Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Tesa

Tesa

Penulis: Marga T.

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, '2002

TESA

oleh Marga T. GM 401 91.343 C Penerbit PT Gramedia Pustaka U tarn a Jl. Pal mo rah Selatan 24-26, Jakarta 10270 Sampul dikerjakan oleh David Diterbitkan penama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Ulama. anggota IKAPI, Jakarta. Desember 1991

Cetakan kedua: November 1993

Cetakan ketiga: Oktober 1995 Cetakan keempat: Februari 2000

Cetakan kelima: Manet 2002

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT MARGA X

Tesa/MargaT. —Jakarta: Gramedia Pustaka Ulama, J 304 him; 18 cm ISBN 979 - 511 -343 - 7 1 Fiksi Indonesia .Judul

ini adalah kisah fiktif persamaan nama tokoh, tempat, dan ide hanyalah kebetulan saja

Asrama mahasiswa itu sangat luas, ter-diri lebih dari tiga puluh blok. Masing-masing blok bertingkat lima dan setiap tingkat mempunyai tiga puluh delapan kamar. Tidak mengherankan bila banyak di antara penghuni yang tidak saling ken a I, apalagi orang-orang Ba-rat memang tidak beg itu usil terhadap urusan orang lain.

Tesa sudah hampir setahun di Perth, namun kenalannya boleh dibilang cuma terbatas pada kawan-kawan setingkat yang kerap dijumpainya di da pur. Atina dan Sabita merupakan kawan eratnya, sama-sama dari Jakarta. Pika, toman Sabita, Juga menempati tingkat yang sama, tapi dia sudah hampir tiga tahun di situ, Jadi sudah lebih biasa dengan kehidupan asingnya.

Tesa kerap kali merasa rindu pada rumah, terlebih kalau dia teringat apa yang menyebab-kan dia pergi merantau sejauh itu. Memang/ terhadap orangtuanya dia berdalih tidak lulus Sipenmaru, ya sobaiknya belajar saja ke luar

negeri, toh biayanya tak bed a banyak dengan perguruan tinggi swasta.

Namun kini dia agak menyesal dan kerepot-an sendiri memikirkan biaya. Kidman dari ru-mah terlalu pas-pasan, kalau tak mau dibilang kurang. Dia tak berani menuntut lebih banyak, sebab tahu keadaan orangtuanya yang terus ja-tuh sejak merosotnya harga minyak dan deva-luasi rupiah yang berturutan sedari tahun tujuh puluh delapan. Sebelum mengizinkannya pergi, ibunya sudah bertanya belasan kali apakah dia akan sanggup hidup dengan ongkos sebegitu, dan dia sudah menyanggupi. Pokoknya waktu itu dia sudah bertekad: lebih baik mati kelapar-an di Iuar negeri daripada hidup kenyang di depan hi dung seorang pengkhianat! Dan nama yang punya hidung itu adalah Goffar! Hidung-nya mancung, wajahnya ganteng, namun hati-nya culas.

Pada sebuah pesta, Tesa memperkenalkannya pada Shakira, teman sekelasnya. Tak dinyana, tak disangka, Goffar sampai hati mengecohnya. Shakira terpaksa mesti dinikahinya. Yah! Belum jodoh, bisik hatinya kalau sedang melamun. Tapi kalau sedang nasping, ingin rasanya me-racuni hati yang culas itu. Namun dia selalu merasa ngeri membayangkan sel penjara dan segala momok yang berkeliaran di sana dalam seragam. Akhirnya, seperti biasa cuma air mata yang meleleh turun. Setelah berpikir ribuan kali, dia nekat mau

pergi meninggalkan semua kenangan pahit di belakang. Dia bertekad mau melembari sejarah hidupnya dari mula lagi. Namun kini...!

Kalau dia tidak segera mendapat tambahan uang, dia harus angkat kaki dari sini, mcnyetop kuliah, balik ke rumah Mama, nangis tiap ma-lam memikirkan nasib!

Tesa menghela napas sambil mengaduk sop bening, makan siangnya hari itu. Dia begitu asyik dengan lamunannya, sehingga kedatangan Pika mengejutkannya.

"Hei, aku dengar orang menghela napas. Ka-mukah itu? Wajahmu keruh sekali, ada apa, sih? Urusan si dia?"

"Boro-boro memikirkan orang lain, memikirkan hidup sendiri saja sudah kalang kabut Aku sih enggak mau deh pacaran sebelum sekolah beres. Enggak ada duit, Pik! Apa kata orangtua-ku kalau aku sampai gagal, padahal mereka sudah keluar uang begitu banyak?! Pacaran! Huh!" Sekejap pikirannya yang sedang pusing teringat pada Goffar, dan jengkelnya meletup.

"Heh, kau ini seperti yang pernah patah hati saja! Kelihatannya kamu anti cowok, ya! Kan enggak semuanya jelek, Tes. Coba, misalnya pacarku...!"

Tesa menghela napas. Sungguh Pika ini tak pernah peduli perasaan orang lain. Kalau sudah menduga orang pernah patah hati, ya tak usah dong pamer pacarnya yang nomor wahid itul Kan cuma bikin hati yang patah itu ma kin me-

rana, bukan?! Tapi Tesa sudah tahu sifat Pika. Di mana saja, pada siapa saja, dia selalu ber-usaha membanggakan pacarnya yang tak pernah diperkenalkannya pada siapa pun. Alasan-nya, takut dirampok! Kalau soal begitu sih, kau tak perlu takut padaku, pikir Tesa sinis. Aku ini paling pantang merampok pacar orang, sebab sudah aku rasakan sendiri betapa pahitnya bila pacar kita dirampas teman! Dan, yah! • Itulah sebenamya alasan utama yang membuatnya pergi merantau ke selatan. Sebab Goffar telah dirampas oleh Shakira, teman karibnya di SMA yang kini telah berubah jadi musuhnya.

Tapi bukan itu yang memberati pikiran Tesa sekarang. Dia hampir kehabisan uang! Dan tak fahu mesti minta tolong pada siapa. Tentu saja bukan pada Pika, pikirnya kembali dengan sinis, ketika gadis berambut kribo yang lincah itu terus nyerocos menyebutkan semua atribut yang menjadi kebolehan sang pacar.

Sekadar basa-basi, Tesa menanggapi setengah hati. Pikirannya sendiri bagaikan pusaran air yang berputar-putar pada masalah yang itu-itu juga. Dia kehabisan duit. Kalau tidak bisa men-dapat kerjaan—apa saja—dia terpaksa bilang bye-bye dan mudik!

"...dan hari Minggu nanti dia akan menerima piala juara ten is di kampus! Setelah itu makan siang beramai-ramai, sudah tentu aku diundang juga. Wah, dia dipuji Setinggi langit, Iho, oleh profesornya. Liburan musim panas nanti dia

mau diajak tim uni-nya untuk pertandingan ke Darwin. Hebat, deh! Eh, ngomong-ngomong, masa kau cuma makan sop air doang? Mana kenyang, tun? Mari sini, aku barusan membell

ikan dan chips, enak, deh." sbook by otoy http://ebukita.wordpress.

"Enggak ah, terima kasih. Aku punya telur dadar kok di kamar, sisa kemarin," sahut Tesa yang enggan menerima budi, lalu cepat-cepat berlalu ke kamarnya, sehingga Pika melongo, sebab biasanya mereka selalu makan di dapur sambil ngobrol. Tapi Tesa tidak mau dikasihani orang kalau ketahuan bahwa telurnya sebenar-nya sudah habis tiga hari yang lalu.

Dua minggu kemudian sisa uangnya tinggal dua puluh dolar. Kalau dia hemat sekali itu bisa untuk makan dua minggu. Tapi dia terpaksa jalan kaki ke kuliah. Apa boleh buat. Mungkin sekali-sekali bisa nebeng teman-teman yang punya mobil. Tapi tentunya tak bisa setiap hari.

Dering bel pintu kamar membuatnya gugup. Cepat-cepat dibenahinya dompetnya yang lusuh dan kempes itu, lalu dibukanya pintu.

"Halo, boleh aku masuk?" seru Pika seraya menerobos sebelum diberi izin. Tesa mcnutup pintu lalu menemani Pika yang sudah duduk di dipan. Sebelum dia sempat bertanya apa keper-luannya, gadis itu sudah nyerocos seperti petas-an disundut.

"Bukankah kau tempo hari ingin mencari uang, Tes? Maukah kau merawat orang sakit?"

Tentu saja dia mau. Tapi sakit apa? Kalau perawatannya sulit, pasti dia tak mampu.

"Sakit apa, Pik? Kalau tidak terlalu sulit, boleh saja. Kalau perlu perawatan khusus, mung-kin aku enggak becus."

"Oh, soal itu sih enggak usah khawatir, deh. Be res. Orangnya sebenarnya tidak sakit, a r tiny a enggak diam terus di ranjang. Tapi dia butuh pertolongan, sebab... matanya buta! Kecelakaan dua minggu yang lalu. Dokter bilang, ada ha-rapan dengan operasi dia bisa disembuhkan. Tapi harus menunggu enam bulan lagi. Itu pun cuma sebelah. Yang lain, beberapa bulan kemudian. Jadi kira-kira baru setelah delapan-sembilan bulan dia akan bisa melihat lagi. Dan selama itu, dia perlu pertolongan."

"Pasiennya laki-laki?"

"Ya." om

Tesa men jadi ragu. Sanggupkah dia? Meno-long orang itu ke kamar mandi, masuk ke tem-pat tidur...

"Orangnya masih mud a?"

"Dua tahun lebih tua dari aku." Berarti empat tahun selisihnya dengan dirinya sendiri. Se-muda itu?! Ah, dia tak bisa! Dia bukan perawat, tidak biasa melayani kebutuhan pribadi orang lain, apalagi laki-laki yang hampir sebaya de-ngannya.

"Aku tak bisa. Maaf, deh."

Pika menyebutkan jumlah honor yang lebih dari lumayan untuknya. Tesa berpikir lagi. Pera saannya ehggan, sebab dia pasti akan kikuk dan malu menghadapi pasien seperti itu. Belum lagi kalau orangnya kuat! Bukankah dia sebenarnya tidak sakit?! Berarti jasmaninya sehat! Berarti...! Ah, kau sombong, tuduh pikirannya yang cuma memikirkan soal uang. Kau lebih suka mati ke-laparan daripada merendahkan diri sedikit men-jadi pelayan orang lain.

"Aku sungguh tak mampu, Pik."

"Memangnya kenapa?"

"Ya, pikir saja olehmu. Kalau dia mau ke kamar mandi atau ke WC! Gimana aku harus menolongnya? Apakah aku harus memandikan-

nya? Gimana kalau dia mencoba memperkosa

aku?"

Pika meledak ketawanya. "Mengenai. itu se* mua kau tak perlu khawatir, Tes. Waktu di rumah sakit dia sudah melatih dirinya ke kamar mandi dan WC sendiri. Dia mempunyai kursi roda yang bisa dijalankannya dengan mudah. Tapi dia perlu bantuan kalau mau pergi keluar, misalnya ke kuliah. Harus ada orang yang akan memperingatkannya bila ada bahaya di jalan. Dia juga perlu bantuan di dapur atau dalam mencari bab-bab di textbook. Tugas-tugas seperti itulah! Enggak susah, kan? Tapi ada syaratnya."

<"Apa?"

"Pertama, kau tak boleh memakai namamu kalau bekerja di sana. Kau harus mengaku ber-

sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

nama... Ina misalnya, atau Selina. Kedua, kau tak boleh mengatakan peri ha 1 dirimu pada pa-

sien itu, seperti alamatmu di sini maupun di Jakarta, apa kuliahmu, dan lain-lain. Pendeknya kau tak boleh menjadi intim dengannya. Dan begitu dia berhasil dengan operasinya, kau harus berhenti, tak boleh sekali-kali memperkenal-kan did padanya! Setuju?"

Tesa bukan menjawab, tapi malahan bertanya lagi, "Siapakah pasien itu sebenarnya?" Dia me-rasa agak mendongkol diberi syarat-syarat seru-mit itu. Aneh sekali, pikirnya.

"Namanya Pasha. Calon tunanganku!" Hm. Kini Tesa mengerti dan malahan bisa merasa simpati terhadap kecemasan serta ke-khawatiran temannya. Dia juga takkan mau calon tunangannya direbut orang... seandainya dia punya calon!

"Tapi, kalau kau begitu cemas dia nanti direbut olehku, kenapa enggak kaurawat dia sendiri saja? Dengan begitu, kau juga bisa meng-hemat, bukan?"

Pika menghela napas. "Seharusnya memang begitu. Tapi masalahnya, aku ini enggak sabar-an. Dalam seminggu saja aku sudah naik darah entah berapa kali melihat dia berbuat kesalahan. Atau kalau dia kehilangan semangat dan tak mau lagi mencoba. Dia sangat tertekan karena musibah itu dan gampang marah-marah karena alasan sekecil apa pun. Selain itu, aku enggak unya waktu. Aku harus mengikuti kuliah full-

time Aku juga harus pergi berenang, labhan senam, dan lain-lain. Pendeknya, aku tidak sem-„at mendampinginya terus-menerus Nah, aku beri kau waktu sampai besok untuk memper-timbangkannya^Aku jamin, deh, dia takkan memperkosamu!"

Bab 2

Tentu saja tidak, pikir Tesa ketika melihat pa-siennya. Pasha cuma punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri serta menangisi nasibnya. Mana dia sadar ada perempuan di dekatnya yang dengan mudah bisa dibekuknya. Dia cuma duduk saja di depan jendela dalam kamarnya di tingkat dua, dan sama sekali tidak mempeduli-kan kehadiran Tesa.

Pasha Solem bertubuh tinggi dan tegap. Wa-jahnya yang tampan dihiasi batang hidung yang kuat, rahang yang tegar, dan bibir yang selalu terkatup rapat. Alisnya yang tebal berwarna hi-tam menaungi matanya yang tak kelihatan, sebab ditutupi kacamata hitam. Lucu juga melihat orang memakai gelas berwarna pekat itu dalam ruangan yang tidak kemasukan cahaya mata-hari. Tapi barangkali itu perintah dokter? Tesa berniat menanyakannya suatu ketika.

Sifat Pasha yang cepat marah segera ketahuan waktu siangnya Tesa menyuruhnya minum obat.

"Pak Solem, Anda harus minum..."

Tapi gelegar suaranya memotong perintah Tesa. "Berapa kali harus kukatakan bahwa aku tak mau dipanggil Pak? Panggil aku Pasha saja, atau menggelindinglah kau dari sini! Enyah Sana!"

Tesa menggigil. "Ma... af... Ppp... eh, Pa... sha. Anda sekarang harus..."

"Jangan pakai Anda! Kau! Kau, kau, kau! Mengerti?"

Tesa terdiam kaget, tak mampu bersuara.

"Mengertiii?!" gelegar Pasha Solem membuat perabot dan dinding nyaris bergetar bagaikan dilanda gempa.

"Mengerti, Pa... sha."

"Nah, aku harus minum apa?" Suaranya lebih kalem.

"Kau harus minum obatmu. Mari aku bantu."

"Tak usah!" Pasha mengibaskan lengan meng-halaunya pergi. "Apakah obat itu bisa menyem-buhkan mataku?"

"Aku... tak tahu."

"Nah, kalau tak bisa, percuma aku telan. Bu-ang saja!" Lalu dia menghela napas dan kembali menatap ke luar jendela.

Tesa mendekati kemudian menyentuh lengan-nya dengan hati-hati, khawatir kena pukul lagi. "Obat ini pasti ada gunanya, sebab diberikan oleh dokter yang merawatmu. Ayo, mari di-telan." Huh! Seperti membujuk anak kecil saja, keluhnya.

"Ada gunanya? Hm! Aku sudah menelannya

sbook by otoy http://ebukita.wordpress.puluhan butir, tapi kok mataku masih begini-begini juga? Tidak! Buang saja ke tong sampah. Jangan suruh aku menelannya!"

"Pasha, kau harus sabar. Matamu pasti akan pulih kembali," bujuk Tesa sambil menyentuh lengannya sekali lagi.

"Huh! Sabar! Sabar! Gampang saja kaubilang begitu, sebab kau sendiri bisa melihat dengan kedua matamu! Coba seandainya kau yang di tempatku, belum tentu kau tidak akan melolong-lolong, bukan?"

Tesa terdiam, tak bisa membantah.

"Ya, bukan?" desak Pasha dengan nada meng-ejek. "Kok tidak berani menjawab? Ayo katakan, ya tidak?"

"Mungkin... ya," sahut Tesa pelan.

"Hm. Kau tak tahu betapa sengsaranya mesti tergantung pada orang lain seperti ini! Kau tak tahu betapa tidak sabarnya aku harus terikat di kursi begini! Aku tak pernah menghargai kedua mataku selama ini. Aku menerima mereka begitu saja. Telingaku, hidungku, mulutku, tangan-ku, kakiku, jantungku, hatiku, seluruh tubuhku! Aku menerimanya begitu saja, tanpa syukur se-dikit pun pada Tuhan Yang Mahakuasa. Kini setelah aku kehilangan penglihatanku, barulah aku sadari betapa bahagianya aku sebelum ini! Tapi sekarang segalanya sudah terlambat, Selina! Terlambat!"

Dan Tesa memperhatikan dengan rasa haru serta kaget ketika laki-laki gagah itu menunduk

menangis, menutupi wajah dengan kedua ngan. Tesa tertegun tak bisa berbuat apa pun. Akhirnya dikumpulkannya keberaniannya dan

ditariknya kedua tangan Pasha dari wajahnya. Lalu dibukanya kacamata yang basah itu dan dibersihkannya dengan saputangan Pasha yang tergeletak di atas meja.

"Ini saputanganmu, sekalah mukamu. Kemu-dian kita akan minum obat itu."

Mendadak Pasha ketawa, sehingga Tesa mun-dur ketakutan. Barusan menangis, air mata pun belum lagi kering di muka, kok sekarang malah ketawa?! Sudah gilakah pasiennya ini?!

Tapi dia segera mengerti dan bahkan ikut ketawa ketika Pasha berkata, "Betulkah kau akan ikut aku menelan obat itu? Kaubilang tadi 'kita'..."

"Oh, maksudku..." Tesa tersipu ditatap oleh pasiennya, seketika itu terlupa bahwa dia tak bisa melihat.

"Ha... ha... ha..."sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Ah, kau jahat! Maksudku, kau yang minum, aku cuma membantu memberikan pil serta air..." Tiba-tiba Tesa tertegun, sehingga gelas di tangannya tidak jadi diulurkannya kepada Pasha.

"Eh, kenapa kau jadi diam? Ada apa?"

"Oh, eh... tak ada apa-apa. Mari, aku bersih-kan dulu wajahmu."

Diambilnya saputangan yang dipegang oleh Pasha, lalu dikeringkannya mata serta pipinya.

Dia melap dengan amat hati-hati seakan khawatir mata itu akan remuk kena sentuhan. Pasha .1 diam saja membiarkannya. Sebenarnya dia sudah setengah mabuk menghirup bau harum tubuh Tesa. Entah apa parfum dan sabunnya, pikirnya sesaat.

Ketika Pasha meminta kacamatanya kembali, Tesa menoiak dengan halus. "Apakah gelas-gelas ini disuruh pakai oleh dokter?"

"Ya, kalau ada sinar matahari. Mataku belum boleh dirangsang terlalu kuat".

"Tapi di sini cukup gelap. Sama sekali tak ada cahaya. Lampu juga dipadamkan. Lebih baik tak usah kaupakai ini. Tahukah kau, matamu indah sekali!"

"Jangan mengejek! Mataku buta! Mana mung-kin bisa bagus!"

"Aku enggak bohong, lho. Matamu sama sekali tidak kelihatan berbeda dengan mata biasa. Tetap bercahaya dan bagus sekali. Aku rasa kerusakannya pasti terletak di bagian dalam, sehingga tidak tampak dari luar. Betulkah?"

"Ya. Dokter bilang, saraf dan retina, dan entah apa lagi, pokoknya, memang di sebelah dalam."

"Nah, ngomong-ngomong, kau tak boleh lupa obatmu, dong!"

"Hm. Kau menghibur aku supaya hatiku se-nang, ya, dan gampang dibujuk makan obat!" t sembur Pasha dengan nada kurang senang.

"Oh, sama sekali bukan begitu!" bantah Tesa.

"Obat ini kan demi kepentinganmu sendiri untuk..."

"Ah! Jangan sok mengajari! Aku kan mahasis-

wa FK! Pasti lebih tahu dari kau!"sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Tiba-tiba hatinya merasa jengkel. Buat apa sih meladeni pasien kayak gini, lebih baik dia ber-henti saja!

"Baiklah kalau kau tak mau menelan obat ini, bagiku tak ada persoalan. Tapi aku tak mau ditegur oleh Pika. Karena itu, aku rasa sebaik-nya aku berlalu saja! Selamat siang, Pasha!"

"Eh, eh, eh, kau mau ke mana?" seru Pasha dengan nada sedikit panik ketika mendengar langkah Tesa menjauhinya.

"Aku mau pulang dan tidak kembali lagi!" cetusnya kesal.

"Ah, ah, ah, rupanya kau juga suka ngambek seperti aku, ya! Ha, ha, ha! Sama-sama, nih! Ayo, jangan marah, dong, Selina. Coba bujuk aku sekali lagi, pasti aku akan menurut. Meski-pun racun, asal kaubilang harus kutelan, akan kutelan! Ayo, mana obatnya?! Entah apa kha-siatnya, sih, sampai mesti dimakan terus tiap hari?"

Tesa tersenyum sendiri, lalu berjalan balik ke jendela. Diraihnya pil serta gelas dari meja dan disorongkannya.

"Kalau kau mau, aku bisa menelepon dokter-mu untuk menanyakan. Tapi menurut dugaan-ku, mungkin obat itu untuk melancarkan. per-edaran darah di tempat yang luka supaya cepat

21

sbook by otoy http://ebukita.wordpress.sembuh. Dan kapsul ini untuk menghaiau infek-•L*

"Ya, ya, ya, aku rasa juga begitu." Dan seperti anak kecil yang patuh. Pasha meneian semua obat

"Nah, aku sudah jadi anak baik. Kau takkan meninggalkan aku lagi, kan?" Pasha ketawa petal. Rupanya hatinya sedang riang. Tapi bebe-rapa waktu kemudian ketika Tesa mengusulkan untuk membacakannya sesuatu, dia kembali meradang.

"Aku bukan anak kecil!" teriaknya. "Enyah kau dari hadapanku!"

Tesa beriaiu ke dapur dan duduk di sana sambil memperhatikan lalu lintas di bawah. Kemudian didengarnya lonceng berdentang tiga kali. Dia bangkit untuk membuat kopi dan me-nyiapkan makanan kecil.

Dari ruang depan tidak kedengaran bunyi apa pun. Berjingkat-jingkat dia mengintip. Ter-nyata Pasha tengah tidur di kursi rodanya. Ke-palanya terkulai ke dada. Tesa mengambilkan-nya selimut dan menutupi sebagian tubuhnya tanpa membangunkannya. Lalu dia kembali ke dapur.

Wangi kue dadar rupanya membangunkan-Pasha. Pika telah memberikan resep kue itu padanya. "ini makanan kebesaran Pasha. Biar tiap hari kau bikin pun dia takkan bosan. Jadi gam pang, seandainya kau tidak mau keluar membeli kue!" kata Pika.

Pasha mendengus-dengus sebelum dia yakin

bahwa itu bukan da tang dari a parti" men di atas-nya.

"Selina!" teriaknya memanggil. "Kau sedang bikin apa?" Lalu tiba-tiba teraba olehnya selimut yang menutupi kakinya. Hm. Dia ingal, tadi dia tidak pakai selimut. Jadi Selina...

"Oh, kau sudah bangun?" sapa Tesa yang muncul tergopoh-gopoh. "Aku sedang membuat kue dadar. Tapi enggak tahu nih jadi atau enggak, sebab aku belum pernah membuatnya."

"Tentu saja! Gadis ma cam kau mana suka ke dapur, bukan? Ha, ha, ha!"

"Ah, kau membuat aku jadi malu!" kata Tesa merajuk, lalu cepat memperingatkan dirinya siapa dia. Kau tak boleh bermanja-manja padanya, katanya dalam hati. Dia kan cuma pasienmu dan pacar orang lain!'

"Sabar, deh. Semenit lagi pasti sudah ma-tang!" Lalu dia bergegas kembali ke dapur, sebelum Pasha mendengar degup jantungnya.

Sore pertama itu mereka makan kue dadar berdua. Enak juga, walaupun sebagian keburu hangus sebelum diangkat Yang hang us tentu saja di makan semua oleh Tesa, sehingga Pasha tidak tahu akan kcgagalannya.

Tak lama setelah itu Pika datang untuk melihat bagaimana keadaan Tesa. Untung masih tersisa kue dua buah.

"Tumben kau sore-sore begini kemari!" tukas Pasha bukan dengan nada kurang scnang. "Mau

ngontrol, ya? Takut Selina sudah di makan ma-can, bukan?!"

"Ah, kau ini ada-ada saja. Aku kebetulan ka-ngen sama kamu, disangka yang enggak-enggak!" sahut Pika cemberut. Aneh bin aiaib, Pasha bisa jinak betul pada betinanya. Berbagai kata manis diobralnya supaya gadisnya jangan sampai ngambek.

Pika akhirnya berkenan ketawa lagi, lalu me-lejit ke dapur di mana Putri Sapu Abu sedang sibuk mencuci perabot bekas bikin kue.

"Bagaimana? Bisa betah?" bisik Pika sambil membantu mengeringkan piring dan gelas.

"Ya, dibetah-betahkan, deh!" bisik Tesa.

"Tadi enggak meledak?"

"Oh, aku sudah hampir lari pulang! Tapi ke-mudian teringat olehku uang yang kuperlukan." Tesa menghela napas. Pika membujuknya.

"Sabar, Sebenarnya dia baik, kok. Cuma ma-sih belum bisa menerima keadaannya ini. Kalau sudah di sini seminggu, kau pasti akan merasa terbiasa."

"Apakah... apakah... matanya takkan... pulih lagi?"

"Ah, entahlah!" Pika menarik napas. "Dokter sih.Wang, ada harapan. Tapi kita baru bisa bergembira setelah semuanya menjadi kenyata-an, bukan? Karena itu dia murung terus. Menurut anggapannya, dokter cuma ingin menghibur dirinya."

••Tadi Pasha mengira, dia takkan pernah SOU buhtmbali?" bisik Tesa menggigil dalam ha* Pika mengangguk. "Begitulah.

Bab 3 sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Demdoanlah hari demi hari Tesa mengunjungi apartemen Pasha dan lama-kelamaan dia ter-biasa mendengar segala macam rajukan serta gelegar suaranya.

Ketika dia sudah hampir sebulan di sana, datang beberapa kawan kuliah Pasha, membu-juknya agar mau mengikuti pelajaran lagi.

"Kami sudah mengatur semuanya, Pas. Bahan-bahan kuliah akan kita rekam dan bisa kauulang-ulang sendiri di rumah."

Sudah berulang kali Pika membujuk Pasha agar mau kuliah lagi. Tapi laki-laki itu menolak dengan alasan percuma, toh dia takkan bisa mengikuti praktikum. "Itu kan bisa disusul bela-kangan," saran Pika. Sebenarnya dia khawatir melihat Pasha termenung terus sepanjang hari.

Bujukan Pika ternyata tidak mempan. Kini/ mendengar usul kawan-kawannya, sejenak dia kelihatan tertarik.

"Tapi dengan apa aku harus ke sana? Aku kan tak bisa membawa mobil lagi!"

Pada saat itu muncul Tesa dari dalam/

sehingga tak ada yang menjawabnya. Mereka serentak keheranan melihatnya, sebab setahu

mereka, gadis Pasha adalah Pika yang dinamis, bukannya gadis molek semampai yang begini lembut.

"Siapa bidadari ini. Pas? Jangan bilang bahwa kau sudah mendapat Pika yang baru!" •

"Ini Selina, kawan Pika. Dia membantu aku mengurus makanan dan... oh, dia pintar sekali memaksa aku agar minum obat! Tapi dia juga pandai membujuk dan menghibur kesusahan hatiku."

"Ha, kalau begitu pantas sekali dia disebut bidadarimu!" seru seseorang yang kacamatanya

tebal sekali.sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Ya," sambut yang lain. "Bidadari Tuan Solem! Bagus kan nama itu, eh, Manis?"

"Ayo, mari sini, Selina, aku ingin menatapmu dari dekat!"

Namun Tesa malah makin tersipu dijadikan pusat perhatian seperti itu. Akhirnya Pasha me-nyuruhnya bikin kopi agar dia bisa berlalu ke dapur.

"Wah! Kau curang!" tuduh yang lain. "Rupanya kau mau mencabut hak-hak asasi kami untuk berkenalan dengannyal Selina, setelah bikin kopi nanti, kau harus menemani kami! Awas kau berani sembunyi di WC!"

Sejak itu Tesa dijuluki Bidadari Tuan Solem oleh kawan-kawan Pasha setiap kali mereka bertandang. Tesa tidak memprotes. Dia juga tak

27

pernah menyanggah setiap perintah Pasha yang dianggapnya sebagai majikannya. Dia merasa lumrah saja sebagai pelayan dia harus menger-jakan semua perintah walau yang secerewet apa pun.

Dan Pasha gemar memerintah, terkadang ma-lah keterlaiuan cerevvetnya. Dia sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati terhadap gadis malang yang terpaksa bekerja melayaninya de-mi menyambung kuliahnya. Tapi bagi Tesa hal itu rupanya tidak jadi soal. Dia memang tidak mengharapkan perhatian dari majikannya. Jus-tru dialah yang dianggapnya perlu melimpah-kan perhatian agar sang majikan lekas pulih tubuh dan jiwanya.

Tesa membujuk Pasha agar mau menuruti saran kawan-kawannya untuk kembali kuliah.' Penyewa apartemen di lantai satu secara ke-betulan mendengar usul itu ketika dia mengun-jungi Pasha pada saat teman-temannya datang. Bob segera mengajukan tawaran untuk mengan-tar Pasha tiap pagi dengan mobilnya sampai kampus. Dari situ dia dapat berkursi roda sampai ruang kuliah, ditemani oleh Tesa.

"Aku harus memikirkannya dengan cermat," sahut Pasha mengelak.

Sebenarnya, dia merasa a mat enggan pergi ke kampus dalam keadaan begini. Biasanya dia kan gagah, senang jadi pusat perhatian gadis-gadis, yakin akan penampilannya sebagai bin-tang lapangan tenis yang selalu berjaya.

sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Masakan kini mesti merangkak di atas kursi roda dipandu oleh bocah ingusan, seperti kakek hampir jompo?! Enggak, ah! Lebih baik diam di rumah dulu sampai operasinya nanti berhasil.

"Tapi seandainya operas! itu tidak berhasil, bagaimana?" tanya Tesa saking jengkelnya melihat kesombongan pria itu. Dan dia segera me-nyesali kelancangannya begitu melihat air muka Pasha yang merah padam.

"Apa kaubilang?!" raungnya. "Kau berani ber-harap bahwa operasiku tidak akan berhasil nanti? Kau mau sok lebih pintar dari dokter atau kau sedang menyumpahi diriku? Siapa sih kau ini?! Kau di sini dibayar untuk melayani aku, bukannya untuk membuka mulutmu yang lan-cang itu! Kalau aku butuh nasihat, aku akan menanyakan pada Pika, enggak perlu kamu! Mengerti?! Pergi! Jangan dekat-dekat aku!"

Tesa menelan air matanya. Tanpa bunyi dia. melangkah ke dapur. Ditutupnya pintu dapur, lalu duduk di meja dan menangis tersedu-sedu. Saat itu terbayang olehnya rumahnya yang sen-tosa, ayah-ibunya yang ramah serta adik-adik-nya yang selalu riang gembira, terlebih Markus, abangnya. Mau lah dia seketika itu juga terbang pulang. Oh, seandainya dia punya sayap! Apa yang dilakukannya di rantau orang begini? Di-maki-maki kayak budak yang hina dina!

Oh, apa sebenarnya yang diharapkannya di sini?! Hanya karena menuruti emosi maka dia. sudah datang kemari! Hanya karena patah hati!

Dan kini...'! Inilah upahnya, kena maki orang! Bahkan ayah serta ibu yang merawatnya sejak bayi tak pernah menghardiknya seperti itu! Apa sih hak si Pasha Solem itu sampai dia berbuat begitu padanya?!

Oh, kalau saja uang itu tidak sangat aku butuhkan, sekarang juga aku akan angkat kaki dari sini! Ya Tuhan, tabahkanlah hatiku!

Tesa begitu asyik terbenam dalam keluh ke-sahnya, sehingga tidak didengarnya pintu dapur terkuak pelan. Roda-roda kursi menggelinding tanpa bunyi di atas lantai linoleum. Ketika le-ngannya disentuh, Tesa mencelat kaget, nyaris berteriak. •Selina..."

Tergopoh-gopoh diusapnya wajahnya dari air mata, Iupa sesaat bahwa Pasha tak bisa melihat-nya. Ditelannya ingusnya, sebab dia tak berani menimbulkan bunyi.

"Kau menangis?"'

Dia menggeleng. Tapi kemudian segera ter-ingat bahwa Pasha tidak bisa melihat gerakan-nya. Sebelum dia sempat membantah, jari-jari Pasha sudah meluncur ke pipinya. Pasha seakan mengerti bahwa dia tadi telah menggeleng.

"Ah, benar. Kau telah menangis. Aku telah menyakiti hatimu, Selina. Maafkan aku, ya."

"Ah, kau tak perlu minta maaf," sahutnya tawar. "Memang seharusnya aku tidak boleh banyak omong. Bukankah aku di sini ini cuma untuk melayanimu?"

art

"Dulu aku enggak sekasar ini. Heran, sekarang aku jadi gampang marah. Mungkin dalam keadaan darurat barulah seseorang itu ketahuan sifat aslinya!" Pasha tersenyum sinis. Dia mena-rik napas. "Barangkali kau takkan tahan terus-menerus menghadapiku begini, seperti Pika. Dia juga sudah tobat. Selina, apakah kau mau ber-henti?"

Ya, aku ingin sekali berhenti! teriaknya dalam hati. Tapi dia tak punya keberanian untuk me-nyuarakan isi hatinya. Jadi Tesa membisu.

"Aku tahu, kau ingin berhenti. Tapi jangan katakan itu sekarang, Sel. Pikirkan dulu baik-baik sehari-dua hari. Aku sudah mulai terbiasa dengan kehadiranmu. Aku akan merasa amat kesepian kalau kau tidak datang lagi ke sini. Tinggal di rantau begini sungguh membuat hatiku merana. Kalau di rumah, pasti ada orang yang akan memanjakan diriku. Ah!"

"Kenapa kau tidak pulang saja kalau begitu?" tanya Tesa sedikit sinis. Dia mulai kurang me-nyukai pemuda ini yang ternyata cuma memikirkan dirinya melulu. Meminta dia jangan berhenti pun, semata-mata demi kebaikan dirinya. Sama sekali tidak dipikirkannya kepentingan Tesa.

"Aku malu, Selina. Apa kata orang melihat aku tak berdaya seperti ini? Ke mana-mana mesti ditolong orang lain. Bahkan ke WC, mi-salnya. Di sini keadaannya lebih gampang. Tapi di rumahku, WC-nya bersatu dengan kamar

mandi, licin setengah mati lantainya, dan mereka tidak memakai kertas. Bagaimana aku harus beranjak dari kursi roda ke atas WC, lalu mem-bersihkan diri? Selain itu, semua gadis cantik pasti akan mengejek diriku! Apalagi yang pernah aku sakiti hatinya, walaupun... tanpa sengaja...."

Hm. Tanpa sengaja?! Pasti pemuda ini tukang ganti-ganti pacar! Banyak sudah hati yang koyak-koyak karena ulahnya. Tesa merasa makin sebal terhadapnya. Yang diingat Pasha cuma tiga hal. Pertama, keagungan dirinya. Kedua, kekerenan dirinya. Ketiga, kegagahan dirinya! Malu, malu, malu!

"Selain itu, Selina, aku masih mengharapkan mukjizat dari operasi yang akan datang...."

Mukjizat?! Huh! Kau sendiri yang menyebut-nya mukjizat! Dan kau pasti tahu, zaman sekarang sudah tak ada mukjizat!

"Selina, kenapa kau diam saja? Seandainya kau bersedia datang terus kemari, aku berjanji akan berusaha lebih mengekang diriku, teruta-ma mulutku. Aku takkan menghardikmu lagi. Bagaimana? Aku juga akan menaikkan gajimu. Dan kelak akan memberimu bonus. Setuju bukan, Sel? Kau takkan meninggalkan aku, kan?"

Tesa merasa muak sekali. Tapi tidak diper-lihatkannya itu dalam suaranya. "Kau tak perlu menaikkan gajiku, Pasha. Juga tak usah khawatir akan kutinggalkan. Aku takkan berhenti, sebab aku amat membutuhkan honor ini. Nah,

sekarang, biarkanlah aku berdiri untuk mem-

buatkan engkau kopi."sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Ya, ya, ya, aku tahu kau sangat memerlukan uangku. Karena itu kau bersedia menemani aku

terus tiap hari. Kau datang bukan karena me-nyukai diriku! Yah!" Suaranya seakan kedengar-an getir, tapi Tesa mana peduli? Menyukai diri-mu?! Bah! Aku lebih suka mencium tikus got daripada menjabat tanganmu!

Hari-hari berlalu dengan kerutinan yang amat menjemukan Tesa. Pasha terus-menerus duduk termangu di depan jendela, berkacamata hitam. Dia tak mau mendengarkan musik, dia tak mau dibacakan buku. Tapi dia tak berarti menolak lagi kalau disuruh makan obat, sebab Tesa pernah mengancam akan berhenti saja dan-mencari kerja yang lain.

Untuk membunuh kesepian serta waktunya sendiri, Tesa membawa bahan bacaan atau jahit-an. Salah satu hobi dan bakatnya adalah membuat pakaian. Teman-teman di asrama segera sibuk memanfaatkan kepandaiannya ini. Upah-nya pun lumayan walau tak ada sepersepuluh honor tukang jahit biasa.

Selama menemani Pasha, tentu saja dia tidak sempat mengikuti kuliah. Terpaksa disalinnya buku teman-temannya yang sama-sama mengikuti pendidikan sekretaris di Prince Edward

College. Pernah dia minta permisi untuk pergi

ke kampus, tapi Pasha tidak mengizinkan.

"Aku membayarmu untuk menemani aku di sini, bukannya untuk kautinggal-tinggal kapan saja kau mau!"

Aduh, pongahnya.' gerutu Tesa, tapi dia tak berani membantah. Ah, seandainya aku bisa

mendapat kerjaan lain, pikirnya berulang-ulang. Kalau sedang di dapur, makan pagi atau malam bersama yang lain-lain, Tesa acap kali menguta-rakan harapannya untuk mencari kerja. Tentu saja bila Pika tidak hadir, supaya jangan disam-paikannya pada pacarnya. Tesa merasa jemu dan bosan mengurus pasien yang satu itu, wa-lau bayarannya masih lumayan.

"Heran! Kau sekarang tak pernah lagi makan siang di dapur. Ke mana saja sih selama ini?" tegur Nopi, mahasiswa serba bisa yang sudah jadi inventaris asrama saking kelewat lama ber-mukim di situ.

"Ah, mau tau aja nih ye!" sambut Atina sam-bil mencolek sambal.

"Memangnya namamu Tesa?" tanya Nopi mangkel.

"Aku barusan enggak dengar kausebut-sebut nama!" balas Atina.

"Lantas, kaupikir jadinya aku sudah gan-drung mau tanya-tanya soal tetek bengekmu?" ejek Nopi mendengus.

"Brengsek kau! Apaku yang bengek, katamu?

Sejak kapan aku punya penyakit itu?" tanya Atina garang. Nopi menggeleng kewalahan. "Syusyah ber-

urusan sama orang yang pernah setrip!"

"Eh, aku dengar apa ya tadi?" tantang Atina

mendekat pada Nopi.sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Yang ditantang terpaksa mengelak sebab ta-ngan Atina bau terasi dan Nopi paling anti sambal terasi.

"Kaubilang aku pernah gila?"

"Enggak! Kuping apa jamur sih itu?! Aku bilang, susah ngomong sama anak manja, seperti kucingnya Mister Neumann yang jatuh cinta sama tikus. Tikusnya ketakutan, enggak mau. Kucing betina itu jadi patah hati, lalu gila. Terpaksa oleh pemiliknya diinternir di rumah sakit jiwa!"

"Kau nyindir siapa?" tegur Atina berang. "Siapa yang jatuh cinta? Siapa yang enggak mau? Mana ada sih rumah sakit jiwa untuk kucing?!!"

"Enggak percaya? Kapan-kapan aku ajak kau ke sana!"

Atina sudah merasa senang kembali, ketika tahu-tahu Nopi menambah, "Kalau langit sudah mau kiamat!"

"Kau! Kau!"

Melihat Atina betul-betul mau memukul Nopi dengan tutup panci, Tesa cepat-cepat mene-ngahi. Dia akan merasa tidak enak sekali kalau sampai ada perang gara-gara dirinya. Apalagi Nopi juga sudah meraba garpu!

"Hei, kalau mau saling bunuh, biar aku pang-gil ambulans dan polisi dulu!" pekiknya dan itu menyadarkan kedua manusia edan itu untuk berhenti berkelahi.

Tesa menjatuhkan diri ke kursi di antara kedua temannya. "Aku sibuk mencari kerjaan!" Dia berdusta, sebab ingat janjinya pada Pika. Tak boleh ada yang tahu bahwa dia bekerja untuk Pasha. Bahkan Sabita, teman karib Pika, tak boleh tahu juga.

"Sudah ketemu?" tanya Nopi.

"Apanya?" Atina masih mau nimbrung, rupanya belum kapok. "Memangnya nyariin pun-tung rokok, pake ketemu segala?!"

"Maksudku, sudah dapat kerjaannya?"

Tesa menggeleng.sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Nopi menatapnya lebih saksama, seakan te-ngah menaksir barang.

"Kasih les bahasa Indonesia mau enggak?"

"Mau!" jawab Tesa segera.

"Aku juga mau!" Atina membeo. ,"Bih, siapa yang nanya kamu! Enggak suka ngaca, nih ye!" ejek Nopi.

"Memangnya aku ken a pa?"

"Laa, tampangmu mau ngajar bahasa? Belon apa-apa juga semuanya sudah pada ngacir keta-kutan! Guru bahasa kan mesti lemah lembut, dan sabar. Dia harus banyak bicara, murid-murid selalu memandangi wajahnya, jadi... mu-kanya enggak boleh mirip tikus kecemplung dalam tepung, dong!"

"Iiih!" seru Atina dengan kesal sambil me-noleh kiri-kanan mencari penggebuk yang lebih ampuh daripada tutup panci. Sayang tak ada. Sementara itu Nopi sudah meneruskan bicara pada Tesa.

"Karena kau sudah setuju, nanti aku antarkan kau padanya. Dia seorang profesor tua, duda, mungkin nyentrik, tapi hatinya baik. Bagaimana kalau besok sore? Ada waktu?"

Sebenarnya Pasha keberatan memberinya izin, sebab tak mau ditinggalkan sendirian. Heran sekali, laki-laki itu tampaknya jadi makin manja dari hari ke hari. Seakan di dunia ini cuma dia seorang yang ditimpa kemalangan. Tak ada sedikit pun usahanya untuk membuat dirinya lebih gembira. Kebalikannya, dia kelihatan tam-bah murung saja.

Tesa dengan tak berdaya sudah berniat me-raih telepon untuk mengabari Nopi bahwa ren-cana mereka terpaksa dibatalkan. Namun un-tung sekali Pika datang berkunjung. Dengan mencolok dikecupnya Pasha di hadapan Tesa, sehingga gadis itu melengos tersipu-sipu.

"Halo, Selina," sapa temannya dengan senyum dibuat-buat. "Kebetulan sore ini aku punya waktu. Kalau kau berniat pergi ke suatu tempat, misalnya belanja, kau boleh pergi."

Pasha kelihatan sudah mau mencegah lagi,

tapi Tesa dengan cepat mengucapkan terima

kasih. "Kebetulan, aku memang ingin mengun-jungi teman. Karena kau akan menemani Pasha, tentunya kini dia tak punya alasan lagi untuk melarangku pergi"

"Kenapa kau melarangnya pergi?" seru Pika seakan memarahi, namun sebenarnya dia cem-buru, menduga bahwa pacarnya sudah tak bisa lepas dari Tesa. "Kau ingin terus-terusan dite-mani Selina, ya!" tuduh Pika membahana.

"Tentu saja tidak!" bantah Pasha bersungut. "Anak itu terlalu banyak mulut. Kapan aku telah melarangnya? Aku tidak terkesan sedikit pun dengannya. Sekarang juga dia minta berhenti, aku luluskan!"

"Pasha! Kau enggak boleh ngomong begitu. Selina bisa tersinggung!"

Tesa mengambil tas dan mantelnya, lalu me-nyelinap keluar tanpa permisi. Hatinya sakit. Ma tanya panas. Setiap saat air matanya meng-ancam akan turun. Dia. tak mengerti kenapa Pasha begitu ketus sifatnya. Bahkan di depan Pika pun dia tak bisa bersikap lebih manis.

Tesa sudah hampir tiba di tempat tunggu bis. Dilihatnya ada tiga nenek sedang duduk di sana. Cepat-cepat disekanya matanya yang sete-ngah basah.

sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Dua hari kemudian Tesa berdiri lagi di depan

Pasha, menyodorkan obat yang mesti ditelan-nya. Setelah meletakkan gelas kembali di meja, Tesa duduk di depan pemuda itu. Sejenak di-awasinya wajahnya. Pasha sebenarnya amat me-narik. Tapi agaknya justru karena ketampanan-nya itu dia menjadi pongah dan membuat banyak orang tidak menyukainya. Namun terka-dang keadaannya menimbulkan iba. Kalau otak-nya sedang di tengah, kelihatan bahwa hatinya sebenarnya cukup baik.

Waktu itu pertengahan Juni. Udara sudah di-ngin, tapi di Australia sebelah barat memang tak pernah turun salju. Angin dingin tiba-tiba berembus keras dari jendela, membuat Tesa menggigil lalu bersin-bersin. Pasha menjalankan kursinya ke pinggir jendela, rupanya hendak menutupnya.

"Ah, biarkan saja terbuka," kata Tesa. "Kau butuh udara segar, sebab seharian berkurung terus di kamar."

"Tapi kau nanti masuk angin. Biarlah tutup saja."

"Jangan. Lebih baik aku pakai jaket dan duduk di dalam. Kalau kurang udara segar, nanti kau gampang sakit."

Pasha menurut. Mereka beralih duduk di meja dapur. Tesa menyetel radio supaya bisa mendengarkan lagu-lagu sambil menyetrika cu-cian, dan Pasha tidak keberatan. Paling sedikit dia tidak melarang.

Mereka saling berhadapan, sebab Tesa me-

nyetrika di meja dapur. Tapi tentu saja Pasha tak dapat melihatnya.

Mereka berdiam diri beberapa saat. Pasha rupanya mulai tertarik pada lagu-lagu yang dide-ngarnya, sebab sesekali dia bersenandung atau ikut mengetuk-ngetukkan jari ke atas meja. Se-mentara itu Tesa teringat surat yang kemarin diterimanya dari rumah. Adiknya, Daniel, ma-suk rumah sakit untuk operasi usus buntu. Syu-kur, berhasil dengan baik. Mungkin sekarang sudah balik ke rumah. Ibunya tidak bilang apa-apa soal biaya, tapi pasti ratusan ribu. Alangkah baiknya kalau dia di sini bisa berhemat! Atau bahkan mencari biaya sendiri. Ibu memang ti-. dak pernah mengatakan bahwa mereka keku-rangan uang, tapi Tesa mengerti, membiayainya ke luar negeri cukup berat bagi orangtuanya. Karena itu tekadnya makin kuat untuk mencari uang. Ah, seandainya pekerjaan yang sekarang bisa ditambah dengan pemberian les pada Pro-fesor Meyer! Tapi dia tahu, dia harus memilih salah satu saja. Pasha pasti takkan mau di-tinggal-tinggal, sehingga dia akhirnya akan terpaksa melepas pekerjaannya. Memberi les memang hasilnya tidak sebesar honor yang diterimanya dari Pasha, tapi dia cuma datang ke tempat murid dua kali dua jam seminggu. Sele-bihnya waktu nya bebas. Dia masih bisa ikut kuliah atau mencari murid lebih banyak! Cuma, dia harus meninggalkan Pasha!

Entah kenapa, dia merasa sedih atau barang-

kali terharu ketika sampai pada keputusan harus pergi dari Pasha. Dia takkan pernah melihatnya lagi. Takkan pernah mendengar rengek-annya minta kue dadar atau makiannya bila sesuatu hal bertentangan dengan kehendaknya. Sop yang sudah dingin, atau kopi yang kelewat cair, atau telur yang terlalu keras.... Terkadang lagaknya itu seakan Tesa adalah istrinya yang wajib merawatnya sebaik mungkin, bukan cuma sekadar pelayan yang setiap saat bisa minta berhenti.

Lagu di radio sudah berhenti. Di-je belum memutar lagu berikutnya.

"Senangkah kau bila operasiku nanti berhasil?"

Suaranya mengoyak tirai lamunan Tesa, sehingga membuatnya terkejut. Untung lagu baru segera berkumandang, dan suaranya yang mirip orang tercekik itu tidak sampai kedengaran oleh Pasha.

"Ya... dan tidak," dia nyeletuk tanpa dipikir lagi-

"Eh, kenapa begitu?"

"Tentu saja aku senang kalau kau sudah sehat kembali. Bahagiakah engkau kalau bisa melihat lagi?"

"Sudah tentu! Aku kan ingin melihat bagaimana rupa bidadariku ini!"

D.]. = Disc Jockey = pemutar lagu-lagu

"Nah, karena kau senang, aku pun akan ikut senang. Tapi jangan terlalu membayangkan yang tidak-tidak, nanti kau kecewa. Sebab aku ini sebenarnya pernah kena cacar..."

"Kau... kau... bopeng? Ah, aku tak percaya! Tidak! Aku tak bisa percaya! Mana mungkin si Thomas akan bilang bidadari kalau mukamu... tidak, ah! Kau bohong!"

"Mungkin saja cita rasa kawanmu lain de-nganmu! Bagimu bopeng itu pasti jelek, tapi siapa tahu si Thomas menganggapnya cantik seperti—*

Tesa ingin ketawa namun ditahannya. Walau-pun sedang bergurau, dia tak pernah bisa men-duga kapan ketel uap di kepala Pasha akan meledak. Sebaiknya dia berhati-hati selalu.

"Kaubilang, kau senang, tapi barusan kaubilang juga tidak. Kenapa begitu?"

Tesa menghela napas. "Yah! Kalau kau sudah bisa melihat kembali, berarti kau tidak perlu bantuanku lagi. Dan aku... yah! Takkan dapat melihatmu lagi!" Tapi pada detik terakhir dira-latnya jadi: "Dan aku.. yah! Akan kehilangan tambahan uang saku yang kubutuhkan. Begitu-lah manusia, Pas, selalu ingat kepentingan sendiri dulu!" Tesa ketawa.

Pasha kelihatan melongo. Wajahnya seperti anak kecil yang baru saja menyusahkan ibu, dan merasa menyesal telah melakukannya. Tesa jadi tidak enak hati melihatnya. Saat itu Pasha

sungguh menimbulkan keharuan, polos, dan tak berdaya.

"Tak terpikir olehku bahwa kesembuhanku akan merupakan kabar jelek bagi orang lain!" gumamnya seakan pada diri sendiri. Lalu me-nambah dengan suara yang lebih keras, "Kalau begitu, aku tidak mau dioperasi! Biar begini terus. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini, tidak apa-apa aku buta selamanya!"

"Tapi kau takkan bisa melihat diriku!" Tesa ketawa pelan.

Pasha mengangkat bahu. "Apa boleh buat. Tidak melihat pun, aku tetap percaya bahwa kau cantik. Seandainya tidak pun, tak jadi soal. Kalau bopeng, malah kebetulan!"

"Lho!"sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Berarti kemungkinan tak ada Orang mau pacaran denganmu! Jadi kau bisa datang terus ke-mari! Biarlah. Biar aku tetap buta. Asal kau tidak kehilangan penghasilan dan bisa datang ke sini tiap hari."

"Ah, kau ini egois!" Tesa nyeletuk tanpa sengaja.

Wajah Pasha jadi berkerut dan mendung. "Lho! Aku mau menolongmu kok malah ditu-duh egois?"

"Habis apa kalau enggak?! Kalau kau terus begini, kapan kuliahmu akan selesai? Apa orangtuamu takkan sedih melihat kau jadi tuna-netra karena enggak mau dioperasi?"

"Biarlah. Kalau sudah nasib! Aku rela!"

"Kasihan Pika, dong!"

"Kalau dia keberatan, aku relakan dia mencari pacar lain. Asal kau bisa terus berada di sam-pingku."

"Nah, bukankah itu egois juga namanya? Kalau aku harus terus-menerus menemani kau begini, mana aku bisa kuliah?"

Pasha terdiam seakan baru menyadari keke-liruannya.

"Dan aku juga tak bisa selamanya merawatmu di sini. Suatu saat, aku akan kembali ke tanah *»-"

Pasha tercenung, menopang dagu di atas ta-ngan kursinya. Akhirnya dia mengangguk. "Ya, ya, ya, benar juga. Tapi kalau aku sembuh, berarti kau akan kehilangan kerja...."

Tesa memarahi diri sendiri sebab sudah bicara sembarangan. "Tidak apa-apa. Aku pasti bisa mencari kerja lain-"

"Misalnya?"

"Misalnya, mengajar bahasa Indonesia."

"Kenapa sih kau enggak balik saja ke Jakarta!"

"Aku malu dong balik sebelum berhasil. Orangtua sudah bersusah payah mengongkosi agar aku bisa sampai ke sini! Mereka begitu baik, tak pernah memaksakan kehendak mereka pada anak-anak. Untuk mereka tentunya lebih mudah bila aku kuliah di Jakarta saja, biaya hidupnya lebih ringan. Tapi mereka menghargai niatku untuk hijrah kemari, mencari pengalam-an. Justru karena kepercayaan mereka itu, aku

ingin menyenangkan hati mereka. Aku ingin mereka bisa bangga melihat keberhasilanku nanti."

"Aku puji tekadmu yang kuat itu, Sel!"

Tesa menatap pemuda itu, lalu diam-diam menghela napas. Tidak. Dia tak mungkin mem-beritahu Pasha keputusannya saat ini. Biarlah besok saja.

Tapi besok pun keberaniannya tidak terkum-pul juga. Nopi menanyakan—ketika mereka ber-dua makan di dapur asrama—apakah dia jadi mulai pada Profesor Meyer tanggal satu Juli?! Tesa mengiakan, tapi dalam hati dia kurang yakin. Dia belum berhasil menemukan kesem-patan untuk memberitahu Pasha. Barangkali lebih baik mengatakan pada Pika saja dan mem-biarkan gadis itu menyampaikannya pada Pasha?!

Ternyata hal itu tidak mudah juga. Pika kelihatan begitu sibuk dan pikuk ketika mereka ketemu di dapur. Dia muncul dengan seorang pemuda Australia.

"Pik, aku mau ngomong sebentar," kata Tesa, tapi gadis itu melambaikan tangan sementara mulutnya menggigit roti berlapis sardencis yang barusan dibuatnya.

"Nanti saja, Tes. O ya, kenalkan nih, kawan kuliahku, Michael. Dan Michael, ini Tesa, dari Jakarta juga."

Michael menjabat tangannya begitu keras, sehingga Tesa nyaris meringis. Pemuda itu ber-

45 sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

tubuh kekar, tingginya sedang, matanya kelihatan ramah, wajahnya penuh bintik-bintik coklat. Sebelum Tesa sempat mengulangi permintaan-nya, Pika sudah melambai lagi, lalu bersama temannya menghilang ke arah kamarnya.

Pemandangan dari jendela dapur tidak banyak menghibur hati. Udara di luar dingin, la-ngit kelabu, dan puncak-puncak pencakar langit tampak menambah keasingan di hati yang ra-wan. Hari itu matahari cuma muncul sebentar, kehangatannya pun tak bersisa lama. Dedaunan meliuk menuruti kehendak sang angin yang berembus lalu tak mau singgah, namun cukup membuat repot mereka yang di jalan. Masing-masing berusaha merapatkan mantel serta me-nyembunyikan tangan dalam saku.

Tesa duduk termangu. Dilihatnya kalender yang tergantung di depan meja makan. Minggu depan sudah tanggal satu. Dia harus segera menyampaikan keputusannya pada Pasha! Be-sokkk!

Bab 4

"Tidak bisa! Kau tidak bisa berhenti dari sini!" protes Pasha setengah kalap.

Tesa melambaikan tangan memintanya supaya lebih tenang, walaupun tentu saja pemuda itu tidak bisa melihatnya (dan dia baru teringat kemudian).

"Dengarlah baik-baik, Pasha. Jangan protes dulu. Coba kaupikirkari dengan tenang, apa tugasku sebenarnya di sini: membereskan kamar dan membereskan ranjang; memasak sekadar-nya atau memesankan makanan melalui telepon ataupun membelinya ke toko; membuat kopi, menyediakan -biskuit dan nyamikan, mengatur suhu ruangan; mencuci baju serta menyetrika; membersihkan dapur dan perabot sehabis ma-sak. Nah, apa lagi? Rasanya cuma itu doang. Membersihkan kamar mandi serta ngepel lantai, itu tugas Nyonya Allison yang datang seming-gu dua kali. O ya, menyirami tanaman di pot-pot dekat jendela. Cuma itu."

"Belanja bahan makanan tiap minggu?" s bung Pasha dengan nada penasaran.

"Ya, itu juga."

"Memasukkan surat-surat ke pos?" "Ya, betul."

"Membayar rekening-rekening?''

Tesa mengangguk, lalu ingat Pasha tak bisa melihatnya. "Ya."

"Membacakan surat-suratku, terutama dari rumah?"

"Ya," sahutnya meringis. Sebenarnya tugas terakhir ini lebih pantas diserahkan pada Pika, yang rasanya lebih berhak untuk itu. Susahnya, temannya itu tidak bisa diharapkan akan datang pada waktu-waktu tertentu. Pika tampaknya terlalu sibuk di kampus, dan muncul ke sini sembarang waktu, bisa setiap saat, tapi lebih sering lagi, berhari-hari tidak datang, paling cuma menelepon tanya keadaan. Sedangkan Pasha seorang yang tidak sabaran. Begitu surat datang, saat itu juga dia harus tahu isinya. Tesa bisa mengerti, sebab dia sendiri pun selalu me-rindukan surat dari rumah.

"Nah, begitu banyak tugasmu, kaubilang kau di sini tidak aku perlukan?"

"Tapi semua tugas itu tidak mutlak harus aku yang melakukan. Sebagian besar bisa kaukerja-kan sendiri, Pasha,"

"Misalnya?" tantang Pasha setengah mengejek.

"Membereskan seprai, memasukkan cucian ke dalam mesin, pesan makanan lewat telepon, mengatur suhu... itu semua bisa kaukerjakan sendiri dengan latihan."

"Membuat kopi? Memasak air?"

"Pika bisa memasak air kalau dia datang, lalu

menyimpannya dalam termos. Nah, tiap kali kau ingin membuat kopi, tinggal menuang air panas ke dalam cangkir, apa susahnya?"

"Dengan latihan, tentu!" angguk Pasha sedikit

sinis.sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Pasha, kau kan tidak mau menggantungkan hidupmu selamanya pada orang lain?"

"Padamu, maksudmu?! Tidak! Tentu saja tidak! Mana aku berani! Pasti sebal sekali rasanya bagimu mengurus aku tiap hari seperti sekarang ini! Menemani diriku sehari suntuk! Tak bisa kuliah, tak bisa... ehem! pacaran, tak bisa segala macam! Tentu saja kau ingin secepatnya bebas dari aku!"

Tesa menggigit bibir, sementara matanya ber-linang-linang. Hatinya pedih bagai ditusuk-tusuk sembilu. ¦.

"Pasha, kau salah paham! Bukan itu alasanku untuk berhenti dari sini dan mengajar..."

"Apa profesor itu membayarmu jauh lebih tinggi dari aku?" tanya Pasha tanpa kenal kasih-an. "Kau kan merawatku semata-mata karena uang, bukan? Nah, pasti orang itu telah mena-warkan honor yang lebih tinggi! Iya, kan?"

"Pasha...," tukas Tesa dengan suara tercekik air mata. Sakit hatinya dituduh mata duitan seperti itu. Tapi Pasha rupanya sudah kalap.

"Bagaimana kalau aku naikkan honormu?

Tapi kau enggak boleh kasih les segala macam! Kau cuma boleh mengurus diriku tok!" "Sampai kapan?"

Pasha tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia mulai menyebutkan semua tugas yang takkan mungkin dilakukannya sendirian.

"Gimana aku harus belanja makanan setiap minggu? Memasukkan surat-surat ke pos? Siapa yang akan membacakan aku surat-surat dan mengurus tagihan rekening? Siapa..."

"Pasha," kata Tesa sesabar mungkin, "untuk beli bahan makanan seperti telur, susu, dan barang kaleng, kau bisa minta tolong Nyonya Allison. Pasti dia mau, dengan imbalan sedikit. Begitu Juga pergi ke pos serta mengurus rekening. Membacakan surat dari rumahmu, seperti dulu pernah aku bilang, memang lebih cocok dilakukan oleh Pika daripada aku. Bukankah dia itu calon istrimu? Dia lebih berhak..."

"Ah," tinggalkan Pika!" potong Pasha menge-luh. "Dia tak pernah punya waktu lebih untuk-ku."

"Aku rasa, dia akan bersedia seandainya ke-adaan memaksa."

Pasha menghela napas, lalu menjulurkan ba-dan ke depan. "Selina, sebenarnya apa sih alas-anmu sampai kau begitu nekat mau berhenti dari sini? Sudah kukatakan, aku bersedia menaikkan honormu!"

Tesa kembali menggigit bibir. Rupanya orang ini cuma berhitung lewat uang semata. Dia

tidak memikirkan bahwa seorang manusia juga bisa disetir oleh perasaan. Dan perasaan yang

bagaimana!

Tidak. Dia harus lekas berlalu dari sini, pikir-nya. Makin lama akan makin sulit baginya me-lepaskan diri!

"Bagaimana, Selina? Kau setuju bukan dengan kenaikan honor? Tapi kaubatalkan rencana untuk kasi les! Kau cuma boleh mengurus aku

saja!"sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Sampai kapan?" jerit Tesa putus asa.

"Sampai... ya, paling tidak, sampai operasiku berhasil. Itu kan cuma tinggal lima bulan lagi. Mau dong, Sel? Setelah itu kau bisa kuliah kembali. Sekarang pun kau sedang libur, bukan? Setelah operasiku sukses, aku berjanji takkan menyusahkan engkau lagi! Oke?"

Tapi, kau justru akan menyusahkan hatiku, jeritnya dalam hati.

"Dan kalau aku memaksa berhenti juga, gimana? Apa kau bisa menahanku?"

Pasha terkulai lemas. Wajahnya memucat. Dia menggeleng. "Tidak, Sel," bisiknya parau. "Aku takkan bisa menahanmu!"

***sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Akhirnya Pika yang menengahi. Dia mema-rahi Tesa yang dianggapnya terlalu ingat kepen-tingan sendiri.

"Tapi itu justru demi kepentingannya, Pik!"

bantah Tesa. "Aku tidak mau dia menjadi ter-gantung seratus persen padaku.' Sekarang pun sudah sulit aku minta izin untuk ke mana-mana. Maunya ditemani terus olehku. Itu kan sebenarnya tugasmu?"

"Ah, kau tahu sendiri betapa sibuknya aku! Sekolah kedokteran kan enggak seenak sekolah sekretaris, Tes!"

"Maksudmu, enggak segampang sekolahku!" tukas Tesa sinis. Memang diakuinya Pika itu orangnya dinamis, hebat, lincah, dan otaknya encer, enggak seperti dirinya yang pas-pasan. Tapi betapapun hebatnya Pika, seharusnya dia lebih banyak menyisakan waktu untuk pacar-nya, bukan? Apalagi dalam keadaannya yang sekarang ini!

"Apa lantaran kau sibuk, aku jadi harus me-ngorbankan semua kepentinganku?"

"Lho! Apakah kita salah paham? Bukankah kau butuh uang, lalu aku tawari kerjaan! Ya, kan?"

"Ya. Tapi aku tidak bermaksud menyerahkan seluruh waktuku untuk mengurus Pasha! Sekarang aku telah menemukan kerjaan baru. Mem-beri les bahasa seminggu dua kali. Memang honornya jauh lebih kecil, tapi aku tidak begitu terikat Waktuku selebihnya bebas kupakai untuk keperluan lain."

Pika kelihatan bingung juga mendengar Tesa sudah mendapat sumber penghasilan baru. Dia insaf kalau gadis itu memaksa mau berhenti,

dia takkan bisa menahan. Karena itu digantiny'a

suaranya yang marah-marah tadi dengan bujuk-an halus.

"Tes, apa kau tega meninggalkan Pasha sekarang ini? Aku justru lagi sibuk-sibuknya me-nyiapkan diri untuk ujian. Selain itu, aku juga sudah mulai tugas di rumah sakit. Temanilah Pasha beberapa bulan lagi. Sampai dia dioperasi. Setelah itu kau boleh bebas, deh. Dan kami tidak akan melupakan pengorbananmu, Tes!"

Enak saja, pikir Tesa dengan pahit. Mentang-mentang punya duit! Setelah operasi berhasil, aku dibebaskan, tapi sementara itu hatiku sudah... barangkali sudah luka parah! Adakah yang akan peduli?!

"Aku bersedia mengurus Pasha sampai ope-rasinya sukses, tapi kukatakan padanya, aku minta izin untuk memberi les seminggu dua kali. Dan dia keberatan. Jadi, yah! Kalau dia begitu egois...!" Tesa mengangkat bahu.

"Aku berjanji akan membujuknya. Dia pasti setuju. Kau boleh memberi les seminggu dua kali. Tapi Pasha jangan kautinggalkan. Setuju?"

Entah bagaimana caranya Pika membujuk Pasha, tapi nyatanya pemuda itu setuju dengan kehendak Tesa. Demikianlah minggu demi minggu berlalu. Udara masih cukup dingin wa-laupun tidak sedingin di daerah bagian timur.

Tesa masih menjalankan tugasnya membeli barang-barang makanan seminggu sekali. Terka-dang belanjaannya cukup banyak, termuat da-

lam dua kantong, dan dia tak dapat mengha-ngatkan tangannya bergantian ke dalam saku jaket. Biasanya Pika suka menemuinya di dapur asrama pada malam hari kalau dia mempunyai titipan khusus untuk akhir pekan. Seperti minggu lalu.

"Tes, belikan dada ayam ya barang tiga po-tong. Lalu atinya satu kotak yang setengah kilo. Juga jamur sekotak. Pasha kepingin makan sate hari Minggu besok. Jamur itu mau aku semur boat makan dengan supermi."

Khusus hari Minggu, dia memang libur, sebab itu hari untuk Pika dan Pasha berduaan. Pika sering masak-masak dan terkadang meng-undang teman-teman, tapi Tesa sendiri belum pernah dipersilakan datang. Dia maklum. Pika tidak mau Pasha memperlakukannya sebagai teman. Ah, dia juga lebih senang dibiarkan sendiri, bisa menikmati tidur sampai puas.

Setelah pesta sate ayam itu, Senin berikutnya seperti biasa Tesa muncul di tempat Pasha. Udara pagi itu hangat sekali terutama embusan anginnya. Matahari bersinar cerah.

Pasha tengah duduk di depan jendela, tidak berbuat apa-apa. Wajahnya menatap ke bawah, seakan tengah memperhatikan orang-orang yang hilir mudik dengan berbagai urusan masing-masing.

"Kau mau sarapan apa pagi ini, Pasha? Sudah bosan dengan roti dan ham? Aku bisa mem-buatkan engkau nasi goreng yang enak. Mau?"

"Asal kau juga ikut makan," sahut Pasha te

senyum samar.sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Oh, enggak keberatan. Sebenarnya sih, aku sudah melahap roti kacang setangkup. Tapi dalam udara seperti ini, perut memang cepat la-par, ya." Tesa beranjak mau ke dapur, ketika suara Pasha menghentikan langkahnya.

"Sakitmu sudah sembuh?"

Tesa keheranan. Sakit? Dia sakit? Sebelum hilang bingungnya, Pasha sudah meneruskan, "Kemarin kau enggak datang! Kan sudah aku bilang, kau harus datang! Kita mau memang-gang sate. Kata Pika kau sakit kepala!"

Hm. Jadi aku kemarin sakit kepala?! Apa boleh buat, kalau Pika sudah bilang begitu. Pasha memang menyuruhnya datang, tapi dianggapnya itu basa-basi belaka. Mungkin dia kasihan mendengar napasnya ngos-ngosan setelah me-naiki tangga dengan belasan kilo bahan makanan. Dia sama sekali tidak menganggap undang-an itu sungguh-sungguh. Terlebih karena Pika tidak ikut mengundang. Tahunya, dia dibilang sakit! Ya, deh, enggak apa.

"Memang, aku pening kemarin. Terlalu sering masuk angin, mungkin."

"Sekarang sudah baik?"

"Mendingan. Tapi kalau pulang terlalu malam, suka kambuh lagi!" Dia berdusta deh se-kalian, biar diizinkan pulang sorean.

"Sebenarnya sudah kusisakan sepuluh tusuk

55

untukmu, tapi menurut Pika, sate enggak bisa disimpan dalam kulkas. Bumbunya pasti basi."

Tesa ketawa sambil meringis dalam hati. "Tentu saja. Aku juga enggak mau makan sate sisa! Kering, enggak enak! Oke deh, sekarang aku mau bikin nasi goreng. Kau tunggu di sini anteng-anteng, ya. Jangan melompat dari jendela!" Tesa ketawa, lalu menyingkir dari bantal kecil yang dilemparkan oleh Pasha ke arahnya.

Rupanya otak Pasha hari itu sedang di tengah. Sikapnya ramah, mudah diatur, dan tidak cerewet Tesa segera sibuk di dapur mengiris bawang, cabe, dan lain lain. Dalam beberapa menit saja wangi nasi goreng sudah memenuhi seluruh apartemen. Pasha rupanya menjadi tidak sabar menahan lapar, lalu muncul dalam kursinya di ambang pintu dapur.

"Nah, bolehkah aku masuk?"

"Tentu. Aku baru saja mau memanggilmu. Rringmu sudah aku letakkan, juga gelasmu. Dan ini... nasi gorengnya!"

Mereka makan berdua dengan lahap sekali. Pasha tidak henti-hentinya berdecah memuji masakan Tesa. Lalu tiba-tiba saja dia berhenti menyuap dan memandang ke arah Tesa dari balik kacamata hitamnya.

"Minggu depan aku akan dioperasi," katanya tanpa emosi. "Maukah kau mengantarkan aku ke rumah sakit?"

Tesa mencioba ketawa ringan, tapi bunyinya malah kedengaran gugup serta penuh khawatir.

56 sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Mau sih mau," katanya kemudian. "Tapi, aku paling takut pergi ke sana. Kan ada Pika, apa enggak mendingan dia saja yang mengantarmu? Biarlah aku menunggu beritanya saja."

Pasha - menghela napas. Dia menunduk dan mengacau nasi goreng di piringnya. Karena ke-biasaan, Tesa memberitahukan, "Tomatmu ada di pukul dua. Mentimun di pukul sepuluh."

Tapi Pasha tidak mengacuhkan petunjuknya. Dia terus mengaduk-aduk nasinya tanpa menyendoknya ke mulut. Tesa jadi khawatir jangan-jangan bocah gede itu ngambek lagi. Betapa mudahnya Pasha tersinggung, pikirnya nasping.

"Pika ada praktikurrt hari itu, Selina. Dia enggak bisa bolos," katanya dengan suara kecil seakan kecewa sekali.

Tesa tidak berani menyanggah lagi, takut nanti "momongannya" itu benar-benar ngambek. "Nah, tentu saja kalau Pika berhalangan, aku yang akan mengantarmu. Pokoknya, jangan sampai Pika merasa haknya dirampas olehku!"

"Hak apa?" Pasha mengangkat muka dan memandang ke depan dengan rupa bingung.

Tesa mengangkat bahu. "Ya, hak seorang pacar, dong! Hak apa lagi?!"

Pasha melongo sejenak, kemudian ketawa ter-bahak. "Selina! Kau ini pikirannya macam-macam saja. Kita kan hidup di zaman modern, masa sih masih penuh prasangka begitu?"

Panas terasa wajah Tesa ditertawakan begitu.

57

Lebih merah lagi ketika Pasha menyambung, "Seandainya dia mencurigai engkau, tentunya dia takkan membiarkan engkau datang ke sini tiap hari, bukan?"

"Baiklah! Minggu depan aku akan mengantarmu/ kata Tesa cepat untuk mengakhiri perbin-cangan yang sensitif itu.

Bab 5 sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Tesa mengantar Pasha sampai ke dalam kamar. Lalu dipegangnya lengannya ketika pemuda itu beralih dari kursi roda ke atas ranjang rumah sakit yang putih bersih. Dia tidak segera berba-ring, sebab masih memakai baju jalanan, belum berganti dengan daster rumah sakit yang ter-lipat rapi di ujung tempat tidur.

Tesa berpendapat sebaiknya dia berlalu sekarang, dan berniat mendorong kursi keluar. Tapi tahu-tahu Pasha menangkap tangannya serta menggenggamnya erat-erat.

"Berjanjilah bahwa kau akan berada di sini ketika aku sadar kembali, Sel!"

Tesa tergugu. Seketika dia panik. Apa yang akan dijawabnya? Dia tidak tahu apakah Pika takkan keberatan dia menunggui Pasha dioperasi? Rasanya kok agak berbau intim dan membuat hatinya resah. Bagaimana kalau Pika nanti marah? Disangkanya, dia bisa-bisaan sendiri! Menunggui Pasha kan haknya. Masa sih begitu arna dia praktikum? Kalau operasi selesai, pasti Praktikumnya juga sudah lama bubar, bukan?!

Apa Pika enggak keberatan? Aku takut dia nanti kurang senang!" •

"Ah, Sel! Kau ini kok kuno sekali, sih? Kau kan temanku juga. Apa salahnya teman menunggui teman dioperasi? Hitung-hitung memberi semangat dan ikut mendoakan supaya berhasil?"

Pikiran Pasha benar juga. Dia tidak menemu-kan alasan untuk mengelak. "Baiklah. Aku akan diam di sini sampai operasimu beres!" janjinya, lalu dengan lembut ditariknya kembali tangan-nya yang sejak tadi digenggam oleh Pasha. Dan itu dilakukannya tepat pada waktunya. Sebab sedetik kemudian terdengar pintu dibuka, lalu suara Pika yang nyaring penuh ketegangan me-nerobos masuk.

"Ah, untunglah kau belum apa-apa!" serunya menghampiri Pasha.

Tesa minggir sambil menoleh ke pintu. Pika muncul dengan lab-jas putih berkibaran tanpa dikancing. Di belakangnya berdiri mematung si Michael dengan kedua tangan masuk kantong. Dia kelihatan ragu, akan masuk atau tetap di ambang pintu.

Pika langsung memeluk Pasha dan mengecup pipinya dua kali kanan dan kiri. Tesa menun-duk agar tak usah menyaksikan terlalu lama. Kemudian didengarnya suara Pika memperke-nalkan temannya,

"Aku membawa Michael, Sha. Michael, ke-mari, beri selamat OP sama Pasha! Dan ini,

ngng... Ttt... Selina! Kau sudah kenal, bukan?

Tempo hari di dapur?"

Michael menjabat tangan Pasha, lalu menoleh pada Tesa dan tersenyum sambil mengangguk. Tesa jadi kegerahan. Dia teringat, tempo hari Pika menyebutnya sebagai Tesa, lalu kini ber-ubah jadi Selina. Dia khawatir sekali jangan-jangan Michael nanti keheranan dan bertanya. Tapi untunglah pemuda itu diam saja. Mungkin sudah lupa namanya, mungkin juga tidak mau usil.

Tesa sudah tidak betah di situ, macam cacing terkubur abu. Dia gelisah, namun tidak me-nemukan alasan untuk melangkah keluar. Pika kelihatannya anteng saja duduk di samping Pasha di ranjang, sementara Michael berdiri di kaki ranjang dengan siku bertumpu ke besi. Cuma Tesa sendiri yang merasa kelebihan, berdiri dekat wastafel, ganti berganti kaki, seolah kecapekan.

Untung sekali masuk suster membawa nam-pan berisi suntikan dan beberapa ampul. Mereka dihalau semua. Tesa diam-diam menarik napas lega, dan cepat-cepat menghampiri pintu.

"Ingat janjimu barusan, Sel!" seru Pasha mengingatkan.

"Janji apa, sih?" tanya Pika dengan kening berkerut, setibanya mereka di luar kamar. Dengan lagak interogator Pika menghadapinya sambil berkacak pinggang.

Tesa menatapnya dan tiba-tiba—entah kenapa.

—dia merasa iri pada temannya. Pika begitu cantik, lincah, anggun, dan penuh gaya dalam jas putihnya. Dia ad a lah segala-galanya yang pernah didambakan oleh Tesa namun takkan didapatnya: gadis dengan orangtua yang kaya, otak yang encer, dan kepandaian bergaul yang mengagumkan. Wajahnya yang cantik begitu mempesona. Wajahnya sendiri terasa buram dan lecek. Be be ra pa orang memang pernah meyakin-kan hatinya yang rapuh, bahwa mukanya manis serta menarik, bahkan cantik. Namun Tesa tak pernah yakin. Bagaimana dia akan yakin. Satu-satunya orang yang diharapkan mampu meya-kinkan harga dirinya yang penuh ragu itu, ter-nyata malah kepincuk oleh Shakira, sahabatnya! Oh, dia tak sudi lagi mengingat-ingat tentang Goffar! Buat apa menyusahkan hati sendiri untuk seorang pengkhianat?!

"O, itu! Pasha minta supaya aku menunggui-nya di sini sampai dia siuman lagi."

Diam-diam Tesa menghela napas. O, betapa didambakannya selingkar lengan perkasa yang akan memeluk bahunya saat-saat begini, seperti yang tengah dilakukan Michael terhadap Pika. Betapa sentosa dan aman rasanya hati....

"Oooh!" Pika kelihatan lega kembali. Dia malah ketawa manis. "Kalau begitu, kebetulan sekali. Aku bisa ikut grup belajarku. Semula aku pikir, sudah tak mungkin. Tapi sekarang, lan-taran sudah ada engkau yang akan menjaganya nanti, aku jadi lega dan enggak usah bolos.

Kalau ada sesuatu yang penting, tolong aku dihubungi di nomor ini ya, Tes." Pika menyo-dorkan secarik kertas yang ditulisinya cepat-cepat dengan beberapa angka.

"Ini tempat Michael. Kalau enggak ada apa-apa sih, enggak usah deh mengganggu. Nanti aku datang selesai study-group."

Tesa menyambut nomor telepon itu dengan mendongkol. Jangan mengganggu katanya! pi-kirnya. Demi untuk kepentingannya, dikatakan-nya mengganggu. Apakah grup belajarnya itu lebih penting dari nasib pacarnya?!

"Sudah, ya. Bye-bye."sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Dan menghilanglah Pika bersama Michael dengan langkah-langkah meyakinkan yang membuat iri serta kagum orang yang melihat. Maka tinggallah Tesa di ruang tunggu, seperti Sapu Abu duduk menantikan utusan Pangeran yang akan membawa sepatu gelasnya yang tertinggal semalam di istana.

Di ruangan itu kebetulan tak ada orang lain, jadi dia tidak bisa ngobrol-ngobrol. Diraihnya sebuah majalah wanita. Dibuka-bukanya dari depan sampai ke belakang, namun minatnya tak ada untuk membaca. Hatinya terasa resah, entah kenapa. Diambilnya majalah yang lain. Dilembarinya seperti yang pertama. Demikian-lah dia melewatkan waktu. Setelah kesal me-lihat-lihat gambar iklan, ditumpuknya kembali majalah-majalah itu ke tempat asal mereka, lain dia berdiri meluruskan pinggang.

Mulailah dia berjaian mondar-mandir sepan-jang lorong, seperti calon ayah tengah menung-gu kelahiran bayinya yang pertama.

Akhirnya dia kesal diam di situ terus. Dicari-nya seorang perawat dan ditanyakannya di mana kantin.

"Di lantai bavvah, lorong sebelah kanan."

"Terima kasih," dia mengangguk, lalu mencari lift dan turun. Kantin itu tidak sulit dicari. Dari jauh pun wangi masakan sudah menerpa pen-ciuman. Dituntun oleh hidungnya, Tesa tiba pada sebuah pintu kaca yang penuh ditempeli kertas-kertas penawaran barang-barang bekas serta operan kamar sewa bagi mahasiswa.

Tesa mendorong pintu dengan kedua tangan. Udara sejuk langsung menyelubungi tubuhnya. Di tembok sudah ditempelkan hiasan-hiasan Natal, sebab sekarang sudah bulan Desember. Kantin itu cukup luas. Paling sedikit ada tiga puluh meja. Musik lembut mengalun menyen-tuh kalbu. Cuma ada beberapa orang kelihatan tengah minum kopi atau makan nyamikan. Rupanya memang belum waktu makan. Yang minum kopi itu mungkin para dokter. Mereka agaknya baru selesai jaga malam, sebab tarn-pang mereka lusuh seperti orang kurang tidur.

Tesa pergi ke counter mengambil secangkir kopi pahit dan sepotong kue tar aprikot. Lalu dipilihnya meja yang sepi dekat pot tanaman. Dia duduk menghadap ke pintu, asyik meng-awasi orang-orang yang hilir mudik di lorong

depan kantin. Beberapa pendatang baru mema-suki ruangan dengan sikap tergesa-gesa, ada yang cuma meneguk secangkir kopi lalu pergi lagi. Rupanya tempo kerja para dokter serta perawat amat tinggi. Tesa bersyukur dia tidak jadi memilih kedokteran. Bisa kedodoran pakai-annya kalau dia mesti melangkah setengah ber-. lari seperti mereka! Dia lebih suka hidup yang rileks dan santai. Karena itu dia merasa cukup masuk college saja.

Tapi Pasha dan Pika adalah manusia-manusia jempolan, pikirnya setengah kagum dan iri. Ka-gum untuk Pasha. Iri pada Pika. Keduanya adalah calon dokter yang heiiibat!

Sambil makan kue dan menghirup kopi, Tesa membiarkan dirinya melamUn kian kemari, hingga pada Goffar sekalipun. Namun peng-khianat itu tidak dibiarkannya berlama-lama menyita pikirannya. Dia segan kembali ke masa lalu, mengasihani diri bertalu-talu. Tapi kalau dia teringat nasibnya kini serta kesulitan yang tengah melibat dirinya, mau tak mau hatinya terasa pedih. Dia berusaha memikirkan jalan ke-luar namun tidak diperolehnya. Hatinya tidak tega meninggalkan Pasha begitu saja, walaupun dia hanya pelayannya belaka, yang dibayar untuk merawat serta menemaninya selama dia tak berdaya....

Seandainya saat ini dia berlalu dari rumah sakit, pulang ke asrama dan tidak mengunjungi Pasha lagi—sebab sudah tak diperlukan; dia

yaicin operasi ini akan berhasil mengembalikah penglihatan Pasha—siapakah yang akan marah padanya?. Siapakah yang akan mencegahnya? Siapakah yang akan merasa kehilangan? Jawab-nya tidak ada, tidak ada, tidak ada!

Tapi hatinya tidak tega. Selain itu, dia sudah berjanji. Baginya, janji adalah sepotong ucapan yang teramat berat tanggung jawabnya. Bagai-manapun, mesti dipenuhi! Sebab kalau tidak, mungkin bisa membawa akibat buruk, bahkan bisa menghancurkan sepotong hati seperti yang pernah dialaminya sendiri!

Janji seorang lelaki! Seorang Goffar yang tak punya kepribadian, persis "terang bulan terang di kali—buaya timbul disangka mati—jangan percaya mulut lelaki—berani sumpah takut mati!!!"

"Ampunilah aku, Tes. Aku mata gelap, aku lupa da rata n, aku bod oh, aku egois. Shakira itu mana nempil dibandingkan sama dirimu. Sifat-nya juga enggak lembut, serakah, dan tak pernah peduli perasaan orang lain. Aku enggak yakin perkawinan kami bisa bertahan lama, tapi saat ini kami harus menikah! Kalau enggak, aku bisa dicincang sama bapaknya! Sebab Shakira sudah telanjur hamil____"

"Oh, Goffar! Mana janjimu mau setia, mana sifat jantanmu menolak godaan, mana kekuatan imanmu, mana... mana...? Kau mau saja dicocok hidung, disuruh masuk ke mobil, diangkut ke Puncak! Katamu, kau mata gelap? Lupa darat-

an? Katamu, kau terdorong rasa ingin tahu? Katamu, kau diberi obat? Katamu, kau akan cerai begitu anakmu lahir? Katamu, kau pasti

akan balik padaku?sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Kaupikir, aku mau menampung sampah? Kaukira, dunia cuma selebar telapak tangan?

Kaupikir, kau ini enggak bisa digantikan- oleh orang lain? Kaukira, aku sudi cinta murahan seperti cintamu? Kauduga aku takkan bisa hidup tanpa dirimu?

"Bah! Aku lebih suka patah hati berkeping-keping daripada kehilangan harga diri! Aku lebih suka mandi air mata setiap malam daripada merampas ayah seorang anak kecil. Kalau kelak kau cerai juga, itu urusanmu, asal jangan kawin lagi dengan aku!"

Goffar memberikannya sehelai kartu undang-an yang segera dilemparnya ke keranjang sampah tanpa dibaca lagi. Dia menolak pergi ke pesta kawin mereka. Minggu sore itu dia me-ngunci diri dalam kamar memutar lagu-lagu sendu dan yakin matahari takkan terbit lagi esoknya.

Tapi ternyata matahari tetap bersinar cerah, burung-burung masih meriah dan setelah pen-deritaan batinnya mengendap di dasar hati, timbul hasratnya hendak merantau ke selatan.

Goffar hampir kalap ketika tahu berita itu dari Daniel, adiknya. Seharian dia duduk dalam mobil—hadiah mertua—di depan rumah, me-nunggu Tesa keluaf. Tapi yang ditunggu

muncuJ. Cottar pulang. Besoknya pagi-pagi jam enam sudah parkir lagi, begitu juga besoknya dan besoknya, sehingga akhirnya les a terganggu dan hilang kesaharan. Dia ti- I bisa kriuar rumah, padahal banyak yang haras diurus dan dibelinya.

Terpaksa abangnya Mark us, membawa ka-wannya yang punya scragam hijau. dan pemuda bvrkarakter tempe itu pun takut dengan ancaman entah apa yang dilontarkan abangnya. Pendeknya, petuah teman abangnya agar dia segera sirna dari situ dan jangan muncul lagi, ditumtmya hingga tuntas. Namun dengan surat kilat khusus masih dicobanya menyentuh hatinya. Dberahkannya sural itu ke tangan abangnya, utuh, dengan permintaan supaya dikem-bafikan. Sejak itu Goffar bagaikan sudah ditelan burnt tak ada kabar ceritanva lagi. Dan kisah mereka pun tamatiah sudah.

Setelah kopi serta kue masuk ke dalam perut, Tesa merasa lebih nyaman dan keresahan yang tadi melanda, kini lenyap sebagian.

Dilihatnya arfoji. Dia sudah setengah jam di situ. Diambiinya tasnya dari atas meja, lalu di-gesernya kakinya mau berdiri, ketika pintu kantin didorong dari luar dan... dilihatnya Pika j serta Michael masuk sambil ketawa, ketawa ¦MB*

Tesa membatalkan niatnya dan berusaha mendutkan diri supaya tidak kelihatan. Kedua orang itu la ng sung ke counter memilih makan- ,

an. Tengah keduanya membelakanginya, Tesa cepat-cepat bangkit, lalu seakan dike jar setan, melangkah setengah berlari ke pintu, mendo-rongnya dengan kedua tangan dan keluar. Tanpa menoieh lagi dia langsung pergi ke lift untuk kembali ke ruang tunggu di lantai tiga.

Dua jam kemudian seorang perawat meng-hampirinya dan dengan manis memberi tahu kan bahwa pasien sudah sadar.

"Tuan Solem sudah berada di kamarnya lagi.

Dia menanyakan Anda." "Oh. I e rim a kasih."

Tergesa-gesa diletakkannya majalah yang tengah dinikmati iklan-iklannya, lalu menyandang tasnya dan melangkah ke kamar Pasha.

Dihampirinya ranjang pelan-pelan seakan takut membangunkan yang tidur. Tapi Pasha tcr-nyata sedang menunggunya.

"Pasha," bisiknya sambil menyentuh tangan di atas selimut "Bagaimana perasaanmu?"

"Air," erangnya hampir tak kedengaran.

Tesa mengambil gelas yang sudah tersedia di atas meja dengan sendok teh kecil. Disuapkan-nya air bening itu sesendok ke dalam mulut Pasha. Perawat tadi sudah berpesan bahwa pasien belum boleh minum banyak-banyak.

Diletakkannya sendok dan gelas kembali ke atas meja.

"Lagi," tun tut Pasha dengan suara lemah. Tesa memberinya sesendok lagi. "Cukup dulu, Pasha. Enggak boleh sekaligus banyak."

Setelah itu dia duduk di atas kursi di sam-ping ranjang, memperhatikan Pasha dengan rasa kasihan. Kedua matanya dibalut. Dia kelihatan begitu tak berdaya. Ah, Tesa sungguh berha-rap operasi itu akan berhasil walaupun akibat-nya dia akan kehilangan gajinya yang besar.

Tesa teringat pada Pika di kantin.

"Pasha, apakah kau mau aku panggilkan Pika? Tadi aku diberinya nomor telepon..." Men-dadak dia teringat pes an Pika agar jangan mengganggu kalau tak ada apa-apa yang luar biasa. Misalnya?!

Pasha menggoyang tangan. "Tak... u... sah. Dia... si... buk. Cukup... kau sa... ja... di... si... ni___"

Beberapa menit kemudian Pasha minta minum lagi. Rupanya obat yang disuntikkan padanya membuat mulut dan tenggorokannya ke-ring.

Tesa kembali menyuapinya seperti bayi. De-mikianlah dia duduk di situ, merawat serta me-layani "majikannya" sampai hari petang.

Pika akhirnya muncul. Sendirian. Langsung mengecup dahi Pasha sambil melontarkan beberapa kata sera yang dramatis. Rambutnya dielus penuh sayang. Sendok dan gelas direbutnya dari tangan Tesa, lalu dianjurkannya agar temannya itu pulang saja.

"Kau boleh istirahat, Ttt... Sel. Kan sudah ada

aku di sini."sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Tanpa pamit pada Pasha, gadis itu melangkah pergi. Sambil berjalan disesalinya hatinya yang merasa terusir oleh ucapan Pika. Mengerti dong, katanya sendirian, sudah ada dia, kau jadi kelebihan!! Tadi waktu betul-betul diperlu-kan, dia tidak ada, gerutunya dalam hati. Sekarang, setelah rasa haus Pasha hilang, dia baru datang dengan jas berkibaran! Ah, mengerti dong, kau kan cuma pelayan belaka, orang yang digaji. Dia kan pacar, calon tunangan dan istri! Walaupun Pasha kelihatannya ingin di-temani olehnya, itu kan tidak lebih dari rasa ketergantungan belaka pada perawat seperti kanak-kanak pada inang pengasuhnya! Bagai-manapun, dia harus tahu diri, jangan sampai hati yang sudah pecah gara-gara Goffar jadi makin hancur...!

***

Hari demi hari Tesa datang ke rumah sakit menjenguk Pasha. Sekarang dia tak boleh menemani terlalu lama, sebab sang pasien sudah segar dan bisa minum-makan sendiri. Kalau perlu bantuan dia cukup menekan bel. Selalu ada perawat yang siap datang menolong.

Pada suatu hari Pasha memberitahukannya sebuah berita gembira.

"Kemarin perbanku diganti. Dan Selina, mata-

ku bisa melihat kembali! Bukankah itu sebuah mukjizat? Aku bisa normal lagi! Memang saat ini penglihatanku masih agak buram, tapi itu pun normal. Kalau perlu, mereka akan melaku-kan operasi kedua dalam enam bulan. Tapi sekarang pun aku sudah boleh kuliah lagi. Dan yang lebih penting, aku akan segera bisa meli-hatmu!"

Pasha ketawa gelak-gelak sementara tangan Tesa makin lama makin d ingin. Dia mencoba ikut ketawa agar tidak mencurigakan. Rupanya Pasha belum tahu rencana Pika. Dia takkan di-perbolehkannya melihat wajah "Selina".

Siang itu datang tiga orang teman kuliah Pasha yang dulu pernah membujuknya agar mau kuliah lagi. Semuanya mahasiswa Australia. Mereka ketawa riang melihat Tesa.

"Aha, halo!" seru mereka padanya. Lalu me-nyambung, "Rupanya Bidadari Tuan Solem setia banget menjaga asuhannya!"

Seorang di antara mereka yang bernama Thomas dan berambut kuning jagung segera menepuk bahu Pasha. "Eh, kau kan bakal segera sembuh lagi. Sudah saatnya nih, bidadarimu kauoper padaku! Aku rasanya mau segera sakit! Beeerat!"

"Melalui mayatku!" Pasha menggerung membuat teman-temannya tertawa riuh dan Tesa menjadi merah wajahnya.

Malam harinya Pika sengaja menemui Tesa di dapur asrama. Kebetulan saat itu cuma ada

mereka berdua. Tanpa sungkan Pika langsung saja mengatakan apa yang ada dalam hatinya. "Tes, lantaran Pasha sudah sukses operasinya,

kau tak usah deh datang lagi menemuinya!"

Tesa sudah tahu, larangan ini akan diucap-kan, tapi toh dia terkejut juga. Tidak disangka-nya akan begitu cepat! Untung dia bisa lekas menutupi rasa kecewanya dengan senyum bia-sa, sehingga Pika tidak menyadari bahwa temannya kaget.

"Tentu saja kami berdua sangat bertefima ka-sih sekali atas segala pengorbananmu selama ini."

"Ah, tak perlu, Pik. Bukankah aku sudah di-bayar dengan cukup? Kapan... Pasha akan di-perbolehkan pulang?" Dia berusaha bicara sete-nang mungkin, namun tidak urung suaranya bergetar juga.

"Besok, Tes. Setelah perbannya boleh dibuka. Karena itu... aku terpaksa minta agar kau jangan muncul lagi. Kau mengerti, bukan?"

Tesa mengangguk lesu. "Kalau begitu, tolong ambilkan buku bacaanku yang masih tertinggal di sana."

"Oke. Kau enggak marah, bukan, Tes?" i "Tentu saja tidak. Apa sih hakku untuk marah?" sahutnya dengan tawar.

Pika menarik keluar sebuah amplop dari saku bajunya lalu meletakkannya di atas meja. "O ya, ini bonus dari kami seperti yang pernah dijanji-kan."

Tesa menampik dengan gelengan kepala. "Ti* dak, ah. Aku tak bisa menerimanya. Aku sudah dibayar dengan cukupr "Kami sudah berjanji!" "Tapi aku tidak menanggapinya, bukan?" . "Ayo, ambil! Kalau enggak, Pasha nanti ter-singgungP

"Apa kalian begitu kelebihan duit sampai mau dibuang-buang begini?"

"Ini kan bukan pemborosan, Tes. Ambillah. Nanti. aku ma rah, nih!"

Tesa merasa serba salah. Dia memang butuh uang. Tapi kalau dia terima pemberian itu, rasanya dia jadi seperti bawahan yang diberi per-sen!

Dari luar dapur mereka melihat Atina, Sabita, dan Nopi mendatangi. Pika makin sibuk men-desak. Diambilnya sampul itu dari meja dan dijejalkannya ke dalam kantong sweter Tesa. "Ayo, lekas amankan, nanti mereka semua jadi tahu!" desahnya memaksa.

Tesa tahu Pika tak bisa dibantah. Melihat suasana yang gawat, dengan terpaksa dia menerima dan mengucap terima kasih.

Dua hari kemudian mereka ketemu lagi di ruang cucian di bawah tan ah. Mula-mula Pika seakan tidak mengacuhkannya. Wajahnya agak keruh. Tapi ketika Tesa menyapanya duluan ba-rulah dia mau membalas dengan "Selamat pagi".

"Apa kabar Pasha?" tanya Tesa setenang mungkin. Dia sadar, sebaiknya dia jangan ber-

t«^nya sama sekali. Tapi rasa ingin tahunya tida

b»sa dibendung.sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

V'Oh, dia sudah bisa membaca lagi."

("Sudah mulai kuliah kembali?" I^Semester depan."

Pika terdiam, menatap Tesa, lalu tiba-tiba dia mengrfeJa napas.

' "Ah, kesal, deh. Dia terus-terusan menanya-kan engkau. Akhirnya aku terpaksa bohong. Aku bilang, kau sudah i«Ei^,keJakarta! Sorry, ya, aku bilang begitu."

"Ah, enggak apa-apa," sahut Tesa mencoba ketawa wajar. "Aku rasa malah itu yang paling baik. Pasha itu cuma ingin tahu kayak apa sih tampangku! Hahaha! Eh, teman-temannya sudah tahu lho yang mana Selina! Jadi, sebaiknya aku juga menghindar dari mereka!"

"Oh! Ada yang tahu siapa kau?" Pika kelihatan terkejut.

"Ya. Mereka pernah datang ke tempat Pasha membujuknya supaya kuliah lagi. Tapi Pasha ngotot mau tunggu operasi dulu. Waktu itu aku ada di sana. Dan beberapa hari yang lalu, pas sebelum dia diizinkan pulang, mereka datang menjenguknya!"

"Dan kau kebetulan ada di sana juga!" sam-bung Pika dengan nada kesal.

Tesa mengangguk tak berdaya. "Bukan salah-ku, kan? Mana aku tahu mereka bakal datang."

Pika tidak menanggapi, rupanya asyik dengan pikiran sendiri. Kemudian dia menghela sekali lagi. Setelah mengeluarkan semu^ cuciannya dari mesin, dia menoleh pada Tesa. | "Tesa, minggu depan Pasha ulang tahun. S'!e. benarnya aku ingin mengundangmu dan mer^. perkenalkan kau pada Pasha sebagai Tesa. Kan anak-anak Melayu enggak ada yang tahu, kau pernah kerja di tempat Pasha. Jadi sip. Maksud-ku, agar kau punya kesempatan sekali lagi un--tuk melihat Pasha dan mungkijn- kau akan ikut gembira melihat dia^sudah pulih kembali seperti dulu. Tapiii; "Tasha juga sudah mengundang kawan-kawan kuliahnya yang karib. Dan aku baru tahu bahwa mereka pernah melihatmu dua .-kali. Sekarang, yah! Rencanaku terpaksa batal. Tes, maafkan aku. Aku tidak berani mengundangmu. Sebab pasti ketahuan bahwa aku sudah bohong. Pasha paling benci orang yang suka bohong. JadL.." Pika menatap Tesa dengan wajah lugu, mohon pengertian.

Tesa mengangguk tanpa diminta. Dia men-coba ketawa walaupun rasanya kedengaran sumbang. "Ah, pesta dokter-dokter, mana se-dap! Jangan-jangan yang mereka bicarakan cu-ma penyakit-penyakit fatal melulu. Kan bosan tuh dengarnya kalau yang enggak ngerti macam aku!" Lalu dia melambai dan melenggang pergi sebelum Pika sempat bilang terima kasih (atau sebelum air matanya keluar?).

Bab 6

Musim dingin telah berlalu. Kuliah sudah di-mulai kembali. Bagi Tesa, hidup menjadi rutin lagi seperti dulu. Pergi kuliah, kasih les bahasa, belajar, ngobrol-ngobrol di dapur dengan teman-teman setanah air, makan bersama, me-nunggu surat dari rumah, belanja bahan makan-an, pergi kuliah lagi, kasih les...

Memang menyenangkan bisa selalu bicara dengan teman-teman se-Jakarta, namun akibatnya, bahasa Inggrisnya kurang dipakai, karena itu dia senang sekali bisa mempraktekkannya dengan muridnya.

Profesor Meyer orangnya sudah tua, kurus kering, wajahnya tirus, hidungnya runcing. Dia hidup sendirian, katanya sudah cerai dua belas tahun yang lalu ketika anaknya masih berumur dua tahun.

Tesa kurang jelas apa keahlian si Prof. Kalau tidak salah, Nopi pernah bilang, ahli ilmu poli-tik. Yang pasti, bukan profesor kedokteran.

Profesor Meyer memperlakukannya seperti anak sendiri, bukan sebagai orane asine. Setia

kali selesai les, pasti ada acara minum-minum kopi atau teh. Karena ingin mempraktekkan bahasa Inggrisnya, Tesa tidak keberatan memper-panjang setiap kunjungan. Lambat laun, les itu seakan terbagi dua. Pertama, yang sesungguh-nya: Tesa mengajar. Tapi setelah itu, sambil milium dan makan kue, Profesor Meyer-lah yang mengajarnya bahasa Inggris. Mula-mula cuma percakapan biasa, lisan. Kemudian Prof, meng-usulkan agar dia membawa buku-buku. Dise-butkannya judulnya. Setelah itu, Tesa dianjur-kannya untuk membeli buku tulis. Dan dia pun mendapat PR. i

Ketika Tesa menyatakan ingin memberi honor, Prof, menolak "Kalau begitu, kita sama-sama deh tidak menerima honor," usulnya.

Prof, berkeras menolak. "Kau harus tetap mendapat honor!" katanya setengah marah. "Kalau tidak, kau tak usah da tang lagi ke sini!"

Terpaksalah Tesa menerima saja keadaan yang "berat sebelah" itu. Dirinya memang tidak dirugikan, tapi hatinya merasa malu. Untuk membalas jasa diam-diam, Tesa sering kali membawa kue atau masakan yang dibuatnya sendiri. Laki-laki tua itu kelihatan terharu atas perhatiannya, dan tak pernah menampik setiap oleh-olehnya.

Demikianlah les itu berlangsung tan pa absen dari bulan ke bulan. Tak terasa, setengah tahun telah berlalu sejak Pasha dioperasi. Mungkin dia sudah dioperasi untuk kedua kali dan peng-

lihatannya sudah sempurna betul. Tesa ingin sekali tahu, namun dia sungkan menanyakan-nya pada Pika. Sementara itu hubungan guru dan murid ini pun bertambah erat juga. : Sampai pada suatu hari....

Sore itu Pasha berjalan kaki menuju perhen-tian bis dengan menenteng dua kantong berisi sayur-mayur. Mobilnya rusak, harus masuk bengkel, sedangkan makanannya sudah habis. Jadi terpaksa dia naik bis.

Lonceng gereja sudah menunjukkan jam enam kurang. Penumpang sudah sepi. Dari jauh dilihatnya cuma ada seorang gadis, tengah du-duk termenung. Ketika sudah dekat, didapati-nya bahwa itu orang setanah air. Betapa gem-bira hatinya. Setiap kali melihat teman setanah air yang belum dikenalnya, hatinya selalu dipe-nuhi harapan kalau-kalau saja dia tahu....

Gadis itu berbuntut kuda, mengenakan jeans dan blus longgar berwarna biru. Bibirnya tidak dipoles dan pipinya juga tidak kena pupur. Namun demikian, wajahnya yang bulat telur kelihatan menarik sekali. Dan matanya yang bulat... oh! Matanya tampak terkejut dan bibirnya yang mungil kelihatan bergerak-gerak seolah mau menyapa, namun entah kenapa, batal.

Pasha tidak merasa heran melihat gadis itu kaget atau malah sedikit ketakutan. Memang terkadang begitu sikap gadis-gadis manis yang baru saja tiba dari Jakarta atau kota lainnya.

Mereka masih canggung merighadapi laki-laki yang tidak dikenalnya, walaupun orang setanah air. Terlebih kalau gadis itu sendirian!

Dengan hasrat hendak menghalau ketakutan pada wajah gadis itu, serta membuktikan bahwa dirinya bukan serigala, Pasha sengaja duduk dekat di sampingnya, lalu menyapa duluan.

"Dari Jakarta?"

"Ya," Tesa mengangguk.

"Boleh tahu namanya? Saya sendiri dipanggil Pasha."

Sejenak Tesa terlupa. Hampir saja dia salah sebut, sebab sudah kebiasaan dinamakan Selina di depan Pasha.

"Nama saya Sss... Tesa!"

Alangkah manisnya dia kalau gugup begitu, pikir Pasha tersenyum dalam hati. Tapi kasihan ah, kalau dibikin gugup terus. Dan suaranya kecil banget, seakan takut kedengaran! Ah, lucu sekali sifatnya! Penggugup dan segan bicara!

Sebenarnya Tesa memang takut jangan-jangan suaranya dikenali. Tapi untunglah suaranya itu biasa-biasa saja, tidak mencolok dan sepintas lalu sukar dibedakan dari orang lain. Namun kalau diperhatikan, bagaimana? Mungkin bisa ke tahu an juga, kan?!

"SMA-nya dulu di mana?"

Aduh! Apakah Selina pernah ditanyai begitu juga? Kalau pernah, apa ya jawabnya dulu? Tentu saja dia tak boleh sampai ketahuan satu

on

sekolah dengan Selina! Kenal pun enggak boleh. Namanya pun sebisanya belum pernah dengar!

"Di Budi Utomo," sahutnya akhirnya, sebab Pasha sudah mulai menatapnya penuh heran. Kan aneh kalau orang tidak bisa ingat nama sekolah sendiri?! Sebenarnya dia ingin memilih nama yang lain, tapi karena mendadak begitu, dia tidak siap untuk berbohong. Untunglah rupanya Selina belum pernah ditanya sekolah di mana. Dulu Pasha itu kan sibuk dengan diri sendiri, siang dan malam kerjanya cuma duduk di depan jendela, mengasihani nasibnya yang malang. Mana dia peduli mau tanya-tanya ten-tang orang lain!

"Wa'h! Kenal enggak sama Sosro, Sanu, dan Sambit? Di kelas kami ada jagoan PS3. Mereka itu tiga S-nya." Pasha nyengir.

Dan kaulah P-nya, kata Tesa dalam hati.

"Cuma dengar nama-namanya," sahut Tesa netral agar tidak mencurigakan. Kalau bilang kenal, tentunya mesti kenal juga dengan jagoan yang keempat, bukan? Sebenarnya Tesa memang tidak kenal, sebab mereka empat tahun di atasnya, jadi sudah keluar waktu dia masuk SMA.

"Kami dulu badung sekali," kata Pasha, secara tidak langsung mengatakan bahwa dia termasuk gang PS3 itu. "Cewek-cewek sekelas, kami beri nama bagus. Namarnama Jepang. Michiko-san, Mariko-san, Yuriko-san, Ingusan...! Ha, ha, ha! Tentu saja cewek yang disebut Ingusan itu eng-

gak mau terima nama bagusnya. Tapi apa boleh buat, kami enggak mau mengubahnya dan ka-milah yang berkuasa. Akhirnya dia nekat berji-baku. Sambit dibuatnya jatuh cinta, lalu dia di-pakenya meralat nama bagusnya. Jagoan-jagoan lain keberatan. Gang terpaksa bubar...." Pasha menggeleng, tersenyum sendirian, rupanya ter-kenang masa lalu yang manis.

"Dan sekarang mereka sudah punya gadis manis yang mungil. Sanu dan Sosro juga sudah punya tambatan hati. Tinggal aku...!" Pasha menghela napas.

"Eh, kan kau juga sudah ada Pika!" cetus Tesa tanpa dipikir lagi, dan ketika dilihatnya keheranan pada wajah Pasha, barulah disadari-nya kesalahannya.

. "Oh, jangan heran!" tukasnya seakan menje-laskan. "Begitu dengar namamu, aku langsung tahu, kau pacarnya Pika! Semua orang sudah tahu kisahmu yang mirip Romeo dan Juliet!"

"Yah!" Pasha mengangguk seraya mengeluh. Tapi sebenarnya bukan itu yang' menyebabkan dia heran. Di antara sesama mahasiswa mana ada rahasia mengenai soal pacaran. Sebelum orangtua tahu, teman-teman sudah lebih dulu paham. Yang membuatnya heran adalah...

"Pika itu kawanku seasrama," Tesa sudah me-nyambung, memutus pikiran Pasha. "Dia sering mengeluh mengenai keadaan keluarga kalian. Mengenaskan, memang."

"Ayah kami tak mau saling mengalah. Pada-

hal masalahnya cuma soal gengsi dan persaing-an dagang."

"Kalau disatukan malah menguntungkan, bukan?"sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Begitu pikiran kita yang muda dan waras. Tapi orang yang sudah tua sulit sekali mengalah atau mau mengerti. Kami sebenarnya sudah pacaran dari SMA, tapi selalu sembunyi-sembunyi, sebab dilarang. Barulah setelah di sini, eh... kenapa aku jadi cerita soal riwayat hidup! Kau tentu sebal mendengarnya!"

"Sama sekali, tidak!" Tesa tersenyum. "Mena-rik sekali. Aku harap moga-moga kalian bisa... bahagia...." Suaranya mendadak jadi kecil, se-hingga dia cepat-cepat menunduk takut ketahu-an matanya berlinang.

"Sejak aku kecelakaan, memang mereka lebih lunak. Aku terus-menerus menulis surat me-nyatakan bahwa Pika-lah yang banyak mengu-rus diriku selama aku tak berdaya. Tapi sebenarnya sih, bukan..."

Tesa sudah ingin mencegah Pasha bicara te-rus, tapi kemudian dia teringat, Pasha tentu saja tidak diberitahu oleh Pika bahwa kehadiran Selina harus dirahasiakan.

"Yang berjasa besar adalah seorang gadis manis bernama Selina. Dia..."

"Dari mana kau tahu Selina itu manis?" Tesa tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya.

"0, aku tahu begitu saja. Dari suaranya. Dari

sentuhannya. Eh, kau pasti kenal dengasnya, bukan? Bagaimana sih wajahnya sebenarnya?"

"Wah, cewek pan tang dong menilai sesama-nya!" sahut Tesa ketawa geli. "Nanti kan bisa berat sebelah!"

"Ya, betul juga. Sayang ya, dia sudah balik ke Jakarta." Suara Pasha begitu menyedihkan sehingga hampir saja tercetus dari bibir Tesa sepotong kebenaran, tapi kemudian dia teringat janjinya pada Pika dan bibirnya pun terkatup kembali.

"Barangkali kau tahu alamatnya di sana?"

Tesa menggeleng. "Sayang, tidak."sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Pasha menghela napas. "Heran. Rupanya tak ada seorang pun yang tahu mengenai dia! Ma-lah semuanya belum pernah mendengar namanya kecuali engkau."

Tesa menunduk untuk menyembunyikan ga-lau di hatinya. Tentu saja cuma dia yang tahu! Habis, Pika tak pernah cerita pada siapa pun mengenai kehadiran Selina!

Pasha mengawasi Tesa yang sedang menunduk. Perasaan aneh kembali melanda dirinya. Ada sesuatu pada gadis itu yang rasanya tidak asing lagi baginya. Seakan mereka pernah ke-temu... apakah ini suatu de ja vu, pikirnya. Merasa sedang ditatap, Tesa menoleh. Mereka

perasaan sudah pernah mengalami

beradu pandang. Pasha heran melihat wajah gadis itu muram terus sejak tadi.

"Ngomong-ngomong, kenapa sih kau kelihat-annya begitu sedih? Barangkali aku bisa mem-bantu?"

Berada di rantau orang sendirian, mendengar suara yang begitu simpatik yang sudah lama dikenalnya, membuat Tesa pecah tanggul per-tahanannya. Diceritakannya mengenai Profesor Meyer yang belajar bahasa padanya. Dalam hati dia bersyukur, dulu tidak sampai membocorkan pada Pasha maupun Pika, siapa nama calon muridnya.

"Hubungan kami sudah akrab. Aku sudah menaruh kepercayaan padanya. Dia begitu baik, sehingga aku pun tidak segan-segan membuat-kannya berbagai penganan setiap kali les, mula-mula seminggu dua kali. Kemudian dia minta ditambah jadi tiga kali. Katanya, biar lekas pin-tar, sebab dia punya rencana mau ke Indonesia. Katanya, temannya ada yang jadi penasihat di Departemen Keuangan. Mungkin dia juga ingin jadi penasihat politik, kali! Tapi aku tak pernah bertanya. Eh, tahunya dia salah menafsirkan perhatianku. Mungkin sangkanya aku jatuh hati padanya. Dan tadi... dia... memeluk aku begitu erat sambil membelai-belai serta membisikkan segala omong kosong. Aku begitu kaget dan takut, sampai aku berontak dan lari ke jalan. Padahal had ini mestinya aku gajian! Sekarar

aku enggak berani da tang lagi untuk mints uangku...."

"Pantas kau begitu sedih! Bagaimana kalau aku antarkan kau ke sana? Apa yang menjadi hakmu, lebih baik kau tun tut!"

"Ah, jangan. Enggak usah. Aku lebih suka kelaparan daripada melihatnya sekali lagi."

Mereka berdiam diri sejenak. Bis berhenti di depan mereka. Tesa memperhatikan nomornya. Sayang, bukan untuknya.

"Itu bismu sudah datang," katanya pada Pasha.

"Biarlah. Aku masih ingin ngobrol dengan-mu," sahut pemuda itu menggeleng. Kemudian dia terkejut sendiri. Bagaimana gadis ini bisa tahu bahwa itu bis yang jalan ke jurusan tempat tinggalnya?! Apakah namanya sudah begitu te-nar di samping nama Pika?! Tapi kemudian dijelaskannya sendiri, pasti Tesa mengetahuinya dari Pika. Mereka kan satu asrama. Kalau ma-lam, tidak ada kerjaan, ngobrol di dapur, apa lagi yang jadi topik selain pacar masing-masing?! Pasha tersenyum dalam hati. Tapi, ke-lihatannya gadis ini kok seperti belum punya gandengan?!

Di tengah lamunannya, tiba-tiba Pasha teringat sesuatu dan menepuk dahinya. "Eh, gima-na kalau kau kasih les pada teman-temanku di kos? Suami-istri setengah umur. Mereka baik sekali dan pasti takkan coba-coba melalapmu seperti Prof. tadi. Sudah lama mereka merengek

minta les padaku, tapi aku mana ada waktu

luang? Kalau aku enggak bisa lulus dalam dua tahun mendatang, bisa-bisa ayahku akan me-nyatroni kemari, membawa pistol! Aku sudah memboroskan banyak uang katanya!" Pasha ke-tawa kecil, lalu serius lagi.

"GimaUa? Mau, ya? Nanti aku hubungi mereka dulu. Pasti mereka akan kegirangan mendapat guru secantik ini! Eh, kok merah muka-mu?!" goda Pasha ketawa.

"Kalau aku adukan pada Pika, tahu rasa kau!" ancam Tesa geli bercampur sengit. Dia seenak-nya saja menggoda, tidak tahu di dalam, hatiku sudah jungkir balik! pikirnya.

"Wah, jangan dong, aku minta maaf, deh, enggak berani lagi menggodamu. Tapi kalau kau memang mau kasih les, nanti aku minta mereka meneleponmu. Beritahukan saja nomor kamarmu. Teleponmu sama kan sama Pika?"

Tesa terpaksa menerima tawaran itu, sebab dia memang butuh murid.

"Kamarku di tingkat dua, nomor tiga."

"Dan suami-istri itu tinggal di tingkat ketiga, di atas kamarku. Keduanya ramah sekali, kau pasti segera betah bersama mereka."

Sebuah bis kembali berhenti. Sekali ini, untuk Tesa. Dia pun bangkit sambil mengulurkan ta-ngan. Terima kasih banyak, Pasha," katanya setengah berbisik.

Pasha menjabatnya erat sekali, seakan segan melepas. "Sampai jumpa lagi," katanya. Tapi

Tesa tidak menjawab. Dia tahu, mereka takkan berjumpa lagi. Tanpa menoleh dia melangkah naik ke dalam

bis

*** sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Ketika Pasha tiba di rumah, ternyata Pika sudah menunggu. Dari arah dapur tercium wa-ngi masakan. Em. Udang rendang kesukaannya.

Pika mengecupnya dengan mesra sambil me-meluk lengannya dengan manja. "Ke mana saja sih, kok sampai telat begini? Apa kau-lupa? Ini kan Jumat sore, dan aku selalu kabur dari kuliah supaya bisa cepat-cepat ke sini!"

"Sorry, Pik, aku kelupaan. Soalnya, aku ke-temu kawanmu yang sedang kesusahan. Jadi aku bicara dulu sama dia untuk menolongnya."

"Kawanku? Siapa, sih?" tanya Pika dengan kening berkerut.

"Namanya Tesa. Dia hampir saja diperkosa oleh muridnya, sampai dia melarikan diri dan enggak bisa gajian. Aku kasihan melihatnya, jadi aku tawarkan murid-murid." Pasha menun-juk ke loteng. "Tuan dan Nyonya Graham kan sudah lama ingin belajar bahasa Indonesia? Jadi aku usulkan supaya dia saja yang mengajar. Nanti akan kutelepon mereka untuk memberi-tahu."

Pika mendengarkan dengan bibir terkatup. Tapi di dalam, makin lama dia makin bertam-

bah kaget serta cemas. Jadi Tesa akhirnya ber-hasil juga kenalan dengan Pasha-nya?! Tahukah Pasha siapa Tesa sebenarnya? Itu harus dise-

lidikinya! Segera! Begitu selesai makan, Pika menyuruh Pasha

menelepon Tuan Graham.

"Jadi malam ini juga aku bisa memberi kabar pada Tesa," dalihnya. Sebenarnya, dia tidak ingin Pasha sampai harus menelepon Tesa pri-badi.

Pasha menurut. Ternyata Tuan Graham me-nyambut dengan baik. Bahkan minta les dimulai besok atau sesegera mungkin.

Pika pulang ke asrama membawa berita gem-bira itu, dan langsung mengetuk pintu kamar Tesa. Dia dipersilakan masuk baik-baik. Tapi begitu pintu sudah ditutup, meledak marahnya sampai Tesa mundur ketakutan.

"Jadi di belakangku kau masih coba-coba mendekati Pasha, ya? Kau ingkar janji kalau begitu! Bukankah dulu kau sudah setuju untuk menjauhi Pasha begitu tugasmu beres? Apa kau sekarang berniat merebutnya, setelah kaulihat betapa gantengnya dia? Setelah matanya sem-buh kembali?"

Tesa memegang lehernya seakan mau mene-nangkan jantungnya yang terasa meloncat sampai ke situ. Matanya berlinang dituduh yang bukan-bukan begitu. Terlebih karena dia di-ingatkan pada nasibnya sendiri. Dengan keke-

rasan hati dicobanya menahan air mata dan menjawab dengan tenang.

"Pik, aku tidak berniat melakukan hal seperti itu. Dulu aku juga pernah punya pacar segan-teng pacarmu. Tapi teman baikku merebutnya. Aku tahu bukan main sakitnya hati kehilangan pacar. Karena itu kau tak usah cemas. Aku takkan me rebut Pasha-mu!"

"Tahukah dia siapa kau sebenarnya?" Tesa menggeleng. "Dia memang menanyakan tentang Selina. Aku bilang anak itu sudah balik ke Jakarta. Dia tanya alamatnya di sana. Aku bilang, enggak tahu."

"Hm. Nih! Ada kabar buatmu! Besok atau lusa kau sudah boleh mulai kasih les pada suami-istri Graham. Tapi awas, jangan main mata sama Pasha!"

Bab 7 sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Tuan dan Nyonya Graham adalah sepasang merpati di ambang lima puluhan. Mereka me-nikah empat tahun yang lalu, masing-masing untuk kedua kali. Suami Maureen Graham me-ninggal hampir sepuluh tahun berselang karena komplikasi kencing manis. Sedangkan istri Roger ketabrak lori enam tahun yang lalu. Dari perkawinan terdahulu masing-masing mempu-nyai dua orang anak yang sudah dewasa dan berkeluarga.

Kakek dan nenek berambut kelabu itu sangat ramah, sehingga sebentar saja Tesa sudah merasa betah mengajar mereka. Selain suka melucu dan penuh humor, Nenek Graham juga senang memasak Setiap kali les, pasti ada suguhan. Berlainan dengan di tempat Profesor Meyer, di W Tesa bisa melahap semuanya dengan santai. ~k tahu, suguhan itu tidak mengandung udang di balik batu.

I Nenek Maureen kelihatan lebih cepat me-8«asai bahasa. asing daripada Kakek Roger.

Atas permintaan mereka, pelajaran itu disertai peragaan benda-benda.

Pada suatu kali Tesa menunjuk korek api, lalu mempersilakan si kakek untuk memintanya, Dengan serius dia bilang, "Berilah saya kereta api, saya mau merokok."

Ketawalah Tesa bersama Nenek Maureen, sehingga Kakek Roger tersipu-sipu. Pada les yang berikut, Tesa menunjukkan peta Pulau Jawa.

"Saya mau pergi dari Jakarta ke Surabaya naik..." Dan dia menunggu Kakek menjawab.

Dengan lantang dan gagah dia berseru, "...naik kereta man!"

Grrr. Yang lain ketawa. Kakek kebingungan, menoleh kiri-kanan seolah mau tanya di mana salahnya, kan jawaban itu sudah betul!

Begitulah setiap kali les ada saja kalimat yang aneh dan lucu. Seperti, "Maureen, bunuh lampu di da pur," atau "Bunuh lemari pendingin!"

Tesa jadi teringat pada Ria, teman asrama yang berasal dari Sulawesi Selatan. Bicaranya per sis begitu.

Kebalikannya, waktu harus pakai "bunuh", si kakek linglung dengan yakin memakai kata lain. "Orang itu dipadamkan oleh penjahat dengan pistol." Atau, "Orang itu padam ditabrak. mobil."

"Huss!" sera Nenek Maureen cepat-cepat. "Orang itu tewas—tewas, mengerti?! Bukannya padam!—ditabrak mobil!"

Walaupun sering salah, sebenarnya Kakek

pun cukup serius belajar, seperti istrinya. PR-nya tak pernah kelupaan dibikin. Tapi yang paling menggelikan Tesa terjadi pada suatu siang. Setelah makan kue dan membenahi

catatan-catatannya ke dalam tas, Tesa pamit. Kedua muridnya mengantar sampai ke pintu.

"Bye-bye, dear," kata Nenek dengan mesra, tapi Kakek ingin menunjukkan kepandaiannya. Sam-bil melambai dengan antusias dia berseru, "Bye-bye\ Sampai mati!"

"Eh!" tegur istrinya. "Bukan begitu! Sampai nanti! Bukan mati!"

Sambil menahan geli Tesa menuruni anak tangga ke bawah. Setibanya di tingkat dua, alangkah kagetnya dia ketika ditegur, "Apaan, tuh! Kok mesem-mesem sendirian?!"

Diangkatnya wajahnya. Kiranya Pasha tengah berdiri di anak tangga paling bawah. Sebelah tangannya bertumpu pada pinggir tangga. Ta-ngan yang lain di dalam saku. Dan ketika Tesa berusaha mau jalan terus, tangannya melejit ke-luar untuk menahannya.

"Eeiiit, disapa kok enggak nyahut? Budek, ya?"

Tesa jadi ketawa walaupun tak ingin. Dia sungguh belum lupa teguran Pika yang begitu pedas di kamarnya ketika tahu bahwa dia telah berkenalan dengan Pasha. Tesa tidak mau hal itu terulang lagi.

"Kau sendiri apa-apaan menahan orang le-wat?" 'jM

"Lantaran aku mau ngomong denganmu." "Lain kali aja, deh. Aku masih harus member! les di tempat lain, nih!"

"Batalkan saja!" - "Enaknya. Mana bisa main batal-batal begitu! Memangnya ini di Melayu?!"

Pasha tetap tidak mau melepaskan ceng-keramannya dan Tesa tidak sudi berontak-berontak kayak adegan film kampungan. Di-pelototinya Pasha sambil berusaha mengirim su-gesti agar laki-laki itu mau melepasnya. Tapi rupanya ilmu penyaluran pikirannya masih per-lu banyak latihan. Dia tak berhasil. Pasha ma-lahan menyeretnya ke arah pintu apartemennya. "Eh, eh, apa-apaan ini?" serunya agak panik. "Telepon saja muridmu dari sini. Katakan, kau migrain! Dia pasti takkan marah." "Apa itu migrain?" "Sakit kepala sebelah." "Sebelah mana?"

"Sebelah mana saja maumu. Boleh kiri, boleh kanan asal jangan dua-duanya. Nanti namanya sudah lain."

Tesa mencoba memperkuat kuda-kudanya di lantai. Bagaimanapun, saudara tetangganya di Jakarta pernah berguru pada ahli silat di Kam-pung Melayu, kalau tidak salah, golongan Ga-gak Hi tarn. Dan dia sampai bosan menyaksikan-nya berlatih. Kalau kuda-kudanya sudah di tan-cap di tanah, dua orang laki-laki tegap pun tak

bisa mendorongnya apalagi menggeser dari

tempatnya.sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

Kelihatannya sih seperti begini caranya, pikir-nya sambil mengatupkan geraham dan mene-kankan kedua kakinya kuat-kuat ke lantai. Pe-luhnya sampai merembes keluar di dahi. Namun kok rasanya Pasha tetap berhasil menarik-nya?!

"Eh," seru Pasha ketika menoleh padanya. "Kenapa kau ngejan-ngejan begitu sampai man-di keringat? Apa belum tahu, itu bisa menye-babkan timbulnya wasir?"

Brengsek! kutuk Tesa dalam hati. Kok dia bisa tahu sih salah satu ketakutannya yang ter-besar?! Wasir! Kata orang, penyakit itu ketu-runan. Dan ayah, ibu, kakek, serta abangnya semua sudah dapat. Tinggal dia yang belum dikunjungi jurik wasir! Sudah beberapa tahun ini dia waswas terus, takut kebagian! Iiih, amit-amit!

Terpaksa dihentikannya percobaan latihan ju-rus Kuda Besi Menghantam Pintu Neraka.

Mereka sudah tiba kini di depan pintu. Pasha mendorongnya dengan sebelah kaki sampai tep> jeblak lebar. Seperti kerbau dungu, Tesa mem-biarkan dirinya diajak masuk. Setelah di dalam barulah timbul paniknya. Dia mencoba melepaskan diri dan meraih daun pintu, tapi Pasha malah mendorongnya lebih jauh ke dalam sambil ketawa geli. Lalu ditutupnya pintu.

"Nah," katanya berdiri dengan tangan terlipat

i dada. "Silakan menelepon muridmu. Itu tele-ponnya."

"Tidak. Aku harus pergi 1" sahut Tesa meng-geleng. Dia mau menelepon siapa? Hari ini tak ada les lain! Besok baru ada.

"Kenapa sih kau kelihatannya macam orang ketakutan begitu? Aku ini bukan pemakan orang. Duduklah. Aku cuma ingin membangga-kan hasil karyaku. Kue dadar! Tak ada orang lain yang bisa kupanggil untuk memujiku. Jadi kau saja yang aku sandera. Masa sih kau enggak mau memberikan sedikit kegembiraan pada orang lain? Jam berapa kau harus memberi les? Kau boleh segera pergi setelah mencicipi kueku. Tapi jangan harap, sebelumnya!"

Tesa jadi merasa geli dalam hati namun tidak diperlihatkannya. Tapi dia sekarang tidak mela-wan lagi disuruh ikut ke dapur, setelah tahu maksud Pasha yang sebenarnya. Di samping itu, dia kepingin sekali melihat kembali daerah kekuasaannya beberapa bulan yang lalu.

Masih seperti dulu. Cuma agak berantakan. Di sana-sini ada perabot yang terlupa dibenahi. Misalnya timbangan kue yang seharusnya ada di lemari bawah sebelah kiri. Kocokan telur yang baru saja dipakai bikin kue dadar, masih tergeletak di meja, belum turun ke tempat cuci piring. Panggangan roti yang penuh remah-remah belum dibersihkan. Bagaimana keadaan kulkas?! Ketika dia datang untuk pertama kali, lemari es itu kotor banget Rupanya baik Pika

maupun Pasha sama-sama kelewat sibuk, tak pernah punya waktu untuk mengurus dapur.

Di atas meja dilihatnya setumpuk kue dadar berwarna kuning yang kelihatannya amat meng-goda perut. Harumnya, oooi! Tesa melangkah seakan mau menghampiri meja, namun ketika lewat di depan kulkas, tanpa disadari tangannya sudah menjangkau pintu dan... membuka-nya.

Amboi! Sudah kembali kotor seperti sedia-kala! Mentega terbuka begitu saja, menyemiri pinggir-pinggir pintu. Sayuran setengah busuk masih dibiarkan di situ. Ham sebesar paha bayi menggeletak di tengah rak, menyita tempat dan menumpahkan saus dalam mangkuk.

Dia tahu, makanan Pasha memang cuma ham dan selada. Dia malas masak. Andaikan rajin pun, dia tidak becus, menurut Pika.

Hm. Rupanya karena itu dia perlu betul mendengar pujian orang lain untuk kue dadar yang barangkali baru pertama kali dibuatnya dalam hidupnya.

"Kau mencari makanan? Lapar?"

Dia terkejut ketika tahu-tahu disadarinya tuan rumah sudah berdiri di belakangnya. Habis! Biasanya kan dia cuma jadi patung, tak berge-ming dari jendela! Jadi dia terlupa!

"Aku tidak punya apa-apa. Cuma ham dan selada setengah busuk!"

Tesa segera menutup pintu dengan sikap ber-salah, lalu menoleh. Dilihatnya Pasha sedang

menyeringai malu, enggak bisa menawarkan

yang lebih baik pada tamu istimewanya.sbook by otoy

http://ebukita.wordpress.com

"Kita makan kue saja deh, ya?" katanya setengah membujuk.

Tesa tiba-tiba tersenyum. "Aku enggak lapar, kok. Barusan di atas, perutku sudah pol dijejali kue apel."

"Tapi kau harus mencicipi kue dadarku!" kata Pasha dengan cepat, khawatir barangkali perut Tesa yang sudah pol akan menolak.

"Oke, deh/ tukas gadis itu mengangguk se-raya menarik kursi untuk duduk. "Ada rezeki, masa sih mau ditampik?"

"Nah, gitu dong!" sambut Pasha kegirangan. Setelah menyodorkan piring kue yang se-tinggi gunung itu ke hadapan Tesa, dia pergi ke pojok dapur untuk membuat kopi. Maka di siang cerah itu mereka pun mengunyah kue dan menghirup kopi.

"Enak?" tanya Pasha dengan nada khawatir. Tesa mengangguk, lalu nyeletuk, "Punya ba-kat terpendam juga nih rupanya!"

Pasha menunduk dan menghela napas diam-diam, tapi terlihat juga oleh Tesa. "Dulu," katanya tanpa mengangkat muka, "ada orang yang sering membuatkan aku kue ini. Setiap kali dia bikin, aku selalu berada di sampingnya men-dengarkan dia menyebutkan bahan-bahan yang diperlukan, terigu berapa, men teg a berapa, te-lur, gula berapa, susu berapa. Saking kesering-an, lama-lama aku jadi hafal."

Pasha mengangkat kepala dan memandang-nya dengan senyum sendu menghias wajah. Tesa kontan berdebar-debar ditatap begitu. Lekas-lekas dia menunduk, menyembunyikan salah tingkahnya dalam cangkir kopi. Namun rasa ingin tahunya terlalu besar. Diletakkannya cangkir itu, lalu tanpa berpikir lagi sudah nyeletuk, "Siapa sih orang itu? Ibumu?"

"Bukan." Pasha menggeleng. "Itu terjadi di sini. Namanya, Selina. Yang tempo hari sudah aku sebutkan. Seorang gadis yang amat manis!"

"Ah! Selina lagi!" seru Tesa dengan lagak jemu. "Dari mana kau tahu dia itu manis sekali? Rupanya kau belum pernah melihatnya, ya. Selina itu bopengan, tahu!"

Seketika suasana jadi hening. Cangkir di ta-ngan Pasha nyaris terbanting ke meja. Suap di mulutnya nyaris mencekik tenggorokan. Matanya melotot seakan melihat-setan gentayangan. Tesa hampir menyesal telah membunuh ilusi yang selama itu disayang-sayang dan dipuja oleh Pasha.

Tapi Pasha ternyata tidak marah atau kecewa. Dia hanya menghela napas. "Pantas," gumam-nya. "Pantas dia tak mau menemui aku! Begitu aku bisa melihat lagi, dia langsung kabur ke Jakarta. Kabarnya dia minder!"

Hampir tercetus pertanyaan dari bibirnya, "Siapa bilang?" Tentu saja dia marah disebut minder, tapi sesaat kemudian dia tenang kembali. Biar saja mau dibilang apa kek, yang pen-

ting dia tahu itu tidak benar. Siapa lagi yang tega bikin isu begitu?! Pasti...

"Ya, ya, ya, kalau begitu perkataan Pika benar," sambung Pasha pelan seakan pada diri sendiri. "Selina itu minder. Cuma waktu itu aku belum tahu kenapa. Kiranya dia bopeng!"

Hm. Jadi benar dugaannya. Ular juga si Pika itu! Sudah aku tolong menjagai buah hatinya, eh, di belakangku dia jelek-jelekkan aku! Minder, katanya! Hm. Lantaran enggak punya pacar seganteng pacarnya?!

"Ah, orang sebaik itu! Kau tahu, Tesa, dulu itu aku sering kali memarahinya. Ini enggak benar, itu salah. Tapi dia selalu sabar dan tetap ramah. Ah, rasanya seratus tahun pun aku be-tah hidup bersamanya. Seandainya saja aku bisa ketemu dia lagi. Ah! Aku akan rela sekali men-dampinginya, walaupun orang lain tak ada yang sudi padanya!"

Tesa jadi bengong menatapnya. Dilihatnya mata Pasha yang hitam dan indah itu berlinang. Hei! Tidak disangkanya leluconnya bisa jadi serins kayak gini! Mau ketawa pun sekarang sudah susah! Telanjur! Apa yang harus diperbuat-nya kini?!

Tiba-tiba dia teringat kawan-kawan kuliah Pasha yang pernah melihatnya. Keringat dingin mendadak mengucur di balik bajunya. Oh, ya! Untung sekali Pasha rupanya tidak sampai tanya-tanya pada Thomas seperti apa tampang "bidadarinya" dulu itu!

• "Lantas, Pika mau dikemanakan?" tanyam tidak tanggung-tanggung, kepalang bohong, baiknya diteruskan saja memuaskan rasa ingin tahunya. Yang namanya Pasha ini kan tempo

hari, aduh cerewetnya, mentang-mentang maji-kan yang bayar gaji! Biar sekarang dikilik-kilik-nya sedikit rasa ibanya. Kalau bisa sampai me-wek, lebih bagus!

Tapi Pasha mungkin tidak mendengar. Dia tidak menjawab. Sebaliknya, seakan. tersadar ada tamu, didorongnya kembali piring kue dan memaksa Tesa mengambil lagi. Ditungguinya sampai gadis itu menggigit dan mengunyah, lalu dilontarkannya pertanyaan sekali lagi, "Enak?"

Tesa mengangguk, tersenyum. Tak ada lagi yang ingat soal memberi les. Nyaman juga ber-handai-handai begini. Tapi ah, mendadak dia teringat kemungkinan Pika muncul di situ. Dia mesti hengkang cepat-cepat kalau tidak mau dimaki orang!

Dia berlagak melihat arloji, mengerutkan ke-ning, lalu berdiri.

"Ayo, ah. Aku betul-betul harus pergi sekarang. Tapi sebelum itu, biarlah aku cuci dulu gelas-gelas ini. Kuemu sungguh enak. Kapan-kapan aku minta resepnya, ya!"

"Oh, enggak boleh! Kalau kau mau makan kue dadar, kau mesti datang ke sini!^

"Huh!. Pelit!" Tesa mencibir*—heran, gampang betui orang jadi manja di depan cowok simpatik

seperti ini!—sambil mengangkut gelas-gelas ke bak cuci piling.

"Bukan pelit, Tes. Ilmu rahasia itu cuma ditu-runkan padaku seorang dengan pesan, katanya enggak boleh dikasih tahu ke siapa-siapa!" ujar Pasha dengan serius seakan itu ilmu' hitam yang berbahaya.

"Ah, ngibuU" sambut Tesa setengah geli. Se-ingatnya, dia tak pernah berpesan begitu pada Pasha Solem.

"Betui, kok. Tapi Selina juga berpesan lagi, kalau ada gadis manis yang mau jadi pacarku yang setia dia boleh dikasih tahu...!"

"Wah, rupanya kau ini mata keranjang, ya! Sudah ada Pika, dan tadi masih merindukan cewek bopeng yang kauanggap sama cantik dengan dewi kayangan. Eh, masih kepingin pacar lain lagi yang mau kaupincuk dengan sepotong resep rahasia...."

"Habis! Aku kesepian!" keluhnya seakan ke-sakitan. "Pika terlalu sibuk dengan kuliah dan praktikum. Sekarang saja sudah begini, apalagi nanti kalau sudah lulus?! Pagi praktek, siang praktek, malam pun praktek. Kapan dia mau membagi waktu untuk keluarga? Barangkali aku salah, sudah menganjurkan supaya dia ikut aku masuk kedokteran!" Pasha menarik napas pan-jang pendek seperti orang dililit utang yang. ditunggui juru sita di depan rumah. Kelihatannya dia masih mau bikin pengakuan sejam-dua jam lagi, tapi Tesa merasa tidak sanggup jadi

hakim yang tidak berat sebelah. Lebih baik dia pergi saja sekarang juga.

"Maksudku dulu, supaya kami bisa belajar sama-sama. Lalu nanti, prakteknya juga sama-sama...."

Tesa mengeringkan gelas yang terakhir. Dilihatnya sekali lagi arlojinya yang sebenarnya sudah mati sejak tadi (mungkin baterenya sudah habis, terpaksa dia langsung ke toko dari sini), lalu mengambil tas berisi dompet dan catatan mengajarnya. Dipandangnya Pasha (mungkin untuk terakhir kali, pikirnya) lekat-lekat seakan mau mematri wajahnya dalam hati.

"Sorry banget deh, Pas. Aku betul-betul mesti pergi. Sudah cukup lama aku di sini. Kalau ketahuan Pika, bisa perang nuklir, nih!"

"Dia takkan tahu!" suara Pasha begitu keras seperti geledek, sampai Tesa terperanjat. "Kalau tahu pun, enggak apa-apa. Seandainya dia berani marah, aku bisa lebih marah lagi. Aku punya banyak alasan...."

Walah, walah! Tesa enggak mau jadi saksi-dengar kericuhan dalam negeri orang. Cepat-cepat diputarnya gerehdel pintu, lalu melambai.

"Bye!"

."Nanti datang lagi!" seru Pasha.

Maksudnya sih terang mengundang, tapi na-danya kok setengah mengancam, pikir Tesa geli. Dia berlagak tidak mendengar dan tidak me-nanggapi.

Tapi dari sekali jadi dua kali. Dua kali jadi empat kali, lima kali, enam kali... Akhirnya, hampir setiap kali selesai memberi les di tingkat tiga, Tesa sudah ditunggu oleh Pasha di tingkat dua. Dan dia mau masuk memenuhi undangan-nya. Ketika dipikir-pikimya di kemudian hari, dia sungguh tidak tahu apa sebabnya dia mau saja diajak mampir. Padahal dia sadar bahwa Pasha itu milik orang lain dan dia sendiri tidak sudi dijadikan ban serep. Mungkin dia juga sama-sama kesepian seperti Pasha? Di rantau orang tanpa sanak keluarga?

Bagaimanapun, dia jadi senang bertandang. Malah rasanya makin giat mengajar suami-istri Graham, walaupun hal ini dibantahnya mati-matian (dalam hati).

Tentu saja Pasha jarang sekali bikin kue dadar. "Seenak-enaknya pun pasti bosan juga akhirnya," dalihnya, lalu memancing Tesa agar suka menunjukkan kemahirannya.

Herannya, gadis itu tidak menolak. Kalau si-angnya habis bertandang ke tempat Pasha, lalu malamnya ketemu Pika di dapur, dia merasa sedikit bersalah, kikuk, dan tidak banyak bicara. Tapi esoknya dia sudah lupa. Dan ketika datang lagi ke tempat Kakek-Nenek Graham, Pika sudah jauh di awang-awang, tak teringat lagi olehnya.

Begitulah dia jadi sering main ke tempat Pasha. Acaranya tak banyak variasi. Biasanya Pasha duduk membaca buku atau membuat

laporan, sementara Tesa sibuk di dapur bikin kue. Kalau kue yang dipanggang atau-digoreng sudah berbau harum, Pasha akan terbirit-birit datang, menawarkan 'bantuan'. Tesa akan ketawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Pasha yang berlagak mau menolong sungguhan. Kalau Tesa bilang semua sudah beres, tinggal tunggu matang, dia akan balik menengok kue setiap lima menit. Setelah kue siap, Pasha akan berhenti sebentar dari belajarnya, lalu mereka duduk di meja atau di lantai, melahap kue buatan Tesa sambil mendengarkan musik.

Pasha kelihatan ramah, berlainan sekali dengan masa ketika dia masih cacat. Dia juga selalu menanyakan kemajuan kuliah Tesa serta kepandaian murid-murid di loteng—Pasha me-nunjuk ke atas tempat tetangganya—dan Tesa selalu melaporkan kalimat-kalimat lucu yang di-katakan oleh Kakek Graham.

Walaupun Pasha penuh perhatian, namun Tesa tidak menjadi lengah. Dia tahu, pemuda itu masih mencintai Pika. Dia cuma kesepian belaka. Atau barangkali sengaja mengundang-nya ke situ untuk memancing rasa cemburu Pika?! Memang dia sering heran kenapa Pasha selalu mau menahannya lebih lama dan lebih lama lagi di tempatnya seakan berat berpisah. Apa dia mau tunggu sampai Pika muncul?! Awas saja kalau dia sampai memperalatnya!

Tidak. Dia tak boleh terjerumus ke dalam perangkap apa pun yang dipasang oleh Pas

ki-Iaki tak boleh terlalu dipercaya, pikirnya teringat pengalaman getir. Bahkan Selina pun sekarang sudah tidak dtingatnya lagi, padahal baru beberapa bulan berselang masih dirindu-kannya siang malam! Pasha milik Pika, titik. Dia main ke tempat laki-laki itu sekadar meng-isi kejenuhan hati (atau kekosongan?!).

Yang membuat Tesa terkadang gemetar (dalam hati) adalah stkap Pasha. Tanpa hujan tanpa angin dia suka berhenti mengunyah, mena-tapnya dengan aneh lalu bergumam hampir tak nyata, "Aku teringat pada seseorang...." atau, "Kau mengingatkan aku pada seseorang!"

Tentu saja Tesa tidak berani bertanya siapa orangnya, walaupun rasa ingin tahu membakar dadanya. Alih-alih, dia malah jadi ketakutan, jangan-jangan... ah! Jangan coba-coba main api, kalau tidak mau terbakar, katanya memper-ingatkan diri.

"Siang ini aku mau bikin kue serabi!" katanya seakan memproklamasikan sebuah produk baru di bidang persabunan.

"Dengan santan manis yang gurih?"

Mata Pasha langsung berbinar. Tesa jadi ka-sihan melihat laki-laki ganteng setegap itu masih berlagak seperti anak kecil saking kesepian-nya. Betapa telantarnya dia! Sampai ngidam santan gurih yang manis!!

Dalam hati dia menyesali Pika yang tidak tahu diuntung. Berapa banyak cewek yang iri padanya. Coba hitung yang gampang: di dapur asrama saja sudah didengarnya Atina dan Sabita, sahabat Pika, yang hampir menceburkan diri ke Sungai Swan gara-gara cinta. tak sampai (pada Pasha Solem). Belum lagi gadis-gadis lain yang tidak didengar atau dikenalnya. Tapi pe-milik asli justru tak peduli atau tidak berusaha menyenangkan hati kekasih. Pika tidak kelihatan ada kemauan untuk mempertahankan cinta-nya. Mungkin sangkanya Pasha sudah jadi mi-liknya sejak penitisan yang lalu!

"Ya, ya, dengan santan gurih yang manis. Pakai gula merah! Tapi kau diam-diam saja di sini, jangan ikut-ikutan ke dapur. Nanti bisa batal."

"Batal kenapa?" usik Pasha ketawa. "Masa sih bikin serabi aja bisa batal? Memangnya harus bugil?"

"Kalau misalnya ya, kan berarti kau tak boleh hadir, bukan?" "Bukan!" sahutnya serius. "Apa?"

"Berarti boleh!"

"Apa? Udah deh, aku enggak jadi bikin. Men-dingan pulang, tidur!" Tesa beranjak ke pintu. Pasha lebih cepat lagi bergeser ke sana.

"Eh, sudah masuk enggak boleh keluar lagi sebelum bikin kue! Itu pantangan, tahu! Pamalil Ayo, ke dapur sana! Kalau tidak selesai kueny

aku sekap kau sampai beres!" Pasha berlagak mengancam dengan nada bengis, tapi matanya berbinar mau ketawa.

Tesa pun berlagak ngeri dan menggelinding ke dapur tanpa membantah. Kalau dipikir-pikir-nya kemudian sikapnya persis remaja bego.

Ketika Tesa sudah di dapur kira-kira seper-empat jam, tiba-tiba Pasha berhenti menulis dan mengerutkan kening. Dari arah belakang dide-ngarnya bunyi kelontang-kelonteng panci dan sendok. Keningnya makin penuh kerut. Heran. Kok gadis itu sama sekali tidak mengalami ke-sulitan untuk menemukan alat-alat atau bahan-bahan yang diperlukannya?! Kalau Pika yang di sana, setiap satu menit pasti dia akan berkaok, "Pas, di mana gula jawa?"; "Pas, di mana pengo-cok telur?"; "Pas, di mana botol minyak?"

Heran. Anak ini rupanya memang sudah bia-sa main di dapur, sampai dia tahu di mana letak barang-barang...! Eh, tapi bagaimana dia bisa tahu di mana kocokan telur?! Alat itu ja-rang sekali dipakainya dan karena itu disimpan-nya dalam lemari yang paling atas. Untuk mengambilnya, orang setinggi Tesa perlu kursi. Jadi dia takkan mencari langsung ke sana ke-cuali dia sudah tahu tempatnya. Dari mana dia bisa tahu?!

Tesa rupanya sedang riang hatinya. Terde-ngar dia bersenandung pelan. Ah, sejuk perasaan pendengarnya. Suaranya merdu. Lagu itu seakan sudah sering didengarnya, tapi entah

kenapa pikirannya mendadak jadi buntu. Dia tidak bisa ingat di mana pernah didengarnya

irama merdu itu.

Sia-sia dia mencoba mengingat-ingat. Sampai akhirnya Tesa muncul membawa sepiring serabi

hangat yang harum serta santan bergula jawa yang kelihatan gurih sekali. Pasha lupa seketika akan segala tanda tanya barusan. Buru-buru di-singkirkannya semua buku dari atas meja, lalu mereka duduk berhadapan menikmati hidangan istimewa itu.

"Ini memang kedoyananku!" tukasnya setelah menelan lima butir.

"Santannya dari kaleng sih, mungkin sudah agak tengik?" tanya Tesa seakan mau meren-dahkan mutu masakannya.

"Ah, enggak kok. Rasanya tetap enak, enggak bau apa-apa."

Pasha menatap Tesa. Tiba-tiba muncul kembali keheranan-keheranan tadi dalam otaknya. Baru saja dia mau bertanya, telepon berdering.

"Halo?"

Pasha mendengarkan sebentar, lalu mengia-kan dan telepon diletakkannya kembali. Dia me-noleh pada Tesa. "Pika mau datang membawa pizza."

Senyum cerah memoles wajah tampannya. Rupanya itu salah satu kedoyanannya pula, pikir Tesa.

"Aku lebih baik segera angkat kaki," tula

gadis itu seraya bangkit. Lalu tiba-tiba terpan-dang olehnya kue serabi yang masih banyak.

"Mau diapakan kue begini banyak? Pika pasti curiga/

Pasha menghela napas. "Yah! Sebaiknya kau-bawa saja, Tes. Aku bakal kewalahan kalau Pika sampai ngamuk"

Tesa mengangkat piring itu mau dibawa ke dapur.

"Eh, tunggu dulu! Aku masih kepingin lagi!" Diraihnya piring itu dan dicomotnya empat serabi. Kemudian dituangnya santan gurih ke atas mereka. Tesa menunggu lalu mengambil mang-kuk santan untuk dituang ke dalam kantong plastik

Ketika dia tengah membungkus kue-kue itu, Pasha tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya sambil memegang piring dan menyantap serabi yang sebentar-sebentar dicelupnya ke dalam santan.

"Tes," katanya setengah berbisik, "maaf, ya.-Kau terpaksa pergi begitu saja."

Tesa ketawa sumbang walau hati merintih. "Oh, enggak apa-apa. Aku maklum." Dalam hati ditambahnya, "Aku maklum, aku kan cuma pe-rintang waktu. Tentu saja kau enggak mau sampai ribut dengan kekasih, bukan?! Aku harus tahu diri, dong. Siapa aku, siapa Pika!"

"Kau enggak marah? Sungguh?"

"Lho, memangnya kenapa aku mesti marah? Aku juga enggak mau dong dimaki orang!

Selain itu, aku memang tidak punya niat untuk merampas kekasih orang!" Dia melrrik Pasha dengan sen yum netral padahal dalam hati cuma

Tuhan yang tahu.

"Ayo, ah! Jangan ngomong begitu. Pika juga pasti tahu, kau bukannya cewek sembarangan

yang gampang-gampang direbut hatinya. Tapi tempo-tempo pikiran seorang gadis suka sempit dan kuno kalau itu menyangkut pacaran. Jadi, yah! Meskipun kita tahu kita tak punya niat apa-apa, kita cuma"""berteman doang, tapi kalau Pika melihatmu di sini, aku khawatir namamu akan dirusaknya ke seluruh benua Australia!"

Tesa ketawa gelak sambil mengikat bungkus-an kuenya dan santan kinca. Lumayan untuk Nopi serta kawan-kawan lain yang selalu kela-paran.

Diambilnya tasnya. "Sudah, ya. Bye."

Pasha meraih tangannya seakan masih mau bikin upacara perpisahan yang lebih mesra, namun Tesa dengan gesit mengelak dan cepat-cepat menuju ke pintu.

Setibanya di jalan barulah disadarinya betapa sakit hatinya. Yah! Dia telah diusir seperti anjing! Dia takkan pernah mau ke sana lagi!! Biarlah Pasha mati kesepian tanpa teman! Dia tak sudi dijadikan kain sampiran sementara yang bagus sedang dijemur!

Tapi setelah duduk dalam bis menyaksikan pemandangan Sungai Swan yang indah, hatinya terbuka lagi. Salah sendiri, pikirnya, kenap

main-main dengan pacar orang! Akibatnya setiap saat bisa diusir pulang kalau majikan asli mau datang!

Bab 8

Tekadnya dilaksanakannya dengan gigih. Selama tiga minggu, dia menghindari pintu Pasha. Itu berarti enam kali, sebab dia memberi les di tingkat ketiga dua kali seminggu. Tapi kalau kemudian dikajinya, sebenarnya tekadnya toh tidak mendapat tantangan apa-apa. Sebab pintu itu selalu tertutup dan Pasha sendiri tidak kelihatan batang hidungnya.

Tesa tidak mau memikirkan apakah Pasha kini sudah menjauhinya atau tidak lagi kesepian atau bagaimana. Dia tak peduli apa alasan Pasha. Pokoknya dia cukup merasa lega tidak lagi mendapat gangguan. Namun begitu, tiap kali lewat di depan pintu hati kecilnya ter-kadang masih berharap pintu akan mendadak terbuka agar dapat ditunjukkannya tekadnya untuk tidak menjadi kain sampiran. Kakinya tanpa terasa sudah berhenti sejenak di anak tangga paling bawah. Tapi wajah yang penuh senyum itu tidak menyambutnya lagi. Maka hatinya pun melenguh, lalu dia menunduk dan 'nelangkah cepat-cepat turun ke tingkat satu.

Setelah hal itu terjadi enam kali, Tesa sudah membiasakan diri dengan keadaan baru itu. Dia tak pernah lagi berharap akan melihat Pasha atau menerima undangannya untuk mampir. Setelah dirinya menjadi biasa dengan perubahan ini, pikirarmya pun menjadi tenang. Dia malah bisa berangkat mengajar dengan perasaan lebih cerah sebab kekhawatiran—akan kepergok Pika—yang dulu-dulu tak pernah menyergap hatinya lagi. Semangat mengajarnya lebih meng-gebu-gebu, sebab konsentrasi pikirannya kini tidak lagi bercabang ke kamar lain.

Dia sudah merasa cukup puas bisa bersantai sejenak dengan kedua Kakek dan Nenek Graham seusai les, lalu buru-buru pulang untuk tidur siang atau membuat pekerjaan rumah kalau ada.

Di dapur, dia bisa menentang mata Pika dengan lebih jujur dan ikut seloroh teman-teman tanpa ada apa-apa yang perlu disembunyikan. Anak-anak asrama biasa masak-masak bersama. Setiap orang menyumbang satu macam sayur, lalu mereka duduk semeja dan makan besar. Biasanya Tesa jarang mau ikut, tapi kini dia lebih banyak meluangkan waktu untuk menunjukkan kebolehannya di depan teman-temannya. Yang paling terkesan tentu saja Nopi. Matanya yang jeli segera tahu bahwa gadis-gadis lain kebanyakan tidak pintar masak. Maklum, sela-a jadi anak sekolahan rupanya tak pernah

meninjau dapur dan ibu mereka pun terlalu memanjakan mereka.

Pernah sekali Nopi menyindir Atina yang menggoreng dendeng kiriman dari rumah.

"Waduh, enggak kalah alotnya sama kulit se-patu, nih," ledek Nopi yang baru berhasil meng-gigitnya setelah giginya terancam copot.

"Aku kelamaan menggorengnya dan kelupaan merendam dulu," sahut Atina mengaku salah. 1

Nopi menghela napas sabar. "Yah, aku maklum. Zaman sekarang, para ibu lebih suka anak gadis mereka jadi dokter atau insinyur daripada jadi ratu dapur. Kebanyakan nyonya rumah abad ruang angkasa ini sudah menyerahkan gelar itu pada si Mbok yang masih tahu mana terasi, mana lengkuas!"

"Ah, aku masih bersedia kursus kok, Nop, asal lihat-lihat dulu cowok mana yang mesti aku sediakan makan tiap hari!" sahut Atina jadi gemas.

"Oho, dengan perkataan lain, aku ini belum cukup pantas kausediakan makanan? Jadi kau enggak suka sama aku?!" seru Nopi melotot, seakan tidak percaya di dunia masih ada makh-luk yang begitu bod oh.

Tentu saja Atina kelabakan mendengar sin-diran yang mengandung peringatan itu, sebab terus terang, hatinya sudah kecantol cowok sipil itu. "Lho, lho, lho, kok jadi salah paham, sih? Aku kan enggak bilang kau ini kurang pantas aku suguhi, cuma..."

"...kau ogah!" sambung Nopi membuang hj-dung ke atas, berlagak sombong. "Ya, deh, aku maafkan sekali ini. Tapi lain kali mesti bikin soto untukku, ya! Soto sulung! Yang enak!"

"Mampus aku!" bisik Atina ke telinga Sabita yang duduk di sebelahnya. "Apa sih itu soto sulung? Dengar pun baru kali ini!"

"Kalau soto bungsu aku bisa," goda Sabita, tidak menyangka bahwa Atina begitu bloon. Dengan girang anak itu menoleh pada Nopi yang duduk di kepala meja bagaikan raja dike-lilingi beberapa selir.

"Nop, soto sulung itu kurang enak. Mending-an soto bungsu saja, gimana? Itu aku bisa!" kata Atina penuh keyakinan (akan bantuan Sabita).

Sebelum raja bersabda, selir yang bernama Nurul sudah berseru heran, "Belum pernah se-umur hidup aku mendengar nama itu. Ada juga soto Kudus, soto Bandung, soto Madura, atau soto Banjar, tapi soto sulung? Soto bungsu?!"

"Wah, kalau begitu kau goblok! Enggak pernah ke dapur, ya? Mentang-mentang sekolahnya tinggi..."

Panas juga Nurul disebut goblok. Langsung saja mulutnya yang terkenal suka ceplas-ceplos menyahut lantang, "Memang enggak, kok! Aku kan mau jadi nyonya rumah, bukannya jadi ratu dapur alias si Mbok! Di rumahku juga cuma pembantu yang tahu gimana bikin tempe bacem, pepes oncom, ayam goreng Mbok Berek, ayam goreng Jawa, ayam goreng Kalasan, ayam

goreng segala macam! Kalau kau kepingin punya istri ahli masak, kawin saja dengan mbok-ku!"

Merah padam muka Nopi. Tapi dia tidak marah. Malah ketawa terbahak-bahak. "Itu namanya kita berdua tidak berjodoh," katanya mengejek, lalu melirik Tesa yang tengah sibuk memindahkan gulungan ayam cincang dari ku-kusan ke atas piring. Tentu saja gerakan ini tidak luput dari monitor radar si Atina. Hatinya segera berdegup kencang. Dia tahu, Tesa memang hobi masak. Dan bila cowok yang satu ini betul-betul rakus, wah, wah, wah, bisa-bisa Tesa

yang mendapatnya! Ini tentu saja mesti dicegah.

Tapi gimana caranya?! Mungkin dia perlu baik-

baik dengan Tesa, lalu pelan-pelan minta diajari

masak!

Gulungan kertas sudah dibuka dan ayam cincang itu dipotong-potongnya, lalu piring diba-wanya ke meja. Semua gerakan Tesa diperhati-kan oleh Nopi dengan penuh kekaguman, se-mentara Atina sendiri sibuk merekam tingkah laku Nopi.

Ketika piring diletakkan di atas meja, semua mata mendadak jadi membesar mengawasi ayam dengan pandangan kelaparan. Tesa yang tidak menyadari sikap teman-temannya, dengan anteng mengambil tempat duduk di sebelah Ria. Melihat semuanya cuma bengong memandang ke tengah meja, dia segera berseru, "T^ ay

dong. Jangan diliatin melulu! Nop, kau yang bagiinf

"Yuhuuii! Makasih atas kepercayaanmu, Tes!" katanya sambil menggosok-gosok tangan.

"Jangan dia, ah!" sergah Nurul yang masih dongkol dibilang goblok, "Cowok kan rakus, nanti kita semua kagak kebagian apa-apa! Tesa saja yang bagi!"

"Eh, memang begitu dong aturannya! Cowok yang memberi, cewek-cewek tinggal menerima doang!"

"Iiih, porn...!" nyeletuk Atina yang mendadak jadi sebal melihat Nopi mengelus Tesa dengan pandang memuja, padahal gadis itu sendiri tengah menunduk sibuk mengiris timun. Tesa sama sekali tidak peduli pada cowok, pikir Atina. Ada yang bilang, dia pernah patah hati, lalu jadi kapok. Kalau enggak salah, Pika yang bilang. Dasar Nopi itu memang kerbau, enggak tahu hatinya ada di mana!

Nopi tidak peduli semua protes. Yang punya sendiri sudah menyerahkan mandat, jadi per-setan dengan segala mosi tidak percaya! Dengan tenang dia mengangkat sepotong gulungan ayam yang kelihatan lezat nian, lalu garpunya dibiarkannya berhenti di tengah udara sambil matanya menyapu setiap wajah. "Ayo, ada yang mau dapat bagian, enggak?"

Sabita cepat-cepat mengulurkan piringnya. Kalau soal makanan, dia tidak mau pusing

siapa yang bikin atau siapa yang bagi, pen-

deknya asal cepat dapat jatah!

"Iiih, kok rakus?!" tegur Atina pada sahabat-

nya.

"Habis! Aku kan sakit maag, Tin!" dia mem-bela diri. "Aku sudah kelaparan!"

Dengan sikap seakan amat terpaksa, akhirnya Nurul dan Atina pun mau menerima pembagi-an dari Nopi. Tesa menyorongkan piringnya paling akhir. Dan mungkin itu cuma perasaan Atina belaka, tapi dia seakan melihat bahwa Nopi sengaja memilihkan potongan yang paling gemuk untuk gadis itu. Yah, enggak apa, deh, pikirnya menghibur diri. Kan Tesa yang masak dan keluar duit!

Tengah mereka asyik berpesta, tahu-tahu pintu dapur asrama terbuka lebar. Siapa yang ma-suk?! Tesa mengangkat wajah dan seketika itu juga menunduk lagi. Pika muncul menggandeng Pasha! Ya, Allah, pikirnya. Jangan biarkan dia melihat aku! Jangan biarkan mereka duduk di sini.

Tapi Pasha sudah melihat masakan enak-enak di atas meja dan segera menjawil Nopi yang memang dikenalnya. "Boleh numpang sepiring enggak, nih?"

Walaupun sebenarnya enggak rela—sebab dia masih ingin nambah dua piring lagi—Nopi tidak berani menolak. Terpaksa disilakannya ke-dua tamu tak diundang itu untuk ikut menyikat bersih piring-mangkuk di atas meja.

"Hm. Ayam Ini enak sekali. Apa sih namanya? Chicken pie? Atau bakso? Siapa sih yang bikin?" tanya Pasha sambil memandang berkeli-

ling, lalu tiba-tiba mulutnya setengah melongo seakan keheranan.

Agak di ujung meja duduk Tesa yang kelihatan acuh saja sendirian. Semula, sepintas lalu dikiranya itu gadis baru yang tidak dikenalnya, sehingga tidak diperhatikannya. Tapi kini wa-jahnya menunjukkan rasa gembira sekaligus... kangen?! Tidak! Dia mesti hati-hati kalau tidak mau babak belur dipukuli oleh Pika yang nang-kring di sebelahnya, memonitor setiap gerakan-nya seperti kamera televisi yang paling canggih. Dia bukan takut, tapi ingin damai, pikirnya membela sikapnya.

"Jangan usil, ah, .tanya-tanya siapa yang masak!" ben tak Pika setengah cemburu. Dan Pasha langsung menu tup mulut. Tapi Atina yang se-nang keributan sebagai atraksi, segera menyebut nama Tesa.

Kini Pasha tidak bisa lagi masa bodoh. Dia sudah diberitahu siapa yang telah membuat ma-sakan yang dipujinya tadi. Terpaksa dia mesti juga memberi pujian.

*Oh, kiranya Tesa! Enak, lho. Boleh sering-sering, nih!" Maksudnya cuma ingin berkelakar. Siapa tahu, Pika jadi sewot.

"Maumu! Memangnya orang kebanyakan waktu diam di dapur terus! Apa masakanku

masih kurang sedap sih sampai kau kepingin

dimasakin orang lain?!"

Wah, celaka! pikir Tesa dari ujung meja. Ru-nyam kalau mereka bertengkar gara-gara diri-nya. Bisa-bisa Pika akan menuduhnya yang bukan-bukan. Apalagi kalau dia sudah menaruh curiga bahwa Tesa pernah atau sering datang ke tempat Pasha! Wah, Pika pasti takkan segan-segan menjelek-jelekkannya di depan anak-anak semua!

Dengan hati kebat-kebit Tesa berlagak tidak menyadari situasi yang sudah genting. Sambil ketawa dia menegur Pasha, "Iya, nih! Heran, sifat cowok kok semuanya begitu? Selalu pura-pura memuji cewek lain, padahal maksudnya sebenarnya cuma ingin lebih dimanja oleh patse!"

Pasha menatapnya seakan mau protes, tapi Tesa mengedip satu kali dan dia mengerti. Pika menjadi tenang lagi setelah paham bahwa itu hanya taktik belaka dari kaum laki-laki agar lebih diperhatikan oleh "orang rumah"! Dalam hati dia mengaku bersalah, kurang memanjakan Pasha. Habis, dia kelewat sibuk dengan kuliah.

Setelah makannya selesai, Tesa mengangkut piringnya sendiri ke ruang sebelah untuk dicuci. Dita mengikuti, juga dengan piring sendiri. Tak lama kemudian muncul Nopi, berlagak mau menunggu sampai gadis-gadis itu beres dengan piring mereka. Tapi Tesa mengerti bahwa dia

kepingin ditawari bantuan. Karena selama ini Nopi selalu baik padanya, Tesa jadi malu hati.

"Man, Nop, aku cuci piringmu."

"Aiiii, betui, nih? Trimse, nih ye!" katanya tanpa sungkan, lalu menghilang lagi dengan wajah berseri-seri.

"Kerajinan betui sih, kau!" tukas Dita. "Nanti jadi kebiasaan! Kalau patse sih lain perkara! Nopi kan enggak pernah mau naksir kita-kita ini, Tes. Matanya juling ke yang pirang-pirang melulu, tahu!" .

Tesa ketawa. Karena piring yang dicucinya cuma satu, sebentar saja Dita sudah selesai, lalu balik ke ruang makan. Sedang Tesa masih sibuk membilas piring-piring dan sendok, muncul Pika dengan setumpuk perabot.

"Tes, aku minta tolong dong sekalian, nih. Piringku dan piring Pasha. Nanti kapan-kapan aku yang gantian men cuci piringmu. Mau, kan?"

Sebenarnya Tesa sebal, tapi melawan mulut yang begitu manis, dia tak sanggup. Pika memang bisa amat sangat manis melebihi madu asli, kalau ada maunya.

"Taruh saja di situ," sahutnya tanpa menoleh.

"Trims, ya. Lain kali aku yang gantian. Benar, deh!"

Tentu saja Tesa tidak menaruh banyak keper-cayaan pada janji Pika, walau misalnya disertai sumpah sekalipun. Paling-paling setelah dua puluh empat jam dia akan melupakan janji itu.

Tapi setelah diliriknya tumpukan piring gelas itu, mangkelnya berkurang. Bagaimanapun, itu kan bekas makan Pasha juga. Piring bekas Pika cuma satu dan gelasnya tak ada, barangkali

masih dipakai.

Tengah Tesa menjadi babu dapur begitu, tiba-tiba datang Pasha mau membuang kulit jeruk ke dalam tong sampah. Langkahnya setengah terhenti melihat siapa yang ada di sana. Tapi kemudian diteruskannya seakan tak terjadi apa-apa.

"Sibuk, nih?" tegurnya basa-basi.

"Seperti kaulihat," sahut gadis itu singkat tanpa menghentikan gerakan sikat menyabuni piring.

Ketika Pasha melihat bahwa dia sedang men-cuci piring bekasnya sendiri, dia segera tahu bahwa Pika malas.

"Pika yang menyuruhmu mengerjakan semua itu?" tanyanya menegaskan.

Tentu saja Tesa tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi kalau dia cuma ketawa saja, tentu Pasha akan curiga juga. Terpaksalah dia berdusta untuk kebaikan Pika.

"Ah, enggak, kok. Aku yang mau sendiri. Kan sekalian, cuma sedikit ini."

Pasha belum puas dengan jawaban yang dira-gukannya itu, namun dia tidak mendesak. "Marl aku bantu," katanya kemudian.- i

Sebelum Tesa sempat menolak, Pasha sudah meraih serbet dari gantungan dan mulai

mengeringkan piring-piring yang sudah bersih.

Mereka bekerja tanpa bicara. Pasha bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda bahwa dia sudah lama mengenai Tesa, dan bukan sekadar

ketemu di ruang makan tadi. Tesa maklum, ini tentunya gara-gara Pika hadir di kamar sebelah.

Setiap saat monyet kecil itu bisa inspeksi dan menimbulkan onar kalau dilihatnya ada sesuatu yang kurang menyenangkan hatinya. Sebagai anak orang kaya, Pika tentu saja sudah biasa dimanja dan adatnya pun jadi disesuaikan dengan kebiasaan itu. Tesa tidak mau ada ribut-ribut. Apalagi karena di antara Pasha dan diri-nya memang tak ada apa-apa, jadi rugi betui kalau sampai disangka yang tidak-tidak, pikirnya.

Setelah semua piring dan sendok garpu beres dikeringkan, Pasha menggantungkan kembali lap di tempatnya. Lalu dikeluarkannya saputa-ngan untuk mengeringkan jari-jarinya. Tesa me-lihat lipatan saputangan biru yang tidak dise-trika itu. Rupanya sejak dia berhenti, tak ada orang yang sempat menyetrika. Pasha pasti repot Pika mana mau...

"Ah, kok saputangan robek itu masih kau-pakai terus!" Tesa nyeletuk tanpa dipikir lagi. Pasha yang tengah melap tangan segera

membuka lipatan-lipatan saputangannya. Benar

saja. Ada sudut yang robek.

"O, iya! Aku tidak tahu!" katanya tersipu.

Saking malunya, saat itu dia tidak teringat

untuk bertanya dari mana Tesa bisa tahu! Tapi setelah kembali ke tempatnya, Pasha mendadak

teringat insiden itu dan jadi keheranan.

"Eh, dari mana si Tesa itu bisa tahu saputa-nganku robek?" gumamnya setengah bertanya pada Pika, lalu diceritakannya apa yang tadi

terjadi. Hati gadis itu tercekat. Diam-diam dia menyesali kecerobohan temannya yang asal ngomong itu. Tentu saja Pasha jadi curiga!

"Ah, barangkali dulu kau pernah juga mema-kai saputangan itu, dan dia pernah melihat, itu sudah robek!" sahut Pika berusaha^ meyakinkan bahwa Tesa tentunya bukan pandai sihir yang bisa melihat sesuatu dalam saku orang lain.

Pasha terdiam menerima penjelasan seakan sudah puas, tapi sebenarnya jauh dari itu. Pikir-annya terus-menerus berputar mencari jawaban yang lebih masuk akal. Makin dikaji, lerasa makin banyak keanehan muncul sekitar gadis lem-but yang pendiam itu, pikirnya. Senyum serta tatapannya terkadang sangat misterius. Adakah rahasia yang terpaksa disimpannya dalam kal-bu?! Adakah duka yang pernah melanda hatinya, sehingga pantulan matanya senantiasa ragu dan samar seakan terselubung sehelai tirai pak-saan?!

Terlalu banyak tanda tanya yang meletup sekitar dirinya, seperti buih-buih kecil yang thn-bul setelah ombak berlalu. Misalnya, Tesa kelihatan begitu terbiasa di apartemennya, sehingga tidak perlu bantuan di dapur. Dia juga tahu

warna gelas yang harus dipakai untuk makan nyamikan atau makan nasi.

Pasha mempunyai hobi yang aneh. Dia suka sekali mengumpulkan gelas-gelas keramik ber-tangkai dari segala tempat. Ada yang biru, kenang-kenangan dari pernikahan Pangeran Charles dan Lady Di; ada yang coklat keemasan memperingati hari ulang tahun Ratu; ada yang putih sebagai peringatan akan anu; ada yang hijau; masih ada lagi yang merah, yang kuning, yang jingga, dan lain lain. Yang terakhir ini dibelinya di tempat pelelangan teh, bukan untuk peringatan hari besar apa pun. Warnanya jingga terang dengan hiasan hijau berbentuk hati. Ini khusus untuk sarapan, disertai tatakan piring yang serasi warna serta bentuknya.

Nah, untuk makan kue-kue di sore hari, dia selalu senang memakai gelas putih yang penuh gambar kucing-kucing kecil dalam segala pose. Tentu saja dia tak pernah menggembar-gemborkan kebiasaan itu melalui iklan radio ataupun gosip percakapan biasa. Jadi, apakah cuma kebetulan Tesa mengambil gelas-gelas itu untuk minum kopi?! Benarkah dia bukan pan-dai sihir yang bisa menembus pikiran orang?!

Cuma ada dua jawaban. Ya dan tidak. Dan masing-masing mengandung arti yang dalam. Hm. Dia harus tahu sampai tuntas!

Ketika Tesa turun dari loteng rumah keluarga

Graham pada hari Selasa berikutnya, dia terke-jut mendapati Pasha sudah menunggu di lantai bawahnya. Sudah lama dia melupakan kebiasaan laki-laki ini, sehingga tak pernah lagi ber-harap akan melihatnya duduk berjongkok di depan pintu dekat anak tangga.

"Hei!" sapanya dengan ketawa yang misfe-rius.

"Hei!" sambutnya setengah gugup.

"Yuk, main ke tempatku," undangnya seraya loncat berdiri.

"Lain kali, deh. Aku sibuk," sahutnya mau melangkah terus. Tapi Pasha tentu saja bukan Pasha kalau dibiarkannya seorang gadis manis menolak undangannya. Disambarnya lengan Tesa dan tidak diizinkannya dia melangkah turun.

"Sudah lama kita enggak makan kue dadar bersama," katanya seakan kangen.

"Betui!" sahut Tesa agak memberungut. "Aku sangka kau sudah lupa padaku! Tumben hari ini ingat lagi!"

"Aku barusan balik dari Sydney Jumat lalu. Minggunya kan kita ketemu di asrama. Ayam gulungnya enak sekali!!!"

"Mmm. Enggak punya recehan," Tesa men-dengus mendengar pujian yang sudah basi itu. "Ayo, ah. Biarkan aku pergi."

"Eh, jangan begitu, dong. Mari masuk dulu. Aku minta maaf, deh, sebab enggak sempat

ngasih tahu aku pergi. Masa kau sampai ngambek?"

"Tentu saja tidak!" cetus Tesa melotot. "Me^ mangnya kenapa mesti ngambek? Kau kan bukan pacarku!"

Pasha meringis mendengar ucapan yang tan-das itu, tapi dia tetap tersenyum. Tesa- mengi-baskan lengan ingin lepas, namun Pasha malah mempererat cekalannya. Dipertontonkannya senyum simpanannya yang paling manis. Dan rayuan mautnya tentu saja sudah lulus testing sekian belas gadis di Jakarta. Tesa yang relatif masih lugu, dengan cuma seorang Goffar se-bagai sertifikat pengalamannya, tentu saja susah melawan.

"Ayo, dong, Non. Jangan gitu, ah. Kalau betui enggak ngambek, ayo dong, mampir. Kalau enggak mau, tandanya memang betui ngam-. bek"

"Aku memang enggak ngambek, tapi aku enggak mau mampir. Lain kali kataku. Sekarang aku lagi sibuk Lain kali, benar deh aku mam-pir."

Pasha menatapnya dengan tajam, lalu dia mendesis perlahan seraya pameran senyum odol. "Gimana kalau aku kasih tahu Pika, kau ngambek?"

"Kau sinting!" seru Tesa terbelalak. "Dia pasti akan marah besar. Namaku pasti akan hancur sampai ke ujung dunia! Takkan ada tempat lagi bagiku untuk menaruh muka!"

"Nah, rupanya kau sudah paham akibatnya! Karena itu, jangan kaupaksa aku untuk mela-porkan, kau sekarang tak mau lagi main ke * tempatku!"

"Kau berani mengadu? Kau enggak takut Pika nanti marah padamu?"

"Biar amat! Lagian, dia enggak bakal berani marah padaku! Taruhan, deh! Ayo, mau masuk atau mau diaduin?"

"Ini pemerasan!" seru Tesa marah. "Lepaskan aku!"

"0, bukan! Jangan bilang begitu, dong. Aku cuma ingin kautemani makan rujak. Mau, dong?"

"Rujak?" Dari mana monster ini tahu bahwa aku paling doyan rujak, pikir Tesa geregetan. Mungkin dia mengompes keterangan dari Pika?! Memang mereka sering banget bikin rujak di asrama. Dan ratunya tentu saja Tesa!

"Aku baru mendapat kiriman terasi nomor satu dari rumah. Jadi aku mau bikin rujak. Gula jawa, cabe, dan asam kan gampang dibeli. Juga buah-buahannya. Yuk, kita ngerujak berdua...." Lalu diseretnya Tesa yang sudah lemah lutut-nya itu mendekati pintu kamar.

"Aku repot...," kilah Tesa dengan suara me-lemah. Bayangan rujak yang pedas dan segar membuat liurnya hampir berbuih.

"Kalau kau tidak mau, aku laporkan pada Pika. Kau harus menerima undanganku!" kata Pasha dengan tegas. Lalu tanpa menunggu ban-

tahan lagi, dibukanya pintu dan didorongnya Tesa ke dalam.

Mata gadis itu segera jelalatan mencari piring rujak. Ternyata tidak ada! Hidungnya yang ta-jam segera mencoba membaui terasi dan bumbu rujak. Dalam ruangan yang selalu tertutup bia-sanya bebauan begitu jelas tertangkap. Ternyata tak ada apa-apa yang tercium. Mengertilah dia, Pasha sudah berdusta. Mungkin cuma akal bu-his untuk menjebaknya.

Ketika laki-laki itu meleng, Tesa secepat kilat melompat ke pintu lalu memutar gerendel. Tapi seperti rusa betina melihat anaknya dalam ba-haya, Pasha pun segera melompat ke samping-nya. Dia berdiri di antara pintu dan Tesa, menghalangi jalan keluarnya.

"Jangan pergi, dong, Tes. Ada yang mau aku katakan!" Suaranya kini setengah memohon, tidak mengandung ancaman.

"Aku tidak mau diancam-ancam!" "Maafkan aku, Tes. Aku terpaksa melakukan-nya supaya kau mau mampir."

"Huh! Kau cuma ingat kesenangan sendiri, ya? Kau enggak tahu, bukan main repotnya aku! Ini kan musim. ujian!" - "Sekali lagi, maaf, Tes. Aku... aku... sebenarnya sangat menyukai engkau. Aku... aku... rasa, aku... sudah jatuh cinta padamu!" Pasha meng-ucapkan kalimat terakhir cepat-cepat seakan takut. tercekik sesuatu. Setelah itu dia menelan ludah dengan rupa dungu.

Plak! Tamparan itu datang tanpa alarm, sehingga wajah Pasha yang bersemu merah di pi-pi membayangkan rasa kaget yang sangat. Tapi

mata Tesa lebih menakutkan. Mereka meman-

carkan kebencian yang menyala.

"Itu yang mau kaukatakan pada teman baik pacarmu?!" bentak Tesa dengan marah. "Kau tidak menghargai kepercayaan yang diberikan

Pika padamu! Dan kau menyinggung perasaan-ku! Kaupikir aku semurah itu?!" Lalu tiba-tiba, begitu saja air matanya menderas turun. Tesa mendadak teringat pada Goffar. Mungkin begitu juga ulah Goffar terhadap Shakira. Cuma bedanya, mungkin temannya itu segera me-nyambut baik...! Apakah dia akan merendahkan diri seperti Shakira cuma untuk sepotong cinta, dengan melukai hati orang lain?! Tidak!

Pasha menggosok-gosok pipinya yang pedih. Dia belum bisa memutuskan akan marah atau ketawa terbahak ditempeleng begitu. Sebab se-umur hidup belum pernah dia kena tampar sepotong tangan lembut. Ketika melihat air mata bercucuran, dia sangat terkejut. Hati laki-laki-nya jadi kehilangan akal, bingung dan panik. Tentu saja dia tidak menduga bahwa Tesa ter-kenang pada bekas pacarnya yang tidak setia.

"Ampuni aku, Tes. Aku tidak menyangka ba-kal menyinggung perasaanmu. Maaf, Tes. Aku sama sekali bukan menganggap kau ini mur

ah. EntahJah. Ada sesuatu yang memaksa aku mengatakannya tadi padamu."

Pasha menyentuh bahu Tesa dan ketika gadis itu tidak berontak, dipegangnya lebih erat. Dikeluarkannya saputangan dan disusutnya air mata sepanjang pipi.

Tesa mengeluarkan sapu tangannya sendiri, la-1 lu membersit hidung. Dia berusaha menghenti-kan tangisnya, lata ditatapnya Pasha dengan mata yang masih berbinar basah.

"Aku menghargai engkau, Pasha. Janganlah menjadi laki-laki yang tidak setia!" katanya dengan suara hampir tak terdengar.

Pasha mengatupkan bibirnya erat-erat dan mengangguk berulang-ulang dengan sungguh-sungguh.

"Sekarang aku harus pulang!" kata gadis itu dengan tegas sambil mendorong Pasha ke sam-ping agar dia dapat membuka pintu.

"Nanti aku antarkan!" kata Pasha dengan ce-pat "Matamu lebih baik kaubasuh dulu supaya enggak terlalu merah. Kebetulan mobilku baru kembali dari bengkel, aku mau mentes jalan-nya."

Tesa mengangguk tanpa membantah, lalu melangkah ke kamar mandi. Pasha menyambar lengannya sekeluarnya dari sana.

"Tes, soal rujak itu, aku enggak bohong, lho. Aku bukannya mau memancingmu dengan akal bulus. Aku memang niat mau bikin rujak, tapi aku tunggu kau yang bikin...."

Tesa tidak menanggapi. Pasha menyeretnya ke dapur, lalu memperlihatkannya sebungkus terasi, gula, cabe, serta buah-buahan.

Tesa rhenggeleng. "Aku enggak ingin-hari ini," keluhnya pelan.

"Aku mengerti. Lain kali, deh. Kapan kau datang lagi ke loteng? Jumat, bukan? Aku tunggu, ya."

"Lebih baik kaupanggil Pika saja. Buah-buahan itu mungkin takkan tahan begitu lama."

"O, itu gampang. Aku bisa membeli yang baru," sahutnya tanpa menanggapi usul Tesa untuk memanggil Pika.

Tesa menghela napas dan mengumpulkan ke-beraniannya yang terakhir sebelum dia melangkah pulang.

"Pasha, kalau kau ingin aku main lagi ke sini, • kau mesti berjanji takkan pernah lagi meng-ulangi pernyataan konyol seperti tadi! Kalau kau enggak mau janji, aku juga enggak mau mampir lagi ke sini! Ingatlah! Pacarmu adalah Pika. Dialah calon istrimu! Aku adalah teman baiknya. Sampai kapan pun aku takkan pernah jatuh cinta padamu!" Ditatapnya Pasha yang ter* diam seperti kerbau dungu.

"Nah," katanya tegas, "kau mau janji apa enggak?"

"Ya, ya, ya," sahut Pasha gelagapan seakan baru dibangunkan dari mimpi, "aku... berjanji.. Tapi Jumat kau betui datang, ya?"

Tesa menarik napas lega dan mengangguk.,M

Bab 9

Jumat berikutnya Tesa memenuhi janjinya datang main ke tempat Pasha untuk makan rujak. Tesa memang paling ahli bikin sambal rujak, sebab itu makanan kesukaannya.

"Sayang enggak ada kedondong, lobi-lobi, sama gandaria," katanya ngiler.

Pasha meringis mendengarnya. "Asam 1am-bungku kontan muncrat mendengar yang asam-asam. Dasar cewek! Ngidam enggak ngidam unya yang begituan saja! Seperti Pika juga!" Mendengar nama itu Tesa tiba-tiba teringat apa yang mau ditanyakannya. "Sebenarnya, ke-napa sih kau enggak ngerujak sama Pika saja?"

"Berarti aku mesti menunggu sampai dia am-bil cuti, dong! Bisa-bisa terasiku sudah bulukan! es, Tes, apa kau belum juga paham? Cewekku -u enggak punya waktu untuk hal-hal lain ke-uali dua. Pertama, kuliah! Kedua, praktikum! Aku ini cuma jadi sampiran yang sepele be-

Lantas, kau manda saja dijadikan barang pele?! Tapi pikiran itu tidak diutarakannya,

khawatir menyentuh topik tabu. Hatinya yang

lembut jadi merasa kasihan. Dia mengerti, laki-laki ini kesepian dan butuh teman. Itu saja. Tidak lebih. Kalau toh dia mengucapkan yang tidak-tidak tempo hari, itu cuma keterlepasan biasa atau mungkin juga untuk menyanjung Tesa agar mau memenuhi setiap permintaannya, misalnya sering-sering mampir. Pasha tidak tahu Tesa paling imun terhadap rayuan. Sebab dulu dia sudah kenyang dirayu oleh Goffar, dan ternyata semuanya hanya "terang bulan te-rang di kali" belaka.

Seakan bisa menduga jalan pikiran Tesa, Pasha melanjutkan sendiri, "Kau tentunya heran kenapa aku mau saja disepelekan seperti kain rombengan. Yah! Terkadang aku pun ingin berontak. Tapi cinta kami sudah menemui terlalu banyak rintangan. Kami sudah berjuang terlalu lama menentang kekolotan serta kemunafikan orangtua kami. Kalau kami putus, ibaratnya menyerah pada larangan mereka yang kami anggap sama sekali enggak masuk akal. Mereka bersaing dalam pemasaran produk-produk mereka, lalu permusuhan itu pun mau mereka libatkan atas diri anak-anak mereka. Dan sekarang, setelah ketahuan Pika sebenarnya acuh saja padaku, aku tak bisa mundur lagi. Justru kini mereka mulai mau merestui hubungan ini. Gara-garaku juga, sih. Waktu aku kecelakaan tempo hari, aku selalu mengirim surat—yang ditulis oleh Selina, gadis yang tak bisa aku

lupakan—memuji-muji ketelatenan Pika mera-watku! Padahal yang dipuji itu entah sedang

asyik di laboratorium mana. Atau tengah melo-tot mendengarkan kuliah. Orangtuaku jadi ber-kesan baik pada Pika, lalu melakukan pende-katan ke pihak sana. Orangtua Pika juga rupanya bukan bangsa pendendam. Nah, akhirnya mereka mencapai persetujuan...."

Pasha menatap Tesa, lalu tersenyum sendu. Tesa bingung, tidak mengerti bagaimana sebenarnya perasaan pemuda itu. Senyumnya tak bisa ditafsirkan maknanya. Hubungan sudah direstui, kok bukannya jingkrak-jingkrak kese-nangan?! Tapi malah meringis?!

"Wah, tentunya Pika senang sekali, ya!" seru Tesa dengan kegembiraan yang dibuat-buat.

"Entahlah," sahut Pasha setengah mengeluh. "Anak itu aneh. Di depan orang banyak, dia selalu memanjakan diriku. Mestinya itu berarti, dia bahagia bersamaku. Tapi kalau cuma ber-duaan, dia justru jadi enggak peduli. Malah aku yang mesti memanjakan dan melayaninya. Me-nyediakan makan, mencuci piring, atau masak-masak, wah mana dia mau! Itu tugasku! Tapi kalau ada orang lain, dia tampaknya manis pa-daku."

Dan Tesa tahu betapa menyenangkannya Pika kalau sedang manis! Itukah sebabnya Pasha jadi enggan melepaskan diri? Eh, eh, kok mikir sampai ke situ?! Enggan atau tidak, itu kan bukan

urusannya! Dia kan cuma tempoldhg tempat

orang menumpahkan unek-unek yang tak bisa

diceritakannya pada sembarang kuping.

Rupanya Pasha sedang kerasukan setan rujak yang lezat itu. Bicaranya makin lama makin lancar dan juga makin ngawur. Kalau bisa, barangkali dia mau menumpahkan seluruh isi hatinya pada orang yang saat itu berada di depannya. Dan kebetulan saja manusia itu adalah dia, pikir Tesa.

"Tempo hari aku enggak kelihatan, sebab aku pergi ke Sydney. Pamanku datang untuk urusan bisnis. Dia enggak sempat mampir kemari, jadi dimintanya aku saja yang ke sana. Kata Paman, orangtuaku sudah menjumpai orangtua Pika. Mereka sudah setuju dengan hubungan kami. Dan pertunangan kami malah diminta supaya secepatnya dilangsungkan. Kalau bisa, dua bulan lagi. Tanggal dua puluh tujuh!"

Pasha menyeringai sambil mencolek sambal. "Herannya, aku kok enggak merasa terbang ke surga.ketujuh. Biasa-biasa saja. Padahal cinta ini sudah aku perjuangkan mati-matian bertahun-tahun lamanya. Malah aku pernah mengaflcam enggak bakal mau pulang lagi ke Jakarta kalau enggak direstui. Tapi kini!" Dia mengangkat ba-hu sambil sekali lagi mencolek bumbu.

"Mungkin begitu sifat manusia," sambungnya terus. "Yang membuatnya bersemangat adalah perjuangan untuk mencapai sesuatu. Tapi sete

lah impiannya terlaksdna, ya rasanya enggak ada yang istimewa. Biasa. Lumrah."

Tesa membisu sejak tadi, sebab Pasha tidak menunggu jawaban apa-apa dari dia. Yang di-perlukannya hanyalah sepasang kuping pende-ngar yang anteng. Dan Tesa pun menjalankan peran yang diberikan itu dengan baik. Namun dalam hati, dia toh berpikir juga. Pasha akan segera tukar dncin dengan Pika! Senangkah dia?! Atau malah sedih?!

Entahlah. Yang jelas, hatinya mendadak terasa plong! Lega seolah sudah terlepas dari bahaya. Ya, ya, kalau Pasha sudah resmi terikat, berarti godaan bagi Pasha akan berakhir. Dia pasti takkan mau mengingat-ingat lagi siapa Selina itu, atau cewek-cewek lain, misalnya... dirinya sendiri! Dan jauh di sudut hatinya, ada suara yang menyindir godaan akan berakhir bagi Pasha, dan bagi dirinya sendiri juga, bukan?!

Kalau dipikir-pikir, dia memang tidak bisa menemukan alasan yang tepat kenapa dia selalu mampir ke sana. Yah, mungkin karena dia se-nang saja berada di tempat Pasha. Mungkin juga dia haus pujian untuk kue-kuenya yang lezaf. Mungkin pula sekadar perintang waktu (walau sebenarnya tugas di kuliah banyak ajan!).

Entah mana yang benar. Yang jelas, katanya pada diri sendiri, Pasha itu dianggapnya tidak lebih dari seorang abang baginya. (Benarkah? sindir pojok gulita dalam hatinya.)

Ya, ya, dia merindukan abangnya di Jakarta. Selama ini Markus yang selalu mengawalnya ke mana-mana. Terlebih setelah terjadinya musibah dengan Goffar. Kini, jauh dari rumah, dia merasa sebatang kara. Dia kangen perhatian dari seorang abang! Nah, Pasha-lah penggantinya. Tidak lebih!

Begitulah beberapa minggu berlalu. Pasha kembali seperti dulu, baik, ramah namun acuh tak acuh seakan setengah linglung. Terkadang dia memanggil Tesa dengan nama Pika, menyu-ruhnya membuatkan kopi, lalu minta maaf ketika dia menyadari kekeliruannya.

"No problem," sahut Tesa ketawa. "Tapi hati-hati, lho! Jangan sampai memanggil pacarmu si Tesa! Bisa ngamuk dia!"

"Aku akan hati-hati," janji Pasha nyengir-nyengir malu. "Barangkali aku sudah kebanyakan belajar, otakku sering kortsleting! Apa jadi-nya kalau aku nanti mengecupmu? Gawat, ga-wat, gawat!"

Pasha menggeleng-geleng, sementara Tesa ce-pat melarikan diri ke dapur. Dia tidak mau wa-jahnya yang terasa panas itu terlihat oleh Pasha. Sebab berani taruhan, pipinya pasti semerah ke-piting rebus!

Selain keliru menyebut nama, Pasha rupanya kadang melupakan juga hal-hal lain. Misalnya, nama skuter saingan Vespa, seminggu lamanya tidak bisa diingatnya. Dia uring-uringan dan gelisah.

"Barangkali aku sudah ken a Alzheimer," kata-* nya pada setiap teman kuliah. "Kalau dalam sepuluh hari ingatanku enggak pulih, aku terpaksa harus membawa otakku ke labor buat Pit!"

Untunglah sebelum jatuh tempo, mendadak muncul dalam kepalanya kata Lambretta. Dia langsung menelepon Tesa.

"Tes, aku sudah ingat, Tes! Lambretta! Iya, kan? Saingan Vespa kan Lambretta, bukan? Ha, ha, ha, aku masih normal! Aku masih bisa me-lamar ke bagian bedah!"

"Syukurlah, Pasha. Aku senang sekali mende-ngarnya. Tapiii, apa kau sudah beritahu Pika?"

Ha-ha-ha di seberang sana mendadak sirna. Suaranya kedengaran lesu ketika dia mengaku, "Belum, Tes. Aku takut mengganggunya. Di samping itu, aku juga sebenarnya enggak tahu dia ada di mana, sedang kuliah vak apa."

"Oh, kalau enggak salah, dia enggak kuliah kok hari ini. Tadi aku melihatnya di ruang cuci, Anak-anak kan biasanya cuma mencuci kalau ada di rumah, khawatir pakaian disambar ta-ngan jail kalau ditinggal. Mau aku panggilkan?"

"Ah, tak usahlah. Nanti dia terganggu, padahal ini kan enggak pen ting."

"Kalau mengganggu aku sih, boleh ya?" Tesa nyeletuk tanpa dipikir lagi. Sebenarnya dia

penyakit pikun

cuma main-main, tapi mendengar Pasha mena-

rik napas kaget, Tesa segera menyesal.

"O, o, o, sorry banget. Aku sama sekali enggak kepikir, kau juga mungkin enggak mau

diganggu. Maaf, Tes, aku..."

"Hai, orang cuma main..." potong Tesa, tapi Pasha terus menyambung.

"Nanti deh, jam dua belas malam aku ganggu

kau lagi! Byel"

Tesa ingin sengit, tapi juga ingin ketawa. Mo-nyet jantan ini bukannya lapor apa-apa pada biangnya, eh, malah selalu mengadu padanya!

Apa tampangnya sudah pantas jadi ibu asrama, nih, pikirnya masam. Tapi tidak urung, hatinya gembira sekali mendengar Pasha sudah bisa mertembus black-out-nya.

Ketika berjumpa dengan Pika di dapur men-jelang makan siang, Tesa langsung melapor pe-rihal telepon tadi. Maksudnya untuk berbagi kegembiraan bahwa Pasha tidak pikun.

"Alaa," keluh Pika setengah jengkel. "Segala urusan kecil begitu saja mau diiklankan ke selu-ruh dunia!"

Tesa tertegun, kecewa dan tersinggung. Ti-dakkah dia tahu betapa pentingnya hal itu bagi Pasha?! Apakah dia sama sekali tidak mau peduli?!

"Untung bukan aku yang diteleponnya!" tu-kasnya lagi seraya menggiling wortel, minum-annya setiap hari.

"Pik, apa kau enggak mengerti betapa pe

tingnya ha 1 ini baginya? Kalau dia linglung te-- rus, kan berarti dia enggak bakalan diizinkan masuk spesialisasi bedah, bukan?"

"Dan memang lebih baik juga jangan!" sahut Pika sambil menuang sari wortel ke dalam gelas. "Kau tahu apa, sih? Ahli bedah itu kerjanya enggak kenal waktu. Tengah malam pun mesti siaga untuk mengoperasi kasus gawat darurat. Kurang tidur, harus konsentrasi terus, tenaga diperah seperti kuda... sanggupkah dia? Dan aku? Kalau aku jadi istrinya, kan pasti ikut-ikutan terbangun kalau dia dipanggil orang?!"

Tesa terdiam. Kalau dikaji-kaji, keberatan Pika bisa diterima juga. Siapa sih yang mau diba-ngunkan tengah enak-enak tidur?! Siapa yang mau suaminya gentayangan di malam buta dengan gunting dan skalpel di tangan melepaskan usus yang terjepit atau menghentikan perdarah-an di bawah tengkorak yang hancur?! Tapi, kalau dipikir lebih lanjut, lalu siapa yang akan menolong korban-korban gawat itu bila semua orang seperti Pika pikirannya?! Ah, entahlah! Paling aman, setuju saja sama Pika!

"Ya, mungkin kau benar. Aku tak pernah terpikir ke situ," sahut Tesa yang tengah me-nyiapkan makan siang.

"Tentu saja aku benar!" sembur Pika dengan garang. "Cuma Pasha doang yang enggak punya pikiran. Orang itu enggak pernah memper-hatikan kepentingan orang lain. Selalu dirinya sendiri yang jadi sumbu dunia. Nomor satu,

kepentingannya. Nomor dua, kepentingannya.

Nomor tiga pun masih kepentingannya! Ter-

kadang aku sebal jadinya."

Eh, eh, ketel uap meletup tutupnya!" Tesa ke-bingungan mendengar ocehan temannya. Sana ngeluh, ceweknya enggak punya waktu untuk-nya. Sini ngomel, cowoknya cuma ingat kepentingan dewek! Inikah yang disebut perang sa-bil?! Atau perang dunia?! Iiih, jangan sampai dia harus menjadi Stalin atau Churchill!

Ketika Tesa tidak memberi komentar apa pun, Pika menoleh lalu mengerutkan kening.

"Hei, gimana sih asal mulanya sampai Pasha-ku itu jadi suka mengadu padamu?"

Astaganaga! Bukan main kagetnya Tesa dita-nyai begitu. Tentu. saja dia tidak siap dengan jawaban. Sekejap itu mulutnya yang mau men-cicip sayur lodeh jadi menganga seperti mulut ikan kakap di luar air. Pasha-ku! Aduh, ampun! Memangnya kapan aku pernah bilang dia bukan Pasha-mu, Pik?! pikirnya dalam hati.

Unhung Sabita muncul seakan diutus dari la-ngit, dan Pika tidak berani meneruskan ceceran-nya. Sambil menggerendeng seperti anjing yang baru dicekoki afrodisiak, dia berlalu dengan se-gelas air wortel yang dicampur sari mentimun.

"Jamu apa lagi itu?" tanya Sabita yang selalu ingin tahu seperti anak balita.

pembangkit berahi

"Segar, ya?" Pika mengangguk dengan bang-

"Entahlah; Kok bau amoniak?!"

"Matamu! Ini kan wortel, mentimun, dan pir!"

"Oh, aku sangka urine kemarin dari kulkas!"

"Arnit, amit, mesti minum urine! Biarpun Pasha-ku yang nyuruh, kagak bakal gue mau!" sergah Pika seraya berjalan ke kamarnya,

Sabita mengawasi sampai Pika lenyap di ti-kungan koridor, lalu dia menoleh pada Tesa yang baru saja menggelar tatakan makannya.

"Kenapa sih kangguru kita itu? Kok seperti lokomotif yang salah pemanasan? Disel-nya udah lama juga ya, enggak pernah nongol apel di sini."

"Pasha sedang sibuk bikin makalah. Pika sendiri, tahulah. Aku juga enggak ngerti kenapa dia sewot di siang cerah begini!" Tesa enggan membeberkan urusan orang lain.

"Eh, kok paham betui kau urusan dalam negeri orang lain? Barangkali kau sendiri yang ngetik makalahnya? Apa sih judulnya?"

"Buset! Kan Nopi itu temannya si Pasha. Ke-betulan saja aku dengar Nopi bilang begitu, apa sih yang diherankan?"

"Oh, begitu! Eh, Tes, mau enggak aku kasih nasihat? Jangan sampai terlibat deh sama urusan pribadi Pika! Fatal nantinya! Aku kan saha-bat lamanya, jadi aku tahu berapa voltage te-gahgan amarahnya! Huh! Bisa membakar selu-ruh kota, tahu!"

"Siapa sih yang sudi terlibat?" katanya ringan, tapi dalam hati Tesa diam-diam gemetar juga. Sabita ini memang punya bakat jadi reserse.

Untung dia bisa cepat-cepat menemukan jawab-an yang masuk akal. Sebab temannya yang isti-mewa ini tidak gampang-gampang dipuaskan kalau sudah curiga. Pendeknya, dia takkan he-ran kalau kelak Sabita beralih dari akuntansi ke akademi calon-calon CIA atau KGB. Namun yang gawat adalah kalau sahabat karib Pika ini sampai ngaco belo di depan Pika, dengan cer-pen picisannya.

Sekali lagi untung baginya, keseratus ekor cacing dalam usus Sabita sudah sejak setengah jam yang lalu melakukan demo minta nasi, jadi anak itu pun terbirit-birit membuka kulkasnya mencari sisa-sisa kemarin dulu yang masih bisa dimakan!

Ketika bahaya udara sudah lewat, Tesa diam-diam melap keringat di kuduknya. Untuk selan-jutnya kau mesti lebih hati-hati kalau bicara, kunyuk! katanya memperingatkan diri sendiri.

***

Pada suatu hari, seperti biasa Tesa sedang main di tempat Pasha. Dia tengah membuat kue apple pie sambil bersenandung pelan. Hatinya sedang riang. Kemarin dia menerima surat dari rumah memberitakan kelahiran tiga anak si Mopi, anjing spaniel kesayangannya

cucu-cucunya itu begitu mempesona, sehingga langsung menghias meja belajarnya.

Sambil mengadoni kue pikirannya terbang mengarungi samudera, hinggap di jendela ru-mahnya, menengok ke dalam. Ibunya pasti tengah menggendong salah satu anak Mopi sam-bil memegangi botol susu, sementara Aster, adiknya, menyusui yang lain. Mopi sudah bebe-rapa kali melahirkan, dan selalu dilayani dengan telaten oleh seluruh keluarga. Bahkan Bi Inem pun lebih suka kerja lembur daripada enggak sempat momong bayi-bayi si Mopi.

Ah, sedapnya kalau bisa terus tinggal di rumah! pikirnya melamun. Apa yang kucari di sini sebetulnya?! Semua yang kucintai ada di rumah! Hanya karena patah hati...

"Selina!" tiba-tiba didengarnya panggilan dari depan.

"Ya!" sahutnya dengan segera. Pasti Pasha memerlukan sesuatu. Kasih an memang kalau orang mesti tergantung pada manusia lain untuk hal-hal sekecil apa pun. Beruntung dia masih memiliki penglihatan yang baik. Walaupun Pasha itu lebih sering cerewet daripada anteng, namun Tesa toh bersyukur telah mengenalnya. Sebab dengan begitu dia bisa lebih menghargai apa yang dimilikinya. Seandainya dia tak pernah ketemu orang cacat, barangkali dia akan terus mengeluh dan mengesah, dan selalu me-rasa kekurangan, serta mengasihani diri karena dikhianati kekasih!

Tergopoh-gopoh dibukanya celemek, lalu ber-lari ke depan. Dalam pikirannya dia sudah membayangkan Pasha terguling dari kursi roda. Suaranya barusan begitu mendesak.

"Ada apa?" tanyanya sedikit terengah, lalu dia terpaku di tempat. Wajahnya seketika itu juga menjadi pucat seperti kertas. Matanya nya-lang menatap ke depan dengan penuh ketakut-an.

Pasha tengah memandangnya tanpa berkedip. Pemuda itu sedang duduk dengan santainya di atas sepeda olahraganya. Dan matanya sama sekali tidak buta!

Pelan-pelan laki-laki itu menapakkan tungkai kirinya di lantai, lalu mengayunkan yang sebelah lagi, sehingga dia berdiri tegak. Kemudian selangkah-selangkah dia maju menghampiri. Seakan melihat ET, Tesa mundur-mundur keta-kutan, sampai akhirnya dia terjebak oleh tem-bok. Sementara itu Pasha tidak juga berhenti melangkah. Ketika sudah tiba di hadapan Tesa/ dikurungnya gadis itu dengan kedua tangan menempel di dinding.

"Nah, sekarang Pak Guru mau dengar siapa namamu yang sebenarnya! Awas jangan bohong! Siapa namamu, anak manis?"

Tesa tidak sanggup bersuara. Bibirnya terkatup macam kerang, sementara matanya

makhluk luar angkasa

makin membelalak nyaris mau melompat ke-luar.

"Ayo, bilang!"

Tesa menggeleng dengan lemah. "Hm. Band el nih, ye?! Apa aku harus menelepon Pika untuk minta bantuan? Barangkali Pika lebih ingat?"

"Oh ja... ngan! Jangan panggil dia! Matilah aku kalau dia sampai tahu aku ada di sini!"

"Nah, jadi kau sudah ingat lagi siapa namamu? Sudah? Ayo, aku belum mendengar apa-apa. Sebut yang keras!"

Tesa menggigit bibir bawahnya sebelum me-nyemburkan jawaban.

"Tesa! Semoga kau enggak bisa tidur tujuh hari tujuh malam!" kutuknya sengit, tapi Pasha mana peduli kutukan seorang noni manis. Setan pun pasti bersimpati pada mereka berdua dan tidak mau mengganggu! "Jadi Selina itu nama siapa?" "Aku tidak mengerti apa yang kautanyakan!" Tesa menggeleng.

"Jangan berlagak bodoh, ah. Tadi aku memanggil Selina, kenapa kau yang datang kalau itu bukan namamu?"

"Habis! Di sini kan cuma ada aku seorang, jadi siapa lagi yang kaupanggil selain aku?"

"Belum tentu aku mau memanggilmu, kan?! Mungkin juga aku cuma melamun, lalu mendadak tercetus nama itu dari bibirku. Iya, kan?! Kau tentunya enggak tahu, aku tak pernah

melupakan Selina. Aku selalu teringat padanya,

siang dan malam."

"Nah, itu kan urusanmu!" kata Tesa dengan lagak jemu. "Ayo, sekarang biarkan aku ke dapur lagi kalau kau memang enggak memanggil aku! Kue apelku nanti enggak matang-matang, nih," tukas Tesa tanpa berani menatap orang di depannya.

Pasha tidak membubarkan kurungannya, tapi sebelah tangannya mengangkat dagu Tesa dan menatapnya dalam-dalam. "Selina," ujarnya dengan lembut, "kenapa kau tidak berani meman-dangku?"

"Namaku bukan Selina!" bentak Tesa dengan marah.

"Ah, ah, ah, kau perlu latihan banyak sebelum pintar berdusta!" seru Pasha ketawa, tanpa melepaskan dagu di tangannya.

"Kalau kaupikir aku akan tergoda oleh segala ocehanmu, kau keliru, Pasha! Biarkan aku pergi ke dapur sekarang atau... aku takkan pernah datang lagi kemari!" ancam Tesa melotot.

"Uh, uh, uh, cakepnya wajah awak kalau naik persneling begitu! Selina, kau pasti akan datang lagi kemari! Taruhan, yuk?!"

"Hm. Besar amat egomu!"

"Tentu. Sebesar cinta di hatiku dan..."

"Hm," dengus Tesa mengejek. *^Kalau aku boleh tahu, apa sebabnya kau begitu menang taruhan?"

"Sebab... kalau saja kau sabar aku selesai bicara tadi, pasti kau sudah tahu... sebab, cintamu juga sebesar cintaku!"

"Apa? Iiih, sungguh menggelikan! Cintaku? Cintaku pada siapa? Padamu? Ah, jangan coba-coba bikin kangguru ketawa, dong! Kalau kau-pikir, aku akan tertarik pada orang yang begitu cerewet seperti engkau, wah, barangkali kau benar-benar sudah pikun," ejek Tesa tak ke-palang tanggung.

"Oh, oh, oh, jadi kau tahu bahwa aku ini cerewet? Dari mana? Pasti bukan dari Pika, dong? Selama kau berkali-kali main ke sini, se-ingatku aku selalu ramah dan anteng. Seingat-ku, aku cuma pernah sering cerewet pada se-orang saja. Bukan Pika. Bukan Tesa. Tapi, Selina! Ya, aku tahu, aku sangat cerewet pada waktu itu. Ini salah, itu enggak beres. Ini belum dikerjakan, sudah datang perintah lain. Waktu itu aku betul-berul seperti setan, jahat, dan cem-buru pada setiap manusia yang sehat. Tapi Selina dengan tabah selalu melayani perminta-anku. Keramahan serta kehangatannya begitu merasuki jiwaku. Kerap kali aku berpikir, alang-kah nyamannya kalau ditemani perempuan seperti itu seumur hidup! Bukan main bahagianya aku seandainya Pika bisa seperti Selina! Karena itu aku merasa amat kecewa ketika mendengar dia sudah balik ke Jakarta tanpa menemui aku lagi. Bahkan seorang pun tak ada yang tahu alamatnya. Kebanyakan malah belum pernah mendengar namanya. Tapi aku selalu terkenang

padanya. Sering kali aku duduk termenung di .jendela, memikirkannya. Di manakah dia kini? Sedang apa? Kenapa dia balik? Seandainya cuma kekurangan biaya, aku bersedia membantu, sebab kehadirannya yang sebentar itu dalam hidupku sudah jauh lebih berharga daripada kehadiran sekian banyak gad is lain di sepanjang umurku. Dan sekarang... setelah aku menemu-kannya, kaupikir aku akan melepaskannya lagi?"

' Ditatapnya mata indah yang kelam penuh panik seperti mata anjing kecil yang terperang-kap dalam bahaya. Tesa ingin menunduk, tapi dagunya dipegangi terus. Dia tak berdaya mengelakkan tatapan yang begitu menyelidik ke dalam hatinya. Dia menggigil.

"Aku... aku sama sekali tidak mengerti cerita pendek apa yang barusan kausitir itu!" katanya memberanikan diri.

"Ah, ah, ah, jadi kau enggak ngerti? Uh, uh, uh, kasihan banget! Apa perlu kuajarkan dulu a-b-c-nya dari mula? Selina, aku tahu, kau enggak sebodoh itu! Ayo, mengakulah bahwa kau memang Selina!"

"Huh. Mana mungkin!" Tesa pura-pura ketawa geli padahal hatinya dag-dig-dug mencari jalan keluar. Seandainya macan ini nekat me-nuntut penjelasan dari Pika, ah, habislah dia! Namanya, hari depannya! Habis, runyek, han-cur! Bagaimana ya membuatnya percaya

dia bukan Selina?! Huh! Itu sih gara-gara mela-mun ke rumah, jadi enggak siaga!

"Orang bukan Selina, kok mau disuruh ngaku begitu! Memangnya kau sudah buatkan aku bu-bur merah-bubur putih, apa?.'"

Sedetik itu Pasha kelihatan ragu. Dan Tesa menggunakan kesempatan ini untuk melepas-kan dagu agar bisa menyelinap dari bawah lingkaran lengan Pasha.

* Tapi gerakannya justru mengembalikan ke-waspadaan laki-laki itu.

"Oh, oh, oh, kalau kau bukan Selina, coba bilang, kenapa kau begitu getol main ke sini?"

Tesa kemekmek. Dia tak bisa menjawab. Di dalam kamarnya, sebelum tidur, sudah sering kali dia mengajukan pertanyaan begitu pada diri sendiri. Hatinya merasa tidak enak, dolan-dolan ke tempat pacar orang lain kok rupanya sudah menjadi hobi baginya, apa sih sebabnya?! Perasaannya risi kalau sudah membayangkan rudingan Pika terhadapnya di depan anak-anak sedapur. Oh, ke mana akan disembunyikannya malunya?! Namun begitu, sia-sia dicarinya alas-an bagi hobi barunya itu. Dia senang main ke tempat Pasha, itu saja. Dan selama pemuda itu dianggapnya sama dengan Markus, abangnya, apa sih bahayanya?!. Buktinya sampai sekarang tak terjadi apa-apa yang tak diinginkan. Tapi saat ini...

Mendadak dia sadar bahwa Pasha masih me-nunggu jawaban dari bibirnya. Matanya mem-

balas tatapan Pasha tanpa kedip. Dan akhirnya

dia cuma mengangkat bahu. "Aku kan bukannya getol! Kau sendiri yang

memaksa aku main ke slru! Kalau begitu, sekarang juga aku pulang, deh. Kau enggak usah takut, aku takkan muncul lagi!" Tesa bergerak mau molos, tapi dicegah.

"Eh, eh, eh, enggak segampang itu. Sebelum adios, persoalan ini mesti dibikin terang dulu. Tahukah kau kenapa aku memaksamu datang ke sini terus? Sebab banyak hal telah membuat aku curiga, kau ini mungkin Selina! Aku tidak tahu apa maksud Pika menyembunyikan dirimu dari aku! Tapi aku takkan menyerah sebelum aku tahu siapa bidadariku itu sebenarnya. Selina..."

"Berapa kali mesti aku tegaskan, namaku bukan Selina?! Apa kau perlu melihat fotokopi surat lahir dan KTP?!" seru Tesa marah. Dan bencinya, kalau dia sudah kelewat marah, air matanya pun ikut-ikutan berlinang.

"Baiklah. Aku mengerti, namamu Tesa. Tapi aku juga tahu, Selina adalah kau! Kenapa hal itu bisa terjadi begitu?" tanya Pasha dengan lembut sambil menatap mata gadis itu lebih tajam lagi.

Tesa sengit betul dicecer seperti itu, sea kan dia sudah melakukan dosa yang tak berampun.

"Tanyalah Pika!" cetusnya tanpa dipikir lagi. Ini memang kelemahan yang selalu membuat* nya pusing kepala. Dia lebih serin

dipikir lebih dulu, sehingga terkadang mem-bawa akibat yang membuatnya tujuh keliling.

"Aha!" Macan itu kini meraung senang. "Jadi, ada permainan ya antara kau dan Pika? Dengan kata lain, kau sudah mengaku, kau memang Selina, walaupun namamu sebenarnya Tesa. Iya, kan?"

Tesa tidak mampu menjawab. Dan kebisuan-nya itu memancing ketawa yang lebih gencar

dari Pasha. Wajahnya yang semula diliputi se-dikit keraguan, kini bereahaya dan berbinar seperti bulan lima belas hari.

"Dan sekarang, setelah aku menemukan orang yang selama ini membuatku malarindu tropikangen, kaupikir aku akan membiarkannya pergi begitu saja? 'Kau enggak usah takut, aku takkan muncul lagi!'" Pasha ketawa menirukan ucapan Tesa tadi.

"Jadi, apa maumu?" tanya Tesa akhirnya, ke-walahari dan ingin lekas-lekas dibebaskan. Hatinya gerah berdekatan begitu dengan puma jan-tan ini, terlebih jantungnya yang sudah meng-gelepar sejak tadi. Beberapa menit saja lagi, dia khawatir debarnya sudah tak tertahankan dan jantungnya akan binasa!

Tapi seperti kucing yang baru mendapat anak tikus, dia tidak segera menerkam atau melepas-kannya, namun mempermainkannya, mengajak-nya kejar-kejaran.

"Hm, jadi Selina itu bopengan, ya?!" goda Pasha ketawa geli. "Mana, coba aku lihat?!," Lalu

tanpa permisi tangan di dagu tadi sudah beralih menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajah dan dahinya. Jari telunjuknya mengelus pipinya selintas.

"Hm. Halus, kok. Enggak terasa ada bopeng-nya!"

Tesa menggertakkan gigi sambil berdoa se« moga datang geledek yang akan membuatnya meloncat pergi dengan kaget. Tapi surga rupa-nya sedang istirahat siang dan suasana tetap tenang.

"Apa maumu?" ulang Tesa mendesak. Hatinya dongkol sekali tidak bisa melepaskan diri dan terpaksa membiarkan Pasha main kucing-tikus dengannya. "Oh! Mauku buuaaanyak!!!" "Sebut saja! Paling-paling enggak aku ladeni!" "Masa iya?" Puma itu nyengir seakan kurang percaya. Dia seolah mau bilang, masa sih ada orang disodori undian yang sudah dapat hadiah kesatu, mau menolak?! Taruhan?" tantang Tesa sengit. "Aku mau kau menggantikan Pika di hatiku!" bisik Pasha tanpa senyum.

"Huk!" Tesa nyaris tercekik napasnya sendiri. Dia terperanjat bukan alang kepalang. Menggantikan...! Oh, Tuhan, sudah akan kiamatkah duniaku?! Apakah akan Kaubiarkan aku hancur binasa hanya gara-gara cinta seorang laki-laki?! Dan... betulkah itu cinta?! Rasanya kalau cinta, takkan begitu mudah dialihkan seoerti '

tanah di depan PPAT (Fejabat Pembuat Akte Tanah)!

"Apa kau tega membunuhku?" tanyanya pa-rau.

"Lho!" Tentu saja Pasha jadi heran. "Kenapa sampai tragis begitu? Aku kan enggak penyakit-an, Tes. Badanku juga enggak berbau busuk, kan? Masa sih pacaran denganku bisa mem-buatmutewas?"

Oh, laki-laki, keluhnya dalam hati. Tidak bisa mengerti hati perempuan.

Tasha, kau jangan mengada-ada, deh. Jangan melamun yang bukan-bukan. Kau pacar Pika, temanku! Kau akan segera bertunangan dengan-nya, beberapa minggu lagi. Jangan mengira kau akan bisa memaksakan kehendakmu padaku! Aku takkan sudi mengenalmu lagi seandainya kau sampai memutuskan hubungan dengan Pika! Aku takkan pernah da tang lagi ke sini!"

Eh, eh, eh, kok jadi begini?! Pasha kebingung-an. Setahunya, tidak kurang dari dua gadis di kuliahnya yang akan bersedia terjun tanpa pa-yung ke Sungai Swan, asal saja bisa mendapat cintanya. Apalagi ditawarkan dengan cuma-cuma! Apakah Tesa ini sok atau berlagak tahan harga? Sangkanya, cinta bisa kena devaluasi, sampai ditahan-tahannya begitu?!

"Wah, wah, wah, kenapa begitu nekat, Tes? Kau enggak serius, kan?"

"Tentu saja aku serius!" bentak Tesa. Lalu ditatapnya Pasha dengan mata berlinang. Ah,

seandainya nasib ada di tangannya sendiri! Dia menghela napas. Aku sudah merasakan getirnya empedu yang kureguk dari tangan kawanku sendiri, pikirnya. Mana aku tega melakukan hal yang terkutuk itu terhadap temanku yang lain, walaupun orang itu tidak begitu akrab denganku?!

"Pasha, aku menganggapmu sebagai abangku sendiri. Karena itu aku enggak sungkan-sungkan main ke tempatmu. Aku merasa damai berada di dekatmu, sebab aku membayangkan kau ini seperti Markus, abang kesayanganku. Kenapa harus kaurusak suasana yang baik inf?/ Tak dapatkah kau juga menganggap aku seperti adikmu? Atau, barangkali kau malu punya adik seperti aku?"

"Kenapa kau bertanya sebodoh itu? Tentu saja aku mau! Mau, mau, mau! Seperti Pika, aku juga anak tunggal. Tapi andaikan sudah punya adik pun, aku tetap bersedia mendapat adik seperti engkau! Cumaaa..."

Hatinya yang sudah merasa lega, kembali berdebar mendengar kata penghabisan. Panjang amat cuma-nya itu! Pasti buntutnya tidak enak!

"...aku mau yang lebih dari sekadar adik! Aku mau kau selamanya berada di sisiku!"

"Oh, itu bisa diatur! No problem!"

"Sungguh?!" Mata Pasha yang besar penuh binar harapan.

"Sungguh!" Tesa mengangguk. "Dengan sya-rat..."

"Ah, ah, ah, gampang. Katakan saja! Semua-nya aku penuhi!"

Tesa menatapnya dengan rasa geli bercam-pur... entah bercampur apa. Lambat-Iambat di-ucapkannya kaiimatnya. Biar jelas, satu kata per satu kata.

"...asal... kau... tetap... meneruskan... hubung-an... dengan... Pika!"

"Aaah!" Pasha menguik seperti lembu mau dibantai. Dia menggeleng, rupanya bingung dan jengkel. "Kalau sudah ada kau, buat apa lagi dia? Apa kau salah dengar? Aku mau kau sela-manya di sisiku! Tentu saja menggantikannya!"

"Dan aku cuma bersedia tinggal di samping-mu, datang ke sini tiap hari, bila kau tetap dengan Pika! Aku adikmu, ingat! Atau kau juga salah dengar?"

Pasha meringis mendengar teguran itu. Tapi Tesa tidak memberinya kesempatan untuk ber-pledoi. Dia menyerang terus tak kenal ampun.

"Begitu kau putus dengan Pika, aku pun akan segera menghilang dari hidupmu! Jangan kau-harap, kau lantas akan bisa mendekati aku! Apalagi menyuruh aku menggantikan tempat-

>nya! Cinta adalah barang langka yang tak bisa dipindah-pindah begitu saja semaunya. Seperti tanaman bonsai, dia memerlukan perawatan ser-ta pemupukan yang khusus supaya terus segar dan tidak mati. Kau dan Pika sebenarnya saling mencintai, tapi kalian mungkin malas memupuk

dan merawat hubungan. Aku tahu, kau sebenarnya mendambakan Pika..." "Omong kosong!"

"...tapi kau malas merayu serta membujuknya. Akibatnya, dia juga terasa acuh saja padamu. Padahal sebenarnya dia sangat mencintaimu. Apa jadinya kalau kau pergi dari dia? Dapatkah kaubayangkan betapa kecewa dan pahitnya hati seorang wanita yang dikhianati demikian? Apalagi kalian sudah punya rencana sejauh itu!"

Tesa masih ingin memberi kuliah lebih pan-jang, ketika Pasha menghentikannya dengan ucapan yang telak sekali.

"Kelihatannya kau bicara dari pengalaman, nih?!" katanya sambil menatap lekat.

Wajah Tesa terasa hangat. Dia memaki dalam hati, kenapa begitu ceroboh sudah membuka rahasia pribadi. Apa boleh buat. Sudah telanjur. Asal saja bisa membatalkan niat Pasha yang nekat, dia rela. Yah, asal dunia tidak jadi dilan-da gempa! Biarlah! Isi perutnya pun rela di-muntahkannya asal damai terus di bumi me-reka.

Tesa mengangkat bahu. "Terserah apa duga-anmu. Yang penting, kau harus mengerti dengan jelas: aku cuma bersedia meneruskan per-sahabatan ini seperti sekarang bila kau tetap. bersama Pika! Begitu kau putus dengannya, aku pun segan menemui engkau lagi. Jadi, jangan pernah mimpi kau akan mampu merebiifc

ku! Sekarang tidak, sampai kapan pun tidak! Apalagi dengan menyakiti hati Pika!"

Pasha menarik napas panjang sekali lalu me-nahannya. Matanya penuh amarah ketika dia mendesis, "Sudah cukupkah kuliahmu bagiku? Bolehkah aku mohon diri dan mengusulkan su-paya kau balik saja ke dapur?"

Tesa merasa begitu lega, dilepaskan tanpa ba-nyak cincong, sehingga dia Iangsung melangkah setengah berlari ke belakang. Ketika sedang mengaduk kue, barulah dia tersadar: Pasha sa-ma sekali tidak mengatakan bahwa dia menye-tujui syaratnya!

Sehabis makan pie, dengan tegas dia menun-tut janji. Pasha menghela napas sambil menun-dvk. "Baiklah, 6u Dosen. Kalau itu yang kau-minta. Aku akan tetap bersama Pika seakan Selina tak pernah ada di dalam hidupku. Tapi ingat! Kau juga mesti datang seperti biasa ke-

- Tesa mengangguk/Tapi dia sudah membulat-kan tekad. Dia cuma akan muncul sampai dengan pertunangan Pasha dan Pika. Setelah itu, keadaan dinilainya aman, dan dia tak perlu me-musingkan diri lagi dengan Tuan Solem! Dia takkan datang-datang lagi ke tempatnya!

Bab 10

Tanpa menyebut-nyebut nama Tesa, Pasha ber-keras menuntut agar semua—se-mu-a—anak-anak Indonesia diundang ke pesta pertunangan

mereka. Pika sebenarnya sudah punya rencana

hanya mengundang orang-orang tertentu saja.

"Teman-teman yang khusus saja. Pas," kata-nya dan tentu saja Tesa tidak termasuk di da-lamnya.

Sekarang setelah melihat daftar yang dibuat oleh Pasha, di mana seakan wajar, tertulis pula nama Tesa, Pika jadi terpaksa mesti mengubah rencananya.

"Kalau begitu kita harus mengadakan pesta dua kali! Aku ogah kalau terlalu banyafc orang sekaligus. Selain itu, dapur asramaku mana cu-kup untuk menampung mereka semua. Jadi, satu untuk anak-anak Melayu. Satunya lagi untuk teman-teman kuliah asing. Setuju, kan?"

Pasha tahu juga kapan mesti berhenti tawar-menawar dengan Pika. Dia sudah bersyukur, gadis itu mau menerima usulnya untuk me undang semua anak, jadi terpaksa dia juga

setuju pesta diadakan dua kali. Walaupun itu tentu saja pemborosan yang gila-gilaan. Tapi untuk pesta kedua, dia berjanji akan menyedia-

kan yang serba sederhana saja. Tak perlu me-nonjolkan kemewahan, sebab atribut begitu ku-rang iaku di sini.-Lain halnya terhadap anak-anak kita yang gemar menggunjingkan orang, pikirnya. Kalau kurang mewah, nanti diributkan pelit!

"Bagaimana kalau pesta kedua itu dirayakan di tempatku saja, Pik? Jadi anak-anak kita enggak pada tahu. Aku khawatir mereka nanti ikut nimbrung lagi kalau dengar ada musik dan bir! Bisa-bisa dapurmu kepenuhan enggak bisa nam-pung! Juga dua kali berturut-turut, nanti dipro-tes oleh penghuni-penghuni lain yang kebising-an."

Pika berpikir, lalu mengangguk. Dia paham juga betapa bisingnya pesta-pesta semacam itu. Sampai jauh malam lagi. Suara ketawa mereka saja bisa terdengar sampai berkilo-kilo meter jauhnya.

Jadi, untuk alasan yang berbeda, kedua orang itu sepakat membagi pesta itu jadi dua. Pika setuju, sebab dia tidak ingin ada teman kuliah Pasha yang mengenali Tesa sebagai Bidadari Tuan Solem—Huh! Bidadari! dia mendengus dalam hati! Enaknya! Seberapa sih cakepnya dia dibandingkan diriku? Solent's angel?! Hm. Tapi sekarang sudah tidak lagi, bukan? Bidadari itu sudah aku pulangkan ke Jakarta! Ha!—sehingga

akan tahulah Pasha siapa Selina itu sebenarnya! Tentu saja mimpi pun Pika tidak, bahwa Pasha sudah lama tahu!

Pasha setuju, sebab dia tidak ingin ada salah satu teman kuliahnya yang nanti jatuh cinta pada Tesa. Dia yakin, mereka tertarik padanya. Siapa tahu, ada yang nekat! Wah, bisa runyam!

***

Di luar, matahari bersinar cerah. Langit biru. Bunga-bunga aneka warna mekar berseri di ke-bun asrama. Pepohonan pun sudah menghijau kembali, meninggalkan musim dingin yang ke-labu.

Anak-anak bergembira. Ruang makan sudah dihias dengan meriah oleh mereka. Semuanya dengan sukarela mengabulkan permintaan Pika, sebab gadis itu sendiri mengaku tidak sempaf sama sekali untuk mengatur pesta, apalagi menghiasnya.

Memesan makanan jatuh ke tangan Sabita. Namun setelah membanding-bandingkan harga, akhirnya diputuskan bahwa mereka akan me-masak sendiri. Selain lebih murah rasanya juga pasti akan cocok dengan sclera mereka. Kalau makanan pesanan, kan belum tentu. Pika mengangguk saja setengah acuh mendengar putusan mereka, seolah mau menyatakan, ." kalian juga yang akan makan. TerseraJ\j

mau kalian. Aku sih enggak begitu rakus! Apa juga jadi!"

Tesa yang sudah terkenal keahlian dapurnya, segera didaulat untuk memasak. Karena Pika memberi mereka kelonggaran dalam biaya, ma-ka Nopi yang diserahi uang, memutuskan untuk membelanjakan semua: Kalau perlu, malah akan minta tambah, tentu saja dengan memper-lihatkan bon. Walaupun Pika leluasa memberi-kan uang, namun dia termas.uk orang pedantik. Segala apa mesti ada dan beres, semua harus diletakkan pada tempatnya, dari titik koma sampai botol-botol kosmetik, apalagi bon-bon belanja.

Untuk menyenangkan hati Pasha, Pika me-nemui Tesa dan khusus minta dibuatkan ayam gulung dengan saus cokelat.

"Rebes," sahut Tesa ringan, padahal dalam hati dia berdarah. Tapi itulah nasib, pikirnya menghibur diri. Nasibnya memang tidak cerah. Kalau belum jodoh, tak perlu disesali!

Agar tidak merusak suasana yang penuh ke-gembiraan, Tesa tentu saja tidak mau membiar-kan dirinya hanyut diombang-ambingkan la-munan. Maka dengan penuh semangat dia ikut bekerja.

Seluruhnya ada enam macam masakan. Setiap anak memasak semacam, sesuai keahlian maslng-masing. Atina yang pandai menghias berjanji akan membuat flora dan fauna dari ber-bagai sayuran. Sabita, Ria, Nurul, Pualam, dan

Dita akan mencurahkan kepandaian masing-masing. Udara berbau persaingan gara-gara Nopi berjanji akan menyediakan hadiah bagi juru masak yang masakannya paling laris.

Berbeda dengan Pika, Pasha justru menyenv patkan diri untuk membantu membereskan ser-ta mengatur ruangan pesta. Mendengar ulah Nopi, dia ketawa.

"Jangan suka melempar petasan, Pi! Nanti bisa perang, lho!"

"Ah, biar dunia ini tambah ramai, Pas. Kalau terlalu hambar, kan gairah hidup bisa habis!" sahutnya sambil melekatkan kertas-kertas spiral ke dinding.

"Maksudmu, hidupmu, kali? Hidupku sih enggak pernah hambar!"

"Tentu saja kau bisa bilang begitu! Sebentar lagi kau akan bertunangan! Sedang aku? Makin lapuk juga dimakan usia!"

"Makanya rajin-rajin pamerkan tampangmu, dong! Siapa tahu ada yang masih senang gorila...!"

"Duillah, mentang-mentang jambulmu seim-bang sama botaknya Mr. T! Gini-gini, yang naksir sih ada juga, cuma D.C semua. Enggak ada yang AC. , yang timbal balik, gitu!" kata Nopi, si ahli perkabelan.

waktor TV Amerika „,arus searah arus bolak-balik

aripada kena AIDS, lebih baik enggak usah cerewet Ambil saja yang datang. Jelek dikit enggak jadi soal, pokoknya dia bebas virus!"

"Enak aja ngomong, lu! Main ambil-ambil begitu saja, kalau nyalanya tokcer seumur hidup, ya enggak apa. Tapi kalau baru beberapa tahun

sudah sering short circuit, gimana? Apalagi kalau salah sambung, wah, kan bisa kebakaran!"

"Kalau begitu, prognosa-mu agak gawat, Pi. Bisa-bisa seumur hidup takkan ada therapi causal -nya. Paling-paling cuma therapi palliative saja. Tapi seperti kataku tadi, yang belakangan ini bisa menyebabkan AIDS, Iho!"

"Brengsek, lu! Kaukira aku ini suka jajan? Haram, deh. Lebih baik gue beli sabun obral-an....

"Untuk...?" tanya Pasha nyengir berlagak enggak ngerti, padahal sudah paham seratus per-sen.

Saat itu masuk Atina dan Nurul, sehingga Nopi tidak jadi memaki Pasha dan Pasha tak bisa memuaskan keinginannya menyindir te-mannya.

"Kerja yang benar, ya," seru Atina ke alamat Nopi, "kalau nanti mau dikasih makan!" "Aduh, kejam!" kata Pasha menggeleng. "Nah, itu!" keluh Nopi. "Galak beeng, deh,

mengobati*penyebabnya

mengobati keluhan, penyebab tidak. dihilangkan

cewek-cewek kalau hidungnya mancung dikit saja. Jadi, gimana D.C mau diubah jadi AC?"

"O, ini toh salah satu kabelnya?" sindir Pasha melirik Atina membuat gadis itu menoleh kian kemari dengan curiga. "Aku mencium sindiran di udara, nih!" ger-« taknya. "Mudah-mudahan sih cuma salah ki-rim!"

"Oh, salah kirim! Salah kirim!" sahut Nopi cepat-cepat. "Telegram yang jelek pasti selalu salah kirim, kok." Lalu ditambahkannya lebih pelan, "Kalau digalakin terus begini, umurku enggak bakal panjang, dong!"

"Apa kaubilang? Siapa yang galak?" tanya Atina yang rupanya tajam kupingnya.

"Eh, Tin, mari aku beri resep manjur," panggil Pasha yang tengah mengatur mikrofon di pojok.

"Apa?" Atina terpancing.

"Kalau mau dapat cowok secakep dia, tuh, kau mesti lembut dan nurut. Mengalah untuk menang! Nah, kalau sudah menang, baru kau boleh unjuk kekuatan...! Benar enggak nasihatku ini?"

"Iiih, siapa yang mau..." protes Atina, tapi terputus oleh teriakan Nopi yang penasaran.

"Teman kayak apa kau! Ngajarin yang bukan-bukan! Coba kalau ada yang nurut! Mampus aku! Dikira hatiku dielus domba, tahunya kena cengkeram macan biang!"

Nurul.terkikik lari ke tempat masak diil oleh Atina. Tak lama kemudian dari aral

muncul Tesa yang berjalan tergesa-gesa. Matanya melirik jam di tembok, lalu memandang sekilas arlojinya.

"Mau ke mana sih buru-buru begitu, Neng?" sapa Nopi yang suaranya jadi Iain daripada sebelumnya. Tahulah Pasha, siapa yang meng-gerakkan medan magnet kawannya itu. Aneh-nya, Tesa kelihatan ad em saja.

"Aku hams kuliah, nih," sahut Tesa tanpa berhenfi.

"Sayumya sudah matang, belum?" teriak Nopi.

"Awas, kalau ayam gulungku mentah di te-ngah!" ancam Pasha.

Tesa menoleh dan melempar senyum pada keduanya, sehingga Nopi serentak menekan dadanya seakan kesakitan.

"Sebentar lagi aku akan balik. Pestanya kan malam, masih banyak waktu. Kalau enggak matang, iris deh kupingku!" Lalu dia menghilang di belokan koridor, meninggalkan sepasang wa-jah melongo bego. Tapi Pasha segera disadarkan oleh keluhan panjang dari Nopi.

"Uh! Heran, cewek begitu cakep kok enggak ada hatinya, ya? Dingin seperti salju!"

"Hm. Jadi ini juga kabel yang salah arus?" sindir Pasha.

Nopi mengangkat bahu. "Tapi kabelku! Bukan dari dia! Tesa enggak punya perasaan, lembut sih lembut, tapi satu ton dinamit pun belum

tentu akan membuatnya berlari memeluk kita,

mencari perlindungan!" "Maksudmu, memelukmu? Kalau memeluk

aku, barangkali dia masih mau!" "Uh! Mau coba?"

"Ah, jangan! Aku senang perdamaian teruta-ma di dalam negeri!" sahut Pasha. Lalu menam-bahkan dengan lebih serius, "Yah! Itulah tragis-nya hidup ini, Pi. Yang tidak diinginkan, kita peroleh dengan gampang. Yang kita inginkan, justru tak pernah akan diperoleh...."

"Pengalaman pribadi, nih?" Nopi balik me-nyindir membuat Pasha mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ceroboh! Bisa-bisa rahasianya nanti terbongkar. Kalau cuma namanya sendiri yang rusak, masa bodohlah! Tapi kalau Tesa sampai ikut-ikutan terseret, oh, dia takkan pernah me-maafkan dirinya sendiri!

"Lho!" sahutnya berlagak heran. "Kita kan se-dang membicarakan kasusmu!"

"Jadi kauanggap aku ini seumur hidup akan sial terus?"

"Tergantung arus hatimu sendiri. Kalau kau bisa membelokkannya ke saluran yang terse-dia..."

Telepon di ruang makan yang luas itu be dering. Nopi meraihnya lalu menyahut, "Ada|§

"Binimu," kata nya pada Pasha.

Maka konsultasi mencari jodoh pun te berakhir.

Meja-meja disambung-sambung sampai me-menuhi panjang ruang makan. Selain anak-anak Indonesia, penghurti asrama di tingkat Pika juga diundang. Mereka senang, sebab ada suguhan anggur keluaran pabrik Seppelt yang terkenal di situ. Pasha memang sengaja membelinya untuk tamu-tamu itu.

Meja yang paling atas ditempati oleh Pika dan Pasha serta beberapa teman pilihan, teruta-ma dari Pika. Tesa sengaja datang agak terlam-bat—dengan menyalahkan jam kuliah yang di-perpanjangnya sendiri di perpustakaan; dia sudah menelepon Sabita, minta tolong agar a yam gulungnya dikukus lalu dipotong-potong—agar tak usah duduk semeja dengan Pasha. Tapi apa mau dikata, kursi yang kosong tinggal di meja paling bawah, letaknya justru berhadapan de-ngan Pasha!

Tanpa disadari oleh yang lain, berulang kali pemuda itu menatap ke meja di ujung dekat pintu, membuat Tesa berulang kali pula harus berlagak sibuk menyendok makanan di piring atau membuang pandang ke samping, pura-pura asyik mendengarkan celoteh yang men-jemukannya.

Kalau Pasha sedang lengah, terlalu asyik ketawa dan bergurau dengan orang-orang di dekatnya—dan itu sering terjadi—maka gantian Tesa yang membiarkan dirinya mengawasi mereka. Alanglah meriahnya masa muda itu kalau melihat tingkah mereka. Tapi apakah itu gam-

baran cermin bagi semua orang?! Misalnya.«.

dirinya sendiri?!

Suatu saat mata mereka bertemu! Tesa tengah asyik melamun sehingga dia tidak menyadari-nya dengan segera. Matanya memang menatap ke depan, tapi dia tidak melihat Pasha. Sebalik-nya, laki-laki itu memperhatikannya dengan saksama. Dia tahu, gad is itu tengah melamun. Matanya yang kelam kelihatan bagaikan sHb tanpa dasar, menenggelamkan apa saja yang jatuh ke permukaannya. Wajahnya yang bujur telur kelihatan rileks, namun penuh ramuan du-ka membayangi senyum santai yang mengulas bibirnya yang mungil. Apakah yang sedang kaupikirkan? tanyanya dalam hati. Apakah kau menyesal?! Apakah kau ingin aku mengubah keadaan?!

Seakan kena telepati, tiba-tiba saja Tesa me-ngetahui bahwa dirinya tengah diperhatikan orang. Matanya mengedip. Ketika terpandang olehnya sepasang mata di meja kepala, hatinya kontan terguncang hebat. Begitu bertatapan, saat itu pula dia melengos. Namun berita yang dilontarkan oleh mata indah di bawah naungan alis yang hitam lebat itu sudah menyentuh batinnya. Dan isinya dimengertinya, sekaligus membuatnya gelisah.

Ada penyesalan di situ. Menyesali diakah laki-laki itu?! Ada penuntutan. Apa lagi yang masih bisa dituntutnya dari dirinya?! Kenapa harus menyesal? Bukankah sejak mula sudah itu

jalan yang dipilihnya?! Bahkan duri serta onak

jelah -disingkirkan dengan begitu gigih, demi apa .yang telah dipilihnya. Kenapa menyesal setelah jalan menjadi licin dan banglas?!

Apa yang mau dituntut?! Dia tak punya piu-tang, juga Tesa tak punya apa-apa yang bisa diberikan. Cukuplah sudah kenangan bersama yang dijalin begitu tersembunyi. Itulah hadiah-nya baginya. Malam ini untaian penghabisan telah selesai. Dia takkan datang lagi ke tempat Fasha!

Karena berbagai halangan, keluarga Pasha tak bisa datang dari Jakarta. Maklum, ini kan baru tukar cincin. Tapi nanti di Jakarta, pernikahan serta ke Catatan Sipil pasti akan dihadiri oleh selengkapnya keluarga, begitu tulis ibunya.

Untung masih, ibu Pika bisa datang. Walau-pun beliau cuma hadir sebentar, tapi itu cukup sebagai rem untuk mencegah Pasha melakukan hal-hal yang mungkin kelak akan disesalinya. Kalau tak ada ibu mertua, entah apa yang akan clilakukannya malam itu. Anggur sudah naikjce kepala, membuat hatinya jadi ringan dan ingin mencampakkan kesetiaan ke dalam laut. Makin malam seraut wajah bujur telur nun jauh dari mejanya, kelihatan makin menawan. Sebaliknya, suara nyaring di sebelahnya makin kedengaran penuh tuntutan, tandas, dan tak bisa diabaikan. Malah ketawanya pun terdengar salah tempat.

Tapi untung, di sebelah yang lain—walau sebentar—duduk bertakhta ibu suri yang mem-

buatnya mati langkah. Pasha berusaha melupa-kan semua kekecewaan hidup dengan menuang

anggur berbotol-botol ke dalam perutnya.

Melihat suasana sudah makin hangat, ibu Pika minta diri, beristirahat ke kamar anaknya. Seakan yang berlalu itu mata-mata, pesta pun kini melonjak jadi lebih meriah. Jerit dan tawa campur aduk tak bisa dibedakan lagi. Edo me-metik gitar dengan jari-jari yang sudah gemetar dialiri anggur Seppelt. Dan Thamrin mengikuti dengan suaranya yang memang tak pernah em-puk. Tapi kini bunyinya sudah mirip knalpot bocor. Namun tak ada yang peduli.

Pasha masih terus mengobati ketawaran hatinya dengan Seppelt. Akibatnya, menjelang pesta usai, dia pun terkapar. Pika menggerutu;

"Ah, kau ini menyusahkan orang saja kerja-mu!" tuduhnya. "Berdirilah! Kau lebih baik pu-lang sekarang!"

Pika memegang lengannya dan memaksanya berdiri. Namun begitu pegangan dilepas, dia ambruk lagi seperti karung pasir. Pika menge-luh kesal. "Gimana ini," omelnya entah pada siapa. "Terang dia enggak bisa pulang. Lalu, harus nginap di mana?"

"Di kamarku bisa," sahut Nopi segera. "Tapi harus di lantai."

"Ah, lantaimu tanpa karpet. Bisa-bisa dia ma-suk angin kedinginan," tukas Edo.

"Siapa yang punya karung tidur?" tanya Nopi berkelilij

"Tesa punya," sahut Atina.

"Ah, enggak!" sela Pika setengah marah me-noleh pada Tesa. "Dia 'harus tidur di atas ka-sur!"

"Nah, siapa yang mau berkorban?" Thamrin menantang. Tak ada yang mau.

"Sayang, kamar kami berdua di blok lain!" tukas Edo lagi sambil menunjuk Thamrin sekali-an.

"Ranjangku sudah ditempati Mami," keluh Pika seakan menjelaskan atau minta maaf sebelum dia melancarkan tuntutan. Sebab sedetik kemudian dia menatap Tesa lalu berkata, "Tes, kau kan punya karung tidur. Gimana kalau ran-jangmu kaupinjamkan padanya?"

Caranya mengucapkan "padanya" itu membu-at Tesa merinding. Tahukah dia? Mengertikah dia? Curigakah dia? Tapi Tesa tak sempat ber-pikir terlalu lama. Semua mata memandangnya. Terpaksa dia cuma bisa mengangguk, habis mau bilang apa lagi? Jelas tak bisa menolak. Pika seolah sudah yakin bahwa dia akan setuju. Mengenai di mana dia harus tidur, itu rupanya bukan urusan Pika. Untung Atina masih punya peri kemanusiaan.

"Ssst, Tes. Kau ngungsi ke kamarku saja. Lan-taiku kan pakai karpet, jadi kau takkan masuk angin!"

Esoknya Pasha terjaga dengan perasaan aneh.

Kasurnya kok lebih empuk?! Dan sarung bantal-

nya harum banget. Eh, eh, eh, di mana ini?! Dibukanya mata. Bukan, ini bukan kamar

Pika. Kamar siapakah ini?! Dia meloncat turun dari ranjang lalu memandang berkeliling. Dia segera tahu, ini kamar perempuan. Walaupun tak ada baju yang bergelantungan, tapi di bawah ranjang ada sandal merah, di belakang pin-tu ada tas gantung, dan di samping lemari ba-nyak sepatu.

Matanya segera tertarik untuk memeriksa meja tulis. Dia ingin tahu ini kamar siapa. Buku yang menggeletak terbuka dibiarkannya tanpa disentuh. Catatan kuliah. Takkan banyak mem-beri info. Tumpukan di sebelah kiri, textbook semua. Di sebelah kanan... ha, paling atas ini kan buku harian, bukan? Rupanya tadi malam pemiliknya tidak sempat membenahi atau... dia tidak menyangka tamunya akan berani kurang ajar menggeratak meja pribadi orang! Hm. Sungguh lancang! Sudah dibiarkan menumpang, tapi...!

Dia sudah menurunkan kembali buku itu dari tangannya ke atas meja, ketika matanya ter-tusuk oleh sepotong nama. Tesa.

Hm. Hm. Hm. Jadi ini kamarnya?! Hm. Hm. Fi, fa, fo, fum! Rahasia aneh telah tercium, pikirnya kesenangan. Ditariknya kursi lalu di-undangnya dirinya duduk di depan meja. De-flSyik dia membaca. Sayang, cuma -

i ***

berita dari rumah. Di antara halaman terselip pula beberapa foto. Ada gambar sederetan anak-anak anjing. Ada gambar rumah sedang dipugar.

Tiba-tiba hatinya tercekat. Gambar Tesa dalam pelukan seorang pemuda gagah! Huh! Ini kiranya! cetusnya dalam hati, penuh jengkel. Tapi ketika dia menemukan foto berikutnya, dia jadi ketawa sendiri. Pemuda itu ada lagi di situ. Kali ini menemani ayah dan ibu. Kiranya, sang abang! Entah kenapa, hatinya kok jadi lega kembali. Sinting, makinya pada diri sendiri.

Buku harian itu pun sudah ditutupnya. Tapi hatinya masih penasaran. Ah, biarlah, daripada iseng, lebih baik aku baca sampai tamat. Ini kan hari Minggu, pasti orang-orang menyangka aku masih tidur.

Maka disilangnya kakinya supaya lebih san-tai, lalu dibukanya kembali buku itu. Tepat pada halaman yang merekah, matanya tertumbuk pada sebuah keluhan: Ah!

Dengan hati berdebar ditelusurinya kalimat demi kalimat, lalu dia menghela napas. Dengan lesu direbahkannya kepalanya ke atas meja, me-nindih buku itu.

Itu kiranya sebabnya, pikirnya kecewa. Jadi Tesa mencintai seseorang. Jadi dia menolak dirinya bukan karena dia itu pacar Pika, temannya sendiri, tapi lantaran dia telah mencintai orang lain yang rupanya tidak menyadari hal itu. Di

manakah si pandir itu tinggal?! Di Jakarta?! Itu-

kah sebabnya dia lari ke sini?!

Coba aku lihat apa yang ditulisnya paling penghabisan. Kepalanya diangkatnya. Buku itu dilembarinya lagi. Hm. Dua hari yang lalu! Apa?! Cuma sepotong kalimat saja?! "Semoga bahagia!" Hm. Mungkin abangnya atau salah satu orangtuanya berulang tahun.

Ditutupnya buku itu dan dikembalikannya ke tempat semula. Tapi, eh, betulkah ada keluarga-nya yang ulang tahun?! Hm. Dia harus mena-nyakannya! Entah kenapa, dia merasa itu pen-ting sekali! Dia harus tahu jawabnya!

***

• Tapi Tesa ternyata tidak dijumpainya lagi. Beberapa kali ditunggunya di bawah tangga, namun gadis itu tak pernah muncul. Pernah dia bolos kuliah, khusus untuk menantikannya, namun sia-sia.

Akhirnya diputuskannya untuk menelepon ke loteng. Tuan Graham sendiri yang menyambut-nya.

"Begini, Tuan Graham. Aku ingin tanya, apa kalian sudah berhenti les sama Tesa?" ;

"Oh, enggak. Masih, kok. Memangnya kenapa?"

"Soalnya, kok sudah lama aku tidak melihat-

nya datang?"

"Oooh, dia minta ganti hari. Bukan lagi Selasa-Jumat, tapi Senin-Rahu."

"Hm. Begitu. Sangkaku, kalian tidak cocok lagi dengannya, dan aku bersedia mencarikan ganti guru yang lain," kata Pasha dengan nada tak bersalah.

"Ow! Kami cocok sekali dengan Tesa! Sudah seperti anak sendiri, deh." Tuan Graham ketawa gembira.

"Syukurlah kalau begitu. Aku senang men-dengamya," katanya mengakhiri telepon.

Hm. Hm. Hm. Fi, fa, fo, fum! Berganti hari rupanya si Putri Harum! Jadi, sekarang Senin dan Rabu! Hm. Hm. Hm.

Tentu saja Pasha tidak tahu bahwa Tesa telah bertekad melaksanakan keputusannya: setelah pemuda itu bertunangan dengan Pika (yang berarti tak ada ancaman lagi baginya!), dia juga tak perlu main terus ke tempat Pasha. Dulu itu kan cuma untuk memenuhi ancaman Pasha: kalau dia tidak datang, Pika akan diputusnya. Sekarang kan Pasha sudah terikat, jadi sip. Laki-laki itu takkan bisa mengancam-ancamnya lagi.

Terkadang Tesa suka melamun. Menyesalkan dia telah menolak Pasha?! Seandainya mereka memang saling mencinta, siapa yang bisa me nyalahkan?! Cinta tidak bisa dipaksakan, bukan?!

Tapiii, bukankah itu justru yang terjadi antara Goffar dan Shakira?! Mereka saling jatuh cinta! Siapa yang salah?! Kalau tak ada, lantas kenapa

dia masih sakit hati pada keduanya?! Kenapa dia jadi memusuhi mereka dan memutuskan persahabatan dengan Shakira?!

Tidak! Dia tidak mau jadi penghancur hati wanita lain! Dia tidak mau dibenci perempuan lain seperti Shakira pernah dibenci olehnya.

Yah! Kalau memang belum jodoh, tak usah dipaksakan, pikirnya menghibur diri.

***

Ternyata Senin dan Rabu pun mengecewakan Pasha. Setelah dia menelepon ke atas, baru ke-tahuan bahwa keluarga Graham sedang pergi berlibur. Tentu saja Tesa tidak muncul.

Dua kali dicobanya menelepon ke asrama. Tapi mungkin nasibnya sedang apes, gadis itu selalu kebetulan sedang keluar. Dia ingin sekali bicara dengannya sebelum matanya dioperasi sekali lagi. Mata kirinya masih perlu diperbaiki lagi untuk ketiga kali.

Dia menunggu-nunggu, tapi sampai saat dia mesti masuk ke rumah sakit, hubungan tetap gagal. Akhirnya dia terpaksa menulis surat. Me-nitip berita melalui telepon, dia tak berani. Ris-kan sekali. Dia maklum, tak ada yang bisa di-rahasiakan dalam asrama yang penuh cewek bawel seperti itu. Pasti lambat laun Pika akan tahu. Daripada perang saudara, lebih baik ditu-Hsnya kalimat singkat: "Aku akan dioperasi lack Maukah Selina menjengukku nanti?"

Surat itu rrfembuat Tesa serba salah. Sebagai manusia biasa, tentu saja dia tak tega mem-biarkan orang lain dalam kesusahan dan tidak mengabulkan permintaannya yang begitu seder-hana. Tapi sebagai perempuan, dia enggan. Ba-nyak keberatannya. Seribu seratus "bagaimana" diandai-andaikan oleh hatinya yang gelisah.

Bagaimana seandainya ketemu Pika?! Bagaimana seandainya ketemu anak-anak lain dan dilaporkan pada yang berkepentingan?! Bagaimana seandainya...

Ah! Tapi tidak menengoknya barang sekali pun rasanya- kelewatan sekali. Setelah kepalanya hampir pecah, tibalah dia pada jalan tengah yang dianggapnya merupakan penyelesaian yang memadai. Dia akan pergi bersama Nopi. Andaikan ketemu anak-anak lain, atau Pika se-kalipun, dia bisa berdalih, diajak Nopi ke sana.

Nopi tentu saja senang sekali bisa berduaan dengan incaran kalbunya. Dia tidak mau pusing memikirkan berapa banyak udangnya di balik batu, pokoknya ini kesempatan langka yang sudah lama ditunggu! Dia bahkan tidak curiga bahwa ini semacam sand i war a juga.

Begitu Pasha mendengar suara Tesa, wajah-nya serentak mekar penuh senyum. Namun untung sekali dia belum sempat melontarkan panggilan berbau intim seperti "Sayang" atau "Manis" atau sebangsanya. Sebab segera juga didengarnya suara Nopi mengucapkan halo, mengikuti Tesa, sehingga diam-diam dia me-

ngeluh kesal. Kenapa lagi bocah ini membawa-

bawa bulldog!

Tengah mereka ngobrol seadanya, tiba-tiba Pasha bertartya, "Waktu tanggal dua puluh lima bulan lalu siapa sih yang ulang tahun, Tes? Ibumu? Ayahmu? Atau salah satu saudaramu?" "Enggak ada. Memangnya kenapa?" "Ah, enggak apa-apa. Aku sedang mengingat-ingat tanggal itu. Entah siapa yang bilang, ya. Kalau bukan kau, ya, Pika! Katanya di rumah ada yang ultah."

Setelah itu Pasha kelihatan tidak bergairah lagi ngobrol seakan kecapekan. Kunjungan pun dipersingkat seperlunya. Keadaan Pasha juga sama sekali tidak mengkhawatirkan, minggu de-pan sudah boleh pulang. Jadi tak ada alasan untuk berlama-lama. Apalagi hati Tesa kebat-kebit terus. Setiap saat Pika bisa saja muncul. Dan alasan apa yang akan dikatakannya?!

Kalau dia bilang diajak Nopi, laki-laki yang cerdik itu pasti akan segera mencium adan'ya bangkai yang mulai busuk. Sebab jelas-jelas, Tesa-lah yang telah mengajaknya, bukan seba-liknya. Kalau Nopi sableng atau senang me-mancing di air payau, mungkin hal itu akan diadukannya pada Pika! Atau, dirinya diperas secara halus! Misalnya, dipaksa menjadi pacar-nya! Hatinya sudah lama meraba-raba ke mana gerangan tujuan sindiran Nopi yang banyak itu setiap kali mereka kumpul-kumpul di dapur

beramai-ramai. Cuma radar hatinya belum bisa menerima sender radio dari Nopi.

Lega rasanya setelah berhasil minta permisi. Tapi Pasha rupanya belum mau sudah. Pada saat terakhir dia masih menemukan akal untuk mengingatkan Tesa pada maksudnya.

"O ya, bukumu yang dipinjam oleh Pika ada di tempatku. Kau bisa mengambilnya kapan saja sesempatmu. Bukankah Senin-Rabu kau kasih les?"

Hm. Jadi dia sudah tahu aku ganti hari! pi-kirnya masygul. Buku apa sih yang dimaksud-nya?! Hampir saja Tesa mengerutkan kening dan berbuat kesalahan. Namun sesaat itu juga keheranannya dia telan kembali.

"Baiklah. Nanti aku ambil kalau sempat. Buku itu sudah aku baca, kok. Sebenarnya enggak diambil pun, enggak apa-apa!"

Tapi Pasha kontan protes keras. "Tempatku sudah terlalu penuh! Buku itu harus kauambil, Tes."

"Baiklah," kata nya supaya bisa segera berlalu.

e5^- ' ***

Sekali lagi Pasha menunggu dengan sia-sia. Sudah lebih dari sebulan dia kembali dari-rumah sakit, namun Tesa belum berhasil diper-gokinya.

Tentu saja dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu sudah bertekad untuk meng-

hindarinya. Setelah sadar bahwa Pasha tahu dia berganti hari, maka Tesa sekali lagi minta hari les diubah. Dengan alasan dia ada kuliah sore. Kali ini dipilihnya Selasa dan Jumat. Mudah-mudahan Pasha tak pernah di rumah saat itu. Dan memang untuk beberapa kali les berlang-sung dengan aman. Dia tak pernah dicegat.

Karena itu betapa kagetnya Tesa ketika pada ' suatu hari Jumat didapatihya Pasha sudah ber-diri di bawah tangga! Dalam hati dia mengeluh. Oh, kalau saja dia tahu lebih dulu bahwa hari ini Pasha akan kebetulan berada di rumah...! Dia lebih suka honornya dipotong daripada datang juga mengajar! '^H

Tentu saja Tesa tidak tahu bahwa Pasha sudah sengaja menunggunya. Laki-laki itu sudah mendapat info baru dari Nenek Graham yang rupanya tidak tahu ke mana arah angin bertiup!

"Hai, Tes!" Sapaannya seakan wajar saja.

"Hai," balas Tesa, berharap akan bisa berlalu tanpa gangguan.

"Eh, eh, eh, mau ke mana buru-buru begitu? Sudah lama enggak kautengok abangmu...."

"Lain kali, Pasha," dia berkilah. "Aku banyak PR, nih."

"Gimana kalau dia ngambek, lalu ngadu sama Pika?" Pasha meneruskan tanpa mengacuhkan dalihnya.

Tesa mengeluh. Ditatapnya Pasha dengan me-maksakan diri. "Kau mau apa?"

I pi

"Nah, tanya dong begitu! Abangmu ini kan baru baik sakit. Dia kepingin makan kue yang enak!"

Tesa terpaksa ketawa. Dasar laki-laki! Sudah sebesar gajah pun masih berlagak seperti bocah cilik. Selalu minta dimanja. Ini sebenarnya tugas Pika, pikirnya berontak. Tapi dia tahu, dia tak berdaya menolak. Pertama, sebab dia belum tahu sampai di mana kenekatan Pasha untuk mengadu pada Pika. Mungkin kalau dia sudah dibikin terpojok oleh kecewa dan putus asa, dia bisa menciptakan gempa bumi tanpa ragu! Iiih, membayangkannya saja sudah ngeriii!

"Kau tunggu di sini! Aku pergi sebentar membelinya."

"Enggak mau!" bantah Pasha, betul-betul seperti bocah sungguhan. "Aku sudah menyedia-kan tepung, telur, gula, dan mentega. Aku mau kue yang kaubuat sendiri!"

Nenek Graham mendadak muncul dengan kantong belanjaan yang mempunyai roda. Rupanya Jumat sore dia ingin belanja makanan untuk seminggu.

Sambil melangkah turun pelan-pelan dia ter-senyum dan menyapa mereka. Tentu saja Tesa menjadi rikuh ketika Pasha menyuruhnya segera masuk. Kalau tidak dituruti, bisa-bisa si nenek menduga yang macam-macam. Terlebih setelah Pasha dengan ketawa lebar berkata, "Adikku ini bandel sekali. Selalu ogah mcnye-nangkan hati abangnya!"

Nenek ketawa menanggapi dengan lucu. Tentu saja dia tahu bahwa Pasha sudah bertunang-an dengan Pika, sebab tempo hari dia diundang waktu ada pesta di tempat Pasha. Dia juga percaya bahwa Tesa adik Pasha, walaupun mu-kanya memang tidak mirip. Tapi dirinya sendiri juga tidak mirip dengan abangnya, pikirnya.

Tesa mengerti bahwa nenek itu tidak curiga. Dan tentu saja dia tidak boleh diberi alasan untuk berpikir lain.

"Huh! Adikku ini malas banget! Ayo, dong, bikinkan aku kue!" Pasha merengek, lalu dido-rongnya Tesa masuk semen tara si nenek ketawa geli.

Tesa terpaksa masuk, meskipun hatinya membara.

r"Ini sudah mirip penculikan!" semburnya begitu pintu sudah tertutup lagi.

"0, yang lebih dari ini pun bisa terjadi, Tes. Kalau kau selalu membantah."

"Lalu, kenapa aku mesti terus-terusan menu-ruti kemauanmu?"

"Karena aku ini abangmu! Ingat itu! Ayo, sekarang mulailah ke dapur! Buatkan aku kue dadar yang enaaak!"

Tesa berpikir-pikir beberapa saat. Jelas dia takkan diizinkan pulang sebelum Pasha tercapai maksudnya. Karena itu cuma kue dadar, walaupun sebenarnya termasuk kewajiban Pika, biar-lah! Akan dikerjakannya secepat mungkin, su-paya lebih cepat lagi bisa pulangl

gan pikiran itu dia segera melangkah ke dapur meninggalkan Pasha menulis laporan.

Karena pada dasarnya Tesa memang gemar main di dapur, tak lama kemudian pun kckesal-annya sudah terlupakan sebab sibuk mengolah adonan. Terlebih ketika kue sudah mulai dida-dar sesendok-sesendok, harumnya seperti membuatnya lupa di mana dia tengah berada. Sesaat dia betul-betul lengah, lalu tanpa sadar mulai bersenandung. Itu memang kebiasaannya di rumah kalau sedang asyik memasak. Dan biasa-nya Markus, Daniel, serta Aster sudah menung-gu hasilnya dengan sabar bersama Mopi. Kali ini bukan Markus, melainkan Pasha yang juga mulai mendengus-dengus menciumi udara dengan perasaan makin lama makin membubung. Telinganya menangkap bunyi senandung pelan dari ruang belakang. Wajahnya menyungging seulas senyum. Ah, seandainya ini bisa ber-langsung terus! pikirnya penuh rindu. Kenapa cuma dia selalu yang menuntut ini dan itu?! Kenapa sesekali tak mau dibahagiakannya Tesa?! Tapi, bagaimana caranya?!

Di tengah lamunannya Pasha tidak menya-dari adanya bahaya. Dia sungguh lupa bahwa Jumat sore tunangannya sering datang, walau tidak selalu. Dan Pika punya kunci sendiri, jadi tak pernah menekan bel. Selain itu, kalau siang hari, pintu apartemen memang jarang dikunci-nya. Kecuali dia sedang tidur atau keluar. Tesa begitu asyik mendadar dan berdendang.

1ka

sehingga dia sama sekali tidak mendengar pintu

dibuka orang. Pintunya memang tidak berderit, sih.

Begitu masuk, Pika segera tahu ada keaneh-an. Pertama, hidungnya langsung menchim wa-ngi kue. Kedua, telinganya mendengar senandung pelan yang pasti berasal dari pita suara perempuan! Ketiga, matanya melihat wajah se-orang lelaki yang pucat pasi walau bekas-bekas senyuman masih belum sirna dari matanya.

"Siapa?" tuntutnya.

"Tesa," sahut Pasha tanpa semangat.

Mendengar itu Pika langsung menyerbu ke dapur. Tesa sedang mengaduk adonan untuk dituang lagi ke wajan. Tangan kanannya me-megang sendok kayu, sementara lengan kirinya memeluk baskom plastik yang besar berwarna jingga. Dia begitu terkejut melihat kedatangan Pika, sehingga gerakannya serentak terhenti. Bah kan baskom itu nyaris terlepas dari pel u kan. Untung dia lekas tersadar apa yang tengah di-kerjakannya.

Dengan mata membelalak penuh horor di-awasinya Pika yang segera berkacak pinggang dekat pintu dapur. Di belakangnya terlihat Pasha melangkah dengan gontai.

Geledek pun tidak tanggung-tanggung lagi menyambar dengan dahsyatnya. "Hm. Pura-pura kasih les! Tahunya, tttjuanmu kemari, ya! Rupanya permainan kalian sudah diatur rapi sekali, nih!"

Merah selebar wajah Tesa disindir begitu.

Tapi mulutnya yang terkatup rapat tidak berhasil menemukan sanggahan yang tepat. Pikiran-nya buntu. Pandangannya terasa gelap. Cuma jantungnya saja yang di rasa kan nya berpacu liar seakan pro tes mau meloncat keluar, tak mau diajak berkelahi.

Pika mendekatinya. Telunjuknya menuding, nyaris menyentuh hidungnya. "Tes, bukankah tempo hari kau pernah bilang betapa sakit hati-mu ketika pacarmu direbut kawanmu! Lalu kau berjanji takkan melakukan dosa seperti itu ter-hadap orang lain. Kenapa sekarang kaulakukan itu terhadapku? Cis! Dasar punya bakat maling rupanya!"

Mata Tesa menjadi merah dan panas.

"Jangan kasar terhadap Selina!" hardik Pasha dari belakangnya, sehingga Pika menoleh ter-kejut. "Kau kaget? Oh, oh, oh, aku sudah lama tahu siapa dia!"

Pika menatap Tesa dengan penuh kebencian. Dia nyaris meludahinya. Bibirnya yang men-cucut akhirnya cuma melontarkan serangkaian lagi tuduhan.

"Jadi kau juga sudah memberitahu siapa diri-mu? Dasar orang tak bisa pegang janji! Pantas dulu pacarmu direbut orang! Puas! Syukur!"

Air mata Tesa mendadak mancur keluar tak terbendung lagi. Sebenarnya dia pantang mena-ngis di depan orang lain, tapi hatinya terluka parah disembilu habis-habisan seperti itu. Air

bening itu mengucur deras ke dalam baskom

yang masih dipeluknya. Ketika menyadari apa yang terjadi, dengan terperanjat diletakkannya adonan itu ke atas meja. Lalu dia berlari keluar. Disambarnya tas serta catatan untuknya menga-jar, kemudian dibukanya pintu dan dibiarkan-nya terpen tang. Dia tidak kuat lagi berdiam di neraka itu lebih lama, walau cuma untuk me-nutup pintu.

Pasha yang mengikutinya lekas-lekas meng-gabrukkan pintu, sebelum dia" kembali mengha-dapi Pika. Wajahnya dingin sekali dan kedua matanya sudah mad.

"Kau tidak berhak menuduhnya sekeji itu! Afculah yang memaksanya datang ke sini! Sudah berbulan-bulan dia mencoba menghindarkan diri, baru hari ini aku berhasil memergokinya. Dia tidak mau masuk, tapi aku sangat ingin dibuatkan kue dadar, jadi aku bujuk dia, itu pun dengan setengah mati! Dia sudah kuanggap sebagai adikku, Pik! Salahkah aku, meminta dibuatkan kue dadar? Habis kalau menunggumu, sampai kapan sempatnya? Dia kan sudah kuanggap adik! Maka..." Pasha mengangkat bahu.

"Kok enggak pernah kau bilang-bilang pada-ku? Mana aku tahu jadi nya?" seru Pika seakan membela diri.

"Ya, aku salah. Habis, aku khawatir kau nanti enggak mau ngerti, lalu marah!".

"Huh! Pendusta! Hidung belang! Adik? Adik ketemu gede?! Kaupikir aku ini bodoh seperti

keledav apa? Gampang dibohongi?! Dasar mata keranjang! Satunya lagi berbakat maling! Klop, deh!" ejeknya. "Maling, katamu?" Kening Pasha mengerut

hingga alisnya bersatu dan kedua matanya me-mancarkan sinar mau membunuh^ Dia menun-dukkan kepala dan mendekat, sehingga tanpa sadar Pika sudah mundur selangkah saking ke-takutan.

"Maling? Tahukah kau, aku dulu sudah ham-pir membatalkan rencana pertunangan kita?! Tapi Tesa berkeras, dia cuma mau terus berkawan denganku kalau aku tidak meninggalkan diri-mu! Mengerti? Kita tetap bertunangan lantaran aku ditekan olehnya! Paham?"

"Oho! Jadi kau bertunangan denganku hanya supaya kau enggak kehilangan dia?" teriak Pika menggelegar.

Pasha terdiam.

"Jadi kau sebenarnya sudah tidak cinta pada-ku?"

Pasha masih diam.

"Dan kaukira aku ini cinta padamu? Bah! Aku cuma bangga lantaran kau ganteng dan teman-temanku banyak yang iri melihatku! Kaukira aku ini enggak laku kalau enggak mendapat belas kasihanmu? Hm. Ini aku kembalikan cincinmu!" Pika meloloskan cincin belah rotan d» jari manisnya dan meletakkannya di atas meja tu lis.

"Aku tidak sudi dikasihani orang! Lihat saja!

palam waktu dekat ini aku pasti sudah bertunangan dengan Michael yang kucintai!" Di-bukanya pintu lalu berlari keluar sebelum air matanya sempat menyembur.

"Pika!" seru Pasha mau mencegah.

Tapi gadis itu sudah menghilang di tangga. Untuk kedua kalinya Pasha menggabrukkan pintu lalu menguncinya. Dan malam itu Pika tidak pulang ke asrama.

Bab 11

Beberapa hari kemudian Tesa muncul di tingkat tiga untuk memberi les. Sebenarnya dia sudah tidak ingin datang ke tempat itu lagi tapi dia masih memerlukan uangnya. Begitu dia bisa mendapat murid lain, Kakek dan Nenek Graham ini akan dilepasnya. Bukan karena mereka murid-murid yang malas, tapi lantaran Tesa sudah segan mengunjungi tempat itu. Dia khawatir jangan-jangan pada suatu hari akan kesamprok juga dengan...

Rupanya hari itu memang dia sedang naas. Baru saja dijejakkannya kaki di tingkat dua, matanya sudah melihat malapetaka. Pasha tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Tesa mengeluh dalam hati. Yah, mudah-mudahan dia sedang menunggu orang lain, pikirnya sambil mau berlagak formal. Dia akan tersenyum, me-nyapa selamat siang, lalu berbelok dan naik ke tingkat tiga. |p

Tapi tidak. Agaknya Pasha memang sedang menunggunya! Oh, dasar sedang sial! Sebelum dia sempat berbelok, bahkan sebelum dia bilang

halo, pemuda itu sudah mendekatinya. Lang-kahnya mengerikan sekali panjangnya. Dalam sekejap dia sudah berada di sampingnya, meng-halangi jalannya. Naik ke tingkat tiga tak bisa, mau turun ke bawah lagi pun tidak mungkin. Di belakangnya tembok dan di depannya sepa-sang lengan yang kuat. Pelan-pelan, tanpa disa-darinya, dia dihalau ke sudut, ke depan pintu kamar, tepat di bawah tangga.

Tesa memutuskan untuk tidak memperlihat-kan rasa takut. Dia berusaha tersenyum meya-kinkan. "Ah, halo, Pas, selamat siang. Rupanya kau enggak kuliah, nih?"

"Aku sengaja menunggumu!" sahut yang di-tanya tanpa senyum.

"Oh!" Tapi jangan biarkan dia tahu bahwa kau takut! pikirnya dengan gagah. "Ayo, deh, aku mau ke atas. Telat, nih!" ujarnya seringan mungkin, seakan tidak mengerti maksud ucap-an Pasha.

"Mereka sedang ada urusan keluar, Tes. Ke-duanya tidak di rumah."

"Lho! Ah, masa?! Mereka tidak memberitahu!"

"Sebetulnya aku harus meneleponmu tadi pagi. Roger, si kakek, sudah menelepon ke asra-mamu, tapi tak ada yang mengangkat."

"Aku kuliah pagi-pagi. Dan anak-anak lain rupanya pergi semua."

"Nah, lalu dia minta aku yang menghubungi kau! Tapi aku sengaja membiarkanmu datang,

sebab ada yang mau aku bicarakan. Marilah

masuk!"

"Sorry, enggak bisa. Aku harus segera pergi

lagi," kata Tesa dengan tagak orang yang banyak urusan.

"Ke mana?'' tanya Pasha dengan kening ber-kerut. "Bukankah ini jam untuk kasih les? Dan sekarang lesnya batal? Berarti kau bebas, dong! Benar, enggak?!"

Tesa menghela napas. Dia tahu kebandelan Pasha. 0, ya dia masih ingat waktu dia tak mau beranjak dari jendela walaupun udara dingin! Waktu dia ogah makan obat! Waktu dia...

"Ayolah masuk!"

Tesa menggeleng. "Pasha, janganlah menam-bah lagi kebencian Pika padaku! Dia sekarang sudah jadi musuhku, tahu!"

"Musuhku jugaf

"Apa maksudmu?"

"Tes, aku sudah putus dengan Pika!"

"Itu urusanmu! Asal jangan gara-gara aku!" Tiba-tiba Tesa terkejut, baru menyadari apa yang didengarnya. "Eh, apa katamu?!"

"Iya, betul! Dia sudah meninggalkan aku. Katanya, minggu depan atau bulan depan, dia pasti akan bertunangan dengan Michael!"

"Michael?! Oh!"

Tesa mengeluh. Tentu ini gara-gara dirinya! Kenapa sih dia sok iseng main-main ke tempat pacar orang? Akibatnya sekarang mereka beran-takan.

"Maatkan aku," bisiknya dengan mata ber-linang. "Kalau ada yang bisa kulakukan untuk

membujuknya..."

Pasha menggeleng. "Tak perlu. Aku tidak mau memaksanya. Hubungannya dengan

Michael bukan hal baru bagiku, Tes. Aku takkan heran bila dia menggunakan kesempatan

itu untuk melaksanakan keinginan hatinya." S "Maksudmu... mereka sudah lama...?" « Pasha mengangguk dengan wajah sendu. "Aku yakin begitu! Ah, sudahlah. Tak usah panjang-panjang mempercakapkan orang lain. Yang sudah basi terpaksa dibuang saja, tak gu-na ditangisi."

Tesa terdiam. Dia teringat pernah beberapa kali melihat Pika dan Michael berduaan. Sikap mereka memang kelihatan dekat, tapi dia tidak pernah mengira bahwa kedua nya begitu intim!

"Eh, kok jadi melamun? Yuk, masuk sekarang? Mau, dong?!" Untuk pertama kalinya Pasha kelihatan tersenyum menawan.

Tesa menatap matanya yang bulat kehitaman. Dia menimbang-nimbang beberapa saat. Memang diakuinya, dia tergoda untuk masuk Les batal. PR dari kuliah sudah dibuatnya. Di asrama sendirian pasti membosankan. Dan... bukankah Pasha kini sudah bebas?! Tak ada orang yang akan marahl

Tapi akhirnya dia terpaksa menggeleng, membuat binar-binar di mata hitam-bulat itu redup disergap kecewa. Tesa memutuskan tak

mau mencari keruwetan, sebab rupanya pacaran selalu mengundang problem baginya. "Sorry, Pas, aku tak bisa!"

Dia berbalik mau menuruni tangga, tapi Pasha mencekal lenganrtya dan mendesaknya ke tembok. Dikurungnya Tesa dan didekatkannya wajahnya. * 41

"Kau sebenarnya menyukai aku, bukan? Karena itu kau tahan merawat aku setahun lebih, bukan?" bisik Pasha berdesah sambil menatap-nya lekat-lekat

Tesa membuang pandang ke samping dan pura-pura mendengus dengan suara tidak sa-baran. "Oh, aku melakukannya demi uang be-laka, kau sudah lupa? Aku butuh uang waktu itu! Sangat butuh Ayo, biarkanlah aku berlalu!"

Tapi Pasha tak mau melepas kurungannya. "Kau sungguh tidak menyukai diriku?" desak-nya.

"Kalau seperti yang kaumaksud, jawabnya tidak!"

"Kau bohOng!" tuduh Pasha dengan mata me-lotot, tapi suaranya setengah putus asa.

Tesa tidak sampai hati melihatnya kecewa begitu. Dia tersenyum.

"Tentu saja aku menyukaimu, Buyung!"

"Nah, kan?!"

"Seperti aku pun menyukai teman-teman Iain!"

"Ah, bohong! Dengan aku pasti tidak sama! Ya,kan5N"

"Terserah, deh, kau mau percaya atau tidak!"

"Ya, kan?!" seru Pasha penasaran.

Tesa mengibaskan lengan yang mengurung-nya. "Aku mau pulang sekarang!" Tapi kurungannya tak berhasil didobraknya. Dilihatnya pemuda itu seakan makin nekat mau menahan-nya.

"Siapa sih nama orang itu, eh, setan itu yang sudah menghancurkan hatimu? Sampai kau tak sudi percaya pada laki-laki lagi?!"

Wajah Tesa menjadi merah. Dia sudah ham-pir menyemprot, "Itu bukan urusanmu!" Tapi Pasha sudah memberondong terus, "Atau bah-kan membuatmu takut pada mereka?! Siapakah namanya?"

Pasha menatapnya dengan mata kembali ber-binar. Tesa mengelak tanpa disadari. Se-konyong-konyong dia merasa kikuk, padahal lebih dari setahun laki-laki itu berada dalam belas kasihannya. Kalau lapar, dia akan merengek minta makan! Terkadang kepingin makan kue dadar seperti orang ngidam! Malah menangis tanpa malu-malu kalau sudah kesal memikirkan nasib! Dan sekarang...! Dia berani banyak ting-kah?!

"Bukan Pasha, kan?" sambung pemuda itu nyengir sebelum Tesa sanggup memutuskan bagaimana akan menghadapinya. Semua terjadi dalam sekejap mata. Pasha menunduk dan me-ngeeupnya. "Sudah lama ingin kulakukan," bi-siknya.

Tesa menunduk tanpa berkutik. Dia sungguh menyesal kenapa datang ke situ hari itu. Coba, dia berlagak sakit dan menelepon Nenek Graham...! Huh! Dia menghela napas, rasanya kok makin kikuk?! Tapi nasi sudah menjadi bubur. Apa boleh buat.

"Tes, tubuh manusia itu mengenal reorgani-sasi. Artinya, yang rusak atau sakit akan diganti dengan yang baru. Begitu juga perasaannya. Apa yang dulu terasa menyakitkan, lama-lama akan hilang. Kecewa, frustrasi, penasaran, sakit hati, semua itu tidak kekal. Pasti akan dire-organisasi menjadi rasa senang, sentosa, baha-gia, dan puas. Asal... kita mau berusaha me-nyembuhkannya. Patah tumbuh hilang berganti, Tes. Buat apa yang tidak setia dipikirkan terus? Cuma membuat uban tumbuh! Suatu waktu kau pasti akan menyadari, kau tak mau memikirkan masa lalu terus. Juga tak ada gunanya. Dan tak pantas memberi kehormatan seperti itu bagi pengkhianat. Buat apa membikin dirimu merana bagi makhluk yang tak punya perasaan halus? Tes; yuk, mari masuk. Bantu aku mengetik ma-kalah. Nanti aku buatkan kau kue dadar yang lezaaat! Ayo, bilang, siapa sih namanya?"

"Goffar!" bisiknya tanpa disadari.

***

Pika pindah ke asrama Michael yang terletak di sebelah bar at kota, dekat taman indah. Tak

berapa lama pun anak-anak lain sudah tahu bahwa dia telah putus dengan Pasha dan kini

beralih pada Michael. ;

Tesa ingin menyembunyikan dulu hubungan-nya dengan Pasha, namun pemuda itu rupanya tak bisa gampang-gampang digebah. Setiap akhir pekan dia pasti muncul di asrama, ikut meramaikan acara makan mereka. Seperti biasa, tiap hari Minggu mereka masak bersama, masing-masing satu macam, lalu disantap beramai-ramai. Tentu saja teman-temannya segera mencium bau sangit dan yang paling uring-uringan adalah Nopi.

"Habislah sekarang harapanku!" keluhnya tanpa menjelaskan harapan macam apa.

"Kan masih ada aku!" sambut Atina yang rupanya paham.

"Nanti dulu, ah! Tunggu tahun dua ribu! Kalau aku masih belum mati dalam perang nuklir, dan semua perempuan lain sudah cacat, nah!" katanya mengangkat bahu seakan menyerah. Atina ingin sekali mencekokkan sesendok sam-bal ke dalam mulutnya. Sayang waktu itu ter-lalu banyak orang, dan dia segan menjadi sum-ber gosip.

Tesa terpaksa membiarkan Pasha datang se-maunya, sebab dianggapnya itu lebih mending daripada berduaan saja di tempat Pasha.

"Kalau kau enggak mau aku muncul di asra-mamu, terpaksa harus kau yang datang ke tempatku I Kalau enggak pernah ketemu, enggak

lucu, dong, kan namanya pacaran!" kata Pasha tempo hari.

Tesa masih ragu terhadap hubungan mereka. Dia bimbang. Di satu pihak, dia enggan pacaran sekali lagi—setelah riwayatnya dulu bersama Goffar—terlebih dengan bekas pacar orang. Memang betul, dia tidak merebutnya—terang-terangan—tapi kalau tak ada dirinya, apakah Pika dan Pasha pasti akan bubar?!

Pertanyaan itu acap kali menghantui pikiran-nya dan tak ada jawaban yang bisa meyakin-kannya bahwa dia sama sekali tak bersalah. Dia sadar, Pasha menaruh hati padanya sejak tahu siapa dirinya. Selina yang dicari-cari! Bidadari Tuan Solem! Oh, - kawan-kawan Pasha masih juga melon tar kan olok-olok itu bila mereka me-lihatnya berjalan di samping Pasha Solem.

Walaupun Tesa selalu ingin menghindar, namun Pasha justru tampaknya seakan ingin me-mamerkan dia terus. Setiap ada acara di fakul-tasnya, Tesa pasti diundang. Tapi dia sering juga diajak ke sana walau tak ada acara apa-apa. Tentu saja tak pernah terpikir oleh Tesa bahwa Pasha mungkin cuma ingin memanaskan hati bekas pacarnya. Sebab mereka kerap kali ketemu di halaman atau perpustakaan uni. Pika memang tak pernah ramah sejak dulu padanya. Kini dia sudah mau menyapa, tapi sikapnya tidak ha-ngat. Dan Tesa sedapat mungkin selalu men-jauhinya. Dia tak bisa terlalu menyalahkan. Seandainya Pika masih mencintai Pasha, pasti

dia akan sakit hati benar. Untunglah, tampaknya dia sudah melekat pada cowok pirangnya.

Yah! Tesa bimbang di satu pihak untuk me-nerima Pasha seterusnya. Namun di lain pihak, dia tak dapat menyangkal perasaan hatinya sendiri. Pasha memang menarik! Sekeras-kerasnya batu karang, kalau digempur badai sepanjang tahun, lama-lama pasti berlubang juga. Begitu pula dengan pertahanan hatinya.

Pasha seorang laki-laki yang teguh kemauan-nya, sukar dielakkan, penuh perhatian, hangat, namun tegas. Sejak dia memutuskan untuk mendapatkan Tesa, rasanya sulit sekali bagi gadis itu melepaskan diri. Itu pun kalau dia sungguh-sungguh ingin lepas...!

Dalam kebimbangan begitu, hubungan mereka berjalan terus. Malahan makin erat. Ketika sebulan kemudian Pasha tertimpuk bola tenis, Tesa tahu-tahu mendapati dirinya sudah ter-jerat. Aku tak bisa lagi melepaskan diri, pikirnya. Aku sudah telanjur jatuh cinta!

Cedera itu rupanya hebat sekali, sampai reti-. na pada mata kiri itu terlepas di tempat yang dulu dioperasi. Terpaksa Pasha harus masuk lagi ke rumah sakit.

Selama Pasha diopname, siang-malarn Tesa memikirkan keselamatannya. Apakah operas! itu akan berhasil?! Apakah penglihatannya akan pulih seperti semula?! Apakah akan timbul komplikasi?! Apakah dia masih perlu dioperasi sekali lagi?! Apakah hal seperti itu akan bisa

terulang kembali?! Apakah untuk selamanya dia takkan boleh main tenis lagi?! Apakah... oh! Rasanya dia hampir gila memikirkan pemuda

itu. Setiap kali ada waktu luang, dia pasti ber-gegas ke rumah sakh> menjenguk Pasha. Un-tunglah waktu opname cuma seminggu. Ketika dia datang untuk membawa Pasha pulang, pemuda itu tengah menantikannya. Dari balik kacamata hitam diawasinya pintu masuk ke kamar. Begitu Tesa muncul, dia segera berdiri dari kursi. Melihat wajahnya yang cerah, gadis itu segera menduga bahwa operasinya telah berhasil dengan memuaskan. Tapi dia tidak ber-siap-siap untuk menerima pelukan demikian eraL

"Aduh!" serunya menggoda. "Aku hampir tak bisa napas, nih!"

"Oh, sorry," seru Pasha tersipu. "Habis, aku kelewat girang, sih! Tes, mataku sudah pulih lagi seratus persen! Dan aku juga tak perlu dioperasi lagi! Ajaib enggak, tuh?! Semula aku sudah takut, mataku ini bakal tamat riwayatnya dan perlu dicongkel! Hiii! Ternyata..."

"Oh! Sungguh? Wah, harus dirayakan, tuh!" cetus Tesa, namun dia segera menyesal sudah terlepas omong.

"Ya, ya, ya, tentu saja! Kita masak-masak di tempatmu! Kita undang semua kawanku!" seru Pasha nyaris berjingkrak kegirangan.

Tesa meringis dalam hati. Maksudnya tadi

n dan

hanyalah makan berdua saja, dengan lilin bunga. Bukannya pesta...

"Eh, Tes! Aku punya ide, nih! Kenapa kita enggak mau sekalian tukar cincin?"

Betapa terkejutnya Tesa. Sesaat dia meng-awasi Pasha tanpa mampu buka mulut. Ketika kemudian dipaksanya menjawab, suaranya ga-gap-

"Ta... tapi... Pika kan be... lum ka... win, eh... tu... nang... an... de... ngan Mi....chael!"

"Itu urusan mereka! Pokoknya kami sudah resmi putus! Ibuku sudah aku beritahu!"

"Ta... pi... ibu... ku... be... Ium! Kita kan enggak mungkin main tukar cincin sembarangan? Kita ha... rus memberitahu dulu, dong!"

"Ah, ini kan belum upacara nikah, Tes! Baru simbol saja untuk menunjukkan, kau sudah jadi milikku, dan Nopi-babi itu jangan coba-coba naksir kau lagi! Pada ibumu dan ibuku, kita akan memberitahu tentu saja. Secepatnya! Oke, ya?"

"Pas, kalau cuma takut sama Nopi, enggak usah tukar cincin dulu, deh. Aku jamin, dia takkan berhasil mencuri hatiku. Kalau aku mau dengannya, kenapa enggak dari dulu saja waktu kau masih bersama Pika?! Pendeknya, kalau cuma Nopi, beres, deh. Tak usah khawatir. Eh, kalau wajahmu cemberut, gantengmu berkurang, Iho!" Tesa mencoba berkelakar dan mengalihkan topik.

"Siapa tahu bukan cuma Nopi, tapi masih ada yang lain?" tukas Pasha kepala batu.

"Sudah, ah, jangan bicarakan hal itu lagi, aku enggak suka," Tesa berlagak mengajuk dan Pasha takut jangan-jangan nanti dia marah sungguhan lalu lari! jadi dia terpaksa menurut dan mengerem mulutnya.

"Ayo, buka dong kacamatamu, biar aku pan-dang lagi matamu yang cakep!"

"Aku belum boleh kena sinar, Tes. Tapiii, eh, sejak kapan kaulihat mataku... ehm... cakep?!" Suara Pasha mirip betul anak kecil, sehingga Tesa hampir tak bisa menyembunyikan geli hatinya.

"Sejak dulu, dong! Masa mendadak saja? Yuk, sudah beres tas dan barang-barangmu? Kita pu-lang sekarang saja."

Tesa cepat-cepat mengajaknya berlalu sambil pura-pura tidak melihat betapa cerah senyum di wajah si ganteng. Dasar cowok zaman sekarang, pikirnya geli. Perlu juga rupanya disebut cakep dan ganteng! Huh, kemayu! pikirnya makin geli, melihat Pasha kembali menghampiri cer-min di atas wastafel.

"Tahan, tuh! Enggak kalah dari cewek rupanya!" seru Tesa, maksudnya tentu saja genitnya itu. Tapi sang arjuna malah jadi tersipu, rupanya salah paham.

"Ah, bisa saja kau, Tes!"

"Memangnya aku bilang apa, sih? Bahwa kau

enggak kalah cakep dengan cewek? Hiii, mau mu!" Tesa tak tahan harus menggoda.

"Awas kau, monyet! Nanti kau! Aku sekap kau di... eh... eh... eh... jangan rJnggalkan aku, dong! Gimana aku mesti pulang sendiri?"

"Monyet mana bisa mengantar kau pulang?"

"Lidahku keseleo. Bidadari, maksudku. Ayo, bidadariku, antar aku pulang... nyet!" Pasha me-nambahkan yang terakhir dengan suara pelan. Geram juga hatinya diolok-olok barusan. Kalau tidak dibalasnya nanti, hm! Pikirannya sudah melambung dalam angan-angan bagaimana ca-ranya membuat cewek cakep minta-minta am-pun, menyembah Duli Yang Dipertuan Agung Pasha Solem!

Pesta untuk merayakan kesembuhan Pasha berlangsung murah serta meriah. Pika sebenarnya tidak diundang, sebab dia sudah pindah asrama, tapi entah bagaimana rupanya dia tahu di dapur ada pesta. Tahu-tahu dia muncul ber-sama Michael. Seketika suasana jadi sepi. Tapi seakan tidak menyadari keadaan, Pika terus nyelonong masuk seraya berseru, "Mau num-pang makan, boleh enggak? Mana nih nyonya rumahnya?"

Tesa yang tengah berdiri depan oven mem-belakangi pintu, segera menoleh. Seketika itu wajahnya kelihatan kaget dan bingung meii'

siapa yang datang. Otomatis matanya melirik ke arah Pasha yang tengah mengeluarkan kaleng-kaleng bir dari lemari pending in. Pasha sedang sibuk dan tak bisa ditanya i. Aku harus mena-ngani sendiri!

"Oh, tentu saja boleh, Pik! Silakan! Kebetulan kita sedang kekurangan orang untuk nanti men-cuci piring!" seru nya, bersyukur dalam had sudah berhasil menjawab dengan cepat, sehingga suasana tidak menjadi kikuk. Anak-anak lain pun segera bersorak menyetujui usul Tesa.

"Buset! Kalau begitu aku ke sini cari peng-gebuk, ya!" Suasana pun menjadi makin meriah. Bahkan Pasha jadi asyik ngobrol dengan Michael. Keduanya memang sudah saling kenal di kuliah.

Demikianlah hubungan Tesa dan Pasha sema-kin erat serta mesra. "Setelah pelajaranmu sele-sai nanti, sebaiknya kau jangan. langsung pulang," usul Pasha pada suatu kali. "Teruskan saja mengambft kursus komputer sambil mene-mani aku kuliah. Nanti kita pulang sama-sama."

Tesa sih setuju saja. Cuma persoalannya, dia tak punya biaya lagi.

"Kasihan kan morot terus dari Mami," dalih-nya. "Kalau aku pulang, bisa langsung cari duit buat bantu Mami."

"Soal biaya, kau tak usah pusing, Tes. Kalau kita sudah resmi, pasti orangtuaku takkan kebe-ratan membiayai kau juga!"

"Nanti deh kita bicarakan lagi kalau sudah

tiba waktunya," sahut Tesa mengelak. Bukan

pertama kali itu Pasha mengiming-iming bahwa dia ingin mereka secepatnya menikah. Tak usah tunggu sampai pulang dulu ke rumah. Dan Tesa belum berani mengabari ibunya mengenai pacar barunya ini. Ibu pasti enggak setuju kalau dia mau terburu-buru. Perkawinan adalah ikat-an seumur hidup, pasti begitu nasihat ibunya, jadi harus dipikirkan matang-matang.

Tapi di kemudian hari, Tesa tidak begitu ya-kin lagi akan kemantapan nasihat itu. Dia ter-kadang melamun, ah, seandainya saja dia tidak terlalu lama membuang waktu untuk berpikir sampai matang! Ah! Dan saat itu dia cuma bisa mengeluh penuh sesal.

Hari itu mereka berdua sudah berjanji akan pergi ke kebun binatang. Seperti anak kecil, sejak kemarinnya Tesa sudah kegirangan sampai susah tidur. Pagi itu tingkahnya seperti cacing dimandiin abu. Sebentar-sebentar dia berden-dang atau mondar-mandir dari kamar ke dapur tanpa tujuan tertentu.

"Waduh! Kelihatannya senang betul! Lagak-mu seperti orang kena lotre saja, nih, Tes!" kata Sabita, kepingin ikut kebagian.

"Ada yang ditunggu? Kok belum muncul, ya," sindlr Atina.

Nopi sok tahu. ^ I

"Bukan nunggu, kok!" bantah

"Kau mau bikin janji denganku, tapi malu banyak orang! Iya, kan?! Ini sih, cecuru t-cecurut enggak mau pada n yingkir!"

"Siapa yang kausebut begitu?" seru Atina penasaran. Tampangmu sendiri enggak lebih mending dari nymgnying."

"Eh, kalau memang yakin kau bukannya cecu rut, kenapa mesti nasping?" Nopi ketawa terbahak.

"Sudah, ah. Kok jadinya berantem pagi-pagi begini?" Tesa mencoba mendamaikan, tapi Atina malah mendelik pada Nopi sambil melirik ke cangkimya seakan kepingin membubuhi racun. Tesa berniat mengalihkan pembicaraan, ketika Nurul dan Ria tahu-tahu mendobrak pintu dapur seakan terjadi kebakaran, lalu menatap mereka dengan napas tersengal-sengal.

Nopi segera memanfaatkan kesempatan bagus itu untuk meluaskan pandangan. Kedua gadis itu mengenakan jeans dan T-shirt ketat, sehingga pemandangan alam bukan main me-mukaunya. Ria segera menyadari dan menyem-protnya, "Hei, mata keranjang! Jangan pandangi aku seperti itu! Kualat nanti, ujianmu jeblok!"

"Eh, aku kan sedang menghitung gerak na-pasmu, kok malah disumpahi?! Kalau kau napas terlalu cepat, kan bisa bahaya, tuh!" sergah Nopi padahal dia memang sedang cuci mata.

anak tikus

Habis kapan lagi bisa melihat bukit-bukit naik-turun begitu indah, pikirnya. Sangat bagus buat

kesehatan mata! Daripada mesti pakai boorwaterl

Nurul tidak ikut-ikutan nimbrung, sebab tak tahan lagi mau menyampaikan kabar yang me-ngejutkan. "Pada belum tahu, kan? Pika di rumah sakit!"

"Haaa?!" semua tercengang. - "Kenapa dia?" tanya Sabita yang paling erat dengan Pika, temannya sejak di SMA.

Ria menarik kursi, lalu duduk. Dengan begitu dadanya jadi tertutup meja dan Nopi tidak bisa leluasa lagi menatapnya. Napasnya pun sudah lebih tenang. Nurul segera mengerti dan meng-ikuti contohnya.

"Pika kecelakaan bersama Michael!" kata Ria memulai.

"Oh!"

"Mereka baru pulang libur tiga hari ke rumah orangtua Michael. Kabarnya, Pika luka parah. Sekarang ini kami mau menengok. Ada yang mau ikut?" •

Semuanya menyatakan mau.

"Aku beritahu Pasha dulu," kata Tesa tergesa-gesa menuju telepon. Tapi sampai lama dibiar-kannya pesawat itu berdering, namun sia-sia. Tak ada yang mengangkat.

"Barangkali dia sudah di jalan mau kemari," kata Tesa ketika kembali ke dapur dengan lesu. Tapi aku ikut kalian saja. Biar aku tinggalkan

pesan baginya, supaya segera menyusul ke ru- i mah sakit"

Namun betapa terkejutnya Tesa ketika mereka melangkah ke dalam lorong, lalu mengintai

dari jendela kaca. Ternyata Pasha sudah berada di dalam kamar gawat darurat, tengah sibuk membincangkan beberapa buah gambar ront-gen! Pasti dia bukannya sedang dinas jaga, pikir Tesa. Sebab hari ini kan mereka sudah punya rencana mau ke kebun binatang! "Sayang kita enggak boleh masuk!" tukas ¦ Sabita dengan kesal. "Aku ingin melihat dari dekat bagaimana keadaannya!"

"Itu memang sudah peraturan," kata Nopi yang selalu menerima keadaan apa adanya.

"Mungkin takut kita nanti menularkan ku-manT

"Kan bisa pakai baju sterU seperti Pasha itu!" . cetus Atina yang juga mengkal.

"Tunggu saja apa kata Pasha kalau dia nanti keluar!" kata Nopi seakan mau menyabarkan.

Tapi yang ditunggu justru tidak keluar-keluar. Pasha memang tidak tahu bahwa teman-temannya sedang menantinya. Seorang perawat yang muncul dari dalam kamar segera disan-dera oleh Nopi dengan senyumnya yang cukup menawan para makhluk halus yang kesepian.

"Suster, kenapa kami tidak boleh masuk? Giliran satu-satu kan bisa?"

"Tidak bisa!" sahut perawat dengan bengis "Tuan Solem pun sebenarnya tidak boleh ma

ittk. Tapi sang pasien terus-menerus meracau

memanggilnya, jadi terpaksa diizinkan!"

Ketika Pasha muncul di luar kamar, yang pertama-tama dilihatnya adalah wajah Tesa yang pucat. Dia segera menghampiri dan me-meluknya, lalu mengajaknya duduk. Yang lain mengikuti seperti anak ayam takut kehilangan induk.

"Sorry, Tes, rencana kita ke kebun binatang

batal!"

Tesa menggeleng. "Bagaimana keadaannya?"

bisiknya dengan bibir gemetar.

Pasha juga menggeleng sambil mena'rik napas. "Cukup parah." Lalu dia bungkam.

"Parah bagaimana?" Sabita menegaskan dengan rasa tidak puas.

Pasha kembali cuma menggeleng. Air muka-nya keruh sekali. Tesa menatapnya dan tiba-tiba dilihatnya setetes air bening bergayut di sudut matanya. Pasha menangis! Oh, kalau begitu pasti keadaan Pika sangat gawat!

"Apakah dia akan...?" Sabita tak mampu meneruskan.

Pasha lagi-lagi menggeleng. "Tak tahulah aku," keluhnya penuh kepedihan.

***

Kecelakaan itu ternyata amat hebat dan ber-buntut panjang. Michael pincang kakinya dan narus memakai penyangga, entah untuk berapa

lama. Pika memang akhirnya bisa selamat dari maut, namun pukulan yang fatal dialami oleh Tesa!

Pasha sengaja mengajaknya ke tempatnya agar mereka bisa bicara tanpa gangguan teman-teman. Tesa dibuatkannya kue dadar kesukaan-nya. Tapi gadis itu cuma berhasil menelan se-potong. Mungkin hatinya terlalu risau. Mungkin juga hati Pasha yang risau, sehingga adonannya kurang gurih.

Dengan telaten dilayaninya kekasihnya makan-minum seakan itu .perjamuan mereka yang penghabisan. Pasha bolak-balik ke dapur belasan kali seolah mau memperpanjang saat di mana dia harus membuka kartu, menuang ke-benaran. Tesa bangkit membawa gelas. "Kau mau apa?" "Mau mengambil air lagi." "Biar aku yang ambilkan!" Dengan sigap di-rebutnya gelas itu sampai Tesa keheranan.

"Enggak sari-sarinya kau seperti orang edan kerepotan begitu!"

Tapi Pasha tidak menanggapi seakan tidak mendengar. Ketika gelas diserahkan, Tesa me* numpahkannya sedikit ke atas pakaiannya.

"Wah, aku kelupaan bawa saputangan!" ke-luhnya. "Di mana tisumu?"

"Aku ambilkan!" Dan Pasha pun kembali ke belakang setengah berlari. Tesa mengerutkan kening sambil menggeleng. Rupanya dia mau

menebus rasa kangennya sejak sebulan merawat Pika, pikirnya tersenyum. Setelah akhirnya tak ada lagi yang bisa diker-

jakan, dengan ngeri Pasha terpaksa menjatuh-

kan diri di samping Tesa. Sofa panjang itu ter-kadang digunakan sebagai tempat tidur kalau ada temannya menginap. Biasanya mereka du-duk berimpitan, namun kini Pasha agak men-

jauh beberapa be las senti.

Setelah menahan napas dan mengeluh panjang-pendek dalam hati, akhirnya saat itu pun tiba.

Tesa termangu mendengarkannya seakan kurang percaya atau bahkan tidak mengerti. Pasha mengulangi seolah mau meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah bicara.

"Pika sekarang lumpuh, Tes. Dia perlu pera-watan jangka panjang. Dan... dia memohon agar aku sudi kembali padanya. Dia ingin dirawat olehku!"

Seakan tersadar dari mimpi, Tesa menatap Pasha dengan mata berapi. "Tapi dia sendiri tak pernah mau merawatmu waktu kau membutuh-

kannya!"

"Aku tahu," sahut Pasha dengan nada sabar. "Tapi aku enggak tega untuk menolaknya."

Bukankah dia sudah mencampakkan eng-kau?l"

"Aku tahu."

"Ke mana Michael?"

Dia 8endiri Juga butuh pertolongan, jadi

na mungkin merawat Pika. Saat ini dia sedang beristirahat di rumah orangtuanya, aku dengar."

"Apa... apakah mereka sudah putus?"

"Aku rasa, ya." Pasha menghela napas. Ah, susahnya membuat Tesa mongerti.

"Karena itu dia minta kau kembali padanya!"

"Aku rasa... begitu."

Mereka diam. Setelah lewat lima menit, akhirnya Pasha tak sanggup lagi disiksa seperti itu. Dia tidak bisa menyaksikan Tesa diam bengong seperti orang hampir tersambar petir. Lebih ce-pat dia berlalu, lebih baik bagi mereka, pikirnya. Kalau memang sudah kemauan Tuhan, tak bisa dielakkan.

Disentuhnya lengan Tesa. "Tes, sudilah me-ngerti. Aku kasihan padanya. Kalau kau melihat dia, pasti kau pun akan jatuh kasihan juga."

Tesa menoleh serta menatapnya. "Apa kau masih mencintainya?"

Pasha menggeleng. "Aku tak mau menyakiti hatimu dengan jawaban apa pun. Kalau aku bilang ya, kau pasti cemburu dan kesal. Kalau aku bilang tidak, kau juga akan marah serta penasaran. Kedua keadaan itu akan membuat kau tidak bahagia. Bila kau tahu aku tidak mencintainya lagi, mungkin kau akan menunggu aku terus, menunggu sesuatu yang takkan pernah bisa terjadi lagi. Kau akan menghancurkan masa depanmu. Tidak, Tes! Itu tak boleh kau-lakukan!" te^ti

Tesa menggertakkan geraham. Sungguh dia

enyesal sudah melibatkan diri dengan pemuda itu. Kenapa dia pacaran lagi?! Bukankah sudah diketahuihya bahwa hal itu selalu meruwet-kan hidupnya?! Siapa pun "di atas sana" rupanya tidak suka melihatnya bahagia.

Ditatapnya Pasha dengan menantang. "Lantas, apa yang boleh kulakukan?"

"Bereskanlah sekolahmu secepatnya. Kalau tidak salah ingat, tinggal empat bulan lagi, bukan? Setelah itu, pulanglah ke Jakarta! Lupakan-lah aku!" Pasha mengepalkan tinjunya erat-erat seakan kesal sekali menghadapi keadaan dirinya yang tak berdaya.

Lebih gampang disebut daripada dilakukan, pikir Tesa sinis. Pasha seolah tercabik hatinya melihat gadis itu termangu seakan hilang akal. Seandainya dia mau meraung atau ngamuk, ah, itu lebih baik, pikirnya. Tapi Tesa cuma diam saja menatap karpet. Matanya kering. Bibirnya terkunci rapat.

Pasha tidak tahan melihat keadaannya seperti itu. Diraihnya gadis itu ke dalam pelukannya. Dan Tesa tidak melawan maupun menyambut. Dia sungguh seperti orang hilang pikiran!

"Tes, janganlah putus harapan, Sayang. Memang beginilah dunia. Hidup ini cuma pang-gung sandiwara. Dan lakonnya kebanyakan tra-gis. Manusia yang kurang beruntung seperti kita berdua, lebih banyak jumlahnya daripada mereka yang bahagia. Tapi percayalah, Tuh

itu maha pengasih. Kesengsaraan kita takkan kekal..."

"Ya, betul!" Tiba-tiba terdengar suara Tesa dalam pelukannya. "Ambil saja pisau...!"

"Tesa!" Pasha terpana mendengar pikiran gadis itu. Apa yang ditakutkannya rupanya memang benar. Tesa berdiam diri saja dan itu lebih berbahaya daripada bila dia ngamuk serta marah. Orang yang tidak bisa melampiaskan kekesalan hatinya biasanya makan di dalam. Itu tak boleh terjadi pada gadis yang dicintainya.

"Sekali pikiran itu tak boleh kaubiarkan mera-suki kepalamu! Aku melarangnya!"

"Apa kau masih punya hak untuk melarang aku?" tanya Tesa mencibir, lalu tiba-tiba dia melepaskan diri dan menyingkir ke pojok sofa.

"Tes, percayalah pada suatu hari kau pasti akan bahagia. Sekarang kau memang marah, penasaran, dan patah hati. Tapi kelak bila kau telah menemukan tambatan hati yang baru, pasti kau akan bersyukur, kita tidak jadi melang-sungkan hubungan ini. Kau akan tahu, aku memang tidak pantas bagimu. Aku sama sekali tidak pantas menerima cintamu yang tulus. Lu-pakanlah aku...."

Tesa menatapnya dengan tajam. Pelan-pelan. matanya berlinang. Bibirnya menggeletar. "Ha-ruskah... haruskah... kau kembali padanya?" bi-siknya hampir tak terdengar.

Pasha menguatkan hati dan mengangguk. "Ya. Aku tak bisa menelantarkan orang yang

sudah mempercayakan hidupnya di tanganku.

Ingatlah, Tes, aku ini calon dokter. Masa depan-ku sedang mengalami ujian yang berat saat ini. Kalau aku gagal, berarti aku takkan dapat menjadi dokter yang baik bagi mereka yang butuh pertolongan. Dokter harus berani berkorban paling banyak. Cobalah mengerti, Tes."

"Kenapa harus aku sendiri yang mengerti? Kenapa dia tidak?! Kenapa cuma kau dan aku yang mesti berkorban?! Tidak adil! Sungguh tidak adil! Seharusnya dia tidak meminta itu dari J engkau! Kan bisa saja dia mencari perawat seperti yang dilakukannya dulu bagimu?! Dia tidak punya perasaan! Dia sungguh tidak berpe-rasaan!" Lalu tiba-tiba Tesa terguguk menangis. Ditutupinya wajahnya dengan tangan dan dari sela-sela jarinya air mata turun tak henti-henti. Napasnya tersendat-sendat.

Pelan dan lembut Pasha mengurai kedua ta-ngannya, lalu disusutnya mata serta kedua pip! dengan saputangannya. Dipeluknya kembali gadis itu sampai tangisnya reda.

"Nah," katanya akhirnya sambil menatap Tesa dari jarak selengan. "Sekarang perasaanmu sudah sedikit lega, bukan? Marilah aku antarkan pulang."

"Tak usah! Aku bisa pulang sendiri!" Tesa mengibaskan tangannya dan berdiri. Tanpa membuang waktu lagi disambarnya tasnya dari meja, lalu berlari ke pintu, membukanya, dan menghilang.

„ ., menuUp pintu, bersandar di belakang-

nyI^m"WdUn8' ma'an5'a me"S" aHrturun.

Bab 12

"Aku sekarang berada di airport! Apa kau betul-betul tak mau mengubah kembali pendirian-mu?"

"Kenapa membuang waktu, Far? Lebih baik kau lekas pergi ke ruang tunggu, nanti keting-galan -planel"

"Jadi, kau... betul-betul keras kepala?!" Suara di seberang sana bukan main kesal kedengaran-nya.

"Selamat jalan, Goffar!" Lalu Tesa meletakkan kembali pesawat telepon. Ketika diangkatnya mukanya, tahu-tahu didapatinya Bos sedang membungkuk di depannya. Kedua tangannya bertumpu di atas meja, sementara dasinya ter-juntai di hadapannya bergoyang-goyang. Lirik-annya menyengat sekali ketika dia bertanya, 'SiaPa sih Pak Goffar itu?"

Seorang pembohong!" cetus Tesa tanpa di-P'kir lagi.

nv^m" RuPanya kau sudah dibohongi oleh-tukas Bos dengan senyum penuh arti.

"Kau tampak kesal sekali. Bagaimana kalau nanti malam kita makan bersama?"

"Terima kasih. Tapi sebaiknya Bapak makan bersama istri saja di rumah!"

"Lho! Aku belum punya istri!" bantah Bos setengah membelalak.

"Apakah Bapak juga mau disebut pembo-hong?"

"Lho! Lho! Lho! Nanti aku mintakan surat keterangan masih bujangan dari lurahku kalau kau tidak percaya!"

"Tak usahlah, Pak. Saya percaya sekarang."

"Makan malam itu jadi, ya?"

"Jangan sekarang, Pak. Kepala saya pusing, pikiran masih kalut."

"Baiklah. Tapi lain kali tak boleh ada alasan lagi!" kata Bos seraya memutar badan kembali ke dalam ruangannya.

Tesa menarik napas lega. "Huh! Susah kalau dapat majikan yang masih bujangan seperti itu, pikirnya. Hampir setiap minggu ada saja tawar-an yang enggak-enggak. Makan malamlah, non-ton bioskoplah, mancing ke Pulau Bidadari-lah, atau m enema ni dinas ke luar kota! Bah kan ke luar negeri juga! Untung sejauh itu dia masih bisa mengelak.

"Pak, saya tidak bisa ke luar kota, Ibu sedang sakit!"

"Pak, saya tidak sabaran mancing-mancing, lebih baik beli saja di Pasar I kan! Langsung dipanggang atau digoreng!"

Pak, saya lebih suka melihat video saja di rumah daripada mesti dandan untuk ke bios* kop! Belum lagi bau rokoknya! Dan minta am-

pun WC-nya!"

Bagi Tesa itu cuma sekadar alasan. Tapi aki-bataya, Bos hampir saja membeli pesawat TV dan video untuk dinikmati sehabis jam kantor! Untung Pak Tambua yang ditugaskan mencari info soal tipe, keburu memberi bisikan pada Tesa. Gadis itu kemudian mencari kesempatan untuk menyindir Bos, jangan sampai hilang wi-bawa atau disebut sinting!

"Saya sih segan dimanja oleh Bos seperti se-orang kawan saya. Lebih baik minta berhenti saja!" tukasnya ketika mereka sedang makan siang berdua di kantin.

"Lho, dimanja kok enggak mau?! Kamu in! spesies dari bulan, apa?!"

"Habis! Pikir saja oleh Bapak. Pegawai yang dimanja oleh atasan itu pasti akan dijauhi dan disindir-sindir sama rekan-rekan lain. Mana enak kerja dalam suasana begitu?"

Rupanya Bos termakan juga oleh "perumpa-maan" yang mirip ancaman itu. Video tidak jadi dibeli. Dia juga tidak begitu gencar lagi melan-carkan manuver-lewat-jam-kantor-nya.

Tesa tersenyum scndirian. Sudah hampir tiga tahun dia betah jadi sekretaris presdir. Dan sudah setahun dia axnan dari manuver. Rupanya mendengar suaranya yang tegas di telepon ba-rusan, Bos kembali angot sintingnya. Biarlah.

Toh dia tahu, Bos takkan memaksa. Dia pasti khawatir nanti karyawati kesavungannya itu akan kabur. Bos pernah bilang, dia bersedia menunggu sampai kapan saja atau... sampai Tesa disambar orang lain?) Hiii! Takkan pernah, pikirnya togas.

Sejak dia kembali dari Perth tiga tahun yang lalu, dia sudah bertekad tak mau lagi terlibat cinta. Cuma bikin ruwet pikiran. Ujung-ujung-nya toh sama saja: putus! Mungkin sudah nasib-nya mesti membujang seumur hidup. Dan untuk seorang wanita zaman kini, itu sama sekali tidak tragis. Malah lebih enak, hidup jadi tak banyak cincong.

Beragam alasannya kenapa dia menolak Goffar yang merengek minta visa masuk lagi ke hatinya. Salah satunya adalah itu: dia tak mau lagi terlibat cinta!

Ketika dia baru saja kembali dari Australia, ibunya sudah memperingatkan, "Awas dengan Goffar. Begitu tahu kau sudah balik, dia pasti akan terus mengganggumu! Selama ini barang-kali sudah sepuluh kali dia minta-minta alamat-mu di Perth. Katanya mau ketemu. Tapi tidak Ma mi berikan."

Betul saja dugaan ibunya. Telepon mulai sering berdering. Goffar rupanya tidak takut membayar rekening. Terkadang sehari sampai lima kali. Walaupun dibilang baru saja masuk ke kamar mandi dia ngotot mau menunggu.

Katanya, khawatir nanti ditinggat pergi oleh Tesa kalau pesawat dimattkan.

Tesa terpaksa melayani bicara. Tapi sejak se-mula dia sudah menyatakan dengan togas bahwa jembatan mereka sudah musnah tcrbakar. Sampai kiamat pun dia takkan mau kembali atau mengi/inkan Goffar balik padanya.

"Kewajibanmu sekarang adalah Shakira!"

"Aku harus menemui engkau," tuntut Goffar berkeras. "Kalau kita sudah ketemu, pendirian-mu pasti akan berubah!"

Tesa minta ampun dalam hati. Betapa tak tahu ma I u nya pria ini, pikirnya. Seberapa ganteng pun dia dulu misalnya, kini bagi nya masih lebih menarik penghuni Ragunan di Pasar Minggu!

¦i Mula-mula Tesa tak mau ketemu. Tapi Goffar terus menteror dengan telepon. Seisi rumah jadi kebisingan. Ayahnya mengomel terus setiap kali pesawat berdering walaupun belum tahu itu dari siapa. Ibunya malah sampai melonjak kaget sambil mengawasi pesawat tanpa berkutik. Tesa sadar, mereka semua sudah kena perang saraf.

Demi ketenteraman rumah, dan sckalian mc-nyadarkan Goffar bahwa masa lalu itu tak pernah kembali, maka dia setuju untuk bertcmu. Goffar berusaha meyakinkan gadis itu, betapa kelirunya dia mengawini Shakira, betapa masih dicintainya Tesa, betapa rindunya dia ingin me-nyambung kembali tali yang sudah putus, betapa... masih puluhan "betapa" lagi.

Namun dengan tenang Tesa mengabaikan semua itu. "Masa lalu kita sudah terkubur, Far!"

Pengaruh Goffar padanya sudah tak bersisa. Laki-laki itu memukul-mukul dada, menangis, menjerit, memaksa, mengancam, namun Tesa tetap tak bergeming. "Apa yang sudah dikubur, takkan pernah bisa kembali! Walaupun kau me-neteskan air mata darah!"

Ketika dia pulang sendirian dengan mobilnya yang second-hand, perasaan Tesa campur aduk. Senang sekaligus sedih. Hatinya senang, sebab ternyata dia sudah bisa melepaskan diri dari Goffar. Hatinya yang dulu patah, kini sudah terpaut lagi. Namun dia sedih juga bila teringat kemungkinan manis yang dulu pernah diharap-kan. Ah, seandainya tak ada halangan, entah seperti apa hidup mereka berdua kini!

Setelah pertemuan itu tak membawa hasil, Goffar mulai memaksa lewat jalan lain. Karena Tesa sudah bilang, dia tak mau lagi menerima telepon, maka laki-laki itu mulai mengirimkan surat kilat khusus. Lagaknya melebihi anak pu-ber yang dilanda cinta monyet.

"Kalau kau tak mau kembali padaku, aku akan bunuh diri!" tulisnya suatu kali.

Tesa mengembalikan surat itu tanpa komen-tar. Dia masih ingat untuk mengirimkannya ke alamat kantor, agar rumah tangga Goffar jangan kalut Entah bagaimana reaksi • Shakira seandainya dia sampai tahu!

"Kalau kau tak mau kembali padaku, akan

kubunuh istri dan anak-anakku!"

Surat itu juga diriturnya. Tapi susulannya datang makin gencar. Akhirnya Tesa tak mau lagi payah-payah mengembalikan. Robek saja, ma-sukkan tong sampah! Beres. Buat apa buang uang untuk melayani orang gila, pikirnya.

Semua ancaman itu ternyata memang cuma gertak belaka. Tak pernah dilaksanakan. Hanya yang terakhir ini rupanya dijalankan juga. Goffar mengancam akan pergi meninggalkan keluarganya. Katanya, dia mau ke Amerika dan takkan pulang kembali. Katanya, pada istri dan orangtua dia bilang mau sekolah lagi. Tapi Tesa menduga, dia cuma ingin menghambur-hambur-kan uang istri di luar negeri. Kalau sudah bang-krut, dia pasti akan kembali sendiri mengemis lagi pada Shakira.

Ternyata sangkaannya itu betul. Lima bulan setelah kepergian Goffar, istrinya menelepon Tesa nangis-nangis minta dia datang ke rumah-nya. Semula Tesa tidak mau. Sejak pulang dari Perth, dia belum pernah ketemu Shakira. Rasa-nya segan. Apalagi disuruh main ke tempatnya. Tapi Shakira mendesak. Katanya dia butuh sekali pertolongan untuk membawa anaknya ke rumah sakit.

Mendefigar itu, hati Tesa tergerak. Rasanya tidak tega membiarkan teman dalam kesusahan.

"Baiklah nanti sore aku datang," janjinya.

"Sekarang!" Shakira seakan menuntut."Mana bisa, Shak. Sekarang kan jam kantor. Sabarlah, tak lama lagi juga sore. Aku akan segera berangkat jam setengah lima nanti."

Shakira memang menelepon ke kantor. Se-mula dia mengebel ke rumah. Oleh ibu Tesa dia diberitahu bahwa Tesa ada di kantor. Shakira mendesak minta nomor telepon kantor dengan alasan ada urusan yang mahapenting. Sebenar-nya ibu Tesa segan memberikan, tapi Shakira pandai membujuk. Selain itu, Tesa memang tak pernah memesan agar nomor telepon kantornya dirahasiakan.

"Anakku sudah payah, Tes. Sudah tiga hari berak-berak. Rasanya kolera," kata Shakira di antara sedu sedan. "Kalau ditunggu sampai sore, pasti terlambat. Kalau dia sampai huk... huk... huk... mati, gimana? Apa kau mau me-nanggung dosanya?!"

Tesa berkeringat dingin. Digigitnya bibirnya. Temannya itu memang pintar bicara. Siapa sih yang mau menanggung dosa seperti itu?! Tapi kenapa Shakira tak bisa membawanya sendiri ke rumah sakit?! "Kenapa tidak kaubawa sendiri, Shak?" "Anakku yang besar sedang sakit, Tes. Eng-gak bisa ditinggal. Aku enggak punya pemban-tu. Juga enggak... punya... uang..."

Aduh. Sungguh tidak sampai hati Tesa men-dengar kesulitan Shakira yang bertubi-tubi. Dia jadi serba salah. Meninggalkan kantor berarti

226

kurang disiplin. Tapi membiarkan Shakira tanpa

pertolongan rasanya keterlaluan.

"Baiklah, Shak," katanya akhirnya setelah ber-perang batin beberapa saat. "Aku akan meno-longmu. Barangkali abang atau adikku ada di rumah dan bisa aku mintai bantuan. Kalau enggak, terpaksa aku sendiri nanti yang datang. Tenanglah, ya." "Oh, terima kasih, Tes. Kau sungguh baik...." Tesa menutup telepon pelan-pelan, segan mendengarkan ucapan terima kasih dari orang yang pernah menghancurkan hatinya. Kemudian diteleponnya rumahnya. "Mam, apa Markus ada di rumah?" "Abangmu kan tugas di puskesmas hari ini, Tes. Ada apa?" "Kalau Daniel?"

"Barusan pergi dijemput teman-temannya. Katanya mau berenang. Ada apa sih tumben-tumbenan mencari mereka saat begini?!"

"Enggak ada apa-apa. Cuma ini, Shakira perlu bantuan...."

"0, ya, tadi memang dia menelepon kemari." "Saya tahu. Sudah ya, Mam. Saya lagi sibuk, nih."

Tesa terpaksa minta izin dari Bos untuk ke-luar sebentar. Mobilnya dikebut agar lekas sampai. Menilik suara Shakira di telepon, pastilah anak itu sudah hampir sekarat. Dan dugaannya ternyata benar.

Anak itu kurus, pucat, dan setengah tidak

OT7

sadar. Dia terbaring di ranjang di antara kain-

kain lapuk yang rupanya sudah lama tak pernah dicuci. Baunya bukan main. Shakira sendiri

tidak lebih mending keadaannya. Tesa sampai keheranan dan hampir-hampir tak bisa menge-nali lagi temannya dulu itu. Begitu cepatnya kecantikan seseorang pudar direnggut derita, pi-kirnya penuh kasihan. Badan Shakira sudah ku-rus, tak terawat Rambutnya kusam terburai-burai belum disisir, mukanya penuh lemak be-lum dicuci. Dia pasti belum mandi, pikirnya. Kemudian dia tahu sebabnya.

"Umur berapa anak ini, Shak?"

"Setahun lebih."

Tesa lupa menegaskan lebihnya berapa, tidak tahu bahwa di rumah sakit mereka akan melit sekali mau tahu lebih berapa bulan

"Kalau betul kolera, mestinya kakaknya ja-ngan dibaringkan di ranjang yang sama," kata Tesa menunjuk anak laki-laki yang tengah mengawasi begitu apatis dari sudut ranjang, de-ngan matanya yang cekung.

Kalau dihitung-hitung, mestinya anak itu sudah hampir tujuh tahun atau bahkan lebih. Ke-tika dia berangkat ke Perth, Shakira sudah ha-mil. Dia memang sudah mengandung sebelum pernikahan. Tapi anak suluhgnya kelihatan se-perti balita. Gizinya buruk sekali. Kenapa begitu? pikir Tesa heran. Bukankah Shakira itu anak orang kaya?! Bukankah karena itu maka Goffar jadi kepincuk padanya?! Tesa yang mis-

kin mana ada harapan untuk bersaing! Kan begitu sindir Shakira dulu pada seorang teman

|hereka yang menyampaikannya lagi padanya.

"Ranjang anak-anak sudah aku jual. Terpaksa kami tidur bertiga di ranjangku ini."

"Tapi dia bisa ketularan."

"Dia sudah ketularan," sahut Shakira pasrah. "Cuma enggak segawat adiknya."

Tesa tidak suka mendengar nada suara Shakira yang begitu memelas. Dia ingin cepat-cepat berlalu dari situ.

"Sebaiknya anak ini diseka dulu dengan lap hangat sebelum aku bawa," kata Tesa yang se-benarnya merasa jijik melihat kotornya anak itu serta mencium baunya yang amis. Sejak tadi dia memaksakan diri jangan sampai muntah.

"Aku tak punya uang untuk beli air, Tes," keluh Shakira. "Masih ada sisa sepanci, cuma untuk minum...."

"Kau tak punya pompa?"

"Pompa listrik sudah lama rusak. Goffar enggak mau membetulkan. Oh! Dia tak mau meng-urus apa pun. Yang diingatnya cuma..." Shakira menghentikan bicaranya seakan takut telanjur. Tapi tangannya yang terkepal dan matanya yang mendelik ketika menatap Tesa membuat gadis itu paham apa kelanjutan kata-katanya.

"Kalau aku tak salah lihat tadi, di halaman depan ada pompa tangan, bukan? Apa itu juga sudah macet?"

"Aku tak kuat memompanya, Tes," keluh Shakira menunduk.

Oooh! Dasar anak orang kaya, pikir Tesa. geregetan. Memompa air pun tak mau! Padahal keadaan sudah gawat. Tapi ketika diperhatikan-nya Shakira sekali lagi diam-diam, Tesa meng-hela napas. Barangkali dia tidak berdusta. 6a-dannya yang kurang makan itu pasti sudah tak punya tenaga untuk kerja seberat itu.

Dia menyesal tadi begitu terburu-buru se-hingga kelupaan membeli makan an. Tapi dia sungguh tidak menyangka bahwa keadaan Shakira sudah begini fatal.

Anak yang sakit berat itu jelas mesti dibawa ke rumah sakit dengan segera. Tapi anehnya, Shakira tidak kelihatan terburu-buru.

"Baiklah kalau tak ada air, cukup diganti saja pakaiannya. Aku rasa yang ini sudah penuh kotoran. Aku tunggu di luar, ya."

Tesa melangkah ke ruang depan tanpa menunggu reaksi Shakira sebab dia sudah tak tahan dengan bau kamar tidur itu. Setiba di depan, barulah dia berani menarik napas dalam-dalam, lalu menjatuhkan diri ke atas kursi yang, kelihatan sudah tak terawat, walaupun benda itu dulu pasti termasuk mahal.

Ketika dia menoleh mendengar langkah, be-tapa terkejutnya dia melihat Shakira di bela-kangnya. Ternyata perempuan itu telah meng-ikutinya keluar dan kini berdiri di depannya. Sebelum dia mengerti apa yang terjadi, tiba-tiba

230

Shakira sudah menudingnya dan suaranya penuh dendam.

"Ini semua gara-garamu! Coba kau mau me-nerima kehendak Goffar, dia pasti takkan pergi ke luar negeri! Aku rela dimadu atau diceraikan asal dia tetap di sini. Dalam keadaan begini, aku pasti masih bisa minta bantuannya! Tapi gara-gara kau sok jual mahal dia sekarang pergi!!! Kau kini yang harus menanggung semua biaya perawatan anakku! Hu... huk... huk... kalau dia sampai mati, aku bunuh kau!" Shakira menangis tersedu-sedu.

Tesa tercengang mendengar tuduhan itu, sehingga dia tidak sanggup menanggapi. Dia duduk terpaku, diam membisu seperti boneka batu. Suara tangis Shakira makin rawan me-nusuk telinga. Ketika perempuan itu tiba-tiba jatuh mendeprok di lantai, barulah Tesa seakan terjaga dari mimpi yang kelewat buruk. Dia tidak tahu apakah Shakira hampir pingsan atau-kah sengaja menjatuhkan diri. Dalam kagetnya dia tergesa-gesa bangkit dari kursi, lalu meng-hampiri. Palutan baju lusuh yang apak baunya itu dipeluknya sambil bibirnya mengucapkan kata-kata hiburan tanpa disadarinya.

"Sudahlah, Shak. Kuatkan hatimu. Tenanglah. Pikirkan anak-anakmu yang sedang sakit. Aku pasti akan membantumu sekuat tenagaku. Lu-pakan dulu hal-hal lain."

"Oh, Tes, maafkan aku. Maafkan kata-kataku barusan."

Tesa mengangguk.

"Kau mau memaafkan, bukan? Kau tela me-maafkan aku, bukan? Aku benar-benar enggak sengaja menyakiti hatimu. Itu cuma luapan

perasaan_" Shakira menatapnya dari balik air

mata.

Tesa mengangguk. "Aku tahu," katanya pelan. "Oh, Tes, seandainya saja kau sudi menerima Goffar kembali..."

"Itu tidak mungkin, Shak. Lebih baik seka-rang secepatnya aku bawa anakmu...," kata Tesa mengalihkan percakapan. Dia sebenarnya sangat khawatir akan keadaan anak yang sudah pucat kebiruan itu. Tapi ibunya seakan tidak mendengar.

"Kenapa, Tes? Karena kau tak mau menyakiti hatiku? Itukah alasanmu? Tidak mengertikah engkau, dengan penolakanmu itu kau telah lebih menyakiti aku dan anak-anakku? Akibat buruknya akulah yang mesti menanggung! Kau sih enak saja, bebas, gembira!"

"Shakira, kalau kau mau terus mengungkit-ungkit peristiwa itu, sebaiknya aku pergi saja sekarang!" ancam Tesa yang akhirnya menjadi kesal dan hilang sabar.

"Jangan, Tes! Kau rela menjadi pembunuh anakku?" Shakira menatapnya dengan mata membara, dan Tesa melengos, tak mau mela-deni.

"Aku cuma kesal, Tes. Aku tahu kau menolak Goffar hanya lantaran kau sombong! Ya, kau

mau menunjukkan, kau tak perlu cintanya lagi! Kau bisa hidup tanpa dia! Maaf, Tes, aku terpaksa meluapkan semua ini supaya hatiku le-

"Shak, di mana ibumu?" tanya Tesa dengan sisa kesabaran yang tipis dan tekad untuk mengalihkan pembicaraan.

Tiba-tiba meledak lagi tangis Shakira. Lebih merawankan dari tadi. Dadanya turun-naik, na-pasnya tertahan-tahan.

"Dia... dia... sudah lama meninggal! lima ta-hun yang lalu!"

"Oh! Dan ayahmu?"

"Dia sudah kawin lagit Oh, Tes, kalau ibuku masih ada, pasti aku takkan sengsara kayak

beginil" keluhnya sambil menyusut mata.

"Kenapa kau tidak minta bantuan pada ayah-

mu?"

Tapi Shakira kembali tersedu sedan lebih he-bat lagi, sehingga Tesa khawatir takkan berhenti sebelum kiamat.

"Man pindah ke kursi," katanya sambil meng-angkat Shakira setengah dipaksa dan membim-bingnya ke kursi.

Tangisnya kini agak mereda. Diangkatnya se-dikit ujung roknya, lalu dibersitnya ingusnya. Tesa menunduk sebab tidak tahan melihat pe-mandangan itu. Rasanya daging rendang yang tadi siang dimakannya sudah bersiap di ulu hati mau melejit keluar.

Shakira menghentikan tangisnya, lalu meman-

dang Tesa. Matanya yang merah dan sembap tidak membuat wajahnya yang kumuh sedikit lebih menarik. Kebalikannya malah.

"Tes, maukah kau mendengar kisah riwayat hidupku?"

"Lain kali, Shak. Sekarang yang penting, anakmu dulu!"

"Tidak!" Shakira menggeleng. "Sebaiknya sekarang saja. Aku harus menceritakannya pada-mu! Kalau kau sudah mendengar betapa besar kesengsaraanku, barangkali kau akan rela meng-ampuni semua dosaku padamu!"

"Sudah kuampuni, Shak. Biarlah kubawa anakmu sekarang juga!"

Tesa sibuk setengah mati ingin segera berlalu. Tentu saja dia tak mau menanggung dosanya seandainya kelak terjadi apa-apa dengan si sakit

Tapi Shakira tak bisa dibantah. Sejak dulu dia memang selalu mesti dituruti kemauannya. Maklum anak tunggal dari orangtua kaya! Ka-rena tak ada jalan lain, terpaksa Tesa duduk siap mendengarkan. Pikirnya, makin cepat di-mulai makin baik, agar tidak terlalu banyak waktu terbuang percuma. \ "Tes, ayahku sejak semula memang tidak me-nyetujui perkawinanku. Katanya Goffar itu pe-malas dan kawin cuma karena harta ayahku. Sayang aku tidak mau percaya dan baru me-nyadari sekarang setelah terlambat. Waktu ibu-ku masih ada, keadaan kami lumayan, sebab

ibuku diam-diam selalu memberi sumbangan. Kami tidak sampai kekurangan. Tapi setelah Ibu meninggal dan ayahku kawin lagi, sokongan pun berhenti. Setiap kali aku minta bantuan, ayahku malah mengejek. Ibu tiriku juga ikut-ikutan mencemooh. Akhirnya aku tak pernah datang lagi. Habis percuma. Uang tak dapat, tapi aku malah dihina oleh mereka. Kerja Goffar memang tak tentu. Dia keluar-masuk kantor te-rus. Sebentar-sebentar berhenti, lalu pindah lagi. Alasannya selalu sama, gaji kurang. Habis, dia tak punya kepandaian khusus, masa mau meng-harapkan gaji besar? Dia marah kalau aku kritik begitu. Dan sejak tahu, kekayaan ayahku takkan jatuh ke tanganku, dia mulai kasar padaku sejta anak-anak juga. Intan berlian peninggalan ibuku satu per satu dijualnya. Uangnya cuma sebagian saja diserahkannya padaku, sebagian besar dipergunakannya sendiri untuk foya-foya. Dia malah pernah punya pacar. Perempuan itu begitu kurang ajarnya sampai berani datang ke sini, mencarinya!

"Setelah perhiasan tak bersisa lagi, deposito ibuku mulai digerogoti. Terakhir, dikurasnya semua untuk dibawa ke luar negeri! Sekarang aku tak punya duit sepeser pun! Hadiah-hadiah kawin satu per satu aku tawarkan ke tetangga. Cangkir-cangkir, piring-piring mahal... paling laku tiga ribu, lima ribu, padahal harga sebenar-nya tiga-empat kali lipat. Mereka tahu aku bu-tuh, mereka sengaja menekanku. Mereka ber-

agak tak memerlukan barang-barang itu, pada-hal aku lihat mata mereka hijau kesenangan! Yah! Sekadar untuk menangsel perut. Kalau

hadiah-hadiah itu pun sudah habis, en tan gi-mana lagi nasib kami nanti!" Shakira mengeluh panjang seperti lokomotif kereta api dalam per-jalanannya yang terakhir.

Tesa melongo mendengar kisah itu, sampai dia terlupa bahwa dia tak boleh lama-lama di situ.

"Kau mau aku carikan kerjaan?" tanyanya se-saat kemudian ketika semangatnya sudah ter-kumpul lagi.

"Aku tak bisa meninggalkan anak-anak!" ke-luh Shakira dengan suara fatal.

"Kalau ada pembantu, tentu kau bisa meninggalkan mereka. Mau aku carikan pembantu?"

"Tapi aku bisa kerja apa, Tes? Ijazahku cuma SMA doang. Belajar ngetik, aku malas. Tata bu-ku dan akuntansi memang kelemahanku sejak dulu. Aku pernah duduk di bangku sastra Ing-gris setahun, tapi aku enggak sanggup menerus-kan. Terlalu banyak kata-kata asing yang sukar aku hafalkan!" Shakira menunduk memperhati-kan jari-jari tangannya yang kurus dan keriput.

Tesa diam-diam mengeluh sendiri. Susah juga kalau terlahir sebagai anak orang kaya, namun bernasib paria!

"Kalau begitu sebaiknya kau mencari pekerja-an yang bisa kauselesaikan di rumah!"

"Ah, kerja apa?" keluhnya tanpa minat.

"Hm. Apa, ya?" Tesa berpikir1 sejenak, lalu J menepuk dahinya. "Aku tahu! Konveksi! Kau pasti bisa menjahit, bukan? Tetangga bibiku

membuka..."

"Tapi aku tak bisa menjahit!" potong Shakira memutuskan harapan Tesa untuk menolongnya. "Aku tak pernah menginjak mesin jahit seumur hidupku! Semua bajuku biasa dibawa ke tukang jahit. Kalau yang robek-robek atau lepas kan-cingnya, itu urusan ibuku. Yah! Memang aku sedikit menyesal kenapa dulu tak mau belajar! Tapi sekarang sudah terlambat!"

"Kenapa terlambat? Kau kan bisa belajar?"

"Aku tak punya mesin! Mesin ibuku sudah diambil oleh ibu tiriku!"

Huh! Tesa mengerti tak ada gunanya mem-perpanjang masalah itu. Shakira memang sudah tak mau bekerja. Dasar biasa dimanja, keluhnya dalam hati. Tapi, lantas dari mana mau diper-olehnya uang untuk makanan anak-anaknya?!

"Lalu, rumah ini kausewa?"

"Oh, ini diwariskan Ibu padaku. Dulu kan orangtuaku .tinggal di sini. Waktu ayahku ka-win lagi, dia pindah ke rumah baru. Rumah ini memang atas nama ibuku. Kami berdua lantas pindah dari rumah kontrak ke sini setelah ibuku tiada."

Masih untung, pikir Tesa. Jadi dia takkan sampai diusir orang ke jalanan. Tega betul ayah-nya menyepak Shakira seperti itu! Walaupun mula-mula perkawinannya tidak disetujui, tapi

setelah ada dua orang cucu, sepantasnya kan

mereka diampuni? pikir Tesa tak mengerti.

"Sebenarnya kenapa sih ayahmu begitu and pada suamimu?" Dia sengaja menggunakan panggilan itu, sebab rasanya tidak sreg untuk menyebut nama.

Shakira menghela napas. Matanya berkilat ta-jam. "Salah Goffar juga, sih!" serunya keki. Ru-panya dia sudah tak mau lagi membela suami.

"Sekali dia memalsukan tanda tangan ayahku di atas cek seharga dua juta! Sudah diampuni. Eh, dilakukannya lagi kedua kali. Lima belas juta! Naik pitamlah ayahku. Dia tidak diakui menantu lagi. Ayahku mengirim surat pada mertuaku, menyatakan putus hubungan. Dan aku disuruh memilih: ayahku atau Goffar. Sial-nya, kenapa aku sampai memilih dia! Jadilah aku pun ikut tidak diakui lagi sebagai anak!"

Tesa terdiam dengan hati kecut. Kiranya begitu sebabnya! Tidak dinyana tidak disangka begitu rendahnya Goffar! Dan dia masih berani-berani merayu serta memaksanya untuk kembali?! Apakah laki-laki itu betul-betul tak punya malu?!

"Yah! Aku perlu biaya banyak, Tes. Untuk membayar utang ke sana-sini. Aku sudah me-nunggak rekening listrik enam bulan! Rumah ini pun rasanya hams aku jual, Tes! Begitu ada yang cocok harganya, pasti aku lepas."

"Sudah ada yang menawar?"

"Belum. Habis tak ada lagi teman atau kenal-

an yang datang kemari."

"Kenapa enggak pasang iklan?"

"Aku tak punya uang."

"Mau aku tolong pasangkan?"

Seketika itu Tesa melihat Shakira mau mengangguk. Namun entah kenapa, tahu-tahu dia menggeleng.

"Tanpa iklan, takkan ada orang yang tahu. Sampai kapan rumah ini akan terjual?"

"Ah, aku tak mau menyusahkan engkau!"

"Enggak, kok. Aku tinggal minta tolong orang kantor yang biasa mengurus pemasangan iklan-iklan perusahaan kami."

"Ah, nanti aku jadi berutang budi padamu! Belum lagi soal pengobatan anakku nanti...."

Tesa mengeluh dalam hati. Dalam keadaan kepepet begini masih mau bersombong-sombong!

"Itu gampang diatur, Shak. Nanti kalau rumah ini sudah terjual, kau bisa membayar kembali ongkos pemasangan iklan itu. Bagaimana?"

Tesa tidak tahu, justru itu yang ditakutkan oleh Shakira! Lama dia terdiam. Tesa menegas-kan dua-tiga kali, tapi dia tetap tidak menyahut. Setelah disepak berulang-ulang, barulah dia ber-sedia buka mulut.

"Berapa... yang akan kauminta nanti?"

Tesa tercengang tak mengerti. Jadi dia tak bisa menyahut selain, "Apa maksudmu?"

"Kau tahu, dalam jual-beli rumah, perantara

selalu mendapat dua persen dari penjual dan

dua persen dari pembeli, tapiii... aku rasanya tak sanggup memberimu lebih dari... ehm... setengah persen!"

"Oh, Shakira!" seru Tesa antara sebal dan ka-sihan. "Aku mau memasangkan iklan itu se-mata-mata untuk menolongmu! Aku tidak ingin menjadi perantara dan kau tak perlu memberi aku sesen pun!"

Barulah sekarang Shakira kelihatan lega dan mau dipasangkan iklan. Tesa bangkit lalu me-ngeluarkan dompet dari tas gantungnya.

"Aku rasa sudah saatnya anakmu kubawa. Kau tentunya perlu uang juga untuk nanti me-nengoknya. Ini lima ribu." Tesa menyodorkan selembar lima ribuan, tapi Shakira menolak.

"Ah, tak usah. Jangan. Aku takkan mene-ngoknya, kok. Aku rasa tidak perlu. Di sana dia akan dirawat dengan cukup baik, bukan? Dan kau nanti^mau membawanya pulang kembali, kan?"

"Kalau aku sempat, boleh saja. Tapi kau sendiri pasti perlu uang juga untuk sehari-hari. Anakmu yang sulung itu perlu banyak buah-buahan dan obat Ayo, ambillah. Jangan sung-kan."

Tesa menjejalkan uang itu ke telapak tangan Shakira.

"Karena kau begitu memaksa, baiklah!" katanya menghela napas seakan terpaksa. "Tapiii...

24n

kalau begitu, gimana kalau aku sekalian saja

minta pinjam... dua puluh ribu?"

Bagian gawat darurat pada jam begini biasa-nya sepi. Tapi siang itu kebetulan ada tabrakan

berantai. Tiga mobil sekaligus saling cium. Yang jadi korban lima orang, dua di antaranya parah sekali.

Di tengah keributan begitu muncul Tesa dengan kostumnya yang apik dan sepatunya yang canggih, menggendong seorang balita yang de-kil banget.

"Mungut di mana, Bu?" tanya seseorang kehe-ranan.

"Huss!" sergah temannya mungkin. "Jangan-jangan itu anaknya sendiri! Dibilang mungut!" "Habis! Seperti gembel dari emperan warung,

sih!"

"Ketabrak apa, Bu?" tanya seorang suster yang tengah sibuk pegang gunting dan perban. Dia cuma menoleh sekilas.

"Muntaber," sahut Tesa dan beberapa orang yang sudah berkerumun, mendadak jadi ming-gir, rupanya takut ketularan. Sebagian malah sudah menutupi hidung dengan tangan.

"Taruh saja di situ," perintah suster itu sambil menunjuk dipan kosong dengan dagunya. Tesa cepat-cepat menurut. Dia khawatir anak itu

nanti mencret lagi dan kena pakaiannya. Dia kan masih harus kembali ke kantor....

Seorang perawat senior muncul dari ruang sebelah dalam. Matanya yang em pat segera tahu bahwa Tesa tadi belum menjelma di situ. "Kenapa?" tanyanya mendongakkan muka. "Muntaber, Suster. Tolong cepat di..." bisik Tesa yang sudah makin khawatir melihat anak itu diam saja. Sejak di mobil tadi, dia tidak bergerak seinci pun dari tempatnya di bangku belakang. Dia sungguh khawatir jangan-jangan pertolongan sudah terlambat.

Perawat gemuk setengah umur itu melirik sekilas lalu dengan tenang menyalahkan. "Kenapa baru dibawa sekarang, Bu? Anaknya sudah soporokomateusr

Tesa makin ketakutan. Dia tak usah mengerti istilah yang dikatakan tadi, sebab wajah suster itu sudah menjelaskannya. Dia kini mengambil sehelai kartu merah, lalu duduk di belakang meja tanpa menyilakan Tesa ikut duduk. Di situ memang tak ada kursi lain. Kursi kedua telah diisi oleh perawat yang tengah sibuk main gun-ting dan perban merawat seorang pemuda yang rupanya salah satu korban tabrakan berantai tadi.

Terpaksa Tesa berdiri di depan meja.

"Nama orangtua?" tanya perawat, siap dengan bolpen.

"Goffar!" sahutnya tak bisa berpikir lama-lama. Suster itu kelihatannya sibuk banget.

Tubuhnya bergoyang-goyang, seakan setiap saat

mau bang kit terus dari kursi. "Nama pasien?"

Mati, nih! Aku lupa menanyakan siapa nama-nya! Shakira juga tidak memberitahu. Gimana ini? Suster menatap dari balik belingnya dengan

sedikit he ran. Tentu saja aneh kalau dia tak tahu siapa nama anak yang dibawanya. Salah-salah dia bisa dituduh menculik....

Dalam keadaan bingung, cuma satu nama yang muncul dalam benaknya. Itu pun karena nama itu memang tak pernah absen dari pikir-annya, walau dalam tidur sekalipun.

"Pasha!"

"Umur?"

"Setahun lebih."

"Berapa bulan?"

Ini sih mirip Cerdas-Cermat, pikirnya. Dia tidak dibcri kesempatan lama untuk berpikir. Karena anak itu kelihatan kecil dan kurus, maka sekenanya saja dia menebak.

"Empat bulan."

"Setahun empat bulan," gumam suster sambil menu lis. Lalu menyusul ditanyakan a la mat, dan pekerjaan orangtua. Setelah itu riwayat penya-kit. Di sini Tesa terpaksa mengarang bohong saja, habis daripada gelagapan terus seperti orang bego.

Setelah suster merasa puas dengan wawan cara itu, barulah dihamplrinya sang pasien.

"Anak ini mesti diopname, Bu."

an-

J

Itu sudah diduganya. Tapi berapa lama?! Soalnya, dia yang haras menanggQng, jadi mesti I disiapkannya biaya yang cukup.

"Berapa lama, Suster?"

"Oooh, sudah gawat begini, paling sedikit se- • puluh hari! Itu, kalau dia enggak jalan ma lam mi juga!"

Tesa merinding mendengar nya. Dalam hati dia berdoa semoga Tuhan berbelas kasihan pada anak yang malang itu.

"Tolong Suster, dirawat sekarang juga."

"Ya, sana, pergi ke kasir dulu, bayar uang jaminan!" Lalu suster berjalan pergi meninggal-kannya tanpa kesempatan membantah atau ber-tanya.

Terpaksa Tesa berlalu, setelah tanya sana-sini di mana letak kasir. Dia tidak membawa uang banyak. Dua puluh ribu sudah diberikannya pada Shakira. Yang tersisa mungkin cuma tiga puluhan. Mudah-mudahan boleh sebagai uang muka. Sisanya akan disetorkannya besok. Un-tung hari ini dia membawa uang begitu banyak. Biasanya tak pernah lebih dari dua puluhan, sebab tak ada keperluan. Paling-paling untuk uang bensin atau jaga-jaga siapa tahu mobilnya mogok di tengah jalan lalu perlu bantuan dido-rong. Selain itu, tak ada keperluan apa-apa. Se-pulang kantor, dia hampir selalu langsung ke rumah. Pada jam istirahat siang, rekan-rekannya senang berkeliaran di bawah, di pusat pertoko-an. Kantor mereka terletak di tingkat kedua

puluh enam. Terkadang dia ikut juga, tapi cuma

sekadar melemaskan otot-otot kakL

Sebenarnya kasir menuntut paling, sedikit se*.--paro dari perkiraan ongkos perawatan. Tesa me-

mohon pertimbangan. "Ini peraturan, Bu. Uangnya bukan untuk

saya!" sahutnya ketus.

"Saya tahu," ujar Tesa sesabar mungkin. "Tapi saya telanjur cuma membawa uang segini. Besok pagi akan saya serahkan sisanya."

Kasir yang kurus dan nyureng itu menatap Tesa dari balik kacamata yang melorot turun. Ditaksirnya baju Tesa yang rapi serta dandanan-nya yang anggun. Bukan orang miskin, pikir-nya. Tapi, siapa tahu?! Kaya, miskin, kalau ada kesempatan lari tanpa bayar, semua mau! pikir-nya.

"Ada KTP?"

Tesa mengangguk, mengeluarkan benda ituI dan menyerahkannya. Kasir mencatat KTP itu dengan teliti. Keningnya berkerut beberapa kali —dan Tesa ketawa dalam hati: rasain!—sebab angka-angka dari komputer itu banyak yang tak terbaca, buram cetakannya.

"Tapi besok pagi sisanya mesti betul-betul di-serahkan, ya?!" ancam kasir sambil mengembali-kanKTP.

Tesa mengangguk setengah mau bersumpah. Setelah selesai membayar, dia balik bergegas ke ruang gawat darurat. Dilihataya di kaki "Pasha"

sudah terpasang infus, sehingga dia merasa lega sedikit.

Perawat senior itu muncul kembali dari dalam. Tesa memperlihatkan tanda bayar. Perawat membelah dua kertas itu pada bagian yang di-tandai, lalu menahan sebelah. Belahan yang lain dikembalikannya.

"Bolehkah saya pulang sekarang?" tanya Tesa. I "Tidak man ditunggui?"

"Saya harus ke kantor."

"Baiklah kalau begitu. Alamat dan nomor telepon sudah Ibu berikan tadi, bukan?"

Tesa mengangguk, lalu berbalik dan melang-kah pergi. Baru kira-kira beberapa meter, dia merasa seakan namanya dipanggil. Tapi karena di situ penuh orang, dan dia yakin tak ada yang mengenalnya, maka disangkanya orang Iain yang dipanggil. Mungkin nama orang itu bunyinya kebetulan mirip dengan "Tesa", pikir-nya.

Namun sebenarnya dia agak keliru. Memang namanya yang dipanggil. Dan orang yang me-manggilnya jadi termangu ketika gadis itu tidak menoleh. Orang itu kebetulan keluar dari ruang dalam ketika Tesa pas membalikkan badan. Sesaat dia tertegun seakan kurang yakin akan penglihatannya. Tapi kemudian dia berseru ter-

tahan, "Tesa!"

Ketika gadis itu terus saja melangkah, dia menarik napas seakan mengeluh. Perawat yang

sejak tadi memperhatikan di sebelahnya, kini. menyodorkan kartu merah ke depan wajahnya.

"Dokter Solem, itu pasiennya."

Yang dipanggil menoleh, lalu berdehem untuk menghilangkan salah tingkahnya barusan.

"Muntaber? Setahun empat bulan?" Tiba-tiba dia berhenti membaca. Bibirnya setengah ter-buka, matanya nyalang menatap tulisan suster. Goffar! Pasha! Jadi, tidak salah! Barusan dia bukan bermimpi!

Ah! Dia kembali pada Goffar!

"Ada apa, Dok?"

"Oh, eh, anu, Suster Rani, coba bawa kemari

tensimeter!"

alat pengukur tekanan darah

247

Bab 13

Karena repot sekali, Tesa tidak bisa keluar kantor. Markus dan Daniel juga sibuk dengan urus-an mereka sendiri. Terpaksa dia minta tolong kurir di kantor untuk menyetorkan uang ke rumah sakit.

Siangnya dalam rapat, Bos menugaskan Tesa pergi ke Bandung bersama kepala pemasaran untuk mengecek problem-problem yang ber-sangkutan dengan pembentukan kantor cabang.

Ketika Tesa kelihatan mengerutkan kening, Bos yang sangat sayang padanya mengira bah-, wa gadis itu enggan berpisah darinya. Dia se-gera ketawa lebar. "Paling lama cuma tiga hari, Tesa," katanya menenteramkan, padahal Tesa tengah memikirkan bahwa dia takkan bisa menje-nguk "Pasha" kalau begitu.

Sorenya dia ngebel Shakira memberitahukan hal itu.

"Aku pergi kira-kira tiga hari, Shak. Uang jaminan sudah aku setorkan. Kau masih punya uang untuk menengok anakmu?"

Shakira menggumamkan sesuatu yang tidak

jelas. Tesa beranggapan bahwa dia masih punya

uang.

"Kalau ada kebutuhan mendesak selama aku pergi, kau minta tolong abangku,saja. Nanti aku

kasih tahu dia."

Urusan di Bandung ternyata bertele-tele. Tesa dan kepala pemasaran baru bisa pulang setelah* hari kelima. Sementara itu perawat dan dokter sama-sama menunggu kedatangan ibu si "Pasha", walaupun masing-masing dengan alas-an yang berbeda.

"Belum ditengok juga, Sus?" tanya Dokter Solem pada suatu pagi.

"Belum nih, Dok. Tahu tuh, ke mana ya ibu-nya? Apa anak ini mau ditinggal di sini? Ibunya sih kelihatan kayak orang berduit, tapi mana tahu ya, Dok, kalau misalnya enggak halal...."

"Husss!" protes sang dokter.

"Eh, benaran deh, Dok. Tuh, di bagian ber-salin, ada pasien yahud, deh. Penampilannya meyakinkan, alamatnya juga di daerah bebas banjir. Pokoknya, orang kaya, deh. Eh, tahunya dia kabur, bayinya ditinggal. Waktu disamperin, ternyata sudah pindah. Lalu tanya sana-sini, baru ketahuan, rupanya hasil hubungan tidak sah! Sekarang bayi itu diambil sama Dokter Bujang. Nah, siapa tahu yang ini...?!" Suster Rani meng-angkat bahu ketika mendapati dokternya tidak meladeni, asyik membaca status.

Sebenarnya dia tengah menghafalkan nomor telepon. Sejak hari pertama Dokter Solem sudah

lor lah

kepingin menghubungi ibu si "Pasha". Tapi selalu saja banyak paramedis di dekatnya, sehing-ga dia tidak berani mengangkat telepon. Juga memang tak ada alasan baginya untuk ngebel. Tapi sekarang, dirasanya alasan itu sudah ada dan cukup mendesak! Anak itu sudah bisa di-pulangkan! Kenapa Ibu tidak juga datang mene-ngok?!

Tapi dia tetap tidak berani menelepon dide-ngarkan oleh perawat. Kalau yang disiarkan itu apa adanya, masih mending. Tapi kalau yang tertangkap kuping itu cuma sepotong-sepotong

seperti teka-teki, lalu yang kosong mau diisi dengan karangan sendiri oleh Suster Rani, wah, ampun!

Sorenya, ketika Suster Rani sudah pulang dan penggantinya yang lugu dan kupluk sedang sibuk membaca laporan di kamarnya, Dokter Solem pun nekat. Setelah yakin takkan ada pasien baru yang akan mengetuk pintu, dan rekan-rekan semua sudah sirna dibawa lari mo-bil masing-masing, maka dijatuhkannya tubuh-nya ke atas kursi. Setelah mengucap wan-tu-tri (kebiasaan ngebrek di rumah!), diangkatnya telepon lalu diputarnya nomor yang sudah diha-falkannya seratus kali.

Agak lama berdering tanpa ada yang mengangkat. Jangan-jangan dia tidak di rumah, pikir-nya mulai berkeringat dingin. Tapi kan pasti ada orang lain! Misalnya pembantu! Ya, pasti ada pembantu. Mungkin sedang sibuk atau

tanggung menyetrika. Oh, tidak, sedang me-masak air, tak boleh ditinggal. Sebentar lagi dia pasti datang terbirit-birit mengangkat telepon

ini.

Namun detik demi detik berlalu. Harapannya sia-sia. Di rumah itu memang tak ada orang

rupanya. Dilihatnya arloji. Pasti dia masih di kantor! Baru jam tiga lewat. Tapiii, masa sih rumahnya kosong sama sekali?! Tak masuk akal Goffar akan membiarkan istrinya bekerja di kantor tanpa pembantu di rumah!

Ketika dia sudah hampir menyerah, tanpa harapan, mendadak pesawat diangkat, lalu ter-dengar suara setengah membentak, "Ya, halo!"

"Selamat sore..." Brengsek, aku mau bilang apa, nih! Hm. "Pak Goffar ada?"

Suara di seberang sana mendadak jadi jelaS sekali membentak. Aduh, judesnya! Inikah Tesa sekarang?!

"Tidak ada! Ini dari mana?"

"Dari rumah sakit! Saya Dokter Solem."

"Oh."

Apakah dia mendengar nada khawatir sedi-

kit?

"Saya istrinya. Ada apa, Dokter?"

Sungguh. Suaranya melunak sedikit. Sedi-kiiit... tapi masih lebih kasar dari yang diingat-nya dulu. Atau barangkali dia sendiri yang sudah pikun? Mungkinkah mengingat suara orang setelah lewat sekian tahun?

"Anu, Bu. Anak Ibu sudah bisa diambil kem-

bali..." Niatnya untuk menegur kenapa tak pernah ditengok, batal. Dia tidak punya keberanian untuk mengatakannya. "Kapan, Dokter?"

Tidak kedengaran dia bergembira? Enggak halal?! Ah, si Rani itu memang paling bisa nge-cor gosip! Lidahnya kelewat panjang!

"Kapan saja. Sore ini. Atau besok. Ya, lebih balk besok saja. Temui saya dulu. Ya, saya masih perlu memberikan resep. Ya, besok. Jangan lupa, temui saya dulu!"

-Ketika pesawat sudah diletakkan kembali, barulah disadarinya bahwa tubuhnya mandi keri-ngat Astaga! Apa-apaan ini?! pikirnya jengkel namun geli. Maju ujian pun tak pernah begini senewen! Apa lagi besok?!

Apakah Tesa masih mengenalinya? Bagai-mana kalau dia menyangkal kenal?! Aduh, be-tapa malunya dia kalau Tesa merasa keheranan, mengaku tak pernah ketemu. Terlebih kalau dia datang dengan suami, dan Goffar melecehinya! Bagaimana mau dipertahankannya gengsinya kalau itu terjadi?!

Tiba-tiba dia berharap matahari takkan ter-benam sore ini, sehingga hari berikutnya bisa ditunda....

***

Sementara itu Shakira tidak meletakkan tele-

pon, melainkan cuma menekan tombol, lalu

langsung memutar nomor kantor Tesa.

"Halo, boleh bicara dengan Nona Tesa?" ' "Oh, dia masih belum pulang dari Bandung, Bu. Ini dari mana? Mau titip pesan?"

Dengan kesal Shakira membanting telepon tanpa meladeni. K"^\

Esoknya, dia spesial mengambil waktu dua jam untuk bersolek dengan rapi. Anak sulung-nya sudah sembuh dari demam dan mencret, tapi masih lemah. Dititipnya anak itu pada te-tangga sebelah kiri yang lebih sederhana dan tidak keberatan menolong. Tetangga sebelah kanan tak pernah dikenalnya. Rumahnya yang mewah bertingkat tiga itu selalu kelihatan sepi seakan memang tak pernah ada penghuninya. Rumah di sebelah kiri biasa-biasa saja, lebih kecil dari rumahnya sendiri dan agak usang. Di halaman, mereka membuka warung kecil tem-pat Shakira sering ngebon beras dan minyak.

Setelah menitip anaknya, Shakira pergi me-ngenakan pakaiannya yang terbaik, yaitu sepan hitam terbuat dari sutera dengan blus putih berenda terbuat dari polyester.

Kira-kira sejam kemudian telepon di kantor Tesa herdering. Kebetulan dia sendiri yang mengangkat, sebab operator sedang ke WC.

Setelah mendengar bahwa itu. Tesa sendiri, langsung saja Shakira marah-marah. "Gimana sih kau ini, kenapa enggak ngasih tahu berapa biaya anakku? Sekarang aku tak punya duit!" ,

"Apa dia sudah boleh pulang?" tanya Tesa keheranan sambil menghitung-hitung. Eh, belum sepuluh hari.

"tya. Memangnya mau berapa lama, sih? Aku kan enggak sanggup kalau terlalu lama! Sekarang gimana, nih! Anakku enggak bisa dibawa pulang kalau biayanya belum dilunasi! Kenapa kau enggak mau ngasih tahu biar aku siap-siap!"

"Oh, aku baru semalam pulang dari Bandung, Shak. Jam sepuluh tadi malam. Keretanya terlambat. Tapi, aku kira anakmu takkan pulang secepat itu... hm, gimana, ya. Sekarang kau di mana?"

"Di rumah sakit"

"Hm. Gimana, ya. Gini saja, deh. Bisa enggak kau ke kantorku? Aku enggak bisa keluar. Soal-nya kerjaan menumpuk. Nanti aku berikan uangnya. Berapa sih kurangnya? Aku sudah ba-yarkan seratus ribu."

"Semuanya seratus sembilan puluh delapan ribu empat ratus rupiah! Kan kelas kambing! Maklumlah, anak orang enggak punya!" Suara Shakira kedengaran sinis, sehingga Tesa merasa tidak enak hati. Waktu itu memang dia tidak menegaskan minta kelas satu dan ru pa nya oleh perawat otomatis dimasukkan ke kelas tiga.

"Rupanya waktu itu aku amat terburu-buru, Shak, sampai kelupaan tanya kelasnya. Tapi kan masih cukup bersih, bukan?" , "O ya, anakku juga harus tahu diri, dong.

Masih untung ada orang yang mau membawa-

nya ke rumah sakit!"

Shakira ini mau apa sih, pikir Tesa agak kesal. Sedang angot sintingnya, kali?! Kok nyindir-nyindir terus?! i +

"Jadi kurangnya sembilan puluh delapan ribu empat ratus ya, Shak." Tesa cepat mengalihkan perhatian Shakira yang lagi angot itu.

"Iya, betul! Eh, Tes, aku enggak mau dikasih, lho!" seru Shakira.

"Habis?"

Aneh orang ini. Kalau begitu, buat apa nele-

pon sambil marah-marah?! "Aku pinjam saja!"

Aduh, gagah suaranya, pikir Tesa geli. Se-ihgataya, dulu pun di SMA, Shakira itu senang minjam padahal bapaknya kaya. Dia sering ke-kurangan uang, dan dengan nyaman selalu me-lupakan utang-utangnya!

"Baiklah," sahutaya biar jangan bertele-tele. "Aku tunggu, deh."

Karena dia tidak membawa uang sebanyak yang diperlukan, Tesa terpaksa ngebon di kantor. Begitu diberi uang, Shakira cepateepat ber-lalu seakan sudah tidak sabar mau menjemput anaknya. Padahal selama itu tidak sekali pun ditengoknya!

Sebenarnya dia sudah tak tahan ingin ketemu dokter yang suaranya begitu lembut di telepon. Ketika melihat cermin tadi pagi, dia tahu hidup-nya masih penuh harapan. Tesa sendiri agak

pangling melihatnya, namun tidak dikatakan-

nya. Shakira berdandan ekstra perlente, malah wajahnya agak medok menurut selera Tesa. Bi-birnya terlalu merah menantang, rouge di pipi seperti sepuhan merah yang pernah dilihatnya di atas kue bakpau sementara pensil alisnya benar-benar mirip goresan arang pada vandalis-me tembok. Yang paling gawat lagi, rupanya foundation bedaknya tidak diencerkannya, tapi langsung dioleskan ke pipi. Akibatnya di sana-sini ada yang tebal, yaitu tempat-tempat per-tama kali krem itu dipoleskan. Sekarang ber-campur sedikit dengan keringat, make-up-nya mulai luntur. Mungkin mereknya tidak bona-fide.

"Ayo ah, Tes! Aku- perlu buru-buru, nih! Daaag!" serunya dengan ketawa meriah. Tesa menggeleng-geleng melihat sikap temannya yang tidak sabaran seakan perlu mengejar kereta penghabisan!

***

Dokter Solem juga sama-sama tidak sabar. Sejak pagi sudah dipesannya Suster Rani, "Ka: lau ibunya si Pasha datang, beritahu saya! Jangan biarkan dia membawa anak itu pulang sebelum ketemu dengan saya! Ingat! Jangan lu-pa! Saya harus ketemu dulu dengannya!"

Mendapat pesan yang begitu dto, tentu saja Suster Rani bersiaga penuh. Maka begitu ada

orang muncul dan menyatakan diri sebagai ibu dari pasien di kamar tiga, perawat itu terbirit-

birit mencari atasannya.

Setelah jogging di lorong hampir sepuluh me-nit, barulah yang dicari ketemu. Sementara itu

napasnya sudah hampir putus, maklum tak sempat berolahraga, tubuhnya tidak terlatih. "Dokter... Solem...," serunya terengah-engah,

"yang mau ketemu sudah datang!" "Ibunya Pasha?!"

"Dia sih menyebut nama lain, tahu apa deh, saya tidak menangkap. Tapi dia bilang kamar tiga, jadi enggak salah, deh! Kan kamar itu saat ini cuma dihuni pasien muntaber satu itu!"

Maka dokter pun cepat-cepat mengikuti pera-watnya. Hatinya yang sejak tadi pagi sudah kempas-kempis, kini betul-betul dag-dag-dug-dug macam palu tukang besi. Namun harapan-nya yang sempat mekar menjadi kuncup kembali ketika dia melihat perempuan yang ber-solek macam pemain panggung itu tengah duduk di depan mejanya.

"Nyonya Goffar?" tanyanya dengan perasaan campur aduk. Di satu pihak dia khawatir salah. Sebab Nyonya Goffar kan Tesa, bukan?! Dan dia tahu perempuan yang dandanannya seperti pemain Kabuki itu bukan Tesa. Di lain pihak, dia berharap wanita itu betul istrinya. Berarti, Tesa tidak kembali pada yang lama. Tapi kalau begitu, lantas kenapa Tesa membawa anak itu kemari?! -

"He... eh...," sahut Shakira dengan kenes sambil melirik manja.

"Oh!" Dokter Solem mendadak jadi gugup sampai terbatuk-batuk. Tapi dia tak dapat me-riyembunyikan kelegaannya.

"Ah, Dokter kelihatan begitu lega, kenapa, sih?" tanya Shakira dengan berani.

"Oh, ah... anu... saya sangka semula Ibu Goffar adaiah seseorang yang saya pernah ke-nal," sahutnya lalu cepat-cepat mengambil kartu status dan mulai mernbolak-baliknya untuk me-nutupi gugupnya. Agresif betul perempuan ini, pikirnya resah. Lebih cepat kuusir pulang, lebih aman! wti$ ~

"Oh, begitu! Jadi Dokter ini kenal sama..."

Wah, suaranya makin intim! Apa-apaan, nih?! pikir Dokter Solem.

"Anu, siapa- yang membawa anak ini kemari?" tanyanya memotong kalimat yang berbahaya itu.

' Shakira ketawa genit dan meriah. Tangannya diletakkannya di atas meja, makin lama makin ke dalam, mendekati tangan dokter.

"Teman saya, Dokter. Waktu itu saya di luar kota," jawabnya sambil meremas-remas saputa-ngan di atas meja.

"Siapa namanya?" tanya Dokter Solem sambil berlagak mau menulis seakan itu pertanyaan yang rutin saja.

"Lantaran itu saya juga enggak pernah be-zoek," Shakira melanjutkan tanpa mendengar apa

yang ditanyakan. Kepalanya bergoyang-goyang, sebab dia tahu dari cermin bahwa sikap begitu baginya kena betul. Hiasan rambutnya akan ter-

ombang-ambing seperti jentera kapal.

"Ini juga baru kemarin pulang. Saya bertugas mewakili Ayah untuk meresmikan kantor ca-bang salah satu perusahaan kami. Ayah sendiri sedang sibuk di New York membicarakan pin-jaman modal. Dokter lulusan mana?"

"Australia," sahutnya singkat sambil meman-dang Nyonya Goffar sekilas. Hm. Kalau dilihat-lihat, beruk ini memang boleh juga.

Sementara itu Shakira sudah berpikir: Australia?!

"Di kota apa, Dokter?"

"Perth. Begini, Bu, saya akan menulis...."

Hm. Perth?! Hm. Pasti kenal! Mungkin juga lebih dari sekadar kenal!

"Ayah juga punya real estate di Australia. Kalau lulusan luar negeri seperti Dokter ini, mestinya cari istri yang sama-sama hebat dong, Dok. Maksud saya, yang pintar, yang terkemuka, yang mapan, yang orangtuanya kaya..."

"Ehem!" Dokter Solem berdehem sambil ter-senyum kecil. Pandai betul nyonya muda ini bersilat lidah! Entah ke mana jatuhnya nasihat itu.

"Yah! Tapi manusia tak bisa mendapat semua yang dikehendakinya, bukan, Dok?! Contohnya ayah saya. Sedikit banyak. Ayah termasuk salah satu jutawan yang ngetop di republik ini. Per-

gaulannya dengan orang-orang atasan melulu. Bulan kemarin Ayah mendapat piala bergilir kejUaraan golf di antara para menteri serta usa-hawan kelas kakap. Bulan sebelumnya, dia juara

jogging dalam perlombaan antar-presdir-presdir bank nasional dan asing se-Jakarta. Karena itu dia selalu sibuk dan saya yang harus mewakili dalam urusan-urusan penting. Tapi meskipun ayah saya begitu kaya, satu impiannya enggak bisa terkabul. Dia ingin punya menantu dokter! Dan saya ini anak tunggalnya..."

Bukan main perempuan ini! pikir Dokter Solem, geli bercampur kesal. Waktunya yang berharga seenaknya dibuang-buangnya!

"Bu Goffar, anak Ibu akan kami pulangkan hari ini, tapi sebenarnya dia masih harus dirawat lebih lanjut. Tubuhnya kekurangan gizi yang sudah kronis."

"Mana mungkin!" prates Nyonya Goffar dengan keras. "Anak saya tak mungkin kekurangan gizi! Kami kan orang kaya! Kakeknya..."

"Tapi Ibu kan selalu sibuk, jadi anak itu rupa-nya cuma diserahkan ke tangan pembantu! Betul, kan? Tentu saja pembantu tidak betul-betul melek-gizi seperti... Ibu, misalnya," Dokter Solem menjelaskan sambil menatap tamunya. Dan tiba-tiba dilihatnya betapa kurusnya perempuan itu. Kulimya kusam dan wajahnya sudah disinggahi keriput, padahal usianya kelihatan masih muda. Apakah dia sendiri juga buta-gizi?! Dokter itu menggeleng dalam hati.

"Yah! Mungkin pembantu saya sembarangan

saja memberi makan anak-anak!"

"Seharusnya memang anak ini masih dirawat

di sini, tapi kami kekurangan tempat tidur untuk pasien-pasien yang betul-betul membutuh-kan. Selain itu, perawatan di rumah pun saya rasa cukup memadai, sebab ada ibu dan ayah-

nya...."

"Oh, kami sudah mau cerai kok, Dokter!" po-tong Shakira dengan lirikan maut.

Samar-samar sang dokter mulai mencium bau yang tidak enak. Barangkali perempuan ini masih penasaran kenapa ayahnya yang begitu kaa-yaa kok tidak bisa punya menantu dokter!

Tapi dia berlagak tidak mendengar. Tidak bisa dong meladeni masalah pribadi orang yang tak ada sangkut pautnya dengan dinasnya!

"Suster akan memberikan pedoman gizi untuk memperbaiki pertumbuhan dan perkem-bangan anak itu. Dan saya akan menuliskan resep yang harus Ibu beli di luar. Siapa nama anak itu?"

"Rino."

Em. Jadi "Pasha" itu cuma ciptaan Tesa be-laka! Kenapa justru nama itu yang disebutkan-nya? Apa dia tidak tahu nama anak tersebut? Mungkin. Seingatnya, Goffar itu dirampas oleh temannya sendiri. Jadi rasanya tak mungkin dia akan bersahabat terus dengan perempuan ini! Tapi kenapa dia sudi mengantarkan anak mereka ke sini?!

Diraihnya Wok resep dari pinggir meja. Dia

ingin sekali mendapat alamat Tesa. Ditatapnya sekilas tamunya. Kalau dia sendiri sudah mulai naksir sang dokter, mustahil dia akan rela mem-berikan alamat perempuan lain yang dulu pernah menjadi saingannya. Yah, apa boleh buat, terpaksa dibohonginya perempuan ini.

Kertas resep tidak jadi ditulisi. Diambilnya kartu merah, lalu dipelajarinya. "Hm," katanya seakan merenung, lalu mengangkat muka dan menatap Shakira. "Man ini belum lengkap. Co-ba Ibu sebutkan nama dan alamat orang yang mengantarkan sang pasien tempo hari!" Perintah itu dibebaninya dengan wajah serius dan mata yang menatap tanpa kedip.

Shakira menggoyang kepalanya beberapa kali. Menurut dia, pasti dokter itu akan lumer sema-ngatnya. Ketika ternyata tidak, dia mengeluh manja, "Ah, perlukah?"

"Ya!" '

Melihat takkan ada kompromi, dengan tam-pang amat terpaksa perempuan itu menyebut-kan nama dan alamat Tesa, yang dicatat oleh dokter di atas kertas kin.

"Nomor telepon?" Perintah itu demikian te-gas, sehingga Shakira tidak sempat berpikir untuk menanyakan apa gunanya. Tergesa-gesa di-keluarkannya buku catatan telepon dari tasnya.

Setelah puas mendapatkan semua yang diper-lukannya, Dokter Pasha Solem pun menuliskan resep. Lalu diberikannya pada Nyonya Goffar.

"Penuntun diet aWan a-u

Rani _ 1 «» akan muncul."

Lalu dia berdin dan siap meninggalkan tamunya.

"Terima kasih, Dokter," ucap Shakira terse-nyum mencoba rayuan terakhir, lalu menam-bahkan dengan suara memelas. "Kalau saya perlu apa-apa, masih boleh menemui Dokter lagi,

bukan?"

"Tentu saja!" sahut Dokter Solem, tiba-tiba mengedip sambil ketawa lebar, sehingga jan-tung Shakira nyaris putus. Dia tidak tahu bahwa kegembiraan itu bukan disebabkan olehnya, melainkan oleh catatan tertentu pada kertas yang tadi cepat-cepat diamankannya dalam sa-ku!!

Bab 14

"Halo, selamat sore. Boleh saya bicara dengan Nona Tesa?"

"Ini dari siapa, ya?" tanya Nyonya Rodan, ibu Tesa. Br\ "Dari Solem, Bu."

"Begini Pak Solem, anak saya kebetulan sedang di kamar mandi. Berikan saja nomor Ba-pak, nanti dia akan call balik."

Karena Pasha Solem punya rencana proyek jangka panjang, tentu saja dia tidak berani ber-•buat salah walau sekecil kutu apa pun misalnya dengan berlaku tidak sopan mengatakan, "Tak usah, saya akan bel kembali!"

Maka seperti remaja lugu disebutkannya no-momya satu per satu dengan jelas dan Nyonya Rodan mengulangi, juga satu per satu sambil menuliskannya ke atas notes.

Sampai malam Pasha melek menunggu pang-gilan, tapi telepon tidak juga berdering. Esoknya pagi-pagi dicobanya sekali lagi. Tak mungkin Tesa sudah berangkat, pikirnya. Tapi kenyataan-nya memang demikian.

"Tesa sudah ke kantor setengah jam yang lalu. Katanya khawatir macet kalau kesiangan.

Ini dari mana?"

"Solem yang kemarin, Bu."

"O ya, Pak Solem, sudah Ibu beritahukan

nomor telepon Bapak padanya. Heran, kenapa Tesa sampai lupa menelepon balik? Sebenarnya ada urusan apa, ya?"

"Ah, cuma urusan bisnis sedikit, Bu."

"Baiklah kalau begitu. Nanti sore akan Ibu katakan padanya."

Malamnya di meja makan, Nyonya Rodan teringat janjinya tadi pagi pada Pak Solem.

"Tes, tadi pagi ada telepon." •

"Dari siapa, Mam?"

"Itu, Pak Solem yang kemarin sore itu!" Aneh. Wajah Tesa langsung mendung, tapi untung cuma dilihat oleh ibunya, sebab yang lain sedang asyik makan semangka. Hm, pikir Tesa. Untung dia cukup tahu diri, tidak mau pakai titel di luar jam dinas! Soalnya, ibunya agak gandrung terhadap jenis titel yang satu itu. Lihat saja, setelah Markus, pasti Daniel juga akan dituntunnya masuk FK!

"Mam, kalau orang itu telepon lagi, tolong katakan selalu, saya enggak di rumah! Saya ogah deh berurusan dengan segala macam sales-manl Baru datang ke kantor sekali, sudah mau maksa jual barangnya!" 'ijttalan apa, sih?" tanya Markus. "Itu, lho! Panci ajaib! Sudah aku bilang, aku

belum kawin, enggak perlu panel!" kata Tesa dengan serius, sehingga kesebalannya terlihat sungguhan.

"Terus dia bilang, kawin saja dengan nya, nanti dikasih panci!" sambung Markus terkekeh, membuat adiknya mendelik keki.

"Tapi orangnya kedengaran sopan, Tes/ kata ibunya lagi.

"Ah, Mami! Di mana sih ada orang jualan yang enggak sopan, enggak manis, enggak pin- '

tar merayu? Pendeknya, supaya barangnya laku, apa juga akan dilakukannya! Kalau sudah di-

beli, nah, lain lagi sikapnya! Coba, misalnya kita ^ mau tukar, pasti dia akan judes sekali!"

"Tapi katanya, urusan bisnis!" ibunya ngotot. "Penting!" Ini tambahan ibunya sendiri. Perempuan itu sudah begitu khawatir melihat putri-nya tidak juga mendapat jodoh, sehingga setiap pria yang mendekat, rasanya mau diundangnya ikut makan!

"Nah, kalau benar-benar bisnis, suruh saja dia menghubungi saya di kantor, Mam. Bilang enggak usah datang, pakai telepon saja. Kalau dia belum tahu nomornya, berikan saja, Mam."

"Apa dia bukannya calon arjunamu yang mu-takhir?" nimbrung Daniel sambil menggigit se-mangka.

"Ala, kau! Sama saja dengan Mami! Pola sen tralmu cuma jodoh melulu!"

"Laa, habis apa, dong?" sambut ayahnya "Kau kan sudah cukup umur."

"Lewat malah!" cetus Daniel nyengir.

"Jangan kurang ajar!" tegur Ibu.

"Jangan kurang ajar!" membeo si Aster kedl

yang baru sembilan tahun.

"Ala, soal itu mah gampang, Pap!" tukas Tesa dengan anteng "Kalau sudah waktunya pasti akan datang sendiri, enggak ke mana-mana!"

***

Pasha tidak mau menyerah. Dia menelepon

lagi.

"Pak Solem, anak saya berpesan, dia belum mau membeli panci ajaib Anda," kata Nyonya Rodan yang tidak tahu urusan, membuat yang mendengar jadi tersenyum sumir, meringis tak tentu ulah. Lelucon apa yang sedang dimainkan oleh Tesa ini?! pikirnya.

"Tapi kalau Bapak memang sangat ingin bicara dengannya, katanya disilakan menghubungi dia di kantor saja. Ini nomornya, harap dicatat baik-baik."

"Anu, Bu, boleh saya tahu juga nama dan alamat kantornya?"

"Oh, boleh. Boleh," sahut Nyonya Rodan lalu menyebutkan yang diminta. "Terima kasih, Bu. Selamat pagi." "Kembali... eh, eh..." Nyonya Rodan mendadak tercekat seakan disengat lebah. "... eh, katanya pernah jualan ke kantor! Kok sekarang na-nya di mana kantornya?!"

Tapi telepon sudah lama diletakkan oleh Pak Solem.

***

Telepon berdering di meja sekretaris. Tesa mengangkatnya lalu menyebutkan nama kantor: nya.

"Selamat siang!" seru suara di seberang sana dengan nada riang yang rasa-rasanya dikenal-nya. "Boleh saya bicara dengan Tesa?"

"Tesa yang mana?" tanyanya mempermain-kan. "Di sini ada dua Tesa."

"Tesa Rodan."

"Oh, Ibu Tesa sedang keluar, Pak. Mau titip pesan?"

"Tak usahlah. Ehem, kapan dia akan kembali?"

"Wah, kurang tahu ya, Pak. Mungkin jam tigaan, gitu."

"Baiklah. Terima kasih. Nanti saya akan bel lagi."

Ketika jam setengah empat telepon berbunyi lagi, Tesa minta tolong rekannya untuk men-jawab. "Ssst, Kleopat, tanyakan siapa. Kalau namanya Solem, bilang Ibu Tesa belum balik. Enggak tahu kembali jam berapa. Enggak tahu ke mana. Suruh bel lagi besok!"

"Ini dari siapa?" tanya Kleopatra. "Oh, Pak Solem?" Dia melirik Tesa sambil tersenyum. "Ibu Tesa belum balik, Pak. Tahu ya, jam berapa. Mau titip peSan? Enggak usah? Baiklah.

Telepon saja lagi besok. Oh, ini sekretarisnya.

Ya, ya. Kembali."

Mereka cekikikan berdua.

"Kenapa enggak diladenin saja, Tes? Kede-ngarannya seperti mau nangis, tuh!" kata Kleopatra geli.

"Huss! Sinting kau, Kleo! Orang sudah punya

istri, kok!"

***

Esoknya, telepon kembali mengganggu. Kleopatra yang mengangkat.

"Oh, Pak Solem? Selamat pagi. Oh, Ibu Tesa? Wah, kebetulan Ibu sedang rapat dengan Bos. Wah, enggak tahu deh berapa jam lagi. Coba saja nanti istirahat siang. Ya, kembali."

Kleo mengerling Tesa sambil menggeleng. "Ngotot betul, sih, Tes. Sambut saja, kenapa, sih?"

"Antepin saja. Nanti juga bosan sendiri!" sa-

hut Tesa.

"Atau oper deh padaku!" seru Tiara yang barusan muncul.

"Iiih, orang sudah punya istri, kok!"

"Siapa yang sudah punya istri?" tanya Bos yang tahu-tahu ada di situ. "Ini jam pelajaran mendongeng atau jam kerja?!"

"Habis itu lho, Pak," kata Kleo. "Ada orang namanya Pak Solem. Dia mengganggu Tesa terus, deh. Hampir tiap hari dia menelepon!"

"Nagih janji, kali!" cetus Tiara. Bos menatap Tesa. "Kau janji apa sama orang itu, Tes?"

"Iiih, enggak pernah janji apa-apa, Pak! Kenal pun tidak!"

"Hm." Bos meletakkan dikte yang mesti di-ketik, lalu berjalan balik menuju kamarnya. Di dekat pintu dia berhenti, lalu menoleh pada Tesa. "Eh, kalau tidak kenal, miasa sih dia begitu ngotot? Dari mana dia tahu nomormu ?"

Tesa cuma mengangkat bahu sambil meringis dengan rupa higu. Bos merasa tidak pantas me-ngompesnya saat itu, sebab banyak orang. Tapi nanti...!

"Ah, biar saja, Pak. Nanti juga dia pasti bo-san!" kata Tesa untuk menghilangkan kecuriga-an Bos.

***

Dugaan Tesa keliru. Pasha tidak kenal bosan. Dia malah nekat mendatangi gedung kantor. Tapi di tingkat kedua puluh enam itu satpam-nya tidak kenal kompromi. Di lantai dua belas mereka pernah kebobolan. Ada bahan peledak di bak tanaman, untung ketahuan sebelum me-ledak. Sekarang semua satpam di setiap tingkat menjadi lebih siaga.

Pasha tidak diizinkan masuk.

"Mau ketemu siapa, Pak? Sebut saja namanya, nanti kami panggilkan."

• Sayang, satpam kembali dengan berita jelek. "Yang dicari enggak masuk hari ini, Pak."

Pasha tidak percaya. Dia sangat tergoda untuk mengecek ke rumahnya, tapi dia teringat larangan menelepon ke Sana. Dia tidak mau bikin dosa terhadap... calon mertua!

Akhirnya tak ada jalan lain. Dia terpaksa me-nunggu di depan kantor sampai bubar.

Esoknya, dari rumah sakit dia tidak pulang ke rumah, tapi langsung piket. Karena dilarang parkir di pinggir jalan, terpaksa dia masuk ke garasi bawah tanah, lalu menunggu dalam mobil. Tentu saja ongkosnya lumayan mahal, sebab dihitung jam-jaman. Selain itu, tempat yang strategis sudah tak ada. Dia cuma kebagian po-jok gelap yang susah dipakai sebagai pos peng-amatan. Masih ada lagi kesulitan: dia tidak tahu pasti apakah Tesa naik kendaraan pribadi atau umum.

Yah, jalan satu-satunya: dia mesti keluar begitu selesai jam kantor. Maka tepat jam setengah lima, Pasha meninggalkan mobil lalu berjalan keluar, menunggu dekat pagar seperti pengangguran. Matanya disiapkan untuk mem-perhatikan setiap sosok manusia dan mobil.

Tapi kantor di gedung itu ada beberapa buah dan karyawannya sudah tentu buanyaaak sekali. Selain itu hampir tiap mobil kacanya gelap. Jadi, sulit sekali menemukan apa yang mau dicari.

Pasha mengeluh ketika menyadari kekeliruan-

nya. Bagaimana dia akan melihat Tesa?! Manu-sia begitu berjibun seperti laron keluar dari sa-rang setelah hujan!

Makin banyak orang yang pulang, makin ciut semangatnya. Selain itu ha tiny a mulai ragu. Be-tulkah dia belum mirip orang gila?! Sudah berapa kali dia menelepon ke kantor, selalu orang menyebut "Ibu Tesa". Apa artinya itu?! Bukankah dia masih terlalu muda untuk dipanggil begitu?! Kecuali... kalau dia sudah...! Apakah dia mengejar-ngejar bird orang?!

Matanya sudah pedih sebab sejak tadi tidak mengedip mengawasi orang serta barisan mobil yang antre mau keluar dari halaman gedung. Dia khawatir, kebetulan mengedip nanti Tesa lewat dan tak terlihat!

Jalur mobil di mulut garasi cuma dua, tapi di halaman jadi bertambah dua lagi, sebab halaman itu luas dan setiap pengemudi ingin lekas-lekas pulang.

Karena harus memperhatikan pejalan kaki dan pengemudi sekaligus, lama-lama Pasha jadi kewalahan. Kepalanya sampai terpaksa ber-gerak-gerak terus, nengok kiri nengok kanan. Tapi sampai mendekati setengah enam, belum ada orang yang mirip Tesa.

Dia mulai putus asa. Dilihatnya arloji. Sudah hampir waktunya untuk pulang, mandi lalu praktek. Dari arloji cepat-cepat matanya diang-kat kembali. Mobil masih antre panjang. Seka-

272

rang mulai serabutan, sebab halaman mahaluas,

tapi pintu gerbangnya biasa saja.

Mendadak matanya hampir terloncat keluar.

Di seberang sana, dalam jalur keempat, dilihatnya seorang gadis di belakang setir. Jendela mobil kebetulan terbuka, jadi pandangannya tidak terhalang. Walaupun jarak mereka ada sepuluh meter, dia yakin itu siapa.

Cepat-cepat dia mencoba menyeberang. Tapi ternyata tidak gampang. Mobil-mobil itu tak punya belas kasihan untuk orang yang cuma punya dua kaki, mau mengemis jalan. Tak ada yang mau mengalah memberinya kesempatan menyelip sana-sini. Bisa meloncat sekali ke tengah jalan, lalu mesti menunggu lama sampai ada lagi pengemudi lain yang baik hati dan kebetulan sedang penuh humor, tidak me-nyumpah-nyumpah diselak orang lewat.

Dia berdiri di tengah jalan, terpaku seperti patung menunggu kesempatan. Akhirnya ada mobil yang masih dua meter dari dia.

Pasha meloncat kembali. "Mampus kau!" maki sopir yang diselip.

Sekarang Pasha sudah makin ke tengah dan lebih mendekati jalur keempat. Tapi mobil makin semrawut. Pelan dikit saja yang di depan, sebelah belakangnya sudah ribut dengan klak-son.

Pasha berdiri di antara seliweran mobil-mobil, siap sedia meloncat begitu ada kesempatan. Sementara itu matanya memperhatikan jalur yang

dituju. Sejenak dia panik. Honda Civic abu-abu tadi sudah tidak kelihatan! Matanya nyalang ke sana kemari. Kemudian dia bernapas lagi. Ah, itu dia. Sudah lebih ke depan, mendekati pintu gerbang.

Hm. Menilik mobilnya, pasti kedudukan Tesa amat bagus. Penghasilannya besar.

Tiba-tiba, tanpa diharapkan, ada mobil yang berhenti, lalu menyilakannya menyeberang. Pasha mengangkat tangan sambil mengangguk.

Sayang! Begitu dia tiba di seberang sana, mobil abu-abu itu pas meluncur ke jalan, lalu se-gera tancap gas. Pasha mengeluh kesal. Sampai lima menit diawasinya mobil itu, hingga lenyap di kejauhan. Lalu dengan kepala tunduk dia berdiri lagi di pinggir, siap untuk menyeberang ke tempat asal, kemudian dari sana turun kem-baM ke garasi mengambil mobil.

***

Entah bagaimana, pada suatu hari operator teledor. Ada telepon nyasar ke kamar Bos. Tapi sebenarnya diam-diam Bos sudah memberi memo pada operator: "Kalau ada Pak Solem menelepon, sambungkan langsung pada saya!" Tentu saja Bos tidak menyebut-nyebut soal gangguan terhadap Tesa.

"Halo, selamat pagi. Boleh saya bicara dengan Tesa?"

"Dari Solem! Pasha Solem!" "Hm. Begini, Pak Solem, saya tidak mau tahu apa masalahnya, tapi saya minta agar Saudara jangan sekali-kali menelepon lagi ke sini! Saudara mengganggu, tahu?!"

"Lho! Saya bicara dengan siapa ini?" "Dengan Presdir sendiri! Dan Nona Tesa sudah ada yang punya!"

"Oh, bukan dia yang saya tuju. Tapi satunya lagi, Ibu Tesa!"

"Ibu Tesa? Memangnya di sini ada berapa Tesa?" tanya Bos dengan geram.

"Ya, Ibu Tesa itu! Tesa Rodan! Bukannya Nona Tesa yang sudah anu... ada anu..."

"Pak Solem!" potong Bos dengan murka. "Di sini cuma ada satu Tesa! Nona Tesa Rodan. Dia sekretaris saya dan juga calon istri!!!"

Brukkk! Sampai sakit telinga Pasha ketika telepon dibanting. Sekarang dia tak tahu akal lagi. Tempo hari dia pernah bicara dengan orang yang mengaku sekretaris. Tidak jelas sekretaris siapa. Dalam kantor besar, masing-masing kepala bagian mempunyai sekretaris pribadi memang. Entah ada berapa di kantor Tesa. Yang pasti, suaranya tidak mirip dengan suara Tesa. Tapi, setelah hampir empat tahun, apakah dia masih bisa ingat betul suaranya?!

Dan sekarang, bosnya sendiri yang bilang bahwa dia calon ratunya! Berarti dia tak usah . mimpi macam-macam lagi. Tapi apakah itu bisa dipercaya?! Di manakah Tesa waktu bosnya

marah-marah di telepon?.1 Apakah dia tengah duduk di sampingnya, mendengarkan sambil bermain-main dengan dasinya?!

Pasha menarik napas kesal. Ah, rasanya sebelum mendengar sendiri dari mulut Tesa, dia belum mau percaya! Dia tidak rela menyerah begitu saja.

Kepusingannya bertambah karena ulah Shakira. Nyonya Goffar ini jadi mendadak po-puler di klinik setelah teleponnya yang ketiga atau keempat Baik re kan mau pun paramedis, sama-sama menggoda Pasha. Kalau dia muncul pagi hari, terkadang Suster Rani, sudah siap menunggu.

"Dok, tadi Ibu Goffar menelepon. Katanya penting. Dokter dimintanya supaya menghu-bungi kembali!" Tentu saja tak pernah diladenirrya. "Gimana tadi urusannya, Pas?" tanya rekan-nya kalau ketemu. "Aku dengar nonimu tidak sabar lagi mencari-carimu! Katanya, kau suuu-dah lamaaa minggat, sampai dia kangen!"

"Apa dia mengaku masih noni? Buset! Anak-nya sudah dua!" pekik Pasha tersenyum pasrah seperti napi yang tak punya jalan kabur.

Soal Shakira, walaupun cukup membuatnya tobat, namun tidak diacuhkannya. Diinstruksi-kannya pada semua perawat yang kebetulan menerima telepon, agar mengatakan bahwa dia tidak di tempat.

"Oh, dia tidak percaya, Dok!" seru Suster

Rani. "Katanya, 'Selalu tidak di tempat! Saya

enggak percaya!"1

"Biar deh tidak percaya! Toh saya bukan sua-

minya! Kenapa mesti dipercaya? Buat apa main-main dengan istri orang? Saya masih ingin hi-

dup lama kok, Sus!"

"Aduh, kurus banget kau sekarang!" tukas

seorang rekan yang lain. "Aku dengar kau ada affair sama... ssst... janda kaya, nih?! Sudah pu-tus, ya? Bosan? Aku dengar, dia nguber-nguber terus, ya? Kau takut tertangkap basah? Apa karena itu kau jadi lidi begini? Eh, kenapa enggak kaucekoki saja koktil acetylcholine dicam-pur... anu..."

"Aku belum ingin, ah, jadi agen perjalanan ke neraka!"

Tapi kurusnya itu memang karena keruwetan pikiran. Cuma bukan Nyonya Goffar penyebab-

nya.

Setelah dipikir-pikir sampai bertambah uban, dia yakin tinggal satu jalan keluar. Mendatangi rumahnya! Walaupun kedengarannya mengeri-kan, tapi seperti orang yang punya utang kele-wat banyak, dia tahu tak ada jalan lain. Harus nekat! Itu atau...!

Walaupun minta bantuan komputer sekali* pun, dia percaya' cuma satu itu penyelesaian kesulitannya. Namun, jalan keluar ini pun me-nimbulkan kesulitan baru.

Dia tahu, Tesa tak mau menemuinya, entah kenapa. Nah, bagaimana sikapnya nanti sean-

inya gadis itu mengusirnya mentah-mentah?! pa yang akan terjadi sekiranya Tesa menyatarn.tak pernah mengenalnya, di depan sekalian .ggota keluarga, pembantu, dan anjing-kueing-yaVA Bisakah dia hkhip terus setelah mendapat malu sebesar itu?! Apakah tidak lebih baik mempercayai omongan presdir itu saja, dan membiarkan masa lalu tetap berlalu?!

Bab 15

Mdstggu berganti minggu. Gangguan telepon sudah berhenti. Tesa merasa lega walaupun dia tidak tahu bahwa dia sebenarnya mesti berterima kasih pada Bos.

Hidup berlangsung biasa lagi. Iklan penjualan rumah Shakira sudah dimuat. Peminatnya banyak. Tapi yang berhasil membelinya adalah ayah Shakira sendiri.

Pada suatu hari Shakira menelepon Tesa di rumahnya, lalu bercerita panjang-lebar. Tesa, ayahku sudah membaca iklan yang kaupasang itu. Setelah dia tahu Goffar sudah mihggat ru-panya dia jadi kasihan pada nasib anak-anakku. Katanya dia bersedia membeli rumah itu dan kami kemudian diperbolehkan tetap tinggal di sini tanpa harus membayar kontrak, tapi ada syaratnya. Aku harus bercerai dengan Goffar!"

Tesa menahan napas. Celaka. Bisa rumit, nih.. Goffar beristri saja sudah sulit dihalaunya, apa-lagi Goffar tanpa istri! Tentu pikirnya tak ada halangan lagi bagiku untuk kembali...!

"Lantas, kau mau?" tanya Tesa dengan was-wns.

"Tentu saja! Dia sudah kabur meninggalkan diriku, buat apa aku pertahankan? Memang nya dia apa, sih? Laki-laki kan masih banyak di dunia ini, Tes! Hilang satu, ganti sepuluh! Apa-lagi dia kan enggak bertitel! Yang bertitel pun banyak yang naksir aku, kok. Misalnya, Dokter... Solem!"

Tidak salahkah pendengaranku? pikir Tesa kaget Tapi dia tidak sempat melamun lama-lama, sebab Shakira sudah bicara terus.

"Kau tahu sebabnya, Tes? Lantaran setiap orang kepingin punya mertua kaya! Ha, ha! Enggak terkecuali dokter!"

Shakira sudah tidak beres! pikirnya. Ketawa-nya yang begitu nyaring tidak enak didengar.

"Shak, barangkali kau belum tahu, nih?! Dokter Solem itu sudah punya istri, Iho! Dokter Pika namanya!"

Di luar dugaannya, Shakira ternyata tidak menjadi risau.

"Ah, pasti sudah cerai! Kalaupun belum, sekarang dia pasti sudah mau cerai! Setelah dia mendengar siapa ayahku, mana bisa dia tidur nyenyak lagi sebelum jadi menantunya? Ya, aku rasa, ah, pasti deh, mereka sudah cerai! Mau taruhan, enggak? Sebab kalau belum, pasti dia enggak begitu agresif, dong!"

Tesa makin tercengang mendengar ini. Pasha sekarang jadi agresif pada Shakira?! Yang benar!

Dia memang tahu betapa agresifnya laki-laki itu, tapi masa sih sama perempuan yang sudah berbuntut dua?! Seperti sudah tak ada perawan

lain di muka bumi!

Eh, tapi kalau dikaji lebih lanjut, mungkin Shakira tidak terlalu salah, pikirnya dengan ke-cut. Bukankah beberapa waktu yang lalu Pasha gencar betul meneleponnya?! Kalau masih ada Pika, mana dia berani! Lalu, mungkin karena dia tidak meladeni, dia jadi beralih pada Shakira?! Dasar orang ini nasibnya selalu baik, keluhnya penasaran.

Shakira sebenarhya tidak jujur seratus persen. Ketika dia mengatakan Dokter Solem agresif, maksudnya caranya memaksa untuk mendapat info mengenai Tesa tempo hari. Tapi Tesa tentu saja mana tahu. Terlebih ketika mendengar Shakira bla-bla-bla terus mengenai hubungan-nya dengan dokter ganteng itu yang tampaknya sudah cukup erat juga, hatinya. rasa teriris sesayat-sesayat.

Tangannya terasa lemas sekali ketika dia me-letakkan kembali pesawat. Aneh, dia tidak sampai pingsan, pikirnya sinis.

Shakira begitu asyik ngoceh sampai rupanya tak teringat sedikit pun olehnya untuk meng-ucap terima kasih apalagi mengembalikan ong-kos pasang iklan serta biaya anaknya masuk rumah sakit! Tesa sebenarnya ingin menagih, taP1' gimana ya, lidahnya sudah keburu kelu mendengar serentetan petualangan Pasha yang

terbaru. Kok harus dengan Shakira, keluhnya kesal. Apakah Pasha sudah lupa bahwa Goffar dulu- juga direbut oleh perempuan binal itu?! Dalam sengitnya, dia telah menamakan teman-nya itu binal!

Ah, kalau memang cuma sebegitu moral dan karakter Pasha, dia juga tak usah merasa pena-saran mendengar segala sepak terjangnya. Dia tak perlu menyesal tidak berhasil menjadi pa-sangan abadinya. Buat apa laki-laki seperti itu dirindukan! Bah!

Tapi, uang yang dipinjamkannya pada Shakira kan bukan didapatnya dari lotre. Itu kan hasil keringatnya sendiri! Sudah sepantas-nya kalau ditagihnya. Tapi bagaimana ya, cara-nya?!

Jangan-jangan dikira Shakira, semua itu ter-masuk kewajibannya! Sebab dia telah membuat Goffar lari ke luar negeri! Mungkin karena berpikir demikian Shakira sama sekali tidak me-nyinggung masalah utangnya. Celaka dua belas kalau begitu!

Uhtunglah sebelum dia mengambil tindakan apa-apa, pada suatu hari datang orang suruhan ayah Shakira mengantarkan amplop berisi uang pengganti biaya iklan serta ongkos rumah sakit. Ayahnya rupanya tahu bahwa anaknya sama sekali tak punya uang lagi, jadi ditanyakannya dari mana semua biaya itu.

***

Tesa pun kembali tenggelam dalam dunia ke-seharian yang tak punya ragam. Semua serba rutin, Kadang dia merasa jenuh, tapi tak tahu

mesti lari ke mana.

Shakira tidak lagi menelepon. Rupanya sedang asyik dengan pacar baru, pikir Tesa sinis.

Supaya ibunya tidak banyak bertanya ini-itu, Tesa sengaja menyibukkan diri dengan tugas kantor. Beberapa kali seminggu dia pulang agak malam. Alasannya, lembur. Sebenarnya itu bukan paksaan. Bos kebetulan menawarkan agar dia mau lebih lama mengetik surat-surat dengan mesin prosesor. Tidak terduga-duga Tesa langsung bersedia! Maka Bos pun jadi ikut keripuh-an mencari-cari alasan agar bisa tinggal lamaan di kantor, sebab kesempatan berduaan begini tentunya langka sekali.

Sekarang sudah mulai musim hujan. Hampir tiap sore langit membuka diri membasahi bumi. Ketika Tesa mulai pilek-pilek, ibunya mencoba melarangnya lembur.

"Ah, saya cuma pilek sedikit, biasa kan, Mam. Nanti juga baik," kilah yang dilarang.

Sebenarnya Tesa resah kalau pulang terlalu sore, di rumah tak tentu apa yang akan dikerja-kannya. Dulu dia masih senang membaca novel, tapi sejak Shakira "menjambret" Dokter Solem, hobi itu mendadak jadi tidak menggairahkannya lagi.

Pada suatu kali, ketika hujan amat lebat, mobil Tesa mogok. Untung masih dalam garasi,

sehingga dia tidak sampai kebasahan. Terpaksa

dibiarkannya Bos mengantarnya pulang. Dan se-isi rumah yang sudah menunggu nya sejak tadi di teras depan, kini bangun semua dari kursi mengawasi laki-laki yang begitu sopan mengangguk pada mereka.

"Pacarmu, Kak Tesa?" tanya Aster lugu ketika 60s sudah pergi.

"Huss! Anak kecil!" sergah Ibu, namun Tesa melihat perempuan itu berbinar matanya dila-mun harapan. Ketika dirasanya tak ada yang mendengar, dia berbisik, "Siapa tadi, Tes?"

"Bos saya, Mam. Ganteng, ya?" tukas Tesa dengan ketawa penuh arti membuat hati ibunya mencak-mencak kegirangan.

Dan perasaan itu makin membubung ketika hujan masih sering datang. Tesa beberapa kali lagi terpaksa diantar pulang oleh Bos. Pada kali yang terakhir, ibu Tesa memberanikan diri dan menahan jejaka itu untuk makan malam ber-sama.

"Ini sebagai tanda terima kasih kami atas per-hatian Anda pada Tesa. Coba kalau tidak diantar, mana hujan begini deras!" kilah ibunya, tapi Tesa lebih arif. Dia tahu jebakan apa yang sedang dipasang oleh ibunya, namun dia berlagak bodoh. Cuma dalam hati dia meringis, ngeri bercampur lucu.

Sejak makan malam itu, "resmi'Tah Bos ditah-biskan sebagai pacar Tesa oleh saudara-saudara-nya. Yang bersangkutan merasa geli, tapi tidak

membantah. Pikirnya, biarlah kalau itu bisa me

nyenangkan Mami.

Saat itu di kantor sudah banyak karyawan yang kena flu. Rupanya udara AC tidak membuat tubuh lebih kuat menahan invasi virus. Dan Tesa yang memang sudah pilek. pun ikut roboh. Dua hari dia masih bertahan masuk kantor walaupun dengan mantel dan syal. Tapi pada hari ketiga dia tidak sanggup bangkit dari tempat tidur. Kepalanya pusing, tubuhnya de-mam, dan tenggorokannya seperti terbakar, pe-dihnya bukan main.

Sorenya ada yang menjenguk. Siapa lagi, ten-tunya Bos! Dari jauh Aster sudah mengenali mobil merahnya, lalu berlari ke kamar kakak-nya.

"Kak Tesa, pacarmu datang! Ayo, berlagak tidur, dong, nanti dikira Kakak bukan sakit be-tulan!" katanya sok mengajari.

Tak usah disebut lagi betapa senang dan ber-syukurnya hati sang ibu. Namun Tesa kelihatan tidak gembira. Bagaimana dia mau senang, ba-dannya terasa sakit dan ngilu semua. Obat flu yang ditelannya ternyata cuma membuat jan-tungnya berdebar dan ngantuk. Tapi demam dan pusingnya tidak hilang. Esoknya malah ditambah dengan batuk kering yang membuat dadanya terasa sakit. Bunyinya kong-kong seperti kodok bangkong. Esok sorenya Bos kembali datang. Dengan

rasa khawatir dia menyarankan agar dipanggil-kan dokter.

"Oh, tak usah!" bantah Tesa terkejut.

Kalau anak-anak lain takut setan, maka sejak ketil cuma dua hal yang ditakutinya. Pergi ke 'dokter umum dan dokter gigi! Dia takut sekali disuntik.

"Dua hari lagi juga baik! Pusingku sudah hi-lang, kokf sambimgnya berdusta. "Tapi demammu masih tiga puluh delapan

lebih!" tukas ibunya menimbrung. Sebenarnya sejak kemarin-kemarin dia sudah mau diajak ke dokter, namun tak mau. Katanya, biar tunggu Markus pulang saja. Abangnya saat itu kebetulan sedang ke Jawa Tengah meninjau beberapa puskesmas.

Mendapat bantuan tenaga dari ibu Tesa, Bos jadi makin berani.

"Pokoknya kau harus ke dokter, Tesa. Kalau besok aku datang kau belum juga ke dokter, nanti aku yang akan membawamu ke sana!" ancamnya dan Tesa tahu, ancaman itu tak bisa diremehkan.

Esok paginya ketika ibunya kembali menim-bulkan soal "pergi ke dokter", Tesa berdalih dia takkan kuat berdiri dan berjalan ke luar rumah.

"Kalau begitu, nanti sore panggilkan saja Dokter Yusuf/ kata ayahnya.

Dokter Yusuf adalah tetangga mereka. Rumahnya nomor lima belas, sedangkan rumah mereka nomor dua puluh enam.

Karena sakitnya tidak juga mendingan, Tesa tidak lagi membantah ketika sorenya ibunya

mau menelepon ke seberang. Sudah tiga kali dia berganti obat, tapi tidak juga sembuh. Sedangkan Markus belum juga balik.

"Dokter Yusuf sedang cuti, Seriin baru prak-tek lagi," kata ibunya sehabis menelepon. "Tapi ada asistennya. Dia akan datang |ebentar lagi. Kata susternya, sekarang masih terlalu banyak pasien."

"Kenapa enggak tunggu dia saja, Mam? Nanti asistennya enggak betus, lagi...."

"Sekarang baru Jumat, Tes. Besok tak ada dokter yang buka. Apa kau sanggup menunggu sampai Senin?"

Tesa terpaksa mengakui dalam hati kebenar-an pendapat ibunya. Dia merasa tidak sanggup lagi menunggu satu jam pun. Tapi sang asisten ternyata baru datang setelah hari gelap. Sambil tersipu-sipu dia minta maaf pada orangtua Tesa, menyalahkan pasien yang berjubel dan tak bisa ditinggalkan semenit pun. Kalau dia boleh terus terang, sebenarnya sang dokter mau bilang bahwa sejak sore tadi dia sudah kepingin ke kamar kecil, namun ditahan-tahannya.

"Dok, enggak bisa ke seberang sekarang, Dok," kata suster tadi. "Pasien masih terlalu banyak. Semua maunya masuk cepat-cepaf, tapi kalau sudah di dalam tidak mau keluar-keluar, maunya sih membeber riwayat hidup sama kter! Iya kan, Dok? Kalau nunggu kelamaan

ikit saja sudah menggerutu. Apalagi kalau kter tinggal ke seberang, wah, bisa-bisa mere-mengadu ke LBH! Pasien-pasien zaman sekarang, waduh, galaknya!"

Sang dokter cuma ketawa kecil mendengar kebijakan perawatnya. Kini, setibanya di rumah seberang, dia baru teringat bahwa kebutuhan-nya ke kamar kecil belum terpenuhi. Kira-kira sopan enggak ya, kalau permisi sekarang?!

"Syukurlah akhirnya Dokter bisa datang juga," sambut ibu Tesa dengan manis, lalu meng-ajaknya ke kamar putrinya. Sang dokter pun terpaksa menangguhkan niataya.

"Tesa!" serunya dari luar kamar. "Ini dokter-nya sudah datang."

Pintu dibuka. Ibunya masuk diikuti... Tesa terpana bagaikan melihat ular kobra me-luncur masuk. Seketika itu dia langsung ingin menyuruh dokter itu keluar lagi, tapi suaranya tidak berbunyi. Cuma bibirnya saja yang ter-buka seperti orang kaget.

Sementara itu ibunya telah menutup pintu, lalu berdiri di kaki ranjang. Sedangkan sang asisten sudah meletakkan tasnya di atas meja kecil dan mulai sibuk mengeluarkan perkakas-nya.

Entah kelupaan atau sengaja, sang dokter tidak menyebutkan namanya ketika bersalaman tadi. Demi kesopanan, Tuan dan Nyonya Rodan pun segan menanyakan. Namun Tesa yakin matanya belum rabun. Laki-laki yang tengah

menarik keluar stetoskop dari tas hitam itu ada-lah Dokter Solem! Pasha Solem. Dan mau apa

dia di sini?!

Kini dia sudah menghampiri ranjang, lalu duduk di pinggiran tanpa permisi. Dengan terpaksa Tesa menggeser ke dalam sedikit. Geraham-nya dikatupkannya erat-erat saking jengkel. Huh! Kalau saja ada caranya bagaimana dia bisa meletupkan perasaannya saat ini! Tapi tak ada! Dia bahkan harus berlaku sopan dan menuruti setiap perintah dokter...! Huh! Dokter apa! Kunyuk hidung belang begini, apa betul mahir mengobati?! Bikin hancur, itu dia mahir! Huh! Berani-beranian datang ke sini!

Tanpa menunjukkan bahwa dia mengenali pasiennya, dimintanya Tesa membuka baju.

Ini sudah betul-betul keterlaluan! Rasanya dia ingin berteriak atau menangis! Tapi ibunya mengulangi perintah itu dengan otoritas penuh.

Sambil mengatupkan kembali bibirnya dan menggertakkan gigi, Tesa terpaksa menurut, sebab ibunya ada di situ mengawasi. Dia tidak mau menimbulkan kecurigaan tentu saja.

Nah! Puaskanlah mata keranjangmu! kutuk-nya dalam hati tanpa sudi memandang ke arah sang dokter.

Selama terbaring di ranjang, tentu saja Tesa tidak mengenakan penutup dada di balik baju tidurnya. Setelah kancingnya dibuka, dia tak punya pertahanan apa-apa lagi. Dia merasa begitu tidak berdaya, sampai rasanya betul-betul

ingin menangis. Dasar nasibnya selalu jelek. Dalam keadaan sengsara begini pun, dia masih kena hinaan juga! Musuhnya yang menolong! Atau, kalaupun bukan musuh sungguhan, paling tidak, laki-laki ini sudah kelewat sering me-lukai hatinya.

Dia tahu, dia tak pernah dianggap sebagai sesama manusia oleh Pasha. Ketika Pika memer-lukannya, dengan mudah saja dia telah dicam-pakkannya, seolah dia sama sekali tak bisa pa-tah hati. O ya, Tesa mana punya perasaan! Dia kan cuma boneka dungu belaka! Manis untuk dipandang, sedap untuk diajak main.

Nah, kalau dulu saja tidak dianggap, apalagi sekarang. Dia tidak lebih dari seorang pasien! Tak perlu disapa! Apalagi diakui sebagai kenal-an lama! Terlebih jangan mimpi, dia akan ber-teriak kegirangan, "Ai, Tes, kita ketemu lagi!" Huh! Padahal rasanya baru kemarin dia bilang cinta! Huh! Qma?! Omong kosong! Cinta mo-nyet barangkali, itu mungkin benar! Heran, kenapa dia bisa kebetulan sedang menggantikan Dokter Yusuf, sih?! Ah, dasar nasibku jelek terus!

Dengan lagak seorang dokter yang serius se-kaM, laki-laki itu menguak gaun tidur yang sudah terlepas kancingnya, lalu seperti seorang ahli jantung jempolan diletakkannya stetoskop pada beberapa tempat tertentu di dada.

Tesa yakin jantungnya sehat dan penyakitnya sekarang ini sama sekali tidak menyerang ke

sana, namun entah kenapa, Dokter Solem men-dengarkan denyutaya begitu laaama! Matanya yang menunduk tak bisa dilihatnya, sehingga

dia tidak bisa menerka apa yang tengah diper-hatikan atau dipikirkan olehnya. Untuk menga-jukan protes, dia segan. Nanti dianggap sok

tahu. Selain itu, ibunya kan masih berdiri di ujung ranjang, jadi tak ada alasan baginya untuk menuduh dokter itu kurang ajar atau yang bukan-bukan lainnya.

Dengan terpaksa ditahannya siksaan itu. Lama-lama dia menjadi keki. Pandanglah se-puasmu, pekiknya dalam hati. Sebab semua itu takkan pernah menjadi milikmu! Nanti bisa kaubandingkan dengan Pika! Atau, kini sudah dengan Shakira?!

Emosi seperti itu tentu saja membuat denyut jantungnya bertambah. Dokter Solem mengerut-kan kening.

"Debar jantungmu kencang sekali," cetusnya tidak pada siapa-siapa, lalu tiba-tiba menoleh pada si sakit. Dirabanya sejenak dahinya.

"Hm. Tidak terlalu demam!"

Karena Tesa memang tengah melotot meng-awasinya, dia tidak sempat lagi membuang muka. Sesaat mereka bertatapan. Tapi Dokter Solem cepat mengalihkan matanya seakan tak ada apa-apa.

"Anak Ibu memang cukup serius sakitnya!" katanya, kali ini menoleh ke kaki ranjang. "Kenapa baru panggil dokter sekarang?"

Nyonya Rodan jadi gemetar ketakutan. Ucap-an seperti itu biasanya berarti burtik. Dengan gagap dia menyahut, "Anaknya... ban... del, Dokter. Eng... gak... mau... te... rus... dia... jak... bero... batT

"Hm. Kenapa? Takut dijeksi?!" Dokter menatap sekilas pasiennya. Tentu saja Tesa mana sudi meladeni, apalagi menyahuti. Kaukira lu-cu? pikirnya. Huh! Tak usah, ya!

"Betul, Dokter. Anak saya ini sejak kecil paling takut sama jarum suntik!" kata Nyonya Rodan mengiakan.

"Hm. Coba tarik napas panjang, keluarkan. Sekali lagi. Terus. Sekali lagi. Sekali lagi. Tarik, keluarkan. Tarik, keluarkan. Tarik, keluarkan. Taaarik.-" Tapi lalu sang dokter lupa memberi perintah keluarkan.

Tesa terus menarik napas sepanjang mungkin sampai rasanya tak tertahan lagi. Namun aba-aba keluarkan tidak juga terdengar. Dadanya sudah serasa mau meledak. Dia malah jadi se-sak napas, akhirnya terbatuk-batuk.

Dokter Solem menatapnya, lalu. dengan te-nang berkata, "Dikeluarkan, dong, napasnya, jangan ditahan begitu!"

Brengsek! kutuk Tesa dalam hati. Kenapa enggak mau bilang dari tadi?!

Rupanya stetoskop masih belum memberi Info yang cukup, sehingga Dokter Solem merasa perlu menggunakan jari-jarinya untuk ketuk-ketuk sana-sini. Aduh, merinding bulu badan

Tesa bersentuhan seperti itu. Dia langsung ter-ingat keindahan musim panas di bulan Desem-ber serta ketenteraman musim dingin, berduaan

duduk di depan jendela....

"Tesa!"

Tiba-tiba dia kaget mendengar panggilan ibunya. Oh! Rupanya dokter mau memeriksa teng-goroknya dan sejak tadi menunggunya buka

mulut. Spatelnya siap di ujung bibir.

Tesa menganga selebar-lebarnya, berharap akan bisa batuk keras-keras agar bisa menyem-prot Pak Dokter. Tapi Dokter Solem rupanya sudah bisa menduga adanya iktikad jail, atau mungkin juga dia sudah kelewat berpengalam-an, tak mungkin bisa dipermainkan.

Begitu Tesa menggerakkan lidah mau batuk, spatel sudah ditarik ka luar dan dokternya berdiri. Setelah membuang spatel kayu itu ke tong sampah dekat meja, dia kembali ke ranjang. Lalu dengan tenang, seakan itu termasuk tugas-nya, dikancingkannya kembali gaun tidur pasiennya satu per satu. Mula-mula Tesa ingin menolak, tapi entah kenapa akhirnya dibiarkan-nya.

"Nah, pemeriksaan sudah selesai! Sekarang saya mau menulis resep," katanya tidak pada siapa-siapa.

Seakan itu kata sandi untuk menyuruhnya keluar, ibu Tesa langsung berlalu. Pintu kamar dibiarkannya terbuka. Begitu ibunya lenyap dari lapangan pandang, medan pun segera berubah

suasana. Ketika Dokter Solem meraih pergelang-annya untuk menghitung denyut nadi, dengan berang dikibaskannya tangannya. Wajahnya yang sejak tadi tidak mencerminkan emosi apa pun, kini menatap dengan garang.

"Nah, setelah puas menghinaku, pulanglah le-kas pada istrimu! Pika pasti sudah tidak sabar menu ngg u mu P*

Dokter Solem malah ketawa menghadapi pe-nolakan tadL Dengan tegas ditangkapnya kembali lengan Tesa, lalu digenggamnya dan dihi-tung denyutnya. Setelah selesai, dia memandang Tesa seraya tersenyum.

Tidakkah kau mau berterima kasih padaku, sebab tidak menyuntikmu?"

"Huh! Tunggu kiamat dulu!" dengus Tesa dengan sebal.

"Tahukah kau? Wajahmu tambah memikat kalau marah!"

Lalu wajahnya menunduk lebih dekat, sehingga Tesa terpaksa melihat betapa bagus mata hitam Pasha. O, Tuhan, keluhnya. Laki-laki ini bisa tersenyum dengan matanya! Wajahnya yang putih dan tampan begitu terbuka. Ditam-bah dengan sepasang bola mata yang penuh binar, ah! Aku tak tahan ditatap seperti itu. Aku tak bisa memakinya walaupun dalam hati ingin banget!

"Sudahlah, Pas. Jangan bersandiwara lagi! Aku tak tahu kenapa kau bisa datang kemari

sore ini! Kok tumben menggantikan dokter te-tanggaku?"

Pasha seakan ingin ketawa geli, namun melihat wajah Tesa belum menawarkan perdamai-an, dia tidak jadi.

"Ini namanya keberuntungan, Tes. Biasanya Dokter Harun yang menggantikan Yusuf. Tapi mendadak dia kena apepe... anu, usus buntunya harus dipotong. Dokter Yusuf mesti cuti mene-ngok ibunya di Jawa, kabarnya sedang sakit, sudah tua. Nah, aku tahu kau tinggal di jalan ini. Aku pikir, kalau aku praktek selama dua minggu, barangkali saja aku bisa melihatmu wa-lau cuma sekali. Dari jauh! Hari ini sebenarnya dinasku berakhir. Sabtu kan tutup, dan Senin Dokter Yusuf sudah akan praktek lagi. Tapi dasar jodoh, eh, ibumu menelepon...."

Cis! Jodoh dari mana, pikir Tesa sengit. Dasar laki-laki! Di rumah sudah beristri, di luaran mengaku masih cari-cari jodoh!

"Sudahlah, Pas. Cepat tuliskan aku resep. Setelah itu kau boleh pulang."

"Aku diusir, nih?" tanyanya dengan mata masih penuh senyum.

"Aku menghargai kau!" katanya pelan setengah mengeluh. "Janganlah menjadi laki-laki yang tidak setia!" '$&k

"Kalau kau cuma menghargai aku, aku malah mencintaimu! Janganlah menuduh sembarang! Pika sudah baikan lumpuhnya. Dia kini bisa menggunakan kursi roda dan..."

"Syukurlah," potong Tesa tak sabar. "Tapi maaf, aku tidak berminat untuk mendengar ten-tang istrimu!"

"Kau harus mendengarnya! Tesa, dia sudah lama menikah dengan Michael dan menetap di Perth!"

"Oh???!" Tesa nyaris melongo saking heran.

"Begitu Michael sudah sembuh dan bisa me-nolongnya, aku disepaknya! Rupanya aku ini tak pernah dibutuhkan olehnya!"

"Kasihan!" ejek Tesa mencibir.

Pasha lebih mendekatkan wajahnya. "Jadi siapa yang mau kau tuduh enggak setia? Coba ulang sekali lagi! Jangan sok mengejek, ya!"

Dengan sikap mengancam diterkamnya kedua pergelangan tangan Tesa, lalu digenggam dan diacung-acungkannya. Tanpa setahu mereka, Aster sudah menyelinap masuk. Melihat kakak-nya terdiam saja sementara Dokter Solem kelihatan begitu mengancam, anak itu berlari kembali mendapatkan ibunya seraya berseru, "Mami! Mami! Kak Tesa bergulat sama Dokter!"

"Kalau dengan Shakira bagaimana?" tanya Tesa setengah berbisik.

Kedua orang itu tidak mendengar kepanikan Aster, sehingga mereka tidak menyadari bahwa di ambang pintu sudah berdiri dua orang pe-nonton.

"Shakira yang mana, sih?!" tanya Pasha sambil meraih kertas resep dan mencari bolpen. Dipukul-pukulnya setiap saku. "Astaga! Rupa-

nya bolpenku masih ketinggalan di kamar Dokter Yusuf! Pinjami aku, Tes."

Ibu Tesa mengerutkan kening mendengar nama anaknya. Kayaknya kok seakan dokter ini

sudah biasa betul memanggil nama itu?!

Tesa menunjuk ke atas meja di samping ranjang tanpa bergerak untuk mengambilkan. Sikap ini juga membuat penonton di ambang pintu

kembali mengerutkan kening.

Di atas tumpukan buku dan majalah terdapat bolpen, pensil, serta karet penghapus.

"Suka mengisi teka-teki silang, nih?" tanya Pasha sambil menarik bolpen.

Tesa tidak menanggapi. Ibunya makin ber-kerut keningnya.

Apa-apaan anak ini?! Enggak biasa-biasanya enggak sopan begitu!

Sebaliknya dari menjawab, didengarnya Tesa bertanya makanan apa yang harus dipantang-nya. Dokter menyebutkan beberapa macam yang terlarang. Aneh. Tesa kedengaran geli ber-campur jengkel.

"Itu semua kan kesukaanku, Pas! Tega kau!"

Aduh, nadanya! pikir ibu Tesa. Dia baru tahu, anaknya punya bakat manja!

"Dan aku kok masih ingat ya apa yang kau-sukai!" Mata yang hitam itu kini menatap dengan tajam. Senyum di sana sudah lenyap walaupun kehangatannya masih terasa.

"Kalau kue dadar bagaimana?" tanya Tesa, tahu-tahu jadi ingin manja sungguhan.

Sudah sintingkah anak ini, pikir ibunya. Sejak kapan dia suka kue dadar?! Bukankah di rumah tak pernah dibuat kue itu?!

"Bikin boleh, makan jangan!"

Nah, nah! Sekarang dokternya pun ikut-ikut-an sin ting!

"Ooi! Kau sentimeh!" seru Tesa sambil memu-kul Pasha, membuat ibunya menahan napas sa-king heran. Apa-apaan ini?! Kok pasien dan dokter bercanda seperti teman sekolah?! Namun matanya langsung ierbuka begitu dia mendengar ocehan Pasha selanjutnya.

"Dua belas kali aku menelepon, selalu ditolak! Eh, enggak tahunya malah bisa langsung masuk ke tempat peraduan tuan putri. Apa itu namanya bukan bintang terang?" tukas Pasha dengan suara girang.

Tahulah dia sekarang siapa dokter ini. Dia langsung menggenggam lengan si bungsu dan menyeretnya pergi. "Yuk, mari, Aster. Jangan kita ganggu mereka. Kakakmu tidak apa-apa. Dia sedang diobati." Dan pintu dirapatkannya.

"Jangan senang-senang dulu!" ancam Tesa.

"Hm. Kenapa? Tak mungkin kau akan bisa menolak diriku lagi. Apa alasanmu? Aku kan masih bujangan?! Dan belum pernah enggak se-tia!"

"Kalau dengan Shakira, gimana?" "Shakira lagi! Shakira lagi! Siapa sih monyet itu?"

"Itu, lho! Istrinya Goffar!"

"Oh, yang anaknya tempo hari kaubawa untuk opname? Yah! Kalau dia, gimana, ya?! Katanya dia sudah disuruh bercerai oleh ayahnya. Sang ayah ini katanya rindu sekali ingin punya menantu dokter. Terakhir, dia menawari aku kursi DPR. Ah, buat apa aku main-main di DPR? Kalau dia bisa menawarkan kursi direktur rumah sakit, nah, itu baru akan kupertimbang-kan dengan serius! Aku belum menolaknya, kok!"

"Memangnya peduli apa aku, kau menolaknya atau tidak!"

"Tentu saja kau tidak diharuskan peduli!" sa-hut Pasha kalem dengan alis terangkat tinggi, namun matanya masih tetap tersenyum. "Perempuan itu memang hebat sekali. Sendirian ke mana-mana mewakili ayahnya yang rupanya kebanyakan cuma sibuk main golf dengan penggede."

"Eh?!"

"Waktu anaknya sakit tempo hari, untung sekali kebetulan ada kau! Dia sendiri katanya sedang di luar kota meresmikan kantor cabang, sedangkan ayahnya masih di New York untuk urusan bisnis juga. Dinamis sekali Shakira itu! Gesit! Sebat!"

"Oh?!" Tesa begitu tercengang mendengar cerita Pasha sampai untuk beberapa saat dia tak mampu berkata-kata. Sungguh hebat sekali lidah Shakira memutarbalikkan fakta sampai*< sampai Pasha pun memuji dirinya! Gesit?! Hm

Kerja kantor tak mau, kerja di rumah pun ogah!

Mewakili ayah?! Hm. Hm. Siapa yang sudah-tidak diakui anak dulu itu?!

Ketika akhirnya dia bisa bersuara, Tesa me-mutuskan untuk tidak mengatakan perihal keadaan Shakira yang sebenarnya.

"Jadi itu yang dikatakannya padamu? Dia enggak bilang kenapa aku sampai membawa anaknya ke rumah sakit?!"

"Ya, aku juga memang sudah lama ingin tahu sebabnya! Apa kau kebetulan sedang bertamu pada Goffar mumpung tahu istrinya di luar kota?!"

Tesa meringis mendengar tuduhan yang mirip fitnah itu. "Nanti deh, aku ceritakan semua-nya! Sekarang aku lagi enggak ingin. Aku eng: gak bergairah menjelek-jelekkan sesama perempuan! Salah-salah disangka orang, aku cemburu! Atau mau membuat engkau putus dengannya!"

"Astaga! Tesa, dungu betul kau ini! Kaukira aku belum menyadari siapa Shakira itu?! Perempuan itu mungkin agak sinting. Yang jelas, dia rupanya tergila-gila padaku! Hampir setiap pagi dia menelepon ke klinik, sampai-sampai aku jadi bulan-bulanan rekan-rekan dan perawat! 'Pas, apa kabar nonimu? Tadi pagi kata Suster Rani dia sudah hampir mewek di telepon men-cari-cari kau! Sudah lama minggat, ya! Pulang dong, kan kasihan anak orang!' Uh! Macam-macam deh olok-olok mereka. Aku disangka ada main dengan janda kaya! Padahal sebenar-

300

nya aku tak pernah meladeninya. Sekali pun belum pernah aku sambuti teleponnya! "

"Apa iya?" tanya Tesa mencibir. "Menurut dia sih, kau ini sudah naksir dia benaran, deh. Katanya, kau kepincuk oleh kekayaan ayahnya! Padahal seingatku, ayahnya sih kaya biasa-biasa saja. Artinya, enggak ada hubungan dengan DPR segala macam! Eh, kok aku jadi banyak mulut?! Salah-salah nanti dikira mau menjelek-kan orang lain!"

Pasha ketawa. "Rupanya memang, ya!"

"Eh? Mau fitnah?"

"Habis! Menurut pengakuannya sendiri, ayahnya itu teman main menteri-menteri, bankir-bankir, dan orang-orang gedean lainnya. Ayahnya punya usaha juga di luar negeri. Pendek-nya, menurut dia, sang ayah itu salah satu juta-wan paling top di republik kita ini! Ha, ha, ha! Makanya dengan gampang dia tawarkan kursi DPR! Berapa saja mau, pasti dapat! Dan kau bilang... ha, ha, ha! Dia biasa-biasa saja?!"

Tesa ikut ketawa setelah mengerti maksud Pasha. "Sudah, ah! Jangan mempercakapkan orang lain! Enggak baik. Aku sudah senang bahwa semua itu rupanya cuma khayalan Shakira belaka. Tadinya aku sangka, kau sudah..." Suara Tesa mengandung kelegaan. "Sudah apa?" sambung Pasha menuntut. Tesa cuma menggeleng. Pasha tidak memak-

sa.

"Nah, jadi persoalan Shakira sudah terang. Urusan kita pun beres, bukan?"

"Enggak segampang itu!" sahut Tesa pelan.

"Eh, kenapa lagi? Apa alasanmu masih mau menolak aku sekarang? Aku kan masih bujang-an?r

"Itu salahmu sendiri! Jangan salahkan aku! Nah, memang kenapa sih kau belum kawin?"

"Aku menunggumu. Sekarang setelah kita ketemu lagi, tentunya kita akan rujuk, bukan? Kau juga menungguku, kan?" . - vi~

"Ti... dak!" bantah Tesa gugup mendadak.

"Jangan bohong! Lalu kenapa kau belum juga menikah?"

Tesa mengelakkan tatapan yang menyelidik itu. Bibirnya tiba-tiba menggeletar seperti ngeri.

"Entahlah. Rasanya... aku... tak... berani... pa-caran lagi! Selalu jadi malapetaka. Aku rasa, aku tak sanggup pacaran denganmu lagi!"

"Tesa!" seru Pasha dengan tegas, lalu meme-gang dagunya untuk memaksa gadis itu menatapnya kembali. "Kita tidak akan pacaran!"

"Oh?!"

"Kita akan segera meni..."

"Kak Tesa," tiba-tiba terdengar suara Aster dari luar kamar, "pacarmu datang!"

Bersamaan dengan itu, daun pintu terkuak dan... Tesa serta Pasha sama-sama menoleh. Gadis itu melongo melihat Bos menyeruduk masuk dengan sebuah buket mawar merah dalam tangannya. Wajahnya seketika menjadi pucat.

Dia tambah gelisan^eBKa inendapati Pasha me-

lirik Bos dan dirinya bergantian dengan tajam.

Hm. Jadi inikah gajah dungkul yang tempo hari memaki-maki aku di telepon?! pikir Pasha sambil mengukur orang itu dari atas sampai ke sepatu Bally di lantai. Hm. Dasinya sih memang ' bagus, sayang tubuhnya kegendutan, jadi ke-banting dipakai olehnya. Rambutaya yang dibe-lah di tengah masih kelihatan rapi walaupun hari sudah malam, berkat Tancho atau pomade merek lain. Sayang kumisnya terlalu jarang seperti tanaman yang tidak terawat, masih lebih bagus kumis kucing!

"Halo, Tesa, sayangku! Bagaimana keadaan-mu hari ini? Aku lihat wajahmu cerah sekali! Ini mawar merah untukmu, tanda... eh, masih ada dokter!" Bos berseru heran seakan baru saja melihat ada orang lain di situ. Diletakkannya buketnya di atas meja, lalu dipandangnya Dokter Solem.

"Bagaimana keadaan tun... eh, keadaannya, Dokter... ehem?"

Pasha tidak mau menyebutkan namanya. Dia langsung saja mengatakan sepintas lalu mengenai penyakit pasiennya, seakan itu rahasia jabat-an yang tak berhak diketahui orang yang tidak jelas kepentingannya.

"Syukurlah. Jadi tidak berbahaya, kan?" ka.ta Bos yang tidak menyadari bahwa orang. kurang senang padanya. "Soalnya, Dok, Tesa ir^ajiu^

Lalu seakan sudah kebiasaan, dia mau duduk di pinggir ranjang, tapi dengan sigap namun tak kentara. Pasha sudah mendahului. Dia purpura mengambil kembali kertas resep yang ter-letak d\ samping Tesa. Di belakangnya. Bos menunggu dokter itu bangun untuk menulis resep di tempat lain. Namun dokter itu pun ngotot tak mau berlalu.

Ketika Bos masih juga berdiri mematung di situ, Dokter Solem akhirnya menoleh dan ber-kata dengan sopan namun tegas, "Silakan Anda menunggu di ruang tamu saja, Pak. Saya belum selesai memeriksa... ehem... calon... istri Anda!"

"O ya, ya, baik, baik!" Dengan patuh ayam jago itu menyingkir. Mana dia mimpi, bahwa untuk selamanya dia takkan punya izin lagi untuk masuk kembali ke situ?!

Begitu pintu sudah tertutup, Pasha mendesis garang dengan mata bersinar tajam. "Aku tidak mau tahu bagaimana caranya! Tapi kau harus bisa melepaskan diri dari jago yang satu itu. Kalau perlu, Tes, sore ini juga kau berhenti kerja!"

Dan komando yang begitu eksplisit mana mungkin bisa dibantah?!

Sekian

0 Response to "Tesa"

Post a Comment