Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Apa Yaa?!

dzyemtri.muharram@gmail.com

Sejenis Cerita [tidak] Pendek..

apa yaa?!

Suatu saat di ruang tamu ada dua orang anak manusia,

seorang lelaki dan wanita, yang satu berperan sebagai adik

dan satu lagi sebagai kakak.

Ketika itu kakak dari adiknya, sedang duduk di kursi

bertemankan laptop berlayar mini [alias Netbook]. Ia meminta

adiknya untuk mengambilkan sebuah buku.

“Dik, tolong ambilkan buku Apa Yaa!” ujar kakaknya itu.

Adiknya yang lagi menyender di dekat lemari buku pun

menjawab.

“Iya Kak, buku apa Kak?” seraya bertanya balik.

“Buku Apa Yaa!!”

“Buku apaa??”

“Apa Yaa!!”

“Yaa apa Kak, apa??!” sedikit geram.

“Apa Yaa!!”

“Jiah, apa judulnya Kak??”

“Buku yang judulnya itu ‘Apa Yaa?!’, ada nggak?”

“Yaaelahh... judulnya Apa Yaa, bentar Kak..”

Si Adik menghampiri kakaknya seraya berkata.

“Inih Kak bukunya. Judul buku kok Apa Yaa, anehh.. bikin

bingung aja ihh..”

“Kamu ini ada da ajah, makasih adikku..”

“Iyaa Kak..”

Ia lantas membukanya, menuju halaman pertama lalu

mulai membacanya.

-¤¤-¤¤-

Beginilah isi dari buku yang dibacanya..

Silakan baca saja, semoga berguna yaa..!!

1

dzyemtri.muharram@gmail.com

-¤¤-¤¤-

Ini malam hari, malam yang sunyi terbalut sepi, awan

pun menghitam, hujan tak kunjung mereda. Pantas sajalah

semua orang tertidur pulas dengan mimpinya sendiri-sendiri

di atas kasur empuk dan pelukan selimut lembut. Tetapi tidak

untuk pemuda ini. Dia hanya terdiam, mata tak terpejam

walau kantuk sesekali menghampiri. Terdiam, melamun,

merenung, memikirkan dan mengharapkan, itulah yang ia

lakukan di malam sunyi.

Dengan tembok sebagai sandarannya, ia membisu

sejenak, lantas menulis di secarik kertas, “Cukupkah bertaubat

hanya dengan berucap istighfar, Astaghfirullah.. Sedang jiwa

raga tak kuasa terus melakukan dosa yang sama..?!

“...”

Kemudian ucapan keluar.

“... Ku hanya ingin bertobat... Bertobaat...!!”

Ucapan itu memecah kesunyian kamar dimana yang

lainnya tertidur pulas.

“Ya Allah, apa yang mesti kuperbuat, diriku memang

kerap tersesat, banyak lakukan maksiat, juga sering

tinggalkan shalat, namun malangnya diriku tak pandai tuk

bertaubat. Ya Allah, kumemohon padaMu ampuni dosaku.

Engkau Maha Penerima Taubat, ... terimalah taubatku,”

lirihnya.

Air mata meluncur tak terasa menghujani sebuah buku.

Ia usap air mata yang membasahi pipi, juga yang menetesi

buku yang digenggamnya. Buku yang hendak kan ia berikan

pada keponakannya itu menjadi saksi bisu suasana hatinya

saat itu.

“Mungkin buku ini akan cocok untukmu, anak cilik,” kata

hatinya sambil terus mengelus-elus cover buku yang berjudul

‘Belajar Mencintai Rasulullah’ yang dipegangnya itu.

2

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Gue, aku, saya, diriku.. haruslah berubah jadi orang

yang lebih baik, ku kan coba gunakan sisa hidup ini. Ku tak

ingin terus dibelenggu nafsu-nafsu tak menentu waktu.

Keponakanku tak boleh sepertiku, meniru kejelekanku, atau

siapa pun itu tak boleh seperti diriku.” Hatinya terus berkata

tanpa jeda dan berharap tanpa henti.

Tiba-tiba saja ia tuliskan sebuah kata ‘mimpi’, sambil

melihat teman-temannya yang sedang tertidur. Ia tuliskan

kembali sederet kalimat “Ketika kita dilahirkan dan kita pun

bermimpi, lalu terbangun dari mimpi itu. Apakah hidup kita kan

lebih baik dari mimpi?!” Kemudian ia goreskan sebuah garis

melengkung yang diakhirinya dengan sebuah titik tepat di

bawah garis itu, hingga membentuk sebuah tanda tanya

besar. Walau ia tak ingin cepat-cepat tidur, namun rasanya

kantuk yang datang menghampiri tak tertahankan lagi. Jam

dinding kamar sudah menunjukkan pukul 2 pagi lebih. Ia pun

terlelap tidur bersama harapannya dengan buku tetap

digenggam dipelukannya, buku yang hendak kan ia berikan

pada keponakannya itu. Dan mimpi pun hadir temani tidur

lelapnya, sama seperti manusia lainnya.

-¤¤-¤¤-

Mimpi apa dia ?? Taukah kamu?!

Kalau nggak tau, yuk kita masuki saja awan mimpinya.

Kalo ditulis kira-kira begini ceritanya ...

Let’s read..!!!

-¤¤-¤¤-

Tak.. tik.. tik.. tek.. tek tek tek tek tek tekkekeekkkk..

Bunyi tuts keyboard terdengar jelas dihentakkkan seorang

mahasiswa perguruan tinggi jakarta, di siang yang panas.

3

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Kok masih gak bener-bener sih?!,” katanya sambil

menggaruk-garuk kepala, memandangi PC rakitan yang sering

ia utak-atik sana sini.

Tak ada gelak tawa sang adik lagi di rumah itu, orang

tuanya di luar kota bersama si adik, jadi pantas sajalah bunyi

keyboard terdengar jelas memantul dari dinding ke dinding.

Sunyi sepi bagai tak berpenghuni, orang tua pergi tak

ada di rumah lagi [ngurusin bisnisss katanya]. Tapi untunglah

ada Mang Dadang dan Mpo Aminah yang dimintai tolong oleh

orang tuanya tuk tinggal menemaninya. Sejak sebulan yang

lalu.

“Mang kalo ada teman yang ke sini cari saya, bilangin aja

pergi ke warnet sebentar, tunggu aja suruh masuk,” pesannya

pada Mang Dadang yang sudah seperti keluarga.

“Iyaa.. nanti mang sampaikan. Tidak pakai motor

perginya?” kata Mang Dadang yang sedang membenahi

halaman.

“Nggak ah, deket kok.. Kalo gitu saya pergi dulu.

Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..”

jawab si Mang.

Saking tergesa-gesanya, ia sampai lupa kencangkan tali

sepatu. Ia pun duduk berjongkok kembali.

“Kenapa Den Rama?” tanya Mang Dadang.

“Akh gak apa-apa,” jawabnya.

Tali sepatu telah terikat kencang temani langkah kakinya.

Dengan tas di pundaknya ia pun pergi ke warnet yang

lumayan tak sebegitu jauh dari rumahnya.

Ia berjalan dengan sedikit berlari [ingin cepat sampai

kayaknya]. Tanpa disadari, ia pun menubruk anak SD yang

baru pulang sekolah. Kaki anak itu membentur batu dan kerikil

tajam yang berserakan, lukalah kakinya.

“Duh.. maaf dek, ga apa-apa?? Wah berdarah.., ke

rumah sakit ya?” tanyanya dengan hati yang agak kaget

bercampur panik.

“Nggak apa-apa kok, kak. Cuman luka dikit,” ucap si adik.

4

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Siapa nama adik?”

“Aldy,” jawab siswa Sekolah Dasar itu singkat.

“Dik Aldy beneran gak mau ke rumah sakit? Kan berdarah

tuh.”

“Gak ahh. Kak bisa antar ke rumah saja..?” pinta si adik

yang enggan dibawa ke rumah sakit.

“Rumahnya di mana?” tanya Rama.

“Deket kok dari sini,” jawab salah seorang teman si adik.

Aldy terus saja meniup lukanya itu, yang mulai terasa

perih.

Ia urungkan niat buat ke warnet, ada sesuatu yang harus

ia lakukan sekarang, mengantar Aldy ke rumahnya. Tak lama,

ia pun nyampe juga di depan pintu rumah Aldy.

“Oh di sini rumahnya ya? Ini tu deket dari rumah kakak

dong,” ucap Rama sedikit menghiburnya.

Bel dibunyikan, tett.. teet.. teettt..

“Assalamu’alaikum.” Saat itu juga terbukalah pintu itu

dibukakan oleh seorang wanita yang heuuh.. cute abiz dah,

begitu indah dipandang. Sepertinya ia terpesona melihatnya.

“Kakak..” ucap si adik menyapa kakak perempuannya

yang satu-satunya.

“Mmm, ternyata itu kakaknya yaa..” gumam hati Rama.

“Ada apa yaa?!” tanya Aisycha, nama wanita itu.

“Oh.. ini adik ini tadi terjatuh karena saya. Maaf,” jawab

Rama.

“Bukan salah kakak juga kok, adik juga lari-lari nggak

liat-liat,” Aldy membela kak Rama, takut kakaknya marah.

“Kak masuk dulu,” ajak Aldy.

“Iya mari masuk dulu,” tambah Aisycha.

Dipersilakanlah duduk dan disuguhi munuman.

Sambil membersihkan luka kaki adiknya, Aisycha

memperkenalkan diri.

“Mm.. kenalkan, aku Aisycha, kakaknya Aldy.”

“Aku Rama,” jawabnya singkat, bingung mau ngomong

apa.

5

dzyemtri.muharram@gmail.com

“... Kamu baru di sini yaa?”

“Iyaa, pindahan dari Bandung, baru kemarin lusa tinggal

di sini.”

“Ohh.. pantesan nggak pernah lihat kamu sebelumnya di

komplek ini,” ucap Rama mencoba tuk akrab.

Aisycha membersihkan luka adiknya sambil ngobrol sanasini

dengan Rama.

“Nama lengkapnya apa?” tanya Aisycha.

“Hmm.. Zikr Ramadhan.”

“Enaknya dipanggil apa yaa?”

“Terserah kamu aja mau panggil apa.”

“Kalo dipanggil Zik, gimana?”

Ia, Rama teringat akan orang tua dan adik-adiknya yang

selalu memanggilnya Zik.

“Iyah.. gak apa-pa,” jawab Rama sambil tersenyum.

“Mmm.. ternyata ada satu lagi yang panggil aku dengan

Zik.” Rama kangen juga dengan nama panggilan itu.

“Kalo kamu?!” tanya Rama.

“Aku, Aisycha Citra Ramadhan. Nama belakangnya sama

tuh.”

“Lahirnya bulan Ramadhan juga?” tanya Rama.

“Ah nggak, itu dari nama ayahku, Muhammad Hijri

Ramadhan.”

“Ooo.. kirain..” Rama mengangguk-anggukkan kepalanya

tanda mengerti.

Tiba-tiba saja, “Kak.. Kakak.. Udah kak, udah bersih

lukanya,” kata Aldy.

“Ehh.. udah yaa.” Aisycha yang keasyikan ngobrol baru

menyadarinya.

“Sakit dek?” tanya Rama.

“Nggak dong kan aku jagoan,” jawab si adik yang

langsung pergi bermain game di komputer.

“Dia mah bandell,” celoteh Aisycha.

“Namanya juga anak-anak,” tambah Rama.

“Diminum airnya dong..!”

“Makasih..”

6

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Seger nih siang-siang minum,” ucap Rama yang

memang dari tadi kehausan namun jaim-jaim dikit.

Gelas disimpan kembali di atas meja, Rama mulai lagi

bicara.

“... Tadi, si adik tu mau aku bawa ke rumah sakit, eh gak

mau, malah minta dianterin ke rumah saja.”

“Ke rumah sakit?! Dia mah takut banget kalo diajakin ke

sana.”

“Mungkin takut jarum suntik yaa?”

Aisycha hanya tersenyum mengangguk mengiyakan.

“Ee iya, mau tanya. Sekolahnya di mana?” tanya Aisycha.

“Aku udah kuliah, di Universitas tak terlalu jauh kok dari

sini. Ambil jurusan teknik komputer. Baru semester tiga.”

“Kuliahan yaa.. kalo aku mah di SMA itu tuh yang deket

jalan ke mal. Baru kemarin masuknya juga.”

“... Sekolah itu, aku dulu SMA-nya di sana juga lho.

Sekarang kelas berapa, Cha?”

“Kelas XII, Kak.” Aisycha mulai memanggilnya dengan

tambahan Kak.

Tiba-tiba saja obrolan mereka terganggu oleh dering

ponsel Rama. Ternyata ada SMS masuk.

“Mmm..”

“Yaa..” ucap Aisycha.

“... Aku mesti cabut dulu ni, anak pada nungguin.”

“Anak?!” Aisycha heran. Ia pun bertanya kembali.

“Kakak udah nikah?”

“Ough.. nggak, maksudnya temen-temen,” dengan nada

sedikit malu dikatain udah nikah. Hadduuhhh.

“Mmmh gitu..”

“Ya udah, aku pamit dulu. Cepet baikan aja ya Dik..!”

Sambil mengelus-elus rambut Aldy yang asyik bermain game.

“Yaa, Kak Rama..”

Diantralah Rama sampai ke teras depan.

“Kak sering-sering maen ke sini yaa..!” kata si adik Aldy.

7

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Yaa Insya Allah. Yuk Assalamu’alaikum,” ucap Rama

yang terus melangkahkan kaki menuju keluar gerbang pagar

rumah Aisycha.

“Wa’alaikumsalam,” jawab kakak adik itu.

-¤¤¤-

“Yeah, udah pukul 13.45 lagi. Mana bisa ke warnet,

Shalat Dzuhur belum, temen-temen pada nungguin lagi,

mendingan ke mesjid dulu lahh,” gumam hati Rama. Tak

membuang waktu lama, ia langsung saja menuju mushola

yang tak jauh dari rumah Aisycha.

Sesampai di tempat wudhu, Rama bertemu dengan

seseorang, seumuran sama ayahnya gitu. Yang hendak

berwudhu sama dengan dirinya.

“Pak Dzuhur-nya bareng ya,” sapa Rama.

“Iyaa,” jawab Bapak itu sebelum berwudhu.

Sholatlah mereka berjamaah.

Seusai sholat, berdo’a dan keluar dari mushola, bapak itu

mencoba untuk berkenalan dengan Rama.

“Kalau boleh tau siapa nama Anda siapa yaa?” tanyanya.

“Oh, saya Rama, Om. Kalo Om?” jawab Rama yang

langsung menanya balik.

“Kalau Om biasa dipanggil Iji. Panggil aja Iji.”

“... Om Iji.”

Perbincangan singkat mereka terhenti seiring yang satu

hendak pergi kerja, yang satu lagi pergi karena ditungguin

teman-temannya.

-¤¤¤-

Kini, Rama sampai juga di depan rumahnya. Ia disambut

teman-temannya yang sedari tadi menunggunya.

“Tuh.. dia datang juga akhirnya!!” sahut Ahmad.

8

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Kemana aja Loe, kok lama banget. Katanya cuma

bentar..!!” celoteh Refly.

“Iyah..” tambah Zaky yang lagi dengerin musik di ipod

kesayangannya.

Rama hanya tersenyum menaggapi pertanyaan temantemannya,

seraya menanyakan temannya satu lagi.

“Satu lagi kemana neh? Gak keliatan..”

“Ituu.. Ttuuuhh..!” Refly menunjuk tepat menuju teman

satunya yang tampak asyik memotong rumput, iseng bantuin

Mang Dadang, juga tanya-tanya tentang tanaman dan

perawatannya juga.

“Woy.. gi ngapaeen Loe?!” Rusak taneman gue!” teriak

Rama penuh canda tawa.

“Eeh ngapain aja Loe, gue tunggu dari tadi, ampe gue

bela-belain jadi asisten Mang Dadang segala,” kata Deni

sambil melangkah menuju Rama dan teman lainnya.

“Napa sih lama benerr?” tambah Deni lagi.

“Jadi gini, gue kan ceritanya tu mau upload file ke warnet

sana. Ehh.. di perjalanan gue tak sengaja nubruk anak SD

yang baru pulang sekolah, kakinya berdarah man.. Yaa gue

gak bisa gitu aja ninggalin tu anak, ya kan?”

“Iyaa..” jawab temannya serempak, seuriuzz banget

dengerin Rama.

“Karena itu, gak jadi deh ke warnetnya.. teruss..”

Pembicaraannya terpotong.

“Kenapa gak di rumah aja brur,” kata Ahmad.

“Di rumah bosen, lagian komputer gue kan bermasalah.”

“Napa gak pake laptop, loe kan punya?” ucap Deni.

“Kan loe pinjem buat bikin tugas kuliah. Gimana seey..”

“Ohh Iyaa, di kosan gue, belom gue balikin yaa, hehee..”

ucap Deni lagi.

“Eh, bentar.. flashdisk gue mana yaa?! Yah gak ada.”

Rama melihat-lihat tasnya dan meraba-raba kantung

celananya, siapa tahu aja ada.

“Waduh, jangan-jangan jatuh lagi. Waahh.. parah nih

kalo gini..” tambahnya lagi.

9

dzyemtri.muharram@gmail.com

“File backup-an nya ada di komputer loe juga kan?” tanya

Refly jadi ikutan bingung.

“Oh.. di laptop gue ada..”

“Syukurlah.. Kalo masih ada mah,” kata Ahmad.

“Tapi lom final kalo yang itu,” ucap Rama kembali.

“Loe perlu upload file-nya sekarang? Biar gue ambil

laptop loe segera,” Deni.

“Gak perlu lah, entar aja. Gue kan cari dulu flashdisk-nya

siapa tahu aja ketinggalan di ...”

“Di mana??” tanya temennya barengan.

“Tau tuh.. huu.”

“Eh gue heran, dari tadi rasanya ada yang beda saja

dengan muka loe, lebih berseri, senyum-senyum terus kaya

kesambet saja,” ucap Zaky yang sedari tadi memperhatikan

Rama sambil terus asyik dengan musik dan mulai lepaskan

sebelah earphone-nya.

“Iya nih kalo punya kabungah teh bagi-bagi kadieu atuh

euy,” sindir Ahmad, gaya sundanya muncul.

“Tadi juga mau gue ceritain, bahwa ada hal yang bikin

gue seneng hari ini, eh.. keburu kepotong oleh pertanyaan

loe-loe pade!!” ujar Rama.

“Gue lanjutin cerita yang tadi nih.. sampai mana tadi,

hehee.. Ohh.. karena kaki si adik itu berdarah.. gue ajakin tu

si adik buat ke rumah sakit, ehh malah gak mau, ia minta

dianterin ke rumahnya saja. Pas di depan rumah, nah ini seru

nih, jangan sampe ketinggalan. Pas di depan rumah, gue tu

ketuk pintu, pencet bel, muncullah sesosok..” sambungnya.

“Hantu..” temennya nyela.

“Ehh.. bukan. Muncullah sesosok wanita yang beuh

beauty banged dah, pesonanya tiada tara.”

“Hahaa.. haha..” Temen-temennya pada tertawa

dengerinnya.

“Loe juga pasti kan terpesona dah. Rasanya gue jatuh

cinta lagi nih.”

10

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Huu.. huuu.. jatuh cinta berjuta rasanya..” ledek

temennya.

“Katanya loe gak bakalan jatuh cinta dulu sama yang

namanya mahluk manis, sampe loe kelar kuliah?!” kata Zaky.

“Iya.. mau fokus kuliah dulu kan?” tambah Refly.

“Tapi ini laen, ia bikin gue semangat,” jawab Rama.

“Namanya siapa cuy?” tanya Ahmad.

“Aisycha Citra Ramadhan, namanya.”

“Weiss.. lengkap benerr..” ucap teman-temannya.

“... Dirinya masih ku ingat hingga kini dan kayaknya gue

ada tuh di matanya begitu pun dengan dirinya, rasanya masih

ada nih di mata gue..” ucap Rama bikin geli dengernya.

“Halahh.. gaya loe kayak pujangga kesohor aja, hahaaa..”

ucap Deni.

“Hahaahaaa..” tertawalah semuanya.

“Mmm.. sebenarnya kita-kita diajak ke rumah loe suruh

kumpul mau ngapain? Masa dari tadi dengerin curhat mulu,

sekalian aja tambah gosip biar serru..!!” kata Ahmad.

“Wkkwkkkwk..kk..” semua tertawa geli.

“Kayak tante-tante arisan aja nge-gosip. Hahaa,” ucap

Refly. “Masuk aja dulu yuk!” Rama mengajak semuanya masuk.

“Yuk.. yuu..” Mereka mulai beranjak masuk.

“Sebenarnya gue mau berbagi masalah sama loe

semuanya, soalnya gak asik kalo gak dibagi. Hhee..”

“Yah, masalah dibagi-bagi.. kesenengan kek!”

“Hmeeh..!!”

“Ada masalah apa, uy?” kata Zaky.

“Biasa... Obrak-abrik komputer lagee..” Rama.

“Oh.. Kalo yang gitu mah, let’s go... atuh..!”

“Okey..!”

“Nah ini baru seruu..!”

Mulailah mereka dan juga Rama membedah komputer.

“Bongkar-bongkaar..”

“Software apa hardware-nya nih yang bermasalah?”

tanya Refly.

11

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Waah.. ini mah hardware,” jawab Ahmad.

Rama menghampiri.

“Ehh.. BTW-BTW, curhat yang tadi kayaknya bersambung

nih, belum tuntas.. tas.. tass.. uy,” ucap Zaky.

“Iya tuh kayaknya..” Deni.

“Ya kan cuy? Hhe..” ucap Deni lagi.

“Halaahh.. versi lengkapnya entar gue ceritain,” jawab

Rama sambil tersenyum.

Setengah jam kemudian.

“PSU-nya kena yaa?” tanya Rama.

“Iya nih, ganti ajah,” jawab Ahmad.

“Kalo gitu, gue pergi dulu beli PSU-nya. Ada yang mau

ngikut?” ajak Rama.

“Gue ikut lah, siapa tau aja ntar ketemu mahluk manis.

Hehee..” ucap Refly.

“Hahaa.. Dasssarrr..!!” kata teman lainnya.

“Yuk cabutt..!!”

-¤¤¤-

Di sore hari, di rumah yang baru beberapa hari di

tempati. Aisycha duduk manis dihadapan monitor,

memandangnya tajam yang sesekali mengedipkan mata. Ia

mulai mengerjakan tugas sekolahnya. Dan ia tak hanya

sekedar mengetik tugas saja, namun juga curahan hatinya

tentang seorang pemuda yang barusan dikenalnya tadi

[tentang cinta kayaknya] yang lalu ia simpan dalam format

dokumen RTF [Rich Text Format].

Sudah satu setengah jam lebih berlalu. Adzan Maghrib

berkumandang, ia sudahi dulu pekerjaannya dan segera tuk

berwudhu.

Seusai makan malam, Aldy bertanya kepada kakaknya.

“Kak ini punya siapa? Punya kakak?” begitu tanyanya.

12

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Iya.. Tapii.. Eh, kayaknya bukan deh, punya kakak kan

ada, nih.”

“Mmm.. jangan-jangan ini milik kakak yang tadi itu lagi.

Pasti deh, Kak.”

“Kamu tau dek, kakak yang tadi tinggal di mana?”

“Kak Rama?”

“Iyah kak Rama, alias Kak Zik. Siapa lagi coba kalo bukan

dia.”

“Nggak tau tu Kak,” jawab Aldy sambil menggelengkan

kepala.

“... Belum sempat tanya yaa, heu..”

“Kak, siapa tau aja ada di sini alamatnya,” usul si adik

menunjuk flashdisk itu.

“Mmmh, tapi itu kan nggak boleh. Kemana nih harus

diberikann, mana udah malem lagih,” keluh Aisycha dengan

nada geram.

“Buka aja, Kak,” bujuk Aldy.

“... Iya deeh..!” Aisycha luluh juga.

“Aduh maaf nie aku lihat-lihat isi flashdisk-nya,” kata

Aisycha sambil menghubungkan flashdisk itu ke port USB.

“Dik, kamu yang cari datanya yah. Kakak ke dapur beresberes

dulu!” Maklumlah tak ada pembantu untuk

membereskan usai makan malam.

“Iya, beres Kak, tenang aja,” ucap si adik.

Si adik Aldy langsung saja membuka satu demi satu file

yang ada di flashdisk tersebut untuk mencari data alamat

kakak yang ke rumah tadi. Eh, si adik malah tertarik membaca

sebuah cerita yang ada di flashdisk tersebut.

“Itu si Adik kenapa tumben-tumbenan maen komputer

terus, lagi maen game, Aldy? Ayo tidur!” ucap ayahnya.

“Nggak ayah, gak maen game kok. Nanti dulu, Yah..”

jawab Aldy yang keasyikan membaca.

13

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Cepetan tidur, biasanya juga kan jam segini udah tidur!”

ucap Aisycha menambahkan ucapan ayahnya seusai beresberes.

“Bentar lagi Kak, lagi asyik nih baca ceritanya!”

“Cerita apaan, Dik?” tanya Aisycha.

“Sejenis cerita tidak pendek, tapi gak tau nih Kak.

Ceritanya juga gak ada judulnya.”

“Emm.. Besok nggak sekolah?” tanya ayahnya lagi.

“Kan libur. Ada rapat khusus gitu, jadinya diliburkan deh,”

jawabnya.

“Beneraann???” tanya Aisycha.

“Ealaah..” jawab si adik, enak bener ngucapinnya.

Aldy terus saja memelototi monitor. Tangannya mondarmandir

menggerakkan tetikus [baca: mouse] sekian lama.

-¤¤-¤¤-

Pingin tau apa isi cerita yang dibaca Aldy?

Penasarankah?! Yaa kan?? Baca terus sajaa!!

Gini deh ceritanya...

-¤¤-¤¤-

Kiii..iikk..kk.. sebuah mobil tergelincir di sebuah jalanan

licin, mobil sempat terbalik dan akhirnya menghantam pohon

yang berada di sebelah utara jalan dekat belokan.

Warga berduyun-duyun ke jalan melihat kejadian itu,

melakukan pertolongan. Di dalam mobil tampak sekeluarga

yang kelihatannya warga sekitar situ juga, karena warga yang

berada di tempat kejadian tersebut mengenalinya. Kayaknya

mereka usai dari luar kota.

“Gimana kejadiannya?” tanya seorang warga pada saksi

yang melihat langsung kecelakaan itu.

“Ini karena truk yang sedang melaju kencang melintas di

sebelahnya, menyerempet, menabrak bagian pinggir mobil ini,

14

dzyemtri.muharram@gmail.com

ditambah lagi kondisi jalanan yang licin. Mobilnya Pak Zakaria

yah?” ungkapnya, seraya bertanya untuk meyakinkan.

“Iya..” warga mengiyakan.

“... Terus tergelincir dan akhirnya.. yaa.. begini..

menabrak pohon..” sambungnya.

“Lantas truk yang menabraknya ke mana?” tanya yang

lainnya.

“Yaa kabur, Pak!” jawab salah seorang warga.

“... Lagi di kejar Bang, sama Polisi!!” teriak seorang

warga yang baru saja datang seusai melapor ke Kantor Polisi

setempat.

Dalam kondisi pusing, dengan kepala yang masih

berluka, Pak Zakaria tersadar dari kejadian itu. Walau

tubuhnya masih serasa remuk tiada berdaya, ia kuatkan untuk

melangkah dengan dibantu seorang warga, karena ia tak

kuasa untuk tegak berdiri dengan kaki sendiri.

Lalu menanyakan pada orang-orang yang ada di sana,

“Mana keluargaku, istri, putra-putriku?? Mana?!!” tanya Pak

Zakaria sedikit sempoyongan sambil memegang kepalanya

yang kesakitan.

“Sabar.. Pak.. sabar..!” ucap seorang warga

menenangkannya.

Pak Zakaria menghampiri istri dan putra-putrinya seraya

bertanya, “Keluargaku bagaimana keadaannya?”

“Pak, mungkin ini berat untuk Bapak. Kini istri dan putraputri

Bapak telah tiada, yang tabah ya Pak..” jawab salah

seorang petugas medis yang berada di sana.

Seketika itu pula Pak Zakaria tak bisa lagi membendung

air matanya, “Ya Allah, Ya Allah, Yaa Allah..” hanya ucapan itu

yang meluncur dari lisannya.

Ia hidup sebatang kara, tak lagi ada keluarga,

saudaranya, kerabatnya, maupun saudara dari istrinya,

semuanya memang sudah lama meninggal, dan kini anak

istrinya pun demikian.

15

dzyemtri.muharram@gmail.com

-¤¤¤-

Di teras rumah, beberapa tahun selepas ditinggal

keluarganya. Pak Zakaria termenung dalam lamunan,

mendulang memori perjalanan hari bersama istri, putra dan

putri. Menatap kosong langit biru yang di temani awan putih

cerah, sesekali sinar mentari meredup, terhalang awan berlalu

lalang diterpa semilir angin yang datang. Seiring itu pula mata

Pak Zakaria sembap mengenang keluarganya yang telah lama

tiada.

Entah kenapa terlintas dalam benaknya dan seraya

hatinya berkata, “Kepada siapa akan kuwariskan kekayaan,

seluruh harta benda yang Engkau titipkan kepadaku, Ya Allah.

Sedang diriku tak punya ahli waris seorang pun. Berilah aku

sebuah petunjuk.

Kemudian ia berjalan dengan dibantu sebilah tongkat,

menuju ke dalam rumah. Rumah sederhana yang dulu ia beli

dengan jerih payahnya sendiri. Walau sebenarnya bisa saja

dengan mudah minta dibelikan rumah pada orang tuanya

waktu itu.

Setelah sekian lama duduk di teras menghirup udara pagi

yang mulai memanas. Ia kembali duduk di atas kursi yang

sudah lama tak ia duduki di dalam rumah mungilnya. Matanya

menatap hangat monitor komputer, melihat sederetan foto

dan video keluarga yang tersimpan utuh dalam harddisk.

Membuka dokumen-dokumen lama, menjalankan aplikasiaplikasi

dan beberapa game untuk sekedar melepas kerinduan

yang tak mungkin lagi tergantikan.

Ketika ia hendak membuka file berpassword dan ia

ketikkan kodenya, ia teringat dengan apa yang dipikirkannya

sewaktu di teras tadi, “Mungkin ini salah satu jalannya, saya

harus merencanakannya dan mengerjakannya segera.”

Ia pun memulainya dengan melakukan survei dalam situs

komunitas yang telah lama di buatnya dan lumayan banyak

anggotanya, sebagian besar adalah mahasiswa mahasiswi

beliau ketika masih menjadi dosen sebelum sebuah

16

dzyemtri.muharram@gmail.com

kecelakaan mobil menimpanya. Selanjutnya ia berikan

berbagai pertanyaan dalam situs tersebut seputar IT dan

sesekali memberikan bingkisan bagi para anggotanya.

Itulah sebagian dari rencananya. Sebenarnya apa yang ia

rencanakan, yang ia cari? Hmm.. kita lihat saja nanti.

Suatu saat Pak Zakaria menelepon teman kuliahnya

waktu dulu yang kini seorang dosen hukum di salah satu

universitas di Jakarta.

Kalau bertegur sapa lewat telephone sih sering, namun

mereka lumayan agak lama tak bertemu tatap muka secara

langsung.

“Assalamu’alaikum.. Apa kabar, Pak?” ucap Pak Zakaria

memulai pembicaraan.

“Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah baik,” jawab Pak

Yusuf. “Bagaimana kabar Bapak sendiri?” tanyanya.

“Alhamdulillah. Pak Yusuf, kalo bisa mohon malam ini ke

rumah saya yang di Jalan Mawar Indah, ada sesuatu yan ingin

saya bicarakan.”

“Hmm, kayaknya penting banget ya, Pak?!”

“Ah biasa cuma mau ngobrol ke sana ke sini dan ke sono

saja antar teman lama. Ditunggu lho, sekalian nanti makan

malam di sini. Jangan lupa ajak keluarga juga. Heehe.”

“Ohh.. Insya Allah saya akan hadir. Pake jamuan makan

malam segala lagi, kayak mau nyambut tamu istimewa saja..

hehee,” tanggap Pak Yusuf.

“Ya udah gitu saja Pak, ditunngu. Bicara panjang

lebarnya, pendek sempitnya, nanti di sini saja, Pak.

Wassalamu’alaikum.”

“Baiklah, Pak. Wa’alaikumussalam warahmatullahi

wabarakatuh.”

“Ada apa yaa?!” tanya hati Pak Yusuf setelah terdengar

nada tut.. tutt.. tuutt.. di ponselnya tanda sambungan telah

terputus.

17

dzyemtri.muharram@gmail.com

Tepat sehabis Sholat Isya, Pak Yusuf, dosen yang tadi

siang dihubungi oleh Pak Zakaria, berangkat bersama istri dan

putri angkatnya. Tibalah mereka di rumah Pak Zakaria yang

tak begitu mewah namun indah tertata rapih. Mereka

disambut rumput hijau dan bunga-bunga berkilau tersinari

bulan purnama.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam, heyy.. akhirnya datang juga, mari

masuk silakan, silakan, silakan..!” ajak Pak Zakaria, penghuni

rumah.

“Terima kasih Pak,” ucap Pak Yusuf.

“Mmm.. ini putrimu, Pak?” tanya Pak Zakaria.

“Iya,” jawab Pak Yusuf singkat.

“Apa kabar?” ucap Pak Zakaria lagi sambil bersalaman

dengan istri dan putri Pak Yusuf.

“Alhamdulillah baik, Pak,” jawab mereka berdua.

Hidangan makan malam telah tersaji, ditata oleh si Mbo,

“Pak, makan malamnya sudah siap,” katanya.

“Terima kasih, Mbo,” ucap Pak Zakaria. Mereka langsung

disuguhkan dengan beragam sajian makan malam.

“Sekalian Mbo mau pamit pulang dulu, mau nengokin

rumah.”

“Iya Mbo.”

“Mari semuanya, Assalamu’alaikum,” si Mbo pamitan.

“Wa’alaikumussalam,” jawab semuanya.

“Hati-hati Mbo,” tambah Pak Zakaria.

Selepas makan malam, Pak Zakaria mulai membicarakan

maksudnya pada Pak Yusuf. Sementara nyonya Yusuf dan

putrinya keluar, duduk-duduk di teras menghirup kesejukan

malam, melihat indahnya taman.

“Istri dan putrimu ke mana, Pak?” tanya Pak Zakaria

setelah mengambil beberapa dokumen.

“Ada di teras lagi lihat-lihat taman.”

18

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Oh..” ucap Pak Zakaria, “Eh Pak, apa benar itu putrimu?

Kok saya nggak pernah tahu.”

“Mm.. Sebenarnya Nindya itu putri angkat kami. Ia

adalah putri kandung sahabat kecil saya yang kini telah

meninggal. Kasihan, dia juga kehilangan kakaknya,” jelasnya.

“Begitu..” Pak Zakaria terenyuh.

“Begitulah Pak, saya jadi teringat akan putri saya yang

telah tiada. Mungkin seandainya saja masih hidup, mungkin ia

seumuran dengan Nindya,” ucap Pak Yusuf yang pernah

kehilangan putri sematawayangnya, seperti halnya Pak

Zakaria. “Ehh Pak, sebenarnya ada apa Bapak mengajak kami

sekeluarga ke sini?” Pak Yusuf mengalihkan pembicaraan,

seakan tak mau terlalu jauh larut dalam kesedihan.

“Sebenarnya begini Pak. Langsung saja ya, berkenankah

Bapak menjadi bagian dari tim kuasa hukum saya dan

perusahaan-perusahaan saya. Saya percaya Anda orang yang

bijak,” tegas Pak Zakaria.

“Insya Allah.. Amien, Amieen, Amieeenn.. Insya Allah

saya bersedia, Pak.”

“Terima kasih Pak atas kesediaannya.”

“Sama-sama, Pak,” keduanya tersenyum dan berjabat

tangan.

-¤¤¤-

Di tempat lain ada seorang pemuda, salah satu member

dari situs komunitas milik Pak Zakaria itu. Ia bernama Haris

Hudaya Putra. Ia terhanyut dalam panjatan do’a. Dalam

do’anya ia renungkan kembali hidupnya waktu-waktu silam,

hidupnya dulu sebelum terlepas dari cengkeraman narkoba.

Ia sebenarnya seorang putra yang baik, hormat pada

orang tua. Namun, suatu kejadian hidup membuatnya

berubah.

Ketika itu ayahnya terkena fitnah menggelapkan uang

perusahaan tempat ayahnya bekerja. Ayahnya sempat di

penjara, sakit-sakitan, hingga ia pun meninggal.

19

dzyemtri.muharram@gmail.com

Haris sempat menuliskan kekecewaan dan kekesalan

hatinya lewat sebuah blog, “Apakah hukum hanyalah

basa-basi yang bikin sakit hati, harusnya

hukum bukanlah sekedar basa-basi. Seharusnya

hukum tak bisa tuk di “negosiasi” [dalam tanda

kutip]. Apalagi diintimidasi..! Woy! Jangan

tempatkan hukum di tong sampah..!! Apa HUKUM =

SAMPAH ??!” seperti itulah tulisannya dalam sebuah blog.

Setelah ayahnya meninggal, haris kabur dari rumah.

Hidupnya tak tentu arah. Ibunya mulai sakit, kerap bolak balik

rumah sakit. Tak lama kemudian ibunya pun meninggal

menyusul ayahnya. Ibunya meninggal dihadapkan Haris,

jemari tangannya masih digenggam erat Haris, saking

sayangnya pada seorang ibu.

Tak tahan dengan kehidupan yang dirasanya tak

bersahabat, sarat dengan ketidakadilan. Pikirannya kalut, ia

berpaling dari kehidupan nyata, bercengkerama dengan

narkoba. Kuliahnya hancur, apalagi setelah projectya, source

code sebuah program yang dengan susah payah dibuatnya itu

dicuri teman kampusnya sendiri dan parahnya lagi hasil karya

intelektualnya diakui teman kampusnya itu sebagai hasil

kerjanya dan menjual program tersebut ke sebuah

perusahaan.

Haris tak tahu lagi harus ke mana dan harus gimana

setelah rumah orang tuanya disita hingga ia terpisah dengan

adiknya yang entah di mana, tak ada kabar berita. Ia merasa

sebagai seorang kakak yang tak berguna, tak bisa menjaga

adiknya dengan cinta. Ia hanya sibuk menganiaya dirinya

sendiri dengan narkoba.

Namun untungnya ada sahabat yang benar-benar

sahabat sejati menolong hidupnya hingga ia tak jatuh ke

jurang yang lebih dalam lagi.

“Ya Allah, ampuni aku yang benar-benar berat dosanya..

Ampuni aku Yaa Allah, ampuni aku segenap jiwa ragaku.

Jauhkanlah aku dari nerakaMu, dekatkanlah aku menuju pintu

surgaMu. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, Engkau

20

dzyemtri.muharram@gmail.com

hadirkan padaku seorang sahabat yang selalu membantuku,

menuntunku untuk tetap berada pada jalanMu. Ya Allah, Ya

Rabb.. pertemukanlah aku dengan adikku walau hanya dalam

sebuah impian yang tak bisa kubayangkan.”

Ia sempat terpikirkan untuk mencari adiknya di situs

jejaring sosial Friendster. Harapnya moga saja ia dapat

menemukannya. Ia sesekali pergi ke warnet memfokuskan

tujuannya untuk mencari adiknya itu. Setelah lama nyari-nyari

sebuah nama, ia sempat putus asa karena banyak juga user

yang sama dengan nama adiknya. Namun, ia mencoba

mengetikkan nama adiknya itu dengan lengkap pada kotak

pencarian. Ia tertegun sesaat, “Apakah ini benar profil

adikku?!” Klik, ia lihat halaman profil yang ber-picture-kan

seekor kupu-kupu hinggap pada sekuntum bunga. Ia pastikan

ini benar-benar milik adiknya, terlihat dari kumpulan photo

yang berjejer dalam 3 buah album. Ia masih terdiam, tak

menyangka, lalu membaca yang tertulis di sana dengan mata

tiada berkedip sekian lama, kemudian terhenti, sejenak

mengganti udara kotor di parunya. Lalu ia membaca pada

bagian ‘Who I want to meet’. “..kakak lucuku, kau

dimana? adik imutmu ini lelah menunggu,

merindukanmu tak terbatas waktu..” begitu.

“Maafkan kakak, Adik..!!” lirih Haris. Air matanya menetes

menimpa tombol ENTER keyboard. Haris semakin yakin.

Ditulislah pada halaman profil adiknya itu,

Assalamu’alaikum adik imutku. Bagaimana

keadaanmu saat ini?!” Setelah itu ia sudahi dan lantas

pulang ke kosannya. Jalan kian terbuka, ia amat bahagia,

hatinya kini tak sesedih seperti kemarin di hari Selasa.

Nindya yang pada waktu itu sedang makan siang di

kantin kampusnya, mulai membuka laptop miliknya. Ia klik

ikon Winamp seraya memutar lagu milik Evanescance, tak

lupa ia juga jalankan Opera browser untuk menjelajah dan

21

dzyemtri.muharram@gmail.com

langsung menuju situs jejaring sosial Friendster lalu login deh,

biar nggak jenuh saat mengerjakan tugas kuliahnya.

Ketika ia membaca pesan di halaman profilnya, air

matanya menetes seakan tak percaya dengan apa yang

dibacanya. Sebuah pesan dari kakaknya yang setelah sekian

lama tak ada kabar darinya. Ia tahu dan merasa tak ragu, itu

adalah kakaknya walau sebuah photo pun tak ia jumpai di

profil kakaknya tersebut. Karena kayaknya tak ada lagi orang

lain yang memanggilnya ‘adik imutku’ selain kakaknya itu,

seakan kata itu semacam kata kunci antara adik dan kakak. Ia

lantas mengirimkan sebuah personal message ke profil yang

ber identitaskan ‘Kakak Lucumu’. Namun Nindya tak terburuburu,

ia kembali harus memastikan benar tidak itu kakaknya.

Hati Nindya berdebar tak sabar menunggu sebuah balasan.

Lalu ia kerjakan lagi tugas kuliahnya, “Akhirnya selesai juga

tugas kuw,” ucapnya sambil meminum teh botol dingin

menyegarkan kerongkongan yang kekeringan.

-¤¤¤-

Sekitar pukul 8.00 pm, Nindya duduk manis di depan

laptopnya. Suasana hatinya hampir senada dengan siang tadi

ketika ia kirimkan pesan untuk kakaknya. Ia menunggu dan

tak hanya menunggu sebuah jawaban tak menentu.

Haris berlari kehujanan ketika menuju warung internet

sebelah kosannya, dengan terpaksa mesti mengeringkan dulu

sweeternya dan melepasnya sebelum masuk ke warnet yang

penuh sesak oleh puluhan pengguna. Ia duduk terlebih dahulu

menunggu yang seseorang beres ngenet. Sebenarnya ia tak

ingin menunggu seperti itu, ia ingin cepat-cepat mengetahui

udah ada balasannya atau belum dari adiknya itu. Namun

mesti gimana lagi, masa nyerobot komputer yang lagi dipake

orang begitu saja. Ia sabar menunggu dan menunggu, hingga

tiba juga giliran baginya untuk terhubung ke dunia maya.

22

dzyemtri.muharram@gmail.com

Sekian lama Nindya menunggu sebuah balasan yang tak

kunjung ada. Ia lantas logout dari Friendster itu dengan berat

hati, “Mungkin esok kakakku akan menghubungiku,” lirihnya.

Sedang Haris yang baru saja login, ia mendapati sebuah

pesan, “Ini pasti dari adikku,” pilingnya. Dengan penuh

keyakinan dan senyum lebar seakan tiada beban, Haris

mengkliknya. Pesan itu memang dari adiknya. Ia sungguh

girang, sampai-sampai menggebrak meja komputer lumayan

keras.

“Assalamu’alaikum, Alhamdulillah baik,

Kak. Apakah kau benar kakak lucuku

yang telah lama kucari itu?? Bagaimana

keadaan kakak? Sekarang di mana??

Mohon balas secepatnya.. adik imutmu

ini merindukanmu.. +6285224881138 ;)”

begitu isi dari pesannya.

Kemudian Haris pun langsung membalasnya,

“Wa’alaikumussalam.. Alhamdulillah

kabar kakak baik juga. Adik imutku,

ini sungguh kakak lucumu yang

merindumu dan akan selalu

menyayangimu. Maafkan kakak yang dulu

menghilang tak bilang-bilang, berlalu

tanpa arah tanpa tuju, kakak tak tahu

harus ke mana waktu itu. Hingga kini

Alhamdulillah, Allah mempertemukan

kita. Kakak tak menyangka bisa

berkomunikasi lagi walau hanya dalam

kata-kata. Sekarang kakak masih di

Jakarta kok, jangan hiraukan kakak,

Insya Allah kakak baik-baik saja.

Nindya, ini YM kakak

am4t1ran@yahoo.com .. baik-baik yaa

Dik..”

pesan pun terkirim, namun sayang Nindya tak sedang online.

Setelah itu, lalu Haris membuka beberapa situs berita

untuk menambah pengetahuannya.

23

dzyemtri.muharram@gmail.com

-¤¤¤-

Di pagi hari saat Nindya telah terbangun dari tidurnya,

dengan wajah berseri dan mata yang bercahaya ia melihat ke

langit sana, “Kayaknya hari ini akan cerah dan lebih cerah dari

hari kemarin,” ucapnya. Kuliah pagi menuntunnya untuk

bergegas pergi ke kampus dimana ia menuntut ilmu. Nindya

pun berangkat bersamaan dengan ayahnya yang juga akan

berangkat ke kampus walau yang dituju bukanlah universitas

yang sama. “Ayah, tunggu..!!” kata Nindya sedikit berteriak

memanggil ayahnya yang telah melaju dengan mobilnya,

hingga mobil pun berhenti mempersilakan Nindya.

Seusai kuliah, Nindya menyalakan laptopnya sejenak,

menunggu Mentari dan Anggara untuk pergi ke toko buku.

Lalu ia baca pesan yang di tinggalkan kakaknya untuknya di

situs jejaring sosial. Ia berharap kakaknya sedang online, ia

ingin bicara panjang lebar. Setelah ia tambahkan account

Yahoo milik kakaknya ke dalam list teman chatting-nya,

permintaan pun langsung di terima. Barulah ia tahu bahwa

kakaknya lagi online. Penantiannya tak sia-sia kini.

Mulailah Nindya Chatting dengan kakaknya.

- ass.. kakak lucuku.. ^_^

- wa’alaikumsalam, adik imutku... pa kabar dik?? :)

- kabar baik kak, kakak?

- alhamdulillah baik juga

sekarang tinggal di mana??

- sekarang tinggal sama om yusuf dan tante tiara,

temennya papa mama kita dulu..

- ohh,,, om yusuf yang dosen hukum ituh??

- iyahh... kak,, kakak di manaa????!!

biar nanti adik temui kakak...

- kakak di jakarta, masih di jakarta kok, jangan temui

kakak dulu,, biar nanti kapan-kapan kakak yang

kunjungi adik,,,

24

dzyemtri.muharram@gmail.com

- :( tapi kak..

- jangan khawatirkan kakak... kakak baik-baik aja kok..

- kak, ada webcam-nya nggak?? pengen liat wajah

kakak gimana sekarang yahhh..??! :D :D

- ada.. bentar.. please wait.. gituh.. ;)

hmm... adik imutku tambah imutz adzah nigh.. :D

jadi pengen nyubit pipinya...

- ahh... kakak.. mmm,,, kakak kok kayaknya kurusan

yaa!!

tapi tetep.. :)

- tetep apaa??

- Tetep lucu kok,, tak hilang ketampanannya dikit pun...

heheee... :))

- Halaahhh.. :D merayuww niyyy... :)

Lanjutlah percakapan mereka lewat jalur suara.

“Test.. test..ttt... adik.. dik..”

“OK.. adaa.. testt diterima.. heheee...”

“Kak, nomor hp kakak berapa?? Biar adik mudah buat

ngehubungi..”

“Adikku tersayaaang.. kakak lagi gak punya hp sekarang,,

mau dihubungi lewat nomor apaa?? Nomor KTP??? hhaa..”

“Ihh.. kakak.. eh iya kak, kan dulu tu kakak diberi ATM

oleh papa, kenapa nggak dipake saja... Masih ada kan?? Masih

bisa digunain??”

“Kayaknya sih adaa,, tapi kan gak tau PIN-nya apa?? kan

cuman Nindya doang yang tau..”

“Iya yahh.. nih adik kasih tau,, PIN-nya itu 870900”

“Berapa, Dik?” tanya Haris. Lalu Nindya mengetikkannya

di jendela chat biar jelas, “870900” terkirim.

“Tahu nggak kak artinya itu apa??!” tanya Nindya.

“Mmh.. bentar... di utak-atik dulu...”

“..Mm.” Haris berpikir sejenak.

“..Hmm.. kayaknya ini tanggal pernikahan mama papa

deh,, diambil dari 09 07 80 kan??! tebak Haris.

“Yupz.. betuulll... adik beri 1000 point buat kakak..!!!”

25

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Kurrangg.. tambahin lagi pointnya...!!”

Tangan kanan Haris sejenak menggerakkan mouse yang

ada di samping keyboard untuk memindahkan kursor seraya

mengetikkan “.. :D :D :D :D ......”

“Eeh kak,, .. tau nggak kenapa dulu papa berikan itu

kartu ATM-nya ke kakak dan cuman beri tahukan PIN-nya itu

ke adik... sedang kakak sendiri nggak diberi tau dan nggak

boleh tau??”

“Iya yah.. pesan papa, adik gak boleh beri tau PIN-nya

pada kakak..” ucap Haris. Mereka mengingat-ingat apa yang

dulu ayahnya pernah berkata.

“Menurut kakak sih gini.. kan kakak agak boros tuh,

jadinya kalo kakak yang pegang ATM sekaligus tau PIN-nya,

bisa-bisa cepet abis tuu.. sedang kalo yang adik yang pegang

ATM dan PIN-nya, takutnya ATM-nya ilang, kan waktu itu adik

masih kecil.. lagian adik juga kan pelupa, suka naro barang

dimana aja.. hehee...”

“Ishh.. kakak.... jaahattt...”

“Tapi rasanya ada tujuan lain yang lebih utama dari itu

semua..” tutur Haris.

“Apa, Kak??”

“Apa yaa?! ... Itu dimaksudkan papa buat ngejaga agar

kita selalu bersama, tetap saling menyayangi,, mungkin gitu

dan memang begitu harusnya sih..”

Hati Nindya terenyuh, tetesan air mata seakan loncat tak

bisa ditahannya, yang dengan segera diusap oleh jemari

lentiknya. Seraya tersenyum simpul menambah kemanisan

paras lembutnya yang kian berseri.

“Kenapaa, Dik. Ada apa??” tanya Haris khawatir melihat

adiknya demikian.

“Ah nggak... cuman kelilipan, ada sebutir debu masuk..”

ucap Nindya menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

“Mmm.. rindu papa mama yaa??” Haris menarik nafas.

“... Iyaa..” jawab Nindya menganggukkan kepala. “Kak,

kapan kita ketemuan, adik rindu kakak..” sambungnya.

“Secepatnya,, nanti kakak hubungi..”

26

dzyemtri.muharram@gmail.com

Dari earphones Haris terdengar ada seorang wanita yang

memenggil-manggil adiknya, “Dya, Dya.. Dyaa..!!” kemudian

disusul suara pria, “Dya..!” mencari-cari adiknya.

“Kak, teman-teman udah pada datang,, adik pamit dulu

mau ke toko buku.. nanti kita sambung lagi..”

“Tak apa kan kakak lucuku..??” tambah Nindya,

senyumnya masih terlihat manis di balik monitor berlayar

cembung.

“Iyaa.. nggak pa paa.. adik imutku..”

“Wassalamu’alaikum.. Kak..”

“Wa’alaikumsalaam..”

Haris menutup aplikasi Yahoo! Messenger-nya dan terus

kembali melanjutkan pekerjaannya setelah status Nindya

sudah terlihat offline.

Nindya menutup laptopnya seraya berkata pada kedua

temannya, “hey.. heiyy.. kawand-kawand kuw, jadi berangkat

kan..??!”

“Yaa.. Iyaa..laah..” ucap kedua temannya itu.

Sebelum Nindya, Mentari dan Anggara pergi menuju toko

buku, mereka ke rumah Nindya terlebih dulu. Mereka di

sambut oleh Om Yusuf juga Tante Tiara yang sedang

memasak, tepatnya mencoba resep dari majalah yang waktu

kemarin dibacanya.

Nindya memperkenalkan Anggara pada ayah angkatnya,

karena mereka baru bertemu kali ini, sedangkan Mentari tentu

saja tak ia perkenalkan, Om Yusuf dan Tante Tiara sudah lama

mengenalnya.

“Yah, ini teman di kuliahan, namanya Anggara. Angga ini

ayah saya, ayah Yusuf,” ucap Nindya. Mereka bersalaman.

“Tari, Dya ke kamar dulu, tunggu bentar yah..”

“Iya..” jawab Mentari singkat.

Tante Tiara yang sedari tadi bereksperimen dengan

bahan makanan, memanggil Tari yang sedang duduk-duduk

27

dzyemtri.muharram@gmail.com

memandangi dari kejauhan dua orang pria, tentunya Anggara

dan Om Yusuf yang lagi berbincang.

“Tari, ke sini deh.. cicipi masakan tante..” ajak Tante

Tiara pada Mentari.

Tari menoleh dan langsung pergi ke dapur, “masak apa

Tante..??” ucapnya.

“Ini nyobain dari majalah.”

Di ruang tamu, obrolan antara Anggara dan Om Yusuf

mulai akrab.

“Om, katanya Om dosen hukum yaa?” tanya Angga.

“Iya, kok tau??” ucap Om Yusuf.

“Kata Nindya..”

“Oo.. Mm.. Ade ini mahasiswa hukum juga? Sama kayak

Nindya, sefakultas??” ucap Om Yusuf nanya balik.

“Ya.. iya.. Om, pasti..” tegas Anggara.

“Baguslah.. biar tambah banyak orang yang ngerti akan

hukum, tapi ...” ucapan Om Yusuf terhenti sejenak.

“Tapii apaa, Om??! tanya Anggara agak heran.

“Tapiiii, pesan Om, jangan coba-coba untuk

mempermainkan hukum,” bisik Om Yusup ke telinga kanan

Angga.

“... Mmm.. pastilah Om, Insya Allah nggak.. akan..”

jawab Anggara terbata-bata.

“Mmm.. Insya Allah nggak?! Atau Insya Allah akan??!”

ucap Om Yusuf tersenyum.

“Insya Allah.. Tidak.. Hukum itu seakan hati. Kalo hati

dipermainkan, heeuu.. sakiittt.. ... ..Hukum itu harus punya

hati, Om,” tutur Angga.

“Good.. betul itu.. Om setuju..” Om Yusuf manggutmanggut

seraya tersenyum, salut dengan apa yang diucapkan

Anggara.

“Oh.. Iya Om, mau tanya dikit, cita-cita Om waktu kecil

mau jadi apa sih??” Angga bertanya lagi.

“Cita-cita Om dulu inginnya jadi seorang hakim,

sepertinya seru saja gitu menghakimi orang, mendakwa orang

28

dzyemtri.muharram@gmail.com

dan mungkin yang membuat tertarik... ngetok-ngetok palunya

kayaknya.. hihi..” jawab Om Yusuf tertawa kecil.

“Hahaa.. Om bisa saja..”

“Kalo Adek, bagaimana?”

“Seperti kebanyakan anak kecil dulu, pengenanya simple

Om, namun berat kalo dijalani. Itu Om, pengen jadi presiden.

Namun, suka berubah gitu aja, maklumlah. Misalnya saja

ketika lihat dokter, pinginnya jadi dokter. Lihat ini, pengena

jadi ini. Lihat itu, pengen jadi itu, nggak konsisten. Tapi,

anehnya nggak tertarik tuh ingin jadi seorang dokter gigi.

Kayaknya gimanaa gituh.. hihiii.. ngerriii..” cerita Angga.

“Hmm.. kalau sekarang??” tanya Om Yusuf.

“Kalo sekarang.. biarkan mengalir seperti air saja, Om.

Mengalir dari muara ke hilir..” ungkap Angga.

“Hmm.. biarkan mengalir seperti air.. Namun, perlu juga

sesekali melawan ombak lautan, biar nggak terbawa arus

kejahatan..” tanggap Om Yusuf.

“Baik Om, Do’akan yaa, Om. semoga saya cepet lulus dan

dapat kerja yang baik..”

“Insya Allah.. Amienn.. Jangan lupa Do’akan Om juga

yaa. Semoga Om menjadi seorang dosen yang Al-Hakim,”

ucapnya seraya tersenyum. Anggara pun tersenyum mengikuti

senyuman Om Yusuf.

“Om mesti berangkat ke kampus dulu, nih. Ditinggal dulu

yah.. sekalian bilangin pada semuanya..” pesan Om Yusuf

pada Angga sambil melihat jam di tangan kirinya.

Setelah Om Yusuf berangkat, Nindya muncul lantas

bertanya pada Anggara, “Ayah ke mana, Ga??”

“Om Yusuf baru aja berangkat ke kampus..”

“Oohh... ... Tari..?!” tanya Nindya lagi.

“Lagi di dapur sama Tante Tiara... Tuuhh..” jawab

Anggara sambil menunjuk ke arah Mentari yang baru saja dari

dapur menghampiri mereka berdua.

“Sumpah, masakan Tante.. uueeennaakk benerrr dah..”

29

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Masakan Bunda nomor satu lah, tiada dua. chef-chef

resto.. kalah..” ucap Nindya.

“Ehh.. berangkat sekarang yuk..!!” ajak Anggara.

“Nggak mau nyicip masakan dulu?” ucap Tante Tiara

sambil membawa makanan yang tadi dimasak.

“Eh.. Iyaa.. mana tante, penasaran nih..” ucap Anggara.

Mereka bertiga mencicipi masakan dulu sebelum

berangkat.

“Bunda, Dya pamit dulu,” ucap Nindya pada Tante Tiara.

“Daah.. Tante..” ucap Mentari dan Anggara.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumussalaam..”

-¤¤¤-

PIN-nya telah Haris ketahui, kartu ATM pun di tangannya,

kini siap ia gunakan. Esoknya Haris pergi ke sebuah pameran

komputer dan outlet handphone untuk membeli barangbarang

yang ia butuhkan. Sebuah laptop, handphone, dan

beberapa alat pendukung untuk berkomputer kini dimilikinya.

Ketika ia hendak pulang menuju kosan mungilnya, ia lihat

seorang musisi jalanan memainkan ujung-ujung jarinya,

memetik dawai-dawai terbentang kokoh. Haris turun dari bus

yang mengantarnya. Semakin terdengar alunan nada yang

kian merdu, tak ada alasan baginya untuk tak

mendengarkannya. Ia perhatikan musisi itu, tak sedikit pun

lantunan lirik-lirik yang musisi itu ucapkan. Haris masih saja

memperhatikannya, hingga musisi itu mencoba berbicara

dengan teman yang berada di sampingnya, namun lagi-lagi

tak sedikit pun kata yang ia ucapkan, hanya gerakan jari

tangan dan kepala juga kertas beserta spidol sebagai alat

bicaranya. Haris tersadar, hatinya tersenyum melihat musisi

yang sedari tadi diamatinya.

“Subhanallah.. Engkaulah yang memberikan kekurangan

dan Engkau pula lah yang memberikan kelebihan-kelebihan

30

dzyemtri.muharram@gmail.com

untuk mengisi kekurangan pada setiap orang,” lirih Haris

dalam hati.

Ia tertegun sesaat sebelum menggerakkan langkahnya.

Lalu pergi ke sebuah mesin ATM dengan maksud mengambil

uang untuk membeli sebuah gitar yang nantinya akan ia

berikan kepada seseorang yang mungkin sudah ia anggap

adik. Haris melihat sebuah poster PMI yang sedang

mengadakan penggalangan dana untuk korban bencana. Ia

lantas mentransferkan sejumlah uang ke rekening PMI terlebih

dulu sebelum mengambil uang.

“Saldonya masih banyak kok, cukuplah untuk membeli

sebuah gitar,” ucapnya. Lalu ia mampir ke toko penjual gitar.

Tibalah Haris di kosannya, “Akhirnya nyampe jugaa..

sekarang aku bisa berchatting ria dengan adik imutku

berlama-lama,” senangnya Haris saat ini.

Ia langsung menjajal barang-barang yang dibelinya.

Ketika ia surfing, merambah laman web sana-sini, tersiar

kabar bahwa ada sebuah virus bernamakan ‘k0rupt0r’ yang

katanya belum ada antivirus yang secara total membersihkan

jejak-jejak virus tersebut kala PC terinfeksi. Varian-varian baru

dari virus itu pun bermunculan. Haris akhirnya berinisiatif

untuk membuatkan sebuah aplikasi cleaner khusus yang

dinamakannya “k0rupt0r Perish” [k0rupt0r cleaner] atau lebih

dikenal dengan sebutan KP saja.

Kemudian Haris mengajak teman-teman kuliahnya dulu

juga kawan di dunia maya untuk mengembangkan software

tersebut. Sekian lama tercetuslah ide untuk menjadikannya

sebagai sebuah software yang open source, siapa pun boleh

untuk mengembangkannya, untuk memodifikasinya dan lain

sebagainya. Saat itu juga terbentuklah sebuah komunitas KP

Open Source Project dimana mereka saling melengkapi.

Suatu saat ada tiga orang anak muda datang ke kosan

Haris untuk sekedar berteduh dari jatuhan air hujan yang

lebat tak kunjung berhenti.

31

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Haris.. Hariss.. Ris..!!”

“Assalamu’alaikum..”

“Riss..!”

“Masih ada gak yah??” ucap Luthfikri sambil mengetukngetuk

pintu.

Haris akhirnya muncul, “Wa’alaikumsalam.. ehh.. kalian..

yoo masuk..” ucapnya.

“Pinjem handuk, Ris..” ucap Geo.

“Bentar gue ambilin..”

“Sini aku dulu..!!” Narto merebut handuknya kemudian

memberikannya kepada Geo juga Luthfikri setelah air hujan di

tubuhnya terserap serat-serat handuk.

“Kenapa pada balik lagi??” dikeroyok ujan??”

“Waah.. Benerr dikeroyok, pada bonyok nih.. hujannya

kayak jarum.. beuh..” tanggap Luthfi.

“Eh.. Loe gak jadi perginya?” tanya Geo pada Haris.

“Nantilah abis ujan reda..” jawab Haris.

Laptop Haris masih menyala dari tadi. Belum ia matikan.

“Kamu tu, Ris. Masih ngerjain pemrograman..?!”

Nggak, tadinya sih mau chit-chat sama adik gue, tapi gak

lagi online.

“Ohh.. ... Ehh, adik yang mana lagi?! Kan banyak yang

Loe anggap adik..” ucap Geo.

“Hm, rasanya tiap orang kamu anggep adik nih!!” ucap

Narto.

“Bukan rasanya lagi, tapi nyatanya..” sambung Luthfi.

“... Bener banget.. gue rindu berat sama adik kandung

gue.. makanya gini deh..” ucap Haris.

Pembicaraan mereka pun berganti topik saat Luthfikri

mulai bicara lagi. “Ehh, iya Ris. Tadi tu gue lupa, soal project

itu. Source terbarunya kirim ke e-mail saja yaa, biar nanti

didownload sendiri, gue nggak bawa flashdisk soalnya,” ucap

Luthfi yang juga ikut mengembangkan software cleaner itu.

“Boleh.. gue kirim deh sekarang..”

“Oke..okee..”

“Dah dikirim boss..”

32

dzyemtri.muharram@gmail.com

Haris mulai kembali mengutak-atik laptopnya, Geo

genjrang-genjreng mainkan gitar bersama Narto menyanyikan

lagu, sedang Luthfi pergi keluar melihat butiran-butiran hujan

yang mulai jarang, tanda hujan akan segera berhenti. Dari

laptop Haris terdengar sebuah musik yang khas banget, cukup

familier bagi sebagian orang, musik yang biasa mengiringi

sebuah aplikasi crack atau key generator. Geo yang lagi asyik

dengan gitarnya tiba-tiba berhenti, “nge-crack software apa

lagi loe??” ucapnya langsung menghampiri Haris.

“Ah nggak, ngambil musiknya doank kok,” jawab Haris.

“Awaasss trojann..!!” ucap Narto bersamaan ketika Haris

berbicara.

“Hmm..” Haris menoleh seraya tersenyum.

“Go bajakaann..!!!!” ucap Narto lagi membuat genderang

telinga yang dengar serasa pecah.

Kemudian Luthfi menghampiri, ucapnya “Ahh.. kau ini..”

Lalu ia duduk bersama mereka.

“Use software bajakan before buy software berbayar,

benar toh..??!”

“Narr.. too..!!” ucap Haris, Luthfikri juga Geo serempak.

“Benarr toh??”

“Narr.. tooh..”

“Halah.. kamu-kamu ini seperti biasa hanya meledek

namaku saja..” ucap Narto.

“Habis unik sih..wkk..” ucap Geo, semua tertawa riang

sedang Narto garuk-garuk kepala kesal.

Sebenarnya mereka sadar, tindakan seperti itu

[menggunakan software bajakan] adalah hal yang melanggar

hukum, tapi toh mereka punya pandangannya sendiri sebagai

pehobi mengutak-atik software rasanya tak berlebihan.

Tawa canda mereka dihentikan dering ponsel Geo.

Instrumen jazz melantun dari ponselnya. “Ehh, bentar..” ucap

Geo lalu mengangkat panggilan telpon itu.

“Haloo, Bu. Ada apa Bu?” ucap Geo, ternyata yang

menelepon itu ibunya sendiri.

33

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Ini Geo,, kakakmu kan bakalan pulang dari Aceh. Tolong

jemput kakakmu itu sekarang yah di bandara,” ujar ibunya.

“Ohh.. Bentar lagi pulang ke rumah kok, lalu secepatnya

berangkat ke bandara.”

“Cepat yaa.. Ya udah gitu ajaa. Assalamu’alaikum..”

“Iya.. wa’alaikumsalam..” ucap Geo menjawab salam

ibunya, mengakhiri pembicaraannya di handphone.

Geo lalu berbicara dengan teman-temannya, “Mmm.. gue

mesti balik nih.. Nyokap gue nyuruh gue jemput kakak gue ke

bandara.”

“Kakak Loe yang laki??” tanya Narto.

“Bukannlaah.. kakak gue yang cewek. Abis dari Aceh.”

“Owh.. abis bantuin orang-orang yang kena bencana

tsunami tohh,” ucap Narto lagi.

“Iyaa.. kakak gue udah hampir 8 bulaanan..lah disana.”

“Wizz.. lumayan lama yah.. Jiwa kemanusiaan kakak loe

tinggi juga..” ucap Luthfikri.

“Yaa iyaalah, ..sama kayak adiknya ini, lebih tinggi malah.

Hmm.. hihiii..” tanggap Geo.

“Hahaaha.. ngarep.. bukannya sebaliknya??! Haha..”

ucap Narto.

“... Ehh, omong-omong soal bencana, gue jadi keingatan

akan dosa-dosa gue..” kata Haris yang memandangi temantemannya.

“Iya, saya juga, jadi keingatan apa kata Pak Ustadz..”

“Apa gitu?!” tanya Geo.

“Bencana itu memang ada kaitannya dengan perilaku

manusia,” tegas Narto.

“Hmm,, setiap bencana.. bisa jadi itu merupakan cobaan,

teguran bagi kita.. atau yang kita semua takutkan, itu

merupakan azab dari Yang Maha Pencipta.. Benar toh, Narto?”

Luthfi menambahkan.

“Mm.. Benaar..”

“Narr.. toh?? Kawan-kawan?”

34

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Narrrr.. tooo..” ucap mereka sambil menunjuk ke arah

wajah Narto.

“Yaa.. mulai lagiii... dan lagii..” ucap Narto.

“..Hujan dah reda tuh, saatnya gue balik dulu,” ucap Geo.

“Eh!! Yaa.. akuu ikutan balik.”

“Gue juga ngikutlah. Yuk Ris, kita pulang dulu!”

“Okee, Bro kalo gitu.”

Semua keluar dari kosan Haris.

“Kalo ujan gede lagi jangan balik lagi ke sini, gak bakalan

gue tampung..!! hehee..!” canda Haris sedikit teriak dari bibir

pintu kosannya.

“hahaaha.. lagian kosan loe bukan tempat penampungan

lagi..!! yoo Ris, gue balik!!” ucap Luthfikri.

“Yow.. hati-hati ban motor bocor..” ucap Haris.

“Okeyy.. Yoo Ris..!” ucap Geo sambil menjalankan motor

dan melaju ke jalan raya.

Ketika Haris hendak menutup pintu kosannya, tiba-tiba

ada yang memanggilnya, “Bang, Bang Haris..!!”

“Eh.. Sandy.. marii..” ajak Haris mempersilahkan.

“Kenalin Bang, ini temenku. Fan..”

“Haris..”

Fan menyodorkan tangan, mereka berjabat tangan.

“Tadinya mau ke rumah Sandy, masih di sana kan? Tapi

berhubung udah datang ke sini, yaa gak jadi pergi tentunya.”

“Iya, emangnya ada apa, Bang?”

“Mau main doang, udah lama nggak ketemu.”

“Iya yah, Bang. Sehabis dikejar sama Polisi aja ya Bang,

kita nggak bertemu lagi. Untung saja kita gak ketangkep. Ini

Bang, aku punya ‘barang’ nih. yang kusimpan sisa dulu. Abang

masih pake kan?” ucap Sandy.

“Mmm.. udah nggak.. simpan saja..!! Abang takkan

pernah membutuhkannya lagi..” ucap Haris.

Fan hanya terdiam melihat, mendengarkan, menyaksikan

pembicaraan mereka. Sandy menarik nafas dalam-dalam,

35

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Abang udah berenti?! Syukurlah.. kalo gitu, ‘barang’ ini akan

aku buang, takkan kusimpan, karena aku juga tak butuh ini.”

“Kamu udah nggak juga..?” tanya Haris pada Sandy.

“Iya, Bang. Aku lelah, cukup lelah dengan dosa-dosa. Aku

udah berhenti jadi pengedar, pemakai. Aku sudah berhenti.

Sekarang lebih fresh aja, Bang.”

“Owhh.. bagus..lah..”

“Untungnya aku dibantuin sahabatku ini untuk bisa lepas,

benar terlepas dari dekapan barang haram ini,” ujar Sandy

sambil menepuk-nepuk pundak Fan, Temannya itu.

“Kawan-kawan abang juga begitu, tidak menjauhi abang,

namun mereka terus berusaha agar abang bisa sembuh.

Kamu, Fan. Pernah diajaki buat make yang begituan nggak

sama Sandy?”

“Yaa nggak..lah.. Bang. Maaf Bang, ada ballpoint dan

kertas kosong?!” pinta Sandy.

“Ada.. ada.. sebentar.. ... ini,” ucap Haris, kemudian

menyerahkannya pada Sandy, lalu Sandy memberikannya lagi

kepada Fan.

Fan menuliskan di kertas kosong itu, “Saya nggak pernah

sekalipun dicekokin barang yang begituan atau sejenisnya oleh

Sandy. Sandy mengerti saya, saya tak pernah pakai barang

seperti itu, jadi Sandy pun menghargai pilihan saya itu,” begitu

yang dituliskan Fan.

“Maaf Bang, Sahabat aku ini nggak bisa.. bicara..” ucap

Sandy terbata-bata, sedang Fan kembali dengan senyuman.

Selanjutnya Haris membaca tulisan itu.

“Mmm.. baguslah.. inilah persahabatan sejati. Jadilah

sahabat yang baik, sahabat yang senantiasa saling

mengingatkan dalam kebaikan, saling mengerti, menghargai

pilihan temannya, membuat hidup lebih baik dan lebih baik

lagi,” tutur Haris.

Fan kembali menuliskan sesuatu, “Iyaa, buat lebih baik,

Kak. Lagi pula menjadi lebih baik itu adalah sebuah keharusan

dalam berkehidupan, bukan hanya sekedar pilihan hidup saja.

36

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Hmm.. betul.. betull.. setuju banget dah..!” ucap Haris.

Ia menatap tajam wajah Fan, “..Bentar, bentar.. kayaknya..

pernah lihat deh.. ... Mm, Oh iyaa, pas lagi main gitar, di halte

bis sana, benar.. benar.. itu pasti kamu. Permainan gitar kamu

bagus,” ucap Haris lagi, Fan mengangguk dan tersenyum.

“Ehh.. ini ada gitar, abang kasih buat buat kalian berdua,

baru beli, masih garansi, hii,” ucap Haris.

“Beneran Bang, ..makasih Bang!” Sandy menerimanya

dan memberikan gitar itu pada Fan untuk dimainkan.

“Weiiaa.. permainan gitarnya professional abiss..” ungkap

Haris. Seusai Fan mainkan gitar, lalu ia berikan gitar itu pada

Sandy untuk dicobanya.

“Ayo coba Sandy..!” ucap Haris menantang.

“..Maaf Bang, permainan gitarku nggak secanggih Fan.

Lagian aku lebih condong ke vocalist,” ucap Sandy setelah ia

selesaikan sebuah lagu.

“Coba.. coba.. kamu yang nyanyi dan Fan yang mainin

Gitar,” pinta Haris. Mereka pun nyanyikan kembali sebuah lagu

namun berbeda dari yang tadi.

Pok.. tpokk.. pok pkk.. Tepukan tangan Haris

mengapresiasi pertunjukan Fan dan Sandy hingga berangsur

berhenti.

“Partner musisi yang handal..” ucap Haris menandakan

kekagumannya.

“Bang, ada air putih? Kering nih..” Sandy meminta air

sambil mengelus kerongkongannya.

“Tuh..! ambil sendiri ajalah..”

Sandy mengambil dua buah air minuman dalam kemasan

gelas, “Nih Fan!” Sandy menyodorkan pada Fan.

“Bang, numpang tidur satu jam, ntar bangunin yah..”

kata Sandy.

“Yaa silakan, nanti dibanguni dah. ... Fan, nggak ngikut

tidur juga?” ucap Haris, Fan menggelengkan kepala. Sandy

mulai pejamkan mata.

“Sini deh, kita main komputer!” ajak Haris pada Fan.

37

dzyemtri.muharram@gmail.com

Haris menunjukkan sebuah software pengolah musik,

seraya berkata, “Lihat deh.. Coba kamu mainin gitar..!”

Fan konsentrasi dengan gitar yang dipegangnya, sedang

Haris merekam nada yang mengalun dari petikan gitar itu,

“Bagus kan?!” tanya Haris. Fan tersenyum mengacungkan

kedua jempol tangannya.

Fan kembali petik gitarnya dan Haris merekamnya. Begitu

selanjutnya hingga satu jam tak terasa berakhir. Haris

beranjak untuk membangunkan Sandy, “Woy, Sandy..

bangun.. bangun..!!” Sandy pun bangun.

Sesaat kemudian Sandy dan temannya pamit pulang.

“Saya pulang dulu Bang, nggak enak badan gini..” kata Sandy

pada Haris.

“Sakit apa?! Jangan lupa minum obat!”

“Nggak Bang, cuman butuh istirahat saja kayaknya.”

“Lanjutin aja tidurnya di sini..”

“Nggak ahh Bang, makasih.. Yuk Fan, kita pulang.. Ehh

Iya Bang, makasih juga gitarnya..” ucap Sandy pada Haris

seraya mengajak Fan.

“Mereka [Sandy dan Fan] akhirnya pulang berjalan kaki

menapaki trotoar di pinggiran jalan raya. Berhentilah mereka

di atas sungai yang melintasi jalan. Fan menggerakkan kedua

tangannya, maksudnya bertanya, “Kenapa berhenti di sini?

Kenapa?!”

Sandy merogoh saku celana, mengambil ‘barang haram’

serbuk berwarna putih, “Buat ini.. Fan,” katanya, menoleh

menatap wajah Fan.

“hm, Gue gak butuh ini..!!!” teriak Sandy membuangnya

ke sungai yang kecokelatan. Matanya terus ikuti hingga

tertelan oleh air sungai yang mengalir tak begitu deras.

-¤¤¤-

Suatu saat datang ke sebuah kampus tempat Pak Yusuf

berbagi ilmu dengan muridnya. Ia adalah Gofa yang hendak

menjemput kekasihnya bernama Lany, mahasiswi komunikasi.

38

dzyemtri.muharram@gmail.com

Ketika Gofa lewat di depan Pak Yusuf yang sedang

menghubungi seseorang. Samar-samar terdengar Pak Yusuf

sesekali menyebut-nyebut nama Zakaria, nama yang tak asing

baginya, karena Zakaria adalah nama salah seorang dosennya

waktu ia kuliah dulu. Gofa berpura-pura membenarkan tali

sepatunya. Ia menguping pembicaraan di telephon itu,

“Benar,” pikir Gofa, yang di sebut-sebut itu memang Pak

Zakaria, dosennya itu.

Gofa lantas sembunyi di balik pertigaan lorong-lorong

kampus untuk kembali menguping.

“...”

“Pak Zakaria bikin software?! Software apa, Pak?” tanya

Pak Yusuf.

“Sejenis proteksi lah, Pak. Baut di jajal sama anak-anak

nanti,” tutur Pak Zakaria.

“Ohh gitu..” ucap Pak Yusuf singkat.

“...”

Suara lawan bicara Pak Yusuf tak begitu terdengar jelas,

tapi Gofa cukup paham maksudnya. Ia tambah tertarik karena

yang dibicarakan itu ada sangkut pautnya dengan software.

“Hei.. lagi ngapain??!” tanya Lany mengagetkan Gofa.

“..He.. Hei..iyy.. Eh, ngagetin aja. Gak, nggak apa-apa,”

ucap Gofa.

Gofa menghampiri Pak Yusuf untuk sekedar berkenalan,

“Pak.. maaf Pak, tadi saya menguping pembicaraan Bapak di

handphone. Bapak ini temannya Pak Zakaria?” tanya Gofa

setelah Pak Yusuf memasukkan handphone ke dalam saku

bajunya.

“Iyaa.. Anda ini saudara Pak Zakaria?” tanya Pak Yusuf.

“Ohh, bukan. Saya mahasiswanya dulu saat beliau masih

sering mengajar.”

Beliau sekarang tinggal di mana yaa? sudah lama tak

bertemu dengannya,” kata Gofa berbasa-basi, padahal ia tahu

benar rumah-rumah Pak Zakaria dan sesekali juga sempat ke

sana.

39

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Sebentar-sebentar, bapak kasih alamatnya saja..” Pak

Yusuf mengambil kartu nama Pak Zakaria dari dompetnya dan

ia tuliskan di bagian belakangnya sebuah alamat rumah yang

sekarang di tempati Pak Zakaria, “Alamat rumahnya yang ini

saja. Beliau pasti ada di sana,” tambahnya.

“Ooh, terima kasih Pak.”

“Sama-sama..”

“Di tinggal dulu, Pak..”

“Kami pulang duluan, Pak..” ucap Lany.

“Yaa, Yaa silahkan..”

Sehari kemudian, di waktu matahari memancar panas,

namun sesekali mendung. Gofa hendak berkunjung ke rumah

Pak Zakaria untuk memastikan bahwa Pak Zakaria memang

sedang membuat sebuah software dan software apa yang

dibuatnya, mungkin ia bisa segera mengetahuinya.

Gofa bersiap-siap, mengambil beberapa barang yang ia

butuhkan. Pergilah ia. Setelah beberapa puluh menit, sampai

juga. Kebetulan Pak Zakaria ada di rumah itu, dipersilahkan

masuklah Gofa. Gofa melihat sebuah komputer yang masih

menyala di ruang sebelah tak bersekat, terlihat samar-samar

sederet kode di layar monitornya. “Kayaknya benar nih lagi

membikin software,” kata Gofa dalam hati.

Setelah mempersilahkan Gofa, Pak Zakaria lalu beranjak

ke depan komputer seraya menutup program-program yang

masih aktif, namun ia tak lantas mematikan komputer itu.

“Sebentar yaa, bapak bikinin air dulu, silakan duduk.”

“... Pak, saya numpang ke air dulu.”

“Hee.. bapak bikinin air, kamu malah numpang ke air,

hehee. Silakan, udah tahu kan, nggak perlu di tunjukkan lagi?”

“Hhee.. Iyaa, Pak. Makasih..”

Gofa pun beraksi, ia buka jaketnya, ia dekati komputer

yang selalu dipakai Pak Zakaria, lalu menancapkan ke port

PS/2 keyboard sebuah keylogger [berjenis hardware]. “Moga

aja nggak ketahuan...” ujarnya dalam hati. Setelah itu, Gofa

40

dzyemtri.muharram@gmail.com

ke kamar mandi, ia gantungkan jaketnya, lalu membasuh

muka juga tangannya. Sehabis itu, ia kembali ke ruang tamu.

“Bagaimana kabarnya, Pak?” tanya Gofa.

“Alhamdulillah..”

“Gof, kamu ini udah nikah?” tanya Pak Zakaria.

“Yaa belumlah, Pak. Nanti kalau tunangan saya itu sudah

kelar kuliahnya, naahh baruu...”

“Gimana kerjanya, lancar?”

“Lancar, Pak. Seperti biasa, terkadang pusing juga sih.”

“Biasaalah itu. Soal pusing, semua orang juga pada

ngalamin, apa lagi zaman udah kayak gini,” ucap Pak Zakaria.

“Ada apa nih, tumben-tumbenan berkunjung ke mari,”

sambungnya.

“Heehe, habis dari teman, Pak. Sekalian saja ke sini,

sudah lama nggak silaturrahim,” jawab Gofa.

Sambil mengobrol, Pak Zakaria lalu menyalakan televisi,

untuk sekedar menambah bahan obrolan. Nggak seru

kayaknya kalo obrolan nggak dibumbui berita terbaru. Berita

politik dan hukum juga sosial masyarakat menjadi bahan

obrolan mereka, hingga Gofa pamit pulang untuk mengantar

kekasih hatinya yang hendak pergi kuliah.

“...”

“Aduh, Pak. Kayaknya obrolan kita nggak bisa di lanjutin

lama nih. Saya ada jadwal, jam segini, mengantar Lany,

tunangan saya itu kuliah lagi. Pamit dulu, Pak.”

“Waahhh.. punya jadwal rutiin nih, hehee..”

“Mm.. begitulah, Pak. Kalo gak dianterin atau nggak

dijemput, suka bawel.”

“Yaa, wajarlah.. takut kehilangan tuh..” kata Pak Zakaria

mengikuti hingga ke teras.

Gofa pun pulang meninggalkan rumah Pak Zakaria.

Setelah Gofa tak lagi terlihat, Pak Zakaria pun masuk ke

dalam rumah. Ia membuka sejenak pekerjaanya yang tadi

sempat tertunda di komputer yang masih menyala, “... Dzuhur

41

dzyemtri.muharram@gmail.com

dulu ahh,” ucapnya, lalu menuju ke kamar mandi untuk

berwudhu, karena kumandang adzan telah terdengar dari tadi,

saat ia mengobrol bersama Gofa. “Hmm, jeket siapa ini? ...

jaket Gofa, tertinggal ini..”

-¤¤¤-

Beberapa hari kemudian setelah Gofa bertemu dengan

Pak Zakaria di rumahnya. Gofa kembali untuk mengambil

jaketnya yang sengaja ia tinggalkan.

Saat Gofa datang, Gofa langsung ditembak dengan

pertanyaan, “Kamu mau ngambil jaket?” tanya Pak Zakaria

tanpa berbasa-basi.

“Iyaa Pak, tertinggal..” jawab Gofa.

“Ambil saja di ruang sebelah dekat ruang komputer.”

Tanpa duduk dulu, Gofa langsung saja menuju ruangan

itu. Tiba-tiba ia bertemu dengan Haris yang selesai ngeprint

beberapa lembar dokumen.

“Ehh.. Loe..!!”

“Loe..!!”

“Ngapain Loe ke sini?!” tanya Gofa sinis.

“Gue ngunjungi Dosen gue.. nah Loe??”

“Gue mau ngambil jaket gue yang ketinggalan lah..”

Haris tak menyangka bakalan ketemu lagi dengan Gofa,

orang yang dulu mencuri karyanya.

“..Apaan tuh?!” tanya Gofa, menunjuk beberapa lembar

kertas yang dipegang Haris.

“Mau tau aja Loe..! Rahasia lah..!” jawab Haris.

“..Owh...” kata Gofa singkat yang kemudian melangkah

ke ruang sebelah dan Haris pun pergi meninggalkannya.

Gofa mengambil jaketnya yang tergantung di samping

pakaian ala militer yang sering dipakai Pak Zakaria dulu. Lalu

ia membelokkan arah kakinya ke ruang sebelah seraya

mengambil keylogger yang sengaja ia pasang beberapa hari

yang lalu.

42

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Makasih yaa, Pak. Eh, Maaf Pak, tintanya hampir habis,”

ucap Haris setelah kembali ke ruang depan menemui Pak

Zakaria.

“Iyaa, tak apa. Belum sempet diisi ulang soalnya,” jawab

Pak Zakaria.

Haris duduk berhadapan dengan Pak Zakaria, Gofa

menghampiri lalu berkata, “Terima kasih Pak, udah nyimpen

jaket saya. Kalo begitu, saya langsung pamit saja.”

“.. Nggak minum dulu..” ucap Pak Zakaria pada Gofa.

“Nggak Pak, makasih,” kata Gofa yang terus menuju

pintu depan rumah.

Setelah Gofa benar-benar pergi, Haris mulai melanjutkan

bicaranya, “Pak, bapak pasang keylogger yah?!”

“Hmm.. nggak kok, ehh iya, pasang.. kok tau?” ucap Pak

Zakaria mengiyakan, karena memang ia menginstal sebuah

software keylogger di komputernya itu.

“Yaa kelihatan saja, Pak,” ungkap Haris.

“Hmm.. ketahuan nih..”

Namun keylogger yang mereka sangkakan bukanlah

keylogger yang sama, yang disangka Pak Zakaria adalah

keylogger dalam bentuk software yang sengaja dipasangnya,

sedang yang disangka Haris adalah keylogger berbentuk

hardware yang mungkin dipasang Pak Zakaria. Padahal Pak

Zakaria belum tahu bahwa di komputernya ada yang

memasang keylogger [hardware], Haris pun tak pernah tahu

bahwa Pak Zakaria memasang keylogger [software].

“Mmm.. saya juga pamit pulang, Pak. Ada janji soalnya,”

ucap Haris pamit.

Setelah kedua bocah itu pergi dari rumahnya. Pak Zakaria

menuju ke belakang dengan rasa heran. “Kelihatan?! Masa

sih! Ahh, nggak perlu di pikirkan.”

-¤¤¤-

43

dzyemtri.muharram@gmail.com

Persiapan sebuah acara yang Pak Zakaria rencanakan

telah hampir final. Tiga hari sebelumnya, undangan segera

disebarkan kepada 20 peserta istimewa yang telah dipilihnya,

yang kesemuanya merupakan anggota dari situs komunitas

yang dibangunnya.

Seusai Jum’atan, undangan istimewa itu diterima Haris.

“Undangan apa yaa?” tanya Haris pada pengantar surat.

“Dibaca sajalah.. mohon kehadirannya, jika kamu tak

ingin kecewa,” kata pengantar surat.

“Iyaa, Insya Allah.”

Haris menutup pintu kosannya. Lalu dibacalah undangan

tersebut. “Waah.. kayaknya acaranya bakalan seru nih,”

ucapnya. Lalu Haris menyimpan undangan itu ke kantung

belakang celananya setelah kelar dibacanya. Namun ada

perkataan dari pengantar surat tadi yang membuatnya

bertanya-tanya, ‘Mohon kehadirannya, jika kamu tak ingin

kecewa’. Haris merasa ada sesuatu yang disembunyikan, “Kan

undangannya juga cuman berkumpul, silaturrahim antar

komunitas yang dibangun Pak Zakaria. Mengapa ia berkata

demikian, maksudnya apa yaa?!” Tanpa pikir terlalu jauh, lalu

ia menghubungi Panitia acara lewat ponsel miliknya.

“...”

“.. Mbak, acara sesungguhnya apaan sih? Bikin

penasaran saja,” kata Haris pada Panitia yang menerima

telephonenya.

“Pokoknya, Anda datang saja. Maaf, kami tidak

diperkenankan untuk memberitahukannya sekarang. Mohon

hadir saja, jika Anda tidak ingin kecewa,” begitu tanggapan

panita, seperti mengutip kembali perkataan yang diucapkan

pengirim surat.

“Mmm.. seandainya kehadiran saya digantikan oleh orang

lain, apakah boleh??”

“Undangan yang Anda terima berupa undangan lewat

e-mail atau berupa surat biasa?” Panitia itu malah balik tanya.

“Yang saya dapatkan, undangan lewat selembar surat.

Kalo lewat e-mail, kayaknya tak pernah ada tuh,” jawab Haris.

44

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Hmm.. sebentar.. mohon tunggu.. ... ... terima kasih

telah menunggu. Begini, bila kehadiran Anda digantikan orang

lain sih boleh-boleh saja, itu hak anda. Tapi, jangan kecewa

nantinya yah, jika kehadiran Anda ini digantikan. Dan

seandainya demikian, mohon memberikan undangan tersebut

pada orang yang menggantikan Anda, jangan lupa dibawa

nantinya, saat menghadiri acara. Begitu kira-kira.”

“Oh, begitu yaa.”

“... Ada yang ingin ditanyakan lagi?”

“Cukup itu saja, terima kasih.”

“...”

Haris menutup handphonenya, “Apa yaa?!” pikirnya lagi.

Kemudian ia membaca lagi surat itu, matanya tertuju pada

sebuah nama yang ada di sana, Zakaria. Ia jadi teringat

kembali dengan apa yang dilakukannya saat datang

berkunjung ke rumah Pak Zakaria, sebuah kesalahan pernah

dilakukannya.

Ia genggam erat ballpoint, untuk menuliskan sebuah

konsep surat untuk Pak Zakaria. Lalu mengetikkan di

komputernya dan mencetaknya, ia masukkan kedalam amplop

kosong, kemudian ia selipkan surat itu beserta undangannya

di kantung belakang celana jeansnya. Setelah itu, Haris pun

pergi menuju rumah Luthfikri untuk membahas software,

project open sourcenya itu. Namun di tengah perjalanan, saat

ia menyebrang jalan, tiba-tiba sebuah mobil menabraknya tak

sengaja karena remnya blong, sehingga kehilangan kendali.

Luthfi yang pada waktu itu hendak pergi ke toko buku

tempatnya bekerja. Luthfi buru-buru melihat keluar dan

menghampiri kerumunan orang.

Samar-samar terdengar oleh Luthfikri ucapan orangorang

yang ada di sana.

“... Bawa... cepetan bawa ke pinggir.”

“.. Hubungi rumah sakit..!”

“Cepat.. cepat panggil ambulan!!”

“Astaghfirullah.. Ya Allah.. ada yang kecelakaan..!!”

45

dzyemtri.muharram@gmail.com

Luthfikri menyelinap, “Permisi.. permisi..” ucapnya ingin

melihatnya dengan lebih jelas.

“Yaa Allah.. Haris..!!” katanya lagi langsung merangkul

Haris, “Kenapa Loe?? Kok bisa gini?”

“Luthfi..”

“Yaa, Ris..”

“Mghhh... Fi, tolong cariin adik gue, adik kandung gue,

temui dia, mohon jaga dia, sayangi dia.. mmmhh.. mungkin

gue.. agghhh.. takkan bisa lagi menjaganya..” ucap Haris

sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat. Lalu

memberikan sepucuk surat dan juga sebuah undangan, “..Dan

ini.. Fi, berikan surat ini.. pada Pak Zakaria, dosen kita dulu..

juga.. mohon hadirilah undangan acara ini.. hadirilah..

penting..”

“Jangan bekata gitu, Ris.. Insya Allah, gue janji..” ucap

Luthfikri bersimbah air mata tak tahan melihat sobatnya

seperti itu.

“..Fi, sekali lagi pesan dari gue.. mohon cari adik gue,

jaga dia, sayangi dia, cintai dia, gue yakin dia juga mencintai

Loe. Aaghhh.. sampaikan permintaan maaf gue padanya. Fi,

maafin gue.. mgghhhgh..” lirih Haris sambil memberikan

dompet ke telapak tangan Luthfikri.

“Gue pasti maafi. Maafin gue juga, Ris,” kata Luthfi, Haris

pun tersenyum untuk terakhir kalinya.

“Mghh.. mhh.. aaghh.. mmghh.. Ya Allah.. Allahu Akbarr..

Astaghfirullah...” nafas terakhir Haris terhempas, Haris

meninggal.

Ambulan yang ditunggu sedari tadi, akhirnya datang juga

walau agak terlambat. Kemudian jasad Haris yang berlumuran

darah itu pun dibawa.

Hari itu juga jasad Haris dikebumikan, di samping makam

kedua orang tuanya.

“Dulu, loe sempet berpesan pada gue saat sakit Loe

kambuh. ‘Jika gue mati, mohon jangan tangisi kepergianku ini

kawan’ kata loe. Namun, sungguh, gue gak bisa bendung lagi

46

dzyemtri.muharram@gmail.com

air mata ini kawan, untuk saat ini..” ucap Luthfi melepas

kepergian sahabatnya itu.

Sehari kemudian, Luthfikri pergi ke kosan Haris. Ia ambil

kunci yang ada di dompet Haris lalu membereskan sebagian

barang-barang milik Haris dan mencari potret adik kandung

Haris, yang nantinya harus ditemuinya.

“...”

“Hmm.. di mana yaa??”

“... Undangan, surat.. mm.. iya, adik Haris, mungkin foto

adiknya itu ada di dompetnya ini,” kata Luthfi sambil

membuka kembali dompet Haris. Luthfi temukan sebuah foto

yang tersembunyi.

“Inikah wajah adiknya kini?! Rasanya pernah kulihat

wajah ini, tak asing lagi bagiku. Mmm.. Subhanallah.. ini.. Ini

seperti orang yang kulihat di perpustakaan, yang sering bolakbalik

toko buku gue, yang gue sukai itu. Apakah adik Haris

adalah orang yang sama dengan seseorang yang sering

kutemui itu?? Dia itu kan namanya Dya Putri, sedang adiknya

Haris, kan Nindya. Ahh gue gak tau lagi nama lengkapnya

apa. Benarkah Dya Putri dan Nindya adalah orang yang

sama?? Hmm bingung juga ternyata!” ungkapnya.

Kemudian Luthfu membalikkan foto itu dilihatnya sebuah

tulisan ‘adik imutku Nindya Rahmania Putri’ Luthfi terdiam

seakan mulutnya terkunci, tak menyangka.

“Nindya Rahmania Putri.. Dya Putri.. Dya, Nindya.. Dya

Putri, Nindya Rahmania Putri.. ini benar-benar nama yang

sama..” kata Luthfi mengulang-ulang nama itu.

“Andaikan gue tau dari dulu, kalo Dya Putri adalah

Nindya, adik Loe itu. Mungkin gak susah-susah Loe nyari sanasini

tuk temukan adik kandung Loe itu, Ris,” kata Luthfi

dengan rasa sedih.

Luthfi mengambil sebuah handphone yang tergeletak di

atas laptop. Melihat-lihat daftar kontak yang ada. Jarinya

berhenti saat temukan sebuah nama ‘adik imutku’, lalu

mencari nama dengan awalan ‘D’ juga ‘N’, namun Luthfikri tak

47

dzyemtri.muharram@gmail.com

kunjung temukan nama yang sesuai dengan apa yang ingin

dicarinya. Jarinya kembali terdiam, ia tatap sebuah kontak,

lalu berkata, “Adik imutku?? Mungkin ini nomor handphone

Nindya.” Luthfi lalu menghubunginya.

“Halo, Assalamu’alaikum” Luthfi mengawali pembicaraan.

“Wa’alaikum salam, kakak.. kok suaranya beda yaa, Kak.

Ini kakakku kan, Kak Haris?”

“Ini dengan Nindya??” Luthfi berbalik nanya.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Maaf Nindya, yang nelpon ini bukan kakak kamu,”

“Lalu siapa??” ini benar kan nomor kakakku?”

“Iya, benar, kamu gak salah, ini memang nomor punya

kakakmu. Mmm, saya Luthfi, sahabatnya.

“Luthfi?? Ada apa yaa?!”

“Ada sesuatu hal penting yang ingin kubicarakan,” kata

Luthfi sambil menarik nafas dalam.

“... Kakakmu, Haris..”

“Ada apa dengan kakakku..?!”

“Mmm.. aku tak sanggup tuk mengatakannya..”

“Mohon katakan saja.. katakanlah, Kak. Pleasee..”

“Baiklah, Dya. Kakakmu kemarin lusa mengalami sebuah

kecelakaan, yang mengakibatkan ia ... ia.. tiada, Dya. Haris

telah tiada.. hiks.. hik..”

“Kakakku... Kak Haris meninggal. Ia meninggalkan aku.

Innalillahi wa... hikkk.. hikss.. dia takkan pernah kembali lagi..

hikk.. hikkk.. hiikks.. kakakk.. Kak Haris, kakak lucuku.. hik..

hikkk.. hiikk..” Nindya tak hentinya menangis mendengar

kabar kakaknya itu.

“... Dya.. Dya.. Haloo... Nindya..” Luthfi tak dengar lagi

ucapan dari Nindya, yang terdengar hanya tangisan seorang

adik yang kehilangan kakaknya.

“Halo Nindya, Haloo..” Luthfi mencoba bicara kembali,

namun tak ada jawab, hanya tangisan. Beberapa detik

kemudian Luthfi menutupnya.

Luthfi bingung harus bagaimana lagi, dengan segera ia

cari-cari alamat Nindya.

48

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Mana alamatnya?! Harus ada! Pasti ada..!!” Ia cari-cari

di laptop, dalam handphone, tumpukan kertas, “Halah, tak ada

juga..” Luthfi tenangkan hatinya sejenak, lalu ia cari kembali,

akhirnya in temukan alamat itu di handphone haris. “Akhirnya,

nemu juga,” ucap Luthfi dengan nafas tak teratur. “Gue harus

segera ke sana, gue takut Nindya kenapa-napa.”

Luthfi terdiam sesaat seraya berkata, “Jiaahh, Gue kan

dulu pernah ke rumahnya, napa gue susah-susah nyari alamat

itu dari tadi. Hauhh..!”

Tanpa banyak bicara lagi, Luthfi segera ke pangkalan

ojek. “Bang, anterin gue cepetan!!” ucapnya.

“Iya.. iya..” kata tukang ojek itu. Motor pun melaju

lumayan kencang.

Beberapa saat kemudian sampailah ia di depan rumah

Nindya. “Ini bang. Makasih Bang,” ucap Luthfi sambil

memberikan ongkosnya. Lalu Luthfi mencoba tuk

menghubungi nomor handphone Nindya, namun tak kunjung

diangkat.

Kemudian ditanyalah Luthfi oleh Satpam rumah.

“Mau bertemu siapa, Dek?!”

“Nindyanya ada, Pak??”

“Ohh.. mau bertemu Non Nindya. Ada.. ada.”

“Anda ini siapanya yaa?!” lanjut Pak Satpam.

“Saya temennya, Pak.”

“... Silakan.. silakan.. masuk.”

Luthfi masuk, lalu Pak Satpam mempersilakannya duduk

di kursi di teras depan.

“Silakan duduk, tunggu ya sebentar. Saya panggilin

dulu,” kata Pak Satpam.

“Iya, Pak.”

Pak Satpam masuk ke dalam rumah memberitahukan

bahwa ada tamu. Dilihatlah Nindya sedang bersama Bunda

Tiata di ruang keluarga.

“...”

“Yang sabar yah, Dya.”

49

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Iyaa Bunda,” ucap Nindya setelah ia ceritakan apa yang

terjadi pada kakaknya.

“...”

“Hmm.. Bu,” kata Pak Satpam.

“Ada apa, Pak?” tanya Bunda Tiara.

“Ada tamu, yang nyariin Non Nindya,” jawab Pak Satpam.

Nindya berdiri dan menghampiri Pak Satpam, lalu

bertanya, “Siapa yaa??”

“Namanya, kalo nggak salah.. mm.. Luthfi..”

“Luthfi, Pak?”

“Iya namanya Luthfi. Ia lagi nungguin tu di depan,” kata

Pak Satpam.

Nindya langsung keluar menemui orang yang duduk

diteras itu. Pak Satpam mengikutinya di belakang.

“Kamu? Kamu kan, Fikri? Yang di toko buku itu kan??”

tanya Nindya yang samar pernah mengenalnya.

“Iyaa, Fikri yang di toko buku itu, tepatnya Luthfikri. Maaf

nggak sempat cerita soal itu,” jawab Luthfi menatapi wajah

Nindya yang memerah karena menangis.

“Ada apa dengan kakakku?! Ada apaa??!” Mohon

ceritakan, gimana kejadiannya?” tanya Nindya tak sabar ingin

mengetahuinya dengan pasti.

Luthfi menarik nafas sangatlah dalam dan panjang pula,

seakan oksigen yang ada di halaman terhirup semua olehnya.

Setelah agak tenangan, mulailah bercerita perihal kakaknya.

“Hmmh.. Begini, Dya,” begitu kata Luthfi mengawalinya.

“...”

Lumayan banyak kata-kata yang terucap dari lisan Luthfi,

menceritakan dengan detil yang jelas tiap kejadian yang

dilihatnya waktu itu. Sedang Nindya tak sedikit pun kata

meluncur dari bibirnya, ia menyimak, dan hanya menyimak

ucapan Luthfi.

Setelah Luthfi ceritakan semuanya, barulah Nindya

angkat bicara, “Kak..!” ucapnya singkat. Ia meminta Luthfi

untuk segera mengantarnya, “Kak Luthfi, bisa antar aku kan,

ke pemakaman kakakku?” tambahnya.

50

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Boleh, tapi aku nggakbawa kendaraan nih,” kata Luthfi.

“Pake, motorku aja tuh..!” kata Nindya menunjuk motor

yang terparkir berjarak tak jauh dari tempat mereka berdua

duduk. “Sebentar, pamit dulu sama bunda,” lanjutnya.

“Yaa..” ucap Lutfhi menganggukkan kepala.

Tak lama, Nindya keluar dan mereka pun berangkat.

“Tante, kami berangkat dulu,” kata Luthfi pada Bunda

Tiara yang menghampiri mereka.

“Daa.. Bunda!”

“Hati-hati yaa..!”

Sepeda motor itu pun melaju dan beberapa meter lagi

bakalan menyentuh jalan raya.

“Mari Pak..!” ucap Luthfi pada Pak Satpam saat di depan

pintu gerbang.

“Kak, ke florist dulu yaa..” pinta Nindya.

“Okeyz.. siap..”

Sampailah mereka di tempat yang penuh keharuman.

Disana Nindya membeli beberapa jenis bunga.

“Mmmh, haus nih. Dya, aku cari air mineral dulu ya,

sebentar kok,” kata Luthfi. Ia beli 2 botol air mineral, satu

untuknya, satu untuk Nindya.

Setiba di pemakaman, mereka taburkan bunga di pusara

Haris juga di kedua orang tua Nindya. Air mineral yang tak

Nindya minum juga yang tak dihabiskan Luthfi, disiramkanlah

oleh mereka. Lalu mereka membacakan beberapa ayat suci

Al-Qur’an sejenak.

Tak ada lagi tangisan Nindya, hanya beberapa tetes air

mata yang terjatuh dari kedua mata. Air matanya sudah

terkuras habis saat pertama kali mendengar berita kakaknya.

“Kakak lucuku..” lirih Nindya kehabisan kata.

Seusai dari pemakaman, pergilah mereka menuju kosan

Haris. Luthfi menyerahkan beberapa barang-barang milik

Haris. “Dya, inilah kosan Haris, tempat ia berteduh melepas

lelah,” kata Luthfi.

51

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Ini barang-barang kakak kamu semuanya. Kuserahkan

padamu, dan ini kunci kosannya,” ucap Luthfi lagi.

“... Dan, ini..” Luthfi mengambil dompet Haris dan

mengambil kartu ATMnya, “Kamu harus menyimpannya,”

lanjutnya sambil menyerahkan dompet juga kartu ATM pada

Nindya.

“Ouwh, kartu ATM pemberian papaku. ...Inilah salah satu

kenangan yang berharga bersama kakakku,” ucap Nindya

sambil mengecup kartu ATM itu. “Kakak lucuku.. mm..” Nindya

pun tersenyum.

“... Kak, mohon, Kak Luthfi saja yang pegang semuanya

ini,” kata Nindya.

“Tappi, tapi Dya.”

“Kak Luthfi saja, Dya percayakan sama Kak Luthfi. Pasti

kakak membutuhkannya.”

“Untuk ini ...” Luthfi memberikan kartu ATM padanya,

“Aku tak kan bisa menyimpannya, terlalu berharga. Lebih baik

kamu sendiri yang menyimpannya. Semoga ini akan selalu

mengingatkanmu pada kakakmu. Aku senang ketika kulihat

kamu kembali tersenyum nampak ceria,” katanya lagi. Nindya

pun tersenyum simpul.

Tak disengaja, ada sebuah kertas terjatuh dari dompet

Haris yang sedari tadi dipegang Luthfi. “Apa ini..??” tanya hati

Luthfi, “Apa yaa?!” sedikit heran.

“Apa, Kak??” Nindya pun bertanya.

“Ini..” Luthfi berikan secarik kertas yang terjatuh itu.

“Apa ini, Kak?”

“Mm, nggak tau tuh.”

“Hmm.. penuh dengan teka-teki,” ucap Nindya sedikit

mengerutkan dahi.

Luthfi menerima kertas itu lagi, “Ini tu, apa yaa?!”

ucapnya.

Nindya melihat lihat ke sekeliling dinding kamar kosan

itu. Jarinya menunjuk sebuah lukisan yang pernah dibuatnya

sebagai hadiah ulang tahun kakaknya dulu.

52

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Itu, lukisan itu. Ternyata masih disimpannya.” Air mata

bahagia berbaur sedih pun jatuh membasahi pipinya.

“Kenapa, Dya??”

“Tak apa-apa.”

Lalu dengan segera Luthfi mengambilkan lukisan itu dan

menyerahkannya pada Nindya yang kembali tersenyum.

“Lukisan ini aku bawa ya, Kak?”

“Yaa, silakan!”

Nindya melihat jarum jam di tangannya. “...Pulang yuk,

Kak! Takut keburu ujan,” ajaknya.

“Yuukk...!! ... Ehh, kamu pulang duluan saja, mau beresberes

dulu.”

“Mm, Iyaa deh kalo gitu. Nindya pulang dulu ya, Kak.”

“Hati-hati yaa,” ucap Luthfi dengan lembut.

“...Daah, Kak.. Wassalamu’alaikum..”

“Wa’alaikum..salam..” jawab Luthfi di depan pintu itu. Ia

masih memandanginya beberapa saat.

Luthfi berbalik lantas berkata, “Mmm, kasian juga Nindya,

pulang sendirian, mana lumayan jauh lagi. Hmm.. Ahh

mending gue anterin Nindya dulu, beres-beres tu gampang!”

Luthfi keluar dari kosan dan berlari ke arah Nindya pergi.

Ia kejar motor itu yang mulai berbelok ke sebelah selatan.

“Dya, Dyaa!” Luhfi memanggilnya cukup kencang. Laju

motor pun terhenti.

“Dya, biar aku anterin kamu dulu.”

“Nggak apa pa, Kak. Udah gak apa apa..”

“Biar aku yang bawa, kan lumayan jauh tuh.”

“Yaa boleh deh. Anterin sampe pintu rumah ya Kakak

tukang ojek!” ucap Nindya sedikit cengengesan.

“Hiii, tukang ojek?? Tak apa lah. Let’s go!”

Dalam perjalanan, butiran-butiran halus jutaan titik-titik

air mulai terjun dari sarangnya.

“Yaaa udah ujan, Kak.”

“Tenang, masih rintik-rintik kok, nggak menggigit ini.”

“Heumm.. eaa seeh..! nggak gigit. Tapi bikin sakit.”

53

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Yaa mudah-mudahan nggak lah..”

“...”

“Akhirnya sampai juga. Jangan lupa sampe pintu rumah.”

“Iyaa, iya.. tenang aja.”

“...”

“..Ehh iya, Kakak pulangnya?”

“Pulangnya?? Nanti juga ada yang jemput.”

“Siapa?”

“Bis Kota, hehee. Salam buat om dan tante aja.”

“Nggak mampir dulu?”

“Nggak ah, kapan-kapan saja, buru-buru nih, takut ujan

menggigit. Yuk, Dya. Assalamu’alaikum.”

“Yee.. Wa’alaikumsalam.”

Beberapa meter dari rumah Nindya, Lauthfi pun pulang

naik bis kota yang penuh sesak dengan oleh penumpang. Di

perjalanan, hujan turun dengan derasnyanya. “Alhamdulillah,

untung gue udah di dalem bis,” katanya dalam hati.

Selepas pintu bis terbuka, dengan segera ia lari menuju

kosan Haris. Hujan mengguyur sekujur tubuhnya.

“Dinginnnyaa..!” ucapnya sesampai di kosan Haris. Tak lama

dari itu, ada SMS masuk ke handphone miliknya.

Kak, digigit ujan yaa?

^^

maaf yaa, kak..

Ternyata SMS itu dari Nindya.

Hihii, iyaa kena gigit niy.

Gak pa apa kok :)

Setelah tubuhnya agak kering, kemudian Luthfi nyalakan

laptop itu, mencoba membuka-buka folder. Niatnya hanya

untuk mencari file projectnya bersama komunitas KP Open

Source Project. Namun, dengan tak sengaja ia buka sebuah

54

dzyemtri.muharram@gmail.com

file, yang ternyata isinya adalah surat Haris untuk Pak Zakaria.

Kedua bola matanya melihat tajam kata-kata di surat itu, “Pak

Zakaria? Program..? Hmm..??” ucapnya.

Luthfi kembali menelsuri file-file yang ada. Ia temukan

sebuah software di sana, yang belum ia ketahui apa. Ia

jalankan software itu. “Need a password..??” katanya. Luthfi

teringat dengan kertas yang tadi siang terjatuh dari dompet

milik Haris. Kemudian ia mengambil kembali kertas itu dan

sedikit menelitinya. “Mungkinkah ini??” pikirnya. Lalu ia

masukkan kata yang ada, “Yah, salah.. Waduwh, softwarenya

menghancurkan diri. Ngilang ke mana ini??” Ia amati benarbenar

kertas yang di pegangnya sekian lama untuk sekedar

memahaminya.

-¤¤¤-

Suatu saat jauh di alam bawah sadarnya. Kening Nindya

dikecup dengan manisnya oleh seorang pria yang tadi siang

menemaninya.

Handphonenya berdering, Nindya lantas mengangkatnya.

“Assalamu’alaikum.. Dya.”

“Wa’alaikum salam..”

“Dya..”

“Yaa..”

“Sebenarnya. Aku hanya ingin bilang sesuatu, maafkan

aku mengecup keningmu, seharusnya aku tak begitu. Akankah

kamu berikan maaf itu?!”

“Insya Allah, aku maafkan dan semoga Allah juga kan

memaafkan.”

Nindya buru-buru bangun, Handphonenya berdering

kencang, kini bukan lagi dalam mimpi, alam bawah sadarnya.

Ia mencari-cari handphonenya. “Ehh, iyahh.. Tari ulang

tahunn..!” ternyata itu reminder ulang tahun sahabatnya,

sengaja ia set pukul 00.00. Nindya langsung menelphone

55

dzyemtri.muharram@gmail.com

Mentari, sekedar untuk ucapkan selamat ulang tahun tepat di

malam hari.

“Haloo..” kata Mentari.

“Tarii.. sahabatku tercintaa.. met milad yaa.. selamat

ultah aja.. all the best lah pokoknya..” kata Nindya.

“Makasiih, Dya. Sahabatku yang pertama kali ucapin

selamat padaku.”

“..Ntar siang traktir yaa..”

“Beress.. ditraktirin deh semuanya.. hehee.. Hmm.. Dya,

mataku ingin tertidur lagi nih.. masiy ngantukk.. tuk..tukkk..

nanti sambung lagi besok, selepas ayam berkokok. yaa Dya..”

“Yaah, nggak seruw niy.. hehee.. yaaudah deh, met tidur

lagii.. nice dream aja kalo gitu..”

“Nice dream too..” kata Mentari menutup ponselnya,

begitu pula dengan Nindya.

Nindya mengingat-ingat mimpinya tadi, ia terdiam sesaat,

heran dengan mimpinya. “...mm.. Kak Luthfiku? Ada apa yaa?!

Hemmh.. Tidur lagi ahh..” ucapnya, tersenyum. Lalu ia ambil

selimutnya, mencoba tuk pejamkan mata berharap dapat

melanjutkan lagi mimpinya.

-¤¤¤-

Pagi hari yang terlihat mendung mulai berangsur cerah

menemani langkah-langkah bagi yang tak ingin menyerah.

Luthfikri bersiap tuk hadiri undangan acara seperti yang

diharapkan sahabatnya, agar Haris tak kecewa.

Luthfi menelepon Geo, untuk mengantarkannya ke

tempat acara itu. Geo datang dan mengantar hingga

sampailah mereka di sana.

“Fi, gue gak bisa nemenin Loe lama-lama. Gue ada

kerjaan soalnya. Gue berangkat dulu ya. Semoga sukses, Bro,”

ucap Geo.

“Thanks, Bro! Sukses juga buat Loe. Hati-hati uyy!”

“Yoi..”

56

dzyemtri.muharram@gmail.com

Geo pun menghidupkan motornya lalu pergi menuju

kantor tempatnya bekerja.

Luthfi berjalan hendak memasuki sebuah gedung. Ia

bertemu dengan seorang Panitia yang meminta kartu

undangan padanya.

“Undangannya?!” pinta Panitia itu.

“Ohh.. yang ini, Pak?” kata Luthfi. “Untung saja gue

bawa ni undangan,” lanjut hatinya.

“Saya di sini untuk menggantikan sahabat saya, Haris.”

Sambungnya.

“Jadi Anda??”

“Saya Luthfi, penggantinya.”

“Sahabat Anda? Ada apa memangnya dengan Haris?

Kenapa nggak bisa hadir?”

“... Ia telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, Pak.”

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un.. Benarkah? Meninggal?!”

tanya Panitia itu seakan tak percaya.

“... Dia tertabrak, Pak.” Luthfikri mengangguk.

“Ehh.. iya.. Apa Pak Zakaria-nya ada?”

“Beliau sedang di rumah sakit.”

“Ouwh.. mmm.. saya ketitipan surat dari Haris sebelum ia

meninggal. Surat buat Pak Zakaria. Ini, mohon disampein.”

“Mmm.. boleh.. Insya Allah nanti disampaikan,” kata

Panitia itu.

Lewatlah di hadapan mereka seorang Panitia lagi.

“Hey, Nu. Mau ke mana?” tanya Panitia yang sedang

mengobrol dengan Luthfi.

“Mau ke rumah sakit dulu..” jawab Panitia yang satu lagi.

“Mau apa?”

“Nggak tau tu, disuruh Pak Zakaria.”

“Ehh.. sini, sekalian sampein ini surat buat Pak Zakaria.

Jangan lupa, jangan sampai ilang, penting..”

“Okey bozz, beressslah.. yuuukk!!” ucapnya lalu pergi.

Luthfi menjabat tangan Panitia di hadapannya itu seraya

berkata, “Terima kasih, Pak!”

57

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Sama-sama.. Ehh, acaranya akan segera dimulai tuh,

silakan Anda masuk saja..” ucap Panitia itu mengingatkan.

“Oh iya, kalo gitu, saya gabung dulu dengan yang lain.

Mari, Pak,” kata Luthfi.

Luthfi melihat ke semua orang yang berada di sana.

Pandangan matanya berhenti saat melihat ke arah Gofa,

“Ternyata ternyata orang itu hadir juga,” ucapya dalam hati.

Acara dimulai dengan sambutan yang sengaa dibacakan

oleh Pak Yusuf sebagai pengganti dari Pak Zakaria yang tak

memungkinkan untuk memberikan sebuah sambutan.

“...”

“Kepada ke 20 peserta, saya ucapkan selamat berlomba

saja. Sekian terima kasih.. wassalamu’alaikum..” begitulah Pak

Yusuf mengakhiri sambutannya.

Sayangnya Pak Yusuf tak bisa mengikuti acaranya hingga

selesai. Ia harus pergi dulu ke kantornya.

Ini adalah puncak acaranya dimana dipanggillah ke 20

peserta termasuk Luthfi juga Gofa untuk dihadapkan dengan

masing-masing sebuah komputer dan sebuah program

[software] yang dibuat khusus oleh Pak Zakaria sendiri.

“...”

“Kami persilakan untuk memecahkannya,” ucap Panitia.

Seorang panita berbicara melanjutkan ucapan temannya,

“... Dan saya, kami, semua Panitia di sini, tidak dan belum

diberitahukan sedikit pun kata kuncinya itu apa. Seperti yang

dikatakan Pak Zakaria clue-nya itu adalah salah satu kunci

kehidupan. Mungkin beberapa menit lagi kami baru diberi tau

oleh Pak Zakaria selaku pembuatnya. Yaa.. sekarang silakan

saja Anda-anda ini pikirkan.”

“Kunci kehidupan??” tanya mereka.

Mata para peserta terfokusan pada apa yang di hadapan,

sebuah program yang entah apa maksudnya.

“Hmm, program yang ini itu kah?!” tanya Luthfi pada

batinnya. “Kunci kehidupan?” ucapnya. “Apa yaa?!” tanya

58

dzyemtri.muharram@gmail.com

hatinya lagi. Ia pejamkan mata untuk sekedar mengingatingat

apa yang harus ia ketikkan tepatnya? pada sebuah kotak

kecil melebar yang terdapat di tubuh progam yang masih

nampak kosong tiada isi.

“Hmm.. Bismillah.. semoga ini berhasil..” Dengan hatihati

dan penuh keyakinan ia ketikkan character demi character

password tersebut seperti instruksi yang dilihatnya, yang

dibacanya semalam, sebuah tulisan yang terdapat dalam

secarik kertas itu.

Luthfi mendengar ucapan peserta lain yang kebingungan,

“Passwordnya apa?!! Aduhh..!!”

“Apa yahh?! Yaagh gue payaghh.. ghh ghhh..!!”

Sayup terdengar ada seorang peserta yang bertanya

pada peserta di kiri kanannya itu, “Apa sih?!”

“Yaa gue juga gak tau.”

“Apa yaa?!” ucap yang lainnya lagi, malah bertanya pada

dirinya sendiri sambil menggaruk-garuk kepala.

“Waah.. Aplikasinya menghancurkan diri sendiri..!!

Gimana nihh??!”

“Kalo programnya menghancurkan diri, silakan copy-kan

dulu programnya yang ada di folder back-up, lalu jalankan

kembali sampai benar-benar tepat terbuka. Kalau salah lagi,

dan musnah dengan sendirinya lagi, yaa tinggal copas [copypaste]

saja lagi, jalankan lagi, lagi, seterusnya,” tutur Panitia.

Begitulah expresi sebagian peserta. Namun, tidak

demikian dengan Gofa, ia terlihat santai, tenang, tak seperti

yang lainnya.

Apa yang mereka lakukan di hadapan komputer, terlihat

jelas ditampilkan di layar yang cukup lebar, disaksikan juga

oleh banyak orang. Jadi, tak heran face-face ‘lucu’ mereka

kadang membuat hadirin tersenyum bahkan tertawa.

Tidak lebih dari 30 menit, akhirnya sesion itu pun selesai

juga. Acara dilanjutkan dengan sambutan dan penampilan

Band juga penyanyi lainnya, sambil menunggu hasilnya yang

kan diumumkan Panitia hari itu juga.

59

dzyemtri.muharram@gmail.com

-¤¤¤-

Di sebuah rumah sakit, di ruangan yang cukup luas tak

sempit, ada seorang pasien sedang membaca sebuah surat

yang telah diambil dari amplopnya. Dipakailah kacamatanya,

Pak Zakaria mulai membaca kata demi kata. Maksud dari surat

itu ternyata sebuah permintaan maaf Haris padanya.

Kepada Yth. Guruku, Pak Zakaria

Assalamu’alaikum..

Pak, apa kabar?

Dengan surat ini, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan

pada bapak. Maaf, Pak. Maaf sebelumnya.

Ketika saya berkunjung ke rumah bapak waktu itu. Saya

menyesal, Pak. Ada sebuah kesalahan yang mungkin besar telah

saya lakukan, saat saya nge-print dokumen di rumah bapak.

Maaf, saya lihat sebuah keylogger terpasang di begian belakang

komputer bapak, dan salahnya saya mengambil data yang

terekam pada keylogger tersebut. Juga sebuah program yang

bapak buat, lagi-lagi saya mencurinya, meng-copy-pastekannya

ke flashdisk saya tanpa izin, tanpa sepengetahuan

bapak. Sekali lagi maaf, maafkan saya, Pak. Maaf saya hanya

ingin tau. Maaf.

Begitu kiranya, semoga bapak berkenan memaafkan

kesalahan yang saya buat.

Tertanda,

Haris Hudaya Putra

Hanya ada senyuman yang terpancar dari wajah Pak

Zakaria, seraya berkata, “Saya maafkan, Nak.”

60

dzyemtri.muharram@gmail.com

Dipanggillah seseorang olehnya. “Apa acaranya sudah

selesai?” tanya Pak Zakaria.

“Kayaknya sudah, Pak,” jawabnya.

“Tolong panggilkan Haris Hudaya Putra padaku..” pinta

Pak Zakaria.

“Baik, Pak!”

Beberapa saat kemudian, orang itu kembali lalu berkata,

“Pak, Haris Hudaya Putra tak ada di sana. Dan katanya, ia

sudah meninggal, Pak.”

“Meninggal?! Innalillahi wa inna...” kata Pak Zakaria

kaget seraya memelankan ucapannya.

Lalu muncullah dua orang Panitia menghampiri Pak

Zakaria. “Ini beberapa berkas yang dibutuhkan Panitia,” kata

Pak Zakaria menyerahkan beberapa dokumen yang masih

tertutup rapat dalam amplop berwarna cokelat.

-¤¤¤-

Acara kembali dilanjutkan, diumumkanlah siapa-siapa

saja yang menjadi pemenang. Setelah Panitia memprosesnya

dengan cukup lama.

“Di dalam kompetisi ini, tidak ada yang menang-kalah,

tapi lebih ke berhasil atau tidak. Ada beberapa orang di sini

yang berhasil memecahkannya, walau tak seluruhnya tepat

dan akurat. Kami panggilkan Aniza, Fahrainy, Gofa, Luthfikri,

Ozi, juga Rizky. Silakan untuk ke atas panggung,” kata Panitia.

Mereka pun naik untuk sekedar menerima sebuah

penghargaan dan hadiah secara simbolis.

“Selamat untuk Ke 6 peserta mereka layak mendapatkan

itu. Dan untuk pembahasan lebih jelasnya mengenai acara ini

semua akan dibahas nanti ba’da Dzuhur,” ucap ketua Panitia

memberhentikan sejenak.

-¤¤¤-

61

dzyemtri.muharram@gmail.com

Datanglah beberapa dosen ke kamar pasien. Hendak

menjenguk Pak Zakaria. Kesemuanya adalah teman seprofesi

Pak Zakaria dulu.

Tiba-tiba dua orang masuk menghampiri Pak Zakaria,

menyerahkan video rekaman acara yang baru saja selesai.

Lalu memutarnya di laptop, di perlihatkanlah kepada Pak

Zakaria dan disaksikan juga oleh beberapa temannya.

“...”

“Pak, ini kayak mahasiswa kita dulu,” kata Pak Zakaria.

“Mana, Pak?” kata dosen di sebelah Pak Zakaria.

“Yang ini..!!” jawabnya sambil menunjuk salah seorang.

“Ini salah seorang mahasiswa berprestasi di kampus kita.

Kita sempat kehilangannya, dan baru kali ini lagi saya

melihatnya,” ucap dosen yang lain.

“Siapa yaa namanya? Hmm??” kata dosen yang satu lagi.

“Dia Luthfikri, Bapak-bapak dan Ibu sekalian. Dia

menggantikan Haris Hudaya Putra yang tak bisa hadir dan tak

kan pernah hadir di acara ini..” tutur salah seorang Panitia

acara yang ada di sana yang tadi menyerahkan video rekaman

itu.

“Haris Hudaya Putra?”

“Ehh.. Iya itu juga mahasiswa kita dulu kan, Pak?!” kata

Ibu dosen.

“Aagh.. Iya, mahasiswa kita..” kata Pak Zakaria sambil

menahan sakitnya.

“... Kenapa, Pak?”

“Tak apa-apa..”

“...”

“Mmm.. Emangnya kenapa Haris tak ikut?”

“Dia sudah dipanggil.. oleh Yang Maha Pencipta..” jawab

Pak Zakaria.

“Yaa Allah.. Innalillahi..”

Pak Zakaria bertanya pada kedua Panitia itu, hanya enam

orang ini yang berhasil??”

“Iya, Pak. Ini daftar namanya. Mm.. Ini.. Aniza, Fahrainy,

Gofa, Mm.. Luthfikri, Ozi dan Rizky.”

62

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Aniza, Fahrainy, Gofa, .. Luthfikri, .. Ozi, .. Rizky.”

“Kesemua ini diambil sesuai peraturan yang Bapak buat.

Dan untuk yang lainnya, memang mereka belum berhasil.”

“Terima kasih, saya ucapkan sungguh terima kasih buat

semuanya.. Arghh..” kata Pak Zakaria merasakan dadanya

sangatlah sakit.

“...”

“Pak.. Pak.. Aduhh..”

“...”

“Panggilkan dokter atau suster.. cepatt..!!” kata seorang

dosen.

“Suster.. suster..!!” salah seorang dari mereka memanggil

keluar.

“...”

“Mm..”

“Yaa, Pak?” tanya seorang anggota Panitia.

“.. Tolong hubungi Pak Yusuf untuk segera ke sini,” pinta

Pak Zakaria.

“Baik, Pak!” kata salah seorang Panitia yang ada di sana.

-¤¤¤-

Di siang hari yang cerah, ada sebuah keluarga yang

sedang berkumpul, duduk di depan meja, makan siang

bersama di sebuah mol ternama. Tujuannya hanya untuk

menghibur Nindya yang sedang berduka lara, ditinggal kakak

kandungnya.

Di sana, Nindya ditemani bundanya, bunda Tiara, juga

ayahnya, ayah Yusuf yang datang belakangan selepas dari

kantornya, setelah memberikan sambutan di acaranya Pak

Zakaria. Kebahagiaan tercitra lewat pancaran kedua mata

mereka.

Bertemulah mereka bertiga dengan Anggara juga Mentari

yang akan mengadakan pertemuan kecil di tempat yang sama.

“Ehh.. tu Nindya udah ada di sini..” kata Angga.

“Heyy..!” sapa Mentari.

63

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Heeyy..!!” jawab Nindya.

“Ehh.. Om, Tante..”

“Eee.. Angga dan Tari..” kata Om Yusuf.

“... Dya, yang lain udah pada dateng??” tanya Mentari.

“Belom..” jawab Nindya singkat.

Tiba-tiba handphone Om Yusuf berdering memaksa

mereka berdiam berhenti bercakap sejenak. Ternyata itu

panggilan dari salah seorang Panitia di acara Pak Zakaria,

memintanya untuk segera ke rumah sakit.

“Ma, ada panggilan dari rumah sakit, papa harus segera

ke sana dulu sekarang..”

“Mama ikut yaa..”

“Memangnya siapa Om yang sakit?” tanya Mentari.

“Pak Zakaria, temen Om..”

“Nindya mau ikut juga??” tanya Om Yusuf.

“Dya, di sini aja, Yah. Sudah janji sama temen-temen

soalnya.. nggak enak..”

“Iya deh, Ayah pergi dulu.. Om dan Tante tinggal yaa..”

kata Om Yusuf langsung berangkat menuju rumah sakit

bersama Tante Tiata.

Setelah Om Yusuf dan istrinya itu pergi, datanglah Chyta

dan Prima.

“Hey.. hey.. hey..!!” sapa yang baru datang.

“Hey.. apa kabar ini..!”

“Yang ditungguin akhirnya datang juga..” sapa Mentari.

“Selamat ulang tahun yaa, Tari..” kata Chyta.

Mereka merayakan ulang tahun Tari dengan suka cita

dan sederhana, hanya makan-makan saja.

Hampir setengah jam lebih mereka mengobrol sana-sini

di sana. Hampir setengah jam pula Om Yusuf dan Tante Tiara

menempuh perjalanan menuju rumah sakit hingga beberapa

saat kemudian, tibalah mereka berdua dan langsung menuju

kamar pasien Pak Zakaria.

“...”

“... Pak, ini.. Pak Yusuf sudah datang..” kata seseorang

yang berada di ruangan itu.

64

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Pak..” sapa Pak Yusuf.

“Pak Yusuf.. inilah saatnya..” kata Pak Zakaria.

Masuklah beberapa orang yang memang berkepentingan

saat itu. Mulailah Pak Zakaria menuliskan sesuatu yang

disaksikan sendiri oleh Pak Yusuf dan orang-orang yang

bersamanya. Tak lupa kejadian itu pun direkam lewat sebuah

camcorder sebagai bukti, bahwa ini benar-benar nyata tanpa

rekayasa.

Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Atas Ridho Allah yang Maha Melihat, Maha Menyaksikan.

Pada hari ini, Senin, tanggal 23 Januari 2006. Dengan tulus

ikhlas, tanpa adanya paksaan sedikit pun, dari siapa pun, dari

pihak mana pun. Saya menyatakan bahwa saya ...

Begitulah sebagian dari apa yang dituliskan Pak Zakaria.

-¤¤-¤¤-

Ceritanya terpotong..

Dilanjutkan setelah pesan-pesan berikut :P

-¤¤-¤¤-

Karena lelah, dan memang sudah malam, sudah saatnya

buat pejamkan mata. Aldy lantas tertidur.

Melihat putranya tertidur berbantalkan keyboard. Pak

Hijri, ayah Aldy, yang pada waktu itu masih menonton televisi,

memindahkan putranya ke atas hamparan kasur lembut dan

menyelimutinya hingga ia tak rasakan kedinginan.

Lalu Pak Hijri beranjak ke luar ke teras rumah, sejenak

menghirup udara malam, menatap langit yang bertabur

bintang yang nampak sempurna ditemani bulan.

“Alhamdulillah, aku masih bisa menyaksikan keindahan

ciptaanMu kala malam datang tuk menggantikan siang. Begitu

65

dzyemtri.muharram@gmail.com

memesona, menyejukkan mata yang mulai lelah tiada daya.

Subhanallah,” ucap Pak Hijri lembut, tak hentinya bertasbih,

memandangi langit yang luas itu.

Setelah beberapa lama, kemudian ia kembali masuk ke

dalam rumah menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.

Dan ia pun tidur mengikuti putra-putrinya yang mungkin

sudah terhanyut dalam pelukan mimpi.

Aroma malam terus berjalan hingga gelapnya kini sudah

terlewati tergantikan oleh sejuknya pagi.

Aisycha terbangun, ia bukakan kaca jendela, sejuk pagi

terasa memenuhi ruangan kamarnya. Tatapi bintang yang

bertabur di angkasa ditemani indah rembulan yang memancar

putih tak bernoda. Lalu ia ambil sehelai kertas yang kan ia

tulisi beberapa baris puisi.

mendamba subuh

sentuh hati dalam rasa

mendamba subuh di tiap harinya

saksikan kerlip bintang tertata

tatapi indah bulan memancar cahaya

rasa sejuk tak hanti selimuti raga

kurasa tenang, bahagia dalam dada

selalu rindukan akan pesona surga

saat fajar menjelang di hadapan mata

Kokok ayam terdengar dari alarm handphone milik

Aisycha. Adiknya pun bangun tak seperti biasanya, padahal

alarm yang begitu kencang tak pernah sedikit pun dapat

membangunkannya di hari sebelumnya, Aldy akan bangun jika

ayah yang membangunkannya.

Usai Sholat Shubuh, Aldy langsung menyalakan komputer

untuk membaca cerita semalam yang belum kelar dibacanya.

-¤¤-¤¤-

66

dzyemtri.muharram@gmail.com

Dan inilah lanjutan cerita itu..!!

-¤¤-¤¤-

Sejumlah orang masih berada di sana, di acara yang

diselenggarakan Pak Zakaria. Seorang ketua Panitia mulai

menjelaskan kepada orang-orang di hadapannya sesuai

dengan apa yang diperintahkan Pak Zakaria.

“...”

“Mungkin ada dalam benak anda-anda, berbagai tanya

yang belum ada jawab. Apa maksudnya Pak Zakaria membuat

sebuah program yang demikian itu. Yang jelas beliau

membuat acara ini seperti yang kita ketahui tentunya untuk

mempererat silaturrahim antara kita semua, terutama kawankawan

yang suka nongkrong di forum kita. Yap, Mari kita coba

bahas tentang program, aplikasi yang tadi itu. Langsung saja,

saya persingkat karena waktunya agak terbatas ini. Secara

keseluruhan, kita hanya diajak untuk menebak-nebak kata

yang diketikkan pada program tersebut dan tentunya saja

perlu trik tertentu untuk benar-benar bisa membukanya.

Simple kayaknya. Namun, ini ada maksud tersendiri, Pak

Zakaria mengharapkan ini dapat mengingatkan kita akan nilainilai

agama yang sering kita lupa, sering kita lalaikan. Yaa,

sebagai masyarakat yang berteknologi, kita tidak boleh lupa

akan nilai-nilai hukum dan agama, apalagi sengaja

melupakannya, tidak boleh itu. Seperti itulah sebagian maksud

beliau membuat acara ini,” tutur ketua Panitia menjelaskan.

“Sebetulnya ada tiga buah kata kunci untuk membuka

program ini secara tepat. ...” lanjutnya terdiam sejenak, lalu

memanggil seorang Panitia, “... Khair, sini. Tolong lanjutin.”

Khairuddin menghampiri dan melanjutkan kembali

pembahasan yang tadi. “Yaa, mari kita lanjutkan. Seperti yang

dijelaskan tadi, ada tiga kata kunci yang bisa digunakan untuk

memecahkannya. Ketiga kata kunci itu adalah, mau tau kan?!”

“Iyaa lahhh...” ucap hadirin serempak.

67

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Ketiga kata kunci itu yaitu ‘cintailahallah’, dengan huruf

kecil semua dan tanpa sepasi tentunya, terus

‘cintailahrasulullah’, dan yang ke tiga ‘cintailahsesama’.

Mengapa tiga kata kunci itu yang digunakan? Inilah jawabnya,

beliau terinspirasi dari sebuah situs web yang dikunjunginya,

dan situs itu selalu mengingatkannya akan putri kecilnya yang

telah tiada, yang memang suka sekali memutarkan sholawat

dalam album sholawat Cinta Rasul itu.”

“Mmm gitu yaa..”

“Ohh.. begitu..” kata sebagian para hadirin.

“Coba nanti kunjungi situsnya untuk sekedar

memastikan.. hehee..” ucap Panitia itu.

“Apa alamat webnya, Bang?!” tanya seorang hadirin yang

ada di belakang.

“Masa nggak tau?? Hmm.. terlaluu.. Coba deh klik saja

http://www.cintarasul.co.id yaa.”

“Ooo.. Cinta Rasul itu, Hadad Alwi dan Sulis itu kan?”

tanya yang lainnya.

“Yaa.. ya.. yaa.. bener tuhh ituu..”

“Di sana akan anda temukan kata-kata ‘Cinta Allah, Cinta

Rasul, Cinta Sesama’. Itulah yang dijadikan acuan Pak Zakaria

sebagai kata kuncinya. Begitulah kira-kira sebagian dari

maksud Pak Zakaria, dan maksud-maksud yang lainnya saya

tak tau persis itu apa. Mungkin cukup sekian..” sambungnya

Panitia itu mengakhiri bicaranya.

Ketua Panitia muncul kembali mendampingi Panitia yang

baru usai berbicara.

“Untuk ke 6 peserta yang berhasil, kami ucapkan

selamat, Anda berhak mendapatkan penghargaan yang lebih,

terutama ...” kata ketua Panitia itu, namun lagi-lagi

perkataannya tak ia lanjutkan. “Sebentar..” Ia menghampiri

salah seorang Panitia yang memanggilnya.

“Pak, ... mm.. Pak Zakaria meninggal,” ucap Panitia itu.

“Pak Zakaria maninggal?? Ahh.. yang benerr..??”

“Benar, Pak. Benar..”

“Innalillahiwa inna ilahi rajiun..”

68

dzyemtri.muharram@gmail.com

Setelah mendengar kabar demikian, ketua Panitia itu

kembali ke hadapan para hadirin untuk mengabarkan perihal

kematian Pak Zakaria, juga menginformasikan pada semuanya

untuk hadir kembali besok lusa di waktu, tempat dan acara

yang sama.

Sebagian panita yang lain juga para hadirin buru-buru

pergi ke rumah sakit tempat Pak Zakaria dirawat. Ada juga

hadirin yang langsung menuju rumah kediaman yang berada

di dekat pertigaan jalan kota.

Sore hari yang masih terlihat cerah namun tak begitu

panas, Pak Zakaria akhirnya dikebumikan disaksikan orangorang

dekatnya, mahasiswanya, para karyawan perusahaanperusahaannya,

para dosen teman seprofesinya, dan sebagian

besar adalah warga sekitar. Semua orang merasa kehilangan

pribadi yang bersahaja dan baik hati itu. Begitu pula halnya

dengan Luthfikri, ia tak pernah bertemu lagi dengan sosok Pak

Zakaria.

Setelah itu, Luthfi menyempatkan dulu datang ke toko

buku untuk menggantikan pekerjaan temannya sebentar saja.

-¤¤¤-

Nindya yang masih ngumpul dengan teman-temannya

setelah beberapa lama, lalu ia menelphone bundanya.

“Assalamu’alaikum bunda..”

“Wa’alaikum salam..”

“Bunda sekarang di mana?”

“Bunda di rumah, habis melayat Pak Zakaria, teman

ayah.”

“Ohh.. kalo ayah, apa masih di sana??”

“Iya..”

“Hmm.. bunda, mungkin Nindya nggak bisa pulang cepat.

Mungkin agak malem nyampe rumahnya.”

“Sama Tari, kan?” tanya bunda Tiara.

69

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Iya Bunda, sama temen yang lain juga. Sekalian mau

nyari buku lagi.”

“Ohh.. kalo ada apa-apa telepon bunda yaa, Nin.”

“Iya Bunda, Insya Allah.. Ya udah gitu aja, Bun. Daah

bunda, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam..”

Langit di barat sana menguning kemerahan, matahari

tenggelam tak tampak lagi wajah terangnya. Adzan pun

berkumandang dari setiap penjuru, menyerukan untuk lekas

mengerjakan shalat. Nindya dan Mentari tiba juga di rumah

Mentari. Duduk sejenak melepas lelah dan langsung

mengambil air wudhu.

Bintang-bintang bermunculan kembali tersenyum

menyambut malam. Suara mobil terdengar berhenti di depan

rumah Tari. Itu Anggara yang hendak menemani mereka

berdua belanja buku.

“Kayaknya Angga, tuh..” kata Nindya.

“Iya.. berangkat sekarang yuk!” ajak Mentari.

“Ma, Pi, kita berangkat dulu..”

“Yaa.. hati-hati..”

Berangkatlah mereka menuju toko buku langganan

mereka.

Saat datang di sana, Nindya langsung menanyakan Luthfi

pada kasir yang berada di dekat pintu toko.

“Mbak, mau tanya. ... Kak Fikrinya masuk kerja nggak??”

tanya Nindya.

“Ngapain nanyain Fikri segala?” bisik Mentari.

“Ada deh mau tau aja.. hihii..” kata Nindya.

“Gimana Mbak, ada nggak??” tanya Nindya lagi pada

pegawai toko itu.

“Luthfikri yaa, tadi sih masih ada.. lagi di belakang

kayaknya, beres-beres mau pulang.”

“Ohh.. mm.. Mbak, tolong bilangin padanya. Ada yang

nanyain gitu, mohon tunggu sebentar, jangan dulu pulang.

Katakan ya Mbak.. saya mau nyari buku dulu..”

70

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Iya nanti disampein deh..”

“Makasih, Mbak,” ucapnya.

Lanjutlah Nindya bersama Mentari juga Anggara berjalan

ke sana ke mari mencari-cari buku juga novel yang disukanya.

Luthfi datang menghampiri Mbak kasir itu, “Mbak, saya

pulang..” katanya.

“Eeehh.. Fikri, jangan pulang dulu, ada yang nanyain,

tungguin katanya,” ucap Mbak yang tadi.

“Siapa Mbak??”

“... Siapa yaa?! Lupa nanyain namanya. Tapi orangnya

sering ke sini kok. Dia lagi nyari buku, nanti juga ke sini..

Mmm.. itu tuh.. yang.. menuju kemari..”

“Mmm.. Dya Putri.. Nindya.. Ada apa yaa?!” ucap Luthfi.

“Kangen kali..” kata si Mbak kasir.

“Mungkin.. hehee..” ucap Luthfikri. Mudah-mudahan

saja,” kata hatinya.

Nindya menghampiri Luthfi , seraya berkata, “Kak Fikri,

Kak Luthfi..”

“... Dya Putri, ehh.. Nindya..”

“Hmm sama aja.. sini Kak,” kata Nindya menjauh dari

menatari dan Angga.

“Ada apaa gitu?!”

“Hmm.. kak, besok bisa ketemuan, pukul sembilan..?”

"9 pagi?”

“Iyaa.. bisakan??”

“Mmm.. bisa.. bisa.. tapi di mana??

“Di taman kota.. besok yaa Kak, jam 9, jangan lupa..”

“Insya Allah.. kakak datang..” ucap Luthfi.

Menari lewat di samping mereka berdua. “Ehmm, hmm,

heemm..!” sindirnya.

“Ihhh.. Tari, apaa siy..” kata Nindya tersipu malu.

“...”

“Ya udah Kak, Dya pulang..” kata Nindya pada Luthfi.

“Yaa..” ucap Luthfi singkat, lalu menghampiri Mbak kasir.

71

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Mmm.. kayaknya beneran nih kangen..?” kata Mbak

kasir.

“Bisa aja.. Nggak kok, cuman masalah bisniss, hehee..!”

“Bisnis apa bisnis..”

“Ahh.. Mbak ini.. ya udah ah.. saya pulang dulu.. mari

Mbak!” kata Luthfi pamit pulang.

-¤¤¤-

Esoknya Luthfi datang tepat pukul 9 di taman yang

sebutkan Nindya. Luthfi parkirkan dulu motor vespa milik

teman kerjanya yang ia pinjam. Dilihatnya Nindya yang sudah

berada di sana menunggu sambil duduk di kursi taman.

“Mungkin inilah waktu yang tepat..” ucap Luthfi dalam

hati.

“Hey..!!” kata Nindya menyapanya.

“Heyy..!!” udah lama nunggu yaa?? Maaf agak telat.”

“Nggak kok baru juga nyampe, tak apa..”

“Eh iyaa.. emangnya ada apa gitu minta ketemuan di

sini??”

“Mmm.. pengen ditemenin ajaa, buat teman ngobrol,

soalnya gak da temen. Mau ngobrol sama orang-orang di sana

nggak pada kenal.. hehee..” ucap Nindya yang memang sudah

nggak asing dengan Luthfi, apalagi setelah tau bahwa Luthfi

adalah sahabat kakaknya sendiri.

“Eummh.. temen ngobrol doang, penting gak nih..?”

“Penting nggak yaa..??”

“Eihh.. malah nanya lagi. Kalo nggak penting, mending

aku pulang dah..” kata Luthfi tersenyum.

“Yaa pergi aja sana, kalo nggak sayang ma Dya..”

“Hmm.. marrahh niy ceritanya?” ucap Luthfi.

“Iiyy.. siapa yang marah, nggak kok, gak marah, beneran

deh..” kata Nindya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah

tangannya.

“Kalo gitu, boleh duduk nih..?!”

“Yaa bolee lah..”

72

dzyemtri.muharram@gmail.com

“... Dya, nggak kuliah??”

“Nanti siang..”

“Ohh..”

“Ehh, Kak. Indah yaa melihat keluarga itu,” ucap Nindya

melihat sebuah keluarga dengan dua anak yang sedang

berlarian. “... Kapan diriku ini seperti itu yaa??” lanjutnya.

“Mmm.. Hmm, yang pengen segera nikah. Udah ada

calonnya kan?”

“Belum Kak, masih nungguin proposal lamaran cinta yang

unik.. hihiihie..” jawab Nindya.

“Hehee proposal cinta.. masa belum ada yang ngajuin itu

ke Nindya,” kata Luthfi menanggapi jawaban Nindya.

“Ada siih, Kak. Banyak, malahan udah numpuk tuh di

lemari kamar, hehee.. Tapi nggak dari hati kayaknya.”

“Hmm.. gak dari hati yaa? ... Kakak boleh ikutan ajuin

proposal cinta juga kan ke Nindya?? Hehee.. Dijamin yang ini

pasti dari 99,99% dari hati yang terdalam, sedalam lautan

ketulusan.”

“Ihh.. Kakak, apa-apaan siyy.. becanda aja,” ucap Nindya

seraya tersenyum.

“Nggak ah, nggak bercanda, ini seurieuss, Dya..”

“Seriuskah?! Sungguh??”

“Sungguh, aku cinta kamu, Dya..”

“Mmm.. apa?? benarkah itu? Masa sih? Kok bisa?!”

“Eumm, banyak kali pertanyaannya..”

“Kalo 100% sih ...”

“Oke 100% ketulusan. ... Dya, sesungguhnya aku

mencintaimu, benar-benar mencintaimu,” ungkap Luthfi jelas

tak berbasa-basi.

“Mm.. cintaa.. apakah cinta itu murni dari hatimu?!”

tanya Nindya melirik ke arah Luthfi, sedang Luthfi tersenyum

seraya berkata, “Murni, semurni embun yang terjatuh di

dedaunan saat fajar tiba.”

“Hmm.. bisa aja.. Kak.. Pada dasarnya diriku juga begitu.

Telah bersemayam cukup lama dalam lubuk hati dasar cinta

itu. Dasar cinta yang kubangun sebelum kau benar-benar

73

dzyemtri.muharram@gmail.com

mengucap hal itu pada diriku. Sebenarnya aku sedang, telah

menunggu ucapan itu. Sejak kecil aku sempat menyukai

seorang sahabat dari kakakku, yang entah ke mana. Dan kini..

ia tepat ada di sampingku, ..orang itu adalah kakak sendiri.”

Uangkap Nindya menatap mata Luthfi seraya menundukkan

wajahnya.

“Sejak kecil??” tanya Luthfi sedikit kerutkan dahi.

“Heemh.. iyaa..”

“Dan aku pun lebih kurang begitu, Dya. Aku

mengagumimu, sebelum kubertemu denganmu, ketika kulihat

kamu di sebuah perpustakaan. Aku menyukaimu, ketika

hendak berikan buku milikmu yang tak sengaja terjatuh waktu

di toko buku, dimana aku bekerja bersama temanku, kukenal

kamu dengan nama Dya Putri. Aku mencintaimu, ketika

bertemu lagi denganmu saat kamu teteskan air mata tanda

kesedihan hatimu, rasanya kuingin hapuskan air mata itu. Aku

pun sayang dan akan selalu menyayangimu, menjagamu,

sebelum dan setelah kutahu bahwa kamu adalah adik dari

sahabatku, dimana kakakmu berpesan padaku untuk

mencarimu dan menjagamu dengan sepenuh hatiku. ...Ku

petikkan bunga ini untukmu [sambil memetik setangkai bunga

putih] ...pertanda kesucian dan ketulusan hatiku mencintamu.

Semoga engkau tak keberatan tuk terima cintaku,” ungkap

Luthfi memberikan bunga itu pada sesosok perempuan

dihadapannya.

“Makasih.. aku terima cinta tulus Kakak,” Nindya menarik

nafas lumayan dalam, wewangian bunga terhirup bersama

udara. “... Dan aku yakin, diriku takkan meragu cintamu. Kak

Haris pernah bilang saat ketemuan di taman ini juga. [Nindya

memandang jauh bunga-bunga yang terhampar luas]. ...Kak

Luthfi lah yang menolongnya, Kakak benar-benar sahabatnya.




0 Response to "Apa Yaa?!"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified