Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Brethren 2

Dear Walt:

Aku betul-betul menyukai surat terakhirmu. Berulang kali aku membacanya. Kau pandai menyusun kata-kata. Seperti yang pernah kuceritakan, sudah hampir delapan belas bulan aku di sini, dan aku sangat kesepian. Kusimpan surat-suratmu di balik kasur, dan ketika aku merasa sangat terkungkung, kubaca semuanya berkali-kali. Di mana kau belajar menulis seperti itu? Tolong kirim surat lagi sesegera mungkin.

Dengan sedikit keberuntungan, aku akan dibebaskan bulan April. Aku belum tahu akan pergi ke mana atau melakukan apa. Menakutkan,

sungguh, memikirkan bahwa aku akan pergi begitu saja dari sini setelah hampir dua tahun, dan tidak punya siapa-siapa. Kuharap nanti kita tetap bersahabat pena.

Aku bertanya-tanya, dan sangat tidak suka menanyakan ini, tapi karena tidak punya teman lain aku akan tetap melakukannya, dan jangan sungkan bilang tidak, persahabatan kita takkan terpengaruh, tapi bisakah kau meminjamiku seribu dolar? Mereka punya toko buku dan musik kecil di klinik ini, dan mereka mengizinkan kami membeli buku dan CD secara kredit, dan, yah, aku sudah begitu lama di sini sehingga tagihanku lumayan banyak. Kalau kau bisa meminjami, aku akan sangat berterima kasih. Jika tidak, aku betul-betul mengerti.

Terima kasih kau bersedia menemaniku, Walt. Tolong segera kirim sarat padaku. Aku menanti-nantikan semua suratmu.

Love, Percy

Seribu dolar? Bajingan kecil macam apa ini? Coleman mencium adanya penipuan-Dirobek-robeknya surat itu dan dilemparkannya ke tempat sampah. “Seribu dolar,” gumamnya, meraih majalah lagi.

Curtis bukanlah nama asli pemilik toko perhiasan di Dallas itu. Curtis bisa dipakai ketika berkorespondensi dengan Ricky di klinik rehabilitasi, tapi nama aslinya adalah Vann Gates.

Mr. Gates berusia 58 tahun, di permukaan pernikahannya bahagia, ayah tiga anak dan kakek dua

cucu, dia dan istrinya memiliki enam toko perhiasan di kawasan Dallas, semuanya berlokasi di mal. Di atas kertas mereka mempunyai $2 juta, dan mereka memperolehnya dari hasil kerja sendiri. Mereka mempunyai rumah baru yang sangat bagus di Highland Park, dengan kamar-kamar terpisah di ujung yang berseberangan. Mereka bertemu di dapur untuk minum kopi dan di ruang duduk untuk menonton TV serta bertemu para cucu.

Mr. Gates sesekali memberanikan diri menuruti kata hatinya, selalu dengan sangat berhati-hati. Tak seorang pun mengetahui dirinya yang sebenarnya. Korespondensinya dengan Ricky adalah usaha pertamanya%untuk menemukan cinta melalui iklan baris, dan sejauh ini dia gembira dengan hasilnya. Dia menyewa kotak pos kecil di kantor pos dekat salah satu mal, dan menggunakan nama Curtis V. Cates.

Amplop lembayung muda itu dialamatkan kepada Curtis Cates. Begitu dia duduk di dalam mobil dan dengan hati-hati membukanya, mula-mula dia sama sekali tidak tahu ada yang tidak beres. Cuma sepucuk surat cinta lagi dari Ricky-nya yang tersayang. Namun kilat menyambar bersama kata-kata pertama:

Dear Vann Gates:

Pestanya selesai, pai. Namaku bukan Ricky, dan kau bukan Curtis. Aku bukan pemuda homo yang mencari kekasih. Bagaimanapun, kau punya rahasia besar, yang aku yakin ingin kausimpan rapat. Aku bersedia membantu.

Ini kesepakatannya: Transfer $100.000 ke Geneva Trust Bank, Nassau, Bahama, nomor rekening 144-DXN-9593, untuk Boomer Realty; Ltd., nomor khusus 392844-22.

Lakukan segera! Ini bukan lelucon. Ini tipuan, dan kau telah kena. Kalau uangnya tidak kuterima dalam sepuluh hari, akan kukirimkan pada istrimu, Mrs. Glenda Gates, paket kecil berisi salinan semua surat, foto. dan sebagainya. Transfer uang itu, dan aku akan pergi.

Love, Ricky

Segera setelah itu, Vann menemukan jalan lingkar Dallas 1-635, dan tidak lama kemudian dia berada di jalan lingkar 1-820 mengelilingi Fort Worth, lantas kembali ke Dallas, mengemudi dengan kecepatan persis 55 mil per jam, di jalur kanan, tidak menyadari lalu lintas yang menumpuk di belakangnya. Jika menangis bisa membantu, dia pasti sudah tersedu-sedu. Dia tidak keberatan menangis, terutama di dalam Jaguar-nya yang tertutup.

Tapi dia terlalu marah untuk menangis, terlalu pahit untuk terluka. Dan dia terlalu takut untuk menghabiskan waktu dengan merindukan seseorang yang tidak ada. Dia harus bertindakcepat, tegas, rahasia.

Tapi sakit hati akhirnya menguasainya, dia berhenti di bahu jalan dan memarkir mobil dengan mesin tetap menyala. Semua mimpi indahnya tentang Ricky, jam-jam yang tak terhitung banyaknya ketika dia memandangi wajahnya yang tampan dengan senyum simpulnya, dan membaca surat-suratnyasedih, lucu, putus asa, penuh harapbagaimana begitu banyak emosi bisa diungkapkan dengan kata-kata tertulis? Dia sampai hafal surat-surat itu.

Dan dia cuma bocah, begitu muda dan kuat, namun kesepian dan. membutuhkan pendamping dewasa. Ricky yang akhirnya dicintainya memerlukan rangkulan pria yang lebih tua, dan Curtis/Vann sudah berbulan-bulan menyusun berbagai rencana. Pura-pura pergi ke pameran berlian di Orlando, sementara istrinya di rumah saudara perempuannya di El Paso. Dia sudah merencanakannya secara mendetail dan tanpa meninggalkan jejak.

Akhirnya dia menangis. Vann yang malang mencucurkan air mata tanpa segan atau malu. Tidak ada yang bisa melihatnya; mobil-mobil lain beterbangan melewatinya dengan kecepatan 130 kilometer per jam.

Dia bertekad akan balas dendam, seperti umumnya kekasih yang ditinggalkan. Dia akan melacak bangsat ini, monster yang berperan sebagai Ricky dan menghancurkan hatinya.

Ketika tangisnya mulai reda, dia teringat istri dan keluarganya, itu sangat membantu mengeringkan air matanya. Wanita itu akan memperoleh keenam toko, $2 juta, rumah baru dengan kamar-kamar terpisah, dan dia takkan mendapatkan apa pun selain cemoohan, ejekan, dan gosip di kota yang sangat menyukai hal-hal tersebut. Anak-anaknya akan mengikuti ke mana uang pergi, dan seumur hidup para cucunya akan mendengar bisik-bisik mengenai kakek mereka.

Kembali di jalur kanan dengan kecepatan sembilan puluh, melalui Mesquite untuk kedua kalinya, membaca surat itu lagi ketika truk-truk beroda delapan belas menderu lewat.

Dia tidak bisa menghubungi siapa pun, tidak ada

bankir yang dapat dipercayanya untuk mengecek reke ning di Bahama tersebut, tidak ada pengacara yan” dapat dimintainya nasihat, tidak ada teman yan! mau mendengarkan kisah sedihnya. 8

Untuk pria yang dengan hati-hati menjalani kehidupan ganda, uang yang diminta Ricky bukan masalah. Istrinya mengawasi tiap sen, di rumah dan di toko-toko, dan untuk alasan itu Vann sudah lama 1 pandai menyembunyikan uang. Dia melakukannya dengan batu mulia, rubi, dan mutiara, dan kadang berlian-berlian kecil yang disisihkannya dan belakangan dijual pada penjual-penjual lain untuk mendapatkan uang kontan. Hal itu biasa di bisnis ini. Dia punya berkotak-kotak uangkotak-kotak sepatu yang ditumpuk rapi di brankas tahan api di tempat penyimpanan mini di Piano. Uang untuk setelah perceraian. Uang untuk hidup nanti ketika dia dan Ricky berlayar keliling dunia dan menghabiskan semuanya dalam perjalanan tanpa akhir.

“Bajingan!” katanya sambil mengertakkan gigi. Berkali-kali.

Kenapa dia tidak menulis surat saja pada narapidana ini dan mengatakan dirinya miskin? Atau mengancam akan membeberkan rencana pemerasaan-nya? Kenapa tidak melawan?

Sebab bangsat itu tahu pasti apa yang akan dilakukannya. Dia telah melacak Vann sehingga tahu nama aslinya, dan nama istrinya. Dia tahu Vann punya uang.

Dia membelok ke jalur masuk rumahnya dan tambarT Scedang membersihkan trotoar dari salju. a” S W tanya istrinya ramah.

“Membereskan beberapa urusan,” sahutnya sambil

tersenyum.-

-Lama sekali,” kata Glenda, tetap menyapu.

Vann merasa muak sekali. Istrinya menghitung waktu semua perbuatannya! Selama tiga puluh tahun dia dikuasai wanita itu, yang bagai selalu membawa

stopwatch.

Diciumnya pipi istrinya sekilas karena kebiasaan. Ia pergi ke ruang bawah tanah, lalu mengunci pintu dan mulai menangis lagi. Rumah ini penjaranya (dengan cicilan $7.800 sebulan, rasanya memang seperti penjara). Glenda penjaganya, pemegang kunci. Satu-satunya jalan kaburnya telah ambruk, digantikan oleh seorang pemeras berdarah dingin-.

Dua Belas

DELAPAN PULUH peti mati membutuhkan tempat yang luas. Semuanya dijajarkan dalam barisan-barisan lurus, ditutup rapi dengan bendera merah, putih, dan biru, panjang dan lebar semuanya sama. Peti-peti itu tiba tiga puluh menit lalu dengan pesawat kargo Angkatan Udara, diturunkan dengan upacara kebesaran. Hampir seribu teman dan keluarga duduk di kursi lipat, di lantai beton hangar, shock memandangi lautan bendera yang terhampar di hadapan mereka. Jumlah peti itu hanya kalah dari jumlah anjing, semuanya dikarantina di balik barikade dan polisi militer.

Bagi Amerika Serikat, negara yang meskipun sudah terbiasa dengan kebijaksanaan luar negeri yang keras, jumlah korban tetap saja terasa luar biasa. Delapan puluh warga Amerika, delapan Inggristidak ada warga Prancis, sebab mereka memboikot acara diplomatik Barat di Kairo. Kenapa delapan puluh orang Amerika masih berada di kedutaan setelah pukul 22.00? Itulah pertanyaan semua orang saat ini, dan sejauh ini belum muncul jawaban yang memuaskan. Begitu banyak orang yang mengambil keputusan seperti

\ itu sekarang terbaring di dalam peti mati. Teori terbaik yang tersiar di sekitar D.C. adalah bahwa katering terlambat, dan band-nya. bahkan lebih terlambat lagi.

Namun teroris telah membuktikan dengan sangat meyakinkan bahwa mereka akan menyerang kapan pun, jadi apa bedanya jika Duta Besar dan istrinya beserta staf. para kolega, dan tamu mereka ingin berpesta larut malam?

Pertanyaan besar kedua saat ini adalah kenapa bisa ada delapan puluh orang di kedutaan kita di Kairo? Departemen Luar Negeri harus memperhatikan pertanyaan tersebut.

Setelah alunan musik sendu dari band Angkatan Udara, Presiden berbicara. Suaranya serak dan dia ber-. hasil memeras setetes-dua tetes air mata, namun setelah delapan tahun, akting teatrikalnya itu terasa basi. Dia sudah terlalu sering menjanjikan pembalasan, jadi dia berceloteh tentang penghiburan, pengorbanan, dan janji mengenai hidup yang lebih baik di alam baka.

Menteri Luar Negeri membacakan nama-nama yang meninggal, acara mencekam yang dibuat untuk menonjolkan kemuraman suasana. Sedu-sedan semakin keras. Lalu musik lagi. Pidato terpanjang disampaikan oleh Wakil Presiden, baru pulang dari perjalanan kampanye dan penuh dengan semangat baru untuk membasmi terorisme dari muka bumi. Meskipun tidak pernah memakai seragam militer, dia tampak tak sabar untuk mulai melempar granat. Lake membuat mereka semua bergerak.

Lake menonton upacara suram itu waktu terbang dari Tucson ke Detroit, terlambat untuk serangkaian

wawancara lagi. Di pesawat ikut ahli jajak pendapat nya, pesulap yang baru direkrutnya yang sekarang ikut ke mana-mana dengannya. Sementara Lake dan stafnya menonton warta berita, si ahli jajak pendapat bekerja keras di meja rapat kecil tempat dia meletakkan dua laptop, tiga telepon, dan printout yang begitu banyak, sehingga sepuluh orang pun tak bakal sanggup membacanya.

Pemilihan pendahuluan Arizona dan Michigan tinggal tiga hari lagi, dan peringkat Lake meningkat, terutama di negara bagian asalnya, tempat dia bertarung sengit dengan kandidat lama, Gubernur Tarry dari Indiana. Di Michigan, Lake turun sepuluh poin, tapi orang-orang mendengarkan. Kekacauan di Kairo sangat menguntungkannya.

Gubernur Tarry mendadak kelimpungan mencari uang. Aaron Lake tidak. Uang datang lebih cepat j daripada yang bisa dihabiskannya.

Waktu Wakil Presiden akhirnya selesai pidato, Lake j meninggalkan televisi dan kembali ke kursi putar j kulitnya dan mengambil koran. Seorang anggota staf menghidangkan kopi, yang diseruputnya sambil meman-j dangi dataran Kansas 13 kilometer di bawahnya, j Seorang anggota staf lain menyerahkan pesan padanyayang mengharuskan sang kandidat segera menelepon. Lake memandang sekeliling pesawat, dan menghitung ada tiga belas orang, tidak termasuk pilot.

Untuk ukuran pria yang masih merindukan istrinya, Lake belum bisa menerima hilangnya privasinya. ‘ Dia bergerak bersama serombongan orang, tiap se- ‘ tengah jam rapat dengan seseorang, tiap tindakan dikoordinir komite, tiap wawancara didului dengan

dugaan-dugaan tertulis tentang pertanyaan dan usul jawabannya. Setiap malam dia cuma punya enam jam untuk sendirian, di kamar hotel, dan Secret Service pasti sudah tidur di lantai kalau dia mengizinkan. Karena lelah, dia tidur seperti bayi. Satu-satunya saat tenangnya adalah di kamar mandi, baik di dalam shower atau toilet.

Tapi dia tidak keberatan. Dia, Aaron Lake, anggota Kongres yang tidak banyak bicara dari Arizona, dalam waktu singkat telah menjadi sensasi. Dia menerjang, sementara yang lain-lain goyah. Uang dalam jumlah raksasa tersedia untuknya. Pers membuntutinya bagai anjing pemburu. Kata-katanya diulangi. Dia memiliki teman-teman yang sangat berkuasa, dan ketika potongan-potongan jatuh pada tempatnya, pencalonannya tampak realistis. Sebulan yang lalu dia bahkan tidak pernah bermimpi tentang hal-hal seperti itu.

Lake menikmati saat ini. Kampanyenya luar biasa melelahkan, namun dia dapat mengontrol tempo pekerjaan itu sendiri. Reagan adalah presiden yang bekerja sesuai jam kerja, toh dia jauh lebih efektif daripada Carter, yang gila kerja. Pokoknya masuk Gedung Putih dulu, katanya pada diri sendiri berulang kali, hadapi orang-orang konyol ini, kuatkan diri untuk mengikuti pemilihan pendahuluan, hadapi semuanya dengan senyum dan kepala dingin, maka suatu hari yang takkan lama lagi dia akan duduk di Ruang Oval, sendirian, dunia dalam genggamannya. Dan dia akan memperoleh privasinya.

Teddy duduk bersama York di bungker, menonton siaran langsung dari Pangkalan Angkatan Udara

Andrews. Dia lebih suka ditemani York ketika ke adaan memanas. Tuduhan-tuduhan yang dilontarkat brutal. Kambing hitam dicari-cari, dan banyak idi0| yang mengejar kamera menyalahkan CIA, karena badan itulah yang selalu mereka salahkan. Kalau saja mereka tahu.

Akhirnya dia memberitahu York tentang peringatan Lufkin, dan York paham seratus persen. Sayangnya, mereka sudah pernah mengalami situasi seperti ini. Ketika menjaga dunia kau kehilangan banyak polisi, Teddy dan York sedih melihat peti-peti mati terbungkus bendera turun dari C-130, bukti satu lagi kekacauan di luar negeri. Kampanye Lake merupakan usaha terakhir Teddy untuk menyelamatkan nyawa rakyat Amerika.

Kegagalan rasanya mustahil. D-PAC mengumpul- . kan lebih dari $20 juta dalam dua minggu, dan tengah dalam proses membagikan uang ke seluruh penjuru Washington. Dua puluh satu anggota Kongres telah direkrut untuk mendukung Lake, memakan biaya I total 6 juta. Namun keberhasilan terbesar sejauh ini i adalah Senator Britt, si mantan kandidat, ayah seorang bocah kecil Thai. Ketika mengakhiri usahanya masuk Gedung Putih dia berutang hampir $4 juta, tanpa rencana bagus untuk menutupi defisitnya. Uang cenderung tidak mengikuti orang yang menyerah dan pulang. Elaine Tyner, pengacara yang mengelola D-PAC, bertema Senator Britt. Dia butuh waktu tak i sampai satu jam untuk mencapai kesepakatan. D-PAC akan melunasi semua utang kampanyenya, dalam periode tiga tabun, dan Senator harus ribut mendukung Aaron Lake.

“Kita punya proyeksi korban?” tanya York. Beberapa saat kemudian barulah Teddy menjawab,

Tidak.”

Percakapan mereka tidak pernah terburu-buru.

“Kenapa begitu banyak?”

‘Terlalu banyak minuman keras. Selalu begitu di negara-negara Arab. Kebudayaan berbeda, hidup membosankan, jadi waktu para diplomat kita mengadakan pesta, mereka membuat pesta yang meriah. Banyak

korban dalam keadaan mabuk.” Beberapa menit berlalu. “Di mana Yidal?” tanya

York.

“Sekarang, dia di Irak. Kemarin, Tunisia.” “Kita betul-betul harus menghentikannya.” ‘Tentu, tahun depan. Itu akan jadi peristiwa bagus bagi Presiden Lake.”

Dua belas dari enam belas anggota Kongres yang mendukung Lake memakai kemeja biru, fakta yang tidak lolos dari pengamatan Elaine Tyner. Dia menghitung hal-hal semacam itu. Kalau seorang politisi D.C. berada di dekat kamera, berani taruhan dia bakal mengenakan kemeja katun biru terbagusnya. Keempat lainnya memakai kemeja putih.

Dia mendudukkan mereka di hadapan para reporter di ballroom Willard Hotel. Anggota senior, Representative Thurman dari Florida, membuka acara dengan mengucapkan selamat datang di kesempatan yang sangat penting ini. Membaca catatan yang telah disiapkan, dia mengutarakan pendapatnya mengenai peristiwa-peristiwa dunia saat ini, berkomentar tentang .situasi di Kairo, Cina, dan Rusia, mengatakan bahwa

dunia jauh lebih berbahaya daripada kelihatannya. 1 Dia mengoceh soal statistik biasa tentang militer kita I yang dikurangi. Kemudian dia berceloteh panjang-j lebar mengenai teman dekatnya, Aaron Lake, orang yang bekerja bersamanya selama sepuluh tahun dan 1 tahu lebih banyak daripada yang lain. Lake adalah orang yang punya pesan, pesan yang tidak ingin kita dengarkan, namun tetap sangat penting.

Thurman menentang arus bersama Gubernur Tarry. Walaupun melakukannya dengan amat berat hati dan perasaan berkhianat, sekarang dia yakin setelah pemikiran mendalam yang menyakitkan bahwa Aaron Lake dibutuhkan untuk keamanan negara kita. Thurman tidak mengatakan bahwa jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan Lake sangat populer di Tampa-St. Pete.

Mikrofon lantas diserahkan pada seorang anggota Kongres dari California. Pria itu tidak mengatakan sesuatu yang baru, namun tetap bicara selama sepuluh menit. Di distriknya di utara San Diego, terdapat 45.000 pekerja industri pertahanan dan pesawat. Kelihatannya mereka semua telah menulis surat atau menelepon. Anggota Kongres itu gampang diajak masuk ke kubu Lake; tekanan dari tempat asal plus $250.000 dari Ms. Tyner dan D-PAC, maka ber-beloklah dia.

Ketika acara tanya-jawab dimulai, keenam belas anggota Kongres tersebut berkumpul dalam kerumunan kecil yang rapat, semua ingin menjawab dan mengatakan sesuatu, semua takut tampang mereka tidak kelihatan di kamera.

Walaupun tidak ada ketua komite, grup itu tetat

mengesankan. Mereka berhasil menimbulkan kesan bahwa Aaron Lake kandidat yang sah, orang yang mereka kenal dan percayai. Orang yang dibutuhkan negara ini. Orang yang layak dipilih.

Peristiwa tersebut sukses dan diliput luas-, langsung jadi berita. Elaine Tyner akan mengeluarkan lima anggota Kongres lagi besok, lalu menyimpan Senator Britt Untuk sehari sebelum Super Tuesday.

Surat di dalam kotak dashboard mobil Ned berasal dari Percy, Percy muda di klinik rehabilitasi yang berkorespondensi melalui Laurel Ridge, Kotak Pos 4585, Atlantic Beach, FL 32233.

Ned berada di Atlantic Beach, sudah dua hari, dengan surat itu dan tekad untuk melacak Percy muda, karena dia mencium adanya tipuan busuk. Dia tidak punya kegiatan lain yang lebih bagus. Dia pensiun dengan banyak uang, tak punya keluarga, lagi pula di Cincinnati sedang turun salju. Dia menyewa kamar di Sea Turtle Inn, di pantai, dan malam hari dia keluyuran ke bar-bar di sepanjang Atlantic Boulevard. Dia telah menemukan dua restoran hebat, tempat-tempat kecil yang penuh dengan gadis dan pemuda manis. Dia telah menemukan Pete’s Bar and Grill satu blok dari penginapannya, dan dua malam terakhir ini dia terhuyung-huyung keluar dari tempat itu, mabuk bir dingin. Sea Turtle cuma’di balik tikungan.

Siang hari Ned mengawasi kantor pos, bangunan pemerintah bergaya modem dari batu bata dan kaca di First Street, paralel dengan pantai. Sebuah kotak kecil tak berjendela di tengah dinding, 4585 berada di antara delapan puluh kotak lain, di area yang

tidak terlalu ramai. Ned sudah memeriksa tersebut, berusaha membukanya dengan anak kunc dan kawat, bahkan bertanya di meja depan. Pai pegawai pos sangat tidak membantu. Sebelum pera pada hari pertama, dia menempelkan seutas benan hitam tipis sepanjang lima senti di bawah pintu kotak. Orang lain takkan melihatnya, tapi Ned akan tahu apakah isinya sudah diperiksa atau belum.

Suratnya ada di dalam kotak itu, dalam amplop merah manyala, dikirimnya tiga hari lalu dari Cincinnati, lalu dia bergegas menyusulnya ke selatan. Di dalamnya dia memberi Percy cek senilai $1.000, uang yang dibutuhkan bocah itu untuk membeli peralatan melukis. Di surat sebelumnya, Ned bercerita bahwa dia pernah memiliki galeri seni modem di Greenwich Village. Dia berbohong, namun juga meragukan semua perkataan Percy.

Sejak awal Ned sudah curiga. Sebelum menjawab undangan Percy, dia mencoba mengecek Laurel Ridge, unit detoksifikasi mewah yang katanya merupakan tempat anak itu dirawat Klinik itu memiliki telepon, nomor pribadi yang tidak bisa diselidikinya dari buku telepon. Tak ada alamat jalan. Percy menjelaskan di surat pertamanya bahwa tempat tersebut sangat rahasia, karena banyak pasiennya adalah eksekutif penting perusahaan dan pegawai pemerintah tingkat tinggi, dengan satu atau lain cara, semuanya telah j menggunakan zat-zat kimia terlarang. Kedengarannya bagus. Anak itu pandai menggunakan kata-kata.

Dan wajahnya sangat manis. Itulah sebabnya Ned terus menyuratinya. Foto Percy dikaguminya’ setiap hari.

Permintaan uang itu mengejutkannya, dan karena sedang bosan dia memutuskan pergi ke Jacksonville.

Dari tempatnya di lapangan parkir, merunduk di balik kemudi mobil, memunggungi First Street dia dapat mengawasi dinding berisi kotak-kotak itu dan para pelanggan kantor pos ketika mereka datang dan pergi. Kemungkinan dia berhasil memang kecil, tapi masa bodoh. Dia memakai teropong lipat kecil, dan sesekali melihat orang yang melewatinya memandanginya. Tugasnya jadi membosankan setelah dua hari, namun seiring berlalunya waktu dia semakin yakin suratnya akan diambil. Pasti ada yang memeriksa kotak itu setidaknya tiga hari sekali. Sebuah klinik rehabilitasi tentu menerima banyak surat, bukan? Atau tempat itu cuma tipuan narapidana yang datang sekali seminggu untuk mengecek jebakannya?

Si narapidana muncul siang menjelang sore di hari ketiga. Pria itu memarkir Beetle-nya di samping Ned, lalu berjalan santai ke dalam kantor pos. Dia memakai celana khaki kusut, kemeja putih, topi jerami, dasi kupu-kupu, dan rambutnya yang berantakan menunjukkan dia suka berjalan-jalan di pantai.

Tadi Trevor lama beristirahat di Pete’s, kemudian menghabiskan energi makan siang cairnya dengan tidur sejam di meja kerja, dan sekarang cuma mondar-mandir, melakukan tugas rutin. Dia memasukkan anak kunci Kotak 4585 dan mengeluarkan beberapa surat, kebanyakan surat sampah, yang dicampakkan-nya sambil memeriksa surat-surat dalam perjalanan keluar gedung.

Ned mengawasi setiap gerakannya. Setelah tiga hari yang membosankan, dia penuh semangat karena

pengintaiannya akhirnya membuahkan membuntuti Beetle itu. Ketika mobil itu Ťr’ &i pengemudinya masuk ke kantor pengacara ^ daj, dan kumuh. Ned melaju pergi, menoo yan§ kecfl pelipis. berkah-kaJi berkata dengan i ^ acara?” Keras> “P^

Dia terus melaju, menyusuri Highwav a sepanjang pantai jauh dari keramaian jLl a’ dť ke selatan melalui Vflano Beach Crev ,,e’ Beverly Beach. Flagler Beach, dan akJbi ^ Beachť di Holiday Inn di mar Port Orange Dia H?*- S3mpai sebelum masuk kamar. ” pergl ke bar

Bukan baru sekali ini dia menphaHa; M sebetulnva vang kedua ^ P peniPŤan.

Tiga Belas

SEHARI sebelum pemilihan pendahuluan Arizona dan Michigan, kampanye Lake melancarkan serangan udara, strategi yang belum pernah dipakai dalam politik kepresidenan. Selama delapan belas jam, kedua negara bagian itu dibombardir dengan iklan. Ada yang panjangnya lima belas detik, iklan-iklan lunak yang hanya menampilkan wajah tampan sang kandidat dan janji tentang kepemimpinan tegas dan dunia yang lebih aman. Iklan-iklan lain berupa film dokumenter satu menit mengenai bahaya setelah perang dingin. Juga ada iklan-iklan yang macho, tekad yang dilemparkan ke muka para teroris duniabunuhlah orang cuma karena dia warga Amerika, maka kau akan menerima ganjaran dahsyat. Kairo masih sangat hangat, dan janji-janji- itu tepat mengenai sasaran.

Semua iklan tersebut berani, dibuat oleh para konsultan tingkat tinggi, dan segi negatifnya cuma jumlahnya yang terlalu banyak. Namun Lake nwsm terlalu baru untuk membosankan siapa pun. utokny sekarang. Kampanyenya menghabiskan sepuluh juta

untuk iklan televisi di dua negara bagian itu, jumlah yang luar biasa.

Mereka mengurangi kecepatan pada jam-jam pemilihan hari Selasa, 22 Februari. Ketika pemilihan ditutup, para analis meramalkan Lake akan menang di negara bagian asalnya dan menempati posisi kedua dengan selisih suara tipis di Michigan. Gubernur Tarry bagaimanapun berasal dari Indiana, salah satu negara bagian barat tengah, dan dia menghabiskan waktu benninggu-minggu di Michigan selama tiga bulan lalu.

Rupanya dia kurang lama di sana. Para pemilih di. Arizona memilih putra daerah mereka, dan orang-orang di Michigan juga menyukai si pendatang bara. Lake memperoleh 60 persen di daerah asal, dan 55 persen di Michigan tempat Gubernur Tarry cuma memperoleh 31 persen yang loyo. Sisanya dibagi antara para peserta lain.

Kekalahan itu menghancurkan Gubernur Tarry, hanya dua minggu sebelum Super Tuesday besar dan tiga minggu sebelum yang kecil.

Lake menonton penghitungan suara di pesawat, dalam perjalanan dari Phoenix, tempat dia memberikan suara untuk dirinya sendiri. Sejam dari Washington, CNN mengumumkan dia pemenang yang tak terduga di Michigan, dan stafnya pun menuang sampanye. Dia menikmati kemenangannya, sampai mau minum dua gelas.

Lake tahu sejarah. Tidak pernah ada yang mulai seterlambat ini, dan memperoleh sebanyak ini secepat ini. Di kabin temaram, mereka menonton para analis di keempat layar, semua pakar mengagumi Lake dan

apa yang telah dilakukannya. Gubernur Tarry bersikap sportif, tapi juga mencemaskan jumlah raksasa uang yang dihabiskan lawan yang sebelum ini tak dikenal.

Lake bercakap-cakap sopan dengan sekumpulan kecil reporter yang menunggunya di Reagan National Airport, lalu pergi naik Suburban hitam lagi ke markas besar kampanye nasionalnya. Di sana dia mengucapkan terima kasih pada stafnya yang dibayar mahal dan menyuruh mereka pulang dan tidur.

Sudah hampir tengah malam waktu dia tiba di Georgetown, di rowhouse kecil tuanya di Thirty-fourth, dekat Wisconsin. Dua agen Secret Service keluar dari mobil di belakang Lake, dan dua lagi menunggu di tangga depan. Dia menolak mentah-mentah permintaan untuk menempatkan penjaga di dalam rumahnya.

“Aku tidak mau melihat kalian mengintai-intai di sekitar sini,” katanya kasar di pintu depan. Dia tidak menyukai kehadiran mereka, tidak tahu nama mereka, dan tak peduli jika mereka membencinya. Menurutnya, mereka tak bernama. Mereka cuma “kalian” yang diucapkan dengan sekesal mungkin.

Begitu sudah di balik pintu terkunci, dia naik ke kamarnya di lantai atas dan mengganti pakaian. Di-matikannya lampu-lampu seakan dia sudah tidur, menunggu lima belas menit, kemudian pelan-pelan turun ke ruang duduk untuk melihat apakah ada yang melihat ke dalam, lalu turun lagi ke ruang bawah tanah kecil. Dia keluar dari jendela, dan melangkah di malam yang dingin ke dekat patio mungilnya. Dia berhenti sejenak, memasang telinga, tidak mendengar apa-apa, lalu tanpa suara membuka pintu gerbang

169

kayu dan melesat di antara dua bangunan di belakangnya. Dia muncul di Thirty-fifth Street, sendirian, dalam gelap, berpakaian seperti pejoging dengan topi lari dipasang rendah sampai alis. Tiga menit kemudian dia sampai di M Street, di tengah orang banyak. Dia mendapat taksi dan menghilang.

Teddy Maynard tidur dengan perasaan puas karena dua kemenangan pertama kandidatnya, namun dibangunkan dengan pemberitahuan bahwa ada yang tak beres. Ketika meluncur masuk bungker pada pukul 06.10, dia lebih merasa takut daripada marah, meskipun emosinya sudah terkuras dalam satu jam terakhir. York sudah menunggu, bersama penyelia bernama Deville, pria kecil penggugup yang jelas sudah berjam-jam kebingungan.

“Coba ceritakan,” geram Teddy, terus mendorong kursi rodanya dan mencari kopi.

Deville yang bicara. “Pukul 24.02 tadi dia berpisah dengan Secret Service dan masuk rumah. Pukul 24.17 dia keluar lewat jendela kecil di ruang bawah tanah. Tentu saja kami sudah memasang detektor dan pencatat waktu di setiap pintu dan jendela. Kami menyewa rowhouse di seberang jalan, dan kami memang selalu waspada. Dia sudah enam hari tak pulang ke rumah.” Deville melambaikan sebutir pil kecil, seukuran kaplet aspirin. “Ini alat kecil yang dikenal sebagai T-Dec. Alat ini dipasang pada sol semua sepatunya, termasuk sepatu joging. Jadi kecuali kalau dia bertelanjang kaki, kami tahu di mana dia berada. Sekali ada tekanan dari kaki, alat ini mengeluarkan sinyal yang menjangkau jarak dua

ratus meter tanpa pemancar. Ketika tekanan hilang, dia akan terus mengeluarkan sinyal selama lima belas menit. Kami bergegas mengikutinya dan melihatnya di M Street. Dia memakai kaus lengan panjang dengan topi dipasang rendah. Dua mobil kami sudah siap ketika dia melompat masuk taksi. Kami membuntutinya ke Chevy Chase, ke pusat perbelanjaan pinggiran. Sementara taksi menunggu, dia melesat masuk tempat bernama Mailbox America, salah satu tempat baru di mana orang dapat mengirim dan menerima surat di luar Dinas Pos. Beberapa tempat seperti itu, termasuk yang ini, buka 24 jam. Dia di dalam tak sampai semenit, cuma untuk membuka kotaknya, mengeluarkan beberapa pucuk surat, membuang semuanya, kemudian kembali ke taksi. Salah satu mobil kami mengikutinya ke M Street lagi, di sana dia keluar dan menyusup ke dalam rumah kembali. Mobil yang satu lagi tetap di tempat kotak pos tadi. Kami memeriksa tempat sampah, dan menemukan enam pucuk surat sampah, jelas miliknya. Alamatnya Al Konyers, Box 455, Mailbox America, 39380 Western Avenue, Chevy Chase.”

“Jadi dia tak mendapatkan apa yang dicarinya?” tanya Teddy.

“Kelihatannya dia mencampakkan semua yang diambilnya dari kotaknya. Ini videonya,”

Monitor turun dari langit-langit sementara lampu-lampu meredup. Kamera video menyorot melewati tempat parkir, melewati taksi, dan terfokus pada sosok Aaron Lake yang mengenakan kaus longgar waktu pria itu menghilang di balik tikungan masuk ke Mailbox America. Beberapa detik kemudian dia

.71

muncul lagi, memeriksa beberapa surat dan kertas di tangan kanan. Dia berhenti sebentar di pintu, lalu membuang semuanya ke tempat sampah tinggi. “Apa sih yang dicarinya?” gumam Teddy. Lake meninggalkan gedung itu dan cepat-cepat merunduk masuk taksi. Video berhenti; lampu-lampu terang lagi.

Deville mengakhiri ceritanya. “Kami yakin menemukan kertas-kertas yang benar di dalam tempat . sampah. Kami ke sana dalam hitungan detik, dan tak ada yang memasuki lokasi sementara kami menunggu. Waktunya 24.58. Satu jam kemudian, kami masuk lagi dan memalsu anak kunci Kotak 455, jadi kita akan punya akses kapan pun kita membutuhkannya.”

“Cek setiap hari,” perintah Teddy. “Catat semua surat. Biarkan surat-surat sampahnya, tapi kalau ada sesuatu, aku ingin mengetahuinya.”

“Baik. Mr. Lake memasuki kembali jendela ruang bawah tanah pukul 01.22 dan tinggal di rumah sepanjang malam itu. Dia di sana sekarang.”

“Cukup,” kata Teddy, dan Deville meninggalkan ruangan.

Semenit berlalu sementara Teddy mengaduk kopi. “Berapa alamat yang dimilikinya?”

York tahu atasannya akan menanyakan hal itu. Dia memandang catatannya sekilas. “Dia menerima sebagian besar surat pribadinya di rumahnya di Georgetown. Dia punya paling tidak dua alamat di Capitol Hill, satu di kantornya, satu lagi di Armed Services Committee. Dia memiliki tiga kantor di Arizona. Berarti setahu kami alamatnya ada enam.” “Kenapa dia membutuhkan alamat ketujuh?”

“Aku tak tahu alasannya, tapi pasti tak bagus. Kalau tidak memiliki sesuatu yang harus disembunyi kan, orang takkan memakai nama alias atau alamat

rahasia.”

“Kapan dia menyewa kotak itu?”

“Kami masih menyelidikinya.”

“Mungkin dia menyewa kotak itu setelah memutuskan ikut pemilihan. Dia sadar CIA mengendalikannya, jadi barangkali dia berpikir kita juga mengawasi semuanya. Dan dia merasa membutuhkan privasi sedikit, jadi dia menyewa kotak itu. Mungkin gara-gara pacar yang entah bagaimana lolos dari pengamatan kita. Mungkin dia suka majalah atau video pomo, sesuatu yang dikirim lewat pos.”

Setelah lama senyap, York berkata, “Bisa saja Bagaimana kalau kotak itu disewa berbulan-bulan yang lalu, lama sebelum dia mengikuti pemilihan?”

“Kalau demikian, dia tidak bersembunyi dari kita. Dia bersembunyi dari dunia, dan rahasianya betul-betul mengerikan.”

Dalam keheningan mereka memikirkan rahasia mengerikan Lake, tak ada yang ingin mencoba menebak. Mereka memutuskan untuk semakin meningkatkan pengawasan, dan untuk mengecek kotak pos itu dua kali sehari. Beberapa jam lagi Lake akan keluar kota, pergi untuk bertarung dalam pemilihan pendahuluan lain, dan mereka akan bisa melakukan apa saja dengan kotak tersebut

Kecuali kalau ada orang lain yang mengecek untuknya.

Aaron Lake jadi bintang di Washington. Dari

kantornya di Capitol Hill, dengan murah hati . mengabulkan permintaan wawancara langSu berbagai program warta benta pagi. Dia menerima para senator dan anggota Kongres lain, teman-teman dan mantan-mantan musuh juga, semua mengatakan turut bergembira dan mengucapkan selamat. Dia makan siang dengan staf kampanye, dan setelah itu rapat panjang tentang strategi. Setelah makan malam kilat dengan Elaine Tyner, yang menyampaikan kabar baik mengenai banyak sekali dana baru di D-PAc dia meninggalkan kota dan terbang ke Syracuse untuk menyusun rencana bagi pemilihan pendahuluan New York.

Banyak sekali yang menyambutnya. Bagaimanapun dia sekarang kan calon paling potensial.

Empat Belas

PUSING kepalanya setelah semakin sering mabuk, dan pagi hari ketika membuka mata Trevor berkata pada diri sendiri bahwa dia hams menahan diri. Kau tak bisa nongkrong di Pete’s tiap malam, minum bir murahan bersama para mahasiswi, nonton pertandingan basket kelas teri cuma karena kau bertaruh $1.000 untuk mereka. Tadi malam yang bertanding Logan State dan entah siapa, tim berseragam hijau. Siapa yang peduli dengan Logan State?

Joe Roy Spicer, dialah yang peduli. Spicer bertaruh $500 untuk mereka, Trevor menambahnya dengan $1.000 uangnya sendiri, dan Logan menang untuk mereka. Seminggu terakhir ini, Spicer menebak sepuluh dari dua belas pemenang. Dia memperoleh uang kontan $3.000, dan Trevor dengan senang hati mengekor, mendapat $5.500. Perjudian ternyata jauh lebih menguntungkan daripada pekerjaan sebagai pengacara. Dan orang lain yang menebak pemenangnya!

Dia pergi ke kamar mandi dan mencuci muka

tanpa memandang cermin. Toilet tersumbat sejak kemarin dulu, dan ketika dia mencari-cari penyedot WC di rumahnya yang kotor, telepon berdering. Yang menelepon istrinya, wanita yang dibenci dan membencinya. Begitu mendengar suaranya, dia tahu wanita itu butuh uang. Dia menolak dengan marah dan mandi.

Keadaan di kantor lebih buruk. Sepasang suami-istri yang ingin bercerai datang naik mobil terpisah untuk menyelesaikan negosiasi mengenai pembagian harta. Aset yang mereka perebutkan tidak seberapamangkuk, panci, panggangan rotitapi karena tidak pirnya apa-apa mereka harus memperebutkan sesuatu. Makin sepele barangnya, makin sengit pertengkarannya.

Pengacara mereka terlambat sejam, dan mereka memanfaatkan waktu itu untuk memanaskan perselisihan mereka sampai Jan akhirnya melerai. Sang istri menunggu di kantor Trevor ketika dia terhuyung-huyung masuk dari pintu belakang.

“Dari mana saja kau?” sergah wanita itu cukup keras supaya suaminya di depan bisa mendengar. Sang suami menyerbu, melewati Jan, yang tidak mengejarnya, dan menghambur masuk kantor kecil Trevor.

“Sudah sejam kami menunggu!” semburnya.

“Tutup mulut!” teriak Trevor menggelegar, dan Jan bum-bum keluar gedung. Kedua kliennya terpana mendengar suaranya.

“Duduk!” teriaknya lagi, dan mereka mengempaskan diri ke kursi-kursi kosong. “Kalian membayar $500 untuk perceraian brengsek dan mengira bisa berbuat seenaknya di sini.’” 1

Mereka menatap mata dan mukanya yang merah

dan memutuskan pria ini tidak boleh dianggap sepele. Telepon mulai berdering dan tidak ada yang mengangkatnya. Perasaan mual melanda lagi. Trevor lari dari kantor dan menyeberangi koridor ke kamar mandi. Di sana dia muntah, sepelan mungkin. Toilet tidak bisa mengguyur, rantai logam kecilnya ber-denting-denting di dalam tangki.

Telepon masih berdering. Dia terseret-seret menyusuri koridor untuk memecat Jan, dan ketika tidak dapat menemukannya dia meninggalkan gedung juga. Dia berjalan ke pantai, melepas sepatu dan kaus kaki, lalu membasahi kaki dengan air asin yang dingin.

Dua jam kemudian, Trevor duduk tak bergerak di meja kerja, pintu dikunci untuk mencegah klien masuk, kaki telanjang di atas meja, pasir masih melekat di sela jari-jarinya. Dia butuh tidur dan butuh minum, dia memandangi langit-langit, berusaha mengurutkan prioritasnya. Telepon berdering, kali ini dengan patuh diangkat Jan, yang masih dipekerjakan namun diam-diam memeriksa iklan lowongan kerja.

Dari Brayshears, di Bahama. “Kami menerima transfer, Sir,” katanya.

Trevor kontan berdiri. “Berapa?”

“Seratus ribu, Sir.”

Trevor melirik’jam tangan. Dia punya waktu sekitar satu jam untuk naik pesawat. “Bisa Anda menemui saya pukul setengah empat?” dia bertanya.

“Tentu, Sir.”

Dia meletakkan telepon dan berteriak ke pintu,

“Batalkan acaraku untuk hari ini dan besok. Aku mau pergi.”

“Kau tak punya acara apa pun,” Jan balas berteriak. “Kau kehilangan uang lebih cepat daripada biasanya.”

Dia tidak mau meladeni. Dibantingnya pintu dan pergi.

Penerbangan ke Nassau mula-mula berhenti di Fort Lauderdale, meskipun Trevor nyaris tidak mengetahuinya. Setelah minum bir dua botol dia tertidur pulas. Dua botol lagi di atas Atlantik, dan pramugari terpaksa membangunkannya karena pesawat sudah kosong.

Transfer itu berasal dari Curtis di Dallas, seperti yang sudah diduga. Uang tersebut dikirim oleh sebuah bank Texas, untuk Boomer Realty, dengan alamat Geneva Trust Bank, Nassau. Trevor memotong sepertiga untuk bagiannya, kembali menyembunyikan $25.000 dalam rekening rahasianya sendiri, dan mengambil 8.000 tunai Dia mengucapkan terima kasih pada Mr. Brayshears, mengatakan berharap akan segera bertemu lagi, dan terhuyung-huyung keluar bangunan.

Tak ada niat pulang di benaknya. Dia pergi ke distrik pertokoan tempat banyak turis Amerika berdesak-desakan di trotoar. Dia membutuhkan celana pendek, topi jerami, dan sebotol sunscreen.

Trevor akhirnya berhasil tiba di pantai, di sana menyewa kamar di hotel bagus. Dua ratus dolar semalam, tapi peduli setan. Dia melumuri tubuhnya dengan minyak dan berselonjor di tepi kolam renang, cukup dekat dengan bar. Seorang pelayan berbikini mengambilkannya minuman.

Dia bangun setelah hari gelap, terbakar matahari tapi tidak sampai gosong. Seorang penjaga keamanan mengantarkannya ke kamar. Dia mengempaskan diri ke tempat tidur dan kembali koma. Matahari sudah tinggi lagi sebelum dia bergerak.

Setelah periode istirahat panjang seperti itu, dia bangun dengan pikiran jernih, dan sangat lapar. Dia makan buah-buahan dan pergi mencari perahu layar, tidak bermaksud membeli, tapi memperhatikan detail-detail dengan cermat. Ukuran sembilan meter rasanya cocok, cukup besar untuk ditinggali namun bisa dikendalikan satu kru. Takkan ada penumpang; cuma pelaut kesepian yang berlayar dari pulau ke pulau. Perahu termurah yang ditemukannya berharga $90.000, dan perlu perbaikan.

Tengah hari dia kembali ke kolam renang, berusaha membujuk satu-dua klien melalui ponsel, namun dilakukannya tanpa semangat. Pelayan yang sama membawakannya minuman. Setelah menelepon, dia bersembunyi di balik kacamata hitam dan mencoba berhitung. Namun otaknya tidur pulas.

Dalam sebulan dia memperoleh sekitar $80.000 dalam bentuk uang gelap yang bebas pajak. Bisakah kecepatan datangnya uang ini berlanjut? Jika dapat, dia akan punya jutaan dolar dalam setahun, bisa meninggalkan kantor dan sisa kariernya, lalu dapat membeli perahu kecilnya dan mengarungi lautan.

Untuk pertama kalinya, mimpi itu terasa hampir nyata. Dia bisa membayangkan dirinya memegang kemudi perahu, tak berbaju, tak bersepatu, bir dingin siap diminum, meluncur di air dari sahi pulau ke ribuan pulau lain, angin meniup layar utama, tak

perlu mencemaskan apa pun. Dia memejamkan mata

dan makin ingin pergi.

Dengkurnya membangunkannya. Si bikini berdiri di dekatnya. Dia memesan rum dan melihat jam tangan.

Dua hari kemudian Trevor akhirnya berhasil kembali ke Trumble Dia datang dengan perasaan campur aduk. Dia cukup bersemangat untuk mengambil surat dan membantu tipuan ini, bersemangat untuk membuat pemerasan ini terus berlangsung dan uang mengalir masuk. Di lain pihak, dia terlambat dan Hakim Spicer pasti takkan senang.

‘Dari mana saja kau?” geram Spicer padanya begitu penjaga meninggalkan ruang rapat pengacara. Rasanya akhir-akhir ini semua orang mengajukan pertanyaan itu. “Aku kehilangan tiga pertandingan gara-gara kau, padahal semua yang kujagokan jadi pemenang.”

“Bahama. Kita mendapat seratus ribu dari Curtis di Dallas.”

Suasana hati Spicer berubah drastis. “Butuh tiga hari untuk mengecek transfer di Bahama?” dia bertanya.

“Aku butuh istirahat sedikit. Tak tahu aku harus mengunjungi tempat ini tiap hari.”

Spicer segera melunak. Dia baru saja memperoleh $22.000 lagi. Uang itu tersimpan aman bersama yang lainnya, di tempat yang tak bisa ditemukan siapa pun, dan ketika menyerahkan setumpuk lagi amplop berwarna manis dia memikirkan berbagai cara untuk menghabiskan uang tersebut.

J “Banyak sekali,” kata Trevor, mengambil suratI surat itu.

I “Keberatan? Kau mendapat lebih banyak daripada

j kami.”

I “Risikoku lebih besar.”

Spicer menyodorkan selembar kertas. “Aku sudah memilih sepuluh pertandingan di sini. Masing-masing

$500.”

Hebat, pikir Trevor. Akhir pekan panjang lagi di Pete’s, menonton pertandingan demi pertandingan. Yah, banyak tugas yang lebih tidak enak. Mereka bermain blackjack sampai penjaga menyudahi pertemuan itu.

Kunjungan Trevor semakin sering dibicarakan sipir dan para pejabat tinggi di Bureau of Prisons di Washington. Urusan administrasi tentang masalah itu diperumit. Pembatasan sempat dipertimbangkan, tapi lalu dibatalkan. Kunjungan-kunjungannya tak bermanfaat, lagi pula sipir tidak mau mengisolasi Majelis. Buat apa cari masalah?

Pengacara itu tak berbahaya. Setelah menelepon ke sana kemari di sekitar Jacksonville, mereka memutuskan bahwa Trevor bisa dibilang tak dikenal dan barangkali tak punya kegiatan selain duduk-duduk di ruang rapat pengacara sebuah penjara.

Uang itu memberi kehidupan baru bagi Beech dan Yarber. Setelah memperolehnya, mereka tentu perlu menghabiskannya, dan itu bisa terjadi di saat mereka pergi sebagai manusia bebas, bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan harta mereka yang terus bertambah.

Dengan sekitar $50.000 di bank, Yarber sibuk merencanakan portfolio investasi. Tak masuk akal membiarkan uang tersebut teronggok begitu saja dengan bunga 5 persen per tahun, bahkan walaupun tanpa pajak. Suatu hari yang tidak lama lagi dia akan menanamkannya dalam pengembangan dana agresif, dengan tekanan pada Timur Jauh. Asia akan melaju lagi, dan tumpukan kecil uang kotornya akan ada di sana untuk ikut menikmati kekayaan. Dia bebas lima tahun lagi, dan kalau dia memperoleh antara 12 sampai 15 persen bunga dari uangnya, sampai saat itu 50.000-nya akan bertambah jadi kira-kira 100.000 saat dia meninggalkan Trumble. Bukan awal yang jelek untuk pria yang akan berusia 65 tahun, dan semoga tetap sehat walafiat.

Tapi jika dia (serta Percy dan Ricky) bisa terus menambah modal pokok, dia mungkin betul-betul akan kaya ketika mereka membebaskannya. Lima tahun yang menyebalkanbulan-bulan dan minggu-minggu yang dibencinya. Sekarang dia mendadak bertanya-tanya apakah dia punya cukup waktu untuk memeras semua yang diperlukannya. Sebagai Percy, dia menulis surat kepada lebih dari dua puluh sahabat pena di seluruh Amerika Utara. Tak satu pun tinggal di kota yang sama. Spicer bertugas memastikan para korban berada di tempat yang terpisah. Peta-peta digunakan di perpustakaan untuk menjamin baik Percy maupun Ricky tidak berkorespondensi dengan pria-pria yang tampaknya tinggal berdekatan.

Kalau sedang tidak-menulis surat, Yarber memikirkan uang itu. Syukurlah surat-surat perceraian dari istrinya telah datang dan pergi. Beberapa bulan lagi

secara resmi dia akan jadi bujangan, dan waktu dia dibebaskan bersyarat, istrinya akan sudah lama melupakannya. Takkan ada yang dibagi. Dia akan bebas pergi tanpa hambatan apa pun.

Lima tahun, dan begitu banyak yang harus dilakukannya. Dia sudah mengurangi konsumsi gula dan berjalan 1,6 kilometer lebih jauh tiap hari.

Dalam kegelapan tempat tidur atasnya, di malam-malam dia tak bisa tidur, Hatlee Beech menghitung hal yang sama dengan kedua koleganya. Lima puluh ribu dolar di tangan, persentase bunga yang sehat di suatu tempat, ditambahkan ke modal dengan memeras sebanyak mungkin korban yang bisa mereka tangkap, dan suatu hari nanti hartanya akan melimpah. Beech bebas sembilan tahun lagi, maraton yang pernah terasa takkan berakhir. Sekarang ada secercah harapan. Hukuman mati yang mereka jatuhkan padanya perlahan-lahan berubah jadi musim panen. Secara konservatif, jika tipuan ini memberinya hanya $100.000 setahun selama sembilan tahun yang akan datang, plus persentase bunga yang sehat, dia akan jadi multijutawan ketika berdansa keluar dari pintu gerbang, juga di usia 65 tahun. Dua, tiga, empat juta bukan jumlah yang mustahil. Dia tahu pasti apa yang akan dilakukannya Karena mencintai Texas, dia akan pergi ke Galveston dan membeli salah satu rumah antik bergaya Victoria dekat laut, dan dia akan mengundang teman-teman lama untuk mampir dan melihat betapa kayanya dia. Lupakan hukum, dia telah bekerja dua belas jam sehari untuk mengumpulkan uang, hanya bekerja, hanya uang, supaya ketika dia berusia tujuh puluh

tahun uangnya akan lebih banyak daripada uang mantan istrinya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Hatlee Beech berpikir dia mungkin bisa mencapai umur 65, mungkin 70 tahun.

Dia juga berhenti mengkonsumsi gula dan mentega, mengurangi rokok sampai setengah dengan tujuan berhenti total tak lama lagi. Dia bertekad menjauhi klinik dan berhenti minum pil. Dia mulai berjalan 1,6 kilometer sehari, di bawah sinar matahari, seperti koleganya dari California. Dan dia menulis surat, dia dan Ricky.

Dan karena sudah memiliki motivasi cukup, Hakim Spicer jadi susah tidur. Dia tidak dihantui perasaan bersalah, kesepian, atau terhina, juga tidak merasa tertekan karena masuk penjara. Dia cuma menghitung uang. menimbang-nimbang persentase bunga, dan menganalisis skor pertandingan. Dengan tinggal menjalani 21 bulan, dia bisa melihat akhir penderitaannya.

Istrinya yang cantik, Rita, datang minggu lalu, dan mereka bersama-sama selama empat jam dalam dua hari. Rita telah memotong rambutnya, berhenti minum, dan lebih kurus sembilan kilo, serta berjanji akan lebih kurus lagi ketika menjemputnya di gerbang depan tak sampai dua tahun lagi. Setelah empat jam bersamanya, Joe Roy yakin $90.000-nya masih terkubur di belakang gudang peralatan.

Mereka akan pindah ke Vegas, membeli kondominium baru, dan masa bodoh dengan para penghuni dunia lainnya.

Dengan demikian berhasilnya tipuan Percy-dan-

184

Ricky, ada hal baru yang dicemaskan Spicer. Dia akan meninggalkan Trumble lebih dulu, bahagia, senang, tak mau menoleh ke masa lalu. Tapi bagaimana dengan uang yang diperoleh setelah dia pergi? Jika tipuan ini terus menghasilkan uang, bagaimana dengan jatahnya dalam perolehan yang akan datang, uang yang jelas berhak diterimanya? Bagaimanapun, ini kan idenya, yang dipinjamnya dari penjara di Louisiana. Dulu Beech dan Yarber tidak mau ikut.

Dia punya waktu untuk merancang strategi pergi, juga punya waktu untuk mencari cara menyingkirkan. pengacara itu. Tapi itu berarti dia harus kehilangan beberapa jam tidurnya.

Surat dari Quince Garbe di Iowa dibacakan Beech: “‘Dear Ricky (atau bajingan busuk siapa pun kau): Aku tidak punya uang ‘lagi. Seratus ribu pertama dulu kupinjam dari bank dengan menggunakan laporan finansial palsu. Aku tidak tahu bagaimana aku akan membayarnya. Ayahku memiliki bank kami dan semua uangnya. Kenapa tidak kausurati saja dia, bangsat! Aku mungkin bisa mengorek $10.000 kalau kita bisa bersepakat bahwa pemerasan ini akan berakhir di sini. Aku nyaris bunuh diri, jadi jangan memaksa. Kau penjahat, kau tahu itu. Kuharap kau tertangkap. Salam, Quince Garbe.’”

“Kedengarannya lumayan putus asa,” komentar Yarber, mendongak dari tumpukan suratnya sendiri.

Dengan tusuk gigi menggantung dari bibir bawahnya Spicer berkata, “Bilang padanya kita mau menerima 25.000.”

“Akan kusurati dan kusuruh dia mentran f kata Beech, membuka sebuah amplop | S. yar ditujukan kepada Ricky. Van

Lima Belas

PADA jam makan siang, ketika pengalaman menunjukkan bahwa jumlah orang yang lalu-lalang di Mailbox America meningkat, seorang agen dengan santai memasuki tempat itu di belakang dua pelanggan lain, dan untuk kedua kalinya hari itu membuka Kotak 455. Dia melihat ada sesuatu yang baru, tergeletak di atas tiga pucuk surat sampah dari restoran piza, tempat cuci mobil, Dinas Pos AS. Benda itu berupa amplop, berwarna Jingga muda, 12,5 kali 20 sentimeter. Dengan pinset yang selalu dibawanya di gantungan kunci, dia menjepit ujung amplop, menariknya cepat-cepat dari kotak, dan menjatuhkannya ke dalam tas kerja kulit kecil. Surat-surat sampah itu tidak diutak-atik.

Di Langley, amplop tersebut dibuka para pakar dengan hati-hati. Dua lembar kertas bertulisan tangan dikeluarkan, dan difotokopi.

Sejam kemudian, Deville memasuki bungker Teddy, memegang map. Deville bertanggung jawab atas apa yang secara umum, jauh di dalam Langley, disebut sebagai “masalah Lake”. Dia menyerahkan salinan

surat itu pada Teddy dan York, kemudian menampilkannya di layar besar. Teddy dan York mula-mula cuma terpana memandanginya. Tulisannya tebal, dalam huruf besar, mudah dibaca, seolah si penulis menuliskan setiap patah kata pelan-pelan. Surat itu berbunyi:

Dear Al:

Ke mana saja kau? Apakah kau menerima suratku yang terakhir? Aku menulisnya tiga minggu yang lalu dan sampai sekarang belum menerima kabar. Kurasa kau sibuk, tapi kumohon jangan lupakan aku. Aku sangat kesepian di sini, dan surat-suratmu selalu mendorongku untuk terus maju. Surat-surat itu memberiku kekuatan dan harapan, karena aku jadi tahu ada yang peduli pada diriku. Kumohon jangan tinggalkan aku, Al.

Konselorku bilang mungkin aku akan dibebaskan dua minggu lagi Di Baltimore ada lembaga pemasyarakatan, beberapa mil dari tempat aku dibesarkan, dan orang-orang di sini berusaha mendapatkan tempat untukku di sana. Aku akan di sana selama sembilan puluh hari, cukup waktu bagiku untuk mencari pekerjaan, teman, dsb., kau tahu, membiasakan diri dengan masyarakat lagi. Malam hari tempat itu dikunci, tapi sepanjang siang aku akan bebas.

Aku tidak punya banyak kenangan manis, Al. Semua orang yang menyayangiku sekarang telah tiada, dan pamanku, orang yang membayar rehabilitasi ini, sangat kaya tapi sangat kejam, Aku amat sangat membutuhkan teman, Al.

188

O ya, berat badanku turun dua setengah kilo lagi, dan pinggangku sekarang 32. Foto yang kukirimkan padamu sudah tidak mirip. Aku tidak

pernah menyukai tampangku di situpipiku terlalu tembam.

Aku sekarang jauh lebih langsing, dan cokelat terbakar matahari. Mereka mengizinkan kami berjemur sampai dua jam sehari di sini, kalau cuaca memungkinkan. Tempat ini memang di Florida, namun kadang-kadang udara terlalu sejuk. Kau akan lcuMrimi fotoku lagi, mungkin yang sedada. Aku rajin sekali latihan beban. Kurasa kau akan menyukai fotoku yang berikut.

Kau bilang akan mengirimkan fotomu padaku. Aku terus menunggu. Kumohon jangan lupakan aku, Al. Aku membutuhkan suratmu.

Love, Ricky

Karena bertanggung jawab atas penyelidikan semua aspek kehidupan Lake, York merasa harus berusaha bicara lebih dulu. Namun dia tak mampu berkata-kata. Mereka kembali membaca surat itu dalam keheningan, lalu sekali lagi.

Akhirnya, Deville memecah kesunyian dengan berkata, “Ini amplopnya.” Dia menampilkannya di dinding. Amplop tersebut dialamatkan kepada Mr. Al Konyers, di Mailbox America. Alamat pengirimnya adalah: Ricky, Aladdin North, P.O. Box 44683, Neptune Beach, FL 32233.

“Alamatnya palsu,” Deville memberitahu. “Tak ada tempat bernama Aladdin North. Ada nomor telepon, tapi cuma jasa penjawab. Kami sudah menelepon ke

189 sana sepuluh kali untuk bertanya, tapi para operator, nya tak tahu apa-apa. Kami sudah menghubungi semua klinik rehabilitasi dan pengobatan di North Florida, dan tak seorang pun pernah mendengar tentang tempat ini.”

Teddy diam, terus menatap dinding.

di mana Neptune Beach?” dengus York.

“Jacksonville.”

Deville diizinkan pergi, tapi disuruh berjaga-jaga. Teddy mulai mencatat di notes hijau. “Ada surat-surat lain, dan paling tidak selembar foto,” katanya, seakan masalah ini rutin. Teddy Maynard tidak mengenal yang namanya panik.

“Kita harus menemukannya,” dia berkata.

“Kami sudah dua kali memeriksa rumahnya secara menyeluruh,” ujar York.

“Kalau begitu periksa lagi. Aku tak yakin dia menyimpan benda-benda seperti itu di kantor.”

“Kapan”

“Lakukan sekarang. Lake sedang mengumpulkan suara di California. Kita tak punya waktu untuk menangani masalah ini, York. Mungkin saja ada kotak-kotak rahasia lain, pria-pria lain yang menulis surat dan berkoar-koar tentang kulit cokelat dan ukuran pinggang mereka.”

“Kau akan mengkonfrontasinya?”

“Belum”

Karena mereka tidak punya contoh tulisan tangan Mr. Konyers, Deville mengajukan usul yang akhirnya disukai Teddy. Mereka akan menggunakan laptop baru, yang dilengkapi built-in printer. Konsep pertama

disusun oleh Deville dan York, lalu setelah kira-kira sejam, konsep keempat berbunyi sebagai berikut:

Dear Ricky:

Aku sudah menerima suratmu yang tanggal 22; maafkan aku karena baru sekarang membalasnya. Akhir-akhir ini aku sering bepergian, dan banyak urusanku yang terbengkalai. Malahan, aku menulis surat ini pun pada ketinggian 10.500 meter, di atas Teluk, dalam perjalanan ke Tampa. Dan aku memakai laptop baru, yang begitu kecil sehingga nyaris muat di kantongku. Teknologi menakjubkan. Printer-nya kurang bagus. Kuharap kau bisa membacanya dengan jelas.

Kabar sangat bagus mengenai pembebasanmu, dan lembaga pemasyarakatan di Baltimore itu. Aku punya beberapa bisnis di sana, dan aku yakin bisa membantumu mendapatkan pekerjaan.

Jangan patah semangat, tinggal dua bulan lagi. Kau jauh lebih kuat sekarang, dan siap menikmati hidup semaksimal mungkin.

Aku akan membantu sebisa mungkin. Kalau kau sudah di Baltimore, dengan senang hati aku akan menemanimu, mengajakmu jalan-jalan, kau tahu.

Aku berjanji akan membalas suratmu lebih cepat. Aku tak sabar mendengar kabar darimu.

Love, Al

Mereka memutuskan Al sedang buru-buru dan lupa menandatangani suratnya. Surat itu dianalisis, direvisi, ditulis ulang, dipelajari dengan lebih teliti daripada

perjanjian. Versi finalnya dicetak pada selembar kertas surat Royal Sonesta Hotel di New Orleans, dan dimasukkan ke amplop cokelat tebal dengan kabel optik tersembunyi di sepanjang tepi bawah. Di sudut kanan bawah, di tempat yang tampak seolah rusak sedikit dan tertekuk dalam perjalanan, dipasang pemancar seukuran kepala peniti. Setelah diaktifkan, pemancar tersebut akan mengirim sinyal sejauh seratus meter selama tiga hari.

Karena Al bepergian ke Tampa, amplop itu dicap dengan stempel pos Tampa. bertanggal hari itu. Ini dilakukan tak sampai setengah jam oleh tim yang terdiri atas orang-orang yang sangat aneh di Dokumen di lantai dua.

Pukul 16.00, sebuah van hijau kotor berhenti di depan tovmhouse Aaron Lake, dekat salah satu pohon peneduh di Thirty-fourth, di daerah indah Georgetown. Pintunya bertuliskan nama perusahaan perbaikan saluran air di District Empat tukang keluar dan mulai menurunkan peralatan.

Setelah beberapa menit, satu-satunya tetangga yang memperhatikan jadi bosan dan kembali menonton televisi. Karena Lake pergi ke California, Secret Service pun mengikutinya ke sana, dan rumahnya tidak diawasi 24 jam, setidaknya oleh Secret Service. Namun pengawasan itu akan segera dilakukan.

Kedoknya adalah saluran limbah di halaman depan kecil yang tersumbat, masalah yang bisa dibereskan tanpa memasuki rumah. Pekerjaan di luar, sehingga Secret Service takkan curiga seandainya mereka kebetulan datang.

Tapi dua tukang ternyata masuk rumah, dengan anak kunci mereka sendiri. Van lain mampir untuk mengecek kemajuan, dan untuk mengantarkan alat. Dua tukang dari mobil kedua bergabung dengan yang sudah di sana, dan sebuah unit reguler mulai terbentuk.

Di dalam rumah, empat agen dengan teliti mulai mencari map-map yang disembunyikan. Mereka bergerak dari kamar ke kamar, memeriksa hal-hal yang kelihatan, mengorek yang rahasia.

Van kedua pergi, dan mobil ketiga datang dari arah lain lalu parkir dengan ban naik ke trotoar, seperti kebiasaan van tukang. Empat tukang lagi ikut membersihkan saluran limbah, dan dua orang pelan-pelan akhirnya masuk rumah. Setelah gelap, lampu sorot dipasang di halaman depan, di atas tutup saluran, dan diarahkan ke rumah supaya cahaya di dalam tidak kelihatan. Keempat orang yang di luar meneguk kopi, bercanda, dan berusaha menghangatkan badan. Para tetangga berjalan cepat melewati mereka.

Enam jam kemudian saluran sudah bersih, begitu juga rumahnya. Tak ditemukan sesuatu yang ganjil, yang jelas tidak ada map tersembunyi berisi surat dari orang bernama Ricky di klinik rehabilitasi. Tidak ada foto. Para tukang mematikan lampu mereka, mengemasi peralatan, dan menghilang tanpa jejak.

Pukul 08.30 keesokan harinya, waktu pintu-pintu kantor pos Neptune Beach dibuka, seorang agen bernama Barr berjalan terburu-buru seolah dia sudah terlambat. Barr ahli kunci, dan kemarin siang menghabiskan waktu lima jam di Langley untuk mem-

193

pelajari berbagai kotak yang digunakan Dinas Pos. Dia punya empat kunci utama, salah satunya dia 1 yakin bisa membuka nomor 44683. Jika tidak, dia terpaksa membongkar kunci itu dengan alat, yang mungkin akan makan waktu sekitar enam puluh detik dan bisa menarik perhatian. Kunci ketiga berhasil, dan Barr meletakkan amplop cokelat itu, bertanggal sehari sebelumnya dari Tampa, dialamatkan kepada Ricky tanpa nama belakang, dengan alamat Aladdin North. Di dalam kotak itu sudah ada dua surat lain. Sebagai tambahan, dia mengeluarkan sebuah surat sampah, lalu menutup pintu kotak, meremas surat tadi, dan mencampakkannya ke tempat sampah.

Barr dan dua agen lainnya menunggu dengan sabar di dalam van di tempat parkir, meneguk kopi dan memvideokan semua pelanggan pos. Mereka berada tujuh puluh meter dari kotak itu. Alat penerima mereka berbunyi karena sinyal samar dari amplop. Sekelompok orang datang dan pergi bersama arus pelangganwanita kulit hitam bergaun cokelat pendek, pria kulit putih berjanggut dan berjaket kulit, wanita kulit putih berpakaian joging, pria kulit hitam berjinssemuanya agen C1A, semuanya mengawasi kotak tanpa tahu siapa yang menulis surat itu atau ke mana tujuannya. Tugas mereka hanya menemukan siapa yang menyewa kotak tersebut.

Mereka menemukannya setelah makan siang.

Trevor meminum makan siangnya di Pete’s, tapi cuma dua botol bir. Bir dingin dengan kacang asin dari mangkuk bersama, dinikmati sambil kalah taruhan

194

$50 untuk lomba kereta luncur anjing di Calgary. Kembali ke kantor, dia tidur siang satu jam, mendengkur begitu keras hingga sekretarisnya yang tabah akhirnya terpaksa menutup pintu ruangannya. Sebetulnya wanita itu membantingnya, tapi tidak cukup keras untuk membangunkannya.

Sambil melamun tentang perahu layar, dia pergi ke kantor pos, kali ini memilih berjalan kaki karena cuaca cerah, dia tidak punya kegiatan yang lebih baik, dan pikirannya perlu dijernihkan. Dia senang mendapati empat harta kecilnya tertumpuk rapi di dalam kotak Aladdin North. Dengan hati-hati dia menyimpannya di jas seersucker-nya yang lusuh, merapikan dasi kupu-kupunya, dan berjalan riang, yakin tak lama lagi akan memperoleh uang.

Dia tidak pernah tergoda untuk membaca surat-surat itu. Biarkan Majelis melakukan pekerjaan kotornya. Dia bisa menjaga tangannya tetap bersih, membawa surat-surat, memotong jatahnya yang sepertiga bagian. Lagi pula, Spicer bakal membunuhnya jika dia mengantarkan surat yang sudah dibuka.

Tujuh agen mengawasinya berjalan santai kembali ke kantor.

Teddy sedang tidur di kursi roda waktu Deville masuk. York sudah pulang; sekarang pukul 22.00 lewat. York punya istri, Teddy tidak.

Deville menyampaikan laporan sambil membaca catatan berlembar-lembar: “Surat itu diambil dari kotak pada pukul 13.50 oleh seorang pengacara lokal bernama Trevor Carson. Kami membuntutinya ke kantornya di Neptune Beach, dia di sana selama

delapan puluh menit Kantornya kecil, dengan seorang sekretaris, tidak banyak klien. Carson pengacara kelas teri di sepanjang pantai itu, menangani perceraian, real estate, kasus-kasus sepele. Dia berumur 48, bercerai setidaknya dua kali, lahir di Pennsylvania, college di Furman, kuliah hukum di Florida State, izin prakteknya dicabut sementara sebelas tahun yang lalu karena mencampuradukkan dana klien-klien, lalu memperoleh izin praktek kembali.” “Baik, baik,” kata Teddy.

“Pukul 15.30, dia meninggalkan kantor, mengemudi sejam ke penjara federal di Trumble, Florida. Membawa surat-surat itu. Kami mengikuti namun kehilangan sinyal waktu dia memasuki penjara. Sejak saat itu, kami telah mengumpulkan informasi tentang Trumble. Penjara itu berpenjagaan minimum, biasanya disebut sebagai kamp. Tidak ada dinding atau pagar, para penghuninya narapidana berisiko sangat rendah. Ada seribu orang di Trumble. Menurut sumber di Bureau of Prisons di Washington sini, Carson sering berkunjung. Tak ada pengacara, atau orang, datang sesering Carson. Sampai sebulan yang lalu dia datang sekali seminggu, sekarang paling tidak tiga kali seminggu. Kadang-kadang empat. Semua kunjungannya adalah pertemuan resmi pengacara-klien.”

“Siapa kliennya?”

“Bukan Ricky. Dia pengacara resmi tiga hakim.”

“Tiga hakim?”

“Ya.”

“Tiga hakim di penjara?”

“Betul. Mereka menyebut diri Majelis.”

Teddy memejamkan mata dan menggosok pelipis.

Deville membiarkan situasi hening sejenak, lalu melanjutkan, “Carson di dalam penjara selama 54 menit, dan ketika dia keluar kami tak dapat menangkap sinyal dari amplop. Saat itu, kami sudah parkir di samping mobilnya. Dia berjalan sekitar satu setengah meter dari alat penerima kami, dan kami yakin dia tak membawa surat itu. Kami membuntutinya kembali ke Jacksonville, kembali ke pantai. Dia parkir di dekat tempat bernama Pete’s Bar and Grill, dia di sana selama tiga jam. Kami menggeledah mobilnya, menemukan tas kerjanya, dan di dalamnya terdapat delapan surat yang dialamatkan ke berbagai pria di seluruh penjuru negara. Semua surat ditujukan ke luar penjara, tidak ada yang ke dalam. Rupanya Carson menjadi kurir surat untuk para kliennya. Tiga puluh menit yang lalu, dia masih di bar, lumayan mabuk, bertaruh untuk pertandingan basket college.”

“Pecundang.”

“Persis.”

Si pecundang terhuyung-huyung keluar dari Pete’s setelah perpanjangan waktu kedua pertandingan di Pantai Barat. Spicer menebak tiga dari empat pemenang. Trevor dengan patuh mengikutinya, dan menang seribu dolar dalam semalam.

Karena mabuk, dia tidak mau mengemudi. Dia ditahan karena mengemudi dalam keadaan mabuk tiga tahun lalu, peristiwa itu masih jelas dalam ingatannya, lagi pula di mana-mana ada polisi. Berbagai restoran dan bar di sekitar Sea Turtle Inn menarik banyak anak muda yang sering bikin onar, sehingga menarik polisi juga.

men.

Namun jalan kaki ternyata sulit Dia berhasil capai kantornya, berjalan lurus ke selatan, mekw rumah-rumah musim panas kecil sewaan yang tena^ 1 dan pondok-pondok peristirahatan, semua gelap ^ ‘] senyap karena sudah larut malam. Dia membawa tas kerja berisi surat-surat dari Trumble

Dia terus maju, mencari-cari rumahnya. Dia menyeberang jalan tanpa alasan, dan setengah blok kemudian menyeberang lagi. Tak ada kendaraan yang J melintas. Ketika mulai berputar kembali, dia cuma dua puluh meter dari seorang agen yang merunduk di balik mobil yang diparkir. Pasukan tanpa suara mengawasinya, tiba-tiba takut si pemabuk tolol itu tanpa sengaja menemukan mereka. -. v Akhirnya dia menyerah, dan berusaha menemukan kantornya lagi. Dia memilih-milih, kunci di tangga depan, menjatuhkan tas kerjanya dan melupakannya, Ś lalu tak sampai semenit setelah membuka pintu dia sudah berada di meja kerja, terkapar di kursi putar, tertidur pulas, pintu depan setengah terbuka.

Pintu belakang tidak terkunci semalaman. Mengikuti perintah dari Langley, Barr dan kelompoknya telah memasuki kantor dan memasang alat penyadap di berbagai benda. Tidak ada sistem alarm, tidak ada kunci di jendela, tidak ada barang berharga yang bisa memancing pencurian. Telepon dan dinding ternyata gampang disadap, dikarenakan fakta bahwa tak seorang pun di luar mengamati apa pun di dalam kantor L. Trevor Carson, pengacara dan penasihat hukum.

Tas kerjanya dibongkar, isinya dicatat sesuai instruksi Langley. Langley menginginkan catatan leliti

198

tang surat-surat yang diambil si pengacara dari Tromble. Setelah semua diperiksa dan difoto, tas itu diletakkan di dekat kantornya. Dengkurannya keras sekali, dan tanpa henti.

Tak lama sebelum pukul 02.00, Barr berhasil menghidupkan Beetle yang diparkir di dekat Pete’s. Dia mengemudikannya ke jalan kosong dan meninggalkannya begitu saja di depan kantor hukum tersebut, supaya beberapa jam lagi si pemabuk mengucek-ngucek matanya dan memuji dirinya sendiri karena masih sanggup mengemudi. Atau barangkali dia akan ketakutan karena telah menyetir dalam keadaan mabuk lagi. Yang mana pun, mereka akan mendengarkan.

199

Enam Belas

T’ IGA puluh tujuh jam sebelum jajak pendapat di Virginia dan Washington dibuka, Presiden tampil dalam siaran langsung televisi nasional untuk mengumumkan bahwa dia telah memerintahkan serangan udara di dan sekitar kota Tunisia bernama Talah. Unit teroris Yidal diyakini dilatih di sana, dalam kamp berlogistik lengkap di pinggir kota.

Maka rakyat pun asyik menonton satu lagi perang mini, perang tombol tekan dan bom pintar, jenderal-jenderal purnawirawan mengoceh di CNN tentang strategi ini atau itu. Di Tunisia masih gelap, jadi tidak ada gambar. Para pensiunan jenderal dan pewawancara berotak kosong mereka sibuk menduga-duga. Dan menunggu. Menunggu matahari terbit supaya asap dan reruntuhan bisa disiarkan ke negara yang sudah jenuh dengan peristiwa serupa.

Namun Yidal punya sumber informasi, kemungkinan besar Israel. Kamp tersebut kosong ketika bom-bom pintar mendadak jatuh entah dari mana. Bom-bom itu mengenai sasaran, mengguncang padang pasir, meluluhlantakkan kamp, namun tidak membunuh seorang teroris pun. Beberapa bom meleset, satu nyasar ke pusat kota Talah, menghantam rumah sakit. Satu bom lagi menghancurkan rumah kecil tempat keluarga beranggota tujuh orang sedang tidur nyenyak. Syukurlah mereka tidak pernah mengetahui apa yang terjadi.

Televisi Tunisia dengan cepat meliput rumah sakit yang terbakar itu, dan pada pagi hari dj Pantai Timur, Amerika mengetahui bahwa bom-bom pintar itu ternyata tidaklah terlalu pintar. Paling tidak lima puluh korban telah dikeluarkan, semuanya rakyat sipil yang tak tahu apa-apa.

Pagi hari itu, tidak seperti biasanya, Presiden menghindari para reporter, dan tak dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Wakil Presiden, orang yang banyak bicara ketika serangan dimulai, mengurung diri bersama stafnya di suatu tempat di Washington.

Mayat-mayat dikumpulkan, kamera-kamera menyorot, dan menjelang siang reaksi dunia keras, brutal, dan senada. Cina mengancam perang. Prancis tampaknya cenderung bergabung dengan mereka. Bahkan Inggris pun mengatakan Amerika Serikat terlalu ringan tangan.

Karena para korban hanyalah petani-petani Tunisia, bukan warga Amerika, para politisi dengan segera mempolitisir kejadian itu. Tudingan, celaan, dan tuntutan penyelidikan yang biasa dilontarkan sebelum siang di Washington. Dan di sirkuit kampanye, pihak-pihak yang rnasih bertarung menyisihkan beberapa menit untuk berkomentar bahwa misi itu memang sejak awal sudah buruk. Tak seorang pun di antara mereka akan melakukan pembalasan senekat itu tanpa

mi

intelijen yang lebih baik. Bersamaan dengan dihitung, nya jumlah korban, tidak saru kandidat pun berpendapat serangan tersebut pantas dilancarkan dengan risiko seperti itu. Semua mengutuk Presiden.

Tapi Aaron Lake-lah yang paling menarik perhatian. Dia jadi sulit bergerak tanpa menyenggol juru kamera. Dengan pernyataan yang disusun hati-hati, dia berkata, tanpa teks, “Kita bodoh. Kita tak berdaya Kita lemah. Kita seharusnya malu pada ketidakmampuan kita melenyapkan pasukan kecil kumal yang terdiri atas kurang dari lima puluh pengecut Anda tak bisa sekadar menekan tombol dan bersembunyi. Untuk bertempur butuh nyali. Saya punya nyali. Saat saya jadi presiden, tak satu pun teroris yang berlumuran darah rakyat Amerika akan selamat. Itu janji saya.”

Dalam kemarahan dan kekacauan pagi itu, kata-kata Lake tepat mengenai sasaran. Inilah orang yang tidak main-main dengan omongannya, yang tahu persis apa yang akan dilakukannya. Kita takkan mengorbankan petani-petani tak berdosa jika yang mengambil keputusan adalah orang yang punya nyali. Lake-lah orang itu.

Di bungker, Teddy bertahan menghadapi satu badai . lagi. Intelijen buruk disalahkan jika ada musibah apa pun. Kalau serangan sukses, para pilot dan tentara pemberani di darat beserta komandan mereka dan politisi yang mengirim mereka ke pertempuran yang dipuji-puji. Tapi kalau serangan gagal, yang biasanya begitu, CIA yang disalahkan. Dia sudah menyarankan supaya serangan itu tidak

dilaksanakan. Israel punya kesepakatan, rapuh dan sangat rahasia dengan Yidaljangan bunuh kami, dan kami takkan membunuhmu. Sepanjang targetnya warga Amerika dan sesekali Eropa, Israel tidak mau terlibat. Teddy tahu ini, tapi itu informasi yang tidak diberitahukannya. Dua puluh empat jam sebelum serangan, dia memberitahu Presiden, dengan surat, bahwa dia ragu teroris tersebut ada di kamp ketika bom-bom dijatuhkan. Dan, karena sasaran di dekat Talah, ada kemungkinan besar terjadi kerusakan tambahan.

Hatlee Beech membuka amplop cokelat itu tanpa menyadari bahwa sudut kanan bawahnya agak kusut dan sedikit rusak. Akhir-akhir ini dia membuka begitu banyak amplop pribadi sehingga hanya melihat alamat pengirim untuk mengetahui dari siapa suratnya. Dia juga tidak menyadari stempel pos Tampa-nya.

Sudah beberapa minggu dia tidak mendengar kabar dari Al Konyers. Dia membaca seluruh isi surat tanpa berhenti, dan nyaris tak berminat pada fakta bahwa Al menggunakan laptop baru. Sangat bisa dipercaya bahwa sahabat pena Ricky mengambil selembar kertas surat dari Royal Sonesta di New Orleans, dan menulis surat pada ketinggian 10.500 meter.

Apakah dia naik penerbangan kelas satu? dia bertanya dalam hati. Mungkin saja. Di kelas ekonomi tidak ada colokan untuk komputer, kan? Al pergi ke New Orleans untuk urusan bisnis,’menginap di hotel yang sangat bagus, lalu terbang dengan kelas satu ke tujuan berikut. Majelis tertarik pada kondisi keuangan semua sahabat pena mereka. Yang lain tak penting. Setelah membaca surat itu, dia menyerahkannya

pada Finn Yarber, yang sedang menulis surat lagi : sebagai Percy yang malang. Mereka bekerja di ruang ) rapat kecil di pojok perpustakaan hukum, meja mereka penuh map, surat dan bermacam-macam kertas warna pastel lembut Spicer di luar, di mejanya, ] menjaga pintu dan mempelajari skor pertandingan.

“Siapa Konyers?” tanya Finn.

Beech membuka map-map. Mereka punya arsip ” rapi setiap sahabat pena, lengkap dengan surat-surat ] yang mereka terima dan salinan semua surat yang mereka kirim.

“Tak banyak yang kita ketahui,” kata Beech. ‘Ting-i gal di daerah D.C., pasti nama palsu. Memakai jasa \ kotak pos. Rasanya itu surat ketiganya.”

Dari map Konyers, Beech mengeluarkan dua surat pertama. Yang tanggal 11 Desember berbunyi:

Dear Ricky:

Halo. Namaku Al Konyers. Umurku lima puluhan. Aku suka jazz, film lama, Humphrey Bogart, dan aku suka membaca biografi. Aku tidak merokok dan tidak menyukai orang yang merokok. Hal-hal yang mengasyikkan menurutku adalah makanan Cina yang dibawa pulang, anggur sedikit, nonton film koboi hitam-putih dengan teman baik. Kabari aku.

Al Konyers

Surat itu diketik pada kertas putih polos, sebagian besar memang begitu. Rasa takut tersirat di antara setiap baristakut ketahuan, takut memulai hubungan jarak jauh dengan orang yang sama sekali tak dikenal.

Setiap huruf dalam setiap kata diketik. Dia bahkan tidak menandatangani surat itu.

Tanggapan pertama Ricky adalah surat standar yang sekarang sudah seratus kali ditulis Beech: Ricky berusia 28 tahun, di klinik rehabilitasi, keluarga tak rukun, paman kaya, dsb. Dan puluhan pertanyaan antusias yang sama: Seperti apa pekerjaanmu? Bagaimana dengan keluargamu? Apakah kau suka bepergian? Jika Ricky bisa mencurahkan isi hatinya, dia membutuhkan balasan. Dua halaman omong kosong yang sudah lima bulan ditulis Beech. Dia ingin sekali memfotokopi saja surat sialan itu. Tapi tidak boleh. Dia terpaksa menulis sendiri setiap surat, pada kertas berwarna manis. Dan dia mengirimi Al foto bocah tampan yang dikirimkannya juga pada yang lain-lain. Foto itu umpan yang berhasil memikat sebagian besar dari mereka.

Tiga minggu berlalu. Tanggal 9 Januari, Trevor mengantarkan surat kedua dari Al Konyers. Surat tersebut sebersih dan sesteril yang pertama, mungkin diketik dengan memakai sarung tangan karet.

Dear Ricky:

Aku menyukai suratmu. Harus kuakui mula-mula aku mengasihanimu, tapi kelihatannya kau berhasil menyesuaikan diri dengan rehabilitasi dan tahu ke mana tujuanmu. Aku tidak pernah punya masalah dengan obat-obatan dan alkohol, jadi aku sulit memahaminya. Kedengarannya kau mendapatkan perawatan terbaik. Kau tidak boleh sekeras itu pada pamanmu. Pikirkan apa jadinya kau kalau tidak ada dia.

Kau menanyakan banyak hal tentang aku. Aku belum siap membicarakan banyak masalah pribadi, tapi aku memahami keingintahuanmu. Aku menikah selama tiga puluh tahun, tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku tinggal di D.C., dan bekerja pada pemerintah. Pekerjaanku menantang dan memuaskan.

Aku tinggal sendirian. Teman dekatku cuma sedikit dan memang itu mauku. Kalau bepergian, biasanya aku ke Asia. Aku sangat suka Tokyo. Aku akan selalu mengingatmu.

Al Konyers

Tepat di atas namanya yang diketik, dia mencoretkan nama “Al”, dengan pena bermata lancip.

Surat tersebut sangat tidak mengesankan karena tiga alasan. Pertama, Konyers tidak beristri, atau paling tidak dia bilang begitu. Istri sangat penting untuk pemerasan. Mengancam, akan memberitahu si istri, mengiriminya fotokopi semua surat dari sahabat pena homo suaminya, dan uang pun mengucur.

Kedua, Al bekerja pada pemerintah, jadi barangkali tak punya banyak uang.

Ketiga, Al terlalu ketakutan. Meladeninya cuma akan membuang-buang waktu. Mengorek informasi seperti mencabut gigi. Orang-orang seperti Quince Garbe dan Curtis Cates jauh lebih asyik, karena mereka selama ini bersembunyi dan sekarang ingin sekali keluar. Surat-surat mereka panjang-lebar dan penuh fakta kecil yang mungkin dibutuhkan pemeras. Al tidak. Al membosankan. Al tidak tahu pasti apa yang diinginkannya.

Jadi Ricky menaikkan taruhan dengan surat

keduanya, surat sejenis yang makin sempurna, sebab Beech makin berpengalaman. Ricky baru saja tahu bahwa beberapa bulan lagi dia akan dibebaskan! Dan dia dari Baltimore. Kebetulan sekali! Dan dia mungkin akan membutuhkan bantuan untuk memperoleh pekerjaan. Paman kayanya tidak mau membantu lagi, dia takut pada kehidupan di luar tanpa bantuan teman, dan tidak bisa mempercayai teman-teman lamanya, karena mereka masih menggunakan obat-obatan terlarang, dst., dst. i

Surat itu tak dibalas, dan Beech menduga Al Konyers ketakutan setelah membacanya. Ricky dalam perjalanan ke Baltimore, cuma sejam dari Washington, dan itu terlalu dekat bagi Al.

Sementara menunggu jawaban dari Al, uang Quince Garbe mendarat, diikuti transfer dari Curtis di Dallas, dan Majelis pun mendapat energi baru. Ricky mengirimi Al surat yang dicegat dan dianalisis di Langley.

Sekarang, tiba-tiba, surat ketiga Al bernada sangat lain. Finn Yarber membacanya dua kali, lalu membaca kembali surat kedua dari Al. “Kedengarannya seperti orang yang berbeda, ya?” katanya.

“Ya, memang,” sahut Beech, memandang kedua surat itu. “Kurasa si bocah tua itu akhirnya senang akan bertemu dengan Ricky.”

“Kupikir dia bekerja pada pemerintah.”

“Katanya begitu.”

“Kalau begitu, kenapa dia punya bisnis di Baltimore?”

“Kita dulu bekerja pada pemerintah, kan?” “Tentu.”

“Berapa gaji tertinggimu sebagai hakim?”

“Waktu aku jadi hakim kepala, gajiku 150.000.”

“Aku memperoleh 140.000. Beberapa birokrat pro-j fesional mendapat lebih dari itu. Plus, dia tak me- \ nikah.”

“Itu masalah.”

“Yeah, tapi mari kita tekan terus. Pekerjaannya 1 penting, artinya bosnya orang penting, banyak kolega, Ś khas bintang Washington. Kita pasti akan menemukan kelemahannya suatu saat nanti.”

“Betul juga,” sambut Finn.

Memang. Apa salahnya? Memang kenapa kalau \ mereka agak terlalu mendesak, lalu Mr. Al jadi takut atau marah dan memutuskan mencampakkan surat-surat itu? Kau tidak bisa kehilangan apa yang tidak kaupunyaL

Urusan ini melibatkan uang dalam jumlah besar. Jangan setengah-setengah. Taktik agresif mereka menghasilkan sukses spektakuler. Tiap minggu surat mereka makin banyak, begitu juga rekening luar negeri mereka. Tipuan mereka tak bisa dibuktikan, karena sahabat-sahabat pena mereka menjalani kehidupan ganda. Korban-korban mereka tidak bisa bercerita pada siapa pun.

Negosiasi berlangsung kilat karena pasar sudah matang. Di Jacksonville masih musim dingin, dan karena udara malam dingin dan laut terlalu sejuk untuk direnangi, musim sibuk masih sebulan lagi. Di sepanjang Neptune Beach dan Atlantic Beach terdapat ratusan rumah sewaan kecil, termasuk sebuah rumah yang hampir persis di seberang kantor Trevor. Seorang

pria dari Boston menawarkan uang tunai $600 untuk dua bulan, dan si agen langsung menyambarnya. Perabotan tempat itu sudah reyot. Karpet tuanya sudah lusuh dan menyebarkan bau lembap permanen. Tempat yang sempurna.

Tugas pertama si penyewa adalah menutup jendela-jendela. Tiga jendela menghadap ke jalan dan menampakkan kantor Trevor, dan selama beberapa jam pertama pengintaian tampak jelas betapa sedikit klien yang datang dan pergi. Sepi sekali bisnis di seberang sana! Kalau ada pekerjaan, biasanya yang melakukannya si sekretaris, Jan, yang juga membaca banyak majalah.

Para penghuni lain tanpa ribut-ribut pindah ke mmah sewaan itu, beberapa pria dan wanita yang membawa koper tua dan tas kain besar berisi peralatan elektronik canggih. Perabotan yang sudah lapuk didorong ke bagian belakang rumah, dan ruangan-ruangan di depan dengan cepat diisi dengan bermacam-macam layar, monitor, dan peralatan penyadapan.

Trevor sendiri akan bisa menjadi studi kasus menarik bagi mahasiswa hukum tahun ketiga. Dia tiba sekitar pukul 09.00, dan menghabiskan satu jam pertama dengan membaca koran. Klien paginya tampaknya selalu datang pukul 10.30, dan setelah rapat setengah jam yang melelahkan dia siap untuk makan siang, selalu di Pete’s Bar and Grill. Dia membawa ponsel, untuk membuktikan pada para bartender di sana bahwa dia orang penting, dan biasanya menelepon dua-tiga pengacara lain, meskipun sebetulnya tak ada urusan. Dia sering menelepon bandarnya. Lalu dia berjalan kaki pulang ke kantor, melewati

rumah sewaan tempat CIA memonitor setiap langkah kembali ke meja kerja, dan tidur lagi. Dia beranjak sekitar pukul 15.00, lalu bekerja keras selama dua jam. Setelah itu dia membutuhkan sebotol bir lagj dari Pete’s.

Ketika mereka membuntutinya untuk kedua kalinya ke Trumble, dia meninggalkan penjara itu setelah satu jam dan kembali ke kantor sekitar pukul 18.00. Sementara dia makan malam di restoran tiram di Atlantic Boulevard, sendirian, seorang agen memasuki kantornya dan menemukan tas kerjanya. Di dalamnya terdapat lima surat dari Percy dan Ricky.

Komandan pasukan tanpa suara di Neptune Beach dan sekitarnya itu adalah pria bernama Klockner, agen lapangan Teddy yang terbaik di bidang pengintaian jalanan dalam negeri. Klockner diperintahkan untuk mencegat semua surat yang melewati kantor pengacara itu.

Ketika Trevor langsung pulang setelah meninggalkan restoran tiram, kelima surat tersebut dibawa ke rumah sewaan di seberang jalan dan semuanya dibuka, difotokopi, lalu dikembalikan dan diletakkan lagi di dalam tas kerja Trevor. Tak satu pun untuk Al Konyers.

Di Langley, Deville membaca kelima surat itu begitu datang melalui faks. Surat-surat tersebut dipelajari dua pakar tulisan tangan yang sepakat bahwa Percy dan Ricky bukan orang yang sama. Menggunak^comoh^contoh dari arsip pengadilan mereka, di—

rte^ aahWa P6fCy Seb6tUlnya Hakim SS “Ť

Hakim

. R:ckY adalah kotak pos Aladdin North di Alamat Beach. Yang mengherankan me—

kantor pos - v ^ kotak pos di Atlantic Beach, *** ^a”ama tempat bernama Laurel Ridge.

Tujuh Belas

UNTUK kunjungan berikutnya ke Langley, yang pertama dalam tiga minggu, sang kandidat tiba dalam konvoi van hitam mengilat, semuanya terlalu kencang, tapi siapa yang akan protes? Mereka diizinkan lewat dan disuruh maju, semakin dalam memasuki kompleks itu, sampai mereka berderum saat berhenti serentak di dekat pintu sangat besar, tempat segala macam pria muda berwajah muram berleher kokoh menunggu mereka. Lake ikut gelombang orang-orang memasuki gedung, para pendampingnya ketinggalan ketika dia berjalan sampai akhirnya tiba bukan di bungker yang biasa melainkan di kantor resmi Mr. Maynard, yang berpemandangan hutan kecil. Orang-orang lain ditinggalkan di pintu. Kedua orang besar itu bersalaman dengan hangat dan bahkan tampak senang bisa bertemu lagi.

Hal-hal penting didulukan. “Selamat untuk Virginia,” kata Teddy.

Lake mengangkat bahu seolah tak yakin. “Terima kasih, untuk banyal hal”

“Kemenangan Anda sangat mengesankan, Mr. Lake,” ujar Teddy. “Gubernur Tarry bekerja keras di sana selama setahun. Dua bulan yang lalu dia memiliki komitmen setiap kapten polisi di negara bagian itu. Dia tampak tak terkalahkan. Sekarang, saya rasa dia memudar dengan cepat. Sering tak menguntungkan jadi pemenang di tahap awal perlombaan.”

“Momentum adalah binatang aneh dalam politik,” komentar Lake bijak.

“Uang lebik aneh lagi. Saat ini, Gubernur Tarry tak bisa mendapatkan sepeser pun, karena Anda sudah mengambil semuanya. Uang mengikuti momentum.”

“Saya yakin akan mengatakan ini berkali-kali, Mr. Maynard, tapiyah, terima kasih. Anda memberi saya kesempatan yang nyaris tak berani saya impikan.”

“Apakah Anda menikmatinya?”

“Belum. Jika kami menang, keasyikannya baru akan terasa.”

“Keasyikannya dimulai Selasa depan, Mr. Lake, dengan Super Tuesday besar. New York, California, Massachusetts, Ohio, Georgia, Missouri, Maryland, Maine, Connecticut, semuanya dalam satu hari. Hampir enam ratus delegasi!” Mata Teddy menari-nari seakan dia nyaris bisa menghitung suara-suara itu. “Dan Anda menang di setiap negara bagian, Mr. Lake. Bisa Anda bayangkan?” “Tidak.”

“itulah kenyataannya. Anda nyaris sejajar di Maine, entah kenapa, dan menang tipis di California, tapi Anda akan menang besar Selasa depan.”

“Kalau Anda percaya jajak pendapat,” kata Lake,

seakan dia sendiri tidak mempercayainya. Kenyataannya, seperti semua kandidat, Lake kecanduan jajak pendapat. Dia menang di California, negara bagian dengan 140.000 pekerja industri pertahanan.

“Oh, saya mempercayainya. Dan saya percaya akan terjadi sapu bersih di Super Tuesday kecil. Orang-orang di Selatan menyukai Anda, Mr. Lake. Mereka menyukai senjata dan sikap keras dan semacamnya, saat ini mereka sedang jatuh cinta pada Aaron Lake. Selasa depan bakal mengasyikkan, namun Selasa berikutnya akan jadi pesta dansa.”

Teddy Maynard meramalkan adanya pesta dansa, dan Lake mau tidak mau jadi tersenyum. Beberapa jajak pendapat atas dirinya menunjukkan kecenderungan yang sama, tapi rasanya jadi lebih meyakinkan karena diucapkan Teddy. Dia mengangkat selembar kertas dan membacakan data jajak pendapat terakhir dari seluruh negeri. Lake unggul paling tidak lima poin di setiap negara bagian.

Mereka mengagumi momentum mereka beberapa menit, lalu Teddy berubah serius. “Ada sesuatu yang sebaiknya Anda ketahui,” katanya, dan hilanglah senyum itu. Dia membalik selembar kertas dan membaca sekilas catatan di situ. “Dua malam yang lalu, di Khyber Pass di pegunungan Afghanistan, sebuah misil jarak jauh Rusia berhulu ledak nuklir dipindahkan dengan truk ke Pakistan. Misil tersebut sekarang dalam perjalanan menuju Iran, entah digunakan untuk apa di sana, Tuhanlah yang tahu. Misil itu berjarak tembak 4.800 kilometer, dan memiliki kekuatan empat bom nuklir. Harganya sekitar $30 juta dolar AS, dibayar dr muka oleh Iran melalui bank di Luxem-burg. Uang itu masih ada di sana, dalam rekening yang diyakini dikontrol orang-orang Natty Chenkov.’ “Saya kira dia mengumpulkan barang, bukan menjual.”

“Dia butuh uang, dan dia mendapatkannya. Malahan, barangkali dia satu-satunya orang yang kami tahu yang mengumpulkan uang lebih cepat daripada Anda.”

Teddy tidak pandai bercanda, tapi Lake tetap tertawa untuk menjaga kesopanan. “Apakah misil itu operasional?” tanya Lake. “Kami pikir begitu. Asalnya dari sekumpulan silo dekat Kiev, dan kami yakin tahun pembuatan dan model misil itu baru. Dengan begitu banyaknya misil di mana-mana, buat apa Iran membeli yang lama? Ya, bisa diasumsikan misil itu seratus persen operasional.” “Apakah ini yang pertama?” “Ada beberapa suku cadang dan plutonium, ke Iran, Irak, India, dan negara-negara lain, tapi menurut saya, ini misil pertama yang dalam keadaan utuh, siap ditembakkan.” “Apakah mereka ingin segera menggunakannya?” “Kami rasa tidak. Tampaknya transaksinya dimotori oleh Chenkov. Dia butuh uang untuk membeli bermacam-macam senjata lain. Dia menjual barang-barangnya, yang tidak dibutuhkaimya.” “Israel tahu soal ini?”

“Tidak. Belum. Anda harus berhati-hati dengan mereka. Semua berdasarkan prinsip memberi dan menerima. Suatu hari nanti, jika kita membutuhkan sesuatu dari mereka, barulah kita beritahukan transaksi ini.”

215

Sesaat, Lake ingin sekali menjadi presiden, dan segera. Dia ingin mengetahui semua yang diketahui Teddy, lalu sadar dia mungkin takkan pernah bisa melakukannya. Saat ini sudah ada seorang presiden, dan pria itu tak tahu apa-apa, Teddy tidak membicarakan Chenkov dan misil-misil tersebut dengannya.

“Apa pendapat Rusia tentang kampanye saya?” dia bertanya. pfe.-1

“Mula-mula, mereka tak peduli. Sekarang mereka mengawasi dengan cermat. Tapi Anda harus ingat, sekarang tak ada lagi yang namanya suara Rusia Para pelaku pasar bebas mendukung Anda sebab takut pada Komunis. Para penganut garis keras takut pada Anda. Kompleks sekali.”

“Dan Chenkov?”

“Saya malu mengatakan kami tak sedekat itu dengannya, belum. Tapi kami sedang mengusahakannya. Tak lama lagi kami akan punya telinga di sana.”

Teddy melemparkan kertas-kertasnya ke meja kerja, dan mendorong kursi rodanya ke dekat Lake. Kerut-kerut di keningnya merapat, mengarah ke bawah. Alis tebalnya berkerut di atas matanya yang sayu. “Dengarkan kata-kata saya, Mr. Lake ” katanya, suara-m nya jauh lebih serius. “Anda memenangkan pemilihan ini. Akan ada satu-dua halangan, hal-hal yang tak bisa kita ramalkan,, bahkan kalaupun bisa kita tak berdaya mencegahnya. Kita akan mengatasinya bersama-sama. Kerusakannya akan sedikit. Anda orang baru dan masyarakat menyukai Anda. Anda luar biasa dan pandai berkomunikasi. Pertahankan kesederhanaan pesan itukeamanan kita terancam, dunia tak seaman yang kelihatannya. Soal uang biar saya yang membereskan, dan saya jelas akan terus membuat negara ketakutan. Misil di Khyber Pass itu, kita bisa saja meledakkannya. Lima ribu orang akan terbunuh, lima ribu warga Pakistan. Bom-bom nuklir meledak di pegunungan. Anda kira kita akan terbangun dan mengkhawatirkan pasar uang? Tak mungkin. Saya akan mengurus masalah ketakutannya, Mr. Lake. Anda menjaga diri dan bekerja keras.”

“Saya sudah bekerja sekeras mungkin.”

“Bekerjalah lebih keras lagi, dan jangan ada kejutan, oke?”

“Tentu.”

Lake tidak tahu pasti apa yang dimaksud Teddy dengan kejutan, tapi dibiarkannya saja. Cuma nasihat orang yang lebih tua, barangkali.

Teddy menjauh lagi. Ditekannya tombol-tombol dan layar turun dari langit-langit. Mereka menonton film kasar seri kampanye Lake berikutnya selama dua puluh menit, lalu berpisah.

Lake ngebut dari Langley, dua van di depan dan satu di belakang, semuanya melaju ke Reagan National Airport, jetnya sudah menunggu di sana. Dia menginginkan malam tenang di Georgetown, di rumah di mana dunia tinggal di luar, tempat dia bisa membaca buku dengan tenang, tak ada yang mengawasi atau mendengarkan. Dia merindukan menyusuri jalan-jalan tak bernama, orang-orang dikenal, tukang roti Arab di M Street yang membuat hagel sangat lezat, agen buku bekas di Wisconsin, warung kopi yang biji kopinya dari Afrika. Bisakah dia menyusuri jalan-jalan itu lagi, seperti orang biasa, melakukan apa yang disukainya? Hatinya mengatakan tidak, hari-hari itu sudah berlalu, mungkin untuk selamanya.

Sementara Lake sedang dalam perjalanan, Deville memasuki bungker dan memberi tahu Teddy bahwa Lake telah datang dan pergi tanpa berusaha mengecek kotak pos. Sekarang saat untuk brifing harian mengenai masalah Lake. Teddy ternyata mencemaskan tindakan kandidatnya selanjutnya lebih dari yang direncanakannya.

Kelima surat yang dicegat Klockner dan kelompoknya dari Trevor sudah diperiksa secara teliti. Dua ditulis Yarber sebagai Percy; tiga lainnya oleh Beech sebagai Ricky. Kelima sahabat pena itu tinggal di negara-negara bagian yang berlainan. Empat orang menggunakan nama karangan; satu orang cukup berani untuk tidak bersembunyi di balik nama alias. Semua surat tersebut pada dasarnya sama: Percy dan Ricky adalah pria-pria muda bermasalah di klinik rehabilitasi, berusaha keras menjalani hidup, keduanya berbakat dan tetap mampu berkhayal tinggi-tinggi, namun membutuhkan dukungan moral dan fisik dari teman-teman baru karena yang lama berbahaya. Mereka tanpa malu-malu mengungkapkan semua kesalahan, kelemahan, dan kesedihan mereka. Mereka bercerita banyak tentang kehidupan setelah rehabilitasi, harapan dan impian mengenai semua hal yang ingin mereka lakukan. Mereka membanggakan kulit cokelat dan otot mereka, tampaknya tak sabar untuk menanjakkan tubuh tegap baru mereka pada para sahabat pena itu.

Cuma satu surat yang meminta uang. Ricky ingin meminjam seribu dolar dari koresponden bernama Peter di Spokane, Washington. Dia mengatakan uang tersebut dibutuhkan untuk membayar beberapa pengeluaran yang tidak dibayar pamannya.

Teddy membaca surat-surat itu lebih dari sekali. Permintaan uang itu penting, karena hal itu mulai menjelaskan permainan kecil Majelis. Mungkin itu tipuan kacangan yang diajarkan seseorang pada mereka, narapidana lain yang sudah keluar dari Trumble dan sekarang keluyuran dengan uang hasil menipu.

Tapi masalahnya bukan jumlah uangnya. Itu permainan fisikpinggang yang lebih ramping, kulit cokelat, dan lengan berototdan kandidat mereka terperangkap di tengah-tengahnya.

Masih banyak hal yang belum jelas, namun Teddy orang yang sabar. Mereka akan mengawasi surat-menyurat ini. Potongan-potongan akan jatuh ke tempatnya masing-masing.

Dengan Spicer menjaga pintu ruang rapat, dan menantang siapa saja yang akan menggunakan perpustakaan hukum, Beech dan Yarber sibuk menulis surat. Kepada Al Konyers, Beech menulis:

Dear Al:

Terima kasih untuk suratmu yang terakhir. Sangat besar artinya bagiku mendengar kabar dari-mu. Aku merasa seperti tinggal di gua selama berbulan-bulan, dan sedikit demi sedMt melihat cahaya. Surat-suratmu membantu membuka pintu itu. Kumohon jangan berhenti mengirim surat.

Aku minta maaf telah membuatmu bosan dengan terlalu banyak masalah pribadi. Aku menghormati privasimu dan berharap dulu aku tidak terlalu banyak bertanya. Kelihatannya kau orang sangat perasa yang menyukai kesendirian dan hal-hal halus. Aku memikirkan kau tadi malam waktu menonton Key Largo, film lama Bogart dan Bacall. Aku seperti bisa merasakan masakan Cina. Makanan di sini lumayan enak, menurutku, tapi mereka tak bisa membuat masakan Cina.

Aku punya ide bagus. Dua bulan lagi waktu aku bebas, ayo kita sewa Casablanca dan African Queen, membawa pulang makanan, membeli sebotol anggur nonalkohol, dan menghabiskan malam yang tenang di sofa. Ya Tuhan, aku bersemangat sekali membayangkan kehidupan di luar dan melakukan hal-hal nyata lagi. - Maafkan kalau aku terlalu cepat, Al. Aku terpaksa hidup tanpa banyak hal di sini, dan itu bukan cuma alkohol dan makanan enak. Tahu maksudku?

Rumah pemasyarakatan di Baltimore itu mau menerimaku kalau aku bisa memperoleh pekerjaan paro waktu. Kau bilang kau punya beberapa bisnis di sana. Aku tahu aku minta terlalu banyak karena kau tidak mengenalku, tapi bisakah kau mengusahakan ini? Aku akan berterima kasih seumur hidup.

Tolong segera balas suratku, AL Surat-suratmu, serta harapan dan khayalan meninggalkan tempat ini dua bulan lagi dengan pekerjaan di luar, membuatku tabah menjalani saat-saat sulit. Terima kasih, sahabat.

Love, Ricky

Surat kepada Quince Garbe nadanya sangat berbeda. Beech dan Yarber memikirkannya beberapa hari. Konsep finalnya berbunyi:

Dear Quince:

Ayahmu punya bank, tapi kau bilang kau cuma bisa memperoleh $10.000 lagi. Kurasa kau bohong, Quince, dan aku marah sekali. Aku tergoda untuk mengirimkan berkasmu pada ayah dan istrimu.

Aku bersedia menerima $25.000, segera, dengan instruksi transfer yang sama.

Dan jangan mengancam akan bunuh diri. Aku sama sekali tak peduli akan apa yang kaulakukan. Kita takkan pernah bertemu, dan menurutku kau memang tidak waras.

Transfer uangnya, Quince, sekarang juga!

Love, Ricky

Klockner khawatir suatu hari Trevor mengunjungi Trumble sebelum tengah hari, lalu mengeposkan surat di suatu tempat sebelum kembali ke kantor atau rumahnya. Tak ada cara untuk mencegatnya ketika dalam perjalanan. Pengacara itu harus membawa suratnya pulang, dan membiarkannya semalaman supaya mereka bisa mengolahnya.

Dia khawatir, tapi di saat yang sama Trevor terbukti bukan orang yang rajin. Dia menampakkan tanda-tanda kehidupan setelah tidur pukul 14.00-nya.

Jadi ketika dia memberitahu sekretarisnya bahwa dia akan pergi ke Trumble pukul 11.00, orang-orang di rumah sewaan di seberang jalan langsung beraksi. Seorang wanita setengah baya yang mengaku bernama

‘ŚŚ Mrs-Beltrone segera menelepon kantor Trevor, menjelaskan pada Jan bahwa dia dan suami kayanya amat sangat membutuhkan perceraian kilat Sekretaris itu memintanya menunggu, dan berteriak ke ujung koridor menyuruh Trevor menunggu sebentar. Trevor sedang mengumpulkan kertas-kertas dari meja dan memasukkannya ke tas kerja. Kamera di langit-langit menampakkan ekspresi tidak senangnya karena diganggu klien baru.

“Dia bilang dia kaya?” teriak Jan, dan kerutan di kening Trevor pun hilang. Dia duduk dan menunggu.

Mrs. Beltrone mencurahkan isi hatinya pada si sekretaris. Dia istri nomor tiga, sang suami jauh lebih tua, mereka punya rumah di Jacksonville namun menghabiskan sebagian besar waktu mereka di rumah di Bermuda. Juga ada rumah di Vail. Mereka sudah lama merencanakan bercerai, semua telah disepakati, tak ada pertengkaran, sangat lancar, membutuhkan pengacara hanya-untuk membereskan suratnya. Mr. Carson sangat direkomendasikan, tapi mereka harus bertindak cepat karena suatu alasan yang tak diungkapkan.

Trevor mengambil alih dan mendengarkan kisah yang sama. Mrs. Beltrone sedang duduk di rumah sewaan di seberang jalan, berbicara berdasarkan naskah karangan tim untuk kesempatan ini.

“Saya betul-betul perlu menemui Anda,” kata wanita itu setelah bercerita lima belas menit.

“Wah, saya sibuk sekali,” balas Trevor, sealah sedang membuka-buka halaman enam buku jadwal harian. Mrs. Beltrone mengawasinya di monitor. Kaki pengacara itu di meja kerja, matanya terpejam, dasi

kupu-kupunya miring. Kehidupan pengacara yang sibuk sekali.

“Tolonglah,” dia memohon. “Kami hams menyelesaikan ini. Saya harus bertemu Anda hari ini.”

“Di mana suami Anda?”

“Dia di Prancis, tapi besok akan ada di sini.”

“Yah, uh, sebentar,” gumam Trevor, mempermainkan dasi kupu-kupunya.

“Berapa tarif Anda?” tanya wanita itu, dan mata Trevor langsung terbuka.

“Yah, ini jelas jauh lebih rumit daripada sekadar perceraian damai. Saya terpaksa meminta bayaran $10.000.” Trevor meringis ketika mengatakannya, menahan napas menunggu tanggapan.

“Saya bawakan hari ini,” kata wanita itu. “Bisakah saya menemui Anda pukul satu?” . Trevor langsung berdiri, menjulang di atas telepon. “Bagaimana kalau setengah dua?” tanyanya dengan susah payah.

“Saya akan datang.”

“Anda tahu di mana kantor saya?”

“Sopir saya bisa menemukannya. Terima kasih, Mr. Carson.”

Panggil saja aku Trevor, dia nyaris mengatakannya. Tapi wanita itu sudah pergi.

Mereka mengawasi waktu pengacara itu meremas-remas tangan, lalu mengenalkannya, mengertakkan gigi, mengatakan, “Yesr Dia mendapat mangsa besar.

Jan muncul dari koridor dan bertanya, “Bagaimana?”

“Dia akan kemari pukul setengah dua. Bersihkan tempat ini sedikit”

“Aku. bukan pelayan. Kau bisa minta uang muk I Aku harus membayar beberapa tagihan.” a? i

“Akan kuminta uangnya.”

Trevor membenahi rak-rak buku, merapikan buku buku yang sudah bertahun-tahun tak disentuhnya” mengelap papannya dengan serbet kertas, menjejalkan map-map ke teri. Ketika dia menggarap meja kerjanya, Jan akhirnya merasa tidak enak juga dan mulai membersihkan ruang depan.

Mereka banting tulang sampai tidak sempat makan siang, pertengkaran dan kerja keras mereka jadi tontonan hiburan di seberang jalan.

Tak ada tanda-tanda Mrs. Beltrone pada pukul 1330.

“Mana dia?” teriak Trevor dari ujung koridor tepat setelah pukul 14.00.

“Mungkin dia mengecek ke sana-sini, mencari referensi lagi,” komentar Jan.

“Apa katamu?” seru atasannya.

“Tak ada, Bos,”

“Telepon dia,” perintahnya pada pukul 14.30.

“Dia tak meninggalkan nomor telepon.”

“Kau tidak minta nomor teleponnya?”

“Bukan itu kataku. Aku bilang dia tak meninggalkan nomor telepon.”

Pukul 15.30, Trevor menghambur keluar dari kantornya, masih berusaha keras memenangkan perdebatan dengan wanita yang paling tidak sudah sepuluh kali dipecatnya dalam delapan tahun terakhir. Mereka membuntutinya langsung ke Trumble. Dia i! i J**133‘3 itu s^ma 53 menit, dan pergi

pukul 17.00 lewat, terlalu sore untuk mengeposkan

otune Beach maupun di Atlantic Beach, surat di Nep ke kantor dan meninggalkan tas kerja Pia ke fcemudian, bisa ditebak, dia pergi ke Pete’s ^u^minum-minum dan makan malam.

Delapan Belas

UNIT dari Langley terbang ke Des Moines, di sana para agen itu menyewa dua mobil dan sebuah van, lalu mengemudi selama empat puluh menit ke Bakers, Iowa. Mereka tiba di kota kecil tenang yang berselimutkan salju itu dua hari sebelum surat Ketika Quince mengambilnya di kantor pos, mereka sudah tahu nama kepala kantor pos, wah kota, kepala polisi, dan koki di kedai pancake di samping toko pertukangan. Tapi tak seorang pun di Bakers tahu tentang mereka.

Mereka mengawasi Quince buru-buru pergi ke bank setelah meninggalkan kantor pos. Tiga puluh menit kemudian, dua agen yang dikenal cuma sebagai Chap dan Wes menemukan tikungan bank tempat Mr. Garbe, Jr. berkantor, dan mereka memperkenalkan diri pada sekretarisnya sebagai pemeriksa dari Bank Sentral Federal. Penampilan mereka memang resmi setelan hitam, sepatu hitam, rambut pendek, mantel panjang, gaya bicara tegas, sikap efisien.

Quince berkurung di dalam, dan mula-mula tampak enggan keluar. Mereka mengatakan pada sekretarisnya

bahwa mereka datang karena ada masalah mendesak, dan setelah hampir empat puluh menit, akhirnya pintu terbuka sedikit. Mr. Garbe kelihatan seperti habis menangis. Dia pucat, terguncang, dan tidak suka harus menerima tamu. Namun dia tetap menyilakan mereka masuk, terlalu kacau untuk minta tanda pengenal. Dia bahkan tidak mendengar nama mereka.

Dia duduk di belakang meja kerja besar, dan memandang si kembar di hadapannya. “Apa yang bisa kami bantu?” dia bertanya, tersenyum sangat samar.

“Apakah pintunya dikunci?” tanya Chap. “Tentu saja.” Sepasang agen itu punya kesan Mr. Garbe hampir selalu berkurung di balik pintu terkunci. “Orang bisa mendengar kita?” tanya Wes. ‘Tidak.” Quince makin kacau sekarang. “Kami bukan petugas bank sentral,” Chap memberitahu. “Kami berbohong.”

Quince tak yakin apakah mesti marah atau lega atau bahkan ketakutan, jadi dia diam-saja sedetik, ternganga, bengong, menunggu ditembak. “Ceritanya panjang,” kata Wes. “Kalian punya waktu lima menit” “Sebetulnya, kami punya waktu selama yang kami inginkan.” “Ini kantorku. Keluar.” “Tak secepat itu. Kami tahu beberapa hal.” “Akan kupanggilkan satpam.” “Tak usah.”

“Kami sudah melihat surat itu,” kata Chap. “Yang barusan kauambil dari kantor pos.” “Aku mengambil beberapa surat.”

“Tapi cuma satu yang dari Ricky.” Bahu Quince merosot, matanya pelan-pelan memejam. Lalu matanya membuka lagi dan memandang kedua tukang siksa itu dengan ekspresi pasrah. “Siapa kalian?” gumamnya. “Kami bukan musuh.” “Kalian bekerja padanya, kan?” “Dia?”

“Ricky, atau siapa pun bangsat itu.”

“Tidak,” jawab Wes. “Dia musuh kami juga. Anggap saja kami punya klien yang keadaannya sama dengan kau, kurang-lebih. Kami disewa untuk melindunginya.”

Chap mengeluarkan amplop tebal dari saku mantel dan melemparkannya ke meja. “Isinya uang 25.000. Kirimkan pada Ricky.”

Quince menatap amplop itu, mulutnya terbuka lebar. Otaknya yang malang penuh sesak dengan begitu banyak pikiran sehingga dia jadi pusing. Jadi dia memejamkan mata lagi, dan mengernyit kuat-kuat tapi sia-sia berusaha menganalisis keadaan. Lupakan pertanyaan tentang siapa mereka. Bagaimana mereka bisa membaca surat itu? Kenapa mereka menawarinya uang? Seberapa banyak yang mereka tahu?

Jelas dia tidak boleh mempercayai mereka.

“Uang itu untukmu” kata Wes..”Sebagai imbalan, kami membutuhkan informasi.”

“Siapa Ricky?” tanya Quince, matanya terbuka sedikit.

“Apa yang kau tahu tentang dia?” Chap bertanya. “Namanya bukan Ricky “

2?R

“Betul.”

“Dia di penjara.” “Betul,” kata Chap lagi. “Katanya dia punya istri dan, anak-anak.” “Betul sebagian. Istrinya sekarang sudah mantan. Anak-anaknya masih ada.”

“Katanya mereka kekurangan, dan itulah sebabnya dia menipu orang-orang.”

“Tidak juga. Istrinya cukup kaya, dan anak-anaknya mengikuti uangnya. Kami tak tahu pasti kenapa dia menipu orang.”

“Tapi kami ingin menghentikannya,” Chap menambahkan. “Kami butuh bantuanmu.”

Quince mendadak sadar bahwa untuk pertama kali seumur hidupnya, sepanjang umurnya yang 51 tahun, dia berhadapan dengan dua makhluk hidup yang tahu dia homoseks. Sesaat dia ingin membantahnya, mengarang cerita tentang bagaimana dia mengenal Ricky, namun benaknya buntu. Dia terlalu takut sehingga tidak sanggup berpikir.

Lalu dia menyadari bahwa kedua orang ini, siapa pun mereka, dapat menghancurkannya. Mereka mengetahui rahasianya, dan mereka punya kekuatan untuk menghancurkan hidupnya. Dan mereka menawarkan $25.000? Quince yang malang menutupi matanya dengan buku-buku jari dan bertanya, “Apa yang kalian inginkan?”

Chap dan Wes merasa dia akan menangis. Mereka sebetulnya tidak peduli, tapi pria itu tidak punya alasan untuk menangis. “Ini kesepakatannya, Mr. Garbe,” kata Chap. “Kauambil uang yang tergeletak

di mejamu itu, dan beritahu kami semua informasi tentang Ricky. Tunjukkan surat-suratmu. Tunjukkan segalanya pada kami. Kalau kau punya arsip atau kotak atau tempat rahasia di mana kau menyembunyikan sesuatu, kami ingin melihatnya. Setelah mengumpulkan semua yang kami butuhkan, kami akan pergi. Kami akan menghilang secepat kami datang, dan kau takkan tahu siapa kami atau siapa yang kami lindungi.”

“Dan kalian akan menyimpan rahasia-rahasia itu?” “Pasti.”

‘Tak ada alasan bagi kami untuk memberitahu siapa pun tentang kau,” tambah Wes.

“Bisa kalian menghentikan dia?” tanya Quince, memandangi mereka.

Chap dan Wes terdiam sebentar dan berpandangan. Sejauh mi respons mereka benar, tapi pertanyaan ini tak punya jawaban pasti. “Kami tak bisa berjanji, Mr. Garbe,” jawab Wes. ‘Tapi kami akan berusaha keras menghentikan bisnis si Ricky inf. Seperti kata kami tadi, dia juga meresahkan klien kami.”

“Kalian harus melindungiku.” ť|

“Kami akan berusaha sebisa kami.”

Tiba-tiba Quince berdiri dan mencondongkan tubuh ke depan dengan menumpukan tangannya di meja kerja. “Kalau begitu aku tak punya pilihan,” katanya. Dia tidak menyentuh uang di meja, tapi melangkah ke lemari buku kuno dari kaca berisi buku-buku kusam dan tua. Dengan sebuah anak kunci dia membuka lemari itu, dan dengan anak kunci lain dia membuka lemari besi kecil dan* tersembunyi di rak kedua dari lantai. Dengan hati-hati, dia mengeluarkan

map tipis seukuran surat, yang pelan-pelan diletakkannya di samping amplop berisi uang.

Persis ketika dia membuka map tersebut, terdengar suara cempreng melengking dari interkom, “Mr. Garbe, ayah Anda ingin bertemu Anda segera.”

Quince terduduk tegak ketakutan, pipinya langsung pucat, wajahnya berkerut panik. “Uh, bilang aku sedang rapat,” katanya, berusaha meyakinkan tapi malahan terdengar seperti alasan payah.

“Anda saja yang bilang,” kata wanita itu, dan interkom berbunyi “klik”, -w^i

“Maaf,” katanya, berusaha tersenyum. Bankir itu mengangkat gagang telepon, menekan tiga angka, dan membelakangi Wes dan Chap supaya mereka tidak bisa mendengar.

“Dad, ini aku. Ada apa?” katanya, menunduk rendah. jjK

Lama hening ketika sang ayah bicara di telinganya. Kemudian, “Tidak, tidak, mereka bukan dari Bank Sentral. Mereka, uh, mereka pengacara dari Des Moines. Mereka mewakili keluarga teman kuliahku dulu. Itu saja.” Hening yang lebih pendek. “Uh, Franklin Delaney, Dad pasti tak ingat. Dia meninggal empat bulan yang lalu, tanpa surat wasiat, kacau-balau. Tidak, Dad, uh, tak ada hubungannya dengan bank ini.”

Dia menutup telepon. Lumayan juga ceritanya. Pintu terkunci. Itu yang penting.

Wes dan Chap berdiri dan berjalan beriringan ke tepi meja. Di sana mereka memajukan tubuh bersama-sama ketika Quince membuka map. Benda pertama

yang mereka lihat adalah fotonya, dijepit ke lipatan I dalam map. Wes melepasnya pelan-pelan, dan bertanya, “Ini yang namanya Ricky?”

Ttulah dia,” sahut Quince, malu tapi bertekad membereskan urusan ini.

“Pemuda yang tampan,” komentar Chap, seolah mereka sedang memandangi halaman tengah Playboy. Ketiganya mendadak merasa tidak enak.

“Kalian tahu siapa Ricky, kan?” tanya Quince.

“Ya.”

“Kalau begitu beritahu aku.”

“Tidak, itu tak termasuk dalam kesepakatan.”

“Kenapa sih kalian tak mau memberitahuku? Aku kan sudah memberikan semua yang kalian inginkan.”

“Kesepakatan kita tidak seperti itu.”

“Aku ingin membunuh bajingan itu.”

“Tenang, Mr. Garbe. Kita sudah sepakat. Kau memperoleh uangnya, kami memperoleh arsipnya, tak ada yang disakiti.”

“Mari kita kembali ke awalnya,” kata Chap, memandang pria kecil rapuh dan memelas di kursi yang kebesaran itu. “Bagaimana mulainya?”

Quince mengaduk-aduk isi map dan mengambil sebuah majalah tipis. “Aku membelinya” di toko buku di Chicago,” dia, memberitahu, sambil menyodorkan majalah itu supaya mereka bisa membacanya. Namanya Out and About, dan majalah itu menyatakan diri sebagai terbitan untuk pria dewasa bergaya hidup alternatif. Dia membiarkan mereka mengamati sampulnya, lantas membuka halaman belakang. Wes dan Chap tidak mencoba menyentuhnya, namun mata mereka melahap sebanyak mungkin. Sangat sedikit

foto, hurufnya kecil-kecil. Majalah itu sama sekali tidak porno.

Di halaman 46 terdapat seksi kecil iklan baris. Salah satunya dilingkari dengan pena merah. Bunyinya:

Pemuda kulit putih berusia 20-an mencari sahabat pena pria ramah dan baik-baik berusia 40-an atau 50-an.

Wes dan Chap membungkuk lebih rendah untuk membacanya, lalu tegak bersama-sama. “Jadi kau menanggapi iklan ini?” tanya Chap.

“Ya. Aku mengirim surat pendek, dan sekitar dua minggu kemudian aku mendapat kabar dari Ricky.” “Apakah kau punya kopi suratmu itu?” “Tidak. Aku tidak mengkopi surat-suratku. Tak ada yang keluar dari kantor ini. Aku takut mengkopi di sini.”

Wes dan Chap mengerutkan kening karena kesal, lalu sangat kecewa. Orang tolol macam apa yang ada di hadapan mereka ini?

“Maaf,” kata Quince, tergoda untuk menyambar uang di meja sebelum mereka berubah pikiran.

Melanjutkan ceritanya, dia mengambil surat pertama dari Ricky dan memberikannya pada mereka. “Letakkan saja,” kata Wes, dan mereka membungkuk lagi, memeriksa tanpa menyentuh. Quince melihat mereka membaca dengan pelan-pelan sekali dan penuh konsentrasi. Pikirannya mulai jernih, dan secercah harapan muncul. Betapa enaknya jika dia bisa mendapatkan uang itu dan tidak perlu mengkhawatirkan

pinjaman gelap lagi, setumpuk kebohongan lagi untuk menutupi jejak. Dan sekarang dia punya sekutu, si Wes dan Chap ini, dan entah siapa lagi yang melawan Ricky. Jantungnya agak tenang dan napasnya tidak menderu seperti tadi.

“Tolong surat berikutnya,” kata Chap.

Quince meletakkannya berurutan, satu per satu, tiga berwarna lembayung muda, satu biru lembut, satu kuning, semua dalam huruf besar yang ditulis tangan pelan-pelan. Setelah mereka selesai membaca satu halaman, Chap dengan hati-hati menata surat berikut dengan pinset. Jari-jari mereka tidak pernah menyentuh apa pun.

Yang aneh mengenai surat-surat itu, seperti yang dibisikkan Chap dan Wes belakangan, semuanya amat sangat bisa dipercaya. Ricky terluka, tersiksa, dan sangat membutuhkan teman bicara. Dia memelas dan menyentuh. Ada harapan karena yang terburuk sudah lewat baginya dan dia tak lama lagi akan bebas untuk menjalin persahabatan baru. Isi surat-surat itu luar biasa!

Setelah keheningan yang memekakkan telinga, Quince berkata, “Aku harus menelepon.” “Siapa?” “Bisnis.”

Wes dan Chap berpandangan tak yakin, lalu mengangguk. Quince membawa telepon ke bufet dan memandangi Main Street di bawah sambil bicara dengan bankir lain.

Wes mulai menulis, pasti persiapan untuk interogasi sebentar lagi. Quince berlama-lama di samping rak buku, mencoba membaca koran, berusaha tidak memedulikan Wes. Dia sudah tenang sekarang, berpikir. jernih, merencanakan tindakan selanjutnya, tindakan setelah kedua tukang pukul ini pergi.

“Apakah “kau mengirim cek senilai $100.000?” tanya Chap.

“Ya.”

Wes, yang wajahnya paling muram, melotot kesal padanya, seakan mengatakan, “Tolol sekali.”

Mereka membaca lagi, sesekali mencatat, berbisik-bisik dan bergumam di antara mereka.

“Berapa uang yang dikirim klien kalian?” Quince bertanya, cuma ingin tahu.

Wes makin muram dan menjawab, “Kami tak boleh mengatakannya.”

Quince tidak heran. Bocah-bocah ini tak punya selera humor.

Mereka duduk setelah satu jam, dan Quince kembali ke kursi bankirnya.

“Beberapa pertanyaan saja,” kata Chap, dan tahulah Quince mereka akan bicara satu jam lagi.

“Bagaimana caramu memesan tempat di pelayaran homo itu?”

“Ada di surat. Bandit ini memberitahuku nama dan nomor telepon agen perjalanan di New York. Aku menghubungi mereka, lantas mengirim uangnya. Gampang kok.”

“Gampang? Kau pernah melakukannya sebelumnya?”

“Kita di sini untuk membicarakan kehidupan seksku?” “Tidak.”

“Kalau begitu tetaplah ke pokok permasalahan,1 235

Pkata Quince bagai jagoan sejati, dan perasaannya kembali enak. Jiwa bankirnya mendidih sebentar. Lalu dia teringat sesuatu yang tak dapat ditahannya. Dengan tampang serius, dia berkata, ‘Tiket pelayaran itu masih berlaku. Kalian ingin ikut?” Untungnya, mereka tertawa. Bercanda sejenak, lalu kembali ke urusan semula. Chap bertanya, “Apakah kau mempertimbangkan untuk memakai nama palsu?”

“Ya, tentu saja. Bodoh kalau tidak. Tapi aku belum pernah melakukan ini. Kukira orang itu sungguhan. Dia di Florida, aku di kota kecil Iowa. Tak pernah terlintas di benakku orang itu penipu.”

“Kami akan membutuhkan kopi semuanya ini,” kata Wes. “Itu bisa jadi masalah.” “Kenapa?”

“Di mana kalian akan memfotokopinya?” “Bank ini tak punya mesin fotokopi?” “Punya, tapi kalian tak boleh mengkopinya di bank ini.”

“Kalau begitu akan kami bawa ke tempat fotokopi.”

“Ini Bakers. Kami tak punya tempat fotokopi.” “Kalian punya toko peralatan kantor?” “Ya, dan pemiliknya berutang pada bankku $80.000. Dia temanku di Rotary Club. Kalian tak boleh mengkopinya di sana. Aku tak mau kelihatan dengan map itu.”

Chap dan Wes berpandangan, lalu menatap Quince. Wes berkata, “Oke, dengar. Aku akan di sini bersamamu. Chap akan membawa map itu dan mencari mesin fotokopi.”

“Di mana?”

“Toko obat,” sahut Wes.

“Kalian sudah menemukan toko obatnya?”

“Tentu, kami memerlukan pinset.”

“Mesinnya sudah berumur dua puluh tahun.”

“Tidak, mereka punya mesin baru.”

“Kalian harus hati-hati, oke? Apotekernya sepupu kedua sekretarisku. Ini kota yang sangat kecil.”

Chap mengambil map itu dan berjalan ke pintu. Terdengar bunyi “klik” keras waktu dia membuka kunci pintu, dan dia segera dipandangi ketika melewati pintu. Meja sekretaris penuh wanita tua, semuanya tidak melakukan apa-apa sampai Chap muncul, mereka terpaku dan ternganga. Mr. Garbe tua tidak jauh dari situ, memegang catatan rekening, pura-pura sibuk tapi sebetulnya ingin tahu juga. Chap mengangguk pada mereka semua dan pergi, bisa dibilang lewat begitu saja.

Terdengar bunyi “klik” keras lagi waktu Quince mengunci pintu sebelum sempat dimasuki siapa pun. Dia dan Wes bercakap-cakap dengan kaku tentang berbagai hal selama beberapa menit, pembicaraan sering nyaris berakhir karena tidak ada bahan. Seks terlarang membuat mereka bertemu, dan jelas mereka harus menghindari topik tersebut. Kehidupan di Bakers tidak menarik. Quince tidak mampu mengorek latar belakang Wes.

Akhirnya, dia bertanya, “Aku mesti bilang apa dalam suratku pada Ricky?”

Wes langsung bersemangat. “Yah, pertama-tama, aku akan menunggu. Tunggu sebulan. Biarkan dia

resah. Kalau kau cepat-cepat menanggapi, dan dengan uang itu, dia bisa menganggap ini terlalu mudah.” “Bagaimana kalau dia marah?” “Tak akan. Dia punya banyak waktu, dan dia menginginkan uang itu.” “Kau melihat semua suratnya?” “Kurasa kami punya akses ke sebagian besar.” Quince dilanda rasa ingin tahu. Duduk bersama orang yang sekarang tahu rahasianya yang paling dalam, dia merasa bisa mendesak. “Bagaimana caramu menghentikannya?”

Dan Wes, karena alasan yang takkan pernah dimengertinya, menjawab datar, “Kami mungkin akan membunuhnya saja.”

Sinar damai memancar dari mata Quince Garbe, kilau tenang hangat menyebar ke seluruh wajahnya yang tersiksa. Kerut-kerutnya memudar. Bibirnya membentuk senyum simpul. Warisannya ternyata akan selamat. Setelah si tua tiada dan uangnya jadi miliknya, dia akan terbang dari kehidupan ini dan hidup sesuai keinginannya. “Bagus,” katanya pelan. “Bagus sekali.”

Chap membawa map itu ke kamar motel, tempat mesin fotokopi berwarna sewaan sudah menunggu bersama para anggota unit lainnya. Tiga set kopi dibuat, dan tiga puluh menit kemudian dia sudah di bank lagi. Quince memeriksa yang asli; semua beres. Dengan hati-hati dia menyimpan map itu kembali, lalu berkata pada para tamunya, “Kurasa sudah waktunya kalian pergi,”

Mereka pergi tanpa bersalaman atau mengucapkan

salam perpisahan. Apa yang mau dikatakan?

Sebuah jet pribadi menunggu di bandara setempat, yang landasannya nyaris kurang panjang. Tiga jam setelah meninggalkan Quince, Chap dan Wes melapor ke Langley. Misi mereka sukses besar.

Ringkasan rekening di Geneva Trust Bank itu diperoleh setelah menyuap $40.000 seorang pegawai bank Bahama, orang yang pernah mereka pakai. Boomer Realty punya saldo $189.000. Pengacaranya memiliki sekitar $68.000 dalam rekeningnya. Ringkasan tersebut memuat semua transaksiuang yang ditransfer masuk, uang yang diambil. Orang-orang Deville berusaha keras melacak asal semua transfer itu. Mereka tahu tentang bank Mr. Garbe di Des Moines, dan mereka tahu bahwa satu lagi transfer $100.000 telah dikirim dari sebuah bank di Dallas. Tapi mereka tidak dapat menemukan siapa yang mengirim transfer tersebut.

Mereka sedang sibuk menyelidik ketika Teddy memanggil Deville ke bungker. York bersamanya. Meja penuh dengan fotokopi arsip Garbe dan ringkasan bank.

Tidak pernah Deville melihat atasannya begitu kecewa. York juga tidak banyak bicara. York terkena getah kasus Lake, meskipun Teddy menyalahkan dirinya sendiri.

“Informasi terakhir,” kata Teddy pelan.

Deville tidak pernah duduk selama di bungker. “Kami masih melacak uang itu. Kami telah mengontak majalah Out and About. Majalah itu di—

terbitkan di New Haven, perusahaan yang sangat kecil, dan saya tidak yakin kita bisa menyusup. Kontak kita di Bahama sudah dihubungi, kita akan tahu jika dan ketika ada penerimaan transfer. Kita punya unit yang siap menggeledah kantor-kantor Lake di Capitol Hill, tapi itu cuma untuk jaga-jaga. Saya tidak optimis. Kita menugaskan dua puluh orang di Jacksonville.*’

“Berapa orang kita yang membayangi Lake?”

“Baru saja dinaikkan dari tiga puluh menjadi lima puluh.”

“Dia harus diawasi. Kita tak boleh lengah. Dia ternyata tidak seperti dugaan kita, dan kalau kita lengah sejam saja, dia bisa mengirim surat, atau membeli majalah lagi.”

“Kami tahu. Kami bekerja sekeras mungkin.”

“Ini prioritas domestik tertinggi kita.”

“Saya tahu.”

“Bagaimana kalau kita menyusupkan orang ke dalam penjara itu?” tanya Teddy. Itu ide baru, diajukan York sejam yang lalu.

Deville menggosok-gosok mata dan menggigit-gigit kuku sebentar, lantas berkata, “Saya akan membereskannya Kita harus memanfaatkan koneksi yang belum pernah kita gunakan.”

“Berapa jumlah narapidana dalam sistem federal?” York bertanya.

“Lebih kurang 135.000,” jawab Deville.

“Kita tentu bisa menyelipkan satu orang lagi, kan?”

“Akan saya cek.”

“Kita punya kontak di Bureau of Prisons?”

“Itu teritori baru, tapi kami sedang mengusahakannya. Kami menggunakan seorang teman lama di Kehakiman. Saya optimis.”

Deville meninggalkan mereka sebentar. Dia akan dipanggil kembali sekitar satu jam lagi. York dan Teddy akan mengajukan serangkaian pertanyaan, pikiran, dan tugas untuk dilaksanakannya.

“Aku tak suka ide menggeledah kantornya di Capitol Hill,” kata York. “Terlalu riskan. Lagi pula, butuh waktu seminggu. Orang-orang itu punya arsip segunung.”

“Aku juga tak suka,” sambut Teddy pelan. “Kita suruh saja orang-orang kita di Dokumen menulis surat dari Ricky pada Lake. Kita sadap amplopnya, kita lacak, barangkali surat itu akan membawa kita ke arsipnya.”

“Itu ide yang bagus sekali. Beritahu Deville.” York mencatat di notes yang penuh catatan lain, kebanyakan sudah dicoret. Dia mencoret-coret untuk mengisi waktu, lalu mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ditahannya. “Apakah kau akan mengonfrontasinya?” “Belum.” “Kapan?”

“Mungkin takkan pernah. Mari kita cari informasi, kumpulkan semua yang bisa kita kumpulkan. Dia tampaknya sangat tertutup dalam hal kehidupan lainnya, barangkali masalah ini timbul setelah istrinya meninggal. Siapa tahu? Mungkin dia bisa tetap menutupinya.”

“Tapi dia harus tahu bahwa kau tahu. Kalau tidak, dia bisa saja mencoba lagi. Kalau dia tahu kita selalu mengawasi, dia akan menahan diri. Barangkali.”

ŤT!

rrvťv c^iusui Kelompok teroris t beraksi bulan lalu. Maniak-maniak di Timur Tengah membentuk pasukan dan menimbun minyak. Dan kita duduk di sini berjam-jam merancang perlawanan terhadap tiga hakim pidana yang persis pada saat ini mungkin sedang enak-enakan main kartu.” “Mereka tak bodoh,” kata York. “Memang, tapi mereka ceroboh. Jaring mereka telah menangkap orang yang salah.” “Kurasa kita memilih orang yang salah.” “Tidak, mereka yang begitu.”

Sembilan Belas

MEMO tersebut tiba melalui faks dari Re gional Supervisor, Bureau of Prisons, Wash ington. Faks itu ditujukan kepada M. Emmitt Broon, sipir Trumble. Dalam bahasa yang efisien tapi standar penyelia itu mengatakan dia telah memeriksa catatan dari Trumble dan terusik melihat jumlah kunjungan seseorang bernama Trevor Carson, pengacara tiga narapidana. Pengacara Carson tercatat hampir setiap hari.

Setiap narapidana memang punya hak konstitusional untuk bertemu pengacaranya, tapi penjara juga punya wewenang untuk mengatur kunjungan. Tak lama dari sekarang, kunjungan pengacara-klien akan dibatasi pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, antara pukul 15.00 dan 18.00. Perkecualian akan diberikan jika ada alasan yang kuat.

Kebijaksanaan baru itu akan diterapkan untuk periode sembilan puluh hari, setelah itu akan dikaji.

Sipir tidak keberatan. Dia juga mulai curiga pada kedatangan Trevor yang hampir setiap hari. Dia telah menanyai para petugas depan dan penjaga untuk

mengetahui apa persisnya penyebab semua urusan hukum ini, tapi sia-sia. Link, penjaga yang biasanya mengawal Trevor ke ruang rapat, dan yang biasanya mengantongi beberapa puluh dolar pada setiap kunjungan, memberitahu sipir bahwa pengacara itu dan Mr. Spicer membicarakan kasus, permohonan banding, dan semacamnya. “Cuma omong kosong hukum,” kata Link.

“Dan kau selalu memeriksa tas kerjanya?” tanya si sipir. “Selalu,” jawab Link.

Dengan niat baik, sipir menelepon Mr. Trevor Carson di Neptune Beach. Teleponnya dijawab seorang wanita dengan kasar, “Kantor pengacara.”

“Mr. Trevor Carson ada?”

“Siapa ini?”

“Ini Emmitt Broon.”

“Yah, Mr. Broon, dia sedang tidur.”

“Begitu. Bisakah Anda membangunkannya? Saya sipir penjara federal di Trumble, dan saya hams bicara dengannya.”

“Tunggu sebentar.” mr>-

Dia harus menunggu lama, dan ketika kembali wanita itu berkata, “Maaf. Saya tak bisa membangunkannya. Bagaimana kalau saya minta dia menelepon Andar

‘Tidak, terima kasih. Saya akan mengiriminya faks saja.”

Ide tipuan balasan timbul dalam benak York waktu sedang bermain golf hari Minggu, dan seiring berlanjutnya permamannya, sesekali di fairway, tapi lebih

244

sering di pasir dan pepohonan, rencana tersebut terus berkembang dan jadi brilian. Dia meninggalkan teman-temannya setelah empat belas lubang dan menelepon Teddy.

Mereka akan mempelajari taktik lawan. Dan mereka akan dapat mengalihkan perhatiannya dari Al Konyers. Tak ada ruginya.

Surat itu dikarang York, dan diserahkan pada salah satu pemalsu paling top di Dokumen. Sahabat pena itu dinamai Brant White, dan surat pertamanya ditulis di kartu korespondensi sederhana, putih, tapi mahal.

Dear Ricky:

Melihat iklanmu, aku menyukainya. Aku 55, sehat, dan mencari lebih dari sekadar sahabat pena. Aku dan istriku baru saja membeli rumah di Palm Valley, tidak jauh dari Neptune Beach. Kami akan ke sana tiga minggu lagi, rencananya akan tinggal selama dua bulan.

Kalau tertarik, kirim foto. Jika suka apa yang kulihat, aku akan memberitahu lebih banyak.

Brant

Alamat pengirimnya adalah Brant, Kotak Pos 88645, Upper Darby, PA 19082.

Untuk menghemat dua-tiga hari, bagian Dokumen menstempelnya dengan cap pos Philadelphia, dan surat itu diterbangkan ke Jacksonville tempat Agen Klockner mengantarkannya sendiri ke kotak kecil Aladdin North di kantor pos Neptune Beach. Itu hari Senin.

Setelah tidur siang keesokan harinya, Trevor roeng-

245

ambil surat dan pergi ke barat, keluar dari Jacksonville, menyusuri rute familier ke Trumble. Dia disambut penjaga-penjaga yang sama, Mackey dan Vince, di pintu depan, dan dia menandatangani buku catatan yang sama yang disodorkan Rufus ke hadapannya. Diikutinya Link ke area pengunjung dan berjalan ke pojok tempat Spicer menunggu dalam salah satu ruang rapat pengacara kecil.

“Aku dapat teguran,” kata Link ketika mereka memasuki ruangan. Spicer tidak mengangkat kepala. Trevor menyerahkan dua lembar uang dua puluhan pada Link, yang secepat kilat mengambilnya.

“Dari siapa?” tanya Trevor, membuka tas kerja. Spicer membaca surat kabar. “Sipir.”

“Sialan, dia sudah mengurangi jumlah kunjunganku. Apa lagi maunya?”

“Masa kau tak mengerti?” kata Spicer, tanpa menurunkan surat kabar. “Link ini gusar karena tak memperoleh sebanyak kita. Betul, Link?”

“Tepat. Aku tak tahu permainan kotor macam apa yang kalian mainkan di sini, tapi kalau aku memperketat pemeriksaanku, kalian akan kesulitan, kan?” “Bayaranmu lumayan,” kata Trevor. Ttu katamu.”

“Berapa yang kauinginkan?” tanya Spicer, menatapnya sekarang. Kg?*-

“Seribu sebulan, tunai,” sahut Link, memandang j Trevor. “Akan kuambil di kantormu.”

“Seribu sebulan dan surat-surat takkan diperiksa,” kata Spicer.

“Dan tidak memberitahu siapa-siapa.” “Yep.”

“Setuju. Sekarang pergi dari sini.” Link tersenyum pada mereka berdua dan meninggalkan ruangan. Dia mengambil posisi di depan pintu, dan karena disorot kamera-kamera closed-circuit, kadang-kadang melihat ke balik jendela.

Di dalam, kegiatannya nyaris tidak berbeda. Pertukaran surat terjadi lebih dulu dan hanya butuh sedetik. Dari map manila lusuh, selalu map yang sama, Joe Roy Spicer mengeluarkan surat-surat dan menyerahkannya pada Trevor, yang mengeluarkan surat-surat dari tas kerja dan memberikannya pada kliennya.

Ada enam surat yang harus diposkan. Kadang-kadang jumlahnya bisa sampai sepuluh, jarang kurang dari lima. Meskipun Trevor tidak punya catatan, atau fotokopi, atau dokumen dalam file yang dapat dijadikan bukti bahwa dia memiliki hubungan dengan tipuan Majelis, dia tahu ada dua puluh atau tiga puluh korban potensial yang sedang disiapkan. Dia mengenali beberapa nama dan alamatnya.

Tepatnya 21, menurut catatan teliti Spicer. Dua puluh satu prospek serius, dengan delapan belas lagi calon cadangan. Hampir empat puluh sahabat pena yang saat ini masih bersembunyi, beberapa takut pada bayangan sendiri, yang makin lama makin berani, ada juga yang sampai nyaris merobohkan pintu karena begitu ingin bertemu Ricky atau Percy.

Yang sulit adalah bersabar. Tipuan ini berhasil, uang berpindah tangan, godaannya adalah memeras mereka secepat-cepatnya. Beech dan Yarber ternyata

pekerja keras, asyik menggarap surat-surat mereka! selama berjam-jam, sementara Spicer mengatur operasi. Butuh disiplin untuk memancing sahabat pena baru, yang berduit, lalu memikatnya dengan kata-kata manis untuk memperoleh kepercayaannya.

“Bukankah sudah waktunya Jcita menghajar?” tanya Trevor.

Spicer sedang membuka surat-surat bara. “Jangan bilang kau bangkrut,” katanya. “Kau memperoleh lebih banyak daripada kami.”

“Uangku tersimpan seperti kau. Aku cuma ingin punya lebih banyak.”

“Aku juga.” Spicer memandang amplop dari Brant di Upper Darby, PA. “Ah, pendatang baru,” dia bergumam, lalu membukanya. Dia membacanya dengan cepat, dan terkejut dengan nadanya. Tak ada ketakutan, tak ada kata-kata mubazir, tak ada mencoba-coba. Pria ini siap beraksi.

“Di mana Palm Valley?” tanyanya.

“Sepuluh mil ke selatan pantai. Kenapa?”

“Seperti apa tempat itu?”

“Kawasan lapangan golf berpagar untuk pensiunan kaya, hampir semua dari Utara.”

“Berapa harga rumah-rumahnya?”

“Yah, aku belum pernah ke sana, oke? Pintu gerbangnya selalu dikunci, penjaga di mana-mana seolah ada maling yang mau mencuri kereta golf mereka, tapi

“Berapa harga rumah-rumahnya?”

“Tak kurang dari sejuta. Aku pernah melihat pasangan memasang iklan penjualan rumahnya dengan harga tiga juta.”

“Tunggu di sini,” kata Spicer, mengumpulkan arsipnya dan berjalan ke pintu.

“Mau ke mana kau?” tanya Trevor.

“Perpustakaan. Setengah jam lagi aku kembali.”

“Aku banyak pekerjaan.”

“Tidak. Baca saja koran.”

Spicer mengatakan sesuatu pada Link, yang mengawalnya melewati area pengunjung dan keluar dari gedung administrasi. Dia berjalan cepat di halaman rumput rapi. Matahari hangat, dan para tukang kebun bekerja supaya memperoleh 50 sen per jam.

Begitu juga para petugas perpustakaan hukum. Beech dan Yarber sedang bersembunyi di ruang rapat kecil mereka, beristirahat dari menulis surat dengan bermain catur, ketika Spicer terburu-buru masuk, tidak biasanya tersenyum. “Boys, kita akhirnya mendapat kakap,” katanya, dan melemparkan surat Brant ke meja. Beech membacakannya. “Palm Valley adalah salah satu tempat main golf

untuk orang kaya,” Spicer menjelaskan dengan bangga. “Rumah-rumahnya berharga sekitar tiga juta.

Bocah ini punya banyak uang dan tak suka menulis

surat.”

“Dia memang sepertinya tak sabaran,” komentar Yarber.

“Kita harus bergerak cepat,” kata Spicer. “Dia ingin turun tiga minggu lagi.”

“Bagaimana potensi labanya?” tanya Beech. Dia sangat menyukai jargon investor jutaan.

“Paling tidak setengah juta,” jawab Spicer. “Ayo kita tulis suratnya sekarang. Trevor menunggu.”

Beech membuka salah satu dari banyak mapnya

dan membentangkan perlengkapannya; lembaran-lembaran kertas berwarna pastel lembut. “Kurasa, aku akan memakai yang peach” katanya. “Oh, jelas,” sambut Spicer. “Harus peach.” Ricky menulis versi lebih singkat surat kontak j pertama. Dua puluh delapan tahun, lulusan college, Ś dirawat di klinik rehabilitasi tapi sebentar lagi dibebaskan, mungkin sepuluh hari lagi, sangat kesepian, . ingin menjalin hubungan dengan seorang pria dewasa. Menyenangkan sekali Brant akan tinggal di dekat sini, karena Ricky punya saudara perempuan di Jacksonville dan akan tinggal bersama wanita itu. Tak ada halangan, tak ada hambatan yang harus diatasi. Dia akan siap menyambut Brant ketika Brant datang ke Selatan. Tapi dia ingin melihat fotonya dulu. Apakah Brant betul-betul menikah? Apakah istrinya akan tinggal di Palm Valley juga? Atau apakah istrinya akan tinggal di Pennsylvania? Bukankah akan asyik, jika begitu?

Mereka menyertakan foto berwarna yang sudah ratusan kali mereka gunakan. Foto itu terbukti sukses.

Amplop peach itu dibawa Spicer ke ruang rapat pengacara tempat Trevor tidur. “Poskan ini segera,” bentak Spicer.

Mereka membicarakan taruhan basket-mereka selama sepuluh menit, lalu berpisah tanpa bersalaman.

Dalam perjalanan pulang ke Jacksonville, Trevor menelepon bandarnya, bandar baru, lebih besar, karena sekarang dia sudah mahir. Saluran digital memang lebih aman, tapi teleponnya tidak. Agen Klockner dan tim operasinya mendengarkan seperti biasa, dan melacak taruhan Trevor. Lumayan juga perolehanny

$4.500 selama dua minggu terakhir. Sebagai perbandingan, biro hukumnya menghasilkan $800 selama periode yang sama.

Selain telepon, di Beetle itu juga ada empat mikrofon, sebagian besar tak terlalu penting tapi tetap operasional. Dan di bawah setiap bumper dipasang pemancar, keduanya dihubungkan dengan sistem listrik mobil dan diperiksa dua malam sekali ketika Trevor sedang minum atau tidur. Alat penerima di ramah sewaan seberang jalan melacak Beetle itu ke mana pun perginya. Sambil asyik sendiri di sepanjang jalan raya, berbicara di telepon seperti orang penting, menghambur-hamburkan uang bagai penjudi lihai Vegas, meneguk kopi mendidih dari toserba, Trevor memancarkan lebih banyak sinyal daripada sebagian besar jet pribadi.

7 Maret. Super Tuesday besar. Dengan penuh kemenangan Aaron Lake melintasi panggung di ruang jamuan luas sebuah hotel di Manhattan, sementara ribuan hadirin bersorak, rmisik menggelegar, dan balon-balon berhamburan dari atas. Dia menguasai New York dengan 43 persen suara. Gubernur Tarry mendapat 29 persen, dan para peserta lain sisanya. Lake memeluk orang-orang yang belum pernah ditemuinya dan melambai pada orang-orang yang takkan pernah ditemuinya lagi, lalu menyampaikan pidato kemenangan yang menggelora tanpa teks.

Lalu dia pergi ke L.A. untuk merayakan kemenangan lain. Selama empat jam, sambil terbang dalam jet Boeing barunya yang mampu mengangkut seratus orang dan disewa satu juta sebulan dengan kecepatan

tanah

- kilometer per jam, 11.400 meter di atas dia dan stamya memonitor hasil dari dua belas neT”’ bagian yang berpatisipasi dalam Super Tuesday bes^ Di sepanjang Pantai Timur, tempat jajak pendapat sudah ditutup ? Lake menang tipis di Maine dan Connecticut, namun menguasai New York, Massachusetts, Maryland, dan Georgia. Dia kalah 800 suara di Rhode Island, dan memenangkan Vermont dengan selisih seribu Ketika dia terbang di atas Missouri, CNN menyatakan dia pemenang di negara bagian tersebut dengan keunggulan empat persen dari Gubernur Tarry. Ohio juga seperti itu.

Ketika Lake sampai di California, kehebohan sudah berakhir. Dari 591 delegasi yang diperebutkan, dia memperoleh 390. Dia juga memantapkan momentum. Dan yang paling penting, Aaron Lake sekarang menguasai uang. Gubernur Tarry kalah telak, dan semua taruhan sekarang dipasang pada Lake.

Dua Puluh

ENAM jam setelah menyatakan kemenangan di California, keesokan paginya Lake disibukkan dengan serangkaian wawancara langsung. Dalam dua jam dia harus meladeni delapan belas wawancara, kemudian terbang ke Washington.

Dia langsung mendatangi markas besar kampanyenya yang baru, di lantai dasar gedung perkantoran besar di H Street, selemparan batu dari Gedung Putih. Dia mengucapkan terima kasih pada para pegawainya, hampir tak ada yang sukarelawan. Dia menerobos kerumunan, berjabat tangan, sambil terus bertanya dalam hati, “Dari mana orang-orang ini datang?”

Kita akan menang, katanya berulang-ulang, dan semua orang percaya. Kenapa tidak?

Dia rapat sejam dengan orang-orang topnya. Dia punya $65 juta, tanpa utang. Tarry memiliki kurang dan satu juta dan terus berusaha menghitung jumlah utangnya. Kampanye Tarry malahan gagal menepati ” tenggat waktu pengumpulan laporan federal, karena pembukuannya begitu semrawut. Semua uang tunai

telah lenyap. Sumbangan berhenti Lake memperoleh ] semuanya.

Nama ketiga calon presiden diperdebatkan penuh semangat. Tugas itu mengasyikkan, karena berarti I nominasi sudah di tangan. Pilihan pertama Lake, Senator Nance dari Michigan, menimbulkan keributan karena pernah melakukan transaksi bisnis kotor. Partner-partneroya keturunan Italia, dari Detroit, dan Lake bisa membayangkan pers menelanjangi Nance habis-habisan. Sebuah komite dibentuk untuk mempelajari isu tersebut lebih jauh.

Dan sebuah komite lagi dibentuk untuk mulai merencanakan kehadiran Lake di konvensi di Denver Lake menginginkan penulis pidato baru, sekarang, dan dia ingin orang itu mengerjakan pidato penerimaan.

Dalam hati Lake takjub sendiri dengan pengeluarannya. Ketua kampanyenya mendapat bayaran $150.000 untuk tahun ini, bukan untuk dua belas bulan, melainkan sampai Natal saja. Ada ketua urusan keuangan, kebijaksanaan, hubungan media, operasi, dan perencanaan strategis, masing-masing dikontrak sebesar $120.000 untuk bekerja sepuluh bulan. Setiap ketua mempunyai dua atau tiga bawahan langsung, orang-orang yang nyaris tak dikenal Lake, dan mereka digaji $90.000 per orang. Kemudian ada para asisten kampanye, atau CA, bukan sukarelawan seperti yang dimiliki kebanyakan kandidat, namun pegawai tulen yang masing-masing dibayar $50.000 dolar dan mengurus kantor-kantornya. Jumlah mereka puluhan. Lalu puluhan asisten dan sekretaris, hebatnya, tak ada yang digaji kurang dari $40.000.

Dan di atas semua penghamburan ini, Lake berkali-kali berkata pada dirinya sendiri, kalau berhamil masuk Gedung Putih, aku akan harus menyediakan pekerjaan untuk mereka di sana. Tanpa kecuali. Bocah-bocah yang sekarang memakai lencana Lake berharap nanti akan punya izin masuk ke Sayap Barat dan pekerjaan bergaji $80.000 setahun.

Itu cuma setetes air di lautan, katanya mengingatkan diri sendiri berulang kali. Jangan pikirkan hal kecil ketika begitu banyak yang dipertaruhkan.

Hal-hal negatif disisihkan ke akhir pertemuan dan dibicarakan sebentar. Seorang reporter Post menyelidiki karier bisnis Lake dulu. Tanpa berusaha terlalu keras dia mengetahui soal GreenTree, pengembangan tanah yang gagal, 22 tahun lalu. Lake dan seorang partner membangkrutkan GreenTree, secara legal merugikan para kreditor $800.000. Partnernya didakwa melakukan penipuan kebangkrutan, tapi juri meloloskannya. Tidak ada yang menyalahkan Lake, dan tujuh kali setelah itu rakyat Arizona memilihnya sebagai wakil mereka di Kongres.

“Aku akan menjawab pertanyaan apa pun mengenai GreenTree,” kata Lake. “Itu cuma transaksi bisnis jelek.”

“Pers akan makin teliti,” lata ketua hubungan media. “Anda orang baru dan belum mselidiki cukup dalam. Sekarang waktunya mereka bersikap kejam.”

“Sudah dimulai kok,” kata Lake. “Tak ada yang perlu kusembunyikan.”

Untuk makan malam dia dibawa ke Mortimer’s, tempat kumpul-kumpul paling penting saat ini, di Pennsylvania, tempat dia bertemu Elaine Tyner,

pengacara pengelola D-PAC. Sambil menikmati buah-1 buahan dan keju cottage, wanita itu memaparkan \ keuangan PAC terbaru. Uang di tangan $29 juta, tidak ada utang signifikan, uang terus mengalir, ber-J datangan dari segala arah, dari berbagai tempat di I dunia.

Menghabiskannya merupakan tantangan. Karena dianggap “uang lunak”, atau uang yang tidak bisa langsung dimanfaatkan kampanye Lake, uang tersebut harus digunakan untuk hal-hal lain. Tyner punya beberapa target. Yang pertama adalah seri iklan generik yang mirip dengan iklan-iklan kiamat buatan Teddy. D-PAC sudah membeli waktu tayang prima untuk musim gugur. Yang kedua, dan yang paling menyenangkan, adalah Senat dan Kongres. “Mereka berbaris seperti semut,” katanya geli. “Menakjubkan apa yang bisa diakibatkan uang beberapa juta.”

Dia bercerita tentang pemilihan anggota Kongres di sebuah distrik di Northern California tempat seorang anggota lama, veteran dua puluh tahun yang dikenal dan dibenci Lake, mengawali tahun dengan keunggulan empat puluh poin atas seorang penantang tak dikenal. Si penantang mengetahui soal D-PAC dan menyerahkan jiwa-raganya pada Aaron Lake. “Kami bisa dibilang mengambil alih kampanyenya,” dia memberitahu. “Kami mengurus pidato, jajak pendapat, membuat semua iklan cetak dan TV, kami bahkan menyewa staf baru untuknya. Sejauh ini kami telah menghabiskan 1,5 juta, dan jagoan kami telah mengurangi kekalahannya menjadi cuma sepuluh poin. Dan kami masih punya waktu tujuh bulan.” Secara keseluruhan, Tyner dan D-PAC ikut campur

dalam tiga puluh pemilihan anggota Kongres dan sepuluh anggota Senat. Tyner mengharapkan bisa mengumpulkan $60 juta, dan di bulan November akan sudah membelanjakan setiap sennya.

Area ketiga “fokus”-nya adalah memantau situasi negeri. D-PAC mengadakan jajak pendapat terus-menerus, setiap hari, lima belas jam per hari. Jika buruh di Pennsylvania barat resah karena suatu masalah, D-PAC pasti tahu. Jika kaum wanita di Chicago dan sekitarnya menyukai atau tidak menyukai iklan Lake, D-PAC mengetahuinya sampai ke persentase-, nya. “Kami tahu segalanya,” sesumbarnya. “Kami seperti kakak, selalu mengawasi.”

Jajak pendapat memakan biaya kira-kira $60.000 sehari. Tak ada yang bisa menyentuhnya. Untuk masalah-masalah penting, Lake unggul sembilan poin dari Tarry di Texas, bahkan di Florida, negara bagian yang belum dikunjungi Lake, dan sangat dekat dengan Indiana, negara bagian asal Tarry.

“Tarry capek,” kata Tyner. “Semangatnya padam, karena tadinya dia menang di New Hampshire dan uang mengucur. Lalu Anda mendadak muncul, wajah bam, tanpa cacat, pesan baru, Anda mulai menang, dan tiba-tiba uang mengikuti Anda. Tarry tak mampu mengumpulkan $50 di acara penjualan kue gereja. Dia kehilangan orang-orang penting karena tak sanggup membayar mereka, dan karena mereka mencium adanya pemenang baru.”

Lake mengunyah sepotong nenas dan menikmati kata-kata itu. Bukan omongan baru; dia sudah mendengarnya dari orang-orangnya sendiri. Tapi ketika diucapkan oleh orang yang sudah kenyang makan

asam-garam seperti Tyner, kata-kata tersebut terasa lebih meyakinkan.

“Bagaimana angka Wakil Presiden?” tanya Lake. Dia punya informasi sendiri, tapi karena alasan tertentu lebih mempercayai Tyner.

“Dia akan mengumumkan pencalonannya,” katanya, bukan informasi baru. ‘Tapi konvensi akan seru. Saat ini, Anda cuma ketinggalan beberapa poin untuk pertanyaan penting: Siapa yang akan kaupilih November nanti?” “November masih jauh.” “Ya dan tidak.”

“Banyak yang bisa berubah,” komentar Lake, memikirkan Teddy, dan ingin tahu krisis macam apa yang akan dieiptakannya untuk menakut-nakuti rakyat Amerika.

Makan malamnya tidak banyak. Dari Mortimer’s, Lake diantar ke ruang jamuan kecil di Hay-Adams Hotel. Dia makan malam dengan santai bersama teman-teman, 24 koleganya di Kongres. Cuma beberapa orang di antara mereka yang mendukungnya ketika dia mulai mengikuti pemilihan, tapi sekarang mereka semua berada di pihaknya. Kebanyakan punya penyelenggara jajak pendapat sendiri. Dukungan telah mengalir.

Lake tidak pernah melihat teman-teman lamanya begitu gembira berada di dekatnya.

Surat itu dibuat di Dokumen oleh seorang wanita bernama Bruce, salah satu dari tiga pemalsu paling andal CIA. Pada papan di atas meja kerja di lab kecilnya terpampang surat-surat yang ditulis Ricky.

Contoh-contoh bagus, jauh melebihi yang dibutuhkannya. Dia tidak tahu siapa Ricky, tapi tidak ragu bahwa tulisan tangan orang itu dibuat-buat. Tulisannya cukup konsisten, contoh-contoh yang lebih bara jelas menunjukkan keluwesan yang cuma bisa diperoleh karena sering melakukannya. Kosa katanya biasa-biasa saja, tapi dia lalu curiga Ricky berpura-pura. Straktur kalimatnya jarang salah. Brace menduga usianya antara empat puluh dan enam puluh, pendidikannya minimal college.

Tapi bukan tugasnya menebak hal-hal seperti itu, setidaknya dalam kasus ini. Dengan pena dan kertas yang sama dengan Ricky, dia menulis surat singkat manis pada Al. Teksnya disiapkan orang lain, dia tidak tahu siapa. Juga tidak peduli.

Bunyinya, “Hei, Al, ke mana saja kau? Kenapa belum kaubalas suratku? Jangan lupa padaku, ya.” Surat seperti itulah, tapi dengan kejutan kecil menyenangkan. Karena tidak boleh memakai telepon, Ricky mengirimi Al kaset berisi pesan singkat dari dalam klinik rehabilitasi.

Bruce menulis surat tersebut pada selembar kertas, lalu menggarap amplopnya selama sejam. Cap pos yang distempelkannya dari Neptune Beach, Florida.

Dia tidak mengelem amplop itu. Proyek kecilnya diperiksa, lalu dibawa ke lab lain. Kasetnya diisi suara seorang agen muda yang belajar drama di Northwestern. Dengan suara lembut tanpa aksen dia berkata, “Hei, Al, ini Ricky. Kuharap kau terkejut mendengar suaraku. Di sini mereka tak mengizinkan kami menelepon, aku tak tahu alasannya, tapi entah mengapa kami boleh mengirim dan menerima kaset

Aku tak sabar untuk keluar dari tempat ini.” Lal dia berceloteh selama lima menit tentang rehabilitasi nya serta betapa dia membenci pamannya dan orang orang yang mengelola Aladdin North. Tapi dia mengakui bahwa mereka berhasil menghilangkan kecanduannya. Dia yakin nantinya takkan sedemikian benci pada tempat ini.

Seluruh omongannya hanya ocehan. Rencana setelah dia bebas tidak dibicarakan, tidak ada petunjuk tentang ke mana dia akan pergi atau apa yang akan dilakukannya, cuma ucapan samar tentang mengunjungi Al kapan-kapan.

Mereka belum siap menangkap Al Konyers. Satu-satunya tujuan kaset itu adalah untuk menyembunyikan di dalamnya pemancar yang cukup kuat untuk membawa mereka ke arsip tersembunyi Lake. Alat penyadap kecil di dalam amplop terlalu riskan. Al mungkin cukup pintar sehingga menemukannya.

Di Mailbox America di Chevy Chase, CIA sekarang mengontrol delapan kotak, disewa setahun oleh delapan orang yang berlainan, masing-masing memiliki akses 24 jam seperti Mr. Konyers. Mereka datang dan pergi setiap waktu, mengecek kotak, mengambil surat yang mereka kirim untuk diri mereka sendiri, sesekali memeriksa kotak Al kalau tidak ada yang melihat.

Karena lebih mengetahui jadwal orang itu daripada yang bersangkutan sendiri, mereka sabar menunggu sampai dia selesai berkeliling. Mereka yakin Al akan pergi diam-diam seperti dulu, berpakaian seperti pejoging, jadi mereka menahan amplop berisi kaset itu sampai hampir pukul 22.00 suatu malam. Lalu mereka meletakkannya di kotak posnya.

Empat jam kemudian, selusin agen mengawasi setiap gerakannya, Lake si pejoging melompat dari taksi di depan Mailbox America, melesat ke dalam, wajahnya tertutup ujung topi lari, pergi ke kotak posnya, mengambil surat, dan bergegas kembali ke taksi.

Enam jam kemudian’ dia meninggalkan Georgetown untuk sarapan bersama di Hilton, dan mereka menunggu. Dia berpidato di hadapan asosiasi kepala polisi pada pukul 09.00, dan seribu kepala sekolah menengah pada pukul 11.00. Dia makan siang dengan Juru Bicara Parlemen. Dia melayani wawancara melelahkan pada pukul 15.00, lalu pulang untuk berkemas. Jadwalnya mengharuskannya berangkat dari Reagan National Airport pukul 20.00 dan terbang ke Dallas.

Mereka membuntutinya ke bandara, mengawasi Boeing 707-nya tinggal landas, lalu menghubungi Langley. Ketika dua agen Secret Service tiba untuk memeriksa daerah sekitar townhouse Lake, CIA sudah di dalam.

Pencarian berakhir di dapur sepuluh menit setelah dimulai. Reseptor kecil menangkap sinyal dari kaset. Mereka menemukannya di tempat sampah, bersama tempat susu ukuran setengah galon yang sudah kosong, dua bungkus oatmeal, beberapa serbet kertas kotor, dan Washington Post edisi tadi pagi. Pelayan datang dua kali seminggu. Lake membiarkan sampahnya untuk dibereskan wanita itu.

Mereka tidak bisa menemukan arsip Lake, karena dia memang tidak punya arsip. Pintar, dia membuang barang bukti.

Teddy nyaris lega ketika diberitahu. Tim itu masih I di dalam tdwnhouse, bersembunyi dan menunggu Secret Service pergi. Apa pun yang dilakukannya dalam kehidupan rahasianya, Lake berusaha keras untuk tidak meninggalkan jejak.

Kaset itu mengguncang Aaron Lake. Membaca surat-surat Ricky dan memandang wajah tampannya membuat hatinya bergetar. Pemuda itu jauh dan mereka mungkin takkan pernah bertemu. Mereka bisa bersahabat pena, main kucing-kucingan dari jauh, dan bergerak pelan, setidaknya begitulah yang ada dalam pikiran Lake awalnya.

Tapi mendengar suara Ricky membuatnya semakin dekat, dan Lake panik. Apa yang beberapa bulan lalu mlakukannya karena sekadar ingin tahu, sekarang mengandung kemungkinan-kemungkinan mengerikan. Urusan ini terlalu riskan. Lake gemetar memikirkan kemungkinan ketahuan.

Tapi rasanya itu tetap mustahil. Dia aman di balik kedok Al Konyers. Ricky sama sekali tidak tahu.

Dalam kaset itu dia cuma menyebut-nyebut Al. Kotak

pos melindunginya.

Tapi dia harus menghentikannya. Paling tidak untuk

saat ini.

Boeing penuh sesak dengan orang-orang Lake yang dibayar mahal. Tidak ada pesawat yang cukup besar untuk memuat seluruh rombongannya. Kalau dia menyewa 747, dalam dua hari pesawat itu akan penuh dengan CA, penasihat, konsultan, dan ahli jajak pendapat, belum lagi regu pengawalnya dari Secret Service yang jumlahnya makin membengkak.

Makin banyak pemilihan pendahuluan dimenangkannya, makin berat pesawatnya. Mungkin dia perlu kalah di beberapa negara bagian, supaya bisa membawa bagasi.

Dalam kegelapan pesawat, Lake meneguk jus tomat dan memutuskan untuk menulis surat terakhir kepada Ricky. Al akan mendoakan keberhasilannya, dan menyudahi korespondensi mereka begitu saja. Apa yang bisa dilakukan anak itu?

Dia tergoda untuk menulis surat tersebut sekarang juga, duduk di kursi empuknya, kaki terjulur ke atas. Tapi setiap saat asisten akan datang membawa laporan yang harus segera didengar si kandidat. Dia tak punya privasi. Dia tak punya waktu untuk berpikir, merenung, atau melamun. Semua khayalan menyenangkan dibuyarkan jajak pendapat baru, berita paling akhir, atau kebutuhan mendesak untuk mengambil keputusan.

Dia tentu akan bisa bersembunyi di Gedung Putih nanti. Banyak penyendiri pernah tinggal di sana.

Dua Puluh Satu

KASUS hilangnya ponsel itu menarik perhatian para narapidana di Trumble selama sebulan terakhir. Mr. T-Bone, anak jalanan kerempeng dari Miami yang dihukum dua puluh tahun karena obat bius, memiliki telepon tersebut dengan cara yang masih tidak jelas. Ponsel dilarang keras di Trumble, dan cara dia memperolehnya menimbulkan lebih banyak gunjingan daripada kehidupan seks T. Kait Beberapa orang yang pernah melihatnya menggambarkannya, bukan di pengadilan, melainkan di sekitar kamp, cuma sebesar stopwatch. Mr. T-Bone sering tampak bersembunyi di tempat gelap, berjongkok, membungkuk dalam-dalam, membelakangi dunia, bergumam ke telepon. Jelas dia masih memimpin operasi jalanan di Miami.

Lalu benda itu lenyap. Mr. T-Bone mengumumkan bahwa dia mungkin akan membunuh siapa pun yang mengambilnya, dan ketika ancaman kekerasan itu tidak berhasil, dia menawarkan hadiah uang $1.000. Kecurigaan segera terarah pada penjual obat bius muda lain, Zorro, dari daerah Atlanta yang sekeras

daerah asal Mr. T-Bone. Pembunuhan tampaknya akan terjadi, jadi para penjaga dan petugas di depan turun tangan dan meyakinkan keduanya bahwa mereka akan dipindahkan jika keadaan berkembang tak terkendali. Kekerasan tidak ditolerir di Trumble. Hukumannya adalah pemindahan ke penjara berpengamanan menengah di mana para narapidananya akrab dengan kekerasan.

Mr. T-Bone diberitahu seseorang tentang sidang mingguan yang diadakan Majelis, lalu tak lama kemudian dia menemui T. Kari dan mengajukan tuntutan. Dia menginginkan teleponnya kembali, plus ganti rugi sejuta dolar.

KeUta kasus tersebut akan disidangkan untuk pertama kalinya, asisten sipir datang ke kafeteria untuk mengamati keadaan, dan sidang segera -ditunda Majelis. Hal yang sama terjadi tepat sebelum sidang kedua. Tuduhan tentang siapa yang memiliki atau tidak memiliki ponsel terlarang tidak boleh didengar orang administrasi. Para penjaga yang mengawasi pertunjukan mingguan itu takkan buka mulut.

Hakim Spicer akhirnya meyakinkan konselor penjara bahwa ada urusan pribadi yang harus dibereskan para penghuni sendiri, tanpa campur tangan dari bagian depan. “Kami mencoba menyelesaikan suatu masalah kecil,” bisiknya. “Dan kami perlu melakukannya secara pribadi.”

Permintaan itu sampai ke atas, dan pada tanggal sidang ketiga kafeteria dipenuhi penonton, kebanyakan berharap akan melihat pertumpahan darah. Satu-satunya petugas penjara yang ada di ruangan itu seorang penjaga, duduk di belakang, setengah tidur.

Kedua pihak yang bertikai bukan baru sekali ini disidangkan, jadi tidak mengejutkan ketika Mr. T-Bone dan Zorro bertindak sebagai pengacara untuk diri mereka sendiri. Selama hampir sejam pertama Hakim Beech sibuk berusaha menyuruh mereka memakai bahasa yang sopan. Akhirnya dia angkat tangan. Penuntut melontarkan tuduhan-tuduhan liar, yang meski dibantu seribu agen FBI sekalipun tidak j akan bisa dibuktikan. Bantahannya sama keras dan ] sengitnya. Mr. T-Bone menang mutlak dengan dua affidavit, ditandatangani para narapidana yang namanya diungkapkan hanya pada Majelis, yang berisi pernyataan saksi mata yang pernah melihat Zorro berusaha bersembunyi ketika bicara mengpnakan telepon mungil.

Respons marah Zorro menggambarkan affidavit itu dalam bahasa yang belum pernah didengar Majelis.

Pukulan telak datang tiba-tiba. Mr. T-Bone, dalam tindakan yang pasti dikagumi pengacara paling licin sekalipun, mengajukan dokumen. Catatan teleponnya telah diselundupkan ke dalam penjara, dan dia menunjukkan bukti hitam di atas putih pada pengadilan bahwa tepat 54 hubungan telepon telah dilakukan ke nomor-nomor di Atlanta Tenggara. Para pendukungnya, jumlahnya memang besar tapi kesetiaannya bisa lenyap dalam sekejap mata, melompat dan bersorak sampai T. Kari menghantamkan palu plastiknya dan menyuruh mereka diam.

Zorro kesulitan menjawab, dan keraguannya menghabisinya. Dia diperintahkan untuk menyerahkan telepon tersebut pada Majelis dalam 24 jam, dan membayar $450 pada Mr. T-Bone untuk tagihan interlokal.

jika 24 jam berlalu tanpa telepon, masalah ini akan dilaporkan pada sipir, bersama pemberitahuan dari Majelis bahwa Zorro memiliki ponsel ilegal.

Majelis lebih jauh memerintahkan keduanya saling menjaga jarak setidaknya 15 meter setiap saat, bahkan ketika makan.

T. Kari mengetuk-ngetukkan palu, dan kerumunan bubar dengan ribut. Dia memanggil kasus berikut, satu lagi perselisihan judi yang sepele, dan menunggu para penonton pergi. “Tenang!” teriaknya, dan suasana malahan semakin gaduh. Majelis kembali membaca koran dan majalah mereka.

“Tenang!” T. Kari berteriak lagi, memukul-mukulkan palunya.

“Diam,” seru Spicer pada T. Kari. “Kau lebih ribut dari mereka.”

“Ini tugasku,” T. Kari balas membentak, ikal-ikal wignya terpantul-pantul ke segala arah.

Begitu kafeteria kosong, yang tinggal hanya seorang narapidana. T, Kari memandang berkeliling dan akhirnya bertanya padanya, “Kau Mr. Hooten?”

“Bukan, Sir,” jawab pemuda itu.

“Kau Mr. Jenkins?”

“Bukan, Sir.”

“Kurasa juga begitu. Kasus Hooten melawan Jenkins dengan ini dibatalkan karena kendalmadiran,” kata T. Kari, dan dengan dramatis menulisnya di buku catatan.

“Siapa kau?” tanya Spicer pada pria muda itu, yang duduk sendirian dan memandang sekitarnya seolah tidak yakin dia boleh berada di situ. Ketiga pria bertoga hijau pucat itu sekarang menatapnya,

begitu juga badut berwig abu-abu, berpiama merah tua, dan bersepatu kamar mandi warna lembayung muda tanpa kaus kaki itu. Siapa orang-orang ini?

Pelan-pelan dia. bangun dan maju dengan takut-takut sampai berdiri di hadapan ketiganya. “Aku’ butuh pertolongan,” katanya, nyaris tak berani bersuara.

“Kau punya urusan dengan pengadilan?” geram T. Kari dari samping. ‘Tidak, Sir.”

“Kalau begitu kau harus” “Tutup mulut!” tukas Spicer. “Sidang ditunda. Pergi.”

T. Kari membanting buku catatan, menendang kursi lipat ke belakang, dan bergegas keluar ruangan, sepatu mandinya meluncur di lantai, wignya terpantul-pantul.

Anak muda itu tampak hampir menangis. “Apa yang bisa kami lakukan untukmu?” tanya Yarber.

Dia memegang kardus kecil, dan Majelis tahu dari pengalaman bahwa kotak itu berisi surat-surat yang telah membawanya ke Trumble. “Aku butuh pertolongan,” ulangnya. “Aku masuk sini minggu lalu, Ť. dan teman sekamarku bilang kalian bisa membantu permohonan bandingku.”

“Kau tak punya pengacara?” tanya Beech. “Dulu punya. Dia tak begitu bagus. Dia penyebab aku di sini” “Kenapa kau kemari?” tanya Spicer. “Aku tak tahu. Aku betul-betul tak tahu.” “Apakah kau disidangkan?” “Ya. Sidangnya lama.” “Dan kau dianggap bersalah oleh juri?”

Aku dan beberapa lainnya. Mereka bilang kami bagian dari sebuah komplotan.” “Komplotan untuk melakukan apa?” “Impor kokain.”

Narapidana obat bius lagi. Mereka tiba-tiba ingin segera kembali menulis surat. “Berapa lama hukumanmu?” tanya Yarber.

“Empat puluh delapan tahun.”

“Empat puluh delapan tahun! Berapa umurmu?”

“Dua puluh tiga.”

Acara menulis surat mendadak terlupakan. Mereka menatap wajah mudanya yang sedih dan mencoba membayangkannya lima puluh tahun yang akan datang. Dibebaskan pada usia 71; tak terbayangkan. Ketiga anggota Majelis akan meninggalkan Trumble dalam usia yang lebih muda daripada anak ini.

“Ambil kursi,” kata Yarber, dan bocah itu menarik kursi terdekat dan meletakkannya di depan meja mereka. Bahkan Spicer sekalipun bersimpati padanya. “Siapa namamu?” tanya Yarber. “Aku biasa dipanggil Buster.” “Oke, Buster, apa yang telah kaulakukan hingga dihukum 48 tahun?”

Ceritanya bagai air bah. Sambil meletakkan kotak di lutut dan memandangi lantai, dia mulai dengan mengatakan bahwa dia belum pernah berurusan dengan hukum, begitu juga ayahnya. Mereka memiliki dok perahu kecil di Pensacola. Mereka memancing, berlayar, dan mencintai laut, dan mengelola dok itu merupakan kehidupan yang sempurna bagi mereka Mereka menjual sebuah perahu memancing bekas, berukuran 15 meter, pada seorang pria dari Fort

Lauderdale, orang Amerika yang membayar tunai J $95.000. Uang itu berasal dari bank, atau setidaknya ; begitulah yang dikira Buster. Beberapa bulan kemudian, orang tadi kembali untuk membeli perahu lagi, ukuran 11,4 meter yang dibayarnya seharga $80.000. Membeli perahu dengan uang tunai tidak aneh di Florida. Selanjutnya perahu ketiga dan keempat. Buster dan ayahnya tahu tempat membeli perahu memancing bekas yang bagus, yang kemudian mereka perbaiki dan renovasi. Mereka menikmati melakukan sendiri pekerjaan itu. Setelah perahu kelima, polisi bagian narkotika datang. Mereka mengajukan serentetan pertanyaan, mengancam, ingin melihat catatan. Ayah Buster mula-mula menolak, lalu mereka menyewa pengacara yang menyarankan mereka untuk tidak bekerja sama. Tak terjadi apa-apa selama beberapa bulan.

Buster dan ayahnya ditangkap pukul 03.00 hari Minggu oleh segerombolan tukang pukul yang memakai rompi dan membawa banyak sekali senjata. Mereka diseret setengah telanjang dari rumah kecil mereka di dekat teluk, kilatan lampu menyambar-nyambar tempat itu. Dakwaannya setebal 2,5 senti, 160 halaman, 81 dakwaan berkomplot menyelundupkan kokain. Di dalam kardus ada salinannya. Buster dan ayahnya nyaris tidak disinggung-singgung dalam 160 halaman tersebut, tapi mereka tetap disebut terdakwa dan disatukan dengan pria yang membeli perahu-perahu mereka dulu, bersama 25 orang lain yang belum pernah mereka kenal. Sebelas orang Colombia. Tiga pengacara. Yang lainnya dari South Florida.

Jaksa menawari mereka kesepakatanmasing-masing dua tahun sebagai imbalan untuk pengakuan bersalah dan kerja sama melawan para terdakwa lain. Mengaku bersalah melakukan apa? Mereka tidak berbuat salah. Mereka hanya kenal salah satu dari 26 teman sekomplotan mereka. Mereka tidak pernah melihat’kokain.

Ayah Buster menghipotekkan kembali ramah mereka untuk memperoleh $20.000 agar dapat membayar pengacara, tapi pilihan mereka jelek. Di persidangan, mereka waswas ketika didudukkan bersama orang-orang Colombia dan penjual obat bius sungguhan. Mereka berkumpul di satu sisi ruang sidang, semua anggota komplotan, duduk berkelompok seolah mereka tadinya organisasi pengedar obat bius kelas kakap. Di sisi lain, dekat juri, duduk para pengacara pemerintah, kumpulan bangsat bersetelan hitam, sibuk mencatat, memelototi mereka seakan mereka penyiksa anak kecil. Juri juga melotot pada mereka.

Selama tujuh minggu persidangan, Buster dan ayahnya bisa dibilang tidak dipedulikan. Nama mereka disebut tiga kali. Dakwaan utama pemerintah terhadap mereka adalah bahwa mereka berkomplot dengan organisasi kelas kakap untuk membawa obat bius dari Meksiko ke berbagai tempat di sepanjang semenanjung Florida. Pengacara mereka, yang mengomel bayarannya kurang untuk persidangan tujuh minggu, terbukti tak mampu menangkis dakwaan-dakwaan ngawur itu. Tapi para pengacara pemerintah juga tidak terlalu pintar dan jauh lebih ingin menangkap orang-orang Colombia.

Tapi mereka tidak perlu membuktikan terlalu

banyak. Mereka telah memilih juri yang luar biasa. Setelah berunding delapan hari, para anggota juri, yang jelas capek dan frustrasi, berpendapat bahwa semua anggota komplotan bersalah untuk semua dakwaan. Sebulan setelah mereka divonis, ayah Buster bunuh diri.

Ketika bercerita, anak itu tampak nyaris menangis. Tapi rahangnya menegang, giginya mengertak, dan ia berkata, “Aku tak bersalah.”

Jelas dia bukan narapidana pertama di Trumble yang menyatakan dirinya tidak bersalah. Beech mengamati dan mendengarkan, lalu teringat pada seorang pria muda yang dijatuhinya hukuman empat puluh tahun penjara karena mengedarkan obat bius di Texas. Masa kecil terdakwa itu kacau, tidak berpendidikan, catatan kejahatan remajanya panjang, pokoknya dia takkan punya masa depan. Beech mengkhotbahinya dari tempat duduk hakim, tinggi dan agung di atas, serta bangga pada diri sendiri karena telah menjatuhkan hukuman seberat itu. Para pengedar obat bius sialan ini harus disingkirkan dari jalanan!

Orang liberal adalalT orang konservatif yang ditangkap. Setelah tiga tahun di dalam penjara, Hatlee Beech gundah memikirkan banyak dari orang-orang yang telah dipenjarakannya. Orang-orang yang jauh lebih bersalah daripada si Buster ini. Anak-anak yang cuma iseng.

Finn Yarber melihat, mendengar, dan sangat kasihan pada pemuda itu. Semua orang di Trumble punya kisah sedih, tapi setelah sebulan dia mendengarkannya, hampir tak ada yang dipercayanya lagi. Tapi Buster bisa dipercaya. Selama 48 tahun mendatang,

dia akan mengalah dan pasrah, semua atas tanggungan pembayar pajak. Makan tiga kali sehari. Tempat tidur hangat di malam hari$31.000 setahun adalah perkiraan terakhir tentang biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk seorang narapidana federal. Buang-buang uang saja. Setengah dari semua penghuni Trumble mestinya tidak dipenjara. Mereka bukan orang-orang berbahaya yang seharusnya dihukum dengan ganti rugi dalam jumlah besar dan kerja sosial saja.

Joe Roy Spicer mendengarkan kisah memelas Buster, dan memperhitungkan manfaat bocah itu di masa yang akan datang. Ada dua kemungkinan. Pertama, menurut pendapat Spicer, telepon kurang digunakan dalam tipuan Angola. Majelis adalah pria-pria tua yang menulis surat sebagai pria-pria muda. Terlalu riskan untuk menelepon Quince Garbe di Iowa, misalnya, dan berpura-pura jadi Ricky, pemuda 28 tahun yang segar bugar. Tapi jika bocah seperti Buster bekerja pada mereka, mereka dapat meyakinkan semua korban potensial. Di Trumble banyak anak muda, dan Spicer sudah mempertimbangkan beberapa orang. Tapi mereka kriminal, dan dia tidak mempercayai mereka. Buster baru ditangkap dari jalanan, tampaknya tak bersalah, dan mendatangi mereka untuk minta bantuan. Bocah ini bisa dimanipulasi.

Kemungkinan kedua adalah pengembangan yang pertama. Kalau bergabung dalam komplotan mereka, Buster bisa dipakai ketika Joe Roy dibebaskan. Tipuan ini terlalu menguntungkan untuk diakhiri begitu saja. Beech dan Yarber jago menulis surat, tapi

tidak punya otak bisnis. Mungkin Spicer bisa men didik si Buster muda ini untuk menggantikannya dan untuk mengalihkan jatahnya ke luar. Siapa tahu.

“Kau punya uang?” tanya Spicer. “Tidak, Sir. Kami kehilangan segalanya.” “Tidak ada keluarga, paman, bibi, sepupu, teman yang bisa membantumu membiayai proses hukum?” ‘Tidak, Sir. Biaya apa?”

“Kami biasanya meminta bayaran untuk menelaah kasus dan membantu pengurangan hukuman.”

“Aku betul-betul bangkrut.”

“Kurasa kami bisa membantu,” kata Beech. Spicer memang tidak pernah menangani pengurangan hukuman. Orang itu tamat sekolah menengah saja tidak.

“Semacam kasus pro bono, begitu maksudmu?” tanya Yarber pada Beech.

“Pro apa?” tanya Spicer.

“Pro bono.”

“Apa itu?”

“Penanganan kasus hukum secara gratis,” Beech memberitahu.

“Penanganan kasus hukum secara gratis. Siapa yang melakukannya?”

“Pengacara,” Yarber menjelaskan. “Setiap pengacara diharap menyumbangkan beberapa jam waktunya untuk membantu orang-orang yang tak mampu membayarnya.”

“Itu bagian dari hukum publik Inggris Lama,” Beech menambahkan, semakin mengaburkan masalah. smi tak pernah terjadi, kan?” kata Spicer.

“Kami akan menelaah kasusmu,” kata Yarber pada Buster. “Tapi jangan terlalu berharap.” “Terima kasih.”

Mereka meninggalkan kafeteria berbondong-bondong, tiga mantan hakim bermantel hijau seragam paduan suara diikuti seorang narapidana muda ketakutan. Ketakutan tapi juga penasaran.

Dua Puluh Dua

BALASAN Brant dari Upper Darby, Pa., bernada mendesak:

Dear Ricky:

Wow! Bagus sekali fotomu! Aku akan turun lebih cepat Aku akan berada di sana tanggal 20 April. Apakah kau sibuk? Kalau tidak, rumah bisa kita tempati berdua saja, karena istriku akan tinggal di sini dua minggu lagi. Wanita yang malang. Sudah 22 tahun kami menikah dan dia masih belum tahu.

Ini fotoku. Yang di belakang itu Lear Jet-ku, salah satu mainan favoritku. Kita bisa terbang naik pesawat itu kalau kau mau.

Tolong balas suratku segera.

Salam, Brant

Tetap belum ada nama belakang, tapi itu bukan masalah. Mereka pasti bisa mengetahuinya sebentar lagi.

Spicer memeriksa stempel pos, dan sekilas berpikir

tentang betapa cepatnya surat itu sampai ke Jacksonville dari Philadelphia. Tapi foto Brant menarik perhatiannya. Foto itu berukuran 10 kali 15 senti, sangat mirip iklan cara cepat kaya di mana si bintang ditampilkan tersenyum bangga, diapit jetnya, Rolls Royce-nya, dan mungkin istri terbarunya. Brant berdiri di samping pesawat terbang, tersenyum, berpakaian rapi dengan celana pendek tenis dan sweter, tanpa Rolls, tapi di sebelahnya ada wanita setengah baya yang menarik.

Inilah foto pertama, dalam koleksi mereka yang semakin banyak, di mana sahabat pena mereka mengikutkan istrinya. Aneh, pikir Spicer, tapi Brant memang menyebut-nyebut wanita itu dalam kedua suratnya. Tidak ada yang bisa mengejutkannya lagi. Tipuan ini akan sukses untuk selamanya karena tak habis-habisnya korban potensial yang bersedia mengabaikan risiko.

Brant sendiri fit dan kulitnya kecokelatan karena sinar matahari, rambut pendek berwarna gelap dengan uban di sana-sini, dan kumis. Dia tidak terlalu tampan, tapi Spicer tidak peduli.

Kenapa pria yang memiliki begitu banyak berbuat seceroboh ini? Karena dia selalu mengambil risiko dan tidak pernah ketahuan. Karena begitulah cara hidupnya. Dan setelah mereka menguras uangnya, Brant akan menahan diri sebentar. Dia akan menghindari iklan baris, dan para kekasih anonim. Tapi tipe agresif seperti Brant pasti akan segera kembali ke kebiasaan lamanya.

Spicer menduga keasyikan menemukan partner secara acak mengalahkan risikonya. Dia masih gusar

dengan fakta bahwa dia, dari semua orang, tiap hari harus berusaha berpikir seperti homo.

Beech dan Yarber membaca surat itu dan memandangi fotonya. Ruang kecil yang penuh sesak itu senyap. Mungkinkah ini “si kakap?

“Bayangkan berapa harga jet itu,” kata Spicer, dan mereka bertiga tertawa. Tawa gelisah, seolah mereka tak yakin bisa mempercayainya.

“Beberapa juta,” komentar Beech. Karena dia berasal dari Texas dan dulu menikah dengan wanita kaya, kedua temannya berasumsi dia lebih tahu tentang jet dibanding mereka. “Itu Lear kecil.”

Spicer cukup puas dengan Cessna kecil, apa saja yang bisa membawanya tinggal landas dan pergi. Yarber tidak menginginkan pesawat. Dia ingin tiket, kelas satu, di mana dia disuguhi sampanye dan dua menu serta boleh memilih film. Kelas satu di atas lautan, jauh dari negeri ini. “Ayo kita sikat dia,” kata Yarber. “Berapa?” tanya Beech, masih memandangi foto. “Paling tidak setengah juta,” jawab Spicer. “Dan kalau itu kita dapatkan, kita minta lagi lebih banyak.”

Mereka diam, masing-masing asyik mengkhayalkan bagiannya dari setengah juta dolar itu. Jatah Trevor yang sepertiga mendadak terasa menyesakkan. Dia akan mengambil $167.000 lebih dulu, menyisakan $111.000 untuk mereka masing-masing. Lumayan untuk narapidana, tapi mestinya jauh lebih banyak. Kenapa pengacara itu memperoleh begitu banyak?

“Kita harus mengurangi bayaran Trevor,” Spicer mengumumkan. “Sudah beberapa lama masalah ini

kupikirkan. Mulai sekarang, uangnya akan dibagi empat. Jatahnya sama dengan kita.”

“Dia takkan mau,” tukas Yarber.

“Dia tak punya pilihan.”

“Rencana Spicer tadi adil,” kata Beech. “Kita yang bekerja, tapi kok dia mendapat lebih banyak. Menurutku kita kurangi.”

“Akan kulakukan Kamis ini.”

Dua hari kemudian, Trevor tiba di Trumble pukul 16.00 lebih sedikit dengan kepala pusing gara-gara mabuk, yang tidak hilang setelah makan siang dua jam dan tidur satu jam.

” Joe Roy tampak sangat kesal. Dia menyodorkan surat untuk dikirimkan, tapi menahan sebuah amplop besar berwarna merah. “Kami siap menghajar orang ini,” katanya, mengetuk-ngetukkan amplop ke meja. “Siapa dia?”

“Brant anu, dekat Philadelphia. Dia bersembunyi di balik kantor pos, jadi kau perlu mengoreknya.” “Berapa?”

“Setengah juta dolar.”

Mata merah Trevor membelalak dan bibir keringnya ternganga. Dia langsung menghitung$167.000 masuk kantongnya. Karier berlayarnya mendadak semakin dekat. Mungkin tidak tepat satu juta dolar yang diperlukannya sebelum dia membanting pintu kantor dan berangkat ke Karibia. Mungkin setengahnya saja sudah cukup. Sekarang dia sudah begitu dekat.

“Kau bercanda,” katanya, tahu pasti. Spicer tidak

main-main. Spicer tidak punya selera humor, dan jelas menganggap serius uangnya.

‘Tidak. Dan kami mengubah persentasemu.”

“Enak saja. Kesepakatan ya kesepakatan.”

“Kesepakatan selalu bisa diubah. Mulai sekarang jatahmu sama dengan kami. Seperempat.”

Tak mau.”

“Kalau begitu kau dipecat” “Kau tak bisa memecatku.” “Baru saja kulakukan. Apa kaukira kami tak mampu menemukan pengacara busuk lain untuk membawakan surat kami?”

“Aku tahu terlalu banyak,” kata Trevor, pipinya memerah dan lidahnya mendadak terasa kering. “Jangan besar kepala. Kau tak seberharga itu.” “Sebaliknya. Aku tahu semua yang terjadi di sini.” “Begitu juga kami, tolol. Bedanya, kami sudah di dalam penjara. Kau yang akan paling rugi. Kalau macam-macam denganku, kau akan jadi penghuni di sini juga.”

Rasa sakit menghunjam kening Trevor dan dia memejamkan mata. Kondisinya sedang tidak fit untuk berdebat. Kenapa dia sampai begitu malam kemarin di Pete’s? Dia harus waspada kalau menemui Spicer. Tapi sekarang dia malah kecapekan dan setengah mabuk.

Kepalanya pusing dan dia merasa mungkin akan mual lagi. Dia menghitung Mereka memperdebatkan perbedaan antara $167.000 dan $125.000. Terus terang, dua-duanya bagus menurut Trevor. Dia tidak boleh mengambil risiko dipecat, karena dia telah beberapa gelintir klien yang dimilikinya. Dia cuma sebentar di kantor; tidak mau mes jawab telepon mereka. Dia telah menemukan sumber uang yang jauh lebih kaya, jadi persetan teri-teri di sepanjang pantai itu.

Dan dia bukan tandingan Spicer. Pria itu tak punya nurani. Dia licik, kotor, dan ingin menumpuk uang sebanyak-banyaknya.

“Beech dan Yarber menyetujui ini?” dia bertanya, tahu mereka pasti mendukung, dan tahu kalaupun tidak, dia takkan mengetahui perbedaannya.

“Jelas. Mereka yang melakukan segalanya. Kenapa kau memperoleh lebih banyak daripada mereka?”

Kedengarannya memang agak tidak adil. “Oke, oke,” Trevor menyerah, masih kesakitan. “Memang pantas kalian dipenjara.”

“Kau terlalu banyak minum?”

“Tidak! Kenapa kau bertanya?”

“Aku kenal pemabuk. Banyak pemabuk. Kau kelihatan kacau.”

“Terima kasih. Urus sendiri dirimu, jangan ikut campur.”

“Setuju. Tapi tak ada yang mau punya pengacara pemabuk. Kau mengurus semua uang kami, dalam kegiatan yang sangat ilegal. Salah ngomong sedikit saja di bar, orang akan mulai bertanya-tanya.”

“Aku bisa menjaga diri.”

“Bagus. Awasi belakangmu juga. Kita memeras orang, menyakiti mereka. Kalau aku di pihak sana, aku pasti tergoda untuk datang dan menyelidik sebelum memuntahkan uangku.”

“Mereka terlalu takut.”

“Pokoknya tetaplah buka mata. Kau harus selalu awas dan waspada.” “Terima kasih banyak. Ada lagi?” “Yeah, aku punya beberapa pertandingan untukmu.” Beralih ke urusan penting. Spicer membentangkan surat kabar dan mereka mulai memasang taruhan.

Trevor membeli seperempat galon bir di toko di perbatasan Trumble, dan meneguknya pelan-pelan sambil mengeloyor kembali ke Jacksonville. Dia berusaha keras tidak memikirkan uang mereka, namun pikirannya tak terkontrol. Di antara rekeningnya dan rekening mereka, tersimpan $250.000 lebih di luar negeri, uang yang bisa diambilnya kapan pun. Tambahkan setengah juta, dan, yah, dia tak bisa menghentikan dirinya menghitung$750.000!

Dia takkan pernah ketahuan mencuri uang kotor; itulah enaknya. Korban-korban Majelis tidak buka mulut karena malu. Mereka tidak melanggar hukum. Mereka cuma takut. Di lain pihak, Mejelis melakukan kejahatan. Jadi, mereka mau mengadu pada siapa, kalau uang mereka lenyap?

Dia harus berhenti memikirkan pikiran-pikiran seperti itu.

Tapi mana bisa mereka, Majelis, menangkapnya? Dia akan berada di perahu layar yang terapung-apung di antara pulau-pulau yang tak pernah mereka dengar. Dan ketika mereka akhirnya dibebaskan, apakah mereka akan punya energi, uang, dan semangat untuk mencarinya? Tentu saja tidak. Mereka sudah hia. Beech mungkin akan mati di Trumble.

“Stop,” dia berteriak sendiri.

Dia berjalan ke Beach Java untuk minum triple—

shot latte, dan kembali ke kantor dengan tekad melakukan sesuatu yang produktif. Dia membuka’ Internet dan menemukan nama beberapa detektif swasta di Philadelphia. Sudah hampir pukul 18.00 waktu dia mulai menelepon. Dua kali yang pertama dijawab mesin.

Telepon yang ketiga, ke kantor Ed Pagnozzi, dijawab detektif itu sendiri. Trevor menjelaskan bahwa dia pengacara di Florida dan membutuhkan penyelidikan cepat di Upper Darby. “Oke. Penyelidikan macam apa?” “Aku berusaha melacak surat,” kata Trevor cepat. Dia cukup sering melakukan ini sehingga sudah lancar. “Kasus perceraian yang lumayan besar. Aku mewakili istrinya, dan kurasa suaminya menyembunyikan uang. Begitulah, aku butuh orang di sana untuk menyelidiki siapa yang menyewa satu kotak pos tertentu.”

“Kau pasti bercanda.” “Yah, tidak, aku cukup serius.” “Kau mau aku menyelidiki di kantor pos?” “Ini kan cuma kerja dasar detektif.” “Dengar, pai, aku sibuk sekali. Telepon saja orang lain.” Pagnozzi menghilang, pergi menangani urusan yang lebih penting. Trevor memakinya pelan dan menekan nomor berikut. Dia mencoba dua detektif lagi, dan menutup telepon ketika.mesin yang menjawab. Besok dia akan mencoba kembali.

Di seberang jalan, Klockner mendengarkan perbincangan singkat dengan Pagnozzi tadi sekali lagi, lalu menghubungi Langley. Potongan terakhir teka-teki telah terungkap, dan Mr, Deville pasti ingin segera mengetahuinya.

Dengan mengandalkan kata-kata manis, kepandaian menulis, dan foto memikat, tipuan ini tidaklah rumit. Mangsanya adalah nafsu manusia dan imbalannya diperoleh dari perasaan takut. Mekanismenya terungkap karena arsip Mr. Garbe, tipuan balasan Brant White, dan surat-surat lain yang telah mereka cegat.

Hanya satu pertanyaan yang belum terjawab: Karena nama alias yang digunakan untuk menyewa kotak pos, bagaimana Majelis bisa mengetahui nama asli korban-korbannya? Hubungan-hubungan telepon ke Philadelphia baru saja memberikan jawabannya pada mereka. Trevor menyewa detektif pribadi setempat, jelas yang bisnisnya tidak seramai Mr. Pagnozzi.

Sudah hampir pukul 22,00 waktu Deville akhirnya diizinkan menemui Teddy. Korea Utara telah menembak seorang tentara Amerika lagi di DMZ, zona demiliterisasi, dan Teddy sibuk mengurus masalah itu sejak tengah hari. Dia sedang makan keju dan biskuit serta meneguk Diet Coke ketika Deville masuk bungker.

Setelah brifihg kilat, Teddy berkata, “Sudah kukira.”

Instingnya sangat tajam, terutama mengenai hal-hal yang telah terjadi.

“Tentu saja ini berarti pengacara itu bisa menyewa detektif setempat di sini untuk mengungkap identitas asli Al Konyers,” kata Deville.

“Tapi bagaimana caranya?”

“Kami bisa menebak beberapa cara. Pertama pengintaian, sama seperti kita mengetahui Lake pergi diam-diam ke kotaknya. Awasi kantor pos. Itu agak riskan, karena kemungkinan besar akan ketahuan. Kedua, penyuapan. Lima ratus dolar cukup untuk membuka mulut seorang pegawai pos. Ketiga, catatan komputer. Ini bukan materi rahasia. Salah satu agen kita baru saja menyusupi komputer kantor pos pusat di Evansville, Indiana, dan memperoleh daftar semua penyewaan kotak. Caranya coba-coba, butuh waktu sekitar satu jam. Itu teknologi tinggi. Teknologi rendahnya membobol kantor pos itu malam hari dan menggeledahnya.

“Dia bayar berapa untuk masalah ini?”

“Entahlah, tapi kita akan segera mengetahuinya saat dia menyewa detektif.”

“Dia harus diamankan.”

“Dilenyapkan?”

“Belum. Aku lebih suka membelinya dulu. Dia jendela kita. Kalau dia bekerja pada kita, kita akan tahu semuanya dan menjauhkannya dari Konyers. Bikin rencana.”

“Dan untuk melenyapkannya?”

“Lanjutkan dan rencanakan, tapi kita tak buru-buru. Setidaknya belum.”

Dua Puluh Tiga

SELATAN ternyata memang menyukai Aaron Lake, yang suka pada senjata, bom, omongan keras, dan kesiapan militer. Dia membanjiri Florida, Mississippi, Tennessee, Oklahoma, dan Texas dengan iklan-iklan yang bahkan lebih berani daripada yang pertama. Dan orang-orang Teddy membanjiri negara bagian-negara bagian yang sama dengan lebih banyak uang daripada yang pernah berpindah tangan pada malam sebelum pemilihan.

Hasilnya adalah sapu bersih lagi, Lake mendapat 260 dari 312 delegasi yang dipertaruhkan pada Super Tuesday kecil. Setelah suara dihitung pada tanggal 14 Maret, 1.301 dari total 2,066 delegasi telah memutuskan. Lake menang mutlak atas Gubernur Tarry801 lawan 390.

Perlombaan selesai, mencegah bencana yang tidak diduga.

Pekerjaan pertama Buster adalah memangkas rumput, dengan gaji awal dua puluh sen per jam. Pilihan lain adalah mengepel lantai di kafeteria. Dia memilih

memangkas rumput karena menyukai sinar matahari dan bertekad kulitnya tidak boleh jadi sepucat beberapa narapidana yang dilihatnya. Dia juga tidak mau jadi gemuk seperti beberapa narapidana. Ini penjara, katanya dalam hati berkali-kali, kok mereka bisa segemuk itu?

Dia bekerja keras di bawah sinar matahari terang benderang, mempertahankan kecokelatan kulitnya, bertekad menjaga perutnya tetap datar, dan berusaha tidak patah semangat. Tapi setelah sepuluh hari, Buster tahu dia takkan sanggup bertahan sampai 48 tahun.

Empat puluh delapan tahun! Membayangkannya saja dia tidak kuat. Mana ada yang kuat? Dia menangis selama dua hari pertama. Tiga belas bulan lalu, dia dan ayahnya mengelola dok mereka, memperbaiki perahu-perahu, memancing dua kali seminggu di Teluk.

Dia bekerja pelan di sekeliling tepi lapangan basket dari beton tempat permainan kasar sedang berlangsung. Lalu ke lapangan pasir tempat mereka kadang-kadang main voli. Di kejauhan, seseorang tengah berjalan sendirian di trek, pria berpenampilan tua dengan rambut beruban diekor kuda dan tak berkemeja. Pria itu rasanya tak asing lagi. Buster mengerjakan kedua sisi trotoar, mendekati trek.

Orang yang berjalan sendirian itu Finn Yarber, salah satu hakim yang berusaha membantunya. Dia menyusuri trek oval itu dengan langkah mantap, kepala tegak, punggung dan bahu kaku dan.lurus, memang tidak tampak atletis, tapi lumayan untuk ukuran pria 60 tahun. Dia bertelanjang kaki dan punggung, keringat mengalir di kulitnya yang licin.

Buster mematikan Weed Eater dan meletakkannya di tanah. Ketika Yarber sudah dekat, dia melihat anak itu dan menyapa, “Halo, Buster. Apa kabar?”

“Aku masih di sini,” kata si pemuda. “Keberatan kalau aku berjalan bersamamu?”

“Sama sekali tidak,” jawab Finn tanpa menghentikan langkahnya.

Mereka berjalan 200 meter sebelum Buster punya nyali untuk bertanya, “Jadi, bagaimana dengan pengurangan hukumanku?”

“Hakim Beech sedang mempelajarinya. Proses hukumnya kelihatannya mulus, bukan kabar baik. Banyak yang masuk sini dengan proses hukum cacat, biasanya kami dapat mengajukan beberapa mosi dan mengurangi beberapa tahun. Sedangkan kau tidak. Maaf.”

“Tak apa-apa. Apa artinya beberapa tahun kalau kau dihukum 48 tahun? 28, 38, 48, apa bedanya?”

“Kau masih punya kesempatan pengurangan hukuman. Ada kemungkinan putusannya bisa diubah.”

“Kesempatan kecil.”

“Kau tak boleh berhenti berharap, Buster,” tegur Yarber, suaranya sama sekali tidak terdengar meyakinkan. Mempertahankan harapan berarti mempertahankan kepercayaan pada sistem. Yarber jelas tidak mempercayai sistem sedikit pun. Dia telah dijebak dan dilindas hukum yang pernah dibelanya.

Tapi setidaknya Yarber punya beberapa musuh, dan hampir bisa memahami mengapa mereka mengincarnya.

Si anak malang ini tidak berbuat salah. Yarber

sudah membaca cukup banyak arsipnya, sehingga percaya Buster betul-betul tidak bersalah, satu lagi korban jaksa yang terlalu bersemangat.

Tampaknya, paling tidak dari catatan, ayah anak ini mungkin menyembunyikan uang, tapi jumlahnya tidak banyak. Tidak sebanding dengan tuduhan konspirasi setebal 160 halaman.

Harapan. Memikirkan kata itu saja membuat dia merasa seperti hipokrit. Pengadilan banding sekarang penuh dengan petugas penegak hukum tipe sayap kanan, dan jarang kasus obat bius disidangkan lagi. Mereka akan menolak mentah-mentah permohonan bocah ini, dan berpendapat bahwa mereka membuat jalanan lebih aman.

Yang paling pengecut adalah hakim yang memimpin persidangan. Jaksa memang bertugas mendakwa siapa saja, tapi hakim mestinya memilah-milah para terdakwa. Buster dan ayahnya seharusnya dipisahkan dari orang-orang Colombia dan komplotan mereka, dan dibebaskan sebelum persidangan dimulai.

Sekarang yang satu telah meninggal. Yang satu lagi hancur. Dan tak seorang pun dalam sistem pidana federal memedulikannya. Itu cuma salah satu konspirasi obat bius.

Di belokan pertama trek oval, Yarber mengurangi kecepatan lalu berhenti. Dia memandang ke kejauhan, melewati lapangan rumput ke tepi batas pepohonan. Buster melihat ke sana juga. Selama sepuluh hari ini dia mencari batas Trumble, dan melihat apa yang tidak adapagar, kawat duri, menara penjaga.

“Orang terakhir yang meninggalkan tempat ini,” kata Yarber, menerawang, “pergi dengan menerobos

pohon-pohon itu. Hutannya lebat beberapa mil, lalu kau akan menjumpai jalan desa.” “Siapa dia?”

“Namanya Tommy Adkins. Dia bankir di North Carolina yang tertangkap basah.” “Dia kenapa?”

“Dia jadi sinting dan suatu hari pergi begitu saja. Orang baru tahu enam jam setelah dia menghilang. Sebulan kemudian mereka menemukannya di kamar motel di Cocoa Beach, bukan polisi melainkan pelayan. Dia bergelung bagai janin di lantai, telanjang, mengisap jempol, akal sehatnya betul-betul lenyap. Mereka memasukkannya ke rumah sakit jiwa.” “Enam jam, heh?”

“Yeah, terjadi kira-kira setahun sekali. Salah satu penghuni pergi begitu sajaTLalu polisi di kota asalnya diberitahu, namanya dimasukkan dalam komputer nasional, tindakan biasa.”

“Berapa yang tertangkap?”

“Hampir semuanya.”

“Hampir.”

“Yeah, tapi mereka tertangkap karena melakukan hal-hal tolol. Mabuk di bar. Mengemudikan mobil tanpa lampu belakang. Menemui pacar mereka.”

“Jadi kalau pintar, orang bisa melakukannya?”

‘Tentu. Perencanaan cermat, sejumlah uang, pasti gampang.”

Mereka mulai berjalan lagi, sedikit lebih pelan. “Mr. Yarber,” kata Buster, “kalau dihukum 48 tahun, apakah kau akan kabur?”

“Ya.”

“Tapi aku tak punya uang.”

“Aku punya.”

“Kalau begitu kau akan membantuku.”

“Sabar. Tenang saja dulu. Tenangkan diri. Kau agak lebih ketat diawasi karena kau orang baru, tapi lama-lama kau akan dilupakan.”

Buster tersenyum. Hukumannya baru saja berkurang banyak.

“Kau tahu apa yang terjadi kalau kau tertangkap?” tanya Yarber.

‘Yeah, mereka menambahkan beberapa tahun Masa bodoh. Mungkin aku akan mendapat 58 tahun. Tidak, Sir, kalau tertangkap, aku akan bunuh diri.”

“Aku juga akan berbuat begitu. Kau hams siap meninggalkan negara ini.”

“Dan pergi ke mana?”

“Ke suatu tempat di mana kau tampak seperti penduduk setempat, dan di mana tak ada perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat.”

“Misalnya?”

“Argentina atau Chili. Kau bisa bahasa Spanyol?” “Tidak.”

“Mulailah belajar. Kau tahu, di sini ada kursus bahasa Spanyol. Bocah-bocah Miami yang mengajarkannya.”

Mereka berjalan satu putaran, sementara Buster merenungkan kembali masa depannya. Kakinya terasa lebih ringan, bahunya lebih tegak, dan dia tidak bisa menghentikan seringainya.

“Kenapa kau membantuku?” tanyanya.

“Karena kau berumur 23 tahun. Terlalu muda dan terlalu bersih. Kau jadi korban sistem, Buster. Kau berhak melawan. Kau punya pacar?”

“Begitulah.”

“Lupakan dia. Dia cuma akan bikin masalah. Lagi pula, kaupikir dia mau menunggu selama 48 tahun?” “Dia bilang mau.”

“Dia bohong. Pasti dia sudah mencari yang baru. Lupakan dia, kecuali kalau kau mau tertangkap.”

Yeah, mungkin Yarber benar, pikir Buster. Dia belum menerima surat dari gadis itu, dan walaupun pacarnya itu tinggal cuma beberapa jam dari sini, dia belum datang ke Trumble. Mereka dua kali bicara di telepon, dan yang dipedulikannya cuma apakah Buster dipukuli. “Punya anak?” tanya Yarber. “Tidak. Setahuku tidak.” “Bagaimana dengan ibumu?” “Dia meninggal waktu aku masih sangat kecil. Ayah yang membesarkanku. Kami cuma berdua.” “Kalau begitu kau calon sempurna untuk kabur.” “Aku ingin pergi sekarang.” “Bersabarlah. Ayo kita rencanakan masak-masak.” Satu putaran lagi, dan Buster ingin lari. Dia tidak bisa mengingat hal-hal di Pensacola yang akan dirindukannya. Dia mendapat nilai A dan B untuk pelajaran bahasa Spanyol di sekolah menengah, dan meskipun sekarang tidak bisa lagi mengingatnya sepotong pun, dulu dia tidak perlu bersusah payah ketika mempelajarinya. Dia cepat memahaminya. Dia akan ikut kursus dan bergaul dengan orang-orang Latin itu.

Makin lama dia berjalan, dia makin ingin hukumannya dipastikan. Lebih cepat lebih baik. Kalau

gkan

lagi, padahal dia tak yakin pada juri berikutnya. Buster ingin berlari, mulai dari lapangan rumput,

sampai batas pepohonan, menerobos hutan menuju jalan desa di mana dia tidak tahu pasti tentang tindakannya selanjutnya. Tapi kalau seorang bankir sinting bisa kabur dan mencapai Cocoa Beach, dia juga bisa.

“Kenapa kau belum kabur?” dia bertanya pada Yarber.

“Aku sudah memikirkannya. Tapi lima tahun lagi mereka akan membebaskanku. Aku sanggup menunggu selama itu. Saat itu aku akan berusia 65, sehat walafiat, dengan harapan hidup enam belas tahun. Karena itulah aku bertahan, Buster, enam belas tahun terakhir itu. Aku tak mau waswas terus.” “Kau akan pergi ke mana?” “Belum tahu. Mungkin desa kecil di pedalaman Italia. Mungkin pegunungan di Peru. Aku bisa memilih berbagai tempat di seluruh dunia, dan setiap hari aku berjam-jam mengkhayalkannya.” “Jadi kau punya banyak uang?” “Tidak, tapi sebentar lagi ya.” Itu menimbulkan beberapa pertanyaan, tapi Buster diam saja. Dia mulai belajar bahwa di penjara dia harus menyimpan sebagian besar pertanyaannya.

Setelah lelah berjalan, Buster berhenti di dekat Weed Eater-nya. “Terima kasih, Mr. Yarber,” katanya. “Sama-sama. Jangan bercerita pada siapa-siapa.” “Tentu. Aku selalu siap.”

Finn pergi, berjalan satu putaran lagi; celana pendeknya sekarang basah kuyup dengan keringat,

293

ekor kuda abu-abunya terkulai karena lemba mengamatinya pergi, kemudian memandang ke seberang lapangan rumput ke pepohonan

Saat itu, dia bisa melihat samnai k* \ Selatan. ? An*4i

Dua Puluh Empat

SELAMA dua bulan yang panjang dan keras, Aaron Lake dan Gubernur Tarry bertarung sengit di 26 negara bagian memperebutkan 25 juta suara. Mereka memaksa diri. mereka banting tulang dengan kerja delapan belas jam sehari, jadwal gila-gilaan, bepergian tanpa henti, kesintingan khas pemilihan presiden.

Tapi mereka berusaha sama kerasnya untuk menghindari debat langsung. Tarry tidak ingin melakukannya di pemilihan awal, karena dia calon terdepan. Dia memiliki organisasi, uang, jajak pendapat. Kenapa melegitimasi lawan? Lake tidak ingin berdebat karena dia pendatang baru dalam kancah nasional, pemula dalam kampanye tingkat tinggi, lagi pula lebih mudah bersembunyi di balik teks dan kamera bersahabat serta membuat iklan kapan pun dibutuhkan. Risiko-risiko debat langsung terlalu tinggi. Teddy juga tidak menyukainya. Tapi kampanye berubah. Calon terdepan memudar, isu-isu kecil jadi besar, pers dapat menc.ptakan krisis hanya karena bosan.

Tarry memutuskan dia membutuhkan perdebatan ‘ karena bangkrut, dan kalah dalam berbagai pemilihan -pendahuluan. “Aaron Lake berusaha membeli pemilihan ini,” katanya berulang kali. “Dan saya ingin mengkonfrontasinya, satu lawan satu.” Kedengarannya bagus, dan pers langsung menyambarnya.

“Dia lari dari perdebatan,” seru Tarry, dan gerombolan nyamuk pers melahap itu juga.

“Gubernur sudah menghindari perdebatan sejak Michigan,” adalah respons standar Lake.

Jadi, selama tiga minggu mereka bermain kucing-kucingan sampai para pegawai mereka selesai membereskan urusan detailnya.

Lake sebetulnya enggan, tapi juga membutuhkan forum. Meskipun dari minggu ke minggu terus menang, dia berhadapan dengan lawan yang sudah lama memudar. Jajak pendapatnya dan jajak pendapat D-PAC menunjukkan banyak pemilih tertarik padanya, tapi kebanyakan karena dia baru dan tampan serta tampaknya pantas dipilih.

Tanpa diketahui orang luar, jajak pendapat juga menunjukkan hal-hal yang sangat samar. Yang pertama adalah kampanye Lake yang cuma mengangkat satu isu. Anggaran militer memikat para pemilih cuma beberapa lama, dan ada pertanyaan besar, dalam jajak pendapat, tentang bagaimana posisi Lake dalam isu-isu lain.

Kedua, Lake masih lima poin di bawah Wakil Presiden dalam pertarungan hipotetis November. Para pemilih memang bosan dengan Wakil Presiden, namun setidaknya mereka tahu siapa dia. Lake masih merupakan misteri bagi banyak orang. Juga, keduanya

akan harus berdebat beberapa kali sebelum November. Lake, yang sudah memperoleh nominasi, memerlukan pengalaman itu.

Tarry tidak membantu dengan pertanyaan terus-menerusnya, “Siapa Aaron Lake?” Dengan sisa dananya yang hanya sedikit, dia menyetujui pembuatan stiker bumper bertuliskan pertanyaan yang sekarang terkenalSiapa, Aaron Lake? (Teddy juga menanyakan hal itu dalam hati hampir setiap jam, tapi karena alasan yang berbeda.)

Lokasi perdebatan adalah di Pennsylvania, di college Lutheran kecil dengan auditorium nyaman, akustik dan cahaya bagus, penonton yang tidak macam-macam. Detail-detail paling kecil sekalipun diributkan kedua belah pihak, tapi karena sekarang mereka sama-sama membutuhkan perdebatan, akhirnya tercapai kesepakatan. Format persisnya nyaris menyebabkan adu tinju, tapi setelah dirundingkan, semua puas. Media mengutus tiga reporter di panggung untuk mengajukan berbagai pertanyaan langsung dalam satu segmen. Para penonton memperoleh dua puluh menit untuk menanyakan berbagai hal, tanpa sensor. Tarry, pengacara, menginginkan lima menit untuk pidato pembukaan dan sepuluh menit untuk pernyataan penutup. Lake menginginkan tiga puluh menit perdebatan satu lawan satu dengan Tarry, tanpa batas, tanpa penengah, hanya mereka berdua yang bertarung habis-habisan tanpa peraturan. Ini menggentarkan kubu Tarry, dan nyaris membuyarkan kesepakatan.

Moderatornya seorang tokoh radio pemerintah sepat, dan ketika dia berkata, “Selamat pagi, dan

selamat datang ke debat pertama dan satu-satunya antara Gubernur Wendell Tarry dan Congressman Aaron Lake,” sekitar 18 juta orang menonton.

Tarry memakai setelan biru laut pilihan istrinya, dengan kemeja biru dan dasi merah-biru standar. Lake mengenakan setelan cokelat muda menawan, kemeja putih berkerah lebar, serta dasi merah, merah tua, dan enam warna lain. Seluruhť penampilannya diatur oleh konsultan mode, dan dibuat serasi dengan warna panggung. Rambut Lake dicat. Giginya diputihkan. Dia menghabiskan waktu empat jam untuk mencokelatkan kulit Dia tampak langsing dan segar, serta tak sabar untuk tampil di panggung.

Gubernur Tarry sendiri pria yang tampan. Meskipun dia hanya empat tahun lebih tua daripada Lake, kampanye telah menguras tenaganya. Matanya lelah dan merah. Berat badannya naik beberapa kilo, terutama di wajah. Ketika dia memulai pidato pembukaannya, butir-butir keringat bermunculan di kening dan berkilat terkena cahaya.

Orang-orang mengatakan kerugian Tarry lebih banyak karena dia sudah kehilangan begitu banyak. Di awal Januari, peramal-peramal yang seakurat majalah Time menyatakan dia pasti akan dicalonkan. Dia sudah berusaha selama tiga tahun. Kampanyenya dibangun dari bawah. Semua kapten polisi dan pekerja jajak pendapat di Iowa dan New Hampshire pernah minum kopi dengannya. Organisasinya tanpa cacat.

Lalu datang Lake dengan iklan-iklan lihai dan pesona isu tunggalnya.

Tarry sangat membutuhkan penampilan luar biasa dirinya sendiri, atau kekacauan total Lake.

Dia tidak memperoleh keduanya. Berdasarkan undian dengan koin, dia terpilih untuk tampil lebih dulu. Pidato pembukaannya buruk sementara dia berjalan di panggung dengan kaku, berusaha keras tampak rileks tapi melupakan catatannya. Dia memang pernah jadi pengacara, tapi spesialisasinya sekuritas. Seiring lupanya dia pada satu demi satu poin-poinnya, dia kembali ke tema umumnyaMr. Lake ini berusaha membeli pemilihan karena tak tahu apa-apa. Suasana panas segera berkembang. Lake tersenyum tenang; anjing menggonggong kafilah berlalu.

Pembukaan Tarry yang lemah membangkitkan keberanian Lake, menimbulkan rasa percaya dirinya, dan meyakiakannya untuk tetap berdiri di belakang podium yang aman dan tempat catatannya berada. Dia mulai dengan mengatakan bahwa dia di sini bukan untuk mengejek, dia menghormati Gubernur Tarry, tapi mereka telah mendengarnya bicara selama lima menit dan tujuh belas detik dan omongannya tidak ada yang positif.

Dia lalu mengabaikan lawannya, dan secara singkat membahas tiga isu yang harus dibicarakan. Pengurangan pajak, perbaikan kesejahteraan, dan defisit perdagangan. Tak satu patah kata pun tentang per-, tahanan.

Pertanyaan pertama dari panel reporter ditujukan pada Lake, dan berhubungan dengan surplus anggaran. Akan diapakan uang itu? Pertanyaan itu tidak berbahaya, dilontarkan oleh seorang reporter yang bersahabat, dan Lake menerkamnya. Menyelamatkan Jaminan Sosial, jawabnya, lalu dengan pengetahuan mengesankan tentang masalah finansial dia memberitahukan secara mendetail bagaimana uang itu akan digunakan. Dia membeberkan berbagai angka, persentase, dan proyeksi, semuanya tanpa teks.

Jawaban Gubernur Tarry cuma memotong pajak. Kembalikan uang itu pada orang-orang yang memperolehnya.

Beberapa poin dimenangkan dalam tahap tanya-jawab itu. Kedua kandidat telah mempersiapkan diri dengan baik. Yang mengejutkan adalah bahwa Lake, orang -yang ingin menguasai Pentagon, ternyata sangat mahir dalam semua isu lain.

Perdebatan berkembang jadi biasa. Pertanyaan-pertanyaan dari para penonton sudah bisa ditebak. Gairah mulai timbul ketika para kandidat diizinkan saling bertanya. Tarry memulai, dan seperti sudah diduga, bertanya pada Lake apakah dia berusaha membeli pemilihan.

“Anda tidak memedulikan uang waktu uang Anda lebih banyak daripada siapa pun,” balas Lake, dan hadirin jadi bergairah.

“Saya tidak punya $50 juta,” kata Tarry. “Saya juga tidak,” tukas Lake. “Uang itu lebih mendekati 60 juta, dan datang lebih cepat daripada yang bisa kami hitung. Berasal dari para pekerja dan orang-orang berpenghasilan menengah. Delapan puluh satu persen dari para penyumbang kami adalah orang-orang yang mendapat kurang dari $40.000 setahun. Ada masalah dengan orang-orang tersebut, Gubernur Tarry?”

“Mestinya ada batas mengenai jamlah yang boleh dibelanjakan kandidat.”

“Saya setuju. Dan saya mendukung pembatasan

delapan kali di Kongres. Di lain pihak, Anda tak pernah menyinggung-nyinggung tentang pembatasan sampai Anda kehabisan uang.”

Gubernur Tarry memandang kamera dengan ekspresi Quayle, tatapan bengong kijang menjelang tertabrak mobil. Beberapa orang Lake di antara hadirin tertawa cukup keras supaya terdengar.

Butir-butir keringat kembali tampak di kening sang gubernur ketika dia membalik-balik kartu-kartu sontekannya yang terlalu besar. Sebetulnya saat ini dia sudah bukan gubernur lagi, tapi dia masih menyukai gelar itu. Sembilan tahun yang lalu, para pemilih di Indiana menendangnya, hanya setelah satu kali masa tugas. Lake menyimpan amunisi ini.

Tarry lalu bertanya mengapa Lake mendukung 54 pajak baru selama empat belas tahun bertugas di Kongres.

“Seingat saya tak sampai 54,” kata Lake. “Tapi banyak di antaranya adalah pajak-pajak untuk tembakau, alkohol, dan perjudian. Saya juga menentang kenaikan pajak penghasilan perorangan, pajak penghasilan korporasi, pajak pendapatan pendahuluan federal, dan pajak Jaminan Sosial. Saya tak malu dengan catatan itu. Dan bicara tentang pajak, Gubernur, selama empat tahun masa tugas Anda di Indiana, bagaimana Anda menjelaskan fakta bahwa tingkat pajak perorangan naik rata-rata enam persen?”

Karena tidak segera dijawab, Lake menerjang terus. “Anda ingin memotong belanja federal, tapi selama empat tahun Anda di Indiana, pembelanjaan negara bagian naik delapan belas persen. Anda ingin memotong pajak penghasilan korporasi, namun selama

empat tahun Anda di Indiana, pajak penghasilan korporasi naik tiga persen. Anda ingin tunjangan sosial tak diperlukan lagi, tapi waktu Anda jadi gubernur, jumlah penerima tunjangan itu di Indiana malah bertambah 40.000 orang. Bagaimana Anda menjelaskan ini?”

Setiap hantaman dari Indiana mengenai sasaran, dan Tarry tak berdaya. “Saya tidak setuju dengan angka-angka Anda, Sir,” katanya dengan susah payah. “Kami menciptakan pekerjaan di Indiana.”

“Betulkah?” kata Lake sinis. Dia menarik selembar kertas dari podiumnya seakan itu dakwaan federal terhadap Gubernur Tarry. “Mungkin benar, tapi selama empat tahun masa tugas Anda, ada hampir 60.000 pengangguran,” dia berkata tanpa melihat kertas tadi.

Tarry memang gagal sebagai gubernur, tapi keadaan ekonomi saat itu memang jelek. Dia sudah pernah menjelaskan semua ini dan dengan senang hati akan melakukannya lagi, tapi, ya ampun, waktunya di televisi nasional tinggal empat menit. Dia jelas tidak boleh menyia-nyiakannya dengan membahas masa tahi. “Perdebatan ini bukan tentang Indiana,” katanya, dia berhasil tersenyum. “Perdebatan ini menyangkut kelima puluh negara bagian. Menyangkut para pekerja di seluruh negeri yang akan diharapkan membayar lebih banyak pajak untuk membiayai berbagai proyek pertahanan mahal Anda, Mr. Lake. Anda tak mungkin serius dalam hai melipatgandakan anggaran Pentagon.”

Lake menatap tajam lawannya. “Saya sangat serius. Dan jika Anda menginginkan militer yang kuat, Anda akan serius juga.” Dia kemudian menyemburkan

serentetan statistik yang bagai tak ada habis-habisnya, semuanya berhubungan. Hal itu merupakan bukti nyata tentang ketidaksiapan militer kita, dan akhirnya angkatan bersenjata kita akan didesak keras untuk menyerbu Bermuda, katanya mengakhiri.

Tapi Tarry punya hasil penyelidikan yang menunjukkan sebaliknya, manuskrip tebal dengan kertas mengilap bikinan kelompok pemikir beranggotakan para mantan laksamana. Dia melambaikannya supaya tampak di kamera dan membantah bahwa peningkatan seperti itu tidak diperlukan. Dunia dalam keadaan damai, dengan perkecualian beberapa perang saudara dan regional, perselisihan yang tidak melibatkan kepentingan nasional kita, dan Amerika Serikat jelas satu-satunya negara adikuasa yang masih tersisa. Perang dingin tinggal sejarah. Cina masih butuh waktu berpuluh-puluh tahun lagi untuk mampu menyamai kita. Kenapa membebani pembayar pajak dengan puluhan miliar untuk piranti keras baru?

Mereka berdebat beberapa lama tentang cara membayarnya, dan Tarry memperoleh kemenangan kecil. Tapi mereka membahas bidang Lake, dan seiring dengan berjalannya perdebatan, terbukti bahwa Lake tahu jauh lebih banyak daripada sang gubernur.

Lake menyimpan senjata pamungkasnya untuk saat terakhir. Dalam pidato penutupan sepanjang sepuluh menit, dia kembali ke Indiana dan melanjutkan membeberkan daftar kegagalan Tarry di sana selama masa tugas tunggalnya. Temanya sederhana, dan sangat efektif: Kalau mengurus Indiana saja tidak mampu, bagaimana dia mampu mengurus seluruh negeri? “Saya tidak mencemooh rakyat Indiana,” kata Lake.

“Mereka sebetulnya malah bijaksana dengan mengembalikan Mr. Tarry ke kehidupan pribadi setelah hanya satu kali masa tugas. Mereka tahu dia tidak mampu. Itu sebabnya hanya 38 persen yang mendukungnya ketika dia meminta empat tahun lagi. Tiga puluh delapan persen! Kita harus mempercayai rakyat Indiana. Mereka kenal orang ini. Mereka sudah melihatnya memerintah. Mereka melakukan kesalahan, dan mereka menyingkirkannya. Akan menyedihkan jika seluruh negeri sekarang melakukan kesalahan yang sama.”

Jajak pendapat langsung menyatakan Lake menang mutlak. D-PAC menelepon seribu pemilih segera setelah perdebatan Hampir 70 persen berpendapat Lake yang paling baik di antara mereka berdua.

Pada penerbangan larut malam dari Pittsburgh ke Wichita, beberapa botol sampanye dibuka di Air Lake dan pesta kecil dimulai. Hasil berbagai jajak pendapat perdebatan itu mengalir masuk, makin lama makin bagus, dan suasana kemenangan terasa di mana-mana.

Lake tidak melarang alkohol di Boeing-nya, tapi tidak menyukainya. Kalaupun ada anggota stafnya yang minum, itu selalu dilakukan dengan cepat-cepat dan sembunyi-sembunyi. Tapi kadang-kadang ada saat-saat yang perlu dirayakan. Dia menikmati dua gelas sampanye. Hanya orang-orang terdekatnya yang hadir. Dia mengucapkan terima kasih dan memberi selamat pada mereka. Sekadar untuk bersenang-senang, mereka menonton cuplikan-cuplikan perdebatan itu sambil membuka sebotol lagi. Mereka

menghentikan gambar video setiap kali Gubernur Tarry tampak sangat kebingungan, dan tawa mereka semakin keras.

Tapi pesta itu singkat saja; kelelahan melanda mereka. Berminggu-minggu orang-orang itu tidur lima jam semalam. Kebanyakan bahkan tidur kurang dari itu pada malam sebelum perdebatan. Lake sendiri kehabisan tenaga. Dia menghabiskan gelas ketiga, sudah bertahun-tahun dia tidak minum sebanyak itu, dan beristirahat di kursi kulit besar berselimut quilt tebal. Tubuh-tubuh bergeletakan di mana-mana dalam kegelapan kabin.

Dia tidak bisa tidur; dia memang jarang bisa tidur di pesawat. Terlalu banyak yang harus dipikirkan dan dicemaskan. Mustahil tidak menikmati kemenangan dalam perdebatan tadi, dan sambil berbaring gelisah di balik quilt, Lake mengulangi kalimat-kalimat terbaiknya malam ini. Tadi dia brilian, sesuatu yang tak pernah diakuinya pada siapa pun.

Nominasi ini miliknya. Dia akan jadi bintang di konvensi, kemudian selama empat bulan dia dan Wakil Presiden akan bertarung dalam tradisi Amerika yang teragung.

Dinyalakannya lampu baca kecil di atasnya. Seseorang membaca di ujung lorong, dekat dek penerbangan. Penderita insomnia juga, satu-satunya orang lain yang lampunya menyala. Yang lain-lain mendengkur di balik selimut, tidur orang-orang muda tangkas yang bekerja penuh semangat.

Lake membuka tas kerja dan mengeluarkan map kulit kecil berisi kartu-kartu korespondensi pribadinya. Ukurannya 10 kali 15 senti, tebal, berwarna off—

white, dan bertulisan “Aaron Lake” di puncak dengan huruf Old English hitam tipis. Dengan pena Montblanc antik dan besar, Lake menulis surat singkat kepada teman sekamarnya ketika kuliah, sekarang profesor Latin di college kecil di Texas. Dia menulis ucapan terima kasih kepada moderator debat, dan satu lagi kepada koordinator Oregon-nya. Lake sangat menyukai novel-novel karangan Clancy. Dia baru saja selesai membaca yang terbaru, yang paling tebal, dan dia mengirimkan surat pujian pada penulis itu.

Kadang-kadang suratnya panjang. Karena alasan ini, dia punya kartu-kartu kosong, sama ukuran dan warnanya, tapi tak bernama. Dia memandang berkeliling untuk memastikan semua orang pulas, dan cepat-cepat menulis:

dear Ricky:

Kurasa sebaiknya kita akhiri surat-menyurat kita. Kuharap kau berhasil dengan rehabilitasimu.

Salam, Al

Dituliskannya alamat yang dituju pada amplop polos. Dia hafal alamat Aladdin North itu. Lalu dia kembali ke kartu-kartu bernama dan menulis serangkaian surat terima kasih kepada para penyumbang besar. Dia menulis dua puluh surat sebelum keletihan akhirnya menang. Dengan kartu-kartu masih di hadapannya, dan lampu baca masih menyala, dia menyerah, dan beberapa menit kemudian tertidur.

Dia pulas tak sampai sejam ketika suara-suara panik membangunkannya. Semua lampu menyala, orang-orang bergerak kian-kemari, dan ada asap di

dalam kabin. Semacam alarm berdering keras dari kokpit, dan begitu kesadarannya pulih Lake menyadari hidung Boeing miring ke bawah. Kepanikan segera melanda ketika masker-masker udara berjatuhan. Setelah bertahun-tahun dia hanya setengah memperhatikan pramugari mendemonstrasikan cara pemakaiannya sebelum tinggal landas, masker-masker sialan itu akhirnya betul-betul akan digunakannya. Lake memasang maskernya dan menarik napas kuat-kuat.

Pilot mengumumkan mereka akan mendarat darurat di St. Louis. Lampu berkedip-kedip, dan seseorang menjerit. Lake ingin berjalan di kabin dan menenangkan semua orang, tapi maskernya tidak bisa dibawa-bawa. Di area di belakangnya duduk dua puluh reporter dan kira-kira sebanyak itu juga orang-orang Secret Service.

Mungkin masker udara di belakang sana macet, pikirnya, lalu merasa bersalah.

Asap makin tebal, dan lampu-lampu meredup. Setelah dilanda panik, Lake berhasil berpikir rasional, meskipun cuma sesaat. Cepat-cepat dikumpulkannya kartu-kartu korespondensinya beserta amplopnya. Yang untuk Ricky cuma diperhatikannya sekilas, sekadar untuk dimasukkan ke amplop bertujuan Aladdin North. Dilemnya amplop itu, dan dijejalkannya mapnya ke tas kerja. Lampu berkedip-kedip lagi, lalu padam.

Asap memedihkan mata dan memanaskan wajah mereka. Pesawat menukik dengan kecepatan tinggi. Lonceng peringatan dan sirene melengking dari dek penerbangan.

Ini tak mungkin terjadi, kata Lake dalam hati

sambil mencengkeram sandaran lengan. Aku akan terpilih sebagai presiden Amerika Serikat. Dia teringat Rocky Marciano, Buddy Holly, Otis Redding, Thurman Munson, Senator Tower dari Texas, Mickey Leland dari Houston, temannya. Serta JFK, Jr., dan Ron Brown.

Udara mendadak terasa dingin dan asap menipis’.3 dengan cepat. Mereka berada di ketinggian kurang dari 3.000 meter, dan pilot entah bagaimana berhasil’ menjernihkan udara kabin. Pesawat mendatar dan dari jendela mereka dapat melihat lampu-lampu di darat.

‘Tolong tetap memakai masker oksigen,” kata pilot dalam kegelapan. “Kita akan mendarat beberapa menit lagi. Pendaratan akan mulus.”

Mulus? Dia pasti bercanda, pikir Lake. Dia ingin pergi ke toilet

Perasaan lega tapi sangsi meliputi pesawat. Tepat sebelum roda pesawat menyentuh landasan, Lake melihat kilatan lampu seratus kendaraan gawat darurat. Mereka tersentak sedikit, pendaratan biasa, dan setelah mereka berhenti pintu-pintu darurat membuka di ujung landasan.

Orang-orang bergegas turun dengan teratur, dan dalam beberapa menit mereka disambut regu penolong dan segera dibawa ke ambulans. Api, dalam area bagasi Boeing, tenis meluas ketika mereka mendarat. Ketika Lake berlari dari pesawat, pemadam kebakaran bergegas mendatangi Boeing itu. Asap mengepul dari bawah sayap.

Cuma kurang beberapa menit, kata Lake dalam hati, dan kami bakal mati.

“Nyaris saja, Sir,” kata seorang paramedis ketika mereka berlari menjauh. Lake mencengkeram tas kerjanya, yang berisi surat-surat kecilnya, dan untuk pertama kalinya gemetar ketakutan.

Kecelakaan tersebut, dan serbuan nonstop media yang tidak bisa dihindari setelannya, mungkin tidak terlalu menaikkan popularitas Lake. Tapi publisitasnya jelas tidak merugikan. Dia muncul di semua warta berita pagi, sesaat berbicara tentang kemenangan mutlaknya atas Gubernur Tarry dalam perdebatan, dan di saat berikutnya menceritakan secara mendetail penerbangan yang nyaris merupakan penerbangan terakhirnya.

“Saya rasa untuk sementara saya mau naik bus saja,” katanya sambil tertawa. Dia menggunakan humor sebisa mungkin, dan bersikap seolah kecelakaan itu bukan apa-apa. Para anggota stafnya punya cerita berbeda, tentang menghirup oksigen dalam gelap sementara asap semakin tebal dan panas. Dan para reporter yang ikut dalam pesawat merupakan sumber informasi yang penuh semangat, menceritakan teror tersebut dengan terperinci.

Teddy Maynard menonton semua itu dari bungkernya. Tiga orangnya berada di pesawat itu, dan yang satu telah meneleponnya dari rumah sakit di St. Louis.

Peristiwa itu membingungkan. Di satu pihak, dia masih percaya akan pentingnya Lake memperoleh kursi kepresidenan. Keamanan negara tergantung pada

hal itu. , ,

Di pihak lain, kecelakaan akan merupakan bencana. Lake dan kehidupan gandanya akan lenyap. Masalah besar terhapus. Gubernur Tarry telah belajar dari tangan pertama mengenai pengaruh uang tanpa batas Teddy dapat membuat kesepakatan dengannya tepat pada waktunya untuk menang pada bulan November.

Tapi Lake masih hidup, bahkan semakin kuat Wajahnya yang kecokelatan terpampang di halaman depan semua surat kabar dan disorot kamera dari jarak dekat. Kampanyenya berkembang jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan Teddy.

Jadi mengapa suasana di bungker begitu tegang? Kenapa Teddy tidak bergembira?

Karena masih ada masalah Majelis yang perlu dibereskan. Dan dia tidak bisa mulai membunuhi orang-orang begitu saja.

Dua Puluh Lima

TIM di Dokumen menggunakan laptop yang sama dengan yang mereka pakai untuk menulis surat terakhir pada Ricky dulu. Surat ini dibuat Deville sendiri, dan disetujui Mr. Maynard. Isinya:

Dear Ricky:

Kabar baik mengenai pembebasanmu ke rumah pemasyarakatan di Baltimore. Beri aku beberapa hari dan kurasa aku akan bisa menyediakan pekerjaan tetap untukmu di sana. Cuma sebagai pegawai administrasi, gajinya tidak banyak, tapi merupakan awal yang bagus.

Kusarankan hubungan kita berkembang lebih lambat dari yang kauinginkan. Mungkin akan siang dulu, lalu kita lihat saja bagaimana nanti. Aku bukan tipe yang terburu-buru.

Kuharap kau baik-baik saja. Aku akan me-nyuratimu minggu depan untuk memberitahukan detail-detail pekerjaan tersebut. Tunggu saja.^

Cuma “Al” yang ditulis tangan, seperti sebelumnya. Stempel pos D.C. dicapkan, surat itu diterbangkan dan diantarkan langsung kepada Klockner di Neptune Beach.

Trevor kebetulan berada di Fort Lauderdale, tumben-tumbennya mengurus masalah hukum, jadi surat tersebut tersimpan di kotak Aladdin North selama dua hari. Ketika pulang dengan kecapekan, dia mampir sebentar di kantornya hanya untuk bertengkar hebat dengan Jan, lalu bergegas keluar, naik mobil lagi, dan langsung pergi ke kantor pos. Dia senang waktu melihat kotak posnya penuh. Dia mencampakkan surat-surat sampah, kemudian mengemudi setengah kilo ke kantor pos Atlantic Beach dan mengecek kotak pos untuk Laurel Ridge, spa rehabilitasi mahal Percy.

Setelah mengambil semua surat, Trevor pergi ke Trumble, sehingga Klockner sangat kecewa. Dia menelepon satu kali dalam perjalanan, ke bandarnya. Dia kalah taruhan $2.500 dalam tiga hari gara-gara pertandingan hoki, olahraga yang tidak dikenal Spicer dan karenanya dia tidak mau memasang taruhan pada olahraga itu. Trevor memilih olahraga-olahraga favoritnya sendiri, dengan hasil yang bisa ditebak.

Spifer tidak menjawab panggilan lewat pengeras suara di halaman Trumble, jadi Beech menemui Trevor di ruang pertemuan pengacara. Mereka melakukan pertukaran yang biasadelapan surat keluar, empat belas surat masuk.

“Bagaimana dengan Brant di Upper Darby?” tanya Beech, memeriksa amplop-amplop. “Memangnya kenapa?**

“Siapa dia? Kami siap melabraknya.”

“Aku masih menyelidikinya. Aku ke luar kota beberapa hari.” wjjjN

“Bereskan, oke? Orang ini bisa jadi mangsa paling besar.”

“Akan kulakukan besok.”

Beech tidak suka bertaruh dan tidak ingin main kartu. Trevor pergi dua puluh menit kemudian.

Lama setelah saat makan malam, dan lama setelah jam tutup perpustakaan, Majelis tetap berkurung di kamar kecil mereka, tidak banyak bicara, tidak mau berpandangan, masing-masing menatap dinding, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Di meja tergeletak tiga surat. Satu dari laptop Al, dengan cap pos D.C. dua hari lalu. Yang satu lagi surat bertulisan tangan Al yang mengakhiri korespondensinya dengan Ricky, cap posnya dari Salt Lake City, tiga hari lalu. Keduanya berbeda 180 derajat, dan jelas ditulis oleh orang yang berlainan. Ada yang mengutak-atik surat mereka.

Surat ketiga membuat mereka terpaku. Mereka membacanya berulang kali, sendiri-sendiri, bersama-sama, dalam kesunyian, serentak. Mereka memegang ujungnya, mengarahkannya ke cahaya, bahkan membaurnya. Tercium bau asap sangat samar, sama dengan amplopnya dan surat lain dari Al kepada Ricky.

Ditulis tangan dengan tinta, surat itu bertanggal 18 April, pukul 01.20, dan ditujukan kepada seorang wanita bernama Carol.

Dear Carol:

Malam yang luar biasa! Perdebatan tadi sukses besar, sebagian berkat kau dan para sukarelawan Pennsylvania. Terima kasih banyak! Ayo kita ^ bekerja lebih keras dan memenangkan hal ini. i Kita unggul di Pennsylvania, mari kita pertahankan. Sampai ketemu minggu depan.

Surat itu ditandatangani oleh Aaron Lake. Di bagian atas kartu itu tertulis namanya. Tulisan tangannya sama dengan surat kaku yang dikirimkan Al pada Ricky.

Amplopnya dialamatkan kepada Ricky di Aladdin North. Ketika membukanya Beech tidak melihat kartu kedua yang terselip di balik yang pertama. Lalu kartu itu terjatuh ke meja, dan ketika mengambilnya dia melihat nama Aaron Lake tertulis dengan tinta hitam.

Itu terjadi sekitar pukul 16.00, tidak lama setelah Trevor pergi. Selama lebih-kurang lima jam mereka mempelajari surat itu, dan sekarang mereka hampir yakin bahwa (a) surat laptop itu palsu, tanda tangan “AT’-nya dibuat oleh orang yang cukup pandai memalsukannya; (b) tanda tangan “Al” palsu itu mirip sekali dengan “Al” asli, jadi si pemalsu suatu saat memperoleh akses ke korespondensi Ricky dengan Al; (c) surat-surat kepada Ricky dan Carol ditulis tangan oleh Aaron Lake; dan (d) yang untuk Carol jelas dikhimkan pada mereka tanpa sengaja.

Di atas segalanya, Al Konyers ternyata sebetulnya Aaron Lake.

Tipuan kecil mereka telah menjaring politisi paling terkenal di negeri ini.

Bukti-bukti lain yang kurang penting juga mengarah pada Lake. Kedoknya adalah perusahaan jasa kotak pos di area D.C, tempat di mana Congressman Lake menghabiskan sebagian besar waktunya. Karena merupakan pejabat hasil pemilu yang terkenal, yang nasibnya tergantung suara para pemilih, dia tentu bersembunyi di balik nama alias. Dan dia menggunakan mesin dengan printer untuk menutupi tulisan tangannya. Al tidak mengirimkan foto, satu tanda lagi bahwa banyak yang harus disembunyikannya.

Mereka mengecek surat kabar beberapa hari terakhir di perpustakaan untuk memastikan masalah tanggal. Surat bertulisan tangan itu diposkan dari St. Louis sehari setelah perdebatan, ketika Lake di sana karena pesawatnya terbakar.

Lake tampaknya memang cocok kalau mengakhiri surat-menyuratnya sekarang. Dia memulai korespondensinya sebelum ikut pencalonan. Dalam’tiga bulan dia menguasai negeri ini dan jadi sangat terkenal. Sekarang, kerugiannya akan sangat besar.

Perlahan-lahan, tanpa memedulikan waktu, mereka menyusun kisah Aaron Lake mereka. Dan ketika kisah itu tampak sempurna, mereka berusaha mencari kekurangannya. Kemungkinan terburuk diungkapkan oleh Finn Yarber.

Bagaimana kalau seseorang dalam staf Lake punya akses ke kertas suratnya? tanyanya. Bukan pertanyaan yang jelek, dan mereka membahasnya selama satu jam. Bukankah Al Konyers bisa saja melakukan hal itu untuk menyembunyikan dirinya? Bagaimana kalau dia tinggal di daerah D.C. dan bekerja pada Lake? Bagaimana kalau Lake, orang yang sangat sibuk,

mempercayai si asisten ini untuk menuliskan surat-i surat pribadinya? Seingat Yarber, waktu masih menjadi hakim tinggi dulu, dia tidak pernah memberikan | wewenang seperti itu pada asistennya. Beech tak 3 pernah membiarkan orang lain menuliskan surat pribadinya. Spicer tidak pernah menggunakan omong kosong itu. Itulah gunanya telepon.

Tapi Yarber dan Beech kan tidak pernah mengetahui hebatnya tekanan dan ketegangan kampanye kepresidenan. Dulu mereka memang sibuk, kenang mereka sedih, tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Lake.

Anggaplah pelakunya asisten Lake. Sejauh ini dia punya kedok sempurna, karena hampir tidak ada yang diungkapkannya pada mereka. Tidak ada foto. Hanya detail sangat samar tentang karier dan keluarga. Dia menyukai film lama dan makanan Cina, hanya itulah yang berhasil mereka korek. Konyers tercantum dalam daftar sahabat pena yang segera akan mereka singkirkan karena dia terlalu penakut. Kalau begitu, mengapa dia mengakhiri hubungan saat ini? Tak ada jawaban yang meyakinkan. Dan argumen itu memang lemah. Beech dan Yarber menyimpulkan bahwa orang dalam posisi Lake, yang berpeluang besar menjadi presiden Amerika Serikat, tidak mungkin membiarkan orang lain menuliskan dan menandatangani surat pribadinya. Lake memiliki seratus anggota staf untuk mengetik surat dan memo, semua bisa ditandatanganinya dengan cepat

Spicer mengajukan pertanyaan yang lebih serius. Mengapa Lake mengambil risiko dengan menulis tangan suratnya? Surat-surat sebelumnya diketik pada

kertas putih polos, dan dikirim dalam amplop putih polos. Mereka bisa melihat dia pengecut dari alat tulis pilihannya, dan Lake sama takutnya dengan orang-orang yang menjawab iklan mereka. Kampanyenya, karena kaya, memiliki banyak pengolah kata, mesin tik, dan laptop, pasti yang paling mutakhir.

Untuk menemukan jawaban, mereka kembali ke bukti kecil yang mereka punyai. Surat kepada Carol ditulis pukul 01.20. Menurut sebuah surat kabar, pendaratan darurat terjadi sekitar pukul 02.15, tak sampai sejam kemudian.

“Dia menulisnya di pesawat,” kata Yarber. “Malam sudah larut, pesawat penuh orang, hampir enam puluh menurut surat kabar, orang-orang ini kecapekan, dan mungkin dia tak bisa memperoleh komputer.”

“Kalau begitu, kenapa tak menunggu?” tanya Spicer. Dia sudah terbukti jago mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab siapa pun, terutama dirinya sendiri.

“Dia melakukan kesalahan. Dikiranya dia pintar, dan mungkin memang benar. Entah bagaimana surat-suratnya tercampur aduk.”

“Lihat secara keseluruhan,” kata Beech. “Nominasi telah di tangan. Dia baru saja membabat satu-satunya lawannya, di hadapan penonton nasional, dan akhirnya dia yakin namanya akan tercantum pada kertas pemilu November nanti. Tapi dia punya rahasia ini. Dia punya Ricky, dan sudah berminggu-minggu memikirkan apa yang akan dilakukannya dengan Ricky. Bocah itu akan dibebaskan, dia ingin bertemu, dsb. Lake merasakan tekanan dari kedua pihakdari Ricky, dan dari kesadaran bahwa dia mungkin saja terpilih sebagai

presiden. Dia menulis surat yang nyaris tak mungkin ketahuan, lalu pesawatnya terbakar. Dia melakukan kesalahan kecil, tapi kesalahan itu berubah jadi besar.”

“Dan dia tak mengetahuinya,” tambah Yarber. “Belum.”

Teori Beech masuk akal. Mereka merenungkannya dalam keheningan yang menyesakkan di ruangan kecil mereka. Kehebatan penemuan mereka membuat mulut dan pikiran mereka terasa beku. Berjam-jam berlalu, dan pelan-pelan mereka menerimanya.

Untuk pertanyaan besar berikutnya, mereka berhadapan dengan realitas menggelisahkan bahwa ada orang yang mengutak-atik surat mereka. Siapa? Dan kenapa ada yang ingin berbuat begitu? Bagaimana surat-surat itu dicegat? Teka-teki itu rasanya tak bisa dipecahkan.

Sekali lagi, mereka membicarakan skenario bahwa pelakunya adalah orang yang sangat dekat dengan Lake, mungkin asisten dengan akses yang tanpa sengaja menemukan surat-surat tersebut. Dan mungkin dia berusaha melindungi Lake dari Ricky dengan mengambil alih korespondensi mereka, bertujuan dengan satu cara, suatu hari nanti mengakhiri hubungan tersebut.

Tapi terlalu banyak hal yang tidak diketahui untuk membangun bukti. Mereka menggaruk kepala dan menggigit kuku, lalu akhirnya mengakui mereka harus membawanya tidur. Mereka tidak bisa merencanakan tindakan selanjutnya, karena situasi di hadapan mereka mengandung lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Mereka tak bisa tidur. Dengan mata merah dan

wajah kuyu mereka berkumpul kembali pukul 06.00 lebih sedikit, ditemani kopi pahit yang mengepul-ngepul dari cangkir Styrofoam. Mereka mengunci pintu, mengeluarkan surat-surat, meletakkannya persis di tempatnya kemarin, dan mulai berpikir.

“Kurasa kita harus menyelidiki kotak pos di Chevy Chase itu,” kata Spicer. “Penyelidikannya gampang, aman, biasanya cepat. Trevor bisa melakukannya hampir di semua tempat. Kalau kita tahu siapa penyewanya, banyak pertanyaan akan terjawab.”

“Sulit dipercaya orang seperti Aaron Lake menyewa kotak pos supaya bisa menyembunyikan surat-surat seperti ini,” komentar Beech.

“Bukan Aaron Lake yang sama,” kata Yarber. “Waktu menyewa kotak pos itu dan mulai menulis pada Ricky, dia cuma anggota Kongres biasa, satu dari 435 anggota. Orang tak pernah mendengar tentang dia. Sekarang, situasi berubah drastis.”

“Dan itulah sebabnya dia berusaha mengakhiri hubungan,” kata Spicer. “Situasi sangat berbeda sekarang. Kerugiannya jadi jauh lebih besar.”

Langkah pertama adalah menyuruh Trevor menyelidiki kotak pos di Chevy Chase tersebut.

Langkah kedua tidak sejelas itu. Mereka khawatir dan berasumsi bahwa Lake adalah Al dan Al adalah Lake, mungkin menyadari surat-suratnya kacau-balaik Dia memiliki puluhan juta dolar (fakta yang jelas tidak lolos dari pengamatan mereka), dan dia dengan mudah bisa menggunakan sebagian uang itu untuk melacak Ricky. Mengingat luar biasanya taruhannya, jika menyadari kesalahannya, Lake akan melakukan hampir segalanya untuk membungkam Ricky.

Jadi mereka berdebat apakah akan mengiriminya surat, berisi permohonan Ricky supaya Al tidak meninggalkannya begitu saja. Ricky membutuhkan persahabatannya, tidak lebih, dst. Tujuannya adalah memberi kesan bahwa semuanya baik-baik saja, tidak ada yang tak beres. Mereka berharap Lake akan membacanya dan menggaruk kepala, serta bertanya-tanya dalam hati ke mana persisnya kartu sialan untuk Carol itu tersesat.

Mereka memutuskan surat seperti itu tidak bijaksana, sebab orang lain juga membaca surat-surat mereka. Sampai tahu siapa dia, mereka tidak boleh mengambil risiko dengan mengontak Al lagi.

Mereka menghabiskan kopi dan berjalan ke kafetaria. Mereka makan sendirian, sereal, buah-buahan, dan yoghurtmakanan sehat, karena sekarang mereka akan hidup lagi di dunia luar. Bersama-sama mereka berjalan kaki empat putaran tanpa merokok, dengan langkah santai, kemudian kembali ke ruangan mereka untuk melewatkan pagi hari dengan berpikir keras.

Lake yang malang. Dia tergesa-gesa dari satu negara bagian ke negara bagian berikut, dibuntuti lima puluh orang, terlambat untuk tiga janji temu sekaligus, selusin ajudan berbisik di kedua telinganya. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.

Dan Majelis punya waktu seharian, berjam-jam, untuk berpikir dan menyusun rencana. Pertarungan yang tidak seimbang.

Dua Puluh Enam

ADA dua jenis telepon di Trumble; aman dan tidak aman. Dalam teori, semua telepon yang dilakukan di saluran tidak aman direkam dan dianalisis kurcaci-kurcaci dalam bilik di suatu tempat yang tugasnya hanya mendengarkan jutaan jam obrolan yang tak tentu juntrungannya. Dalam kenyataan, sekitar setengah telepon betul-betul direkam, secara acak, dan hanya kira-kira lima persen didengarkan orang yang bekerja di penjara. Pemerintah federal sekalipun tidak mampu menyewa cukup banyak kurcaci untuk mendengarkan semua percakapan tersebut.

Para penjual obat bius sudah lama diketahui mengarahkan geng mereka dari saluran tidak aman. Bos-bos mafia sudah lama diketahui memerintahkan pembunuhan rival-rival mereka. Kemungkinan ketahuan sangat kecil.

Saluran aman jumlahnya lebih sedikit, dan menurut hukum tidak boleh disadap. Saluran aman hanya untuk menghubungi pengacara, dan selalu dikawal penjaga.

Ketika akhirnya tiba giliran Spicer untuk menggunakan saluran aman, penjaga telah menjauh.

“Kantor pengacara,” terdengar sapaan kasar dari dunia bebas.

“Ya, ini Joe Roy Spicer, menelepon dari penjara Trumble, dan aku perlu bicara dengan Trevor.” “Dia sedang tidur.”

Saat itu pukul 13.30. “Kalau begitu bangunkan bangsat itu,” geram Spicer. ‘Tunggu sebentar.”

“Kau bisa bergegas? Aku menggunakan telepon penjara.”

Joe Roy memandang sekilas sekelilingnya dan bertanya-tanya dalam hati, bukan baru sekali ini, pengacara macam apa yang mereka miliki.

“Kenapa kau menelepon?” adalah kata-kata pertama Trevor.

“Diam. Angkat pantatmu dan segera bekerja. Ada urusan yang kami ingin cepat dibereskan.”

Saat itu, rumah sewaan di seberang kantor Trevor sudah sibuk. Ini telepon pertama dari Trumble.

“Urusan apa?”

“Kami ingin sebuah kotak pos diperiksa. Dengan cepat. Dan kami ingin kau mengawasi penyelidikannya. Jangan pergi sebelum selesai.”

“Kenapa aku?”

‘Tokoknya lakukan saja, oke? Ini mungkin yang paling besar.” “Di mana?”

“Chevy Chase, Maryland. Catat ini. Al Konyers, Kotak 455, Mailbox America, Western Avenue 39380, Chevy Chase. Kau harus sangat berhati-hati, sebab

orang ini mungkin punya beberapa teman, dan kemungkinan besar orang lain sudah mengawasi kotak itu. Ambil uang kontan dan sewa beberapa detektif andal.”

“Aku sedang sibuk sekali.”

“Yeah, sori aku membangunkanmu. Lakukan sekarang, Trevor. Berangkat hari ini. Dan jangan pulang sampai kau tahu siapa penyewa kotak itu.”

“Baik, baik.”

Spicer menutup telepon, dan Trevor menaikkan kakinya ke meja lagi dan tampak kembali tidur. Tapi dia sebetulnya sedang berpikir. Sesaat kemudian dia berteriak menyuruh Jan mencari tahu soal penerbangan-penerbangan ke Washington.

Selama empat belas tahun jadi penyelia lapangan, Klockner belum pernah melihat begitu banyak orang mengawasi satu orang yang melakukan begitu sedikit. Dia menelepon Deville di Langley, dan rumah sewaan itu pun sibuk. Sekarang waktunya Wes dan Chap beraksi.

Wes menyeberangi jalan, lalu melewati pintu yang berderit dan kusam masuk ke kantor Mr. L. Trevor Carson, pengacara dan konsultan hukum. Wes mengenakan celana khaki dan kaus rajut lengan panjang, sepatu loafer, tanpa kaus kaki. Sambil tersenyum hambar padanya Jan tidak bisa menebak apakah dia penduduk setempat atau turis. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya Jan. -V”^

“Saya betul-betul harus bertemu dengan Mr. Carson,” sahut Wes dengan nada putus asa.

“Anda sudah membuat janji?” Jan bertanya, seolah

bosnya begitu sibuk sampai dia tidak dapat mengingat pertemuan-pertemuannya.

“Yah, belum, ini semacam keadaan darurat.”

“Dia sibuk sekali,” kata Jan, dan Wes nyaris bisa mendengar tawa dari rumah sewaan di seberang.

‘Tolonglah, saya harus bicara dengannya.”

Jan membelalak dan bergeming. “Apa sih masalahnya?”

“Saya baru saja memakamkan istri saya,” kata Wes, hampir menangis, dan Jan akhirnya melunak sedikit “Saya turut berduka,” kata Jan. Pria malang.

“Dia tewas dalam kecelakaan mobil di 1-95, di utara Jacksonville.”

Sekarang Jan berdiri dan menyesal tadi tidak menyeduh kopi baru. “Saya sangat prihatin,” katanya. “Kapan kejadiannya?”

“Dua belas hari yang lalu. Seorang teman merekomendasikan Mr. Carson.”

Bukan teman yang baik, Jan ingin berkomentar. “Anda mau minum kopi?” dia menawarkan, menutup botol cat kukunya. Dua belas hari yang lalu, pikirnya. Seperti layaknya sekretaris pengacara yang baik, dia membaca berita kecelakaan di surat kabar dengan cermat Siapa tahu, mereka bisa saja mendatanginya.

Tapi kantor Trevor tak pernah didatangi. Sampai saat ini.

‘Tidak, terima kasih,” kata Wes. “Dia ditabrak truk Texaco. Sopirnya mabuk.”

“Ya Tuhan!” Jan berseru, membekap mulutnya. Trevor sekalipun mampu menangani yang satu ini. Uang dalam jumlah luar biasa, bayaran besar,

tepat di area penerimaan tamu ini, namun si tolol di belakang sana mendengkur terus.

“Dia sedang mengurus deposisi,” katanya. “Saya lihat dulu apakah dia bisa ditemui. Silakan duduk.” Ingin rasanya Jan mengunci pintu depan supaya pria itu tidak kabur.

“Nama saya Yates. Yates Newman,” Wes memberitahu, berusaha membantu.

“Oh ya,” kata Jan, buru-buru menyusuri koridor. Dia mengetuk pintu Trevor dengan sopan, lalu melangkah masuk. “Bangun, goblok!” desisnya dari balik gigi terkatup, tapi cukup keras hingga Wes di depan bisa mendengarnya.

“Ada apa?” tanya Trevor, berdiri, siap berkelahi. Dia ternyata tidak tidur. Dia sedang membaca People lama.

“Kejutan! Kau punya klien.” “Siapa?”

“Pria yang istrinya ditabrak truk Texaco dua belas hari yang lalu. Dia ingin menemuimu sekarang juga.” “Dia di sini?”

“Yep. Sulit dipercaya, ya? Tiga ribu pengacara di Jacksonville dan orang malang ini jatuh dari langit. Katanya temannya merekomendasikanmu.”

“Kau bilang apa padanya?”

“Kubilang dia sebaiknya mencari teman baru.”

“Tidak, aku serius, apa yang kaukatakan padanya?”

“Kau sedang mengurus deposisi.”

“Sudah delapan tahun aku tak mengurus deposisi. Usir dia.”

“Tenang. Aku akan membuatkannya kopi. Bersikaplah seolah kau sedang membereskan urusan

penting di belakang sini. Bagaimana kalau kaubereskan tempat ini?” “Kaupastikan saja dia tak pergi.” “Sopir Texaco itu mabuk,” katanya, membuka pintu. “Jangan sampai ini lepas.”

Trevor terpana, ternganga, matanya menerawang, otaknya yang tadinya pulas tiba-tiba bangun. Sepertiga dari $2 juta, $4 juta, sialan, bahkan $10 juta jika sopir itu benar-benar mabuk dan tuntutan ganti rugi berhasil. Dia ingin merapikan paling tidak mejanya, tapi tak sanggup bergerak.

Wes menatap ke luar jendela depan, memandang rumah sewaan tempat teman-temannya memandanginya Dia membelakangi keributan di ujung koridor, sebab berjuang menahan tawa. Terdengar langkah kaki, lalu Jan berkata, “Mr. Carson akan menemui Anda sebentar lagi.”

Terima kasih,” kata Wes pelan, tanpa berbalik. Pria malang ini masih berduka, pikir Jan, lalu pergi ke dapur yang kotor untuk menyeduh kopi.

Deposisi selesai dalam sekejap mata, dan para partisipan lainnya lenyap tanpa jejak. Wes mengikuti sekretaris itu menyusuri koridor menuju kantor Mr. Carson yang berantakan. Mereka berkenalan. Jan menghidangkan kopi yang baru dibuat, dan setelah dia pergi, Wes mengajukan pertanyaan yang tidak lazim.

“Di sekitar sini ada tempat untuk membeli latte pekat?”

“Wah, tentu saja, ada,” sahut Trevor dari seberang meja. “Ada tempat bernama Beach Java beberapa blok dari sini.”

“Bisa Anda menyuruhnya membelikan latte untuk saya?” Jelas. Apa saja! “Ya, tentu. Tali atau grandel” “Tali.”

Trevor melompat keluar dari ruangannya, dan beberapa detik kemudian Jan menyerbu pintu depan dan berlari di jalan. Setelah wanita itu tidak kelihatan, Chap meninggalkan rumah sewaan dan berjalan ke kantor Trevor. Pintu depan dikunci, jadi dia membukanya dengan anak kuncinya sendiri. Di dalam, dipasangnya rantai pintu, jadi Jan yang malang akan tertahan di teras sambil membawa secangkir latte mendidih.

Chap berjalan tanpa suara ke ujung koridor dan tiba-tiba memasuki ruangan pengacara itu. “Maaf,” kata Trevor.

“Tidak apa-apa,” kata Wes. “Dia bersamaku.” Chap menutup dan mengunci pintu, lalu mencabut pistol 9 milimeter dari jaket dan nyaris mengacungkannya ke arah Trevor, yang matanya melotot dan jantungnya serasa berhenti berdetak.

“Apa” susah payah dia berkata dengan suara melengking.

“Tutup mulut, oke?” kata Chap, menyerahkan pistol pada Wes, yang sudah duduk. Mata liar Trevor mengikutinya, lalu pistol itu tidak kelihatan lagi. Apa yang telah kulakukan? Siapa kedua tukang pukul ini? Semua utang judiku sudah lunas.

Dengan senang hati dia menutup mulut. Apa pun keinginan mereka.

Chap bersandar pada dinding, sangat dekat dengan

Trevor, seolah setiap saat akan menerkam. “Kami punya klien,” katanya. “Pria kaya, yang tersangkut dalam tipuan kecilmu bersama Ricky.”

“Oh, Tuhanku,” gumam Trevor. Mimpinya yang paling buruk.

“Idenya memang bagus,” ujar Wes. “Memeras pria-pria homo kaya yang masih menyembunyikan jati dirinya. Mereka tak bisa protes. Ricky sudah di penjara, jadi apa ruginya buat dia?”

“Hampir sempurna,” sambut Chap. “Sampai kau menangkap ikan yang salah, dan itulah yang telah kaulakukan.” ijJjB

“Itu bukan tipuanku,” kata Trevor, suaranya masih dua oktaf di atas normal, matanya masih mencari-cari pistol tadi.

‘Ta, tapi tipuan itu takkan berhasil tanpa kau, kan?” tanya Wes. “Harus ada pengacara busuk di luar untuk membawakan surat-surat itu. Dan Ricky membutuhkan orang untuk mengurus uang dan menyelidiki sedikit” “Kalian bukan polisi, kan?” tanya Trevor. “Bukan. Kami tukang pukul pribadi,” jawab Chap. “Karena kalau kalian polisi, aku tak yakin apakah mau bicara lebih banyak.” “Kami bukan polisi, oke?” Trevor bernapas dan berpikir lagi, proses bernapasnya lebih cepat daripada proses berpikirnya, namun akal sehatnya muncul. “Kurasa aku akan merekam ini,” katanya. “Untuk jaga-jaga seandainya kalian polisi.” “Kubilang kami bukan polisi.” “Aku tak mempercayai polisi, apalagi FBI. FBI masuk begitu saja seperti kalian berdua, mengacung-acungkan senjata, dan bersumpah mereka bukan FBI. Pokoknya aku tak suka polisi. Kurasa aku akan merekam pembicaraan ini.”

Jangan khawatir, pai, mereka ingin mengatakannya. Semua ini direkam, langsung dan dengan film berwarna digital high-density dari kamera mungil di langit-langit beberapa kaki di belakang tempat mereka duduk. Dan ada beberapa mikrofon di seluruh penjuru meja kerja Trevor yang berantakan, sehingga ketika dia mendengkur atau bersendawa atau bahkan mengertakkan buku-buku jarinya seseorang di seberang jalan mendengarnya.

Pistol tadi muncul kembali. Wes memegangnya dengan dua tangan dan memeriksanya dengan teliti.

“Kau tak boleh merekam apa pun,” kata Chap. “Seperti kataku, kami orang-orang swasta. Dan kami mengambil alih keadaan sekarang.” Dia maju selangkah. Trevor memandanginya, sambil mengawasi Wes yang memegang pistol. “Kami datang dengan damai,” kata Chap. “Kami punya uang untukmu,” kata Wes, dan menyingkirkan benda sialan itu. “Uang untuk apa?” tanya Trevor. “Kami menginginkan kau di pihak kami. Kami ingin memakai jasamu.” “Untuk melakukan apa?”

“Membantu kami melindungi klien kami,” jawab Chap. “Inilah pendapat kami. Kau terlibat dalam rencana pemerasan yang dioperasikan dari dalam penjara federal, dan kami menangkap basah dirimu. Kami bisa melaporkanmu ke FBI, membuat kau dan klienmu ditangkap, kau akan dipenjara tiga puluh

329

bulan, mungkin di Trumble di mana kalian akan menyaru dengan pas. Izin praktek pengacaramu otomatis akan dicabut, berarti kau akan kehilangan semua ini.” Chap melambaikan tangan kanannya dengan santai, menyapu segala tetek-bengek, debu, dan tumpukan-tumpukan arsip lama yang sudah bertahun-tahun tak disentuh.

Wes langsung menyambar. “Kami siap mendatangi FBI sekarang, dan bisa menghentikan surat-surat keluar dari Trumble. Klien kami mungkin dapat dilindungi hingga tak disinggung-singgung. Tapi ada elemen risiko yang tak mau diambil klien kami. Bagaimana kalau Ricky punya kaki tangan lain, entah di dalam atau di luar Trumble, orang yang belum kami temukan, dan dia entah bagaimana berhasil membeberkan klien kami untuk balas dendam?”

Chap sudah menggeleng-geleng. “Terlalu riskan. Kami lebih suka bekerja denganmu, Trevor. Kami lebih suka membelimu, dan membunuh tipuan itu dari kantor ini.” fil^

“Aku tak bisa dibeli,” kata Trevor tak meyakinkan. “Kalau begitu kau kami sewa beberapa lama, bagaimana?” usul Wes. “Bukankah pengacara memang disewa per jam?” “Kupikir ya, tapi kalian memintaku menjual klien.” “Klienmu penjahat yang setiap hari melakukan perbuatan kriminal dari dalam penjara federal. Dan kau sama bersalahnya dengan dia. Jangan sok suci.”

“Begitu kau jadi penjahat, Trevor,” kata Chap serius, “kau kehilangan hak bersikap suci. Jangan ceramahi kami. Kami tahu masalahnya cuma berapa banyak kami bersedia membayarmu.”

Trevor melupakan senjata tadi sesaat, dan melupakan izin prakteknya yang tergantung pada dinding di belakangnya, agak miring. Seperti yang sering dilakukannya akhir-akhir ini ketika berhadapan dengan hal tidak enak dalam praktek hukum, dia memejamkan mata dan memimpikan sekunar 12 meternya, berlabuh di air hangat dan tenang sebuah teluk tertutup, gadis-gadis bertelanjang dada di pantai yang berjarak seratus meter darinya, dan dia sendiri nyaris tak berpakaian, merasakan tiupan lembut angin, menikmati rum, mendengarkan gadis-gadis itu.

Dia membuka mata dan mencoba memfokuskan pandangan pada Wes di seberang meja. “Siapa klien kalian?” dia bertanya.

“Tak secepat itu,” tukas Chap. “Kita buat kesepakatan dulu.”

“Kesepakatan apa?”

“Kami memberimu uang, dan kau bekerja sebagai agen ganda. Kami mendapat akses ke segala hal. Kami memasang alat penyadap di mbuhmu waktu kau bicara dengan Ricky. Kami melihat semua surat. Kau tak boleh bertindak sebelum kita membicarakannya.”

“Kenapa kalian tak langsung memberikan uangnya saja?” tanya Trevor. “Pasti jauh lebih mudah.”

“Kami sudah memikirkannya,” kata Wes. “Tapi Ricky bermain curang. Kalau kami memberinya uang, dia akan kembali untuk minta lagi. Dan lagi”

“Tidak.”

“O ya? Bagaimana dengan Quince Garbe di Bakers, Iowa?”

Oh, Tuhanku, pikir Trevor, dan dia nyaris meng—

ucapkannya keras-keras. Berapa banyak yang mereka ketahui? Dia hanya sanggup berkata sangat lemah, “Siapa dia?”

“Sudahlah, Trevor,” cemooh Chap. “Kami tahu di mana uang itu disembunyikan di Bahama. Kami tahu tentang Boomer Realty, dan tentang rekening rahasiamu, saat ini saldonya hampir $70.000.” r$jM “Kami menggali sedalam mungkin, Trevor,” kata Wes, ikut bicara di saat yang tepat. Trevor seperti menonton pertandingan tenis, maju-mundur, maju-mundur. ‘Tapi kami akhirnya menemui jalan buntu. Itu sebabnya kami memeriukanmu.”

Sejujurnya, Trevor tidak pernah menyukai Spicer. Pria itu dingin, kejam, dan jahat, berani-beraninya dia memotong persentase bagian Trevor. Beech dan Yarber tidak apa-apa, tapi masa bodoh dengan mereka. Lagi pula Trevor memang tidak punya banyak pilihan. “Berapa?” tanyanya.

“Klien kami bersedia membayar $100.000, tunai,” kata Chap.

‘Tentu saja tunai,” balas Trevor. “Seratus ribu dolar sih kecil. Itu cuma bayaran pertama Ricky. Harga diriku jauh lebih dari 100.000.”

“Dua ratus ribu,” kata Wes.

“Begini saja,” potong Trevor, berusaha keras menenangkan debar jantungnya. “Klienmu berani bayar berapa supaya rahasianya terkubur?”

“Dan kau mau menguburnya?” tanya Wes.

“Yep.”

“Sebentar,” kata Chap, menyentakkan telepon mungil dari sakunya. Dia menekan beberapa angka sambil membuka pintu dan melangkah ke koridor,

lalu menggumamkan beberapa kalimat yang hanya samar-samar didengar Trevor. Wes menatap dinding, senjatanya diletakkan di samping kursinya. Trevor tidak bisa melihatnya, meskipun sudah berusaha.

Chap kembali dan menatap tajam Wes, seolah alis dan kerut di dahinya bisa menyampaikan pesan penting. Dalam suasana ragu-ragu sesaat itu, Trevor cepat-cepat bicara. “Kurasa bayaranku sejuta dolar,” katanya. “Ini bisa jadi kasus terakhirku. Kalian memintaku mengungkapkan informasi rahasia klien, pelanggaran kode etik pengacara yang cukup berat. Aku bisa langsung ditendang dari asosiasi pengacara.”

Pemecatan dari asosiasi pengacara terlalu hebat bagi si Trevor ini, tapi Wes dan Chap tidak menanggapinya. Tidak ada gunanya berdebat mengenai seberapa penting izin prakteknya.

“Klien kami akan membayar satu juta dolar,” kata Chap.

Dan Trevor tertawa, tidak tahan. Dia terbahak-bahak seolah barusan mendengar lelucon hebat, dan di rumah sewaan di seberang jalan mereka tertawa karena Trevor tertawa.

Trevor berhasil mengendalikan diri. Dia berhenti tertawa tapi tidak bisa menghapus senyumnya. Sejuta dolar. Tunai. Bebas pajak. Tersembunyi di luar negeri, di bank lain, tentu saja, tak terjangkau IRS dan tangan-tangan lain pemerintah.

Lalu dia mengerutkan kening gaya pengacara, agak malu karena bereaksi begitu tidak profesional. Dia akan melontarkan komentar cerdas ketika dari depan terdengar tiga ketukan cepat di kaca. “Oh ya,” katanya. “Pasti itu kopinya.”

“Dia harus pergi,” kata Chap.

“Akan kusuruh dia pulang,” kata Trevor, berdiri untuk pertama kalinya, agak pusing.

“Tidak. Untuk selamanya. Singkirkan dia dari kantor ini.”

“Seberapa banyak yang diketahuinya?” tanya Wes.

“Otaknya sebeku es,” sahut Trevor senang.

“Itu termasuk kesepakatan,” kata Chap. “Dia harus pergi, sekarang juga. Banyak yang harus kita bicarakan, dan kami tak mau dia ada di sini.”

Ketukan makin keras. Jan sudah membuka kunci pintu tapi tertahan rantai. “Trevor! Ini aku!” teriaknya di celah selebar lima senti.

Trevor berjalan pelan menyusuri koridor, menggaruk-garuk kepala, mencari kata-kata yang tepat. Dia berhadapan dengan Jan dari balik kaca pintu depan, dan dia tampak sangat bingung.

“Buka,” geram sekretarisnya. “Kopi ini panas.”

“Aku mau kau pulang,” katanya.

“Kenapa?”

“Kenapa?”

“Ya, kenapa?”

“Karena, yah, uh” Sesaat dia kehabisan kata-kata, lalu teringat pada uang itu. Kepergian Jan termasuk dalam kesepakatan. “Karena kau dipecat,” katanya.

“Apa?”

“Kubilang kau dipecati” teriaknya, cukup keras supaya teman-teman barunya di belakang bisa mendengar.

“Kau tak bisa memecatku! Utangmu padaku terlalu banyak.”

“Aku tak berutang apa-apa!”

“Kau harus memberiku seribu dolar untuk mengganti gajiku!”

Jendela-jendela rumah sewaan di seberang penuh dengan wajah-wajah yang tersembunyi di balik tirai. Suara kedua orang itu menggema di jalanan yang sepi.

“Kau sinting!” jerit Trevor. “Aku tak berutang sepeser pun padamu!” “Seribu empat puluh dolar, persisnya!” “Kau gila.”

“Dasar bangsat! Aku setia padamu selama delapan tahun, menerima gaji minimum, lalu kau akhirnya mendapat kasus besar, dan kau memecatku. Itukah yang kaulakukan, Trevor!?”

“Begitulah! Sekarang pergi!”

“Buka pintu, pengecut sialan!”

“Pergi, Jan!”

“Tidak sampai kuambil barang-barangku!”

“Kembalilah besok. Aku sedang rapat dengan Mr. Newman.” Setelah berkata begitu, Trevor mundur selangkah. Begitu melihat Trevor tidak mau membukakan pintu, kesabaran Jan habis. “Bangsat!” jeritnya lebih keras lagi, lalu melemparkan latte ke pintu. Kaca tipis rapuh itu bergetar tapi tidak pecah, dan langsung tertutup cairan cokelat kental.

Trevor, aman di dalam, tetap mengernyit dan melihat dengan ngeri ketika wanita yang sangat dikenalnya itu mengamuk. Jan bergegas pergi, mukanya merah padam, memaki-maki, dan menjauh beberapa langkah sampai sebongkah batu menarik perhatiannya. Batu itu sisa proyek pembangunan beranggaran kecil yang sudah lama terlupakan, dulu disetujui Trevor

karena Jan berkeras. Wanita itu menyambarnya, mengenakkan gigi, memaki lagi, lalu melemparkannya ke pintu.

Wes dan Chap sejak tadi mengerahkan segenap kemampuannya untuk memasang tampang serius, tapi ketika batu itu menghancurkan jendela pintu, mereka tak bisa menahan tawa. Trevor berteriak, “Perempuan gila!” Mereka tertawa lagi dan membuang muka, berusaha menenangkan diri.

Setelah itu hening. Ketenangan telah muncul di sekitar ruang penerimaan tamu.

Trevor berdiri di ambang pintu ruang kerjanya, sehat walafiat, tidak tampak terluka. “Maaf atas kejadian tadi,” katanya pelan, dan menghampiri kursinya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Chap.

“Tentu. Tidak masalah. Mau kopi biasa?” dia bertanya pada Wes.

“Lupakan saja.”

Detail-detailnya dibahas selama makan siang. Trevor mendesak mereka makan di Pete’s. Mereka menemukan meja di belakang, dekat mesin-mesin pinball. Wes dan Chap memikirkan privasi, tapi segera sadar bahwa tidak ada yang mendengarkan, karena tidak ada yang melakukan bisnis di Pete’s.

Trevor menenggak tiga botol bir sambil makan kentang goreng. Mereka memesan minuman ringan dan burger.

Trevor ingin memperoleh semua uang itu sebelum mengkhianati kliennya. Mereka sepakat menyerahkan $100.000 siang itu, dan segera mentransfer sisanya ke bank. Trevor minta bank yang berbeda, tapi mereka berkeras tetap menggunakan Geneva Trust di Nassau. Mereka menenangkannya bahwa akses mereka terbatas hanya untuk mengamati rekening itu; mereka tidak bisa menyentuh dananya. Lagi pula, uangnya akan tiba di sana sore nanti. Kalau mereka berganti bank, urusannya bisa makan satu-dua hari. Kedua belah pihak tidak sabar untuk menuntaskan kesepakatan. Wes dan Chap mengmginkan perlindungan penuh dan segera untuk klien mereka. Trevor menginginkan hartanya. Setelah tiga botol bir dia sudah membelanjakannya.

Chap pergi lebih dulu untuk mengambil uang. Trevor memesan sebotol lagi untuk di perjalanan, dan mereka naik ke mobil Wes untuk berkeliling kota. Rencananya adalah menjumpai Chap di suatu tempat dan menerima uang itu. Ketika mereka melaju ke selatan di Highway AIA, di sepanjang pantai, Trevor mulai bicara.

“Menakjubkan, ya,” katanya, matanya tersembunyi di balik kacamata hitam murahan, kepalanya bersandar pada jok.

“Apa yang menakjubkan?” “Risiko yang rela diambil orang-orang ini. Klienmu, umpamanya. Orang kaya. Dia bisa menyewa pemuda mana saja yang diinginkannya, tapi dia malah menanggapi iklan di majalah homo dan menyurati orang yang sama sekali tak dikenalnya.”

“Aku juga tak mengerti,” kata Wes, dan sesaat kedua pria normal itu sependapat. “Bukan tugasku bertanya-tanya.”

“Kurasa daya tariknya karena tak dikenal itu,” kata Trevor dan meneguk birnya sedikit.

“Yeah, mungkin saja. Siapa Ricky?”

“Kau akan kuberitahu setelah uang itu kudapat. Yang mana klienmu?”

“Yang mana? Memangnya berapa korban yang sedang kaugarap sekarang?”

“Ricky giat akhir-akhir mi. Barangkali sekitar dua puluh.”

“Berapa yang kauperas?”

“Dua atau tiga. Bisnis yang menjijikkan.”

“Bagaimana kau bisa terlibat?”

“Aku pengacara Ricky. Dia sangat cerdas, sangat bosan, entah bagaimana dia mendapat ide untuk memeras pria-pria homo yang masih menyembunyikan kondisinya. Bertentangan dengan akal sehatku, aku melibatkan diri.”

“Apakah dia homo?” tanya Wes. Wes tahu nama cucu-cucu Beech. Dia tahu golongan darah Yarber. Dia tahu siapa pacar istri Spicer di Mississippi sana.

“Tidak,” jawab Trevor.

“Kalau begitu dia maniak.”

“Tidak, dia orang baik. Jadi, siapa klienmu?”

“Al Konyers.”

Trevor mengangguk dan mencoba mengingat jumlah surat antara Ricky dan Al yang telah diurus-* nya. “Kebetulan sekali. Aku merencanakan pergi ke Washington untuk menyelidiki latar belakang Mr. Konyers. Bukan nama sebenarnya, tentu saja,”

“Jelas.”

“Kau tahu nama aslinya?” “Tidak. Kami disewa orang-orangnya.” “Menarik sekali. Jadi tak satu pun dari kita mengetahui Al Konyers yang sebenarnya?”

“Tepat. Dan aku yakin keadaannya akan tetap seperti itu.”

Trevor menunjuk sebuah toserba dan berkata, “Berhenti di situ. Aku mau beli bir.”

Wes menunggu di dekat pompa bensin. Mereka sudah memutuskan takkan berkomentar tentang kebiasaan minumnya sampai uang berpindah tangan dan pengacara itu menceritakan semuanya. Mereka akan memperoleh kepercayaannya dulu, lantas pelan-pelan berusaha menyadarkannya. Mereka tidak ingin Trevor di Pete’s tiap malam, minum dan bicara terlalu banyak.

Chap menunggu di mobil sewaan, di depan Laundromat delapan kilometer di selatan Ponte Vedra Beach. Dia menyerahkan tas kerja murahan tipis pada Trevor dan berkata, “Semua ada di situ. Seratus ribu. Kutemui lagi kalian di kantor.”

Trevor tidak mendengarnya. Dia membuka tas itu dan mulai menghitung uangnya. Wes berbalik dan melaju ke utara. Sepuluh tumpuk $10.000, semuanya berupa pecahan $100.

Trevor menutup tas itu, dan menyeberang ke pihak mereka.

Dua Puluh Tujuh

TUGAS pertama Chap sebagai paralegal baru Trevor adalah merapikan meja depan dan menyingkirkan apa saja yang bersifat feminin. Dimasukkannya barang-barang Jan ke kardus, mulai dari lipstik, kikir kuku, permen kacang, sampai beberapa novel roman porno. Ada amplop berisi $80 dan uang receh. Si bos mengatakan uang itu miliknya.

Chap membungkus foto-foto sekretaris itu dengan koran bekas dan dengan hati-hati meletakkannya di dalam kotak lain, bersama pernik-pernik mudah pecah yang biasa ada di meja depan. Difotokopinya semua buku janji Jan, supaya mereka tahu siapa yang dijadwalkan muncul nanti. Jumlahnya ternyata sedikit, dia tidak terkejut melihatnya. Tak ada satu pun pemunculan di pengadilan. Dua janji temu di kantor minggu ini, dua lagi minggu depannya, lalu kosong. Ketika Chap memeriksa kalender, jelas kelihatan bahwa Trevor mulai mengurangi kegiatannya sekitar saat uang dari Quince Garbe datang.

Mereka tahu Trevor makin sering berjudi minggu-minggu ini, dan mungkin makin sering minum juga.

Beberapa kali Jan memberitahu teman-temannya melalui telepon bahwa Trevor lebih lama di Pete’s daripada di kantor.

Sementara Chap menyibukkan diri di mang depan, mengemasi barang-barang Jan, mengatur meja, mengelap, menyedot debu, dan membuang majalah-majalah lama, telepon sesekali berdering. Tugasnya termasuk mengangkat telepon, dan dia selalu di dekat benda itu. Sebagian besar telepon itu untuk Jan, dan dengan sopan dia menjelaskan bahwa wanita itu sudah tidak bekerja di sana lagi. “Bagus untuk dia,” rasanya merupakan tanggapan pada umumnya.

Seorang agen yang berpakaian seperti tukang kayu datang pagi-pagi untuk mengganti pintu depan. Trevor mengagumi efisiensi Chap. “Kok kau bisa menemukan tukang secepat itu?” tanyanya.

“Tinggal cari di halaman kuning,” jawab Chap. Agen lain yang berperan sebagai tukang kunci datang setelah si tukang kayu dan mengganti semua kunci di bangunan itu.

Perjanjian mereka mencakup kesepakatan bahwa Trevor tidak boleh menerima klien baru selama paling tidak tiga puluh hari yang akan datang. Dia berdebat lama dan ngotot tentang larangan itu, seolah dia punya reputasi luar biasa yang hams dilindunginya. Pikirkan orang-orang yang mungkin membutuhkanku, omelnya. Tapi mereka tahu seberapa sepi tiga puluh hari terakhir ini, dan mendesaknya sampai dia mengalah. Mereka ingin menguasai tempat ini. Chap menelepon klien-klien yang sudah dijadwalkan datang dan memberitahu bahwa Mr. Carson akan sibuk di pengadilan pada hari mereka dijadwalkan datang.

341

Penjadwalan ulang sulit, Chap menjelaskan, tapi dia I akan menelepon mereka kalau Mr. Carson ada waktu luang.

“Aku tak tahu dia mau ke pengadilan,” kata salah satu dari mereka.

“Oh ya,” kata Chap. “Kasus ini benar-benar penting.”

Setelah daftar klien dibabat habis, hanya satu kasus yang memerlukan pertemuan di kantor. Kasus itu menyangkut tunjangan anak, dan Trevor sudah tiga tahun mewakili wanita itu. Dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Jan mampir untuk menimbulkan keributan, dan membawa pacarnya. Pemuda itu kerempeng dan berjenggot kambing, memakai celana poliester, kemeja putih, dan dasi. Chap menebak dia penjual mobil bekas. Dia pasti dengan mudah bisa mengalahkan Trevor, tapi tidak mau berhadapan dengan Chap.

“Aku ingin bicara dengan Trevor,” kata Jan, matanya memandangi mejanya yang sudah ditata ulang.

“Maaf. Dia sedang rapat.”

“Dan siapa kau?”

“Aku paralegal.”

“Yeah, minta gajimu dibayar di muka.”

“Terima kasih. Barang-barangmu ada dalam dua kotak di sana itu,” Chap memberitahu sambil menunjuk.

Jan melihat rak majalah telah dibersihkan dan dirapikan, tempat sampah kosong, perabotan dipelitur. Tercium bau antiseptik, seolah mereka mensterilkan tempat yang pernah didudukinya. Dia tidak dibutuhkan lagi.

“Bilang pada Trevor, dia berutang seribu dolar padaku dalam bentuk gaji yang belum dibayarnya,”

katanya.

“Baik,” jawab Chap. “Ada lagi?”

“Yeah, klien baru kemarin itu, Yates Newman. Beritahu Trevor, aku sudah memeriksa surat kabar. Selama dua minggu terakhir tak ada kematian akibat kecelakaan di 1-95. Juga tak ada catatan tentang tewasnya wanita bernama Newman. Ada yang tak beres.”

“Terima kasih. Akan kuberitahu dia.”

Jan memandang berkeliling untuk teraldiir kali, dan mencibir lagi waktu melihat pintu baru. Pacarnya melotot pada Chap seakan ingin mendekat dan mematahkan batang lehernya, namun pelototannya berakhir waktu dia berjalan ke pintu. Mereka pergi tanpa memecahkan apa-apa, masing-masing membawa satu kotak sambil terseret-seret menyusuri trotoar.

Chap mengawasi kepergian mereka, lalu mulai menyiapkan diri untuk makan siang.

Makan malam kemarin tidak jauh-jauh, di restoran makanan laut baru yang penuh sesak, dua blok dari Sea Turtle Inn. Melihat ukuran porsinya, harganya keterlaluan, dan itulah sebabnya Trevor, si jutawan terbaru di Jacksonville, bersikeras mereka makan di sana. Tentu saja dia yang mentraktir, dia tidak sayang menghamburkan uangnya. Dia mabuk setelah martini pertama, dan tak ingat apa yang dimakannya. Wes dan Chap sudah menjelaskan bahwa klien mereka tidak mengizinkan mereka minum alkohol. Mereka minum air dan terus memenuhi gelas anggur pengacara itu.

“Kalau aku sih lebih baik mencari klien lain saja,” kata Trevor, tertawa mendengar leluconnya sendiri.

“Kalau begitu kurasa aku harus minum untuk kita bertiga,” katanya di tengah makan malam, lalu melaksanakan omongannya.

Mereka lega ketika mengetahui dia pemabuk yang tenang. Mereka terus menuangkan minuman, ingin tahu sampai seberapa jauh dia tahan. Trevor jadi lebih diam dan duduk makin merosot, dan lama setelah makan hidangan penutup dia memberi pelayan tip $300. Mereka membantunya masuk ke mobil dan mengantarkannya pulang.

Pengacara itu tidur sambil mendekap tas kerja baru tadi. Ketika Wes mematikan lampu, Trevor terkapar di tempat tidur, memakai celana kusut dan kemeja katun putih, dasi kupu-kupunya terbuka, sepatu masih di kaki, mendengkur, dan memeluk erat tas kerja dengan dua tangan.

Transfer tiba sebelum pukul 17.00. Uang itu telah sampai. Klockner menyuruh mereka membuat Trevor mabuk, melihat bagaimana kelakuannya dalam kondisi itu, lalu mulai bekerja pagi harinya.

Pukul 07.30 mereka kembali ke rumahnya, membuka pintu dengan anak kunci mereka, dan mendapati pengacara itu nyaris seperti ketika mereka meninggalkannya. Sebelah sepatunya terlepas, dan dia bergelung miring seperti bola dengan tas kerja terkempit.

“Ayo! Ayo!” teriak Chap sementara Wes menyalakan lampu, menaikkan kerai jendela, dan menimbulkan kegaduhan sekeras-kerasnya. Trevor bergegas bangun, lari ke kamar mandi, mandi kilat, dan dua

puluh menit kemudian masuk ke ruang kerja dengan dasi kupu-kupu baru dan tanpa kerut sedikit pmb Matanya agak sembap, namun dia tersenyum dan bertekad menaklukkan hari ini.

Uang jutaan dolar membantunya. Tidak pernah dia mengatasi pusing setelah mabuk secepat ini.

Mereka sarapan muffin dan kopi pekat di Beach Java, lalu menggarap kantornya dengan penuh semangat. Sementara Chap mengurus bagian depan, Wes menahan Trevor di ruangannya.

Beberapa teka-teki terpecahkan selama makan malam. Nama-nama Majelis akhirnya berhasil dikorek dari Trevor. Wes dan Chap berakting luar biasa dengan pura-pura terkejut.

“Tiga hakim?” ulang mereka serentak, dengan ekspresi tak percaya.

Trevor tersenyum dan mengangguk bangga, seakan dia sendirian yang jadi arsitek tipuan hebat ini. Dia ingin mereka percaya bahwa dia punya otak dan kemampuan untuk meyakinkan tiga mantan hakim bahwa mereka bisa mengisi waktu dengan menulis surat pada pria-pria homo kesepian supaya dia, Trevor, dapat memperoleh sepertiga hasil pemerasan mereka. Bukan main, dia betul-betul jenius.

Teka-teki lain tetap tidak jelas, dan Wes bertekad tetap mengurung Trevor sampai dia punya jawabannya.

“Mari kita bicara soal Quince Garbe,”-katanya. “Kotak posnya disewa sebuah perusahaan palsu. Bagaimana kau bisa tahu identitasnya yang sebenarnya?”

“Gampang,” jawab Trevor, bangga sekali pada

dirinya sendiri. Sekarang dia bukan sekadar jenius, tapi jenius yang sangat kaya. Kemarin dia bangun dengan kepala pusing, dan selama setengah jam tergeletak di tempat tidur, mencemaskan kekalahan judinya, mencemaskan praktek hukumnya yang makin suram, mencemaskan kondisinya yang makin mengandalkan Majelis dan tipuan mereka. Dua puluh empat jam kemudian, dia bangun dengan kepala lebih pusing, tapi terobati uang sejuta dolar.

Dia serasa di awang-awang, penuh semangat, dan tidak sabar untuk menyelesaikan tugasnya supaya bisa melanjutkan hidup.

“Aku menemukan detektif swasta di Des Moines,” katanya, sambil meneguk kopi dan mengangkat kaki ke meja, ke tempat biasanya. “Kukirimi dia cek senilai seribu dolar. Dua hari dia di Bakerskau pernah ke Bakers?”

“Yep.”

“Tadinya aku takut akulah yang harus pergi. Tipuan berhasil kalau kau bisa menjaring pria penting yang berduit Dia rela membayar berapa pun untuk membungkammu. Begitulah, detektif ini menemukan pegawai pos yang butuh uang. Wanita itu orangtua tunggal, banyak anak, mobil tua, apartemen kecil, kau tahu seperti apa. Dia menelepon si pegawai malam hari dan mengatakan akan memberinya $500 kalau dia bisa memberitahukan siapa penyewa Kotak 788 atas nama CMT Investments. Keesokan paginya dia menelepon wanita itu di kantor pos. Mereka bertemu di tempat parkir waktu istirahat makan siang. Pegawai pos itu menyerahkan secarik kertas bertuliskan nama Quince Garbe, dan detektif itu memberinya

amplop berisi uang $500. Wanita itu tak pernah menanyakan siapa dia.”

“Itu metode yang biasa?”

“Dengan Garbe sukses. Curtis Cates di Dallas, korban kedua kami, agak lebih rumit. Detektif yang kami sewa di sana tak bisa menemukan orang dalam, jadi dia harus mengawasi kantor pos sampai tiga hari. Menghabiskan biaya $1.800, tapi dia akhirnya melihat orang itu dan memperoleh pelat nomor mobilnya.

“Siapa berikutnya?”

“Mungkin pria dari Upper Darby, Pennsylvania. Nama aliasnya Brant White, dan tampaknya dia prospek bagus.”

“Kau pernah membaca surat-suratnya?”

“Tidak. Aku tak tahu apa isinya; tak mau tahu. Begitu mereka siap menghajar seseorang, mereka akan menyuruhku menyelidiki kotak posnya dan nama aslinya. Itu kalau sahabat pena mereka menggunakan nama palsu, seperti klienmu, Mr. Konyers. Kau akan takjub kalau tahu berapa yang menggunakan nama asli mereka. Luar biasa.”

“Kau tahu kapan mereka mengirim surat pemerasannya?”

“Oh, yeah. Mereka memberitahuku supaya aku bisa mengabari bank di Bahama bahwa sebentar lagi ada transfer. Bank meneleponku begitu uangnya masuk.”

“Ceritakan padaku tentang si Brant White di Upper Darby ini,” kata Wes. Dia mencatat berhalaman-halaman, seolah takut ada yang terlewati. Setiap patah kata direkam empat mesin yang berbeda di seberang jalan.

“Mereka siap melabraknya, cuma itu yang kutahu. Dia tampaknya tak sabaran, karena mereka baru bersurat-suratan beberapa kali. Beberapa korban mereka sulit sekali, seperti mencabut gigi saja, kelihatan dari jumlah surat-surat itu.”

‘Tapi kau tak mencatat surat-surat itu?”

“Tak ada catatan. Aku takut FBI tiba-tiba datang membawa surat perintah penggeledahan, dan aku tak mau ada bukti keterlibatanku.”

“Pintar, sangat pintar.”

Trevor tersenyum dan menikmati kepandaiannya. “Yeah, well, aku banyak menangani kasus kriminal. Setelah beberapa lama, aku mulai berpikir seperti aku kriminal. Begitulah, aku belum memperoleh detektif yang tepat di wilayah Philadelphia. Masih terus mencarinya.”

Brant White rekaan Langley. Trevor boleh menyewa semua detektif di Northeast, tapi mereka takkan pernah menemukan orang di balik kotak pos itu.

“Malahan,” dia melanjutkan, “aku sedang bersiap-siap pergi ke sana sendiri waktu menerima telepon dari Spicer yang menyuruhku ke Washington dan melacak Al Konyers. Lalu kalian datang, dan, yah, selanjutnya sudah kauketahui.” Suaranya menghilang ketika dia sekali lagi memikirkan uangnya. Pasti cuma kebetulan bahwa Wes dan Chap memasuki hidupnya hanya beberapa jam sesudah dia diperintahkan menyelidiki klien mereka. Tapi dia tidak peduli. Dia seperti bisa mendengar suara burung-burung camar dan merasakan pasir panas di kakinya. Dia seolah dapat mendengar musik reggae dari band di pulau, dan merasakan angin mendorong bbcJť- t–^ť~-

“Ada kontak lain di luar?” tanya Wes. “Oh, tidak,” sahutnya samar. “Aku tak membutuhkan bantuan. Makin sedikit yang terlibat, makin lancar, operasinya.” “Pintar sekali,” komentar Wes. Trevor bersandar makin dalam di kursinya. Langit-langit di atasnya retak dan mengelupas, perlu dilapisi enamel lagi. Beberapa hari yang lalu itu mungkin bisa membuatnya pusing. Sekarang dia tahu langit-langit itu tak bakal dicat, kalau mereka mengharapkan dia yang membayar tagihannya. Dia sebentar lagi akan meninggalkan tempat ini, begitu Wes dan Chap selesai berurusan dengan Majelis. Dia akan menyisihkan satu-dua hari untuk menyimpan arsip-arsipnya, karena alasan yang tidak diketahuinya dengan pasti. Lalu dia akan menyumbangkan buku-buku hiikurnnya yang sudah ketinggalan zaman dan tak pernah dibaca itu. Pasti ada lulusan baru sekolah hukum tak berduit yang mengais-ngais rezeki di pengadilan kota, dia akan menjual perabotan dan komputernya dengan harga sangat murah pada bocah itu. Dan setelah semua urusan beres, diaL. Trevor Carson, pengacara dan penasihat hukum, akan pergi dari kantor ini dan tak pernah mengingatnya lagi. Pasti akan merupakan hari yang luar biasa. Chap membuyarkan lamunan singkat itu dengan sekantong taco dan minuman ringan. Makan siang belum dibicarakan, tapi Trevor sudah melihat jam tangan, ingin segera makan berlama-lama di Pete’s lagi. Sambil mengomel dia mengambil taco dan cemberut sebentar. Dia butuh minum.

,v,,Ť.a. tak nHa salahnya berhenti minum alkohol

selama makan siang,” kata Chap ketika mereka berkumpul di sekeliling meja Trevor, sambil berusaha tidak menumpahkan kacang hitam dan daging giling.

“Terserah kalian,” kata Trevor.

“Aku bicara padamu,” tukas Chap. “Paling tidak selama tiga puluh hari mendatang.”

“Itu tak termasuk dalam kesepakatan.”

“Sekarang ya. Kau harus .waras dan waspada.”

“Kenapa, tepatnya?”

“Karena klien kami menginginkannya. Dan dia membayarmu sejuta dolar.”

“Apa dia ingin aku membersihkan gigi dua kali sehari dan makan bayam?”

“Akan kutanyakan.”

“Mumpung kau bicara dengannya, suruh dia tutup mulut.”

“Jangan berlebihan, Trevor,” kata Wes. “Kurangilah minuman alkoholmu selama beberapa hari. Pasti berpengaruh baik padamu.”

Uang itu membuatnya bebas, tetapi kedua orang ini mulai membuatnya sesak. Sekarang mereka bersama-sama selama 24 jam, dan tidak ada tanda-tanda mereka akan pergi. Malah sebaliknya yang terjadi. Mereka semakin merapat.

Chap pergi pagi-pagi untuk mengambil surat. Mereka meyakinkan Trevor bahwa dia sangat ceroboh dalam melaksanakan tugasnya, dan itulah penyebab mereka ,begitu mudah menemukannya. Bagaimana kalau korban-korban lain mengintainya di luar sana? Trevor tidak sulit mengetahui nama asli para korban. Bagaimana kalau mereka begitu juga dalam menyelidiki orang di balik Aladdin North dan Laurel

Bridge? Mulai sekarang, Wes dan Chap akan bergantian mengambil surat. Mereka akan mengacak semuanya, mendatangi kantor pos di waktu-waktu yang berlainan, menyamar, pokoknya serbamisterius.

Trevor aldiirnya setuju. Mereka tampaknya memang bisa diandalkan.

Empat surat untuk Ricky sudah menunggu di kantor pos Neptune Beach, dan dua untuk Percy di Atlantic Beach. Chap melakukan tugasnya dengan cepat, diiringi sebuah tim, yang mengawasi siapa saja yang mungkin mengawasinya. Surat-surat itu dibawa ke rumah sewaan tempat semuanya cepat-cepat Mibuka, difotokopi, lalu dikembalikan ke keadaan semula.

Fotokopinya dibaca dan dianalisis agen-agen yang tidak sabar untuk melakukan sesuatu. Klockner membacanya juga. Dari enam nama, mereka sudah pernah melihat lima di antaranya. Semua pria setengah baya kesepian yang mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengambil langkah, selanjutnya dengan Ricky atau Percy. Tidak ada yang tampak agresif.

Salah satu dinding kamar di rumah sewaan telah dicat putih dan di situ digambar peta besar lima puluh negara bagian. Paku-paku merah digunakan untuk menandai para sahabat pena Ricky. Hijau untuk Percy. Nama dan kota tempat tinggal seluruh koresponden ditulis dengan tinta hitam di bawah paku.

Jaringannya makin luas. Ricky punya 23 pria yang mengiriminya surat; Percy punya 18. Tiga puluh negara bagian tercakup. Makin lama Majelis makin lihai. Mereka sekarang memasang iklan di tiga majalah, sejauh yang diketahui Klockner. Mereka

mempertahankan profil mereka, dan setelah surat ketiga biasanya mereka tahu apakah seorang pendatang baru punya uang atau tidak. Atau istri.

Permainan mereka asyik ditonton, dan karena mereka sekarang punya akses total terhadap Trevor, tak ada surat yang terlewatkan.

Surat hari itu dirangkum dalam dua halaman, lalu diserahkan pada agen yang terbang ke Langley. Deville sudah memegangnya pada pukul 19.00.

Telepon pertama siang itu, pukul 15.10, masuk ketika Chap sedang membersihkan jendela. Wes masih di ruangan Trevor, mencecarnya dengan serentetan pertanyaan. Trevor capek. Dia ingin tidur siang dan sangat membutuhkan minuman.

“Kantor pengacara,” jawab Chap.

“Ini kantor Trevor?” tanya penelepon itu.

“Betul. Siapa ini?”

“Siapa kau?”

“Saya Chap, paralegal baru.” “Gadis itu kenapa?”

“Dia tidak bekerja di sini lagi. Ada yang bisa saya bantu?” __

“Ini Joe Roy Spicer. Aku klien Trevor, dan aku menelepon dari Trumble.”

“Dari mana?”

“Trumble. Penjara federal. Trevor ada?” “Tidak, Sir. Dia di Washington, dan beberapa jam lagi akan kembali”

“Oke. Bilang dia aku akan menelepon lagi pukul lima.”

“Ya, Sir.”

Chap meletakkan telepon dan menarik napas dalam-dalam, begitu juga Klockner di seberang jalan. CIA baru saja mengalami kontak langsung pertamanya dengan salah satu anggota Majelis.

Telepon kedua masuk tepat pada pukul 17.00. Chap mengangkat telepon dan mengenali suara itu. Trevor menunggu di ruangannya. “Halo.”

“Trevor, ini Joe Roy Spicer.”

“Halo, Judge.”

“Apa yang kaudapat di Washington?”

“Kami masih menyelidikinya. Kasus ini sulit, tapi kami pasti bisa menemukannya.”

Lama hening, seolah Spicer tidak menyukai kabar ini dan tidak tahu harus mengatakan apa. “Besok kau datang?”

“Aku akan sampai di sana pukul tiga.”

“Bawa uang $5.000.”

“Lima ribu dolar?”

“Begitu kataku. Ambil uang itu dan bawa kemari. Semua dalam pecahan 20-an dan 50-an.”

“Apa yang akan kaulakukan

“Jangan banyak tanya, Trevor. Bawa saja uang sialan itu. Masukkan ke amplop bersama surat lain. Kau pernah melakukannya.”

“Baik.”

Spicer menutup telepon tanpa bicara lagi. Lalu Trevor membicarakan keadaan ekonomi di Trumble selama sejam. Uang tunai dilarang. Setiap narapidana punya pekerjaan dan upahnya dikreditkan ke rekeningnya. Pengeluaran, seperti telepon interlokal, tagihan

toko, biaya fotokopi, prangko, semua di* u rekeningnya. Ua dlde°etkan ke

Tapi uang tunai ada, meskipun jarang v r, Uang tersebut diselundupkan masuk dan d’ atan kan, digunakan untuk membayar utang ?Sembunyi-menyuap penjaga supaya mau menolong Tr^ dan melakukannya. Jika sebagai pengacarai di?T takqt” menyelundupkannya, hak berkunjungnya akan Tu untuk selamanya. Dia pernah meny^undtp^* dua kali, masing-masing $500, W^S^T8 10-an dan 20-an. bentuk pecahan

Dia tidak dapat membayangkan apa van* ,w mereka lakukan dengan $5.000 Y 8

Dua Puluh Delapan

SETELAH tiga hari selalu bersama Wes dan Chap, Trevor membutuhkan jeda. Mereka ingin sarapan, makan siang, dan makan malam bersama. Mereka ingin mengantarnya pulang dan menjemputnya setiap hari, pagi-pagi sekali. Mereka mengelola apa yang tersisa dari prakteknyaChap si paralegal, Wes si manajer kantor, mereka berdua menghujaninya dengan berbagai pertanyaan yang tidak ada habisnya, karena pekerjaan membantunya sebagai pengacara hanya sedikit.

Jadi tidak mengherankan waktu mereka bilang akan mengantarkannya ke Trumble. Dia tidak butuh sopir, Trevor menjelaskan. Dia sudah sering ke sana, naik Beetle kecil andalannya, dan dia akan melakukannya sendirian. Mereka jadi gusar, dan mengancam akan menelepon klien mereka untuk minta petunjuk-“Telepon saja klien terkutuk kalian, aku tak peduli,” teriak Trevor pada mereka, dan mereka mundur. “Klien kalian tak boleh mengatur hidupku.”

Tapi kenyataannya sebaliknya, dan mereka semua tahu itu. Hanya uang yang penting sekarang. Trevor sudah melakukan pengkhianatan.

Dia meninggalkan Neptune Beach naik Beetle, sendirian, dibuntuti Wes dan Chap dalam mobil sewaan mereka, dan di belakang iring-iringan itu ada van putih berisi orang-orang yang takkan pernah dilihat Trevor. Dia juga tidak ingin melihat mereka. Hanya karena iseng, dia tiba-tiba membelok ke toserba untuk membeli bir, dan tertawa ketika kedua mobil lainnya direm kuat-kuat dan nyaris bertabrakan. Begitu sampai di luar kota, dia menyetir pelan sekali, meneguk bir, menikmati privasinya, mengatakan pada dirinya sendiri dia sanggup mengalami semua penderitaan ini selama tiga puluh hari mendatang. Dia sanggup mengalami penderitaan apa saja demi sejuta dolar.

Ketika dia mendekati wilayah Trumble, perasaan bersalah melandanya untuk pertama kali. Bisakah dia melakukan ini? Dia akan berhadapan dengan Spicer, klien yang mempercayainya, narapidana yang mem-butahkaiinya, partner dalam melakukan kejahatan. Mampukah dia memasang tampang tenang dan bersikap seolah semuanya beres, sementara setiap patah kata ditangkap mikrofon berfrekuensi tinggi di dalam tas kerjanya? Sanggupkah dia bertukar surat-surat dengan Spicer seakan tak ada yang berubah, tahu surat-surat itu sebetulnya dimonitor? Apalagi dia mencampakkan karier hukumnya, yang dengan susah payah diperolehnya dan pernah dibanggakannya.

Dia menjual etiknya, standarnya, bahkan moralnya demi uang. Apakah kata hatinya bisa dibeli dengan uang sejuta dolar? Sudah terlambat sekarang. Uang telah tersimpan di bank. Dia meneguk bir dan menyiram perasaan bersalah yang semakin memudar. Spicer bandit, begitu juga Beech dan Yarber, dan

dia, Trevor Carson, sama kotornya. Tak ada kehormatan di antara pencuri, dia terus mengatakannya dalam hati.

Link mencium bau bir menguar dari tubuh Trevor ketika mereka menyusuri koridor dan memasuki area pengunjung. Di ruang pengacara Trevor memandang ke dalam. Dia melihat Spicer, agak tersembunyi di balik surat kabar, dan mendadak dia gugup. Pengacara busuk macam apa yang membawa alat penyadap elektronik ke pertemuan rahasia dengan klien? Rasa bersalah menghantam Trevor bagai tinju, tapi dia tidak bisa berubah pikiran sekarang.

Mikrofonnya hampir sebesar bola golf, dan dipasang Wes dengan cermat di dasar tas kerja kulit hitam Trevor yang sudah usang dan lusuh. Alat itu sangat kuat, dan dengan mudah akan memancarkan apa saja ke bocah-bocah tanpa nama di dalam van putih. Wes dan Chap ada di sana juga, siap dengan earphone, tak sabar untuk mendengar semuanya. “Siang, Joe Roy,” sapa Trevor. “Sama-sama,” balas Spicer. “Coba kulihat dulu tas kerjamu,” kata Link. Dia memandang sekilas, lalu berkata, “Kelihatannya beres.” Trevor sudah memperingatkan Wes dan Chap bahwa Link kadang-kadang mengintip ke dalam tas kerjanya. Mikrofonnya ditutupi setumpuk kertas. “Ada surat,” Trevor memberitahu. “Berapa?” tanya Link. “Delapan.”

“Kau punya surat?” tanya Link pada Spicer. “Tidak. Hari ini tak ada,” jawab Spicer. “Aku menunggu di luar,” kata Link.

Pintu ditutup; terdengar langkah kaki, dan tiba-tiba suasana hening. Keheningan yang sangat panjang. Nihil. Tak sepatah kata pun antara pengacara dan klien. Mereka terus menunggu di dalam van putih, sampai mereka menyadari jelas ada yang tidak beres.

Ketika Link meninggalkan ruangan kecil itu, dengan cepat dan sigap Trevor meletakkan tas kerjanya di luar pintu, di lantai, tempat benda itu berdiri selama pertemuan pengacara-klien. Link melihatnya, dan tak ambil pusing.

“Kenapa kau berbuat begitu?” tanya Spicer.

Tasnya kosong kok,” kata Trevor, mengangkat bahu. “Biar kamera closed-circuit melihatnya. Kita tak menyembunyikan apa-apa.” Trevor dilanda gelombang etik terakhir yang singkat. Mungkin dia akan menyadap pembicaraan berikutnya dengan kliennya, tapi yang ini tidak. Dia akan memberitahu Wes dan Chap bahwa penjaga mengambil tas kerjanya, hal yang sesekali terjadi.

“Terserahlah,” kata Spicer, memeriksa surat-surat sampai menemukan dua amplop yang sedikit lebih tebal. “Ini uangnya?”

“Ya. Aku terpaksa menggunakan beberapa pecahan seratusan.”

“Kenapa? Aku kan jelas-jelas bilang 20-an dan 50-an.”

“Cuma itu yang bisa kudapatkan. Aku tak mengira akan membutuhkan uang tunai sebanyak itu.”

Joe Roy mengamati alamat di surat-surat lain. Lalu dia bertanya, agak ketus, “Jadi apa yang terjadi di Washington?”

“Kasusnya sulit. Salah satu perusahaan penyewaan kotak pos di daerah pinggiran, buka 24 jam, tujuh hari seminggu, selalu ada yang menjaga, banyak orang lalu-lalang. Keamanan ketat. Kami akan membereskannya,”

“Siapa yang kaupakai?”

“Suatu perusahaan di Chevy Chase.”

“Sebutkan namanya.”

“Apa maksudmu, sebutkan namanya?”

“Beritahu aku nama detektif di Chevy Chase itu.”

Trevor terdiam; otaknya membeku. Spicer punya maksud tertentu, mata hitamnya berkilat tajam. “Aku tak ingat,” kata Trevor.

“Di mana kau menginap?”

“Apa-apaan ini, Joe Roy?”

“Beritahu aku nama hotelmu.”

“Kenapa?”

“Aku berhak tahu. Aku klienmu. Aku yang membayar pengeluaranmu. Di mana kau menginap?” “Ritz-Carlton.” “Yang mana?” “Entahlah. Ritz-Carlton.” “Ada dua Ritz-Carlton. Yang mana?” “Aku tak tahu. Bukan di tengah kota.” “Penerbangan apa yang kaunaiki?” “Ayolah, Joe Roy. Ada apa sih?” “Perusahaan penerbangan apa?” “Delta.”

“Nomor penerbangan?” “Aku tak ingat.”

“Kau pulang kemarin. Tak sampai 24 jam yang lalu. Rerana nomor penerbanganmu?”

“Aku lupa.”

“Kau yakin pergi ke Washington?”

“Tentu saja aku pergi,” tukas Trevor, tapi suaranya bergetar sedikit karena ragu-ragu. Dia tidak menyiapkan kebohongannya, dan semua langsung buyar begitu dia mengatakannya.’

“Kau tak mengetahui nomor penerbanganmu, di hotel mana kau menginap, atau nama detektif yang bersamamu dua hari terakhir ini. Kau pasti mengira aku goblok.”

Trevor tidak menjawab. Dia cuma bisa memikirkan mikrofon di dalam tas kerjanya dan betapa beruntungnya dia tas itu ada di luar. Dia tidak ingin Wes dan Chap mendengarnya diberondong seperti ini.

“Akhir-aidiir ini kau banyak minum, ya?” tanya Spicer, menyerang.

“Ya,” jawab Trevor, diam sebentar. “Aku mampir ke toko dan membeli sekaleng bir.”

“Atau dua.”

“Ya, dua.”

Spicer bertumpu pada sikunya, menyorongkan wajahnya ke tengah meja. “Aku punya kabar buruk untukmu, Trevor. Kau dipecat.”

“Apa?” mf’

“Riwayatmu tamat. Berakhir, Untuk selamanya.”

“Kau tak bisa memecatku.”

“Baru saja kulakukan. Berlaku segera. Dengan suara bulat Majelis. Kami akan memberitahu sipir sehingga namamu akan dicoret dari daftar pengacara. Begitu kau pergi nanti, Trevor, jangan kembali.”

“Kenapa?”

“Berbohong, terlalu banyak minum, ceroboh, tak bisa dipercaya.”

Kedengarannya cukup benar, tapi Trevor tetap sulit menerimanya. Tak pernah terlintas di benaknya mereka berani memecatnya. Dia mengertakkan gigi dan bertanya, “Bagaimana dengan usaha kecil kita?”

“Penyelesaiannya gampang. Kau boleh simpan uangmu, kami akan menyimpan uang kami.” “Siapa yang akan mengurusnya di luar?” “Biar kami yang memikirkannya. Kau boleh melakukan pekerjaan jujur, kalau mampu.” “Memangnya kau tahu pekerjaan jujur?” “Bagaimana kalau kau pergi saja, Trevor? Berdiri dan keluarlah! Senang berurusan denganmu.”

“Tentu,” gumamnya, pikirannya kacau tapi dia lalu menyadari dua hal. Pertama, Spicer tidak membawa surat-surat, baru kali ini terjadi setelah berminggu-minggu. Kedua, uang itu. Untuk apa mereka membutuhkan $5.000? Mungkin untuk menyuap pengacara baru. Mereka merencanakan serangan mereka dengan baik, yang selalu merupakan keunggulan mereka, karena mereka punya begitu banyak waktu. Tiga pria yang sangat pintar, dengan banyak waktu kosong. Tidak adil.

Harga diri membuatnya berdiri. Dia mengulurkan tangan dan berkata, “Maaf ini harus terjadi.”

Spicer menjabatnya dengan enggan. Cepatlah pergi dari sini, dia ingin berkata.

Ketika mereka berpandangan untuk terakhir kali, Trevor berkata, nyaris berbisik, “Konyers-lah orangnya. Sangat kaya. Sangat berkuasa. Dia tahu tentang kau.”

Spicer melompat berdiri seperti kucing. Dengan wajah mereka hanya terpisah beberapa inci, dia juga berbisik, “Apakah dia mengawasimu?”

Trevor mengangguk dan* mengedipkan mata. Lalu menyambar pintu. Diambilnya tas kerjanya tanpa bicara pada Link. Mau bilang apa dia pada pengawal itu? Maaf, sobat tua, seribu dolar sebulan yang kauperoleh di kolong meja baru saja dihentikan. Sedih? Kalau begitu tanya saja pada Hakim Spicer kenapa itu terjadi.

Tapi dia tidak melakukannya. Kepalanya pusing dan nyaris berdenyut-denyut, dan alkohol tidak membantu. Apa yang akan dikatakannya pada Wes dan Chap? Itulah pertanyaan terpenting saat ini. Mereka akan mencecarnya begitu bisa menemuinya.

Dia berpamitan pada Link, Vince, Mackey, dan Rums di depan, seperti biasa,, tapi sekarang untuk terakhir kali, dan berjalan ke bawah sinar matahari panas.

Mobil Wes dan Chap diparkir tiga mobil dari Beetle-nya. Mereka ingin bicara tapi rela menunggu sampai situasi aman. Tanpa memedulikan mereka Trevor melemparkan tas kerja ke kursi penumpang dan masuk mobil. Konvoi mengikutinya meninggalkan penjara, dan pelan-pelan melaju di jalan raya menuju Jacksonville.

Keputusan mereka menyingkirkan Trevor diperoleh setelah dipertimbangkan masak-masak. Selama berjam-jam mereka berkurung di ruangan kecil mereka, mempelajari arsip Konyers sampai hafal setiap patah kata dalam setiap surat. Mereka berjalan bermil-mil

di trek, bertiga, menyusun skenario terbaik. Mereka makan bersama, main kartu bersama, sambil membisikkan teori-teori baru tentang siapa yang mungkin mengawasi surat mereka. ^49

Trevor pelaku yang paling mungkin, dan satu-satunya yang bisa mereka kontrol. Kalau korban-korban mereka bersikap ceroboh, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi kalau pengacara mereka tidak berhati-hati, dia harus dipecat. Lagi pula orang itu memang tidak bisa dipercaya. Berapa sih pengacara bagus dan sibuk yang rela mempertaruhkan karier mereka dengan terlibat dalam pemerasan homo?

Satu-satunya keraguan dalam memecat Trevor adalah ketakutan tentang apa yang akan dilakukannya dengan uang mereka. Terus terang, mereka yakin pengacara itu akan mencurinya, dan mereka tidak bisa menghentikannya. Namun mereka bersedia mengambil risiko itu demi hasil yang lebih besar dengan Mr. Aaron Lake. Untuk mencapai Lake, mereka merasa harus menyingkirkan Trevor.

Spicer menceritakan detail-detail pertemuan mereka, kata demi kata. Pesan misterius Trevor di akhir pertemuan mengejutkan mereka. Konyers mengawasi Trevor. Konyers tahu tentang Majelis. Apakah itu berarti Lake tahu tentang Majelis? Siapa sebenarnya Konyers? Kenapa Trevor membisikkannya dan kenapa dia meletakkan tas kerjanya di luar?

Dengan ketelitian yang hanya dapat dimiliki sekumpulan hakim bosan, pertanyaan-pertanyaan itu dibahas. Lalu strateginya.

Trevor sedang membuat kopi di dapurnya yang seka-

rang bersih dan mengilap ketika Wes dan Chap masuk tanpa suara dan langsung menanyainya.

“Apa yang terjadi?” tanya Wes. Mereka mengerutkan kening dan menimbulkan kesan sudah beberapa lama gusar.

“Apa maksudmu?” tanya Trevor, seolah semua lancar.

“Mikrofonnya kenapa?”

“Oh, itu. Penjaga mengambil tasku dan menaruhnya di luar.”

Mereka berpandangan lagi. Trevor menuangkan air ke mesin pembuat kopi. Fakta bahwa sekarang sudah pukul 17.00 dan dia membuat kopi tidak lolos dari pengamatan kedua agen tersebut. “Kenapa dia berbuat begitu?” “Memang biasanya seperti itu. Kira-kira sebulan sekali penjaga menahan tas kerja selama kunjungan.” “Apakah dia memeriksanya?” Trevor menyibukkan diri dengan mengamati kopi menetes. Sama sekali tidak ada yang tak beres. “Dia memeriksa sekilas seperti biasa, yang kurasa dilakukannya dengan mata terpejam. Dia mengeluarkan surat-surat masuk, lalu mengambilnya. Mikrofonnya aman.”

“Apakah dia melihat amplop-amplop tebal itu?”

‘Tentu saja tidak. Tenang.”

“Dan pertemuannya berjalan lancar?”

“Biasalah, tapi Spicer tak punya surat untuk dikirimkan, yang agak tak lazim akhir-akhir ini, tapi bisa saja terjadi. Aku akan kembali dua hari lagi, dia akan menyodorkan setumpuk surat, dan oeniaga bahkan takkan menyentuh tas kerjaku. Kau akan bisa mendengar setiap patah kata. Mau kopi?”

Mereka serentak tenang. “Terima kasih, tapi kami hams pergi,” kata Chap. Mereka harus membuat laporan, menjawab pertanyaan-pertanyaan. Mereka berjalan ke pintu, tapi Trevor menghentikan mereka.

“Dengar, fellas” katanya sangat sopan. “Aku sangat mampu berpakaian sendiri, dan makan sereal sendirian, seperti yang bertahun-tahun kulakukan. Dan aku ingin membuka kantorku di .sini tak lebih cepat dari pukul sembilan. Karena ini kantorku, kita akan buka pukul sembilan, dan tak semenit pun lebih awal. Kalian boleh datang kemari saat itu, tapi bukan pukul 08.59. Jauhi rumahku, dan jauhi kantor ini sampai pukul sembilan. Mengerti?”

“Tentu,” kata salah satu, dan mereka pun pergi. Bukan masalah bagi mereka. Alat penyadap bertebaran di kantor, rumah, mobil, bahkan tas kerjanya. Mereka tahu di mana dia membeli pasta gigi.

Trevor menghabiskan seteko penuh kopi itu dan otaknya menjernih. Lalu dia mulai bergerak, semua direncanakan dengan cermat. Dia sudah mulai bersiap-siap begitu meninggalkan Trumble. Dia menduga mereka mengawasi, di belakang sana dengan bocah-bocah dari van putih. Mereka memiliki berbagai perlengkapan, mikrofon dan alat penyadap, Wes dan Chap pasti tahu cara menggunakannya. Uang bukan masalah. Dia berkata pada dirinya sendiri bahwa mereka tahu segalanya, biarkan khayalannya berkembang ke mana-mana dan asumsikan mereka mendengar setiap kata, membuntutinya ke mana pun, dan selalu tahu persis di mana dia berada.

Makin paranoid dia, makin besar peluangnya kabur.

Dia menyetir sejauh 25 kilometer lebih ke mal di dekat Orange Park, di pemukiman di selatan Jacksonville. Dia keluyuran, melihat-lihat etalase, dan makan piza di pujasera yang nyaris kosong. Sulit untuk tidak melesat ke balik rak pakaian di toko dan menunggu orang-orang yang membayanginya lewat. Namun dia menahan diri. Di Radio Shack, dia membeli ponsel kecik Paketnya termasuk sebulan sambungan jarak jauh dengan pelayanan setempat, dan Trevor memperoleh apa yang mbutuhkannya.

Dia pulang setelah pukul 21.00, yakin mereka mengawasi. Dia menyalakan televisi dengan suara maksimal, dan membuat kopi lagi. Di kamar mandi dia menjejalkan uangnya ke saku-sakunya.

Tengah malam, dengan rumah gelap dan sunyi serta Trevor tampaknya pulas, dia menyelinap keluar dari pintu belakang dan hilang ditelan malam. Udara segar, bulan purnama, dan dia berusaha sebisa mungkin agar kelihatan seperti hanya akan berjalan-jalan di pantai. Dia memakai celana kargo longgar dengan saku-saku dari pinggang ke bawah, dua kemeja denim, dan jaket kebesaran dengan uang berjejalan di lapisan dalamnya. Secara keseluruhan, Trevor menyembunyikan $80.000 di tabuhnya ketika lontang-lantung ke selatan, sepanjang tepi air, seolah cuma berjalan-jalan di pantai tengah malam.

Satu setengah kilo kemudian langkahnya makin cepat. Setelah lima kilo tenaganya habis, tapi dia perlu bergegas. Tidur dan istirahat harus menunggu.

Dia meninggalkan pantai dan memasuki lobi kumuh motel murahan. Tidak ada kendaraan yang

melintas di Highway AIA; tidak ada yang buka selain motel itu dan toserba di kejauhan.

Pintu berderak cukup keras untuk membangunkan petugas motel. Dari suatu tempat di belakang terdengar suara televisi. Seorang pemuda gendut berusia tidak sampai dua puluh muncul dan berkata, “Selamat malam. Membutuhkan kamar?”

“Tidak, Sir,” jawab Trevor, sambil pelan-pelan mengeluarkan tangan dari saku dan menunjukkan segulung besar uang. Dia mengambil beberapa lembar dan menjajarkannya dengan rapi di meja layan. “Aku mau minta tolong.”

Si petugas menatap uang itu, lalu membelalak. Di pantai memang ada bermacam-macam orang. “Kamar-kamar di sini tak semahal itu,” katanya.

“Siapa namamu?” tanya Trevor.

“Oh, bagaimana ya. Panggil saja Sammy Sosa.”

“Baiklah, Sammy. Ini ada seribu dolar. Uang ini jadi milikmu kalau kau mau mengantarkanku ke Daytona Beach. Lama perjalanannya sembilan puluh menit.”

“Aku akan butuh waktu tiga jam karena hams kembali kemari lagi.”

“Terserahlah. Itu berarti lebih dari $300 per jam. Kapan terakhir kali kau memperoleh $300 sejam?”

“Sudah lama. Aku tak bisa melakukannya. Kau tahu, aku mendapat giliran kerja malam. Tugasku dari pukul sepuluh sampai delapan.”

“Siapa bosmu?”

“Dia di Atlanta.”

“Kapan dia terakhir datang?”

“Aku tak pernah bertemu dia.”

‘Tentu saja. Kalau punya tempat kumuh begini kenapa mau repot-repot datang?”

‘Tempat ini tak jelek-jelek amat kok. Kami punya TV warna gratis dan sebagian besar AC-nya berfungsi.”

‘Tempat ini payah, Sammy. Kau bisa mengunci pintu itu, mengantarkanku, dan kembali tiga jam kemudian. Takkan ada yang tahu.”

Sammy memandang uang itu lagi. “Kau melarikan diri dari polisi?”

“Tidak. Dan aku tak bersenjata. Aku cuma buru-buru.”

“Jadi apa masalahnya?”

“Perceraian ribut, Sammy. Uangku sedikit. Istriku menginginkan semuanya dan dia punya pengacara-pengacara galak. Aku harus meninggalkan kota ini.”

“Kau punya uang, tapi tak punya mobil?”

“Dengar, Sammy. Kau mau atau tidak? Kalau tidak, aku akan pergi ke toserba di ujung jalan itu dan menemukan orang yang cukup pintar untuk menerima uangku.”

“Dua ribu.”

“Kau mau melakukannya dengan bayaran dua

ribu?”

“Yep.” B^,

Mobilnya lebih jelek dari perkiraan Trevor. Honda tua yang tidak pernah dibersihkan Sammy maupun kelima pemiliknya sebelum ini. Tapi AIA sepi, dan

jalanan ke Daytona Beach memakan waktu tepat ?o menit.

wa^U2403‘20’ Honda to berhenti di depan kedai Jam’ Trevor keluar. Dia berterima

kasih pada Sammy, mengucapkan selamat tinggal, dan memandanginya pergi. Di dalam, dia minum kopi dan berbicara dengan pelayan cukup lama untuk membujuk wanita itu supaya mengambilkan buku telepon setempat. Dia memesan pancake dan menggunakan ponsel Radio Shack barunya untuk mengenal kota itu.

Bandara terdekat adalah Daytona Beach International. Beberapa menit setelah pukul 04.00, taksinya berhenti di terminal pesawat umum. Puluhan pesawat kecil berbaris rapi di lapangan. Dia memandanginya sementara taksinya melaju pergi. Pasti salah satu bisa dicarter, katanya dalam hati. Dia hanya butuh satu, mungkin yang bermesin ganda.

Dua Puluh Sembilan

KAMAR belakang ramah sewaan itu telah diubah menjadi ruang rapat, dengan empat meja lipat yang disatukan membentuk meja besar. Meja itu tertutup berbagai surat kabar, majalah, dan kotak donat. Tiap pukul 07.30 Klockner dan timnya berkumpul sambil menikmati kopi dan kue-kue untuk membahas tadi malam dan merencanakan hari ini. Wes dan Chap selalu ada, dan enam atau tujuh agen lain bergabung dengan mereka, tergantung siapa yang datang dari Langley. Para teknisi dari ruang depan sesekali ikut, meskipun Klockner tidak mewajibkan. Karena Trevor sekarang sudah di pihak mereka, hanya beberapa orang dibutuhkan untuk membuntutinya.

Atau begitulah perkiraan mereka. Pengintaian tidak mendeteksi adanya gerakan di dalam rumahnya sebelum pukul 07.30, bukan hal yang ganjil bagi orang yang sering tidur dalam keadaan mabuk dan bangun siang. Pukul 08.00, sementara Klockner masih rapat di belakang, seorang teknisi menelepon rumah itu dengan berpura-pura salah sambung. Setelah tiga

deringan, terdengar mesin penjawab dan Trevor memberitahukan dia tidak berada di tempat, silakan tinggalkan pesan. Ini kadang-kadang terjadi kalau dia berusaha tidur sampai siang, tapi biasanya telepon bisa membangunkannya dari tempat tidur.

Pukul 08.30, Klockner diberitahu bahwa ramah tersebut sunyi senyap; tidak ada bunyi shower, radio, televisi, stereo, tak ada suara kegiatan rutin biasa.

Sangat mungkin Trevor teler di rumahnya, sendirian, tapi mereka tahu tadi malam dia tidak pergi ke Pete’s. Dia pergi ke mal dan tampaknya pulang dalam keadaan waras.

“Dia mungkin masih tidur,” kata Klockner, tidak khawatir. “Di mana mobilnya?”

“Di jalur masuk.”

Pukul 09.00, Wes dan Chap mengetuk pintu Trevor, lalu membukanya karena tidak ada jawaban. Orang-orang di rumah sewaan langsung bergerak ketika dilapori bahwa pengacara itu tidak kelihatan, dan mobilnya masih ada. Tanpa panik Klockner menyuruh orang-orang ke pantai, ke kedai-kedai kopi di dekat Sea Turtle, bahkan ke Pete’s, yang belum buka. Mereka menyisir area di sekitar rumah dan kantornya, berjalan kaki dan bermobil, dan tidak melihat apa-apa.

Pukul 10.00, Klockner menelepon Deville di Langley. Pengacara itu hilang, begitulah pesannya.

Semua penerbangan ke Nassau diperiksa; tidak ditemukan apa pun, tidak ada tanda-tanda orang bernama Trevor Carson. Kontak Deville di pabean Bahama tidak bisa ditemukan, begitu juga penyelia bank yang pernah mereka suap.

Teddy Maynard sedang memimpin brifing tentang gerakan pasukan Korea Utara waktu diinterupsi pesan mendesak bahwa Trevor Carson, pengacara mabuk mereka di Neptune Beach, Florida, hilang.

“Bagaimana kau bisa kehilangan jejak orang tolol macam dia?” geram Teddy marah pada Deville, sesuatu yang jarang terjadi.

“Aku tak tahu.”

“Aku tak habis pikir!”

“Maaf, Teddy.”

Teddy mengubah posisi tubuhnya dan mengernyit kesakitan. “Temukan dia, brengsek!” desisnya.

Pesawatnya jenis Beech Baron, pesawat bermesin ganda milik beberapa dokter dan dicarter Eddie, pilot yang dibujuk Trevor supaya mau bangun pukul 06.00 dengan janji pembayaran di tempat dan lebih banyak lagi secara diam-diam. Tarif resminya $2.200 untuk perjalanan bolak-balik antara Daytona Beach dan Nassaumasing-masing dua jam, total empat jam dengan bayaran $400 per jam, plus biaya untuk pendaratan, imigrasi, dan istirahat pilot. Trevor memberikan $2.000 lagi untuk Eddie jika penerbangan segera dilakukan.

Geneva Trust Bank di tengah kota Nassau buka pukul 09.00 waktu bagian timur, dan Trevor sudah menunggu ketika pintu-pintunya dibuka. Dia menyerbu kantor Mr. Brayshears dan minta segera dibantu. Di rekeningnya tersimpan hampir sejuta dolar$900.000 dari Mr. Al Konyers, melalui Wes dan Chap; sekitar $68.000 dari kesepakatannya dengan Majelis.

372

Sambil mengawasi pintu!, dia mendesak Brayshears untuk membantunya memindahkan uang itu, dengan cepat. Uang itu milik Trevor Carson sendiri. Brayshears tidak punya pilihan lain. Ada bank di Bermuda yang dikelola temannya, dan Trevor tidak keberatan. Dia tidak mempercayai Brayshears, dan berencana untuk terus memindahkan uangnya sampai dia merasa aman.

Sesaat, Trevor memandang penuh nafsu rekening Boomer Realty, sekarang saldonya $189.000 plus pecahannya. Saat itu dia bisa menyikat uang mereka juga. Mereka toh penjahatBeech, Yarber, si Spicer yang menyebalkan, semuanya kotor. Dan berani-beraninya mereka memecatnya. Mereka membuatnya terpaksa kabur. Dia mencoba membenci mereka sehingga mengambil uang mereka, tapi ketika ragu-ragu dia kasihan juga pada ketiga mantan hakim itu. Tiga laki-laki tua yang menghabiskan sisa hidup di dalam penjara.

Sejuta sudah cukup. Lagi pula, dia sedang buru-buru. Jika Wes dan Chap mendadak menyerbu dengan membawa senjata, dia takkan terkejut. Dia mengucapkan terima kasih pada Brayshears dan berlari ke luar gedung.

Ketika Beech Baron meninggalkan landasan Nassau International, Trevor tak bisa menahan tawa. Dia tertawa karena pencuriannya, keberhasilannya lolos, kemujurannya, Wes dan Chap dan klien kaya mereka yang uangnya sekarang berkurang satu juta, kantor pengacara kecil kusamnya yang sekarang kosong. Dia tertawa karena masa lalunya dan masa depannya yang cerah.

Di ketinggian 900 meter dia memandang air biru

tenang Laut Karibia, Sebuah perahu layar terapung-apung sendirian, kaptennya memegang kemudi, di dekatnya ada seorang wanita berpakaian minim. Beberapa hari lagi dia akan seperti pria itu.

Dia menemukan bir di pendingin portabel. Dia meminumnya, lalu tertidur pulas. Mereka mendarat di Pulau Tileuthera, tempat yang dilihat Trevor di majalah wisata yang dibelinya tadi malam. Di sana terdapat pantai, hotel-hotel, dan semua olahraga air. Dia membayar tunai Eddie, lalu menunggu taksi lewat selama sejam di bandara kecil itu.

Dia membeli pakaian di toko turis di Governor’s Harbour, kemudian berjalan kaki ke hotel di pantai. Dia senang ketika sadar betapa cepat dia berhenti mengawasi belakangnya karena takut dibuntuti. Mr. Konyers pasti punya banyak uang, tapi tak seorang pun mampu membiayai pasukan rahasia yang cukup besar untuk mengikuti seseorang sampai Bahama. Masa depannya akan penuh kegembiraan. Dia tidak mau merusaknya dengan perasaan waswas.

Dia rninum rum di pinggir kolam renang secepat pelayan bar bisa membawakannya. Pada usia 48 tahun, Trevor Carson menyambut hidup barunya dalam kondisi yang hampir sama dengan ketika dia meninggalkan hidup lamanya.

Kantor pengacara Trevor Carson buka pada waktunya dan beroperasi seolah tidak ada masalah. Pemiliknya telah kabur, namun paralegal dan manajer kantornya tetap bekerja untuk menangani urusan apa saja yang mungkin terjadi. Mereka memasang telinga di semua tempat yang tepat, dan.tidak mendengar apa-apa.

Telepon berdering dua kali sebelum tengah hari, dua orang yang keliru memilih pengacara di halaman kuning. Tak ada klien yang memerlukan Trevor. Tak ada teman yang menelepon untuk mengetahui kabarnya. Wes dan Chap menyibukkan diri dengan memeriksa beberapa laci dan arsip yang belum mereka periksa. Tidak ada yang penting.

Kru lain menyisir setiap inci rumah Trevor, terutama mencari uang yang telah diterimanya. Tidak mengejutkan, mereka tidak menemukannya. Tas kerja murahannya tersimpan di lemari, kosong. Tidak ada jejak. Trevor pergi begitu saja, bersama uangnya.

Pegawai perbankan Bahama itu dilacak sampai New York, tempat yang sedang dikunjunginya karena urusan pemerintah. Dia enggan terlibat dari jarak sejauh itu, namun akhirnya menelepon beberapa orang. Sekitar pukul 13.00 dikonfirmasikan bahwa uang itu telah dipindah. Si pemilik melakukannya sendiri, dan si petugas tidak mau mengungkapkan lebih banyak.

Ke mana uang itu pergi? Uang itu dipindah melalui transfer, dan dia mau memberitahu Deville hanya itu. Reputasi perbankan negaranya tergantung pada kerahasiaan, dan dia cuma bisa mengatakan sebanyak itu. Dia memang korup, tapi dia punya batasan.

Pabean AS mau bekerja sama setelah mula-mula enggan. Paspor Trevor di-scan di Nassau International tadi pagi, dan sejauh ini dia belum meninggalkan Bahama, paling tidak secara resmi. Paspornya dimasukkan daftar merah. Jika dia menggunakannya untuk memasuki negara lain, Pabean AS akan mengetahuinya dalam dua jam.

Deville menyampaikan laporan singkat pada Teddy

dan York, yang keempat kali hari itu, lalu menunggu perintah lebih lanjut

“Dia akan melakukan kesalahan,” kata York. “Dia akan menggunakan paspornya di suatu tempat, dan kita akan menangkapnya. Dia tak tahu siapa yang mengejarnya.”

Teddy marah tapi tidak mengatakan apa-apa. Lembaga yang dipimpinnya sanggup menumbangkan beberapa pemerintahan dan membunuh raja-raja, tapi dia selalu takjub pada fakta betapa hal-hal sepele sering membuat kacau. Sedikit saja lengah dan pengacara tak berotak dari Neptune Beach lolos dari jaring mereka, padahal selusin orang mengawasinya. Dia merasa tak ada yang dapat membuatnya terperangah lagi.

Pengacara itu tadinya akan menjadi penghubung mereka, jembatan ke dalam Trumble. Untuk sejuta dolar mereka mengira bisa mempercayainya. Tidak ada rencana cadangan untuk mengantisipasi kepergian mendadak orang itu. Sekarang mereka gelagapan untuk menyusun rencana tersebut.

“Kita membutuhkan seseorang di dalam penjara itu,” kata Teddy. JBJ^v

“Kita sudah dekat,” jawab Deville. “Kita sedang mengusahakannya dengan Kehakiman dan Bureau of Prisons.” IpK’

“Seberapa dekat?”

“Yah, mempertimbangkan apa yang terjadi hari ini, saya rasa kita bisa punya orang di sana, di dalam Trumble, dalam 48 jam.”

“Siapa dia?”

“Namanya Argrow, sebelas tahun di CIA, umur 39, kredibilitasnya mantap.” “Kisahnya?”

“Dia akan dipindah ke Trumble dari penjara federal di Virgin Islands. Surat-suratnya akan dibereskan Bureau di Washington sini, supaya sipir di sana tak curiga. Dia cuma narapidana federal biasa yang minta pindah.”

“Dan dia siap ditugaskan?”

“Hampir. 48 jam.”

“Lakukan sekarang.”

Deville pergi, sekali lagi dengan beban tugas sulit yang mendadak harus dibereskan dalam waktu semalam.

“Kita harus mencari tahu seberapa banyak yang mereka ketahui,” kata Teddy, nyaris menggumam.

“Ya, tapi kita tak punya alasan untuk berpikir mereka curiga,” kata York. “Aku sudah membaca semua surat mereka. Tak ada indikasi mereka punya minat lebih pada Konyers. Pria itu cuma salah satu korban potensial mereka. Kita membeli si pengacara untuk menghentikannya menyelidiki kotak pos Konyers. Dia sedang di Bahama sekarang, mabuk dengan uangnya, jadi bukan merupakan ancaman.”

“Tapi kita tetap harus menyingkirkannya,” kata Teddy. Itu bukan pertanyaan. “Tentu saja.”

“Aku akan merasa lebih baik setelah dia lenyap,” kata Teddy.

Seorang penjaga berseragam tapi tak bersenjata memasuki perpustakaan hukum tengah hari. Mula-mula

dia bertemu Joe Roy Spicer, yang berada di samping pintu mangan.

“Sipir ingin bertemu dengan kalian,” kata penjaga itu. “Kau, Yarber, dan Beech.”

“Ada apa?” tanya Spicer. Dia sedang membaca Field & Stream lama.

“Bukan u nisanku. Dia menunggu di depan.” “Bilang kami sedang sibuk.” ‘Tak mau. Ayo kita pergi.” Mereka mengikutinya ke gedung administrasi. Dalam perjalanan, penjaga-penjaga lain bergabung sampai mereka membentuk rombongan ketika keluar dari lift dan berdiri di hadapan sekretaris sipir. Wanita itu seorang diri mengantarkan Majelis ke kantor besar tempat Emmitt Broon sudah menunggu. Setelah dia pergi, sipir tiba-tiba berkata, “Aku diberitahu FBI bahwa pengacara kalian menghilang.”

Tidak tampak reaksi dari ketiganya, namun masing-masing langsung memikirkan uang mereka yang disembunyikan di luar negeri.

Sipir melanjutkan, “Dia menghilang pagi ini, dan ada uang yang lenyap. Aku tak tahu detail-detailnya.”

Uang siapa? mereka ingin bertanya. Tidak ada yang tahu tentang dana rahasia mereka. Apakah Trevor mencuri uang orang lain? “Kenapa kau memberitahu kami?” tanya Beech. Alasan sesungguhnya adalah karena Departemen Kehakiman di Washington meminta Broon menginformasikan kabar terakhir itu pada ketiganya. Tapi alasan yang dikatakannya adalah, “Aku cuma merasa kalian ingin mengetahuinya, siapa tahu kalian perlu meneleponnya.”

Mereka sudah memecat Trevor kemarin, dan belum memberitahu bagian administrasi bahwa pria itu sudah bukan pengacara mereka lagi.

“Apa yang akan kami lakukan tanpa pengacara?” tanya Spicer, seolah hidup tak bisa berlanjut.

“Itu masalah kalian. Terus terang, menurutku kalian sudah cukup banyak pengalaman dalam urusan hukum bertahun-tahun.”

“Bagaimana kalau dia menghubungi kami?” tanya Yarber, tahu pasti mereka takkan mendapat kabar dari Trevor lagi. “Kalian harus segera memberitahuku.” Mereka setuju untuk berbuat begitu. Apa pun yang diinginkan sipir. Dia mempersilakan mereka pergi.

Kaburnya Buster segampang pergi ke toserba. Mereka menunggu hingga keesokan paginya, sampai sarapan selesai dan sebagian besar narapidana sibuk mengerjakan tugas-tugas sepele mereka. Yarber dan Beech di trek, berjalan terpisah 200 meter hingga selalu ada yang mengawasi penjara sementara yang lain mengawasi hutan di kejauhan. Spicer berdiri di dekat lapangan basket, mengawasi penjaga.

Tanpa adanya pagar, menara, atau masalah keamanan mendesak, penjaga tidak terlalu diperlukan di Trumble. Spicer tidak melihat satu orang pun.

Buster tenggelam dalam dengung berisik Weed Eater-nya, yang pelan-pelan diarahkannya ke trek. Dia berhenti untuk menyeka muka dan memandang berkeliling. Dari jarak 50 meter, Spicer mendengar mesin pemotong rumput itu mati. Dia berbalik dan

cepat-cepat mengacungkan jempol, tanda untuk segera melakukannya. Buster masuk ke trek, menyusul Yarber, dan mereka berjalan bersama beberapa langkah.

“Kau yakin ingin melakukan ini?” tanya Yarber. “Ya. Aku yakin.” Anak itu tampak tenang dan siap.

“Kalau begitu lakukan sekarang. Pacu dirimu. Tapi tetap bersikap tenang.” “Terima kasih, Finn.” “Jangan sampai tertangkap, Nak.” “Tak akan”

Di belokan, Buster terus berjalan, keluar dari trek, menyeberangi rumput yang baru dipotong, seratus meter ke semak-semak, lalu dia pun lenyap. Beech dan Yarber melihatnya pergi, kemudian menoleh untuk melihat penjara. Spicer berjalan tenang ke arah mereka. Tidak tampak kegaduhan di sekitar halaman, asrama, atau bangunan lain di kawasan penjara. Tidak seorang penjaga pun kelihatan. fe%>?

Mereka berjalan sejauh hampir lima meter, dua belas putaran, dengan langkah santai sembilan menit per kilometer, dan ketika merasa sudah cukup mereka pergi ke ruangan mereka yang sejuk untuk beristirahat dan mendengarkan berita kaburnya Buster. Baru berjam-jam kemudian mereka akan mendengarnya.

Langkah Buster lebih cepat. Begitu masuk hutan, dia mulai berlari tanpa menoleh, ke belakang. Berpedoman pada matahari, dia bergerak ke selatan selama setengah jam. Hutannya tidak lebat; semak-semaknya jarang dan tidak memperlambat langkahnya. Dia melewati pos pengintaian kijang enam meter di

atas pohon jati, dan tak lama kemudian menemukan jalan setapak yang menuju ke barat daya.

Di saku kiri depan celananya tersimpan uang $2.000, pemberian Finn Yarber. Di saku depan lainnya ada peta buatan Beech. Dan di saku belakang dia menyimpan amplop kuning yang dialamatkan kepada pria bernama Al Konyers di Chevy Chase, Maryland. Ketiganya penting, tapi amplop itu yang paling diperhatikan Majelis.

Setelan sejam, dia berhenti untuk beristirahat, dan memasang telinga. Highway 30 adalah patokan pertamanya. Jalan raya itu membentang dari timur ke barat dan Beech memperkirakan dia akan menemukannya dalam dua jam. Dia tidak mendengar apa-apa, dan mulai berlari lagi.

Dia harus cepat-cepat. Ada kemungkinan ketidakhadirannya disadari setelah makan siang, ketika para penjaga kadang-kadang mengitari area penjara untuk melakukan pemeriksaan yang sangat longgar. Jika salah seorang dari mereka kebetulan mencari Buster, mungkin akan timbul pertanyaan-pertanyaan lain. Tapi setelah dua minggu mengawasi penjaga, baik Buster maupun Tvlajelis merasa itu mustahil.

Jadi dia punya waktu paling tidak empat jam. Dan mungkin jauh lebih banyak, karena jam kerjanya berakhir pukul 17.00, ketika dia hams mengembalikan Weed Eater-nya. Kalau dia tidak muncul, mereka akan mencari di sekitar penjara. Dua jam kemudian, mereka akan memberitahu kantor-kantor polisi di dekat penjara itu bahwa ada lagi yang telah meninggalkan Trumble. Mereka tidak pernah bersenjata dan berbahaya, dan tidak ada yang terlalu meributkan-nya. Tidak ada regu pencari. Tidak ada anjing pem. buru. Tidak ada helikopter menderu-deru di atas hutan. Sheriff county dan para anak buahnya akan patroli di jalan-jalan utama dan memperingatkan warga supaya mengunci pintu.

Nama si pelarian masuk komputer nasional. Mereka mengawasi rumahnya dan pacarnya, dan menunggunya melakukan tindakan bodoh.

Setelah bebas selama sembilan puluh menit, Buster berhenti sebentar dan mendengar dengung truk delapan belas roda tidak jauh dari tempatnya. Hutan tiba-tiba beralchir di selokan pembatas, dan tampaklah jalan raya. Menurut peta Beech, kota terdekat berada beberapa mil ke barat. Rencananya adalah berjalan kaki menyusuri jalan raya, menghindari lalu lintas dengan menggunakan selokan dan jembatan, sampai ditemukan pemukiman.

Buster mengenakan seragam penjara berupa celana khaki dan kemeja lengan pendek warna cokelat zaitun, warna keduanya jadi lebih gelap karena keringat. Penduduk setempat tahu seragam penjara, dan jika dia terlihat berjalan di Highway 30, pasti akan ada yang menghubungi sheriff. Pergilah ke kota, kata Beech dan Spicer, dan cari pakaian lain. Lalu bayar toi karcis bus, dan jangan pernah berhenti berlari.

Dia harus merunduk di balik pepohonan dan melompati selokan-selokan di pinggir jalan selama tiga jam sebelum melihat bangunan pertama. Dia menjauhi jalan raya, dan menerobos ladang hay. Seekor anjing va?0Tam.ke arahnya ketika dia memasuki jalan satunvf!! ?beraPa rumah. Di belakang salah Ya dla melihat jemuran yang penuh dan

tergantung diam karena tak ada angin. Dia mengambil kaus lengan panjang merah-putih, lalu membuang kemeja cokelatnya.

Pusat kota tidak lebih dari dua blok toko, beberapa pompa bensin, sebuah bank, semacam balai kota, dan sebuah kantor pos. Dia membeli celana pendek denim, kaus, dan sepatu bot di toko diskon, kemudian berganti pakaian di kamar mandi pegawai. Dia menemukan kantor pos di dalam balai kota. Dia tersenyum dan berterima kasih pada teman-temannya di Trumble ketika menyusupkan amplop berharga mereka ke celah Luar Kota.

Buster naik bus ke Gainesville, di sana dia membeli karcis seharga $480 untuk pergi ke mana saja di Amerika Serikat selama enam puluh hari. Dia menuju ke barat. Dia ingin menghilang di Meksiko.

Tiga Puluh

PEMILIHAN pendahuluan Pennsylvania tanggal 25 April akan menjadi usaha keras terakhir Gubernur Tarry. Tanpa terpengaruh penampilannya yang mengecewakan dalam perdebatan dua minggu lalu, dia berkampanye dengan semangat menggebu-gebu, tapi dengan uang sangat sedikit. “Lake memiliki semuanya,” katanya di setiap tempat yang didatanginya, pura-pura bangga jadi si miskin. Dia berada di negara bagian itu selama sebelas hari penuh. Kemampuan finansialnya merosot hingga terpaksa bepergian naik mobil camper Winnebago besar, dia makan di rumah para pendukungnya, menginap di motel murahan, dan tenaganya terkuras karena harus bersalaman dan berjalan kaki mendatangi para pemilih.

“Mari kita bicara tentang isu-isu,” dia memohon. “Jangan soal uang.”

Lake juga bekerja sangat keras di Pennsylvania. Jetnya melaju sepuluh kali lebih cepat daripada mobil Tarry. Lake menyalami lebih banyak orang, berpidato lebih banyak, dan jelas menghabiskan uang lebih banyak.

Hasilnya sudah bisa ditebak. Lake memperoleh 71

persen suara, kemenangan mutlak yang begitu memalukan Tarry sehingga dia secara terbuka mengatakan berniat mengundurkan diri. Tapi pria itu bertekad untuk bertahan paling tidak seminggu lagi, sampai pemilihan pendahuluan Indiana. Stafnya telah meninggalkannya. Utangnya $11 juta. Dia diusir dari markas besar kampanyenya di Arlington.

Namun, dia ingin rakyat Indiana yang baik mempunyai kesempatan melihat namanya di kertas pemilu.

Dan siapa tahu, jet baru mengilat Lake bisa saja terbakar, seperti yang telah terjadi.

Tarry memulihkan kekuatannya yang berkurang banyak, dan sehari setelah pemilihan pendahuluan berjanji akan terus berjuang.

Lake merasa kasihan padanya, dan kagum pada tekadnya untuk bertahan sampai konvensi. Tapi Lake, juga orang-orang lain, tahu peluangnya. Lake cuma perlu empat puluh delegasi lagi untuk memperoleh nominasi, padahal yang bisa diperebutkan masih hampir lima ratus. Perlombaan telah berakhir.

Setelah Pennsylvania, ^surat kabar-surat kabar di seluruh negeri mengkonfirmasi nominasinya. Wajah tampan bahagianya muncul di mana-mana, sebuah keajaiban politis. Dia banyak dipuji sebagai simbol mengapa sistem bekerjaseorang tak dikenal dengan pesan yang sama sekali baru dan menarik perhatian rakyat. Kampanye Lake membangkitkan harapan setiap orang yang bermimpi ikut pemilihan presiden. Tidak perlu berbulan-bulan menjelajahi pelosok lowa. Lompati saja New Hampshire, itu toh hanya negara bagian kecil.

Dan dia dituduh membeli nominasinya. Sebelum

Pennsylvania, diperkirakan dia menghabiskan $40 juta. Angka yang lebih tepat sulit diperoleh, karena uang—

Inya dihabiskan untuk begitu banyak hal. $20 juta lagi dipakai D-PAC dan setengah lusin grup pelobi tingkat tinggi lainnya, semuanya, bekerja untuk Lake. Sepanjang sejarah belum pernah ada kandidat lain yang menghabiskan sebanyak itu. Kritik tersebut menyentakkan Lake, dan menghantuinya siang-malam. Tapi dia lebih suka memperoleh uang dan nominasi daripada alternatifnya. Uang dalam jumlah raksasa bukan tabu. Pengusaha-pengusaha online menghasilkan miliaran. Pemerintah federal, dari semua badan yang megap-megap, menunjukkan surplus! Hampir setiap orang punya pekerjaan, hipotek yang bisa dibayar, dan beberapa mobil. Jajak pendapat Lake yang nonstop membuatnya percaya bahwa uang dalam jumlah raksasa bukan masalah bagi para pemilih. Dalam pertarungan November melawan Wakil Presiden, Lake sekarang bisa dibilang sama kuat. Dia kembali lagi ke Washington, dari pertempuran di Barat, penuh kemenangan bagai pahlawan. Aaron Lake, anggota Kongres biasa dari Arizona, sekarang menjadi bintang. Sambil sarapan yang tenang dan sangat lama, Majelis membaca surat kabar pagi Jacksonville, satu-satunya surat kabar yang diizinkan di Trumble. Mereka sangat senang dengan kemenangan Aaron Lake. Mereka

tbahkan bahagia dengan nominasinya. Sekarang mereka termasuk pendukungnya yang paling bersemangat. Terus, Aaron, terus.

Berita kaburnya Buster nyaris tak diperhatikan orang. Bagus, kata para narapidana. Dia cuma bocah yang dihukum penjara lama. Terus, Buster, terus.

Berita itu tidak dimuat dalam surat kabar pagi. Mereka mengedarkannya, membaca setiap patah kata kecuali iklan lowongan dan berita kematian. Mereka menunggu sekarang. Tidak ada surat yang harus ditulis; tidak ada surat yang akan diterima karena mereka telah kehilangan kurir. Tipuan mereka ditunda sampai mereka mendapat.kabar dari Mr. Lake.

Wilson Argrow tiba di Trumble naik van hijau tak berpelat nomor, diborgol, dikawal dua marshal. Dia dan para pengawalnya terbang dari Miami ke Jacksonville, tentu saja atas tanggungan para wajib pajak

Menurut surat-suratnya, dia sudah menjalani empat bulan dari enam puluh bulan hukuman penjara karena penipuan perbankan. Dia minta dipindahkan karena sebab-sebab yang masih belum jelas, namun itu bukan urusan orang-orang di Trumble. Dia cuma tahanan berisiko rendah biasa dalam sistem federal. Mereka memang selalu berpindah-pindah.

Dia berusia 39 tahun, duda cerai, lulusan college^ dan alamat rumahnya, untuk catatan penjara, adalah di Coral Gables, Florida. Nama aslinya Kenny Sands, sudah sebelas tahun di CIA, dan meskipun belum pernah dipenjara, dia pernah diberi tugas-tugas yang lebih berat daripada Trumble. Dia akan di sana selama satu-dua bulan, lalu minta pindah lagi. Argrow bersikap sebagai narapidana kawakan yang tenang ketika diproses, tapi perutnya sebetulnya mulas. Dia sudah diberitahu bahwa kekerasan tidak

ditolerir di Trumble, dan jelas dia bisa menjaga diri.

Tapi penjara tetap penjara. Dia mendengarkan pidato orientasi asisten sipir selama sejam, lalu dibawa mengelilingi area penjara. Dia mulai rileks ketika melihat sendiri Trumble. Penjaganya tidak bersenjata, dan kebanyakan narapidananya tampak tidak berbahaya.

Teman satu selnya adalah pria tua berjanggut putih, penjahat kambuhan yang sudah merasakan banyak penjara dan menyukai Trumble. Dia memberitahu Argrow bahwa dia berniat mati di sana. Pria itu mengajak Argrow makan siang dan menjelaskan menunya yang tidak bisa ditebak. Dia menunjukkan ruang rekreasi, tempat berkelompok-kelompok pria gemuk berkumpul di sekeliling meja lipat, mempelajari kartu mereka, di bibir masing-masing terselip rokok. “Perjudian dilarang,” kata teman seselnya sambil mengedip.

Mereka berjalan ke area angkat berat di luar, tempat pria-pria yang lebih muda berkeringat di bawah sinar matahari, memoles kulit cokelat mereka sementara otot-otot mereka membesar. Dia menunjuk trek di kejauhan dan berkata, “Kau harus menyukai pemerintah federal.”

Dia menunjukkan perpustakaan pada Argrow, tempat yang tak pernah didatanginya, dan menunjuk sebuah sudut sambil memberitahu, “Itu perpustakaan hukum.”

“Siapa yang menggunakannya?” tanya Argrow. “Biasanya di sini ada beberapa pengacara. Saat ini kami punya beberapa hakim juga.” “Hakim?”

“Ada tiga.”

Orang tua itu tidak berminat pada perpustakaan. Argrow mengikutinya ke kapel, lalu mengitari area itu lagi.

Argrow berterima kasih padanya karena telah diajak keliling, lalu minta diri dan kembali ke perpustakaan. Tidak ada siapa-siapa di sana selain seorang narapidana yang sedang mengepel lantai. Argrow pergi ke sudut, dan membuka pintu perpustakaan hukum.

Joe Roy Spicer mengangkat kepala dari majalahnya dan melihat seorang yang belum pernah dilihatnya. “Ada yang kaucari?” dia bertanya, tanpa berusaha membantu.

Argrow mengenali wajahnya dari arsip. Seorang Hakim Perdamaian yang dipergoki mencuri keuntungan bingo. Rendah sekali.

“Aku orang baru,” katanya, memaksa dirinya tersenyum. “Baru datang. Ini perpustakaan hukum?”

“Betul.”

“Kurasa siapa saja boleh menggunakannya, heh?” “Kurasa,” jawab Spicer. “Kau pengacara?” “Bukan, bankir.”

Beberapa bulan lalu, Spicer pasti sudah menawarkan bantuan hukum Majelis padanya, tentu saja secara ilegal. Tapi sekarang tidak. Mereka sudah tidak membutuhkan lagi yang kelas teri begini. Argrow memandang sekelilingnya dan tidak melihat Beech dan Yarber. Dia minta diri dan kembali ke kamar.

Kontak telah terjadi.

Rencana Lake untuk melupakan kenangan apa pun tentang Ricky dan korespondensi mereka tergantung

pada orang lain. Dia terlalu takut dan terlalu terkenal untuk kembali menyelinap tengah malam, menyamar, naik taksi, melesat melewati daerah pinggiran menuju kotak pos 24 jam. Risikonya terlalu tinggi; lagi pula dia sangat ragu bisa lolos dari Secret Service lagi. Dia tidak bisa menghitung jumlah agen yang sekarang ditugaskan untuk melindunginya. Jangankan menghitung, melihat semuanya saja dia tidak bisa.

Nama wanita muda itu Jayne. Dia bergabung dengan kampanyenya di Wisconsin dan dengan cepat berhasil masuk ke kalangan dalam. Mula-mula sukarelawan, sekarang dia memperoleh $55.000 setahun sebagai asisten pribadi Mr. Lake, yang mempercayainya seratus persen. Dia jarang meninggalkan atasannya itu, dan mereka sudah dua kali berbincang-bincang tentang pekerjaan Jayne di Gedung Putih nanti.

Di saat yang tepat, Lake akan memberi Jayne kunci kotak pos yang disewa Mr. Al Konyers, dan memerintahkannya untuk -mengambil surat-surat, mengakhiri penyewaannya, dan tidak memberikan alamat baru. Dia akan memberitahu Jayne bahwa kotak itu disewanya untuk memonitor penjualan kontrak-kontrak pertahanan rahasia, dulu waktu dia yakin Iran membeli data yang seharusnya tidak boleh mereka lihat. Atait kisah seperti itulah. Jayne akan mempercayainya karena wanita itu ingin mempercayainya.

Kalau dia sangat beruntung, takkan ada surat dari Ricky. Kotak itu akan ditutup untuk selamanya. Dan jika memang ada surat, dan Jayne bertanya, Lake akan mengatakan sama sekali tidak tahu siapa orang

jayne takkan bertanya lebih lanjut. Kesetiaan 111 adalah sifatnya.

Lake menunggu saat yang tepat. Dia menunggu terlalu lama.

Tiga Puluh Satu

SURAT itu sampai dengan selamat bersama sejuta surat lain, berton-ton kertas yang dikirim ke ibu kota untuk memperpanjang masa tugas pemerintah satu hari lagi. Surat itu disortir menurut kode pos, lalu menurut jalan. Tiga hari setelah Buster mengeposkannya, surat terakhir Ricky kepada Al Konyers berhasil tiba di Chevy Chase. Regu pengintai yang melakukan pemeriksaan rutin Mailbox America menemukannya Amplopnya dipelajari, lalu cepat-cepat dibawa ke Langley..

Teddy sedang menunggu brifing berikutoya, sendirian di kantor, ketika Deville bergegas masuk, memegang map tipis. “Kami memperoleh ini tiga puluh menit yang lalu,” katanya sambil menyerahkan tiga lembar kertas. “Ini kopinya. Aslinya ada dalam map.”

Direktur mengatur kacamata bifokalnya dan memandang kopi itu sebelum mulai membaca. Tampak cap pos Jacksonville, seperti biasa. Tulisan tangannya sangat familier. Sebelum membacanya dia sudah tahu surat itu berisi masalah serius.

Dear Al:

Dalam surat terakhirmu kau berusaha mengakhiri korespondensi kita. Maaf, tak segampang itu. Aku akan langsung ke pokok permasalahan. Aku bukan Ricky, dan kau bukan Al. Aku di penjara, bukan di klinik mewah rehabilitasi obat bius.

Aku tahu siapa kau, Mr. Lake. Aku tahu tahun ini kau sukses besar, baru saja mendapat nominasi dan segalanya, uang mengalir deras ke kantongmu. Mereka menyediakan surat kabar di Trumble sini, dan kami mengikuti kesuksesanmu dengan sangat bangga. |||||

Karena sekarang aku tahu siapa Al Konyers sebenarnya, aku yakin kau ingin aku tutup mulut tentang rahasia kecil kita. Dengan senang hati aku mau tetap diam, tapi kau harus membayarku mahal.

Aku butuh uang, dan aku ingin keluar dari penjara. Aku dapat menyimpan rahasia dan tahu cara bernegosiasi.

Uang bukan masalah bagimu, karena kau punya begitu banyak. Pembebasanku akan lebih rumit, tapi kau kan punya segala macam teman yang sangat berkuasa. Aku yakin kau bisa mencari jalan.

Aku tidak punya risiko apa pun, dan aku tidak segan-segan menghancurkanmu kalau kau tidak mau bernegosiasi denganku.

Namaku Joe Roy Spicer. Aku narapidana di Trumble Federal Prison. Pikirkanlah cara untuk menghubungiku, dan lakukan dengan cepat Aku takkan ke mana-mana.

Salam, Joe Roy Spicer

Brifing berikutnya dibatalkan. Deville mencari York, dan sepuluh menit kemudian mereka berkumpul di bungker.

Membunuh mereka adalah pilihan pertama yang didiskusikan. Argrow mampu melakukannya dengan alat-alat yang tepat; pil, racun, dan sebagainya. Yarber bisa meninggal dalam tidur. Spicer bisa mati mendadak di trek. Beech si hipokondriak bisa memperoleh resep yang salah dari apotek penjara. Mereka toh tidak terlalu fit atau sehat, dan jelas bukan tandingan Argrow. Jatuh dari tempat tinggi, patah leher. Begitu banyak cara untuk membuatnya tampak seperti kematian wajar atau kecelakaan.

Pembunuhan itu harus mlakukan segera, sementara mereka masih menunggu jawaban dari Lake.

Namun urusannya akan repot, dan sangat kompleks. Tiga mayat sekaligus, di penjara tenang seperti Trumble. Dan ketiganya sahabat karib yang sering bersama, dan mereka masing-masing akan mati dengan cara-cara berlainan dalam jangka waktu yang sangat singkat. Akan timbul kecurigaan besar. Bagaimana kalau Argrow jadi tersangka? Latar belakangnya saja tidak jelas.

Dan faktor Trevor menakutkan mereka. Di mana pun pengacara itu berada, ada peluang dia akan mendengar tentang kematian mereka. Berita tersebut akan membuatnya makin ketakutan, namun mungkin juga membuatnya tak bisa diduga. Ada kemungkinan dia tahu lebih banyak daripada yang mereka kira.

Deville akan menyusun beberapa rencana untuk mengeluarkan mereka, tapi Teddy sangat enggan. Dia tidak keberatan membunuh ketiganya, tapi tidak yakin itu akan melindungi Lake.

Bagaimana kalau Majelis telah memberitahu orang lain?

Terlalu banyak yang tidak diketahui. Susun rencana, begitu Deville diperintahkan, tapi rencana-rencana itu baru akan digunakan kalau pilihan lain tidak ada.

Semua skenario telah dibahas. York mengusulkan surat itu dikembalikan ke kotak pos supaya Lake bisa menemukannya. Lagi pula, ini kan masalahnya.

“Dia takkan tahu harus berbuat apa,” kata Teddy.

“Kita tahu?”

“Belum.”

Pikiran bagaimana Aaron Lake bereaksi terhadap serangan ini dan dengan suatu cara mencoba membungkam Majelis-nyaris terasa menggelikan, namun pikiran itu memang terasa adil. Lake yang membuat kekacauan ini; biarkan dia membereskannya.

“Sebetulnya, kita yang membuat kekacauan ini,” kata Teddy, “dan kita akan menyelesaikannya.”

Mereka tidak bisa meramalkan, dan karena itu tidak bisa mengontrol, apa yang akan dilakukan Lake. Entah bagaimana si tolol itu berhasil lolos dari jaring mereka cukup lama untuk mengirim surat pada Ricky. Dan dia begitu bodoh sehingga Majelis sekarang tahu siapa dirinya.

Belum lagi fakta yang sudah jelas: Lake adalah tipe orang yang diam-diam bersurat-suratan dengan sahabat pena homo. Dia menjalani kehidupan ganda, dan tidak pantas dipercaya.

Mereka membicarakan sebentar rencana untuk mengkonfrontasi Lake. York sudah menyarankan konfrontasi sejak surat pertama dari Trumble, namun Teddy tidak yakin. Saat-saat dia tidak bisa tidur

karena memikirkan Lake, dirinya selalu dipenuhi pikiran dan harapan tentang menghentikan surat-me-nyurat ini lama sebelum sekarang. Bereskan masalah ini tanpa ribut-ribut, lalu bicara dengan si kandidat.

Oh, betapa inginnya dia mengkonfrontasi Lake. Dia ingin sekali mendudukkannya di kursi sebelah sana itu dan menampilkan kopi semua surat sialannya di layar. Dan kopi iklan dari Out and About tersebut. Dia akan memberitahunya tentang Mr. Quince Garbe di Bakers, Iowa, idiot lain yang termakan tipuan, dan Curtis Vann Gates di Dallas. “Kenapa kau bisa setolol itu!?” dia ingin berteriak pada Aaron Lake.

Namun Teddy tetap berpikiran jauh ke depan. Masalah-masalah dengan Lake kecikjika dibandingkan dengan mendesaknya pertahanan nasional. Rusia datang, dan kalau Natty Chenkov serta rezim barunya berkuasa, dunia akan berubah untuk selamanya.

Teddy pernah membungkam orang-orang yang jauh lebih kuat daripada tiga hakim kriminal yang membusuk di penjara federal. Perencanaan teliti merupakan keunggulannya. Perencanaan yang sabar dan cermat.

Pertemuan mereka diselingi pesan dari kantor Deville. Paspor Trevor Carson telah di-scan di pos pemeriksaan keberangkatan bandara di Hamilton, Bermuda. Dia pergi naik penerbangan ke San Juan, Puerto Rico, dijadwalkan mendarat lima puluh menit lagi. “Apa kita tahu dia di Bermuda?” tanya York. “Tidak,” jawab Deville. “Rupanya dia masuk tanpa menggunakan paspornya.”

“Mungkin dia tak semabuk yang kita kira.” “Apa kita punya orang di Puerto Rico?” tanya Teddy, suaranya hanya sedikit lebih bersemangat.

“Tentu,” jawab Teddy. “Mari kita kejar dia.”

“Apakah rencana-rencana untuk si Trevor sudah X berubah?” tanya Deville.

“Tidak, sama sekali tidak,” kata Teddy. “Sedikit pun tidak.”

Deville pergi untuk mengurus krisis terakhir Trevor. Teddy memanggil seorang asisten dan memesan teh mint. York membaca lagi surat itu. Setelah mereka tinggal berdua, dia bertanya, “Bagaimana kalau kita pisahkan mereka?”

“Ya, aku juga memikirkannya. Lakukan dengan cepat, sebelum mereka sempat berunding. Kirim mereka ke tiga penjara yang terpisah jauh, isolasi mereka beberapa lama, pastikan mereka tak boleh menelepon, tak boleh bersurat-suratan. Lalu apa? Mereka masih punya rahasia mereka. Salah satu dari mereka bisa menghancurkan Lake.”

“Aku tak yakin kita punya kontak di Bureau of Prisons.”

“Itu bisa diatasi. Kalau perlu, aku akan bicara dengan Jaksa Agung.”

“Sejak kapan kau berteman dengan Jaksa Agung?”

“Ini masalah keamanan nasional.”

“Tiga hakim kotor di penjara federal di Florida bisa mempengaruhi keamanan nasional? Aku ingin mendengar pembicaraan kalian.”

Teddy meneguk teh dengan mata terpejam, sepuluh jarinya memegang cangkir. “Terlalu riskan,” dia berbisik. “Kita bikin mereka marah, mereka makin kacau. Kita tak boleh mengambil risiko.”

“Andaikan Argrow dapat menemukan catatan mereka,” kata York. “Coba pikirmereka bandit, kriminal. Takkan ada yang mempercayai cerita mereka tentang Lake kalau mereka tak punya bukti. Buktinya adalah dokumentasi, surat-surat, asli dan kopi korespondensi mereka. Bukti itu ada di mana-mana. Kalau kita temukan, lalu kita ambil dari mereka, siapa yang akan mendengarkan?”

Teddy meneguk lagi dengan mata terpejam, kembali berdiam diri lama. Direktur CIA itu mengubah posisi duduknya sedikit dan meringis kesakitan. “Betul,” katanya pelan. ‘Tapi aku mengkhawatirkan seseorang di luar, orang yang tak kita ketahui. Hakim-hakim ini selangkah di depan kita, dan akan selalu begitu. Kita berusaha mengetahui apa yang sudah lama mereka ketahui Aku tak yakin kita akan bisa menyusul mereka. Mungkin mereka sudah memikirkan kehilangan arsip mereka. Aku yakin penjara punya peraturan yang melarang penyimpanan arsip seperti itu, jadi mereka sudah menyembunyikannya. Surat-surat Lake terlalu berharga untuk tidak difotokopi dan disimpan di luar.”

‘Trevor kurir mereka. Kita sudah melihat semua surat yang dibawanya keluar dari Trumble selama sebulan terakhir.” “Kita pikir begitu. Tapi kita tak tahu pasti.” Tapi siapa?”

“Spicer punya istri. Wanita itu pernah mengunjunginya. Yarber akan bercerai, tapi siapa tahu apa yang mereka lakukan. Istrinya datang dalam tiga bulan terakhir ini. Atau mungkin mereka menyuap penjaga untuk mengurus surat-surat mereka. Orang-orang ini

bosan, pintar, dan sangat kreatif. Kita tak boleh begitu saja berasumsi kita tahu segala rencana mereka. Dan jika kita melakukan kesalahan di sini, kalau kita berasumsi terlalu jauh, Mr. Aaron Lake akan ditelanjangi.”

“Bagaimana? Bagaimana cara mereka melakukannya?”

“Mungkin menghubungi reporter, memberinya surat satu per satu sampai orang itu percaya. Bisa saja berhasil.”

“Pers akan kalap.”

“Itu tak boleh terjadi, York. Kita tak boleh membiarkannya terjadi.”

Deville terburu-buru kembali. Pabean AS telah diberitahu pihak berwenang di Bermuda sepuluh menit setelah pesawat berangkat ke San Juan. Trevor akan mendarat delapan belas menit lagi.

Trevor cuma mengikuti uangnya. Dengan cepat dia mempelajari dasar-dasar pentransferan uang, dan se^ karang mengasah kemampuannya itu. Di Bermuda, dia mengirim setengahnya ke bank di Swiss, dan setengahnya lagi ke bank di Grand Cayman. Timur atau barat? Itulah masalahnya. Penerbangan tercepat dari Bermuda menuju London, tapi dia takut membayangkan harus menyusup melalui Heathrow. Dia bukan buronan, setidaknya bukan buronan pemerintah. Tidak ada dakwaan terhadapnya. Namun Pabean Inggris begitu efisien. Dia akan ke barat dan mengadu nasib di Karibia.

Dia mendarat di San Juan dan langsung pergi ke bar, di sana dia memesan bir dalam gelas tinggi dan mempelajari jadwal penerbangan. Tidak terburu-buru,

tidak ada tekanan, banyak uang. Dia bisa pergi ke mana saja, melakukan apa saja, dan sampai kapan saja. Dia minum segelas bir lagi dan memutuskan menghabiskan beberapa hari di Grand Cayman, dengan uangnya. Dia mendatangi counter Air Jamaica dan membeli tiket, lalu kembali ke bar, sebab sudah hampir pukul 17.00 dan dia punya waktu tiga puluh menit sebelum boarding.

Tentu saja dia memilih kelas satu. Dia naik pesawat cepat-cepat supaya bisa minum lagi, dan ketika mengamati para penumpang lain lalu lalang, dia melihat wajah yang pernah dilihatnya.

Di mana ya? Beberapa saat lalu, di suatu tempat di bandara. Wajah kurus panjang, dengan janggut kecokelatan, dan mata sipit di balik kacamata hitam persegi. Orang itu melirik Trevor cukup lama sampai pandangan mereka bertemu, lalu membuang muka, memandang ke lorong, seakan tidak melihat apa-apa.

Tempatnya di dekat counter perusahaan penerbangan, ketika Trevor berbalik pergi setelah membeli tiket. Wajah itu mengawasinya. Pria itu berdiri di dekatnya, mempelajari pengumuman keberangkatan.

Kalau kau sedang melarikan diri, semua lirikan, pandangan kedua, dan tatapan sambil lalu terasa mencurigakan. Kalau melihat wajah seseorang satu kau bahkan tidak menyadarinya. Tapi kalau melihat lagi wajah itu setengah jam kemudian, berarti ^yang sedang mengamati setiap gerak-gerikmu. send6^1311 minum’ Trevor memerintah dirinya dan mmta k0pi setelah Pesawat tinggal landas, ^meminumnya cepat-cepat. Dia penumpang yang turun dari pesawat di Kingston, dan

berjalan cepat-cepat di terminal, melewati imigrasi. Pria itu tidak tampak di belakangnya.

Dia menyambar dua tas kecilnya dan berlari menuju pangkalan taksi.

f

Tiga Puluh Dua

foto Tre m-. fotonya? K;, Menui

SURAT KABAR Jacksonville itu tiba di Trumble setiap pagi sekitar pukul 07.00. Empat eksemplar dibawa ke ruang rekreasi, ditinggalkan di sana dan dibaca oleh narapidana yang memedulikan kehidupan di luar. Biasanya hanya Joe Roy Spicer yang menunggu pada pukul 07.00, dia mengambil satu surat kabar untuk dirinya, karena perlu mempelajari pasar taruhan Vegas sepanjang hari. Pemandangan itu jarang berubah: Spicer memegang cangkir tinggi Styrofoam berisi kopi, kaki di meja kartu, menunggu Roderick si penjaga membawakan surat kabar.

Jadi Spicer yang pertama melihat berita itu, di bagian terbawah halaman depan. Trevor Carson, pengacara setempat yang menghilang tanpa alasan jelas, ditemukan meninggal di luar hotel di Kingston, Jamaika. Kepalanya tertembak dua kali tadi malam, tak lama setelah hari gelap. Spicer melihat berita itu tidak dilengkapi foto Trevor. Kenapa surat kabar itu mesti punya fotonya? Kenapa orang mesti peduli jika Trevor mati? irut pihak berwenang Jamaika, Carson adalah

turis yang rupanya dirampok. Sumber anonim yang berada di dekat lokasi kejadian memberitahu polisi tentang identitas Mr. Carson, karena dompetnya hilang. Sumber tersebut tampaknya tahu banyak.

Paragraf yang menceritakan karier hukum Trevor cukup singkat. Seorang mantan sekretaris, Jan anu, tidak memberikan komentar. Berita itu diperoleh, dan ditempatkan di halaman depan hanya karena korban seorang pengacara yang terbunuh.

Finn berada jauh di ujung trek, membelok di tikungan, berjalan cepat dengan langkah-langkah kecil di udara pagi yang lembap, kemejanya sudah dilepas. Spicer menunggu di dekat garis finis, dan menyodorkan surat kabar itu tanpa bicara.

Mereka menemukan Beech sedang antre di kafeteria, memegang baki plastik dan memandangi tumpukan telur orak-arik tanpa nafsu. Mereka duduk bersama di pojok, jauh dari siapa pun, makan pelan-pelan, berbicara dengan suara tertahan. “Kalau dia lari, dia lari dari siapa?” “Mungkin Lake memburunya.” “Dia tak tahu orang itu Lake. Dia tak tahu apa-apa, kan?”

“Oke, kalau begitu dia lari dari Konyers. Saat terakhir kemari, dia bilang Konyers-lah mangsa kakap kita. Dia mengatakan Konyers tahu mengenai kita, lalu keesokan harinya dia menghilang.”

“Mungkin dia cuma ketakutan. Konyers mengonfrontasinya, mengancam akan membeberkan perannya dalam tipuan kita, jadi Trevor, yang memang tak stabil, memutuskan mencuri sebanyak mungkin dan menghilang.”

“Uang siapa yang hilang, itu yang ingin kuketahui.” ‘Tak seorang pun tahu tentang uang kita. Bagaimana bisa hilang?”

‘Trevor mungkin mencuri dari siapa saja yang bisa dicurinya, lalu menghilang. Sering terjadi. Pengacara terlibat masalah, jadi kacau. Mereka merampok dana klien mereka dan kabur.” “Sungguh begitu?” tanya Spicer. Beech dapat memberikan tiga contoh, dan Yarber menambahkan beberapa.

“Jadi siapa yang membunuhnya?” “Kemungkinan besar dia cuma berada di wilayah yang tak aman.”

“Di luar Sheraton Hotel? Kurasa tidak.” “Oke, bagaimana kalau Konyers membungkamnya?”

“Itu mungkin. Dengan suatu cara Konyers memaksanya bicara, karena tahu Trevor kontak luar untuk Ricky. Konyers menekannya, mengancam akan menangkapnya atau apa, dan Trevor melarikan diri ke Karibia. Trevor tak tahu Konyers adalah Aaron Lake.”

“Dan Lake jelas punya uang dan kemampuan untuk melacak pengacara pemabuk.”

“Kita bagaimana? Saat ini, Lake tahu Ricky bukan Ricky, bahwa Joe Roy ini orangnya, dan bahwa dia punya teman-teman di penjara/’

“Pertanyaannya, bisakah dia menyentuh kita?” “Kurasa aku akan tahu duluan,” kata Spicer sambil tertawa gugup.

“Dan selalu ada kemungkinan bahwa Trevor di Jamaika sana berada di tempat yang tak aman, mungkin mabuk dan mencoba merayu wanita, hingga menyebabkan dirinya tertembak.”

Mereka semua sepakat bahwa Trevor sangat mampu membuat dirinya terbunuh.

Semoga dia beristirahat dengan tenang. Tapi hanya kalau dia tidak mencuri uang mereka.

Mereka menyebar selama sekitar satu jam. Beech pergi ke trek, untuk berjalan dan berpikir. Yarber bekerja, dua puluh sen per jam untuk berusaha memperbaiki komputer di kantor pendeta. Spicer pergi ke perpustakaan dan bertemu dengan Mr. Argrow yang sedang membaca buku-buku hukum.

Perpustakaan hukum terbuka, tidak perlu membuat janji dulu, tapi ada peraturan tidak tertulis bahwa siapa pun seharusnya paling tidak minta izin pada salah satu anggota Majelis sebelum membaca buku-buku mereka. Spicer memutuskan membiarkannya.

Mereka saling mengangguk, lalu Spicer sibuk membenahi meja dan merapikan buku.

“Katanya kalian menangani masalah hukum,” kata Argrow dari seberang ruangan. Tidak ada orang lain di ruangan itu.

“Di sini memang banyak desas-desus.” “Kasusku sedang naik banding.” “Apa yang terjadi di persidangan?” “Juri menganggapku bersalah untuk tiga dakwaan penipuan bank, menyembunyikan uang di luar negeri, di Bahama. Hakim memvonisku enam puluh bulan. Aku sudah menjalani empat bulan. Aku tak yakin sanggup bertahan 56 bulan lagi. Aku butuh bantuan untuk permohonan bandingku.” “Pengadilan mana?”

“Virgin Islands. Dulu aku bekerja di bank besar di Miami. Banyak uang obat bius.”

Argrow lihai, cepat, dan sangat ingin bicaraini menjengkelkan Spicer, tapi hanya sedikit. Omongan pria itu tentang Bahama menarik perhatiannya.

‘Tadinya. Entah kenapa, aku jadi menyukai pencucian uang. Tiap hari aku mengurus puluhan juta, dan rasanya memabukkan. Aku sanggup memindahkan uang kotor lebih cepat daripada bankir mana pun di South Florida. Sekarang pun masih sanggup. Tapi aku memilih teman-teman yang salah, dan mengambil pilihan-pilihan yang salah.” “Kau mengakui dirimu bersalah?” Tentu.”

“Kau termasuk golongan minoritas di sini.”

Tidak, aku memang salah, tapi menurutku hukumannya terlalu berat. Ada yang bilang kalian bisa mengurangi lama hukuman.”

Spicer tidak lagi memedulikan meja-meja berantakan dan buku-buku semrawut. Dia mengambil kursi dan menyediakan waktu. “Kami bisa memeriksa surat-suratmu,” katanya, seolah dia sudah menangani ribuan permohonan banding.

Dasar tolol, Argrow ingin berkata. Kau dropout dari high school saat kelas sepuluh, dan mencuri mobil waktu berusia sembilan belas. Ayahmu menggunakan koneksinya dan membuat dakwaan dibatalkan. Kau membuat dirimu terpilih sebagai Hakim Perdamaian dengan menggunakan suara orang-orang yang sudah meninggal dan yang tidak datang, sekarang kau terperangkap di penjara federal dan mencoba berperan sebagai jagoan.

Dan sekarang kau punya kemampuan untuk men jatuhkan presiden Amerika Serikat berikutnya, Mr. Spicer, Argrow mengakui dalam hati.

“Berapa biayanya?” tanya Argrow.

“Berapa yang kaupunyai?” tanya Spicer, persis pengacara sungguhan.

“Tak banyak.”

“Kupikir kau tahu cara menyembunyikan uang di luar negeri.”

“Oh, aku tahu, percayalah. Dan aku pernah punya banyak uang, tapi kubiarkan lenyap.”

“Jadi kau tak bisa membayar sedikit pun?”

“Tak banyak. Mungkin beberapa ribu.”

“Pengacaramu bagaimana?”

“Dia membuatku dipenjara. Aku tak punya cukup uang untuk menyewa pengacara baru.”

Spicer memikirkan situasi ini beberapa lama. Dia sadar ternyata dia memang kehilangan Trevor. Segalanya terasa jauh lebih gampang bila mereka punya orang itu di luar untuk mengumpulkan uang. “Kau masih punya kontak di Bahama?”

“Aku punya kontak di seluruh penjuru Karibia. Kenapa?”

“Karena kau harus mentransfer uang itu. Di sini tak boleh ada uang tunai.”

“Kau ingin aku mentransfer $2.000?”

“Tidak. Aku ingin kau mentransfer $5.000. Itu bayaran minimum kami.”

“Di mana bankmu?”

“Di Bahama.”

Mata Argrow menyipit. Alisnya berkerut, dan sementara dia berpikir keras, Spicer juga melakukan

407

hal yang sama. Pikiran mereka sedang dalam proses untuk bertemu.

“Kenapa Bahama?” Argrow bertanya.

“Sama dengan alasanmu menggunakan Bahama.”

Pilriian-pikiran berputar di kepala mereka. “Aku ingin tanya,” kata Spicer. “Kau tadi bilang bisa memindahkan uang kotor lebih cepat daripada siapa pun.”

Argrow mengangguk dan berkata, “Tidak masalah.”

“Kau masih bisa melakukannya?”

“Maksudmu, dari dalam sini?”

“Ya. Dari sini.”

Argrow tertawa dan mengangkat bahu seolah itu gampang sekali. ‘Tentu. Aku masih punya teman-teman.”

‘Temui aku di sini sejam lagi. Aku mungkin punya tawaran untukmu.”

Sejam kemudian, Argrow kembali ke perpustakaan hukum dan mendapati ketiga hakim itu sudah mengambil posisi, di belakang meja dengan kertas-kertas dan buku-buku hukum bertebaran, seolah Mahkamah Agung Florida sedang bersidang. Spicer memperkenalkannya pada Beech dan Yarber, lalu dia duduk di seberang meja. Tidak ada orang lain di situ.

Mereka berbicara sebentar tentang permohonan bandingnya, dan Argrow pura-pura tidak mengetahui detail-detailnya. Arsipnya sedang dikirim dari penjara lain, dan mereka tidak bisa berbuat banyak tanpa arsip tersebut.

Permohonan banding itu cuma topik pembuka pembicaraan, dan kedua belah pihak mengetahuinya.

“Mr. Spicer memberitahu kami kau ahli dai memindahkan uang kotor,” kata Beech.

“Begitulah, sampai aku tertangkap,” jawab Argrow merendah. “Kuduga kalian punya uang seperti itu.”

“Kami memiliki rekening bank di luar negeri, uang yang kami peroleh dari memberikan bantuan hukum dan beberapa hal lain yang tak bisa kami ceritakan. Seperti yang kau tahu, kami tak boleh minta bayaran untuk bantuan hukum kami.”

“Tapi kami tetap memintanya,” tambah Yarber. “Dan kami dibayar.”

“Berapa isi rekening ini?” tanya Argrow, tahu saldo kemarinnya sampai ke jumlah sennya.

“Sabar,” kata Spicer. “Ada kemungkinan besar uang itu telah lenyap.”

Argrow membiarkan kata-kata itu mengambang sedetik, dan menampakkan tampang bingung. “Apa?” tanyanya.

“Dulu kami punya pengacara,” Beech bercerita pelan-pelan, setiap kata ditimbang. “Dia menghilang dan mungkin telah mengambil uang kami.”

“Begitu. Dan rekening ini di bank di Bahama?”

“Tadinya. Kami tak yakin uang itu masih di sana.”

“Kami ragu uang itu masih ada,” Yarber menambahkan.

“Tapi kami ingin tahu pasti,” timpal Beech.

“Bank yang mana?” tanya Argrow.

“Geneva Trust, di Nassau,” jawab Spicer, melirik kolega-koleganya.

Argrow mengangguk angkuh, seakan mengetahui rahasia-rahasia kotor bank tersebut.

“Kau tahu bank itu?” tanya Beech.

“Jelas,” sahut Argrow, dan membiarkan mereka menunggu lama. “Dan?” kejar Spicer.

Argrow dilanda perasaan sombong karena tahu banyak, jadi dia berdiri dengan gaya dramatis dan mengitari perpustakaan kecil itu beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya, lalu mendekati meja lagi. “Dengar, kalian ingin aku melakukan apa? Tak usah kita berpanjang-panjang.”

Ketiga mantan hakim itu menatapnya, lalu berpandangan, dan kelihatan jelas bahwa mereka tidak pasti tentang dua hal: (a) seberapa mereka mempercayai orang yang baru mereka kenal ini, dan (b) apa yang sebetulnya mereka inginkanť darinya.

Tapi mereka berpendapat uang itu toh sudah hilang, jadi tidak ada ruginya. Yarber berkata, “Kami tidak terlalu canggih dalam urusan memindahkan uang kotor. Itu bukan keahlian kami. Maafkan saja ke-kurangtahuan kami, tapi adakah cara untuk mengetahui apakah uang itu masih di tempatnya semula?”

“Kami tak yakin apakah pengacara itu mencurinya,” tambah Beech.

“Kalian mau aku memeriksa saldo rekening rahasia?” tanya Argrow.

“Ya, betul,” jawab Yarber.

“Kami kira kau mungkin masih punya teman dalam bisnis ini,” kata Spicer, mencoba-coba. “Dan kami juga ingin tahu apakah ada jalan untuk melakukan ini.”

“Kalian beruntung,” kata Argrow, dan membiarkan kata-katanya mengendap. “Maksudmu?” tanya Beech.

“Kalian memilih Bahama.”

“Sebetulnya, pengacara itu yang memilih Bahama, Spicer memberitahu.

“Yah, bank-bank di sana lumayan longgar. Banyak rahasia dibeberkan. Banyak pegawai disuap. Kebanyakan kegiatan pencucian uang tak dilakukan di Bahama. Saat ini Panama tempat paling top, dan tentu saja Grand Cayman masih tak tergoyahkan.”

Tentu, tentu, mereka bertiga mengangguk-angguk. Luar negeri ya luar negeri, bukan? Satu lagi contoh kebodohan mempercayai orang tolol macam Trevor.

Argrow mengamati wajah bingung mereka dan berpikir betapa tidak tahunya hakim-hakim itu. Untuk ukuran tiga pria yang punya kemampuan menghancurleburkan proses pemilihan presiden Amerika, mereka tampak sangat naif.

“Kau belum menjawab pertanyaan kami,” kata Spicer.

“Apa saja mungkin di Bahama.”

“Jadi kau bisa melakukannya?”

“Aku bisa mencoba. Tak ada jaminan.”

“Begini saja,” kata Spicer. “Kaucek rekening itu, dan kami akan menangani permohonan bandingmu tanpa bayaran.”

“Bukan kesepakatan yang jelek,” kata Argrow.

“Kami pikir juga begitu. Setuju?”

“Setuju.” v, tť’1

Sesaat mereka cuma berpandangan kaku, bangga pada kesepakatan saling menguntungkan mereka, tapi tidak yakin siapa yang hams bergerak lebih dulu. Akhirnya, Argrow berkata, “Ada yang harus kuketahui tentang rekening itu.”

“Misalnya?” tanya Beech.

“Misalnya nama atau nomornya.”

“Rekeningnya atas nama Boomer Realty, Ltd. Nomornya 144-DXN-9593.”

Argrow mencatatnya pada secarik kertas.

“Aku cuma ingin tahu,” kata Spicer, sementara mereka memandanginya. “Bagaimana kau akan berkomunikasi dengan kontakmu di luar?”

‘Telepon,” sahut Argrow tanpa mengangkat muka.

“Jangan pakai telepon-telepon di sini,” kata Beech.

Telepon-telepon di suri tak aman,” tambah Yarber.

“Kau tak boleh menggunakan telepon-telepon ini,” kata Spicer tegas.

Argrow tersenyum dan memaklumi kekhawatiran mereka, lalu menoleh ke belakang dan mengeluarkan dari saku celananya semacam alat, lebih besar sedikit daripada pisau lipat Dia memegangnya dengan ibu jari dan telunjuk, dan berkata, Tni telepon, gentlemen.”

Mereka memandang tak percaya, lalu mengawasi ketika pria itu dengan cepat membukanya dari atas dan bawah serta dari satu sisi sehingga setelah selesai pun benda itu tampak tetap terlalu kecil sebagai alat berkomunikasi. Tni digital,” katanya. “Sangat aman.”

“Siapa yang menerima tagihan bulanannya?” tanya Beech.

“Aku punya saudara laki-laki di Boca Raton. Telepon ini dan sambungannya hadiah darinya.” Dia melipatnya lagi dengan sigap, dan telepon itu pun lenyap di depan mata mereka. Lalu Argrow menunjuk ruang rapat kecil di belakang mereka, ruang kerja mereka. “Ada apa di situ?” tanyanya. “Cuma ruang rapat,” jawab Spicer.

“Tak ada jendelanya, kan?”

“Tak ada, cuma jendela kecil di pintu.”

“Baik. Bagaimana kalau aku masuk ke sana, menelepon, dan bekerja? Kalian bertiga di sini saja dan pasang mata. Kalau ada yang memasuki perpustakaan, ketuk pintunya.”

Majelis langsung setuju, meskipun tidak percaya Argrow akan berhasil.

Telepon itu disambungkan ke van putih, diparkir 2,5 kilometer dari Trumble, di jalan berkerikil yang sesekali dibersihkan pemerintah daerah. Jalan itu terletak di sebelah ladang hay milik seseorang yang belum pernah mereka lihat. Batas daerah yang dimiliki pemerintah federal berada 400 meter, dari situ, tapi dari tempat van itu berada tidak tampak adanya penjara.

Hanya ada dua teknisi dalam van, yang satu pulas di bangku depan, yang lain setengah tertidur di belakang dengan headphone di kepala. Ketika Argrow menekan tombol Send di alat kecil canggihnya, pesawat penerima di van menyala, dan kedua pria itu langsung bangun.

“Halo,” katanya. “Ini Argrow.”

“Ya, Argrow, di sini Chevy One, .silakan,” kata teknisi di belakang.

“Aku di dekat ketiga badut itu, sedang beraksi, pura-pura menelepon teman-teman di luar untuk memeriksa keberadaan rekening luar negeri mereka Sejauh ini segala sesuatunya berjalan bahkan lebih ‘ lancar dari yang kuharapkan.”

“Kedengarannya begitu.”

“Roger. Aku akan melapor lagi nanti.” Dia menekan tombol Endy namun tetap memegang telepon di telinga dan tampak asyik berbicara. Dia duduk di tepi meja, lalu berjalan sedikit, sesekali melirik Majelis dan sekitarnya.

Spicer tidak bisa menahan diri untuk tidak mengintip dari jendela pintu. “Dia sedang menelepon,” katanya penuh semangat.

“Memangnya kaukira dia sedang melakukan apa?” tanya Yarber, yang sedang membaca berbagai putusan pengadilan akhir-akhir ini.

Tenang, Joe Roy,” kata Beech. “Uang itu lenyap bersama Trevor.”

Dua puluh menit berlalu, dan keadaan jadi sedatar biasanya. Sementara Argrow menelepon, para hakim itu mengisi waktu, mula-mula menunggu, lalu kembali ke urusan yang lebih mendesak. Sudah enam hari Buster pergi membawa surat mereka. Tidak ada kabar darinya, berarti bocah itu berhasil lolos, mengirimkan surat kepada Mr. Konyers, dan saat ini berada di suatu tempat yang jauh. Beri surat itu waktu tiga hari untuk tiba di Chevy Chase, dan menurut perkiraan mereka, Mr. Aaron Lake sekarang pasti tengah kalang kabut menyusun rencana untuk menghadapi mereka.

Penjara telah mengajar mereka untuk bersabar. Hanya satu tenggat waktu yang mereka khawatirkan. Lake memperoleh nominasi, berarti rentan terhadap pemerasan mereka sampai November. Jika dia menang, mereka punya waktu empat tahun untuk memanfaatkannya. Tapi kalau kalah, dia akan memudar dengan cepat, seperti yang lainnya. “Di mana Dukakis sekarang?” Beech pernah bertanya.

Mereka tidak mau menunggu sampai November. Sabar memang perlu, tapi pembebasan lain lagi urusannya. Lake adalah kesempatan emas, mereka untuk pergi dengan banyak uang.

Mereka berniat menunggu seminggu, lalu menyurati Mr. Al Konyers di Chevy Chase lagi. Mereka belum tahu bagaimana cara menyelundupkannya ke luar, tapi mereka pasti akan menemukan jalannya. Link, si penjaga di depan yang berbulan-bulan disuap Trevor, adalah pilihan pertama mereka.

Telepon Argrow menambah pilihan mereka. “Kalau dia mengizinkan kita menggunakannya,” kata Spicer, “kita bisa menelepon Lake, menelepon kantor kampanyenya, kantornya di Kongres, menelepon semua nomor yang bisa kita dapatkan dari buku telepon. Tinggalkan pesan bahwa Ricky di klinik rehabilitasi betul-betul perlu bertemu Mr. Lake. Dia akan ketakutan setengah mati.”

“Tapi Argrow akan punya catatan telepon kita, atau setidaknya saudaranya,” kata Yarber.




0 Response to "The Brethren 2"

Post a Comment