah tak mau menunggu sampai November untuk melihat apakah dia menang.”

“Jadi kalian ingin dibebaskan sekarang?”

“Secepatnya,” sahut Spicer.

“Apakah penting bagaimana cara kalian dibebaskan?”

Mereka berpikir sebentar, lalu Beech menjawab, “Harus bersih. Kami tak ingin waswas sepanjang sisa hidup kami. Kami tak mau selalu ketakutan.”

“Kalian ingin bebas bersamaan?”

“Ya,” jawab Yarber. “Dan kami punya rencana .pasti tentang bagaimana kami ingin melakukannya. Tapi, pertama-tama, kita perlu menyepakati hal-hal yang pentinguang, dan kapan tepatnya kami pergi dari sini.”

“Cukup adil. Dari sisi meja sebelah sini, mereka akan menginginkan arsip-arsip kalian, semua surat, ; kartu, dan catatan tipuan kalian. Rupanya Mr. Lake

harus memperoleh jaminan bahwa rahasianya akan terkubur.”

“Kalau kami mendapat apa yang kami inginkan,” kata Beech, “dia tak perlu khawatir. Dengan senang hati kami akan melupakan Aaron Lake. Tapi kami harus memperingatkanmu, supaya kau bisa memperingatkan Mr. Lake, bahwa jika terjadi apa-apa pada kami, kisahnya akan tetap bisa dibeberkan.”

“Kami punya kontak di luar,” Yarber memberitahu.

“Namanya reaksi tertunda,” tambah Spicer, seolah membantu menjelaskan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. “Jika kami tertimpa sesuatu, misalnya, yah, sama dengan nasib Trevor, beberapa hari kemudian bom tunda itu akan meledak. Aib Mr. Lake tetap akan terbongkar.”

“Itu takkan terjadi,” kata Argrow.

“Kau si pembawa pesan. Kau tak tahu apa yang akan atau tidak akan terjadi,” sambar Beech, memarahi. “Orang-orang ini juga yang membunuh Trevor.”

“Kau tak tahu pasti soal itu.”

“Memang, tapi kami punya pendapat.”

“Janganlah kita mempertengkarkan sesuatu yang tak bisa kita buktikan, gentlemen” kata Argrow, menutup pertemuan. “Aku akan bertemu saudaraku pukul sembilan pagi. Kita bertemu lagi di sini pukul sepuluh.”

Argrow keluar ruangan, meninggalkan mereka duduk terpaku, tenggelam dalam pikiran masing-masing, menghitung uang mereka tapi takut untuk mulai membelanjakannya. Argrow menuju ke trek, tapi berbelok ketika melihat sekelompok narapidana sedang

ioging-Dia mondar-mandir sampai menemukan tempat tersembunyi di belakang kafeteria, lalu menelepon Klockner. Dalam waktu sejam, Teddy sudah mendapat laporan

itu.

Tiga Puluh Tujuh

BEL pukul 06.00 melengking di seluruh penjuru Trumble, menyusuri koridor-koridor asrama, melintasi halaman, mengitari gedung-gedung, masuk ke hutan yang mengelilingi penjara itu. Bel tersebut berbunyi selama 35 detik tepat, sebagian besar narapidana bisa memastikannya, dan ketika bunyinya berhenti tidak ada yang masih tidur. Bel itu menyentakkan mereka, seolah banyak kejadian penting hari itu, sehingga mereka hams bergegas dan bersiap-siap. Tapi satu-satunya urusan mendesak hanya sarapan. V -

Bel tersebut mengagetkan Beech, Spicer, dan Yarber, tapi tidak membangunkan mereka. Mereka tidak bisa tidur, sebabnya sudah jelas. Mereka tinggal di asrama yang berlainan, namun tidak mengherankan bila mereka bertemu di antrean kopi, pukul 06.10. Sambil membawa cangkir tinggi, dan tanpa bicara, mereka berjalan ke lapangan basket tempat mereka duduk di bangku dan meneguk kopi di keremangan pagi. Mereka memandangi halaman penjara; trek di belakang mereka.

Berapa hari lagi mereka akan memakai kemeja

warna cokelat zaitun dan duduk di bawah panas

matahari Florida, dibayar beberapa sen per jam tanpa melakukan apa pun, hanya menunggu, berkhayal, minum bercangkir-cangkir kopi? Sebulan, atau dua bulan? Apakah hitungannya sekarang hari? Berbagai kemungkinan itu menyebabkan mata mereka tak bisa terpejam.

“Cuma ada dua cara yang mungkin,” kata Beech. Dia hakim federal, dan mereka mendengarkan dengan cermat, meskipun masalahnya sudah sering dibahas. “Yang pertama adalah kembali ke yurisdiksi yang mengadili kita dan mengajukan mosi untuk pengurangan hukuman. Dalam situasi yang sangat khusus, hakim persidangan kita memiliki wewenang untuk membebaskan narapidana. Tapi itu jarang terjadi.”

“Pernah kau melakukannya?” tanya Spicer.

“Belum.”

“Brengsek.”

“Untuk alasan apa?” Yarber bertanya.

“Hanya kalau si narapidana memberikan informasi baru tentang kejahatan-kejahatan lania. Jika si narapidana banyak membantu pihak berwenang; hukumannya mungkin akan dikurangi beberapa tahun.”

“Tak terlalu menjanjikan,” komentar Yarber.

“Cara yang kedua apa?” tanya Spicer.

“Kita dipindah ke lembaga pemasyarakatan, tempat yang sangat menyenangkan, kita tak diharapkan hidup sesuai peraturan. Bureau of Prisons memiliki wewenang tunggal dalam memindahkan narapidana: Jika teman-teman baru kita di Washington menekan, Bureau dapat mengeluarkan kita dari sini dan bisa dibilang melupakan kita.”

“Narapidana tak perlu tinggal di lembaga pemasyarakatan?” tanya Spicer.

“Perlu, kebanyakan begitu. Tapi tempat-tempat itu berbeda. Ada yang dikunci saat malam, dengan peraturan ketat Ada yang sangat longgar. Kau boleh menelepon sekali sehari, atau sekali seminggu. Semua terserah Bureau.”

‘Tapi kita tetap akan jadi narapidana,” kata Spicer.

“Aku tak keberatan,” kata Yarber. “Aku memang tak mau ikut pemilu lagi.”

“Aku punya ide,” kata Beech. “Aku mendapatkannya tadi malam. Sebagai bagian dari negosiasi kita, kita buat Lake sepakat mengampuni kita jika dia terpilih.”

“Aku sudah memikirkan ide seperti itu juga,” kata Spicer.

“Aku juga,” kata Yarber. “Tapi peduli apa kalau kita punya catatan kriminal? Yang penting kita keluar.”

“Tak ada salahnya memintanya,” tukas Beech. Mereka memusatkan perhatian pada kopi mereka selama beberapa menit.

“Argrow membuatku resah,” kata Finn akhirnya.

“Kenapa?”

“Yah, dia datang kemari entah dari mana, dan tiba-tiba jadi teman baik kita. Dia menangani uang kita dengan menakjubkan, mentransfernya ke bank yang lebih aman. Sekarang dia jadi penghubung untuk Aaron Lake. Jangan lupa, seseorang di luar sana membaca surat kita. Dan orang itu bukan Lake”

“Aku sih tak mencurigainya,” komentar Spicer. “Lake harus menemukan seseorang untuk bicara pada kita. Dia memanfaatkan koneksinya, menyelidiki sedikit, menemukan Argrow di sini, dan ternyata orang itu punya saudara yang bisa mereka ajak bicara.”

“Apa menurutmu itu bukan terlalu kebetulan?” tanya Beech.

“Kau juga, heh?”

“Mungkin. Finn pun benar. Kita tahu pasti, ada orang lain terlibat.”

“Siapa?”

“Itu dia masalahnya,” kata Finn. “Itu sebabnya sudah seminggu aku tak bisa tidur. Ada orang lain di luar sana.”

“Apa itu betul-betul jadi masalah?” tanya Spicer. “Kalau Lake bisa mengeluarkan kita dari sini, bagus. Kalau orang lain bisa mengeluarkan kita, memangnya kenapa?”

“Jangan lupa soal Trevor,” kata Beech. “Dua peluru di kepala belakangnya.”

“Tempat ini mungkin lebih aman dari yang kita

kira.”

Spicer tidak yakin. Dihabiskannya minumannya dan berkata, “Apa kalian benar-benar berpikir bahwa Aaron Lake, orang yang sebentar lagi terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, mau repot-repot memerintahkan pembunuhan pengacara kelas teri macam Trevor?”

“Tidak,” jawab Yarber. “Dia takkan mau. Terlalu riskan. Dan dia takkan membunuh kita. Si orang misterius itu, ya. Orang yang membunuh Trevor sama dengan yang membaca surat-surat kita.”

“Aku tak yakin.’

Mereka berkumpul di tempat yang sudah diperkirakan Argrow, di perpustakaan hukum, dan mereka tampaknya menunggu. Dia bergegas masuk, dan setelah yakin hanya ada mereka, dia berkata, “Aku baru saja bertemu saudaraku lagi. Ayo kita bicara.”

Mereka cepat-cepat masuk ruang rapat mereka, menutup pintu, dan berdesakan di sekeliling meja.

“Situasi akan berkembang sangat cepat,” kata Argrow gugup. “Lake akan membayar kalian. Uang itu akan ditransfer ke mana pun yang kalian inginkan. Aku bisa membantu kalau kalian mau; jika tidak, kalian boleh mengurusnya sesuai keinginan kalian.”

Spicer berdeham. “Berarti masing-masing dua juta?”

“Itu yang kalian minta. Aku tak kenal Mr. Lake, tapi jelas dia bergerak cepat” Argrow melirik jam tangannya, lalu menoleh ke pintu di belakangnya. “Ada beberapa orang dari Washington ingin bertemu kalian. Orang-orang penting.” Dia mencabut beberapa lipatan kertas dari saku, membukanya, dan meletakkan selembar di hadapan mereka masing-masing. “Ini grasi kepresidenan, ditandatangani kemarin.”

Dengan sangat berhati-hati, mereka mengulurkan tangan, mengambil kertas-kertas itu, dan berusaha membacanya. Surat-surat tersebut jelas tampak resmi. Mereka terpesona melihat huruf-huruf tebal di bagian atas, paragraf-paragraf panjang, tanda tangan efisien Presiden Amerika Serikat, dan tak sepatah kata pun terucap. Mereka benar-benar terpana.

“Kami mendapat grasi?” Yarber akhirnya sanggup bertanya, suaranya kering.

“Ya. Dari Presiden Amerika Serikat.”

Mereka terus membaca. Mereka bergerak-gerak gelisah, menggigit bibir, mengertakkan gigi, dan berusaha menyembunyikan kekagetan mereka.

“Kalian akan dijemput, diantar ke kantor sipir, dan di sana orang-orang penting dari Washington itu akan menyampaikan kabar baik ini. Pura-puralah terkejut, oke?”

“Bukan masalah.”

“Gampang.”

“Bagaimana kau bisa memperoleh kopi ini?” tanya

Yarber.

“Semua ini diberikan pada saudaraku. Aku tak tahu bagaimana baranya. Lake punya banyak teman yang berpengaruh. Yah, begini kesepakatannya. Kalian akan dibebaskan dalam sejam. Sebuah van akan membawa kalian ke Jacksonville, ke hotel tempat saudaraku akan menemui kalian. Kalian akan menunggu di sana sampai transfer itu dikonfirmasi, kemudian kalian akan menyerahkan semua arsip kotor kalian. Semuanya. Mengerti?”

Mereka mengangguk serentak. Untuk $2 juta, mereka boleh mengambil semuanya.

“Kalian akan sepakat untuk meninggalkan negara ini secepatnya, dan tak kembali selama minimal dua tahun.”

“Bagaimana kami bisa ke luar negeri?” tanya Beech. “Kami tak punya paspor, surat-surat.”

“Saudaraku akan memberikan semua itu. Kalian akan diberi identitas baru, dengan surat-surat lengkap, termasuk kartu kredit. Semua sudah menunggu kalian.”

“Dua tahun?” ulang Spicer, dan Yarber menatapnya seolah dia sudah kehilangan akal sehat.

“Benar. Dua tahun. Itu termasuk kesepakatan. Setuju?”

“Entahlah,” sahut Spicer, suaranya bergetar. Spicer belum pernah meninggalkan Amerika Serikat.

“Jangan tolol,” bentak Yarber. “Pengampunan penuh, sejuta dolar setahun untuk dua tahun tinggal di luar negeri. Sialan, ya, kami akan menerima kesepakatan ini.”

Ketukan mendadak di pintu mengagetkan mereka. Dua penjaga melongok ke dalam. Argrow menyambar kopi grasi dan memasukkannya ke saku. “Kesepakatan telah tercapai, gentlemen?”

Mereka mengangguk mengiyakan, dan ketiganya bersalaman dengannya.

“Bagus,” katanya. “Ingat, pura-pura terkejut.”

Mereka mengikuti penjaga ke kantor sipir, lalu diperkenalkan dengan dua pria berwajah sangat tegas dari Washington, satu dari Kehakiman, satu lagi dari Bureau of Prisons. Sipir menyelesaikan perkenalan kaku itu tanpa keliru menyebutkan nama, lalu menyerahkan dokumen pada ketiganya. Dokumen itu versi asli surat-surat yang baru saja ditunjukkan Argrow pada mereka.

“Gentlemen” kata si sipir dengan gaya sedramatis mungkin, “kalian baru saja diampuni oleh Presiden Amerika Serikat.” Dia tersenyum hangat, seolah karena dialah semua ini terjadi.

Mereka menatap grasi mereka, masih terkejut, masih pusing karena berbagai pertanyaan, yang paling penting, Bagaimana Argrow bisa mendului sipir menunjukkan dokumen-dokumen ini pada mereka? “Aku tak tahu mesti bilang apa,” gumam Spicer,

lalu kedua temannya menggumamkan sesuatu juga.

Pria dari Kehakiman berkata, “Presiden meninjau kasus kalian, dan beliau merasa hukuman kalian sudah cukup. Beliau berpendapat lebih banyak yang bisa kalian berikan pada negara dan masyarakat dengan kembali menjadi warga negara yang produktif.”

Mereka melongo menatapnya. Apa si tolol ini tidak tahu mereka akan menggunakan nama baru dan meninggalkan negeri ini dan masyarakatnya selama paling tidak dua tahun? Siapa berada di pihak yang mana ini?

Dan mengapa Presiden memberikan pengampunan pada mereka, padahal mereka punya cukup informasi untuk menghancurkan Aaron Lake, orang yang akan mengalahkan Wakil Presiden? Lake ingin mereka dibungkam, bukan Presiden. Ya, kan?

Bagaimana Lake bisa meyakinkan Presiden untuk mengampuni mereka?

Bagaimana Lake bisa meyakinkan Presiden untuk melakukan apa pun, pada saat kampanye sudah sampai tahap ini?

Mereka memegang erat-erat grasi mereka dan duduk terdiam, wajah mereka tegang, sementara berbagai pertanyaan berputar dalam benak mereka.

Pria dari Bureau berkata, “Kalian seharusnya merasa dihormati. Grasi sangat jarang diberikan.”

Yarber berhasil menanggapinya dengan anggukan

cepat, tapi saat itu pun dia berpikir, Siapa yang menunggu kami di luar?

“Kurasa kami shock,” kata Beech.

Ini baru pertama kali terjadi di Trumble, ada narapidana-narapidana yang begitu penting sehingga Presiden memutuskan untuk mengampuni mereka. Sipir cukup bangga pada ketiganya, namun tidak yakin soal bagaimana saat ini sebaiknya diperingati. “Kapan kalian ingin pergi?” tanyanya, seakan mereka mungkin ingin berpesta dulu.

“Segera,” jawab Spicer.

“Baik. Kami akan mengantarkan kalian ke Jacksonville.”

‘Tak usah. Kami akan minta orang lain menjemput kami.”

“Oke, kalau begitu ada urusan administrasi yang harus dibereskan.”

“Cepatlah,” kata Spicer.

Mereka masing-masing diberi tas kanvas untuk tempat barang-barang mereka. Ketika berjalan cepat melintasi halaman, mereka bertiga tetap saling merapat dan melangkah seirama, dengan seorang penjaga mengikuti di belakang, Beech berkata pelan, “Jadi, siapa yang membuat kita diampuni?”

“Bukan Lake,” sahut Yarber, nyaris tidak terdengar.

“Tentu saja bukan Lake,” tukas Beech. “Presiden takkan mau melakukan apa yang diminta Aaron Lake.”

Mereka berjalan makin cepat.

“Apa bedanya?” tanya Spicer.

“Ini tak masuk akal,” timpal Yarber.

“Jadi, apa yang akan kaulakukan, Finn?” tanya

Spicer tanpa menoleh. “Tinggal di sini beberapa hari dan memikirkan situasi? Lalu setelah kauketahui siapa yang bertanggung jawab atas grasi ini, kau mungkin tak mau menerimanya? Yang benar saja.”

“Ada orang lain di balik semua ini,” kata Beech.

“Kalau begitu aku cinta pada orang itu, oke?” kata Spicer. “Aku tak mau tinggal lebih lama untuk bertanya ke sana-sini.”

Mereka membereskan barang-barang secepat kilat, tidak meluangkan waktu untuk berpamitan pada siapa pun. Lagi pula sebagian besar teman mereka tersebar di kamp.

Mereka harus bergegas sebelum mimpi ini berakhir, atau sebelum Presiden berubah pikiran.

Pukul 11.15, mereka berjalan melewati pintu depan gedung administrasi, pintu yang mereka masuki bertahun-tahun yang lalu, dan menunggu jemputan mereka di trotoar yang panas. Tak seorang pun menoleh ke belakang.

Van-nya dikemudikan Wes dan Chap, meskipun mereka menggunakan nama lain. Begitu banyak nama yang mereka gunakan.

Joe Roy Spicer berbaring di bangku belakang, dan menutup matanya dengan lengan, bertekad tidak mau melihat apa-apa sampai jauh. Dia ingin menangis dan menjerit, namun terdiam karena eforiaeforia dahsyat, kasar, menggelora. Dia menyembunyikan matanya dan tersenyum konyol. Dia ingin minum bir dan mendambakan wanita, kalau bisa istrinya. Dia akan segera menelepon wanita itu. Sekarang van meluncur.

Aftf

Kebebasan yang begitu tiba-tiba mengguncang mereka. Kebanyakan narapidana menghitung hari-hari, dan dengan berbuat begitu tahu pasti kapan saatnya tiba. Dan mereka tahu ke mana mereka akan pergi, dan siapa yang menunggu mereka di sana.

Tapi Majelis tahu sangat sedikit, dan tidak mempercayainya. Grasi ini tipu muslihat. Uang itu hanya umpan. Mereka dibebaskan untuk dibunuh, sama seperti Trevor yang malang. Van akan berhenti, dan kedua tukang pukul di depan itu akan menggeledah tas mereka, menemukan arsip kotor mereka, lalu membunuh mereka di selokan pinggir jalan.

Mungkin. Tapi, saat ini, mereka tidak merindukan suasana aman Trumble.

Finn Yarber duduk di belakang sopir dan memandang jalanan di depan. Dia memegang surat pengampunannya, siap menunjukkannya pada siapa saja yang menghentikan mereka dan mengatakan pada mereka bahwa mimpi ini sudah berakhir. Di sampingnya duduk Hatlee Beech, yang setelah beberapa menit di jalan mulai menangis, tidak keras, namun dengan mata terpejam rapat dan bibir bergetar.

Beech punya alasan untuk menangis. Dengan masa hukuman masih hampir delapan setengah tahun lagi, grasi lebih berarti baginya dibanding kedua koleganya.

Tak sepatah kata pun diucapkan antara Trumble dan Jacksonville. Ketika mereka mendekati kota itu, jalanan makin lebar dan lalu lintas makin padat, ketiganya memandangi sekelilingnya dengan penuh ingin tahu. Orang-orang melaju, bergerak k i an-kemari. Pesawat-pesawat di atas. Perahu-perahu di sungai. Semua normal kembali.

Mereka beringsut-ingsut menerobos lalu lintas di Atlantic Boulevard, sangat. menikmati udara yang menyesakkan karena polusi. Udara panas, turis-turis berkeliaran, para wanita berkaki cokelat panjang. Mereka melihat berbagai restoran hidangan laut dan bar dengan papan yang mengiklankan bir dingin dan tiram murah. Ketika jalanan habis, pantai mulai terbentang, dan mereka berhenti di bawah beranda Sea Turtle. Mereka mengikuti salah satu pengawal melintasi lobi. Beberapa orang memandangi mereka, karena pakaian mereka masih seragam. Setelah sampai di lantai lima, dan keluar dari lift, barulah Chap berkata, “Kamar kalian di sini; yang tiga ini.” Dia menunjuk ke ujung koridor. “Mr. Argrow ingin bertemu kalian sesegera mungkin.”

“Di mana dia?” tanya Spicer.

Chap menunjuk lagi. “Di sana, di suite pojok. Dia sudah menunggu.”

“Ayo,” kata Spicer, dan mereka mengikuti Chap ke pojok, tas-tas mereka bersenggolan.

Jack Argrow sama sekali tidak mirip saudaranya. Dia jauh lebih pendek, rambutnya pirang dan berombak, sedangkan rambut saudaranya berwarna gelap dan menipis. Itu hanya pengamatan sekilas, namun ketiganya menyadarinya dan belakangan menyinggungnya. Dia cepat-cepat menjabat tangan mereka, tapi demi sopan santun saja. Dia gelisah dan berbicara sangat cepat. “Bagaimana kabar saudaraku?” tanyanya.

“Baik,” jawab Beech.

“Kami bertemu dia tadi pagi,” tambah Yarber. “Aku ingin dia keluar dari penjara,” bentak Jack, seolah mereka yang memasukkannya ke sana. “Kalian

tabu, itulah yang akan kuperoleh dari kesepakatan ini. Akan kukeluarkan saudaraku dari penjara.” Mereka saling melirik; tak ada yang bisa dikatakan. “Silakan duduk,” kata Argrow. “Dengar, aku tak tahu bagaimana atau kenapa aku terlibat urusan ini, kalian mengerti. Aku jadi sangat gugup. Aku di sini mewakili Mr. Aaron Lake, orang yang kuyakini akan terpilih, dan menjadi presiden yang hebat Kurasa setelah dia jadi presiden nanti, aku dapat mengeluarkan saudaraku dari penjara. Tapi aku belum pernah bertemu Mr. Lake. Beberapa orangnya mendekatiku sekitar seminggu yang lalu, dan memintaku terlibat dalam urusan yang sangat rahasia dan sensitif. Itu sebabnya aku di sini. Aku menolongnya, oke? Aku tak tahu apa-apa, kalian mengerti?” Kalimat-kalimatnya pendek dan cepat. Dia bicara dengan tangan dan mulut tidak bisa diam.

Majelis tidak menanggapi, dan memang itulah yang diharapkan.

Dua kamera tersembunyi merekam apa yang terjadi dan segera mengirimnya ke Langley, tempat Teddy, York, dan Deville melihatnya di layar lebar di bungker. Ketiga mantan hakim tersebut, sekarang mantan narapidana, tampak seperti tawanan perang yang baru dibebaskan, bingung dan diam, masih berseragam, masih tak percaya. Mereka duduk rapat, memandang Agen Lyter berakting dengan menakjubkan.

Setelah berusaha mengalahkan mereka dalam pikiran dan tindakan selama tiga bulan, senang rasanya akhirnya bisa melihat mereka, Teddy mengamati wajah mereka, dan dengan berat hati mengakui agak

470

mengagumi mereka. Mereka cukup pintar dan mujur untuk menjaring korban yang tepat; sekarang mereka bebas dan akan menerima imbalan besar untuk kecerdasan mereka.

“Oke, dengar, masalah pertama adalah uangnya,” sembur Argrow. “Masing-masing dua juta. Kalian ingin uang itu dikirim ke mana?”

Tidak sering mereka mendapat pertanyaan seperti itu. “Pilihannya apa?” tanya Spicer.

“Kalian harus mentransfernya ke suatu tempat,” bentak Argrow.

“Bagaimana kalau London?” tanya Yarber.

“London?”

“Kami ingin uang itu, seluruhnya, enam juta, ditransfer sekaligus, ke satu rekening, ke satu bank di London,” Yarber menjelaskan.

“Kami bisa mentransfernya ke mana pun. Bank

apa?”

“Bisakah kau membantu kami mengenai perinciannya?” tanya Yarber.

“Aku diberitahu kami boleh melakukan apa saja yang kalian inginkan. Aku harus menelepon beberapa orang dulu. Bagaimana kalau kalian pergi ke kamar, mandi, ganti pakaian. Beri aku waktu lima belas menit.”

“Kami tak punya pakaian,” kata Beech.

“Ada beberapa barang di kamar kalian.”

Chap mengantar mereka menyusuri koridor dan menyerahkan kunci kamar.

Spicer telentang di tempat tidur king size-nya dan menatap langit-langit. Beech berdiri di depan jendela kamarnya dan memandang ke utara, sepanjang bermil-

471

mil di pantai, air biru bergulung lembut ke pasir putih. Anak-anak bermain di dekat ibu mereka. Pasangan-pasangan berjalan sambil bergandengan tangan. Perahu nelayan melaju pelan di horizon. Akhirnya bebas, katanya dalam hari. Akhirnya bebas.

Yarber berlama-lama mandi air panasprivasi sepenuhnya, tanpa batas waktu, banyak sabun, handuk tebal. Seseorang meletakkan perlengkapan pribadi komplet di meja riasdeodoran, krim cukur, alat cukur, pasta gigi, sikat gigi, floss. Dia sengaja tidak bergegas, lalu mengenakan celana pendek Bermuda, sandal, dan kaus putih. Dia akan jadi orang pertama yang pergi, dan dia harus mencari toko pakaian.

Dua puluh menit kemudian mereka berkumpul lagi di suite Argrow, dan membawa arsip-arsip mereka yang terbungkus rapi dalam sarung bantal. Argrow segugup tadi. “Ada bank besar di London bernama Metropolitan Trust. Kami bisa mengirim uang itu ke sana, lalu selanjutnya terserah kalian.”

“Bagus,” kata Yarber. “Rekeningnya atas namaku saja.”

Argrow memandang Beech dan Spicer, mereka mengangguk mengiyakan. “Baik. Kuduga kalian sudah punya rencana.”

“Betul,” kata Spicer. “Mr. Yarber akan berangkat ke London siang ini, dan sesampainya di sana dia akan pergi ke bank itu dan mengurus uangnya. Jika semua lancar, kami akan berangkat segera setelah itu.”

“Kujamin semua akan beres.” ^T)an kami mempercayaimu. Kami cuma berhati-

472

Argrow menyerahkan dua lembar kertas pada Finn. “Aku butuh tanda tanganmu untuk memulai transfer dan membuka rekening.” Yarber mencoretkan namanya.

“Kalian sudah makan siang?” tanyanya.

Mereka menggeleng. Mereka memang ingin makan, tapi tidak tahu pasti bagaimana mengatakannya.

“Kalian manusia bebas sekarang. Beberapa blok dari sini ada restoran-restoran bagus. Pergilah bersenang-senang. Beri aku waktu sejam untuk memulai transfer. Kita ketemu lagi di sini pukul setengah tiga.”

Spicer memegang sarung bantal. Dia melambai-lambaikannya pada Argrow dan berkata, “Ini arsip-arsipnya.”

“Baik. Lemparkan saja ke sofa di sana itu.”

Tiga Puluh Delapan

MEREKA berjalan kaki meninggalkan’hotel, tanpa pengawal, tanpa pembatasan, namun dengan surat grasi di saku, untuk berjaga-jaga. Dan meskipun matahari di dekat pantai lebih hangat, udaranya jelas lebih segar. Langitnya lebih bersih. Dunia kembali indah. Harapan terasa di mana-mana. Mereka tersenyum dan tertawa karena hampir semua hal. Mereka berjalan-jalan di sepanjang Atlantic Boulevard, dan dengan mudah membaur dengan para turis.

Makan siang berapa steak dan bir di kafe pinggir jalan, di bawah payung, jadi mereka dapat menonton orang-orang berlalu-lalang. Mereka tidak banyak bicara ketika makan dan minum. Tapi mereka melihat semuanya, terutama wanita-wanita muda bercelana pendek dan berblus minim. Penjara telah mengubah mereka menjadi pria-pria tua. Sekarang mereka merasakan dorongan kuat untuk berpesta.

Terutama Hatlee Beech. Dia punya kekayaan, status, dan ambisi, sebagai hakim federal dia dulu memiliki apa yang tak mungkin hilangjabatan

seumur hidup. Dia jatuh terempas, kehilangan segalanya, dan selama dua tahun pertamanya di Trumble mengalami depresi. Dia sudah menerima fakta bahwa dia akan mati di sana, dan serius memikirkan untuk bunuh diri. Sekarang, di usia 56 tahun, dia keluar dari kegelapan dalam kondisi yang luar biasa. Tubuhnya lebih kurus 7,5 kilogram, kuhtnya kecokelatan karena terbakar matahari, kesehatannya bagus, dia sudah bercerai dari wanita yang memiliki uang namun lainnya tidak, dan akan memperoleh harta karun. Lumayan untuk ukuran laki-laki setengah baya, katanya dalam hati. Dia merindukan anak-anaknya, namun mereka mata duitan dan melupakannya.

Hatlee Beech siap bersenang-senang.

Spicer juga ingin berpesta, lebih bagus kalau di kasino. Istrinya tidak punya paspor, jadi baru beberapa minggu lagi wanita itu bisa bergabung dengannya di London, atau di mana pun dia akan mendarat. Apakah di Eropa ada kasino? Beech bilang ada. Yarber tidak tahu, dan tidak peduli.

Finn yang paling tenang di antara mereka bertiga. Dia minum soda, bukan bir, dan tidak begitu tertarik pada tubuh-tubuh mulus yang berseliweran. Finn seolah sudah di Eropa. Dia takkan meninggalkan Eropa, takkan kembali ke tanah airnya. Dia berusia enam puluh, sangat fit, sekarang punya banyak uang, dan sebentar lagi akan keluyuran di Italia dan Yunani selama sepuluh tahun yang akan datang.

Di seberang jalan, mereka menemukan toko buku kecil dan. membeli beberapa buku pariwisata. Di toko yang khusus menjual perlengkapan pantai,

mereka membeli kacamata hitam yang sesuai selera. Lalu tiba saat mereka bertemu Jack Argrow lagi, dan menyelesaikan transaksi.

KJockner dan regunya mengawasi mereka berjalan santai kembali ke Sea Turtle. KJockner dan regunya sudah muak dengan Neptune Beach, Pete’s, Sea Turtle, dan rumah sewaan yang penuh sesak. Enam agen, termasuk Chap dan Wes, masih di sana, semua sangat tidak sabar menunggu tugas berikutnya. Unit itu telah menemukan Majelis, mengeluarkan mereka dari Trumble, membawa mereka ke pantai, dan sekarang mereka hanya menginginkan ketiga pria itu meninggalkan negeri ini.

Jack Argrow belum menyentuh arsip-arsip mereka, atau setidaknya begitulah kelihatannya. Semuanya masih terbungkus sarung bantal, di sofa, persis di tempat Spicer meninggalkannya.

Transfernya sedang dalam proses,” kata Argrow begitu mereka duduk di suite-nya.

Teddy masih mengawasi dari Langley. Ketiganya sekarang mengenakan berbagai perlengkapan pantai. Yarber memakai topi memancing dengan tudung selebar 15 sentimeter. Spicer memakai topi jerami dan kaus kuning. Beech, si pendukung Republik, mengenakan celana pendek khaki, kaus rajut lengan . panjang, dan topi golf.

Di meja makan terdapat tiga amplop besar. Argrow membagikannya pada Majelis, “Di dalamnya, kalian akan mendapatkan identitas baru kalian. Akta kelahiran, kartu kredit, kartu Jaminan Sosial.”

“Paspornya bagaimana?” tanya Yarber.

“Di kamar sebelah sudah disiapkan kamera. Paspor dan SIM butuh foto. Prosesnya butuh waktu setengah jam. Juga ada $5.000 di amplop kecil di dalam.”

“Aku Harvey Moss?” tanya Spicer, sambil membaca akta kelahirannya.

“Ya. Kau tak suka nama Harvey?”

“Rasanya sekarang suka.”

“Tampangmu memang tampang Harvey,” komentar Beech.

“Dan kau siapa?”

“Yah, aku James Nunley.”

“Senang bertemu kau, James.”

Argrow tidak pernah tersenyum sedikit pun, tidak pernah rileks biar hanya sedetik pun. “Aku perlu mengetahui rencana perjalanan kalian. Orang-orang di Washington betul-betul ingin kalian meninggalkan negara ini.”

“Aku harus menanyakan penerbangan ke London,” kata Yarber.

“Kami sudah melakukannya. Penerbangan ke Atlanta -berangkat dari Jacksonville dua jam lagi. Pukul tujuh lebih sepuluh malam ini, ada penerbangan dari Atlanta ke London Heathrow yang tiba besok pagi-pagi.”

“Bisa kaupesankan aku tiket?” “Sudah beres. Kelas satu.” Finn memejamkan mata dan tersenyum. “Dan kalian bagaimana?” tanya Argrow, memandang dua pria lainnya.

“Aku suka di sini,” jawab Spicer.

“Maaf. Kita sudah sepakat.”

“Kami akan naik penerbangan yang sama besok

siang,” kata Beech. “Dengan asumsi semua urusan Mr. Yarber beres.”

“Kalian ingin kami mengurus pemesanan tiketnya?”

“Ya, tolong.”

Chap masuk ke mangan tanpa suara, dan mengambil sarung bantal dari sofa. Dia pergi bersama arisip-arsip itu.

“Mari kita buat fotonya,” kata Argrow.

Finn Yarber, sekarang bepergian sebagai Mr. William McCoy dari San Jose, California, terbang ke Atlanta tanpa insiden. Selama sejam dia berjalan-jalan di bandara, naik kereta api bawah tanah, dan sangat menikmati keriuhan dan kegaduhan suasana di tengah sejuta orang yang bergegas-gegas.

Kursi kelas satunya berukuran raksasa dan terbuat dari kulit Setelah minum dua gelas sampanye, dia mulai pulas, dan bermimpi. Dia takut tidur karena takut terbangun. Dia yakin dia akan kembali di tempat tidur tingkat, menatap langit-langit, kembali menghitung hari di Trumble.

Dari telepon umum di samping Beach Java, Joe Roy akhirnya berhasil menghubungi istrinya. Mula-mula, wanita Itu mengira teleponnya tipuan dan menolak menerima tagihan collect-nya.. “Siapa ini?” tanyanya.

“Ini aku, Sayang. Aku sudah tak di penjara lagi.”

“Joe Roy?”

“Ya, sekarang dengarkan. Aku sudah keluar dari penjara, oke. Kau mengerti?” “Mungkin. Di mana kau?”

“Aku menginap di hotel dekat Jacksonville, Florida. Aku dibebaskan dari penjara tadi pagi.”

“Dibebaskan? Tapi bagaimana

“Jangan tanya, oke. Akan kujelaskan semuanya nanti. Aku akan berangkat ke London besok. Aku ingin kau pergi ke kantor pos pagi-pagi sekali, dan minta surat permohonan untuk membuat paspor.”

“London? Kau tadi bilang London?”

“Ya.”

“Inggris?”

“Tepat, ya. Aku harus pergi ke sana sebentar. Itu bagian dari kesepakatannya.” “Berapa lama?”

“Dua tahun. Dengar, aku tahu ini sulit dipercaya, tapi aku sudah bebas dan kita akan tinggal di luar negeri dua tahun.”

“Kesepakatan apa? Kau kabur, Joe Roy? Kau pernah bilang gampang kabur dari Trumble.”

“Tidak. Aku dibebaskan.”

“Tapi masa hukumanmu masih dua puluh bulan lagi.”

“Sudah tidak lagi. Dengar, ambil surat permohonan untuk membuat paspor dan ikuti instruksinya.” “Kenapa aku butuh paspor?” “Supaya kita bisa bertemu di Eropa.” “Selama dua tahun?” “Ya, benar.”

“Tapi Ibu sakit. Aku tak bisa pergi begitu saja dan meninggalkan Ibu.”

Joe Roy ingin mengatakan berbagai hal tentang mertuanya, tapi tidak jadi. Dia menarik napas panjang,

memandang jalanan sekilas. “Aku akan pergi,” katanya. “Aku tak punya pilihan.”

“Pulanglah,” kata istrinya.

“Tak bisa. Nanti kujelaskan.”

“Besok kau kutelepon.”

Beech dan Spicer makan hidangan laut di restoran yang penuh dengan orang-orang yang lebih muda. Mereka menyusuri trotoar dan akhirnya menemukan Pete’s Bar and Grill, di sana mereka menonton the Braves dan menikmati musiknya yang ribut.

Finn di suatu tempat di atas Atlantik, mengikuti uang mereka.

Petugas pabean di Heathrow hanya memeriksa sekilas paspor Finn, yang merupakan mahakarya pemalsuan. Paspor itu sudah lusuh dan telah menemani Mr. William McCoy berkeliling dunia. Aaron Lake memang punya teman-teman yang berpengaruh.

Finn naik taksi ke Basil Street Hotel di Knightsbridge, dan membayar tunai kamar paling kecil yang tersedia. Dia dan Beech memilih hotel itu secara acak dari buku panduan wisata. Tempat itu bergaya lama, penuh barang antik, dan setiap lantainya luas. Di restoran kecil di atas, dia sarapan yang terdiri atas kopi, telur, dan sosis hitam, lalu pergi jalan-jalan. Pukul 10.00, taksinya berhenti di depan Metropolitan Trust di The City. Resepsionis tidak memedulikan pakaiannyajins dan kaus lengan panjangtapi ketika menyadari Finn orang Amerika, dia mengangkat bahu dan tampak bisa mentolerirnya.

Mereka menyuruhnya menunggu sejam, namun dia sama sekali tidak keberatan. Firm gugup, tapi

48A

tidak memperlihatkannya. Dia bersedia menunggu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan untuk memperoleh uang itu. Dia sudah belajar cara bersabar. Mr. MacGregor yang menangani transfer tersebut akhirnya datang. Uangnya baru saja tiba, maaf atas penundaan ini. $6 juta telah menyeberangi Atlantik dengan selamat, dan sekarang berada di daratan Inggris.

Tapi tidak lama. “Saya ingin mentransfernya ke

Swiss,” kata Finn, dengan sikap percaya diri dan tenang yang pas.

Siang itu, Beech dan Spicer terbang ke Atlanta. Seperti Yarber, mereka menjelajahi bandara sampai puas sementara menunggu penerbangan mereka ke London. Mereka duduk bersebelahan di kelas satu, makan dan minum berjam-jam, menonton film, berusaha tidur sambil menyeberangi lautan.

Mereka terkejut ketika Yarber menunggu mereka saat mereka melewati pabean di Heathrow. Pria itu menyampaikan kabar gembira bahwa uang mereka telah datang dan pergi. Sekarang uang itu berada di Swiss. Dia mengejutkan mereka lagi dengan usul agar mereka segera pergi.

“Mereka tahu kita di sini,” katanya sambil menikmati kopi di bar bandara. “Ayo kita tinggalkan mereka.”

“Menurutmu mereka membuntuti kita?” tanya

Beech.

“Kita anggap saja begitu.”

“Tapi kenapa?” tanya Spicer.

Mereka mendiskusikannya selama setengah jam,

481

lalu mulai mencari penerbangan-penerbangan..alitalia ke Roma menarik perhatian mereka. Kelas satu, tentu saja.

“Orang-orang di Roma memakai bahasa inggris?” tanva Spicer saat mereka naik ke pesawat. “Mereka memakai bahasa italia,” sahut yarber. “Menurutmu Paus mau menemui kita?” “Dia mungkin sedang sibuk.”

Tiga Puluh Sembilan

BUSTER menempuh jalan berliku-liku ke barat selama berhari-hari sampai akhirnya berhenti di San Diego. Laut menarik perhatiannya, yang pertama dilihatnya setelah berbulan-bulan. Dia berkeliaran di dok mencari pekerjaan apa saja dan mengobrol dengan orang-orang biasa di situ. Seorang kapten perahu carteran mempekerjakannya sebagai pesuruh, dan dia berganti perahu di Los Cabos, Meksiko, di ujung selatan Baja. Pelabuhan di sana penuh dengan perahu memancing mahal, jauh lebih bagus daripada yang dulu diperdagangkan dia dan ayahnya. Dia bertemu beberapa kapten, dan dalam dua hari mendapat pekerjaan sebagai kelasi geladak. Para pelanggannya adalah orang-orang Amerika kaya dari Texas dan California, mereka lebih banyak minum daripada memancing. Dia tidak digaji, namun bekerja untuk memperoleh tip, yang jumlahnya berbanding lurus dengan jumlah minuman para klien. Di hari sepi dia memperoleh $200; di hari ramai $500, tunai. Dia tinggal di motel murahan, dan beberapa hari kemudian berhenti bersikap waswas. Dengan segera Cabos menjadi rumahnya.

Wilson Argrow tiba-tiba dipindah dari Trumble dan dikirim ke lembaga pemasyarakatan di Milwaukee, di sana dia tinggal satu malam persis sebelum pergi. Karena tidak ada. dia tidak bisa ditemukan. Jack Argrow menemuinya di bandara dengan membawa tiket, dan mereka terbang bersama ke D.C. Dua hari setelah meninggalkan Florida, kakak-beradik Argrow itu, Kenny Sands dan Roger Lyter, melapor ke Langley untuk penugasan selanjutnya.

Tiga hari sebelum dijadwalkan meninggalkan D.C. untuk menghadiri konvensi di Denver, Aaron Lake tiba di Langley untuk makan siang bersama Direktur. Acara itu akan menyenangkan, sang kandidat penakluk sekali lagi berterima kasih pada sang jenius yang memintanya ikut pemilihan. Pidato kemenangannya sudah ditulis selama sebulan, tapi Teddy punya beberapa usul yang ingin dibicarakannya.

Lake diantar ke kantor Teddy, seperti biasanya orang tua itu sedang menunggu dengan berselimutkan quilt. Dia tampak begitu pucat dan lelah, pikir Lake. Para asisten menghilang, pintu ditutup, dan Lake melihat tidak ada meja yang telah disiapkan. Mereka duduk jauh dari meja, berhadap-hadapan, sangat dekat.

Teddy menyukai pidatonya dan hanya mengomentari beberapa hal. “Pidato-pidato Anda semakin panjang,” katanya tenang. Tapi*Lake ingin menyampaikan begitu banyak hal akhir-akhir ini.

“Kami masih mengeditnya,” katanya.

“Pemilihan ini milik Anda, Mr. Lake,” kata Teddy,

lemah.

“Saya merasa yakin, tapi pertarungannya akan

sengit.”

“Anda akan menang lima belas poin.”

Lake berhenti tersenyum dan mendengarkan dengan cermat. “Itu, uh, lumayan besar.”

“Anda unggul sedikit dalam jajak pendapat. Bulan depan giliran Wakil Presiden. Kalian akan bergantian menang sampai pertengahan Oktober. Lalu, akan ada situasi nuklir yang akan menakutkan dunia. Dan Anda, Mr. Lake, akan jadi sang juru selamat.”

Prospek itu membuat sang juru selamat sekalipun takut. “Perang?” tanya Lake pelan.

“Bukan. Akan ada korban-korban, namun bukan warga Amerika. Natty Chenkov akan disalahkan, dan para pemilih di republik ini akan berbondong-bondong mendatangi tempat jajak pendapat. Anda dapat menang sampai dua puluh poin.”

Lake menarik napas dalam-dalam. Dia ingin bertanya lebih banyak, mungkin bahkan memprotes pertumpahan darah itu. Namun pasti sia-sia saja. Teror apa pun yang direncanakan Teddy untuk Oktober nanti sudah dikerjakan. Tak ada apa pun yang bisa dikatakan atau dilakukan Lake untuk menghentikannya.

“Teruskanlah apa yang Anda lakukan sekarang, Mr. Lake. Pesan yang sama. Dunia akan jadi jauh lebih gila, dan kita harus kuat untuk melindungi cara hidup kita.”

“Pesan itu sejauh ini berhasil.”

“Lawan Anda akan nekat. Dia akan menyerang

Anda karena isu tunggal itu, dan dia akan merengek-rengek tentang uang. Dia akan menghajar Anda dan menang beberapa poin. Jangan panik. Dunia akan dijungkirbalikkan Oktober nanti, percayalah.” “Saya percaya.”

“Anda sudah memenangkan pertarungan ini, Mr. Lake. Teruslah menyampaikan pesan yang sama.” “Oh, jelas.”

“Bagus,” kata Teddy, dan memejamkan mata sebentar seolah ingin tidur sejenak. Lalu dia membuka mata dan berkata, “Nah, mengenai topik yang sangat berbeda, saya agak penasaran dengan rencana Anda setelah memasuki Gedung Putih.”

Lake bingung, dan wajahnya menunjukkan hal itu.

Teddy meneruskan serangannya, “Anda butuh partner, Mr. Lake, seorang ibu negara. Kehadirannya akan memperindah, menyegarkan, dan menghiasi Gedung Putih. Seorang wanita cantik yang cukup muda untuk melahirkan anak-anak. Sudah lama tak ada anak-anak di Gedung Putih, Mr. Lake.”

“Anda pasti bercanda.” Lake terperangah.

“Saya menyukai Jayne Cordell, staf Anda ini. Dia berusia 38 tahun, cerdas, pandai bicara, cukup cantik, meskipun berat badannya perlu dikurangi 7,5 kilo. Perceraiannya sudah dua belas tahun berlalu, dan sudah dilupakan. Saya rasa dia cocok untuk menjadi ibu negara “

Lake menelengkan kepalanya, dan mendadak marah. Dia ingin menyemprot Teddy, namun saat ini mulutnya serasa terkunci. Akhirnya dia bergumam, “Anda sudah sinting, ya?”

“Kami tahu tentang Ricky,” kata Teddy, sangat

tenang, dengan mata tajam menusuk mata Lake.

Napas Lake terhenti, dan saat mengembuskannya dia berkata, “Oh, Tuhanku.” Dipandanginya kakinya beberapa lama, tabuhnya menegang karena shock.

Untuk membuat keadaan semakin buruk, Teddy menyodorkan selembar kertas. Lake menerimanya, dan langsung mengenalinya sebagai kopi surat terakhirnya kepada Ricky.

Dear Ricky:

Menurutku sebaiknya kita akhiri korespondensi

kita. Kuharap kau berhasil dengan rehabilitasimu.

Salam, Al

Lake hampir berkata bahwa dia bisa menjelaskan semuanya; keadaan sebenarnya tidak seperti kelihatannya. Namun dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa, setidaknya selama beberapa waktu. Berbagai pertanyaan membanjiri benaknyaBerapa banyak yang mereka ketahui? Bagaimana cara mereka menghadang surat-suratnya? Siapa lagi yang tahu?

Teddy membiarkannya menderita. Tidak perlu buru-buru.

Setelah pikirannya men jernih sedikit, naluri politisi Lake bangkit. Teddy menawarkan jalan keluar. Teddy mengatakan, “Bermainlah bersamaku, Nak, maka semuanya akan beres. Lakukanlah menurut caraku.”

Maka Lake menelan ludah dan berkata, “Saya memang menyukai Jayne.”

“Tentu saja. Dia sempurna untuk pekerjaan itu.”

“Ya. Dia sangat loyal.”

“Anda tidur dengannya?” Tidak. Belum.”

“Mulailah segera. Gandeng dia selama konvensi. Biarkan gosip muncul, biarkan alam bertindak. Seminggu sebelum pemilihan, umumkan pernikahan Natal”

“Besar atau kecil?”

“Besar-besaran. Pesta paling meriah tahun ini di Washington.” “Saya suka itu.”

“Segera buat dia hamil. Tepat sebelum pelantikan, umumkan bahwa Ibu Negara sedang mengandung. Itu akan jadi .berita yang luar biasa. Dan akan sangat menyenangkan kembali melihat anak-anak kecil di Gedung Putih.”

Lake tersenyum dan mengangguk, tampak seperti menyukai ide tersebut, lalu tiba-tiba mengerutkan kening. “Apakah orang lain akan tahu tentang Ricky?” tanyanya.

Tidak. Dia sudah dibungkam.”

“Dibungkam?”

“Dia takkan -menulis surat lagi, Mr. Lake. Dan Anda akan begitu sibuk bermain dengan anak-anak Anda, sehingga tak punya waktu untuk memikirkan orang-orang seperti Ricky.”

“Ricky siapa?”

“Bagus, Lake. Bagus “

“Saya sangat menyesal, Mr. Maynard, Sangat menyesal. Ini takkan terjadi lagi.”

Tentu saja. Saya punya arsipnya, Mr. Lake. Selalu ingat itu.” Teddy mendorong mundur kursi rodanya, seolah pertemuan sudah selesai.

“Saya sedang lemah waktu itu,” kata Lake.

“Sudahlah, Lake. Uruslah Jayne. Belikan dia baju baru. Dia bekerja terlalu keras dan tampak lelah. Jangan terlalu memaksanya. Dia akan jadi ibu negara

yang hebat.” “Ya, Sir.”

Teddy sampai di pintu. “Jangan ada kejutan lagi,

Lake.” “Ya, Sir.”

Teddy membuka pintu dan meluncur pergi.

Akhir November, mereka menetap di Monte Carlo, terutama karena keindahannya dan udaranya yang hangat; tapi juga karena bahasa Inggris sering sekali dipakai di sana. Dan ada banyak kasino, syarat utama Spicer. Baik Beech maupun Yarber tidak bisa mengetahui apakah dia menang atau kalah, tapi teman mereka itu jelas menikmati hidup. Istrinya masih merawat ibunya, yang belum meninggal juga. Hubungan mereka tegang, karena Joe Roy tidak mau pulang, dan istrinya tidak mau meninggalkan Mississippi.

Mereka tinggal di hotel kecil tapi nyaman di pinggir kota, dan biasanya sarapan bersama dua kali seminggu sebelum sibuk dengan urusan masing-masing. Setelah berbulan-bulan dan terbiasa dengan hidup baru mereka, mereka semakin jarang bertemu. Minat mereka berbeda. Spicer ingin berjudi, minum, dan menghabiskan waktu bersama wanita. Beech lebih menyukai laut dan menikmati memancing. Yarber bepergian dan mempelajari sejarah Prancis Selatan dan Italia Utara.

Tapi mereka selalu tahu di mana teman-temannya berada. Jika satu menghilang, yang dua ingin mengetahuinya

Mereka tidak pernah membaca berita tentang grasi mereka. Beech dan Yarber menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan di Roma, membaca berbagai surat kabar Amerika setelah mereka pergi. Tak ada kabar mengenai mereka Mereka tidak menghubungi siapa pun di tanah air. Istri Spicer mengatakan dia tidak memberitahu siapa pun bahwa Spicer sudah keluar dari penjara Wanita itu masih beranggapan dia kabur.

Saat Thanksgiving Day, Finn Yarber menikmati espresso di kafe pinggir jalan di pusat kota Monte Carlo. Cuaca hangat dan cerah, dan dia cuma samar-samar ingat bahwa sekarang hari besar penting di kampung halaman. Dia tidak peduli karena takkan pernah kembali. Beech tidur di kamar hotel. Spicer di kasino tiga blok dari sini.

Tiba-tiba tampak seraut wajah yang samar-samar terasa tak asing. Secepat kilat, pria itu duduk di depan Yarber dan berkata, “Halo, Finn. Ingat aku?”

Yarber dengan tenang meneguk kopi dan menatap wajah itu. Dia terakhir melihatnya di Trumble.

“Wilson Argrow, dari penjara” kata orang itu, dan Yarber meletakkan cangkirnya sebelum menjatuhkannya.

“Selamat pagi, Mr. Argrow,” kata Finn pelan, tenang, meskipun banyak hal lain yang ingin dikatakannya.

“Kuduga kau terkejut melihatku.”

“Ya, memang.”

“Asyik ya, kemenangan mutlak Aaron Lake?” “Begitulah. Apa yang bisa kulakukan untukmu?*’ “Aku cuma ingin kau tahu kami selalu di dekat kalian, untuk jaga-jaga seandainya kalian membutuhkan kami.”

Finn terkekeh, lalu berkata, “Rasanya mustahil.” Pembebasan mereka telah lima bulan berlalu. Mereka berpindah-pindah negara, dari Yunani ke Swedia, dari Polandia ke Portugis, pelan-pelan menuju ke selatan seiring perubahan cuaca. Bagaimana Argrow bisa menemukan mereka?

Tak mungkin.

Argrow mengeluarkan majalah dari balik jaket.

“Aku tak sengaja melihat ini minggu lalu,” katanya, menyerahkan majalah itu. Majalah itu dibalik ke halaman di bagian belakang tempat sebuah iklan baris dilingkari dengan tinta merah:

Pemuda kulit putih usia 20-an

mencari pria Amerika baik-baik dan bijaksana

berusia 40-an atau 50-an untuk bersahabat pena

Jelas Yarber pernah melihatnya, namun dia mengangkat bahu seolah tidak tahu-menahu.

“Kelihatan familier, kan?” tanya Argrow.

“Menurutku semuanya kelihatan sama,” sahut Finn. Dilemparkannya majalah itu ke meja. Majalah Out and About edisi Eropa.

“Kami melacak alamatnya sampai ke kantor pos di Monte Carlo sini,” kata Argrow. “Penyewaan kotak pos baru, dengan nama palsu dan sebagairiya. Kebetulan sekali.”

“Dengar, aku tak tahu kau bekerja pada siapa, tapi aku yakin sekati kami bukan di bawah yurisdiksimu. Kami tak melanggar satu peraturan pun. Bagaimana kalau kau enyah saja?” “Tentu, Finn, tapi $2 juta tak cukup, ya?” Finn tersenyum dan memandang sekeliling kafe yang bagus itu. Dia meneguk kopi dan menjawab, “Orang harus menyibukkan diri.”

“Sampai ketemu,” kata Argrow, lalu beranjak berdiri dan menghilang.

Yarber menghabiskan kopinya seolah tidak terjadi apa-apa. Dipandanginya jalanan dan lalu lintas sebentar, kemudian pergi untuk mengumpulkan rekan-rekannya.

TAMAT

0 Response to "The Brethren 3"

Post a Comment