Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Apa Yaa?! 2

Ketika kakakku terjatuh, Kak Luthfi membangunkannya,

menyadarkannya, dan selalu meyempatkan waktu untuknya,

tak sedikit pun menjauhinya. Begitu katanya. Alhamdulillah,

terima kasih Ya Allah, Engkau telah sembuhkan kakakku dari

jerat narkoba.” Menghela nafas sejenak, setetes air mata tak

74

dzyemtri.muharram@gmail.com

terasa hinggap di pipi Nindya, lalu melanjutkan ucapannya,

“Kak Haris juga sempat bilang. Nindya, andai kakak lucumu ni

menghilang dan tak ada lagi yang hapuskan air matamu,

janganlah bersedih, susut saat nanti akan ada yang

menghapuskan air matamu itu, mampu tuk menjagamu, lebih

menyayangmu,” cerita Nindya panjang lebar.

Luthfi hanya menjadi pendengar setia saat itu, tak ada

sepatah kata terucap, melainkan sebuah senyuman lembut

saja.

“..Terima kasih Ya Allah, kini akan ada seorang yang kan

menghapuskan air mataku, yaitu dirimu,” sambung Nindya

menoleh ke arah Luthfi.

Kupu-kupu pun hinggap pada setangkai bunga putih yang

sedari tadi dipegang jemari Nindya. “Hmm.. kupu-kupu yang

indah yaa..?!” ucap Luthfi kembali berkata.

“Kupu-kupu yang indah dan bunga yang indah pula..”

ucap Nindya.

“Kayaknya objek yang bagus buat difoto..”

“Ehh.. iya.. foto dong, Kak.”

Luthfi mengambil sebuah handphone berkamera dari

saku belakang celananya.

“Yaahh.. baru saja mau difoto, ehh.. malah terbang..”

“Sepertinya kupu-kupunya grogi tuk bergaya di depan

kamera, hehee..” ucap Nindya tertawa kecil.

“Kayaknya sih gitu.. hehee..”

Begitulah ungkapan hati dari kedua insan yang saling

mencinta. Lalu mereka lanjutkan obrolannya tentang

kehidupan Haris waktu dulu. Tak lupa juga percakapan

mengenai buku terbaru yang menjadi penutup obrolan

mereka. Selepas itu, Nindya diantar pulang oleh Luthfi dengan

Vespa unik yang kadang mogok tanpa sebab yang jelas.

Tibalah mereka di rumah Nindya. Seperti biasa Pak

Satpam menyambut kedatangan mereka.

“Dya, aku langsung balik aja yaa!”

“Nggak mampir dulu..”

75

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Entar saja deh. Salam buat semuanya.”

“Iya deh. Hati-hati mogok lagi.. hehee..”

“.. Yuu ahh..” Luthfi pun mulai menghidupkan motornya.

“Mari Pak..!” ucapnya pada Pak Satpam sebelum Vespa

itu kembali menapaki jalan raya.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam..”

“Yah, Bun, dapat salam lagi tu dari Fikri..” kata Nindya.

“Fikri siapa, Nin?” tanya Ayah Yusuf.

“Itu, Fikri yang suka diceritakan Nindya sama Mama. Ehh,

Papa gak tau sih, selalu sibuk..” ucap Bunda Tiara.

“Fikri yaa?! Fikri.. Hmm?? Fikri yaa??!”

“Iyaa Ayah. Ayah kenal?”

“Hmm, nggak juga, kan sama sekali belum pernah

bertemu.”

“Mmm... Iyaa yaa,” ucap Nindya yang terus masuk ke

kamarnya. Sedang Ayah Yusuf dan Bunda Tiara masih di

ruang keluarga.

“Mah, ceritai dong ke Papa tentang Fikri itu, teman

Nindya itu..”

“Boleh.. sekarang??”

“Iya laah.. kapan lagi coba.. masa nunggu hari esok.”

Bunda Tiaramulai bercerita, “begini yaa, Fikri temannya

Nindya itu, anaknya baik..”

“Teman kuliahnya juga??”

“Bukan sih. Nindya ketemu Fikri itu saat di toko buku

katanya. ... Saat, saat yang lalu Fikri juga pernah kemari kok,

mengabari Nindya tentang keadaan kakaknya, Haris..”

“Teruss..” kata Ayah Yusuf.

“... Barulah Nindya tau bahwa Fikri yang sudah lama

dikenalnya itu..”

“Yaa teruss..”

“teras terus, teras terus.. bentar, Pah. Mama mau minum

dulu, haus.”

“Hmm.. si Mama..”

76

dzyemtri.muharram@gmail.com

“...”

-¤¤¤-

Hangat mentari menyemangati diri, saatnya menatap hari

dengan penuh inspirasi, langkahkan kaki telusuri detik yang

terus berjalan tiada henti. Luthfi pun berangkat untuk

menghadiri sebuah acara yag kemarin lusa sempat tertunda.

Ia kembali kendarai Vespa temannya, menjelajah jalan-jalan

ibu kota yang kadang macet namun untungnya tak lama.

Luthfi hadir di antara yang lainnya, ia duduk di depan

seperti tamu istimewa saja. Tibalah waktunya untuk memulai,

melanjutkan kembali acaranya.

“Baik kita lanjutkan. Perlu diketahui, program yang dibuat

Pak Zakaria ini memerlukan kata kunci untuk membukanya,

dan perlu cara unik untuk memecahkannya. Seperti yang kita

bahas kemarin bahwa dalam program ini terdapat 3 buah kata

kunci yang bisa dipilih, diketikkan kata demi kata, dan diantara

kata itu harus ada jeda. Misal, seperti yang kita ketahui ,

keynya itu cintailahrasulullah, maka ketik cintailah berhenti

sejenak, lalu dilanjutkan dengan mengetikkan rasulullah.

Sebenarnya program ini tak perlu penekanan ENTER maupun

OK segala, tombol OK di sini hanyalah pengecoh saja. Oleh

karena itu, setelah anda-anda ketikkan dengan benar, dalam

hitungan tujuh detik program tersebut akan terbuka dengan

sendirinya. Cukup dapat dipahami..?! Tapi, jika yang Andaanda

ketikkan itu salah, program itu akan musnah dengan

sendirinya,” tutur Panitia itu yang kemudian ia lanjutkan

bicaranya. “Di sini ada dua orang yang berhasil, benar-benar

tepat, yang akan mendapatkan hadiah lebih dan lebih, sebuah

hadiah istimewa. Mereka itu adalah Gofa dan Luthfikri. Hanya

ada satu nama saja yang akan mendapatkan hadiah istimewa

itu, berupa seperangkat komputer spesifikasi tertinggi saat ini.

Siapa diantara mereka berdua yang mendapatkannya?!”

“Gofa.. Gofa..!!” teriak sebagian orang yang ada di sana.

“Luthfi.. Luthfikri..!!” kata yang lainnya lagi.

77

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Tenang dulu.. berdasarkan pertimbangan Panitia dan

setelah rapat kemarin..” ucap Panitia. Mereka yang

menyaksikan kembali ricuh menyebut nam Gofa juga Luthfi.

Panitia pun berkata, “Tenang.. harap tenang..!! Hmm..

seseorang yang berhak mendapatkannya adalah... adalah..

siapa??!.. Yaa.. Luthfikri..!! Selamat buat Luthfikri.”

“Hah gue?” kok gue? Kok bisa?!” kata Luthfi pada teman

di sebelahnya.

“Weiyy.. selamat..” ucap seseorang disampingnya itu.

Beberapa meter dari tempat duduk Luthfikri, Gofa

berkata agak keras, “Waah kok gitu, kenapa mesti Luthfi??!”

Gofa tak terima dengan putusan itu.

“Bener tuhh..!!” ucap Ozi, salah seorang teman Gofa.

Seorang Panitia memberikan microphone pada Gofa,

lalau ia pun bicara, “Pak, masa dia yang dapatkan itu, walau

kita berdua sama-sama berhasil, tapi saya kan yang lebih

cepat memecahkannya. Lagian dia kan hanya sekedar

menggantikan Haris.”

“Coba pertimbangkan kembali donk, Pak..” ucap

seseorang di samping Gofa.

“Saya perlu penjelasannya, Pak..!” ucap Gofa.

Luthfi akhirnya berkata, “Pak Panitia, saya sadar saya tak

lebih unggul darinya, juga saya sendiri hadir di sini hanya

untuk menggantikan sahabat saya, Haris. Kayaknya saya tak

begitu berhak atas pengharaan itu semua. Bukanlah untuk

saya seharusnya.”

“Memang begitu seharusnya..” kata Gofa.

“Hmm.. bagaimana para Panitia??” tanya panitia itu pada

yang lainnya.

“Okkelah kalo begitu.. mmm setelah kami pertimbangkan

dengan matang, hadiah tersebut diberikan seutuhnya pada

Gofa. Selamat buat Gofa. Dan untuk Luthfi, maaf, mungkin

Anda belum beruntung detik-detik ini. Yaap, coba nanti kita

lihat sebuah tayangan sebentar lagi, sedang dipersiapkan,

yang akan menjelaskan ini semua,” ucap Panitia.

78

dzyemtri.muharram@gmail.com

Ketua Panitia mulai bicara melajutkan temannya, “Kami

dihadapkan dengan berbagai pertimbangan. Disatu sisi kami

harus mengikuti apa perintah dari Pak Zakaria, mengenai

penentuan pemenangnya. Disatu sisi kami pun sulit untuk

menentukan pemenangnya. Walau memang sebenarnya kami

tegaskan sekali lagi, di sini, dalam acara ini tak ada istilah

menang atau kalah.”

“Pak, sudah siap ditayangkan,” ucap seorang Panitia.

“Yaa, mari kita saksikan bersama tayangannya. Semoga

ini dapat memperjelas semuanya dan dapat dipahami kita

semua. Gofa, perbaikilah sikapmu..!” kata ketua Panitia saat

video mulai diputarkan.

Sebuah video hasil bidikan kamera pengintai diputar

dihadapan semua yang ada di sana.

Video itu menayangkan tentang Gofa dan Haris ketika ia

berada di rumah Pak Zakaria. Di sana terlihat Gofa yang

hendak memasangkan sebuah keylogger hardware di

komputer Pak Zakaria.

“Inilah yang dilakukan Gofa sebelum ia benar-benar bisa

memecahkan teka-teki program yang dibuat Pak Zakaria itu,”

kata seorang Panitia. Ketika penitia itu berkata demikian, Gofa

tertunduk malu, tak bisa mengelak tak bisa menangkalnya.

“Huu.. hu.. curang loe..!!” ucap beberapa orang.

“Dan coba lihat yang ini..” sambung Panitia itu.

Kali ini menayangkan Haris yang pada waktu itu hendah

ngeprint. Lalu memasang flasdisk miliknya. Tak sengaja ia

lihat sebuah keylogger yang tertancap. “Hah.. keylogger?”

kata Haris. Di sana Haris pun mencuri data yang yang terekam

oleh keylogger itu sekaligus mengcopy paste program buatan

Pak Zakaria ke flashdisknya. Setelah memprint beberapa

lembar tulisan, ia bertemu dengan Gofa yang juga berkunjung

ke rumah Pak Zakaria untuk mengambil jaket. Terlihat dengan

jelas gerak gerik mereka dalam video rekaman itu.

Seorang Panitia melanjutkan bicaranya, “Pak Zakaria

pernah berkata ketika memperlihatkan video tersebut untuk

79

dzyemtri.muharram@gmail.com

kali pertama pada saya. ‘Jika pada waktunya nanti diantara

mereka berdua atau keduanya berhasil dengan tepat

memecahkan program yang saya buat itu, carilah diantara

keduanya yang lebih jujur , minimal mereka mengakui akan

kesalahannya sendiri sebelum kita hadirkan sebuah bukti

kehadapan mereka,’ begitu kata beliau. Cari yang jujur, Pak?

tanya saya saat itu. ‘Iya, carilah yang jujur. Mmm.. bangsa ini

butuh orang-orang yang jujur. Kejujuran itu adalah hal yang

teramat berharga tiada tara. Namun janganlah sesekali

memanfaatkan kejujuran yang nampak pada diri seseorang

itu, kita jadikan sebagai tameng, sebagai pelindung untuk

menutupi sebuah kesalahan, sebuah ketidakjujuran,

kebohongan dari diri kita sendiri,’ sambung Pak Zakaria. Saya

tak sempat bertanya lebih lanjut, karena waktu itu beliau agak

sibuk dan terlihat sakit-sakitan. Dan sekarang saat kami

dihadapkan pada satu hal yang cukup rumit, tentang

penentuan pemenangnya. Yaa, kami harus menimbangnimbang

diantara kedua orang ini, yaitu Gofa dan Haris yang

tak kan mungkin menghadiri acara ini. Kami berempug, lalu

kami putuskan untuk memberikannya pada Luthfikri pengganti

dari Haris. Namun ketika putusan kami ini mendapat

penolakan, diprotes. Kami berpikir kembali, memang kejujuran

itu tak mudah begitu saja diketahui, dibuktikan. Jadi kami

putuskan untuk yang kesekian kali, pemenangnya adalah

Gofa. Sementara untuk Luthfi, kami hanya bisa ucapkan maaf

saja saat ini. Cukup sekian dari saya , sekarang giliran Pak

Ketua untuk mengucapkan beberapa patah kata, yang tak

patah.”

Katua Panitia kembali bicara dihadapan semua,

didampingi Pak Yusuf, “Yaa, terima kasih. Hmm.. hm.. saya..

harus menyampaikan sesuatu, dan ini.. ini teramat penting,

terutama bagi seseorang yang ada didekat Anda-anda

sekalian. Selamat.. Gofa, Anda tetap dapatkan hadiahnya.

Buat Luthfi, Anda janganlah berkecil hati dulu. Walau Anda tak

cukup berhasil, namun Anda sungguh sangat beruntung.

Mungkin Luthfi juga semuanya bertanya-tanya mengapa saya

80

dzyemtri.muharram@gmail.com

ketakan demikian. Inilah jawabannya, ini diambil kemarin lusa.

Kita lihat saja!”

Sebuah tanyangan pun ditampilkan. Nampak Pak Zakaria

yang mulai berkata-kata membacakan sebuah tulisan, begini

katanya, ‘Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu’alaikum

Warohmatullohi Wabarokatuh. Atas Ridho Alloh yang Maha

Melihat, Maha Menyaksikan. Pada hari ini, Senin, tanggal 23

Januari 2006. Dengan tulus ikhlas, tanpa adanya paksaan

sedikit pun, dari siapa pun, dari pihak mana pun. Saya

menyatakan bahwa saya, Zakaria Zulkarnain, mewariskan,

memberikan seluruh kekayaan saya termasuk seluruh

perusahaan saya kepada seseorang yang bernama Luthfikri. Ia

adalah mahasiswa saya, yang juga salah satu peserta yang

hadir disebuah acara yang saya selenggarakan dan

merupakan salah seorang dari yang enam itu yang mungkin

ada didekat Anda-anda saat ini. Sekian dari wasiat saya.

Terima kasih. Terima kasih saya ucapkan untuk semuanya.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.’ Terlihat

Pak Zakaria membubuhkan tanda tangan pada selembar

kertas yang kemudian diserahkan pada kuasa hukum dan

saksi untuk ditanda tangani juga.

“Subhanallah.. apa ini benar?? Apa ini nyata?

Alhamdulillah, Yaa Allah..” kata Luthfi dalam hati. Ia pun

mendapat ucapan selamat dari orang-orang di dekatnya.

Pak Yusuf, selaku kuasa hukum Pak Zakaria. Ia bacakan

surat wasiat itu kembali dan memperlihatkan yang ada di

sana. Kemudian ia berkata, “Inilah surat wasiat itu dan ini sah.

Untuk Luthfi, silakan ke depan.” Pak Yusuf menyalaminya dan

ucap selamat padanya, “Selamat Luthfi, selamat..”

Pada hari setelah acara selesai, Luthfikri menuju kantor

Pak Yusuf bersama Pak Yusuf tentunya, sedang Vespa yang

dibawanya saat itu telah diambil temannya.

Di tengah perjalanan Luthfi berkata, “Pak, bisa berhenti

dulu di depan sana?”

“Ohh, boleh.. Ada apa?” tanya Pak Yusuf.

“Cuman mau potong rambut, udah nggak enak gini.”

81

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Mm.. gitu.. boleh.. boleh.. berhenti di mana?” tanya Pak

Yusuf lagi.

“Di depan.. dikit lagi tu.. ‘Pangkas Rambut Edun’ ... tu”

“Kenapa nggak di salon saja potong rambutnya, di dekat

kantor ada tuu, sekalian saja di sana.”

“Di sini aja, Pak. Sekalian silaturrahim sama teman saya.

Yang punyanya memang teman saya sih..”

“Ohh.. teman Anda..”

“Jadi, berhentinya di sini aja?” kata Pak sopir.

“Yap, Pak, berenti di sini,” ucap Luthfikri. Ia keluar dari

mobil berwarna hitam itu, lalu berkata pada yang berada di

dalam, “Pak, mungkin saya agak lama, nanti saya menyusul

saja ke kantor bapak.”

“Kamu bisa nyetir?”

“kebetulan bisa, Pak. Namun belum begitu mahir.”

“Kalo gitu, saya ke kantor duluan. Ditunggu yaa..”

“Iya, Pak. Ei..yaa.. alamat kantor Bapak? Sampai lupa

saya.”

“Ini, Anda jangan naik taksi atau naik angkutan umum

dulu. Nanti ada mobil silver kok yang jemput ke sini, tungguin

saja masih di belakang dalam perjalanan,” ucap Pak Yusuf

sambil memberikan kartu namanya.

“Owh, iya Pak..”

“Begitu saja yaa, kami berangkat.”

“Iya Pak..” ucap Luthfi, lalu ia melangkah ke dalam

sebuah bangunan. Ia disambut oleh temannya itu.

“Heyy kawan, udah lama tak berkunjung,” ucap Hamdan,

pemilik tempat potong rambut itu.

“Iyaa nih, udah hampir dua bulanan ya agak ketemu..

Gimana kabarnya, Bang?”

“Baik.. Alhamdulillah.. kamu juga bagaimana? Adikmu

baik juga?”

“Yaa.. samalah kayak yang dibilang Abang tadi, baik

Alhamdulillah. Langsung sajalah, Bang.”

“Okelah.. Mau diapain nih modelnya, yang biasa?”

“Iyalah, seperti biasa..”

82

dzyemtri.muharram@gmail.com

Tanpa banyak tanya lagi sang pencukur rambut itu mulai

memotong helai demi helai rambutnya yang hitam. Setelah 15

menit, akhirnya selesai juga.

“Makasih Boss.. Ini..” kata Luthfi memberikan semua

uang yang ada di dompetnya, sisa gajinya yang masih ada.

Tiga lembar uang seratus ribuan ia berikan.

“Lah.. kok, ini apaan? Gak ada kembalian,” ucap Hamdan

memberikan kembali uang itu.

“Terima saja, Kang. Alhamdulillah saya dapat rezeki

lebih.. Mari Kang, Assalamu’alaikum..” ucap Luthfi yang

kemudian pergi keluar.

“Wassalamu’alaikum.. ehh.. Wa’alaikumsalam..” ucap

Hamdan yang masih terdiam.

Saat keluar dari tempat itu, Luthfi disambut sebuah mobil

silver yang sedari tadi menungguinya.

“... Pak Luthfi?” tanya orang di dekat mobil itu.

“Iya.. saya sendiri..”

“Silakan masuk, Pak..” ucap Pak sopir lagi. Luthfi masuk

ke mobil itu yang kemudian melaju menuju kantor dimana Pak

Yusuf sedang menunggu dirinya.

Tibalah Luthfikri di kantor Pak Yusuf. Dengan diantar

seorang karyawati, ia langsung menemui Pak Yusuf di

ruangannya.

“Luthfi, silakan.. masuk saja.”

“Maaf, Pak. Nunggu lama yaa?” ucap Luthfi.

“Ah nggak apa-apa. Silakan duduk.”

Pembicaraan pun berlanjut ke hal yang lebih serius.

Tiba-tiba Nindya datang ke kantor Ayahnya itu.

“Ayah ada?” tanya Nindya pada salah seorang yang

berada di halaman kantor.

“Ada, ada.. baru saja tiba.”

“Makasih Mbak..” ucap Nindya langsung pergi menemui

ayahnya.

83

dzyemtri.muharram@gmail.com

Tukk.. tuk.. tuk.. pintu di ketuk.

“Masuk..” ucap Pak Yusuf.

“... Ehh putri ayah..” ucapnya lagi.

Luthfi belum meliriknya, ia disibukkan dengan membacabaca

dokumen penting dihadapannya.

“Ada apa?!”

“Mmm.. nanti malem bisa makan malam bersama kan,

Yah?”

“Insya Allah bisa, emangnya ada apa, tumben nih?”

“Ada seseorang yang ingin dikenalkan ke Ayah.”

“Siapa??” tanya Pak Yusuf.

“Fikri itu, Yah.”

“Ohh, boleh.. nanti malam yaa?”

“Yap..”

Saat Nindya ucap nama Fikri, Luthfikri berhenti membaca

dokumen-dokumen itu, lalu ia menoleh ke belakang, ke arah

sumber suara itu.

“Hah.. Nindya..!!” ucap Luthfi.

“Mm.. kok.. Fikri, Kak Luthfikri..?! kok di sini?”

“Ohh.. jadi Fikri ini toh yang mau Dya kenalin ke ayah

itu?” ucap Pak Yusuf.

“Iyaa.. Kak Luthfikri. Ihh.. jadi maluu, ternyata orang

diomongin ada di hadapan. Nggak nyangka, habis beda sihh.

Hehee.. he..”

“Hmm.. ngapain malu..” ucap Pak Yusuf.

Lanjutlah obrolan mereka hingga panjang bayangan tiang

bendera yang berdiri di depan kantornya yang tersinari cahaya

sang surya menuju senja, bayangan itu setara dengan tinggi

tiang sebenarnya.

-¤¤¤-

Ketika restu telah Luthfi dan Nindya kantongi, seminggu

kemudian, mereka bertunangan. Beberapa bulan setelah itu,

saat Nindya selesaikan kuliahnya dapatkan gelar sarjana,

mereka pun akhirnya menikah.

84

dzyemtri.muharram@gmail.com

Resepsi pernikahan mereka dihadiri teman-temannya,

teman Nindya juga Luthfikri. Hadirlah di sana, diantaranya

Mentari, Angga, Chyta dan Prima. Ketika Angga bersalaman

dengan Ayah Nindya, ia berkata, “Om, ternyata Om itu

seorang lawyer juga yaa?”

“Hmm.. Iya.. Do’ain saja Dek. Semoga menjadi seorang

lawyer yang Al-Hakim.” Bisik Om Yusuf.

“Tari.. Chyta..” sapa Nindya.

“Dya, bulan depan kami akan menyusul kamu,” ucap Tari

sambil menggaet tangan Anggara.

“Salamat yaa!”

“Baguslah..” ucap Chyta yang memang sudah menikah

dari dulu.

“Selamet yaa, Dya.” ucap Prima yang membawa

tunangannya.

“Ini siapa? Saudara kamu?” tanya Nindya pada Prima.

“Bukan. Ini Tunanganku,” jawab Prima.

“Kok nggak bilang-bilang siy?”

“Nikahnya kapan Niyy??” tanya Chita.

“Mungkin May,” kata Prima.

“Maybe yes maybe no. Maksud loe.” kata Angga.

“Beneran..” kata Prima meyakinkan.

Luthfi hanya tersenyum menyaksikan obrolan mereka.

Tak lupa hadir juga sahabat-sahabat Luthfi, mulai dari

teman kerjanya saat di toko buku, sang tukang cukur rambut,

sampai Geo dan Narto.

“Hey.. selamet menempuh hidup baru aja, Sob,” kata

Narto.

“Hmm.. nikah juga Loe akhirnya,” ucap Geo.

Di sana ada pula Sandy dan Fan yag menyanyikan lagu

menyambut para tamu, penambah kebahagiaan mereka.

Sesaat sebelum resepsi pernikahaan itu usai. Luthfi dan

Nindya bersanding bagai Prince dan Princes. Rasanya

kebahagiaan hanyalah milik mereka berdua saja. Luthfi kecup

85

dzyemtri.muharram@gmail.com

kening Nindya dengan berjuta cinta. “Mm.. Maaf kukecup

keningmu untuk yang kedua kali [pertama setelah akad nikah,

Red], maafkan aku. Akankah kau berikan maaf itu pada diriku,

wahai istriku?” ucap Luthfikri dengan nada lembut.

“Hmm.. sayangnya saat ini aku tak bisa memaafkanmu,

wahai suamiku. Mengapa kau ucap maaf itu?? Kata maaf yang

tak seharusnya kau ucap karena mencintaiku,” kata Nindya,

“Mmm, begitukah?! Jadi, tiada maaf nih??” hhee, maafin

yaa.. ya.. yaaa..”

“Nggak ahh..”

“Please.. tuan putri.”

“Iya dehh aku maafin, ada da ajah ihh..” seraya mencubit

suaminya itu.

“Auww.. Idiihhh.. malah cubit-cubit lagi.. hmm.. aku

balas hayoow..!!”

-¤¤¤-

Empat tahun kemudian, mungkin jauh, mungkin juga

dekat, di jagat maya sana, di sebuah situs komunitas ‘KP Open

Source Project’ dipublikasikanlah sebuah software hasil dari

pengembangan ‘k0rupt0r Perish’ sebuah k0rupt0r cleaner itu.

software itu dirilis dengan nama baru yaitu ‘KPK’ [Kami

Pelindung Komputer]. Nama ini berdasarkan kesepakatan para

anggotanya, karena software ini bukan lagi hanya sekedar

k0rupt0r cleaner saja, namun juga tool-tool yang berguna

terkandung didalamnya. Disamping itu, penamaan software ini

dimaksudkan untuk mengingatkan sekaligus ikut mensupport

sebuah lembaga yang bergerak dalam pemberantasan korupsi

di negeri kita tercinta, Indonesia. Tau kan?! Pastinya taulah..!!

Di situs itu pula Luthfikri ucapkan terima kasih buat

semua orang atas partisipasinya. Juga tentu buat Haris

sebagai penggagas awal terciptanya software itu.

Luthfi terdiam menatap postingan-postingan di forumnya,

seraya ia tersenyum dan ikut nimbrung.

86

dzyemtri.muharram@gmail.com

Jauh di balik layar monitor yang ditatapnya, ada seorang

remaja yang masuk dalam forum itu juga, menggunakan

Mozilla Firefox, browser favoritnya sebagai perambah alam

maya. Tak lupa remaja itu pun membuka situs jejaring sosial

yang kini digandrungi berjuta-juta pengguna, apalagi kalau

bukan, si Facebook dan Twitter. Ia lihat sana sini update-an

status kawan-kawan yang ada di friend list-nya, sejenak ikut

mengomentarinya sambil mendownload sebuah file ISO salah

satu Distro Linux yang memang dibutuhkannya untuk bahan

pembelajaran.

Setelah kelar mendownload, beberapa saat kemudian ia

pun logout dan keluar dari warnet Never Out, membetulkan

celananya yang agak melorot, sebelum pergi naik angkot.

Sempat-sempatnya ia update status dalam angkot lewat

BB [baca: bukan Bau Badan] yang lumayan erat ada dalam

genggamannya. ‘Tadi abis dari Never Out, sekarang lagi di

angkout.. :P Gue mau menuju Mosque.. :) Tungguin kawan,

bentar lagi gue nyempe, ntar gue beliin tape sama tempe..

biar nanti kite makan rame-rame.. hehehee.. :D’ begitulah

update-annya, lumayan menarik.

Kemudian ia masukkan BB itu ke saku bajunya, dan tibatiba

saja smart phone-nya itu berdering, terdengar nyaring

lantunan suara Adzan. Sontak saja penumpang lainnya pada

keheranan, “Lho, udah adzan lagi toh?!” ucap salah seorang

bapak-bapak penumpang angkot itu seraya melihat jam

tangan miliknya. “Lha, kan baru jam sebelas siang. Belum

waktunya kan? Masa udah Adzan Dzuhur??”

“Iyaa.. yaa..?! ngaco kali tuu ‘bebe’ Loe..” kata remaja

cantik yang berada di samping remaja itu, lalu berkata, “Ehh..

maaf.. maaf.. Jeng.. ini bukan Adzan biasa, ini nada dering

panggilan masuk saya,” kemudian menerima panggilan itu.

“...”

“Wassalamu’alaikum.. Iya nanti pas pukul satu lebihan

dikit, gue ke sana.. benerann.. iyaa.. yuuuw!!”

“...”

87

dzyemtri.muharram@gmail.com

Beberapa saat kemudian setelah itu Adzan kembali

berkumandang dari BB-nya, kata remaja itu, “Naah ini baru

adzan yang sebenarnya tanda waktu dzuhur tiba.” Disambung

kumandang adzan dari mesjid.

Di dekat sebuah mesjid, angkot berhenti. Remaja tampan

itu turun diikuti seorang remaja cantik.

“Kamu di sini juga?” tanya remaja cowok itu.

“Iyya.. Mm.. Ini Pak..” ucap cewek itu hendak berikan

uang. “Udah dari aku aja sekalian.”

“Tapii..”

“Udah.. nggak apa-apa..”

“Makasih dehh..”

“Yap. ... Ini Pak,” kata remaja cowok itu meberikan

ongkosnya pada Pak sopir.

Sambil jalan, mereka ngobrol sebentar, biasa obrolan

anak remaja. Diawali tukaran nomor handphone sampe nanya

udah punya pacar ato belum segala. Sesampai di pintu

halaman mesjid, mereka pun berpisah, lalu remaja cowok itu

berjalan menuju samping mesjid, sejenak mengambil air

wudhu, bersiap untuk melaksanakan shalat fardu, shalat

dzuhur saat itu.

-¤¤-¤¤-

Selesai juga Aldy membaca cerita itu. Pada akhirnya, di

halaman terakhir ia temukan juga data mengenai Kak Rama

alias Kak Zik, yang sekaligus penulis cerita yang kini selesai

dibacanya. Namun sayang, tak ada nomor telephone atau pun

handphone, yang ada hanya alamat rumah dan e-mail saja.

Aldy langsung memberi tau kakaknya tentang hal

tersebut.

“Kak, ini Kak ada, ketemu.”

“Mana.. manaa..” Aisycha langsung mem-print alamat

teresebut.

88

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Kak salin kan juga donk cerita ini ke komputer kita,”

pinta Aldy.

“Cerita apaan? Yang semalam?”

“Iya, ini, bikinan kak Rama, seru deh.”

Lalu Aisycha menyalinkan file cerita tersebut. Walau

hatinya sedikit nggak enak menyalin dokumen orang tanpa

sepengetahuan pemiliknya.

Aisycha yang sudah siap pergi ke sekolah, ia juga

menyalin tugas yang telah diketiknya kemarin sore ke dalam

flashdisk miliknya. Namun sayang, komputernya kini

terjangkiti virus yang bersumber dari flashdis-nya.

“Yah Dek, komputernya kena virus, aduhh..!! Padahal

kemarin nggak kok, mmh bisa jadi..!!” Aisycha mengingatingat

bahwa flashdisk-nya sempat dipinjam oleh temannya,

dan ini pasti karena itulah yang menyebabkan komputernya

kini bersarang virus.

“FD punya kak Zik kena juga lagi, waduwhh,” Aisycha

tambah bingung mesti gimana.

“Yah kakak..!!”

“Adik, nanti berikan flashdisk kak Zik yah. Kakak

berangkat sekolah dulu, nanti kesiangan lagi. Kalau adik

nggak tau alamatnya, minta dianter sama ayah saja, yaa.”

“Iya, Kak.”

“Sekalian bilangin, maaf flashdisk-nya kena virus gitu

yah. Jangan lupa.”

“Iyaa,” jawab Aldy sambil mengangguk.

Kebetulan pagi itu ada teman sekolah Aldy yang datang

ke rumah, ngajakin main. Dan sekalian saja ia berikan

flashdisk itu dengan ditemani bersama temannya yang

memang tahu di mana alamat kak Rama itu, jadi tak usah

diantar ayahnya segala. Ayahnya pun mengizinkannya.

Kemudian pergilah mereka ke rumah kak Rama untuk

mengembalikan flashdisk tersebut.

Sesampai di depan rumah Rama, mereka bertemu

dengan Mang Dadang dan menanyakan maksud kedatangan

89

dzyemtri.muharram@gmail.com

adik-adik itu. Selanjutnya Mang Dadang mempersilakan masuk

dan segera memberitahu Rama.

“Den Rama, ada tamu tuh,” kata Mang Dadang.

“Siapa, Mang?” Oh adik, udah sembuh kakinya?!”

“Udah kak.”

“Ada apa yah, Dik?”

“Mmm.. cuman mau ngembalikan flashdisk kakak yang

tertinggal kemarin.”

“Oh iya, pantesan kakak cari cari gak ketemu, ternyata

ketinggalan di rumah Aldy yaa.. Akhirnya ketemu juga,

Alhamdulillah,” Rama girang.

“Kak..”

“Yaa Dik, kenapa?”

“Mmm.. maaf kak flashdisk-nya sudah Aldy buka dan

baca-baca isinya, termasuk cerita bikinan Kak Rama.”

“Ini kak,” ucap Aldy memberikan flashdisk-nya dengan

menunduk takut dimarahin.

Rama memandang mereka dengan penuh senyum, tak

nampak dalam raut wajah Rama maupun terlintas dalam

pikirnya untuk menegur apalagi memarahinya ketika ia

menyaksikan sebuah kejujuran, kepolosan pada face seorang

anak. Seraya berkata, “Baca cerita kakak yang judulnya itu ...

apa yaa?! Belum diberi judul deh kayaknya. Adik udah

menyalinnya?”

“Udah Kak, maaf,” lagi-lagi Aldy minta maaf.

“Nggak apa pa, Adik menjadi orang pertama yang

membacanya. Ini siapa teman adik?” Rama menanyakan yang

di sebelah Aldy yang diam saja dari tadi menyaksikan

pembicaraan Rama dan Aldy.

“Iyah.. namanya Ronee.”

“Dik Ronee udaah baca cerita kakak juga?”

“Belum, gak tau.”

“Di rumah ada komputer?”

“Ada punya ayah,” jawab Ronee.

“Adik mau, Kakak salinkan yaa buat adik.”

“... Boleh, Kak.”

90

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Eh Kak, iya nih sampe lupa. Kata Kak Icha, maaf

flashdisk-nya kena virus gitu deh.”

“Virus..?! that’s fine, kita tumpas dulu virusnya, hehee..”

Rama sedikit tertawa.

Aldy dan Ronee pun ikut tertawa.

Usai scanning virus, Rama menyalinkan cerita tersebut ke

sebuah cakram CD-R yang kemudian ia berikan kepada Ronee.

“Ini dek Ronee, ceritanya udah kakak salin, selamat

membaca yaa.”

“Makasih, Kak.”

Sesaat kemudian mereka berpamitan untuk pulang.

-¤¤¤-

“Aldy, main ke warnet yuk!!” ajak Ronee.

“Gak akh, mau ngapain coba.”

“Ayo lah.. cuman bentar kok,” ajak Ronee lagi sedikit

menyeret tangan Aldy. Dengan sedikit terpaksa Aldy menuruti

ajakan Ronee, mereka pun pergi menuju ke warnet.

Masuklah mereka ke warnet, Ronee duduk tegap di

hadapan monitor sedang Aldy berada di sebelahnya.

“Mau nyari apaan?” tanya Aldy.

“Yaa apa aja..”

Entah di sengaja atau nggak Ronee membuka sebuah

situs yang memang ‘terlarang’.

“Ron, lihat tuh ada peringatan!” Aldy mengingatkan

Ronee untuk tidak membuka halaman tersebut sambil

menunjuk tulisan yang terpampang di dinding, di hadapannya.

:: TIDAK DIPERKENANKAN DAN TIDAK DIBENARKAN

MENGAKSES HALAMAN YANG MEMUAT KONTEN

PORNOGRAFI DAN KEKERASAN. JANGAN COBA-COBA,

BILA KAMU GAK MAU KENA JITAKK!!! :::

91

dzyemtri.muharram@gmail.com

Baru juga Aldy mengingatkan, di layar monitor muncul

pesan “SILAKAN TUTUP HALAMAN INI. JIKA TIDAK,

KOMPUTER ANDA AKAN DIMATIKAN SEGERA!”. Namun

Ronee tak mengindahkannya, ia tetap tak menutupnya.

Hingga dalam 5 detik setelah itu, akhirnya komputer pun mati

dan tak hanya komputer yang dipakai Ronee saja yang mati,

tapi juga seluruh komputer yang ada dalam jaringan,

terkecuali komputer server tentunya tetap menyala.

“Waduhh.. kok mati sih. Mati lampu gitu? Kan engga!!”

ucap pengguna komputer sebelah yang lagi asyik chat.

“Jiaah, masa gue kudu ngetik ulang?! Belom di save ...!!!

haeuuh..!!” kata user lain yang kesal bener.

“Hmm.. ini tu kayaknya ada yang ngakses situs ‘terlarang’

deh,” ucap user lainnya.

“Siapa yah?!” tanya penjaga warnet yang satu lagi.

“Mesti dijitak nigh..!!” kata user lain kesel.

Ronee dan Aldy pun panik. “Aldy, cepetan pulang yukk.!!”

ajak Ronee.

Mereka langsung saja cabut keluar dari warnet takut

ketahuan bahwa itu adalah ulahnya.

“Mungkin mereka tuh,” ucap pengguna yang tadi di

sebelah Ronee.

“Uuuh.. anak-anak nakal..!!”

“Heuuh ada-ada aja..”

-¤¤¤-

“Tuh kan kata aku juga,” ucap Aldy agak menyalahkan

Ronee.

“Iyaa.. maaf Aldy”

“Kita ke Kak Rama aja yuk!” ajak Aldy.

“Mau apa lagi, kan tadi udah?” tanya Ronee.

“... Oh iya, minta kak Rama buat benerin komputer.

Ayooo...!!” Aldy teringat akan komputernya yang kena virus

itu.

92

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Ayoo, kenapa gak dari tadi pas berikan flashdisk,

bilanginnya.”

“Yaa, tadi sih gak keingetan aja..”

Kebetulan mereka bertemu dengan Rama yang baru akan

keluar halaman rumah dengan motornya.

“Kak..!!” sapa Aldy.

“Yaa, Dik ada apa, ada yang tertinggal?” tanya Rama.

“Ahh nggak, mmm.. bisa benerin komputer Aldy gak,

Kak. Yang kena virus itu?”

“... Bisa dicoba, sekarang?”

“Iya Kak, soalnya mau dipake, itu juga kalo gak ganggu.”

“Ah nggak. Kalo gitu, ayo naik motor Kakak!” Rama tak

bisa menolaknya, walau sebenarnya ia ada urusan lain.

“Yah gagal lagi nih ke warnet-nya, tapi tak apalah. Moga

aja ada Aisycha, mmm.. Aisycha.” Walau begitu, hatinya tetap

berseri ketika menyebut nama Aisycha.

Dan mereka pergi menuju rumah Aldy.

Namun di perjalanan Ronee berkata, “Kak, Ronee gak

jadi ikut ke rumah Aldy. Soalnya gak bisa lama-lama nih,

bentar lagi akan pergi bareng keluarga. Anterin dulu ya, Kak!”

“Yaa boleh..”

“Yaahh, kok gak ikut..” keluh Aldy.

Motor pun membelokkan arah menuju rumah Ronee.

Usai mengantar Ronee pulang, sampailah mereka berdua

di rumah Aldy.

“Sampai jugaa,” ucap Aldy.

“Ayo Kak!”

“Yuk!!”

Mereka melangkah menuju depan pintu rumah.

“Tett..teett.tet..” bel berbunyi.

“Assalamu’alaikum, yaah, ayah,” ucap Aldy.

Kedatangan mereka disambut hangat oleh Pak Hijri,

ayahnya Aldy.

“Wa’alaikumsalam.. Ronee-nya ke mana Aldy?”

93

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Ronee gak ikut, udah pulang, Yah.”

“Ehh kayaknya pernah bertemu..” kata ayah Aldy sambil

menunjuk Rama.

“Eh, Om yang ketemu di mushola itu kan? Om Iji? Apa

kabar Om?” tanya Rama.

“Iya, Baik..” jawab ayah Aldy tersenyum.

“Ohh.. Jadi Om ini ayahnya Aldy toh?”

“... Nggak nyangka yaa, bisa bertemu lagi. Eeh, silakan

masuk,” katanya lagi.

Sambil berjalan, Aldy bertanya pada ayahnya itu, “Ayah

udah pernah bertemu kak Rama gitu?”

“Ya, Iya, Aldy..”

“Yah, kak Rama ini mau benerin komputer Aldy yang

kena virus.”

“Ohh begitu.. Eee.. mari silakan duduk!” ucap Pak Hijri

mempersilakan Rama duduk.

“Iya Om, makasih.”

“Aldy, bikinin air yaa, buat Kak Rama!” kata Pak Hijri.

“Beress, Yah!”

“Nak Rama Om tinggal dulu.”

“Iya Om..”

Kemudian Pak Hijri beranjak dari tempat duduk dan

menuju ke kamarnya. Sebelumnya Pak Hijri bertanya pada

putranya, “Aldy udah Dzuhur?”

“Belum..” jawab Aldy.

“Kak Rama udah Dzuhur?” ucap Aldy lagi malah bertanya

pada Kak Rama, sambil ia menyajikan minum.

“Udah donk, dek.” Rama tersenyum.

“Aldy, Dzuhur dulu ah,” ucap Aldy sumringah.

Menunggu Aldy selesai Sholat Dzuhur, ayahnya siap-siap

buat berangkat.

“Nak Rama, Om nggak bisa nemenin lama nih. Om

bentar lagi mesti berangkat. Mau ngajar kursus dulu.”

“Ya Om..”

94

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Nanti ada Aisycha, putri Om. Sebentar lagi pulang kok.”

“Oh iya. Mmm.. Om ngajar kursus Bahasa Inggris ya?”

“Kok tahu?”

“Mmm.. Kelihatan aja tadi Om bawa buku materi

English,” ucap Rama teringat Pak Hijri yang tadi pemegang

buku, ketika di teras depan.

“Memang benar, Om ngajar Bahasa Inggris. Tadinya Om

ngajar di Bandung, namun Om ditarik buat mengajar di

Jakarta, baru kemarin itu juga, dua hari setelah pindahan dan

kebetulan hari ini ngajar siang.”

“Oooh...”

Tiba-tiba saja,“Assalamu’alaikum..” pintu depan terbuka.

Ternyata dibukakan oleh Aisycha yang sudah pulang dari

sekolah.

“Wa’alaikumsalam..” jawab yang di dalam rumah.

Si Adik muncul seusai Sholat Dzuhur, “Tuh kakak udah

pulang.”

Ayahnya menghampiri ke depan.

“Ayah belum berangkat?” tanya Aisycha.

“Baru mau berangkat” jawab ayahnya.

“Ada tamu, Kak,” ucap Aldy cengengesan.

“Iya, ada tamu tuh,” ayahnya menambahkan.

“Siapa..” tanya Aisycha.

“Yang kemareen..” ucap si adik sedikit mengangkat

alisnya.

“Siapaaa...??” tanya Aisycha lagi tambah penasaran.

“Ada dehh..” jawab si adik menahan tawanya.

Sambil mengambil tas, ayahnya berpesan kepada

mereka.

“Ya udah, ayah berangkat dulu, baik-baik di rumah yaa.”

“Iya Ayah,” jawab mereka berdua sambil salaman.

“Nak Rama ditinggal dulu, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab semuanya.

95

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Hahh, Kak Rama?! Kok bisa? Ada apa yaa?!” ucap

Aisycha agak dipelankan.

“Kenapa Kak, kaget gitu, kangeen yaa?” bisik si adik yang

senyam-senyum gak jelas, ngeledek.

Aisycha menghampiri tamunya, Rama.

“Eh Kak Zik, udah lama?” tanyanya sambil tersenyum.

“Nggak kok baru bentar...” jawab Rama membalas

senyumannya.

“Ayo Kak, benerin komputernya,” ajak si adik pada Rama,

udah gak sabaran.

“Aku tinggal dulu yaa..” Aisycha beranjak ke kamarnya,

meninggalkan mereka berdua berkomputer ria.

Aisycha kembali dan menghampiri mereka yang lagi asyik

melihat-lihat program apa saja yang terpasang.

“Komputernya belum di pasang Antivirus yaa, Cha?”

tanya Rama, membuka pembicaraan dengan Aisycha.

“Iya tuu.. belum sempat.”

Untungnya Rama selalu menyimpan sebagian master

program [baca: installer] dan juga aplikasi-aplikasi portable

yang sering dibutuhkan dalam kondisi darurat seperti ini. Baik

antivirus maupun tools lainnya.

Lalu Rama memulai memasang antivirus, yang memang

masih bisa dilakukan walau komputer dalam kondisi terjangkiti

virus untuk kasus komputer yang ia tangani ini.

“Lihat ni dek, kita basmi virus-virus nakalnya.”

“Mana kak?” si adik khusyuk banget liatinnya.

“Tuh. Karena ini virus lokal, kita bisa gunakan antivirus

lokal juga, ampuh kok,” tegas Rama.

“Virus lokal, Kak?!” tanya Aldy.

“Iyaa, virus dan antivirus lokal, made in Indonesia. Kita

bisa gunakan antivirus PC Media Antivirus, SmadAV, Ansav,

atau yang lainnya.”

“Awas Kak, nanti flashdisk kakak kena virus lagi, kayak

kemarin,” ucap Aisycha.

96

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Gak apa-apa, don’t worry..!! flashdisk-nya sih pasti kena

virus, tapi tak apa. Kita masih bisa kok menjelajah isinya

walaupun folder maupun file sengaja dijadikan tersembunyi

oleh virus,” tegas Rama lagi.

“Tuh Dek, ... seru kan kalo virusnya kena!”

“Iya, seruuw juga.”

“Tapi nggak seru kalo terkena virusnya mah. Gimana ya

biar gak bisa kena virus selamanya?” ucap Aisycha.

“Hehee... Ya yang terpenting itu hati-hati saja, instal

antivirus yang ter-update. Kalo gak mau kena lagi sama virus,

cara terampuhnya beralih sistem operasi saja. Gunakan saja

Linux atau cobain komputer Mac buatan Apple yang harganya

agak ‘wah’ bagi kebanyakan orang.

“Ini komputernya udah clean dari virus. Flashdisk kamu

di-scan sekalian aja coba, pasti masih ada virus-nya tuh.”

“Iya, ini Kak.”

“Mmm.. beres juga akhirnya..”

“Horeeey..” ucap Aldy girang.

“Oh ya Cha, pasang internet nggak?”

“Nggak Kak, belum.. mangnya kenapa gitu?” tanya

Aisycha.

“Ahh, nggaa.. Kalo ada sih, mau sekalian nebeng buat

upload file.. hahaa..”

“Heuheuu.. ada-da aja nie..”

“Karena semuanya sudah beres, kakak pergi pulang yah.

Sekalian mau ke warnet dulu. Gak apa-apa kan dek?” ucap

Rama.

“Yaa, Kakak.. baru aja bentar.”

“Nanti deh kapan-kapan kakak mampir maen lagi ke sini.”

“Yaa, deh kalo begitu,” kata Aldy.

“Eh, sampai lupa flashdisknya,” ucap Rama.

“Ini Kak,” ucap si adik memberikan flashdisk, namun

entah yang mana yang diberikannya pada kak Rama, soalnya

flashdisk-nya sama persis.

97

dzyemtri.muharram@gmail.com

-¤¤¤-

Beberapa saat kemudian Rama pergi dengan motornya

menuju ke warnet.

Sesampai di sana, pada waktu Rama hendak membuka

flashdisk itu untuk meng-upload file. Terdapat sebuah

kejanggalan.

“Wah, mana filenya kok gak ada di UFD gue, tadi kan

ada?!” Rama sempat kaget.

Setelah ia lihat-lihat isi flashdisk-nya, ia tersadar bahwa

flashdisk-nya tertukar dengan flashdisk punya Aisycha. Namun

ia tertarik juga untuk membuka sebagian file milik Aisycha

yang kini ada di genggamannya.

Lalu ia buka sebuah file yang namanya ‘Sepintas Dalam

Hatiku’

“Weisss, kayaknya seru nih. Sepertinya berbicara tentang

cinta, hahaa. Baca ahh,” ucap Rama dalam hati kecilnya.

Ia mulai membacanya dan kaget, sungguh.

“Lah.. ini tulisan kok tentang diriku ini.” Ia membacanya

terus dan terus.

“Hampa hati ini tak terasa saat

kubertemu tak sengaja dengan sesosok

pria baik hatinya [mungkin, ku hanya

baru menduga]. Zikr Ramadhan, itulah

namanya, kupanggil ia dengan sebuah

nama: Zik, Kak Zik. Sebuah nama yang

buatku mengaguminya dan rasanya tak

hanya sekedar mengagumi saja. Apakah

kini di hatiku telah bersemayam rasa

cinta?? Entahlah.. Dirinya barusan

kukenal sepulang sekolah tadi,

terhitung sekitar tiga jam sebelum

kutulis catatan ini. ... ”

Begitulah sebagian isi dari catatan tersebut.

98

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Mmm.. bagus juga. Sekarang ku merasa yakin, Aisycha

adalah benar-benar cintaku. Hmm.. ternyata Aisycha juga

suka padaku.”

Lalu, Rama melihat-lihat lagi catatan yang lainnya. Dan

kini tak hanya itu saja yang ia ketahui, kini Rama lebih tahu,

tahu lebih tentang siapa Aisycha. Dengan membaca sebagian

catatannya, Rama jadi tahu bahwa Aisycha adalah putri

pertama yang di lahirkan dari rahim seorang ibu yang

bernama Citra Aisyah Nurul Fitri yang ternyata telah lama

meninggal.

“Ya Allah, pantesan saja, aku gak pernah lihat ibunya.

Dan ternyata namanya juga hampir sama yaa. ” lirih Rama.

“Yaa, jadi keasyikan gini baca catatan seseorang.”

“... Waduwhh, apa Icha baca tulisanku juga yaha?! Bisa

berabe nie.. Ah, kembalikan saja dulu ini flashdisk, siapa tahu

dia lagi membutuhkannya. Soal tulisan-tulisanku dibaca

olehnya atau nggak, itu urusan nanti.”

Rama keluar dari warnet tersebut, dan buru-buru pergi

ke rumah Aisycha.

-¤¤¤-

Di tempat lain, setelah Zikr Ramadhan pergi. Aisycha

merasa penasaran dengan sebuah cerita yang dibaca adiknya

semalam dan juga tadi pagi.

Sebelum Aisycha hendak membaca cerita itu. Ia

membuka-buka flashdisk yang dikira miliknya itu.

“Ihh, kok begini?! Ini mah bukan bukan flashdisk

punyaku. Jangan-jangan ketuker lagi,” ucap Aisycha.

Dan ia teringat akan catatannya di flashdisk miliknya itu,

“Aduh gawattt.. gimana kalo Kak Zik buka-buka fileku dan

baca-baca catatanku? Pastinya aku akan maluu bangedh..

hheuu.. Ku harus cepat-cepat menyusulnya, sebelum Kak Zik

membaca catatanku.” Ia panik.

99

dzyemtri.muharram@gmail.com

Namun, kepanikannya terhenti, ketika melihat sebuah file

dalam flashdisk tersebut, flashdisk yang dikira mikiknya itu.

File itu bernamakan ‘aisycha_citra_ramadhan.txt’.

“Kok nama aku siy?” kata hatinya heran. Ia lantas

membuka dan membacanya. Dan ternyata itu sebuah puisi.

rasa ini kan kupelihara

wajahnya masih tercitra di mataku

suaranya masih terngiang lembut

senyumnya masih kurasa indah

sungguh tiada tara

rasa ini kan kupelihara

takkan kubiarkan hilang begitu saja

hatiku hanyut bersama cinta di dada

kan kuberi cintaku hanya untuknya

apakah ada citanya untukku?

====================================

Puisi ini saia buat saat teringat

seseorang yang baru kukenal, ‘Aisycha

citra Ramadhan’ namanya.

Aisycha, wajahmu mengalihkan duniaku

[ngiklan dikit :D]. Sungguh, mungkin

engkaulah cinta sejatiku yang telah

lama kucari itu ^^

Puisi itu dibuat Rama sesudah ia dan teman-temannya

selesai memperbaiki komputernya, yang kamudian ia salin ke

flashdisk miliknya setelah ditemukan [dikembalikan oleh Aldy,

adik Aisycha itu].

Aisycha tersenyum membacanya.

“Ya Allah, kok begini, kok begitu sih? Apa ini cintaku yang

sesungguhnya?! ... Kembalikan saja lah, Kak Zik pasti sangat

membutuhkan flashdisk ini. ... Pura-pura aja nggak tau.”

100

dzyemtri.muharram@gmail.com

Aisycha keluar rumah dengan maksud untuk mengembalikan

flashdisk tersebut.

“Yaahhh.. motornya dipake si ayah lagi.” Dengan

terpaksa Aisycha berjalan kaki. Baru saja melewati tiga rumah

dari rumahnya Aisycha berpapasan dengan Rama. Rama

langsung menghentikan laju motornya, dan menyapa Aisycha.

“Icha, mau ke mana? Pasti karena ini kan?” sapa Rama

sambil mengacungkan flashdisk.

“Iyah, flashdisk-nya ketuker. Ini kak.” Aisycha tak banyak

basa-basi.

“Mmm... sekalian tukeran nomer HP yaa? Bolehkan?”

“Hm, boleh. Nomor Kakak berapa?” ucap Aisycha.

“0857 24 011 330 udah..” sebut Rama.

Aisycha mencatatnya dan langsung me-misscall-nya.

“Yap, udah,” ucap Rama menyimpan nomor Aisycha.

“Dan ...”

“Dan apaa?” tanya Aisycha.

“Ada satu lagi yang ingin kukatakan sebenarnya,” ucap

Rama.

“Apa Kak?” tanya Aisycha lagi.

“... Gimana kalo kita tukeran cinta?”

Aisycha terdiam sesaat dan berkata, “Iiihh, tukeran cinta

apaan??”

“Masa nggak ngerti?” tanya Rama.

Kayaknya Aisycha tau bahwa Rama telah membaca

catatannya itu.

“Kak Zik dah baca catatanku yah?!”

“Nggak kok..” Rama ngeles seraya tersenyum.

“Jangan boong, hayoo.. ngaku ajaa..”

“Iyaa, Aku ngaku deh, emang siy sempet baca. maaf

yaahh. Dimaafin nggak??.”

“Pasti aku maafin. Mmm, aku juga, baca-baca puisi

Kakak. Maafin juga yaa!!” kata Aisycha agak tertunduk malu.

“Hmm.. Maaf..” keduanya berucap demikian bersamaan.

101

dzyemtri.muharram@gmail.com

Tak lama kemudian, “Kamu terlihat lebih indah dan

berseri..” ucapan itu keluar begitu saja dari lisan Rama

perbawa perasaan hati yang sebenarnya. Spontan saja

Aisycha sedikit memalingkan wajah manisnya.

“Cha, Mau ke rumah kan?” tanya Rama meng-clear-kan

suasana. Sedang Aisycha hanya menganguk seraya tersenyum

hangat.

“Mari kuantar tuan putri!” ucap Rama.

“Mariii..!!” ucap Aisycha.

Dalam perjalanan menuju rumahnya, Rama mengisinya

dengan obrolan bersama Aisycha.

“Kamu punya Facebook?!” Rama memulai pembicaraan di

perjalanan pulang.

“Pastilaah..!”

“Tambahkan aku yah..”

“Mmm.. boleehhh.. e-mail-nya apa?? tanya Aisycha.

“Aduh lupa lagi.. Coba nanti liat di e-book yang adik

kamu baca itu, pasti ada..” ucap Rama hendak merogoh

handphone miliknya, namun ia urungkan. Ia sadar ia sedang

berkendara.

“Memang ada sih..” ucap Aisycha.

“Owh.. udah di baca yah..”

“Iyaa..”

“Jangan lupa add lho??”

“Iyaa.. Nanti aku add deh..”

Tak lama dari itu, lantas Rama bertanya kembali dengan

pertanyaan yang persis sama saat bertukar nomor handphone.

“Kamu mau kan tukeran cinta denganku??” tanya Rama.

“Ihh.. pertanyaan itu lagi... Mmm... gimana yah..?” ucap

Aisycha gak nyangka mau nanya seperti itu lagi.

“Gimana.. gimanaa???” ucap Rama memanjangkan lafal

‘a’ agak lama di akhir ucapannya.

“Mmm..m nanti aku jawab via Facebook sajahh,” jawab

Aisycha yang pipinya nampak memerah.

102

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Yaa kelamaan dong.. Kan belom ditambahin..? Add

sekarang ajaa.. lewat HP.. hehee..”

“Nantiii.. ajaaa... nggak sabaran banget siy.. gak baik tau

berkendara sambil mainin handphone,” ucap Aisycha

tersenyum gemas. “Iyaa nanti aku add kalo udah nyampe

rumah.. Tapi confirm yah,, awas kalo nggak di confirm..!!”

tambahnya lagi mengancam.

“Yaa pastilah.. di-confirm oleh si akuw..” ucap Rama kian

akrab.

“Facebook kamu sesuai nama asli kamu kan?” tanya

Rama lagi.

“... Ehh.. awass itu banyak paku.!” seru Aisycha. Rama

langsung membelokkan sedikit arah motornya untuk

menghindari paku-paku yang bertebaran.

“Iyaa.. Facebook punyaku pake nama asli kok..”

sambungnya.

“Oke deehh.. siipp lah..” ucap Rama sambil

memperlambat laju sepeda motornya.

Tinggal beberapa meter lagi menuju halaman rumah

Aisycha, tiba-tiba saja tetangga rumah Aisycha yang sedang

menyebor tanaman tak sengaja menyemprotkan airnya

kepada mereka. Rama dan Aisycha jadinya kecipratan air juga,

tak hanya tanaman saja.

-¤¤-¤¤-

Awan mimpi kini menghilang, seiring dengan semburan

air yang datang.

Byurrr... air kran mengalir dalam lorong-lorong selang

menyembur ke muka pemuda itu yang lagi enak tidur

menjelejah mimpi.

“Woy, bangun udah siang Loe. Gak malu Loe ma

mentari ..., susah banget sih dibangunin!!” celoteh salah

seorang temannya yang memang belum terlihat jelas rupanya

siapa. Ternyata itu Ricky dan Pak Satpam yang tersenyum

103

dzyemtri.muharram@gmail.com

sambil memegang selang air. Pemuda ini tak kaget lagi, apa

lagi buat marah-marah pada mereka. Hal seperti ini mah

sudah biasa dan ini untuk yang kelima kalinya dia diguyur

kayak gini, waktu dulu empat kali dan sekarang satu kali mulai

lagi.

“Buruan mandi,” kata Pak Satpam sambil menepuk

pundaknya.

Pas banget ketika mereka keluar, temannya yang satu

lagi masuk. Kelihatannya sih usai dari Mushola habis Sholat

Dhuha kayaknya.

“Hey cuy napa Loe?! Basah kuyup kayak gini. Udah

renang di mana? Atau atap pada bocor ya?” Dengan akrabnya

Dik Halim menyapa pagi pertamanya di tempat ini, untuk kali

kedua. Memang dulu sempat di sini.

“Eh, Im..!!” Begitu ia biasa panggil temannya tersebut.

“Iya nih, diguyur air bah,” tambahnya seraya tersenyum.

“Eh, entar besok-besok ajak-ajak gue bangun pagi, biar

gak ketinggalan sholat lagi, kalo gak bangun-bangun guyur

aja kayak tadi..”

Dik Halim hanya tersenyum mendengar ucapan temannya

tersebut. Seraya meng-iya-kan.

“Iyaa, berresss..”

“Gue mandi dulu, entar gue ceritain kenapa gue balik lagi

ke sini,” ucapnya. Memang kemarin pas ia datang belum

sempat cerita ini itu.

“Yoii.. buruan sana..” ucap Dik Halim.

Pergilah ia menuju kamar mandi dengan handuk di

pundaknya, sambil mengingat-ingat mimpi semalam.

15 menit berlalu, ia pun muncul dan berpakaian rapi.

“Cerah juga ya hari ini.” Dik Halim memulai pembicaraan

dan memandang keluar kaca jendela.

“Iya..” jawab pemuda itu, teman Dik Halim.

“Katanya Loe mau cerita.” Dik Halim mengingatkan.

“Oh iya. Bentar..” Ia melangkah mendekat kaca jendela.

Menghela nafas sejenak, mengumpulkan tenaga tuk berbicara.

104

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Hmm.. Sebenarnya gue ke sini lagi tu bukan karena gue

kambuh lagi, Im. Tapi lebih ke belum siap aja, gue butuh

ketenangan. Udah seminggu sepulang dari dini rasanya

mental gue belum cukup siap. Masih ada rasa ketakutan

terjerumus lagi ke dunia kelam. Hidup dengan Narkoba dan

tak menentu. Apa lagi teman gue yang suka nge-drug sering

ngajakin gue buat pake lagi.”

“Oo, gitu ...” ucap Dik Halim singkat, tak berkata panjang

lebar. “Sebenarnya gue kepingin di sini terus seperti Loe,

ngurusin anak-anak yang lain yang membutuhkan.”

“Yah jangan gitu, Loe masih punya keluarga, saudara,

mereka masih ngebutuhin Loe. Sedang gue udah gak punya

siapa-siapa.”

“Bener juga sih..”

Sejenak keduanya terdiam menatap langit biru.

“Eh Im. Loe bisa temenin gue ke rumah buat berikan

buku untuk ponakan gue yang hari ini ulang tahun, mumpung

cuaca cerah nih.”

“Bisa-bisa.., Bro. Sekaraang juga?”

“Bentar lagi dah, ... seusai makan.”

“Wokayy.. entar gue tunggu di depan,” ucap Dik Halim.

Beberapa saat kemudian. Pemuda ini pun muncul seraya

berkata.

“Yoi, berangkaaatt..!!” ajak pemuda itu.

“Yoo...!!”

Motor dihidupkan, mereka pun meluncur menjauh dari

halaman menyusuri jalan-jalan kota yang lumayan kotor dan

macet juga terkadang tak aman.

Tiba-tiba saja dalam perjalanan ia melihat seseorang

yang sedang mengobrol di seberang jalan mengenakan t-shirt

bertuliskan “Gue Moslem, napa Gue gak Sholat..?!”

Hatinya terdiam sesaat, sambil terus mengingat-ingat

kata-kata tadi dan terus mengejanya dalam hati. Hatinya pun

tersentuh, dimana ia kerap lalai dalam hal sholat. Seraya

105

dzyemtri.muharram@gmail.com

membenarkan bahwa ia setuju dan sangat setuju dengan

kata-kata itu tadi.

“Gue Moslem, napa Gue gak Sholat..?!”

“I’m moslem. Kenapa gue tak Shalat..?!! Why..??

Kenapaa..?! Harusnya gue Shalat..!!”

“Dulu pernah lihat film ‘Kiamat Sudah Dekat’. Kiamat

sudah dekat, kiamat terus mendekat dan semakin dekat saja

rasanya, faktanya. Apa lagi kalo makin banyak orang yang

lalai dan tinggalkan Shalat, atau memang lupa-lupaan sudah

menjerat. Ya Allah, ampunilah diriku yang kerap tersesat.

Terimalah taubatku, ku teramat takut padaMu”

Sayup-sayup dari kejauhan kumandang adzan terdengar.

“Im, Shalat dulu yuk!” ajak pemuda itu mengagetkan Dik

Halim yang sedari tadi bengong.

“... Eeeh ... yuk-yuk, Shalat dulu,” jawabnya kaget.

Namun Dik Halim merasa heran, ada yang aneh dengan

temannya ini, “Tumben ni orang, biasanya juga gue yang

ngajakin.”

Terlepas dari rasa herannya Dik Halim dan pemuda itu

pergi menuju mesjid di pinggir jalan sana. Terus beranjak

mengambil air wudhu. Dan melaksanakan Shalat Dzuhur

berjamaah.

Seusai Shalat mereka melanjutkan kembali perjalanan.

Motor dihidupkan dan mulai menjauh dari mesjid. Beberapa

saat tak begitu jauh dari mesjid, ponsel berdering. Dik Halim

yang sedari tadi asyik memendangi jalan, seraya meraba-raba

kantung belakang celananya tuk mengambil dan menjawab

telpon yang masuk tentunya.

“Ada yang telpon yaa? Gue pinggirin dulu motornya”

Dik Halim pun cepat-cepat menjawab telpon tersebut,

yang ternyata dari panti. menyuruhnya tuk segera kembali,

ada sesuatu di sana yang membutuhkannya.

106

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Cuy, gue mesti ke panti dulu nih, darurat. Jadi gue gak

bisa terus nemein sampe rumah. Sorry uy..!!” Dik Halim

permisi mau ke panti dulu.

“Ooh.. gak apa-pa. Mau gue anterin ke pantinya?”

“Ah.. gak usah entar Loe telat lagi, gue naik bis aja. Yuk

ah.. gue tingal dulu..!” sambil mereka bersalaman.

“Yoi..!! Hati-hati..”

Dik Halim bergegas berlari menyebrang jalan menunggu

Bus Angkutan Kota yang datang.

Setelah Dik Halim tiba di seberang jalan.

“Cuuy..!! gue pergi..!!” sahut pemuda ini yang sudah siap

dengan motornya tuk lanjut kembali.

Baru beberapa belas meter, di pertigaan jalan nampak

mobil truk dengan kecepatan tinggi yang terlihat oleng.

Dengan cepat truk itu menghantam motornya hingga ia pun

terjatuh dan bersimbah darah. Ia tertabrak truk dengan plat

nomor yang sama persis seperti yang terlihat dalam

mimpinya. Ia tak sadarkan diri.

Dik Halim yang dari tadi menunggu bus dan memandangi

laju motor temannya mulai melangkahkan kakinya ke pintu

bus. Tiba-tiba saja dari dalam bus, salah seorang penumpang

berkata dengan nada tinggi, “Wah, itu ada kecelakaan..!!”

Saat itu juga ia hentikan langkahnya dan langsung berlari

ke arah kejadian itu, yang tak begitu jauh. Ia memang tak

tahu persis yang mengalami kecelakaan itu siapa, namun ia

khawatir itu adalah temannya.

Keadaan pun kembali ricuh. Truk yang menabrak motor

tadi berbalik buat kabur. Sial memang, truk itu pun menabrak

lagi sisi mobil yang sedang melaju di sebelahnya. Hingga

mobil itu tergelincir dan kemudian menabrak pohon pinggiran

jalan.

Setelah sampai di sana, ia kaget setengah mati.

Ternyata, dia, pengendara motor yang tertabrak truk itu yang

kini penuh dengan darah, memang temannya.

107

dzyemtri.muharram@gmail.com

“Innalillaahi..” Melihat kondisi temannya demikian, ia pun

panik, matanya sembab. Dik Halim bergegas membawanya ke

rumah sakit dengan dibantu orang-orang yang ada di tempat

kejadian.

Dik Halim langsung saja menghubungi keluarga pemuda

itu, memberitahukan kejadian tersebut. Dan juga menelpon

panti, bahwa ia tak bisa kembali ke sana sekarang, ia pun

menceritakan kejadian yang menimpa temannya.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un..”

Pemuda itu, sahabat Dik Halim, kini telah tiada.

Meninggalkan keluarga, teman dan lainnya. Tangis keluarga

tak tebendung lagi adanya.

Sesaat kemudian setelah pemuda itu dimandikan,

dikafani, dan disholatkan. Ia pun dimakamkan di daerah

dimana ia dilahirkan.

Di sana terlihat seorang pria yang juga ikut bersedih. Pria

itu adalah kakak dari pemuda yang kini meninggal itu.

Bersama cucuran air mata, masih ada dalam benaknya saat ia

bicara dengan adiknya waktu lalu.

“...”

“Kak..”

“Aku bukan kakakmu lagi..!!”

“Kakk..!! Jangan bicara begitu! Aku ini adikmu..!”

“Adikku bukan orang seperti itu, bukan orang seperti ini!

Yang hanya bisa... haahh!! Sudahlah..!!”

“Kak, aku butuh pertolonganmu..!”

“Uang?! Apa itu uang yang kau butuhkan?? Buat apa

lagi?! Ngedrugs lagi?!! ... Tak ada!!”

“Bukan. Bukan, Kak..! bukan itu!”

“Sudahlah..! Cukup..!! Pergi saja kamu dari sini!! Dari

rumah ini! Dan jangan coba-coba.. kembali lagi..!!” dengan

108

dzyemtri.muharram@gmail.com

geram yang teramat sangat, ia usir pemuda itu, yang memang

merupakan adiknya.

Setelah kakaknya berkata seperti itu, pemuda itu pun

bicara, “Baiklah..!! Okeyy..!!” sambil memalingkan wajah.

“Apa kakak lupa Islam itu indah??” lanjut pemuda itu menatap

tajam wajah kakaknya.

Kakaknya ini terdiam tak berkata lagi dan mulai mau

mendengarkan ucapan adiknya itu.

“Aku ingin rasakan keindahan itu, Kak! Kenyamanan

Islam itu bukanlah buat orang soleh, buat orang seperti kakak

saja kan?! Tapi juga untukku, untuk orang yang terjatuh ke

dalam kubangan dosa. Yang sedang, ingin, akan terus

berusaha menggapai cahaya??” ucap pemuda itu.

Kata-kata adiknya yang seperti itu meluluhkan hati sang

kakak untuk senantiasa mendampinginya, menuntunnya.

Pria itu meraih tanah kuburan dan menggenggamnya

erat, seakan belum bisa menerima kembali sebuah kehilangan.

“MmmH.. adikku..” ucapnya paraw.

Usai pemakaman ketika keluarganya dan temantemannya

masih berada disana. Dik Halim memegang erat

buku itu, buku yang hendak kan pemuda itu berikan kepada

keponakannya, yang judulnya ‘Belajar Mencintai Rasulullah’,

masih utuh tak tergores, tak terkotori. Ia lalu memberikan

buku tersebut kepada adik kecil, ponakan pemuda itu.

“Adik.., ini dari paman Adik, hadiah ulang tahun Adik,

katanya,” lirih Dik Halim dengan terbata-bata.

Lalu keponakan almarhum pemuda itu pun menengok

dan menerimanya.

“Teerimaa kassiih..” ucapnya tak nampak nada bahagia.

Kemudian ia berkata kepada ibunya yang berada di

sampingnya.

“Ibu.., ini dari paman, hadiah ulang tahun.., katanya..”

Air mata pun kembali menetes tak terbendung, menghujani

buku yang digenggamnya, buku yang kini telah diterimanya.

109

dzyemtri.muharram@gmail.com

-¤¤-¤¤-

Seiring bertemu titik di halaman terakhir, buku pun

tertutup oleh kedua tangan yang tadi membacanya,. Tiga

tetes air mata membasahi kelembutan pipinya, yang ia hapus

dengan jemari lentiknya.

Kemudian ia menyimpan kembali buku itu di tempatnya,

di lemari, di ruang tamu itu.

“Udah Kak bacanya??”

“Udah, mau baca ini juga?!”

“Boleh Kak, mana sini..!!”

“Nih, Dik..!!”

. . .

“Ceritanya abizzz dahh...!!!”

Catatan:

Cerita ini semata-mata untuk mengingatkanku akan ini akan itu..

Maaf, sorry, afwan yaa kawan.. ceritanya dibikin simple-simple saja,

biar bisa dibaca semua kalangan termasuk anak-anak juga..

Seandainya kalo dibikin ruwet kayak bahasa pemrograman yang saia

pun gak bisa, beuh bisa-bisa dahi para pembaca mengkerut berlamalama

termasuk saia tentunya sajaa..

kamu2 bisa baca ‘n unduh e-book ini [salah satunya] di:

www.dzyemtriweb.co.cc

www.dzyemtriblog.co.cc

www.scribd.com/dzyemtri

www.wattpad.com/user/dzyemtri

110

dzyemtri.muharram@gmail.com

Sebelum Kamu Tutup..

Makasih udah nyempatin waktu buat baca ceritaku.

Mohon maaf kalau penyusunan maupun gaya bahasanya tak

sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan alias EYD. Tapi,

kayaknya lebih sesuai dengan EYD yang satu lagi [Ejaan Yang

Dibuat-buat], hmm.. kosakatanya juga begitu-gitu aja.

Kalo ada yang salah mohon dibenerin, kalo dirasa kurang

bener silakan tambahin. Maklum saja, saia juga manusia biasa

yang masih sedang belajar.

Kalo terdapat kesamaan nama, karakter, tempat maupun

yang lainnya, itu semata-mata ulah yang nulis saja. Namun

untuk kesamaan nama, memang agak disengaja, tapi tak apa

yaa? maaf saja, ini kan hanya cerita fiksi belaka.

Sudahkan baca ceritanya?! Kalo udah, bisa lanjutin tuh ke

halaman berikutnya [puisiku yang berantakan itu], sampe

akhir yaa, kalo berkenan itu juga.

Dan.. yaa begitulah.. semoga ada sesuatu yang bisa di

ambil dari isi cerita ini, buat menyemangati hari-hari biar lebih

baik, lebih berarti.

Sedikit pesan dari yang nulis, jangan lupa masukannya,

kirimkan saran, kritik, komentar atau sejenisnya. Lewat e-mail,

blog, tak lupa via facebook juga..

www.facebook.com/dzyemtri

http://www.dzyemtripage.co.cc

dzyemtri@gmail.com

dzyemtri.muharram@gmail.com

dzyemtri.muharram@gmail.com

Sejenak Bersajak..

Inilah puisi-puisiku yang berantakan tak karuan itu. Moga

aja ada yang berkenan tuk membacanya.

ini..??

ini apa...??

apa sih..??!

apa ini..!!

apaan.. neh..!!!

apa...?!!!

apa....??!!

ini..??

ini.., goresan tanganku..!!

hanya penulis amatir

penulis itu aku

amatir itu juga aku

menulis aku tahu

kata indah ku tak tahu

ku kan pernah merasa

karyaku dalam cela

itu tak apa tak mengapa

ku kan terbiasa

ku sekedar menyapa huruf demi kata

menjelma kalimat tak bermakna

paragraf tak memesona mata pembaca

terkutip dalam cerita biasa saja

ku bukanlah penyair

bukan pula penyihir

ku hanya penulis amatir

yang tak pandai berpikir

dalam awal, dalam akhir

1

dzyemtri.muharram@gmail.com

kata

kata terindah

adalah kata yang mengalir begitu saja

menyentuh hati yang perasa

seperti aliran air

seperti gerak udara

yang takkan sirna

dihantam masa

membeli senja

wajah cilik rupanya

dimana beban tak ada

ombak kecil menyapa

angin semilir menerpa

disambut dedaun kelapa

senyum tawa riang bahagia

menjiwa dalam hati dan mata

pantai kian memesona

membeli senja

cinta tetap menyapa

dunia ini nyata

tambah terasa saja

karena ada cinta

bersemayam dalam dada

yang kan tetap terasa

kan terjaga baik saja

sampai tutup usia

cinta tetap menyapa

2

dzyemtri.muharram@gmail.com

apa cinta kan tiada

tiada kata terucap

menelusuri detik cinta

tiada kalimat tertulis

menjamah ruang cinta

tiada cerita terlukis

menyelami kisah cinta

apa cinta kan tiada??

apa cinta kan sirna??

apa cinta kan terhapus??

apa cinta kan terlepas??

apa cinta kan terhempas begitu saja?!

aku kelabu

aku ini kelabu

hitam ada didiriku

putih pun ada di diriku

aku tak tahu

berapa kadar hitamku

berapa kadar putihku

bentuk kelabuku

apa kelabuku itu

didominasi oleh hitamku??

didominasi oleh putihku??

hm.. kubertanya ingin tahu

tapi rasanya aku tahu

hitam lebihi separuh kelabuku

sungguh kurasa itu

ada harap tuk jadi putih

setidaknya ku tak ragu

pacu putih kelabuku

3

dzyemtri.muharram@gmail.com

Ya Allah pintaku satu sekarang

Ya Allah..., Ya Rabb...

kumemohon padaMu

sebening jiwa

sejernih pikir

pintaku satu sekarang

jadikanlah aku

seorang pemimpin baik

setidaknya bagi diriku

bagi jiwaku

bagi hatiku

bagi pikirku

bagi ragaku

dan bagi apa pun itu

yang Kau titipkan padaku

untuk selalu kujaga kupelihara

dan suatu saat nanti

kala ku tak lagi sendiri

ada pendamping hidup di sisiku

jadikanlah aku

seorang pemimpin baik lagi

suami yang baik tuk istri

ayah yang baik buat putra putri

dan dimana aku dipercaya

oleh beberapa orang atau lebih

jadikanlah aku

seorang pemimpin baik juga

yang mampu bersikap bijak

Ya Allah, Ya Rabb

pintaku satu sekarang

jadikanlah aku

seorang pemimpin baik

4

dzyemtri.muharram@gmail.com

aku bau neraka

kucucurkan air mata

bajuku bau neraka

badanku bau neraka

pastinya kan masuk neraka

Ya Allah, ku banyak dosa

yang melekat dalam raga

tak bisa terlepas begitu saja

tapi ku mesti bisa melepasnya

Ya Allah, bimbing aku kala senja

ingatkan aku dikala lupa

ku tak mau masuk neraka

ku hanya ingin masuk surga

kupinjam hatimu

kupinjam hatimu

yang kan kusimpan

dalam lemari

rongga-rongga dadaku

yang kan kujaga

kan kupelihara

dan takkan kulenyapkan

atmosfir cinta selimuti hati

walau lahar panas terus mengalir

telusuri celah hatimu dan hatiku

tetap, akan kubentangkan jembatan panjang

menyatukan hatimu dan hatiku

5

dzyemtri.muharram@gmail.com

inilah aku

inilah aku

seorang manusia biasa

kayak kamu juga

namun aku bukanlah kamu

aku adakah aku

aku yang sarat noda

dalam dada dalam raga

aku yang tak luar biasa

aku yang biasa saja

tampil apa adanya

tak ada yang istimewa rasanya

cukup itu saja

tanpa titik tanpa koma

namun tanda tanya

entah kau mau bilang apa..

hidup penuh duka

hidup tak terasa sedap

pahiitt.. melebihi empedu

tangan kadang tak sampai

menyentuh indra perasa

menghantarkan menu utama

hari-hari mendulang air mata

hari-hari menahan perih di dada

hari indah itu tak ada

hari duka selamanya

hati-hati menjaga hati..

hati-hatilah menjaga hati

walau hati tak pernah bisu

namun hati kerap kali buta

oleh harta.. oleh tahta..

atau pun apa ... [oleh wanita.. :D]

6

dzyemtri.muharram@gmail.com

loe coba rasain tu "narkoba"

narkoba bikin loe fly alias terbang...

saking tingginya loe terbang...

ketika loe terjatuh, loe kan rasain coba...

betapa sakitnya, betapa ngerinya tu narkoba...

dunia maya

dunia maya itu tak nyata

tapi jelas nyata ada

tak seperti dunia nyata

yang jelas-jelas nyata-nyata ada

yang terlihat tak tentu benar adanya

yang terdengar tak tentu benar adanya

yang terbaca tak tentu benar adanya

yang tertulis pun tak tentu benar adanya

bagaimana dengan dunia nyata??

rasanya 'rada-rada' sama

dunia maya itu tak nyata

tapi jelas nyata ada

sudah seminggu ku tak menyapa

buat kumerindu saja..

hey.. apa ada luna maya

di dunia maya???

pastinya "ada" katanya

tak hanya di dunia nyata..

7

dzyemtri.muharram@gmail.com

coba menyapa kata

hey kau yang hanya bisa

yang terbiasa

membentak kata

mencaci-maki kalimat

meneror paragraf

bahkan memenjara cerita

dalam sel beribu tanya

tidakkah kau rindu

untuk mau mencoba

sekali ini saja

menyapa kata

membelai kalimat

menyanjung paragraf

dan tak hentinya

tuk menjunjung cerita

walau sedikit tak berharga

tapi akan sangat bermakna

dalam hari sarat suasana

rindu

ketika kau tak di sini

ku slalu ucapkan RINDU

Rangkaian

Indah

Nada-nada

Dalam dada

Untuk dirimu

karena aku cintai kamu

8

dzyemtri.muharram@gmail.com

teracuni dengan kata

kau racuni lihatku dengan kata

dengarku kau racuni dengan kata

racuni lagi ucapku dengan kata

racuni nafasku dengan kata

lantas kau racuni pikirku dengan kata

seterusnya kau racuni rasaku dengan kata

jiwaku kau racuni juga dengan kata

bahkan gerakku kau racuni dengan kata

aku tahu...

racun itu sebuah kata

kata yang bermakna

atau pun tiada bermakna

sungguh kuteracuni dengan kata

tak malihat itu..

tak malihat itu menyakitkan..

tak melihat itu menyedihkan..

tak melihat itu serasa tiap hari malam..

tak melihat itu gelap buatku geram..

semua itu benar..

benarkah??..

kata siapa??!..

tentu tidak kataku..

tak malihat itu anugrah..

tak melihat itu indah..

tak melihat itu masih bisa rasakan siang..

tak melihat itu tak begitu gelap cukup terang..

bersyukur.. itu hanya gelap mata..

bagaimana kalau itu gelap hati??!..

mungkin semua kan binasa..

semua kan sia-sia saja...

9

dzyemtri.muharram@gmail.com

mereka bangsa terhina

ini memang perang

menentang kekejian bangsa pendosa

kejahatan kemanusiaan yang dikutuk bangsa lainnya

mereka yang tak kusebut namanya

ku tak sudi mengucapkannya

mereka penyebab banyak derita di pelestina

peluru membabi buta

merenggut anak tak berdosa

sungguh kungeri mendengarnya

ada kalanya peluru menembus dada

pejuang-pejuang di sana

walau nyawa tak lagi ada

senyum kan memesona kala tutup mata

saudaraku yang di sana

genggam cengkram senjata

desingkan peluru pada mereka

walau di sini ku hanya bisa berdo'a

stresss...

apa ku mesti ngeganja

dan candu shabu

kala hati duka

dan jiwa lesu

apa kulahap butiran ekstasi

akhiri kenangan indah itu

apa ambil saja pisau

buat bunuh semua masalahku...

bagaimana kawanku..???

10

dzyemtri.muharram@gmail.com

say no to puzing

say no to ambil puzing

say no to bikin puzing

say no to dibikin puzing

siapa yang hanya..

siapa yang hanya..

berkata tanpa makna

berujar tanpa malu

berjalan tanpa langkah

bersatu tanpa tuju

siapa itu??

itu bukanlah aku..

lalu siapa yang hanya..

mencinta tanpa hati

membenci tanpa henti

siapa itu??

itu juga bukan aku..

kamu tahu siapa itu..???

karyaku bebas

karyaku bebas lepas

tiada batas

membentur cadas

semua terampas terhempas

pandang tak pantas

bebasku berlalu

tersapu nafsu

yang tak menentu

bahkan menipu

itu, ku tak mau

11

dzyemtri.muharram@gmail.com

jangan tanam benci berlebih

suatu saat tertanam dalam hatimu segelintir rasa benci

yang terus kau pelihara dengan satu ton pupuk iri dengki

dan kau kembangbiakkan, kau sebar

hingga tumbuh berbunga dendam berbuah pembalasan

yang selanjutnya kau tebar pada setiap hati yang lain

tanpa rasa peduli, yang ada hanya kebencian

seperti yang telah kau tanam dalam hati

kebencian yang sebenarnya merupakan kekosongan hati

semata

sesekali datang padamu hadiah perdamaian, persahabatan,

dan ketenangan

tapi terus-menerus kau ‘deny’, kau ‘remove’, sampai kau ‘kill’

bagai virus yang teramat sangat membahayakan sistem

produksi kebencian yang kau banggakan

namun setelah sekian lama kau pun tersadar

dan memang kau harus segera menyadarinya

bahwa yang kau tebar dan kau tanam itu hanya buat hatimu

dan hati yang lain resah

jadi apa yang kau lakukan waktu-waktu itu

hanyalah menghunus pedang, yang lantas kau tancapkan

pada dadamu sendiri dan dada yang lain pula

kau menggenggam anak panah yang berlumur darah

yang telah kau cabut setelah kau sengaja mengarahkannya

tepat pada saudara, teman dan orang lain hingga menembus

jantung-jantung mereka

lalu, dengan sengaja pula menusukkannya pada jantungmu

dengan tangan sendiri

karena kau sadar dan menyesalinya, bahwa kebencian itu

taklah seharusnya kau kembangkan

janganlah kita tanam rasa benci yang berlebih

hingga itu berbunga dendam yang tak berkesudahan

jagalah peace, love, unity, respect, buat hidup lebih berguna

12

dzyemtri.muharram@gmail.com

cita bagaikan buah

cita-cita bagaikan buah

yang menggantung di tangkai

sebuah pohon tinggi

mesti berusaha tuk meraihnya

buah muda awal cita-cita kita

menunggu dan tak hanya menunggu

hari demi hari malam maupun siang

dengan belajarlah, bekerjalah, atau apalah..

buah manis dan masak mungkin akhir cita-cita kita

tangan pun rasanya ingin segera memetiknya

namun tangan tak sampai menggapainya

biarkan saja buah terjatuh dengan sendirinya

akankah biarkan buah matang dan terjatuh

jadi, tak usah bersusah payah mendapatkannya

namun.., tak mau buah terjatuh karena busuk

terjatuh membentur tanah hingga rusak

kita mesti berusaha tuk meraihnya

buah yang manis dan masak itu

walau tangan tak sampai menggapainya

kita butuh sesuatu tuk meraihnya

sebatang bambu mungkin cukup tuk menggapainya

memetik buah manis dan masak itu

walau tangan tak sampai menggapainya

13

dzyemtri.muharram@gmail.com

arti dalam hati

kita jalani hidup ini

yang sulit tuk ditebak

dengan membawa sedikit rasa

suatu hal akan menarik

ikuti gerak udara

ikuti aliran air

bila hati kita terpaut

pada sebuah arti

terketik dalam hati

makna cinta abadi

tak terpikir olehku

meniti jembatan kayu rapuh takkan ku lakukan

selama kayu-kayu itu masih kokoh menopang beban

kalau pun ada kayu yang rapuh, ku kan gantikan

dan terus kulakukan sampai tak ada yang rapuh satu pun

tapi tak terpikir olehku mengganti tambang sekali pun

kian hari ada saja tali terputus

ku enggan menggantinya, kayu masih kokoh menopang beban

pikirku waktu itu tak perlu menggantinya

usahaku sia-sia, jembatan tak layak lagi

padahal kayu itu masih kokoh menopang beban

lagi-lagi usahaku sia-sia, tak terpikir olehku..

tak terpikir olehku mengganti tali sekali pun

14

dzyemtri.muharram@gmail.com

katakan pada si dia

mengapa hati bergetar,

saat kulihat dia

mengapa jantung berdebar,

saat kutatap matanya

apa kusuka dia

apa kucinta padanya

mungkin benar ini cinta

namun...

ku tak mampu ungkapkan rasa

yang bergema dalam dada

pada seorang wanita

yang tulus kucinta

tuk selama lamanya...

wahai kawan...

teman dekatku,

katakan pada si dia

bahwa kumencintainya

tulus... apa adanya...

takkan pejamkan mata

selama hari masih siang

ku takkan pejamkan mata ini

banyak hal yang mesti kulihat, kusaksikan

tapi terkadang mata ini

tak tahan menahan kantuk yang datang

karena lelah karena lesu

15

dzyemtri.muharram@gmail.com

apakah waktu yang terbalik

banyak sesuatu yang terbalik

berjalan tak semestinya

bahkan mungkin berjuta yang terbalik

dibuat sengaja terbalik

kapal layar terbang di udara

pesawat terbang melaju kencang di atas rel

kereta api berlayar di laut lepas

mungkin itu yang kan kita saksikan

waktu yang terbalik

apakah waktu yang terbalik?

bukan kawan

bukan waktu yang terbalik

maaf ku akhiri

saat itu kulihat

kau cucurkan air mata

tanda kesedihanmu..

kuyakin itu karenaku

maafkan kumenyakitimu

akhiri cinta kasih antara kita

ku tak ingin kau kecewa

karena ini, karena keputusanku

ku tak mau kau tangisi

apa yang telah terjadi

kau pasti bertanya

mengapa aku akhiri..

nafasku tak kuat lagi

jiwaku tak lama lagi

kan hilang begitu saja

... tentu kau tahu maksudku apa

16

dzyemtri.muharram@gmail.com

izinkan kumelangkah

menangis sedih hidupku ini

semua masalah tak kunjung reda

perang batin pun kerap terjadi

kenapa gini? napa begitu??

izinkan kumelangkahkan kaki

ditemani seberkas cahaya hati

mencari sesuatu yang tak pasti

walau jauh mesti kulalui

aku punya mimpi

aku pun punya harapan

mengharap mimpi yang tak pasti

meski lama pasti kunanti

izinkan kulangkahkan kaki

melangkah menggapai mimpi

langkah harus tetap melaju

karena detik takkan pernah dihentikan waktu..

takutku sendiri,,

kutakut ketika tertidur malam ini,,

tak bisa tuk bangun kembali,,

sedang dalam diri,,

masih ada cita yang mesti ku jalani,,

17

dzyemtri.muharram@gmail.com

ku harus lupakan

ku tak bisa untuk melupakan

ku tak bisa untuk mengingat kembali

semua... kisah bersama dirimu...

tawa, canda, duka dan kecewa...

kini kau telah pergi

jauh... tinggalkan diriku...

bersamanya... bersama dia...

setiap kuingat dirimu

ku ingin lupakan kamu

setiap kuingat dirimu

ku ingin lupakan kamu

ku ingin lupakan...

ku harus lupakan...

wanita muslim

hai, wanita yang duduk

melihat indahnya alam

ku ingin tatap wajahmu

penuh dengan kasih sayang

senyummu adalah keramahanmu

sinar wajahmu menyinari alam

kau tutup ragamu dengan kain suci

kau balut hatimu dengan akhlak mulia

engkaulah wanita yang sholeh

wanita muslim yang baik menurutku

18

dzyemtri.muharram@gmail.com

ku takkan mampu

ku takkan mampu menggapai cita

ku takkan mampu meraih mimpi

selama ku masih begini

menatap harapan berdiam diri

ini bukan salahmu

bukan pula salah mereka

tapi ini salah diriku

mengapa enggan tuk barkarya

seakan hati ini mati

seakan jiwa ini beku

seakan raga ini lesu

kemana ku kan bawa arah langkahku

wahai mata hatiku

rinduku untukmu

rinduku di siang malam

kuhanyut di kesunyian

tanpa hadirnya dirimu

di sisi hatiku

kuukir wajahmu dalam mimpiku

kubayang wajahmu dalam khayalku

kulukis wajahmu dalam seniku

kucari wajahmu dalam suratku

walau lautan jadi rinduku

rinduku padamu takkan terbayang

akankah hatiku bisu

tak tatap wajahmu walau sedetik dalam waktuku

rinduku tak semua tersurat dalam suratku

rinduku untukmu berjuta tersirat dalam hatiku

19

dzyemtri.muharram@gmail.com

indahnya suaramu

lega perasaanku

enak pendengaranku

kudengar suaramu

hilang rasa rinduku

ku ingin dengar suaramu

yang merdu itu

langsung dari bibirmu

terdengar di telingaku

suaramu...

sejernih air, itu suaramu

sebening embun pagi, itu suaramu

suaramu itu...

kuingat di memoriku

kusimpan dalam hatiku

pantaslah ada dalam ucapku

hmm... indahnya suaramu

merdu setiap waktu

kebahagiaanku..

kebahagiaanku..

ada pada sorot mata orang tuaku

kebahagiaanku..

ada pada sorot mata guru-guruku

kebahagiaanku..

ada pada sorot mata saudara-saudaraku

kebahagiaanku..

ada pada sorot mata teman-temanku

kebahagiaanku..

adalah dimana orang lain merasa bahagia

20

dzyemtri.muharram@gmail.com

kini telah berubah

dahulu...

yang kulihat saat itu

tatapan mentari penuh kehangatan

dahulu...

yang kudengar saat itu

kicauan burung bersenda gurau

dahulu...

yang kuhirup saat itu

udara sejuk sarat kesegaran

tapi kini semua telah berlalu..

semua telah membatu..

semua telah membisu..

kini...

yang ku lihat saat ini

tatapan mentari penuh kemarahan

kini...

yang ku dengar saat ini

auman besi bermotor yang berisik

kini...

yang ku hirup saat ini

udara kotor sarat akan penyakit

21

dzyemtri.muharram@gmail.com

tanyaku tak ada jawab

sepasang merpati telah kuterbangkan

indah puisi telah kubacakan

e-mail ke inbox hatimu telah kukirimkan

link buat klik hatiku telah kusematkan

tapi apa yang kudapat...

tanyaku tak ada jawab

kudobrak pintu hatimu...

tanyaku tetap tak ada jawab

..., kulelah menanti

sebuah belaian hati

yang kian lama kian mati

apa hati kan mati

karena menanti dan mencari???...

ow..., tidak kali ini...

hatiku takkan mati

walau darimu tiada belaian hati

tanyaku tak ada jawab...???!

..., tanyaku pasti kan ada jawab...!!!

sebongkah luka

tak bisa aku menyangka

kau pergi tanpa pamit tak terduga

sedikit pun tanpa cerca, tanpa cela, tanpa air mata

semua sirna ...

tersirami sebongkah luka

22

dzyemtri.muharram@gmail.com

tinggal atau ingatlah waktu "kemarin"

tinggalkanlah masa lalu,

jangan kau ingat waktu kemarin,

jika waktu yang telah berlalu

buat hati kita sendu sembilu

tapi jangan kau tinggal masa lalu,

ingatlah waktu kemarin,

jika waktu yang telah berlalu

buat hati kita melangkah maju

mereka tak tahu saja

malam yang sepi bawaku melayang di angkasa

mereka tak tahu saja...

hangatnya siang buatku terbang laksana elang

mereka tak tahu saja...

lalu apa yang mereka tahu?

maafkan aku, kasih

maafkan wahai kasihku

aku kira itu gebetan baru

nyatanya hanya kakakmu

sekali lagi maafkan aku

diriku telah keliru

terbakar api cemburu

hingga aku marah padamu

jadi pantas kau tampar aku..

23

dzyemtri.muharram@gmail.com

dalam kata ku berucap

dalam satu kata ku berucap

kau hanya terdiam membisu

dalam dua kata ku berucap

kau tertunduk tersipu malu

dalam tiga kata ku berucap

kau mulai tersenyum padaku

terhenti sesaat...

kau berucap dalam empat kata

aku pun balik tersenyum padamu

lalu...

ku genggam jemari tanganmu

tak kau lepaskan genggaman itu

itu dirimu

menawan itu permata

indah itu mutiara

lembut itu air mata

tapi dirimu bukan permata

bukan pula mutiara

atau pun air mata

dirimu insan pertama

menghias rona mata

menjelma belahan jiwa

selembut air mata

seindah mutiara

menawan bagai permata

24

dzyemtri.muharram@gmail.com

mentari sunyi

mentari ...

yang tak berarti

tak sesuai hati

berhari-hari

tanpa awan mimpi

tak terbatas luka hati

dalam alunan nada sepi

mengaliri tatapan sunyi

pocong putih

belatung putih itu, lucu ...

tak selucu kupu-kupu

pocong putih itu, lucu ...

...

ku hanya terdiam kaku

mau bilang apa aku ...

...

seandainya cinta

seandainya cinta

berbalik derita

ku kan tepis saja

tanpa banyak tanya

seandainya benci

terhapus suka

bahkan muncul cinta

ku kan terima saja

tanpa tanya kenapa

25

dzyemtri.muharram@gmail.com

kan kembali di warna waktu

ku kan menghilang tuk sementara

dari alam jagat maya

menyusun puzzle hati yang tak tertata

pecah berantakan di dunia nyata

pesanku hanya satu untukmu

ingat dan ingatkan aku

harapku engkau mau

yoi.. brur..!!

ku kan kembali di warna waktu

terputus cinta

ketika hatiku dan hatimu satu jiwa

tiba-tiba saja menerpa

terputusnya jalinan cinta

asmara tak lagi bergelora

kucoba tegarkan jiwa

singkirkan putus asa

menangis untuk apa

bersedih itu tak ada

[tak ada itu.. tak ada.. tak ada.. tak ada itu.. tak ada.. :D]

ku hanya menderita

perih menyayat dada

pedih tak terkira

beuh..., mengapa harus ada

26

dzyemtri.muharram@gmail.com

kukenal dalam ruang maya

dirinya kukenal dalam ruang maya

entah ada apa dengan yang dituliskannya

rasa suka kagum muncul akan dirinya

berharap tuk jadi kekasihnya

dalam jauh tetap ada tatap mata

dalam jauh tetap ada getar jiwa

tersimpan utuh tak terusik lara

meski cinta darinya itu tak ada

siapakah dirinya??

bagaimana dengan hatinya??

akankah kubisa memilikinya??

menjadi bagian hidupnya??

semurni cinta sempurna!!

...

mungkin itu bisa

atau pun memang tak ada

hanya menyapa saja ...

atau entah apa ...

goresan tinta

goresan tinta

cerminan jiwa

merajut asa

pantang bersisa

menerka pesona

seluas angkasa

27

dzyemtri.muharram@gmail.com

malam untuk kita

langit masih membiru tua

dawai embun masih berasa

mengikis hening yang ada

tarian bintang merona mata

yang tak lagi ada air mata

senyum rembulan penuh pesona

menyesakkan dada dengan bahagia

awan hitam entah di mana

mungkin enggan rusak suasana

ini malam untuk kita

tak ada kelam menjelma

sampai terbuka mata sang surya

cinta menyambar

cinta menyambar

asmara menggelegar

dada berdebar

hati bergetar

badan pun meriang

menggigil merasuk tulang

mata tak terpejam

aku telah tersambar

cinta sang angin malam

kemarin, di malam kelam

cahaya

kilatan cahaya

menerobos ruang kosong

kegelapan tak berkesudahan

menghilang di ujung tak bertepi

terjaga pagar menjulang

memecah...

menghancurkan...

sunyi sepi menghalang

28

dzyemtri.muharram@gmail.com

malam

inilah malam

malam yang gelap

disinari cahaya halilintar

bintang enggan keluar

takut akan awan yang marah

rembulan bersinar remang

menembus batang tubuh awan

suara hewan

kehangatan bagi malam

tetesan embun terpaan angin

menjadi pemanis malam

kesunyian bukanlah malam

ketenangan itulah malam

do’a

kumenengadah padaMu

kuangkat kedua tanganku

memohon berdo’a kepadaMu

beri aku cahaya hati

yang kan cerahkan wajahku

dan raga pun bersinar

pancarkan aura ketakwaan

kesucian iman...

kemurnian islam...

29

dzyemtri.muharram@gmail.com

aku lebih percaya pada Allah Tuhanku

aku lebih percaya pada Allah Tuhanku

yang maha mengetahui itu

dari pada diriku sendiri yang tak mengetahui

dimana nafsu kelamku kerap menghampiri

yang meluluhlantakkan hati

membius jiwa menghabisi hingga mati

sekali lagi aku lebih percaya pada Allah, Tuhanku itu

dari pada diriku sendiri yang tak mengetahui

cukup satu kali di sana

kupergi melanglang buana

pergi jauh kesana

ke lembah yang fana

hidupku hancur di sana

cukuplah sekali di sana

kurasa merana

tak mau lagi aku ke sana

tanpa mengapa atau karena

kini pergi ke mana?

dan tinggal di mana?

apa hidupku kan kembali merana

tunjukkan aku jalan surga

Ya Allah di mana jalan lurus itu adanya

aku kini dalam kebingungan yang nyata

Ya Allah berikanlah hidayahMu

aku tak mau hatiku membatu

Ya Allah tunjukkan aku jalan surga

aku sudah lelah dengan dosa-dosa

30

dzyemtri.muharram@gmail.com

noda dan taubat

setitik demi setitik

noda menempel di jiwaku

bertambah, bertambah, kian bertambah ...

hancurlah aku ke dalam kelam

warna hitam jadi selimut jiwaku

cahaya putih tak terpancar hanya semu

bertaubat, bertaubat ...

itulah yang harus kulakukan

tapi,

apa itu taubat? apa?!

jika kembali menambah noda

bersama kehidupan

bersama cinta kau bahagia

bersama harta kau gembira

bersama tidur kau tutup mata

bersama bangun kau buka mata

bersama senyum kau senang

bersama air mata kau sedih

bersama masalah kau gelisah

bersama musibah kau berduka

bersama mimpi kau berharap

bersama harapan kau berdo'a

bersama do'a kau tak putus asa

itulah kehidupan, bersama hidup

bersama nyawa kau kan hidup

bersama hilang nyawa kau pun mati

lalu, bersama mati kau kan bagaimana?!

31

dzyemtri.muharram@gmail.com

di indah pagi

oh indahnya pagi ini

kududuk sendiri

ditemani secangkir kopi

membaca koran pagi

kusimpan di atas kursi

kulihat senyum mentari

menambah warna-warni

hingga tak kusadari

ada bidadari...

berjalan menghias pagi

menyejukkan hati...

parasnya kalahkan mentari

senyumnya indah berarti

sungguh... ada getar di hati

berharap tuk memiliki

mencinta sepenuh hati

...

kujatuh cinta pada bidadari

yang lewat tadi

di indah pagi

jangan kau tertawa!!!

ketika jatuh tertimpa tangga

sakitnya sungguh terasa

namun dalam sekejap sirna

hanya ada gelak tawa

saat terlihat di depan mata

seorang kakek tua

udah jatuh tertimpa duren pula

...

jangan kau tertawa!!!

32

dzyemtri.muharram@gmail.com

jiwa mati sekarat

tubuh terkurung

semak belukar

wajah tercoreng

arang hitam pekat

darah terhambat

karang maksiat

jiwa mati kering, sekarat

sarat bejat tercuat

jangan benci

aku benci dengan kebencian

benci diriku jangan kau lakukan

kamu taklah berhak tuk membenci

begitu pula dengan diriku sendiri

bolehlah kecewa asal jangan benci

aku benci dengan kebencian

jangan ada rasa benci

diriku tak berhak tuk dibenci

hanya boleh dicintai, disayangi

jangan ada benci

pada diriku ini

aku serius, tak sedang berpuisi

... tertinggal

keceriaanku tertinggal waktu TK

sopan santunku tertingal waktu SD

giat belajarku tertinggal waktu SMP

ide kreatifku tertinggal waktu SMA

prestasiku tertinggal waktu Kuliah

kelar kuliah tak dapat apa-apa

seharusnya itu tak begini

kenapa begitu?!!

33

dzyemtri.muharram@gmail.com

jawab tanya ini!! masih adakah?!

sebenarnya..

hatiku resah

nafasku sesak terhimpit

pikirku kalang kabut

mengikuti langkah-langkah semu

manusia-manusia tak punya rasa

tak berakhlak menyesatkan jiwa

sebenarnya..

asaku hancur

benakku meledak meluap-luap

tinggal menunggu mampus saja kayaknya

menyaksikan kemunafikan biadab

berkelanjutan tak terhentikan

oh, bumi pertiwi..

jangan dibuat merana lagi

menangis darah di sana sini

dibohongi penghuni tanah air ini

jawab tanya ini!!

masih adakah keimanan?!

masih adakah kejujuran?!

masih adakah kebenaran?!

masih adakah keadilan?!

masih adakah keberanian?!

dalam diri manusia peribumi

penghuni bumi pertiwi

masih adakah?!

atau musnah terbawa air bah!!!

34

dzyemtri.muharram@gmail.com

lalu, kini, nanti..

hapus yang lalu, aku tak bisa

ku perlu menoleh ke belakang

entah sedih, menyakitkan

senang, membahagiakan

masih ku butuhkan

hapus yang kini, aku tak bisa

ku harus terus berjalan

apa mesti kujalani, kuhindari

kudekati, kulakukan

tetap ku berusaha

hapus yang nanti, aku tak bisa

ku hanya menata langkah

dimana putus asa, kecewa

ada asa, ada hasil

kan ku dapatkan

ada apa dengan tubuhku

ada apa dengan tubuhku

tubuhku menggigil, kepanasan

gerah, kedinginan

ataukah dingin kepanasan

menggigil kegerahan

sungguh tersiksa

oleh demam yang tak biasa

jangan dulu..

jangan e-mail dulu

jangan chat

jangan telpon

jangan pula sms

kirim pesan di facebook saja

ku tak lagi sedang ingin dihubungi

35

dzyemtri.muharram@gmail.com

kan menghilang [lagi]

ku kan menghilang dari ruang maya

untuk sementara

dalam waktu yang lama

atau entah selamanya

kurasakan kebingungan yang teramat nyata

menelisik rasa

menusuk dada

membakar jiwa

hingga pembuluh darah pun terkena

mmm... sekarang mah bye dulu yaa..

wassalamu’alaikum sajaa..

kirimkan padaku bidadari

mohon dengan sangat..

ya Allah kirimkanlah padaku

seorang bidadari baik hati

yang tak pernah ingkar janji

kan temani hari-hari

suatu saat nanti

hingga ku tak bernafas lagi..

rasa ini kan kupelihara

wajahnya masih tercitra di mataku

suaranya masih terngiang lembut

senyumnya masih kurasa indah

sungguh tiada tara

rasa ini kan kupelihara

takkan kubiarkan hilang begitu saja

hatiku hanyut bersama cinta di dada

kan kuberi cintaku hanya untuknya

apakah ada citanya untukku?

36

dzyemtri.muharram@gmail.com

berusaha.. meyakinkan hati..

rintik hujan..

bisa buat ragaku meragu dalam langkah

panas terik mentari..

bisa buat asaku makin menyerah

namun ku kan berusaha..

meyakinkan hati..

tuk tetap semangat menjalani hari

sebelum datang padaku mati..

biarkan hati ini terang

Ya Allah..

biarkan hati ini terang benderang

walau tak seterang cahya rembulan..

jangan biarkan cahaya itu meredup

walau badai menghantam

bertubi-tubi tiada henti..

cinta itu apa sebenarnya??

aku laput dalam semerawut pikir yang kalut tak surut-surut

bersama gundah hati yang cukup terasa menghampakan jiwa

ketika ku tak lihat lagi manis senyumnya

heuu..

cinta itu apa sebenarnya??

setangkai bunga

kulihat setangkai bunga

ia kesepian, ia termenung sendirian

mungkin kan terkesan lebih indah

bila kupetik dan kuberikan bunga itu

pada seorang dewi di sisiku

37

dzyemtri.muharram@gmail.com

ketika ide menghilang

ketika ide itu menghilang

apakah yang terjadi?!

sembunyi di dalam goakah?!

di sambar kilatan petirkah?!

terseret ombak lautankah?!

di telan lahar panaskah?!

aku sendiri tak tahu..

tak pernah tahu..

apalah dayaku?!

aku serasa ingin menyerah!!

sejenak bertanya

sejenak bertanya pada kupu-kupu

yang hinggap pada setangkai bunga ungu..

siapakah mahluk manis yang kan mendampingiku?

bisikkan padaku seandainya kau tau..

bawakan padaku setitik api

bawakan padaku setitik api

ketika gelap malam menghampiri

sekedar hangati hati

yang tersirami sunyi

sinari jiwa ini

yang tertutupi sepi

bergeraklah..

berjalan ditemani awan..

berlari ditemani mimpi..

sedang berdiam diri..

hanya akan ditemani duri..

lekaslah bergerak hingga melayang..

pecahkan kaca-kaca penghalang..

38

dzyemtri.muharram@gmail.com

bisikan titik air

saat kau terdiam terpaku kaku

tatapi langit tersenyum semu

titik-titik air membasuhi wajahmu

seakan membisikkan sesuatu padamu

di kiri dan kanan daun telingamu

tanamlah benih-benih penyemangatmu

tiadakan kata putus asa di dadamu

jauhkanlah keraguan dalam hatimu

janganlah sesekali menyerah oleh waktu

mulailah melangkah hingga ajal bertemu

mungkinkah air mataku habis?

akhir-akhir ini, aku tak pernah menangis

mungkinkah air mataku habis?

entahlah, yang jelas aku tak sedang bersedih

tapi, aku rindu tuk teteskan air mata

heyy kawan!

entar sore atau sekarang juga

antarkan padaku secangkir air mata

jangan lupa tambahin sedikit gula

biar kuminum, kuhabiskan segera

untuk sekedar menambah stok air mata tersisa

yang serasa hilang entah kenapa, entah ke mana

mendamba subuh

sentuh hati dalam rasa

mendamba subuh di tiap harinya

saksikan kerlip bintang tertata

tatapi indah bulan memancar cahaya

rasa sejuk tak hanti selimuti raga

kurasa tenang, bahagia dalam dada

selalu rindukan akan pesona surga

saat fajar menjelang di hadapan mata

39

dzyemtri.muharram@gmail.com

aku di sini.. saat..

aku di sini bersamamu

saat hujan merintik

aku di sini di dekatmu

saat pelangi indah menarik

aku di sini menjagamu

saat rembulan melirik

aku di sini sejukkanmu

saat embun pagi berbisik

aku di sini menemanimu

saat mentari nampak terik

Ya Allah, kumemohon padaMu

pagi yang baru di depan mata

kala langit masih berwarna jingga

kerena matahari hampir saja tiba

di sebelah timur sana

Ya Allah..

aku hanya insan tak berdaya

yang senantiasa terus berdo’a

meminta petunjukMu di pagi, senja

memohon pertolonganMu di malam, siang juga

jauhkanlah aku dari nafsu yang mencambukku

dekatkanlah aku pada mata hati yang terus temani

teguhkanlah imanku,

lembutkanlah hatiku,

kuatkanlah ragaku,

tetapkanlah langkahku selalu dalam ridhoMu

40

dzyemtri.muharram@gmail.com

tak bisakah

hmm..

tak bisakah rintik-rintik hujan..

menghapuskan sendu jiwamu..

tak dapatkah embun-embun pagi..

meluluhkan hampa hatimu..

titik tak berkoma

rasa ditepis sirna

mencekik rintik

hingga pelik

di pucuk bukit

membius angan

di ubun nyawa

tak terkedip, tak melirik

hingga titik tak berkoma

silu-man!! [bukan silau man!!]

dia cantik jelita

pesonanya tiada tara

bersinar bak rembulan malam saja

seperti berlian bercahaya

kebanyakan orang pun berkata

silau man!! kata mereka

namun, ternyata, tak disangka

wajahnya terlihat wanita

tapi jiwanya adalah pria

giillaaakkk.. nyatanya dia itu waria

akhirnya orang pada berkata

silu-man!! ucapnya

41

dzyemtri.muharram@gmail.com

sekelumit rumit

sekelumit rumit

hingga berbait-bait

tangan di atas pelit

tidaklah sedikit

cangkul, kapak, sabit

tertelan sakit

angin mencubit-cubit

dahaga menghimpit

lapar menjepit

kantong kosong tiada duit

meminum kopi pahit

rasanya ingin segera tiittt..

[sorry di-sensor, tak untuk dilakukan] :P

teriak menjerit-jerit

akhiri rumit..

ajari aku cinta

ajari aku mengenal cinta

bukan cinta pada orang tua

bukan pula cinta pada wanita

bukan cinta pada siapa pun jua

tapi cinta pada Sang Pencipta Cinta

ajari aku tentang cinta

sekarang, bukan esok, bukan lusa

ajari aku akan cinta

saat duduk, berdiri, bersujud, tundukkan kepala

ajari aku, hingga kumerasa

benar-benar mengenal cinta

42

dzyemtri.muharram@gmail.com

ketika pagi menghampiri

ketika sejuk pagi menghampiri

fajar menjelang, hari pun berganti

tak seharusnya ada dalam lubuk hati

sebuah rasa yang bikin jiwa seakan mati

aku tak boleh menyerah, menyesali hari

mesti terus menyemangati diri

menjalani hari dengan menjaga langkah kaki

tetap bersujud mendekatkan diri pada Ilahi

di dunia yang cepat atau lambat kan ditinggalkan tak ditemui

tak jadi akhiri diri

sebilah pisau terlihat indah

mengkilau mata berlinang

mengajak hati menggorok nadi

tepian jurang buat melayang

menyentuh rasa tak tenang

menerjun bebas ke dasaran

setetes racun madu termanis

penghilang dahaga ketaksadaran

mengkaku saraf mengakar

seutas tali teman sejati

buaian kelembutan berduri

melingkari nafas menyesak

tapi, rasa enggan, luluhkan

tak jadi, itu tak jadi

tak jadi tuk akhiri diri

hidup ini indah tuk ditelusuri

43

dzyemtri.muharram@gmail.com

aku terdiam terus terdiam

aku terdiam saat rasa ketaknyamanan

aku terdiam saat lihat ketakamanan

aku terdiam saat dengar ketakadilan

aku masih terdiam saat aku terdiam

aku terdiam, terus terdiam

jika terus terdiam, kapan bergerak?!!

kapan aku bergerak, kapan?!!

di waktu suntuk

saut, saut, dinding berbatu

kalut, kalut, menghening waktu

cetrak, cetrak, jendela beradu

serak, serak, menjala syahdu

thuk, thuk, pintu terketuk

kantuk, kantuk, menyatu suntuk

wuih, wuih, lantai terhampar

sulih, sulih, lantai terdampar

hanya serasa

walau gelap temukan cahaya

hati ini tetap serasa tak berguna

walau amarah temukan senyuman

pikir ini tetap serasa tak berdaya

apakah ini benar adanya?

apa hanya perasaan saja?!

kill me, kill me.. please..

bunuhlah keputusasaanku

musnahkanlah rasa menyerahku

jangan halangi semangatku!!

44

dzyemtri.muharram@gmail.com

saduran semayam

menyadur desiran angin

menjiplak rintikan hujan

tersadar akan ingin

memijak pada ujian

mengintip sinaran bulan

terawang kerlipan bintang

tersulap oleh angan

berpegang pada pandang

menyayat gaduhkan siang

mengiris heningkan malam

tersirat dalam sayang

mengais pada semayam

tinta kertas tak bernyawa

tinta ini mulai memudar

sealir kata membias tak nyata

tetesan embun membeku hati

dingin, dingin terseduh

kertas itu mulai merapuh

segores titik menghilang tak nampak

terpaan angin mengikat jiwa

sesak, sesak tersaji

tinta kertas tak bernyawa

ucap pikir tak berbisik

gerak rasa tak bergema

semua terbius hampa

45

dzyemtri.muharram@gmail.com

cuaca hati

awan-awan penghias cawan

mega-mega penghilang dahaga

cuaca hati sedang berawan

setetes air mata teramat berharga

senandung syair kumandang nada

berlinang malam, menunjuk kelam

gelap disiram, terang menyuram

angin mematah, memintal hampa

terpeluk gundah, senyum terlupa

air hujan pecah, sungai meringis

menyatu arah, memikat tangis

petir mengamuk, menanam getir

tenang tercambuk, menghilang syair

sendawa awan, tabuh genderang

nada tertawan, alunan hilang

daun bergoyang, ranting terdiam

rembulan datang, bintang teranyam

embun penyejuk, memecat suram

fajar terbujuk, gelap tenggelam

syair senandung, nada kumandang

pagi terkandung, siang terpandang

canda mendukung, sore pasti kan datang

46

dzyemtri.muharram@gmail.com

teriakkan nada sumbang

hey, kawan..

ada satu lagi lagu buat para penguasa

khusus dariku, coba dengarkan

... kawan-kawanku

satukanlah arah, satukan langkah, satukan tujuan

janganlah lupa, ajaklah pula, pikir.. hati.. dan jiwa..

... merah putih t'lah berkibar

smangat pun t'lah berkobar

ayo bersatulah

marilah bersatuu..

teriakkan.. teriakkanlah.. teriakkanlah..

teriakkanlah nada-nada sumbang

agar mereka kenang

jeritan-jeritan

kering kerontang

teriakkanlah nada-nada sumbang

agar mereka kenang

jeritan-jeritan

kering kerontang

sejenak berucap maaf

berjalan-jalan ke negeri awan

bertemu bidadari membawa cawan

jika diriku ada salah mohon afwan

maaf lahir bathin saja yaa kawan..

Sebagian sajak-sajakku yang tak berjudul, juga tak menentu, bahkan

mungkin tak bermutu, kutuangkan dalam secangkir facebook hangat,

semangkuk sup twitter juga tak lupa sepiring blog putih gurih.

47

dzyemtri.muharram@gmail.com

Sekilas Tentang Diriku..

“Sekilas tentang diriku,, inilah aku..”

Dengan nama maya “Dzyemtri Muharram”,,

setidaknya aku ada dalam daftar hadir para

penghuni jagat maya..

19 Muharram 1408 H atau 13 September 1987

[sesuai KTP asliku di dunia nyata :D] adalah

tanggal kelahiranku..

Kamu-kamu takkan banyak tahu tentang siapa diriku,, dan aku pun

takkan memaksa kamu-kamu buat tahu siapa diriku.. :)

Aku, bukanlah siapa-siapa..

Cukuplah itu saja,, tak perlu ditambahin embel2 yang lainnya yaa..

Kalo mau tahu lebih tentang diriku,, cari di Facebook sajah atuh..

atau searching di rumahnya abang Google.. :P

piss lah..!!

website: http://www.dzyemtriblog.co.cc

multiply: http://dzyemtri.multiply.com

blog: http://dzyemtri.wordpress.com

ym!: dzy_emtri

page: www.kemudian.com/users/dzyemtri

facbook: www.facebook.com/dzyemtri

e-mail: dzyemtri@gmail.com

mobile: +6283823920505

friendster: www.friendster.com/dzyemtri

e-mail: dzyemtri@darulilmi.com

e-mail: dzyemtri@live.com

twittr: http://twitter.com/dzyemtri

blog:

artician: http://mobile: +6285224881138 dzyemtri.artician.com

dzyemtri.muharram@gmail.com

blank page

dzyemtri.muharram@gmail.com

0 Response to "Apa Yaa?! 2"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified