Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Wasripin Dan Satinah I

WASRIPIN DAN SATINAH

Kuntowijoyo

SATU

1

WASRIPIN naik bus dari sebuah jalan tol di Jakarta pagi-pagi sekali. Ia tidak bodoh, ia juga makan sekolahan. Sudah lama dipelajarinya bahwa pertama-tama ia harus mengambil jurusan Jakarta-Cirebon. Di beberapa tempat memang ia sudah melihat pantai. Tetapi ia tahu bukan itulah tujuannya. Tujuannya adalah pantai utara Jawa Tengah sebelah barat. Kemudian ia mengambil bus Cirebon-Semarang. ia mendapat tempat duduk. Untuk dua kali naik bus itu dengan rela ia memberikan kekayaan di saku kanan-kirinya sebelah atas, yang didapatnya dari pocokan membecak, mendorong-dorong mobil mogok, dan membantu-bantu orang memperbaiki rumah. Uang itu disimpannya sendiri, sebab ia tahu emak angkatnya merasa berhak atas uang yang didapatnya. "Turun mana?" tanya kondektur bus Cirebon-Semarang yang melilitkan tas di pinggangnya. "Nanti saya bilang," kata Wasripin. Tanpa bertanya lagi kondektur memasukkan uang ke tas. Karcis tidak diberikan, mungkin karena tujuannya tak jelas atau memang sengaja demikian sebagai bonus untuk awak bus. Tidak apa, Wasripin bahkan tidak tahu bahwa seharusnya dia menerima karcis.

Di atas bus Cirebon-Semarang ia melongok-longok ke luar. Tapi selalu saja ia berkata pada diri sendiri, "Bukan ini!" Hampir di sepanjang perjalanan itu ia sudah mencium udara pantai seperti yang dipelajarinya di Tanjung Priok, tapi belum memutuskan untuk turun. Dipegangnya kata-kata emak angkatnya bahwa ibunya berasal dari pantai utara Jawa Tengah sebelah barat. Ia berniat kembali ke desa ibunya, entah di mana. Akhirnya, dengan kemantapan yang tak akan dimengertinya, ia berkata kepada kernet untuk menghentikan bus. "Minggir, minggir. Pelan, ada orang bunting delapan bulan mau turun!" kata kernet yang berdiri di sebelah kiri pintu bus. Sopir menghentikan bus. Lalu Wasripin meloncat ke luar, melambaikan tangan untuk mengucapkan terima kasih. Lambaian itu juga berarti, dia mengucapkan selamat tinggal pada dunianya yang lama. "Inilah tumpah darah ibuku," katanya dalam hati. Ia berjalan ke kiri, ke mana pun kaki melangkah, tanpa tahu nama tempat yang dituju. Pokoknya, pantai, pantai!

2

SEJAK ibunya meninggal, ketika Wasripin masih berumur tiga tahun, ia dipungut anak oleh emak angkatnya yang berjualan tahu ketoprak, berpindah-pindah tergantung adanya proyek. Kalau proyek sepi, ia berjualan di tepi jalan. Induk semangnya selalu berkata, "Kita sungguh beruntung, jelek-jelek kita punya rumah. Coba, kalau tidak, kita akan tidur di tepi jalan, di bawah jembatan, di emperan toko." Dan seperti banyak anak lainnya di perkampungan kayu, bambu, dan seng di tepi sungai itu, ia juga tidak tahu siapa ayahnya. Jadi, bukan persoalan baginya bahwa ia tidak punya ayah, tapi

tidak punya ibu sungguh menggelisahkannya. Rasanya hanya dia sendiri yang tak punya ibu di perkampungan itu.

Seperti anak lainnya, ia juga masuk sekolah, dan setamat SD lalu berhenti untuk membantu-bantu emak angkatnya. Setamat SD itu ia cukup kuat untuk mendorong gerobak dagangan dan dapat dipercaya mencuci piring. Kemudian ia dapat diandalkan untuk meracik makanan. Bahkan, kemudian ia dapat memasak sendirian. Kata emak angkatnya, ia punya bakat besar untuk berjualan ketoprak. Ia juga sempat bermain umpetan, main bola, atau main voli pada waktu masih sekolah. Di tepi sungai itu kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa, orang juga bekerja untuk dapat makan meskipun kebanyakan orang tidak sempat hidup dalam keluarga. Ada RT, ada ronda kampung, ada kartu C-1, ada KTP. Pernah ada pencopet, tapi ketika penduduk gelap itu ketahuan, ia diusir dari kampung. Pendek kata, benar belaka kata-kata emak angkatnya bahwa mereka beruntung.

Ia tidur dengan emak angkatnya, berdesakan satu kamar dengan dua wanita lain yang masih bersaudara dengan emak angkatnya, dan bekerja sebagai penyapu jalan. Mereka berdua mendapat satu dipan. Kalau ada lelaki datang, ia tidur dengan dua wanita itu, sementara penyekat dari kain kusam dipasang. Mereka hanya menghadap ke arah lain. Ia sepertinya mendengar suara-suara, tetapi waktu itu tidak tahu apa artinya. "Maaf, maaf," kata emak angkatnya selalu setelah sang laki-laki pergi. "Tidak apa, kami tahu kok, Mbakyu," kata mereka berdua. Basa-basi itu berjalan beberapa lama, kemudian semuanyajaditerbiasa. Pemandangan dan suara-suara itu berjalan bertahun-tahun, dan lama-lama sudah jadi kejadian yang biasa di mata dan telinganya, tidak ada yang aneh.

Pada umur entah berapa, ia mendapat dipan sendiri, tetapi masih di situ berdampingan dengan emak angkatnya. Umur enam belas atau tujuh belas emak angkatnya meraba-raba sarongnya dan berbisik, sangat dekat ke telinganya. "Engkau laki-laki dewasa!" Pada waktu itu ia mencium bau alkohol keluar dari mulut emak angkatnya. Dan emak angkatnya lalu sibuk memasang penyekat. Mula-mula ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, namun kemudian tahulah dia. Kejadian itu berjalan lama, sampai ia menjadi terbiasa.

Suatu sore emak angkatnya berkata, "Yu Mijah butuh tenagamu." Adegan penyekat di dipan pun terjadi, sementara emak angkatnya dengan enak gantian tidur di dipan Wasripin. Ia menguras tenaganya. Sore yang lain emak angkatnya berkata, "Tumiyem butuh tenagamu," dan penyekat pun di pasang. Tidak disadarinya, entah berapa perempuan sudah minta tenaganya. Perempuan-perempuan yang ditemaninya tidur selalu mengacungkan jempol kepada emak angkatnya dan emak angkatnya dengan bangga akan berkata kepadanya, "Kata semua orang, engkau laki-lakijempol." Ia senang dengan pujian itu. Ia juga senang karena dapat membalas budi emak angkatnya. Sebab, ia lihat para erempuan yang butuh tenaganya selalu mengulurkan sejumlah uang kepada emak angkatnya. Ia terbiasa dengan isyarat emak angkatnya dan penyekat itu.

Hanya kalau emak angkatnya sendiri yang butuh tenaganya, perintah itu tak akan didengarnya. Penyekat-penyekat menguntungkannya, sebab sejak itu

ia mendapat makanan terbaik di perkampungan: telur, daging, dan nasi yang masih panas. Keberuntungan itu berjalan empat tahunan. Pada tahun kelima ia merasa harus menghentikan semua kegiatannya, membantu para perempuan dengan tenaganya. "Aku tak mau mati dengan cara begini," katanya.

3

SUATU sore emak angkatnya membangun penyekat. Wasripin tahu apa artinya, dan perempuan itu berkata, "Ripin, ayo to, jangan pura-pura." Emak angkatnya mendekat, membuka sarungnya, "Lho! Kok kututmu tidak manggung, Le." Wasripin, "Boleh aku terus terang, Mak?" Emak angkat, "Apa?" Wasripin, "Tadi siang kulihat kambing bandot dikawinkan. Saya pikir aku tak jauh dari itu." Emak angkat, "Makanya, jangan berpikir. Hidup ini jalani saja." Wasripin, "Saya pikir aku seperti ayam, seperti kambing, seperti sapi pejantan." Emak angkat, "Ah, macam-macam. Yang kau perlukan ialah madu dan telur." Emak angkatnya kemudian pergi ke dapur. Wasripin malah menyambar celananya, keluar rumah. Malam itu ia meninggalkan perkampungan, dan tak bermaksud kembali. Ia bertekad meninggalkan tempat itu. Emak angkatnya lari kesana-kemari di perkampungan, tetapi tidak menemukan Wasripin. Kemudian emak angkatnya minta tolong ke seorang centeng, tetapi selalu mendapat laporan tidak menggembirakan. "Puluh-puluh begjaning awak (Alangkah buruk keberuntungan diriku", beginilah nasib orang melarat!" katanya. Ia mengadul-adul barang Wasripin di lemari kayu sengon. Memukuli dadanya sendiri, menangis keras-keras, merobek-robek bajunya, terduduk selonjor di lantai tanah kamarnya. Dua wanita saudaranya hanya bisa jatuh kasihan. Ia berhenti menyesali diri ketika teringat bahwa kejadian itu mungkin isyarat bahwa ia harus pulang ke desa.

4

WASRIPIN melangkah pasti. Makan dan tidur tidak jadi persoalan. Ia tahu tempat yang murah untuk makan, ia bisa tidur di mana saja. Ia bisa mandi dan berak di sungai. Induk semangnya mengajari untuk tidak mencuri, menipu, memperkosa, mengemis, dan menyakiti orang. Tentang kekayaan, kata emak angkatnya, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah," dan "Tentang rezeki jangan lihat ke atas, lihatlah ke bawah. Katakan pada dirimu bahwa kau beruntung. Begitulah cara berterima kasih pada Gusti Allah."

"Ya, ini pasti desa ibuku." Sehabis lohor ia sampai di suatu tempat. Ada kesibukan, ada perahu-perahu, ada laut yang menjorok ke dalam, ada bangunan kayu menempel ke teluk itu, ada muara sungai, ada bangunan lain di dekatnya, ada lapangan bola dengan jemuran ikan asin di atas para-para dari bambu. Ia melihat beberapa orang mendandani jala mereka di pantai teluk. Ia mencium bau ikan segar, perahu-perahu berlabuh di anjungan, dan orang dengan keranjang-keranjang kemudian menaruhnya pada bangku dari beton. Orang-orang perahu dengan keranjang lalu terlibat pembicaraan dengan orang yang sudah menunggu. Pemandangan itu asing baginya tapi mengasyikkan. Ia tambah yakin bahwa ia tidak salah pilih. Ia masuk ke bangunan, dan menemukan seorang dengan baju putih celana hitam pakai kopel, berpet, dan

di pundaknya melilit sempritan, berdiri-berdiri sambil merokok. Ia mengulurkan tangannya.

"Nama saya Wasripin. Dari Jakarta."

"Saya Satpam."

"O, ya. Di mana masjid?"

"Itu, tapi hanya surau," ia menunjuk ke bangunan yang terpisah dari laut. Wasripin tidak pandai sembahyang, tapi tahu di situ ia dapat menumpang mandi dan berak. Pekerjaan itu sudah dua hari ditinggalkannya, jadi ia ingin betul ke sana. Ia praktis lari. Ia dapat berak dan mandi. Tapi tidak puas dengan mandi di kulah, rasanya ada yang kurang.

Setelah selesai, ia kembali ke situ. Ia mencium bau anyir. Dan kesibukan.

"Jadi ini bangunan apa?"

"TPI, Tempat Pelelangan Ikan."

"Sudah kuduga. Itu lapangan bola, ya?"

"Untuk pasar kalau pagi."

"O, begitu. Saya lapar. Di mana warung?"

Satpam menunjuk-nunjuk. Wasripin pergi ke warung. Sudah itu ia buru-buru ke surau, sebab kantuknya datang. Ia menuju emperan surau, mencopot sepatu kain putih yang sudah lusuh. Tidak ada barang bawaan, sehingga tidak ada yang harus dijaganya. Ia tidur begitu saja.

Ia merasa tidur sangat nyenyak di emperan surau sampai Ashar, sampai Maghrib, sampai Isya. Jamaah Isya berkerumun di sekitarnya. Penjaga TPI datang, dan mengatakan bahwa namanya Wasripin dari Jakarta. Pak Modin -dulu perangkat desa, tapi diberhentikan- merangkap imam surau berkata pada jamaah. "Coba dibangunkan, suruh tidur di dalam."

Beberapa orang menggoyang-goyang. Tapi Wasripin diam saja, mengikuti goyangan. Tidak terbangun. Orang pun gregetan, lalu mengguling-gulingkannya, tidak terbangun. Akhirnya, orang pun membiarkannya tidur. Lima orang yang bertugas ronda datang. Mereka mengamati Wasripin: orang asing. Satu di antaranya pergi untuk melapor ke Kaur (Kepala) Keamanan, Kaur Keamanan akan ke Koramil (Komando Rayon Militer, Tentara Kecamatan), Koramil akan ke Kodim (Komando Distrik Militer, Tentara Kabupaten). Mereka sudah dipesan untuk melaporkan setiap ada orang asing. Sehabis Subuh orang mencoba membangunkannya kembali, tetapi tetap saja ia tidur. Sampai pagi, TPI itu sibuk, sampai para juragan membawa pulang ikan-ikan untuk dikeringkan atau dipindang, dan sebuah truk menjemput perolehan ikan siang itu. Para nelayan yang pulang melaut dan selesai dengan TPI ikut berkerumun. "Ini mati atau tidur. Kalau mati kok masih bernapas, kalau tidur kok tidak bangun-bangun," kata mereka yang berkerumun. "Ini pasti cucu Kumbakarna." Kumbakarna adalah adik Rahwana yang sepanjang hidupnya lebih suka tertidur, barangkali sebagai protes atas kejahatan kakaknya.

"Ini hantu yang kamanungsan,” “Ini orang sakti,” “Ini petapa,” “Ini gelandangan yang lima hari tidak tidur,” “Ini pencuri yang dikejar-kejar orang.”

Bahwa ada orang asing bernama Wasripin tertidur di emperan surau segera menyebar ke seluruh desa. Siang hari berikutnya, laki-laki, perempuan, dan anak-anak dari seluruh desa datang. Nelayan yang tidak melaut memenuhi emperan itu. Sopir tangki pemasok solar menonton. Bahkan, mereka yang tak pernah ke surau datang menonton. Para pedagang meninggalkan dagangannya dan menyempatkan diri ke surau. Lurah dan seluruh perangkat desa datang menjenguk. Ketua Partai Randu datang. Dia berusaha membangunkan. Dia sanggup membangun TPI, memberi listrik surau, dan berjanji akan mengaspal jalan setelah pemilu. Tapi, dia tidak berhasil mengerjakan pekerjaan sederhana itu: membangunkan Wasripin, betapa pun usahanya.

Lurah yang pernah jadi perawat di rumah sakit itu keluar nalurinya. Dia memegang-megang tubuh Wasripin. “Masih bernapas, tapi badannya kok dingin.” Ia melambaikan tangan kepada seorang hansip. “Pergi ke puskesmas, minta dokter datang,” perintahnya. Sementara itu, orang membiarkan tubuh Wasripin tergeletak di emperan, di bawah tatapan mata mereka yang menonton.

Dokter datang bersama seorang perawat. Ia memegang nadinya, mengeluarkan alat dari tasnya. Melilitkan kain di lengan Wasripin dan memasang stetoskop di telinga. “Ia hanya tidur, Pak. Lelap sekali, tidak pingsan, tidak koma,” katanya kepada Lurah.

Pak Modin berkata, “Pak dokter, gunakan segala cara. Saya yang menanggung biayanya.” “Tidak apa-apa, Pak. Nanti juga bangun.” Kemudian dokter dan perawat pergi.

Hari ketiga Wasripin tertidur adalah Hari Pasar. Tidak tahu siapa yang mengambil inisiatif, tetapi orang tahu bahwa siapa saja dipersilakan mengenali asal-muasal Wasripin. Pada hari itu ada pasar hewan, maka para belantik menalikan hewannya, lalu ke emperan surau. Orang-orang itu hanya menggeleng, padahal mereka juga banyak yang datang dari jauh. Hari itu juga dua orang tentara dari Kodim datang. Mereka diantar Lurah dan Kaur Keamanan. Mengamati pakaian Wasripin, mereka menyimpulkan bahwa mereka berhadapan dengan gelandangan. Dua orang tentara itu lalu menggeledah saku-saku Wasripin. Di saku baju ditemukan fotokopi ijazah yang terlipat-lipat dan lusuh: ijazah SD. Selain itu tidak ada apa pun: tidak KTP, tidak SIM. “Orang ini mencurigakan, akan kami bawa ke Kodim,” kata salah satunya kepada Lurah. Pak Modin yang selalu menjaganya menyela, “Jangan, Bapak-bapak. Saya menjamin dia orang baik-baik.” “Ini siapa, Pak?” tanyanya kepada Lurah. Dijawab bahwa dia adalah Pak Modin. Seorang tentara mencatat-catat, lalu berpesan, “Surau ini sudah lampu kuning. Hati-hati saja kalau tidak mau hhh.” Tentara itu menyilangkan telapak tangannya ke leher. Kemudian mereka pergi. “Pak Modin dengar sendiri,” kata Lurah. “Saya tidak mengharap kejadian yang buruk-buruk di wilayah saya.”

Siang hari Wasripin bangun, terduduk, heran mengapa ia dikelilingi begitu banyak orang. Ia mengucek-ucek matanya. Mereka yang berkerumun minggir. Satinah dengan gelung, bunga kantil di rambut, kain batik kebaya merah, dan selendang ada di tengah kerumunan itu. Ia merangsek ke depan untuk menyaksikan apa-siapa orang yang tadi tidur itu. Ia berkata, “Tidur saja

kok pakai parfum. Ini mesti minyak wangi yang baik. Baunya lembut.” Orang-orang lain juga cengar-cengir mencari asal bau itu. Melihat Satinah, orang mengira bau itu mesti berasal dari perempuan penyanyi itu. Wasripin menoleh ke kanan dan ke kiri, terheran-heran.

“Saya di mana?” tanyanya.

“Di surau,” jawab orang banyak.

“Surau di mana?”

Orang menyebut nama desa itu.

“Desa itu di mana?”

Orang menyebut tempat.

Pak Modin yang rumahnya dekat surau datang, membawa semangkuk bubur dan segelas air teh manis.

“Minum dulu, Nak. Lalu makan yang halus-halus.”

“Engkau siapa, Pak?”

“Saya imam surau.”

Wasripin mendongak. Belum pernah ia mendengar kata-kata sehalus itu, bahkan dari para perempuan yang minta tenaganya. Ah, tidak. Ia ingin melupakan mereka, emak angkatnya, kampungnya, sungainya, Jakarta, dan seluruh hidupnya. Ia menerima uluran tangan Pak Modin dan mengucapkan terima kasih. Ia menghabiskan semuanya dengan lahap. Dengan mangkuk dan gelas di tangan, dia mencari-cari sepatunya yang terinjak orang banyak.

“Ke mana, Nak?”

“Mencuci gelas dan mangkuk.” Mencuci piring-piring dan gelas adalah keharusan. (Kata emak angkatnya, “Hanya kucing yang tidak pernah mencuci.”)

“Tidak perlu,” Pak Modin mengulurkan tangan.

Mata Wasripin melihat-lihat sekeliling. Ia terheran-heran.

Lho! Di mana orang tua itu?”

“Engkau pasti bermimpi, Nak. Engkau tidur tiga hari. Tidak ada orang tua,” kata Pak Modin.

“Tidak. Mungkin. Tidak. Mungkin. Berambut putih?”

“Tidak ada. Sudahlah.”

“Saya bahkan belum mengucapkan terima kasih. Orang itu keburu pergi.”

“Jangan khawatir apa-apa. Saya punya firasat kau bermaksud baik. Di sisi surau ada kamar, kau bisa tinggal di sana. Syaratnya, kau bersihkan surau. Sumur sudah ada listrik, jadi tinggal menekan tombol. Tidak usah repot-repot.”

“Tidak, Pak. Saya tidak berhak tinggal di surau.”

“Surau adalah rumah Tuhan, rumah siapa saja.”

“Tetapi saya tak bisa sembahyang, Pak.”

“Itu mudah, nanti saya ajari.”

“Jangan, Pak. Nanti mengotori surau. Saya tidur di TPI saja.”

Wasripin heran. Ia tidak mengira akan diterima begitu baik. Ia sudah siap untuk tidur di mana saja. Ia punya banyak teman main yang biasa tidur di

emperan toko, di bawah jembatan. Tidur di emperan surau tidak pernah terlintas di benaknya. Setelah teringat tujuannya ia berkata:

“Apa Bapak kenal ibuku?”

“Siapa nama ibumu?”

Wasripin baru sadar bahwa ia tidak mengerti nama ibunya. Ia menggelengkan kepala.

“Ah, nanti juga kau ingat,” kata Pak Modin.

“Ya, ya. Terima kasih.” Ia bahkan sebenarnya tak ada ingatan sama sekali tentang ibunya.

“Sekarang kutunjukkan tempatmu. Ikutlah.”

Pak Modin akan berjalan ke sisi surau.

“Tidak usah, Pak. Ke situ saja,” Wasripin menunjuk TPI, menunjuk pasar.

Lho, ke mana?”

“Cuma ingin jalan-jalan dulu.”

Ia mencari sepatu kainnya, ngeloyor ke TPI. TPI masih sepi. Lalu jalan ke pasar.

5

Mereka yang berkerumun bubar. Mereka kembali ke tenda-tenda. Satinah kembali ke pamannya. “Kasihan dia, Lik,” katanya kepada paman yang buta bersarung, bersurjan, berikat kepala dengan bundar-bundar di belakang. Lalu ia menuntun pemain saron dengan siter (kecapi), seruling, dan bungkusan besr berisi pengeras suara ke penjual soto. Mereka duduk di atas bangku. Di bawah tatapan mata orang pasar, Wasripin jalan-jalan. Wasripin lapar bukan main. Ia melihat penjual soto, lalu ikut duduk di atas bangku.

“Namamu pasti Wasripin.”

“Kok tahu?”

“Diam-diam kau terkenal di sini.”

“Terkenal?”

“Iya. Kau pasti orang Jakarta. Pakaianmu, bahasamu, dan seluruh gayamu.”

“Kok tahu?”

“Seseorang dari desaku yang kembali dari Jakarta juga berpakaian, berbahasa, dan gaya seperti itu.”

“Kau kok jeli.”

“Jenat ibu saya bilang bahwa perempuan harus jeli supaya tidak ditipu laki-laki, dan supaya telaten dalam bekerja. O, ya. Kenalkan saya Satinah. Ini paman saya.” Wasripin bersalaman dengan dua orang itu. Paman memegang tangan Wasripin lama.

“Mataku buta, Nak. Tapi, aku bisa melihat tanda-tanda itu.”

“Terima kasih,” kata Wasripin tanpa tahu apa sebenarnya yang dimaksudkannya.

“Apa kerjamu di sini?” tanya Satinah.

“Mencari desa ibuku.”

“Sudah ketemu belum?”

“Sudah.”

“Apa pekerjaanmu?”

“Penjual ketoprak. Dan engkau?”

“Di sini aku penyanyi. Paman ini main siter.”

“Pantas.”

“Kenapa?”

“Ah, tak apa.”

“Sudah punya istri?”

“Belum.”

“Pantas.”

“Kenapa?”

“Ah, tak apa.”

Keduanya tertawa.

“Suka pakai parfum, kayak perempuan.”

“Sumpah, seseorang telah menuangkan parfum.”

“Tidak percaya. Memang kenes, mbok diakui saja.”

“Sumpah, kok.”

“Kenes ya boleh. Asal jangan kayak perempuan.”

Wasripin ingat kata-kata emak angkatnya setiap kali ada perempuan pakai kebaya berkain batik, “Itu lho, Pin. Yang namanya wanita cantik.” Di Jakarta hanya pada Hari Kartini ditemukan gadis-gadis demikian dekat sekolahan. Dan, sekarang Satinah berdandan seperti itu.

Lapangan itu sudah berubah jadi pasar. Para pedagang memasang tenda-tenda sendiri yang dengan mudah mereka bongkar. Orang dari desa-desa sekitar datang. Mereka menawar dengan suara keras, berlomba dengan orang lain, dan dengan mobil van yang menawarkan jamu dengan pengeras suara yang lantang. Petugas dari kecamatan dengan tas di pinggang mendekati para pedagang dan menarik pajak. Hari ini bukan hari pasar biasa, tapi Hari Pasar. Itulah sebabnya Satinah dan pamannya datang. Pasar akan segera selesai.

Ada pasar hewan di sebelah selatan. Di situ dipasang pipa-pipa besi untuk menambatkan sapi dan kerbau. Hewan-hewan itu diangkut dengan truk-truk yang berhenti di pangkalan. Belantiknya sudah kembali ke pasar setelah mencoba mengamati Wasripin yang tidak mereka kenal. Para sopir dan kernet makan di sebuah warung dengan menaikkan kaki sebelah ke atas bangku. Sapi melenguh, kambing mengembik. Orang tawar-menawar dagangan. Mereka yang sudah membeli menaikkan binatangnya ke atas truk. Suara-suara truk, colt, dan pickup bersahutan.

Pemandangan itu sangat asing bagi Wasripin. Semua baru baginya: TPI, teluk, muara sungai, perahu-perahu, pasar, dan orang-orang. Dia ingin menikmati kebebasan dari kota yang telah mengungkungnya selama ini. Pasti di sinilah ibuku dibesarkan sebelum pergi ke Jakarta, pikirnya. Dia menyesali ibunya. Kalau saja ibunya tidak pergi dari situ, pasti dia tidak harus kenal dengan emak angkatnya, dengan Bu Mijah, dengan Yu Tumiyem, dengan perempuan-perempuan lain. Ia akan dibesarkan oleh ayah dan ibunya. Tapi, itu hanya andaikata. Ia juga belajar untuk menerima nasib. “Nasibmu ialah jalan hidupmu. Jangan ditolak, jangan disesali, jangan dimaki. Terima

sajalah. Hidup ini seperti banjir Sungai Ciliwung. Kita hanyut. Usaha kita ialah agar supaya tidak tenggelam. Itu saja,” kata emak angkatnya suatu kali, ketika ia tampak berkeringat mendorong-dorong dagangan dan berusaha menghapus keringatnya.

Wasripin berjongkok melingkar bersama orang-orang lain di bawah pohon munggur yang rindang. Ada pedagang, nelayan, dan anak-anak. Di tengah mereka ada Satinah, pamannya, dan pengeras suara. Paman bermain siter, kemudian seruling. Satinah yang memegang gagang pengeras suara mengajak mereka menyanyikan lagu pembukaan yang biasa, sambil bertepuk tangan. Dia belajar mengajak menyanyi bersama sebagaimana seorang seorang penyanyi dangdut yang pernah ditontonnya. Berulang-ulang. Pamannya mengikuti. Kadang-kadang mereka yang berjongkok berdiri, manggut-manggut, menari-nari mengikuti irama.

Teman-teman, mari kita nyanyi sama-sama!

Bernyanyi bersama, sepertinya mereka sudah hafal.

Mari kita bergembira

Bergembira bersama

Jangan ada yang susah

Susah itu bikin kepala pecah

“ih-hu!”

Rujak tela

Rujake wong ati lega

(Rujak ketela

Rujak orang berhati lapang)

Ngalam donya warna-warna kahanane, ya kangmas

Mula aja tansah digagas wae, ya mbakyu

(Dunia ini macam-macam keadaannya, ya mas

Karena itu, jangan selalu dipikirkan, ya yu)

“Ih-hu!”

Rujak cingur

Rujake wong ati jujur

(Rujak cingur

Rujak orang berhati jujur)

Rujak uyah

Rujake wong ati susah

(Rujak garam

Rujak orang berhati susah)

“Ih-hu!”

Ngalam donya warna-warna kahanane, ya bapak

Mula aja tansah dipikirke, ya sibu

(Dunia itu macam-macam keadaannya, ya bapak

Karena itu, jangan dipikir panjang, ya ibu)

Sapi perah berbaju lurik

Yang baju merah jangan dilirik

“Ih-hu!”

“Tenan, pa?” penonton.

(Apa sungguh?)

“Tenan wae!” Satinah.

“Siapa yang punya?” penonton.

“Paman!” Satinah.

“Jangan gitu lho, nanti tak laku!”

“Laku saja!”

……………………

Jenang sela wader kalen sesonderan

Apuranta yen wonten lepat kawula

(Jenang batu ikan sungai pakai sleyer

Minta maaf kalau ada kesalahan saya)

Semua bertepuk tangan di akhir setiap dua lagu sambil berih-hu. Mereka seperti ingin menghibur diri sendiri. Kebanyakan lelaki dan anak-anak sekolah yang sengaja dolan ke pasar. Wasripin belum pernah mendengar suara sebagus itu kecuali di televisi. Suaranya keras tanpa menegangkan urat leher. Setelah selesai Satinah mengedarkan besek. Orang-orang menjatuhkan uang di besek. Ketika tiba gilirannya menjatuhkan uang, Wasripin merogoh saku celananya dalam-dalam. Semua uangnya dijatuhkan. “Terima kasih,” kata Satinah pelan, seperti takut didengar orang lain. Ketika Satinah menyanyi lagi, tahulah dia bahwa kemudian besek akan diedarkan lagi padahal uangnya sudah habis. Pelan-pelan dia mundur dari lingkaran.

6

Orang-orang di surau kehilangan Wasripin. Pak Modin yang memimpin shalat menanti-nantinya. Para nelayan merasa ada sesuatu yang hilang. Wasripin yang tidur di emperan surau itu ternyata telah menjadi bagian dari mereka. Di surau mereka masih berkumpul lama setelah shalat selesai. Entah siapa mulai pembicaraan:

“Ia bilang orang tua berambut putih.”

“Jangan-jangan jin penunggu surau.”

“Jangan-jangan jin laut.”

“Jangan-jangan Nabi Hidhir.”

“Ya, jangan-jangan Sang Nabi.”

“Pasti. Baunya harum!”

“Kalau begitu, akhirnya Dia mengabulkan doa kita.”

“Tak sudi lagi ada yang sewenang-wenang!”

“Tak sudi lagi dipaksa-paksa!”

“Kita perlu pemimpin!”

“Yang muda!”

“Pemberani!”

Kesimpulan bahwa Nabi Hidhir sudah datng itu disetujui oleh orang banyak. Para nelayan lalu pulang. Sebentar saja kembali. Ada yang membawa sarung, ada yang membawa baju, ada yang membawa celana kolor, ada yang membawa peci. Mereka juga membawa nasi, lauk-pauk, dan termos teh. Barang-barang itu menumpuk di emperan surau.

DUA

1

Sudah beberapa hari Wasripin tak melihat sungai. Mandi di kamar mandi surau tidak memuaskannya. Ia sediri tak tahu berapa lama ia tidur. Karena itu, setelah bertanya soal lokasi sungai, ia ingin segera sampai ke sana. Keinginan itu melupakan janjinya kepada Pak Modin untuk segera kembali setelah jalan-jalan. Sungai itu panjang, berkelok-kelok, bermuara di teluk, dan mengairi sawah yang luas. Sungai yang pada ujungnya akan bermuara di teluk TPI. Sungai itu di sebelah sana masih bening, tidak asin, jauh dari pantai. “Ibumu bercerita bahwa di sungai desanya engkau dapat mengaca. Airnya sejernih siang hari,” cerita emak angkatnya, “di pinggirnya ada rumputan, ada gerumbul, ada pasir.” Inilah pasti sungai yang dimaksud ibuku, pikirnya. Memang, ada bedanya dengan sungai yang ia akrabi selama ini. Di Jakarta sungai berwarna coklat, sampah plastik, daun-daun, dan tepinya penuh rumah. Seperti rumahnya, seperti kampungnya. Di sini ia akan mandi dan mencuci pakaiannya. Maka ia melepas pakaian, mencuci, memerasnya kuat-kuat supaya cepat kering. Pada waktu mencuci itulah disadarinya bahwa seseorang telah menuangkan parfum ke bajunya dan ke badannya. Sesudah dicuci, dijemurnya pakaiannya di panas Matahari, di rumputan pinggiran sungai. Dan ia kembali ke air. Untuk urusan cuci-mencuci itu emak angkatnya punya sumur. Demikian juga untuk mandi. Ketika masih kecil, emak angkatnya selalu memandikannya kembali di sumur setelah ia kecibar-kecibur di sungai. Sekarang dia harus berendam di air sampai cuciannya kering. Bisa juga ia duduk-duduk di tepian karena siang-siang begitu tidak ada seorang pun di sungai.

Ia sedang duduk-duduk di tepian sungai ketika didengarnya ada sepeda motor datang. Cepat-cepat ia kembali ke air, menjauh dari arah suara datang.

Satinah memboncengkan pamannya. Paman dan keponakan itu berhenti. Seperti selalu demikian, paman itu mencopot pakaiannya dan masuk ke air. Biasanya ia mandi lalu tertidur di bawah pohon. Satinah bergerak menjauh dari pamannya. Ketika ia sedang mencuci muka dilihatnya pakaian laki-laki di dekat

gerumbul. Dari warna dan potongannya ia yakin pakaian itu milik Wasripin, seperti dipakainya waktu jajan soto. Ia ingin bermain-main seperti waktu kecil saat terang bulan di desa: Joko Tarub-Nawang Wulan. Ia mencari sebatang tumbuhan perdu kering, ditariknya pakaian itu, dan dipindahkannya ke tempat lain. Kemudian ia terlelap sebentar.

Ketika Satinah terbangun dilihatnya pakaian itu masih terjemur. Dilihatnya dari balik gerumbul Wasripin melihat ke kanan-ke kiri mencari satu-satunya pakaian miliknya. Ia naik-turun tepi sungai, tidak juga ketemu. Ia menggaruk-garuk kepala, lalu kembali ke air. Ia memutuskan akan menanti samai gelap kemudian berlari seperti orang gila ke surau atau TPI.

Pada waktu itu Satinah cekikikan sendiri. Ia punya ide bagus, bermain Joko Tarub-Nawang Wulan dan Wasripin adalah Joko Tarub. Mestinya Satinah yang ada di dalam air. Kebalik tak apa, pikirnya.

“Eh, Joko Tarub. Apa janjimu kalau ada orang memberikan pakaian?” kata Satinah dari gerumbul.

Wasripin yang berendam di air sungai diam, tidak tahu harus berkata apa. Ia mengusap-usap matanya. Satinah muncul dari gerumbul. Ia berkacak pinggang.

“Ya, akulah Nawang Wulan.”

Lho, ini kan Satinah.”

“Bukan. Akulah Nawang Wulan.”

“Satinah!” Wasripin berpikir, Satinah mungkin telah gila.

“Wo, kau ini bagaimana!”

“Ini apa?”

“Ini permainan. Namanya Joko Tarub-Nawang Wulan. Wah, orang kota yang picik.”

Ia ingat, emak angkatnya memang pernah bercerita tentang Joko Tarub dan Nawang Wulan waktu dia kecil. “Ada tujuh bidadari sedang mandi di sendang, yang tercantik namanya Nawang Wulan. Joko Tarub yang mengintip ingin memperistri bidadari tercantik itu. Maka ia pun menyembunyikan pakaiannya. Ketika selesai mandi, bidadari lain mencari pakaian masing-masing dan terbang. Tinggallah Nawang Wulan yang kehilangan pakaian, dan tak dapat terbang. Maka ia bersumpah bahwa siapa saja yang dapat menemukan pakaiannya kalau perempuan akan dijadikannya saudara, kalau laki-laki akan dijadikannya suami. Pada waktu itu muncullah Joko Tarub.” Waktu itu dia berpikir bahwa laki-laki desa itu amat beruntung. Dan pernah terbersit dalam pikirannya untuk jadi Joko Tarub.

“Ini hanya permainan, to?”

“Iya. Kaukira sungguhan?”

“Kok tidak bilang-bilang. Ya sudah. Mana pakaianku?”

“Janji dulu. Kalau laki-laki akan saya jadikan saudara dekat, kalau perempuan akan saya jadikan istri.”

“Ya, janji.”

“Harus diucapkan!”

“Bagaimana tadi?”

“Kalau perempuan akan saya jadikan istri.”

“Ya. Kalau perempuan akan saya jadikan istri.”

“Nah, begitu.”

Satinah mengambil baju itu. Dan menaruhnya di tempat semula. “Ini! Belum begitu kering, tapi boleh dipakai,” katanya.

Setelah Wasripin mengenakan pakaian, mereka menuju ke bawah pohon. Terdengar napas paman yang berat.

“Janji tadi hanya main-main. Sekarang kucabut.”

“Tidak bisa. Janji tetap janji.”

Lho! Katanya permainan.”

“Ya, permainan, tapi…,”

“Tapi jangan. Joko Tarub sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak kawin.”

Lho! Kok sama. Nawang Wulan dulu juga pernah berjanji begitu. Kata orang, kereta api saja tidak malu untuk mundu, apalagi orang.”

“Jangan. Jangan, Joko Tarub sungguh-sungguh.”

“Kenapa?”

“Joko Tarub yang ini orang paling kotor di dunia.”

“Ya, kenapa?”

Lalu Wasripin bercerita tentang masa kecilnya, emak angkatnya, penyekat, dan para perempuan yang membutuhkan tenaganya. Ia merasa lega, beban berat jatuh dari pundaknya. “Orang tua itu meminta supaya saya memaafkan mereka dan berdoa supaya mereka dan saya sendiri dapat ampunan Tuhan. Dendam adalah beban,” ia menutup kisahnya.

“Paman juga sering berkata semoga Tuhan mengampuninya. Kau tahu tentang Tuhan?”

“Orang tua itu mengajar saya.”

“Orang tua yang mana?”

“Entahlah.”

“Apa Joko Tarub ingin dengar cerita Nawang Wulan?”

“Ya, kalau boleh.”

“Pokoknya ya hampir sama. Tapi lain kali saja.”

“Ini tidak adil. Saya sudah bercerita, dan kau belum.”

“Ya, ya. Aku tahu, tapi saya harus membangunkan paman, dan pulang. Pokoknya mirip.”

“Mirip bagaimana?”

“Ya, pokoknya mirip.”

“Aku jijik dengan diriku sendiri.”

“Ya, jangan begitu.”

“Apa pernah punya perasaan seperti itu?”

“Ya, pernah.”

“Malam itu aku melihat jembatan, ingin mencebur sungai. Melihat pohon tinggi, ingin memanjat kemudian terjun. Melihat kereta api, ingin menabrakkan diri.”

“Kalau jadi, Nawang Wulan tak ketemu Joko Tarub.”

“Tapi aku takut, aku pengecut.”

Satinah membangunkan pamannya. Paman bangun dan mukanya ke arah Wasripin. Paman menyapanya.

“Hati-hati, Nak. Kau akan dapat banyak godaan dan fitnah!”

“Sudah, ya Joko.”

Untuk yang terakhir kali Satinah menoleh.

“Lain kali jangan semua uang dijatuhkan di besek, kalau uangnya habis bagaimana?”

Apa Satinah tahu, pikir Wasripin. Paman dan keponakan itu meninggalkan Wasripin sendirian.

“Saya melihat tanda-tanda di tubuhnya, Nah,” kata paman. “Cahaya itu, lho.”

“Ah, jangan aneh-aneh, Pak Lik.”

“Kalau jatuh cinta bilang, lho.”

Wasripin memandang lama arah Satinah pergi. Ia lega telah menceritakan riwayatnya.

Dan ternyata perempuan itu telah masuk dalam-dalam ke dalam hidupnya. Dengan pikiran pada Satinah ia berjalan pulang di bawah terik Matahari. Ia tidak tahu mengapa keburu menceritakan rahasia dirinya kepada Satinah, yang baru saja ia kenal. Padahal ia pernah berjanji pada diri sendiri untuk menyimpan rahasia hidupnya, dan melupakannya. Di jalan ia teringat emak angkatnya. Bagaimana bisa dia juga punya pengalaman tentang permainan Joko Tarub-Nawang Wulan yang sama dengan Satinah? Apakah mereka sedaerah? Ia berharap bisa mempertemukan Satinah dan pamannya dengan emak angkatnya. Entah kapan. Jatuh cintakah ia?

2

KABAR bahwa Wasripin telah kedatangan Nabi Hidhir itu menular pada semua orang. Begitu cepat, sehingga bukan saja para nelayan tapi juga aparat dan partai-partai. Partai Randu dengar, Partai Langit dengar. Mereka masing-masing mengadakan rapat kilat. Wasripin akan sangat menguntungkan bagi kemenangan partai mereka di perkampungan nelayan itu dalam pemilu yang sudah di ambang pintu. Dan mereka tidak mau kehilangan momentum, mumpung masih hangat beritanya. Partai Randu memutuskan untuk memberi jabatan koordinator pemenangan pemilu bagi Wasripin. Partai Langit memutuskan untuk mengangkatnya jadi salah satu ketua. Aparat desa juga cepat-cepat mengadakan pertemuan untuk mengangkat Wasripin sebagai komandan hansip. Juragan perahu ingin agar dia jadi pengawas armada perahunya. Ada juragan lain yang ingin memberinya pekerjaan sekadar untuk jimat. Orang-orang tua yang punya anak gadis berpikir untuk menjodohkan Wasripin dengan anaknya. Pak Modin alias imam surau berpikir untuk mundur sebagai imam surau. Kepala TPI ingin dia jadi satpam di TPI. Para nelayan berharap bisa melaut bersama Wasripin.

Maka, sesampai di surau Wasripin terkejut. Banyak orang berkumpul di sana. Ia tidak tahu bahwa orang-orang telah menantinya. Tiba di pelataran surau, beberapa orang menyambutnya. Mereka memapahnya dan

mendudukkannya di emperan. Wasripin terheran-heran, ia kebingungan, menoleh ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya Pak Modin.

“Apa yang terjadi, Pak?”

“Begitulah. Engkau dapat tempat mulia di sini.”

“Terima kasih, tapi ….”

“Terima saja.”

“Jangan! Jangan, aku tak mau!”

Wasripin mencoba lari. Tapi beberapa laki-laki menangkapnya. Terjadi tarik-menarik. Tentu saja Wasripin kalah. Ia duduk pasrah di emperan surau. Pak Modin mendekatinya. “Mereka semua punya tawaran bagus,” katanya.

Seperti sudah selayaknya mewakili aparat desa lurah mendekat.

“Kau akan kami jadikan Komandan hansip.”

Lagi Wasripin berbisik-bisik kepada Pak Modin.

“Komandan hansip itu sama dengan Kaur Keamanan.”

Kaur Keamanan yang ikut bersama rombongan aparat kaget. Tiba-tiba saja kedudukannya akan dilindas.

“Ya tidak begitu, to Pak. Tapi di bawahnya sedikit,” katanya.

“Bagaimana? Setuju?” tanya lurah.

“Tidak, Pak.”

Ketua Partai Randu mendekat.

“Wasripin, jangan ditolak kesempatan yang bagus ini. Kau akan kami jadikan koordinator pemenangan pemilu Partai Randu. Kalau menang, kau dapat naik ke tingkat kecamatan. Dari kecamatan dapat meningkat ke kabupaten. Dari kabupaten ke tingkat provinsi. Dari provinsi ke tingkat pusat. Di pusat dunia terbuka: menteri, ketua DPR/MPR, gubernur, bupati. Tinggal pilih.”

Wasripin melongo, tidak paham.

“Apa artinya, Pak?” tanyanya kepada Pak Modin.

“Ya, seperti yang dikatakannya.”

“Tapi aku tak ngerti kata-katanya.”

“Semua pada mulanya juga tak ngerti,” kata Ketua Partai Randu. “Itulah sebabnya ada sekolah, ada kursus, ada seminar, ada training. Bagaimana?”

Wasripin menggeleng, lebih karena tidak mengerti.

“Ya sudah kalau tak mau maju. Kami takkan memaksakan kehendak. Itulah inti demokrasi. Tapi jangan golput!”

Ketua Partai Langit maju.

“Bagaimana kalau Wakil Ketua Partai Langit?”

Lagi-lagi Wasripin bisik-bisik kepada Pak Modin menanyakan apa artinya salah satu Ketua Partai Langit.

“Jangan, Pak. Jabatan itu terlalu tinggi.”

Sementara itu terjadi ribut-ribut di depan surau. Satinah dengan bungkusan berisi sarung dan baju sedang berusaha menerobos orang-orang yang berkumpul. Beberapa hansip, Satgas Partai Randu, dan Satgas Partai Langit menghadangnya.

“Saya pingin ketemu Wasripin,” kata Satinah.

“Tidak bisa. Sedang ada urusan serius,” kata seorang yang menghadangnya.

“Hanya sebentar, Pak.”

“Berikan saja bungkusan itu kepada kami, kami nanti akan memberikannya.”

“Tidak bisa, tidak bisa.”

Satinah berusaha menerobos lagi, tapi orang-orang itu sudah membentuk barikade. Jadi ia tak bisa apa-apa. Ia meronta-ronta dalam pegangan para satgas. Dari emperan surau Wasripin melihat ada perempuan meronta-ronta. Pelataran surau penuh dengan orang. Tapi, setelah diamatinya, ia tahu perempuan itu Satinah. Spontan ia berteriak, “Lepaskan!” Di luar dugaannya suaranya menggema keras bagi yang berusaha menghalangi Satinah. Mereka mendengar gema itu sepertinya dari langit, “Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan!” Para Satgas melepas Satinah ketika mendengar perintah itu. Ketika Satgas lagi tertegun mendengar suara itu, Wasripin lari ke arah Satinah. Mereka bertemu.

“Ini!” kata Satinah sambil melempar bungkusan itu.

“Ini apa?”

“Pakailah! Ada uang di dalamnya.”

Satinah pergi dan menghilang bersama motornya, sedangkan Wasripin memegangi bungkusan, tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Sementara itu para nelayan yang khawatir ia kabur mengelilinginya.

“Bapak-bapak sudah waktunya shalat ashar. Bagaimana kalau pertemuan ditutup?” kata Pak Modin.

3

“WASRIPIN, saya tunjukkan kamarmu yang baru.” Pak Modin mulai melangkah. “Tolong, bawakan barang-barang ini ke kamar,” pinta Pak Modin kepada seorang nelayan remaja.

Ketika Wasripin dan Pak Modin sampai di kamar, seseorang sedang mengecat tembok yang lantas mau pergi saat melihat keduanya masuk.

“Ee, jangan pergi dulu. Kenalkan, ini Wasripin. Lanjutkan pekerjaan nanti sore, setelah Pak Wasripin istirahat.”

“Ngk-ngk-ngk-ngk,” ia menunjukkan tangannya yang kotor, lalu pergi.

“Sejak tertabrak motor, ia jadi bisu begini. Ia kami serahi mengisi air kamar mandi, tempat wudhu, dan membersihkan surau.”

“Itu nanti tugas saya juga.”

“Tidak. Akan kami serahkan orang lain.”

“Tidak, Pak. Saya tinggal di sini, karena itulah saya yang bertugas.”

Orang yang membawa barang-barang meletakkannya di meja.

Di kamar Wasripin sudah tersedia nasi, ikan asin, sayur bening, dan poci teh. Sambil menunjuk barang-barang dan makanan itu, kata Waripin,

“Apa sebenarnya yang terjadi, Pak?”

“Ya, seperti yang kau lihat.”

“Tapi segalanya membingungkan. Katanya aku dimuliakan, kok Satinah mau ketemu saja tak boleh?”

“Kita sama. Aku juga bingung, Nak. Sudah, sehabis shalat ada pertemuan lagi. Sampai nanti.”

4

SETIBA di rumah sewa, Satinah langsung ke kamar tidur dan sesenggukan. Pamannya yang baru pertama kali mendengar Satinah menangis, segera ke kamar.

“Ada apa?”

“Orang-orang berseragam itu.”

“Siapa?”

“Kata mereka aku tak boleh ketemu Wasripin.”

“Akhirnya kau ketemu juga?”

“Ya. Tapi susahnya melebihi ketemu Pak Bupati saja.”

“Mereka pasti hanya menjalankan perintah.”

“Wasripin sudah berubah, Pak Lik. Dia bukan orang kecil seperti kita lagi.”

“Aku tidak mengerti. Tapi kita harus berbahagia bersama kebahagiaan orang lain.”

“Tidak. Aku benci. Aku benci. Takkan lagi ke pasar itu.”

“Begitu juga boleh.”

Paman lalu keluar. Dia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.

5

WASRIPIN masih terheran-heran dengan apa yang terjadi. Di Jakarta ia menjadi sampah, di sini orang menghargainya. Pernah dia dan emak angkatnya berlari-lari sambil mendorong dagangan hanya untuk menghindari petugas ketertiban. Di sini, lurah, Partai Randu, dan Partai Langit malah melamarnya untuk memberi pekerjaan. Benar kata emak angkatnya, “hidup itu berputar, sekali engkau boleh di bawah, tapi percayalah suatu kali engkau akan naik”. Tahu-tahu Pak Modin sudah menjemputnya. Sore hari itu dia duduk lagi di emperan surau.

“Bagaimana kalau jadi satpam di TPI?” tanya kepala TPI.

“Bagaimana kalau bekerja denganku? Kerjamu ialah mengawal sopir mengirim pindang ke Bandung,” tanya seorang juragan pindang.

“Bagaimana kalau melaut dengan perahu saya?”

Tawaran-tawaran kerja itu tak dimengertinya, kecuali jadi satpam. Di Jakarta pernah dia melamar jadi satpam, tapi emak angkatnya keberatan, “Ibumu ini sudah tua. Engkau akan jadi penjual ketoprak tak perlu kerja yang lain.” Cita-citanya tertinggi waktu kecil sebenarnya ialah jadi tentara atau polisi. Seragam dan pistol mereka menjadikan dia kagum. Tapi kawan-kawannya menakut-nakuti. “Ya, betul jadi tentara. Tapi kau takkan pegang bedil atau pistol. Peganganmu ialah piring, cangkir, dan baki. Senjatamu adalah pisau dan kompor. Alias tobang.” Cita-citanya agak turun sedikit: ia ingin jadi satpam. Toh masih juga pakai seragam, topi, selempang benang dipilin, pluit, dan pentung. Dan sekarang ada yang menawarinya kerja sebagai

satpam, maka seperti kata pepatah “pucuk dicita, ulam tiba”. Ia pun menerima tawaran untuk jadi satpam.

“Pilih yang mana?” tanya Pak Modin.

“Saya jadi satpam saja,” katanya.

Ada gumaman panjang.

“Kalau begitu besok siang datanglah ke kantor,” kata Kepala TPI.

Wasripin sedang mencium-cium bungkusan yang diberikan Satinah, ketika Pak Modin mengunjunginya. Dia berniat mengajari Wasripin mengaji. Dibawanya Al Quran Juz 30. Dibukanya halaman-halaman depan.

Tirukan, “Alif, ba, ta.”

“Tsa, jim, ha, kha, …”

Lho! Kok sudah tahu?”

“Ya, orang tua itu yang mengajari.”

“Sampai mana? Coba baca ini.”

Modin membuka sembarang halaman, “Coba baca!”

Wasripin membaca, “Ini namanya sudah bisa.”

“Apakah orang tua itu juga mengajarimu menghapal?”

“Apa yang harus dihapal?”

“Ya, sudah. Besok sore kau belajar menghapal. Sekarang istirahatlah. Quran ini saya tinggal.”

6

PAGI hari tukang cat tembok datang lagi. Ada dorongan pada Wasripin untuk memijat-mijat, “Coba ke sini.” Tukang cat mendekat. Wasripin memijat leher, kepala, dan semua badan bagian atas. Ia hanya mencoba-coba memijat. Ia heran tangannya seperti bergerak sendiri. Ia sendiri tidak yakin dengan pijatannya. Setelah selesai ia bertanya, “Apa cita-citamu kalau sembuh?”

“Saya ingin jadi penjaga toko.”

Dia tidak sadar telah bicara biasa. Ia memang pernah melamar jadi penjaga toko. Tapi dengan menyesal pemilik toko menjelaskan bahwa pembeli adalah raja. Maka, penjaga toko harus ramah-tamah, jadi pelayan, murah senyum, dan pandai bicara. Pemilik toko menyarankan untuk pijat dan berjanji akan mengangkatnya begitu ia sembuh. Ia berusaha pijat ke ahli urat, tak kunjung sembuh.

“Dengar, sekarang kau bisa bicara.”

Tukang cat heran, Wasripin terkejut.

Lho! Saya bisa bicara! Aku bisa omong!”

Ia lari keluar. Berteriak sambil berlari-lari, “Aku bisa bicara! Aku bisa bicara!” Para pedagang satu per satu didatanginya hanya untuk mengatakan bahwa dia bisa bicara. Selama ini para pedaganglah yang memberinya pekerjaan, mengangkat-angkat dagangan. Mereka keheranan, ini keajaiban. Ia mengambil sepeda dan pergi.

Wasripin melanjutkan mengecat. Tempat tinggal seperti itu adalah kemewahan baginya. WC dan kamar mandi dari tegel, listrik tinggal menekan tombol, air sumur dengan pompa listrik. Setelah itu ia pergi ke kantor TPI. Dia

sudah membayangkan sepatu boot, topi, seragam, sabuk besar, selempang, dan peluit. Kabarnya, satpam juga dilatih baris-berbaris, bela diri, dan menembak. Karena itu, dengan senang dia menemui kepala TPI.

“Tugasmu ialah kerja delapan jam sehari. Waktunya digilir dengan teman-teman yang lain. Tugasmu hanya, sekali lagi hanya, menjaga TPI, tidak yang lain. Sebab, uang retribusi pasar juga disimpan di sini.”

“Ya, Pak. Boleh saya jujur?”

“Apa?”

“Saya akan berhenti jadi satpam kalau saya kawin. Saya akan berjualan ketoprak.”

“Itu soal nanti. Sekarang kau bisa memesan seragam ke alamat ini. Pergi ke alamat ini untuk membuat pas foto.”

Wasripin keluar dari TPI.

Orang-orang di pasar berbisik-bisik, “Inilah Wasripin. Kata orang, dialah pemimpin kita yang baru.” Wasripin mendengar rasan-rasan pedagang. Dia menjadi pemimpin? Pemimpin apa? Dengan teka-teki itu ia pergi ke penjahit.

Di TPI ada sembilan orang yang intin ketemu dengan kepala TPI. Mereka memenuhi ruangan Kepala.

“Ada perlu?”

“Ya, kami ingin jadi satpam.”

“Waduh, seperti bisa dilihat, jabatan itu sudah terisi.”

“Kalau begitu, catat kami sebagai tenaga cadangan.”

Kepala TPI heran. Dulu jabatan sebagai satpam ditawar-tawarkan di desa nelayan itu dan tidak ada seorang pun yang melamar. Kata mereka, lebih untung melaut atau menjadi pedagang bandeng. Kalau beruntung, cepat kaya. Menjadi pegawai? Disuruh-suruh? Pret! Menjadi satpam, ya satpam seumur hidup. Setelah mereka pergi, Kepala TPI lalu menulis di kertas dengan tulisan tebal-tebal: Tidak Ada Lowongan. Dia meminta satpam untuk menempelkannya.

Sampai di surau, tukang cat dan tiga kawannya sudah menunggu.

“Aku diterima jadi penjaga toko! Terima kasih, terima kasih, Kang eh Mas eh Pak.”

“Panggil saja Wasripin atau Ripin atau Pin.”

“Ya, kenalkan ini kawan-kawan saya.”

Mereka bersalaman.

“Ngk-ngk-ngk.”

Tahulah Wasripin bahwa mereka juga bisu.

“Yang ini jadi bisu karena jatuh dari truk ikan. Yang ini bisu karena dipopor bedil waktu kampanye. Dan, yang termuda ini bisu sejak kecil karena jatuh dari pohon. Mereka semua pengin dipijat.”

“Ya, saya usahakan.” Sebenarnya ia tidak begitu yakin dengan kemampuannya. “Kecuali yang ini,” katanya sambil menunjuk anak muda yang bisu sejak kecil.

Mendengar bahwa dirinya tak dapat sembuh, pemuda terkecil itu menangis pelan, makin lama makin keras, dan akhirnya berguling-guling di tanah. Semua kebingungan.

“Maksud saya, yang bisu sejak kecil harus lebih bersabar dari yang lainnya,” kata Wasripin menghibur dan bocah itu berhenti menangis. “Datang saja ke surau atau TPI.”

Kemudian Pak Modin datang. Mereka bubar.

“Nak Wasripin, saya ajari mengambil air wudhu. Kita akan shalat. Pakailah sarung dan peci.”

Wasripin pergi ke tempat pancuran.

Lha, kok, sudah bisa. Orang tua itu? Bagaimana denga shalat? Orang tua itu juga?”

“Iya.”

“Kau beruntung. Selama hidupku, baru kali ini orang tua itu datang sungguhan. Menghapal, bagaimana? Mulailah dengan surat-surat pendek.”

Ketika Pak Modin datang untuk mengecek hapalannya dia terheran-heran. Wasripin sudah hapal surat-surat pendek yang ada dalam Al Quran. Dalam hati ia gembira, sebab ia sebentar lagi akan dapat melepas tanggung jawabnya sebagai imam surau.

TIGA

1

AYAH calon bayi sudah mengantongi nama. Sehabis merenung sendirian di kebun jagung, dia hampir-hampir berlari pulang ke rumah. Katanya kepada istrinya sambil senyum-senyum,

“Coba, tebak apa nama bayi kita nanti?”

“Bagaimana aku tahu pikiranmu?”

“Ya, pokoknya tebak saja!”

“Tidak bisa.”

“Nama orang itu harus sesuai dengan hari lahirnya.”

“Aku tahu sekarang. Kalau lahirnya hari Legi, kalau perempuan Legiyem, kalau laki-laki Legino. Kalau hari Wage ya Wagiyem atau Wagino. Kalau hari Pon, Poniyem atau Pono. Kalau hari Minggu ya Ngatiyem-Ngadiyem atau Ngatino-Ngadino….”

Lho, kok tahu?”

“Tahu saja. Itu nama kuno, ketinggalan zaman. Pikirkan nama yang lebih dari nama-nama biasa itu. Seperti kekurangan nama saja.”

Keesokan harinya di kebun jagung dia merenung lagi. Ketika nama itu akhirnya ketemu, ia lari-lari pulang.

“Apa nama bayi kita?”

“Bagaimana aku tahu pikiranmu?”

“Kalau laki-laki namanya Walino, kalau perempuan Waliyem.”

“Nah, itu baru bagus!”

“Wali artinya orang suci, penyebar agama Islam di Tanah Jawa.”

“Apa tidak terlalu bagus untuk anak orang gunung seperti kita?”

“Nama itu lebih bagus lebih baik. Nama itu doa.”

“Ya, kalau begitu aku setuja-setuju saja.”

Pekerjaan paling sulit, memilih nama itu pun selesai.

Ketika anak itu lahir perempuan, lima hari sebelum kenduri, kepada setiap orang mereka sudah bisa bilang, “Anak kami namanya Waliyem.”

Namun, rupanya anak itu tidak beruntung dan membawa sial. Sudah kelas tiga SD badannya masih kecil, hidung selalu meler, telinga mengeluarkan bau busuk, mata kecil merah, mudah masuk angin. Sementara itu bapaknya terjatuh dari pohon kelapa dan lumpuh untuk waktu lama. Waktu ayah bisa jalan, punggungnya bongkok dan harus berjalan pakai tongkat. Ibunya yang mencoba bakul gula teh kecil-kecilan kehabisan modal karena dihutang para tetangga. Ketika mencoba menanyakan tentang kesialan mereka, seorang pintar mengatakan bahwa anak mereka tak sanggup menanggung beratnya beban nama. Nama Waliyem terlalu berat untuk orang gunung seperti dia. Dia menyatakan bahwa nama itu perlu diganti. Pasangan itu menyerahkan soal nama baru yang sesuai kepada orang pintar itu.

“Bagaimana kalau . . . mmm . . . Satiyem?”

“Itu bagus. Tapi apa artinya, Eyang?” Bahwa nama itu doa menjadi pegangan pasangan itu, karenanya nama harus yang serba baik.

“Sati itu bahasa Hindu, artinya setia.”

Memang anak itu berangsur-angsur menjadi baik. Bahkan, setelah lulus SD tubuhnya menjadi bongsor. Tetapi, kesialan pada ayah-ibunya malahan bertambah. Ayah yang sudah bongkok itu tergelincir di tanjakan yang licin setelah hujan. Ibu juga demikian. Setelah dagangannya habis itu dia mencoba bangkit lagi dengan meminjam-minjam modal. Akalnya bahwa seseorang hanya boleh membeli dengan tunai menimbulkan boikot para tetangga dan sumpah-serapah. Walhasil, ia tidak bisa mengembalikan hutang, dan seluruh dagangannya diobral untuk membayar hutang.

Mereka ingat nama itu lagi.

“Satiyem itu berasal dari kata sat, artinya kering atau habis,” kata suami.

“Ya, mungkin itu masalahnya.”

Mereka memutuskan untuk sowan orang pintar itu dan minta nama baru lagi. Sial bagi mereka, orang pintar itu sudah meninggal. Usaha sang ayah untuk menyepi malam-malam di kuburan orang pintar dengan harapan ada nama baru yang dipesankannya tidak berhasil. Tirakat di kuburan itu malah menghasilkan sesuatu yang lain: ia terpaksa berlari terjatuh-jatuh, terantuk-antuk di batu-batu kuburan karena melihat rerupaan seperti raksasa. Ketika peronda menemukannya tersengal-sengal napasnya, sambil bilang, “Nama, nama …” Kemudian jatuh pingsan.

Mau mengganti nama anak itu mereka tidak berani. Nama itu pemberian orang pintar, ada berkah yang mereka belum tahu. Maka, saudara dekat suami-isteri mengusulkan untuk mengadakan kenduri dan lek-lekan (semalam suntuk tidak tidur) guna membuang sial. Maka empat puluh santri dari sebuah pondok diundang untuk mengaji di rumahnya. Mereka datang dan mengaji di ruangan depan. Sementara para santri mengaji, di ruangan belakang, seperti biasanya, orang berjudi untuk menjaga jangan sampai mengantuk. Kyai yang memimpin pengajian sudah berpesan supaya perjudian ditiadakan, sebab terlarang untuk mencampurkan perbuatan yang benar dengan perbuatan yang

keliru. Tetapi para tetangga tidak dapat dicegah. Dan tuan rumah hanya berkewajiban untuk menyediakan tempat dan kue-kue, akan mendapat bagian dari setiap giliran permainan. Dengan pikiran bahwa “apa boleh buat” dan asal mereka sendiri tidak ikut berjudi, maka pengajian dan perjudian berjalan lancar.

Selain pengajian, Satiyem juga diikutkan dalam acara ruwatan yang diselenggarakan sebuah paguyuban aliran kepercayaan. Ayahnya berpendapat bahwa orang bisa beragama apa saja: Islam Kristen Budha, tetapi jangan lupa Jawanya. Jowo berarti tahu makna hidup. Maka, dalam upacara ruwatan Satiyem diguyur dengan bunga mawar. Kemudian ada wayang dengan cerita Ruwatan Murwokolo. Seorang sukerto (kotor) harus diruwat, sebab kalau tidak diruwat dia akan dimakan Batara Kala. Tetapi, dasar bocah. Begitu gamelan mulai ditabuh, kantuknya datang. Ayahnya harus berkali-kali membangunkannya supaya anaknya tidak tertidur. “Bangun, bangun! Kau sedang diruwat.” Akhirnya ayah itu menyerah, karena lewat tengah malam kantuk membuat anak itu tidur pulas. “Terjadilah apa yang akan terjadi. Manusia hanya sekedar menerima,” pikirnya.

Satiyem tidak melanjutkan sekolah, tapi di rumah membantu-bantu berladang ayah-ibunya. Setelah bosan di rumah, Satiyem menerima ajakan pamannya yang ahli siter untuk bermain di “rumah iblis”. Suara yang bagus ditambah tubuhnya yang bongsor dan wajahnya yang cantik memberinya peluang untuk jadi penyanyi dan berperan dalam adegan “potong leher”. Maka ia ikut dalam rombongan itu dari satu tempat ke tempat lain. Tidak seorang pun dalam rombongan berani mengganggunya, sebab pamannya termasuk orang yang disegani. Peminat “rumah iblis” menyusut, kabarnya karena adegan-adegan “rumah iblis” kalah seram dengan adegan TV. Orang-orang desa yang menjadi pendukung utama “rumah iblis” memilih nonton TV di balai desa. Ketika rombongan itu akhirnya bubar, pamannya berusaha menyelamatkan anak buah dengan mendirikan ketoprak tobong bermain dari tempat ke tempat.

Pada waktu pamannya jadi boss ketoprak itulah peristiwa itu terjadi. Singkatnya, Satiyem diperkosa pamannya. Pamannya yang telah jadi jejaka tua akibat ditinggal kekasih ke Jakarta itu tidak tahan waktu melihat kain keponakannya tersingkap. Tidak ada anggota rombongan yang curiga ketika Satiyem pamit mendadak untuk pulang ke orangtuanya. Pamannya mengikutinya untuk mempertanggungjawabkan ulahnya.

“Bunuh aku! Bunuh aku!” kata Satiyem pada orangtuanya.

Lho! Datang-datang, kok begitu. Ini ceritanya bagaimana?”

“Bunuh aku, anak tak berguna ini!”

“Nanti dulu, to. Ceritanya bagaimana?”

“Aku benci diriku! Aku jijik padanya! Aku ternoda!”

Pada waktu itu muncul pamannya.

“Ya. Saya mengakui telah berbuat khilaf, Mas-Mbakyu. Aku sudah menodainya.”

“Oalah, jadi itu. Bagaimana si Adi kok sampai hati kau berkhianat pada keponakanmu sendiri,” kata orangtua Satiyem.

Aib itu tidak sampai ke tetangga dan pengurus desa. Ketika paman mengatakan akan menikahi Satiyem, kedua orangtua itu mentertawakan pinangannya. Mereka tahu bahwa adiknya nakal.

“Anak kami tidak kawin dengan Tumenggung Wiroguno.”

Mereka juga menertawakan pikiran pamannya ketika ia menyanggupkan diri untuk mencarikan suami yang lebih muda bagi Satiyem.

“Itu pikiran orang gila.”

Ketika pikiran itu ditolak, ia mengatakan bahwa ia akan membayar “ganti rugi”. Waktu ditolak pula, kepada kedua orangtua Satiyem dikatakannya bahwa gadis itu akan tetap gadis, artinya Satiyem tidak akan hamil sebab ia tahu caranya. Ia memang gila, tapi tidak nekad.

“Itu tidak memecahkan soal.”

“Lha bagaimana, Mas-Mbakyu?”

Kedua orangtua itu tidak menjawab.

“Bagaimana kau ini! Bagaimana kau ini! Bagaimana kau ini! Kok ya tega-teganya, kau ini! Bagaimana kau ….”

Paman mendapat gagasan. Disautnya sendok di meja, lalu dicungkilnya kedua matanya! Bola mata itu jatuh di lantai tanah.

“Aku bersumpah demi Tuhan, Mas-Mbakyu! Saksikan, bahwa seumur hidup aku tidak akan menyentuh perempuan lagi!”

Sementara itu darah menetes dari kedua matanya.

Kedua orangtua yang melihat darah mengalir mengatakan,

“Bukan begitu maksud kami! Bukan begitu maksud kami!”

Dan paman itu pergi ke dipan lalu jatuh pingsan.

Satiyem yang menyaksikan bagaimana kedua bola mata pamannya terjatuh di lantai tanah. Ia menangis.

“Pak Lik! Pak Lik!”

Pada waktu itu rasa benci, jijik, dan marah pada pamannya hilang. Timbul rasa kasihan yang sangat dalam.

Untuk beberapa minggu sang paman terpaksa menginap di rumah sakit, dan dua minggu pula rawat-jalan. Selama di rumah sakit, Satiyem setiap hari menjenguknya. Setiap kali datang selalu dikatakannya,

“Maaf, Pak Lik!”

Dan pamannya akan menjawab, “Maaf, Satiyem. Saya khilaf.”

Lalu keduanya akan menangis.

“Aku bersedia jadi budakmu, Yem. Untuk menebus dosaku kepadamu.”

“Jangan begitu, Pak Lik. Tak ada dosa, tak ada yang harus ditebus.”

“Aku tahu kesempatan itu akan datang.”

Paman tinggal di rumah Mas-Mbakyunya, menganyam bambu jadi kap lampu, keranjang kertas, hiasan dinding, dan hiasan meja. Dan semuanya berjalan dengan baik. Di waktu senggangnya ia meratapi kesalahannya sambil main siter, “Duh Gusti, kula nyuwun ngapunten … (saya mohon ampun).

Ia baru berhenti ketika suatu hari Mas dan Mbakyunya bilang, “Yang sudah, ya sudah. Jangan dipikir terus.”

3

WABAH muntaber menyerang desa itu. Puskesmas setempat kewalahan melayani orang sakit. Mereka yang perlu perawatan lanjutan dikirim ke rumah sakit di kota. Bapak dan ibu Satiyem termasuk yang harus dikirim ke kota. Bapak Satiyem meninggal di jalan waktu dikirim ke kota, karena dehidrasi. Ibu Satiyem sempat beberapa hari di rumah sakit, tapi juga meninggal seminggu kemudian.

Setelah seratus hari, keluarga besar mendiang ayah-ibu Satiyem mengadakan rapat. Dalam rapat itu akan ditentukan perwalian atas Satiyem.

Dalam rapat itulah paman mengajukan diri jadi pengganti ayah-ibu Satiyem.

“Mau kau beri makan batu, ya?” tanya rapat.

“Jangan khawatir. Aku punya keahlian.”

“Kalau dulu kami percaya. Bagaiamana dengan kebutaanmu?”

“Percayalah.”

“Kami percaya kau ahli memainkan gamelan, tapi bagaimana dengan Satiyem?”

“Kami akan mbarang. Saya bermain siter dan seruling, Satiyem menyanyi. Di waktu senggang saya menganyam bambu, dan Satiyem menjahit.”

Rapat keluarga menilai ada rencana terperinci pada paman. Maka tinggal lagi mereka menanyakan tekad Satiyem.

“Bagaimana, Yem?”

“Itu gagasan yang bagus. Aku setuju.”

Ketika warga desa mengetahui bahwa Satiyem akan pergi, orang-orang tua yang punya anak jejaka menyesalkan keputusan itu. Mereka berharap Satiyem jadi menantunya. Para jejaka desa ada yang memberanikan diri melamarnya, tapi ditolak. Tekadnya sudah bulat: mengembara. Dan hanya akan kawin dengan orang sudah cacat seperti dirinya. Satiyem tidak ingin mengecewakan pemuda desanya sendiri.

Surat kelakuan baik (tidak tersangkut perkara polisi, tidak tersangkut G30/S), KTP, dan izin jalan mencari pekerjaan sudah diurus. Maka mulailah hari-hari pengembaraan mereka. Seluruh warga mengantar sampai perbatasan desa. Laki-laki buta membawa pikulan berisi siter, seruling, radio alias pengeras suara, dan pakaian. Satiyem menjinjing bungkusan pakaian. Mereka yang mengantar diam seperti mengantar jenazah ke kuburan, merasa akan kehilangan Satiyem dan pamannya selama-lamanya.

Siang dan sore hari mereka berjalan dari desa ke desa dan dari pasar ke pasar. Malam hari mereka menginap di kantor kelurahan. Mereka terus akan berjalan sampai suatu kali mereka menemukan tempat yang dekat ke pasar-pasar untuk menetap. Suatu sore mereka sampai di sebuah kelurahan yang sedang merayakan ulang tahun Partai Randu. Mereka diminta untuk mempertunjukkan keahlian mereka, karena secara tiba-tiba grup band yang dipesan mengalami kecelakaan di jalan. Semua warga desa hadir. Selesai pertunjukan diadakan tanya jawab.

Ketika tuan rumah merangkap lurah merangkap Ketua LKMD merangkap Ketua Dewan Pembina Partai Randu diberi kesempatan berbicara, orang yang paling berpengaruh itu bertanya lewat pengeras suara.

“Siapa namamu, Nduk?”

“Satiyem.”

“Ayu-ayu namanya kok Satiyem. Itu nama orang gunung, gunung saja gunung zaman dulu. Kalau orang gunung harus pakai yem, kalau babu Belanda harus pakai tje. Kalau diubah bagaimana?”

“Terserah saja, Pak.”

“Diubah, ya Lur?” Sedulur artinya saudara. “Setuju?”

Semua yang hadir bilang, Setujuuu!”

“Sekarang namamu bukan Satiyem, tapi mmm Satinah.” “Setuju?”

“Setujuuu!”

“Itu lebih marrrketable. Setuju?”

“Setujuuu!”

“Ya. Itulah hakikat demokrasi. Itulah inti dari musyawarah untuk mufakat. Di gunung yang sudah modern kau akan dipanggil Mbak Sat, di desa Mbak Tinah, di kota Mbak Tin.”

“Saya dipanggil Satinah saja, Pak.”

“Demokrasi yang diperjuangkan Partai Randu menghormati hak-hak individu, karena itu kau berhak dipanggil Satinah. Setuju?”

“Setujuuu!”

“Terima kasih, Satinah!”

“Satiiinah! Satiiinah! Kowe kok cantik, yang nyuruh siapa!” koor pengunjung.

Untuk seterusnya nama Satinah itulah yang dipakai. Pamannya agak keberatan, sebab nama itu amanat yang diberikan orangtuanya, tapi segera dilupakannya. Di Balai-balai Desa tempat keduanya menginap hanya nama Satinahlah yang selalu tercatat. Mereka meneruskan perjalanan. Dari pasar ke pasar, dari desa ke desa, dari balai ke balai.

4

SETELAH tanya sana-sini maka mereka menemukan tempat di mana keduanya bisa tinggal berlama-lama. Sampailah mereka di koplakan itu. Koplakan adalah semacam losmen terbuka dan sangat murah, siapa saja boleh datang dan pergi tanpa pemeriksaan surat-surat. Setiap sore yang empunya seorang perempuan tua setengah buta akan duduk di kursi rotan sambil kipas-kipas dan siap berkata pada setiap pengunjung,

“Selamat datang di koplakan terakhir pada abad ini. Eh, boleh bayar iuran sekarang, besok, atau kapan-kapan saja. Gratis juga bisa. Laki-laki sebelah kiri, wanita sebelah kanan. Larangannya ialah tak boleh ma lima.”

Mereka membayar.

“Lho! Ini terlalu banyak. Mau tinggal berapa hari?”

“Sampai kami ingin pergi.”

“Begitu lebih baik. Tinggallah lama-lama. Aku perlu teman.”

Keduanya masuk, membagi buntelan bawaan. Koplakan itu terdiri dari sebuah pendopo dibagi dengan sekat gedeg yang rendah. Ada dua kamar mandi dan wc yang berdekatan dengan satu sumur yang timbanya bisa ditarik kesana-kemari. Orang bisa mandi di kamar mandi, tapi baik laki-laki atau perempuan bisa juga mandi di sumur. Mereka yang menginap ialah para pedagang keliling: penjual payung, pedagang barang-barang dari tanah, pedagang kitab, pedagang pakaian jadi, pelacur, penjahit, penjual mainan anak-anak, penjual balon, dan pembarang macam Satinah dan pamannya.

Kabarnya janda pemilik sering bertengkar dengan anaknya, karena pembukaan koplakan seperti itu sudah ketinggalan zaman dan tidak menguntungkan.

“Sebaik-baiknya orang ialah yang bermanfaat bagi orang lain,” kata ibu.

“Meskipun kau sendiri rugi?”

“Ya, begitulah ajaran Nabi.”

“Kalau kelak aku jadi pemilik, akan kujadikan tempat hotel sungguhan.”

“Jadi, kau berharap aku cepat mati, ya?”

“Ya tidak begitu!”

Anak itu akan menghindari perdebatan selanjutnya setelah ibunya mengungkit-ungkit soal kematian.

Namun, akhir-akhir ini anak itu tidak lagi berbicara soal penutupan koplakan. Perempuan dengan pundak halus mandi di sumur terbuka itu. Seorang pelacur yang masih kinyis-kinyis sengaja menginap untuk memamerkan dagangannya. Pada waktu dia mandi di sumur para laki-laki akan menonton dari balik pintu. Sengaja lewat untuk mengambil jemuran atau apa saja atau tanpa alasan. Adegan paling dramatis ialah ketika perempuan itu mengganti pakaian basah dengan pakaian kering. Akan terdengar, “Suit! Suit!” Laki-laki yang mengharap lebih dari itu harus membayar, dan mereka yang takkan bisa. Hanya anak laki-laki pemilik koplakan saja yang sanggup mengundangnya. Tetapi, itu pun ada batasnya. Ketika si ibu mendengar perihal kelakuan anak dan pelacur, maka tak segan-segan dia mengusir perempuan nakal itu.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa anak pemilik memang thukmis (hidung belang). Suatu hari Satinah mendapat surat gelap. Dalam surat itu ia diperintahkan untuk mandi di sumur. Perintah itu tidak ditanggapi. Perintah itu diulang, dan diulang. Satinah lapor pamannya dan oleh pamannya surat itu dirobek, “Kalau ada apa-apa, panggil saya!”

Sungguh! Pada suatu malam seorang dengan rok tipis mendekati tempat tidur Satinah. Rok tipis merangsek, menyuruh Satinah diam, membuka rok dan celananya. Satinah tersadar, suara itu suara laki-laki. Ia menjerit, “Pak Lik!” Suara itu dikenal pamannya. Ia sudah menduga itu akan terjadi pada keponakannya. Katanya, “Lumpuh kau!” Semua orang terbangun. Maka lelaki itu seketika lumpuh, ketika mencoba berdiri untuk lari ia tidak bisa. Sampai pagi dia hanya berputar-putar sekitar tiang. Ia baru lepas dari kelumpuhan ketika ibunya minta maaf pada Satinah.

Untuk beberapa waktu anak muda itu tak nampak. Ternyata dia mengurus pembubaran koplakan dan pembangunan hotel. Maka dengan

menangis terbata-bata ibunya terpaksa mengumumkan bahwa koplakan ditutup. Para penghuni diberi waktu seminggu untuk meninggalkan tempat.

5

KETIKA itulah datang seseorang untuk meminang. Dia selalu duduk di depan dalam lingkaran ketika Satinah menyanyi di mana saja.

Menunggu sampai habis, dan selalu menjatuhkan uang di besek. Pekerjaannya dimulai sebagai penggembala sapi sampai jadi belantik itu. Sudah beberapa tahun isterinya meninggal. Mendengar koplakan mau ditutup, ia mendekati Satinah.

“Tinah, aku baru saja terpilih jadi lurah. Tapi tidak ada Bu Lurah yang akan jadi Ketua Dharma Wanita. Bagaimana kalau kau saja?”

“Jangan, Pak. Saya sudah bertunangan.”

“Jangan ditolak. Cita-citaku untuk mempersunting kau sudah sejak kau menyanyi di pasar TPI. Memang saya sudah setengah umur, tapi apa ada laki-laki yang terlalu tua untuk gadis seperti kau?”

“Maaf, bukan itu soalnya. Soalnya saya sudah bertunangan.”

“Sekali lagi kukatakan. Jangan ditolak.”

“Tidak, Pak.”

“Awas! Kalau tidak dengan cara kasar ya cara halus. Pokoknya kau jadi milikku! Kau akan datang menyembah-nyembah minta dikawin, atau kau akan berlari-lari telanjang.”

Paman yang dilapori soal pinangan itu menjawab.

Jangan khawatir. Kasar atau halus, aku sanggup.”

Semua orang sudah mendengar soal paman Satinah dan anak juragan koplakan, sehingga ancaman lurah itu tak pernah terbukti.

Keesokan harinya Satinah mampir di toko emas untuk membeli sebuah cincin. Paman mengerti bahwa Satinah sudah dewasa, sudah waktu untuk mulai jatuh cinta.

“Eh, siapa sebenarnya tunanganmu itu?”

“Ya, orang.”

“Mesti to, masak sapi.”

“Itu masih rahasia.”

“Kalau sudah punya calon, bilang saja.”

“Itu sudah lebih lima kali dikatakan, lho.”

Surat-surat sudah keluar. Dan koplakan itu akhirnya dibongkar. Satinah dan pamannya menyewa sebuah rumah yang masih berdekatan dengan bekas koplakan, supaya dekat kemana-mana. Mereka dapat ke pasar TPI, demikian juga ke pasar-pasar lain. Cincin Satinah dilepas untuk membeli mesin jahit, dan pamannya di waktu sore akan membuat anyaman bambu. Dengan mudah mereka memasarkan anyaman bambu karena tiap hari mereka ke pasar. Di depan rumah sewa mereka ada tulisan “Modiste Sati”.

Dari pekerjaan menjahit Satinah dapat membeli sepeda motor butut. Dengan sepeda motor itu pekerjaan berjalan kaki, naik andong, Colt, atau ojek berkurang. Untuk ke pasar di TPI itu dia dan pamannya tidak perlu lagi naik Colt.

Ada seorang perempuan gemuk datang menemuinya selagi dia menjahit. Kulitnya kuning langsat, membawa payung, jalannya megal-megol seperti macan luwe (macan lapar). Dengan kenes dia berkata,

“Tahukah kau Nduk bahwa pekerjaan menjahit itu penuh risiko?”

“Risikonya apa?”

“Lima tahun lagi kau akan bongkok karena selalu membungkuk. Kau akan kena TBC karena serpihan benang masuk paru-paru. Kau akan buta karena selalu melihat barang kecil seperti benang dan ujung jarum itu.”

“Semua pekerjaan ada risikonya, Bu.”

“Ya, tapi ada yang besar ada yang kecil.”

“Menjahit ini termasuk yang kecil itu.”

“Wo, bagaimana kau ini. Bongkok, TBC, dan buta kok kecil?”

“Habis. Bisanya hanya ini.”

“Tidak. Semua orang memakai bagian dirinya yang terbaik untuk bekerja. Bintang film memakai kecantikannya, orang politik memakai lidah untuk berdebat, pejabat memakai otaknya untuk tetap berkuasa, guru memakai kepandaiannya untuk mengajar. Petinju, petenis, pelari, pemain badminton. Semuanya menggunakan miliknya yang terbaik.”

“Saya hanya lulusan SD. Tidak bisa jadi bintang film atau guru.”

“Nah, untuk itulah saya datang.”

“Pekerjaan apa, to Bu?”

“Tentu saja itu pekerjaan yang lebih sesuai untukmu.”

“Iya?”

“Kau masih muda, cantik, dan ramah. Itu modal besar. Tinggal sedikit latihan. Sini saya bilangi.”

Perempuan itu melambai. Satinah mendekatkan telinganya. Ia berbisik-bisik.

“Jadi Ibu ini pemilik rumah ….”

“Bordil. Bukan. Ini profesi, seperti guru, pejabat, orang politik. Sejak dulu meskipun isteri bisa masak, meskipun ada kursus memasak, restoran masih diperlukan. Makan di rumah lain dengan makan di restoran.”

“Tidak, Bu. Saya penjahit saja.”

“Saya datang untuk mengajakmu berpikir, pikirlah dulu. Jangan tergesa-gesa menjawab. Tanganku selalu terbuka untukmu.”

“Tidak, Bu.”

“Setiap orang ada harganya. Polisi sekian, hakim sekian, bupati sekian, anggota DPRD sekian. Kau juga bisa pasang tarif.”

Setelah ditunggu-tunggu beberapa hari Satinah tidak datang juga, kabarnya ibu itu mengirim seorang laki-laki jagoan untuk memaksa Satinah. Menurut pengalamannya, mula-mula memang orang terpaksa, kemudian kerasan, lebih getol dari yang lain. Tidak tahu apa yang dikerjakan paman Satinah, tetapi orang itu hanya berjalan kesana-kemari dan tidak menemukan tempat Satinah. Ketika ibu itu dilapori, dia marah-marah, keluar aslinya dengan menyebut isi kebun binatang dan penjara.

“Monyet! Cenguk! Babi! Anjing! Asu! Copet! Maling! Bajingan!”

Baru dia berhenti dengan sumpah-serapahnya ketika laki-laki bersumpah dengan lebih seru.

“Samber gledek! Biar aku modar! Biar kulitku budukan! Demi Tuhan!”

Ibu itu kemudian mencoba sendiri ke rumah sewa Satinah, tapi juga tak ketemu.

EMPAT

1

WASRIPIN jadi Satpam di TPI. Dia dapat shift malam hari untuk minggu pertama. Selain seragam, dia dibekali sebuah radio transistor dan baterei. Dia senang dengan pengalaman barunya. Di malam hari suara-suara laut lebih terdengar, byurrr, kricik-kricik. Teman-temannya selalu menghindar untuk berjaga di TPI dan memilih berjaga di emperan surau sambil bercanda dengan orang-orang Siskamling.

TPI menyediakan radio itu dengan maksud supaya Satpam yang jaga malam betah melek, tetapi merek selalu menghindari berjaga di TPI. Sebab, kata teman-temannya kerja di malam hari banyak godaannya. Ada godaan yang kasar, ada godaan yang halus. Ada godaan yang menawarkan racun, ada godaan yang menawarkan madu. Sebagai orang baru Wasripin mempunyai disiplin tinggi. Ia benar-benar berjaga di TPI. Melek, tidak tidur.

Malam pertama dia masuk kerja, ada pencuri berusaha membobol tembok TPI dengan linggis. Didengarnya suara dhuk-dhuk di tembok sebelah sana. Dengan mengendap-endap dia mendekati suara itu. Setelah dekat, dia mendehem.

“Ehm!”

Dia mengulang, “Ehm!”

Pencuri dengan linggis itu tidak berlari. Ia memberi isyarat untuk diam. Dia heran Satpam tidak tertidur, padahal semua syarat untuk menidurkan sudah lengkap: jampi-jampi dan beras kuning. Sebelumnya dia tidak pernah gagal melakukan ajian gendam. Pencuri itu berhenti bekerja. Mengulurkan tangan yang berisi sejumlah uang. Wasripin tidak menyambut uluran itu.

“Tolong. Kau miskin, aku melarat. Kita sama-sama orang kecil. Jangan ganggu aku. Terimalah ini!” kata pencuri sambil menyodorkan tangannya.

“Uang apa?”

Sambil melirihkan suara kata pencuri, “Ini kuberikan, tapi diamlah. Pura-pura tidak tahu.”

“Jadi uang suap, begitu?”

“Ya, terimalah. Kabarnya orang lebih suka terima uang daripada repot-repot.”

“Tidak.”

“Jangan urus aku. Uruslah pencuri yang besar-besar.”

“Besar atau kecil sama saja. Mencuri ya pencuri.”

“Tolong, anakku enam. Mereka perlu makan.”

Wasripin merogoh kantongnya. Ada uang pemberian Satinah yang selalu dibawanya.

“Ini uang untuk anak-anakmu. Tapi jangan lagi mencuri. Tambahkan pada uang suap.”

Sambil melongo pencuri itu menerima uang Wasripin. Dia berlari dengan linggisnya. Pencuri itu mencium tangan yang segera ditariknya. Itu barangkali satu-satunya ciuman tangan yang pernah diterimanya. Pelan-pelan pencuri menjauh, makin lama makin cepat. Kemudian dia menoleh.

“Aku tahu sekarang, kau pasti Wasripin,” teriaknya setelah jauh. “Pemimpin kami!”

“Eh, aku pemimpin pencuri juga?” pikir Wasripin.

Lain malam, lagi enak-enak mendengarkan wayang kulit dari radio, dia mendengar suara perempuan menangis merintih-rintih minta tolong, “Tolong! Tolong!” Dia biasa mendengar itu di perkampungan pinggir sungai di Jakarta. Seorang suami sedang berbuat kasar dengan isterinya. Ia mengecilkan radionya. Tiba-tiba dia ingat: di tengah malam seperti di teluk TPI tidak mungkin hal itu terjadi. Ada sesuatu yang aneh. Dia mematikan radionya. Berbekal sebuah senter dia mencari arah suara itu. Dia berjalan sepanjang teluk.

“Aku di sini!”

Lho itu kok suara Satinah, pikirnya. Tidak mungkin dia di sini malam-malam. Ia berjalan ke arah suara itu. Tidak ada orang, hanya setumpuk kayu glondongan.

“Ya, aku di sini.”

“Di mana?”

“Di sini.”

Dilihatnya ada tali dan seorang perempuan yang tergencet dalam gelondongan kayu. Badannya jadi tipis macam yang ia lihat di film kartun.

“Bagaimana kau sampai di situ?”

“Saudara-saudaraku mengikat aku ke kayu ini, supaya aku terbawa pergi.”

“Aku tahu sekarang. Kau pasti anak nakal.”

“Jangan sebut aku anak, umurku sudah 350 tahun.”

“Nah, aku tahu! Kau pasti jin.”

“Cepat, sebentar lagi orang-orang datang dan membawaku pergi.”

Wasripin melonggarkan tali itu. Dan perempuan meloncat ke atas tanah.

“Sekarang pergilah ke duniamu.”

“Tidak. Aku sudah bersumpah, siapa saja yang membebaskan, kalau perempuan akan kujadikan saudara, kalau laki-laki akan kujadikan suami.”

“Jangan, pulanglah ke duniamu. Lho, aku jadi Joko Tarub?”

“Saudara-saudaraku sudah menolak aku.”

“Dunia kita lain.”

“Tak jadi soal.”

“Aku sudah punya tunangan.”

“Kalau begitu jadikan kelak aku isteri kedua.”

“Tidak ada caranya begitu.”

“Ya sudah. Jadikan aku pelayanmu.”

Perempuan itu mulai menangis, melolong-lolong. Tiba-tiba terpikir oleh Wasripin untuk melemparnya. Dia memegang kedua tangan perempuan itu dan melemparnya. Dia ringan seperti kapuk. Dia sedang tertegun dengan apa yang sudah dikerjakannya, ketika sebuah pukulan kayu mengenai tengkuknya. Dia roboh, tak sadarkan diri. Sementara dia pingsan, kayu-kayu itu menghilang dengan sebuah truk.

2

Pagi-pagi sekali bakul-bakul pasar menemukannya masih tergeletak di pantai. Mereka tahu bahwa orang itu adalah Wasripin. Para lelaki menggotongnya ke TPI. Seseorang menggebyur dengan air. Dia sadar. Menggeliat. Melihat Wasripin sadar orang-orang meninggalkannya. Satpam TPI yang menggantikannya datang.

“Ada apa?” tanya Wasripin kepada Satpam pagi.

“Kau tergeletak di pantai. Ada apa?”

Wasripin mengingat-ingat.

“Tiba-tiba saja orang menggebukku dengan kayu.”

“Kayu-kayu?”

“Bukan itu saja.”

“Kau pasti mengurus yang bukan urusanmu. Itu urusan polisi.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?”

“Itu lho, mmm.” Wasripin berhenti, “Tapi kau pasti tak percaya.”

Wasripin akan bercerita tentang perempuan yang menangis, tapi diurungkannya. Dan ia pulang ke kamarnya.

Ketika Kepala TPI datang dan mendapat laporan tentang Wasripin. Katanya, “Salah sendiri, sudah kubilang bahwa urusannya ialah mengamankan TPI, bukan yang lain.”

Siang itu juga Kepala TPI mengumpulkan para Satpam. Sambil menunjukkan sebuah surat tanpa alamat tanpa tanda tangan tanpa nama terang dia berpidato,

“Saudara-saudara, saya baru saja terima surat ancaman. TPI akan dibakar kalau kita mencampuri urusan mereka. Karenanya, jangan diulang lagi, Wasripin. Mereka punya backing.”

Ancaman itu tidak sekedar menakut-nakuti. Malam hari yang lain serombongan laki-laki datang di TPI dengan sebuah truk. Mereka menggedor pintu dan mangobrak-abrik lemari, meja-kursi, bangku-bangku. Satpam yang tertidur tidak mendengar suara-suara itu. Kemudian mereka mengecer-ecer bensin di lantai. Lalu menyulutnya dengan korek api. TPI terbakar. Mereka pergi. Satpam yang bertugas bangun dari tidur di emperan surau. Berteriak-teriak.

“Api! Api! Tolong! Tolong!”

Dengan cepat orang-orang sekitar datang dengan ember-ember berisi air. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak. Api membesar mengalahkan sinar bulan di atas. Api meludes bangunan dari kayu dengan cepat. Mereka tertegun

melihat reruntuhan bangunan itu. Tempat mereka tawar-menawar tangkapan itu rata dengan tanah.

Ketika siang itu Kepala TPI datang, dia hanya dapat mengumpat dalam hati. Untung Ketua Partai Randu segera datang, menepuk-nepuk pundak, menenteramkan hatinya.

“Jangan khawatir, ini pasti sebuah kesalahan. Akan kumintakan ganti,” kata Ketua Partai Randu.

“Siapa akan mengganti?”

“Kau tahu beresnya saja, mereka pasti tak tahu bahwa TPI itu persembahan Randu untuk nelayan.”

Sungguh seperti sulapan, hanya dalam dua minggu TPI sudah berdiri lagi. Kerja lembur. Kali ini lebih bagus, tembok semen, kusen dan daun pintu kayu jati, dan cat-cat baru. Mereka mendengar bahwa Partai Randu yang membangun. Karenanya tidak heran dari mana datangnya duit untuk membangun, semua orang mengerti bahwa kekuasaan itu kuasa.

3

WASRIPIN sedang jaga malam, dari pukul sembilan hingga pukul lima. Terbungkus sarong untuk menghindari udara dingin dari laut. Dia sedang menikmati wayang di radio dan mendengar suara sepeda motor. Sepeda motor berhenti dekat TPI. Dilihatnya seorang perempuan turun dari boncengan. Perempuan itu menghampirinya. Pengendara sepeda motor duduk di sebuah batu dan mengeluarkan rokok.

“Sendiriann, Mas?”

“Ya.”

“Kedinginan, ya?”

“Ya.”

“Kalau begitu butuh penghangat?”

“Tidak.”

“Penghangat dari tubuh perempuan?”

“Sudah ada sarong.”

“Saya temani, mau ya? Kalau tidak bawa uang, boleh bayar belakangan.”

“Tidak saja.”

“Tidak usah bayar, bagaimana?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, boleh aku terus terang?”

“Boleh saja.”

“Kata orang kau sakti. Aku sengaja ke sini untuk membuktikan apa kau juga sakti di tempat tidur.”

“O, itu to. Tidak saja.”

“Kalau aku pengin, bagaimana?”

“Tidak saja.”

“Sekali-sekali rasakan servisku.”

“Tidak saja.”

Perempuan itu makin merangsek mencoba merangkul, tetapi Wasripin selalu menghindar. Tidak terpikir oleh Wasripin bahwa ada perempuan menawarkan diri untuk menemaninya tidur. Pengalamannya selama di Jakarta ialah emak angkatnya selalu mencarikan. Perempuan itu akhirnya jengkel. Kemudian perempuan itu memasukkan jari-jarinya ke mulut, “Tuiit, tuiit.” Ada perjanjian bahwa ia akan memberi aba-aba, dan sopir ojek itu akan menyerang Wasripin. Berkali-kali perempuan itu memasukkan jarinya ke mulut, tapi laki-laki itu diam saja. Lalu perempuan itu mendekati tukang ojek.

“Kau kenapa?”

“Kita pulang saja.”

“Kenapa?”

“Dia sakti. Aku takut.”

“Ah, laki-laki macam apa kau ini!”

Keduanya lalu berboncengan dan pergi. Gelap malam menyelimuti mereka. Orang-orang Siskamling datang. Sambil tertawa kata mereka, “Jadi Satpam itu enak, ya?” “Mbok tadi suruh saya menggantikan!” “Wah, kok ditolak! Eman-eman.”

4

KAWAN sesama Satpam mengeluh kalau isterinya sering ditakut-takuti seperti orang tinggi besar dan berbulu di rumahnya. “Sekarang isteri saya pulang ke rumah orangtuanya,” katanya dengan sedih. Wasripin melihat-lihat rumah itu. Ditemukannya bahwa rumah itu memang ada penunggunya. Kawannya memintanya untuk mengusir penunggu itu. Dia tidak punya pengalaman, tapi diberanikannya juga. Di luar dugaannya sendiri ia berhasil hanya dengan berdoa dan berdzikir sebagaimana diajarkan orang tua berambut putih itu. Wasripin lalu dikenal sebagai pengusir hantu.

Suatu hari Kepala TPI bilang bahwa di TPI pasti banyak jinnya. Seorang penjual teh yang sedang membawa teh terkejut, teh tumpah, gelas pecah. Katanya, ada orang berbaju surjan duduk di bawah meja telepon. Telepon itu sendiri gagangnya sedemikian sering terlepas, sehingga Kepala TPI harus membetulkannya setiap kali. Sudah dibetulkan sebentar saja gagang itu lepas lagi, sehingga telepon-telepon tidak bisa masuk. Padahal, telepon itu sangat penting, bukan bagi TPI, tapi bagi penduduk. Pernah, sebuah berita kematian yang disampaikan malam-malam lewat TPI gagal masuk. Wasripin bekerja dan mengatakan bahwa ada sekeluarga jin tinggal di TPI. Ia berhasil meyakinkan bahwa TPI itu milik manusia. Keluarga jin itu tidak mau pindah, karena persis di TPI itulah mereka tinggal sejak nenekmoyangnya. Tapi keluarga jin berjanji tidak lagi mengganggu manusia. Wasripin mengatakan bahwa jin dan manusia punya dunia sendiri-sendiri.

Kepala TPI manggut-manggut, menepuk-nepuk pundak Wasripin. “Aku tidak salah pilih. Aku tidak salah plilih.” Dia berpikir sudah ada penggantinya. Segera diajukannya surat BT (bebas tugas).

5

SUATU malam Wasripin sedang menikmati terang bulan di pantai di luar TPI ketika seorang perempuan tiba-tiba menegurnya. Bau harum menusuk hidungnya.

“Halo, indah ya bulannya.”

“Ya, sebelumnya aku tak tahu bahwa bulan bisa sebesar itu. Tapi …” Wasripin mulai curiga. Tiba-tiba saja wanita itu muncul. Di Jakarta dia sudah mendengar soal jin Jembatan Ancol.

“Ya, seperti kau duga aku peri laut.”

“Kalau begitu pergilah!”

“Nanti dulu, to. Tahukah kau seks tanpa risiko?”

“Tidak.”

“Wah, kabarnya kau orang Jakarta. Jakarta minggiran, ya?”

“Ya, kira-kira begitu.”

“Artinya tidak ada gatal-gatal, tidak ada siphilis, tidak ada saksi mata sebab aku dapat menghilangkan tubuhmu, tidak ada kehamilan hingga tidak perlu ada aborsi.”

“Pergilah!”

“Kau ingin apa? Gadis bule, gadis hitam, gadis berambut hitam, gadis berambut pirang, gadis berambut keriting, gadis berambut lurus, gadis mata biru, gadis mata hitam. Pendeknya apa-apa aku bisa. Seperti kata pedagang, You Name It, We Have It. Ingin apa?”

“Pergilah!”

“Nanti dulu. Pernahkah kau lihat perempuan sophisticated seperti aku?”

Tentu saja Wasripin belum pernah melihat gadis seperti itu. Perempuan yang sudah dikenalnya adalah mereka yang di tepi sungai itu.

“Pergilah!”

“Aku ingin membuatmu senang.”

“Pergilah! Jangan tunggu kesabaranku habis!”

“Ya sudah!”

Peri itu lalu menghilang. Bau wangi berubah menjadi bau mayat membusuk. Wasripin kembali ke TPI.

6

KABAR bahwa Wasripin dapat melihat dunia halus segera menyebar. Mula-mula ia dikenal sebagai orang yang kedatangan Nabi Hidhir, tukang pijat, dan kemudian pengusir jin. Keahlian sebagai pengusir jin itulah yang menimbulkan masalah.

Ada seorang pemuda desa yang tiba-tiba jadi gila. Dia ke pasar dan TPI. Berteriak-teriak, “Usir Wasripin! Dia membuat kami kepanasan! Usir Wasripin! Dia membuat kami kepanasan!” Seorang yang gila tidak pernah digubris orang. Seorang tidak digubris, muncul orang gila yang lain dengan teriakan yang sama, “Usir Wasripin! Dia membuat kami kepanasan! Usir Wasripin! Dia membuat kami kepanasan!” Tidak digubris. Ketika ada seorang gadis tiba-tiba gila di pasar dan melepas semua pakaian, “Usir Wasripin! Dia membuat kami kepanasan! Usir Wasripin! Dia membuat kami kepanasan!” Orang-orang pasar sibuk menutupi.

Orang-orang desa mulai berpikir. Tidak seorang pun di antara mereka yang gila mempunyai nenekmoyang orang gila. Mereka pergi pada orang pintar. Orang pintar mengatakan bahwa jin-jin marah, sebab Wasripin membuat mereka panas.

Tidak diketahui siapa yang merencanakan tiba-tiba saja orang banyak berkerumun di depan surau lepas waktu isa. Batu-batu melayang, genteng-genteng pecah. “Klothak, klothak.” Semua orang kulon dalan yang sejak dulu memang bermusuhan dengan orang-orang surau. Dulu sekali soal sepak bola, pencak silat, dan perkawinan. Daripada dapat menantu orang surau lebih baik anaknya jadi perawan tua. Sekarang mereka bermusuhan lewat partai yang berbeda. Mereka membawa pedang, kelewang, dan belati. Di dalam orang-orang menyingsingkan lengan baju. Orang-orang di luar berteriak,

“Usir Wasripin! Usir Wasripin!”

Pak Modin bilang pada Wasripin, “Jangan keluar. Aku saja.”

Pak Modin keluar. Jamaah surau berkerumun di emperan. Mereka menaikkan sarong.

“Tenang, Saudara-saudara. Apa soalnya?”

“Dia menyebabkan anak-anak kami kesurupan!”

“Wasripin berhak tinggal di sini!”

“Usir! Usir!”

“Saudara-saudara ini PKI atau bukan?”

“Bukan!”

Mendengar kata PKI mereka surut. Dan rupanya Pak Modin cukup dihormati orang-orang desa. Kematian, selamatan, sedekah laut, peluncuran perahu, dan upacara-upacara resmi selalu memerlukan kehadirannya. Kepercayaan orang melebihi Kaur Agama yang resmi.

“Jangan grusa-grusu!”

Pak Modin menatap mereka. Dia punya pengalaman jadi Hizbullah, menyerang pabrik gula, ditangkap Belanda, dan dipenjara. Pengalaman itu membuatnya berani.

“Usir Wasripin! Usir! Usir!” suara-suara makin lemah.

“Siapa pemimpin?”

Di luar dugaannya seseorang maju.

“Segala sesuatu dapat dirundingkan. Musyawarah untuk mufakat. Mari!”

Mereka lalu duduk di emperan surau. Di sebelah sana orang-orang surau, di sebelah sini para tamu tak diundang itu. Pak Modin duduk di tengah. Mereka sepakat bahwa anak-anak mereka akan dikumpulkan di surau. Pak Modin memimpin doa dan dzikir untuk mengusir jin, dan untuk keselamatan warga. Kalau tidak berhasil, Wasripin akan pergi. Maka, pada suatu malam mereka berkumpul di surau. Dan seperti diharapkan orang-orang gila itu sembuh.

7

WASRIPIN kehilangan lacak Satinah. Perempuan itu tidak datang juga di pasar TPI, meski sudah beberapa kali Hari Pasar orang membentuk lingkaran di

bawah pohon munggur. Ia sangat ingin menemui Satinah. Beberapa kali ia ke sungai pada Hari Pasar, tetapi Satinah tidak pernah muncul. Mungkin dia ke sungai pada hari lain, pikirnya. Kemudian dia ke sungai tiap hari, tidak ketemu. Dia meminjam sepeda tiap hariuntuk berkeliling, tidak ketemu.

Dia bertanya kesana-kemari tentang rumah Satinah, tidak seorang pun tahu. Dia menyalahkan diri sendiri karena tidak menanyakan alamatnya.

Wasripin semakin sibuk menolong orang. Anak-anak yang panas, ibu batuk tak sembuh-sembuh, laki-laki yang selalu semutan kakinya, orang yang rumahnya angker, laki-laki yang kakinya membengkak, laki-laki yang tidak thok-cer, suami-isteri yang belum dikaruniai anak, rumah yang banyak penunggunya. Kadang-kadang diajaknya pasien ke TPI. Mereka membawa makanan, kalengan, baju, sarong untuk Wasripin. Seluruh desa mengenalnya. Dia juga menjadi konsultan. Pengantin yang tak kunjung akur, anak yang bodoh sekolahnya, orang yang akan mendirikan rumah, orang yang membeli tanah, perjodohan, peruntungan pekerjaan, orangtua yang kehilangan anak. Musim tanam tidak ditanyakan ke PLP (Penyuluh Lapangan Pertanian) tapi ke Wasripin. Kerbau hilang tidak lapor ke polisi tapi ke Wasripin. Hampir-hampir tak ada waktu untuk diri sendiri. Surau, TPI, dan menolong.

Dia sedang mengepel surau ketika didengarnya lewat pengeras suara Satinah sedang bernyanyi. Dilihatnya orang membuat lingkaran di bawah pohon munggur. Seorang perempuan dengan rok panjang merah berada di tengah kerumunan itu. “Lho, itu Satinah,” dia berhenti mengepel dan berlari. Berjongkok dalam lingkaran. “Lho, kok pakai rok! Lho, rambutnya kok sebahu!” pikir Wasripin.

Ayo kawan kita bersama

Menanam jagung di kebun kita

Mana cangkulmu, mana pangkurmu

Kita bekerja, tak jemu-jemu

Cangkul, cangkul yang dalam

Tanahnya longgar jagung kutanam

“Yang dalam!”

“Enak, ta!”

“Biar nikmat!”

“Huss. Jangan saru, ta!”

Kata Satinah, “Kebunnya sendiri-sendiri, lho! Jangan kebun orang lain! Nanti dimarahi yang punya!”

“Kebun siapa, hayo!”

“Lagi!”

(Mereka bernyanyi lagi sambil bertepuk).

“Suwara Suling, yu!”

Kata Satinah, “Suwara Suling, dados!”

Suwara suling, kumandhang swarane

Thulat-thulit, kepenak unine

Unine mung nrenyuhake

Bareng lan kentrung

Ketipung suling, sigrak kendhangane

(Suara suling, nyaring suaranya

Tulat-tulit, enak didengar bunyinya

Bunyinya hanya membuat hati trenyuh

Bersama dengan kentrung

Ketipung suling, segar kendangnya)

“Ih-hu!”

(Satinah melihat Wasripin di tengah lingkaran).

Suwe ora jamu, jamu ora suwe

Suwe ora ketemu, temu pisan ora suwe

Suwe ora jamu, jamu ana kali

Suwe ora ketemu, kirane wis lali

“Ih-hu!”

Suwe ora jamu, jamu delima merah

Suwe ora ketemu, temu pisan rok merah

Seorang laki-laki meloncat ke tengah. Orang itu sempoyongan. Dari mulutnya keluar bau alkohol. Beberapa laki-laki melangkah ke depan, mereka ingin melindungi Satinah. Tapi Satinah mencegah mereka dengan isyarat tangan. Dengan gaya Dursosono laki-laki itu bilang, “Ayo, wong ayu Jeng Sri eh Srikandi. Melua aku. Tak muktekke ana Ngastino!” (Ikut aku. Aku muliakan di Astina). Satinah yang pura-pura jadi Srikandi bilang, “Nanti dulu, to Kakangmas. Mbokya minum teh poci dulu!” Sementara itu lelaki yang mabuk menari-nari, dan terjatuh. Beberapa orang menggotongnya ke luar arena.

“Terus!”

“Terus!”

Nyang kali ngiseni kendi, jebul kendine katut

Nyang kali arep nyuci, jebul malah kepencut

(Ke sungai mengisi kendi, ternyata kendinya hanyut

Ke sungai mencuci, ternyata jatuh cinta)

Rujak tela

Rujake wong atine gela

Ya wae Mas, lhe wong disepelekke. Aku anak uwong, lho!

(Rujak ketela

Rujaknya orang berhati menyesal

Ya saja Mas, saya diremehkan. Saya anak orang, lho!)

“Ih-hu!”

(Satinah melirik Wasripin. Wasripin keluar lingkaran. Ia menuju kamarnya).

Jenang sela wader kalen sesonderan

Apuranta yen wonten lepat kawula

8

SATINAH keluar lingkaran, lari-lari kecil mengikuti Wasripin. Tidak mengedarkan besek seperti biasanya. Orang banyak melihat tingkah Satinah dengan heran. Lingkaran itu bubar. Pamannya memanggil-manggil, “Satinah!

Satinah!”, lalu dibenahinya radio yang juga pengeras suara. Ia mengartikan itu sebagai tanda kematiannya sudah dekat.

Satinah berlari sampai ke sisi surau. Pintu Wasripin terbuka. Di dalam ada dua orang ibu dengan bayinya dan seorang laki-laki yang sedang pringisan karena plunggungnya dipijat Wasripin. Satinah berhenti di depan pintu. Wasripin keluar. Mereka berdua berbisik.

“Kok pergi, tersinggung ya?”

“Apa hak saya untuk tersinggung?”

“Ah, jujur saja!”

“Masak berkata begitu di muka orang banyak.”

“Ge-er. [Gedhe rumangsa, besar kepala]. Mereka pasti tidak tahu.”

“Tahu saja!”

“Ya sudah. Kalau begitu saya salah minta maaf yang banyaaak.”

“Mudah saja! Berbuat salah, minta maaf.”

Muka Satinah merah, dia mulai meneteskan air mata. Wasripin bingung harus berbuat apa.

“Gembeng!” (Mudah menangis).

“Ya ben! [Biar!] Gembeng tidak mbayar, kok susah.”

“Mosok, pakai rok.”

“Ya ben! Roknya sendiri, kok tidak boleh.”

“Rambut sebahu!”

“Ya ben!”

“Jelek!”

“Ya ben!”

“Pakai lipstik! Kayak perempuan anu!”

“Ya ben! Ya ben! Ya ben! Memang saya perempuan anu!”

“Maaf, maaf. Bukan itu maksud saya.”

Satinah berlari pergi.

“Bukan ituuu!” Wasripin berteriak, tapi suaranya ditelan jarak. “Tunggu!” Wasripin mengikuti Satinah. Kembali, “Sebentar, ya,” katanya pada mereka yang menunggu di dalam. Mereka semua melihat tingkah Wasripin. Mereka mendapat kesan keduanya saling jatuh cinta.

Sampai pada pamannya, Paman bilang pada Satinah,

“Sudah saya bilang. Jadi orang itu yang sabar. Urusan kan bisa diselesaikan. Jangan suka marah-marah begitu.”

Paman sudah mengemasi barang-barang. Satinah segera mengambil sepeda motor. Wasripin hanya bisa melongo. Satinah menoleh. Katanya keras-keras pada Wasripin, “Sungai!”

Hari-hari Pasar berikutnya Satinah selalu pakai kain, kebaya, selendang, tidak pakai lipstik. Mereka bertemu di sungai. Wasripin jadi tahu semuanya tentang Satinah dan pamannya. Setelah mendengar kisah Satinah, ia berpikir mungkin Satinahlah jodohnya. Wasripin juga tambah yakin adanya hubungan antara emak angkatnya dengan paman Satinah. Dia berniat suatu kali akan mempertemukan keduanya.

LIMA

1

CAMAT mendemisionerkan lurah dan perangkatnya. Artinya, mereka tidak boleh membuat Perdes (Peraturan Desa), jual-beli atas nama desa, dan mengangkat pejabat baru. Mereka hanya bertugas menyukseskan Pilkades (Pemilihan Kepala Desa). Maka, begitu bangun orang-orang desa akan melihat sebuah dokar, dua orang penumpang, sebuah bende, dan sebuah pengeras suara, “Saudara-saudara berduyun-duyunlah datang ke TPS [Tempat Pemungutan Suara]. Gunakan hak Saudara-saudara, dhung-dhung, …” Mereka menyebut tanggal dan beberapa tempat. “Tanda gambar para Cakades [Calon Kepala Desa] akan diumumkan dua minggu sebelum Pilkades, dhung-dhung.”

Camat membentuk Panitia Seleksi Cakades. Seleksi ideologis, pengetahuan administratif, dan pengetahuan lingkungan sosiokultural desa. Pengumuman calon diadakan dua minggu sebelum hari-H untuk menghindari kampanye terselubung dan obral uang (kemudian disebut money politics). Perhitungannya demikian: seminggu untuk kampanye dan seminggu minggu tenang. Namun, beberapa calon sudah mencuri start dengan keyakinan akan lulus seleksi. Mereka membentuk kader, kampanye door-to-door, mengadakan rapat diam-diam, dan menjanjikan ini-itu (termasuk memberi uang bagi pemilihnya). Dari sebelas calon yang lulus (diluluskan) seleksi ada tiga orang, yaitu Babinsa (Bintar Pembina Desa), Sekdes, dan Kaur Keamanan. Jadi banyak calon yang kecewa. (“Tiga cukup. Biar tidak bertele-tele,” kata Camat). Tanda gambar mereka juga diumumkan. Tanda gambar itu tak boleh mirip tanda gambar Pemilu. Maka, ada kipas, anglo, dan petromax. (“Kok semua menyarankan api. Ini ada apa?” kata Camat dalam rapat Muspika [Musyawarah Pimpinan Kecamatan]. “Ah, itu klenik,” bantah Kapolsek).

Kampanye pun dimulai. Meskipun tinggal di pantai, mereka masih malu-malu: tak ada pidato-pidatoan (“Pilih aku!”), rapat-rapat umum (“Pembangunan desa jadi prioritas!”), dan janji-janji terbuka (“Listrik masuk desa!”). Hanya saja kampanye terselubung sudah direncanakan sebelumnya oleh ketiga kontestan berupa: ziarah politik, tahlilan politik, doa politik, istighotsah politik, wayangan politik, ruwat politik. Desa menjadi ramai seperti pasar malam dalam minggu itu. Para PKL (Pedagang Kaki Lima) ikut sibuk. Mereka akan pindah dari tempat ke tempat lain, sedikitnya tiga putaran siang-malam. Wayangan dan ruwat yang diselenggarakan oleh Pak Babinsa sepi pengunjung. Di Siskamling orang-orang rerasan, “Maklum pendatang”, “Dia tidak tahu apa-apa tentang orang pantai”, “Orang akan lebih suka selawatan daripada wayang dan ruwat”. Dalam minggu tenang pun masih ada kampanye, misalnya, wayangan dan ruwat yang disebut Pak Babinsa sebagai peristiwa budaya dan bukan peristiwa politik. Begitu ramai desa itu. Anehnya, lapangan TPI selalu saja sepi. Orang sudah telanjur mencap para nelayan sebagai Golput yang fanatik, tidak mau terlibat dalam politik desa maupun nasional. Pernah, suatu partai mengadakan rapat umum di lapangan TPI, para nelayan yang dikabarkan dhuk-dheng membubarkan rapat itu. Konon, Pak Modin menggembleng mereka dengan silat tenaga dalam.

Pak Babinsa membuat kejutan. Ia menang dalam putaran pertama di hari pertama. Keesokan harinya bertandinglah dia dengan Pak Sekdes. Untuk

penyelenggaraan Pilkades yang demokratis, disediakanlah sebuah kotak kosong. Sesudah perolehan dari semua TPS dihitung, ternyata kotak kosong yang memenangkan pemilihan. Camat memutuskan bahwa Pilkades telah gagal. Aturan mainnya ialah kemudian diadakan minggu tenang selama dua minggu. Minggu pertama untuk penerimaan Cakades baru, minggu kedua untuk seleksi dan pengumuman. Lalu ada kampanye seminggu, minggu tenang, dan di ujungnya untuk pelaksanaan Pilkades. Setelah pendaftaran, seleksi, kampanye, minggu tenang, dan pelaksanaan Pilkades, ternyata kotak kosong menang lagi. Sekali lagi akan diselenggarakan Pilkades. Kalau gagal lagi, Camat berhak mengangkat seorang care taker.

2

LIMA puluhan orang mendatangi surau setelah ‘Isya. Mereka minta agar Pak Modin mau mendaftar diri sebagai Cakades.

“Hidup, hidup Pak Modin!”

“Hidup, hidup Pak Modin!”

Keesokan harinya Pak Modin diarak ke Kecamatan untuk mendaftarkan diri. Adanya nama Pak Modin ternyata menyulitkan Muspika. Danramil ingin dia tidak lulus seleksi, sedangkan Camat dan Kapolsek ingin dia lulus. Perdebatan antara Danramil dan Camat pun terjadi.

“Suraunya sudah lampu kuning,” kata Danramil.

“Dia hanya perlu pembinaan,” kata Camat.

“Dia itu Islam budiyah, menentang Pemerintah yang sah.”

“Ah, itu pandangan kolonial.”

[Aliran Budiyah – yang secara resmi disebut rifa’iyah – didirikan oleh KH Ahmad Rifa’i dari Kalisalak (1786-1876)]. Tokoh itu dibuang Belanda ke Ambon pada tahun 1859, dianggap menentang Pemerintah karena perkawinan biasa di bawah penghulu resmi dianggap tidak sah. Kabarnya, setelah Kemerdekaan dipersangkakan mereka masih menikahkan kembali pengikutnya, tidak cukup di KUA.

Karena kedudukan dua lawan satu, akhirnya Danramil mengalah. Pak Modin pun lulus seleksi, bersama dua Cakades lain. Pak Modin menolak berkampanye. Untuk pertama kalinya di desa itu, kampanye tidak diselenggarakan oleh Cakades, tapi oleh sebuah panitia. (Cara kotanya adalah tim sukses). Wasripin yang tidak berhak ikut Pilkades dijadikan penasihat.

Di rumah, di TPI, di jalan, sedang nonton Satinah menyanyi orang bertanya kepada Wasripin,

“Pilih siapa?”

“Pak Modin-lah.”

Kabar bahwa Wasripin memilih Pak Modin segera tersebar di seluruh perkampungan nelayan.

“Pemimpin kita memilih Pak Modin!”

Setelah Pilkades diselenggarakan ternyata Pak Modin meraup delapan puluh persen suara. Maka sebelum diadakan putaran selanjutnya, pesaing Pak Modin pun mengundurkan diri. Pak Modin meraih kemenangan. Tetapi, Danramil masih minta Pak Modin bersaing dengan kotak kosong, katanya untuk

menjamin Pilkades yang bersih dan demokratis. Camat setuju dengan usulan itu. Pak Modin pun memenangkan sembilan puluh lima persen, lima persen tak datang, dan kotak kosong sungguh-sungguh kosong.

Dalam rapat Muspika, Danramil menunjukkan surat dari Kodim yang ditandatangani Wadandim supaya tidak ada pelantikan Kades.

“Pemilihan cermin aspirasi rakyat,” kata Camat.

“Tidak. Intel kita berkata lain,” kata Danramil.

Camat pun menunda-nunda pelantikan Kades.

Para nelayan mendatangi kantor Camat. Kebetulan Muspika sedang rapat. Mereka tahu belaka siapa yang datang dan untuk apa. Orang-orang datang untuk menyatakan pendapat. Berbaris rapi dengan bendera Merah Putih di depan. Camat menemui mereka. Danramil dan Kapolsek ada di dalam. Seorang nelayan maju membacakan teks Kebulatan Tekad yang sudah dipersiapkan oleh seorang nelayan yang aktif di HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia).

“Satu. Mendukung Pancasila dan UUD ’45.”

“Gombal!” ujar Danramil pelan-pelan.

“Dua. Mendukung Presiden Sadarto.”

“Tahi kucing!” Danramil.

“Tiga. Menyatakan Pilkades telah terlaksana secara demokratis.”

“Bohong!” Danramil.

“Empat. Mendesak Kades baru segera dilantik.”

“Intimidasi!” Danramil.

Camat berpidato, “Saudara-saudara. Kita sedang mencari tanggal yang pas. Pak Bupati sedang ke Jakarta, dipanggil Bapak Presiden untuk mendapat petunjuk!” kata Camat. Dikira kata “Presiden” akan membuat mereka tenang. Tetapi tidak, mereka gaduh.

“Ini akal-akalan apa!”

“Gombal!”

“Kades yang memilih rakyat, yang melantik juga rakyat!”

“Kita pulang. Pak Modin kita lantik!”

“Mereka pulang, merundingkan soal pelantikan Kades rakyat. Pak Modin keberatan, sebab nantinya ada pemerintahan desa kembar. Dan itu soal serius. Setelah orang-orang menjelaskan bahwa urusan Kades rakyat adalah ke masyarakat, bukan ke atas dan kedinasan, barulah Pak Modin setuju.

“Namanya jangan Kades tapi Karak, Kepala Rakyat.”

Maka dalam sebuah upacara yang diramaikan dengan selawatan mereka melantik Modin sebagai Kepala Rakyatan alias Karak. Pembawa acara mengatakan bahwa yang melantik rakyat, jadi rakyatlah yang bertanggung jawab. Kalau ada apa-apa, rakyatlah yang akan maju.

Adapun Camat menunda-nunda pelantikan Pak Modin jadi Kades, sampai ada Kades yang definitif. Setelah tanya sana-sini tidak seorang pun di perkampungan nelayan itu jadi Pjs Kades, termasuk aparat desa yang lama. Akhirnya dia menunjuk diri sendiri sebagai care taker.

Segera Camat tahu bahwa ada Karak. Urusan itu dibawanya ke rapat Muspika. Danramil bersungut-sungut, “Rakyat? Rakyat? Lha kok rakyat?” Ia mondar-mandir, “Mungkin dia PKI malam di sana!”

“Aku tahu sekarang! Dia dulu pasti ikut Pemberontakan Tiga Daerah!” (Peristiwa Tiga Daerah di Brebes, Tegal dan Pekalongan adalah pembangkangan pada Pemerintah Pusat, dekat setelah Kemerdekaan).

“Itu tak mungkin. Dia ikut Hizbullah.”

“O, bagaimana kalian ini. Dulu dia pasti mempraktekkan KKM, Kerja di Kubu Musuh.”

“Itu istilah baru, Pak.”

“Baru atau lama sama saja. Kami akan kirim intel!”

Setelah ditunggu lama, Pak Modin tidak juga dilantik. Rakyat mogok. Siskamling sepi, tak ada pertemuan bulanan dusun. Camat tak diundang dalam semua perhelatan (sunatan, perkawinan, peluncuran perahu), tidak diminta menyambut pada kematian, tak diundang pengajian akbar, tak diminta memberi tendangan pertama pada sepak bola antardusun. Kedudukannya di masyarakat dihapus, rakyat selalu meminta Modin di tempat yang biasa diduduki Kades. Hanya PBB tak pernah dilupakan, sebab Modin menghukuminya sebagai fardhu ‘ain.

Camat gelisah. Baru sekali ini ia diboikot rakyat. Kasus pemerintahan kembar itu dibawa ke Muspika.

“Sabar saja, Pak. Membayar PBB itu sudah tanda loyalitas,” kata Kapolsek.

“Intel-intel kami sedang mencari biang keroknya. Modin itu hanya boneka,” kata Danramil.

“Ah, jangan cepat menuduh, lho Pak. Di sekolah kepolisian selalu ditekankan ‘asas praduga tak bersalah’,” kata Kapolsek.

“Apa kalau TNI asasnya ‘tembak dulu urusan belakang?”

“Ya tidak begitu, to maksudnya.”

“Sudah sudah, Bapak. Sekarang bukan waktunya berdebat.”

Camat merasakan pembicaraan mulai tegang. Karenanya ia menyetel TV. Camat minta tamu-tamunya nonton TV dengan acara Thomas Cup yang Indonesia selalu menang.

3

DANRAMIL lapor Dandim. Dandim lapor Danrem. Danrem lapor Pangdam. Pangdam menyerahkan perkara pada Laksusda (Pelaksana Khusus Daerah, mengurusi soal subversi). Maka Pak Modin pun dipanggil ke Semarang. Seoran Kapten menginterogasinya. Kapten itu masih muda, sepantasnya dia jadi anaknya. Di pojok ada tukang ketik yang juga berbaju hijau. Dengan patuh ia mengetik setiap pembicaraan. Mereka ingin tahu kalau-kalau ada keluarganya yang tersangkut makar. Dengan suara keras dan kasar pemeriksa menyodorkan formulir.

“Modin, isi ini!” Pak Modin sebenarnya sakit hati. Sepantasnya ia harus dipanggil dengan Pak, Pakde, dan Paklik.

Pak Modin diminta mengisi formulir, semuanya tentang pekerjaan, organisasi sosial, kegiatan politik, dan kondisi keuangan. Ia harus mengisi tentang ia sendiri: orangtuanya, mertuanya, paman-pamannya, keponakan-keponakannya. Semua tinggal mencoretnya, tidak punya siapa-siapa. Hanya ketika harus mengisi soal anak, nampak matanya berkaca-kaca, agak ragu-ragu.

“Anakmu masuk CGMI, ya?”

Ketika dikatakan bahwa ia tidak punya anak seorang pun, pemeriksa mengejar.

“Itu yang diketahui, yang tak diketahui?”

Pak Modin meneteskan air mata, entah apa maksudnya. Tiba-tiba ada telepon untuk pemeriksa. Tidak diketahui apa isi pembicaraan telepon, tapi Kapten itu bilang,

“Telepon tadi memerintahkan, kalau ada indikasi sebaiknya Modin kami tahan.”

Kata pemeriksa sambil berdiri dan mengelus-elus sabuk kulit tempat pistolnya. Selanjutnya formulir itu berisi tentang kawan-kawannya, tiga yang paling menonjol. Ia mengingat. Ditulisnya: Sulaeman jagoan main bola, Sabiyantu paling pandai memanjat pohon, Munajat nomor satu lomba makan kerupuk pandu HW. Pemeriksa membaca, bersungut-sungut,

“Bukan ini. Kawan yang sudah jadi orang, maksudnya. Sekarang lisan saja. Kawan-kawan Modin?”

Pada waktu itu masuk seorang tentara berbintang satu. Kapten dan prajurit tukang ketik itu berdiri dan memberi hormat. Pak Modin yang ingin tahu siapa yang datang ikut berdiri dan membungkuk.

“Kita lanjutkan. Jadi kawan-kawan Modin?”

“Syarif juragan perahu, Achjar pedagang pindang, Wasripin Satpam TPI.”

Pati berbintang satu kembali. Katanya sambil menunjuk Pak Modin.

“Lho, ini kan Pak Modin?”

“Ya, kenapa?”

“Saya masih terkesan ceramah Bapak di AMN Magelang akhir tahun 1960-an itu. Coba, Kapten ke kamar saya.”

Ia kembali ke kamar, diikuti Kapten.

“Tahu, siapa dia?”

“Siap, Jenderal. Tidak!”

“Waktu Kles II dia memimpin serangan ke pabrik gula di Cirebon, mengepungnya semalam, membendung sungai sampai airnya menggenangi pabrik, dan Belanda angkat kaki. Urus, jangan sampai dia menderita.”

“Siap, Jenderal!”

Dia mampir ke Keuangan, dan kembali pada Pak Modin.

Sikapnya yang garang hilang, berubah jadi lembut.

“Begini. Pak Modin dipersilakan pulang.” Sambil memberikan sejumlah uang, “Maaf, ada kesalahan prosedur pada kami. Bapak, ini uang transportnya, ini uang akomodasinya, ini uang konsultasinya.”

Pak Modin menerima uang itu, menghitung, dan uang transport masuk sakunya.

“Yang ini tak usah saja. Kita kan hanya omong-omong barang lima menitan,” katanya sambil memberikan uang di tangannya, “Permisi!”

Ia melangkah keluar. Pati keluar dari kamarnya. Pak Modin bersalaman, juga dengan Kapten dan tukang ketik itu.

“Terima kasih atas kunjungan Bapak. Ada untungnya juga kesalahan itu. Kalau tidak begini, kita takkan bertemu. Ini kartu saya. Kalau ada apa-apa hubungi saya.”

Setelah sendirian Kapten mengumpat pelan, “Trembelane!” sambil mengepalkan tangannya.

Tiba di perbatasan desa selepas Maghrib Pak Modin terkejut. Banyak batu, pohonan, dan barang apa saja di jalan: panci bekas, periuk tanah, sarong sobek, kursi tanpa tempat duduk, pecahan piring. Ia heran. Orang banyak berkumpul di surau. Begitu mendekati surau, orang banyak mendukungnya.

“Apa yang terjadi?”

“Kalau hari ini Pak Modin tidak datang, kami akan mendatangi kantor kecamatan.”

“Apa yang di jalan itu?”

“Supaya Camat tak bisa ke sini. Sekarang akan kami bersihkan.”

“Semua harus minta maaf pada Camat. Kita salah duga, semuanya bukan karena dia.”

Keesokan harinya jalanan sudah bersih. Para nelayan pergi ke kecamatan dipimpin Pak Modin. Entah dari mana, tetapi kecamatan siap menghadapi suasana yang terburuk. Karenanya, pagi itu kantor kecamatan dijaga polisi dan tentara dari kejauhan.

Camat keluar, disambut dengan jabat tangan Pak Modin.

“Pak, kami datang untuk minta maaf.”

“Maaf apa?”

“Kami mengira Bapak yang mengatur sampai saya dipanggil ke Semarang.”

“Ya, ta?”

Semua orang bersalaman dengan Camat.

Mereka berdamai. Camat menjanjikan segera mengusulkan pada Bupati untuk melantik Pak Modin. Camat sebagai care taker Kades memberikan sambutan atas nama keluarga pada kematian, Siskamling jalan, Camat berpidato dalam pengajian akbar.

Tetapi pelantikan tidak pernah terwujud. Malah, Camat dipindahkan. Dalam acara perpisahan di kantor kalurahan dia bilang bahwa ia datang dan pergi untuk memenuhi tugas. Kepergiannya adalah sebuah tour of duty biasa.

Namun, beberapa orang perkampungan nelayan yang ikut mengantar ke tempat tugasnya yang baru mengatakan bahwa tempatnya yang sekarang terletak di daerah bukit yang tandus, sulit air, dan tak ada tanaman hijau di waktu kemarau.

Camat baru jadi care taker juga di desa nelayan itu. Dia heran, Camat sebagai sesepuh desa tidak pernah diminta menyambut di kematian, perkawinan, pengajian akbar. Banyak kegiatan desa yang tidak jalan: Siskamling, gotong-royong mengeraskan jalan, membersihkan kuburan desa.

Camat terpaksa mengeluarkan uang PBB untuk menyewa orang mengadakan ronda, mengeraskan jalan, dan membersihkan kuburan.

Aparat desa keberatan dengan pengeluaran uang pajak itu, tapi tidak digubrisnya. Ketika petugas pajak menyatakan bahwa desa itu menunggak setoran pajak tidak digubrisnya juga. Ia tenang-tenang saja, karena ia membawa misi Partai Randu. Baru ketika sebuah koran daerah mengabarkan bahwa Camat sebagai care taker Kades perkampungan nelayan menilep uang pajak ia pergi minta uang ke kantor Partai Randu untuk membayar.

4

Di kantor Partai Randu ia berdebat dengan Bendahara.

“Saya disuruh menyukseskan Pemilu yang akan datang dengan segala cara. Itulah cara saya.”

“Tapi jangan sampai masuk koran. Itu memalukan Partai. Semua orang tahu bahwa engkau fungsionaris Partai.”

“Jangan salahkan saya, salahkan koran.”

Meskipun uang keluar juga, tapi Rapim Partai Randu menyepakati untuk melayangkan surat protes. Alasannya, soal uang pajak itu adalah masalah intern pemerintah, sepatutnya koran tak turut campur. Koran pun mengambil untung. Surat protes itu dimuat secara penuh dalam rubrik “Surat Pembaca”. Dan, kemudian koran pun menggelar debat publik mengenai “fungsi pengawasan pers dan otoritas pemerintah”. Dalam debat opini memang Partai Randu tak disebut-sebut, tetapi para fungsionaris Partai tahu bahwa otoritas pemerintah yang tak pernah disebut itu adalah wewenang Kades alias Camat care taker.

Kepentingan Partai Randu akhirnya dimenangkan di perkampungan nelayan itu. Pilkades yang memilih Pak Modin dibatalkan oleh Bupati, dan akan diadakan Pilkades ulangan. Kalau Pak Modin jadi Kades, pasti partai lain yang akan menang, kalau tidak malah Golput.

Ketika diadakan pendaftaran Cakades tidak seorang pun mendaftar, maka kader-kader Partai Randu yang telah ikut penataran diharuskan mendaftar. Pilkades pun berjalan sesuai prosedur. Pak Modin tidak dipaksa mendaftar sebagai Cakades, karena para nelayan tahu bahwa dia takkan lulus atau lolos. Minggu kampanye dan minggu tenang semuanya berjalan baik. Hanya, waktu hari-H tiba, tidak seorang pun keluar rumah. Kecuali para anggota Partai Randu yang datang ke TPS. Itu pun kabarnya karena ada surat perintah untuk menyukseskan Pilkades, dengan janji kerugian tidak melaut akan mendapatkan kompensasi yang lebih besar.

Camat berang. Menyalahkan aparat yang tak aktif (“Penduduk itu seperti kerbau, kalau tak digiring ya tidak ke kandang!”), fungsionaris Partai yang tak bertanggung jawab (“Klelar-kleler kerjanya, seperti ulat!”), bendahara Partai yang pelit (“Kayak uangnya sendiri saja!”), dan penduduk yang tak berpartisipasi (“Dasar!”). dia sendiri sudah habis-habisan: tenaga, uang, dan kehormatan.

Kegagalan Pilkades itu membuatnya sangat malu. Konon, dia sesumbar akan membuat desa nelayan itu sembilan puluh persen untuk Partai Randu.

Tahu-tahu, menyelenggarakan Pilkades saja tak becus. Ia terpukul, mengambil cuti, entah berapa lama. Maka untuk beberapa waktu desa itu tidak punya Kades, tidak ada care taker, tidak ada instruksi apa-apa dari Muspika atau dari Bupati. Sekdes praktis jadi Kades. Hanya saja soal bengkok masih dikerjakan orang yang dulu, dan Sekdes tak bisa mengklaimnya. Itulah sebabnya ia selalu gedumal-gedumel, “Kerjanya Kades, gajinya Sekdes!” Urusan resmi desa pada Sekdes, urusan masyarakat pada Modin.

Oleh Bupati Sekcam (Sekretaris Kecamatan) ditunjuk sebagai care taker camat, tapi tak disebutkan apakah dia juga care taker Kades. Karenanya, jabatan Kades kosong blong. Hansip tak terurus honorariumnya dan Siskamling tidak jalan. Hanya pasar TPI yang selalu bersih, sebab pasar itu bukan urusan desa, tapi punya Dipenda (Dinas Pendapatan Daerah). Berita sekitar tidak terurusnya desa itu menyebar. Itulah sebabnyaada grayak di TPI. Kawanan penjahat yang tidak profesional itu menyumpal mulut Satpam yang berdinas. Mereka menjebol pintu, tetapi tidak menemukan apa-apa di dalam. Atas usul Wasripin, Kepala TPI menolak titipan uang retribusi pasar. Karena kesal, mereka menghajar, memukul, menendan Satpam. Tetapi, keesokan harinya Wasripin memijit-mijit Satpam. Hilanglah lebam ditubuhnya, memar di kepala, dan benjolan besar di jidat. Satpam dapat tertawa-tawa, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Namun, jabatan Kades tetap kosong.

5

ADAPUN Danramil mendengar bahwa Pak Modin mendapat perlindungan dari Pati berbintang kesal tapi tak bisa berbuat apa pun. Namun, ia tetap akan mengawasi surau itu, demi keutuhan bangsa dan negara. Ia yakin pasti ada orang di belakangnya yang mungkin lebih penting. Ia pun menengarai adanya satu orang: Wasripin, Satpam TPI, tukang pijit, dan pengusir jin. Baru-baru ini seorang pencuri yang tertangkap di desa lain mengaku bahwa pemimpinnya adalah Wasripin.

Danramil tak bisa berbuat banyak. Sebab, tiba-tiba ia jatuh sakit: perut membesar, sakit seperti ditusuk-tusuk di bagian ginjal. Ia ke dokter, kata dokter tak perlu khawatir. Dokter lain menyuruh periksa darah dan urine, dokter lainnya lagi menyuruh memeriksakan tinjanya. Ada dokter menyuruhnya USG, karena jangan-jangan ada penyakit ginjal. Untuk itu dia harus ke Semarang. Tidak juga ketemu penyakitnya.

Kemudian dia pergi pada terkun (dokter merangkap dukun), barulah terkun menemukan penyakitnya: dia kena santet. Mungkin jabatan, mungkin perempuan. Terkun mengobatinya, tak kunjung sembuh. Sadar kena santet dia pergi ke orang pintar. Orang pintar satu gagal, ia pergi ke orang pintar lain. Tak kunjung sembuh, kata orang-orang pintar itu, ilmu miliknya kalah tinggi dengan pembuat santet. Dalam keputusasaan ada orang menyarankan upaya berobat ke Wasripin.

“Sampai mati pun aku takkan ke sana!”

“Istighfar, Pak. Istighfar.”

“Tentara tidak boleh mencla-mencle!”

“Tapi Bapak juga seorang suami bagi isterinya, seorang bapak bagi anak-anaknya.”

Setelah isteri dan anak-anaknya membujuk, ia mau juga pergi. Ia diantar isteri, seorang pembantu, dipapah seorang sopir. Ia datang menemui Wasripin, orang yang sebenarnya masuk dalam daftar hitamnya. Ia juga membawa seliter Aqua, seperti pasien lain. Orang sudah mendengar bahwa Danramil sakit, sehingga kedatangannya tak mencurigakan, meskipun dia terkenal galak kepada para nelayan. Ketika Danramil datang ada seorang pasien sedang menunggu, dan lainnya sedang dipijit. “Sebentar, ya Pak,” kata Wasripin yang tahu persis siapa yang datang. “Bapak duluan saja. Toh saya tidak begitu sakit.”

Wasripin memijit-mijit bagian perut, dan memberikan kembali botol Aqua yang sudah dibuka dan diberi doa. Kemudian juga mengajarkan doa Nabi Ibrahim untuk dibaca sesering mungkin, Wa idzaa maridhtu, fahuwa yasyfiin (Dan ketika aku sakit, Dia menyembuhkanku). Kemudian Wasripin membisikkan sesuatu ke telinganya,

“Tapi, yaitu Pak. Jangan diteruskan hubungan itu.”

“Ya, ya.”

Tidak usah diceritakan bahwa Danramil sembuh, setelah berobat ke Wasripin sekali saja. Tapi akibatnya Danramil sangat malu dengan diri sendiri. Ternyata Wasripin sangat jauh dari gambarannya. Semula gambarannya mengenai Wasripin ialah garang, tinggi hati, dan mata duitan. Ternyata, dia ramah, rendah hati mendekati rendah diri, ikhlas, dan menyiratkan wajah yang bersih. Ia malu dengan diri sendiri, mengajukan surat pindah.

ENAM

1

WASRIPIN ingin melaut. Para nelayan berebutan menerima, sebab dia akan membawa keberuntungan. Wasripin memilih perahu dengan rumah-rumahan, sehingga ia dapat berteduh dari panas matahari dan angin laut. Dia tahu persis kekuatan badannya, sebab dia pernah diajak kawannya melaut di Jakarta. Pada waktu itu dia muntah-muntah karena ombak, matahari, dan angin. Sampai rumah emak angkatnya mengerokinya, “Lain kali tidak usah coba-coba melaut,” katanya. “Orangtuamu bukan pelaut.”

Dia sudah bilang kawan-kawannya seperahu untuk tidak terkejut bila dia mabuk laut. Sepengetahuannya, dia tidak ada turunan pelaut. Ibunya memang dari pantai, tapi petani bukan pelaut. Mereka berangkat pagi-pagi. Wasripin duduk di atas perahu, menikmati bunyi mesin, ombak yang pelan, dan matahari yang baru keluar. Dia melihat kawan-kawannya mulai menebarkan jaring.

“Jangan di situ, tiduran saja di dalam.”

“Tak apa.”

Makin lama ombak makin terasa. Dan betul, baru tiga jam dia melaut perutnya terasa mual, dia masuk ke dalam. Ombak laut menggoyangkan perahu. Ia pergi ke dalam dan duduk. Berjaga-jaga menampung isi perut dengan sarong. Dari perut keluar semua sarapan paginya. Seorang kawan membuka sarong dan membuang muntahannya ke laut.

“Tiduran saja.”

“He-eh.”

Ia telentang, tiduran.

Kawan yang membuang muntahan berteriak,

“Ikan!”

Ikan-ikan besar memperebutkan muntahan. Makin lama, makin banyak. Kawan-kawannya sibuk mengarahkan jaringnya pada ikan-ikan itu. Dengan cepat ikan-ikan terjaring, dan dengan cepat mereka tenggelam di pecahan-pecahan es.

Ketika mereka kembali siang itu, mereka membuat kejutan. Mereka kembali dengan tangkapan ikan-ikan besar, ikan yang biasanya terdapat di tengah laut dan di dapat setelah dua hari melaut. TPI heboh.

“Tidak mungkin. Mereka berangkat pagi, pulang siang.”

“Percaya atau tidak, itulah yang terjadi.”

“Ikannya besar-besar!”

“Jenis yang berharga mahal!”

Kesimpulan mereka tidak terduga: Mereka membawa Wasripin. Ia membawa keberuntungan. Lain hari para nelayan berebut membawanya melaut. Aku dulu! Aku dulu! Para nelayan mengambil inisiatif, mereka membuat nomor antrean. Wasripin mengajukan masalahnya pada Pak Modin, dan dianjurkannya untuk tidak melaut lagi. Mendengar bahwa Wasripin tidak lagi melaut, mereka kecewa. Mereka lalu menggandakan foto Wasripin yang ada di TPI.

Para nelayan melaut dengan foto Wasripin di perahunya. Dan entah karena apa, musim ikan atau karena foto itu perolehan nelayan selalu besar. Keyakinan para nelayan, keberuntungan itu ialah karena mereka membawa foto Wasripin. Kemudian para juragan tahu, pedagang ikan tahu, orang-orang pasar tahu. Wasripin keberatan fotonya dipasang, “Tikus saja tidak takut, bagaimana fotoku membawa keberuntungan?” Tapi atas nasihat Pak Modin, menasihati nelayan itu harus pelan-pelan, jangan melarang-larang seketika, ketika orang lagi bersemangat.

Bahwa foto Wasripin membawa keberuntungan dengan mudah menyebar ke seluruh desa. Dari para nelayan ke masyarakat luas, telinga masyarakat ke telinga pejabat. Pejabat-pejabat agami di kecamatan merasa risih. Mereka melapor ke pejabat agama kabupaten, tapi isu tidak ditindaklanjuti. Rerasan yang tersebar dari mulut ke mulut, makin lama makin besar seperti kata ungkapan sak dawa-dawane lurung, isih dawa gurung (berapa pun panjang lorong, masih panjang kerongkongan): ada agama sesat di lingkungan nelayan!

Bahkan, menurut berita Wasripin mengadakan pengajian di rumahnya, membagi-bagikanjimat, mengajarkan ilmu kebal. Menurut peraturan, itu ajaran sesat.

2

BERITA itu membuat Badan Pengawas agama, lembaga resmi yang mengawasi penyiaran agama, tingkat kabupaten penasaran. Mereka mengadakan rapat. Keputusannya ialah mereka minta pihak kepolisisan

menyelidiki perkara ajaran sesat yang meresahkan masyarakat. Kepolisian pun mengirim orang untuk menyidik perkara keresahan itu. Ketika intel polisi kembali, mereka melapor, “Lapor! Tidak ada keresahan. Laporan selesai!”

Maka ketika lembaga bertanya, kata Kepala Polisi Kabupaten, “Menurut intel kepolisian, tidak ada keresahan. Ada memang perahu yang disertai foto: bintang film, bintang sepak bola, bintang bulu tangkis, penyanyi dangdut. Foto Wasripin memang ada juga.” Kepolisian menolak dengan alasan tidak ada gangguan publik yang mengancam rasa aman. Lagi pula pekerjaan polisisudah banyak: pencurian, pembakaran rumah, tawur antarpenyokong calon lurah, penipuan, dan masalah-masalah lainnya, sehingga perkara ajaran sesat yang tidak ada itu dianggap mengada-ada. “Ini bukan perkara kriminal, tapi delik aduan,” kata kepala polisi itu. “Jadi Bapak-bapak tetap punya hak menggugat. Tulis surat gugatan ke polisi.”

Mereka yang mengadu tak puas.

“Polisi makan duit rakyat!”

“Akhir bulan banyak cegatan dijalan!”

“Tidak ada keresahan?” Diucapkan dengan mulut dimiringkan.

“Ini delik aduan. Kalau diteruskan Bapak-bapak akan kalah.”

Mereka mengadakan rapat, nekad menulis gugatan.

Sementara itu para nelayan juga mengadakan rapat. Mereka setuju membentuk perkumpulan nelayan yang akan mereka daftarkan sebagai koperasi. Tujuan akhir koperasi sangat indah, yaitu menambah pendapatan dengan menjadikan nelayan tidak semata-mata melaut, tapi juga memelihara tambak. Mereka juga memutuskan untuk memelihara ikan dengan sistem karamba di sungai yang agak jauh. Ketika tiba menunjuk ketua, semua mengusulkan nama Wasripin. Wasripin menolak: tidak ada pengalaman, jadi penyembuh saja sudah cukup sibuk. Akhirnya dia diangkat jadi penasihat.

Polisi sebenarnya sudah enggan memeriksa, tapi terpaksa juga memanggil Wasripin. Wasripin datang disertai lima belas nelayan. Polisi berkeberatan dengan teman-teman Wasripin. Tapi daripada ribut-ribut di luar, lebih baik ribut di dalam. Pemeriksaan dimulai, hasil pemeriksaan itu dilimpahkan ke pengadilan.

Di pengadilan lebih banyak lagi nelayan yang mengantar. Ruangan penuh. Wasripin disumpah. Lalu Hakim Ketua bertanya,

“Jadi, benar kamu guru ngaji?”

“Bukan, Pak. Tapi Pak Modin.”

“Bohong, Pak,” sela penggugat.

“Nanti ada waktu untuk Bapak,” kata Hakim Ketua.

“Kita lanjutkan. Apa kamu mengharuskan para nelayan memasang fotomu?”

“Tidak, Pak.”

“Apa kamu berpendapat bahwa fotomu membawa keberuntungan?”

“Itu bukan pendapat saya.”

“Kabarnya kamu orang berpendidikan, mengapa tidak rasional?”

“Ya, saya berpendidikan. Saya punya ijazah SD, tapi entah di mana saya taruh.”

“Mengapa tidak rasional?”

“Apa artinya itu, Pak?”

“Artinya, apa kamu membagikan jimat?”

“Tidak, Pak.”

Para nelayan yang mengantar ribut. “Tidaak!” “Jangan dijawab!” “Pertanyaan itu sampah!” “Pertanyaannya yang tak masuk akal!” “Hakim jangan memihak!” seorang berteriak keras. “Hakim menjebak!” kata orang lain lebih keras. “Hakim bodoh!” kata seorang lebih keras lagi.

Hakim Ketua menggedor meja. “Dog, dog. Tenang! Tenang!”

Gedoran meja itu seperti mengingatkan para nelayan. Mereka mulai menggedor-gedor bangku tempat duduk. Mereka bersama-sama bilang, “Bebaskan Wasripin! Bebaskan Wasripin!” Hakim Ketua memerintahkan, “Keluarkan mereka. Sidang diskors, dog, dog!” Polisi pamong praja yang menjaga pengadilan hanya empat orang, mereka menelepon minta bantuan polisi sungguh-sungguh. Beberapa orang malah maju ke meja hakim, menuding-nuding Hakim Ketua. Melihat mereka semakin merangsek tiga orang hakim yang di depan cepat-cepat pergi. Wasripin tidak mengira bahwa keributan akan terjadi. Polisi datang. Kedatangan mereka membuat para nelayan mulai duduk. Hakim-hakim datang lagi. “Sidang kita lanjutkan, dog, dog!”

“Agamamu apa?”

“Islam, Pak.”

“Sebutkan surah apa ayat berapa yang menyebutkan nelayan harus bawa jimat?”

“Apa ada?”

“Ada atau tidak?”

“Sepengetahuan saya jimat itu dilarang.”

“Kalau dilarang, kenapa kamu membagikan jimat?”

“Tidak, Pak.”

“Lalu foto siapa yang ditempel di perahu?”

“Suka-suka, Pak. Bagaimana saya tahu?”

“Ah, yang benar saja!”

“Benar, Pak. Ada saksi.”

Seorang nelayan maju sebagai saksi.

“Jadi, kamu memasang foto Wasripin?”

“Ya, Pak. Saya juga memasang Rhoma Irama, Titik Puspa, Elvy Sukaesih, dan penyanyi Amerika.”

“Dari semua itu, mana yang kau anggap sebagai jimat?”

“Tidak ada. Foto-foto itu saya pasang karena suka.”

“Mengapa foto Wasripin kamu pasang?”

“Karena suka. Dia penasihat ASNI, Satpam TPI, dan tukang pijat, pengusir jin. Tolong, Pak. Sebutkan undang-undang apa ayat berapa, pasal berapa, peraturan apa, pasal berapa yang menyebutkan bahwa memasang foto tak boleh?”

“Ya, tak ada. Sekarang sebutkan Wasripin mengajarkan rapal-rapal apa saja untuk melaut?”

“Tidak dari dia, Pak. Ada memang rapal-rapal yang kami pelajari dari orang-orang tua.”

“Bisa sebutkan rapal itu?”

“Nanti saja kalau Bapak mau jadi nelayan.”

Setelah beberapa hari Wasripin sebagai tergugat dan para penggugat diundang untuk mendengarkan amar pututsan hakim. Pengadilan memutuskan, tak ada ajaran sesat, tak ada jimat. Para nelayan pun mengadakan syukuran.

Ceritanya, ada komandan tentara baru di kecamatan itu. Wasripin, surau, TPI, dan para nelayan lega. Sebab, kabarnya komandan yang sekarang sangat lunak pada mereka, bahkan cenderung mengabaikan tugasnya. Tugas utamanya ialah mengurus dirinya sendiri. Dia tergila-gila pada waranggana klub wayang kulit di kecamatannya yang dulu, jauh di luar kecamatannya sekarang.

Di depan rapat pimpinan kecamatan tanpa malu-malu di menyebut waranggana dengan sebutan yang tak pernah diucapkan seorang pada orang lain, “Bayangkan, kalau kau punya isteri bidadari dengan suara emas.” Ia akan berpikir, “Ya rupanya ya suaranya. Ck-ck.” “Ayu sejagat kok dimiliki sendiri,” “Akan kutunggu kau jadi janda sampai kapan pun.”

Yang menguntungkan ialah dia bukan pemberani soal yang satu ini. Maka, sekalipun omongannya sudah seperti sungguh-sungguh, tidak ada langkah-langkah yang dikerjakannya. Meski hari hujan ia akan naik sepeda motor bebek dan duduk di belakang niyaga yang sedang mengikuti dalang. Kepindahannya ke kecamatan itu sebenarnya adalah atas aduan isterinya.

“Percayalah, aku tak akan meninggalkan kamu dan anak-anak, Mam.”

Lain kali dia bilang, “Hanya saja ada orang kok cantik seperti puteri raja, suaranya merdu seperti rebab.”

Minatnya pada waranggana tambah-tambah besar saja, makin jauh makin besar sampai isteri menyerah. Ia pergi dari orang pintar ke orang pintar lain, tapi suaminya tak berubah. Ia menyerah, menunggu nasib. Isteri itu mendapat harapan baru ketika ia menghadiri pertemuan isteri-isteri pejabat sekecamatan. Ada seseorang yang menyebutkan nama Wasripin. Ia pun pergi ke Wasripin, membawa gula dan teh.

Ketika siang itu ia ke rumahnya, hampir-hampir ia tak percaya kalau yang di depannya adalah Wasripin, yang kira-kira sebaya dengan adiknya yang bungsu. Untung baginya, hanya ada seorang ibu dengan anaknya usia SD kelas 3 sedang dipijat karena sulit menerima pelajaran. Di depan Wasripin dia memperkenalkan diri sebagai isteri Danramil, dan mengatakan apa adanya tentang suaminya.

“Suami ibu kena gendam yang disebarkan wanita itu.”

“Betul, kata orang begitu.”

“Saya lihat ibu membawa gula dan teh.”

Bu Danramil memberikan bungkusan itu. Lalu bungkusan itu pun dibuka Wasripin. Setelah gula teh itu diisi (diberi doa), barang itu disodorkan kembali.

“Begini, Ibu. Tolong buatkan minum suami Ibu dengan gula teh ini.”

Beberapa hari kemudian ketika pagi-pagi dia pulang nonton wayang, katanya pada isteri,

“Bu, bu. Ternyata dia itu srigunung, dilihat dari jauh tampak cantik, dilihat dari dekat jeleknya bukan main. Kerempeng, wajah penuh kukul, rambut kusut. Suaranya juga tak beda dengan penampilannya.”

“Jangan begitu, Pak. Gething nyandhing [benci itu malah mendekatkan].”

“Sungguh, kok.”

“Iya, iya. Tapi jangan bikin komentar yang jelek tentang orang lain.”

“Maaf, Bu. Selama ini saya telah menyakitimu. Saya kapok, takkan terulang lagi.”

Nama Wasripin lebih terkenal daripada TPI, surau, dan bahkan desa itu sendiri. Itulah yang akhir-akhir ini sangat menggelisahkan Ketua Partai Randu sebagai lulusan Pendekar (Pendidikan Kader) partai. (Peserta, “Namanya kok Pendekar?” Instruktur menjawab, “Wo, bagaimana kamu ini! Kekuasaan itu kuasa, termasuk kuasa menciptakan makna-makna.”). Sudah pasti Wasripin akan bergabung dengan kelompok surau yang selalu menjadi Golput. Padahal, DPD (Dewan Pimpinan Daerah) Partai Randu sudah menargetkan perolehan suara yang tak mungkin diraih bila surau masih Golput. Maka sebagai pemuka masyarakat dan lulusan Pendekar dia mengusulkan dalam rapat LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) untuk memberi saja sebuah KTP (Kartu Tanda Penduduk) pada Wasripin, tanpa embel-embel ET (Eks Tapol). Syaratnya, dia berjanji tak akan Golput. Usulan itu diterima, seperti biasanya dengan aklamasi.

Kadus ditugaskan untuk menjajagi perkara itu.

“Apa itu Golput, saya belum pernah dengar.”

“Pokoknya yang tidak berpartai.”

“Partai saya apa?”

“Ya, nyoblos apa dalam Pemilu lalu.”

“Saya belum nyoblos, belum umur.”

“Keluargamu? Ibumu? Bapakmu?”

“Tidak punya. Mereka semua sudah meninggal.”

“Pokoknya jangan Golput.”

“Tidak janji.”

Kadus melapor dalam rapat LKMD soal tugasnya.

“Kalau begitu, jangan diberi KTP dulu,” ujar Ketua Partai Randu.” Atau beri KTP dengan ET.”

“Jangan. Waktu tahun 1965 dia masih balita.”

Itulah yang menyebabkan Ketua Partai itu sulit tidur, dan hatinya ketar-ketir. Kalau sampai gagal, sudah pasti dia tidak menjadi anggota DPRD Tingkat II. Bagaimanapun, ia akan tetap berusaha.

Hari Pasar di pasar TPI. Hari pasar yang dulu seekor sapi hilang. Tidak ada protes dari orang banyak, sebab pemiliknya memang dikenal pelit pada tetangga. Dan hari itu seekor sapi lagi, padahal pemiliknya terkenal sebagai pemurah. Maka, para belantik menolak untuk membayar pajak. Mereka marah kepada pasar TPI. Ketika petugas penarik pajak datang, mereka menuding-nudingnya.

“Apa? Pajak? Jamin keamanan kami!”

“Panggil Hansip!”

“Hansip tidak punya bedil. Punyanya pistol air!”

“Kalau begitu panggil polisi!”

Petugas pergi ke kantor polisi membawa dua orang polisi yang berbedil. Polisi yang satu akan menjaga pintu masuk, satu lagi pintu keluar. Pemilik sapi hari pasar yang lalu memanfaatkan kedatangan polisi, petugas hukum.

“Nah, kebetulan. Bapak–bapak menjadi saksi keteledoran pasar ini. Saya akan menggugat pengadilan. Tidak ada penjagaan di pintu masuk, tidak ada penjagaan di pintu keluar!” Penarik pajak bingung. Ia memang sudah mendengar bahwa hewan-hewan itu hilang begitu saja, padahal tali masih di tangan belantik. Kesimpulan dia, kehilangan itu peristiwa yang gaib. Maka pikirannya ialah pada Wasripin. Wasripin sedang berjongkok dalam lingkaran, mendengarkan Satinah menyanyi. Penarik pajak pasar membisikkan sesuatu. Mereka berdua lalu pergi menuju pasar hewan. Dua orang yang kehilangan sapi menemui penarik pajak dan Wasripin. Wasripin bertanya kepada belantik,

“Bagaimana ceritanya?”

“Masak dua ekor sapi hilang begitu saja!”

“Lalu tugasku apa?”

Belantik yang kehilangan hari pasar lalu menjawab, “Tugasmu ialah supaya sapiku dibayar.”

Belantik yang kehilangan hari itu, ”Kalau saya, asal jelas untuk apa.”

Wasripin diam sebentar. Lalu katanya,

“Ada dua keluarga di dunia lain besanan, mereka pesta besar-besaran. Mereka memerlukan dua ekor sapi, seekor sekeluarga.”

“Katakan sapi saya harus dibayar mahal.”

“Kalau ada yang pesta, ya sudah sapi saya sumbangkan.”

Tiba-tiba di kantong seorang belantik ada uang.

“Tengoklah kantongmu.”

“Ada uang!” Lalu dia menghitung, dan memasukkan kembali uang itu. Padahal, uang itu jauh lebih banyak dari harga seekor sapi.

“Kau ikhlas?” tanya Wasripin pada belantik satunya.

“Ikhlas.”

Wasripin lalu kembali ke lingkaran.

Beberapa hari pasar kemudian terbetik berita bahwa belantik yang pemurah itu mendapat order untuk menyetor setiap minggu sepuluhan sapi dari sebuah rumah pemotongan hewan di Jakarta.

Wasripin juga dikenal orang luar desa. Di sebuah desa ada rombongan penari jatilan alias kuda lumping. Sebelum bermain Ketua Rombongan bermimpi (setengah terbangun) bahwa untuk keperluan sekali itu harus ada restu dari danyang kuburan. Setelah omong-omong sebentar di sananya, restu memang diberikan, dan permainan nanti diharapkan berjalan lancar seperti biasa. Tapi, rupanya restu bersyarat: danyang minta sajen, salah satu bayi di lingkungan keluarga pemain akan jatuh sakit, dan mati. Ketua rombongan yang tahu syarat itu sangat sedih, sebab biasanya tidak ada sajen apa pun, kecuali kembang-menyan setiap malem Jumat. Dan mampir ke kuburan sebelum berangkat. Sepertinya danyang itu tahu bahwa pertunjukan kali ini istimewa.

Sepertinya dia juga tahu bahwa kali ini jadwalnya diatur dengan ketat, tidak bisa ditunda, tidak bisa diurungkan.

Mereka akan bermain dalam sebuah pertemuan resmi yang dihadiri para pejabat dari provinsi, para bupati, dan tamu-tamu asing. Gubernur sudah cerita-cerita bahwa kesenian unggulan daerah itu ialah jatilan. Ia pusing, pergi ke seorang paranormal. “Itu sih gampang saja,” kata paranormal. “Bayi artinya tunas. Nah, carilah tunas pisang, bungkus dengan kain putih, letakkan di kuburan.”

Ia mengerjakan saran paranormal itu. Tapi, rupanya sajen itu tidak berkenan di hati danyang kuburan. Malam hari dia bermimpi (juga setengah terbangun) didatangi laki-laki tinggi besar, berambut dan berjenggot putih. Di sananya laki-laki itu membuang sesajiannya. Pagi harinya dia ke paranormal itu. “O ya, maaf. Ternyata yang dimaksud bayi ialah bantal kecil yang masih baru, gres.”

Ketua rombongan mengikuti saran paranormal. Tapi malam harinya dia mimpi didatangi laki-laki yang dulu. Jalan sudah ditempuh tapi buntu. Mungkin akhirnya ia harus menyerah. Ya, tapi bagaimana lagi.

Ia teringat nama Wasripin, mungkin dia dapat menolong.

Maka pagi-pagi sekali dia menjemputnya untuk mengamankan pemain dan keluarganya. “Saya tidak usah ke sana, dari sini sama saja. Kalau ada saya, nanti pertunjukannya tidak jadi. Tapi sekali ini saja. Kalau minta macam-macam, jangan diturut.”

Wasripin tidak ikut rombongan, hanya memayungi dari kejauhan. Pertunjukan berjalan lancar. Tamu-tamu asing berdebar-debar melihat orang kerasukan, mengupas kelapa dengan mulut, makan beling, dicambuk keras, pemain yang berputar-putar tak kenal lelah kemudian terjatuh tak sadarkan diri. Ketika Ketua Rombongan mengusap jidatnya ia pun sadar. Tamu-tamu asing bersorak, bertepuk tangan.

Beberapa hari dinanti, ternyata tidak ada bayi sakit, apalagi mati. Ketika tidur, Ketua Rombongan didatangi orang tua itu. Di sananya orang tua itu tertawa-tawa, ”Aku hanya guyon. Kok dianggap sungguhan. Ha-ha-ha!”

Ceritanya, partai-partai sibuk mempersiapkan diri untuk Pemilu. Partai Randu mengumpulkan para Pendekar Tingkat Desa untuk diangkat jadi Pendekar Tingkat II, syaratnya ialah ia bisa menunjuk orang lain untuk jadi Pendekar, diutamakan calon Pendekar perempuan. Pendekar perkampungan nelayan kita tidak mau ketinggalan. Dia berhasil merekrut anak Pak Kaur Kesra, seorang perawan tua guru SD berumur 35, untuk jadi Pendekar Tingkat Desa, dia pun naik jadi Pendekar Tingkat II.

Pendekar Tingkat II dan Pendekar Tingkat Desa diwajibkan merencanakan strategi (Renstra) pemenangan Pemilu untuk unitnya (desa, pelabuhan, bandara, kantor, stasiun, universitas). Maka tidak usah dikatakan bahwa Ketua Partai dan Pendekar sangat dekat. Persoalan-persoalan resmi selesai, mereka lalu membicarakan persoalan pribadi. Mereka sembronoan.

“Cantiknya cantik, umur masih muda, pintar dandan, kok belum kawin itu kenapa, Jeng?”

“Ah, jangan mengada-ada.”

“Saya sungguh-sungguh, Jeng.”

“Tidak laku ya tidak laku!”

“Jangan begitu, ah. Kalau terus-terusan begitu, hidup ini tidak lengkap.”

“Tidak lengkap, ya biar saja.”

“Saya mau, kok. Disuruh melengkapi.”

“Ah, jangan begitu. Nanti saya kepengin.”

“Kepengin ya boleh, kok.”

Untuk membahas Renstra Pemenangan Pemilu mereka terpaksa menginap di hotel. Sembronoan lagi.

“Saya sudah 20 tahun kawin kok belum punya anak, padahal saya thok-cer, lho Jeng.”

“Aku tak percaya, kalau thok-cer.”

“Percaya atau tidak, pokoknya percaya saja.”

“Percaya itu perlu bukti.”

“Perlu, to?”

“Ya perlu, kok aneh.”

“Sungguh?”

“Sungguh!”

Pendekar tak menolak ketika Pendekar Tingkat II melepas kancing blusnya. Dan terjadilah apa yang terjadi. Setelah semua selesai Pendekar memuji, “Terima kasih. Umur 40-an ternyata masih thok-cer!” Hotel itu kemudian jadi tempat pertemuan mereka.

Ketika Pendekar Tingkat Desa ada tanda-tanda hamil, Pendekar Tingkat II mengusulkan seorang dukun yang bisa menggugurkan. Tapi Pendekar menolak, “Ini bayi, bayiku sendiri! Jangan gelem nangkane, emoh pulute (mau enaknya, tak mau susahnya).” Perkampungan nelayan geger ketika tahu bahwa Pendekar hamil. Di TPI, hajatan sunatan, hajatan perkawinan, bahkan pada waktu takziyah orang membicarakan aib itu. Orang tahu belaka bahwa kehamilan Ibu Guru berkat ulah Ketua Partai. Desa itu terbelah. Satu pihak membela suami, satu pihak isteri. “Soalnya, isterinya galak.” “Tidak, isteri kurang perhatian!” “Isterinya selalu awut-awutan, tak pernah dandan!” “Yang laki-laki sudah membanting tulang, isteri tak pandai bersyukur!” Rumah tangga Ketua Partai jadi berantakan. Isterinya mengomel terus, “Rasakan!” “Kualat!” “Sokur!” Suami-isteri itu bukan saja pisah ranjang, tetapi suami takut pulang, tidur di rumah teman-temannya. DPD Partai Randu pun khusus bersidang untuk itu.

“Kecelakaan bagi Partai!”

“Partai pasti kalah di perkampungan santri itu!”

“Pecat saja!”

Keputusannya? Sementara persoalan ditangguhkan alias tidak ada keputusan.

Sementara itu Ketua Partai Randu (Pendekar Tingkat II) menemui Wasripin. Wasripin sedang dinas di TPI, dan Ketua Partai bisik-bisik minta keduanya bisa berbicara berdua saja di tempat sepi. Ketua Partai mengeluh

bahwa dia tak tahan cemooh masyarakat, bahwa dia sangat kasihan dengan isterinya, bahwa rumah tangganya berantakan.

“Kau kan bisa berhubungan dengan dunia gaib. Nah, saya akan minta tolong sedikit. Coba, mintalah seorang kenalan dari dunia sana supaya kandungan yang ada di perut guru itu digugurkan, diambil, atau dicuri. Pokoknya dihilangkan.”

“Wah, nanti dulu saya pikirnya, Pak. Apa itu jalan terbaik untuk semua.”

“Pikirlah. Saya tunggu beberapa hari, nanti saya balik lagi.”

Wasripin berkonsultasi dengan Pak Modin.

“Bagaimana kalau kawin siri, Pak?”

“Itu hanya memecahkan sebagian masalah.”

Diputuskan bahwa jalan terbaik ialah menikahi perempuan itu secara resmi. Tapi karena Ketua Partai adalah pegawai di kantor Kabupaten, isteri pertama harus tanda tangan bahwa dia mengikhlaskan suaminya kawin lagi. Wasripin pergi membujuk isteri pertama. Bolak-balik.

“Dia sangat terpukul, dia putus asa, Bu.”

“Biar saja!”

“Sebagai pegawai dia nanti pasti dipecat.”

“Itu resiko dia!”

“Tolonglah, Bu. Jangan sampai anak tak berdosa nanti jadi anak haram.”

“Biar dia rasakan!”

“Semua tergantung Ibu. Tidak ada jalan lain, Bu.”

Sesudah beberapa, perut makin membesar. Ketua Partai terlihat semakin kuyu, pucat, dan sangat gelisah. Akhirnya setelah dipikir panjang, isteri pertama jatuh kasihan.

Katanya ketika Wasripin datang untuk kesekian kalinya,

“Kalau memang tidak ada jalan lain menutup aib itu, ya apa boleh buat.”

Kemudian isteri itu menaruhkan tanda tangan di atas kertas bermeterai. Calon suami-isteri pergi ke KUA. Isteri pertama dengan hati yang ditegar-tegarkan ikut mengantar. Dan seperti dongeng rumah tangga dengan dua isteri itu hidup rukun, makan bersama, bercanda, sembahyang berjamaah.

TUJUH

1

ADA gerakan baru di desa-desa sepanjang pantai. Mereka menyebut diri GPL, Gerakan Pemuda Liar. Gerakan itu terdiri dari pemuda pengangguran, pemuda putus sekolah, dan mereka yang sekedar suka iseng. Pekerjaannya ialah menculik gadis-gadis, ibu-ibu rumah tangga, dan para ibu bakul. Biasanya, mereka yang sendirian di tempat sepi atau malam hari. GPL juga menyekap mereka yang meskipun bersuami tapi cantik. Untuk beberapa hari gadis-gadis atau ibu-ibu akan disekap dan dicabuli. Mereka mengembalikan korbannya setelah bosan, melemparnya di sembarang tempat seperti sampah. Gadis dan ibu yang mereka sekap kembali dalam keadaan linglung atau gila.

Hanya tempat-tempat hiburan malam (bagi desa-desa itu hiburan malam selalu berarti bordil) dan para anggotanya leluasa bergerak, sebab para GPL dapat gratisan.

Di desa-desa itu perempuan tidak berani keluar rumah pada malam hari. Kelahiran, sunatan, perkawinan, bahkan takzijah di malam hari berjalan tanpa perempuan. Tak ada perempuan bermukena ikut shalat ‘Isya’ di surau Pak Modin. Jadi tidak seperti biasanya, malam hari akan sepi. Bahkan GPL itu memang keterlaluan. Ada seorang janda memboncengkan anaknya dengan sepeda ontel untuk dibawa ke rumah sakit gawat darurat juga mereka tangkap. Tangis yang mengiba-iba ibu itu tidak digubris. Anak yang sakit itu dibiarkan kesakitan, sendirian di tempat sepi, sampai orang-orang yang lewat pagi hari mengetahui anak itu telah mati. Juga seorang dukun bayi yang masih melek ditangkap di perjalanan menuju orang yang akan melahirkan, dan sadonya disuruh balik. Singkatnya, kejahatan mereka sampai ke tingkat iblis, terkutuk betul.

LKMD-LKMD mengadakan rapat intern dan kemudian rapat gabungan.

Mereka bikin resolusi supaya pihak keamanan, yaitu TNI/POLRI bertanggung jawab. Resolusi itu dibawa para Kades dan Sekdes ke atas dan diteruskan sampai atas betul. Kodim sebagai tentara hanya bisa menawarkan satu pemecahan yang cespleng, yaitu menembak mereka ala Petrus (penembak misterius) yang terbukti sangat efektif di tempat lain. Memenjarakan dan memproses berdasar hukum akan mahal biayanya. Penjara tidak memuat mereka yang bejat moralnya dan terlalu bertele-tele. Solusi itu diterima dengan perasaan senang.

Maka di tempat-tempat sepi, pagi-pagi sekali, dan malam hari di desa-desa banyak Petrus berkeliaran. Mereka juga memberi tahu kata sandi malam itu untuk diketahui Hansip dan Siskamling. Suasana malam hari persis seperti perang, hanya tidak ada jam malam. Mulai sore hari begitu matahari terbenam di perempatan dekat warung bakmi, sate Madura, lauk-pauk, dan gorengan mereka akan ikut nongkrong. Hanya laki-laki yang berani jualan, hanya laki-laki yang datang membeli. Petrus juga bersembunyi di tempat-tempat gelap dan membidik mangsanya. GPL semakin pintar. Mereka seperti dapat mencium bahwa di suatu tempat ada polisi. Kata sebuah ungkapan, pencuri lebih pandai daripada polisi berlaku di sini. Belum ada satu pun GPL yang tertembak.

Penduduk mulai gelisah. Mereka meragukan kemampuan aparat. Polisi juga jadi gregetan. Mereka bukannya pasif menunggu tapi aktif memburu. Warung-warung yang buka malam, panti pijat tradisional, dan tempat hiburan malam digrebek. Mereka yang mencurigakan diinterogasi, seperti yang tanpa KTP dan yang bertato. Ketika cara itu pun tak jalan, mereka semakin penasaran. Lelaki yang berewok, yang bertampang jagoan, yang berambut panjang, yang bercelana sempit, yang kira-kira mata keranjang, semua ditangkap. Maka salah tangkap, salah urus, dan salah duga menjadi gejala umum. Untung saja mereka tidak menerapkan semboyan, tembak semua yang mencurigakan. Mereka tidak pernah menembak, tapi membawa ke kantor tentara atau polisi, ditanyai ini itu.

Sementara ada ramai-ramai soal GPL, Satinah punya keperluan yang tak terelakkan untuk pergi sore-sore sehabis Magrib ke rumah Wasripin. Pamannya terjatuh dari tangga waktu membetulkan genteng untuk menghadapi musim hujan. Satinah sebenarnya ragu-ragu soal keamanan jalan. Tapi pamannya yang terus mengerang membuatnya nekat. Setelah selesai memijat dan sudah semakin malam, Wasripin menawarkan tempat menginap. Wasripin dan paman yang sudah sehat tidur di surau, Satinah bisa memakai dipannya. Sebenarnya Satinah sangat senang dengan tawaran itu. Tapi pamannya berkeras pulang. Pamannya juga menepis alasan bahwa jalan tak aman. Mereka berdua pulang. Tak ada cara bagi Wasripin untuk mengantar.

Betul, di jalanan yang sepi tiga orang GPL menghadang. Mereka menutup jalan. Satinah melambatkan motor, mau berbalik.

“Apa yang terjadi?”

“Waduh, Pak Lik. Ada GPL.” Satinah membelokkan motor, mau kembali.

“Jangan, terus saja.”

“Terus bagaimana, mereka menutup jalan.”

“Ya, kalau sudah dekat saja nanti diurus.”

“Berhenti!” Salah satu mereka membentak.

Satinah berhenti, mesin tetap hidup.

“Pembonceng turun!”

Mereka maju, mau menangkap Satinah, dan melempar pamannya.

“Berhenti di situ!”

Di luar dugaan tiga orang GPL berhenti, tidak bisa bergerak.

“Kakiku, kenapa!”

“Seperti melekat!”

“Terjerat di tanah. Tak bisa digerakkan!”

“Terus saja,” kata Paman pada Satinah.

“Kasihan mereka! Suruh saja lari.”

“Mereka yang tidak kasihan dengan dirinya sendiri, tak berhak dikasihani. Nanti tentara atau polisi datang menjemput.”

Satinah dan pamannya meneruskan perjalanan. Malam hujan turun. Para GPL basah kuyup, kedinginan. Patroli gabungan tentara dan polisi datang mengangkut mereka dengan Colt terbuka.

2

RUPANYA ada orang mengetahui tentang tiga orang GPL yang termangu-mangu di jalanan. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut dan semakin serem saja. Dikabarkan, ada serombongan GPL yang dibekuk jagoan seorang diri dan dibawa ke kantor polisi. Tidak seorang pun tahu siapa jagoan itu. Kabar itu ditularkan menurut selera penyampai. “Tentara dan polisi tak becus!” “Masyarakat lebih unggul!” “Hidup rakyat!” Berita-berita miring tentang aparat itu sampai juga ke telinga pemerintah. Mereka berdalih punya banyak keterbatasan: dana, personel, peralatan, dan banyaknya masalah yang harus diselesaikan. Dan, operasi makin lama makin kendor.

Meskipun aparat sudah jauh lebih melunak, tidak ada Petrus, tidak ada aparat yang menyamar, tidak ada aparat yang bersembunyi di tempat gelap, toh, kebijakan itu mendapat protes juga. Sebuah asosiasi pramuria alias pengusaha bordil alias para mucikari yang kabarnya punya backing orang dalam melayangkan surat protes. Banyak pelanggan yang dibawa ke kantor Kodim ketika tempat-tempat hiburan itu digrebek. Tempat hiburan jadi sepi pengunjung. Pendapatan menurun drastis.

Surat protes itu dimulai dengan dukungan kepada Pancasila, UUD ’45, dan kepemimpinan Presiden Sadarto. Kemudian dilanjutkan dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa mereka memberikan layanan pada masyarakat, hiburan gratis pada pejabat, dan menyumbang pendapatan daerah. Kemudian mereka memprotes sekeras-kerasnya tindakan aparat yang sangat merugikan, dan mendesak supaya operasi GPL dihapuskan.

Beberapa hari kemudian memang operasi dihentikan. Aparat mengaku telah berhasil membekuk tiga orang GPL di jalanan pada waktu hujan. Dari GPL yang ditangkap operasi gabungan itu, aparat berhasil mengembangkan perkara sehingga mereka sudah tahu semua perbuatannya, siapa-siapa anggotanya, dan siapa pemimpinnya.

Orang-orang GPL ditangkap, yang lainnya kabur. Tidak ada yang mengaku siapa pimpinan, aparat menanyakan tentang siapa orang paling mereka hormati. Anehnya, Wasripin kebanyakan mereka sebut yang pertama. Tokoh kedua yang mereka sebut ialah Ketua Partai Randu di perkampungan nelayan.

Mengenai pimpinan GPL ada kontroversi di kalangan pejabat. Ketua Partai Randu jelas tidak mungkin. Bupati atas pertimbangan Badan Pengawas Agama percaya bahwa Wasripin adalah pemimpin GPL. Tentara kabupaten berdasar keterangan mantan Danramil setempat memuji-mujinya sebagai tidak berpendidikan tetapi cerdas, rendah hati, tidak berpolitik, sederhana, tidak punya rumah. Kapolres dan Pengadilan Negeri menyatakan bahwa ia bersih, tidak tersangkut kriminalitas dan berkelakuan baik. Namun, segalanya tergantung keputusan instansi yang lebih tinggi.

Keputusan Laksusda menjadi penting, sebab jangan-jangan hal itu sebuah subversi. Pak Modin mendapat bocoran soal kontroversi itu. Dia menelepon Pati berbintang satu di Laksusda. Desas-desus mengenai peranan Wasripin itu pun segera mereda. GPL terus diburu, ada yang dihukum berat dianggap makar, 20 tahun, 15 tahun, 8 tahun, dan ada pula yang dibebaskan setelah melalui pembinaan. Mereka yang dibebaskan ialah yang dibawah umur, hanya ikut-ikutan, dan yang sekedar disangkut-sangkutkan. Hanya nama Wasripin yang masih merupakan ganjalan bagi pemerintah kabupaten.

3

RAMALAN paman Satinah tentang fitnah untuk Wasripin ternyata benar. Mula-mula mandor tebu berlari-lari ke desa malam hari. Sambil napasnya turun-naik ia bilang pada orang-orang di pos jaga, “Ada mayat membusuk!” Kemudian orang-orang desa mendatangi kebun tebu dengan baterei, teplok, petromak, dan obor. Sambil menutupi hidung mereka merubung mayat. Mayat

itu sukar dikenali, bajunya penuh darah mengering, luka sekujur tubuh. Mayat segera dibawa ke rumah sakit oleh polisi. “Dukun santet!” kata seorang. “Ya, sudah pasti! Aku kenal betul,” kata yang lain. Dukun itu bisa membuat orang busung perutnya, kemasukan paku pahanya, gatal-gatal kulitnya, mati pelan-pelan, dan mati seketika. Ketika orang-orang desa sudah yakin, mereka justeru senang. Ia merupakan aib desa. “Sokur!” kata mereka. “Modar! Itu saja belum setimpal. Seharusnya mayatnya dicacah-cacah,” kata seorang yang ayahnya mati kena santet. Mayat sudah dibawa pergi. Waktu dia masih hidup, mereka tidak bisa menghukumnya, tidak ada bukti. Polisi segera bertindak untuk mencari pembunuhnya. Tapi polisi tidak menemukan jejak apa pun. Kepada para wartawan yang datang polisi menyatakan, “Tunggu hasil autopsi.” Autopsi hanya menemukan mengapa ia meninggal, dengan apa ia dibunuh, ancar-ancar waktu pembunuhan, dan kira-kira berapa orang membunuhnya.

Di dua desa lain ada kejadian serupa. Seorang dukun penyembuh kedapatan mati di luar rumah. Nampaknya ia diseret keluar lalu dibunuh. Mayatnya dibawa ke rumah sakit. Kematiannya banyak diratapi orang. “Pembunuh ngawur!” kat orang desa itu. Polisi berusaha mengungkap peristiwa itu, tapi juga tak menemukan apa pun. Ada lagi kejadian. Seorang dukun pengasihan ditemukan mati di luar rumah. Padahal, dukun pengasihan itu orang baik: merukunkan suami-isteri yang hampir bercerai, memberi jodoh perawan dan jejaka tua, dan memberi kesempatan para isteri punya anak sebab para suami menjadi rajin. Dia akan menolak kalau ada orang tua minta pengasihan karena mencintai gadis muda. Seperti kasus pembunuhan lainnya mayatnya juga dibawa ke rumah sakit. Tapi juga sama saja dengan dua desa lainnya, hasil penyelidikan polisi nol besar. Penduduk jadi ragu-ragu akan kemampuan polisi. “Polisi? Ah!” “Polisi? Sontoloyo!”

Pemerintah Kabupaten mengkhawatirkan terjadinya anarki. Jangan-jangan penduduk yang tak puas mencari sendiri para pembunuh. Lalu beramai-ramai menghakimi. Mereka minta para ulama untuk menenangkan rakyat melalui khotbah, pengajian, dan ceramah. Pemerintah yakin benar, cepat atau lambat pembunuh akan tertangkap. Polisi menyatakan bahwa pelakunya tidak hanya seorang, tapi orang banyak. “Percayalah pemerintah!” “Percayalah polisi!” kata selebaran resmi di jalan-jalan, di pasar-pasar, di warung-warung, di tempat-tempat ramai.

Koran daerah membesar-besarkan berita pembunuhan itu. Mereka sudah menduga pemerintah akan mencari kambing hitam. Sebuah editorial menulis, “Menerima lamaran, calon kambing hitam.” Benar saja. Setelah polisi reserse mengotak-atik mereka menemukan sebuah nama, Wasripin yang dikenal sebagai dukun penyembuh di kampungnya. Dugaan itu bukan tak beralasan: dukun santet dibunuh karena memang musuh bebuyutan, dukun penyembuh dibunuh karena persaingan bisnis, dukun pengasihan dibunuh atas suruhan orang. Klop, sudah!

Kepala Polisi Kabupaten itu geleng-geleng kepala, “Dia lagi!”. Ia segera memerintahkan polisi untuk memanggil Wasripin. Kepala Polisi sendiri yang menginterogasinya. Menurut penglihatannya Wasripin tidak punya wajah

kriminal. Tapi orang sering nyolong pethek, penampilan dan kelakuan tidak sama.

“Namamu?”

“Wasripin.”

“Bin, siapa?”

“Tidak tahu, Pak.”

“Masak ada orang tidak tahu ayahnyaj.”

“Sumpah, Pak!”

“Ya sudah. Pekerjaan?”

“Satpam TPI.”

“Pekerjaan sampingan?”

“Tidak ada.”

“Bohong! Dukun penyembuh?”

“Itu bukan pekerjaan.”

“Bukan bagaimana?”

“Ya, begitu saja. Menolong ya menolong. Begitu pesan orang tua itu.”

“Punya orangtua to, namanya?”

“Tidak tahu.”

“Alamatnya?”

“Tidak tahu.”

“Nanti dulu. Kau tidak memungut bayaran?”

“Tidak, Pak. Kata Pak Modin hidup ini hanya untuk mencari ridha Tuhan.”

“Tapi ya itu, Pak. Jadi dukun itu banyak senangnya. Kalau sedang musim rambutan ya rambutan datang sendiri, kalau musim durian ya durian datang sendiri, kalau musim mangga ya mangga datang sendiri, tidak tahu siapa yang memberi. Kawan-kawan yang ikut senang, kalau ada orang mengirim apa-apa.”

“Jadi kau senang, kalau ada pasien sakit kanker payudara, kesempatan meremas-remas. Lebih lagi kalau kanker rahim, ya?”

“Ya tidak, to Pak. Karena saya mengharuskan pasien wanita ditemani suami. Dan memijatnya dari jauh, kata orang tangan saya mengeluarkan tenaga.”

Kepala Polisi menulis di formulir, “Sudah. Kau boleh pulang. Ini surat-suratnya, barangkali kau perlu.”

Wasripin kembali, diiringi wajah-wajah bertanya para serse. Bahwa Kepala Polisi membebaskan segera menyebar di kalangan pemerintah, dewan, tentara, dan pengadilan. Mereka menyesalkan polisi yang terlalu lunak. Kepala Polisi diundang Dewan Perwakilan untuk dengar pendapat.

“Pembunuhnya sudah tertangkap. Mengapa dilepaskan?”

“Polisi memakai asas ‘Praduga Tak Bersalah’.”

“Sudah dipikirkan akibatnya?”

“Kami sudah menduga. Pembunuh semakin berani.”

“Anarki?”

“Tidak akan terjadi.”

“Polisi percaya rakyat.”

“Rakyat tidak percaya polisi?”

“Rakyat akan percaya. Lebih baik membebaskan orang yang tak bersalah daripada salah tangkap.”

Dewan mengusulkan Kepala Polisi dimutasikan. Beberapa hari kemudian memang dia dipindahkantugaskan. Kasus pembunuhan itu dinyatakan sebagai dark number oleh pengadilan, artinya tidak pernah diurus lagi.

4

ANTARPEMUDA di desa nelayan kita dengan desa sebelahnya saling menyatroni. Kejadiannya semula sederhana saja. Hari sudah mulai gelap, tidak ada andong, tidak ada colt, tidak ada ojek. Seorang gadis dari desa lain minta diantar pulang oleh pemuda dari desa nelayan yang kebetulan lewat dengan sepeda motor.

“Sampai pinggir desa saja, ya?”

“Sampai rumah, dong!”

“Nanti pacarmu marah.”

“Pacar apaan. Saya belum punya pacar, kok.”

“Ya sudah, kalau begitu.”

Tapi para pemuda desa yang setiap sore suka ngrumpi di pertigaan jalan desa melihatnya, dan jadi penasaran. Pemuda nelayan itu dihentikan, dihujani pukulan sampai babak belur, dan motornya ringsek. Rengekan gadis untuk menghentikan pukulan tidak digubris.

Sebelum pulang ke rumah, pemuda nelayan itu mampir ke tampat Wasripin. Tulang-tulangnya seperti patah-patah, kepalanya benjol-benjol, seluruh badannya lebam. Ia lari, tapi kakinya yang pincang menghambatnya. Napasnya keras. Pemuda-pemuda surau tahu ia ke samping surau. Mereka mengikutinya. Wasripin memijit-mijit dan disuruhnya minum air putih. Setelah selesai, tanya teman-temannya,

“Kau kok ngos-ngosan. Apa yang terjadi?”

“Jatuh dari sepeda motor.”

“Tidak mungkin. Jatuh tidak babak belur seperti itu.”

“Sungguh, kok.”

“Berkelahi ya?”

“Tidak, mana aku punya potongan.”

“Jujur saja.”

“Suruh jujur apalagi?”

“Mana sepeda motormu?”

“Apa sepeda motor dibawa ke mana-mana?”

Mereka lalu bubar. Semuanya berakhir di situ, kalau tidak pagi-pagi sekali seorang pekerja bengkel sepeda motor datang menggotong sepeda yang ringsek. Ia berhenti di surau.

Katanya, “Aku tahu ini pasti milik orang sini. Sepeda motor ini bengkelnya di tempat saya bekerja.” Para pemuda mengamati. “Di mana ditemukan?” Ia menyebut nama desa. “Kata orang, orang yang membawa motor ini habis-habisan dihajar pemuda desa.”

“Jelas sekarang!”

“Siaaap!”

Pemuda-pemuda lalu berkumpul di depan surau. Puluhan pemuda itu pergi berboncengan sepeda motor. Mereka berpapasan dengan gadis yang minta dibonceng kemarin. Dia datang ke desa itu untuk minta maaf kejadian semalam. Gadis itu merasa akan terjadi sesuatu, lalu kembali ke desanya. Pemuda yang marah itu menangkap seseorang yang akan ke sawah, lalu memukulnya. “Pergi, bilang pemuda-pemuda sini kalau kami menanti di perempatan!” Gadis datang dan mengatakan kalau dia yang bersalah, tidak ada tanggapan. Pemuda-pemuda nelayan itu membunyikan knalpot dan klakson keras-keras. Tidak seorang pemuda pun keluar. Berulang-ulang mereka meneriakkan tantangan. Tidak seorang pemuda pun. Aparat desa melarang mereka keluar, sebab mereka tahu apa yang akan terjadi. Tiba-tiba satu truk polisi datang. Melalui megaphone mereka menyuruh pemuda-pemuda nelayan untuk pulang. Pemuda-pemuda di perempatan jalan itu pulang. Mereka berteriak, “Tidak sekarang, ya besok pagi,” “Tidak di sisni, ya di jalan!”

Peristiwa masih berlanjut. Ada pengeroyokan dan perkelahian antarpemuda di mana saja: di jalan, di pasar, di warung. Aparat kedua desa bertemu, mereka sepakat untuk rujuk. Diundanglah wakil-wakil pemuda dari dua desa. Mereka sepakat untuk menghentikan permusuhan. Tapi polisi tidak puas sampai di situ saja. Mereka menyebar intel untuk mencari biak kerok perkelahian itu. Akhirnya nama Wasripin keluar. Sebelum pergi mereka berkumpul di depan surau. Pemuda nelayan yang babak belur akan datang ke Wasripin minta disembuhkan. Kesimpulannya, Wasripin ada di balik para pemuda.

Kepala Polisi Kabupaten menolak untuk menandatangani pemanggilan. Alasannya, reserse telah salah panggil. Ia tidak percaya kerja intel, “Intel Melayu!” katanya. Bahwa Kepala Polisi menolak menandatangani pemanggilan menjadikan bagian reserse resah. Mereka diam-diam merencanakan pemogokan.

5

PEMOGOKAN itu benar-benar terjadi waktu ada tawur antara pendukung Partai Randu dan Partai Langit.

Ketua Partai Randu dan para pimpinan pusat akan datang. Polisi dikerahkan, menjaga titik-titik rawan dua hari sebelum hari-H. Rencana kunjungan itu tersebar luas. Koran-koran daerah dan pusat diramaikan dengan perang pernyataan. Partai Langit menuduh Partai Randu mencuri start, kampanye sebelum waktunya. Partai Randu membantah, katanya itu hanya pertemuan biasa untuk konsolidasi. Partai Langit mengatakan pertemuan biasa itu seharusnya tanpa pidato-pidato di alun-alun kota.

Ceritanya, panggung calon tempat pidato Ketua Partai Randu roboh pagi-pagi, hanya beberapa jam sebelum dipakai. Panitia geger,tidak mungkin lagi membuat panggung. Pimipinan Partai Randu menuduh Partai Langit yang telah berbuat itu. Partai Langit membantah, menyatakan perlunya dibentuk tim pencari fakta independen. Polisi menyatakan ada pihak ketiga sengaja

memperkeruh situasi. Kepala Polisi berjanji akan mencari pihak ketiga itu, artinya ekstrem kiri (PKI), ekstrem kanan (DI/TII), dan Golput. Rapat di alun-alun dibatalkan, jadi hanya ada rapat tertutup.

Sementara itu, penduduk di sekitar kantor-kantor partai membuat ulah. Jalan-jalan menuju kantor partai lawan penuh rintangan: drum-drum, kayu, ban bekas, dan dijaga Satgas masing-masing. Mereka yang mau masuk ke suatu wilayah harus menunjukkan kartu identitas, menemui siapa, dan maksud kedatangannya. Suasana seperti perang. Pedagang, tukang becak, sopir-sopir, anak sekolah, guru, pegawai, penunggu toko, semuanya mengeluh. Di depan kantor Walikota ada unjuk rasa spontan. Mereka minta pemerintah bertindak tegas terhadap para Satgas yang memblokir jalan. Polisi bertindak, tapi mereka kalah berdebat dengan Satgas.

“Bubar! Bubar!”

“Jalan ini, jalan rakyat! Polisi jangan memihak!”

“Karena itu jangan halangi rakyat yang mau lewat!”

“Kami juga rakyat, Pak!”

Baru ketika tentara ikut operasi pembersihan barikade, Satgas bubar.

Pimpinan Pusat Partai Randu menyesalkan peristiwa itu. Surat protes ditujukan pada Walikota, Dewan Perwakilan, dan Kepala Polisi. Janji Kepala Polisi untuk mencari pihak ketiga ditagih. Kepala Polisi memerintahkan bagian serse untuk mencarinya. Mereka bekerja dengan ogah-ogahan dengan prinsip nggih ora kepanggih (disanggupi tapi tidak dilaksanakan sungguhan). Mereka menangkap pedagang yang akan ke pasar, sopir truk, dan tukang becak lalu diserahkan Kepala Polisi untuk interogasi.

Kepala Polisi marah-marah. Katanya, bagian serse kerja sembarangan, salah-salah menangkap. Lalu memanggil kepala bagian serse.

“Disuruh menangkap siapa lagi?”

“Pihak ketiga itu.”

“Nanti dibebaskan lagi.”

“Asal tidak salah tangkap saja. Kerjakan!”

“Siap, Pak. Kerjakan!”

Mereka sudah tahu orangnya. Mereka berangkat untuk menangkap Wasripin yang dipersangkakan Golput. Dia sedang istirahat di emper surau, omong-omong bersama kawan-kawannya, para nelayan yang tak melaut. Polisi datang dengan sebuah mobil sedan.

“Minggir semua, kecuali Wasripin!”

Orang-orang minggir.

“Kau ikut kami ke markas!” kata mereka pada Wasripin.

Seorang nelayan yang baru saja mengikuti kursus kesadaran hukum (Kadarkum) maju.

“Ada perintah?”

“Ada atau tidak, ini perintah!”

“Nanti dulu, Bapak-bapak. Warga negara tak bisa ditangkap begitu saja. Mana surat perintahnya?”

“Tidak ada. Pokoknya ikut kami!”

“Tidak bisa!”

“Ikut!”

“Tidak!”

Wasripin menengahi.

“Begini saja. Biarlah saya ikut, tapi kawan-kawan ini juga.”

Para polisi berunding.

“Ya, sudah.”

Wasripin dan kawan-kawannya yang berboncengan sepeda motor tiba di kantor polisi. Kepala Polisi melihat wajah Wasripin dan para nelayan yang memenuhi minibis terbuka itu. Mukanya merah. Menutup telinga.

“Sudah, sudah! Bawa mereka kembali! Aku tak mau dengar alasan!”



0 Response to "Wasripin Dan Satinah I"

Post a Comment