HOME

Monday, July 11, 2011

Seratus Tahun Kesunyian I

Seratus Tahun Kesunyian

Judul Asli: ONE HUNDRED YEARS SOLITUDE

Pdf: www.ac-zzz.tk

Sebuah novel dari pemenang Hadiah Nobel)

"Sebuah novel yang sangal memikat."—The Times

BERTAHUN-TAHUN kemudian, saat menghadapi regu tembak. Kolonel Aurcliano Bucndia mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es. Saat itu Macondo adalah desa yang terdiri dari dua puluh rumah terbuat dari batu bata mentah, dibangun di tepi sungai yang airnya jernih; yang mengalir melewati batu-batu yang mengilat, putih, dan besar seperti telur-telur dari zaman prasejarah. Dunia tampak baru sehingga banyak benda belum mempunyai nama dan untuk menyatakan benda-benda ini, kita harus menunjuknya. Setiap tahun selama Maret, satu keluarga besar gipsi dengan pakaian compang-camping mendirikan tenda di dekat desa, dan diiringi bunyi suling dan genderang yang ramai sekali, mereka memeragakan penemuan-penemuan baru. Mula-mula mereka membawa besi magnet. Seorang gipsi berbadan besar, dengan janggut acak-acakan dan tangan penuh guratan, yang memperkenalkan dirinya sebagai Melquiades, memeragakan kepada umum apa yang menurutnya adalah keajaiban kedelapan dari beberapa alkemis yang paling terpelajar di Macedonia. la menjelajah dari rumah ke rumah sambil menyeret dua batang besi, dan tiap orang tampak terheran-heran melihat pot-pot, panci-panci, alat-alat pertukangan, dan kompor-kompor bermunculan dari tcmparnya dan pcrcikan api dari paku-paku dan sekrup-sekrup yang terus bergesekan karena berusaha melepaskan diri; bahkan benda-benda yang telah hilang untuk jangka waktu lama, yang sudah dicari di tempat semula tetapi tidak ditemukan, kini tampak ikut terseret dalam suasana hiruk pikuk di belakang besi-besi ajaib yang dibawa Melquiades. "Tiap benda memiliki hidupnya sendiri," kata gipsi itu dalam aksen yang kasar. "Persoalannya hanyalah bagaimana membangunkan j iwa mereka." Josc Arcadio Bu-endia, yang imajinasi liarnya selalu melampaui batas-batas alamiah, bahkan melampaui mukjizat dan sihir, berpendapat bahwa adalah mungkin memanfaatkan penemuan yang tampaknya tak berguna itu untuk menarik emas dari perut bumi. Melquiadcs, seorang yang jujur, memperingatkannya, "Besi ini tidak akan bisa untuk itu." Tetapi Jose Arcadio Buendfa saat itu tidak memercayai kejujuran si gipsi. Demikianlah, ia menjual bagal dan sepasang kambingnya unruk mendapatkan dua batang besi magnet. Ur-sula Iguaran, istrinya, yang mengandalkan kemampuan binatang-binatang itu untuk mengentaskan mereka dari kemiskinan, tidak mampu mengubah keputusan suaminya. "Dalam waktu singkat, kita akan memiliki cukup emas, bahkan lebih untuk melapis lantai rumah kita," jawabnya. Beberapa bulan lamanya ia bekerja keras untuk membuktikan kebenaran pemikirannya itu. Ia menjelajahi tiap inci daerah itu, bahkan sampai ke dasar sungai, sambit membawa dua batang besi magnet dan mengucapkan mantra Melquiades keras-keras. Satu-satunya benda yang ia temukan adalah seperangkat baju besi peninggalan abad XV yang semua bagiannya sudah penuh karat dan bagian dalamnya bagaikan buah labu raksasa penuh kerikil. Ketika Jose Arcadio Buendia dan empat orang temannya berhasil memisahkan bagian-bagian baju baja tersebut, mereka menemukan tulang tengkorak yang telah mengeras karena kapur dan seuntai kalung tembaga dengan liontin berisi rambut seorang perempuan—melilit di lehernya.

Pada Maret berikutnya gipsi-gipsi itu kembali lagi. Kali ini mereka membawa teleskop dan kaca pembesar seukuran tambur, yang mereka pamerkan sebagai penemuan mutakhir orang-orang Yahudi di Amsterdam. Mereka menempatkan seorang wanita gipsi di pinggir desa dan menempatkan teleskop tersebut pada jalan masuk ke tenda. Dengan membayar lima real,1orang-orang bisa menengok ke dalam teleskop dan melihat wanita gipsi itu dalam jarak yang begitu dekat, seakan-akan bisa digapai. "Ilmu pengetahuan telah menghapuskan jarak," tegas Melquiades, "Dalam waktu dekat, orang akan mampu melihat apa yang terjadi di mana saja di dunia ini tanpa perlu meninggalkan rumahnya/ Matahari tengah hari yang terik menghasilkan suatu peragaan memesona dengan kaca pembesar raksasa itu; mereka menumpuk jerami kering di tengah jalan dan membakarnya dengan memusatkan cahaya matahari, jose Arcadio Buendia, yang belum terhibur hatinya akibat kegagalan menggunakan besi magnet, mendapatkan ide untuk menggunakan penemuan tersebut sebagai senjata perang. Lagi-lagi Melquiades berusaha mencegahnya, tetapi akhirnya ia menerima kedua batang besi magnet ditambah tiga keeping koin zaman kolonial untuk ditukar dengan kaca pembesar tersebut. Crsula menangis dalam kebingungannya. Koin tersebut diambil dari kotak koin emas yang telah dikumpulkan ayahnya sepanjang hidupnya yang melarat, dan Ur-sula sudah menanamnya di bawah tempat tidur dengan harapan pada waktunya kelak bisa dimanfaatkan. Jose Arcadio Buendia sama sekali tak berusaha menghibur istrinya; semua perhatiannya terserap pada eksperimen-eksperimen taktis yang mengingkari hukum-hukum alam, bahkan dengan risiko dibayar dengan nyawanya- Dalam suatu upaya untiik menunjukkan etek kaca pembesar itu terhadap pasukan musuh, ia sendiri berdiri di depan titik-bakar matahari dan luka kena bakar yang lama sembuhnya. Karena diprotes oleh istrinya, yang begitu khawatir terhadap bahaya penemuan itu, ia pernah ingin mencoba membakar rumahnya dengan kaca pembesar tersebut, la menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya, memperhitungkan kemungkinan strategis senjata terbarunya itu sampai berhasil menyelesaikan suatu pedoman instruksi yang mengagumkan dengan amat jelas dan meyakinkan. Ia mengirimkan hasil penemuan itu kepada pemerintah, disertai banyak sekali deskripsi rentang eksperimennya dan beberapa halaman lagi yang memuat sketsa penjelasan, melalui seorang kurir yang menyeberangi pegunungan, tersesat dalam rawa-rawa amat luas, mengarungi sungai-sungai deras, dan hampir mati karena putus asa, penyakit, dan diserang binatang buas, sampai menemukan rute yang menyambung dengan jalan yang dilewati bagal pengantar surat. Biarpun perjalanan kc ibu kota hampir mustahil pada waktu itu, Jose Arcadio Buendia berjanji untuk melaksanakan hal itu secepat mungkin jika pemerintah memerintahkan padanya; dengan demikian ia dapat memperlihatkan kebolehan senjatanya pada pihak militer yang berkuasa dan selanjutnya melatih mereka seni peperangan dengan sinar matahari yang cukup rumit. Bertahun-tahun lamanya ia menunggu jawaban. Akhirnya, karena lelah menunggu, ia mengeluh pada Mclquiades tentang kegagalan proyek itu, lalu orang gipsi tersebut memberikan bukti yang meyakinkan tentang kejujurannya: Mel-quiades mengembalikan tiga koin emas yang dulu ditukar dengan kaca pembesar itu, dan di samping itu memberi beberapa peta Portugis dan beberapa peralatan navigasi. Dengan tulisan tangannya sendiri, ia menuliskan ringkasan sintesis studi Rahib Hermann untuk Jose Arcadio Buendia agar bisa memanfaatkan astrolabc2, kompas, dan sekstan'. Jose Arcadio Buendia melewatkan musim hujan yang berbulan-bulan itu dengan menutup diri dalam ruang kecil yang ia bangun di samping rumahnya agar tak ada yang akan mengganggu eksperimennya. Dengan sepenuhnya melalaikan kewajiban sebagai suami, ia menghabiskan malam hari di halaman untuk mengamati peredaran bintang, dan hampir mengerut akibat sengatan matahari karena mencoba menyusun sebuah metode untuk memastikan saatnya tengah hari* Ketika sudah amat ahli menggunakan dan memanipulasi alat-alatnya, ia mendapatkan sebuah gagasan tentang ruang yang memungkinkan ia mengarungi laut*

laut tak dikenal» mengunjungi tempat-tempat tak berpeng-huni, dan menjalin hubungan dengan makhluk-makhluk luar biasa tanpa harus meninggalkan penelitiannya. Pada masa itulah ia mulai dihinggapi kebiasaan berbicara dengan dirinya sendiri, berkeliling di rumahnya tanpa memerhatikan siapa pun, sementara Ursula dan anak-anaknya banting tulang di kebun menanam pisang, caladium4, singkong, ubi jalar, umbi ahuyana, dan terung. Tiba-tiba, tanpa pertanda apa-apa, aktivitasnya yang gila-gilaan itu terhenti dan ia seperti terkagum-kagum. Selama beberapa hari ia seperti kena sihir, dengan perlahan mengulang-ulang serentetan pikiran menakutkan, yang tak dapat dipahaminya sendiri. Akhirnya, pada Selasa bulan Desember, pada waktu makan siang, ia menumpahkan seluruh beban deritanya dalam satu kalimat. Seumur hidup anak-anak itu akan ingat pada keagungan khidmat yang dibawa ayah mereka, letih akibat lama tidak tidur dan oleh kemurkaan imajinasinya, saat mengungkapkan penemuannya pada mereka:

"Bumi ini bulat seperti sebuah jeruk."

Ursula tidak sabar lagi. "Kalau kau ingin gila, gila saja sendiri!" teriaknya. "Tetapi jangan coba-coba menjejalkan ide-ide gipsimu itu ke dalam otak anak-anakmu." Jose Arcadio Buendia tenang, tidak membiarkan dirinya ketakutan akan kemarahan istrinya, walaupun perempuan itu membanting astrolabe ke lantai. Jose lalu membuat astrolabe yang lain, ia mengumpulkan orang-orang desa itu di kamarnya yang kecil dan memeragakan di depan mereka, dengan teori-teori yang tak seorang pun mampu memahaminya, tentang kemungkinan seseorang akan kembali lagi ke tempatnya semula kalau ia berlayar terus ke timun Seluruh desa yakin bahwa Jos£ Arcadio Buendia sudah gila, hingga Melquiades kembali dan meluruskan segala sesuatunya. Di depan umum ia memuji kepintaran seseorangyang, dengan hanya berdasarkan spekulasi astronomis, telah menyusun sebuah teori yang telah dibuktikan dalam praktik, yang saat itu kabarnya belum sampai hingga Macondo. Dan sebagai bukti kekagumannya, ia membuat sebuah hadiah yang akan sangat memengaruhi masa depan desa itu: sebuah laboratorium kimia.

Saat itu, Melquiades bertambah tua sedemikian cepatnya. Waktu kali pertama datang, ia tampak sebaya dengan Jose Arcadio Buendia. Tetapi, sementara Jose masih memiliki kekuatan luar biasa: masih mampu menjatuhkan seekor kuda dengan menarik telinganya, gipsi itu kelihatan sudah lemah akibat penyakit menahun. Nyatanya ia memang menderita berbagai penyakit, beberapa di antaranya langka, selama pengembaraan ke seluruh dunia yang tak terhitung banyaknya. Menurut apa yang dikatakannya sendiri kepada Jose Arcadio Buendia—sambil membantu membangun laboratorium itu—kematian mengikutinya ke mana-mana, tercium dalam setiap tarikan napasnya, tetapi tidak memutuskan untuk mencengkeramnya, la buronan yang lari dari semua wabah dan bencana yang selalu menyerang umat manusia. Ia selamat dari wabah pelagra di Persia, sa-riawan akut di Malaysia, lepra di Alexandria, beri-beri di Jepang, pes di Madagaskar, gempa bumi di Sisilia, dan kapal karam di Selat Magellan. Makhluk luar biasa yang katanya memiliki kunci-kunci Nostradamus ini adalah manusia yang murung, terbungkus dalam aura kesedihan, dengan mata Asiatik yang seakan tahu apa yang ada di balik benda-benda. Ia memakai topi hitam lebar yang tampak seperti burung gagak dengan sayap-sayap membentang, dan rompi beledu yang di atasnya terdapat patina* khas abad itu. Meskipun sangat bijaksana dan punya pengetahuan yang misterius luasnya, ia tetap menanggung beban manusia, sebuah kondisi duniawi yang menyebabkan ia terlibat dalam masalah kecil-kecil hidup sehari-hari. la akan mengeluh tentang penyakit akibat usia tua, juga mengalami kesulitan-kesulitan ekonomi akibat hal yang sepele, dan sudah lama tidak tertawa karena sariawan akut telah membuatnya ompong. Pada tengah hari yang gerah itu, tatkala si gipsi membukakan ra h as ia-ra hastanya, Jose Arcadio Buendia memiliki keyakinan bahwa ini adalah awal persahabatan yang hebat. Anak-anak kagum mendengar cerita

"Itu bau setan/ kata perempuan itu.

"Sama sekali bukan/ Melquiades membetulkan. "Telah terbukti bahwa setan mengandung unsur sulfur, dan ini sekadar sublimat yang agak korosif."

Selalu bersikap didaktik, ia menjelaskansetarailmiah unsur diabolik dari merkuri sulfida, terapi Ursula tidak memerhatikannya, malah ia mengajak anak-anaknya keluar untuk berdoa. Bau menyengat itu akan selamanya ada dalam pikirannya berkait dengan kenangan tentang Mclqu-iades.

Selain banyak sekali panci, corong, tabung, saringan, dan pengayak; laboratorium sederhana itu terdiri dari sebuah pipa air primitif, sebuah gelas kimia berleher panjang dan kurus, sebuah reproduksi dari telur filsuf*, dan alat penyuling bercabang tiga bikinan para gipsi sendiri berdasarkan deskripsi modern yang dibuat oleh Maria orang Yahudi. Bersama dengan ini semua, Melquiades meninggalkan contoh tujuh macam logam yang paralel dengan tujuh planet, formula Moses dan Zosimus untuk menggandakan jumlah emas, dan setumpuk catatan dan sketsa mengenai proses Ajaran Agung yang memungkinkan mereka yang dapat menafsirkannya untuk menghasilkan telur filsuf. Tergoda oleh kesederhanaan formula untuk menggandakan emas, Jose Arcadio Buendia merayu Ursula selama beberapa minggu agar membiarkannya mengambil koin emas kolonialnya, dan berniat menggandakannya sebanyak mungkin, seperti bahwa ia bisa membelah merkuri7. Seperti biasa, Ursula menyerah pada kebandelan suaminya yang tak terpatahkan itu* Lalu Jose Arcadio Buendia melemparkan tiga koin itu ke dalam panci dan meleburnya dengan serbuk tembaga, orpimen, belerang, dan timah hitam. Ia mendidihkan semuanya dalam periuk minyak kastor sampai menjadi sirop kental menjijikkan, yang tampak lebih menyerupai karamel daripada emas yang mahal. Dalam proses distilasi yang penuh risiko dan mengkhawatirkan itu, cairan bak karamel itu dilelehkan lagi dengan tujuh logam planet, dicampur dengan hermetik merkuri11, dan vitriol dari Siprus, lalu dimasak dalam lemak babi-karena tidak punya minyak lobak, maka harta warisan Ursula yang mahal itu berubah menjadi sepotong besar kerak lemak babi yang melengket sepenuhnya pada dasar panci itu-

Ketika para gipsi itu datang kembali, Ursula telah membuat seluruh penduduk desa menentang mereka. Tetapi rasa ingin tahu lebih besar daripada rasa takut karena waktu itu para gipsi berkeliling desa sambil membuat bunyi yang memekakkan telinga dengan segala macam alat musik* sementara seorang "pembawa warta" mengumumkan pameran penemuan luar biasa dari Naciancenes. Maka semua orang datang ke tenda pameran dan membayar satu sen untuk menyaksikan Melquiadcs yang muda belia, segar, tanpa kerut wajah, dengan gigi baru dan mengilat. Mereka yang masih ingat bagaimana gusi si gipsi rusak oleh sati-awan-dengan dagu lembek dan bibir menggantung-geme-tar ketakutan melihat bukti daya supranatural gipsi itu. Ketakutan itu berubah menjadi kepanikan ketika Melqu-lades mencopot giginya, semuanya, utuh, yang tadi terpasang pada gusinya, dan memperlihatkannya sebentat kepada mcreka-dalam sekejap ia telah kembali menjadi orang jompo keriput seperti beberapa tahun lalu, dan memasang lagi giginya dan tersenyum sekali lagi dengan wajahnya yang kembali muda itu. Bahkan, Jose Arcadio Buendia sendiri menganggap pengetahuan Melquiades telah mencapai ujung paling jauh, tetapi merasakan kegembiraan yang menyehatkan tatkala gipsi itu menjelaskan, hanya kepadanya, cara kerja gigi palsunya. Tampaknya begini sederhana, tetapi begitu luar biasa sehingga dalam semalam ia sudah tidak tertarik lagi pada eksperimen kimianya. Sekali lagi ia mengalami suatu krisis humor yang buruk, la menjadi jarang makan dan menghabiskan waktunya dengan mondar-mandir di dalam rumah. "Hal-hal luar biasa mulai terjadi di dunia ini," katanya pada Ursula. "Tepat di sana, di seberang sungai itu, ada segala macam peralatan ajaib, sementara kita hidup seperti keledai." Mereka yang mengenalnya sejak Ma-condo berdiri, terkejut melihat betapa ia amat berubah akibat pengaruh Melquiades.

Mulanya Jose Arcadio Buendia adalah kepala keluarga muda yang baik, yang menganjurkan bercocok tanam dan memberikan nasihat tentang mengasuh anak dan beternak;

ia selalu bekerja sama dengan siapa saja, termasuk dalam pekerjaan fisik demi kesejahteraan komunitas itu. Karena sejak awal rumahnya adalah yang terbaik di desa itu, rumah lainnya dibangun menyamai dan meniru bentuk rumah itu. Rumah itu terdiri atas ruang keluarga yang mungil dan cukup terang, satu ruang makan berbentuk teras dengan bunga-bunga aneka warna, dua kamar tidur, halaman dengan pohon kastanye yang besar, sebuah kebun yang terpelihara baik dan sebidang tanah berpagar tempat kambing, babi, dan ayam hidup bersama dengan damai. Satu-satunya hewan terlarang, tidak hanya dalam rumahnya tetapi di seluruh desa itu, adalah ayam jago aduan.

Kapasitas kerja Ursula sama dengan suaminya. Aktif» berbadan kecil, keras, seorang perempuan tegar yang sepanjang hidupnya selalu bernyanyi itu seakan ada di mana-mana, dari dini hari sampai larut malam, selalu diikuti suara dari roknya yang kaku dan keras. Berkat perempuan itu maka lantai tanah dipadatkan, temboknya yang dari tanah liat tanpa dikapur dan semua perabot kayu buatan sendiri selalu bersih dan peti-peti tua tempat menyimpan pakaian selalu mengeluarkan keharuman hangat daun basil

Jose Arcadio Buendia, satu-satunya orang paling giat yang pernah ada di desa itu, telah menetapkan penempatan rumah-rumah desa itu sedemikian rupa sehingga dari setiap rumah itu orang bisa mencapai sungai dan mengambil air dengan upaya yang sama; dan telah menetapkan jalan-jalan dengan tepat sehingga tak ada rumah yang mendapatkan sinar matahari lebih banyak daripada rumah lainnya, terutama pada tengah hari. Dalam beberapa tahun» Macon-do—dengan tiga ratus penduduknya—telah menjadi desa

yang lebih teratur dan lebih giat daripada waktu-waktu sebelumnya. Suatu desa yang benar-benar bahagia di mana tak ada yang berusia lebih dari tiga puluh tahun, dan tak seorang pun telah meninggal dunia,

Sejak mulai mendirikan desa itu, Jose Arcadio Buendia telah membuat perangkap dan sangkar burung. Dalam waktu singkat, ia memenuhi—tidak hanya rumahnya sendiri, tetapi setiap rumah penduduk—dengan burung truptal, kenari, burung pemakan serangga, dan tempua. Konser nyanyian burung yang begitu banyak ragamnya itu mengganggu Ursula hingga ia menyumpal kedua telinganya dengan lilin agar tidak hanyut dalam imajinasi. Waktu rombongan Melquiades datang untuk kali pertamanya, untuk menjual bola-bola kaca penyembuh sakit kepala, setiap orang di desa itu heran bagaimana mereka dapat menemukan desa yang terpencil di tengah rawa-rawa itu, dan para gipsi itu mengaku menemukan jalan karena mendengar nyanyian burung.

Semangat kebersamaan lenyap dalam waktu singkat, disingkirkan oleh demam magnet, kalkulasi astronomis, mimpi tentang transmutasi dan keinginan keras menemukan keajaiban dunia. Dari seorang yang aktif dan bersih, Jose Arcadio Buendia berubah menjadi berpenampilan malas, berpakaian seenaknya, dengan janggut tak terurus yang berhasil dipangkas oleh Ursula dengan susah payah dengan sebilah pisau dapur. Banyak yang menganggapnya kena suatu mantra aneh. Tetapi bahkan mereka yang amat yakin bahwa ia gila, meninggalkan pekerjaan dan keluarga untuk mengikutinya ketika melihatnya membawa peralatan untuk membuka tanah; dan minta pada orang-orang itu untuk membantunya yang memungkinkan Macondo berhubungan dengan penemuan-penemuan hebat.

Jose Arcadio buendia sama sekali tidak tahu geografi daerah tersebut, la tahu bahwa ke arah timur ada pegunungan yang tidak bisa ditembus, dan bahwa di baliknya ada kota kuno Riohacha, tempat pada masa lalu—menurut cerita Aureliano Buendia pertama, kakeknya—Sir Francis Drakc berburu buaya dengan meriam-meriam, dan mengeringkan buaya-buaya lalu mengisi perut mereka dengan jerami untuk dipersembahkan kepada Ratu EIizabeth. Pada masa mudanya, Jose Arcadio Buendia dan orangorangnya, bersama istri dan anak-anak mereka, hewan dan segala macam perlengkapan rumah tangga, menyeberangi pegunungan itu dalam upaya mencari jalan ke laut, dan setelah dua puluh enam bulan, ekspedisi itu dihentikan dan mereka mendirikan Macondo sehingga tidak perlu pulang. Karenanya, itu adalah rute perjalanan yang tidak menarik karena hanya akan mengingatkan mereka akan masa lalu. Ke arah selatan terdapat rawa-rawa, selamanya tertutup sampah tanaman, dan semesta rawa luas itu—menurut apa yang dikatakan para gipsi itu—tak terbatas. Ke bagian barat rawa itu menyatu dengan danau besar tak bertepi yang di dalamnya terdapat makhluk-makhlukcetacea* berkulit-lembut yang punya kepala dan torso10perempuan, yang mencelakakan banyak pelaut karena terpesona akan payudara mereka yang luar biasa besarnya. Para gipsi melayari rute tersebut selama enam bulan hingga sampai di jalan yang dilalui bagal pembawa surat pos. Menurut perhitungan Jose Arcadio Buendia, satu-satunya kemungkinan untuk berhubungan dengan peradaban adalah lewat rute sebelah utara. Maka ia menyerahkan peralatan dan senjata untuk berburu kepada orang-orang yang dulu bersamanya membangun Macondo. la memasukkan peta dan peralatan penunjuk jalannya ke dalam sebuah tas, dan mulai melakukan petualangan ugal-ugalan itu. •

Pada hari-hari awal mereka tidak menemui rintangan yang berarti. Mereka menelusuri tepi sungai yang berbatu-batu ke tempat di mana bertahun-tahun yang lalu mereka menemukan baju besi prajurit, dan dari sana memasuki hutan lewat jalan setapak di antara pepohonan jeruk liar. Pada akhir minggu pertama, mereka membunuh dan memanggang seekor rusa; tetapi hanya dimakan sepatuhnya dan sisanya digarami untuk hari-hari kemudian. Dengan hati-hati, mereka berusaha jangan sampai makan macaw, sejenis kakaktua berekor lebar dan panjang, yang dagingnya berwarna biru, kasar, dan bau. Kemudian, selama sepuluh hari lebih mereka sama sekali tak melihat matahari. Tanah menjadi lembek dan lembap, seperti debu vulkanik, dan tanamannya makin lama makin tebal dan lebat, sementara jeritan burung dan celoteh monyet makin lama makin jauh, dan dunia diliputi kesedihan yang abadi. Orangorang yang mengikuti ekspedisi itu merasa diliputi kenangan masa lalu dalam firdaus kelembapan dan kesunyian itu, seakan kembali ke masa sebelum dosa pertama, sementara sepatu bot mereka melesak ke dalam telaga minyak beruap dan parang mereka merusak bunga bakung merah dan salamander emas. Selama seminggu, hampir tanpa bicara, mereka terus maju seperti orang yang berjalan dalam tidur menembus alam semesta dukacita, hanya diterangi oleh pantulan cahaya serangga, dan paru-paru mereka seperti diliputi bau darah yang mengental. Mereka tak dapat kembali sebab jalur yang tadi mereka lalui akan segera tertutup tanaman baru yang seakan tumbuh di depan mata mereka. "Tidak apa-apa," kata Jose Arcadio Buendia. "Yang penting kita tidak tersesat." Dengan selalu mengikuti kompas, ia terus menuntun orang-orangnya menuju ke utara yang samar-samar agar bisa keluar dari daerah penuh sihir itu. Malam begitu pekat, tak berbintang, tetapi kegelapan itu mulai dipenuhi udara yang segar dan bersih. Karena letih setelah perjalanan panjang itu, mereka memasang tempat tidur gantung dan tidur nyenyak untuk kali pertamanya dalam dua minggu. Ketika terjaga, matahari sudah tinggi di langit, dan mereka tak dapat bicara karena kagum. Di depan mereka, dikelilingi pakis dan pohon palma, putih dan bagai d i bedaki dalam cahaya pagi yang hening, tampak sebuah kapal layar Spanyol yang amat besar. Kapal itu agak miring ke kanan, layarnya yang kotor dan compang-camping masih utuh tergantung pada tiang kapal di tengah tali-temalinya, yang ditumbuhi pohon anggrek. Lambungnya, tertutup lapisan remis yang sudah membatu dan lumut lembut, kuat tertancap pada permukaan berbatu-batu. Seluruh bangunan kapal itu seakan menempati ruangnya sendiri, ruang yang sunyi dan terlupakan, terlindungi dari kerusakan akibat waktu dan kebiasaan burung-burung. Di dalamnya, tempat awak kapal melakukan ekspedisi dengan cermat, tidak ada apa-apa kecuali belantara bunga yang lebat.

Penemuan kapal layar kuno tersebut, satu petunjuk bahwa tempat itu dekat laut, mematahkan gairah Josi Arcadio Buendia. Ia menganggapnya suatu tipu daya dari nasibnya yang tidak keruan karena mencari tanpa bisa menemukan laut, dengan pengorbanan dan penderitaan yang tak terkira, dan tiba-tiba saja telah menemukan laut tanpa mencarinya saat berada di depannya bagaikan suatu benda yang tak dapat dipindahkan. Bertahun-tahun kemudian, ketika Kolonel Aureliano Buendia melewari daerah tersebut, ketika sudah menjadi rute pos tetap, satu-satunya bagian kapal yang ia temukan adalah kerangkanya yang habis terbakar di tengah ladang opium. Baru saat itu, karena yakin cerita itu bukan cuma imajinasi ayahnya, ia justru membayangkan bagaimana kapal layar itu bisa terdampar ke tempat itu. Tetapi Jose Arcadio Buendia tak memedulikan masalah tersebut ketika menemukan laut setelah berjalan selama empat hari dari kapal layar itu. Mimpi-mimpinya kandas begitu ia berhadapan dengan laut yang kelabu, berbuih, dan kotor; tidak sepadan dengan bahaya dan pengorbanan petualangan ini.

"Sialan!" teriaknya. "Macondo dikelilingi air dari segala sudut."

Pemikiran bahwa Macondo merupakan semenanjung bertahan untuk waktu lama, yang diilhami oleh peta seada-nya buatan Jose Arcadio Buendia sepulangnya dari ekspedisi itu. Ia menggambarnya dengan marah dan geram, membesar-besarkan kesulitan komunikasi itu, seakan mau menghukum dirinya karena betul-betul tak punya rasa ketika memilih tempat itu. "Kita tak pernah bisa ke mana-mana," keluhnya pada Ursula. "Kita alan membusuk di sini tanpa bisa belajar apa-apa." Kepastian ini, yang terus ia pegang selama beberapa bulan dalam ruang kecil yang ia gunakan sebagai laboratoriumnya, membawanya pada suatu konsepsi untuk memindahkan Macondo ke tempat yang lebih baik. Waktu itu Ursula telah mengantisipasi rencananya yang menggebu itu. Secara diam-diam dan bak seekor semut kecil, dengan rajin ia memengaruhi kaum perempuan desa itu untuk menentang rencana suami mereka yang mulai bersiap-siap untuk pindah. Jose Arcadio Buendia tidak tahu kapan atau oleh kekuatan bertolak belakang apa rencananya jadi terbungkus dalam suani jaringan dalih, ketidakpuasan, dan hambatan sampai akhirnya rencana itu tinggal angan-angan belaka. Ursula memerhatikan suaminya dengan lagak ridak berdosa, bahkan merasa kasihan ketika pada suatu pagi ia menemukan suaminya di kamar belakang, sedang menggumam tentang rencananya untuk pindah sambil menata perlengkapan laboratoriumnya ke dalam peti aslinya. Ursula membiarkannya sampai selesai bekerja, memaku peti-peti itu, dan menuliskan inisialnya di atas peti dengan kuas tinta, tanpa menegurnya, tetapi sekarang tahu bahwa suaminya tahu (ia mendengar suaminya bicara sendiri pelan-pelan) bahwa kaum lelaki di desa itu tidak mau mendukung rencananya. Baru ketika suaminya mau menutup pintu kamar itu, Ursula berani mendekat dan bertanya sedang apa. Suaminya menjawab dengan pedih, "Karena tak seorang pun mau pindah, maka kita pindah sendiri." Ursula tidak marah.

"Kita tidak akan pindah," kata Ursula. "Kita akan tinggal di sini karena kita sudah punya anak laki-laki di sini."

"Belum ada keluarga kita yang meninggal," kata suaminya. "Orang tak akan terikat pada suatu tempat sebelum ada yang mati di tanah itu."

Ursula menjawab lembut tetapi tegas:

"Jika aku harus mati agar kalian tetap tinggal di sini, aku bersedia mati."

Jose Arcadio Buendia tak mengira pendirian istrinya begitu kuat. la berusaha memikat istrinya dengan fantasinya, dengan janji tentang suatu dunia luar biasa, yakni orang cukup meneteskan sedikit cairan ajaib ke tanah dan tanaman-tanaman akan berbuah manakala diinginkan, dan semua peralatan untuk menghilangkan rasa sakit dijual orang dengan harga murah. Tetapi Ursula tidak terpikat oleh rayuan suaminya.

"Daripada pusing-pusing memikirkan penemuanmu yang gila, lebih baik kaurisaukan anak-anakmu," jawab istrinya. "Lihat keadaan mereka, lari-lari saja, liar seperti keledai."

Jose Arcadio Buendia mengartikan kata-kata istrinya secara harfiah. Ia memandang keluar lewat jendela dan melihat anak-anaknya yang bertelanjang kaki di kebun, di bawah terik sinar matahari. Dan ia mendapatkan kesan bahwa hanya sejak detik iru mereka ini benar-benar eksis; diciptakan oleh mantra Ursula. Lalu sesuatu terjadi di dalam dirinya, sesuatu yang misterius dan pasti yang mencabutnya dari waktunya sendiri dan menghanyutkannya menembus wilayah memorinya yang belum dieksplorasi. Sementara Ursula melanjurkan menyapu rumah itu, yang kini terjamin tidak akan ditinggalkan selama sisa hidupnya, Jose berdiri di sana dengan pandangan asyik, memikirkan anak-anaknya sampai matanya berkaca-kaca dan diusapnya dengan punggung tangannya, sambil mendesah pasrah.

"Baiklah," katanya. "Suruh mereka membantuku mengeluarkan barang-barang itu dari kotaknya."

Jose Arcadio, anaknya yang paling besar, berusia empat belas tahun. Pikirannya jujur, rambutnya tebal, dan mewarisi sifat ayahnya. Meski ia mewarisi gairah yang besar untuk pertumbuhan dan kekuatan fisik, ini bukti awal bahwa ia tak punya imajinasi. Ia dikandung dan lahir di tengah kesulitan melintasi pegunungan sebelum membangun Macondo, dan orangtuanya bersyukur pada Tuhan bahwa anaknya tidak bertubuh seperti hewan. Aureliano, manusia pertama kelahiran Macondo, akan genap enam tahun Maret ini. Ia pendiam dan suka menyendiri. Ia menangis dalam kandungan ibunya, dan lahir dengan mata terbuka. Ketika tali pusarnya dipotong, ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dengan matanya, ia menangkap benda-benda di sekitarnya dan meneliti wajah orang-orang dengan rasa ingin tahu yang berani. Kemudian, tanpa memedulikan orang-orang yang datang mendekat untuk memeriksanya, ia terus memerhatikan atap daun palma, yang kelihatan seperti akan roboh kalau tertimpa hujan lebat. Ursula sama sekali tidak ingat akan pandangan tak berkedip anaknya itu, sampai suatu hari ketika Aureliano kecil, pada usia tiga tahun, masuk ke dapur pada saat Ursula tengah mengangkat panci sup panas dari tungku dan meletakkannya di atas meja. Anak itu, tiba-tiba, berkata dari ambang pintu, "Sup itu akan tumpah." Panci tadi sudah jelas diletakkan di tengah meja, tetapi begitu anak itu selesai bicata, panci itu mulai bergerak ke arah tepi; seakan didorong oleh suatu dinamisme dari dalam dan tumpah ke lantai. Karena ketakutan, Ursula menceritakan kejadian tersebut kepada suaminya, tetapi suaminya menafsirkannya sebagai fenomena alam biasa. Itulah yang selalu ia lakukan, selalu asing pada

keberadaan putra-putranya; sebagian karena memandang masa kanak-kanak sebagai satu periode yang secara mental belum matang, dan sebagian lagi karena terlalu asyik dalam spekulasi fantastisnya.

Tetapi sejak malam ketika menyuruh anak-anak itu membantunya membongkar kotak-kotak peralatan laboratorium, ia menyediakan banyak waktu untuk mereka. Dalam kamarnya sendiri yang kecil, yang dindingnya sedikit demi sedikit tertutup oleh peta aneh dan gambar menakjubkan, ia mengajari mereka membaca, menulis, dan berhitung; dan ia bercerita tentang keajaiban dunia, tak hanya berdasarkan pengetahuannya yang memang sudah bertambah, tetapi juga memaksakan batas-batas imajinasinya sampai yang paling ekstrem. Dengan cara itu, anak-anak akhirnya belajar bahwa di ujung paling selatan Afrika ada orang-orang yang begitu pintar dan damai, yang melewatkan waktu mereka dengan duduk-duduk dan berpikir; dan sangatlah mungkin jalan kaki menyeberangi Laut Aegean dengan melompat dari pulau ke pulau menuju Pelabuhan Salonika. Jam belajar penuh khayalan itu tetap terpatri sedemikian rupa dalam ingatan anak-anaknya selama bertahun-tahun hingga sesaat sebelum perwira tentara resmi memberikan perintah untuk menembak, Kolonel Aureliano Buendia sekali lagi membayangkan senja yang hangat pada Maret itu, ketika ayahnya menghentikan pelajaran fisika dan berdiri dengan takjub sambil mengangkat tangan dan mata tak berkedip, sementara mendengarkan bunyi dari kejauhan: suling, drum, tambur, dan suara gemerencing para gipsi yang datang lagi ke desa itu, untuk mengumumkan penemuan mutakhir dan paling mengejutkan dari para petapa Memphis.

Mereka rombongan gipsi baru, lelaki dan perempuan muda, yang hanya tahu bahasa mereka sendiri, makhluk cakap dengan kulit berminyak dan tangan terampil, yang tarian serta musik mereka menebarkan kegembiraan mem* bahana gila-gilaan di sepanjang jalan, dengan kakaktua-ka-kaktua berbagai warna menyanyikan aria" Italia, dan seekor induk ayam yang dapat berrelur emas seratus butir kalau mendengar bunyi tambutin, dan seekot monyet terlatih yang dapat membaca pikiran, dan mesin serbaguna yang bisa dipakai secara bersamaan untuk memasang kancing sekaligus mengurangi demam, serta peralatan untuk membuat orang melupakan kenangan buruknya, dan sebuah tapal untuk menghilangkan waktu, serta ribuan lagi penemuan yang begitu asli dan luar biasa, sampai Jose Arcadio Buendia pasti ingin menemukan sebuah mesin memori agar ia dapat mengingat semua benda itu. Dalam waktu singkat, mereka telah mengubah desa itu. Warga Macondo menemukan diri mereka tersesat di jalan-jalan desanya sendiri, bingung oleh keramaian itu.

Sambil memegang masing-masing tangan kedua anaknya agar tidak hilang di tengah keramaian itu, tertabrak pemain akrobat dengan gigi berselaput emas dan tukang sulap dengan enam lengan, sesak napas oleh campuran bau pupuk dan sandal orang banyak, Jose Arcadio Buendia berjalan ke sana kemari seperti orang gila mencari Melqu-iades agar mau menerangkan rahasia rak terbatas dari mimpi buruk yang dahsyat itu. la menanyai beberapa orang gipsi yang tak memahami bahasanya. Akhirnya, ia tiba di suatu tempat Melquiades biasa mendirikan tendanya, dan menemukan seorang Armenia yang pendiam, yang dalam bahasa Spanyol menjajakan sejenis sirop untuk membuat seseorang tak terlihat. Dia sudah minum segelas cairan bening ini dengan sekali teguk ketika Jose Arcadio Buendia berhasil mendesak masuk di tengah orang-orang berkerumun yang menyaksikan, dan ia berhasil mengajukan pertanyaannya. Gipsi itu menatapnya dengan pandangan yang menakutkan, sebelum berubah menjadi segumpal asap yang berkepul-kepul, dan terdengar gema jawaban yang mengambang,tt Melquiades sudah mati." Terkejut mendengar jawaban itu, Jose Arcadio Buendia berdiri terpaku, sambil berusaha menyembunyikan kesedihannya sampai kerumunan orang itu bubar karena tertarik pada tipu muslihat lain, dan gumpalan asap orang Armenia itu lenyap sama sekali. Gipsi lainnya membenarkan berita tentang kematian Mel-quiades. Ia meninggal karena serangan demam di Pantai Singapura dan mayatnya diceburkan kc bagian paling dalam di Laut Jawa. Anak-anaknya tidak tertarik pada berita itu. Mereka metengek agar sang ayah mau mengajak mereka melihat penemuan hebat terbaru dari para petapa Mcm-phis, yang diiklankan di pinm masuk sebuah tenda yang menurut kata-kata yang tertulis di sana, merupakan milik Raja Sulaiman. Mereka terus mendesak sampai Jose Arcadio Buendia harus mengeluarkan tiga puluh real, dan menuntun meteka masuk ke tengah tenda, yang di dalamnya ada seorang gipsi bertubuh raksasa, dengan dada berbulu, kepala botak, hidung bercincin tembaga, dan rantai besi yang berat pada tumitnya, tengah menjaga sebuah peti bajak laut. Ketika dibuka, peti tersebut mengeluarkan hawa dingin. Di dalamnya terdapat sebuah balok es bening yang sangat besar, banyak sekali jarum di dalamnya di mana cahaya matahari senja memecah menjadi bintang beraneka warna. Bingung, karena tahu bahwa anak-anaknya menginginkan penjelaskan, Jose Arcadio Buendia menggumam:

"Itu intan terbesar di dunia."

"Bukan," sanggah si gipsi. "Ini es."

Jose Arcadio Buendia, tidak paham, mengulurkan tangannya ke arah balok es tersebut, tetapi raksasa itu menepis tangannya. "Tambah limareal lagi kalau mau menyentuhnya," katanya. Jose Arcadio Buendia membayar lima real dan meletakkan tangannya di atas es itu selama berapa menit, dan harinya dipenuhi rasa takut sekaligus girang karena melakukan kontak dengan sebuah misteri. Tanpa tahu harus bilang apa, ia menambah sepuluhreal agar anak-anaknya dapat merasakan pengalaman luar biasa itu. Jose Arcadio kecil tidak mau menyentuh. Sebaliknya, Aureliano maju selangkah dan meletakkan tangannya di sana, dan dengan cepat menariknya. "Mendidih," teriaknya kaget. Tetapi ayahnya tidak peduli. Mabuk oleh bukti keajaiban itu, saat itu ia melupakan rasa kecewa atas kegagalannya dan mayat Melquiades yang dibuang ke laut untuk makanan cumi-cumi. la membayar limareal lagi dan meletakkan tangannya di atas es itu, dan seakan memberikan kesaksian di atas kitab suci, katanya:

"Ini penemuan terbesar dalam sejarah kita."

KETIKA bajak laut Sir Francis Drakc menyerang Rio hacha pada abad XVI, nenek buyut Ursula Iguaran menjadi begitu ketakutan mendengat lonceng tanda bahaya dan tembakan meriam, sampai tidak bisa menguasai dirinya dan duduk di atas tungku yang menyala. Kecelakaan ini membuat perempuan iru menjadi istri tak berguna sampai akhir hidupnya. Ia hanya dapat duduk miring, disangga bantal-bantal, dan cara berjalannya pasti aneh sehingga tak pernah lagi tampil di depan umum. Ia menghentikan semua kegiatan sosialnya, tetobsesi pendapat bahwa rubuhnya mengeluarkan bau busuk. Dini hari ia rampak di halaman rumahnya karena sama sekati tak berani tidur, takut bermimpi tentang orang Inggris dan anjing-anjing galak mereka masuk lewat jendela kamar tidur dan secara memalukan menyiksanya dengan besi-besi membara. Suaminya, saudagar dari Ara-gon yang telah memberinya dua orang anak, menghabiskan waktu luangnya dan separuh nilai tokonya untuk membeli obat dalam upaya menghilangkan ketakutan istrinya. Akhirnya, ia menjual tokonya dan mengajak keluarganya pindah ke tempat yang jauh dari laut, di sebuah permukiman Indian yang damai di kaki bukit tempat ia membangun kamar tidur tanpa jendela untuk istrinya agar perompak dabm mimpinya tak dapat masuk.

Di desa terpencil itu ada seorang pribumi petani tembakau bernama Don Jose Arcadio Buendia, yang dengannya kakek buyut Ursula melakukan kerja sama yang menguntungkan sehingga dalam beberapa tahun mereka jadi kaya. Beberapa abad kemudian, cicit lelaki si petani pribumi ini menikahi cicit perempuan keluarga Aragon. Itulah sebab-nya, tiap kali Ursula dicobai gagasan gila suaminya, ia akan kembali pada nasib tiga ratus tahun lalu dan mengutuk hari ketika Sir Francis Drake menyerang Riohacha. Ini hanya cara sederhana untuk sedikit menghibur dirinya sendiri karena sebenarnya mereka disatukan sampai mati oleh satu ikatan yang lebih kukuh daripada cinta; kesadaran menyakitkan yang sama. Mereka adalah sepupu. Mereka tumbuh bersama di desa tua yang oleh kedua nenek moyang mereka, dengan pekerjaan dan kebiasaan baik mereka, telah diubah menjadi salah satu desa terbaik di provinsi itu. Walaupun perkawinan mereka telah diramalkan sejak mereka lahir, tetapi ketika menyatakan keinginan untuk menikah, keluarga mereka sendiri berusaha menghalangi. Mereka khawatir kalau kedua produk sehat dari dua ras yang sudah menjadi bastar selama beberapa abad itu akan menderita rasa malu karena melahirkan keturunan seperti iguana. Memang sudah ada preseden yang mengerikan. Salah seorang bibi Ursula, yang menikah dengan paman Jose Arcadio Buendia, punya anak laki-laki yang sepanjang hidupnya mengenakan pan talon komprang dan pada usia empat puluh dua tahun mengalami pendarahan sampai mati dalam keadaan benar-benar lajang karena sejak dilahirkan hingga tua mempunyai semacam ekor, tulang muda yang ber-bentuk seperti pembuka botol dan sejuntai tipis rambut

pada ujungnya. Suatu ekor babi yang tidak boleh dilihat seorang perempuan dan yang membuatnya harus mengorbankan hidupnya ketika seorang temannya, tukang jagal, menolongnya dengan memotong ekor tersebut dengan pisau dagingnya. Jose Arcadio Buendia, dengan gurauan pemuda sembilan belas tahun, menyelesaikan masalah itu dengan satu kalimat, "Peduli amat punya anak babi asalkan bisa omong." Maka mereka menikah di tengah pesta kembang api dan musik tiup yang berlangsung selama tiga hari. Seharusnya sejak itu mereka bahagia, andaikan ibunya tidak menakut-nakuti Ursula dengan segala macam prediksi tentang keturunan mereka, bahkan sampai keterlaluan menasihatinya untuk menolak bersetubuh. Karena takut suaminya yang kuat dan penuh semangat itu akan memerkosanya sementara ia sedang tidur, sebelum berangkat tidur, Ursula mengenakan semacam celana dalam yang panjang buatan ibunya dari kain layar yang diperkuat dengan tali kulit yang disilang-menyilang dan bagian depannya ditutup dengan gesper besi tebal. Begitulah mereka hidup selama beberapa bulan. Pada siang hari suaminya akan mengurusi ayam jago aduannya dan Ursula akan menyulam bersama ibunya. Pada malam hari, keduanya akan bergelut selama beberapa jam dengan penuh nafsu yang seakan menggantikan tindakan cinta, sampai orang banyak merasakan ada sesuatu yang tidak biasa dan beredar rumor bahwa setahun setelah menikah, Ursula masih perawan karena suaminya impoten. Jose Arcadio Buendia adalah yang terakhir mendengar rumor itu.

"Kau dengar apa kata orang-orang, Ursula," katanya kepada istrinya dengan amat tenang.

"Biarkan saja mereka ngomong/ jawab istrinya.u Kita tahu itu tidak benar."

Situasi seperti itu berlanjut sampai enam bulan lagi, sampai pada Minggu tragis itu ketika Jose Arcadio Buendia memenangi taruhan adu ayam dengan Prudencio Aguilar. Marah melihat ayamnya berlumur darah, orang yang kalah itu menjauh dari Jose Arcadio Buendia sambil berteriak, dan semua orang bisa mendengarnya:

"Selamat!" teriaknya- "Semoga jagomu sendiri dapat menyenangkan istrimu/

Dengan tenang» Jose Arcadio Buendia mengangkat ayam jagonya. "Aku akan segera kembali/ katanya pada semua orang. Lalu kepada Prudencio Aguilar:

"Pulanglah dan ambil senjatamu, karena aku akan membunuhmu/

Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan lembing warisan kakeknya. Di pintu gelanggang aduan, yang penuh dengan setengah penduduk desa» Prudencio Aguilar menantinya, la tidak sempat membela. Lembing Jose Arcadio Buendia, yang dilempar dengan kekuatan lembu jantan dan dengan bidikan bagus seperti yang dilakukan Aureliano Buendia pertama ketika membunuh jaguar di daerah itu, mengenai tenggo-rokan Prudencio Aguilar Malam itu, sementara orangorang menunggui mayat di dalam gelanggang sabung ayam, Jos<.;Arcadio Buendia masuk ke kamar tidur saat istrinya tengah mengenakan celana perawannya. Sambil mengacungkan lembing ke arah istrinya, ia berkara, "Lepaskan itu/* Ursula tidak bisa menolak kc putusan suaminya. "Kau harus bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi/ gumamnya. Jose Arcadio Buendia menancapkan lembingnya ke lantai tanah.

"Kalau kau melahirkan iguana, kira akan membesarkan iguana," katanya. "Tetapi tak akan ada pembunuhan lagi di desa ini karena kau."

Itu adalah malam yang indah pada Juni, dingin, bulan tampak di langit dan mereka terjaga dan bergembira sampai subuh, tidak peduli pada angin sepoi yang berembus ke kamar tidur, sarat dengan tangisan keluarga Prudencio Aguilar.

Masalah itu dipupus sebagai duel kehormatan, tetapi hati nurani kedua belah pihak tetap pedih. Suatu malam, ketika tidak dapat tidur, Ursula keluar ke halaman untuk mengambil air dan melihat Prudencio Aguilar di dekat bejana air itu. Wajahnya yang pucat kelabu memancarkan kesedihan, sementara ia berusaha menyumbat lubang di tenggorokannya dengan rumput esparto. Itu tidak membuat Ursula takut, justru kasihan, ia kembali ke kamar dan menceritakan apa yang ia lihat pada suaminya, tetapi suaminya tidak terlalu memikirkannya. "Itu hanya berarti kita tidak sanggup menahan beban hati nurani kita." Dua malam kemudian, Ursula kembali melihat Prudencio Aguilar, di kamar mandi, tengah membersihkan darah yang menggumpal dari tenggorokannya dengan esparto. Pada malam yang lain ia melihat Prudencio Aguilar berhujan-hujanan. Jose Arcadio Buendia, karena terganggu oleh halusinasi istrinya, keluar ke halaman bersenjatakan lembing. Di sana ia melihat orang mati itu dengan ekspresi sedihnya.

"Pergilah ke neraka!" teriak Jose Arcadio Buendia padanya. "Entah berapa kali kau kembali, aku akan membunuhmu lagi."

Prudencio Aguilar tidak pergi, juga Jose Arcadio Buendia tidak berani melemparkan lembingnya. Serelah itu.

ia tidak bisa tidur nyenyak, la begitu tersiksa oleh pandang* an penuh kesedihan yang terpancar dari wajah orang mati itu menembus hujan: nostalgianya yang mendalam ketika merindukan orang hidup, kegelisahan yang membuatnya mencari-cari air unruk membasahi sumbat espartonya di seluruh rumah itu. "Ia tentu sangat menderita," katanya pada Ursula. "Kau dapat melihat betapa dia kesepian." Ursula begitu terharu sehingga kali lain ia melihat orang mati itu membuka pancuii atas tungku, ia paham apa yang dicari orang itu, dan sejak itu ia menempatkan bejana air di mana-mana di rumah itu. Suatu malam, waktu melihat orang mati itu membersihkan lukanya di kamar tidurnya sendiri, Jose Arcadio Buendia tidak tahan lagi.

"Baiklah, Prudencio," katanya. "Kami akan pergi meninggalkan desa ini, sejauh kami dapat pergi, dan kami rak akan pernah kembali. Sekarang, pergilah dengan damai."

Begitulah mengapa mereka menyeberangi pegunungan itu. Beberapa teman Jose Arcadio Buendia, pemuda seperti dia, tettarik pada petualangan itu, lalu membongkar rumah mereka, mengepak semua keperluan, kemudian bersama istri dan anak-anak berangkat menuju tanah yang tak pernah dijanjikan siapa pun pada mereka. Sebelum berangkat, Jose Arcadio Buendia menguburkan lembingnya di halaman dan memotong leher ayam-ayam aduannya yang perkasa, dengan keyakinan akan memberikan semacam kedamaian kepada Prudencio Aguilar. Yang dibawa Ursula hanya sebuah koper berisi gaun pengantin, beberapa peralatan rumah tangga, dan peti kecil berisi uang emas, yang ia warisi dari ayahnya. Mereka tidak menyusun jadwal perjalanan tertentu. Mereka sekadar berusaha mengambil arah yang berlawanan dari jalan ke Riohacha sehingga tidak akan meninggalkan jejak atau bertemu siapa saja yang mereka kenal. Suatu perjalanan yang absurd. Setelah empat belas bulan, perut Ursula rusak akibat diisi daging kera dan ular kukus; Ursula melahirkan seorang anak laki-laki yang betul-betul berbenruk manusia, la melanjutkan separuh perjalanan dalam sebuah selendang yang dipikul oleh dua orang lelaki karena kedua kakinya bengkak dan urat darahnya menonjol seperti gelembung. Walaupun menyedihkan melihat mereka dengan perut kempes dan mata cekung, ternyata anak-anak bisa lebih bertahan dalam perjalanan ini dibandingkan dengan orangrua mereka, dan hampir sepan-jangwaktu mereka bergembira. Suatu pagi, setelah hampir dua tahun menyeberang gunung, mereka adalah makhluk fana pertama yang melihat lereng barat pegunungan tersebut. Dari puncak yang berkabut, mereka melihat rawa-rawa yang luar biasa luasnya, seakan mencapai bagian lain dunia ini. Tetapi mereka tidak pernah menemukan laut. Suatu malam, setelah betbulan-bulan tersesat di rawa, mereka menemukan suatu tempat yang jauh sekali dari orang Indian terakhir yang mereka temui di perjalanan. Di sana mereka berkemah, di tepi sebuah sungai yang berbatu, dengan air bagaikan hujan lebat kaca yang membeku. Bertahun-tahun kemudian, semasa perang saudara kedua, Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengikuti rute yang sama untuk menyerang Riohacha secara tiba-tiba, dan setelah melakukan perjalanan selama enam hari, ia sadar bahwa itu sesuatu yang gila. Walaupun demikian, pada malam mereka berkemah di tepi sungai itu, rombongan ayahnya tampak seperti

orang-orang dari kapal karam yang tidak tahu jalan keluar, tetapi jumlah mereka sudah bertambah selama penyeberangan itu dan semua siap (dan berhasil) mati tua. Malam itu Jose Arcadio Buendia bermimpi bahwa tepat di situ ada sebuah kota yang ramai dengan rumah-rumah berdinding kaca. Ia bertanya apa nama kora itu, dan penduduk kota menjawab dengan nama yang belum pernah didengarnya, dan nama itu sama sekali tak punya arti—tetapi punya gema supranatural dalam mimpinya: Macondo. Keesokan harinya ia meyakinkan rombongannya bahwa mereka tak akan pernah menemukan laut. Ia menyuruh mereka menebang pepohonan untuk membuka tanah di samping sungai itu, di tempat paling sejuk di tepi sungai itu, dan di sanalah mereka membangun Macondo.

Jose Arcadio Buendia tidak berhasil menafsirkan mimpinya tentang rumah-rumah berdinding kaca itu, sampai hari ketika ia menemukan es. Maka ia mengira bahwa ia memahami artinya yang mendalam, la berpikir bahwa dalam waktu dekat, mereka akan mampu membuat balok-balok es berukuran besar dari bahan biasa, yaitu air dan dengan itu mereka membangun rumah-rumah baru di desa itu. Macondo tidak akan menjadi tempat yang panas menyengat lagi, di mana engsel-engsel dan kunci pintu terpelintir oleh panas, tetapi akan berganti menjadi kota musim dingin. Jika ia tidak tekun dalam usahanya membangun pabrik es, itu karena waktu itu ia betul-betul antusias tethadap pendidikan anak-anaknya, terutama Aureliano yang sejak awal menunjukkan intuisi aneh untuk kimia. Laboratoriumnya sudah dibersihkan. Sambil mengkaji kembali catatan-catatan Melquiades, sekarang tenang, tanpa kegembiraan meluap menemukan hal baru, dalam upaya yang terus-menerus dan sabar, mereka berusaha memisahkan emas milik Ursula dari logam-logam lainnya yang lengket pada dasar panci. Jose Arcadio muda hanya kadang-kadang ikut dalam proses ini. Sementara ayahnya begitu asyik, jiwa dan raganya, dengan pipa airnya, anak sulung yang bersemangat itu, yang tubuhnya terlalu besar untuk usianya, telah menjadi pemuda tanggung. Suaranya sudah berubah. Bulu-bulu halus mulai muncul di bibir atasnya. Suatu malam, Ursula masuk ke kamar tempat anak itu sedang melepas bajunya sebelum berangkat tidur. Ursula merasakan semacam rasa malu bercampur kasihan; ia adalah lelaki pertama setelah suaminya yang dilihatnya telanjang, dan tubuh anak ini tampak begitu sempurna untuk kehidupan sehingga ia tampak abnormal. Ursula yang hamil untuk kali ketiganya, jadi ingat kembali akan teror pada awal perkawinannya.

Sekitar saat itu, seorang perempuan yang periang, suka mengumpat dan provokatif, datang kc rumah itu untuk membantu pekerjaan sehari-hari, dan perempuan itu bisa melihat masa depan lewat kartu. Ursula menceritakan soal anaknya pada perempuan itu. Ursula khawatir, bagian tubuh anaknya yang tidak proporsional itu adalah sesuatu yang tak wajar» seperti seperti ekor babi sepupunya. Perempuan itu tertawa begitu keras sampai menggema di seluruh rumah seperti percikan kaca pecah. "Justru sebaliknya/ kata perempuan itu.w la bakal sangat beruntung/ Untuk menegaskan ramalannya, beberapa hari kemudian ia membawa kartunya kc rumah itu dan mengunci diri bersama Jose Arcadio di lumbung di luar dapur. Dengan tenang» ia

meletakkan kartu-kartunya di atas bangku tukang kayu, sambil mengucapkan apa saja yang muncul di kepalanya, sementara anak muda itu menunggu di sampingnya dengan bosan dan tidak tertarik. Tiba-riba ia mengulurkan tangannya dan menyentuh anak muda itu. "Ya, Tuhan!" katanya, benar-benar terkejut, dan hanya itu yang bisa ia katakan. Jose Arcadio merasa tulang-tulangnya melunak, rasa takut yang melemahkan, dan keinginan luar biasa untuk menangis. Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Tetapi Jose Arcadio tetap mencari perempuan itu sepanjang malam karena bau asap yang ada di bawah ketiaknya, dan bau itu sudah meresap ke kulitnya, la ingin selalu berada dekat perempuan itu sepanjang waktu, ia ingin dia menjadi ibunya, ia ingin mereka tidak pernah keluar dari lumbung tersebut dan ingin perempuan itu berkata, "Ya, Tuhan!" Suatu hari ia tidak tahan lagi dan mencari perempuan itu di rumahnya. Ia mengunjungi perempuan itu, duduk di ruang tamu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Waktu ini ia tidak menginginkan perempuan itu. la melihat perempuan itu berbeda, betul-betul lain dari cirra yang dibawakan oleh baunya, seakan dia orang lain. Ia minum kopinya dan meninggalkan rumah itu dengan sedih. Malam itu, selama tet-jaga dengan perasaan ngeri, ia menginginkan lagi perempuan itu dengan berahi membara, tetapi waktu itu ia tidak menginginkannya seperti ketika berada di lumbung, tetapi seperti waktu ia mengunjunginya malam itu.

Beberapa hari kemudian, perempuan itu mengundang Jose Arcadio ke rumah tempat ia tinggal hanya bersama ibunya, dan perempuan itu memintanya masuk ke kamar tidur dengan dalih mau memperlihatkan sebungkus kartu.

Kemudian» perempuan itu menyentuhnya dengan begitu bebas sehingga ia merasa mabuk setelah mula-mula gemetar, dan lebih merasa takut daripada nikmat. Perempuan itu memintanya datang untuk mengunjunginya malam itu. Jos6 Arcadio setuju agar bisa keluar karena tahu bahwa ia tidak mampu pergi. Tetapi malam itu, dengan penuh berahi, ia tahu bahwa ia harus pergi untuk menemui perempuan itu, sekalipun mungkin tidak berhasil. Ia mengenakan baju begitu saja, mendengarkan dalam kegelapan napas tenang adiknya» batuk kering ayahnya di kamar sebelah, bengek napas ayam-ayam betina di kandang, dengungan nyamuk, detak jantungnya sendiri, dan segala kebisingan dunia yang baru sekarang ia perhatikan, dan keluar ke jalan yang lengang, la berharap pintunya dipalangdan tidak sekadar ditutup seperti janji perempuan itu. Tetapi pintu itu terbuka, la mendorongnya dengan ujung jari, dan engsel-engsel pintu itu mengeluarkan rintihan yang sedih dan keras sehingga meninggalkan gema beku di dalam dirinya. Sejak ia masuk, berjalan di pinggir dan berusaha tidak berisik» ia menangkap bau itu. la masih di dalam gang ketika tiga saudara lelaki dari perempuan itu ridur di tempat tidur gantung dalam posisi yang tidak jelas dan yang tak dapat ia tentukan dalam gelap, sementara ia meraba-raba sepanjang gang itu untuk menemukan pintu kamar ridur dan berhati-hati agar tidak salah kamar. Ia menemukannya. Ia menabrak tali-tali tempat tidur gantung, yang lebih rendah daripada yang ia duga, dan seorang lelaki yang sedari tadi ngorok, membalikkan tubuh dan menggumam, "Ini Rabu/ Ketika membuka pintu kamar itu» ia tak dapat mencegah daun pintu menggesek lantai yang tidak rata. Tiba-tiba, datam kegelapan yang pekat, dengan putus asa ia menyadari bahwa ia betul-betul kehilangan arah. Di kamar sempit itu, tidurlah si ibu, putrinya yang lain bersama suami dan dua orang anak, dan perempuan itu mungkin tidak ada di situ. Seharusnya ia bisa mencari jalan dengan mengikuti bau itu seandainya bau itu tidak memenuhi seluruh rumah tersebut; begitu memperdaya sekaligus begitu pasti, seakan selalu tercium pada kulitnya. Lama ia tidak bergerak, sambil membayangkan dalam ketakutan bagaimana ia bisa sampai ke jurang yang dalam itu ketika sebuah tangan dengan semua jarinya membuka dan meraba-raba dalam gelap menyentuh wajahnya, la tidak terkejut karena tanpa ia sadari, ia mengharapkannya. Kemudian, ia menyerahkan dirinya kepada tangan itu, dan dalam keadaan sangat letih, ia membiarkan dirinya dituntun ke suatu tempat yang tak berbentuk, lalu pakaiannya dilepas, dan dia diangkat bagaikan sekarung kentang dan didorong dari satu sisi kc sisi lain dalam kegelapan tanpa dasar yang kedua lengannya tak berguna, dan bukan lagi bau perempuan, melainkan bau amoniak, dan dia berusaha mengingat-ingat wajah perempuan ini, dan tampak di hadapannya wajah Ursula. la bingung menyadari bahwa ia tengah melakukan sesuatu yang sudah lama ingin ia lakukan, tetapi khawatir yang ia bayangkan tak akan pernah terjadi, tidak menyadari apa yang tengah ia lakukan karena ia tidak tahu di mana kakinya, di mana kepalanya, atau kaki siapa atau kepala siapa, dan merasa tidak bisa lagi menahan runtuhnya es dati ginjalnya dan udara dalam perutnya, dan takut, dan keinginan menggebu untuk melarikan diri sekaligus ingin tinggal selamanya dalam keheningan yang mengganggu dan kesunyian yang menakutkan itu.

Nama perempuan itu Pilar Ternera. la ikut rombongan yang melakukan eksodus yang berakhir dengan berdirinya Macondo; diseret oleh keluarganya dengan tujuan memisahkannya dari lelaki yang memerkosanya pada usia empat belas tahun dan tetap mencintainya sampai ia berusia dua puluh dua tahun, tetapi tak pernah mengumumkan hubungan mereka karena orangnya pendiam, la berjanji akan mengikuti Pilar Ternera sampai ke ujungdunia, tetapi kelak, kalau semua urusannya telah selesai, dan Pilar sudah lelah menanrinya. Pilar selalu mengidentifikasikannya dengan lelaki jangkung atau pendek, berambut pirang atau cokelat, seperti yang dijanjikan oleh kartu-kartunya, dari darat atau laut; dalam waktu tiga hari, tiga bulan, atau tiga tahun. Dalam penantiannya, perempuan itu kehilangan kekuatan pahanya, kekencangan payudaranya, kebiasaan lembutnya, tetapi tetap menjaga agar hatinya tetap bergairah. Mabuk oleh permainan yang luar biasa itu, Jose Arcadio mengikuti jalannya setiap malam melalui labirin kamar itu. Suatu ketika, pintunya ternyata dipalang, dan ia mengetuk beberapa kali katena tahu bahwa jika ia punya keberanian mengetuk untuk kali pertamanya, ia akan harus mengetuk sampai yang terakhir, dan setelah menunggu beberapa saat, perempuan itu membukakan pintu untuknya. Pada siang hari, sambil berbaring melamun, diam-diam ia menikmati kenangan malam sebelumnya. Tetapi bila perempuan itu datang ke rumahnya, ceria, cuek, cerewet, ia tidak perlu berusaha menyembunyikan ketegangannya karena perempuan itu, yang tawanya meledak-ledak menakuti burung-burung merpati, tidak ada hubungannya dengan daya tidak kelihatan yang mengajarinya cara bernapas dari

dalam dan mengendalikan detak jantungnya, dan yang mengizinkannya memahami mengapa manusia takut pada kema-tian. Ia begitu asyik dengan dirinya sendiri, sampai-sampai tidak bisa memahami kegembiraan semua orang ketika ayah dan adiknya mengejutkan seisi rumah dengan berita bahwa mereka telah berhasil menembus remukan metalik itu dan memisahkan emas milik Ursula.

Nyatanya mereka telah berhasil, setelah berhari-hari bekerja dengan rajin dan tekun. Ursula bahagia, bahkan ia mengucapkan syukur pada Tuhan atas penemuan kimia itu, sementara orang-orang desa berdesakan masuk ke laboratorium dan disuguhi biskuit yang diolesi selai jambu untuk merayakan keajaiban itu, dan Jose Arcadio Buendia membiarkan mereka melihat wadah dan emas yang berhasil dihadirkan kembali, seakan ia baru saja menemukannya. Setelah berkeliling menunjukkan itu kepada semua, ia berhenti di depan anak sulungnya yang beberapa hari terakhir hampir tidak muncul di laboratorium, la meletakkan butiran-butiran kering berwarna kuning itu di depan mata anaknya dan bertanya, "Menurutmu ini seperti apa'" Jose Arcadio menjawab dengan jujur:

"Tahi anjing."

Jose Arcadio Buendia menampar anak itu dengan punggung tangannya sampai anak itu berdarah dan menangis. Malam itu Pilar Ternera mengompres bengkak itu dengan ramuan amica1-*, sambil meraba-raba mencari botol dan kapas pada kegelapan, dan melakukan apa saja yang ia ingin dengan anak itu asalkan tidak mengganggunya, sambil berusaha mencintai tanpa menyakitinya. Mereka mencapai suatu keadaan intim sedemikian rupa sampai nantinya, tanpa menyadarinya, mereka saling berbisik.

"Aku ingin berduaan saja denganmu»** katajosi Arcadio. "Suatu hari nanti aku akan cerita kepada setiap orang» dan kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi."

Pilar Ternera tidak berusaha menenangkannya.

"Itu juga baik," katanya. "Jika berduaan saja, kita akan menyalakan lampu sehingga kita bisa saling melihat dan aku bisa berteriaksesukaku tanpa diganggu siapa saja dan kau dapat membisikkan apa saja yang ada dalam benakmu."

Percakapan itu, kebencian menggigit yang ia rasakan terhadap ayahnya, dan kemungkinan segera dari cinta liar itu, membangkitkan keberanian yang menenangkan dalam dirinya. Secara spontan, tanpa suatu persiapan, ia menceritakan semua itu pada adiknya.

Mula-mula Aureliano muda hanya memikirkan risikonya, kemungkinan besar sekali bahaya yang diakibatkan petualangan kakaknya itu, tetapi ia tidak bisa memahami pesona objek itu. Sedikit demi sedikit ia mulai tertular gairah itu. Ia jadi ingin tahu detail bahaya itu» ia mengidentifikasi dirinya sendiri dengan derita dan kenikmatan yang dialami kakaknya, ia merasa takut dan bahagia. Ia akan menunggu kakaknya sampai subuh di tempat tidur yang sunyi tetapi terasa ada bara api di bawahnya, dan mereka akan terus mengobrol sampai saatnya bangun sehingga tidak lama kemudian keduanya menderita kantuk berat, sama-sama kurang berminat pada ilmu kimia dan petuah ayahnya, dan mereka melarikan diri dalim kesunyian. "Anakanak itu sudah gila," kata Ursula suatu hari. "Mungkin mereka cacingan." Ia menyiapkan obat cacing menjijikkan dari biji-biji yang ditumbuk, yang mereka minum dengan ketenangan yang tak dapat diduga. Dalam sehari, sebelas kali mereka dalam waktu yang sama duduk di atas pot mereka, mengeluarkan parasit berwarna merah muda yang dengan gembira mereka perlihatkan kepada setiap orang, karena berhasil memperdaya Ursula tentang asal mula kebingungan dan kantuk mereka. Waktu itu, Aureliano tidak hanya bisa memahami, tetapi juga menghayati pengalaman saudaranya itu sebagai pengalamannya sendiri karena suatu ketika, waktu kakaknya tengah menjelaskan secara panjang lebar rentang mekanisme cinta, ia menyela dengan pertanyaan, "Seperti apa rasanya?" Jose Arcadio segera menjawab: "Seperti gempa bumi."

Satu Januari, Kamis pukul dua pagi, Amaranta lahir ke dunia. Sebelum orang-orang masuk ke kamar, Ursula memeriksanya dengan hati-hati. Bayi itu begitu ringan dan licin seperti kadal, tetapi seluruh bagian tubuhnya manusia. Aureliano tidak memerhatikan benda baru itu kecuali ketika rumah itu jadi penuh tamu. Dikuasai kebingungan, ia pergi mencari kakaknya yang tidak berada di tempat tidur sejak pukul sebelas, dan keputusannya begini impulsif sehingga ia bahkan tidak punya waktu untuk merencanakan bagaimana mengeluarkan kakaknya dari kamar tidur Pilar Ternera. Ia mengelilingi rumah itu selama beberapa jam, memanggil dengan siulan rahasia, hingga cahaya pagi pertama memaksanya pulang. Di kamar ibunya, ia menemukan Josi Arcadio tengah bermain-main dengan adik perempuannya yang baru lahir dengan wajah lesu tak berdosa.

Ursula baru saja melewati empat puluh hari beristirahat ketika rombongan orang gipsi itu datang lagi. Mereka adalah pemain akrobat dan pesulap yang dulu membawa es. Tidak seperti kelompok Melquiades, mereka dengan amat cepat memperlihatkan pada penonton bahwa mereka bukan pembawa bentara kemajuan, melainkan pembawa penghiburan. Bahkan ketika membawa es, mereka tidak memamerkan manfaat es itu dalam kehidupan, tetapi sekadat benda aneh untuk permainan sirkus. Kali ini, bersama banyak benda aneh lainnya, mereka membawa permadani terbang. Namun, mereka tidak menawarkan barang itu sebagai kontribusi pokok bagi kemajuan transportasi, tetapi cuma objek rekreasi. Orang-orang langsung merogoh keping emas terakhir mereka untuk menikmati terbang sebentar di atas rumah-rumah di desa itu. Berlindung di balik keramaian yang ada, Jose Arcadio dan Pilar Ternera melewatkan waktu lama untuk bersantai. Mereka adalah dua pencinta yang bahagia di tengah kerumunan, bahkan berpikiran cinta mungkin adalah perasaan yang lebih menenangkan dan mendalam daripada kebahagiaan, liar tetapi sesaat, dari malam-malam rahasia mereka. Bagaimanapun, Pilar, merusak ketenangan itu. Dipicu oleh antusiasme yang diperlihatkan Jose Arcadio saat berduaan dengannya, Pilar mengacaukan suasana dan kebersamaan itu, dan tiba-tiba saja ia menimpakan seluruh dunia ke atas kepala Jose Arcadio. "Sekarang kau benar-benar seorang lelaki," katanya pada pemuda itu. Dan karena pemuda itu tidak paham maksudnya, Pilar menjelaskannya. "Kau akan menjadi seorang bapak."

Jose Arcadio tak berani meninggalkan rumah untuk beberapa hari. Mendengar tawa Pilar berderai-derai di dapur, sudah cukup baginya untuk lari dan bersembunyi di laboratorium, tempat benda-benda artefak kimia itu jadi "hidup" kembali dengan restu Ursula.josi Arcadio Buendia menerima putranya yang tersesat itu dengan gembira dan mengenalkannya dengan proyek pencarian telur filsuf, yang akhirnya ia kerjakan. Suatu senja, anak-anak itu antusias melihat permadani yang terbang setinggi jendela laboratorium, membawa si gipsi yang mengemudikannya dan beberapa anak desa yang dengan gembira melambaikan tangan. Tetapi Jose Arcadio Buendia bahkan tidak memandangnya. "Biarkan mereka bermimpi," katanya. "Kita akan terbang lebih baik daripada yang mereka lakukan, dengan bahan yang lebih ilmiah daripada sehelai seprai menjijikkan." Meskipun pura-pura tertarik, Jose Arcadio tak pernah memahami daya telur filsuf itu yang menurutnya tampak seperti sebuah botol yang salah tiup. Ia tidak berhasil keluar dari kegelisahannya. Selera makannya hilang dan tak bisa tidur. Ia jadi mudah marah, sama seperti ayahnya waktu gagal dalam pekerjaannya, sedemikian rupa jengkel sampai Jose Arcadio Buendia membebaskannya dari tugas laboratorium karena mengira ia terlalu memasukkan kimia ke dalam hati. Aureliano, tentu saja, tahu bahwa kesedihan kakaknya bukan karena pencarian telur filsuf, melainkan ia tidak bisa mengajak kakaknya bicara. Jose Arcadio tidak bersikap spontan lagi. Dari seorang yang ramah dan komunikatif, kini ia suka menyendiri dan ringan tangan. Karena merindukan kesunyian, didera oleh amarah kuat terhadap dunia, suatu malam ia meninggalkan tempat tidurnya seperti biasa, tetapi bukan pergi ke rumah Pilar Ternera, melainkan membaur ke dalam keramaian pasar malam.

Setelah jalan-jalan di antara segala macam alat aneh tanpa jadi tertarik, ia melihat sesuatu yang lain sama sekali: seorang gadis gipsi yang masih sangat muda, bisa dikatakan masih anak-anak, memakai banyak sekali manik-manik dan gadis tercantik yang pernah dilihat Josi Arcadio selama hidupnya. Gadis itu berada di tengah orang banyak yang menyaksikan pemandangan menyedihkan dari seorang lelaki yang telah dikutuk menjadi ular karena tidak mematuhi orangtuanya.

Jose Arcadio tidak memethatikan. Sementara tanya-jawab menyedihkan dengan manusia-ular itu bctlangsung, ia mencari jalan melewati kerumunan sampai ke baris pertama, tempat gadis gipsi itu berada, dan berhenti tepat di belakangnya. Ia merapatkan badannya pada punggung gadis itu. Gadis itu berusaha melepaskan diri, tetapi jose Arcadio lebih merapatkan badannya lagi. Lalu gadis itu merasakan tubuh pemuda itu. Dengan diam, ia menyandar pada pemuda itu, sementara gemetaran oleh kejutan dan takut, tidak mampu memercayai kenyataan itu, dan akhirnya ia berbalik dan memandang Jose Arcadio dengan senyum gemetar. Saat itu dua orang gipsi memasukkan manusia-ular itu kc kandang, lalu membawanya masuk tenda. Gipsi yang melakukan pertunjukan itu mengumumkan:

"Nah, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, kami akan mempertunjukkan uji mengerikan dari seorang perempuan yang harus dipenggal kepalanya setiap malam pada saat ini selama seratus lima puluh tahun karena telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat."

Jose Arcadio dan gadis gipsi itu tidak menyaksikan pemenggalan kepala tersebut. Mereka pergi ke tenda si gipsidan di sana mereka berciuman dengan gelisah dan nekat» sambil melepaskan pakaian mereka. Gadis gipsi itu melepas tali korset yang ia pakai dan di sanalah ia, tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Ia seekor katak kecil yang lemah dengan payudara yang baru tumbuh, kaki begitu kurus sehingga sama sekali tidak sebanding dengan lengan Jose Arcadio, tetapi gadis itu punya ketegasan dan kehangatan yang mengganti kelemahannya. Bagaimanapun» Jose Arcadio tak bisa meresponsnya karena mereka berada dalam semacam tenda umum yang para gipsi masuk-keluar dengan peralatan sirkusnya dan melakukan pekerjaan, bahkan akan berhenti untuk main dadu di dekat tempat tidur itu. Lampu yang tergantung pada tiang tengah menerangi seluruh tempat itu. Setelah sebentar bercumbu» Jos6 Arcadio telentang bugil di atas tempat tidur» telanjang tanpa tahu harus berbuat apa, sementara gadis itu berusaha merangsangnya. Tidak lama kemudian, seorang perempuan gipsi dengan kulit cantik masuk ditemani seorang lelaki yang bukan anggota karavan itu, tetapi juga bukan lelaki desa itu, dan keduanya mulai melepas baju di depan tempat tidur. Tanpa maksud apa-apa, perempuan itu memandang Jose Arcadio dan memerhatikan kemaluannya yang besar itu—yang berada dalam keadaan istirahat—dengan semacam kekaguman yang menyedihkan.

"Astaga," serunya, "semoga Tuhan mempertahankan kau seperti apa adanya."

Pasangan Jos6 Arcadio minta mereka jangan mengganggu, dan pasangan itu merebahkan diri di tanah» dekat tempat tidur. Berahi pasangan lain itu membangkitkan gairah Jose Arcadio. Pada kontak pertama, tulang-tulang si

gadis gipsi serasa lepas dengan derik tak teratur seperti bunyi sekotak kartu domino, dan kulitnya pecah menjadi bintik-bintik keringat pucat, matanya berlinang-linang ketika seluruh rubuhnya mengeluarkan ratapan sedih dan bau lumpur samar-samar. Tetapi gadis itu menahan dampak itu dengan keteguhan dan keberanian yang mengagumkan. Jose Arcadio merasa dirinya terangkat ke udara layaknya malaikat, di mana hatinya melompat keluar dengan suatu semburan kecabulan lembut yang memasuki gadis ini lewat telinganya dan keluar dari mulurnya dalam bahasa gadis itu. Hari itu Kamis. Pada Sabtu malam, Jose Arcadio melilitkan kain merah di kepalanya dan pergi bersama rombongan gipsi itu.

Ketika menyadari putranya tidak ada, Ursula mencarinya ke seluruh pelosok desa. Di tempat bekas perkemahan gipsi sudah tak ada apa-apa lagi, selain sampah yang menggunung dan asap bekas api unggun. Seseorang yang tengah mencari manik-manik di antara sampah mengatakan bahwa malam sebelumnya ia melihat Jose Arcadio di tengah-tengah ributnya karavan itu sambil mendorong kandang manusia-ular di atas kereta. "Ia jadi gipsi!" teriak Ursula pada suaminya yang sama sekali tidak menunjukkan kecemasan atas hilangnya putra sulungnya.

"Semoga itu benar," kata Jose Arcadio Buendia sambil menumbuk dengan lesungnya suatu bahan yang sudah ribuan kali ditumbuk dan dipanaskan lagi dan ditumbuk lagi. "Dengan begitu, ia akan belajar jadi seorang lelaki."

Ursula menanyakan ke mana gipsi ini pergi, la terus bertanya-tanya dan mengikuti jalan yang ditunjukkan kepadanya karena mengira masih sempat mengejar mereka. Ia semakin jauh dari desa sampai merasa sudah berjalan terlalu jauh sehingga tidak berpikir untuk kembali. Jose Arcadio Buendia baru tahu istrinya telah pergi pada pukul delapan malam ketika ia meninggalkan bahan itu untuk dipanaskan dalam tempat perabukan dan memeriksa apa yang terjadi dengan Amaranta kecil yang menangis terus sampai suaranya parau. Dalam beberapa jam, ia mengumpulkan sekelompok orang dengan perlengkapan cukup, menyerahkan Amaranta pada seorang perempuan yang menawarkan untuk menyusui, dan lenyap di jalan tidak kelihatan untuk mengejar Ursula. Aureliano ikut dengan mereka. Beberapa nelayan suku Indian, yang bahasanya tidak mereka pahami, memberi tahu mereka dengan bahasa isyarat bahwa mereka tidak melihat ada yang lewat. Setelah tiga hari sia-sia mencari, mereka kembali ke desa.

Selama beberapa minggu Jose Arcadio Buendia membiarkan dirinya dicekam rasa cemas, la mengasuh si kecil Amaranta seperti seorang ibu. Ia memandikan dan mengganti bajunya, mengantarnya untuk disusui empat kali sehari, dan pada malam hari bahkan menyanyikan untuk si kecil lagu yang tidak bisa dinyanyikan Ursula. Pada waktu-waktu tertentu, Pilar Ternera dengan sukarela mengerjakan urusan rumah tangga sampai Ursula pulang. Aureliano, yang intuisi misteriusnya sudah semakin tajam oleh kemalangan ini, merasakan daya sihir ketika melihat perempuan itu masuk. Kemudian ia tahu bahwa oleh satu dan lain sebab, perempuan itu yang menyebabkan kakaknya minggat dan dengan sendirinya ibunya menghilang, dan ia mengusik perempuan itu, ia melawan dengan diam dan membandel sedemikian rupa sehingga perempuan itu tidak lagi datang ke rumahnya.

Waktu telah mengatur segala sesuatu pada tempatnya. Jos6 Arcadio Buendia dan putranya tidak tahu kapan tepatnya mereka kembali ke laboratorium, membersihkan segala sesuatu, pipa-pipa air, sekali lagi dengan sabar memanipulasi bahan-bahan yang sudah istirahat beberapa bulan di atas tempat perabukan. Bahkan Amaranta, sementara berbaring dalam keranjang anyaman, dengan rasa ingin tahu mengamati ayah dan kakaknya asyik bekerja dalam ruangan kecil itu, yang udaranya pengap oleh uap merkuri. Pada kesem-patan tertentu, berbulan-bulan setelah Ursula pergi, mulai terjadi hal-hal aneh. Sebuah botol kosong yang sudah lama terlupakan di dalam lemari jadi begitu berat sampai tidak bisa diangkat. Sepanci air di atas meja kerja tiba-tiba mendidih selama setengah jam—tanpa ada api di bawahnya—sampai menguap habis. Arcadio Buendia dan putranya memerhatikan fenomena tersebut dengan takjub sekaligus girang, tidak mampu menjelaskan tetapi menafsirkannya semata-mata sebagai pernyataan masa depan dari material itu. Suatu hari, keranjang ayunan Amaranta mulai bergerak sendiri dan mengitari ruangan itu, membuat Aureliano cemas dan bergegas menghentikannya. Tetapi ayahnya tidak menjadi jengkel, la meletakkan keranjang itu di tempatsemula dan mengikatnya ke kaki meja, yakin bahwa ada kejadian yang telah lama dinanti-nantikan akan segera terjadi. Pada saat itulah Aureliano mendengar ayahnya berkata:

"Jika kau tidak takut pada Tuhan, takutlah pada-Nya lewat logam-logam ini." ,

Tiba-tiba, hampir lima bulan setelah menghilang, Ursula pulang. Ia tiba dengan agung, tampak muda dengan pakaian baru yang modelnya tidak dikenal di desa itu. Jose

Arcadio Buendia hampir-hampir tak bisa berdiri kena dampaknya.u Itu dia!" teriaknya. "Aku tahu bahwa itu akan terjadi." Dan ia sungguh percaya karena selama terpenjara lama ketika memanipulasi bahan-bahan tersebut, dari lubuk hatinya yang paling dalam ia memohon agar keajaiban yang lama dirindukan itu bukan ditemukannya telur filsuf, atau ditemukannya petunjuk yang membuat logam hidup atau kemampuan mengubah engsel dan kunci di rumah itu menjadi emas, melainkan apa yang baru saja terjadi: pulangnya Ursula. Tetapi Ursula tidak membagi kegembiraannya. Ia memberikan ciuman biasa seolah-olah ia baru pergi satu jam dan berkata kepada suaminya: "Lihatlah di luar sana."

Jose Arcadio Buendia butuh waktu agak lama untuk keluar dari kebingungannya ketika ia keluar ke jalan dan melihat banyak orang. Mereka bukan gipsi. Mereka laki-laki dan perempuan seperti mereka dengan rambut lurus dan kulit warna gelap, bicara dalam bahasa yang sama dan mengeluh soal sakit yang sama. Mereka punya bagal-bagal yang sarat makanan, gerobak sapi yang sarat perabot dan peralatan rumah tangga, dan aksesori sederhana yang dijual tanpa berteriak-teriak seperti penjaja dalam kenyataan sehari-hari. Mereka datang dari seberang rawa, hanya dua hari perjalanan, di mana ada kota-kota yang menerima surat-surat pos setiap bulan dalam tahun itu dan mereka terbiasa menjalani kehidupan yang baik. Ursula tidak bisa menyusul gipsi yang dikejarnya, tetapi ia menemukan jalan yang tidak mampu ditemukan suaminya dalam pencarian sia-sianya akan penemuan besar.

DUA MINGGU setelah dilarutkan, anak Pilar Ternera itu dibawa ke rumah neneknya. Ursula mengakui anak itu dengan enggan, sekali lagi ditaklukkan oleh ketegaran suaminya, yang tidak bisa menetima ide harus menelantarkan darah dagingnya, tetapi memaksakan syarar; anak itu tidak boleh tahu identitasnya yang sebenarnya. Walaupun diberi nama Jose Arcadio, akhirnya dipanggil Arcadio saja agar tidak membingungkan. Waktu itu ada begitu banyak kegiatan di desa dan begitu banyak kesibukan di rumah sehingga pengasuhan anak jadi nomor dua. Mereka diasuh oleh Visitaci6n, seorang perempuan Indian Guajiro yang tiba di desa itu bersama saudaranya karena menghindari wabah insomnia yang menghantui suku mereka selama beberapa tahun. Keduanya begitu patuh dan mau membantu sehingga Ursula menerima mereka sebagai pembantu rumah tangga. Itulah sebabnya, Arcadio dan Amaranta bisa berbahasa Guajiro sebelum belajar bahasa Spanyol, dan keduanya belajar minum kaldu kadal dan makan telur laba-laba tanpa sepengetahuan Ursula karena Ursula terlalu sibuk dengan bisnis menjanjikan berupa permen berbentuk binatang. Macondo telah berubah. Orang-orang yang dulu datang bersama Ursula telah menyebarkan berita tentang kualitas bagus tanahnya dan posisinya yang istimewa, berkenaan dengan letaknya dekat rawa-rawa sehingga dari sebuah desa kecil pada masa lalu berubah menjadi kota yang aktif, dengan toko-toko dan bengkel serta rute perdagangan yang tetap, saat orang-orang Arab pertama tiba dengan celana komprang dan cincin di telinga, dan menukar manik-manik dari kaca dengan burung kakaktua, jose Arcadio Buendia betul-betul tidak punya waktu lagi untuk beristirahat. Terpesona oleh realitas langsung yang ternyata lebih fantastis daripada alam semesta luas dari imajinasinya, ia sudah tidak tertarik lagi pada laboratorium kimia itu, menyimpan material yang sudah menjadi tipis akibat dimanipulasi selama berbulan-bulan, yang membuat dirinya kurus dan lemah, dan kembali menjadi orang yang rajin seperti dulu ketika memutuskan membuat denah jalan dan lokasi rumah-rumah baru sehingga tak seorang pun akan menikmati hak istimewa yang tidak dimiliki setiap orang, la memperoleh semacam wewenang di antara para pendatang baru itu sehingga tidak ada fondasi diletakkan atau dinding dibangun tanpa persetujuannya, dan telah diputuskan bahwa ia harus menjadi orang yang bertugas membagi tanah. Ketika gipsi akrobat itu kembali lagi dengan tenda-tenda karnaval yang kini diubah menjadi besar sekali untuk permainan keberuntungan dan adu nasib, mereka diterima dengan tangan terbuka karena mengira Jose Arcadio akan pulang bersama mereka. Terapi Jose Arcadio tidak pulang» juga tidak membawa manusia-ular yang, menurut pendapat Ursula, satu-satunya yang bisa bercerita tentang putranya» sehingga rombongan gipsi itu tidak diizinkan berkemah di kota atau menginjakkan kaki di tempat itu kelak karena dianggap membawa maksiat dan perbuatan tidak senonoh. Bagaimanapun, Jos£ Arcadio Buendia secara eksplisit menyatakan bahwa pintu akan terbuka bagi rombongan Melquiades dulu, telah memberikan kontribusi begitu besar bagi pertumbuhan kota itu dengan kebijaksanaannya sebagai orang tua dan penemuannya yang menakjubkan. Tetapi, menurut keterangan para pengembara itu, rombongan Melquiades sudah tersapu bersih dari muka bumi ini karena mereka telah melangkah terlalu jauh melampaui batas-batas pengetahuan manusia.

Karena saat itu terbebas, paling tidak dari siksaan fantasinya, dalam waktu singkat Jose Arcadio Buendia menyusun suatu sistem aturan dan kerja yang hanya bisa dilaksanakan dengan melepaskan burung-burung, yang sejak kota itu didirikan, telah memeriahkan suasana dengan kicauan mereka, dan menggantinya dengan jam musik dalam setiap rumah. Jam menakjubkan itu terbuat dari kayu berukir, yang ditukar orang Arab dengan burung kakaktua, dan Jose Arcadio Buendia telah menyetelnya sedemikian rupa sehingga tiap setengah jam kota itu akan menjadi gembira dengan nada meningkat dari lagu yang sama, sampai mencapai klimaksnya pada tengah hari, yakni tepat dan bulat sebagai irama waltz lengkap. Juga Jose Arcadio Buendia yang memutuskan selama tahun-tahun itu bahwa penduduk harus menanam pohon almond sebagai ganti pohon akasia di kiri-kanan jalan, dan yang menemukan, tanpa pemah membukakan rahasia, cara untuk membuat pohon-pohon itu hidup selamanya. Bertahun-tahun kemudian, ketika Macondo berupa sebuah padang dengan rumah kayu dan atap seng, pohon-pohon almond yang rusak dan kotor itu masih berdiri di atas jalan-jalan paling tua, walaupun

tak ada yang tahu siapa yang menanamnya. Sementara ayahnya mengatur kota ini dan ibunya meningkatkan kekayaan mereka dengan bisnis luar biasa permen berbentuk ayam dan ikan, direnteng pada tusuk kayu balsa, yang dikirim dari rumah itu dua kali sehari, Aureliano menghabiskan waktunya terus-menerus dalam laboratorium yang tetbeng-kalai itu, sambil mempelajari seni barang perak dengan eksperimennya sendiri, la tumbuh begitu cepat sehingga dalam waktu singkat baju-baju yang ditinggalkan kakaknya sudah tidak muat lagi untuknya, dan ia mulai memakai baju ayahnya, tetapi Visitacion harus menjahit lagi kemeja dan memendekkan celana karena Aureliano belum sebesar mereka. Masa remaja telah merenggut suaranya yang lembut dan membuatnya pendiam dan sangat kesepian, tetapi, sebaliknya, ini telah memulihkan kembali ekspresi kuat pada matanya waktu ia lahir, la begitu memusatkan perhatian pada eksperimen seni barang perak ini sampai jarang sekali keluar dari laboratorium untuk makan. Karena cemas kalau anaknya memendam kesedihan, Jose Arcadio Buendia memberinya kunci rumah dan sedikit uang karena mengira anak itu mungkin butuh perempuan. Tetapi Aureliano justru membeli asam hidroklorik untuk menghasilkan sedikit aqua regia" dan mempercantik kunci rumah itu dengan lapisan emas. Kelebihan anak muda ini memang tak bisa dibandingkan dengan Arcadio atau Amaranta yang sudah tumbuh gigi kedua dan sepanjang hari bergelantung-

13Campuran asam (asamnftrikdanhidroklorik) yangsangatkor0*4.biasadigunakan untukmembelah logam,termasukemas--peny

an pada baju si Indian pengasuhnya, membandel tak mau bicara bahasa Spanyol, tetapi bahasa Guajiro. "Tidak usah mengeluh," kata Ursula pada suaminya. "Anak-anak mewarisi kegilaan orangtuanya." Dan ketika Ursula meratapi kemalangannya karena yakin bahwa tingkah laku liar anak-anak ini sama menakutkan dengan anak berekor babi, Aureliano memandangnya sampai ia merasa berada dalam situasi tidak pasti.

"Seseorang akan datang," katanya pada Ursula.

Ursula, seperti yang selama ini ia lakukan manakala putranya meramal, berusaha memecahkan persoalan itu dengan logika seorang ibu. Adalah wajar bila ada yang akan datang. Lusinan orang asing berdatangan ke Macondo setiap hari tanpa menimbulkan prasangka atau ide rahasia. Walaupun demikian, di atas semua logika ini, Aureliano begitu pasti dengan ramalannya.

"Aku tidak kenal dia," ia bersikeras, "tetapi siapa pun dia, dia sudah dalam perjalanan."

Nyatanya, Minggu ini Rebeca tiba. Gadis itu baru sebelas tahun, la telah menempuh perjalanan yang sulit dati Manau re bersama beberapa pedagang kulit binatang, yang menerima tugas untuk menyerahkan anak itu bersama sepucuk surat kepada Jose Arcadio Buendia, terapi tidak bisa menjelaskan dengan tepat siapa yang menyuruh mereka. Gadis itu membawa sebuah koper kecil, sebuah kursi goyang kecil berlukiskan bunga-bunga kecil, dan kantong kanvas berisi tulang belulang orangtuanya yang selalu mengeluarkan suara gemeretak. Surat yang ditujukan pada Jose Arcadio Buendia itu ditulis dengan kata-kata amat mesra oleh seseorang yang tetap mencintainya walau waktu dan

jarak telah memisahkan mereka, dan yang merasa berkewajiban demi kemanusiaan yang paling mendasar untuk oerbuat yang terbaik, dan mengirimkan anak piatu yang tak punya tempat berlindung itu, yang sepupu garis kedua dari Ursula, dan dengan sendirinya juga kerabat Jose Arcadio Buendia, walaupun agak jauh. Anak ini putri temannya yang tak terlupakan, Nicanor Ulloa, dan istrinya yang amat baik, Rebeca Montiel, semoga Tuhan melindungi mereka di Kerajaan-Nya Yang Suci, yang tulang-tulangnya dibawa gadis itu supaya dapat dikuburkan secara Kristiani. Nama-nama yang disebutkan, maupun tanda tangan di atas surat itu, benar-benar terang, tetapi baik Jose Arcadio Buendia maupun Ursula tidak ingat kalau punya kerabat dengan nama-nama itu, juga mereka tidak kenal nama pengirim surat itu, apalagi desa Manaure yang jauh. Adalah mustahil mendapatkan informasi lebih jauh dari gadis itu. Sejak tiba, ia selalu duduk di kursi goyang kecilnya, sambil mengisap jarinya dan mengamati setiap orang dengan matanya yang besar dan membelalak, tanpa menunjukkan kalau ia paham apa yang ditanyakan padanya, la memakai baju usang bergaris-garis diagonal yang sudah dicelup warna hitam, dan sepasang sepatu bot dari kulit yang bersisik. Rambutnya diikat kc belakang telinganya dengan pita hitam. Ia memakai skapulir yang gambarnya sudah tidak jelas karena keringat, dan pada petgelangan tangan kanannya tergantung gelang tembaga dengan taring sejenis binatang buas yang dipakai sebagai azimat untuk menangkal mata jahat. Kulitnya yang kehijauan, perutnya buncit dan padat seperti drum, menunjukkan kesehatan buruk dan kelaparan yang lebih tua daripada umur anak itu, tetapi ketika diberi sesuatu untuk dimakan, ia meletakkan piring itu di atas lututnya tanpa mencicipi apa-apa. Mereka malah mulai mengira anak itu bisu-tuli, sampai orang Indian itu bertanya dalam bahasa mereka, apakah ia mau minum dan ia menggerakkan matanya seolah-olah mengenali mereka dan mcngiya-kan dengan anggukan kepala.

Mereka menerima gadis ini karena tidak punya pilihan lain. Mereka memutuskan untuk memanggilnya Rebeca— yang menurut surat ini adalah nama ibunya—karena Aureliano telah dengan sabar membacakan untuk gadis itu nama demi nama semua santa dan ia tidak mendapatkan tanggapan untuk setiap nama yang ia ucapkan. Karena tidak ada makam di Macondo, sebab belum ada yang mati, mereka menyimpan karung tulang belulang itu sambil menunggu tempat yang tepat untuk menguburkannya, dan untuk waktu yang lama, karung itu berpindah-pindah dan akan ditemukan di tempat yang paling tidak diharapkan, selalu gemeretak seperti induk ayam yang mcncotok-cotok tanah. Lama waktu berlalu sebelum Rebeca menyatu ke dalam anggota keluarga itu. la duduk di kursi goyang kecilnya di sudut rumah yang paling terpencil sambil mengisap jari-jarinya. Tidak ada yang menarik perhatiannya, selain musik jam yang akan ia cari setiap setengah jam dengan mata ketakutan seakan berharap akan menemukannya di suatu tempat di udara. Selama beberapa hari, mereka tidak bisa menyuruhnya makan. Tak ada yang paham mengapa ia tidak mati kelaparan, sampai orang si Indian, yang mengetahui segala sesuatu karena tidak henti-hentinya mondar-mandir dengan kaki berjinjit, menemukan bahwa Rebeca hanya suka makan sejenis tanah lembap di halaman dan

kerak kapur dinding tembok yang ia korek-korek dengan kukunya. Jelas bahwa orangtuanya, atau siapa pun yang pernah mengasuhnya, telah melarang kebiasaan anak itu karena ia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi dan perasaan bersalah, selalu berusaha menyembunyikannya agar bisa memakannya kalau tidak ada yang melihat. Sejak iru, mereka mengawasi anak itu dengan ketat. Mereka membuang empedu sapi ke halaman dan menggosok dinding rumah dengan cabe pedas karena mengira metode ini dapat menghentikan kebiasaan buruk anak itu, tetapi Rebeca menunjukkan kecerdikannya untuk mendapatkan tanah sehingga tanpa sadar, Ursula terpaksa menggunakan metode yang lebih drastis. Ia memasukkan jus jeruk dan kelembak ke dalam panci, lalu dibiarkan kena embun sepanjang malam dan memberikan ramuan tersebut kepada anak itu keesokan harinya, pada saat perutnya kosong. Walau tak ada yang pernah memberi Tahunya bahwa itu obat khusus untuk kebiasaan buruk makan tanah, ia berpikir bahwa suatu cairan pahit yang masuk ke perut yang sedang kosong akan membuat levernya bereaksi. Meski lemah, Rebeca masih bisa kuat memberontak sehingga petlu diikat seperti anak sapi agar bisa disuruh meneguk obat itu, dan mereka harus menghindari tendangannya atau menahan sumpah serapahnya dalam bahasanya yang aneh, disela-sela menggigit atau meludah, dan itu, menurut kata kedua orang Indian yang malu iru, adalah umpatan paling jelek yang dapat dibayangkan dalam bahasa mereka. Ketika Ursula mengetahui hal iru, ia menambahkan cara pengobatannya dengan mencambuk anak itu. Tidak diketahui dengan pasti, apakah karena kelembak atau pukulan ini, atau kedua-

duanya, tapi nyatanya dalam beberapa minggu Rebeca mulai memperlihatkan tanda-tanda sembuh. Ia ikut bermain dengan Arcadio dan Amaranta yang memandangnya sebagai kakak, dan ia makan dengan penuh semangat dan menggunakan peralatan makan dengan baik. Dalam waktu singkat, ketahuan bahwa ia bisa berbahasa Spanyol sefasih bahasa Indian, dan punya kemampuan besar untuk melakukan pekerjaan kasar dan bahwa dapat menyanyikan walt2 dari jam-jam itu dengan kata-kata lucu yang ditemukannya sendiri. Mereka tidak butuh waktu lama untuk menganggapnya sebagai anggota keluarga itu. Ia lebih menyayangi Ursula daripada anak-anaknya yang lain, dan dia memanggil adik kepada Arcadio dan Amaranta. Kepada Aureliano, ia memanggil paman dan kakek Jos£ Arcadio Buendia. Dengan demikian, akhirnya ia pantas, seperti yang lainnya, mendapatkna nama Rebeca Buendia, satu-satunya nama keluarga yang pernah ia peroleh dan ia junjung tinggi sampai akhir hayatnya.

Suatu malam, kira-kira waktu Rebeca sembuh dari kebiasaannya makan tanah dan dimasukkan ke dalam kamar tidur anak-anak lainnya, perempuan Indian yang menemani mereka tidur kebetulan terjaga dan mendengar suara asing yang tidak teratur di sudut kamar. Ia bangun dengan ketakutan katena mengira ada hewan masuk ke kamar itu, kemudian ia melihat Rebeca di sudut kamar, duduk di kursi goyangnya sambil mengisap jari dengan mata menyala dalam gelap, seperti mata kucing. Karena ketakutan, capek memikirkan nasibnya, dalam mata itu Visitacion mengenali gejala penyakit yang membuatnya dan adiknya menyingkir selamanya dari sebuah kerajaan kuno, di mana mereka adalah pangeran dan putri. Itulah wabah penyakit insomnia.

Cataure, orang Indian yang satu lagi, pagi-pagi sekali telah pergi dari rumah itu. Kakaknya tetap tinggal karena hatinya yang fatalistik itu mengatakan bahwa penyakit mematikan iru akan mengikutinya—ke mana pun ia pergi— bahkan ke sudut dunia yang paling jauh. Tak seotang pun memahami kecemasan Visitacion. "Jika tidak pernah bisa tidur lagi, jauh lebih baik," kata Jose Arcadio Buendia bercanda. "Dengan cara itu, kita akan menghasilkan lebih banyak dari hidup." Tetapi wanita Indian itu menjelaskan bahwa yang paling mengerikan dari penyakit insomnia bukanlah tidak mungkin tidur karena tubuh sama sekali kita tidak merasa lelah, melainkan evolusi yang tak petak lagi ke arah manifestasi lebih kritis: kehilangan ingatan. Maksudnya, kalau si penderita sudah terbiasa dengan keadaan tidak bisa tidur, semua kenangan masa kanak-kanaknya mulai terhapus dari ingatannya, kemudian nama dan pikiran rentang benda-benda, dan akhirnya identitas orang dan bahkan kesadaran bahwa ia ada, sampai ia tenggelam dalam kondisi dungu dan tak punya masa lalu. Jose Arcadio Buendia, yang tertawa terpingkal-pingkal, mengira itu hanya salah satu masalah dari banyak penyakit yang diciptakan oleh takhayul orang Indian. Tetapi sebaliknya, Ursula, demi keselamatan, mengambil tindakan pencegahan dengan mengisolasi Rebeca dati anak-anak yang lain.

Setelah beberapa minggu, ketika teror yang mencekam Visitacidn mulai mereda,}os€ Arcadio Buendia mendapati dirinya gelisah di tempat tidur, tidak bisa tidur. Ursula, yang juga terjaga, bertanya ada apa, dan lelaki ini menjawab, "Aku ingat Prudencio Aguilar lagi." Mereka sama sekali tidak tidur, tetapi keesokan harinya mereka merasa begitu nyaman

sehingga melupakan malam yang buruk itu. Saat makan siang, Aureliano mengatakan dengan heran bahwa ia merasa sangat nyaman, padahal semalam suntuk ia berada di laboratorium, menyepuh bros yang rencananya akan ia berikan pada ibunya sebagai hadiah ulang tahun. Mereka baru cemas pada hari ketiga, ketika tak seorang pun bisa tidur pada malam hari dan menyadari bahwa mereka sudah tidak ridur selama lima puluh jam.

"Anak-anak juga tidak tidur," kata si Indian dengan keyakinan sangat. "Begitu penyakit ini masuk ke rumah, tak seorang pun akan selamat."

Mereka memang telah terjangkit penyakit insomnia. Ursula, yang pernah mempelajari dari ibunya nilai media tumbuh-tumbuhan, meramu obat dan menyuruh semua orang minum rebusan daun monkshood14. Tetapi mereka tetap tidak bisa tidur dan sepanjang hari mimpi sambil berdiri. Dalam keadaan terhalusinasi itu, mereka tidak hanya bisa melihat gambaran dari mimpi mereka sendiri, tetapi ada yang melihat gambaran mimpi orang lain. Rumah itu seakan-akan penuh tamu. Sementara duduk di kursi goyangnya di salah satu sudut dapur, Rebeca memimpikan seorang lelaki yang amat mirip dengannya; berpakaian linen putih, leher baju ditutup kancing emas, membawakan buket mawar untuknya. Lelaki iru ditemani seorang wanita dengan tangan lembut yang mengambil setangkai mawar lalu menyematkannya ke rambut anak itu. Ursula tahu bahwa lelaki dan wanita itu adalah orangtua Rebeca, tetapi walau berusaha keras untuk mengenali mereka, ia tambah yakin belum pernah bertemu dengan mereka. Sementara itu, karena kekhilafannya yang tak termaafkan oleh Jose Arcadio Buendia sendiri, permen binatang-binatangan yang dibuat di rumah ini tetap dijual di seluruh kota. Anak-anak dan orang dewasa dengan nikmat mengisap permen insomnia berbentuk ayam jantan kecil hijau, permen insomnia ikan merah-jambu, dan permen insomnia kuda poni kuning sehingga subuh pada Senin iru seluruh kota terjaga. Mula-mula tak seorang pun merasa cemas. Sebaliknya, mereka bahagia karena tak tidur sebab masih begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di Macondo pada hari-hari itu, dan waktu seakan-akan tak cukup. Mereka bekerja begitu keras sehingga tidak lama kemudian tak ada lagi yang dikerjakan, dan mereka bisa ditemukan pada pukul tiga pagi dengan tangan terlipat di dada, menghitung not musik jam. Mereka yang ingin tidur, bukan karena merasa penat, melainkan merindukan mimpi, mencoba segala macam cara agar bisa lelah. Mereka akan berkumpul dan mengobrol tiada henti, berkali-kali menceritakan lelucon yang sama selama berjam-jam. Juga, mencoba memperumit sampai menjengkelkan, kisah ayam yanjr dikebiri yang sebetulnya adalah permainan yang tak ada akhirnya, di mana narator bertanya apa mereka menginginkannya bercerita tentang ayam kebiri itu, dan kalau menjawabya, narator itu akan mengatakan bahwa ia tidak menyuruh mereka bilangya, tetapi apakah mereka menginginkan ia bercerita tentang ayam kebiri, dan jika mereka menjawabtidak, narator itu akan bilang bahwa ia tidak minta mereka menjawab tidak, tetapi apakah mereka ingin ia bercerita tentang ayam kebiri, dan jika mereka diam saja, narator itu akan mengatakan bahwa ia tidak minta mereka untuk diam, tetapi bertanya apakah mereka menginginkannya bercerita tentang ayam kebiri. Dan tak. seorang pun bisa pergi, karena sang narator akan bilang bahwa ia tidak meminta mereka untuk pergi, tetapi hanya bertanya apakah mereka memintanya untuk bercerita tentang ayam kebiri, dan seterusnya dan seterusnya, dalam suatu lingkaran yang tak berujung pangkal setiap malamnya.

Waktu Jose Arcadio Buendia sadar bahwa wabah telah menyerbu kota, ia mengumpulkan semua kepala keluarga untuk menjelaskan apa yang ia ketahui tentang penyakit insomnia, dan mereka menyetujui metode yang akan dipakai untuk mencegah penyebarannya ke kota-kota lain di sekitar rawa. Itu sebabnya mereka melepas genta yang selama ini dipakaikan pada kambing; genta yang ditukar oleh orang Arab dengan burung kakaktua. Genta-genta itu dikumpulkan di pintu gerbang kota dan selanjurnya digantungkan pada leher orang-orang yang tak mau mendengar dan tetap bersikeras masuk ke kota. Semua orang asing yang melewati jalan-jalan di Macondo harus membunyikan genta-genta itu supaya yang sakit tahu bahwa mereka sehat. Mereka sama sekali tak diizinkan makan dan minum apa saja selama berada di kota karena tak disangsikan lagi bahwa penyakit itu menular lewat mulut, dan semua makanan dan minuman sudah terkontaminasi penyakit tersebut. Dengan cara itu, mereka membatasi penyebaran wabah cuma sebatas kota saja. Karantina seperti itu ternyata berjalan efektif sehingga situasi darurat diterima sebagai hal yang wajar dan kehidupan ditata sedemikian rupa, hingga pekerjaan dapat berjalan kembali dan tak seorang pun risau terhadap kebiasaan tidur yang tak berguna itu.

Adalah Aureliano yang menyusun konsep untuk melindungi mereka dari kehilangan ingatan selama beberapa bulan, la menemukannya secara kebetulan. Sebagai seorang penderita insomnia yang ahli, yakni yang kali pertamanya, ia telah mempelajari seni karya perak sampai taraf sempurna. Suatu hari ia mencari paron kecil yang biasa dipakai untuk melapisi logam, tetapi lupa namanya. Ayahnya memberi tahu dia, "paron". Aureliano menulis nama itu pada secarik kertas dan menempelkan di dasar benda itu:paron. Dengan cata iru, ia yakin tidak bakal lupa lagi pada masa mendatang. Tidak terpikir olehnya bahwa itu manifestasi pertama kehilangan ingatan karena benda itu sendiri punya nama yang sulit diingat. Tetapi beberapa hari kemudian, rernyata ia kesulitan mengingat hampir setiap benda di laboratoriumnya. Kemudian, ia menandai benda-benda iru dengan nama masing-masing sehingga ia tinggal membaca tulisan ini untuk mengenalnya. Ketika ayahnya bercerita bahwa ia cemas karena melupakan segala sesuatu, bahkan kejadian paling berkesan dari masa kecilnya, Aureliano menjelaskan metodenya, dan Jose Arcadio Buendia lalu mempraktikkannya di seluruh rumah dan kelak memberlakukannya di seluruh kota. Dengan tinta dan kuas, ia menulisi segala sesuatu dengan namanya: kursi,meja, jam, pintu, tempat tidur, panci, la pergi ke kandang dan menandai binatang dan tanaman: sapi, kambing,babi, ayam, singkong, kaladium, pisang. Sedikit demi sedikit, dengan mempelajari kemungkinan tak terbatas hilangnya ingatan, ia menyadari bahwa akan tiba saatnya ketika benda-benda akan dikenali lewat tulisannya, tetapi tak seorang pun ingat manfaat benda-benda iru. Kemudian, ia lebih eksplisit lagi. Tanda yang ia gantung di leher sapi merupakan contoh bagaimana penduduk Macondo dipersiapkan untuk berjuang melawan penyakit hilang ingatan itu. Inisapi. Ia harus diperah setiap pop agar menghasilkan susu, dan susu itu harus dimasak dan dicampur dengankopi untuk membuat kopi susu. Demikian' lah, mereka terus hidup dalam suatu realitas yang semakin menghilang» yang untuk sementara ditangkap oleh kata-kata, tetapi yang dapat hilang dan tak dapat disembuhkan kalau mereka melupakan arti huruf tulisan itu.

Pada pangkal jalan menuju ke rawa, mereka memasang tanda yang bertultskan MACONDO, dan tanda yang lebih besar di atas jalan utama: TUHAN ITU ADA. Pada semua rumah» kunci untuk mengingat-ingat benda dan perasaan telah ditulis. Tetapi sistem itu memang membutuhkan kesabaran dan kekuatan moral sehingga banyak yang menyerah pada suatu realitas imajiner, realitas yang mereka ciptakan sendiri, yang memang kurang praktis buat mereka tetapi lebih menyenangkan. Pilar Tcrneta adalah yang paling banyak memberikan sumbangan untuk memopulerkan mistifikasi itu ketika ia memahami muslihat membaca kejadian masa lalu melalui kartu, seperti dulu ia melakukannya untuk membaca masa depan. Dengan cara kembali ke masa lalu» mereka yang terserang insomnia ntulai hidup dalam suatu dunia yang dibangun di atas kemungkinan-kemungkinan dari kartu-kartu itu, di mana seorang ayah samar-samar diingat sebagai lelaki hitam yang tiba pada awal April, dan seorang ibu hanya diingat sebagai wanita hitam yang memakai cincin emas pada tangan kirinya, dan tanggal kelahiran hanya diingat sebagai hari Selasa yang lalu saat seekor burunglark bernyanyi di pohon salam. Merasa dikalahkan oleh praktik-praktik liputan seperti itu, Jose Arcadio Buendia lalu memutuskan untuk membuat mesin ingatan yang pernah ia inginkan untuk mengingat semua penemuan mengagumkan kaum gipsi. Alat ini didasarkan pada kemungkinan yang ia lihat setiap hari, dari awal sampai akhir, totalitas pengetahuan yang diperoleh seseorang selama hidupnya. Ia membayangkan iru seperti sebuah kamus berputar sehingga seseorang dapat mengoperasikannya dengan alat pengungkit sehingga dalam beberapa jam akan lewat di depan matanya ide-ide yang paling penting untuk hidup. Ia telah bethasil menuliskan hampir empat belas ribu entri, ketika melalui jalan dari rawa-rawa, seorang telaki tua yang tampak aneh, dengan lonceng untuk penidur yang memelas, muncul dengan koper yang sarat oleh barang dan diikat tali dan menarik sebuah gerobak tertutup kain hitam, la langsung menuju rumah Jose Arcadio Buendia.

Visitacion tak mengenali orang itu ketika membuka pintu, dan ia pikir orang itu datang untuk menjual sesuatu, tanpa menyadari bahwa tak ada yang dapat dijual di sebuah kota yang tak pelak lagi mulai terbenam dalam pasir isap kelupaan. Orang itu tua sekali. Walaupun suaranya juga parau oleh ketidakpastian dan tangannya tampak meragukan keberadaan benda-benda, jelas ia datang dari sebuah dunia yang di dalamnya orang masih dapat tidur dan ingar. Jose Arcadio Buendia mendapati orang tua itu duduk di ruang keluarga, sambil mengipas-ngipasi dirinya sendiri dengan topi hitam bertambal-tambal sementara membaca tanda-tanda yang ditempel pada dinding dengan penuh perhatian. Jose Atcadio Buendia menyambut orang tua iru dengan sangat ramah, takut kalau-kalau ia sudah mengenal orang iru dulu tetapi tidak ingat sekatang. Tetapi tamu itu menyadari kepura-puraan tersebut. Ia merasa dirinya dilupakan; bukan karena kelupaan hati yang tak bisa disembuhkan, melainkan oleh suatu jenis kelupaan yang berbeda, yang jauh lebih kejam dan tak terselamatkan, dan yang ia kenal betul karena itu adalah kelupaan dari kematian. Lalu ia paham. Ia membuka kopernya yang dijejali barang yang tak terhitung banyaknya, dan dari antaranya ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi banyak botol. Ia memberi Jose Arcadio Buendia minuman berwarna lembut, dan seberkas cahaya memasuki ingatannya. Mata Jose Arcadio Buendia sembap karena menangis, bahkan sebelum ia menemukan dirinya di ruang keluarga yang absurd itu, tempat benda-benda diberi label dan sebelum ia merasa malu terhadap tulisan-tulisan tidak masuk akal pada dinding, bahkan sebelum ia mengenali pendatang baru dengan penuh kegembiraan. Orang itu adalah Melquiades.

Sementara Macondo merayakan pulihnya kembali ingatannya, Jose Arcadio Buendia dan Melquiades membangun kembali persahabatan lama mereka. Gipsi itu berniat tinggal di Macondo. Sebenarnya ia telah mengalami kematian, tetapi kembali karena tak tahan menghadapi kesunyian. Karena disingkirkan oleh suku bangsanya sendiri, dan kehilangan semua kemampuan supranaturalnya karena setia kepada hidup, ia memutuskan mencari perlindungan di saru sudut dunia yang belum dijangkau oleh kematian, setia menjalankan suatu laboratorium daguerreovype1*. Jose Arcadio Buendia belum pernah mendengar penemuan itu. Tetapi ketika ia melihat dirinya sendiri, dan seluruh anggota keluarganya, menempel pada selembar logam untuk selamanya, ia terpaku terpesona. Itulah saat tang* gal datidaguerrcotypc yang dioksidasi, yang di dalamnya Jose Arcadio Buendia tampak dengan rambut kasar dan mulai memutih, kerahnya yang berlapis kardus lekat pada kemejanya oleh kancing tembaga, dan ekspresi yang terpesona; yang oleh Ursula, sambil tertawa terbahak-bahak, dilukiskan sebagai "jenderal yang ketakutan**- Jose Arcadio Buendia, nyatanya, ketakutan pada pagi hari Desember itu ketika foto itu dibuat karena menurutnya, secara perlahan orang akan renta, sementara gambarnya awet pada sehelai plat metalik. Melalui kebalikan yang merupakan kebiasaannya, adalah Ursula yang membuat suaminya membuang gagasan itu, sebagaimana Ursula juga yang melupakan kejengkelannya pada masa lalu dan memutuskan Melquiades boleh tinggal di rumah itu, walaupun ia tidak pernah mengizinkan mereka membuatdaguerreotype dirinya, karena (menurut kata-katanya sendiri) ia tidak ingin hidup terus sebagai bahan tertawaan cucu-cucunya. Pagi itu Ursula mendandani anak-anaknya dengan pakaian paling bagus, membedaki wajah mereka dan memberi mereka masing-masing sesendok makan sirop kental agar mereka benar-benar tidak bergerak selama hampir dua menit, di depan kamera fantastik Melquiades. Ridadagueneotype keluarga ini, satu-satunya yang pernah ada, Aureliano tampil berpakaian beledu hitam, diapit oleh Amaranta dan Rebeca. Pandangannya juga tenang dan waskita yang akan ditunjukkannya bertahun-tahun kemudian tatkala ia menghadapi regu tembak. Tetapi ketika itu ia masih belum mencium ramalan nasibnya. Ia begitu ahli dalam karya seni perak, dipuji di seluruh daerah seputar rawa karena buatannya halus. Di bengkel, tempat ia berbagi dengan laboratorium Melquiades yang gila-gilaan iru, ia hampir tidak terdengar bernapas. Ia seakan melarikan diri dalam waktu lain, sementara ayahnya dan gipsi itu dengan suara keras menafsirkan ramalan Nostra-damus, di tengah bisingnya bunyi botol dan nampan, dan malapetaka tumpahnya zat asam, dan bromida perak yang setiap kali hilang dan ketemu lagi. Dedikasi pada pekerjaannya, dan pertimbangan baik yang dipakainya untuk mengarahkan perhatiannya, telah memungkinkan Aureliano dalam waktu singkat memperoleh penghasilan yang lebih baik dibandingkan dengan Ursula dengan penjualan permen binatangnya, tetapi setiap orang menganggapnya aneh bahwa Aureliano sekarang sudah dewasa dan belum kenal perempuan. Memang dia belum pernah punya kekasih.

Beberapa bulan kemudian, Francisco si Jantan kembali. Ia seorang pengembara tua yang sudah berumur hampir dua ratus tahun, dan sering lewat Macondo sambil menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Dalam lagu-lagu itu, ia menceritakan dengan terperinci hal-hal yang terjadi di kota-kota lain, dari Manaure sampai daerah tepi rawa. Dengan demikian, jika ingin mengirim pesan atau menyebarkan berita, seseorang harus membayar dua sen agar semua pesan dan berita itu dapat dimasukkan kc dalam nyanyiannya. Dengan cara itulah Orsula mendengar berita ke-matian ibunya; sangat sederhana, hanya dengan mendengarkan nyanyian. Dan dengan cara iru pula ia berharap ada berita tentang anaknya, jose Arcadio. Orang iru dipanggil Francisco si Jantan karena pernah mengalahkan setan dalam suatu perang tanding. Tidak ada yang tahu siapa namanya yang sebenarnya. Ia hilang dari Macondo ketika berjangkit wabah insomnia, dan suatu hari tiba-tiba ia muncul di kedai Catarino. Semua orang datang mendengarkan untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia ini. Pada saar itu, bersama-sama dengannya, tiba pula seorang perempuan sangat gemuk sehingga empat orang Indian harus mengusung kursi goyangnya, dan seorang gadis remaja muiatto16berwajah murung, yang memayungi perempuan gemuk itu dari sinar matahari. Malam itu Aureliano mengunjungi kedai Catarino. Ia melihat Francisco si Jantan seperti seekor bunglon monolitik17, duduk di tengah penonton. Ia menyanyikan lagu berisi berita dengan suaranya yang sumbang, sambil memainkan akordion antik yang konon pemberian Sir Walter Raleigh di Guiana, dan menceritakan hebatnya cara berjalan penjelajah iru yang kakinya rusak akibatsalt-petre16. Di depan pintu belakang, yang melalui itu orang datang dan pergi, perempuan gemuk itu duduk diam dan mengipasi dirinya. Catarino, dengan setangkai mawar terselip di telinganya, sedang menjual cawan berisi arak tebu dan mengambil keuntungan dari peristiwa tersebut; dengan menghampiri dan menjamah bagian tubuh sekelompok lelaki yang tak sepatutnya ia jamah. Menjelang tengah malam, panasnya tak tertahankan lagi. Aureliano mendengarkan berita itu sampai habis, tetapi tidak mendengar sesuatu yang disukai keluarganya, la baru akan pulang ketika wanita gemuk itu memberi tanda dengan tangannya.

"Kau, masuk saja," katanya pada Aureliano. "Ongkosnya hanya dua puluh sen."

Aureliano melemparkan sebuah koin ke nampan di atas pangkuan wanita ini dan masuk ke kamar tanpa tahu untuk apa. Gadis mulatto yang masih remaja itu, dengan buah dada kecil, telanjang bulat di atas tempat tidur. Sebelum Aureliano, enam puluh tiga lelaki telah memasuki ka-mat tersebut pada malam iru. Karena sudah terlalu banyak dipakai, bercampur dengan peluh dan desah, udara di kamar itu mulai berubah menjadi lumpur. Gadis itu melepas seprai itu dan menyuruh Aureliano memegang ujung satunya. Kain basah itu seberat sehelai terpal. Mereka memerasnya, memutarnya sampai beratnya kembali normal. Mereka membalik kasur itu dan peluh menetes dari sana. Aureliano gelisah karena pekerjaan itu tidak pernah berakhir, la paham teori mekanisme cinta, tetapi saat itu ia tak dapat berdiri tegak karena lututnya terasa lemah, dan walaupun bulu-bulu roma di kulitnya terasa terbakar, ia tak dapat menahan keinginan mendesak untuk buang air besar. Ketika gadis itu selesai membereskan tempat tidur dan memintanya membuka pakaian, Aureliano memberikan penjelasan yang membingungkan. "Mereka menyuruhku masuk. Mereka memintaku melemparkan uang dua puluh sen ke nampan dan menyuruhku bergegas." Gadis itu memahami kebingungannya. "Kalau kau nanti melemparkan lagi dua puluh sen waktu keluar, kau boleh tinggal sedikit lebih lama," katanya dengan lembut. Aureliano membuka pakaiannya, tertekan oleh rasa malu, tak bisa membuang gagasan bahwa kebugilannya tidak bisa dibandingkan dengan kebugilan kakaknya. Biarpun gadis itu berusaha keras, Aureliano tetap merasa tidak tertarik dan amat sangat kesepian.

"Aku akan melemparkan lagi dua puluh sen," katanya dengan suara parau. Gadis itu mengucapkan terima kasih dengan pelan. Punggungnya yang telanjang tampak agak kasar. Kulitnya seperti lengket pada tulang rusuknya, dan napasnya terengah-engah karena keletihan yang sangat. Dua tahun lalu, di suatu tempat yang jauh, gadis itu tertidur tanpa memadamkan lilin, dan ia terbangun dikepung api. Rumah tempat ia tinggal bersama nenek yang mengasuhnya tinggal abu. Sejak itu, neneknya membawanya dari kota ke kota, menaruhnya di tempat tidur dengan bayaran dua puluh sen, dengan tujuan mengumpulkan uang senilai harga rumah yang terbakar itu. Menurut perhitungan gadis itu, ia masih harus melayani tujuh puluh lelaki tiap malamnya selama sepuluh tahun karena ia juga harus membayar biaya perjalanan dan biaya makan untuknya dan neneknya, serta menggaji orang-orang Indian yang mengusung kursi goyang itu. Ketika nenek-muncikari itu mengetuk pintu untuk kali keduanya, Aureliano keluar dari kamar itu tanpa melakukan apa-apa karena merasa ingin menangis. Malam itu ia tak dapat tidur, terus memikirkan gadis itu, dengan campuran rasa berahi dan kasihan. Ia merasa tidak bisa menahan kebutuhan untuk mencintai dan melindungi gadis itu. Dini hari, lesu karena tidak dapat tidut, diam-diam ia memutuskan untuk menikahi gadis itu dengan tujuan membebaskannya dari despotisme1** neneknya, dan menikmati semua malam kepuasan yang dapat ia betikan kepada tujuh puluh lelaki itu. Tetapi pada pukul sepuluh pagi, ketika ia tiba di kedai Catarino, gadis iru telah meninggalkan kota.

Waktu mengurangi gagasan gilanya itu, tetapi membuat frustrasi semakin menjadi-jadi. Ia melarikan diri dalam kerja. Ia mengundurkan diri menjadi lelaki tanpa perempuan selama hidupnya unruk menyembunyikan rasa malu bahwa ia orang tak berguna. Sementara ini, Melquiadcs telah mencetak di atas plat-plat metalik apa saja yang dapat dicetak di Macondo dan menyerahkan laboratoriumdagu- em»ryf)e-nya kepada fantasi Jose Arcadio Buendia, yang telah bertekad menggunakan itu untuk memperoleh bukti yang ilmiah tentang keberadaan Tuhan. Melalui suatu prosessuperimpose20 rumit yang diambil dari bagian-bagian berbeda rumah ini, ia yakin cepat atau lambat ia akan mendapatkan foto Tuhan, jika Tuhan ada, atau benar-benar mengakhiri dugaan tentang keberadaan Tuhan. Mclquiades semakin tenggelam dalam upayanya menafsirkan Nostradamus. Kadang-kadang ia bekerja sampai larut malam, sesak napas dalam rompi beledunya yang sudah memudar, mencorat-coret dengan tangannya yang kecil bak burung pipit, yang cincinnya sudah kehilangan kemilau masa-masa lalu. Suatu malam ia mengira telah menemukan sebuah ramalan tentang masa depan Macondo. Ini akan menjadi kota yang terang benderang dengan rumah-rumah berdinding kaca yang tak ada lagi sisa-sisa ras Buendia. "Ini salah," sergah Jose Arcadio Buendia dengan keras. "Bukan rumah dari kaca, melainkan dari es, seperti mimpiku, dan selalu ada Buendia di sana, peromnia secula seculorum11" Ursula berjuang mempertahankan akal sehatnya dalam rumah mewah itu karena telah mengembangkan bisnisnya, permen binatang kecil-kecil dengan sebuah oven yang jalan sepanjang malam, menghasilkan berkeranjang-keranjang roti dan beraneka macam puding,schuimpyes, dan kue kering; yang dalam wakru beberapa jam habis di sepanjang jalan berkelok-kelok menuju rawa. la sudah mencapai usia saat ia berhak mengaso, tetapi ia justru semakin aktif. Begitu sibuknya ia dengan usaha yang menguntungkan itu, sampai suatu sore dengan bingung ia memandang ke arah pekarangan sementara perempuan Indian itu membantunya menambahkan gula ke dalam adonan, dan melihat dua remaja cantik yang tidak dikenalnya sedang menyulam dalam keremangan senja. Mereka adalah Rebeca dan Amaranta. Begitu selesai dengan masa berkabung untuk neneknya, mereka melepas baju berkabung yang terus-menerus dipakai selama tiga tahun, baju warna-warni cerahnya seakan menempatkan mereka di tempat lain di dunia ini. Rebeca, lain daripada yang diharapkan, adalah yang lebih cantik. Kulitnya bersih, matanya lebar dan menyejukkan, serta punya tangan gaib yang seakan mengerjakan desain bordiran itu dengan benang yang tak tampak. Amaranta yang lebih muda agak kurang anggun, tetapi memiliki daya tatik alamiah, kekuatan batin warisan neneknya. Di samping mereka, walaupun sudah menunjukkan gerakan Tisik ayahnya, Arcadio kelihatan masih kecil. Ia sudah mulai mempelajari karya seni perak pada Aureliano, yang juga telah mengajarinya membaca dan menulis. Ursula tiba-tiba sadar bahwa rumah itu penuh dengan orang, bahwa anak-anak sudah saatnya akan menikah dan punya anak, dan bahwa mereka harus menyebar karena kurang tempat. Kemudian, Ursula mengambil uang yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun kerja keras, membuat beberapa perjanjian dengan para pelanggan dan memutuskan untuk memperbesar rumah itu. Ia membangun sebuah ruang formal bagi tamu, saru lagi yang lebih sejuk dan nyaman untuk dipakai sehari-hari, kamar makan dengan meja dan dua belas kursi tempat mereka bisa duduk bersama semua tamu, sembilan kamar tidur dengan jendela menghadap pekarangan dan sebuah teras yang panjang yang dilindungi dari panas siang hari oleh kebun bunga mawar, dengan pagar jeruji yang di atasnya ditaruh pot pakis dan begonia. Ia menyuruh dapur diperluas agar dapat menampung dua oven. Lumbung tempat Pilar Ternera membaca garis tangan Jose Arcadio dirobohkan, dan dibangun lumbung lain yang dua kali lebih besar sehingga rumah itu tak akan kekurangan pangan. Ia membuat kamar mandi di pekarangan, di bawah naungan pohon kastanye, saru untuk pria dan saru lagi untuk wanita, dan di belakang rumah itu dibuat kandang yang besar; halaman berpagar untuk ayam, bangsal untuk sapi perah, dan sebuah kandang terbuka keempat penjuru sehingga burung pengelana dapat bertengger di sana dengan nyaman. Diikuti lusinan tukang batu dan tukang kayu, seakan dihinggapi demam halusinasi suaminya, Ursula menentukan letak cahaya dan panas serta membagi-bagi ruang tanpa memperhitungkan batasannya. Bangunan kuno dari para pendiri Macondo iru kini penuh dengan peralatan dan bahan bangunan; dengan para pekerja yang berkeringat, yang meminta tiap orang agar jangan mengganggu, tetapi mereka dibuat jengkel oleh tulang-tulang dalam karung yang seolah mengikuri ke mana saja mereka pergi, dengan suaranya yang gemeretak. Dalam suasana yang tak menyenangkan itu, sambil menghirup bau kapur dan aspal, tak seorang pun dapat melihat dengan jelas bagaimana dari perut bumi muncul tidak saja rumah terbesar di kota itu, tetapi juga yang paling ramah dan sejuk yang pernah ada di daerah seputar rawa itu. Jose Arcadio Buendia, dalam upayanya mengejutkan Tuhan di tengah keributan itu, adalah yang paling terakhir paham. Rumah baru itu hampir selesai ketika Ursula menariknya keluar dari dunia fantasinya untuk memberi tahu bahwa ia baru saja mendapatkan perintah untuk mengecat bagian depan rumah itu dengan warna biru, bukan putih seperti yang mereka inginkan, la memperlihatkan sebuah dokumen resmi. Jose Arcadio Buendia, yang tidak memahami kata-kata istrinya, meneliti tanda tangan yang ada di dokumen itu. "Siapa orang ini?" tanyanya.

"Dia seorang hakim," Ursula menjawab dengan sedih. "Mereka bilang bahwa dia orang berwenang yang dikirim pemerintah."

Don Apolinar Moscote, seorang hakim, telah tiba di Macondo dengan diam-diam. Ia menginap di Hotel Jacob, dibangun oleh orang Arab pertama yang datang untuk menukar manik-manik dengan burung kakaktua, dan keesokan hatinya ia menyewa sebuah kamar kecil yang pintunya menghadap ke jalan, berjarak dua blok dari rumah Jose Arcadio Buendia. Ia menata meja dan kursi yang ia beli dari Jacob, pada tembok tergantung perisai lambang republik yang ia bawa, dan di atas pintu ia menulis tanda: Hakim, lnstfuksinya yang pertama adalah agar semua rumah dicat warna biru, untuk mempetingati hari ulang tahun kemerdekaan negara. Jose" Arcadio Buendia, dengan salinan surat perintah di tangannya, mendapati hakim itu sedang tidur siang di tempat tidur gantungnya di ruangan kecil itu. "Kau yang menulis surat ini.'" tanyanya. Don Apolinar Moscote, seorang lelaki dewasa, pemalu dan wajahnya kemerahan, menjawabya- "Atas hak apa?" tanya Jose Arcadio Buendia lagi. Don Apolinar Moscote mengambit sehelai kertas dari laci mejanya dan memperlihatkan pada Jose Arcadio Buendia. "Aku ditunjuk sebagai hakim di kota ini." Jose Arcadio Buendia bahkan tidak memeriksa surat penunjukan itu.

"Di kota ini kami tidak memberikan perintah dengan sehelai kertas," katanya tetap tenang. "Dan karena itu kau tahu ini untuk sekarang dan selamanya, kami tidak butuh hakim sebab tak ada yang perlu dihakimi di sini."

Sambil menatap Don Apolinar Moscote, masih tanpa meninggikan suaranya, Jose Arcadio Buendia menceritakan secara terperinci bagaimana mereka membangun desa itu, bagaimana mereka membagi tanah, membuka jalan, dan memperkenalkan perbaikan yang memang diperlukan, tanpa harus mengganggu pemerintah dan tanpa ada yang mengganggu mereka. "Kami begitu damai sampai tak seorang pun di antara kami yang mati, walaupun secara alamiah," katanya. "Anda dapat melihat bahwa sampai sekarang kami belum punya pemakaman." Tak ada yang kecewa karena tidak dibantu pemerintah. Sebaliknya, mereka bahagia karena sampai sekarang mereka dibiarkan tumbuh dalam damai dan berharap pemerintah akan terus membiarkan mereka seperti itu, dan karena mereka tidak membangun kota dengan harapan seorang asing yang datang akan memberi tahu apa yang harus dilakukan. Don Apolinar telah mengenakan akan jaket denimnya yang berwarna putih—seperti celananya—tanpa sedikit pun kehilangan sikap elegannya.

"jadi, bila ingin tinggal di sini seperti penduduk lainnya, Anda akan disambut dengan baik," Jose Arcadio Buendia menandaskan. "Tetapi bila Anda datang untuk mengacau, dengan menyuruh penduduk mengecat rumahnya dengan warna biru, maka angkat barang Anda dan pergilah ke tempat Anda berasal. Karena rumahku akan dicat putih seperti burung merpati."

Don Apolinar Moscote menjadi pucat. Ia mundur selangkah dan menggertakkan rahangnya sambil berkata dengan tekanan tertentu:

"Aku harus memperingatkan Anda, aku bersenjata."

Jose Arcadio Buendia tak tahu dengan tepat, kapan tangannya mendapatkan kembali kekuatan yang pernah ia gunakan untuk menjatuhkan kuda-kuda. la menyergap leher baju Don Apolinar Moscote dan mengangkatnya sampai setinggi matanya.

"Ini kulakukan," katanya, "karena aku lebih suka menjinjingmu hidup-hidup dan tidak harus membawamu dalam keadaan mati selama sisa hidupku."

Demikianlah, ia menjinjing Don Apolinar Moscote ke tengah jalan dengan memegangi leher bajunya, dan baru menurunkannya di atas jalan rawa itu. Seminggu kemudian, Don Apolinar kembali dengan enam serdadu bertelanjang kaki dan berbaju compang-camping, bersenjatakan senapan, dan sebuah gerobak sapi yang ditumpangi istri dan tujuh anak perempuannya. Dua gerobak lagi tiba belakangan dengan perabot rumah tangga, koper dan peralatan daput. la menempatkan keluarganya di Hotel Jacob, sementara ia mencari rumah dan membuka kembali kantornya dengan perlindungan serdadu-serdadu itu. Para sesepuh Macondo, yang berketetapan hati untuk memaksa keluar pendatang iru, berangkat dengan anak-anak sulung mereka dan menyatakan siap dipimpin Jose Arcadio Buendia. Tetapi dia tidak setuju, katanya, tidak jantan menyakiti seseorang di depan keluarganya, dan Don Apolinar Moscote telah kembali ke kota itu bersama istri dan anak-anaknya. Demikianlah, ia memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih baik.

Aureliano menemani ayahnya. Waktu itu ia sudah memelihara kumisnya yang hitam dan melatih agar suaranya lebih nyaring yang akan menjadi cirinya di dalam perang. Tanpa senjata, tanpa menyapa para penjaga itu, mereka memasuki kantor hakim itu. tanpa senjata, dan tanpa menaruh perhatian pada para penjaga. Don Apolinar Moscote tetap tenang, la memperkenalkan dua putrinya yang kebetulan berada di sana: Amparo, enam belas tahun, berkulit gelap seperti ibunya, dan Rcmcdios, baru sembilan, seorang gadis manis kecil dengan kulit seperti bunga lili dan mata hijau. Mereka anggun dan santun. Begitu Jose Arcadio Buendia dan putranya masuk, sebelum diperkenalkan, kedua gadis itu membawakan kursi untuk duduk. Tetapi mereka sendiri tetap berdiri.

"Baiklah, temanku," kata Jose* Arcadio Buendia. "Anda boleh tinggal di sini, bukan karena pintu ini dijaga bandit-bandit bersenjata, melainkan karena pertimbangan istri dan anak-anak Anda."

Don Apolinar Moscote tetsinggung, tetapi Jose Arcadio Buendia tidak memberinya waktu untuk menjawab.

"Kami cuma mengajukan dua syarat," katanya lebih lanjut. "Pertama, setiap orang boleh mengecat rumahnya dengan warna yang disukainya. Kedua, serdadu-serdadu itu harus pergi sekarang juga. Kami jamin keselamatan Anda." Hakim itu mengangkat tangan kanannya, dengan jari-jari terbuka.

"Janji kehormatan Anda?"

"Janji dari musuh Anda," kata Jose Arcadio Buendia. Dan ia menambahkan dengan nada yang pahit, "Karena ada satu hal yang penting: Anda dan saya masih tetap musuh."

Serdadu-serdadu tersebut sore ini juga pergi. Beberapa hari kemudian, Jose Arcadio Buendia menemukan rumah untuk hakim iru dan keluarganya. Tiap orang berada dalam suasana tenteram kecuali Aureliano. Bayangan Remedios, putri bungsu sang hakim, tetap menggodanya. Ini adalah sensasi fisik yang mengganggunya ketika ia berjalan, seperti ada kerikil di dalam sepatunya.

RUMAH baru itu, yang dicat putih seperti seekor merpati, diresmikan dengan pesta dansa- Gagasan itu tercetus dalam pikiran Ursula sejak ia melihat perubahan pada Rebeca dan Amaranta yang menginjak remaja, dan itulah alasan pokok di balik pesta dansa itu, yaitu keinginan menyediakan tempat yang pantas bagi kedua remaja itu untuk menerima tamu. Agar tak ada yang kurang dalam pesta itu nanti, Ursula bekerja mati-matian sejak rumah itu dibangun, dan sebelum selesai, ia sudah memesan dekorasi mahal, meja-kursi, dan sebuah temuan luar biasa, yang akan membangkitkan kekaguman penduduk kota dan kegembiraan anak muda: pianola22. Alat itu dikirim dalam keadaan lepas-lepas, dikemas dalam beberapa peti yang tiba bersamaan dengan perabotan buatan Venesia, kristal Bohe-mia, peralatan makan dari perusahaan Hindia, taplak meja dari Negeri Belanda, aneka lampu dan lilin, dan kain gorden. Importir barang-barang iru juga mendatangkan Pt-etro Crespi seorang ahli dari Italia, untuk merakit dan me-nyetem nada pianola itu, menunjukkan kepada pembeli cara menggunakan alat itu, dan mengajari mereka dansa diiringi musik mutakhir yang tercetak dalam enam gulung' an kertas.

Pietro Crespi masih muda dan berambut pirang, pemuda paling tampan dan berperilaku paling baik yang pernah ada di Macondo, sangat teliti dan cermat dalam berbusana sehingga meskipun hawanya amat gerah, ia tetap bekerja dalam busana rompi brokat dan jas tebal berwarna gelap. Keringatnya mengucur, dan tetap menjaga jatak dengan empunya rumah, selama beberapa minggu ia bekerja di ruang tamu dengan ketekunan sepetti Aureliano dalam karya seni peraknya. Suatu pagi, tanpa membuka pintu, tanpa memanggil siapa pun untuk menyaksikan keajaiban itu, ia meletakkan gulungan kertas pertama pada pianola itu, dan tiba-tiba suasana gaduh dan menyakitkan dari pukulan palu serta keributan otang memasah kayu berhenti karena terkejut mendengar suara musik yang teratur dan jernih. Mereka semua berlarian ke kamar tamu. Jose Arcadio Buendia seakan-akan tersengat halilintar, bukan karena keindahan melodi ini, melainkan karena kinerja otomatis tuts pianola itu, dan ia menyiapkan kamera buatan Melquiadcs dengan harapan dapat memotret pemain pianola yang tak tampak itu. Hari itu, orang Italia tersebut makan siang bersama mereka. Rebeca dan Amaranta yang menghidangkan makanan tampak terpesona pada cara lelaki tampan iru, dengan jemari putih dan tidak mengenakan cincin, menggunakan peralatan makan. Di ruang keluarga, yang berada di sebelah ruang tamu, Pietro Crespi mengajari mereka dansa. Ia mengajarkan caranya melangkah tanpa menyentuh mereka, menjaga irama dengan metronom, diawasi mata Ursula yang ramah, yang tidak meninggalkan ruangan itu

sedetik pun sementara kedua putrinya belajar dansa. Pietro Crespi memakai celana khusus pada hari-hari itu, sangat elastis dan ketat, juga sepatu khusus untuk dansa. "Kau rak perlu terlalu risau," kata Jos£ Arcadio Buendia kepada istrinya. "Orang itu sebangsa peri." Tetapi Ursula tetap waspada sampai kursus dansa itu selesai dan orang Italia tersebut meninggalkan Macondo.

Kemudian mereka mulai memikirkan pesta itu. Ursula mengajukan daftat tamu yang ketat: yang diundang hanya keturunan para pendiri Macondo, kecuali keluarga Pilar Ternera yang waktu itu sudah punya dua anak lagi, tanpa diketahui siapa ayahnya. Betul-betul daftar tamu untuk kalangan atas, tetapi ditentukan berdasarkan rasa persahabatan karena mereka yang diundang tidak cuma teman-teman lama jose Arcadio Buendia—yang bersama-sama melakukan eksodus dan mendirikan Macondo—tetapi juga anak-cucu mereka yang menjadi teman Aureliano dan Arcadio sejak masih kecil dan putri mereka yang suka menyulam di rumah itu bersama Rebeca dan Amaranta. Don Apolinar Moscote, penguasa baik hati yang aktivitasnya telah berkurang .sampai hanya membutuhkan dua orang polisi bersenjatakan pentungan kayu, adalah pemimpin boneka. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, putri-putrinya membuka toko menjahit yang membuat bunga-bunga lakan, juga makanan lezat dari jambu dan menerima pesanan surat cinta. Tetapi, meskipun rendah hari dan rajin, paling cantik di kota itu dan yang paling terampil dansa, gadis-gadis itu tidak ikut diundang ke pesta itu.

Sementara Ursula dan gadis-gadis itu membongkar mebel dan memoles peralatan perak, serta menggantung gambar-gambar gadis dalam perahu penuh mawar, yang memberi napas kehidupan baru pada ruang-ruang kosong di rumah besar iru, Jose Arcadio Buendia berhenti berusaha mencari gambar Tuhan, yakin akan ketiadaannya, dan membongkar pianola itu dengan tujuan mengurai rahasia ajaibnya. Dua hari sebelum pesta, setelah berkubang di tengah tuts dan palu-palu tuts, dengan ceroboh memasang dawai yang ruwet sehingga bisa lepas di satu arah dan menggulung lagi di arah lain, entah bagaimana ia berhasil merakit kembali instrumen itu. Banyak kejutan dan perubahan pada hari-hari itu, yang tidak pernah terjadi sebelumnya, tetapi yang paling memesona adalah tatkala lampu gantung dipasang dan dinyalakan pada hari dan jam yang sudah ditentukan. Rumah itu dibuka, masih berbau damar dan kapur yang Icmbap, dan anak-anak serta cucu-cucu para pendiri Macondo itu memasuki teras dihiasi pakis dan begonia, kamar-kamar yang tenang, kebun yang dipenuhi wangi bunga mawar, dan mereka berkumpul di ruang tamu, berdiri di depan penemuan tak dikenal yang ditutupi kain putih itu. Mereka yang sudah kenal baik dengan piano, yang populer di kota-kota lain di seputar rawa merasa berkecil hati, tetapi yang paling kecewa adalah Ursula pada waktu memasang gulungan kertas pertama agar Rebeca serta Amaranta dapat mulai berdansa tetapi mekanisme itu tidak jalan. Melquia-des, waktu itu sudah hampir buta dan tubuhnya renta» menggunakan seni kebijakannya yang tak ada akhirnya itu untuk memperbaikinya. Akhirnya» Jose Arcadio Buendia tidak sengaja melepaskan sesuatu yang mengganjal dan terdengarlah suara musik; mula-mula seperti meledak, kemudian mengalir nada-nada musik campuran. Karena dawainya dipasang tidak urut atau tidak pas dan disetem sembarangan, palu-palu tuts itu memukul tidak keruan. Tetapi, keturunan membandel dari kedua puluh satu otang gagah berani, yang telah menerobos pegunungan menuju ke barat untuk menemukan laut itu tidak memedulikan melodi campur aduk tersebut dan mereka tetap berdansa sampai dini hari.

Pietro Crespi datang lagi untuk memperbaiki pianola. Rebeca dan Amaranta membantunya membenahi dawai-dawai sesuai dengan urutannya, dan mereka ikut tertawa mendengar kacaunya suara melodi yang keluar. Suasana waktu itu betul-betul menyenangkan dan terkendali sampai Ursula tidak waspada lagi. Pada malam sebelum ia pamit, diadakan pesta dansa yang diramaikan dengan pianola itu, dan bersama Rebeca, orang Italia itu dengan terampil mendemonstrasikan rari-rarian modern. Arcadio dan Amaranta mengimbangi mereka dengan kemahiran dan keterampilan yang sama. Tetapi pertunjukan itu dikacaukan oleh Pilar Ternera yang waktu itu bersama penonton lain berdiri di depan pintu, berkelahi, saling memukul dan menjambak rambut melawan seorang perempuan yang berani memberikan komentar bahwa pantat Arcadio seperti perempuan. Pietro Crespi pamit dengan mengucapkan pidato singkat yang sentimental, dan berjanji akan segera datang lagi. Rebeca mengantarnya ke pintu, dan setelah menutup pintu-pintu dan memadamkan lampu, ia masuk ke kamar tidurnya dan menangis. Tangis yang tak bisa dihibur dan berlanjut sampai beberapa hari, dan tak ada yang tahu penyebabnya termasuk Amaranta. Sifatnya yang tertutup sebenarnya tidak aneh. Walaupun kelihatannya penuh perasaan dan ramah, ia memiliki watak suka menyendiri dan hati yang tidak gampang dimengerti, la gadis remaja cantik dengan tulang-tulang yang panjang dan kuat, tetapi ia masih memaksa duduk di kursi goyang yang ia bawa waktu tiba di nimah itu, yang sudah seting kali diperbaiki dan tak berlengan lagi. Tak ada yang pernah memergoki bahwa bahkan sampai sebesar itu ia masih punya kebiasaan mengisap jarinya. Itulah sebabnya ia suka mengunci diri di kamar mandi, dan tidur dengan wajah menghadap dinding. Pada senja hari kalau hujan turun, waktu menyulam bersama sekelompok teman di teras begonia iru, ia sering tidak mengikuti percakapan dan setetes air mata nostalgia akan terasa asin pada langit-langit mulurnya kalau ia melihat garis-garis tanah basah dan gundukan lumpur yang didorong cacing-cacing di kebun. Selera rahasia itu, meski sudah disembuhkan dengan jeruk dan kelembak, meledak menjadi keinginan tak tettahankan kalau ia mulai menangis, la makan tanah lagi. Mulanya ia melakukan itu karena ingin tahu rasanya, yakin bahwa rasa tanah yang tidak enak itu akan menghilangkan godaan. Dan kenyataannya, ia memang tak bisa menahan tanah itu di mulutnya. Tetapi ia bersikeras, dikuasai oleh kegelisahan yang semakin besar, dan sedikit demi sedikit ia mulai kembali kepada seleranya yang lama, rasa mineral primer dan kepuasan tak terbatas dari makanan alami itu. la akan mengambil segenggam tanah dan dimasukkan kc sakunya, lalu memakannya sedikit demi sedikit tanpa diketahui oleh siapa pun, dengan perasaan yang membingungkan antara senang dan jijik, sambil mengajari teman-temannya menyelesaikan sulaman paling rumit, dan bicara tentang lelaki lainnya, yang tak pantas menerima pengorbanan seorang gadis yang makan kerak kapur dinding

karena dirinya. Segenggam tanah yang dimakan dapat membuat satu-satunya lelaki yang layak menyaksikan peristiwa itu merasa tidak jauh lagi dan lebih pasti, seakan tanah yang ia pijak dengan sepatu botnya yang terbuat dari kulit mahal di bagian lain bumi ini memindahkan kepada gadis ini berat dan temperatur darahnya dalam rasa mineral yang meninggalkan sisa rasa yang kasar pada mulutnya dan endapan rasa damai dalam hatinya. Suatu senja, tanpa alasan, Am-paro Moscote meminta izin untuk melihat-lihat rumah itu. Rebeca dan Amaranta, yang bingung karena kunjungan yang tak diharapkan iru, mengantar Moscote dengan sikap kaku. Mereka menunjukkan rumah besar yang sudah diubah bentuknya itu, mengajaknya mendengatkan musik dari gulungan kertas pada pianola serta menghidangkan biskuit dan selai jeruk. Amparo memberi pelajaran tentang martabat, pesona pribadi, dan perilaku yang baik yang membuat Ursula terkesan ketika ikut duduk sebentar pada kunjungan itu. Setelah dua jam, ketika percakapan mereka mulai mengendur, Amparo memanfaatkan kelengahan Amaranta dan dengan cepat memberikan sepucuk surat pada Rebeca. Rebeca melihat alamat pada surat itu:Yang terhomat SenoritaRebeca Buendia, ditulis oleh tangan yang juga metodis, dengan tinta yang juga hijau, dan dengan kata-kata yang sama halusnya dengan yang tertera pada pedoman pemakaian pianola. Rebeca melipat surat itu dengan ujung-ujung jarinya yang lentik dan menyimpannya di balik bajunya, sambil memandang Amparo dengan ekspresi tetima kasih tak bersyarat dan tak ada habisnya serta diam-diam berjanji membantunya dengan apa saja.

Persahabatan yang tiba-tiba terjalin antara Rebeca dan Amparo Moscote membangkitkan harapan Aureliano. Kenangan pada Remedios kecil cak pernah berhenti menggodanya, tetapi ia belum mendapatkan kesempatan untuk bertemu gadis itu. Bila jalan-jalan di kota bersama sahabar-sahabatnya, Magnifico Visbal dan Gerineldo Marquez, pur-ra-putra pendiri kota itu, ia akan menengok kc toko jahit dengan pandangan mencari-cari, tetapi yang kelihatan hanya saudari-saudari Remedios. Kehadiran Amparo Moscote di rumahnya adalah suatu pertanda. "Ia akan datang bersama kakaknya," bisiknya kepada dirinya sendiri. "Ia pasti datang." la mengucapkan kalimat itu berkali-kali dan dengan semacam keyakinan, hingga suatu senja saat sedang mengerjakan ikan kecil dari emas di bengkelnya, ia merasa pasti gadis itu telah menjawab panggilannya. Memang, tak berapa lama kemudian, ia mendengar suara kekanak-kanakan, dan waktu ia mendongak, hatinya beku ketakutan ketika melihat gadis iru di pintu, mengenakan gaun organdi merah muda dan sepatu bot putih.

"Jangan masuk situ, Remedios," kata Amparo Moscote dari gang, "Mereka sedang bekerja."

Tetapi Aureliano tak memberinya kesempatan untuk menjawab. Ia mengambil rantai yang keluar dari mulut ikan kecil itu dan berkata:

"Masuklah."

Remedios melangkah masuk dan menanyakan beberapa hal tentang ikan itu, tetapi Aureliano tak menjawab karena tiba-tiba penyakit asmanya kumat, la ingin sekali selamanya berada di samping gadis berkulit bunga lili itu, di samping mata yang bersinar itu, dekat dengan suara yang memanggilnya "Tuan" setiap kali bertanya, yang menunjukkan rasa hormat seperti kepada ayahnya. Melqulades

berada di sudut duduk di depan meja sambil menulis-nulis beberapa tanda yang tak dapat dibaca. Aureliano tidak menyukai orang tua itu. Yang dapat ia lakukan hanyalah mengatakan kepada Remedios bahwa ia akan memberikan ikan emas iru padanya, gadis itu begini kaget sehingga malah keluar dari bengkel secepat mungkin. Senja itu Aureliano kehilangan kesabaran yang selama ini ia simpan, padahal diam-diam ia telah menunggu kesempatan untuk bertemu gadis iru. Pekerjaannya jadiTerbengkalai.Beberapa kali ia mencoba berkonsentrasi, mengharapkan gadis itu menampakkan diri, tetapi ternyata tak ada hasilnya. Sia-sia ia mencarinya ke toko kakaknya, di balik tirai jendela rumahnya atau di kantor ayahnya, tetapi ia hanya menemukan gadis itu dalam bayang-bayang yang memenuhi dirinya dan kesepian yang mengerikan. Aureliano lalu menghabiskan waktu berjam-jam bersama Rebeca di ruang tamu sambil mendengarkan musik dari pianola. Rebeca mendengarkannya karena itu adalah musik yang dipakai Pietro Crespi untuk mengajarinya dan Amaranta dansa. Aureliano mendengarkan musik iru karena segala sesuatu, bahkan musik, mengingatkannya pada Remedios.

Rumah iru jadi penuh cinta. Aureliano mencoba menyatakan cinta itu lewat sebuah puisi yang tak berawal dan tak berakhir, la menulis puisi iru di atas sepotong perkamen kasar pemberian Mclquiades; pada dinding kamar mandi, pada kulit lengannya, dan di dalam semua itu akan muncul bayangan Remedios: Remedios melayang di udara pada pukul dua petang, Remedios dalam alunan bau lembut bunga mawar, Remedios dalam tetesan liur ngengat, Remedios dalam roti sarapan yang masih mengepul, Remedios di ma-

na-mana dan Remedios selamanya. Sementara itu, Rebeca menanti kekasihnya tiap pukul empat sore, sambil menyulam di dekat jendela. Dia tahu bahwa tukang pos hanya datang ke Macondo setiap dua minggu, tetapi ia selalu menantinya, yakin bahwa tukang pos itu akan tiba pada hari lain karena suatu kesalahan. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya: kali pertamanya tukang pos tidak datang pada hari yang biasanya. Jengkel karena putus asa, tengah malam ia bangun dan makan segenggam tanah di kebun, disertai keinginan bunuh diri, sambil menangis kesakitan dan geram, mengunyah-ngunyah cacing tanah yang empuk dan menggigit-gigit kulit siput. Ia muntah-muntah sampai dini hari. Tubuhnya lesu karena demam, pingsan, dan mengigau memalukan. Ursula, karena terganggu, mencongkel gembok koper besi gadis itu, dan di dasar koper itu ia menemukan enam belas pucuk surat yang wangi, diikat dengan pita warna merah muda, kerangka daun dan bunga yang diawetkan dalam buku-buku tua, serta kupu-kupu kering yang remuk ketika disentuh.

Aureliano adalah satu-satunya yang mampu memahami kesedihan Rebeca. Senja itu, ketika Ursula berusaha menyembuhkan Rebeca, Aureliano dengan Magnificio Vis-bal dan Gerineldo Marquqz pergi ke kedai Catarino. Kedai ini sudah diperluas dengan sebuah galeri, terdiri atas kamar-kamar berdinding papan dan di sana tinggal perempuan tak bersuami dengan bau seperti kembang layu. Satu grup akordion dan drum memainkan lagu Francisco si Jantan yang sudah bertahun-tahun ini tak tampak. Tiga sekawan itu minum arak tebu. Magnificio dan Getineldo, sebaya dengan Aureliano tetapi lebih berpengalaman dalam ma-

salah duniawi, secara teratur minum bersama dengan wanita-wanita yang duduk di atas pangkuan mereka. Salah seorang perempuan, layu dan bergigi emas, meraba-raba Aureliano sehingga pemuda itu bergidik. Ia menolak perempuan itu. Ia sudah tahu, semakin banyak minum, semakin ia teringat pada Remedios, tetapi ia masih tahan terhadap siksaan ingatan itu. Dia tak tahu kapan tepatnya ia mulai melayang. Ia melihat temannya dan perempuan-perempuan itu berayun-ayun dalam cahaya yang berpijar, tanpa bobot atau bentuk, sambil mengucapkan kata-kata yang tidak keluar dari mulutnya atau membuat gerakan aneh yang rak sesuai dengan ekspresi wajahnya. Catarino memegang bahunya dan berkata, "Sudah hampir pukul sebelas." Aureliano menoleh, melihat wajah tak berbentuk dengan bunga lakan terselip di telinganya, lalu ia pingsan, seperti pada masa lupa dulu dan ia sadar waktu dini hari dan dalam sebuah kamar yang betul-betul asing tempat Pilar Ternera berdiri dengan baju dalamnya, bertelanjang kaki, rambut terurai, sambil membawa lampu di atasnya, kaget karena tidak percaya:

"Aureliano!"

Aureliano memeriksa kakinya dan mengangkat kepala. Ia tak tahu bagaimana ia jadi berada di sana, tetapi ia tahu apa tujuannya karena sudah ia pendam dalam benaknya sejak masih kanak-kanak.

"Aku datang untuk tidut denganmu," katanya.

Pakaiannya kotor oleh tumpahan muntah dan lumpur. Pilar Ternera yang hidup bersama dengan dua anaknya yang masih kecil tidak bertanya apa-apa. la membawa anak muda iru ke tempat tidut. Ia membersihkan wajahnya dengan kain basah, membuka pakaiannya, kemudian ia melepas semua pakaiannya sendiri, lalu menurunkan kelambu agar anak-anaknya tak bisa melihat mereka jika terbangun. Pilar Ternera sudah lelah menanti seorang lelaki yang mau tinggal, lelah dengan para lelaki yang meninggalkannya, dengan lelaki yang tak terhirung jumlahnya yang begitu saja lewat di depan rumahnya, bingung karena ramalan kartunya yang tidak pasti. Selama penantian itu, kulitnya mulai keriput, buah dadanya mengendur, bara di dalam hatinya telah padam, la merasakan kehadiran Aureliano dalam kegelapan, meletakkan tangannya kc atas perut anak muda iru, dan mencium lehernya dengan kelembutan seorang ibu. "Anakku malang," gumamnya. Aureliano bergidik. Dengan keterampilan yang tenang, tanpa sedikit pun salah perhitungan, ia menepis kesedihannya yang menumpuk dan menemukan Remedios menjadi rawa tanpa cakrawala, berbau daging binarang dan baju haru disetrika. Ketika muncul di permukaan, ia menangis. Mula-mula cuma terisak, tetapi kemudian ia mengosongkan dirinya dalam suatu arus lepas, sementara merasakan bahwa sesuatu yang membengkak dan pedih meledak dalam dirinya. Pilar Ternera menunggu, mengelus-elus kepala Aureliano dengan ujung jarinya, sampai tubuh pemuda itu membuang kegelapan yang tidak mau membiarkannya hidup. Kemudian Pilar Ternera bertanya, "Siapa itu?" Dan Aureliano memberi tahunya. Perempuan itu melepaskan tawanya yang pernah menakuti burung-burung merpati, tetapi sekarang bahkan ridak membangunkan anak-anaknya. "Kau harus membesarkannya dulu," oloknya, tetapi di balik ejekan itu, Aureliano menemukan suatu waduk pengertian. Ketika keluar dari kamar

itu, sambil meninggalkan tidak hanya keraguan soal kejantanannya, tetapi juga beban pahit yang sudah disangga hatinya selama berbulan-bulan, Pilar Ternera langsung berjanji.

"Aku akan berbicara dengan gadis itu/ katanya pada Aureliano, "daalihat saja nanti, aku akan menghidangkan dia padamu di atas nampan/'

Pilar Ternera memegang janjinya. Tetapi saatnya tidak tepat karena rumah itu sudah tidak damai lagi seperti dulu. Ketika mengetahui apa yang sangat diinginkan Rebeca, yang tidak mungkin dirahasiakan karena gadis itu berteriak-teriak, Amaranta terserang demam. Amaranta juga menderita karena tusukan cinta tak terbalas. Ia mengurung dirinya di kamar mandi, ia akan melepaskan diri dari hasrat cinta yang sia-sia itu dengan menulis surat yang mesra, yang akhirnya ia sembunyikan di dasar koper pakaiannya. Ursula tidak kuat lagi merawat kedua gadis yang sakit itu. la tak mampu, setelah menginterogasi lama dan teliti, mengungkap penyebab kelesuan Amaranta. Akhirnya, pada saat mendapatkan ilham lagi, ia mencongkel gembok koper dan menemukan surat-surat yang diikat pita warna pink, menggelembung dengan bunga bakung segar dan masih basah oleh air mata, dialamatkan tetapi tak pernah dikirim kepada Pietro Crespi. Sambil menangis karena marah, Ursula mengutuki hari ketika hatinya tergerak untuk membeli pianola, lalu ia melarang pelajaran menyulam serta menyatakan semacam perkabungan tanpa ada orang yang mati, yang harus dilanjutkan sampai anak-anak gadisnya memperoleh kembali harapan-harapannya.

Sia-sia saja Jose Arcadio Buendia menentang Ursula karena lelaki itu telah mengubah kesan pertamanya terhadap Pietro Crespi dan mengagumi kemampuannya menangani mesin nlusik itu. Itulah sebabnya, ketika Pilar Ternera menceritakan pada Aureliano bahwa Remedios telah memutuskan untuk menikah, Aureliano tahu bahwa berita itu hanya akan menambah masalah bagi orangtuanya. Aureliano mengajak ayah dan ibunya ke kamar tamu untuk mengutarakan maksud hatinya, lalu jose Arcadio Buendia dan Ursula mendengarkan dengan diam pernyataan putra mereka itu. Tetapi, begitu mendengar nama pacar ini, wajahjose) Arcadio Buendia menjadi merah karena marah. "Cinta itu penyakit," bentaknya. "Begitu banyak gadis cantik dan sopan di luar sana, tetapi kenapa kau justru memilih kawin dengan anak musuh kita." Tetapi Ursula menyetujui pilihan anaknya. Ia mengakui betapa ia menyayangi ketujuh putri Moscote itu karena cantik, rajin, bersahaja, ramah, dan ia memuji pilihan putranya. Jose Arcadio Buendia mengalah pada antusiasme istrinya dengan satu syarat: Rebeca boleh menikah dengan Pietro Crespi. Ursula, bila ada waktu, mengajak Amaranta jalan-jalan ke ibu kota sehingga kontak dengan orang-orang lain akan mengurangi kekecewaan putrinya. Kesehatan Rebeca pulih kembali begitu ia mendengar persetujuan itu dan ia menyurati kekasihnya dengan gembira dan mengabarkan persetujuan kedua orangtuanya. Ia sendiri yang memasukkan surat itu kc kotak pos. Amaranta pura-pura menerima keputusan itu dan sedikit demi sedikit kesehatannya juga pulih, tetapi ia berjanji pada dirinya bahwa Rebeca boleh kawin setelah melangkahi mayatnya lebih dulu.

Sabtu berikurnya, Jose Arcadio Buendia mengenakan baju warna gelap, kerah seluloida, sepatu kulit rusa yang kali pertama dipakai pada malam pesta yang lalu, pergi meminang Remedios Moscote. Sang hakim dan istrinya menerimanya, senang sekaligus cemas karena mereka tak tahu maksud kunjungan yang tak terduga itu, kemudian mereka mengira Jose Arcadio Buendia salah menyebutkan nama pengantin wanita yang dimaksud. Untuk menghilangkan kesalahan itu, ibunya membangunkan Remedios dan menggendongnya ke kamar tamu, masih terkantuk-kantuk. Mereka menanyai gadis itu apa benar ia telah memutuskan untuk menikah, dan gadis itu menjawab, sambil merengek, bahwa ia cuma ingin mereka membiarkannya tidur lagi. Jose Arcadio Buendia, karena memahami kesulitan keluarga Moscote itu, pergi untuk memperjelas masalahnya dengan Aureliano. Ketika ia kembali, keluarga Moscote sudah mengenakan pakaian resmi, mengatur letak tempat duduk, menyusun bunga-bunga segar dalam vas dan menanti sambil ditemani keenam putrinya yang lain. Jose Arcadio Buendia merasa jengkel karena peristiwa yang tak menyenangkan iru, ditambah lagi dengan kerah bajunya yang terlalu keras, ia menegaskan bahwa Remedios betul-betul gadis yang dipilih. "Itu tidak masuk akal," Don Apolinar Moscote menjawab dengan cemas. "Kami punya enam putri yang lain, semuanya belum nikah dan usianya pantas untuk menikah, yang akan senang mendapatkan kehormatan menjadi istri seorang pria terhormat yang serius dan rajin bekerja seperti putra Anda, dan Aureliano justru memilih seorang yang masih ngompol di tempat tidur." Istrinya, wanita yang awet muda dengan bulu mata dan ekspresi wajah yang selalu bergerak-gerak, mencela kesalahan suaminya. Setelah menikmati minuman buah campur, mereka bersedia menerima Ia tiba dengan kawanan ternaknya di sebuah gereja yang terbengkalai. Atapnya sudah lama runtuh, dan

pohon sikamor yang sangat besar tumbuh di titik tempat sakristi pernah berdiri.

Dia memutuskan untuk bermalam di situ. Dia melihat ke arah domba-dombanya

yang masuk lewat pagar yang rusak, kemudian meletakkan papan di atas pagar

rusak itu supaya kawanan ternak tidak keluyuran di malam hari. Tak ada serigala di

daerah ini, tapi seekor domba pernah tersesat di malam hari, dan si bocah harus

mencarinya sepanjang esok harinya.

Dia menyapu lantai dengan jaketnya dan merebahkan badan, menjadikan buku

yang baru selesai dibacanya sebagai bantal. Dia berkata dalam hati bahwa dia

harus mulai membaca buku yang lebih tebal: ia lebih lama dibaca, dan lebih

nyaman sebagai bantal.

Hari masih gelap ketika dia terbangun, dan mendongakkan kepala, dia dapat

melihat bintang-bintang melalui atap yang nyaris hancur.

Aku ingin tidur lagi sebentar, pikirnya. Dia bermimpi yang sama seperti minggu

lalu, dan sekali lagi dia terbangun sebelum mimpinya selesai.

Dia bangkit, mengambil tongkatnya, dan membangunkan domba-domba yang

masih tidur. Dia perhatikan, segera setelah dia bangun, kebanyakan hewan

piaraannya juga mulai ribut. Sepertinya ada energi misterius yang menghubungkan

hidupnya dengan domba-domba itu, yang telah bersamanya selama dua tahun,

menggembalakan mereka menyusuri pedesaan guna mencari makanan dan air.

"Mereka sudah begitu terbiasa denganku hingga tahu jadwalku," gumamnya.

Memikir kan hal ini sejenak, dia sadar boleh jadi sebaliknya: dialah yang menjadi

terbiasa dengan jadwal mereka.

radikal collection

Tapi ada beberapa yang lebih susah dibangunkan. Si bocah menusuk mereka, satu

per satu, dengan tongkatnya, memanggil nama mereka masing-masing. Dia percaya

domba-domba itu dapat mengerti apa yang diucapkannya. Jadi terkadang dia

membacakan mereka bagian dari bukunya yang membuatnya terkesan, atau

menceritakan kesepian dan kebahagiaan seorang gembala di ladang. Sesekali dia

berkomentar untuk mereka tentang apa yang dilihatnya di desa-desa yang mereka

lalui.

Tapi beberapa hari terakhir ini, yang ia bicarakan kepada domba-dombanya hanya

satu: gadis itu, puteri seorang pedagang yang tinggal di desa yang akan mereka

capai dalam kira-kira empat hari. Dia baru sekali ke desa tadi, tahun lalu.

Pedagang itu adalah pemilik toko kain, dan dia selalu meminta agar domba-domba

dicukur di hadapannya, supaya dia tidak ditipu. Seorang teman memberitahu sang

bocah tentang toko kain itu, dan dibawalah domba-dombanya ke sana.

Toko sedang ramai, maka si pedagang menyuruh gembala itu untuk menunggu

sampai sore. Jadi, duduklah si bocah di tangga toko, dan mengeluarkan buku dari

tasnya.

"Rupanya ada juga gembala yang bisa membaca," terdengar suara seorang gadis di

belakangnya.

Paras gadis itu khas daerah Andalusia, dengan rambut hitam bergelombang dan

mata yang secara samar-samar mengingatkan pada para penakluk bangsa Moor.

"Yah..., biasanya aku lebih banyak belajar dari domba-dombaku daripada dari

buku,"jawabnya. Selama dua jam mereka mengobrol, si gadis memberitahu bahwa

dia adalah anak pedagang kain itu, dan bercerita tentang kehidupan di desa tadi,

yang setiap hari sama belaka dengan semua hari lain. Si gembala menceritai gadis

itu tentang pedesaan Andalusia, dan hal-hal menarik lainnya di kota-kota yang

pernah dia singgahi. Suatu peruhahan yang menyenangkan dari bicara dengan

domba-dombanya.

"Bagaimana kamu belaiar membaca?" tanya gadis itu suatu ketika.

radikal collection

"Sama seperti orang-orang lain," katanya. "Di sekolah."

"Eh, kalau kamu bisa baca, kenapa cuma jadi gembala?"

Si bocah menjawab dengan menggumam-gumam tak jelas supaya dia bisa

mengelak untuk menjawab pertanyaan gadis itu. Dia yakin si gadis tidak akan

pernah mengerti. Dia melanjutkan kisah perjalanan-perjalanannya, dan mata

bening Moor gadis itu membelalak takut dan terkejut. Waktu terus berjalan, dan

sang bocah berharap semoga hari itu tak akan pernah berakhir, semoga ayah gadis

itu terus sibuk dan membiarkan dia menunggu selama tiga hari. Dia sadar dia

merasakan sesuatu yang belum pernah dia alami: hasrat untuk menetap di satu

tempat buat selamanya. Bersama gadis berambut hitam legam ini, hari-harinya

tentulah tak akan sama seperti dulu.

Tapi akhirnya pedagang itu muncul, dan menyuruhnya untuk mencukur empat

domba. Dia membayar wol itu dan meminta sang gembala untuk kembali tahun

depan.

Dia gembira, dan sekaligus gelisah: barangkali gadis itu sudah lupa padanya.

Banyak gembala yang lewat, menjual wol mereka.

"Tak masalah," katanya kepada domba-dombanya. "Aku kenal gadis-gadis lain di

tempat-tempat lain."

Tapi dalam hati dia tahu itu adalah masalah. Dan dia tahu bahwa para gembala,

seperti pelaut dan seperti pedagang keliling, selalu menemukan sebuah kota di

mana ada seorang yang mampu membuat mereka melupakan keasyikan

mengembara sesuka hati.

Hari mulai terang, dan sang gembala menggiring domba-dombanya ke arah

matahari. Mereka tidak perlu membuat keputusan apapun, pikirnya. Mungkin itulah

sebabnya mereka selalu berada di dekatku.

Yang menjadi perhatian domba-domba itu hanyalah makanan dan air. Selama si

bocah tahu di mana mendapatkan padang rumput yang bagus di Andalusia, mereka

akan jadi temannya. Betul, hari-hari mereka sama belaka, dangan jam-jam yang

tampak tanpa akhir antara pagi dan petang; dan mereka tak pernah baca buku di

masa muda mereka, dan tak tahu kalau sang bocah bercerita tentang

pemandangan kota. Mereka puas hanya dangan makanan dan air, dan, sebagai

imbalannya, mereka dangan murah hati memberikan wol, rekan mereka, dan --

sesekali-- daging mereka.

Jika suatu hari aku jadi monster, dan memutuskan membunuh mereka, satu per

satu, mereka akan waspada baru setelah hampir seluruh kawanan ini terjagal, pikir

si bocah. Mereka mempercayaiku, dan mereka sudah lupa bagaimana

mengandalkan naluri mereka sendiri, karena aku menggiring mereka ke makanan.

Si bocah terkejut dengan pikiran-pikirannya. Mungkin karena gereja itu, dengan

pohon sikamor yang tumbuh di dalamnya, ada hantunya. Itulah yang telah

membuatnya bermimpi yang sama dua kali, dan menyebabkan dia merasa geram

terhadap kawan-kawan setianya. Dia minum sedikit dari anggur sisa makan

malamnya kemarin, dan merapatkan jaket ke badannya. Dia tahu bahwa beberapa

jam lagi dari sekarang, dengan matahari di titik puncak, panasnya akan sangat

terik sehingga dia tidak akan sanggup membimbing kawanan domba itu melewati

padang. Itu adalah saat segenap warga Spanyol tidur selama musim panas.

Panasnya teror berlanjut sampai malam tiba, jadi sepanjang waktu itu dia harus

membawa-bawa jaketnya. Tapi ketika dia ingin mengeluh tentang beratnya jaket

tadi, dia ingat, karena dia punya jaketlah maka dia kuat menahan dinginnya pagi.

Kita harus siap menghadapi perubahan, pikirnya, dan dia bersyukur dengan

tebalnya jaket dan kehangatannya.

Jaket itu punya tujuan, begitu juga si bocah. Tujuannya dalam hidup adalah

berkelana, dan, setelah dua tahun menyusuri kawasan Andalusia, dia tahu semua

kota di wilayah itu. Dia berencana, pada kunjungannya kali ini, untuk menjelaskan

pada gadis itu bahwa begitulah cara seorang gembala jelata mernbaca. Bahwa dia

pernah belajar di seminari sampai umur enambelas. Orangtuanya ingin supaya dia

jadi pastur, dan dengan begitu bisa menjadi kebanggaan sebuah keluarga petani

miskin. Mereka bekerja keras hanya untuk mendapatkan makanan dan air, seperti

domba-domha itu. Dia sudah belajar bahasa Latin, Spanyol dan teologi. Tapi sejak

radikal collection

kecil dia sudah ingin tahu tentang dunia, dan ini jauh lebih penting baginya

daripada mengetahui Tuhan dan mempelajari dosa-dosa manusia. Suata sore, saat

mengunjungi keluarganya, dia memberanikan diri bicara kepada ayahnya bahwa

dia tidak ingin jadi pastur. Bahwa dia ingin mengembara.

" kata ayahnya. "Mereka datang untuk mencari hal-hal baru, tapi begitu mereka pergi

sebenarnya mereka sama saja dengan saat mereka datang. Mereka mendaki gunung

untuk melihat kastil itu, dan mereka akhirnya menyimpulkan bahwa masa silam

lebih baik daripada yang kita alami sekarang ini. Mereka berambut pirang, atau

berkulit gelap, tapi pada dasarnya mereka sama seperti orang-orang yang tinggal di

sini."

"Tapi aku ingin melihat kastil-kastil di kota-kota tempat tinggal mereka," si bocah

menjelaskan.

"Orang-orang itu, saat mereka melihat negeri kita, pun berkata ingin tinggal di

sini selamanya," lanjut ayahnya.

"Kalau begitu, aku ingin melihat negeri mereka dan melihat bagaimana kehidupan

mereka," kata anaknya.

"Orang-orang yang datang ke sini itu uangnya banyak, jadi mereka mampu

berkelana," kata ayahnya. "Di kalangan kita, yang berkelana hanya para gembala."

"Kalau begitu, aku mau jadi gembala!"

Ayahnya tidak berkata apa-apa lagi. Esok harinya, dia memberi anaknya kantong

bersi tiga koin emas Spanyol kuno.

"Ini kutemukan di ladang suatu hari. Aku ingin ini menjadi bagian warisanmu. Tapi

pakailah untuk membeli domba. Bawalah ke padang-padang, dan suatu hari kau

akan tahu bahwa desa-desa kitalah yang terbaik, dan perempuan-perempuan

kitalah yang tercantik."

radikal collection

Dan dia memberi restu pada anaknya. Si bocah dapat melihat dari pandangan

mata ayahnya hasrat untuk bisa, bagi dirinya sendiri, berkelana ke seluruh dunia --

suatu hasrat yang masih menyala, meski ayahnya berusaha menguburnya, selama

berpuluh tahun, di bawah beban perjuangan untuk mendapatkan air untuk minum,

pangan untuk makan, dan tempat yang sama untuk tidur setiap malam sepanjang

hidupnya.

Si bocah merenungkan percakapan dengan ayahnya, dan merasa bahagia; dia sudah melihat

banyak kastil dan bertemu banyak perempuan (tapi tak ada yang setara dengan

seseorang yang menunggunya dalam beberapa hari lagi). Dia punya jaket, buku

yang dapat ditukarkan dengan yang lain, dan kawanan domba. Tapi, yang paling

penting, dia setiap hari dapat menjalani mimpinya. Jika dia merasa bosan dengan

ladang-ladang Andalusia, dia bisa menjual domba-dombanya dan pergi ke laut.

Pada saat dia sudah merasa puas di laut, dia sudah tahu kota-kota lain,

perempuan-perempuan lain, dan kesempatan-kesempatan lain yang

membahagiakan. Aku tak dapat menemukan Tuhan di seminari, pikirnya, saat dia

melihat terbitnya matahari.

Kapanpun dia mau, dia mencari jalan baru untuk berkelana. Dia belum pernah ke

tempat gereja yang hancur itu sebelumnya, meski telah sering berjalan melewati

daerah-daerah itu. Dunia ini begini luas dan tak berbatas; dia mengizinkan domba-

dombanya menetapkan rute hanya untuk sejenak, sehingga dia akan menemukan

hal-hal menarik lainnya. Masalahnya kawanan domba itu bahkan tak sadar bahwa

mereka menapaki jalan baru setiap hari. Mereka tidak melihat ladang-ladangnya

baru dan musim berganti-ganti. Yang mereka pikirkan cuma makanan dan air.

Mungkin kita semua juga begitu, pikir si bocah. Bahkan aku --aku tidak

memikirkan perempuan lain sejak berjumpa dengan puteri pedagang itu. Melihat

ke arah matahari, dia menghitung bahwa dia akan tiba di Tarifa sebelum tengah

hari. Di sana dia dapat menukarkan bukunya dengan buku yang lebih tebal, mengisi

botol anggurnya, bercukur dan potong rambut; dia harus mempersiapkan diri untuk

pertemuan dengan gadis itu, dan dia tidak ingin memikirkan kemungkinan ada

radikal collection

gembala lain, dengan kawanan domba yang lebih banyak, sampai duluan di sana

dan melamarnya.

Kemungkinan untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan membuat hidup

menarik, pikirnya saat melihat lagi posisi matahari, dan mempercepat langkahnya.

Dia tiba-tiba ingat: di Tarifa ada seorang perempuan tua yang bisa menafsirkan

mimpi.

DI belakang rumahnya, yang

dipisahkan dengan ruang tamunya oleh tirai manik-manik warna-warni. Perabot

ruangan itu terdiri dari satu meja, sebuah patung Hati Suci Yesus, dan dua kursi.

Perempuan itu duduk, dan menyuruh si bocah duduk. Kemudian dia meraih kedua

tangan si bocah ke tangannya sendiri, dan mulai berdoa tanpa suara.

Kedengarannya seperti doa orang Gipsi. Si bocah pernah punya pengalaman di

jalan dengan orang-orang Gipsi; mereka juga berkelana, tapi mereka tidak punya

kawanan domba. Kata orang kaum Gipsi menghabiskan hidup mereka dengan

menipu orang lain. Juga dikatakan mereka punya perjanjian dengan setan, dan

bahwa mereka menculik anak-anak, membawanya ke tenda-tenda misterius

mereka, lalu menjadikan anak-anak itu budak mereka. Sebagai anak kecil, si bocah

selalu ketakutan setengah mati kalau sampai tertangkap oleh orang Gipsi, dan

ketakutan masa kecilnya kembali muncul saat perempuan tua itu meraih tangannya

dan meletakkannya di tangannya sendiri.

Tapi dia punya Hati Suci Yesus di sana, pikirnya, mencoba meyakinkan diri

sendiri. Dia tidak ingin tangannya gemetar, menunjukkan pada perempuan tua itu

bahwa dia takut. Diam-diam dia merapal doa Bapa Kami.

"Sangat menarik," kata perempuan itu, tanpa melepaskan tatapan matanya dari

tangan si bocah. Lalu ia terdiam. Si bocah jadi gelisah. Tangannya mulai gemetar,

dan perempuan itu merasakannya. Si bocah cepat menarik tangannya.

"Aku datang ke sini bukan karena aku ingin kamu membaca telapak tanganku,"

katanya, menyesal telah datang. Dia sempat berpikir sebaiknya dia membayar

radikal collection

perempuan itu, dan pergi tanpa mengetahui apapun; dia merasa telah kelewat

berlebihan menganggap penting mimpinya yang berulang itu.

"Kamu datang supaya kamu dapat memahami mimpi-mimpimu," kata perempuan

tua itu. "Dan mimpi adalah bahasa Tuhan. Ketika Dia berbicara dengan bahasa kita,

aku dapat menafsirkan apa yang dikatakanNya. Tapi bila dia bicara dengan bahasa

jiwa, cuma kamu yang bisa mengerti. Tapi, bahasa apapun itu, aku minta bayaran

untuk konsultasi ini."

Tipuan lagi, pikir si bocah. Tapi dia putuskan untuk mengambil risiko. Seorang

gembala selalu menempuh risiko dengan serigala dan kemarau, dan itulah yang

membuat hidup gembala jadi menarik.

"Aku bermimpi yang sama dua kali," kata si bocah. "Aku mimpi aku sedang berada

di ladang dengan domba-dombaku, ketika seorang anak muncul lalu bermain

dengan hewan-hewan itu. Aku tidak suka orang berbuat begitu, karena domba

takut pada orang asing. Tapi anak-anak selalu dapat bermain dengan mereka tanpa

membuat mereka takut. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak mengerti bagaimana

domba-domba itu bisa tahu umur manusia."

"Ceritakan lebih banyak tentang mimpimu," kata perempuan tua. "Aku harus ke

dapur dulu melihat masakanku, dan karena uangmu sedikit, aku tidak bisa

memberimu banyak waktu."

"Anak itu bermain-main cukup lama dengan dombaku," lanjut si bocah, agak

marah. "Dan tiba-tiba, dia membawaku dengan dua tangannya dan memindahkanku

ke piramida Mesir."

Dia berhenti sebentar untuk melihat apakah perempuan tua itu tahu piramida

Mesir. Tapi dia diam saja.

"Kemudian di piramida Mesir tadi," --dia mengucapkan tiga kata terakhir dengan

lambat, supaya perempuan tua itu paham-- "anak itu berkata padaku, 'Kalau kamu

datang ke sini, kamu akan temukan harta terpendam.' Lalu, tepat saat dia mau

menunjukkan padaku lokasi harta itu, aku terbangun. Dua-duanya begitu."

radikal collection

Perempuan itu terdiam beberapa saat. Kemudian diambilnya tangan si bocah dan

diamatinya dengan seksama.

"Aku tidak akan minta bayaran apa-apa sekarang," katanya. "Tapi aku mau

sepersepuluh dari harta itu, kalau kau temukan."

Si bocah tertawa --karena gembira. Dia dapat menghemat uangnya yang cuma

sedikit itu karena sebuah mimpi tentang harta terpendam!

"Oke, tafsirkan mimpi itu," katanya.

"Pertama-tama, berjanjilah padaku. Berjanjilah bahwa kamu akan memberiku

sepersepuluh dari hartamu sebagai imbalan apa yang akan kuceritakan padamu."

Si gembala berjanji. Perempuan tua itu minta dia berjanji lagi sambil melihat

patung Hati Suci Yesus.

"Ini mimpi dalam bahasa buana," katanya. "Aku bisa menafsirkannya, tapi

tafsirannya sangat sulit. Makanya aku merasa berhak mendapat bagian dari apa

yang akan kau temukan.

"Dan inilah tafsirannya: kamu harus pergi ke Piramida di Mesir. Aku belum pernah

mendengar tentangnya, tapi, bila seorang anak menunjukkannya padamu, artinya

tempat itu benar-benar ada. Di sana akan kau temukan harta yang akan

membuatmu kaya."

Si bocah terkejut, kemudian kesal. Dia tidak perlu mencari-cari perempuan tua

itu untuk hal ini! Tapi kemudian dia ingat bahwa dia tidak perlu membayar

apapun.

"Aku lidak perlu buang waktu hanya untuk cerita seperti ini," katanya.

"Sudah kubilang mimpimu itu sulit. Hal-hal sederhana dalam hidup memang yang

paling luar biasa; hanya orang-orang bijak yang dapat memahaminya. Dan karena

aku tidak bijak, aku harus belajar seni yang lain, misalnya membaca telapak

tangan."

radikal collection

"Lalu bagaimana aku bisa sampai ke Mesir?"

"Aku hanya menafsirkan mimpi. Aku tidak tahu cara mengubahnya menjadi

kenyataan, ltu sebabnya aku harus hidup dari pemberian anak-anak perempuanku."

"Dan bagaimana kalau aku tidak pernah sampai di Mesir?"

"Maka aku tidak akan dapat bayaran. Kejadian begini bukan baru kali ini."

Dan perempuan tua itu menyuruh si bocah pergi, sambil berkata bahwa dia telah

membuang waktunya terlalu banyak untuk si gembala.

Kecewalah si bocah; dia memutuskan tidak akan percaya lagi pada mimpi. Dia

ingat dia masih punya urusan lain yang harus dibereskan; dia pergi ke pasar untuk

mencari makanan, dia menukarkan bukunya dengan yang lebih tebal, dan dia

menemukan bangku panjang di alun-alun, tempat dia dapat mencicipi anggur yang

baru dibelinya. Hari itu panas, dan anggurnya terasa menyegarkan. Domba-

dombanya ada di gerbang kota, di kandang milik seorang teman. Bocah itu kenal

banyak orang di kota ini. Itulah daya tarik berkelana baginya --dia selalu punya

teman-teman baru, dan tidak perlu meluangkan seluruh waktunya dengan mereka.

Bila seseorang bertemu dengan orang yang sama setiap hari, seperti yang terjadi

padanya di seminari, mereka berubah menjadi bagian dari kehidupan orang tadi.

Kemudian mereka ingin orang itu berubah. Jika seseorang tidak seperti yang

dikehendaki, yang lainnya marah. Setiap orang rupa-rupanya punya ide yang jelas

tentang bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup mereka, tapi tak satu

pun mengenai kehidupannya sendiri.

Dia memutuskan untuk menunggu sampai matahari sedikit terbenam sebelum

mengiringi kawanan dombanya kembali melewati ladang-ladang. Tiga hari lagi dia

akan bersama puteri pedagang kain itu.

Dia mulai membaca buku yang dibelinya. Di halaman pertama digambarkan

tentang upacara pemakaman. Dan nama orang-orang yang terlibat sangat sulit

diucapkan. Jika suatu saat dia menuliis buku, pikirnya, dia akan menampilkan satu

orang saja pada satu waktu, sehingga pembaca tidak perlu repot menghafal banyak

nama.

Ketika dia akhirnya dapat berkonsentrasi pada bacaannya, dia lebih menyukai

buku itu; pemakamannya pada hari yang bersalju, dan dia ikut merasakan

dinginnya. Saat dia asyik membaca, seorang lelaki tua duduk di sebelahnya dan

mencoba membuka obrolan.

"Sedang apa mereka itu?" tanya lelaki tua tadi, menunjuk orang-orang di alun-

alun.

"Bekerja," sahut si bocah dengan acuh tak acuh, menunjukkan sikap ingin

berkonsentrasi pada bacaannya.

Sebenarnya, dia sedang membayangkan mencukur domba-dombanya di hadapan

puteri pedagang itu, sehingga ia dapat melihat bahwa si bocah adalah orang yang

mampu melakukan hal-hal yang sulit. Dia sudah membayangkan kejadian itu

beberapa kali; setiap kali, gadis terkagum-kagum saat dia menjelaskan hahwa

domba harus dicukur dari belakang ke depan. Dia juga mencoba mengingat

beberapa kisah menarik untuk diceritakan saat dia mencukur domba-domba itu.

Kebanyakan dibacanya dari buku-buku, tapi dia ingin menceritakannya seolah itu

pengalaman pribadinya. Gadis itu tidak akan tahu bedanya, sebab dia tidak bisa

membaca.

Sementara itu, lelaki tua tadi terus berusaha membuka obrolan. Dia bilang dia

lelah dan haus; dan bertanya bolehkah dia minta sedikit anggur si bocah. Si bocah

memberikan botolnya, berharap orang tua itu akan meninggalkannya sendirian.

Tapi lelaki tua itu ingin ngobrol, dan dia bertanya pada si bocah buku apa yang

sedang dibacanya. Si bocah tergoda untuk bertindak kasar, dan pindah ke bangku

lainnya, tapi ayahnya mengajarkan agar menghormati orang yang lebih tua. Maka

ditunjukkannya buku itu pada si lelaki tua --dengan dua alasan: pertama, karena

dia sendiri tidak yakin bagaimana mengeja judulnya; dan kedua, kalau orang tua

itu tidak bisa membaca, dia mungkin bakal malu dan atas kemauan sendiri akan

pindah ke bangku lain.

"Hmm...," kata si orang tua, melihat seantero buku itu, seakan menyaksikan

benda aneh. "Ini buku penting, tapi sangat menjengkelkan."

radikal collection

Si bocah terkejut. Orang tua ini ternyata bisa membaca, dan dia sudah membaca

buku itu. Dan kalau betul buku itu menjengkelkan, seperti yang dikatakan si orang

tua, si bocah masih sempat untuk menukarnya dengan buku lain.

"Buku ini menyatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh hampir semua

buku di dunia," lanjut orang tua itu. "Ia menggambarkan ketidakmampuan orang

untuk memilih Legenda Pribadi mereka sendiri. Dan berakhir dengan mengatakan

bahwa setiap orang mempercayai dusta terbesar di dunia."

"Apa dusta terbesar itu?" tanya si bocah, sungguh-sungguh terkejut.

"Begini: bahwa pada saat tertentu dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas

apa yang terjadi pada diri kita, dan hidup kita lalu dikendalikan oleh nasib. Itulah

dusta terbesar di dunia."

"Itu tidak pernah terjadi padaku," kata si bocah. "Mereka ingin aku menjadi

pastor, tapi kuputuskan untuk jadi gembala."

"Itu jatuh lebih baik," kata si orang tua. "Karena kamu benar-benar suka

berkelana."

"Dia tahu pikiranku," si bocah membatin. Sementara itu, lelaki tua tadi membalik-

balik buku tersebut, tampak sama sekali tak berkeinginan mengembalikannya. Si

bocah baru sadar pakaian orang itu aneh. Dia tampak seperti orang Arab, yang

tidak luar biasa di daerah itu. Afrika hanya beberapa jam dari Tarifa; orang hanya

perlu menyeberangi selat sempit dengan perahu. Orang-orang Arab sering datang

di kota itu, berbelanja, dan melafalkan doa-doa aneh mereka beberapa kali sehari.

"Bapak berasal dari mana? tanya si bocah.

"Dari banyak tempat."

"Tak ada orang yang berasal darl banyak tempat," kata si bocah. "Aku ini

gembala, dan aku pernah ke banyak tempat, tapi aku berasal dari satu tempat saja

--dari sebuah kota dekat kastil kuno. Di sanalah aku lahir."

"Kalau begitu, bisa dibilang aku lahir di Salem."

radikal collection

Si bocah tidak tahu di mana kota Salem itu, tapi dia tidak ingin bertanya,

khawatir kelihatan bodoh. Selintas dia melihat orang-orang di alun-alun; mereka

datang dan pergi, dan semuanya tampak sangat sibuk.

"Seperti apa sih kota Salem itu?" dia bertanya, mencoba mendapat sekadar

petunjuk.

"Seperti yang sudah-sudah."

Belum ada petunjuk sama sekali. Tapi dia tahu Salem bukan di Andalusia. Karena

bila di sana, dia tentu sudah pernah mendengarnya.

"Bapak kerja apa di Salem?" dia mendesak.

"Apa kerjaku di Salem?" Lelaki tua itu tertawa. "Aku ini raja Salem!"

Orang memang suka omong aneh-aneh, pikir si bocah. Kadang lebih baik bersama

kawanan domba, yang tidak bicara apa-apa. Dan lebih baik lagi sendirian dengan

buku-buku. Mereka menuturkan kisah-kisah hebat di saat kita ingin

mendengarkannya. Tapi kalau kita bicara dengan orang-orang, mereka

mengocehkan hal-hal yang begitu aneh sampai kita tidak tahu bagaimana cara

melanjutkan percakapan.

"Namaku Melchizedek," kata lelaki tua itu. "Berapa domba yang kamu punya?"

"Cukup banyak," kata si bocah. Dia dapat melihat lelaki tua itu ingin tahu lebih

banyak tentang kehidupannya.

"Nah, kalau begitu kita punya masalah. Aku tidak bisa membantu bila kamu masih

merasa punya cukup banyak domba."

Si bocah mulai jengkel. Dia tidak minta bantuan. Justru orang tua itu yang minta

minuman anggurnya, dan memulai obrolan.

"Kembalikan bukuku," kata si bocah. "Aku harus pergi dan mengumpulkan domba-

dombaku dan berangkat."

radikal collection

"Beri aku sepersepuluh dari domba-dombamu," kata si orang tua, "maka kau akan

kuberitahu cara mencari harta terpendam itu."

Si bocah teringat mimpinya, dan tiba-tiba semuanya menjadi jelas baginya.

Perempuan tua itu tidak minta bayaran apapun darinya, tapi lelaki tua ini --

mungkin dia suaminya-- mencoba mendapat uang yang jauh lebih banyak sebagai

imbalan untuk informasi tentang sesuatu yang bahkan tidak ada. Lelaki tua ini

rupanya orang Gipsi juga.

Tapi sebelum si bocah dapat berkata apa-apa, orang tua itu berdiri, mengambil

tongkat, dan mulai menulis di pasir alun-alun itu. Sesuatu yang cemerlang

memancar dari dadanya dengan cahaya yang begitu kemilau sehingga si bocah

sempat tersilau. Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk orang seusianya, dia

menutupi sesuatu itu dengan jubahnya. Ketika panglihatannya kembali normal, si

bocah dapat membaca apa yang ditulis lelaki tua di pasir itu.

Di sana, di pasir alun-alun kota kecil itu, si bocah membaca nama ayah dan

ibunya dan nama seminari yang pernah dimasukinya. Dia membaca nama puteri si

pedagang kain, yang dia sendiri pun belum tahu, dan dia membaca hal-hal yang tak

pernah dia ceritakan pada orang lain.

"Mengapa seorang raja mau bicara dengan seorang gembala?"si bocah bertanya,

kagum dan malu.

"Karena beberapa alasan. Tapi bolehlah dikatakan yang paling penting adalah

karena kamu telah berhasil menemukan Legenda Pribadimu."

Si bocah tidak tahu apa itu "Legenda Pribadi" seseorang.

"Legenda Pribadi adalah apa yang selalu ingin kita tunaikan. Setiap orang, saat

mereka belia, tahu apa Legenda Pribadi mereka.

"Pada titik kehidupan mereka itulah semuanya jelas dan segalanya mungkin

terjadi. Mereka tidak takut untuk bermimpi, dan mendambakan segala yang

radikal collection

mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi, dengan berlalunya waktu,

suatu daya misterius mulai meyakinkan mereka bahwa mustahillah bagi mereka

untuk mewujudkan Legenda Pribadi mereka."

Tak ada satu pun perkataan lelaki tua itu yang dipahami si bocah. Tapi dia ingin

tahu apakah "daya misterius" itu; puteri si pedagang kain akan terkesan kalau dia

ceritakan hal ini!

"Itu adalah kekuatan yang tampaknya negatif, tapi benarnya menunjukkan

kepadamu cara mewujudkan Legenda Pribadimu. Kekuatan ini mempersiapkan

rohmu dan kehendakmu, karena ada satu kebenaran terbesar di planet ini:

siapapun kamu, atau apapun yang kau lakukan, saat kau benar-benar menginginkan

sesuatu, itu karena hasrat tadi bersumber di dalam jiwa alam semesta. Itulah

misimu di dunia."

"Bahkan kalaupun yang kita inginkan sekadar berkelana? Atau menikah dengan

puteri seorang pedagang kain?"

"Yes, atau bahkan mencari harta. Jiwa Buana dihidupi oleh kebahagiaan orang-

orang. Dan juga oleh kekecewaan, rasa iri, dan kecemburuan. Mewujudkan

Legenda Pribadi seseorang adalah satu-satunya kewajiban real orang itu. Semuanya

adalah satu."

"Dan, saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk

membantumu meraihnya."

Mereka berdua terdiam sejenak, mengamati alun-alun dan orang-orang kota itu.

Lelaki tua itulah yang mulai bicara.

"Mengapa kamu memelihara kawanan domba?"

"Sebab aku suka berkelana."

Lelaki tua itu menunjuk ke arab tukang roti di jendela toko di satu sudut alun-

alun. "Waktu dia kecil, dia juga ingin berkelana. Tapi dia pertama-tama

memutuskan untuk membeli toko roti dan mengumpulkan uang. Ketika dia sudah

radikal collection

jadi orang tua, dia cuma ingin pergi satu bulan ke Afrika. Dia tidak pernah

menyadari bahwa orang, pada suatu saat dalam hidup mereka, mampu melakukan

apa yang mereka impikan."

"Seharusnya dia memutuskan jadi gembala," kata si bocah.

"Ya, dia pernah berpikir begitu," kata lelaki tua itu. "Tapi tukang roti adalah

orang yang lebih penting daripada gembala. Tukang roti punya rumah, sementara

gembala tidur di ruang terbuka. Orang tua lebih suka anak mereka menikah dengan

tukang roti daripada dengan gembala."

Si bocah merasakan tusukan di hatinya, memikirkan puteri pedagang kain itu.

Pastilah ada tukang roti di kotanya.

Lelaki tua itu melanjutkan, "Lama kelamaan, apa yang orang pikirkan tentang

gembala dan tukang roti menjadi lebih penting bagi mereka daripada Legenda

Pribadi mereka sendiri."

Lelaki tua itu membuka lembaran-lembaran buku tadi, dan tiba di halaman yang

ingin dibacanya. Sibocah menunggu, dan kemudian menyela orang tua itu sama

seperti ketika dia disela. "Mengapa Bapak ceritakan semua ini padaku?"

"Karena kamu sedang berusaha mewujudkan Legenda Pribadimu. Dan kamu

berada di titik ketika kamu hampir menyerah."

"Itukah sebabnya Bapak selalu muncul di saat-saat yang tak terduga?"

"Tidak selalu dengan cara ini, tapi aku selalu muncul dalam satu bentuk atau

lainnya. Kadang-kadang aku muncul dalam bentuk solusi, atau ide bagus. Di waktu

lain, pada saat genting, aku mempermudah terjadinya hal-hal yang muskil. Ada

hal-hal lain yang juga kulakukan, tapi sering orang tidak sadar bahwa akulah yang

melakukannya."

Lelaki tua itu bertutur bahwa, seminggu yang lalu, dia terpaksa tampil di depan

seorang penambang, dan mengambil bentuk sebongkah batu. Penambang itu sudah

mengorbankan segalanya demi menambang zamrud. Sudah lima tahun dia bekerja

radikal collection

di suatu sungai, dan mencermati ratusan ribu batuan untuk mencari sebutir

zamrud. Penambang itu hampir menyerah, tepat pada saat jika dia memeriksa satu

batu lagi --hanya satu lagi-- dia akan menemukan zamrudnya. Karena penambang

tadi telah mengorbankan semuanya demi Legenda Pribadinya, orang tua itu

memutuskan untuk terlibat. Dia mengubah dirinya menjadi batu yang

menggelinding di kaki penambang itu. Si penambang, dengan sepenuh marah dan

kecewa atas lima tahunnya yang sia-sia, memungut batu itu dan melemparkannya

ke samping. Tapi dia melemparkannya dengan begitu keras sehingga batu tadi

pecah. Dan di sana, di batu

yang terbelah, melekat zamrud yang terindah.

"Di masa-masa awal hidup mereka, orang-orang sudah tahu apa alasan hidup

mereka," kata lelaki tua itu, dengan nada getir. "Mungkin itu pula sebabnya mereka

pun menyerah terlalu dini. Tapi begitulah kenyataaanya."

Si bocah mengingatkan lelaki tua itu bahwa dia pernah menyinggung soal harta

terpendam.

"Harta terungkap oleh kekuatan air yang mengalir, dan terkubur oleh arus yang

sama," katanya. "Bila kamu ingin mengetahui tentang hartamu sendiri, kamu harus

memberiku sepersepuluh dari kawanan dombamu."

"Bagaimana kalau sepersepuluh hartaku saja?"

Orang tua itu tampak kecewa. "Jika kau mulai dengan menjanjikan apa yang

belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk bekerja guna

mendapatkannya."

Si bocah memberitahu bahwa dia telah berjanji akan memberi sepersepuluh dari

hartanya kepada perempuan Gipsi.

"Orang Gipsi memang ahlinya dalam soal itu," keluh si orang tua. "Tapi, baguslah

kalau kamu jadi tahu bahwa segala sesuatu dalam hidup ini ada harganya, itulah

yang coba diajarkan oleh para Satria Cahaya."

radikal collection

Lelaki tua itu mengembalikan buku kepada si bocah.

"Besok, pada waktu yang sama ini, bawakan aku sepersepuluh kawanan

dombamu. Dan aku akan memberitahumu cara menemukan harta karun itu.

Selamat sore."

Dan dia menghilang di sudut alun-alun.

berkonsentrasi. Dia merasa tegang dan marah, karena dia tahu orang tua itu benar.

Dia pergi ke bakeri itu dan membeli roti, menimbang-nimbang apakah dia perlu

bercerita kepada si tukang roti apa yang dikatakan orang tua tadi tentang dirinya.

Kadang-kadang, lebih baik membiarkan semua hal seperti adanya, pikirnya, dan

memutuskan untuk tidak bicara apapun. Bila dia bicara, tukang roti itu akan

menghabiskan tiga hari untuk berpikir meninggalkan apapun yang telah dimilikinya,

meski dia sudah terbiasa dengan keadaan yang ada. Si bocah harus sanggup

menahan diri untuk tidak membuat tukang roti itu gelisah. Maka dia mulai

berjalan-jalan keliling kota, dan tanpa sadar sampai di gerbang. Ada sebuah

bangunan kecil di sana, dangan loket tempat orang membeli tiket ke Afrika. Dan

dia tahu Mesir ada di Afrika.

"Bisa saya bantu?" tanya pria di belakang loket itu.

"Mungkin besok," kata si bocah, pergi menjauh. Kalau dia menjual satu saja

dombanya, dia akan punya cukup uang untuk sampai ke pantai di seberang selat

itu. Pikiran ini menakutkannya.

"Salah satu pemimpi," kata penjual tiket kepada pembantunya, memandang si

bocah yang menjauh. "Dia tidak punya uang untuk melanglang."

Tatkala berdiri di jendela loket tadi, si bocah teringat kawanan dombanya, dan

memutuskan dia harus kembali untuk menjadi gembala. Dalam dua tahun dia telah

belajar semua hal tentang penggembalaan: dia tahu cara mencukur domba,

bagaimana mengawasi betina yang hamil, dan bagaimana melindungi dombanya

dari serigala-serigala. Dia kenal semua ladang dan padang rumput di Andalusia.

Dan dia tahu harga yang tepat bagi setiap ekor dombanya.

radikal collection

Dia memutuskan untuk kembali ke kandang temannya melalui rute terpanjang

yang ada. Saat berjalan melewati kastil kota itu, dia menangguhkan

kepulangannya, dan mendaki jalan bebatuan yang landai menuju ke puncak

tembok. Dari sana, dia dapat melihat Afrika di kejauhan. Seseorang pernah

mengatakan kepadanya bahwa dari sanalah orang Moor datang, untuk menduduki

seluruh Spanyol.

Dia dapat melihat hampir seluruh kota dari tempat duduknya, termasuk alun-alun

di mana dia berbincang dengan lelaki tua tadi. Terkutuklah saat aku bertemu

dengan orang tua itu, pikirnya. Dia datang ke kota ini hanya untuk mencari seorang

perempuan yang bisa menafsirkan mimpinya. Baik perempuan itu maupun si lelaki

tua sama sekali tak terkesan oleh kenyataan bahwa dia seorang gembala. Mereka

itu orang-orang penyendiri yang tak lagi percaya pada apapun, dan tidak paham

bahwa para gembala menjadi terikat dengan domba-dombanya. Dia tahu ihwal

setiap anggota kawanan dombanya: dia tahu mana yang pincang, mana yang bakal

beranak dua bulan lagi, dan mana yang paling malas. Dia tahu cara mencukur

mereka, dan bagaimana menyembelih mereka. Seandainya dia memutuskan untuk

meninggalkan domba-domba itu, mereka pasti sengsara.

Angin mulai kencang. Dia tahu angin apa itu: orang menamakannya levanter,

karena pada saat itulah bangsa Moor datang dari kota Levant di ujung timur

Mediterania.

Levanter berembus makin kencang. Di sinilah aku, antara kawanan dombaku dan

hartaku, pikir si bocah. Dia harus memilih antara apa yang dia telah menjadi

terbiasa dengannya dan apa yang ingin dimilikinya. Ada juga puteri pedagang kain

itu, tapi ia tidaklah sepenting kawanan dombanya, karena gadis itu tidak

tergantung padanya. Barangkali si gadis bahkan tidak ingat dia. Dia yakin tak ada

bedanya dia datang kapan: bagi gadis itu, setiap hari sama saja, dan jika tiap hari

sama belaka dengan berikutnya, itu karena orang lupa menyadari hal-hal baik yang

terjadi setiap hari dalam hidup mereka, misalnya terbitnya matahari.

Kutinggalkan ayahku, ibuku, dan kastil kota. Mereka telah terbiasa dengan

kepergian diriku, dan begitu pula aku. Domba-domba itu juga akan terbiasa dengan

ketakhadiranku, pikir si bocah.

radikal collection

Dari tempat duduknya, dia dapat mengamati alun-alun. Orang-orang terus datang

dan pergi dari bakeri si tukang roti. Sepasang kekasih duduk di bangku tempat dia

mengobrol dengan lelaki tua itu, dan mereka berciuman.

"Tukang roti itu...," katanya pada diri sendiri, tanpa menyelesaikan apa yang

dipikirnya. Levanter kian kencang, dan dia merasakan kekuatannya di wajahnya.

Angin itu memang telah membawa bangsa Moor, tapi ia juga mengantarkan aroma

gurun dan wangi perempuan-perempuan berkerudung. Ia membawa keringat dan

impian-impian para lelaki yang pernah pergi untuk mencari hal-hal yang belum

dikenal, dan untuk emas dan petualangan --dan demi Piramida. Bocah itu iri

dengan kebebasan sang angin, dan merasa bahwa dia pun bisa memiliki kebebasan

serupa. Tak ada sesuatu pun yang menahannya selain dirinya sendiri. Domba-

domba, puteri pedagang kain itu, dan ladang-ladang Andalusia hanyalah langkah-

langkah di sepanjang jalan menuju Legenda Pribadinya.

Esoknya, si bocah bertemu dengan lelaki tua itu pada sore hari. Dia membawa

enam dombanya.

"Aku terkejut," kata si bocah. "Temanku kontan membeli semua domba lainnya.

Dia bilang dia selalu bermimpi jadi gembala, dan itu pertanda baik."

"Itulah yang memang sering terjadi," kata si orang tua. "Itu disebut prinsip

keberuntungan. Kalau kamu main kartu untuk pertama kali, kamu hampir pasti

bakal menang. Kemujuran pemula."

"Kenapa bisa begitu?"

"Karena ada kekuatan yang menginginkanmu mewujudkan Legenda Pribadimu;

kekuatan itu merangsang seleramu dengan rasa sukses."

Kemudian si orang tua mulai memeriksa domba-domba itu, dan dia melihat

seekor yang pincang. Si bocah menjelaskan bahwa kepincangan itu bukan masalah,

sebab domba tersebut yang paling pintar di antara kawanannya, dan menghasilkan

paling banyak wol.

"Di mana harta karun itu?" tanya si bocah.

radikal collection

"Di Mesir, dekat Piramida ."

Si bocah tercengang. Perempuan tua itu mengatakan hal yang sama. Tapi dia

tidak minta bayaran apapun.

"Untuk mendapatkan harta itu, kamu harus mengikuti tanda-tanda. Tuhan sudah

menyediakan satu jalan bagi tiap orang untuk diikuti. Kamu hanya perlu membaca

tanda-tanda yang ditinggalkanNya untukmu."

Sebelum si bocah menjawab, seekor kupu-kupu muncul dan terbang di antara dia

dan orang tua itu. Dia teringat sesuatu yang pernah diberitahukan oleh kakeknya:

bahwa kupu-kupu adalah pertanda baik. Seperti jangkrik, dan seperti pengharapan;

seperti cicak dan seperti daun semanggi helai-empat.

"Betul," kata orang tua itu, bisa membaca pikiran si bocah. "Seperti yang kakekmu

ajarkan. Ini adalah pertanda baik."

Lelaki tua itu membuka jubahnya, dan si bocah terpesona pada apa yang

dilihatnya. Ia memakai penutup dada emas yang berat, bertabur batu-batu mulia.

Si bocah teringat kemilau cahaya yang dilihatnya kemarin.

Dia benar-benar seorang raja! Dia pasti menyamar supaya tidak bertemu dengan

pencuri.

"Bawalah ini," kata lelaki tua itu, mengulurkan batu putih dan batu hitam yang

tertancap di tengah-tengah penutup dadanya. "Batu-batu ini disebut Urim dan

Thummim. Batu hitam menandakan 'ya' dan batu putih menandakan 'tidak'. Saat

kamu tidak dapat membaca tanda-tanda, mereka akan membantumu

membacanya. Selalulah ajukan pertanyaan yang jujur.

"Tapi, kalau bisa, cobalah untuk membuat keputusan sendiri. Harta karun itu ada

di Piramida; itu sudah kamu ketahui. Tapi aku harus menuntut bayaran dengan

enam domba karena aku sudah membantumu membuat keputusan."

Si bocah memasukkan batu-batu tadi kekantongnya. Mulai saat itu, dia akan

membuat keputusan sendiri.

radikal collection

"Jangan lupa bahwa segala yang kamu hadapi hanya satu hal tunggal. Dan jangan

lupa bahasa pertanda. Dan, yang paling penting, jangan lupa mengikuti Legenda

Pribadimu sampai ke kesimpulannya.

"Tapi sebelum aku pergi, aku ingin menuturimu satu cerita kecil.

"Seorang pemilik toko mengirim puteranya untuk belajar tentang rahasia

kebahagiaan dari pria yang paling bijaksana di dunia. Si bocah mengembara,

menyeberangi gurun selama empatpuluh hari, dan akhirnya sampailah dia kesatu

istana yang indah, tinggi di puncak gunung. Di sanalah orang bijak itu tinggal.

"Tanpa mencari orang bijak itu dulu, pahlawan kita langsung saja memasuki ruang

utama istana itu, melihat macam-macam kegiatan: para pedagang datang dan

pergi, orang-orang berbincang di sudut-sudut, orkestra kecil memainkan musik

yang lembut, dan ada sebuah meja yang dipenuhi piring-piring makanan terlezat

yang ada di belahan dunia tersebut. Si orang bijak bercakap-cakap dengan setiap

orang, dan si anak harus menunggu selama dua jam sebelum akhirnya dia

mendapat perhatian orang itu.

"Orang bijak itu mendengarkan dengan penuh perhatian keterangan si anak

tentang alasan dia datang, tapi berkata bahwa dia tidak punya waktu untuk

menerangkan rahasia kebahagiaan. Dia menyarankan anak itu untuk melihat-lihat

istana dan kembali dalam dua jam.

"'Sambil kamu melihat-lihat, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku,' kata

orang bijak itu, menyodorkan sendok teh berisi dua tetes minyak. 'Sambil kamu

keliling, bawalah sendok ini tanpa menumpahkan minyaknya.'"

"Anak tadi mulai naik turun tangga-tangga istana, dengan pandangan tetap ke

arah sendok itu. Satelah dua jam, dia kembali ke ruangan tempat si orang bijak

berada.

"'Nah,' tanya orang bijak itu, 'apakah kamu melihat tapestri Persia yang

tergantung di ruang makanku? Apakah kamu melihat taman yang ditata pakar

pertamanan selama sepuluh tahun itu? Apakah kamu memperhatikan kertas kulit

yang indah di perpustakaanku?'"

radikal collection

"Anak itu merasa malu, dan mengaku dia tidak memperhatikan apa-apa.

Perhatiannya hanya tertuju pada minyak di sendok itu supaya tidak tumpah,

seperti yang percayakan si orang bijak kepadanya.

"'Kembalilah dan perhatikan duniaku yang mengagumkan ini,' kata si orang bijak.

'Kamu tidak dapat mempercayai orang kalau kamu tidak tahu rumahnya.'

"Dengan lega, anak itu mengambil sendok tadi dan kembali menjelajahi istana

itu, kali ini dia memperhatikan semua karya seni di atap dan dinding-dinding. Dia

melihat taman-taman, pergunungan di sekelilingnya, bunga-bunga yang indah, dan

mengagumi selera di balik pemilihan segenap hal yang ada di sana. Sekembalinya

dia ke orang bijak itu, dia mengungkapkan secara terinci semua yang dilihatnya.

"'Tapi mana minyak yang kupercayakan padamu?' tanya si orang bijak.

"Memandang ke sendok yang dipegangnya, anak itu melihat minyak tadi telah

hilang.

"'Baiklah, hanya ada satu nasihat yang bisa kuberikan padamu,' kata manusia

terbijak itu. 'Rahasia kebahagiaan adalah melihat semua keindahan dunia, dan tak

pernah melupakan tetesan minyak di sendok.'"

Sang gembala tidak berkata apa-apa. Dia sudah paham cerita yang dituturkan raja

tua itu. Sang gembala boleh saja berkelana, tapi dia tidak boleh melupakan

domba-dombanya.

Orang tua itu melihat pada si bocah dan, dengan tangan menyatu, membuat

gerakan-gerakan aneh di atas kepala si bocah. Kemudian, membawa domba-domba

sang gembala, dia pergi.

benteng tua, yang dibangun

oleh bangsa Moor. Dari puncak dindingnya, orang dapat melihat sepintas wajah

Afrika. Melchizedek, sang raja Salem, sore itu duduk di atas tembok benteng, dan

merasakan terpaan levanter di wajahnya. Domba-dombanya gelisah di dekatnya,

tak nyaman dengan majikan baru mereka dan terkejut dengan perubahan yang

teramat besar itu. Yang mereka inginkan hanya makanan dan air.

radikal collection

Melchizedek mengamati sebuah kapal kecil yang sedang menjajaki jalan keluar

pelabuhan. Dia tidak akan pernah lagi melihat si bocah, sama seperti dia tak

pernah lagi melihat Abraham setelah ia meminta kepadanya bayaran sepersepuluh.

Itu memang tugasnya.

Dewa-dewa mestinya tidak memiliki hasrat, karena mereka tak punya Legenda

Pribadi. Tapi raja Salem itu sungguh-sungguh berharap semoga si bocah sukses.

Sayang sekali dia. melupakan namaku secepat itu, pikirnya. Seharusnya kuulangi

rnengucapkan namaku untuknya. Sehingga saat bicara tentang diriku dia akan

sebut bahwa aku adalah Malchizedek, raja Salem.

Dia melihat ke angkasa, merasa agak malu, dan berkata, "Tuhanku, aku tahu ini

adalah pangkal kesombongan, seperti yang Engkau katakan. Tapi seorang raja tua

kadang kala harus merasa bangga pada dirinya."

Dia sedang duduk di kedai yang sangat mirip dengan kedai-kedai minum lain yang

pernah dilihatnya sepanjang jalan-jalan sempit Tangier. Beberapa pria merokok

dari pipa raksasa yang diedarkan dari satu ke orang lain. Hanya dalam beberapa

jam dia sudah melihat para pria berjalan bergandengan tangan, perempuan-

perempuan dengan wajah tertutup, dan para imam menaiki puncak menara dan

menyanyi --seraya semua orang di dekatnya berlutut dan meletakkan dahi mereka

ke tanah.

"Sembahyang orang kafir," gumamnya. Sebagai putera altar, dia selalu melihat

gambar Santo Santiago Matamoros di atas kuda putihnya, dengan pedang terhunus,

dan orang-orang seperti itu berlutut di bawah kakinya. Si bocah merasa gelisah dan

benar-benar sendirian. Orang-orang kafir in berpandangan buruk tentang mereka.

Selain itu, karena terburu-buru pergi dia melupakan satu hal, hanya satu detail,

yang bisa membuatnya tersingkir dari harta karunnya untuk waktu yang lama:

hanya bahasa Arab yang dipakai di negeri ini.

radikal collection

Pemilik kedai mendekati dia, dan si bocah menunjuk minuman yang disajikan di

meja sebelah. Ternyata teh pahit. Bocah itu lebih suka anggur.

Tapi dia tidak perlu mangkhawatirkan hal itu saat ini. Yang perlu dipikirkan

adalah harta karunnya, dan bagaimana cara mendapatkan harta itu. Panjualan

domba-dombanya menghasilkan cukup uang di kantongnya, dan si bocah tahu

bahwa di dalam uang ada keajaiban; siapapun yang punya uang tak akan pernah

merasa sendirian. Tidak lama lagi, mungkin hanya dalam beberapa hari, dia akan

tiba di Piramida. Seorang lelaki tua, dengan piringan emas di dada, tak akan

berdusta hanya untuk mendapat enam ekor domba.

Lelaki tua itu pernah berkata tentang tanda-tanda dan pertanda, dan, ketika si

bocah menyeberang selat tadi, dia berpikir tentang tanda-tanda. Betul, lelaki tua

itu sudah tahu apa yang sedang dia bicarakan: selama si bocah menghabiskan

waktu di ladang-ladang Andalusia, dia menjadi terbiasa mempelajari jalur mana

yang harus diambil dengan mengamati permukaan tanah dan langit. Dia sudah

paham bahwa kehadiran burung tertentu menandakan adanya ular di dekatnya,

dan semak-semak tertentu adalah pertanda ada air di daerah itu. Domba-domha

itulah yang mengajarinya.

Jika Tuhan membimbing domba-domba sedemikian baik, dia juga akan

membimbing manusia, pikirnya, dan itu membuat perasaannya lebih nyaman.

Tehnya tidak terasa pahit lagi.

"Kamu siapa?" dia mendengar suara bertanya dalam

bahasa Spanyol.

Si bocah lega. Dia sedang memikirkan tanda-tanda, dan seseorang muncul.

"Kamu bisa bahasa Spanyol?" tanyanya. Pendatang baru itu adalah remaja

berpakaian Barat, tapi warna kulitnya menandakan dia dari kota ini. Dia kira-kira

seumur dan setinggi si bocah.

"Hampir semua orang di sini bicara bahasa Spanyol. Tempat ini hanya dua jam

dari Spanyol."

radikal collection

"Duduklah, kutraktir kamu," kata si bocah. "Dan mintakan segelas anggur untukku.

Aku tidak suka teh ini."

"Tidak ada anggur di negeri ini," kata pemuda itu. "Agama di sini melarangnya."

Si bocah mengatakan padanya bahwa dia ingin ke Piramida. Hampir saja dia

bercerita tentang harta karunnya, tapi tidak jadi. Jika dia cerita, kemungkinan

anak Arab itu akan minta bagian sebagai imbalan membawa dia ke sana. Dia ingat

perkataan lelaki tua itu soal menawarkan sesuatu yang belum kita miliki.

"Aku ingin kamu mengantarku ke sana kalau bisa. Aku akan membayarmu sebagai

pemandu."

"Apa kamu tahu caranya sampai ke sana?" tanya pendatang baru itu.

Si bocah sadar bahwa pemilik kedai itu berdiri di dekatnya, menyimak

percakapan mereka. Dia merasa tak enak dengan kehadiran orang itu. Tapi dia

sudah mendapatkan seorang pemandu dan tidak ingin kehilangan peluang ini.

"Kamu harus melewati hamparan gurun Sahara," kata pemuda tadi. "Dan untuk

itu, kamu perlu uang. Aku perlu tahu apa kamu punya cukup uang."

Si bocah menganggap pertanyaan ini aneh. Tapi dia percaya pada lelaki tua itu,

yang berkata bahwa, saat kita menginginkan sesuatu, alam semesta selalu berpadu

untuk membantu kita.

Dia mengeluarkan uangnya dari kantong dan menunjukkannya pada pemuda tadi.

Si pemilik kedai mendekat dan melihat juga. Kedua orang in bertukar kata dalam

bahasa Arab, dan pemilik kedai tampak kesal.

"Ayo keluar," kata pendatang baru itu. "Dia ingin kita pergi."

Si bocah merasa lega. Dia berdiri untuk membayar bon, tapi pemilik kedai itu

menariknya dan bicara dengan semburan kata-kata bernada marah. Si bocah

bertubuh kuat, dan ingin membalas, tapi dia berada di negeri asing. Teman

barunya mendorong pemilik kedai dan menarik si bocah. "Dia ingin uangmu,"

radikal collection

katanya. "Tangier tidak seperti kota-kota lain di Afrika. Ini kota pelabuhan, dan

setiap pelabuhan ada malingnya."

Si bocah percaya pada kawan barunya. Dia sudah menyelamatkannya dari

keadaan yang membahayakan. Dia mengeluarkan uang dan menghitungnya.

"Kita bisa sampai di Piramida besok," kata yang lain sambil mengambil uangnya.

"Tapi aku harus beli dua onta."

Mereka berjalan berdua melalui jalan-jalan sempit Tangier. Di mana-mana

bertebaran kios dengan aneka barang dagangan. Mereka tiba di tengah alun-alun

besar tempat pasar berada. Ada ribuan orang di sana, berdebat, menjual, dan

membeli; sayuran ditimbun di antara pisau-pisau, dan karpet-karpet dipajang di

sisi tembakau. Tapi si bocah tak pernah melepaskan pandangan dari kawan

barunya. Bagaimanapun, semua uangnya dipegang anak itu. Dia sempat berpikir

untuk meminta uangnya kembali, tapi urung karena itu tidak sopan. Dia sama

sekali tak paham istiadat di negeri asing ini.

"Akan kuawasi saja dia," katanya dalam hati. Dia tahu dia lebih kuat daripada

kawannya itu.

Tiba-tiba, di tengah segenap kebingungan itu, dia melihat pedang terindah yang

pernah dilihatnya. Sarungnya bersulam perak, gagangnya hitam dan bertatah batu-

batuan mulia. Si bocah berjanji pada diri sendiri bahwa, sepulangnya dari Mesir,

dia akan membeli pedang itu.

"Tanyakan pada penjualnya berapa harga pedang itu," katanya pada kawannya.

Kemudian dia sadar perhatiannya sempat teralih ke pedang itu. Hatinya tertekan,

seolah dadanya tiba-tiba menghimpitnya. Dia tidak berani melihat sekitar, karena

dia tahu apa yang akan didapatinya. Dia melanjutkan menatap pedang indah itu

agak lebih lama, sampai akhirnya dia menghimpun keberanian untuk berpaling.

Sekitarnya adalah pasar, tempat orang-orang datang dan pergi, berteriak dan

membeli, dan aroma makanan yang aneh.., tapi dia tak menemukan kawan

barunya. Si bocah ingin mempercayai bahwa temannya itu terpisah darinya tanpa

sengaja. Dia memutuskan untuk menunggu saja di sana dan menanti

radikal collection

kedatangannya. Saat dia menunggu, seorang imam naik ke atas menara di

dekatnya dan mulai menyanyi; semua orang di pasar itu berlutut, menyentuhkan

dahi mereka ke tanah dan mengikuti nyanyian itu. Lalu, bagaikan koloni semut

pekerja, mereka memberesi kios-kios mereka dan pergi.

Matahari pun mulai membenam. Si bocah melihatnya sejenak melalui lintasannya,

sampai akhirnya menghilang di belakang rumah-rumah putih di sekeliling alun-alun

itu. Dia ingat, ketika matahari terbit tadi pagi dia berada di benua lain, masih

menjadi gembala dengan enampuluh domba, dan menantikan saat bertemu dengan

seorang dara. Pagi itu dia tahu semua hal yang akan terjadi padanya saat dia

berjalan melalui ladang-ladang yang sangat dikenalnya. Tapi sekarang, ketika

matahari mulai terbenam, dia berada di negeri lain, seorang asing di ranah asing,

tempat dia mengucap bahasanya pun tak mampu. Dia bukan lagi seorang gembala,

dan dia tak punya apa-apa, tidak juga uang untuk pulang dan memulai lagi

segalanya.

Semuanya ini terjadi antara matahari terbit dan tenggelam, pikir si bocah. Dia

mengasihani diri, dan menyesali kenyataan bahwa hidupnya bisa berubah begitu

cepat dan begitu drastis.

Dia sangat malu sampai ingin menangis. Dia tidak pernah menangis bahkan di

depan domba-dombanya. Tapi pasar sudah sepi, dan dia begitu jauh dari rumah,

maka dia pun menangislah. Dia menangis karena Tuhan tidak adil, dan karena

beginilah rupanya cara Tuhan mengganjar orang-orang yang mempercayai mimpi-

mimpi mereka.

Kala aku punya domba, aku bahagia, dan aku membuat mereka yang ada di

sekitarku bahagia. Orang-orang melihat aku datang dan menyambutku, renungnya.

Tapi kini aku sedih dan sendiri. Aku akan menjadi seorang yang pahit dan tak

percaya pada siapapun karena satu orang telah menghianatiku. Aku akan

membenci orang-orang yang menemukan harta karun mereka karena aku tak

pernah bisa menemukan milikku. Dan aku akan mempertahankan sesedikit apapun

yang sudah kupunya, sebab aku terlalu remeh untuk menaklukkan dunia.

radikal collection

Dia membuka kantongnya untuk melihat apa miliknya yang tersisa; mungkin masih

ada sepotong sisa roti yang dimakannya di kapal. Tapi yang dia dapati hanya buku

yang berat, jaketnya, dan dua batu pemberian orang tua itu.

Saat melihat batu itu, dia merasa lega karena beberapa alasan. Dia telah

menukar enam dombanya dengan dua batu berharga yang diambil dari piringan

emas penutup dada. Dia bisa jual batu-batu ini dan beli tiket pulang. Tapi kali ini

aku akan lebih pintar, pikir si bocah, seraya memindahkan batu-batu itu dari

kantong supaya bisa dimasukkannya ka dalam saku. Ini kota pelabuhan, dan satu-

satunya kebenaran yang diucapkan kawannya itu kepadanya adalah bahwa kota

pelabuhan selalu penuh maling.

Sekarang barulah dia mengerti mengapa pemilik kedai itu tampak sangat marah:

ia mencoba memberitahu dia supaya tidak mempercayai pemuda itu. "Aku ini

seperti semua orang lain --aku memandang dunia menurut apa yang ingin kulihat

terjadi, bukan apa yang sesungguhnya terjadi."

Dia meraba batu-batu itu perlahan-lahan, merasakan suhunya dan merasakan

permukaannya. Batu-batu itu adalah hartanya. Memegangnya saja sudah membuat

dia merasa lebih tenang. Kedua batu itu mengingatkannya pada si orang tua.

"Saat kau menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk

membantumu meraihnya," katanya waktu itu.

Si bocah mencoba mengerti kebenaran dalam apa yang dikatakan orang itu. Di

sanalah dia di tengah pasar yang kosong, tanpa sesen pun dimilikinya, dan tanpa

seekor pun domba untuk dijaga sepanjang malam. Tapi batu-batu ini adalah bukti

bahwa dia pernah bertemu seorang raja --seorang raja yang tahu masa lalu si

bocah.

"Mereka dinamakan Urim dan Thummim, dan mereka dapat membantumu untuk

membaca pertanda." Si bocah mengembalikan batu-batu itu ke dalam kantong dan

memutuskan untuk melakukan percobaan. Orang tua itu memberitahu dia supaya

mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat jelas, jika si bocah ingin tahu apa

radikal collection

yang dibutuhkannya. Maka bertanyalah dia apakah berkah lelaki tua itu masih

bersamanya.

Dia mengeluarkan salah satu batu. Jawabnya "ya."

"Apakah aku akan menemukan hartaku?" tanyanya.

Dia memasukkan tangannya ke dalam kantong, dan meraba-raba untuk

mendapatkan salah satu batu. Ketika dia melakukan hal itu, kedua batu tadi

terdorong melalui sebuah lubang di kantong itu dan jatuh ke tanah. Si bocah tak

pernah tahu ada lubang di kantongnya. Dia membungkuk untuk memungut Urim

dan Thummim dan mengembalikan mereka ke dalam kantong. Tapi saat dia

melihat batu-batu itu tergeletak di atas tanah, ucapan lain muncul di benaknya.

"Belajarlah untuk mengenali pertanda dan ikuti mereka," lelaki tua itu pernah

berkata.

Pertanda. Si bocah tersenyum sendiri. Dia mengambil kedua batu itu dan

memasukkannya kembali ke dalam kantongnya. Dia tidak merasa perlu menambal

lubang tadi --batu-batu itu toh bisa jatuh kapan saja. Dia tahu ada hal-hal tertentu

yang tidak boleh ditanyakan orang, agar tak melenceng dari Legenda Pribadinya.

"Aku berjanji aku akan membuat keputusan sendiri," katanya dalam hati.

Tapi batu-batu itu telah memberitahunya bahwa si orang tua masih bersamanya,

dan itu membuatnya merasa lebih percaya-diri. Dia melihat lagi ke sekeliling alun-

alun yang kosong, merasa tak sesedih sebelumnya, ini bukan tempat yang asing; ini

tempat baru.

Betapapun, yang selalu diinginkannya memang hanya itulah: mengenal tempat-

tempat baru. Bahkan kalaupun dia tak pernah sampai ke Piramida, dia sudah

pernah berkelana lebih jauh daripada semua gembala yang dikenalnya. Ah,

pikirnya, kalau saja mereka tahu tentang sesuatu yang lain yang hanya sejauh dua

jam perjalanan kapal dari tempat mereka. Meski dunia barunya saat ini hanyalah

sebuah pasar yang kosong, dia sudah menyaksikan saat pasar itu dipenuhi

kehidupan, dan dia tak akan pernah melupakannya. Dia teringat pedang tadi. Agak

menyakitkan bila dipikirkan, tapi dia tak pernah melihat pedang seperti itu

radikal collection

sebelumnya. Saat dia merenungkan hal-hal ini, dia sadar dia harus memilih antara

memandang dirinya sebagai korban malang seorang pencuri dan sebagai

pengembara dalam pencarian harta karunnya.

"Aku seorang pengembara, yang mencari harta berharga," katanya pada dirinya.

tertidur di tengah pasar

itu, dan kehidupan di alun-alun akan dimulai.

Melihat sekeliling, dia mencari dombanya, dan kemudian sadar bahwa dia berada

di dunia baru. Tapi bukannya sedih, dia merasa bahagia. Dia tidak perlu lagi

mencari makanan dan air untuk domba-dombanya. Sebaliknya, dia dapat mencari

harta karunnya. Dia tidak punya sesen pun di sakunya, tapi dia punya keyakinan.

Dia telah memutuskan, tadi malam, bahwa dia akan menjadi pengembara persis

seperti cerita di buku-buku yang selalu membuatnya terpesona.

Dia berjalan pelan-pelan melewati pasar. Para pedagang memasang tenda kios-

kios mereka, dan si bocah membantu seorang penjual manisan memasang

tendanya. Wajah penjual manisan itu menyungging senyum: dia bahagia, sadar

tantang hidupnya, dan bersiap memulai pekerjaan hari ini. Senyumnya

mengingatkan si bocah pada lelaki tua itu --seorang raja tua misterius yang pernah

dia jumpai. "Pedagang manisan ini membuat manisan bukan supaya kelak dia bisa

berkelana atau menikah dengan puteri seorang pemilik toko. Dia melakukannya

karena memang itulah yang diinginkannya," pikir si bocah. Dia sadar bahwa dia

mampu melakukan hal serupa dengan yang dilakukan si lelaki tua --merasakan

apakah seseorang dekat atau jauh dari Legenda Pribadinya. Hanya dengan menatap

mereka. Gampang sekali, tapi ternyata aku tak pernah melakukannya sebelumnya,

pikirnya.

Saat tenda sudah terpasang, penjual tadi menawari si bocah manisan pertama

yang dibuatnya untuk hari itu. Si bocah berterima kasih, memakannya, dan

meneruskan perjalanannya. Saat baru berjalan beberapa langkah, dia sadar bahwa

ketika mereka mendirikan kios tadi, salah satu dari mereka bicara bahasa Arab dan

yang lain Spanyol.

radikal collection

Dan mereka saling mengerti dengan sangat baik.

Pastilah ada bahasa yang tak tergantung pada kata-kata, pikir si bocah. Aku

pernah mengalaminya dengan domba-domba, dan sekarang terjadi dengan

manusia.

Dia belajar banyak hal bara Beberapa di antaranya adalah hal-hal yang sudah

pernah dia alami, dan tak terlalu baru, tapi belum pernah dia renungkan

sebelumnya. Dan dia tidak merenungkannya karena dia sudah terbiasa dengannya.

Dia sadar: Jika aku dapat belajar memahami bahasa tanpa kata-kata ini, aku bisa

belajar memahami dunia.

Santai dan tak tergesa, dia lega bahwa dia dapat melangkah melalui jalan-jalan

sempit Tangier. Hanya dengan cara itulah dia mampu membaca pertanda. Dia tahu

ini memadukan kesabaran, tapi para gembala tahu banyak tentang kesabaran.

Sekali lagi dia melihat bahwa, di negeri asing itu, dia menerapkan pelajaran-

pelajaran serupa dengan yang dia pelajari dari domba-dombanya.

"Segalanya satu belaka," sang raja tua pernah berkata.

merasakan kegelisahan

yang sama seperti yang diidapnya setiap pagi. Dia berada di tempat yang sama

selama tiga dasawarsa: sebuah toko di ujung jalan berbukit, dilewati oleh pembeli

yang sedikit. Sekarang sudah terlambat untuk mengubah semuanya --satu-satunya

yang pernah dia pelajari adalah menjual dan membeli barang pecah-belah kristal.

Pernah ada suatu masa ketika banyak orang kenal tokonya: pedagang-pedagang

Arab, ahli-ahli geologi Prancis dan Inggris, para serdadu Jerman yang selalu banyak

uang. Di hari-hari itu sangat menyenangkan menjual kristal, dan dia pernah merasa

betapa akan kayanya ia, dan punya perempuan-perempuan cantik di sisinya seiring

menuanya usia.

Tapi, waktu melangkah, dan Tangier berubah. Kota tetangga Ceuta berkembang

lebih laju, dan bisnis melayu. Para jiran berpindahan, dan di bukit itu hanya

tinggal beberapa toko kecil yang bertahan. Dan tidak ada orang yang mau menaiki

bukit hanya untuk melihat-lihat beberapa toko sempit.

radikal collection

Tapi pedagang kristal itu tak punya pilihan. Dia telah menjalani tigapuluh tahun

hidupnya dengan membeli dan menjual barang-barang kristal, dan sekarang sudah

terlambat untuk melakukan hal yang lain.

Dia menghabiskan sepanjang hari dengan mengamati jarangnya orang yang lalu-

lalang di jalan itu. Dia melakukan hal ini selama bertahun-tahun, dan tahu jadwal

setiap orang yang lewat. Namun, tepat sebelum jam makan siang, seorang bocah

berhenti di depan tokonya. Dia berpakaian normal, tapi mata pedagang kristal

yang berpengalaman itu tahu anak itu tak punya uang. Meski begitu, si pedagang

memutuskan untuk menunda makan siangnya sebentar sampai anak itu pergi

mengumumkan sejumlah

bahasa yang bisa digunakan di toko itu. Si bocah melihat seorang lelaki keluar dari

belakang meja.

"Aku bisa membersihkan barang-barang di etalase itu, kalau Bapak mau," kata si

bocah. "Tidak akan ada orang yang membeli barang-barang itu kalau melihat

tampilannya begitu."

Lelaki itu melihat padanya tanpa menanggapi.

"Sebagai imbalan, Bapak bisa memberiku makanan."

Lelaki itu tetap bungkam, dan si bocah merasa dia harus mengambil keputusan.

Di kantongnya ada jaket --dia tentu tidak akan memerlukannya di gurun.

Mengeluarkan jaket tadi, dia mulai membersihkan barang-barang kristal itu. Dalam

setengah jam, dia sudah membersihkan semua barang di etalase, dan ketika dia

sedang melakukan hal itu, dua orang pembeli masuk ke toko dan membeli

beberapa kristal.

Selesai membersihkan, dia minta pada lelaki itu sekadar makanan. "Ayo kita pergi

makan siang," kata si pedagang.

Ia memasang tanda di pintu, dan mereka pergi ke warung kecil di dekat toko itu.

Saat mereka duduk di satu-satu-nya meja di situ, tertawalah pedagang kristal itu.

radikal collection

"Kamu tidak perlu membersihkan apa-apa," katanya. "Al-Quran menyuruhku

memberi makan orang yang lapar."

"Kalau begitu, mengapa Bapak membiarkan aku melakukannya?" tanya si bocah.

"Karena kristal itu kotor. Dan kita, kau dan aku, perlu membersihkan pikiran kita

dari hal-hal yang negatif."

Setelah mereka makan, pedagang itu manoleh pada si bocah dan berkata, "Aku

ingin kamu kerja di tokoku. Dua orang pembeli datang hari ini selagi kamu bekerja,

dan itu adalah pertanda baik."

Orang-orang bicara tentang pertanda, pikir sang gembala. Tapi mereka

sebenarnya tidak paham apa yang mereka bicarakan. Sama seperti aku tak

menyadari bahwa selama bertahun-tahun aku bicara dengan bahasa tanpa kata

kepada domba-dombaku.

"Maukah kamu bekerja untukku?" tanya pedagang itu.

"Aku dapat bekerja sampai akhir hari ini," jawab si bocah. "Aku akan bekerja

sepanjang malam, sampai subuh, dan aku akan bersihkan semua barang kristal di

tokomu. Sebagai imbalan, aku perlu uang untuk berangkat ke Mesir besok."

Pedagang itu tertawa. "Kalaupun kamu membersihkan kristalku setahun penuh..,

kalaupun kamu dapat komisi yang tinggi untuk setiap barang yang laku, kau masih

harus pinjam uang untuk sampai ke Mesir". Jarak dari sini ke sana itu ribuan

kilometer gurun."

Sesaat ada kebisuan yang begitu dalam sehingga kota itu terasa tidur. Tak ada

suara dari pasar, tak ada perdebatan di antara penjual, tak ada orang yang naik ke

menara untuk bernyanyi. Tidak ada harapan, tak ada petualangan, tak ada raja-

raja tua atau Legenda Pribadi, tidak ada harta. Dan tak ada Piramida. Seolah dunia

terbungkam karena menelan jiwa si bocah. Dia duduk di sana, menatap kosong

melalui pintu warung, berharap dia mati, dan segalanya berakhir pada saat

kematian itu.

radikal collection

Pedagang itu melihat si bocah dengan cemas. Segenap keceriaan yang dilihatnya

tadi pagi lenyap tuntas.

"Aku dapat memberimu uang yang kau perlukan untuk kembali ke negerimu,

Anakku," kata si pedagang kristal.

Si bocah diam saja. Dia berdiri, merapikan bajunya, dan mengambil kantongnya

"Aku akan kerja di tempatmu," katanya.

Dan setelah beberapa lama terdiam, dia menambahkan, "Aku perlu uang untuk

membeli sejumlah domba."

dan dia dapat

merasakan bahwa itu bukanlah pekerjaan yang membuatnya bahagia. Pedagang itu

melewatkan sepanjang hari dengan mengomel di belakang meja, menyuruh si

bocah berhati-hati dengan barang-barang dan supaya tidak memecahkan apapun.

Tapi, dia bertahan dengan pekerjaannya karena pedagang itu memperlakukannya

dengan baik, meski dia seorang penggerutu tua; si bocah mendapat komisi yang

bagus untuk setiap barang yang terjual, dan sudah bisa menabung. Pagi itu dia

menghitung: jika dia terus bekerja setiap hari seperti sekarang, dia perlu satu

tahun penuh untuk dapat membeli beberapa domba.

"Aku ingin membuat lemari pajangan untuk kristal ini," kata si bocah pada

pedagang itu. "Kita dapat menaruhnya di luar, agar menarik perhatian orang-orang

yang melewati dasar bukit."

"Aku belum pernah punya lemari seperti itu," jawab si pedagang. "Orang-orang

yang lalu-lalang bakal menabraknya, dan barang-barang itu bisa pecah."

"Yah, saat aku membawa domba-dombaku melewati padang, beberapa di antara

mereka mungkin mati bila kami bertemu ular. Tapi begitulah kehidupan domba dan

para gembala."

Pedagang itu berpaling ke seorang pembeli yang hendak membeli tiga gelas

kristal. Kini dagangannya lebih laku..., seolah waktu berputar kembali ke hari-hari

silam ketika jalan itu menjadi salah satu daya-tarik utama Tangier.

"Bisnis kita benar-benar makin baik," katanya pada si bocah, setelah pembelinya

pergi. "Barangku lebih laris, dan kamu bisa segera kembali ke domba-dombamu.

Mengapa mesti minta lebih dari hidup ini?"

"Karena kita harus menanggapi pertanda," kata si bocah, hampir tanpa arti;

kemudian dia menyesali ucapannya, karena pedagang itu tidak pernah bertemu

dengan sang raja.

"Itulah yang disebut prinsip keberuntungan, kemujuran pemula. Karena kehidupan

ingin kita meraih Legenda Pribadi kita," kata raja tua itu satu ketika.

radikal collection

Tapi pedagang itu memahami perkataan si bocah. Kehadiran si bocah itu sendiri

di tokonya merupakan satu pertanda, dan, seiring berjalannya waktu dan

mengalirnya uang ke laci, dia tidak menyesal telah mempekerjakan si bocah. Dia

mendapat bayaran lebih dari semestinya, karena pedagang itu menduga penjualan

tidak akan tinggi, dan sebab itu ia menawari si bocah persentase komisi yang

besar. Dia mengira si bocah akan segera kembali ke domba-dombanya.

"Mengapa kamu ingin ke Piramida?" tanyanya, untuk melupakan soal lemari

pajangan itu..

"Karena aku selalu mendengar tentang Piramida," jawab si bocah, tanpa sedikit

pun menyebut mimpinya. Harta karun itu sekarang bukanlah apa-apa selain ingatan

yang menyakitkan, dan dia berusaha menghindar dari memikirkan hal itu.

"Aku tidak pernah mendengar ada orang di sini yang mau mengarungi gurun hanya

untuk melihat Piramida," kata si pedagang. "Piramida-piramida itu hanya tumpukan

batu. Kamu dapat membuatnya di halaman rumahmu."

"Bapak tidak pernah bermimpi berkelana," kata si bocah, berpaling untuk

menyambut seorang pembeli yang masuk toko.

Dua hari kemudian, pedagang itu bicara tentang lemari pajangan yang dimaksud

si bocah.

"Aku tak terlalu suka pada perubahan," katanya.

"Kamu dan aku tidak seperti Hassan, pedagang kaya itu. Jika dia salah beli, tidak

akan berpengaruh banyak padanya. Tapi kita berdua harus menanggung beban

kesalahan-kesalahan kita."

Benar juga, pikir si bocah, dengan sedih.

"Mengapa kamu berpikiran kita perlu memiliki lemari pajangan?"

"Aku ingin lebih cepat mendapatkan kembali domba-dombaku. Kita harus

mengambil keuntungan saat kemujuran berada di pihak kita. Itu disebut prinsip

keberuntungan. Atau kemujuran pemula."

radikal collection

Pedagang itu terdiam sejenak. Kemudian dia berkata, "Nabi memberi kami Al-

Quran, dan meminta kami memenuhi hanya lima kewajiban selama hidup. Yang

terpenting adalah percaya hanya pada satu Tuhan. Yang lainnya shalat lima waktu

sehari, puasa selama bulan Ramadhan, dan berderma pada orang miskin."

Dia berhenti sejenak. Matanya basah ketika dia bicara tentang Nabi. Dia orang

beriman, dan, bahkan dengan segenap ketidaksabarannya, dia ingin rnenjalani

hidupnya menurut hukurn Islam.

"Kewajiban yang kelima, apa?" tanya si bocah.

"Dua hari yang lalu, kamu mengatakan bahwa aku tidak pernah bermimpi

mengembara,"jawab pedagang itu. "Kewajiban kelima bagi setiap Muslim adalah

menunaikan ibadah haji. Kami diwajibkan, paling sedikit satu kali selama hidup,

untuk rnengunjungi kota suci Mekkah.

"Mekkah malah lebih jauh dari Piramida. Saat aku muda, yang kuinginkan

hanyalah mengumpulkan uang untuk membuka toko ini. Aku berpikir, suatu hari

nanti aku akan kaya dan dapat pergi ke Mekkah. Mulailah uang kudapat, tapi aku

tak pernah bisa lega meninggalkan toko pada orang lain; kristal adalah barang yang

rentan. Sementara itu, orang-orang berjalan melewati tokoku sepanjang waktu,

menuju Mekkah. Beberapa dari mereka adalah peziarah yang kaya, berkelana

dengan kafilah bersama para pembantu dan onta, tapi kebanyakan orang yang

melakukan ziarah itu lebih miskin dari aku.

"Semua orang yang ke sana merasa bahagia karena dapat melakukannya. Mereka

meletakkan lambang-lambang penziarahan itu di pintu-pintu rumah mereka. Salah

satunya, seorang tukang sepatu yang seumur hidupnya memperbaiki sepatu,

bercerita bahwa dia sanggup berjalan selama hampir satu tahun rnelalui gurun,

tapi merasa capek saat harus berjalan melewati jalan-jalan Tangier untuk membeli

kulit."

"Kok, Bapak tidak pergi ke Mekkah sekarang?" tanya si bocah.

"Justru pikiran tentang Mekkah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang

membuatku kuat menghadapi hari-hari yang sama belaka ini; yang membuatku

radikal collection

tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan

malarn di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku

tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup.

"Kamu bermimpi tentang domba-domba dan Piramida, tapi kamu beda denganku,

karena kamu ingin mewujudkan impianmu. Aku hanya memimpikan Mekkah. Sudah

ribuan kali kubayangkan diriku melewati gurun pasir, tiba di Ka'bah, mengitarinya

tujuh kali sebelum aku menyentuhnya. Kubayangkan orang-orang yang akan berada

di sampingku, dan yang di depanku, dan percakapan dan doa-doa yang kami

panjatkan bersama. Tapi aku takut semua itu akhirnya akan membuatku kecewa,

jadi aku lebih suka memimpikannya saja."

Hari itu, si pedagang mengizinkan si bocah membuat lemari pajangan. Tidak

semua orang dapat melihat impiannya menjadi kenyataan dengan cara yang sama.

banyak pembeli ke toko

kristal. Si bocah sudah memperkirakan, bahwa jika dia bekerja selama enam

bulan, dia dapat kembali ke Spanyol dan membeli enampuluh domba, malah

ditamhah enampuluh domba lagi. Kurang dari setahun, dia sudah bisa

menggandakan kawanan dombanya, dan dia bisa melakukan bisnis dengan orang

Arab, karena dia sekarang dapat bicara dalam bahasa mereka yang aneh. Sejak

pagi di pusat pasar tempo hari, dia tidak pernah lagi memanfaatkan Urim dan

Thummim, karena Mesir baginya kini hanyalah mimpi yang sarna jauhnya dengan

Mekkah bagi pedagang kristal itu. Toh, si bocah sudah senang dengan

pekerjaannya, dan terus membayangkan hari saat dia turun dari kapal di Tarifa

sebagai seorang pemenang.

"Kau harus selalu tahu apa yang kau inginkan," orang tua itu pernah berkata. Si

bocah tahu, dan sekarang sedang bekerja ke arahnya. Mungkin harta karunnya

adalah ini: terdampar di negeri asing, ketemu pencuri, dan menggandakan jumlah

kawanan dombanya tanpa keluar sesen pun.

Dia bangga pada dirinya. Dia sudah belajar beberapa hal penting, seperti

bagaimana berdagang kristal, dan tentang bahasa tanpa kata-kata.., dan tentang

pertanda. Suatu sore dia melihat seorang pria di atas bukit, yang mengeluh bahwa

radikal collection

susah sekali menemukan tempat yang layak untuk mendapatkan minuman setelah

letih mendaki. Si bocah, terbiasa mengenali pertanda, berbicara kepada pedagang

kristal.

"Mari kita jual teh untuk orang-orang yang mendaki bukit."

"Sudah banyak tempat minum teh di sekitar sini," kata pedagang itu.

"Tapi kita bisa menjual teh di dalam gelas kristal. Orang akan menikmati tehnya

dan ingin membeli gelasnya. Aku pernah diberitahu bahwa kecantikan adalah

penggoda terbesar bagi lelaki."

Pedagang itu tidak menanggapi, tapi sorenya, setelah sembahyang dan menutup

toko, dia mengajak si bocah duduk dengannya dan memberikan hookahnya, pipa

aneh yang biasa dipakai orang Arab.

"Apa sebenarnya yang kamu cari?" tanya si pedagang tua.

"Sudah kukatakan pada Bapak. Aku ingin membeli kembali domba-dombaku, jadi

aku harus mendapatkan uang untuk itu."

Pedagang itu menambahkan batubara ke hookah, dan mengisap dalam-dalam.

"Sudah tigapuluh tahun toko ini kumiliki. Aku tahu kristal yang bagus dan yang

jelek, dan mengerti semua hal yang perlu untuk memahami kristal. Aku tahu sisi-

sisinya dan perilakunya. Kalau kita sajikan teh dalam kristal, toko ini bakal

berkembang. Dan kemudian aku harus mengubah cara hidupku."

"Lho, bukankah itu bagus?"

"Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Sebelum kamu datang, aku

memikirkan betapa banyaknya waktu yang kusia-siakan di tempat yang sama ini,

sementara teman-temanku telah pindah, entah mereka jatuh bangkrut atau

menjadi lebih baik dari sebelumnya. Itu membuatku sangat tertekan. Kini

kurasakan hal itu tidaklah terlalu buruk. Ukuran toko ini sudah pas seperti yang

memang kuinginkan. Aku tak mau mengubah apapun, karena aku tidak tahu

radikal collection

bagaimana menghadapi perubahan. Aku sudah terbiasa dengan keadaanku sekarang

ini."

Si bocah tidak tahu harus bilang apa. Orang tua itu melanjutkan, "Kamu benar-

benar merupakan berkah bagiku. Sekarang aku mengerti sesuatu yang tidak kulihat

sebelumnya: rahmat yang diabaikan akan menjadi kutuk. Aku tak ingin apa-apa lagi

dalam hidup ini. Tapi kamu mendesakku untuk melihat kekayaan dan cakrawala

yang tak pernah kukenal. Sekarang, setelah aku melihatnya, dan sesudah kulihat

betapa besarnya peluang-peluangku, aku akan merasa lebih buruk daripada

sebelum kamu datang. Sebab aku jadi tahu hal-hal yang mampu kulakukan,

sementara aku tidak mau melakukannya."

Baguslah aku menahan diri dengan tidak mengatakan apa-apa pada tukang roti di

Tarifa itu, pikir si bocah.

Mereka terus mengisap pipa sampai sesaat sebelum matahari mulai tenggelam.

Mereka berbincang dalam bahasa Arab, dan si bocah berbangga diri karena mampu

melakukannya. Pernah ada saat ketika dia mengira domba-dombanya dapat

mengajari segala hal yang perlu dia ketahui tentang dunia. Tapi mereka tidak bisa

mengajari dia bahasa Arab.

Rupanya ada banyak hal di dunia ini yang tak dapat diajarkan oleh domba-domba

itu padaku, pikir si bocah, saat dia menyalami pedagang tua itu. Yang selalu

mereka lakukan, sesungguhnya, hanyalah mencari makanan dan air. Dan mungkin

bukan mereka yang mengajarku, tapi akulah yang belajar dari mereka.

"Maktub," kata pedagang itu, akhirnya.

"Apa 'tuh artinya?"

"Kamu harus lahir sebagai orang Arab untuk memahaminya," jawabnya. "Tapi

dalam bahasamu maknanya kira-kira 'Sudah tertulis'."

Dan, seraya menekan-nekan batubara di hookah, dia berkata pada si bocah bahwa

dia boleh mulai menjual teh di gelas kristal. Kadang-kadang, tidak ada cara untuk

membendung sungai.

mencapai puncak. Tapi

di sana mereka melihat sebuah toko kristal yang menawarkan teh rasa jahe yang

menyegarkan. Mereka masuk untuk minum teh itu, yang disajikan dalam gelas-

gelas kristal yang indah.

"Isteriku tidak pernah berpikir tentang hal ini," kata seseorang, dan dia membeli

beberapa kristal --dia akan menjamu sejumlah tamu malam itu, dan para tamu

akan terkesan oleh keindahan gelas-gelas tuan rumah. Lelaki yang lain berkata

bahwa teh selalu terasa lebih nikmat jika disajikan dalam kristal, karena aromanya

bertahan. Orang ketiga berkata bahwa di Timur memang ada tradisi menggunakan

gelas kristal untuk teh karena ia mengandung daya gaib.

Tidak lama, tersebarlah kabar itu, dan banyak sekali orang yang mendaki bukit

untuk melihat toko yang melakukan hal baru dalam perdagangan yang sudah kuno.

Toko-toko lain dibuka dan menyediakan teh dalam kristal juga, tapi mereka tidak

berada di puncak sebuah bukit, dan bisnis mereka kecil saja.

Pedagang itu akhirnya harus mempekerjakan dua pegawai lagi. Dia mulai

mengimpor teh dalam jumlah yang sangat besar, bersama dengan kristalnya, dan

tokonya dicari-cari oleh para lelaki dan perempuan yang haus akan hal-hal baru.

Dan, dalam keadaan begitu, bulan-bulan pun berlalu.

sembilan hari sejak dia pertama kali menginjakkan kaki di benua Afrika.

Dia mengenakan pakaian Arabnya yang terbuat dari linen putih, dibeli khusus

untuk hari ini. Dia memasang kain penutup kepala dan mengencangkannya dengan

cincin dari kulit onta. Memakai sandal barunya, dia menuruni tangga pelan-pelan.

Kota masih tidur. Dia mengunyah kue dan minum teh panas dari gelas kristal. Lalu

dia duduk di pintu masuk yang terkena sinar matahari, mengisap hookah.

Dia merokok tenang-tenang, tak memikirkan apapun, dan mendengarkan suara

angin yang mengantarkan bau gurun. Seusai merokok, dia merogoh salah satu

radikal collection

sakunya, dan menahan tangannya di sana sejenak, untuk sesuatu yang akan

diambilnya.

Setumpuk uang. Cukup untuk membeli seratus duapuluh domba, tiket pulang dan

surat izin untuk mengimpor barang-barang Afrika ke negerinya.

Sabar dia menunggu pedagang itu bangun dan membuka toko. Lalu mereka

berdua beranjak untuk minum teh lagi.

"Aku akan berangkat hari ini," ucap si bocah. "Aku sudah punya uang yang

kuperlukan untuk membeli domba. Dan Bapak sudah punya uang yang Bapak

perlukan untuk pergi ke Mekkah."

Lelaki tua itu diam saja.

"Maukah Bapak memberi restu padaku?" tanya si bocah. "Bapak sudah

menolongku." Lelaki itu terus menyiapkan tehnya, tanpa mengatakan apapun.

Kemudian dia berpaling pada si bocah.

"Aku bangga padamu," katanya. "Kamu membawakan suasana baru ke dalam toko

kristalku. Tapi kamu tahu bahwa aku tidak akan pergi ke Mekkah. Seperti kamu

tahu bahwa kamu tak akan membeli domba."

"Dari mana Bapak tahu?" tanya si bocah, kaget.

"Maktub," kata pedagang kristal tua itu.

Dan dia memberi restunya pada si bocah.

Tiga karung

banyaknya. Saat dia hendak pergi, dia melihat, di pojok ruangan, kantong gembala

lusuhnya. Kantong itu terikat, dan sudah lama dia hampir tak pernah

memikirkannya lagi. Ketika dia mengeluarkan jaketnya dari kantong itu, berniat

untuk memberikannya pada seseorang di jalan, dua butir batu jatuh ke lantai.

Urim dan Thummim.

radikal collection

Itu membuat si bocah berpikir tentang si raja tua, dan mengejutkannya karena

sadar telah begitu lama waktu berlalu sejak terakhir kali dia memikirkan raja itu.

Selama hampir setahun ini dia bekerja tanpa henti, hanya berpikir untuk menabung

uang supaya bisa pulang ke Spanyol dengan bangga.

"Jangan pernah berhenti bermimpi," raja tua itu pernah berkata. "Ikutilah

pertanda."

Si bocah mengambil Urim dan Thummim, dan, sekali lagi, mengidap perasaan

yang aneh bahwa raja tua itu berada di dekatnya. Dia telah bekerja keras selama

satu tahun, dan pertandanya mengisyaratkan itulah saatnya untuk pergi. Aku akan

kembali ke pekerjaanku yang dulu, pikir si bocah. Meski domba-domba itu tidak

mengajariku bahasa Arab.

Tapi domba-domba itu mengajarinya sesuatu yang lebih penting: bahwa ada

bahasa di dunia yang dimengerti setiap orang, bahasa yang digunakan si bocah

sepanjang waktu saat dia mencoba mengembangkan hal-hal baru di toko kristal

itu. Itulah bahasa gairah, menyangkut hal-hal yang dicapai dengan rasa cinta dan

niat, dan sebagai bagian dari ikhtiar mencari sesuatu yang diyakini dan diinginkan.

Tangier bukan lagi kota asing, dan dia merasa bahwa, sebagaimana dia

menaklukkan tempat ini, dia sanggup menaklukkan dunia.

"Jika kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan membantumu

mencapainya," kata raja tua itu.

Tapi sang raja tua tidak bilang apa-apa tentang dirampok, atau tentang gurun

pasir yang menghampar tak berbatas, atau tentang orang-orang yang tahu impian-

impian mereka tapi tidak mau mewujudkannya. Raja tua itu tidak mengatakan

padanya bahwa Piramida hanyalah tumpukan batu, atau bahwa setiap orang dapat

membuatnya di halaman rumahnya. Dan dia lupa menyebut bahwa kalau kita

punya uang yang cukup untuk membeli kawanan domba yang lebih besar daripada

yang pernah kita miliki, maka kita perlu membelinya.

Si bocah mengambil kantongnya dan memasukkannya bersama dengan barang-

barangnya yang lain. Dia menuruni tangga dan mendapati pedagang itu sedang

radikal collection

melayani sepasang orang asing, sementara dua pembeli lainnya berjalan

menghampiri toko, ingin minum teh dari gelas-gelas kristal. Pagi ini lebih ramai

daripada biasanya. Dari tempatnya berdiri, untuk pertama kalinya dia melihat

rambut pedagang tua itu sangat mirip dengan rambut sang raja tua. Dia teringat

senyum penjual manisan, di hari pertamanya di Tangier, saat dia tidak punya apa-

apa untuk dimakan dan tak tahu mau kemana --senyum itu juga seperti senyum

sang raja tua.

Sepertinya dia pernah ke sini dan meninggalkan tandanya, pikirnya. Toh tak satu

pun di antara orang-orang ini pernah bertemu dengan raja tua itu. Padahal, dia

bilang bahwa dia selalu muncul untuk membantu orang-orang yang berusaha

mewujudkan Legenda Pribadi mereka.

Dia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal pada si pedagang kristal. Dia tidak

ingin menangis dengan dilihat orang lain. Dia akan merindukan tempat ini dan

semua hal baik yang pernah dialaminya di sana. Namun dia kini lebih percaya-diri,

dan merasa seakan sanggup menaklukkan dunia.

"Aku akan kembali ke ladang-ladang yang kukenal, untuk memelihara ternakku

lagi." Dia berkata pada dirinya dengan sepenuh keyakinan, tapi dia tak lagi merasa

bahagia dengan keputusannya. Dia telah bekerja setahun penuh untuk mewujudkan

impiannya, dan impiannya itu, detik demi detik, menjadi makin tak penting.

Mungkin karena itu bukanlah impiannya yang sejati.

Siapa tahu.., mungkin lebih baik seperti si pedagang kristal: tak pernah pergi ke

Mekkah, dan hanya menjalani hidupnya dengan menginginkan hal itu, pikirnya,

sekali lagi mencoba meyakinkan dirinya. Tapi saat dia memegang Urim dan

Thummim, mereka mengirimkan kekuatan dan keinginan sang raja tua. Secara

kebetulan --atau mungkin ini adalah pertanda, pikir si bocah-- dia mampir ke kedai

yang pernah dia masuki di hari pertamanya di Tangier. Pencuri itu tidak ada, dan

pemilik kedai membawakan teh untuknya.

Aku selalu dapat kembali menjadi gembala, pikir si bocah. Aku sudah tahu cara

merawat domba, dan aku belum lupa bagaimana melakukannya. Tapi mungkin aku

tak akan pernah lagi mendapat kesempatan untuk pergi ke Piramida di Mesir.

radikal collection

Orang tua itu memakai piringan dada dari emas, dan dia tahu tentang masa laluku.

Dia benar-benar seorang raja, raja yang bijak.

Bukit-bukit Andalusia hanya berjarak dua jam perjalanan, sementara ada gurun

luas membentang antara dia dan Piramida Toh si bocah merasa ada cara lain untuk

melihat situasi dirinya: sebenarnya dia hanya berjarak dua jam dari harta

karunnya..., kenyataan bahwa dua jam itu telah merentang menjadi setahun

penuh bukanlah masalah.

Aku tahu mengapa aku ingin kembali kepada kawanan dombaku, pikirnya. Aku

memahami domba-domba; mereka bukan lagi merupakan masalah, dan mereka

bisa menjadi sahabat. Sementara, aku tidak tahu apakah gurun dapat menjadi

teman, padahal di gurun itulah aku harus mencari harta karunku. Tapi bila aku

tidak mendapatkannya, aku selalu bisa pulang. Toh aku sekarang punya cukup

uang, dan seluruh waktu yang kuperlukan. Jadi, mengapa tidak dicoba?

Tiba-tiba dia merasa sangat bahagia. Dia selalu dapat kembali menjadi gembala.

Dia selalu bisa menjadi penjual kristal lagi. Mungkin dunia punya harta-harta

terpendam lainnya, tapi dia punya satu impian, dan dia telah bertemu dengan

seorang raja. Ini tidak terjadi pada setiap orang!

Dia menyusun rencana saat dia meninggalkan kedai. Dia ingat salah satu dari

pemasok toko itu mengangkut kristal dengan karavan yang melintasi gurun. Dia

menggenggam Urim dan Thummim; karena dua batu itulah dia sekali lagi berada di

jalan menuju harta karunnya.

"Aku selalu berada di tempat yang dekat, saat seseorang ingin mewujudkan

Legenda Pribadinya," raja tua itu pernah berkata kepadanya.

Bagaimana kalau dia mendatangi gudang pemasok kristal dan mencari tahu

apakah Piramida memang sejauh itu?

bangunan yang berbau

binatang, keringat dan debu; bangunan ini separuh gudang, separuh kandang. Aku

tak pernah berpikiran akan berakhir di tempat seperti, pikirnya, sembari

radikal collection

membalik-balik halaman sebuah jurnal kimia. Setelah sepuluh tahun di universitas,

di kandang ternak inilah diriku sekarang.

Tapi dia harus terus. Dia percaya akan pertanda. Sepanjang hidupnya dan

segenap penelitiannya ditujukan untuk mencari satu bahasa sejati di alam

semesta. Pertama-tama dia mempelajari bahasa Esperanto, lalu agama-agama

besar, dan kini dia menekuni alkemi, kimia. Dia mampu berbahasa Esperanto, dia

sangat paham semua agama besar, tapi dia belum juga menjadi ahli kimia,

menjadi alkemis. Dia telah mengungkap kebenaran di balik pertanyaan-pertanyaan

penting, tapi kajian-kajiannya telah membawanya ke titik jauh yang tampaknya

tak sanggup dicapainya. Dia telah berupaya mati-matian untuk membina hubungan

dengan seorang alkemis. Tapi para alkemis adalah orang-orang aneh, yang hanya

memikirkan diri sendiri, dan hampir selalu menolak membantunya. Siapa tahu,

mereka telah gagal mengungkap rahasia Karya Agung --Batu Filsuf-- dan karena

alasan inilah mereka tak mau memaparkan pengetahuan mereka.

Dia telah mengeluarkan banyak harta warisan ayahnya, mencari dengan sia-sia

Batu Filsuf itu. Dia telah menghabiskan begitu banyak waktu di perpustakaan-

perpustakaan besar dunia, dan telah membeli semua buku langka dan terpenting

tentang alkemi. Di satu buku dia membaca bahwa dulu ada alkemis termashur Arab

yang mengunjungi Eropa. Dikatakan bahwa umurnya lebih dari duaratus tahun, dan

bahwa dia telah menemukan Batu Filsuf dan Obat Hidup. Lelaki Inggris itu amat

terkesan dengan kisah tadi. Tapi dia tak pernah mengira bahwa cerita itu bukan

sekadar dongeng, bila seorang temannya --sekembali dari ekspedisi arkeologi di

gurun-- tidak memberitahu dia tentang seorang Arab yang memiliki kekuatan-

kekuatan yang menakjubkan.

"Dia tinggal di oasis Al-Fayoum," tutur temannya itu. "Dan orang-orang bilang

umurnya duaratus tahun, dan bisa mengubah logam apapun menjadi emas."

Orang Inggris itu tak sanggup membendung gairahnya. Dia menunda semua

janjinya dan mengumpulkan semua bukunya yang terpenting, lalu di sinilah dia kini

berada, duduk di dalam gudang yang berdebu dan bau. Di luar, sebuah karavan

besar sedang disiapkan untuk menyeberangi Sahara, dan dijadwalkan melewati Al-

Fayoum.

radikal collection

Aku akan menemukan alkemis terkutuk itu, pikir si orang Inggris. Dan bau

binatang terasa tak terlalu menyengat lagi.

Seorang pemuda Arab, juga membawa banyak bagasi, masuk dan menyapa si

orang Inggris.

"Kamu mau ke mana?" tanya pemuda Arab itu.

"Aku mau ke gurun," jawabnya, kembali ke bacaannya.

Saat ini dia tidak ingin bercakap-cakap. Yang perlu dia lakukan adalah memeriksa

lagi semua yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun, karena alkemis itu

pasti akan mengujinya.

Pemuda Arab itu mengeluarkan buku dan mulai membaca. Buku itu dalam bahasa

Spanyol. Baguslah, pikir si orang Inggris. Dia lebih paham bahasa Spanyol daripada

Arab, dan, kalau anak ini mau ke Al-Fayoum, akan ada orang yang bisa diajak

ngobrol saat tidak ada hal-hal penting yang dikerjakan.

membaca adegan

pemakaman yang memulai buku itu. "Sudah dua tahun aku mencoba untuk

membaca buku ini, dan aku tidak pernah bisa melewati halaman-halaman pertama

ini." Bahkan tanpa ada seorang raja yang menyela pun dia tidak mampu

berkonsentrasi.

Dia masih bimbang dengan keputusan yang diambilnya. Tapi dia sudah bisa

memahami satu hal: membuat keputusan hanyalah permulaan. Bila seseorang

membuat keputusan, sebenarnya dia menyelam ke dalam arus kuat yang akan

membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah dia impikan saat pertama kali

membuat keputusan itu.

Waktu aku memutuskan untuk mencari harta karunku, pikirnya, aku tak pernah

membayangkan bakal berakhir dengan bekerja di sebuah toko kristal Dan

bergabung dengan karavan ini mungkin merupakan keputusanku, tapi kemana

karavan ini akan menuju masih merupakan misteri bagiku.

radikal collection

Di dekatnya ada lelaki Inggris, membaca buku. Kelihatannya dia tidak ramah, dan

tampak terganggu saat si bocah masuk. Mereka mungkin bisa menjadi teman, tapi

orang Inggris itu menutup pintu percakapan.

Si bocah menutup bukunya. Dia merasa enggan melakukan apa yang membuatnya

akan tampak seperti orang Inggris itu. Dia mengambil Urim dan Thummim dari

sakunya, dan mulai bermain dengan mereka.

Orang asing itu berteriak, "Urim dan Thummim!"

Secepat kilat si bocah memasukkan keduanya kembali ke sakunya.

"Batu-batu ini tidak dijual," katanya.

"Mereka tak terlalu berharga," jawab lelaki Inggris itu. "Mereka hanya terbuat dari

batu kristal, dan ada jutaan batu kristal di bumi. Tapi orang-orang yang paham hal-

hal semacam ini pastilah tahu bahwa batu-batu itu adalah Urim dan Thummim. Aku

tidak menyangka batu-batu itu ada di wilayah ini."

"Aku mendapatkannya sebagai hadiah dari seorang raja," kata si bocah.

Orang asing itu tidak menyahut; dia cuma memasukkan tangannya ke kantongnya

dan mengeluarkan dua batu yang sama seperti milik si bocah.

"Kamu tadi menyebut-nyebut raja?" tanyanya.

"Mungkin kamu tidak percaya ada raja yang mau bicara dengan orang seperti aku,

seorang gembala," katanya, ingin mengakhiri percakapan.

"Sama sekali tidak Para gembalalah yang pertama kali mengakui seorang raja

ketika seluruh dunia tak mau mengakui. Jadi, tidak mengherankan kalau raja-raja

mau bicara dengan para gembala."

Dan dia meneruskan, khawatir si bocah tidak memahami ucapannya. "Itu ada di

Alkitab. Buku yang sama yang mengajariku tentang Urim dan Thummim. Batu-batu

ini merupakan satu-satunya bentuk keilahian yang diizinkan oleh Tuhan. Para imam

membawa mereka dalam piringan emas penutup dada."

radikal collection

Si bocah tiba-tiba merasa gembira berada di gudang itu. "Barangkali ini adalah

sebuah pertanda," kata orang Inggris, setengah berteriak.

"Siapa yang memberitahumu tentang pertanda?" keingintahuan si bocah

meningkat sejak itu.

"Segala sesuatu di dunia adalah pertanda," kata orang

Inggris, sekarang menutup jurnal yang sedang dibacanya. "Ada bahasa universal,

dimengerti oleh setiap orang, tapi sudah dilupakan. Aku sedang mencari bahasa

universal itu, antara lain. Itulah sebabnya aku di sini. Aku harus mencari orang

yang tahu tentang bahasa universal itu. Seorang alkemis, ahli kimia."

Percakapan mereka tersela oleh pemilik gudang.

"Kalian beruntung, kamu berdua," kata orang Arab gemuk itu. "Ada karavan yang

berangkat ke A1-Fayoum hari ini."

"Tapi aku mau ke Mesir," kata si bocah.

"Al-Fayoum itu di Mesir," kata orang Arab itu. "Orang Arab macam apa kau ini?"

"Itu pertanda baik," kata si orang Inggris, setelah orang Arab gemuk itu pergi.

"Kalau bisa, aku ingin menulis ensiklopedi yang sangat besar hanya tentang kata

keberuntungan dan kebetulan. Dengan kata-kata itulah babasa universal ditulis."

Dia berkata pada si bocah bahwa bukanlah kebetulan dia bertemu dengannya,

dengan Urim dan Thummim di tangannya. Dan dia menanyakan si bocah apakah dia

pun sedang mencari alkemis itu.

"Aku sedang mencari harta karun," kata si bocah, dan segera menyesal telah

mengungkapkannya. Tapi lelaki Inggris itu tampak tak terlalu menaruh perhatian.

"Dalam satu hal, aku juga," katanya.

"Aku bahkan tidak tahu apa itu alkemi," kata si bocah, ketika pemilik gudang

memanggil mereka keluar.

. "Aku

memegang kendali atas hidup dan mati setiap orang yang bersamaku. Gurun pasir

itu seperti perempuan yang tak terduga, dan kadang ia membikin lelaki gila."

Ada hampir duaratus orang berkurnpul di sana dan empatratus hewan --onta,

kuda, keledai, dan unggas. Dalam kerumunan ada perempuan, anak-anak, dan

sejumlah lelaki dengan pedang di pinggang dan senapan di bahu mereka. Orang

Inggris itu membawa beberapa kopor penuh buku. Suasananya bising, sehingga sang

pemimpin harus mengulang perkataannya beberapa kali supaya setiap orang

mengerti.

"Ada berbagai macam orang, dan setiap orang mempunyai Tuhannya masing-

masing. Tapi Tuhan yang kusembah adalah Allah, dan dengan namaNya aku

bersumpah akan sekali lagi melakukan segala yang mungkin untuk mengalahkan

gurun. Tapi aku ingin setiap orang dari kalian semua berjanji kepada Tuhan yang

kalian percayai bahwa kalian akan mengikuti apapun yang kuperintahkan. Di gurun,

pembangkangan berarti kematian."

Terdengar gumaman di kerumunan itu. Seriap orang berjanji dalam diam kepada

Tuhan mereka masing-masing. Si bocah berjanji pada Yesus Kristus. Orang Inggris

itu tidak mengatakan apapun. Dan gumam-gumam itu berlangsung lebih lama

daripada sekadar sumpah. Orang-orang juga memanjatkan doa minta perlindungan.

Nada panjang terdengar dari terompet, dan semua orang bergegas. Si bocah dan

orang Inggris telah membeli onta, dan dengan ragu-ragu menaiki punggungnya. Si

bocah merasa kasihan pada onta orang Inggris itu, karena harus membawa banyak

kopor buku.

"Tak ada hal yang kebetulan," kata si orang Inggris, menyambung percakapan

yang terputus di gudang tadi. "Aku ke sini karena seorang kawanku mendengar

tentang seorang Arab yang ...."

Tapi karavan mulai bergerak, dan tak mungkinlah mendengar apa yang dikatakan

lelaki Inggris itu. Namun si bocah tahu apa yang hendak dia ungkapkan: rantai

misterius yang menghubungkan satu hal dengan hal lain, rantai serupa yang

radikal collection

menyebabkan dia menjadi gembala, yang menyebabkan mimpinya berulang, yang

membawanya ke sebuah kota di dekat Afrika, bertemu seorang raja, dan dirampok

hanya untuk bertemu dengan seorang pedagang kristal, dan ....

Semakin dekat seseorang ke pewujudan Legenda Pribadinya, semakin besar

Legenda Pribadinya menjadi alasan utamanya untuk hidup, pikir si bocah.

Karavan bergerak ke arah timur. Karavan itu berjalan pagi, berhenti saat

matahari sedang terik-teriknya, dan melanjutkan perjalanan sore hari. Si bocah

bicara sebentar dengan orang Inggris, yang menghabiskan sebagian besar waktu

dengan buku-bukunya.

Si bocah diam-diam mengamati progres hewan dan orang-orang yang melewati

gurun itu. Sekarang semuanya sangat berbeda dari keadaan saat mereka

berangkat: waktu itu ada kebingungan dan teriakan, tangisan anak-anak dan

lenguh hewan-hewan, semuanya bercampur dengan perintah-perintah gugup para

pemandu dan pedagang.

Tapi, di gurun, yang terdengar hanya suara angin yang tak henti, dan irama kaki

hewan-hewan. Bahkan para pemandu hanya bicara sepatah-dua kata antara

sesamanya.

"Aku sering menapaki pasir ini," kata salah seorang penunggang onta suatu

malam. "Tapi gurun ini begitu luas, dan kaki langit begitu jauh, sehingga membuat

orang merasa kecil, dan seakan dia harus tetap diam."

Si bocah mengerti secara naluriah apa yang dimaksud, walau dia sebelumnya tak

pernah menginjakkan kaki di gurun. Setiap dia melihat laut, atau api, dia terdiam,

terpana oleh kekuatan dasar mereka.

Aku telah belajar banyak hal dari dornba-domba, dan aku telah belajar banyak

hal dari kristal-kristal, pikirnya. Aku dapat pula belajar sesuatu dari gurun. Ia

tampak tua dan bijak.

Angin tak pernah berhenti, dan si bocah ingat hari ketika dia duduk di benteng di

kota Tarifa dengan angin yang sama ini menerpa wajahnya. Ini mengingatkannya

radikal collection

pada wol dari domba-dombanya..., domba-dombanya yang kini mencari makanan

dan air di ladang-ladang Andalusia, seperti selalu mereka lakukan.

"Mereka bukan domba-dombaku lagi," katanya pada dirinya, tanpa kerinduan.

"Mereka pasti sudah terbiasa dengan gembala baru mereka, dan mungkin sudah

melupakanku. Itu bagus. Mahluk seperti domba, yang terbiasa berkelana, paham

tentang langkah tanpa jeda."

Dia memikirkan puteri pedagang kain itu dan yakin dia mungkin sudah menikah.

Mungkin dengan seorang tukang roti, atau dengan gembala yang dapat membaca

dan bisa menceritainya kisah-kisah yang memikat --bagaimanapun, dia bukanlah

satu-satunya lelaki. Tapi dia merasa gembira akan pemahaman naluriahnya atas

komentar penunggang onta itu: mungkin dia juga sedang belajar bahasa universal

yang berhubungan dengan masa silam dan masa kini setiap orang. "Firasat," begitu

ibunya biasa menyebutnya. Si bocah mulai mengerti bahwa sebenarnya intuisi

adalah penceburan mendadak suatu jiwa ke dalam arus kehidupan universal,

tempat terhubungnya sejarah semua orang, dan kita bisa mengetahui semua hal,

karena semuanya sudah tertulis di sana.

"Maktub," ucap si bocah, teringat pedagang kristal itu.

Gurun adalah hamparan pasir di beberapa tempat, dan bebatuan di tempat-

tempat lainnya. Jika karavan terhalang oleh batu besar, ia harus mengitarinya; bila

ada daerah bebatuan yang luas, mereka harus melakukan putaran besar. Kalau

pasir terlalu lunak bagi kuku-kuku hewan, mereka mencari jalan yang tanahnya

lebih keras. Di beberapa tempat, permukaan tertutup oleh garam dari bekas

danau-danau yang mengering. Hewan-hewan mogok di tempat-tempat seperti itu,

dan para penunggang onta terpaksa turun dan mengurangi beban mereka. Para

penunggang itu membawa sendiri barang-barang mereka melalui pijakan-pijakan

yang berbahaya, dan kemudian memuati lagi onta-onta itu. Bila seorang pemandu

jatuh sakit atau meninggal, para penunggang onta harus mengadakan undian dan

memilih pemandu baru.

Tapi semua ini terjadi karena satu alasan dasar: tak peduli berapa banyak jalan

putaran dan penyesuaian-penyesuaian yang dibuat, karavan-karavan itu teras

radikal collection

berjalan menuju titik kompas yang sama. Begitu rintangan-rintangan teratasi, ia

kembali ke jalannya, melihat bintang yang menunjukkan lokasi oasis. Saat orang

melihat bintang itu bersinar di langit pagi, mereka tahu mereka berada di jalur

yang benar menuju air, pohon-pohon palem, tempat berteduh, dan orang-orang

lain. Hanya orang Inggris yang tidak menyadari semua ini; dia, sepanjang waktu,

membenamkan diri dalam buku-bukunya.

Si bocah juga punya buku, dan dia mencoba membacanya selama hari-hari

pertama perjalanan. Tapi dia merasa lebih tertarik mengamati karavan itu dan

mendengarkan angin. Segera setelah dia mengenal ontanya, dan menjalin

hubungan dengannya, dia membuang bukunya. Meski si bocah telah

mengembangkan suatu tahayul bahwa setiap dia membuka bukunya dia akan

belajar sesuatu yang penting, dia memutuskan bahwa buku itu adalah sebuah

beban yang tak perlu.

Dia menjadi akrab dengan penunggang onta yang berjalan di sebelahnya. Di

malam hari, ketika mereka duduk mengelilingi api unggun, si bocah menceritakan

pada penunggang itu pengalaman-pengalamannya sebagai gembala.

Pada salah satu percakapan, penunggang tadi bercerita tentang kehidupannya

sendiri.

"Aku dulu tinggal di dekat El Cairum," katanya. "Aku punya kebun anggrek, anak-

anak, dan kehidupan yang tampaknya tak akan berubah sampai aku mati. Suatu

tahun, ketika terjadi panen terbaik, kami semua pergi ke Mekkah, dan aku

memenuhi satu-satunya kewajiban yang belum kulaksanakan dalam hidupku. Aku

dapat meninggal dengan bahagia, dan hal itu membuatku merasa nyaman.

"Suatu hari, bumi berderak, dan Nil meluap. Selama ini kupikir itu hanya dapat

terjadi pada orang lain, tak akan pernah pada diriku. Para tetanggaku takut

kehilangan pohon-pohon zaitun mereka karena banjir itu, dan isteriku takut kami

kehilangan anak-anak kami. Kurasa semua yang kumiliki akan musnah."

"Lahanku rusak, dan aku harus mencari pekerjaan lain untuk mendapatkan nafkah

hidup. Maka sekarang aku jadi penunggang onta. Tapi bencana itu mengajariku

radikal collection

untuk memahami firman Allah: orang tidak perlu takut pada hal yang tak dikenal

bila mereka sanggup meraih apa yang mereka butuhkan dan inginkan.

"Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita ataupun barang-

barang dan tanah kita. Tapi ketakutan ini lenyap saat kita memahami bahwa kisah

hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh tangan yang sama."

Sesekali, karavan mereka berpapasan dengan karavan lain. Yang satu selalu

memiliki sesuatu yang dibutuhkan yang lain --seolah segalanya memang telah

disuratkan oleh satu tangan. Saat mereka duduk mengelilingi unggun, para

penunggang onta saling bertukar kabar tentang badai, dan menuturkan kisah-kisah

tentang gurun.

Di saat lain, muncul orang-orang misterius yang berkerudung; mereka adalah

orang-orang Badui yang mengawasi jalan sepanjang rute karavan. Mereka memberi

peringatan tentang para perompak dan suku-suku buas. Mereka datang dan pergi

secara diam-diam, mengenakan pakaian hitam yang hanya memperlihatkan mata

mereka. Suatu malam, seorang penunggang onta mendatangi api unggun tempat

orang Inggris dan si bocah duduk. "Ada isu tentang perang suku," ungkapnya kepada

mereka.

Ketiganya terdiam. Si bocah merasakan adanya rasa takut di udara, meski tak

seorang pun yang mengatakan sesuatu. Sekali lagi dia mengalami bahasa tanpa

kata-kata... bahasa universal.

Orang Inggris itu bertanya apakah mereka dalam bahaya.

"Sekali kau masuk ke dalam gurun, tak ada jalan untuk kembali," ujar penunggang

onta itu. "Dan, bila kau tak dapat kembali, yang harus kau pikirkan hanyalah jalan

terbaik untuk bergerak ke depan. Selanjutnya terserah Allah, termasuk bahaya."

Dan dia menyimpulkan dengan mengucapkan kata misterius itu: "Maktub."

"Kamu harus lebih memperhatikan karavan," kata si bocah pada lelaki Inggris itu,

setelah si penunggang onta pergi. "Kita melewati banyak jalan memutar, tapi kita

selalu mengarah ke tujuan yang sama."

radikal collection

"Dan kamu harus membaca lebih banyak tentang dunia," jawab orang Inggris.

"Dalam hal ini buku-buku itu seperti karavan."

Himpunan orang dan hewan-hewan mulai berjalan lebih cepat. Hari-hari

sebelumnya selalu redam, tapi sekarang, bahkan di malam hari --saat para

pengembara biasanya mengobrol di sekitar api unggun-- pun senyap. Dan, suatu

hari, pemimpin karavan memutuskan bahwa api unggun tidak boleh lagi

dinyalakan, supaya tidak menarik perharian orang ke karavan.

Para pengembara itu mengikuti kebiasaan dengan menata hewan-hewan menjadi

lingkaran di malam hari, tidur bersama di tengah-tengahnya untuk berlindung dari

dinginnya malam. Dan sang pemimpin menyebar para pengawal bersenjata di

pinggiran kelompok.

Suatu malam orang Inggris itu tidak bisa ridur. Dia memanggil si bocah, dan

mereka berjalan-jalan di bukit-bukit pasir yang mengitari tempat perkemahan.

Saat itu bulan purnama, dan si bocah menuturkan kisah hidupnya kepada lelaki

Inggris itu.

Si orang Inggris terpesona pada bagian kerika toko kristal itu mencapai kemajuan

setelah si bocah mulal bekerja di sana.

"Itulah prinsip yang mengatur semua hal," katanya. "Dalam alkemi, itu disebut

Jiwa Buana. Bila kamu menginginkan sesuatu dengan segenap hatimu, itulah saat

terdekatmu dengan Jiwa Buana. Ia selalu merupakan kekuatan yang positif."

Dia juga berkata bahwa ini bukanlah berkah bagi manusia semata, bahwa segala

yang ada di muka bumi ini mempunyai jiwa, entah itu mineral, sayuran, ataupun

hewan --atau bahkan sekadar pemikiran sederhana.

"Segala yang ada di dunia berubah tanpa henti, karena bumi ini hidup.., dan

mempunyai jiwa. Kita adalah bagian dari jiwa itu, maka kita jarang menyadari

bahwa ia bekerja untuk kita. Tapi di toko kristal itu kamu mungkin menyadari

bahwa gelas-gelas pun bekerja sama dalam suksesmu."

radikal collection

Si bocah merenungkan hal itu sejenak saat ia memandang bulan dan putihnya

pasir. "Aku telah melihat karavan saat ia menyeberangi gurun," katanya. "Karavan

dan gurun berbicara dalam bahasa yang sama, dan dengan alasan itulah gurun

mengizinkan penyeberangan itu. Ia akan menguji setiap langkah karavan untuk

melihat apakah karavan itu tepat waktu, dan, jika tepat, kita akan sarnpai ke

oasis."

"Bila salah satu dari kita mengikuti karavan ini hanya berdasarkan keberanian

pribadi, tapi tanpa memahami bahasa itu, perjalanan ini akan jauh lebih sulit."

Mereka berdiri di sana memandang bulan.

"Itulah keajaiban pertanda," kata si bocah. "Aku pernah melihat bagaimana para

pemandu membaca tanda-tanda gurun, dan bagaimana jiwa karavan berbicara

kepada jiwa gurun."

Orang Inggris itu berkata, "Sebaiknya aku memberi lebih banyak perhatian pada

karavan."

"Dan sebaiknya aku membaca buku-bukumu," kata si bocah.

bicara tentang air raksa,

garam, naga-naga, dan raja-raja , dan tak satu pun yang dia pahami. Tapi ada satu

ide yang tampak terus berulang di semua buku itu: segenap benda merupakan

perwujudan dari satu hal saja.

Pada salah satu buku dia membaca bahwa teks terpenting dalam kepustakaan

alkemi hanya memuat beberapa baris, dan tergurat di permukaan sebutir zamrud.

"Itu adalah Tablet Zamrud," kata orang Inggris itu, bangga karena merasa dapat

mengajari sesuatu pada si bocah.

"Kalau begitu, mengapa kita memerlukan buku-buku ini?" tanya si bocah.

"Supaya kita dapat memahami beberapa baris itu," jawabnya, tanpa terlihat

benar-benar yakin akan apa yang dikatakannya.

radikal collection

Buku yang paling menarik perhatian si bocah memuat cerita-cerita tentang

keluarga para alkemis yang termashur. Mereka adalah orang-orang yang

membaktikan seluruh hidup mereka untuk pemurnian logam-logam di laboratorium

mereka; mereka yakin bahwa jika suatu logam dipanaskan selama beberapa tahun,

ia akan membebaskan diri dari semua sifat individualnya, dan yang akan tertinggal

adalah Jiwa Buana. Jiwa Buana itu memungkinkan mereka memahami segala

sesuatu di muka bumi, sebab dengan bahasa inilah segala sesuatu berkomunikasi.

Mereka menamakan penemuan itu Karya Agung --sebagian cair, sebagian padat.

"Tidak dapatkah kamu sekadar mengamati orang dan tanda-tanda untuk

memahami bahasa itu?" tanya si bocah.

"Kamu ini gandrung menyederhanakan semua hal," jawab si orang Inggris, jengkel.

"Alkemi adalah ilmu yang serius. Setiap langkah harus diikuti dengan tepat seperti

yang dilakukan oleh para pakar besar itu."

Si bocah belajar bahwa bagian cair dari Karya Agung tadi dinamakan Obat Hidup,

dan bahwa ia dapat menyembuhkan semua penyakit; ia juga membuat sang

alkemis tidak menjadi tua. Dan bagian padatnya dinamakan Batu Filsuf.

"Tidak mudah menemukan Batu Filsuf itu," ujar si orang Inggris. "Para alkemis

menghabiskan waktu bertahun-tahun di laboratorium mereka, mengamati api yang

memurnikan logam-logam itu. Mereka menghabiskan begitu banyak waktu di dekat

api itu hingga berangsur-angsur mereka menghilangkan kecongkakan-kecongkakan

dunia. Mereka menemukan bahwa pemurnian logam-logam itu mengarah pada

pemurnian terhadap diri mereka sendiri."

Si bocah teringat pada pedagang kristal itu. Dia pernah berkata bahwa baguslah

bagi si bocah untuk membersihkan barang-barang kristal, supaya dia mampu

membebaskan dirinya sendiri dari pikiran-pikiran negatif. Si bocah makin

bertambah yakin bahwa alkemi dapat dipelajari dalam kehidupan sehari-hari

seseorang.

"Juga," kata si orang Inggris, "Batu Filsuf memiliki sifat yang menakjubkan. Seiris

kecil batu itu mampu mengubah sejumlah besar logam menjadi emas."






Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified