Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Seratus Tahun Kesunyian II

Mendengar hal itu, si bocah menjadi lebih tertarik lagi pada alkemi. Dia berpikir

bahwa, dengan sedikit kesabaran, dia dapat mengubah apa saja menjadi emas. Dia

membaca riwayat hidup macam-macam orang yang telah berhasil melakukan hal

itu: Helvelius, Elias, Fulcanelli, dan Geber. Kisah-kisah mereka menakjubkan:

setiap orang dari mereka menjalani Legenda Pribadi mereka sampai selesai.

Mereka berkelana, bicara dengan orang-orang bijak, menunjukkan mukjizat-

mukjizat kepada yang ragu, dan memiliki Batu Filsuf dan Obat Hidup.

Tapi saat si bocah ingin mempelajari cara meraih Karya Agung, dia benar-benar

bingung. Di situ hanya ada gambar-gambar, kode-kode instruksi, dan tullsan-tulisan

yang kabur.

bertanya pada orang Inggris

suatu malam. Dilihatnya orang itu kesal, dan tidak memahami buku-bukunya.

"Supaya mereka yang bertanggung jawab untuk memahaminya bisa memahami,"

katanya "Bayangkan jika setiap orang berkeliling mengubah timah menjadi emas.

Emas akan kehilangan harganya.

"Hanya orang-orang gigih, dan mau mempelajari hal-hal dengan sungguh-sungguh,

yang dapat meraih Karya Agung. Itulah sebabnya aku ada di sini, di tengah-tengah

gurun ini. Aku mencari seorang alkemis sejati yang mau membantuku mengurai

kode-kode itu."

"Kapan buku-buku ini ditulis?" tanya si bocah.

"Beberapa abad yang lalu."

"Waktu itu belum ada mesin cetak,"sanggah si bocah. "Tidak akan ada seorang pun

yang bisa paham tentang alkemi. Mengapa mereka memakai bahasa yang begitu

aneh, dengan begitu banyak gambar?"

Orang Inggris itu tidak langsung menjawab. Dia berkata selama beberapa hari

terakhir ini dia memperhatikan bagaimana karavan itu berjalan, tapi dia tidak

belajar sesuatu yang baru. Satu-satunya hal yang dia perhatikan adalah bahwa

pembicaraan tentang perang semakin sering terjadi.

kepada orang Inggris itu.

"Pelajaran apa yang kamu dapat?" dia bertanya, penasaran ingin tahu. Dia perlu

berbincang dengan seseorang untuk menghindar dari berpikir tentang kemungkinan

perang.

"Aku belajar bahwa dunia mempunyai jiwa, dan bahwa siapapun yang memahami

jiwa itu dapat juga memahami bahasa benda-benda. Aku belajar bahwa banyak

alkemis menyadari Legenda Pribadi mereka, dan menyelesaikan pencarian Jiwa

Buana, Batu Filsuf, dan Obat Hidup.

"Tapi, terutama, aku belajar bahwa hal-hal ini sangat sederhana sehingga

semuanya dapat ditulis di atas permukaan zamrud."

Orang Inggris itu kecewa. Bertahun-tahun penelitian, simbol-simbol magis, istilah-

istilah asing dan peralatan laboratorium.., tak satu pun dari hal-hal ini yang

mengesankan si bocah. Jiwanya pastilah terlalu primitif untuk memahami hal-hal

seperti itu, pikirnya.

Dia mengambil kembali buku-bukunya dan memasukkan lagi ke dalam tas-tasnya.

"Kembali ke pengamatan karavan," katanya. "Itu juga tidak mengajarkan apa-apa

padaku."

Si bocah kembali merenungkan kesunyian gurun, dan pasir-pasir yang terbuncah

oleh hewan-hewan. "Setiap orang mempunyai caranya sendiri dalam mempelajari

sesuatu," katanya membatin. "Cara dia tidak sama dengan caraku, dan sebaliknya.

Tapi kami berdua sedang mencari Legenda Pribadi kami, dan untuk itu aku

menghormatinya."

orang Badui yang

berkerudung semakin sering muncul, dan si penunggang onta --yang telah menjadi

teman baik si bocah-- menjelaskan bahwa perang suku sudah dimulai. Karavan itu

akan sangat beruntung jika bisa mencapai oasis.

Hewan-hewan sudah kelelahan, dan orang-orang semakin jarang berbincang.

Kesunyian adalah aspek terburuk dari malam itu, saat sekadar erangan onta pun --

radikal collection

yang sebelumnya tak berarti apa-apa selain suatu erangan onta-- sekarang

menakutkan setiap orang, karena mungkin saja itu tanda adanya serangan.

Namun si penunggang onta tampak tak terlalu pusing dengan ancaman perang itu.

"Aku hidup," katanya pada si bocah, saat mereka makan seikat kurma suatu

malam, tanpa api unggun dan tanpa bulan. "Saat aku makan, yang kupikirkan ya

cuma makan, Bila aku sedang berbaris, aku hanya berkonsentrasi pada baris. Kalau

aku harus bertempur, itu adalah hari yang sama baiknya untuk mati seperti semua

hari lain.

"Karena orang tidak hidup di masa lalu ataupun masa depan. Aku hanya tertarik

pada masa kini. Bila kau dapat selalu konsentrasi pada masa kini, kau akan

menjadi orang yang bahagia. Kau akan tahu ada kehidupan di gurun, bahwa ada

bintang-bintang di langit, dan bahwa pertempuran suku ini karena mereka bagian

dari ras manusia. Hidup akan menjadi pesta bagimu, suatu festival besar, karena

kehidupan adalah momen kita hidup saat ini."

Dua malam kemudian, ketika dia bersiap tidur, si bocah mencari bintang yang

mereka ikuti setiap malam. Dia merasa cakrawala agak lebih indah dari

semestinya, karena dia seakan menyaksikan bintang-bintang di permukaan gurun

itu sendiri.

"Itulah oasisnya," kata penunggang onta.

"Oh, ya? Kalau begitu mengapa kita tidak ke sana sekarang saja?" tanya si bocah.

"Karena kita harus tidur."

DI depannya, tempat

bintang-bintang kecil berada tadi malam, adalah deretan pohon kurma yang tak

berujung, merentang sepanjang gurun.

"Kita berhasil!" kata orang Inggris itu, yang juga bangun pagi.

Tapi si bocah diam saja. Dia betah dengan kesunyian gurun, dan dia puas hanya

dengan melihat pohon-pohon itu. Dia masih harus menempuh perjalanan jauh ke

radikal collection

piramida, dan suatu hari kelak pagi ini hanya akan menjadi sepotong kenangan.

Tapi ini adalah momen saat ini --pesta yang disebut-sebut si penunggang onta--

dan dia ingin menjalaninya seperti dia menjalani pelajaran-pelajaran masa lalunya

dan impian-impian masa depannya. Meski pemandangan pohon kurma ini suatu hari

nanti hanya akan menjadi kenangan, saat ini ia berarti keteduhan, air, dan suatu

pengungsian dari perang. Kemarin, erangan onta menandakan bahaya, dan

sekarang sederet pohon kurma melambangkan suatu keajaiban.

Dunia memang berbicara dengan banyak bahasa, pikir si bocah.

karavan, pikir alkemis itu,

ketika dia melihat ratusan orang dan hewan tiba di oasis. Orang-orang berteriak

pada para pendatang baru, debu mengaburkan matahari gurun, dan anak-anak di

oasis itu meluap kegirangan melihat kedatangan orang-orang asing tadi. Alkemis itu

melihat para kepala suku menyambut pemimpin karavan, dan berbincang lama

dengannya.

Tapi tak ada yang mengesankan alkemis itu. Dia sudah sering melihat orang-orang

datang dan pergi, dan gurun tetap saja seperti ini. Dia pernah melihat raja-raja

dan para pengemis menapaki pasir gurun itu. Bukit-bukit pasir berubah tanpa henti

oleh angin, toh tetap saja sama seperti pasir-pasir yang dikenalnya sejak dia masih

kecil. Dia selalu senang melihat kebahagiaan yang dirasakan para pengembara

ketika, setelah berminggu-minggu memandang pasir kuning dan langit biru, untuk

pertama kalinya mereka menyaksikan hijaunya pelepah kurma. Mungkin Tuhan

menciptakan gurun agar manusia bisa menghargai pohon kurma, pikirnya.

Dia memutuskan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang lebih praktis.

Dia tahu di karavan itu ada seseorang yang akan diajarinya beberapa rahasianya.

Pertanda sudah memberitahu dia. Dia belum tahu siapa orang itu, tapi mata

terlatihnya akan mengenali orang tersebut saat ia muncul. Dia berharap orang itu

secakap muridnya yang terdahulu.

Aku tidak tahu mengapa hal-hal ini harus disampaikan dengan kata-kata mulut,

pikirnya. Sebenarnya tidak ada yang terlalu rahasia; Tuhan mengungkapkan

rahasia-rahasianya dengan mudah kepada segenap ciptaanNya.

radikal collection

Dia hanya mempunyai satu penjelasan untuk kenyataan ini: segala hal harus

disampaikan dengan cara itu karena mereka terbuat dari kehidupan murni, dan

kehidupan jenis ini tidak dapat ditangkap dengan gambar atau kata-kata.

Karena orang-orang menjadi terpesona dengan gambar dan kata-kata, mereka

akhirnya lupa pada Bahasa Buana.

: oasis itu, lebih dari

sekadar sebuah sumur yang dikelilingi segelintir pohon pelem --seperti yang pernah

dia lihat di satu buku geografi-- ternyata lebih besar daripada kota-kota di Spanyol

sana. Di sana ada tigaratus sumur, limapuluh ribu pohon kurma, dan tenda warna-

warni tak terhitung banyaknya yang tersebar di antaranya.

"Seperti Seribu Satu Malam saja," kata si orang Inggris itu, tak sabar ingin

bertemu dengan sang alkemis.

Mereka dikerumuni anak-anak, yang penasaran ingin melihat hewan-hewan dan

orang-orang yang datang. Para pria di oasis itu ingin tahu apakah mereka melihat

ada pertempuran, dan perempuan- perempuannya saling berebut untuk melihat

pakaian dan batu-batu berharga yang dibawa para pedagang, Kesunyian gurun

menjadi mimpi yang jauh; para pengembara dalam karavan itu bicara tanpa henti,

terbahak dan berteriak, seakan mereka baru muncul dari alam gaib dan sekali lagi

mendapati diri berada di dunia manusia. Mereka merasa lega dan bahagia.

Mereka bersikap waspada di gurun, tapi penunggang onta menjelaskan pada si

bocah bahwa oasis selalu dianggap sebagai wilayah netral, karena mayoritas

penduduknya adalah perempuan dan anak-anak. Ada banyak oasis di seantero

gurun itu, tapi warga suku melakukan pertempuran di gurun, membiarkan oasis-

oasis itu menjadi tempat pengungsian.

Dengan agak susah pemimpin karavan mengumpulkan semua pengikutnya dan

menyampaikan perintah-perintahnya kepada mereka. Kelompok itu akan tinggal di

oasis sampai perang suku selesai. Karena mereka tamu, maka mereka harus

menumpang tinggal di tempat orang-orang yang menetap di sana, dan akan diberi

akomodasi terbaik. Begitulah aturan keramahan yang berlaku. Kemudian dia

radikal collection

menyuruh semua orang, termasuk para pengawalnya sendiri, untuk menyerahkan

senjata-senjata mereka kepada orang-orang yang ditunjuk oleh para kepala suku.

"Begitulah aturan perang," pemimpin itu menjelaskan: "Oasis bukan tempat

berteduh buat pasukan atau serdadu."

Si bocah terkejut melihat orang Inggris itu mengeluarkan pistol bersepuh perak

dari tasnya dan menyerahkannya pada orang-orang yang mengumpulkan senjata.

"Mengapa harus bawa pistol?" tanyanya.

"Supaya aku bisa mempercayai orang," jawab lelaki Inggris itu.

Sementara itu, si bocah memikirkan harta karunnya. Makin dekat ia

keperwujudan mimpinya, makin sulit keadaan terasa. Seolah apa yang disebut raja

tua itu "kemujuran pemula" tak berlaku lagi. Dalam mengejar impiannya, dia harus

terus tunduk pada ujian kegigihan dan keberanian. Jadi dia tidak boleh terburu-

buru, jangan tak sabaran. Bila dia mendesak maju karena dorongan hati, dia akan

gagal melihat tanda-tanda dan pertanda yang ditinggalkan oleh Tuhan di sepanjang

jalannya.

Tuhan meletakkan mereka di sepanjang jalanku. Dia sendiri dulu terkejut dengan

pikiran itu. Sampai waktu itu, dia menganggap pertanda merupakan hal-hal lumrah

di dunia ini. Seperti makan atau tidur, atau seperti mencari cinta atau mendapat

pekerjaan. Dia tidak pernah berpikir tentang pertanda-pertanda itu sebagai suatu

bahasa yang digunakan oleh Tuhan untuk menunjukkan apa yang seharusnya dia

lakukan.

"Jangan tak sabaran," dia mengulang-ulang kepada diri sendiri. "Seperti yang

dikatakan penunggang onta itu: 'Makanlah pada saatnya makan. Dan jalanlah terus

di saat harus terus berjalan.'"

Pada hari pertama itu, semua orang tidur karena kelelahan, termasuk si orang

Inggris. Si bocah disediakan tempat yang jauh dari temannya itu, di sebuah tenda

bersama lima remaja lain yang kira-kira sebayanya. Mereka adalah anak-anak

gurun, dan terpukau mendengar ceritanya tentang kota-kota besar.

radikal collection

Si bocah menuturi mereka kisah hidupnya sebagai gembala, dan baru mau

menceritai mereka pengalaman-pengalamannya di toko kristal itu saat orang

Inggris itu masuk ke dalam tenda.

"Kucari-cari kau sepanjang pagi," katanya, ketika dia menuntun si bocah keluar.

"Aku perlu bantuanmu untuk mencari tahu di mana sang alkemis itu tinggal."

Semula mereka mencoba mencarinya sendiri. Seorang alkemis tentu hidup dengan

cara yang berbeda dari semua orang lain di oasis itu, dan pastilah di tendanya ada

tungku yang terus menyala. Mereka mencari ke mana-mana, lalu sadar bahwa oasis

itu jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan; ada ratusan tenda di sana.

"Kita sudah buang waktu hampir seharian," kata si orang Inggris, sambil duduk

bersama si bocah di dekat sebuah sumur.

"Mungkin sebaiknya kita tanya orang," saran si bocah.

Lelaki Inggris itu tidak ingin ada orang lain tahu alasan : kehadirannya di oasis ini,

dan masih pikir-pikir. Tapi, akhirnya, dia setuju pada saran si bocah, yang mampu

berbahasa Arab lebih baik daripada dia. Si bocah mendekati seorang perempuan

yang mendatangi sumur untuk mengisi kantong kulit kambingnya dengan air.

"Selamat sore, Bu. Aku sedang mencari tempat tinggal alkemis di oasis ini."

Perempuan itu berkata dia tidak pernah mendengar tentang orang semacam itu,

dan bergegas menjauh. Tapi sebelum dia pergi, dia menasihati si bocah supaya

jangan coba-coba bercakap-cakap dengan perempuan yang berpakaian hitam,

karena mereka wanita yang sudah menikah. Dia harus menghormati adat.

Orang Inggris itu kecewa. Agaknya sia-sia saja dia menempuh perjalanan yang

panjang ini. Si bocah juga sedih; temannya sedang mencari Legenda Pribadinya.

Dan, saat seseorang sedang berada dalam pencarian semacam itu, segenap alam

semesta berusaha membantunya meraih sukses --begitulah yang dikatakan sang

raja tua. Dia tak mungkin salah.

radikal collection

"Aku belum pernah mendengar tentang para alkemis," kata si bocah. "Mungkin

orang sini pun belum ada yang pernah dengar."

Mata lelaki Inggris itu melotot. "Sudahlah! Mungkin orang sini juga tidak ada yang

tahu apa itu alkemis! Cari saja siapa yang menyembuhkan penyakit-penyakit

orang!"

Beberapa perempuan berpakaian hitam mendatangi sumur untuk mengambil air,

tapi si bocah tidak akan bicara dengan mereka, meski orang Inggris itu mendesak.

Lalu seorang pria mendekat.

"Apakah Bapak tahu orang yang menyembuhkan penyakit-penyakit orang di sini?"

tanya si bocah.

"Allah yang menyembuhkan penyakit-penyakit kami," jawabnya, jelas kelihatan

takut pada orang-orang asing itu. "Kalian sedang mencari dukun." Dia mengutip

beberapa ayat Quran, lalu terus jalan.

Seorang lelaki lain muncul. Dia lebih tua, dan membawa ember kecil. Si bocah

mengulangi pertanyaannya.

"Mengapa kamu ingin bertemu dengan orang seperti itu?" tanya orang Arab tadi.

"Karena temanku ini sudah berkelana berbulan-bulan untuk bertemu dengannya,"

kata si bocah.

"Kalau ada orang seperti itu di oasis ini, dia pastilah orang yang sangat kuat," kata

pria tua itu setelah berpikir sejenak. "Kepala-kepala suku pun tidak dapat

menemuinya saat mereka ingin ketemu. Hanya bila dia setuju.

"Tunggulah sampai perang berakhir Kemudian pergilah dengan karavan. Jangan

coba-coba masuk ke dalam kehidupan oasis ini," katanya, lalu melangkah pergi.

Tapi orang Inggris itu gembira. Mereka berada di jalan yang benar.

radikal collection

Akhirnya, seorang perempuan muda yang tidak berpakaian hitam mendekat. Dia

memhawa bejana di bahunya, dan kepalanya tertutup kerudung, tapi wajahnya

terbuka. Si bocah mendekatinya untuk bertanya tentang alkemis itu.

Saat itulah si bocah merasa waktu berhenti, dan Jiwa Buana menyentak dari

dalam dirinya. Ketika dia menatap mata hitam gadis itu, dan melihat bibirnya

bersikap antara tertawa dan diam, dia mengerti bagian terpenting dari bahasa

yang digunakan oleh seluruh dunia --bahasa yang bisa dipahami oleh setiap orang

di bumi dengan hati mereka. Itulah cinta. Sesuatu yang lebih tua dari umat

manusia, lebih purba dari gurun. Sesuatu yang menggunakan daya yang sama

kapanpun dua pasang mata bertemu, seperti rnata mereka kini dan di sini, di

sumur ini. Gadis itu tersenyum, dan itu pastilah sebuah pertanda --pertanda yang

telah dinantinya, bahkan tanpa dia sadari bahwa dia menantinya, sepanjang

hidupnya. Pertanda yang dicarinya bersama dengan domba-dombanya dan dalam

buku-bukunya, dalam kristal-kristal dan dalam kesunyian gurun.

Itulah Bahasa Buana yang murni. Ia tidak membutuhkan penjelasan, sebagaimana

alam semesta tak memerlukan apapun saat berjalan melewati waktu yang tiada

akhir. Apa yang dirasakan si bocah pada saat itu adalah bahwa dia berada di

hadapan satu-satunya perempuan dalam hidupnya, dan bahwa, tanpa perlu kata-

kata, gadis itu rnerasakan hal yang sama. Dia lebih yakin pada hal itu daripada

terhadap apapun di dunia ini. Dia pernah diberitahu oleh orangtua dan kakek-

neneknya bahwa dia harus jatuh cinta dan benar-benar mengenal seseorang

sebelum terikat Tapi mungkin orang-orang yang merasakannya tidak pernah

memahami bahasa universal ini. Karena, jika kita memahami bahasa itu, mudahlah

untuk mengerti bahwa seseorang di dunia menanti kita, entah di tengah gurun atau

di kota besar. Dan saat dua orang itu berjumpa, dan mata mereka bertemu, masa

lalu dan masa depan menjadi tak penting. Yang ada hanyalah momen itu, dan

kepastian yang ajaib bahwa segala yang ada di langit dan di bumi telah dituliskan

oleh tangan yang esa. Itulah tangan yang menimbulkan cinta, dan menciptakan

suata jiwa kembar bagi setiap orang di dunia. Tanpa cinta seperti itu, impian-

impian seseorang akan tak bermakna.

Maktub, pikir si bocah.

radikal collection

Orang Inggris itu mengejutkan si bocah: "Ayo cepat, tanya dia!"

Si bocah mendekati gadis itu, dan ketika sang gadis tersenyum, dia pun

tersenyum.

"Siapa namamu?" dia bertanya.

"Fatima," kata gadis itu, memalingkan wajah.

"Di negeriku banyak perempuan yang bernama itu."

"Itu nama puteri Nabi," kata Fatima. "Para penyerbu membawa nama itu ke mana-

mana." Gadis cantik itu berucap tentang penyerbu dengan bangga.

Orang Inggris itu menyenggolnya, dan si bocah bertanya pada sang gadis tentang

orang yang menyembuhkan penyakit-penyakit manusia.

"Dialah orang yang mengetahui semua rahasia dunia," katanya. "Dia berkomunikasi

dengan para jin di gurun."

Jin-jin itu adalah roh-roh baik dan jahat. Dan gadis menunjuk ke arah selatan,

mengisyaratkan bahwa di sanalah orang asing itu tinggal. Lalu dia mengisi

bejananya dengan air dan pergi.

Si orang Inggris juga menghilang, pergi untuk mencari alkemis itu. Dan si bocah

terduduk lama di sana, di dekat sumur, mengingat suatu hari di Tarifa ketika angin

levanter membawa wangi perempuan itu, dan sadar bahwa dia telah mencintai

gadis tadi bahkan sebelum dia tahu gadis itu ada. Dia tahu cintanya pada gadis itu

akan memungkin-

kannya menemukan setiap harta di dunia.

Keesokan harinya, si bocah kembali ke sumur, berharap bertemu dengan sang

gadis. Kagetlah dia melihat lelaki Inggris itu ada di sana, sedang memandangi

gurun.

radikal collection

"Siang dan malam aku menunggu," katanya. "Dia muncul bersamaan dengan

bintang-bintang pertama malam. Kukatakan padanya apa yang sedang kucari, dan

dia bertanya padaku apakah aku pernah mengubah timah menjadi emas. Kubilang

bahwa aku datang ke sini justru untuk mempelajarinya.

"Dia menyuruhku mencobanya. Cuma itu yang dikatakannya: 'Pergilah dan

cobalah'."

Si bocah diam saja. Orang Inggris malang ini telah berkelana sampai ke sini,

hanya untuk diberitahu bahwa dia harus mengulang apa yang telah begitu sering

dilakukannya.

"Kalau begitu, coba saja," katanya pada orang Inggris itu.

"Itulah yang mau kulakukan. Aku akan mulai sekarang."

Ketika orang Inggris pergi, Fatima datang dan mengisi bejananya dengan air.

"Aku datang untuk memberitahu satu hal padamu," kata si bocah. "Aku ingin kamu

menjadi isteriku. Aku mencintaimu."

Bejana gadis itu terjatuh, dan airnya tumpah.

"Aku akan menunggumu di sini setiap hari. Aku telah menyeberangi gurun untuk

mencari suatu harta yang berada di satu tempat dekat Piramida, dan bagiku,

perang itu tampak seperti kutuk. Tapi sekarang ia adalah rahmat, karena ia

membawa diriku padamu."

"Perang akan berakhir suatu hari," kata gadis itu.

Si bocah melihat pelepah-pelepah kurma di sekitar. Dia mengingatkan dirinya

sendiri bahwa dia pernah menjadi seorang gembala, dan dia dapat kembali

menjadi gembala. Fatima lebih penting daripada hartanya.

"Warga-warga suku selalu mencari harta," kata gadis itu, seakan bisa membaca

apa yang sedang dipikirkan si bocah. "Dan perempuan-perempuan gurun bangga

pada pria suku mereka."

radikal collection

Dia mengisi kembali bejananya dan pergi."

Si bocah pergi ke sumur itu setiap hari untuk bertemu dengan Fatima. Dia

menceritakan pada sang gadis tentang hidupnya sebagai gembala, tentang raja itu,

dan tentang: toko kristal. Mereka menjadi teman, dan selain limabelas menit yang

dihabiskannya dengan gadis itu, tiap hari waktu seolah tak pernah beranjak. Ketika

dia sudah berada di oasis itu hampir satu bulan, pemimpin karavan mengundang

semua orang yang ikut rombongannya untuk rapat.

"Kita tidak tahu kapan perang akan berakhir, jadi kita tidak dapat meneruskan

perjalanan," katanya. "Pertempuran ini mungkin masih lama, barangkali tahunan.

Kedua pihak sama-sama kuat, dan pertempuran ini penting bagi pasukan perang

keduanya. Ini bukan pertarungan antara baik melawan jahat. Ini perang antara

kekuatan-kekuatan yang bertarung untuk mencapai keseimbangan kekuasaan, dan

bila perang seperti ini mulai, selesainya lebih lama dari perang-perang yang lain --

karena Allah berada di kedua pihak."

Orang-orang kembali ke tempat mereka tinggal, dan si bocah pergi untuk

menemui Fatima sore itu. Dia menceritakan padanya mengenai pertemuan tadi

pagi. "Sehari setelah kita bertemu," kata Fatima, "kamu bilang kamu mencintaiku.

Kemudian kamu mengajariku sesuatu tentang bahasa universal dan Jiwa Buana.

Karena itulah, aku menjadi bagian dari dirimu."

Si bocah mendengarkan nada suara gadis itu, dan merasakannya lebih indah

daripada suara angin di pelepah kurma.

"Aku telah menunggumu di sini di oasis ini sejak dulu. Aku telah melupakan masa

laluku, adat istiadatku, dan cara lelaki gurun mengharapkan perempuannya

berperilaku. Sejak masih kecil, aku telah memimpikan bahwa gurun akan

memberiku hadiah yang indah. Kini hadiahku telah tiba, dan itu adalah kamu."

Si bocah ingin menggenggam tangan gadis itu. Tapi tangan Fatima memegang

gagang kendi.

"Kamu telah menceritakan mimpi-mimpimu, tentang raja tua dan hartamu. Dan

kamu telah memberitahuku tentang pertanda. Jadi sekarang, aku tidak takut

radikal collection

apapun, karena pertanda itulah yang telah membawa dirimu kepadaku. Dan aku

adalah bagian dari mimpimu, bagian dari Legenda Pribadimu, seperti katamu.

"Itulah sebabnya aku ingin kamu terus menuju cita-citamu. Bila kamu harus

menunggu sampai perang selesai, tunggulah. Tapi bila kamu harus pergi

sebelumnya, teruskan pencarian mimpimu. Bukit-bukit pasir berubah oleh angin,

tapi gurun tak pernah berubah. Begitulah yang akan terjadi dengan cinta kita.

"Maktub," kata gadis itu. "Bila aku sungguh-sungguh bagian dari mimpimu, kamu

akan kembali suatu hari."

Si bocah merasa sedih saat dia meninggalkan sang gadis hari itu. Dia memikirkan

semua gembala yang menikah yang dikenalnya. Mereka mengalami saat-saat yang

sulit untuk meyakinkan isteri-isteri mereka bahwa mereka harus pergi ke ladang-

ladang yang jauh. Cinta menuntut mereka untuk tinggal bersama orang-orang yang

mereka cintai.

Dia memberi tahu Fatima tentang hal itu, pada pertemuan berikutnya.

"Gurun mengambil para lelaki kami dari kami, dan mereka tidak selalu kembali,"

katanya. "Kami tahu itu, dan kami terbiasa dengannya. Mereka yang tidak kembali

menjadi bagian dari awan, bagian dari hewan-hewan yang bersembunyi di jurang-

jurang dan dari air yang keluar dari bumi. Mereka menjadi bagian semuanya..,

mereka menjadi Jiwa Buana.

"Beberapa memang kembali. Dan kemudian perempuan- perempuan lainnya

gembira karena mereka percaya suami-suami mereka pun akan kembali suatu hari

nanti. Aku terbiasa melihat para perempuan itu dan iri pada kebahagiaan mereka.

Sekarang, aku juga akan menjadi salah satu dari perempuan-perempuan yang

menunggu.

"Aku ini perempuan gurun, dan aku bangga akan hal itu. Aku ingin suamiku

berkelana sebebas angin yang membentuk bukit-bukit pasir. Dan, jika terpaksa,

aku akan terima kenyataan bahwa dia telah menjadi bagian dari awan, dan hewan-

hewan, dan air gurun."

radikal collection

Si bocah pergi mencari orang Inggris itu. Dia ingin menceritakan padanya tentang

Fatima. Dia kaget melihat orang Inggris itu membangun sendiri tungku perapian di

luar tendanya. Itu adalah tungku yang aneh, dihidupi oleh kayu bakar, dengan

botol transparan memanas di atasnya. Saat lelaki Inggris itu memandang ke gurun,

matanya tampak lebih berbinar dibanding saat dia sedang membaca buku-bukunya.

"Ini adalah tahap pertama dari pekerjaan ini," katanya. "Aku harus memisahkan

sulfurnya. Untuk melakukannya dengan sukses, aku tidak boleh merasa takut gagal.

Perasaan takut gagal itulah yang dulu menahanku mencoba Karya Agung. Sekarang

aku sedang memulai apa yang seharusnya kumulai sepuluh tahun lalu. Tapi

setidaknya aku

bahagia karena tidak harus menunggu duapuluh tahun."

Dia terus menyalakan tungku, dan si bocah tinggal sampai gurun memerah jambu

dengan terbenamnya matahari. Dia merasakan desakan untuk pergi ke tengah

gurun, untuk mengetahui adakah kesunyiannya menyimpan jawaban untuk

pertanyaan-pertanyaannya.

Dia berkeliling sebentar, memandangi pelepah-pelepah kurma di oasis itu. Dia

mendengarkan angin, dan merasakan batu-batu di bawah telapak kakinya. Di

mana-mana dia menemukan kerang, dan menyadari bahwa gurun itu, di masa

silam, adalah lautan. Dia duduk di atas batu, dan membiarkan dirinya terpana oleh

cakrawala. Dia berusaha menghadapi konsep cinta sebagai hal yang berbeda dari

pemilikan, dan tidak dapat memisahkan keduanya. Tapi Fatima adalah perempuan

gurun, dan, kalaulah ada sesuatu yang dapat membantu dia memahami, sesuatu itu

adalah gurun.

Saat dia duduk berpikir di sana, dia merasakan gerakan di atasnya. Memandang ke

atas, dia melihat sepasang elang terbang tinggi di angkasa.

Dia memandangi elang-elang itu sampai mereka pergi mengiringi angin. Meski

penerbangan mereka tampak tak berpola, tapi memberi perasaan tertentu pada si

bocah. Hanya saja dia tidak dapat menangkap maknanya. Dia mengikuti gerakan

radikal collection

burung-burung itu, mencoba membaca apa yang tersirat di sana. Mungkin burung-

burung gurun ini dapat menjelaskan padanya arti cinta tanpa pemilikan.

Dia merasa mengantuk. Dalam hatinya, dia ingin tetap terjaga, tapi dia juga ingin

tidur. "Aku sedang belajar Bahasa Buana, dan semua yang ada di dunia ini mulai

kumengerti..., bahkan terbangnya elang-elang itu," gumamnya. Dan, dengan

perasaan seperti itu, dia bersyukur dapat mencinta. Saat kita jatuh cinta, banyak

hal yang jadi lebih masuk akal, pikirnya.

Tiba-tiba, salah seekor elang itu menukik dari angkasa, menyerang elang lainnya.

Saat elang tadi melakukan hal itu, berkelebat selintas bayangan pada benak si

bocah: pasukan tentara, dengan pedang-pedang terhunus, sedang bergerak menuju

oasis. Bayangan itu segera hilang, tapi ia telah mengguncangnya. Dia sudah

mendengar orang-orang yang bicara tentang fatamorgana, dan dia sendiri pernah

melihatnya: ia adalah hasrat yang, karena kekentalannya, mewujud di atas pasir

gurun. Tapi dia tentulah tidak menghasrati tentara menyerbu oasis itu.

Dia ingin melupakan bayangan itu, dan kembali ke meditasinya. Dia mencoba

berkonsentrasi lagi pada kemerahan gurun, dan batu-batunya. Tapi ada sesuatu di

hatinya yang tidak memungkinkan dia melakukannya.

"Selalulah perhatikan pertanda," kata raja tua itu. Si bocah teringat pada apa

yang dilihatnya dalam bayangan tadi, dan merasa bahwa hal itu memang akan

terjadi.

Dia bangkit, dan kembali menuju ke arah pohon-pohon palem. Sekali lagi, dia

merasakan banyaknya bahasa dalam hal-hal yang menyangkut dirinya: kali ini,

gurun aman, dan oasislah yang jadi berbahaya.

Penunggang onta itu duduk di bawah sebatang pohon palem, mengamati matahari

terbenam. Dia lihat si bocah muncul dari balik bukit pasir.

"Tentara bakal datang," kata si bocah. "Aku punya bayangan."

"Gurun memenuhi hati manusia dengan bayangan-bayangan," jawab penunggang

onta itu.

radikal collection

Tapi si bocah menceritakan padanya tentang elang-elang itu: bahwa dia melihat

pertarungan mereka dan tiba-tiba merasa dirinya mencebur ke Jiwa Buana.

Penunggang onta itu mengerti apa yang dikatakan si bocah. Dia tahu bahwa

setiap hal yang ada di muka bumi ini dapat mengungkapkan sejarah semua hal.

Orang bisa membuka buku di halaman manapun, atau melihat tangan seseorang;

orang dapat membaca kartu, atau melihat terbangnya burung-burung.., apapun

yang dilihat, orang dapat menemukan suatu hubungan dengan pengalaman dirinya

pada momen itu. Sebenarnya, bukan hal-hal itu

sendiri yang mengungkapkan; manusialah, dengan melihat apa yang sedang terjadi

di sekitarnya, yang dapat menemukan suatu cara menembus ke Jiwa Buana.

Gurun itu penuh dengan orang-orang yang mendapat nafkah hidup berdasarkan

kepandaian mereka menembus Jiwa Buana. Mereka dikenal sebagai peramal, dan

mereka ditakuti oleh para perempuan dan orang-orang tua. Warga suku juga hati-

hati dalam berkonsultasi dengan mereka, karena tak mungkinlah bisa tampil

perkasa dalam pertempuran bila orang sudah tahu bahwa dia ditakdirkan mati.

Warga suku lebih menyukai rasanya bertempur, dan ketegangan karena tak

mengetahui bagaimana akhirnya; masa depan sudah ditulis oleh Allah, dan apa

yang telah ditulisNya selalu untuk kebaikan manusia. Jadi, warga suku hidup hanya

untuk masa kini, sebab masa kini penuh dengan kejutan, dan mereka harus

waspada dengan banyak hal: Di mana gerangan pedang sang musuh? Di manakah

kudanya? Pukulan macam apa yang harus diberikan selanjutnya agar orang tetap

hidup? Penunggang onta itu bukanlah seorang petarung, dan dia telah berkonsultasi

dengan para peramal. Banyak dari mereka benar tentang apa yang mereka

katakan, sedang sebagian lainnya salah. Kemudian, suatu hari, peramal tertua yang

pernah ditemuinya (dan yang paling ditakuti) bertanya mengapa penunggang onta

itu begitu tertarik dengan masa depan.

"Yah... supaya aku bisa melakukan macam-macam," jawabnya. "Dan supaya aku

bisa mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kuinginkan."

"Tapi kalau begitu hal-hal itu tidak akan menjadi bagian dari masa depanmu,"

kata peramal itu.

radikal collection

"Yah, mungkin aku hanya ingin tahu masa depan supaya aku dapat

mempersiapkan diri untuk apa yang akan terjadi."

"Jika hal-hal baik yang datang, akan menjadi kejutan yang menyenangkan," kata

peramal. "Bila hal-hal jelek, dan kamu sudah tahu sebelumnya, kamu akan sangat

menderita bahkan sebelum hal-hal itu terjadi."

"Aku ingin tahu tentang masa depan karena aku lelaki," kata si penunggang onta

pada peramal. "Dan lelaki selalu menjalani hidupnya berdasar masa depan."

Peramal itu adalah ahli membaca ranting; dia melemparkan ranting-ranting ke

tanah, dan menafsirnya berdasar cara jatuhnya. Hari itu, dia tidak membuat

ramalan apapun. Dia membungkus ranting-rantingnya di sepotong kain dan

memasukannya kembali ke dalam tasnya.

"Aku ini hidup dari meramal masa depan orang," katanya. "Aku tahu ilmu ranting,

dan aku tahu bagaimana menggunakannya untuk menembus tempat di mana semua

sudah tertulis. Di sana, aku dapat membaca masa lalu, mengungkap apa yang telah

dilupakan, dan memahami pertanda-pertanda yang ada di sini saat ini.

"Ketika orang-orang meminta nasihatku, aku bukannya membaca masa depan; aku

menebak masa depan. Masa depan itu milik Tuhan, dan hanya Dia yang dapat

mengungkapkannya, dalam kondisi yang luar biasa. Bagaimana caraku menebak

masa depan? Berdasarkan pertanda-pertanda masa kini. Rahasianya terletak di

masa kini. Kalau kamu memperhatikan masa kini, kamu dapat memperbaikinya.

Dan, bila kamu memperbaiki masa kini, apa yang datang kemudian juga akan

menjadi lebih baik Lupakanlah masa depan, dan jalanilah setiap hari menurut

ajaran, percayalah bahwa Tuhan mencintai hamba-hambaNya. Tiap-tiap hari, pada

dirinya, membawakan suatu keabadian."

Penunggang onta menanyakan, dalam keadaan seperti apa Tuhan akan

mengizinkannya melihat masa depan.

"Hanya saat Dia, Dia sendiri, mengungkapkannya. Dan Tuhan jarang sekali

mengungkap masa depan. Kalaupun Dia melakukannya, hanya untuk satu alasan:

itu adalah sebuah masa depan yang telah ditulis seperti itu untuk diubah."

radikal collection

Tuhan telah menunjukkan si bocah bagian dari masa depan, pikir penunggang

onta. Mengapakah Dia menginginkan si bocah menjadi perantaraNya?

"Pergi dan bicaralah pada para kepala suku," kata si penunggang onta. "Katakan

pada mereka tentang tentara-tentara yang sedang mendekat."

"Mereka akan menertawaiku."

"Mereka itu orang gurun, dan orang gurun biasa berurusan dengan pertanda."

"Kalau begitu, mereka mungkin sudah tahu."

"Mereka tidak memikirkannya sekarang ini. Mereka percaya bila mereka harus

mengetahui sesuatu yang Allah ingin mereka tahu, akan ada orang yang bakal

memberitahukannya pada mereka. Sudah sering terjadi sebelumnya. Tapi, kali ini,

orang itu adalah kamu." Si bocah memikirkan Fatima Dan dia memutuskan untuk

pergi menemui para kepala suku.

di tengah-tengah

oasis. "Aku ingin ketemu pare kepala suku. Aku membawa pertanda dari gurun."

Tanpa bertanya, penjaga itu masuk ke dalam tenda, dan tetap di sana beberapa

saat. Ketika muncul lagi, dia bersama seorang remaja Arab, yang berpakaian putih

dan keemasan. Si bocah memberitahu anak itu apa yang dilihatnya, dan anak itu

menyuruhnya menunggu di sana. Dia menghilang ke dalam tenda.

Malam pun tiba, dan bermacam-macam serdadu dan pedagang keluar-masuk

tenda. Satu per satu, obor di tenda-tenda padam, dan oasis itu menjadi sesenyap

gurun. Hanya penerangan di tenda besar itu yang masih menyala. Selama itu, si

bocah memikirkan Fatima, dan dia masih belum mampu memahami percakapan

terakhirnya dengan gadis itu.

Akhirnya, setelah menunggu berjam-jam, penjaga itu menyuruh dia masuk. Si

bocah terpesona dengan apa yang dilihatnya di dalam. Tak pernah dia bayangkan

bahwa, di tengah-tengah gurun sana, ada tenda seperti ini. Lantainya tertutup

karpet terindah yang pernah dipijaknya, dan di puncak bangunan itu tergantung

radikal collection

lampu tempaan emas, masing-masing dengan sebatang lilin yang menyala. Para

kepala suku duduk di bagian belakang tenda yang berbentuk setengah-lingkaran,

bersandar di atas bantal-bantal bersulam sutra. Para pelayan datang dan pergi

dengan baki-baki perak penuh rempah dan teh. Pelayan-pelayan lainnya menjaga

api di hookah. Udara diliputi aroma asap yang manis.

Ada delapan kepala suku, tapi si bocah segera dapat melihat siapa di antara

mereka yang paling penting: seorang Arab berpakaian putih dan kuning emas,

duduk di tengah setengah-lingkaran itu. Di sebelahnya adalah remaja Arab yang

sebelumnya bicara dengan si bocah.

"Siapa ini orang asing yang bicara tentang pertanda?" tanya salah satu kepala

suku, memandang si bocah.

"Aku," jawab si bocah. Dan dia menceritakan apa yang telah dilihatnya.

"Mengapa pula gurun mengungkapkan hal-hal seperti itu pada orang asing,

padahal gurun itu tahu kita telah berada di sini selama beberapa generasi?" kata

kepala suku yang lain.

"Karena mataku belum terbiasa dengan gurun," ucap si bocah. "Aku dapat melihat

hal-hal yang mungkin tak terlihat oleh mata yang terbiasa dengan gurun."

Dan juga karena aku tahu tentang Jiwa Buana, pikirnya kepada dirinya.

"Oasis adalah daerah netral. Tak ada orang yang menyerang oasis," kata kepala

suku ketiga.

"Aku hanya memberitahu kalian apa yang kulihat. Kalau kalian tidak

mempercayaiku, kalian tidak perlu melakukan apapun."

Orang-orang itu segera membahasnya. Mereka bicara dengan dialek Arab yang

tidak dimengerti si bocah, tapi, saat dia hendak pergi, penjaga memintanya

menunggu. Si bocah jadi takut; pertanda memberitahunya bahwa ada yang tidak

beres. Dia menyesal telah bicara kapada penunggang onta itu tentang apa yang

dilihatnya di gurun.

radikal collection

Tiba-tiba, ketua yang di duduk tengah tersenyum sekilas, dan si bocah merasa

lebih tenang. Orang itu tidak ikut serta dalam diskusi tadi, dan sama sekali tak

mengucapkan sepatah kata pun sampai saat itu. Tapi si bocah sudah terbiasa

dengan Bahasa Buana, dan dia dapat merasakan getaran damai di seantero tenda.

Sekarang intuisinya mengatakan bahwa kedatangannya adalah benar.

Diskusi selesai. Para kepala suku terdiam beberapa saat ketika mereka

mendengarkan apa yang dikatakan orang tua itu. Kemudian dia berpaling pada si

bocah: kali ini ekspresinya dingin dan tidak ramah.

"Duaribu tahun silam, di sebuah negeri yang jauh sekali, seorang lelaki yang

percaya pada mimpinya dimasukkan ke penjara bawah tanah dan kemudian dijual

sebagai budak," ucap orang tua itu, sekarang dengan dialek yang dimengerti si

bocah. "Pedagang-pedagang kami membeli orang itu, dan membawanya ke Mesir.

Kami semua mengetahui bahwa siapapun yang percaya pada mimpi juga tahu cara

menafsirkannya."

Sesepuh itu melanjutkan, "Saat Fir'aun bermimpi tentang sapi-sapi kurus dan sapi-

sapi gemuk, orang yang sedang kubicarakan ini menyelamatkan Mesir dari bencana

kelaparan. Namanya Yusuf. Dia juga orang asing di negeri asing, seperti kamu, dan

mungkin.seusia denganmu."

Dia menjeda, dan matanya masih tak ramah.

"Kami selalu memperhatikan Tradisi. Tradisi telah menyelamatkan Mesir dari

kelaparan di masa lalu, dan menjadikan orang Mesir sebagai bangsa terkaya.

Tradisi mengajari orang cara menyeberangi gurun, dan bagaimana anak-anak

mereka harus menikah. Tradisi menyatakan bahwa oasis adalah daerah yang

netral, karena kedua pihak mempunyai oasis, dan karenanya keduanya rentan."

Tak ada yang bicara saat orang tua i'm melanjutkan.

"Tapi Tradisi juga menyatakan kita harus mempercayai pesan-pesan gurun. Semua

yang kami ketahui diajarkan kepada kami oleh gurun."

radikal collection

Lelaki tua itu memberi isyarat, lalu semua orang berdiri. Pertemuan selesai

Hookah dimatikan, dan para penjaga berdiri siap. Si bocah akan beranjak pergi,

tapi orang tua itu berkata lagi:

"Besok, kami akan melanggar kesepakatan yang menyatakan bahwa tidak seorang

pun di oasis yang boleh membawa senjata Sepanjang hari kami akan mengintai

musuh-musuh kami. Saat matahari terbenam, orang-orang harus menyerahkan lagi

senjata-senjata mereka kapadaku. Untuk tiap sepuluh musuh yang mati, kamu

akan mendapat sekeping emas.

"Tetapi senjata tidak boleh dihunus selain untuk perang. Senjata sama tak

terduganya dengan gurun, dan, bila ia tidak digunakan, saat berikutnya ia mungkin

tak berguna. Jika sedikitnya satu dari mereka tidak terpakai sampai hari besok

berakhir, seseorang akan menggunakannya terhadapmu."

Ketika si bocah meninggalkan tenda, oasis itu hanya diterangi oleh sinar bulan

purnama. Dia berada duapuluh menit dari tendanya, dan mulai melangkah ke sana.

Dia waspada terhadap apa yang akan terjadi. Dia telah berhasil menjangkau Jiwa

Buana, dan sekarang harga untuk itu mungkin adalah nyawanya. Sebuah taruhan

yang menakutkan. Tapi dia telah menempuh taruhan-taruhan yang berbahaya sejak

saat dia menjual domba-dombanya untuk mengejar Legenda Pribadinya. Dan,

seperti kata penunggang onta itu, mati besok tidaklah lebih buruk daripada

meninggal di hari lainnya. Hari-hari ada untuk dijalani atau untuk menandai

keberangkatan seseorang dari dunia ini. Semuanya bergantung pada satu kata:

"Maktub."

Berjalan di sepanjang kesunyian, dia tak menyimpan penyesalan. Bila dia mati

besok, itu berarti Tuhan tidak berkenan mengubah masa depan. Setidaknya dia

meninggal setelah menyeberangi selat, setelah bekerja di toko kristal, dan sesudah

mengetahui kesunyian gurun dan mata Fatima. Dia telah menjalani tiap hari dalam

hidupnya dengan penuh sejak dia meninggalkan rumah dulu. Kalau dia meninggal

besok, dia tentulah sudah melihat lebih banyak daripada gembala-gembala lain,

dan dia bangga karena itu.

radikal collection

Tiba-tiba dia mendengar suara menggelegar, dan dia terlempar ke tanah oleh

sejenis angin yang tak pernah dikenalnya. Daerah ini memang tempat angin beliung

dengan debu yang begitu pekatnya hingga menutupi bulan dari pandangan. Di

hadapannya menjulang seekor kuda putih yang sangat besar, mendompak ke

arahnya dengan ringkikan yang menakutkan.

Saat debu yang membutakan itu reda, si bocah tergetar pada apa yang dilihatnya.

Di punggung kuda itu duduk seorang berpakaian hitam-hitam, dengan tenggeran

elang di bahu kirinya. Dia mengenakan sorban, dan seluruh wajahnya, kecuali

mata, tertutup dengan kain hitam. Dia tampak seperti seorang pembawa pesan

dari gurun, tapi sosoknya terlihat lebih kuat daripada sekadar pembawa pesan

lazimnya.

Penunggang kuda yang aneh itu mencabut pedang lengkung besar dari sarung

yang tergantung di pelananya. Baja di pedangnya berkilauan dalam cahaya bulan.

"Siapa yang berani membaca makna pertarungan elang itu?" desaknya, begitu

lantangnya hingga kata-katanya seolah menggema melalui limapuluh ribu batang

palem Al-Fayoum.

"Akulah yang berani melakukannya," ucap si bocah. Dia teringat gambar Santiago

Matamoros, yang menjulang di punggung kuda putihnya, sementara kaum kafir

bersimpuh di bawahnya. Orang ini tampak sama persis, hanya sekarang peran-

perannya terbalik.

"Akulah yang berani melakukannya," dia mengulangi, dan menundukkan kepalanya

untuk menadah penggalan pedang. "Banyak nyawa yang akan terselamatkan, sebab

aku dapat melihat ke dalam Jiwa Buana."

Pedang itu tak memenggal. Orang asing itu malah menurunkannya pelan-pelan,

sampai ujungnya menyentuh kening si bocah. Ia mengucurkan setetes darah.

Penunggang kuda itu sama sekali tidak bergerak, seperti si bocah. Tak terlintas

pada si bocah untuk melarikan diri. Dalam hatinya, dia merasakan perasaan senang

yang aneh, dia sebentar lagi akan mati dalam pencarian Legenda Pribadinya. Dan

demi Fatima. Pertanda itu memang benar bagaimanapun. Di sinilah dia,

radikal collection

berhadapan muka dengan musuhnya, tapi tak ada yang perlu dicemaskan tentang

mati --Jiwa Buana telah menantinya, dan dia akan segera menjadi bagian darinya.

Dan, besok, musuhnya pun akan menjadi bagian dari Jiwa itu.

Orang asing itu masih menempelkan pedangnya dikening si bocah "Mengapa kamu

membaca makna perkelahian burung-burung itu?"

"Aku hanya membaca apa yang ingin dikatakan burung-burung itu padaku. Mereka

ingin menyelamatkan oasis. Besok kalian semua bakat mati, sebab jumlah orang

yang akan datang ke oasis lebih banyak daripada yang kalian miliki."

Pedang itu tetap di tempatnya. "Kamu ini siapa, kok mau mengubah kehendak

Allah?"

"Allah menciptakan tentara, dan Dia juga menciptakan elang-elang. Allah

mengajarkan padaku bahasa burung. Semuanya sudah ditulis oleh tangan yang

sama," kata si bocah, ingat kata-kata penunggang onta itu.

Orang asing itu menarik pedangnya dari kening si bocah, dan dia merasa sangat

lega. Tapi dia tetap tak sanggup untuk melarikan diri.

"Hati-hatilah dengan ramalan-ramalanmu," kata orang asing itu. "Bila sesuatu

sudah ditulis, tak ada jalan untuk mengubahnya."

"Yang kulihat hanya tentara," kata si bocah. "Aku tidak melihat akibat

pertempurannya."

Orang asing itu tampak puas dengan jawaban tersebut. Tapi dia tetap memegang

pedangnya. "Apa yang dilakukan seorang asing di negeri asing?"

"Aku mengikuti Legenda Pribadiku. Sesuatu yang tidak akan kamu pahami." Orang

asing itu memasukkan pedangnya kembali ke sarungnya, dan si bocah tenang.

"Aku harus menguji keberanianmu," kata si orang asing. "Keberanian adalah

kualitas yang terpenting untuk memahami Bahasa Buana."

radikal collection

Si bocah terkejut. Orang asing itu bicara tentang hal-hal yang hanya diketahui

oleh segelintir kecil orang.

"Kamu tidak boleh berhenti, bahkan setelah apa yang terjadi sampai saat ini," dia

melanjutkan. "Kamu harus mencintai gurun, tapi jangan pernah mempercayainya

sepenuhnya. Karena gurun menguji semua orang: ia menantang setiap langkah, dan

membunuh mereka yang lengah."

Perkataannya mengingatkan si bocah pada sang raja tua.

"Bila para serdadu itu tiba, dan kepalamu masih di bahumu saat matahari

terbenam, datang dan temuilah aku," kata orang asing itu.

Tangan yang tadi menghunus pedang kini menggenggam cemeti. Kuda itu

mendompak lagi, menimbulkan awan debu.

"Di mana tempat tinggalmu?"teriak si bocah, ketika penunggang kuda itu pergi.

Tangan bercemeti itu menunjuk ke arah selatan.

sekitar pohon-pohon

palem di Al-Fayoum. Sebelum matahari mencapai titik puncaknya, limaratus warga

suku muncul di cakrawala. Para serdadu berkuda itu memasuki oasis dari arah

utara; kelihatannya seperti ekspedisi damai, tapi, semuanya membawa senjata

yang disembunyikan di balik jubah mereka. Saat mereka tiba di tenda putih di

tengah-tengah Al-Fayoum, mereka mengeluarkan jambia dan senapan mereka.

Warga oasis mengepung para penunggang kuda itu dari gurun dan dalam setengah

jam semua penyerbu, kecuali satu orang, tewas. Anak-anak sudah disembunyikan

di belakang sebuah kebun palem, dan tidak melihat apa yang terjadi. Para

perempuan tetap tinggal di dalam tenda-tenda, berdoa untuk keselamatan suami-

suami mereka, dan juga tidak menyaksikan pertempuran itu. Seandainya tidak ada

mayat-mayat di atas tanah, oasis itu akan tampak seperti di hari biasa.

radikal collection

Satu-satunya penyerbu yang selamat adalah komandan batalion. Sore itu, dia

dibawa ke hadapan para kepala suku, yang bertanya mengapa dia melanggar

Tradisi. Komandan itu mengatakan orang-orangnya lapar dan haus, letih karena

bertempur berhari-hari, dan memutuskan untuk menduduki oasis supaya dapat

kembali berperang.

Kepala suku mengatakan dia merasa iba pada orang-orang suku itu, tapi Tradisi

harus dijunjung tinggi. Dia menjatuhi komandan itu bukuman mati secara tak

hormat. Ia bukan dibunuh dengan pedang atau peluru, tapi digantung di pohon

palem mati, membuat tubuhnya bergoyang-goyang diterpa angin gurun.

Kepala suku memanggil si bocah, dan memberi limapuluh keping emas padanya.

Dia mengulangi kisah tentang Yusuf dari Mesir, dan meminta si bocah menjadi

penasehat di gurun itu.

bintang pertama muncul, si

bocah mulai melangkah ke arah selatan. Dia akhirnya melihat sebuah tenda kecil,

dan sekelompok orang Arab yang lewat memberitahu si bocah bahwa tempat itu

didiami jin. Tapi si bocah duduk dan menunggu.

Tak sampai bulan meninggi, sang alkemis menampakkan diri. Di pundaknya, dia

membawa dua elang mati.

"Aku datang,"kata si bocah.

"Kamu seharusnya tidak ke sini," jawab sang alkemis. "Atau Legenda Pribadimu

yang membawamu kemari?"

"Karena perang suku berkecamuk, tidak mungkin bagiku melintasi gurun. Jadi aku

ke sini."

Sang alkemis turun dari kudanya, dan memberi isyarat supaya si bocah masuk ke

tenda bersamanya. Tenda itu seperti tenda-tenda lain di oasis itu. Si bocah

mencari-cari tungku dan peralatan lain yang biasa digunakan dalam alkemi, tapi

tak melihat satu pun. Hanya ada beberapa buku di timbunan, satu kompor masak

kecil, dan permadani-permadani bermotif aneh.

radikal collection

"Duduk. Kita akan minum dan makan elang-elang ini," kata sang alkemis.

Si bocah curiga mereka adalah elang-elang yang dilihatnya kemarin, tapi dia diam

saja Sang alkemis menyalakan api, dan tenda itu segera terisi dengan aroma yang

nikmat. Lebih enak dari bau hookah.

"Mengapa kamu ingin bertemu denganku?" tanya si bocah.

"Karena pertanda," jawab sang alkemis. "Angin berbicara padaku bahwa kamu

akan datang, dan bahwa kamu akan memerlukan bantuan."

"Bukan aku yang dimaksud angin itu. Yang dimaksud adalah orang asing lain,

lelaki Inggris itu. Dialah orang yang mencarimu "

"Dia harus mengerjakan sesuatu dulu. Tapi dia berada di jalan yang benar. Dia

sudah mulai mencoba memahami gurun."

"Lalu, aku bagaimana?"

"Saat seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta

bersatu untuk membantu orang itu mewujudkan mimpinya," kata sang alkemis,

menggemakan kata-kata raja tua itu. Si bocah mengerti. Ada satu orang lagi yang

membantunya menuju Legenda Pribadinya.

"Jadi kamu mau mengajarku?"

"Tidak. Kamu sudah mengetahui semua yang perlu kamu ketahui. Aku hanya akan

menunjukimu arah ke harta-mu."

"Tapi, di sana ada perang suku," si bocah mengulangi.

"Aku tahu apa yang sedang terjadi di gurun."

"Aku sudah menemukan hartaku. Aku punya seekor onta, aku punya uang dari

toko kristal, dan aku punya limapuluh keping emas. Di negeriku, aku akan jadi

orang kaya."

"Tapi tak satu pun dari semua itu yang berasal dari Piramida," kata sang alkemis.

radikal collection

"Aku juga memiliki Fatima. Dia adalah harta terbesar dibanding apa saja yang

telah kudapatkan."

"Dia pun tidak ditemukan di Piramida."

Mereka makan dalam diam Sang alkemis membuka sebuah botol dan menuangkan

cairan merah ke dalam cangkir si bocah. Itu anggur ternikmat yang pernah

dirasakannya.

"Bukankah di sini anggur diharamkan?" tanya si bocah.

"Yang buruk bukanlah sesuatu yang masuk ke dalam mulut manusia," kata sang

alkemis. "Yang buruk adalah yang keluar dari mulut mereka."

Alkemis ini agak menakutkan, tapi, selama si bocah minum anggur, dia merasa

santai. Seusai makan, mereka duduk di luar tenda, di bawah bulan yang begitu

cemerlang hingga membuat bintang-bintang tampak pucat.

"Minumlah dan senangkan dirimu," kata sang alkemis, tahu bahwa si bocah merasa

lebih bahagia. "Istirahat yang enak malam ini, seolah kamu prajurit yang bersiap

untuk perang. Ingatlah bahwa di manapun hatimu berada, di sana akan kau

temukan hartamu. Kau harus menemukan harta itu, supaya semua yang telah kau

pelajari selama ini dapat dipahami.

"Besok, jual ontamu dan belilah seekor kuda. Onta itu khianat: mereka berjalan

ribuan langkah dan tak pernah kelihatan lelah. Kemudian tiba-tiba, mereka

berlutut dan mati. Tapi kuda letihnya sedikit demi sedikit. Kamu selalu tahu sejauh

apa kamu bisa menyuruh mereka, dan kapan saat mereka akan mati.

dengan membawa eekor kuda. Sang alkemis sudah siap, dan dia menaiki kudanya sendiri dan

meletakkan elang di

pundak kirinya. Dia berkata pada si bocah, "Tunjukkan padaku di mana ada

kehidupan di gurun. Hanya orang-orang yang mampu melihat tanda-tanda

kehidupan semacam itu yang dapat menemukan harta."

radikal collection

Mereka mulai berkuda di atas pasir, dengan bulan menerangi jalan mereka. Aku

tidak tahu apakah aku sanggup menemukan kehidupan di gurun, pikir si bocah. Aku

belum seakrab itu dengan gurun.

Dia ingin mengatakan hal itu pada sang alkemis, tapi dia takut padanya. Mereka

sampai di tempat bebatuan di mana si bocah pernah melihat elang-elang itu di

langit; tapi sekarang hanya ada kesunyian dan angin.

"Aku tidak tahu bagaimana menemukan kehidupan di gurun," kata si bocah. "Aku

tahu ada kehidupan di sini, tapi aku tidak tahu ke mana mencarinya."

"Kehidupan menarik kehidupan,"jawab sang alkemis.

Dan kemudian si bocah mengerti. Dia mengendurkan tali kekang kudanya, yang

berderap maju di atas bebatuan dan pasir. Sang alkemis mengikuti ketika kuda si

bocah berlari selama hampir setengah jam. Mereka tidak dapat lagi melihat palem-

palem oasis --hanya bulan raksasa di atas mereka, dan cahaya peraknya yang

memantul dari bebatuan di gurun itu. Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, kuda si

bocah mulai melambat.

"Ada kehidupan di sini," kata si bocah pada sang alkemis. "Aku tidak tahu bahasa

gurun, tapi kudaku tahu bahasa kehidupan."

Mereka turun, dan sang alkemis tidak berkata apa-apa. Maju perlahan-lahan,

mereka mencari di antara batu-batu. Sang alkemis tiba-tiba berhenti, dan berlutut

di atas tanah. Ada lubang di sana, di antara bebatuan. Sang alkemis memasukkan

tangannya ke dalam lubang itu, dan kemudian seluruh lengannya, sampai ke bahu.

Ada yang bergerak di sana, dan mata sang alkemis --si bocah hanya bisa melihat

matanya memejam dengan sekuat tenaga. Lengannya tampak seperti bertarung

dengan entah apa di lubang itu. Lalu, dengan gerak yang mengejutkan si bocah,

dia menarik lengannya dan melompat berdiri. Di tangannya, dia memegang seekor

ular pada ekornya.

Si bocah juga melompat, tapi menjauh dari sang alkemis. Ular itu berontak

dengan panik, mengeluarkan desis yang memecah kesunyian gurun. Ular itu kobra,

yang bisanya dapat membunuh orang dalam hitungan menit.

radikal collection

"Hati-hati dengan bisanya," kata si bocah. Tapi meski sang alkemis telah

memasukkan tangannya ke lubang tadi, dan pastilah sudah digigit, ekspresinya

tenang saja.

"Alkemis itu berusia duaratus tahun," si orang Inggris telah memberitahunya. Dia

pasti tahu cara menghadapi ular-ular gurun.

Si bocah memperhatikan saat teman perjalanannya menuju kudanya dan

mengeluarkan jambia. Dengan pedang lengkungnya itu, dia menggurat lingkaran di

pasir, dan kemudian meletakkan ular itu di dalamnya. Hewan melata itu segera

tenang.

"Tak perlu khawatir," kata sang alkemi. "Ular itu tidak akan keluar dari lingkaran.

Kamu telah menemukan kehidupan di gurun, pertanda yang kubutuhkan."

"Mengapa hal itu begitu penting?"

"Karena Piramida dikelilingi oleh gurun."

Si bocah tidak ingin membicarakan Piramida. Hatinya berat, dan dia merasa pilu

sejak tadi malam. Untuk melanjutkan pencariannya atas harta itu berarti dia harus

melupakan Fatima.

"Aku akan membimbingmu melintasi gurun," kata sang alkemis.

"Aku ingin tinggal di oasis saja," jawab si bocah. "Aku telah menemukan Fatima,

dan, sejauh yang kuketahui, dia lebih berharga daripada harta."

"Fatima itu perempuan gurun," kata sang alkemis. "Dia tahu bahwa lelaki harus

pergi agar kembali. Dan dia sudah mendapatkan hartanya: kamu. Kini dia berharap

kamu akan menemukan apa yang sedang kau cari."

"Bagaimana seandainya aku memutuskan tetap di sini?"

"Akan kuberitahu apa yang akan terjadi. Kau akan menjadi penasihat di oasis. Kau

punya banyak emas untuk membeli banyak domba dan onta. Kau akan menikah

dengan Fatima, dan kalian berdua akan bahagia selama satu tahun. Kau akan

radikal collection

belajar mencintai gurun, dan kau akan mengenal setiap batang dari limapuluh ribu

palem yang ada di sini. Kau akan menyaksikan mereka tumbuh, menunjukkan

bagaimana dunia ini senantiasa berubah. Dan kau akan semakin pandai memahami

pertanda, karena gurun adalah guru terbaik di sini.

"Suatu saat dalam tahun kedua, kau akan ingat tentang harta itu. Pertanda akan

mulai terus membicarakannya, dan kau akan berusaha mengabaikannya. Kau akan

manfaatkan pengetahuanmu bagi kesejahteraan oasis dan penduduknya. Para

kepala suku akan menghargai tindakanmu. Dan onta-ontamu akan memberimu

kekayaan dan kekuasaan.

"Selama tahun ketiga, pertanda akan melanjutkan bicara tentang hartamu dan

Legenda Pribadimu. Kau akan berjalan mondar-mandir di oasis, setiap malam demi

malam, dan Fatima akan bersedih karena dia akan merasa dialah yang mengganggu

pencarianmu. Tapi kau akan mencintainya, dan dia akan membalas cintamu. Kau

akan ingat

bahwa dia tak pernah memintamu untuk tinggal, karena seorang perempuan gurun

tahu dia harus menunggu lelakinya. Jadi kau tidak akan menyalahkan dia. Tapi kau

akan sering berjalan di pasir gurun, sambil berpikir bahwa kau mungkin bisa

pergi.., bahwa kamu bisa semakin mempercayai cintamu pada Fatima. Sebab yang

menahanmu di oasis adalah ketakutamnu sendiri bahwa kau mungkin tak akan

pernah kembali. Pada titik itu, pertanda akan mengatakan padamu bahwa hartamu

sudah terkubur selamanya.

"Kemudian, suatu saat selama tahun keempat, pertanda akan melupakanmu,

karena kau berhenti mendengarkan mereka. Para kepala suku akan melihat hal itu,

dan kau akan dipecat dari jabatanmu sebagai penasihat. Tapi, setelah itu, kau

akan menjadi pedagang kaya, punya banyak onta dan banyak barang dagangan.

Kau akan menghabiskan sisa-sisa harimu seraya tahu bahwa kau tidak mencari

Legenda Pribadimu, dan bahwa sekarang sudah terlambat.

"Kau hendaknya mengerti bahwa cinta tidak pernah menahan seorang lelaki untuk

mencari Legenda Pribadinya. Bila dia mengabaikan pencarian itu, itu karena ia

bukanlah cinta sejati..., cinta yang berbicara dengan Bahasa Buana."

radikal collection

Sang alkemis menghapus lingkaran di pasir, dan ular itu merayap pergi di antara

bebatuan. Si bocah teringat pada pedagang kristal yang selalu ingin pergi ke

Mekkah, dan pada orang Inggris yang mencari sang alkemis Dia memikirkan

perempuan yang percaya pada gurun itu. Dan dia memandangi gurun yang telah

membawanya kepada perempuan yang dicintainya.

Mereka menaiki kuda masing-masmg, dan kali ini si bocahlah yang mengikuti sang

alkemis kembali ke oasis. Angin mengantarkan suara-suara dari oasis kepada

mereka, dan si bocah mencoba mendengar suara Fatima.

Tapi malam itu, saat dia memandangi kobra di dalam lingkaran, seorang

penunggang kuda asing dengan elang di bahunya berbicara tentang cinta dan harta,

tentang perempuan-perempuan gurun dan tentang Legenda Pribadinya.

"Aku akan pergi denganmu," kata si bocah. Dan dia segera merasakan kedamaian

di hatinya.

"Kita pergi besok sebelum matahari terbit," hanya itu jawaban sang alkemis.

dia membangunkan salah satu anak yang tidur di tendanya, dan menyuruhnya

menunjukkan padanya di mana Fatima tinggal. Mereka pergi ke tendanya, dan si

bocah memberi temannya emas yang cukup untuk membeli seekor domba.

Kemudian dia menyuruh temannya untuk masuk ke dalam tenda tempat Fatima

sedang tidur, dan untuk membangunkan dan memberitahunya bahwa dia menunggu

di luar. Remaja Arab itu melakukan apa yang dimima kepadanya, dan diberi emas

yang cukup untuk membeli domba lainnya.

"Sekarang tinggalkan kami," kata si bocah pada anak Arab itu. Ia kembali ke

tendanya untuk tidur, bangga telah membantu penasihat oasis, dan gembira

mendapatkan uang untuk membeli domba sendiri.

Fatima muncul di pintu masuk tenda. Mereka berdua berjalan-jalan di antara

pohon-pohon palem. Si bocah tahu ini merupakan pelanggaran terhadap Tradisi,

tapi hal itu tidak dipedulikannya saat ini.

radikal collection

"Aku mau pergi," katanya, "Dan aku ingin kamu tahu bahwa aku akan kembali. Aku

mencintaimu karena..."

"Jangan berkata apapun," Fatima menyela. "Seseorang dicintai karena ia dicintai.

Tak perlu ada alasan untuk mencintai."

Tapi si bocah melanjutkan, "Aku mengalami sebuah mimpi, dan aku bertemu

dengan seorang raja. Aku menjual kristal dan melintasi gurun. Dan, karena suku-

suku menyatakan perang, aku pergi ke sumur itu, mencari sang alkemis. Jadi, aku

mencintaimu karena segenap alam semesta bersatu membantuku menemukanmu."

Keduanya berpelukan. Itulah saat pertama kalinya yang satu menyentuh yang

lain.

"Aku akan kembali," kata si bocah.

"Sebelum ini, aku selalu memandang gurun dengan kerinduan," kata Fatima. "Kini

akan dengan harapan. Ayahku suatu hari pergi, tapi dia kembali pada ibuku, dan

dia selalu kembali sejak itu"

Mereka tidak berkata apa-apa lagi. Mereka berjalan lebih jauh di antara palem-

palem, dan kemudian si bocah meninggalkannya di pintu masuk tendanya.

"Aku akan kembali, seperti ayahmu kembali pada ibumu," katanya.

Dia melihat mata Fatima berlinang.

"Kamu menangis?"

"Aku ini perempuan gurun," katanya, memalingkan wajah. "Tapi bagaimanapun,

aku ini perempuan."

Fatima kembali ke tendanya, dan, ketika siang menjelang, dia keluar untuk

melakukan pekerjaan sehari-hari yang telah dia kerjakan bertahun-tahun. Tapi

segalanya telah berubah. Si bocah tidak ada lagi di oasis, dan oasis ini tak akan lagi

punya arti yang sama seperti kemarin. Tempat ini bukan lagi tempat dengan

limapuluh ribu pohon palem dan tigaratus sumur, tempat para peziarah datang,

radikal collection

merasa lega di akhir perjalanan panjang mereka. Sejak hari itu, oasis menjadi

tempat yang kosong baginya.

Sejak hari itu, gurunlah yang menjadi penting. Dia memandangi gurun itu setiap

hari, dan mencoba menduga-duga bintang mana yang diikuti si bocah dalam

pencarian hartanya. Dia menitipkan kecupannya pada angin, berharap angin akan

menyentuh wajah si bocah, dan mengatakan padanya bahwa dia masih hidup.

Bahwa dia menunggunya, seorang perempuan yang menunggu seorang lelaki berani

yang sedang mencari hartanya. Sejak hari itu, baginya gurun hanya mewakili satu

hal: harapan kembalinya si bocah.

si bocah saat mereka mulai berkuda melintasi pasir gurun. "Segala sesuatu sudah

ditulis di Jiwa Buana, dan akan berada di sana selamanya."

"Para lelaki lebih memimpikan pulang ke rumah daripada pergi," kata si bocah.

Dia sudah terbiasa lagi dengan kesunyian gurun.

"Bila apa yang didapat seseorang terbuat dari bahan yang murni, ia tak akan

pernah rusak. Dan orang dapat selalu kembali. Bila apa yang telah kau peroleh

hanya kilasan sinar, seperti ledakan bintang, kau tak akan menemukan apa-apa

saat kau kembali."

Lelaki itu berbicara dengan bahasa alkemi. Tapi si bocah tahu bahwa dia sedang

merujuk pada Fatima.

Sulitlah untuk tidak memikirkan apa yang telah dia tinggalkan. Gurun, dengan

tunggal-nadanya yang tiada akhir, membuatnya berkhayal. Si bocah masih dapat

melihat pohon-pohon palem, sumur-sumur, dan wajah perempuan yang

dicintainya. Dia dapat melihat orang Inggris itu sedang melakukan percobaan-

percobaannya, dan penunggang onta yang sebenarnya adalah seorang guru yang tak

disadarinya. Mungkin alkemis ini tak pernah jatuh cinta, pikir si bocah.

Alkemis itu berjalan di depan, dengan elang di bahunya. Burung itu sangat paham

bahasa gurun, dan setiap mereka berhenti, dia terbang jauh untuk mencari buruan.

radikal collection

Di hari pertama, ia kembali dengan membawa kelinci, dan di hari kedua dengan

dua burung.

Di malam hari, mereka membentangkan perlengkapan tidur dan menyembunyikan

api unggun mereka. Di gurun malam sangat dingin, dan menjadi semakin gelap

seiring menghilangnya bulan. Mereka terus berjalan selama sepekan, hanya

membicarakan hal-hal yang perlu dilakukan untuk menghindari perang suku.

Perang itu berlanjut, dan terkadang angin mengantarkan bau amis darah.

Pertempuran-pertempuran berlangsung di dekat situ, dan angin mengingatkan si

bocah bahwa ada bahasa pertanda-pertanda, yang selalu siap menunjukkan

padanya apa yang tak dilihat oleh matanya.

Di hari ke tujuh, sang alkemis memutuskan membuat tenda lebih awal dari

biasanya. Elangnya terbang mencari buruan, dan sang alkemis menyodorkan

tempat minumnya pada si bocah.

"Kau hampir tiba di ujung perjalananmu," kata sang alkemis. "Kuucapkan selamat

padamu untuk pencarian Legenda Pribadimu."

"Dan kamu tidak mengatakan apa-apa sepanjang jalan," kata si bocah "Kukira

kamu bakal mengajariku beberapa hal yang kamu ketahui. Beberapa waktu lalu,

aku berjalan melewati gurun bersama seorang yang mempunyai buku-buku tentang

alkemi. Tapi aku tidak dapat belajar apapun dari buku-buku itu."

"Hanya ada satu cara untuk belajar," jawab sang alkemis. "Melalui tindakan.

Semua yang perlu kau ketahui telah kau pelajari melalui perjalananmu. Kamu

hanya perlu mempelajari satu hal lagi."

Si bocah ingin tahu apakah itu, tapi sang alkemis memandang ke cakrawala,

mencari elangnya.

"Mengapa kamu disebut alkemis?"

"Karena memang itulah aku"

radikal collection

"Dan apa yang salah ketika alkemis-alkemis lain mencoba membuat emas dan tak

berhasil melakukannya?"

"Mereka hanya mencari emas," jawab teman perjalanannya. "Mereka mencari

harta dalam Legenda Pribadi mereka, tanpa benar-benar menginginkan menjalani

Legenda Pribadi itu."

"Apa yang masih perlu kuketahui?" tanya si bocah.

Tapi sang alkemis kembali menatap cakrawala. Dan akhirnya, elang itu kembali

dengan membawa makanan untuk mereka. Mereka membuat lubang dan

menempatkan api unggun di lubang itu, supaya cahaya apinya tidak terlihat.

"Aku ini alkemis karena memang aku seorang alkemis," katanya, saat dia

menyiapkan makanan. "Aku belajar ilmu itu dari kakekku, yang belajar dari

ayahnya, dan seterusnya, sampai ke penciptaan dunia. Di masa-masa itu, Karya

Agung dapat ditulis di sekadar sebutir zamrud. Tapi manusia mulai menolak hal-hal

yang sederhana, dan ingin menulis risalah, tafsir-tafsir, dan kajian-kajian filsafat.

Mereka juga mulai merasa lebih tahu daripada orang lain. Toh Tablet Zamrud itu

masih ada sampai sekarang."

"Apa yang tertulis di Tablet Zamrud itu?" si bocah ingin tahu.

Sang alkemis mulai menggambar di pasir, dan menyelesaikan gambarnya dalam

waktu kurang dari lima menit. Saat dia menggambar, si bocah memikirkan sang

raja tua, dan alun-alun tempat mereka bertemu hari itu; rasanya seakan itu

terjadi berpuluh tahun silam.

"Inilah yang ditulis di Tablet Zamrud itu," kata sang alkemis, saat dia selesai.

Si bocah mencoba membaca apa yang tertulis di pasir.

"lni cuma kode," kata si bocah, agak kecewa. "Seperti yang kulihat di buku-buku

orang Inggris itu."

radikal collection

"Bukan," jawab sang alkemis. "Ini seperti pertarungan dua elang itu; ia tidak

dapat dimengerti hanya dengan akal. Tablet Zamrud adalah sebuah perjalanan

langsung menuju Jiwa Buana.

"Orang-orang bijak memahami bahwa dunia alami ini hanyalah suatu citra dan

tiruan surgawi. Keberadaan dunia ini sekadar suatu jaminan bahwa di sana ada

sebuah dunia yang sempurna. Tuhan menciptakan dunia supaya, melalui benda-

benda yang dapat dilihat, manusia mampu memahami ajaran-ajaran rohaniNya dan

kearifanNya yang menakjubkan. Itulah yang kumaksud dengan tindakan."

"Perlukah aku memahami Tablet Zamrud itu?" tanya si bocah.

"Mungkin, bila kamu berada di laboratorium alkemi, ini adalah saat yang tepat

untuk mempelajari cara terbaik guna memahami Tablet Zamrud. Tapi kamu

sekarang berada di gurun. Jadi larutkanlah dirimu ke dalamnya. Gurun akan

memberimu suatu pemahaman tentang dunia; sebenarnya, segala sesuatu di muka

bumi ini akan memberimu pengertian itu. Kamu bahkan tidak perlu memahami

gurun: yang perlu kamu lakukan hanyalah merenungkan butir-butir pasir yang

sepele, dan kamu akan melihat di dalamnya segenap keajaiban penciptaan."

"Bagaimana cara melarutkan diri dalam gurun?"

"Dengarkan hatimu. Ia tahu segala hal, karena ia berasal dari Jiwa Buana, dan

suatu hari ia akan kembali ke sana."

. Saat mereka meneruskan perjalanan, si bocah

mencoba mendengarkan hatinya.

Tidak mudah melakukannya; di saat-saat pertama, hatinya selalu siap

menuturkan ceritanya, tapi belakangan ceritanya tidak benar. Ada saat-saat ketika

hatinya menghabiskan waktu berjam-jam menceritakan kesedihannya, dan di saat

lain ia menjadi sangat emosional terhadap terbitnya matahari di gurun hingga si

bocah harus menyembunyikan air matanya. Hatinya berdebar kencang saai ia

bicara pada si bocah tentang harta, dan melambai saat si bocah terpukau menatap

radikal collection

cakrawala gurun yang tak berbatas. Namun hatinya tidak pernah diam, bahkan saat

si bocah dan sang alkemis terhanyut dalam kesunyian.

"Mengapakah kita harus mendengarkan hati kita?" tanya si bocah, saat mereka

membuat tenda hari itu.

"Karena di manapun hatimu berada, di situlah akan kau temukan hartamu."

"Tapi hatiku gelisah," kata si bocah. "Hatiku memiliki impian-impiannya, ia

menjadi emosional, dan ia menjadi bergairah terhadap seorang perempuan di

gurun. Ia menanyakan banyak hal tentang diriku, dan ia membuatku terjaga dari

tidur-tidurku di malam hari, saat aku memikirkan dia."

"Baguslah kalau begitu. Hatimu masih hidup. Terus saja dengarkan apa yang ia

harus katakan."

Selama tiga hari berikutnya, kedua pengembara itu melewati sekelompok warga

suku bersenjata, dan melihat lainnya di arah cakrawala. Hati si bocah mulai bicara

tentang takut. Hatinya menuturkan kepadanya cerita-cerita yang telah ia dengar

dari Jiwa Buana, kisah-kisah tentang orang-orang yang mencoba menemukan harta

mereka dan tak pernah berhasil. Kadang-kadang ia menggentarkan si bocah dengan

gagasan bahwa dia mungkin tidak menemukan hartanya, atau bahwa dia mungkin

mati di gurun sana. Di lain waktu, ia berkata pada si bocah bahwa ia sudah puas: ia

telah mendapatkan cinta dan kekayaan.

"Hatiku ini pengkhianat," ujar si bocah pada sang alkemis, saat mereka berhenti

sejenak untuk mengistirahatkan kuda. "Ia tidak ingin aku meneruskan perjalanan

ini."

"Itu masuk akal," jawab sang alkemis. "Memang menakutkan bahwa, dalam

mengejar impianmu, kau mungkin kehilangan semua yang telah kau dapatkan."

"Kalau begitu, mengapa aku harus mendengarkan hatiku?"

"Karena kau tak akan pernah lagi mampu membungkamnya Bahkan jika kau

berpura-pura untuk tak mendengar apa yang ia katakan padamu, ia akan selalu ada

radikal collection

di sana, di dalam dirimu, terus mengulang padamu apa yang kau pikirkan tentang

hidup dan tentang dunia."

"Maksudmu aku harus mendengarkan, bahkan kalaupun ia khianat?"

"Pengkhianatan adalah pukulan yang datang tanpa terduga. Bila kau memahami

benar hatimu, ia tak akan pernah sanggup berbuat begitu terhadapmu. Sebab kau

tahu mimpi-mimpinya dan harapan-harapannya, dan akan tahu cara menghadapi

semua itu.

"Kau tak akan pernah mampu melarikan diri dari hatimu. Jadi, lebih baik

dengarkan apa yang ia harus katakan. Dengan begitu, kau tak akan pernah gentar

pada pukulan yang tak terduga."

Si bocah kembali mendengarkan hatinya selama mereka melintasi gurun. Dia kini

memahami muslihat dan kecohannya, dan menerimanya seperti adanya. Dia tidak

merasa takut lagi, dan lupa dengan keinginannya untuk kembali ke oasis, karena,

suatu sore, hatinya berkata bahwa ia bahagia. "Walau kadang aku mengeluh,"

katanya, "itu karena aku adalah hati seorang manusia, dan memang begitulah hati

manusia. Orang takut mengejar impian-impian mereka yang terpenting, sebab

mereka merasa mereka tak berhak memperolehnya, atau bahwa mereka tak akan

mampu meraihnya. Kami, hati mereka, menjadi gentar hanya dengan berpikir

tentang orang-orang tercinta yang akan pergi selamanya, atau tentang saat-saat

yang seharusnya baik tapi ternyata tidak, atau tentang harta-harta yang mungkin

mestinya sudah ditemukan tapi selamanya terkubur dalam tanah. Karena, saat hal-

hal ini terjadi, kami sangat menderita."

"Hatiku takut kalau ia harus menderita," kata si bocah pada sang alkemis suatu

malam saat mereka melihat langit yang tak berbulan.

"Katakan pada hatimu bahwa takut menderita itu lebih buruk daripada menderita

itu sendiri. Dan bahwa tidak ada hati yang pernah menderita saat ia mengejar

mimpi-mimpinya, karena setiap detik dari pencarian itu adalah detik perjumpaan

dengan Tuhan dan dengan keabadian."

radikal collection

"Setiap detik dari pencarian adalah suatu perjumpaan dengan Tuhan," kata si

bocah pada hatinya. "Jika aku sungguh-sungguh mencari hartaku, hari-hari akan

menjadi bercahaya, karena aku tahu bahwa setiap jam adalah bagian dari mimpi

yang akan kuraih. Jika aku sungguh-sungguh mencari hartaku, di sepanjang

jalannya aku juga menemukan hal-hal yang tak pernah kulihat lantaran aku tak

berani mencoba hal-hal yang tampak mustahil dicapai oleh seorang gembala."

Maka diamlah hatinya sepanjang sore. Malam itu, si bocah tidur pulas, dan, saat

dia bangun, hatinya mulai mengatakan padanya hal-hal yang berasal dari Jiwa

Buana. Hatinya berkata bahwa semua orang yang bahagia mempunyai Tuhan di

dalam diri mereka. Dan kebahagiaan itu dapat ditemukan di sebutir pasir gurun,

seperti kata sang alkemis. Karena sebutir pasir adalah suatu momen penciptaan,

dan alam semesta telah menghabiskan waktu jutaan tahun untuk menciptakannya.

"Setiap orang di bumi mempunyai harta yang menantinya," kata hatinya. "Kami,

hati manusia, jarang mengatakan banyak hal tentang harta-harta itu, karena

orang-orang tak lagi ingin pergi mencarinya. Kami berbicara tentangnya hanya

kepada anak-anak. Kemudian, kami biarkan saja kehidupan berjalan, dengan

arahnya sendiri, menuju takdirnya sendiri. Tapi, sayangnya, sangat sedikit yang

mengikuti jalan yang telah dibentangkan untuk mereka --jalan menuju Legenda

Pribadi mereka, dan menuju kebahagiaan. Kebanyakan orang melihat dunia sebagai

tempat yang menakutkan, dan, karena mereka begitu, dunia sungguh-sungguh

berbalik menjadi tempat yang menakutkan.

"Maka, kami, hati mereka, bicara semakin pelan. Kami tak pernah berhenti

bicara, tapi kami mulai berharap agar kata-kata kami tak didengar: kami tak ingin

orang menderita karena mereka tidak mengikuti hati mereka."

"Mengapa hati orang-orang tidak mengatakan pada mereka supaya terus

mengikuti mimpi-mimpi mereka?" tanya si bocah kepada sang alkemis.

"Karena itulah yang paling membuat hati menderita, dan hati tidak suka

menderita."

Sejak saat itu, si bocah memahami hatinya. Dia memintanya, mohon agar ia tak

pernah berhenti bicara padanya. Dia meminta supaya, saat dia melanglang jauh

radikal collection

dari mimpi-mimpinya, hatinya menekannya dan membunyikan tanda bahaya. Si

bocah bersumpah bahwa, setiap dia mendengar tanda bahaya itu, dia akan

menyimak pesannya.

Malam itu, dia mengungkapkan semua ini pada sang alkemis. Dan sang alkemis

paham bahwa hati si bocah telah kembali ke Jiwa Buana.

"Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya si bocah.

"Melanjutkan perjalanan ke Piramida," kata sang alkemis. "Dan teruslah

perhatikan pertanda. Hatimu masih mampu menunjukkan padamu di mana harta

itu berada."

"Apakah hal itu masih perlu kuketahui?"

"Tidak," jawab sang alkemis, "Yang masih perlu kau ketahui adalah: sebelum

sebuah mimpi terwujud, Jiwa Buana menguji semua yang telah dipelajari di

sepanjang perjalanan. Ia melakukan hal ini bukan karena ia jahat, tapi supaya kita

mampu --sebagai tambahan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita-- menguasai

pelajaran-pelajaran yang kita tekuni saat kita bergerak menuju mimpi itu. Itulah

titik saat kebanyakan orang menyerah. Itulah titik

saat, seperti yang kami ucapkan dalam bahasa gurun, orang mati kehausan ketika

pohon-pohon palem sudah terlihat di cakrawala.

"Setiap pencarian dimulai dengan kemujuran pemula. Dan setiap pencarian

berakhir dengan kemenangan yang telah melewati ujian yang berat."

Si bocah teringat pepatah kuno dari negerinya. Pepatah itu menyatakan bahwa

masa tergelap di malam hari adalah saat menjelang fajar.

Tiga warga suku

bersenjata datang mendekat, dan menanyakan apa yang dilakukan si bocah dan

sang alkemis di sana.

"Aku sedang berburu dengan elangku," jawab sang alkemis.

radikal collection

"Kami harus menggeledah kalian untuk melihat apa kalian bersenjata," kata salah

satu warga suku itu.

Sang alkemis turun pelan-pelan dari kudanya, dan si bocah berbuat serupa.

"Kenapa kamu bawa uang?" tanya warga suku itu, ketika dia menggeledah tas si

bocah.

"Aku memerlukannya untuk pergi ke Piramida," katanya.

Warga suku yang menggeledah bawaan sang alkemis menemukan botol kristal

kecil yang dipenuhi cairan, dan telur kaca berwarna kuning yang sedikit lebih besar

dari telur ayam.

"Benda-benda apa ini?" tanyanya.

"Itu Batu Filsuf dan Obat Hidup. Itu adalah Karya Agung para alkemis. Siapa saja

yang menelan obat itu tak akan pernah sakit lagi, dan sepotong pecahan dari batu

itu bisa mengubah segala macam logam menjadi emas."

Orang-orang Arab itu menertawai dia, dan sang alkemis juga ikut tertawa. Mereka

anggap jawaban itu lucu, dan membiarkan si bocah dan sang alkemis melanjutkan

perjalanan dengan semua bawaan mereka.

"Apa engkau sudah gila?" tanya si bocah pada sang alkemis, saat mereka kembali

berjalan. "Buat apa berbuat begitu?"

"Untuk menunjukkan padamu satu pelajaran sederhana dalam hidup," jawab sang

alkemis. "Bila kau memiliki harta yang sangat benilai di dalam dirimu, dan

mencoba untuk memberitahu orang lain tentang hal itu, jarang ada yang percaya."

Mereka meneruskan perjalanan melintasi gurun. Seiring berlalunya hari-hari, hati

si bocah menjadi semakin tenang. Ia tak lagi ingin tahu tentang hal-hal silam atau

mendatang; ia puas dengan sekadar merenungi gurun, dan dengan minum bersama

si bocah dari Jiwa Buana. Si bocah dan hatinya menjadi teman, dan kini yang satu

tidak dapat lagi mengkhianati yang lain.

radikal collection

Saat hatinya bicara padanya, ia memberi dorongan pada si bocah, dan

memberinya kekuatan, karena hari-hari sepi di gurun sana sungguh meresahkan.

Hatinya memberitahu si bocah kekuatan dirinya yang terbesar: keberaniannya

melepaskan domba-dombanya dan mencoba hidup sampai meraih Legenda

Pribadinya, dan gairahnya selama dia bekerja di toko kristal itu.

Dan hatinya memberitahu dia hal lain yang tidak pernah diperhatikan si bocah: ia

mengatakan pada si bocah bahaya-bahaya yang mengancamnya, tapi tak pernah

dia sadari. Hatinya mengatakan bahwa ia pernah menyembunyikan senapan yang

telah diambil si bocah dari ayahnya, karena ada kemungkinan si bocah melukai

dirinya sendiri. Dan hatinya mengingatkan si bocah saat dia sakit dan muntah-

muntah di ladang, setelah itu dia tertidur lelap. Ada dua perampok di jalan di

depannya yang berencana merampas domba-domba si bocah dan membunuhnya.

Tapi, karena si bocah tidak lewat, mereka memutuskan untuk meneruskan

perjalanan, mengira bahwa dia berbelok ke jalan lain.

"Apakah hati seseorang selalu membantunya?" tanya si bocah pada sang alkemis.

"Umumnya hanya hati orang-orang yang berupaya mewujudkan Legenda Pribadi

mereka. Tapi mereka juga membantu anak-anak, para pemabuk, dan juga orang-

orang tua."

"Apakah itu berarti aku tak akan pernah terancam bahaya?"

"Itu artinya hati melakukan apa yang ia bisa," kata sang alkemis.

Suatu sore, mereka melewati perkemahan salah satu suku. Di setiap pojok kemah

tampak orang-orang Arab berjubah putih yang indah, dengan senjata siap di

tangan. Orang-orang itu mengisap hookah dan bertukar cerita-cerita dari medan

tempur. Tak ada yang menaruh perhatian pada kedua pengembara itu.

"Tidak ada bahaya," kata si bocah, saat mereka telah melewati perkemahan tadi.

Sang alkemis terdengar marah: "Percayalah pada hatimu, tapi jangan pernah lupa

bahwa kamu berada di gurun. Saat manusia-manusia saling memerangi, Jiwa Buana

radikal collection

dapat mendengar jaritan-jeritan perangnya. "Tiada seorang pun yang luput dari

akibat-akibat segala sesuatu di bumi ini."

Semuanya satu belaka, pikir si bocah. Dan kemudian, seolah gurun ingin

menunjukkan bahwa sang alkemis benar, dua orang berkuda muncul dari belakang

pengembara-pengembara itu.

"Kalian tidak bisa pergi lebih jauh," kata salah satu dari mereka. "Kalian berada di

wilayah tempat suku-suku sedang berperang."

"Aku tidak akan pergi terlalu jauh," jawab sang alkemis, menatap lurus ke dalam

mata penunggang kuda itu. Mereka terdiam sesaat, dan kemudian membiarkan si

bocah dan sang alkemis terus berjalan.

Si bocah mengamati perubahan tersebut dengan perasaan kagum. "Engkau

mendominasi penunggang-penunggang kuda itu dengan caramu menatap mereka,"

katanya.

"Mata manusia menunjukkan kekuatan jiwanya," jawab sang alkemis.

Betul, pikir si bocah. Dia sudah perhatikan bahwa, ditengah-tengah banyaknya

orang bersenjata di perkemahan tadi, ada satu yang menatap mereka berdua. Ia

berada terlalu jauh sehingga wajahnya bahkan tak terlihat. Tapi si bocah yakin

bahwa orang itu melihat mereka.

Akhirnya, saat mereka melintasi jajaran garun yang merentang sepanjang

cakrawala, sang alkemis berkata bahwa mereka tinggal dua hari perjalanan dari

Piramida.

"Bila kita akan segera pergi ke arah kita masing-masing," kata si bocah, "maka

ajarilah aku tentang alkemi."

"Kamu sudah tahu tentang alkemi. Itu tentang penembusan Jiwa Buana, dan

penemuan harta yang telah tersedia untukmu."

"Bukan, bukan itu maksudku. Yang kumaksud adalah soal mengubah timah

menjadi emas."

radikal collection

Sang alkemis terdiam sebisu gurun, dan menjawab si bocah baru setelah mereka

berhenti untuk makan.

"Semua yang ada di alam semesta ini tumbuh," katanya. "Dan, bagi orang-orang

bijak, emas adalah logam yang paling lama tumbuhnya. Jangan tanya padaku

mengapa; aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa Tradisi selalu benar.

"Manusia tidak pernah memahami kata-kata orang bijak. Maka emas, bukan

dilihat sebagai simbol evolusi, malah menjadi dasar pertentangan."

"Ada banyak bahasa yang diucapkan oleh benda-benda," kata si bocah. "Pada

suatu waktu, bagiku, lenguh seekor onta tidak berarti apa-apa selain lenguhan

semata. Kemudian ia menjadi tanda bahaya. Dan, akhirnya, ia kembali menjadi

sekadar lenguhan."

Tapi kemudian dia berhenti. Sang alkemis mungkin sudah paham semua itu.

"Aku mengenal alkemis-alkemis sejati," lanjut sang alkemis. "Mereka mengunci

diri di laboratorium, dan berusaha untuk tumbuh, seperti emas. Dan mereka

menemukan Batu Filsuf, karena mereka mengerti bahwa saat sesuatu tumbuh,

segala yang ada di sekitar benda itu juga tumbuh.

"Yang lainnya menemukan batu itu tanpa sengaja. Mereka sudah punya bakat, dan

jiwa mereka lebih siap untuk hal-hal seperti itu daripada jiwa orang-orang lain.

Tapi mereka tidak berarti. Mereka sangat jarang.

"Dan kemudian ada yang lain-lain, yang hanya tertarik pada emas. Mereka tidak

pernah menemukan rahasianya. Mereka lupa bahwa timah, tembaga, dan besi

mempunyai Legenda Pribadi sendiri untuk dipenuhi. Dan setiap orang yang

mencampuri Legenda Pribadi hal lain tak akan pernah menemukan miliknya

sendiri." Kata-kata sang alkemis terdengar bagai kutukan. Dia menjangkau dan

mengambil sebuah kulit kerang dari tanah.

"Gurun ini dulunya laut,"katanya.

"Aku tahu," jawab si bocah.

radikal collection

Sang alkemis menyuruh si bocah meletakkan kulit kerang itu di telinganya. Dia

telah sering melakukan hal itu sejak masih kecil, dan mendengar suara laut.

"Laut telah hidup di dalam kulit kerang ini, karena itulah Legenda Pribadinya. Dan

ia tak akan pernah berhenti rnelakukannya sampai gurun sekali lagi tertutup oleh

air."

Mereka menaiki kuda masing-masing, dan menapak jalan menuju Piramida Mesir.

memperdengarkan tanda

bahaya. Mereka dikelilingi oleh bukit-bukit pasir raksasa, dan si bocah menoleh

pada sang alkemis untuk mencari tahu apakah dia merasakan sesuatu. Tapi dia

tampak tak tanggap terhadap bahaya. Lima menit kemudian, si bocah melihat dua

orang penunggang kuda menunggu di depan mereka. Sebelum dia dapat berkata

apa-apa pada sang alkemis, dua penunggang kuda itu menjadi sepuluh, lalu

seratus. Dan kemudian mereka ada di seantero bukit-bukit pasir itu.

Mereka adalah warga-warga suku yang berpakaian biru, dengan cincin hitam

melengkapi sorban-sorban mereka. Wajah-wajah mereka tersembunyi di balik

kerudung biru, dan hanya mata mereka yang terlihat.

Dari jauh pun mata mereka memancarkan kekuatan jiwa mereka. Dan mata

mereka bicara tentang kematian.

SEORANG serdadu mendorong si bocah ke dalam tenda tempat pak ketua

mengadakan rapat dengan para pembantunya.

"Mereka ini mata-mata," kata salah seorang.

"Kami hanya pengembara," jawab sang alkemis.

"Kalian terlihat di perkemahan musuh tiga hari yang lalu. Dan kalian berbicara

dengan seorang serdadu di sana".

radikal collection

"Aku hanya orang yang berkelana di gurun dan tahu tentang bintang-bintang,

"kata sang alkemis. "Aku tidak punya keterangan apapun tantang serdadu atau

tentang gerakan suku-suku. Aku hanya menjadi pemandu bagi kawanku ini."

"Siapa kawanmu itu?"tanya ketua.

"Seorang alkemis," kata sang alkemis. "Dia memahami kekuatan-kekuatan alam.

Dan dia ingin menunjukkan padamu kekuatannya yang luar biasa."

Si bocah mendengarkan dalam diam. Dan dengan takut.

"Apa yang dilakukan orang asing di sini?" tanya seorang yang lain.

"Dia membawa uang untuk diberikan pada sukumu," kata sang alkemis, sebelum si

bocah dapat berkata apa-apa. Dan setelah mengambil tas si bocah, sang alkemis

memberikan keping-keping emas kepada ketua.

Orang Arab itu menerimanya tanpa berkata-kata. Nilainya cukup untuk membeli

banyak senjata.

"Apa itu alkemis?" dia bertanya, akhirnya.

"Seorang yang memahami alam dan dunia. Bila dia mau, dia dapat memusnahkan

perkemahan ini hanya dengan kekuatan bayu."

Orang-orang itu tertawa. Mereka terbiasa dengan kerusakan-kerusakan akibat

perang, dan tahu bahwa angin tidak dapat menimbulkan hantaman yang

mematikan. Toh tiap orang merasa hatinya berdetak lebih kencang. Mereka adalah

orang-orang gurun, dan mereka takut pada penyihir.

"Aku mau lihat dia melakukannya," kata ketua.

"Dia perlu tiga hari" jawab sang alkemis. "Dia akan mengubah dirinya menjadi

angin, hanya untuk memperlihatkan kekuatannya. Bila dia tidak dapat

melakukannya, kami dengan rendah hati menawarkan jiwa kami, demi kehormatan

sukumu."

radikal collection

"Kamu tidak bisa menawarkan apa yang sudah menjadi milikku," kata pak ketua,

dengan sombongnya. Tapi dia memberi waktu tiga hari pada kedua pengembara

itu.

Si bocah gemetar ketakutan, tapi sang alkemis membantunya keluar dari tenda.

"Jangan biarkan mereka tahu kamu takut," kata sang alkemis. "Mereka adalah

orang-orang yang berani, dan mereka memandang rendah pada pengecut."

Tapi si bocah tetap tak sanggup bersuara. Dia baru bisa bicara setelah mereka

berjalan melewati pusat perkemahan itu. Tidak dirasa perlu memenjarakan

mereka: orang-orang Arab itu cukup menyita kuda-kuda mereka. Maka, sekali lagi,

dunia telah menunjukkan banyaknya bahasanya: beberapa saat lalu gurun adalah

tempat yang bebas dan tak tak bertepi, dan kini ia tembok yang tak tertembus.

"Kau serahkan semua milikku! "kata si bocah. "Semua yang kutabung seumur

hidupku!"

"Ya, apa gunanya semua itu bagimu kalau kau harus mati?" jawab sang alkemis.

"Uangmu menyelamatkan kita selama tiga hari. Jarang uang menyelamatkan hidup

orang."

Tapi si bocah terlalu takut untuk mendengarkan kata-kata bijak. Dia tidak tahu

bagaimana cara mangubah dirinya menjadi angin. Dia bukan alkemis!

Sang alkemis minta teh pada seorang serdadu, dan menuangkannya ke

pergelangan tangan si bocah. Perasaan lega menyelimutinya, dan sang alkemis

berkomat kamit dalam bahasa yang tidak dipahami si bocah.

"Jangan kalah pada rasa takutmu," kata sang alkemis, dengan suara lembut yang

aneh. "Bila kau kalah, kau tak akan mampu bicara pada hatimu."

"Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengubah diriku menjadi angin."

"Bila seseorang menjalani Legenda Pribadinya, dia tahu semua yang perlu dia

ketahui. Hanya ada satu hal yang membuat mimpi tak mungkin diraih: perasaan

takut gagal."

radikal collection

"Aku tidak takut gagal. Hanya aku tidak tahu bagaimana caranya mengubah diri

menjadi angin."

"Kalau begitu, kamu harus belajar; hidupmu tergantung pada itu."

"Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa?"

"Maka kau akan mati di tengah-tengah perjuangan mewujudkan Legenda

Pribadimu. Itu masih jauh lebih baik

daripada mati seperti berjuta-juta orang lainnya, yang bahkan tidak tahu apakah

Legenda Pribadi mereka.

"Tapi jangan khawatir," sambung sang alkemis. "Biasanya ancaman kematian

membuat orang jauh lebih menyadari jiwa mereka."

Para prajurit yang mati digantikan oleh yang lain, dan kehidupan jalan terus. Kematian tidak mengubah

apa-apa, pikir si bocah.

"Kau pasti mati nanti," kata seorang prajurit pada jenazah temannya. "Kau bisa

saja mati setelah perdamaian dimaklumatkan. Tapi, bagaimanapun, kau akan mati

juga akhirnya."

Di ujung hari itu, si bocah pergi mencari sang alkemis, yang membawa elangnya

ke gurun di luar.

"Aku masih belum tahu bagaimana caranya mengubah diriku menjadi angin,"si

bocah mengulangi.

"Ingat apa yang sudah kukatakan: dunia hanyalah aspek Tuhan yang terlihat. Dan

bahwa yang dilakukan alkemis adalah membawakan kesempurnaan spiritual ke

dalam hubungan dengan bidang material."

"Apa yang sedang engkau lakukan?"

radikal collection

"Memberi makan elangku."

"Kalau aku tidak dapat mengubah diriku menjadi angin, kita akan mati," kata si

bocah. "Buat apa elangmu itu diberi makan?"

"Kamulah yang mungkin mati," kata sang alkemis. "Aku sudah tahu bagaimana

cara mengubah diriku menjadi angin."

Para penjaga mengizinkan dia pergi; mereka telah mendengar tentang penyihir yang

dapat mengubah dirinya rnenjadi angin, dan mereka tidak ingin berada di dekatnya

Toh gurun tidak mungkin dia sebrangi.

Dia menghabiskan sepanjang sore di hari kedua itu memandangi gurun, dan

mendengarkan harinya. Si bocah tahu gurun merasakan ketakutannya.

Mereka berdua berbicara dengan bahasa yang sama.

. Dia memanggil ke rapat itu dan berkata, "Mari kita lihat bocah yang bisa mengubah

dirinya menjadi angin itu"

"Mari," jawab sang alkemis.

Si bocah membawa mereka ke tebing tempat dia berada kemarin. Dia menyuruh

mereka semua untuk duduk.

"Akan makan waktu sebentar," kata si bocah.

"Kami tidak buru-buru," jawab ketua. "Kami ini orang gurun."

Si bocah melihat ke cakrawala. Tampak banyak gunung di kejauhan. Ada bukit-

bukit pasir, batu-batu karang, dan tanaman-tanaman yang bergigih untuk hidup di

tempat yang tampak mustahil. Ada gurun tempat dia berkelana selama berbulan-

bulan; meski sepanjang waktu itu dia hanya mengetahui sebagian kecilnya saja.

radikal collection

Dalam bagian kecil itu, dia telah menemukan orang Inggris, kafilah-kafilah, perang

antarsuku, dan oasis dengan limapuluh ribu pohon palem dan tigaratus sumur.

"Apa yang kau inginkan di sini hari ini?"gurun bertanya padanya. "Bukankah

kemarin kau sudah menghabiskan waktu memandangiku?"

"Di sebuah tempat kau menyimpan orang yang kucinta," kata si bocah. "Maka, saat

aku memandangi pasirmu, aku juga sedang menatap dia. Kuingin kembali padanya

dan aku perlu bantuanmu agar aku dapat mengubah diriku menjadi angin."

"Apakah cinta itu?" tanya gurun.

"Cinta adalah terbangnya elang di atas pasirmu. Sebab baginya, kau adalah ladang

hijau, tempat dia selalu kembali dari perburuannya. Dia kenal karang-karangmu,

bukit-bukit pasirmu, dan gunung-gunungmu, dan kau murah hati terhadapnya."

"Paruh burung itu membawa sedikit demi sedikit dariku, diriku," kata gurun.

"Bertahun-tahun, kupelihara mainannya, kuhidupi dengan sedikit air yang kupunya,

dan kemudian kutunjukkan pada elang di mana mainannya itu. Dan, suatu hari,

ketika aku menikmati kenyataan bahwa mainannya itu hidup di permukaanku, sang

elang menukik dari langit, dan mengambil apa yang telah kuciptakan."

"Tapi itulah sebabnya kau ciptakan buruan itu pertama kali," jawab si bocah.

"Untuk menghidupi elang. Dan elang kemudian menghidupi manusia. Dan, akhirnya,

manusia akan menghidupi pasirmu, tempat buruan itu tumbuh sekali lagi.

Begitulah jalannya dunia."

"Jadi itukah cinta?"

"Ya, itulah cinta. Itulah yang membuat buruan menjadi elang, elang menjadi

manusia, dan manusia, pada waktunya, menjadi gurun. Itulah yang mengubah

timah menjadi emas, dan membuat emas kembali ke bumi."

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," kata gurun.

radikal collection

"Tapi setidaknya kau mengerti bahwa di suatu tempat di pasirmu ada seorang

perempuan yang sedang menungguku. Itulah sebabnya aku harus mengubah diriku

menjadi angin."

Gurun tidak menjawab untuk beberapa saat.

Kemudian ia berkata kepada si bocah, "Akan kuberikan pasirku untuk membantu

angin bertiup, tapi, aku tidak mampu berbuat apapun sendirian. Kau harus minta

bantuan angin."

Angin sepoi mulai bertiup. Para warga suku itu memandang si bocah dari

kejauhan, berbicara di antara mereka dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh si bocah.

Sang alkemis tersenyum.

Angin mendekati si bocah dan menyentuh wajahnya.

Dia tahu percakapan si bocah dengan gurun, karena angin

tahu segalanya. Mereka bertiup melintasi dunia tanpa tempat lahir, dan tanpa

tempat mati.

"Tolonglah aku," kata si bocah. "Suatu hari kau pernah mengantarkan suara orang

yang kucintai kepadaku."

"Siapa yang mengajarimu bicara bahasa gurun dan angin?"

"Hatiku," jawab si bocah.

Angin punya banyak nama. Di bagian dunia itu, ia dinamakan sirocco, karena

angin membawa uap lembab dari samudera ke timur. Di negeri jauh tempat asal si

bocah, mereka memanggilnya levanter, karena mereka percaya ia membawakan

pasir gurun, dan pekik-pekik perang bangsa Moor. Mungkin, di tempat-tempat di

luar padang rumput di mana domba-dombanya hidup, orang mengira bahwa angin

datang dari Andalusia. Tapi, sebenarnya, angin tidak datang dari manapun, atau

pergi ke manapun; itulah mengapa angin lebih kuat dari gurun. Suatu hari orang

radikal collection

mungkin menanam pohon-pohon di gurun, dan bahkan beternak domba di sana,

tapi mereka tak akan pernah bisa mengekang angin.

"Kau tak dapat menjadi angin," kata angin. "Kita adalah

dua hal yang sangat berbeda."

"Itu tidak benar," kata si bocah. "Aku mempelajari rahasia-rahasia para alkemis

dalam perjalananku. Di dalam diriku ada angin, gurun, lautan, bintang-bintang dan

semua ciptaan di bumi ini. Kita semua terbuat dari tangan yang sama, dan kita

punya jiwa yang sama. Aku ingin menjadi sepertimu, mampu mencapai setiap

pojok dunia, menyeberangi lautan, meniup pasir yang menutupi hartaku, dan

membawa suara perempuan yang kucintai."

"Aku mendengar apa yang kau bicarakan dengan sang alkemis kemarin," kata

angin. "Dia berkata bahwa semua benda mempunyai Legenda Pribadinya. Tapi

manusia tidak dapat mengubah diri mereka menjadi angin."

"Tolonglah ajari aku menjadi angin sebentar saja," kata si bocah. "Agar kau dan

aku dapat berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan ketakterbatasan manusia

dan angin."

Rasa ingin tahu angin muncul, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelurnnya. Dia

ingin bicara tentang hal-hal itu, tapi tidak tahu bagaimana mengubah manusia

menjadi angin. Dan lihatlah betapa banyaknya yang sudah diketahui angin cara

melakukannya! Dia sudah menciptakan gurun, mengaramkan kapal-kapal,

memusnahkan seluruh hutan, dan berhembus melalui kota-kota yang penuh musik

dan suara-suara aneh. Ia merasa tidak terbatas, tapi di tempat ini ada seorang

bocah yang berkata bahwa ada hal-hal lain yang mestinya bisa dilakukan oleh

angin.

"Inilah yang kita sebut cinta," kata si bocah, merasa bahwa angin bakal

mengabulkan permintaannya. "Bila kau dicintai, kau dapat melakukan apapun

untuk berkreasi. Bila kau dicintai, sama sekali tak perlu memahami apa yang

sedang terjadi. karena semuanya terjadi di dalam dirimu, dan manusia bahkan

radikal collection

dapat mengubah diri mereka menjadi angin. Sepanjang angin membantu, tentu

saja."

Angin adalah mahluk yang pongah, dan merasa terganggu dengan apa yang

dikatakan si bocah. Ia mulai bertiup makin kencang, membuat pasir-pasir terbang.

Tapi akhirnya ia harus mengakui bahwa, walau ia sanggup berjalan mengitari

dunia, ia tidak tahu bagaimana mengubah seorang manusia menjadi angin. Dan ia

tak tahu apa-apa tentang cinta.

"Dalam perjalanan-perjalananku mengelilingi dunia, aku sering melihat orang-

orang bicara tentang cinta dan mendambakan surga," kata angin, kesal karena

menyadari keterbatasan dirinya. "Mungkin lebih baik bertanya pada surga."

"Kalau begitu, bantu aku melakukannya," kata si bocah. "Penuhi tempat ini

dengan badai pasir yang dahsyat sampai matahari tertutup. Hingga aku dapat

melihat surga tanpa membutakan diri."

Maka angin pun bertiup dengan segenap kekuatannya, dan langit dipenuhi pasir.

Matahari berubah menjadi cakram emas.

Di perkemahan, sulit untuk melihat apapun. Orang-orang gurun sudah terbiasa

dengan angin itu. Mereka menamakannya simum, dan ia lebih buruk dari badai

laut. Kuda-kuda mereka meringkik-ringkik, dan semua senjata mereka terisi pasir.

Di ketinggian, salah seorang komandan berpaling pada ketua dan berkata,

"Mungkin lebih baik ini kita akhiri!"

Mereka hampir tidak dapat melihat si bocah. Wajah mereka tertutup kain biru,

dan mata mereka menunjukkan ketakutan.

"Ayo kita hentikan ini," kata komandan lainnya.

"Aku ingin melihat kebesaran Allah," kata ketua, dengan khidmat. "Aku ingin lihat

bagaimana seorang manusia mengubah diri menjadi angin."

radikal collection

Tapi dia telah mencatat dalam hati nama-nama dua orang yang menampakkan

ketakutan mereka. Segera setelah angin berhenti, dia akan memecat mereka,

karena lelaki gurun sejati tidak takut pada apapun.

"Angin berkata padaku bahwa kau tahu tentang cinta," kata si bocah pada

matahari. "Jika kau tahu tentang cinta, kau juga tentu tahu tentang Jiwa Buana,

karena ia terbuat dari cinta."

"Dari tempatku berada," kata matahari, "aku dapat melihat Jiwa Buana. Ia

berkomunikasi dengan jiwaku, dan bersama-sama kami menyebabkan tanaman

tumbuh dan domba-domiba mencari tempat berteduh. Dari tempatku berada --dan

aku sungguh jauh dari bumi-- aku belajar bagaimana mencintai. Aku tahu bahwa

bila aku sedikit saja mendekati bumi, semuanya akan mati, dan Jiwa Buana tidak

akan ada lagi Jadi kami saling menghayati, dan kami saling membutuhkan, dan

kuberi ia kehidupan dan kehangatan, dan ia beri aku alasan untuk hidup."

"Jadi kau tahu tentang cinta," kata si bocah.

"Dan aku tahu tentang Jiwa Buana, karena kami berbincang lama sekali selama

perjalanan tanpa henti melalui alam semesta ini. Ia memberitahuku bahwa

masalah terbesar adalah, sampai sekarang, hanya mineral dan sayuran yang

memahami bahwa segalanya satu belaka. Bahwa tak perlu lagi bagi besi untuk

menjadi sama dengan tembaga, atau tembaga sama dengan emas. Masing-masing

menjalankan fungsi pokoknya sendiri-sendiri sebagai suatu mahluk yang unik, dan

semuanya akan menjadi simfoni kedamaian bila tangan yang menulis semua ini

berhenti pada hari kelima penciptaan.

"Tapi ada hari keenam,"lanjut matahari.

"Kau ini jadi bijak, karena kau mengamati semuanya dari kejauhan," kata si

bocah. "Tapi kau tak tahu tentang cinta. Bila tidak ada hari keenam, manusia tak

akan ada; tembaga akan selalu cuma jadi tembaga, dan timah hanya jadi timah

belaka. Benar bahwa semua punya Legenda Pribadi masing-masing, tapi suatu hari

Legenda Pribadi itu akan terwuiud. Jadi tiap-tiap benda harus berubah untuk

radikal collection

menjadi sesuatu yang lebih baik, dan untuk mencapai Legenda Pribadi yang baru,

sampai, suatu ketika, Jiwa Buana rnenjadi hanya satu."

Matahari memikirkan tentang hal itu, dan memutuskan untuk bersinar lebih

terang. Angin, yang menikmati percakapan itu, mulai bertiup dengan daya yang

lebih besar, sehingga matahari tidak membutakan si bocah.

"Itulah sebabnya mengapa alkemi ada," kata si bocah. "Supaya setiap orang

mencari hartanya, menemukannya, dan kemudian ingin menjadi lebih baik dari

kehidupan sebelumnya. Timah akan memainkan perannya sampai dunia tak

memerlukan timah lagi; dan kemudian timah akan harus berubah menjadi emas.

"Itulah yang dikerjakan para alkemis. Mereka memperlihatkan bahwa, jika kita

berusaha menjadi lebih baik daripada diri kita sekarang, semua yang ada di

sekeliling kita pun rnenjadi lebih baik."

"Baiklah, mengapa kau mengatakan aku tidak tahu tentang cinta?" tanya matahari

pada si bocah.

"Karena bukanlah cinta namanya bila statis seperti gurun, bukan pula cinta

namanya bila menjelajah bumi seperti angin. Dan bukan cinta namanya bila

melihat semuanya dari kejauhan, seperti yang kau lakukan. Cinta adalah daya yang

mengubah dan meningkatkan Jiwa Buana. Saat pertama kali aku menjangkaunya,

kupikir Jiwa Buana itu sempurna. Tapi kemudian, dapat kulihat bahwa Jiwa Buana

sama seperti aspek-aspek ciptaan lainnya, dan memiliki hasrat-hasrat dan perang-

perangnya sendiri. Kitalah yang merawat Jiwa Buana itu, dan apakah bumi yang

kita tinggali ini akan menjadi lebih baik atau lebih buruk, tergantung pada apakah

kita menjadi lebih baik atau lebih buruk Dan di situlah daya cinta masuk. Karena

ketika kita mencinta, kita selalu berjuang untuk menjadi lebih baik daripada diri

kita sekarang."

"Jadi apa yang kau inginkan dariku?" tanya matahari.

"Aku ingin kau membantuku berubah menjadi angin," jawab si bocah.

radikal collection

"Alam tahu aku adalah mahluk terbijak," kata matahari. "Tapi aku tidak tahu

bagaimana mengubahmu menjadi angin."

"Lalu, aku harus bertanya pada siapa?"

Matahari berpikir sejenak. Angin mendengarkan dengan seksama, dan ingin

mengatakan pada setiap penjuru dunia bahwa kearifan matahari itu terbatas.

Bahwa matahari tidak dapat menghadapi bocah ini, yang bisa berbicara Bahasa

Buana.

"Bicaralah pada tangan yang menuliskan semuanya," kata matahari.

Angin berteriak kegirangan, dan bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Tenda-

tenda terhempas ke tanah dari pancangnya, dan hewan-hewan terbebas dari

tambatannya. Di tebing, orang-orang saling berpegangan saat mereka berusaha

bertahan agar tak tergeming.

Si bocah berpaling pada tangan yang menulis semuanya. Saat dia melakukan hal

itu, dia merasakan alam semesta terdiam, dan dia memutuskan untuk tidak bicara.

Arus cinta mengalir dari hatinya, dan si bocah mulai berdoa. Sebuah doa yang tak

pernah ia panjatkan sebelumnya, karena itu adalah doa tanpa pinta atau kata-

kata. Doanya tidak bersyukur karena domba-dombanya menemukan padang rumput

yang baru; tidak meminta agar si bocah dapat menjual lebih banyak kristal; dan

tidak memohon supaya perempuan yang telah dia jumpai terus menunggunya

puIang. Dalam kesenyapan, si bocah memahami bahwa gurun, angin, dan matahari

juga mencoba untuk

memahami tanda-tanda yang ditulis oleh tangan itu, dan ingin mengikuti jalan-

jalan mereka, dan mencoba memahami apa yang telah ditulis di satu zamrud. Dia

melihat bahwa pertanda-pertanda tersebar ke seluruh bumi dan langit, dan bahwa

tidak ada alasan atau makna yang melekat pada kehadiran mereka; dia dapat

melihat bahwa baik gurun, atau angin, atau matahari, ataupun manusia, tidak tahu

mengapa mereka diciptakan. Tapi bahwa tangan itu mempunyai alasan untuk

semua ini, dan bahwa hanya tangan itu yang dapat melakukan keajaiban-

keajaiban, atau mengubah laut menjadi gurun...., atau manusia menjadi angin.

radikal collection

Karena hanya tangan itulah yang mengerti bahwa ia adalah desain yang lebih besar

yang telah mengubah alam semesta ke titik saat enam hari penciptaan berkembang

menjadi sebuah Karya Agung.

Si bocah menjangkau ke Jiwa Buana, dan melihatnya sebagai bagian dari Jiwa

Tuhan. Dan dia melihat bahwa Jiwa Tuhan adalah jiwanya sendiri. Dan bahwa dia,

seorang bocah lelaki, dapat melakukan keajaiban-keajaiban.

Selama beberapa generasi mendatang, orang-orang Arab akan menceritakan legenda

tentang seorang bocah yang dapat mengubah dirinya menjadi angin, nyaris

menghancurkan sebuah kemah militer, memenuhi tantangan ketua yang paling

berkuasa di seantero gurun.

Saat simum berhenti melanda, semua orang melihat ke tempat si bocah tadi

berada. Tapi dia sudah tidak ada di sana; dia berdiri di sebelah penjaga yang

tertutup pasir, di sisi yang jauh dari perkemahan itu.

Orang-orang itu ketakutan dengan ilmu sihirnya. Tapi ada dua orang yang

tersenyum: sang alkemis, karena dia telah menemukan murid yang sempurna, dan

pak ketua, karena murid itu telah memahami keagunganNya.

Di hari berikutnya, jenderal itu mengucapkan selamat tinggal pada si bocah dan

sang alkemis, dan menyediakan sekelompok pengawal untuk menemani mereka

sejauh yang mereka ingini.

sampai di sebuah

biara Koptik. Sang alkemis turun dari kuda, dan menyuruh pangawal-pengawal itu

kembali ke perkemahan mereka.

"Dari sini, kamu akan sendirian," kata sang alkemis. "Kamu hanya tiga jam

jauhnya dari Piramida."

"Terima kasih," kata si bocah. "Engkau telah mengajariku Bahasa Buana."

radikal collection

"Aku hanya membantu apa yang sudah kau tahu."

Sang alkemis mengetuk gerbang biara. Seorang biarawan berpakaian hitam

mendatangi gerbang itu. Mereka berbicara beberapa menit dengan logat Koptik,

dan sang alkemis menyilakan si bocah masuk.

"Aku minta padanya supaya kita dapat menggunakan sebentar dapurnya," sang

alkemis berkata.

Mereka menuju dapur di belakang biara. Sang alkemis menyalakan api, dan

biarawan membawakan timah, yang diletakkan sang alkemis di atas panci besi.

Ketika timah itu mencair, sang alkemis mengeluarkan telur berwarna kuning yang

aneh dari kantongnya. Dia mengiris telur itu dalam irisan setipis rambut,

membungkusnya dengan lilin, dan memasukkan ke dalam panci tempat timah itu

sudah mencair.

Campuran itu berubah menjadi kemerahan, hampir seperti warna darah. Sang

alkemis memindahkan panci dari api, dan mendinginkannya. Sewaktu dia

mengerjakan itu, dia berbicara dengan biarawan tentang perang antarsuku.

"Kurasa perang itu akan lama berakhirnya," katanya pada biarawan.

Biarawan itu risau. Kafilah-kafilah telah berhenti cukup lama di Giza, menunggu

perang itu berakhir. "Tapi kehendak Tuhan telah berlaku," kata biarawan itu.

"Tepat sekali," jawab sang alkemis.

Saat panci mendingin, biarawan dan si bocah melihatnya. Mereka terpesona.

Timah tadi mengering menjadi bentuk panci itu, tapi ia bukan timah lagi. Ia

menjadi emas.

"Bisakah aku melakukannya kelak?" tanya si bocah.

"Ini adalah Legenda Pribadiku, bukan milikmu," jawab sang alkemis. "Tapi aku

ingin memperlihatkan padamu bahwa itu mungkin terjadi.

radikal collection

"Mereka kembali ke gerbang biara. Di sana, sang alkemis membagi piringan itu

menjadi empat bagian.

"Ini untukmu," katanya, rnemberikan satu bagian kepada biarawan itu. "Untuk

kemurahan hatimu kepada para peziarah."

"Tapi bayaran ini terlalu besar untuk kemurahanku," ucap sang biarawan.

"Jangan lagi itu diucapkan. Kehidupan mungkin sedang mendengarkan, dan

memberimu lebih sedikit di lain kesempatan."

Sang alkemis berpaling pada si bocah. "Ini untukmu. Untuk mengganti apa yang

telah kau berikan pada jenderal itu."

Si bocah ingin berkata bahwa itu lebih dari yang dia berikan pada sang jenderal.

Tapi dia diam saja, karena dia telah mendengar apa yang diucapkan sang alkemis

pada biarawan tadi.

"Dan ini untukku," kata sang alkemis, menyimpan satu bagian. "Karena aku harus

kembali ke gurun, di mana ada perang suku."

Dia mengambil bagian keempat dan menyerahkannya pada biarawan itu.

"Ini untuk anak ini. Kalan-kalau dia memerlukannya."

"Tapi aku akan mencari hartaku," kata si bocah. "Aku sekarang sudah sangat dekat

dengannya."

"Dan aku yakin kau akan menemukannya," kata sang alkemis.

"Lalu, ini buat apa?"

"Karena kau sudah kehilangan tabunganmu dua kali. Sekali oleh pencuri, dan

sekali oleh jenderal itu. Aku ini orang tua Arab yang tahayulan, dan aku percaya

pada pepatah-pepatah kami. Ada orang yang bilang, 'Semua yang terjadi satu kali

tidak akan terjadi lagi. Tapi semua yang terjadi dua kali pasti akan terjadi untuk

ketiga kali."

Mereka menaiki kuda-kuda mereka.

Si bocah membawa kudanya mendekat.

"Di Romawi kuno, pada rnasa Kaisar Tiberius, hiduplah seorang lelaki yang baik

dengan dua orang puteranya. Seorang menjadi tentara, dan telah dikirim ke

wilayah-wilayah yang jauh di imperium itu. Putera lainnya adalah penyair, dan

menggembirakan seluruh Roma dengan syair-syair indahnya.

"Suatu malam, sang ayah bermimpi. Satu malaikat muncul padanya, dan

mengatakan bahwa kata-kata dari salah satu anaknya akan dipelajari dan diulangi

ke seluruh dunia bagi semua generasi mendatang. Sang ayah terbangun dari

tidurnya dengan berterima kasih dan menangis, karena kehidupan begitu murah

hati, dan telah mengungkapkan padanya sesuatu yang akan membuat bangga

setiap ayah yang mengetahui.

"Tak lama kemudian, sang ayah meninggal sewaktu dia mencoba menyelamatkan

seorang anak yang akan ditabrak kereta tempur. Karena sepanjang hayatnya dia

hidup dengan benar dan jujur, dia langsung masuk surga, tempat dia bertemu

dengan malaikat yang muncul dalam mimpinya.

"'Kau selalu menjadi orang baik,' kata malaikat itu padanya. 'Kau menjalani

hidupmu dengan penuh kasih, dan meninggal dengan terhormat. Kini aku dapat

mengabulkan apapun keinginanmu.'

"'Kehidupan telah berbaik kepadaku,' kata lelaki itu. 'Saat kau muncul di mimpiku,

aku merasa semua upayaku telah dihargai, karena syair-syair anakku akan dibaca

oleh orang-orang selama beberapa generasi mendatang. Aku tidak ingin apa-apa

untuk diriku sendiri. Tapi setiap ayah akan merasa bangga akan kemashuran yang

dicapai seseorang yang dia rawat sebagai anak, dan dididiknya saat dia tumbuh.

Terkadang dari kejauhan aku ingin mendengar kata-kata anakku.'

radikal collection

"Malaikat menyentuh bahu lelaki itu, dan keduanya melesat jauh ke masa depan.

Mereka berada di latar yang sangat luas, dikelilingi oleh beribu-ribu manusia yang

berbicara dengan bahasa yang aneh.

"Orang itu menangis bahagia."

"'Aku tahu bahwa syair-syair anakku abadi,' katanya pada malaikat dengan

berlinang air mata. 'Dapatkah engkau mernberitahuku syair puteraku mana yang

sedang dilantunkan orang-orang ini?'

"Malaikat mendekati lelaki itu, dan, dengan lembut, membimbingnya ke bangku

panjang di dekatnya, tempat mereka kemudian duduk.

"Syair-syair anakmu yang menjadi penyair sangat terkenal di Roma,' kata

Malaikat. 'Setiap orang menyukainya dan menikmatinya. Tapi saat pemerintahan

Tiberius berakhir, puisi-puisinya terlupakan. Kata-kata yang kau dengar sekarang

adalah kata-kata anakmu yang ada di militer.'

"Orang itu menatap malaikat dengan terkejut.

"'Anakmu pergi berperang ke suatu tempat yang jauh, dan menjadi seorang

komandan. Dia lelaki yang sederhana dan baik. Suatu sore, salah seorang

pelayannya sakit, dan tampaknya dia mau meninggal. Anakmu pernah mendengar

tentang seorang rabi yang dapat menyembuhkan penyakit, dan dia berkuda

berhari-hari untuk mencari orang itu. Sepanjang jalan, tahulah dia bahwa orang

yang dicari adalah Putera Tuhan. Dia bertemu orang-orang yang pernah

disembuhkan olehnya, dan mereka mengajarkan pada anakmu ajaran-ajaran orang

itu. Jadi, walaupun dia seorang komandan Romawi, dia beralih ke keyakinan

mereka. Tidak lama kemudian, dia sampai ke tempat di mana orang yang dicarinya

sedang berkunjung.

"'Dia mengatakan pada orang itu bahwa salah seorang pelayannya sakit keras, dan

rabi itu bersiap pergi dengannya ke rumahnya. Tapi komandan itu adalah orang

yang beriman, dan, melihat ke dalam mata rabi itu, dia tahu bahwa dia yakin akan

kehadiran Putera Tuhan.'

radikal collection

"'Dan inilah yang dikatakan puteramu,' malaikat memberitahu lelaki itu. 'Inilah

kata-kata yang dia ucapkan pada rabi itu waktu itu, dan kata-kata ini tidak pernah

dilupakan: "Tuhanku, aku tidaklah berarti sampai tempatku perlu kau datangi. Tapi

ucapkanlah sepatah kata saja maka pelayanku akan sembuh.'"

Sang alkemis berkata, "Tak peduli apa yang dilakukannya, setiap orang di dunia

memainkan peran sentral dalam sejarah dunia. Dan biasanya ia tidak

menyadarinya."

Si bocah tersenyum. Dia tidak pernah membayangkan bahwa pertanyaan-

pertanyaan tentang kehidupan akan jadi begitu penting bagi seorang gembala.

"Selamat tinggal," kata sang alkemis.

"Selamat tinggal," kata si bocah. menyimak baik-baik

apa yang akan dikatakan hatinya. Hatinyalah yang akan memberitahu di mana

hartanya tersembunyi.

"Di mana hartamu berada, di sana jugalah hatimu," sang alkemis pernah berkata.

Tapi hatinya berbicara tentang hal-hal lain. Dengan bangga, ia menuturkan kisah

tentang seorang gembala yang meninggalkan kawanan ternaknya untuk mengikuti

satu impian yang dimimpikannya dalam dua kesempatan yang berbeda. Mimpi itu

bercerita tentang Legenda Pribadi, dan tentang banyaknya orang yang berkelana

mencari negeri-negeri yang jauh atau perempuan- perempuan cantik, menghadapi

orang-orang sezaman mereka dengan gagasan-gagasan yang sudah terpola. Mimpi

itu bercerita tentang perjalanan-perjalanan, penemuan-penemuan, buku-buku,

dan perubahan.

Saat dia hendak mendaki bukit pasir yang lain lagi, hatinya berbisik, "Cermatilah

tempat jatuhnya airmatamu. Di situlah aku berada, dan di situlah hartamu."

Si bocah memanjat bukit pasir itu dengan perlahan.Bulan pumama muncul lagi di

langit yang berbintang: telah satu bulan berlalu sejak oasis itu ia tinggalkan.

radikal collection

Cahaya bulan menyajikan bayangan melalui bukit-bukit pasir, menciptakan

tampilan seperti laut yang bergelombang; ia mengingatkan si bocah pada hari

ketika kuda itu mendompak di gurun, dan dia datang untuk mengenal sang alkemis.

Dan bulan itu turun di kesenyapan gurun,

dan di perjalanan seseorang dalam pencarian harta.

Saat dia mencapai puncak bukit pasir itu, hatinya melonjak. Di sana, disinari

cahaya bulan dan kecemerlangan gurun, berdirilah dengan khidmat dan megahnya

Piramida Mesir.

Si bocah berlutut dan menangis. Dia berterima kasih pada Tuhan karena membuat

dia percaya pada Legenda Pribadinya, dan karena membimbingnya bertemu

dengan seorang raja, seorang pedagang, seorang Inggris, dan seorang alkemis. Dan

terutama karena mempertemukannya dengan seorang perempuan gurun yang

berkata kepadanya bahwa cinta tidak pernah menahan seorang lelaki dari Legenda

Pribadinya.

Bila dia mau, dia sekarang dapat kembali ke oasis, kembali ke Fatima, dan

menjalani hidupnya sebagai seorang gembala biasa. Betapapun, sang alkemis

meneruskan tinggal di gurun, meski dia memahami Bahasa Buana, dan tahu

bagaimana mengubah timah menjadi emas. Dia tidak perlu menunjukkan ilmu dan

seninya pada siapapun. Si bocah berkata pada dirinya bahwa, di perjalanan menuju

pewujudan Legenda Pribadinya sendiri, dia telah belajar semua yang perlu dia

ketahui, dan telah mengalami semua yang mungkin diimpikannya.

Tapi di sinilah dia, di titik pencarian hartanya, dan dia mengingatkan dirinya

sendiri bahwa tidak ada proyek yang selesai sampai tujuan proyek itu tercapai. Si

bocah memandang pasir di sekelilingnya, dan melihat bahwa, di tempat

airmatanya jatuh, seekor scarab melesat melintasi pasir. Selama dia di gurun, dia

telah mengerti bahwa, di Mesir, kumbang hitam itu adalah simbol Tuhan.

Pertanda yang lain! Si bocah mulai menggali bukit pasir tadi. Sewaktu dia

melakukannya, dia memikirkan apa yang pernah dikatakan pedagang kristal itu:

bahwa setiap orang dapat membuat piramida dihalaman rumahnya. Kini si bocah

radikal collection

bisa mengerti bahwa dia tidak dapat melakukannya bila dia meletakkan batu di

atas batu sepanjang sisa hidupnya.

Sepanjang malam, si bocah menggali tempat yang telah dipilihnya, tapi tidak

menemukan apa-apa. Dia merasa tertinggal berabad-abad sejak Piramida

dibangun. Tapi dia tidak berhenti. Dia berjuang melanjutkan menggali sambil

melawan angin, yang kadang-kadang meniup pasir kembali ke galian. Tangannya

bergetar dan kelelahan, tapi dia mendengarkan hatinya. Hatinya telah

menyuruhnya menggali tempat airmatanya jatuh.

Sewaktu dia mencoba menarik batu-batu yang dijumpainya, dia mendengar

langkah-langkah kaki. Beberapa orang mendekatinya. Punggung-punggung mereka

menutupi cahaya bulan, dan si bocah tidak dapat melihat mata ataupun wajah-

wajah mereka.

"Sedang apa kamu di sini?" tanya salah seorang dari mereka.

Karena ketakutan, si bocah tidak menjawab. Dia telah menemukan tempat

hartanya berada, dan takut akan apa yang mungkin terjadi.

"Kami ini pengungsi perang suku, dan kami perlu uang," kata orang yang lain. "Apa

yang kamu sembunyikan di sana?"

"Aku tidak menyembunyikan apa-apa," jawab si bocah.

Tapi seorang dari mereka mendorong si bocah dan menyentakkannya ke dalam

lubang. Yang lainnya, yang memeriksa tas-tas si bocah, menemukan potongan

emas.

"Ini ada emas," katanya.

Rembulan menyinari wajah orang Arab yang telah mendorongnya, dan di mata

orang itu si bocah melihat kematian.

"Mungkin dia punya emas lebih banyak lagi yang disembunyikan di dalam tanah."

Mereka menyuruh si bocah terus menggali, tapi tidak menemukan apa-apa. Saat

matahari terbit, orang-orang itu mulai menghajar si bocah. Dia terluka dan

berdarah, bajunya robek-robek, dan dia merasa kematian mendekat.

"Apa gunanya uang bila kau mati? Jarang uang menyelamatkan hidup orang," sang

alkemis pernah berkata. Akhirnya, si bocah berteriak pada orang-orang itu, "Aku

sedang menggali hartaku!" Dan, meski mulutnya berdarah dan bengkak, dia

menceritakan pada para penyerangnya bahwa dia dua kali bermimpi tentang harta

yang tersembunyi di dekat Piramida Mesir.

Lelaki yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu berkata pada seorang di

antara mereka: "Tinggalkan dia. Dia tidak punya apa-apa lagi. Pasti dia mencuri

emas ini."

Si bocah terjatuh ke pasir, hampir pingsan. Pemimpin itu mengguncang tubuhnya

dan berkata, "Kami pergi."

Tapi sebelum mereka pergi, dia kembali pada si bocah dan berkata, "Kamu tidak

akan mati. Kamu akan hidup, dan kamu akan belajar bahwa seorang lelaki tidak

boleh bodoh. Dua tahun lalu, tepat di sini, aku juga mendapat mimpi yang

berulang. Aku bermimpi bahwa aku harus berkelana ke ladang-ladang di Spanyol

dan mencari sebuah gereja yang rusak tempat para gembala dan domba-domba

tidur. Dalam mimpiku, ada pohon sikamor tumbuh di reruntuhan sakristi, dan aku

diberitahu bahwa, jika aku menggali akar sikamor itu, aku akan menemukan harta

terpendam. Tapi aku tidak begitu bodoh sampai mau menyeberangi gurun yang

luas hanya untuk mimpi yang datang

berulang."

Dan mereka menghilang.

Si bocah berdiri dengan gemetar, dan melihat sekali lagi pada Piramida. Mereka

kelihatannya menertawai dia, dan dia balik menertawai, hatinya dipenuhi

kegembiraan.

Sebab kini dia tahu di mana hartanya berada.

Epilog

Pohon sikamor itu masih tegak di sakristi, dan bintang-bintang masih dapat dilihat melalui

atap yang nyaris hancur. Dia teringat kala dia di sana dengan domba-dombanya; itu

adalah malam yang damai.., kecuali mimpinya.

Kini dia di sini bukan dengan ternaknya, tapi dengan sekop.

Dia duduk memandang langit untuk beberapa lama. Kemudian dia mengambil dari

ranselnya sebotol anggur dan meminumnya. Dia ingat malam di gurun kala dia

duduk dengan sang alkemis, saat mereka melihat bintang-bintang dan minum

anggur bersama. Dia memikirkan jalan-jalan yang telah dia lalui, dan dengan cara

yang aneh Tuhan menunjukkan padanya hartanya. Bila dia tak percaya pada arti

mimpi yang berulang, dia mungkin tidak bertemu dengan perempuan Gipsi, raja,

pencuri, atau... "Yah, daftarnya panjang. Tapi jalurnya sudah tertulis pada

pertanda, dan tidak mungkin aku keliru," katanya pada dirinya sendiri.

Dia tertidur, dan ketika dia terbangun, matahari sudah tinggi. Dia mulai menggali

di dasar pohon sikamor itu. "Hai, penyihir tua," si bocah berteriak ke langit. "Kau

mengetahui cerita lengkapnya. Kau bahkan meninggalkan emas di biara itu supaya

aku kembali ke gereja ini. Biarawan itu tertawa saat dia melihatku kembali dengan

pakaian compang-camping. Tak dapatkah kau menolongku waktu itu?"

"Tidak," dia mendengar suara di angin. "Bila aku memberitahumu, kau tidak akan

melihat Piramida. Mereka itu indah bukan?"

Si bocah tersenyum, dan melanjutkan menggali, Setengah jam kemudian,

sekopnya membentur sesuatu yang keras. Satu jam kemudian, di hadapannya

tampak sepeti koin emas Spanyol. Juga ada batu-batu berharga, topeng-topeng

emas yang dihiasi bulu-bulu merah dan putih, dan patung-patung batu bertatahkan

permata. Barang-barang rampasan dari penakluk yang telah lama dilupakan oleh

negeri ini, dan yang tak diceritakan oleh sang penakluk pada anak-anaknya.

Si bocah mengeluarkan Urim dan Thummim dari tasnya. Dia hanya sekali

menggunakan kedua batu itu, suatu pagi di pusat pasar. Hidupnya dan jalannya

selalu memberikan cukup pertanda untuknya.

radikal collection

Dia meletakkan Urim dan Thummim di peti itu. Mereka juga merupakan bagian

dari hartanya yang baru, karena mereka adalah pengingat pada sang raja tua, yang

tak akan pernah dilihatnya lagi.

Benar; kehidupan sungguh-sungguh murah hati bagi mereka yang mengejar

Legenda Pribadi mereka, pikir si bocah. Kemudian dia ingat bahwa dia harus

kembali ke Tarifa untuk dapat memberikan sepersepuluh dari hartanya kepada

perempuan Gipsi itu, seperti yang dia janjikan. "Orang-orang Gipsi itu benar-benar

pintar," pikirnya. Mungkin karena mereka sering berpindah-pindah.

Angin mulai bertiup lagi. Itu levanter, angin yang datang dari Afrika. Ia tidak

membawa bau gurun, tidak pula ancaman serbuan bangsa Moor. Ia justru

mengantarkan wangi parfum yang sangat dikenalnya, dan sentuhan sebuah kecupan

--kecupan yang datang dari jauh, pelan, pelan, hingga akhirnya sampai di bibirnya.

Si bocah tersenyum. Inilah kali pertama gadis itu melakukannya.

"Aku datang, Fatima," katanya

The End

0 Response to "Seratus Tahun Kesunyian II"

Post a Comment