Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Brethren 1

The Brethren

John Grisham

Satu

UNTUK acara pengadilan mingguan, petugas pengadilan itu mengenakan pakaian biasanya yang terdiri atas piama merah tua yang sudah usang dan sangat pudar serta sepatu mandi berwarna lembayung muda dari bahan handuk tanpa kaus kaki. Dia bukan satu-satunya narapidana yang memakai piama sewaktu melakukan kegiatan sehari-hari, tapi cuma dia yang berani memakai sepatu warna lembayung muda. Namanya T. Karl, dan dulu dia memiliki beberapa bank di Boston.

Piama dan sepatunya tidak seberapa konyol dibandingkan wignya. Wig itu berbelah tengah dan tergerai berlapis-lapis ke bawah, melewati telinga, dengan ikal-ikal rapat menyebar ke tiga penjuru, dan jatuh di bahunya dengan mantap. Warnanya abu-abu terang, nyaris putih, dan dibuat meniru wig hakim Inggris Kuno berabad-abad yang Ialu. Seorang teman di luar menemukannya di toko kostum bekas di Manhattan, di Village.

T. Karl sangat bangga memakainya ke pengadilan, dan, meskipun aneh, wig tersebut lama-kelamaan

bisa diterima sebagai bagian dari pertunjukan. Lagi pula narapidana-narapidana lain memang ingin menjaga jarak dari T. Karl, pakai wig atau tidak.

Dia berdiri di balik meja lipat reyot di kafeteria penjara, mengetukkan palu plastik sebagai pengganti palu sungguhan. berdeham, dan mengumumkan dengan penuh wibawa, “Perhatian, perhatian, perhatian. Pengadilan Federal Rendah North Florida sekarang dibuka. Harap berdiri.”

Tidak ada yang bergerak, atau setidaknya tak seorang pun berusaha berdiri. Tiga puluh narapidana duduk dalam berbagai gaya di kursi-kursi plastik kafeteria ada yang memandang si petugas pengadilan, ada yang asyik mengobrol, menganggap T. Karl angin lalu.

T. Karl melanjutkan, “Pihak-pihak yang menginginkan keadilan harap mendekat supaya bisa dihukum.”

Tidak ada yang tertawa. Lelucon itu terasa lucu berbulan-bulan yang lalu ketika T. Karl mengatakannya untuk pertama kali. Sekarang ucapannya itu cuma sekadar bagian dari pertunjukan. Dia duduk dengan hati-hati, memastikan bahwa berderet-deret ikal yang tergerai di bahunya dapat dilihat semua orang, kemudian dia membuka buku tebal bersampul kulit merah yang berfungsi sebagai catatan resmi pengadilan. Dia melakukan pekerjaannya dengan sangat serius.

Tiga pria memasuki ruangan dari dapur. Dua di antaranya bersepatu. Yang seorang makan biskuit asin. Yang tidak memakai sepatu juga tidak memakai apa-apa sampai lutut, sehingga kakinya yang kurus kelihatan di bawah toganya. Kakinya itu licin, tak

berbulu, dan sangat cokelat karena dia sering berjemur. Di betis kirinya tampak tato besar. Dia dari California.

Ketiganya mengenakan mantel gereja tua bekas seragam paduan suara yang sama, hijau pucat dengan pinggiran emas. Mantel-mantel itu berasal dari toko yang sama dengan wig T. Karl, dan diberikannya sebagai hadiah Natal. Itu sebabnya dia bisa tetap bekerja sebagai asisten resmi pengadilan.

Terdengar desis dan ejekan dari para hadirin ketika hakim-hakim melintasi lantai ubin, penuh keanggunan, toga-toga mereka menyapu lantai. Mereka duduk di balik meja lipat panjang, dekat dengan T. Karl tapi tidak terlalu dekat, dan menghadapi orang-orang yang bertemu seminggu sekali ini. Hakim yang pendek gempal duduk di tengah. Namanya Joe Roy Spicer, dan karena yang lain tidak mau, dia bertindak sebagai hakim ketua pengadilan ini. Di masa lalunya, Hakim Spicer adalah Hakim Perdamaian di Mississippi, dipilih oleh penduduk county kecilnya, dan dikirim ke penjara ketika FBI memergokinya menggelapkan keuntungan permainan bingo dari sebuah kelab Shriner.

“Silakan duduk,” katanya. Padahal tidak seorang pun berdiri.

Para hakim menggeser kursi-kursi lipat mereka dan mengibaskan toga sampai jatuh dengan rapi di sekeliling mereka. Asisten sipir berdiri di pinggir, tidak dipedulikan para narapidana. Seorang penjaga berseragam menemaninya. Majelis hakim itu bertemu seminggu sekali dengan persetujuan penjara. Mereka mendengarkan kasus, menengahi perselisihan, menyelesaikan pertengkaran kecil antarpenghuni, dan

secara umum terbukti mampu menstabilkan para narapidana.

Spicer melihat daftar perkara, selembar kertas bertulisan tangan rapi yang disiapkan T. Karl, dan berkata, “Sidang dimulai.”

Di sebelah kanannya duduk Yang Mulia Finn Yarber. berasal dari California, berumur enam puluh tahun, sudah dua tahun di penjara karena mengelak membayar pajak pendapatan dan baru bebas lima tahun lagi. Pembalasan dendam, katanya selalu pada siapa saja yang mau mendengarkan. Perbuatan seorang gubernur Partai Republik yang berhasil mengumpulkan para pemilih untuk vas-recall Hakim Agung Yarber dari Mahkamah Agung California. Gerakan itu mempermasalahkan sikap Yarber yang menentang hukuman mati, dan ketidakpeduliannya dengan menunda eksekusi. Orang-orang menginginkan pertumpahan darah, Yarber mencegahnya, para pendukung Partai Republik menimbulkan kehebohan, dan gerakan me-recall-nya sukses besar. Mereka mencampakkannya ke jalanan, di sana dia menggelepar-gelepar beberapa lama sampai IRS mulai mengajukan berbagai pertanyaan. Kuliah di Stanford, didakwa di Sacramento, divonis di San Francisco, dan sekarang menjalani hukuman di penjara federal di Florida.

Dyatuhi hukuman dua tahun dan Finn masih berjuang menerima kepahitan nasibnya. Dia masih percaya dia tidak bersalah, masih bermimpi menaklukkan musuh-musuhnya. Namun impian-impian tersebut memudar. Dia menghabiskan banyak waktu di trek joging, sendirian, bermandikan matahari, dan me* mimpikan kehidupan lain.

“Kasus pertama adalah Schneiter versus Magruder,” Spicer mengumumkan seolah persidangan antitrust besar akan dimulai.

“Schneiter tak ada di sini,” kata Beech.

“Di mana dia?”

“Klinik. Bam empedu lagi. Aku baru saja dari

sana.”

Hatlee Beech adalah anggota ketiga majelis. Dia sering berada di klinik karena penyakit bawasir, atau sakit kepala, atau pembengkakan kelenjar. Beech berusia 56 tahun, yang paling muda di antara mereka bertiga, dan karena masa hukumannya masih sembilan tahun lagi, dia yakin akan mati di penjara. Tadinya dia hakim federal di East Texas, seorang konservatif aliran keras yang tahu banyak tentang Alkitab dan senang mengutipnya dalam persidangan. Dulu dia punya ambisi-ambisi politik, keluarga bahagia, uang dari dana minyak keluarga istrinya. Dia juga punya masalah ketergantungan pada alkohol yang tidak diketahui siapa pun sampai dia menabrak dua pejalan kaki di Yellowstone. Kedua orang itu tewas. Mobil yang dikemudikan Beech milik seorang wanita muda yang bukan istrinya. Wanita itu ditemukan telanjang di kursi depan, mabuk berat sampai tidak bisa berjalan.

Mereka menjebloskannya ke penjara selama dua

betas tahun.

Joe Roy Spicer, Finn Yarber, Hatlee Beech. Pengadilan Rendah North Florida, lebih dikenal sebagai Majelis di Trumble, sebuah penjara federal berpengamanan minimum yang tanpa pagar, tanpa me-nara penjaga, tanpa kawat duri. Jika kau memang

harus dipenjara, lakukanlah dengan cara federal, dan lakukanlah di tempat seperti Trumble.

“Kita anggap dia kalah karena tak hadir?” tanya Spicer pada Beech.

Tidak, kita lanjutkan saja sampai minggu depan.”

“Oke. Kurasa dia toh tak bakal ke mana-mana.”

“Aku keberatan atas perpanjangan ini,” kata Magruder dari kerumunan.

“Sayang sekali,” kata Spicer. “Kasusnya dilanjutkan minggu depan.”

Magruder berdiri “Sudah tiga kali kasus ini diper-panjang. Aku penggugat. Aku menggugataya. Dia kabur ke klinik tiap kali kami akan disidangkan.”

“Apa sih yang kalian ributkan?” tanya Spicer.

“Tujuh belas dolar dan dua majalah,” T. Karl nimbrung.

“Sebanyak itu, hah?” kata Spicer. Tujuh belas dolar selalu bisa membuatmu digugat di Trumble.

Finn Yarber sudah bosan. Satu tangannya mengelus janggut berantakannya yang sudah beruban, dan tangannya yang lain mencakar permukaan meja. Lalu digeretakkannya jari-jari kakinya keras-keras, ditekuk-nya ke lantai dalam olahraga kecil dan efisien yang menenangkan saraf. Dalam kehidupannya yang lain, waktu masih punya gelarHakim Kepala Mahkamah Agung California, dia sering memimpin sidang dengan bersandal kulit, tanpa kaus kaki, sehingga bisa menggerakkan jari-jari kakinya selama adu argumentasi yang membosankan. “Lanjutkan,” katanya.

“Keadilan yang ditunda adalah keadilan yang diabaikan,” kata Magruder serius..

“Orisinal sekali,” kata Beech. “Seminggu lagi,

setelah itu baru kami nyatakan Schneiter kalah kalau tak hadir.”

“Begitulah putusannya,” kata Spicer, nada suaranya tuntas. T. Karl mencatat di buku. Magruder duduk dengan marah. Dia mengajukan gugatan ke Pengadilan Rendah ini dengan menyerahkan pada T. Karl satu halaman ringkasan mduhan-tuduhannya terhadap Schneiter. Hanya satu halaman. Majelis tidak suka bertele-tele. Sam halaman, maka kasusmu akan disidangkan. Schneiter membalas dengan enam halaman makian, semuanya dibabat T. Karl.

Peraturan-peraturannya sederhana saja. Pembelaan singkat. Tidak ada discovery pengumpulan informasi pihak lawan. Keadilan kilat. Putusan langsung, dan semua putusan mengikat jika kedua belah pihak tunduk pada yurisdiksi pengadilan. Tidak ada banding; tidak ada pengadilan yang lebih tinggi untuk mengajukan banding itu. Para saksi tidak disumpah untuk mengatakan yang sebenarnya. Kejujuran tidak diharapkan. Bagaimanapun, tempat ini kan penjara.

“Berikutnya apa?” tanya Spicer.

T. Karl ragu-ragu sedetik, kemudian menjawab, “Kasus Whiz.”

Sesaat tak ada yang bergerak, lalu kursi-kursi plastik kafeteria berderit-derit ketika ditarik ke depan. Para narapidana berlari sambil menyeret kursi masing-masing sampai T. Karl berteriak, “Sudah cukup dekat!” Mereka tidak sampai enam meter dari tempat duduk hakim.

“Kita harus menjaga kesopanan!” serunya.

Kasus Whiz sudah berbulan-bulan membusuk di Trumble. Whiz adalah bajingan muda Wall Street yang

telah menipu beberapa klien kaya. Empat juta dolar tidak pernah diketahui keberadaannya. Menurut legenda, Whiz menyimpannya di luar negeri dan mengelolanya dari dalam Trumble. Masa hukumannya enam tahun lagi, dan dia akan berumur hampir empat puluh waktu dibebaskan bersyarat nanti. Orang-orang berasumsi bahwa saat ini dia menjalani hukumannya dengan tenang sampai suatu hari penuh kejayaan ketika dia bebas, masih muda, dan terbang naik jet pribadi menuju suata pantai tempat uangnya sudah menunggu.

Di dalam, legenda tersebut terus berkembang, sebagian karena Whiz selalu menyendiri dan setiap hari selama berjam-jam mempelajari grafik finansial dan teknis serta membaca berbagai terbitan ekonomi yang sulit dipahami. Bahkan sipir pun pernah berusaha membujuknya supaya memberinya saran tentang pasar modal.

Seorang mantan pengacara yang dikenal sebagai Rook en tab. bagaimana bisa mendekati Whiz, dan entah bagaimana berhasil meyakinkannya untuk memberi sepotong nasihat bagi klub investasi kecil yang berkumpul seminggu sekali di kapel penjara. Atas nama klub itu, Rook sekarang menggugat Whiz karena penipuan.

Rook duduk di kursi saksi, dan memulai narasinya. Berbagai peraturan biasa tentang prosedur dan bukti ditiadakan supaya kebenaran bisa diperoleh dengan cepat, apa pun bentuknya.

“Jadi aku mendatangi Whiz dan kutanya pendapatnya tentang ValueNow, perusahaan online baru yang kubaca di Forbes” Rook menjelaskan. “Perusahaan itu akan go public, dan aku menyukai ide di balik

perusahaan itu. Whiz bilang dia akan menyelidikinya untukku. Aku tak mendapat kabar apa pun. Jadi kudatangi lagi dia dan berkata, ‘Hei, Whiz, bagaimana dengan ValueNow?’ Dan dia bilang menurutnya itu perusahaan yang solid dan sahamnya akan membubung.”

“Aku tak bilang begitu,” sela Whiz cepat. Dia duduk di seberang ruangan, sendirian, lengannya terlipat di kursi di depannya.

“Kau bilang begitu.”

“Tidak.”

“Yah, aku kembali ke klub dan memberitahu mereka bahwa Whiz mendukung pembelian itu, jadi’ kami putuskan ingin membeli saham ValueN#w. Tapi orang-orang kecil tak bisa membeli karena penawaran sudah ditutup. Aku kembali ke Whiz di sana itu dan kubilang, ‘Dengar, Whiz, kau bisa bicara dengan teman-temanmu di Wall Street dan membelikan kami beberapa saham ValueNow?’ Dan Whiz menjawab rasanya dia bisa berbuat begitu,”

“Bohong,” kata Whiz.

“Diam,” kata Hakim Spicer. “Kau nanti akan mendapat kesempajan bicara juga.”

“Dia bohong,” kata Whiz, seolah ada peraturan yang melarang hal itu,

Kalau Whiz benar punya uang, kau takkan pernah mengetahuinya, paling tidak bukan di dalam. Selnya yang berukuran 2,4 kali 3,6 meter puma berisi tumpukan-tumpukan terbitan finansial. Tidak ada stereo, kipas angin,- buku, rokok, tidak ada aset yang biasa dimiliki hampir semua orang. Ini membuat legendanya makin hebat. Dia dianggap kikir, manusia

aneh yang menabung setiap sen uangnya dan pasti menyimpan semuanya di luar negeri.

“Begitulah.” lanjut Rook, “kami memutuskan untuk mengadu untung dengan mengambil posisi besar di ValueNow. Strategi kami adalah melikuidasi saham-saham kami dan berkonsolidasi.”

“Konsohdasi?” tanya Hakim Beech. Omongan Rook seperti omongan manajer portfolio yang menangani uang miliaran.

‘Tepat, konsohdasi. Kami meminjam sebanyak-banyaknya dari teman dan keluarga, dan memperoleh hampir seribu dolar.”

“Seribu dolar,” ulang Hakim Spicer. Lumayan untuk pekerjaan di dalam. “Lalu apa yang terjadi?”

“Kuberitahu si Whiz di sana itu bahwa kami siap bergerak. Bisakah dia membelikan kami saham itu? Ini terjadi hari Selasa. Penawarannya hari Jumat. Whiz bilang tak ada masalah. Katanya dia punya teman di Goldman Sux atau suatu tempat seperti itu yang bisa membantu kami.”

“Bohong,” tukas Whiz dari seberang ruangan.

“Begitulah, hari Rabu aku melihat Whiz di halaman timur, dan kutanya dia tentang saham tersebut. Dia bilang tak ada masalah.”

“Bohong.”

“Aku punya saksi.”

“Siapa?” tanya Hakim Spicer.

“Picasso.”

Picasso duduk di belakang Rook, juga keenam anggpta lain klub investasi. Dengan enggan Picasso melambaikan tangan.

“Betul?” tanya Spicer.

“Yep,” jawab Picasso. “Rook bertanya tentang saham. Whiz bilang dia akan mendapatkannya. Tak ada masalah.”

Picasso bersaksi dalam banyak kasus, dan lebih sering ketahuan berbohong daripada para narapidana lain.

“Lanjutkan,” kata Spicer.

“Begitulah, hari Kamis aku tak bisa menemukan Whiz di mana pun. Dia sembunyi dariku.” “Tidak.”

“Jumat, sahamnya go public. Saham itu ditawarkan seharga dua puluh per saham, harga yang sanggup kami beli kalau saja Mr. Wall Street di sana itu menepati janjinya. Harga pembukaannya enam puluh, hampir sepanjang hari delapan puluh, lalu ditutup pada tujuh puluh. Rencana kami adalah menjualnya secepat mungkin. Kami bisa membeli lima puluh saham pada harga dua puluh, menjualnya pada harga delapan puluh, dan memperoleh keuntungan tiga ribu dolar dari transaksi itu.”

Kekerasan sangat jarang terjadi di Trumble. Tiga ribu dolar tidak akan membuatmu terbunuh, tapi beberapa tulang mungkin bakal patah. Whiz mujur sejauh ini. Serangan belum dilancarkan.

“Dan menurutmu Whiz berutang padamu sebanyak keuntungan yang hilang ini?” tanya mantan Hakim Ketua Finn Yarber, sekarang mencabuti alis.

“Tepat sekali. Dengar, yang membuat urusan ini makin busuk adalah Whiz membeli ValueNow untuk dirinya sendiri.”

“Tahi kucing,” kata Whiz.

“Tolong bahasanya,” .kata Hakim Beech. Kalau

kau ingin kalah sebelum disidangkan Majelis, bikin saja Beech marah dengan bahasa kasar.

Gosip bahwa Whiz membeli saham itu untuk dirinya sendiri dibuat oleh Rook dan gengnya. Tidak ada bukti tentang hal itu, namun beritanya ternyata menarik minat dan begitu sering diulang-ulang sebagian besar narapidana sehingga sekarang berubah jadi fakta. Gosip itu pas sekali dengan kondisi yang ada.

“Itu saja?” tanya Spicer pada Rook.

Rook sebetulnya masih ingin menyampaikan hal-hal lain, namun Majelis tidak sabar menghadapi orang-orang yang banyak omong. Terutama mantan pengacara yang mengenang masa jayanya. Paling tidak ada lima mantan pengacara di Trumble, dan mereka rasanya selalu punya kasus untuk disidangkan.

“Kurasa,” jawab Rook.

“Bagaimana tanggapanmu?” tanya Spicer pada Whiz.

Whiz berdiri dan maju beberapa langkah mendekati meja mereka. Dia melotot pada para penuduhnya, Rook dan geng pecundangnya. Lalu dia berbicara pada Majelis, “Seberapa kekuatan bukti di sini?”

Hakim Spicer cepat-cepat menunduk dan menunggu bantuan. Sebagai Hakim Perdamaian, dia tidak memiliki pendidikan hukum. Dia tidak pernah lulus sekolah menengah, kemudian bekerja selama dua puluh tahun di toko ayahnya. Gara-gara itulah dia terpilih. Spicer mengandalkan akal sehat, yang sering bertentangan dengan hukum. Semua pertanyaan yang berhubungan dengan teori hukum akan ditangani ke-dua koleganya.

“Apa pun yang kami katakan,” kata Hakim Beech,

‘senang ada kesempatan memperdebatkan peraturan pengadilan tentang prosedur dengan pialang saham.

“Bukti jelas dan meyakinkan?” tanya Whiz.

“Bisa saja, tapi tidak dalam kasus ini.”

“Tanpa keraguan?”

“Mungkin tidak.”

“Bukti yang lebih banyak?”

“Lebih mendekati.”

“Kalau begitu, mereka tak punya bukti,” kata Whiz, melambaikan tangan seperti aktor jelek dalam drama TV jelek.

“Bagaimana kalau kauceritakan saja versimu pada kami?” Beech mengusulkan.

“Dengan senang hati. ValueNow adalah penawaran online biasa, banyak omong kosong, banyak fakta yang melebih-lebihkan. Rook memang mendatangiku, tapi ketika aku bisa menelepon, penawaran sudah ditutup. Aku menghubungi teman yang memberitahuku bahwa orang-orang tak bisa mendekati §aham tersebut. Bahkan yang kelas kakap pun ditolak.”

“Nah, kenapa bisa begitu?” tanya Hakim Yarber.

Ruangan senyap. Whiz sedang bicara soal uang, dan semua orang mendengarkan.

“Sering terjadi di IPO. Itu artinya penawaran publik awal.”

“Kami tahu IPO itu apa,” tukas Beech.

Spicer jelas tidak. Tidak banyak yang seperti itu di pedalaman Mississippi sana.

Whiz rileks, sedikit. Dia bisa memesona mereka beberapa lama, memenangkan kasus menjengkelkan Śini, lalu kembali ke guanya dan mengabaikan mereka.

“IPO ValueNow ditangani biro perbankan investasi

bemama Bakm-Kline, sebuah perusahaan kecil di” San Francisco. Lima juta saham ditawarkan. Bakin-Kline pada dasarnya menjual duluan saham itu pada para pelanggan isrimewa dan teman, sehingga sebagian besar biro investasi besar tak punya kesempatan membelinya. Itu sering terjadi.”

Para hakim dan narapidana, bahkan si petugas pengadilan, mendengarkan setiap patah kata dengan cermat.

Dia melanjutkan, “Konyol kalau ada yang mengira seorang mantan pengacara tolol di dalam penjara, yang membaca Forbes lama, entah bagaimana bisa membeli saham ValueNow senilai seribu dolar.”

Saat ha hal tersebut memang terasa sangat konyol. Rook merah padam, sementara anggota-anggota klub-nya dalam had menyalahkan dia. “Apakah kau membeli saham itu?” tanya Beech. Tentu saja tidak. Mendekatinya saja aku tak bisa. Lagi |jula, mayoritas perusahaan-perusahaan teknologi tinggi dan online didirikan dengan uang palsu. Aku tak man berurusan dengan perusahaan seperti itu.”

“Apa yang lebih kausukai?” tanya Beech cepat-cepat, rasa ingin tahunya menang.

“Nilai. Keuntungan jangka panjang. Aku toh tak bum-bum. Dengar, ini kasus mengada-ada yang dibuat oleh orang-orang yang ingin memperoleh uang dengan gampang.” Dia melambai ke arah Rook, yang duduk merosot di kursi. Omongan Whiz terdengar seratus persen bisa dipercaya dan logis.

Kasus Rook didasarkan pada desas-desus, spekulasi, dan kerja sama dengan Picasso, orang yang sudah terkenal sering bohong.

“Kau punya saksi?” tanya Spicer.

“Tak perlu,” sahut Whiz dan ia duduk kembali.

Masing-masing hakim menuliskan sesuatu di secarik kertas. Pertimbangan dilakukan secara kilat, putusan diambil seketika. Yarber dan Beech menyodorkan kertas mereka pada Spicer, yang mengumumkan, “Dengan suara dua banding satu, kami memenangkan tergugat. Kasus ditutup. Siapa berikutnya?”

Piitusannya sebetulnya bulat, namun setiap putusan secara resmi diambil dengan suara dua banding satu. Itu membuat mereka bertiga bisa berkelit jika belakangan dikonfrontasi.

Tapi Majelis cukup disegani di Trumble. Putusan-putusan mereka cepat dan seadil yang bisa mereka ambil. Malah, putusan-putusan itu luar biasa akurat kalau mengingat kesaksian lemah yang sering mereka dengar. Selama bertahun-tahun Spicer memimpin persidangan kasus-kasus kecil, di bagian belakang toko keluarganya. Dari jarak 15 meter saja dia bisa tahu jika seseorang berbohong. Beech dan Yarber menjalani karier mereka di ruang sidang, dan tidak bisa mentolerir argumen bertele-tele dan penundaan, taktik yang biasa dipakai.

“Sekian untuk hari ini,” T. Karl melaporkan. “Akhir acara persidangan.”

“Baiklah. Sidang ditunda sampai minggu depan.” T. Karl melompat berdiri, wig ikalnya terpantul-pantul di bahu, dan bersem, “Sidang ditunda. Semua harap berdiri.”

Tak ada yang berdiri, tak ada yang bergerak waktu Majelis meninggalkan ruangan. Rook dan gengnya

herkumpul pasti tengah merencanakan tuntutan hukum mereka berikutnya. Whiz cepat-cepat pergi.

Asisten sipir dan penjaga menymgkir tanpa nbut-ribut. Pengadilan mingguan ini termasuk salah satu pertunjukan menarik di Trumble.

Dua

MESKIPUN sudah empat belas tahun di Kongres, Aaron Lake masih mengemudikan sendiri mobilnya di Washington. Dia tidak membutuhkan atau menginginkan sopir, atau ajudan, atau pengawal. Kadang-kadang seorang pegawai magang ikut dalam mobilnya dan mencatat omongannya, namun Lake lebih sering menikmati suasana tenang ketika mengarungi lalu lintas D.C. sambil mendengarkan gitar klasik di stereo. Banyak temannya, terutama yang telah mencapai status Ketua atau Wakil Ketua, memiliki mobil yang lebih besar lengkap dengan sopir. Beberapa bahkan punya limusin.

Lake tidak. Itu cuma buang-buang waktu, uang, dan privasi. Jika suatu saat nanti dia punya jabatan yang lebih tinggi, dia jelas tidak bakal mau dibebani sopir. Lagi pula, dia senang sendirian. Kantornya ramai seperti pasar. Lima belas pegawai berlarian ke sana kemari, menjawab telepon, membuka arsip, melayani orang-orang di Arizona sana yang telah mengirimkannya ke Washington sini. Dua orang lagi tidak melakukan apa-apa selain mengumpulkan dana. Tiga-pegawai magang berhasil membuat koridor-koridor sempit kantomya bertambah sesak dan me-nyita waktunya lebih banyak daripada yang pantas mereka dapatkan.

Dia bujangan, duda, dengan townhouse kecil yang . tua tapi menarik di Georgetown yang sangat disukainya. Dia tinggal dengan tenang, sesekali ikut kegiatan sosial yang menarik minatnya dan mendiang istrinya di tahun-tahun awal.

Dia menyusuri Beltway, lalu lintas lambat dan hati-hati karena hujan salju. Dengan cepat dia melewati pemeriksaan keamanan CIA di Langley, dan sangat senang melihat ada tempat parkir disediakan khusus untuknya, juga dua petugas keamanan berpakaian sipil.

“Mr. Maynard sudah menunggu,” kata salah seorang dari mereka dengan serius, membukakan pintu mobil sementara yang seorang lagi membawakan tas kerjanya. Kekuasaan temyata ada untungnya.

Lake belum pernah bertemu Direktur CIA tersebut di Langley. Mereka pernah dua kali berbincang-bincang di Hill, bertahun-tahun lalu, waktu orang malang itu masih bisa berjalan. Teddy Maynard sekarang hams menggunakan kursi roda dan selalu kesakitan, dan bahkan para senator pun terpaksa pergi ke Langley setiap dia membutuhkan mereka. Dia menelepon Lake enam kali dalam empat belas tahun, namun Maynard memang orang sibuk. Urusan-umsan sepelenya biasanya ditangani para associate.

Barikade-barikade keamanan disingkirkan di sekeliling anggota Kongres itu waktu dia dan kedua pendampingnya memasuki labirin markas besar CIA. Ketika Lake tiba di suite Mr. Maynard, dia berjalan

lebih tegap, dengan gaya lebih mantap. Dia tidak bisa mencegahnya. Kekuasaan memabukkan. Teddy Maynard memintanya datang.

Di dalam ruangan, tempat luas, persegi, tanpa jendela yang secara tidak resmi dikenal sebagai bungker, Direktur duduk sendirian, menatap kosong layar besar yang menampilkan wajah Congressman Aaron Lake. Foto itu bam, diambil pada acara jamuan pengumpulan dana tiga bulan lalu di mana Lake minum setengah gelas anggur, makan ayam panggang, tanpa hidangan penutup, pulang dengan mengemudikan sendiri mobilnya, sendirian, dan naik ke tempat tidur sebelum pukul 23.00. Foto itu memikat karena Lake begitu menarikrambut kemerahan nyaris tanpa uban, tidak dicat, dan lebat, serta mata biru tua, dagu persegi, gigi yang sangat bagus. Dia berusia 53 tahun dan kondisinya sangat fit. Setiap hari dia berolahraga dengan alat rowing selama tiga puluh menit dan tingkat kolesterolnya 160. Mereka tidak menemukan satu pun kebiasaan buruk. Dia suka ditemani wanita, khususnya jika haras tampil bersama wanita. Kekasih tetapnya adalah janda berusia enam puluh tahun di Bethesda yang almarhum suaminya menghasilkan banyak uang sebagai pelobi.

Kedua orangtuanya sudah meninggal. Anak tunggalnya bekerja sebagai guru sekolah di Santa ‘ Fe. Istrinya yang mendampinginya selama 29 tahun meninggal tahun 1996 karena kanker indung telur. Setahun kemudian, anjing spaniel-nya yang berumur tiga belas tahun juga mati, maka Congressman Aaron Lake dari Arizona akhirnya betul-betul tinggal sendirian. Dia Katolik. meskipun itu tidak penting lagi, dan menghadiri misa sedikitnya seminggu sekali. Teddy menekan tombol dan wajah itu pun lenyap.

Lake tidak dikenal di luar Beltway, terutama karena dia bisa mengontrol egonya. Jika dia memang punya keinginan untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi, keinginan tersebut disembunyikannya rapat-rapat. Namanya pernah disebut-sebut sebagai kandidat potensial untuk gubemur Arizona, tapi dia terlalu menyukai Washington. Dia sangat suka Georgetown penduduknya, lingkungannya yang anonim, kehidupan kotanyabanyak restoran bagus, toko buku lengkap, dan bar espresso. Dia senang teater dan musik, dia dan mendiang istrinya tidak pernah melewatkan acara di Kennedy Center.

Di Hill, Lake dikenal sebagai anggota Kongres yang cerdas dan bekerja keras. Dia juga pandai bicara, sangat jujur, dan loyal, jarang berbuat salah. Karena distriknya tempat empat kontraktor pertahanan besar, dia jadi ahli dalam bidang perangkat keras dan kesiapan militer. Dia Ketua House Committee on Armed ServicesKomite Angkatan Bersenjata, dan dalam kapasitas italah dia jadi bisa mengenal Teddy Maynard.

Teddy menekan tombol lagi, dan tampaklah wajah Lake. Untuk ukuran veteran perang intelijen berusia lima puluh tahun, Teddy jarang menderita mulas-mulas. Dia berhasil menghindari peluru, bersembunyi di kolong jembatan, kedinginan di pegunungan, me-racuni dua mata-mata Chechnya, menembak seorang pengkhianat di Bonn, mempelajari tujuh bahasa, bertempur dalam Perang Dingin, mencoba mencegah

perang berikutnya, memiliki lebih banyak petualangan

daripada sepuluh agen disatukan, namun ketika memandang wajah polos Congressman Aaron Lake dia

merasa mulas.

DiaCIAakan melakukan sesuaru yang belum pernah dilakukan badan tersebut.

Mereka mulai dengan 100 senator, 50 gubemur, 435 anggota Kongres, semua calon potensial, dan sekarang tinggal satu. Aaron Lake dari Arizona

Teddy menekan tombol dan dinding jadi kosong. Kakinya tertutup selimut guilt. Dia mengenakan pakaian yang sama setiap harisweter biru laut berkerah V, kemeja putih, dasi kupu-kupu warna tenang. Di-dorongnya kursi rodanya ke tempat di dekat pintu, dan bersiap-siap menemui kandidatnya.

Selama delapan menit menunggu, Lake diberi kopi dan ditawari kue, yang ditolaknya. Tinggi badannya 1,8 meter lebih, beratnya 85 kilogram, dan dia kritis dalam hal penampilannya. Kalau tadi dia mengambil kue, Teddy akan terkejut. Sepanjang pengetahuan mereka, Lake tidak pernah makan gula. Tidak pernah.

Tapi kopinya pekat, dan sambil menyesapnya dia menganalisis riset kecilnya sendiri. Tujuan pertemuan ini adalah untuk membahas mengalimya persenjataan pasar gelap yang sudah mencapai tahap mengkhawatirkan ke negara-negara Balkan. Lake punya dua memo, data delapan puluh halaman berspasi ganda yang dibacanya sampai pukul 02.00 tadi pagi. Dia tidak tahu pasti mengapa Mr. Maynard ingin dia datang ke Langley untuk membicarakan masalah seperti itu, namun dia bertekad mempersiapkan diri.

Dengung lembut terdengar, pintu terbuka, dan Direktur OA meluncur keluar, berselimut quilt dan tampak setua usianya yang 74 tahun. Namun jabatan tangannya masih mantap. barangkali karena dia selalu mendorong kursi rodanya sendiri. Lake mengikutinya kembali ke dalam ruangan, meninggalkan dua anjing penjaga lulusan college tadi untuk menjaga pintu.

Mereka duduk berhadap-hadapan, berseberangan di meja sangat panjang yang mencapai ujung ruangan tempat dinding putih besar berfungsi sebagai layar. Setelah pendahuluan singkat, Teddy menekan tombol, dan tampak wajah seseorang. Tombol lain, dan lampu-lampu meredup. Lake sangat menyukainyatekan tombol-tombol kecil, gambar-gambar teknologi tinggi pun muncul. Ruangan ini pasti penuh peralatan elektronik sehingga detak jantungnya bisa didengar dari jarak sembilan meter.

“Anda kenal dia?” tanya Teddy.

“Mungkin. Rasanya saya pernah melihat wajah ini.”

“Dia Natli Chenkov. Mantan jenderal. Sekarang anggota sisa-sisa parlemen Rusia.”

“Juga dikenal sebagai Natty,” kata Lake bangga.

“Dialah orangnya. Komunis garis keras, dekat dengan militer, otak brilian, ego besar, sangat ambisius, tak kenal ampun, dan saat ini orang paling berbahaya di dunia.”

I “Yang itu saya tidak tahu “

Bunyi felik* wajah lagi, kali ini berekspresi beku di bawah topi parade militer mencolok. “Ini Yuri Goltsin, orang kedua di sisa-sisa angkatan bersenjata Rusia. Chenkov dan GoHsin punya rencana-rencana

besar.” Bunyi klik lagi, peta sepotong daerah Rusia di utara Moskow. “Mereka mengumpulkan senjata di area ini,” Teddy memberitahu. “Mereka sebetulnya mencurinya dari mereka sendiri, menjarah angkatan bersenjata Rusia, tapi, dan yang lebih penting, mereka membelinya di pasar gelap.”

“Dari mana uang mereka?”

“Dari mana-mana. Mereka barter minyak dengan radar Israel. Mereka menyelundupkan obat bius dan membeli tank-tank Cina melalui Pakistan. Chenkov dekat dengan beberapa mafia, salah seorang di antaranya baru-baru ini membeli sebuah pabrik di Malaysia tempat mereka tak membuat apa pun selain senapan serang. Rencana mereka sangat hebat. Chenkov punya otak, IQ-nya sangat tinggi. Dia mungkin jenius.”

Teddy Maynard sendiri jenius, jadi kalau dia mengatakan orang lain seperti itu, Congressman Lake percaya seratus persen. “Jadi, siapa yang diserang?”

Teddy mengabaikan pertanyaan tersebut, karena belum ingin menjawabnya. “Lihat kota Vologda. Letaknya sekitar delapan ratus kilometer di timur Moskow. Minggu lalu kami membuntuti enam puluh Vetrov menuju ke sebuah gudang di sana. Seperti yang Anda ketahui, Vetrov

“Sama dengan Tomahawk Cruise kita, tapi setengah meter lebih panjang.”

“Tepat. Itu berarti sudah tiga ratus yang mereka masukkan selama sembilan puluh hari terakhir. Lihat kota Rybinsk, di utara Vologda itu?”

“Dikenal karena plutoniumnya.”

“Ya, berton-ton. Cukup untuk membuat sepuluh

ribu hulu ledak. Chenkov dan Goltsin serta orang-orang mereka menguasai seluruh area.” “Menguasai?”

“Ya, melalui jaringan mafia setempat dan unit-unit tentara lokal. Chenkov menempatkan orang-orangnya.”

“Menempatkan untuk apa?”

Teddy menekan tombol dan layar jadi kosong. Namun Iampu-lampu tetap redup, sehingga ketika bicara dari seberang meja, dia nyaris tenggelam dalam bayang-bayang. “Kudeta akan dilakukan tak lama lagi, Mr. Lake. Ketakutan-ketakutan kita yang paling buruk akan jadi kenyataan. Setiap aspek masyarakat dan budaya Rusia goyah dan ambruk. Demokrasi cuma lelucon. Kapitalisme merupakan mimpi buruk. Kita mengira kita bisa me-McDonald-kan tempat itu, dan yang terjadi ternyata bencana. Para pekerja tidak dibayar, dan mereka beruntung karena masih memiliki pekerjaan. Dua puluh persen tidak. Anak-anak sekarat karena tidak ada obat. Begitu juga banyak orang dewasa. Sepuluh persen dari populasi tidak punya rumah. Dua puluh persen kelaparan. Makin hari keadaan makin memburuk. Negara itu dijarah mafia-mafia. Kami berpendapat paling tidak 500 miliar dolar telah dicuri dan dibawa ke luar negeri. Tidak tampak tanda-tanda perbaikan. Waktunya tepat untuk kemunculan orang kuat baru, diktator baru yang akan berjanji untuk membawa kestabilan kembali. Negara itu membutuhkan pemimpin, dan Mr. Chenkov telah memutuskan dialah orangnya.”

“Dan dia punya tentara.”

“Dia punya tentara, dan cuma itu yang diperlukan. Kudetanya takkan berdarah karena orang-orang sudah

siap menyambutnya. Mereka akan memeluk Chenkov. Dia akan memimpin parade ke Lapangan Merah dan menantang kita, Amerika Serikat, untuk menghalangi-nya. Kita akan jadi pihak yang jahat lagi.”

“Jadi, Perang Dingin terjadi lagi,” kata Lake, kata-katanya makin pelan.

“Perangnya tidak bakal dingin. Chenkov ingin melakukan ekspansi, mengembalikan Uni Soviet lama. Dia sangat membutuhkan uang, jadi diambilnya saja dari tanah, pabrik, minyak, hasil panen. Dia akan mulai dengan perang-perang regional kecil, yang dengan mudah akan dimenangkannya.” Muncul peta lain. Fase Pertama orde dunia bam dipampangkan di hadapan Lake. Teddy tidak melewatkan satu patah kata pun. “Saya menduga dia akan melindas negara-negara Baltik, menggulingkan pemerintahan di Estonia, Latvia, Lithuania, dan seterusnya. Kemudian dia akan pergi ke blok Timur lama dan membuat kesepakatan dengan beberapa negara Komunis di sana.”

Anggota Kongres itu terpana ketika mengamati Rusia berekspansi. Ramalan Teddy begitu yakin, begitu persis.

“Bagaimana dengan Cina?” tanya Lake.

Tapi Teddy belum selesai dengan Eropa Timur. Dia menekan tombol; peta berubah. “Di sinilah kita tersedot.”

“Polandia?”

“Yep. Selalu demikian. Polandia sekarang anggota NATO, entah kenapa bisa begitu. Coba bayangkan. Polandia ikut untuk membantu melindungi kita dan Eropa. Chenkov menyatukan wilayah Rusia lama,

dan memandang ke barat dengan penuh minat. Sama seperti Hitler, hanya saja dia memandang ke timur.” “Kenapa dia menginginkan Polandia?” “Kenapa Hitler dulu menginginkan Polandia? Negara itu terletak di antara dirinya dan Rusia. Dia benci orang-orang Polandia, dan dia siap mengobarkan perang. Chenkov sama sekali tak memedulikan Polandia, cuma ingin menguasainya. Dan dia ingin menghancurkan NATO.” “Dia tak takut dengan risiko Perang Dunia Ketiga?” Tombol-tombol ditekan; layar kembali jadi dinding; lampu-lampu menyala. Sesi audiovisual selesai dan sekarang waktunya untuk perbincangan yang lebih serius lagi. Kaki Teddy terasa seperti dimsuk, dan dia terpaksa mengernyit.

“Saya tak bisa menjawabnya,” katanya. “Kami tahu banyak, tapi tak tahu apa yang dipikirkan laki-laki itu. Dia bergerak diam-diam, menempatkan orang-orang, menyiapkan segala sesuatunya. Anda tahu, ini sama sekali bukan kejutan.”

“Tentu. Selama delapan tahun terakhir, kita sudah mengetahui banyak skenario seperti ini, tapi selalu ada harapan itu takkan terjadi.”

“Sekarang terjadi, Congressman. Chenkov dan Goltsin tengah melenyapkan musuh-musuh mereka saat kita bicara ini.”

“Bagaimana perkiraan waktunya?” Dia bergerak lagi di balik guilt, mencoba posisi lain untuk menghentikan rasa sakit. “Sulit mengatakannya. Kalau dia pintar, yang sudah jelas begitulah akan menunggu sampai terjadi huru-hara

di jalanan. Menurut saya, setahun lagi Natty Chenkov akan jadi orang paling terkenal sedunia.”

“Setahun,” kata Lake pada dirinya sendiri, seolah bam saja dijatuhi hukuman mati.

Suasana hening hingga lama sementara dia merenungkan akhir dunia. Teddy sengaja membiarkannya. Perasaan mulas di perut Teddy sudah jauh berkurang sekarang. Dia sangat menyukai Lake. Pria itu ternyata memang sangat tampan, pandai bicara, dan cerdas. Pilihan mereka tepat.

Pria itu pantas dipilih.

Setelah minum kopi dan telepon yang hams diterima Teddydari Wakil Presidenmereka melanjutkan perbincangan. Anggota Kongres itu senang Teddy punya begitu banyak waktu untuknya. Rusia akan menyerbu, namun Tedd

“Saya tak perlu memberitahu Anda betapa tak siapnya militer kita,” katanya muram.

“Tak siap untuk apa? Perang?”

“Mungkin. Kalau tak siap, kita akan menghadapi perang. Kalau kuat, kita menghindari perang. Saat ini Pentagon tak bisa mengulangi tindakannya dalam Perang Teluk tahun 1991.”

“Kita unggul tujuh puluh persen,” kata Lake mantap. Ini bagiannya.

‘Tujuh puluh persen akan membuat kita berperang, Mr. Lake. Perang yang tak bisa kita menangkan. Chenkov menghabiskan setiap sen yang bisa dicurinya untuk membeli perangkat keras baru. Kita memotong anggaran dan memangkas militer lata. Kita ingin menekan tombol-tombol dan meluncurkan berbagai

bom pintar supaya tak setitik pun darah orang Amerika tumpah. Chenkov akan memiliki dua juta tentara lapar, siap untuk bertempur dan mati kalau perbx”

Sesaat Lake bangga. Dia punya nyali untuk memberikan suara menentang kesepakatan anggaran terakhir, karena anggaran itu mengurangi pengeluaran militer. Orang-orang di kampung halamannya gusar karena tindakannya itu. “Tak bisakah Anda membeberkan Chenkov sekarang?” dia bertanya.

“Tidak. Sama sekali tak bisa. Kita memiliki intelijen luar biasa. Jika kita bereaksi terhadap orang itu, dia akan tahu bahwa kita tahu. Ini permainan spionase, Mr. Lake. Terlalu dini untuk membuatnya jadi monster.”

“Jadi apa rencana Anda?” tanya Lake berani. Menanyai Teddy soal rencananya merupakan perbuatan lancang. Pertemuan ini telah mencapai tujuannya. Satu lagi anggota Kongres telah diberitahu secukup-nya. Setiap saat Lake bisa diminta pergi supaya ketua komite umsan lain bisa dipersilakan masuk.

Tapi Teddy punya rencana-rencana besar, dan ingin menceritakannya. “Pemilihan pendahuluan New Hampshire tinggal dua minggu lagi. Kita punya empat orang Partai Republik dan tiga Demokrat yang mengatakan hal yang sama. Tak satu kandidat pun ingin menaikkan anggaran belanja pertahanan. Kita punya surplus anggaran, keajaiban besar, dan semua orang punya ratusan ide tentang cara menghabiskannya. Dasar orang-orang tolol. Baru beberapa tahun lalu kita mengalami defisit anggaran raksasa, dan enghabiskan uang luar biasa cepat.

Sekarang ada surplus. Mereka menyikatnya dengan rakus.”

Congressman Lake membuang muka sedetik, lalu memumskan untuk tidak menanggapinya.

“Maaf atas perkataan saya barusan,” kata Teddy, menahan diri. “Kongres secara keseluruhan tidak bertanggung jawab, namun kita memiliki banyak anggota Kongres yang andal.”

“Anda tak perlu memberitahu saya.”

“Begitulah, arena penuh sesak dengan gerombolan badut. Dua minggu lalu kita memiliki kandidat-kan-didat berbeda. Mereka saling menjelekkan dan menyerang, semua gara-gara negara bagian ke-44 terbesar. Konyol.” Teddy diam sebentar, mengernyit, dan bemsaha menggerakkan kakinya yang lumpuh. “Kami membutuhkan orang bam, Mr. Lake, dan kami pikir Andalah orang tersebut.”

Reaksi pertama Lake adalah menahan tawa, yang dilakukannya dengan tersenyum, lalu batuk. Dia berusaha menenangkan diri, dan berkata, “Anda pasti bercanda.”

“Anda tahu saya tidak bercanda, Mr. Lake,” tukas Teddy tegas, dan tidak ada keraguan bahwa Aaron Lake telah masuk perangkap yang disiapkan dengan baik.

Lake berdeham dan selesai menenangkan diri. “Baiklah, saya mendengarkan.”

“Rencananya sangat sederhana. Kesederhanaannya im membuatnya jadi indah. Anda sudah terlambat untuk mengikuti New Hampshire, lagi pula itu tak penting. Biarkan orang-orang im berkelahi di sana.

Tunggu sampai pemilihan itu selesai, lalu kejutkan semua orang dengan mengumumkan pencalonan Anda menjadi presiden. Banyak yang akan bertanya, ‘Siapa sih Aaron Lake?’ Dan itu tidak apa-apa. Itu yang kami inginkan. Mereka akan segera mengetahuinya.

“Pada awalnya, platform Anda cuma terdiri atas satu hal. Anggaran belanja militer. Anda sang paranormal, dengan segala macam ramalan mengerikan tentang betapa makin lemahnya militer kita. Anda akan menarik perhatian semua orang ketika meminta anggaran belanja militer kita dilipatgandakan.”

“Dilipatgandakan?”

“BetuL kan? Anda jadi tertarik. Lipat gandakan dalam masa jabatan empat tahun Anda.”

‘Tapi kenapa? Kita membutuhkan lebih banyak anggaran belanja militer, tapi peningkatan dua kali lipat akan berlebihan.”

Tidak jika kita menghadapi perang, Mr. Lake. Perang di mana kita menekan tombol dan meluncurkan ribuan misil Tomahawk, sejuta dolar sekali Jneledak. Sialan, kita nyaris kehabisan misil tahun lalu dalam kekacauan di Balkan. Kita tak punya cukup tentara, pelaut, dan pilot, Mr. Lake. Anda tahu ini. Militer memerlukan sangat banyak uang untuk merekrut anak-anak muda. Kita kekurangan segala haltentara, misil, tank, pesawat, pengangkut. Chenkov mengumpulkan kekuatan sekarang. Kita tidak. Kita masih berhemat, dan kalau kita terns melakukannya pada pemerintahan yang akan datang, kita akan mampus.”

Suara Teddy meninggi, hampir mar ah, dan ketika dia berhenti setelah mengatakan “kita akan mampus”,

Aaron Lake nyaris bisa merasa tanah bergetar karena

ledakan bom.

“Dari mana uangnya?” dia bertanya.

“Uang untuk apa?”

“Militer.”

Teddy mendengus kesal, lalu berkata, “Dari tempat yang sama dengan selama ini. Perlukah saya mengingatkan Anda, Sir, bahwa kita mengalami surplus?”

“Kami kan sibuk menghabiskan surplus im.”

“Tentu saja. Dengar, Mr. Lake, jangan khawatirkan uang. Tak lama setelah Anda mengumumkan, kami akan membuat rakyat Amerika ketakutan setengah mati. Mula-mula mereka akan menganggap Anda gila, si sinting dari Arizona yang ingin membuat lebih banyak bom. Tapi mereka akan kami sentakkan. Kami akan menciptakan krisis di bagian lain dunia, dan tiba-tiba Aaron Lake akan disebut orang yang punya visi. Pengaturan waktu sangat penting. Anda berpidato tentang betapa lemah kita di Asia, hanya sedikit yang mendengarkan. Lalu kami ciptakan situasi di sana yang menggegerkan dunia, dan tiba-tiba semua orang ingin bicara dengan Anda. Kejadiannya. akan terns seperti itu, selama kampanye. Kami akan meningkatkan ketegangan di ujung sini. Akan kami buat laporan, menciptakan situasi, memanipulasi media, mempermalukan lawan-lawan Anda. Terns terang, Mr. Lake, saya rasa perkembangannya takkan sampai seburuk im.”

“Kedengarannya Anda sudah pernah melakukannya.”

“Tidak. Kami pernah melakukan beberapa tindakan yang tak biasa, semua dalam rangka melindungi

negara kita. Tapi kami tidak pernah mencoba mempengaruhi pemilihan presiden,” Teddy berkata dengan nada menyesal.

Lake pelan-pelan mendorong kursinya ke belakang, berdiri, meregangkan lengan dan kaki, lalu berjalan di sepanjang meja menuju ke ujung ruangan. Kakinya terasa lebih berat Jantungnya berdebar-debar. Perangkap telah dipasang; dia kena.

Dia kembali ke kursinya. “Saya tak punya cukup uang,” dia mencoba-coba dari seberang meja. Dia tahu ucapannya im ditujukan pada orang yang sudah mengantisipasi persoalan tersebut.

Teddy tersenyum dan mengangguk serta pura-pura memikirkannya. Rumah Lake di Georgetown bernilai $400,000. Dia menyimpan hampir setengah jumlah itu dalam beberapa rekening bersama dan $100,000 lagi dalam obHgasi pemerintah. Tidak ada utang dalam jumlah besar. Dia memiliki $40,000 dalam rekening pemilihan ulang.

“Kandidat kaya tak bakal menarik,” ujar Teddy, kemudian meraih tombol lagi. Gambar-gambar kembali tampak di dinding, tajam dan berwarna. “Uang tak bakal jadi masalah, Mr. Lake,” katanya, suaranya jauh lebih ringan. “Akan kami suruh kontraktor-kontraktor pertahanan menyediakannya. Lihatlah itu,” katanya, melambaikan tangan kanan seolah Lake tidak tahu hams melihat apa. “Tahun lalu industri penerbangan dan pertahanan meraih keuntungan hampir 200 miliar. Kami cuma akan minta sebagian kecil.” “Berapa?”

“Sebanyak yang Anda butuhkan. Secara realistis kami bisa mengumpulkan $100 juta dari mereka.”

“Anda juga tak bisa begitu saja menyembunyikan $100 juta.”

“Jangan terlalu yakin, Mr. Lake. Dan jangan khawatir. Kami akan membereskan masalah uang. Anda tinggal berpidato, membintangi iklan, melakukan kampanye. Uang akan tercurah. Ketika November tiba, para pemilih Amerika akan begim ketakutan dengan Kiamat sehingga tak peduli berapa yang Anda habiskan. Kemenangan Anda akan seperti tanah longsor, menyapu bersih semua suara.”

Jadi Teddy Maynard menawarkan tanah longsor. Lake terdiam karena terpesona sekaligus gamang dan ternganga menatap uang dalam jumlah luar biasa yang terpampang di dinding$194 miliar, pertahanan dan penerbangan. Anggaran militer tahun lalu $270 miliar. Lipatduakan im jadi $540 miliar dalam empat tahun, dan kontraktor-kontraktor im akan gemuk lagi. Dan para pekerja! Gaji menjulang setinggi langit! Pekerjaan untuk semua orang!

Kandidat Lake akan disambut para eksekutif dengan uang dan serikat-serikat pekerja dengan suara. Kekagetan awal mulai memudar, dan kesederhanaan rencana Teddy jadi jelas. Kumpulkan uang dari pihak-pihak yang akan untung. Takut-takuti para pemilih sehingga berebutan ikut jajak pendapat. Menang bagai tanah longsor. Dan dengan berbuat begim, menyelamatkan dunia.

Teddy membiarkannya berpikir sebentar, kemudian berkata, “Kami akan melakukan sebagian besar di antaranya melalui PACkomite aksi politik. Koalisi serikat pekerja, insinyur, eksekutif, bisnisbanyak sekali kelompok politis yang ada dalam daftar kami.

Dan kami masih akan membentuk kelompok-ke-lompok lagi.’”

Benak Lake sudah membentuknya. Ratusan PAC, semua bermandikan uang yang lebih banyak daripada pemilu kapan pun. Kekagetannya sekarang sudah hilang sama sekali. digantikan semangat menggebu-gebu tentang ide tersebut Ribuan pertanyaan mertie-nuhi pikirannya: Siapa yang akan jadi wakil presidents? Siapa yang akan mengelola kampanye? Kepala staf? Di mana mengumumkannya? “Rencana Anda ada kemungkinan berhasil,” katanya, terkontrol.

“Oh, ya, Rencana saya akan berhasil, Mr. Lake. Percayalah. Sudah lama kami merencanakannya.” “Berapa orang tahu tentang ini?” “Cuma beberapa. Anda dipilih dengan cermat, Mr. Lake. Kami mempelajari banyak calon potensial, dan nama Anda selalu muncul di urutan teratas. Kami telah memeriksa latar belakang Anda.” “Lumayan membosankan, heh?” “Begimlah. Meskipun hubungan Anda dengan Ms. Valotti merisaukan saya. Dia dua kali bercerai dan menyukai obat penghilang rasa sakit.”

“Saya tak tahu saya berhubungan dengan Ms. Valotti.”

“Akhir-akhir ini Anda sering terlihat bersamanya.” “Kalian benar-benar mengawasi, ya?” “Anda tak mengiranya?” ‘Tidak juga.”

“Anda membawanya ke acara unmk wanita-wanita tertindas di Afghanistan. Yang benar saja.” Kata-kata Teddy mendadak pendek-pendek dan penuh sarkasme.

“Saya tak ingin pergi kok.”

“Kalau begim jangan. Jauhi omong kosong seperti itu. Serahkan saja pada Hollywood. Valotti cuma bikin masalah.”

“Ada lagi?” tanya Lake, lebih dari sekadar kesal. Kehidupan pribadinya cukup datar sejak dia menduda. Tiba-tiba dia bangga karenanya.

“Tidak juga,” jawab Teddy. “Ms. Benchly tampaknya lumayan stabil dan merupakan pasangan yang bagus.”

“Oh, terima kasih banyak.”

“Anda akan dicecar soal aborsi, tapi Anda bukan yang pertama.”

“Im isu yang sudah hambar,” kata Lake. Dan dia sudah bosan bergulat dengan masalah tersebut. Dia pernah mendukung aborsi, menentang aborsi, lunak dalam hal hak-hak reproduksi, keras dalam hal hak-hak reproduksi, pro hak memilih, pro anak, and wanita, didukung kaum feminis. Selama empat belas tahun di Capitol Hill, dia sudah dikejar ke sana kemari di medan ranjau aborsi, babak belur gara-gara setiap gerakan strategis bam.

Aborsi tidak menakutkannya lagi, setidaknya untuk saat ini. Dia lebih memikirkan tindakan CIA yang mengendus-endus latar belakangnya.

“Bagaimana dengan GreenTree?” dia bertanya.

Teddy melambaikan tangan kanan seolah itu bukan apa-apa. “Sudah 22 tahun lewat. Tak ada yang dijatuhi hukuman. Partner Anda bangkrut dan membuat dirinya didakwa, namun juri melepaskannya. Im akan terungkap; semua akan terungkap. Tapi terus terang, Mr. Lake, kami akan mengalihkan perhatian orang-orang ke arah lain. Ada keuntungan ikut di saat

39

terakhir. Pers takkan punya banyak waktu untuk mengorek-ngorek.”

“Saya bujangan. Kita belum pernah memilih presiden tak beristri.”

“Anda duda, suami wanita sangat cantik yang dihotmati di sini dan di kampung halaman. Im takkan jadi masalah. Percayalah.”

“Jadi apa yang Anda khawatirkan?”

“Tak ada, Mr. Lake. Sama sekali. Anda kandidat yang solid, sangat pantas dipilih. Kami akan menciptakan isu-isu dan ketakutan, dan kami akan mengumpulkan uangnya.”

Lake berdiri lagi, berjalan mengitari ruangan sambil mengusap rambut, menggaruk dagu, berusaha menjernihkan pikiran. “Banyak yang ingin saya tanyakan,” katanya.

“Mungkin saya bisa menjawab sebagian. Mari kita bicara lagi besok, di sini, di waktu yang sama. Pikirkanlah semalaman, Mr. Lake. Wakta memang krusial, tapi saya rasa orang berhak diberi waktu 24 jam sebelum memutuskan masalah sepenting ini.” Teddy tersenyum ketika mengatakannya.

‘Im ide yang luar biasa. Biarkan saya memikirkannya dulu. Besok saya sudah punya jawaban.”

“Tak seorang pun tahu kita bertemu.”

“Tentu.”

Tiga

MENURUT ukuran ruang, perpustakaan hukum im menempati persis seperempat luas seluruh perpustakaan Trumble. Perpustakaan im terletak di pojok, dipisahkan oleh dinding bata merah dan kaca, dibuat dengan penuh selera atas tanggungan pembayar pajak. Di dalam perpustakaan hukum, rak-rak berisi buku-buku yang lusuh karena sering dibaca ditata rapat, nyaris tidak ada ruang yang bisa dilalui narapidana di antaranya. Di dekat dinding terdapat meja-meja penuh mesin tik, komputer, dan bahan riset sehingga mirip perpustakaan biro hukum besar.

Majelis menguasai perpustakaan hukum. Semua narapidana boleh menggunakannya, tentu saja, namun ada kebijaksanaan tak tertulis bahwa orang butuh izin supaya boleh duduk di sana. Mungkin bukan izin, tapi paling tidak dia hams memberitahu Majelis dulu.

Hakim Joe Roy Spicer dari Mississippi mendapat empat puluh sen per jam untuk menyapu lantai dan merapikan meja dan rak. Dia juga mengosongkan

keranjang sampah, dan secara umum dianggap jorok kalau menyangkut tugas-tugas kotomya. Hakim Hatlee Beech dari Texas adalah petugas resmi perpustakaan hukum itu, dan dengan lima puluh sen per jam merupakan orang bergaji paling tinggi. Dia cerewet dalam hal “buku-bukunya”, dan sering bertengkar dengan Spicer mengenai tanggung jawab mereka. Hakim Finn Yarber, yang dulu bekerja di Mahkamah Agung California, dibayar dua puluh sen per jam sebagai teknisi komputer. Gajinya paling rendah karena dia cuma tahu sedikit tentang komputer.

Di hari biasa, ketiganya menghabiskan enam sampai delapan jam di perpustakaan hukum. Jika seorang narapidana Trumble punya masalah hukum, dia tinggal membuat janji temu dengan salah seorang anggota Majelis dan datang ke suite kecil mereka. Hatlee Beech pakar vonis dan permohonan banding. Finn Yarber menangani kasus kebangkrutan, perceraian, dan tunjangan anak. Joe Roy Spicer, karena tak punya pendidikan formal hukum, tidak memiliki spesialisasi. Dia memang tidak menginginkannya. Dia mengurus bisnis kotor mereka.

Peraturan tegas-tegas melarang Majelis meminta bayaran atas kerja legal mereka, namun peraturan tinggal peraturan. Bagaimanapun, mereka kan narapidana, dan kalau mereka bisa diam-diam memperoleh uang dari luar, semua orang akan bahagia. Masalah vonis merupakan tambang uang. Sekitar seperempat narapidana yang tiba di Trumble dijatuhi vonis yang tidak semestinya. Beech dapat menelaah catatannya dalam semalam dan menemukan celah-celah. Sebulan yang lalu, dia berhasil mengurangi empat tahun dari

lima belas tahun masa hukuman seorang pria muda. Keluarganya setuju untuk membayar, dan Majelis memperoleh $5,000, bayaran terbesar mereka sampai saat ini. Spicer mengurus simpanan rahasia itu melalui pengacara mereka di Neptune Beach.

Ada ruang rapat penuh sesak di bagian belakang perpustakaan hukum, di balik rak-rak dan nyaris tidak kelihatan dari ruang utama. Di pintu ruangan im terpasang jendela kaca besar, namun tidak ada yang mengintip ke dalam. Majelis masuk ke situ untuk melakukan bisnis dengan tenang. Mereka menyebutnya kamar kerja mereka.

Spicer baru saja bertemu pengacara mereka dan mendapat surat, beberapa surat yang betul-betul bagus. Dia menutup pintu dan mengeluarkan sebuah amplop dari map. Dilambaikannya amplop tersebut supaya dilihat Beech dan Yarber. “Warnanya kuning,” katanya. “Manis, ya? Untuk Ricky.”

“Dari siapa?” tanya Yarber.

“Curtis di Dallas.”

“Si bankir?” tanya Beech bersemangat.

“Bukan, Curtis memiliki toko-toko perhiasan. Dengar.” Spicer membuka surat, ditulis pada kertas berwarna kuning lembut juga. Dia tersenyum dan berdeham sebelum mulai membaca, ‘“Dear Ricky: Suratmu yang tanggal 8 Januari membuatku menangis. Tiga kali aku membacanya sebelum mampu meletakkannya. Anak yang malang. Kenapa mereka mengurungmu di sana?’”

“Di mana dia?” tanya Yarber.

“Ricky dikurung di unit rehabilitasi obat bius mewah, dibayari pamannya yang kaya. Sudah setahun

dia di sana, sekarang bersih dan sembuh total, namun orang-orang jahat yang mengelola tempat im tidak mau membebaskannya sampai April karena mereka memperoleh $20,000 sebulan dari pamannya yang kaya, yang ingin dia dikurung saja dan tak mau mengirim uang saku. Kau ingat kisah ini?” “Sekarang ya,”

“Kau membantu mengarangnya. Boleh kulanjut-“Silakan.”

Spicer meneruskan membaca, ‘“Aku tergoda untuk terbang ke sana dan menghadapi sendiri orang-orang tak berperasaan itu. Dan pamanmu, dasar pecundang! Orang-orang kaya seperti dia mengira mereka bisa sekadar mengirim uang dan tak terlibat. Seperti yang pernah kuceritakan padamu, ayahku cukup berada, dan dia orang paling menyebalkan yang pernah kuketahui. Dia memang membehkanku macam-macam berbagai benda yang bersifat sementara dan tak ada artinya ketika hilang. Tapi dia tak pernah punya waktu untukku. Dia sinting, seperti pamanmu. Aku menyisipkan cek senilai seribu dolar seandainya kau pertu membeli sesuatu dari toserba tempatmu.

“‘Ricky, aku tak sabar untuk menjumpaimu April nanti. Aku sudah bilang pada istriku bahwa bulan itu ada pameran berlian internasional di Orlando, dan dia tak berminat pergi denganku.’” “April?” tanya Beech.

“Yep. Ricky yakin dia akan dibebaskan bulan April.”

“Indahnya,” kata Yarber sambil tersenyum. “Dan Curtis punya istri dan anak-anak?”

“Curtis berusia 58, tiga anak yang sudah dewasa,

dua cucu.”

“Mana ceknya?” tanya Beech.

Spicer membalik kertas surat im dan melanjutkan

ke halaman dua. ‘“Kita hams memastikan kau bisa menemuiku di Orlando,’” dia membaca. ‘“Kau yakin akhirnya kau akan dibebaskan April nanti? Tolong bilang ya. Aku memikirkanmu setiap saat. Aku menyimpan fotomu di laci meja kerjaku, dan ketika kutatap matamu, aku tahu kita harus bersatu.’”

“Sinting, sinting, sinting,” kata Beech, tetap tersenyum. “Dan dia dari Texas.”

“Aku yakin di Texas banyak anak manis,” komentar Yarber.

“Dan di California tak ada?”

“Selanjutnya cuma omong kosong,” kata Spicer, membaca sekilas. Banyak waktu untuk membacanya nanti. Dia mengacungkan cek $1,000 untuk dilihat kolega-koleganya. Jika saatnya tiba, cek im akan diam-diam diberikan pada pengacara mereka dan pria im akan menyimpannya dalam rekening rahasia mereka.

“Kapan kita akan menghajarnya?” tanya Yarber.

“Kita bersurat-suratan beberapa kali lagi. Ricky perlu menceritakan lebih banyak penderitaannya.”

“Mungkin salah seorang penjaga memukulinya, atau sesuatu seperti itu,” kata Beech.

“Di sana tak ada penjaga,” jawab Spicer. “Itu kan klinik rehabilitasi mewah, ingat? Di sana cuma ada konselor.”

“Tapi im tempat yang tertutup, kan? Berarti dilengkapi gerbang dan pagar, jadi pasti ada satu-dua

penjaga. Bagaimana kalau Ricky diserang di kamar mandi atau di ruang locker oleh orang gila yang menginginkan tubuhnya?”

“Tak boleh penyerangan seksual,” tegur Yarber. Ttu bisa membuat Curtis takut. Dia bisa mengira Ricky ketularan penyakit.”

Dan berlanjutlah fiksi itu selama beberapa menit ketika mereka menciptakan lebih banyak penderitaan bagi Ricky yang malang. Fotonya diambil dari papan buletin sesama narapidana, di-copy pengacara mereka di percetakan foto kilat, dan sekarang dikirim ke lebih dari selusin sahabat pena di seluruh penjuru Amerika Utara. Foto ito menampakkan seorang lulusan college yang tersenyum, mengenakan toga biru laut dan topi, memegang ijazah, pria muda yang sangat tampan.

Mereka memutuskan bahwa Beech akan memikirkan cerita bam itu selama beberapa hari, kemudian menulis konsep kasar surat berikutnya untuk Curtis. Beech adalah Ricky, dan saat ini bocah sengsara karangan mereka itu tengah menulis kisah tentang penderitaannya kepada delapan orang berbeda yang menyayanginya. Hakim Yarber adalah Percy, juga pria muda yang dikurung gara-gara obat bius tapi sekarang sudah bersih dan hampir dibebaskan, sedang mencari pria tua yang mau membiayainya dan nantinya menemaninya menghabiskan saat penuh kesan. Percy memiliki lima calon mangsa, dan perlahan-lahan mencengkeramnya.

Joe Roy Spicer tidak pandai menulis. Dia meng-koordinasi penipuan ini, membantu mengarang, memastikan cerita-cerita itu tidak melenceng, dan

menemui pengacara yang membawakan surat. Dan

dia mengurus uangnya.

Dia mengeluarkan satu surat lagi dan mengumumkan, “Ini, Yang Mulia, dari Quince.”

Semua berhenti bergerak ketika Beech dan Yarber menatap surat itu. Quince adalah bankir kaya di kota kecil di Iowa, menurut enam surat yang dikirimkannya pada Ricky. Seperti yang lain, mereka menemukannya di iklan baris pribadi sebuah majalah homo yang sekarang disembunyikan di perpustakaan hukum. Orang im tangkapan kedua mereka, yang pertama curiga dan menghilang. Foto Quince diambil di danau, bertelanjang dada, pemt buncit, lengan kurus, kepala mulai membotak khas laki-laki bemsia 51 tahun keluarganya di sekelilingnya. Foto itu tidak jelas, pasti disengaja Quince, karena dengan begim dia akan sulit diidentifikasi, jika ada yang mencoba melakukannya.

“Mau kau membacakannya, Ricky sayang?” tanya Spicer, menyerahkan surat im pada Beech, yang mengambilnya dan menatap amplopnya. Putih biasa, tanpa alamat pengirim, diketik.

“Kau sudah membacanya?” tanya Beech.

“Belum. Bacalah.”

Pelan-pelan Beech mengeluarkan suratnya, selembar kertas putih berisi paragraf-paragraf rapat berspasi satu yang ditulis dengan mesin tik tua. Dia berdeham, dan membaca, ‘“Dear Ricky: Sudah beres. Aku nyaris tidak percaya aku telah melakukannya, tapi begitulah kenyataannya. Aku menggunakan telepon umum dan wesel supaya tidak bisa dilacakkurasa aku tidak meninggalkan jejak. Perusahaan di New York yang

kauusulkan itu luar biasa, sangat berhati-hati, dan membantu. Aku harus mengatakan yang sejujurnya, Ricky, aku takut setengah mati. Aku tidak pernah bermimpi memesan tempat di pelayaran homo. Dan kau tahu, rasanya ternyata menakjubkan. Aku. bangga sekali pada diriku sendiri. Kita punya kabin suite, $1,000 semalam, dan aku sudah tak sabar.’”

Beech berhenti dan melirik dari atas kacamata bacanya yang melorot sampai tengah hidung. Kedua koleganya tersenyum, mendengarkan kata-katanya.

Dia meneruskan, ‘“Kita dijadwalkan berlayar tanggal 10 Maret. dan aku punya ide bagus. Aku akan tiba di Miami tanggal 9, jadi kita takkan punya banyak waktu untuk bertemu dan berkenalan. Kita bertemu di kapal saja, di suite kita. Aku akan ke sana duluan, check in, menyediakan sampanye dengan

es, lalu menunggumu. Asyik kan, Ricky? Kita akan

bisa berduaan selama tiga hari. Kurasa kita tak bakal

keluar-keluar kamar.’” Beech tidak bisa menahan senyum, dan entah

bagaimana dapat berbuat begitu sambil menggeleng-geleng jijik.

Dia melanjutkan, “‘Aku bersemangat sekali mengenai perjalanan singkat kita. Aku akhirnya memumskan untak menemukan siapa sebenarnya diriku, dan kau telah memberiku keberanian untuk mengambil langkah pertama. Meskipun kita belum pernah bertemu, Ricky, aku amat sangat berterima kasih padamu.

! “Tolong balas suratku segera dan konfirmasikan kesediaanmu. Sampai ketemu, Ricky-ku. Peluk cium, Quince.”’

“Kurasa aku mau muntah,” kata Spicer, tapi per-kataannya tidak meyakinkan. Begim banyak yang hams dilakukan.

“Ayo kita hajar dia,” ajak Beech. Teman-temannya langsung setuju.

“Berapa?” tanya Yarber.

“Paling tidak 200.000,” jawab Spicer. “Keluarganya memiliki beberapa bank selama dua generasi. Kita tahu ayahnya masih aktif dalam bisnis, jadi kau bisa menebak betapa pria tua im akan murka kalau rahasia anaknya terbongkar. Quince takkan mau ditendang dari perusahaan keluarganya, jadi dia akan membayar berapa pun yang kita minta. Situasinya sempurna.”

Beech sudah sibuk mencatat. Begim juga Yarber. Spicer mulai mondar-mandir di ruangan kecil itu seperti beruang mengincar mangsa. Ide-idenya, bahasanya, pendapat-pendapat, strategi muncul pelan-pelan, tapi tidak lama kemudian surat im sudah terwujud.

Beech membacakan konsep kasarnya, ‘“Dear Quince: Senang sekali menerima suratmu yang tanggal 14 Januari. Aku sangat gembira kau memperoleh tiket pelayaran homo im. Kedengarannya mengasyikkan. Tapi ada sam masalah. Aku tidak bisa ikut, dan penyebabnya ada beberapa. Sam adalah aku bam akan dibebaskan beberapa tahun lagi. Aku di penjara, bukan di klinik rehabilitasi obat bius. Dan aku bukan homo, sama sekali bukan. Aku punya istri dan dua anak, dan saat ini mereka sedang mengalami masalah keuangan karena aku berada dalam penjara, tidak bisa membiayai mereka. Di sinilah kau berperan, Quince. Aku membutuhkan uangmu. Aku menginginkan $100,000. Kita bisa menyebutnya uang tump mulut. Kau mengirimkannya, maka aku akan melupakan soal Ricky dan pelayaran homo ini, dan tak seorang pun di Bakers, Iowa, akan pernah mengetahuinya. Istri, anak-anakmu, ayahmu, dan keluarga kayamu yang lain takkan tahu tentang Ricky. Kalau kau tidak mengirimkan uang itu, akan kubanjiri kota kecilmu dengan salinan surat-surat kita.

“‘Ini namanya pemerasan, Quince, dan kau kena. Permainan ini kejam, jahat. dan kriminal, dan aku tak peduli. Aku butuh uang, dan kau memilikinya.’”

Beech berhenti dan memandang sekelilingnya untuk minta persetujuan.

“Bagus,” komentar Spicer, sudah membayangkan uang jatahnya.

“Keji,” kata Yarber. ‘Tapi bagaimana kalau dia bunuh diri?”

“Nyaris tak mungkin,” kata Beech.

Mereka membaca surat im lagi, lalu berdebat apakah waktunya tepat. Mereka tidak menyinggung tentang betapa busuknya rencana mereka, atau tentang hukuman jika mereka ketahuan. Pembicaraan tentang masalah-masalah tersebut sudah berakhir berbulan-bulan lalu waktu Joe Roy Spicer meyakinkan kedua temannya untuk bergabung dengannya. Risiko-risiko-nya terasa ringan kalau dibandingkan dengan potensi keuntungannya. Orang-orang seperti Quince takkan mungkin mengadu ke polisi dan melaporkan pemerasan atas dirinya.

Tapi mereka belum melabrak siapa pun. Mereka berkorespondensi dengan sekitar selusin korban potensial, semuanya pria setengah baya yang melakukan kesalahan dengan menjawab iklan sederhana ini:

Pria muda berkulit putih berusia 20-an mencari pria baik dan bijaksana berusia 40-an atau 50-an

untuk dijadikan sahabat pena.

Sam iklan pribadi kecil di sampul belakang majalah homo menghasilkan enam puluh balasan, dan Spicer bertugas menyortir target mana yang kelas teri dan mana yang kelas kakap. Mula-mula dia menganggap mgas im memuakkan, lalu dia jadi keasyikan. Sekarang, urusan ini sudah merupakan bisnis, karena mereka akan memeras $100,000 dari seorang pria yang sama sekali tidak bersalah.

Pengacara mereka akan memperoleh sepertiga, jatah yang wajar tapi tetap saja bikin frustrasi. Mereka tidak punya pilihan. Pria im pemain penting dalam kejahatan mereka.

Mereka mengerjakan surat untuk Quince selama satu jam, kemudian sepakat untuk tidur dulu dan membuat konsep akbirnya besok. Ada sebuah surat lagi dari pria yang memakai nama samaran Hoover. Ini surat keduanya, ditujukan kepada Percy, dan dia berceloteh sepanjang empat paragraf mengenai mengamati burung. Yarber terpaksa harus mempelajari masalah burung sebelum membalas surat Percy dan menyatakan sangat berminat pada hal tersebut. Jelas terlihat bahwa Hoover sangat penakut. Dia tidak memberikan informasi pribadi apa pun, dan tak ada indikasi tentang uang.

Beri dia waktu, Majelis memutuskan. Bicaralah tentang burung, lalu coba pancing dia tentang masalah persahabatan fisik. Jika Hoover tidak

I

menanggapi. dan jika dia tidak mengungkapkan apa-apa tentang situasi keuangannya, mereka akan mencampakkannya.

Di kalangan birokrat penjara, Trumble secara resmi disebut kamp. Sebutan seperti itu berarti tidak ada pagar di sekeliling area penjara, tidak ada kawat duri, tidak ada menara pengawas, tidak ada penjaga bersenjata yang menunggu kesempatan menghabisi narapidana yang kabur. Kamp berarti penjagaan keamanan minimum, sehingga narapidana bisa pergi begim saja kalau mau. Trumble memiliki seribu penghuni, tapi hanya sedikit yang pergi.

Tempat im lebih bagus daripada sebagian besar sekolah negeri. Asrama-asrama ber-AC, kafeteria bersih yang menyediakan makanan tiga kali sehari, ruang angkat beban, biliar, kartu, racquetball, basket, voli, trek joging, perpustakaan, kapel, pendeta, konselor, pekerja sosial, jam berkunjung tak terbatas.

Trumble tempat paling bagus yang bisa dihuni para tahanan, semuanya diklasifikasikan berisiko rendah. Delapan puluh persen dipenjara karena kejahatan obat bras. Sekitar empat puluh merampok bank tanpa melukai atau beml-beml membuat orang ketakutan. Sisanya adalah tipe kerah putih yang kejahatannya berkisar antara kelas kecil-kecilan sampai Dr. Floyd, dokter bedah yang kantomya menipu Medicare $6 juta selama dua dekade.

Kekerasan tidak ditolerir di Trumble. Ancaman nyaris tidak ada. Peraturannya banyak dan pihak administrasi tidak sulit menegakkannya. Kalau kau mengacau, mereka akan mendepakmu, ke penjara

berpenjagaan menengah, yang dilengkapi kawat ber-duri dan penjaga-penjaga kasar.

Maka para narapidana Trumble pun menjaga sikap dan menghitung hari-hari mereka, secara federal.

Tak pernah ada aktivitas kriminal serius di dalam penjara, sampai kedatangan Joe Roy Spicer. Sebelum jatuh, Spicer pernah mendengar cerita-cerita tentang tipuan Angola, dinamai begim mengikuti nama penjara negara bagian Louisiana yang terkenal kejam. Beberapa penghuninya melakukan pemerasan terhadap homo, dan sebelum ketahuan mereka berhasil menguras $700,000 dari para korban.

Spicer berasal dari daerah pedalaman dekat perbatasan Louisiana, dan tipuan Angola im terkenal di. tempat asalnya. Dia tak pernah bermimpi akan menirunya. Tapi suatu pagi dia tahu-tahu sudah berada di dalam penjara feoeral, dan memutuskan untuk membalas dendam pada setiap makhluk hidup yang bisa didekatinya.

Setiap hari dia berjalan di trek pada pukul 13.00, biasanya sendirian, selalu membawa sebungkus Marlboro. Waktu ditahan dia sudah sepuluh tahun tidak merokok; sekarang dia menghabiskan sampai dua bungkus sehari. Jadi dia berjalan kaki untuk mengurangi kerusakan paru-parunya. Dalam 34 bulan dia telah berjalan sejauh hampir 2.000 kilometer. Dan berat badannya turun sepuluh kilo, meskipun barangkali bukan karena olahraga, seperti yang sering dikatakannya. Larangan minum bir lebih merupakan penyebab turunnya berat badannya.

Tiga puluh empat bulan berjalan kaki dan merokok, 21 bulan lagi sebelum dibebaskan.

Sembilan puluh ribu dolar uang bingo curiannya benar-benar dikubur di pekarangan belakang, setengah mil di belakang rumahnya di samping gudang peralatanterlindung kubah beton bikinannya yang tidak diketahui istrinya. Wanita itu membantunya menghabiskan sisa curiannya, semuanya $180,000, walaupun FBI cuma berhasil melacak setengahnya. Mereka membeU Cadillac dan terbang ke Las Vegas, kelas satu, dari New Orleans, mereka diantarkan ke sana kemari dengan limusin kasino dan menginap di suite.

Jika masih ada mimpinya yang belum terwujud, im adalah menjadi penjudi profesional, bermarkas di luar Vegas namun dikenal dan ditakuti kasino-kasino di mana pun. Blackjack adalah permainannya, dan meskipun kalah banyak, dia tetap yakin mampu mengalahkan siapa saja. Di Karibia ada banyak kasino yang belum pemah dilihatnya. 7\sia muiai panas. Dia akan keliling dunia, kelas satu, dengan atau tanpa istrinya, menginap di suite mewah, memesan room service, dan menteror dealer blackjack mana pun yang cukup tolol untuk main dengannya.

Dia akan mengambil $90,000 dari pekarangan belakangnya, menambahnya dengan bagiannya dari tipuan Angola, dan pindah ke Vegas. Dengan atau tanpa istrinya. Wanita im sudah empat bulan tidak ke Trumble, walaupun dulu selalu datang tiga minggu sekali. Dia sering bermimpi buruk istrinya menggali pekarangan belakang untuk mencari harta tersembunyi-nya. Dia hampir yakin istrinya tidak tahu soal uang itu, namun tidak boleh ada keraguan setitik pun. Dia mabuk-mabukan dua malam sebelum dijebloskan ke penjara, dan mengatakan sesuatu tentang $90,000 itu.

Dia tidak bisa mengingat kata-kata persisnya. Meskipun sudah berusaha sekuat tenaga, dia tetap tidak bisa mengingat apa yang dikatakannya pada wanita im.

Dinyalakannya sebatang Marlboro lagi setelah berjalan satu mil. Mungkin dia sudah punya pacar sekarang. Rita Spicer wanita yang menarik, agak berlebihan di sana-sini, namun semua im pasti bisa dihilangkan dengan $90,000. Bagaimana kalau dia dan pacar terbarunya menemukan uang im dan sudah menghabiskannya? Salah satu mimpi terburuk Joe Roy adalah adegan dari film jelekRita dan seorang pria tidak dikenal menggali dengan sekop di tengah hujan. Kenapa hujan, dia tidak tahu. Tapi kejadiannya selalu malam, saat badai guntur, dan kilat menyambar-nyambar, dia melihat mereka susah payah berjalan di pekarangan belakang, makin lama makin mendekati gudang peralatan.

Di dalam salah satu mimpi itu, si pacar bam misterius naik buldoser, mendorong gundukan-gunduk-an tanah ke segala penjuru tanah pertanian Spicer, sementara Rita berdiri di dekatnya, sibuk menunjuk-nunjuk dengan sekop.

Joe Roy menyayangi uangnya. Dia dapat merasakan uang im di tangannya. Dia akan mencuri dan memeras sebanyak mungkin sambil menghitung hari di Trumble, lalu akan mengambil harta karunnya dan pergi ke Vegas. Tidak seorang pun di kota asalnya bisa menuding-nuding, berbisik-bisik, dan berkata, “im si tua Joe Roy. Rupanya dia sudah bebas sekarang.” Tidak akan.

Dia akan hidup enak. Dengan atau tanpa istrinya.

Empat

TEDDY menatap botol-botol pil yang berderet di sepanjang pinggir mejanya, seperti prajurit-prajurit kecil yang siap mengakhiri penderitaannya. York duduk di hadapannya, membacakan catatan.

York berkata, “Dia menelepon sampai pukul tiga pagi tadi, berbicara dengan teman-teman di Arizona.”

“Siapa?”

“Bobby Lander, Jim Gallison, Richard Hassel, geng yang biasa. Orang-orang berduimya.” “Dale Winer?”

“Ya, dia juga,” sahut York, kagum pada ingatan Teddy. Teddy sekarang memejamkan mata, dan menggosok-gosok pelipis. Di suatu tempat di antara pe-lipisnya, di suatu tempat jauh di dalam otaknya, dia mengetahui nama teman-teman Lake, para penyura-bangnya, orang-orang kepercayaannya, para pegawainya, dan gum-gum sekolah menengahnya dulu. Semua itu tersimpan rapi, siap digunakan jika diperlukan. “Ada yang tak biasa?”

‘Tidak, tidak juga. Cuma pertanyaan-pertanyaan biasa dari orang yang memikirkan kejadian yang

sangat tak terduga itu. Teman-temannya kaget, bahkan terguncang, dan agak tak suka, tapi nanti juga akan bisa menerima.”

“Apakah mereka menanyakan uang?”

“Tenm saja. Dia menjawab samar-samar, tapi mengatakan im takkan jadi masalah. Mereka skeptis.”

“Apakah dia memegang rahasia kami?”

“Jelas.”

“Apakah dia cemas karena kita mendengarkan?”

“Kurasa tidak. Dia menelepon sebelas kali dari kantor dan delapan dari rumah. Tak sekali pun dari ponsel.”

“Faks? E-mail?”

“Tak ada. Dia bertemu Schiara

“Kepala staf.”

“Betul. Mereka pada dasarnya merencanakan kampanye. Schiara ingin mengelolanya. Mereka menyukai Nance dari Michigan sebagai wapres.”

“Bukan pilihan jelek.”

“Dia kelihatannya lumayan. Kami sudah memeriksanya. Bercerai waktu berumur 23, tapi itu tiga puluh tahun lalu.”

“Bukan masalah. Apakah Lake siap untuk ber-komitmen?”

“Oh, ya. Dia politisi, kan? Padanya telah dijanjikan kunci menuju kekuasaan luas. Dia bahkan sudah asyik menulis pidato.”

Teddy mengambil sebutir pil dari botol dan me-nelannya tanpa bantuan cairan apa pun. Dia mengerutkan kening seolah rasanya pahit. Dia makin

57

mengerutkan kening dan berkata, “York, kata kan tak ada suatu apa pun tentang orang ini yang lotos dari pengamatan kita. Tak ada aib.”

Tak ada aib. Chief. Kita sudah mengaduk-aduk hidupnya selama enam bulan. Tak ada yang bisa merugikan kita”

“Dia takkan memkahi orang yang tolol, kan?”

Tidak. Dia berkencan dengan beberapa wanita, tapi tak ada yang serins.”

Tak ada hubungan seks dengan pegawai magang?”

Tak ada. Dia bersih.”

Mereka mengulang pembicaraan yang sudah berkali-kali mereka lakukan. Sekali lagi tidak ada salahnya

Tak ada transaksi keuangan yang tak jelas?” “Kau tahu bagaimana hidupnya, Chief Kosong melompong.”

“Alkohol, obat bius, ketergantungan pada obat, Ś perjudian di Internet?”

“Nihil, Sir. Dia sangat bersih, waras, lurus, cerdas, sangat mengagumkan.”

“Mari kita bicara dengannya,”

Aaron Lake sekali lagi diantar ke.ruangan yang sama jauh di dalam Langley, kali ini dia dikawal tiga pria muda tampan seakan bahaya mengintai di setiap sudut. Dia berjalan lebih cepat dari kemarin, kepalanya lebih mendongak, punggungnya tidak bungkuk sedikit pun. Tingginya bertambah dengan cepat.

Sekali lagi dia menyapa Teddy dan menjabat tangannya yang kapalan, lalu mengikuti kursi roda

tertutup quill itu ke dalam bungker dan duduk di seberang meja. Mereka saling berbasa-basi. York mengawasi dari ruangan di ujung koridor tempat tiga monitor berhubungan dengan kamera-kamera tcr-sembunyi yang menangkap setiap kata, setiap gerakan. Di samping York ada dua pria yang pekerjaannya mempelajari rekaman orang-orang ketika mereka bicara, bernapas, menggerakkan tangan, mata, kepala, dan kaki, semua dalam rangka mengetahui apa maksud orang-orang im sebenarnya.

“Anda tidur nyenyak tadi malam?” tanya Teddy, menampilkan senyumnya. “Ya,” jawab Lake berbohong. “Bagus. Saya duga Anda bersedia menerima kesepakatan kita.”

“Kesepakatan? Saya tidak tahu im bisa dibilang kesepakatan.”

“Oh ya, Mr. Lake, im sangat bisa dibilang kesepakatan. Kami berjanji akan membuat Anda terpilih, dan Anda berjanji akan melipatgandakan anggaran belanja pertahanan dan bersiap menghadapi Rusia.” “Kalau begim kesepakatan telah tercapai.” “Bagus, Mr. Lake. Saya sangat senang. Anda akan jadi kandidat yang sempurna dan presiden yang baik.”

Kata-kata im menggemuruh di telinga Lake, dan dia nyaris tak percaya mendengarnya. Presiden Lake. Presiden Aaron Lake. Semalam dia mondar-mandir sampai pukul 05.00, bemsaha meyakinkan din bahwa Oedung Putih disodorkan padanya. Rasanya ter/alu

gampang. dia tidak

Meskipun sudah bemsaha^ ^disediakan. bisa mengabaikan berbaga. ftsHitas y

Ruang Oval. Semua jet dan helikopter. Kunjungan ke tempat-tempat di seluruh dunia. Serams asisten yang siap melaksanakan perintahnya. Jamuan makan malam kenegaraan dengan orang-orang yang paling berkuasa di muka bumi ini.

Dan, di atas segalanya, tempat dalam sejarah.

Ob ya, Teddy jelas mendapatkan persetujuannya.

“Man kita bicara tentang kampanyenya sendiri,” kata Teddy. “Saya rasa Anda sebaiknya mengumumkan dua hari setelah New Hampshire. Biarkan debu turun dulu. Biarkan para pemenang menikmati kemenangannya dan biarkan para pecundang ribut sendiri dulu, lalu umumkan.”

“Lumayan cepat”

“Kita tak punya banyak waktu. Kita abaikan New Hampshire dan bersiap-siap untuk Arizona dan Michigan pada tanggal 22 Februari. Anda harus memenangkan dua negara bagian itu. Kalau berhasil, Anda mencapai status sebagai kandidat serius, dan Anda siap untuk bulan Maret.”

“Saya tadinya berpikir untuk mengumumkan di kampung halaman, di Phoenix.”

“Michigan lebih baik. Negara bagian itu lebih besar, 58 delegasi, bandingkan dengan Arizona yang cuma 24. Anda memang diduga akan menang di kampung halaman. Jika menang di Michigan pada hari yang sama, Anda kandidat yang hams diper-hitungkan. Umumkan di Michigan dulu, lalu lakukan lagi beberapa jam kemudian di distrik asal Anda.”

Tde cemerlang.”

“Di Flint ada pabrik helikopter, D-L Trilling. Mereka punya hangar besar, empat ribu pekerja. CEO—

nya bisa saya ajak bicara.”

“Pesanlah,” kata Lake, yakin Teddy sudah bicara dengan CEO im.

“Anda bisa mulai membintangi iklan lusa?”

“Saya bisa melakukan apa saja,” kata Lake, duduk di kursi penumpang. Makin jelas siapa yang mengemudikan bus.

“Dengan izin Anda, kami akan menyewa grup konsultan luar untuk mengurus iklan dan publisitas. Tapi kami memiliki orang-orang yang lebih bagus di sini, dan mereka tak perlu Anda bayar. Anda mengerti, bukan uang yang akan jadi persoalan.”

“Saya rasa serams juta cukup untuk segala sesuatunya.”

“Benar. Yah, kami akan mulai menggarap iklan TV hari ini. Saya rasa Anda akan menyukainya. Iklan-iklan tersebut muram dan mengerikankondisi memprihatinkan militer kita, berbagai bentuk ancaman dari luar negeri. Kiamat, hal-hal seperti itulah. Iklan-iklan im bakal membuat rakyat ketakutan setengah mati. Kami akan menyelipkan nama dan wajah Anda serta beberapa patah kata, maka dalam sekejap mata Anda akan jadi politisi paling terkenal di negeri ini.”

“Ketenaran takkan memenangkan pemilu.”

“Memang tidak. Tapi uang akan memenangfcannya. Uang membeli televisi dan jajak pendapat, dan itulah yang dibutuhkan.”

“Saya kira pesannya yang penting. ^ ^aun

“Oh, memang, Mr. Lake, dan 8fiiniatif, leHh penting dari potongan paj-*- m

aborsi. kepercayaan, nilai-niiai keluarga. dan segala macam kekonyolan lain yang kita dengar. Pesan kita hidup dan mati. Pesan kita akan mengubah dunia dan melindungi kemakmuran kita. Hanya itulah yang betul-betul kita pedulikan.”

Lake mengangguk-angguk setuju. Lindungi ekonomi, pertahankan perdamaian, maka rakyat Amerika akan memilih kandidat yang memiliki program itu, siapa pun orangnya “Saya punya orang yang andal untuk mengelola kampanye,” kata Lake, ingin menawarkan sesuatu.

“Siapa?”

“Mike Schiara, kepala staf saya. Dia penasihat saya yang paling dekat, orang yang sangat saya percaya.”

“Punya pengalaman di tingkat nasional?” tanya Teddy, sangat tahu jawabannya tidak.

Tidak. tapi dia cukup mampu.”

“Baiklah. Ini kampanye Anda.”

Lake tersenyum dan mengangguk pada saat yang sama. Senang mendengar jawaban Teddy. Dia mulai bertanya-tanya dalam hati.

“Bagaimana dengan wakil presiden?” Teddy ingin tahu.

“Saya punya beberapa nama. Senator Nance dari Michigan teman lama saya. Juga ada Gubemur Guyce dari Texas.”

Teddy menerima nama-nama im dengan hati-hati. Sebetulnya bukan pilihan yang jelek, meskipun Guyce takkan berhasil. Dia bocah kaya yang cuma main* main saat kuliah dan main golf selama usia tiga diabiskan banyak uang ayahnya

untuk membeli kursi gubemur selama empat tahun. Lagi pula, mereka tidak perlu khawatir tentang Texas.

“Saya suka Nance,” komentar Teddy.

Kalau begim Nance-lah orangnya, Lake nyaris menyahut.

Mereka membahas soal uang selama sejam, gelombang pertama dari PAC dan bagaimana cara menerima uang berjuta-juta tanpa terlalu mencuriga-. kan. Kemudian gelombang kedua dari para kontraktor pertahanan. Lalu gelombang ketiga dari uang kontan dan hal-hal lain yang tidak bisa dilacak.

Akan ada gelombang keempat yang takkan pernah diketahui Lake. Tergantung pada hasil jajak pendapat, Teddy Maynard dan organisasinya akan benar-benar bersiap-siap menyeret kotak-kotak penuh uang ke gedung pertemuan pekerja, gereja kulit hitam, dan veteran perang berkulit putih di tempat-tempat seperti Chicago, Detroit, Memphis, dan selurah Deep South. Bekerja sama dengan orang-orang setempat yang sudah mereka kenal, mereka siap membeli setiap suara yang bisa mereka temukan.

Semakin memikirkan rencananya, Teddy semakin yakin pemilu akan dimenangkan oleh Mr. Aaron Lake.

Kantor hukum kecil Trevor berada di Neptune Beach, beberapa blok dari Atlantic Beach, meskipun tak ada yang tahu di mana batas kedua pantai itu. Jacksonville terletak kira-kira satu setengah kilometer ke barat dan setiap menit makin maju ke laut. Kantornya adalah vila musim panas sewaan yang sudah diubah. Dari teras belakangnya yang menggantung, Trevor

dapat meiihat pantai dan laut serta mendengar burung-burung camar. Sulit dipercaya dia sudah dua belas tahun menyewa tempat ini. Di tahun-tahun awal, dia suka bersembunyi di teras, jauh dari telepon dan para klien, berjam-jam memandangi air tenang Adantik dua blok dari tempatnya.

Dia dari Scranton. dan seperti semua burung snowbird, dia akhirnya bosan memandang laut, bertelanjang kaki menyusuri pantai, dan melemparkan remah-remah rod pada burung-burung. Sekarang dia lebih suka membuang waktu dengan berkurung di kantor.

Trevor ngeri pada ruang sidang dan hakim. Meskipun tidak biasa dan bahkan agak meragukan, ini bisa dianggap sisi lain pekerjaan sebagai pengacara. Trevor memilih mengurus hal-hal administra-tif-kesepakatan penjualan rumah, surat wasiat, sewa- . menyewa, pembagian zonasemua pekerjaan biasa, datar, tak penting dari profesi pengacara yang tidak disebut-sebut di sekolah hukum. Sesekali dia mena-j ngani kasus obat bras, tidak pernah yang melibatkan I persidangan, dan salah satu klien sialnya di Trumble-lah yang menghubungkannya dengan Yang Mulia ! Joe Roy Spicer. Dengan cepat dia menjadi pengacara resmi bagi ketiganyaSpicer, Beech, dan Yarber. Majelis, bahkan Trevor pun menyebutnya begitu,

Dia kurir, tidak lebih, tidak kurang. Dia menyelundupkan surat-surat untuk mereka yang disamarkan sebagai dokumen hukum resmi sehingga dilindungi hak istimewa pengacara-klien. Dan dia menyusupkan surat-surat mereka ke luar. Dia tidak memberikan nasihat hukum pada mereka, dan mereka juga tidak i memintanya. Dia mengurus rekening bank luar negeri I

mereka dan menangani telepon dari keluarga klien mereka di dalam Trumble. Dia mengurus transaksi-transaksi kotor mereka, dan dengan melakukannya jadi tidak usah berurusan dengan ruang sidang, hakim, dan pengacara lain, ini sesuai dengan keinginan Trevor.

Dia juga anggota konspirasi mereka, dengan gampang dihukum seandainya mereka ketahuan. namun dia tidak khawatir. Tipuan Angola sangat brilian karena korban-korbannya tidak bisa mengadu. Untuk pekerjaan enteng dan berpotensi menghasilkan imbalan besar ini, dia mau berjudi dengan Majelis.

Dia keluar dari kantor tanpa menemui sekretarisnya, lalu menyelinap pergi naik VW Beetle tahun 1970-nya yang sudah diperbaiki, tanpa AC. Dia menyusuri First Street menuju Atlantic Boulevard, laut kelihatan di antara rumah-rumah, vila-vila, dan pondok-pondok sewaan. Dia memakai celana khaki lama, kemeja katun putih, dasi kupu-kupu kuning, jaket dari kain seersucker, semuanya kusut kasau. Dia melewati Pete’s Bar and Grill, tempat minum tertua di sepanjang pantai dan favoritnya, meskipun para mahasiswa sudah menemukan tempat itu. Tagihannya di bar itu $361, luar biasa besar dan sudah sangat lama, kebanyakan untuk bir Coors dan daiquiri lemon, dan dia betul-betul ingin melunasi utang itu.

Dia belok ke barat di Atlantic Boulevard, dan mulai bergulat dengan arus lalu lintas ke Jacksonville. Dia memaki kekacauan dan kemacetan lalu lintas, juga mobil-mobil berpelat Kanada. Lalu dia masuk bypass, ke utara bandara, dan segera tenggelam di daerah datar pinggiran Florida.

Lima puluh menit kemudian dia parkir di Trumble. Kau harus menyukai sistem federal, katanya pada dirinya lagi. Banyak tempat parkir di dekat pinm depan. halaman rapi yang setiap hari diurus para narapidana, dan gedung-gedung modern dan terawat.

Dia mengatakan, “Halo, Mackey.” pada penjaga berkulit putih di pintu. dan, “Halo, Vince,” pada yang berkulit hitam. Rufus di meja depan memeriksa tasnya dengan sinar-X. sementara Nadine mengurus administrasi kunjungannya. “Bagaimana basnya?” dia bertanya pada Rufus.

Tak menggigh,” sahut Rufus.

Tak ada pengacara dalam sejarah singkat Trumble yang berkunjung sesering Trevor. Mereka memotret-nya lagi, menstempel punggung tangannya dengan tinta limunan. dan mengantarkannya melewati dua pinm dan lorong pendek. “Halo, Link,” katanya pada penjaga berikut

“Pagi, Trevor,” sapa Link. Link mengurus area tamu, ruang terbuka luas berisi banyak kursi busa dan mesin-mesin makanan/minuman di ^alah satu dinding, taman bermain unmk anak-anak, dan patio kecil di luar, tempat dua orang bisa duduk di meja piknik dan berbicara dari hati ke hati. Tempat itu bersih, mengilap, dan kosong melompong. Sekarang tengah minggu. Orang-orang berkunjung pada hari Sabtu dan Minggu, lain dari im sepi.

Mereka pergi ke ruangan pengacara, salah satu dari beberapa bilik pribadi dengan pinm tertutup dan jendela-jendela tempat Link bisa mengawasi, kalau dia man. Joe Roy Spicer sudah menunggu dan sedang membaca bagian olahraga, dia bertaruh pada pertandingan basket college. Trevor dan Link masuk ke ruangan im bersama-sama. Dengan sangat cepat Trevor mengeluarkan dua lembar uang $20 dan menyerahkannya pada Link. Kamera-kamera closed-circuit tidak bisa melihat mereka kalau mereka melakukan ini di dalam ruangan. Seperti biasa, Spicer pura-pura tidak melihat transaksi itu,

Lalu tas kerja dibuka dan Link pura-pura memeriksanya. Dia berbuat begim tanpa menyentuh apa-apa. Trevor mengambil amplop manila besar yang disegel dan dengan huruf tebal ditulisi “Surat-surat Hukum”. Link mengambilnya dan meremasnya untuk memastikan isinya cuma kertas dan bukan senjata atau sebotol pil, lalu mengembalikannya. Sudah puluhan kali mereka melakukan ini.

Peraturan Trumble mewajibkan penjaga hadir di dalam ruangan ketika semua surat dikeluarkan dan semua amplop dibuka. Namun dua lembar $20 tadi membuat Link pergi ke luar dan berdiri di depan pinm, karena tidak ada lagi yang perlu dijaga saat ini. Dia tahu surat-surat keluar-masuk, dan dia tidak peduli. Selama Trevor tidak membawa senjata atau obat bius, Link tidak mau terlibat. Lagi pula, tempat ini memang memiliki terlalu banyak peraturan konyol. Dia bersandar pada pinm, memunggunginya, dan tidak lama sudah tidur gaya kuda, satu kaki kaku, yang satu lagi ditekuk di lutut.

Di dalam ruangan pengacara, hanya sedikit urusan hukum dibereskan. Spicer masih asyik dengan angka-angka. Sebagian besar narapidana senang dikunjungi. Spicer biasa-biasasaja.

“Tadi malam ada telepon dari saudara taki-laki

Jeff Daggett,” Trevor memberitahu. “Anak dari Coral Gables itu.”

“Aku tahu dia,” kata Spicer. akhirnya menurunkan korannya karena mereka akan membicarakan uang. “Dia dipenjara dua belas tahun karena konspirasi obat bius.”

“Yep. Saudaranya bilang ada mantan hakim federal di dalam Trumble yang memeriksa surat-suratnya dan berpendapat dia mungkin bisa mengurangi beberapa tahun. Hakim ini minta bayaran, jadi Daggett menelepon saudaranya, yang meneleponku.” Trevor membuka jaket seersucker bh*u kusutnya dan melemparkannya ke kursi. Spicer benci dasi kupu-kupunya.

“Mereka sanggup bayar berapa?”

“Kalian sudah mengutip bayaran?” tanya Trevor.

“Beech mungkin sudah, aku tak tahu. Kami berusaha mendapat lima ribu untuk reduksi dua-dua-lima-lima.” Spicer mengatakan ini seolah bertahun-tahun dia jadi hakim di pengadilan pidana federal. Sebetulnya, satu-satunya kesempatannya melihat ruang sidang federal adalah pada hari dia dihukum.

“Aku tabu,” kata Trevor. “Aku tak yakin mereka mampu membayar lima ribu. Anak im dibela pengacara publik,”

“Kalau begim kuraslah sedapatmu, tapi minta paling tidak seribu di muka. Dia bukan anak bandel.”

“Kau melunak, Joe Roy.”

“Tidak. Aku makin keji.”

Kenyataannya memang begim. Joe Roy adalah partner pelaksana Majelis. Yarber ‘dan Beech memiliki bakat dan pendidikan, namun mereka terlalu patah

semangat karena kejatuhan mereka sehingga tidak punya ambisi apa pun. Spicer, tanpa pendidikan dan punya sedikit bakat, memiliki cukup banyak kepandaian manipulauf untuk membuat kolega-koleganya tetap waras. Sementara mereka mengenang-ngenang, dia memimpikan comeback-nya.

Joe Roy membuka map dan mengeluarkan selembar cek. “Ini seribu dolar untuk disimpan. Berasal dari seorang sahabat pena di Texas bernama Curtis.”

“Bagaimana potensinya?”

“Sangat bagus, kurasa. Kami siap melabrak Quince di Iowa.” Joe Roy menyodorkan amplop berwarna lembayung muda yang manis, tertutup rapat, dan dimjukan kepada Quince Garbe di Bakers, Iowa.

“Berapa?” tanya Trevor, mengambil amplop im.

“Serams ribu.”

“Wow.”

“Dia punya uang sebanyak itu, dan akan membayarnya. Aku telah memberinya instruksi pengiriman. Beritahu bank.”

Selama 23 tahun praktek hukum, Trevor tidak pernah memperoleh bayaran mendekati $33,000. Tiba-tiba, dia bisa melihatnya, menyentuhnya, dan, walaupun sudah berusaha mencegahnya, dia mulai menghabiskannya$3,000 tanpa melakukan apa-apa selain mengirim dan mengantarkan surat.

“Kau benar-benar berpendapat ini akan berhasil?” dia bertanya, dalam hati membayar utangnya di Pete’s Bar serta menyuruh MasterCard mengambil cek ini dan mcmakannya. Dia tidak akan menukar mobilnya, Beetle kesayangannya, namun dia mungkin akan memasang AC.

69

Tentu saja,” tukas Spicer, tanpa keraguan sediki pun.

Dia masih punya dua surat, keduanya ditulis Haki Yarber yang berperan sebagai Percy muda di pusat rehabilitasi. Trevor menerimanya dengan penuh semangat.

“Arkansas di Kentucky malam ini,” kata Spicer, kembali ke korannya. “Pasar taruhannya empat belas. Bagaimana menurutmu?”

“Jauh lebih kecil dari itu. Kentucky sangat kuat di kandangnya”

“Kau mau ikut?”

SKau?”

Trevor punya bandar taruhan di Pete’s Bar, dan meskipun jarang bertaruh sekarang tahu sebaiknya dia mengikuti petunjuk Hakim Yarber.

“Aku akan memasang seratus untuk Arkansas,” kata Spicer.

“Kurasa aku juga.”

Mereka main blackjack setengah jam, Link sekali-sekali mengintip ke dalam dan mengernyit tidak suka. Permainan kartu dilarang selama berkunjung, tapi siapa yang peduli? Joe Roy bermain sungguh-sungguh karena dia sedang berlatih untuk kariernya berikutnya. Poker dan gin rummy adalah permainan favorit di ruang rekreasi, dan Spicer sering sulit memperoleh lawan untuk main blackjack.

Permainan Trevor tidak terlalu bagus, tapi dia selalu bersedia main. Menurut Spicer, im satu-satunya sifatnya yang positif.

Lima

ACARA pengumuman im bersuasana ceria pesta kemenangan, dengan aneka ragam spanduk dan bendera merah, putih, dan biru menggantung dari langit-langit serta musik parade menggelegar di hangar. Semua pegawai D-L Trilling diwajibkan hadir, jumlahnya empat ribu, dan untuk menambah semangat, mereka telah dijanjikan libur ekstra sam hari penuh. Delapan jam dibayar, dengan gaji rata-rata $22,40, namun manajemen tidak peduli karena telah menemukan jagoan mereka. Panggung yang bum-bum dibangun juga tertutup spanduk dan penuh sesak dengan para petinggi perusahaan, semua tersenyum lebar dan bertepuk tangan penuh semangat, sementara musik membuat kerumunan menari-nari. Tiga hari lalu tidak ada yang mengenal Aaron Lake. Sekarang dia jura selamat mereka.

Dia jelas berpenampilan seperti kandidat, dengan potongan rambut bam yang sedikit lebih pendek, sesuai saran salah seorang konsultan, dan setelan cokelat ma, sesuai saran konsultan lain. Cuma Reagan yang pantas memakai setelan cokelat, dan dia dua kali meraih kemenangan mutlak.

71

Ketika Lake akhirnya tampil. dan berjalan man tap melintasi panggung, berjabat tangan dengan bos-bos perusahaan yang takkan pernah dilihatnya lagi, para pekerja gegap gempita. Musik dengan cermat diper-cepat sedikit oleh konsultan suara yang tergabung dalam tun suara yang disewa orang-orang Lake dengan bayaran $24,000 untuk kesempatan ini. Uang bukan masalah.

Balon-balon tercurah seperti air terjun. Beberapa meletus karena ditusuk para pekerja yang memang diminta menusuk, sehingga selama beberapa detik hangar seperti dilanda perang. Bersiap-siaplah. Bersiap-siaplah menghadapi perang. Lake. Sebelum Terlambat.

CEO Trilling menyalami tangannya begim erat seolah mereka teman lama, padahal sebetulnya baru dua jam lalu mereka bertemu. CEO im lalu naik ke podium dan menunggu suasana menenang. Dibantu catatan yang diterimanya kemarin lewat faks, dia memulai pidato perkenalan panjang-lebar dan sangat memuji-muji Aaron Lake, sang presiden masa depan. Berdasarkan isyarat, tepuk tangan hadirin menyela pidatonya sampai lima kali.

Lake melambai seperti pahlawan penakluk dan menunggu di balik mikrofon, kemudian dengan pengaturan waktu yang sempurna melangkah maju dan berkata, “Nama-saya Aaron Lake, dan saya sekarang mencalonkan diri sebagai presiden.” Tepuk tangan menggemuruh lagi. Musik parade lagi. Balon-balon melayang turun lagi.

Setelah menikmati suasana im beberapa lama, dia mulai berpidato. Temanya, platform-nya, satu-satunya

alasan pencalonannya adalah keamanan nasional, dan

Lake membeberkan statistik-statistik menakutkan yang membuktikan betapa pemerintahan saat ini telah betul-betul melumpuhkan militer kita. Isu-isu lain tidak ada yang sepenting im, katanya lugas. Pancing kita ke dalam peperangan yang tidak bisa kita menangkan, maka kita akan lupa soal perdebatan lama yang melelahkan tentang aborsi, ras, senjata, tindakan afir-matif, pajak. Prihatin soal nilai-nilai keluarga? Coba-lah kehilangan anak karena perang, maka kau akan melihat keluarga yang betul-betul bermasalah.

Lake sangat bagus. Pidato im ditulisnya sendiri, diedit para konsultan, dipoles para profesional lain, dan tadi malam dia mengantarkannya pada Teddy Maynard, sendirian, jauh di dalam Langley. Teddy setuju, dengan perubahan-perubahan kecil.

Teddy duduk nyaman di balik quilt dan menonton pertunjukan im dengan sangat bangga. York menemaninya, diam seperti biasa. Mereka berdua sering duduk tanpa bicara, memandang Iayar, menonton dunia makin berbahaya.

“Dia bagus,” komentar York tenang di suatu saat tertentu.

Teddy mengangguk, bahkan tersenyum sekilas.

Di pertengahan pidatonya, Lake marah dengan sempurna pada orang-orang Cina. “Selama dua puluh tahun lebih, kita biarkan mereka mencuri empat puluh persen rahasia nuklir kita!” katanya, dan para pekerja mendesis.

“Empat puluh persen!” teriaknya.

Sebetulnya hampir lima puluh, namun Teddy

73

memutuskan untuk menguranginya sedikit. CIA kena semprot juga gara-gara pencurian Cina itu.

Selama lima menit Aaron Lake menyerang Cina, serta perampasan dan peningkatan militer mereka yang selama ini belum pernah terjadi. Strategi itu bikinan Teddy. Gunakan Cina untuk menakut-nakuti para pemilih Amerika. bukan Rusia. Jangan sampai Rusia tahu. Sembunyikan ancaman sesungguhnya sampai beberapa saat yang akan datang dalam kampanye.

Pengaturan waktu Lake mendekati sempurna. Bagian pokok pidatonya menggemparkan suasana. Ketika dia berjanji untuk melipatgandakan anggaran pertahanan dalam empat tahun pertama pemerintahan-nya, tepuk tangan empat ribu pegawai D-L Trilling membuat belikopter-helikopter militer pun meledak.

Teddy menontonnya dengan tenang, sangat bangga pada kreasinya. Mereka berhasil mengalahkan keriuhan New Hampshire dengan meremehkannya. Nama Lake tidak tercantum pada kertas suara pemilu, dan dialah kandidat pertama selama puluhan tahun yang bangga akan kenyataan itu. “Siapa sih yang butuh New Hampshire?” dia pemah bicara begim. “Saya akan memenangkan seluruh negeri.”

Lake mundur di tengah tepuk tangan meng-gemurah, dan menyalami lagi semua orang di panggung. CNN kembali ke studionya di mana para tukang ngocehnya akan menghabiskan lima belas menit untuk memberitahu pemirsa tentang apa yang barusan mereka saksikan sendiri.

Di mejanya, Teddy menekan tombol-tombol dan layar berubah. ‘Ini produk akhirnya,” dia berkata. Tahap pertama.”

Di layar tampak iklan televisi untuk kandidat Lake, dan iklan itu dimulai dengan gambar jenderal-jenderal Cina bertampang muram yang berdiri kaku di sebuah parade militer, mengawasi peralatan berat perang melintas. “Kaupikir dunia tempat yang aman?” tanya suara dalam dan menyeramkan yang tak berwujud. Kemudian, gambar orang-orang gila dunia saat ini, semua tengah mengamati tentara mereka berparade Hussein, Qaddafi, Milosevic, Kim di Korea Utara. Bahkan si malang Castro, dengan sisa-sisa tentara lusuhnya yang gentayangan di Havana, ditampilkan juga. “Militer kita sekarang tidak dapat mengulangi apa yang dilakukannya di tahun 1991 dalam Perang Teluk,” kata suara im muram, seolah perang telah dinyatakan. Kemudian ledakan, jamur bom atom, diikuti oleh ribuan orang India menari-nari di jalanan. Ledakan lagi, dan orang-orang Pakistan di sebelah menari.

“Cina ingin menginvasi Taiwan,” suara im melanjutkan sementara sejuta tentara Cina berbaris tegap. “Korea Utara menginginkan Korea Selatan,” kata suara im, sementara tank-tank menggelinding melewati zona demiliterisasi. “Dan Amerika Serikat selalu jadi sasaran mudah.”

Suara im dengan cepat meninggi, dan iklan beralih ke suatu acara dengar pendapat Kongres, dengan seorang jenderal yang seragamnya penuh medali tengah berpidato di hadapan suam subkomite. “Anda, Kongres,” kata jenderal itu, “setiap tahun makin sedikit menyediakan anggaran untuk militer. Anggaran pertahanan ini lebih kecil daripada lima belas tahun lalu. Anda mengharapkan kami siap menghadapi

75

perang di Korea, Timur Tengah, dan sekarang Eropa Timur, namun anggaran kami terus berkurang. Situasinya kritis.” Iklan lenyap, hanya layar gelap, lain suara pertama tadi berkata, “Dua belas tahun lalu ada dua negara adikuasa. Sekarang nihil.” Wajah tampan Aaron Lake muncul, dan iklan im berakhir dengan suara yang mengatakan, “Lake, Sebelum Ter-Iambat”

“Aku tak terlalu menyukainya,” komentar York setelah hening sejenak. “Kenapa?” “Terlalu negatif.”

“Bagus. Membuatmu merasa tak tenang, kan?” “Sangat tak tenang.”

“Bagus. Kita akan membanjiri televisi selama seminggu, dan kuduga pendukung Lake yang sedikit akan makin sedikit. Iklan-iklan im akan membuat orang-orang resah, dan mereka takkan menyukainya.”

York tahu apa yang akan terjadi. Orang-orang memang akan resah dan membenci ťiklan-iklan tersebut, lalu ketakutan setengah mati, dan Lake mendadak jadi orang yang punya visi. Teddy yang menggarap terornya.

Ada dua ruang TV di setiap bagian Trumble; dua ruangan kosong kecil tempat kau bisa merokok dan menonton apa pun yang diinginkan para penjaga supaya kautonton. Tidak ada remotemula-mula mereka menyediakannya namun ternyata menimbulkafl terlalu banyak masalah. Para penghuni bertengkar sera karena berbeda pendapat tentang apa yang akan ditonton. Jadi para penjaga yang memilihkan.

Peraturan melarang narapidana punya TV sendiri-sendiri.

Penjaga yang sedang bertugas kebetulan suka basket. ESPN menyiarkan pertandingan college, dan ruangan penuh sesak dengan narapidana. Hatlee Beech tidak suka olahraga, maka dia duduk sendirian di ruang TV yang satu lagi dan menonton berbagai komedi situasi dangkal. Ketika masih jadi hakim dan bekerja dua belas jam sehari, dia tidak pernah menonton televisi. Mana ada waktu? Dulu dia punya kantor di rumah tempat dia mendiktekan pendapat-pendapat sampai larut malam, sementara orang-orang lain tenggelam di depan televisi. Sekarang, menonton omong kosong tak berotak ini, dia sadar betapa beruntungnya dia dulu. Dalam begim banyak hal.

Dinyalakannya rokok. Sejak lulus kuliah dia tidak merokok, dan selama dua bulan pertama di Trumble dia berhasil menahan godaan. Sekarang rokok membantunya mengatasi perasaan bosan, tapi hanya sebungkus sehari. Tekanan darahnya naik-turun. Sakit jantung merupakan penyakit keluarganya. Di usia 56 tahun dan bam bebas sembilan tahun lagi, dia yakin akan keluar dari sini dalam peti mati.

Tiga tahun, satu bulan, satu minggu, dan Beech masih menghitung hari-hari yang telah berlalu, bukan kapan dia akan bebas. Hanya empat tahun lalu dia tengah membangun reputasi sebagai hakim federal muda tegas yang bepergian ke berbagai tempat. Empat tahun yang menyebalkan. Ketika bepergian dari satu gedung pengadilan ke gedung pengadilan lain di East Texas, dia selalu ditemani sopir, sekretaris, asisten, dan U.S. Marshal. Ketika dia memasuki ruang

sidang, orang-orang berdiri karena normal Para pengacara menyeganinya karena sikap adil dan kerja kerasnya. Istrinya wanita yang tidak menyenangkan, tapi dengan uang minyak keluarganya dia berhasil hidup tenang dengannya. Pernikahan mereka stabil, tidak bisa dibilang hangat, tapi dengan tiga anak baik-baik di college, mereka pantas bangga. Mereka telah melalui saat-saat sulit dan bertekad menjalani masa tua bersama. Istrinya punya uang. Dia punya status. Bersama mereka telah membesarkan keluarga. Ke mana setelah semua itu?

Jelas bukan ke penjara.

Empat tahun sialan.

Kebiasaan mabuknya timbul entah dari mana. Mungkin karena tekanan pekerjaan, mungkin karena ingin menghindari kerewelan istrinya. Selama bertahun-tahun, setelah kuliah hukum, dia biasa minum, tapi cuma sekadarnya. Yang jelas bukan kebiasaan. Waktu anak-anak masih kecil, istrinya membawa mereka ke Italia selama dua minggu. Beech ditinggal sendirian, yang bukan merupakan masalah baginya. Karena alasan yang tidak pernah bisa dipastikannya, atau diingatnya, dia mulai minum bourbon. Banyak sekali, dan dia tak pernah berhenti. Bourbon jadi penting. Dia menyimpannya di ruang kerja dan larut malam menyelundupkannya. Mereka tidur di kamar terpisah, jadi dia jarang ketahuan.

Perjalanan ke Yellowstone im karena ada konferensi kehakiman selama tiga hari. Dia bertemu wanita muda im di bar di Jackson Hole. Setelah berjam-jam minum, mereka mengambil keputusan yang salah untuk bermobil. Sementara Hatlee mengemudi, wanita

im membuka pakaian, namun cuma karena ingin melakukannya, bukan karena sebab lain. Seks belum dibicarakan, dan saat im Hatlee sama sekali tidak punya niat apa-apa.

Kedua pejalan kaki tersebut dari D.C., sepasang mahasiswa biasa yang kembali dari berjalan-jalan. Keduanya tewas seketika, terbunuh di bahu jalan sempit gara-gara sopir pemabuk yang tidak melihat mereka. Mobil wanita muda im ditemukan di selokan dengan Beech memeluk kemudi, tidak mampu menggerakkan mbuhnya sendiri. Wanita im telanjang dan pingsan.

Beech tidak ingat apa-apa. Ketika sadar beberapa jam kemudian, untuk pertama kalinya dia melihat bagian dalam sel tahanan. “Sebaiknya kau membiasakan diri,” kata sheriff sambil mencibir.

Beech minta bantuan ke sana kemari dan menghubungi semua orang yang dikenalnya, tapi sia-sia. Dua anak muda meninggal. Dia ditangkap bersama seorang wanita telanjang. Istrinya punya uang, jadi teman-temannya kabur seperti anjing-anjing ketakutan. Akhirnya, tak seorang pun membela Yang Mulia Hatlee Beech.

Dia beruntung cuma dijatuhi hukuman dua belas tahun. Ibu-ibu SEDIH dan mahasiswa-mahasiswa MARAH berdemonstrasi di luar gedung pengadilan waktu dia muncul secara resmi untuk pertama kalinya. Mereka menginginkan hukuman seumur hidup. Seumur hidup!

Dia, Yang Mulia Hatlee Beech, didakwa dengan dua pembunuhan tidak direncanakan, dan tak ada pembelaan. Kadar alkohol dalam darahnya cukup

untuk membunuh satu orang lagi. Seorang saksi mengatakan dia ngebut di jalur jalan yang salah.

Ketika mengingat semua itu, dia merasa beruntung kejahatannya terjadi di wilayah federal Jika tidak, dia pasti sudah dikirim ke penjara negara bagian di mana segala sesuatunya jauh lebih keras. Terserah kau mau bilang apa, tapi orang-orang federal tahu cara mengelola penjara.

Dia merokok sendirian dalam ruangan remang-remang, menonton komedi jam tayang utama yang ditulis orang-orang tolol, dan tampak sebuah iklan politis, salah satu dari sekian banyak akhir-akhir ini. Iklan itu belum pernah dilihat Beech, segmen singkat mengancam dengan suara serius yang meramalkan kiamat jika kita tidak bergegas dan membuat lebih banyak bom. Iklan itu sangat bagus, durasinya satu setengah menit, berbiaya mahal, dan menyampaikan pesan yang tidak ingin didengar siapa pun. Lake Sebelum Terlambat. Siapa Aaron Lake?

Beech tahu politik. Dulu dia sangat berminat mengikuti perkembangan politik, dan di Trumble dia dikenal sebagai orang yang memperhatikan Washington. Dia salah satu dari sedikit orang yang peduli pada apa yang berlangsung di sana.

Aaron Lake? Beech tidak kenal orang itu. Strategi yang sangat aneh, memasuki pencalonan sebagai orang yang tak dikenal setelah New Hampshire. Selalu saja ada badut yang ingin jadi presiden.

Istri Beech mendepaknya sebelum dia mengaku bersalah atas dua pembunuhan tak direncanakan. Cukup wajar, istrinya lebih marah soal wanita

80

telanjang itu daripada soal kedua pejalan kaki yang jadi korban. Anak-anak memihak sang ibu karena dia yang memiliki uang dan karena sang ayah betul-betul keterlaluan. Anak-anak tidak sulit memutuskan akan ikut dengan siapa. Perceraian mereka beres seminggu setelah dia sampai di Trumble.

Anak bungsunya berkunjung dua kali selama tiga tahun, satu bulan, dan satu minggu. Kedua kunjungannya dilakukan diam-diam, supaya sang ibu tidak tahu. Istrinya melarang anak-anak pergi ke Trumble.

Lalu dia dituntut, dua perkara kematian akibat kecerobohan yang diajukan keluarga para korban. Tak punya teman yang mau membelanya, dia berusaha membela dirinya sendiri supaya tidak dipenjara. Tapi tak banyak yang bisa dibela. Pengadilan memutuskan dia harus membayar ganti rugi sebesar $5 juta. Dia mengajukan banding dari Trumble, kalah dari Trumble, dan mengajukan banding lagi.

Di kursi di sampingnya, di sebelah rokok, terdapat amplop yang tadi dibawakan Trevor, si pengacara. Pengadilan menolak permohonan banding akhirnya. Hukumannya sekarang tak bisa diganggu gugat lagi.

Tidak masalah sebetulnya, karena dia juga telah mengajukan permohonan agar dirinya dinyatakan bangkrut. Dia mengetik sendiri surat-surat itu di perpustakaan hukum dan mengajukannya bersama surat pernyataan miskin, mengirimkannya ke gedung pengadilan yang sama dengan tempatnya dulu bertugas sebagai hakim.

Dihukum, diceraikan, dipecat, dipenjara, dituntut, bangkrut.

Sebagian besar pecundang di Trumble bisa me-

81

nerima hukuman mereka karena perubahan nasib mereka tidak terlalu jauh. Mayoritas adalah penjahat kambuhan yang sudah tiga atau empat kali dihukum. Mayoritas menyukai tempat sialan ini karena tempat ini lebih baik daripada penjara-penjara lain yang pernah mereka huni.

Tapi Beech kehilangan begim banyak, jatuh begitu dalam. Baru empat tahun yang lalu dia memiliki istri yang punya uang berjuta-juta, tiga anak yang menyayanginya, dan sebuah rumah besar di kota kecil. Dulu dia hakim federal, ditunjuk Presiden untuk seumur hidup, berpenghasilan $.140,000 setahun, yang memang jauh lebih rendah daripada royalti minyak istrinya tapi tetap saja bukan gaji yang kecil. Dia dipanggil ke Washington dua kali setahun untuk menghadiri pertemuan-pertemuan di Kehakiman. Dulu Beech orang penting.

Seorang pengacara teman lamanya mengunjunginya dua kali, dalam perjalanan ke Miami untuk mengunjungi anak-anaknya, dan orang im bertamu cukup lama untuk menyampaikan gosip. Kebanyakan tidak penting, tapi ada desas-desus kuat bahwa mantan Mrs. Beech sekarang pacaran lagi. Dengan beberapa juta dolar dan pinggul ramping im cuma masalah waktu.

Iklan lagi. Lake Sebelum Terlambat lagi. Yang ini dimulai dengan video kabur pria-pria bersenjata yang merangkak di gurun, mengelak, menembak, dan menjalani semacam pelatihan. Lalu wajah menyeramkan seorang terorismata, rambut, dan wajah wama gelap, jelaslah dari suam kelompok radikaldan pria im berkata dalam suatu bahasa asing berteks Inggris,

“Kami akan membunuh orang Amerika di mana pun kami menemukan mereka. Kami akan mati dalam perang suci melawan Setan.” Setelah im, kilasan gambar-gambar tentang gedung-gedung yang terbakar. Pengeboman kedutaan besar. Turis sam bus penuh. Sisa-sisa pesawat jet yang berserakan di lapangan.

Muncul seraut wajah tampan, Mr. Aaron Lake sendiri. Dia menatap langsung Hatlee Beech dan berkata, “Saya Aaron Lake, dan Anda barangkali tidak mengenal saya. Saya mencalonkan diri sebagai presiden karena saya takut. Takut pada Cina, Eropa Timur, dan Timur Tengah. Takut pada dunia yang berbahaya. Takut pada apa yang telah terjadi pada militer kita. Tahun lalu, pemerintah federal memiliki surplus raksasa, namun membelanjakan lebih sedikit daripada lima belas tahun lalu. Kita merasa puas pada diri sendiri karena ekonomi kita kuat, tapi dunia sekarang jauh lebih berbahaya daripada yang kita sadari. Musuh kita banyak sekali, dan kita tidak bisa melindungi diri sendiri. Jika terpilih, saya akan melipatgandakan anggaran belanja pertahanan selama masa tugas saya.”

Tak ada senyum, tak ada kehangatan. Cuma omongan lugas orang yang tidak main-main. Terdengar suara berkata, “Lake, Sebelum Terlambat.”

Lumayan, pikir Beech.

Dia menyalakan sebatang rokok lagi, yang terakhir untuk malam ini, dan memandangi amplop di kursi kosong imdua keluarga menuntut $5 juta darinya. Dia akan membayarnya kalau bisa. Dia tidak pernah melihat anak-anak im sebelum membunuh mereka. Koran keesokan harinya memuat fbto-foto bahagia

83

mereka, bocah laki-laki dan perempuan. Cuma mahasiswa biasa, yang tengah menikmati musim panas. Dia ingin sekali minum bourbon. Dia bisa mengelak membayar setengah jumlah gantt ragi mi dengan mengaku bangkrut Setengahnya lagi untuk hukuman, tak bisa dielakkan dengan pernyataan bangkrut. Jadi tunmtan im akan mengikutinya ke mana pun dia pergi, yang diduganya tidak ke mana-mana. Dia akan berusia 65 tahun ketika hukumannya selesai, tapi dia akan mati sebelum im. Mereka akan membawanya keluar dari Trumble dalam peti mati, mengirimnya pulang ke Texas dan akan menguburnya di belakang gereja desa kecil tempat dia dibaptis. Mungkin salah seorang anaknya akan membuatkan nisan.

Beech meninggalkan ruangan tanpa mematikan TV. Sudah hampir pukul 22.00, wakfunya lampu dimatikan. Dia tidur di ranjang tingkat dengan Robbie, anak muda dari Kenmcky yang membobol 240 rumah sebelum ditangkap. Dia menjual senjata, microwave, dan stereo untuk membeli kokain. Robbie sudah empat tahun di Trumble, dan karena senioritasnya, dia memilih ranjang bawah. Beech merayap ke ranjang atas, berkata, “Selamat malam, Robbie,” dan mematikan lampu. “Malam, Hatlee,” terdengar jawaban pelan. Kadang-kadang mereka mengobrol dalam gelap. Dindingnya terbuat dari blok cinder, pintunya dari logam, kata-kata mereka tidak terdengar dari luar. Robbie berumur 25 tahun dan akan berumur 45 tahun ketika meninggalkan Trumble. Dua puluh empat tahunsatu tahun untuk setiap sepuluh rumah.

Waktu antara berbaring dan pulas adalah waktu yang paling buruk dalam sehari. Masa lalu kembali tanpa belas kasihansegala kesalahan, penderitaan, penyesalan. Meskipun bemsaha sekuat tenaga, Hatlee tidak bisa memejamkan mata begim saja dan tidur. Dia hams menghukum dirinya dulu. Dia takkan pernah bertemu cucunya, dan renungannya selalu dimulai dari anak perempuan im. Lalu ketiga anaknya. Lupakan istrinya. Tapi dia selalu memikirkan uang wanita im. Dan teman-temannya. Ah, teman-teman. Di mana mereka sekarang?

Tiga tahun dipenjara, dan karena tak ada masa depan, yang ada cuma masa lalu. Bahkan si Robbie malang di bawah saja bisa bermimpi tentang lembaran bam di usia 45. Beech tidak. Kadang-kadang dia nyaris merindukan tanah Texas yang hangat, menutupinya, di belakang gereja kecil im.

Pasti ada yang akan membelikannya nisan.

Enam

BAGI Quince Garbe. tanggal 3 Februari adalah hari teiburuk seumur hidupnya. Itu pasri merupakan hari terakhirnya di muka bumi ini. kalau saja doktemya ada. Dia tidak bisa memperoleh resep untuk obat tidur, dan tidak punya nyali untuk menembak kepalanya sendiri.

Hari im dimulai dengan cukup menyenangkan. Dia sarapan semangkuk bubur gandum di samping perapian di ruang kerja, sendirian. Istri yang sudah dinikahinya selama 26 tahun telah berangkat ke kota, untuk menghadiri satu lagi jamuan minum teh, pengumpulan dana, dan kerja sukarela yang membuat wanita im selalu sibuk dan tidak merecokinya.

Saint turun ketika dia meninggalkan rumah bankir mereka yang besar dan mewah di pinggiran Bakers, Iowa, dan selama sepuluh menit menyetir Mercedes hitam panjangnya yang sudah bemmur sebelas tahun ke kantor. Dia orang penting di kota ini, seorang Garbe, anggota keluarga yang telah beberapa generasi memiliki bank. Dia parkir di tempat khufus untuknya di belakang bank, yang menghadap Main Street, dan

berjalan cepat-cepat ke kantor pos, kegiatan yang dilakukannya dua kali seminggu. Selama bertahun-tahun dia mempunyai kotak pos pribadi di sana, tanpa sepengetahuan istrinya dan terutama tanpa sepengetahuan sekretarisnya.

Karena dia kaya dan karena di Bakers, Iowa orang kaya cuma sedikit, dia jarang bicara dengan orang-orang di jalan. Dia tidak peduli apa kata mereka. Mereka memuja ayahnya dan im cukup untuk mempertahankan bisnis mereka.

Tapi kalau ayahnya meninggal nanti, perlukah dia mengubah kepribadiannya? Apakah dia hams tersenyum di trotoar Bakers dan ikut Rotary Club, yang didirikan kakeknya?

Quince muak menggantungkan hidupnya pada pendapat publik. Dia muak tergantung pada ayahnya untuk membuat para pelanggan mereka tetap senang. Dia muak pada perbankan, muak pada Iowa, muak pada salju, muak pada istrinya, dan yang lebih diinginkan Quince daripada apa pun di pagi bulan Februari im adalah surat dari Ricky-nya yang tercinta. Surat singkat dan menyenangkan yang mengkonfirmasi pertemuan mereka.

Yang betul-betul diinginkan Quince adalah tiga -hari yang hangat di kapal cinta bersama Ricky. Dia mungkin takkan kembali.

Bakers berpenduduk 18.000 jiwa, jadi kantor pos pusat di Main biasanya sibuk. Dan petugas di balik konter selalu berbeda. Begitulah cars dia menyewa kotak posdia menunggu sampai seorang pegawai pos baru bertugas. Resminya P^^J^ CMT Investments. Dia langsung pergi ke P°*<

melewati pojok menuju dinding berisi seratus kotak pos lainnya.

Ada tiga surat, ketika dia menyambar dan menjejalkannya ke saku mantel, jantungnya serasa berhenti berdetak saat dia melihat salah satunya berasal dari Ricky. Dia bergegas ke Main, dan beberapa menit kemudian masuk banknya, tepat pada pukul 10.00. Ayahnya sudah empat jam di sana, tapi mereka telah lama berhenti bertengkar soal jadwal kerja Quince. Seperti biasa, dia mampir di meja sekretarisnya untuk buru-buru melepas sarung tangan seolah masalah-masalah penting sudah menunggu. Wanita im menyerahkan surat-surat, dua pesan telepon, dan mengingatkan bahwa dua jam lagi dia akan makan siang dengan seorang makelar.

Dia mengunci pinm begim masuk ruang kerja, melemparkan sarung tangan ke satu arah dan mantel ke arah Iain, lalu mefbbek surat dari Ricky. Dia duduk di sola, dan memakai kacamata baca, terengah-engah bukan karena jalan kaki tadi melainkan karena antisipasi. Dia sudah nyaris terangsang ketika mulai membaca.

Kata-kata im menghantamnya bagai peluru. Setelah paragraf kedua, dia menjerit aneh dan memelas. Lalu beberapa kali berkata, “Oh, Tuhanku.” Kemudian mendesis pelan, “Bangsat,”

Tenang, katanya dalam hati, sekretarisnya selalu mendengarkan. Dia terkejut ketika pertama kali membaca surat itu, lalu tak percaya ketika membacanya untuk kedua kali. Realitas mulai mengendap pada bacaan ketiga, dan bibir Quince jadi bergetar. Jangan menangis, sialan, dia memarahi dirinya sendiri.

Dia mencampakkan surat im ke lantai dan mondar-mandir di sekeliling meja, sedapat mungkin mengabaikan wajah riang istri dan anak-anaknya. Foto-foto masa sekolah dan keluarga sejak dua puluh tahun lalu berbaris di bufet, persis di bawah jendela. Dia memandang ke luar dan mengamati salju, sekarang turun lebih lebat dan menumpuk di trotoar. Ya Tuhan, betapa bencinya dia pada Bakers, Iowa. Tadinya dia mengira bisa pergi dan kabur ke pantai tempat dia bisa bercengkerama dengan seorang teman muda yang tampan dan mungkin tidak pulang lagi.

Sekarang dia akan pergi dalam situasi yang berbeda.

Ini pasti lelucon, olok-olok, katanya dalam hati, tapi langsung tahu im tidak benar. Ini terlalu busuk. Terlalu mengenai sasaran. Dia dijebak penipu profesional.

Seumur hidup dia selalu melawan gairahnya. Entah bagaimana akhimya dia punya keberanian untuk membuka diri, dan sekarang dia bagai ditembak persis di antara mata oleh seorang narapidana. Goblok, goblok, goblok. Bagaimana ini bisa begim sulit?

Berbagai pikiran menghantam dari segala arah ketika dia memandang salju. Jawaban yang paling gampang adalah bunuh diri, tapi doktemya pergi dan dia. tidak betul-betul ingin mati. Paling tidak untuk saat ini. Dia tidak tahu dari mana dapat memperoleh $100,000 yang bisa dikirimnya tanpa menimbulkan kecurigaan. Bangsat gaek di sebclah membayarnya sedikit sekali dan pelitnya setengah mati. Istrinya berkeras mencocokkan buku* cek mereka. Memang ada uang lumayan banyak di rekening bersama, tapi

dia tidak bisa mengambilnya tanpa sepengetahuan wanita itu. Hidup seorang bankir kaya di Bakers, Iowa berarti jabatan, Mercedes,* rumah besar yang dihipotekkan. dan istri dengan berbagai aktivitas sosial. Oh. betapa inginnya dia kabur!

Dia tetap akan pergi ke Florida, melacak surat itu, dan mengkonfrontasi narapidana ini, membongkar usaha pemerasannya, menemukan keadilan. Dia, Quince Garbe, tidak melakukan kesalahan apa pun. Jelas di sini ada kejahatan. Mungkin dia bisa menyewa detektif. mungkin pengacara, dan mereka akan melindunginya Mereka akan membereskan rencana busuk ini sampai ke akar-akamya.

Bahkan kalaupun dia memperoleh uang im, dan mengirimnya sesuai instruksi, pintu telah terbuka dan Ricky, siapa pun Ricky sialan ini, mungkin saja menginginkan lebih banyak. Apa yang akan menghentikan Ricky dari memerasnya lagi, dan lagi?

Jika punya nyali dia akan tetap kabur, lari ke Key West atau suam tempat beriklim panas di mana salju tak pernah turun dan hidup sesuai keinginannya, membiarkan orang-orang picik dan menyedihkan di Bakers, Iowa, menggosipkannya selama setengah abad berikut. Xapi dia tidak punya nyali, dan itulah yang membuat Quince begim sedih.

Anak-anaknya memandanginya, wajah mereka yang penuh bintik tersenyum dengan gigi terbungkus kawat gigi perak. Hatinya serasa diremas, dan dia tahu dia akan mendapatkan uang itu dan mengirimnya persis dengan instruksinya. Dia hams melindungi mereka. Mereka tidak bersalah.

Saham bank bernilai sekitar $10 juta, semua masih

dikontrol ketat si gaek, yang saat ini tengah berteriak-teriak di koridor. Pria im berusia 81 tahun, masih sehat walafiat, tapi bagaimanapun sudah tua Kalau dia meninggal, Quince harus mengurus seorang saudara perempuan di Chicago, tapi bank ini akan jadi miliknya. Dia akan menjual tempat sialan ini secepat mungkin dan meninggalkan Bakers dengan beberapa juta di saku. Namun, sampai saat itu tiba, dia terpaksa melakukan apa yang dilakukannya selama ini, menuruti kemauan laki-laki tua im.

Pembeberan aib Quince oleh seorang narapidana akan menghancurkan ayahnya, dan membereskan masalah saham. Saudara perempuannya di Chicago akan memperoleh semuanya.

Ketika teriakan di luar berhenti, dia menyelinap keluar pinm dan melewati sekretarisnya untuk mengambil secangkir kopi. Dia mengabaikan wanita im ketika kembali ke ruangannya, mengunci pinm, membaca surat tadi untuk keempat kalinya, dan menenangkan diri. Dia akan mendapatkan uang itu, akan mengirimkannya sesuai instruksi, dia berharap dan ber-doa sepenuh hati bahwa Ricky akan pergi. Jika tidak, jika orang im kembali untuk minta uang lagi, Quince akan menghubungi doktemya dan minta pil tidur banyak-banyak.

Makelar yang ditemuinya saat makan siang adalah orang yang berani mengambil risiko, mungkin penipu. Quince mulai menyusun. rencana. Mereka berdua bisa mengatur beberapa pinjaman tidak benar; menaikkan nilai taksiran tanah, meminjamkan uang, menjual pada orang yang sebetulnya tidak ada, dan sebagainya. Makelar im pasti tahu caranya.

Quince akan mendapatkan uang itu.

Iklan-iklan kiamat kampanye Lake gagal total, setidaknya begitulah metiurut pendapat publik. Jajak pendapat besar-besaran sepanjang minggu pertama menunjukkan peningkatan dramatis dalam pengenalan nama, dari 2 menjadi 20 persen, namun iklan-iklan tersebut di mana-mana dibenci. Iklan-iklan im menakutkan dan orang tidak mau berpikir tentang perang, terorisme, dan bom-bom nuklir yang diseret melintasi pegunungan dalam gelap. Orang melihat iklan-iklan tersebut (iklan-iklan im tidak mungkin tidak dilihat) dan mendengar pesannya, namun sebagian besar pemilih tidak ingin direcoki. Mereka terlalu sibuk mencari uang dan menghabiskannya. Ketika isu-isu diajukan di tengah perekonomian yang membubung, masalahnya terbatas pada nilai-nilai keluarga dan potongan pajak.

Para pewawancara awal Kandidat Lake memper-lakukannya sebagai pecundang biasa sampai Lake mengumumkan, dalam siaran langsung televisi, bahwa kampanyenya telah menerima sebelas juta dalam waktu kurang dari seminggu.

“Kami mengharapkan punya 20 juta dalam dua minggu,” katanya tanpa melebih-lebihkan, dan berita-berita sungguhan mulai terjadi. Teddy Maynard telah memastikan bahwa uang im akan benar-benar ada.

Dua puluh juta dalam dua minggu tidak pernah terjadi sebelumnya, dan di akhir hari itu Washington menelan kisah tersebut. Kehebohan mencapai puncak-nya wakm Lake diwawancara kembali secara langsung oleh dua dari tiga jaringan stasiun televisi

dalam warta berita malam. Dia tampak mengesankan; senyum lobar, kata-kata mengalir, setelan dan rambut bagus. Pria im layak dipilih.

Konfirmasi final bahwa Aaron Lake adalah kandidat serius datang menjelang hari im berakhir, wakm salah seorang lawannya menyerangnya. Senator Britt dari Maryland sudah setahun berkampanye dan memperoleh posisi kedua yang mantap di New Hampshire. Dia telah mengumpulkan $9 juta, menghabiskan jauh lebih banyak dari im, dan terpaksa membuang setengah waktunya untuk memperoleh uang, bukan berkampanye. Dia bosan mengemis, bosan mengurangi staf, bosan mencemaskan iklan-iklan TV, dan ketika seorang reporter bertanya padanya tentang Lake dan $20 jutanya, Britt menyembur, “Im uang kotor. Tak satu pun kandidat jujur bisa mengumpulkan uang sebanyak dan secepat itu.” Britt sedang bersalaman di tengah hujan di pinm masuk pabrik kimia di Michigan.

Komentar uang kotor itu langsung disambar pers dan segera menyebar ke mana-mana.

Aaron Lake telah tiba.

Senator Britt dari Maryland memiliki masalah-masalah lain, meskipun berusaha melupakannya.

Sembilan tahun lalu dia pergi ke Asia Tcnggara untuk menemukan beberapa fakta. Seperti biasa, dia dan beberapa koleganya dari Kongres terbang naik kelas satu, menginap di hotel-hotel bagus, dan makan lobster, semua dalam rangka mcmpclajari kemiskinan di daerah itu dan menyelidiki sampai tuntas soal kontroversi heboh gara-gara Nike dan penggunaan

tenaga kerja asing murah. pi awal perjalanan, Britt berkenalan dengan seorang gadis di Bangkok. Dengan berpura-pura sakit, dia memutuskan tinggal lebih lama, sementara teman-temannya melanjutkan pencarian fakta mereka ke Laos dan Vietnam.

Nama gadis itu Payka. dan bukan pelacur. Payka sekretaris Kedutaan Besar AS di Bangkok yang berusia dua puluh tahun. Karena gadis itu dibayar negaranya. Britt merasa berhak tertarik padanya. Dia jauh dari Maryland, dari istri, lima anak, dan para pemilihnya. Payka memikat dan cantik, serta ingin bersekolah di Amerika Serikat.

Apa yang tadinya cuma affair iseng dengan cepat berkembang jadi hubungan asmara, dan Senator Britt harus memaksa diri untuk kembali ke Washington Dua bulan kemudian dia kembali ke Bangkok karena, begitu yang diberitahukannya pada istrinya, urusan yang mendesak tapi rahasia.

Selama sembilan bulan, dia pergi ke Thailand empat kali, selalu dengan penerbangan kelas satu, selalu atas tanggungan pembayar pajak, sehingga para pengeliling dunia di Senat pun mulai berbisik-bisik. Britt menghubungi koneksi-koneksinya di Departemen Luar Negeri, dan Payka tampaknya akan berangkat ke Amerika Serikat.

Gadis im tak pernah pergi. Pada pertemuan keempat dan yang terakhh*, Payka memberitahu bahwa dia hamil. Dia Katolik dan aborsi bukanlah pilihan. Britt menolaknya, mengatakan butuh wakm untuk berpikir, lalu terbang meninggalkan Bangkok tengah malam. Pencarian fakta pun selesai. Di awal kariernya di Senat, Britt, seorang garis

keras fiskal, sekali atau dua kali menarik perhatian publik dengan mengkritik keborosan CIA. Teddy Maynard diam saja, namun jelas tidak suka jadi sorotan seperti im. Arsip tipis tentang Senator Britt pun dikeluarkan dan diprioritaskan. Wakm pria itu pergi ke Bangkok untuk kedua kalinya, CIA me-nguntitnya. Tentu saja sang senator tidak tahu, tapi mereka duduk di dekatnya di dalam pesawat, di kelas satu juga, dan mereka punya orang-orang di daratan Bangkok. Mereka mengawasi hotel tempat kedua kekasih im menginap tiga hari. Mereka memotret keduanya makan di berbagai restoran mahal. Mereka melihat segalanya. Britt tidak sadar dan bodoh.

Belakangan, setelah si anak lahir, CIA memperoleh catatan rumah sakitnya, lalu catatan medis untuk menghubungkan darah dan DNA. Payka tetap bekerja di kedutaan, jadi mudah ditemukan.

Ketika anak im berusia satu tahun, dia difoto sedang dipangku Payka di taman kota. Lebih banyak foto lagi setelah im, dan ketika berusia empat tahun dia mulai samar-samar kelihatan seperti Senator Dan Britt dari Maryland.

Ayahnya sudah lama pergi, Semangat Britt untuk mencari fakta di Asia Tenggara padam secara dramatis, dan dia mengalihkan perhatian ke tempat-tempat kritis lain di dunia. Akhirnya dia dicengkeram ambisi menjadi presiden, penyakit para senator senior yang cepat atau lumbal mcnyerang mereka semua. Dia tidak pernah mendengar kabar dari Payka, dan mimpi buruk itu pun mudah dilupakan,

Britt mempunyai lima anak sah, dan seorang istri

bawel. Mereka satu tim, Senator dan Mrs. Britt, bersama-sama memimpin isu raksasa tentang nilai-nilai keluarga dan “Kita Harus Menyelamatkan Anak-anak Kita!” Bersama-sama mereka menulis buku tentang cara membesarkan anak dalam budaya sinting Amerika, meskipun anak suiting mereka baru berumur tiga belas tahun. Ketika Presiden dipermalukan gara-gara petualangan seksualnya, Senator Britt jadi pe-rawan paling suci di Washington.

Dia dan istrinya berhasil menarik perhatian, dan uang pun mengalir dari golongan konservatif. Senator sukses di kaukus-kaukus Iowa, berada di posisi kedua dengan selisih sedikit di New Hampshire, tapi kehabisan uang dan tenggelam dalam jajak pendapat.

Dia tenggelam makin dalam. Setelah hari kampanye yang melelahkan. rombongannya menginap semalam di sebuah motel di Dearborn, Michigan. Di sanalah si senator akhirnya berhadapan dengan anak nomor enam, meskipun tidak secara langsung.

Nama agen itu McCord, dan dia sudah seminggu membuntuti Britt dengan surat-surat keterangan pers palsu. Dia bilang dia bekerja di sebuah koran di Tallahassee, tapi sebetulnya dia sudah sebelas tahun jadi agen CIA. Begitu banyak reporter mengerubungi Britt, sehingga tidak ada yang berpikir untuk mengecek.

McCord mendekati seorang. ajudan senior, dan waktu rrrinum-minum tengah malam di bar Holiday Inn dia member!tahu bahwa dia punya sesuatu yang bisa menghancurkan Kandidat Britt. Katanya informasi tersebut diberikan padanya oleh pihak saingan, Gubemur Tarry. Informasi itu berupa notes, dengan

bom di setiap halamannya: pengakuan dari Payka yang mengungkapkan detail-detail affair mereka; dua foto anaknya, foto terakhir diambil sebulan lalu, dan si anak, sekarang bemsia tujuh tahun, makin mirip sang ayah; dan catatan-catatan perjalanan yang menunjukkan secara hitam di atas putih bahwa Senator Britt menghambur-hamburkan $38,600 uang pembayar pajak untuk melakukan affair di bagian lain dunia.

Kesepakatannya sederhana dan lugas: Mundur se-gera dari pencalonan, maka kisah ini takkan diungkapkan. McCord, sebagai jurnalis, punya kode etik dan tidak mau berurusan dengan sampan semacam im. Gubemur Tarry akan tutup mulut kalau Britt mengundurkan diri. Mundur, dan Mrs. Britt sendiri pun tak bakal tahu.

Tak lama setelah pukul 01.00, di Washington, Teddy Maynard menerima telepon dari McCord. Paket telah diserahkan. Britt akan mengadakan konferensi pers besok siang.

Teddy punya ratusan arsip tentang para politisi, masa lalu dan sekarang. Sebagai kelompok mereka gampang dijebak. Taruh saja seorang wanita cantik di hadapan mereka, dan kau memperoleh informasi untuk arsip mereka. Kalau wanita tidak berhasil, uang selalu sukses. Awasi mereka bepergian, awasi mereka naik ke tempat tidur bersama para pelobi, awasi mereka berhubungan dengan pemerintahan asing mana pun yang cukup pintar untuk mengirim banyak uang ke Washington, awasi mereka menyiapkan kampanye dan komite-komite untuk mengumpulkan dana. Awasi saja,. dan arsip-arsip pun selalu bcrtambah tebal. Dia berharap orang-orang Rusia segampang ini.

Meskipun membenci politisi sebagai suatu ^ lompok, dia menghargai beberapa orang di antara mereka. Aaron Lake salah satunya. Orang itu tidak pernah mengejar wanita, tidak pernah banyak minum atau menjadi pemabuk. tidak pernah tampak terobsesi dengan uang, tidak pernah ingin menarik perhatian. Makin mengawasi Lake, dia makin menyukainya.

Dia meminum pil terakhirnya untuk malam ini dan naik ke tempat tidur. Jadi Britt beres. Sama sekali tidak rugi. Sayang dia tidak bisa membeberkan kisah itu. Si munafik sok suci im pantas dihajar. Simpan dulu, katanya dalam hati. Dan gunakan lagi. Suatu hari nanti Presiden Lake mungkin membutuhkan Britt, dan bocah kecil di Thailand im mungkin bisa menolong.

Tujuh

PICASSO menuntut Sherlock dan para narapidana lain yang tidak disebutkan namanya untuk mendapatkan perintah pelarangan agar mereka berhenti mengencingi mawar-mawarnya. Kencing yang tidak pada tempatnya tidak akan mengganggu ketenteraman hidup di Trumble, tapi Picasso juga menginginkan ganti rugi sebesar $500. Lima rams dolar merupakan masalah serius.

Perselisihan im sudah ada sejak musim panas lalu, wakm Picasso menangkap basah Sherlock, dan asisten sipir akhirnya terpaksa turun tangan. Dia meminta Majelis membereskan masalah tersebut. Tuntutan diajukan, lalu Sherlock menyewa mantan pengacara bernama Ratliff, satu lagi pengelak pajak, untuk mengulur waktu, memperlambat, menunda, dan mengajukan berbagai permohonan tidak keruan, hal-hal yang biasa dilakukan orang-orang yang mempraktekkan hukum di dunia luar. Namun taktik Ratliff tidak berhasil terhadap Majelis, dan baik Sherlock maupun pengacaranya tidak dianggap oleh panel. Taman mawar Picasso adalah sepetak tanah yang

dirawat dengan cermat di samping ruang olahraga. Dia butuh tiga tahun perang birokratis untuk me-yaJdnkan orang-orang administrasi tingkat menengah di Washington bahwa hobi seperti itu bersifat tera-peutik, karena Picasso menderita beberapa kelainan. Begitu taman disetujui, sipir cepat-cepat menandatangani suratnya, dan Picasso menggali dengan tangan. Dia memperoleh mawar-mawarnya dari agen di Jacksonville, yang prosesnya butuh setumpuk surat izin lagi.

Pekerjaannya, yang sesungguhnya adalah tukang cuci piling di kafeteria, dia digaji tiga puluh sen per jam. Sipir menolak permintaannya untuk diklasifikasikan sebagai tukang kebun, jadi mawar-mawarnya dipandang sebagai hobi. Pada musim tanam, Picasso bisa dilihat asyik di petak kecilnya pagi-pagi dan malam hari, bertumpu pada tangan dan kaki, me-nyiangi, menggali, dan menyiram. Dia bahkan bicara pada bunga-bunganya.

Mawar-mawar yang dipermasalahkan berjenis Belinda’s Dream, mawar pink pucat, tidak terlalu indah, tapi tetap disayangi Picasso. Ketika bunga-bunga itu tiba dari agen, semua orang di Trumble tahu. Picasso dengan penuh kasih sayang menanam-nya di depan dan tengah tamannya.

Sherlock mulai mengencinginya karena ingin saja. Lagi pula dia tidak menyukai Picasso karena terkenal suka berbohong, dan mengencingi mawar-mawarnya rasanya pantas saja. Yang lain mengikuti. Sherlock menyemangati dengan meyakinkan bahwa mereka sebetulnya membantu mawar-mawar tersebut karena menambah pupuknya.

Belinda kehilangan warna pink-nya dan mulai memudar, Picasso kebingungan. Seorang informan menyelipkan surat di bawah pintunya, dan terbongkarlah rahasia im. Taman kesayangannya telah menjadi tempat kencing favorit. Dua hari kemudian, dia meng-gerebek Sherlock, menangkap basah orang im, dan dua pria kulit putih setengah baya bertubuh gemuk im pun bergulat habis-habisan di trotoar.

Tanamannya berubah warna jadi kuning pucat, dan Picasso mengajukan tunmtan.

Ketika tuntutannya akhimya sampai di pengadilan, setelah berbulan-bulan diperlambat Ratliff, Majelis sudah muak. Mereka diam-diam menyerahkan kasus tersebut pada Hakim Finn Yarber, yang ibunya dulu menanam mawar. Setelah riset beberapa jam, dia memberitahu kedua temannya bahwa air seni ternyata takkan mengubah warna tanaman im. Jadi dua hari sebelum sidang pendahuluan, mereka mengambil keputusan: Mereka akan mengeluarkan larangan supaya Sherlock dan teman-teman brengseknya tidak mengencingi mawar-mawar Picasso, tapi mereka takkan mengabulkan tunmtan ganti ruginya.

Selama tiga jam mereka mendengarkan pria-pria dewasa bertengkar tentang siapa kencing di mana dan kapan, dan seberapa sering. Sering Picasso, bertindak sebagai pembela dirinya sendiri, nyaris menangis ketika membujuk para saksinya agar bicara tentang teman-teman mereka. Ratliff, pengacara untuk terdakwa, kejam, kasar, dan berlebihan, dan setelah satu jam jelaslah dia memang pantas dipecat sebagai pengacara, apa pun kesalahannya dulu.

Hakim Spicer mengisi wakm dengan mempelajari

im

skor-skor pertandingan basket college. Kalau sedang tidak bisa menghubungi Trevor, dia pura-pura bertaruh, setiap pertandingan. Dia memperoleh sampai $3,600 dalam dua bulan, di atas kertas. Dia sukses beruntun, menang dalam permainan kartu,. olahraga, dan malam-malam sulit tidur karena berkhayal tentang kehidupannya selanjutnya, di Vegas atau di Bahama, melakukannya secara profesional. Dengan atau tanpa istrinya.

Hakim Beech mengerutkan kening dalam-dalam dan tampak seperti sibuk mencatat, padahal sebetulnya dia sedang menulis konsep surat untuk Curtis di Dallas. Curtis tidak sempat membalas surat terakhir, tapi Majelis memutuskan memancingnya lagi. Menulis sebagai Ricky, Beech menjelaskan bahwa seorang penjaga keji di unit rehabilitasi mengancam akan melakukan berbagai serangan fisik hebat, kecuali kalau Ricky bisa memberikan “uang perlindungan”. Ricky butuh $5,000 untuk menjaga keselamatannya dari binatang buas itu, dan bisakah Curtis meminjami-nya?

“Bisakah kita lanjutkan ini?” tanya Beech keras-keras, sekali lagi menyela Ratliff si mantan pengacara Waktu menjadi hakim sungguhan, Beech jago melakukan trik membaca majalah sambil setengah mendengarkan para pengacara berceloteh di depan juri. Teguran menggelegar dan tepat waktu dari kursi hakim membuat semua orang tetap memperhatikan.

Dia menulis: “Permainan yang mereka mainkan di sini sangat kejam. Kami datang dalam keadaan hancur berkeping-keping. Pelan-pelan mereka membersihkan kami, mengeringkan kami, menyatukan kami lagi,

sepotong demi sepotong. Mereka menjernihkan pikiran kami, mengajari kami disiplin dan rasa percaya diri, serta menyiapkan kami untuk kembali ke masyarakat. Mereka hebat dalam melakukannya, namun membiarkan begajul-begajul tolol yang menjaga area ini menakut-nakuti kami, padahal kami rapuh, dan dengan berbuat begim menghancurkan apa yang telah begim susah payah kami satukan. Aku takut sekali pada orang ini. Aku bersembunyi di kamar wakm seharusnya aku berjemur dan berlatih angkat berat. Aku tidak bisa tidur. Aku merindukan alkohol dan obat bius untuk lari dari masalah ini. Tolong, Curtis, pinjami aku $5,000 agar aku bisa membayar orang ini, supaya aku dapat menyelesaikan rehabilitasiku dan pergi dari sini dalam keadaan utuh. Ketika kita bertemu nanti, aku ingin dalam keadaan sehat dan tegap.”

Bagaimana pendapat teman-temannya? Yang Mulia Hatlee Beech, hakim federal, menulis surat seperti banci, memeras orang-orang tidak bersalah.

Dia tidak punya teman. Dia tidak punya aturan. Hukum yang dulu dijunjungnya tinggi membuatnya berada di tempat ini, yang saat ini, di kafeteria penjara memakai mantel paduan suara gereja kulit hitam yang berwarna hijau pudar, mendengarkan segerombolan narapidana marah berdebat soal air kencing.

“Kau sudah delapan kali menanyakan hal im,” bentaknya pada Ratliff, yang jelas terlalu banyak menonton film pengacara jelek di televisi.

Karena ini kasus. Hakim Yarber, dia diharapkan untuk paling tidak tampak seperti memperhatikan.

Dia tidak memperhatikan, juga tidak peduli soal penampilan. Seperti biasa, dia telanjang di balik toga dan dia duduk dengan kaki bersilang lebar, membersihkan kuku jari kakinya yang panjang dengan garpu plastik.

“Menurutmu bunga-bungamu bakal jadi cokelat kalau aku memberakinya?” teriak Sherlock pada Picasso, dan tawa orang-orang meledak.

Tolong bahasanya,” tegur Hakim Beech.

“Harap tenang,” kata T. Karl, si petugas pengadilan, di bawah wig abu-abu terangnya. Bukan tugasnya untuk menenangkan ruang sidang, tapi dia melakukannya dengan baik dan Majelis membiarkannya. Hakim mengetuk-ngetukkan palu, berkata, “Tenang, Saudara-saudara.”

Beech menulis: “Tolong bantu aku, Curtis. Aku tidak tahu mau minta tolong pada siapa lagi. Aku mulai kacau. Aku takut kehilangan kontrol lagi. Aku takut takkan pernah meninggalkan tempat ini. Cepatlah.”

Spicer memasang $100 untuk Indiana atas Purdue, Duke atas Clemson, Alabama atas Vandy, Wisconsin atas Illinois. Tahu apa dia tentang basket Wisconsin? Bukan masalah. Dia penjudi profesional,*dan sangat lihaj. Jika $90.000-nya masih terkubur di belakang gudang peralatan, dia akan memperbanyaknya jadi satu juta dalam setahun melalui perjudian.

“Cukup,” kata Beech, mengangkat kedua tangannya.

“Aku juga sudah mendengar cukup banyak,” sambut Yarber, melupakan kuku kakinya dan bersandar di meja.

Majelis berkumpul dan berunding seolah hasilnya akan menimbulkan preseden serius, atau paling tidak mempunyai akibat luar biasa terhadap masa depan yurisprudensi Amerika. Mereka mengerutkan kening, menggamk kepala, dan bahkan tampak berdebat soal kasus ini. Sementara im, Picasso yang malang duduk sendirian, hampir menangis, kehabisan energi akibat berbagai taktik Ratliff.

Hakim Yarber berdeham dan berkata, “Dengan suara dua banding satu, kami telah mencapai kesepakatan. Kami akan mengeluarkan larangan bagi semua narapidana untuk mengencingi mawar-mawar sialan itu, Siapa saja yang ketahuan melanggarnya akan didenda $50. Tidak ada perkiraan kerugian untuk saat ini.”

Dengan pengaturan wakm yang sempurna T. Karl menghantamkan palu dan berteriak, “Sidang di-tangguhkan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Semua harap berdiri.”

Tentu saja, tak ada yang bergerak.

“Aku ingin naik banding,” seru Picasso.

“Aku juga,” kata Sherlock.

“Jelas putusan yang baik,” komentar Yarber, meraih toga dan berdiri. “Kedua belah pihak tidak puas.”

Beech dan Spicer berdiri juga, Majelis berbaris meninggalkan kafeteria. Seorang penjaga berjalan ke tengah pihak-pihak yang bersidang dan para saksi serta berkata, “Pengadilan bubar, boys. Kembalilah bekerja.”

CEO Hummand, perusahaan di Seattle yang membuat misil dan peralatan pengacau radar, dulu anggota

Kongres yang cukup dekat dengan CIA. Teddy Maynard kenal baik dengannya. Waktu CEO itu mengumumkan dalam konferensi pers bahwa per-usahaannya telah mengumpulkan $5 juta untuk kampanye Lake, CNN menginterupsi segmen liposuction-nya untuk menyiarkan langsung berita tersebut Lima ribu pegawai Hummand telah menulis cek masing-masing $1,000, jumlah maksimum yang diizinkan hukum federal. CEO itu mengumpulkan semua cek tersebut dalam kardus yang ditunjukkannya ke kamera-kamera, lalu terbang bersama cek-cek itu naik jet Hummand ke Washington, tempat dia membawanya ke markas besar Lake.

Haiti uang, dan kau akan menemukan pemenangmu. Sejak pengumuman Lake, lebih dari sebelas ribu pegawai industri pertahanan dan pesawat dari tiga puluh negara bagian telah menyumbang 8 juta lebih. Dinas Pos mengantarkan cek-cek mereka dalam kardus-kardus. Serikat pekerja mereka mengirim hampir sebanyak itu, ditambah janji 2 juta lagi. Orang-orang Lake menyewa sebuah biro akuntansi D.C. hanya untuk memproses dan menghitung uang tersebut

CEO Hummand tiba di Washington di tengah suasana yang sangat riuh rendah. Kandidat Lake naik jet pribadi lain, pesawat Challenger yang bamsan disewa $400,000 sebulan. Ketika mendarat di Detroit dia dijemput dua mobil Suburban hitam, keduanya masih gres, bam saja disewa seharga masing-masing $1,000. Lake sekarang punya rombongan, sekumpulan orang yang ikut ke mana pun dia pergi, dan meskipun yakin dia akan segera terbiasa dengan hal im, inula-mula rasanya menggelisahkan juga. Orang-orang tak dikenal sepanjang wakm mengelilinginya. Pria-pria muda bertampang muram dan bersetelan warna gelap dengan mikrofon kecil di telinga, senjata menempel pada tabuh. Dua agen Secret Service ikut dalam pesawatnya, dan tiga lagi menunggu bersama Suburban.

Dan dia didampingi Floyd dari kantor Kongresnya. Floyd adalah pria muda berotak pas-pasan dari keluarga terkemuka di Arizona yang tidak pandai melakukan apa pun selain jadi kacung. Sekarang Floyd jadi sopir. Floyd mengemudikan salah satu Suburban, Lake di jok depan, dua agen dan seorang sekretaris duduk di belakang. Dua ajudan dan tiga agen berjejalan di mobil yang satu lagi, dan me-luncurlah mereka, menuju tengah kota Detroit tempat wartawan-wartawan serius TV lokal sudah menunggu.

Lake tidak punya wakm untuk berpidato, berjalan-jalan di daerah perumahan, makan ikan, atau berdiri di tengah hujan di luar pabrik-pabrik sibuk. Dia tidak bisa berjalan kaki supaya disorot kamera, mengadakan rapat kota, atau berdiri di antara reruntuhan di perumahan kumuh dan meneriakkan kebijakan-kebijakan yang gagal. Tidak cukup wakm untuk melakukan semua yang biasa dilakukan para kandidat. Dia terlambat bergabung, tanpa landasan, tanpa akar, tanpa dukungan lokal apa pun. Lake mempunyai wajah tampan, suara menyenangkan, setelan bagus, pesan mendesak, dan sangat banyak uang.

Jika meyakinkan pemirsa TV bisa memenangkan pemilihan, Aaron Lake akan habis-habisan melakukan—

Dia menelepon Washington, bicara dengan orang-orang keuangannya, dan diberitabu tentang pengumuman $5 juta itu. Dia tidak pemah mendengar tentang Hiimmand. “Itu perusahaan publik?” tanyanya. Tidak, begitu jawabannya. Sangat pribadi. Penjualan tahunannya kurang dari satu miliar. Inovator di bidang pengacauan radar. Bisa menghasilkan miliaran jika orang yang tepat memimpin militer dan mulai belanja lagi.

Sembilan belas juta dolar sekarang sudah di tangan, rekor, tentu saja. Dan mereka merevisi proyeksi me-reka. Kampanye Lake akan mengumpulkan $30 juta dalam dua minggu pertama.

Tidak mungkin bisa menghabiskan uang secepat its.

Dia melipat ponsel, mengembalikannya pada Floyd, yang tampaknya tersesat di tengah lalu lintas. “Mulai sekarang kita pakai helikopter,” seru Lake sarabil menoleh pada sekretarisnya di belakang, yang menuliskannya dalam bentuk kalimat perintah: Cari helikopter.

Lake bersembunyi di balik kacamata hitam dan mencoba menganalisis $30 juta. Transisi dari seorang konservatif fiskal menjadi kandidat yang bepergian ke sana kemari membuatnya canggung, namun uang itu harus dibelanjakan. Uang itu bukan diperas dari para wajib pajak; uang itu diberikan. Dia bisa merasionalisasi keadaannya. Setelah terpilih, dia akan melanjutkan perjuangannya membela pekerja.

Dia memikirkan Teddy Maynard lagi, duduk di suatu ruangan gelap di dalam Langley, kaki tertutup selimut, wajah mengemyit karena sakit, membujuk

108

orang-orang yang cuma dia yang bisa melakukannya, membuat uang bagai daun berguguran dari pohon. Lake takkan pernah mengetahui apa saja yang dilakukan Teddy untuknya, dia juga tidak ingin mengetahuinya.

Direktur Operasi Timur Tengah bernama Lufkin, pria yang sudah dua puluh tahun dipercaya Teddy. Empat belas jam lalu dia berada di Tel Aviv. Sekarang dia di kamar perang Teddy, tampak segar dan waspada. Pesannya harus disampaikan langsung, dari mulut ke mulut, tidak melalui kabel, sinyal, atau satelit. Dan apa yang dikatakan di antara mereka takkan pernah diulangi. Sudah bertahun-tahun caranya seperti ini.

“Sebentar lagi kedutaan kita di Kairo akan diserang,” kata Lufkin. Tidak ada reaksi dari Teddy; tidak ada kerutan dahi, tidak ada ekspresi terkejut, tidak ada kedipan mata, nihil. Sudah sering dia menerima kabar seperti itu.

‘Tidal?”

“Ya. Letnan paling topnya terlihat di Kairo minggu lalu.”

“Siapa yang melihat?”

“Pihak Israel. Mereka juga membuntuti dua truk penuh bahan peledak dari Tripoli. Semua tampak cocok.”

“Kapan?”

“Segera.”

“Seberapa segera?” “Dalam seminggu, kurasa.” Teddy menarik telinga dan memejamkan mata. Lufkin berusaha tidak memandang, dan tahu tidak ada Dia menelepon Washington, bicara dengan orang, orang keuangannya, dan diberitahu tentang pengumuman $5 juta itu. Dia tidak pernah mendengar tentang Hummand. “Itu perusahaan publik?” tanyanya. Tidak, begitu jawabannya. Sangat pribadi. Penjualan tahunannya kurang dari satu miliar. Inovator di bidang pengacauan radar. Bisa menghasilkan miliaran jika orang yang tepat memimpin militer dan mulai belanja lagi.

Sembilan belas juta dolar sekarang sudah di tangan, rekor, tentu saja. Dan mereka merevisi proyeksi mereka. Kampanye Lake akan mengumpulkan $30 juta dalam dua minggu pertama.

Tidak mungkin bisa menghabiskan uang secepat itu.

Dia melipat ponsel, mengembalikannya pada Floyd, yang tampaknya tersesat di tengah lalu lintas. “Mulai sekarang kita pakai helikopter,” seru Lake sambil menoleh pada sekretarisnya di belakang, yang menuliskannya dalam bentuk kalimat perintah: Cari helikopter.

Lake bersembunyi di balik kacamata hitam dan mencoba menganalisis $30 juta. Transisi dari seorang konservatif fiskal menjadi kandidat yang bepergian ke sana kemari membuatnya canggung, namun uang itu harus dibelanjakan. Uang itu bukan diperas dari para wajib pajak; uang itu diberikan. Dia bisa merasionalisasi keadaannya. Setelah terpilih, dia akan melanjutkan perjuangannya membela pekerja.

Dia memikirkan Teddy Maynard lagi, duduk di suatu ruangan gelap di dalam Langley, kaki tertutup selimut, wajah mengernyit karena sakit, membujuk

orang-orang yang cuma dia yang bisa melakukannya, membuat uang bagai daun berguguran dari pohon. Lake takkan pernah mengetahui apa saja yang dilakukan Teddy untuknya, dia juga tidak ingin mengetahuinya.

Direktur Operasi Timur Tengah bernama Lufkin, pria yang sudah dua puluh tahun dipercaya Teddy. Empat belas jam lalu dia berada di Tel Aviv. Sekarang dia di kamar perang Teddy, tampak-segar dan waspada. Pesannya harus disampaikan langsung, dari mulut ke mulut, tidak melalui kabel, sinyal, atau satelit. Dan apa yang dikatakan di antara mereka takkan pernah diulangi. Sudah bertahun-tahun caranya seperti ini.

“Sebentar lagi kedutaan kita di Kairo akan diserang,” kata Lufkin. Tidak ada reaksi dari Teddy; tidak ada kerutan dahi, tidak ada ekspresi terkejut, tidak ada kedipan mata, nihil. Sudah sering dia menerima kabar seperti itu.

“Yidal?”

“Ya. Letnan paling topnya terlihat di Kairo minggu lalu.”

“Siapa yang melihat?”

“Pihak Israel. Mereka juga membuntuti dua truk penuh bahan peledak dari Tripoli. Semua tampak

cocok.” “Kapan?” “Segera.”

“Seberapa segera?” “Dalam seminggu, kurasa.” Teddy menarik telinga dan memejamkan mata. Lufkin berusaha tidak memandang, dan tahu tidak ada

gunanya bertanya. Dia akan segera pergi, dan kembali ke Timur Tengah. Dan dia akan menunggu. Serangan terhadap kedutaan mungkin saja terjadi tanpa peringatan. Puluhan orang akan terbunuh dan tercabik-cabik. Kawah di kota akan berasap berhari-hari, dan di Washington jari-jari akan menuding dan tuduhan-tuduhan akan beterbangan. CIA akan disalahkan lagi.

Tak satu pun dari semua itu akan mengusik Teddy Maynard. Seperti yang telah diketahui Lufkin, kadang Teddy membutuhkan teror itu untuk mencapai keinginannya.

Atau mungkin kedutaan akan diselamatkan, serangan itu digagalkan pasukan komando Mesir yang bekerja sama dengan Amerika Serikat. CIA akan dipuji atas intelijen luar biasanya. Itu pun takkan mengusik Teddy.

“Dan kau yakin?” tanyanya.

“Ya, seyakin-yakinnya orang dalam situasi seperti ini.”

Lufkin, tentu saja, sama sekali tidak.tahu bahwa sang direktur tengah merencanakan untuk memenangkan seorang presiden, Lufkin nyaris tidak pernah mendengar tentang Aaron Lake. Terus terang, dia tak peduli siapa yang memenangkan pemilihan. Dia sudah cukup lama di Timur Tengah, sehingga tahu di sana tidak penting siapa yang menetapkan kebijakan Amerika.

Dia akan berangkat tiga jam lagi, naik Concorde ke Paris, akan tinggal di sana sehari sebelum terbang ke Yerusalem.

-‘Pergilah ke Kairo,” kata Teddy tanpa membuka mata.

“Tentu. Dan melakukan apa?”

“Menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu bumi bergetar. Jauhi kedutaan.”

Reaksi awal York adalah ngeri. “Kau tak bisa menyiarkan iklan sialan mi, Teddy,” katanya. “Ini untuk tujuh belas tahun ke atas. Belum pernah aku melihat darah sebanyak ini.”

“Aku menyukainya,” kata Teddy, menekan tombol di remote. “Iklan kampanye tujuh belas tahun ke atas. Belum pernah ada.” t

Mereka menontonnya lagi. Iklan itu dimuki dengan bunyi bom, lalu gambar barak-barak Marinir di Beirut; asap, puing-puing, kekacauan, para Marinir dikeluarkan dari reruntuhan, mayat-mayat hancur, deretan tubuh Marinir yang terincar kaku. Presiden Reagan berbicara pada pers dan menjanjikan pembalasan. Namun ancamannya terdengar hampa. Lalu foto seorang tentara Amerika berdiri di antara dua pria bersenjata yang memakai topeng. Terdengar suara berat dan menyeramkan berkata, “Sejak 1980, ratusan warga Amerika dibunuh teroris di seluruh dunia.” Lokasi pengeboman lagi, lebih banyak darah serta orang-orang yang selamat dan kebingungan, lebih banyak asap dan kekacauan. “Kita selalu bersumpah akan membalas. Kita selalu mengancam akan menemukan dan menghukum pihak-pihak yang bertanggung jawab.” Potongan-potongan gambar Presiden Bush pada dua kesempatan terpisah dengan marah menjanjikan pembalasanserangan lagi, lebih banyak mayat. Kemudian gambar seorang teroris berdiri di

pintu pesawat, menyeret mayat seorang tentara Amerika. Presiden Clinton, nyaris menangis, suaranya bergetar, berkata, “Kita takkan berhenti sampai kita temukan pihak-pihak yang bertanggung jawab.” Selanjutnya wajah tampan tapi serius Aaron Lake, menatap kamera dengan sungguh-sungguh, masuk ke rumah kita, mengatakan, “Faktanya adalah, kita tidak membalas. Kita bereaksi dengan kata-kata, kita menggertak dan mengancam, namun kenyataannya kita mengubur para korban, lalu melupakannya. Teroris memenangkan pertempuran ini karena kita kekurangan keberanian untuk membalas. Saat saya jadi Presiden Anda, kita akan menggunakan militer baru kita untuk melawan terorisme di mana pun kita menemukannya. Tak satu pun kematian warga Amerika tidak dibalas. Saya berjanji Kita takkan dipermalukan tentara-tentara kumal yang bersembunyi di pegunungan. Akan kita hancurkan mereka.”

Iklan itu panjangnya persis enam puluh detik, biaya pembuatannya sangat sedikit karena Teddy sudah punya gambarnya, dan akan mulai disiarkan pada jam tayang utama 48 jam lagi. “Entahlah, Teddy,” kata York. “Iklan ini mengerikan.” “Dunia memang mengerikan.” Teddy menyukai iklan tersebut dan itulah yang paling penting Lake keberatan mengenai darahnya, tapi segera berubah pendapat. Pengenalan namanya naik sampai tiga puluh persen, namun iklan-iklannya tetap tidak disukai.

Tunggu saja, begitu kata Teddy selalu pada dirinya sendiri. Tunggu sampai ada lebih banyak mayat.

Delapan

TREVOR sedang meneguk segelas double latte dari Beach Java dan berdebat dalam hati apakah akan menambahkan Amaretto untuk membantu menghilangkan pusing pagi harinya ketika telepon itu masuk. Suite kantornya yang penuh sesak tidak punya sistem interkom karena memang tidak memerlukannya. Jan bisa meneriakkan saja pesan apa pun dari ujung koridor, dan dia bisa balas berteriak kalau mau. Selama delapan tahun dia dan sekretarisnya itu saling berteriak.

“Dari suatu bank di Bahama!” wanita itu memberitahu. Trevor nyaris menumpahkan kopi ketika menyerbu telepon.

Si penelepon orang Inggris yang aksennya sudah melunak karena lama tinggal di kepulauan itu. Transfer dalam jumlah besar telah diterima, dari sebuah bank di Iowa.

Seberapa besar, dia ingin tahu, menutupi mulut supaya Jan tidak bisa mendengar. Seratus ribu dolar.

Trevor meletakkan telepon dan menambahkan

Amaretto, tiga seloki, dan meneguk minuman nikmat itu sambil tersenyum miring pada dinding. Sepanjang kariernya tak pernah dia memperoleh bayaran mendekati $33.000. Dia pernah sukses memperoleh ganti ragi $25.000 untuk kasus kecelakaan mobil, mengambil bayaran $7.500, dan dalam dua bulan menghabiskan semuanya.

Jan tidak tahu-menahu tentang rekening di luar negeri dan rencana busuk yang mengalirkan uang itu ke sana. jadi Trevor terpaksa menunggu sejam, menelepon ke sana kemari, dan berusaha terlihat sibuk sebelum memberitahu bahwa dia harus membereskan urusan penting di tengah kota Jacksonville, lalu harus ke Trumble. Jan tidak peduli. Trevor memang selalu pergi dan dia punya bacaan untuk mengisi waktu.

Trevor ngebut ke bandara, hampir tertinggal pesawat pulang-perginya, dan minum dua bir selama penerbangan tiga puluh menit ke Fort Lauderdale, kemudian dua lagi dalam perjalanan ke Nassau. Di darat, dia mengempaskan diri ke taksi, Cadillac tahun 1974 yang dicat warna emas, tanpa AC, dan dengan sopir yang juga habis minum. Udara panas dan basah, lalu lintas merayap, dan kemeja Trevor melekat di punggungnya ketika mereka berhenti di pusat kota dekat Geneva Trust Bank Building.

Di dalam, Mr. Brayshears menyambut dan membawa Trevor ke kantornya yang kecil. Pria itu menyodorkan selembar kertas yang berisi detail-detail apa adanya: transfer $100.000 berasal dari First Iowa Bank di Des Moines, pengirimnya sebuah entitas tak berwujud bernama CMT Investments. Penerimanya entitas generik lain bernama Boomer Realty, Ltd.

Boomer adalah nama anjing kesayangan Joe Roy

Spicer.

Trevor menandatangani formulir-formulir untuk mentransfer $25.000 ke rekeningnya sendiri yang terpisah di Geneva Trust, uang yang dirahasiakannya dari sekretarisnya dan IRSDinas Pajak. Delapan ribu dolar sisanya diserahkan dalam amplop tebal, uang kontan. Dia menjejalkannya dalam-dalam ke saku celana panjang khaki-nyei, menjabat tangan kecil lembut Brayshears, dan bergegas keluar gedung. Dia tergoda untuk tinggal beberapa hari, menyewa kamar di pantai, duduk di kursi di tepi kolam, dan minum rum sampai berhenti disajikan padanya. Godaan itu berkembang sampai titik di mana dia nyaris kabur dari pintu bandara dan lari untuk memanggil taksi. Tapi akal sehatnya menang, dia bertekad takkan menghabiskan uangnya kali ini.

Dua jam kemudian dia sampai di bandara Jacksonville, minum kopi pekat, tanpa alkohol, dan menyusun rencana. Dia mengemudi ke Trumble, tiba pukul 16.30, dan menunggu Spicer selama hampir setengah jam.

“Kejutan yang menyenangkan,” kata Spicer datar ketika memasuki mang pertemuan pengacara. Trevor tidak membawa tas kerja yang perlu diperiksa, jadi penjaga menepuk saku-sakunya dan pergi ke luar. Uang kontannya disembunyikan di balik karpet mobil Beetle-nya.

“Kita menerima $100.000 dari Iowa,” kata Trevor, melirik pintu.

Spicer mendadak senang melihat pengacaranya. Dia tidak suka kata “kita” yang dipakai Trevor tadi,

dan kesal dengan bagian yang diperoleh pria itu Tapi tipuan ini takkan berhasil tanpa bantuan dari luar, dan seperti biasa, pengacara itu keburukan yang diperlukan. Sejauh ini, Trevor dapat dipercaya. “Ada di Bahama?”

“Ya. Aku barusan dari sana. Uangnya tersimpan aman, 67.000.”

Spicer menarik napas dalam dan menikmati kemenangan ini. Sepertiga dari uang curian itu berarti $22.000 lebih untuknya. Sudah waktunya menulis beberapa surat lagi!

Dia merogoh saku kemeja seragam penjara warna zaitunnya dan mengeluarkan lipatan potongan koran. Dia mengulurkan tangan, mempelajarinya sebentar, lalu berkata, “Duke di Tech malam ini. Pasar taruhannya sebelas. Pasang $5.000 untuk Tech.” “Lima ribu?” “Yep.”

“Aku belum pernah memasang lima ribu untuk pertandingan.” “Bandarmu seperti apa?” “Kecil-kecilan.”

“Dengar, kalau dia bandar, dia pasti bisa menangani taruhan ini. Telepon dia sesegera mungkin. Dia mungkin harus menelepon beberapa orang dulu, tapi pasti bisa melakukannya.”

“Baik, baik”

“Bisa kau kembali besok?” “Barangkali.”

“Berapa sih klienmu yang lak yang pernah membayarmu $33.000?” ‘Tak ada.”

“Tepat, jadi datanglah kemari pukul empat besok.

Aku punya beberapa surat untukmu.”

Spicer meninggalkannya dan berjalan cepat-cepat dari gedung administrasi, cuma mengangguk pada penjaga di jendela. Dia berjalan penuh semangat melintasi halaman yang terawat, matahari Florida memanasi trotoar bahkan di bulan Februari sekalipun. Kolega-koleganya asyik dengan tugas santai mereka di perpustakaan, sendirian seperti biasa, jadi Spicer tidak ragu mengumumkan, “Kita memperoleh seratus ribu dari si Quince di Iowa!”

Tangan Beech berhenti di atas keyboard. Dia memandang dari atas kacamata baca, mulutnya ternganga, dan aJdiirnya berkata, “Kau bercanda.”

“Tidak. Baru saja bicara dengan Trevor. Uangnya dikirim persis menurut instruksi, sampai di Bahama tadi pagi. Si manis Ouincy lulus.”

“Mari kita hajar dia lagi,” kata Yarber, sebelum yang lain sempat memikirkannya.

“Quince?”

“Tentu. Seratus pertama gampang, ayo kita peras dia sekali lagi. Apa ruginya buat kita?”

“Tak ada,” sambut Spicer sambil tersenyum. Dia menyesal tidak mengusulkannya lebih dulu. “

“Berapa?” tanya Beech.

“Kita coba lima puluh,” jawab Yarber, mencomot angka itu seolah apa pun bisa terjadi.

Kedua temannya mengangguk dan memikirkan 50.000 berikutnya itu, lalu Spicer memimpin dan berkata, “Dengar, ayo kita evaluasi keadaan kita sekarang. Kurasa Curtis di Dallas sudah matang. Kita akan menyikat Quince lagi. Bila rencana ini berhasil,

menurutku kita harus ganti persneling, makin agresif, tahu maksudku? Ayo kita ambil sahabat pena masing-masing, kita analisis satu demi satu, dan tekan lebih kuat.”

Beech mematikan komputer dan mengambil sebuah map. Yarber membereskan meja kecilnya. Tipuan Angola mereka baru saja menerima suntikan modal segar, dan bau uang haram begitu memabukkan.

Mereka mulai membaca semua surat lama, dan membuat konsep surat-surat baru. Dengan cepat mereka memutuskan bahwa mereka butuh lebih banyak korban. Lebih banyak iklan akan dipasang di halaman belakang majalah-majalah itu.

Trevor berhasil sampai Pete’s Bar and Grill, tiba di sana tepat pada happy hour, yang dimulai pukul 17.00 dan berlangsung sampai perkelahian pertama. Dia menemukan Prep, seorang mahasiswa tingkat dua di North Florida yang berusia 32 tahun, main biliar untuk $20 per game. Dana perwalian Prep yang terus berkurang mewajibkan pengacara keluarganya membayarnya $2.000 sebulan selama dia tercatat sebagai mahasiswa. Sudah sebelas tahun dia jadi mahasiswa tingkat dua.

Prep juga bandar paling sibuk di Pete’s, dan waktu Trevor berbisik bahwa dia punya uang banyak untuk taruhan pertandingan Duke-Tech, Prep bertanya, “Berapa?”

“Lima belas ribu,” jawab Trevor, lalu meneguk bir.

“Kau serim?” tanya Prep, mengoleskan kapur ke tongkat biliar dan memandang sekeliling meja yang

penuh asap. Selama ini Trevor tidak pernah bertaruh lebih dari $100 pada satu pertandingan.

“Yep.” Satu tegukan panjang lagi. Dia merasa beruntung. Kalau Spicer berani mempertaruhkan $5.000 pada pertandingan itu, Trevor akan melipat-duakannya. Dia baru saja mendapat $33.000 yang bebas pajak. Jadi apa salahnya kalau dia kehilangan sepuluh? Jumlah itu sebetulnya memang jatah BAS kok.

“Aku harus menelepon,” kata Prep, mengeluarkan

ponsel.

“Cepatlah. Pertandingan dimulai tiga puluh menit

lagi.”

Bartender-nya. adalah penduduk setempat yang belum pernah keluar dari negara bagian Florida, tapi entah kenapa sangat tertarik pada Australian Rules Football. Ada siaran langsung pertandingan dari Down Under, maka Trevor terpaksa memberinya $20 supaya saluran TV dipindah ke pertandingan basket ACC.

Dengan taruhan $15.000 untuk Georgia Tech, tak mungkin tembakan Duke meleset, paling tidak selama babak pertama. Trevor makan kentang goreng, minum berbotol-botol, dan mencoba mengabaikan Prep, yang berdiri dekat meja biliar di sudut gelap, menonton.

Pada babak kedua, Trevor nyaris menyogok si bartender supaya mengganti saluran ke pertandingan Aussie lagi. Dia makin mabuk, dan dengan sisa waktu sepuluh menit dia memaki-maki Joe Roy Spicer pada siapa saja yang mau mendengar. Tahu apa orang kampung itu soal basket ACC? Duke unggul dua puluh angka dengan sisa waktu pertandingan tinggal sembilan menit, ketika point guard

Tech bangkit dan melakukan tembakan tiga angka empat kali berturut-turut Trevor mendapat Tech dan sebelas.

Pertandingan berlangsung ketat dengan sisa waktu satu menit lagi. Trevor tidak peduli siapa yang menang. Dia sudah mengalahkan pasar taruhan. Dia membayar tagihan, memberi tip bartender $ 100 lagi, lalu melambai dengan gaya mencemooh pada Prep sambil berjalan keluar. Prep mengacungkan jari tengahnya.

Dalam kegelapan yang sejuk, Trevor berjalan lincah di sepanjang Atlantic Boulevard, jauh dari lampu-lampu, melewati pondok-pondok musim panas sewaan yang berdempetan, melewati rumah-rumah pensiunan rapi dengan cat baru dan halaman terawat, menuruni tangga kayu tua ke pasir, tempat dia melepas sepatu dan menyusuri tepi air. Temperatur sekitar 4,5° Celsius, tidak ganjil untuk Jacksonville di bulan Februari, dan tak lama kemudian kakinya sudah kedinginan dan basah.

Dia tidak terlalu merasakannya$43.000 dalam sehari, bebas pajak, semua tersembunyi dari pemerintah. Tahun lalu setelah dipotong pajak penghasilan bersihnya $28.000, dan dia betul-betul harus memeras keringattawar-menawar dengan klien-klien yang terlalu miskin atau terlalu pelit untuk membayar, menghindari ruang sidang, berurusan dengan makelar

dan bankir kelas teri, cekcok dengan sekretarisnya,

mengurangi pajak. Ah, nikmatnya punya uang kilat. Sudah lama dia

curiga pada kegiatan busuk Majelis, namun sekarang

hal itu terasa sangat brilian. Memeras orang-orang

yang tidak bisa mengadu. Pintar sekali.

Dan karena rencana itu sangat berhasil, dia tahu Spicer akan menambah tekanan. Surat-surat akan semakin banyak, kunjungan ke Trumble semakin sering. Sialan, dia rela ke sana tiap hari kalau perlu, membawa surat-surat, menyogok para penjaga.

Dia menyepak-nyepak air, sementara angin bertambah kencang dan ombak menderu datang.

Yang lebih pintar lagi adalah mencuri dari para pemeras, penjahat-penjahat mantan hakim yang jelas tidak bisa mengadu. Pikiran itu menjijikkan, dia nyaris malu memikirkannya, tapi bagaimanapun sah. Semua pilihan harus tetap terbuka. Sejak kapan pencuri punya loyalitas?

Dia membutuhkan $1 juta, tidak lebih atau kurang. Dia sudah berkali-kali menghitungnya, waktu sedang mengemudi ke Trumble, minum di Pete’s,” duduk di meja kerjanya di balik pintu terkunci. Sejuta dolar, dan dia bisa menutup kantor kecilnya yang menyedihkan, mengembalikan izin prakteknya, membeli perahu layar, dan seumur hidup mengikuti arah angin di sekitar Karibia.

Realisasi rencananya itu sudah semakin dekat sekarang.

Hakim Spicer berguling lagi di tempat tidur bawah. Dia jarang bisa pulas di kamarnya yang sempit ini, di tempat tidur mungil dengan teman sekamar bertubuh kecil dan bau bernama Alvin mendengkur di atasnya. Alvin menjelajahi Amerika Utara sebagai gelandangan selama puluhan tahun, namun di usia tuanya merasa lelah dan lapar. Kejahatannya adalah perampokan kendaraan pos pedesaan di Oklahoma.

Operasi penangkapannya sudah direncanakan besar-besaran ketika Alvin mendatangi kantor FBI di Tulsa dan berkata, “Aku pelakunya.” FBI sibuk menyelidik selama enam jam untuk mengetahui kejahatannya. Bahkan hakim pun tahu Alvin memang merencanakan semuanya. Dia menginginkan penjara federal, bukan penjara negara bagian.

Tidur lebih sulit daripada biasanya, karena Spicer mengkhawatirkan pengacaranya. Karena tipuan mereka berhasil, mereka sekarang berurusan dengan uang dalam jumlah besar. Dan akan lebih banyak lagi. Makin banyak yang dikumpulkan Boomer Realty di Bahama, makin besar godaan untuk Trevor. Dia dan hanya dia yang bisa mencuri uang haram mereka dan membawanya kabur.

Tapi tipuan mereka bisa berhasil kalau ada kaki tangan di luar. Harus ada yang menyelundupkan surat ke luar dan ke dalam. Harus ada yang mengumpulkan uangnya

Pasti ada cara untuk melangkahi pengacara itu, dan Joe Roy bertekad menemukannya. Dia tak peduli meskipun seandainya harus tidak tidur sebulan. Tak seorang pengacara pun boleh mengambil sepertiga uangnya, lalu mencuri sisanya.

Sembilan

DEFENSEPAC, atau D-PAC, nama yang dengan cepat diketahui masyarakat luas, masuk dengan menggegerkan ke arena keuangan politik yang kacau-balau. Sepanjang sejarah tidak ada komite aksi politis yang tampil dengan dukungan sekuat D-PAC.

Modal awalnya berasal dari ahli keuangan Chicago bernama Mitzger, pria yang memiliki kewarganegaraan ganda, Amerika dan Israel. Dia menyediakan satu juta dolar pertama, yang habis kira-kira seminggu kemudian. Orang-orang kaya Yahudi lainnya segera dilibatkan, meskipun identitas mereka ditutupi oleh berbagai perusahaan dan rekening bank luar negeri. Teddy Maynard tahu bahaya yang timbul jika sekumpulan Yahudi kaya menyumbang terang-terangan dan terorganisir untuk kampanye Lake. Dia meminta bantuan teman-teman lama di Tel Aviv untuk mengatur uang tersebut di New York.

Mitzger liberal kalau menyangkut masalah politik, namun tidak ada isu sepenting keamanan Israel Aaron Lake terlalu moderat dalam masalah-masalah sosial,

tapi juga sangat serius tentang militer baru. Stabilitas Timur Tengah tergantung pada Amerika yang kuat, setidaknya begitulah pendapat Mitzger.

Suatu hari dia menyewa suite di Willard di D.C., dan keesokan siangnya dia telah mengontrak satu lantai suatu gedung perkantoran di dekat Dulles. Stafnya dari Chicago bekerja 24 jam sehari untuk membereskan detail-detail rumit yang dibutuhkan untuk secara kilat melengkapi tempat seluas 3.700 meter persegi dengan teknologi paling mutakhir. Dia sarapan pada pukul 06.00 dengan Elaine Tyner, pengacara pelobi dari sebuah biro raksasa Washington, yang dibangunnya sendiri dengan tekad baja dan banyak klien minyak. Tyner berusia enam puluh tahun dan akhir-akhir ini dipandang sebagai pelobi paling berkuasa di Washington. Sambil menikmati bagel dan jus, dia setuju untuk mewakili D-PAC dengan uang muka $500.000. Bironya segera akan mengirim dua puluh associate dan asisten sebanyak itu juga ke kantor-kantor baru D-PAC yang akan dipimpin salah satu partnernya. Satu seksi akan khusus bertugas mengumpulkan uang. Satu seksi lagi akan menganalisis dukungan Kongres untuk Lake dan memulai, mula-mula dengan halus, proses sensitif mengumpulkan dukungan dari senator, perwakilan, dan bahkan gubernur. Itu bukan tugas yang mudah; sebagian besar sudah terikat pada kandidat-kandidat lain. Namun satu seksi lagi tidak akan melakukan apa pun selam risetperangkat keras militer, biayanya, perlengkapan baru, senjata di masa depan, ino-vasi Rona dan Cinaapa saja yang mungkin perlu diketahui kandidat Lake,

Tyner sendiri akan bertugas mengumpulkan uang

dari pemerintahan asing, salah satu keahliannya. Dia sangat dekat dengan Korea Selatan, menjadi perwakilan mereka di Washington selama sepuluh tahun terakhir ini. Dia mengenal semua diplomat, usahawan, orang penting. Hanya sedikit negara yang bisa lebih senang daripada Korea Selatan jika militer Amerika Serikat ditingkatkan.

“Aku yakin mereka mau memberi minimal lima juta,” katanya yakin. “Setidaknya, di tahap awal.” Ť

Berdasarkan ingatan, dia menyusun daftar dua puluh perusahaan Prancis dan Inggria yang memperoleh paling tidak seperempat dari penjualan tahunan mereka dari Pentagon. Dia akan segera menggarap mereka.

Tyner khas pengacara Washington zaman sekarang. Sudah lima belas tahun dia tidak masuk ruang sidang, dan semua peristiwa penting dunia berawal dari dalam Beltway dan mempengaruhinya.

Tantangan yang ini belum pernah dihadapinya membuat seorang kandidat tak dikenal yang ikut pencalonan di saat terakhir, yang saat ini dikenal 30 persen rakyat dan didukung 12 persen, terpilih jadi presiden. Namun apa yang dimiliki kandidat mereka, tidak seperti pecundang-pecundang lain yang ikut-ikutan dan terdepak dari pemilihan presiden, adalah dana yang kelihatannya tak terbatas. Tyner dibayar mahal untuk membuat puluhan politisi menang dan kalah, dia punya keyakinan tak tergoyahkan bahwa uang akan selalu menang. Beri dia uang, dan dia bisa membuat siapa saja menang atau kalah.

Sepanjang minggu pertama kehadirannya, D-PAC

bekerja dengari energi meluap-luap. Kantor-kantornya buka 24 jam sehari, sementara orang-orang Tynei mendirikan kantor dan menyerbu. Kegiatan pengumpulan uang itu menghasilkan daftar panjang komputer dari pegawai jam-jaman di bidang pertahanan dan industri terkait, lalu menghujani mereka dengan surat berisi permintaan sumbangan. Daftar lain berisi nama-nama 28.000 pegawai kerah putih pertahanan yang bergaji $50.000 lebih per tahun. Mereka dikirimi permohonan dalam bentuk lain.

Para konsultan D-PAC yang mencari dukungan menemukan lima puluh anggota Kongres yang distriknya memiliki pekerjaan pertahanan paling banyak Tiga puluh tujuh ingin dipilih kembali, yang membuat kerja D-PAC jauh lebih mudah. D-PAC akan menangani akar. para pegawai pertahanan dan bos mereka, serta menyelenggarakan kampanye telepon besar-besaran untuk memperoleh dukungan bagi Aaron Lake dan lebih banyak anggaran belanja militer. Enam senator dari negara-negara bagian yang sarat dengan industri pertahanan memiliki lawan tangguh pada bulan November, dan Elaine Tyner merencanakan makan siang dengan mereka masing-masing.

Dana tak terbatas lama-lama disadari juga di Washington. Seorang anggota Kongres baru dari Kentucky, salah satu yang terendah dari 435 orang, sangat membutuhkan uang untuk berjuang dalam kampanye di kampung halaman yang tampaknya takkan dimenangkannya. Tidak ada yang pernah mendengar tentang anak malang itu. Dia tidak buka mulut selama dua tahun pertamanya, dan sekarang rival-rivalnya di kam-halaman telah menemukan lawan yang menarik

baginya. Tidak ada yang mau memberinya uang. Dia mendengar desas-desus, melacak Elaine Tyner, dan pembicaraan mereka kira-kira seperti ini:

“Berapa uang yang kaubutuhkan?” tanya Elaine.

“Seratus ribu dolar.” Anggota Kongres itu mengernyit, Elaine tidak.

“Bisa kau mendukung Aaron Lake jadi presiden?”

“Aku akan mendukung siapa saja asal imbalannya cocok.” ‘

“Bagus. Kami akan memberimu 200.000 dan

mengurus kampanyemu.” “Silakan.”

Sebagian besar tidak segampang itu, namun D-PAC berhasil membeli delapan dukungan dalam sepuluh hari pertama keberadaannya. Semuanya anggota Kongres tak menonjol yang dulu bertugas bersama Lake dan cukup menyukai pria itu. Strateginya adalah membariskan mereka di depan kamera satu atau dua minggu sebelum hajatan besar Super Tuesday, 7 Maret. Makin banyak makin meriah.

Namun mayoritas sudah terikat dengan kandidat-kandidat lain.

Tyner bergerak cepat, kadang-kadang sampai tiga kali sehari makan bersama para tokoh penting, semua ditanggung D-PAC. Tujuannya adalah mom beri tahu orang-orang bahwa klien gresnya telah tiba, punya banyak uang, dan menunggang kuda hitam yang segera akan melesat meninggalkan yang lain. Di kota di mana bicara merupakan industri tersendiri, dia tidak sulit menyebarluaskan pesannya.

Istri Finn Yarber datang ke Trumble tanpa memberitahu lebih dulu, kunjungan pertamanya dalam sepuluh bulan. Dia memakai sandal kulit lusuh, rok denim kotor, blus longgar dengan hiasan manik-manik dan bulu-bulu, serta segala macam aksesori tua hippie di leher, pergelangan tangan, dan kepalanya. Rambutnya yang sudah beruban dipangkas pendek seperti laki-laki dan ketiaknya berbulu, dia tampak sangat mirip pengungsi kelelahan dari tabun enam puluhan. Finn sama sekali tidak gembira waktu diberitahu bahwa istrinya menunggu di depan.

Nama wanita itu Carmen Topolski-Yocoby, nama panjang yang digunakannya sebagai senjata sepanjang usia dewasanya. Dia pengacara feminis radikal di Oakland dengan spesialisasi membela kaum lesbian yang menuntut akibat pelecehan seksual di kantor. Jadi setiap kliennya adalah wanita marah yang melawan atasan marah. Kantor memang menyebalkan.

Dia menikah dengan Finn selama tiga puluh tahunmenikah, tapi tidak selalu tinggal bersama. Finn tinggal bersama wanita-wanita lain; sang istri tinggal bersama pria-pria lain. Waktu masih pengantin baru, mereka tinggal serumah dengan pasangan-pasangan lain, setiap minggu kombinasinya berbeda. Keduanya datang dan pergi. Selama periode enam tahun mereka tinggal bersama dalam hubungan monogami yang kacau-balau, dan menghasilkan dua anak, tak satu pun sukses.

Mereka berkenalan di medan juang Berkeley pada tahun 1965, sama-sama memprotes perang dan kejahatan-kejahatan lain, sama-sama mahasiswa hukum, sama-sama membaktikan diri pada landasan moral tinggi pembahan sosial Mereka bekerja tak

kenal lelah untuk mendaftar para pemilih. Mereka memperjuangkan kepentingan pekerja migran. Mereka

ditangkap waktu Tet Offensive. Mereka merantai diri di pohon redwood. Mereka melawan orang-orang Kristen di sekolah-sekolah. Mereka menuntut atas nama ikan paus. Mereka berdemonstrasi di jalanan

San Francisco, untuk alasan apa pun.

Dan mereka banyak minum, berpesta penuh semangat, dan menyukai budaya obat bius; mereka selalu bergerak dan tidur dengan siapa saja, ini tidak apa-apa karena mereka punya standar moralitas sendiri. Tentu saja, mereka kan berjuang membela orang Meksiko dan pohon redwoodl Mereka pasti orang baik!

Sekarang mereka lelah.

Istrinya malu karena sang suami, laki-laki brilian yang entah bagaimana bisa sampai di Mahkamah Agung California, sekarang dikurung di penjara federal. Yarber lega penjaranya di Florida dan bukan California; kalau tidak istrinya bisa-bisa lebih sering berkunjung. Penjara pertamanya di dekat Bakers-field, tapi dia berhasil membuat dirinya dipindahkan.

Mereka tidak pernah berkirim surat, tidak pernah menelepon. Istrinya lewat tempat ini karena punya saudara perempuan di Miami,

“Kulitmu bagus,” kata istrinya. “Kau kelihatannya sehat.”

Dan kau keriput seperti buah prune tua, pikir Finn, Sialan, wanita itu tampak kuno dan lelah. “Apa kabar?” dia bertanya, sebetulnya tidak peduli. “Sibuk. Aku terlalu keras bekerja.” “Bagus.” Bagus bahwa dia bekerja dan punya

penghasilan, sesuatu yang selama bertahun-tahun kadang dilakukannya, kadang tidak. Finn masih harus menjalani hukuman lima tahun lagi sebelum bisa mengentakkan debu Trumble dari kakinya yang kapalan dan telanjang. Dia tak berniat kembali pada istrinya, atau ke California. Jika dia bertahan hidup, yang setiap hari diragukannya, dia akan keluar pada usia 65 tahun, dan impiannya adalah menemukan tempat di mana IRS, FBI, serta bajingan-bajingan pemerintah berakronim lainnya tidak punya yurisdiksi. Finn begitu membenci pemerintahnya sendiri sampai berencana melepaskan kewarganegaraannya dan mencari kewarganegaraan lain.

“Kau masih minum?” tanyanya. Tentu saja dia sendiri sudah tidak, meskipun sesekali berhasil memperoleh ganja sedikit dari salah satu penjaga.

“Aku masih waras, terima kasih atas pertanyaannya.”

Setiap pertanyaan merupakan ejekan, setiap jawaban merupakan ejekan balasan. Yarber sejujurnya ingin tahu kenapa istrinya datang. Lalu, dia mengetahuinya “Aku memutuskan untuk bercerai,” kata wanita itu.

Yarber mengangkat bahu seolah mengatakan, “Kenapa repot-repot?’ Tapi dia malah berkata, “Mungkin bukan ide yang jelek.” “Aku menemukan orang lain,” kata istrinya. “Laki-laki atau perempuan?” dia bertanya, cuma karena penasaran. Tak ada yang bisa mengejutkannya. “Laki-laki yang lebih muda.” Dia mengangkat babu lagi dan hampir berkata, “Teruskan, old girl?

“Dia bukan yang pertama,” kata Finn.

“Tak usah kita bahas,” kata istrinya.

Finn setuju saja. Dia selalu mengagumi kehebatan

seksualitas istrinya, staminanya, tapi sulit membayangkan wanita tua ini melakukannya secara teratur. “Tunjukkan surat-suratnya padaku,” katanya. “Akan

kutandatangani.”

“Akan sampai di sini seminggu lagi. Tak ada yang diperebutkan, karena begitu sedikit yang kita miliki akhir-akhir ini.”

Di masa jayanya, Hakim Yarber dan Ms. Topolsky-Yocoby secara bersama mengajukan permohonan untuk menghipotekkan rumah di distrik marina San Francisco. Permohonan tersebut, dibuat bersih dari chauvinisme, seksisme, rasisme, dan pembedaan umur, ditulis oleh pengacara-pengacara California yang takut dituntut pihak yang tersinggung, menunjukkan celah di antara aktiva dan pasiva sebesar hampir sejuta dolar.

Sejuta dolar sebetulnya tidak jadi masalah bagi mereka. Mereka terlalu sibuk melawan perusahaan penebang kayu dan petani sembrono, dan sebagainya. Mereka malah bangga pada sedikitnya harta mereka.

California adalah negara bagian harta bersama, yang secara kasar berarti pembagian secara rata. Surat cerainya akan mudah ditandatangani, karena banyak alasan.

Dan ada satu alasan yang tidak akan pernah diberitahukan Finn. Tipuan Angola menghasilkan uang, tersembunyi dan kotor, serta tak bisa disentuh badan rakus apa pun. Ms. Carmen takkan pernah mengetahuinya.

130

Finn tidak tahu pasti bagaimana tentakel-tentakei harta bersama bisa mencapai rekening bank rahasia di Bahama, tapi dia tidak punya rencana untuk mengetahuinya. Tunjukkan surat-suratnya, dengan senang hati dia akan menandatanganinya.

Mereka berhasil berbincang-bincang beberapa menit tentang para teman lama. percakapan yang singkat karena sebagian besar teman telah hilang. Ketika mereka mengucapkan salam perpisahan, tak ada kesedihan, tak ada penyesalan. Pernikahan mereka sudah lama mati. Mereka lega masalahnya sudah beres.

Finn mengucapkan selamat jalan, tanpa pelukan sedetik pun. lalu pergi ke trek, di mana dia melepas celana sehingga hanya memakai celana pendek dan berjalan satu jam di bawah sinar matahari.

Sepuluh

LUFKIN tengah menghabiskan hari keduanya di Kairo dengan makan malam di kafe pinggir jalan di Shari’ el-Corniche, di bagian Garden City kota itu. Dia meneguk kopi pahit kental dan mengamati para pedagang menutup toko mereka para penjual karpet, mangkuk kuningan, tas kulit, dan linen dari Pakistan, semua untuk turis. Tak sampai enam meter dari tempatnya, seorang pedagang tua dengan cermat melipat tendanya, lalu meninggalkan tempatnya berjualan tanpa bekas.

Lufkin tampak berbaur dengan kehidupan modem Arabcelana panjang putih, jas khaki tipis, topi fedora putih yang diturunkan sampai dekat mata. Dia memandang dunia dari balik topi dan kacamata hitam. Wajah dan lengannya cokelat terbakar matahari dan rambutaya yang berwarna gelap dipotong sangat pendek. Dia berbicara dalam bahasa Arab tanpa cacat dan bergerak lincah dari Beirut ke Damaskus ke

Kairo. dia menginap di hotel EL NIil di tepi sungai Nil,enam blok yang padat dari sini,ketika sedang

berjalan-jalan di kota, tiba-tiba dia didatangi orang asing kurus tinggi dengan bahasa Inggris sekadarnya, Mereka sudah cukup lama kenal sehingga saling mempercayai, dan melanjutkan perjalanan.

“Menurut kami, malam inilah saatnya,” kata penghubung itu, matanya juga tersembunyi. Teruskan.”

“Ada pesta di kedutaan.” “Aku tahu.”

“Ya, tempat yang pas. Banyak orang lalu lalang. Bomnya akan diletakkan”di dalam van” “Van macam apa?” -

.”Kami tak tahu.” “Ada lagi?”

“Tidak,” sahutnya, lalu menghilang di tengah kerumunan.

Lufkin minum Pepsi di bar hotel, sendirian, dan berpikir untuk menelepon Teddy. Tapi sudah empat hari berlalu sejak dia bertemu orang itu di Langley, dan Teddy belum menghubungi. Mereka sudah pernah membicarakan masalah ini. Teddy takkan ikut campur. Akhir-akhir ini Kairo tempat yang berbahaya bagi orang Barat, dan tidak ada yang bisa menyalahkan CIA karena tidak menghentikan serangan. Akan ada tuduhan dan tudingan yang biasa, namun kengeriannya akan cepat-cepat dijejalkan ke celah-celah ingatan nasional, kemudian dilupakan. Mereka harus memikirkan kampanye, lagi pula dunia berputar kencang. Dengan begitu banyak penyerbuan, penyerangan, dan kekerasan di tanah air dan luar negeri, orang-orang Amerika sudah kebal. Berita 24 jam, kilasan berita nonstop, di suatu tempat di dunia selalu ada krisis.

Berita-berita paling hangat, kejutan di Ťini dan kejutan di sana, dan tak lama kemudian kau sudah tidak bisa mengikuti perkembangannya saking banyaknya.

Lufkin meninggalkan bar dan pergi ke kamar. Dari jendelanya di lantai empat, kota terhampar bagai tak berujung, membangun kericuhan selama berabad-abad. Atap Kedutaan Besar Amerika persis di depannya, terpisah satu setengah kilo lebih.

Dia membuka buku karangan Louis L’Amour, dan menunggu acara kembang api dimulai.

Truk itu adalah van panel Volvo dua ton, dari lantai sampai langit-langitnya penuh dengan satu setengah ton bahan peledak plastik yang dibuat di Rumania. Di pintunya tertulis mencolok nama katering terkenal di kota ini, perusahaan yang sering datang ke sebagian besar kedutaan negara-negara Barat Mobil itu diparkir di dekat pintu barang, di ruang bawah tanah.

Sopir truk itu tadinya orang Mesir ramah bertubuh besar yang dipanggil Shake oleh para Marinir yang menjaga kedutaan. Shake sering datang, mengangkut makanan dan persediaan ke dan dari acara-acara sosial. Sekarang Shake terkapar kaku di lantai truknya, sebutir peluru tertanam di otaknya.

Pukul 22.10, bom diledakkan dengan alat kontrol jarak jauh, dilakukan oleh teroris yang bersembunyi di seberang jalan. Begitu menekan tombol yang tepat, pria itu merunduk di belakang mobil, takut melihat

Ledakan itu menghancurkan tiang-tiang penyangga jauh di dalam ruang bawah tanah, jadi kedutaan ambruk ke satu sisi. Serpihan berhamburan sejauh berblok-blok. Sebagian besar gedung-gedung di dekatnya mengalami kerusakan struktur. Jendela-jendela dalam radius 400 meter retak.

Lufkin sedang tidur di kursi waktu ledakan itu terjadi. Dia melompat berdiri, berjalan ke balkon sempit, dan memandang kepulan debu. Atap kedutaan tidak kelihatan lagi. Beberapa menit kemudian tampak lidah api, dan mulai terdengar sirene yang tak putus-putus. Dia menyandarkan kursi pada pagar balkon, dan duduk menunggu. Takkan ada yang tidur. Enam menit setelah ledakan, listrik Garden City padam, dan Kairo gelap gulita, hanya diterangi cahaya oranye api di Kedutaan Besar Amerika. Dia menelepon Teddy.

Setelah si teknisi, pembersih Teddy, meyakinkan Lufkin bahwa saluran sudah aman, suara pria tua itu terdengar sangat jelas, seakan mereka mengobrol dari New York ke Boston. “Ya, Maynard di sini.”

“Aku di Kairo, Teddy. Menonton kedutaan kita terbakar.”

“Kapan terjadinya?”

“Kurang dari sepuluh menit yang lalu.” “Seberapa besar

“Sulit mengetahuinya. Aku di hotel satu setengah kilo lebih dari sana. Habis-habisan, menurutku.”

“Telepon aku sejam lagi. Malam ini aku berjaga di kantor”

“Beres,”

Teddy mendorong dirinya sendiri ke komputer, menekan beberapa tombol, dan dalam beberapa detik menemukan Aaron Lake, Kandidat itu sedang dalam perjalanan dari Philadelphia ke Atlanta, naik pesawat

barunya yang mengilat. Di saku Lake ada telepon, unit digital aman sebesar pemantik rokok.

Teddy menekan beberapa angka lagi, telepon itu terhubung, dan Teddy bicara pada monitor, “Mr. Lake, ini Teddy Maynard.”

Siapa lagi? pikir Lake. Orang lain tidak bisa menggunakan telepon ini.

“Anda sendirian?” tanya Teddy.

“Tunggu sebentar.”

Teddy menunggu, lalu suara itu kembali. “Saya di dapur sekarang,” Lake memberitahu.

“Pesawat Anda dilengkapi dapur?”

“Dapur kecil, ya. Pesawatnya sangat nyaman, Mr. Maynard.”

“Bagus. Dengar, maaf mengganggu Anda, tapi saya ingin mengabarkan. Mereka mengebom Kedutaan Besar Amerika di Kairo lima belas menit lalu.”

“Siapa?”

“Jangan tanya itu.” “Maaf.”

“Pers akan menyerbu Anda. Menyingkirlah sebentar, siapkan komentar. Sekaranglah saat yang tepat untuk menyampaikan keprihatinan bagi para korban dan keluarga mereka. Singgung masalah politik sesedikit mungkin, tapi pertahankan juga sikap keras Anda. Iklan-iklan Anda bagai ramalan sekarang, jadi perkataan Anda akan berkali-kali diulangi.”

“Akan saya lakukan sekarang.”

“Telepon saya begitu Anda sampai di Atlanta.”

“Baik.”

Empat puluh menit kemudian, Lake dan rombongannya mendarat di Atlanta. Pers telah diberitahu tentu kedatangannya, dan seiring turunnya abu di Kai kerumunan pers sudah menunggu. Belum ada gamb langsung dari kedutaan, tapi beberapa kantor bei melaporkan bahwa “ratusan” telah terbunuh.

Di terminal kecil untuk pesawat pribadi, La berdiri di hadapan sekelompok reporter yang penuh semangat, membawa kamera dan mikrofon, yan lain membawa alat perekam kecil, ada juga yang cuma membawa notes. Dia bicara dengan muram tanpa teks, “Saat ini, kita harus mendoakan orang orang yang telah terluka dan terbunuh oleh kekejaman ini. Hati dan doa kita bersama mereka dan keluarga mereka, juga bersama regu penolong. Saya takkan mempolitisir peristiwa ini. tapi saya akan mengatakan bahwa absurd jika negara ini lagi-lagi menderita karena teroris. Saat saya menjadi presiden, tak satu pun warga Amerika akan mati sia-sia. Saya akan menggunakan militer baru kita untuk menemukan dan memusnahkan kelompok teroris mana saja yang merugikan rakyat Amerika yang tak bersalah. Itu saja yang ingin saya sampaikan.”

Dia berjalan pergi, mengabaikan teriakan dan pertanyaan dan gerombolan anjing lapar itu.

Brilian, pikir Teddy, sambil menonton siaran langsung dari bungkernya. Cepat, penuh perasaan, tapi sekeras baja Luar biasa.’ Sekali lagi dia memuji dirinya sendiri karena memilih kandidat sebagus itu.

Waktu Lufkin menelepon lagi, di Kairo sudah lewat tengah malam. Api telah dipadamkan dan mereka mengeluarkan mayat-mayat secepat mungkin. Banyak yang terkubur di, dalam reruntuhan. Dia satu

blok dari situ, di belakang barikade tentara, menonton bersama ribuan orang lain. Tempat itu kacau-balau, asap dan abu menyesakkan napas. Sepanjang kariernya, Lufkin sudah beberapa kali melihat langsung lokasi pengeboman, dan yang ini parah, begitu dia melaporkan.

Teddy meluncur di sekeliling kamar dan kembali menuang secangkir kopi tanpa kafein. Iklan-iklan teror Lake akan dimulai saat jam tayang utama. Khusus malam ini kampanye ‘ akan menghabiskan tiga juta untuk membanjiri negeri ini dengan ketakutan dan kengerian. Mereka akan menarik semua iklan itu besok, dan mengumumkannya sebelumnya. Sebagai penghormatan pada para korban dan keluarga mereka, kampanye Lake untuk sementara akan menghentikan iklannya. Dan mereka akan memulai jajak pendapat besok siang, secara besar-besaran.

Kandidat Lake melesat. Pemilihan pendahuluan Arizona dan Michigan tidak sampai seminggu lagi.

Gambar-gambar pertama dari Kairo menampakkan seorang reporter awut-awutan yang memunggungi barikade militer, tentara-tentara mengawasinya dengan galak seolah dia mungkin saja akan ditembak kalau sekali lagi mencoba menerjang maju. Sirene meraung-raung di segala penjuru; lampu-lampu menyambar. Tapi reporter itu cuma tahu sedikit. Bom dahsyat telah meledak jauh di bawah kedutaan pada pukul 22.20 ketika di sana sedang ada pesta; tidak ada kepastian tentang korban, tapi pasti banyak, janjinya. Area itu dikelilingi tentara, dan antuk jaga-jaga mereka telah menutup ruang udara supaya, tidak ada pengambilan gambar dari helikopter, tentu saja.

Sampai saat ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab, namun untuk sekadar informasi dia menyebut ten nama tiga kelompok radikal sebagai tersangka.

“Bisa saja salah satu di antaranya, bisa saja orang lain.” karanya sok tahu. Karena tidak diizinkan meng ambil gambar, kamera terpaksa tetap bersama reporter, dan karena orang itu tidak tahu mesti mengatakan apa lagi, dia berceloteh tentang betapa berbahayanya Timur Tengah sekarang, seakan itu berita paling hangat dan dia di sana untuk melaporkannya!

Lufkin menelepon sekitar pukul 20.00 waktu D.C. untuk memberi tahu Teddy bahwa Duta Besar Amerika untuk Mesir tidak bisa ditemukan, dan mereka mulai khawatir orang itu mungkin tertimbun reruntuhan. Paling tidak begitulah berita yang beredar di jalanan. Sementara bicara dengan Lufkin di telepon, Teddy menonton reporter tadi yang suaranya sengaja dimatikan; iklan teror Lake tampak di layar lain. Iklan itu menampilkan reruntuhan, pembunuhan, mayat-mayat, orang-orang radikal dari serangan lain, lalu suara tenang namun sungguh-sungguh Aaron Lake yang menjanjikan pembalasan. Betapa tepat waktunya, pikir Teddy.

Seorang ajudan membangunkan Teddy tengah malam dan memberinya teh lemon dan roti isi sayur. Seperti yang sering dilakukannya, dia tadi tertidur di kursi roda, dinding penuh layar TV menampakkan gambar-gambar tapi tak ada suara. Setelah ajudan itu pergi, dia menekan sebuah tombol dan mendengarkan. Matahari sudah tinggi di Kairo. Duta Besar belum

ditemukan, dan sekarang diasumsikan bahwa dia berada di balik reruntuhan.

Teddy belum pernah bertemu Duta Besar untuk Mesir tersebut, orang yang memang tidak menonjol, yang sekarang dipuji-puji sebagai pahlawan Amerika oleh para reporter yang ribut berceloteh, Kematiannya tidak terlalu merisaukan Teddy, meskipun hal itu akan menambah kritik untuk CIA. Kematiannya juga akan membuat serangan ini semakin hebat, yang dalam rencananya akan menguntungkan Aaron Lake.

Sejauh ini 61 mayat telah ditemukan. Pihak berwenang Mesir menyalahkan Yidal. tersangka yang paling mungkin karena tentaranya telah mengebom tiga kedutaan negara Barat dalam enam belas bulan terakhir, dan karena orang itu terang-terangan menyatakan perang terhadap Amerika Serikat. Dokumen terakhir CIA tentang Yidal menunjukkan dia mempunyai tiga puluh tentara dan anggaran tahunan sekitar $5 juta, hampir semua berasal dari Libya dan Arab Saudi. Tapi pada pers, bocoran menyebutkan jumlah tentaranya sekitar seribu dengan dana tak terbatas untuk menteror warga Amerika yang tak bersalah.

Israel tahu Yidal sarapan apa dan di mana memakannya. Mereka sebetulnya punya banyak kesempatan untuk menangkapnya, tapi sampai sekarang Yidal berhasil mengelak berurusan dengan mereka. Sepanjang dia membunuh warga Amerika dan negara-negara Barat, Israel tidak peduli. Mereka malah untung jika Barat membenci kelompok-kelompok radikal Islam.

Teddy makan pelan-pelan, kemudian tidur lagi. Luflcin menelepon sebelum tengah hari waktu Kairo

untuk memberitakan bahwa mayat Duta Besar dan istrinya telah ditemukan. Jumlah korban sekarang 84; cuma sebelas yang bukan warga Amerika.

Kamera-kamera menyorot Aaron Lake di luar sebuah pabrik di Marietta, Georgia, bersalaman dalam gelap ketika terjadi pergantian shift, dan waktu ditanya tentang peristiwa-peristiwa di Kairo, dia berkata, “Enam belas bulan yang lalu, penjahat-penjahat yang sama mengebom dua kedutaan besar kita, membunuh tiga puluh warga Amerika, dan kita tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan mereka. Mereka melakukan kekerasan tanpa dihukum, karena kita tidak punya komitmen untuk melawan. Saat saya jadi presiden, kita akan menyatakan perang terhadap teroris-teroris ini dan menghentikan pembunuhan.”

Omongan kerasnya segera menulari yang lain, dan ketika pagi harinya Amerika mendengar kabar mengerikan dari Kairo tersebut, negara itu juga mendengar berbagai ancaman dan ultimatum dari ketujuh kandidat lainnya. Bahkan yang lebih pasif di antara mereka pun sekarang terdengar bagai jagoan.

Sebelas

SALJU turun lagi di Iowa, putaran salju dan angin yang berubah jadi lumpur salju di jalanan dan trotoar, menyebabkan Quince Garbe kembali merindukan pantai. Dia menutupi mukanya di Main Street seolah untuk melindungi diri dari angin, tapi sebetulnya dia tidak ingin bicara dengan siapa pun. Tidak ingin orang melihatnya lagi-lagi bergegas ke kantor pos.

Ada selembar surat di kotaknya. Salah satu dari surat-surat itu. Mulutnya ternganga dan tangannya terhenti waktu dia melihatnya, tergeletak di sana di antara selebaran-selebaran, polos, bagai surat dari teman lama. Dia melirik ke belakangpencuri yang dilanda perasaan bersalahlalu menyambar dan menjejalkannya dalam-dalam ke saku mantel.

Istrinya sedang di rumah sakit merencanakan acara jamuan untuk anak-anak cacat, jadi rumah kosong, cuma ada seorang pelayan yang kerjanya tidur melulu di ruang cuci. Sudah delapan tahun dia tidak menaikkan gajinya. Dia sengaja berlama-lama mengemudi ke sana, menentang salju dan angin, memaki narapidana yang memasuki hidupnya dengan tipuan

cinta, memikirkan isi suratnya, yang terasa semakin berat di dekat jantungnya seiring berlalunya waktu.

Si pelayan tidak kelihatan waktu dia memasuki pintu depan, menimbulkan suara seribut mungkin. Dia naik ke kamarnya di atas, lalu mengunci pintunya. Di balik kasur ada pistol. Dia melemparkan mantel dan sarung tangan ke kursi, lalu jasnya, dan duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi amplop. Kertas lembayung muda yang sama, tulisan tangan yang sama, semuanya sama dengan stempel pos Jacksonville, dua hari lalu. Dia merobeknya dan mengeluarkan selembar kertas.

Dear Quince:

Terima kasih banyak untuk uangnya. Supaya kau tidak berpikir aku bajingan, kurasa kau sebaiknya mengetahui bahwa uang itu kuberikan pada istri dan anak-anakku. Mereka sangat menderita. Pengurungan diriku membuat mereka melarat Istriku mengalami depresi dan tidak bisa bekerja. Keempat anakku hidup dari tunjangan sosial dan kupon makanan.

(Seratus ribu dolar pasti bisa membuat mereka gemuk, pikir Quince.)

Mereka tinggal di rumah penampungan pemerintah dan tidak punya transportasi yang bisa diandalkan. Jadi, terima kasih sekali lagi atas bantuanmu. Lima puluh ribu dolar lagi akan membuat mereka bebas dari utang dan jadi awal dana kuliah yang bagus.

Peraturannya sama dengan sebelumnya; instruksi pengirimannya sama; ancamannya sama, yaitu pembeberan kehidupan rahasiamu kalau uangnya tidak segera diterima. Lakukan sekarang, Quince, dan aku bersumpah ini surat terakhirku.

Terima kasih sekali lagi, Quince.

Love, Ricky

Dia masuk kamar mandi, menuju ke lemari obat, mengambil Valium istrinya. Dia minum dua butir, tapi berpikir untuk menenggak semuanya. Dia perlu berbaring tapi tidak dapat menggunakan tempat tidur, karena seprainya akan kusut dan orang bisa bertanya-tanya. Jadi dia menggeletak di lantai, di atas karpet tua tapi bersih, dan menunggu pil-pil tadi bekerja.

Dia telah memohon, mengorek sana-sini, bahkan berbohong sedikit untuk meminjam cicilan pertama bagi Ricky. Tak mungkin dia bisa menguras $50.000 lagi dari rekening pribadi yang sudah bolong-bolong dan berada di tepi jurang kebangkrutan. Rumah besar bagusnya dihipotekkan pada ayahnya. Ayahnya menandatangani cek gajinya. Mobil-mobilnya memang besar dan impor, tapi odometernya menunjukkan angka seribu dan nilainya rendah. Siapa di Bakers, Iowa, yang mau membeli Mercedes berumur sebelas tahun?

Dan apa bedanya jika dia dengan suatu cara berhasil mencuri uang itu? Bajingan bernama Ricky itu cuma akan mengucapkan terima kasih lagi, kemudian minta lebih banyak.

Tamatlah riwayatnya.

Waktunya minum pil. Waktunya menembakkan

senjata.

Bunyi telepon mengagetkannya. Tanpa berpikir, dia bergegas bangun dan menyambar gagang telepon. “Halo,” dengusnya.

“Di mana kau?” sembur ayahnya, dengan nada yang sangat dikenalnya.

“Aku, uh, tak enak badan,” jawabnya dengan susah payah, melihat jam tangan dan sekarang baru ingat akan rapat pukul 10.30 dengan seorang pemeriksa yang sangat penting dari FDIC.

“Aku tak peduli dengan badanmu. Mr. Colthurst dari FDIC sudah lima belas menit menunggu di kantorku.”

“Aku muntah-muntah, Dad,” katanya, dan meringis lagi waktu mengucapkan kata Dad. Lima puluh satu tahun, masih memanggil ayahnya Dad.

“Kau bohong. Kenapa kau tidak menelepon kalau benar sakit? Gladys memberitahuku dia melihatmu berjalan menuju kantor pos sesaat sebelum pukul sepuluh. Ada apa ini?”

“Permisi dulu. Aku harus ke toilet. Nanti kuhubungi lagi.” Dia meletakkan telepon.

Valium bereaksi bagai kabut menyenangkan, dan dia duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi potongan-potongan kertas lembayung muda yang berserakan di lantai. Ide-ide muncul perlahan, tertahan pil-pil tadi.

Dia bisa menyembunyikan surat-surat itu, lalu mengakhiri hidupnya. Surat bunuh dirinya akan menyalahkan ayahnya. Kematian bukanlah prospek yang terlalu jelek; tak ada lagi pernikahan, tak ada lagi bank, tak ada lagi Dad, tak ada lagi Bakerg, Iowa, tidak ada lagi sembunyi-sembunyi.

Tapi dia akan kehilangan anak-anak dan cucu-cucunya.

Dan bagaimana kalau si Ricky monster ini tidak tahu tentang bunuh dirinya, lalu mengirim surat lagi, dan mereka menemukannya, kemudian akhirnya aib Quince tetap ketahuan, lama setelah pemakamannya?

Ide buruk berikutnya membutuhkan kerja sama sekretarisnya, wanita yang tidak dipercayainya. Dia akan memberitahukan yang sebenarnya pada sekretarisnya, kemudian memintanya mengirim surat pada Ricky dan mengabarkan soal bunuh diri Quince Garbe. Berdua, Quince dan sekretarisnya bisa menipu dan berbohong tentang bunuh diri, dan dalam proses itu membalas dendam pada Ricky.

Tapi dia lebih suka mati daripada memberitahu si sekretaris.

Ide ketiga muncul setelah Valium bekerja penuh, dan dia jadi tersenyum. Kenapa tidak mencoba jujur? Tulis surat pada Ricky dan katakan dirinya sekarang miskin. Tawarkan $10.000 lagi dan bilang cuma itu yang ada. Jika Ricky bermaksud menghancurkannya, dia tidak punya pilihan selain memburu Ricky. Dia akan memberitahu FBI, membiarkan mereka melacak surat-surat dan transfer uang, dan mereka berdua pun akan sama-sama hancur.

Dia tidur di lantai selama setengah jam, lalu mengambil jas, sarung tangan, dan mantel. Dia meninggalkan rumah tanpa melihat si pelayan. Ketika melaju ke kota, penuh semangat untuk mengkonfrontasi kebenaran, dia mengakui keras-keras bahwa cuma uang yang penting. Ayahnya berusia 81 tahun. Saham bank bernilai sekitar $10 juta. Suatu hari semua itu akan jadi miliknya. Tetaplah rahasiakan dirinya sampai uang itu sudah di tangan, lalu dia bisa hidup sesuai keinginannya. Pokoknya jangan usik uang itu.

Coleman Lee memiliki warung taco di mal kecil di pinggiran Gary, Indiana, di bagian kota yang sekarang dikuasai orang-orang Meksiko. Coleman berumur 48 tahun, dengan dua perceraian ricuh puluhan tahun lalu, untung tanpa anak. Karena sering makan taco, dia gemuk dan lamban, dengan perut buncit dan pipi tembam kendur. Coleman tidak tampan, tapi jelas kesepian.

Pegawai-pegawainya kebanyakan anak muda Meksiko, imigran gelap, yang semuanya, cepat atau lambat, dicoba diganggunya, atau dipikatnya, atau apa pun sebutan untuk usahanya yang payah. Jarang dia berhasil, dan konsekuensinya berat. Bisnis juga berkurang karena orang-orang bicara dan Coleman dicemooh. Siapa yang mau beli taco dari banci?

Dia menyewa dua kotak pos kecil di kantor pos di ujung malsatu untuk bisnis, yang lain untuk kesenangannya. Dia mengoleksi benda-benda porno dan mengambilnya hampir tiap hari dari kantor pos. Kurir surat di apartemennya selalu ingin tahu urusan orang, dan beberapa urusan memang paling baik dilakukan tanpa ribut-ribut.

Dia berjalan santai di sepanjang trotoar kotor di tepi tempat parkir, melewati toko-toko sepatu dan kosmetik diskon, melalui toko video XXX yang terlarang baginya, melewati kantor kesejahteraan sosial, yang didirikan di daerah pinggiran ini oleh

seorang politisi putus asa yang ingin memperoleh dukungan suara. Kantor pos penuh dengan orang Meksiko yang berlama-lama karena di luar dingin.

Hasil hariannya adalah dua majalah superporno yang dikirim padanya dalam amplop cokelat biasa, dan sepucuk surat yang samar-samar tampak familier. Amplopnya persegi kuning, tanpa alamat pengirim, stempel pos Atlantic Beach, Florida. Ah, ya, dia ingat ketika memegangnya. Si Percy muda di ldinik rehabilitasi.

Kembali ke kantor kecil pengapnya di antara dapur dan ruang perlengkapan, dia segera membalik-balik kedua majalahnya, melihat tidak ada yang baru, lalu menumpuknya bersama seratus majalah lain. Dia membuka surat dari Percy. Seperti dua surat sebelumnya, yang ini pun ditulis tangan, dan dialamatkan kepada Walt, nama yang dipakainya untuk mengumpulkan semua benda pornonya. Walt Lee.




0 Response to "The Brethren 1"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified