Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Wasripin Dan Satinah II

DELAPAN

1

“PAK Modin dedengkot Golput harus disingkirkan bila partai ingin menang,” kata Renstra yang dibuat Ketua Partai Randu setempat (“disingkirkan” artinya “dimusnahkan”, “dipenjara”, atau “ditahan”). Meskipun Renstra itu sudah dicabut pembuatnya baru-baru ini, tapi Renstra itu terlanjur menyebar. Alasan pencabutan: Pak Modin ialah orang Jawa, “Huruf Jawa mati bila dipangku, demikian pula Pak Modin.” (pangku adalah tanda huruf konsonan terakhir). Ketua Partai Randu setempat memberi contoh bagaimana mengusahakan elektrifikasi surau Pak Modin. “Itulah contoh yang gagal,” putus rapat Pimpinan Daerah Partai Randu. Ketika dimintai klarifikasi soal kegagalan itu, Ketua Partai Randu perkampungan nelayan menjawab, “Tunjukkan bahwa perbuatan kita tanpa pamrih. Air tuba dibalas dengan air susu.” “Ah, mbelgedes!” ujar seorang anggota Pimpinan Daerah Partai. Usaha Partai Randu supaya Pak Modin tidak jadi lurah sudah berhasil. “Tinggal langkah berikutnya untuk menggencetnya,” rapat memutuskan. Dan caranya bagaimana diserahkan kebijaksanaan Ketua Partai Kabupaten yang biasanya panjang akalnya.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat menyetujuidengan aklamasi usul untuk menjadikan KH Rifa’i Kalisalak yang dibuang Belanda pada 1859 sebagai Pahlawan Nasional. Ini menyulitkan Partai Randu. Partai Randu mensinyalir pengikut-pengikut aliran Rifa’iyah kebanyakan Golput. Mengakui pendirinya sebagai Pahlawan Nasional sama dengan mengakui Golput. Anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Randu diundang Pimpinan Partai untuk diminta pertanggungjawaban. “Biyangane! Bikin ruwet saja,” kata Ketua Pimpinan Partai. Mereka yang diundang sepakat satu suara.

“Mengapa tidak konsultasi dengan Partai?”

“Kami yakin Partai Randu adalah partai berhati nurani.”

“Salah. Partai Randu adalah partai berkuasa.”

“Jadi Partai Randu mengingkari fakta sejarah?”

“Belum tahu, to. Kekuasaan berwenang membuat fakta?”

“Tidak bisa, fakta tetap fakta.”

“Maksudnya, faktanya dulu memang begitu. Tetapi fakta sekarang pengikutnya jadi Golput. Kami sedang memikirkan untuk mencoret nama kalian dari daftar jadi.”

“Bila Partai mencoret nama kami, kami akan menyeberang.”

“Itu baru rencana, lho?”

Untung Partai Randu masih punya kartu truf yang mujarab. Partai menghubungi angkatan bersenjata untuk mengeliminir keputusan Dewan itu. Angkatan Bersenjata memveto putusan Dewan. Dan jadilah keputusan itu hanya sebagai dokumen.

2

KEBERHASILAN menyetop usul menjadikan KH Rifa’i Pahlawan Nasional, membuka jalan lebar-lebar untuk membidik Pak Modin yang menganut Rifa’iyah. Partai Randu menghubungi Badan Pengawas Agama, minta supaya lembaga itu mengusahakan Pak Modin ditahan atau dipenjara dengan alasan apa saja.

“Bisa, bisa. Kami punya file-nya. Kapan?”

“Yang kami perlukan ialah saat-saat Pemilu.”

“Beres, beres. Tapi, yaitu, Bapak harus mengerti sendiri. Kami punya anak-isteri.”

“Pasti. Masak kami lupa sama Bapak-bapak. Edan, pa.”

Bola ada di tangan Badan Pengawas Agama. Lembaga bergerak dengan cepat. Polisi diminta mengusut perihal politisasi agama yang dilakukan Pak Modin. Benar. Dua orang intel ditugaskan untuk mengikutinya. Dalam sebuah khotbah Jum’at Pak Modin mengecam pembagian harta yang tak adil, orang yang menumpuk harta, dan pejabat yang tak amanah. Dalam ceramah di sebuah pengajian ia memuji orang-orang yang berjihad di jalan Tuhan. Ia juga diundang untuk ceramah Isra Mi’raj ke Jawa Timur, dan tidak mengusahakan ijin dari kantor Badan Pengawas Agama.

Kepala Reserse menemui Ketua Badan Pengawas Agama untuk menunjukkan hasil kerja anak buahnya. Sambil mengacungkan jempol Ketua Badan Pengawas Agama mengatakan bahwa kerja Serse bagus. Dengan bahan itu kepolisian memanggil Modin untuk interogasi. Kepala Reserse sendiri yang menginterogasi.

“Tuliskan orangtua, saudara-saudara, dan keponakanmu. Alamat, pekerjaan, afiliasi politik.”

“Kedua orangtua dan saudara-saudara semua meninggal pada waktu ada wabah cacar sesudah Kles II.”

“Anak?”

“Tidak ada.”

Selanjutnya ditanyakan betul-tidaknya pada tanggal anu di anu dia mengatakan anu, pada tanggal anu di anu dia mengatakan anu, pada tanggal anu ceramah di anu tanpa ijin yang berwewenang. “Tuliskan apa saja!” katanya pada polisi. Pak Modin sebenarnya ingin menerangkan maksud dan tujuan ceramah-ceramahnya dan alasan ia berceramah di luar, tapi diurungkannya sebab toh tidak ada gunanya menerangkan di tempat itu. Ia tahu semua pemeriksaan adalah kesengajaan: ia harus bersalah. Ia diminta untuk kembali tiga hari lagi guna menandatangani BAP (Berita Acara

Pemeriksaan), sebab ada banyak cara untuk menggagalkan rencana putusan pengadilan, tahanan, atau bahkan hukuman.

Salah satu cara itu ialah menelepon Perwira Tinggi kenalannya di Laksusda, Semarang. Ia sudah mendengar, hubungan pribadi macam itu akan lebih ampuh dari kerja intel, kepolisian, dan pengadilan. Telepon dapat menyelesaikan banyak hal. Maka dari kepolisian ia langsung pergi ke kantor telepon. Ia menceritakan aib yang baru saja menimpanya.

“Aduh terlambat tiga hari, Pak. Ada mutasi besar-besaran di instansi saya, saya ditarik ke Pusat. Mutasi akan terjadi sampai tingkat Koramil.”

“Kalau begitu, maaf.”

“Begini, Pak. Mungkin saya justeru yang perlu pertolongan. Saya sendiri sedang menghadapi kesulitan. Dituduh bersimpati dengan ekstrem kanan atau ekstrem kiri, belum tahu persisnya. Ceritanya panjang. Begini.”

“Sudah, Pak. Terima kasih. Saya ada keperluan lain.”

Ia cepat-cepat meletakkan gagang telepon, meskipun kenalannya itu masih ingin bercerita. Ia tahu bahwa telepon orang yang dicurigai disadap intel. Ke rumahnya? Ia tahu itu tak mungkin terjadi. Orang yang dicurigai rumahnya selalu diawas-awasi. Akan ada penjual bakmi tiban, gelandangan berambut pendek, penjual asuransi yang tiba-tiba nyelonong ke rumah waktu ada tamu. Menulis surat? Tidak mungkin juga. Kabarnya surat-surat dibuka amplopnya dan disensor. Tertutup sudah. Tidak ada cara lain, bisanya hanya berdoa.

3

BEBERAPA hari kemudian sebuah jip tentara datang di rumah Pak Modin, dan membawanya pergi. Teriakan isteri Pak Modin, “Jangan, jangan!” tidak digubris. Mereka hanya bilang bahwa Kodim ingin meminjamnya barang dua atau tiga hari. Setelah tentara pergi isteri Pak Modin ke surau. Di depan surau sambil menahan napasnya yang tersengal-sengal dikatakannya, “Suami saya … diciduk … Kodim.” Sebentar saja kabar bahwa Pak Modin diciduk sudah menyebar di perkampungan nelayan itu. Seperti biasa, mereka menyusun kebulatan tekad.

Lima puluhan nelayan ke Kodim. Mereka berboncengan sepeda motor dan sepeda ontel. Membawa bendera merah-putih. Orang di tepi jalan menonton. Mereka berdebat satu sama lain, “Ini rombongan pemain bola!” “Bukan, itu kampanye!”

“Bukan, itu demonstrasi!” Sesampai di markas mereka menemui prajurit piket.

“Kami ingin bertemu Pak Komandan.”

“Tidak bisa. Komandang sedang rapat.”

“Ya, kami tunggu selesainya.”

Prajurit jaga masuk ke dalam untuk melapor. Beberapa orang berseragam melihat lewat kaca jendela, “Mau apa mereka?”

Pak Modin mendapat kehormatan diperiksa langsung Komandan, karena ia pengurus veteran kabupaten.

Jadi, Komandan sudah kenal baik dengan Pak Modin. Tentara juga memberinya tempat duduk ber-ac, sofa empuk, secangkir kopi, dan sekotak gula-gula di meja.

“Ini bukan interogasi, Pak. Hanya omong-omong biasa.”

“Lakukan apa saja, Pak. Apa ini ada hubungannya dengan pemeriksaan polisi?”

“Tidak ada. Ini perintah dari atasan.”

Dengan bisik-bisik komandan itu mengatakan bahwa ada kekuatan yang dahsyat seperti benteng tak tertembus di atas sana. Dan ditambahkannya, “Ini konfidensial, lho Pak. Saya punya firasat, sebentar lagi akan dipindah. Sudah ada mutasi di tingkat propinsi.”

Ketika ada yang melapor, komandan mengatakan bahwa Wadandim dapat menemui mereka. Ketika wakil komandan datang seseorang membacakan kebulatan tekad seperti biasa, dan minta supaya Pak Modin dibebaskan. Betul, Pak Modin dibebaskan tanpa syarat. Ketika melepas Pak Modin komandan itu berbisik lagi, “Ini pekerjaan terakhir saya untuk Pak Modin.” Pak Modin diantar ke depan oleh Komandan.

4

BEBERAPA hari kemudian Pak Modin diciduk lagi. Namun, Pak Modin yakin tidak akan terjadi apa-apa. Maka, dia sudah berpesan kepada isteri dan orang surau untuk tidak bersusah payah mengurusnya. Para nelayan percaya saja dengan pesan itu, sebab ternyata Pak Modin punya banyak teman tentara. Hanya, ketika ternyata sehari ia tidak juga pulang para nelayan jadi risau. Mereka mendatangi Kodim, dengan arak-arakan yang sama. Dandim yang baru saja ditugaskan di situ menemui mereka.

“Modin bukan urusan kami, tapi urusan polisi!”

Mereka mendatangi kantor polisi. Kata Kapolres baru, “Datang saja ke kantor pengadilan!”

Di kantor pengadilan mereka diberi tahu bahwa Pak Modin adalah tahanan kejaksaan.

Mereka pergi ke kejaksaan.

“Berkasnya memang ada di sini. Tetapi, orangnya kami titipkan ke Lembaga Pemasyarakatan.”

Mereka pergi ke penjara.

“Datanglah hari Rabu, ada jam bezoek,” kata seorang sipir.

Mereka mau marah, tetapi tidak tahu marah kepada siapa. Lalu kembali. Mereka menanti hari Rabu. Mereka datang tepat pada waktunya. Ketika mereka menanyakan Pak Modin, dijawab oleh petugas bahwa Pak Modin sudah dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan di kota lain. Karena, dia tahanan politik dan lembaga itu hanya mengurusi tahanan kriminal, seperti pencuri, pembunuh, curanmor, pemerkosa, perkelahian. Tiap hari ada perkelahian, kata sipir penjara, sehingga penjara penuh. “Itu kami lakukan demi kepentingan dia sendiri, supaya bisa lebih tenang.”

Mereka mendatangi lembaga yang ditunjuk sekalipun sangat jauh.

“Terlambat jamnya. Bezoek ialah tadi pagi.”

Mereka pulang, untuk kembali pagi-pagi sekali.

“Modin sudah kami kirim kembali. Akan diadili besok pagi.”

Keesokan harinya mereka datang ke Pengadilan. Dengan bendera dan arak-arakan seperti biasa. Polisi yang sudah menduga kelakuan para nelayan sudah menjaga pengadilan.

“Kebulatan tekad, demonstrasi, arak-arakan bertentangan dengan hukum. Coba digulung bendera itu. Masuk satu per satu. Duduk yang baik. Dilarang gaduh.”

Mereka masuk. Membubuhkan nama, tanda tangan, dan meninggalkan KTP. Pak Modin yang duduk di kursi terdakwa sempat menoleh dan melihat mereka datang. Hakim, jaksa, pembela juga melihat kedatangan mereka. Kehadiran para nelayan itu memenuhi ruangan. Semula pengadilan tak mengira bahwa pengadilan Pak Modin merupakan adegan yang menarik. Kursi yang semula disediakan untuk para wartawan, dosen, dan mahasiswa terpaksa ditambah.

“Anda tahu, apa kira-kira kesalahanmu?” tanya Hakim Ketua.

“Tidak.”

“Anda tidak datang ke TPS waktu Pemilu, bukan?”

“Datang, Pak.”

“Tapi benarkah semua tanda gambar dicoblos?”

“Dari siapa keterangan itu?”

“Panitia Pemilu setempat.”

“Bagaimana mereka tahu?”

“Keberatan!” sela jaksa.

“Keberatan diterima. Apa kau menganjurkan teman-temanmu untuk berbuat sama?”

“Keberatan!” kata pembela.

“Sidang diskors seperempat jam!”

“Nanti dulu. Tidak perlu saksi-saksi?” tanya pembela.

“Tim hakim memutuskan, tidak perlu ada saksi-saksi.”

Hakim Ketua mengetukkan palu. Para hakim masuk. Nelayan-nelayan maju menyalami Modin.

Di ruangan lain hakim-hakim berdebat.

“Mengetahui Modin mencoblos semua partai itu melanggar kerahasiaan Pemilu.”

“Tentu ada perintah.”

“Dia sudah diawasi.”

“Singkatnya saja, ada surat sakti?”

Hakim Ketua menunjukkan surat, “Surat sakti ini mengatakan supaya dia ditahan. Karena ternyata dia tak bersalah, solusinya harus kita cari. Tapi jangan khawatir, sudah ada di kepala saya.”

“Sudahlah, kami setuju-setuju saja.”

Sidang dimulai lagi untuk mendengarkan putusan hakim.

“Mengingat …. Menimbang …. Memutuskan: Satu, Pak Modin bersalah karena tingkah lakunya mencurigakan. Dua, Menjatuhkan hukuman: nihil. Tiga, Pak Modin dinyatakan sebagai tahanan desa selama enam bulan. Empat,

Pak Modin dikenakan wajib lapor ke Makodim setiap dua minggu, hari Senin. Lima, selesai.”

Para nelayan bertepuk tangan. Modin akan diarak para nelayan pulang ke rumah. Sepeda motor di depan berboncengan membawa bendera merah-putih. Polisi menghadangnya. Mereka melarang arak-arakan, “Itu demonstrasi,” kata mereka. Modin diminta naik mobil polisi saja, lebih nyaman untuk tulang tua. Para nelayan menolaknya, mereka khawatir itu hanya akal-akalan polisi. “Masak kalian tidak percaya aparat,” kata polisi. “Bukannya kami tidak percaya, tapi lebih suka pulang sama-sama,” kata para nelayan. Akhirnya segalanya diserahkan Modin.

Modin tahu bahwa ia terlalu tua untuk angin sepeda motor, tapi dengan niat menuruti para nelayan, sambil mengenang petualangan masa muda, ia pun memutuskan untuk membonceng sepeda motor. Walhasil, surau mendapatkan kembali imamnya. Mereka sujud syukur.

5

LEGIUN Veteran Daerah resah. Mereka menyesali tentara, polisi, dan pengadilan. Kalau tidak ada koran mereka tidak pernah tahu bahwa Pak Modin kena perkara. Buru-buru ketua dan pengurus lainnya menemui Pak Modin di rumah. Mereka menyatakan maaf dan penyesalan yang dalam telah tidak mengetahui aib yang menimpa Pak Modin.

“Tentara ingusan, polisi gadungan, dan pengadilan pura-pura telah meludahi wajah veteran seluruhnya. Kami tidak bisa menerimanya,” kata mereka.

“Sudahlah, semuanya selesai dengan baik.”

“Tidak, Pak. Ini tak boleh terulang lagi.”

Juga ditanyakan apakah benar bahwa Pak Modin tak boleh jadi lurah, padahal rakyat menghendaki. Dengan berputar-putar, dari tidak mau, sudah terlalu tua, tak sesuai dengan irama pembangunan, akhirnya Pak Modin membenarkan dugaan itu.

Pada akhir pembicaraan, Ketua Legiun Veteran berjanji.

“Percayalah, kami akan berbuat sesuatu.”

Sungguh, Legiun Veteran Daerah menulis surat langsung ke Jalan Cempaka, kepada Presiden Sadarto. Tembusan disampaikan ke semua pejabat tinggi dan tertinggi.

Ternyata dengan sepucuk surat itu dunia terbalik. Seminggu kemudian sebuah surat balasan yang ditandatangani tangan Presiden Sadarto datang. Surat itu berisi bahwa Modin sama sekali bersih, dan pihak-pihak yang telah mencemarkan namanya diminta untuk minta maaf dan merehabilitasi namanya secara terbuka. Tembusan surat ditujukan kepada semua instansi tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan. Tentang cara permintaan maaf dan rehabilitasi tidak ada petunjuk secara spesifik. Instansi-instansi mengadakan rapat intern secara kilat.

Keesokan harinya, semua instansi tingkat kecamatan memasang iklan permintaan maaf, menyatakan Pak Modin bersih, dan berhak memangku jabatan apa saja. Kodim, Kapolres, Ketua Pengadilan tingkat kabupaten datang

ke rumahnya. Demikian pula pimpinan kecamatan. Khusus Camat, ia membawa surat Bupati yang menetapkan Modin adalah lurah definitif. Camat juga memerlukan datang ke kantor kalurahan, dan menyatakan bahwa sejak waktu itu mereka punya lurah baru: Pak Modin.

Pak Modin ingin menolak jabatan itu, tapi para nelayan akan kecewa. Ia pun resmi jadi lurah, bukan Kepala Desa Rakyat. Rencana Peraturan Desa pertama yang dibuatnya ialah soal pembatasan umur lurah. Seseorang harus berhenti jadi lurah pada umur enam puluh lima tahun, tidak ada perkecualian. Semua anggota Lembaga Musyawarah Desa setuju, dan jadilah peraturan itu mengikat semua warga. Camat dan Bupati pun menyetujui putusan itu. Pak Modin sendiri sudah enam puluh enam, karenanya harus lengser.

“Itu artinya ia tidak mau menjabat.”

“Mari kita hormati keputusannya.”

“Dia ingin jadi pandita saja.”

Desa itu menempuh prosedur yang sama seperti dulu. Terpilihlah Sekretaris Desa jadi lurah. Pak Modin dan para nelayan tidak lagi harus berurusan dengan tentara, polisi, dan pengadilan. Untuk sementara!

Tentang adanya Surat Sakti yang betul-betul cespleng itu menjadi sorotan pers pusat dan daerah dan kalangan akademisi lokal dan nasional. Pada umumnya, mereka mulai dengan sebuah pengantar yang menegaskan bahwa yang digugat adalah Surat Saktinya, bukan Pak Modin atau Legiun Veteran. Pertanyaan seperti “Milik Siapa Negar?”, “Perorangan atau Hukum?”, dan “Siapa Berkuasa?” menjadi topik bahasan. Pers makin berani, dan telepon-telepon tidak lagi digubris. Telepon diam-diam dikhawatirkan akan malah jadi perbincangan terbuka. Kebebasan mimbar juga demikian. Hari ini dihentikan, hari lain diadakan. Keadaan dirasakan akan lepas kendali.

6

RUPANYA emprit abuntut bedhug (perkara kecil menjadi besar). Presiden sendiri membawa soal kritik pers dan kampus pada Surat Sakti itu ke Sidang Kabinet. Karena menggugat Surat Sakti berarti menggugat Presiden, sehingga dia merasa digoyang-goyang. Padahal, selama ini tak seorang pun berani menggugat. Kalau yang menggugat perorangan, semua life line-nya akan diputus. Kalau lembaga, akan dinyatakan terlarang. Dan orang-orangnya dinyatakan tersangkut ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Semua anggota kabinet tahu bahwa dia marah besar, meskipun dari luar nampak senyumnya selalu hadir. Lembut dalam penampilan tapi keras dalam perbuatan, kira-kira begitu semboyannya. Pada kesempatan itu dinyatakan bahwa negara dalam bahaya, dan ia memerintahkan menteri-menterinya untuk tidak ragu-ragu bertindak tegas. Maka, beberapa hari kemudian Menteri Penerangan melarang surat-surat kabar mengecam Surat Sakti, tidak melalui telepon tapi melalu Keputusan Menteri. Ancamannya ialah Pencabutan Ijin terbit. Menteri Perguruan Tinggi berbuat serupa, mengancam akan membubarkan sebuah Perguruan Tinggi yang mengecam Surat Sakti.

Pers dan kampus tidak kurang akal. Mengecam terang-terangan dilarang, mereka lalu memuji terang-terangan. Seminar bertema, “Surat Sakti,

Hak Prerogatif”, “Sesuai UUD ’45: Surat Sakti, Membubarkan Parlemen, Memberi Grasi”, dan “Surat Sakti versus Mafia Pengadilan”. Mereka sudah betul-betul berhenti menghujat, sebaliknya malah memuji-muji. Tetapi, orang tahu bahwa mengecam menimbulkan kebencian, memuji menimbulkan sinisme masyarakat. Mendapat laporan tentang maraknya puji-pujian pers dan kampus serta sinisme masyarakat, Menteri Penerangan dan Menteri Perguruan Tinggi hanya bisa pusing kepala. Ternyata jadi pesuruh itu sulit, meskipun pesuruh itu bernama menteri, “Salah lagi!”

SEMBILAN

1

PERKARA Pak Modin jadi isu nasional. Tanpa sepengetahuan Pak Modin dan para nelayan, surau, Pak Modin, dan perkampungan nelayan itu dikenal luas. Semua pemerhati hukum: dosen, hakim, jaksa, polisi, advokat, mahasiswa hukum, semuanya mengenal. Kedudukan Pak Modin, surau, nelayan, tak tergoyahkan. Partai Randu tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Bahwa di atas langit masih ada langit, ternyata betul belaka. Bahkan Partai Randu punya batas yang tak bisa dilalui. Kenyataan itu menggelisahkan pimpinan daerah partai. Bayang-bayang kekalahan Pemilu di perkampungan nelayan itu tak terelakkan lagi. Padahal, perkampungan itu adalah barometer untuk seluruh pantai utara. Kekalahan di tempat itu berarti kekalahan di seluruh Pantura. Mungkin Golput tidak akan mempengaruhi hasil Pemilu di Pantura secara keseluruhan, tapi jelas Partai Langit akan lebih unggul dari pada Partai Randu. Kemenangan suara dalam mengesahkan jadinya KH Ahmad Rifa’i sebagai pahlawan nasional adalah bukti goyahnya Partai Randu.

Dengan lemas Ketua Partai Randu dan jajaran pengurus mendatangi kantor Badan Pengawas Agama. Kedua pihak bertemu hanya untuk berbagi kekecewaan dan gelengan kepala. Mereka – sama seperti orang lain – juga terheran-heran mengapa tiba-tiba saja sebuah Surat Sakti dari jalan Cempaka bisa menggagalkan usaha mereka yang tersusun rapi. Partai Randu tak bisa menyalahkan Badan Pengawas Agama. Seterusnya, lembaga itu tak bisa menyalahkan polisi, jaksa, dan hakim. Mereka sudah berbuat sebaik-baiknya sebagaimana dipesan. Setelah gagal mengalahkan Pak Modin, mereka sependapat untuk mematahkan tangan kanannya saja, Wasripin. Tetapi bagaimana caranya?”

Seorang anggota Badan Pengawas Agama yang ditempatkan oleh Komando Intelijen Negara seminggu yang lalu dalam rangka konsolidasi pendukung Pemerintahan Orde Konstruksi yang secepat kilat berpikirnya mengacungkan jari.

“Aku tahu!”

“Bagaimana? Kita harus transparan, dong.”

“Ini operasi intelijen.”

“Sangat rahasia?”

“Ya.”

“Partai Randu adalah partai terbuka. Jadi, kita harus blak-blakan. Tidak boleh sembunyi-sembunyi.”

Kemudian ia bisik-bisik dengan Ketua Badan Pengawas Agama, lalu bisik-bisik itu disampaikan kepada rapat.

“Maaf, mungkin ini akan melukai hati Saudara-saudara, tapi karena operasi ini sifatnya rahasia tak boleh diketahui banyak orang,” kata Ketua Badan Pengawas Agama.

“Kalau kami tak dipercaya, baiklah.”

“Jangan emosional begitu, to.”

“Habis, bagaimana!”

“Ini nasib seluruh keluarga besar Partai. Ada yang untuk konsumsi massa, ada yang untuk konsumsi pengurus, ada yang untuk konsumsi ketua saja. Tidak semuanya dibuka, nanti kacau, disiplin partai runyam.”

“Ya, sudahlah.”

Mereka bertiga: Ketua Partai Randu, Ketua Badan Pengawas Agama, dan sang intel yang cerdas masuk ke ruangan khusus. Intel itu sudah tahu banyak mengenai perkampungan nelayan (umumnya pendukung Partai Langit dan Golput, Partai Randu minoritas tapi kuat karena didukung oleh aparat, pegawai negeri, dan sebagian juragan), Pak Modin (dipersangkakan dedengkot Golput), Wasripin (dipersangkakan mendapat ilmu dari Nabi Hidhir, tangan kanan Pak Modin), surau (markas Golput), dan para nelayan (Golput). Ia itu jalma limpat seprapat tamat, diberitahu seperempat bagian saja sudah tahu keseluruhannya. Maklum dia rajin dan sangat cerdik, lagi pula mempunyai salemanship yang sempurna. Ia sudah tahu soal kegagalan mengenai jimat yang dituduhkan pada Wasripin, entah dari siapa. Maka dengan lancar ia menguraikan rencana yang membuat kagum kedua ketua itu. Mereka dengan gairah mendengarkan Plan 1 dan – kalau gagal – Plan 2.

“Asal saja semua konsekuensi keuangan disediakan Partai,” kata Ketua Badan Pengawas Agama.

Ketua Partai menyetujui. Katanya, “Tetapi tolong rencana pembiayaannya, meskipun dana itu biasanya selalu tersedia.”

“Ini harus agak longgar.”

“Tentu saja, kami sudah mengerti.”

“Saya otak-atiknya dulu supaya tidak terlalu besar.”

Ketua Partai kemudian mendekati Bendahara Partai yang menunggu di luar. Bendahara yang memang selalu oposan terhadap Ketua Partai mengomentari,

“Perlu dipikirkan untung-ruginya. Jangan cari untung, malah buntung.”

“Ini kebijaksanaan Ketua.”

“Jangan begitu, itu namanya … eh … diktator, maaf lho, Pak. Tapi ini harus dibicarakan dalam rapat pengurus. Jadi, tanggung jawab kolektif, bukan perorangan.”

Kemudian ada rapat pengurus. Dalam rapat rencana itu ditolak. Karena, tidak sesuai dengan prinsip Partai Randu, terasa mengada-ada, dan jumlah uang yang eksak belum diketahui. Kalau pengurus tidak setuju, Ketua mengatakan setidaknya pengurus memberi ijin padanya untuk mencari dana dari mana saja. Pengurus setuju.

Ketua Partai kemudian menghitung-hitung perusahaan mana yang dapat membantu Partai. Ia mendekati beberapa perusahaan kontraktor reklamasi laut, jalan, jembatan, dan bangunan untuk menyumbang dengan janji kemudahan dalam tender dan urusan dengan bank.

2

PAGI-pagi sekali Wasripin baru saja turun dari sembahyang sudah ditunggu orang. Orang itu mengatakan menderita kanker. Ia sudah pergi ke dokter, sudah pergi ke dukun, tetapi penyakitnya tak juga hilang. Dokter sudah angkat tangan, rumah sakit sudah menolak. Ia sudah divonis dokter, menurut perhitungan medis, tinggal empat bulan lagi hidupnya. Ia sudah menulis surat wasiat untuk isteri dan anak-anaknya. Sudah menulis surat pamit dan permintaan maaf kepada saudara-saudara, teman-teman, dan semua kenalannya.

Semuanya sudah diberi prangko, dan tinggal memasukkan ke kotak surat pada hari dia meninggal. Harapannya tinggal pada Wasripin. Wasripin memegang-megang bagian yang dikatakan sakit,

“Bapak tidak sakit. Sebentar, saya ambilkan air putih. Biar tambah sehat.”

Wasripin membuka lemari yang berisi botol air. Selagi ia membuka lemari, orang itu memasukkan uang ke bawah taplak meja. Wasripin merasa ada yang tak benar dengan orang itu. Orang itu bohong.

“Tolong, Pak. Air ini diminum, air ini akan jadi obat kalau Bapak sakit, sebaliknya air ini jadi racun kalau tidak sakit.” (Konon, ia tak berani minum).

Pagi itu datang beberapa orang lagi dengan keluhan yang berbeda-beda. Ia tergesa-gesa pergi ke TPI sebab ia masuk pagi-pagi. Hari itu adalah Hari Pasar, ia akan bertemu Satinah di penjual soto.

Ketika ia bertemu, Satinah menegur.

“Kok tidak bilang-bilang, kena urusan polisi begitu. Untung ada yang bercerita.”

“Itu dulu. Apa harus diceritakan kemana-mana?”

“Ya, sudah. Mungkin saya tak berhak,” katanya sambil melengos.

“Bukan begitu. Maksud saya jangan membebani orang lain.”

“Saya ini orang lain, to. Ya sudah!”

“Satinah membayar makanan, lalu mengajak pergi pamannya. Pamannya gerundal-gerundel, “Sudah kubilang, jangan suka emosi ….” Wasripin garuk-garuk kepala.

“Nah, bukan itu maksud saya!”

Tapi suaranya ditelan kemandang suara-suara pasar. Dia lalu mengejar Satinah,

“Maaf, maaf Nah!”

“Untuk apa minta maaf pada orang lain?”

“Sumpah, kok. Bukan itu maksud saya!”

“Maksud saya, maksud saya!”

Mereka mencari tempat yang longgar, lalu omong-omong sampai waktunya Satinah menyanyi dan Wasripin kembali ke TPI.

Tidak disangka-sangka sesampai di rumah polisi telah menunggu.

“Masuk saja, Bapak-bapak. Rumah tidak terkunci.”

“Ini surat perintahnya. Kami harus memeriksa rumah ini.”

Polisi membuka lemari, membalik kasur, mengeluarkan laci, dan melingkap taplak meja.

“Ini apa?”

“Kok ada uang di situ?”

“Saya malah tidak tahu.”

“Jadi bukan kau yang menaruh?”

“Bukan.”

“Kalau begitu, ini kami ambil.”

“Silakan, silakan.”

Paginya ia menerima panggilan dari polisi. Ketika ia pamit pada Kepala TPI bosnya bilang untuk tidak memberitahu teman-temannya. Mereka tidak sempat melaut hanya untuk mengantarnya. Maka dia pergi sendirian. Disempatkannya mampir ke rumah sewa Satinah. Satinah gemetar sebab kata polisi saja sudah menakutkannya. Air mata menetes di pipinya.

“Lho, katanya disuruh memberitahu.”

“Apa? Saya tak berhak sedih, ya?”

“Sedih ya sedih. Tapi jangan keluar air mata, to.”

Baru setelah pamannya meyakinkannya bahwa tidak akan terjadi apa-apa, Satinah menghapus air mata di pipinya. Paman yang buta itu kembali pada pekerjaannya. Membiarkan keduanya bicara.

“Sebentar, sebentar. Boleh saya ikut menghapus?”

Satinah menyodorkan pipinya. Wasripin mencari-cari saputangan di saku celana,tidak ketemu.

“Maaf, saputangan saya ketinggalan.”

“Tidak punya tangan, to?”

“Nanti marah.”

“Siapa bilang?”

“Biasanya, begitu.”

“Ini luar biasa, kok.”

Wasripin mengulurkan tangan, menyentuh pipi Satinah. Dia gemetar. Ada perasaan yang aneh. Bahkan hanya dengan menyentuh pipi!

Sampai di kantor polisi ia langsung menemui Kepala Reserse.

“Ada laporan dari masyarakat, engkau mengaku dapat ilmu dari Nabi Hidhir. Padahal, sebenarnya engkau memelihara tuyul. Beberapa orang kehilangan uang sesudah berkunjung ke rumahmu. Ternyata tuyulmu menaruh di bawah taplak meja.”

“Siapa pelapornya?”

“Nanti kau akan bertemu di pengadilan.”

“Siapa Nabi Hidhir itu, Pak? Setahu saya Muhammad adalah Nabi terakhir.”

“Jadi kau tak kenal dengan Nabi Hidhir?”

“Tidak.”

“Tuyul itu?”

“Juga tidak.”

“Pemeriksaan selesai. Kau boleh pulang. Tapi sebelumnya kautandatangani ini. Dokumen ini untuk pengadilan.”

“Masih ada pengadilan?”

“Tunggu kira-kira seminggu lagi.”

“Mbok itu saja dianggap cukup. Tidak enak, Pak. Mbolos kerja.”

3

HARI Pasar berikutnya Wasripin harus pergi ke pengadilan. Panggilan itu dijatuhkan di TPI. Maka, teman-temannya tahu dan mengantarnya. Satinah tahu dari Mbakyu penjual soto bahwa hari itu Wasripin ke pengadilan diantar banyak nelayan. Satinah mengeluh pada pamannya bahwa hal sepenting itu sampai dia tidak tahu.

“Mesti ada alasannya, Nduk. Tapi jangan khawatir, tak akan terjadi apa-apa,” kata pamannya.

“Ah, Pak Lik ini bisa-bisanya tidak prihatin.”

“Prihatin, ya prihatin. Tapi jangan merusak diri sendiri. Sudah kubilang, tidak akan ada apa-apa.”

“Ah.”

“Coba saja, kalau tak percaya.”

Para pelapor nama dan alamat disebutkan, tapi tidak datang. Hakim Ketua menyatakan bahwa persidangan sah, meskipun pelapor tidak hadir. Disebutkan bahwa pelapor sengaja tidak hadir, karena kehadirannya mengandung risiko: dia akan kena tenung atau jadi korban tuyul.

“Wasripin, ada laporan dari masyarakat bahwa kau dapat ilmu dari Nabi Hidhir?”

“Tidak tahu.”

“Kalau tidak tahu, jadi memelihara tuyul, ya?”

“Tidak.”

“Apa pelapor dapat jadi saksi?”

“Saksi pelapor tidak hadir karena penuh risiko,” kata Jaksa Penuntut.

“Baiklah. Apa buktinya?”

“Ketika pelapor datang, dia membawa uang di celana. Tetapi uang itu hilang. Tiga orang punya pengalaman sama. Ternyata BAP itu menyebutkan bahwa uang ditaruh tuyul di bawah taplak meja.”

“Maaf, Pak Hakim. Apa jaksa bisa menghadirkan saksi?”

Polisi yang datang ke rumah Wasripin menjadi saksi. Kesaksiannya memberatkan Wasripin.

“Bolehkah saya menghadirkan saksi bandingan?”

“Kami saksinya. Ini pengadilan rekayasa!” teriak seorang nelayan.

“Saudara tak punya hak!” kata Hakim Ketua keras.

“Kalau begitu saya tak bisa diadili, Pak. Tidak ada saksi pelapor, tidak ada saksi pembanding. Siapa tahu barang bukti itu fitnah. Tolong, suruh Jaksa menghadirkan tuyul.”

Orang-orang di ruang pengadilan tertawa. Hakim Ketua menyuruh pengunjung tenang.

“Pengadilan diskors setengah jam untuk memberi waktu bagi Jaksa.”

Ketika ada skors para wartawan mendekati Wasripin, memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Kau kok pandai. Lulusan Fakultas Hukum, ya?”

“Tidak. Saya lulus SD.”

“Berapa orang sudah kau sembuhkan?”

“Wah, saya lupa.”

“Kau pantas dapat doktor HC.”

“Apa itu?”

“Kami akan menulis bahwa kau adalah penyembuh alternatif.”

Hakim Ketua membuka sidang. Dia mengatakan bahwa Wasripin melakukan penipuan yang menurut pasal anu ayat anu juncto pasal anu ayat anu dapat dihukum sekian anu. Sidang ditutup.

Dua hari berikutnya Wasripin diminta datang untuk mendengarkan vonis hakim. Wasripin dan para nelayan datang, demikian pula wartawan.

“Menimbang …. Mengingat …. Gugatan tidak terbukti. Maka, terdakwa dinyatakan bebas!”

Pengunjung tepuk tangan. Wakil dari Badan Pengawas Agama juga kembali ke kantor. Wartawan mendekati Wasripin. Kata mereka, “Kau gugat balik saja, biar ramai.” Wasripin hanya menggeleng, tidak tahu caranya, tidak tahu siapa yang digugat.

Keesokan harinya pengadilan soal tuyul muncul di koran-koran. “Grrr di Pengadilan”, “Jaksa Tak Bisa Hadirkan Tuyul”, “Pengadilan Rekayasa?”

Wakil dari Badan Pengawas Agama memberi laporan. Bahwa saksi-saksi pelapor tak berani datang, takut disantet. Ketua dan intel mengadakan rapat.

“Wah, Plan 1 kita gagal. Koordinasi dengan pengadilan kurang rapi,” kata Ketua.

“Yang kurang itu fulusnya, bukan koordinasinya. Maka, saya usul uang ditambah,” kata intel.

Plan 2!”

Plan 2!”

4

PLAN 2 dijalankan bersamaan dengan upacara peluncuran perahu nelayan yang diadakan setiap tahun pada bulan Rajab. Pasar bertambah ramai. Banyak pedagang tiban. Anak-anak sekolah diliburkan setengah hari. Teluk itu berbah jadi tempat keramaian. Panjual balon, wayang kertas, terompet, bolang-baling, martabak telur, martabak terang bulan, roti, jamu, tahu petis. Ibu-ibu menggendong anaknya dengan balon di tangan. Perahu yang akan diluncurkan dipercantik dengan ular-ularan, warna-warni asal tidak mengesankan warna partai-partai dalam Pemilu. Mahasiswa menonton peristiwa itu untuk membuat makalah. Wartawan berita, wartawan foto, crew film dokumenter datang untuk meliput. Polisi datang untuk menjaga ketertiban. Di surau ada kenduri yang dipimpin Pak Modin. Pak Modin nanti juga akan memimpin doa untuk keselamatan perahu. Teratak dibangun untuk kursi-kursi para pejabat. Pengeras suara disediakan untuk MC, pidato-pidato,

dan para peserta slawatan. Camat diminta datang untuk memecahkan periuk sebagai simbol banyak rizki.

Satinah tidak ketinggalan. Ia mengeret-eret pamannya mencari tempat yang baik dan teduh untuk menonton. TPI dihias juga dengan ular-ularan warna-warni. Pasar tiban ramai, tenda-tenda pedagang memenuhi lapangan. Di surau dipasang tambahan pengeras suara dengan kabel di pohon juhar, sehingga doa-doa kenduri terdengar jelas. Wasripin tidak ikut kenduri, tapi melayani pasien. Di tengah-tengah kesibukan seorang wanita dengan kain sutera yang tipis melilit sampai di atas payudara berlari keluar dari rumah Wasripin sambil berteriak-teriak, menuding-nuding ke belakang, terengah-engah, “Tolong, tolong! Memperkosa!” Wasripin mengejarnya sampai pintu. Tiga wartawan foto mengabadikan peristiwa itu, jepret-jepret. Beberapa orang menarik wanita itu ke TPI. Polisi-polisi datang. Dengan sigap mereka memasukkan Wasripin ke sedan patroli. Sementara itu, seorang polisi menanyai wanita di TPI itu. Tidak ada nelayan tahu, mereka sedang berkenduri di surau. Orang-orang pasar, orang-orang yang berbelanja, dan mereka yang mau nonton keramaian hanya ternganga-nganga memberi jalan mobil polisi yang pakai sirine. Satinah mendengar sirine, hatinya merasa ada yang kurang, lalu menyeret pamannya ke pasar. Masih didengarnya sirine dan dilihatnya mobil itu di kejauhan.

“Apa to Mbakyu?”

“Wasripin dibawa polisi.”

“Seleranya menonton keramaian hilang, dia mengajak pamannya pulang, “Tidak apa Nduk, jangan khawatir.” Mereka pulang, sampai di rumah air mata Satinah membasahi bantal.

Peserta kenduri yang turun dari surau bertanya pada orang-orang pasar. Mereka tahu apa yang telah terjadi. Wasripin mereka dibawa polisi. “Utamakan kepentingan orang banyak,” kata Pak Modin pada para nelayan. Baru keesokan harinya mereka mulai bergerak. Mereka tahu kemana harus mencari. Mereka pergi ke kantor polisi, tapi mereka diberitahu bahwa urusan dengan polisi sudah selesai, dan sekarang ada di kejaksaan. Mereka jadi ingat disuruh berputar-putar waktu ingin menjenguk Pak Modin. Mereka duduk, “Kami tak mau lagi disuruh kesana-kemari. Tolong, Pak. Pastikan dia ada di sana.” Polisi menjamin.

Maka hari itu Wasripin menerima kunjungan kawan-kawannya.

Mereka mengatakan tetap percaya padanya, dan mengharapkan dia tabah menghadapi fitnah. Siang itu dia juga menerima kunjungan dari sejumlah mahasiswa yang belum dikenalnya dan mengaku dari sebuah Fakultas Hukum. Mereka menyarankan supaya diadakan sumpah pocong di Masjid Jami’i untuk mempertemukan korban dengan dia. Siapa yang bersalah akan mati, siapa yang benar akan hidup. Di pengadilan jaksa menuduhnya dengan perkosaan yang berhasil digagalkan oleh korban. Wasripin menolak tuduhan itu, dan meminta supaya diadakan sumpah pocong. Namun, hakim mempertimbangkan permohonan itu. Sidang ditunda selama dua hari untuk mempertimbangkan permintaan itu.

Berita tentang sumpah pocong yang langka itu memenuhi koran-koran. Topik di antaranya ialah: “Kebenaran Melalui Sumah Pocong”, “Tontonan Hukum”, dan “Sumpah Pocong: Institusi Hukum?” Dosen-dosen mewajibkan mahasiswanya membuat makalah dan menonton. Tidak ketinggalan para advokat.

Laporan itu sampai ke intel yang diperbantukan ke Badan Pengawas Agama. Intel marah-marah. Katanya, “Hukum agama, hukum nasional, hukum modern tidak mengenal sumpah pocong.” Ia sudah membayangkan bahwa orang suruhannya yang diambil dari sebuah tempat hiburan malam pasti tak berani menghadapinya. Satu-satunya langkah ialah mendekati hakim-hakim. Ia akan pergi sendiri menemui mereka. Sebelum ke kantor Pengadilan ia mampir ke tiga tempat: Kantor Partai Randu, seorang paranormal tersakti di daerah itu, dan Ibu pengusaha tempat hiburan malam.

Di kantor Partai Randu dia dapat kepastian tentang komitmen finansial. “Jangan khawatir, kami tetap komit secara moral dan finansial,” kata Ketua Partai. Adapun di rumah paranormal ia minta jaminan bahwa sumpah pocong itu takkan punya akibat. “Itu sudah di luar wewenang seorang paranormal,” jawab paranormal. “Kabarnya kau punya jin yang dapat mengubah batang pisang jadi orang,” kata intel. “Ya, tapi sumpah pocong terlalu sakral. Saya tak berani.” Keputusan paranormal itu memperjelas bayangannya mengenai kegagalan. Langkah selanjutnya ia pergi ke rumah bordil. Ibu menyambutnya dengan ramah, “Waduh, waduh. Intel kita kok terlihat murung. Siang-siang butuh hiburan, ya?” “Nanti mudah, Bu. Saya butuh pertolongan seperti dulu,” katanya. Ibu itu memanggil anak buahnya yang dulu ditugaskannya ke rumah Wasripin. Anak buah itu datang, dan intel menerangkan maksudnya. Mendengar kata “sumpah pocong” itu badannya menjadi dingin, mata berkunang-kunang, dan dunia menjadi gelap. Ia jatuh pingsan, lalu digotong ke dalam. “Kalau bukan dia, orang lain juga boleh,” kata intel. Ibu itu punya naluri melindungi anak buahnya, dan ditolaknya permintaan intel.

Harapannya tinggal pada hakim. Ia minta supaya hakim menolak sumpah pocong yang bukan merupakan bukti hukum itu. Tim hakim memang mula-mula akan keberatan dengan sumpah pocong berdasarkan sebuah memo yang mereka terima. Karena, cara kuno itu tidak terdapat dalam KUHP. Akan tetapi, ketika koran-koran ikut meramaikan perihal sumpah, mereka berubah pikiran. Maka ketika intel datang, mereka mengatakan bahwa terlanjur tahu. Mereka sudah memutuskan untuk mengabulkan sumpah pocong.

“Hakim harus independen!”

“Korbankan seorang, selamatkan belasan ratus juta jiwa!”

“Korbankan kebenaran?”

“Mengapa tidak. Kalau terpaksa.”

“Terpaksa atau rekayasa?”

“Rekayasa, itu hanya pendapat orang. Masyarakat! Media massa! Persetan!”

“Kami tidak bisa tinggalkan kebenaran. Nanti ada anarki hukum.”

Tidak, tak ada jalan buntu bagi orang yang mau berpikir. Ia akan mengirim telex ke atasan, minta supaya hakim yang sekarang diganti. Hakim mau suapnya, tak mau kerjanya. Mereka penipu!

5

HARI itu Masjid Jami’i ramai dikunjungi orang: nelayan, wartawan, mahasiswa, advokat, dosen, dan para peminat lain. Akan tetapi, mereka semua kecewa. Semua petugas sudah siap, Wasripin siap, penonton siap. Setelah ditunggu satu jam, saksi korban tak juga muncul. Mereka bubar.

Wasripin dinyatakan bersih oleh Hakim.

Di kantor Badan Pengawas Agama anggota-anggotanya tampak murung. Kegagalan demi kegagalan membuat kantor interdepartemental itu tak efektif. Para anggota bisik-bisik satu dengan lainnya, supaya Ketua dan intel tak mendengar.

“Kantor ini melanggar tujuannya sendiri. Kata statuta pendirian: mencegah ajaran sesat, mencegah politisasi agama, mencegah penyelewengan agama untuk kepentingan pribadi dan golongan, dan mencegah perpecahan intra-agama serta antar-agama. Mana semua itu?”

“Pekerjaan kita tak sesuai dengan hati nurani.”

“Fitnah melulu. Duit ya duit. Tapi kesadaran tertindas.”

“Kata orang pandai, manusia tak hidup hanya dengan roti saja.”

“Kita keluar, kembali ke departemen masing-masing.”

“Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh.”

“Nanti kalau ditanya tentang inisiator semua mengaku jadi inisiator.”

Mereka semua mengajukan surat pengunduran diri. Tidak ada komentar, tidak ada pertanyaan. Beberapa hari kemudian keluar Surat Keputusan pembubaran lembaga itu untuk seluruh Indonesia demi efektivitas, efisiensi, dan penghematan. Intel yang melapor pada atasannya di Jakarta mendapat jawaban yang menggembirakan, “Masih banyak jalan untuk mengikis habis Golput dan kaum ekstremis.”

SEPULUH

1

PARTAI Randu ulang tahun. Partai-partai lain, Partai Kuda dan Partai Langit, meramalkan bahwa kesempatan itu akan digunakan untuk mencuri start alias kampanye terselubung. Mereka gembar-gembor lewat media massa.

Koran-koran juga bilang begitu. Tapi, Menteri Penerangan dalam sebuah wawancara di TVRI menyatakan bahwa pemerintah akan menindak tegas siapa saja yang mencuri start. Mekanismenya ialah soal perijinan. Semua pihak yang akan mengumpulkan lebih dari lima puluh orang di tempat umum wajib minta ijin dengan menunjukkan jadwal acara. Atau, kalau itu berupa pertunjukan (teater, ketoprak, nyanyi, film) harus menunjukkan naskah, alur cerita, ijin sensor, atau teksnya. Pendek kata, Pemerintah tidak mau kecolongan oleh siapa pun. Untuk keperluan Partai di alun-alun kota didirikanlah sebuah panggung pertunjukan yang akan diisi rombongan artis-artis keliling dari ibu kota. Dalam rencana Bupati Kepala Daerah, Komandan Tentara, dan Kepala

Polisi akan minta menyumbangkan suara. Soal perijinan, jangan tanya mudahnya. Partai Randu tinggal menelepon Kepala Polisi. Pengamanan polisi ekstra kuat diperlukan karena Partai Randu memperkirakan yang menonton pasti banyak ekstrem kanan dan Golputnya.

Sore hari menjelang pertunjukan jalan-jalan yang diperkirakan akan dilalui ekstrem kanan dan Golput dijaga polisi tanpa uniform. Kebetulan surau TPI mengadakan Pengajian Akbar. Teratak sudah dipasang, tikar-tikar digelar, ibu-ibu nelayan sudah menyediakan makan, kue, dan kopi. Maka aparat keamanan memperkirakan semuanya akan berjalan lancar. Intelijen tentara dan polisi yakin bahwa orang-orang yang dicurigai sebagai ekstrem kanan dan Golput dari surau TPI tidak akan nonton.

Namun, seperti kata pepatah, “sepandai-pandai tupai melompat sekali akan gagal juga”. Satgas Partai Randu yang bertugas menjaga kelancaran pertunjukan menemukan selebaran-selebaran yang mendiskreditkan Partai. Misalnya, “Partai Randu Sarang Korupsi”, “Partai Randu Melindungi Maling Kakap”, “Maling Teriak Maling”, dan “Partai Randu Anti Pembangunan”. Ketika Ketua Partai melihat selebaran itu rasanya dada mau meledak. Tai dasar sedang pentas kesenian dia harus bisa menunjukkan muka cerah dan bibir tersenyum.

Pertunjukan berjalan lancar separo jalan. Separonya lagi kacau. Mula-mula panggung terasa miring, kemudian miring sekali, dan akhirnya runtuh. Tidak ada korban jiwa, meskipun ambulans cepat datang. Pertunjukan bubar begitu saja. Pagi harinya koran-koran ramai memberitakan. Panitia menuding pemborong, pemborong mengelak dengan mengatakan pasti ada sabotase. Dalam sebuah rapat, aparat keamanan (tentara dan polisi) mensinyalir perpecahan di tubuh Partai Randulah penyebab dari runtuhnya panggung. Ketua Partai menyatakan bahwa partainya solid, dan dalih perpecahan itu mengada-ada. “Bukan perpecahan, tapi perbedaan pendapat. Dalam demokrasi yang sehat, perbedaan pendapat itu biasa.” Ketua Partai sempat menyitir Nabi yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat.

Memang dalam kepemimpinan Partai Randu timbul dua pendapat mengenai sikap Partai terhadap ekstrem kanan dan Golput. Surat Ketua Partai Randu di perkampungan nelayan itu menjadi sebab perpecahan. Garis keras, tidak ada kompromi dengan penjegal pembangunan. Garis moderat, perlu toleransi, kekerasan menambah musuh. Menurut bisik-bisik yang sampai ke polisi, ada persaingan keras dalam kepemimpinan Partai. Namun harus ada yang disalahkan. Ketua Partai Randu berkesimpulan bahwa pertunjukan hanya mungkin dikacau ekstrem kanan dan Golput. Maka Partai Randu memprotes lambatnya penanganan kasus pertunjukan itu lewat surat kepada Bupati, sebagai Kepala Daerah dan Pembina Partai Randu.

“Sudah jelas, orang-orang ekstrem kanan dan Golput yang mengacau pertunjukan. Kami punya buktinya.” Ia menyertakan fotokopi dari selebaran-selebaran itu.

“Jangan menanggapi surat yang mengada-ada itu, Pak,” kata Kepala Polisi kepada Bupati.

“Tapi, fotokopi itu?”

“Itu rekayasa mereka yang Garis Keras.”

Setelah dua minggu tidak ada tanggapan, Ketua Partai menemui langsung Bupati.

“Bagaiman dengan surat kami?”

“O, ya. Kami sedang sibuk. Ada penduduk mau bedhol desa bertransmigrasi. Saya harus datang dan memberi pengarahan. Ada jembatan selesai dibangun. Saya harus meresmikan. Ada Jambore Nasional Pramuka. Saya harus menyertai para Gubernur, Menteri, dan Wakil Presiden. Ada ….”

Ketua Partai jengkel. Ia ingin Bupati paham betul bahwa Partai Randu adalah partai pemerintah yang sanggup menentukan siapa duduk di mana.

“Katanya Bapak ingin jadi Wakil Gubernur?”

Bupati paham betul arti ancaman itu, lalu merendah.

“Ya jangan begitu, to Pak. Ini betul-betul, kok. Coba, Pak. Apa yang tidak saya kerjakan untuk Partai? Suruh bikin edaran ke camat-camat, ke instansi yang ada, dan ke perusahaan-perusahaan sudah saya kerjakan. Sering, tanpa tedeng aling-alind di depan publik saya berkampanye untuk partai.”

“Tapi itu, Pak. Ekstrem kanan dan Golput itu, bagaimana?”

“Kepala Polisi haqul-yaqin mereka tidak hadir.”

“Selebaran-selebaran itu?”

Bupati menahan diri untuk tidak mengatakan Kepala Polisi berpendapat bahwa itu hanya rekayasa Garis Keras supaya ada tindakan keras terhadap ekstrem kanan dan Golput. Ia menggelengkan kepala, mengangkat bahu, memoncongkan bibir.

Ketua Partai mengalah, dia diam, pamit ke kamar mandi dengan niat terus pulang.

2

SEMENTARA itu ada pembakaran terhadap dua kapal pukat harimau di sebuah pelabuhan, yang sangat jauh. Kepala Polisi Kabupaten mendapat perintah dari kepolisian propinsi untuk menyelidiki para nelayan di perkampungan itu. Alasannya, pembakaran selain bermotif ekonomi juga politik.

Polisi menyebar intel. Intel-intel melaporkan bahwa pada hari pembakaran, nelayan dari perkampungan itu tidak pergi, tidak melaut. Mereka sedang pergi, seorang warga meninggal.

Kepala Polisi melaporkan hal itu secara langsung ke Semarang. Dengan halus Kepala Polisi Propinsi menyayangkan bahwa isyarat yang sederhana tak bisa ditangkap.

“Lalu maksudnya apa?”

“Pokoknya tahu sendiri.”

“Saya tidak tahu, Pak.”

“Begini, lho.”

Kepala Polisi Propinsi mendekat ke telinga. Dengan bisik-bisik dikatakannya bahwa nelayan-nelayan dari perkampungan nelayan harus ada yang ditangkap, setidaknya lima orang.

“Polisi tidak bisa berbuat tanpa bukti.”

“Ah, ini perintah atasan.”

“Ya, atasan yang ngawur!”

“Sst-sst.”

“Lalu soal bukti itu?”

“Itu bisa diatur.”

Kepala Polisi Kabupaten tetap tidak mengerti. Kepada istrinya diceritakan perihal peristiwa di Semarang.

“Kalau begini caranya saya bisa stress, Bune.”

“Sudah kubilang, kalau beban terlalu berat ya jangan diangkat.”

“Bagaimana, ya?”

“Saya jadi isteri pedagang atau petani tak apa. Pekerjaan itu asal halal. Saya dan anak-anak akan bangga dengan bapaknya.”

“Memang, saya sedang berpikir untuk kirim surat pengunduran diri.”

“Kalau kirim surat pakai bahasa yang sopan, tidak menyinggung perasaan.”

Seminggu kemudian Kepala Polisi Propinsi menerima surat tembusan tentang pengunduran diri Kepala Polisi Kabupaten. Surat itu sendiri ditujukan kepada Kepala Polisi Nasional dengan alasan ibunya minta dia menungguinya di hari tua, sebab dia anak tunggal. Akan tetapi, jawaban dari Jakarta sangat mengejutkan: Dia dipecat dari kepolisian karena pembangkangan. Tuntutan hukum akan menyusul. (Tuntutan itu tidak pernah terjadi).

Nelayan-nelayan selamat. Ketika kabar pengunduran diri Kepala Polisi Kabupaten sampai di perkampungan nelayan itu, mereka merasa kehilangan pelindung. Sebuah pertemuan veteran telah memperjelas sebab sebenarnya pengunduran diri itu. Dalam khotbah Jum’at Pak Modin memuji Kepala Polisi secara umum, “Kadang-kadang orang menjadi korban kebaikannya sendiri.”

3

TIDAK disangka-sangka kayu di teluk terbakar. Suatu malam ketika perahu-perahu nelayan sedang istirahat, dan orang-orang muda tiduran di surau mereka mendengar seseorang berteriak, “Api! Api!” Mereka bangun, membawa ember-ember air, menuju tumpukan kayu di teluk. Kayu-kayu itu tidak pernah menjadi perhatian mereka lagi. Juga perahu-perahu yang menjemput kayu itu dari sebuah kapal yang berlabuh di lepas pantai, truk-truk yang mengangkut kayu. “Api!” “Api!” Orang di seluruh perkampungan terbangun, membawa ember-ember untuk memadamkan api. Lagi ramai-ramainya bekerja dikejutkan oleh datangnya sebuah truk yang penumpangnya membawa bedil. Melalui sebuah mikrofon mereka mendengar orang berteriak, “Jangan dipadamkan!” “Biarkan! Biarkan!” Mereka terus bekerja. Tiba-tiba terdengar tembakan senjata api. “Hentikan air itu, Saudara-saudara!” Ketika satu-dua orang masih juga mengambil air laut dengan ember, terdengar letusan lagi. “Mundur!” Dengan terbengong-bengong tidak mengerti mereka hanya bisa menonton kayu bertumpuk-tumpuk terbakar. Jadilah orang-orang desa datang mengelilingi teluk, menonton pertunjukan terbakarnya kayu itu. Api berkobar-kobar. Truk dengan orang-orang bersenjata itu pergi.

Tak lama kemudian sebuah jip, sebuah truk, dan sebuah tangki dengan kabel besar, datang. Dengan penerangan api yang menjilat-jilat orang-orang desa dengan jelas melihat mereka berseragam. Mereka polisi, tentara dan pemadam kebakaran. Bersenjata bedil. “Tolong, Bapak-bapak, minggir. Api itu akan dipadamkan,” kata seorang lewat mikrofon. Orang-orang tidak bergerak. Corong mikrofon berbunyi lagi, “Tolong, Bapak-bapak.” Orang-orang menyingkir memberi tempat penyedot dan penyemprot air. Sementara itu tangki mendekati kayu-kayu yang terbakar. Air disedot, air disemprotkan. Tidak lama kemudian api padam. “Terima kasih, Bapak-bapak,” kata pengeras suara, lalu merek pergi. Teluk itu jadi gelap, dan orang-orang kembali tidur.

Keesokan harinya Kepala Dusun perkampungan nelayan mengajak nelayan yang tak melaut ke kelurahan untuk mendengarkan keterangan resmi tentang peristiwa terbakarnya kayu.

“Bapak-bapak. Kayu-kayu itu adalah kayu ilegal. Nah, kebakaran itu disengaja oleh sindikat kayu ilegal yang lain. Persaingan usaha.”

“Tanya, Pak.”

“Ya?”

“Bedil mereka dari mana?”

“Itu sedang dalam penyelidikan.”

“Kok rambut mereka pendek-pendek?”

“Itu juga sedang diselidiki.”

“Ilegal kok sudah beberapa bulan dibiarkan?”

“Itu sedang dalam penyelidikan.”

“Aparat terlibat?”

“Itu dalam penyelidikan.”

“Pemiliknya siapa, Pak?”

“Itu dalam penyelidikan.”

“Ketika TPI dibakar, yang mengganti kok Ketua Partai Randu?”

Secara bersama-sama orang menyahut, “Itu dalam penyelidikan.” Berkali-kali. Ruang pertemuan gaduh. “Ini penerangan atau penggelapan?” “Gombal!” “Pembodohan!” Juru penerang dan perangkat desa diam-diam menyelinap keluar, meninggalkan kantor.

Ada kejadian yang sama di tempat lain. Kayu-kayu dibakar, rakyat berusaha memadamkan, orang-orang bersenjata datang, melarang api dipadamkan, orang-orang bersenjata pergi, polisi datang dengan mobil pemadam kebakaran. Ketika berita itu sampai di perkampungan nelayan, mereka sudah tak peduli lagi. “Itu bukan urusan kami,” kata mereka.

4

MEREKA bisa tak peduli dengan urusan kebakaran kayu, tetapi mereka tidak bisa tak peduli ini. Para nelayan yang melaut dicegat di tengah laut oleh sebuah kapal motor kecil. Sebuah megafon mengatakan.

“Tunjukkan KTP!”

Perahu-perahu nelayan oleng oleh ombak kapal motor itu. Kapal merapat. Seorang awak kapal meloncat ke perahu. Orang-orang di kapal tidak

berseragam. Ketika para nelayan tak bergerak, tapi hanya terheran-heran atas kejadian yang belum pernah mereka alami, bedil ditodongkan dari kapal.

“Ayo cepat! KTP atau pecah kepala kalian!”

Mereka yang kebetulan membawa KTP segera menunjukkan. KTP-KTP diperiksa. Mereka yang tidak membawa KTP diharuskan naik kapal motor untuk interogasi. Wasripin yang melaut bersama para nelayan ikut naik. Mereka dikembalikan setelah jelas bahwa mereka benar-benar dari kampung nelayan. Kecuali Wasripin yang tidak ber-KTP, bukan penduduk perkampungan nelayan, dan mengaku sebagai Satpam TPI.

Mereka yang kembali ke perahu melapor kawan-kawannya, “Wasripin dibawa!”

“Mereka bukan polisi!”

“Di sana ada orang yang datang dengan truk malam itu!”

“Entah, siapa yang mereka cari.”

Seorang mengatakan, “Kata mereka, mereka sedang mencari kaki-tangan setan gundul.”

Tidak lama kemudian datang kapal-motor yang jauh lebih besar. Orang-orang berseragam. Mereka juga menghentikan perahu-perahu. Sama seperti orang-orang tak berseragam, dengan megafon mereka menyuruh orang-orang di perahu menunjukkan KTP.

“Maaf, Bapak-bapak. Kami sedang patroli. Tolong, tunjukkan KTP.”

Seorang turun dengan tangga tali besar. Mereka yang punya KTP memperlihatkan, mereka yang tak punya siap untuk naik kapal, dan diinterogasi. “Semua orang perkampungan itu?”

“Ya, Pak.”

“Selamat bekerja!”

Kapal motor menjauh. Meninggalkan para nelayan yang berteriak-teriak, “Tolong Wasripin! Tolong Wasripin!”

Sampai di darat TPI memutuskan untuk menghadap Kepala Polisi Kabupaten, melaporkan tentang Wasripin, dan menyampaikan pernyataan sikap keberatan atas gangguan terhadap ketenangan kerja.

“Maaf, Bapak-bapak. Urusan kami adalah ketertiban di darat. Tapi soal nasib kawan dan pernyataan sikap itu akan kami sampaikan.”

Polisi laut betul-betul berhenti menangkap perahu nelayan. Mungkin atas usulan para nelayan, mungkin atas perintah atasan.

Kabar tentang hilangnya Wasripin segera menyebar di perkampungan nelayan. Juga orang-orang pasar. Pada Hari Pasar Satinah yang mendengar nasib Wasripin mengurungkan niatnya untuk menyanyi. Bergegas pulang.

Sampai di rumah segera ia menangis di kamarnya.

Pamannya menghibur, “Saya sudah menanyakan pada Yang Di Atas, Wasripin tidak apa-apa.”

“Ah, Pak Lik ini kok menghibur melulu. Jelas dia dibawa geng!”

“Habis, kita mau apa?”

“Ya, usaha!”

“Kita orang kecil hanya bisa berdoa.”

5

WASRIPIN ada di atas kapal motor.

“Tidak punya KTP?”

“Tertinggal di Jakarta.”

“Sudah lama jadi nelayan?”

“Saya bukan nelayan, tapi Satpam. Melaut hanya hobi.”

“Kamu kelompok Marta, ya?”

“Bukan, saya kelompok Pak Modin.”

“Dimana markas mereka?”

“Di surau.”

Mereka berkesimpulan bahwa mereka salah tangkap. Mereka juga tidak tahu apa yang harus dikerjakan dengan tawanan itu. Mau disakiti, tidak ada gunanya.

“Lemparkan ke laut.”

“Jangan, menambah musuh saja.”

Jadi, tidak seperti yang dicemaskan para nelayan dan Satinah, nasibnya malah sebaliknya. Sebabnya, demikian. Pimpinan geng mengerang-ngerang kesakitan. Dia, yang dianggap paling jagoan,ternyata sekujur tubuhnya terasa sakit. Mungkin sakit-sakit akibat dipukuli dalam perkelahian dengan geng lain kumat lagi, mungkin jantungnya kambuh, mungkin pula tekanan darah terlalu tinggi. Ia mengumpulkan anak buahnya,

“Saya tidak tahan lagi, tolong isteri dan anak-anakku dirawat,” katanya.

Anak buahnya bingung, tak ada dokter, tak ada tukang pijit. Mau ke darat, itu wilayah geng lain.

“Boleh saya memijit?”

Orang-orang di atas kapal motor hanya bisa mengangguk. Wasripin memijit-mijit. Kepala geng tertidur mengorok, siang-siang, di atas kapal, dalam keadaan siaga penuh.

“Kau bisa memijit!”

Bergiliran mereka minta dipijit. Setiap orang akan bilang, “Kau betul-betul lihai.”

Sejak itu mereka memperlakukannya dengan baik, berbagi kotak makanan, Coca-Cola, sarden, dan kue-kue.

Mereka mendarat di suatu pantai, lalu berjalan.

“Tugasku sudah selesai?”

“Belum. Kami akan mengantarmu ke Bos.”

“Bos suka pusing-pusing.” Mereka menyebut namanya.

“Ke mana kita?”

“Ke desa. Sudah itu nasibmu terserah Bos.”

Tanpa curiga, mereka juga menyebut nama desa.

Ketika melewati kebun tebu, tiba-tiba mereka disergap.

“Dor! Dor! Angkat tangan!”

Mereka lari pontang-panting. Dari kejauhan mereka membalas menembak. Wasripin baru sekali itu mendengar suara tembakan. Ia tengkurap di tanah, badannya berkeringat dingin.

Perhatian mereka tertuju pada Wasripin.

“Angkat tangan!”

Dengan gemetaran Wasripin berdiri dan mengangkat tangan. Sementara itu orang-orang di kapal sudah lari.

Ia dibawa ke suatu tempat dengan mata tertutup, yang ternyata markas mereka. Markas mereka ialah rumah berpagar tembok tinggi.

Seseorang memukul kepalanya,

“Begitulah hukumannya jika kau bohong. Nama?”

“Pekerjaan?”

“Satpam.”

“Bohong!”

Sebuah tinju bersarang di kepalanya.

“Jadi, apa pekerjaanmu?”

“Satpam.”

Sebuah tinju lagi.

“Pekerjaan sampingan?”

“Tidak Ada.”

Sebuah tinju lagi.

“Jangan mukul lagi, Pak. Nanti Bapak menyesal.”

Orang-orang tertawa. Mereka memukul dan menendang keras-keras. Tapi di luar dugaan tangan dan kaki mereka seolah menyentuh patung perunggu. Mereka berteriak-teriak kesakitan.

“Terima kasih, Bapak-bapak.”

Wasripin keluar dari markas, sementara mereka masih mengaduh-mengaduh memegangi tangan dan kaki.

6

TEMPAT pertama yang disinggahi Wasripin ialah rumah sewa Satinah. Ketika Satinah melihatnya, ia ternganga dan menyeka matanya berkali-kali.

“Benar, kok. Ini Wasripin. Bukan setan, bukan hantu, bukan nyawanya.”

Mereka berpelukan, lalu pelan-pelan Wasripin mundur.

“Maaf, maaf,” katanya.

“Tidak apa, minta maaf segala.”

“Begitu saja terjadi, tanpa dipikir.”

“Apa perlu dipikir?”

Mereka berdiri terhenyak, mengenang pelukan itu.

“Oh, duduk. Sampai lupa mempersilakan.”

Wasripin duduk. Satinah ke dalam.

“Pak Lik, tebak siapa yang datang?”

“Siapa?”

“Wasripin, eh, Kang Wasripin. Kau benar.”

“Sudah kubilang. Orang itu tak perlu susah atau gembira. Segalanya ketentuan Yang Di Atas.”

Paman keluar menemui Wasripin, sebentar kemudian Satinah keluar dengan teh dan kaleng biskuit.

“Eh, tadi makan belum?” Wasripin menggeleng.

Tempat kedua yang disinggahi Wasripin ialah surau. Segera ia bergabung dengan jamaah Maghrib. Mereka semua senang melihat Wasripin kembali. Pak Modin mengajak semua sujud syukur, Wasripin telah selamat dari musibah. Kata Pak Modin, “Itu bukan musibah. Tapi rahmat.”

7

ORANG-orang di perkampungan nelayan sudah membaca berita bahwa sipil bersenjata (yang malam itu datang) ternyata adalah tentara sewaan. Mereka sudah dilucuti dan sedang dihadapkan Pengadilan Militer. Selain itu, juga dimuat dalam koran tentang hadiah berupa uang beserta sertifikat penghargaan yang akan diberikan langsung oleh Kapolri Propinsi kepada siapa saja yang dapat memberi informasi mengenai dua geng kayu ilegal itu. Polisi berjanji untuk menyembunyikan nama informannya. Kabarnya, banyak yang memberi informasi tapi selalu saja tidak akurat.

Maka kawan-kawannya mendorong Wasripin untuk memberi informasi. Pergilah Wasripin ke polisi. Dan, betul dia pergi ke polisi. Dua hari kemudian polisi berhasil menangkap semua anggota geng dari kedua kelompok. Kecuali, para bosnya yang sempat kabur dan masuk dalam daftar DPO (Daftar Pencarian Orang). Namun, uang tak pernah diberikan, dan upacara pemberian penghargaan tak pernah ada. Para nelayan datang ke Markas Polisi Kabupaten, tetapi mereka ditolak karena Kepala Polisi sibuk. Mereka datang lagi, gagal lagi. Mereka kembali lagi ke Markas, Kepala Polisi sibuk lagi. Mereka putus asa. Akhirnya datang ke kantor kecamatan untuk mendesak Camat menanyakan penghargaan itu. Camat pergi ke Markas Polisi. “Sebenarnya kami malu pada masyarakat kami malu pada masyarakat. Ada perintah dari atas supaya penghargaan tak diberikan. Begini saja, Pak. Katakan bahwa penghargaan diberikan nanti kalau para bos sudah tertangkap.” Camat menyampaikan persis seperti dipesan Kepala Polisi. Sehari kemudian surat-surat kabar memuat tertangkapnya dua bos kayu ilegal. Para nelayan berharap bahwa penghargaan segera turun. Tetapi tidak juga.

“Tidak ada penghargaan tak apalah,” kata Wasripin.

“Bukan untuk kamu, tetapi untuk kami.”

Mereka memutuskan untuk mendatangi lagi Markas Polisi. Kepala Polisi kepergok. Ketika mobilnya dibuka ajudan, para nelayan mendekat dan menyampaikan maksud kedatangan mereka.

“Bapak-bapak ini bagaimana. Wasripin saja tidak peduli kok malah kawan-kawannya yang ribut. Yang berjasa Wasripin mestinya dia yang menuntut.”

“Kami masih orang timur, Pak. Wasripin tidak akan datang minta penghargaan.”

“Jadi jelas, kan. Tidak ada persoalan. Selamat siang.”

Kepala Polisi meninggalkan mereka. Masuk dalam gedung.

Mereka kembali sangat kecewa. Mereka terus saja di Markas. Mereka berteriak-teriak.

“Pak Polisi,mana tanda jasanya?”

“Mana penghargaan?”

“Rakyat berjasa tak dihargai!”

“Penggede korupsi malah jadi pahlawan!”

“Ini demokrasi Pancasila. Yang gedhe diemuk-emuk, yang kecil dikerasi!” (Diemuk-emuk artinya dibuat enak).

Entah dari mana datangnya, tiga anjing besar dengan mulut ternganga menyerbu para nelayan yang berdiri di halaman Markas. Para nelayan berhamburan keluar gedung.

8

KETUA Partai Randu desa yang meliputi perkampungan nelayan pagi-pagi sekali menemui Wasripin. “Ini rahasia. Saya dapat bocoran informasi. Penghargaan itu tidak akan diberikan. Pusat yang melarangnya, alasannya macam-macam yang anehlah. Di antaranya, KTP tidak ada. Jadi kau penduduk gelap. Kau dituduh PKI atau DI/TII. Maka saya kira KTP itu perlu segera dibuat. Saya akan mengusahakan secepatnya. Tapi perlu beberapa keterangan. Tanggal lahir?”

“Ya, kira-kira dua puluh tiga tahunan yang lalu.”

“Bagaimana kalau tanggal lahir 2 Januari?”

“Ya, Pak.”

“Jadi tanggal lahir kita sama. Nama ibumu?”

“Tidak tahu.”

“Bagaimana kalau Amanah?”

“Setuju.”

“Jadi nama ibu kita sama. Ayah?”

“Juga tidak tahu.”

“Bagaimana kalau Mukmin?”

“Setuju.”

“Jadi nama ayah kita sama. Kita kakak-beradik.”

“Ya, kita semua bersaudara, Pak.”

Ketua Partai Randu pamit. Dari jauh dikatakannya, “Jangan lupa kita bersaudara.” Lalu dikatakannya pelan, ditiup angin. “Kemudian kita membangun sekat-sekat.”

SEBELAS

1

SIANG Hari Pasar itu Wasripin dengan sebuah kail pergi ke teluk. Sekali itu ia sempat melayangkan mata ke sekitar. Ia mengikat kailnya. “Sedang apa kau?” tanya seorang nelayan yang sedang memperbaiki jaring-jaringnya. “Memancing,” jawab Wasripin. “Gila! Tidak akan ada ikan di situ.” “Tidak dapat, ya tak apa.”

Kemudian Wasripin yang berbaju ungu duduk dalam lingkaran bersama orang-orang lain yang ingin mendengar Satinah menyanyi. Paman bermain kecapi sebagai pembuka. Satinah mulai dengan mengajak semua menyanyi. Dan bertepuk tangan. Lalu nyanyian yang lain-lain. Setelah selesai, katanya, “Saya akan menyanyikan ‘Dandanggula Tanah Merindukan Hujan’. Kalau jelek,

jangan ditertawakan. Yang penting tembang ini jujur. Nyanyian yang saya gubah sendiri ini ditujukan untuk seseorang. Mulai, ya?”

Dhuh gusti, ra udan puniki

lemah-lemah selak pada bengkah

grimis we mendah senenge

(Aduh Tuhan, hujan tidak datang

tanah-tanah sudah tidak tahan

gerimis saja betapa senang)

“Tidak mengharap banyak, gerimis saja sudah senang,kok,” kata Satinah.

Mengko neka keduwung

yen ana singa andhisiki

nyiram banyu tawa

wong selak pikun

(nanti kalau menyesal

jika ada yang mendahului

menyiram air tawar

sebab keburu pikun)

“Ya ketimbang tidak, to?”

aywa suwe-suwe to

anggonmu mikir kuwi

wong butuh tenan kakang

(jangan terlalu lama

kau memikirkan

soalnya saya membutuhkan, kakang)

“Butuh apa, nggak tahu, hayo.”

“Lagi!”

“Lagi!”

Satinah menyanyikan tembang itu lagi.

“Sekarang lagunya bernama, ‘Syair dan Pantun Bulan Merindukan Pungguk’.”

“Kebalik!”

“Memang nyatanya kebalik, kok!” kata Satinah.

Bulan pucat pasi

menanti pungguk bernyanyi

bulan menangis

matanya sembab hatinya teriris

kabutkah yang menutupi

sampai wajahnya tersembunyi

rasanya panas matahari

selalu siang tak pernah pagi

buah pace buah mengkudu

rasanya muak baunya tak enak

siapa dia berbaju ungu

lha kok selalu mengelak

kelapa muda segar minumnya

tapi pemanjat takut memetik

bulan sudah bersedia

pungguk yang takut bernyanyi

“Ayo, sebut saja!”

“Siapa pungguk, siapa bulan!”

“Jangan-jangan dia!”

“Sekarang tembangnya bernama ‘Keroncong Bunga Merindukan Kumbang’. Oke?” kata Satinah.

Lama sekali bunga bergoyang, sayang

ke kanan dan ke kiri

meliuk-liuk bertahan dari angin

tapi kumbang yang dinanti-nanti

tak kunjung datan, ooo

entah sampai kapan, sayang

bunga bisa tinggal di taman

jangan-jangan malah dipetik orang, ooo

lama sekali bunga bergoyang, sayang

ke kanan dan ke kiri

meliuk-liuk bertahan dari angin

tapi kumbang yang dinanti-nanti

tak kunjung datang, ooo

entah sampai kapan, sayang

bunga bisa tinggal di taman

jangan-jangan malah dipetik orang, ooo

“Sekarang ‘Dangdut Sungai Merindukan Air’. Kalian semua bisa berjoget.”

Ada sungai di negeri Antah-Berantah

kering-kerontang, batu lumut dan lumpur di permukaan

ooo menyedihkan sekali

air mati tidak mengalir

ataukah airnya pergi ke tempat lain

ooo menyedihkan sekali

ada sungai di negeri antah-berantah

kering-kerontang, batu lumut dan lumpur di permukaan

ooo menyedihkan sekali

tidak ada mendung tidak ada angin

tidak ada guntur tidak ada hujan

ooo menyedihkan sekali

ada sungai di negeri antah-berantah

kering-kerontang, batu lumut dan lumpur di permukaan

ooo menyedihkan sekali

jangan-jangan ada air dari tempat lain mengalir

ooo menyedihkan sekali

Wasripin tak kelihatan, sementara orang berjoget. Juga ketika mereka berhenti berjoget. Juga ketika Satinah mulai lagi.

Suwe ora jamu

jamu tolak angin

suwe ra ketemu

temu pisan karo a-i-in

“Saribin!”

“Thoyibin!”

“Gholibin!”

“Tholibin!”

“Aripin!”

“Bukan,” kata Satinah.

Suwe ora jamu

jamu masuk angin

suwe ra ketemu

temu pisan karo a-i-in

“Masuk angin!”

“Ih-u!”

Wasripin datang dengan seekor ikan di dalam tas plastik transparan. Ia berdiri-diri di tepi. Orang mendorongnya ke tengah. Ia berdiri kaku, tak tahu yang harus dikerjakan.

“Serahkan ikan itu!” kata orang banyak

Suwe ora jamu

Jamu godhong ringin

Suwe ra ketemu

Temu pisan karo a-i-in

“Wasripin! Siapa lagi.”

Mereka bertepuk dan berteriak-teriak.

“Maju!”

“Maju terus! Pantang mundur!”

Wasripin maju dan menyerahkan ikan.

“Bilang! I love you!” kata orang bayak.

“Untuk apa!” kata orang lagi.

“Lamaran!” kata Wasripin.

“Diterima nggak, kawan-kawan?” Satinah.

“Terima! Terima!”

“Ya, saya menerima,” kata Satinah.

Orang-orang bertepuk tangan.

Jenang selo wader kalen

Apuranto yen wonten lepat kawulo

Kerumunan itu bubar. Satinah dan Wasripin ke paman.

“Ada apa, Nduk. Kok rame-rame?”

“Ini. Kang Wasripin itu memancing, dapat ikan besar sekali.”

“Nanti malam kita pesta?”

“Tentu saja, Pak Lik. Kang Wasripin, ajaklah teman barang lima orang.”

2

DI perkampungan nelayan kemudian beredar berita bahwa malaikat telah menggiring seekor ikan besar ke kail Wasripin. Pengalaman Wasripin dengan memancing di teluk itu mengilhaminya untuk memanfaatkan teluk sebaik-baiknya. Ia tahu. Orang juga bisa beternak ikan dengan tambak, dan di sungai sistem karamba. Selain itu, ia akan menjadikan teluk itu sebuah “Wisata Air”. Dengan tambak: jika para lelaki harus melaut supaya dapat ikan, sedangkan para perempuan bisa mendapat ikan tanpa melaut. Kalau sedang tidak musim ikan, para nelayan tetap mendapatkannya. Dengan “Wisata Air” dapat memberi banyak pekerjaan baru. Tukang perahu, penjual ikan segar, penitipan sepeda/sepeda motor, dan banyak lagi. Cerita yang beredar bahwa malaikat telah menolongnya, memuluskan jalan ketika ia mengusulkan tambak dan “Wisata Air” pada suatu rapat koperasi. Kemudian seperti disulap akan terlihat orang sibuk membuat empang di sekitar teluk dan di pantai, serta karamba di sungai.

3

KEDATANGAN Wasripin dan kawan-kawannya malam itu memperjelas lamaran Wasripin dan berhasil menetapkan tanggal perkawinan. Paman Satinah nampak gembira ketika mendengar lamaran dan ikut merencanakan tanggal perkawinan. “Hari Senin Pon Bulan Mulud Tahun Dal!” katanya. “Hari Senin Pon Bulan Mulud itu kelahiran Kanjeng Nabi, Tahun Dal itu artinya dadi (jadi).”

Sudah ditetapkan bahwa Satinah akan datang naik andong diantar beberapa tetangga pada pukul 07.00. Wasripin sudah menunggu di surau. Pejabat KUA akan datang untuk mencatat. Pak Modin akan menjadi wali, menikahkan mereka, dan mengucapkan khotbah nikah. Malam harinya akan ada walimahan. Orang akan membangun tenda di depan surau. Wasripin mengatakan bahwa ia akan mengundang emak angkatnya yang di Jakarta. Dikatakannya pula perasaannya bahwa pasti ada hubungan antara paman dan Satinah dengan emak angkatnya.

Kebahagiaan Satinah berlipat ganda malam itu, karena pamannya begitu bersemangat. Baginya itu suatu tanda baik bahwa pamannya sudah melupakan janjinya untuk mengantarnya hanya sampai ia dilamar orang. “Jangan lupa mengatakan ketika kau menerima lamaran,” kata pamannya entah berapa kali setiap ia tahu ada laki-laki mendekat.

4

PAK Modin mengundang dua adiknya dan dua orang anak-anak tunggal adik-adiknya. Seperti diketahui, ia suka serba resmi dan serba nasehat. Bila adik-adik dan para keponakan datang pada Hari Raya, pasti doa dan nasehatnya panjang, mirip ceramah. Maka, mereka tidak terkejut ketika mereka mendapat undangan. Tidak ada yang aneh, hanya yang agak luar biasa adalah soal waktu, sepertinya tidak ada alasan.

Kata Pak Modin memulai, “Bersyukurlah banyak-banyak, karena kedua orangtua kalian jelas. Bagaimana andaikata kalian lahir ke dunia tapi tidak tahu siapa bapak dan siapa ibu, nama mereka, dan alamat mereka tidak jelas. Juga tidak ada kekayaan apa pun diwariskan. Nah, kalian kami undang kemari, pertama-tama, untuk bersama bersyukur, sebab siapa yang pandai mensyukuri nikmat, Tuhan akan menambah kenikmatan itu. Kedua, untuk memberitahukan kesepakatan kami berdua. Seperti diketahui karena kebijaksanaan Allah kami tidak mempunyai keturunan. Maka kami bermaksud untuk memberikan kekayaan kami pada keponakan-keponakan dan kepada orang di luar keluarga yang membutuhkan. Kalian masing-masing akan dapat satu hektar sawah kami, dan rumah ini akan saya berikan kepada Wasripin, yatim piatu itu yang jadi merbot surau itu. Saya akan mengurusnya ke kelurahan dan ke agraria.”

Pak Modin menemui Wasripin sesudah Isya’.

“Begini, Nak. Maksud kami, saya dan ibunya, akan minta supaya sesudah pernikahan nanti kalian berdua sudi tinggal di rumah kami seadanya. Jangan dipikirkan yang lain-lain, pokoknya semua beres. Mengapur, membuat sekat-sekat, dan dipan semua dikerjakan anak surau.”

“Wah, saya merepotkan saja. Sudah terlalu banyak yang saya minta dari Pak Modin dan teman-teman di surau. Kata emak angkat saya ini namanya karoban kebaikan.”

“Jangan bilang begitu. Tidak apa-apa. Begitulah adat kami di sini.”

“Ya, Pak. Malah saya mau bilang, kalau emak saya datang dari Jakarta, boleh numpang di rumah?”

“Itu rumahmu, Wasripin. Jadi biarlah emakmu tinggal bersama kita.”

“Terima kasih.”

Pak Modin tidak mengatakan kalau Wasripin akan jadi pemilik rumah itu, sertifikat tanah itu akan jadi hadiah perkawinan.

5

KEPALA TPI mengundang Wasripin ke kamarnya. Katanya, “Akhir bulan ini saya akan BT, kemudian pensiun.

Saya akan mengusulkan supaya engkau jadi pengganti saya.”

“Jangan, Pak. Saya akan jualan ketoprak.”

“Apa sudah dipikir?”

“Jadi pegawai bukan potongan saya. Satpam saja sering saya tinggal melaut. Kabarnya orangtua saya dulu ke Jakarta karena ingin mengembara.”

“Apa kau juga ingin mengembara?”

“Bukan begitu, Pak. Ini soal bisnis. Saya akan jualan ketoprak di sini, sementara itu orang-orang lain saya ajari dan membuka warung ketoprak di tempat-tempat lain.”

“Ya, sudah. Saya sendiri akan membuka bengkel sepeda motor.”

6

KETUA Partai Randu menemui Wasripin. Katanya, “Wah, Dik.” (Ia sudah memanggil “dik” Wasripin). “Celaka. Bagian intelijen partai (disebut Departemen Khusus) mendapat kabar bahwa para dukun santet akan balas dendam. Dan orang yang dituju mereka sebut dukun dari perkampungan nelayan. Saya juga heran kok kita yang jadi sasaran, padahal pengadilan saja sudah menyatakan tak terlibat. Ada saja orang yang cari gara-gara ketika semua sudah beres. Kampanye aman, tak ada kerusuhan, tak ada perkelahian.”

“Ya, begitulah orang.”

“Apa tidak lebih baik kita mendahului daripada keduluan?”

“Tidak.”

Ketua Partai Randu gelisah. Ia ingin mencari siapa biang kerok dari semuanya itu. Ia bergerak cepat. Setelah dicermati dalam waktu 24 jam ia peroleh namanya. Kebetulan orang itu anggota partai. Mudah saja baginya mencari foto, dan alamat. Ia kenal betul pemegang daftar anggota.

Ia kembali menemui Wasripin dengan nama, foto, alamat, dan denah rumahnya. Ia mengusulkan agar orang itu disantet atau “apa begitu”, pokoknya mendahului.

“Wah, tidak ada ilmu saya.”

“Apa serahkan saja kepada saya?”

“Tidak, Pak. Kita tawakal saja.”

“Menyerah sebelum bertanding?”

“Habis, bagaimana lagi. Saya tak akan bertanding.”

Malam harinya perkampungan nelayan itu geger. Seseorang melihat dengan jelas cahaya-cahaya merah bersliweran di atas surau. Ia berteriak keras, “Bintang akan jatuh! Bintang akan jatuh!” Orang-orang keluar untuk melihat bintang jatuh. Mereka juga melihat ada bara-bara api berputar-putar di atas surau. Orang-orang berkerumun. Ada Wasripin dalam kerumunan itu. Tiba-tiba Ketua Partai Randu datang, langsung menemui Wasripin. “Berbuatlah sesuatu! Hentikan cahaya-cahaya merah itu!” katanya, menggoyang-goyang tubuh Wasripin. “Tidak, Pak. Tidak apa-apa. Kita perlu hiburan.” Untuk beberapa waktu cahaya-cahaya itu bersliweran. Kemudian sepertinya tertiup angin, menghilang dari atas suarau.

Setelah cahaya-cahaya pergi Ketua Partai Randu mengatakan kepada banyak orang, “Cahaya-cahaya itu adalah santet untuk Wasripin. Saya usul supaya sejak ini kita bergantian mejaganya. Jangan sampai kita lengah. Kalau ada cahaya, ledakan, atau benda yang mencurigakan beritahu kawan-kawan nelayan. Kita harus waspada. Mereka akan berbuat lebih kejam lagi.”

Sejak itu rumah, pribadi, dan seluruh tingkah Wasripin mendapatkan pengawalan. Ketika sore Wasripin potong rambut, para pengawal

mengumpulkan rambut dan segera memendamnya dalam tanah. Jemuran pakaian Wasripin juga dijaga. Makan Wasripin lebih dulu dicicipi.

Malam hari Wasripin dinas jaga di TPI. Enam orang nelayan yang sedang bertugas menjaga Wasripin ikut jadi penjaga malam. Malam itu tiga orang datang menemui Wasripin. Mereka mengaku utusan dari tiga orang dukun. Mereka datang untuk minta maaf dan obat. Ternyata, santet yang mereka lempar untuk Wasripin kembali dan berbalik mengenai mereka. Kalau tidak diberi obat, mereka akan mati dalam tiga hari. “Saya akan mengunjungi mereka,” kata Wasripin. “Jangan,ini jebakan,” kawan-kawannya keberatan. “Tidak, mereka tidak bohong. Adalah hak yang sakit untuk dikunjungi yang sehat.” Kawan-kawannya, “Kami akan mengawalmu.”

Pagi harinya, ketika Wasripin akan berangkat, 25-an orang mengantarnya dengan sepeda motor. Di jalan waktu ketemu iring-iringan Partai Randu atau Partai Langit mereka saling bertukar acungan jempol. Orang-orang menyisih memberi jalan, “Ini partai apa, kok tidak pakai bendera?”

Melihat orang yang datang masih muda-muda, seorang dukun sambil memegangi kepala yang sakit kemasukan paku-paku bertanya, “Mana Bapak Wasripin, saya mau minta maaf.” Ketika seorang muridnya menunjuk Wasripin sambil mengatakan bahwa sebaiknya ia memanggil dengan “nak”, dukun itu terkejut. Ia melihat Wasripin yang masih bocah. “O, tidak. Aku lebih baik mati daripada minta maaf!” katanya melengos. Isterinya menyabarkan, “Sabar, Pak-e, sabar.” Kepada Wasripin ia berkata, “Maafkan, Nak. Begitulah watak suami saya.” “Tidak apa-apa, Bu. Boleh saya memegang kakinya?” Wanita itu mempersilakan. Kemudian Wasripin memberi sebotol Aqua, dan minta pamit.

Dukun lain juga terkejut dengan kemudaan Wasripin. Mereka tidak percaya bahwa orang yang akan dibunuhnya patut jadi cucunya. Mula-mula, demi kehormatan, mereka tidak percaya bahwa orang semuda itu dapat membuat santetnya membalik. Bahkan, akan mengobati. Seperti dukun pertama, juga para isteri berperan untuk menyabarkan dan menyadarkan.

Setelah mereka mendapat cerita bahwa Nabi Hidhir-lah yang mengajarkan ilmu padanya, mereka percaya keampuhan dukun muda itu, dan ingin berguru padanya. Bahkan anak-anak bisa melampaui orang tua bila mendapat wahyu. Maka, keesokan harinya mereka bersama para cantrik ingin menemui Wasripin. Tidak mudah, sebab para nelayan masih bergantian menjaga. Setelah mereka mengutarakan maksud, Wasripin diundang. “Wah, bukan potongan saya menjadi guru.” Lalu ia merujuk ke Pak Modin.

Pak Modin berceramah, “Berjalan di atas air? Tidak aneh. Katak yang hina itu pun bisa. Melayang-layang di udara? Tidak aneh.

Gagak pemakan bangkai pun bisa. Dapat memasukkan batu di kepala orang? Tidak aneh. Iblis yang terkutuk pun bisa mengerjakan. Manusia itu lebih mulia daripada katak, burung, dan iblis. Bahkan, ia sebenarnya lebih mulia daripada malaikat. Terserahlah, mau jadi mulia, hina, atau hina-dina. Sebelum belajar ilmu yang lurus, ilmu yang tidak mendatangkan manfaat bagi orang lain, malah selalu merugikan orang harus dilepas dulu. Kata Nabi, ‘semulia-mulianya orang ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain’. Itu

syaratnya. Kalian saya beri waktu dua hari untuk berpikir. Sudah itu kembalilah yang ingin kembali ke jalan yang lurus.”

7

HARI Pasar. Sesudah paman main siter, sesudah semuanya selesai. Kata Satinah, “Maaf, dengan sangat menyesal harus diumumkan bahwa saya ingin berhenti menyanyi,” Gumam panjang dari orang dalam lingkaran menunjukkan kekecewaan. “Belum selesai. Kalau saya nanti sudah jadi Nyonya Wasripin, akan tinggal di sini dan membentuk kelompok karawitan, keroncong, atau dangdut. Pilih mana?”

“Karawitan?”

“Tidak!”

“Keroncong?”

“Tidak!”

“Dangdut?”

“Yaaa!”

“Dangdut, dados.”

Kata Satinah lagi, “Karena Pak Lik juga akan meninggalkan kalian, ia sudah menggubah lagu ‘Maskumambang Selamat Berpisah’ dan ‘Megatruh Selamat Tinggal’. “Maskumambang” artinya emas yang mengapung di air, sebuah keajaiban, dan “Megatruh” artinya pisahnya roh dari badan, tanda bahwa perpisahan ini ibarat kematian. Silakan, Pak Lik.” Satinah memasukkan kaset, merekam tembang pamannya.

Paman mulai dengan siternya disambung seruling. Permainan seruling itu mendayu-dayu, mengiris-iris hati, membuat para nelayan yang tiap hari menghadapi gempuran ombak itu termenung. Ketika seruling memainkan ‘Megatruh Selamat Tinggal’ mereka membayangkan kegagalan, keputusasaan, dan kematian. Sebagian orang mulai berdiri, meninggalkan lingkaran. “Kami datang untuk bersenang-sengang, bukan untuk bersedih-sedih,” pikir mereka sambil meninggalkan tempat itu.

“Pak Lik, penonton semakin menipis.”

“Sekali ini jangan larang saya main. Sesuka saya.”

Satinah semakin gelisah. Penonton tinggal anak-anak sekolah.

“Pak Lik, tidak ada lagi penonton.”

“Saya tidak bermain untuk penonton.”

Dia tahu pamannya tidak lagi dapat diberi tahu, lalu diam. Menanti sampai pamannya berhenti.

Di bawah pohon, di lapangan, di pasar tidak ada lagi orang. Wasripin datang dengan seragam Satpam, menolong Satinah membungkus pengeras suara.

8

SEBUAH panitia walimahan sudah dibentuk. Para nelayan patungan menanggung biaya. Orang tahu bahwa surau akan punya hajatan. Beras, ketan, gula, kopi, dan teh. Panitia juga mencatat siapa akan menyumbang

apa. Sumbangan berupa daging, ikan segar, dan sayur akan diserahkan sehari sebelum walimahan. Tenda akan dipasang sehari sebelum pernikahan.

Anak-anak yang mengaji di surau belajar shalawatan bersama dua orang gadis nelayan. Orang-orang laki-laki dewasa mengiringi dengan menabuh rebana. Di surau sudah tersedia topi-topi lancip berwarna merah untuk dipakai anak-anak yang akan berseragam putih. Di emper mereka diajari meliukkan badan dan leher, melambaikan tangan. “Shalawaat Badriyyah!” perintah gadis nelayan pengajar menyanyi.

shalluu ‘alaih!

(seorang pemain rebana berteriak, rebana mulai ditabuh).

shalaatullah salaamullah

“alaa thaahaa rasuulillah

shalaatullah salaamullah

‘alaa yaasiin habibillah

“Lagi, lagi!”

tawassalnaa bibismillah

wa bilhadii rasuulilah

wa kulli mujahidilillah

wa biahli badri yaa Allah

“Lagi, lagi!”

ilaahii sallimil ummah

minal afaati wanniqmah

wa min hummi wa min hummah

bi ahlil badri ya Allah

“Lagi, lagi!”

Orang akan memasang tenda siang hari, sedangkan pernikahan berlangsung besok pagi-pagi. Listrik sudah diurus ke PLN. Surau akan punya kerja! Para nelayan ingin membuat pasangan Wasripin dan Satinah berbahagia di hari pernikahan. Mereka berdua adalah anak-anak yatim piatu yang kesejahteraannya menjadi tanggungan masyarakat.

Tiga ekor kambing sumbangan masyarakat di luar perkampungan nelayan ditambatkan di pohon jeruk di samping surau. Orang sudah memesan piring, sendok, dan gelas dari kas desa.

Selesai upacara keduanya akan menetap di rumah Pak Modin, lalu sore hari sesudah Isya’ mereka akan diarak dengan rombongan rebana dan rodat ke pelaminan di tenda. Penceramah walimahan diambilkan dari luar daerah, ceramah yang pasti banyak luconnya disela lagu-lagu Islami dalam berbagai cengkok. Perayaan praktis akan berlangsung selama tiga hari, sebab akan dilanjutkan dengan perayaan Mauludan berupa pertandingan bola, bola basket, badminton, dan puncaknya ceramah Maulud.

TIGABELAS

1

KEPALA Polisi Kabupaten duduk saja di kursinya, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Dulu dia dilarang memberi penghargaan apa pun pada Wasripin, sekarang ia dapat telegram dari Markas Besar untuk mempersiapkan pemberian

bintang jasa “Adhikarta” kepada Wasripin. Tidak percaya, dia menelepon ke Mabes. Malah, diberitahukan pula bahwa Kapolri sendiri berkenan menyematkan bintang. Itu perlu, kata Mabes, supaya ada partisipasi masyarakat dalam menjaga ketertiban dan keamanan. Kapolri akan datang dengan pesawat lewat Semarang, kemudian dengan rombongan provinsi akan berkonvoi ke tempat upacara.

Upacara diminta melibatkan masyarakat (sekolah, Hansip, dinas-dinas, jajaran Pemerintah Daerah, Ormas, Orpol). Mudah saja, mereka sudah terbiasa dengan upacara-upacara sehingga siapa bertugas apa bukan persoalan. Undangan segera disebar, termasuk undangan kepada Wasripin.

Polisi Lalu-Lintas sudah diminta merencanakan jalan mana yang akan ditutup, dan jalur alternatifnya. Gladi resik juga sudah diatur. Konsumsi berupa air minum dan makanan kecil bisa dikerjakan ibu-ibu polisi. Pendeknya, semua sudah diatur rapi. Hari Minggu gladi resik, dan hari Senin pelaksanaannya.

2

KETIKA ada motor polisi datang di perkampungan nelayan itu, orang-orang sudah curiga: jangan-jangan Wasripin kena perkara polisi lagi. Tetapi tidak, dia dapat undangan untuk menerima bintang “Adhikarta” yang akan disematkan langsung oleh Kapolri. Mereka yang berkerumun bersorak-sorak, “Hidup hidup, Wasripin!” Siapa menanam, ia mengetam, pikir mereka.

Wasripin jug diberitahu di mana duduk, tempat duduk teman-teman yang mengantar, dan kapan dia dipanggil maju untuk menerima. Sesudah upacara Kapolri berkenan omong-omong sebentar dengan Wasripin dan lima orang teman di pendopo kabupaten.

Undangan itu hanya sedikit mengubah rencana. Sesudah akad nikah mereka akan datang di stadion, tempat upacara. Mereka bergerombol dan mencoba menebak-nebak makna dari undangan. Para nelayan menafsirkannya sebagai “kerjasama penguasa dan masyarakat”, “peranserta msyarakat”, “kepercayaan pada masyarakat”, dan “ada perubahan di atas sana”.

3

SABTU sore paman Satinah mengatakan, “Tinah, kalau ketemu emaknya Wasripin, bilang saya minta maaf dan kesalahan dia sudah saya maafkan.”

“Tidak, Pak Lik akan ketemu dia.”

“Ya kalau ya, kalau tidak bagaimana. Umur orang itu sudah ditetapkan, tidak bisa dimajukan atau diundurkan sesaat pun.”

Tidak seperti biasanya, paman mengunci pintu dari dalam. Kemudian bermain siter dan seruling, ‘Maskumambang’ dan ‘Megatruh’. Itu-itu saja yang dimainkannya, sampai lewat tengah malam. Satinah mengetuk pintu. “Pak Lik, sudah malam. Ingat tetangga.” Biasanya pamannya menurut, tapi kali ini tidak. Peringatan itu diulang lagi, tapi pamannya terus saja. Diulang lagi, terus saja. Satinah gelisah. Ketika siter dan seruling itu akhirnya berhenti, kegelisahan Satinah meningkat jadi kecurigaan. Tapi dibiarkannya kecurigaan

itu sampai pagi tiba. Pagi itu ia bertambah curiga ketika pamannya belum juga bangun.

Minggu Pahing. Ketika matahari sudah keluar dan pamannya belum bangun, ia lari ke tetangga, minta supaya pintunya dibuka paksa. Para tetangga datang dan mendobrak pintu. Di atas dipan pamannya terbujur kaku dengan wajah tersenyum. “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun,” kata para tetangga. “Dia bunuh diri,” kata para tetangga berbisik pelan. Tapi, Satinah mendengar juga. “Tidak, Paman tidak bunuh diri,” pikirnya. “Orang-orang harus dibuat mengerti.”

Jenazah dimandikan dan dikafani. Kemudian upacara pemberangkatan jenazah. Setelah sambutan-sambutan, pembawa acara mengumumkan, “Kalau ada hutang almarhum belum dibayar, mohon menghubungi ahli waris. Ada?” Pada waktu itulah Satinah minta gagang mikrofon, “Bapak-bapak, Ibu-ibu. Paman ingin pamit dengan lagu “Maskumambang’ dan ‘Megatruh’. (Lalu disetelnya kaset). Dan mohon diketahui bahwa Paman tidak pernah bunuh diri. Ia meninggal karena rohnya meninggalkan badan dan tidak kembali. Ia tidak bunuh diri, rohnya meninggalkan badan dan tidak kembali ….” Ia masih akan menerangkan bahwa pamannya menguasai kawruh bab pejah, ilmu tentang kematian, tapi matanya berkunang-kunang, badan lemas, dan jatuh pingsan. Beberapa wanita membawanya ke dalam rumah. Modin desa mengisyaratkan untuk mulai mengusung jenazah. “Laa ilaaha illaa Allaah Muhammadun rasuulullaah, laa ilaaha illaa Allaah Muhammadun rasuulullah”, katanya keras. Disambut dengan ucapan sama oleh semua yang hadir, lalu jenazah diberangkatkan.

4

UPACARA pemberian bintang itu membuat gelisah Ketua Partai Randu Kabupaten. Di tengah-tengah musim kampanye, hal itu merupakan kampanye gratis dan besar-besaran bagi partai lain dan Golput. Ia mengumpulkan semua pimpinan untuk menjelaskan perlunya penggagalan upacara itu.

“Tapi upacara tinggal besok pagi.”

“Kita masih punya waktu dua puluh jam penuh.”

“Bagaiman caranya?”

“Itulah, itulah. Makanya saudara-saudara saya kumpulkan. Lebih banyak kepala, lebih baik.”

Ketua Departemen Khusus angkat bicara, “Serahkan saya.”

“Ini rapat terbuka, jadi kami perlu tahu caranya.”

Ketua Departemen Khusus mendekati Ketua dan bisik-bisik.

“Saudara kita mengatakan bahwa menggagalkan upacara yang ditangani orang banyak itu tidak mungkin. Tapi disanggupkannya untuk berusaha supaya Kapolri tidak hadir, dan protokolnya berbicara ngawur. Bagaimana, setuju?”

“Setuju,” kata yang hadir.

Maka wewenang itu diserahkan pada Departemen Khusus. Kapolri perlu dibuat berhalangan dan protokol ngoceh seperti burung. Itu bukan perkara sulit baginya.

Ia bekerja cepat. Ditemuinya seorang dukun yang bisa membuat niatnya kesampaian.

“Maaf, Pak. Saya tidak bisa menolong. Saya sudah membuang ilmu saya. Saya mau mati sempurna. Sebaik-baiknya orang ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain, kata Nabi. Selama ini saya sudah salah jalan. Karenanya ….”

Dukun tidak meneruskan kata-katanya, karena seperti tidak mendengarkan, terus pamit.

“Mau bilang tidak becus saja kok berputar-putar.”

Tidak disanggupi satu dukun, ia pergi ke dukun lain. Jawabannya sama.

“Wah, Pak. Ternyata saya sesat. Mumpung masih ada umur, saya mau bertobat. Jadi, maaf saya tidak bisa menolong Bapak.”

Ke dukun lain lagi, juga sama.

“Saya sekarang baru sadar. Kalau mengirim paku ke perut orang itu pekerjaan hina-dina.”

“Sudah, sudah. Saya tahu kelanjutannya.”

Putus asa dengan para dukun, dia kembali ke Ketua Partai, yang menantinya di kantor. Ketua Partai masih menunggu di ruangnya. Ruangan yang lain penuh orang dari Departeman Pemenangan Pemilu. Ia masuk ke ruangan Ketua.

Where there is a will, there is a way,” kata Ketua Partai setelah mendengar laporan kegagalan itu. “Jangan khawatir kita masih punya cara.”

Melihat optimisme Ketua Partai, Ketua Departemen Khusus pergi dengan keyakinan bahwa sebuah jalan pasti sudah terpikirkan.

Setelah sendirian di kamarnya – orang di puncak harus berani sendirian – ia menelepon Komandan Satgas Partai Randu. Komandan datang dengan pakaian lapangan, karena baru saja mengawal sebuah kampanye Partai.

“Ya, Pak.”

“Begini. Saya punya pikiran bagus.”

“Ya, Pak.”

“Seperti kita tahu bahwa besok pagi Kapolri akan datang untuk menyematkan bintang ‘Adhikarta’ kepada Wasripin. Ini tidak boleh terjadi. Alasannya kita bersama sudah tahu.”

“Ya, Pak.”

Ketua Partai menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Satgas saya tugaskan untuk menculik Wasripin, sampai besok siang pukul 12.00. Sudah itu boleh kau lepas dia. Tapi jangan sampai orang tahu.”

“Ya, Pak. Tapi, mmm.”

“Tapi apa?”

“Dia berjasa membuat kampanye sekarang adem-ayem.”

“Wah, sampai dimana penataran politikmu? Politik itu the art of the possible.”

“Itu PKI, Pak. Katanya, politik itu pengejawantahan dari moral.”

“Yang punya moral itu pribadi, bukan lembaga. Lembaga itu netral, bebas nilai. Pokoknya kau takut, ya?”

“Bukan saya pribadi, Pak. Tapi lembaga.”

“Makanya, ini masalah lembaga bukan masalah pribadi. Lembaga partai memerintahkan lembaga Satgasnya. Tahu!”

Menghindari suasana yang makin memanas, Komandan Satgas biang, “Ya, Pak. Kami kerjakan.”

Komandan Satgas keluar.

“Saya tunggu beritanya.”

“Menculik Wasripin? Tidak masuk akal,” Komandan Satgas berpikir.

Sebentar kemudian dia masuk ke ruang Ketua. Katanya pada Ketua.

“Saya tidak bisa mengerjakan yang satu ini, Pak.”

“Sudah saya duga.”

“Cukup, Pak.”

“Cukup.”

Komandan Satgas pergi. Ketua pergi ke ruang sebelah menemui Departemen Pemenangan Pemilu,

“Taruh Komandan Satgas nama di nomor sepatu.”

“Tapi susunan caleg jadi ditetapkan oleh rapat pleno pengurus.”

“Taruh ya taruh. Ini kebijakan Ketua.”

“Bapak yang tanggung risikonya.”

“Tentu saja.”

Ketua menelepon Wakil Komandan Satgas. Katanya begitu Wakil memasuki kamarnya, “Ada tugas untukmu.”

“Menculik Wasripin?”

“Iya.”

“Jangan, Pak. Seperti kata peribahasa itu namanya ‘Air susu dibalas dengan air comberan’.”

“Ini urusan Partai!”

“Jangan begitu, Pak.”

“Bagaimana kalau risikonya kau dipecat?”

“Tidak jadi Satgas tidak patheken, Pak.”

Wakil Komandan keluar, dan membuang jaketnya di pintu.

Tiba-tiba datang lima belas orang Satgas. Mereka beramai-ramai mencopot jaketnya dan membuangnya ke kamar Ketua. Ketua hanya bisa terduduk di kursinya.

Ketua Departemen Pemenangan Pemilu melihat gelagat yang tak baik, lalu menelepon Ketua Dewan Pembina Daerah alias Bupati Kepala Daerah untuk datang.

“Kalau Bapak tidak segera datang, perpecahan bisa terjadi.”

Ketua Dewan Pembina Datang.

“Ada apa, to?” tanyanya pada Ketua.

Ketua menjelaskan.

“O, begitu. Itu soal mudah, tapi coba telepon Komandan Satgas dan Wakilnya, minta maaf.”

Seperti kerbau dicocok hidungnya maka Ketua menelepon minta maaf.

“Lalu bagaimana, Pak.”

“Coba telepon Ketua Umum Pusat minta menyampaikan masalah ini ke Ketua Dewan Pembina Pusat untuk menunggu pengarahannya. Kita punya aji pamungkas.”

Ketua Partai Randu Kabupaten kemudian menelepon Ketua Umum Pusat, minta supaya masalah ini dimintakan petunjuk kepada Ketua Dewan Pembina Partai Randu.

“Aduh, jawabannya pasti nanti selepas pukul sebelas. Bapak sedang menghadiri pesta pernikahan.”

Maka malam hari itu adalah waktu paling menggelisahkan Ketua, bukan dari jam ke jam atau dari menit ke menit tapi dari detik ke detik. Ia menongkrongi telepon di kantor Partai sejak pukul 10.00 malam, dan mengumpat kalau ternyata yang berdering bukan telepon dari Pusat. Orang-orang di kamar sebelah sudah pulang.

Pada pukul 12.00 telepon berdering. Cepat ia menyahut gagang telepon.

“Sudah saya sampaikan. Katanya, tunggu saja, semua sudah diserahkan Panglima. Tetapi, beliau berpesan bahwa kebijakan apa pun yang akan diambil, sama sekali bukan desakan dari mana-mana, tapi murni dari atas sebagai amanat pembangunan nasional.”

“Kita hanya minta supaya pemberian bintang itu dibatalkan. Atau setidaknya ditunda sampai setelah Pemilu. Sulitnya apa?”

“Ya, tapi pasti tidak begitu caranya. Babe kita itu paling tidak suka dilangkahi. Jadi, solusinya ya terserah beliau.”

“Waaah!”

Ia tidak tahu bahwa di seberang sana Ketua Umum Pusat mengangkat bahu. Malam itu ia pulang, dan tidak bisa tidur.

“Kira-kira apa?” selalu dibenaknya.

6

MINGGU sesudah Isya’. Karpet merah berbunga-bunga sudah digelar di dalam surau, untuk upacara akad nikah. Tenda sudah dipasang di depan surau. Ular-ularan dan balon menghias tenda. Listrik sudah menyala. Kursi-kursi sudah dipasang. Panggung untuk anak-anak melantunkan sholawat dan orang bermain rebana sudah tersedia. Anak-anak bermain kejar-kejaran, sembunyi-sembunyian. Mereka main di mana saja. Rumah Wasripin yang tak pernah dikunci jadi tempat bersembunyi yang bagus. Tenda, surau, dan rumah samping surau terang-benderang. Kursi pelaminan dengan dua pasang kursi di kanan dan kiri juga telah di tempat. Akan duduk sebagai ganti orangtua Wasripin, Pak Modin beserta Ibu, sedangkan bertindak sebagai orangtua Satinah, Pak Kepala Dusunnya beserta Ibu.

Ketua Partai Randu yang membawahi perkampungan nelayan datang.

“Mana Wasripin?”

“Di TPI, Pak.”

Dia ke TPI. “Lho, kok masih bekerja!”

“Saya sedang menikmati topi Satpam untuk yang terakhir kali.”

“Terakhir?”

“Besok pagi saya berhenti dan menjadi penjual ketoprak.”

“Kalau begitu tekadmu ya sudah. Tapi seharusnya kau dipingit, tidak boleh pergi, tidak boleh kerja. Ini KTP-mu. Tinggal tanda tangan. Ini foto yang saya ambil dari tukang foto. Kalau ditanya orang besok, C-1 di mana, katakan masih bergabung dengan keluarga saya.”

“Terima kasih, Pak. Saya sudah bingung bagaimana kalau KUA menanyakan KTP.”

Waktu itu datang seorang dengan karangan bunga di kanan dan kiri sepeda. Setelah meletakkan bunga, ia berkata.

“Untuk Pak Wasripin. Tolong ditandatangani.”

Orang bersepeda itu mengucap terima kasih dan pergi.

“Dari siapa?”

“Satinah. Katanya malam ini namanya malam midodareni. Di kampungnya orang membuat kembar mayang, dua rangkaian bunga. Pengantin perempuan ibarat bidadari, temanten laki-laki seperti dewa.”

“Jadi kau dewa, ya. Lalu dewa memberi apa padanya sebagai ganti?”

“Maksudnya apa, Pak?”

“Maskawinmu apa?”

“Apa maskawin?”

“Pemberian wajib dari calon suami kepada isteri. Besok pagi apa yang akan kau berikan?”

“Lha, saya miskin. Apa, ya?”

“Sudah, begini saja. Maskawinnya seperangkat alat sembahyang, mukena dan sajadah, serta cincin emas lima gram.”

“Wah, tidak punya itu.”

“Besok, kalau ditanya KUA bilang saja, maskawinnya diutang.”

“Maskawin diutang.”

Mereka lalu menggotong karangan bunga diletakkan di kanan dan kiri pelaminan.

7

MALAM itu Kepala Polisi Kabupaten di rumahnya mendapat telepon dari Wakil Kepala Polisi di Jakarta untuk membatalkan rancana pemberian bintang. Tidak percaya, ia menelepon balik.

“Ya, saya yang telepon. Ssst, jangan bilang-bilang, rencana pemberian bintang itu murni dari kepolisian sebagai wujud kerja sama dengan masyarakat. Tetapi, Panglima bilang, tentara sudah punya rencana khusus, yang digodok lama dan matang.”

“Rencana apa, Pak?”

“Kata Panglima, besok pagi juga tahu. Itu urusan tentara, bukan polisi. Jadi yang penting, batalkan rencana itu!”

“Siap, Pak. Laksanakan.”

Sesudah pukul 11.00, hampir tengah malam. Undangan-undangan sudah tersebar, gladi resik sudah jalan, rencana sudah matang. Dan sekarang dibatalkan! Kemudian ia menelepon Radio Pemerintah Daerah yang siarannya akan berhenti pukul 12.00, minta diumumkan bahwa acara pemberian bintang dibatalkan. Tapi ia yakin akan banyak orang kecele, sebab tidak semua

mendengarkan siaran daerah. Ia menelepon kesana-kemari hanya untuk urusan pembatalan itu.

8

MINGGU sore itu Pak Modin baru saja tiba dari kota. Ia baru saja ketemu kawannya yang bekerja di Dinas Pertanahan. Begitu turun dari sepeda motornya, ia melambai-lambaikan sebuah buku sertifikat tanah pada isterinya.

“Akhirnya selesai juga. Padahal saya sudah dag-dig-dug, jangan-jangan tidak selesai. Sekarang tugasmu.”

“Pekerjaan saya sudah beres sejak kemarin,” kata isterinya.

“Itu apa?”

“Orang Yogya bilang, ini layah (batu ceper agak cekung), yang ini uleg-uleg (batu bulat panjang).”

“Iya, maksudnya untuk apa?”

“Layah itu simbol wanita, dan uleg-uleg itu simbol laki-laki.”

“Iya, untuk apa?”

“Membuat sambal.”

“Masak temanten dihadiahi begituan.”

“Ini akan saya bungkus dengan kertas emas bersama sertifikat tanah itu.”

“Iya, hadiah. Tapi masak batu.”

“Coba, kalau bikin sambal, bagaimana?”

“Ya begini, to,” kata Pak Modin sambil memperagakan orang membuat sambal.

“Tahu belum?”

Pak Modin menggeleng.

“Ah, pasti kura-kura dalam perahu.”

“Betul, kok.”

“Itu lambang mmm ketemunya laki-laki dengan perempuan.”

“Masak hanya begitu.”

“Kira-kira saja, saya sudah lupa.”

“Kalau sudah lupa, nanti saya ajari.”

“Ssst, jangan saru.”

“Apa saru?”

“Bagaimana saya tahu?”

“Saru itu artinya nyasarnya kalau turu (tidur).”

“Sudah tua kok genit!”

“Tua bagaimana!”

Mereka terdiam, lalu tertawa.

“Kita akan punya anak!”

“Tanpa mengandung tanpa kesakitan.”

“Kesakitan atau kenikmatan?”

“Ya, kesakitan begitu, namanya saja melahirkan.”

“Iya, ya. Sakit kok malah terus diulang.”

“Jangan diteruskan, nanti ada setan lewat. Ingat, kita sudah tua.”

9

DI surau Ketua Panitia mengadakan ceking terakhir. Dia bertanya seksi konsumsi, dokumentasi, tempat, undangan, dan protokol. Semua beres.

“Saudara-saudara, Pak Kades menawarkan Kijangnya untuk dipakai seharian itu. Kita akan gunakan untuk mengantar Wasripin ke stadion.”

“Tapi saya biasa membonceng sepeda motor,” kata Wasripin.

Ketua berkata sambil tersenyum.

“Ketuanya itu saya, jadi semua orang harus tunduk keputusan saya.”

“Ya, sudah.”

“Dari stadion kita terus ke SDN. Ada sedikit upacara bendera untuk menghormat bintang itu.”

“Tapi itu terlalu berlebihan,” kata Wasripin.

“Biar, berlebihan tak apa. Kata Bung Karno kita bukan bangsa tempe tapi bangsa yang besar.”

EMPAT BELAS

1

MENJELANG fajar, Senin Pon. Di rumah Kepala Desa seseorang berpakaian seragam hijau dan berbaret mengetuk pintu. Tentara.

“Siapa itu?”

“Saya. Tentara Komando.”

Tergopoh-gopoh lurah membuka pintu. Tentara memberi hormat.

“Silakan masuk.”

“Begini, Pak. Bapak diperintahkan menyaksikan, seorang warga Bapak akan ditangkap tentara.”

Mereka berdua kemudian ke TPI.

“Siapa yang ditangkap?”

“Saya tidak tahu. Itu urusan Komandan Operasi.”

Sementara itu empat orang yang tidur di emperan surau yang juga dijadikan Poskamling dibangunkan. Mata mereka silau oleh listrik yang menerangi tenda, ular-ularan, dan kursi-kursi, diucek-ucek memakai jari-jari.

“Ada apa?”

Mereka terkejut melihat seragam yang hijau, baret, dan senapan di tangan.

“Kami ingin kalian menjadi saksi.”

“Saksi?”

“Ya, saksi penangkapan.”

Seorang tentara memadamkan listrik yang terang-benderang. Lapangan jadi gelap. Dalam gelap itu Wasripin diantar oleh enam orang bersenjata ke rumahnya di samping surau. Tangan Wasripin diborgol! Lho! Lurah dan petugas ronda heran. Ada crew membawa lampu, kameraman, wartawan foto, dan wartawan berita. Di bawah sorotan lampu televisi mereka bergerak. Rombongan menuju rumah Wasripin di samping surau. Pintu yang tidak pernah terkunci dibuka. Seorang tentara menggeledah ruangan itu, tidak menemukan apa-apa, lalu menengok kolong tempat tidur Wasripin. Ia menunjuk ke seonggok senapan dan granat tangan. Jepret-jepret! Wasripin terdiam,

terlongong-longong tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya dan sekitarnya.

“Tugas Bapak-bapak selesai!”

Dalam gelap mereka memborgol tangan dan menggiring Wasripin berjalan dan meloncat ke atas truk yang berhenti jauh di luar lapangan. Dari dalam gelap meloncat tentara-tentara ke atas truk terbuka itu. Operasi berjalan lancar. Sebuah truk yang lain memuat para crew televisi, kameraman, wartawan foto, dan jurnalis.

2

MENYADARI apa yang telah terjadi, seorang berteriak di tengah lapangan, “Allahuakbar! Allahuakbar!” Sebentar kemudian pintu-pintu sekitar lapangan terbuka, orang-orang keluar rumah dengan senjata di tangan: golok, linggis, tangkai besi, cangkul, dan sabit. Pada tahun 1965 teriakan itu berarti bahwa bahaya datang.

“Apa?”

“Was-ri-pin! Di-ba-wa ten-ta-ra.”

“Lapangan penuh orang. Listrik menyala kembali. Ada kursi tapi orang tidak berminat duduk. Mereka mendengarkan penuturan Lurah dan orang-orang yang jaga malam sambil berdiri.

Dari pinggir lapangan terdengar deru sepeda motor yang berhenti, dan akan membalik. Tiba-tiba orang sudah mengepung, motor dimatikan. Seorang polisi di atasnya menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu turun dari motor.

“Apa ini?”

“Ini orangnya!” Orang-orang merangsek.

“Bukan, pasti bukan!” kata polisi sekenanya. Ia mengacung-acungkan sebuah surat yang berisi pembatalan upacara pemberian bintang untuk Wasripin. “Saya mengantar ini!”

“Bohong!”

“Siaaap!” Orang-orang bergerak maju.

“Siaaap!” Orang membawa senjata tajam.

Pak Modin datang. Seorang nelayan lari ke rumahnya memberitahukan apa yang terjadi. Mengangkat tangan, menghentikan gerak maju orang.

“Tenang-tenang! Nanti dulu! Jangan tergesa!”

“Ini orangnya, Pak!”

“Polisi bukan tentara! Qur’an mengatakan, barang siapa membunuh seorang manusia tanpa dosa, maka dia telah membunuh seluruh ras manusia. Artinya, siapa menyakiti seorang tak bersalah, ia menyakiti seluruh manusia.”

Orang-orang bersenjata tajam itu mundur.

“Kita tahan di sini.”

“Sampai Wasripin pulang!”

“Tidak ada gunanya menahan dia,” kata Pak Modin. Polisi itu menyerahkan selembar surat. “Itu mendatangkan masalah dengan polisi,” kata Pak Modin lagi.

“Bagaimana baiknya terserah, Pak.”

“Sebaiknya kita suruh dia kembali. Islam artinya menyerah diri pada Tuhan, salam artinya damai, kita bukan bangsa pemarah. Bagaimana?”

“Setuju!” kata orang banyak.

Kemudian kata Pak Modin pada polisi, “Nah, kembalilah pada komandanmu. Bilang bahwa surat sudah diterima.”

Polisi mengucapkan terima kasih dan bersalaman dengan orang-orang di dekatnya.

Setelah polisi pergi Pak Modin membaca surat pembatalan itu. Surat itu pindah dari tangan ke tangan.

“Perasaan saya mengatakan sesuatu yang tak baik akan menimpa Wasripin,” kata Pak Modin pada orang di dekatnya.

3

PAGI TVRI dan koran-koran memberitakan bahwa Wasripin mati ditembak tentara waktu berusaha merebut senjata. Mayatnya dikuburkan di suatu tempat yang dirahasiakan karena dapat menimbulkan syirik. Kemudian juga dikatakan bahwa dia Komandan DI/TII Pantura, anti-Pancasila, dan ingin mendirikan Negara Islam dengan kekuatan senjata. Gambar-gambar setumpuk senapan dan seonggok granat tangan di bawah dipan dipajang. Granat yang sama dengan yang digunakan untuk menggranat Candi Gedong Sanga. Kata para pejabat yang dikutip korang ialah bahwa Pemerintah akan menindak tegas pelaku-pelaku makar untuk membuat mereka miris. Perkampungan nelayan itu mengirim orang untuk memborong koran-koran.

Mereka mendengar berita dari TVRI. Mereka yang membaca koran berteriak-teriak. Teriakan-teriakan terdengar.

“Bohong!”

“Tadi sore anak saya bersembunyi di kolong dipan Wasripin, senjata itu tak ada.”

“Munafik!”

“Apa-apaan ini!”

Mereka berkumpul di lapangan.

“Kita harus membalas!”

“Sampai titik darah penghabisan!”

“Kita rela mati!”

Di rumah-rumah nelayan para perempuan menangis. Wasripin! Wasripin!

Pak Modin datang dan mengajak mereka sembahyang ghaib untuk jenazah Wasripin. Mereka menurut dan masuk surau.

“Allahuakbar! Ayo!”

“Allahuakbar! Ayo!”

Pak Modin berdiri.

“Saudara-saudara. Itu tidak menyelesaikan masalah, malah membuat masalah baru. Berpikirlah. Kita paling-paling seratus orang, tentara itu ribuan. Senjata kita paling-paling pedang, mereka punya senapan, granat, mortir, dan bom. Kita akan mati konyol.”

“Kami tidak takut mati, Pak.”

“Ya, kami tidak takut mati!”

“Kita sudah kehilangan Wasripin. Tidak ada yang tidak sedih. Tapi, biarlah dia jadi tumbal demi hidup kita. Saya tidak punya anak, tapi Saudara?”

Kemarahan mereda. Mereka melihat permadani merah pelaminan. Ya Tuhan, permadani akan kosong. Anak-anak yang latihan sholawat akan bertanya, “Kemana Pak Wasripin?” Dan anak-anak sekolah yang hari itu akan upacara menghormati bintang itu akan terdiam, mengerek bendera setengah tiang. Ya, Allah! Ya, Rasul! Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

4

PAK Modin sudah menyediakan kata-kata untuk menjemput Satinah begitu andong itu muncul. Ketika sudah jamnya Satinah tidak datang, hatinya gelisah. Ia minta mobil Kijang yang sudah menunggu mengantar ke tempat Satinah. Beberapa orang ikut di mobil.

Sampai di rumah Satinah seorang perempuan berdandan rapi menyambut mereka, “Satinah hanya titip salam. Terima kasih atas kebaikan yang sudah diberikan pada Wasripin dan Satinah. Selanjutnya, ia mengatakan selamat tinggal.”

“Kemana?”

“Ia tidak berpesan.”

“Pamannya?”

“Sudah kemarin dia meninggal.”

Mereka kembali, tidak seorang pun bicara.

Sampai di lapangan TPI bendera setengah tiang sudah dinaikkan. Pak Modin turun dan terus pulang. Didapatinya Bu Modin masih sembab matanya.

“Sudahlah, Bu. Memang sudah takdir. Mau punya anak dan menantu saja gagal.?

Dilayangkannya matanya ke sekat kamar yang maksudnya untuk Wasripin dan Satinah. Dibayangkannya anak-anak yang bermain sondah-mandah di halaman. Ia tersenyum getir. Ia tidak tahu rahasia Tuhan dengan kelahiran Wasripin, keberadaannya yang sebentar dan bermanfaat di perkampungan nelayan, dan kematiannya. Juga Satinah dan Pamannya.

“Apa pun yang terjadi, Bu. Beristighfarlah dan ucapkan Alhamdulillah.”

Ia menarik napas panjang.

5

HARI masih sangat pagi, gedung itu masih sepi. Dengan membawa parang yang disembunyikan di dalam baju seseorang mondar-mandir di Markas Tentara Kabupaten. Ia melangkah pagar tembok yang hanya setinggi lutut, dan berhasil menghindari pengawasan petugas piket.

“Di mana kamar Komandan?” tanyanya pada seorang yang membawa sebaki air minum.

Tanpa curiga, orang itu menunjukkan. Ia masuk kamar. Kamar itu belum berpenghuni. Ia berjongkok di balik meja. Seorang tentara meletakkan surat-surat di meja Komandan. Ia berdiri, mengacung-acungkan parangnya.

“Mengapa Wasripin kau bunuh?”

Tentara itu terkejut dan bengong. Ia menyabetkan parang dan melukai lengan tentara. Tentara berteriak-teriak dan berlari keluar sambil menuding-nuding.

“Orang ngamuk! Orang ngamuk!”

Beberapa orang perwira dengan pistol di tangan masuk. Orang itu langsung mengayunkan parang dan berhasil melukai dua orang. Tentara perempuan yang bekerja sebagai sekretaris membunyikan sirine tanda bahaya, meraung-raung. Seorang perwira berhasil menembak dada orang itu. Orang itu jatuh berlumuran darah, parang lepas dari tangan.

“Meng-apa Was-ri-pin kau bu-nuh?” kemudian menghembuskan napas yang penghabisan.

Markas itu sibuk. Ambulans mengoeng-ngoeng. Para perwira dipapah ke mobil ambulans. Mereka yang baru datang menanyakan pada teman-temannya. Dengan mobil ambulans yang lain jenazah segera dibawa ke rumah sakit untuk diserahkan keluarga. Beberapa petugas membersihkan darah di lantai.

Komandan datang. Ia baru saja tiba dari Kantor Bupati memberikan briefing mengenai perlunya tindakan tegas tentara untuk memberantas makar. Bertanya pada wakilnya apa yang telah terjadi, kemudian mengundang rapat. Ia mendapat laporan bahwa pelakunya menanyakan kenapa Wasripin dibunuh.

“Kepung perkampungan nelayan!” perintahnya.

Tentara bergerak cepat. Mereka menjaga jalan-jalan menuju perkampungan, menanyakan KTP setiap orang. Bukan itu saja. Tentara juga menyebar ke kebun-kebun, bahkan ke kuburan desa. Tentara menaikkan bendera yang dipasang setengah tiang di lapangan TPI. Tentara juga ke SD dan Kantor Kelurahan yang benderanya dipasang setengah tiang. Mereka yang mengetahui bahwa tenda dan kursi-kursi di depan surau semuanya untuk Wasripin juga memerintahkan orang-orang sekitar untuk membongkarnya.

6

HARI itu Hari Pasar. Tenda, ular-ularan, dan kursi sudah dibongkar. Tak ada orang, tak ada tenda pedagang, tak ada gerobak dorong, tak ada warung tiban, tak ada orang di pasar TPI. Di jalan masuk ke pasar tentara akan menghadangnya. Mereka memeriksa keranjang sayur dan gerobak dorong.

“KTP?”

Tidak ada caranya bagi orang pasar untuk membawa KTP. Orang kantoran bawa KTP, mahasiswa perlu KTP, orang kota perlu KTP, tapi bukan pedagang kecil seperti mereka, bukan bakul di pasar. Mungkin punya, mungkin tidak.

“Pulang dulu ambil KTP.”

Dengan patuh mereka pulang, dan tak pernah kembali.

“Ada apa?”

“Pak Wasripin diciduk, dan ditembak.”

“Ampuh sungguh tentara, Pak Wasripin saja kalah.”

Pasar hewan juga sepi. Truk yang membawa kambing dihentikan.

“Apa yang kau bawa?”

“Kambing, Pak.”

Kemudian tentara akan naik, memeriksa. Tentara juga memeriksa jok depan.

“Apa yang dicari, Pak?”

“Senjata api, senjata tajam. KTP?”

“Wah, tidak ada, Pak. Sopir itu, biasanya hanya bawa SIM dan STNK.”

“Coba.”

Sopir memberikan yang ia bawa, dan diperbolehkan terus. Sebentar kemudian mereka kembali.

“Lho, kamu lagi!”

“Pasar mati, Pak. Katanya itu karena Pak Wasripin diciduk dan ditembak. Kami ini orang susah, Pak. Jangan dibuat lebih susah lagi.”

Ada pedagang memikul dagangannya dihentikan tentara.

“Senjata tajam tak boleh masuk.”

“Saya ini memang berdagang sabit, pisau, cangkul, kelewang.”

“Pokoknya ini peraturan.”

Bagi orang di perkampungan nelayan, pasar TPI mati tak melaut tidak apa. Mereka masih punya gulai dan nasi walimahan untuk beberapa hari. Beras dan ikan kering untuk seminggu. Pemungut pajak tidak masuk. Tetapi, bagi para bakul tidak jualan berarti tak ada untung, tak ada untung berarti tak makan. Maka, para bakul menggelar dagangan, memasang tenda di jalan-jalan menuju pasar. Praktis, dekat tempat penjagaan tentara.

Tak ada nelayan melaut. TPI sepi. Tak ada truk pengangkut ikan. Tak ada keranjang-keranjang ikan dengan ikan dan air laut yang menetes-netes. Para Satpam dan Kepala TPI tidak masuk kerja. Perkampungan yang menjadi pemasok ikan untuk kota-kota di Jawa Barat. Tidak ada pasokan ikan segar.

7

KOMANDAN Operasi yang masuk dengan sebuah jeep ke lapangan TPI kaget. Ternyata di lapangan itu bendera dinaikkan setengah tiang. Ia minta seorang prajurit yang mengawalnya menaikkan bendera itu menjadi sepenuh tiang. Firasatnya mengatakan kalau ia harus ke kelurahan, karena jangan-jangan di sana orang juga mengibarkan bendera setengah tiang. Ia berjalan ke sana. Lhadalah! Ia betul, orang mengibarkan bendera setengah tiang. Ia ke lurah, dan memerintahkan untuk menaikkan ke atas. Lalu ia berjalan ke SD. Lho! Benderanya juga setengah tiang. Ia menemui seorang guru. “Di sini yang kuasa Kepala Sekolah, Pak. Semua kebijakan dia yang ambil.” Komandan Operasi mencari Kepala Sekolah, tapi tidak ada. Akhirnya ia menemui tukang kebun sekolah, dan bendera itu berhasil dinaikkan.

Maka, ia kembali ke lapangan TPI. Ia terkejut untuk kedua kalinya: bendera itu telah jadi setengah tiang kembali. Kemudian ia menyuruh pengawalnya ke kelurahan dan SD. Di sana pun yang terjadi demikian. Bendera itu kembali jadi setengah tiang. Di kedua tempat itu ia berhasil menyuruh orang untuk menaikkan bendera, lalu kembali untuk lapor. Komandan menyuruh seorang tentara lagi untuk menunggu tiang bendera, karena ternyata kedua tempat itu rawan pembangkangan dan ia sendiri menunggu tiang bendera di lapangan. Semuanya berjalan lancar: di lapangan,

kelurahan, dan SD. Ditunggui tentara dengan topi baja dan senapan siap menyalak!

Tidak disangkanya di rumah-rumah para nelayan di sekitar lapangan dan seluruh rumah perkampungan nelayan tiba-tiba muncul bendera setengah tiang. Maka, ia memerintahkan sopir untuk menjemput seorang prajurit pembawa megafon. Setelah prajurit itu datang diperintahkannya untuk keliling kampung dan mengumumkan bahwa pemasangan bendera setengah tiang berarti pembangkangan.

Maka berjalanlah prajurit itu dari rumah ke rumah dengan pengumuman, “Menaikkan bendera setengah tiang adalah pembangkangan.”

Tidak begitu mujur nasibnya: hanya rumah yang dekat dengannya kemudian menaikkan bendera, tapi begitu ia sudah lewat bendera itu jadi setengah tiang lagi. Ia merasa dipermainkan. Pusing bermain kucing-kucingan dengan para nelayan, ia kembali ke lapangan dan melapor Komandan.

“Ubah pengumuman itu, dilarang memasang bendera,” kata Komandan.

Ia kembali ke perkampungan. Anak-anak sekolah yang hari itu hanya masuk setengah hari melihat ada tentara masuk kampung membawa megafon. Itu aneh. Mereka senang, dan mengikuti dari belakang, sambil menirukan penabuh genderang,

“Deng deredeng deng, deng deredeng deng. Ba-ris terik tempe, le-song dele gosong.”

Sepanjang jalan anak-anak menirukan penabuh genderang dan bernyanyi. Makin lama makin banyak anak sekolah yang mengikutinya.

Ia mengangkat megafon, anak-anak itu mengerumuninya, dan merengek-rengek.

“Pinjam, Pak. Pinjam, Pak.”

Ia terpaksa mengurungkan niat. Setiap kali dia mengangkat megafon, anak mengerumuninya dan merengek-rengek, “Pinjam, Pak! Pinjam, Pak!”

Anak-anak terus mengikutinya, sambil memperagakan orang menambur. Ia merasa seperti orang gila yang diikuti anak-anak. Dan sangat risi. Tugasnya ia batalkan dan kembali ke lapangan.

“Lapor! Tugas selesai!”

Komandan menunjuk ke rumah-rumah di sekitar lapangan yang masih berbendera setengah tiang. Mereka ke perkampungan.

“Sudah dengar pengumuman?”

“Dengar, Pak.”

“Nekad, ya?”

“Bendera-bendera itu memasang dirinya sendiri.”

“Bohong!”

Sementara itu orang berkumpul.

“Tanya tiangnya sendiri.”

“Dasar kampungan!”

“Bapak ini bagaimana? Saya tidak pernah mengaku orang kota. Berani sumpah, Pak.”

Tentara itu merasa tidak ada gunanya berdebat dengan mereka, kemudian keduanya naik jeep dan mau menjemput kawannya di kelurahan dan SD.

Pada waktu itu Lurah datang. Lurah datang dengan seragam, peci, dan tanda di dadanya.

“Saya menjamin orang tidak akan memasang bendera setengah tiang, asal tentara tidak lagi mengepung desa.”

“Kami harus menunggu perintah atasan,” kata Komandan dan memerintahkan jeep untuk berjalan.

8

Koran-koran di Jawa Barat yang biasa menerbitkan indeks harga-harga di pasar selama empat hari belakangan memberi catatan bahwa melejitnya harga ikan telah diketahui sebabnya, yaitu tidak adanya pasokan ikan di pasar-pasar. Tetapi, kata mereka, belum diketahui sebab kenapa hal itu bisa terjadi.

Bupati Kepala Daerah menerima telepon dari rekan-rekannya di Jawa Barat. Mereka mengatakan bahwa sudah empat hari ini tidak ada pasokan ikan dari Pantura sehingga harga ikan melejit. Bupati memerintahkan bawahannya sebab-sebab para nelayan tidak melaut. Segera bawahannya ke perkampungan nelayan. Dia juga dicegat tentara.

“Lha bagaimana, Pak. Bukannya kami tidak mau melaut, tapi ikan yang tak mau dijaring.”

“Bukan karena pengepungan itu?”

“Bukan. Mau dikepung sebulan, dua bulan, juga boleh.”

Bupati mendapat laporan bahwa pengepungan tentara menyebabkan nelayan tak melaut dan pasar mati. Bupati pun menelepon Komandan Tentara Kabupaten, minta supaya pengepungan diakhiri.

Seminggu kemudian pengepungan berakhir, nelayan melaut, pasar hidup, dan bendera-bendera disimpan.

9

Nelayan sudah melaut. Pada sore hari beberapa nelayan berkumpul di emperan surau.

“Di tengah laut ada ombak besar, saya teriakkan nama Wasripin, ombak itu menghilang!”

“Saya tidak dapat menangkap seekor ikan pun, saya sebut nama Wasripin, ikan-ikan datang seperti ditumpahkan dari langit!”

“Saya ke Masjid Demak. Saya melihat dengan mata kepala sendiri Wasripin shalat di sana!”

“Saya dapat surat dari sepupu saya yang sedang umrah di Mekkah. Dia melihat Wasripin sedang berdoa di Multazam!”

Orang-orang percaya bahwa Wasripin sebenarnya tidak mati. Para nelayan menularkan kepercayaan itu pada orang pasar. Orang-orang pasar pada keluarganya.

Orang pasar akan berkata satu sama lain.

“Anak saya demam, saya sebut nama Wasripin lalu saya suruh minum air putih. Sembuh.”

“Suami saya pegelnya kumat, malam-malam antara terbangun dan tertidur Wasripin datang dan memijat. Paginya ia bekerja.”

“Istri saya bengeknya kumat. Datang Wasripin dalam mimpi memberi air putih. Ee, ketika ia bangun ada sebotol air putih sungguhan, lalu diminum, sembuh.”

Para nelayan dan orang pasar menyebarkan berita itu ke seluruh kecamatan. “Sebutlah nama Wasripin, Tuhan akan mengabulkan doamu,” kata mereka. Wasripin telah menjadi washilah (perantara) terkabulnya permohonan. Pak Modin prihatin.

LIMA BELAS

MALAM itu ada peringatan Milad Nabi di perkampungan nelayan, menukar rencana yang semula batal. Anak-anak dan permainan rebana setempat akan bermain. Kyai dan rombongan rebananya diundang lagi. Kyai itu berdakwah, melucu, dan diselang-seling permainan rebana. Tenda didirikan, kursi-kursi dipasang. Sebelum waktu diberikan pada Kyai, Pak Modin – sebagaimana selalu demikian – diminta menyambut selaku sesepuh surau. Orang-orang dari desa sekitar berdatangan.

“Orang-orang syahid tidak mati, tapi diangkat Tuhan ke sisi-Nya,” kata Pak Modin. “Dan Wasripin telah syahid. Negara menzhalimi anaknya sendiri yang seharusnya dilindungi. Jangan menjadikan dia sebagai washilah. Itu syirik.”

Keesokan paginya sehabis dari surau, sebuah jip hijau datan ke rumah. Tentara menghormat. Katanya, “Aku diperintahkan Komandan untuk menjemput Pak Modin. Mari ikut kami.” Bu Modin yang punya firasat buruk berteriak, “Jangan! Ja-ngan!” Teriakan itu membuat orang-orang keluar rumah. Tapi, mereka hanya sempat melihat jip itu semakin jauh. Bu Modin ingat Wasripin: dibawa tentara selalu berarti mati.

Para nelayan berkumpul. Mereka berniat menyusul Pak Modin. Kecurigaan pertama mereka ialah pada Tentara Kabupaten. Dengan sepeda motor mereka menuju Markas Tentara Kabupaten. Setelah berunding, mereka diperbolehkan melihat kamar tahanan. Tempat itu kosong. Kecewa, mereka menuju Markas Polisi Kabupaten. Di sana mereka juga diperbolehkan menjenguk kamar tahanan. Tidak ada. Mereka pergi ke Kejaksaan. Pak Modin tidak ditemukan. Mereka kembali. Mereka hanya bisa berdoa untuk keselamatan Pak Modin.

Beberapa orang nelayan ditugaskan untuk memantau berita-berita di koran dan teve. Seperti terjadi pada syahidnya Wasripin, mereka tidak melaut. Pengibaran bendera setengah tiangtidak mereka lakukan, karena tidak ada berita yang pasti tentang Pak Modin.

Telepon rumah dan kantor Bupati mendapat keluhan bahwa harga ikan di kota-kota Jawa Barat naik berat. Minta supaya Bupati menggunakan seluruh kekuasaan untuk memaksa para nelayan melaut. Kalau tidak, mereka

mengancam bahwa akan minta para Bupati di jalur Pantura Jawa Barat memasok ikan. Bupati menugaskan Kepala Dinas Perikanan untuk menemui para nelayan, dan mengatakan bahwa melaut adalah kepentingan nelayan sendiri, sambil menyampaikan ancaman itu. “Kami mau melaut, tapi pulangkan Pak Modin.”

Para nelayan berkumpul.

“Tidak usah digubris.”

“Membuat orang biasa jadi nelayan tidak semudah membalikkan tangan.”

“Harus membangun dermaga, TPI, perahu-perahu, dan mengajari orang menangkap ikan.”

Bupati ternyata juga baru tahu bahwa Pak Modin dibawa tentara. Dia menelepon kesana-kesini, tapi baik tentara maupun polisi tidak tahu. Lain dengan berita tentang Wasripin yang semua orang tahu belaka, dari koran-koran dan teve. “Bukan pekerjaan kami,” kata Komandan Tentara. “Bukan pekerjaan kami,” kata Kepala Polisi. Tahulah dia bahwa itu pekerjaan intelijen. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menarik napas panjang.

2

DI kantor Pimpinan Daerah Partai Randu. Ketua Partai yang membawahi perkampungan nelayan muncul.

“Kebetulan, ada yang ingin kami tanyakan.”

“Tentu ini, mengapa warga kami tak aktif dalam kampanye?”

“Kok tahu.”

“Saya sudah mengira. Warga partai desa kami mogok.”

“Mengapa?”

“Kata mereka, Partai bungkam ketika Wasripin ditembak tentara. Partai juga tidak ada usaha apa pun mengenai Pak Modin.”

“Itu semua sudah di luar wewenang kami.”

“Mereka berpikir tidak ada gunanya jadi partai penguasa.”

“Kekuasaan itu ada batasnya.”

Ketua Partai Desa merogoh bajunya. Mengeluarkan seratusan kartu dari sakunya. Meletakkan di meja.

“Apa-apaan ini? Seharusnya mereka tidak usah keluar.”

“Keputusan kami sudah bulat. Partai di desa kami menyatakan bubar. Terima kasih.”

Dia meninggalkan kantor.

TERJADI gara-gara. Ada tawur di jalanan antara peserta kampanye Partai Randu dan Partai Langit. Lima orang luka-luka berat akibat sabetan pedang, delapan luka-luka ringan, dan jalan terganggu. Di bukit ada hujan deras yang mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor. Puluhan rumah terpendam, tiga belas hektar sawah puso, lima orang hilang dan belum diketahui nasibnya. Jembatan bobol dan tinggal beton dan kerangka besi. Teve mengumumkan bahwa jalan di Pantura tak dapat dilalui, dan dianjurkan

pengguna jalan melalui jalur alternatif. Reklamasi laut yang hampir selesai gagal, karena ombak ganas menerjang. Dalam rencana reklamasi itu diperuntukkan pembangunan pelabuhan modern.

Puluhan petani mendatangi kantor Bupati karena sawah-sawah mereka terbenam dalam banjir. Menurut para petani sebabnya ialah pembangunan perumahan mewah untuk pegawai Pemerintah Daerah oleh sebuah perusahaan real-estate telah membuat tanggul-tanggul sehingga air mengalir ke arah yang salah.

“Hentikan pembangunan!”

“Persetan rumah mewah!”

“Pegawai untung, petani buntung!”

Bupati terpaksa menemui mereka. Bupati berjanji akan menegor perusahan properti, dan menghentikan proyek itu. Mereka bubar tapi mengancam akan datang lagi bersama anak isteri kalau janji Bupati tidak ditepati dalam tiga hari.

Bupati memanggil pengusaha.

“Wah, Bapak memanggil orang yang salah. Itu sudah keputusan Dewan.”

Dia menelepon Ketua Dewan. Tidak ada. Kemudian ditelepon Wakilnya. Tidak ada. Wakilnya lagi, kosong. Bupati curiga. Lalu menyuruh Sekretaris ke Dewan. Kantor Dewan kosong, tidak ada sidang, yang ada tukang sapu.

“Mereka sedang ke luar negeri. Studi banding.”

“Studi banding atau melancong bersama isteri?”

“Mana saya tahu, Pak.”

“Kampanye ke luar negeri, barangkali.”

Bupati mengeluh, “Aji mumpung!”

Tiga hari kemudian para petani datang. Mereka bersama isteri, anak, perlengkapan masak, dan kasur-kasur. Seperti para keluarga petani yang akan bertransmigrasi ke luar Jawa. Mereka bertekad menginap di Kantor Bupati sampai ada penyelesaian. Wartawan berdatangan. Mereka bertanya pada Bupati.

No comment,” kata Bupati.

Lalu mereka menginterviu para petani. Ketika keesokan paginya berita-berita sekitar banjir dan genangan air yang membusukkan tanaman di sawah keluar di koran-koran, Bupati hanya bisa terdiam. Juga ketika ditanya soal kosongnya Dewan. Sebuah koran memberitakan seolah-olah dia mengatakan “kacang mangsa ninggala lanjaran” (bawahan mencontoh atasan), dia hanya bisa menelan semua kepahitannya. Entah sampai kapan keruwetan itu berakhir, ia pun tidak tahu.

UNTUK mengatasi masalah suplai ikan Bupati mengundang rapat stafnya.

“Ancam mereka dengan menaikkan pajak,” usulnya.

“Itu terlalu lama. Perlu Peraturan Daerah, dan Partai Randu takkan setuju. Sekarang musim kampanye.”

Rapat itu tidak menghasilkan keputusan. Lalu Bupati mengundang Komandan Tentara dan Kepala Polisi. Kepada Komandan Tentara dimintanya

mencari keberadaan Pak Modin, dan kepada Kepala Polisi ia mempunyai usul untuk memaksa para nelayan menangkap ikan.

“Bagaimana kalau polisi memaksa para nelayan menangkap ikan?”

“Kekerasan tidak akan jalan, Pak. Tetapi akan kami coba.”

Dengan sebuah megafon keesokan harinya sebuah jip polisi keliling perkampungan nelayan.

“Halo! Halo! Nelayan wajib mencari ikan. Kalau tidak, izin perahu akan dicabut!”

Rupa-rupanya nelayan menjadi terbiasa dengan polisi. Mereka tidak juga bangkit. Polisi, pengadilan, dan tentara adalah makanan sehari-hari. Resiko tertinggi adalah mati. Tidak seorang nelayan pun melaut.

Kepala Polisi menelepon Bupati tentang kegagalan itu.

“Saya punya usul untuk meningkatkan tekanan,” kata Bupati.

“Apa?”

“Setiap polisi ikut melaut bersama nelayan.”

“Akan kami coba, demi daerah kita.”

Maka terjadilah peristiwa yang tak ada duanya di dunia. Nelayan dipaksa melaut. Seorang polisi pilihan (kekar, atletis, sehat) berada di atas satu perahu. Sehabis subuh, lima belas perahu nelayan berangkat bersama lima belas polisi. Para polisi berdiri tegar, tangan menyelempang ke belakang, pistol di pinggang. Sebentar saja, ketika angin, ketika ombak, perahu oleng. Para polisi tidak tahan. Badan dingin, keringat keluar, para polisi terduduk, memegang pinggiran perahu. Perut mulas-mulas. Mereka muntah-muntah, “Ho-ek, ho-ek”. Dari lima belas polisi hanya seorang yang tidak muntah-muntah.

“Kita kembali!”

“Sebentar, Pak. Belum dapat ikan.”

“Kembali saja!”

“Nanti tak dapat ikan.”

“Tak dapat ikan tak apa.”

Mereka kembali ke darat. Para polisi lapor, bahwa tugas sudah dilaksanakan. Kepala Polisi senang. Segera dia menelepon Bupati untuk menyampaikan berita baik itu. Bupati mengatakan bahwa pekerjaan itu perlu diulang terus-menerus sampai para nelayan sadar. Bupati dengan bangga menelepon kolega-koleganya di Jawa Barat, mengatakan bahwa ikan-ikan akan segera membanjiri pasar.

Kepala Polisi bilang pada bawahannya.

“Kalian akan kami usulkan dapat ‘Bintang Produksi’. Besok diulang lagi. Sampai mereka sadar.”

“Ya, tugas dan bintang itu berikan saja pada orang lain.”

“Polisi pantang membantah.”

“Terus terang saja, Pak. Kami muntah-muntah.”

“Lho! Jadi?”

“Kami kembali sebelum dapat ikan. Jadi nelayan tidak mudah. Kalau kami kena hukum, ya silakan.”

Kepala Polisi berpikir keras untuk memberitahu Bupati aib yang sangat memalukan itu.

EMAK angkat Wasripin pulang ke gunung. Tempat pertama yang dikunjunginya ialah rumah seorang kiai. Ia mengaku banyak berdosa, dan menyatakan ingin betul-betul bertaubat.

“Tuhan itu pengampun. Meskipun engkau datang dengan dosa sebesar gunung, dia akan memaafkanmu. Nah, apa ada manusia yang pernah kau sakiti?”

“Ada. Wasripin dan paman Satiyem.”

“Cari mereka sampai ketemu. Dan minta maaf pada manusia, baru Tuhan akan memaafkanmu.”

Maka mulailah dia bertanya-tanya pada tetangga.

“O, ya. Satiyem baru saja mengirim undangan ke kami untuk menghadiri pernikahan dengan seseorang bernama Wasripin.”

Dia melihat undangan itu dan mencatat alamatnya.

Dia pergi mencari alamat itu. Sebuah surau di Pantura.

Tidak usah diceritakan perjalanannya, ia menyewa sebuah becak dari jalan raya menuju perkampungan nelayan. Sampai, ia menyeberangi lapangan dan menuju surau. Ia menyuruh becak berhenti dan bertanya kepada orang pertama yang dijumpai.

“Tolong, tunjukkan rumah Wasripin. Aku akan mencium lututnya, dan minta maaf. Aku ingin keluar kata-katanya bahwa ia memaafkanku.”

“Jadi belum dengar beritanya?”

Perempuan itu curiga, ia mencium sesuatu yang tak baik.

“Dia sudah pergi.”

“Pergi?”

“Meninggalkan dunia yang fana, pergi ke alam baka.”

“Mati?”

“Ya, Bu.”

Perempuan itu terduduk di tanah.

“Duh, Gusti! Minta maaf saja kok tidak boleh.”

Untuk beberapa lama ia terdiam.

“Di mana kuburnya?”

“Di suatu tempat yang kita tidak tahu.”

“Isterinya?”

“Tidak diketahui ke mana dia pergi.”

“Paman isterinya?”

“Kami tidak tahu, Bu.”

Perempuan itu mencium tanah dua kali.

“Maafkan, emakmu. Maafkan, Mas.”

6 Mengucapkan terima kasih, dan pergi.

SEBUAH jip hijau berhenti. Tiga orang tentara turun. Mereka memapah seseorang berpiyama yang lusuh, lalu menaruh orang tua itu di tepi jalan. Setotong bambu sepanjang dua meter dilemparkan. Jip itu pergi. Orang tua merangkak memungut bambu itu. Orang tua yang ternyata bongkok itu berjalan mondar-mandir, bertumpu tongkat bambu. Banyak orang lewat, tetapi tak memperhatikan. Seorang lewat dengan sepeda motor. Orang itu berhenti. “Pak Modin! Pak Modin!”

Orang tua itu diam saja, menatap dengan kosong. Orang tua itu mengulurkan tangan.

“Kenalkan saya Mister Mudin, Presiden NII.”

“Bukan. Tapi Pak Modin, imam surau TPI.”

“Saya berani sumpah. Pengangkatan sudah saya tanda tangani. Disaksikan dua kopral, bersenjata lengkap.”

“Tidak, Pak.”

“Lha, siapa saya?”

Orang bersepeda motor itu tahu bahwa keadaan orang tua itu gawat. Segera ia menitipkan sepeda motornya dan memanggil becak.

“Kok begini jadinya.”

Ia menaikkan orang tua itu ke atas becak, dia sendiri duduk di samping, memapah. Orang itu menangis.

“Mengapa engkau menangis?”

“Tidak apa!”

“Kemana lagi saya akan dibawa?”

“Pulang ke rumah!”

“Apa? Rumah?”

“Ya, Pak.”

“Bajumu kotak-kotak. Kau bukan tentara?”

“Saya nelayan, Pak. Anakmu.”

“Saya tak punya anak.”

“Setiap nelayan anakmu.”

“O, begitu.”

Hari itu Hari Pasar, sekalipun para nelayan belum melaut, pasar sudah buka. Tukang becak itu turun dan mendorong becaknya.

Mereka yang kebetulan melihat penumpang becak berteriak.

“Pak Modin! Pak Modin!”

Mereka membentuk ekor panjang. Para lelaki sesenggrukan dan para perempuan menangis.

oOo

TAMAT

0 Response to "Wasripin Dan Satinah II"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified