HOME

Sunday, July 10, 2011

Sepagi Itu Kita Berpisah

Penulis: Marga T.

SEPAGI ITU KITA BERPISAH
Buku Kedua

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1994
SEPAGI ITU KITA BERPISAH - buku kedua oleh Marga T. GM 401 94.977 © Penerbit FT Gramedia Pustaka Utama, JL Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270 Sampul dikerjakan oleh David Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta. September 1994
Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) MARGA T.
Sepagi itu lata berpisah / Marga T. — Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1994. 384 him. ; 18 cm.
ISBN 979-511-975-3 (no. jil. lengkap) ISBN 979-511-977-X (jil. 2)



Bab 1
Sabtu itu cuaca cerah, langit biru berawan putih menyebabkan udara tidak terlalu panas. Di luar jendela terdengar burung-burung berkicau riuh, aneka ragam bunyinya. Triska mengenali suara murai seperti yang didengarnya di kebun mertua-nya di Depok. Ayah Deni penggemar burung, peli-haraannya belasan jumlahnya, semua terawat baik dalam sangkar yang luas.
Hari ini aku akan pulang ke rumah, pikir Triska Omega dengan gembira. Aku akan membawa pulang bayiku! Aku takkan pern ah kesepian lagi. Hi-dupku akan sempurna. Semua naluri kewanitaanku sudah terpenuhi, tak ada alasan bagiku untuk me-nyesali keadaan.
Triska berdiri di depart jendela kamarnya di tingkat tiga. Nun di bawah dilihatnya kebun bunga yang cantik, aneka warna kembang sari memukau pandangannya membuatnya memuji kebesaran Tu-han. Bagaimana caranya Dikau dapat menciptakan beribu jenis bunga serta tanaman? Manusia sudah singgah ke bulan, akan tetapi sepotong bunga pun tak mampu kita buat, jangan bilang lagi beribu
jenis tanaman serta binatang. Dan hari ini Tuhan berkenan mengizinkan aku pulang! Membawa bayiku!
Angin berembus sepoi. meliukkan batang-batang cemara yang tinggi menggapai langit. Ah, betapa aku pernah khawatir bayiku takkan selamat atau takkan diselamatkan! Lamat-lamat serasa masih di-dengarnya dengung suara suaminya pada Dokter Kamal sesaat sebelum dia dibius, "Dok, kalau ada kesulitan, istri say a jadi prioritas!" Untunglah tak ada kesulitan. Terima kasih, Tuhan.
Bayinya temyata sehat, montok, dan tampan, tidak seperti monyet! Triska tersenyum dalam hati. O, ya, aku tahu seperti apa bayi-bayi yang barn lahir itu. Terkadang, malah sering, rupa mereka tak ada bedanya dengan bayi orang utan, terlebih kalau prematur. Untunglah, bayinya—yang belum bernama itu—tidak berkerut-kerut seperti anak go-rila! Triska tersenyum dengan hati meluap penuh bahagia, serasa tak ada kesulitan apa pun dalam hidupnya.
Sekarang setelah aku merasakan kebahagiaan sebagai seorang ibu, semakin aku yakin apa yang hams kulakukan, pikirnya. Aku takkan menyesali siapa pun, tidak juga nasibku. Semuanya akan ku-pasrahkan pada Tuhan. Dikaulah yang akan mem-bimbingku, terjadilah padaku seperti kehendak-Mu. Semua memang miiik-Mu. Manusia tidak bisa me-miliki apa-apa, baik harta maupun suami, istri, atau anak. Semuanya milik-Mu. Aku tak pernah memiliki Deni, seperti dia juga tak pernah memi-
liki diriku. Dan anak kami ini juga bukan milik kami, cuma dititipkan oleh Tuhan untuk dirawat oleh kami atau untuk diambil kembali bila its' berkenan pada-Nya. "Dokter Tris!"
Triska terkejut lalu menoleh. Rupanya ia terlalu asyik dengan lamunannya sehingga tidak didengar-nya pintu dibuka serta langkah kaki perawat meng-hampirinya. Wajah Triska yang tadi sedikit kaget serta-merta berubah cerah melihat selimut biru muda yang membungkus gendongan dalam pelukan Suster Narti.
"Sudah waktunya minum lagi, Dok," ujar perawat setengah umur itu seraya tersenyum menyo-rongkan gendongannya.
Triska mengangguk tersenyum dan mengulurkan kedua lengannya untuk menyambut bayinya yang kini membuka matanya dan mulai menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
"Sudah mulai tahu dia, siapa yang menggen-dongnya," ujar Suster Narti seraya mencubit pipi kecil itu dengan gemas. "Saya tinggal dulu, ya, Dok."
Triska mengangguk, lalu berjalan ke kursi yang terletak di sudut, agak teduh, terlindung dari silau matahari sebab di sampingnya terdapat tirai tebal berwarna hijau. Tirai itu tak pernah ditarik untuk menutupi jendela, tapi dibiarkan terbuka, berkum-pul di kiri-kanan. Triska menjatuhkan diri pelan-pelan (perutnya masih terasa nyeri bila terkena guncangan, luka operasinya belum pulih betul) ke
atas tarsi sementara perawat membuka pintu dan keluar kamar.
Sementara bayinya menyusu, Triska tak puas-puasnya mengagumi putranya. Dielusnya rambut-nya yang hitam, dibelainya telinga yang mungil dan sempurna, ditelusurinya alis mata yang hitam samar, disentuhnya hidung yang mungil bagaikan kuntum mawar, dipegangnya tangan-tangan mungil, diperhatikannya satu-satu jari-jari yang begitu mungil namun begitu sempuma dan cantik, diraih-nya juga kedua kaki-kaki mungil yang terbalut kaus kaki biru muda dan digenggamnya erat-erat. Aduh, kecilnya, pikirnya kagum dan bahagia. Muat dalam genggamanku! Tapi kelak sepatunya akan bemomor 43 seperti ayahnya! Ini anakku! Buah hatiku! Buah cinta kita, Den. Cuma, masa-lahnya, bagimu bukan buah cinta, melainkan... apa? Buah kecelakaan? Karena tidak menyangka ini bakal terjadi, kita teledor... Itukah pendapatmu, Den? Manusia kecil yang begini memikat hati, yang begini tampan, tidak diharapkan kehadiran-j nya? Dianggap merupakan komplikasi?
Triska mengepalkan tinju anaknya. Sebesar tinju-mu ini jantungmu. DiJetakkannya ujung telapak ta-ngannya di atas dada anaknya Jantungmu berdenyut begitu teratur, begitu kuat, dan akan setia berdenyut untukmu sampai kau tua renta. Ujung telunjuknya menelusuri alis mata anaknya. Alismu akan hitam tebal seperti alis ayahmu. Dielusnya pipi yang ke-rah-merahan. Kau akan menjadi perjaka tampan, kau adalah keajaiban dunia yang kedelapan!
***
Kira-kira sejam setelah Suster Narti kembali un-tuk mengambil sang bayi dari ibunya, Deni mun-cul untuk menjemput Triska.
"Sudah siap, Tris?" tanyanya seraya menunduk mau mengecupnya. Triska cepat-cepat mengangguk sehingga kecupan itu melewati sasaran. "Sejak tadi," sahutnya lalu berputar sehingga cekalan Deni pada kedua lengannya terpaksa dilepas. Triska pura-pura membukai laci-laci untuk memeriksa jangan sampai ada barang yang ketinggalan. Pada-hal ia sudah tahu, semua laci itu sudah kosong. Setelah semua laci diperiksa, tak ada lagi alasan-nya untuk menghindari Deni. Triska berdiri diam di dekat ranjang, tak tahu hams bilang apa.
"Oke, kalau sudah beres, mari kita segera berang-kat," ajak Deni seraya meraih dan menggandengnya. Triska tak bisa menghindar.
Deni menjinjing tas pakaian dengan sebelah ta-ngan sementara tangan yang lain dikalungkannya ke bahu istrinya. Berdua mereka pamitan kepada para perawat. Mereka semua mengelu-elukannya, memberinya selamat jalan, lalu Suster Kepala mengantar mereka ke bangsal bayi tempat Suster Narti sudah siap, sudah memandikan serta men-dandani putra Dokter Melnik. Suster Narti mem-bopong sang bayi sampai ke mobil dan bam me-nyerahkannya pada Triska setelah ia duduk dalam mobil. Setelah saling memberi lambaian, mobil pun meluncur disaksikan oleh Suster Narti dan Suster Kepala.
Ketika mobil hampir mendekati gerbang kedua, barulah Triska membuka mulut. "Aku ingin pulang dulu ke rumah orangtuaku, Den."
Deni rupanya tercengang sebab ia segera meno-leh dengan bibir menganga sementara tangannya kelihatan mencengkeram setir erat-erat padahal ta-di cuma memegang biasa.
"Kau nggak mau pulang ke rumah?" tanyanya sambil menatap Triska dengan heran. Yang dita-nya cuma menggeleng sambil cepat-cepat mele-ngos ke samping pura-pura memperhatikan lalu lintas.
Setelah memandang Triska beberapa menit, akhimya kedengaran Deni menarik napas. Menye-rah. "Oke, akan kuantarkan kau ke rumah orang-tuamu. Mungkin memang lebih baik bagimu diam di sana dulu. Ibumu pasti akan bisa merawatmu lebih baik dari aku...."
Triska menyentuh lengan Deni perlahan. "Bukan itu sebabnya. Aku cuma ingin... yah, dimanja lagi oleh ibuku." Triska mencoba tertawa kecil sekadar mencairkan suasana yang sedikit tegang.
"Aku juga bisa memanjakanmu!" tukas Deni, mungkin sedikit tersinggung. "Apa selama ini aku kurang memanjakanmu?"
"Tentu saja nggak, tapi kau kan perlu dinas. Kalau kau sudah berangkat kerja, dengan siapa aku di rumah? Seharian nggak ada orang yang akan memperhatikanku dan menyibukkan diri un-tukku. Aku pasti akan kesepian. Bi Rinai memang cukup perhatian, tapi rasanya tetap nggak sama
dengan ibu sendiri...." Huh! Kenapa aku hams " menerangkan panjang-lebar alasanku mau pulang ke orangtua? Seharusnya sepatah kata saja sudah cukup untuk penjelasan. Sebut saja Odi, dia pasti akan mengerti alasanku, pikir Triska pahit.
"Oke, oke, no problem. Aku mengerti." Deni mengangguk dan menatap Triska sambil tertawa kecil sebelum mengarahkan kembali matanya ke jalan.
Tidak, kau tidak mengerti! kata Triska dalam hati. Kau masih jauh dari mengerti, Dokter De-niano Melnik. Kau sama sekali belum mengerti. Tapi kau akan segera mengerti!
Nyonya Dokter Omega, ibu Triska, tidak kelihatan kaget menyambut kedatangan mereka, sebab Triska rupanya sudah menyampaikan niatnya itu jauh-jauh hari pada salah satu kunjungan ibunya ke rumah sakit.
"Kamarmu sudah Mama siapkan di loteng. Atau kau lebih suka kamar di bawah?" tanya ibunya seraya membopong cucunya.
"Lebih baik tidur di bawah, Tris," Deni mena-sihati. "Supaya otot-otot pemtmu nggak terlalu di-pengamhi."
"Luka OP ini sudah nggak sakit, kok. Biar di atas saja, Mam. Supaya bisa melihat jauh ke kebun belakang."
Ibunya mengangguk sambil melangkah masuk ke rumah diikuti Triska serta Deni. "Ya, dari kamarmu di atas pemandangannya memang jauh lebih bagus dibanding dari kamar di bawah."
Itu adalah kamarnya sendiri sebelum ia meni-kah. Semua perabot masih terletak di tempat se-mula, tak ada perubahan kecuali di samping ran-jang, dekat tembok, kini terdapat sebuah ranjang kecil berwama putih, kepala dan kaki ranjang ber-bentuk Mickey Mouse.
"Oh, Mam!" sera Triska kegirangan. "Bukan main bagusnya ranjang ini! Terima kasih, Mam."
"Papa sama Mama mencari ubek-ubekan ke se-luruh kota, tapi nggak juga ketemu ranjang yang istimewa. Akhirnya ada yang memberitahu, dan pada toko yang kedelapan inilah kami menemu-kannya. Ini adalah hadiah dari Papa-Mama. Se-mula Kris mau memberimu buaian, tapi Mama bi-lang, buaian itu nggak praktis, terlalu kecil seperti untuk boneka, pasti cuma tahan beberapa bulan. Jadi mereka batal membelinya, dan mau membeli ranjang saja. Tapi Mama bilang, Mama sudah beli ranjang. Mereka terpaksa mencari bar an g lain."
"Untung mereka nggak membeli buaian," tukas Deni. "Saya sudah membelinya."
Triska menoleh dan tertawa. "Apa? Kau... membelinya?" Bukankah kau nggak menyukai anak ini, kenapa sekarang jadi repot?!
"Ya." Deni mengangguk. "Bagus sekali. War-nanya bira, dihiasi lukisan kurcaci di seluruh ping-girannya. Kamar di sebelah kamar kita juga sudah aku ubah, kuberi kertas dinding dengan gambar bebek serta beruang, kuperlengkapi dengan lemari-lemari, meja, dan kursi berwama putih."
Triska menggeleng, dalam had tidak habis me-
ngerti jalan pikiran laki-laki. Tidak suka anak, tapi sekarang malah menyambut kedatangannya secara berlebihan. Triska memang tidak menyiapkan kamar khusus bagi anaknya, sebab pertama, ia kha-watir Deni akan kurang senang atau paling sedikit, akan merasa tertekan bila diingatkan bahwa kebe-basan yang direncanakannya setelah warisan diper-olehnya, temyata takkan bisa didapatnya kembali. Kedua, sebab ia sudah punya rencana untuk tidak kembali ke rumah mereka! Jadi kamar untuk anaknya itu akan berada di rumah orangtuanya.
Ibu Triska meletakkan cucunya yang sedang le-lap itu di atas kasur lalu menutupinya dengan seli-mut tipis. "Mama masih belum beres di dapur. Kau tenang saja di sini, nggak usah turun. Kita akan makan siang kira-kira sejam lagi, kau belum lapar, kan, Tris, Den?"
"Belum, Mam," sahut keduanya hampir berba-rengan.
"Mana Papa, Mam?" tanya Triska.
"Sedang menengok pasien-pasiennya yang diop-name di rumah-rumah sakit. Tapi dia pasti akan pulang tepat waktu makan. Sudah, ya, Mama ting-gal dulu. Kalau mau minum, itu Papa sudah me-nyediakan kulkas kecil penuh dengan air botol dan soft drink."
Triska mengikuti telunjuk ibunya. Ya, dia keliru tadi ketika menyangka kamarnya tetap tak ber-ubah. Temyata malah tambah perabot. Kulkas kecil di pojok, dekat pintu kamar mandi. Lalu pesa-wat TV kecil di tembok, di depan sofa. TV-nya
malah tidak terlalu kecil. Memang lebih kecil dari TV di ruang keluarga. tapi ini pun paling sedikit 25 inci.
"Bukan main! Seperti hotel kelas satu saja!" ungkap Triska tertawa senang beicampur geli. Ibunya cuma tersenyum, lalu tan pa memberi tanggap-an, keluar kamar dan menu tup pintu.
Deni mengangkat kursi dan meletakkannya di samping ranjang kecil Ia duduk di situ memper-hatikan yang sedang lelap. Triska ikut mengham-piri dan berdiri di sampingnya.
"Cakep, ya?" tercetus olehnya tan pa sengaja.
"Rupanya ibumu sudah tahu kau akan tinggal di sini, kok aku nggak tahu?"
"Aku senang sekali memperhatikan bibirnya yang me rah dan begito mungil."
"Ada apa sebenarnya, Tris? Kenapa kau nggak memberi tahu sejak dulu, kau akan pulang ke siniV
"Aku juga suka sekali dengan hidungnya. Ah, cakepnya!" Triska kedengaran mengeluh bahagia.
"Apakah kau mendengar apa yang kukatakan?"
"Tentu saja"
"Kenapa nggak kaujawab?"
"Sabar. Sebelum kujawab semua pertanyaanmu, lebih dulu harus kita beri anak ini sebuah nama. Kalau berlarut-larut begini, bisa-bisa ibuku nanti menyebutnya 'cucuku' tok dan kelak kalau ditanya orang siapa namanya, bisa-bisa anak kita akan bilang, 'Namaku Cucuku/ Kan gawat!"
"Kau sudah mempunyai ancar-ancar?"
Triska mengangguk tersenyum. "Marco/'
"Marco? Bukankah lebih keren Aleksander?" "Tapi ini dari Marco Polo, petualang yang ku-
kagumi."
"Dan ini dari Aleksander Agung yang juga ku-kagumi."
"Ah, bosan dengarnya, Den. Nama itu sudah pa-saran, nggak ada istimewanya lagi. Sembilan dari sepuluh orangtua yang ingin anak mereka jadi agung, pasti menamakan anaknya Aleksander. Kita kan nggak gila normal seperti itu."
"Tris, Aristoteles kan filosof kesayanganku, dan Aleksander Agung adalah muridnya. Aku pernah bercita-cita, kalau punya anak laki-laki akan kuna-makan begitu."
"Tapi aku juga bercita-cita ingin menamakan anakku Marco. Kalau yang kausayangi adalah guru-nya, kenapa harus memakai nama muridnya? Aristoteles lebih bagus, atau lebih orisinal lagi Aristo."
"Bagaimana kalau Ariston?"
"Nanti dia diolok-olok kawan-kawannya, 'Kenapa namamu bukan Modena saja?!'"
"Ariston itu bukan cuma merek mesin cuci dan dapur, Tris. Ariston adalah seorang filosof Yunani dari abad ketiga sebelum Masehi. Memang nggak begitu terkenal seperti Socrates atau Plato, tapi beberapa teorinya sangat menarik, nanti deh ku-ceritakan."
"Jadi kauganti Aleksander dengan Ariston?"
"Aleksander dan Aristo. Aku rasa lebih baik Aristo saja, untuk mencegah dia diejek kawan-kawannya. Aristo dari Aristoteles."
"Nggak terlalu berat jadinya bagi anak kita? Orang Jepang bilang, orangtua memberikan nama dengan harapan anak mereka akan hidup sesuai dengan namanya atau merealisasi apa yang tersirat dalam nama itu. Rasanya terlalu berat bila anak kita diharapkan akan menjadi filosof dan sekaligus jenderal... jenderal besar! Belum lagi ditambah Marco. Filosof, jenderal, dan petualang...." Triska mendecak geli. "Apakah tiga nama nggak terlalu banyak?" Tapi kalau aku sudah mengalah dan menerima Alek, kau juga hams menerima Marco, dong."
"Bukan Alek, Tris, tapi Aleksander. Nggak bo-leh disingkat jadi Sander atau Aleks, apalagi Alek. Nanti kawan-kawannya memanggilnya, 'Lek, Lek, Lek,' ...di mana lagi keangkeran nama itu!"
"Gimana kalau Alexei? Kedengarannya lebih keren, artinya sama kurasa dengan nama raja Macedonia itu, bukan?"
"Salah-salah nanti kalau dia masuk FK, teman-teman kuliahnya akan menamakannya Alexia, dan jangan-jangan dia betul-betul sama sekali nggak bisa membaca lagi nanti!"
"Jadi gimana dong? Kalau tiga kebanyakan, ber-arti kau harus pilih antara Aristo dan Aleksander. Yang mana yang lebih kauinginkan?"
Deni menggaruk-gamk kepalanya yang tidak gatal sementara matanya menatap wajah mungil kemerahan yang tengah Map. Senyum lembut membayangi rasa bahagia di wajahnya, membuat Triska ingin sekali memeluk dan mengecupnya.
Sayang, kau terpaksa hams kulepaskan, pikimya pedih.
Deni mpanya kewalahan menjawab desakan Triska. "Biasanya kalau anak laki-laki, ayahnya yang memberi nama. Kalau anak perempuan, ibunya. Setuju, kan?"
"Ini adalah anakycu! Mana buktinya kau adalah ayahnya?"
"Triska!" pekik Deni seperti disengat kalajeng-king.
Triska tertawa geli. "Uh, sampai pucat begitu! Aku cuma main-main. Betulkah kau nggak lebih suka bila anak ini bukan anakmu?"
Deni menatap Triska tanpa menanggapi. Mungkin sangkanya aku main-main juga. Tapi, betulkah matanya kelihatan sedikit ngeri atau itu cuma pe-rasaanku belaka? Ngeri kenapa? Takut anak ini sungguh-sungguh bukan anaknya? Atau...-takut rahasianya terbongkar?
"Den, aku setuju dengan pendapatmu bamsan. Kalau kita bisa punya anak satu lagi, perempuan, pasti akan kuakui sepenuhnya hakmu untuk men-carikan nama. Tapi, ini adalah anak kita—anak/cu —satu-satunya. Aku tahu, aku nggak akan gravid lagi, jadi hak itu kita bagi dong fifty-fifty."
"Kau tetap ngotot mau menamakannya Marco? Gimana kalau anak itu kelak jadi petualang?"
"Ah, masa kau begitu percaya pada takhayul?"
"Jadi kau nggak keberatan kalau dia kuberi nama Osiris?"
"Jenderal mana lagi itu?"
"Bukan jenderal. Osiris adalah nama dewa akhi-rat bangsa Mesir Kuno. Marco Osiris. Kedengar-annya boleh juga, bukan?" Senyum tersungging di wajah Deni ketika melihat Triska mengerutkan ke-ning.
"Iiih, amit-amit! Anakku mau dijadikan dewa maut! Sudahlah, kalau kau ngotot mau memakai kedua nama ini, kita beri dia tiga nama, tapi Marco harus di depan. Aleksander biar di tengah dan disingkat nulisnya. Setelah itu baru Aristo, ditulis penuh. Setuju?"
"Kenapa Marco harus di depan?"
"Karena orang lain nggak suka buang-buang untuk menyebut atau menuliskan nama kita. Nama itu cuma penting bagi yang bersangkutan, bagi orang lain sin sepele. Nan, nama yang simpatik adalah nama yang singkat, mudah diingat, serta gampang diucapkan dan ditulis. Berarti, sebaiknya cukup dua suku kata saja, kalau bisa satu suku kata saja tentunya lebih baik, tapi aku nggak bisa ingat nama yang cuma satu suku kata."
Deni menggaruk kembali kepalanya, mengacak-acak rambutnya, lalu terdengar menarik napas, rupanya tobat menghadapi kebandelan istrinya. Triska memperhatikannya sambil menggigit bibir bawah tanda hatinya resah. Jangan-jangan dia akan menolak nama yang kupilihkan!
"Jadi kau tetap memilih Marco. Coba katakan apa sebabnya kau begitu mengagumi Marco Polo?"
"Ah, nggak adil dong! Aku kan nggak mena-
nyakan kenapa kau begitu mengagumi Aleksander Agung serta begitu menyayangi gurunya!"
"Salahmu kenapa nggak mau menanyakan! Kalau kautanya, pasti akan kujelaskan."
"Aku tetap kurang sreg dengan Aleksander. Terlalu pasaran. Setiap orangtua yang ingin anak mereka jadi gagah memberinya nama itu, mungkin dengan harapan biar nantinya kerempeng, dengan nama itu otomatis akan kelihatan segagah jenderal!"
"Aku juga kurang sreg dengan Marco! Dan kau belum menjawab aku."
"Jadi maksudmu, kalau kau bersedia menerima Marco, aku juga harus menerima Aleksander?"
Deni mengangguk. Si kecil tersenyum dalam tidurnya, lalu menggeliat pelan. Deni mengelus pipinya dengan ujung jari. "Kau menertawakan ayah dan ibumu, kenapa pusing-pusing mencari kan nama! Ah, nama apakah yang kausenangi? Kelak, kalau kau sudah besar dan mengerti banyak, apakah kau akan menyukai nama-nama yang diberi-kan untukmu ataukah kau akan membencinya?" bisik Deni dengan suara lembut.
Deni mengangkat kepala dan menoleh pada Triska. "Ya, kira-kira begitu. Kauterima pilihanku, aku akan terima pilihanmu. Tapi sebelum itu, aku ingin penjelasan kenapa justru nama itu yang kau-pilih? Pasti ada sebabnya, bukan?"
"Pentingkah itu bagimu?"
"Semua yang menyangkut dirimu adalah penting bagiku, Tris!"
Gombal! Masih mau berpura-pura jadi suami yang setia dan penuh cinta? Ke mana rencanamu setelah mendapat warisan? Tetap di sini menung-gui anakmu tidur?
"Oke, kalau kau ingin tahu juga." Triska tersenyum, mengangkat bahu. "Jadi kau memaksa supaya aku menceritakan sebabnya?" "Ya. Bila kau nggak keberatan." "Oh, nggak, nggak. Kenapa aku harus keberatan?" Kenapa aku keberatan kalau kau mau mencari penggebuk sendiri? "Yah, aku memilih Marco untuk sifatnya yang penuh cinta pada istri per-tamanya yang dinikahinya ketika dia bertualang di Cathay, negerinya Kublai Khan. Istrinya kecil, mungil, dan cantik seperti boneka porselen, tapi bisu dan tuli. Karena dia tak mampu mengucapkan siapa namanya, orang-orang—selir-selir—yang suka memperoloknya memberinya nama 'Gema' untuk mengejek ketuliannya. Ceritanya, ketika 'Gema' berumur lima-enam tahun, desanya diserbu tentara Khan dan dia ditawan. Kedua kupingnya dirusak dengan tusukan besi pan as. Pita suaranya juga dirusak dengan cara yang sama. Lalu dia dijadikan budak belian dan kemudian ketika Marco Polo dijadikan 'pejantan' oleh Kublai Khan, 'Gema' bertugas menghadiri 'upacara' itu untuk melapor-kan adanya bercak merah di atas seprai. Walaupun Marco Polo diberi lusinan cewek Mongol yang cakep-cakep, setiap malam berlainan, dia tetap ja-tuh cinta pada gadis molek yang berasal dari Pro-vinsi Fukien ini, Mereka akhirnya menikah dan
hidup bahagia. Sayang sekali 'Gema' akhirnya me-ninggal ketika melahirkan seorang anak laki-laki yang juga meninggal. Marco kembali ke Itali, menikah dan mempunyai tiga anak perempuan tapi dia tak pernah melupakan Huisheng—artinya 'gema'—sampai akhir hayatnya. Diakuinya, hatinya yang merana selalu meliuk ke Timur, mengenang wanita cantik yang dicintainya. Istrinya, Donata, nggak tahu mengenai kisah cinta suaminya yang tragis ini, tapi dia bisa merasakan. Katanya, 'Kau tidak pernah mencintai aku. Kau selalu baik dan ramah, tapi bukan aku yang kaucintai. Apakah itu? Sesuatu atau seseorang?' Aku tersentuh sekali pada cintanya yang dibawanya sampai ke kubur. Su-lit sekali mencari laki-laki yang mencintai seorang wanita sebesar itu, bahkan sampai mati!"
"Kau belum menanyai aku! Siapa tahu akulah laki-laki yang kaucari itu!" tukas Deni tertawa.
"Perlukah kutanyai?" Triska balas tersenyum dengan mata masih berkaca-kaca memikirkan kisah cinta Marco Polo dan Huisheng.
"Ngomong-ngomong, setelah punya tiga nama, anak kita ini masih akan diberi nama permandian lagi, nggak?"
Uh, dia mengelak nggak mau menjawab, pasti takut aku cecar, nanti diusut-usut ketahuan bahwa cinta yang akan dibawanya ke kubur bukan ber-nama Triska, melainkan...
"Tentu saja. Markus. Kan bisa dipendekkan jadi Marko atau Marco."
"Rupanya kau sudah memikirkan segalanya!"
"Aku ten ma itu sebagai pujian, trims." Triska tersenyum menatap Deni. "Soalnya, aku kebanyak-an waktu selama berbaring di rumah sakit." "Aku be rani taruhan, pasti kaupikirkan semua * hal, dari nama sampai tetek bengek segala macam! Asa! saja kau tetap berpikir dengan kepalamu, jangan dengan hatimu!" "Mateudmu?"
"Jadi kita sepakat dengan Marco Aleksander— ditulis dengan huruf 'A' tok—Aristo?"
Hm, lagi-lagi dia mengelak, nggak be rani menjawab desakanku!
"Nama permandiannya Markus. Orangtua per-mandiannya sudah kaupilih? Tanggal dan hari-nya?"
"j^s-Martina serta Sumi-Hansa. Harinya belum kuatur, mungkin dua minggu lagi kalau perutku sudah lebih baikan dari sekarang."
"Kau masih merasa sakit kalau terguncang?" tanya Deni mengelus perut Triska dengan prihatin. "Tapi jahitannya kulihat sudah kering dan rapi, nggak ada kemungkinan jadi keloid. Kau tetap bisa memakai bikini!"
Huh, masih bisa guyon dan ketawa? Berapa hari lagi masih akan kauhadiahkan cintamu bagiku sebelum akhirnya kaupersembahkan kembali pada pemilik aslinya?
Triska mengangguk. "Ya, terkadang malah sakit
jaringan parut yang menebal
kalau terguncang sedikit saja, misalnya kalau aku menjatuhkan diri ke atas kursi yang keras atau bangun dari ranjang terlalu tergesa."
"Kau harus selalu duduk di sofa, jangan di kursi kayu yang keras."
"Kalau pelan-pelan sih nggak apa-apa."
"Jadi kapan kau akan pulang ke rumah?"
Triska terenyak ditanya mendadak begitu. "Ini kan... rumah?" jawabnya sedikit bingung.
"Maksudku, rumah kita. Kapan kau akan balik ke sana?" Deni mendesak, membuat Triska jadi rikuh. Tiba-tiba saja dia jadi segan membalas ta-tapan Deni. Tangannya bergerak, pura-pura asyik membetulkan selimut Marco yang tidak kenapa-kenapa.
Deni mencekal pergelangan tangannya, memak-sanya menghentikan gerakan yang dibikin-bikin itu. "Tris, kenapa kau kelihatan susah menjawab? Adakah sesuatu yang kausembunyikan yang seha-rusnya kaukatakan padaku?"
"Misalnya?"
"You tell me! Mana aku tahu. Cuma firasatku mengatakan, ada apa-apa, ada sesuatu..."
Pintu kamar mendadak terbuka. Triska menoleh, diam-diam menarik napas Iega melihat ibunya. Huh, selamat! Nggak perlu menjawab pertanyaan yang mustahil itu!
"Ayo, man turan, makan," undang ibunya sambil menghampiri ranjang menengok cucu yang masih lelap. "Anteng, ya. Tapi bila dia terlalu rewel kalau malam, nanti Mama pindahkan saja ke
kamar sebelah dan Mama suruh Inem tidur di sana menjagainya" "Oh. biarkan Marco di sini. Mam J" "Marco? Jadi kalian akhirnya sudah menemukan nama baginya! Bagus kedengarannya. Papa pasti senang. Marco... ya, bagus! Tapi kau baru menjalani OP berat. malam harus tidur nyenyak, nggak..."
"Marco Aleksander Aristo," Deni menambahi dengan sukarela.
"Wan, banyak a mat namanya," ibu Triska men-decak geli.
"Makium. Mam, anak satu-satunya. Nama-nama itu sebenarnya disediakan untuk adik-adiknya, tapi terpaksa dibenkan semua padanya!"
"Aleksander akan ditulis sebagai singkatan saja kecuali di Surat Lahir. Aristo dari Aristoteles," Deni kembali dengan sukarela menjelaskan.
Meiihat ibunya menaikkan alis—sebelum ibunya sempat tertawa geli—Triska cepat-cepat bilang, "Aristoteles adalah guru kesayangan Deni, Aleksander Agung adalah muridnya."
"Nama-nama yang bagus. Kalian pin tar memi-
Deni kelihatan senang mendengar pujian itu, tapi wajahnya sedikit mendung ketika ibu mertua-nya menyambung, "Tapi bagus juga panggilannya Marco tok, praktis dan simpattk, bukan yang aneh-aneh,"
"Mam, saya makan di kamar saja, deh. Marco nggak bisa ditinggal."
Marco nggak bakal kenapa-kenapa kau-
tinggal makan sebentar. Dia belum bisa tari, nggak bakal kaburl" Ibunya ketawa geli meiihat kekha-watiran Triska. "Tapi, Mam..."
"Mama kan pernah punya anak, Tris. Masa nggak percaya kalau Mama bilang, nggak apa-apa kau turun makan setengah jam?"
"Sudahlah, biar kami makan gantian. Den, kau duluan deh turun. Nanti aku." Yang disuruh makan —Deni—menatap kedua perempuan itu tan pa bisa memutuskan mau menyokong siapa. Untung ibu Triska mengalah meiihat anaknya ngotot.
"Kalian makan saja berbareng, sekarang. Nanti Mama surah Inem naik menemani Marco." Meiihat Triska ragu, didesaknya, "Ayo, turun. Papa sudah menunggu. Ditinggal lima menit, sih, nggak berbahaya. Sebelum kau mulai makan pun, Inem pasti sudah ada di samping ranjang ini!"
Ebook ini di scan oleh lotoy untuk koleksi Ipribadi tidak diperjual |
belikan karena
dilinduncji oleh
undang
undang,ottoys@yahoo.
Icom
Bab 2
Tiga minggu setelah Marco dipermandikan, Deni kembali mengajukan pertanyaan itu. Hari itu Minggu kedua bulan Juni, cuaca cerah, langit indah perkasa, bunga-bunga di kebun begitu memukau mata, ikan-ikan di kolam berenang hilir-mudik dengan damai, di tengah kolam sekuntum bunga teratai mekar tadi malam, begitu cantiknya sehingga membuat Triska menghela napas saking kagum.
Hari masih pagi, matahari belum terik, sehingga Triska masih sempat mengajak Marco duduk-du-duk di dalam gazebo, di pinggir kolam. Triska duduk di atas kursi rotan putih berbantal merah muda, di pangkuannya berbaring Marco, asyik mendengarkan celotehan dari bibir ibunya yang diawasinya dengan takjub. Sang ibu pun tidak kalah takjubnya menatap buah hatinya. Sesekali pandangannya terlontar ke dalam kolam, mengikuti gerak irama ikan-ikan, mengagumi kecantikan teratai, namun tak pernah lama. Cepat sekali matanya
pondok beratap yang terbuka sisi-sisinya
kembali singgah ke wajah si kecil yang tengah memperhatikannya serta menunggu dengan sabar kembalinya perhatian sang ibu padanya.
Triska berceloteh, mendongeng, dan berdendang. Lagu-lagu yang pernah dikenalnya di Taman Ka-nak-kanak, yang disangkanya sudah dilupakannya, kini muncul tanpa disadari, tercetus di bibirnya, mengantarkan si buyung ke alam mimpi.
Ketika Deni muncul di kebun belakang itu dide-ngarnya Triska tengah asyik bersenandung lembut sambil menepuk-nepuk Marco yang rupanya lelap di pelukannya. Dari tempatnya berdiri, Deni dapat meiihat punggung Triska bersandar di kursi, dan rambutnya yang hitam kelam tergerai -lepas di sekeliling bahu. Kepalanya yang cantik tampak miring menunduk, memperhatikan anaknya yang lelap. Pemandangan itu demikian menyentuh hatinya, sehingga untuk beberapa menit Deni serasa terpukau, tak mampu bergerak dari tempatnya, bahkan napasnya pun tanpa sadar ditahannya se-olah takut bunyi napasnya akan terdengar sampai ke pinggir kolam dan akan mengganggu Triska serta ikan-ikannya.
Triska kembali menoleh ke kanan, ke arah kolam (seperti yang dilakukannya beberapa kali sejak tadi), dan pada saat itulah perimeter matanya me-nangkap Deni. Ia menoleh lebih ke belakang.
"Hai, kenapa berdiri di situ?" panggilnya tak berani terlalu keras, khawatir mengagetkan Marco.
Deni segera melangkah menghampiri gazebo dan menjatuhkan diri di samping Triska. Matanya
Jangsung menangkap wajah mungil yang tengah lelap dengan bibir tersenyum.
"Dia sedang bercanda dengan bidadari," tukas Triska seakan menjelaskan arti senyum anaknya. "Kau nggak jaga pagi ini?"
"Nggak. Hari ini giliran Nero. Ini kan Minggu, sekarang kami kena Minggu cuma dua bulan sekali, jadi giliranku masih enam minggu lagi. Gimana Marco, kalau malam rewel?"
"Nggak, kok. Heran deh, anteng sekali anak ini. Malah aku yang jadi senewen, tiap beberapa jam harus ban gun ngecek kalau-kalau dia sudah basah."
"Kelihatannya pertumbuhannya pesat, tubuhnya gemuk."
"Ya, minumnya kuat dan tabiatnya periang, kalau ditinggal dia akan asyik main sendiri."
Tris, kapan kau mau balik ke rumah?''
Pertanyaan yang mendadak itu membuat Triska terenyak kaget, sehingga untuk sejenak ia cuma mampu melongo seakan pandir. Meiihat itu Deni segera menyambung, "Maksudku, rumah kita."
Triska menunduk, bermain-main dengan pita ba-ju anaknya, tampak seakan sulit menjawab.
"Kurasa sudah cukup lama kau diam di sini, luka OP-mu pasti sudah nggak mengganggu. Pu-langlah, Tris. Aku kesepian."
Triska terns menepuk-nepuk Marco tanpa meng-angkat wajahnya seakan tidak didengarnya ucapan Deni. Bibirnya kembali bersenandung pelan. Setelah beberapa saat memperhatikan istrinya, Deni kembali membuka mulut. Tris, aku tahu, ada
sesuatu dalam pikiranmu. Sejak keluar dari mmah sakit kau kelihatan agak berubah, rasanya kau... agak menjauh. Kenapa, Tris? Kalau ada ganjalan, sebaiknya kaukatakan sekarang juga supaya tuntas. Mungkin itu cuma salah pengertian saja?"
Triska mengangkat muka, menatap Deni, sesaat kemudian menunduk lagi dan meneruskan senan-dung serta tepukannya pada putranya. Deni me-nyambar pergelangan tangan istrinya, dan memo-hon, "Tris, jawablah. Aku menunggu, Tris. Jangan ngambek begini, Tris. Katakan terus terang, apa salahku?!"
Triska menoleh dan menatapnya sekali lagi. Bibirnya bergerak-gerak namun selama beberapa saat tak kedengaran suara apa pun. Rupanya sulit sekali baginya untuk membuka mulut. Air mukanya menunjukkan bahwa dia tengah berperang batin. Deni agaknya mengerti pergulatan emosi yang di-alami Triska, sebab dia mempererat genggamannya dan mengguncangnya berulang-ulang seraya meya-kinkan, "Katakan, Tris. Jangan takut Tumpahkan semua yang berkecamuk dalam hatimu! Aku siap mendengarkan. Katakan, Tris. Sekarang juga!"
Baiklah, pikimya. Mungkin saatnya sudah tiba! Sinar matanya berubah sayu ketika kesedihan me-nyapu hatinya. Siapa yang menyangka akan begini akhir kisah kita, Den!
Triska mengangguk. "Ya, aku memang ingin mengatakan sesuatu, dan rasanya saatnya sudah tiba. Tapi sebelum aku meneruskan, aku ingin kau menjawab aku dulu. Siapakah Odi Bobadila itu?"
Ular kobra pun mungkin takkan membuat Deni sepucat itu. Wajahnya langsung pias seperti kapur, matanya menatap nyalang penuh kengerian seakan meiihat seseorang yang pernah dibunuhnya kini da tang menghantuinya.
Hm, dia takkan bisa menyangkal, pikir Triska. Marco tidur nyenyak sekali. Ia pasti akan terpaksa membeberkan persekongkolannya dengan Odi! Un-tunglah Marco tak periu mendengarkan ayah dan ibunya bertengkar. Ia mungkin akan menantang dan membela cintanya pada yang lain itu! Tapi jangan takut, Marco, kau takkan kehilangan ayah-mu. Bagaimanapun, Odi adalah cintanya yang per-tama! Kami mungkin akan berpisah, tapi kami takkan menelantarkanmu. Mungkin juga cintanya satu-samnya! Mama menyesal kelahiranmu tidak disambut dengan lebih gembira. Mana buktinya, dia juga mencintaiku?
"Den, aku menunggu. Akan kaukatakan atau nggak?" desaknya dengan suara tetap pelan. Kalau dilihat dari jauh, pasti sangka orang kita sedang pacaran, berpegangan tangan, pikirnya geli ber-campur sedih.
Deni mermrik napas panjang', lalu ujarnya sete-ngah terpaksa, "Dia adalah peragawati, bukan?"
Triska mengangguk. "Ratu peragawati se-ASEAN. Itu aku tahu. Yang ingin kuketahui adalah apakah kau merigenalnya?"
"Semua orang kenal dia," sahut Deni setengah tersenyum seakan merasa lucu. "Apakah dia temammT
"Tergantung apa yang kaumaksud dengan te-
man..."
Jangan berlagak pilon! Apa ini yang disebut taktik mengulur waktu? Kau berharap akan ada orang datang sehingga percakapan ini terputus dan kau nggak usah menjawab? Oh, kalau maksudmu Kris, Martina, dan Bobi, mereka baru akan tiba menjelang makan siang! Jangan coba-coba melo-loskan diri, ah!
"Perlu kuambilkan kamus bahasa Indonesia?"
"Nggak perlu." Deni menggeleng, melepaskan cekalannya pada Triska, dan menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Akan kujawab kalau kau betul-betul ingin tahu. Tapi apakah itu penting bagimu?"
Hm, suaramu kedengaran memelas amat. Kenapa kau segan berterus terang? Takut aku pingsan? Khawatir aku ngamuk? Oh, nggak usah, ya! Aku takkan berkedip mendengar jawabmu, taruhan?
"Sangat."
"Oke."
Mendadak kau jadi pelit dengan kata-katamu. Taktik mengulur waktu? Hm. Memang setiap hari Minggu, Kris sekeluarga datang ke sini, tapi masih lama. Kau takkan lolos, percayalah! "Dan jawab-nya adalah...?"
Deni menarik napas panjang dan berat seolah paru-parunya cuma tinggal separo. "Jawabnya adalah ya. Puas?"
"Ngngng... belum. Jangan kesusu, kita banyak Waktu, kok." Triska tersenyum mania. "Baru jam sepuluh lewat, makan siang jam satu. Kris ber-
sama anak buahnya baru akan muncul sekitar jam dua belas. Kenapa aku me rasa seakan kau ingin menghindari tanya-jawab uri?"
"Habis, kau teras yang bertanya, aku cuma ke-bagian menjawab saja."
"Yang bertanya adalah orang yang pegang sen-jata." Triska tersenyum menanggapi senyum Deni yang sumir. "Dan apa senjatamu kalau aku boleh tahu?" "Sabar, kau akan tahu. Tapi sebelumnya, aku ingin melanjutkan anamnesa ini. Kau keberatan?" "Kalau ya, gimana?"
"Tanya-jawab ini akan kuhentikan, tapi kau nggak akan tahu jawaban atas semua pertanyaan-mu! Masih keberatan?"
"Mana berani!" Deni nyengir sambil bersidekap. "Tembak saja! Paling-paling aku terkapar pingsan kalau pertanyaanmu terlalu maut."
Hm, kau kelihatan salah tingkah, nih?! Rupanya hidungmu sudah mencium ke mana arah wawan-cara ini, bukan? Bagus!
"Kaubilang, Odi adalah temanmu. Teman intim-kah? Seberapa intim?"
Deni menggeleng, dan mencoba tertawa namun dihalangi oleh tatapan Triska yang lembut tapi maut. Deni membuka kedua telapak tangannya ke atas, alahya menengadah sesaat sebelum menunduk mbali menatap Triska. "Tris, apa artinya ini?"
wancara dengan pasien/keluarganya
"Jawab saja, nanti kau akan tahu artinya," desak
Triska, tersenyum.
"Tapi dari mana datangnya semua ide ini? Siapa yang telah menularkan virus ini ke kepalamu? Siapa yang telah menceritakan gosip ini padamu?"
"Jadi menurutmu, cuma gosipl Ck, ck, ck, Odi pasti akan ngambek kalau mendengar! Ketika dia menceritakannya padaku, sama sekali tidak memberi kesan dia sedang menggosip."
"Odi?"
Nah, nah, melotot deh kau! Kaget, Bung? Kasi-han. Sayang nggak ada air minum untuk menghi-langkan kaget. Ah, ada air kolam. Kalau cukup bersih untuk ikan-ikan, kenapa nggak untukmu?
"Kapan dia menceritakannya padamu?"
Nah, sudah mulai sesak napas kau. Hati-hati, nanti serangan jantung. Bukankah kakekmu me-ninggal karena jantungnya mogok?
"Ketika dia datang ke tempat praktekku."
"Dengarlah, Tris, akan kujelaskan. Semua ini cuma salah paham."
Aih, suaramu kedengaran begitu memelas, membuat hatiku nggak tega buat meneruskan, tapi... mungkin itu cuma taktikmu belaka? Tahu, kan, yang disebut serigala berbulu domba?
"Lebih baik kau yang mendengarkan, aku yang menjelaskan." Triska melirik Deni sambil tersenyum simpul. Marco masih tetap lelap di buaian ibunya yang terus menepuknya pelan-pelan. Deni kelihatan menyerah, menghela napas, dan menunggu dengan kedua tangan dirapatkan seakan tengah berdoa.
Dewa mana yang sedang kaumintai bantu an? Apakah mereka mau menolong manusia yang me-nipu istri sendiri?
"Odi bilang, kau dan dia sebenarnya sudah hampir menikah. Sayang nenekmu anti dengan peragawati yang dianggapnya suka memamerkan tu-buh. Tentu saja itu pendapat yang sangat kolot, tapi apa daya, orang yang punya harta banyak memang berhak membuat pendapatnya jadi undang-undang. Paling sedikit, bagimu.
"Odi bilang, nenekmu mengancam kau nggak bakal diberinya warisan sepeser pun kalau kau nekat kawin dengan peragawatimu. Jadi kalian berdua mencari akal. Nenekmu memberikan syarat dalam surat wasiatnya, kau harus kawin—dengan gadis lain—paling sedikit tiga tahun sebelum kau berhak mendapatkan warisanmu.
"Nah, Odi bilang, kalian lalu sepakat untuk membiarkan kau kawin dulu dengan orang lain selama tiga tahun, sampai warisan itu kauperoleh. Setelah harta ada di tangan, kau akan segera men-ceraikan istrimu dan kembali pada Odi.
"Odi bilang, supaya perceraian ini nggak men-jadi mwet, kau nggak boleh sampai punya anak dengan istrimu! Nah, berarti kau boleh kawin dengan siamang atau babon mana saja asal jangan sampai beranak. Paling ideal tentunya kalau mo-nyetnya mandul!" Triska berhenti sebentar untuk menatap Deni sambil tersenyum pilu. Yang ditatap cuma balas melon go dengan bengong.
Tampangmu sudah mirip-mirip pasien schiw
phren yang sedang kumat, aku harus hati-hati, siapa tahu kau nanti mata gelap dan menceburkan aku ke kolam!
"Nah, apa mau, kau ketemu gadis bego yang cocok dengan rencana kalian, pas betul sampai dengan kriteria mandul itu. Jadi tentu saja, kontan kaurayu dan kauajak kawin! Cuma dalam waktu... berapa bulan? Lima bulan? Bukan main! Ada pos kilat, rupanya ada juga kawin kilat!
"Masalahnya sekarang, Odi datang menuntut agar kau dikembalikan padanya olehku! Dia sudah menghitung-hitung, kau sudah kawin tiga tahun, nggak lama lagi warisan itu akan jatuh ke tangan-mu, dan kau akan bebas untuk kawin dengannya. Halangannya sekarang cuma satu. Aku. Alternatif-nya adalah aku harus kauceraikan atau kausingkir-kan. Sebagai manusia yang inteligensinya cukup tinggi—bukankah kau lulus cum laude dan hampir diterima jadi anggota Mensa, angkanya kurang tapi diizinkan mencoba lagi, bukan?—kurasa kau akan lebih suka memilih jalan pertama. Benar, nggak?"
"Semua itu nggak benar!"
"O, ya?"
"Percayalah padaku!" "Mungkinkah?"
"Masa kau nggak percaya pada suami sendiri? Jadi kau lebih percaya pada orang lain?"
"Sekarang kauanggap Odi cuma orang lain'} Betulkah aku bisa mempercayaimu? Lalu kenapa kau nggak pernah menceritakan soal warisan itu padaku? Tentunya bukan karena takut aku minta bagian.
bukan? Kalau aku nggak mendengar sepupumu, Tono, menyebut-nyebut tentang warisan itu, aku pasti takkan pernah tahu apakah Odi bohong atau nggak. Tapi ternyata memang ada masalah warisan...."
"Berilah aku kesempatan untuk menjelaskan."
Aku harus berhati-hati menghadapi orang yang pintar merayu dan suka memohon-mohon. Mungkin ini semacam taktik pula.
"Cerita Odi sudah cukup jelas, nggak perlu kau-perinci lagi. Kaujawab saja aku. Aku ingin tahu sampai di mana kejujuranmu, sampai di mana kau bisa kupercaya. Pertanyaanku adalah, apakah cerita Odi itu benar?"
"Itu nggak bisa dijawab dengan gampang, Tris. Nggak bisa dengan ya atau tidak saja."
"Oke, akan kutanyakan inci demi inci. Pertama, benarkah kau dan Odi pernah pacaran?"
Tris..."
"Bilang saja ya atau nggak," Triska menolong-nya mencari jawab sambil tersenyum. "Nah?"
Deni menarik napas panjang, menunduk, dan akhirnya mengangguk sekali.
"Aku nggak mendengar jawabanmu," desak Triska.
"Ya," ulang Deni dengan suaranya yang hampir tak terdengar. "Tris, kenapa kau sekejam ini padaku?"
Hm, sekarang kau yang mau berkaok menuduh-ku kejam? Berkaca dulu, ah, siapa yang ingin menipu, siapa yang punya rencana heeeiiibat?
Triska tidak meladeni keluh kesah Deni. Dengan tenang melanjutkan, "Kedua, benarkah kalian sudah merencanakan untuk menikah? Jawab saja, ya atau nggak."
Deni kembali menghela napas sebelum menya-hut, "Ya."
Kok suaramu makin pelan saja? Hm.
"Ketiga, benarkah nenekmu nggak setuju kamu dengan Odi?"
"Ya."
"Benarkah nenekmu menulis syarat seperti itu dalam surat testamennya?" "Ya."
"Kelima, benarkah kau dan Odi membuat rencana supaya kau kawin dulu sampai warisan itu kauperoleh dan setelah itu kau akan balik padanya?"
"Ya... dan nggak!"
"Ini bukan multiple choice, Den. Jawabnya cuma mungkin satu, nggak bisa dua-duanya. Jadi ku-anggap ya. Nggak adalah sebuah kata yang kurang simpatik, aku nggak menyukainya. Nah, sekarang yang keenam..." .
"Biarlah kujelaskan."
"...Kapan kau akan menceraikan aku?" Suara Triska begitu pelan dan manis, orang yang tidak mengerti bahasa Indonesia pasti menyangka ia sedang menanyakan film apa yang sebaiknya mereka lihat nanti malam. Tapi reaksi Deni tidak bisa disalahartikan. Ia jelas kelihatan pucat seakan tengah ditodong senapan mesin di tangan manusia
yang tujuan hidupnya adalah meraih gelar Pem-bunuh Serial.
Uh! Masa kau hampir tercekik, di tenggorokan-mu mengganjal apa, sih? Sebongkah penyesalan? Sudah terlambat, Say! Kau yakin rencanamu takkan meleset. Kausangka yang kaukawini itu perempuan steril, nggak tahunya kau kebelejok, istrimu temyata masih sanggup bertelur... ha! Apa yang akan kaulakukan sekarang? Berlagak nggak ada urusan dengan Odi? Sudah telat, orangnya sudah mendahului datang padaku.
Deni membuka dan mengepalkan tinju berkali-kali, menggeleng, menarik napas, menggeleng lagi, memukulkan tinjunya ke telapak tangan, menggeleng, menarik napas, memukulkan tinju, menggeleng, menarik napas, dan memukulkan tinju....
Triska jadi kasihan melihatnya. "Jangan takut, Den," hibumya setengah membujuk, "dengan ber-cerai nggak berarti kita otomatis jadi musuh. Kita akan tetap berteman, aku nggak menyimpan den-dam terhadapmu. Kau tetap boleh datang ke sini setiap saat untuk mengunjungi Marco. Aku akan selalu menyambutmu dengan tangan terbuka. Dan kelak, kalau Marco sudah besar, dia boleh kauajak nginap di ramahmu, asal Odi nggak keberatan, atau piknik...."
"Itu adalah ramah kita, Tris! Bukan rumahku! Dan Odi nggak bakal tinggal di sana. Nggak ada yang akan menggantikanmu, Tris, baik dia ratu kecantikan atau wanita terkaya di dunia! Dengar-lah, Tris, berilah aku kesempatan untuk ngomong."
"Oke, silakan."
"Apa yang dikatakan Odi sebagian memang benar, maafkan aku, Tris. Waktu itu aku masih ingusan, pikiranku sempit. Kusangka di dunia ini cuma ada Odi seorang bagiku. Kukira aku mencin-tainya. Kuakui, dia cantik dan namanya terkenal, setiap laki-laki pasti akan bangga menjadi pasang-annya."
"Dan kaupilih aku sebagai korban!" "Tris..."
"Begitu tahu keadaanku, kau langsung lapor pada Permaisuri, 'Sudah ketemu cewek yang meme-nuhi syarat!'"
"Maafkan aku, Tris. Setelah aku mengenalmu lebih dalam, aku mulai menyesali rencana gila itu. Makin lama penyesalanku makin bertambah, aku merasa tidak berperikemanusiaan, diriku terasa me-rosot lebih rendah dari binatang. Akhirnya aku tahu, aku sudah jatuh cinta padamu! Aku jatuh cinta karena suaramu yang lembut, tawamu yang riang, humormu yang tak pernah habis, kepolosan-mu yang mengharukan, keluguanmu yang menghe-rankan, serta kepasrahan dan kerendahan hatimu. Gadis lain mungkin akan murung atau marah-marah, menyesali nasib tak sudah-sudah, tapi kau mengenyahkan problem itu dan memutuskan untuk menikmati hidupmu apa adanya. Aku sungguh lea-gum padamu!
"Tris, kau adalah gadis yang luar biasa. Kau sangat berarti bagiku. Kau sangat istimewa. Aku tahu rencana* itu sudah gagal. Jadi kudatangi Odi
dan kuberitahukan sejujurnya apa yang terjadi. Ku-katakan, aku minta maaf, nggak bisa meneruskan rencana itu. Aku akan menikah dengan Triska Omega buat selamanya, bukan cuma tiga tahun seperti yang direncanakan. Odi marah tentu saja, ngamuk-ngamuk. rnengancam akan membeberkan rahasia kami padamu. Tapi aku yakin, aku sebe-namya nggak pernah mencintainya. Aku cuma ter-tarik pada namanya yang harum selangit, pada kecantikannya dan penampilannya yang mentereng. Aku nggak pernah membayangkan untuk berbagi suka dan duka dengannya setiap had, setiap malam, sepanjang hidupku. Odi bagiku cuma berarti kemewahan, kemasyhuran, serta kerlap-kerlip lam-pu tontonan. Tapi setelah lampu-lampu dipadam-kan, setelah pakaian mewah ditanggalkan, dan-dan an dicopot, Odi sebagai manusia biasa nggak memikat hatiku. Aku menyadari saat itu—setelah mengenalmu—Odi dalam daster dan rambut penuh gulungan nggak ada daya tariknya bagiku."
"Dan aku ada?" Triska tersenyum geli. "Juga dalam daster yang sudah bule ini?" tanyanya me-megang baju yang dikenakannya.
"Kau selalu menarik bagiku, Tris. Dengan atau tanpa—apalagi tanpa!—baju!" Deni tersenyum, Triska memukulnya setengah cemberut. "Kau menarik kalau ketawa, kalau cemberut—seperti tadi— kalau ngambek, juga kalau nangis. Ingat dulu, kau nangis ketika memberi tahu aku apa sebabnya kau ragu menjadi istriku? Karena kau nggak mau me-ngecewakan aku? Aku jatuh cinta saat itu ketika
meiihat matamu penuh air, ujung hidungmu merah, dan bibirmu sembap kemerahan. Aku langsung jatuh terperosok ke dalam perangkap cintamu, dan nggak pernah bangun lagi sampai sekarang! Aku juga nggak mau bangun lagi buat selamanya. Sampai akhir hidupku, aku akan tetap mencintaimu. Percayakah kau padaku?"
"Terus terang, sulit. Aku nggak tahu, rahasia apa lagi yang masih kausimpan yang nggak kau-katakan padaku. Contohnya, soal warisan, kenapa harus kaurahasiakan? Kalau bukan secara kebetul-an aku mendengarnya, pasti sampai sekarang pun aku nggak tahu ada persyaratan yang unik itu serta rencanamu bersama Odi...."
"Tris, salah satu sifatmu yang sangat kukagumi adalah kejujuranmu. Kau selalu terus terang padaku, bicara apa adanya, dan itu sangat kuhargai. Soal warisan itu sebenarnya nggak perlu kaurisau-kan benar. Aku nggak menceritakannya padamu karena aku jarang sekali ingat akan hal itu. Aku nggak suka menggantungkan hari depanku pada uang orang lain. Dan bila kebetulan aku ingat, suasananya sedang nggak mengizinkan, sebab bia-sanya pikiranku baru rileks kalau di tempat tidur, tapi kau tahu sendiri kegiatan apa yang lebih menggairahkan dari pada cuma sekadar ngobrol-ngobrol di ranjang!" Deni tersenyum disambut oleh Triska dengan tidak kurang manisnya.
Kau bilang, nggak suka uang warisan? Tapi buktinya...
"Kalau nggak suka uang itu, kenapa kau sampai
oekat menyusun rencana ini-itu? Kenapa nggak laju saja mengawini Odi, dan masa bodoh dengan warisan?"
Deni menghela napas, mengangguk-angguk. "Soalnya, ayahku sangat mengharapkan uang itu sebagai tambahan modal. Memang uang itu atas namaku, tapi aku nggak pernah memusingkannya. Sampai saat ini pun selalu ayahku yang mengurus-nya. Paling-paling kukira, kalau saatnya sudah tiba, aku akan diajaknya untuk tanda tangan, lalu uang hu akan langsung masuk rekening ayahku, terserah mau diapakan. Tris, aku nggak pernah berharap bakal ketiban rezeki dari langit maupun dari kubur, jadi aku juga nggak merasa itu topik yang perlu kita bicarakan. Tapi kalau kau merasa tersinggung, aku minta maaf, bukan maksudku merahasiakannya terhadapmu."
"Nggak ada yang harus dimaafkan, Den," bisik Triska.
Oh, seandainya Odi tak pernah datang mene-muiku! Apa pun rela kuberikan seandainya waktu bisa diundur dan pertemuan itu dibatalkan. Betapa bahagianya aku saat ini seandainya Odi nggak pernah mampir menceritakan dongengnya yang aneh itu. Oh, kenapa waktu nggak pernah bisa kembali lagi?
"Tris, terus terang kukatakan, sebelum pernikah-an kita, aku sudah memberi tahu Odi, hubungan kami sudah berakhir, dia nggak boleh menunggu aku, sebab aku nggak bakal kembali padanya. Dia marah besar tentu saja, karena itu dia nggak
datang ke pesta kita. Dia mengancam akan mem-balas dendam. Aku meremehkan ancaman itu, Nggak disangka, rupanya inilah pembalasan yang ditunggu-tunggunya." Deni menghela napas. Suara-nya getir ketika dia menyambung, "Selama tiga tahun hidup kita begitu tenteram bahagia, aku jadi terlena, lupa akan bahaya. Habis siapa sangka, kukira Odi sudah melupakan diriku. Dia nggak pernah sekali pun menghubungi aku, kecuali... beberapa bulan yang lalu."
Tapi sering menggerecoki istrimu! Uang hampir satu miliar, siapa akan gampang-gampang melupa-kannya?
"Yah, tapi nggak ada gunanya menyesali susu yang tumpah," Deni melanjutkan dengan lesu. "Apa yang sudah terjadi, terjadilah."
"Kau betul. Nggak ada gunanya menyesali apa yang nggak bisa diubah lagi. Masalahnya sekarang, bagaimana mengubah insiden itu.jadi seja-rah? Apa yang sebaiknya kita lakukan?"
"Ya, apa yang hams kita lakukan?!" Deni mene-gaskan dengan kening berkemt. "Setelah mendengar penjelasanku bamsan, tentunya kau langsung mengerti, nggak ada yang hams kita lakukan! Cuek saja sama Odi! Kalau dia berani menemuimu sekali lagi, atau mengganggumu dengan apa pun, dia hams berarasan denganku!"
"Aku rasa, pendapatmu sedikit keliru."
"Aku rasa, nggak. Yang perlu kaulakukan hanya satu. Memaafkan suamimu. Aku mengaku salah, aku sudah bertindak bodoh sekali."
"Dan tanpa perasaan."
"Ya, dan tanpa perasaan. Maafkanlah aku, 1Yi& Ampunilah aku. Tapi jangan biarkan masaJah ini mengganggu hidup kita, sama sekali nggak berhar-ga untuk berlarut-larut menyita pikiranmu."
"Kurasa, aku tahu apa yang harus kita lakukan, lebih tepat lagi, apa yang harus kaulakukan!" "Aku? Apa yang mesti kulakukan?" "Kau hams kembali pada Odi!" Suara Triska te-nang dan manis, seakan dia sedang minta dipetik-kan sekuntum bunga dari kebun.
Hm, kenapa kau melotot? Apakah usulku itu tidak masuk akal? Kau sudah memberikan janji pada Odi, masa seenaknya mau kaulanggar? Nggak begitu gampang membatalkan janji yang sudah diucapkan, apalagi bila orang yang ber-sangkutan datang menagihnya! "Kau gila!"
"Itukah diagnosismul Beginikah rupanya orang gila?" Triska menunjuk dirinya, lalu menyambung kembali gerakannya menepuk-nepuk Marco.
"Tapi kenapa kausuruh aku balik sama Odi? Apa kau sudah nggak mencintai diriku? Ah, aku nggak perlu menanyakannya. Aku tahu, kau men-cintaiku dan akan tetap begitu selamanya. Berarti kau cuma guyon." Deni mencoba tertawa walau-pun sumbang bunyinya.
"Kau boleh bilang begitu pada pengacara yang akan menghubungimu," tukas Triska tersenyum, sementara Deni melotot.
Matamu yang mendelik itu kenapa kelihatan
cemas dan kaget? Setiap orang yang menanam pasti hams panen, bukan? Kau sudah menebar benih keributan, sudah kauberikan janji harapan, sekarang tiba saatnya kau hams membayar janji itu dan membawa pulang hasil panen dari benih yang kausemai di padang hatinya!
"Kau serius?"
"Ya."
Deni kelihatan bingung, meremas-remas jari-jarinya, mengepalkan tinju, dan memukulkannya ke telapak tangan bemlang-ulang, menjambak ram-but, mengacak-acaknya, menggamk kepala, menggeleng, melenguh, semua dilakukannya kecuali menyumpah.
"Tris, aku nggak percaya kau mau membalas dendam bila kauanggap aku telah menipumu. Aku sangat kenal sifatmu, hatimu yang baik nggak bakal menyumhmu balas dendam."
"Aku nggak berniat balas dendam. Aku malah merasa berterima kasih padamu karena kau telah memberi aku Marco. Nggak pernah aku berani berharap suatu ketika akan bisa gravid atau akan ada orang yang mau menikah denganku. Tapi kau temyata bersedia menerima aku dengan segala risi-konya."
"Tapi motifnya semula nggak terpuji!" keluh Deni penuh penyesalan. "Aku terima salah. Aku rela kaumaki, kaumarahi, kauapakan saja, asal jangan putuskan hubungan kita berdua."
"Lalu bagaimana kau akan mengembalikan ke-percayaanku padamu?"
"Tris..."
"Bagaimana kau akan memulihkan harkatmu se-bagai manusia yang berkarakter dan berintegritas tinggi?"
Tris..."
"Laki-laki tanpa integritas sama sekali nggak ada harganya, Den. Bagaimana mau kauharapkan aku akan terns mencintaimu kalau kau nggak memulihkan lagi harga dirimu."
"Aku bersedia menanggung hukuman apa juga yang mau kaujatuhkan, tapi kalau kau memaksa mau berpisah, lantas gimana aku akan membukti-kan padamu bahwa integritasku sudah pulih dan cintaku utuh bagimu? Apa gunanya cintamu yang abadi bila aku nggak bisa memperolehnya? Apa kau mau menyuruh aku mengagumi Triska Omega dari jarak jauh?"
Triska menatap Deni tanpa bersuara walau bibirnya teras-menerus bergerak seakan banyak yang mau diucapkan. Deni juga balas menatapnya sehingga untuk beberapa saat keduanya bertatapan.
Ah, matamu begitu hitam dan sendu. Akan ku-jadikan kenangan bila aku rindu padamu. Akan kuingat bola matamu yang bening, kelopakmu yang terlipat dalam, alisrau yang lebat...
Triska tersentak ketika dirasakannya sentuhan pada lengannya dan bisikan yang mengiris hati. "Kenapa kaulakukan ini padaku. Tris? Pada kita? Aku tahu, kau nggak ingin berpisah. Kenapa, Tris?"
Triska mengangkat kepala dan menatapnya
cukup lama hingga yang ditatap jadi gelisah dan mengguncangnya pelan. Barulah Triska kelihatan menggerakkan bibir, namun baru beberapa saat kemudian terdengar suaranya. "Karena aku me-nempatkan diri di tempatnya!"
Deni tercengang sampai cekalannya terlepas. "Kau... menempatkan diri di tempat... Odi?"
"Ya. Aku bayangkan pacarku kawin dengan gadis lain karena terpaksa dan dia berjanji akan kembali padaku setelah tiga tahun, setelah warisan itu diperoleh. Hubungan kita sudah dua tahun lebih, ditambah tiga tahun, berarti aku sudah me-nunggu lima tahun! Masa dia sekarang mau mung-kir janji, nggak jadi balik padaku? Mana aku mau mengerti! Kaupikir hati perempuan terbuat dari batu, nggak bisa hancur dibanting, dipermainkan seperti itu?"
"Tapi aku kan sudah sejak mula mengatakan padanya, aku takkan balik. 'Aku akan menikah untuk seumur hidup dengan Dokter Triska Omega, dan rencana kita semula natal.' Nah, salah siapa kalau dia masih juga menunggu aku?"
"Memang bukan salahmu. Mungkin salah warisan itu. Siapa yang rela melepaskan harta karun sebanyak itu?"
"Huh! Oara-gara duit!"
"Dan gara-gara kau sudah telanjur berjanji akan kembali padanya!"
"Nggak bolehkah aku jatuh cinta padamu? Setiap menit, puluhan, ratusan, ribuan orang di selu-ruh dunia jatuh cinta lagi dan lagi, dan menyadari,
mereka sebenamya nggak mencintai orang yang sebelumnya. Berapa banyak orang yang kelini menganggap itu cinta padahal sebenamya mereka cuma terpukau, silau oleh kecantikan atau keka-yaan?"
Tapi aku nggak bisa bahagia di atas kehancur-an orang lain, Den. Odi jelas merasa hidupnya akan hancur bila kau tetap bersamaku."
"Aku sangat menyesal. Tapi apa boleh buat. Kaulah yang kucintai! Kalau kita harus berpisah, aku akan patah hati."
Triska menarik napas berat "Yah! Kalau begitu terpaksa kau harus ikut menderita bersamaku! Sebab aku juga akan patah hati bila kita terpaksa berpisah, Den. Tapi perpisahan rasanya tak bisa dihindari. Kau hams menepati janjimu sebagai laki-laki. Perempuan ini kaunikahi hanya demi me-menuhi persyaratan yang dituntut nenekmu. Setelah warisan itu selamat di tanganmu, urusan per-ceraian kita bisa segera dipfoses.
Bab 3
Sudah tentu setiap orang dalam keluarganya ber-usaha membujuk Triska agar membatalkan hiatnya.
"Kau sehamsnya mempertahankan cintamu, bukan sebaliknya begini!" ibunya memberi nasihat.
"Setiap orang tentunya bisa berbuat salah, Tris. Tapi kita harus selalu siap memaafkan kalau orang-nya sudah insaf dan mau memperbaiki salahnya," ujar ayahnya.
Justm jalan ini kutempuh agar aku bisa mempertahankan respek dan cintaku padanya, Mam, Pap. Kalau kami tetap bersama, lambat atau cepat hu-bungan kami pasti akan re tak. Pelan-pelan aku pasti akan meremehkannya sebagai laki-laki yang nggak bisa pegang janji. Kalau dia bisa mengkhianati pacar yang begitu setia, apa jaminannya dia kelak nggak bakal mengulangi hal yang sama terhadapku! Tentu saja alasannya karena dia salah menafsirkan perasa-annya, sangkanya dia cinta padaku, tahunya itu cuma rasa tertarik belaka. Persis seperti yang dikatakannya mengenai Odi. Bukannya nggak mungkin kelak dia yakin. cintanya yang sejati adalah perempuan ketiga, bukan lagi Triska Omega!
"Praises, apa-apaan kau! Masa sudah jadi mami, tingkahmu masih kayak remaja! Deni kan sudah tiga puluh, nggak lama lagi kepalanya bakal penuh uban, kenapa kau nggak mau percaya pada kata-katanya? Kan mendingan hidup rukun bersama daripada cerai-berai kesepian?" bujuk Kris yang rupanya berdiri di samping Deni. Entah karena sama-sama laki-laki, pikir Triska. Ataukah karena dia kurang mengerti jelas duduk perkaranya!
"Ingat, kalian sudah menerima Sakramen Perka-winan!" tukas Martina mengacungkan telunjuk seperti ibu guru yang galak.
Triska tersenyum sendu. "Kaupikir, apa sebabnya aku terburu-buru minta cerai duluan? Kan supaya Deni terhindar dari salah, dan karena itu ke-mungkinan bisa diizinkan kawin lagi oleh gereja!"
"Walaupun kau merasa nggak memerlukan Deni, ingatlah Marco," bujuk abangnya sekali lagi. "Kalau kau nggak mau melakukannya untukmu sendiri, lakukanlah untuk anakmu. Janganlah berpisah. Maafkanlah Deni. Dia adalah sahabatku yang paling karib, aku tahu betul sifat dan pera-ngainya Nggak mungkin dia sengaja mau menyakiti hatimu maupun Odi. Terkadang kita nggak kuasa menahan perasaan kita sendiri. Dia jatuh cinta padamu, walau mungkin tidak di luar kehen-daknya. Tapi dia konsekuen dengan cintanya. Dia selalu setia padamu. Ya, dia terpaksa memutuskan janjinya dengan yang lain itu setelah temyata dia memang nggak mencintainya. Tanyailah hatimu, nggak pantaskah Deni kaumaafkan?"
Kesulitannya adalah, Triska selalu ngotot me-nyatakan bahwa tak ada yang perlu dimaafkan. Pembelaan mereka jadi terbentur tembok tinggi.
"Dia ayah dari anakmu, Tris," sambung Marti tulus walau dulu dia pernah ingin menjodohkan Triska dengan abangnya, Roy Parega. "Apa kau tega merenggut ayahnya dari sampingnya? Gimana kalau kelak dia merasa kehilangan?"
"Marco akan tetap memiliki ayahnya, Marti. Jangan khawatir. Hal itu sudah kupikirkan betul-betul. Aku nggak pernah akan menyakiti perasaan anakku. Aku ingin Marco tumbuh menjadi manusia yang bahagia, dan kurasa ayahnya sependapat denganku. Dia takkan menghindari atau melupakan anaknya. Dan aku akan selalu menerimanya dengan tangan terbuka bila dia datang menjenguk Marco. Aku ingin dia datang sesering mungkin, sebisanya membagi waktu. Marco nggak akan kehilangan ayahnya, jangan takut."
Akhirnya kasus Triska minta cerai menjadi go-sip yang tersiar di luar lingkungan keluarga, dari Marti ke Roy, ke Nero, ke Lupita (pemilik salon kecantikan), ke Sumi (langganan salon Lupita), ke Erik, balik lagi ke Triska.
"Sebenamya aku harus bersyukur mendengar kabar itu, Tris. Tapi aneh, kok nggak. Memang kalau kau bebas, kesempatanku akan naik sekian persen, mungkin juga akan bisa menang. Tapi aku nggak menyokong keinginanmu itu sebab aku tahu kau nggak akan bahagia tanpa suamimu. Deni-lah yang kaucintai, bukan aku, bukan siapa-sU
Karena itu kau harus bertahan di sampingnya. Aku minta, pikirkanlah kembali sebaik-baiknya. Kau hams menyayangi dan mengasihani dirimu sendiri, jangan biarkan dirimu merana hanya demi ego wanita atau karena harga dirimu terinjak-injak,1' ujar Erik mencoba memberinya pengertian.
"Kau gampang ngomong begitu, sebab kau nggak tahu apa persoalannya!" Triska membela diri dengan tenang.
"Kalau begitu, ceritakanlah. Aku memang masih gelap, apa sebenamya masalahnya. Sumi coma bilang, kau ingin cerai gara-gara misuamu ada main. Benarkah?"
"Maaf, aku nggak ingin membicarakannya de-nganmu atau Sumi atau siapa pun. Dan kuharap kau menemui aku di sini bukan semata-mata untuk urusan domestikkn!" Triska melempar senyum me-nawan membuat wajah Erik Sigma kontan terhiasi senyum gembira. Mungkin teringat masa-masa pa-caran kita yang manis SMA? pikir Triska ka-ngen kepada zaman purba. Ah, kenapa kita harus menjadi dewasa, kenapa zaman harus berubah? Kan enak tetap jadi remaja, nggak usah memikirkan masa depan, nggak punya tanggung jawab kecuali menyelesaikan PR dan membawa pulang rapor bagus, semua keperluan diurus dan dicukupi oteh Mama-Papa, nggak ada masalah ruwet yang bikin pusing tujuh keliling!
"Aku memang berniat mengajakmu makan siang. Kau ada waktu?"
"Tunggulah sebentar, aku cek dulu dengan pera-
wat. Kalau poliklinik sudah kosong dan nggak ada anak yang perlu tindakan segera, aku bisa pulang," ujar Triska seraya melirik jam di tangannya. Di-mintanya Erik duduk dalam kamar kerjanya sementara dia keluar. Seperempat jam kemudian dia kembali dan mengangguk pada tamunya.
"Beres. Aku sudah mengerjakan semua yang hams kulakukan." Dibenahinya kertas-kertas dan buku yang dimasukkannya ke dalam tas. "Yuk," ajaknya lalu keluar diikuti Erik.
"Pakai mobilku, ya. Nanti kuantarkan balik ke sini," usul Erik.
"Oke, tapi sebaiknya aku taruh dulu tas ini dalam mobilku. Buat apa dibawa-bawa, berat banget. Juga aku hams mengambil teleponku, siapa tahu ada yang ingin bicara."
Erik tidak keberatan, maka keduanya pun melangkah berdampingan menuju tempat parkir mobil-mobil dokter. Triska langsung melayangkan pandangnya ke arah yang diingatnya tempat mobil-nya berada, sehingga tidak dilihatnya laki-laki yang berdiri di samping mobil putih, asyik mem-perhatikannya. Dia baru sadar sedang diperharikan orang ketika hampir sampai ke mobilnya. Seakan ada indra keenam yang memberitahu, Triska mengangkat muka dan menoleh ke kiri. Deni tengah menatapnya dan ketika dilihatnya Triska menoleh, diangkatnya tangannya, melambai serta me-nyapa, "Halo, Tris."
"Hai, Den, sudah mau pulang?"
"Ya. Kau juga?"
Triska meiihat mata Deni melayang ke samping-nya tempat Erik berdiri menunggunya. Betulkah Deni kelihatan kurusan? pikirnya. Ataukah peng-lihatanku yang kurang beres? Tapi wajahnya jelas lesu, mungkin Odi rewel?
"Ya..." Sesaat dia ragu, kemudian memutuskan untuk berterus terang. Kenapa harus aku tutup-tutupi? Toh kami tidak berbuat salah!
"Ami, Erik mengajakku makan siang." Dia menoleh seakan memperkenalkan Erik padahal Deni pasti sudah tahu siapa laki-laki yang mengiringi-nya itu. Ketika mereka selamatan Marco diper-mandikan, Triska mengundang teman-teman SMA-nya termasuk Erik. Kedua laki-laki itu sempat ter-libat dalam percakapan, entah mengenai apa Triska nggak tahu, sebab tidak sempat nimbrung, sibuk di tempat lain.
"Halo, Deni," sapa Erik mengangkat tangan.
"Halo," balas Deni mengangguk.
"Kenapa kau nggak mau ikut kami?" undang Erik sambil menoleh pada Triska seakan minta persetujuan.
"Betul, Den, yuk ikut. Kau juga pasti belum makan!" sambung Triska dengan suara lembut me-nawan membuat Deni mengejap-ngejapkan matanya sesaat, entah karena terharu dan takut dike-tahui sedang berkaca-kaca matanya, atau karena kaget tiba-tiba mendengar lagi suara yang dirin-dukannya!
Deni kelihatan ragu, namun cuma beberapa de-tlk. Dengan gesit dia mengambil keputusan positif.
"Oke," serunya tertawa. "Kebetulan aku sedang kepingin makan rendang, atau... kalian punya ren-cana lain?"
"Ah, sebenamya kami belum membicarakan mau makan di mana. Tapi Erik kebetulan memang suka mas akan Padang, sama seperti kau, jadi kita ke rumah makan Minang saja, deh."
"Kau sendiri gimana, Tris?" tanya Erik. "Apa prioritasmu?"
"Oh, aku sih suka semua!" Triska tertawa. "Padang, India, Jepang, Korea, Cina, sebut apa saja, aku pasti sudah mencoba."
Jadi mereka memutuskan untuk makan rendang di Blok M. Deni tidak menawarkan untuk menga-jak Triska, dan Triska juga tidak menjelaskan bah-wa dia akan ikut Erik. Ketika Deni sudah memutar kunci kontak, Triska juga selesai membenahi tas-nya ke dalam mobilnya. Dia mengunci pintu, lalu melambai ke arah mobil putih. "Kita ketemu di sana, ya!"
"Ya!" sahut Deni balas melambai, sementara mobilnya meluncur pergi. Makan siang itu ber-langsung dengan tertib, hangat, dan ramah seperti layaknya pertemuan orang-orang yang sudah de-wasa. Erik menaruh simpatik pada keadaan Deni. Walaupun topik itu tidak disinggung-singgung, se-lama percakapan jelas kelihatan bahwa Erik tidak berniat merayu Triska.
Namun tidak semua orang bersimpati terhadap Deni. "Aku nggak menyalahkan tindakanmu, Tris," ujar Roy Parega sambil nyengir kuda. "Deni juga
nggak bisa menyalahkanmu. Semua itu akibat dari perbuatannya sendiri, Kalau dia sampai patah hati, bukan kau penyebabnya. Dia sendiri yang telah menyakiti dirinya. Jadi kau nggak perlu merasa bersalah, Tris. Jangan dengarkan ocehan orang-orang mengenai kesetiaan dan hidup rukun dan keluarga bahagia dan anak perlu ayah! Semua itu gombal. Mereka bisa berkhotbah panjang-lebar sebab nggak merasakan sendiri! Buat apa memaksa-kan bertahan dalam perkawinan tanpa kecocokan? Buat apa bersandiwara biar dipuji rukun, bila hati kita nggak bahagia? Jangan ladeni ocehan orang, Tris. Lakukan saja apa yang terbaik menurut perasaan dan keyakinanmu! Aku menyokoagmu selalu."
Triska tersenyum geli. Tercuma kau buang-buang energi begini, biar kau ngoceh seharian pun, aku nggak bakal terbujuk mau kawin denganmu! Aku sudah menerima Sakramen Perkawinan, di mata Tuhan, aku sudah, masih, dan selalu menjadi istri Deni."
Nyengir kudanya makin lebar, tapi Roy tidak merasa malu setelah ketahuan belangnya. Dia malah menggosok-gosok kedua tangannya seperti orang yang sedang mengharapkan rezeki nomplok. "Omong kosong!" serunya penuh semangat. "Be-rapa banyak orang Katolik yang cerai lalu kawin lagi? Kalau perlu, minta izin dari Paus!"
"Buat apa susah-susah begitu? Kan mending cari saja gadis lain yang masih bebas. Pasti banyak yang cakep-cakep di pasaran! Dan siapa
yang nggak mau sama dokter ganteng begini? Mirip Elvis lagi, terlebih kalau sudah nyanyi men-jeritkan One Night With You..." Triska tertawa geli, disambut gelak membahana dari Roy.
Roy kelihatannya punya bakat bandel, tapi Triska tidak merasa perlu khawatir, dia yakin akan dapat menjaga jarak dengannya. Lebih sulit lagi menghindari bujukan serta penyidikan Sumi yang mendesak.
"Aku sama sekali nggak bisa ngerti gimana ini bisa terjadi!" serunya geleng-geleng kepala kehe-ranan. "Kalian begitu rukun, sampai Hansa pernah bilang, 'Triska sama Deni seperti orang masih pacaran saja!' Kami semua kagum dan iri pada kalian, tahu. Sekarang mendadak aku dengar kau mau pisah! Aku nggak bisa percaya! Nggak mungkin kau tega membuat Deni merana! Katakan sebabnya, Tris. Kenapa sin?"
"Aku sulit mengatakannya, Sum. Mungkin se-baiknya kautanya Deni saja. Aku merasa kurang punya wewenang buat menjawab."
"Lihat! Sampai saat terakhir pun kau masih tetap mau membela Deni! Berarti kau sebenamya masih mencintainya! O, ya, aku dengar persoalan-nya menyangkut seorang wanita. Tapi kalau kau masih mencintainya, kenapa nggak coba memaaf-kan saja, Tris? Apalagi aku dengar Deni sudah minta maaf dan menyatakan sangat mencintaimu."
"Masalahnya lebih rumit dari sekadar 'ada wanita lain', Sum," Triska coba menangkis sambil menghela napas.
"Aku nggak habis mengerti, serumit apa sih!" semnya geleng kepala kewalahan. "Kalau kau ma-rah, aku bisa ngerti. Seandainya Hansa ketahuan mencipok perempuan lain, mungkin kuambilkan golok dia! Aku maklum bila kau marah. Tapi kan nggak perlu kontan cerai, bukan? Apa nggak bisa tunggu dulu sampai hatimu dingin dan marahmu reda?"
"Siapa yang bilang aku marah?" tukas Triska tersenyum.
"Habis, kau ngotot mau cerai! Kalau bukannya marah, apa dong?"
"Itu yang sulit kukatakan!"
"Hm. Rupanya kau sudah nggak nganggap diri-ku sebagai teman!"
"Bukan begim, Sum. Kau tetap kuanggap teman karibku, tapi ini urusan domestik, maaf deh, nggak bisa kupubhkasikan. Ini antara Deni dan aku. Bah-kan kepada orangtuaku nggak aku ceritakan sebabnya Terserah Deni nanti, kalau dia nggak keberatan, boleh dikatakannya sendiri pada mereka."
"Nah, nah, sekarang malah jadi misterms. Orangtua sendiri pun nggak boleh tahu!" Sumi geleng-geleng, tampaknya makin kewalahan. "Tapi, Tris, apakah ini tindakan yang paling baik? Apa sudah kaupikirkan matang-matang?"
"Sudah. Sampai kepalaku ubanan!" Triska tertawa membuat temannya mendelik seakan mema-rahi.
"Hm. Jadi sudah kaupikirkan apa akibatnya bagi anakmu? Gimana nanti kalau dia menanyakan
ayahnya? Lalu gimana anakku, Linus? Kami— Hansa dan aku—berharap kalian akan mau ikut mendidiknya. Tapi sekarang? Baguskah contoh yang kalian berikan ini? Gimana aku akan meng-ajarinya supaya dia meneladan kalian? Masa anakku kecil-kecil sudah dikenalkan sama perceraian? Oh, Tris, jangan bikin kacau hidupmu dan hidup kita semua! Pikirkanlah sekali lagi niat ini. Aku yakin, kalau kau mau mengobrak-abrik hati kecil-mu, pasti akan kautemukan kenyataan bahwa kau sebenamya ingin rujuk lagi! Tris, janganlah bunuh diri seperti ini. .Perceraian adalah penyakit yang paling mengerikan. Kalau hatimu dan hatinya sama-sama binasa, tegakah kau? Layak apa nggak perempuan itu kaubiarkan merajalela merusak hidupmu dan membunuh cintamu?"
Tawa Triska mendadak sirna, berganti dengan linangan air mata. Kau nggak mengerti, Sum. Cin-taku takkan terbunuh gara-gara perempuan itu. Justru sebaliknya. Karena aku sangat mencintainya, aku nggak ingin dia dicap sebagai laki-laki "terang bulan terang di kali" yang nggak bisa dipercaya mulutnya. Aku ingin dia diagungkan sebagai laki-laki yang berintegritas tinggi, bukannya yang "lain di bibir lain di hati". Laki-laki yang menerima seluruh akibat perbuatannya walau itu berarti melukai hatinya dan hatiku, walau itu akan menyeretnya ke lembah sengsara. Kita semua akan merana, aku tahu. Tapi semua itu akibat dari perbuatan kita sendiri, nggak ada yang hams dise-sali. Kau nggak tahu, Sum, berapa intimnya dia
dengan perempuan itu! Perempuan itu sudah me-ngorbankan anaknya sendiri untuk Deni! Demi supaya bisa mempertahankan cinta mereka yang penuh halangan. Dia bahkan merelakan Deni kawin dulu dengan orang lain, suatu tindakan yang sangat gegabah. Kan selalu ada kemungkinan istri Deni takkan mau melepasnya kembali? Coba kalau istrinya itu bukan aku, apa yang akan terjadi? Kan pengorbanan perempuan itu akan sia-sia belaka? Bertahun-tahun menunggu hanya untuk dicampak-kan. Sekarang, ketika warisan yang diimpi-impikan itu sudah akan jatuh ke tangan. Orang idiot mana yang akan tinggal diam saja diperlakukan begitu? Kalau aku di tempatnya, aku juga akan nuntut dia kembali. Aku nggak bakal mundur sebelum dia menepati janjinya memperistri diriku! Aku nggak mau mengerti! Aku pasti akan ngamuk. Memang-nya aku ini barang loakan yang gampang dilem-par-lempar begitu saja?
Triska memandang temannya dari balik air mata. Bibirnya digigitnya sementara dia menghela napas. Semua itu tanda keresahan. Sejak kecil dia selalu menggigit bibir serta menghela napas bila sedang resah.
Kau benar, Sum, perempuan itu nggak layak dibiarkan mengobrak-abrik hidup kami, Tapi dia berhak, Sum. Pengorbanannya serta kesetiaannya memberinya hak atas suamiku. Dan aku nggak ingin suamiku diingat dalam sejarah sebagai laki-laki yang gampang mencampakkan perempuan dan nggak segan-segan menjilat ludah sendiri.
"Kau nggak usah khawatir, Sum. Anakku nggak bakal kehilangan ayah, begitu juga anakmu akan tetap kita didik bersama. Aku tahu Deni, walaupun lemah hatinya baik. Dia pasti nggak akan mene-lantarkan anaknya. Dan dia juga pasti akan memberi teladan yang baik bagi anak-anak kita."
"Tapi kalian akan bercerai!" Sumi menguik seperti babi yang putus asa di hadapan pembantai. "Apakah itu kausebut teladan yang baik?"
"Jangan takut. Anak-anak lebih bisa menerima keadaan daripada yang kita sangka. Mereka akan bisa mengerti asal kita beri penjelasan yang masuk akal. Aku yakin, situasi ini nggak akan memberi akibat buruk pada mereka. Kaupikir, aku akan rela mencelakakan anakku sendiri?"
"Kau belum menjawabku!" desak Sumi penasar-an. "Apakah tindakanmu itu sebuah teladan yang baik?"
Triska menghela napas dan menggigit bibirnya kembali. "Perlukah kujawab, Sum? Perlukah kute-lanjangi hatiku bulat-bulat di sini, di depanmu? Supaya kaulihat betapa menderitanya aku?!"
Sumi tiba-tiba menubruk Triska dan memeluk-nya erat-erat. "Oh, Tris, maafkan aku. Bukan mak-sudku mau menambah luka hatimu. Tris, aku ingin menceritakan rahasiaku, mungkin bisa berguna untuk perbandingan. Kau kan tahu, Hansa sering sekali ke luar negeri. Biasanya aku suka ikut, tapi sejak hamil, aku jadi ogah jalan-jalan. Hansa waktu itu ke Jepang, rupanya ketemu kenalan lama yang pernah kecantol dengannya sebelum dia
kawin denganku. Nah, Hansa kesepian, kena deh dirayu habis-habisan sampai-sampai janji mau membelikan apartemen! Kau tahu kan mahalnya tempat tinggal di Tokyo!
¦ "Waktu Hansa pulang, sikapnya tetap biasa. Aku juga sama sekali nggak curiga. Tapi ketika aku membenahi isi kopernya, aku temukan kuitan-si kontrak apartemen untuk tiga tahun! Bayangin, Tris! Untung cuma ngontrak, nggak sampai beli, berapa tuh harganya! Begitu Hansa pulang dari kantor, langsung aku konfrontasi. Dia langsung pasang bendera putih, manggut-manggut minta am-pun, sampai bertekuk lutut, niatnya mau mencium kakiku tapi kuegoskan sehingga terpaksa puas cuma mencium tan ah air. Wan, hatiku kayak apa panasnya waktu itu! Mungkin dipakai mendadar telur pun bisa matang! Pikiranku waktu itu juga sama buteknya seperti pikiranmu saat ini. Aku langsung bikin skenario di kepalaku. Minggat ke rumah Mami, lalu cerai!
"Untung Hansa mencegah dengan segala daya agar aku jangan sampai kabur. Alasannya, dia terlalu cinta padaku, sedangkan cewek.Sanyo-To-shiba-Mitsubishi itu cuma mainan iseng seperti video game kegemarannya. Tapi dugaanku sih, alasan sebenamya adalah, dia malu kalau sampai ketahuan mertuanya bahwa dia sebenamya alim-alim sambuk!
"Wah, waktu itu rumah kami seperti adegan Perang Vietnam saja. Tanya deh mbokku. Aku neambek, ngamuk, nggak tahu deh berana hari.
Tapi Hansa tetap telaten meladeniku, menerima salah, nggak membalas sepatah pun semua makian dan kata-kata pedas yang kulontarkan, begitu ba-nyaknya sampai aku kehabisan kata dan rasanya semua kata dalam kamus yang lebih pedas dari-pada lada sudah aku hamburkan ke mukanya. Tapi Hansa nggak membalas. Dengan rendah hati dia mengaku salah dan menerima semua akibat ulah-nya. Akhirnya aku juga lemas, kehabisan akal untuk memusuhinya. Permusuhan itu kan cuma bisa terjadi dari dua pihak, Tris. Kalau yang satu-nya bertekad nggak mau balas memusuhi, pihak yang marah itu pun nggak berdaya lagi, ibaratnya seperti memukul angin, nggak bisa menang.
"Singkat cerita, akhirnya aku yakin, dia memang mencintaiku, dan aku juga masih tetap mencintainya. Jadi kami rujuk, deh. Dan sekarang kalau sedang angot, dia suka bergurau, 'Aku tobat deh, main-main sama kembang sakura, melati yang ku-anyam di rumah bukannya layu merana tapi malah melilit sukmaku yang nggak berharga ini, mem-buat aku merasa diriku yang paling hina-dina...'" Sumi tertawa. "Itu ocehan Hansa kalau lagi sinting alias senang. Tapi kuceritakan rahasia ini bukan untuk menyenangkan hatimu atau supaya bisa kau-gosipkan, tapi supaya kau mau membandingkan kesulitanmu dengan problem kami dulu. Apakah kesalahan Deni lebih besar dari kesalahan Hansa? Adakah kesalahan yang lebih fatal dari seorang suami selain itu? Apakah Deni juga mengontrak-kan perempuan itu rumah? Atau memberinya naf-
kah tiap bulan? Atau masih terus menghubunginya
sampai sekarang?" Triska melepaskan diri pelan-pelan dari pelukan
temannya. lalu beralih ke pinggir kolam meng-
awasi ikan-ikan. Keduanya memang tengah berada di gazebo dalam kebun Dokter Justin Omega. Marco sedang tidur, jadi Triska leluasa menemani tamunya tanpa gangguan.
Sumi menghampiri dan berdiri di sampingnya, diam, menunggu. Namun sampai lama Triska tidak juga membuka mulut, sehingga Sumi akhirnya terpaksa meneruskan "seminar"-nya sepihak saja.
Tris, kau bersedia, kan, memikirkan semua yang kukatakan? Aku menyayangimu seperti sau-dara kandung, aku juga mengagumi Deni seperti abang sendiri, masa kau tega menghancurkan perasaan orang yang mencintai dan mengagumi kali-ajar
Kau nggak tahu, Sum! Sedangkan hatiku sendiri kuhancurkan, bagaimana aku akan disuruh mem-perhatikan dan merawat perasaan orang lain?
***
Akhirnya Deni sendiri yang memecahkan per-soalan itu. Semua anggota keluarga dan teman sudah tak berdaya mengubah keinginan Triska. Bahkan bujukan agar dia menunda saja dulu niat-nya barang setahun dan selama itu mereka akan hidup terpisah, juga ditolaknya. Dia ingin putus, sekarang juga!
Minggu siang itu seperti biasa Kris membawa
Martina dan Bobi untuk makan siang di tempat orangtuanya. Deni juga hadir, sebab dia selalu muncul setiap akhir pekan untuk menengok Marco dan bermain-main dengannya sampai malam, sampai Triska mengingatkannya bahwa jam tidur bayi bukanlah menjelang tengah malam. Deni betah sekali mengasuh anaknya, seakan waktu absennya selama seminggu ingin dikejarnya dalam waktu sehari.
Sore itu udara kebetulan jelek, hujan turun, sehingga Kris belum bisa pulang. Jadi Bobi ditidur-kan di samping Marco, ditemani pembantu, sementara Kris dan Marti duduk di bawah, berbincang-bincang dengan Dokter Justin serta istrinya. Triska dan Deni juga hadir, namun tidak begitu antusias untuk ikut iuran komentar.
Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya seakan telah disepakati, ibu Triska mulai menyentuh masalah konflik anak menantunya, dan Kris langsung menyambut dengan bujukan-bujukan yang di-tujukan ke adiknya.
"Mama nggak bisa mengerti jalan pikiranmu, Tris. Apa sebabnya kau tetap ngotot nggak mau memaafkan Deni yang sudah mengaku salah?"
"Aku juga nggak ngerti!" sambung Kris. "Kau sekarang duduk berdampingan dengan Deni, orang luar pasti mengira kalian adalah pasangan yang sangat rukun, tapi tahunya!" Kris menghela napas dan geleng-geleng kepala.
Dokter Justin memandangi putrinya dengan penuh sayang, kedua tangannya dikatupkannya
seakan tengah berdoa, dan kepalanya mmiringkan seolah-olah dengan begitu dia bisa berpikir lebih bijaksana atau bisa menilai perasaan anaknya dengan lebih baik.
"Tris, Papa sudah mendengar pengakuan Deni, Papa mengerti perasaanmu..." Nggak! Papa nggak ngerti! "...tapi apakah niatmu itu tidak terlalu kesusu? Bagaimana kalau kaupikirkan sekali lagi? Papa rasa sebaiknya kautenangkan pikiranmu dulu, mungkin selama beberapa minggu atau beberapa bulan kalian berdua menghindarkan diri tidak sating bertemu dulu, biar masing-masing mendapat kesempatan untuk menilai seluruh situasi dengan lebih objektif.
"Masalahnya sekarang, urusan ini bukan cuma menyangkut kalian berdua. Kalian sekarang sudah mempunyai Marco. Kau sudah menjadi ibu, Tris, tugasmu untuk mendidik serta merawat anak tidak boleh dianggap enteng. Seandainya kau masih berdua saja dengan Deni, mungkin Papa tidak akan sampai tank urat begini mencoba membujukmu agar membatalkan niatmu. Kau sekarang punya tanggung jawab terhadap Marco. Deni juga sudah mengaku bersalah. Apakah tidak sebaiknya kita kubur saja peristiwa ini?"
Orangnya datang menuntut, Pap! Dia mau bikin perhitungan, menagih janji yang telah diberikan padanya oleh suamiku yang tercinta!
"Papa yakin sudah tahu duduk perkara seluruh-aya?" tanya Triska perlahan.
"Aku sudah menceritakan semua sampai ke de-tail-detailnya, Tris," Deni menolong jawab sambil menoleh padanya, tapi Triska menghindar, tak mau balas memandang. Mereka duduk di sofa yang kecil, yang cuma muat untuk dua orang sehingga keduanya terpaksa bersentuhan, namun Triska seperti orang yang sudah putus tulang lehemya sehingga dia sama sekali tak bisa bergerak. Ketika Deni bicara sambil menoleh dan menyentuh le-ngannya, Triska tetap diam tak bergeming seolah tidak dirasakannya sentuhan itu.
"Ya, Deni betul, Papa sudah tahu jelas apa per-soalannya." Dokter Justin mengangguk. "Dan Papa setuju dengan permintaan Deni agar kau memaaf-kannya serta melupakan masa lalu itu."
Kris menimpali, "Setiap orang bisa khilaf, Prin-ses. Aku juga mungkin saja bisa kecantol cewek bahenol..."
"Iiih, maumu!" pekik Martina.
"...tapi setelah kenalan sama cewek bawel ini,* ditunjuknya Marti di sampingnya, "mendadak aku tahu apa yang disebut cinta, dan bam aku sadar, aku sebenamya nggak pernah mencintai si centilku itu, tapi cuma kesengsem. Nah, masa tiada maaf darimu? Kalau orang nggak boleh berbuat salah, berarti bukan manusia, dong, namanya."
"Tris, apakah selama ini Papa dan Mama pernah menyakiti hatimu?" tanya ibunya, membuat Triska menatapnya keheranan.
"Terang nggak dong, Mam. Masa Mama nanya begitu?!"
"Jadi kau percaya, Papa-Mama takkan menyu-ruhmu melakukan apa-apa yang akan membuatmu sengsara?"
Triska tertawa dan memandang setiap hadirin bergantian, termasuk orang di sampingnya, lalu dia menggeleng sebelum menjawab, "Mam, ada apa, sin? Kok Mama ngomongnya makin aneh-aneh saja, sih?!"
"Kau akan mengerti Jawab saja. Kau percaya, kan?"
Triska menggigit bibir bawahnya dan mengangguk seperti anak kecil.
"Nah, kalau Papa-Mama sekarang mengusulkan agar kau jangan berpisah, kau tentu percaya, kan, itu untuk kebaikanmu? Kebaikanmu sekeluarga: kau, Deni, dan Marco?"
Ini yang jadi terdakwa aku atau Deni, sih? Kok semua orang menyokongnya, sedan gk an aku cuma kebagian celaan, mana simpati bagiku, Mam, Pap, Kris, Marti? Aku juga merana! Tak adakah yang tahu?
Tris, anakku," bisik Dokter Justin seraya me-nyorongkan tubuh ke depan, kedua tangannya ter-katup dan sikunya ditumpunya di atas paha. "Se bagai orangtua, Papa-Mama selalu mengutamakan kepentingan anak, Kami ingin anak-anak mendapat semua yang diperlukan, semua yang terbaik. Kami ingin kalian bahagia. Kebahagiaan itu bukan melulu terdiri atas mainan dan pakaian yang bagus, Tris, tapi juga kasih sayang bagi anak-anak. Kasih sayang dari orangtua untuk anak, dan kasih sayang antara
orangtua. Papa tidak usah panjang-lebar mengatakan apa akibatnya broken home bagi seorang anak. Kita umumnya gampang menebak apakah seorang anak berasal dari keluarga yang retak atau tidak. Nah, sekarang Papa mau tanya, apakah kau ingin mem-biarkan Marco menjadi anak broken homeV
Tentu saja nggak, Pap."
"Nah?"
"Pap, boleh saya tanya sesuatu?" "Tentu saja, Tris."
"Seandainya seorang laki-laki ingin menikah dengan saya tapi pernikahan tidak bisa segera dilang-sungkan dan dia minta saya menunggu tiga tahun dengan janji setelah itu betul-betul akan kawin dengan saya dan saya sudah berkorban besar sekali. Menurut Papa, apa yang sebaiknya saya lakukan bila orang itu temyata ingkar janji?"
Sekarang semua orang—termasuk Deni—terbe-lalak dan duduk lebih tegak. Semua kuping jadi tegak ketika Dokter Justin menanyai putrinya, "Apa maksudmu dengan 'berkorban besar sekali'?"
Nyonya Rosa Omega juga mengerutkan kening. "Maksudmu, Odi sudah berkorban besar sekali?"
"Korban apa, sih?" Pertanyaan ini seakan dituju-kan pada Deni, sebab Kris menoleh padanya tapi yang dituju cuma mengangkat bahu dengan wajah tak mengerti, lalu menoleh pada Triska seolah mengharapkan penjelasan. Namun Triska tidak membalas tatapan Deni. Dia cuma balas menatap kedua orangtuanya bergantian, lalu menunduk sambil menghela napas.
Tris, coba jelaskan!" desak ayahnya.
"Saya nggak bisa menjelaskan. Mungkin Deni bisa?" Triska menoleh. menatap suamtnya dengan kening terangkat. Wajah Deni tampak ineroucat
Hah! Kaget kau? Berterimakasihlah, aku nggak lancang menyebut-nyebut soal aborsi pacarmu! Be-rantkah kau berterus terang? Ayo, akui secara jan-tan bahwa kau memaksa Odi menggugurkan kan-dungannya! Pantas kau selalu berceloteh, bagimu anak tidak penting. Temyata yang sudah tumbuh pun kausuruh bunuh! Anakmu sendiri, darah da-gingmu sendiri, kauenyahkan! Tindakan ini saja sudah cukup untuk membuat aku menjauhkan diri dan sampingmu. Kalau bukan demi Marco, aku pasti nggak mau melihatmu lagi! Manusia mac am apakah yang tega membunuh anak sendiri? Laki-laki seperti apakah yang bisa mengelakkan tang-gung jawab segampang itu? Sudah sekali kau lan dan tanggung jawab, sekarang untuk kedua kali-nya kau mau lari lagi, menolak memenuhi janjimu pada Odi?! Siapakah kau sebenamya. Den? Kukira kau pantas kucintai, kusangka kau seorang laki-laki berkepnbadian kuat, tapi tahunya...
"S-saya s-sungguh ng-nggak m-mengerti m-maksud T-triska," Deni menanggapi terbata-bata. "K-kenapa k-kau ng-nggak b-bilang s-saja t-tems t-terangT
Tapi Triska menggeleng. "Percaya sajalah, Pap, begitu kejadiannya. Pertanyaan saya adalah, apakah Papa akan tinggal diam saja bila orang itu menolak saya dengan alasan sudah telanjur men-
cintai yang lain? Ataukah Papa akan memaksa orang itu agar memenuhi janjinya? Apakah saya berhak menuntut supaya dia kembali?"
Tentu saja Papa tidak akan membiarkan anak Papa diperlakukan semena-mena! Tentu saja Papa akan bikin perhitungan dengan orang itu!"
"Nah?" tukas Triska, menoleh pada Deni yang kelihatan makin pucat wajahnya sedangkan matanya yang hitam tampak oleh Triska menggelepar dalam lumpur ketakutan.
Hah! Aku ingin lihat sampai kapan kau akan mampu menyembunyikan masa lalumu yang hitam)
"Tapi dalam urusan cinta, sulit kita memaksakan kehendak," komentar Kris hati-hati tanpa meman-dang siapa pun. "Cinta nggak bisa dipaksakan. Kalau orang itu sudah telanjur mencintai yang lain, ya apa boleh buat! Dalam hal ini, Deni sudah telanjur mencintaimu, ya apa mau dikata, sudah untungmu. Odi Bobadila terpaksa minggir. Me-mangnya nggak ada laki-laki lagi di dunia ini selain Deni? Sebagai wanita yang cantik dan ter-kenal, mana mungkin dia bisa kesulitan mendapat pasangan? Bukankah dia sedang pacaran dengan Roy, Mar?" Kris menoleh pada istrinya yang duduk di sampingnya.
Martina mengangguk. "Mereka memang kelihat-annya pacaran. Roy malah pernah bilang sama Mami, dia sudah ketemu cewek cakep yang ke-mungkinan bakal jadi calonnya. Tapi ditunggu-tunggu, kok nggak ada kelanjutannya. Mami sam-
pai bosan menanyakan. Roy tetap seperti orang tuli, nggak pernah melapor lagi."
"Aku tahu sebabnya," tukas Triska, tersenyum pada Marti. "Deni kan punya harta karun. Mar! Sedangkan abangmu nggak!" "Gara-gara warisan!" Deni mendumal sendiri an. Kau kelihatan kesal, Den. Masa kejatuhan re-zeki dari langit membuatmu jadi kesal? Bukannya justru bahagia? Bukankah uang itu merupakan tu-juan utama manusia? Coba lihat Odi, kalau harta-mu nggak sampai selangit begitu, mungkin dia nggak peduli kau masih ingat atau nggak padanya!
"Ya, kau benar, Tris! Pasti karena soal harta!" Marti mengangguk.
Kris tertawa. "Sudaniah, Den, sumbangkan saja duit itu ke mana, kek! Biar Odi nggak menggang-gumu dan Triska juga nggak menuntut yang bukan-bukan. Tris, seandainya Odi nggak lagi menuntut Deni kembali padanya, kau juga akan batal bercerai, bukan?"
Deni meringis dan mendahului Triska, "Masa-lahnya nggak segampang itu, Kris. Uang itu memang untukku, tapi sebenamya akan diterima oleh ayahku. Seharusnya ayahku dan adiknya, Tante Leila, yang mendapat warisan itu. Tapi kakekku sudah tidak mengakui Tante Leila sebagai anak, sebab dia menikah dengan orang yang dibenci Kakek. Oom Saleh, suami tanteku, pernah dituduh telah menyebabkan kematian Oom Jon, anak kesa-yangan Kakek. Jadi Tante nggak kebagian sepeser pun, tapi ayahku kasihan pada ketiga keponakan-
nya, jadi setelah Kakek meninggal dibujuknya Ne-nek agar anak-anak Tante diberi bagian juga.
"Nenek menumtinya. Maka cucu-cucunyalah yang jadi ahli waris, Ayah tidak disebut sebab Nenek tetap menolak mengakui Tante sebagai waris, jadi ayahku juga nggak mau namanya ditulis dalam testamen. Ayah memang sangat menyayangi adiknya, dan menumt dia, Tante Leila nggak salah apa-apa, kenapa hams dihukum. Tapi Kakek dan Nenek berpendapat, kalau Tante diberi warisan, berarti Oom Saleh juga akan ikut menikmati, dan mereka nggak mau itu terjadi."
"Rumit beeng!" komentar Kris menggeleng-ge-leng. "Jadi kau ahli warisnya, tapi ayahmu meng-anggap uang itu sebenamya miliknya."
"Ya, begitulah." Deni mengangguk.
"Nah, kenapa tidak kauberitahu Odi, uang itu milik ayahmu?" usul Dokter Justin. "Begitu dia tahu kau sebenamya tak berduit, pasti dia akan mundur, kalau motifnya memang semata-mata cuma uang!"
"Pap, walaupun dia tahu keadaan sebenamya, belum tentu dia akan mundur. Siapa tahu dia punya rencana jangka panjang. Deni kan anak tunggal, semua kekayaan ayahnya kelak pasti akan jatuh ke tangannya, berarti ke tangan istrinya, kan. Nah, Odi tentunya ingin berjaga-jaga, supaya bila saat itu tiba dialah yang jadi istri, bukannya saya." Triska mengangkat bahu.
"Papa belum menyerah! Pasti masih ada jalan keluar yang baik. Masa kita mau membiarkan perempuan itu mengobrak-abrik hidup kita?"
Dokter Justin menundukkan kepala. menangkup-kan kedua tangan dan meletakkannya di depan bibirnya yang terkarup rapat, lagaknya mirip orang yang sedang berdoa.
"Masalahnya, ini bukan cuma menyangkut Odi, Pap. Tapi menyangkut Deni juga. Dia sudah mem-benkan janjinya pada Odi, saya berpendapat dia harus menepaunya. Di samping itu, saya tidak mau dituduh me nun pas calon suami orang lain!"
"Astaga! Dia menuduhmu begitu?" Nyonya Rosa menegaskan.
"Kurang ajar! Berani benar dia!" Kris men-dumal sengit. .
"Biar nanti kuadukan pada Roy supaya dia dite-gur!" ajar Marti dengan penuh semangat, dan untuk setia kawannya itu dia dipeluk erat oleh Kris.
"Jangan emosi," cegah Dokter Justin tenang. "Kita tidak bisa meiarang orang bicara. Kita hams -menempatkannya sedemikian sehingga dia tak punya aiasan sedikit pun untuk menuduh Triska sem-barangan."
"Jalan satu-satunya adalah Deni hams kembali padanya!" tukas Triska tenang seakan tengah men-diskusikan cara terbaik untuk mereparasi tulang yang patah. "Dia menuntut agar saya minta cerai. Kalau tidak, dia mengancam akan menghubungi koran dan menuduh saya merebut calonnya."
Semua orang terkesiap mendengar penuturan itu. Deni menoleh dan mencekal tangan Triska yang terletak di pangkuan. Triska tidak rnenepisnya, watir menyinggung atau dianggap kurang
sopan. Kris mengutuk pelan sambil memukulkan tinjunya ke telapak tangannya. "Kalau saja dia laki-laki, sudah kutantang berkelahi!" ujamya sengit. Marti bum-bum memeluk dan membujuknya
agar tenang.
Dokter Justin berpandangan dengan istrinya. Mereka tampaknya kehilangan akal, tak tahu persis apa yang hams di lakukan. Tapi aku tahu! pikir Triska pasrah. "Bagaimanapun kita hams mencegah jangan sampai dia menarik-narik tangan wartawan! Sekali masuk kolom gosip, buat selamanya hidup takkan tenteram lagi!" ujar Dokter Justin.
"Ini kan urusan rumah tangga, masa mau dijadikan bah an sensasi murahan! Aku ingin sekali me-namparnya! Berani-beranian dia mengancam anakku! Kalau dia sampai melaksanakan ancamannya, akan kita seret ke pengadilan!" janji Nyonya Rosa dengan mata berapi-api.
"Sudah gila barangkali dia!" ujar Marti. "Kalau masuk koran, kan berarti namanya juga bakal ter-seret. Apa dia takkan malu?"
"Orang nekat mana punya malu?" Kris menim-pali setengah mengejek.
"Dia mengancam akan bunuh diri,' dan mengi-rimkan versi ceritanya ke koran-koran!" Triska menjelaskan. "Dia berharap dirinya sudah mati pada saat kisahnya dimuat, jadi dia nggak bakal merasa malu."
"Masya Allah!" sent Nyonya Rosa tercengang seolah tidak percaya.
"Betul-betul gila!" Marti mengangguk tandas.
Deni menarik napas panjang dan kesal sambil menggeleng-geleng. "Karena aku, kau jadi dibikin pusing begini!" keluhnya seraya memandang Triska dan me re mas tangannya. Triska membalas ta-tapannya dengan senyum sendu tanpa berkata apa-apa.
"Dan orang gila selalu bisa nekat!" Kris me-nyambung istrinya.
"Karena itu kita hams bertindak hati-hati sekali," ujar Dokter Justin mengangguk pada semua.
"Jalan satu-satunya adalah seperti yang saya usulkan," ujar Triska setenang batu di dasar kolam.
"Tris!" sem ibunya menyayat hati. "Jangan nekat!"
"Apakah Mama punya usuJ yang lebih baik?" Triska tersenyum pilu, sementara Deni menunduk sambil bemlang-ulang menghela napas.
Kau kelihatan tak berdaya menghadapi Odi, bukan? Ya, kau memang nggak berdaya menghadapi tuntutannya. Dia datang mau bikin perhitungan, menagih janjimu padanya. Dan istrimu terpaksa hams berkorban. Istrimu terpaksa harus kaukor-bankan, Den.
"Saya juga tidak bercita-cita menjadi janda, Mam. Saya tahu, perceraian membuat orang me-rana, tapi kalau saya sampai digosipkan dalam koran, pasti akan lebih merana lagi. Kalau kami bercerai sekarang, kami masih bisa mempertahan-kan hubungan baik sebagai teman. Saya tetap res-
pek pada Deni karena dia bersedia memenuhi janji." Aku juga masih mencintaimu! "Tapi kalau perkawinan ini ditemskan, akhirnya toh kita akan bercerai juga setelah respek dan cintaku padamu hi-lang, Den." Bicaranya kini ditujukan pada Deni. Keduanya saling memandang, mata mereka saling memagut dalam tikaman yang tak terlerai, penuh rindu dan derita.
"Aku nggak bisa respek pada laki-laki yang melarikan diri dari tanggung jawab! Dan itulah kau, bila kau bertahan di sampingku! Kalau respek dan cinta sudah hilang dari perkawinan, kita gampang menjadi musuh, Den. Aku nggak mau itu terjadi, sebab akibatnya kurang baik untuk Marco."
Semua orang terdiam mendengarkan ucapan Triska. Mereka memandang pasangan itu dengan berbagai perasaan, namun tak ada yang buka suara.
Untuk beberapa menit hening di mangan itu sampai akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh tarikan napas Deni yang berat.
"Mam, Pap, Kris, dan Marti, saya menyatakan terima kasih atas support yang kalian berikan pada saya. Tapi prioritas saya adalah Triska serta Marco. Setelah saya pikir-pikir, saya mendapat kesim-pulan, apa yang di katakan Triska memang ada benarnya. Namanya tidak boleh sampai terseret ke dalam koran, menjadi bahan gosip murahan. Untuk mencegah kemungkinan Odi akan mata gelap, wa-laupun dengan sangat berat, saya terpaksa menye-tujui permintaan Triska untuk bercerai...."
Triska menoleh bersamaan dengan Deni. Kedua-nya bertatapan serius tanpa senyum. Triska menggigit bibirnya yang gemetar, matanya membasah namun segera dikejap-kejapkannya sehingga air matanya tidak sampai terjatuh. Deni mempererat cekalannya, bibirnya bergerak-gerak seperti laku orang yang ingin minta maaf namun suaranya tidak keluar. I
Hujan di hiar sudah berhenti. Kris tak punya alasan lagi untuk menunda pulang ketika dilihat- I nya Bobi menuruni tangga loteng.
"Aku menyesal sekali, Prinses," ujar Kris ketika pamitan.
"Nggak usah," sahut Triska mencoba tersenyum, "Deni dan aku akan tetap berteman seperti biasa. Bedanya cuma nggak lagi tinggal serumah. Tapi kami tetap bisa ketemu kapan saja kami mau. Iya, kan, Den?" Triska bertanya pada Deni yang berdiri di sampingnya.
"Tentu saja." Deni mengangguk.
Setelah mengantar Kris dan Marti pulang, Triska mengajak Deni ke kebun belakang, duduk dalam gazebo. Marco sudah bangun. Triska semula ingin menyuapinya dengan pisang, tapi ibunya mencegah, menyuruhnya menemani Deni saja, biar Marco diurusnya sendiri. Triska tidak memaksa, sebab dia memang ingin berduaan dengan Deni. Mungkin untuk terakhir kali.
Trims untuk pengertianmu, Den," ujar Triska, tersenyum memandang orang yang duduk di depan-nya. Deni balas tersenyum, mengulurkan iengan, dan
menyentuh tangan halus yang terletak di atas meja kecil di antara mereka.
"Aku nggak pernah mimpi akan bisa kehilangan kau! Tapi aku nggak meiihat alternatif lain. Aku akan kehilangan cintamu, tapi aku nggak mau kehilangan juga respekmu." Deni menggeleng, dan tersenyum sedih.
Kau takkan kehilangan cintaku, Den! Sebab aku akan mencintaimu seumur hidupku!
"Hanya karena aku yakin tindakan ini satu-satu-nya jalan untuk melindungimu dari malapetaka, aku rela kita berpisah. Mudah-mudahan cuma untuk sementara. Mudah-mudahan Odi bisa diberi pengertian sehingga aku bisa kembali padamu, seandainya kau bersedia menerima aku lagi. Maukah kau?"
Oh, seandainya itu mungkin! Tak usah kautanya lagi, Den. Saat ini pun rinduku hampir tak ter-tahankan lagi, namun...
"Odi nggak bakal gampang mau mengerti. Tam-paknya dia sangat mendewakan uang. Harta se-tinggi langit begitu mana mungkin akan dilepas-kannya kembali."
"Silakan ngamuk atau membunuhku sekalian, tapi aku nggak akan kembali padanya. Sebelum perkawinan kita, sudah kuperingatkan dia, jangan tunggu aku lagi, sebab rencana itu sudah kubatal-kan, dan aku nggak akan menceraikan istriku. Dengan perceraian ini dia nggak bisa lagi menu-duhmu merampas calon suaminya. Bila disadarinya aku nggak sudi kembali lagi padanya, mudah-
mudahan dia insaf dan mencari orang lain sebagai Tantiku Dan bila itu terjadi, aku akan segera lari ke sampingmu! Maukah kau menunggu?"
fata^n terjadi, Den. Percayalah, Odi takkan melepaskanmu, dan kau dengan cepat akan kembali silau terhadap kecantikannya, kau akan terpu-kau pada gemerlapannya lampu-lampu modeshow, kau akan bangga terlihat berhubungan intim dengan wanita cantik yang punya nama selangit, ratu kecanrikan yang anggun dan gemulai. Kau akan lupa padaku. Kau dengan cepat akan melupakan bekas istrimu yang tidak punya nama apa-apa. Kuharap saja, kau takkan melupakan Marco. Tapi bila kau pernah tega membunuh anakmu dengan Odi, apa alasanku berani berharap bahwa Marco akan mempunyai arti lebih bagimu dibandingkan anakmu yang dulu?!
Deni tampak khawatir meiihat Triska tercenung mengawasi kolam. Seperti orang yang baru ter-sadar, mendadak keningnya berkerut dan lengan Triska diguncang-guncangnya. "Tris, apakah... apakah... ada alasan lain kenapa kau ngotot mau berpisah? Kenapa kau sejak tadi nggak mau menjawab pertanyaanku? Apakah kau nggak bersedia menerimaku lagi kelak? Apakah... sudah ada yang menunggumu? Tris, katakan! Siapa? Erik? Atau Roy? Tris, jawab aku!" Triska lambat-lambat mengalihkan matanya dari .m di depannya. Matanya yang bulat dan bersih kelihatan berduka, digigitnya bi-ya- Dla menghela napas, tapi jelas memaksa-
diri tidak sampai ambruk dalam tangis. "Apakah kau masin Demm niengenal diriku, Den?" bisiknya pilu.
I Bab 4
Sejak tinggal di rumah orangtuanya, Triska jadi lebih memperhatikan dandanan serta pakaiannya. Mungkin karena lebih banyak waktu, pikirnya. Sebab banyak pembantu—tiga—dan ada ibuku yang menguras semua, termasuk Marco, sehingga aku praktis tak usah menggerakkan tangan lagi, jadi aku lebih sering bisa berlama-lama di depan cer-min. Tapi mungkin juga karena ibuku sendiri sela-hi berdandan dengan rapi, walau tinggal di rumah, sehingga aku juga ketularan ingin sama-sama menarik. Ataukah ada alasan lain?
Triska tidak berani mencari tahu tentang kebe-naran dugaan yang terakhir. Ah, apa pun alasan-nya, kilahnya, yang penting adalah hasilnya! Aku jadi kelihatan lebih menarik, dan karena itu pera-saanku juga jadi lebih ringan serta gembira. Ini tentunya penting sekali. Kalau aku berpakaian ku-muh dan rambut kusisir seadanya, pasti tak lama lagi aku akan terserang depresi berat. Dan siapa yang takkan depresi mengalami petaka seperti diriku? Sedang mekar-mekarnya cinta kami, putik sarinya direnggut orang! Masa muda justru masa
90
menikmati kemesraan alam, namun mendung pekat menyita hari depan kami dan sisa-sisa kenangan yang penuh kehangatan pun harus digadaikan.
Triska pamt dipuji. Penampilannya tidak -ber-beda dari dulu, malah lebih semarak. Air mukanya selalu kelihatan tabah. Orang yang tidak mengeta-hui kisah hidupnya, pasti akan menyangka bahwa dia bahagia dan rukun bersama keluarganya.
Kesan itu pula yang dilontarkan oleh Deni ketika kebetulan beramprokan dengannya di lorong rumah sakit.
"Bukan main!" puji Deni. "Kukira dewi dari kayangan mana yang nyasar ke sini! Kau kelihatan makin cantik saja, Tris, membikin hatiku makin risau. Pasti penggemarmu makin bertambah, mem-buat kesempatahku makin tipis saja untuk kembali lagi...." Triska tersenyum manis tanpa komentar. "Aduh!" keluh Deni. "Orang yang nggak tahu si-tuasimu pasti akan menyangka kau ini rukun dan bahagia bersama suamimu!"
"Memang kami selalu rukun dan bahagia, kok. Dulu!"
"Aku iri dengan ketabahan dan semangatmu!" keluh Deni kembali. "Aku yakin, kau tidak men-derita insomnia seperti aku."
"Ck, ck, ck! Apakah Odi menelantarkanmu begitu?" Triska geleng-geleng kepala seperti orang kurang percaya.
susah tidur
01
Deni meringis seolah kesakitan. "Tris, perlukah kau mengolok-olok orang yang sudah jatuh tung-gang-langgang begini? Aku nggak punya hubung-an apa pun dengannya, time!"
"Jadi kau belum pernah menemuinya?"
Deni cuma menggeleng sebagai tan da jawaban.
"Sekali pun?" Triska menegaskan dengan mata melebar.
Terse rah kau mau percaya atau tidak!" "Apa perlu kuhubungi dia? Mungkin dia belum tahu, kau sekarang sudah bebas!"
"0, ya, dia jelas tahu! Walau kita nggak pasang iklan, Roy saja sudah cukup untuk jadi penyiar warta berita! Begita tahu, Odi langsung menemui-ku di tempat praktek. Kemudian minta diantar pulang, tapi nggak kuladeni. Aku panggilkan taksi dan kubayari ongkosnya."
Triska tidak memberi komentar. Dia cuma memandang Deni dengan lugu seperti anak kecil sedang mendengarkan dongeng yang menarik.
"Dan info untukmu, baiklah kukatakan, dia sudah mendatangi aku di tempat praktek tiga kali," meneleponku dua kali mau mengajak makan malam tapi..."
"...Aku nggak pernah meladeni!" Triska mene-ruskan kalimat Deni, lalu tersenyum dan menggeleng. "Di mana kesopananmu?! Kautolak dia men-tah-mentah? Ck, ck, ck! Jangan suka meremehkan seorang wanita cantik! Sakit hatinya bisa membu-nuhmu!"
"Oh, jangan jual omong kosongmu padaku! Dia
sudah memaksa kita berpisah, lalu kaupikir aku akan jatuh cinta padanya? Mungkinkah itu? Yang ada di hatiku hanyalah kedongkolan sebab dia telah merusak kebahagiaan kita berdua! Cuma satu hal yang mungkin di antara dia dan aku sekarang. Kami sedang adu kesabaran, siapa yang lebih lama bertahan. Percayalah, aku akan tunggu sampai dia menyerah dan menerima kenyataan, aku sudah* nggak bisa lagi diharapkannya. Setelah itu aku akan balik padamu, dan kau harus siap kembali pulang ke rumah fatal Awas saja bila kau sampai kepincut orang lain!"
Triska tidak menanggapi dengan kata-kata. Dia cuma tertawa, dan melirik arlojinya, lalu mendadak dia teringat bahwa jadwalnya pagi itu ketat sekali.
"Sori, aku sibuk sekali hari ini. Yuk, deh, sampai nanti." Sudah di ujung lidahnya ingin mengun-dangnya ke pesta ulang tahunnya dua hari lagi (walaupun itu bukan pesta, cuma sekadar jamuan makan, sebab hatinya tidak ingin pesta . namun ibunya berkeras ulang tahunnya harus diperingati), namun dibatalkannya. Siapa tahu Deni mempunyai acara lain, pikimya. Kita sudah bercerai, dia bukan lagi milikku, waktunya, perhatiannya, semua bukan lagi hakku.
"Eh, kapan kau sempat makan siang bersamaku?"
"Kapan saja maumu."
"Katamu hari ini kau sibuk, gimana kalau be-
"Boleh."
"Oke, deh. Besok kujemput kau setengah dua di kantormu."
Mereka berpisah, raasing-masing melangkah ke bangsal tempat tugas mereka. Triska berjalan sambil tersenyum. Hatinya terasa lapang, langkahnya pun seakan lebih ringan. Tiba-tiba dia geli sendiri, Kok seperti orang baru pacaran saja, nih! pikirnya.
Siangnya, Triska baru saja kembali ke kamar dari ruang OP, ketika telepon berdering. "Halo..."
"Hai, Tris, kita makan siang ke Ponderosa, yuk!"
"Ngngng... aku masih repot, Roy," Triska meng-elak. Tadi pagi sudah bilang nggak sempat sama Deni, masa sekarang keluar bersama Roy? Salah-salah nanti orang takkan mempercayai aku lagi!
"Aku tunggu!" ujar Roy tegas, membuat Triska menggigit bibir. Dia mengenali betal kebandelan dokter kulit ini, kemauannya sulit dicegah.
"Nggak tahu sampai kapan. Mungkin sampai sore...." Triska berusaha menakut-nakuti.
"Nggak peduli! Pokoknya aku nggak terima pe-nolakan! Soalnya, ada yang mau kurayakan! Ber-samamu! Nggak mau sama orang lain!"
Celaka! Kedengarannya dia sedang angot! Asal saja jangan memaksa mau mengecupku di depan umum!
"Merayakan apa, sih?"
"Kau pasti nggak bisa menebak!"
"Karena itu aku bertanya!"
"Aku bam saja diangkat jadi asisten Kepala Bagian!"
"Wan! Kalau begitu memang harus dirayakan!" sambut Triska tertawa lega. Kukira kau sedang merancang-rancang jebakan baru untukku! Kalau cuma merayakan kenaikan pangkat sih, am an!
"Rupanya kepala bagianku sudah mencium angin, aku bakal mendirikan pabrik kosmetik...!"
Hah! Kata Marti, lagakmu kan selalu angin-anginan. Idemu segudang, yang betul-beml direa-lisasi nggak sampai sejumlah jari tanganmu dibagi -empat!
"Beliau bilang, beliau juga ingin ikut andil dalam pabrikku nanti. Karena itu disindirnya dokter-dokter lain yang pernah dipromosikan tapi nggak ingat berterima kasih. Dengan kata lain, beliau mengingatkan aku agar jangan lupa kemurahan hatinya kalau nanti aku punya perusahaan."
Beliau?! Hah! Nggak sekalian bilang, Beliau bersabda... padahal dulu kau paling sengit dengan bosmu itu yang kaunamakan si Mata Jengkol!
"Wah, bisa-bisa beliau hams menunggu sampai selesai perang nuklir dulu!" sindir Triska tertawa, tapi Roy yang sedang melayang ke awang-awang sudah tidak peka menangkap nuansa-nuansa negatif.
Roy malah tergelak-gelak seakan Triska bam saja memujinya, dan melanjutkan ucapannya dengan lebih bersemangat, "Soalnya, Tris, sainganku banyak sekali! Seleksinya lebih ketat daripada Pe-milu. Dan banyak calon yang sama kuat atau malah lebih kuat dari aku, terns terang saja nih! Jadi pilihan yang jatuh ke kepalaku betul-betul menunjukkan kemurahan hati beliau!"
Untung masih belum kauanggap sebagai anu-gerahl pikir Triska geli. Betapa manusia membu-tuhkan penghargaan!
"Dan setelah selesai penjelasanku, kita kembali ke soal makan siang nanti. Jam berapa kau siap kujemput?"
Hm. Triska sebenamya tidak bergairah. Dia ingin cepat pulang menemui Marco. Tapi Roy sr bandel yang sedang euphoria malah tambah nggak mungkin dibantah lagi, kita hams menumti kemauannya seakan dia masih berumur sembilan tahun.
"Dua jam lagi terlalu telat nggak? Kau kan nggak gastritis, nggak usah makan pada jam-jam tertentu?"
• "Orang bam naik pangkat, mana mungkin sakit mag! Paling-paling nanti, kalau tanggung jawab sudah menumpuk! Oke, deh, dua jam lagi aku ke tempatmu!"
Makan siang itu berlangsung dalam suasana gembira, maklum yang mentraktir sedang mela-yang ke surga ketujuh. Triska menggunakan ke-sempatan ini untuk menyentil Roy, mumpung pe-rasaannya sedang "kebal" dan takkan gampang ter-singgung.
"Roy, boleh aku terns terang, nih?" Tentu saja! Jangan takut, nggak ada yang ngu-ping, semua tamu asyik dengan steak masing-
gembira di luar batas
masing, sedangkan yang melayani takkan mendengar selama suara kita nggak melebihi sepuluh desibell"
"Itu kan berbisik, seperti kerisik daun!"
"Kalau kau segan berbisik, ya boleh kerasan, tapi jangan melebihi tiga puluh desibel. Orang lain kan nggak perlu tahu bagaimana perasaanmu ter-hadapku."
"Kau memang pintar menebak hati orang!"
Roy mendadak jadi kelihatan lebih gembira, tu-buhnya seakan melembung makin besar seperti The Incredible Hulk, laki-laki alim yang bisa men-jelma sebesar kingkong kalau meiihat kejahatan, sayang tertahan oleh kemeja mahal dari Prancis.
"Aku sudah tahu, lambat atau cepat kau pasti akan mengutarakan isi hatimu padaku!" tukasnya dengan air muka raja Viking yang menang perang. "Ayo, cepat katakan! Aku sudah nggak sabar me-nunggu! Akhirnya taktikku berhasil juga, memang sehamsnya dulu aku yang mendapatkanmu seandainya Deni nggak muncul mengham biro!" Roy menggosok-gosok kedua tangannya dengan suka-cita serta memajukan tubuh ke depan, rupanya khawatir, jangan-jangan ada suku kata yang tidak tertangkap sehingga tidak bisa dijawab dan akan melukai perasaan sang dewt.
Sebaliknya, Triska malah jadi ragu membuka mulut setelah menyadari apa yang diharapkan oleh Roy. Kacamatanya sampai nyaris terjatuh dari ba-tang hidungnya, namun dibiarkannya. Rambutaya yang berombak terjurai ke dahi sehingga jambul-
nya kempis, tapi dia tak peduli. Wajahnya yang lonjong dan kurus dengan protil Indo-Belanda, di-tambah dengan kemejanya yang ketat, benar-benar membuatnya rnirip El vis-bay angan. Memang Roy senang sekali diberi predikat itu. Menurut Marti, Elvis adalah penyanyi pujaannya sejak di SMA, dan tembok kamarnya tidak kelihatan lagi war-nanya, saking penuhnya ditempeli gambar Elvis Aaron Presley. Hampir setiap cuti digunakannya untuk mengunjungi Graceland, tempat tinggal sang Raja di Memphis. Marti menghitung, abangnya sudah lima kali ke sana, dan setiap pulang pasti mengangkut sekoper penuh album-album lagu rock 'n roll.
"Jangan salahkan Deni, Roy. Aku justru menye-salimu," tegur Triska.
"Eh?" Mata Roy yang empat itu jadi belingsat-an, dasinya yang bergambar bunga kekuning-kuningan nyaris mampir ke kuah di piring yang masih setengah penuh. "Karena aku kurang gesit dari Deni? Tapi sekarang aku sudah belajar dari pengala./
"Karena kau nggak mau membujuk Odi supaya melupakan Deni!"
"Eh, kok aku yang kena pentong?"
"Coba kau bemsaha merayu Odi sampai dia jatuh cinta padamu, kan lain riwayatku sekarang."
"Jadi kau menyesali aku karena itu?" Roy me-negaskan dengan mpa kurang percaya. Dicopotnya kacamatanya dan digosoknya dengan saputangan sutra yang dibelinya di tempat Elvis, setelah ber-
kilat lagi ditenggerkannya kembali di atas hidung-nya, lalu diajukannya wajahnya lebih ke depan. "Kau mau tahu isi kepalaku? Aku malah senang meiihat kau berhasil dipisahkan dari Deni. Keba-hagiaan kalian mempakan duri di mataku, tahu! Mana aku peduli sama Odi! Dia mau berbuat apa juga bukan umsanku, dia mau nyemplung ke ne-raka sekalipun, takkan kucegah! Kalau dia bisa enyah dari sampingku, aku malah senang. Seandainya dia mau terbang ke bulan, mungkin akan kubelikan tiket pesawat angkasanya, tapi lebih mungkin lagi aku akan syukuran membakar keme-nyan."
Hiii, bergidik aku mendengar isi kepala si Roy! Tapi mungkin dia melebih-lebihkannya, maklum sedang euphoria]
"Aku nggak habis pikir, Odi kan cantik dan anggun, malah bisa luwes kalau dia mau, jadi apanya yang kurang?"
"Terns terang, aku memang tertarik padanya."
"Nah, kauakui sendiri! Tinggal selangkah lagi, kenapa kau nggak bemsaha memikat hatinya?"
"Sebenamya dia juga pernah mencintaiku."
"Pemah? Kenapa cuma pernah'} Kenapa nggak dipupuk dan dirawat supaya tumbuh terns? Lalu diabadikan dalam perkawinan?"
Roy mendadak jadi lesu. Wajahnya bagaikan balon yang sekarang tertusuk jarom sehingga men-ciut kempis berkemt-kerut. Sikapnya yang berbeda bagaikan siang dan malam dengan barusan mem-buat Triska sempat khawatir, jangan-jangan dia
menyimpan gen yang berbakat menimbulkan pe-
nyakit mamk-depresif. Roy jelas kelihatan sulit menjawab, membuat
Triska bertanya-tanya sendiri apa gerangan yang
sudah terjadi antara laki-laki ini dan Odi sampai dia mendadak jadi bisu begitu ketika diungkit kenapa tidak dari dulu menyeret Odi ke depan altar.
Seakan tiba-tiba tersadar bahwa mereka sebenar-nya sedang makan, Roy mengangkat kembali pisau dan garpunya, namun jelas kelihatan seleranya sudah berkurang. Dia makan sambil tunduk, emosi yang meletup-letup tadi itu sudah lenyap diembus angin. Triska juga meneruskan makannya sambil sesekali mengerling kawan di depannya yang tam-paknya makan untuk menghindari percakapan. Triska mencari akal untuk mencairkan suasana dan beralih ke topik yang netral seperti jumlah pasien yang menanjak, tempat tidur yang kurang.... Dia hampir membuka mulut karena mengira Roy sudah tak mau meneruskan diskusi tadi, eh, tahu-tahu Hvis-bayangan itu mengangkat muka, menu-suknya dengan tatapan penuh api, dan berdesis sekitar sepuiuh desibel, "Karena aku mencintai-mul"
Triska terenyak, sesaat tak mengerti ke mana juntrungan ucapan itu. Kemudian dia teringat pada apa yang ditanyakannya barusan. Rupanya inilah jawabannya. Jadi kau tidak mau kawin dengan Odi
dan scdih bergantian atau terus-menerus
karena.. Matamu! Kau kan tahu, aku sudah menerima...
"...Sakramen Perkawinan!" cetus Roy membuat Triska terkejut. Sangkanya dia tengah berpikir dalam kepala, temyata tanpa sadar dia sudah berpikir dengan bersuara keras.
"Dan di mata Tuhan, aku sudah, masih, dan akan tetap menjadi istri suamiku!" sambung Roy ganas, lalu setelah menghadiahi Triska pelototan mata yang tajam, dia kembali mengalihkan per-hatiannya ke piringnya.
Triska memperhatikan Roy dengan berbagai perasaan penuh tuduhan.
Egois dan bandel termasuk dalam rangkaian predikat yang ingin dikalungkannya ke lehemya. Tapi entah kenapa, Triska merasa Roy tidak bicara yang sebenamya. Dia punya firasat, Roy tidak serendah yang dilihatnya sekarang. Pasti ada predikat yang lebih luhur yang bisa disematkannya sebagai epaulette di bahunya.
***
"Gimana kabarnya makan siangmu dengan Roy?" tanya Deni ketika esoknya mereka berdua makan siang di restoran Pad an g kegemaran mereka. Triska demikian kaget mendengar pertanyaan itu sehingga untuk sesaat dia mengira Deni sudah
hiasan di bahu pada pakaian scragam
menyewa detektif untuk membuntutinya. Kemudi-an dia insaf, dia terlalu dipengaruhi film-film luar negeri, detektif di sini belum banyak dan tidak populer, masa Deni sampai bertindak menjelimet begitu hanya karena ingin tahu istrinya—ralat: mantarmya—pergi ke mana dengan siapa!
Setelah pikiran sehatnya pulih, Triska malah jadi ingin tertawa, saking geli membayangkan ke-mungkinan Deni sendiri yang memata-matajnya. Dari mana waktunya, sedangkan selama ini dia salah satu dari sepuluh ribu orang tersibuk di Jakarta?
"Dari mana kau tahu?" "Aku meiihat sendiri."
"Aku nggak tahu kau kelebihan waktu untuk observasi diriku!" tukasnya tersenyum sambil meng-hirap minuman.
"Aku cuma meiihat gejala dan membuat diagnosis. Waktu itu aku mau ke Pathology, aku ber-jalan di belakang kalian..."
Di... belakang kami? Astaga!
"...Tentu saja kau nggak tahu, habis keasyikan berdua, mana mau nengok-nengok ke belakang! Jadi kulihat kau bersama Roy menuju ke tempat parkir, siang hari, nah, ke mana lagi kalau bukan pergi makan?"
"Kesimpulanmu memang tepat."
"Boleh aku tahu apa prognosisnya?"
"Maksudmu?"
"Ada /p/fow-wp-nya, nggak?"
"Itu cuma kebetulan. Sebenamya hari itu aku
sibuk sekali, tapi Roy ngotot mau nunggu sampai jam berapa juga. Soalnya dia bam diangkat jadi asisten Kepala Bagian, jadi katanya, mutlak hams dirayakan. Boleh dibilang aku ditodong hams ikut!"
"Tapi yang kulihat adalah istriku yang sedang tertawa riang, bukannya orang yang kelihatan di-paksa...."
Hm. Cembumkah kau? Boleh juga, asal masih dalam takaran normal.
"Ingat, aku sudah bukan istrimu lagi! Aku bebas sekarang!"
Deni meringis tapi tidak membantah.
Hm. Menyesal? Nasi sudah menjadi bubur, Den! Siapa surah kau mau menipuku (walau kau-bilang akhirnya dibatalkan, itu kan katamul Kata Odi, lain lagi! Ucapanmu versus ucapannya! Mana yang benar?), menjadikan aku tumbal agar kau bisa memperoleh warisan. Seandainya kau sudah mengenal aku lebih dalam waktu itu, pasti kau takkan coba-coba menyakiti aku barang seujung rambut pun!
Walaupun ada percakapan yang kurang enak menyelinap di sana-sini, namun hidangan yang lezat cukup membuat makan siang itu mengesan-kan serta memuaskan. Perbincangan pun terkadang hangat menggairahkan, sebab mereka memang sudah biasa terlibat diskusi yang sera-sera mengenai segala macam topik. Mulai dari dokter edan yang merasa tujuan hidupnya adalah membantu pasien-pasien yang sudah tidak ingin lebih lama lagi
menghirup udara polusi di bumi supaya bisa segera berangkat menemui Santo Petrus atau Osiris atau Hades atau Pluto (terserah kepercayaan ma-sing-masing), sampai ke sidik DNA untuk meng-gantikan sidik jari. dari TV ukuran saku sampai ke mobil listrik, dari real estate kampungan (yang ambruk) di Malaysia sampai ke calon Stalin kedua (Deni bertanya, Inikah anti-Christ yang ketiga?).
"Marco sudah mulai tumbuh gigi," ujar Triska sambil tersenyum.
Deni menunda suapnya dan mendengarkan dengan takjub seakan itu penemuan kedokteran paling mutakhir.
"Mengherankan anak itu, tumbuh gigi pun nggak rewel," puji Triska sambil menyendok lauk. "Paling-paling cuma resah sedikit tidurnya."
Deni mengangguk-angguk lalu meneruskan ma-kannya. Karena dia menunduk, Triska tak dapat meiihat air mukanya.
Tampaknya dia rindu pada anaknya, betulkah? Mungkinkah seorang laki-laki mencintai anaknya bila dia sudah pernah membunuh anaknya yang lain?
Triska teringat pada masa-masa proses perpi-sahan mereka. Deni tidak mau dia mengangkuti barang-barangnya ke rumah orangtuanya kecuali keperluan sehari-hari seperti pakaian dan sepatu. "Kau akan kembali lagi ke sini, Tris. Jadi biarkan saja begini." Triska merasa skeptis sekali namun tak mau berbantahan, khawatir membuat Deni makin depresif. Toh setiap saat bisa diambilnya
miliknya. Pokoknya, begitu Odi punya rencana untuk masuk ke rumah itu, dia pasti akan mengangkuti hadiah-hadiah pernikahan yang diberikan oleh sanak keluarganya. Dia bertekad, Odi tidak boleh menjamah barang-barangnya terlebih piano serta lukisan-lukisan yang dikumpulkannya. Tapi sejauh itu sirene belum mengaum. Dan dia cuma membawa lampu beruang, lonceng kukuk, serta Bella "Biar untuk menemani Marco," kilahnya.
Marco dengan cepat menjalin persahabatan dengan Bella. Dia juga senang mendengarkan bunyi kukuk serta lagu-lagunya, namun bila si kecil sudah tidur, giliran ibunyalah untuk melamun di atas tempat tidur, memegangi jurnal tapi asyik mendengarkan kukuk serta lagu-lagunya terutama Di Ronaangni Bulani yang mendayu-dayu.
"Kenapa kaucukur kumismu, Den?" Triska tak dapat menahan rasa ingin tahunya, sebab seingatnya, Deni sangat bangga akan kumisnya. Ini bukan kumis Chaplin, bukan Hitler, bukan juga David Niven tapi kumis ala Deni Melnik! Ini bukan kumis ijuk, Sau-dara-saudara, tapi kumis priyayi—Tris, mungkin salah satu nenek moyangku bangsawan Majapahit, ya) Hm, sayang susah ditelusuri!—...tulenl
Deni tertawa malu. "Aku kaul, Tris. Selama kau belum balik ke sampingku, aku nggak mau punya kumis!"
"Katamu, kumis itu bisa menambah kegagahan, kan nanti kegagahanmu merosot, gimana?"
"Buat apa aku kelihatan gagah kalau kau nggak ada di sampingku?!"
"Dan bila buat selamanya keadaan seperti ini...?" "Ya kumisku juga ikut jadi sejarah!" Mendadak timbul mat dalam hatinya untuk mengundang Deni makan malam di rumah orang-tuanya, merayakan ulang tahunnya "Den..." Sudah di ujung lidahnya undangan itu. Deni mengangkat wajah memandangnya, siap menunggu lanjutannya. Tapi tiba-tiba dia ingat be-sok Jumat, praktek Deni biasanya sangat ramai hari itu. Buat apa membikin dia berabe tergesa-gesa memeriksa pasien-pasien, lalu ngebut... salah-salah bisa tabrakan! Ob, jangan!
Triska menggeleng. "Nggak jadi ngomong," ujarnya seraya cepat-cepat menyuap makan an agar punya aiasan untuk tidak bicara.
"Ayo, katakan! Nanti gagu kau kalau sudah mau bicara dibatalkan!"
Mereka tertawa gelak. Itu lelucon warisan dari Tante Kirana yang lebih senang dipanggil Ana tok, kakak dari ibu Martina.
Didesak begitu, terpaksa Triska cepat-cepat memikirkan ucapan apa yang akan dikatakannya sebagai gantinya. Untung otaknya masih bisa kerja kilat. "Nggak penting, kok. Aku cuma ingin tahu, kau hari ini praktek nggak?! Biasanya kan Rabu kau libur."
"Ya, sekarang Kamis. Aku masih digantikan oleh Badur. Tapi kalau dia sudah pindah ke Cilan-dak, mungkin aku harus mencari orang lain, atau aku praktek juga Kamis." "Mau meiihat Marco? Lucu, deh, gigi depannya mulai nongol. Dia pasti akan menguik kese-
nangan melihatmu. Dia sudah mengenali orang, lho. Aku sih akan praktek sore ini, tapi kau bisa main-main dengan Marco seandainya kau nggak punya acara yang lebih penting." • Triska melirik Deni sambil tersenyum disambut dengan kertakan geraham. "Monyet kau! Apa maksudmu dengan 'acara yang lebih penting'?"
Triska mengangkat bahu, dengan senyum masih terpampang.
"Sebenamya sore ini rencanaku mau nginap di Depok, habis sepi sendirian di rumah begitu besar!" Sekilas terlihat mata Deni berkaca-kaca tapi cepat-cepat dia mengejap sementara Triska bum-bum melengos memperhatikan isi piringnya.
"Selain itu aku ingin menghindari telepon dari Odi," bisik Deni menunduk seakan ditujukan ke piringnya.
"Dia sering menelepon?"
Deni mengangguk sambil memandang Triska. "Sekarang makin sering, hampir tiap malam! Paling nggak, dua hari sekali." ' "Apa saja yang dibicarakannya?"
"Itulah problemnya! Dia nggak pernah bilang apa-apa!"
"Lho! Lantas kau tahu dari mana telepon itu dari dia?"
"Pernah dulu dia menelepon—mungkin yang pertama atau kedua kali—dan di latar belakang terdengar lagu yang nggak enak didengar, me-nyayat perasaan, entah gimana, deh."
"Bikin kita merinding." Triska mengangguk. "Ya,
aku tahu maksudmu. Aku juga pernah mendengar-nya. Semacam elegi tapi aku nggak kenal gubahan siapa. Pertama kali memang cuma diputamya di latar belakang, tapi kedua kalinya cuma lagu itu tok yang kedengaran disertai desahan napasnya. Menakutkan,
deh. Entah berapa kali aku kena dipeirnainkannya
begitu, lalu aku pasang, deh, alat penerima telepon.
Sejak itu aku aman. Apa kau juga mengalami hal
yang sama?"
Tersis." Deni manggut sambil mengatupkan bi-bir rapat-rapat.
"Nggak kaupasang alat penerima telepon?"
"Aku pasang terns. Tapi walau pun dia tahu yang menerima bukan aku, toh diputamya juga lagu itu untuk kudengar. Aku kesal sekali. Setiap kali habis menerima kiriman lagu aneh itu aku nggak bisa tidur."
"Gimana kalau kauganti nomor telepon saja?" "Sudah kupikirkan. Tapi nomorku kan terdaftar di rumah sakit, setiap orang yang ngaku pasien berhak menanyakannya."
"Benar juga. Tapi masa nggak ada jalan untuk melindungi dirimu?"
"Ya nginap di Depok, deh, seperti rencanaku hari ini Moga-moga dia nggak tahu aku ke mana, jadi nggak akan bemsaha mendapatkan nomor telepon orangtuaku!" "Memangnya dia bisa tahu dari mana?" Deni menghela napas. "Mungkin saja dari Nila." "Sepupumu? Anak Tante Leila? Dia kenal dengan Odi?"
Deni mengangguk sambil menyendok lauk ke atas piring. "Kelihatannya malah sahabat karibl" "Buset! Ini bam berita!"
"Ya. Dan kau tahu sendiri, anak-anak Tante Leila kurang senang padaku gara-gara bagian mereka yang lebih kecil dari bagianku. Nila pasti berpihak pada Odi, dan nggak akan segan-segan membantunya untuk menyusahkan hidupku. Mereka semua iri karena aku dianggap cucu emas Nenek. Kan sebenamya bukan aku yang menghen-daki uang itu, tapi Nenek sendiri yang mau memberi. Warisan pembawa bencana! Belum sempat aku nikmati duitnya, kesusahan yang ditimbulkan-nya sudah bertimbun!"
"Apa maksud Odi memutar lagu aneh itu di telepon?"
Deni mengangkat bahu. "Teka-teki silang juga bagiku! Dugaanku, dia mau membuat aku merasa bersalah."
"Hm. Dan bila kau berhasil dibikin susah tidur oleh lagu itu, berarti dia berhasil dengan taktiknya. Mungkin secara tak sadar kau merasa bersalah?"
"Nggak mungkin!" bantah Deni tegas. "Mana mungkin aku merasa bersalah bila setiap kali ter-ingat padamu hatiku gembira, dan hidupku ber-samamu penuh kebahagiaan. Kalau aku merasa bersalah, itu adalah ternadapmu! Bukan terhadap Odi!" "Lho?!"
"Karena aku nggak berterus terang sejak mula sehingga jelas bagimu situasinya, dan kau bisa
percaya, aku sungguh sudah memutuskan hubung-an dengannya sebelum kita menikah. Dengan begitu kau takkan termakan umpannya."
"Jangan menyesali diri sendiri, Den. Kalau memang dia berniat jahat. dia tetap bisa mengancam akan menyeret-nyeret namaku ke koran tabloid walau dia tahu, aku sudah tahu duduk persoalan-nya."
Hampir berbareng keduanya menarik napas kesal. Triska merasa pilu menyaksikan kekusutan wajah laki-laki di depannya. Deni yang dikenalnya selama ini periang, dan selalu penuh humor. Dalam situasi apa pun, dia selalu bemsaha mencari segi lucunya. Bam pertama kali ini Deni tampak begitu tak berdaya.
Triska mengulurkan tangan menyentuh lengan-nya. "Tabahkan hatimu, Den. Jangan sampai kau -jatuh sakit. Kalau kau kenapa-ken apa, nanti uang ratusan juta itu nganggur, dong, jamuran berdebu!" Triska mencoba membuat pendengamya tertawa, tapi Deni seperti orang linglung yang tidak mengerti apa yang disebut tertawa.
Setelah keduanya berdiam diri beberapa saat, Triska mengingatkannya pada tawarannya tadi. "Apa kau mau menemui Marco atau tetap akan ke Depok juga? Kalau kau mau nginap di sana, nggak usah menengok Marco. Biar nanti saja, Sabtu atau Minggu. Sekarang kan Oktober, sudah musim hujan, sebaiknya kau jangan berangkat terlalu sore, Siapa tahu keburu hujan, jalanan licin dan gelap."
"Aku sudah memutuskan untuk menerima ta-waranmu. Aku kangen sekali sama anak itu. Setiap malam, kau dan dialah yang terakhir kupikirkan sebelum aku terlelap—kalau insomniaAai nggak sedang angot!—dan setiap pagi kalian juga yang pertama kali muncul dalam ingatanku begitu aku terjaga"
Triska mendengarkan tanpa komentar, persis seperti anak kecil sedang didongengi oleh neneknya. Habis, apa yang bisa kukatakan? Aku juga sedih dan merana dengan keadaan kita, namun apa da-ya? Semua ini akibat ulahmu sendiri, Den. Kau terpaksa haras mau menanggung akibat nya! Aku nggak bisa menolong, sebab aku sendiri juga repot membenahi hatiku yang berantakan.
"Jalan yang terbaik kukira adalah menyibukkan diri dengan kerjaan atau hobi sehingga kita nggak sempat lagi memikirkan hal-hal yang menyakitkan perasaan."
Deni manggut-manggut, tapi Triska tahu, dia mendengarkan cuma separo dari apa yang diutara-kannya.
Setelah selesai makan, Deni mengantarkan Triska kembali ke rumah sakit untuk mengambil mobil, lalu keduanya beriringan meluncur ke tempat Dokter Omega.
Nyonya Rosa hcran bercampur senang meiihat siapa yang datang. Triska mengecup anaknya dan mencubit pipinya.
"Mam, saya mengajak Deni. Sore ini kan dia nggak praktek, biar dia main dengan Marco."
"Kau sudah makan?" tebak ibunya. "Astaga! Sampai lupa saya menelepon ke rumah memberiiahu! Tapi Mama nggak mo minggu saya pulang, kan?"
"Mama sudah kelaparan, mana sanggup disuruh makan jam dua!" Ibunya tertawa.
"Untunglah. Kami memang sudah makan, Mam. Deni yang rraktir! Boleh sering-sering saja, Den!" Triska tertawa lalu mengambil Marco dari gen-dongan neneknya, diciuminya berulang-ulang. Anak itu melonjak girang meiihat ayahnya yang mengulurkan lengan untuk memeluknya Marco juga menguiurkan lengannya yang montok, menyam-but pelukan ayahnya. Deni memeluk dan menciumi pipinya. "Eh, coba kasih Iihat gigi tikusmu!" ujar Triska menggelitiki leher anaknya. Marco terkekeh-kekeh kegelian, mulutnya terbuka lebar dan dua buah gigi putih kelihatan menghiasi tawanya.
Tris, tadi pagi ibunya Manel ngebel, katanya Mane) sedang selesma dan batuk, sore ini nggak bisa les," kata Nyonya Rosa pada anaknya.
Deni menaikkan keningnya dan menatap Triska denqan pandang bertanya. Triska tertawa kecil, sedikit malu. "Aku membantu Mama, muridnya kebanyakan sampai kewalahan bagi waktu. Jadi aku oper tiga, yang masih tingkat permulaan."
Mereka masuk ke ruang keluarga sementara ibu Triska pergi ke belakang mau menyiapkan suguh-an untuk tamu mereka. Triska menemani Deni duduk di lantai bermain dengan Marco, Suatu ketika
Deni mengangkat kepala. dan matanya terpaku ke dinding di depannya. Dia menoleh ke dinding se-belah kiri lalu sebelah kanan.
"Hei, Tris, kau punya koleksi baru, nih?" tukas-nya menunjuk dinding depan dan kiri. "Beli di mana? Ini kan Claude Monet." Dia bangkit meng-hampiri lukisan di hadapannya. "Aku tahu. Monet memang favoritmu yang utama, tapi... kok nggak ada tanda tangannya? Kaubeli di mana ini?" Dia beralih dan melangkah menghampiri dinding sebelah kiri. Di sini pun kepalanya terteleng-teleng me-meriksa bagian bawah lukisan, mencari-cari tanda tangan pelukisnya. "Nihil," gumamnya seraya me-luruskan kembali punggungnya. "Ini jelas Monet!" sambungnya ngotot. "Tapi, kok nggak ada nama-nya? Tris, apa kau beli barang palsu?"
Triska tertawa gelak memandangi belakang Deni. "Mirip, ya?"
"Ya. Mirip sekali dengan kebun di belakang. Linat, ini gazebo, ini kolam ikan, ini teratainya, ikan-ikan..." "Maksudku, mirip dengan Monet!" Deni menoleh dan tertegun menatap Triska. Yang ditatap cuma mengangkat bahu, melebarkan senyumnya, serta menaikkan dahinya sehingga kedua matanya tampak makin besar. Pada saat itu Nyonya Rosa masuk dengan nampan di tangan. Rupanya didengarnya ekor percakapan mereka. Sambil meletakkan nampan di atas meja, dia tersenyum memandang Dent. "Katanya iseng, Den. 'Daripada duduk mela-
mun, lebih baik saya mencoba melukis lagi,' kata-nya. Kau kan tahu, Triska punya hobi melukis waktu masih di SMA dan FK. Sejak kawin dia stop, mungkin repot Lumayan hasilnya, kan?"
Deni memandang Nyonya Rosa dan Triska bergantian. Bibirnya setengah terbuka saking takjub-nya. Triska cuma tersenyum lalu menunduk meng-ajari anaknya menghitung jumlah jarinya.
"Ayo sini, minum kopi, Den. Ini Mama kebetulan bikin risoL, cobalah. Tahu tuh, enak nggak. Mama tinggal dulu, ya, sedang repot nih di belakang." Nyonya Rosa kelihatan masih ingin mengatakan sesuatu, tapi meiihat kedipan anaknya, dibatalkan-nya, dan tanpa banyak omong lagi dia berlalu.
Deni kembali menghampiri anaknya, mengang-katnya, dan mengajaknya duduk di sofa. Triska ikut duduk di samping mereka, memegangi be-ruang kesayangan Marco. Deni memeluk Marco dan membelai-belai rambutnya.
"Mana kupingmu? Ini dan ini. Ini kiri, itu ka-nan. Kau kesepian? Seperti aku?"
"Tentu saja nggak! Begini banyak orang, begini banyak yang hams kukerjakan!"
"Mana gigi tikusmu? Ini. Mana hidungmu? Ini!" Marco terkekeh ketika ayahnya menyentuh hidung-nya dengan ujung telunjuk. "Mana bibirmu? Ini. Tapi kau sekarang nggak repot, ya? Dulu kau repot, ya, ngumsi aku?"
"Bukan! Dulu waktu luangku bisa kuhabiskan bersamamu. Sekarang aku hams mengisi waktuku sendirian, jadi iseng...."
"Karena itu kau memberi les piano dan melukis. Eh, ayo, tunjukkan mana kakimu?"
"Aku memang sudah lama ingin mempelajari gaya Monet yang kukagumi. Eh, diam-diam sudah jam berapa, nih? Wowl Sebaiknya aku mandi saja sekarang. Marco temani Deni, ya!" sera Triska seraya mencubit pipi anaknya dan bangkit melang-kah ke tangga.
"De... de... de... de...," Marco berceloteh sambil melonjak-lonjak di atas pangkuan ayahnya. Triska menoleh dari tangga dan melambai.
"Ma... maaa! Maaa... maaa!" Deni mengajari dan Marco mencoba menirukan.
Ketika Triska turun kembali ke bawah, dilihatnya ayah dan anak sedang asyik meiihat video Mild Tikus. Dari arah kamar depan terdengar ken-tang-kentong piano. Rupanya ibunya tengah memberi les. Triska memandang sekilas grand piano berwama putih di dekat jendela ruang keluarga, kemudian berpikir-pikir. Waktunya masih ada se-jam. Sebenamya dia ingin main Clayderman, tapi khawatir nanti mengganggu konsentrasi murid ibunya, jadi dibatalkannya. Dia beralih pada kedua ayah-beranak itu dan ikut nonton dengan mereka sampai akhirnya dia harus berangkat.
Malam itu hujan turun sejak pukul tujuh. Namun mengherankan, pasien tetap banyak. Ketika akhirnya semua pasien sudah pulang, hujan masi lebat,
"Ayo, Mbak Tut, mari saya antarkan," Triski mengajak pembantunya.
ka ih
fa |
"Dok, sampai tempat bus saja, deh. Kan sudah malam, Dokter pasti sudah la par, mana hujan an gin begini, bisa-bisa nanti Dokter masuk angin, kan repot!"
"Dan Mbak Tuti akan saya biarkan berdiri di pinggir jalan menunggu bus sampai basah kuyup?"
"Ah, kan ada payung, Dok," kilah wanita sete-ngah tua yang berpotongan gemuk dengan wajah bulat keibuan itu.
"Tapi tetap akan basah, Mbak, sebab anginnya kencang. Kalau Mbak Tut sampai sakit, kan ka-sihan Pak Bambang. Salah-salah nanti saya dite-gumya! Ya kalau wanita bionik, sih, nggak takut masuk angin."
"Tapi saya masih perlu mensterilisasi alat-alat, nanti kelamaan."
"Nggak apa, saya tunggu. Sebenamya saya sedang mempertimbangkan untuk mengganti alat itu dengan buatan Jepang yang pakai komputer. Jadi nggak usah disetel sana-sini, cukup tekan tombol-tombol saja"
"Wah, enak dong, kalau cuma tekan-tekan tom-bol!" komentar Suster Tuti sambil menyelesaikan tugasnya.
Sebelum pulang, Triska menelepon ke rumah memberi tahu, dia akan mengantar Suster Tuti dulu, jadi kemungkinan sejam lagi bam tiba di rumah. Mamanya nggak usah khawatir.
Hujan memang lebat sekali, jalanan susah dilihat apalagi kendaraan-kendaraan lain. Suster Tuti seben-tar-sebentar menyebut, "Oh, Gusti! Hati-hati, Dok!"
Dan Triska berkali-kali hams meyakinkannya.
"Tenang, Mbak, tenang. Kita pasti sampai utuh ke rumah masing-masing!"
Ketika akhirnya sejam kemudian Triska masuk ke halaman mmahnya, hujan belum juga reda, malah rasanya makin menjadi. Di rumah ayahnya terdapat dua garasi, masing-masing muat dua mobil. Dokter Justin memakai garasi yang dekat ke rumah, sedangkan Triska menggunakan garasi di sebelahnya. Dengan begitu masing-masing dapat membukanya dengan remote control sendiri-sen-diri.
Ibunya sudah menunggu di pintu samping dan langsung menggiringnya ke kamar makan. Semua orang tentu saja sudah makan. Ayahnya tidak kelihatan, mungkin sedang di kamar kerjanya memba-ca buku. Ibunya memanggil Inem, dan para pern-bantu pun segera muncul membawakan hidangan yang masih beruap. Triska makan ditemani ibunya sambil merajut benang katun untuk mantel Marco.
Selesai makan Triska tidak segera naik ke atas, tapi malah masuk ke mang keluarga. Dihampirinya lemari piringan hitam, dipilihnya sebuah album dari Jose* Carreras dan diputamya, lalu dia duduk di sofa menyandarkan kepala ke belakang dan memejamkan mata. Ibunya menemani sambil terns merajut, tanpa mengganggunya dengan percakapan.
Musik mengalun mengantar Triska menyuruk ke belakang, ke saat-saat bahagia dalam hidupnya ketika lagu-lagu ini bisa dinikmatinya bersama Deni, ketika nama Odi Bobadila belum dikenalnya atau
paling banter, cuma sepintas lalu, dari koran dan media massa lainnya. Tapi sekarang... Carreras, Domingo, dan Pavarotti terpaksa dinikmatinya sen-din an. Deni pasti sudah pulang sejak tadi, moga-moga saja malam mi dia tidak diganggu telepon dan bisa tidur nyenyak. Kasihan dia jadi menderita insomnia, padahal setahunya, dulu Deni paling gampang tidur. Begitu kena bantal, langsung di-sambut oleh Dewa Morpheus!
Uh, musik memang bisa menenangkan saraf, pikimya. Tapi aku nggak bisa semalaman duduk di sini mendengarkannya. Sebaiknya aku mandi "air hangat sebelum tidur untuk mengusir pikiran-pikir-an yang mengganggu.
Tapi semua rencana itu cuma berputar-putar dalam kepaianya, sedangkan tubuhnya tidak berge-ming seinci pun. Ibunya diam-diam meninggalkan-nya dan merayap ke loteng agar jangan sampai menimbulkan bunyi yang dapat mengganggu suara musik. Triska sendiri demikian asyiknya sehingga dia seakan buta dan tuli terhadap sekelilingnya. Matanya yang terpejam dan telinganya yang di-setel ke arah musik, membuatnya tidak menyadari bahwa ibunya sudah pergi.
Keletihan fisik dan mental membuat musik itu makin meresap ke dalam jiwanya, membuat pikir-annya melayang dan tubuhnya terasa ringan. Entah berapa lama dia terlena, tahu-tahu telinganya me-nangkap suara Nat King Cole menyanyikan Star Dust, lagu kesayangan Bing Slamet dan kesayang-annya juga, serta... Deni!
Sometimes I wonder why I spend the lonely night dreaming of a song? The melody haunts my reverie, and / am once again with you,... When our love was new and each fuss an inspiration, but that was long ago.... Now my consolation is in the Star Dust of a song....
Ibunya pernah bercerita kepada Triska bahwa lagu itu kesayangan Bing. Ayahnya bilang, pela-wak kesayangannya itu meninggal karena sakit liver yang parah.
Lagu ini memang cocok sekali untuk mengobati malarindu tropikangen, pikimya sedikit sinis, lalu mendadak otaknya seakan disentak sadar. Entah apa yang menyebabkan. Mungkin indra keenam yang mengingatkannya ada sesuatu yang tidak beres, atau otaknya sendiri yang mendadak ingat bahwa yang diputamya adalah Carreras, dan lagu yang diharap-kannya adalah O Sole Mio atau Mattinata-nysi Leoncavallo yang pernah dibawakan oleh Enrico Caruso. Kenapa suara Nat King Cole jadi ngacau di sini?
...You are in my arms.... Tho' I dream in vain, in my heart it will remain....
Triska menyentakkan dirinya dan membuka mata....
"Deni!" serunya tertegun meiihat siapa yang tengah duduk di tempat ibunya tadi, di seberangnya. "Kau masih di sini?"
Deni tersenyum sambil mengacak-acak rambut-nya. "Aku menunggu hujan reda. Ketika aku turun, kulihat kau sedang terlena dan lagu sudah berhenti, jadi aku ganti. Apa kau kukagetkan?"
"Nggak." Triska mencoba tersenyum menunjuk-kan bahwa dia tidak kenapa-kenapa. "Sebenamya aku nggak berniat mendengarkan sampai habis. Pikirku. aku mau mandi sekarang... sekarang... eh, tahu-tahu ketiduran jadinyal Marco rewel, nggak?"
"Nggak. Dia malah mau main terns, tahan, nggak ngatuk-ngantuk."
Nyonya Rosa Omega turun kembali dari loteng. "Den, rasanya hujan ini takkan berhenti sampai pagi. Sudahiah. kau nginap saja, kamar kosong banyak."
Deni memandang ke lantai, tampak berpikir-pikir. Triska meiihat ibunya menatapnya seakan memberi isyarat Apakah Mama ingin saya mem-bujuknya? Apakah takkan menimbulkan problem dengan Odi kalau dia tahu?
Deni mengangkat muka dan untuk sesaat pan-dangan mereka bentrok. Deni lekas-lekas mengalih-kan matanya memandang nyonya rumah. "Terima kasih, Mam. Saya rasa sebaiknya saya pulang saja."
"Kenapa jadi pakai basa-basi begitu? Kau kan anggota keluarga juga, Mama tidak dapat mem-biarkanmu pulang menempuh badai begini. Pakai-lah kamar tamu di atas, nanti Mama pinjami pia-ma Papa, kalian kan sama besar, cuma Papa ge-mukan sedikit"
Deni menghela napas, tak berani menatap Triska yang tengah memperhatikannya. "Saya nggak keberatan nginap di sini, tapi sebaiknya jangan. Saya pulang saja nanti. Masa sampai tengah malam nggak juga berhenti?"
"Kenapa jangan?"
Semua orang menoleh dan meiihat Dokter Justin muncul dan berjalan dari arah kamar kerjanya. Dia berhenti di dekat mereka dan memandang Deni seakan menunggu jawaban.
"Untuk melindungi Triska, Pap," sahut Deni lalu menelan ludah dengan susah payah seakan kerong-kongannya tersumbat
"Omong kosong!" gelegar Dokter Justin. "Apa yang mau dilindungi? Kau kan tidur di kamarmu, dia di kamarnya! Kalian masing-masing akan tidur] Tidur benaran, bukannya tidur-tiduran lalu me lakukan kegiatan lain!"
Triska hampir tak dapat menahan tawanya mendengar kuliah ayahnya yang tidak suka omong kosong, tapi wajah ayahnya dan Deni yang serius membuatnya bahkan tak berani berkutik sedikit pun, jangan kan mau ngikik!
"Bukan itu maksud saya. Yang saya pikirkan adalah Odi..."
"Aaah, lupakan perempuan itu!" Dokter Justin memotong Deni dengan tegas. "Buat apa masih kaupikirkan juga? Dia sudah merusak kebahagia-anmu, tak usah kauingat-ingat, lebih baik kaudoa-kan biar cepat dipanggil pulang ke langit!"
"Pap!" tegur Nyonya Rosa mengingatkan suami-nya.
"Saya nggak memikirkannya! Maksud saya, kalau Odi tahu saya tidur di sini, bisa-bisa dia nanti menjelek-jelekkan Triska di luaran atau di koran-
koran...."
"Betul juga," gumam Nyonya Rosa melirik SUa mi dan anaknya bergantian.
Triska juga terkejut diingatkan begitu, namUn dia tetap menunjukkan sikap masa bodoh. Masa aku hams membiarkan diriku ditakut-takuti oleh siluman betina itu!
¦iDia takkan tahu!" Dokter Justin menegaskan sambil memukul bahu Deni dengan tangannya.
Uuuiiit! Sakit juga tuh, pikir Triska geli, meiihat yang menerima pukulan agak meringis.
"Tak ada orang yang akan tahu! Apa ada orang yang membuntutimu kemari? Di luar hujan lebih lebat daripada zamannya Nabi Nuh, orang gila mana yang mau keluar malam-malam begini mengincar • suami orang?"
Triska berjengit dalam hati mendengar ucapan ayahnya. Dokter Justin masih tetap tak mau mengakui bahwa mereka sudah bercerai, bahwa Deni sudah bukan suami anaknya.
Meiihat Deni diam saja seakan terpaku di tempat, (mantan) ayah mertuanya, mempergencar se-rangannya. "Ayo, jangan ragu. Malam ini kau nginap di sini. Kalau perlu, kau tidur bersama&w, biar Triska dijagai ibunya dan Marco! Aku larang kau pulang. Mungkin kau sudah tidak sayang jiw* »ndiri, tapi kau harus ingat pada anak-istrimu! Bagaimana kalau kau sampai ditabrak? Aku percaya, kau akan membawa mobil hati-hati, tapi apa r! Wsa menjamin orang lain juga akan begitu? Z11^ tabrakan, buat korbannya sudah tidak P^wng lagi apakah dia yang menabrak atau dita-
brak! Sudah, sana, naik ke atas! Mam, pinjami dia
piarnaku!"
Deni mengatupkan bibir, menghela napas berat, lalu menoleh mencari wajah Triska. Untuk sesaat mata mereka berpagutan seakan saling mengadu kekuatan. Kemudian Triska mengulas senyum di bibirnya dan mengulurkan tangan menyentuh—ha-lus, halus sekali, hampir tak terasa, pikir Triska— lengan Deni, dan berkata pelan, "Papa benar, Den. Daripada kau sakit atau tabrakan, kan mending nginap! Biarlah Odi berkaok-kaok semaunya, nanti kita hadapi bersama."
Bab 5
Esoknya, Triska terjaga dibangunkan oleh celoteh Marco yang asyik bicara sendiri, dan dia langsung teringat hari apa itu. Ah, tahun lalu aku masih terjaga di sampingnya, dan disambut dengan ke-cupan selamat ulang tahun! Sekarang dia tidur di kamar tamu paling ujung, dua pintu dari sini, sedangkan aku ditemani Marco saja Betapa kece-wanya aku. Hati ini terasa kosong, kadang aku bertanya, buat apa sebenamya aku hidup? Apakah cuma untuk mengalami kesusahan? Buat apa aku dilahirkan? Apakah cuma untuk sekian ini saja? Sekian ini sajakah hidupku? Sudah habiskah bahagia yang menjadi bagianku dan bagiannya?
Triska bangun dari ranjang dengan perasaan ke-cewa yang mengganjal di dada, namun ketika dia turun ke bawah setelah beres mandi serta bersolek, rasa kecewanya makin membubung. Dia turun menggendong Marco yang diserahkannya pada Inem untuk diberi minum susu, lalu dihampirinya ibunya di ruang makan. Hari masih pagi, belum pukul delapan. Ayahnya belum kelihatan, begitu juga Deni. Memang dari rumah orangtuanya di
Menteng ini ke rumah sakit cukup dekat dan lalu lintas lancar, tak ada yang disebut bottle-neck. Rumah mereka berdua—dia dan Deni—di Cempaka Putih barulah dianggap cukup jauh dari tempat kerja, sebab hams melalui jalan macet berkali-kali. Memang kurang strategis tapi waktu itu mereka tidak menemukan rumah yang lebih baik di lokasi lain.
"Belum pada bangun, nih?" tanya Triska pada ibunya, maksudnya tentu saja ayahnya dan Deni.
Ibunya meletakkan cerek porselen Rosenthal berisi kopi ke atas meja makan sambil menjawab, "Papa sedang mandi, Deni sudah berangkat."
Ah?! Kenapa dia pergi begitu pagi? Tanpa pa-nut lagi!
"Deni sudah pergi?" Triska menegaskan.
Ibunya mengangguk. "Jam setengah tujuh tadi. Katanya mau tukar baju dulu ke rumah."
"Kok nggak pamit?" gumam Triska, jelas ke-cewa.
"Dikiranya kau masih tidur, dia nggak mau membangunkan. Katanya, dia perlu ngontrol pasien yang kemarin dibedahnya, perlu bikin laporan sebelum ronde pagi ini. Kau tahu sendiri, jalan ke Cempaka Putih kan cepat sekali macetnya kalau kita kesiangan sedikit."
Tapi ini kan hari ulang tahun saya, Mam! Masa dia nggak ingat memberi selamat! Triska kecewa sekali, namun tak berani mengutarakan unek-unek-nya, khawatir ibunya ikut-ikutan kecewa pada Deni.
Ketika dia menjatuhkan diri dengan lesu ke atas kursi, ibunya menghampiri dan tersenyum meme-luknya. "Masa yang berulang tahun wajahnya mu-rung?" Dikecupnya pipi Triska kiri-kanan. "Selamat ulang tahun, Tris!"
"Trims, Mam," bisik Triska dengan mata basah, lalu dipaksanya dirinya tertawa sambil bersem seperti kebiasaannya semasa kecil, "Kadonya mana, Mam?"
Ibunya tertawa. "Tahu, deh, Papa sudah beli kado atau belum!"
"Mam!" pekik Triska, persis seperti Triska kecil bila digoda ibunya.
"Kan pestanya nanti malam, masa sudah mau kado sekarang?"
Triska berlagak mengalah dan menerima alasan ibunya Tentu saja itu semua cuma guyon, Triska tahu ibunya pasti sudah punya kado baginya.
"Sore ini kau nggak praktek, kan?" tanya ibunya
."Nggak. Minggu lalu saya sudah minta diganti-kan oleh seorang dokter muda yang bam lulus dua tahun lalu. Dia belum praktek sendiri, jadi gampang dimintai tolong."
Ayahnya yang bam muncul, sudah berpakaian rapi, segera nimbmng. "Betul juga kau libur sore nanti, Tris. Kalau nggak, masa tamu-tamu harus menunggu jamuan makan dimulai lewat jam sem-bilan? Bisa-bisa kita semua bakal kembung makan angin!" Mereka tertawa semua. Dokter Justin menghampiri putrinya dan meme-
luknya. "Selamat ulang tahun, Tris. Semoga kalian berdua bisa cepat berkumpul lagi."
Triska mengejap-ngejapkan mata sambil tersenyum dan berbisik, "Trims, Pap. Doakan, ya."
Apakah aku akan pernah bersatu lagi dengan-nya? pikimya galau. Rasanya, kok sulk sekali. Selama Odi menyelak di tengah, bagaimana kami bisa serumah lagi, Mam, Pap?
"Tentu, Sweetheart] Mama dan Papa sedang no-vena pada Maria agar menolong kalian berdua," Dokter Justin memberitahu dengan serius.
Triska tertegun sekaligus terharu. Dia tidak menyangka bahwa orangtuanya begitu tekun memikirkan kebahagiaan dirinya. Hatinya terhibur sedikit, sehingga kepergian Deni tanpa pamit itu tidak lagi dipikirkannya.
"Deni sudah berangkat?" tanya Dokter Justin tanpa heran, seakan sudah menduga.
"Tadi setengah tujuh. Ketika aku turun, dia sudah duduk di dapur rninum kopi. Begitu melihat-ku, dia langsung pamitan," ibu Triska menjelaskan.
"Jalanan memang gampang sekali macet," ujar Dokter Justin manggut-manggut, lalu duduk dan mulai sarapan. Yang lain segera mengikuti contohnya.
***
Kira-kira pukul setengah dua belas, saat poli-klinik sudah sepi, Roy mengunjungi Triska yang bam saja be res memasang infus pada balita dengan muntaber yang sudah shock Triska tengah melangkah menuju kamarnya ketika seseorang
merendenginya. Sebelum dia sempat menoleh ke samping, orang itu sudah mendahului buka mulut, "Selamat ulang tahun, Tris!"
Terkejut, Triska kontan menoleh dan menyam-but tangan yang terulur padanya. "Trima kasih, Roy. Tumben, kok masih ingat?" ujarnya geli. Selama ini Roy tak pernah memperhatikan hari ulang tahunnya, kenapa sekarang mendadak jadi tajam ingatannya?
"Aku kan diberi agenda oleh detailer, kalau nggak salah dari perusahaan obat Amerika. Ada daftar ulang tahun segala, jadi aku tanyai Marti...."
"Kenapa dulu nggak pernah nanya?"
Roy nyengir kuda, ciri khas pribadinya. "Dulu kan aku nggak punya vested interest terhadapmu! Sekarang kan lain! Ini, kubawakan sesuatu, harap jangan ditolak." Diberikannya sebuah bungkusan kecil berwama bira yang tampaknya cukup berat.
Triska menyambut tapi belum menerimanya. Sambil tertawa dia melacak dulu hati sang perjaka, "Ada embel-embelnya, nggak, nih? Kalau ini ada kaitannya dengan vested interest-ram, aku terpaksa hams menolak."
"Nggak, nggak!" sera Roy terbirit-birit sementara kedua tangannya bergerak-gerak untuk me-nambah bobot ucapannya. "Ini bukan umpan, bukan juga modal! Ini pemberian yang tulus. Aku mohon, jangan kautolak. Mungkin harganya nggak seberapa bagman.,.."
Kunyuk kau! Pintar betul meneror orang! Dengan berlagak seakan kado ini kurang berharga,
kau mau memaksa aku agar menerima, daripada dianggap sombong, menolak karena barangnya di-nilai kemurahan?!
"Kenapa nggak kaubawa nanti malam saja? Ibuku mau mengadakan makan malam, cuma antara kita-kita saja, Kris, dan Marti. Nggak ada orang lain. Kau datang, ya." Triska sebenamya tidak ber-gairah mengundang siapa pun, baik semut atau orang. Tapi Roy sudah tahu itu hari apa, dan dari adiknya, Marti, pasti tahu juga (kalau belum, besok-besok pasti akan tahu) bahwa mereka mengadakan jamuan makan untuk merayakannya. Kalau nggak diundang, nanti salah. Kalau diundang lalu dia datang, nanti jangan-jangan salah juga. Ah, semoga dia nggak mau datang! Jangan terima, tolak, jangan mau datang! ujarnya dalam hati ber-ulang-ulang sambil menatap Roy dengan senyum manis, seakan mau menyihimya.
Temyata mantranya manjur. Roy menggeleng, menarik napas panjang, dan tarik muka menyesal. "Aku nggak bisa hadir, Tris. Karena itu aku mene-muimu sekarang. Aku haras terbang ke KL nanti sore, umsan bisnis."
"Jadi betul apa yang kudengar? Kau punya perusahaan di Kuala Lumpur? Bikin kosmetik atau obat-obatan?"
"Bam mau kujajaki. Pamanku ada yang tinggal di sana, kenalannya ada yang punya pabrik far-masi. Mereka tertarik pada jamu-jamu kita ter-utama yang bisa bikin awet muda, badan kencang, tambah tenaga, dan sebangsanya, deh."
Triska geli mendengar uraian itu, membuat nye-ngir kudanya makin lebar. "Kalau begita kuucap-kan selamat terbang, deh. Terima kasih untuk kado ini. Kapan kau balik?"
"Besok malam. Lusa aku sudah masuk lagi. Kau mau oleb-oleh apa?"
"Tentunya kautawarkan dalam rangka vested in-terest-mu, bukan? Atau aku mau disuruh ulang tahun tiap hari? Keberatan, dong, nanti umurku terlalu cepat tambahnyal"
"Serins, nih. Kau mau tas, perhiasan, baju kurang, sandal, sepatu, atau manisan atau...?"
"Aku juga serins. Trims, nggak usah. Kalau masih mau ngasih kado, tahun depan saja bila aku ultah lagi." Triska tertawa riang mengantar Roy sampai di ujung lorong dan mengawasinya hingga lenyap di belokan, lalu dia masuk lagi ke dalam kamar. Begitu pinm sudah tertutup, dia menarik napas dan menjatuhkan diri ke atas kursi. Bung-kusan yang kecil dan berat itu dibiarkannya terge-letak di depannya.
Orang lain ingat, dan khusus datang mengantar-kan kado! Kenapa kau sendiri bisa lupa, Den? Kau sudah lupa hari ini hari apa? Kau minggat tanpa pamit Kalau segan mengganggu tidurku, kau bisa saja menyelipkan sepotong kertas ke bawah pintuku, asal mau! Aku tidak mengharapkan bingkisan, aku cuma mendambakan perhatian. Betulkah kau benar-benar sudah lupa?
Seharian ita hatinya resah. Setiap kali telepon berdering, baik di bangsal, di raang OP, atau di
kamarnya sendiri, hatinya langsung melonjak, harap-harap cemas itu dari Deni mau mengucap-kan selamat. Tapi sampai saat pulang ke rumah, tak ada telepon pribadi baginya. Tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun setelah Roy.
***
Sekitar pukul enam sore, Triska sudah mandi dan bersolek rapi. Walaupun yang akan datang cuma Kris serta Marti, karena kebiasaan sejak dulu kalau ultah harus pakai baju baru, Triska pun memakai gaunnya yang terbam, yang dibelinya di sebuah butik dalam kompleks Ratu Plaza. Dikena-kannya juga sepatu bam, terbuat dari kulit sapi berwama krem sesuai dengan warna dasar baju-nya. Buntut kudanya disanggulnya ke atas dan di-berinya tiara kecil bermata intan, hadiah ulang tahun dari orangmanya beberapa tahun yang lalu.
Marco tidak lupa pula dimandikannya dan di-berinya baju dan sepatu bam, sedangkan Bella diberinya pita merah di leher.
Triska sebenamya ingin membantu, tapi digebah keluar dapur oleh ibunya. "Pembantu ada tiga ini saja dapumya sudah terasa sempit. Lebih baik kauajak main Marco, diam di dapur nanti bajumu kotor. Kenapa arloji hadiah Roy nggak kaupakai?"
"Terlalu mewah, Mam. Malu sama Marti, nanti dia hi kalau temyata abangnya nggak pernah memberinya barang semahal itu. Yuk, Marco, kita main di dalam, Nenek mau bikin kue nggak boleh diganggu!"
Mereka tengah asyik bercanda bertiga dengan Bella, ketika bel pintu berdering. Triska bangkit dari lantai meninggalkan Marco yang tengah me-meluk Bella. Tumben, Kris datang siang amat, apa dia juga nggak praktek sore ini? pikirnya.
Begitu pintu dibuka, dia tertegun. Erik Sigma berdiri di depannya, tubuhnya nyaris cuma terdiri atas senyum selebar tampah dan segunung bunga mawar kuning yang menutupinya dari leher ke bawah. Tangannya yang lain memegang sebuah bungkusan berwama putih, berpita kuning.
"Erik! Kok tahu?" sera Triska tercengang.
"Sejak dulu aku selalu ingat kapan ultahmu," sahut Erik, tersenyum makin lebar. "Cuma sebe-lumnya, aku tidak berani menunjukkan perhatian, khawatir menimbulkan perang."
"Bisa saja kau!" Triska tertawa.' "Yuk, masuk!"
Di dalam, Erik menyerahkan bunga dan kado, lalu memberi selamat ulang tahun. Triska semula agak ngeri, jangan-jangan Erik mau menggunakan kesempatan ini untuk memeluknya, sebab dilihatnya gerakan yang menjurus ke situ (maklum, sudah belajar dari Amerika!). Untung ibunya muncul pada saat yang kritis, sehingga insiden bisa dihin-dari. Erik kelihatan agak tersipu-sipu ketika menarik kembali lengan-lengannya yang sudah terjulur seperti lengan octopus.
lank segera digiring masuk ke ruang tamu dan keduanya duduk berhadapan, bercakap-cakap sambil membagi perhatian ke arah Marco—yang
sudah dipindahkan dari ruang dalam—dan pesawat TV yang disetel tanpa bunyi.
Temyata surprise bagi Triska masih belum habis. Kira-kira setengah jam kemudian bel pintu kembali berdering. Sekali ini pasti Kris, pikimya melirik grandfather's clock di sudut.
"Sori, ada yang ngebel," dia pamit pada Erik lalu melangkah ke pintu dan membukanya. "Sumi!" serunya setengah memekik, membuat Marco menoleh dan cepat-cepat merangkak menghampiri.
Sumi tertawa lebar dan tanpa menunggu dipersi-lakan, sudah melangkah masuk diikuti Hansa yang juga menyeringai kemalu-maluan.
"Kami tidak memberitahu dulu, kata Sum, memang disengaja," mkas Hansa setengah minta maaf atas kedatangan mereka yang tidak diundang.
"Nggak nyangka, kan?" Sumi menambahkan seraya tertawa haha-hihi, lalu mengeluarkan sesuato dari tasnya yang besar. "Ini kenang-kenangan dari kami. Hai, Erik, tumben bisa ketemu di sini!" Sumi tergelak sendiri sementara Erik cuma tersenyum malu. "Ah, ya, maklum aku! Hansipnya absen, maling-maling pada keluar mau nyolong, deh!"
Erik tidak membela diri dituduh mau jadi ma-ling, cuma wajahnya jadi bersemu merah seakan malu ketahuan niatnya. Triska juga geli mendengar guyonan Sumi. Erik mau nyolong apa? Hatiku? Iiih, masa belum tahu, hatiku sudah tidak ada di tempatnya, sudah lama hilang!
"Eh, kado ini jangan dibuka sekarang, nanti
ketahuan Erik!" Sumi melarang ketika dilihatnya Triska menarik seutas pita seakan mau membuka-nya.
"Oke, deh. Aku simpan dulu. Trims, ya, kau juga, Hans."
Sumi memberinya selamat ulang tahun dengan memeluk dan mencipok pipinya seraya berbisik, "Kuharap kau akan cepat rujuk lagi." Triska tidak mengomentari tapi cepat-cepat melepaskan diri agar keharuan yang dirasakannya bisa cepat meng-uap dari dadanya. Lalu Hansa juga menjabat tangannya. Ketika mereka mau duduk, muncul Nyonya Rosa dari dalam.
"Wan, apa kabar, Tante?" tegur Sumi. "Maaf, kami bikin gaduh, Tante, kegandingan, ya."
"Tante baik-baik saja. Bukannya kegandingan, Tante cuma ingin tahu siapa yang datang. Heran, sebab kata Triska nggak ada yang diundang. Triska ogah dipestakan, karena ita kami juga nggak ngundang-ngundang. Mana Linus, kok nggak di-ajak?"
"Makanya kami datang, Tante. Khawatir Triska nanti kesepian ultah sendiri. Linus ditinggal. Habis malam, sih, nggak boleh dibawa oleh bapaknya!" ujar Sumi menunjuk Hansa.
"Mam, jangan-jangan makanan kurang! Sumi makannya banyak!" Triska meledek temannya yang kontan memekik nyaring membuat Marco memandang keheranan.
"Hei! Kaukira aku nggak bawa timbell Hans, tumnkan rantang dari bak belakang."
Hansa betul-betul berjalan ke luar sehingga Triska menjerit-jerit mencegah, dikiranya pasangan itu sedang bersandiwara. Temyata dia kembali lagi menenteng rantang aluminium tiga susun yang di-serahkannya pada Triska.
"Aku nggak bertanggung jawab atas isinya," katanya serius seakan serah-terima dokumen rahasia negara.
Triska menoleh dan memandang Sumi dengan mata bertanya.
"Coba terka!" Sumi menantang, tertawa.
Setelah berpikir setengah detik, Triska akhirnya menyerahkan rantang itu pada ibunya sambil tertawa. "Lebih baik langsung diamankan kerdapur, Mam. Siapa tahu ada bomnya!"
"Baiklah, Tante tinggal dulu, ya. Tris, baiknya ajak teman-temanmu pindah ke dalam, lebih enak."
Ruang keluarga memang lebih luas dari ruang tamu, kursi-kursinya lebih banyak, lebih empuk, dan suasananya lebih hangat. Begitu meiihat grand piano di dekat jendela, Sumi langsung mendaulat Triska agar duduk di situ dan main. Karena Marco sedang dimomong oleh Hansa, Triska tak dapat menolak dengan alasan takut Marco digigit Bella (tentu saja anjing kecil itu tak pernah menggigit-nya, dia malah senang menjilati Marco yang di-anggapnya sesama teman). Jadi terpaksa dipenuhi-nya permintaan itu.
Tidak tahunya, lagu-lagu itu justru mengingat-kannya pada orang yang ingin dilupakan. Dia ters
kenang pada masa-masa ketika Deni sering meng-
iringi pianonya dengan gitar.
Lagu pertama yang dimainkannya adalah Matti-nata-nya. Leoncavallo. Wajahnya yang cantik kelihatan tenang, menunduk penuh konsentrasi. Tak ada yang menduga, di dalam hatinya menangis sambil bemyanyi, You're breaking my heart 'cause you're leaving...
Lalu menyusul Angel's Serenade-nya. Braga, di-susul Come Back to Sorrento-nya. Ernesto de Curtis, kemudian Non Dimenticor-nya Redi disusul La Paloma-nya. Yradier, diikuti Liebestraum-nya Liszt, lata Somewhere My Love-nya. Jarre, La Cumparsita-aya Rodrieyez (Lagu kesayangan kita, Den. Kapan kau akan mengiringi lagi dengan gi-tarmu?), Hawaiian Wedding Song-nya. King, And I Love You So-nya McLean, disusul dengan... jari-nya sudah siap untuk memulai Always in My Heart-nya Lecuona, namun dibatalkannya. Terlalu pribadi, pikimya. Lalu digantinya dengan Verlas-sen Bin Ich-nya Koschat (walaupun artinya sesuai dengan keadaanku saat ini, para pendengar nggak tahu, jadi sip!), diteruskan dengan La Madone dan balik lagi ke Non Dimenticar. Tahu-tahu ada suara mengikuti, Non Dimenticar means don't forget you are my darling....
Triska mengangkat muka dari piano. Benar du-gaannya! Suara itu datang dari...
*aku (yang) ditinggaJkan
"Kris!" serunya gembira. "Marti! Eh, Bobi!" Triska serentak menghentikan permainannya dan berdiri menghampiri tamu-tamu yang bam datang.
Kris langsung memeluknya. "Prinses! Selamat ulang tahun!"
Marti juga memeluk dan mengucapkan selamat, kemudian memberinya sebuah kotak besar ter-bungkus kertas hijau. "Ow! Trims! Apa ini? Boleh dibuka? Tidak, tentu saja tidak... nanti saja... dan, Bobi, kasih Tante selamat nggak, nih?" Triska membungkuk dan memeluk keponakannya.
"Ingin ketemu Marco katanya," ujar Marti. "Nah, itu Marco digendong Oom Hansa, ayo ham-piri, kasih tangan!"
Nyonya Rosa yang muncul dari belakang langsung tertawa meiihat tingkah Bobi dan Marco yang lucu, dan semua orang ikut-ikutan terkekeh.
"Pasienmu nggak banyak malam ini?" tanya Nyonya Rosa. Yang menjawab cuma Kris, sebab Marti memang tidak praktek sore.
"Saya libur, Mam. Kebetulan ada teman yang bisa menggantikan. Ada yang pesta, masa saya akan praktek?"
"Iya, dong!" sambung Triska. "Bisa-bisa kau datang ke sini cuma untuk mengumpulkan tulang ayam!"
Tak lama kemudian Dokter Justin juga pulang dari praktek. Sebagai spesialis—intemis—pasien-pasien hams mendaftar dulu dan rupanya untuk sore ini dia sengaja mengurangi jumlah pasiennya.
Karena semua orang sudah hadir, jamuan malam
pun segera dimulai. Bobi dan Marco bersama Bella diamankan ke loteng oleh Inem.
Triska duduk di sebelah kanan ayahnya, di sam-ping Erik, menghadap ke luar, ke ruang keluarga. Sepanjang makan pikirannya cuma separo meng-ikuti percakapan-percakapan, separonya lagi seben-tar-sebentar ditujukan ke pintu ruang makan, ber-harap akan meiihat orang yang ditunggunya. Siapa tahu dia masih akan datang, dia berharap. Mungkin pasiennya banyak sekali, ini kan Jumat, biasanya memang penuh.
Namun hidangan demi hidangan muncul dan disikat habis (termasuk ayam panggang opor ba-waan Sumi serta sambal tomatnya yang paten), dan harapannya pun berangsur menyusut. Akhirnya lenyap tak bersisa ketika puding pencuci mulut pun keluar dalam mangkuk-mangkuk Noritake yang anggun, yang cuma dipergunakan waktu pesta.
Triska menundukkan kepala ketika doa penutup diucapkan oleh ayahnya. Hatinya menangis. Begitu cepatnya kau melupakan aku! Kau tidak ingat lagi hari ini hari ultahku! Di manakah kau? Masih sibuk dengan pasien? Ataukah.,.?
Sebelum mereka beringsut dari ruang makan, Nyonya Rosa mengeluarkan kue ulang tahun yang berlilin 29. Triska tersenyum cerah (Tak perlu ada yang tahu, hatiku sebenamya tengah meratap!) ketika menyalakan lilin-lilin, memejamkan mata (untuk mengajukan permohonan pada Tuhan), lalu meniup padam apinya, sementara Kris sibuk mem-
bidikkan kameranya mengabadikan peristiwa itu. Jadi tukang potret memang merupakan hobinya yang mutakhir, terhitung sejak kedatangan Bobi. "Pada setiap pertemuan keluarga, Kris dan kamera Jepang-nya pasti tidak ketinggalan nampang," ujar Marti memberi komentar pandangan mata.
"Nggak ada yang lihat nih, Kris punya kamera bam! Tepuk tangan dong!" sera Marti memberi contoh yang kontan ditira hadirin.
"Tukar-tambah!" Kris tersenyum menjelaskan.
"Makin getol saja kau motret! Asal ambilnya jangan terbalik saja!" tukas adiknya.
"Tempat prakteknya kan mau dirombaknya jadi studio foto!" Marti membongkar rahasia sambil tergelak-gelak.
"Aku kan perlu banyak latihan, Tris," jawabnya pada adiknya. "Sebagai persiapan kalau Bobi nanti diwisuda!"
Grrr. Semua orang terbahak-bahak termasuk Erik dan Hansa, apalagi Sumi yang sampai roeli-pat peratnya menahan geli.
"Aku sudah lama ingin bikin pasfoto yang cakep, nggak kelihatan uban dan kerat-kerut," ujar Sumi. "Boleh datang ke tempat praktekmu, Kris? Eh, jangan takut, walau pun kenal, aku pasti bayar!"
"Siapa bilang aku buka studio potret?" Kris menggumam sambil menikam istrinya dengan pan-caran matanya. "Jangan dengarkan Marti!"
Marti tertawa tapi menjelaskan juga tanpa di-tanya, "Dia sedang pikir-pikir mau pasang alat ultrasound, tapi harganya puluhan juta. Dia tahu.
ada beberapa spesialis yang punya alat itu di tempat praktek jadi 'ketagihan' menggunakannya walau tak ada indikasi, dengan tujuan biar cepat ter-bayar lunas utang di bank. Kris keberatan meniru mereka, jadi kemungkinan besar rencana itu akan dibatalkannya."
Setelah mereka nencicipi kue ulang tahun bi-kinan sendiri yang lezat itu, mereka beralih ke ruang tengah tempat keluarga untuk acara bebas. Kadokado, termasuk pemberian orangtuanya, semuanya diletakkan oleh Triska di atas bufet tempat cangkir-cangkir antik, dekat piano. Dia belum mau membukanya, khawatir ada yang keberatan pemberiannya diketahui orang Iain. Mungkin khawatir dianggap kurang bermutu oleh orang yang memberi barang lebih mahal, pikir Triska.
Dokter Justin mengundurkan diri ke ruang ker-janya, sedangkan Nyonya Rosa naik ke atas mau menengok cucu-cucu, sekali an menggantikan Inem yang giliran makan.
"Mau ngobrol atau main kartu, nih?" tanya Kris.
"Apa saja," sahut Sumi. "Asal jangan makan lagi! Timbanganku pasti sudah tambah, nih!"
"Ah, masih seperti lidi, kau nggak perlu risau!" Triska menenangkan sambil mesem.
"Apanya yang seperti lidi?" Sumi mendelik me-nepuk-nepuk peratnya.
"Jari-jarimu!"
Gm*. Mereka terbahak, termasuk Hansa. "Gimana kalau kita main scrabble saja?" usul Marti menunjuk kotak di bawah meja.
"Setuju!" ujar Sumi segera. "Aku memang perlu banyak belajar, supaya kalau jalan-jalan ke Ame-rika nanti bisa mengalahkan kakakku! Itu kan mainan kesukaannya."
Kriiing...
"Sori, sebentar, ya," ujar Triska, bangkit menghampiri pesawat dan mengangkatnya. Temyata dari Nyonya Desi Melnik, (mantan) ibu mertuanya.
"Selamat ulang tahun, Tris! Papi dan Mami mendoakan semoga kau lebih bahagia tahun ini!"
"Terima kasih, ngngng... Mam." Triska sudah semakin canggung memanggil (mantan) mertuanya dengan panggilan intim itu, tapi karena yang ber-sangkutan sendiri tidak mengubah sebutan dirinya, terpaksa dia juga mencontoh.
"Mami agak selesma, maklum orang sudah tua, kalau musim hujan penyakitnya begini ini. Selesma dan encok. Minggu lalu bam disuntik kortison oleh Deni. Maka itu Mami tidak bisa datang mengucapkan sendiri selamat ulang tahun padamu. Besok lusa kalau agak baikan, Mami pasti akan datang mengantarkan kado, sekalian mau nengok Marco. Deni bilang di telepon, anak itu sudah tumbuh gigi?"
Maka Triska pun—seperti kebanyakan ibu-ibu muda lainnya—bla-bla-bla mengetengahkan anaknya, menyebutkan semua predikat yang bisa me-nunjang kejempolan anaknya, sehingga orang bisa salah tangkap, mengira anak itu sudah diramalkan bakal memenangkan Hadiah Nobel untuk fisika sebelum dia berusia delapan belas.
Triska memang kedengaran antusias kalau sedang mengiklankan anaknya, tapi begitu telepon dirutup. dia balik ke kursinya sambil mengeluh dalam hati. Ibunya masih bisa ingat, tapi dia sendiri sudah lupa!
"Jadi kita akan ngapain?" Namun sebenamya dia tak perlu bertanya, sebab dilihatnya mereka semua sudah duduk mengelilingi meja bulat, khu-sus untuk main kartu atau catur atau scrabble, me-nantikannya. Di tengah meja sudah digelar papan scrabble.
"Karena ada enam orang, Sumi biar berpasang-an dengan Hansa, Marti dengan aku, kau dan Erik masing-masing solo,'' Kris menjelaskan.
Walaupun Triska semula gundah, lama-lama perhatiannya terseret juga oleh permainan yang mengasyikkan in. Lebih mengasyikkan lagi sebab siapa yang kalah, kelak hams mentraktir, makan atau piknik.
Mereka main beronde-ronde. Pada ronde pertama, pasangan Omega kalah. Kris menuntut revanche. "Siapa tahu sekali ini kita bisa menang, Mar. Kan jadi bisa balas ditraktir, nggak terlalu rugi!" Kris berkalkulasi dengan istrinya diawasi oleh yang lain dengan senyum geli.
Ronde kedua dimenangkan oleh Erik (angkanya paling tinggi), sedangkan pasangan Karundeng
'sendirian
menuntut balas untuk merebut lagi apa yang hilang
kalah (angka mereka paling rendah). Sumi sen-dirian menuntut revanche seperti Kris. Ronde ke-tiga ini makin sem sebab kedua pasangan Omega dan Karundeng sama-sama bernafsu ingin menang, agar "modal" mereka (untuk mentraktir) bisa balik.
Saking asyik memutar otak untuk merangkai huruf-huruf itu menjadi kata-kata yang diakui sah oleh kamus, mereka tidak mendengar dering bel pintu. Semua sibuk membungkuk di atas meja, melotot memandangi papan serta simpanan humf masing-masing, repot memikirkan kata apa yang mungkin dan paling banyak menambah angka. Karena itu tidak heran bila Triska terlonjak kaget ketika tahu-tahu ada yang memanggil di belakang-nya, "Tris..."
Dia serentak memutar leher dan terkesiap. Oh! Dia datang juga kiranya! Wajahnya kelihatan ca-pek, pasti dia langsung kemari dari tempat praktek!
Triska menyemkan namanya, namun suaranya tidak keluar, hanya bibirnya yang bergerak-gerak, suaranya sendiri seakan tersekat di kerongkongan, tak bisa sampai ke ujung lidah.
Deni menghampiri sambil tersenyum. Pandang-annya khusus dipusatkan pada yang bemlang tahun, namun Triska sempat menangkap lirikannya ke arah Erik yang duduk di hadapannya. Kris memang sempat menaikkan alis ketika meiihat Erik duduk bercokol mendengarkannya main piano, tapi tidak ada orang yang terang-terangan rnenyatakan keheranannya menyaksikan tamu tak diundang itu.
"Selamat ulang tahun, Tris. Sori, aku datang malam sekali," bisik Deni sedikit membungkuk, seakan ingin mengecupnya tapi tidak jadi. Kalau-pun semula bemiat, rupanya dibatalkannya sebab terlalu banyak penonton (Triska tersenyum memikirkan kemungkinan ini). Deni akhirnya cuma mengulurkan tangan, lalu memberikan sebuah ko-tak besar berbungkus kertas dengan motif indah (Rupanya kau masih ingat, aku suka kertas bagus untuk sampul buku.) disertai pesan, "Untuk me-nambah koleksimu."
"Kotak musik lagi? Wow! Pasti Marco yang akan kegirangan setengah mati! Semua koleksiku sudah didaulat olehnya. Anak itu betah mende-ngarkannya berjam-jam dan sudah tahu lagu mana yang disukainya!" Triska tertawa bangga. "Rupanya memang berbakat musik seperti ibunya!"
"Ahem!" Kris berbunyi keras-keras seakan mau tercekik, tapi yang disindir rupanya tidak merasa.
"Marco? Sudah tidurkah dia? Sayang aku nggak bisa lama-lama." Deni mengangkat tangan, melambai pada semua namun matanya terpaku pada Triska seorang, lalu berbalik dan cepat-cepat melangkah keluar, diikuti Inem yang rupanya tadi mem-bukakannya pintu.
Triska menenangkan napasnya sebentar sambil membalik-balik kotak itu tanpa membukanya, lalu tiba-tiba diangkatnya mukanya tanpa memandang siapa-siapa, membelalak, dan berseru, "Astaga! Aku lupa menawarinya makan! Dia pasti sudah kelaparan!"
Serta-merta dia bangkit, melemparkan kotak itu ke atas kursi, dan berlari keluar. Inem sudah ber-lalu ke belakang. Triska membuka pintu cepat-cepat, dan melangkah ke beranda depan tepat saat mobil putih itu dinyalakan. "Deni!" panggilnya mengatasi deru mesin yang halus.
Deni mungkin tidak mendengar. Triska sudah menggerakkan kembali bibirnya, namun dia tidak bersiaga ketika tiba-tiba sebuah kepala terjulur dari jendela penumpang dan menoleh ke arahnya. Jan-tungnya langsung mencelat ke langit, nyaris tak mau balik lagi. Dia hampir semaput.
"Halo, Tris! Happy birthday, ya! Sori, kami nggak bisa lama-lama, banyak acara sih. Daaag!" Dan Odi pun mengeluarkan lengannya yang putih dan langsing, lalu melambai riang dibawa pergi oleh mobil yang meluncur terlalu cepat keluar halaman.
Untuk beberapa saat Triska berdiri terpaku di tempat, seakan kurang percaya akan penglihatan-nya. Kemudian lambat-lambat pikirannya pulih kembali dan hatinya hancur dilumat pengkhianat-an. Kau bahkan tidak mau menoleh! Tidak kau-acuhkan panggilanku! Karena kau banyak acara dengannya? Deni, kenapa kaulakukan ini terhadap-ku? Haruskah kaubawa Odi ke depan hidungku? Haruskah kautunjukkan betapa cepatnya dia telah berhasil memikatmu kembali? Rasanya baru kema-rin dulu kau masih merasa yakin, takkan mungkin tergoda lagi olehnya! Huh, laki-laki! Apakah kau juga termasuk satu di antara yang banyak?
Triska mengawasi mobil itu sampai lenyap di balik pohon-pohoo tetangga, lalu dengan lesu dia masuk ke dalam dan mengunci pintu. Sebelum kembali menemui yang lain, dia berdiri sebentar di depan cermin di ruang tamu untuk memeriksa air raukanya. Diusahakannya agar wajahnya tetap kelihatan cerah dan tenang. Setelah berhasil, barulah dia melangkah ke dalam.
"Dia nggak mau?" tanya Marti melihatnya kembali sendiri an.
"Dia sudah berlalu," jawabnya senetral mungkin. Berlalu dari hatiku! Malam ini mereka banyak acara, nggak sempat menghadiri pesta yang mem-bosankan begini.
146
Bab 6
Esoknya Triska menunggu-nunggu telepon dari Bagian Bedah, menjelaskan symptom aneh yang disaksikannya kemarin sore, dan melenyapkan ke-khawatirannya bahwa bakteri Bobadilacoccus telah berhasil dalam invasinya untuk membobol per-tahanan imunitas Dokter Melnik.
Sepanjang hari itu Dokter Triska bertugas dengan sebelah telinga diarahkan ke pesawat telepon di mana pun dia berada, di poliklinik, di bangsal, di raang OP, atau di kamar dinas. Tapi benda yang penting itu ternyata diam saja tak berbunyi, atau kalaupun berbunyi dan membuat hatinya sesaat kebat-kebit, akhirnya setelah diangkat oleh kolega atau perawat atau dia sendiri, temyata cuma umsan dinas, untuknya atau untuk orang lain.
Sepanjang pagi dan siang Triska menunggu telepon pribadi, namun sia-sia. Setelah lelah menanti, akhirnya dienyahkannya harapan itu dari hatinya dan dijatuhkannya tubuhnya yang penat ke atas ^i di kamar istirahat para dokter di depan ruang Pp; Kamar itu kecil, cuma berisi sebuah dipan, to6ja> dan dua kursi yang menempel di dinding
tempat meletakkan kotak-kotak instrumen, alat suntik, obat-obatan, dan jurnal-jurnal.
Seperti biasa kamar itu selalu acak-acakan seperti kandang ayam, terlebih mejanya. Kertas, ma-jalah, status pasien tumpang tindih. Semula Triska sama sekali tidak menaruh perhatian. Dia cuma ingin istirahat sepuluh menit sebelum berdiri lagi untuk melakukan circumcisi pada seorang bayi dengan indikasi medis.
Triska meletakkan sikunya di atas meja dan kepalanya ditumpunya dengan tangannya. Matanya dipejamkannya sejenak, dan ketika dibukanya kembali, yang pertama-tama dilihataya adalah koran BERTTA KOTA yang terbalik letaknya. Tapi yang membuataya waspada adalah headline sebe-sar gajah di halaman kesatu yang tak bisa dibaca-nya kecuali tiga huruf: ODI, dan itu sudah cukup untuk membuatnya membuka mata lebih lebar, meraih koran itu, dan membuang waktunya barang lima menit untuknya.
Judulnya saja sudah memancing rasa ingin tahu.
ODI BOBADILA: AYAHKU BERBIN1 DUA
Odi Bobadila, Ratu Peragawati ASEAN tahun lalu, berhasil dijepret ketika sedang meninggalkan kelab ebktusif Triple X tengah malam tadi dalam gandengan seorang laki-laki ganteng yang diakui-
sunat
nya sebagai pacarnya. Ditanya kapan mereka akan menikah, Odi yang akan membintangi sine-tron serial Ayahku Berbini Dua, produksi Colibri House, tertawa lebar dan menjawab mantap, "Tak lama lagi!" Tapi dia menolak memberitahukan nama pria itu. Siapakah dia? Barangkali Anda me-ngenalinya? Teleponlah Redaksi. Hadiah menanti!
Triska mengertakkan gigi. Itu koran tadi pagi, berarti kejadiannya baru semalam. Hm. Jadi itulah acara mereka! Semalam suntuk di kelab malam! Setelah itu ke mana lagi? Pulang ke rumah masing-masing? Huh! Memangnya aku sebodoh Marco! Pantas kau tidak meneleponku, rupanya takut! Habis, bagaimana kau mau membela diri? Memang gambarmu buram, orang luar mungkin takkan mengenali, mudah-mudahan saja, tapi istrimu walau sudah man tan masih bisa mengenali ciri-cirimu dari jarak ratusan meter juga, sebab matanya belum katarak!
Triska mencampakkan koran itu kembali ke atas meja, mengentakkan kaki, dan langsung berdiri untuk menyambung tugasnya. Harapannya dibu-nuhnya saat itu juga, segala emosi yang berbau rindu-dendam dihapusnya dari pusat memory agar tak dapat di-recall lagi.
Malamnya di tempat praktek, ketika pasien ter-akhir baru saja keluar, telepon berdering. Mbak Tuti masih di luar membereskan pembukuan, sebab dia yang menerima honor dari pasien sesuai instruksi pada kartu pasien, terkadang pasien
149
dibebaskan bila mengaku tidak marnpu atau sedang nganggur.
Triska mengangkat pesawat. "Halo, Dokter Triska Omega di sini, apa yang dapat saya lakukan untuk Anda?"
"Tris, aku!" Hm. Kenapa napasmu kedengaran terengah-engah, dan suaramu seperti orang bersalah?
"Ya, ada apa?" tanyanya setenang mungkin. "Kau sudah meiihat BER1TA KOTA hari ini?" "Ya, sudah."
"Tris, aku tahu, kau marah!"
"Kenapa mesti marah?"
"Tris, semuanya bisa kujelaskan."
"Buat apa?"
"Biar hatiku tenang."
Hatimu? Lantas hatiku? Kaupikirkan tidak, gimana hatiku?
"Ketenangan itu harus kaucari dalam dirimu sendiri, bukan dari luar, bukan dari aku!"
"Tris, malam itu Odi datang ke tempat praktek-ku, mengajak keluar makan. Aku nggak mau, alas-annya karena itu hari ulang tahunmu, aku ingin menemui engkau sebelum pulang. Tapi dia menge-jek, menuduh aku menghindarinya karena aku takut pada kenyataan bahwa aku masih mencintainya. Panas hatiku disindir begitu. Akhirnya aku marah dan kutantang dia ke nite club semalam suntuk untuk membuktikan bahwa aku sudah tidak tertarik padanya dan takkan terbius oleh kecantik-annya. Dan memang telah kubuktikan kebenaran
ucapanku! Sungguh mati, Tris, itulah kejadian sebenamya! Soal dia memberi jawaban yang bukan-bukan pada wartawan, itu adalah urusannya. Po-koknya sudah kubuktikan, aku tidak lagi tertarik padanya, dan kuharap dia takkan menggangguku lagi, agar aku bisa cepat kembali padamu."
Kurasa tidak segampang itu, Den! Kaupikir perkawinan itu seperti magang di pabrik, boleh ditinggal kalau bosan, lalu kembali lagi kalau tak ada kegiatan lain yang lebih menarik?
"Sebenamya nggak perlu kaujelaskan semua itu, Den. Bukankah kita sama-sama bebas? Kau nggak perlu mempertanggungjawabkan segala tindakanmu terhadapku! Aku kan bukan istrimu lagi!"
"Tris, kenapa bilang begitu?"
Ha, suaramu kedengaran khawatir? Semua ini salahmu sendiri! Ulahmu yang kurang berpikir panjang! Kenapa kaucoba-coba menipuku ketika kawin denganku? Sekali sudah pernah menipu, siapa yang akan menjamin bahwa kali ini pun kata-katamu bukannya bohong belaka?
"Sori, Deri, ada pasien, nih. Nanti, deh, kita diskusikan lagi."
Triska meletakkan pesawat, lalu bangkit untuk melangkah ke ruang sebelah menghampiri Mbak Tuti.
***
Sejak insiden BERITA KOTA itu, Triska agak menjaga jarak terhadap Deni walaupun dia masih meladeni bila diajak bicara, dan Deni juga masih
rajin datang mengunjungi Marco setiap akhir pe-kan. Tapi kebangatan yang semula masih tersisa dalam hatinya sima bersamaan dengan musnahnya harapan untuk kelak rukun kembali bersama (man-tan) suami.
Demikianlah waktu pun berlalu. Minggu demi minggu, bulan demi bulan. Tak terasa akhir tahun pun tiba dan berlalu. Harapan yang sudah tiada itu membuat hubungan jadi dingin. Triska kini lebih banyak menggunakan waktu luangnya untuk melukis di kebun belakang serta memberi les dan ber-main-main dengan Marco. Dia tidak ingin lagi menghitung-hitung hari menantikan kedatangan Deni, tapi hatinya tak dapat dilarang.
Pada suatu sore permulaan Februari, Triska di-kejutkan dengan telepon dari Nyonya Desi Melnik,-(mantan) mertuanya.
"Tris, hari Minggu ini kau sudah punya acara, belum?" "Ngngng..."
Sebelum Triska memutuskan akan berterus terang atau mengarang alasan saja, ibu Deni sudah menyambung, "Mami ingin kau datang ke sini mengajak Marco, bisa, nggak?"
Ke Depok? Tumben, ada apa? Triska dengan cepat memutar komputer dalam kepalanya. Astaga! Masa aku sampai lupa? Itu kan hari ulang tahun Deni!
"Agak sulit membawa Marco. Anak itu nggak bisa diam. Anu, saya boleh membawa teman, nggak? Untuk nyopir, Mam!" Triska tertawa sen-
152
diri sambil berpikir siapa yang akan dikerjainya, Erik atau Roy.
"Oh, tentu saja boleh, Tris!" sahut Nyonya Desi dengan cepat.
"Deni akan marah, nggak, ya, nanti?"
"Bilang saja, sudah diizinkan Mami!"
Demikianlah hari Minggu itu Triska membawa Marco ke rumah neneknya. Anak itu sudah jalan sepuluh bulan, cerdas sekali dan sudah mengerti apa yang disebut kolam renang. Matanya berbinar-binar dan tawanya cerah menawan ketika ibunya berkali-kali menyebut "kolam renang".
"Di sana ada kolam renang, kita akan bere-nang... kau suka nggak berenang? Suka, kan?"
Marco manggut-manggut belasan kali.
Karena Roy tidak bisa dihubungi, Triska minta bantuan Erik yang rupanya tak pernah punya kesi-bukan lain kecuali menunggu telepon dari Triska!
Erik dengan gembira menyatakan bersedia me-nyopiri Triska dan Marco. Mereka tiba di Depok pukul sebelas, disambut oleh Nyonya Desi dengan gembira. Triska tidak dapat menerka apakah dia heran atau tidak meiihat Erik, tapi bagaimanapun, Erik diterima dengan cukup ramah walau tanpa karpet merah. Pusat perhatian tentu saja Marco.
"Deni menolak dipestakan—ini merupakan surprise untuknya—jadi Mami tidak dapat minta dia menjemputmu, Tris," Nyonya Desi menjelaskan pada (mantan) menantunya.
"Nggak apa-apa, Mam," ujar Triska tersenyum.
"Erik memang sempat, kok," katanya. "Deni ada di mana?*
"Di belakang. Atau mungkin di garasi. Semalam dia nginap di sini. Ayo, masuk semua. Marco, gendong sama Oma, ya." Nenek itu segera mem-boyong cucunya masuk ke rumah. "Den, ada Mar-co, nih. Di mana kau?" sera ibunya, lalu bertanya pada ayahnya yang sedang membaca koran namun langsung mencelat bangun begitu meiihat Marco, "EH mana dia, Pa?"
"Tadi aku lihat dia ke samping, barangkali di garasi. Mari sini sama Opa," bujuknya tertawa sambil merebut Marco dari gendongan neneknya.
Triska meninggalkan mereka dan mengajak Erik ke garasi. Benar saja, Deni tengah berbaring di kolong mobil asyik menyodok sana-sini, buta dan tali terhadap sekelilingnya. Bunyi tuk-tuk-tuk sepatu Triska pun tidak menggugah perhatiannya. Dia bam menghentikan ketak-ketoknya setelah Triska membungkuk, menengok ke bawah mobil, dan menegur, "Sedang laparotomy nih rupanya!"
Yang ditegur tampak kaget, tangannya serentak berhenti disertai seraan, "Hai!" lalu dia merosot keluar. "Sama siapa kau ke sini?" tanyanya ketika masih di kolong. Begitu keluar dari bawah mobil, dia langsung meloncat berdiri dan meiihat Erik. Sambil menunduk menyeka tangannya yang penuh oil, Deni bergumam, "Sori, aku nggak menjemput-
"bedah penrt (aid umum)
154
mu. Tadinya, nanti sore aku berniat ke tempatmu." Lalu tanpa menunggu komentar Triska, diulurkan-nya tangan menyalami Erik.
"Apanya yang rasak?" tanya Erik antusias.
"Masih belum tahu. Kalau nanjak suka mogok, sama sering kontak."
Wah, dua-duanya gila mobil! Mendingan aku ajak Marco berenang.
"Aku tinggal dulu, ya!" sera Triska lalu kabur sebelum ditahan. Dicarinya Marco dalam rumah. Kiranya ada di beranda belakang, sedang bercanda dengan kakek dan neneknya.
"Marco, yuk kita berenang!" ajaknya. "Kolam renang! Kamu kan senang dengan kolam renang?"
Marco melonjak tertawa ke dalam pelukan ibunya. Triska membawanya ke halaman belakang le-wat pintu samping di tengah-tengah kebun bunga. Di tepi kolam terdapat bangunan pendek dari bam tempat orang duduk-duduk, serta dua kamar ganti pakaian dan dua kamar mandi.
Setelah mereka berdua mengenakan baju renang, Triska menggendong Marco ke kolam sambil me-nenteng pelampung berbentuk ikan lumba-lumba kesayangan anaknya. Marco langsung berceloteh ramai meiihat air. Baru saja keduanya masuk ke kolam, seseorang muncul dari dalam air di dekat mereka dan menyapa, "Halo, Tris. Datang sama siapa?"
Wajah yang kuras panjang itu langsung dike-nalinya. "Hai, Nila. Kami datang dengan Erik,"
"Deni memang nginap di sini, mungkin karena itu dia nggak menjemputmu."
155
na
"Mungkin."
Triska sebenamya be ran meiihat Nila Saleh, sebab dia tabu, ketiga anak Tante Leila bukan meru-pakan tamu yang disukai di situ. Tentu saja tidak diutarakannya keheranannya, dan Nila pun sudah menyeiam kembali meninggalkannya. P. *- Triska sesungguhnya bukan benar-benar berenang, sebab dia harus menjaga Marco dan menga-jamya berenang. Anak itu senang sekali diduduk-kan di atas Iumba-lumba. dibawa ke tengah. Sedang asyik-asyiknya bermain begitu. tanpa setahu Triska seseorang muncul di pinggir kolam, masuk ke air, dan langsung berenang menghampirinya dari belakang. Ketika orang itu membuka mulut, Triska nyaris melepaskan pegangannya pada anaknya, saking kagetoya. "Aku dengar, kau hampir mati waktu bersalin?!" Triska menoleh dan mendapati Odi tengah menatapnya dengan senyum sinis yang membuatnya merindmg. Tapi dia bertekad takkan sudi memper-lihafkan kengenannya menghadapi betina binal ini.
"Kau11hat sendiri, aku sekarang masih hidup, segar bugar!"
Odi mengeriing ke Marco dan mendesi*. "Caion anak tiriku cakep, deh! Persis bapaknya!"
"Hm. Dapatkah kau meninggalkan kami sen-4mT
Odi memandang Triska dengan penuh kebencian sehingga dia bergidik dalam hati. "Kau beruntung, nggak usah menggugurkan anakmu!" cetusnya penuh penasaran.
156
Yah! Laki-laki terkadang memang egois. pikir Triska sedikit kasihan. Tapi salah siapa? Bodoh kau sendiri kenapa mau saja disuroh melakukan
aborsit
"Aku harap kau nggak bakal menjelek-jelekkan aku di depan Deni!"
Triska sebal juga lama-lama diganggu terns. "Odi, permintaanmu sudah kuturuti! Kuharap kau takkan menggangguku lagi! Selanjutnya terse rah kau sendiri apakah..."
"Tapi kau masih juga belum memutuskan hu-bungan dengannya!" Odi me mot on g bicara orang seperti kebiasaannya.
"Kami sudah bercerai hampir enam bulan. Kalau Deni memang hernial kembali padamu, pasti sudah dilakukannya jauh-jauh hari. Kenapa kok sampai sekarang kau belum juga menikah dengannya? Apa cita-citamu nggak terlalu tinggi dan..."
"Itu semua gara-garamu!" Odi menggelegar marah.
"Oh?" Triska menaikkan alis sambil tersenyum. "Coba jela.skan bagaimana kau sampai menuduh..."
"Kau scharusnya cepat-cepat kawin lagi! Dengan Erik! Kau kaget? O, ya, aku tahu dari Nila, Erik Sigma adalah bekas pacarmu di SMA! Dia masih naksir, kau mau tunggu apa lagi? Selama kau belum kawin lagi, Deni masih akan terns mengharapkan dirimu, dan nggak bakal mau kawin denganku, tahu, nggak!" ujarnya meradang.
Triska juga mendongkol mendengar kata-kata-nya. "Kenapa, sih, akan kubiarkan kau ngatur
hidupku terus? Kau ingin agar Deni dan aku bercerai, nah, sekarang kami sudah bercerai! Jangan menuntut yang bukan-bukan lagi! Hidupku adalah hak asasiku! Tidak ada yang..." "Tapi kau nggak boleh setengah jalan..." "Jangan suka memotong bicara orang lain!" te-gur Triska tersenyum manis tapi menggigit "Itu tidak sopan, tahu, nggak?! Biar kan aku bicara sampai habis. Nah. seperti aku bilang barusan, tidak ada yang bisa memaksa aku untuk kawin dengan orang tertentu! Bahkan orangtuaku juga tidak bisa memenntah aku kawin atau jangan kawin, apalagi kau! Sayang sekali, perempuan secan-tik dirimu hams buang-buang waktu mengejar-ngejar laki-laki yang tidak menghendakimu! Seha-rusnya kaucari orang lain yang betul-betul mencin-taimu! Jangan tenggelam dalam ke..."
"Deni dulu BETUL-BETUL MENCINTAIKUI11" Odi memotong dengan berang, rapanya tak peduli bila dia mau dianggap tidak sopan. "Dia mencam-pakkan diriku gara-gara kau! Bahkan sehari sebelum perkawinannya, dia datang memberitahu dia nggak akan kembali lagi padaku! Bisa kaubayangkan gimana perasaanku waktu itu! Aku bersumpah akan mendapatkannya kembali, mati atau hidup!!!"
Iiih, kalau tekadku sebesar tekadnya, pasti aku sudah menemukan sesuatu yang akan menderetkan namaku di antara para pemenang Hadiah Nobel! Kalau begitu Deni tidak bohong. Dia memang sudah memperingatkan Odi bahwa dia takkan kembali lagi,...
Insiden di kolam renang itu tidak mengurangi kegembiraan Triska, tapi Odi sebaliknya, kelihatan uring-uringan, dan tak lama setelah itu langsung ngacir keluar kolam.
Ketika Triska menggendong Marco kembali ke rumah setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambut, mereka disambut oleh Deni yang segera mendaulat anaknya. Triska meninggalkan keduanya dan berlalu ke dapur untuk meiihat kalau-kalau ada yang dapat dibantunya.
Nyonya Desi sedang asyik membungkusi temper, sedangkan ketiga pembantu wanita sibuk me-ngerjakan yang lain. Dapur kotor yang besar itu terasa jadi sempit sebab di lantai penuh panci-panci berisi mas akan.
"Ijah sebenamya khusus untuk cuci-gosok," kata Nyonya Desi menunjuk seorang wanita gemuk berusia tiga puiuhan. "Tapi hari ini dia ikut mem-bantu di dapur bersama Titi dan Iyem. Bahkan Totong Mami surah bantu-bantu juga, biar umsan kebun ditunda dulu."
Triska minta izin ikut membungkusi lemper ke-sukaannya dan sambil duduk berdampingan di depan meja dapur keduanya ngobrol.
"Saya lihat Nila dan Odi," kata Triska sepintas lalu.
Nyonya Desi menarik napas kesal. "Ya, mereka datang tadi pagi. Nila kan kerjanya sebagai physiotherapist, Mami kebetulan kena encok di leher, sakitnya menjalar ke pundak dan kepala. Kalau
sedang angot, waduh kepala sakitnya nggak tahu, deh, kayak apa! Deni bilang. ada pengapuran di tulang Jeher. Kalau disunbk olehnya, sakitnya cepat hilang tapi nanti datang lagi. Deni bilang, tidak boleh disuntik terus, berbahaya. Jadi Mami minta diurut sama Nila dua kali seminggu. Tadi pagi dia datang untuk mengurut Mami, dan temyata dia membawa Odi. Ya terpaksa Mami biarkan, habis masa mau kita usir? Sebaiknya kau jangan dekat-dekat mereka, Tris. Mami sebenamya juga kurang suka sama Nila, cuma saking terpaksa, ya minta tolong juga, deh."
Untung Nyonya Desi bijaksana, mereka disu-guhi makan siang prasmanan, sehingga fraksi-frak-si yang saling bertentangan tak perlu merasa ter-siksa dipaksa duduk semeja—mungkin berhadap-hadapan—selama bersantap.
Triska mengajak Erik duduk di teras belakang, dia makan sambil menyuapi Marco. Deni makan di ruang tamu yang luas, menemani Kris serta Nero yang temyata datang juga walau menumt pengakuan mereka sendiri, tidak diundang (Deni memang tahun ini tidak mau dipestakan, kata ibunya menjelaskan). Marti dan Lupita mencari Triska ke belakang.
"Mana Roy, kok nggak datang?" Triska mena-nyai Marti.
"Masih di KL, belum pulang. Ibuku bilang, jangan-jangan akhirnya dia kecantol juga sama baju kuning!" ujar Marti.
"Betulkah dia mau jualan jamn di Kuala Lumpur?"
"Jualan jamn matanya! Jangan gampang diki-bulin, Tris! Roy kan angin-anginan. Beberapa tahun yang lalu kita semua sudah yakin. nggak lama lagi bakal selamatan pembukaan pabrik kosmetik. Tahunya, ditunda... sampai sekarang."
"Jadi ngapain dia sebenamya di KL?" Triska menegaskan.
Tanya, dong, orangnya sendiri. Mana aku tahu! Ibuku pernah interlokal ke sana menanyai paman-ku, si Roy kerjanya apa, betah amat hampir tiap akhir pekan terbang ke sana, tapi Paman menge-gos, cuma menjawab samar-samar. Katanya Roy sedang menjajaki kemungkinan pindah praktek ke sana, gila nggak tun!"
"Eh, kalau kalian bikin kosmetik, aku bersedia tolong menjualkan di salonku," ujar Lupita mena-warkan.
Acara makan siang itu cukup menggembirakan, terutama karena hidangannya lezat-lezat. Nyonya Desi sendiri tidak menyertai mereka di beranda, sebab hams menemani kerabat-kerabat tua yang rupanya diundang. Odi dan Nila juga tak tampak, tapi tak ada yang peduli mereka ke mana.
Suasana cukup riuh sebab Bobi dan Aurora yang ogah disuapi ibu masing-masing, telah membuat Marco juga jadi kepingin makan sendiri.
"Bob, Mami suapi, yuk. Jadi Marco juga mau disuapi," bujuk Marti. "Nanti di rumah saja kau baru makan sendiri."
Bobi temyata mau mengerti dan mengangguk.
Lupita juga mencoba menjelaskan pada Aurora, dan gadis cilik itu juga gampang dibujuk.
Selesai makan nasi dan kue ulang tahun, tamu-tamu pria beralih ke kamar biliar kecuali Deni yang kini menggantikan Erik duduk di samping Triska di beranda. Marti dan Lupita ikut menonton suami mereka bertanding.
Mereka duduk bertiga, bercanda dengan Marco. Tak ada bahan percakapan yang berarti sampai suatu ketika seakan sambil lalu, Deni bertanya pelan, "Apakah kau serius sama Erik?"
Triska menoleh dan memandang Deni seakan ingin menduga-duga ke mana jatuhnya pertanyaan itu, dan jawaban apa yang sebaiknya diberikannya. Setelah lewat beberapa saat, dia memutuskan untuk berterus terang, namun belum sempat dia membuka mulut, tahu-tahu mereka dikejutkan oleh suara Odi yang muncul berlari-lari dari arah kolam.
"Deni! Cepat! Nila pingsan! Dia berenang begitu habis makan!" serunya sambil melambai-lam-bai dengan kedua tangannya, tampaknya panik sekali, rambutnya pun ikut terburai-burai.
"Tunggu saja di sini, Tris," ujar Deni lalu bangun dan beriari mengikuti Odi yang sudah lari ke tempat Nila.
Sepuluh menit kemudian Deni kembali, sen-dirian. Wajahnya muram, tapi ketika ditanyakan bagaimana keadaan Nila, dijawabnya singkat, "Nggak apa-apa!" Setelah itu diambilnya Marco dari pangkuan ibunya dan diajaknya masuk. "Yuk,
kita lihat orang main bola," ajaknya. Triska juga mengikuti mereka. Daripada nanti dihampiri oleh Odi dan Nila, pikimya ngeri.
Anak-anak akhirnya ngantuk semua, sehingga Nyonya Desi menyarankan agar mereka dibaring-kan di loteng. Ibu-ibu mereka ikut menemani isti-rahat sebab yang main biliar kelihatannya takkan usai dalam waktu singkat. Mereka tampak getol mau menang walau mainnya tanpa uang.
Meiihat semangat yang menggebu-gebu begitu, Triska jadi ikut-ikutan tertarik. Setelah merebahkan Marco di kamar Deni, dia turun lagi. Kira-kira sejam kemudian dia naik lagi dan masuk ke kamar tamu tempat terdapat WC, kamar mandi, dan tempat bersolek. Dia masuk ke WC paling ujung, dekat jendela. Ketika dia sudah selesai dan mau meng-
ulurkan tangan untuk menekan tombol air, didengar-nya suara pintu dibuka. Tangannya mendadak ter-
henti di tengah udara ketika dikenalinya suara Nila. "Edan kau! Aku kausuruh berlagak pingsan!"
serunya tertawa terbahak. "Habis aku nggak tahan menyaksikan Deni
dekat Triska, ngobrol-ngobrol. Mereka memang
nggak bisa meiihat kita, tapi kita bisa meiihat ke
teras dengan ieluasa, jadi panas hatiku meiihat
mereka bercanda-canda!" Triska tidak mendengar ada yang masuk ke WC
sebelah. Mungkin mereka cuma ingin berbedak
atau menyisir.
"Odi, apa Deni pernah bilang padamu berapa
sebenamya jumlah warisan yang diterimanya?"
Triska diam-diam tercekat. Pantas ratu itu ngotot mau mendapatkan kembali Deni' Kiranya mantan suamiku itu sebuah tambang emas!
Suara Nila kedengaran pahit ketika dia menya-hut, "Ya. Lima rams juta untuknya. lima ratus juta untuk kami tiga bersaudara. Tapi itu bam uang kontan. belum terhitung sahaxn-saham dan harta milik tak bergerak. Kami nggak dapat apa-apa dan bagian terakhir ini. Oom Agus mengira kami nggak tahu' Tapi abangku Tono cerdik, dia sumh orang menyelidiki. Kalau nggak ada Deni. pasti semua itu jatuh ke tangan kami, nggak peduli Nenek membenci kami atau nggak!"
"Jangan khawatir," terdengar Odi menghibur. "Pokoknya, kalau kau berhasil mcmbujuk sepupu-mu itu untuk memkah denganku. aku berjanji akan membujuknya setelah kawin, agar sebagian warisan yang diterimanya dihibahkannya pada kalian!"
"Aku, sih, mau saja membantumu, tapi apa bisa berhasil? Selama masih ada Triska, rasanya aku skeptis...."
"Yah! Perempuan itu memang duri di mataku! Rasanya harus kita singkirkan juga!"
Triska menggigil walau udara tidak dingin. Seandainya mereka tahu aku ada di sini, dan yakin bahwa jeritanku takkan kedengaran ke mana-mana, apa yang akan mereka lakukan terhadapku? Hiii...
"Pacamya ganteng beengl" keluh Nila. "Mana kudengar kaya banget!" •Erik Sigma?"
"Siapa lagi! Mereka kan datang berdua. Erik maunya nempel terus sama Triska. Kulihat mata Deni hampir melompat keluar setiap kali memandang mereka berdua. Rupanya cemburu, tuh! Hihi-
hi..."
• "Apa hubungannya dengan Sigma Enterprise?* "Itu kan punya ayahnya)" "Wow! ho sih gudang duit! Dan kau naksir
dia?"
"Tadi dia ngajak aku bercakap-cakap waktu Triska nggak ada. Wah, gantengnya selangit! Jauh menang ke mana-mana dibandingkan sepupuku!"
"Aku tahu, tapi aku sudah telanjur mencintainya, apa boleh buat. Kalau aku bisa mendapatkan Deni, dan kau mendapatkan Erik! Wah, bukan main! Biar Triska diajari adat, jangan dikiranya Deni sama Erik nggak bisa melupakan dirinya! Biar dia gigit jari! Hahaha.,."
Tapi masih ada Roy!"
"O. ya, dokter berjambul itu! Kartu mati dia, sih! Aspirasinya kepingin jadi Elvis kedua, tapi main musik nggak becus. Masih mending Deni-ku. kaku-kaku juga masih bisa Spanish guitar]*
Buset! Jadi Dent suka main gitar untuk Odi? Tentunya semasa masih pacaran!
"Di, kalau nanti temyata Deni emang udah nggak mau sama kau, gimana? Rasanya lebih baik dia dikirim pulang aja ke akhirat..."
"Eh?"
"...biar Triska juga nggak mendnpatkannya!"
"Hm. Benar juga, cuma..."
"Kalau Deni lenvap dan muka bumi. aman deh kita!" Suara Nila kedengaran gembira dan antusias. "Seluruh warisan itu bakal jatuh ke tangan kami.
di tangan Deni. Oom Agus yang akan mengguna-kan uangnya sebab katanya seharusnya itu jadi mi-liknya dulu sebelum nanti diserahkan pada anaknya. Katanya. gara-gara ibuku dilewati. supaya nggak menyakiti Ibu, Oom Agus juga dilewati. dan harta kekayaan Kakek-Nenek langsung dite-ruskan ke cucu-cucu. Ibuku dan Oom Agus tetap nggak bisa mewarisi walau misalnya semua cucu
dengan Odi Bobadila, hak wansnya akan dmyata-kan gugur dm seluruh warisan bakal jatuh ke tangan kami! Jadi gara-gara kau nggak berhasil meyakinkan Deni supaya kawin sama kamu dulu, aku dan saudara-saudaraku yang mgi besar!"
"Tapi kalau Deni nggak bisa mewarisi. aku emoh. dong. sama dia! Buat apa aku punya suami miskin! Kalau cuma kepingin dapat yang bertitel sih banyak di pasaran, tapi apa gunanya titel kalau cuma buat gagah-gagahan di papan atau kartu nama. Mending-an can bapak-bapak, biar sedikit tua atau sudah loyo tapi uangnya di bank pasti meyakinkan."
"Bodoh kau! Kalau warisan itu jatuh pada kami berkat pertolonganmu, tentu saja kau akan mendapat pahala besar. Lebih besar daripada kalau kau jadi istri Deni! Kau sendiri kan sudah tahu, sepupuku itu
166
orangnya idealis, nggak suka mcnggantungkan misib ptda harta warisan. Jadi sebagai istrinya. kemungkinan kau akan hidup dari gaji dokter, sebab uang warisan itu akan dipegang oleh Oom Agus! Kau pasti nggak bisa menikmatinya selama oomku masih hidup. Tapi. seandainya kau berhasil mem-bantu kami menytngkirkan Deni. kan pasti akan segera bisa menikmarj Jerih payah usahamu!" "Hm. Nggak pernah terpikir olehku...." "Karena semua ini gara-garamu. kau sekarang wajib membantu kami! Percayalah. Deni almarhum jauh lebih berguna bagimu daripada Deni yang sehat walafiat! Jelas-jelas dia udah nggak mau lagi sama kau, lebih baik kaututup aja kapitel ini dan lupakan dia!"
"Hm. Kau benar, tapi kau ngomong seakan warisan itu belum dibagi...."
"Tono sedang menggugat testamen itu, menuntut bagian lebih besar. Selama masih dalam perkara, warisan itu nggak bisa dicairkan!"
Triska mendengarkan dengan perasaan panas-dingin. Dia kaget bukan main ketika gcrendel pintu diputar, tapi setelah mengutak-atik beberapa kali, gerakan itu berhenti dan terdengar suara Nila, "Wah, yang satunya dikunci. mungkin rasak. Untung masih ada satu lagi!"
Lalu terdengar orang masuk ke WC sebelah dan pintu digabruk. Setelah Nila, giliran Odi yang masuk. Tanpa sadar Triska sudah beringsut menjauh dari dinding pemisah seakan takut sepatunya nanti kelihatan dari bawah dinding penyekat yang ber-
167
akhir kira-kira dua puhih senti dari lantai. Seandainya salah seorang iseng melongok dari bawah dinding... huuuiii! Dia menggigil ngeri.
Setelah kedua siluman betina itu berlalu dan pintu kamar terdengar digabruk iertutup, Triska masih menunggu lagi kira-kira lima menit sebelum dia merasa yakin. bahaya hetui-berul sudah lewat
Selama mendengarkan ocehan yang memberdiri-kan buJu roma itu, Triska bertekad akan melapor-kannya pada Deni. Namun begitu dia kembali ke bawah dan meiihat Odi di an tar a penonton biliar. serta Nila yang tengah menatap Erik seakan mau menyihirnya agar menoleh padanya, Triska jadi ragu sendiri. Di tengah-tengah orang banyak begini, rasanya apa yang didengamya tadi itu kurang masuk akal.
Nila, yang sekurus lidi seperti ibunya, betul sanggupkah dia menamatkan nwayat orang? Bu-kankah itu cuma sekadar khayalan belaka, pelam-piasan unek-uneknya terhadap keluarga Deni?! Dan Odi, yang anggun tapi terkadang centil (kalau di selritarnya banyak siluman jantan), beranikah dia berbuat nekat? Pasti nggak' Bunuh dirinya tempo hari itu kan cuma pura-pura, coba-coba. Kata Roy, untuk menakut-nakuti... Deni-kah?!
Karena berpikir begitu, Triska batal mau melapor.
***
Selanjutoya kehidupan pun berlangsung biasa dan rutin bagi Triska. Pagi sampai siang dinas, sore praktek. Sabtu, Minggu, dan Selasa memberi
168
les piano. Waktu sclebihnya untuk menunggu ke-dutangan Dent, mengasuh anak. dan melukis. membaca novel-novel yang dipinjamkan Sumi. serta memahirkan gaya Clayderrruin di samping mendengarkan musik tentu saja.
Triska sudah tidak teringat lagi percakapan maut itu sebab dia tak pernah lagi ketemu Nila maupun Odi selama itu, dan Deni juga tak pernah me-nyebut-nyebut nama Odi, sedangkan dia tak pernah men any akan. Hidup terasa tenang sehingga Triska mulai berpikir, kalau keadaan begini terus selamanya, dia takkan keberatan. Yang penting perasaannya tenteram dan Deni mencintai Marco.
Namun hari ulang tahun Marco yang pertama. di bulan April, temyata menyadarkannya bahwa ketenteramannya itu semu belaka.
Untuk perayaan itu Triska memutuskan akan mengundang anak-anak saja beserta orangtua mereka. Jadi yang datang nanti Bobi, Linus, Aurora serta Rana, Term dan Tesa (Katerin dan Teresa adalah anak-anak Mirsa. temannya yang punya restoran di tengah kota).
Dengan pcrsetujuan Deni, Triska menyediakan hadiah-hadiah kecil untuk tamu-tamu anaknya di samping keranjang biskuit dan cokelat untuk di-bawa pulang.
"Ini ulang tahun gaya Tolkien, sesuai dengan
'profeMC Oxfotd kelahtran Afrikn Selatan yang terkennl dengan tri loginya yang fenomcnnl The Lord tif the RiHgs
adat orang 'kuno' yang disebutnya Hobbit. Orang Hobbit ini lebih kecil dan kurcaci, dan bila me-reka ulang tahun, mereka yang memberikan hadiah bagi para tamu! Biar memupuk perasaan suka memberi pada Marco!"
Sesuai dengan pesan anaknya, Nyonya Rosa cuma mengundang orangtua Deni serta orangtua Martina. Paman dan bibi Triska kebanyakan ting-gal di luar negeri, sedangkan yang tinggal di sini pun kebetulan sedans ikut trip, yang seorang ke Himalaya, yang lain ke Antartika, jadi tak ada famili yang datang.
Kecuaii Nila Saleh! Bersama begundalnya lagi! Triska begitu terkejut melihat mereka, sehingga La Vie En Rose yang sedang dimainkannya menjadi kacau, tapi dia tetap duduk di depan piano, tak tahu harus menyambut atau mengusir orang-orang tak diundang itu. Deni yang tengah menginngi, kontan menghentikan petikan gitarnya dan meng-geleng dengan rupa serba salah. Triska menggigit bibir dan menghela napas melihat ibunya seperti mau marah. Mungkin semata-mata karena ada Deni, dia tidak meluapkan kemarahannya. Untung sekali Dokter Justin dengan sigap segera men-cairkan suasana.
"Ah, Nila, ayo masukt"
"Tahu dari rnana?" sapa ibu Triska dengan gaya petugas Kripo.
'/Criminal Potizei: Potisi Bagian {Criminal
"Tante Desi yang memberi tahu," sahut Nila ter-senyum man is seraya menghampiri Marco untuk mengucapkan selamat dan memberikan kado. Ter-paksa Triska menanggapi dengan, "Bilang apa sama Tante Nila?"
"Acih!" ujar Marco dengan patuh.
Ibu Triska rupanya tersadar mendengar nama besannya disebut-sebut, sehingga air mukanya yang sudah mulai kemh tadi berangsur cerah kem-bali.
"Tris, Den, temani tamu-tamu ini, Mama masih repot di dapurl Maaf, nih, Tante tinggal dulu, ya." Dia berlalu tanpa menunggu balasan dari Nila atau
Odi.
"Nggak usah repot menemani, Tris. Kan bukan tamu," Nila menolak dengan manis. "Kami ingin melihat-lihat kolam di belakang, boleh, ya?"
"Silakan," sahut Triska mengangguk, memak-sakan sebuah senyum.
Nila mengajak Marco dan langsung menggen-dongnya sebelum orangtuanya sempat melarang, sehingga Triska cepat-cepat melirik Deni dan memberi isyarat agar dia mengikuti, untuk men-jaga anak itu. Deni mengangguk, meletakkan gitarnya bersandar ke dinding, dan sama-sama berlalu dengan mereka.
Triska tidak bergairah lagi main piano. Dia bangkit dan pergi ke beranda belakang, duduk mencakung di lantai, memperhatikan orang-orang mengagumi bunga teratai. Belum ada sepuluh me-nit dia di situ, Nila kelihatan mendatangi. Triska
berperang batin, akan ditinggalnya Nila masuk atau disambutnya. Namun akhirnya dia cuma bisa menggigit bibir dan menghela napas pelan. Akan kentara sekali maksudnya bila dia masuk ke dalam sekarang. Bisa-bisa ada yang merasa terfaina dan mengadu pada ibu mertua!
Terpaksa dibiarkannya Nila menjatuhkan diri di sampingnya. Betul dugaannya, Nila memang sengaja menghampirinya, rupanya mau minta maaf.
"Tris, maaf nih, aku nyelonong datang tanpa diundang."
Triska menggigit bibir seraya bergumam, "Nggak apa-apa."
"Odi kebetulan main ke rumah, tanpa berpikir lagi, sekalian kuajak. Aku harap kau nggak marah."
Triska punya firasat bahwa Nila tidak bicara sejujuraya. Siapa tahu dia malah sengaja mengajak Odi?
"Lain kali sebaiknya nggak usah ajak-ajak Odi, Nila," tegurnya sehalus mungkin, mengingat dia sedang bicara dengan tamu.
"Maaf atas kelancanganku, Tris. Tapi sekarang dia sedang asyik ngobrol sama Deni, nggak enak kalau aku haras mengajaknya pulang segera!"
Rupanya kau pintar mencari-cari alasan. Tentu saja sudah sampai di sini, kalian tidak bisa dibiar-kan pulang sebelum makan. Itu namanya penghi-naan untuk yang punya rumah! Malah mungkin juga (mantan) ibu mertuaku akan merasa kena tampar, mengira kami menghina sanak familinya.
172
"Aku bukan bermaksud mengusirmu, Nil. Tapi kuharap kau ada pengertian sedikit. Kau kan sudah tahu apa sebabnya sepupumu dan aku bercerai. Masa kau nggak bisa menduga seperti apa perasa-anku meiihat perempuan itu?"
"Habis, Deni menghindar terus, sih, kata Odi. Kalau nggak nyuri-nyuri diamprokin begini, mereka nggak bakal ketemu-ketemu! Aku kasihan sama Odi."
Oh! Dan aku?
Triska melirik dan kebetulan menangkap senyum Nila yang sinis. Diikutinya arah pandangan-nya, dan didapatinya Deni serta Odi sedang asyik bicara di pinggir kolam. Odi yang bicara, Deni mendengarkan. Keduanya berdiri begitu dekat, sehingga tubuh mereka nyaris saling menempel.
Dan kau tidak kasihan padaku? Kau kasihan pada perempuan yang berniat merebut suami orang?
Rupanya selain pintar mencari alasan, Nila juga bisa membaca pikiran orang, pikir Triska gegetun.
"Bukannya aku nggak kasihan padamu, Tris. Tapi kau kan sudah menceraikan Deni dengan sukarela"—O, ya, sukarela matamu! Apa Odi tidak bilang, dia sudah meracuni hatiku sehingga aku mencurigai suami sendiri?—"jadi kuanggap kau sudah nggak mencintainya, nggak lagi meng-harapkannya, berarti kau nggak bakal keberatan dong kalau Deni kawin sama orang lain, misalnya... Odi."
Triska menatap Nila sambil berpikir, Kurang
ajar betul orang ini!
173
"Aku bukannya mau kurang ajar padamu, Tris," sambung Nila tersenyum membuat Triska merin-ding, jangan-jangan dia me man g tengah berhadapan dengan manusia yang punya kekuatan gaib! Apakah dia juga bisa menenung dan mencelakakan orang?
"Tapi ini kan kenyataan. Kalian sudah bercerai, ya sudah! Biarlah Deni meneruskan hidupnya se-maunya, sedangkan kau sendiri juga ingin mulai hidup bam lagi, bukan? Dan kurasa penggemarmu banyak. Salah satu calon kuatmu itu Erik, kalau aku nggak salah tebak. Benar, nggak?"
Rupanya mencampuri urusan orang termasuk salah satu "kepintaran"-mu.
"Aku bukannya mau mencampuri urusanmu, Tris," tukas Nila membuat Triska tertegun, kaget. "Tapi aku cuma menganalisis realita saja. Selain Erik, ada Roy, kan? Nah, mana yang mau kau-pilih? Seandainya Erik kaujadikan runner-up, bo-leh dong aku minta tolong supaya kau mereko-mendasikan diriku padanya?"
Triska menoleh dan melihat Nila tersenyum ma-nis padanya. Makin melunjak betina ini!
"Kan hitung-hitung kita berdua masih tersangkut farnili, Tris. Deni selalu kuanggap seperti abangku sendiri."
Abang yang mau kaubunuh! pikirnya mendadak teringat pada percakapan di WC tamu keluarga Melnik. Triska menunduk pura-pura memperhati-kan jari-jari tangannya, khawatir pikirannya nanti bisa dibaca dan Nila akan mengerti bahwa dia sudah tahu rencana jahat mereka.
"Dan aku dengar Dokter Triska paling suka menolong orang." Nila kedengaran terkekeh seakan mengejeknya tapi Triska menguatkan hati agar tidak membalas ejekan itu. Kurang ajarnya makin men-jadi-jadi! Kalau aku diam di sini lima menit lagi, pasti kepalaku akan kena migraine\ Aku sudah berusaha sopan terhadapmu. Tapi kau bertingkah begini, sama sekali tidak memandang mata, tidak mau menenggang perasaan orang lain. Dan kauminta aku menjodohkanmu dengan Erik yang tampan seperti Robert Redford dan gallant seperti Tom Cruise? Apa kau sudah konsultasi dengan kartu-kartu ilmu gaibmu? Aku khawatir, Erik takkan betah lebih dari sepuluh menit di sampingmu!
"Aduh, kepalaku mendadak seperti mau pecan! Yuk, ah, aku mau cari obat." Dan dientakkannya kakinya, berdiri, lalu melangkah panjang-panjang meninggalkan sepupu Deni yang menyebalkan itu.
Triska mencari ibunya di dapur. Sambil mem-perhatikan ibunya menghias kue ulang tahun dengan berbagai binatang yang lucu-lucu, Triska me-mikirkan bagaimana taktiknya untuk menghadapi tamu-tamu itu sampai sore.
"Apa-apaan sih Nila datang ke sini? Seingat Mama, semua anak Tante Nila nggak akrab sama Deni, dan Nila rasanya belum pernah kemari. Se-karang malah datang membawa perempuan jahat itu!" ibunya mendumal dengan suara meradang.
sakit kepala sebelah
Menuruti hati, Triska ingin sekali menambahi ucapan ibunya dengan kedongkolannya sendiri. Tapi tiba-tiba dia teringat pada Deni. Dia tidak ingin membuatnya kehilangan muka. Kalau mereka berdua kelihatan terang-terangan menunjukkan mu-• ka asara pada Nila, pasti Deni akan merasa kurang enak. Karena ini Triska menahan diri dan batal menuangkan bensin ke dalam kobaran api.
"Sudahlah, Mam Kita tabahkan hati sampai mereka pulang. Keduanya kan tamu, biarlah kita per-Iakukan dengan sopan. Supaya Deni juga nggak kecil hati."
Ibunya tidak memberi komentar, dan untuk beberapa saat keduanya membisu, yang seorang sibuk menghias, yang lain asyik memperhatikan. Nyonya Rosa mengerjakan kuenya di dapur kecil, yang disebutnya "dapur bersiir sebab tidak diper-gunakan untuk menggoreng atau memasak yang sebenamya. Untuk keperluan itu tersedia dapur yang jauh lebih besar, terletak di belakang, bukan di sebelah ruang makan seperti ini.
Semua pembantu sedang sibuk di "dapur kotor", cuma sekali-sekali Inem atau yang lain, muncul minta nasihat pada Nyonya Rosa soal masakan ini dan itu. Di dapur kecil itu cuma mereka berdua, suasana hening, seakan tak ada orang lain lagi di rumah.
Tapi mendadak Triska menegakkan kuping. Ya, betul! Itu kan Maiden's Prayer-nya Badarzewska! Siapa...
Siapa lagi! "Marti!" serunya lalu menghambur
176
keluar dapur menuju ke ruang keluarga, mening-galkan ibunya tercengang kemudian tersenyum mengerti. Semasa Triska kuliah, kawan-kawannya sering datang untuk belajar, dan Martina suka sekali main piano di sini. "Steinway jauh lebih bagus suaranya daripada pianoku di rumah, apalagi ini grandl" katanya suatu kali pada Triska. Lagu yang sering dimainkannya adalah The Maiden's Prayer. Terkadang Triska dan Marti berduet main lagu kesayangan mereka ini, Marti di piano grand, Triska di piano upright yang digunakan untuk memberi les.
Terkaan Triska tentu saja tidak meleset. Memang Marti sedang asyik main piano, membiarkan anaknya kelayapan sendiri dan hampir bertabrakan dengan Triska.
"Hai, Bobi! Keren, nih, Tante dengar kamu sudah sekolah TK, ya," seru Triska memeluk dan mengecup pipinya yang montok.
"Iya." Anak itu mengangguk. "Tante Tris, mana Marco?"
"Di kolam, sedang main sama Oom Den. Sana,
cari!"
Bobi segera berlari ke belakang memegang bingkisan kadonya. "Awas, jangan sampai tersung-kur!" seru Kris sambil mengikuti dengan berjalan
biasa.
Tidak sampai setengah jam kemudian, Oom dan Tante Parega muncul disopiri anak laki-laki mereka.
"Aduh, Juragan KL!" sambut Triska, "Aku senang kau bisa datang! Ssst, ada Odi!"
177
Roy mendelik seakan mau menggigitnya. "Aku datang khusus mau ketemu engkaul Masa kau-sodori orang lain! Sebenarnya aku masih ada urus-an di Kuala Lumpur, tahu nggak!" "Nggak! Nggak tahu!" ujar Triska geli. "Tapi sengaja aku perlukan pulang karena ka-ngen sama..."
"Sama siapa, coba bilang!" Mendadak terdengar suara Deni yang me nan tang dan mengandung an-caman.
Roy kontan menggosok-gosok hidungnya, ter-tawa miring alias nyengir kuda—ciri khasnya yang paten—dan menepuk bahu Deni dengan keras.
"Kan kita semua termasuk farnili, Kris kuang-gap saudaraku, adiknya begitu juga!"
Suara piano sudah berhenti. Marco menunjuk-kan kado dari Bobi pada ibunya. Tiba-tiba meng-alun suara Elvis: One Night with You.
"Sana, taruh di atas meja bersama kado-kado lainnya. Nanti kita buka setelah makan, ya," ujar Triska pada Marco. Anak itu mengangguk patuh dan segera menuruti usul ibunya, melangkah ke meja digandeng Bobi.
Triska menoleh ke arah hi-fi dan terpaksa tertawa melihat ulah abangnya. Setelah memutar piringan hitam itu dia langsung bergoyang pinggul dan Elvis-bayangan tentu saja tak bisa tahan untuk tidak ikut terjun ke "arena". Dokter yang dikatakan ber-jambul dan dianggap kartu mati oleh Odi itu temyata pintar sekali menira gaya Elvis yang asli. Semua orang tertawa dan bertepuk tangan melihat kedua
orang itu menandak seperti celeng mabuk kecubung.
Triska ingat, Marti pernah bilang, abangnya tidak boleh mendengar lagu-Iagu Elvis, di mana pun dia berada (tak peduli di tempat tidur atau di kamar mandi) pasti akan timbul angotnya, kepingin ngibing dan jingkrak-jingkrak seperti perempuan latah. Kris pasti tahu titik lemah ini dan sengaja mau menjebak iparnya agar bikin pertunjukan.
"Lumayan untuk hiburan!" bisik Triska pada Marti.
Dokter Justin muncul dengan sebuah topi pet yang diberikannya pada Bobi. "Bob, kau saja yang ngamen, sana minta derma!" katanya membuat ha-dirin terpingkal-pingkal melihat Bobi betul-betul berkeliling menadahkan topi. Masing-masing mendadak jadi lupa di mana mereka meletakkan dom-pet. Dan sebelum Bobi sempat mengumpulkan se-seran, orangtua Deni sudah tiba. Bintang-bintang panggung itu pun terpaksa bubar dan Kris mem-benahr lagi piringan hitam ayahnya.
Setelah itu berturut-turut datang Mirsa dengan suami dan kedua gadis kecil mereka, disusul oleh Dokter Nero Toma sekeluarga. Setelah mereka me-nyerahkan bingkisan pada Marco yang kelihatan sibuk sekali digandeng Bobi mondar-mandir meletakkan kado, maka jamuan makan siang pun dibuka di ruang makan. Jamuannya bergaya Prancis alias prasmanan. Setiap orang bebas duduk di mana pun. Odi dan Nila duduk di dalam bersama Deni dan laki-Iaki lain, sedangkan Triska dan pengikutnya memilih gazebo yang teduh dilindungi pepohonan.
Baru kira-kira lima menit mereka makan, Sumi tiba dengan anak-suaminya, dan setelah mengambil hidangan. membawa piringnya ke kebun.
"Kira-kira, ya, aku mau dilupakan. nggak di-tunggu!" seronya pada semua tapi matanya menatap Triska.
"Wah. maaf. aku sangka kau berhalangan. Bawa sambal tomat, nggak? Jangan takut, biarpun nggak bawa, kau nggak bakal dikasih tulang melulu, tapi ada kulitnya," ujar Triska menunjukkan ceker dan tunggir. Ic"Habis kau nggak pesan!" kilab Sumi, tidak mau mengerti dan tetap mengaduk-aduk dalam mangkuk di atas meja, mencari daging. "Mana paha dan dadanya!" dia bergumam sengit
Triska memperhatikan sambil menahan tawa, lalu ditekannya bel di dinding gazebo yang tinggi-nya kira-kira setengah meter. Tak lama kemudian kelihatan Sri, kemenakan Inem, keluar dari pintu "dapur kotor" yang menuju ke kebun, dari sana tidak jauh lagi ke kolam dan gazebo.
"Sri, minta opornya lagi. Sayur-sayur lainnya juga tolong ditambah. Bawakan jeriken air minum, ya. Tambahi es dulu."
Sri mengangguk pada Triska dan mengangkat mangkuk-mangkuk sayur dari meja di tengah gazebo.
"Maklum, rasanya belum makan kalau belum pakai ay am!" kata Sumi pada Sri yang tertawa malu-malu.
Mereka bersantap dengan asyik, penuh keha-
180
ngatan dan kegembiraan. Triska juga memaksakan diri agar tampak gembira walau hatinya gundah gulana. Betapa tidak, pikimya. Aku di sini, dia di sana! Bersama Odi lagi! Walau pun banyak orang lain, bukan mustahil siluman betina itu bisa meng-gunakan kesempatan dalam kesempitan untuk... yah, misalnya main mata atau bisik-bisik. Dan Deni terlalu sopan untuk tidak meladeni. Deni pasti tidak mau Odi kehilangan muka di depan uraum, sedangkan dirinya sendiri pasti segan ditu-duh kurang menghargai wanita.
Tapi itu semua cuma pergulatan di dalam sanu-bari, tidak muncul ke permukaan yang tampak mulus dan ceria. Takkan ada yang menduga aku tengah mengalami perdarahan di dalam! Dari hatiku yang diracik-racik kuman Bobadilacoccusl
"Eh, Tris, hampir aku lupa!" kata Lupita sambil menggigit paha ay am goreng. "Ada langgananku, orang Jepang. Suaminya dealer lukisan. Dia mena-warkan repro karya Tori... mm mm... lupa nama belakangnya, pakai Naga... Naga begitu. Bagus-kah? Aku ingat, hobimu koleksi lukisan, barang-kali kau tahu pelukis itu?" .
Triska hampir tersedak saking kaget. Cepat-cepat diletakkannya sendok dan disekanya bibirnya, "Kiyonaga?" dia menegaskan dengan mata setengah membclalak.
"Ya, ya, rasanya memang toil"
"Namanya Torii, bukan Tori. Aku memang sudah lama mencari-cari reproduksinya! Dia pelukis abad kedelapan belas. Sudah kaulihat barangnya?"
"Koraisinya dulu, dong, berapa!" Marti nim-brung sambil mengedip pada Lupita.
"Belum. Jelas orang mau cuci rambut takkan menenteng-nenteng lukisan, dong! Lebih baik ku-minta mereka langsung menghubungi kau saja, setuju nggak? Soal komisi, biasa, deh. Traktir aku ke Pulau Bidadari, kek. Aku dengar, ayah Deni punya vila dan hotel di sana. betul, nggak?"
"Betul sih betul, tapi aku kan sudah man tan, nggak berhak apa-apa lagi, atuh!" sahut Triska meringis.
Sumi mendekatkan bibir ke. telinga Triska. "Pe-rempuan itukah orangnya?" bisiknya seraya meng-gerakkan kepala ke arah rumah.
Selama itu tak seorang pun berani menyinggung topik yang peka itu seakan itu sama tabunya dengan pembahasan seluk-beluk kamasutra di siang belong.
Mirsa melirik Sumi dan menggeleng. "Usil ba-nget, sih!"
"Habis aku nggak tahan! In gin tahu yang mana orangnya. Dan aku yakin, Tris nggak bakal mar ah. Kau nggak marah, kan, Tris? Itu kan orangnya? Yang pakai span ketat hitam itu, kan? Bukan yang kuras?"
"Masa kau nggak tahu yang mana Odi Boba-dila!" tegur Mirsa.
"Apa aku haras tahu?" tanya Sumi her an.
"Apa kau nggak suka lihat TV7" tanya Lupita.
"Memangnya dia bintang TV?" Sumi me man-dang Triska seolah mohon penjelasan.
182
"Dia kan peragawati terkenal. Sum," tukas Marti.
"Malah ratunya! Se-ASEAN 1" sambung Triska. "Ya, span hitam itu."
"Aku baca, dia bakal membintangi sinetron bam, Ayahku Berbini Dim yang akan ditayangkan pertengahan tahun," kata Lupita. "Orangnya sih cantik, sayang kok sifatnya kayak gitu, mau me-rusak rumah tangga orang! Padahal bapak-bapak yang naksir dia pasti lusinan!"
"Aku hampir nggak pern ah lihat TV," kata Sumi seakan minta maaf. "Ya nggak sempat, repot sama Linus. Ya nggak tertarik, membosankan, kalau nggak menari ya menyanyi, sedangkan filmnya dagelan konyol melulu. Kalau bahasa asing, ya nggak kemakan, susah nangkap. Ngomong-ngo-mong, berani betul cewek itu datang kemari! Kok nggak malu, ya? Kalau aku sih, sudah kuusir!" cetus Sumi ganas.
"Soalnya dia bawa deking, yang kurus itu, anak tantenya Deni. Kita nggak berani ngusir, dong, nanti menyinggung Deni dan orangtuanya."
"Kau terlalu baik, Tris!" protes Mirsa jengkel.
"Eh, soal lukisan tadi gimana, nih?" sem Lupita, berusaha menghentikan topik yang menyakitkan itu. "Kau tertarik, ya, Tris? Kapan akan kusuruh mereka datang menemuimu? Kau boleh lihat-lihat dulu, kalau nggak cocok, nggak apa-apa."
"Aku sebenamya mencari karyanya yang berjudul Sinozuka Goro, tapi lainnya juga boleh. Gimana kalau minta mereka datang Sabtu depan? Kalau bisa, sore lewat jam lima. Kalau nggak bisa, ya Minggu
siang. Nanti aku tanya pada ibuku. mungkin nggak keberatan kalau mereka diundang makan selcaJian." "Oke, deh, besok atau lusa akan kukabari." "Ngomong-ngomong soal makan. aku punya re-sep baru cara memasak babat yang renyah dan gurih serta gampang. Hidangan baru ini laku sekali di antara Ianggananku," ujar Mirsa yang langsung menurunkan rahasia dapur tanpa pelit-pelit, dan dicatat oleh yang lain. Triska yang tidak punya pena dan kertas terpaksa permisi minta izin untak menyaiin catatan seseorang. Marti menawar-kan tapi ditolak sebab susah dibaca. Triska me-milih Sumi yang tulisannya paling rapi.
"Eh, ke mana Marco?" sem Triska kaget, memandang ke dalam kolam seakan bam sadar anaknya hilang. "Aurora, mana Marco?" "Tadi diajak Bobi ke dalam, Tante." "Sori, aku tinggal dulu sebentar, ya. Kalian temskan saja makannya. Nanti kusumh antarkan buah dan kopi. Kalian pasti takut gemuk, nggak mau puding, kan?"
Semua menggeleng. Triska tertawa dan berlalu cepat-cepat mencari Marco. Setiba di dalam- dia ubek-ubekan keluar-masuk dapur, kamar mandi, ruang tengah, ruang makan, sampai ke mang ta-mu. Nihil. Dia pergi ke halaman depan, lalu masuk ke garasi, terns ke halaman samping. Di bawah pohon mangga yang rindang dilihatnya Bobi dan Marco sedang duduk bersama Odi!
Apa yang sedang di lakukan siluman itu terhadap anakku?
"Marco, sedang apa kau di sini?"
"Kami sedang mendengarkan dongeng si Kancil. Tante Tris," sahut Bobi dengan antusias.
Triska menatap Odi tanpa menyembunyikan ke-jengkelannya. Eh, temyata bukan cuma Nila yang berani kurang ajar terhadapnya. Odi juga balas menatap dengan benci, lalu tertawa sinis dan ber-kata, "Aku kan hams belajar kenal sama calon anak tiriku. Kami mengadakan kontak permulaan yang baik."
Cukup! pikimya. Aku tidak mau dihina teras-temsan di rumahku sendiri! Masa Nila dan Odi yang lebih agresif, sedangkan aku defensif terns?! Me mang nya apa salahku?!
"Nggak perlu re pot-repot. Odi! Sebab kau takkan menjamah anakku 1" desisnya dengan suara menggigit bagaikan cuka dituang ke atas koreng. Lalu dicekalnya tangan Marco, diangkat. dan di-gendongnya. "Ayo, Bobi. Kau dicari Mama!"
Odi mengawasi sambil tersenyum sinis dan me-nantang. Lengkaplah deritaku untuk hari ini! pikir Triska sengit. Oh, kalau saja di tanganku ada senapan mesin saat ini...!
Bab 7
"Aku akan dikirim ke Calcutta, Den. Bagus, ya?" Triska menunjukkan koleksinya yang terbaru keti-ka Deni, seperti biasa, berkunjung pada had Ming-gu menengok Marco. Saat itu musim hujan sudah tiba, dan hari itu pun hujan turun sejak pagi. Un-tung sekali tempat Dokter Justin Omega tak per-nah disentuh banjir. "Bersama Husein," tambah-nya.
"Kapan? Siapa, tuh, pelukisnya?*
"Torii Koyinaga. Repronya sulit sekali dicari, ini aslinya milik keluarga Tokugawa, keturunan salah seorang snogun.
"Ami, akhir November, kira-kira delapan ming-gu lagi. Kami akan pergi selama sebulan, pas se-belum ganti tahun aku sudah kembali."
"Yang ho Monet, ya." Deni menunjuk rcproduk-si yang lain. "Dari mana kauperoleh semua itu?
"Hm. Berarti empat kali aku nggak akan meli-hatmu kalau aku ke sini Kenapa kok dokter-dok-ter junior yang dikirim? Kan yang senior banyak, dan mereka pasti mau?"
"Memang aku juga bilang begitu sama Dokter
Makalus, wakil Bos yang ngurus-ngurus beginian. Aku bilang, yang jauh lebih pengalaman dari aku kan banyak....
"Eh, itu bukan Monet, tapi Renoir! Mirip, ya. Mereka memang sama-sama impresionis. Bedanya, Renoir menggunakan warna yang lebih halus, se-dangkan temannya, Monet, lebih manyala karya-karyanya, penuh merah, kuning, kecuali lukisan kolam di kebunnya di Giverny. Kebun itu merupa-kan objek favoritnya. Kolam dengan jembatan lengkung itu dilukisnya beberapa kali, salah satu-nya warnanya serba hijau. .¦¦
"...Tapi kata Bos Rahwana, kemampuan Inggris mereka rata-rata di bawah standar, cuma kami berdua yang lumayan. Malu dong, katanya, ngirim wakil-wakil yang cuma melongo saja, dan nanti kalau ditawari, 'Ada pertanyaan?' terus cep-klakep kayak kerang disodok, sebab kurang ngerti apa yang sedang dibicarakan atau nggak mampu nanya dalam bahasa Inggris!
"Koyinaga ini kudapat dari Lupita. Salah seorang langganan salonnya, orang Jepang. Sedang-kan Renoir ini hadiah dari seorang sahabat ayah-ku. Katanya, aslinya ada di St. Petersburg. La Grenouilliere, judul pemandangan Pulau Croissy di Sungai Seine ini, juga dilukis oleh Monet pada saat yang bersamaan, ceritanya mereka ngadu siapa yang lebih unggul. Tentu saja hastlnya berlain-an. Versi Monet itu aslinya ada di Museum Kese-nian di New York.
"Bos kan ngritik para akademikus yang dikatakannya cupet, nggak mau meluaskan horizon. Ka-tanya, 'Membina bahasa nasional tentu saja HA-RUS, tapi jangan lupa dengan realita. Kemajuan ilmu serta riset kan dikuasai oleh bangsa-bangsa yang berbahasa Inggris. Nah. kalau kita mau di-ikutsertakan dalam kancah pertemuan intemasional, mau dianggap berbobot, ya kuasailah bahasa me-rekal Tapi apa yang tenadi? Kalau ada sarjana-sar-jana kita yang menuJis makalah dalam bahasa asing, bukannya dipuji, tapi malah diejek sampai ke koran, dianggap sok! Nah, akibatnya ya begini ini, kalau ada undangan dan luar negeri, syusyah syekali nyari caJon yang bisa diketengahkan! Coba saya tes sekarang! Dokter Kadir, katakan apa bedanya regret dan sorryV Tcrnyata Kadir cuma melongo saja, membuat Bos Alim Rahwana makin getol meng-ulangi kritiknya, dan geleng-geleng ratusan kali." Triska tertawa teringat pada pertemuan itu. "Dan kau bisa membedakan!" "Ya! Husein dan aku!" "Apa coba bedanya?"
"Deni! Jangan bilang kau nggak tahu, dong!" Triska mendelik.
Deni tertawa. "Aku cuma mau mencoba, apa kau masih respek nggak padaku kalau aku nggak bisa bahasa asing."
"Terang nggak!" sahut Triska menantang. "Ce-wek mana yang bisa respek sama cowok yang lebih bodoh dari dirinya?"
"Jadi kau mau jadi istriku karena aku dokter?"
"Salah satu sebab, ya."
"Hm. Aku bakal kesepian, empat minggu nggak
puny a teman untuk berdebat seperti sekarang."
"Den, ini lean tug as. Dan aku juga memang sudah lama tngin mengunjungi Mother Teresa di Kaligaht. Husein mau mengajakku ke Pusat Lepra di Titagarh, di pinggiran kota Calcutta. Wah, pen-deknya pasti akan menarik sekali perjalanan ini!"
"Bikin film, dong, btar kita semua bisa ikut menikmati trip kalian."
"Husein memang disuruh bikin video oleh Bos. Mudah-mudahan aku akan sempat ke kota Rishi-kesh! Ada yang bilang, di sana ada semacam air zamzam yang dapat memberi kesuburan!" tukasnya tersenyum.
"Kau masih mau subur? Anak satu kan sudah
cukup!"
"Kalau aku kawin lagi, kaupikir suamiku nggak akan nuntut anak?"
"Kau cuma ingin menakut-nakuti aku!" seru Deni melotot. "Aku tahu, kau nggak akan kawin lagi. Kecuali... denganku!"
"Oh, yaaa?!" Triska menaikkan kening dan me-ngatupkan bibir rapat-rapat. "Sejak kapan kau bisa membaca pikiran orang lain?" tambahnya, lalu ber-anjak dari sofa dan pergi ke piano. Dimainkannya Ave Maria gubahan Bach-Gounod, lagu yang piling dicintainya, sebab lagu itu telah mengikat hatinya dengan...
Triska tidak be rani men gang kat wajah, khawatir akan ketahuan matanya berkaca-kaca.
Mendengar lagu itu, Deni langsung menyambar
gitar yang selalu dibawanya kalau datang ke sana, lalu menghamptri dan duduk di kursi yang memang selalu tersedia di dekat piano. Serta-merta diiringi-nya piano itu dengan penuh perasaan. Walaupun Deni tidak mengucapkan sepatah kara pun, Triska tahu. perasaannya juga tergugah seperti hatinya sendiri. Sementara tangannya raenari-nari sepanjang keyboard pikininnya melayang-layang. Ingatkah kau saat itu? Aku beriutut di samptngmu, kau di sampingku... dan organ mengaiun membawakan lagu ini... ibumu menyeka matanya, ibuku juga... ayahmu tepekur. ayahku juga... kausentuh tanganku, kausisipkan saputanganmu ke tanganku, kau tahu aku menangis, bukan karena sedih, tapi karena bahagia.... Masih ingatkah kau semua itu.... Kenapa sekarang kita harus berpisah... sepagi ini...?
Tiba-tiba Triska terguguk. Jari-jarinya terkulai lesu di atas piano. Deni tergesa-gesa melctakkan gitarnya di lantai lalu menghampiri Triska dan me-meluknya dan belakang. Triska tersedu-sedu me-nyandarkan diri ke bahunya. Selama beberapa de-tik tak kedengaran bunyi apa pun kecuali suara tangis yang tertahan-tahan. Triska in gin menghen-tikan tangisnya, namun bendungan yang bobol itu seakan tidak bisa ditahan lagi. Sejak mereka berpisah, baru kali inilah dia terang-terangan menangis. Untung Papa-Mama sedang ke supermarket meng-ajak Marco, pikimya, Kalau tidak, bisa fiasko* aku kalau sampai ditanya Marco, kenapa nangis!
"gaga! totsi (kena malu)
Deni mengeluarkan saputangan menyusuti pipi-nya yang basah kuyup dan menyuruhnya member-sit hulung. Pclukannya yang erat terasa hangat bagi Triska. Tapi ini sudah bukan hakku. pikimya.
"Sori, aku lerbawa emosi!" bisiknya mencoba tertawa setelah serangan banjir mereda. "Aku seha-nisnya pantang memainkan lagu im sebab selalu menghanyutkan perasaan."
"Nggak, Tris. Kau nggak boleh fobi terhadap lagu tersebut Itu adalah lagu pemikahan kita, Tris. Jangan kaulupakan," bisik Deni mengelus dan me-ngecup rarnbutnya.
Air mata sang putri tumpah lagi diingatkan pada peristiwa yang suci itu.
"Tris, kenapa kita harus menyiksa diri begini? Kenapa kita nggak bersatu kembali?"
Triska menatap Deni dari balik tirai air mata yang deras. "A-apa... O-odi... m-mau... m-melepasmu7"
"Persetan dengannyal"
Triska mengeringkan mata dan hidungnya se-raya menggeleng. "Dia nggak bakaJ melepaskan hart a miliaran rupiah!"
"Huh! Gara-gara warisan! Seandainya uang itu ada di tanganku, pasti akan kuserahkan SEMUA pada Odii Asal dibiarkannya aku sendirian, dan hidup kita berdua nggak akan tergangguP Deni mengertakkan gcraham dengan jengkel.
Triska mencoba menyelamatkan pagi yang di-
ketakutan tnnpa ttlaaon
ngin dan basah itu dengan senyum manis yang 'dipaksakan. "Yuk, kita duet lagi."
Tapi jangan lagu yang berat-berat!" Deni me-nimpaJi dengan senyumnya. "Bisa-bisa nanti ni-mah ini benar-benar kebanjiran!"
"Maria Elena?"
Deni mengangguk. Mereka asyik berduet, mera-bawakan beberapa lagu pop zaman dulu seperti Till, Yours, Again, More, dan irama Amerika Latin. Kemudian Deni berhenti sebab pegal tangan-nya dan Triska beralih ke Tchaikovsky. Setelah riga lagu, dia juga istirahat dan mereka makan berdua. Habis makan keduanya duduk-duduk di gazebo, mengawasi ikan-ikan di kolam.
"Kau sudah mulai dengan persiapanmu ke India?" tanya Deni. "Kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja."
"Nggak ada persiapan khusus. Cuma menyedia-kan celana jeans dan beberapa helai kemeja. Aku akan lebih sering pakai celana, lebih praktis."
"Sering-sering nulis surat, ya. Marco pasti ka-ngen."
"Cuma Marco?"
Deni menyeringai. "Terang bapaknya jugaf Itu sih nggak usah disebut lagi. Seminggu tiga kali, ya, kirim kartu pos!"
"Habis dong waktuku buat nulis surat meltilu! Aku kan diundang bukan untuk darmawisata, Den. Kami harus bikin laporan mengenai situasi kese-hatan anak-anak di Sana, terutama bagaimana cara mereka menanggulangi penyakit-penyakit infeksi
dan apa yang bisa kita contoh untuk kita manfaat-kan, serta apa yang bisa kita berikan untuk mem-bantu mereka."
"Wan, be rat juga tugas kalian!"
"Iya! Dan belum tentu lagi kami akan sempat mengunjungi Taj Mahal!"
Mereka bercakap-cakap ke sana kemari sampai Marco pulang bersama nenek dan kakeknya. Dan percakapan itu pun menjadi kenangan manis yang disimpan Triska untuk menghangatkan hatinya yang pilu dibalut rindu.
***
Triska akan mengingat terus hari itu. Dua ming-gu setelah ulang tahunnya yang ketiga puluh.
Mai am itu turun hujan. Pukul sembilan telepon berdering. Ternyata dari ibu Deni. Kebetulan yang menerima adalah ibunya. Triska sendiri sedang di kamar, membaca jurnal setelah mendendang untuk Marco sampai terlelap.
Pintu kamar diketuk perlahan, lalu ibunya masuk, langsung duduk di ranjang, dekat kakinya. Wajahnya yang muram membuat Triska mengerut-kan kening. Kenapa ibunya? Migraine? Hamil? Ini kan Minggu malam, Papa nggak praktek, nggak ke mana-mana, masa Mama kesepian?
"Ada apa, Mam?"
"Ada telepon tadi dari mertuamu..."
"Mantanl" Triska menambahkan sambil tertawa kecil, tapi ibunya yang biasanya suka humor, kali ini tidak ikut tertawa.
"Deni ada di rumah sakit!" Pikiran Triska saat itu otomatis membayangkan Deni sedang jaga malam, karena itu dengan spon-tan dia bilang, "Ya, lantas?" Begitu selesai meng-ucapkan kalimat itu, Triska langsung menyadari keanehan sikap ibunya dan telepon itu. Sejak ka-pan ibu Deni suka melaporkan kegiatan anaknya padanya? Dinas jaga malam? Di rumah sakit? Rumah sakit?! RUMAH SAKTT?!
"Mam! Kenapa dia?* pekiknya melempar jumal itu ke IantaL "Tabrakan, Tris. Di Puncak!" "Gimana keadaannya?!"
"Masih pingsan. Musim hujan begini memang berbahaya sekali jalanan di sana, banyak tikungan yang mudun. Tukarlah bajumu, Tris. Papa akan mengantarmu melihatnya."
Ibunya membantunya mengenakan pakaian. Se-ingatnya, sejak dia mulai masuk sekolah kelas nol, baru kali inilah dia perlu bantuan memakai baju dan menutup serotan. Mengenakan sepatu pun hampir tak sanggup. Rasanya jari-jari tangannya kebal, tak bisa merasa, tak bisa memasang gesper sepatu. Bukan cuma tangannya, tapi seluruh tubuh dirasakannya kebal tanpa rasa. Dia sudah tak ingat lagi untuk menyisir rambutnya, dan ibunya juga lupa mengingatkan. Dia langsung keluar kamar dan berlari turun.
Ayahnya sudah menunggu dalam garasi. Mereka segera berangkat. Hujan masih turun cukup lebat. Di tengah jalan dia merasa hidungnya tersumbat
dan matanya basah. Barn I ah disadarinya, dia lupa membawa tas. Untung dalam mobil ada sekotak
usu.
Mendengar bunyi khas dari hidungnya, ayahnya mengambilkan beberapa helai tisu yang diserah-kannya ke tangan Triska.
"Jangan menangis, Tris. Papa yakin, Deni takkan kenapa-kenapa." hibur ayahnya sambil memeluknya.
"Pap!" cetusnya dan meledaklah tangisnya di dada ayahnya.
"Ssst. Tumpahkan semua air matamu, Tris. Emosi jangan ditahan-tahan. Marilah kita berdoa pada Tuhan agar Deni dilindungi-Nya."
Di tengah-tengah hujan lebat, dalam mobil yang gelap dan dingin, keduanya mengucapkan doa Ba-pa Kami serta Sal am Maria. Triska merasa sedikit lega setelah itu. Dalam hati ditambahkannya sen-diri, "Terjadilah menurut kehendak-Mu."
*##
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dokter Justin pada Nila dan abangnya, Tono, yang sedang duduk di ruang tunggu. "Dengan siapa Deni ke
Puncak?"
"Dengan kami," sahut Tono. "Waktu itu kami mau pulang ke Jakarta."
"Dan kalian tidak kenapa-kenapa?"
"Nila dan saya di mobil lain, mengikutinya. Deni bersama... mmm..."—Tono melirik Triska se-kilas lalu menggcser-geser kaki di lantai sambil menunduk—"Odi...."
"Odi?" Dokter Justin Omega menaikkan kening-nya sebingga alisnya hampir bersatu dengan ram-butnya. "Jadi mereka pergi berduaV
Nila mau pun Tono tidak menjawab pertanyaan ita.
"Di mana Deni?" tanya Triska berdebar-debar. "Orangtuanya belum datang?" tanya Dokter Justin.
"Mereka sedang makan di luar. Tante Desi sudah hampir semaput, dan dia punya sakit mag, jadi oleh Oom Agus dipaksa harus makan," ujar Nib.
"Dan Deni?" ulang Triska makin cemas.
"Di dalam." Tono menunjuk ke pintu tertutup di ujung lorong.
Ruang OP! Jantungnya nyaris copot.
"Oom dan Tante belum ketemu Deni, nggak boleh masuk, jadi mereka pergi dulu," Nila me-nambahkan.
"Pap, saya harus melihataya!"
"Nggak bisa! Aku barusan ditolak!"
Mendengar suara yang keras itu Triska dan ayahnya menoleb. Dokter Justin langsung mem-buang muka kembali, tapi Triska masih menatap beberapa saat. Rupanya Odi beruntung, cuma ke-bagian lecet-lecet yang ditempeli plester. Tapi per-ban kecil di dahi itu? Semoga lukamu perlu sepu-luh jahitan! Nah, kok aku mendadak jadi jahat?! Habis lagi-lagi dia muncul menimbulkan onar!
Tan pa memberi komentar, kedua ayah dan anak itu melangkah ke arah ruang OP. Tono meng-
196
angguk, dan sambil tertawa mendecak. "Oom dan Triska pasti boleh masuk." Digosok-gosokkannya tangannya seraya menambahkan pada Odi, "Ini bukan daerah teritorialmu! Mana mereka mengang-gapmut Dokter juga mana mungkin diizinkan ber-lenggang-lenggok di atas catwalk, iya, kan? Nah, sana sajal Betul, nggak* Tris?"
Triska memandang laki-laki gendut dengan wa-jahnya yang berminyak itu, rambutnya yang terjurai ke dahi, dan gigi-giginya yang kehitaman, terutama tawanya yang palsu. Tiba-tiba dia teringat pada Uriah Heep-nya Charles Dickens yang hobinya tertawa serta menyanjung dan mengumpak orang. Serentak rasa tidak sukanya muncul terhadap penga-cara ini. Khawatir dia takkan dapat menyembunyi-kan perasaan itu dari wajahnya, Triska lekas-lekas berjalan menyusul ayahnya yang sudah dua langkah didepan.
Mereka memang berhasil masuk ke dalam, tapi cuma sampai ruang depan tempat ganti baju para dokter. Mereka juga memang tidak berharap akan masuk ke ruang OP sebab mereka tidak steril. Di ruangan itu terdapat dinding kaca sehingga orang bisa melihat ke dalam teater OP. Salah seorang perawat melihat dan mengenali mereka dan rupanya memberitahu ketiga orang dokter yang sedang tekun menghadapi meja OP. Salah seorang lalu kelihatan meninggalkan meja dan menghampiri mereka. Seorang perawat lain membukakan jendela di dinding kaca itu sehingga mereka dapat berbicara tanpa ahli bedah itu perlu meninggalkan ruangan.
19:
"Hai, Tris!"
"Oh, kau, Joko!" Rupanya itu bekas teman ku-liahnya.
"Dokter Justin, selamat malam." Joko mengang-guk hormat pada bekas dosennya dan dibalas dengan anggukan juga. "Giraana keadaannya, Ko?" tanya Triska cemas. Joko melipat jari-jan tangannya yang bersarung karet itu di depan dadanya dan matanya yang diperkuat beling itu tampak berkedip-kedip seperti orang senewen. "Kelihatannya perdarahan epidural, Tris," ujarnya sambil menghela napas pelan sekali sehingga hampir tidak kentara. "Waktu masuk tadi dia sempat siuman selama sejam, malah sempat guy on, katanya, 'A was kau, Joko, kalau berani menelanjangi aku dan pegang-pegang alat vitalku! Pokoknya aku yakin thorax, abdomen, dan pelvis-ku t.a.LV Lalu dia mengeluh sakit kepala. tiduran, lalu tahu-tahu comal Sekarang kami ting-gal menunggu Dokter Omar yang akan memas-tikan diagnosisnya dan kemudian melakukan tre~ panasi.
"Masalahnya, kebetulan saat ini beliau ada di Medan, sedang menghadiri Simposium Bedah Sa-raf Se-Asia-Pasifik. Tapi sudah dijemput, kok, dengan pesawat pribadi Sigma Enterprise."
>(perdarahajl antara tengkorak dan selaput otak juk ada kelainan tindakan untuk mcngcluarkan (gumpaJan) darah
"Sigma?" Triska menegaskan. "Kenapa bawa-bawa Sigma?" Itu kan ayah Erik! Ada hubungan apa?
Joko mengangguk. "Pak Agus Melnik yang telepon, minta tolong. Pak Melnik bilang, Pak Petrus Sigma itu kawan baiknya, mereka juga bekerja sama dalam usaha-usaha di luar negeri."
"Boleh kami tunggu?" tanya Triska, tapi Joko mengangkat bahu.
"Menurut aku, sebaiknya kau pulang dulu, isti-rahat. Tak ada yang bisa kaulakukan di sini. Kau harus menyimpan energimu untuk besok. Jangan sampai kau juga jatuh sakit!"
"Ya, Joko betul," angguk Dokter Justin setuju.
"Percayalah, dia akan ditangani sebaik-baiknya. Jangan khawatir, ada aku! Aku akan menunggui-nya semalam suntuk! Kalau ada perkembangan yang penting, pasti kau kukabari."
Triska menggigit bibir, dan menunduk sambil mengejap-ngejap agar tak ada yang melihat bahwa matanya membasah.
"Aku kenal Deni dengan baik, Tris. Dia juga kawanku yang sering membantu aku. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. Aku akan bantu menolongnya sekuatku! Pulanglah kau. Kira-kira tiga jam lagi boleh kautelepon ke sini kalau mau, minta nomornya pada salah seorang perawat di luar."
Triska mengangguk. "Tapi aku masih ingin me-nunggut sebentar lagi. Biar di luar saja." Bam saja dia mau memuter tubuh, tahu-tahu
199
Kris menyerbu masuk. "Bagaimana? Mama ngebel, tapi nggak tahu apa yang terjadi."
Joko mengulangi penjelasannya tadi dengan singkat. Kris mengangguk setuju. "Joko betul. Papa dan kau sebaiknya pulang saja. Biar aku yang menunggui di sini. Kalau perlu, aku kan bisa menolong OP atau melakukan pemeriksaan ini-itu. Kau langsung tidur saja, nanti nggak usah telepon ke sini. Aku juga nggak akan nelepon kecuali ada perkembangan drastis! Kau perlu sekali istirahat. Papa juga, nggak usah nunggu telepon. Pap."
Kris menggiring Triska keluar ruangan. Baru semenit di ruang tunggu. muncul Erik dengan pa-kaian malam berdasi kupu-kupu. Triska tertegun dan menahan napas. Bukan main tampannya dia! Kecuali warna rambut dan kulitnya, profilnya sungguh mirip bintang Hollywood.
"Aku sedang menghadiri resepsi di Hilton, tahu-tahu ayahku telepon," katanya pada Triska. "Dia sedang flu berat, jadi disuruhnya aku yang nengok. Aku langsung ke sini walaupun resepsinya masih belum bubar. Mana Oom Agus?"
Yang dicari ternyata muncul saat itu juga, menggandeng istrinya. "Oom di sini, kau mencari Oom?"
"Papi sudah mengirim orang ke Medan, Oom. Papi sedang sakit, malam ini tidak bisa datang, tapi besok kalau terasa baikan, katanya akan ke-mari. Papi bilang, kalau ada apa-apa yang bisa kami bantu, Oom jangan segan-segan kasih tahu."
Pak Melnik mengangguk dan mengucapkan
200
terima kasih sambil menarik napas berat. "Semoga tak usah dibawa ke luar negeri. Tapi bila dian-jurkan oleh dokter, Oom akan pinjam lagi pesa-
watnya."
"Tentu saja, Oom. Papi bilang, pesawat itu tak-kan dipakai ke mana-mana selama keadaan Deni masih gawat."
"Ayolah, Tris, pulang sekarang! Lihat, sudah hampir jam dua belas," Kris mendesak. "Erik, ajaklah dia pulang. Papa juga, Pap."
Tono yang tadi begitu leluasa tertawa dan me-nyanjung, kini tampak kuncup nyalinya di hadapan Pak Melnik. Nila juga kelihatan salah tingkah, sebentar-sebentar menggeser-geser sepatu di atas lantai. Rupa-rupanya benar seperti yang dikatakan. Deni, anak-anak Tante Leila semua ngeri pada paman mereka.
"Kalian mau tunggu apa di sini?!" hardik Pak Melnik pada kedua keponakannya. "Kalian takkan mendengar kabar baik! Sebab Deni takkan mati!"
Semua orang terkesiap mendengar ucapan yang keras itu, tak terkecuali Triska yang sudah tahu sebabnya.
Pak Melnik menggebah mereka dengan tangan-nya seperti mengusir lalat. "Ayo, enyah Sana! Ini kan gara-gara ulah kalian, mengajaknya ke Puncak hujan-hujan. Aku takkan heran bila ternyata kalian memang sengaja mau mencelakakannya. Awas! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan anakku, kalian akan kuseret ke pengadilanl"
Seperti anjing-anjing dibawakan lidi, kedua ber-
201
saudara itu menunduk. memutar tubuh, dan berialu dengan langkah gontai diikuti Odi yang sejak tadi menonton di pojok. tidak diacuhkan siapa-siapa. Tak seorang pun melirik atau menoleh ke arahnya, seakan dia tak nadir.
"Tris, kenapa belum juga pulang?" tegur Nyo-nya Desi. "Kan di sini ada Mami sama Papi. Nanti besot giliranmu nunggu. Mami akan pulang, ti-dur. Sana, pergiiah, nanti Marco terbangun kau nggak ada dia akan nangis. Kita berdoa saja, menyerahkan semua pada Tuhan."
Atas saran Nyonya Desi Melnik, mereka semua berdoa dulu sebelum Triska berialu dengan ayahnya dan Erik.
"Bapak Kami, Saiam Maria, dan Kemuliaan," ujar Nyonya Desi. "Rosario biarlah di rumah masing-masing, siapa saja yang sempat"
Selesai berdoa, Nyonya Desi memeluk (mantan) menantunya sambil berbisik, "Tabahkan hatimu, Tris. Apa pun yang terjadi, Mami yakin, Deni ada di dalam lindungan-Nya!"
Triska menggigit bibimya keras-keras untuk mencegah turunnya air mata. Dengan susah payah ditelannya kesedihannya, kerongkongannya seakan tersumbat. Dipaksanya mengangguk, lalu meng-ucapkan selamat malam pada yang tinggal.
"Tidak mau manggjl Romo Yohanes?"
Semua orang tercengang mendengar usul Kris. Triska menghentikan langkahnya dan memandang yang lain bergantian. Pak Melnik kelihatan berkejap-kejap, Nyonya Desi seakan mau menangis. Kris jadi
rikuh seo I ah salah ngomong. Romo memang biasa-nya dipanggil untuk memberikan Sakramen Per-minyakan pada saat orang hampir... meninggal.
Pak Melnik berdehem dan mengangguk. "Kris benar. Maaf, Oom tidak ingat sampai ke situ. Tapi apa perlu dipanggil sekarang juga? Sudah hampir tengah malam, kan?" Air mukanya yang mendung itu seakan memohon agar ada yang mengatakan, "belum perlu sekarang" yang berarti keadaan anak-nya masih bisa ditolong.
"Hanya sekadar berjaga-jaga, Gus!" ujar Dokter Justin menenangkan. "Ibunya Triska juga sudah pemah menerima Perminyakan waktu keadaannya gawat dulu." Triska tidak ingat kapan ibunya per-nah gawat, dan ayahnya juga tidak menjelaskan. Tapi tak ada yang bertanya. Triska tahu, itu taktik seorang dokter untuk menenangkan pasien yang senewen mengenai penyakitnya. Dokter Justin per-nah mengajari Triska. Ambillah contoh keluarga kita sendiri, dan katakan, paman saya atau bibi saya atau yang lain, menderita penyakit yang sama, tapi lebih parah, en toch mereka masih hidup sampai sekarang!
"Persoalannya kini, siapa yang akan menjemput Romo?"
"Saya bisa," ujar Kris.
"Jangan!" cegah Erik. "Kau mungkin dibutuhkan di OP, biar saya saja. Tris kan pulang dengan Oom Justin, jadi nggak perlu saya antar."
Ketiganya pun permisi dan berialu. Sebelum berpisah di depan tempat parkir, Erik menggeng-
gam Cangan Triska erat-erat dan berbisik sambil menatapnva serius, "Aku akan berdoa Rosario ba-ginya malam ini."
Triska sangat terharu melihat kebesaran jiwa laki-laki ini sehingga dia tidak mampu bilang apa-apa kecuali, "Trims."
***
Esoknya, untuk pertama kali dalam sejarah hi-dupnya, Triska tiba di rumah sakit pukul setengah tujuh pagi, tan pa menunggu ayahnya tanpa mandi, dan tanpa sarapan. Dia yakin, pasti dia yang no-mor satu datang. Tidak tahunya ketika menuju ke tempat Deni, dia beramprokan dengan Roy yang rupanya punya tujuan sama.
"Marti nelepon semalam. Aku langsung call ke sini, ngomong dengan Kris. Karena sudah jam sebelas lewat, dan tak ada yang bisa kubantu, aku tidak jadi menjenguk."
Triska mengangguk dan mencoba mengelak dari tatapan Roy yang menyengat. Tris, mungkin kau-kira aku senang, mungkin seharusnya aku merasa senang, tapi tidak!" Roy menggeleng keras. "Aku tidak gembira mendengar Deni kena musibah. Memang dia sainganku, tapi aku tidak mau menang dengan cara begini!"
Roy menatap Triska beberapa saat tanpa ber-kata-kata, dan Triska membalas tanpa berkedip. Akhimya nyengir kuda yang paten itu muncul, dan Roy mendecak. "Aku tahu, menurutmu, aku harus melupakanmu."
"Kau sudah mulai pin tar membaca pikiranku!" puji Triska tanpa tertawa. "Ayolah! Apakah kau juga mau menengok Deni?"
Ternyata di sana sudah hadir Erik dengan ayahnya yang tengah berbicara dengan Pak Melnik, juga ada Dokter Nero Toma yang kelihatan ber-cakap-cakap serius dengan Kris dan Joko. Per-cakapan mereka serentak terhenti ketika Triska tiba, sehingga dia menduga pembicaraan itu ada kaitannya dengan Deni, dan melihat gelagat air muka mereka, rupanya prognosis pasien kurang menggembirakan.
"Bagaimana?" Triska langsung membuka mulut malah sebelum ada yang sempat menyapanya atau mengucapkan selamat pagi. "Sudah sadar?"
Kris mengalungkan lengan ke bahu adiknya dan mendekapnya. "Belum, Tris. Tapi jangan skeptis. Dokter Omar sudah melakukan trepanasi, jadi kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Kata be-liau, Deni mengalami contusio cerebri berat LP-nya memang mengandung darah sedikit, tapi tak ada gejala pathologis dari saraf-saraf otak."
Triska tiba-tiba menangkap lirikan Joko pada abangnya. Serentak dia melepaskan diri dari peluk-an dan menatap abangnya serta Joko bergantian. "Apa yang kalian sembunyikan? Ayo, katakan! Aku tidak mau diperlakukan seperti anak kecil!
memar otak, lebih berat daripndn gegar otak (commotio) kelai nan/abnormal
205
204
Aku tahu, harapan untuknya sudah tipts sekali, tapi aku ingin mendapat gambaran bagaimana ke-adaannya sejelas-jelasnya. Jangan bohongi aku, Kris! Aku juga dokter!"
Kris saling bertukar pandang dengan Joko, dan akhirnya dia menghela napas. "Diagnosisnya ter-lalu ban yak, Tris. Contusio, perdarahan extradural, dan... kemungkinan CK4!" "CVA? Causa-nya apa?" "Menurut Dokter Omar, kemungkinan aneurys-ma * pecan," sahut Joko.
"Jadi selain extradural ada juga perdarahan subarachnoid!" Roy menegaskan. Joko mengangkat bahu. "Belum jelas." "Kernig? Brudzinski?" tanya Triska dengan hati berdebar. JPJS
"Tidak jelas positif."
Triska merasa sedikit lega. Bila tidak ada gejala yang disebut tanda Kernig dan tanda Brudzinski, masih ada harapan kemungkinan bukan perdarahan subarachnoid yang ditakuti itu.
"Boleh kutengok?" tanya Triska.
Kris kembali saling berpandangan dengan Joko. Kemudian digandengnya adiknya. "Mari kuantar-kao!"
Deni ditempatkan dalam kamar VIP untuk satu
cerebro vascular accidents - gangguan perdarahan otak penyebab
kelainan pcmboluh darah yang melebar seperti kantong
orang, lengkap dengan kamar mandi di dalam. Tapi apa gunanya, pikir Triska sedih. Pasiennya
tak bisa mandi.
Triska merasa trenyuh melihat Deni terbaring di bawah seltmut, tak bergerak sama sekali, dan dari segala sudut menjulur kateter serta slang karet. Wajahnya pucat, dan kumisnya sudah mulai tum-buh lagi.
"Kris, tolong, dong, carikan aku cukuran, aku ingin mencukur kumisnya."
"Oke, tunggu sebentar." Kris keluar kamar men-cari pisau cukur dari ruang OP.
Triska mengulurkan tangan dan mengelus-elus wajah Deni seperti yang dilakukannya terhadap Marco bila ingin membujuknya. "Jangan pergi dulu. Den," bisiknya ke telinga Deni. "Tugasmu masih banyak di sini. Marco memerlukanmu. Aku juga! Pulang ke surga memang sedap, tapi kau jangan mau enaknya saja, dong! Meninggalkan aku sendirian di sini? Membiarkan aku bersusah payah membesarkan anakmw, sementara kau main gitar sepanjang masa di antara bidadari-bidadari? Maumu! Awas kau, kalau sampai mengecewakan aku."
"Tris, nih pisaunya."
Triska serentak menegakkan kembali tubuhnya dan mengambil pencukur itu dari tangan abangnya, lalu pelan-pelan mencukur sang pasien. Hm. Tak ada after-shave lotion, pikimya setelah selesai. Terpaksa dibasahinya handuk di kamar mandi dan disckanya bibir alas bekas cukuran. Kemudian
diangkatnya seiimut dan dilihatnya Deni mengenakan baju rumah sakit yang kependekan, nyaris tidak menutupi auratnya. Piama tentu saja akan kelihatan lebih respektabel. tapi selama masih perlu dipasang kateter, celana akan merepotkan. "Kris, apa nggak ada baju yang lebih panjang?" "Tahu, deh. Coba nanti aku tanyakan. Deni ukurannya jumbo, sib!"
"Kayak sendirinya ukuran liliput saja!" balas Triska seakan merasa perhi membela orang yang tak berdaya membela diri sendiri. Kris menaikkan sebelah ujung bibimya ke atas, tapi dia tak berani tertawa sebab wajah adiknya serius benar.
Melihat Triska kemudian berdiri termangu me-mandangi Deni seraya mengelus-elus tanpa sadar lengannya yang dimasuki infus, Kris cepat-cepat mengajaknya keluar lagi. Triska menurut, sebab dia juga merasa air matanya sudah tidak jauh dari ujung saluran.
Setiba di luar, Triska disambut oleh Nyonya Desi yang mau pamitan.
"Tris, Mami mau minta tolong kau pergi meng-ambilkan handuk, sabun, dan piamanya. Siapa tahu katetemya nanti bisa cepat dicabut, dan dia boleh pakai celana lagi. Juga sekalian kau tenangkan Bi Rinai, katakan majikannya tidak kenapa-kenapa, cuma perlu diopname sebentar, Bilang pada me-reka, nanti Mami juga akan menengok mereka. Tolong kauberi beberapa ribu untuk membeli sa-yuran sehari-hari." Triska mengangguk. "Kebetulan saya memang
mau ke sana, mengambil cukuran dan Zorion-nya. Saya juga akan membawakannya kaset lagu kege-marannya."
"Kalau begitu Mami tinggal dulu, ya. Nanti sore kami datang lagi."
Pak Melnik juga pamitan, lalu melangkah di samping istrinya.
Kira-kira pukul delapan muncul Martina yang kelihatannya tergesa-gesa sampai-sampai kacamatanya ketinggalan. Untung aku masih bisa melihat jalanan," tukasnya menggeleng, lalu ditatapnya Triska dan suaminya bergantian. "Gimana?" bisik-nya.
Triska cuma menggeleng, tak sanggup menja-wab. Kris-lah yang menolongnya, "Epidural. Sudah di-trepanasi, tapi orangnya masih comatose. Kemungkinan CVA, aneurysma pecan."
Martina sampai terdiam saking beratnya diagnosis yang didengarnya. Dia cuma mampu meme-luk Triska tanpa kata-kata. Triska menggigit bibir sekeras-kerasnya untuk mencegah jangan sampai menangis. Untunglah suasana yang kelabu itu di-bubarkan oleh seruan Sumi yang muncul bersama Hansa.
"Tris, ibumu tadi pagi ngebel, langsung kutarik Hansa dari ranjang."
"Aku malah nggak dii/.inkan sarapan dulu!" Hansa mengadu tapi disodok perutnya oleh istrinya yang menyuruhnya bungkam sambil mendelik seakan mau mengingatkan bahwa ini suasana berka-bung.
"Gimana Deni, Tris?" tanya Sumi dengan kha-watir sambil menggenggam tangan Triska seerat-erataya.
"Masih pingsan."
"Dokter bilang apa?"
"Tunggu perkembangan," sahut Kris menolong adiknya menjawab.
Sumi mengajak Triska duduk, yang lain meng-ikuti. Mereka tidak banyak berbicara, semuanya saling menunduk atau memperhatikan orang-orang yang hilir-mudik senasib dengan mereka, menung-gui atau menjenguk sanak keluarga.
Tak lama kemudian Dokter Justin muncul. Se-mentara semua orang mendengarkan Kris mem-berikan laporan pada ayahnya, Sumi menyentuh lengan Triska dan berkata pelan, "Tris, maukah kau berdoa novena pada Santo Antonius?"
"Sum, aku mau melakukan apa saja asal Deni bisa tertolong!" sahut Triska tanpa ragu.
"Antonius dari Padua adalah seorang santo be-sar, Tris. Semasa hidupnya sudah banyak terjadi mukjizat. Mintalah bantuannya, Tris. Kau bisa berdoa di rumah, sembilan hari berturut-turut. Mulai-lah malam ini. Kau punya gambar atau patung-ayaT
"Ada. Dikirimi oleh Tante Marie—kakak ibuku yang tinggal di Prancis—ketika dia ziarah ke Padua. Apa yang harus kulakukan?"
"Pasanglah lilin, lalu berdoalah padanya." Sumi membuka tas dan menyerahkan sebuah buku tipis pada Triska. "Inilah doanya. Kita juga berkau), bila
210
permohonan kita dikabulkan Tuhan, kita akan mem-
berikan derma untuk orang mi skin. Berdoalah, Tris. Aku juga akan berdoa di rumah, sebab Novena Besar di gereja baru akan mulai bulan Agustus."
"Trims," bisik Triska. "Aku nggak tahu bagai-marta harus membalas kebaikanmu!"
"Gampang! Dengan membantu mendidik Linus. Aku melakukan ini supaya anakku jangan kehi-langan ayah permandiannya."
Triska tersenyum penuh keharuan, hatinya merasa lebih tenang setelah mendapat jalan untuk mohon bantu an pada seorang doktor Gereja.
Ketika hampir pukul sembilan, Triska menyata-kan harus pergi ke Bagian Anak untuk dinas. Sumi dan Hansa pun pamitan, sementara yang lain juga bubar untuk pergi ke tempat tugas masing-masing, kecuali yang memang sedang tugas di situ seperti Joko. Erik dan ayahnya juga minta diri.
"Aku akan ke sini lagi begitu sempat," ujar Triska pada Joko. "Tolong kaulihat-lihat, ya, Ko. Terutama infusnya, jangan sampai dibiarkan ko-song."
"Jangan khawatir, Tris," janji Joko sungguh-sungguh. "Aku akan menjaganya sampai kau da-tang lagi."
"Trims."
***
Triska langsung meneraui Dokter Makalus, wa-kil Dokter Rahwana, yang men gurus penunjukan wakil-wakil yang akan berangkat ke luar negeri.
Triska mengetuk pad dan disilakan masuk Dokter Makalus berbeda bagaikan iangit dan hunt dengan Bos Alim Rahwana yang unggi-besar ma-cam beruang sirkus. Dokter Makalus bertubuh ke-cil-kurus, dan memberi kesan serba kekumngan dan pas-pasan. Rambutnya sedikit. matanya lamur. telmganya memakai alat bantu, kumisnya jarang-jarang. giginya memakai crown, dan tangan ke-mejanya selalu berbercak kuning bekas keringat
"Selamat pagi, Dok." sapanya sambil menutup
"Oh, selamat pagi, Dokter Triska. Ada masalah apa?" tanya Dokter Makalus yang sedang sibuk dengan setumpuk kertas di atas meja.
"Saya ingin menarik diri dari kunjungan ke Calcutta Dok."
Dokter Makalus mendadak mencopot kaca mata nya dan duduk lebih tegak. Matanya yang keriput akibat terlalu lama disekap kaca bingga kekurang-an udara segar, menatap Triska dengan sedikit membeialak. "Apa maksudmu dengan 'menarik
mr
"Saya tidak bisa berangkat, Dok."
"Sudah tmggal dua minggu lagi kau bilang tidak bisa berangkat? Selama enam minggu itu apa saja yang kaupikirkan sampai baru sekarang memberi-tater
"Saya minta maaf. Dok, baru hari ini pembatal-annya. Ini karena ada emergency dalam keluarga, bukan mau saya sendiri, tapi terpaksa "
212
Dokter Makalus tidak befheMt menuHs. "Ya. teruskan. saya mendengartm"
"Suami saya CVA, Dok. Sekarang di 1CU Bagi-on Bedah Saraf. masih dalam coma*
"Kukira kau sudah berccrai."
Triska merasa wajahnya panas menyadarl keke-liruannya. Pikirannya saat itu sedang bmgung. ker-ja otak nya kurang be res.
"Maaf, saya kelupaan. Kami memang sudah... ngngng... berpisah, tapi hubungan kami tetap baik."
"Dan kau terpaksa membatalkaa trip int karena dia? Dokter Tris, waktu sudah me pet begini. siapa yang bisa siap berangkat dua minggu lagi? Seiain itu, toh Dokter takkan bisa melakukan apa-apa walaupun tetap tinggal di sini. saya rasa. Betul tidak?"
Dok. Deni adalah ayah anak saya. Kalau saya tinggalkan dia dalam keadaan gawat begini. lalu scandainya terjadi sesuatu dengannya, bagaimana kelak saya akan mempertanggungjawabkannya pada anak kami?"
Dokter Makalus mclc takkan pena dan mencopot lagi kacamata yang tadi sudah dipasangnya kembali. Kali ini digigit-gigitnya tangkainya dan di-pandangnya Triska dengan mata terptcing. Sambil mcngangkat bahu, ujamya, "Bagi saya sama sekali tidak menjadi soal siapa yang akan berangkat, Dokter Tri.s atau dokter lain. Tapi sikap suka membantah order ini sebtuknya jangan di jadi kan kebiasaan, sebab bisa mempengaruhi kelancaran promoai, tahu!"
"Sa... ayah anak saya sedang menghadapi maut, mana mungkin saya dapat memikirkan urusan pro-mosi segala Dot"
"Saya cuma ingin mengingatkan," ujar Dokter Makalus, memakai kembali kacamatanya dan me-nyambung kegiatannya tadi sebelum diganggu oleh kedatangan Triska. "Supaya nanti kalau timbul ke-sulitan untukmu, saya jangan kausalahkan!"
"Masalah saru-sarunya yang penting bagi saya saat ini adaiah keadaan s-s-s... ayah anak saya. Saya terpaksa mengundurkan diri."
"Saya tidak keberatan, asal Dokter Rahwana juga setuju dan bisa mencarikan gantinya."
"Baiklah, kalau begitu saya akan menemui Dokter Rahwana Terima kasih, Dok."
Triska merasa kecat juga harus menghadap Bos Gede. Kalau Bos Kecil saja sudah begitu galak, tak ada pengertian—beliau sama sekali tidak me-ngatakan apa-apa yang menguatkan hati, misalnya "semoga lekas mendingan" atau apa, kek!—apalagi bos gede yang sudah terkenal suka menggeledek.
Namun rupanya sekali ini Bos Gede sedang senang hati—barangkali tebakan Lotto-nya jitu?— atau mungkin ada segi lain dari dirinya yang belum pernah dilihat oleh Triska, entahlah. Di luar dugaannya, Dokter Rahwana ternyata langsung menyetujui, bahkan menanyakan dengan mendetail bagaimana keadaan Deni, siapa yang menangani, dan terakhir, memberiirya libur kalau merasa perlu.
"Kalau pikiranmu sedang kacau, kau juga takkan dapat konsentrasi dan bekerja dengan baik,
214
Tris. Pulanglah, atau mungkin kau ingin menung-
guinya?"
"Saya memang perlu mengambil beberapa ba-rang keperluannya. Terima kasih, Dok. Kalau begitu saya permisi saja."
Dokter Rahwana mengangguk. "Beritahu saya kalau kau perlu bantu an apa-apa. Dan besok lapori saya bagaimana perkembangannya!"
*#*
Triska disambut hangat oleh Bi Rinai serta A tun. "Sudah tahu, Bi?" tanyanya sambil melangkah masuk.
Bi Rinai mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Ibu Melnik semalam menelepon dari rumah sakit. Dan tadi, beberapa jam yang lalu, telepon lagi dari rumahnya, memberitahu bahwa Ibu akan datang mengambil pakaian Bapak. Apa betul ke-adaannya separah yang dikatakan Ibu Melnik?"
Triska menghela napas dan mengangguk.
"Sebenarnya Bapak sudah nggak mau pergi," ujar Atun tanpa ditanya. "Saya dengar sendiri Bapak bilang di telepon, 'Aku mau ke Depok. Pang-gil saja dokter Iain.' Tapi Pak Tono itu rupanya ngotot, akhirnya Bapak pergi juga."
"Pak Tono? Dari mana kau tahu itu Pak Tono?"
"Sebab Bapak berkali-kali menyebut namanya 'Tono, Tono' begitu."
Hm. Jadi memang ulah mereka! Mungkin duga-an Pak Agus tidak meleset?! Jadi Tono memaksa Deni pergi 1
"Kaudengar nggak, siapa yang sakit?"
"Mungkin ibunya Pak Tono, Bu, Sebab saya dengar—saya sih bukan nguping. tapi kebetulan sedang menyapu di kamar makan dan Bapak memakai telepon di situ—Bapak bilang, ' ibumu, ibu-mu' begitu."
Triska mengangguk, lalu masuk ke kamar tidur. Di belakang pmtu dia bersandar sambil memejam-kan mata sejenak. Sudah berapa lama kutinggalkan tempat ini, pikimya. Dihampirinya tombol di dinding dan ditekannya. Musik merdu langsung menyapu gendang telinganya. Till, lagu kesayangan mereka berdua. Walaupun hanya instrumental, tapi dia masih hafal kata-katanya karena mereka biasa menyanyikannya berdua sambil berendam di bak mandi. 731 the rivers flow upstream. Till lovers cease to dream. Till then I'm yours, be mine. Ah, itu semasa mereka masih mesra, masa pra-Odi! You are my reason to live, AH I own 1 would give. Just to have you adore me...
Triska mengenali kaset itu. Mereka pernah me-ngumpulkan semua lagu kesayangan, lalu mereka rekam kembali memakai kaset baru, sehingga lagu-lagu kurang menarik yang biasanya dicam-purkan oleh produser, bisa mereka singkirkan.
Triska tahu, setelah lagu ini akan berkumandang Einsames Hen—Hati (yang) Kesepian-nya. Clay-derman, setelah itu Serenade-nya. Schubert, lalu Yours, lalu // / Give My Heart to You, lalu No Other Love, lalu...
Dibukanya lemari pakaian. Dia tak dapat menahan
216
senyumnya. Masih tetap acak-acakan. Tapi sekali ini dia tidak merasa jengkel seperti biasanya kalau merasa perlu membenahi. Dielusnya baju-baju itu. Terasa sejuk. Diambilnya sehelai demi sehelai. dili-patnya dengan rapi lalu dikembalikannya ke tempat-nya, satu per satu, diaturnya celana dalam dengan celana dalam, singlet dengan singlet, kemeja dengan kemeja... Musik di belakangnya mengalun merdu. menyejukkan perasaan yang gundah. Yours till the stars have no glory. Yours till the birds fait to sing. Yours till the end of life's story, This plea to you dear I bring,., I've never loved anyone ike way I love you, How could I, when I was born to be just yours...
Diambilnya after-shave lotion dari kamar mandi. sekalian dengan pencukumya tapi bukan yang pa-kai listrik. Ke kamar mandi pun musik merdu itu mengalun masuk. // / give my heart to you. Will you handle it with care, Will you always treat me tenderly, And in every way be fair*, *
Dipilihnya baju-baju yang akan dibawanya. juga handuk serta sarung bantal dan selimut. No other love can warm my heart, Now that I've known the wonder of your love,,,
Triska menyusut air mata yang mengalir ke pipi. Kedua lagu yang terakhir itu mengingatkan-nya pada anniversary mereka yang porta ma yang dirayakan di vila keluarga Melnik di Pulau Bida-dari. Orangtua Deni memiliki koleksi hampir semua lagu pop zaman mereka muda, di antaranya kedua lagu itu serta yang lainnya seperti Eternally, Ever True Ever More, Pretend, My Heart Cries
for You... sighs for you, dies for jam Ami my Mereka merekam lagu-lagu pi!than itu dan me-
atas sofa Think a over and be sure. Please don't answer till yam do. When you promise all these things to me, Then I'll give my heart to you... Han sudah petang, mereka memperhatikan burung-bu-rung camar terbang pulang, mm ted that megah dan perkasa. Deni bilang, sungguh cocok untuk tempat mandi para bidadari. I'll be laving you eternally. There'll be mo one mew my dear, foe me... Betulkah, Den? Betulkah takkan ada yang bam untukmu? From the start within my heart it seems I've always known. The am would shine when you were mine and mine alone... Bagtku juga. Den. Matahan selalu bersinar cerah semasn kau masih menjadi milikku....
Alat musik itu dapat membalikkan kaset sendiri dan takkan berhenti selama belum diputus aliran listnknya, sehingga lagu-lagu itu akan berputar tents mungkin sampai akhir zaman kalau dibiar-kan. Deni pemah bilang. sungguh mengherankan kenapa mereka merasa lebih menyatu dengan lagu-lagu angkatan orangtua mereka dibanding dengan musiknya The Beatles, The Bee Gees, The Meat-loaf, Michael Jackson, atau Madonna.
Triska masuk kembali ke kamar mandi untuk
membenahi wujah serta rambutnya. DI at as meja toilet dilihatuya scbu.ih recorder mungil ukiiran saku. Iseng-tseng ditekannya tombol play. Suara piano mengalun syahdu dan dia langsung mcnge nali penuamannyt sendiri. Dia terkenang saat itu Malam anniversary mereka yang kedua. Sehabts makan malam berdua di rumah. Tnska terhanyut dalam kebahagiaan yang memabukkan. Dia langsung duduk di depan grand piano, had i ah perka-winan dari orangtua nya. dan mulai memainkan lagu bersejarah terse but. Ave Maria-ny* Bach-Gounod, Beberapa hari kemudian. Deni memutar kaset, lagunya sama. Bah kan seluruh kaset dari mula sampai akhir, isinya cuma lagu itu.
"Kenal nggak, siapa pianisnya?" tanyanya dengan mata jenaka
"Stapa?"
"Ah, masa nggak kenal!" Matanya makin meng-goda, bibirnya sudah mau tertawa.
"Navratilova? Atau Horowitz?"
"Salah dua-duanya! Coba tcbak lagi! Sepuluh ribu mpi,ih kalau berhasil "
Dia berpikir kcras setengah menit, lalu, "Nye-rah, deh."
"Namanya Triskanova Omega wita! Masa nggak kenal?"
"Busetl Kapan kaurekam?"
Ternyata permainannya malam itu, ketika hati nya cerah dipalut bnhagia, serta syahdu penuh haru, telah dirckam dengan mencuri-curi, dan ini-lah kasetnya sekarang....
hi pcrempu-:lu bercanda tk kcgelian. z tidak per-
bis.i. andante... pianissimo... piano... mezzopiano... decrescendo... mezzopiano... crescendo.., mezzo-forte... decrescendo.. mezzopiano*. piano... pianissimo...
Ave Maria... Im adalah hah yang te rind ah dalam hidupnya... Bergaun putih di samping Deni, bertutuf di hadapan altar di depan Romo Yoha-nes... Hati kami bersatu padu, kami saling mencin-tai... Bagaimana mungkin aku bisa mcncampakkan semua itu...'? Bagaimana mungkin aku sebodoh itu...? Kenapa aku harus berpikir dengan kakiku. bukan dengan kepalaku...?
Awe Maria.. Diangkatnya tangan kiriku. dipilih-nya jari mamsku, dimasukkannya cincin putih ber-ukir sebatang anggur dengan daun-daunnya, begitu indah dan bisikannya cuma terdengar oleh teli-ngaku, "My love..." Aku begitu bahagia, mataku terasa mulai membasah... Ave Maria.. Ob. Deni!
Triska menangkupkan kepalanya ke atas meja toilet dan tersedu sedan. Maafkan aku. Den! Semua ini salahku! Kalau aku tidak menuntut cerai, pasti kau takkan pergi ke Puncak, dan tidak kena
kecelakaanl Aku berdoaa, aku berdoaa, aku sangat bcrdosa... Kenapa aku harus takut dijelek-jelekkan dalam koran, kenapa kubiarkan orang lain mcnyc-tir hidupku, kenapa tidak kumaafkan saja orang yang kucintai, kenapa tidak fatten ma saja perkata-anmu...'? Harga diriku yang somoong tak keruan sudah menjerumuskanmu ke dalam jurang. kini kau terbaring antara lane it dan bumi. padahal dulu kita |vinah tinggal di langtt kesembilan.., Ave Maria..
Triska membenahi kaset itu dan membawanya untuk Dent Lalu dibersitnya hidungnya dan diba-
suhnya wajahnya.
Triska kembali ke rumah sakit membawakan barang-barang Deni dan menungguinya sampai siang. Diputarnya kaset dengan volume rendah. dan diletalckannya di samping bantal, dekat telinga. Sebentar-.sebentar dietusnya wajah Deni, diajaknya bicara apa saja, terutama mengenat Marco, lalu selang sepuluh menit dibasahinya bibirnya dengan saputangan yang dicelup dalam air di gelas.
Demikianlah dihabtskannya waktu sampai pukul tiga sore ketika Nyonya Deal muncul dan terce-ngang mendapati Triska masih dt situ,
"Kau belum pulang, Tris? Sudah makan, belum?"
"Belum, nggak la pat."
"jam segint belum taper, itu art my a perutmu sudah penuh anginl"
"Pulanglah Tris Bur Papi dan Mami vane menggantikan,' Pak Agus Melnik menambankan.
"Baiklah. Saya memang harus praktek soft ini. tidak bisa absen sebab tidak sempat mencan ganti. Q. ya, barang-barang Dent sudah saya ambilkan. Lusa nanti saya akan ke sana lagi menengok Bi Rinai dan Aran, jadi Mami tak usah re pot-re pot ke sana Int. saya bawakan kaset-kaset kesukaan Deni, kalau Mami tidak keberatan. tolong diputar bergantian. Menurut penyelidikan di Amerika. pasien-pasien yang ptngsan begini tetap bisa mendengar musik atau pesan-pesan yang diucapkan pada mereka. Jadi, ya semoga Deni bisa me nan g-
kap musik ini___." Triska tidak berani berterus te-
rang bahwa yang satu itu adalah khusus lagu kenangan mereka, Ave Maria, lain nya kumpulan lagu kesayangan bersama.
"Nanti dari praktek akan saya usahakan menengok sebentar sebelum pulang."
"Tak usah, Tris. Kau pasti akan capek! Pulang saja, Marco sudah menunggu. Kan besok kau bisa datang lagi," bujuk Nyonya Desi terharu.
Triska tidak membantah karena menurutnya (mantanj ibu mertuanya benar juga. Dia pasti akan kecapekan. "Baiklah kalau begitu. O, ya, tadi siang Mama datang ke sini, tapi tidak bisa lama-lama sebab khawattr Marco sendirian di rumah."
Nyonya Desi mengangguk penuh pengertian.
"Siapa yang akan menunggui nanti malam?" tanya Triska sebelum berialu.
"Oh, anak-anak Oom Audi, Tante Beti. dan
Tante Con. yang Inki -laki saja tcntunya. Mereka akan jaga bergilir, tiap malam seorang. Habis Mami k luw at 11 kalau tidak ditunggui. nanti Deni per* lu apa-apa atau infusnya sudah kosong. tak ada yang tahu!"
Triska mengangguk sctuju Oom Andi dan Tante Beti serta Tante Cori adalah kakak-kakak kan-dung Nyonya Desi. Menu nit Kris tadi pagi. mereka semua sudah menjenguk semalam. Tapi karena tempat tinggal mereka jauh-jauh. han ini belum datang lagi. Mungkin besok.
Malamnya, setelah Marco terlelap, Triska me-nyalakan lilin dan membaca doa novena yang di-berikan oleh Sumi tadi pagi. Baru lima menit dta berdoa. gambaran Deni yang terbujur tak berdaya. muncul dalam ingatannya, dan air mata pun tak dapat dibendung lagi. Triska mencmskan doanya so men tar a air mata bercucuran membasahi pipinya. Penglihatannya terasa kabur, sebentar-sebentar dia hams mengejap agar dapat membaca lebih jelas.
Kalau kau sembuh, aku akan kembali padamu. Den! janjinya. Tapi jauh di lubuk hatinya terdapat setitik kekhavvatiran bahwa semuanya sudah ter-lambat.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. "Tris, kau sudah tidur?" terdengar suara ibunya. "Kalau belum, man turun sebentar, kita berdoa
Rosario."
Triska cepat-cepat membersit hidungnya agar suaranya jangan ketnhuan parau. Biasanya ibunya berdoa dengan ayahnya dalam kamar mereka
seperti dia dengan Deni, tapi sekali ini dia di -ajak. pasti karena dcanya untuk "Ya Mam." sahutnya perlahan
Triska kini hidup bagaikan zombie yang tak dapat berpikir dan tidak punya kemauan apa-apa. Bagaikan robot yang sudah disetel. sctiap pagi di-ajaknya Marco berdoa pagi sambil mendoakan Deni. "Kita doakan Papi juga, ya." Anak itu mengangguk, dengan patuh membiarkan ibunya menga-tupkan kedua tangannya yang mungil dan menga-tupkan kelopak matanya melihat con ton ibunya. Maiamnya, sebelum dia tidur, Marco diajak ibunya berdoa novena. "Marco, Papi sakit, kita harus mendoakannya. Marco mau mendoakan Papi?* Anak itu mengangguk. Triska terharu melihat pu-tranya begitu khusyuk mengikuti doa. Walaupun belum bisa mengucapkannya, dia seakan mengerti maknanya dan selalu anteng tak bergerak sampai doa selesai.
Selain berdoa, Triska juga menengok Deni setup hari. Dia kini datang lebih pagi ke rumah sakit agar dapat melihat Deni sebentar. Tiap pagi dicukurnya kumis yang baru rumbuh, dibersihkan nya sendiri wajah dan tubuhnya, lalu dtputarkan-aya kaset Ave Maria yang difaruhnya di bawah
hantal, mengalun halus. cuma untuk Deni. sehing-,,a orang lain belum tentu mendengarnya bila tidak sengaja menghentngkan cipta.
Kemudian dia pergi ke tempat dinasnya. ter-kadang beramprokan dengan Boa Rahwana ysflg pasti meuanyakan bagaimana pcrkembangan Dokter Melnik. Boa yang terkenaj galak itu lemyata bisa lembut, bahkan bersikap kehap.1k.1n terhadap-nya. Yang akan menggantikannya ke Calcutta sudah ditunjuk. yaitu Dokter Makalus sendiri! Triska hampir. tertawa melihat dokter itu nyaris mencak-mencak kesenangan. "Nah. kan ternyata ada un-tungnya juga saya mengundurkan diri. Dok."
Setelah jam dinas berakhir atau bila tugasnya sudah selesai, Triska pasti akan kelihatan dalam kamar Deni lagi, menungguinya sambil mengajak-nya bercakap-cakap dan memutarkan kaset lagu lagu. Dia tak pernah lupa melapor tenia ng Marco sampai ke detail detailnya Selalu dibisikkannya ke telinga Deni bahwa Marco semalam dan pagi itu telah mendoakannya, dan bahwa anak itu menanti-kan kunjungannya.
Bila penyelidikan para dokter di Amerika ternyata benar, berarti Dent bisa menangkap apa yang dibisikkannya. Setnogal
Demikianlah waktu merayap pergi, jam demt jam, hari dcrni hari. Triska keaal sekali, dia merasa begitu tak berdaya. Aku sudah hampir men-dapat brevet spesialis. tapi yang dapat kulakukan sekarang hanya berdoa, berdoa, berdoa! Aku cuma bisa mengawasi Deni pelan-pclan diserat pergi
maut, dan aku terpaksa membiarkan hal itu L aku sama sekali tak berdaya mencegah! masih begitu muda! Dia adalah bin tang pela-«kc(Jk bahkao lulus dari FK dengan cum namun kini otaknya yang cemerlang itu tersia-sia, dan semuanya gara-gara istnnya— terlahi tmggi harga dirinya. sehingga merasa jgung ketika tahu bahwa dia sebenamya di-i cuma sebagai lumbal. Kesombonganku se-i menceiakakan bukan saja Deni, tapi Marco Buah hatiku akan kefailangaa ayah... Bila celak dia tahu bahwa aku penyebab malapetaka ini, apakah dia masih akan mencintai serta meng-fiormati ibunya?
Tapi bukan itu masaiah yang utama. Soal diriku akan kehiiangan cinta anakku. tidak terlalu pen-ting. Aku re la hidup merana asal Deni bisa sem-buh. Aku bahkan lebih rela dia kembali pada Odi daripada mendenta begini, dan kemudian toh hams pergi juga meninggalkan kami semua....
Triska dengan khusyuk berdoa setiap pagi dan malam mengajak Marco, serta Rosario bersama orangtuanya. Begitu juga Sumi dan Mirsa. Kedua-nya menjenguk Deni setiap hari, seperti Erik, Kris, dan yang lain-lain. Terkadang mereka berdoa Rosario bersama di ruang tunggu bila kebetulan sedang tak ada orang. Sepupu-sepupu Deni juga tak pemah absen bergilir menungguinya tiap malam Cuma Tono dan adiknya, Nila, yang tidak kelihat an muncul lagi. Tapi ibu mereka, Tante Leila, per nah menjenguk bersama Pendi, anak bungsunya.
226
Tante Kma—adUt Nyonya Deal yang punya kebun pisang juga sudah tiga kali datang. Dent adalah anak perrnandiannya. dia sendiri tidak punya anak laki-iaki. Jadi bisa dibayangkan betapa say ungnyn pada Deni. Air matanya bercucuran ketika dia menjenguk untuk pertama kali, sehingga Triska merasa takut, jangan-jangan dia akan dtsesali sebagai biang keladi musibah itu. Ternyata Tante Ema malahan memeluknya dengan erat dan kembali tersedu-sedu di bahunya.
Triska merasa trenyuh sekali melihat kesusahan orang-orang di sekitarnya. Dan semua itu secara tak langsung adalah akibat dari perpisahannya dengan Dent! Oh, Tuhan, apa pun akan kulakukan scandainya keadaan ini bisa diubah! Tapi waktu tak bisa dibalik lagi, keadaan pun tak bisa diper-baiki, bahkan tambah parah.
Triska sudah tak bisa ingat lagi hari kebcrapa itu. Setiap hari rasanya sama, tidak menjanjikan harapan. Apakah itu Senin, Selasa, atau Rabu, sudah tak dipedulikannya. Apakah itu hari kedua. ketiga, atau kebcrapa. baginya tidak punya arti apa-apa. Yang panting hanyalah apa yang dikatakan Joko.
Ketika dia datang pagi-pagi menjenguk, Joko menyongsongnya seakan memang sudah menunggu. Tanpa basa-basi lagi dia langsung menggeleng dengan btbtr terkanciug. Triska merasa seakan jan-tungnya akan copot seketika. Matanya membelalak cemas. "Dia...?" bisiknya parau.
Joko kembali menggeleng. "Bukan itu. Ini Kernig dan BrudzinskiY*
Tup!" Joko mengangguk dengan bibir kembali
Joko mengangkat bahu. "Mungkin. Vang jelas. ini perdarahan subi:n:ch».cid. LP-nya masih roe-ngandung darah. ada kaku kuduk. dia me ring is kalau diperiksa. rupanya kesakitan. Dia juga per-nah kejang kemann sore setelah kau pulang. dan
Joko mengheia napas. menggeleng, dan bibirnya terkancing lebih rapat seperti orang takut bicara seakan itu menyangkut rahasia negara. Ketika di-desak oleh Triska akhimya dia menguik juga,
Kan an: Berarti kemungkinan bcaar Deni tak bisa bicara lagi! Dan seluruh kanernya akan mus-nah! Oh. Tuhan:
"Kenapa kaubilang, belum pasti aneurysmal"
"Karena kami nggak bisa melakukan angiography" Mk^,
"Kenapa nggak?"
"Sebab orangtua Deni keberatan anaknya di-OT. Nah, kalau memang nggak akan di-buka. boat apa angiography? Itu kan cukup berbahaya, banyak side-effect-nyz.''
"Jadi akan dibiarkan begitu saja?"
Joko mengangkat bahu sambil mengheia napas "Pak Melnik ingin membawanya ke luar negen. tapi Dokter Omar tak berani menjamin keaelamat-
annya dalam perjalanan"
Mungkin ada untungnya jadi zombie, pikir Tns-ka. Tak usah berpiktr, dan perasaan pun jadi tum-pul. Tapi toh dia tak dapat melepaskan diri dari harapan. Setiap pagi dia datang bcrharap akan diberi harapan, apa saja, sekecil apa pun. Namun setiap hari dia pulang dengan putus asa. Harapan tidak kelihat an. seakan sudah Ian ke balik a wan. Keadaan Deni tidak menunjukkan perubahan. Makin hari ka-kinya terasa makin berat dilangkahkan ke sana untuk menjenguknya. Hatinya selalu ccmas. jangan jangan hari iniiah dia akan diberi tahu bahwa Deni sudah...
Dengan ptkiran kacau dan hati yang hitam pe-kat, pada suatu pagi Triska bewek lagi sebelum pergi dinas, membawakan kaset baru yang kemann diambilnya dari kolekst Deni. Joko tidak dihhat nya, berarti tak ada perkembangan drastis. Hatinya sediktt lege. Kalau perasaan itu boleh dianggap vcbagat kelegaan. Dia sudah kurang peka men> bedakan nuansa-nuansa emosi. Semuanya berwarna kelabu, cjaannya m-u-s-i-r>a»h.
Sepupu Dent yang soma lam kena giliran, juga tak kelihatan, rupanya sudah pulang. Pagi ini dia memang teriambat sepuluh menit. Marco sakit peril! dan tidak dapat ditinggalkannya sampai mulas-nya reda.
Dengan tangan kiri menenteng tas kerja, dipu-
tamya gerendel dengan tangan kanan dan dido rongnya pintu. wanna di dalam kamar mcnoieh dan tampak berjengit melihatnya. Triska juga tidak kurang kagetnya, tapi bukan karena orang itu adalah Odi. Dia tidak sempat memikirkan permusuhan antara mereka. sebab matanya sudah menangkap apa yang tengah dilakukan oleh Odi dan mengertt maksudnya.
Odi sedang me me gang slang in fits, dan pasti bukan karena cairannya macet! Odi tidak mengerti apa-apa, jadi bila ada kelainan. dia pasti akan mencari perawat...
"Jangan!" Triska mencegah dengan uJapan tangan.
Odi tertegun sesaat. diam tak bergerak.
"Jangan kaucabut infus itu! Dan... astaga! Ma-sukkan kembali kateter itu dalam hidungnya! Itu untuk membennya zat asam! Kau akan membu-nuhnya kalau..."
"Apa bedanya?" Odi memotong ucapannya sambil tersenyum sinis. "Toh dia akan mati! Kalau nggak hari ini, mungkin besok! Kan lebih baik kita bantu supaya dia nggak usah menderita lebih lama lagi!"
"Odi, kau gila! Deni belum tentu mati! Aku masih punya harapan, dia akan sembuh! Yang ingin kaulakukan ini namanya pembunuhan! Deni takkan mati!"
"Tapi harus!"
"Oh, kau jadi nek at karena sekarang kau sudah
tahu, Deni sebenarnya nggak mencintaimu, begitu? Kau sadar sekarang, Deni mencintaiku!"
"Ah, percuma! Dia nggak bakal ban gun lagi untuk mencintaimu!" Odi menyeringai puas. "Sevang sekali, bukan? Deni pasti akan mati, aku berani taruhan! Dia memang harus mati!"
Triska tiba-tiba sadar, taktiknya salah. Dia ber-usaha membujuk dengan cara lain. Kemarahan dalam suaranya disingkirkannya dengan paksa dan digantinya dengan nada penuh pengertian.
"Aku bisa mengerti kau penasaran, aku juga nggak mau membela Deni. Dalam hal ini dia memang bersalah. Dia seharusnya kembali padamu. Karena itu dengan sukarela aku bercerai darinya. Aku bukan me ru pak an rintangan lagi bagimu, Odi. Lepaskan slang itu."
"Nggak ada gunanya perceraian itu kalau dia tetap nggak mau kembali padaku! Dan kalau aku nggak bisa mendapatkannya lagi, lebih baik dia mati! Supaya nggak bisa balik padamu! Dengan begitu baru sakit hatiku terbalas!"
"Jangan begitu! Kalau dia bisa sembuh, pasti masih ada harapan bagimu. Aku bersedia memban-tu membujuknya supaya kembali padamu. Nggak perlu merasa sakit hati!"
"Oh, yang sakit hati bukan cuma aku) Sakit hatiku nggak sebcrapa dibandtng dengan sakit hati Nila dan saudara-saudaranyar dengus Odi.
Tekkk! Triska merasa seakan ada senar dalam hatinya yang putus. Jadi mereka memang berkom-plot!
"Kalian mencoba membunuhnya? Apa yang kalian harapkan? Supaya..."
"Dia sudah benanji akan kembali padaku! Dia hams membayar untuk pengkhianatannya terhadap-ku!" desis Odi memotong bicaranya.
Triska maju selangkah dari pintu, tapi Odi se-gera membentaknya agar jangan mendekat.
Triska menjatuhkan tas kulitnya ke lantai tanpa melepaskan tatapannya seakan akan disihirnya Odi
"Aku bisa mengerti sakit hatimu, tapi aku nggak habis pilar, kenapa kau harus ngotot menuntutnya supaya kembali padamu? Kau begini cantik, yang tertank padamu pasti banyak! Kenapa..."
"Tapi yang sekaya Deni nggak ada!" potongnya dengan suara berang dan gigi gemertak.
Oh, begitu! Akhunya kaubuka juga kedokmu! Kau sebenamya sama sekali tidak mencintainya! Mungkin Deni sudah tahu, sehingga dia emoh kembali padamu!
Triska menaikkan alisnya dua senti. "Hm. Ku-dengar juga akhimya pengakuanmu! Kalau kau-sangka aku kaget, kau keliru besar! Aku sudah tahu rencanamu dengan Nila, dan mungkin juga dengan Tono! Kalian mau menyingkirkan Deni, bukan?! Setelah rencanamu untuk menggaetnya nggak berhasil. Semula kau ingin agar Nila mem-bujuk Deni supaya balik padamu, dan bila berhasil kau akan membujuk Deni agar memberikan seba-gian warisannya pada Nila. Tapi ketika ternyata rencana itu pasti gagal, kalian ganti taktik. Aku
232
nggak akan hcran kalau nanti terbukti. kecelakaan itu akibat akal bulus kalian!"
"Kau nggak bakal bisa membuktikan semua yang kaukatakan!" Odi mencibir puas. "Dan meru-pakan alasan kuat untuk membungkam Deni se-lama-lamanya, bukan?" sambungnya dengan seri-ngai mengerikan sampai Triska terenyak, surut selangkah ke belakang.
"Coba kaupikir, apa yang akan terjadi bila aku sekarang berteriak? Mereka akan mendapatimu sedang memegang karet infus, sedangkan karet ok-sigen sudah terlepas... siapa yang akan mereka percayai? Kau atau aku? Ingat apa kata Tono. Kau nggak dianggap di sini, sebab ini bukan daerah tentorialmu! Akulah yang akan mereka percayai, dan akan kutuduh kau mencoba menghabiskan nyawa orang lain!"
Odi tertegun mendengar ucapan Triska. Wajah-nya yang cantik tampak berubah mcnjadi pucat, matanya membelalak bingung bercampur ngeri. Triska menggunakan kesempatan itu untuk maju selangkah-selangkah. Odi bagaikan sudah tersihir jadi batu, tak bergerak dan tidak menghalangi.
Triska tidak menghentikan bujukannya yang me-ngandung ancaman juga.
"Aku bersedia mcmbantumu, Odi. Lepaskan karet itu! Aku berjanji nggak akan bilang apa-apa . mengenai tnsiden ini. Biarkan aku memasang lagi slang oksigen itu."
Triska menghampiri kepala ranjang sctengah mengendap-endap seakan takut membangunkan
Odi dm temrng yang menyihtrnya. Mulutnya terus-menerus membujuk sekaligus mengancam tapi dengan halus, suaranya pun dibuatnya lembut menenteramkan. Tangan kanannya kini menjang-kau slang berwama htjau bemng itu yang tergan tung di sebelah atas-belakang tempat tidur.
'Lepaskan karet infus itu, Odi. Tinggaikan kamar ini," bujuknya.
Tiba-tiba Triska mendengar defit pintu. Semua nya berlangsung dalam sekejap mata, sehingga dia tak tahu oersis apa yang sebenarnva terjadi atau
-nenoleh, sudah dide ! Susterf Cepat! Dok-lcar saya!"
tak menoleh, Slang di isadannya. Dilihatnya a yang belum pernah lerdiri mematung me-megangi daun pintu, air mukanya menunjukkan rasa heran yang tak terkira sampat mulutnya tcr-buka lebar dan matanya melotot ke arah mereka.
Odi rupanya tidak membenkan kesempatan ber-pikir pada siapa pun. sebab dia mencerocos terns. "Dia telah merampas pacar saya!" serunya menu-ding Triska dengan penuh kebencian "Sekarang bekas suaminya itu mau balik sama saya, tapi dia nggak rela, jadi mau dibunuhnya! Untung saya datang, jadi ketahuan. Lihat, karet zat asam itu sudah dicabutnya! Dan infus ini tadi distop! Untung Suster kebetulan masuk ke sini! Kalau nggak..."
terTns
Odi menoleh, mrmbelakangi perawat dan mendelik dengan garangnya sehingga Triska tanpa sadar bergidik Pcrempuan mi kurang ajar sekali! Oh!
Triska begihi marahnya mendengar tuduhan itu sehingga dia cepat-cepat angkat kaki. Lebih lama sedetik lagi mungkin akan ditampornya Odi atau dijenggutnya rambutnya atau dilakukannya sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Untuk menghindar kannya dari perbuatan yang kelak akan disesali-nya. Triska langsung beranjak dan tempatnya ber-dtri.
"Mbak. tolong pasien segera diberi oksigen lagi." katanya seraya melangkah keluar. Diangk.it nya tasnya dari iantai, dan dibukanya ptntu. Dia menoleh dan menatap Odi dengan tajam. Odi membalas dengan air muka sinis dan puas. Triska mengalih-kan pandangannya dan menatap perawat. "Mbak. tolong cek infus. dan tolong JANGAN UNOCAL-KAN PASIEN SENDIRIANI Saya akan minta Dokter Joko agar mclarang pengunjung masuk ke kamar."
Perawat mengangguk. Walaupun mereka tidak saling kenal, dia tahu dengan melihat tas kerja serta dandanannya, juga ucapan Odi banisan. bahwa Triska adalah seorang dokter. "Ya, Dok," sa-hutnya horrnat.
Triska menatap Odi sekali lagi. "Kalau terjadi apa-apa dengannya, KAU yang akan kuadukan ke polisi!" ancamnya walau dengan suara halus "Kabul kau ingin dtciduk polisi, teruskan rencanamu 1" Triska menggerakkan kepala sehingga buntut
betiba di kamarnya. dta langsung memutar no-mor abangnya Untung Kris ada di tempat. "Kris, aku perlu ketemu. Ada hal penting yang
•Ya."
"Datangiah ke kantm jam sebelas nanti. Ada sesuatu yang juga perlu kukatakan padamu!"
Setelah meneiepon Kris, diputarnya nomor Joko. Diceritakannya dengan singkat apa yang telah terjadi dan dimmtanya agar Deni ditunggui tents atau para pengunjung yang dilarang masuk kecuali ibu
serta ayahnya. Joko kedengaran terkejut. dan se-gera berjanji akan mengambil tindakan dan juga melaporkannya ke atasan.
Mereka ketemu di kantin sekalian makan bersama. Martina nadir juga walau cuma kebetulan. sebab tiap siang dia memang senang jajan ke sana.
"Gimana perkembangan Deni?" tanya Martina.
Triska mengheia napas dan menggeleng. "Tetap sama. Mungkin ada perdarahan subarachnoid."
"Cfluw-nyaT
"Entahlah. Menu rut Joko, ayah Deni nggak mau dia di-OP, jadi mereka juga nggak bisa melakukan tes apa-apa. Jadi kita nggak tahu apa betul ada aneurysma atau nggak."
-Yang jelas, tak ada tumor atau infeksi," tukas
Kris. "Jadi. ya kemungkinan besar perdarahan itu disebabk.m pembuluh darah yang melebar. dan karena adanya trauma di kepala, lalu pecah. Tapi kau kemari karena ada yang perlu kaukatakan, bukan? Ayo. k at akan sekarang, sebab aku harus cepat balik ke sal."
Triska menceritakan apa yang dialamtnya tadi pagi di kamar Deni. Diceritakannya semua yang pemah didengarnya di Depok. ketika dia sedang dalam WC tamu.
Air muka Kris bembah jadi serius mendengar penuturan adiknya. Berulang-ulang dia mengangguk sementara kedua tangannya dikatupkan dan kedua tclunjuknya diletakkannya di atas bibir.
Selang beberapa saat kedengaran dia mengheia napas, lalu menoleh pada adiknya. "Kita harus menjaga Marco sebaik-baiknya. Anak itu dalam bahayaP
Triska akan tertawa mendengamya. "Kris! Aku bam tahu kau begitu penakutl Marco kan masih bayi, nggak tahu apa-apa. kenapa mereka mau rnencclakakannya?"
Kris rupanya tidak menganggap ucapan Triska itu lucu. Wajahnya tetap serius ketika dia me nyambung, "Ini urusan ratusan juta dolarl"
"Apa?!" Triska nyaris terloncat dari di'duknya.
"Orang bisa men jadi pembunuh untuk ratusan ribu dolar! Apaiagi ratusan juta!"
"Dari mana kau tahu?"
"Aku sudah bicara dengan Oom Ague. Warisan itu jumlahnya sekitar empat. jangan salah, e-m-p-a-t.
benua. serta fcapal-kapal tangfci minyak di Panama. Asia, dan Afrika. koleksi perhiasan, lukisan. dan
"Wow!" Martina mendesah sambil menjulurkan lidah. "Nggak sangka. ya. oom tua yang kelihatan loyo begitu hananya bergudang-gudang!"
Triska juga takjub. Rasanya setiap kali mendengar. jumlahnya membengkak terus, dari cuma beberapa miliar ruptah menjadi 400 juta dolar!
"Semula cuma Deni haiangan satu-satunya bagi mereka untuk menguasai semua itu. Tapi sekarang sudah ada Marco. Seandainya Deni berhasil di-smgkirkan. Marco-lah yang akan jadi penghalang
bam Jadi, kau mengerti sendiri____" Kris membuka
iipatan tangannya, menatap Triska yang kelihatan menjadi pucat "Sekarang urusannya malah terka-tung-katung, sebab Tono dan adik-adtknya meng-gugat testamen itu. Menurut Oom Agus, Tono rapanya sudah tahu. selam uang kontan itu ada juga harta karun ratusan juta dolarl"
"Aku nggak ngerti, kenapa harta itu nggak dibagi rata saja, sih? Toh dibagi empat juga nggak bakal habis tiga turunan Dengan begitu kan semuanya jadi senang, nggak ada yang sakit hati," ujar Triska kesal.
"Oom Agus juga sama pendapatnya denganmu. Dia ingin membagi rata, tapi nggak bisa."
"Kenapa?" tanya Martina heran.
"Dia takut durhaka pada orangtuanya! Selain itu juga tidak bisa,"
"Soatnya, ayah Oom Agus. dan kemudian ibunya, sesaat sebelum meninggal mengulangi lagi pesan yang sudah diulang-ulang ratusan kali dan dimasukkan dalam testamen agar harta itu jangan sampai ikut dinikmati oleh adik Oom Agus. Tante Leila dan suaminya, Karim Saleh, Sarjana Hu-kum.
"Tante Leila sudah nggak diakui sebagai anak karena kawin dengan Oom Saleh yang dituduh menyebabkan kematian anak laki-laki mereka. adik Oom Agus dan abang Tante Leila. Bahkan ketiga anak Tante Leila, semula sama sekali tak mau diberi sepeser pun, tapi berk at campur tangan Oom Agus, akhirnya kebagian juga sedikit. Ya. walau dibilang sedikit, jumlahnya masih 150 juta rupiah lebih seorang!"
"Dan mereka bukannya bertenma kasih tapi malah menggugat!" Martina geleng-geleng kepala.
"Duit kan bisa bikin orang mata gelap! Coba pikir, apa kita sendiri juga takkan menggugat pa-man kita seandainya dia nggak mau membagi harta warisan?" ujar Kris menatap keduanya bergan-tian.
Martina mendccak. "Ah, kalau aku punya sera-mi juta lebih!"
"Nggak usah punya ilham yang bukan bukan! Makin banyak duit, makin banyak juga pusmgnya,
tahu!" tegur Kris. "Apa mereka akan berhasil dalam gugatan itu?"
Km menggeleng. "Kakek Deni rupanya sudah soduga mereka pasti akan menggugat, karena itu nua hananya di luar negeri- yang di dalam pen cuma sepuluh persen—sudah didaftarkannya s nama Deni," ujar Kns membuat kedua pen-
Harta di dalam negen. sih, tak sebempa. cuma uhan juta dolar. nggak sampai ratusan juta. ya cm hotel, pompa bens in, supermarket, real es-. gitu-gituanlah. Dan seandainya Deni kawin gan Odi Bobadila semua harta di dalam dan negeri akan jatuh ke badan amal. Oom Agus an bisa menoiong anaknya, sebab dia tenkat i perjanjian yang disahkan notaris, menyatakan
>mi di depan notans sudah tidak lagi mengakui "liih, ganas!" ujar Martina geleng-geleng kepala
'Apa Tono tahu semua itu atas nama Deni?" tanya Triska.
"Mungkin belum, tapi akan segera tahu. Oom Agus bilang. silakan dia mengajukan gugatan ke pengadilan di Amerika, Panama. Bahama. Eropa, pendeknya selumh dunia! Biar sampai nidin pun Tono takkan bisa menang! Kakek Deni sudah mengatur sampai mendetail. Misalnya, untuk men-jaga kemungkinan Deni, sebagai warga negara Indonesia, tidak diperkenankan rnerniliki harta bend a
serta usaha usaha di luar no gen. semua real rstate. pabrik. saham. dan l.im-lam itu rcsmmya dikuasai atau dikeloU oleh sehuah yayasan—trust—yang dikep.il.ii oleh anak tettua dari abangnya kakek IViu —sepupii Oom Agus—yang warga negara Amerika. Untuk mencegah agar sepupu itu takkan mencaplok semuanya, dia dibclikan rumah sekian pufuh juta dolar serta diberi bagian dua puluh persen dari aemua pabnk, sumur minyak Texas, peternakan kalkun, dan lain-lain. Pendeknya, sampai ki.im.it pun Tono takkan mungkin menyentuh harta kakeknya! Paling-paling yang bisa digugat cuma uang kontan dan harta tak bergerak di dalam negeri yang sebagian belum alas nama Deni.
"Menunit Oom Agus, tangannya sendiri 'diikat* supaya jangan sampai jatuh kasihan pada Tante Leila—ayahnya tahu, dia say an g sama adiknya— lalu nanti melanggar pesan orangtua dan membagi rata warisan itu.
"Pendeknya, kalau aku jadi Tono, pasti aku akan terima saja jumiah yang ditawarkan. dan tutup mulut. Menggugat cuma berarti buang duit, sebab Oom Agus pasti punya pengacara yang jem-pot juga dan dia takkan menyerah. Habis, salah siapa bapak mereka dulu pcngccut melankan diri. membiarkan kawan yang nggak bersalah dikeroyok gara-gara ulahnya mere but cewek orang!
"Aku tidak menyalnhkan kakek Deni. Kalau aku di poaisinya, aku juga akan aakit hati settnggi Ounung Everest! Oom Jon yang meninggal itu jenius—mungkin Deal ketularan gen yang sama—
I Atuenka. nya, kakek ibnk kapal
tisah orang-orang vang bergelirnang uang bagai-
'Kris, kurasa Dai memang sen saja mau me-rka singktrkan."
"Tapi kita nggak punya bukti. Tris." krluh Km.
"Apa sih yang sebenarnya terjadi ban Minggu mT tanya Martina tapi tidak ditujukan pada siapa mn. seakan dia cuma sedang berpikir dengan wa-a keras.
Tnska tnengangkat bahu. "Ibunya pernah bilang jadaku, pagi itu rencananya Deni nam ke Depok. rapi rupanya Tante Leila mendadak sakit dan dm iisuruh datang. Jadi dia telepon ibunya. mengaia can tibanya nanti akan tertunda dne-tigB jam. n> >ab dia mau menengok Tante Leila duhi. Setelah tu. ibunya nggak tahu lagi apa yang terjadi. Di-lunggu-tunggunya Deni sampai sore, nggak juga muncul. Akhirnya. malam hari lewat jam tujuh ada telepon dari Tono. dia diminta segera ke rumah sakit. Selebihnya kita sudah tahu."
"Ya. sama dengan apa yang dikatakan Oom Agus padaku. Kita takkan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Oom Agus sudah mendapat
242
Ur**an dari polisi. katanya mereka mrnerroikan
mobil Deni rernnya blong!"
"Nggak mungkin!" 1'nska memboniah keras 'Aku tabu Deni orangnyn kayak apa! Nggak mungkin dia begitu tetedor! Dia aetata agecek mobilnya—dan mobiIku -dengan teratur. Bahkan ben kurang angin pun baginya sudah merupakan rn.is.il ah Apalagi seel rem yang vangai petting' Pasti ini ulah Tono!"
"Yah, tapi kita tak punya bukti. Pnnses" gu-naun Kris menarik napas kesai.
"Mungkin cuma Deni yang dapat menccntakan kejadian sebenarnya." tukas Martina dengan pelan
Dan itu yang membuatku putus aaal fdkir Triska pedih. Mungkin kita takkan pernah tahu! Mungkin orang-orang itu takkan pernah bisa diseret ke peng-adiIan' Apakah kau harus mati dengan prnasaran. Den?
Martina mcngusulkan agar Marco dipmdahkan ke rumahnya saja. "Sepupu Deni kan belum pernah ke sana, nggak ada yang tahu alamat kami," ojeraya.
Tapi negera dibantah oleh Kris. "Kauri kir mereka tulak punya afcat untuk moncarinva? Ini ma salah ratusan juta dotar. Bukannya atkadar cart anjing hilang. Kalau kita berdua dinas. anak itu dengan siapa di rumah? Benlun dengan Boot, ditc-mani seorang pembantu? Tidak! Jauh lebih baik Mar dia di rumah Papa saja. Mama kan bisa ting-gal di rumah terus menjaganya."
Dernikianlah Marco tetap di ramah neneknya, dan Triska menjelaskan seluruh situasi pada ibunya agar dia mengerti dan selalu waspada menjaga cucunya. Tapi perisrjwa dia mcmergoki Odi di kamar Deni tidak disebutnya.
"Jangan khawatir. Tris." ibunya rneyakinkannya. "Mama takkan membiarkan Marco bilang dari pandangan Mama!"
Triska masih dapat pergi ketja dengan tenang, sebab dia mempercayai ibunya dan yakin takkan terjadi apa-apa dengan Marco. Dokter Justin juga sudah memberitahu Pak Melnik tentang semua ke-khawatiraruiva mengenai Marco, dan Pak Melnik berjanji akan memberikan peringatan pada Karim Saleh, SH agar mengendalikan anak-anaknya, jangan sampai melakukan tindak kriminal, sebab dia pasti akan menyeret mereka ke depan hukum.
Sayang, dalam problem yang menyangkut Deni, hatinya tidak setenang itu. Sebagai dokter, dia tahu, bagi Deni sudah tak tersisa harapan. Namun sebagai istri dan ibu, terutama sebagai manusia yang per cay a pada Tuhan, dia tidak mau melepas-kan harapannya bahwa suatu hari Deni toh akan sembuh. Karena itu dia tetap setia meneruskan doa novena itu walau setiap malam hatinya serasa mau menyerah dan tekadnya sudah makin melemah.
Seakan dapat menduga apa yang tengah berke-camuk dalam diri temannya, Sumi meneleponnya setiap malam, menanyakan perkembangan Deni, serta menguatkan tekadnya agar terus, terus, terus berdoa novena. Sumi minta maaf, sekarang tak dapat tiap
hari menjenguk Deni sebab Linus tak dapat ditinggal lama-lama, sedangkan perjalanan pulang-pergi dari rumahnya ke rumah sakit pasti makan waktu paling sedikit dua jam akibat macetnya lalu lintas.
Akhirnya hari kesembilan pun tiba. Triska merasa lega seakan sudah lulus dari sebuah ujian yang mahaberat. Novena itu berhasil diselesaikan-nya. Hatinya gembira bercampur cemas. Apakah Santo Antonius akan membantunya? Apakah Tuhan akan mendengarkan permintaannya?
Hari kesembilan pun sudah berialu. Triska datang menjenguk, mencukur kumis, membersihkan badan, memutarkan kaset Iagu-lagu kesayangan mereka berdua, terutama Ave Maria yang dimain-kannya pada anniversary mereka yang kedua, me-laporkan semua ulah Marco yang lucu mengge-maskan, mengajaknya bermonolog, pendeknya melakukan semua yang dapat dilakukannya. Namun Deni tetap pulas, matanya tetap mengatup, bulu mata yang lentik itu tak mau menggelepar... Ah, Den, aku kangen akan matamu yang berbinar je-naka dan senang menggodaku sampai aku kewa-lahan. Tertawalah, Den, aku ingin melihat matamu berubah jadi bulan sabit, aku ingin menghitung cakar-cakar ayam di sudut matamu.
Tapi Deni tidak meladeni bisikannya. Semua kata-katanya Icnyap di udara, tidak meninggalkan kesan. Deni terus tidur....
Triska menjadi takut. Sikapnya sudah seperti orang gila yang tidak mau menerima akai sehat lagi. Pendidikan kedokterannya seiama bertahun-
tahun tidak diacuhkannya lagi. Dia menjadi obsesif dalam harapannya bahwa Deni harus sembuh. Dia tahu. pikiran itu tak masuk akal. namun dia seakan tak berdaya mengenyahkannya dari kepalanya.
Akhirnya untuk mencegah dirinya benar-benar menjadi gila, dipaksanya akal sehatnya mengambil alih. Dia berhenti menghitung hari. Semua kalen-der dan buku agenda dalam kamar disimpannya ke dalam laci agar dia tak usah tahu lagi hari kebe-rapa sekarang...
Triska kini hidup dalan penantian. Me nanti. me-nanti, menanti... Setiap kali telepon berdering hatinya melonjak ketakutan, dan menjadi lega kembali bila ternyata itu bukan untuknya.
Pada suatu malam dia tengah membaca jurnal sambil berbaring di ranjang. Dia tahu, bukan begitu cara yang efektif untuk konsentrasi, sebab pasti dia akan ketiduran, tapi memang minatnya tidak ada. Hari-hari belakangan ini dirinya tidak mempunyai minat melakukan apa-apa. Satu-satu-nya yang masih diminatinya adalah bermain dengan anaknya serta mengasuhnya. Bahkan brevet yang dulu begitu diidam-idamkannya, kini sama sekali tidak dipikirkannya, dia masa bodoh saja apakah akan menerimanya tahun ini atau lima tahun lagi. Jurnal ini pun sebenarnya ingin dilem-parkannya ke lantai, tapi besok ada seminar kecil, mereka akan membicarakan SID, sedikit-banyak dia harus mengerti tentang topik itu agar nanti ja-
'Sudden Infant Death = Kemafian Bayi Mendadak
ngan melongo seperti keledai dungu. Jadi terpaksa dibacanya jurnal itu sedikit.
Tuk... tuk... tuk... Mula-mula tidak ditangkapnya bunyi itu, tapi mendadak dia sadar, pintunya dike-tuk. Lalu terdengar suara ibunya, pelan sebab takut membangunkan Marco. "Tris, kau sudah tidur? Ada telepon untukmu."
Matanya yang sudah mengantuk tiba-tiba jadi membelalak lagi, dadanya terasa nyeri, jantungnya seakan lari berpacu tanpa kendali, bibirny a mendadak terasa kering, tangan dan kakinya menjadi dingin. Ketika dia ingin turun dari tempat tidur, kedua lututnya serentak gemetar sehingga dia hampir tersungkur ke lantai. Cepat-cepat disambarnya pinggiran ranjang, lalu ditenangkannya debur jantungnya. Dipaksanya menjawab ibunya, "Ya, Mam, saya akan turun."
Seakan dalam mimpi, dikenakannya jas kamar menutupi baju tidumya. Rambutnya yang terurai dilemparnya ke punggung, dia sudah tidak ingat untuk menyisirnya. Kemudian diseretnya kakinya keluar kamar. Langkahnya terasa berat dan pelan sekali, persis dalam mimpi. Ketika tiba di bawah baru dia sadar, kakinya telanjang, dan lantai terasa dingin. Bella yang mengikutinya turun, kini mere-bahkan diri dekat kakinya, seakan mau memberi bantuan semangat. "Dari siapa, Mam?" tanyanya setengah berbisik. "Dari Ibu Melnik," sahut ayahnya. Kedua orang-tuanya duduk berdampingan di sofa, seakan mau menjaganya.
"Apa katanya?" Suaranya sedikit gemetar. Digi-gitnya bibir untuk menahan emosi.
"Dia nggak mau bilang." jawab ibunya. "Katanya, dia harus memberitahu kau lebih dulu."
Ulu hatinya mendadak terasa nyeri, tangan-kaki-nya sudah sedingin es. dia tidak bisa merasakan di mana jari-jarinya yang tengah mencengkeram tang-kai telepon.
Inilah SAATNYA! Akhirnya kita berpisah juga, Den! Untuk selamanya! Tidak! Bukan untuk sela-manya! Kita akan ketemu lagi di hadapan Tuhan, di alam abadi! Nantikan aku, Den! Setiap malam akan kukinmkan bisikan cintaku lewat bintang-bin-tang di langit lazuardi. Tapi... kenapa kita harus berpisah sepagi ini, Den? Kau tidak kasihan pada Marco? Den, ini kehendak Tuhan. Aku relakan, Den. Selamat jalan! Aku akan tetap setia....
Diangkatnya tangkai pesawat ke telinganya. Suaranya seakan tak kedengaran ketika dia ber-bisik, "Halo..."
"Tris!" Suara Ibu Desi melengking tinggi, rupanya dia habis atau masih sedang menangis, sebab terdengar berusaha menahan turunnya mucus dari hidung.
Triska merasakan dadanya nyeri bukan main seakan dijepit dengan besi penyiksa dari Spanyol abad pertengahan. "Ya," katanya, namun suaranya tidak keluar, sebab bibir dan lidahnya sudah kering sekali.
ingns
248
"Deni, Tris! Deni, dia... Oh, Tris!" Nyonya Desi terguguk sehingga tak dapat meneruskan ucapannya. Triska menggigit bibirnya kuat-kuat sampai—tanpa disadarinya sama sekali—berdarah, sementara jari-jari yang mencekal gagang telepon sudah menjadi pucat seakan sudah tidak dialiri darah lagi.
Nyonya Desi terdengar membersit hidung, dan rupanya dia berusaha mengumpulkan kembali se-mangataya untuk bicara "Tris! Deni... oh! Tris, dia... sudah... sadarrr!"
Triska tertegun seakan tidak bisa menangkap apa yang didengamya. Bibirnya terbuka, matanya lurus ke depan tapi tidak melihat apa-apa. Dia berdiri terpaku di tempat, tidak tahu harus bilang apa, bahkan tidak ingat untuk menanyakan, kapan, bagaimana... Yang ada dalam pikirannya cuma, Puji Tuhan! Puji Tuhan!! Puji Tuhan!!!
Tanpa disadarinya, bibirnya kemak-kemik meng-ucapkan pikiran itu, menyebabkan Dokter Justin berpandangan dengan istrinya, lalu bangkit. "Tris, berikan pada Papa teleponnya." Mendengar suara ayahnya yang pelan seakan membujuk, barulah Triska menyadari bahwa jari-jarinya sudah putih dan terasa kesemutan saking kerasnya dia mencengkeram pesawat. Seperti orang linglung, dibiarkannya ayahnya mengambil alih, dan dibiarkannya ibunya membimbingnya ke sofa. Dia duduk dalam pelukan ibunya, bengong seperti hilang ingatan. Tak lama kemudian terdengar suara telepon
249
diletakkan, dan Dokter Justin menghampiri mereka, lalu duduk di sebelah Triska.
"Bagaimana. Pa?" tanya istrinya, lebih dengan matanya daripada dengan bibirnya sebab suaranya tidak lebih keras daripada dengung nyamuk.
"Kira-kira dua jam yang lalu, ketika ibunya mau pulang, Deni membuka matanya," Dokter Justin menjawab..
"Dia bilang apa?" tanya Nyonya Rosa.
"Belum bicara apa-apa. Dia cuma membuka mata, sambil mengerang seperti orang kesakitan, memandang ibunya kira-kira lima menit, lalu tidur lagi" jg^ *.
"Bukan pingsan lagi?" Triska mendengar ibunya bertanya
"Tidak. Dia tidur, bukannya pingsan. Dokter yang jaga pasti bisa membedakannya."
Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Santo Antonius! Tapi kenapa dia tidak bicara? Apakah dia menderita aphasia?
"Man kita tidur, Tris," ajak ibunya. "Besok kita jenguk dia."
250
Bab 8
Joko tidak dapat menjelaskan pada Triska apa yang sebenarnya terjadi. Dia cuma bisa geleng-ge-leng kepala seperti bandul lonceng. "Dokter Omar juga angkat tangan, tak berani bilang apa-apa," ujarnya ketika esoknya ditemui oleh Triska. "Be-liau bahkan tak berani memastikan apa diagnosis sebenarnya! Masalahnya, orangtua Deni menolak anaknya diperiksa macam-macam, jadi kita cuma bisa menduga-duga. Yang jelas, epidural hematom. Tapi setelah gumpalan darahnya disedot keluar, hamsnya kan ada perbaikan. Ini malah ada kaku kuduk dan darah dalam cairan otak, sehingga kita menduga ada perdarahan subarachnoid. Tapi kaku kuduk bukan cuma ditemukan pada perdarahan saja, kan. Di samping itu, perdarahan semacam itu belum tentu juga karena pecahnya pembuluh darah, mungkin karena misalnya memar otak yang hebat."
"Yang penting, dia sudah sadar, Tris," ujar Kris mengalungkan lengan ke bahu adiknya.
"Tapi perdarahan macam itu bisa kambuh, Kris. Seandainya memang ada aneurysma yang pecan,
251
gimana? Mungkin aneurysma-nya bukan cuma satu, aku khawatir bahaya belum lewat!"
"Oh. aku sependapat denganmu," ujar Joko ce-pat. "Dia memang masih perlu diobservasi dan dirawat di sini, masih jauh dari pulang. Kalau orangnya sendiri sudah sadar, mungkin kita bisa minta persetujuannya untuk melakukan arteriography, jadi masalah ada-tidaknya kelainan pembuluh darah bisa diselesaikan dengan tuntas."
"Apa kau sudah melihatnya, Tris?" tanya Kris.
"Sudah. tapi dia sedang tidur, tidak kubangun-kan. Kucukur saja kumisnya, dan kuseka wajahnya."
"Tris, ada hal lain yang aneh. Anggota geraknya yang kanan ternyata sekarang tidak lumpuh! Aku tak dapat menerangkan bagaimana ini bisa terjadi. Aku yakin, dulu pemeriksaanku tidak keliru. Dokter Omar mengatakan, dari segi kedokteran, kasus ini tak dapat dijelaskan. Kami semua sebenarnya sudah menyerah, karena itu tidak ngotot ketika orangtuanya menolak segala tes serta tidak meng-izinkan Deni dioperasi. Tapi sekarang..." Joko mengangkat bahu dan mengheia napas.
Triska cuma tersenyum menanggapi kebingung-an rekannya. Aku tahu apa yang terjadi! Doaku dan doa Sumi dan doa Papa-Mama dan doa Kris-Marti dan doa ayah-ibunya dan doa semua orang, sudah membubung naik ke hadirat Yang Maha-kuasa! Bagaimana aku akan mampu menunjukkan perasaan syukurku pada-Mu?
252
Ketika Triska menjenguk lagi menjelang pukul dua belas tengah hari, Deni kelihatan tidur dengan tenang. Triska memutar kaset Ave Maria yang diletakkannya di samping bantal. Lalu dia duduk di kursi di samping ranjang, sebentar-sebentar mengelus lengan Deni. Diperhatikannya wajahnya yang mengurus dan agak pucat, tapi bibirnya masih tetap menarik walau kering—karena itu sering-sering disekanya dengan saputangan halus yang dicelup dalam air—dan bulu mata serta alisnya yang hitam masih tetap seperti yang diingatnya.
Tepat pukul dua belas siang, seperti biasa, Triska berdoa Sal am Maria sambil menunduk, meng-atupkan tangan di pangkuan. Ketika diangkatnya wajahnya, dia nyaris berseru kegirangan melihat kelopak mata Deni bergerak-gerak. Dijulurkannya lengannya, disentuh dan digenggamnya tangan Deni, sementara bibirnya tak putus-putus menyeru-kan namanya.
Pelan-pelan kelopak itu merekah. Mula-mula Deni tidak melihatnya. Matanya mengejap-ngejap seperti orang yang dibangunkan dari tidur nye-nyak, tidak melihat apa-apa. Kemudian, kemudian, kemudian, bola matanya bergerak dan... (Triska menahan napas dengan tegang. menunggu, menunggu, menunggu...) menatapnya!
Bibirnya yang agak pucat itu pun merekah, se-nyumnya lemah tapi dikcnalinya, masih yang dulu, yang telah menjerat hatinya. Triska mempererat genggamannya seakan khawatir Deni akan lolos dari tangannya.
253
"Tris... mana Mar-co... Ini Ave Maria... Jam berapa ini... Uunh! Kepalaku saMiit...!" Lalu seperti boneka yang baterainya habis, kelopak matanya mengarup lagi dan Deni kembali tertidur.
***
Matahari bagaikan bersinar lagi bagi Triska. Dia seakan menemukan kembali kemampuannya untuk main piano. Kini berkumandang lagi Nocturne-Opus 9 No. 2 serta Etude-Op. 10 No. 3 dari Chopin, Piano Concerto No. 1 dari Tschaikovsky, Estudiantina-nya WaldteufeL, Saber Dance-nya Khatchaturian, Puc-cini, Verdi, Offenbach, dan lain-lain. Setiap ada waktu luang pasti dihabiskannya di depan piano. Yang paling sering terdengar adalah lagu kesayangan mereka berdua, No Other Love yang iramanya diambil dari Etude-nya Chopin.
Keadaan Deni berangsur membaik. Sejak dia sudah sadar dan dapat menelan, infusnya dicabut, demikian juga segala macam kateter yang selama itu bergelantungan di ujung-ujung tubuhnya. Ke-luhannya sekarang cuma sakit kepala, tapi Deni menolak dilakukan arteriography, yakin dia tak apa-apa. Berkali-kali dia minta pulang, namun masih ditahan sebab dikhawatirkan perdarahannya bisa kambuh.
Tapi dua hari sebelum Hari Natal, dia memaksa juga mau pulang, bahkan menawarkan untuk me-nandatangani Surat Pulang Atas Permintaan Pa-sien. "Aku sudah kan gen sama anakku, Ko!" ke-luhnya. "Aku ingin Natal-an di rumah." .
254
Joko bertukar pandang dengan Triska yang juga hadir saat itu. Melihat Joko sulit mengambil kepu-tusan, akhimya Triska berkata, "Biarlah dia pulang, Joko. Aku akan menjaganya."
Atas permintaan orangtuanya, Deni pulang ke Depok. Marco langsung diajak neneknya untuk menengok. Walaupun anak itu belum bisa meng-utarakan perasaannya, mpanya dia juga sama ka-ngennya dengan ayahnya. Begitu melihat Deni, dia langsung menubruk dengan gembira seraya ber-seru, "Deni! Deni!"
Karena selalu mendengar orang menyebut ayahnya begitu, Marco juga ikut-ikutan. Triska sudah sering kali mengajarinya untuk menyebut Papi, namun anak itu tak pernah mau. Akhimya dicobanya mengubah nama itu menjadi Daddy.
"Jangan panggil ¦ Deni, Marco. Panggil Daddyl Ayo, Dad... dy" Triska mengajarinya. Ternyata anak itu menurut dan mengikuti, "Dad... dy."
Rupanya Marco senang dengan sebutan baru itu, sebab pada pertemuan itu berkali-kali terdengar dia memanggil ayahnya, Daddy ini, Daddy itu. "Wan, manja betul anak itu sama ayahnya!" komentar Nyonya Rosa tersenyum senang.
Seingat Triska, itu adalah Hari Natal yang paling meriah yang pernah dirayakannya. Selain sa-nak kfcluarga, teman-teman juga datang tanpa harus diundang.
Begitu melihat Roy Parega, Deni langsung ter-
255
tawa seraya mengucapkan, "Terima kasih atas ka-rangan bungamu." Dent menunjuk sebuah buket yang indah dalam keranjang rotan yang dicat war-na pastel kuning lembui. Tapi Roy malah meng-acungkan kepalannya ke arah Deni, membuat Triska tercengang. "Buset kau. Den! Aku sebenarnya sudah pesan loans unrukmu, dan sudah kubayar! Malah sudah kubeli juga cine in untuk Triska...."
"Nggak kusangka kau begitu brilian!" Deni mendecak. sedangkan Triska menutupi tawanya dengan tangan.
"Aku lebih senang kalau kausebut inovatif!" Roy mengaku tanpa malu-malu. "Kau tahu sendiri, aku nggak pernah lulus suma cum laudel Selain itu, kalau otakku be nil cemerlang, mana mungkin kau kubiarkan menggondol Triska dari depan hidungku!"
"Jangan dendam," bujuk Deni tersenyum. "Aku nggak sengaja. Kalau aku tahu sebelumnya, kau sudah naksir Triska duluan, pasti aku nggak akan lancang.... Aku menyesal sekali."
Roy mendelik. "Kalau kau betul menyesal, kenapa nggak lewat saja? Buat apa masih di sini, bikin sesak dunia!"
"Aku kasihan, anakku masih kecil!" ujar Deni sebagai pembelaan.
Wajah Roy menjadi cerah sedikit. "Kalau alas-anmu cuma Marco, berarti lampu hijau, dong, bagiku untuk mendekati Triska? Maukah kau membujuknya? Kau kan tahu, aku nggak terlalu bejat\" Nyengir kudanya yang paten terpampang di
wajahnya, sementara kacamatanya merosot tapi dibiarkannya. Tangannya malah digunakan untuk
mengusap-usap jambulnya. Triska sempat berpikir bahwa cowok ini cukup tampan juga, sayang tidak mau memermak gigi-giginya agar lebih rata.
"Triska begitu mandiri, mana mungkin mau mendengar kata-kataku! Tanyakan sendiri, dong!" usul Deni melirik Triska yang kontan merasa pa-nas wajahnya. Dia merasa Deni sedang menyindir-nya, mengingatkannya pada masa-masa sebelum perceraian, ketika dia sama sekali tidak mau menggubris bujukan maupun penjelasan Deni.
Roy menoleh pada Triska dan menarik napas panjang. "Aku nggak bisa berkutik kalau harus maju sendiri. Nah, ya karena uangku nggak bisa dikembalikan, terpaksa—bukan mauku—kuubah krans itu menjadi buket!"
Deni tergelak-gelak. "Hahaha... betapa dongkol-nya hatimu, kan?"
"Jangan di tanya lagi! Nggak bisa kaubayang-kanl"
Triska geleng-geleng kepala mendengar kedua orang itu be rc an da, tak dapat memutuskan siapa yang lebih suiting. Erik Sigma lebih pin tar me-nyembunyikan perasaan nya. Seandainya dia merasa kecewa seperti Roy, melihat Deni belum juga mau berialu dari arena, hal itu tidak ditunjukkan-nya.
Perayaan Natal sekali itu sungguh meriah, belum pernah sebanyak itu orang yang hadir. Biasanya mereka merayakannya di rumah masing-masing,
257
paling-paling esok lusanya atau pada Tahun Baru sekalian. mereka saling berkunjung tapi tentu saja bukan semua sekaligus. Sampai-sampai rumah yang seluas museum itu pun masih terasa sesak oleh Triska sedangkaB kolam pun kelihatan seperti bak mandi kecilnya sating banyaknya orang di situ, padahal biasanya dia cukup kewalahan merenangi-nya bolak-balik sepuluh kali.
Oom Audi, Tante Beti, Tante Cori, dan Tante Ema yang datang dengan anak-cucu mereka sudah terhitung satu kompi. dan semuanya me nee bur ke air. Triska merasa tak ada gunanya bila tak dapat berenang hilir-mudik. Kalau cuma ingin berendam, terang dia lebih suka melakukannya di rumah sendiri. sambil membaca buku. Tapi tak sampai hatinya menolak ajakao Marco yang menyeret-nyeret-nya ke arah kolam sambil menenteng lumba-lum-banya.
Kira-kira seperempat jam kemudian isi kolam bertambah dengan tamu-tamu yang baru datang seperti... Triska tak dapat menahan senyumnya melihat Sumi, Mirsa, dan Lupita, dengan anak-anak mereka. Lupita memang pernah ke situ bersama Nero, tapi Sumi dan Mirsa yang baru per-tama kali itu pun mpanya sudah dibisiki—entah oleh siapa—bahwa di situ ada kolam renang. Mereka semua memakai bikini. Ampun! pikir Triska. Heran, air kolam kok nggak meluap keluar!
"Hai, Tris?" sera mereka.
Sumi dan Mirsa langsung masuk air, sedangkan
258
Lupita naik ke atas papan untuk terjun indah. Untung salah seorang sepupu Deni ada yang melihat dan mereka sempat diperingatkan agar minggir. sehingga Lupita bisa lbncat indah tanpa rintangan. Memang luwes gerakannya. Triska pun bertepuk tangan disambut oleh yang lain.
Teman-temannya itu segera asyik hilir-mudik berenang. Untung Triska cuma ingin mengajari Marco berenang, jadi dia tak perlu bergerak terlalu jauh.
Setelah mondar-mandir beberapa kali, Sumi ber-
henti di dekatnya untuk mengatur napas. "Enak punya kolam! Nanti kubujuk Hansa, ah, supaya membuat kolam juga. Uh, uh, sedapnya berenang!" desahnya. *
"Tahu dari mana?"
"Bisa berenang ini?"
"Bukan. Bahwa di sini ada kolam."
"Oh, Lupita yang bilang waktu aku cuci rambut ke tempatnya kemarin dulu. Berapa, ya, biasanya ongkosnya?!"
"Cuci rambut di sana?"
"Bikin kolam!"
"Tempatmu susah air. Sum. Mau bikin kolam kalau kering terns kan percuma!"
"Kalau begitu sebaiknya aku pindah saja." "Rumah?"
"Sumur! Kan sumurku yang sekarang ini memang kurang airnya, sudah lama Hansa berniat minta bantuan Romo Paulus untuk mencarikan sumber air. Nanti kalau berhasil kau pasti akan kuundang!"
"Untuk minum airnya?"
"Untuk berenang, dong! Kan maksudku, kalau berhasil bikin kolam "
Kedua sahabat ten berbincang-bincang sambil masing-masing mengajari anak mereka berenang. Triska merasa berutang budi pada Sumi berkat doa-doanya serta dorongan semangat agar dia jangan putus asa ketika keadaan Deni gawat. Begitu Deni sadar kembali, Triska langsung menelepon Sumi, memberitahukan kabar gembira itu sekaligus mengucapkan terima kasih. "Kau betul-betul seorang teman, Sum! Aku nggak tahu bagaimana menyatakan utang budiku ini!"
"Ah, gampang," sahut Sumi. "Tolong bantu mendidik Linus, itu sudah cukup. Aku bantu mendoakan untuk kesembuhan Deni, kan juga demi anakku supaya nggak kehilangan ayah perman-diannya."
Selang beberapa saat Sumi berkata, "Juni nanti aku akan ke Amerika bersama Hansa." "Wah, sedap beeng!"
"Habis kakakku mau balik ke sini tahun depan. Ya mumpung aku belum melendung lagi!" "Masih punya rencana?" "Jalan-jalan?" "Hamil!"
"Oh, itu sih nggak bisa dihindart, Tris! Malah kalau nurutin Hansa, aku bisa setengah mati, deh. Bayangkan, dalam keluarganya menurut dia ada kebiasaan untuk menamakan anak seperti nama paman kalau anak laki-laki, atau bibi kalau perem-
0
260
puan, lalu paman atau bibi yang bersangkutan
akan mewariskan sebagian hartanya pada anak ter-sebut. Bagian skenario itu, sih, aku setuju. Tapi Hansa maunya setiap anak diberi nama paman atau bibinya. Jelas aku keberatan, dong. Aku bilang, 'Apa kau mau membunuhku?!'" - "Alasannya?"
"Setiap anak diberi nama...?"
"Bukan. Kenapa kauanggap dia mau membu-nuhmu?"
"Tris, dia ingin nama paman dan bibinya bisa diabadikan pada anak-anaknya! Kau tahu berapa jumlah paman dan bibinya?" Sumi menegaskan dengan kening terangkat tinggi.
Sekarang gantian Triska yang menaikkan kening, keheranan. "Lho! Gimana aku bisa tahu? Ketemu mereka pun belum pernah! Kecuali, mungkin waktu pesta per mandi an Linus."
"Ya, mereka semua hadir! Sembilan, Tris!"
"Apanya?"
"Lima paman dan empat bibi!"
"Ngngng... dan Hansa ingin punya anak..." Triska tak perlu mengucapkannya. Sumi langsung mengerti.
"Ya!" Dia mengangguk.. "Mampus nggak, tuh! Pokoknya, kalau nanti lahir perempuan, keempat nama bibinya akan kutumplekkan semua, biar kami nggak usah punya anak perempuan lagi. Nama-nya akan berbunyi Anneke Berta Cindy Deborah, menurut abjad, biar tak ada yang merasa kurang dihormati."
261
"Kenapa cuma Hansa yang ketiban tugas itu? Apa maunya sendiri? Bagaimana dengan sepupu-sepupunya?"
"Itu masalahnya! Hansa nggak punya sepupu seorang pun!"
"Sembilan paman dan bibi?"
"Dua pamannya menikah, tanpa anak. Tiga bibinya menikah, dua tanpa anak, sedangkan Tante Cindy punya anak perempuan tapi meninggal wak-tu masih remaja."
"Jadi kau diharapkan punya anak sem... bilan? Wow! Kelinci aja kalah!" Triska bersiul lalu terse-nyum geli. "Kau tahu, ada wanita yang bisa di-sewa untuk mengandung anak orang lain. Kuharap kau nggak..."
Terang ogah!"
"Menyewa surrogate motherV
"Disuruh punya sembilan anak! Makanya mau kucari akal dengan cara memborong semua nama untuk satu anak. Kan malah warisannya jadi tam-bah banyak. Benar, nggak?"
"Kenapa Linus cuma punya satu nama?"
"Ya, itu kekeliruanku. Sekarang aku sedang mencari akal untuk membujuk Hansa agar nama-nama keempat pamannya yang ketinggalan itu bisa ditambahkan juga dalam surat lahir Linus. Ada nggak, ya, jalannya?"
"Ratusan ribu paling sedikit!"
"Oh, kau tahu caranya? Nggak usah sebut semua, cukup satu saja, gimana?"
"Ongkosnya, maksudku! Ratusan ribu!"
"Rupiah?"
"Habis, masa kerang! Memangnya main cong-klak!"
"Biar! Sejuta juga aku bayar! Asal nggak usah dihamskan punya anak laki-laki lagi!"
"Kalau anak kedua ini nanti ternyata juga co-wok, gimana?"
Sumi tepekur agak lama, rupanya dia tak pernah berpikir sampai ke situ. Akhirnya dia mengangkat bahu dan menarik napas. "Tahu, deh. Itu memang akan jadi masalah! Tapi aku pernah dengar, di Amerika orang bisa memilih jenis kelamin bayi mereka." Wajah Sumi yang bulat dan manis itu kembali cerah. "Akan kuminta kakakku mencari di mana rumah sakit yang ada fasilitas semacam itu. Nanti kalau kami ke sana, akan kuajak Hansa konsultasi. Ya, ya, itu jalan yang terbaik."
Mirsa dan Lupita datang menggerecoki dan to-pik pembicaraan pun berganti ke urusan dapur serta resep-resep terbam Mirsa yang gemar masak. Tengah mereka asyik mendengarkan bedanya ba-wang merah dengan bawang spanyol dan bawang bombai, mendadak langit yang sejak tadi sudah mendung itu mencurahkan isinya, mula-mula ha-nya rintik-rintik, namun makin lama makin besar.
"Marco, yuk kita balik ke rumah! Hujan bakal deras, nih," ajak Triska. Untung anak yang cerdas itu mau menerima logika ibunya dan tanpa mem-bantah langsung menghampiri tangga lalu meman-jat keluar air.
Sumi, Mirsa, dan Lupita juga menggiring anak-
anak mereka keluar kolam. "Aku lapar," keluh Sumi. "Soalnya tadi pagi aku cuma minum sari buah, dengan harapan siangnya bisa makan dengan leluasa."
"Oh, kau juga punya problem timbangan, ya," Lupita nyelenik.
Tapi kau begini langsing!" cetus Mirsa sedikit iri, maklum bobotnya terakhir ditimbang sudah hampir tiga perempat kuintal. Itu diakuinya terus terang di depan mereka tanpa tedeng aling-aling.
"Lantaran makannya cuma wortel mentah tok dan air botol tiga liter!" Triska buka rahasia sambil tertawa.
"Aku banyak makan sayuran!" Lupita membela diri.
"Ah, apa kau mau jadi kambing?" Mirsa mencibir. "Aku, sih, nggak akan merasa kenyang kalau belum diisi sama daging! Gulai kambing, gitu. Atau kambing guling. Atau sate padang, sate madura, ayam goreng Mbok Berek, sop buntut Pak Kumis..."
"Dan kau berani mengeluh timbanganmu sudah melejit ke atas seperti Challenger! Mau kunasi-hati?" Triska menawarkan.
Mereka sudah hampir tiba di teras belakang. Tidak semua orang takut hujan. Sebagian besar malah makin seru berkecimpung dalam kolam di-timpa air hujan yang makin deras. Langit betul-betul pekat. Burung-burung yang tadi pagi asyik bercuit-cuit di kebun, kini tak kedengaran lagi, mungkin semuanya sedang berteduh di balik dedaunan pada pohon-pohon yang banyak tumbuh di situ.
264
"Asa! gratis!" Mirsa menyambut tawaran teman-
nya.
"Kalau nggak pakai resep, pasti gratis deh!" Sumi nimbrung.
"Uh, cuaca kok jelek begini, sih!" keluh Lupita kesal, disokong oleh yang lain kecuali Triska. Walau langit telah menyabot pesta Natal mereka, Triska tetap merasa gembira, sebab sekali ini yang namanya Nila dan Odi tidak kelihatan mata-hidungnya. Mungkin mereka ngeri menampakkan diri lagi setelah kecelakaan itu, khawatir disemprot oleh Pak Melnik. Syukurlah! pikir Triska lega.
"Kau perlu di-kir, Mir," ujar Triska serius.
"Eh? Kir? Memangnya aku mobil tahun lima puluhan? Tubuhku sehat, kok!" bantah Mirsa me-lotot.
"Gemuk itu saja sudah merupakan penyakit, Mir. Badan yang sehat bukanlah badan yang gemuk atau kurus. Nggak mungkin tubuhmu sehat, diharuskan menanggung Iemak hampir setengah kuintal. Mungkin benar, tubuhmu belum sakit. Itu nggak sama dengan tokcer. Tapi yang kumaksud hams di-kir adalah mentalmu. Siapa tahu kau makan terus itu sebagai pelarian, iya, kan? Ada orang yang bila mengalami kesulitan justru melarikan diri ke makanan. Nah, kalau kita makan sementara pikiran kusut, pencernaan kita nggak bekerja optimal, makanan itu nggak akan diserap seperti seha-rusnya, tapi tetap sebagai ampas yang memberat-kan kerja liver dan kemudian juga bisa menjadi sumber penyakit."
Mereka menjejakkan kaki ke atas tangga yang menuju beranda belakang sementara anak-anak sudah berlanan masuk sambil berteriak hiruk-pikuk saling mendahului. Marti yang rupanya baru tiba, menyongsong mereka.
"Nah, sudah sampai! Sekian dulu kuliahku kali ini. Kalau kurang jelas, silakan datang ke tempat praktek!"
"Dan kena sepuluh ribu? Mendingan aku tetap seperti bantal begini! Sayang duit!" Mirsa mendu-mal. "Mentalku nggak sinting, kok!"
"Bisa kortrng, iya, kan, Tris?" hibur Sumi. "Atau kaubawakan dia makanan serantang dari restoranmu. Aku biasanya berobat cukup dengan membawa sebotol sambal tomat." Sumi menjelas-kan tanpa reserve.
Makan siang pun tiba. Untung hujan sudah ber-henti, sehingga mereka yang muda-muda bisa makan m teras belakang yang luas, sedangkan yang tua-tua makan di dalam bersama man dan nyonya rumah.
Rupanya Marco selama itu benar-benar kehi-langan ayahnya, cuma tak mampu mengungkap-kannya. Dia lengket teras pada Deni, bahkan me-nolak disuapi oleh ibunya. "Daddy...!" serunya me-nunjuk ayahnya.
"Mau disuapi sama Daddy?"
Marco mengangguk. Deni menggapai dan Triska menyerahkan piring Marco padanya, membuat anak itu melompat kegirangan.
266
Sambil bersantap mereka ngobrol ke barat ke timur tentu saja. Suatu kali salah seorang sepupu Deni (mungkin anak Oom Audi, Triska tidak tahu pasti) bertanya, "Apa, sih, yang sebenarnya terjadi bulan lalu itu, Den?"
Semua orang menahan napas, mengarahkan per-hatian pada Deni yang saat itu tengah menyorong-kan sendok ke mulut Marco yang menganga lebar. Deni mengangkat muka dan menyapu mereka se-kilas dengan matanya.
"Ya aku juga ingin tahu," tukas Kris sambil mengangkat paha ayam dari piring dan membawa-nya ke mulut.
Melihat semuanya demikian terbakar rasa ingin tahu, Deni tak dapat mengelak. Dia mengheia napas dan menunda makannya. Sambil menyuapi Marco, dia bercerita.
"Minggu pagi itu sebenarnya aku berniat mau ke Depok. Ibuku menelepon, rematiknya kambuh lagi. Aku ingin menengoknya sekalian memberi suntikan atau obat.
"Sedang aku siap-siap mau berangkat, tahu-tahu ada telepon dari Tono, anaknya Oom Karim. Katanya, ibunya—Tante Leila, adik ayahku—mendadak kena serangan jantung dan minta dipanggilkan aku. Kukatakan bahwa aku sebenarnya mau ke luar kota, apa dia nggak bisa manggil dokter lain yang lebih dekat dengan mereka! Maklum, tempat mereka kan sudah mendekati Serpong, dari rumah- r ku ke sana, dari sana ke Depok, mana kalau lalu lintas macet... Wan, bayangkan saja makan hati-
267
nya! Tapi Tono ngotot memaksa. Akhimya terpaksa kusanggupi. Aku telepon ibuku, memberitahu-kan aku akan telat sedikit, mau ke Serpong dulu, nggak usah di tunggu makan siang.
"Nah, bayangkan bukan main dongkolnya aku ketika ternyata Tante Leila nggak ada di situ!"
"Hah?!" Semua orang terkesiap, ada yang ber-seru tertahan, bahkan Triska sempat berdebar-debar mendengarnya.
"Ibunya ternyata ada di Puncak, di vila mereka! Tono ngotot, dia sudah mengatakan itu padaku, tapi aku yakin dia bohong. Seharusnya saat itu aku sudah langsung curiga, ada apa-apa yang kurang beres. Tapi sekali itu otakku yang cemerlang rupanya sedang tidur." Deni meringis sementara Roy nye-ngir-nyengir kuda. "Barangkali cum laude di ijazah-mu itu kurang saht" semnya dengan wajah penuh harap, mungkin mendoakan dugaannya itu tidak meleset "Nggak mungkin, dong, ada orang begitu beruntung! Sudah dapat Triska, masa cum laude-nya. juga sah?" sambungnya dengan belingsatan melirik sana-sini, mau mengumpulkan pengikut. Say an g mpanya saatnya kurang tepat. Orang lebih tertarik pada cerita Deni, tak ada yang menggubris per-mohonan dalam matanya. Roy pun terpaksa menun-da mosinya dan menghentikan cengirannya.
"Setengah memaksa, setengah membujuk, Tono berhasil mengajak aku ke Puncak. Setiba di sana, ibunya ternyata segar bugar! Aku betul-betul se-ngh dan mau segera angkat kaki dari sana. Tapi saat itu sedang hujan dan perutku kebetulan sudah
268
lapar. Tante Leila yang selalu ramah padaku itu mengajak aku makan. Perutku nggak bisa meno-lak. Habis makan barulah aku diizinkan berangkat. Ternyata Tono juga mau ikut pulang. Cuma Tante Leila dan Oom Karim yang tinggal, mereka bilang, mau tinggal semalam lagi."
"Gimana kau sampai masuk ke jurang begitu?" tanya Roy tidak sabaran.
"Waktu itu jalanan licin sekali. Hujan masih turun meski nggak terlalu deras, tapi lumayan, aku hams memasang lampu dan menghidupkan kipas air terus-menerus."
"Kau luka parah begitu, tapi Odi kok cuma lecet-lecet!" ujar Kris menyambung Roy.
"Aku sendirian, kok!" sent Deni.
"Hah?!" Semuanya lagi-lagi terkesiap, berseru tertahan.
"Jadi plester itu cuma tempelan saja!" Kris menggeleng.
"Makin asyik saja nih kedengarannya!" Sumi
menciap.
"Semula, Odi memang ingin ikut mobilku. Tapi segera kukatakan, aku mau langsung ke Depok. Jadi terpaksa dia ikut mobil Tono bersama Nila. Sekarang aku ingat, heran juga Odi nggak maksa mau ikut!"
"Jadi Nila dan Odi sudah lebih dulu ada di Puncak? Ngapain?" tanya Triska mengerutkan ke-ning. Kedengarannya makin aneh! Ada apa-apa yang busuk, nih! "Mungkin Odi sebenarnya memang nggak mau ikut mobilmu!"
Deni mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin berakhir pekan biasa. Lalu dijemput oleh Tono. Itu menjelaskan kenapa astri dan anak-anak Tono nggak ikut Kalau mereka ikut, pasti mobilnya nggak muat."
"Cerita embel-embel ini nanti saja!" protes Roy bertepuk tangan minta perhatian. "Sekarang lekas ceritakan gimana kau sampai terjun bebas begitu!"
"Kecelakaan biasa, kurasa. Tono ingin menda-hului aku, kebetulan kita sedang di jalan mudun mendekati tikungan. Sebenarnya dari depan sudah kelihatan ada truk besar. Aku juga kurang mengerti kenapa Tono gegabah begitu. Tapi barangkali dia sudah nggak bisa mundur lagi. Rupanya dia malah tancap gas supaya bisa melewati aku sebelum berpapasan dengan truk itu. Tapi perhitungan-nya meleset, Truk itu melejit lebih cepat dari perkiraan. Untuk menghindarinya, Tono tentu saja terpaksa mepet ke kiri. Dan untuk menghindari tabrakan dengannya, aku buru-buru banting setir ke kiri tapi rupanya terlalu banyak, ditambah ja-lanan licin dan mudun,. jadi mobilku terlalu cepat tumn, menyenggol batu pinggiran jalan, terus me-laju ke pinggir, makin ke pinggir, dan akhirnya nggak ada apa-apa lagi! Cuma kabut putih. Untuk sedetik aku merasa bagaikan melayang, lalu ben-turan yang menyakitkan, lalu aku nggak ingat apa-apa lagi! Setiba di rumah sakit, Joko bilang, aku sempat siuman dan bicara sebentar, tapi aku' nggak ingat lagi."
"Apa kau nggak ngerem?" tanya Nero penasaran.
"Secara refleks pasti aku injak rem, tapi tahu kenapa, kok mobil itu nyelonong terns! Barangkali saking paniknya, aku kelupaan ngerem? Hm, mungkin saja."
"Walaupun kauinjak sekuat-kuatnya, kau tetap akan masuk jurang, Den!" ujar Kris membuat semua mata menoleh padanya. "Sebab rem itu blong! Polisi yang bilang!"
"Hah?!" mereka berseru tertahan. Triska tiba-tiba melihat Deni terbengong seakan melihat hantu, sampai-sampai tidak diketahuinya Marco sedang berdiri celangap di depannya menunggu suapan.
"Daddy! Daddy!" serunya mengguncang-gun-cang tangannya. Barulah dia tersadar dan menoleh. Tapi Triska yang duduk di seberangnya sempat menangkap rasa takut yang menggelepar-gelepar dalam matanya. Apakah Deni sudah menduga bahwa ada permainan jahat di sini? Bahwa dia se-ngaja mau dienyahkan?
"Marco, ayo, Mami yang suapi," panggilnya. "Lihat, Daddy belum sempat makan, tuh!"
Marco memandang piring ayahnya, lalu menoleh pada ibunya dan mengangguk. Triska mengambil piring anaknya dari tangan Deni.
"Biar kusuapi. Aku sudah selesai makan. Nanti nasimu keburu dingin," katanya pada Deni yang manggut tanpa komentar. Air mukanya masih kelihatan seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Coba ingat-ingat, pernahkah Tono mendekati mobil mu?" tanya Kris.
"Seingatku, nggak. Tapi mungkin saja nggak kulihatf"
"Waktu kau makan, apa Tono juga ikut makan?" tanya Triska.
"Waktu aku makan..." Deni menatap Triska dengan roman terkejut Lam gumamnva, "Aku juga he ran kenapa dia nggak mau ikut makan. Tapi dia meyakmkan ibunya, sebehun berangkat dia sudah makan nasi goreng dua piring, jadi masih ke-nyang."
"Mungkinkah saat itu diutak-atiknya rem itu?" gumam Kris seakan tengah berpikir. "Pasti!" seru Triska.
Deni menatapnya seraya menggeleng. "Kita nggak bisa membuktikannya, Tris!" keluhnya.
Bab 9
"Seharusnya kaubiarkan aku mengatakan pada Deni apa yang terjadi ketika dia di rumah sakit." Kris menyesali adiknya. "Dia hams tahu, Odi telah berusaha membunuhnya! Juga mengenai pembi-caraannya dengan Nila yang pernah kaudengar dalam WC di Depok."
"Aku nggak mau terjadi perang saudara dalam keluarganya, Kris. Kalau Deni tahu, lalu ditemskan pada ayahnya, pasti terjadi keributan. Mereka nggak bakal terima main dituduh sembarangan, sebab kita kan nggak punya bukti. Kris, yang penting kan Deni sudah tertolong. Buat apa kita bikin dia pusing memikirkan kemungkinan ini dan itu?"
Walaupun kelihatan masih kurang puas, Kris tidak mau membantah. Dia cuma menarik napas panjang-pendek.
"Ingat, Kris, Papa-Mama juga jangan dikasih tahu! Kalau Papa tahu, pasti diadukannya ke ayah Deni! Biar yang tahu cuma kita berttga, kau, Marti, dan aku!"
"Huh!" Kris menarik napas berat. "Aku khawatir ini akan membawa akibat yang nggak di-
inginkan! Aku tetap berpendapat, sebaiknya kita beritahu... Oke, oke, semaumu! Aku takkan ber-debat mengenai keputusanmu. Asal kau yakin, memang itu jalan yang terbaik, ya oke! Jangan nanti kau menyesal!"
"Sabar. Kris. Kita pasti akan punya kesempatan untuk memberitahu mereka. Tapi sebelum bisa membeberkan semua itu, kita hams mengumpulkan bukti-bukti dulu." "Di mana akan kita cari?" "Aku juga nggak tahu," keluh Triska setengah putus asa. Dan bukan masalah itu saja yang mem-buatnya putus asa.
Triska sudah bersiap-siap untuk melaksanakan kaulnya. Dia akan kembali pada Deni dan melupa-kan semua yang pernah direncanakan Deni bersama Odi. Sebelum kecelakaan di Puncak itu, Deni sudah berkali-kali berusaha melakukan rekonsiliasi dengannya, membujuknya dengan segala macam cara, dan merayunya setiap ada kesempatan. Sela-ma itu dia selalu mengelak. Pertama, karena men-dongkol mau dijadikan tumbal agar orang lain bisa mendapatkan warisan, dan kedua, karena khawatir Odi akan nekat menjelek-jelekkannya ke koran.
Tapi sekarang semua itu akan berubah, pikimya tegas. Aku takkan peduli lagi apa yang mau dilaku-kan Odi. Dan aku yakin, aku sudah bisa memaafkan Deni. Ketika dia dalam keadaan antara mati dan hidup, bam aku sadar bahwa aku sangat, sangat, sangat mencintainya, lebih dari cukup untuk memaafkan segala perbuatannya di masa lalu.
Kini Triska tinggal menunggu isyarat belaka. Begitu Deni mendekati dan membujuknya, dia pasti takkan menghindar lagi. Aku akan menerimany a! Aku akan kembali ke rumah kami bersama Marco! Ah, alangkah bahagianya kalau semua itu terlaksana....
Sayang, angan-angan itu belum juga terlaksana, bahkan tampaknya jauh dari kenyataan. Masalah-nya cuma satu. Deni. Sejak dia keluar dari mmah sakit dan tinggal di Depok, tingkah lakunya agak berubah, paling sedikit terhadap Triska. Mungkin orang lain kurang memperhatikan, tapi yang ber-sangkutan merasakannya.
Deni memang masih suka mengeluh sakit ke-pala atau terkadang pusing tujuh keliling, sehingga dia dianjurkan untuk mengambil cuti panjang sela-ma tiga bulan. Joko memberitahu Triska, "Enam bulan mendatang ini masa kritis. Kalau tidak terjadi apa-apa, barulah kita bisa bernapas dengan lega."
Triska tahu, pasien yang mengalami trauma ke-pala yang berat memang terkadang menunjukkan pembahan kepribadian. Mungkinkah Deni sedang dalam fase ini? Ataukah dia memang sengaja mau. menghindari aku? Masa begitu mendadak? Kuper-hatikan, terkadang dia sama sekali tidak meme-dulikan aku, seakan aku tidak hadir di dekatnya. Masa sudah berubah hatinya terhadapku?
Triska tak bisa menerima penjelasan itu. Jadi satu-satunya alasan yang masih mungkin adalah memar otak yang berat itu. Ya, Deni agak berubah
husus yang dapat memben pcr-apat men karena rem at me ne mui Marco Anak itu senng kali, diboyongnya ke Depok, CSOk-nya baru diantarkan kembali. Tnska tidak poaya alasan untuk mencegah, dan Deni juga selalu minta perserujuannya dulu Marco fentu saja senang sekali sebab di Depok ada kolam renang Yang agak mengectlkan hati Triska adalah. kenapa Dent tak pernah mengajak atau menawan agar dia ikut auu bukankak dengan begitu Dent tak usah capek capek mengantnrkan kembali anak itu e.tok
kan pada saat saat seperti mi pun Triska merasa bahwa Deni mulai menjauhinya. Hal pertama yang disadarinya adalah gitar yang selalu dibawanya
Deni tak pernah lagi membawa-bawa gitarnya, bahkan di Depok pun Triska belum pernah men-dengarnya memetik alat musiknya kembali.
kegaduhan dan gegap grmpitanya setae* pesta. kilahnya. Tapi toetc^onconya yang bonk butuh undangan seperti Nero. Kris, dan Roy. ya Map muncul tak bisa ditotak.
"Tahun mi aku prei dulu, nggak mau ulang tahun Ngapain kalian ke thuT teguruya.
'Alasan pertama, tentu sajja mau membenmu selamat ulang tahun." ajar Nero mengimtng-imtng dengan bungkusan kado dalam tangannya "Nggak peduli kau nggak mau merayakaa, sang waktu tetap nggak bisa ditahan ."
'Bukan begitu caranya mau amet moda," sindu Roy membuat Triska nyaris melcdak tertawa. "Umur tetap meati ditambah. dengan atau tanpa prsta ulang tahun."
"Alasan kedua," sambung Nero Toma. ya kami *udah kangen sama kepandaian masak ibumu!"
Semua nyengtr sambil rnerabai peret mating mating
Tapi karena hari ini nggak pesta. ibuku nggak bikin apa-apa. Dan aku kan sedang dial, jadi cuma ada savin boning. Gimana kalau kalian ke Kentucky saja, makan ayam goreugT
"Seorang SATU ayam'-'" Kris menegaskan.
"Aku nggak mclarang!
Mereka saling pandang •ambilbergumam, Daripada cuma sayur bening, mendmgan ayam. dong?" "Iya, daripada cacing-cacingku dibiarfcftn
nganggur seharian.^"
"Oke, deb!" sera Nero yang rupanya sudah mengangkat diri sebagai jura bicara. "Kau mau ikut? Atau cukup memberi kita uangnya?"
"Lho!" Deni roendelik beriagak heran. "Kok aku yang harus bayar? Yang lapar siapa? Yang mau siapa? Nah, bayar dong masing-masing, cara Be-landa! Aku sih cukup sayur bening saja."
"Buset! Kalau sudah bisa cecuitan kau jadi ber-tingkah, ya!" Roy mendumal. "Sayang kenapa saat itu aku nggak nekat saja! Coba kumasukkan udara ke dalam jantungmu... Sssh!" Roy menggores le-hemya dengan telunjuk.
"Pemerasan!" gumam Deni. "Aku kan sedang cuti nggak ada penghasilan, mana mungkin nrak-tir. makan juga ngemis sama ibuku. Sudahlah, kalian makan sayur bening saja, nanti aku minta ibuku mengeluarkan seekor ayam yang sudah lama mati dari kulkas. Cukup kan satu untuk semua?"
"Pelitnya!" Nero ngomel. "Kau ini ulang tahun tiap bulan atau setahun sekali, sih? Jangan bikin malu aku di depan istriku, dong! Mana rasa per-sahabatan kita? Masa makan saja nggak di kasih! Aku sudah menyuruh Lupita puasa sejak tengah malam, nggak makan, nggak minum, maksudku biar di sini bisa diisi buat jatah tiga harian, luma-yan kan bisa irit ongkos dapurku. Tapi sekarang... Sayur bening! Sama ayam! Ayam mati lagi!"
"Matinya sudah lama lagi!" sambung Kris.
"Eh, kulihat kepalamu nggak ada rambutnya. Kau mulai botak, ya?" seru Roy dengan lagak mensyukuri.
"Wah, botak kan justru menunjukkan kejantan-an!" tiba-tiba terdengar suara merdu dari samping. kiranya Lupita, sang ahli rambut, yang bersabda. "Kan berarti androgen atau apa, Tris? Hormon yang dijual Tabib Fachrudin untuk menguatkan syahw... Ehem! Pokoknya, hormonnya tinggi, tena-ganya..."
"Hei, rupanya diam-diam kau suka membaca buku-buku di lemariku, ya!" Nero beriagak meng-hardik. "Aku mesti hati-hati," sambungnya pada diri sendiri. "Lama-lama nanti dia bisa lebih pintar dari aku."
"Ini kan bekas pengeboran yang dilakukan si Joko!" ujar Deni merabai kepalanya.
Saat itu muncul Nyonya Desi menyalami mereka. Nero langsung mengadu dengan suara meme-las. Dia memang bekas pemain sandiwara di seko-lah, dan selalu kebagian peran kacung, tapi terha-dap Lupita dia mengaku selalu jadi pangeran, bahkan pernah dicalonkan untuk jadi Hamlet, itu pangeran dari Denmark. Sayang tonilnya dibatalkan sebab kurang biaya, tapi dia masih ingat kaliraat yang harus diucapkan oleh Hamlet, To be, or not to be. "Tan, mohon keadilan, nih. Kami semua sudah kelaparan, Lupita sudah puasa sejak tengah malam, tapi Deni bilang..."
"Oalaa, kenapa kalian diam-diam saja? Ayo, sini ikut! Makanan sudah lama menunggu, kok!" ujar ibu Deni menggiring mereka bagaikan induk ayam dengan anak-anaknya. Tak usah disebut lagi betapa hiruk-pikuknya
279
mereka berteriak ketika melihat makanan berlim-pah. serba lezat dan menank untuk dipandang
Walaupun Deni kurang mengacuhkannya, Triska juga terhanyut anis gembira tamu-tamu tak diun-dang jam. Hatinya baru merasa kecut ketika dia beramprokan dengan Odi di belakang. dekat dapur kotor. Triska langsung teringat pada Kris yang tidak setuju perbuatan Odi didiamkan saja.
"Sedang apa kau di sini?" tegurnya betul-betul heran. Triska menyangka, setelah kepergok begitu,
Odi pasti akan jera dan takut. dan takkan berani
muncul lagi dalam radius sekilometer dari Deni.
Tidak dinyana. sekarang dia malah berani datang
lagi ke kandang macan!
Bukan saja berani, tapi juga agak kurang ajar. Apa aku hams permisi dulu padamu sebelum ke
sun?" dia balas bertanya dengan menantang. "Ini
bukan rumahmu! Kau nggak bisa mengusirku!" "Pasti kau kebetulan main ke rumah Nila, terus
diajaknya kemari, sebab dia mau mengurut tante-
aya"
"Bukan urosanmu!" ujarnya ketus dengan wajah nyureng, lalu mengentakkan kaki dan meninggal-kannya.
Triska mengawasi Odi berialu ke kebun belakang. Tiba-tiba ditepuknya dahinya seakan bam sadar. Tentu saja! pikimya. Selama orangtua Deni tidak tahu mengenai persekongkolan Odi dan Nila, mereka takkan mempersonanongratakan Nila. Jadi selama Nila masih dianggap persona grata di sini. Keduanya tahu, rahasia mereka belum terbongkar.
pan selama akal bulusnya belum ketahuan, Odi rupanya tidak melihat alasan untuk mcnghilang dari lingkungan Deni.
Triska mulai merasa men ye sal, kenapa tempo hari tidak dibebernya niat Odi untuk membunuh Deni. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa kedua orang itu—Nila dan Odi—masih cukup tegar untuk datang ke sini.... Kalau begitu. apakah mereka juga akan punya keberanian untuk nekat sekali lagi? Apakah Deni masih dalam bahaya?
Triska makin menyesal ketika beberapa saat kemudian sempat dilihatnya Odi sedang tertawa-tawa bersama Deni. Sayang dia berdiri cukup jauh. sehingga tak dapat menangkap apa yang dianggap mereka lucu, tapi tidak syak lagi Deni menikmati betul kebersamaan itu.
Bel alarm dalam kepalanya mulai bordering beberapa bulan kemudian, menjelang ulang tahun Marco yang kedua, ketika anak itu kembali dari libur akhir pekannya bersama ayahnya di rumah Nenek Desi.
"Mamit Mami!" scranya berlari ke dalam pe-lukannya. "Daddy mengajak Marco makan ayam Kentucky! Enak, deh!"
"Berdua saja? Nenek nggak ikut?" tanyanya sambil mengecup pi pi nya. Baru ditinggal nginap semalam saja, rasanya sudah kan gen ban get! pikir Triska.
"Nggak, Mam. Bertiga, sama Tante Odi!" Kring... Sesuatu dalam kepalanya langsung me-nyetrum seakan peringatan ada bahaya. Pikirannya
g tcluh ten skit selama
Sejak kecelakaon itu. Deni memang lebih sering mengajak Marco menginap be Depok daripada dia sendiri vang benandang sehunan di rumah Dokter Justin. Alasannya. Marco sekarang sudah besar. bisa dibiarkan sendiri. tak pern dijagai terus. Juga karena Nenek Desi kange*. Setiap akhir pekan Deni tak pernah absen, tapi sekarang sudah jarang mam lama-lama di tempatnya. Paling-paling datang hanya untuk menjemput anaknya. Dia juga tak pernah lagi meminta Triska untuk main piano, sedangkan guar kesayangannya pun tak pernah
Kira-kira sebulan yang lalu Deni sudah mulai dinas lagi. Biasanya. sebelum kecelakaan, tiap hari dia tak pernah absen berkunjung ke Bagian Anak atau menelepon. Kalau tak ada yang akan di-bicarakan, katanya. ya sekadar man bilang "apa kabar". Tapi sekarang. sudah empat minggu dia masuk lagi. namun belum SEKALI PUN menghu-bunginya. apalagi mengajak makan seperti biasa!
Kenapa aku tidak mendusin dari dulu9 Kenapa aku tenang-tenang saja padahal tanda-tanda bahaya sudah muncul berkali-kali? Seandainya Odi memang mencintat Dent dan Deni ingin kembali padanya. mungkin aku terpaksa merelakan walau hatiku sakit. Tapi. setelah aku tahu dari pengaku-annya sendiri bahwa dia sama sekali tidak peduli Deni, bahwa yang diincarnya hanyalah se-warisannya, bagaimana aku bisa ber-
diam din melihat Deni diseret masuk ke dalam
taring labe-laba black widow yang ganas itu?! Tapi bagaimana aku akan mampu mengisiki Deni tentang bahaya yang mengancamnya tanpa menim-bulk an dugaan padanya bahwa tindakan itu se-mata-mata disebabkan oleh rasa cemburu belaka? Deni bukan orang bodoh. Dia pasti akan berptkir, kalau memang Odi pernah kupergoki dalam situasi seperti yang kukatakan, kenapa bukan sejak dulu kuadukan pada orangtuanya? Kenapa aku diam-diam saja? Masa karena aku merasa harus me I in -dungi Odi serta menutupi kebusukannya?
Kalau Deni sampai berptkir begitu, pasti dia takkan percaya padaku! Lalu apa yang harus kula-kukan untuk menyadarkannya? Hampir pecah kepalanya mencari jalan, namun semua terasa buntu. Sementara itu tiap minggu Marco melaporkan di-ajak duddy-nya ke sana, ke ami, dan hampir selalu mcnyelip Tante Odi\ Huh! Triska mulai panik. Apakah Deni sedang membiasakan Marco dengan Odi?
Betulkah bisa terjadi keajaiban seperti ini? Sudah berusaha mcmbunuh tapi berbalik malah berhasil mendapatkan cintanya?
Triska berpiktr-pikir untuk melarang Deni mengajak Marco menginap di tempatnya. Deni sekarang sudah kembali ke rumahnya sendiri, bekas rumah mereka bersama, sebab Depok terlalu jauh dengan
Dorlcan. "?
Tapi scteldh mengkajt botak-balik. a membatalkan rencana itu. Marco [ekat dengan ayahnya, tak mungkin lereka berdua. apalagi meiarangnya gan JiiJJy-nym, Selain itu, tidak adil alangi Deni mencmtai anaknya dua ranggu. sedangkan aku mempunyai banyak lima hari! Tambahan lagi, sebagai "mata mata"! Bila dia mela-t. Mam! Tante Odi nggak datang!"
Demikianlah hart berganti hari, minggu berganti minggu, sebulan pun berialu lagi, dan Triska masih belum menemukan jalan untuk mendekati Deni Waktu malahan kurasakan menyeret hatinya semakin menjauhi diriku! Ketika pada suatu hari dikenakannya celana jeans untuk mengantarkan Marco ke pesta ulang tahun seorang anak tc-tangga, baru disadarinya bahwa tubuhnya memang betul sudah lebih kurus seperti yang dikatakan ibunya serta Marti. Kenapa Deni tak pernah member! komentar. padahal dulu dia selalu mempcr-hatikan keadaannya. Kalau sekarang dia memper-hatikanku. pasti dia akan melihat bahwa aku sudah semakin kurus!
Namun sia-sia ditunggunya perhatian dari Deni. Terkadang dia malahan tidak merasa perlu untuk masuk ke rumah. Cukup dhekannya bel, pintu terbuka, dan dibawanya Marco pergi. Anak itu tak perlu dibekali pakaian sebab ayahnya juga banyak membelikannya baju serta mainan dan buku yang
ditaruhnya di sana. Triska pernah berptkir. mungkin itu taktik Deni agar Marco tetap bergainih untuk datang ke tempatnya, memakai lagi baju-baju b.igusnya, bermain main dengan maiaan kesayangan, dan jalan-ja I an ke mana-mana.
Akhirny a Triska tnemberanikan diri untuk meng-hadapi Deni dengan masalah ini. Sudah cukup lama dibiarkannya situasi itu makin lama makin lepas dari kontrolnya. Waktu itu sekitar pertengahan Juni. Sumi sudah berangkat ke Amerika bersama Hansa dan Linus, dan kartu posnya yang pertama pun sudah tiba.
Ketika Deni datang mengantarkan Marco kembali, Triska menghadangnya. "Jangan pulang dulu. Den. Ada yang perlu kubicarakan."
Deni menaikkan keningnya seakan baru kali itu melihatnya atau seakan heran, kok tumben dttahan pulang.
"Yuk, kita ke belakang," ujar Triska mengajak -nya ke gazebo*
"Ada urusan apa. Tris?" tanyanya setelah duduk
bcrhadapan.
Biasanya kau selalu ingin duduk di sebelahkul Sekarang kau tak mau lagi bersentuhanl
"Apa kau sudah serius lagi dengan Odi?"
"Wow! Datang-datang kok ditodong!" sanggah Deni mencoba tertawa.
"Aku serins! Kau harus menjawab!"
Deni malah jadi menunduk seakan tak berani membalas tatapannya. Melihat yang ciiajak bicara kelihatan tidak mau menjawab, Triska meneruskan,
"Nggak apa-apa kalau kau sen us dengannya. Kan perptsahan kita tujuannya memang supaya kau kembali padanya."
Uh, aksi, beriagak nggak apa-apa, padahal hatiku merintih kesakitan! Den, kan biasanya pin tar menebak isi hatiku. kenapa sekarang kau tidak
"Tapi aku keberatan kalau kau membawa-bawa anak kecil dalam kencanmu. Kalau kau ingin ken-can serius, pasti kan ingin berduaan saja, bukan? Masa mengajak bocah, kan kasih an cewekmu, nggak leluasa misalnya mau... ehem... ngomong
Keren! Teras saja pura-pura nggak apa-apa kalau dia mau balik sama Odi. Kasihan cewekmu? Matamu. kasihan! Rasanya tak ada yang lebih menggembirakan hatiku daripada mendengarnya kecebur dalam adonan dodo I yang bergolak-go-lak... Inh. gurihnya!
Deni mengangkat kepala dan menatapnya. "Sebelum kujawab. aku ingin tahu dulu, betulkah kau nggak keberatan aku pacaran dengan...7"
"Oh, nggak, nggak!" Triska memotong cepat, tidak sanggup rasanya mendengar nama itu keluar dari bibirnya "Bukankah perpisahan kita tuju..."
"...annya memang supaya aku kembali padanya!" Deni menyerobot kalimatnya dengan senyum gettr. "Kau belum juga mau memaafkan aku," keluhnya.
Dasar laki-laki! Tank muka sedih, beriagak ingin dimaafkan. padahal pacaran di luaran begitu gencar!
"Bukan itu yang jadi isu sekarang, Den. Aku
ingin kau jangan menyeret-nyeret Marco ke dalam
kencanmu!"
"Justin karena aku sudah serius. jadi anak itu kuajak." tuk.is Deni pelan. "Bukankah dia hams dtbiasakan dengan kehadiran... Odi bersamaku?"
Triska merasakan hatinya ditusuk-taauk sembilu. tapi dipaksakannya tetap tenang. Kalau bisa. usa-hakan tersenyum sedikit! Ptrlihatkan padanya bahwa jantungnui tidak ngamuk. saluran air matamu sudah tak berfungsi dan hatimu sudah kaujual di tukang loak! Ya. senyum begitu! Bagus! Sekarang tampilkan sikap profesionalmu di kamar praktek, anggaplah Dent seorang pasien belaka.
"Den, bolehkah aku mengajukan permohonan?"
"Tentu. tentu!"
"Jangan ajak-ajak Marco lagi bila kau sedang... ngngng..." Triska tak berhasil menyeiesaikan kalimatnya. Untung Deni masih bisa mengerti raak-sudnya. Dia mengangguk serius berkali-kali, dan malahan minta maaf.
"Kalau memang begitu kchcndakmu, akan ku-perhatikan. Maafkan aku, Tris. Apakah aku me-nyakiti hatimu?"
Triska nyaris tertawa. Hatiku sudah jadi burang loakan, mana mungkin bisa disaktti lagi! "Tentu saja nggak!" sahut nya man tap. Dan Dent menepati janjinya. Sejak itu Marco tak pernah lagi melapor ada Tante Odi bila dia tengah bersama ayahnya. Untuk se minggu-dua minggu Triska memang merasa tenteram, Namun lama-lama dia justru jadi resah. Marco tak dapat lagi
diandalkan sebagai mata-mata. sebab itu perminta-annya sendiri. Sekarang aku takkan tahu bagaimana perkembangan hubungan Deni dengan... Odi! Jangan-jangan nanti tahu-tahu aku disodori kartu undangan! Mati aku! Betulkah lakt-lakt itu selain buta warna juga cenderung buta cinta? Masa kau tak dapat membedakan data sejati dengan kepura-puraan? Masa kau tak dapat rnenyadah bahwa yang dirindukan oleh perempuan itu adalah uang-mu dan bukan kecupanmu? Masa calon profesor seperti kau bisa keblinger begini? Aku harus berusaha menyadarkannva sebelum terlambat!
Tapi hal itu lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Waktu terus berialu bagaikan sungai yang tak kenal lelah. mengalir sepanjang masa, mencari muara. Tak disadarinya, ulang tahunnya yang ketiga puluh satu sudah tiba, dan berialu. Musim hujan pun bertamu lagi. Cuaca sering men-dung, kebun basah, pepohonan dan bunga-bunga tampak segar, ikan-ikan di kolam masih sibuk hilir-mudik dalam kebisuan, dan bunga teratai sudah bertambah sekuntum lagi.
Sumi sudah balik dari Amerika, membawa oleh* oleh banyak, termasuk perutnya yang gendut. Ki-sahnya cukup menegangkan. Ternyata dia benar-benar melaksanakan apa yang diinginkannya. Dia berhasil hamil dengan memilih jenis kelamin anak-nya, yaitu perempuan. Wajahnya makin berseri, sebab katanya Hansa semakin memanjakannya.
Triska juga ikut fembira, sebab dia terpilih lagi untuk menjadi ibu permandian. Hatinya senang membayangkan akan ikut merawat seorang bayi perempuan yang mungii. Dia tahu. dengan keadaan
fisiknya serta sttuasi nidupnya. dia takkan mungkin bisa melahirkan lagi. Dia sebenarnya ingin juga punya anak perempuan. Karena tak mungkin mempunyai anak biologis, ya anak permandian pun jadi I ah. hiburnya.
Ketika Deni diberi tahu mengenai hal ini. ko-mentarnya singkat saja, "Sumi dan Hansa yang bemntung!" Triska tidak tahu apakah mereka dise-but bemntung karena akan punya anak perempuan ataukah karena masih bersama....
Bulan April pun tiba dan berialu. Marco sudah merayakan ulang tahunnya yang ketiga. Anak itu makin tampan, makin cerdas, makin kritis, makin tegap, makin tinggi, dan makin pi mar memikat hati terutama me ray u ibunya bila dia ingin scsuatu.
***
Setahun lebih sudah lewat, dan Deni dinyatakan sudah be has dari bahaya. Tnska merasa gembira be ream pur comas. Gembira sebab Deni selamat. Ccmas karena laki-laki itu tamnaknya semakin acuh saja padanya. Ketika Triska berpikir-pikir untuk membuatnya cemburu, tiba tiba Erik meng-undangnya untuk merayakan ulang tahunnya di Pulau Bidadari.
"Kalau kau takut berduaan denganku, jangan
klik kita seperti Bagelen. Kopco.
Roy, Nero, senuta akan ku ggak ada salahnya Bftengikat per-dokter-dokter ahlu siapa tahu bantuan mereka, kau kan tahu ektk leher. Kalau kenal kan lu-s separo!" Erik tertawa dalam Bag. ya! Aku punya surprise
"0. ya Deni akan k nggak keberatan. Ajaki, ga. kok Juga biar dia ku." Kalimat yang terai Triska meneeuruh bag;
luga. kuharap kau , ini pesta keluar-ikan din den can-it memhuat darah terjun. Hm. Apa t Erik dan aku
Mereka berangkat ke pulau dengan yacht milik Erik. Kapal pesiar itu wamanya putih. nama bcr warna biru di lambungnya, Trenyuh hi Kalhuku.
"Nama yang nggak biasa buat kapal." komentar Triska ketika dia sempat berduaan dengan Erik sebelum naik ke kapal. "Tapi kapalmu mi cantik
"Secantik orangnya!"
"Eh?" Triska menoleh bingung.
Erik tertawa, memhuat hati Triska Omega menggelepar gelepar dipecut sejuta emosi yang tumpang tindih bagatkan benang kusut. "Mali ku-bentahu sebuah rahasia," bisiknya menggamit le-ngan Triska. "Coba baca nama kapal ini."
ulrii k if Pt.M
"Treikaf...." Tn*ka mcngerutkan kemng "Coba lagi!" Erik menganjurkan. "Pakai srdikit mujinasimu!"
Trc-i-is-kal-ka... Tr-is*ka...," Tibe-tiba bibirnya gemetar, dia tak sanggup menatap laki-laki paling ganteng dalam jagai mi yang masih jaga meng-genggam tangannya. dan kini berbtsik. "Ini rahasia kita berdua, Tris. Orang bun tak perlu tahu! Sup-prwre-ku bagimu!"
Cuaca cerah pagi itu. langit biru dengan awan-awan putih yang membuat mat a hari terasa tak terlalu menyengat. angin sejuk yang membeiat pipi dan mengipasi hati yang go rah. ditambah dengan burung burung yang terbang ke sana kemart, sungguh pernandangan yang sempurna, pikir Triska ingin melukis. Namun rupanya die terlalu cepat membuat keaimpulan, sebab tak lama kemudian dirasakannya pernandangan itu mulai kaeau. di-rusak oleh sepotong tubuh langsmg dipalut celana hitam yang ketat dengan bins merah many a la, dari belakang pun rambut keriting parting serta bahasa tubuh yang gemulai itu sudah dikcnalinya, milik . siapa lagi yang bisa hcrpose aegemuhu itu sehun... Ratu ASEAN, Odi Bobadila! Reran, siapa yang mengajak nya? Pasti bukan Deni, sebab Deni men-jemput Marco dan aku.
Kegembtraannya jadi ciut sebagian. Triska men dapati dirinya diam-diam menjadi sibuk memper-hatikan beberapa orang tertantu. Yang agak meng-
hibur hatinya adalah Marco. Anak itu rupanya tidak begitu lekat dengan Odi. Buktinya, tidak sekali pun dia mendekati Tante Odi atau memang -gil namanya. Kalau Dent menyadari bahwa anak-nya tidak cocok dengan colon yang dipilihnya, mungkin dia akan berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan. Mudah-mudahan.
Yang membtngungkannya adalah kedua orang yang bersangkutan itu sendiri. Sampai pegal leher-nya memperhatikan. ternyata Deni dan Odi tak pernah saling menghampiri. Bila yang seorang ber-diri di geladak sebelah kiri, yang lain pasti ada di kanan, jauhnya seperti antara Jakarta dan Surabaya, dan ujung ke ujung! Triska tak dapat me-nerka apakah mereka sedang bersandiwara ataukah itu semacam taktik baru....
Untuk menghilangkan kekesalan hatinya, Triska pindah, berbelok ke sebelah kiri, dan berdiri di geladak membelakangi Deni serta Odi. Di bagian tengah geladak terdapat sebuah bangunan panjang, rendah, mirip kabin, yang memisahkan mereka dari dia.
Kapal tengah berhenti di tengah laut, untuk memberi kesempatan pada mereka agar menjadi pawang ikan alias mancing. Triska melihat tadi betapa antusiasnya Marco menerirna pelajaran dari ayahnya. Bukan main eratnya dia dengan ayahnya! Melihat Deni demikian mencintai anak itu, Triska sungguh sukar mempercayai bahwa dia pernah te-ga menyuruh bunuh anaknya bersama Odi.... Yah, kalau dipikir-pikir, hal itu bukannya mustahil—
buktinya dia mau mengorbankan Marco seandainya timbul komplikasi, bukan? Untung Dokter Kama! sudah banyak pengalaman. sehingga komplikasi bisa dihindari.
Triska membiarkan pikirannya menerawang jauh, sementara matanya mengawasi laut dan da-ratan nun samar-samar yang baru saja mereka tinggal kan. Dibiarkannya rambutnya bercanda dengan angin. dibolak-baliknya semua kenangan yang tersimpan dalam ingatan. dilepaskannya dirinya dari kungkungan masa kini yang menyesak-kan.
* Tengah dia membenamkan diri dalam arus masa lalu, mendadak telinganya menangkap suara har-monika yang merdu. Pemainny a pasti ahli seperti... ah! Aku kenal lagunya! Itu kan Let Me Coil You Sweetheart] Serta-merta lembaran kenangannya di-balik sampai ke tepi Danau Michigan, malam te-rang bulan musim panas. / am dreaming dear, of you day by day, Dreaming when the skies above are blue, when they're grey... Let me call you sweetheart, I'm in love with you. Let me hear you whisper that you love me too...
Triskaf mengejap-ngejapkan matanya yang mem-basah. Rasanya baru kemaria dulu mereka bcr-bulan madu ke sana, dan Deni begitu memukau dengan tiupan harmonikanya sehingga orang-orang di sekitar mereka terdiam semua, mendengarkan. Triska terkenang, betapa dia terhanyut dalam perasaan yang melambungkannya ke langit ketujuh, sehingga tanpa malu-main diiringinya melodi de-
100
ngan syaimya. Dan Deni seakan tak puas-puasnya mendengarnya men gat akan "Let me call you sweetheart," sehingga lagu Ha diulangnya berkali-kali. Ketika akhirnya bibirnya capek, dan dia terpaksa berhenti. mereka dihadiahi tepuk tangan membahana. di malam musim panas itu, seabad yang lalu____
Kenapa Deni sekarang meniup kembali harmo-nikanya yang sudah jarang dimainkannya itu? Mau mengajari Marco? Kenapa justru dipilihnya lagu itu? Apakah itu merupakan kata sandi bagi si dianya? Semacam kode-kode morse yang dipakai oleh agen-agen rahasia?
Dia terkejut ketika tahu-tahu sebuah tangan mendarat di bahunya. "Kau kelihatan murung," bisik Erik mempererat sentuhan di pangkal lengan-aya
Triska cuma menanggapi dengan senyum, tak tahu hams bilang apa.
"Hari yang bagus!" Erik mengheia napas seakan kenyataan im tidak sesuai dengan harapannya.
"Ya Untung nggak terlalu panas."
"Takut hitam? " Erik tertawa, menunduk me-mandangnya. "Aku justru ingin menjadi* cokelat. Setiap minggu aku berjemur di pantai. Waktu di Amerika, aku sering ke solarium, tapi cokelatnya nggak tahan lama."
"Hati-hati dengan matahari! Bisa kanker kulit, Bio!"
"Aku tahu. Trims untuk peringatanmu."
Erik menariknya ke dalam petukan dan Triska
294
membiarkannya. Dia tak kuasa dan juga tak bcr gairah untuk menolak, sebab hatinya menjadi le-mah, sibuk menyesali Erik. Kenapa kau dulu tak pernah menyurati aku dari Amerika? Sehingga ku-kira kau sudah lupa padaku. Kenapa kaubiarkan aku sendiri di sini? Seandainya aku tidak menge-nal Deni... Marco bisa menjadi anak kita, Rik. Pasti lebih ganteng lagi! Dan aku tak usah merana seperti ini, sebab terpaksa menyerahkan suami ke tangan orang lain.
Seakan bisa merasakan kecamuk dalam pikiran Triska, Erik juga lebih banyak berdiam diri, me-ngalungkan lengannya ke bahu Triska, mengha-ngatkan tubuhnya, dan sesekali menyapu rambut-rambutnya yang diacak-acak angin. Triska memang tidak menyanggul rambutnya, melainkan mengikatnya saja dengan karet berpita biru menjadi buntut kuda. Sebentar-sebentar buntut itu menyapu wajah Erik seakan mengajaknya bercanda.
Mereka begitu tenggelam dalam keasyikan ber-pelukan, sehingga lupa waktu dan tidak menyadari bahwa kapal sudah bergerak lagi. Tahu- tahu Triska seakan tersadar dari mimpi, diseret kembali ke alam nyata oleh teriakan Marco. "Mami! Mami! Daddy mendapat ikan!"
Rupanya harmonika sudah lama berhenti. Suasana terasa hening ketika dia menoleh dan melihat Marco berlari menghampirinya sambil menunjuk-kan ikan kecil yang menggelepar-gelepar di ujung kail. "Kasihan, Marco I Ikan itu kesakitan, lepaskan lagi! Terlalu kecil buat dimakan."
295
Marco menoleh ke belakang. "Daddy," panggil-nya minta banruan.
Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Matanya yang mengikuti Marco, kini menangkap sosok yang tengah bersandar di terali.... Sudah berapa lamakah dia mengawasi kami? Air mukanya kelihatan tenang, apa yang tengah dipikirkannya? Seandainya aku diperkenankan menjenguk ke dalam hatinya. berapa pun kubayar! Hei. kenapa hatiku jadi gundah? Berdosakah aku dipergokinya dalam pelukan Erik? Dia sendiri^. ke sana kemari bersama Odi. begitu bebasnya, dan tidak kelihatan merasa bersalah sedikit pun! Hei, Tris, ban gun1 Duma kan sudah bukan daerah kekuasaan mutlak laki-Iaki!
Deni membantu Marco melepaskan kembali ikan kecil itu. Erik melepaskan pelukannya, dan mereka semua diundangnya turun ke ruang duduk untuk makan.
Triska senang melihat Marco sudah lincah kembali. Sejak beberapa minggu terakhir, anak itu sempat membuatnya khawatir, sebab sering me-ngeluh sakit kepala. Tapi diperiksa sana-sini, tak ada kelainan yang ditemukan. Akhirnya dia terpaksa menarik kesimpulan bahwa anak itu mungkin ingin menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Anak yang kesepian atau merasa takut ditinggal-kan, biasanya suka menderita keluhan-keluhan ba-yangan seperti itu.
Triska memutuskan untuk bersikap dewasa dan tidak akan merusak pesta Erik dengan memper-
lihatkan permusuhannya terhadap Odi. Ketika ber-duaan tadi, dia sempat menanyai Erik kenapa Odi bisa ada di situ. Erik bilang. diajak oleh Roy. Jadi. mudah-mudnhan kedua insan itu bisa saling se-trum, dan dia serta Deni bisa...
"Hei, jangan ngelamun! Nanti dun ikannya ter-telan!" sera Sumi tiba-tiba di kupingnya. Triska terkejut, tapi cepat mengulum senyum melihat te-mannya yang sudah gendut banget, sebab sudah hampir jalan delapan bulan.
"Sejak kapan ikan punya duri!" Hansa tertawa menyalahkan sang istri. Sungguh aneh pasangan ini, pikir Triska. Hansa sering kali menunjukkan kesalahan istrinya di depan umum, tapi menurut pengamatannya, laki-Iaki ini sebenarnya sangat mencintai pasangannya. Hal itu pun dibenarkan oleh cerita-cerita Sumi yang suka blak-blakan padanya. Terlebih sekarang, Linus akan punya adik. "Wah," kata Sumi, "sayangnya padaku berlipat ganda! Hansa tahu diri banget, dia nggak bisa hamil sendiri, jadi bukan main rasa terima kasih-nya padaku!" Sumi membongkar rahasia.
"Rik, kapan sih kau menyusul kita?" tiba-tiba Mirsa buka topik. "Lihat, kita semua sudah punya buntut, bahkan Sumi mau mengalahkan aku. Ku-doakan semoga kembar empat, dehl Biar kewalah-an kau ngurusnya, Sum. Apa kau nggak kepingin, Rik?"
Erik tertawa lobar sambil mendecak. "Ah, daripada pusing-pusing kawin, mendingan aku pesan saja dari laboratorium. Sepuluh anak sekaiigus
297
juga bisa! Dan persis sama dengan diriku! Kan di Amerika orang sudah bisa bikin bayi dengan cara cloning\ Cuma karena khawatir menghebohkan du-nia, mereka nggak mau gembar-gembor dengan publikasi Ada yang punya delapan anak sekaligus dengan cara Itu. Iho!"
"Astaga!" seru Sumi. "Untung nggak dipublika-sikan! Kalau Hansa tahu, bisa-bisa pamorku langsung turun jadi tukang masak tok!"
"Kaubilang kawin itu pusing?" Roy menegaskan seakan tak percaya.
"Betul, kan?" Erik memandang Triska dan Deni bergantian.
"Kau nyindir aku?" gertak Triska, dan Erik lekas-lekas mengibarkan sehelai kertas putih tanda gencatan senjata, gerakannya lucu seperti badut sirkus, menyebabkan anak-anak tertawa.
"Ngomong-ngomong soal cloning, boleh nggak aku pinjam Triska buat di-clone, Den? Aku sudah telanjur beli cincin—habis semua orang yakin kau bakal pulang ke mmah kita di surga, menjadi ma-laikat—nggak bisa dikembalikan lagi. Sebut, deh, berapa balas jasanya! Erik juga pasti mau!" ujar Roy pada Deni.
"Jelas dong! Sebutkan hargamu, Den!"
Nero nimbrung, "Eh, dia kan anak raja kapal! Mana butuh duit!"
"Ah, setiap orang pasti punya harga," bantah Bagelen yang sarjana hukum. "Dalam kamusku, nggak ada istilah 'nggak mau'! Kalau orang me-nolak, itu cuma berarti yang ditawarkan kurang
tinggi baginya. Biarpun raja seribu satu malam, pasti bisa dibeli!"
"Aku setuju dengan Bagelen," ujar Deni manggut. "Nah, gimana kalau separo dari Sigma Enterprise?"
"Buset! Bisa-bisa aku dicincang ayahku!"
"Ya kalau pelit, ngidamnya jangan terlalu mu-luk!" sindir Sumi.
"Kelihatannya memang aku ini seperti bergeli-mang duit!" keluh Erik. "Tapi sebenarnya aku dijatah oleh ayahku! Waktu kuliah di Amerika, aku pernah coba-coba memperbanyak uangku di Las Vegas, eh, tahunya malah ludes! Wah, ayahku ngamuk, hampir-hampir nggak mau membayari uang pondokan! Den, kalau aku sanggup, seluruh hartaku kurelakan untuk barter dengan Tris. Tapi masalahnya, aku sungguh nggak punya apa-apa. Kapal ini misalnya, memang atas namaku, tapi itu cuma taktik untuk mengelabui Jawatan Pajak!"
"Sudah kuduga!" dengus Kopro yang ahli per-pajakan.
"Sayang!" keluh Deni. "Nasib kita mpanya sama. Bapak kaya, anaknya jembel. Ibuku bilang, di pasaran sedang ditawarkan kalung asli Marie Antoinette yang dihadiahkan oleh Kardinal de Rohan padanya. Nah, harganya sekitar separo dari keka-yaan ayahmu. Aku sebenarnya naksir..."
"Mau kaubeli untuk siapa?" tanya Kris.
"Jelas untuk cewek! Masa mau dipakainya sendiri?" Nero yang menjawab. "Tapi siapa orang yang mau kauumpani semahal itu?"
Triska merasa semua orang menoleh padanya,
tapi dia sendiri melihat Odi tersenyum penuh ke-puasan. Bel alarm untuk kedua kalinya berbunyi. Apakah kedua manusia ini tengah bersandiwara, pura-pura sudah tak ada hubungan apa-apa lagi? Bukankah itu hanya taktik belaka?
"Jadi boleh nggak aku minjam Triska...?" Roy me ne gas kan.
"Hei. memangnya aku sapi! Main di-cloning-cloningl Aku perempuan merdeka, nggak punya wall atau pun sipir! Kalau ada permohonan apa-apa silakan berurusan langsung denganku!"
"Lebih bagus lagi!" gumam Roy kegirangan. Lalu, "Tris, maukah kau kawin denganku?" tanya Roy dan Erik berbarengan.
Grrr. Suasana bukannya menjadi syahdu, tapi malah gegap gempita, semua tertawa terbahak.
"Roy! Kau sebenarnya maunya dengan siapa, sih?!" tegur Erik sambil melontarkan pandangan ke arah Odi yang duduk agak ke ujung. Sebagai tuan rumah rupanya dia merasa tidak enak melihat ada tamu yang dikucilkan semua orang, jadi mau diikutsertakannya sebisa mungkin.
"Kalau yang kaumaksud Odi, aku angkat tangan, den. Gelombang dan frekuensinya nggak bisa kutangkap!"
"Memangnya aku siaran radio!" Odi mendumal tapi Triska melihatnya melirik tajam ke kiri, dan ketika diikutinya arah lirikan itu, Triska terbentur pada sepasang mata—yang dikenalnya dengan baik —yang juga tengah membalas lirikan maut itu. Bel alarm berdering untuk ketiga kalinya.
"Aku saja, gimana?" Sumi menawarkan diri.
"Harganya bisa berunding."
"Aku sih nggak menganjurkan." ujar Hansa seakan mau memboikot istrinya. "Biar harga beli lebih rendah, tapi ongkos mamtenance-nyz akan tinggi. Sebab Sumi termasuk species yang doyan makan! Hobinya cuma tiga: makan pagi, makan siang, dan makan malam. Lihat saja dia makin gemuk, bahan pakaiannya nggak cukup tiga meter!"
"Ini kan yang disebut hamil. monyet!" bantah-nya nyureng. "Ini bukan gendut! Kukorbankan ke-langsingan pinggangku demi egomu, supaya bisa jadi bapakl"
Hansa menggaruk-garuk kupingnya yang kena sentil.
"Makanan ini enak-enak, Iho! Aku ingin ketemu sama kokimu, Rik," puji Mirsa yang selalu berusaha mendapatkan resep baru dari segala penjum
angin.
"Aku nggak punya koki khusus. Ini kan pesan dari catering-rxya Ibu Munir di Menteng. Karena itu aku tuliskan R.S.V.P. di kartu undangan, maksudku supaya tahu berapa yang akan hadir, jadi pesan an makanan bisa disesuaikan, jangan sampai kekurangan atau kelebihan."
"Sori, Roy," ujar Deni serius. "Kalau aku tahu dari dulu, hatimu ada di mana..."
'rhptmdtt s'il vtnu plait ¦ mohon jawaban (bila berhalangan)
"Dari dulu juga masih di dada kiri!" potong Roy penasaran.
"...aku pasti nggak bakal nyerobot!"
"Ah, nggak usah pakai son. Kurasa Triska memang alergi sama aku. Buktinya. setelah jadi janda kembang pun dia tetap ogah."
"Apa? Kurang ajar! Jadi kaucoba-coba mau me-mukul aku dari belakang?" Deni berseru sambil melotot. bola matanya nyaris copot.
"Lho. lho. lho! Waktu itu kan Triska sudah bukan istrinu lagi! Kita kan penganut pasaran be-bas! Pernah belajar ekonomi nggak, sih? Wah, ru-nyam punya teman cemburuan begini." Roy meng-gerendeng membuat Marti melirik Triska dengan menahan geli.
Sambil guyon begitu, sejam kemudian mereka mendarat di pulau. Rencananya, mereka akan ber-malam di hotel bertingkat lima yang dikelola bersama oleh Pak Agus Melnik serta Pak Petrus Sigma Nanti malam mereka akan merayakan ulang tahun Erik, dan esoknya kembali pulang. Ayah, ibu dan adik perempuannya serta anaknya sudah lebih dulu ke sana dua hari yang lalu.
Di samping kompleks gedung tinggi itu terdapat juga beberapa pesanggrahan dari bambu. Antara pondok yang satu dan yang lain saling dihubung-kan dengan jembatan kayo, di bawahnya terdapat air laut.
Triska merasa lega mendengar mereka akan tinggal di pondok-pondok, tidak jadi dalam hotel yang dingin dan gersang. Karena pondok' itu
302
cukup luas, Triska menyatakan ingin nginap bersama Kris dan Marti. Juga agar Marco ada teman-nya. Bobi dan Marco memang sudah menjadi sail abat.
Saat ttU sudah menjelang senja, langit lembayung tak terkira indahnya. Burung-burung camar pun mulai terbang pulang, mengingatkan Triska pada anniversary mereka yang pertama Mereka juga kemari, tinggal di vila keluarga Melnik, agak ke utara sedikit dari hotel ini. Dia masih ingat kenangan itu.... Mereka duduk-duduk di luar, memandangi burung-burung yang cecuitan.... Kata Deni, mencari pasangan mereka yang ketinggalan....
Kris dan Marti sedang di dalam pondok, mungkin mau istirahat. Triska keluar dan berdiri di jembatan, berpegangan pada terali bambu, memandang ke dalam air di bawah kakinya. Ikan-ikan kelihatan jelas berenang kian-kemari dalam air yang jemih. Wah, betapa senangnya Marco kalau melihat mereka! Diangkatnya kepala, lalu menoleh kalau-kalau Marco ada di dekat situ. Tadi anak itu keluar dengan Bobi, katanya mau ke tempat Daddy.
Triska langsung tertegun dan kaget melihat mereka. Deni dan Odi sedang berdiri berdampingan di depan pondok sebelah kiri. Astaga! Apakah mereka sepondok berdua? Hatinya langsung berde-bar kencang. Dilihatnya Deni mengangguk berkali-kali sementara Odi kelihatan ngoceh terus, me* muntahkan kata-katanya seperti senapan mesin kaum Sandinista. Jadi selama di kapal itu mereka cuma pura-pura nggak saling kenal?
Triska tidak men dapat kesempatan untuk mencari jawabannya, sebab telinganya langsung di-terkam oleh iengking suara Marco yang menerjang dan menubruknya dari belakang. "Mami! Mami!" pekiknya seperti kesakitan. Deni juga mendengar dan langsung berlari melalui jembatan yang meng-hubungkan kedua pondok mereka.
Triska langsung berlutut dan memeluk anaknya. "Kenapa anak Mami?"
Marco memegangi kepalanya. "Kepalaaa... sa-kiiit, Mam!" keluhnya menangis menjerit-jerit.
Deni juga ikut jongkok memeluknya. "Bilang di mana sakitnya, Co," pintanya, tapi anak itu tak dapat menunjukkan di mana yang sakit. Dia meme-gang seluruh kepalanya. Tangisnya yang meleng-king-lengking membuat Kris dan Marti tergopoh-gopoh keluar, begitu juga yang lain-lam.
"Marco memang sudah beberapa minggu ini terkadang suka pusing atau sakit kepala," Triska menjelaskan pada abangnya dan semua yang ada di situ.
"Kukira cuma ulah anak-anak ingin dimanja...." Tapi melihat anak itu sekarang betul-betul kesakitan, Triska tahu Marco memang tidak pura-pura.
Deni mengangkat dan mendukungnya, dibawa-nya duduk ke atas kursi. "Jangan takut, Mami sama Daddy akan menyembuhkan sakitmu."
Triska masuk ke kamarnya mencari senter kecil dari tas, lalu keluar lagi dan memeriksa mata anaknya. Reaksi pupil masih normal. "Mar, kau-bawa analgesic!"
Martina menggeleng. "Tapi aku punya sedative
untuk anak-anak." Dia berlari ke dalam dan balik
dengan kotak berisi suppositoria. Triska mengambil satu, merobek pembungkus timahnya, dan me-masukkannya ke dalam anus. Tangis Marco me-reda setelah obat bekerja. Dia menjadi ngantuk. Tapi Triska tetap belum tenang. Anak itu masih mengangkat tangannya sebentar-sebentar ke kepala. Dia berpandangan dengan Deni, lalu mengangguk.
"Kurasa sebaiknya kita.bawa pulang." Deni juga mengangguk setuju.
"Ada apa?" sera Erik yang kelihatan baru muncul, tergopoh-gopoh mendekati keramunan orang. Triska menceritakan apa yang terjadi.
"Aku ingin membawanya pulang, Rik. Adakah kapal yang berangkat dari sini?"
"Aku akan mengantarkan kalian," katanya dan dengan sigap mengambil tindakan. "Kalian tenang-tenang saja di sini, pesta nggak dibatalkan. Kalau malam ini aku nggak sempat kembali, jatahku biar dibagi rata saja. Yang pasti, besok kapal ini akan kembali untuk menjemput kalian bersama orang-tuaku. Jadi jangan takut, kalian bukan ditinggalkan di sini."
Kris juga mau ikut pulang, tapi Triska bilang, tak usah. Cukup Deni bersamanya.
Malam itu juga Marco dimasukkan ke rumah sakit. Pada pemeriksaan pendahuluan tidak ditemu-kan kelainan apa-apa kecuali pembengkakan di bagian belakang bola mata. Triska minta bantuan
Bos Rahwana yang ahli di bidang neurology anak-anak. Bos segera datang dan memeriksa cairan otak. Ternyata tekanannya yang normalnya ber-kisar antara tujuh puluh sampai dua ratus milt-meter air, sekarang melejit sampai ke langit
Triska kaget sekali dan takut Berbagai diagnosis berkilat dalam kepalanya. Salah satu yang paling menakutkan adalah tumor. Anak yang se-manis ini kena tumor di otak?
"Bahaya utama dari tekanan yang begini tinggi adalah kebutaan," ujar Bos tepekur. "Kita harus mengeluarkan sedikit cairan otak ini, lalu memberi cortison. Papilledema ini bukan gejala yang baik."
Begitu ada kesempatan, Triska langsung mene-lepon orangtuanya. Dokter Justin dan istrinya segera tiba tak lama kemudian, sebab rumah mereka di Menteng memang tak berapa jauh dari situ. Deni juga memberitahu ke rumahnya. Walaupun Depok letaknya jauh sekali, kakek dan nenek itu menyatakan akan segera datang menjenguk cucu tersayang mereka. Deni meminta mereka mampir dulu ke rumahnya, mengambilkan Snoopy, boneka anjing yang selalu dibawa tidur oleh Marco bila menginap di sana.
"Besok akan kita tekukan tes yang lebih terper-inci," kata Bos. "Untuk sementara, cukup ini dulu. Yang penting anak ini bisa istirahat, sakit kepalanya dihilangkan untuk saat ini."
Malam itu baik Triska maupun Deni tidak ada yang ingat makan. Untung Erik keluar membelikan mereka hamburger serta air botol, dan memaksa
306
keduanya agar mengisi perut Marco mendapat makanan ringan dari dapur rumah sakit. Triska me-nungguinya, tidak semenit pun ditinggalnya. Bila dia harus ke WC, barulah dipanggilnya Deni yang sedang duduk di luar bersama Erik dan orangtua-orangtua mereka berdua, untuk menggantikannya. Kemudian, disuruhnya Deni keluar lagi, biar dia sendirian di dalam, sebab kamar itu sempit.
Marco sudah tenang. Matanya sudah berkedap-kedip tanda mulai mengantuk, tapi masih dipaksanya untuk melotot seakan khawatir ibunya akan pergi. Sambil memeluk Snoopy yang disebutnya temannya, didengarkannya ibunya mendongeng Kancil dan Buoy a.
Marco sudah tiga tahun lebih, cerdasnya bukan main dan cerita dongeng adalah nyamikannya yang utama. Dia betah mendengarkan berjam-jam sampai dipaksa harus tidur.
"Nah, sang Kancil sudah selamat menyeberangi sungai dengan melompati buaya-buaya itu, sekarang kau harus tidur, ya. Lihat, temanrnu sudah ngantuk juga!" "Mami jangan tinggalkan Marco, ya." Triska mengecup pipi anaknya, kiri lalu kanan. "Tentu saja nggak. Mami akan menunggui kamu sampai kamu bangun besok pagi." "Janji, Mam?" pin tanya manja. "Janji!"
"Daddy juga?" "Daddy juga."
Marco mengatupkan matanya, tapi sesaat kemu-
dian sudah terbuka lagi. Ditatapnya Triska dengan mata setengah mengantuk. "Mam, apa Oom Erik akan tinggal bersama kita?"*
Triska tertegun mendengamya. "Kenapa kau tanya begitu, Marco?"
"Sebab Daddy tanya, apa Marco suka sama Oom Erik, apa Oom Erik sayang sama Marco. Mam, Oom Erik sayang nggak sama Marco?"
Tentu saja, Sayang."
"Jadi dia akan tinggal sama kita. Mam?" "Apa kamu ingin Oom Erik tinggal bersama knar
"Marco mau Daddy yang tinggal sama kita, Mam. Oom Kris juga tinggal sama Bobi, Mam. Sama maminya Bobi. Kenapa Daddy nggak mau tinggal sama kita? Apa Daddy nggak sayang sama Marco, sama Mami?"
Triska menggigit bibir seraya mengelus-elus ke-pala anaknya Hatinya trenyuh sekali, tapi apa yang dapat dilakukannya selain menghibur Marco?
Tentu saja sayang, Marco. Apa kamu ingin sekali tinggal dengan Daddy?"
"lya. Tapi sama Mami juga! Dua-duanya, Mam!"
Triska mengecup kembali anaknya, sekaligus menyembunyikan air matanya yang mengancam akan turun. Dipeluknya anak itu erat-erat. "Oke, Marco. Man kita bikin perjanjian. Kamu harus cepat sembuh, dan Mami akan mengajakmu pulang ke rumah Daddy. Kita berdua akan tinggal bertiga dengan Daddy seperti Bobi dengan papi-nya Setuju?" Triska mengulurkan tangan.
Wajah Marco serentak cerah, senyumnya merekah, dan tangan ibunya dijabatnya. "Setuju!"
"Nah, sekarang tidur, ya."
Marco mengangguk, memeluk temannya lebih erat, lalu mengatupkan matanya. Triska me man-dangnya sejenak. Untuk saat ini masih oke, pikir-nya. Entah besok... Apa yang akan diberitahukan oleh tes-tes selanjutnya? Apakah biji matanya ini akan selamat? Ataukah...?
Triska berdiri dari duduknya di pinggir ranjang dan berbalik. Dia berjengit melihat siapa yang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan dalam saku. Wajahnya serentak terasa panas. Sudah berapa lama Deni berdiri di situ? Apakah dia sempat nguping? Ataukah baru saja masuk?
"Sudah tidur," ujarnya tanpa ditanya, sekadar mau menutupi gejolak dalam dadanya. Kenapa dia menatapku seperti orang mau menagih utang?
Deni melangkah masuk, menghampiri tempat tidur. Dibetulkannya selimut Marco, lalu dia menun-duk untuk mengecupnya. Anak itu mendesah kecil walau sebenarnya sudah terlelap.
Triska memperhatikannya sejenak, dan lagi-Iagi pikiran yang sama menetjangnya. Betulkah Deni mencintai Marco, tapi sanggup pula membunuh anaknya yang dikandung oleh Odi? Manakah Deni yang asli, yang sekarang atau yang dulu? Apakah aku sudah mengenalnya luar-dalam? Atau bam kulitnya saja? Sungguhkah dia mencintai anak inir j yang dulu akan dikorbankannya seandainya timbul komplikast?
Bab 10
Tak putus-putusnya Triska mengucap syukur ke-pada Tuhan, sebab Marco ternyata tidak menderita penyakit yang fatal. Setelah dilakukan pemeriksaan secara tuntas, tim dokter yang menangani anak ini membuat diagnosis: pseudotumor cerebri, suatu keadaan tekanan cairan otak meninggi, penyebab-nya tidak diketahui. Gejala ini cukup gawat sebab dapat menyebabkan kebutaan bila terlambat dita-ngani. Selain bahaya untuk penglihatan, rupanya penyakit ini tidak menimbulkan gangguan pada saraf-saraf otak lainnya.
Marco sempat dirawat selama dua minggu. Pada minggu pertama, setiap hari dia di-LP untuk me-ngeluarkan cairan otak, sehingga Triska merasa kasihan sekali.
"Mam, masa ditusuk terus-terusan?" keluh anak itu.
Triska merasakan hatinya pedih teriris. Akhirnya diserahkannya tugas itu pada rekannya, Husein,
lumbal punka
yang pintar bercanda dengan anak-anak untuk
mengalihkan perhatian mereka. Dan Deni dimin-tanya agar hadir pada saat LP sehingga anak itu bisa melihat wajah yang dikenalnya dan tidak ke-takutan. Triska sendiri tidak tega menyaksikan, jadi dia menghindar, tapi segera masuk begitu LP selesai.
Setelah pulang, Marco masih dibawa untuk LP seminggu sekali selama sebulan. Setelah itu masih diobservasi. Triska merasa bahagia bukan main ketika ternyata penglihatan anak itu sama sekali tidak terganggu. Dan pada bulan Agustus ia kembali melihat Marco sebagai anak yang lincah dan penuh dinamik.
Ibu Deni ingin selamatan dengan nasi tumpeng untuk merayakan sembuhnya Marco. Sudah tentu ibu Triska juga tak mau ketinggalan. Mereka ber-embuk lalu memutuskan bergabung untuk menye-lenggarakan pesta syukuran bagi cucu mereka. Karena rumah keluarga Melnik lebih luas, sehingga dapat menampung lebih banyak tamu, selamatan itu pun diadakan di Depok. Selain sanak keluarga kedua belah pihak, Triska serta Deni mengundang kawan-kawan mereka yang memang biasa mera-maikan setiap pertemuan yang ada acara makan-makan.
Marco tidak memedulikan semua keramaian itu. Dia malah kelihatan kesal diciumi oleh setiap tamu yang baru datang atau yang kebetulan melihatnya. Triska mengerti, tentu saja tujuan utama Marco ke rumah Oma Desi adalah untuk berenang
serta main dengan Dona dan Tolstoy, induk dan abang Bella.
"Mam, ayo dong!" ajaknya menarik-narik tangan ibunya.
Triska juga merasa sumpek di dalam rumah yang penuh orang itu, jadi diturutinya kehendak anaknya. Sambil menjinjing ban, digandengnya Marco ke kolam di kebun belakang. Saat itu baru permulaan September, udara masih hangat tapi di-perkirakan tak lama lagi musim hujan akan tiba. Kebun yang terawat itu sangat memikat, penuh dedaunan hijau yang rindang menyejukkan mata serta perasaan. Di sana-sini juga terdapat petak-petak bunga aneka warna, dan di pojok dekat dapur ada petak sayur serta bumbu-bumbu seperti jahe, kunyit, serai, dan lainnya.
Marco berjalan sambil menari-nari saking gem-biranya mau berenang. Di dekat kolam renang terdapat beberapa pohon mangga yang rindang. Dibawahnya terdapat sebuah bangku kebun ber-warna putih dengan tempat duduk dari karet busa diiapis plastik merah tua. Pernandangan yang memikat, pikir Triska, mengenali objek yang bagus untuk dilukis. Hijaunya dedaunan, putih dan me-rahnya perabot, hijaunya mmput... Ah, menarik sekali... apalagi kalau ada gadis muda berambut panjang, bergaun kuning, asyik membaca di atas bangku...! Ah, aku sudah lama tidak menyentuh palet dan kanvas, pikimya rindu. Aku terlalu sibuk dengan urusan Iain. Akhir-akhir ini aku ketiban banyak problem! Dimulai dari saat Deni kecela-
kaan. Aku bat a I ke Calcutta, batal ketemu dengan Mother Theresa, batal mengambil air zamzam, batal melihat Taj Mahal! Aku bahkan melalaikan permainan pianoku, melalaikan murid-muridku, dan kurang mengawasi latihan piano Marco. Ke mana perginya semangatku yang biasanya meng-gebu-gebu?
Triska mendadak terkejut ketika Marco menarik tangannya dari genggamannya, dan tahu-tahu sudah lari sambil berteriak, "Tante Odi!"
Triska mengikuti anaknya dengan matanya tapi dia tidak melihat Odi dekat-dekat situ. Dia bahkan tidak melihat ada perempuan lain kecuali gadis yang tengah asyik di bangku.
Marco justru berlari ke arah pohon mangga! Dia tiba di situ dan langsung memeluk gadis itu sehingga bukunya hampir terjatuh ke mmput Triska juga mempercepat langkahnya dan tiba sesaat kemudian. Dengan keheranan dipandangnya gadis manis itu. Wajahnya mirip dengan Nyonya Desi. Bukankah ini Audrey, anak Tante Ema?
"Mami! Ini Tante Odi!" seru Marco tertawa lebar sambil mengguncang-guncang sebelah tangan gadis itu.
"Odi?" Triska membeo dengan ragu.
Gadis rupawan berambut panjang itu tertawa memandangnya. "Hai, Tris! Tahu tun, Deni sedang angot apa! Sebenarnya Marco bisa menyebut Odr\ tapi olehnya disurah memanggil aku Tante Odi\"
triska merasa bahwa Audrey menyembunyikan sesuatu, namun dia tak dapat menerka apa itu. Dia
lebih bingung memikirkan kenapa Deni menyuruh Marco memanggil Odi, bukannya Odri.... Apakah ini berkaitan dengan taktik-taktik lainnya? Ter-masuk dalam rencana besamya? Rencana apa? Jadi yang selama ini yang diajak oleh Deni "kencan" bersama Marco adalah anak Tante Ema? Kenapa Deni jadi aneh begitu?
Belum sempat Triska memecahkan teka-teki ini, Deni sudah memojokkannya dengan persoalan barn.
Karena pikirannya berputar terus, sekali ini Triska kurang bergairah untuk berenang lama-lama. Dia keluar dari kolam setelah memesan Audrey agar mengawasi Marco. Anak itu sudah bisa berenang, jadi tak terlalu mengkhawatirkan bila dibiarkan sendiri dalam air, cukup diawasi, tak perlu dipegangi terus.
Triska menggelar handuk pantai yang dibawa-nya, di bawah deretan pohon pinus yang rindang kira-kira empat meter dari kolam. Lalu dia berba-ring menelungkup. Maksudnya hanya sekadar mau beristirahat sampai Marco puas main air, kemudian mereka akan makan tumpeng di dalam. Tapi dia lupa memperhitungkan angin segar yang mengipasi punggungnya yang telanjang, membuatnya rileks sekali sampai mengantuk dan pikirannya yang pe-nat itu pun mengalah....
Entah berapa lama dia terlena, tahu-tahu dia terjaga dan dirasakannya sekelilingnya hening. Ti-
dak kedengaran orang teriak-teriak dari kolam, tidak kedengaran suara air... Marco! Di mana dia?
Triska serta-merta mengangkat bagian atas tu-buhnya dan memandang berkeliling. Hatinya men-celos. Kolam sudah kosong. Kenapa Audrey dan Marco tidak membangunkan aku?!
"Mencari Marco?" •
Triska terperanjat mendengar suara itu dan menoleh ke belakangnya. Deni sedang duduk bersila di atas rumput, seakan tengah menjagainya tidur.
"Dia sudah kusuruh makan ke dalam," sambung Deni tersenyum kecil.
Triska menggerakkan tubuh untuk duduk, lalu disambarnya blus tunik di atas handuk dan dikena-kannya.
"Aku nggak berniat tidur sebenarnya," katanya seakan menjelaskan sesuatu, sambil menyisiri ram-butnya yang sudah setengah kering dengan jari-jarinya. "Sudah kupesan, dia harus memberitahu kalau sudah puas berenang."
"Aku yang melarangnya membangunkanmu. Kau kelihatan begitu nyenyak, nggak tega mau menyuruhmu bangun. Kau tidur seperti bayi."
Jadi kau memperhatikan aku tidur? Triska serentak merasakan wajahnya panas membara. Untung aku telungkup, jadi wajahku nggak kelihatan! Siapa tahu, aku tidur celangap?
"Berapa lama aku tidur?" tanyanya sedikit malu.
Deni tersenyum lebih lebar. "Nggak lama, cuma tiga perempat jam."
"Tiga perempat... Jam berapa sekarang?"
Deni melihat arlojinya, lalu mengangkat bahu seakan menyatakan tak jadi seal pukul berapa sekarang. "Jam satu lewat."
"Wah, bisa-bisa aku sudah kehabisan tumpeng!" Triska bergerak mau bangkit, tapi dicegah oleh Deni dengan ulapan tangan.
"Jangan kesusu. Aku sudah membawakanmu makan siang," ujamya menunjukkan sebuah termos seraya bangkit dari bersilanya dan menghampiri tikar handuk yang lebar itu, lalu ikut duduk di depan Triska.
"Makan, Tris," undangnya membuka termos itu dan menyendokkan tumpeng ke atas piring plastik yang disediakannya. Dari termos lain yang di-sulapnya dari bawah pohon pinus, dituangnya teh ke dalam tutup termos.
Triska tersipu-sipu mendapat perlakuan seperti itu. Rasanya seperti bertemu dengan alien yang kesasar dari ruang angkasa. Yang disebut per-hatian itu kan sudah lama tak dikenal lagi oleh Deni, bukan? Sudah berapa abad berselang, ya, ia tak pernah lagi mengucapkan sepatah pun kata manis padaku? Kenapa mendadak dia memper-lakukan aku seperti ratu? Apa yang diinginkannya?
Triska tak perlu menunggu terlalu lama. Begitu dia selesai makan, Deni langsung menembakkan serangan pertama yang demikian mengguncangkan perasaan Triska, sehingga tutup termos dalam tan-gannya tumpah dan teh panas menyengat kulitnya.
"Tris, aku telah mengambil keputusan mantap untuk menikah lagi."
316
Hah?! Teh panas itu terasa menggigit di paha.
"Dengan atau tanpa persetujuanmu."
"Kau menunggu aku bangun cuma untuk menv beritahukan ini padaku?"
"Nggak. Masih ada lagi yang mau kukatakan." Dan ditembakkannya serangan kedua yang lebih mematikan. "Aku ingin membeli piano di mmah untuk istriku."
"Grand piano itu kan hadiah perkawinanku dari Papa-Mama. Kalau..."
"Hadiah kital Aku juga berhak separo!"
"...Kau mau kawin lagi, aku ingin mengangkut-nya balik!"
"Kan di rumah ibumu sudah ada grand, malah pianonya dua, gimana mau kaupindahkan piano sebesar itu ke sana?"
Betul juga. Mama belum tentu setuju. Ruang keluarga itu akan terasa sesak bila ada dua grand ber-jejer di situ. Salah-salah piano itu akan disuruh jual!
"Calon istriku ini suka sekali main piano, Iris. Buat apa aku beli yang bam, kalau sudah ada satu di sana?"
Buat apa matamu! Itu pianoftu! Mau main kau-berikan saja pada... Oh! Hatiku berdarah! Lancang betul kau! Sampai hatimu melukai perasaanku se-
parah ini!
"Kau tahu sendiri, piano baru lebih jelek suaranya daripada yang sudah lamaan."
CUKUP!!! Piano ibarat barang suci bagiku! Apalagi piano milikAw sendiri! Pantang dijamah
orang lain, terlebih is-tri-MU!
"Kau nggak keberatan dengan peimintaanku ini, kan?"
Langkahi dulu mayatku! Bila aku belum keburu membunuhmu duluan! pikimya ganas.
"Sebutkan saja berapa harga yang kaurnginkan." Suara Deni lembut seakan tengah membujuk anak kecil, tapi had Triska malah makin terluka parah.
Mentang-mentang ayahmu raja kapal, ya! Huh! Aku nggak butuh uangmu! Oh, Tuhan, bagaimana caranya menolak permintaan orang yang kita cin-tai? Ibarat aku diminta menyerahkan anakku ke tangan madukal
"Aku nggak bakal menjualnya! Kau boleh me-nawar dua-tiga ratus juta, aku tetap nggak akan melepasnya!"
"Lalu mau kauapakan?" Deni menatapnya seakan mau tertawa tapi ditahan-tahan.
Triska makin panas melihatnya. Untuk istri-MtV, katamu? Kalau tak ada tempat di rumah ayahku, lebih baik kujadikan kayu bakar saja! Pokoknya isth-MU takkan memperolehnya, titik!
"Aku belum tahu. Yang jelas, pasti akan ku-angkut dari sana sebelum... Kapan kau akan... ngngng... kawin?" tanyanya berusaha menunjukkan bahwa dia tidak tertarik dengan berita itu.
"Tanggalnya belum pasti. Tergantung dia, mau-nya kapan."
Oh, Tuhan, inikah orang yang mengaku sangat mencintai diriku? Yang selama dua tahun lebih tak pernah bosan membujuk agar aku mau kembali padanya? Betulkah ini orang yang sama yang kini
begitu antusias mau memasuki hidup bam dengan...
"Tris, kau pasti akan berubah pikiran kalau sudah kaudengar penjelasanku," bujuk Deni dengan suara sabar.
Aku takkan berubah pikiran! Simpan saja pen-jelasanmu untuk pengarang autobiografimu!
"Kuakui, sekarang baru aku sadar, wanita yang kucintai itu sebenarnya berhati emas."
Ampun! Odi, hatinya emas?! Apa perlunya kau memuji-muji calonmu di depanku? Belum cukup-kah kautusuk hatiku dengan niatmu itu? Masih perlukah kautambahi dengan tusukan belati di punggung? Ataukah kau tak menyadari bagaimana perasaanku sebenarnya? Bagaimana perasaanku SAAT INI? Kalau Odi berhati emas, lantas hatiku dari apa? Rasanya aku tidak lebih jelek dari dia! Yang pasti, aku takkan pernah punya aspirasi untuk me re but suami orang hanya demi mendapatkan uangnya!
"Memang dari luar kelihatannya dia tegar, tapi
sebenarnya di dalam dia selembut kapas."
Amin!
"Apa pun yang terjadi, aku takkan melepaskan-nya! Dialah satu-satunya orang yang kucintai, aku takkan bisa hidup tanpa dia!"
Tabahkan hatiku, oh, Tuhan!
Deni mengulurkan tangan mau memegang le-ngan Triska, tapi dielakkan dengan halus. Kalau kaupikir scntuhunmu bisa lebih membujuk dari-
pada ucapanmu, kau keliru besar! Kata-katamu sudah menelanjangi pribadimu bulat-bulat! Semua ucapanmu palsu! Begitu juga sentuhanmu. Mungkin juga sikapmu terhadap Marco sama palsunya. Begitu kawin lagi dengan wanita berhati emasmu itu pasti tak lama lagi kau akan dikerumuni oleh selusin bay! semoga semuanya seperti monyet tampangnya! Nah, nah, pikiranku jadi jahat! Tapi apakah Deni juga tidak jahat? Pasti Marco akan segera dilupakannya seperti dia melupakan diriku! Kami berdua akan dicampakkannya seperti sampah ke dalam keranjang! Marco akan dilupakannya! Oh, betapa akan hancumya hati anakmu! Anak yang semanis itu mungkin akan berubah jadi pem-berontak. pembangkang, dan gagal dalam hidup karena ditelantarkan dan kecewa pada ayahnya... mungkin padaku juga, mungkin dia menyalahkan aku kenapa membiarkan ayahnya meninggalkan-nya!
"Percuma kau bicara, sampai mulutmu berbusa pun, putusanku nggak bakal bembah. Tidak! Tidak! Tidak! Aku takkan memberikan piano itu pada... istri-MIP. Kau boleh terns ngomong sampai magrib, aku sih mau balik ke dalam!" Dengan ucapan itu Triska mengentakkan kaki, lalu bangkit berdiri.
"Kau akan menyesal," tukas Deni perlahan.
"Oh, yaaa???!" Triska berbalik dan pergi ke kamar ganti pakaian.
***
Itu adalah masa yang paling berat dalam hidup 320
Triska. Setiap menit dia teringat bagaimana Deni memuji-muji si HATI EMAS yang akan menjadi rniliknya itu. Begitu terjaga di pagi hari, pikiran itu langsung menusuk hatinya. Deni akan segera kawin! Dengan Odi! Dan malam hari, sebelum jatuh tertidur, pikiran itu pula yang menemani dan menusuk-nusuk kalbunya. Aku akan segera kehi-langan Deni! Buat selamanya!
Tak habis-habisnya Triska menyesali dirinya, kenapa dulu tidak membeberkan saja kebusukan Odi, dan menceritakan apa yang mau dilakukannya terhadap Deni ketika dia coma, Kalau dulu aku berterus terang, mungkin sekarang dia masih menghendaki diriku. Mungkin dia akan betul-betul melupakan perempuan itu! Kalau aku dulu berhasil meyakinkannya bahwa Odi cuma menghendaki uangnya, bahkan berkomplot mau rumahnya, pasti dia takkan sudi mencintai perempuan itu lagi! Tapi sekarang...
Belum pernah Triska merasa begitu kacau, tak tahu apa yang harus dilakukannya Dia berjalan bagaikan orang tidur, setengah dari pikirannya en-tah ada di mana. Dia sama sekali tidak neduli lagi akan hal-hal lain yang tidak menyangkut urusan-nya dengan Deni. Sampai-sampai ketika ibunya .pada suatu pagi mengingatkan agar dia jangan pulang terlalu malam dari praktek, Triska terce-ngang.
Sebelum bibirnya sempat bergerak mengucapkan "ada apa", tahu-tahu Marco sudah didorong oleh Dokter Justin ke hadapannya.
321
"Mam, selamat ulang tahun!" serunya sambil memeluk erat-erat.
Sedetik dia betul-betul merasa tercengang, sebab sama sekali tidak ingat bahwa ini sudah bulan Oktober, sudah waktunya lagi untuk menambah umur. Kemudian pikirannya pulih sebentar (sebelum kembali menerawang memikirkan masalah Deni akan segera kawin lagi), dan dia meratap dalam hati. Ah, usiaku sudah tambah lagi. Aku sudah 32 hari ini! Aku takkan semakin muda! Dan aku akan kehilangan dia untuk selamanya?
"Oh, terima kasih, Marco," sambutnya dengan senyum terharu. "Oke, Mam, jangan khawatir, malam ini akan saya usah akan pulang nggak terlalu malam."
Siang itu Triska melaksanakan tugasnya dengan pikiran ruwet Dia ngeri akan bertemu dengan Deni lagi dan mendengar bahwa dia sudah menen-tukan tanggal pernikahannya dengan... Odi! Bagaimana dengan janjiku pada anakku? Yang ditakuti-nya adalah pertanyaan Marco. Sejak keluar dari rumah sakit sudah dua kali dia bertanya, "Mam, kapan dong kita pindah ke rumah Daddy? Di sana kan banyak mainan Marco, Mam."
Triska mengerti, masalahnya bukan soal mainan, sebab di rumah Nenek Rosa pun mainan Marco sepeti besar. Dia tahu, anak itu merindukan ayahnya.
Triska menggigit bibir kalau sudah berpikir sampai ke situ. Bagaimana mengatakan pada seorang anak bahwa ayahnya sudah tidak mencintai ibunya dan akan kawin dengan wanita lain?
322
Sumi meneleponnya sekitar pukul sebelas, me-ngabarkan ia tidak bisa datang nanti malam. Malah kebetulan, pikir Triska. Aku sedang tidak ber-gairah menghadapi tamu.
"Aku'terpaksa cuma bisa mengirimkan bunga, Tris. Bayiku nggak bisa ditinggal, sih. Sedang sumeng."
Anneke Berta Cindy Deborah memang meru-pakan tophit terbaru dalam keluarga Kamndeng. Anak permandiannya ini sangat cantik, gemuk, serta lucu. Tidak mengherankan bila. Hansa (menurut pengakuan Sumi pribadi) makin melimpahi Sumi dengan kasih sayang, saking besarnya rasa terima kasih padanya. Bahkan Triska sendiri sudah jatuh cinta pada si Upik yang dise-butnya "anakku", dan dijenguknya hampir tiap Minggu bersama Marco.
"Nggak apa-apa, Sum. Aku juga sedang malas pesta-pesta. Nambah umur, nambah uban, kok mau dirayakan, gimana sih? Ibuku saja keisengan ingin mempraktekkan kumpulan resepnya yang ratusan itu, sedangkan ayahku ingin mencari alasan supaya bisa makan enak tanpa harus pusing memikirkan kadar kolesterol. Eh, Minggu sore ini mungkin aku akan menengok anakku. Marco akan kuajak kalau dia kebetulan nggak nginap di tempat ayahnya."
"Eh, kenapa nggak kauajak Deni sekalian?"
Ah, kau tidak tahu sih, dia sudah mau kawin dengan Odi!
"Coba nanti kuusulkan padanya," ujarnya sece-rah mungkin. Mendengar suara Sumi yang penuh
kebahagiaan membuat Triska lupa sejenak pada problemnya sendiri. Sumi memang teman yang baik. Dia bahkan sudah berjanji, bila Anneke Ber-ta Cindy Deborah atau Ani, panggilannya, sudah agak besar, Triska boleh mengajaknya nginap di rumahnya. Bayangkan, aku akan punya anak perempuan juga! Uh. aku tak sabar menunggunya besar!
Kira-kira sejam kemudian datang telepon dari Mirsa. Setelah mengucapkan selamat ulang tahun, Mirsa menyatakan penyesalannya takkan bisa datang nanti malam.
"Aku juga kebetulan nggak merayakan, kok," ujar Triska dalam hati merasa lega, berkurang satu lagi tamunya.
"Salah seorang jura masakku sakit, Tris. Terpaksa aku harus turun tangan mem bantu. Tapi minggu-minggu depan akan kutagih, lho! Traktir ke Lembur Kuring, ya Sumi juga pasti mau!"
"Rebesss!" serunya tertawa. Untung aku masih punya teman-teman, jadi masih bisa tertawa juga sekali-sekali. Kalau nggak, mungkin aku bisa gila! Memikirkan kapan Deni akan kawin lagi!
***
Siangnya datang tiga kasus akut abdomen* dan Triska hams melakukan appendectomy menda-
keadaan gawat darurat di bagian perut operasi usus buntu
324
dak. Pukul em pat baru dia sempat makan, pukul lima tiba di rumah, mandi sebentar, lalu berangkat lagi ke tempat praktek.
Tanpa disadarinya, dia jadi berlama-lama di sana. Pasien memang lumayan banyak, tapi sebenarnya dia bisa lebih gesit sedikit. Yang terjadi malah sebaliknya. Setiap pasien ditanyainya lebih men-detail, diajaknya ngobrol mengenai hal-hal yang tidak langsung menyangkut penyakitnya, sehingga Mbak Tuti sudah dua kali permisi masuk untuk mengingatkan bahwa pasien masih cukup banyak dan beberapa orang mulai kelihatan resah.
Setelah pasien habis, ternyata hari baru pukul delapan. Ah, masih terlalu siang untuk pulang! Biar kutunggu Mbak Tuti berbenah. Dua puluh menit kemudian Tuti sudah be res, rupanya tak banyak yang harus dikerjakannya kali itu. Triska terpaksa bangun juga meninggalkan tempat itu, tapi diantarkannya dulu asistennya itu ke pangkal-an bus yang agak jauh, bukan yang biasa. Semata-mata agar jaraknya lebih panjang dan bisa meng-ulur waktu. Firasatnya men gat akan. Deni akan mencoba menggunakan kesempatan malam ini untuk memaksanya agar melepaskan pianonya serta memberitahukan tanggal pemikahannya....
Namun akhirnya tak ada lagi yang dapat dilaku-kannya selain memutar kendaraannya dan melun-cur pulang. Dia tahu, hari sudah cukup larut untuk makan, tapi tidak disangkanya bahwa orang-orang sudah begitu resah menunggu sampai-sampai ada yang sudah stap berdiri di belakang pintu.
Triska baru saja memutar gerendel itu sedikit, ketika daun pintu sudah terdengar dibuka dari daJam dan dalam sekejap sudah terpentang lebar. Dia menduga itu ibunya atau Marco. Triska ter-tegun. Orang yang berdiri di depannya bukanlah yang diharapkannya.
"Malam amat. Tris." ujar Deni tanpa nada me-negur.
"Banyak pasien," kuahnya dengan senyum terpaksa. lalu cepat-cepat melejit ke samping untuk meng-hindarkan diri. Tapi ternyata bekas juara judo itu gesit sekali. dan sebelum dia sempat menarik napas berikutnya. tangannya sudah dicekal dan ditahan. Triska terpaksa menghentikan langkahnya dan me-mandang Deni sedikit heran. Mau apa, sih? Meng-ucapkan selamat ulang tahun kan cukup dengan mulut, nggak usah pakai pegang-pegang segala!
"Selamat ulang tahun, Prinses," bisik Deni me-minjam panggilan kesayangan Kris terhadap adiknya.
Mm. Kaupikir hatiku akan melunak bila aku dinaikkan pangkat? Biar aku dijadikan Presiden Amerika pun, piano itu takkan kujual padamu!
"Terima kasih," sahutnya dingin. Melihat Deni belum mau melepaskan tangannya, tapi malahan me-majukan wajahnya ke depan, Triska kontan meng-gerakkan kepalanya ke samping sehingga kecupan itu cuma menyapu cuping telinganya sekilas.
Aku nggak butuh ciuman Judas! pikimya sengit, lalu menarik tangannya dengan paksa dan melang-kah ke dalam
326
"Hai, Prinses, apa mobilmu mogok? Aku sudah hampir ketiduran menunggu kau pulang!" keluh Kris dari depan TV, lalu bangun, menghampiri adiknya, me me Ink, mengecup, serta mengucapkan selamat ulang tahun. Dari sudut matanya Triska sempat melihat seseorang berdiri mengawasi. Mau apa kau datang malam ini, merusak suasana? Aku TIDAK AKAN memberikan piano itu padamu, titik! Masih juga belum mengerti?
"Hai, Tris, aku sudah hampir semaput kelaparan!" tukas Marti yang menggantikan Kris memeluknya.
"Sori. banyak pasien!" kilahnya sekali lagi.
"Tapi kami sudah menelepon ke sana sejam yang lalu, sudah nggak ada yang angkat!" sera Kris penasaran.
Triska menggigit bibir, tak mampu mengangkat muka sebab tahu orang yang pertama kali dibo-honginya. juga sedang menunggu jawabannya.
"Aku mengantarkan Mbak Tun* dulu."
"Kan cuma sampai tempat bus, masa satu jam?" Kris mendesak.
Pada saat Triska sudah mulai kewalahan, untung muncul ibunya menolong. "Sudah! Yang penting Triska sudah pulang dengan selamat! Ayo kita makan saja!"
Triska maklum mereka semua sudah kelaparan. karena itu dia tak berani marah pada abangnya. Merekalah yang pantas marah padanya, tapi untung tidak. Triska menyesal telah menuruti had, berputar-putar di jalnnan, membiarkan orang di rumah makan angin.
Syukurlah hidangan Nyonya Rosa yang lezat itu berhasil melipur kekesalan Kris, dan setelah perut masing-masing terasa nyaman, tak ada lagi yang mengomel. Tapi karena hari sudah menjadi larut, Kris dan Marti pun terpaksa minta diri tak berapa lama setelah makan kue ulang tahun dan pembu-kaan kado. Ketika mereka hampir bubar, bel pintu berdering. Nyonya Rosa sendiri yang pergi mem-bukakannya, sebab Inem sedang di loteng bersama Marco dan Bobi, kedua pembantu lainnya jauh di belakang.
Triska hampir tidak percaya melihat siapa yang diantar ibunya masuk. Dia sempat melirik dan melihat Deni mengecilkan matanya serta menge-rutkan kening. Hun! Kaupikir cuma kau saja yang dapat memperoleh pasangan baru? Lihat nanti tanggal mainib^l
"Aduh, Juragan KL!" seru Triska dengan ke-gembiraan yang dilebih-lebihkan.
Roy memamerkan nyengir kudanya yang paten, menaikkan kacamatanya ke tempat yang lebih ter-hormat, menoleh, dan menyapa semua orang, lalu menguhirkan tangan dan nyaris membuat perge-langan tangan Triska lepas dari sendi kena reng-gutannya. Kris rupanya juga melihat Triska meri-ngis. Lumayan sakitnya oooiii, pikir Triska. "Ei, ei, kira-kira sedikit pakai tenaga! Luxatio juga, tun, tangan kaujambret begitu!"
keseleo
Tapi Blvis-bayangan itu betul-betul sudah buta dan tuli, perhatiannya seluruhnya dicurahkan pada
Triska.
"Aku dengar kau ke Kuala Lumpur,1* ujar Triska setelah mengucap terima kasih atas bingkisannya. "Aku memang baru balik. Dari airport langsung
ke sini."
"Malam amat! Kau pasti belum makan," kata Nyonya Rosa.
"Terima kasih, Tante. Saya sudah makan di pesawat Ada kerusakan teknis, jadi fake-ojj-nya tertunda tiga jam! Sudah, ya, saya permisi dulu, cuma ingin mengantarkan kado saja, kok."
"Lho, masa kesusu begitu?" seru Nyonya Rosa. "Paling sedikit, minum teh dulu, ya."
"Terima kasih, lain kali saja, Tante. Sudah capek banget sih, mana besok hams dinas. Dan taksinya nunggu."
Dandanan Roy berupa celana jeans ketat serta jaket denim biru dan ikut leher merah, sungguh mirip sekali dengan gaya Elvis sungguhan, nyengir kudanya me lebar sampai bibirnya hampir terbelah dua, ketika Triska mengatakan apa yang dilihatnya itu.
Dokter berjambul itu pun permisi pulang diikuti Kris dan Marti. Bobi dibiarkan nginap sebab sudah lelap di atas. "Besok sore saya jemput Mam," kata Marti pada ibu mertuanya.
"Ah, nggak usah besok. Biar saja dia di sini, ada teman mainnya, Marco dan Bella," ujar Nyonya Rosa. "Bolos sekolah dua hari tak mengapa, baru kelas satu."
Setelah mereka berialu, yang tertinggal cuma Deni. Triska bemsaha mengirim telepati padanya, menyilakannya pulang. Tapi kepandaian telepati-nya mungkin tak ada atau Deni yang radarnya sedang mogok. Pendeknya, dia masuk lagi setelah mengantarkan yang lain keluar, dan duduk lagi, tanpa kelihatan ada tan da-tanda bahwa dia bisa membaca lonceng sudah jam berapa.
"Aku mau ke atas dulu melihat Marco," katanya pada Triska ketika mereka cuma berdua di ruang keluarga Dokter Justin menyatakan perlu membaca jurnal, dan istrinya mengikuti, mengatakan harus menyelesaikan rajutannya untuk salah seorang cucunya.
Triska mengawasi Deni berjalan ke arah tangga, dan menarik napas lega. Ah, bebas sebentar. Tapi tak boleh senang dulu. Kalau dia memang datang untuk menuntut piano itu, pasti dia takkan pulang sebelum mereka terlibat dalam argumen lagi, yang lebih panjang dan lebih seru dari tempo hari!
Malam itu terang bulan, dan suasana di kebun menyeret kakinya ke gazebo. Direbahkannya tu-buhnya di atas dipan lengkung yang terdapat di situ, diletakkannya kedua lengannya di bawah ke-pala, ditatapnya bulan cemerlang di langit kelam. Sungguh indah ciptaan-Mu, Tuhan. Aku merasa demikian kecil dibandingkan dengan alam semesta. Cuma setitik pasir di seluruh jagat raya. Tak ada artinya dibanding dengan seluruh basil karya-Mu. Biarpun kurasakan problem hidupku mahabesar, di mata-Mu itu hanyalah setetes air dalam lautan.
Malam ini Dent pasti akan memberitahukan tanggal pernikahannya. Dia juga akan bemsaha membujuk aku agar melepaskan piano itu. Oh, hatiku, kau harus tabah, tabah, tabah.
Sinar bulan bagaikan mengelus dedaunan dan pepohonan, melapisi semua itu dengan selendang perak sehalus tenunan labah-labah. Air di kolam pun seakan berkilat bagaikan kaca, dan ikan-ikan aneka warna kelihatan jelas hilir-mudik, ada juga yang diam saja, mungkin tidur. Apakah ikan perlu tidur? Aneh, aku tak pernah tahu apakah mereka bisa tidur atau tidak.
Demikianlah dibiarkannya pikirannya menera-wang ke angkasa, entah berapa lama, dia tak tahu. Kemudian timbul niatnya untuk main piano. Sudah cukup lama aku di sini, Deni pasti sudah pulang. Kalau belum, dia pasti sudah mencariku kemari! Lebih baik aku masuk dan main beberapa lagu sebelum tidur.
Benar saja, rumah sudah sepi. Ibu dan ayahnya mungkin masih di kamar kerja ayahnya, tapi mereka takkan terganggu bila dia main piano, asal ditutupnya pintu ke ruang keluarga ini
Triska duduk dan langsung main.... Tanpa ber-pikir lagi jari-jarinya sudah bergerak lincah, dan bam semenit kemudian dia mendadak sadar bahwa lagunya adalah Ave Maria gubahan Bach-Gounod. Triska ingin menggantinya dengan irama yang lebih ceria, tapi jari-jarinya tak mau berhenti, seakan tak bisa disetir lagi oleh otaknya. Yang lebih gawat lagi, matanya pun ikut-ikutan minta oto-
nomi, tak sudi lagi dilarang-larang olehnya, dan tetap berkeras mau menangis. Untung tanpa ber-suara. Tetes demi tetes bergulir jatuh membasahi pangkuannya. Lama-lama hidungnya pun penuh air sehingga napasnya terganggu, tapi tangannya tetap tak mau berhenti sehingga sebentar-sebentar terdengar bunyi ingsrek-ingsrek bila dia mencoba mele-gakan hidungnya.
Triska main sambil menunduk, begitu tengge-lamnya dia dalam permainannya sehingga sama sekali tidak disadarinya keadaan sekelilingnya. Tidak diketahuinya bahwa pintu—yang memang tidak berderit—dibuka pelan-pelan, dan seseorang melangkah masuk tanpa bunyi, karena memang ruang itu diberi karpet sebab ada piano. Triska tidak menyadari sama sekali ketika orang itu berdiri diam memperhatikannya beberapa saat sebelum menghampirinya, lalu mengulurkan tangan dengan ragu namun menariknya kembali sebelum menyentuh bahunyu.
Akhirnya menegurnya dengan halus, "Kenapa nangis, Tris?"
Suaranya lembut sekali, tapi Triska toh masih terkejut juga. Jari-jarinya mengejang di atas tuts, dia menoleh dan berbisik parau, "Kok belum pulang?"
Melihat wajah yang keheranan itu, Deni berkata, "Jadi kaukira aku sudah pulang! Kau belum melupakan arti lagu itu, bukan, Tris? Artinya bagi kita? Tapi kenapa kau nangis?" Deni mengeluarkan saputangan dan mau menyusut pipinya yang basah,
tapi oleh Triska ditepiskan. Dia beranjak dari piano dan me rain kertas tisu dari meja di dekatnya, lalu disekanya mata serta dibersitnya hidungnya.
Rumah terasa sepi seakan cuma mereka berdua penghuni di situ. Triska tidak bergairah untuk ber-duaan dengan "Judas Iskariot" pada saat itu, jadi cepat-cepat dikeluarkannya alasan yang ampuh.
"Sori, aku ngantuk sekali. Kau bisa keluar sendiri, kan?" Tanpa menunggu jawaban dia berbalik dan mau melangkah ke arah tangga. Tapi lagi-lagi Deni mengerahkan tenaga dalamnya—paling tidak begitu menurut dugaan Triska sebab gesitnya melebihi ukuran normal—dan berhasil menyambar lengannya sebelum langkah pertamanya dimulai.
"Kita perlu bicara, TrisrAda yang harus kukata-kan." Suaranya masih tetap lembut.
Tentu saja! Bila dia menghendaki grand piano Steinway-ku, dia harus mengerahkan seluruh ke-lembutan yang mampu diciptakannya. Dan tidak sulit menciptakan barang palsu, bukan?
"Kalau mengenai piano, lebih baik kukatakan saja sekarang, keputusanku nggak akan berubah. Kalau kau mengira akan bisa membujuk aku, baiklah kutambahkan, aku lebih suka melihat benda itu jadi rongsokan atau jadi abu, daripada kuserahkan ke tangan istrimw!" destsnya dengan mata berapi-api.
Tapi Deni tidak kelihatan ngeri, kecil hati, atau marah. Suaranya tetap saber ketika dia membujuk, "Ini bukan soal piano, tapi mengenai Marco dan kita berdua. Yuk, kita ke belakang."
Marco?! Mendengar kata yang ampuh itu Triska langsung melupakan semua kejengkelannya (untuk sementara) dan seluruh perhatian disiapkannya untuk mendengar apa yang mau dikatakan Deni. Tapi Deni tak mau bicara di situ, Dan Triska juga berpikir, seandainya mereka harus bertengkar (mi-salnya memperebutkan anak im), lebih baik di belakang, jauh dari Papa-Mama.
Dia mengangguk dan mereka berjalan ke kebun menuju gazebo. Deni melingkarkan lengannya ke pinggang Triska, tapi dielakkannya dengan berjalan menjauh sedikit. Setiba di sana, Deni menja-tuhkan diri di sampingnya di atas sofa. Triska tak bisa melarang, jadi dia bemsaha mepet ke pinggir.
"Nah, keluarkanlah apa yang mau kaukatakan, aku sudah ngantuk."
"Pertama, aku ingin memastikan, kau sama sekali nggak keberatan bila aku menikah kembali." |
Oh, topik yang menyakitkan ini lagi! Bukan soal Marco kiranya!
"Aku nggak ingin menyakiti hatimu, Tris. Ku-lihat wajahmu mendung seperti sedih mendengar aku akan kawin lagi. Betulkah kau nggak keberatan?"
As tag a! Apakah aku memberi kesan begitu? Di-sangkanya aku tak bisa hidup tanpa dia?! Malu-maluin!
"Tentu saja nggak!" bantahnya, suaranya lebih keras dari yang diperlukan sehingga Deni malah kelihatan kurang percaya.
"Kenapa aku harus keberatan? Kau juga nggak
334
bakal keberatan, bukan, seandainya bulan depan aku akan kawin dengan Roy?"
"Tentu saja nggak," sahut Deni gagah dan ksa-tria. Tapi sedetik kemudian keningnya berkerut. "Eh, ini cuma perumpamaan atau sungguhan?"
"Bukan urusanmu lagi. Sebenarnya aku bahkan nggak perlu minta izinmu kalau mau kawin dengan siapa jugal Tapi kita ke sini bukan mau ber-debat soal kawin lagi, kita mau membicarakan Marco, bukan? Nah?!"
Deni mengangkat kedua tangannya. "Oke, oke. Karena kau nggak keberatan dengan rencanaku, sekarang akan kuperlihatkan sesuatu padamu. Anu, aku perlu mendapat kepastian dulu bahwa kita nggak akan bermusuhan bila aku sudah..."
Karena hilang satu "Judas" dari peredaran, kenapa aku harus keki lalu menjadi musuhmu? Seorang "Judas" masa begitu berharganya sampai membuat aku kurus kering? GR juga orang ini! Disangkanya aku takkan dapat melupakan dirinya! Bah!
"Aku akan datang ke pesta kawinmu dan menjadi dayang-dayang mempelaimu, kalau kau mau!" ujarnya sengit.
"Oh, nggak usah begitu ekstrem. Cukup berdiri diam di sebelahku!"
Untuk menyaksikan kau memasukkan cincinmu ke dalam jarinya, lalu kaublsikkan "my love" padanya? My love matamu! Ucapan yang tidak lebih berharga daripada "... kucing"! Bau dan palsu!
Deni mengeluarkan sebuah kotok kecil dari saku celananya. Dibukanya tutupnya yang terbuat dari
bahan velour berwama biru tua, dan diperlihatkan-nya isinya pada Triska. "Pantaskah ini untuk calon istriku?" bisik Deni.
Triska menahan napas sejenak. Jauh lebih bagus dari cincin yang diberikannya padaku! Cincinku cuma mempunyai anggur sebatang dengan daun-daunnya, tapi cincin ini memperlihatkan seorang dewi tengah bersiram di kolam, dikelilingi bunga mawar.... Mungkinkah ada orang yang bisa men-ciptakan benda seindah itu? Tapi disahutinya dengan suara acuh tak acuh, agar perasaannya jangan sampai ketahuan, "Cukup bagus!"
Deni tidak tampak kecil hati melihat sambutan yang dingin itu. Habis, kauharapkan aku akan jingkrak-jingkrak kegirangan melihat cincin kawin-mu yang akan kauberikan pada... Oh! Dunia sudah terb'alik. Orang yang hampir saja membunuhmu, kini akan kaugandeng ke altar! Dunia sudah gila!
"Ceritanya, ibuku punya koneksi di Roma. Cincin ini kupesan dari sana. Aslinya adalah karya Cellini, pandai emas dan pemahat termasyhur abad keenam belas dari Florence, yang membuatkan mata uang untuk Paus Clement Ketujuh. Bukan anti-Paus Clement Ketujuh, ini orangnya lain. Bagus, ya?"
Triska terpaksa mengangguk sebab tak bisa ber-buat lain. "Sekarang mengenai Marco...," katanya mengingatkan.
Tapi Deni tidak kelihatan ingin cepat-cepat membicarakan soal anaknya. Dia bahkan seperti tak mendengar teguran itu. Dikeluarkannya cincin
336
itu dan diserahkannya pada Triska untuk dikagumi. Triska tak dapat menolak, tapi cuma semenit di-bolak-baliknya lalu diserahkannya kembali.
"Bagus sekali!" pujinya. Pasti Odi akan kegirangan setengah mati.
"Coba, Tris."
Eh?! Ini sudah keterlaluan! Apa kausangka aku tidak punya perasaan sudah bermenit-menit diha-ruskan mendengarkan ocehanmu mengenai urusan yang tidak menyangkut diriku? Kaukira aku gembira menyaksikan engkau begitu bergairah mem-persiapkan hari besarmu dengan...? Kaukira hatiku tak bisa berdarah? Kaukira aku terbuat dari batu atau perunggu?
"Aku nggak berhak," tolaknya dengan halus.
"Ah, cobalah! Kan kaubilang bagus."
"Nggak baik! Pamali! Bisa menyebabkan... sial pada pemiliknya nanti." Dia coba menakut-nakuti.
"Ah, aku nggak percaya takhayul. Di samping itu..." Deni tidak meneruskan kata-katanya. Se-baliknya, ditatapnya Triska sebulat matanya. Triska tak mau disebut pengecut atau cengeng, jadi dibalasnya tatapan itu tanpa berkedip, tanpa me-nunjukkan bahwa jantungnya di dalam sudah han-cur be ran tak an.
Betulkah aku sebenarnya belum mengenai Deni sedalam-dalamnya? Siapakah kau? Siapakah orang yang hidup bersamaku selama tiga tahun? Siapakah laki-Iaki yang pernah mengaku cinta padaku? Siapakah suami yang selalu memanjakan diriku? Siapakah kau? Ke mana humormu, kebaikan hati-
mu, kasih sayangmu? Ada berapa Deni sebenarnya? Deni yang hidup bersamaku? Deni yang dise-nangi pasien-pasiennya? Deni yang mencintai Odi? Deni yang sanggup membunuh anaknya? Deni yang tak segan-segan menikam bekas istrinya?
Oh! PergiJah! Pergilah sebelum kenangan manis yang kusimpan mi kaucemari dengan sikap dan kata-katamu yang menusuk hatiku. Pergilah! Oh, pergilah sebelum aku kehilangan kendali atas diriku! Pergi, pergi, pergi... demi cinta kita yang sudah jadi sejarah, pergilah, Deni! Aku takkan mengutukmu, takkan mensyukuri yang jelek-jelek, takkan dendam... bahkan Odi takkan kumusuhi. Pergilah, pergilah, pergilah, pergilah, per... gi... lah... tinggalkan aku sendiri...!
Tapi bekas juara judo yang juga ahli taekwondo itu seakan tidak mengerti isyarat yang dipancarkan oleh mata jelita di depannya, atau bahkan tak mau tahu derita apa yang tengah berkecamuk dalam hati sanubari Triska.
Deni mengambil cincin yang disorongkan padanya lalu... semuanya terjadi lebih cepat dari kilat! Presto! Deni meraih tangan kirinya, dan sebelum Triska sempat menolak, cincin itu sudah masuk ke dalam jari manisnya! Lalu Deni melipat semua jari-jarinya sehingga tangannya terkepal dan cincin itu tak dapat diloloskannya.
Triska menggigit bibirnya kuat-kuat, menarik napas dalam-dalam untuk menahan luapan emosi-nya, memejamkan serta mengerutkan matanya seakan tengah menahan nyeri yang luar biasa.
"Pantas sekali!" Didengarnya Deni mendecak. Belum pernah Triska menemui kesulitan yang
demikian besar untuk mencegah air matanya jangan sampai keluar. Cukup penghinaan ini saja! Jangan beri dia kesempatan untuk laporan pada Odi bahwa aku menangis!
Kaupaksakan cincin ini padaku! Se mat a-mata untuk melihat bagaimana pantasnya, untuk kemudian kaubandingkan dengan jari istrimu! Siapakah kau? Siapakah manusia yang kucintai ini? Mungkinkah kau sekejam itu? Demi cinta kita yang sudah jadi barang antik, tak dapatkah kaubebaskan aku dari penghinaan? Aku sudah dihina Odi, aku sudah kalah terhadapnya... Masih haruskah kau juga menyiksaku?
Tanpa membuka mata, Triska berusaha melepaskan cincin itu. Namun sepasang tangan yang kuat mencegahnya. Ketika dia mau berontak, sebab hatinya mengisiki ada yang tidak beres, tangan-tangan itu malah mendekapnya. "My love."
Hatinya menggelepar panik. Didengarnya dengan jelas bisikan di telinganya itu sebelum de-kapan dilepas. Kelopaknya bergetar dan matanya terbuka tanpa bisa ditahan. Dia menatap tak per-caya.
Sebelum Triska mengerti jelas apa yang terjadi, dilihatnya harmonika itu—entah kapan disulapnya benda itu keluar dari kantongnya—sudah menem-pel di bibirnya, dan... lagu itu membawanya kembali ke tepi Danau Michigan, api unggun dalam terang bulan di musim panas, enam tahun yang
lalu, ketika dia bersandar ke bahunya, dan suara banjo mengantarkan Carolina Moon, lalu harmo-nikanya membawakan Let me call you sweet-heart, I'm in love with you. Let me hear you whisper, that you love me too...
Triska menggigit bibir. "Betulkah ini?" gumam-nya dengan suara bergetar. "Aku bukan sedang mimpi?" bisiknya pada diri sendiri, dan digigitnya bibirnya lebih keras seakan mau memastikan bahwa ini memang realita. Ditatapnya Deni tanpa berkedip. *
Deni menurunkan harmonika itu dari bibirnya dan balas menatapnya. Untuk beberapa saat kedua-nya saling memandang.
"Kau nggak mimpi, Tris," bisiknya penuh ke-lembutan.
Bibirnya tremor ketika dia membuka mulut. "Kalau begitu kenapa kau harus pura-pura mau membeli pianoku? Kenapa Audrey dipanggil Odi oleh Marco? Kenapa, kenapa, kenapa? Kenapa mau kauhancurkan hatiku?" Digigitnya bibirnya kuat-kuat untuk mencegah jangan sampai air matanya meleleh.
"Maafkan aku, Tris. Leluconku memang keterla-luan, tapi kalau kau tahu apa yang sudah kualami, mungkin kau reia mengampuni semua kelancang-anku selama ini. Aku cuma ingin membuatmu cemburu!"
"Apa yang sudah kaualami?" tanyanya menge-rutkan kening. Deni meraih kedua tangan Triska dan menang-
kupnya dalam kedua tangannya. Matanya menatap
tanpa kedip, Triska pun membalas sama.
"Setelah aku pulang ke Depok dari rumah sakit, Odi pernah menelepon..."
Hah?!
"Dia menceritakan bagaimana dia memergokimu di kamarku..."
Oh, Tuhan! Triska membelalak dengan mulut setengah terbuka, bibir dan tenggoroknya terasa
kering.
"...Kau sedang berusaha mencabut infus... Kau-akui padanya, kau ingin membalas dendam padaku... Kau sakit hati dan tidak rela bila aku kembali
padanya..."
Oh, Tuhan! Karena itu kau menjauhi aku! Mungkinkah kau mempercayainya? Tidakkah in-tuisimu memberitahu bahwa semua itu bohong?
"Aku tidak tahu apa yang harus kupercayai, Tris. Tapi aku sempat berpikir, seandainya itu betul, aku takkan sakit hati. Sebab aku tahu, aku sudah bersalah padamu. Aku relakan kau membalas dendam padaku bila kau mau..."
Triska menggigit bibirnya kuat-kuat untuk mencegah turunnya air mata, namun dia tidak menyadari bahwa pipinya sebenarnya sudah basah kuyup. Hatinya serasa terajam, pedih dan menyakitkan. Jadi kau lebih percaya Odi dari aku! Betapa menyakitkan!
"Maafkan aku, Tris, bila aku pernah meragukan-mu. Tapi sekarang aku sadar, sebabnya bukanlah kau, melainkan aku! Rasa bersalahku menyebab-kan aku merasa tidak berhak dtcintai olehmu, bah-
wa sudah sepantasnya bila kau sakit hati dan ingin membalas dendam...."
Oh, Deni! Kalau begitu kau belum mengenai diriku!
"Ketika Marco diopname, aku kebetulan mendengar kau berjanji akan mengajaknya tinggal ber-samaku... Aku kurang percaya waktu itu...."
Sebab kau sudah termakan dustanya!
"Tak dapat kubayangkan betapa sedihnya hatiku mendengar orang yang kucintai ternyata... Oh, Tris, maafkan aku mencurigaimu tanpa alasan! Untung suatu hari secara kebetulan Kris men-ceritakan semua yang pernah kauadukan padanya, juga pesanmu agar orangtuaku jangan sampai tahu. Oh, bukan main bahagianya aku saat itu! Baru lah aku yakin, apa yang kaujanjikan pada Marco memang keluar dari lubuk hatimu. Dan aku bangga akan kebesaran jiwamu, melindungi Nila dan Odi demi menjaga keutuhan keluargaku. Tris, semua itu membuat aku semakin mencintaimu, seandainya mungkin orang mencintai lebih dari apa yang selama ini kurasakan..." .
Triska menunduk memandang cincin berwarna putih yang melilit di jarinya. Perlahan-lahan ta- -ngannya bergerak mau melepaskan benda itu. Aku kecewa! Aku sungguh kecewa! Kiranya apa yang kausebut cinta itu cuma kulit belaka! Sedikit saja mendengar fitnah, kau langsung menghakimi aku! Cinta tidak mungkin bertahan tanpa kepercayaan. Sebaiknya kauambil kembali cincin ini, sebab aku tak mau menerimanya!
"Tapi, Tris, tak dapatkah kaumaafkan aku sekali lagi?" seru Deni dengan suara panik. Triska ter-peranjat. Rupanya dia bukan cuma berpikir, tapi
mengucapkan semua itu dengan suara jelas!
Dilepasnya cincin itu dan diserahkannya kembali.
"Tidak, tidak, tidak! Kau tak boleh mengem-balikannya! Oh, maafkan aku! Aku khilaf! Sebenarnya bukan Odi yang kupercaya, tapi perasaanku sendiri yang menuding diriku, membuat aku merasa memang mungkin dan sepantasnya bila kau membalas... Tapi sekarang aku sudah sadar, masa kita harus berpisah lagi karena ketololanku?
"Tris, kau tidak tahu betapa- suram rasanya hi-dupku ketika kusangka kau betul-betul membenci-ku. Setelah mendengar penuturan Kris, aku begitu bahagia sampai-sampai timbul ide gila untuk menggodamu, pura-pura mau kubeli piano itu untuk istriku! Maafkan, maafkan aku!"
Triska menyorongkan cincin itu tanpa berkata-kata. Deni menerima benda itu, tapi tiba-tiba di-angkatnya tangan Triska dan dimasukkannya cincin itu kembali ke jarinya.
Uh! Triska bagaikan tersedak sebab kaget. Tidak! Aku tidak sudi cintamu yang kurang kepercayaan! Tidak 1 Aku tidak mau! Aku tidak mau kembali padamu! Aku tidak mau! Aku tidak mau!!!
Triska berusaha melepas kembali cincin itu, namun Deni memegangi tangan kanannya sehingga niatnya tak dapat dilaksanakan. Dia meronta-ronta ingin melepaskan diri, namun Deni tak mau mele-
pas cekalannya. Saking kesalnya Triska tersedu-sedan. Dia mencoba berontak dan mengibaskan lengannya yang dicengkeram, -tapi tahu-tahu Deni malah merangkum wajahnya dengan kedua tangannya, dan memagut bibirnya.
Uh!!! Triska menggeleng sekeras-kerasnya untuk menghindari kecupan itu, namun Deni berta-han. Triska menggunakan kedua tangannya yang kini bebas itu untuk mendorong Deni sekuat-kuat-nya.
"Jangan sentuh aku!" desisnya sambil mengisak. Cincin itu diloloskannya dan dilemparkannya ke lantai. "Pergi! Pergi! Pergi!!! Dan jangan kembali lagi!"
"Tidak! Aku takkan pergi! Kau akan menjadi istriku kembali, dan kau takkan bisa menolak! 0, ya kau takkan bisa mengelak!" bisik Deni dengan gemas. "Aku sudah menunggu tiga tahun, Tris. Sekarang sudah saatnya kau kembali! Aku menun-tut agar kau kembali!!!"
Triska menggigit bibir, menatapnya dengan was-was sementara dia bersiap-siap untuk melarikan diri. Tapi Deni rupanya dapat menebak niatnya. Begitu Triska menggerakkan tubuh nya, Deni juga menyambarnya dan tahu-tahu sudah mendekapnya dengan erat sekali sampai hampir-hampir dia tak dapat bernapas. Triska berontak sambil mengertak-kan gigi dan beralang-ulang mendesis, "Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
"Katakan dulu kau bersedia kembali padaku, bam akan kulepas."
"Nggak bakal!" desisnya sengit. "Kalau begitu kita akan berdekapan terus sampai pagi!"
Triska dongkol sekali mendengar ancaman itu, tapi apa daya tenaganya berkurang. Pikirannya berputar mencari jalan keluar tapi tak ada.
"Apa kau nggak mau memaafkan aku, Tris?"
"Nggak!" semburnya sambil mengisak.
"Jadi kauselamatkan aku untuk apa? Kaurawat aku untuk apa? Kaucukur kumisku setiap pagi untuk apa? Kauputarkan aku Ave Maria setiap hari untuk apa? Aku akan lebih bersyukur dibiarkan mati daripada harus hidup sengsara begini. Tanpa cintamu, hidupku akan lebih miskin daripada gem-bel di kolong jembatan. Buat apa aku hidup kalau cuma untuk melewatkan hari? Apa kau ingin aku sembuh hanya untuk kausiksa seperti ini? Jawab, Tris! Jawab aku! Untuk apa semua itu kaulaku-kan? Kenapa nggak kaubiarkan saja aku mati, kan engkau jadi bebas untuk kawin lagi dengan Roy atau Erik? Jawab aku!"
Tapi Triska tidak sanggup menjawab, sebab ta-ngisnya sudah meledak lagi, air matanya deras membasahi kemeja Polo berwama gading yang dikenakan oleh Deni.
Bulan di atas bergerak tenang, mengawasi per-gulatan sepasang hati, dan dedaunan pun berdiam diri menunggu... Berhasil kali Deni memaksa Triska agar kembali padanya?
Ketika suara tangis agak mereda, Deni mengen-durkan dekapannya seolah khawatir Triska akan
sesak napas. Begitu dirasakannya kelonggaran itu, Triska langsung berontak lagi untuk melepaskan diri, tapi dengan sigap dapat dihalangi oleh Deni yang kembali mempererat pelukannya.
"Tris, aku sungguh mencmtaimu," bisiknya sambil mengelus-elus punggungnya, namun Triska tidak kelihatan tergugah oleh deklarasi itu, bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa dia telah mendengar-nya.
Lama keduanya berdiam diri begitu, cuma di-saksikan bulan. Akhirnya kedengaran Deni menarik napas panjang .
"Oke, aku menyerah. Mungkin tanpa kausadari kau sebenarnya masih mencintai Erik dan ingin kembali padanya. Ya, aku melihat kalian waktu di kapal, berduaan bercakap-cakap begitu dekat, bahkan mesra... Erik memang cocok untukmu, tampan dan gagah, serta pasti belum pernah coba-coba menipumu seperti yang telah kulakukan. Aku yakin, ia ksatria sejati, nggak seperti aku yang bloon dan brengsek! Sekali lagi aku minta maaf bila aku telah menyakiti hatimu, dan aku yakin, itu sudah sering kali terjadi. Cuma satu penasaranku: Kenapa kau ingin aku hidup kalau kau memang berniat mencampakkan diriku? Kenapa? Kenapa nggak kaubiarkan aku mati? JAWAB, Tris! Aku menun-tut jawaban! Kenapa, kenapa, kenapa kauselamat-kan aku?"
Deni melepas pelukannya dan mencekal kedua pangkal lengan Triska, lalu menatapnya dan memaksa Triska agar membalas tatapannya.
"Pandang aku, Tris," perintahnya. "Dan beri aku
jawaban!"
Triska memandangnya dengan mata sembap. Bibirnya bergetar namun tak ada suara yang terdengar. Tahu-tahu air matanya menetes lagi. "Tinggalkan aku!" bisiknya. "Kembalilah pada Odi!"
"Sungguh? Kau betul-betul ingin aku kembali padanya?"
Triska tidak menjawab. Deni tiba-tiba memeluk-nya lagi dan mengecupi kepalanya. "Oh, Prinses, kau kelihatan tidak bahagia! Semua gara-gara aku! Tapi aku berjanji akan membahagiakanmu bila kauberi aku kesempatan. Aku tahu kau mencintai-ku. Karena itu kembalilah, Tris. Besok kita akan meresmikan lagi hubungan kita yang terputus ini. Besok kau dan Marco akan pulang ke rumah kita.... Mau, kan, Tris?" -
Triska tidak bergeming sama sekali, kedua le-ngannya lurus kaku di sampingnya. Dia juga tidak bersuara kecuali sesekali membersihkan hidung, isaknya sudah reda.
Deni melepaskan pelukannya, meletakkan kedua tangannya di atas bahu Triska dan menatapnya penuh kehangatan. "Hei, aku sudah berhasil di terima di Mensa!" serunya riang. Tapi Triska masih tetap membisu.
"Nggak mau member! aku selamat?"
"Selamat!" ucap Triska seperti robot.
Deni tidak berkecil hati melihat reaksi yang dipaksakan itu. Dia malah menunduk dan mende-katkan wajahnya ke depan, sehingga Triska dapat
melihat mata yang hitam bening itu dengan pupil-nya yang lebar, bagaikan sebuah kolam sejuk yang tenang, dan dia serosa ditarik... amblas sampai ke dasar... hongat, tenteram...
"Jangan bohongi aku, Tris! Lebih-lebih lagi, jangan dustoi dirimu sendiri," bisik Deni, begitu dekat sehingga napasnya yang hangat menyapu wajah Triska "Akuilah bahwa kau mencintaiku! Akuilah, Tris! Akuilah! Akuilah, akuilah, akuilah...."
...Damoi, hening, cerah... Akuilah... hatiku yang molang... sudah terlukai, namun tetap tak bisa membantah... akuilah... Sentosa, sejuk, tenang... Aku terbenam... Dalam matanya kulihat... Oh, aku tak dapat menyangka]...!
"Oke! Kuakui!" sahutnya setenang mungkin seakan tengah menjawab pertanyaan ujion seorang profesor. "Tapi nggak berarti aku akan bersedia kembali padamu!" sambungnya melempar granat. Danau yang tenang itu tampak bergelora sesaat, namun sesaat kemudian riaknya sudah menghilang lagi.
"Jangan tolak keinginan hatimu sendiri, Tris," bisik Deni mengembalikan granatnya dengan tem-bakan maut.
"Oh, yaaa? Jadi kau yakin begitu isi hatiku?"
Deni tidak menggubris sindiran dan senyum dingin yang terpampang di depan nya. "Mungkin aku . dapat membantumu menerima kenyataan," ujarnya sambil mengeluarkan .sebuah recorder mini dari kantongnya, lalu menekan tombol yang paling ujung.
Tidak! Ini tidak sah! Curang! Pemerasan! Pikirannya memekik panik, namun hatinya tertawa... -4
Ave Maria... Kau di sampingku, aku di samping mu... Romo Yohanes bertanya... kau menjawab, aku menjawab... Organ mengalun sendu, agung... Seberkas keharuan melilit hati... setiap serat di tubuh menggetar, kejang, fibrilasi, fasiku-lasi, grand ma I, petit mat... Karena telah kaunyata-kan cintamu padaku di depan Allah, dan cintaku padamu! Cintaku padamu? Cintaku...? Cin-ta-ku...?
Triska demikian asyik dalam kenangan sehingga tidak disadarinya sesuatu telah terjadi. Ave Maria telah berakhir, diganti dengan... Have I told you lately that I love you, Could I tell you once again somehow? Have I told with all my heart and soul how I adore you, Well, darling, I'm telling you now... This heart would break in two if you refuse me, I'm no good without you anyhow, Wis world will end today if I should lose you, ^Well, darling, I'm telling you now... Have I told you lately when I'm sleeping, Every dream I dream is you somehow, Have I told you who I like to snare my life forever, Well, darling...
Triska menggigit bibir dan mengejap-ngejapkan matanya yang mengancam mau banjir lagi. Apakah aku harus menyerah kalah? Hatiku yang brengsek! Pengkhianat kau! Kenapa tak dapat kau-tolak, kenapa tak mau kautupakan?!
"Tris," bisik Deni dekat sekali sehingga bibirnya nyaris menyentuh wajahnya, "kita dapat meng-ulang lagi semua itu. Tapi kali ini aku berjanji,
kau takkan kecewa padaku! Tegakah kau meram-pas hak Marco untuk memiliki masa kanak-kanak yang bahagia bersama kedua orangtuanya? Apakah mau kauhancurkan hatinya seperti kauhancurkan hatiku dan hatimu sendiri? Anak itu sudah berkali-kali menanyakan aku, kapan Mami akan meng-ajaknya pindah! Dan tadi sore ketika kau belum pulang, dia mendesak lagi. Kalau kau tidak mau kembali untukku, kembalilah untuk Marco, dia membutuhkan kita berdua!"
Triska mengisak lagi. Tembakan Deni jitu sekali Dia sanggup menolak Deni, ia dapat me-nyangkal keinginan hatinya sendiri, tapi dia tak mampu membiarkan Marco merana....
"Nggak usah pura-pura sangat mencintai anak itu!" desisnya sambil memandangnya dari balik tirai air mata. "Bukankah kau berpesan pada Dokter Kamal agar mengorbankannya bila terjadi kom-plikasi? Ingar?!"
Deni mengheia napas berat. "Waktu itu perasaanku kacau, Tris. Aku bukan berniat membunuh-aya, tapi bila aku diharuskan memilih, terpaksa kau yang harus kupilih! Bukan karena aku tidak menghendakinya atau kurang mencintainya, tapi karena tanpa kau, aku tahu aku akan merana, mati, atau bunuh diri! Dan akhirnya anak itu akan teIan-tar serta menderita. Mungkin dia takkan kekurang-an materi, tapi itu tak dapat menggantikan kasih sayang orangtua, Tris. Dapatkah kausayangkan betapa kosongnya hidup seorang anak yatim-piatu, betapa gersangnya hatinya? Aku tidak tega men-
jerumuskan anak kita ke jurang derita seperti itu. Aku memilih, membiarkannya kembali ke pangku-an Tuhan... tapi tak berarti aku takkan meratapi kepergiannya. Aku mencintai Marco, Tris, sama besar seperti cintamu padanya. Kau percaya, bukan? Kau percaya, Tris?" Deni mengguncang bahunya per lah an.
Bagaimana dengan janin yang kausuruh gugur-kan? Apa alasanmu? Apakah kau juga akan mencintainya seandainya dia dibiarkan lahir? Percaya?! 0, ya, aku percaya! Aku sangat ingin memper-cayaimu, tapi...
"Mengangguklah! Katakan kau percaya!"
Triska memandangnya seperti orang bilang ingatan, namun selang beberapa saat lambat-lambat kelihatan kepalanya mengangguk. Deni langsung menarik napas lega seperti orang yang baru lulus ujian Bedah Otak.
"Oh, Tris!" Serta-merta ditariknya Triska kembali ke dalam pelukannya, diletakkannya dagunya ke puncak kepalanya, dibelai-belainya kuduknya, dikecupnya dahinya, dan dibisikkannya, "Kembalilah, Tris. Katakan, kau akan kembali, demi Marco. Biarpun bukan demi aku, aku tela. Yang penting, kita bisa bersatu lagi demi kebahagiaan Marco. Kita bertanggung jawab atas kebahagiaannya, Tris.., Jangan sampai Marco jadi anak broken home yang kesepian. Mau, ya, Tris. Tak usah kaujawab sekarang, pi kirk an tenang-tenang besok bila kau segar kembali setelah tidur n yen yak."
Triska membiarkan dirinya didekap begitu sam-
pai... entah berapa lama. Ketika Deni memandang ke atas, dilibatnya bulan sudah condong ke barat. Cepat-cepat dilihatnya arloji. "Wow! Sudah setengah dua! Sebaiknya aku pulang sekarang supaya kita masih bisa tidur beberapa jam." Dirangkum-nya wajah Triska dalam kedua tangannya dan di-kecupnya bibirnya, ringan tapi hangat. ¦ Triska memandangnya, lalu tahu-tahu tercetus dari bibirnya tanpa direncanakan, "Nginap saja."
Sejenak Deni bengong seakan tidak yakin telah mendengarnya. Kemudian dia menegaskan, "Boleh?"
Triska mengangguk. "Di kamar tamu." : "Kamarmu?"
"Sudah penuh dengan Bobi dan Marco." "Kalau begitu, ikutlah ngungsi ke kamar tamu!"
"Ngngng..."
"Aku dengar kau suka gembar-gembor, kau sudah menjadi istriku, masih, dan selalu akan..."
"Tapi ini kan negara hukum!" potongnya dengan wajah panas. "Aku dengar, .pastor di Jerman bahkan nggak mau memberi Sakramen Perkawinan kalau kita belum punya Surat Kawin!"
"Uuuiii!" Deni bersiul. "Bikin hidup tambah su-sah saja!"
Deni memungut cincin yang tadi dibuang ke lantai, lalu diraihnya tangan kiri Triska, tapi dite-piskan.
""Besok saja," kilahnya. "Bangun tidur?" "Di Catatan Sipil!"
-jadi besok kita berdua mendadak sakit, nggak
dinas?" seru Deni tertawa lebar. blS,?KaU memang pantas menjadi anggota Mensal"
Deni terbahak-bahak. "Heran, walau* sindiran, Icalau keluar dari mulutmu, rasanya kedengaran eperti pujian bagiku!" Dia mendecak, membuat Triska tersipu. Lalu tanpa sirene peringatan, tahu-tahu Deni sudah menunduk dan mengecup pucuk hidungnya.
Mereka kembali ke rumah, dan kali ini Triska membiarkan pinggangnya dilingkari lengan yang hangat. Triska menyandarkan kepala ke bahunya. Keduanya melangkah pelan dalam sinar bulan, di-iringi Ave Maria yang syahdu. Diam-diam Triska mengucap syukur ke hadirat Ilahi, berterima kasih karena dia sudah diantarkan pulang ke oase hidup-nya.
Bab 11
Seminggu setelah Triska resmi kembali ke rumah mereka berdua, telepon berdering dari Odi. Seperti biasa, pada saat Deni sedang jaga malam. Selama dia tinggal di rumah orangtuanya, Triska tak pernah diganggu telepon. Mungkin Odi tak tahu no-mornya, tapi seandainya tahu pun pasti Odi takkan bisa menembus penjagaan ibunya yang selalu me-nerima telepon yang masuk.
Saat itu Marco sudah lelap dalam kamarnya yang indah, memeluk Snoopy, sementara Bella melingkar dalam keranjangnya di dekat sandal anak itu di depan ranjang.
Triska langsung mengenali elegy itu dan jan-tungnya mulai berdebar kencang. Sesuai dengan kehendak Deni, ditekannya tombol untuk merekam percakapan itu.
Tanpa basa-basi "halo" atau "selamat malam", Odi langsung membentak, "Kurang ajar sekali kau, Tris! Tak tahu main! Kalau kaupikir aku nelepon mau memberi selamat padamu, kau akan kecewa. Sebab aku justru mau memperingatkan, aku akan membalas dendam! Pengkhianatanmu bersama
354
Deni harus kaubayar! Dengan mahal!" Di antara alunan musik yang membuat kuduknya merinding itu, Triska mendengar napas yang memburu dipacu kemarahan yang meluap.
Triska menarik napas jengkel. Tapi sekarang dia tidak mau mengelak atau membujuk. Dia sudah tahu jelas persoalannya. Dan itu dikatakannya terns terang pada Odi.
"Kaukatakan aku kurang ajar, tak tahu malu, dan pengkhianat? Heran sekali aku mendengar kata-kata itu dari kau, yang sudah menyampaikan pada Deni bahwa kau memergoki aku sedang mencabut infus, mau membunuhnya!"
Terdengar Odi menarik napas cepat seakan kaget, tapi Triska tidak memberinya kesempatan untuk membela diri, seandainya dia mau menyangkal. "Odi, aku sudah memberimu waktu tiga tahun! Apa belum cukup? Kalau kau nggak berhasil mendapat-kan Deni kembali, itu urusanmu. Jangan salahin aku! Aku sama sekali tidak merasa berdosa padamu. Aku nggak menghasut Deni agar menolakmu. Aku bahkan menganjurkan supaya dia kembali padamu. Dia sendiri yang tidak mau. Dia kembali padaku atas kemauannya sendiri. Aku nggak pernah mengambil Deni dari sampingmu, sebab dia belum pernah menjadi milikmu! Betul, kan? Terimalah kenyataan ini, Odi. Lu pak an I ah Deni, carilah yang lain saja..."
"Nggak usah kaunasihati aku!" hardik Odi me-motongnya.
"Aku kasihan melihatmu menyia-nyiakan masa
mu..."
"Aku nggak butuh kasihanmu!" potongnya dengan murka. "Pendeknya, nantikan pembalasanku!"
"Odi, dekarilah Roy! Aku tahu, kau pernah mencintainya dan dia..."
Tabu? Kau tahu apa tentang aku?! Huh!" Odi mendengus. Suara tawanya yang melengking nya-ring kedengaran lebih mirip suara rintihan sinis dari orang yang sudah putus asa. Dan sebelum Triska sempat memberi dorongan semangat, tahu-tahu... Brukkk! Pesawat di sana sudah dibanting.
Malam itu tanggal dua November. Triska ingat, sebab sore tadi dia mengajak Marco ke pesta ulang tahun Rana, putri kedua Lupita. Ketika dia bersiap-siap akan tidur, pesawat telepon berdering lagi. Kali ini dari Deni Triska melaporkan kejadi-an tadi. "Pasang alat penerima telepon, Tris. Dengan begitu kau tak perlu meladeninya lagi."
Triska menuruti anjuran itu. Betul saja, dua hari kemudian datang lagi telepon. Kali ini Deni ada di rumah. Mereka sudah di kamar, tapi belum tidur. Deni masih di belakang meja, mengetik makalah, sedangkan Triska tengah membaca jurnal di sofa.
Begitu mendengar suara Odi, keduanya langsung menghentikan kegiatan masing-masing, ter-tegun, terpaku di tempat, jari-jari Deni seakan membeku kaku di atas mesin tik, dan jurnal dalam pegangan Triska terlepas ke pangkuan. Keduanya mendengarkan tanpa bersuara, dengan wajah me-ngerat tegang seakan itu instruksi dari seorang penculik yang melarikan Marco. "Hari pembalasanku sudah tiba! Kau harus
membayar untuk semua yang telah kuderita! Gara-
gara kau aku jadi kehilangan Deni!"
Huk! Tanpa kehendaknya, Triska sudah menge-jang mendengar tuduhan itu. Deni cepat-cepat keluar dari belakang meja, menghampiri, dan duduk di sebelahnya. Dipeluknya Triska erat-erat seakan mau melindunginya terhadap serangan' verbal yang menyakitkan itu. Suara Odi memang pedas dan jelas sekali penuh dengan kebencian.
"...Kalau aku mati, kau juga akan kuseret ke dalam lembah kenistaan! Sebentar lagi! Tunggu saja!"
Lalu seperti tempo hari, pesawat digabrukkan dengan keras. Triska tiba-tiba menggigil seperti orang kena malaria. Deni bangun, mengambilkan-nya air panas dari termos, dan membuatkannya cokelat yang bisa menenangkan.
Setelah meneguk minuman itu Triska merasa lebih tenang. "Trims," bisiknya rnenyerahkan kembali gelas yang kosong. "Apa maksudnya barusan. Den? Kedengarannya seperti ancaman."
Deni menggeleng dan melcnguh. "Aku nggak tahu. Bukankah setiap kali menelepon, dia memang selalu memberi ancaman? Tenang saja. Dia pasti nggak berani nekat." Deni mencoba menghi-bur dan mengajaknya pergi tidur. "Biarlah makalah itu ditunda dulu, ton masih ada waktu seminggu," ujarnya ketika Triska menyatakan khawatir, makalah nya takkan selesai.
Esoknya, mereka tengah sarapan bertiga ketika Triska mendadak menjerit kecil menatap k
pagi di atas bufet. Matanya membelalak ngeri seakan melihat kalajengking merayap di situ.
Deni langsung bangun menghampiri. Dan dia juga ikut tertegun. Di halaman depan bagian ba-wah terdapat huruf besar-besar, tebal, dan hitam yang seakan menusuk mata mereka berdua: ODI BOBADILA TEWAS BUNUH DIRI!
Mereka berpandangan, dan dalam mata Triska menggelepar-gelepar kengerian yang tak terucap-kan. Apakah dia mengirimkan surat-surat ke koran-koran untuk mencemarkan namaku? Apakah sudah dilaksanakannya ancamannya? Dapatkah di-cegah jangan sampai dipublikasikan?
"Aku hams memberitahu Papa!" bisiknya. Deni mengangguk dan memutarkan nomor telepon, lalu menyerahkannya pada Triska.
Marco yang memperhatikan mereka sejak tadi, kini turun dari kursi dan bertanya, "Ada apa, Mam? Daddy, ada apa?"
Triska memaksa untuk tersenyum. "Nggak ada apa-apa. Sana, ajak Bella makan di kebun bersama Ama."
Untung Marco cukup penurut. Deni membantu membawakan piring rotinya, Atun mengangkat mangkuk susu Bella.
Triska melaporkan apa yang dibacanya di koran (ayahnya belum melihatnya) serta mengutarakan kekhawatirannya sehubungan dengan ancaman Odi, dilaporkannya juga mengenai kedua telepon yang diterimanya.
Tenang, Tris. Papa akan menghubungi Oom
358
Karim Saleh, minta dia menyelidiki soal ini. Kalau ternyata ada surat yang memfitnahmu, Karim Saleh, S.H. akan bisa mengatur supaya jangan sampai dipublikasikan. Jangan khawatir, serahkan semua sama Papa. Kau tetap biasa saja, pergi tugas."
Walaupun Dokter Justin sudah meyakinkan anaknya bahwa dia tak perlu takut,.Triska toh tetap merasa waswas. Terlebih ketika siangnya Roy Parega datang menemuinya.
"Sudah baca mengenai Odi?" tanyanya tanpa kata pengantar.
Triska mengangguk dengan bibir terkancing. Tapi matanya yang kuyu mengatakan banyak, dan Roy rupanya mengerti ketakutan Triska, sebab dia teras menghibur, "Jangan takut, namamu takkan masuk ke koran!"
"Dari mana kau tahu?" tanyanya, walaupun Triska tidak merasa heran sebab semua teman dan keluarga sudah tahu apa penyebab dia dulu berpisah dengan Deni. Karena Odi mengancam akan memfitnahnya ke koran-koran.
Roy sudah membuka mulut, tapi entah kenapa dibatalkannya. Triska merasa bahwa ipamya ini menyembunyikan sesuatu. Sikapnya seperti orang yang resah.
"Walaupun nggak masuk koran, aku tetap merasa nggak enak, Roy. Aku merasa seperti yang bersalah, sekan akulah yang telah membunuhnya! Oh, aku tahu, secara Iogika aku tak bersalah. Tapi hati kecilku tetap menuduh seakan aku penyebab-nya. Seandainya aku nggak ketemu Deni, seandai-
nya kami nggak kawin; seandainya Deni nggak kembali padaku, seandainya... Ah, rasa bersalah ini sangat menyiksaku!" Triska mengeluh. Wajahnya memang tampak lesu dan agak pucat.
Roy kelihatan salah tingkah. Ada dua-tiga kali Triska memergokinya seperti orang mau bicara, bjbirnya sudah terbuka, tapi tampak jelas dia ragu-ragu seakan tengah berperang batin, dan akhirnya ditutupnya kembali mulutnya.
"Mungkin inilah yang dimaksud Odi dengan pembalasannya! Aku akan dibebaninya dengan rasa bersalah seumur hidup! Sekarang pun aku sudah punya firasat, hidupku akan menjadi kacau, mungkin hubunganku dengan Deni juga akan te-gang...."
Bibir Roy lagi-lagi kelihatan merekah, matanya menatap ragu. Triska menunggu. Tapi setelah beberapa detik bibir itu pun terkatup lagi.
"Roy, adakah sesuata yang mau kaukatakan?"
"Aku... Ah, eh... nggak, nggak ada!" sahutnya terbata-bata.
"Kalau ada yang kauketahui mengenai Odi, apa saja sekecil apa pun, yang kira-kira bisa meri-ngankan beban mentalku, tolong katakan."
"Misalnya?"
Triska menggeleng. "Aku nggak tahu," keluh-nya.
"Apa yang kauharapkan akan bisa menolong-
mu?"
"Aku nggak tahu apa yang kuharapkan."
Roy mengepal dan membuka kepalannya ber-
kali-kali, lalu cepat-cepat permisi ketika mendadak teringat olehnya, ada pasien menunggunya.
Keesokan harinya Triska tetap masuk kerja seperti biasa, tapi wajahnya makin kusut. Semalaman dia tak berhasil tidur walaupun sudah menelan obat tidur (untuk pertama kali dalam hidupnya). Dia waswas, setiap saat matanya bisa tertumbuk pada judul berita yang mengerikan atau dicari wartawan sehubungan dengan surat yang dikirim ke redaksi, atau... Uh! Bahkan perceraianku tidak menyebabkan aku begini gelisah!
Pagi-pagi Roy sudah datang ke kamarnya. Dia tak perlu menanyakan bagaimana keadaan Triska. Wajahnya sudah menjelaskan bagaimana. Sekali ini dia cuma bertamu lima menit, dan Triska juga tidak punya bahan untuk dipercakapkan. Pikirannya tersita seluruhnya oleh peristiwa yang diberitakan kemarin.
Pada hari ketiga, Triska mengaJami sakit kepala hebat yang belum pernah dikenalnya selama dia hidup. Dia terpaksa tidak pergi dinas. Deni me-nyuruhnya istirahat saja dan memesan Marco agar menelepon ke rumah sakit bila maminya perlu apa-apa. Marco senang sekali main telepon ber-bentuk Miki Tikus itu, dan sudah bisa menirukan ucapannya dalam bahasa Inggris, "Telepon untuk-mu... Telepon untukmu...."
"Jangan sampai nervous break-down, Tris," ujar Deni menguatkan semangatnya. "Bukankah Papa semalam sudah nelepon, mengatakan semua beres, sejauh ini nggak ada koran yang menerima surat apa pun,"
"Tapi rasa bersalah ini, Den. Ah, kau nggak bisa merasakan kayak apa rasanya kalau ada yang bunuh diri gara-gara kita!"
Hari itu Almarhumah Odi Bobadila akan dike-burnikan.... Di mana-mana berita itu menyergap kepalanya. Mula-mula dari radio, warta berita pagi pukul tujuh. Lalu dari koran yang tergeletak di bufet ruang makan. Lalu agak siang, kembali dari radio, kali ini radio di dapur yang sering disetel oleh Bi Rinai untuk menghibumya selama dia menyiangi sayuran dan memasak. Kalau menuruti hati, Triska ingin menyuruh A tun mematikan radio itu, untung akal sehatnya mencegahnya. Jadi terpaksa dia masuk lagi ke kamar agar tak usah mendengar apa-apa.
Untung ada Marco yang dapat membuatnya si-buk bersama Bella yang disayangnya. Deni mene-lepon tiap satu atau dua jam, diterima oleh Marco yang melaporkan pada ibunya apa pesan ayahnya. Dokter Justin juga telepon dari rumah sakit, rupanya diberitahu oleh Deni mengenai keadaan Triska.
Dokter Justin mencoba memberi pengertian bahwa Triska sama sekali tidak perlu bertanggung jawab atas kematian Odi, tapi yang bersangkutan tampak tidak tergugah mendengarnya.
Nyonya Rosa datang berkunjung siang hari, membawakan makanan kesukaan anak-cucunya. Triska tahu, ibunya datang atas kisikan ayahnya yang pasti telah meneleponnya. Hatinya gembira ditemani ngobrol, namun keruwetan pikirannya
tidak juga terpecahkan oleh senyum hangat dan pelukan mesra ibunya.
"Saya merasa menjadi penyebab bunuh dirinya, Mam. Ini yang mengganggu pikiran, Mam."
Nyonya Rosa kelihatan khawatir melihat keadaan anaknya, sebab Triska biasanya tegar dan tidak gampang ketakutan, sedih, atau mengasihani diri sendiri. Bahkan setelah diberitahu dokter bahwa dia takkan mungkin hamil, keadaannya masih tidak segawat sekarang. Ya, Triska ingat sendiri saat itu. Aku tak pernah begini depresi! pikimya khawatir. Jangan-jangan aku akan memerlukan bantu an psi-kiater! Celaka! Aku paling benci psikiater! Apalagi kalau sampai harus menelan belasan pil aneka warna, lebih baik aku mati daripada pikiranku jadi berkabut, tak bisa membedakan siang dari malam, tak dapat menikmati indahnya awan dan laut, menjadi beban bagi diriku sendiri....
Nyonya Rosa menunggu sampai Deni pulang, bam dia permisi. Sebelumnya, Triska sempat melihat keduanya kasak-kusuk, begitu dia muncul, keduanya langsung menghentikan percakapan. Tapi Triska terlalu depresi sehingga tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia tahu, semua orang khawatir mengenai dirinya, tapi dia sendiri acuh saja.
"Tris, Roy akan menengokmu nanti sore sepu-lang dari praktek," ujar Deni setelah menanyakan bagaimana keadaannya seharian.
"Apa dia bilang mau mengatakan sesuatu padaku?" tanyanya penuh harap.
Deni menggeleng. "Dia cuma bilang mau menjenguk." Harapan nya musnah dan hatinya kembali hams menanggung be ban rasa bersalah....
Untung hari itu Deni tidak praktek sore, sehingga dapat menemani dan mengajaknya main halma —bertiga dengan Marco, main catur—Marco cuma menonton, atau menyaksikan video anak-anak. Apa saja, pokoknya asal bisa membuat Triska sibuk memutar otak, sehingga takkan sempat me-nyesali apa yang telah terjadi.
Roy datang sudah malam, pukul sepuluh lewat. Marco sudah tidur.
"Maaf, begini malam. Pasienku banyak dan aku sudah sangat lapar, jadi makan dulu ke atas," katanya menjelaskan. Triska tahu, Roy praktek dalam kompleks pertokoan, sehingga gampang mencari makanan, tinggal naik ke tingkat atas.
"Aku sebenarnya nggak merasa sreg mengata-kan apa yang hams kukatakan nanti. Tapi aku telah memikirkannya selama tiga hari. Aku khawatir melihatmu, Tris. Apalagi setelah kutanyakan pada Deni tadi pagi bagaimana perkembanganmu. Aku merasa wajib menolongmu."
"Kalau kau tahu bisa menolongku, kenapa di-tunda-tunda? Aku sungguh merasa tersiksa dengan perasaanku," keluh Triska.
Roy mengangguk, menangkupkan kedua tangannya di atas lutut, memajukan tubuh ke depan, dan mengheia napas panjang. Kopi yang disuguhkan
364
Bi Rinai tidak diacuhkannya. Matanya menunduk menekuri lantai dan suaranya pun setengah ber-
bisik seperti orang takut ketahuan. "Apa yang akan kukatakan ini adalah rahasia
jabatan."
Huk! Triska dan Deni serentak tertegun. Deni mempererat pelukannya ketika dirasakannya Triska mengejang dan mengeluarkan bunyi seperti orang tersedak.
Roy mengangguk. "Ya, betul. Karena itu aku ragu mengatakannya. Bagiku rahasia jabatan adalah tabu, dan belum pernah kubeberkan pada siapa "pun. Tapi setelah menimbang-nimbang, aku ber-pendapat, lebih baik menolong yang hidup daripada melindungi yang sudah meninggal. Singkat-nya, aku mau bilang, kematian Odi bukanlah gara-garamu! Dan aku punya bukti!"
Oh! Triska tertegun untuk kedua kalinya. Tapi kali ini wajahnya langsung kelihatan lega, agak berseri lagi, ketegangan di sekitar mata dan bibirnya mereda.
"Kalau begitu kenapa...?"
Roy mengulapkan tangan. "Akan kuceritakan semua!" Dipandangnya Triska dan Deni bergantian. "Odi menderita herpes genitalis yang sangat men-jengkelkannya bila sedang kambuh!"
Oh! Triska menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menoleh, menatap Deni dengan mem-belalak.
"Kenapa kaupandang aku begitu?" tegur Deni mengernyitkan kening.
"Kaudengar apa kata Roy!" "Ya! Lata?"
"Odi kena herpes, dan kau tenang-tenang saja?!" "Lho! Aku harus gimana?" Deni tertawa. Tapi Triska malah mengerutkan kening. "Kau nggak mau check- upV. Yakin nggak ketularan?" "Lho!" Deni melongo.
Triska tersenyum. "Kau nggak menyangka aku tahu, bukan?" "Mengenai...?"
"Anakmu! Odi menggugurkannya, bukan? Atas suruhanmu?"
Deni tertawa. "Oh, itu! Ya, dia memang mau abor... Hi, nanti dulu! Kaubilang aku yang surah?" "Dia yang bilang!"
"Tris, apa kau serius? Aku... menyuruh dia... me... Kenapa?"
"Karena waktu itu kalian belum bisa kawin! Jadi anakmu itu kausuruh enyahkan! Boho'ngkah aku?"
"Kau nggak, tapi Odi!" Deni tiba-tiba menjadi serius. Dipandangnya Triska dengan nanar seakan tak ada orang lain di situ. "Jadi kau mempercayai-nya?"
"Apa kau sendiri nggak?" Diingatkan begitu, Deni menggaruk-garuk kepala sambil menggeleng.
"Tris, dengar baik-baik! Aku belum pernah ter-libat hubungan intim dengannya atau perempuan mana pun! Ketika kita kawin, bukan kau sendiri yang masih perawan, tahu! Ketika aku melihat Odi pertama kali, perutnya sudah gendut, Dia diantar-
366
kan oleh Nila yang mengira bisa membujukku agar mau menggugurkan kandungan temannya.
Tentu saja aku nggak mau!"
"Dan kaukirim dia padaku!" Roy mendecak.
"Sori, mek! Habis cuma kau yang kuingat saat itu! Tapi kan nggak kaukerjakan?"
"Terang nggak! Akhirnya dia ke dukun, tapi tidak kutanyakan di mana. Setelah itu dia malah balik padaku untuk penyakitnya yang lain!"
Roy Parega mengheia napas. "Pacar yang meng-hamilinya itu kemudian dibawanya padaku dan menjadi pasienku sampai meninggal tahun.lalu." Roy menggeleng. "Orang luar biasa! Semua penyakit diborongnya!"
"Sakit apa?" tanya Triska ingin tahu.
"GASH/"
"Syndrome apa itu?" "Gonore, AIDS, sifilis, herpes!" "Astaga! Dan dia plus karena...?" "Tebak sendiri!"
Triska menoleh pada suaminya. "Dan dia lantas pacaran denganmu."
Deni geleng-geleng kepala. "Aku nggak tahu gimana aku sampai kecantol dengannya! Mungkin waktu itu aku masih ingusan, lihat cewek cakep langsung kesetrum!"
"Kalian pacaran itu memang sudah diatur oleh mereka," tukas Roy.
Deni berjengit mendengamya. "Eh, bagaimana?"
"Odi bilang, Nila yang memberitahu soal waris-anmu itu. Dia memang sengaja mengatur agar kau
pacaran dengan Odi, lalu bila nanti berhasil kawin, Odi akan membujukmu agar memberikan bagian yang lebih banyak pada mereka. Tapi Nila tidak menyangka, nenek kalian nggak suka sama Odi."
"Rasanya sudah pernah kudengar skenario sema-cam ini! O, ya, Tris! Eh, itu kan yang kaudengar di WC tempo hari, Tris?"
Triska mengangguk. "Jadi Odi bunuh diri karena herpes?"
"Orang memang sengsara sekali kalau kena herpes, tapi dengan Acyclovir, serangan bisa diredam dari tiap bulan menjadi dua atau tiga bulan sekali. Odi bukan bunuh diri karena itu. Sebulan yang lalu dia ketahuan menderita kaposi sarcoma\ Aku langsung menduga jelek. Dan betul saja. Tiga hari yang lalu dia dinyatakan positif AIDS!" "Ah!" seru Triska tertahan. "Petualangan yang berbahaya!" tukas Deni menggeleng.
"Dan ia mengatakan padaku, dia tidak mau sampai ketahuan umum mendapat penyakit itu. Dia bilang, lebih baik dia mati sebelum penyakit-nya merajalela. 'Aku nggak mau jadi kurus kering dan jelek!' katanya. 'Aku ingin dikenang seperti aku sekarang ini, cantik dan beken. Aku toh akan mati gara-gara penyakitku, dipercepat sedikit kan nggak jadi soal!' Kukira dia cuma guyon, sebab ngomongnya sambil ketawa-ketawa. Dia minta
tumor ganas (komplikasi dari AIDS)
368
obat tidur, tapi nggak kuberi, sebab dia nggak menderita insomnia. Mungkin dia mencarinya di
pasar gelap." "Dia menelan pi 1 tidur?" tanya Triska.
"Ya."
"Dan bagaimana kau bisa yakin, dia nggak ba-kal ngirim surat ke koran?"
"Sebab aku sudah mengancamnya, kalau dia sampai berani. menjelek-jelekkan kamu ke koran, aku bersumpah, walaupun sampai dikeluarkan dari IDI, aku akan membeberkan rahasia penyakitnya pada wartawan, dan menceritakan apa sebenarnya yang menyebabkan kematiannya! Yang kumaksud, bila dia plus karena penyakitnya. Waktu itu aku nggak menduga dia akan berani nekat menghabis-kan nyawa sendiri! Nah, kubilang padanya, riwa-yat penyakitnya pasti akan lebih menarik sebagai bahan sensasi daripada tuduhan merebut pacar yang mau dilontarkannya pada seorang dokter. Odi mengerti dan takut. Dia berjanji akan membatalkan niatnya."
"Roy, bolehkah aku berterus terang? Tempo hari kau mengaku, kau pernah mencintainya, dan dia juga pernah mencintaimu. Ketika kutanya kenapa kau nggak nikah saja dengannya, kau ragu menjawab, apa karena masalah rahasia jabatan" ini? Apa kau putus dengannya gara-gara herpes? Waktu itu kan dia belum ketahuan kena AIDS?" '
Ikaton Dokter Indonesia
Roy nyengir kuda dan berdehem. "Seharusnya kujawab ya. Sebab aku memang ngeri sama virus yang satu itu, amit-amit jangan sampai nular. Tapi kurasa, kalau aku sangat mencintainya, aku takkan peduli dia sakit apa pun, akan kulakoni juga hidup dengannya. Masalahnya, kalau kauizinkan aku ber-kata sejujurnya, terpaksa kuakui bahwa1'cintaku padanya tidak cukup besar untuk melupakan..." Pancaran matanya yang menatap Triska membuat dia segera siaga dan bum-bum mengulapkan tangan.
"Cukup! Cukup! Sekali ini kau nggak usah ber-kata sejujurnya, kuizinkan!" ujar Triska sedikit pa-nik, khawatir "Duli Tuanku, Junjungan, Paduka yang Mulia" Deniano Melnik nanti merasa kurang senang dan memaklumkan perang terhadap kelan-cangan Dokter Parega.
Nyengir kuda di wajahnya makin melebar ketika dia bertanya, "Apa kau takut dipentung oleh 'tuan-mu'?"
Deni yang menolong jawab, "Dia takut KAU yang akan kupentung!"
***
Esok paginya sebelum sarapan, keduanya membaca berita penguburan Odi Bobadila. Kerandanya panjang dan langsing, pada tutupnya terdapat tulis-an R.I.P., karangan bunga bertimbun di pinggir
Bang, pelayat berjubel. Triska menunjuk seseorang yang berdiri di baris depan, berkacamata hitam. Deni juga mengenalinya, Nila.
370
Wajah Nila jelas sekali sebab kena fokus.
"Air mukanya seperti orang yang mau mem-bunuh," tukas Triska bergidik.
Deni mengheia napas. "Habis, rencananya be-rantakan sama sekali! Yah! Akan kucoba membujuk ayahku agar melipatgandakan warisan bagian mereka. Ayahku takut, kalau dibagi rata, berarti mendurhakai pesan orangtua, tapi kalau cuma me-nambah kan nggak berarti durhaka? Hitung-hitung ngasih kado sama keponakan? Atau karena itu atas namaku, ya ngasih sama sepupu-sepupu? Aku sudah memiliki semua yang pernah kudambakan, kau dan Marco. Aku tidak memerlukan apa-apa yang lain."
Deni berdiri dan memutar piringan hitam. Lagu merdu langsung mengalun menyapu hati mereka dengan sapuan lembut warna cinta yang diracik di atas palet yang tak pernah kering dengan gairah. Deni mengikuti musik itu dengan berdendang pelan, You belong to my heart, now and forever... And our love had its start, not long ago... We were gathering stars while a million guitars played our love song... When I said 7 love you",, every beat of my heart said it too... 'Twos a moment like this, do you remember? ...And your eyes threw a kiss when...
Triska mengheia napas dan menggigit bibir sambil melipat koran. Yah! Semoga sakit hati mereka bisa dicairkan! Ah! Semuanya gara-gara uang!



Tamat Penulis: Marga T.

SEPAGI ITU KITA BERPISAH
Buku Kedua

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1994
SEPAGI ITU KITA BERPISAH - buku kedua oleh Marga T. GM 401 94.977 © Penerbit FT Gramedia Pustaka Utama, JL Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270 Sampul dikerjakan oleh David Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta. September 1994
Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) MARGA T.
Sepagi itu lata berpisah / Marga T. — Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1994. 384 him. ; 18 cm.
ISBN 979-511-975-3 (no. jil. lengkap) ISBN 979-511-977-X (jil. 2)



Bab 1
Sabtu itu cuaca cerah, langit biru berawan putih menyebabkan udara tidak terlalu panas. Di luar jendela terdengar burung-burung berkicau riuh, aneka ragam bunyinya. Triska mengenali suara murai seperti yang didengarnya di kebun mertua-nya di Depok. Ayah Deni penggemar burung, peli-haraannya belasan jumlahnya, semua terawat baik dalam sangkar yang luas.
Hari ini aku akan pulang ke rumah, pikir Triska Omega dengan gembira. Aku akan membawa pulang bayiku! Aku takkan pern ah kesepian lagi. Hi-dupku akan sempurna. Semua naluri kewanitaanku sudah terpenuhi, tak ada alasan bagiku untuk me-nyesali keadaan.
Triska berdiri di depart jendela kamarnya di tingkat tiga. Nun di bawah dilihatnya kebun bunga yang cantik, aneka warna kembang sari memukau pandangannya membuatnya memuji kebesaran Tu-han. Bagaimana caranya Dikau dapat menciptakan beribu jenis bunga serta tanaman? Manusia sudah singgah ke bulan, akan tetapi sepotong bunga pun tak mampu kita buat, jangan bilang lagi beribu
jenis tanaman serta binatang. Dan hari ini Tuhan berkenan mengizinkan aku pulang! Membawa bayiku!
Angin berembus sepoi. meliukkan batang-batang cemara yang tinggi menggapai langit. Ah, betapa aku pernah khawatir bayiku takkan selamat atau takkan diselamatkan! Lamat-lamat serasa masih di-dengarnya dengung suara suaminya pada Dokter Kamal sesaat sebelum dia dibius, "Dok, kalau ada kesulitan, istri say a jadi prioritas!" Untunglah tak ada kesulitan. Terima kasih, Tuhan.
Bayinya temyata sehat, montok, dan tampan, tidak seperti monyet! Triska tersenyum dalam hati. O, ya, aku tahu seperti apa bayi-bayi yang barn lahir itu. Terkadang, malah sering, rupa mereka tak ada bedanya dengan bayi orang utan, terlebih kalau prematur. Untunglah, bayinya—yang belum bernama itu—tidak berkerut-kerut seperti anak go-rila! Triska tersenyum dengan hati meluap penuh bahagia, serasa tak ada kesulitan apa pun dalam hidupnya.
Sekarang setelah aku merasakan kebahagiaan sebagai seorang ibu, semakin aku yakin apa yang hams kulakukan, pikirnya. Aku takkan menyesali siapa pun, tidak juga nasibku. Semuanya akan ku-pasrahkan pada Tuhan. Dikaulah yang akan mem-bimbingku, terjadilah padaku seperti kehendak-Mu. Semua memang miiik-Mu. Manusia tidak bisa me-miliki apa-apa, baik harta maupun suami, istri, atau anak. Semuanya milik-Mu. Aku tak pernah memiliki Deni, seperti dia juga tak pernah memi-
liki diriku. Dan anak kami ini juga bukan milik kami, cuma dititipkan oleh Tuhan untuk dirawat oleh kami atau untuk diambil kembali bila its' berkenan pada-Nya. "Dokter Tris!"
Triska terkejut lalu menoleh. Rupanya ia terlalu asyik dengan lamunannya sehingga tidak didengar-nya pintu dibuka serta langkah kaki perawat meng-hampirinya. Wajah Triska yang tadi sedikit kaget serta-merta berubah cerah melihat selimut biru muda yang membungkus gendongan dalam pelukan Suster Narti.
"Sudah waktunya minum lagi, Dok," ujar perawat setengah umur itu seraya tersenyum menyo-rongkan gendongannya.
Triska mengangguk tersenyum dan mengulurkan kedua lengannya untuk menyambut bayinya yang kini membuka matanya dan mulai menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
"Sudah mulai tahu dia, siapa yang menggen-dongnya," ujar Suster Narti seraya mencubit pipi kecil itu dengan gemas. "Saya tinggal dulu, ya, Dok."
Triska mengangguk, lalu berjalan ke kursi yang terletak di sudut, agak teduh, terlindung dari silau matahari sebab di sampingnya terdapat tirai tebal berwarna hijau. Tirai itu tak pernah ditarik untuk menutupi jendela, tapi dibiarkan terbuka, berkum-pul di kiri-kanan. Triska menjatuhkan diri pelan-pelan (perutnya masih terasa nyeri bila terkena guncangan, luka operasinya belum pulih betul) ke
atas tarsi sementara perawat membuka pintu dan keluar kamar.
Sementara bayinya menyusu, Triska tak puas-puasnya mengagumi putranya. Dielusnya rambut-nya yang hitam, dibelainya telinga yang mungil dan sempurna, ditelusurinya alis mata yang hitam samar, disentuhnya hidung yang mungil bagaikan kuntum mawar, dipegangnya tangan-tangan mungil, diperhatikannya satu-satu jari-jari yang begitu mungil namun begitu sempuma dan cantik, diraih-nya juga kedua kaki-kaki mungil yang terbalut kaus kaki biru muda dan digenggamnya erat-erat. Aduh, kecilnya, pikirnya kagum dan bahagia. Muat dalam genggamanku! Tapi kelak sepatunya akan bemomor 43 seperti ayahnya! Ini anakku! Buah hatiku! Buah cinta kita, Den. Cuma, masa-lahnya, bagimu bukan buah cinta, melainkan... apa? Buah kecelakaan? Karena tidak menyangka ini bakal terjadi, kita teledor... Itukah pendapatmu, Den? Manusia kecil yang begini memikat hati, yang begini tampan, tidak diharapkan kehadiran-j nya? Dianggap merupakan komplikasi?
Triska mengepalkan tinju anaknya. Sebesar tinju-mu ini jantungmu. DiJetakkannya ujung telapak ta-ngannya di atas dada anaknya Jantungmu berdenyut begitu teratur, begitu kuat, dan akan setia berdenyut untukmu sampai kau tua renta. Ujung telunjuknya menelusuri alis mata anaknya. Alismu akan hitam tebal seperti alis ayahmu. Dielusnya pipi yang ke-rah-merahan. Kau akan menjadi perjaka tampan, kau adalah keajaiban dunia yang kedelapan!
***
Kira-kira sejam setelah Suster Narti kembali un-tuk mengambil sang bayi dari ibunya, Deni mun-cul untuk menjemput Triska.
"Sudah siap, Tris?" tanyanya seraya menunduk mau mengecupnya. Triska cepat-cepat mengangguk sehingga kecupan itu melewati sasaran. "Sejak tadi," sahutnya lalu berputar sehingga cekalan Deni pada kedua lengannya terpaksa dilepas. Triska pura-pura membukai laci-laci untuk memeriksa jangan sampai ada barang yang ketinggalan. Pada-hal ia sudah tahu, semua laci itu sudah kosong. Setelah semua laci diperiksa, tak ada lagi alasan-nya untuk menghindari Deni. Triska berdiri diam di dekat ranjang, tak tahu hams bilang apa.
"Oke, kalau sudah beres, mari kita segera berang-kat," ajak Deni seraya meraih dan menggandengnya. Triska tak bisa menghindar.
Deni menjinjing tas pakaian dengan sebelah ta-ngan sementara tangan yang lain dikalungkannya ke bahu istrinya. Berdua mereka pamitan kepada para perawat. Mereka semua mengelu-elukannya, memberinya selamat jalan, lalu Suster Kepala mengantar mereka ke bangsal bayi tempat Suster Narti sudah siap, sudah memandikan serta men-dandani putra Dokter Melnik. Suster Narti mem-bopong sang bayi sampai ke mobil dan bam me-nyerahkannya pada Triska setelah ia duduk dalam mobil. Setelah saling memberi lambaian, mobil pun meluncur disaksikan oleh Suster Narti dan Suster Kepala.
Ketika mobil hampir mendekati gerbang kedua, barulah Triska membuka mulut. "Aku ingin pulang dulu ke rumah orangtuaku, Den."
Deni rupanya tercengang sebab ia segera meno-leh dengan bibir menganga sementara tangannya kelihatan mencengkeram setir erat-erat padahal ta-di cuma memegang biasa.
"Kau nggak mau pulang ke rumah?" tanyanya sambil menatap Triska dengan heran. Yang dita-nya cuma menggeleng sambil cepat-cepat mele-ngos ke samping pura-pura memperhatikan lalu lintas.
Setelah memandang Triska beberapa menit, akhimya kedengaran Deni menarik napas. Menye-rah. "Oke, akan kuantarkan kau ke rumah orang-tuamu. Mungkin memang lebih baik bagimu diam di sana dulu. Ibumu pasti akan bisa merawatmu lebih baik dari aku...."
Triska menyentuh lengan Deni perlahan. "Bukan itu sebabnya. Aku cuma ingin... yah, dimanja lagi oleh ibuku." Triska mencoba tertawa kecil sekadar mencairkan suasana yang sedikit tegang.
"Aku juga bisa memanjakanmu!" tukas Deni, mungkin sedikit tersinggung. "Apa selama ini aku kurang memanjakanmu?"
"Tentu saja nggak, tapi kau kan perlu dinas. Kalau kau sudah berangkat kerja, dengan siapa aku di rumah? Seharian nggak ada orang yang akan memperhatikanku dan menyibukkan diri un-tukku. Aku pasti akan kesepian. Bi Rinai memang cukup perhatian, tapi rasanya tetap nggak sama
dengan ibu sendiri...." Huh! Kenapa aku hams " menerangkan panjang-lebar alasanku mau pulang ke orangtua? Seharusnya sepatah kata saja sudah cukup untuk penjelasan. Sebut saja Odi, dia pasti akan mengerti alasanku, pikir Triska pahit.
"Oke, oke, no problem. Aku mengerti." Deni mengangguk dan menatap Triska sambil tertawa kecil sebelum mengarahkan kembali matanya ke jalan.
Tidak, kau tidak mengerti! kata Triska dalam hati. Kau masih jauh dari mengerti, Dokter De-niano Melnik. Kau sama sekali belum mengerti. Tapi kau akan segera mengerti!
Nyonya Dokter Omega, ibu Triska, tidak kelihatan kaget menyambut kedatangan mereka, sebab Triska rupanya sudah menyampaikan niatnya itu jauh-jauh hari pada salah satu kunjungan ibunya ke rumah sakit.
"Kamarmu sudah Mama siapkan di loteng. Atau kau lebih suka kamar di bawah?" tanya ibunya seraya membopong cucunya.
"Lebih baik tidur di bawah, Tris," Deni mena-sihati. "Supaya otot-otot pemtmu nggak terlalu di-pengamhi."
"Luka OP ini sudah nggak sakit, kok. Biar di atas saja, Mam. Supaya bisa melihat jauh ke kebun belakang."
Ibunya mengangguk sambil melangkah masuk ke rumah diikuti Triska serta Deni. "Ya, dari kamarmu di atas pemandangannya memang jauh lebih bagus dibanding dari kamar di bawah."
Itu adalah kamarnya sendiri sebelum ia meni-kah. Semua perabot masih terletak di tempat se-mula, tak ada perubahan kecuali di samping ran-jang, dekat tembok, kini terdapat sebuah ranjang kecil berwama putih, kepala dan kaki ranjang ber-bentuk Mickey Mouse.
"Oh, Mam!" sera Triska kegirangan. "Bukan main bagusnya ranjang ini! Terima kasih, Mam."
"Papa sama Mama mencari ubek-ubekan ke se-luruh kota, tapi nggak juga ketemu ranjang yang istimewa. Akhirnya ada yang memberitahu, dan pada toko yang kedelapan inilah kami menemu-kannya. Ini adalah hadiah dari Papa-Mama. Se-mula Kris mau memberimu buaian, tapi Mama bi-lang, buaian itu nggak praktis, terlalu kecil seperti untuk boneka, pasti cuma tahan beberapa bulan. Jadi mereka batal membelinya, dan mau membeli ranjang saja. Tapi Mama bilang, Mama sudah beli ranjang. Mereka terpaksa mencari bar an g lain."
"Untung mereka nggak membeli buaian," tukas Deni. "Saya sudah membelinya."
Triska menoleh dan tertawa. "Apa? Kau... membelinya?" Bukankah kau nggak menyukai anak ini, kenapa sekarang jadi repot?!
"Ya." Deni mengangguk. "Bagus sekali. War-nanya bira, dihiasi lukisan kurcaci di seluruh ping-girannya. Kamar di sebelah kamar kita juga sudah aku ubah, kuberi kertas dinding dengan gambar bebek serta beruang, kuperlengkapi dengan lemari-lemari, meja, dan kursi berwama putih."
Triska menggeleng, dalam had tidak habis me-
ngerti jalan pikiran laki-laki. Tidak suka anak, tapi sekarang malah menyambut kedatangannya secara berlebihan. Triska memang tidak menyiapkan kamar khusus bagi anaknya, sebab pertama, ia kha-watir Deni akan kurang senang atau paling sedikit, akan merasa tertekan bila diingatkan bahwa kebe-basan yang direncanakannya setelah warisan diper-olehnya, temyata takkan bisa didapatnya kembali. Kedua, sebab ia sudah punya rencana untuk tidak kembali ke rumah mereka! Jadi kamar untuk anaknya itu akan berada di rumah orangtuanya.
Ibu Triska meletakkan cucunya yang sedang le-lap itu di atas kasur lalu menutupinya dengan seli-mut tipis. "Mama masih belum beres di dapur. Kau tenang saja di sini, nggak usah turun. Kita akan makan siang kira-kira sejam lagi, kau belum lapar, kan, Tris, Den?"
"Belum, Mam," sahut keduanya hampir berba-rengan.
"Mana Papa, Mam?" tanya Triska.
"Sedang menengok pasien-pasiennya yang diop-name di rumah-rumah sakit. Tapi dia pasti akan pulang tepat waktu makan. Sudah, ya, Mama ting-gal dulu. Kalau mau minum, itu Papa sudah me-nyediakan kulkas kecil penuh dengan air botol dan soft drink."
Triska mengikuti telunjuk ibunya. Ya, dia keliru tadi ketika menyangka kamarnya tetap tak ber-ubah. Temyata malah tambah perabot. Kulkas kecil di pojok, dekat pintu kamar mandi. Lalu pesa-wat TV kecil di tembok, di depan sofa. TV-nya
malah tidak terlalu kecil. Memang lebih kecil dari TV di ruang keluarga. tapi ini pun paling sedikit 25 inci.
"Bukan main! Seperti hotel kelas satu saja!" ungkap Triska tertawa senang beicampur geli. Ibunya cuma tersenyum, lalu tan pa memberi tanggap-an, keluar kamar dan menu tup pintu.
Deni mengangkat kursi dan meletakkannya di samping ranjang kecil Ia duduk di situ memper-hatikan yang sedang lelap. Triska ikut mengham-piri dan berdiri di sampingnya.
"Cakep, ya?" tercetus olehnya tan pa sengaja.
"Rupanya ibumu sudah tahu kau akan tinggal di sini, kok aku nggak tahu?"
"Aku senang sekali memperhatikan bibirnya yang me rah dan begito mungil."
"Ada apa sebenarnya, Tris? Kenapa kau nggak memberi tahu sejak dulu, kau akan pulang ke siniV
"Aku juga suka sekali dengan hidungnya. Ah, cakepnya!" Triska kedengaran mengeluh bahagia.
"Apakah kau mendengar apa yang kukatakan?"
"Tentu saja"
"Kenapa nggak kaujawab?"
"Sabar. Sebelum kujawab semua pertanyaanmu, lebih dulu harus kita beri anak ini sebuah nama. Kalau berlarut-larut begini, bisa-bisa ibuku nanti menyebutnya 'cucuku' tok dan kelak kalau ditanya orang siapa namanya, bisa-bisa anak kita akan bilang, 'Namaku Cucuku/ Kan gawat!"
"Kau sudah mempunyai ancar-ancar?"
Triska mengangguk tersenyum. "Marco/'
"Marco? Bukankah lebih keren Aleksander?" "Tapi ini dari Marco Polo, petualang yang ku-
kagumi."
"Dan ini dari Aleksander Agung yang juga ku-kagumi."
"Ah, bosan dengarnya, Den. Nama itu sudah pa-saran, nggak ada istimewanya lagi. Sembilan dari sepuluh orangtua yang ingin anak mereka jadi agung, pasti menamakan anaknya Aleksander. Kita kan nggak gila normal seperti itu."
"Tris, Aristoteles kan filosof kesayanganku, dan Aleksander Agung adalah muridnya. Aku pernah bercita-cita, kalau punya anak laki-laki akan kuna-makan begitu."
"Tapi aku juga bercita-cita ingin menamakan anakku Marco. Kalau yang kausayangi adalah guru-nya, kenapa harus memakai nama muridnya? Aristoteles lebih bagus, atau lebih orisinal lagi Aristo."
"Bagaimana kalau Ariston?"
"Nanti dia diolok-olok kawan-kawannya, 'Kenapa namamu bukan Modena saja?!'"
"Ariston itu bukan cuma merek mesin cuci dan dapur, Tris. Ariston adalah seorang filosof Yunani dari abad ketiga sebelum Masehi. Memang nggak begitu terkenal seperti Socrates atau Plato, tapi beberapa teorinya sangat menarik, nanti deh ku-ceritakan."
"Jadi kauganti Aleksander dengan Ariston?"
"Aleksander dan Aristo. Aku rasa lebih baik Aristo saja, untuk mencegah dia diejek kawan-kawannya. Aristo dari Aristoteles."
"Nggak terlalu berat jadinya bagi anak kita? Orang Jepang bilang, orangtua memberikan nama dengan harapan anak mereka akan hidup sesuai dengan namanya atau merealisasi apa yang tersirat dalam nama itu. Rasanya terlalu berat bila anak kita diharapkan akan menjadi filosof dan sekaligus jenderal... jenderal besar! Belum lagi ditambah Marco. Filosof, jenderal, dan petualang...." Triska mendecak geli. "Apakah tiga nama nggak terlalu banyak?" Tapi kalau aku sudah mengalah dan menerima Alek, kau juga hams menerima Marco, dong."
"Bukan Alek, Tris, tapi Aleksander. Nggak bo-leh disingkat jadi Sander atau Aleks, apalagi Alek. Nanti kawan-kawannya memanggilnya, 'Lek, Lek, Lek,' ...di mana lagi keangkeran nama itu!"
"Gimana kalau Alexei? Kedengarannya lebih keren, artinya sama kurasa dengan nama raja Macedonia itu, bukan?"
"Salah-salah nanti kalau dia masuk FK, teman-teman kuliahnya akan menamakannya Alexia, dan jangan-jangan dia betul-betul sama sekali nggak bisa membaca lagi nanti!"
"Jadi gimana dong? Kalau tiga kebanyakan, ber-arti kau harus pilih antara Aristo dan Aleksander. Yang mana yang lebih kauinginkan?"
Deni menggaruk-gamk kepalanya yang tidak gatal sementara matanya menatap wajah mungil kemerahan yang tengah Map. Senyum lembut membayangi rasa bahagia di wajahnya, membuat Triska ingin sekali memeluk dan mengecupnya.
Sayang, kau terpaksa hams kulepaskan, pikimya pedih.
Deni mpanya kewalahan menjawab desakan Triska. "Biasanya kalau anak laki-laki, ayahnya yang memberi nama. Kalau anak perempuan, ibunya. Setuju, kan?"
"Ini adalah anakycu! Mana buktinya kau adalah ayahnya?"
"Triska!" pekik Deni seperti disengat kalajeng-king.
Triska tertawa geli. "Uh, sampai pucat begitu! Aku cuma main-main. Betulkah kau nggak lebih suka bila anak ini bukan anakmu?"
Deni menatap Triska tanpa menanggapi. Mungkin sangkanya aku main-main juga. Tapi, betulkah matanya kelihatan sedikit ngeri atau itu cuma pe-rasaanku belaka? Ngeri kenapa? Takut anak ini sungguh-sungguh bukan anaknya? Atau...-takut rahasianya terbongkar?
"Den, aku setuju dengan pendapatmu bamsan. Kalau kita bisa punya anak satu lagi, perempuan, pasti akan kuakui sepenuhnya hakmu untuk men-carikan nama. Tapi, ini adalah anak kita—anak/cu —satu-satunya. Aku tahu, aku nggak akan gravid lagi, jadi hak itu kita bagi dong fifty-fifty."
"Kau tetap ngotot mau menamakannya Marco? Gimana kalau anak itu kelak jadi petualang?"
"Ah, masa kau begitu percaya pada takhayul?"
"Jadi kau nggak keberatan kalau dia kuberi nama Osiris?"
"Jenderal mana lagi itu?"
"Bukan jenderal. Osiris adalah nama dewa akhi-rat bangsa Mesir Kuno. Marco Osiris. Kedengar-annya boleh juga, bukan?" Senyum tersungging di wajah Deni ketika melihat Triska mengerutkan ke-ning.
"Iiih, amit-amit! Anakku mau dijadikan dewa maut! Sudahlah, kalau kau ngotot mau memakai kedua nama ini, kita beri dia tiga nama, tapi Marco harus di depan. Aleksander biar di tengah dan disingkat nulisnya. Setelah itu baru Aristo, ditulis penuh. Setuju?"
"Kenapa Marco harus di depan?"
"Karena orang lain nggak suka buang-buang untuk menyebut atau menuliskan nama kita. Nama itu cuma penting bagi yang bersangkutan, bagi orang lain sin sepele. Nan, nama yang simpatik adalah nama yang singkat, mudah diingat, serta gampang diucapkan dan ditulis. Berarti, sebaiknya cukup dua suku kata saja, kalau bisa satu suku kata saja tentunya lebih baik, tapi aku nggak bisa ingat nama yang cuma satu suku kata."
Deni menggaruk kembali kepalanya, mengacak-acak rambutnya, lalu terdengar menarik napas, rupanya tobat menghadapi kebandelan istrinya. Triska memperhatikannya sambil menggigit bibir bawah tanda hatinya resah. Jangan-jangan dia akan menolak nama yang kupilihkan!
"Jadi kau tetap memilih Marco. Coba katakan apa sebabnya kau begitu mengagumi Marco Polo?"
"Ah, nggak adil dong! Aku kan nggak mena-
nyakan kenapa kau begitu mengagumi Aleksander Agung serta begitu menyayangi gurunya!"
"Salahmu kenapa nggak mau menanyakan! Kalau kautanya, pasti akan kujelaskan."
"Aku tetap kurang sreg dengan Aleksander. Terlalu pasaran. Setiap orangtua yang ingin anak mereka jadi gagah memberinya nama itu, mungkin dengan harapan biar nantinya kerempeng, dengan nama itu otomatis akan kelihatan segagah jenderal!"
"Aku juga kurang sreg dengan Marco! Dan kau belum menjawab aku."
"Jadi maksudmu, kalau kau bersedia menerima Marco, aku juga harus menerima Aleksander?"
Deni mengangguk. Si kecil tersenyum dalam tidurnya, lalu menggeliat pelan. Deni mengelus pipinya dengan ujung jari. "Kau menertawakan ayah dan ibumu, kenapa pusing-pusing mencari kan nama! Ah, nama apakah yang kausenangi? Kelak, kalau kau sudah besar dan mengerti banyak, apakah kau akan menyukai nama-nama yang diberi-kan untukmu ataukah kau akan membencinya?" bisik Deni dengan suara lembut.
Deni mengangkat kepala dan menoleh pada Triska. "Ya, kira-kira begitu. Kauterima pilihanku, aku akan terima pilihanmu. Tapi sebelum itu, aku ingin penjelasan kenapa justru nama itu yang kau-pilih? Pasti ada sebabnya, bukan?"
"Pentingkah itu bagimu?"
"Semua yang menyangkut dirimu adalah penting bagiku, Tris!"
Gombal! Masih mau berpura-pura jadi suami yang setia dan penuh cinta? Ke mana rencanamu setelah mendapat warisan? Tetap di sini menung-gui anakmu tidur?
"Oke, kalau kau ingin tahu juga." Triska tersenyum, mengangkat bahu. "Jadi kau memaksa supaya aku menceritakan sebabnya?" "Ya. Bila kau nggak keberatan." "Oh, nggak, nggak. Kenapa aku harus keberatan?" Kenapa aku keberatan kalau kau mau mencari penggebuk sendiri? "Yah, aku memilih Marco untuk sifatnya yang penuh cinta pada istri per-tamanya yang dinikahinya ketika dia bertualang di Cathay, negerinya Kublai Khan. Istrinya kecil, mungil, dan cantik seperti boneka porselen, tapi bisu dan tuli. Karena dia tak mampu mengucapkan siapa namanya, orang-orang—selir-selir—yang suka memperoloknya memberinya nama 'Gema' untuk mengejek ketuliannya. Ceritanya, ketika 'Gema' berumur lima-enam tahun, desanya diserbu tentara Khan dan dia ditawan. Kedua kupingnya dirusak dengan tusukan besi pan as. Pita suaranya juga dirusak dengan cara yang sama. Lalu dia dijadikan budak belian dan kemudian ketika Marco Polo dijadikan 'pejantan' oleh Kublai Khan, 'Gema' bertugas menghadiri 'upacara' itu untuk melapor-kan adanya bercak merah di atas seprai. Walaupun Marco Polo diberi lusinan cewek Mongol yang cakep-cakep, setiap malam berlainan, dia tetap ja-tuh cinta pada gadis molek yang berasal dari Pro-vinsi Fukien ini, Mereka akhirnya menikah dan
hidup bahagia. Sayang sekali 'Gema' akhirnya me-ninggal ketika melahirkan seorang anak laki-laki yang juga meninggal. Marco kembali ke Itali, menikah dan mempunyai tiga anak perempuan tapi dia tak pernah melupakan Huisheng—artinya 'gema'—sampai akhir hayatnya. Diakuinya, hatinya yang merana selalu meliuk ke Timur, mengenang wanita cantik yang dicintainya. Istrinya, Donata, nggak tahu mengenai kisah cinta suaminya yang tragis ini, tapi dia bisa merasakan. Katanya, 'Kau tidak pernah mencintai aku. Kau selalu baik dan ramah, tapi bukan aku yang kaucintai. Apakah itu? Sesuatu atau seseorang?' Aku tersentuh sekali pada cintanya yang dibawanya sampai ke kubur. Su-lit sekali mencari laki-laki yang mencintai seorang wanita sebesar itu, bahkan sampai mati!"
"Kau belum menanyai aku! Siapa tahu akulah laki-laki yang kaucari itu!" tukas Deni tertawa.
"Perlukah kutanyai?" Triska balas tersenyum dengan mata masih berkaca-kaca memikirkan kisah cinta Marco Polo dan Huisheng.
"Ngomong-ngomong, setelah punya tiga nama, anak kita ini masih akan diberi nama permandian lagi, nggak?"
Uh, dia mengelak nggak mau menjawab, pasti takut aku cecar, nanti diusut-usut ketahuan bahwa cinta yang akan dibawanya ke kubur bukan ber-nama Triska, melainkan...
"Tentu saja. Markus. Kan bisa dipendekkan jadi Marko atau Marco."
"Rupanya kau sudah memikirkan segalanya!"
"Aku ten ma itu sebagai pujian, trims." Triska tersenyum menatap Deni. "Soalnya, aku kebanyak-an waktu selama berbaring di rumah sakit." "Aku be rani taruhan, pasti kaupikirkan semua * hal, dari nama sampai tetek bengek segala macam! Asa! saja kau tetap berpikir dengan kepalamu, jangan dengan hatimu!" "Mateudmu?"
"Jadi kita sepakat dengan Marco Aleksander— ditulis dengan huruf 'A' tok—Aristo?"
Hm, lagi-lagi dia mengelak, nggak be rani menjawab desakanku!
"Nama permandiannya Markus. Orangtua per-mandiannya sudah kaupilih? Tanggal dan hari-nya?"
"j^s-Martina serta Sumi-Hansa. Harinya belum kuatur, mungkin dua minggu lagi kalau perutku sudah lebih baikan dari sekarang."
"Kau masih merasa sakit kalau terguncang?" tanya Deni mengelus perut Triska dengan prihatin. "Tapi jahitannya kulihat sudah kering dan rapi, nggak ada kemungkinan jadi keloid. Kau tetap bisa memakai bikini!"
Huh, masih bisa guyon dan ketawa? Berapa hari lagi masih akan kauhadiahkan cintamu bagiku sebelum akhirnya kaupersembahkan kembali pada pemilik aslinya?
Triska mengangguk. "Ya, terkadang malah sakit
jaringan parut yang menebal
kalau terguncang sedikit saja, misalnya kalau aku menjatuhkan diri ke atas kursi yang keras atau bangun dari ranjang terlalu tergesa."
"Kau harus selalu duduk di sofa, jangan di kursi kayu yang keras."
"Kalau pelan-pelan sih nggak apa-apa."
"Jadi kapan kau akan pulang ke rumah?"
Triska terenyak ditanya mendadak begitu. "Ini kan... rumah?" jawabnya sedikit bingung.
"Maksudku, rumah kita. Kapan kau akan balik ke sana?" Deni mendesak, membuat Triska jadi rikuh. Tiba-tiba saja dia jadi segan membalas ta-tapan Deni. Tangannya bergerak, pura-pura asyik membetulkan selimut Marco yang tidak kenapa-kenapa.
Deni mencekal pergelangan tangannya, memak-sanya menghentikan gerakan yang dibikin-bikin itu. "Tris, kenapa kau kelihatan susah menjawab? Adakah sesuatu yang kausembunyikan yang seha-rusnya kaukatakan padaku?"
"Misalnya?"
"You tell me! Mana aku tahu. Cuma firasatku mengatakan, ada apa-apa, ada sesuatu..."
Pintu kamar mendadak terbuka. Triska menoleh, diam-diam menarik napas Iega melihat ibunya. Huh, selamat! Nggak perlu menjawab pertanyaan yang mustahil itu!
"Ayo, man turan, makan," undang ibunya sambil menghampiri ranjang menengok cucu yang masih lelap. "Anteng, ya. Tapi bila dia terlalu rewel kalau malam, nanti Mama pindahkan saja ke
kamar sebelah dan Mama suruh Inem tidur di sana menjagainya" "Oh. biarkan Marco di sini. Mam J" "Marco? Jadi kalian akhirnya sudah menemukan nama baginya! Bagus kedengarannya. Papa pasti senang. Marco... ya, bagus! Tapi kau baru menjalani OP berat. malam harus tidur nyenyak, nggak..."
"Marco Aleksander Aristo," Deni menambahi dengan sukarela.
"Wan, banyak a mat namanya," ibu Triska men-decak geli.
"Makium. Mam, anak satu-satunya. Nama-nama itu sebenarnya disediakan untuk adik-adiknya, tapi terpaksa dibenkan semua padanya!"
"Aleksander akan ditulis sebagai singkatan saja kecuali di Surat Lahir. Aristo dari Aristoteles," Deni kembali dengan sukarela menjelaskan.
Meiihat ibunya menaikkan alis—sebelum ibunya sempat tertawa geli—Triska cepat-cepat bilang, "Aristoteles adalah guru kesayangan Deni, Aleksander Agung adalah muridnya."
"Nama-nama yang bagus. Kalian pin tar memi-
Deni kelihatan senang mendengar pujian itu, tapi wajahnya sedikit mendung ketika ibu mertua-nya menyambung, "Tapi bagus juga panggilannya Marco tok, praktis dan simpattk, bukan yang aneh-aneh,"
"Mam, saya makan di kamar saja, deh. Marco nggak bisa ditinggal."
Marco nggak bakal kenapa-kenapa kau-
tinggal makan sebentar. Dia belum bisa tari, nggak bakal kaburl" Ibunya ketawa geli meiihat kekha-watiran Triska. "Tapi, Mam..."
"Mama kan pernah punya anak, Tris. Masa nggak percaya kalau Mama bilang, nggak apa-apa kau turun makan setengah jam?"
"Sudahlah, biar kami makan gantian. Den, kau duluan deh turun. Nanti aku." Yang disuruh makan —Deni—menatap kedua perempuan itu tan pa bisa memutuskan mau menyokong siapa. Untung ibu Triska mengalah meiihat anaknya ngotot.
"Kalian makan saja berbareng, sekarang. Nanti Mama surah Inem naik menemani Marco." Meiihat Triska ragu, didesaknya, "Ayo, turun. Papa sudah menunggu. Ditinggal lima menit, sih, nggak berbahaya. Sebelum kau mulai makan pun, Inem pasti sudah ada di samping ranjang ini!"
Ebook ini di scan oleh lotoy untuk koleksi Ipribadi tidak diperjual |
belikan karena
dilinduncji oleh
undang
undang,ottoys@yahoo.
Icom
Bab 2
Tiga minggu setelah Marco dipermandikan, Deni kembali mengajukan pertanyaan itu. Hari itu Minggu kedua bulan Juni, cuaca cerah, langit indah perkasa, bunga-bunga di kebun begitu memukau mata, ikan-ikan di kolam berenang hilir-mudik dengan damai, di tengah kolam sekuntum bunga teratai mekar tadi malam, begitu cantiknya sehingga membuat Triska menghela napas saking kagum.
Hari masih pagi, matahari belum terik, sehingga Triska masih sempat mengajak Marco duduk-du-duk di dalam gazebo, di pinggir kolam. Triska duduk di atas kursi rotan putih berbantal merah muda, di pangkuannya berbaring Marco, asyik mendengarkan celotehan dari bibir ibunya yang diawasinya dengan takjub. Sang ibu pun tidak kalah takjubnya menatap buah hatinya. Sesekali pandangannya terlontar ke dalam kolam, mengikuti gerak irama ikan-ikan, mengagumi kecantikan teratai, namun tak pernah lama. Cepat sekali matanya
pondok beratap yang terbuka sisi-sisinya
kembali singgah ke wajah si kecil yang tengah memperhatikannya serta menunggu dengan sabar kembalinya perhatian sang ibu padanya.
Triska berceloteh, mendongeng, dan berdendang. Lagu-lagu yang pernah dikenalnya di Taman Ka-nak-kanak, yang disangkanya sudah dilupakannya, kini muncul tanpa disadari, tercetus di bibirnya, mengantarkan si buyung ke alam mimpi.
Ketika Deni muncul di kebun belakang itu dide-ngarnya Triska tengah asyik bersenandung lembut sambil menepuk-nepuk Marco yang rupanya lelap di pelukannya. Dari tempatnya berdiri, Deni dapat meiihat punggung Triska bersandar di kursi, dan rambutnya yang hitam kelam tergerai -lepas di sekeliling bahu. Kepalanya yang cantik tampak miring menunduk, memperhatikan anaknya yang lelap. Pemandangan itu demikian menyentuh hatinya, sehingga untuk beberapa menit Deni serasa terpukau, tak mampu bergerak dari tempatnya, bahkan napasnya pun tanpa sadar ditahannya se-olah takut bunyi napasnya akan terdengar sampai ke pinggir kolam dan akan mengganggu Triska serta ikan-ikannya.
Triska kembali menoleh ke kanan, ke arah kolam (seperti yang dilakukannya beberapa kali sejak tadi), dan pada saat itulah perimeter matanya me-nangkap Deni. Ia menoleh lebih ke belakang.
"Hai, kenapa berdiri di situ?" panggilnya tak berani terlalu keras, khawatir mengagetkan Marco.
Deni segera melangkah menghampiri gazebo dan menjatuhkan diri di samping Triska. Matanya
Jangsung menangkap wajah mungil yang tengah lelap dengan bibir tersenyum.
"Dia sedang bercanda dengan bidadari," tukas Triska seakan menjelaskan arti senyum anaknya. "Kau nggak jaga pagi ini?"
"Nggak. Hari ini giliran Nero. Ini kan Minggu, sekarang kami kena Minggu cuma dua bulan sekali, jadi giliranku masih enam minggu lagi. Gimana Marco, kalau malam rewel?"
"Nggak, kok. Heran deh, anteng sekali anak ini. Malah aku yang jadi senewen, tiap beberapa jam harus ban gun ngecek kalau-kalau dia sudah basah."
"Kelihatannya pertumbuhannya pesat, tubuhnya gemuk."
"Ya, minumnya kuat dan tabiatnya periang, kalau ditinggal dia akan asyik main sendiri."
Tris, kapan kau mau balik ke rumah?''
Pertanyaan yang mendadak itu membuat Triska terenyak kaget, sehingga untuk sejenak ia cuma mampu melongo seakan pandir. Meiihat itu Deni segera menyambung, "Maksudku, rumah kita."
Triska menunduk, bermain-main dengan pita ba-ju anaknya, tampak seakan sulit menjawab.
"Kurasa sudah cukup lama kau diam di sini, luka OP-mu pasti sudah nggak mengganggu. Pu-langlah, Tris. Aku kesepian."
Triska terns menepuk-nepuk Marco tanpa meng-angkat wajahnya seakan tidak didengarnya ucapan Deni. Bibirnya kembali bersenandung pelan. Setelah beberapa saat memperhatikan istrinya, Deni kembali membuka mulut. Tris, aku tahu, ada
sesuatu dalam pikiranmu. Sejak keluar dari mmah sakit kau kelihatan agak berubah, rasanya kau... agak menjauh. Kenapa, Tris? Kalau ada ganjalan, sebaiknya kaukatakan sekarang juga supaya tuntas. Mungkin itu cuma salah pengertian saja?"
Triska mengangkat muka, menatap Deni, sesaat kemudian menunduk lagi dan meneruskan senan-dung serta tepukannya pada putranya. Deni me-nyambar pergelangan tangan istrinya, dan memo-hon, "Tris, jawablah. Aku menunggu, Tris. Jangan ngambek begini, Tris. Katakan terus terang, apa salahku?!"
Triska menoleh dan menatapnya sekali lagi. Bibirnya bergerak-gerak namun selama beberapa saat tak kedengaran suara apa pun. Rupanya sulit sekali baginya untuk membuka mulut. Air mukanya menunjukkan bahwa dia tengah berperang batin. Deni agaknya mengerti pergulatan emosi yang di-alami Triska, sebab dia mempererat genggamannya dan mengguncangnya berulang-ulang seraya meya-kinkan, "Katakan, Tris. Jangan takut Tumpahkan semua yang berkecamuk dalam hatimu! Aku siap mendengarkan. Katakan, Tris. Sekarang juga!"
Baiklah, pikimya. Mungkin saatnya sudah tiba! Sinar matanya berubah sayu ketika kesedihan me-nyapu hatinya. Siapa yang menyangka akan begini akhir kisah kita, Den!
Triska mengangguk. "Ya, aku memang ingin mengatakan sesuatu, dan rasanya saatnya sudah tiba. Tapi sebelum aku meneruskan, aku ingin kau menjawab aku dulu. Siapakah Odi Bobadila itu?"
Ular kobra pun mungkin takkan membuat Deni sepucat itu. Wajahnya langsung pias seperti kapur, matanya menatap nyalang penuh kengerian seakan meiihat seseorang yang pernah dibunuhnya kini da tang menghantuinya.
Hm, dia takkan bisa menyangkal, pikir Triska. Marco tidur nyenyak sekali. Ia pasti akan terpaksa membeberkan persekongkolannya dengan Odi! Un-tunglah Marco tak periu mendengarkan ayah dan ibunya bertengkar. Ia mungkin akan menantang dan membela cintanya pada yang lain itu! Tapi jangan takut, Marco, kau takkan kehilangan ayah-mu. Bagaimanapun, Odi adalah cintanya yang per-tama! Kami mungkin akan berpisah, tapi kami takkan menelantarkanmu. Mungkin juga cintanya satu-samnya! Mama menyesal kelahiranmu tidak disambut dengan lebih gembira. Mana buktinya, dia juga mencintaiku?
"Den, aku menunggu. Akan kaukatakan atau nggak?" desaknya dengan suara tetap pelan. Kalau dilihat dari jauh, pasti sangka orang kita sedang pacaran, berpegangan tangan, pikirnya geli ber-campur sedih.
Deni mermrik napas panjang', lalu ujarnya sete-ngah terpaksa, "Dia adalah peragawati, bukan?"
Triska mengangguk. "Ratu peragawati se-ASEAN. Itu aku tahu. Yang ingin kuketahui adalah apakah kau merigenalnya?"
"Semua orang kenal dia," sahut Deni setengah tersenyum seakan merasa lucu. "Apakah dia temammT
"Tergantung apa yang kaumaksud dengan te-
man..."
Jangan berlagak pilon! Apa ini yang disebut taktik mengulur waktu? Kau berharap akan ada orang datang sehingga percakapan ini terputus dan kau nggak usah menjawab? Oh, kalau maksudmu Kris, Martina, dan Bobi, mereka baru akan tiba menjelang makan siang! Jangan coba-coba melo-loskan diri, ah!
"Perlu kuambilkan kamus bahasa Indonesia?"
"Nggak perlu." Deni menggeleng, melepaskan cekalannya pada Triska, dan menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Akan kujawab kalau kau betul-betul ingin tahu. Tapi apakah itu penting bagimu?"
Hm, suaramu kedengaran memelas amat. Kenapa kau segan berterus terang? Takut aku pingsan? Khawatir aku ngamuk? Oh, nggak usah, ya! Aku takkan berkedip mendengar jawabmu, taruhan?
"Sangat."
"Oke."
Mendadak kau jadi pelit dengan kata-katamu. Taktik mengulur waktu? Hm. Memang setiap hari Minggu, Kris sekeluarga datang ke sini, tapi masih lama. Kau takkan lolos, percayalah! "Dan jawab-nya adalah...?"
Deni menarik napas panjang dan berat seolah paru-parunya cuma tinggal separo. "Jawabnya adalah ya. Puas?"
"Ngngng... belum. Jangan kesusu, kita banyak Waktu, kok." Triska tersenyum mania. "Baru jam sepuluh lewat, makan siang jam satu. Kris ber-
sama anak buahnya baru akan muncul sekitar jam dua belas. Kenapa aku me rasa seakan kau ingin menghindari tanya-jawab uri?"
"Habis, kau teras yang bertanya, aku cuma ke-bagian menjawab saja."
"Yang bertanya adalah orang yang pegang sen-jata." Triska tersenyum menanggapi senyum Deni yang sumir. "Dan apa senjatamu kalau aku boleh tahu?" "Sabar, kau akan tahu. Tapi sebelumnya, aku ingin melanjutkan anamnesa ini. Kau keberatan?" "Kalau ya, gimana?"
"Tanya-jawab ini akan kuhentikan, tapi kau nggak akan tahu jawaban atas semua pertanyaan-mu! Masih keberatan?"
"Mana berani!" Deni nyengir sambil bersidekap. "Tembak saja! Paling-paling aku terkapar pingsan kalau pertanyaanmu terlalu maut."
Hm, kau kelihatan salah tingkah, nih?! Rupanya hidungmu sudah mencium ke mana arah wawan-cara ini, bukan? Bagus!
"Kaubilang, Odi adalah temanmu. Teman intim-kah? Seberapa intim?"
Deni menggeleng, dan mencoba tertawa namun dihalangi oleh tatapan Triska yang lembut tapi maut. Deni membuka kedua telapak tangannya ke atas, alahya menengadah sesaat sebelum menunduk mbali menatap Triska. "Tris, apa artinya ini?"
wancara dengan pasien/keluarganya
"Jawab saja, nanti kau akan tahu artinya," desak
Triska, tersenyum.
"Tapi dari mana datangnya semua ide ini? Siapa yang telah menularkan virus ini ke kepalamu? Siapa yang telah menceritakan gosip ini padamu?"
"Jadi menurutmu, cuma gosipl Ck, ck, ck, Odi pasti akan ngambek kalau mendengar! Ketika dia menceritakannya padaku, sama sekali tidak memberi kesan dia sedang menggosip."
"Odi?"
Nah, nah, melotot deh kau! Kaget, Bung? Kasi-han. Sayang nggak ada air minum untuk menghi-langkan kaget. Ah, ada air kolam. Kalau cukup bersih untuk ikan-ikan, kenapa nggak untukmu?
"Kapan dia menceritakannya padamu?"
Nah, sudah mulai sesak napas kau. Hati-hati, nanti serangan jantung. Bukankah kakekmu me-ninggal karena jantungnya mogok?
"Ketika dia datang ke tempat praktekku."
"Dengarlah, Tris, akan kujelaskan. Semua ini cuma salah paham."
Aih, suaramu kedengaran begitu memelas, membuat hatiku nggak tega buat meneruskan, tapi... mungkin itu cuma taktikmu belaka? Tahu, kan, yang disebut serigala berbulu domba?
"Lebih baik kau yang mendengarkan, aku yang menjelaskan." Triska melirik Deni sambil tersenyum simpul. Marco masih tetap lelap di buaian ibunya yang terus menepuknya pelan-pelan. Deni kelihatan menyerah, menghela napas, dan menunggu dengan kedua tangan dirapatkan seakan tengah berdoa.
Dewa mana yang sedang kaumintai bantu an? Apakah mereka mau menolong manusia yang me-nipu istri sendiri?
"Odi bilang, kau dan dia sebenarnya sudah hampir menikah. Sayang nenekmu anti dengan peragawati yang dianggapnya suka memamerkan tu-buh. Tentu saja itu pendapat yang sangat kolot, tapi apa daya, orang yang punya harta banyak memang berhak membuat pendapatnya jadi undang-undang. Paling sedikit, bagimu.
"Odi bilang, nenekmu mengancam kau nggak bakal diberinya warisan sepeser pun kalau kau nekat kawin dengan peragawatimu. Jadi kalian berdua mencari akal. Nenekmu memberikan syarat dalam surat wasiatnya, kau harus kawin—dengan gadis lain—paling sedikit tiga tahun sebelum kau berhak mendapatkan warisanmu.
"Nah, Odi bilang, kalian lalu sepakat untuk membiarkan kau kawin dulu dengan orang lain selama tiga tahun, sampai warisan itu kauperoleh. Setelah harta ada di tangan, kau akan segera men-ceraikan istrimu dan kembali pada Odi.
"Odi bilang, supaya perceraian ini nggak men-jadi mwet, kau nggak boleh sampai punya anak dengan istrimu! Nah, berarti kau boleh kawin dengan siamang atau babon mana saja asal jangan sampai beranak. Paling ideal tentunya kalau mo-nyetnya mandul!" Triska berhenti sebentar untuk menatap Deni sambil tersenyum pilu. Yang ditatap cuma balas melon go dengan bengong.
Tampangmu sudah mirip-mirip pasien schiw
phren yang sedang kumat, aku harus hati-hati, siapa tahu kau nanti mata gelap dan menceburkan aku ke kolam!
"Nah, apa mau, kau ketemu gadis bego yang cocok dengan rencana kalian, pas betul sampai dengan kriteria mandul itu. Jadi tentu saja, kontan kaurayu dan kauajak kawin! Cuma dalam waktu... berapa bulan? Lima bulan? Bukan main! Ada pos kilat, rupanya ada juga kawin kilat!
"Masalahnya sekarang, Odi datang menuntut agar kau dikembalikan padanya olehku! Dia sudah menghitung-hitung, kau sudah kawin tiga tahun, nggak lama lagi warisan itu akan jatuh ke tangan-mu, dan kau akan bebas untuk kawin dengannya. Halangannya sekarang cuma satu. Aku. Alternatif-nya adalah aku harus kauceraikan atau kausingkir-kan. Sebagai manusia yang inteligensinya cukup tinggi—bukankah kau lulus cum laude dan hampir diterima jadi anggota Mensa, angkanya kurang tapi diizinkan mencoba lagi, bukan?—kurasa kau akan lebih suka memilih jalan pertama. Benar, nggak?"
"Semua itu nggak benar!"
"O, ya?"
"Percayalah padaku!" "Mungkinkah?"
"Masa kau nggak percaya pada suami sendiri? Jadi kau lebih percaya pada orang lain?"
"Sekarang kauanggap Odi cuma orang lain'} Betulkah aku bisa mempercayaimu? Lalu kenapa kau nggak pernah menceritakan soal warisan itu padaku? Tentunya bukan karena takut aku minta bagian.
bukan? Kalau aku nggak mendengar sepupumu, Tono, menyebut-nyebut tentang warisan itu, aku pasti takkan pernah tahu apakah Odi bohong atau nggak. Tapi ternyata memang ada masalah warisan...."
"Berilah aku kesempatan untuk menjelaskan."
Aku harus berhati-hati menghadapi orang yang pintar merayu dan suka memohon-mohon. Mungkin ini semacam taktik pula.
"Cerita Odi sudah cukup jelas, nggak perlu kau-perinci lagi. Kaujawab saja aku. Aku ingin tahu sampai di mana kejujuranmu, sampai di mana kau bisa kupercaya. Pertanyaanku adalah, apakah cerita Odi itu benar?"
"Itu nggak bisa dijawab dengan gampang, Tris. Nggak bisa dengan ya atau tidak saja."
"Oke, akan kutanyakan inci demi inci. Pertama, benarkah kau dan Odi pernah pacaran?"
Tris..."
"Bilang saja ya atau nggak," Triska menolong-nya mencari jawab sambil tersenyum. "Nah?"
Deni menarik napas panjang, menunduk, dan akhirnya mengangguk sekali.
"Aku nggak mendengar jawabanmu," desak Triska.
"Ya," ulang Deni dengan suaranya yang hampir tak terdengar. "Tris, kenapa kau sekejam ini padaku?"
Hm, sekarang kau yang mau berkaok menuduh-ku kejam? Berkaca dulu, ah, siapa yang ingin menipu, siapa yang punya rencana heeeiiibat?
Triska tidak meladeni keluh kesah Deni. Dengan tenang melanjutkan, "Kedua, benarkah kalian sudah merencanakan untuk menikah? Jawab saja, ya atau nggak."
Deni kembali menghela napas sebelum menya-hut, "Ya."
Kok suaramu makin pelan saja? Hm.
"Ketiga, benarkah nenekmu nggak setuju kamu dengan Odi?"
"Ya."
"Benarkah nenekmu menulis syarat seperti itu dalam surat testamennya?" "Ya."
"Kelima, benarkah kau dan Odi membuat rencana supaya kau kawin dulu sampai warisan itu kauperoleh dan setelah itu kau akan balik padanya?"
"Ya... dan nggak!"
"Ini bukan multiple choice, Den. Jawabnya cuma mungkin satu, nggak bisa dua-duanya. Jadi ku-anggap ya. Nggak adalah sebuah kata yang kurang simpatik, aku nggak menyukainya. Nah, sekarang yang keenam..." .
"Biarlah kujelaskan."
"...Kapan kau akan menceraikan aku?" Suara Triska begitu pelan dan manis, orang yang tidak mengerti bahasa Indonesia pasti menyangka ia sedang menanyakan film apa yang sebaiknya mereka lihat nanti malam. Tapi reaksi Deni tidak bisa disalahartikan. Ia jelas kelihatan pucat seakan tengah ditodong senapan mesin di tangan manusia
yang tujuan hidupnya adalah meraih gelar Pem-bunuh Serial.
Uh! Masa kau hampir tercekik, di tenggorokan-mu mengganjal apa, sih? Sebongkah penyesalan? Sudah terlambat, Say! Kau yakin rencanamu takkan meleset. Kausangka yang kaukawini itu perempuan steril, nggak tahunya kau kebelejok, istrimu temyata masih sanggup bertelur... ha! Apa yang akan kaulakukan sekarang? Berlagak nggak ada urusan dengan Odi? Sudah telat, orangnya sudah mendahului datang padaku.
Deni membuka dan mengepalkan tinju berkali-kali, menggeleng, menarik napas, menggeleng lagi, memukulkan tinjunya ke telapak tangan, menggeleng, menarik napas, memukulkan tinju, menggeleng, menarik napas, dan memukulkan tinju....
Triska jadi kasihan melihatnya. "Jangan takut, Den," hibumya setengah membujuk, "dengan ber-cerai nggak berarti kita otomatis jadi musuh. Kita akan tetap berteman, aku nggak menyimpan den-dam terhadapmu. Kau tetap boleh datang ke sini setiap saat untuk mengunjungi Marco. Aku akan selalu menyambutmu dengan tangan terbuka. Dan kelak, kalau Marco sudah besar, dia boleh kauajak nginap di ramahmu, asal Odi nggak keberatan, atau piknik...."
"Itu adalah ramah kita, Tris! Bukan rumahku! Dan Odi nggak bakal tinggal di sana. Nggak ada yang akan menggantikanmu, Tris, baik dia ratu kecantikan atau wanita terkaya di dunia! Dengar-lah, Tris, berilah aku kesempatan untuk ngomong."
"Oke, silakan."
"Apa yang dikatakan Odi sebagian memang benar, maafkan aku, Tris. Waktu itu aku masih ingusan, pikiranku sempit. Kusangka di dunia ini cuma ada Odi seorang bagiku. Kukira aku mencin-tainya. Kuakui, dia cantik dan namanya terkenal, setiap laki-laki pasti akan bangga menjadi pasang-annya."
"Dan kaupilih aku sebagai korban!" "Tris..."
"Begitu tahu keadaanku, kau langsung lapor pada Permaisuri, 'Sudah ketemu cewek yang meme-nuhi syarat!'"
"Maafkan aku, Tris. Setelah aku mengenalmu lebih dalam, aku mulai menyesali rencana gila itu. Makin lama penyesalanku makin bertambah, aku merasa tidak berperikemanusiaan, diriku terasa me-rosot lebih rendah dari binatang. Akhirnya aku tahu, aku sudah jatuh cinta padamu! Aku jatuh cinta karena suaramu yang lembut, tawamu yang riang, humormu yang tak pernah habis, kepolosan-mu yang mengharukan, keluguanmu yang menghe-rankan, serta kepasrahan dan kerendahan hatimu. Gadis lain mungkin akan murung atau marah-marah, menyesali nasib tak sudah-sudah, tapi kau mengenyahkan problem itu dan memutuskan untuk menikmati hidupmu apa adanya. Aku sungguh lea-gum padamu!
"Tris, kau adalah gadis yang luar biasa. Kau sangat berarti bagiku. Kau sangat istimewa. Aku tahu rencana* itu sudah gagal. Jadi kudatangi Odi
dan kuberitahukan sejujurnya apa yang terjadi. Ku-katakan, aku minta maaf, nggak bisa meneruskan rencana itu. Aku akan menikah dengan Triska Omega buat selamanya, bukan cuma tiga tahun seperti yang direncanakan. Odi marah tentu saja, ngamuk-ngamuk. rnengancam akan membeberkan rahasia kami padamu. Tapi aku yakin, aku sebe-namya nggak pernah mencintainya. Aku cuma ter-tarik pada namanya yang harum selangit, pada kecantikannya dan penampilannya yang mentereng. Aku nggak pernah membayangkan untuk berbagi suka dan duka dengannya setiap had, setiap malam, sepanjang hidupku. Odi bagiku cuma berarti kemewahan, kemasyhuran, serta kerlap-kerlip lam-pu tontonan. Tapi setelah lampu-lampu dipadam-kan, setelah pakaian mewah ditanggalkan, dan-dan an dicopot, Odi sebagai manusia biasa nggak memikat hatiku. Aku menyadari saat itu—setelah mengenalmu—Odi dalam daster dan rambut penuh gulungan nggak ada daya tariknya bagiku."
"Dan aku ada?" Triska tersenyum geli. "Juga dalam daster yang sudah bule ini?" tanyanya me-megang baju yang dikenakannya.
"Kau selalu menarik bagiku, Tris. Dengan atau tanpa—apalagi tanpa!—baju!" Deni tersenyum, Triska memukulnya setengah cemberut. "Kau menarik kalau ketawa, kalau cemberut—seperti tadi— kalau ngambek, juga kalau nangis. Ingat dulu, kau nangis ketika memberi tahu aku apa sebabnya kau ragu menjadi istriku? Karena kau nggak mau me-ngecewakan aku? Aku jatuh cinta saat itu ketika
meiihat matamu penuh air, ujung hidungmu merah, dan bibirmu sembap kemerahan. Aku langsung jatuh terperosok ke dalam perangkap cintamu, dan nggak pernah bangun lagi sampai sekarang! Aku juga nggak mau bangun lagi buat selamanya. Sampai akhir hidupku, aku akan tetap mencintaimu. Percayakah kau padaku?"
"Terus terang, sulit. Aku nggak tahu, rahasia apa lagi yang masih kausimpan yang nggak kau-katakan padaku. Contohnya, soal warisan, kenapa harus kaurahasiakan? Kalau bukan secara kebetul-an aku mendengarnya, pasti sampai sekarang pun aku nggak tahu ada persyaratan yang unik itu serta rencanamu bersama Odi...."
"Tris, salah satu sifatmu yang sangat kukagumi adalah kejujuranmu. Kau selalu terus terang padaku, bicara apa adanya, dan itu sangat kuhargai. Soal warisan itu sebenarnya nggak perlu kaurisau-kan benar. Aku nggak menceritakannya padamu karena aku jarang sekali ingat akan hal itu. Aku nggak suka menggantungkan hari depanku pada uang orang lain. Dan bila kebetulan aku ingat, suasananya sedang nggak mengizinkan, sebab bia-sanya pikiranku baru rileks kalau di tempat tidur, tapi kau tahu sendiri kegiatan apa yang lebih menggairahkan dari pada cuma sekadar ngobrol-ngobrol di ranjang!" Deni tersenyum disambut oleh Triska dengan tidak kurang manisnya.
Kau bilang, nggak suka uang warisan? Tapi buktinya...
"Kalau nggak suka uang itu, kenapa kau sampai
oekat menyusun rencana ini-itu? Kenapa nggak laju saja mengawini Odi, dan masa bodoh dengan warisan?"
Deni menghela napas, mengangguk-angguk. "Soalnya, ayahku sangat mengharapkan uang itu sebagai tambahan modal. Memang uang itu atas namaku, tapi aku nggak pernah memusingkannya. Sampai saat ini pun selalu ayahku yang mengurus-nya. Paling-paling kukira, kalau saatnya sudah tiba, aku akan diajaknya untuk tanda tangan, lalu uang hu akan langsung masuk rekening ayahku, terserah mau diapakan. Tris, aku nggak pernah berharap bakal ketiban rezeki dari langit maupun dari kubur, jadi aku juga nggak merasa itu topik yang perlu kita bicarakan. Tapi kalau kau merasa tersinggung, aku minta maaf, bukan maksudku merahasiakannya terhadapmu."
"Nggak ada yang harus dimaafkan, Den," bisik Triska.
Oh, seandainya Odi tak pernah datang mene-muiku! Apa pun rela kuberikan seandainya waktu bisa diundur dan pertemuan itu dibatalkan. Betapa bahagianya aku saat ini seandainya Odi nggak pernah mampir menceritakan dongengnya yang aneh itu. Oh, kenapa waktu nggak pernah bisa kembali lagi?
"Tris, terus terang kukatakan, sebelum pernikah-an kita, aku sudah memberi tahu Odi, hubungan kami sudah berakhir, dia nggak boleh menunggu aku, sebab aku nggak bakal kembali padanya. Dia marah besar tentu saja, karena itu dia nggak
datang ke pesta kita. Dia mengancam akan mem-balas dendam. Aku meremehkan ancaman itu, Nggak disangka, rupanya inilah pembalasan yang ditunggu-tunggunya." Deni menghela napas. Suara-nya getir ketika dia menyambung, "Selama tiga tahun hidup kita begitu tenteram bahagia, aku jadi terlena, lupa akan bahaya. Habis siapa sangka, kukira Odi sudah melupakan diriku. Dia nggak pernah sekali pun menghubungi aku, kecuali... beberapa bulan yang lalu."
Tapi sering menggerecoki istrimu! Uang hampir satu miliar, siapa akan gampang-gampang melupa-kannya?
"Yah, tapi nggak ada gunanya menyesali susu yang tumpah," Deni melanjutkan dengan lesu. "Apa yang sudah terjadi, terjadilah."
"Kau betul. Nggak ada gunanya menyesali apa yang nggak bisa diubah lagi. Masalahnya sekarang, bagaimana mengubah insiden itu.jadi seja-rah? Apa yang sebaiknya kita lakukan?"
"Ya, apa yang hams kita lakukan?!" Deni mene-gaskan dengan kening berkemt. "Setelah mendengar penjelasanku bamsan, tentunya kau langsung mengerti, nggak ada yang hams kita lakukan! Cuek saja sama Odi! Kalau dia berani menemuimu sekali lagi, atau mengganggumu dengan apa pun, dia hams berarasan denganku!"
"Aku rasa, pendapatmu sedikit keliru."
"Aku rasa, nggak. Yang perlu kaulakukan hanya satu. Memaafkan suamimu. Aku mengaku salah, aku sudah bertindak bodoh sekali."
"Dan tanpa perasaan."
"Ya, dan tanpa perasaan. Maafkanlah aku, 1Yi& Ampunilah aku. Tapi jangan biarkan masaJah ini mengganggu hidup kita, sama sekali nggak berhar-ga untuk berlarut-larut menyita pikiranmu."
"Kurasa, aku tahu apa yang harus kita lakukan, lebih tepat lagi, apa yang harus kaulakukan!" "Aku? Apa yang mesti kulakukan?" "Kau hams kembali pada Odi!" Suara Triska te-nang dan manis, seakan dia sedang minta dipetik-kan sekuntum bunga dari kebun.
Hm, kenapa kau melotot? Apakah usulku itu tidak masuk akal? Kau sudah memberikan janji pada Odi, masa seenaknya mau kaulanggar? Nggak begitu gampang membatalkan janji yang sudah diucapkan, apalagi bila orang yang ber-sangkutan datang menagihnya! "Kau gila!"
"Itukah diagnosismul Beginikah rupanya orang gila?" Triska menunjuk dirinya, lalu menyambung kembali gerakannya menepuk-nepuk Marco.
"Tapi kenapa kausuruh aku balik sama Odi? Apa kau sudah nggak mencintai diriku? Ah, aku nggak perlu menanyakannya. Aku tahu, kau men-cintaiku dan akan tetap begitu selamanya. Berarti kau cuma guyon." Deni mencoba tertawa walau-pun sumbang bunyinya.
"Kau boleh bilang begitu pada pengacara yang akan menghubungimu," tukas Triska tersenyum, sementara Deni melotot.
Matamu yang mendelik itu kenapa kelihatan
cemas dan kaget? Setiap orang yang menanam pasti hams panen, bukan? Kau sudah menebar benih keributan, sudah kauberikan janji harapan, sekarang tiba saatnya kau hams membayar janji itu dan membawa pulang hasil panen dari benih yang kausemai di padang hatinya!
"Kau serius?"
"Ya."
Deni kelihatan bingung, meremas-remas jari-jarinya, mengepalkan tinju, dan memukulkannya ke telapak tangan bemlang-ulang, menjambak ram-but, mengacak-acaknya, menggamk kepala, menggeleng, melenguh, semua dilakukannya kecuali menyumpah.
"Tris, aku nggak percaya kau mau membalas dendam bila kauanggap aku telah menipumu. Aku sangat kenal sifatmu, hatimu yang baik nggak bakal menyumhmu balas dendam."
"Aku nggak berniat balas dendam. Aku malah merasa berterima kasih padamu karena kau telah memberi aku Marco. Nggak pernah aku berani berharap suatu ketika akan bisa gravid atau akan ada orang yang mau menikah denganku. Tapi kau temyata bersedia menerima aku dengan segala risi-konya."
"Tapi motifnya semula nggak terpuji!" keluh Deni penuh penyesalan. "Aku terima salah. Aku rela kaumaki, kaumarahi, kauapakan saja, asal jangan putuskan hubungan kita berdua."
"Lalu bagaimana kau akan mengembalikan ke-percayaanku padamu?"
"Tris..."
"Bagaimana kau akan memulihkan harkatmu se-bagai manusia yang berkarakter dan berintegritas tinggi?"
Tris..."
"Laki-laki tanpa integritas sama sekali nggak ada harganya, Den. Bagaimana mau kauharapkan aku akan terns mencintaimu kalau kau nggak memulihkan lagi harga dirimu."
"Aku bersedia menanggung hukuman apa juga yang mau kaujatuhkan, tapi kalau kau memaksa mau berpisah, lantas gimana aku akan membukti-kan padamu bahwa integritasku sudah pulih dan cintaku utuh bagimu? Apa gunanya cintamu yang abadi bila aku nggak bisa memperolehnya? Apa kau mau menyuruh aku mengagumi Triska Omega dari jarak jauh?"
Triska menatap Deni tanpa bersuara walau bibirnya teras-menerus bergerak seakan banyak yang mau diucapkan. Deni juga balas menatapnya sehingga untuk beberapa saat keduanya bertatapan.
Ah, matamu begitu hitam dan sendu. Akan ku-jadikan kenangan bila aku rindu padamu. Akan kuingat bola matamu yang bening, kelopakmu yang terlipat dalam, alisrau yang lebat...
Triska tersentak ketika dirasakannya sentuhan pada lengannya dan bisikan yang mengiris hati. "Kenapa kaulakukan ini padaku. Tris? Pada kita? Aku tahu, kau nggak ingin berpisah. Kenapa, Tris?"
Triska mengangkat kepala dan menatapnya
cukup lama hingga yang ditatap jadi gelisah dan mengguncangnya pelan. Barulah Triska kelihatan menggerakkan bibir, namun baru beberapa saat kemudian terdengar suaranya. "Karena aku me-nempatkan diri di tempatnya!"
Deni tercengang sampai cekalannya terlepas. "Kau... menempatkan diri di tempat... Odi?"
"Ya. Aku bayangkan pacarku kawin dengan gadis lain karena terpaksa dan dia berjanji akan kembali padaku setelah tiga tahun, setelah warisan itu diperoleh. Hubungan kita sudah dua tahun lebih, ditambah tiga tahun, berarti aku sudah me-nunggu lima tahun! Masa dia sekarang mau mung-kir janji, nggak jadi balik padaku? Mana aku mau mengerti! Kaupikir hati perempuan terbuat dari batu, nggak bisa hancur dibanting, dipermainkan seperti itu?"
"Tapi aku kan sudah sejak mula mengatakan padanya, aku takkan balik. 'Aku akan menikah untuk seumur hidup dengan Dokter Triska Omega, dan rencana kita semula natal.' Nah, salah siapa kalau dia masih juga menunggu aku?"
"Memang bukan salahmu. Mungkin salah warisan itu. Siapa yang rela melepaskan harta karun sebanyak itu?"
"Huh! Oara-gara duit!"
"Dan gara-gara kau sudah telanjur berjanji akan kembali padanya!"
"Nggak bolehkah aku jatuh cinta padamu? Setiap menit, puluhan, ratusan, ribuan orang di selu-ruh dunia jatuh cinta lagi dan lagi, dan menyadari,
mereka sebenamya nggak mencintai orang yang sebelumnya. Berapa banyak orang yang kelini menganggap itu cinta padahal sebenamya mereka cuma terpukau, silau oleh kecantikan atau keka-yaan?"
Tapi aku nggak bisa bahagia di atas kehancur-an orang lain, Den. Odi jelas merasa hidupnya akan hancur bila kau tetap bersamaku."
"Aku sangat menyesal. Tapi apa boleh buat. Kaulah yang kucintai! Kalau kita harus berpisah, aku akan patah hati."
Triska menarik napas berat "Yah! Kalau begitu terpaksa kau harus ikut menderita bersamaku! Sebab aku juga akan patah hati bila kita terpaksa berpisah, Den. Tapi perpisahan rasanya tak bisa dihindari. Kau hams menepati janjimu sebagai laki-laki. Perempuan ini kaunikahi hanya demi me-menuhi persyaratan yang dituntut nenekmu. Setelah warisan itu selamat di tanganmu, urusan per-ceraian kita bisa segera dipfoses.
Bab 3
Sudah tentu setiap orang dalam keluarganya ber-usaha membujuk Triska agar membatalkan hiatnya.
"Kau sehamsnya mempertahankan cintamu, bukan sebaliknya begini!" ibunya memberi nasihat.
"Setiap orang tentunya bisa berbuat salah, Tris. Tapi kita harus selalu siap memaafkan kalau orang-nya sudah insaf dan mau memperbaiki salahnya," ujar ayahnya.
Justm jalan ini kutempuh agar aku bisa mempertahankan respek dan cintaku padanya, Mam, Pap. Kalau kami tetap bersama, lambat atau cepat hu-bungan kami pasti akan re tak. Pelan-pelan aku pasti akan meremehkannya sebagai laki-laki yang nggak bisa pegang janji. Kalau dia bisa mengkhianati pacar yang begitu setia, apa jaminannya dia kelak nggak bakal mengulangi hal yang sama terhadapku! Tentu saja alasannya karena dia salah menafsirkan perasa-annya, sangkanya dia cinta padaku, tahunya itu cuma rasa tertarik belaka. Persis seperti yang dikatakannya mengenai Odi. Bukannya nggak mungkin kelak dia yakin. cintanya yang sejati adalah perempuan ketiga, bukan lagi Triska Omega!
"Praises, apa-apaan kau! Masa sudah jadi mami, tingkahmu masih kayak remaja! Deni kan sudah tiga puluh, nggak lama lagi kepalanya bakal penuh uban, kenapa kau nggak mau percaya pada kata-katanya? Kan mendingan hidup rukun bersama daripada cerai-berai kesepian?" bujuk Kris yang rupanya berdiri di samping Deni. Entah karena sama-sama laki-laki, pikir Triska. Ataukah karena dia kurang mengerti jelas duduk perkaranya!
"Ingat, kalian sudah menerima Sakramen Perka-winan!" tukas Martina mengacungkan telunjuk seperti ibu guru yang galak.
Triska tersenyum sendu. "Kaupikir, apa sebabnya aku terburu-buru minta cerai duluan? Kan supaya Deni terhindar dari salah, dan karena itu ke-mungkinan bisa diizinkan kawin lagi oleh gereja!"
"Walaupun kau merasa nggak memerlukan Deni, ingatlah Marco," bujuk abangnya sekali lagi. "Kalau kau nggak mau melakukannya untukmu sendiri, lakukanlah untuk anakmu. Janganlah berpisah. Maafkanlah Deni. Dia adalah sahabatku yang paling karib, aku tahu betul sifat dan pera-ngainya Nggak mungkin dia sengaja mau menyakiti hatimu maupun Odi. Terkadang kita nggak kuasa menahan perasaan kita sendiri. Dia jatuh cinta padamu, walau mungkin tidak di luar kehen-daknya. Tapi dia konsekuen dengan cintanya. Dia selalu setia padamu. Ya, dia terpaksa memutuskan janjinya dengan yang lain itu setelah temyata dia memang nggak mencintainya. Tanyailah hatimu, nggak pantaskah Deni kaumaafkan?"
Kesulitannya adalah, Triska selalu ngotot me-nyatakan bahwa tak ada yang perlu dimaafkan. Pembelaan mereka jadi terbentur tembok tinggi.
"Dia ayah dari anakmu, Tris," sambung Marti tulus walau dulu dia pernah ingin menjodohkan Triska dengan abangnya, Roy Parega. "Apa kau tega merenggut ayahnya dari sampingnya? Gimana kalau kelak dia merasa kehilangan?"
"Marco akan tetap memiliki ayahnya, Marti. Jangan khawatir. Hal itu sudah kupikirkan betul-betul. Aku nggak pernah akan menyakiti perasaan anakku. Aku ingin Marco tumbuh menjadi manusia yang bahagia, dan kurasa ayahnya sependapat denganku. Dia takkan menghindari atau melupakan anaknya. Dan aku akan selalu menerimanya dengan tangan terbuka bila dia datang menjenguk Marco. Aku ingin dia datang sesering mungkin, sebisanya membagi waktu. Marco nggak akan kehilangan ayahnya, jangan takut."
Akhirnya kasus Triska minta cerai menjadi go-sip yang tersiar di luar lingkungan keluarga, dari Marti ke Roy, ke Nero, ke Lupita (pemilik salon kecantikan), ke Sumi (langganan salon Lupita), ke Erik, balik lagi ke Triska.
"Sebenamya aku harus bersyukur mendengar kabar itu, Tris. Tapi aneh, kok nggak. Memang kalau kau bebas, kesempatanku akan naik sekian persen, mungkin juga akan bisa menang. Tapi aku nggak menyokong keinginanmu itu sebab aku tahu kau nggak akan bahagia tanpa suamimu. Deni-lah yang kaucintai, bukan aku, bukan siapa-sU
Karena itu kau harus bertahan di sampingnya. Aku minta, pikirkanlah kembali sebaik-baiknya. Kau hams menyayangi dan mengasihani dirimu sendiri, jangan biarkan dirimu merana hanya demi ego wanita atau karena harga dirimu terinjak-injak,1' ujar Erik mencoba memberinya pengertian.
"Kau gampang ngomong begitu, sebab kau nggak tahu apa persoalannya!" Triska membela diri dengan tenang.
"Kalau begitu, ceritakanlah. Aku memang masih gelap, apa sebenamya masalahnya. Sumi coma bilang, kau ingin cerai gara-gara misuamu ada main. Benarkah?"
"Maaf, aku nggak ingin membicarakannya de-nganmu atau Sumi atau siapa pun. Dan kuharap kau menemui aku di sini bukan semata-mata untuk urusan domestikkn!" Triska melempar senyum me-nawan membuat wajah Erik Sigma kontan terhiasi senyum gembira. Mungkin teringat masa-masa pa-caran kita yang manis SMA? pikir Triska ka-ngen kepada zaman purba. Ah, kenapa kita harus menjadi dewasa, kenapa zaman harus berubah? Kan enak tetap jadi remaja, nggak usah memikirkan masa depan, nggak punya tanggung jawab kecuali menyelesaikan PR dan membawa pulang rapor bagus, semua keperluan diurus dan dicukupi oteh Mama-Papa, nggak ada masalah ruwet yang bikin pusing tujuh keliling!
"Aku memang berniat mengajakmu makan siang. Kau ada waktu?"
"Tunggulah sebentar, aku cek dulu dengan pera-
wat. Kalau poliklinik sudah kosong dan nggak ada anak yang perlu tindakan segera, aku bisa pulang," ujar Triska seraya melirik jam di tangannya. Di-mintanya Erik duduk dalam kamar kerjanya sementara dia keluar. Seperempat jam kemudian dia kembali dan mengangguk pada tamunya.
"Beres. Aku sudah mengerjakan semua yang hams kulakukan." Dibenahinya kertas-kertas dan buku yang dimasukkannya ke dalam tas. "Yuk," ajaknya lalu keluar diikuti Erik.
"Pakai mobilku, ya. Nanti kuantarkan balik ke sini," usul Erik.
"Oke, tapi sebaiknya aku taruh dulu tas ini dalam mobilku. Buat apa dibawa-bawa, berat banget. Juga aku hams mengambil teleponku, siapa tahu ada yang ingin bicara."
Erik tidak keberatan, maka keduanya pun melangkah berdampingan menuju tempat parkir mobil-mobil dokter. Triska langsung melayangkan pandangnya ke arah yang diingatnya tempat mobil-nya berada, sehingga tidak dilihatnya laki-laki yang berdiri di samping mobil putih, asyik mem-perhatikannya. Dia baru sadar sedang diperharikan orang ketika hampir sampai ke mobilnya. Seakan ada indra keenam yang memberitahu, Triska mengangkat muka dan menoleh ke kiri. Deni tengah menatapnya dan ketika dilihatnya Triska menoleh, diangkatnya tangannya, melambai serta me-nyapa, "Halo, Tris."
"Hai, Den, sudah mau pulang?"
"Ya. Kau juga?"
Triska meiihat mata Deni melayang ke samping-nya tempat Erik berdiri menunggunya. Betulkah Deni kelihatan kurusan? pikirnya. Ataukah peng-lihatanku yang kurang beres? Tapi wajahnya jelas lesu, mungkin Odi rewel?
"Ya..." Sesaat dia ragu, kemudian memutuskan untuk berterus terang. Kenapa harus aku tutup-tutupi? Toh kami tidak berbuat salah!
"Ami, Erik mengajakku makan siang." Dia menoleh seakan memperkenalkan Erik padahal Deni pasti sudah tahu siapa laki-laki yang mengiringi-nya itu. Ketika mereka selamatan Marco diper-mandikan, Triska mengundang teman-teman SMA-nya termasuk Erik. Kedua laki-laki itu sempat ter-libat dalam percakapan, entah mengenai apa Triska nggak tahu, sebab tidak sempat nimbrung, sibuk di tempat lain.
"Halo, Deni," sapa Erik mengangkat tangan.
"Halo," balas Deni mengangguk.
"Kenapa kau nggak mau ikut kami?" undang Erik sambil menoleh pada Triska seakan minta persetujuan.
"Betul, Den, yuk ikut. Kau juga pasti belum makan!" sambung Triska dengan suara lembut me-nawan membuat Deni mengejap-ngejapkan matanya sesaat, entah karena terharu dan takut dike-tahui sedang berkaca-kaca matanya, atau karena kaget tiba-tiba mendengar lagi suara yang dirin-dukannya!
Deni kelihatan ragu, namun cuma beberapa de-tlk. Dengan gesit dia mengambil keputusan positif.
"Oke," serunya tertawa. "Kebetulan aku sedang kepingin makan rendang, atau... kalian punya ren-cana lain?"
"Ah, sebenamya kami belum membicarakan mau makan di mana. Tapi Erik kebetulan memang suka mas akan Padang, sama seperti kau, jadi kita ke rumah makan Minang saja, deh."
"Kau sendiri gimana, Tris?" tanya Erik. "Apa prioritasmu?"
"Oh, aku sih suka semua!" Triska tertawa. "Padang, India, Jepang, Korea, Cina, sebut apa saja, aku pasti sudah mencoba."
Jadi mereka memutuskan untuk makan rendang di Blok M. Deni tidak menawarkan untuk menga-jak Triska, dan Triska juga tidak menjelaskan bah-wa dia akan ikut Erik. Ketika Deni sudah memutar kunci kontak, Triska juga selesai membenahi tas-nya ke dalam mobilnya. Dia mengunci pintu, lalu melambai ke arah mobil putih. "Kita ketemu di sana, ya!"
"Ya!" sahut Deni balas melambai, sementara mobilnya meluncur pergi. Makan siang itu ber-langsung dengan tertib, hangat, dan ramah seperti layaknya pertemuan orang-orang yang sudah de-wasa. Erik menaruh simpatik pada keadaan Deni. Walaupun topik itu tidak disinggung-singgung, se-lama percakapan jelas kelihatan bahwa Erik tidak berniat merayu Triska.
Namun tidak semua orang bersimpati terhadap Deni. "Aku nggak menyalahkan tindakanmu, Tris," ujar Roy Parega sambil nyengir kuda. "Deni juga
nggak bisa menyalahkanmu. Semua itu akibat dari perbuatannya sendiri, Kalau dia sampai patah hati, bukan kau penyebabnya. Dia sendiri yang telah menyakiti dirinya. Jadi kau nggak perlu merasa bersalah, Tris. Jangan dengarkan ocehan orang-orang mengenai kesetiaan dan hidup rukun dan keluarga bahagia dan anak perlu ayah! Semua itu gombal. Mereka bisa berkhotbah panjang-lebar sebab nggak merasakan sendiri! Buat apa memaksa-kan bertahan dalam perkawinan tanpa kecocokan? Buat apa bersandiwara biar dipuji rukun, bila hati kita nggak bahagia? Jangan ladeni ocehan orang, Tris. Lakukan saja apa yang terbaik menurut perasaan dan keyakinanmu! Aku menyokoagmu selalu."
Triska tersenyum geli. Tercuma kau buang-buang energi begini, biar kau ngoceh seharian pun, aku nggak bakal terbujuk mau kawin denganmu! Aku sudah menerima Sakramen Perkawinan, di mata Tuhan, aku sudah, masih, dan selalu menjadi istri Deni."
Nyengir kudanya makin lebar, tapi Roy tidak merasa malu setelah ketahuan belangnya. Dia malah menggosok-gosok kedua tangannya seperti orang yang sedang mengharapkan rezeki nomplok. "Omong kosong!" serunya penuh semangat. "Be-rapa banyak orang Katolik yang cerai lalu kawin lagi? Kalau perlu, minta izin dari Paus!"
"Buat apa susah-susah begitu? Kan mending cari saja gadis lain yang masih bebas. Pasti banyak yang cakep-cakep di pasaran! Dan siapa
yang nggak mau sama dokter ganteng begini? Mirip Elvis lagi, terlebih kalau sudah nyanyi men-jeritkan One Night With You..." Triska tertawa geli, disambut gelak membahana dari Roy.
Roy kelihatannya punya bakat bandel, tapi Triska tidak merasa perlu khawatir, dia yakin akan dapat menjaga jarak dengannya. Lebih sulit lagi menghindari bujukan serta penyidikan Sumi yang mendesak.
"Aku sama sekali nggak bisa ngerti gimana ini bisa terjadi!" serunya geleng-geleng kepala kehe-ranan. "Kalian begitu rukun, sampai Hansa pernah bilang, 'Triska sama Deni seperti orang masih pacaran saja!' Kami semua kagum dan iri pada kalian, tahu. Sekarang mendadak aku dengar kau mau pisah! Aku nggak bisa percaya! Nggak mungkin kau tega membuat Deni merana! Katakan sebabnya, Tris. Kenapa sin?"
"Aku sulit mengatakannya, Sum. Mungkin se-baiknya kautanya Deni saja. Aku merasa kurang punya wewenang buat menjawab."
"Lihat! Sampai saat terakhir pun kau masih tetap mau membela Deni! Berarti kau sebenamya masih mencintainya! O, ya, aku dengar persoalan-nya menyangkut seorang wanita. Tapi kalau kau masih mencintainya, kenapa nggak coba memaaf-kan saja, Tris? Apalagi aku dengar Deni sudah minta maaf dan menyatakan sangat mencintaimu."
"Masalahnya lebih rumit dari sekadar 'ada wanita lain', Sum," Triska coba menangkis sambil menghela napas.
"Aku nggak habis mengerti, serumit apa sih!" semnya geleng kepala kewalahan. "Kalau kau ma-rah, aku bisa ngerti. Seandainya Hansa ketahuan mencipok perempuan lain, mungkin kuambilkan golok dia! Aku maklum bila kau marah. Tapi kan nggak perlu kontan cerai, bukan? Apa nggak bisa tunggu dulu sampai hatimu dingin dan marahmu reda?"
"Siapa yang bilang aku marah?" tukas Triska tersenyum.
"Habis, kau ngotot mau cerai! Kalau bukannya marah, apa dong?"
"Itu yang sulit kukatakan!"
"Hm. Rupanya kau sudah nggak nganggap diri-ku sebagai teman!"
"Bukan begim, Sum. Kau tetap kuanggap teman karibku, tapi ini urusan domestik, maaf deh, nggak bisa kupubhkasikan. Ini antara Deni dan aku. Bah-kan kepada orangtuaku nggak aku ceritakan sebabnya Terserah Deni nanti, kalau dia nggak keberatan, boleh dikatakannya sendiri pada mereka."
"Nah, nah, sekarang malah jadi misterms. Orangtua sendiri pun nggak boleh tahu!" Sumi geleng-geleng, tampaknya makin kewalahan. "Tapi, Tris, apakah ini tindakan yang paling baik? Apa sudah kaupikirkan matang-matang?"
"Sudah. Sampai kepalaku ubanan!" Triska tertawa membuat temannya mendelik seakan mema-rahi.
"Hm. Jadi sudah kaupikirkan apa akibatnya bagi anakmu? Gimana nanti kalau dia menanyakan
ayahnya? Lalu gimana anakku, Linus? Kami— Hansa dan aku—berharap kalian akan mau ikut mendidiknya. Tapi sekarang? Baguskah contoh yang kalian berikan ini? Gimana aku akan meng-ajarinya supaya dia meneladan kalian? Masa anakku kecil-kecil sudah dikenalkan sama perceraian? Oh, Tris, jangan bikin kacau hidupmu dan hidup kita semua! Pikirkanlah sekali lagi niat ini. Aku yakin, kalau kau mau mengobrak-abrik hati kecil-mu, pasti akan kautemukan kenyataan bahwa kau sebenamya ingin rujuk lagi! Tris, janganlah bunuh diri seperti ini. .Perceraian adalah penyakit yang paling mengerikan. Kalau hatimu dan hatinya sama-sama binasa, tegakah kau? Layak apa nggak perempuan itu kaubiarkan merajalela merusak hidupmu dan membunuh cintamu?"
Tawa Triska mendadak sirna, berganti dengan linangan air mata. Kau nggak mengerti, Sum. Cin-taku takkan terbunuh gara-gara perempuan itu. Justru sebaliknya. Karena aku sangat mencintainya, aku nggak ingin dia dicap sebagai laki-laki "terang bulan terang di kali" yang nggak bisa dipercaya mulutnya. Aku ingin dia diagungkan sebagai laki-laki yang berintegritas tinggi, bukannya yang "lain di bibir lain di hati". Laki-laki yang menerima seluruh akibat perbuatannya walau itu berarti melukai hatinya dan hatiku, walau itu akan menyeretnya ke lembah sengsara. Kita semua akan merana, aku tahu. Tapi semua itu akibat dari perbuatan kita sendiri, nggak ada yang hams dise-sali. Kau nggak tahu, Sum, berapa intimnya dia
dengan perempuan itu! Perempuan itu sudah me-ngorbankan anaknya sendiri untuk Deni! Demi supaya bisa mempertahankan cinta mereka yang penuh halangan. Dia bahkan merelakan Deni kawin dulu dengan orang lain, suatu tindakan yang sangat gegabah. Kan selalu ada kemungkinan istri Deni takkan mau melepasnya kembali? Coba kalau istrinya itu bukan aku, apa yang akan terjadi? Kan pengorbanan perempuan itu akan sia-sia belaka? Bertahun-tahun menunggu hanya untuk dicampak-kan. Sekarang, ketika warisan yang diimpi-impikan itu sudah akan jatuh ke tangan. Orang idiot mana yang akan tinggal diam saja diperlakukan begitu? Kalau aku di tempatnya, aku juga akan nuntut dia kembali. Aku nggak bakal mundur sebelum dia menepati janjinya memperistri diriku! Aku nggak mau mengerti! Aku pasti akan ngamuk. Memang-nya aku ini barang loakan yang gampang dilem-par-lempar begitu saja?
Triska memandang temannya dari balik air mata. Bibirnya digigitnya sementara dia menghela napas. Semua itu tanda keresahan. Sejak kecil dia selalu menggigit bibir serta menghela napas bila sedang resah.
Kau benar, Sum, perempuan itu nggak layak dibiarkan mengobrak-abrik hidup kami, Tapi dia berhak, Sum. Pengorbanannya serta kesetiaannya memberinya hak atas suamiku. Dan aku nggak ingin suamiku diingat dalam sejarah sebagai laki-laki yang gampang mencampakkan perempuan dan nggak segan-segan menjilat ludah sendiri.
"Kau nggak usah khawatir, Sum. Anakku nggak bakal kehilangan ayah, begitu juga anakmu akan tetap kita didik bersama. Aku tahu Deni, walaupun lemah hatinya baik. Dia pasti nggak akan mene-lantarkan anaknya. Dan dia juga pasti akan memberi teladan yang baik bagi anak-anak kita."
"Tapi kalian akan bercerai!" Sumi menguik seperti babi yang putus asa di hadapan pembantai. "Apakah itu kausebut teladan yang baik?"
"Jangan takut. Anak-anak lebih bisa menerima keadaan daripada yang kita sangka. Mereka akan bisa mengerti asal kita beri penjelasan yang masuk akal. Aku yakin, situasi ini nggak akan memberi akibat buruk pada mereka. Kaupikir, aku akan rela mencelakakan anakku sendiri?"
"Kau belum menjawabku!" desak Sumi penasar-an. "Apakah tindakanmu itu sebuah teladan yang baik?"
Triska menghela napas dan menggigit bibirnya kembali. "Perlukah kujawab, Sum? Perlukah kute-lanjangi hatiku bulat-bulat di sini, di depanmu? Supaya kaulihat betapa menderitanya aku?!"
Sumi tiba-tiba menubruk Triska dan memeluk-nya erat-erat. "Oh, Tris, maafkan aku. Bukan mak-sudku mau menambah luka hatimu. Tris, aku ingin menceritakan rahasiaku, mungkin bisa berguna untuk perbandingan. Kau kan tahu, Hansa sering sekali ke luar negeri. Biasanya aku suka ikut, tapi sejak hamil, aku jadi ogah jalan-jalan. Hansa waktu itu ke Jepang, rupanya ketemu kenalan lama yang pernah kecantol dengannya sebelum dia
kawin denganku. Nah, Hansa kesepian, kena deh dirayu habis-habisan sampai-sampai janji mau membelikan apartemen! Kau tahu kan mahalnya tempat tinggal di Tokyo!
¦ "Waktu Hansa pulang, sikapnya tetap biasa. Aku juga sama sekali nggak curiga. Tapi ketika aku membenahi isi kopernya, aku temukan kuitan-si kontrak apartemen untuk tiga tahun! Bayangin, Tris! Untung cuma ngontrak, nggak sampai beli, berapa tuh harganya! Begitu Hansa pulang dari kantor, langsung aku konfrontasi. Dia langsung pasang bendera putih, manggut-manggut minta am-pun, sampai bertekuk lutut, niatnya mau mencium kakiku tapi kuegoskan sehingga terpaksa puas cuma mencium tan ah air. Wan, hatiku kayak apa panasnya waktu itu! Mungkin dipakai mendadar telur pun bisa matang! Pikiranku waktu itu juga sama buteknya seperti pikiranmu saat ini. Aku langsung bikin skenario di kepalaku. Minggat ke rumah Mami, lalu cerai!
"Untung Hansa mencegah dengan segala daya agar aku jangan sampai kabur. Alasannya, dia terlalu cinta padaku, sedangkan cewek.Sanyo-To-shiba-Mitsubishi itu cuma mainan iseng seperti video game kegemarannya. Tapi dugaanku sih, alasan sebenamya adalah, dia malu kalau sampai ketahuan mertuanya bahwa dia sebenamya alim-alim sambuk!
"Wah, waktu itu rumah kami seperti adegan Perang Vietnam saja. Tanya deh mbokku. Aku neambek, ngamuk, nggak tahu deh berana hari.
Tapi Hansa tetap telaten meladeniku, menerima salah, nggak membalas sepatah pun semua makian dan kata-kata pedas yang kulontarkan, begitu ba-nyaknya sampai aku kehabisan kata dan rasanya semua kata dalam kamus yang lebih pedas dari-pada lada sudah aku hamburkan ke mukanya. Tapi Hansa nggak membalas. Dengan rendah hati dia mengaku salah dan menerima semua akibat ulah-nya. Akhirnya aku juga lemas, kehabisan akal untuk memusuhinya. Permusuhan itu kan cuma bisa terjadi dari dua pihak, Tris. Kalau yang satu-nya bertekad nggak mau balas memusuhi, pihak yang marah itu pun nggak berdaya lagi, ibaratnya seperti memukul angin, nggak bisa menang.
"Singkat cerita, akhirnya aku yakin, dia memang mencintaiku, dan aku juga masih tetap mencintainya. Jadi kami rujuk, deh. Dan sekarang kalau sedang angot, dia suka bergurau, 'Aku tobat deh, main-main sama kembang sakura, melati yang ku-anyam di rumah bukannya layu merana tapi malah melilit sukmaku yang nggak berharga ini, mem-buat aku merasa diriku yang paling hina-dina...'" Sumi tertawa. "Itu ocehan Hansa kalau lagi sinting alias senang. Tapi kuceritakan rahasia ini bukan untuk menyenangkan hatimu atau supaya bisa kau-gosipkan, tapi supaya kau mau membandingkan kesulitanmu dengan problem kami dulu. Apakah kesalahan Deni lebih besar dari kesalahan Hansa? Adakah kesalahan yang lebih fatal dari seorang suami selain itu? Apakah Deni juga mengontrak-kan perempuan itu rumah? Atau memberinya naf-
kah tiap bulan? Atau masih terus menghubunginya
sampai sekarang?" Triska melepaskan diri pelan-pelan dari pelukan
temannya. lalu beralih ke pinggir kolam meng-
awasi ikan-ikan. Keduanya memang tengah berada di gazebo dalam kebun Dokter Justin Omega. Marco sedang tidur, jadi Triska leluasa menemani tamunya tanpa gangguan.
Sumi menghampiri dan berdiri di sampingnya, diam, menunggu. Namun sampai lama Triska tidak juga membuka mulut, sehingga Sumi akhirnya terpaksa meneruskan "seminar"-nya sepihak saja.
Tris, kau bersedia, kan, memikirkan semua yang kukatakan? Aku menyayangimu seperti sau-dara kandung, aku juga mengagumi Deni seperti abang sendiri, masa kau tega menghancurkan perasaan orang yang mencintai dan mengagumi kali-ajar
Kau nggak tahu, Sum! Sedangkan hatiku sendiri kuhancurkan, bagaimana aku akan disuruh mem-perhatikan dan merawat perasaan orang lain?
***
Akhirnya Deni sendiri yang memecahkan per-soalan itu. Semua anggota keluarga dan teman sudah tak berdaya mengubah keinginan Triska. Bahkan bujukan agar dia menunda saja dulu niat-nya barang setahun dan selama itu mereka akan hidup terpisah, juga ditolaknya. Dia ingin putus, sekarang juga!
Minggu siang itu seperti biasa Kris membawa
Martina dan Bobi untuk makan siang di tempat orangtuanya. Deni juga hadir, sebab dia selalu muncul setiap akhir pekan untuk menengok Marco dan bermain-main dengannya sampai malam, sampai Triska mengingatkannya bahwa jam tidur bayi bukanlah menjelang tengah malam. Deni betah sekali mengasuh anaknya, seakan waktu absennya selama seminggu ingin dikejarnya dalam waktu sehari.
Sore itu udara kebetulan jelek, hujan turun, sehingga Kris belum bisa pulang. Jadi Bobi ditidur-kan di samping Marco, ditemani pembantu, sementara Kris dan Marti duduk di bawah, berbincang-bincang dengan Dokter Justin serta istrinya. Triska dan Deni juga hadir, namun tidak begitu antusias untuk ikut iuran komentar.
Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya seakan telah disepakati, ibu Triska mulai menyentuh masalah konflik anak menantunya, dan Kris langsung menyambut dengan bujukan-bujukan yang di-tujukan ke adiknya.
"Mama nggak bisa mengerti jalan pikiranmu, Tris. Apa sebabnya kau tetap ngotot nggak mau memaafkan Deni yang sudah mengaku salah?"
"Aku juga nggak ngerti!" sambung Kris. "Kau sekarang duduk berdampingan dengan Deni, orang luar pasti mengira kalian adalah pasangan yang sangat rukun, tapi tahunya!" Kris menghela napas dan geleng-geleng kepala.
Dokter Justin memandangi putrinya dengan penuh sayang, kedua tangannya dikatupkannya
seakan tengah berdoa, dan kepalanya mmiringkan seolah-olah dengan begitu dia bisa berpikir lebih bijaksana atau bisa menilai perasaan anaknya dengan lebih baik.
"Tris, Papa sudah mendengar pengakuan Deni, Papa mengerti perasaanmu..." Nggak! Papa nggak ngerti! "...tapi apakah niatmu itu tidak terlalu kesusu? Bagaimana kalau kaupikirkan sekali lagi? Papa rasa sebaiknya kautenangkan pikiranmu dulu, mungkin selama beberapa minggu atau beberapa bulan kalian berdua menghindarkan diri tidak sating bertemu dulu, biar masing-masing mendapat kesempatan untuk menilai seluruh situasi dengan lebih objektif.
"Masalahnya sekarang, urusan ini bukan cuma menyangkut kalian berdua. Kalian sekarang sudah mempunyai Marco. Kau sudah menjadi ibu, Tris, tugasmu untuk mendidik serta merawat anak tidak boleh dianggap enteng. Seandainya kau masih berdua saja dengan Deni, mungkin Papa tidak akan sampai tank urat begini mencoba membujukmu agar membatalkan niatmu. Kau sekarang punya tanggung jawab terhadap Marco. Deni juga sudah mengaku bersalah. Apakah tidak sebaiknya kita kubur saja peristiwa ini?"
Orangnya datang menuntut, Pap! Dia mau bikin perhitungan, menagih janji yang telah diberikan padanya oleh suamiku yang tercinta!
"Papa yakin sudah tahu duduk perkara seluruh-aya?" tanya Triska perlahan.
"Aku sudah menceritakan semua sampai ke de-tail-detailnya, Tris," Deni menolong jawab sambil menoleh padanya, tapi Triska menghindar, tak mau balas memandang. Mereka duduk di sofa yang kecil, yang cuma muat untuk dua orang sehingga keduanya terpaksa bersentuhan, namun Triska seperti orang yang sudah putus tulang lehemya sehingga dia sama sekali tak bisa bergerak. Ketika Deni bicara sambil menoleh dan menyentuh le-ngannya, Triska tetap diam tak bergeming seolah tidak dirasakannya sentuhan itu.
"Ya, Deni betul, Papa sudah tahu jelas apa per-soalannya." Dokter Justin mengangguk. "Dan Papa setuju dengan permintaan Deni agar kau memaaf-kannya serta melupakan masa lalu itu."
Kris menimpali, "Setiap orang bisa khilaf, Prin-ses. Aku juga mungkin saja bisa kecantol cewek bahenol..."
"Iiih, maumu!" pekik Martina.
"...tapi setelah kenalan sama cewek bawel ini,* ditunjuknya Marti di sampingnya, "mendadak aku tahu apa yang disebut cinta, dan bam aku sadar, aku sebenamya nggak pernah mencintai si centilku itu, tapi cuma kesengsem. Nah, masa tiada maaf darimu? Kalau orang nggak boleh berbuat salah, berarti bukan manusia, dong, namanya."
"Tris, apakah selama ini Papa dan Mama pernah menyakiti hatimu?" tanya ibunya, membuat Triska menatapnya keheranan.
"Terang nggak dong, Mam. Masa Mama nanya begitu?!"
"Jadi kau percaya, Papa-Mama takkan menyu-ruhmu melakukan apa-apa yang akan membuatmu sengsara?"
Triska tertawa dan memandang setiap hadirin bergantian, termasuk orang di sampingnya, lalu dia menggeleng sebelum menjawab, "Mam, ada apa, sin? Kok Mama ngomongnya makin aneh-aneh saja, sih?!"
"Kau akan mengerti Jawab saja. Kau percaya, kan?"
Triska menggigit bibir bawahnya dan mengangguk seperti anak kecil.
"Nah, kalau Papa-Mama sekarang mengusulkan agar kau jangan berpisah, kau tentu percaya, kan, itu untuk kebaikanmu? Kebaikanmu sekeluarga: kau, Deni, dan Marco?"
Ini yang jadi terdakwa aku atau Deni, sih? Kok semua orang menyokongnya, sedan gk an aku cuma kebagian celaan, mana simpati bagiku, Mam, Pap, Kris, Marti? Aku juga merana! Tak adakah yang tahu?
Tris, anakku," bisik Dokter Justin seraya me-nyorongkan tubuh ke depan, kedua tangannya ter-katup dan sikunya ditumpunya di atas paha. "Se bagai orangtua, Papa-Mama selalu mengutamakan kepentingan anak, Kami ingin anak-anak mendapat semua yang diperlukan, semua yang terbaik. Kami ingin kalian bahagia. Kebahagiaan itu bukan melulu terdiri atas mainan dan pakaian yang bagus, Tris, tapi juga kasih sayang bagi anak-anak. Kasih sayang dari orangtua untuk anak, dan kasih sayang antara
orangtua. Papa tidak usah panjang-lebar mengatakan apa akibatnya broken home bagi seorang anak. Kita umumnya gampang menebak apakah seorang anak berasal dari keluarga yang retak atau tidak. Nah, sekarang Papa mau tanya, apakah kau ingin mem-biarkan Marco menjadi anak broken homeV
Tentu saja nggak, Pap."
"Nah?"
"Pap, boleh saya tanya sesuatu?" "Tentu saja, Tris."
"Seandainya seorang laki-laki ingin menikah dengan saya tapi pernikahan tidak bisa segera dilang-sungkan dan dia minta saya menunggu tiga tahun dengan janji setelah itu betul-betul akan kawin dengan saya dan saya sudah berkorban besar sekali. Menurut Papa, apa yang sebaiknya saya lakukan bila orang itu temyata ingkar janji?"
Sekarang semua orang—termasuk Deni—terbe-lalak dan duduk lebih tegak. Semua kuping jadi tegak ketika Dokter Justin menanyai putrinya, "Apa maksudmu dengan 'berkorban besar sekali'?"
Nyonya Rosa Omega juga mengerutkan kening. "Maksudmu, Odi sudah berkorban besar sekali?"
"Korban apa, sih?" Pertanyaan ini seakan dituju-kan pada Deni, sebab Kris menoleh padanya tapi yang dituju cuma mengangkat bahu dengan wajah tak mengerti, lalu menoleh pada Triska seolah mengharapkan penjelasan. Namun Triska tidak membalas tatapan Deni. Dia cuma balas menatap kedua orangtuanya bergantian, lalu menunduk sambil menghela napas.
Tris, coba jelaskan!" desak ayahnya.
"Saya nggak bisa menjelaskan. Mungkin Deni bisa?" Triska menoleh. menatap suamtnya dengan kening terangkat. Wajah Deni tampak ineroucat
Hah! Kaget kau? Berterimakasihlah, aku nggak lancang menyebut-nyebut soal aborsi pacarmu! Be-rantkah kau berterus terang? Ayo, akui secara jan-tan bahwa kau memaksa Odi menggugurkan kan-dungannya! Pantas kau selalu berceloteh, bagimu anak tidak penting. Temyata yang sudah tumbuh pun kausuruh bunuh! Anakmu sendiri, darah da-gingmu sendiri, kauenyahkan! Tindakan ini saja sudah cukup untuk membuat aku menjauhkan diri dan sampingmu. Kalau bukan demi Marco, aku pasti nggak mau melihatmu lagi! Manusia mac am apakah yang tega membunuh anak sendiri? Laki-laki seperti apakah yang bisa mengelakkan tang-gung jawab segampang itu? Sudah sekali kau lan dan tanggung jawab, sekarang untuk kedua kali-nya kau mau lari lagi, menolak memenuhi janjimu pada Odi?! Siapakah kau sebenamya. Den? Kukira kau pantas kucintai, kusangka kau seorang laki-laki berkepnbadian kuat, tapi tahunya...
"S-saya s-sungguh ng-nggak m-mengerti m-maksud T-triska," Deni menanggapi terbata-bata. "K-kenapa k-kau ng-nggak b-bilang s-saja t-tems t-terangT
Tapi Triska menggeleng. "Percaya sajalah, Pap, begitu kejadiannya. Pertanyaan saya adalah, apakah Papa akan tinggal diam saja bila orang itu menolak saya dengan alasan sudah telanjur men-
cintai yang lain? Ataukah Papa akan memaksa orang itu agar memenuhi janjinya? Apakah saya berhak menuntut supaya dia kembali?"
Tentu saja Papa tidak akan membiarkan anak Papa diperlakukan semena-mena! Tentu saja Papa akan bikin perhitungan dengan orang itu!"
"Nah?" tukas Triska, menoleh pada Deni yang kelihatan makin pucat wajahnya sedangkan matanya yang hitam tampak oleh Triska menggelepar dalam lumpur ketakutan.
Hah! Aku ingin lihat sampai kapan kau akan mampu menyembunyikan masa lalumu yang hitam)
"Tapi dalam urusan cinta, sulit kita memaksakan kehendak," komentar Kris hati-hati tanpa meman-dang siapa pun. "Cinta nggak bisa dipaksakan. Kalau orang itu sudah telanjur mencintai yang lain, ya apa boleh buat! Dalam hal ini, Deni sudah telanjur mencintaimu, ya apa mau dikata, sudah untungmu. Odi Bobadila terpaksa minggir. Me-mangnya nggak ada laki-laki lagi di dunia ini selain Deni? Sebagai wanita yang cantik dan ter-kenal, mana mungkin dia bisa kesulitan mendapat pasangan? Bukankah dia sedang pacaran dengan Roy, Mar?" Kris menoleh pada istrinya yang duduk di sampingnya.
Martina mengangguk. "Mereka memang kelihat-annya pacaran. Roy malah pernah bilang sama Mami, dia sudah ketemu cewek cakep yang ke-mungkinan bakal jadi calonnya. Tapi ditunggu-tunggu, kok nggak ada kelanjutannya. Mami sam-
pai bosan menanyakan. Roy tetap seperti orang tuli, nggak pernah melapor lagi."
"Aku tahu sebabnya," tukas Triska, tersenyum pada Marti. "Deni kan punya harta karun. Mar! Sedangkan abangmu nggak!" "Gara-gara warisan!" Deni mendumal sendiri an. Kau kelihatan kesal, Den. Masa kejatuhan re-zeki dari langit membuatmu jadi kesal? Bukannya justru bahagia? Bukankah uang itu merupakan tu-juan utama manusia? Coba lihat Odi, kalau harta-mu nggak sampai selangit begitu, mungkin dia nggak peduli kau masih ingat atau nggak padanya!
"Ya, kau benar, Tris! Pasti karena soal harta!" Marti mengangguk.
Kris tertawa. "Sudaniah, Den, sumbangkan saja duit itu ke mana, kek! Biar Odi nggak menggang-gumu dan Triska juga nggak menuntut yang bukan-bukan. Tris, seandainya Odi nggak lagi menuntut Deni kembali padanya, kau juga akan batal bercerai, bukan?"
Deni meringis dan mendahului Triska, "Masa-lahnya nggak segampang itu, Kris. Uang itu memang untukku, tapi sebenamya akan diterima oleh ayahku. Seharusnya ayahku dan adiknya, Tante Leila, yang mendapat warisan itu. Tapi kakekku sudah tidak mengakui Tante Leila sebagai anak, sebab dia menikah dengan orang yang dibenci Kakek. Oom Saleh, suami tanteku, pernah dituduh telah menyebabkan kematian Oom Jon, anak kesa-yangan Kakek. Jadi Tante nggak kebagian sepeser pun, tapi ayahku kasihan pada ketiga keponakan-
nya, jadi setelah Kakek meninggal dibujuknya Ne-nek agar anak-anak Tante diberi bagian juga.
"Nenek menumtinya. Maka cucu-cucunyalah yang jadi ahli waris, Ayah tidak disebut sebab Nenek tetap menolak mengakui Tante sebagai waris, jadi ayahku juga nggak mau namanya ditulis dalam testamen. Ayah memang sangat menyayangi adiknya, dan menumt dia, Tante Leila nggak salah apa-apa, kenapa hams dihukum. Tapi Kakek dan Nenek berpendapat, kalau Tante diberi warisan, berarti Oom Saleh juga akan ikut menikmati, dan mereka nggak mau itu terjadi."
"Rumit beeng!" komentar Kris menggeleng-ge-leng. "Jadi kau ahli warisnya, tapi ayahmu meng-anggap uang itu sebenamya miliknya."
"Ya, begitulah." Deni mengangguk.
"Nah, kenapa tidak kauberitahu Odi, uang itu milik ayahmu?" usul Dokter Justin. "Begitu dia tahu kau sebenamya tak berduit, pasti dia akan mundur, kalau motifnya memang semata-mata cuma uang!"
"Pap, walaupun dia tahu keadaan sebenamya, belum tentu dia akan mundur. Siapa tahu dia punya rencana jangka panjang. Deni kan anak tunggal, semua kekayaan ayahnya kelak pasti akan jatuh ke tangannya, berarti ke tangan istrinya, kan. Nah, Odi tentunya ingin berjaga-jaga, supaya bila saat itu tiba dialah yang jadi istri, bukannya saya." Triska mengangkat bahu.
"Papa belum menyerah! Pasti masih ada jalan keluar yang baik. Masa kita mau membiarkan perempuan itu mengobrak-abrik hidup kita?"
Dokter Justin menundukkan kepala. menangkup-kan kedua tangan dan meletakkannya di depan bibirnya yang terkarup rapat, lagaknya mirip orang yang sedang berdoa.
"Masalahnya, ini bukan cuma menyangkut Odi, Pap. Tapi menyangkut Deni juga. Dia sudah mem-benkan janjinya pada Odi, saya berpendapat dia harus menepaunya. Di samping itu, saya tidak mau dituduh me nun pas calon suami orang lain!"
"Astaga! Dia menuduhmu begitu?" Nyonya Rosa menegaskan.
"Kurang ajar! Berani benar dia!" Kris men-dumal sengit. .
"Biar nanti kuadukan pada Roy supaya dia dite-gur!" ajar Marti dengan penuh semangat, dan untuk setia kawannya itu dia dipeluk erat oleh Kris.
"Jangan emosi," cegah Dokter Justin tenang. "Kita tidak bisa meiarang orang bicara. Kita hams -menempatkannya sedemikian sehingga dia tak punya aiasan sedikit pun untuk menuduh Triska sem-barangan."
"Jalan satu-satunya adalah Deni hams kembali padanya!" tukas Triska tenang seakan tengah men-diskusikan cara terbaik untuk mereparasi tulang yang patah. "Dia menuntut agar saya minta cerai. Kalau tidak, dia mengancam akan menghubungi koran dan menuduh saya merebut calonnya."
Semua orang terkesiap mendengar penuturan itu. Deni menoleh dan mencekal tangan Triska yang terletak di pangkuan. Triska tidak rnenepisnya, watir menyinggung atau dianggap kurang
sopan. Kris mengutuk pelan sambil memukulkan tinjunya ke telapak tangannya. "Kalau saja dia laki-laki, sudah kutantang berkelahi!" ujamya sengit. Marti bum-bum memeluk dan membujuknya
agar tenang.
Dokter Justin berpandangan dengan istrinya. Mereka tampaknya kehilangan akal, tak tahu persis apa yang hams di lakukan. Tapi aku tahu! pikir Triska pasrah. "Bagaimanapun kita hams mencegah jangan sampai dia menarik-narik tangan wartawan! Sekali masuk kolom gosip, buat selamanya hidup takkan tenteram lagi!" ujar Dokter Justin.
"Ini kan urusan rumah tangga, masa mau dijadikan bah an sensasi murahan! Aku ingin sekali me-namparnya! Berani-beranian dia mengancam anakku! Kalau dia sampai melaksanakan ancamannya, akan kita seret ke pengadilan!" janji Nyonya Rosa dengan mata berapi-api.
"Sudah gila barangkali dia!" ujar Marti. "Kalau masuk koran, kan berarti namanya juga bakal ter-seret. Apa dia takkan malu?"
"Orang nekat mana punya malu?" Kris menim-pali setengah mengejek.
"Dia mengancam akan bunuh diri,' dan mengi-rimkan versi ceritanya ke koran-koran!" Triska menjelaskan. "Dia berharap dirinya sudah mati pada saat kisahnya dimuat, jadi dia nggak bakal merasa malu."
"Masya Allah!" sent Nyonya Rosa tercengang seolah tidak percaya.
"Betul-betul gila!" Marti mengangguk tandas.
Deni menarik napas panjang dan kesal sambil menggeleng-geleng. "Karena aku, kau jadi dibikin pusing begini!" keluhnya seraya memandang Triska dan me re mas tangannya. Triska membalas ta-tapannya dengan senyum sendu tanpa berkata apa-apa.
"Dan orang gila selalu bisa nekat!" Kris me-nyambung istrinya.
"Karena itu kita hams bertindak hati-hati sekali," ujar Dokter Justin mengangguk pada semua.
"Jalan satu-satunya adalah seperti yang saya usulkan," ujar Triska setenang batu di dasar kolam.
"Tris!" sem ibunya menyayat hati. "Jangan nekat!"
"Apakah Mama punya usuJ yang lebih baik?" Triska tersenyum pilu, sementara Deni menunduk sambil bemlang-ulang menghela napas.
Kau kelihatan tak berdaya menghadapi Odi, bukan? Ya, kau memang nggak berdaya menghadapi tuntutannya. Dia datang mau bikin perhitungan, menagih janjimu padanya. Dan istrimu terpaksa hams berkorban. Istrimu terpaksa harus kaukor-bankan, Den.
"Saya juga tidak bercita-cita menjadi janda, Mam. Saya tahu, perceraian membuat orang me-rana, tapi kalau saya sampai digosipkan dalam koran, pasti akan lebih merana lagi. Kalau kami bercerai sekarang, kami masih bisa mempertahan-kan hubungan baik sebagai teman. Saya tetap res-
pek pada Deni karena dia bersedia memenuhi janji." Aku juga masih mencintaimu! "Tapi kalau perkawinan ini ditemskan, akhirnya toh kita akan bercerai juga setelah respek dan cintaku padamu hi-lang, Den." Bicaranya kini ditujukan pada Deni. Keduanya saling memandang, mata mereka saling memagut dalam tikaman yang tak terlerai, penuh rindu dan derita.
"Aku nggak bisa respek pada laki-laki yang melarikan diri dari tanggung jawab! Dan itulah kau, bila kau bertahan di sampingku! Kalau respek dan cinta sudah hilang dari perkawinan, kita gampang menjadi musuh, Den. Aku nggak mau itu terjadi, sebab akibatnya kurang baik untuk Marco."
Semua orang terdiam mendengarkan ucapan Triska. Mereka memandang pasangan itu dengan berbagai perasaan, namun tak ada yang buka suara.
Untuk beberapa menit hening di mangan itu sampai akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh tarikan napas Deni yang berat.
"Mam, Pap, Kris, dan Marti, saya menyatakan terima kasih atas support yang kalian berikan pada saya. Tapi prioritas saya adalah Triska serta Marco. Setelah saya pikir-pikir, saya mendapat kesim-pulan, apa yang di katakan Triska memang ada benarnya. Namanya tidak boleh sampai terseret ke dalam koran, menjadi bahan gosip murahan. Untuk mencegah kemungkinan Odi akan mata gelap, wa-laupun dengan sangat berat, saya terpaksa menye-tujui permintaan Triska untuk bercerai...."
Triska menoleh bersamaan dengan Deni. Kedua-nya bertatapan serius tanpa senyum. Triska menggigit bibirnya yang gemetar, matanya membasah namun segera dikejap-kejapkannya sehingga air matanya tidak sampai terjatuh. Deni mempererat cekalannya, bibirnya bergerak-gerak seperti laku orang yang ingin minta maaf namun suaranya tidak keluar. I
Hujan di hiar sudah berhenti. Kris tak punya alasan lagi untuk menunda pulang ketika dilihat- I nya Bobi menuruni tangga loteng.
"Aku menyesal sekali, Prinses," ujar Kris ketika pamitan.
"Nggak usah," sahut Triska mencoba tersenyum, "Deni dan aku akan tetap berteman seperti biasa. Bedanya cuma nggak lagi tinggal serumah. Tapi kami tetap bisa ketemu kapan saja kami mau. Iya, kan, Den?" Triska bertanya pada Deni yang berdiri di sampingnya.
"Tentu saja." Deni mengangguk.
Setelah mengantar Kris dan Marti pulang, Triska mengajak Deni ke kebun belakang, duduk dalam gazebo. Marco sudah bangun. Triska semula ingin menyuapinya dengan pisang, tapi ibunya mencegah, menyuruhnya menemani Deni saja, biar Marco diurusnya sendiri. Triska tidak memaksa, sebab dia memang ingin berduaan dengan Deni. Mungkin untuk terakhir kali.
Trims untuk pengertianmu, Den," ujar Triska, tersenyum memandang orang yang duduk di depan-nya. Deni balas tersenyum, mengulurkan iengan, dan
menyentuh tangan halus yang terletak di atas meja kecil di antara mereka.
"Aku nggak pernah mimpi akan bisa kehilangan kau! Tapi aku nggak meiihat alternatif lain. Aku akan kehilangan cintamu, tapi aku nggak mau kehilangan juga respekmu." Deni menggeleng, dan tersenyum sedih.
Kau takkan kehilangan cintaku, Den! Sebab aku akan mencintaimu seumur hidupku!
"Hanya karena aku yakin tindakan ini satu-satu-nya jalan untuk melindungimu dari malapetaka, aku rela kita berpisah. Mudah-mudahan cuma untuk sementara. Mudah-mudahan Odi bisa diberi pengertian sehingga aku bisa kembali padamu, seandainya kau bersedia menerima aku lagi. Maukah kau?"
Oh, seandainya itu mungkin! Tak usah kautanya lagi, Den. Saat ini pun rinduku hampir tak ter-tahankan lagi, namun...
"Odi nggak bakal gampang mau mengerti. Tam-paknya dia sangat mendewakan uang. Harta se-tinggi langit begitu mana mungkin akan dilepas-kannya kembali."
"Silakan ngamuk atau membunuhku sekalian, tapi aku nggak akan kembali padanya. Sebelum perkawinan kita, sudah kuperingatkan dia, jangan tunggu aku lagi, sebab rencana itu sudah kubatal-kan, dan aku nggak akan menceraikan istriku. Dengan perceraian ini dia nggak bisa lagi menu-duhmu merampas calon suaminya. Bila disadarinya aku nggak sudi kembali lagi padanya, mudah-
mudahan dia insaf dan mencari orang lain sebagai Tantiku Dan bila itu terjadi, aku akan segera lari ke sampingmu! Maukah kau menunggu?"
fata^n terjadi, Den. Percayalah, Odi takkan melepaskanmu, dan kau dengan cepat akan kembali silau terhadap kecantikannya, kau akan terpu-kau pada gemerlapannya lampu-lampu modeshow, kau akan bangga terlihat berhubungan intim dengan wanita cantik yang punya nama selangit, ratu kecanrikan yang anggun dan gemulai. Kau akan lupa padaku. Kau dengan cepat akan melupakan bekas istrimu yang tidak punya nama apa-apa. Kuharap saja, kau takkan melupakan Marco. Tapi bila kau pernah tega membunuh anakmu dengan Odi, apa alasanku berani berharap bahwa Marco akan mempunyai arti lebih bagimu dibandingkan anakmu yang dulu?!
Deni tampak khawatir meiihat Triska tercenung mengawasi kolam. Seperti orang yang baru ter-sadar, mendadak keningnya berkerut dan lengan Triska diguncang-guncangnya. "Tris, apakah... apakah... ada alasan lain kenapa kau ngotot mau berpisah? Kenapa kau sejak tadi nggak mau menjawab pertanyaanku? Apakah kau nggak bersedia menerimaku lagi kelak? Apakah... sudah ada yang menunggumu? Tris, katakan! Siapa? Erik? Atau Roy? Tris, jawab aku!" Triska lambat-lambat mengalihkan matanya dari .m di depannya. Matanya yang bulat dan bersih kelihatan berduka, digigitnya bi-ya- Dla menghela napas, tapi jelas memaksa-
diri tidak sampai ambruk dalam tangis. "Apakah kau masin Demm niengenal diriku, Den?" bisiknya pilu.
I Bab 4
Sejak tinggal di rumah orangtuanya, Triska jadi lebih memperhatikan dandanan serta pakaiannya. Mungkin karena lebih banyak waktu, pikirnya. Sebab banyak pembantu—tiga—dan ada ibuku yang menguras semua, termasuk Marco, sehingga aku praktis tak usah menggerakkan tangan lagi, jadi aku lebih sering bisa berlama-lama di depan cer-min. Tapi mungkin juga karena ibuku sendiri sela-hi berdandan dengan rapi, walau tinggal di rumah, sehingga aku juga ketularan ingin sama-sama menarik. Ataukah ada alasan lain?
Triska tidak berani mencari tahu tentang kebe-naran dugaan yang terakhir. Ah, apa pun alasan-nya, kilahnya, yang penting adalah hasilnya! Aku jadi kelihatan lebih menarik, dan karena itu pera-saanku juga jadi lebih ringan serta gembira. Ini tentunya penting sekali. Kalau aku berpakaian ku-muh dan rambut kusisir seadanya, pasti tak lama lagi aku akan terserang depresi berat. Dan siapa yang takkan depresi mengalami petaka seperti diriku? Sedang mekar-mekarnya cinta kami, putik sarinya direnggut orang! Masa muda justru masa
90
menikmati kemesraan alam, namun mendung pekat menyita hari depan kami dan sisa-sisa kenangan yang penuh kehangatan pun harus digadaikan.
Triska pamt dipuji. Penampilannya tidak -ber-beda dari dulu, malah lebih semarak. Air mukanya selalu kelihatan tabah. Orang yang tidak mengeta-hui kisah hidupnya, pasti akan menyangka bahwa dia bahagia dan rukun bersama keluarganya.
Kesan itu pula yang dilontarkan oleh Deni ketika kebetulan beramprokan dengannya di lorong rumah sakit.
"Bukan main!" puji Deni. "Kukira dewi dari kayangan mana yang nyasar ke sini! Kau kelihatan makin cantik saja, Tris, membikin hatiku makin risau. Pasti penggemarmu makin bertambah, mem-buat kesempatahku makin tipis saja untuk kembali lagi...." Triska tersenyum manis tanpa komentar. "Aduh!" keluh Deni. "Orang yang nggak tahu si-tuasimu pasti akan menyangka kau ini rukun dan bahagia bersama suamimu!"
"Memang kami selalu rukun dan bahagia, kok. Dulu!"
"Aku iri dengan ketabahan dan semangatmu!" keluh Deni kembali. "Aku yakin, kau tidak men-derita insomnia seperti aku."
"Ck, ck, ck! Apakah Odi menelantarkanmu begitu?" Triska geleng-geleng kepala seperti orang kurang percaya.
susah tidur
01
Deni meringis seolah kesakitan. "Tris, perlukah kau mengolok-olok orang yang sudah jatuh tung-gang-langgang begini? Aku nggak punya hubung-an apa pun dengannya, time!"
"Jadi kau belum pernah menemuinya?"
Deni cuma menggeleng sebagai tan da jawaban.
"Sekali pun?" Triska menegaskan dengan mata melebar.
Terse rah kau mau percaya atau tidak!" "Apa perlu kuhubungi dia? Mungkin dia belum tahu, kau sekarang sudah bebas!"
"0, ya, dia jelas tahu! Walau kita nggak pasang iklan, Roy saja sudah cukup untuk jadi penyiar warta berita! Begita tahu, Odi langsung menemui-ku di tempat praktek. Kemudian minta diantar pulang, tapi nggak kuladeni. Aku panggilkan taksi dan kubayari ongkosnya."
Triska tidak memberi komentar. Dia cuma memandang Deni dengan lugu seperti anak kecil sedang mendengarkan dongeng yang menarik.
"Dan info untukmu, baiklah kukatakan, dia sudah mendatangi aku di tempat praktek tiga kali," meneleponku dua kali mau mengajak makan malam tapi..."
"...Aku nggak pernah meladeni!" Triska mene-ruskan kalimat Deni, lalu tersenyum dan menggeleng. "Di mana kesopananmu?! Kautolak dia men-tah-mentah? Ck, ck, ck! Jangan suka meremehkan seorang wanita cantik! Sakit hatinya bisa membu-nuhmu!"
"Oh, jangan jual omong kosongmu padaku! Dia
sudah memaksa kita berpisah, lalu kaupikir aku akan jatuh cinta padanya? Mungkinkah itu? Yang ada di hatiku hanyalah kedongkolan sebab dia telah merusak kebahagiaan kita berdua! Cuma satu hal yang mungkin di antara dia dan aku sekarang. Kami sedang adu kesabaran, siapa yang lebih lama bertahan. Percayalah, aku akan tunggu sampai dia menyerah dan menerima kenyataan, aku sudah* nggak bisa lagi diharapkannya. Setelah itu aku akan balik padamu, dan kau harus siap kembali pulang ke rumah fatal Awas saja bila kau sampai kepincut orang lain!"
Triska tidak menanggapi dengan kata-kata. Dia cuma tertawa, dan melirik arlojinya, lalu mendadak dia teringat bahwa jadwalnya pagi itu ketat sekali.
"Sori, aku sibuk sekali hari ini. Yuk, deh, sampai nanti." Sudah di ujung lidahnya ingin mengun-dangnya ke pesta ulang tahunnya dua hari lagi (walaupun itu bukan pesta, cuma sekadar jamuan makan, sebab hatinya tidak ingin pesta . namun ibunya berkeras ulang tahunnya harus diperingati), namun dibatalkannya. Siapa tahu Deni mempunyai acara lain, pikimya. Kita sudah bercerai, dia bukan lagi milikku, waktunya, perhatiannya, semua bukan lagi hakku.
"Eh, kapan kau sempat makan siang bersamaku?"
"Kapan saja maumu."
"Katamu hari ini kau sibuk, gimana kalau be-
"Boleh."
"Oke, deh. Besok kujemput kau setengah dua di kantormu."
Mereka berpisah, raasing-masing melangkah ke bangsal tempat tugas mereka. Triska berjalan sambil tersenyum. Hatinya terasa lapang, langkahnya pun seakan lebih ringan. Tiba-tiba dia geli sendiri, Kok seperti orang baru pacaran saja, nih! pikirnya.
Siangnya, Triska baru saja kembali ke kamar dari ruang OP, ketika telepon berdering. "Halo..."
"Hai, Tris, kita makan siang ke Ponderosa, yuk!"
"Ngngng... aku masih repot, Roy," Triska meng-elak. Tadi pagi sudah bilang nggak sempat sama Deni, masa sekarang keluar bersama Roy? Salah-salah nanti orang takkan mempercayai aku lagi!
"Aku tunggu!" ujar Roy tegas, membuat Triska menggigit bibir. Dia mengenali betal kebandelan dokter kulit ini, kemauannya sulit dicegah.
"Nggak tahu sampai kapan. Mungkin sampai sore...." Triska berusaha menakut-nakuti.
"Nggak peduli! Pokoknya aku nggak terima pe-nolakan! Soalnya, ada yang mau kurayakan! Ber-samamu! Nggak mau sama orang lain!"
Celaka! Kedengarannya dia sedang angot! Asal saja jangan memaksa mau mengecupku di depan umum!
"Merayakan apa, sih?"
"Kau pasti nggak bisa menebak!"
"Karena itu aku bertanya!"
"Aku bam saja diangkat jadi asisten Kepala Bagian!"
"Wan! Kalau begitu memang harus dirayakan!" sambut Triska tertawa lega. Kukira kau sedang merancang-rancang jebakan baru untukku! Kalau cuma merayakan kenaikan pangkat sih, am an!
"Rupanya kepala bagianku sudah mencium angin, aku bakal mendirikan pabrik kosmetik...!"
Hah! Kata Marti, lagakmu kan selalu angin-anginan. Idemu segudang, yang betul-beml direa-lisasi nggak sampai sejumlah jari tanganmu dibagi -empat!
"Beliau bilang, beliau juga ingin ikut andil dalam pabrikku nanti. Karena itu disindirnya dokter-dokter lain yang pernah dipromosikan tapi nggak ingat berterima kasih. Dengan kata lain, beliau mengingatkan aku agar jangan lupa kemurahan hatinya kalau nanti aku punya perusahaan."
Beliau?! Hah! Nggak sekalian bilang, Beliau bersabda... padahal dulu kau paling sengit dengan bosmu itu yang kaunamakan si Mata Jengkol!
"Wah, bisa-bisa beliau hams menunggu sampai selesai perang nuklir dulu!" sindir Triska tertawa, tapi Roy yang sedang melayang ke awang-awang sudah tidak peka menangkap nuansa-nuansa negatif.
Roy malah tergelak-gelak seakan Triska bam saja memujinya, dan melanjutkan ucapannya dengan lebih bersemangat, "Soalnya, Tris, sainganku banyak sekali! Seleksinya lebih ketat daripada Pe-milu. Dan banyak calon yang sama kuat atau malah lebih kuat dari aku, terns terang saja nih! Jadi pilihan yang jatuh ke kepalaku betul-betul menunjukkan kemurahan hati beliau!"
Untung masih belum kauanggap sebagai anu-gerahl pikir Triska geli. Betapa manusia membu-tuhkan penghargaan!
"Dan setelah selesai penjelasanku, kita kembali ke soal makan siang nanti. Jam berapa kau siap kujemput?"
Hm. Triska sebenamya tidak bergairah. Dia ingin cepat pulang menemui Marco. Tapi Roy sr bandel yang sedang euphoria malah tambah nggak mungkin dibantah lagi, kita hams menumti kemauannya seakan dia masih berumur sembilan tahun.
"Dua jam lagi terlalu telat nggak? Kau kan nggak gastritis, nggak usah makan pada jam-jam tertentu?"
• "Orang bam naik pangkat, mana mungkin sakit mag! Paling-paling nanti, kalau tanggung jawab sudah menumpuk! Oke, deh, dua jam lagi aku ke tempatmu!"
Makan siang itu berlangsung dalam suasana gembira, maklum yang mentraktir sedang mela-yang ke surga ketujuh. Triska menggunakan ke-sempatan ini untuk menyentil Roy, mumpung pe-rasaannya sedang "kebal" dan takkan gampang ter-singgung.
"Roy, boleh aku terns terang, nih?" Tentu saja! Jangan takut, nggak ada yang ngu-ping, semua tamu asyik dengan steak masing-
gembira di luar batas
masing, sedangkan yang melayani takkan mendengar selama suara kita nggak melebihi sepuluh desibell"
"Itu kan berbisik, seperti kerisik daun!"
"Kalau kau segan berbisik, ya boleh kerasan, tapi jangan melebihi tiga puluh desibel. Orang lain kan nggak perlu tahu bagaimana perasaanmu ter-hadapku."
"Kau memang pintar menebak hati orang!"
Roy mendadak jadi kelihatan lebih gembira, tu-buhnya seakan melembung makin besar seperti The Incredible Hulk, laki-laki alim yang bisa men-jelma sebesar kingkong kalau meiihat kejahatan, sayang tertahan oleh kemeja mahal dari Prancis.
"Aku sudah tahu, lambat atau cepat kau pasti akan mengutarakan isi hatimu padaku!" tukasnya dengan air muka raja Viking yang menang perang. "Ayo, cepat katakan! Aku sudah nggak sabar me-nunggu! Akhirnya taktikku berhasil juga, memang sehamsnya dulu aku yang mendapatkanmu seandainya Deni nggak muncul mengham biro!" Roy menggosok-gosok kedua tangannya dengan suka-cita serta memajukan tubuh ke depan, rupanya khawatir, jangan-jangan ada suku kata yang tidak tertangkap sehingga tidak bisa dijawab dan akan melukai perasaan sang dewt.
Sebaliknya, Triska malah jadi ragu membuka mulut setelah menyadari apa yang diharapkan oleh Roy. Kacamatanya sampai nyaris terjatuh dari ba-tang hidungnya, namun dibiarkannya. Rambutaya yang berombak terjurai ke dahi sehingga jambul-
nya kempis, tapi dia tak peduli. Wajahnya yang lonjong dan kurus dengan protil Indo-Belanda, di-tambah dengan kemejanya yang ketat, benar-benar membuatnya rnirip El vis-bay angan. Memang Roy senang sekali diberi predikat itu. Menurut Marti, Elvis adalah penyanyi pujaannya sejak di SMA, dan tembok kamarnya tidak kelihatan lagi war-nanya, saking penuhnya ditempeli gambar Elvis Aaron Presley. Hampir setiap cuti digunakannya untuk mengunjungi Graceland, tempat tinggal sang Raja di Memphis. Marti menghitung, abangnya sudah lima kali ke sana, dan setiap pulang pasti mengangkut sekoper penuh album-album lagu rock 'n roll.
"Jangan salahkan Deni, Roy. Aku justru menye-salimu," tegur Triska.
"Eh?" Mata Roy yang empat itu jadi belingsat-an, dasinya yang bergambar bunga kekuning-kuningan nyaris mampir ke kuah di piring yang masih setengah penuh. "Karena aku kurang gesit dari Deni? Tapi sekarang aku sudah belajar dari pengala./
"Karena kau nggak mau membujuk Odi supaya melupakan Deni!"
"Eh, kok aku yang kena pentong?"
"Coba kau bemsaha merayu Odi sampai dia jatuh cinta padamu, kan lain riwayatku sekarang."
"Jadi kau menyesali aku karena itu?" Roy me-negaskan dengan mpa kurang percaya. Dicopotnya kacamatanya dan digosoknya dengan saputangan sutra yang dibelinya di tempat Elvis, setelah ber-
kilat lagi ditenggerkannya kembali di atas hidung-nya, lalu diajukannya wajahnya lebih ke depan. "Kau mau tahu isi kepalaku? Aku malah senang meiihat kau berhasil dipisahkan dari Deni. Keba-hagiaan kalian mempakan duri di mataku, tahu! Mana aku peduli sama Odi! Dia mau berbuat apa juga bukan umsanku, dia mau nyemplung ke ne-raka sekalipun, takkan kucegah! Kalau dia bisa enyah dari sampingku, aku malah senang. Seandainya dia mau terbang ke bulan, mungkin akan kubelikan tiket pesawat angkasanya, tapi lebih mungkin lagi aku akan syukuran membakar keme-nyan."
Hiii, bergidik aku mendengar isi kepala si Roy! Tapi mungkin dia melebih-lebihkannya, maklum sedang euphoria]
"Aku nggak habis pikir, Odi kan cantik dan anggun, malah bisa luwes kalau dia mau, jadi apanya yang kurang?"
"Terns terang, aku memang tertarik padanya."
"Nah, kauakui sendiri! Tinggal selangkah lagi, kenapa kau nggak bemsaha memikat hatinya?"
"Sebenamya dia juga pernah mencintaiku."
"Pemah? Kenapa cuma pernah'} Kenapa nggak dipupuk dan dirawat supaya tumbuh terns? Lalu diabadikan dalam perkawinan?"
Roy mendadak jadi lesu. Wajahnya bagaikan balon yang sekarang tertusuk jarom sehingga men-ciut kempis berkemt-kerut. Sikapnya yang berbeda bagaikan siang dan malam dengan barusan mem-buat Triska sempat khawatir, jangan-jangan dia
menyimpan gen yang berbakat menimbulkan pe-
nyakit mamk-depresif. Roy jelas kelihatan sulit menjawab, membuat
Triska bertanya-tanya sendiri apa gerangan yang
sudah terjadi antara laki-laki ini dan Odi sampai dia mendadak jadi bisu begitu ketika diungkit kenapa tidak dari dulu menyeret Odi ke depan altar.
Seakan tiba-tiba tersadar bahwa mereka sebenar-nya sedang makan, Roy mengangkat kembali pisau dan garpunya, namun jelas kelihatan seleranya sudah berkurang. Dia makan sambil tunduk, emosi yang meletup-letup tadi itu sudah lenyap diembus angin. Triska juga meneruskan makannya sambil sesekali mengerling kawan di depannya yang tam-paknya makan untuk menghindari percakapan. Triska mencari akal untuk mencairkan suasana dan beralih ke topik yang netral seperti jumlah pasien yang menanjak, tempat tidur yang kurang.... Dia hampir membuka mulut karena mengira Roy sudah tak mau meneruskan diskusi tadi, eh, tahu-tahu Hvis-bayangan itu mengangkat muka, menu-suknya dengan tatapan penuh api, dan berdesis sekitar sepuiuh desibel, "Karena aku mencintai-mul"
Triska terenyak, sesaat tak mengerti ke mana juntrungan ucapan itu. Kemudian dia teringat pada apa yang ditanyakannya barusan. Rupanya inilah jawabannya. Jadi kau tidak mau kawin dengan Odi
dan scdih bergantian atau terus-menerus
karena.. Matamu! Kau kan tahu, aku sudah menerima...
"...Sakramen Perkawinan!" cetus Roy membuat Triska terkejut. Sangkanya dia tengah berpikir dalam kepala, temyata tanpa sadar dia sudah berpikir dengan bersuara keras.
"Dan di mata Tuhan, aku sudah, masih, dan akan tetap menjadi istri suamiku!" sambung Roy ganas, lalu setelah menghadiahi Triska pelototan mata yang tajam, dia kembali mengalihkan per-hatiannya ke piringnya.
Triska memperhatikan Roy dengan berbagai perasaan penuh tuduhan.
Egois dan bandel termasuk dalam rangkaian predikat yang ingin dikalungkannya ke lehemya. Tapi entah kenapa, Triska merasa Roy tidak bicara yang sebenamya. Dia punya firasat, Roy tidak serendah yang dilihatnya sekarang. Pasti ada predikat yang lebih luhur yang bisa disematkannya sebagai epaulette di bahunya.
***
"Gimana kabarnya makan siangmu dengan Roy?" tanya Deni ketika esoknya mereka berdua makan siang di restoran Pad an g kegemaran mereka. Triska demikian kaget mendengar pertanyaan itu sehingga untuk sesaat dia mengira Deni sudah
hiasan di bahu pada pakaian scragam
menyewa detektif untuk membuntutinya. Kemudi-an dia insaf, dia terlalu dipengaruhi film-film luar negeri, detektif di sini belum banyak dan tidak populer, masa Deni sampai bertindak menjelimet begitu hanya karena ingin tahu istrinya—ralat: mantarmya—pergi ke mana dengan siapa!
Setelah pikiran sehatnya pulih, Triska malah jadi ingin tertawa, saking geli membayangkan ke-mungkinan Deni sendiri yang memata-matajnya. Dari mana waktunya, sedangkan selama ini dia salah satu dari sepuluh ribu orang tersibuk di Jakarta?
"Dari mana kau tahu?" "Aku meiihat sendiri."
"Aku nggak tahu kau kelebihan waktu untuk observasi diriku!" tukasnya tersenyum sambil meng-hirap minuman.
"Aku cuma meiihat gejala dan membuat diagnosis. Waktu itu aku mau ke Pathology, aku ber-jalan di belakang kalian..."
Di... belakang kami? Astaga!
"...Tentu saja kau nggak tahu, habis keasyikan berdua, mana mau nengok-nengok ke belakang! Jadi kulihat kau bersama Roy menuju ke tempat parkir, siang hari, nah, ke mana lagi kalau bukan pergi makan?"
"Kesimpulanmu memang tepat."
"Boleh aku tahu apa prognosisnya?"
"Maksudmu?"
"Ada /p/fow-wp-nya, nggak?"
"Itu cuma kebetulan. Sebenamya hari itu aku
sibuk sekali, tapi Roy ngotot mau nunggu sampai jam berapa juga. Soalnya dia bam diangkat jadi asisten Kepala Bagian, jadi katanya, mutlak hams dirayakan. Boleh dibilang aku ditodong hams ikut!"
"Tapi yang kulihat adalah istriku yang sedang tertawa riang, bukannya orang yang kelihatan di-paksa...."
Hm. Cembumkah kau? Boleh juga, asal masih dalam takaran normal.
"Ingat, aku sudah bukan istrimu lagi! Aku bebas sekarang!"
Deni meringis tapi tidak membantah.
Hm. Menyesal? Nasi sudah menjadi bubur, Den! Siapa surah kau mau menipuku (walau kau-bilang akhirnya dibatalkan, itu kan katamul Kata Odi, lain lagi! Ucapanmu versus ucapannya! Mana yang benar?), menjadikan aku tumbal agar kau bisa memperoleh warisan. Seandainya kau sudah mengenal aku lebih dalam waktu itu, pasti kau takkan coba-coba menyakiti aku barang seujung rambut pun!
Walaupun ada percakapan yang kurang enak menyelinap di sana-sini, namun hidangan yang lezat cukup membuat makan siang itu mengesan-kan serta memuaskan. Perbincangan pun terkadang hangat menggairahkan, sebab mereka memang sudah biasa terlibat diskusi yang sera-sera mengenai segala macam topik. Mulai dari dokter edan yang merasa tujuan hidupnya adalah membantu pasien-pasien yang sudah tidak ingin lebih lama lagi
menghirup udara polusi di bumi supaya bisa segera berangkat menemui Santo Petrus atau Osiris atau Hades atau Pluto (terserah kepercayaan ma-sing-masing), sampai ke sidik DNA untuk meng-gantikan sidik jari. dari TV ukuran saku sampai ke mobil listrik, dari real estate kampungan (yang ambruk) di Malaysia sampai ke calon Stalin kedua (Deni bertanya, Inikah anti-Christ yang ketiga?).
"Marco sudah mulai tumbuh gigi," ujar Triska sambil tersenyum.
Deni menunda suapnya dan mendengarkan dengan takjub seakan itu penemuan kedokteran paling mutakhir.
"Mengherankan anak itu, tumbuh gigi pun nggak rewel," puji Triska sambil menyendok lauk. "Paling-paling cuma resah sedikit tidurnya."
Deni mengangguk-angguk lalu meneruskan ma-kannya. Karena dia menunduk, Triska tak dapat meiihat air mukanya.
Tampaknya dia rindu pada anaknya, betulkah? Mungkinkah seorang laki-laki mencintai anaknya bila dia sudah pernah membunuh anaknya yang lain?
Triska teringat pada masa-masa proses perpi-sahan mereka. Deni tidak mau dia mengangkuti barang-barangnya ke rumah orangtuanya kecuali keperluan sehari-hari seperti pakaian dan sepatu. "Kau akan kembali lagi ke sini, Tris. Jadi biarkan saja begini." Triska merasa skeptis sekali namun tak mau berbantahan, khawatir membuat Deni makin depresif. Toh setiap saat bisa diambilnya
miliknya. Pokoknya, begitu Odi punya rencana untuk masuk ke rumah itu, dia pasti akan mengangkuti hadiah-hadiah pernikahan yang diberikan oleh sanak keluarganya. Dia bertekad, Odi tidak boleh menjamah barang-barangnya terlebih piano serta lukisan-lukisan yang dikumpulkannya. Tapi sejauh itu sirene belum mengaum. Dan dia cuma membawa lampu beruang, lonceng kukuk, serta Bella "Biar untuk menemani Marco," kilahnya.
Marco dengan cepat menjalin persahabatan dengan Bella. Dia juga senang mendengarkan bunyi kukuk serta lagu-lagunya, namun bila si kecil sudah tidur, giliran ibunyalah untuk melamun di atas tempat tidur, memegangi jurnal tapi asyik mendengarkan kukuk serta lagu-lagunya terutama Di Ronaangni Bulani yang mendayu-dayu.
"Kenapa kaucukur kumismu, Den?" Triska tak dapat menahan rasa ingin tahunya, sebab seingatnya, Deni sangat bangga akan kumisnya. Ini bukan kumis Chaplin, bukan Hitler, bukan juga David Niven tapi kumis ala Deni Melnik! Ini bukan kumis ijuk, Sau-dara-saudara, tapi kumis priyayi—Tris, mungkin salah satu nenek moyangku bangsawan Majapahit, ya) Hm, sayang susah ditelusuri!—...tulenl
Deni tertawa malu. "Aku kaul, Tris. Selama kau belum balik ke sampingku, aku nggak mau punya kumis!"
"Katamu, kumis itu bisa menambah kegagahan, kan nanti kegagahanmu merosot, gimana?"
"Buat apa aku kelihatan gagah kalau kau nggak ada di sampingku?!"
"Dan bila buat selamanya keadaan seperti ini...?" "Ya kumisku juga ikut jadi sejarah!" Mendadak timbul mat dalam hatinya untuk mengundang Deni makan malam di rumah orang-tuanya, merayakan ulang tahunnya "Den..." Sudah di ujung lidahnya undangan itu. Deni mengangkat wajah memandangnya, siap menunggu lanjutannya. Tapi tiba-tiba dia ingat be-sok Jumat, praktek Deni biasanya sangat ramai hari itu. Buat apa membikin dia berabe tergesa-gesa memeriksa pasien-pasien, lalu ngebut... salah-salah bisa tabrakan! Ob, jangan!
Triska menggeleng. "Nggak jadi ngomong," ujarnya seraya cepat-cepat menyuap makan an agar punya aiasan untuk tidak bicara.
"Ayo, katakan! Nanti gagu kau kalau sudah mau bicara dibatalkan!"
Mereka tertawa gelak. Itu lelucon warisan dari Tante Kirana yang lebih senang dipanggil Ana tok, kakak dari ibu Martina.
Didesak begitu, terpaksa Triska cepat-cepat memikirkan ucapan apa yang akan dikatakannya sebagai gantinya. Untung otaknya masih bisa kerja kilat. "Nggak penting, kok. Aku cuma ingin tahu, kau hari ini praktek nggak?! Biasanya kan Rabu kau libur."
"Ya, sekarang Kamis. Aku masih digantikan oleh Badur. Tapi kalau dia sudah pindah ke Cilan-dak, mungkin aku harus mencari orang lain, atau aku praktek juga Kamis." "Mau meiihat Marco? Lucu, deh, gigi depannya mulai nongol. Dia pasti akan menguik kese-
nangan melihatmu. Dia sudah mengenali orang, lho. Aku sih akan praktek sore ini, tapi kau bisa main-main dengan Marco seandainya kau nggak punya acara yang lebih penting." • Triska melirik Deni sambil tersenyum disambut dengan kertakan geraham. "Monyet kau! Apa maksudmu dengan 'acara yang lebih penting'?"
Triska mengangkat bahu, dengan senyum masih terpampang.
"Sebenamya sore ini rencanaku mau nginap di Depok, habis sepi sendirian di rumah begitu besar!" Sekilas terlihat mata Deni berkaca-kaca tapi cepat-cepat dia mengejap sementara Triska bum-bum melengos memperhatikan isi piringnya.
"Selain itu aku ingin menghindari telepon dari Odi," bisik Deni menunduk seakan ditujukan ke piringnya.
"Dia sering menelepon?"
Deni mengangguk sambil memandang Triska. "Sekarang makin sering, hampir tiap malam! Paling nggak, dua hari sekali." ' "Apa saja yang dibicarakannya?"
"Itulah problemnya! Dia nggak pernah bilang apa-apa!"
"Lho! Lantas kau tahu dari mana telepon itu dari dia?"
"Pernah dulu dia menelepon—mungkin yang pertama atau kedua kali—dan di latar belakang terdengar lagu yang nggak enak didengar, me-nyayat perasaan, entah gimana, deh."
"Bikin kita merinding." Triska mengangguk. "Ya,
aku tahu maksudmu. Aku juga pernah mendengar-nya. Semacam elegi tapi aku nggak kenal gubahan siapa. Pertama kali memang cuma diputamya di latar belakang, tapi kedua kalinya cuma lagu itu tok yang kedengaran disertai desahan napasnya. Menakutkan,
deh. Entah berapa kali aku kena dipeirnainkannya
begitu, lalu aku pasang, deh, alat penerima telepon.
Sejak itu aku aman. Apa kau juga mengalami hal
yang sama?"
Tersis." Deni manggut sambil mengatupkan bi-bir rapat-rapat.
"Nggak kaupasang alat penerima telepon?"
"Aku pasang terns. Tapi walau pun dia tahu yang menerima bukan aku, toh diputamya juga lagu itu untuk kudengar. Aku kesal sekali. Setiap kali habis menerima kiriman lagu aneh itu aku nggak bisa tidur."
"Gimana kalau kauganti nomor telepon saja?" "Sudah kupikirkan. Tapi nomorku kan terdaftar di rumah sakit, setiap orang yang ngaku pasien berhak menanyakannya."
"Benar juga. Tapi masa nggak ada jalan untuk melindungi dirimu?"
"Ya nginap di Depok, deh, seperti rencanaku hari ini Moga-moga dia nggak tahu aku ke mana, jadi nggak akan bemsaha mendapatkan nomor telepon orangtuaku!" "Memangnya dia bisa tahu dari mana?" Deni menghela napas. "Mungkin saja dari Nila." "Sepupumu? Anak Tante Leila? Dia kenal dengan Odi?"
Deni mengangguk sambil menyendok lauk ke atas piring. "Kelihatannya malah sahabat karibl" "Buset! Ini bam berita!"
"Ya. Dan kau tahu sendiri, anak-anak Tante Leila kurang senang padaku gara-gara bagian mereka yang lebih kecil dari bagianku. Nila pasti berpihak pada Odi, dan nggak akan segan-segan membantunya untuk menyusahkan hidupku. Mereka semua iri karena aku dianggap cucu emas Nenek. Kan sebenamya bukan aku yang menghen-daki uang itu, tapi Nenek sendiri yang mau memberi. Warisan pembawa bencana! Belum sempat aku nikmati duitnya, kesusahan yang ditimbulkan-nya sudah bertimbun!"
"Apa maksud Odi memutar lagu aneh itu di telepon?"
Deni mengangkat bahu. "Teka-teki silang juga bagiku! Dugaanku, dia mau membuat aku merasa bersalah."
"Hm. Dan bila kau berhasil dibikin susah tidur oleh lagu itu, berarti dia berhasil dengan taktiknya. Mungkin secara tak sadar kau merasa bersalah?"
"Nggak mungkin!" bantah Deni tegas. "Mana mungkin aku merasa bersalah bila setiap kali ter-ingat padamu hatiku gembira, dan hidupku ber-samamu penuh kebahagiaan. Kalau aku merasa bersalah, itu adalah ternadapmu! Bukan terhadap Odi!" "Lho?!"
"Karena aku nggak berterus terang sejak mula sehingga jelas bagimu situasinya, dan kau bisa
percaya, aku sungguh sudah memutuskan hubung-an dengannya sebelum kita menikah. Dengan begitu kau takkan termakan umpannya."
"Jangan menyesali diri sendiri, Den. Kalau memang dia berniat jahat. dia tetap bisa mengancam akan menyeret-nyeret namaku ke koran tabloid walau dia tahu, aku sudah tahu duduk persoalan-nya."
Hampir berbareng keduanya menarik napas kesal. Triska merasa pilu menyaksikan kekusutan wajah laki-laki di depannya. Deni yang dikenalnya selama ini periang, dan selalu penuh humor. Dalam situasi apa pun, dia selalu bemsaha mencari segi lucunya. Bam pertama kali ini Deni tampak begitu tak berdaya.
Triska mengulurkan tangan menyentuh lengan-nya. "Tabahkan hatimu, Den. Jangan sampai kau -jatuh sakit. Kalau kau kenapa-ken apa, nanti uang ratusan juta itu nganggur, dong, jamuran berdebu!" Triska mencoba membuat pendengamya tertawa, tapi Deni seperti orang linglung yang tidak mengerti apa yang disebut tertawa.
Setelah keduanya berdiam diri beberapa saat, Triska mengingatkannya pada tawarannya tadi. "Apa kau mau menemui Marco atau tetap akan ke Depok juga? Kalau kau mau nginap di sana, nggak usah menengok Marco. Biar nanti saja, Sabtu atau Minggu. Sekarang kan Oktober, sudah musim hujan, sebaiknya kau jangan berangkat terlalu sore, Siapa tahu keburu hujan, jalanan licin dan gelap."
"Aku sudah memutuskan untuk menerima ta-waranmu. Aku kangen sekali sama anak itu. Setiap malam, kau dan dialah yang terakhir kupikirkan sebelum aku terlelap—kalau insomniaAai nggak sedang angot!—dan setiap pagi kalian juga yang pertama kali muncul dalam ingatanku begitu aku terjaga"
Triska mendengarkan tanpa komentar, persis seperti anak kecil sedang didongengi oleh neneknya. Habis, apa yang bisa kukatakan? Aku juga sedih dan merana dengan keadaan kita, namun apa da-ya? Semua ini akibat ulahmu sendiri, Den. Kau terpaksa haras mau menanggung akibat nya! Aku nggak bisa menolong, sebab aku sendiri juga repot membenahi hatiku yang berantakan.
"Jalan yang terbaik kukira adalah menyibukkan diri dengan kerjaan atau hobi sehingga kita nggak sempat lagi memikirkan hal-hal yang menyakitkan perasaan."
Deni manggut-manggut, tapi Triska tahu, dia mendengarkan cuma separo dari apa yang diutara-kannya.
Setelah selesai makan, Deni mengantarkan Triska kembali ke rumah sakit untuk mengambil mobil, lalu keduanya beriringan meluncur ke tempat Dokter Omega.
Nyonya Rosa hcran bercampur senang meiihat siapa yang datang. Triska mengecup anaknya dan mencubit pipinya.
"Mam, saya mengajak Deni. Sore ini kan dia nggak praktek, biar dia main dengan Marco."
"Kau sudah makan?" tebak ibunya. "Astaga! Sampai lupa saya menelepon ke rumah memberiiahu! Tapi Mama nggak mo minggu saya pulang, kan?"
"Mama sudah kelaparan, mana sanggup disuruh makan jam dua!" Ibunya tertawa.
"Untunglah. Kami memang sudah makan, Mam. Deni yang rraktir! Boleh sering-sering saja, Den!" Triska tertawa lalu mengambil Marco dari gen-dongan neneknya, diciuminya berulang-ulang. Anak itu melonjak girang meiihat ayahnya yang mengulurkan lengan untuk memeluknya Marco juga menguiurkan lengannya yang montok, menyam-but pelukan ayahnya. Deni memeluk dan menciumi pipinya. "Eh, coba kasih Iihat gigi tikusmu!" ujar Triska menggelitiki leher anaknya. Marco terkekeh-kekeh kegelian, mulutnya terbuka lebar dan dua buah gigi putih kelihatan menghiasi tawanya.
Tris, tadi pagi ibunya Manel ngebel, katanya Mane) sedang selesma dan batuk, sore ini nggak bisa les," kata Nyonya Rosa pada anaknya.
Deni menaikkan keningnya dan menatap Triska denqan pandang bertanya. Triska tertawa kecil, sedikit malu. "Aku membantu Mama, muridnya kebanyakan sampai kewalahan bagi waktu. Jadi aku oper tiga, yang masih tingkat permulaan."
Mereka masuk ke ruang keluarga sementara ibu Triska pergi ke belakang mau menyiapkan suguh-an untuk tamu mereka. Triska menemani Deni duduk di lantai bermain dengan Marco, Suatu ketika
Deni mengangkat kepala. dan matanya terpaku ke dinding di depannya. Dia menoleh ke dinding se-belah kiri lalu sebelah kanan.
"Hei, Tris, kau punya koleksi baru, nih?" tukas-nya menunjuk dinding depan dan kiri. "Beli di mana? Ini kan Claude Monet." Dia bangkit meng-hampiri lukisan di hadapannya. "Aku tahu. Monet memang favoritmu yang utama, tapi... kok nggak ada tanda tangannya? Kaubeli di mana ini?" Dia beralih dan melangkah menghampiri dinding sebelah kiri. Di sini pun kepalanya terteleng-teleng me-meriksa bagian bawah lukisan, mencari-cari tanda tangan pelukisnya. "Nihil," gumamnya seraya me-luruskan kembali punggungnya. "Ini jelas Monet!" sambungnya ngotot. "Tapi, kok nggak ada nama-nya? Tris, apa kau beli barang palsu?"
Triska tertawa gelak memandangi belakang Deni. "Mirip, ya?"
"Ya. Mirip sekali dengan kebun di belakang. Linat, ini gazebo, ini kolam ikan, ini teratainya, ikan-ikan..." "Maksudku, mirip dengan Monet!" Deni menoleh dan tertegun menatap Triska. Yang ditatap cuma mengangkat bahu, melebarkan senyumnya, serta menaikkan dahinya sehingga kedua matanya tampak makin besar. Pada saat itu Nyonya Rosa masuk dengan nampan di tangan. Rupanya didengarnya ekor percakapan mereka. Sambil meletakkan nampan di atas meja, dia tersenyum memandang Dent. "Katanya iseng, Den. 'Daripada duduk mela-
mun, lebih baik saya mencoba melukis lagi,' kata-nya. Kau kan tahu, Triska punya hobi melukis waktu masih di SMA dan FK. Sejak kawin dia stop, mungkin repot Lumayan hasilnya, kan?"
Deni memandang Nyonya Rosa dan Triska bergantian. Bibirnya setengah terbuka saking takjub-nya. Triska cuma tersenyum lalu menunduk meng-ajari anaknya menghitung jumlah jarinya.
"Ayo sini, minum kopi, Den. Ini Mama kebetulan bikin risoL, cobalah. Tahu tuh, enak nggak. Mama tinggal dulu, ya, sedang repot nih di belakang." Nyonya Rosa kelihatan masih ingin mengatakan sesuatu, tapi meiihat kedipan anaknya, dibatalkan-nya, dan tanpa banyak omong lagi dia berlalu.
Deni kembali menghampiri anaknya, mengang-katnya, dan mengajaknya duduk di sofa. Triska ikut duduk di samping mereka, memegangi be-ruang kesayangan Marco. Deni memeluk Marco dan membelai-belai rambutnya.
"Mana kupingmu? Ini dan ini. Ini kiri, itu ka-nan. Kau kesepian? Seperti aku?"
"Tentu saja nggak! Begini banyak orang, begini banyak yang hams kukerjakan!"
"Mana gigi tikusmu? Ini. Mana hidungmu? Ini!" Marco terkekeh ketika ayahnya menyentuh hidung-nya dengan ujung telunjuk. "Mana bibirmu? Ini. Tapi kau sekarang nggak repot, ya? Dulu kau repot, ya, ngumsi aku?"
"Bukan! Dulu waktu luangku bisa kuhabiskan bersamamu. Sekarang aku hams mengisi waktuku sendirian, jadi iseng...."
"Karena itu kau memberi les piano dan melukis. Eh, ayo, tunjukkan mana kakimu?"
"Aku memang sudah lama ingin mempelajari gaya Monet yang kukagumi. Eh, diam-diam sudah jam berapa, nih? Wowl Sebaiknya aku mandi saja sekarang. Marco temani Deni, ya!" sera Triska seraya mencubit pipi anaknya dan bangkit melang-kah ke tangga.
"De... de... de... de...," Marco berceloteh sambil melonjak-lonjak di atas pangkuan ayahnya. Triska menoleh dari tangga dan melambai.
"Ma... maaa! Maaa... maaa!" Deni mengajari dan Marco mencoba menirukan.
Ketika Triska turun kembali ke bawah, dilihatnya ayah dan anak sedang asyik meiihat video Mild Tikus. Dari arah kamar depan terdengar ken-tang-kentong piano. Rupanya ibunya tengah memberi les. Triska memandang sekilas grand piano berwama putih di dekat jendela ruang keluarga, kemudian berpikir-pikir. Waktunya masih ada se-jam. Sebenamya dia ingin main Clayderman, tapi khawatir nanti mengganggu konsentrasi murid ibunya, jadi dibatalkannya. Dia beralih pada kedua ayah-beranak itu dan ikut nonton dengan mereka sampai akhirnya dia harus berangkat.
Malam itu hujan turun sejak pukul tujuh. Namun mengherankan, pasien tetap banyak. Ketika akhirnya semua pasien sudah pulang, hujan masi lebat,
"Ayo, Mbak Tut, mari saya antarkan," Triski mengajak pembantunya.
ka ih
fa |
"Dok, sampai tempat bus saja, deh. Kan sudah malam, Dokter pasti sudah la par, mana hujan an gin begini, bisa-bisa nanti Dokter masuk angin, kan repot!"
"Dan Mbak Tuti akan saya biarkan berdiri di pinggir jalan menunggu bus sampai basah kuyup?"
"Ah, kan ada payung, Dok," kilah wanita sete-ngah tua yang berpotongan gemuk dengan wajah bulat keibuan itu.
"Tapi tetap akan basah, Mbak, sebab anginnya kencang. Kalau Mbak Tut sampai sakit, kan ka-sihan Pak Bambang. Salah-salah nanti saya dite-gumya! Ya kalau wanita bionik, sih, nggak takut masuk angin."
"Tapi saya masih perlu mensterilisasi alat-alat, nanti kelamaan."
"Nggak apa, saya tunggu. Sebenamya saya sedang mempertimbangkan untuk mengganti alat itu dengan buatan Jepang yang pakai komputer. Jadi nggak usah disetel sana-sini, cukup tekan tombol-tombol saja"
"Wah, enak dong, kalau cuma tekan-tekan tom-bol!" komentar Suster Tuti sambil menyelesaikan tugasnya.
Sebelum pulang, Triska menelepon ke rumah memberi tahu, dia akan mengantar Suster Tuti dulu, jadi kemungkinan sejam lagi bam tiba di rumah. Mamanya nggak usah khawatir.
Hujan memang lebat sekali, jalanan susah dilihat apalagi kendaraan-kendaraan lain. Suster Tuti seben-tar-sebentar menyebut, "Oh, Gusti! Hati-hati, Dok!"
Dan Triska berkali-kali hams meyakinkannya.
"Tenang, Mbak, tenang. Kita pasti sampai utuh ke rumah masing-masing!"
Ketika akhirnya sejam kemudian Triska masuk ke halaman mmahnya, hujan belum juga reda, malah rasanya makin menjadi. Di rumah ayahnya terdapat dua garasi, masing-masing muat dua mobil. Dokter Justin memakai garasi yang dekat ke rumah, sedangkan Triska menggunakan garasi di sebelahnya. Dengan begitu masing-masing dapat membukanya dengan remote control sendiri-sen-diri.
Ibunya sudah menunggu di pintu samping dan langsung menggiringnya ke kamar makan. Semua orang tentu saja sudah makan. Ayahnya tidak kelihatan, mungkin sedang di kamar kerjanya memba-ca buku. Ibunya memanggil Inem, dan para pern-bantu pun segera muncul membawakan hidangan yang masih beruap. Triska makan ditemani ibunya sambil merajut benang katun untuk mantel Marco.
Selesai makan Triska tidak segera naik ke atas, tapi malah masuk ke mang keluarga. Dihampirinya lemari piringan hitam, dipilihnya sebuah album dari Jose* Carreras dan diputamya, lalu dia duduk di sofa menyandarkan kepala ke belakang dan memejamkan mata. Ibunya menemani sambil terns merajut, tanpa mengganggunya dengan percakapan.
Musik mengalun mengantar Triska menyuruk ke belakang, ke saat-saat bahagia dalam hidupnya ketika lagu-lagu ini bisa dinikmatinya bersama Deni, ketika nama Odi Bobadila belum dikenalnya atau
paling banter, cuma sepintas lalu, dari koran dan media massa lainnya. Tapi sekarang... Carreras, Domingo, dan Pavarotti terpaksa dinikmatinya sen-din an. Deni pasti sudah pulang sejak tadi, moga-moga saja malam mi dia tidak diganggu telepon dan bisa tidur nyenyak. Kasihan dia jadi menderita insomnia, padahal setahunya, dulu Deni paling gampang tidur. Begitu kena bantal, langsung di-sambut oleh Dewa Morpheus!
Uh, musik memang bisa menenangkan saraf, pikimya. Tapi aku nggak bisa semalaman duduk di sini mendengarkannya. Sebaiknya aku mandi "air hangat sebelum tidur untuk mengusir pikiran-pikir-an yang mengganggu.
Tapi semua rencana itu cuma berputar-putar dalam kepaianya, sedangkan tubuhnya tidak berge-ming seinci pun. Ibunya diam-diam meninggalkan-nya dan merayap ke loteng agar jangan sampai menimbulkan bunyi yang dapat mengganggu suara musik. Triska sendiri demikian asyiknya sehingga dia seakan buta dan tuli terhadap sekelilingnya. Matanya yang terpejam dan telinganya yang di-setel ke arah musik, membuatnya tidak menyadari bahwa ibunya sudah pergi.
Keletihan fisik dan mental membuat musik itu makin meresap ke dalam jiwanya, membuat pikir-annya melayang dan tubuhnya terasa ringan. Entah berapa lama dia terlena, tahu-tahu telinganya me-nangkap suara Nat King Cole menyanyikan Star Dust, lagu kesayangan Bing Slamet dan kesayang-annya juga, serta... Deni!
Sometimes I wonder why I spend the lonely night dreaming of a song? The melody haunts my reverie, and / am once again with you,... When our love was new and each fuss an inspiration, but that was long ago.... Now my consolation is in the Star Dust of a song....
Ibunya pernah bercerita kepada Triska bahwa lagu itu kesayangan Bing. Ayahnya bilang, pela-wak kesayangannya itu meninggal karena sakit liver yang parah.
Lagu ini memang cocok sekali untuk mengobati malarindu tropikangen, pikimya sedikit sinis, lalu mendadak otaknya seakan disentak sadar. Entah apa yang menyebabkan. Mungkin indra keenam yang mengingatkannya ada sesuatu yang tidak beres, atau otaknya sendiri yang mendadak ingat bahwa yang diputamya adalah Carreras, dan lagu yang diharap-kannya adalah O Sole Mio atau Mattinata-nysi Leoncavallo yang pernah dibawakan oleh Enrico Caruso. Kenapa suara Nat King Cole jadi ngacau di sini?
...You are in my arms.... Tho' I dream in vain, in my heart it will remain....
Triska menyentakkan dirinya dan membuka mata....
"Deni!" serunya tertegun meiihat siapa yang tengah duduk di tempat ibunya tadi, di seberangnya. "Kau masih di sini?"
Deni tersenyum sambil mengacak-acak rambut-nya. "Aku menunggu hujan reda. Ketika aku turun, kulihat kau sedang terlena dan lagu sudah berhenti, jadi aku ganti. Apa kau kukagetkan?"
"Nggak." Triska mencoba tersenyum menunjuk-kan bahwa dia tidak kenapa-kenapa. "Sebenamya aku nggak berniat mendengarkan sampai habis. Pikirku. aku mau mandi sekarang... sekarang... eh, tahu-tahu ketiduran jadinyal Marco rewel, nggak?"
"Nggak. Dia malah mau main terns, tahan, nggak ngatuk-ngantuk."
Nyonya Rosa Omega turun kembali dari loteng. "Den, rasanya hujan ini takkan berhenti sampai pagi. Sudahiah. kau nginap saja, kamar kosong banyak."
Deni memandang ke lantai, tampak berpikir-pikir. Triska meiihat ibunya menatapnya seakan memberi isyarat Apakah Mama ingin saya mem-bujuknya? Apakah takkan menimbulkan problem dengan Odi kalau dia tahu?
Deni mengangkat muka dan untuk sesaat pan-dangan mereka bentrok. Deni lekas-lekas mengalih-kan matanya memandang nyonya rumah. "Terima kasih, Mam. Saya rasa sebaiknya saya pulang saja."
"Kenapa jadi pakai basa-basi begitu? Kau kan anggota keluarga juga, Mama tidak dapat mem-biarkanmu pulang menempuh badai begini. Pakai-lah kamar tamu di atas, nanti Mama pinjami pia-ma Papa, kalian kan sama besar, cuma Papa ge-mukan sedikit"
Deni menghela napas, tak berani menatap Triska yang tengah memperhatikannya. "Saya nggak keberatan nginap di sini, tapi sebaiknya jangan. Saya pulang saja nanti. Masa sampai tengah malam nggak juga berhenti?"
"Kenapa jangan?"
Semua orang menoleh dan meiihat Dokter Justin muncul dan berjalan dari arah kamar kerjanya. Dia berhenti di dekat mereka dan memandang Deni seakan menunggu jawaban.
"Untuk melindungi Triska, Pap," sahut Deni lalu menelan ludah dengan susah payah seakan kerong-kongannya tersumbat
"Omong kosong!" gelegar Dokter Justin. "Apa yang mau dilindungi? Kau kan tidur di kamarmu, dia di kamarnya! Kalian masing-masing akan tidur] Tidur benaran, bukannya tidur-tiduran lalu me lakukan kegiatan lain!"
Triska hampir tak dapat menahan tawanya mendengar kuliah ayahnya yang tidak suka omong kosong, tapi wajah ayahnya dan Deni yang serius membuatnya bahkan tak berani berkutik sedikit pun, jangan kan mau ngikik!
"Bukan itu maksud saya. Yang saya pikirkan adalah Odi..."
"Aaah, lupakan perempuan itu!" Dokter Justin memotong Deni dengan tegas. "Buat apa masih kaupikirkan juga? Dia sudah merusak kebahagia-anmu, tak usah kauingat-ingat, lebih baik kaudoa-kan biar cepat dipanggil pulang ke langit!"
"Pap!" tegur Nyonya Rosa mengingatkan suami-nya.
"Saya nggak memikirkannya! Maksud saya, kalau Odi tahu saya tidur di sini, bisa-bisa dia nanti menjelek-jelekkan Triska di luaran atau di koran-
koran...."
"Betul juga," gumam Nyonya Rosa melirik SUa mi dan anaknya bergantian.
Triska juga terkejut diingatkan begitu, namUn dia tetap menunjukkan sikap masa bodoh. Masa aku hams membiarkan diriku ditakut-takuti oleh siluman betina itu!
¦iDia takkan tahu!" Dokter Justin menegaskan sambil memukul bahu Deni dengan tangannya.
Uuuiiit! Sakit juga tuh, pikir Triska geli, meiihat yang menerima pukulan agak meringis.
"Tak ada orang yang akan tahu! Apa ada orang yang membuntutimu kemari? Di luar hujan lebih lebat daripada zamannya Nabi Nuh, orang gila mana yang mau keluar malam-malam begini mengincar • suami orang?"
Triska berjengit dalam hati mendengar ucapan ayahnya. Dokter Justin masih tetap tak mau mengakui bahwa mereka sudah bercerai, bahwa Deni sudah bukan suami anaknya.
Meiihat Deni diam saja seakan terpaku di tempat, (mantan) ayah mertuanya, mempergencar se-rangannya. "Ayo, jangan ragu. Malam ini kau nginap di sini. Kalau perlu, kau tidur bersama&w, biar Triska dijagai ibunya dan Marco! Aku larang kau pulang. Mungkin kau sudah tidak sayang jiw* »ndiri, tapi kau harus ingat pada anak-istrimu! Bagaimana kalau kau sampai ditabrak? Aku percaya, kau akan membawa mobil hati-hati, tapi apa r! Wsa menjamin orang lain juga akan begitu? Z11^ tabrakan, buat korbannya sudah tidak P^wng lagi apakah dia yang menabrak atau dita-
brak! Sudah, sana, naik ke atas! Mam, pinjami dia
piarnaku!"
Deni mengatupkan bibir, menghela napas berat, lalu menoleh mencari wajah Triska. Untuk sesaat mata mereka berpagutan seakan saling mengadu kekuatan. Kemudian Triska mengulas senyum di bibirnya dan mengulurkan tangan menyentuh—ha-lus, halus sekali, hampir tak terasa, pikir Triska— lengan Deni, dan berkata pelan, "Papa benar, Den. Daripada kau sakit atau tabrakan, kan mending nginap! Biarlah Odi berkaok-kaok semaunya, nanti kita hadapi bersama."
Bab 5
Esoknya, Triska terjaga dibangunkan oleh celoteh Marco yang asyik bicara sendiri, dan dia langsung teringat hari apa itu. Ah, tahun lalu aku masih terjaga di sampingnya, dan disambut dengan ke-cupan selamat ulang tahun! Sekarang dia tidur di kamar tamu paling ujung, dua pintu dari sini, sedangkan aku ditemani Marco saja Betapa kece-wanya aku. Hati ini terasa kosong, kadang aku bertanya, buat apa sebenamya aku hidup? Apakah cuma untuk mengalami kesusahan? Buat apa aku dilahirkan? Apakah cuma untuk sekian ini saja? Sekian ini sajakah hidupku? Sudah habiskah bahagia yang menjadi bagianku dan bagiannya?
Triska bangun dari ranjang dengan perasaan ke-cewa yang mengganjal di dada, namun ketika dia turun ke bawah setelah beres mandi serta bersolek, rasa kecewanya makin membubung. Dia turun menggendong Marco yang diserahkannya pada Inem untuk diberi minum susu, lalu dihampirinya ibunya di ruang makan. Hari masih pagi, belum pukul delapan. Ayahnya belum kelihatan, begitu juga Deni. Memang dari rumah orangtuanya di
Menteng ini ke rumah sakit cukup dekat dan lalu lintas lancar, tak ada yang disebut bottle-neck. Rumah mereka berdua—dia dan Deni—di Cempaka Putih barulah dianggap cukup jauh dari tempat kerja, sebab hams melalui jalan macet berkali-kali. Memang kurang strategis tapi waktu itu mereka tidak menemukan rumah yang lebih baik di lokasi lain.
"Belum pada bangun, nih?" tanya Triska pada ibunya, maksudnya tentu saja ayahnya dan Deni.
Ibunya meletakkan cerek porselen Rosenthal berisi kopi ke atas meja makan sambil menjawab, "Papa sedang mandi, Deni sudah berangkat."
Ah?! Kenapa dia pergi begitu pagi? Tanpa pa-nut lagi!
"Deni sudah pergi?" Triska menegaskan.
Ibunya mengangguk. "Jam setengah tujuh tadi. Katanya mau tukar baju dulu ke rumah."
"Kok nggak pamit?" gumam Triska, jelas ke-cewa.
"Dikiranya kau masih tidur, dia nggak mau membangunkan. Katanya, dia perlu ngontrol pasien yang kemarin dibedahnya, perlu bikin laporan sebelum ronde pagi ini. Kau tahu sendiri, jalan ke Cempaka Putih kan cepat sekali macetnya kalau kita kesiangan sedikit."
Tapi ini kan hari ulang tahun saya, Mam! Masa dia nggak ingat memberi selamat! Triska kecewa sekali, namun tak berani mengutarakan unek-unek-nya, khawatir ibunya ikut-ikutan kecewa pada Deni.
Ketika dia menjatuhkan diri dengan lesu ke atas kursi, ibunya menghampiri dan tersenyum meme-luknya. "Masa yang berulang tahun wajahnya mu-rung?" Dikecupnya pipi Triska kiri-kanan. "Selamat ulang tahun, Tris!"
"Trims, Mam," bisik Triska dengan mata basah, lalu dipaksanya dirinya tertawa sambil bersem seperti kebiasaannya semasa kecil, "Kadonya mana, Mam?"
Ibunya tertawa. "Tahu, deh, Papa sudah beli kado atau belum!"
"Mam!" pekik Triska, persis seperti Triska kecil bila digoda ibunya.
"Kan pestanya nanti malam, masa sudah mau kado sekarang?"
Triska berlagak mengalah dan menerima alasan ibunya Tentu saja itu semua cuma guyon, Triska tahu ibunya pasti sudah punya kado baginya.
"Sore ini kau nggak praktek, kan?" tanya ibunya
."Nggak. Minggu lalu saya sudah minta diganti-kan oleh seorang dokter muda yang bam lulus dua tahun lalu. Dia belum praktek sendiri, jadi gampang dimintai tolong."
Ayahnya yang bam muncul, sudah berpakaian rapi, segera nimbmng. "Betul juga kau libur sore nanti, Tris. Kalau nggak, masa tamu-tamu harus menunggu jamuan makan dimulai lewat jam sem-bilan? Bisa-bisa kita semua bakal kembung makan angin!" Mereka tertawa semua. Dokter Justin menghampiri putrinya dan meme-
luknya. "Selamat ulang tahun, Tris. Semoga kalian berdua bisa cepat berkumpul lagi."
Triska mengejap-ngejapkan mata sambil tersenyum dan berbisik, "Trims, Pap. Doakan, ya."
Apakah aku akan pernah bersatu lagi dengan-nya? pikimya galau. Rasanya, kok sulk sekali. Selama Odi menyelak di tengah, bagaimana kami bisa serumah lagi, Mam, Pap?
"Tentu, Sweetheart] Mama dan Papa sedang no-vena pada Maria agar menolong kalian berdua," Dokter Justin memberitahu dengan serius.
Triska tertegun sekaligus terharu. Dia tidak menyangka bahwa orangtuanya begitu tekun memikirkan kebahagiaan dirinya. Hatinya terhibur sedikit, sehingga kepergian Deni tanpa pamit itu tidak lagi dipikirkannya.
"Deni sudah berangkat?" tanya Dokter Justin tanpa heran, seakan sudah menduga.
"Tadi setengah tujuh. Ketika aku turun, dia sudah duduk di dapur rninum kopi. Begitu melihat-ku, dia langsung pamitan," ibu Triska menjelaskan.
"Jalanan memang gampang sekali macet," ujar Dokter Justin manggut-manggut, lalu duduk dan mulai sarapan. Yang lain segera mengikuti contohnya.
***
Kira-kira pukul setengah dua belas, saat poli-klinik sudah sepi, Roy mengunjungi Triska yang bam saja be res memasang infus pada balita dengan muntaber yang sudah shock Triska tengah melangkah menuju kamarnya ketika seseorang
merendenginya. Sebelum dia sempat menoleh ke samping, orang itu sudah mendahului buka mulut, "Selamat ulang tahun, Tris!"
Terkejut, Triska kontan menoleh dan menyam-but tangan yang terulur padanya. "Trima kasih, Roy. Tumben, kok masih ingat?" ujarnya geli. Selama ini Roy tak pernah memperhatikan hari ulang tahunnya, kenapa sekarang mendadak jadi tajam ingatannya?
"Aku kan diberi agenda oleh detailer, kalau nggak salah dari perusahaan obat Amerika. Ada daftar ulang tahun segala, jadi aku tanyai Marti...."
"Kenapa dulu nggak pernah nanya?"
Roy nyengir kuda, ciri khas pribadinya. "Dulu kan aku nggak punya vested interest terhadapmu! Sekarang kan lain! Ini, kubawakan sesuatu, harap jangan ditolak." Diberikannya sebuah bungkusan kecil berwama bira yang tampaknya cukup berat.
Triska menyambut tapi belum menerimanya. Sambil tertawa dia melacak dulu hati sang perjaka, "Ada embel-embelnya, nggak, nih? Kalau ini ada kaitannya dengan vested interest-ram, aku terpaksa hams menolak."
"Nggak, nggak!" sera Roy terbirit-birit sementara kedua tangannya bergerak-gerak untuk me-nambah bobot ucapannya. "Ini bukan umpan, bukan juga modal! Ini pemberian yang tulus. Aku mohon, jangan kautolak. Mungkin harganya nggak seberapa bagman.,.."
Kunyuk kau! Pintar betul meneror orang! Dengan berlagak seakan kado ini kurang berharga,
kau mau memaksa aku agar menerima, daripada dianggap sombong, menolak karena barangnya di-nilai kemurahan?!
"Kenapa nggak kaubawa nanti malam saja? Ibuku mau mengadakan makan malam, cuma antara kita-kita saja, Kris, dan Marti. Nggak ada orang lain. Kau datang, ya." Triska sebenamya tidak ber-gairah mengundang siapa pun, baik semut atau orang. Tapi Roy sudah tahu itu hari apa, dan dari adiknya, Marti, pasti tahu juga (kalau belum, besok-besok pasti akan tahu) bahwa mereka mengadakan jamuan makan untuk merayakannya. Kalau nggak diundang, nanti salah. Kalau diundang lalu dia datang, nanti jangan-jangan salah juga. Ah, semoga dia nggak mau datang! Jangan terima, tolak, jangan mau datang! ujarnya dalam hati ber-ulang-ulang sambil menatap Roy dengan senyum manis, seakan mau menyihimya.
Temyata mantranya manjur. Roy menggeleng, menarik napas panjang, dan tarik muka menyesal. "Aku nggak bisa hadir, Tris. Karena itu aku mene-muimu sekarang. Aku haras terbang ke KL nanti sore, umsan bisnis."
"Jadi betul apa yang kudengar? Kau punya perusahaan di Kuala Lumpur? Bikin kosmetik atau obat-obatan?"
"Bam mau kujajaki. Pamanku ada yang tinggal di sana, kenalannya ada yang punya pabrik far-masi. Mereka tertarik pada jamu-jamu kita ter-utama yang bisa bikin awet muda, badan kencang, tambah tenaga, dan sebangsanya, deh."
Triska geli mendengar uraian itu, membuat nye-ngir kudanya makin lebar. "Kalau begita kuucap-kan selamat terbang, deh. Terima kasih untuk kado ini. Kapan kau balik?"
"Besok malam. Lusa aku sudah masuk lagi. Kau mau oleb-oleh apa?"
"Tentunya kautawarkan dalam rangka vested in-terest-mu, bukan? Atau aku mau disuruh ulang tahun tiap hari? Keberatan, dong, nanti umurku terlalu cepat tambahnyal"
"Serins, nih. Kau mau tas, perhiasan, baju kurang, sandal, sepatu, atau manisan atau...?"
"Aku juga serins. Trims, nggak usah. Kalau masih mau ngasih kado, tahun depan saja bila aku ultah lagi." Triska tertawa riang mengantar Roy sampai di ujung lorong dan mengawasinya hingga lenyap di belokan, lalu dia masuk lagi ke dalam kamar. Begitu pinm sudah tertutup, dia menarik napas dan menjatuhkan diri ke atas kursi. Bung-kusan yang kecil dan berat itu dibiarkannya terge-letak di depannya.
Orang lain ingat, dan khusus datang mengantar-kan kado! Kenapa kau sendiri bisa lupa, Den? Kau sudah lupa hari ini hari apa? Kau minggat tanpa pamit Kalau segan mengganggu tidurku, kau bisa saja menyelipkan sepotong kertas ke bawah pintuku, asal mau! Aku tidak mengharapkan bingkisan, aku cuma mendambakan perhatian. Betulkah kau benar-benar sudah lupa?
Seharian ita hatinya resah. Setiap kali telepon berdering, baik di bangsal, di raang OP, atau di
kamarnya sendiri, hatinya langsung melonjak, harap-harap cemas itu dari Deni mau mengucap-kan selamat. Tapi sampai saat pulang ke rumah, tak ada telepon pribadi baginya. Tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun setelah Roy.
***
Sekitar pukul enam sore, Triska sudah mandi dan bersolek rapi. Walaupun yang akan datang cuma Kris serta Marti, karena kebiasaan sejak dulu kalau ultah harus pakai baju baru, Triska pun memakai gaunnya yang terbam, yang dibelinya di sebuah butik dalam kompleks Ratu Plaza. Dikena-kannya juga sepatu bam, terbuat dari kulit sapi berwama krem sesuai dengan warna dasar baju-nya. Buntut kudanya disanggulnya ke atas dan di-berinya tiara kecil bermata intan, hadiah ulang tahun dari orangmanya beberapa tahun yang lalu.
Marco tidak lupa pula dimandikannya dan di-berinya baju dan sepatu bam, sedangkan Bella diberinya pita merah di leher.
Triska sebenamya ingin membantu, tapi digebah keluar dapur oleh ibunya. "Pembantu ada tiga ini saja dapumya sudah terasa sempit. Lebih baik kauajak main Marco, diam di dapur nanti bajumu kotor. Kenapa arloji hadiah Roy nggak kaupakai?"
"Terlalu mewah, Mam. Malu sama Marti, nanti dia hi kalau temyata abangnya nggak pernah memberinya barang semahal itu. Yuk, Marco, kita main di dalam, Nenek mau bikin kue nggak boleh diganggu!"
Mereka tengah asyik bercanda bertiga dengan Bella, ketika bel pintu berdering. Triska bangkit dari lantai meninggalkan Marco yang tengah me-meluk Bella. Tumben, Kris datang siang amat, apa dia juga nggak praktek sore ini? pikirnya.
Begitu pintu dibuka, dia tertegun. Erik Sigma berdiri di depannya, tubuhnya nyaris cuma terdiri atas senyum selebar tampah dan segunung bunga mawar kuning yang menutupinya dari leher ke bawah. Tangannya yang lain memegang sebuah bungkusan berwama putih, berpita kuning.
"Erik! Kok tahu?" sera Triska tercengang.
"Sejak dulu aku selalu ingat kapan ultahmu," sahut Erik, tersenyum makin lebar. "Cuma sebe-lumnya, aku tidak berani menunjukkan perhatian, khawatir menimbulkan perang."
"Bisa saja kau!" Triska tertawa.' "Yuk, masuk!"
Di dalam, Erik menyerahkan bunga dan kado, lalu memberi selamat ulang tahun. Triska semula agak ngeri, jangan-jangan Erik mau menggunakan kesempatan ini untuk memeluknya, sebab dilihatnya gerakan yang menjurus ke situ (maklum, sudah belajar dari Amerika!). Untung ibunya muncul pada saat yang kritis, sehingga insiden bisa dihin-dari. Erik kelihatan agak tersipu-sipu ketika menarik kembali lengan-lengannya yang sudah terjulur seperti lengan octopus.
lank segera digiring masuk ke ruang tamu dan keduanya duduk berhadapan, bercakap-cakap sambil membagi perhatian ke arah Marco—yang
sudah dipindahkan dari ruang dalam—dan pesawat TV yang disetel tanpa bunyi.
Temyata surprise bagi Triska masih belum habis. Kira-kira setengah jam kemudian bel pintu kembali berdering. Sekali ini pasti Kris, pikimya melirik grandfather's clock di sudut.
"Sori, ada yang ngebel," dia pamit pada Erik lalu melangkah ke pintu dan membukanya. "Sumi!" serunya setengah memekik, membuat Marco menoleh dan cepat-cepat merangkak menghampiri.
Sumi tertawa lebar dan tanpa menunggu dipersi-lakan, sudah melangkah masuk diikuti Hansa yang juga menyeringai kemalu-maluan.
"Kami tidak memberitahu dulu, kata Sum, memang disengaja," mkas Hansa setengah minta maaf atas kedatangan mereka yang tidak diundang.
"Nggak nyangka, kan?" Sumi menambahkan seraya tertawa haha-hihi, lalu mengeluarkan sesuato dari tasnya yang besar. "Ini kenang-kenangan dari kami. Hai, Erik, tumben bisa ketemu di sini!" Sumi tergelak sendiri sementara Erik cuma tersenyum malu. "Ah, ya, maklum aku! Hansipnya absen, maling-maling pada keluar mau nyolong, deh!"
Erik tidak membela diri dituduh mau jadi ma-ling, cuma wajahnya jadi bersemu merah seakan malu ketahuan niatnya. Triska juga geli mendengar guyonan Sumi. Erik mau nyolong apa? Hatiku? Iiih, masa belum tahu, hatiku sudah tidak ada di tempatnya, sudah lama hilang!
"Eh, kado ini jangan dibuka sekarang, nanti
ketahuan Erik!" Sumi melarang ketika dilihatnya Triska menarik seutas pita seakan mau membuka-nya.
"Oke, deh. Aku simpan dulu. Trims, ya, kau juga, Hans."
Sumi memberinya selamat ulang tahun dengan memeluk dan mencipok pipinya seraya berbisik, "Kuharap kau akan cepat rujuk lagi." Triska tidak mengomentari tapi cepat-cepat melepaskan diri agar keharuan yang dirasakannya bisa cepat meng-uap dari dadanya. Lalu Hansa juga menjabat tangannya. Ketika mereka mau duduk, muncul Nyonya Rosa dari dalam.
"Wan, apa kabar, Tante?" tegur Sumi. "Maaf, kami bikin gaduh, Tante, kegandingan, ya."
"Tante baik-baik saja. Bukannya kegandingan, Tante cuma ingin tahu siapa yang datang. Heran, sebab kata Triska nggak ada yang diundang. Triska ogah dipestakan, karena ita kami juga nggak ngundang-ngundang. Mana Linus, kok nggak di-ajak?"
"Makanya kami datang, Tante. Khawatir Triska nanti kesepian ultah sendiri. Linus ditinggal. Habis malam, sih, nggak boleh dibawa oleh bapaknya!" ujar Sumi menunjuk Hansa.
"Mam, jangan-jangan makanan kurang! Sumi makannya banyak!" Triska meledek temannya yang kontan memekik nyaring membuat Marco memandang keheranan.
"Hei! Kaukira aku nggak bawa timbell Hans, tumnkan rantang dari bak belakang."
Hansa betul-betul berjalan ke luar sehingga Triska menjerit-jerit mencegah, dikiranya pasangan itu sedang bersandiwara. Temyata dia kembali lagi menenteng rantang aluminium tiga susun yang di-serahkannya pada Triska.
"Aku nggak bertanggung jawab atas isinya," katanya serius seakan serah-terima dokumen rahasia negara.
Triska menoleh dan memandang Sumi dengan mata bertanya.
"Coba terka!" Sumi menantang, tertawa.
Setelah berpikir setengah detik, Triska akhirnya menyerahkan rantang itu pada ibunya sambil tertawa. "Lebih baik langsung diamankan kerdapur, Mam. Siapa tahu ada bomnya!"
"Baiklah, Tante tinggal dulu, ya. Tris, baiknya ajak teman-temanmu pindah ke dalam, lebih enak."
Ruang keluarga memang lebih luas dari ruang tamu, kursi-kursinya lebih banyak, lebih empuk, dan suasananya lebih hangat. Begitu meiihat grand piano di dekat jendela, Sumi langsung mendaulat Triska agar duduk di situ dan main. Karena Marco sedang dimomong oleh Hansa, Triska tak dapat menolak dengan alasan takut Marco digigit Bella (tentu saja anjing kecil itu tak pernah menggigit-nya, dia malah senang menjilati Marco yang di-anggapnya sesama teman). Jadi terpaksa dipenuhi-nya permintaan itu.
Tidak tahunya, lagu-lagu itu justru mengingat-kannya pada orang yang ingin dilupakan. Dia ters
kenang pada masa-masa ketika Deni sering meng-
iringi pianonya dengan gitar.
Lagu pertama yang dimainkannya adalah Matti-nata-nya. Leoncavallo. Wajahnya yang cantik kelihatan tenang, menunduk penuh konsentrasi. Tak ada yang menduga, di dalam hatinya menangis sambil bemyanyi, You're breaking my heart 'cause you're leaving...
Lalu menyusul Angel's Serenade-nya. Braga, di-susul Come Back to Sorrento-nya. Ernesto de Curtis, kemudian Non Dimenticor-nya Redi disusul La Paloma-nya. Yradier, diikuti Liebestraum-nya Liszt, lata Somewhere My Love-nya. Jarre, La Cumparsita-aya Rodrieyez (Lagu kesayangan kita, Den. Kapan kau akan mengiringi lagi dengan gi-tarmu?), Hawaiian Wedding Song-nya. King, And I Love You So-nya McLean, disusul dengan... jari-nya sudah siap untuk memulai Always in My Heart-nya Lecuona, namun dibatalkannya. Terlalu pribadi, pikimya. Lalu digantinya dengan Verlas-sen Bin Ich-nya Koschat (walaupun artinya sesuai dengan keadaanku saat ini, para pendengar nggak tahu, jadi sip!), diteruskan dengan La Madone dan balik lagi ke Non Dimenticar. Tahu-tahu ada suara mengikuti, Non Dimenticar means don't forget you are my darling....
Triska mengangkat muka dari piano. Benar du-gaannya! Suara itu datang dari...
*aku (yang) ditinggaJkan
"Kris!" serunya gembira. "Marti! Eh, Bobi!" Triska serentak menghentikan permainannya dan berdiri menghampiri tamu-tamu yang bam datang.
Kris langsung memeluknya. "Prinses! Selamat ulang tahun!"
Marti juga memeluk dan mengucapkan selamat, kemudian memberinya sebuah kotak besar ter-bungkus kertas hijau. "Ow! Trims! Apa ini? Boleh dibuka? Tidak, tentu saja tidak... nanti saja... dan, Bobi, kasih Tante selamat nggak, nih?" Triska membungkuk dan memeluk keponakannya.
"Ingin ketemu Marco katanya," ujar Marti. "Nah, itu Marco digendong Oom Hansa, ayo ham-piri, kasih tangan!"
Nyonya Rosa yang muncul dari belakang langsung tertawa meiihat tingkah Bobi dan Marco yang lucu, dan semua orang ikut-ikutan terkekeh.
"Pasienmu nggak banyak malam ini?" tanya Nyonya Rosa. Yang menjawab cuma Kris, sebab Marti memang tidak praktek sore.
"Saya libur, Mam. Kebetulan ada teman yang bisa menggantikan. Ada yang pesta, masa saya akan praktek?"
"Iya, dong!" sambung Triska. "Bisa-bisa kau datang ke sini cuma untuk mengumpulkan tulang ayam!"
Tak lama kemudian Dokter Justin juga pulang dari praktek. Sebagai spesialis—intemis—pasien-pasien hams mendaftar dulu dan rupanya untuk sore ini dia sengaja mengurangi jumlah pasiennya.
Karena semua orang sudah hadir, jamuan malam
pun segera dimulai. Bobi dan Marco bersama Bella diamankan ke loteng oleh Inem.
Triska duduk di sebelah kanan ayahnya, di sam-ping Erik, menghadap ke luar, ke ruang keluarga. Sepanjang makan pikirannya cuma separo meng-ikuti percakapan-percakapan, separonya lagi seben-tar-sebentar ditujukan ke pintu ruang makan, ber-harap akan meiihat orang yang ditunggunya. Siapa tahu dia masih akan datang, dia berharap. Mungkin pasiennya banyak sekali, ini kan Jumat, biasanya memang penuh.
Namun hidangan demi hidangan muncul dan disikat habis (termasuk ayam panggang opor ba-waan Sumi serta sambal tomatnya yang paten), dan harapannya pun berangsur menyusut. Akhirnya lenyap tak bersisa ketika puding pencuci mulut pun keluar dalam mangkuk-mangkuk Noritake yang anggun, yang cuma dipergunakan waktu pesta.
Triska menundukkan kepala ketika doa penutup diucapkan oleh ayahnya. Hatinya menangis. Begitu cepatnya kau melupakan aku! Kau tidak ingat lagi hari ini hari ultahku! Di manakah kau? Masih sibuk dengan pasien? Ataukah.,.?
Sebelum mereka beringsut dari ruang makan, Nyonya Rosa mengeluarkan kue ulang tahun yang berlilin 29. Triska tersenyum cerah (Tak perlu ada yang tahu, hatiku sebenamya tengah meratap!) ketika menyalakan lilin-lilin, memejamkan mata (untuk mengajukan permohonan pada Tuhan), lalu meniup padam apinya, sementara Kris sibuk mem-
bidikkan kameranya mengabadikan peristiwa itu. Jadi tukang potret memang merupakan hobinya yang mutakhir, terhitung sejak kedatangan Bobi. "Pada setiap pertemuan keluarga, Kris dan kamera Jepang-nya pasti tidak ketinggalan nampang," ujar Marti memberi komentar pandangan mata.
"Nggak ada yang lihat nih, Kris punya kamera bam! Tepuk tangan dong!" sera Marti memberi contoh yang kontan ditira hadirin.
"Tukar-tambah!" Kris tersenyum menjelaskan.
"Makin getol saja kau motret! Asal ambilnya jangan terbalik saja!" tukas adiknya.
"Tempat prakteknya kan mau dirombaknya jadi studio foto!" Marti membongkar rahasia sambil tergelak-gelak.
"Aku kan perlu banyak latihan, Tris," jawabnya pada adiknya. "Sebagai persiapan kalau Bobi nanti diwisuda!"
Grrr. Semua orang terbahak-bahak termasuk Erik dan Hansa, apalagi Sumi yang sampai roeli-pat peratnya menahan geli.
"Aku sudah lama ingin bikin pasfoto yang cakep, nggak kelihatan uban dan kerat-kerut," ujar Sumi. "Boleh datang ke tempat praktekmu, Kris? Eh, jangan takut, walau pun kenal, aku pasti bayar!"
"Siapa bilang aku buka studio potret?" Kris menggumam sambil menikam istrinya dengan pan-caran matanya. "Jangan dengarkan Marti!"
Marti tertawa tapi menjelaskan juga tanpa di-tanya, "Dia sedang pikir-pikir mau pasang alat ultrasound, tapi harganya puluhan juta. Dia tahu.
ada beberapa spesialis yang punya alat itu di tempat praktek jadi 'ketagihan' menggunakannya walau tak ada indikasi, dengan tujuan biar cepat ter-bayar lunas utang di bank. Kris keberatan meniru mereka, jadi kemungkinan besar rencana itu akan dibatalkannya."
Setelah mereka nencicipi kue ulang tahun bi-kinan sendiri yang lezat itu, mereka beralih ke ruang tengah tempat keluarga untuk acara bebas. Kadokado, termasuk pemberian orangtuanya, semuanya diletakkan oleh Triska di atas bufet tempat cangkir-cangkir antik, dekat piano. Dia belum mau membukanya, khawatir ada yang keberatan pemberiannya diketahui orang Iain. Mungkin khawatir dianggap kurang bermutu oleh orang yang memberi barang lebih mahal, pikir Triska.
Dokter Justin mengundurkan diri ke ruang ker-janya, sedangkan Nyonya Rosa naik ke atas mau menengok cucu-cucu, sekali an menggantikan Inem yang giliran makan.
"Mau ngobrol atau main kartu, nih?" tanya Kris.
"Apa saja," sahut Sumi. "Asal jangan makan lagi! Timbanganku pasti sudah tambah, nih!"
"Ah, masih seperti lidi, kau nggak perlu risau!" Triska menenangkan sambil mesem.
"Apanya yang seperti lidi?" Sumi mendelik me-nepuk-nepuk peratnya.
"Jari-jarimu!"
Gm*. Mereka terbahak, termasuk Hansa. "Gimana kalau kita main scrabble saja?" usul Marti menunjuk kotak di bawah meja.
"Setuju!" ujar Sumi segera. "Aku memang perlu banyak belajar, supaya kalau jalan-jalan ke Ame-rika nanti bisa mengalahkan kakakku! Itu kan mainan kesukaannya."
Kriiing...
"Sori, sebentar, ya," ujar Triska, bangkit menghampiri pesawat dan mengangkatnya. Temyata dari Nyonya Desi Melnik, (mantan) ibu mertuanya.
"Selamat ulang tahun, Tris! Papi dan Mami mendoakan semoga kau lebih bahagia tahun ini!"
"Terima kasih, ngngng... Mam." Triska sudah semakin canggung memanggil (mantan) mertuanya dengan panggilan intim itu, tapi karena yang ber-sangkutan sendiri tidak mengubah sebutan dirinya, terpaksa dia juga mencontoh.
"Mami agak selesma, maklum orang sudah tua, kalau musim hujan penyakitnya begini ini. Selesma dan encok. Minggu lalu bam disuntik kortison oleh Deni. Maka itu Mami tidak bisa datang mengucapkan sendiri selamat ulang tahun padamu. Besok lusa kalau agak baikan, Mami pasti akan datang mengantarkan kado, sekalian mau nengok Marco. Deni bilang di telepon, anak itu sudah tumbuh gigi?"
Maka Triska pun—seperti kebanyakan ibu-ibu muda lainnya—bla-bla-bla mengetengahkan anaknya, menyebutkan semua predikat yang bisa me-nunjang kejempolan anaknya, sehingga orang bisa salah tangkap, mengira anak itu sudah diramalkan bakal memenangkan Hadiah Nobel untuk fisika sebelum dia berusia delapan belas.
Triska memang kedengaran antusias kalau sedang mengiklankan anaknya, tapi begitu telepon dirutup. dia balik ke kursinya sambil mengeluh dalam hati. Ibunya masih bisa ingat, tapi dia sendiri sudah lupa!
"Jadi kita akan ngapain?" Namun sebenamya dia tak perlu bertanya, sebab dilihatnya mereka semua sudah duduk mengelilingi meja bulat, khu-sus untuk main kartu atau catur atau scrabble, me-nantikannya. Di tengah meja sudah digelar papan scrabble.
"Karena ada enam orang, Sumi biar berpasang-an dengan Hansa, Marti dengan aku, kau dan Erik masing-masing solo,'' Kris menjelaskan.
Walaupun Triska semula gundah, lama-lama perhatiannya terseret juga oleh permainan yang mengasyikkan in. Lebih mengasyikkan lagi sebab siapa yang kalah, kelak hams mentraktir, makan atau piknik.
Mereka main beronde-ronde. Pada ronde pertama, pasangan Omega kalah. Kris menuntut revanche. "Siapa tahu sekali ini kita bisa menang, Mar. Kan jadi bisa balas ditraktir, nggak terlalu rugi!" Kris berkalkulasi dengan istrinya diawasi oleh yang lain dengan senyum geli.
Ronde kedua dimenangkan oleh Erik (angkanya paling tinggi), sedangkan pasangan Karundeng
'sendirian
menuntut balas untuk merebut lagi apa yang hilang
kalah (angka mereka paling rendah). Sumi sen-dirian menuntut revanche seperti Kris. Ronde ke-tiga ini makin sem sebab kedua pasangan Omega dan Karundeng sama-sama bernafsu ingin menang, agar "modal" mereka (untuk mentraktir) bisa balik.
Saking asyik memutar otak untuk merangkai huruf-huruf itu menjadi kata-kata yang diakui sah oleh kamus, mereka tidak mendengar dering bel pintu. Semua sibuk membungkuk di atas meja, melotot memandangi papan serta simpanan humf masing-masing, repot memikirkan kata apa yang mungkin dan paling banyak menambah angka. Karena itu tidak heran bila Triska terlonjak kaget ketika tahu-tahu ada yang memanggil di belakang-nya, "Tris..."
Dia serentak memutar leher dan terkesiap. Oh! Dia datang juga kiranya! Wajahnya kelihatan ca-pek, pasti dia langsung kemari dari tempat praktek!
Triska menyemkan namanya, namun suaranya tidak keluar, hanya bibirnya yang bergerak-gerak, suaranya sendiri seakan tersekat di kerongkongan, tak bisa sampai ke ujung lidah.
Deni menghampiri sambil tersenyum. Pandang-annya khusus dipusatkan pada yang bemlang tahun, namun Triska sempat menangkap lirikannya ke arah Erik yang duduk di hadapannya. Kris memang sempat menaikkan alis ketika meiihat Erik duduk bercokol mendengarkannya main piano, tapi tidak ada orang yang terang-terangan rnenyatakan keheranannya menyaksikan tamu tak diundang itu.
"Selamat ulang tahun, Tris. Sori, aku datang malam sekali," bisik Deni sedikit membungkuk, seakan ingin mengecupnya tapi tidak jadi. Kalau-pun semula bemiat, rupanya dibatalkannya sebab terlalu banyak penonton (Triska tersenyum memikirkan kemungkinan ini). Deni akhirnya cuma mengulurkan tangan, lalu memberikan sebuah ko-tak besar berbungkus kertas dengan motif indah (Rupanya kau masih ingat, aku suka kertas bagus untuk sampul buku.) disertai pesan, "Untuk me-nambah koleksimu."
"Kotak musik lagi? Wow! Pasti Marco yang akan kegirangan setengah mati! Semua koleksiku sudah didaulat olehnya. Anak itu betah mende-ngarkannya berjam-jam dan sudah tahu lagu mana yang disukainya!" Triska tertawa bangga. "Rupanya memang berbakat musik seperti ibunya!"
"Ahem!" Kris berbunyi keras-keras seakan mau tercekik, tapi yang disindir rupanya tidak merasa.
"Marco? Sudah tidurkah dia? Sayang aku nggak bisa lama-lama." Deni mengangkat tangan, melambai pada semua namun matanya terpaku pada Triska seorang, lalu berbalik dan cepat-cepat melangkah keluar, diikuti Inem yang rupanya tadi mem-bukakannya pintu.
Triska menenangkan napasnya sebentar sambil membalik-balik kotak itu tanpa membukanya, lalu tiba-tiba diangkatnya mukanya tanpa memandang siapa-siapa, membelalak, dan berseru, "Astaga! Aku lupa menawarinya makan! Dia pasti sudah kelaparan!"
Serta-merta dia bangkit, melemparkan kotak itu ke atas kursi, dan berlari keluar. Inem sudah ber-lalu ke belakang. Triska membuka pintu cepat-cepat, dan melangkah ke beranda depan tepat saat mobil putih itu dinyalakan. "Deni!" panggilnya mengatasi deru mesin yang halus.
Deni mungkin tidak mendengar. Triska sudah menggerakkan kembali bibirnya, namun dia tidak bersiaga ketika tiba-tiba sebuah kepala terjulur dari jendela penumpang dan menoleh ke arahnya. Jan-tungnya langsung mencelat ke langit, nyaris tak mau balik lagi. Dia hampir semaput.
"Halo, Tris! Happy birthday, ya! Sori, kami nggak bisa lama-lama, banyak acara sih. Daaag!" Dan Odi pun mengeluarkan lengannya yang putih dan langsing, lalu melambai riang dibawa pergi oleh mobil yang meluncur terlalu cepat keluar halaman.
Untuk beberapa saat Triska berdiri terpaku di tempat, seakan kurang percaya akan penglihatan-nya. Kemudian lambat-lambat pikirannya pulih kembali dan hatinya hancur dilumat pengkhianat-an. Kau bahkan tidak mau menoleh! Tidak kau-acuhkan panggilanku! Karena kau banyak acara dengannya? Deni, kenapa kaulakukan ini terhadap-ku? Haruskah kaubawa Odi ke depan hidungku? Haruskah kautunjukkan betapa cepatnya dia telah berhasil memikatmu kembali? Rasanya baru kema-rin dulu kau masih merasa yakin, takkan mungkin tergoda lagi olehnya! Huh, laki-laki! Apakah kau juga termasuk satu di antara yang banyak?
Triska mengawasi mobil itu sampai lenyap di balik pohon-pohoo tetangga, lalu dengan lesu dia masuk ke dalam dan mengunci pintu. Sebelum kembali menemui yang lain, dia berdiri sebentar di depan cermin di ruang tamu untuk memeriksa air raukanya. Diusahakannya agar wajahnya tetap kelihatan cerah dan tenang. Setelah berhasil, barulah dia melangkah ke dalam.
"Dia nggak mau?" tanya Marti melihatnya kembali sendiri an.
"Dia sudah berlalu," jawabnya senetral mungkin. Berlalu dari hatiku! Malam ini mereka banyak acara, nggak sempat menghadiri pesta yang mem-bosankan begini.
146
Bab 6
Esoknya Triska menunggu-nunggu telepon dari Bagian Bedah, menjelaskan symptom aneh yang disaksikannya kemarin sore, dan melenyapkan ke-khawatirannya bahwa bakteri Bobadilacoccus telah berhasil dalam invasinya untuk membobol per-tahanan imunitas Dokter Melnik.
Sepanjang hari itu Dokter Triska bertugas dengan sebelah telinga diarahkan ke pesawat telepon di mana pun dia berada, di poliklinik, di bangsal, di raang OP, atau di kamar dinas. Tapi benda yang penting itu ternyata diam saja tak berbunyi, atau kalaupun berbunyi dan membuat hatinya sesaat kebat-kebit, akhirnya setelah diangkat oleh kolega atau perawat atau dia sendiri, temyata cuma umsan dinas, untuknya atau untuk orang lain.
Sepanjang pagi dan siang Triska menunggu telepon pribadi, namun sia-sia. Setelah lelah menanti, akhirnya dienyahkannya harapan itu dari hatinya dan dijatuhkannya tubuhnya yang penat ke atas ^i di kamar istirahat para dokter di depan ruang Pp; Kamar itu kecil, cuma berisi sebuah dipan, to6ja> dan dua kursi yang menempel di dinding
tempat meletakkan kotak-kotak instrumen, alat suntik, obat-obatan, dan jurnal-jurnal.
Seperti biasa kamar itu selalu acak-acakan seperti kandang ayam, terlebih mejanya. Kertas, ma-jalah, status pasien tumpang tindih. Semula Triska sama sekali tidak menaruh perhatian. Dia cuma ingin istirahat sepuluh menit sebelum berdiri lagi untuk melakukan circumcisi pada seorang bayi dengan indikasi medis.
Triska meletakkan sikunya di atas meja dan kepalanya ditumpunya dengan tangannya. Matanya dipejamkannya sejenak, dan ketika dibukanya kembali, yang pertama-tama dilihataya adalah koran BERTTA KOTA yang terbalik letaknya. Tapi yang membuataya waspada adalah headline sebe-sar gajah di halaman kesatu yang tak bisa dibaca-nya kecuali tiga huruf: ODI, dan itu sudah cukup untuk membuatnya membuka mata lebih lebar, meraih koran itu, dan membuang waktunya barang lima menit untuknya.
Judulnya saja sudah memancing rasa ingin tahu.
ODI BOBADILA: AYAHKU BERBIN1 DUA
Odi Bobadila, Ratu Peragawati ASEAN tahun lalu, berhasil dijepret ketika sedang meninggalkan kelab ebktusif Triple X tengah malam tadi dalam gandengan seorang laki-laki ganteng yang diakui-
sunat
nya sebagai pacarnya. Ditanya kapan mereka akan menikah, Odi yang akan membintangi sine-tron serial Ayahku Berbini Dua, produksi Colibri House, tertawa lebar dan menjawab mantap, "Tak lama lagi!" Tapi dia menolak memberitahukan nama pria itu. Siapakah dia? Barangkali Anda me-ngenalinya? Teleponlah Redaksi. Hadiah menanti!
Triska mengertakkan gigi. Itu koran tadi pagi, berarti kejadiannya baru semalam. Hm. Jadi itulah acara mereka! Semalam suntuk di kelab malam! Setelah itu ke mana lagi? Pulang ke rumah masing-masing? Huh! Memangnya aku sebodoh Marco! Pantas kau tidak meneleponku, rupanya takut! Habis, bagaimana kau mau membela diri? Memang gambarmu buram, orang luar mungkin takkan mengenali, mudah-mudahan saja, tapi istrimu walau sudah man tan masih bisa mengenali ciri-cirimu dari jarak ratusan meter juga, sebab matanya belum katarak!
Triska mencampakkan koran itu kembali ke atas meja, mengentakkan kaki, dan langsung berdiri untuk menyambung tugasnya. Harapannya dibu-nuhnya saat itu juga, segala emosi yang berbau rindu-dendam dihapusnya dari pusat memory agar tak dapat di-recall lagi.
Malamnya di tempat praktek, ketika pasien ter-akhir baru saja keluar, telepon berdering. Mbak Tuti masih di luar membereskan pembukuan, sebab dia yang menerima honor dari pasien sesuai instruksi pada kartu pasien, terkadang pasien
149
dibebaskan bila mengaku tidak marnpu atau sedang nganggur.
Triska mengangkat pesawat. "Halo, Dokter Triska Omega di sini, apa yang dapat saya lakukan untuk Anda?"
"Tris, aku!" Hm. Kenapa napasmu kedengaran terengah-engah, dan suaramu seperti orang bersalah?
"Ya, ada apa?" tanyanya setenang mungkin. "Kau sudah meiihat BER1TA KOTA hari ini?" "Ya, sudah."
"Tris, aku tahu, kau marah!"
"Kenapa mesti marah?"
"Tris, semuanya bisa kujelaskan."
"Buat apa?"
"Biar hatiku tenang."
Hatimu? Lantas hatiku? Kaupikirkan tidak, gimana hatiku?
"Ketenangan itu harus kaucari dalam dirimu sendiri, bukan dari luar, bukan dari aku!"
"Tris, malam itu Odi datang ke tempat praktek-ku, mengajak keluar makan. Aku nggak mau, alas-annya karena itu hari ulang tahunmu, aku ingin menemui engkau sebelum pulang. Tapi dia menge-jek, menuduh aku menghindarinya karena aku takut pada kenyataan bahwa aku masih mencintainya. Panas hatiku disindir begitu. Akhirnya aku marah dan kutantang dia ke nite club semalam suntuk untuk membuktikan bahwa aku sudah tidak tertarik padanya dan takkan terbius oleh kecantik-annya. Dan memang telah kubuktikan kebenaran
ucapanku! Sungguh mati, Tris, itulah kejadian sebenamya! Soal dia memberi jawaban yang bukan-bukan pada wartawan, itu adalah urusannya. Po-koknya sudah kubuktikan, aku tidak lagi tertarik padanya, dan kuharap dia takkan menggangguku lagi, agar aku bisa cepat kembali padamu."
Kurasa tidak segampang itu, Den! Kaupikir perkawinan itu seperti magang di pabrik, boleh ditinggal kalau bosan, lalu kembali lagi kalau tak ada kegiatan lain yang lebih menarik?
"Sebenamya nggak perlu kaujelaskan semua itu, Den. Bukankah kita sama-sama bebas? Kau nggak perlu mempertanggungjawabkan segala tindakanmu terhadapku! Aku kan bukan istrimu lagi!"
"Tris, kenapa bilang begitu?"
Ha, suaramu kedengaran khawatir? Semua ini salahmu sendiri! Ulahmu yang kurang berpikir panjang! Kenapa kaucoba-coba menipuku ketika kawin denganku? Sekali sudah pernah menipu, siapa yang akan menjamin bahwa kali ini pun kata-katamu bukannya bohong belaka?
"Sori, Deri, ada pasien, nih. Nanti, deh, kita diskusikan lagi."
Triska meletakkan pesawat, lalu bangkit untuk melangkah ke ruang sebelah menghampiri Mbak Tuti.
***
Sejak insiden BERITA KOTA itu, Triska agak menjaga jarak terhadap Deni walaupun dia masih meladeni bila diajak bicara, dan Deni juga masih
rajin datang mengunjungi Marco setiap akhir pe-kan. Tapi kebangatan yang semula masih tersisa dalam hatinya sima bersamaan dengan musnahnya harapan untuk kelak rukun kembali bersama (man-tan) suami.
Demikianlah waktu pun berlalu. Minggu demi minggu, bulan demi bulan. Tak terasa akhir tahun pun tiba dan berlalu. Harapan yang sudah tiada itu membuat hubungan jadi dingin. Triska kini lebih banyak menggunakan waktu luangnya untuk melukis di kebun belakang serta memberi les dan ber-main-main dengan Marco. Dia tidak ingin lagi menghitung-hitung hari menantikan kedatangan Deni, tapi hatinya tak dapat dilarang.
Pada suatu sore permulaan Februari, Triska di-kejutkan dengan telepon dari Nyonya Desi Melnik,-(mantan) mertuanya.
"Tris, hari Minggu ini kau sudah punya acara, belum?" "Ngngng..."
Sebelum Triska memutuskan akan berterus terang atau mengarang alasan saja, ibu Deni sudah menyambung, "Mami ingin kau datang ke sini mengajak Marco, bisa, nggak?"
Ke Depok? Tumben, ada apa? Triska dengan cepat memutar komputer dalam kepalanya. Astaga! Masa aku sampai lupa? Itu kan hari ulang tahun Deni!
"Agak sulit membawa Marco. Anak itu nggak bisa diam. Anu, saya boleh membawa teman, nggak? Untuk nyopir, Mam!" Triska tertawa sen-
152
diri sambil berpikir siapa yang akan dikerjainya, Erik atau Roy.
"Oh, tentu saja boleh, Tris!" sahut Nyonya Desi dengan cepat.
"Deni akan marah, nggak, ya, nanti?"
"Bilang saja, sudah diizinkan Mami!"
Demikianlah hari Minggu itu Triska membawa Marco ke rumah neneknya. Anak itu sudah jalan sepuluh bulan, cerdas sekali dan sudah mengerti apa yang disebut kolam renang. Matanya berbinar-binar dan tawanya cerah menawan ketika ibunya berkali-kali menyebut "kolam renang".
"Di sana ada kolam renang, kita akan bere-nang... kau suka nggak berenang? Suka, kan?"
Marco manggut-manggut belasan kali.
Karena Roy tidak bisa dihubungi, Triska minta bantuan Erik yang rupanya tak pernah punya kesi-bukan lain kecuali menunggu telepon dari Triska!
Erik dengan gembira menyatakan bersedia me-nyopiri Triska dan Marco. Mereka tiba di Depok pukul sebelas, disambut oleh Nyonya Desi dengan gembira. Triska tidak dapat menerka apakah dia heran atau tidak meiihat Erik, tapi bagaimanapun, Erik diterima dengan cukup ramah walau tanpa karpet merah. Pusat perhatian tentu saja Marco.
"Deni menolak dipestakan—ini merupakan surprise untuknya—jadi Mami tidak dapat minta dia menjemputmu, Tris," Nyonya Desi menjelaskan pada (mantan) menantunya.
"Nggak apa-apa, Mam," ujar Triska tersenyum.
"Erik memang sempat, kok," katanya. "Deni ada di mana?*
"Di belakang. Atau mungkin di garasi. Semalam dia nginap di sini. Ayo, masuk semua. Marco, gendong sama Oma, ya." Nenek itu segera mem-boyong cucunya masuk ke rumah. "Den, ada Mar-co, nih. Di mana kau?" sera ibunya, lalu bertanya pada ayahnya yang sedang membaca koran namun langsung mencelat bangun begitu meiihat Marco, "EH mana dia, Pa?"
"Tadi aku lihat dia ke samping, barangkali di garasi. Mari sini sama Opa," bujuknya tertawa sambil merebut Marco dari gendongan neneknya.
Triska meninggalkan mereka dan mengajak Erik ke garasi. Benar saja, Deni tengah berbaring di kolong mobil asyik menyodok sana-sini, buta dan tali terhadap sekelilingnya. Bunyi tuk-tuk-tuk sepatu Triska pun tidak menggugah perhatiannya. Dia bam menghentikan ketak-ketoknya setelah Triska membungkuk, menengok ke bawah mobil, dan menegur, "Sedang laparotomy nih rupanya!"
Yang ditegur tampak kaget, tangannya serentak berhenti disertai seraan, "Hai!" lalu dia merosot keluar. "Sama siapa kau ke sini?" tanyanya ketika masih di kolong. Begitu keluar dari bawah mobil, dia langsung meloncat berdiri dan meiihat Erik. Sambil menunduk menyeka tangannya yang penuh oil, Deni bergumam, "Sori, aku nggak menjemput-
"bedah penrt (aid umum)
154
mu. Tadinya, nanti sore aku berniat ke tempatmu." Lalu tanpa menunggu komentar Triska, diulurkan-nya tangan menyalami Erik.
"Apanya yang rasak?" tanya Erik antusias.
"Masih belum tahu. Kalau nanjak suka mogok, sama sering kontak."
Wah, dua-duanya gila mobil! Mendingan aku ajak Marco berenang.
"Aku tinggal dulu, ya!" sera Triska lalu kabur sebelum ditahan. Dicarinya Marco dalam rumah. Kiranya ada di beranda belakang, sedang bercanda dengan kakek dan neneknya.
"Marco, yuk kita berenang!" ajaknya. "Kolam renang! Kamu kan senang dengan kolam renang?"
Marco melonjak tertawa ke dalam pelukan ibunya. Triska membawanya ke halaman belakang le-wat pintu samping di tengah-tengah kebun bunga. Di tepi kolam terdapat bangunan pendek dari bam tempat orang duduk-duduk, serta dua kamar ganti pakaian dan dua kamar mandi.
Setelah mereka berdua mengenakan baju renang, Triska menggendong Marco ke kolam sambil me-nenteng pelampung berbentuk ikan lumba-lumba kesayangan anaknya. Marco langsung berceloteh ramai meiihat air. Baru saja keduanya masuk ke kolam, seseorang muncul dari dalam air di dekat mereka dan menyapa, "Halo, Tris. Datang sama siapa?"
Wajah yang kuras panjang itu langsung dike-nalinya. "Hai, Nila. Kami datang dengan Erik,"
"Deni memang nginap di sini, mungkin karena itu dia nggak menjemputmu."
155
na
"Mungkin."
Triska sebenamya be ran meiihat Nila Saleh, sebab dia tabu, ketiga anak Tante Leila bukan meru-pakan tamu yang disukai di situ. Tentu saja tidak diutarakannya keheranannya, dan Nila pun sudah menyeiam kembali meninggalkannya. P. *- Triska sesungguhnya bukan benar-benar berenang, sebab dia harus menjaga Marco dan menga-jamya berenang. Anak itu senang sekali diduduk-kan di atas Iumba-lumba. dibawa ke tengah. Sedang asyik-asyiknya bermain begitu. tanpa setahu Triska seseorang muncul di pinggir kolam, masuk ke air, dan langsung berenang menghampirinya dari belakang. Ketika orang itu membuka mulut, Triska nyaris melepaskan pegangannya pada anaknya, saking kagetoya. "Aku dengar, kau hampir mati waktu bersalin?!" Triska menoleh dan mendapati Odi tengah menatapnya dengan senyum sinis yang membuatnya merindmg. Tapi dia bertekad takkan sudi memper-lihafkan kengenannya menghadapi betina binal ini.
"Kau11hat sendiri, aku sekarang masih hidup, segar bugar!"
Odi mengeriing ke Marco dan mendesi*. "Caion anak tiriku cakep, deh! Persis bapaknya!"
"Hm. Dapatkah kau meninggalkan kami sen-4mT
Odi memandang Triska dengan penuh kebencian sehingga dia bergidik dalam hati. "Kau beruntung, nggak usah menggugurkan anakmu!" cetusnya penuh penasaran.
156
Yah! Laki-laki terkadang memang egois. pikir Triska sedikit kasihan. Tapi salah siapa? Bodoh kau sendiri kenapa mau saja disuroh melakukan
aborsit
"Aku harap kau nggak bakal menjelek-jelekkan aku di depan Deni!"
Triska sebal juga lama-lama diganggu terns. "Odi, permintaanmu sudah kuturuti! Kuharap kau takkan menggangguku lagi! Selanjutnya terse rah kau sendiri apakah..."
"Tapi kau masih juga belum memutuskan hu-bungan dengannya!" Odi me mot on g bicara orang seperti kebiasaannya.
"Kami sudah bercerai hampir enam bulan. Kalau Deni memang hernial kembali padamu, pasti sudah dilakukannya jauh-jauh hari. Kenapa kok sampai sekarang kau belum juga menikah dengannya? Apa cita-citamu nggak terlalu tinggi dan..."
"Itu semua gara-garamu!" Odi menggelegar marah.
"Oh?" Triska menaikkan alis sambil tersenyum. "Coba jela.skan bagaimana kau sampai menuduh..."
"Kau scharusnya cepat-cepat kawin lagi! Dengan Erik! Kau kaget? O, ya, aku tahu dari Nila, Erik Sigma adalah bekas pacarmu di SMA! Dia masih naksir, kau mau tunggu apa lagi? Selama kau belum kawin lagi, Deni masih akan terns mengharapkan dirimu, dan nggak bakal mau kawin denganku, tahu, nggak!" ujarnya meradang.
Triska juga mendongkol mendengar kata-kata-nya. "Kenapa, sih, akan kubiarkan kau ngatur
hidupku terus? Kau ingin agar Deni dan aku bercerai, nah, sekarang kami sudah bercerai! Jangan menuntut yang bukan-bukan lagi! Hidupku adalah hak asasiku! Tidak ada yang..." "Tapi kau nggak boleh setengah jalan..." "Jangan suka memotong bicara orang lain!" te-gur Triska tersenyum manis tapi menggigit "Itu tidak sopan, tahu, nggak?! Biar kan aku bicara sampai habis. Nah. seperti aku bilang barusan, tidak ada yang bisa memaksa aku untuk kawin dengan orang tertentu! Bahkan orangtuaku juga tidak bisa memenntah aku kawin atau jangan kawin, apalagi kau! Sayang sekali, perempuan secan-tik dirimu hams buang-buang waktu mengejar-ngejar laki-laki yang tidak menghendakimu! Seha-rusnya kaucari orang lain yang betul-betul mencin-taimu! Jangan tenggelam dalam ke..."
"Deni dulu BETUL-BETUL MENCINTAIKUI11" Odi memotong dengan berang, rapanya tak peduli bila dia mau dianggap tidak sopan. "Dia mencam-pakkan diriku gara-gara kau! Bahkan sehari sebelum perkawinannya, dia datang memberitahu dia nggak akan kembali lagi padaku! Bisa kaubayangkan gimana perasaanku waktu itu! Aku bersumpah akan mendapatkannya kembali, mati atau hidup!!!"
Iiih, kalau tekadku sebesar tekadnya, pasti aku sudah menemukan sesuatu yang akan menderetkan namaku di antara para pemenang Hadiah Nobel! Kalau begitu Deni tidak bohong. Dia memang sudah memperingatkan Odi bahwa dia takkan kembali lagi,...
Insiden di kolam renang itu tidak mengurangi kegembiraan Triska, tapi Odi sebaliknya, kelihatan uring-uringan, dan tak lama setelah itu langsung ngacir keluar kolam.
Ketika Triska menggendong Marco kembali ke rumah setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambut, mereka disambut oleh Deni yang segera mendaulat anaknya. Triska meninggalkan keduanya dan berlalu ke dapur untuk meiihat kalau-kalau ada yang dapat dibantunya.
Nyonya Desi sedang asyik membungkusi temper, sedangkan ketiga pembantu wanita sibuk me-ngerjakan yang lain. Dapur kotor yang besar itu terasa jadi sempit sebab di lantai penuh panci-panci berisi mas akan.
"Ijah sebenamya khusus untuk cuci-gosok," kata Nyonya Desi menunjuk seorang wanita gemuk berusia tiga puiuhan. "Tapi hari ini dia ikut mem-bantu di dapur bersama Titi dan Iyem. Bahkan Totong Mami surah bantu-bantu juga, biar umsan kebun ditunda dulu."
Triska minta izin ikut membungkusi lemper ke-sukaannya dan sambil duduk berdampingan di depan meja dapur keduanya ngobrol.
"Saya lihat Nila dan Odi," kata Triska sepintas lalu.
Nyonya Desi menarik napas kesal. "Ya, mereka datang tadi pagi. Nila kan kerjanya sebagai physiotherapist, Mami kebetulan kena encok di leher, sakitnya menjalar ke pundak dan kepala. Kalau
sedang angot, waduh kepala sakitnya nggak tahu, deh, kayak apa! Deni bilang. ada pengapuran di tulang Jeher. Kalau disunbk olehnya, sakitnya cepat hilang tapi nanti datang lagi. Deni bilang, tidak boleh disuntik terus, berbahaya. Jadi Mami minta diurut sama Nila dua kali seminggu. Tadi pagi dia datang untuk mengurut Mami, dan temyata dia membawa Odi. Ya terpaksa Mami biarkan, habis masa mau kita usir? Sebaiknya kau jangan dekat-dekat mereka, Tris. Mami sebenamya juga kurang suka sama Nila, cuma saking terpaksa, ya minta tolong juga, deh."
Untung Nyonya Desi bijaksana, mereka disu-guhi makan siang prasmanan, sehingga fraksi-frak-si yang saling bertentangan tak perlu merasa ter-siksa dipaksa duduk semeja—mungkin berhadap-hadapan—selama bersantap.
Triska mengajak Erik duduk di teras belakang, dia makan sambil menyuapi Marco. Deni makan di ruang tamu yang luas, menemani Kris serta Nero yang temyata datang juga walau menumt pengakuan mereka sendiri, tidak diundang (Deni memang tahun ini tidak mau dipestakan, kata ibunya menjelaskan). Marti dan Lupita mencari Triska ke belakang.
"Mana Roy, kok nggak datang?" Triska mena-nyai Marti.
"Masih di KL, belum pulang. Ibuku bilang, jangan-jangan akhirnya dia kecantol juga sama baju kuning!" ujar Marti.
"Betulkah dia mau jualan jamn di Kuala Lumpur?"
"Jualan jamn matanya! Jangan gampang diki-bulin, Tris! Roy kan angin-anginan. Beberapa tahun yang lalu kita semua sudah yakin. nggak lama lagi bakal selamatan pembukaan pabrik kosmetik. Tahunya, ditunda... sampai sekarang."
"Jadi ngapain dia sebenamya di KL?" Triska menegaskan.
Tanya, dong, orangnya sendiri. Mana aku tahu! Ibuku pernah interlokal ke sana menanyai paman-ku, si Roy kerjanya apa, betah amat hampir tiap akhir pekan terbang ke sana, tapi Paman menge-gos, cuma menjawab samar-samar. Katanya Roy sedang menjajaki kemungkinan pindah praktek ke sana, gila nggak tun!"
"Eh, kalau kalian bikin kosmetik, aku bersedia tolong menjualkan di salonku," ujar Lupita mena-warkan.
Acara makan siang itu cukup menggembirakan, terutama karena hidangannya lezat-lezat. Nyonya Desi sendiri tidak menyertai mereka di beranda, sebab hams menemani kerabat-kerabat tua yang rupanya diundang. Odi dan Nila juga tak tampak, tapi tak ada yang peduli mereka ke mana.
Suasana cukup riuh sebab Bobi dan Aurora yang ogah disuapi ibu masing-masing, telah membuat Marco juga jadi kepingin makan sendiri.
"Bob, Mami suapi, yuk. Jadi Marco juga mau disuapi," bujuk Marti. "Nanti di rumah saja kau baru makan sendiri."
Bobi temyata mau mengerti dan mengangguk.
Lupita juga mencoba menjelaskan pada Aurora, dan gadis cilik itu juga gampang dibujuk.
Selesai makan nasi dan kue ulang tahun, tamu-tamu pria beralih ke kamar biliar kecuali Deni yang kini menggantikan Erik duduk di samping Triska di beranda. Marti dan Lupita ikut menonton suami mereka bertanding.
Mereka duduk bertiga, bercanda dengan Marco. Tak ada bahan percakapan yang berarti sampai suatu ketika seakan sambil lalu, Deni bertanya pelan, "Apakah kau serius sama Erik?"
Triska menoleh dan memandang Deni seakan ingin menduga-duga ke mana jatuhnya pertanyaan itu, dan jawaban apa yang sebaiknya diberikannya. Setelah lewat beberapa saat, dia memutuskan untuk berterus terang, namun belum sempat dia membuka mulut, tahu-tahu mereka dikejutkan oleh suara Odi yang muncul berlari-lari dari arah kolam.
"Deni! Cepat! Nila pingsan! Dia berenang begitu habis makan!" serunya sambil melambai-lam-bai dengan kedua tangannya, tampaknya panik sekali, rambutnya pun ikut terburai-burai.
"Tunggu saja di sini, Tris," ujar Deni lalu bangun dan beriari mengikuti Odi yang sudah lari ke tempat Nila.
Sepuluh menit kemudian Deni kembali, sen-dirian. Wajahnya muram, tapi ketika ditanyakan bagaimana keadaan Nila, dijawabnya singkat, "Nggak apa-apa!" Setelah itu diambilnya Marco dari pangkuan ibunya dan diajaknya masuk. "Yuk,
kita lihat orang main bola," ajaknya. Triska juga mengikuti mereka. Daripada nanti dihampiri oleh Odi dan Nila, pikimya ngeri.
Anak-anak akhirnya ngantuk semua, sehingga Nyonya Desi menyarankan agar mereka dibaring-kan di loteng. Ibu-ibu mereka ikut menemani isti-rahat sebab yang main biliar kelihatannya takkan usai dalam waktu singkat. Mereka tampak getol mau menang walau mainnya tanpa uang.
Meiihat semangat yang menggebu-gebu begitu, Triska jadi ikut-ikutan tertarik. Setelah merebahkan Marco di kamar Deni, dia turun lagi. Kira-kira sejam kemudian dia naik lagi dan masuk ke kamar tamu tempat terdapat WC, kamar mandi, dan tempat bersolek. Dia masuk ke WC paling ujung, dekat jendela. Ketika dia sudah selesai dan mau meng-
ulurkan tangan untuk menekan tombol air, didengar-nya suara pintu dibuka. Tangannya mendadak ter-
henti di tengah udara ketika dikenalinya suara Nila. "Edan kau! Aku kausuruh berlagak pingsan!"
serunya tertawa terbahak. "Habis aku nggak tahan menyaksikan Deni
dekat Triska, ngobrol-ngobrol. Mereka memang
nggak bisa meiihat kita, tapi kita bisa meiihat ke
teras dengan ieluasa, jadi panas hatiku meiihat
mereka bercanda-canda!" Triska tidak mendengar ada yang masuk ke WC
sebelah. Mungkin mereka cuma ingin berbedak
atau menyisir.
"Odi, apa Deni pernah bilang padamu berapa
sebenamya jumlah warisan yang diterimanya?"
Triska diam-diam tercekat. Pantas ratu itu ngotot mau mendapatkan kembali Deni' Kiranya mantan suamiku itu sebuah tambang emas!
Suara Nila kedengaran pahit ketika dia menya-hut, "Ya. Lima rams juta untuknya. lima ratus juta untuk kami tiga bersaudara. Tapi itu bam uang kontan. belum terhitung sahaxn-saham dan harta milik tak bergerak. Kami nggak dapat apa-apa dan bagian terakhir ini. Oom Agus mengira kami nggak tahu' Tapi abangku Tono cerdik, dia sumh orang menyelidiki. Kalau nggak ada Deni. pasti semua itu jatuh ke tangan kami, nggak peduli Nenek membenci kami atau nggak!"
"Jangan khawatir," terdengar Odi menghibur. "Pokoknya, kalau kau berhasil mcmbujuk sepupu-mu itu untuk memkah denganku. aku berjanji akan membujuknya setelah kawin, agar sebagian warisan yang diterimanya dihibahkannya pada kalian!"
"Aku, sih, mau saja membantumu, tapi apa bisa berhasil? Selama masih ada Triska, rasanya aku skeptis...."
"Yah! Perempuan itu memang duri di mataku! Rasanya harus kita singkirkan juga!"
Triska menggigil walau udara tidak dingin. Seandainya mereka tahu aku ada di sini, dan yakin bahwa jeritanku takkan kedengaran ke mana-mana, apa yang akan mereka lakukan terhadapku? Hiii...
"Pacamya ganteng beengl" keluh Nila. "Mana kudengar kaya banget!" •Erik Sigma?"
"Siapa lagi! Mereka kan datang berdua. Erik maunya nempel terus sama Triska. Kulihat mata Deni hampir melompat keluar setiap kali memandang mereka berdua. Rupanya cemburu, tuh! Hihi-
hi..."
• "Apa hubungannya dengan Sigma Enterprise?* "Itu kan punya ayahnya)" "Wow! ho sih gudang duit! Dan kau naksir
dia?"
"Tadi dia ngajak aku bercakap-cakap waktu Triska nggak ada. Wah, gantengnya selangit! Jauh menang ke mana-mana dibandingkan sepupuku!"
"Aku tahu, tapi aku sudah telanjur mencintainya, apa boleh buat. Kalau aku bisa mendapatkan Deni, dan kau mendapatkan Erik! Wah, bukan main! Biar Triska diajari adat, jangan dikiranya Deni sama Erik nggak bisa melupakan dirinya! Biar dia gigit jari! Hahaha.,."
Tapi masih ada Roy!"
"O. ya, dokter berjambul itu! Kartu mati dia, sih! Aspirasinya kepingin jadi Elvis kedua, tapi main musik nggak becus. Masih mending Deni-ku. kaku-kaku juga masih bisa Spanish guitar]*
Buset! Jadi Dent suka main gitar untuk Odi? Tentunya semasa masih pacaran!
"Di, kalau nanti temyata Deni emang udah nggak mau sama kau, gimana? Rasanya lebih baik dia dikirim pulang aja ke akhirat..."
"Eh?"
"...biar Triska juga nggak mendnpatkannya!"
"Hm. Benar juga, cuma..."
"Kalau Deni lenvap dan muka bumi. aman deh kita!" Suara Nila kedengaran gembira dan antusias. "Seluruh warisan itu bakal jatuh ke tangan kami.
di tangan Deni. Oom Agus yang akan mengguna-kan uangnya sebab katanya seharusnya itu jadi mi-liknya dulu sebelum nanti diserahkan pada anaknya. Katanya. gara-gara ibuku dilewati. supaya nggak menyakiti Ibu, Oom Agus juga dilewati. dan harta kekayaan Kakek-Nenek langsung dite-ruskan ke cucu-cucu. Ibuku dan Oom Agus tetap nggak bisa mewarisi walau misalnya semua cucu
dengan Odi Bobadila, hak wansnya akan dmyata-kan gugur dm seluruh warisan bakal jatuh ke tangan kami! Jadi gara-gara kau nggak berhasil meyakinkan Deni supaya kawin sama kamu dulu, aku dan saudara-saudaraku yang mgi besar!"
"Tapi kalau Deni nggak bisa mewarisi. aku emoh. dong. sama dia! Buat apa aku punya suami miskin! Kalau cuma kepingin dapat yang bertitel sih banyak di pasaran, tapi apa gunanya titel kalau cuma buat gagah-gagahan di papan atau kartu nama. Mending-an can bapak-bapak, biar sedikit tua atau sudah loyo tapi uangnya di bank pasti meyakinkan."
"Bodoh kau! Kalau warisan itu jatuh pada kami berkat pertolonganmu, tentu saja kau akan mendapat pahala besar. Lebih besar daripada kalau kau jadi istri Deni! Kau sendiri kan sudah tahu, sepupuku itu
166
orangnya idealis, nggak suka mcnggantungkan misib ptda harta warisan. Jadi sebagai istrinya. kemungkinan kau akan hidup dari gaji dokter, sebab uang warisan itu akan dipegang oleh Oom Agus! Kau pasti nggak bisa menikmatinya selama oomku masih hidup. Tapi. seandainya kau berhasil mem-bantu kami menytngkirkan Deni. kan pasti akan segera bisa menikmarj Jerih payah usahamu!" "Hm. Nggak pernah terpikir olehku...." "Karena semua ini gara-garamu. kau sekarang wajib membantu kami! Percayalah. Deni almarhum jauh lebih berguna bagimu daripada Deni yang sehat walafiat! Jelas-jelas dia udah nggak mau lagi sama kau, lebih baik kaututup aja kapitel ini dan lupakan dia!"
"Hm. Kau benar, tapi kau ngomong seakan warisan itu belum dibagi...."
"Tono sedang menggugat testamen itu, menuntut bagian lebih besar. Selama masih dalam perkara, warisan itu nggak bisa dicairkan!"
Triska mendengarkan dengan perasaan panas-dingin. Dia kaget bukan main ketika gcrendel pintu diputar, tapi setelah mengutak-atik beberapa kali, gerakan itu berhenti dan terdengar suara Nila, "Wah, yang satunya dikunci. mungkin rasak. Untung masih ada satu lagi!"
Lalu terdengar orang masuk ke WC sebelah dan pintu digabruk. Setelah Nila, giliran Odi yang masuk. Tanpa sadar Triska sudah beringsut menjauh dari dinding pemisah seakan takut sepatunya nanti kelihatan dari bawah dinding penyekat yang ber-
167
akhir kira-kira dua puhih senti dari lantai. Seandainya salah seorang iseng melongok dari bawah dinding... huuuiii! Dia menggigil ngeri.
Setelah kedua siluman betina itu berlalu dan pintu kamar terdengar digabruk iertutup, Triska masih menunggu lagi kira-kira lima menit sebelum dia merasa yakin. bahaya hetui-berul sudah lewat
Selama mendengarkan ocehan yang memberdiri-kan buJu roma itu, Triska bertekad akan melapor-kannya pada Deni. Namun begitu dia kembali ke bawah dan meiihat Odi di an tar a penonton biliar. serta Nila yang tengah menatap Erik seakan mau menyihirnya agar menoleh padanya, Triska jadi ragu sendiri. Di tengah-tengah orang banyak begini, rasanya apa yang didengamya tadi itu kurang masuk akal.
Nila, yang sekurus lidi seperti ibunya, betul sanggupkah dia menamatkan nwayat orang? Bu-kankah itu cuma sekadar khayalan belaka, pelam-piasan unek-uneknya terhadap keluarga Deni?! Dan Odi, yang anggun tapi terkadang centil (kalau di selritarnya banyak siluman jantan), beranikah dia berbuat nekat? Pasti nggak' Bunuh dirinya tempo hari itu kan cuma pura-pura, coba-coba. Kata Roy, untuk menakut-nakuti... Deni-kah?!
Karena berpikir begitu, Triska batal mau melapor.
***
Selanjutoya kehidupan pun berlangsung biasa dan rutin bagi Triska. Pagi sampai siang dinas, sore praktek. Sabtu, Minggu, dan Selasa memberi
168
les piano. Waktu sclebihnya untuk menunggu ke-dutangan Dent, mengasuh anak. dan melukis. membaca novel-novel yang dipinjamkan Sumi. serta memahirkan gaya Clayderrruin di samping mendengarkan musik tentu saja.
Triska sudah tidak teringat lagi percakapan maut itu sebab dia tak pernah lagi ketemu Nila maupun Odi selama itu, dan Deni juga tak pernah me-nyebut-nyebut nama Odi, sedangkan dia tak pernah men any akan. Hidup terasa tenang sehingga Triska mulai berpikir, kalau keadaan begini terus selamanya, dia takkan keberatan. Yang penting perasaannya tenteram dan Deni mencintai Marco.
Namun hari ulang tahun Marco yang pertama. di bulan April, temyata menyadarkannya bahwa ketenteramannya itu semu belaka.
Untuk perayaan itu Triska memutuskan akan mengundang anak-anak saja beserta orangtua mereka. Jadi yang datang nanti Bobi, Linus, Aurora serta Rana, Term dan Tesa (Katerin dan Teresa adalah anak-anak Mirsa. temannya yang punya restoran di tengah kota).
Dengan pcrsetujuan Deni, Triska menyediakan hadiah-hadiah kecil untuk tamu-tamu anaknya di samping keranjang biskuit dan cokelat untuk di-bawa pulang.
"Ini ulang tahun gaya Tolkien, sesuai dengan
'profeMC Oxfotd kelahtran Afrikn Selatan yang terkennl dengan tri loginya yang fenomcnnl The Lord tif the RiHgs
adat orang 'kuno' yang disebutnya Hobbit. Orang Hobbit ini lebih kecil dan kurcaci, dan bila me-reka ulang tahun, mereka yang memberikan hadiah bagi para tamu! Biar memupuk perasaan suka memberi pada Marco!"
Sesuai dengan pesan anaknya, Nyonya Rosa cuma mengundang orangtua Deni serta orangtua Martina. Paman dan bibi Triska kebanyakan ting-gal di luar negeri, sedangkan yang tinggal di sini pun kebetulan sedans ikut trip, yang seorang ke Himalaya, yang lain ke Antartika, jadi tak ada famili yang datang.
Kecuaii Nila Saleh! Bersama begundalnya lagi! Triska begitu terkejut melihat mereka, sehingga La Vie En Rose yang sedang dimainkannya menjadi kacau, tapi dia tetap duduk di depan piano, tak tahu harus menyambut atau mengusir orang-orang tak diundang itu. Deni yang tengah menginngi, kontan menghentikan petikan gitarnya dan meng-geleng dengan rupa serba salah. Triska menggigit bibir dan menghela napas melihat ibunya seperti mau marah. Mungkin semata-mata karena ada Deni, dia tidak meluapkan kemarahannya. Untung sekali Dokter Justin dengan sigap segera men-cairkan suasana.
"Ah, Nila, ayo masukt"
"Tahu dari rnana?" sapa ibu Triska dengan gaya petugas Kripo.
'/Criminal Potizei: Potisi Bagian {Criminal
"Tante Desi yang memberi tahu," sahut Nila ter-senyum man is seraya menghampiri Marco untuk mengucapkan selamat dan memberikan kado. Ter-paksa Triska menanggapi dengan, "Bilang apa sama Tante Nila?"
"Acih!" ujar Marco dengan patuh.
Ibu Triska rupanya tersadar mendengar nama besannya disebut-sebut, sehingga air mukanya yang sudah mulai kemh tadi berangsur cerah kem-bali.
"Tris, Den, temani tamu-tamu ini, Mama masih repot di dapurl Maaf, nih, Tante tinggal dulu, ya." Dia berlalu tanpa menunggu balasan dari Nila atau
Odi.
"Nggak usah repot menemani, Tris. Kan bukan tamu," Nila menolak dengan manis. "Kami ingin melihat-lihat kolam di belakang, boleh, ya?"
"Silakan," sahut Triska mengangguk, memak-sakan sebuah senyum.
Nila mengajak Marco dan langsung menggen-dongnya sebelum orangtuanya sempat melarang, sehingga Triska cepat-cepat melirik Deni dan memberi isyarat agar dia mengikuti, untuk men-jaga anak itu. Deni mengangguk, meletakkan gitarnya bersandar ke dinding, dan sama-sama berlalu dengan mereka.
Triska tidak bergairah lagi main piano. Dia bangkit dan pergi ke beranda belakang, duduk mencakung di lantai, memperhatikan orang-orang mengagumi bunga teratai. Belum ada sepuluh me-nit dia di situ, Nila kelihatan mendatangi. Triska
berperang batin, akan ditinggalnya Nila masuk atau disambutnya. Namun akhirnya dia cuma bisa menggigit bibir dan menghela napas pelan. Akan kentara sekali maksudnya bila dia masuk ke dalam sekarang. Bisa-bisa ada yang merasa terfaina dan mengadu pada ibu mertua!
Terpaksa dibiarkannya Nila menjatuhkan diri di sampingnya. Betul dugaannya, Nila memang sengaja menghampirinya, rupanya mau minta maaf.
"Tris, maaf nih, aku nyelonong datang tanpa diundang."
Triska menggigit bibir seraya bergumam, "Nggak apa-apa."
"Odi kebetulan main ke rumah, tanpa berpikir lagi, sekalian kuajak. Aku harap kau nggak marah."
Triska punya firasat bahwa Nila tidak bicara sejujuraya. Siapa tahu dia malah sengaja mengajak Odi?
"Lain kali sebaiknya nggak usah ajak-ajak Odi, Nila," tegurnya sehalus mungkin, mengingat dia sedang bicara dengan tamu.
"Maaf atas kelancanganku, Tris. Tapi sekarang dia sedang asyik ngobrol sama Deni, nggak enak kalau aku haras mengajaknya pulang segera!"
Rupanya kau pintar mencari-cari alasan. Tentu saja sudah sampai di sini, kalian tidak bisa dibiar-kan pulang sebelum makan. Itu namanya penghi-naan untuk yang punya rumah! Malah mungkin juga (mantan) ibu mertuaku akan merasa kena tampar, mengira kami menghina sanak familinya.
172
"Aku bukan bermaksud mengusirmu, Nil. Tapi kuharap kau ada pengertian sedikit. Kau kan sudah tahu apa sebabnya sepupumu dan aku bercerai. Masa kau nggak bisa menduga seperti apa perasa-anku meiihat perempuan itu?"
"Habis, Deni menghindar terus, sih, kata Odi. Kalau nggak nyuri-nyuri diamprokin begini, mereka nggak bakal ketemu-ketemu! Aku kasihan sama Odi."
Oh! Dan aku?
Triska melirik dan kebetulan menangkap senyum Nila yang sinis. Diikutinya arah pandangan-nya, dan didapatinya Deni serta Odi sedang asyik bicara di pinggir kolam. Odi yang bicara, Deni mendengarkan. Keduanya berdiri begitu dekat, sehingga tubuh mereka nyaris saling menempel.
Dan kau tidak kasihan padaku? Kau kasihan pada perempuan yang berniat merebut suami orang?
Rupanya selain pintar mencari alasan, Nila juga bisa membaca pikiran orang, pikir Triska gegetun.
"Bukannya aku nggak kasihan padamu, Tris. Tapi kau kan sudah menceraikan Deni dengan sukarela"—O, ya, sukarela matamu! Apa Odi tidak bilang, dia sudah meracuni hatiku sehingga aku mencurigai suami sendiri?—"jadi kuanggap kau sudah nggak mencintainya, nggak lagi meng-harapkannya, berarti kau nggak bakal keberatan dong kalau Deni kawin sama orang lain, misalnya... Odi."
Triska menatap Nila sambil berpikir, Kurang
ajar betul orang ini!
173
"Aku bukannya mau kurang ajar padamu, Tris," sambung Nila tersenyum membuat Triska merin-ding, jangan-jangan dia me man g tengah berhadapan dengan manusia yang punya kekuatan gaib! Apakah dia juga bisa menenung dan mencelakakan orang?
"Tapi ini kan kenyataan. Kalian sudah bercerai, ya sudah! Biarlah Deni meneruskan hidupnya se-maunya, sedangkan kau sendiri juga ingin mulai hidup bam lagi, bukan? Dan kurasa penggemarmu banyak. Salah satu calon kuatmu itu Erik, kalau aku nggak salah tebak. Benar, nggak?"
Rupanya mencampuri urusan orang termasuk salah satu "kepintaran"-mu.
"Aku bukannya mau mencampuri urusanmu, Tris," tukas Nila membuat Triska tertegun, kaget. "Tapi aku cuma menganalisis realita saja. Selain Erik, ada Roy, kan? Nah, mana yang mau kau-pilih? Seandainya Erik kaujadikan runner-up, bo-leh dong aku minta tolong supaya kau mereko-mendasikan diriku padanya?"
Triska menoleh dan melihat Nila tersenyum ma-nis padanya. Makin melunjak betina ini!
"Kan hitung-hitung kita berdua masih tersangkut farnili, Tris. Deni selalu kuanggap seperti abangku sendiri."
Abang yang mau kaubunuh! pikirnya mendadak teringat pada percakapan di WC tamu keluarga Melnik. Triska menunduk pura-pura memperhati-kan jari-jari tangannya, khawatir pikirannya nanti bisa dibaca dan Nila akan mengerti bahwa dia sudah tahu rencana jahat mereka.
"Dan aku dengar Dokter Triska paling suka menolong orang." Nila kedengaran terkekeh seakan mengejeknya tapi Triska menguatkan hati agar tidak membalas ejekan itu. Kurang ajarnya makin men-jadi-jadi! Kalau aku diam di sini lima menit lagi, pasti kepalaku akan kena migraine\ Aku sudah berusaha sopan terhadapmu. Tapi kau bertingkah begini, sama sekali tidak memandang mata, tidak mau menenggang perasaan orang lain. Dan kauminta aku menjodohkanmu dengan Erik yang tampan seperti Robert Redford dan gallant seperti Tom Cruise? Apa kau sudah konsultasi dengan kartu-kartu ilmu gaibmu? Aku khawatir, Erik takkan betah lebih dari sepuluh menit di sampingmu!
"Aduh, kepalaku mendadak seperti mau pecan! Yuk, ah, aku mau cari obat." Dan dientakkannya kakinya, berdiri, lalu melangkah panjang-panjang meninggalkan sepupu Deni yang menyebalkan itu.
Triska mencari ibunya di dapur. Sambil mem-perhatikan ibunya menghias kue ulang tahun dengan berbagai binatang yang lucu-lucu, Triska me-mikirkan bagaimana taktiknya untuk menghadapi tamu-tamu itu sampai sore.
"Apa-apaan sih Nila datang ke sini? Seingat Mama, semua anak Tante Nila nggak akrab sama Deni, dan Nila rasanya belum pernah kemari. Se-karang malah datang membawa perempuan jahat itu!" ibunya mendumal dengan suara meradang.
sakit kepala sebelah
Menuruti hati, Triska ingin sekali menambahi ucapan ibunya dengan kedongkolannya sendiri. Tapi tiba-tiba dia teringat pada Deni. Dia tidak ingin membuatnya kehilangan muka. Kalau mereka berdua kelihatan terang-terangan menunjukkan mu-• ka asara pada Nila, pasti Deni akan merasa kurang enak. Karena ini Triska menahan diri dan batal menuangkan bensin ke dalam kobaran api.
"Sudahlah, Mam Kita tabahkan hati sampai mereka pulang. Keduanya kan tamu, biarlah kita per-Iakukan dengan sopan. Supaya Deni juga nggak kecil hati."
Ibunya tidak memberi komentar, dan untuk beberapa saat keduanya membisu, yang seorang sibuk menghias, yang lain asyik memperhatikan. Nyonya Rosa mengerjakan kuenya di dapur kecil, yang disebutnya "dapur bersiir sebab tidak diper-gunakan untuk menggoreng atau memasak yang sebenamya. Untuk keperluan itu tersedia dapur yang jauh lebih besar, terletak di belakang, bukan di sebelah ruang makan seperti ini.
Semua pembantu sedang sibuk di "dapur kotor", cuma sekali-sekali Inem atau yang lain, muncul minta nasihat pada Nyonya Rosa soal masakan ini dan itu. Di dapur kecil itu cuma mereka berdua, suasana hening, seakan tak ada orang lain lagi di rumah.
Tapi mendadak Triska menegakkan kuping. Ya, betul! Itu kan Maiden's Prayer-nya Badarzewska! Siapa...
Siapa lagi! "Marti!" serunya lalu menghambur
176
keluar dapur menuju ke ruang keluarga, mening-galkan ibunya tercengang kemudian tersenyum mengerti. Semasa Triska kuliah, kawan-kawannya sering datang untuk belajar, dan Martina suka sekali main piano di sini. "Steinway jauh lebih bagus suaranya daripada pianoku di rumah, apalagi ini grandl" katanya suatu kali pada Triska. Lagu yang sering dimainkannya adalah The Maiden's Prayer. Terkadang Triska dan Marti berduet main lagu kesayangan mereka ini, Marti di piano grand, Triska di piano upright yang digunakan untuk memberi les.
Terkaan Triska tentu saja tidak meleset. Memang Marti sedang asyik main piano, membiarkan anaknya kelayapan sendiri dan hampir bertabrakan dengan Triska.
"Hai, Bobi! Keren, nih, Tante dengar kamu sudah sekolah TK, ya," seru Triska memeluk dan mengecup pipinya yang montok.
"Iya." Anak itu mengangguk. "Tante Tris, mana Marco?"
"Di kolam, sedang main sama Oom Den. Sana,
cari!"
Bobi segera berlari ke belakang memegang bingkisan kadonya. "Awas, jangan sampai tersung-kur!" seru Kris sambil mengikuti dengan berjalan
biasa.
Tidak sampai setengah jam kemudian, Oom dan Tante Parega muncul disopiri anak laki-laki mereka.
"Aduh, Juragan KL!" sambut Triska, "Aku senang kau bisa datang! Ssst, ada Odi!"
177
Roy mendelik seakan mau menggigitnya. "Aku datang khusus mau ketemu engkaul Masa kau-sodori orang lain! Sebenarnya aku masih ada urus-an di Kuala Lumpur, tahu nggak!" "Nggak! Nggak tahu!" ujar Triska geli. "Tapi sengaja aku perlukan pulang karena ka-ngen sama..."
"Sama siapa, coba bilang!" Mendadak terdengar suara Deni yang me nan tang dan mengandung an-caman.
Roy kontan menggosok-gosok hidungnya, ter-tawa miring alias nyengir kuda—ciri khasnya yang paten—dan menepuk bahu Deni dengan keras.
"Kan kita semua termasuk farnili, Kris kuang-gap saudaraku, adiknya begitu juga!"
Suara piano sudah berhenti. Marco menunjuk-kan kado dari Bobi pada ibunya. Tiba-tiba meng-alun suara Elvis: One Night with You.
"Sana, taruh di atas meja bersama kado-kado lainnya. Nanti kita buka setelah makan, ya," ujar Triska pada Marco. Anak itu mengangguk patuh dan segera menuruti usul ibunya, melangkah ke meja digandeng Bobi.
Triska menoleh ke arah hi-fi dan terpaksa tertawa melihat ulah abangnya. Setelah memutar piringan hitam itu dia langsung bergoyang pinggul dan Elvis-bayangan tentu saja tak bisa tahan untuk tidak ikut terjun ke "arena". Dokter yang dikatakan ber-jambul dan dianggap kartu mati oleh Odi itu temyata pintar sekali menira gaya Elvis yang asli. Semua orang tertawa dan bertepuk tangan melihat kedua
orang itu menandak seperti celeng mabuk kecubung.
Triska ingat, Marti pernah bilang, abangnya tidak boleh mendengar lagu-Iagu Elvis, di mana pun dia berada (tak peduli di tempat tidur atau di kamar mandi) pasti akan timbul angotnya, kepingin ngibing dan jingkrak-jingkrak seperti perempuan latah. Kris pasti tahu titik lemah ini dan sengaja mau menjebak iparnya agar bikin pertunjukan.
"Lumayan untuk hiburan!" bisik Triska pada Marti.
Dokter Justin muncul dengan sebuah topi pet yang diberikannya pada Bobi. "Bob, kau saja yang ngamen, sana minta derma!" katanya membuat ha-dirin terpingkal-pingkal melihat Bobi betul-betul berkeliling menadahkan topi. Masing-masing mendadak jadi lupa di mana mereka meletakkan dom-pet. Dan sebelum Bobi sempat mengumpulkan se-seran, orangtua Deni sudah tiba. Bintang-bintang panggung itu pun terpaksa bubar dan Kris mem-benahr lagi piringan hitam ayahnya.
Setelah itu berturut-turut datang Mirsa dengan suami dan kedua gadis kecil mereka, disusul oleh Dokter Nero Toma sekeluarga. Setelah mereka me-nyerahkan bingkisan pada Marco yang kelihatan sibuk sekali digandeng Bobi mondar-mandir meletakkan kado, maka jamuan makan siang pun dibuka di ruang makan. Jamuannya bergaya Prancis alias prasmanan. Setiap orang bebas duduk di mana pun. Odi dan Nila duduk di dalam bersama Deni dan laki-Iaki lain, sedangkan Triska dan pengikutnya memilih gazebo yang teduh dilindungi pepohonan.
Baru kira-kira lima menit mereka makan, Sumi tiba dengan anak-suaminya, dan setelah mengambil hidangan. membawa piringnya ke kebun.
"Kira-kira, ya, aku mau dilupakan. nggak di-tunggu!" seronya pada semua tapi matanya menatap Triska.
"Wah. maaf. aku sangka kau berhalangan. Bawa sambal tomat, nggak? Jangan takut, biarpun nggak bawa, kau nggak bakal dikasih tulang melulu, tapi ada kulitnya," ujar Triska menunjukkan ceker dan tunggir. Ic"Habis kau nggak pesan!" kilab Sumi, tidak mau mengerti dan tetap mengaduk-aduk dalam mangkuk di atas meja, mencari daging. "Mana paha dan dadanya!" dia bergumam sengit
Triska memperhatikan sambil menahan tawa, lalu ditekannya bel di dinding gazebo yang tinggi-nya kira-kira setengah meter. Tak lama kemudian kelihatan Sri, kemenakan Inem, keluar dari pintu "dapur kotor" yang menuju ke kebun, dari sana tidak jauh lagi ke kolam dan gazebo.
"Sri, minta opornya lagi. Sayur-sayur lainnya juga tolong ditambah. Bawakan jeriken air minum, ya. Tambahi es dulu."
Sri mengangguk pada Triska dan mengangkat mangkuk-mangkuk sayur dari meja di tengah gazebo.
"Maklum, rasanya belum makan kalau belum pakai ay am!" kata Sumi pada Sri yang tertawa malu-malu.
Mereka bersantap dengan asyik, penuh keha-
180
ngatan dan kegembiraan. Triska juga memaksakan diri agar tampak gembira walau hatinya gundah gulana. Betapa tidak, pikimya. Aku di sini, dia di sana! Bersama Odi lagi! Walau pun banyak orang lain, bukan mustahil siluman betina itu bisa meng-gunakan kesempatan dalam kesempitan untuk... yah, misalnya main mata atau bisik-bisik. Dan Deni terlalu sopan untuk tidak meladeni. Deni pasti tidak mau Odi kehilangan muka di depan uraum, sedangkan dirinya sendiri pasti segan ditu-duh kurang menghargai wanita.
Tapi itu semua cuma pergulatan di dalam sanu-bari, tidak muncul ke permukaan yang tampak mulus dan ceria. Takkan ada yang menduga aku tengah mengalami perdarahan di dalam! Dari hatiku yang diracik-racik kuman Bobadilacoccusl
"Eh, Tris, hampir aku lupa!" kata Lupita sambil menggigit paha ay am goreng. "Ada langgananku, orang Jepang. Suaminya dealer lukisan. Dia mena-warkan repro karya Tori... mm mm... lupa nama belakangnya, pakai Naga... Naga begitu. Bagus-kah? Aku ingat, hobimu koleksi lukisan, barang-kali kau tahu pelukis itu?" .
Triska hampir tersedak saking kaget. Cepat-cepat diletakkannya sendok dan disekanya bibirnya, "Kiyonaga?" dia menegaskan dengan mata setengah membclalak.
"Ya, ya, rasanya memang toil"
"Namanya Torii, bukan Tori. Aku memang sudah lama mencari-cari reproduksinya! Dia pelukis abad kedelapan belas. Sudah kaulihat barangnya?"
"Koraisinya dulu, dong, berapa!" Marti nim-brung sambil mengedip pada Lupita.
"Belum. Jelas orang mau cuci rambut takkan menenteng-nenteng lukisan, dong! Lebih baik ku-minta mereka langsung menghubungi kau saja, setuju nggak? Soal komisi, biasa, deh. Traktir aku ke Pulau Bidadari, kek. Aku dengar, ayah Deni punya vila dan hotel di sana. betul, nggak?"
"Betul sih betul, tapi aku kan sudah man tan, nggak berhak apa-apa lagi, atuh!" sahut Triska meringis.
Sumi mendekatkan bibir ke. telinga Triska. "Pe-rempuan itukah orangnya?" bisiknya seraya meng-gerakkan kepala ke arah rumah.
Selama itu tak seorang pun berani menyinggung topik yang peka itu seakan itu sama tabunya dengan pembahasan seluk-beluk kamasutra di siang belong.
Mirsa melirik Sumi dan menggeleng. "Usil ba-nget, sih!"
"Habis aku nggak tahan! In gin tahu yang mana orangnya. Dan aku yakin, Tris nggak bakal mar ah. Kau nggak marah, kan, Tris? Itu kan orangnya? Yang pakai span ketat hitam itu, kan? Bukan yang kuras?"
"Masa kau nggak tahu yang mana Odi Boba-dila!" tegur Mirsa.
"Apa aku haras tahu?" tanya Sumi her an.
"Apa kau nggak suka lihat TV7" tanya Lupita.
"Memangnya dia bintang TV?" Sumi me man-dang Triska seolah mohon penjelasan.
182
"Dia kan peragawati terkenal. Sum," tukas Marti.
"Malah ratunya! Se-ASEAN 1" sambung Triska. "Ya, span hitam itu."
"Aku baca, dia bakal membintangi sinetron bam, Ayahku Berbini Dim yang akan ditayangkan pertengahan tahun," kata Lupita. "Orangnya sih cantik, sayang kok sifatnya kayak gitu, mau me-rusak rumah tangga orang! Padahal bapak-bapak yang naksir dia pasti lusinan!"
"Aku hampir nggak pern ah lihat TV," kata Sumi seakan minta maaf. "Ya nggak sempat, repot sama Linus. Ya nggak tertarik, membosankan, kalau nggak menari ya menyanyi, sedangkan filmnya dagelan konyol melulu. Kalau bahasa asing, ya nggak kemakan, susah nangkap. Ngomong-ngo-mong, berani betul cewek itu datang kemari! Kok nggak malu, ya? Kalau aku sih, sudah kuusir!" cetus Sumi ganas.
"Soalnya dia bawa deking, yang kurus itu, anak tantenya Deni. Kita nggak berani ngusir, dong, nanti menyinggung Deni dan orangtuanya."
"Kau terlalu baik, Tris!" protes Mirsa jengkel.
"Eh, soal lukisan tadi gimana, nih?" sem Lupita, berusaha menghentikan topik yang menyakitkan itu. "Kau tertarik, ya, Tris? Kapan akan kusuruh mereka datang menemuimu? Kau boleh lihat-lihat dulu, kalau nggak cocok, nggak apa-apa."
"Aku sebenamya mencari karyanya yang berjudul Sinozuka Goro, tapi lainnya juga boleh. Gimana kalau minta mereka datang Sabtu depan? Kalau bisa, sore lewat jam lima. Kalau nggak bisa, ya Minggu
siang. Nanti aku tanya pada ibuku. mungkin nggak keberatan kalau mereka diundang makan selcaJian." "Oke, deh, besok atau lusa akan kukabari." "Ngomong-ngomong soal makan. aku punya re-sep baru cara memasak babat yang renyah dan gurih serta gampang. Hidangan baru ini laku sekali di antara Ianggananku," ujar Mirsa yang langsung menurunkan rahasia dapur tanpa pelit-pelit, dan dicatat oleh yang lain. Triska yang tidak punya pena dan kertas terpaksa permisi minta izin untak menyaiin catatan seseorang. Marti menawar-kan tapi ditolak sebab susah dibaca. Triska me-milih Sumi yang tulisannya paling rapi.
"Eh, ke mana Marco?" sem Triska kaget, memandang ke dalam kolam seakan bam sadar anaknya hilang. "Aurora, mana Marco?" "Tadi diajak Bobi ke dalam, Tante." "Sori, aku tinggal dulu sebentar, ya. Kalian temskan saja makannya. Nanti kusumh antarkan buah dan kopi. Kalian pasti takut gemuk, nggak mau puding, kan?"
Semua menggeleng. Triska tertawa dan berlalu cepat-cepat mencari Marco. Setiba di dalam- dia ubek-ubekan keluar-masuk dapur, kamar mandi, ruang tengah, ruang makan, sampai ke mang ta-mu. Nihil. Dia pergi ke halaman depan, lalu masuk ke garasi, terns ke halaman samping. Di bawah pohon mangga yang rindang dilihatnya Bobi dan Marco sedang duduk bersama Odi!
Apa yang sedang di lakukan siluman itu terhadap anakku?
"Marco, sedang apa kau di sini?"
"Kami sedang mendengarkan dongeng si Kancil. Tante Tris," sahut Bobi dengan antusias.
Triska menatap Odi tanpa menyembunyikan ke-jengkelannya. Eh, temyata bukan cuma Nila yang berani kurang ajar terhadapnya. Odi juga balas menatap dengan benci, lalu tertawa sinis dan ber-kata, "Aku kan hams belajar kenal sama calon anak tiriku. Kami mengadakan kontak permulaan yang baik."
Cukup! pikimya. Aku tidak mau dihina teras-temsan di rumahku sendiri! Masa Nila dan Odi yang lebih agresif, sedangkan aku defensif terns?! Me mang nya apa salahku?!
"Nggak perlu re pot-repot. Odi! Sebab kau takkan menjamah anakku 1" desisnya dengan suara menggigit bagaikan cuka dituang ke atas koreng. Lalu dicekalnya tangan Marco, diangkat. dan di-gendongnya. "Ayo, Bobi. Kau dicari Mama!"
Odi mengawasi sambil tersenyum sinis dan me-nantang. Lengkaplah deritaku untuk hari ini! pikir Triska sengit. Oh, kalau saja di tanganku ada senapan mesin saat ini...!
Bab 7
"Aku akan dikirim ke Calcutta, Den. Bagus, ya?" Triska menunjukkan koleksinya yang terbaru keti-ka Deni, seperti biasa, berkunjung pada had Ming-gu menengok Marco. Saat itu musim hujan sudah tiba, dan hari itu pun hujan turun sejak pagi. Un-tung sekali tempat Dokter Justin Omega tak per-nah disentuh banjir. "Bersama Husein," tambah-nya.
"Kapan? Siapa, tuh, pelukisnya?*
"Torii Koyinaga. Repronya sulit sekali dicari, ini aslinya milik keluarga Tokugawa, keturunan salah seorang snogun.
"Ami, akhir November, kira-kira delapan ming-gu lagi. Kami akan pergi selama sebulan, pas se-belum ganti tahun aku sudah kembali."
"Yang ho Monet, ya." Deni menunjuk rcproduk-si yang lain. "Dari mana kauperoleh semua itu?
"Hm. Berarti empat kali aku nggak akan meli-hatmu kalau aku ke sini Kenapa kok dokter-dok-ter junior yang dikirim? Kan yang senior banyak, dan mereka pasti mau?"
"Memang aku juga bilang begitu sama Dokter
Makalus, wakil Bos yang ngurus-ngurus beginian. Aku bilang, yang jauh lebih pengalaman dari aku kan banyak....
"Eh, itu bukan Monet, tapi Renoir! Mirip, ya. Mereka memang sama-sama impresionis. Bedanya, Renoir menggunakan warna yang lebih halus, se-dangkan temannya, Monet, lebih manyala karya-karyanya, penuh merah, kuning, kecuali lukisan kolam di kebunnya di Giverny. Kebun itu merupa-kan objek favoritnya. Kolam dengan jembatan lengkung itu dilukisnya beberapa kali, salah satu-nya warnanya serba hijau. .¦¦
"...Tapi kata Bos Rahwana, kemampuan Inggris mereka rata-rata di bawah standar, cuma kami berdua yang lumayan. Malu dong, katanya, ngirim wakil-wakil yang cuma melongo saja, dan nanti kalau ditawari, 'Ada pertanyaan?' terus cep-klakep kayak kerang disodok, sebab kurang ngerti apa yang sedang dibicarakan atau nggak mampu nanya dalam bahasa Inggris!
"Koyinaga ini kudapat dari Lupita. Salah seorang langganan salonnya, orang Jepang. Sedang-kan Renoir ini hadiah dari seorang sahabat ayah-ku. Katanya, aslinya ada di St. Petersburg. La Grenouilliere, judul pemandangan Pulau Croissy di Sungai Seine ini, juga dilukis oleh Monet pada saat yang bersamaan, ceritanya mereka ngadu siapa yang lebih unggul. Tentu saja hastlnya berlain-an. Versi Monet itu aslinya ada di Museum Kese-nian di New York.
"Bos kan ngritik para akademikus yang dikatakannya cupet, nggak mau meluaskan horizon. Ka-tanya, 'Membina bahasa nasional tentu saja HA-RUS, tapi jangan lupa dengan realita. Kemajuan ilmu serta riset kan dikuasai oleh bangsa-bangsa yang berbahasa Inggris. Nah. kalau kita mau di-ikutsertakan dalam kancah pertemuan intemasional, mau dianggap berbobot, ya kuasailah bahasa me-rekal Tapi apa yang tenadi? Kalau ada sarjana-sar-jana kita yang menuJis makalah dalam bahasa asing, bukannya dipuji, tapi malah diejek sampai ke koran, dianggap sok! Nah, akibatnya ya begini ini, kalau ada undangan dan luar negeri, syusyah syekali nyari caJon yang bisa diketengahkan! Coba saya tes sekarang! Dokter Kadir, katakan apa bedanya regret dan sorryV Tcrnyata Kadir cuma melongo saja, membuat Bos Alim Rahwana makin getol meng-ulangi kritiknya, dan geleng-geleng ratusan kali." Triska tertawa teringat pada pertemuan itu. "Dan kau bisa membedakan!" "Ya! Husein dan aku!" "Apa coba bedanya?"
"Deni! Jangan bilang kau nggak tahu, dong!" Triska mendelik.
Deni tertawa. "Aku cuma mau mencoba, apa kau masih respek nggak padaku kalau aku nggak bisa bahasa asing."
"Terang nggak!" sahut Triska menantang. "Ce-wek mana yang bisa respek sama cowok yang lebih bodoh dari dirinya?"
"Jadi kau mau jadi istriku karena aku dokter?"
"Salah satu sebab, ya."
"Hm. Aku bakal kesepian, empat minggu nggak
puny a teman untuk berdebat seperti sekarang."
"Den, ini lean tug as. Dan aku juga memang sudah lama tngin mengunjungi Mother Teresa di Kaligaht. Husein mau mengajakku ke Pusat Lepra di Titagarh, di pinggiran kota Calcutta. Wah, pen-deknya pasti akan menarik sekali perjalanan ini!"
"Bikin film, dong, btar kita semua bisa ikut menikmati trip kalian."
"Husein memang disuruh bikin video oleh Bos. Mudah-mudahan aku akan sempat ke kota Rishi-kesh! Ada yang bilang, di sana ada semacam air zamzam yang dapat memberi kesuburan!" tukasnya tersenyum.
"Kau masih mau subur? Anak satu kan sudah
cukup!"
"Kalau aku kawin lagi, kaupikir suamiku nggak akan nuntut anak?"
"Kau cuma ingin menakut-nakuti aku!" seru Deni melotot. "Aku tahu, kau nggak akan kawin lagi. Kecuali... denganku!"
"Oh, yaaa?!" Triska menaikkan kening dan me-ngatupkan bibir rapat-rapat. "Sejak kapan kau bisa membaca pikiran orang lain?" tambahnya, lalu ber-anjak dari sofa dan pergi ke piano. Dimainkannya Ave Maria gubahan Bach-Gounod, lagu yang piling dicintainya, sebab lagu itu telah mengikat hatinya dengan...
Triska tidak be rani men gang kat wajah, khawatir akan ketahuan matanya berkaca-kaca.
Mendengar lagu itu, Deni langsung menyambar
gitar yang selalu dibawanya kalau datang ke sana, lalu menghamptri dan duduk di kursi yang memang selalu tersedia di dekat piano. Serta-merta diiringi-nya piano itu dengan penuh perasaan. Walaupun Deni tidak mengucapkan sepatah kara pun, Triska tahu. perasaannya juga tergugah seperti hatinya sendiri. Sementara tangannya raenari-nari sepanjang keyboard pikininnya melayang-layang. Ingatkah kau saat itu? Aku beriutut di samptngmu, kau di sampingku... dan organ mengaiun membawakan lagu ini... ibumu menyeka matanya, ibuku juga... ayahmu tepekur. ayahku juga... kausentuh tanganku, kausisipkan saputanganmu ke tanganku, kau tahu aku menangis, bukan karena sedih, tapi karena bahagia.... Masih ingatkah kau semua itu.... Kenapa sekarang kita harus berpisah... sepagi ini...?
Tiba-tiba Triska terguguk. Jari-jarinya terkulai lesu di atas piano. Deni tergesa-gesa melctakkan gitarnya di lantai lalu menghampiri Triska dan me-meluknya dan belakang. Triska tersedu-sedu me-nyandarkan diri ke bahunya. Selama beberapa de-tik tak kedengaran bunyi apa pun kecuali suara tangis yang tertahan-tahan. Triska in gin menghen-tikan tangisnya, namun bendungan yang bobol itu seakan tidak bisa ditahan lagi. Sejak mereka berpisah, baru kali inilah dia terang-terangan menangis. Untung Papa-Mama sedang ke supermarket meng-ajak Marco, pikimya, Kalau tidak, bisa fiasko* aku kalau sampai ditanya Marco, kenapa nangis!
"gaga! totsi (kena malu)
Deni mengeluarkan saputangan menyusuti pipi-nya yang basah kuyup dan menyuruhnya member-sit hulung. Pclukannya yang erat terasa hangat bagi Triska. Tapi ini sudah bukan hakku. pikimya.
"Sori, aku lerbawa emosi!" bisiknya mencoba tertawa setelah serangan banjir mereda. "Aku seha-nisnya pantang memainkan lagu im sebab selalu menghanyutkan perasaan."
"Nggak, Tris. Kau nggak boleh fobi terhadap lagu tersebut Itu adalah lagu pemikahan kita, Tris. Jangan kaulupakan," bisik Deni mengelus dan me-ngecup rarnbutnya.
Air mata sang putri tumpah lagi diingatkan pada peristiwa yang suci itu.
"Tris, kenapa kita harus menyiksa diri begini? Kenapa kita nggak bersatu kembali?"
Triska menatap Deni dari balik tirai air mata yang deras. "A-apa... O-odi... m-mau... m-melepasmu7"
"Persetan dengannyal"
Triska mengeringkan mata dan hidungnya se-raya menggeleng. "Dia nggak bakaJ melepaskan hart a miliaran rupiah!"
"Huh! Gara-gara warisan! Seandainya uang itu ada di tanganku, pasti akan kuserahkan SEMUA pada Odii Asal dibiarkannya aku sendirian, dan hidup kita berdua nggak akan tergangguP Deni mengertakkan gcraham dengan jengkel.
Triska mencoba menyelamatkan pagi yang di-
ketakutan tnnpa ttlaaon
ngin dan basah itu dengan senyum manis yang 'dipaksakan. "Yuk, kita duet lagi."
Tapi jangan lagu yang berat-berat!" Deni me-nimpaJi dengan senyumnya. "Bisa-bisa nanti ni-mah ini benar-benar kebanjiran!"
"Maria Elena?"
Deni mengangguk. Mereka asyik berduet, mera-bawakan beberapa lagu pop zaman dulu seperti Till, Yours, Again, More, dan irama Amerika Latin. Kemudian Deni berhenti sebab pegal tangan-nya dan Triska beralih ke Tchaikovsky. Setelah riga lagu, dia juga istirahat dan mereka makan berdua. Habis makan keduanya duduk-duduk di gazebo, mengawasi ikan-ikan di kolam.
"Kau sudah mulai dengan persiapanmu ke India?" tanya Deni. "Kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja."
"Nggak ada persiapan khusus. Cuma menyedia-kan celana jeans dan beberapa helai kemeja. Aku akan lebih sering pakai celana, lebih praktis."
"Sering-sering nulis surat, ya. Marco pasti ka-ngen."
"Cuma Marco?"
Deni menyeringai. "Terang bapaknya jugaf Itu sih nggak usah disebut lagi. Seminggu tiga kali, ya, kirim kartu pos!"
"Habis dong waktuku buat nulis surat meltilu! Aku kan diundang bukan untuk darmawisata, Den. Kami harus bikin laporan mengenai situasi kese-hatan anak-anak di Sana, terutama bagaimana cara mereka menanggulangi penyakit-penyakit infeksi
dan apa yang bisa kita contoh untuk kita manfaat-kan, serta apa yang bisa kita berikan untuk mem-bantu mereka."
"Wan, be rat juga tugas kalian!"
"Iya! Dan belum tentu lagi kami akan sempat mengunjungi Taj Mahal!"
Mereka bercakap-cakap ke sana kemari sampai Marco pulang bersama nenek dan kakeknya. Dan percakapan itu pun menjadi kenangan manis yang disimpan Triska untuk menghangatkan hatinya yang pilu dibalut rindu.
***
Triska akan mengingat terus hari itu. Dua ming-gu setelah ulang tahunnya yang ketiga puluh.
Mai am itu turun hujan. Pukul sembilan telepon berdering. Ternyata dari ibu Deni. Kebetulan yang menerima adalah ibunya. Triska sendiri sedang di kamar, membaca jurnal setelah mendendang untuk Marco sampai terlelap.
Pintu kamar diketuk perlahan, lalu ibunya masuk, langsung duduk di ranjang, dekat kakinya. Wajahnya yang muram membuat Triska mengerut-kan kening. Kenapa ibunya? Migraine? Hamil? Ini kan Minggu malam, Papa nggak praktek, nggak ke mana-mana, masa Mama kesepian?
"Ada apa, Mam?"
"Ada telepon tadi dari mertuamu..."
"Mantanl" Triska menambahkan sambil tertawa kecil, tapi ibunya yang biasanya suka humor, kali ini tidak ikut tertawa.
"Deni ada di rumah sakit!" Pikiran Triska saat itu otomatis membayangkan Deni sedang jaga malam, karena itu dengan spon-tan dia bilang, "Ya, lantas?" Begitu selesai meng-ucapkan kalimat itu, Triska langsung menyadari keanehan sikap ibunya dan telepon itu. Sejak ka-pan ibu Deni suka melaporkan kegiatan anaknya padanya? Dinas jaga malam? Di rumah sakit? Rumah sakit?! RUMAH SAKTT?!
"Mam! Kenapa dia?* pekiknya melempar jumal itu ke IantaL "Tabrakan, Tris. Di Puncak!" "Gimana keadaannya?!"
"Masih pingsan. Musim hujan begini memang berbahaya sekali jalanan di sana, banyak tikungan yang mudun. Tukarlah bajumu, Tris. Papa akan mengantarmu melihatnya."
Ibunya membantunya mengenakan pakaian. Se-ingatnya, sejak dia mulai masuk sekolah kelas nol, baru kali inilah dia perlu bantuan memakai baju dan menutup serotan. Mengenakan sepatu pun hampir tak sanggup. Rasanya jari-jari tangannya kebal, tak bisa merasa, tak bisa memasang gesper sepatu. Bukan cuma tangannya, tapi seluruh tubuh dirasakannya kebal tanpa rasa. Dia sudah tak ingat lagi untuk menyisir rambutnya, dan ibunya juga lupa mengingatkan. Dia langsung keluar kamar dan berlari turun.
Ayahnya sudah menunggu dalam garasi. Mereka segera berangkat. Hujan masih turun cukup lebat. Di tengah jalan dia merasa hidungnya tersumbat
dan matanya basah. Barn I ah disadarinya, dia lupa membawa tas. Untung dalam mobil ada sekotak
usu.
Mendengar bunyi khas dari hidungnya, ayahnya mengambilkan beberapa helai tisu yang diserah-kannya ke tangan Triska.
"Jangan menangis, Tris. Papa yakin, Deni takkan kenapa-kenapa." hibur ayahnya sambil memeluknya.
"Pap!" cetusnya dan meledaklah tangisnya di dada ayahnya.
"Ssst. Tumpahkan semua air matamu, Tris. Emosi jangan ditahan-tahan. Marilah kita berdoa pada Tuhan agar Deni dilindungi-Nya."
Di tengah-tengah hujan lebat, dalam mobil yang gelap dan dingin, keduanya mengucapkan doa Ba-pa Kami serta Sal am Maria. Triska merasa sedikit lega setelah itu. Dalam hati ditambahkannya sen-diri, "Terjadilah menurut kehendak-Mu."
*##
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dokter Justin pada Nila dan abangnya, Tono, yang sedang duduk di ruang tunggu. "Dengan siapa Deni ke
Puncak?"
"Dengan kami," sahut Tono. "Waktu itu kami mau pulang ke Jakarta."
"Dan kalian tidak kenapa-kenapa?"
"Nila dan saya di mobil lain, mengikutinya. Deni bersama... mmm..."—Tono melirik Triska se-kilas lalu menggcser-geser kaki di lantai sambil menunduk—"Odi...."
"Odi?" Dokter Justin Omega menaikkan kening-nya sebingga alisnya hampir bersatu dengan ram-butnya. "Jadi mereka pergi berduaV
Nila mau pun Tono tidak menjawab pertanyaan ita.
"Di mana Deni?" tanya Triska berdebar-debar. "Orangtuanya belum datang?" tanya Dokter Justin.
"Mereka sedang makan di luar. Tante Desi sudah hampir semaput, dan dia punya sakit mag, jadi oleh Oom Agus dipaksa harus makan," ujar Nib.
"Dan Deni?" ulang Triska makin cemas.
"Di dalam." Tono menunjuk ke pintu tertutup di ujung lorong.
Ruang OP! Jantungnya nyaris copot.
"Oom dan Tante belum ketemu Deni, nggak boleh masuk, jadi mereka pergi dulu," Nila me-nambahkan.
"Pap, saya harus melihataya!"
"Nggak bisa! Aku barusan ditolak!"
Mendengar suara yang keras itu Triska dan ayahnya menoleb. Dokter Justin langsung mem-buang muka kembali, tapi Triska masih menatap beberapa saat. Rupanya Odi beruntung, cuma ke-bagian lecet-lecet yang ditempeli plester. Tapi per-ban kecil di dahi itu? Semoga lukamu perlu sepu-luh jahitan! Nah, kok aku mendadak jadi jahat?! Habis lagi-lagi dia muncul menimbulkan onar!
Tan pa memberi komentar, kedua ayah dan anak itu melangkah ke arah ruang OP. Tono meng-
196
angguk, dan sambil tertawa mendecak. "Oom dan Triska pasti boleh masuk." Digosok-gosokkannya tangannya seraya menambahkan pada Odi, "Ini bukan daerah teritorialmu! Mana mereka mengang-gapmut Dokter juga mana mungkin diizinkan ber-lenggang-lenggok di atas catwalk, iya, kan? Nah, sana sajal Betul, nggak* Tris?"
Triska memandang laki-laki gendut dengan wa-jahnya yang berminyak itu, rambutnya yang terjurai ke dahi, dan gigi-giginya yang kehitaman, terutama tawanya yang palsu. Tiba-tiba dia teringat pada Uriah Heep-nya Charles Dickens yang hobinya tertawa serta menyanjung dan mengumpak orang. Serentak rasa tidak sukanya muncul terhadap penga-cara ini. Khawatir dia takkan dapat menyembunyi-kan perasaan itu dari wajahnya, Triska lekas-lekas berjalan menyusul ayahnya yang sudah dua langkah didepan.
Mereka memang berhasil masuk ke dalam, tapi cuma sampai ruang depan tempat ganti baju para dokter. Mereka juga memang tidak berharap akan masuk ke ruang OP sebab mereka tidak steril. Di ruangan itu terdapat dinding kaca sehingga orang bisa melihat ke dalam teater OP. Salah seorang perawat melihat dan mengenali mereka dan rupanya memberitahu ketiga orang dokter yang sedang tekun menghadapi meja OP. Salah seorang lalu kelihatan meninggalkan meja dan menghampiri mereka. Seorang perawat lain membukakan jendela di dinding kaca itu sehingga mereka dapat berbicara tanpa ahli bedah itu perlu meninggalkan ruangan.
19:
"Hai, Tris!"
"Oh, kau, Joko!" Rupanya itu bekas teman ku-liahnya.
"Dokter Justin, selamat malam." Joko mengang-guk hormat pada bekas dosennya dan dibalas dengan anggukan juga. "Giraana keadaannya, Ko?" tanya Triska cemas. Joko melipat jari-jan tangannya yang bersarung karet itu di depan dadanya dan matanya yang diperkuat beling itu tampak berkedip-kedip seperti orang senewen. "Kelihatannya perdarahan epidural, Tris," ujarnya sambil menghela napas pelan sekali sehingga hampir tidak kentara. "Waktu masuk tadi dia sempat siuman selama sejam, malah sempat guy on, katanya, 'A was kau, Joko, kalau berani menelanjangi aku dan pegang-pegang alat vitalku! Pokoknya aku yakin thorax, abdomen, dan pelvis-ku t.a.LV Lalu dia mengeluh sakit kepala. tiduran, lalu tahu-tahu comal Sekarang kami ting-gal menunggu Dokter Omar yang akan memas-tikan diagnosisnya dan kemudian melakukan tre~ panasi.
"Masalahnya, kebetulan saat ini beliau ada di Medan, sedang menghadiri Simposium Bedah Sa-raf Se-Asia-Pasifik. Tapi sudah dijemput, kok, dengan pesawat pribadi Sigma Enterprise."
>(perdarahajl antara tengkorak dan selaput otak juk ada kelainan tindakan untuk mcngcluarkan (gumpaJan) darah
"Sigma?" Triska menegaskan. "Kenapa bawa-bawa Sigma?" Itu kan ayah Erik! Ada hubungan apa?
Joko mengangguk. "Pak Agus Melnik yang telepon, minta tolong. Pak Melnik bilang, Pak Petrus Sigma itu kawan baiknya, mereka juga bekerja sama dalam usaha-usaha di luar negeri."
"Boleh kami tunggu?" tanya Triska, tapi Joko mengangkat bahu.
"Menurut aku, sebaiknya kau pulang dulu, isti-rahat. Tak ada yang bisa kaulakukan di sini. Kau harus menyimpan energimu untuk besok. Jangan sampai kau juga jatuh sakit!"
"Ya, Joko betul," angguk Dokter Justin setuju.
"Percayalah, dia akan ditangani sebaik-baiknya. Jangan khawatir, ada aku! Aku akan menunggui-nya semalam suntuk! Kalau ada perkembangan yang penting, pasti kau kukabari."
Triska menggigit bibir, dan menunduk sambil mengejap-ngejap agar tak ada yang melihat bahwa matanya membasah.
"Aku kenal Deni dengan baik, Tris. Dia juga kawanku yang sering membantu aku. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. Aku akan bantu menolongnya sekuatku! Pulanglah kau. Kira-kira tiga jam lagi boleh kautelepon ke sini kalau mau, minta nomornya pada salah seorang perawat di luar."
Triska mengangguk. "Tapi aku masih ingin me-nunggut sebentar lagi. Biar di luar saja." Bam saja dia mau memuter tubuh, tahu-tahu
199
Kris menyerbu masuk. "Bagaimana? Mama ngebel, tapi nggak tahu apa yang terjadi."
Joko mengulangi penjelasannya tadi dengan singkat. Kris mengangguk setuju. "Joko betul. Papa dan kau sebaiknya pulang saja. Biar aku yang menunggui di sini. Kalau perlu, aku kan bisa menolong OP atau melakukan pemeriksaan ini-itu. Kau langsung tidur saja, nanti nggak usah telepon ke sini. Aku juga nggak akan nelepon kecuali ada perkembangan drastis! Kau perlu sekali istirahat. Papa juga, nggak usah nunggu telepon. Pap."
Kris menggiring Triska keluar ruangan. Baru semenit di ruang tunggu. muncul Erik dengan pa-kaian malam berdasi kupu-kupu. Triska tertegun dan menahan napas. Bukan main tampannya dia! Kecuali warna rambut dan kulitnya, profilnya sungguh mirip bintang Hollywood.
"Aku sedang menghadiri resepsi di Hilton, tahu-tahu ayahku telepon," katanya pada Triska. "Dia sedang flu berat, jadi disuruhnya aku yang nengok. Aku langsung ke sini walaupun resepsinya masih belum bubar. Mana Oom Agus?"
Yang dicari ternyata muncul saat itu juga, menggandeng istrinya. "Oom di sini, kau mencari Oom?"
"Papi sudah mengirim orang ke Medan, Oom. Papi sedang sakit, malam ini tidak bisa datang, tapi besok kalau terasa baikan, katanya akan ke-mari. Papi bilang, kalau ada apa-apa yang bisa kami bantu, Oom jangan segan-segan kasih tahu."
Pak Melnik mengangguk dan mengucapkan
200
terima kasih sambil menarik napas berat. "Semoga tak usah dibawa ke luar negeri. Tapi bila dian-jurkan oleh dokter, Oom akan pinjam lagi pesa-
watnya."
"Tentu saja, Oom. Papi bilang, pesawat itu tak-kan dipakai ke mana-mana selama keadaan Deni masih gawat."
"Ayolah, Tris, pulang sekarang! Lihat, sudah hampir jam dua belas," Kris mendesak. "Erik, ajaklah dia pulang. Papa juga, Pap."
Tono yang tadi begitu leluasa tertawa dan me-nyanjung, kini tampak kuncup nyalinya di hadapan Pak Melnik. Nila juga kelihatan salah tingkah, sebentar-sebentar menggeser-geser sepatu di atas lantai. Rupa-rupanya benar seperti yang dikatakan. Deni, anak-anak Tante Leila semua ngeri pada paman mereka.
"Kalian mau tunggu apa di sini?!" hardik Pak Melnik pada kedua keponakannya. "Kalian takkan mendengar kabar baik! Sebab Deni takkan mati!"
Semua orang terkesiap mendengar ucapan yang keras itu, tak terkecuali Triska yang sudah tahu sebabnya.
Pak Melnik menggebah mereka dengan tangan-nya seperti mengusir lalat. "Ayo, enyah Sana! Ini kan gara-gara ulah kalian, mengajaknya ke Puncak hujan-hujan. Aku takkan heran bila ternyata kalian memang sengaja mau mencelakakannya. Awas! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan anakku, kalian akan kuseret ke pengadilanl"
Seperti anjing-anjing dibawakan lidi, kedua ber-
201
saudara itu menunduk. memutar tubuh, dan berialu dengan langkah gontai diikuti Odi yang sejak tadi menonton di pojok. tidak diacuhkan siapa-siapa. Tak seorang pun melirik atau menoleh ke arahnya, seakan dia tak nadir.
"Tris, kenapa belum juga pulang?" tegur Nyo-nya Desi. "Kan di sini ada Mami sama Papi. Nanti besot giliranmu nunggu. Mami akan pulang, ti-dur. Sana, pergiiah, nanti Marco terbangun kau nggak ada dia akan nangis. Kita berdoa saja, menyerahkan semua pada Tuhan."
Atas saran Nyonya Desi Melnik, mereka semua berdoa dulu sebelum Triska berialu dengan ayahnya dan Erik.
"Bapak Kami, Saiam Maria, dan Kemuliaan," ujar Nyonya Desi. "Rosario biarlah di rumah masing-masing, siapa saja yang sempat"
Selesai berdoa, Nyonya Desi memeluk (mantan) menantunya sambil berbisik, "Tabahkan hatimu, Tris. Apa pun yang terjadi, Mami yakin, Deni ada di dalam lindungan-Nya!"
Triska menggigit bibimya keras-keras untuk mencegah turunnya air mata. Dengan susah payah ditelannya kesedihannya, kerongkongannya seakan tersumbat. Dipaksanya mengangguk, lalu meng-ucapkan selamat malam pada yang tinggal.
"Tidak mau manggjl Romo Yohanes?"
Semua orang tercengang mendengar usul Kris. Triska menghentikan langkahnya dan memandang yang lain bergantian. Pak Melnik kelihatan berkejap-kejap, Nyonya Desi seakan mau menangis. Kris jadi
rikuh seo I ah salah ngomong. Romo memang biasa-nya dipanggil untuk memberikan Sakramen Per-minyakan pada saat orang hampir... meninggal.
Pak Melnik berdehem dan mengangguk. "Kris benar. Maaf, Oom tidak ingat sampai ke situ. Tapi apa perlu dipanggil sekarang juga? Sudah hampir tengah malam, kan?" Air mukanya yang mendung itu seakan memohon agar ada yang mengatakan, "belum perlu sekarang" yang berarti keadaan anak-nya masih bisa ditolong.
"Hanya sekadar berjaga-jaga, Gus!" ujar Dokter Justin menenangkan. "Ibunya Triska juga sudah pemah menerima Perminyakan waktu keadaannya gawat dulu." Triska tidak ingat kapan ibunya per-nah gawat, dan ayahnya juga tidak menjelaskan. Tapi tak ada yang bertanya. Triska tahu, itu taktik seorang dokter untuk menenangkan pasien yang senewen mengenai penyakitnya. Dokter Justin per-nah mengajari Triska. Ambillah contoh keluarga kita sendiri, dan katakan, paman saya atau bibi saya atau yang lain, menderita penyakit yang sama, tapi lebih parah, en toch mereka masih hidup sampai sekarang!
"Persoalannya kini, siapa yang akan menjemput Romo?"
"Saya bisa," ujar Kris.
"Jangan!" cegah Erik. "Kau mungkin dibutuhkan di OP, biar saya saja. Tris kan pulang dengan Oom Justin, jadi nggak perlu saya antar."
Ketiganya pun permisi dan berialu. Sebelum berpisah di depan tempat parkir, Erik menggeng-
gam Cangan Triska erat-erat dan berbisik sambil menatapnva serius, "Aku akan berdoa Rosario ba-ginya malam ini."
Triska sangat terharu melihat kebesaran jiwa laki-laki ini sehingga dia tidak mampu bilang apa-apa kecuali, "Trims."
***
Esoknya, untuk pertama kali dalam sejarah hi-dupnya, Triska tiba di rumah sakit pukul setengah tujuh pagi, tan pa menunggu ayahnya tanpa mandi, dan tanpa sarapan. Dia yakin, pasti dia yang no-mor satu datang. Tidak tahunya ketika menuju ke tempat Deni, dia beramprokan dengan Roy yang rupanya punya tujuan sama.
"Marti nelepon semalam. Aku langsung call ke sini, ngomong dengan Kris. Karena sudah jam sebelas lewat, dan tak ada yang bisa kubantu, aku tidak jadi menjenguk."
Triska mengangguk dan mencoba mengelak dari tatapan Roy yang menyengat. Tris, mungkin kau-kira aku senang, mungkin seharusnya aku merasa senang, tapi tidak!" Roy menggeleng keras. "Aku tidak gembira mendengar Deni kena musibah. Memang dia sainganku, tapi aku tidak mau menang dengan cara begini!"
Roy menatap Triska beberapa saat tanpa ber-kata-kata, dan Triska membalas tanpa berkedip. Akhimya nyengir kuda yang paten itu muncul, dan Roy mendecak. "Aku tahu, menurutmu, aku harus melupakanmu."
"Kau sudah mulai pin tar membaca pikiranku!" puji Triska tanpa tertawa. "Ayolah! Apakah kau juga mau menengok Deni?"
Ternyata di sana sudah hadir Erik dengan ayahnya yang tengah berbicara dengan Pak Melnik, juga ada Dokter Nero Toma yang kelihatan ber-cakap-cakap serius dengan Kris dan Joko. Per-cakapan mereka serentak terhenti ketika Triska tiba, sehingga dia menduga pembicaraan itu ada kaitannya dengan Deni, dan melihat gelagat air muka mereka, rupanya prognosis pasien kurang menggembirakan.
"Bagaimana?" Triska langsung membuka mulut malah sebelum ada yang sempat menyapanya atau mengucapkan selamat pagi. "Sudah sadar?"
Kris mengalungkan lengan ke bahu adiknya dan mendekapnya. "Belum, Tris. Tapi jangan skeptis. Dokter Omar sudah melakukan trepanasi, jadi kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Kata be-liau, Deni mengalami contusio cerebri berat LP-nya memang mengandung darah sedikit, tapi tak ada gejala pathologis dari saraf-saraf otak."
Triska tiba-tiba menangkap lirikan Joko pada abangnya. Serentak dia melepaskan diri dari peluk-an dan menatap abangnya serta Joko bergantian. "Apa yang kalian sembunyikan? Ayo, katakan! Aku tidak mau diperlakukan seperti anak kecil!
memar otak, lebih berat daripndn gegar otak (commotio) kelai nan/abnormal
205
204
Aku tahu, harapan untuknya sudah tipts sekali, tapi aku ingin mendapat gambaran bagaimana ke-adaannya sejelas-jelasnya. Jangan bohongi aku, Kris! Aku juga dokter!"
Kris saling bertukar pandang dengan Joko, dan akhirnya dia menghela napas. "Diagnosisnya ter-lalu ban yak, Tris. Contusio, perdarahan extradural, dan... kemungkinan CK4!" "CVA? Causa-nya apa?" "Menurut Dokter Omar, kemungkinan aneurys-ma * pecan," sahut Joko.
"Jadi selain extradural ada juga perdarahan subarachnoid!" Roy menegaskan. Joko mengangkat bahu. "Belum jelas." "Kernig? Brudzinski?" tanya Triska dengan hati berdebar. JPJS
"Tidak jelas positif."
Triska merasa sedikit lega. Bila tidak ada gejala yang disebut tanda Kernig dan tanda Brudzinski, masih ada harapan kemungkinan bukan perdarahan subarachnoid yang ditakuti itu.
"Boleh kutengok?" tanya Triska.
Kris kembali saling berpandangan dengan Joko. Kemudian digandengnya adiknya. "Mari kuantar-kao!"
Deni ditempatkan dalam kamar VIP untuk satu
cerebro vascular accidents - gangguan perdarahan otak penyebab
kelainan pcmboluh darah yang melebar seperti kantong
orang, lengkap dengan kamar mandi di dalam. Tapi apa gunanya, pikir Triska sedih. Pasiennya
tak bisa mandi.
Triska merasa trenyuh melihat Deni terbaring di bawah seltmut, tak bergerak sama sekali, dan dari segala sudut menjulur kateter serta slang karet. Wajahnya pucat, dan kumisnya sudah mulai tum-buh lagi.
"Kris, tolong, dong, carikan aku cukuran, aku ingin mencukur kumisnya."
"Oke, tunggu sebentar." Kris keluar kamar men-cari pisau cukur dari ruang OP.
Triska mengulurkan tangan dan mengelus-elus wajah Deni seperti yang dilakukannya terhadap Marco bila ingin membujuknya. "Jangan pergi dulu. Den," bisiknya ke telinga Deni. "Tugasmu masih banyak di sini. Marco memerlukanmu. Aku juga! Pulang ke surga memang sedap, tapi kau jangan mau enaknya saja, dong! Meninggalkan aku sendirian di sini? Membiarkan aku bersusah payah membesarkan anakmw, sementara kau main gitar sepanjang masa di antara bidadari-bidadari? Maumu! Awas kau, kalau sampai mengecewakan aku."
"Tris, nih pisaunya."
Triska serentak menegakkan kembali tubuhnya dan mengambil pencukur itu dari tangan abangnya, lalu pelan-pelan mencukur sang pasien. Hm. Tak ada after-shave lotion, pikimya setelah selesai. Terpaksa dibasahinya handuk di kamar mandi dan disckanya bibir alas bekas cukuran. Kemudian
diangkatnya seiimut dan dilihatnya Deni mengenakan baju rumah sakit yang kependekan, nyaris tidak menutupi auratnya. Piama tentu saja akan kelihatan lebih respektabel. tapi selama masih perlu dipasang kateter, celana akan merepotkan. "Kris, apa nggak ada baju yang lebih panjang?" "Tahu, deh. Coba nanti aku tanyakan. Deni ukurannya jumbo, sib!"
"Kayak sendirinya ukuran liliput saja!" balas Triska seakan merasa perhi membela orang yang tak berdaya membela diri sendiri. Kris menaikkan sebelah ujung bibimya ke atas, tapi dia tak berani tertawa sebab wajah adiknya serius benar.
Melihat Triska kemudian berdiri termangu me-mandangi Deni seraya mengelus-elus tanpa sadar lengannya yang dimasuki infus, Kris cepat-cepat mengajaknya keluar lagi. Triska menurut, sebab dia juga merasa air matanya sudah tidak jauh dari ujung saluran.
Setiba di luar, Triska disambut oleh Nyonya Desi yang mau pamitan.
"Tris, Mami mau minta tolong kau pergi meng-ambilkan handuk, sabun, dan piamanya. Siapa tahu katetemya nanti bisa cepat dicabut, dan dia boleh pakai celana lagi. Juga sekalian kau tenangkan Bi Rinai, katakan majikannya tidak kenapa-kenapa, cuma perlu diopname sebentar, Bilang pada me-reka, nanti Mami juga akan menengok mereka. Tolong kauberi beberapa ribu untuk membeli sa-yuran sehari-hari." Triska mengangguk. "Kebetulan saya memang
mau ke sana, mengambil cukuran dan Zorion-nya. Saya juga akan membawakannya kaset lagu kege-marannya."
"Kalau begitu Mami tinggal dulu, ya. Nanti sore kami datang lagi."
Pak Melnik juga pamitan, lalu melangkah di samping istrinya.
Kira-kira pukul delapan muncul Martina yang kelihatannya tergesa-gesa sampai-sampai kacamatanya ketinggalan. Untung aku masih bisa melihat jalanan," tukasnya menggeleng, lalu ditatapnya Triska dan suaminya bergantian. "Gimana?" bisik-nya.
Triska cuma menggeleng, tak sanggup menja-wab. Kris-lah yang menolongnya, "Epidural. Sudah di-trepanasi, tapi orangnya masih comatose. Kemungkinan CVA, aneurysma pecan."
Martina sampai terdiam saking beratnya diagnosis yang didengarnya. Dia cuma mampu meme-luk Triska tanpa kata-kata. Triska menggigit bibir sekeras-kerasnya untuk mencegah jangan sampai menangis. Untunglah suasana yang kelabu itu di-bubarkan oleh seruan Sumi yang muncul bersama Hansa.
"Tris, ibumu tadi pagi ngebel, langsung kutarik Hansa dari ranjang."
"Aku malah nggak dii/.inkan sarapan dulu!" Hansa mengadu tapi disodok perutnya oleh istrinya yang menyuruhnya bungkam sambil mendelik seakan mau mengingatkan bahwa ini suasana berka-bung.
"Gimana Deni, Tris?" tanya Sumi dengan kha-watir sambil menggenggam tangan Triska seerat-erataya.
"Masih pingsan."
"Dokter bilang apa?"
"Tunggu perkembangan," sahut Kris menolong adiknya menjawab.
Sumi mengajak Triska duduk, yang lain meng-ikuti. Mereka tidak banyak berbicara, semuanya saling menunduk atau memperhatikan orang-orang yang hilir-mudik senasib dengan mereka, menung-gui atau menjenguk sanak keluarga.
Tak lama kemudian Dokter Justin muncul. Se-mentara semua orang mendengarkan Kris mem-berikan laporan pada ayahnya, Sumi menyentuh lengan Triska dan berkata pelan, "Tris, maukah kau berdoa novena pada Santo Antonius?"
"Sum, aku mau melakukan apa saja asal Deni bisa tertolong!" sahut Triska tanpa ragu.
"Antonius dari Padua adalah seorang santo be-sar, Tris. Semasa hidupnya sudah banyak terjadi mukjizat. Mintalah bantuannya, Tris. Kau bisa berdoa di rumah, sembilan hari berturut-turut. Mulai-lah malam ini. Kau punya gambar atau patung-ayaT
"Ada. Dikirimi oleh Tante Marie—kakak ibuku yang tinggal di Prancis—ketika dia ziarah ke Padua. Apa yang harus kulakukan?"
"Pasanglah lilin, lalu berdoalah padanya." Sumi membuka tas dan menyerahkan sebuah buku tipis pada Triska. "Inilah doanya. Kita juga berkau), bila
210
permohonan kita dikabulkan Tuhan, kita akan mem-
berikan derma untuk orang mi skin. Berdoalah, Tris. Aku juga akan berdoa di rumah, sebab Novena Besar di gereja baru akan mulai bulan Agustus."
"Trims," bisik Triska. "Aku nggak tahu bagai-marta harus membalas kebaikanmu!"
"Gampang! Dengan membantu mendidik Linus. Aku melakukan ini supaya anakku jangan kehi-langan ayah permandiannya."
Triska tersenyum penuh keharuan, hatinya merasa lebih tenang setelah mendapat jalan untuk mohon bantu an pada seorang doktor Gereja.
Ketika hampir pukul sembilan, Triska menyata-kan harus pergi ke Bagian Anak untuk dinas. Sumi dan Hansa pun pamitan, sementara yang lain juga bubar untuk pergi ke tempat tugas masing-masing, kecuali yang memang sedang tugas di situ seperti Joko. Erik dan ayahnya juga minta diri.
"Aku akan ke sini lagi begitu sempat," ujar Triska pada Joko. "Tolong kaulihat-lihat, ya, Ko. Terutama infusnya, jangan sampai dibiarkan ko-song."
"Jangan khawatir, Tris," janji Joko sungguh-sungguh. "Aku akan menjaganya sampai kau da-tang lagi."
"Trims."
***
Triska langsung meneraui Dokter Makalus, wa-kil Dokter Rahwana, yang men gurus penunjukan wakil-wakil yang akan berangkat ke luar negeri.
Triska mengetuk pad dan disilakan masuk Dokter Makalus berbeda bagaikan iangit dan hunt dengan Bos Alim Rahwana yang unggi-besar ma-cam beruang sirkus. Dokter Makalus bertubuh ke-cil-kurus, dan memberi kesan serba kekumngan dan pas-pasan. Rambutnya sedikit. matanya lamur. telmganya memakai alat bantu, kumisnya jarang-jarang. giginya memakai crown, dan tangan ke-mejanya selalu berbercak kuning bekas keringat
"Selamat pagi, Dok." sapanya sambil menutup
"Oh, selamat pagi, Dokter Triska. Ada masalah apa?" tanya Dokter Makalus yang sedang sibuk dengan setumpuk kertas di atas meja.
"Saya ingin menarik diri dari kunjungan ke Calcutta Dok."
Dokter Makalus mendadak mencopot kaca mata nya dan duduk lebih tegak. Matanya yang keriput akibat terlalu lama disekap kaca bingga kekurang-an udara segar, menatap Triska dengan sedikit membeialak. "Apa maksudmu dengan 'menarik
mr
"Saya tidak bisa berangkat, Dok."
"Sudah tmggal dua minggu lagi kau bilang tidak bisa berangkat? Selama enam minggu itu apa saja yang kaupikirkan sampai baru sekarang memberi-tater
"Saya minta maaf. Dok, baru hari ini pembatal-annya. Ini karena ada emergency dalam keluarga, bukan mau saya sendiri, tapi terpaksa "
212
Dokter Makalus tidak befheMt menuHs. "Ya. teruskan. saya mendengartm"
"Suami saya CVA, Dok. Sekarang di 1CU Bagi-on Bedah Saraf. masih dalam coma*
"Kukira kau sudah berccrai."
Triska merasa wajahnya panas menyadarl keke-liruannya. Pikirannya saat itu sedang bmgung. ker-ja otak nya kurang be res.
"Maaf, saya kelupaan. Kami memang sudah... ngngng... berpisah, tapi hubungan kami tetap baik."
"Dan kau terpaksa membatalkaa trip int karena dia? Dokter Tris, waktu sudah me pet begini. siapa yang bisa siap berangkat dua minggu lagi? Seiain itu, toh Dokter takkan bisa melakukan apa-apa walaupun tetap tinggal di sini. saya rasa. Betul tidak?"
Dok. Deni adalah ayah anak saya. Kalau saya tinggalkan dia dalam keadaan gawat begini. lalu scandainya terjadi sesuatu dengannya, bagaimana kelak saya akan mempertanggungjawabkannya pada anak kami?"
Dokter Makalus mclc takkan pena dan mencopot lagi kacamata yang tadi sudah dipasangnya kembali. Kali ini digigit-gigitnya tangkainya dan di-pandangnya Triska dengan mata terptcing. Sambil mcngangkat bahu, ujamya, "Bagi saya sama sekali tidak menjadi soal siapa yang akan berangkat, Dokter Tri.s atau dokter lain. Tapi sikap suka membantah order ini sebtuknya jangan di jadi kan kebiasaan, sebab bisa mempengaruhi kelancaran promoai, tahu!"
"Sa... ayah anak saya sedang menghadapi maut, mana mungkin saya dapat memikirkan urusan pro-mosi segala Dot"
"Saya cuma ingin mengingatkan," ujar Dokter Makalus, memakai kembali kacamatanya dan me-nyambung kegiatannya tadi sebelum diganggu oleh kedatangan Triska. "Supaya nanti kalau timbul ke-sulitan untukmu, saya jangan kausalahkan!"
"Masalah saru-sarunya yang penting bagi saya saat ini adaiah keadaan s-s-s... ayah anak saya. Saya terpaksa mengundurkan diri."
"Saya tidak keberatan, asal Dokter Rahwana juga setuju dan bisa mencarikan gantinya."
"Baiklah, kalau begitu saya akan menemui Dokter Rahwana Terima kasih, Dok."
Triska merasa kecat juga harus menghadap Bos Gede. Kalau Bos Kecil saja sudah begitu galak, tak ada pengertian—beliau sama sekali tidak me-ngatakan apa-apa yang menguatkan hati, misalnya "semoga lekas mendingan" atau apa, kek!—apalagi bos gede yang sudah terkenal suka menggeledek.
Namun rupanya sekali ini Bos Gede sedang senang hati—barangkali tebakan Lotto-nya jitu?— atau mungkin ada segi lain dari dirinya yang belum pernah dilihat oleh Triska, entahlah. Di luar dugaannya, Dokter Rahwana ternyata langsung menyetujui, bahkan menanyakan dengan mendetail bagaimana keadaan Deni, siapa yang menangani, dan terakhir, memberiirya libur kalau merasa perlu.
"Kalau pikiranmu sedang kacau, kau juga takkan dapat konsentrasi dan bekerja dengan baik,
214
Tris. Pulanglah, atau mungkin kau ingin menung-
guinya?"
"Saya memang perlu mengambil beberapa ba-rang keperluannya. Terima kasih, Dok. Kalau begitu saya permisi saja."
Dokter Rahwana mengangguk. "Beritahu saya kalau kau perlu bantu an apa-apa. Dan besok lapori saya bagaimana perkembangannya!"
*#*
Triska disambut hangat oleh Bi Rinai serta A tun. "Sudah tahu, Bi?" tanyanya sambil melangkah masuk.
Bi Rinai mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Ibu Melnik semalam menelepon dari rumah sakit. Dan tadi, beberapa jam yang lalu, telepon lagi dari rumahnya, memberitahu bahwa Ibu akan datang mengambil pakaian Bapak. Apa betul ke-adaannya separah yang dikatakan Ibu Melnik?"
Triska menghela napas dan mengangguk.
"Sebenarnya Bapak sudah nggak mau pergi," ujar Atun tanpa ditanya. "Saya dengar sendiri Bapak bilang di telepon, 'Aku mau ke Depok. Pang-gil saja dokter Iain.' Tapi Pak Tono itu rupanya ngotot, akhirnya Bapak pergi juga."
"Pak Tono? Dari mana kau tahu itu Pak Tono?"
"Sebab Bapak berkali-kali menyebut namanya 'Tono, Tono' begitu."
Hm. Jadi memang ulah mereka! Mungkin duga-an Pak Agus tidak meleset?! Jadi Tono memaksa Deni pergi 1
"Kaudengar nggak, siapa yang sakit?"
"Mungkin ibunya Pak Tono, Bu, Sebab saya dengar—saya sih bukan nguping. tapi kebetulan sedang menyapu di kamar makan dan Bapak memakai telepon di situ—Bapak bilang, ' ibumu, ibu-mu' begitu."
Triska mengangguk, lalu masuk ke kamar tidur. Di belakang pmtu dia bersandar sambil memejam-kan mata sejenak. Sudah berapa lama kutinggalkan tempat ini, pikimya. Dihampirinya tombol di dinding dan ditekannya. Musik merdu langsung menyapu gendang telinganya. Till, lagu kesayangan mereka berdua. Walaupun hanya instrumental, tapi dia masih hafal kata-katanya karena mereka biasa menyanyikannya berdua sambil berendam di bak mandi. 731 the rivers flow upstream. Till lovers cease to dream. Till then I'm yours, be mine. Ah, itu semasa mereka masih mesra, masa pra-Odi! You are my reason to live, AH I own 1 would give. Just to have you adore me...
Triska mengenali kaset itu. Mereka pernah me-ngumpulkan semua lagu kesayangan, lalu mereka rekam kembali memakai kaset baru, sehingga lagu-lagu kurang menarik yang biasanya dicam-purkan oleh produser, bisa mereka singkirkan.
Triska tahu, setelah lagu ini akan berkumandang Einsames Hen—Hati (yang) Kesepian-nya. Clay-derman, setelah itu Serenade-nya. Schubert, lalu Yours, lalu // / Give My Heart to You, lalu No Other Love, lalu...
Dibukanya lemari pakaian. Dia tak dapat menahan
216
senyumnya. Masih tetap acak-acakan. Tapi sekali ini dia tidak merasa jengkel seperti biasanya kalau merasa perlu membenahi. Dielusnya baju-baju itu. Terasa sejuk. Diambilnya sehelai demi sehelai. dili-patnya dengan rapi lalu dikembalikannya ke tempat-nya, satu per satu, diaturnya celana dalam dengan celana dalam, singlet dengan singlet, kemeja dengan kemeja... Musik di belakangnya mengalun merdu. menyejukkan perasaan yang gundah. Yours till the stars have no glory. Yours till the birds fait to sing. Yours till the end of life's story, This plea to you dear I bring,., I've never loved anyone ike way I love you, How could I, when I was born to be just yours...
Diambilnya after-shave lotion dari kamar mandi. sekalian dengan pencukumya tapi bukan yang pa-kai listrik. Ke kamar mandi pun musik merdu itu mengalun masuk. // / give my heart to you. Will you handle it with care, Will you always treat me tenderly, And in every way be fair*, *
Dipilihnya baju-baju yang akan dibawanya. juga handuk serta sarung bantal dan selimut. No other love can warm my heart, Now that I've known the wonder of your love,,,
Triska menyusut air mata yang mengalir ke pipi. Kedua lagu yang terakhir itu mengingatkan-nya pada anniversary mereka yang porta ma yang dirayakan di vila keluarga Melnik di Pulau Bida-dari. Orangtua Deni memiliki koleksi hampir semua lagu pop zaman mereka muda, di antaranya kedua lagu itu serta yang lainnya seperti Eternally, Ever True Ever More, Pretend, My Heart Cries
for You... sighs for you, dies for jam Ami my Mereka merekam lagu-lagu pi!than itu dan me-
atas sofa Think a over and be sure. Please don't answer till yam do. When you promise all these things to me, Then I'll give my heart to you... Han sudah petang, mereka memperhatikan burung-bu-rung camar terbang pulang, mm ted that megah dan perkasa. Deni bilang, sungguh cocok untuk tempat mandi para bidadari. I'll be laving you eternally. There'll be mo one mew my dear, foe me... Betulkah, Den? Betulkah takkan ada yang bam untukmu? From the start within my heart it seems I've always known. The am would shine when you were mine and mine alone... Bagtku juga. Den. Matahan selalu bersinar cerah semasn kau masih menjadi milikku....
Alat musik itu dapat membalikkan kaset sendiri dan takkan berhenti selama belum diputus aliran listnknya, sehingga lagu-lagu itu akan berputar tents mungkin sampai akhir zaman kalau dibiar-kan. Deni pemah bilang. sungguh mengherankan kenapa mereka merasa lebih menyatu dengan lagu-lagu angkatan orangtua mereka dibanding dengan musiknya The Beatles, The Bee Gees, The Meat-loaf, Michael Jackson, atau Madonna.
Triska masuk kembali ke kamar mandi untuk
membenahi wujah serta rambutnya. DI at as meja toilet dilihatuya scbu.ih recorder mungil ukiiran saku. Iseng-tseng ditekannya tombol play. Suara piano mengalun syahdu dan dia langsung mcnge nali penuamannyt sendiri. Dia terkenang saat itu Malam anniversary mereka yang kedua. Sehabts makan malam berdua di rumah. Tnska terhanyut dalam kebahagiaan yang memabukkan. Dia langsung duduk di depan grand piano, had i ah perka-winan dari orangtua nya. dan mulai memainkan lagu bersejarah terse but. Ave Maria-ny* Bach-Gounod, Beberapa hari kemudian. Deni memutar kaset, lagunya sama. Bah kan seluruh kaset dari mula sampai akhir, isinya cuma lagu itu.
"Kenal nggak, siapa pianisnya?" tanyanya dengan mata jenaka
"Stapa?"
"Ah, masa nggak kenal!" Matanya makin meng-goda, bibirnya sudah mau tertawa.
"Navratilova? Atau Horowitz?"
"Salah dua-duanya! Coba tcbak lagi! Sepuluh ribu mpi,ih kalau berhasil "
Dia berpikir kcras setengah menit, lalu, "Nye-rah, deh."
"Namanya Triskanova Omega wita! Masa nggak kenal?"
"Busetl Kapan kaurekam?"
Ternyata permainannya malam itu, ketika hati nya cerah dipalut bnhagia, serta syahdu penuh haru, telah dirckam dengan mencuri-curi, dan ini-lah kasetnya sekarang....
hi pcrempu-:lu bercanda tk kcgelian. z tidak per-
bis.i. andante... pianissimo... piano... mezzopiano... decrescendo... mezzopiano... crescendo.., mezzo-forte... decrescendo.. mezzopiano*. piano... pianissimo...
Ave Maria... Im adalah hah yang te rind ah dalam hidupnya... Bergaun putih di samping Deni, bertutuf di hadapan altar di depan Romo Yoha-nes... Hati kami bersatu padu, kami saling mencin-tai... Bagaimana mungkin aku bisa mcncampakkan semua itu...'? Bagaimana mungkin aku sebodoh itu...? Kenapa aku harus berpikir dengan kakiku. bukan dengan kepalaku...?
Awe Maria.. Diangkatnya tangan kiriku. dipilih-nya jari mamsku, dimasukkannya cincin putih ber-ukir sebatang anggur dengan daun-daunnya, begitu indah dan bisikannya cuma terdengar oleh teli-ngaku, "My love..." Aku begitu bahagia, mataku terasa mulai membasah... Ave Maria.. Ob. Deni!
Triska menangkupkan kepalanya ke atas meja toilet dan tersedu sedan. Maafkan aku. Den! Semua ini salahku! Kalau aku tidak menuntut cerai, pasti kau takkan pergi ke Puncak, dan tidak kena
kecelakaanl Aku berdoaa, aku berdoaa, aku sangat bcrdosa... Kenapa aku harus takut dijelek-jelekkan dalam koran, kenapa kubiarkan orang lain mcnyc-tir hidupku, kenapa tidak kumaafkan saja orang yang kucintai, kenapa tidak fatten ma saja perkata-anmu...'? Harga diriku yang somoong tak keruan sudah menjerumuskanmu ke dalam jurang. kini kau terbaring antara lane it dan bumi. padahal dulu kita |vinah tinggal di langtt kesembilan.., Ave Maria..
Triska membenahi kaset itu dan membawanya untuk Dent Lalu dibersitnya hidungnya dan diba-
suhnya wajahnya.
Triska kembali ke rumah sakit membawakan barang-barang Deni dan menungguinya sampai siang. Diputarnya kaset dengan volume rendah. dan diletalckannya di samping bantal, dekat telinga. Sebentar-.sebentar dietusnya wajah Deni, diajaknya bicara apa saja, terutama mengenat Marco, lalu selang sepuluh menit dibasahinya bibirnya dengan saputangan yang dicelup dalam air di gelas.
Demikianlah dihabtskannya waktu sampai pukul tiga sore ketika Nyonya Deal muncul dan terce-ngang mendapati Triska masih dt situ,
"Kau belum pulang, Tris? Sudah makan, belum?"
"Belum, nggak la pat."
"jam segint belum taper, itu art my a perutmu sudah penuh anginl"
"Pulanglah Tris Bur Papi dan Mami vane menggantikan,' Pak Agus Melnik menambankan.
"Baiklah. Saya memang harus praktek soft ini. tidak bisa absen sebab tidak sempat mencan ganti. Q. ya, barang-barang Dent sudah saya ambilkan. Lusa nanti saya akan ke sana lagi menengok Bi Rinai dan Aran, jadi Mami tak usah re pot-re pot ke sana Int. saya bawakan kaset-kaset kesukaan Deni, kalau Mami tidak keberatan. tolong diputar bergantian. Menurut penyelidikan di Amerika. pasien-pasien yang ptngsan begini tetap bisa mendengar musik atau pesan-pesan yang diucapkan pada mereka. Jadi, ya semoga Deni bisa me nan g-
kap musik ini___." Triska tidak berani berterus te-
rang bahwa yang satu itu adalah khusus lagu kenangan mereka, Ave Maria, lain nya kumpulan lagu kesayangan bersama.
"Nanti dari praktek akan saya usahakan menengok sebentar sebelum pulang."
"Tak usah, Tris. Kau pasti akan capek! Pulang saja, Marco sudah menunggu. Kan besok kau bisa datang lagi," bujuk Nyonya Desi terharu.
Triska tidak membantah karena menurutnya (mantanj ibu mertuanya benar juga. Dia pasti akan kecapekan. "Baiklah kalau begitu. O, ya, tadi siang Mama datang ke sini, tapi tidak bisa lama-lama sebab khawattr Marco sendirian di rumah."
Nyonya Desi mengangguk penuh pengertian.
"Siapa yang akan menunggui nanti malam?" tanya Triska sebelum berialu.
"Oh, anak-anak Oom Audi, Tante Beti. dan
Tante Con. yang Inki -laki saja tcntunya. Mereka akan jaga bergilir, tiap malam seorang. Habis Mami k luw at 11 kalau tidak ditunggui. nanti Deni per* lu apa-apa atau infusnya sudah kosong. tak ada yang tahu!"
Triska mengangguk sctuju Oom Andi dan Tante Beti serta Tante Cori adalah kakak-kakak kan-dung Nyonya Desi. Menu nit Kris tadi pagi. mereka semua sudah menjenguk semalam. Tapi karena tempat tinggal mereka jauh-jauh. han ini belum datang lagi. Mungkin besok.
Malamnya, setelah Marco terlelap, Triska me-nyalakan lilin dan membaca doa novena yang di-berikan oleh Sumi tadi pagi. Baru lima menit dta berdoa. gambaran Deni yang terbujur tak berdaya. muncul dalam ingatannya, dan air mata pun tak dapat dibendung lagi. Triska mencmskan doanya so men tar a air mata bercucuran membasahi pipinya. Penglihatannya terasa kabur, sebentar-sebentar dia hams mengejap agar dapat membaca lebih jelas.
Kalau kau sembuh, aku akan kembali padamu. Den! janjinya. Tapi jauh di lubuk hatinya terdapat setitik kekhavvatiran bahwa semuanya sudah ter-lambat.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. "Tris, kau sudah tidur?" terdengar suara ibunya. "Kalau belum, man turun sebentar, kita berdoa
Rosario."
Triska cepat-cepat membersit hidungnya agar suaranya jangan ketnhuan parau. Biasanya ibunya berdoa dengan ayahnya dalam kamar mereka
seperti dia dengan Deni, tapi sekali ini dia di -ajak. pasti karena dcanya untuk "Ya Mam." sahutnya perlahan
Triska kini hidup bagaikan zombie yang tak dapat berpikir dan tidak punya kemauan apa-apa. Bagaikan robot yang sudah disetel. sctiap pagi di-ajaknya Marco berdoa pagi sambil mendoakan Deni. "Kita doakan Papi juga, ya." Anak itu mengangguk, dengan patuh membiarkan ibunya menga-tupkan kedua tangannya yang mungil dan menga-tupkan kelopak matanya melihat con ton ibunya. Maiamnya, sebelum dia tidur, Marco diajak ibunya berdoa novena. "Marco, Papi sakit, kita harus mendoakannya. Marco mau mendoakan Papi?* Anak itu mengangguk. Triska terharu melihat pu-tranya begitu khusyuk mengikuti doa. Walaupun belum bisa mengucapkannya, dia seakan mengerti maknanya dan selalu anteng tak bergerak sampai doa selesai.
Selain berdoa, Triska juga menengok Deni setup hari. Dia kini datang lebih pagi ke rumah sakit agar dapat melihat Deni sebentar. Tiap pagi dicukurnya kumis yang baru rumbuh, dibersihkan nya sendiri wajah dan tubuhnya, lalu dtputarkan-aya kaset Ave Maria yang difaruhnya di bawah
hantal, mengalun halus. cuma untuk Deni. sehing-,,a orang lain belum tentu mendengarnya bila tidak sengaja menghentngkan cipta.
Kemudian dia pergi ke tempat dinasnya. ter-kadang beramprokan dengan Boa Rahwana ysflg pasti meuanyakan bagaimana pcrkembangan Dokter Melnik. Boa yang terkenaj galak itu lemyata bisa lembut, bahkan bersikap kehap.1k.1n terhadap-nya. Yang akan menggantikannya ke Calcutta sudah ditunjuk. yaitu Dokter Makalus sendiri! Triska hampir. tertawa melihat dokter itu nyaris mencak-mencak kesenangan. "Nah. kan ternyata ada un-tungnya juga saya mengundurkan diri. Dok."
Setelah jam dinas berakhir atau bila tugasnya sudah selesai, Triska pasti akan kelihatan dalam kamar Deni lagi, menungguinya sambil mengajak-nya bercakap-cakap dan memutarkan kaset lagu lagu. Dia tak pernah lupa melapor tenia ng Marco sampai ke detail detailnya Selalu dibisikkannya ke telinga Deni bahwa Marco semalam dan pagi itu telah mendoakannya, dan bahwa anak itu menanti-kan kunjungannya.
Bila penyelidikan para dokter di Amerika ternyata benar, berarti Dent bisa menangkap apa yang dibisikkannya. Setnogal
Demikianlah waktu merayap pergi, jam demt jam, hari dcrni hari. Triska keaal sekali, dia merasa begitu tak berdaya. Aku sudah hampir men-dapat brevet spesialis. tapi yang dapat kulakukan sekarang hanya berdoa, berdoa, berdoa! Aku cuma bisa mengawasi Deni pelan-pclan diserat pergi
maut, dan aku terpaksa membiarkan hal itu L aku sama sekali tak berdaya mencegah! masih begitu muda! Dia adalah bin tang pela-«kc(Jk bahkao lulus dari FK dengan cum namun kini otaknya yang cemerlang itu tersia-sia, dan semuanya gara-gara istnnya— terlahi tmggi harga dirinya. sehingga merasa jgung ketika tahu bahwa dia sebenamya di-i cuma sebagai lumbal. Kesombonganku se-i menceiakakan bukan saja Deni, tapi Marco Buah hatiku akan kefailangaa ayah... Bila celak dia tahu bahwa aku penyebab malapetaka ini, apakah dia masih akan mencintai serta meng-fiormati ibunya?
Tapi bukan itu masaiah yang utama. Soal diriku akan kehiiangan cinta anakku. tidak terlalu pen-ting. Aku re la hidup merana asal Deni bisa sem-buh. Aku bahkan lebih rela dia kembali pada Odi daripada mendenta begini, dan kemudian toh hams pergi juga meninggalkan kami semua....
Triska dengan khusyuk berdoa setiap pagi dan malam mengajak Marco, serta Rosario bersama orangtuanya. Begitu juga Sumi dan Mirsa. Kedua-nya menjenguk Deni setiap hari, seperti Erik, Kris, dan yang lain-lain. Terkadang mereka berdoa Rosario bersama di ruang tunggu bila kebetulan sedang tak ada orang. Sepupu-sepupu Deni juga tak pemah absen bergilir menungguinya tiap malam Cuma Tono dan adiknya, Nila, yang tidak kelihat an muncul lagi. Tapi ibu mereka, Tante Leila, per nah menjenguk bersama Pendi, anak bungsunya.
226
Tante Kma—adUt Nyonya Deal yang punya kebun pisang juga sudah tiga kali datang. Dent adalah anak perrnandiannya. dia sendiri tidak punya anak laki-iaki. Jadi bisa dibayangkan betapa say ungnyn pada Deni. Air matanya bercucuran ketika dia menjenguk untuk pertama kali, sehingga Triska merasa takut, jangan-jangan dia akan dtsesali sebagai biang keladi musibah itu. Ternyata Tante Ema malahan memeluknya dengan erat dan kembali tersedu-sedu di bahunya.
Triska merasa trenyuh sekali melihat kesusahan orang-orang di sekitarnya. Dan semua itu secara tak langsung adalah akibat dari perpisahannya dengan Dent! Oh, Tuhan, apa pun akan kulakukan scandainya keadaan ini bisa diubah! Tapi waktu tak bisa dibalik lagi, keadaan pun tak bisa diper-baiki, bahkan tambah parah.
Triska sudah tak bisa ingat lagi hari kebcrapa itu. Setiap hari rasanya sama, tidak menjanjikan harapan. Apakah itu Senin, Selasa, atau Rabu, sudah tak dipedulikannya. Apakah itu hari kedua. ketiga, atau kebcrapa. baginya tidak punya arti apa-apa. Yang panting hanyalah apa yang dikatakan Joko.
Ketika dia datang pagi-pagi menjenguk, Joko menyongsongnya seakan memang sudah menunggu. Tanpa basa-basi lagi dia langsung menggeleng dengan btbtr terkanciug. Triska merasa seakan jan-tungnya akan copot seketika. Matanya membelalak cemas. "Dia...?" bisiknya parau.
Joko kembali menggeleng. "Bukan itu. Ini Kernig dan BrudzinskiY*
Tup!" Joko mengangguk dengan bibir kembali
Joko mengangkat bahu. "Mungkin. Vang jelas. ini perdarahan subi:n:ch».cid. LP-nya masih roe-ngandung darah. ada kaku kuduk. dia me ring is kalau diperiksa. rupanya kesakitan. Dia juga per-nah kejang kemann sore setelah kau pulang. dan
Joko mengheia napas. menggeleng, dan bibirnya terkancing lebih rapat seperti orang takut bicara seakan itu menyangkut rahasia negara. Ketika di-desak oleh Triska akhimya dia menguik juga,
Kan an: Berarti kemungkinan bcaar Deni tak bisa bicara lagi! Dan seluruh kanernya akan mus-nah! Oh. Tuhan:
"Kenapa kaubilang, belum pasti aneurysmal"
"Karena kami nggak bisa melakukan angiography" Mk^,
"Kenapa nggak?"
"Sebab orangtua Deni keberatan anaknya di-OT. Nah, kalau memang nggak akan di-buka. boat apa angiography? Itu kan cukup berbahaya, banyak side-effect-nyz.''
"Jadi akan dibiarkan begitu saja?"
Joko mengangkat bahu sambil mengheia napas "Pak Melnik ingin membawanya ke luar negen. tapi Dokter Omar tak berani menjamin keaelamat-
annya dalam perjalanan"
Mungkin ada untungnya jadi zombie, pikir Tns-ka. Tak usah berpiktr, dan perasaan pun jadi tum-pul. Tapi toh dia tak dapat melepaskan diri dari harapan. Setiap pagi dia datang bcrharap akan diberi harapan, apa saja, sekecil apa pun. Namun setiap hari dia pulang dengan putus asa. Harapan tidak kelihat an. seakan sudah Ian ke balik a wan. Keadaan Deni tidak menunjukkan perubahan. Makin hari ka-kinya terasa makin berat dilangkahkan ke sana untuk menjenguknya. Hatinya selalu ccmas. jangan jangan hari iniiah dia akan diberi tahu bahwa Deni sudah...
Dengan ptkiran kacau dan hati yang hitam pe-kat, pada suatu pagi Triska bewek lagi sebelum pergi dinas, membawakan kaset baru yang kemann diambilnya dari kolekst Deni. Joko tidak dihhat nya, berarti tak ada perkembangan drastis. Hatinya sediktt lege. Kalau perasaan itu boleh dianggap vcbagat kelegaan. Dia sudah kurang peka men> bedakan nuansa-nuansa emosi. Semuanya berwarna kelabu, cjaannya m-u-s-i-r>a»h.
Sepupu Dent yang soma lam kena giliran, juga tak kelihatan, rupanya sudah pulang. Pagi ini dia memang teriambat sepuluh menit. Marco sakit peril! dan tidak dapat ditinggalkannya sampai mulas-nya reda.
Dengan tangan kiri menenteng tas kerja, dipu-
tamya gerendel dengan tangan kanan dan dido rongnya pintu. wanna di dalam kamar mcnoieh dan tampak berjengit melihatnya. Triska juga tidak kurang kagetnya, tapi bukan karena orang itu adalah Odi. Dia tidak sempat memikirkan permusuhan antara mereka. sebab matanya sudah menangkap apa yang tengah dilakukan oleh Odi dan mengertt maksudnya.
Odi sedang me me gang slang in fits, dan pasti bukan karena cairannya macet! Odi tidak mengerti apa-apa, jadi bila ada kelainan. dia pasti akan mencari perawat...
"Jangan!" Triska mencegah dengan uJapan tangan.
Odi tertegun sesaat. diam tak bergerak.
"Jangan kaucabut infus itu! Dan... astaga! Ma-sukkan kembali kateter itu dalam hidungnya! Itu untuk membennya zat asam! Kau akan membu-nuhnya kalau..."
"Apa bedanya?" Odi memotong ucapannya sambil tersenyum sinis. "Toh dia akan mati! Kalau nggak hari ini, mungkin besok! Kan lebih baik kita bantu supaya dia nggak usah menderita lebih lama lagi!"
"Odi, kau gila! Deni belum tentu mati! Aku masih punya harapan, dia akan sembuh! Yang ingin kaulakukan ini namanya pembunuhan! Deni takkan mati!"
"Tapi harus!"
"Oh, kau jadi nek at karena sekarang kau sudah
tahu, Deni sebenarnya nggak mencintaimu, begitu? Kau sadar sekarang, Deni mencintaiku!"
"Ah, percuma! Dia nggak bakal ban gun lagi untuk mencintaimu!" Odi menyeringai puas. "Sevang sekali, bukan? Deni pasti akan mati, aku berani taruhan! Dia memang harus mati!"
Triska tiba-tiba sadar, taktiknya salah. Dia ber-usaha membujuk dengan cara lain. Kemarahan dalam suaranya disingkirkannya dengan paksa dan digantinya dengan nada penuh pengertian.
"Aku bisa mengerti kau penasaran, aku juga nggak mau membela Deni. Dalam hal ini dia memang bersalah. Dia seharusnya kembali padamu. Karena itu dengan sukarela aku bercerai darinya. Aku bukan me ru pak an rintangan lagi bagimu, Odi. Lepaskan slang itu."
"Nggak ada gunanya perceraian itu kalau dia tetap nggak mau kembali padaku! Dan kalau aku nggak bisa mendapatkannya lagi, lebih baik dia mati! Supaya nggak bisa balik padamu! Dengan begitu baru sakit hatiku terbalas!"
"Jangan begitu! Kalau dia bisa sembuh, pasti masih ada harapan bagimu. Aku bersedia memban-tu membujuknya supaya kembali padamu. Nggak perlu merasa sakit hati!"
"Oh, yang sakit hati bukan cuma aku) Sakit hatiku nggak sebcrapa dibandtng dengan sakit hati Nila dan saudara-saudaranyar dengus Odi.
Tekkk! Triska merasa seakan ada senar dalam hatinya yang putus. Jadi mereka memang berkom-plot!
"Kalian mencoba membunuhnya? Apa yang kalian harapkan? Supaya..."
"Dia sudah benanji akan kembali padaku! Dia hams membayar untuk pengkhianatannya terhadap-ku!" desis Odi memotong bicaranya.
Triska maju selangkah dari pintu, tapi Odi se-gera membentaknya agar jangan mendekat.
Triska menjatuhkan tas kulitnya ke lantai tanpa melepaskan tatapannya seakan akan disihirnya Odi
"Aku bisa mengerti sakit hatimu, tapi aku nggak habis pilar, kenapa kau harus ngotot menuntutnya supaya kembali padamu? Kau begini cantik, yang tertank padamu pasti banyak! Kenapa..."
"Tapi yang sekaya Deni nggak ada!" potongnya dengan suara berang dan gigi gemertak.
Oh, begitu! Akhunya kaubuka juga kedokmu! Kau sebenamya sama sekali tidak mencintainya! Mungkin Deni sudah tahu, sehingga dia emoh kembali padamu!
Triska menaikkan alisnya dua senti. "Hm. Ku-dengar juga akhimya pengakuanmu! Kalau kau-sangka aku kaget, kau keliru besar! Aku sudah tahu rencanamu dengan Nila, dan mungkin juga dengan Tono! Kalian mau menyingkirkan Deni, bukan?! Setelah rencanamu untuk menggaetnya nggak berhasil. Semula kau ingin agar Nila mem-bujuk Deni supaya balik padamu, dan bila berhasil kau akan membujuk Deni agar memberikan seba-gian warisannya pada Nila. Tapi ketika ternyata rencana itu pasti gagal, kalian ganti taktik. Aku
232
nggak akan hcran kalau nanti terbukti. kecelakaan itu akibat akal bulus kalian!"
"Kau nggak bakal bisa membuktikan semua yang kaukatakan!" Odi mencibir puas. "Dan meru-pakan alasan kuat untuk membungkam Deni se-lama-lamanya, bukan?" sambungnya dengan seri-ngai mengerikan sampai Triska terenyak, surut selangkah ke belakang.
"Coba kaupikir, apa yang akan terjadi bila aku sekarang berteriak? Mereka akan mendapatimu sedang memegang karet infus, sedangkan karet ok-sigen sudah terlepas... siapa yang akan mereka percayai? Kau atau aku? Ingat apa kata Tono. Kau nggak dianggap di sini, sebab ini bukan daerah tentorialmu! Akulah yang akan mereka percayai, dan akan kutuduh kau mencoba menghabiskan nyawa orang lain!"
Odi tertegun mendengar ucapan Triska. Wajah-nya yang cantik tampak berubah mcnjadi pucat, matanya membelalak bingung bercampur ngeri. Triska menggunakan kesempatan itu untuk maju selangkah-selangkah. Odi bagaikan sudah tersihir jadi batu, tak bergerak dan tidak menghalangi.
Triska tidak menghentikan bujukannya yang me-ngandung ancaman juga.
"Aku bersedia mcmbantumu, Odi. Lepaskan karet itu! Aku berjanji nggak akan bilang apa-apa . mengenai tnsiden ini. Biarkan aku memasang lagi slang oksigen itu."
Triska menghampiri kepala ranjang sctengah mengendap-endap seakan takut membangunkan
Odi dm temrng yang menyihtrnya. Mulutnya terus-menerus membujuk sekaligus mengancam tapi dengan halus, suaranya pun dibuatnya lembut menenteramkan. Tangan kanannya kini menjang-kau slang berwama htjau bemng itu yang tergan tung di sebelah atas-belakang tempat tidur.
'Lepaskan karet infus itu, Odi. Tinggaikan kamar ini," bujuknya.
Tiba-tiba Triska mendengar defit pintu. Semua nya berlangsung dalam sekejap mata, sehingga dia tak tahu oersis apa yang sebenarnva terjadi atau
-nenoleh, sudah dide ! Susterf Cepat! Dok-lcar saya!"
tak menoleh, Slang di isadannya. Dilihatnya a yang belum pernah lerdiri mematung me-megangi daun pintu, air mukanya menunjukkan rasa heran yang tak terkira sampat mulutnya tcr-buka lebar dan matanya melotot ke arah mereka.
Odi rupanya tidak membenkan kesempatan ber-pikir pada siapa pun. sebab dia mencerocos terns. "Dia telah merampas pacar saya!" serunya menu-ding Triska dengan penuh kebencian "Sekarang bekas suaminya itu mau balik sama saya, tapi dia nggak rela, jadi mau dibunuhnya! Untung saya datang, jadi ketahuan. Lihat, karet zat asam itu sudah dicabutnya! Dan infus ini tadi distop! Untung Suster kebetulan masuk ke sini! Kalau nggak..."
terTns
Odi menoleh, mrmbelakangi perawat dan mendelik dengan garangnya sehingga Triska tanpa sadar bergidik Pcrempuan mi kurang ajar sekali! Oh!
Triska begihi marahnya mendengar tuduhan itu sehingga dia cepat-cepat angkat kaki. Lebih lama sedetik lagi mungkin akan ditampornya Odi atau dijenggutnya rambutnya atau dilakukannya sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Untuk menghindar kannya dari perbuatan yang kelak akan disesali-nya. Triska langsung beranjak dan tempatnya ber-dtri.
"Mbak. tolong pasien segera diberi oksigen lagi." katanya seraya melangkah keluar. Diangk.it nya tasnya dari iantai, dan dibukanya ptntu. Dia menoleh dan menatap Odi dengan tajam. Odi membalas dengan air muka sinis dan puas. Triska mengalih-kan pandangannya dan menatap perawat. "Mbak. tolong cek infus. dan tolong JANGAN UNOCAL-KAN PASIEN SENDIRIANI Saya akan minta Dokter Joko agar mclarang pengunjung masuk ke kamar."
Perawat mengangguk. Walaupun mereka tidak saling kenal, dia tahu dengan melihat tas kerja serta dandanannya, juga ucapan Odi banisan. bahwa Triska adalah seorang dokter. "Ya, Dok," sa-hutnya horrnat.
Triska menatap Odi sekali lagi. "Kalau terjadi apa-apa dengannya, KAU yang akan kuadukan ke polisi!" ancamnya walau dengan suara halus "Kabul kau ingin dtciduk polisi, teruskan rencanamu 1" Triska menggerakkan kepala sehingga buntut
betiba di kamarnya. dta langsung memutar no-mor abangnya Untung Kris ada di tempat. "Kris, aku perlu ketemu. Ada hal penting yang
•Ya."
"Datangiah ke kantm jam sebelas nanti. Ada sesuatu yang juga perlu kukatakan padamu!"
Setelah meneiepon Kris, diputarnya nomor Joko. Diceritakannya dengan singkat apa yang telah terjadi dan dimmtanya agar Deni ditunggui tents atau para pengunjung yang dilarang masuk kecuali ibu
serta ayahnya. Joko kedengaran terkejut. dan se-gera berjanji akan mengambil tindakan dan juga melaporkannya ke atasan.
Mereka ketemu di kantin sekalian makan bersama. Martina nadir juga walau cuma kebetulan. sebab tiap siang dia memang senang jajan ke sana.
"Gimana perkembangan Deni?" tanya Martina.
Triska mengheia napas dan menggeleng. "Tetap sama. Mungkin ada perdarahan subarachnoid."
"Cfluw-nyaT
"Entahlah. Menu rut Joko, ayah Deni nggak mau dia di-OP, jadi mereka juga nggak bisa melakukan tes apa-apa. Jadi kita nggak tahu apa betul ada aneurysma atau nggak."
-Yang jelas, tak ada tumor atau infeksi," tukas
Kris. "Jadi. ya kemungkinan besar perdarahan itu disebabk.m pembuluh darah yang melebar. dan karena adanya trauma di kepala, lalu pecah. Tapi kau kemari karena ada yang perlu kaukatakan, bukan? Ayo. k at akan sekarang, sebab aku harus cepat balik ke sal."
Triska menceritakan apa yang dialamtnya tadi pagi di kamar Deni. Diceritakannya semua yang pemah didengarnya di Depok. ketika dia sedang dalam WC tamu.
Air muka Kris bembah jadi serius mendengar penuturan adiknya. Berulang-ulang dia mengangguk sementara kedua tangannya dikatupkan dan kedua tclunjuknya diletakkannya di atas bibir.
Selang beberapa saat kedengaran dia mengheia napas, lalu menoleh pada adiknya. "Kita harus menjaga Marco sebaik-baiknya. Anak itu dalam bahayaP
Triska akan tertawa mendengamya. "Kris! Aku bam tahu kau begitu penakutl Marco kan masih bayi, nggak tahu apa-apa. kenapa mereka mau rnencclakakannya?"
Kris rupanya tidak menganggap ucapan Triska itu lucu. Wajahnya tetap serius ketika dia me nyambung, "Ini urusan ratusan juta dolarl"
"Apa?!" Triska nyaris terloncat dari di'duknya.
"Orang bisa men jadi pembunuh untuk ratusan ribu dolar! Apaiagi ratusan juta!"
"Dari mana kau tahu?"
"Aku sudah bicara dengan Oom Ague. Warisan itu jumlahnya sekitar empat. jangan salah, e-m-p-a-t.
benua. serta fcapal-kapal tangfci minyak di Panama. Asia, dan Afrika. koleksi perhiasan, lukisan. dan
"Wow!" Martina mendesah sambil menjulurkan lidah. "Nggak sangka. ya. oom tua yang kelihatan loyo begitu hananya bergudang-gudang!"
Triska juga takjub. Rasanya setiap kali mendengar. jumlahnya membengkak terus, dari cuma beberapa miliar ruptah menjadi 400 juta dolar!
"Semula cuma Deni haiangan satu-satunya bagi mereka untuk menguasai semua itu. Tapi sekarang sudah ada Marco. Seandainya Deni berhasil di-smgkirkan. Marco-lah yang akan jadi penghalang
bam Jadi, kau mengerti sendiri____" Kris membuka
iipatan tangannya, menatap Triska yang kelihatan menjadi pucat "Sekarang urusannya malah terka-tung-katung, sebab Tono dan adik-adtknya meng-gugat testamen itu. Menurut Oom Agus, Tono rapanya sudah tahu. selam uang kontan itu ada juga harta karun ratusan juta dolarl"
"Aku nggak ngerti, kenapa harta itu nggak dibagi rata saja, sih? Toh dibagi empat juga nggak bakal habis tiga turunan Dengan begitu kan semuanya jadi senang, nggak ada yang sakit hati," ujar Triska kesal.
"Oom Agus juga sama pendapatnya denganmu. Dia ingin membagi rata, tapi nggak bisa."
"Kenapa?" tanya Martina heran.
"Dia takut durhaka pada orangtuanya! Selain itu juga tidak bisa,"
"Soatnya, ayah Oom Agus. dan kemudian ibunya, sesaat sebelum meninggal mengulangi lagi pesan yang sudah diulang-ulang ratusan kali dan dimasukkan dalam testamen agar harta itu jangan sampai ikut dinikmati oleh adik Oom Agus. Tante Leila dan suaminya, Karim Saleh, Sarjana Hu-kum.
"Tante Leila sudah nggak diakui sebagai anak karena kawin dengan Oom Saleh yang dituduh menyebabkan kematian anak laki-laki mereka. adik Oom Agus dan abang Tante Leila. Bahkan ketiga anak Tante Leila, semula sama sekali tak mau diberi sepeser pun, tapi berk at campur tangan Oom Agus, akhirnya kebagian juga sedikit. Ya. walau dibilang sedikit, jumlahnya masih 150 juta rupiah lebih seorang!"
"Dan mereka bukannya bertenma kasih tapi malah menggugat!" Martina geleng-geleng kepala.
"Duit kan bisa bikin orang mata gelap! Coba pikir, apa kita sendiri juga takkan menggugat pa-man kita seandainya dia nggak mau membagi harta warisan?" ujar Kris menatap keduanya bergan-tian.
Martina mendccak. "Ah, kalau aku punya sera-mi juta lebih!"
"Nggak usah punya ilham yang bukan bukan! Makin banyak duit, makin banyak juga pusmgnya,
tahu!" tegur Kris. "Apa mereka akan berhasil dalam gugatan itu?"
Km menggeleng. "Kakek Deni rupanya sudah soduga mereka pasti akan menggugat, karena itu nua hananya di luar negeri- yang di dalam pen cuma sepuluh persen—sudah didaftarkannya s nama Deni," ujar Kns membuat kedua pen-
Harta di dalam negen. sih, tak sebempa. cuma uhan juta dolar. nggak sampai ratusan juta. ya cm hotel, pompa bens in, supermarket, real es-. gitu-gituanlah. Dan seandainya Deni kawin gan Odi Bobadila semua harta di dalam dan negeri akan jatuh ke badan amal. Oom Agus an bisa menoiong anaknya, sebab dia tenkat i perjanjian yang disahkan notaris, menyatakan
>mi di depan notans sudah tidak lagi mengakui "liih, ganas!" ujar Martina geleng-geleng kepala
'Apa Tono tahu semua itu atas nama Deni?" tanya Triska.
"Mungkin belum, tapi akan segera tahu. Oom Agus bilang. silakan dia mengajukan gugatan ke pengadilan di Amerika, Panama. Bahama. Eropa, pendeknya selumh dunia! Biar sampai nidin pun Tono takkan bisa menang! Kakek Deni sudah mengatur sampai mendetail. Misalnya, untuk men-jaga kemungkinan Deni, sebagai warga negara Indonesia, tidak diperkenankan rnerniliki harta bend a
serta usaha usaha di luar no gen. semua real rstate. pabrik. saham. dan l.im-lam itu rcsmmya dikuasai atau dikeloU oleh sehuah yayasan—trust—yang dikep.il.ii oleh anak tettua dari abangnya kakek IViu —sepupii Oom Agus—yang warga negara Amerika. Untuk mencegah agar sepupu itu takkan mencaplok semuanya, dia dibclikan rumah sekian pufuh juta dolar serta diberi bagian dua puluh persen dari aemua pabnk, sumur minyak Texas, peternakan kalkun, dan lain-lain. Pendeknya, sampai ki.im.it pun Tono takkan mungkin menyentuh harta kakeknya! Paling-paling yang bisa digugat cuma uang kontan dan harta tak bergerak di dalam negeri yang sebagian belum alas nama Deni.
"Menunit Oom Agus, tangannya sendiri 'diikat* supaya jangan sampai jatuh kasihan pada Tante Leila—ayahnya tahu, dia say an g sama adiknya— lalu nanti melanggar pesan orangtua dan membagi rata warisan itu.
"Pendeknya, kalau aku jadi Tono, pasti aku akan terima saja jumiah yang ditawarkan. dan tutup mulut. Menggugat cuma berarti buang duit, sebab Oom Agus pasti punya pengacara yang jem-pot juga dan dia takkan menyerah. Habis, salah siapa bapak mereka dulu pcngccut melankan diri. membiarkan kawan yang nggak bersalah dikeroyok gara-gara ulahnya mere but cewek orang!
"Aku tidak menyalnhkan kakek Deni. Kalau aku di poaisinya, aku juga akan aakit hati settnggi Ounung Everest! Oom Jon yang meninggal itu jenius—mungkin Deal ketularan gen yang sama—
I Atuenka. nya, kakek ibnk kapal
tisah orang-orang vang bergelirnang uang bagai-
'Kris, kurasa Dai memang sen saja mau me-rka singktrkan."
"Tapi kita nggak punya bukti. Tris." krluh Km.
"Apa sih yang sebenarnya terjadi ban Minggu mT tanya Martina tapi tidak ditujukan pada siapa mn. seakan dia cuma sedang berpikir dengan wa-a keras.
Tnska tnengangkat bahu. "Ibunya pernah bilang jadaku, pagi itu rencananya Deni nam ke Depok. rapi rupanya Tante Leila mendadak sakit dan dm iisuruh datang. Jadi dia telepon ibunya. mengaia can tibanya nanti akan tertunda dne-tigB jam. n> >ab dia mau menengok Tante Leila duhi. Setelah tu. ibunya nggak tahu lagi apa yang terjadi. Di-lunggu-tunggunya Deni sampai sore, nggak juga muncul. Akhirnya. malam hari lewat jam tujuh ada telepon dari Tono. dia diminta segera ke rumah sakit. Selebihnya kita sudah tahu."
"Ya. sama dengan apa yang dikatakan Oom Agus padaku. Kita takkan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Oom Agus sudah mendapat
242
Ur**an dari polisi. katanya mereka mrnerroikan
mobil Deni rernnya blong!"
"Nggak mungkin!" 1'nska memboniah keras 'Aku tabu Deni orangnyn kayak apa! Nggak mungkin dia begitu tetedor! Dia aetata agecek mobilnya—dan mobiIku -dengan teratur. Bahkan ben kurang angin pun baginya sudah merupakan rn.is.il ah Apalagi seel rem yang vangai petting' Pasti ini ulah Tono!"
"Yah, tapi kita tak punya bukti. Pnnses" gu-naun Kris menarik napas kesai.
"Mungkin cuma Deni yang dapat menccntakan kejadian sebenarnya." tukas Martina dengan pelan
Dan itu yang membuatku putus aaal fdkir Triska pedih. Mungkin kita takkan pernah tahu! Mungkin orang-orang itu takkan pernah bisa diseret ke peng-adiIan' Apakah kau harus mati dengan prnasaran. Den?
Martina mcngusulkan agar Marco dipmdahkan ke rumahnya saja. "Sepupu Deni kan belum pernah ke sana, nggak ada yang tahu alamat kami," ojeraya.
Tapi negera dibantah oleh Kris. "Kauri kir mereka tulak punya afcat untuk moncarinva? Ini ma salah ratusan juta dotar. Bukannya atkadar cart anjing hilang. Kalau kita berdua dinas. anak itu dengan siapa di rumah? Benlun dengan Boot, ditc-mani seorang pembantu? Tidak! Jauh lebih baik Mar dia di rumah Papa saja. Mama kan bisa ting-gal di rumah terus menjaganya."
Dernikianlah Marco tetap di ramah neneknya, dan Triska menjelaskan seluruh situasi pada ibunya agar dia mengerti dan selalu waspada menjaga cucunya. Tapi perisrjwa dia mcmergoki Odi di kamar Deni tidak disebutnya.
"Jangan khawatir. Tris." ibunya rneyakinkannya. "Mama takkan membiarkan Marco bilang dari pandangan Mama!"
Triska masih dapat pergi ketja dengan tenang, sebab dia mempercayai ibunya dan yakin takkan terjadi apa-apa dengan Marco. Dokter Justin juga sudah memberitahu Pak Melnik tentang semua ke-khawatiraruiva mengenai Marco, dan Pak Melnik berjanji akan memberikan peringatan pada Karim Saleh, SH agar mengendalikan anak-anaknya, jangan sampai melakukan tindak kriminal, sebab dia pasti akan menyeret mereka ke depan hukum.
Sayang, dalam problem yang menyangkut Deni, hatinya tidak setenang itu. Sebagai dokter, dia tahu, bagi Deni sudah tak tersisa harapan. Namun sebagai istri dan ibu, terutama sebagai manusia yang per cay a pada Tuhan, dia tidak mau melepas-kan harapannya bahwa suatu hari Deni toh akan sembuh. Karena itu dia tetap setia meneruskan doa novena itu walau setiap malam hatinya serasa mau menyerah dan tekadnya sudah makin melemah.
Seakan dapat menduga apa yang tengah berke-camuk dalam diri temannya, Sumi meneleponnya setiap malam, menanyakan perkembangan Deni, serta menguatkan tekadnya agar terus, terus, terus berdoa novena. Sumi minta maaf, sekarang tak dapat tiap
hari menjenguk Deni sebab Linus tak dapat ditinggal lama-lama, sedangkan perjalanan pulang-pergi dari rumahnya ke rumah sakit pasti makan waktu paling sedikit dua jam akibat macetnya lalu lintas.
Akhirnya hari kesembilan pun tiba. Triska merasa lega seakan sudah lulus dari sebuah ujian yang mahaberat. Novena itu berhasil diselesaikan-nya. Hatinya gembira bercampur cemas. Apakah Santo Antonius akan membantunya? Apakah Tuhan akan mendengarkan permintaannya?
Hari kesembilan pun sudah berialu. Triska datang menjenguk, mencukur kumis, membersihkan badan, memutarkan kaset Iagu-lagu kesayangan mereka berdua, terutama Ave Maria yang dimain-kannya pada anniversary mereka yang kedua, me-laporkan semua ulah Marco yang lucu mengge-maskan, mengajaknya bermonolog, pendeknya melakukan semua yang dapat dilakukannya. Namun Deni tetap pulas, matanya tetap mengatup, bulu mata yang lentik itu tak mau menggelepar... Ah, Den, aku kangen akan matamu yang berbinar je-naka dan senang menggodaku sampai aku kewa-lahan. Tertawalah, Den, aku ingin melihat matamu berubah jadi bulan sabit, aku ingin menghitung cakar-cakar ayam di sudut matamu.
Tapi Deni tidak meladeni bisikannya. Semua kata-katanya Icnyap di udara, tidak meninggalkan kesan. Deni terus tidur....
Triska menjadi takut. Sikapnya sudah seperti orang gila yang tidak mau menerima akai sehat lagi. Pendidikan kedokterannya seiama bertahun-
tahun tidak diacuhkannya lagi. Dia menjadi obsesif dalam harapannya bahwa Deni harus sembuh. Dia tahu. pikiran itu tak masuk akal. namun dia seakan tak berdaya mengenyahkannya dari kepalanya.
Akhirnya untuk mencegah dirinya benar-benar menjadi gila, dipaksanya akal sehatnya mengambil alih. Dia berhenti menghitung hari. Semua kalen-der dan buku agenda dalam kamar disimpannya ke dalam laci agar dia tak usah tahu lagi hari kebe-rapa sekarang...
Triska kini hidup dalan penantian. Me nanti. me-nanti, menanti... Setiap kali telepon berdering hatinya melonjak ketakutan, dan menjadi lega kembali bila ternyata itu bukan untuknya.
Pada suatu malam dia tengah membaca jurnal sambil berbaring di ranjang. Dia tahu, bukan begitu cara yang efektif untuk konsentrasi, sebab pasti dia akan ketiduran, tapi memang minatnya tidak ada. Hari-hari belakangan ini dirinya tidak mempunyai minat melakukan apa-apa. Satu-satu-nya yang masih diminatinya adalah bermain dengan anaknya serta mengasuhnya. Bahkan brevet yang dulu begitu diidam-idamkannya, kini sama sekali tidak dipikirkannya, dia masa bodoh saja apakah akan menerimanya tahun ini atau lima tahun lagi. Jurnal ini pun sebenarnya ingin dilem-parkannya ke lantai, tapi besok ada seminar kecil, mereka akan membicarakan SID, sedikit-banyak dia harus mengerti tentang topik itu agar nanti ja-
'Sudden Infant Death = Kemafian Bayi Mendadak
ngan melongo seperti keledai dungu. Jadi terpaksa dibacanya jurnal itu sedikit.
Tuk... tuk... tuk... Mula-mula tidak ditangkapnya bunyi itu, tapi mendadak dia sadar, pintunya dike-tuk. Lalu terdengar suara ibunya, pelan sebab takut membangunkan Marco. "Tris, kau sudah tidur? Ada telepon untukmu."
Matanya yang sudah mengantuk tiba-tiba jadi membelalak lagi, dadanya terasa nyeri, jantungnya seakan lari berpacu tanpa kendali, bibirny a mendadak terasa kering, tangan dan kakinya menjadi dingin. Ketika dia ingin turun dari tempat tidur, kedua lututnya serentak gemetar sehingga dia hampir tersungkur ke lantai. Cepat-cepat disambarnya pinggiran ranjang, lalu ditenangkannya debur jantungnya. Dipaksanya menjawab ibunya, "Ya, Mam, saya akan turun."
Seakan dalam mimpi, dikenakannya jas kamar menutupi baju tidumya. Rambutnya yang terurai dilemparnya ke punggung, dia sudah tidak ingat untuk menyisirnya. Kemudian diseretnya kakinya keluar kamar. Langkahnya terasa berat dan pelan sekali, persis dalam mimpi. Ketika tiba di bawah baru dia sadar, kakinya telanjang, dan lantai terasa dingin. Bella yang mengikutinya turun, kini mere-bahkan diri dekat kakinya, seakan mau memberi bantuan semangat. "Dari siapa, Mam?" tanyanya setengah berbisik. "Dari Ibu Melnik," sahut ayahnya. Kedua orang-tuanya duduk berdampingan di sofa, seakan mau menjaganya.
"Apa katanya?" Suaranya sedikit gemetar. Digi-gitnya bibir untuk menahan emosi.
"Dia nggak mau bilang." jawab ibunya. "Katanya, dia harus memberitahu kau lebih dulu."
Ulu hatinya mendadak terasa nyeri, tangan-kaki-nya sudah sedingin es. dia tidak bisa merasakan di mana jari-jarinya yang tengah mencengkeram tang-kai telepon.
Inilah SAATNYA! Akhirnya kita berpisah juga, Den! Untuk selamanya! Tidak! Bukan untuk sela-manya! Kita akan ketemu lagi di hadapan Tuhan, di alam abadi! Nantikan aku, Den! Setiap malam akan kukinmkan bisikan cintaku lewat bintang-bin-tang di langit lazuardi. Tapi... kenapa kita harus berpisah sepagi ini, Den? Kau tidak kasihan pada Marco? Den, ini kehendak Tuhan. Aku relakan, Den. Selamat jalan! Aku akan tetap setia....
Diangkatnya tangkai pesawat ke telinganya. Suaranya seakan tak kedengaran ketika dia ber-bisik, "Halo..."
"Tris!" Suara Ibu Desi melengking tinggi, rupanya dia habis atau masih sedang menangis, sebab terdengar berusaha menahan turunnya mucus dari hidung.
Triska merasakan dadanya nyeri bukan main seakan dijepit dengan besi penyiksa dari Spanyol abad pertengahan. "Ya," katanya, namun suaranya tidak keluar, sebab bibir dan lidahnya sudah kering sekali.
ingns
248
"Deni, Tris! Deni, dia... Oh, Tris!" Nyonya Desi terguguk sehingga tak dapat meneruskan ucapannya. Triska menggigit bibirnya kuat-kuat sampai—tanpa disadarinya sama sekali—berdarah, sementara jari-jari yang mencekal gagang telepon sudah menjadi pucat seakan sudah tidak dialiri darah lagi.
Nyonya Desi terdengar membersit hidung, dan rupanya dia berusaha mengumpulkan kembali se-mangataya untuk bicara "Tris! Deni... oh! Tris, dia... sudah... sadarrr!"
Triska tertegun seakan tidak bisa menangkap apa yang didengamya. Bibirnya terbuka, matanya lurus ke depan tapi tidak melihat apa-apa. Dia berdiri terpaku di tempat, tidak tahu harus bilang apa, bahkan tidak ingat untuk menanyakan, kapan, bagaimana... Yang ada dalam pikirannya cuma, Puji Tuhan! Puji Tuhan!! Puji Tuhan!!!
Tanpa disadarinya, bibirnya kemak-kemik meng-ucapkan pikiran itu, menyebabkan Dokter Justin berpandangan dengan istrinya, lalu bangkit. "Tris, berikan pada Papa teleponnya." Mendengar suara ayahnya yang pelan seakan membujuk, barulah Triska menyadari bahwa jari-jarinya sudah putih dan terasa kesemutan saking kerasnya dia mencengkeram pesawat. Seperti orang linglung, dibiarkannya ayahnya mengambil alih, dan dibiarkannya ibunya membimbingnya ke sofa. Dia duduk dalam pelukan ibunya, bengong seperti hilang ingatan. Tak lama kemudian terdengar suara telepon
249
diletakkan, dan Dokter Justin menghampiri mereka, lalu duduk di sebelah Triska.
"Bagaimana. Pa?" tanya istrinya, lebih dengan matanya daripada dengan bibirnya sebab suaranya tidak lebih keras daripada dengung nyamuk.
"Kira-kira dua jam yang lalu, ketika ibunya mau pulang, Deni membuka matanya," Dokter Justin menjawab..
"Dia bilang apa?" tanya Nyonya Rosa.
"Belum bicara apa-apa. Dia cuma membuka mata, sambil mengerang seperti orang kesakitan, memandang ibunya kira-kira lima menit, lalu tidur lagi" jg^ *.
"Bukan pingsan lagi?" Triska mendengar ibunya bertanya
"Tidak. Dia tidur, bukannya pingsan. Dokter yang jaga pasti bisa membedakannya."
Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Santo Antonius! Tapi kenapa dia tidak bicara? Apakah dia menderita aphasia?
"Man kita tidur, Tris," ajak ibunya. "Besok kita jenguk dia."
250
Bab 8
Joko tidak dapat menjelaskan pada Triska apa yang sebenarnya terjadi. Dia cuma bisa geleng-ge-leng kepala seperti bandul lonceng. "Dokter Omar juga angkat tangan, tak berani bilang apa-apa," ujarnya ketika esoknya ditemui oleh Triska. "Be-liau bahkan tak berani memastikan apa diagnosis sebenarnya! Masalahnya, orangtua Deni menolak anaknya diperiksa macam-macam, jadi kita cuma bisa menduga-duga. Yang jelas, epidural hematom. Tapi setelah gumpalan darahnya disedot keluar, hamsnya kan ada perbaikan. Ini malah ada kaku kuduk dan darah dalam cairan otak, sehingga kita menduga ada perdarahan subarachnoid. Tapi kaku kuduk bukan cuma ditemukan pada perdarahan saja, kan. Di samping itu, perdarahan semacam itu belum tentu juga karena pecahnya pembuluh darah, mungkin karena misalnya memar otak yang hebat."
"Yang penting, dia sudah sadar, Tris," ujar Kris mengalungkan lengan ke bahu adiknya.
"Tapi perdarahan macam itu bisa kambuh, Kris. Seandainya memang ada aneurysma yang pecan,
251
gimana? Mungkin aneurysma-nya bukan cuma satu, aku khawatir bahaya belum lewat!"
"Oh. aku sependapat denganmu," ujar Joko ce-pat. "Dia memang masih perlu diobservasi dan dirawat di sini, masih jauh dari pulang. Kalau orangnya sendiri sudah sadar, mungkin kita bisa minta persetujuannya untuk melakukan arteriography, jadi masalah ada-tidaknya kelainan pembuluh darah bisa diselesaikan dengan tuntas."
"Apa kau sudah melihatnya, Tris?" tanya Kris.
"Sudah. tapi dia sedang tidur, tidak kubangun-kan. Kucukur saja kumisnya, dan kuseka wajahnya."
"Tris, ada hal lain yang aneh. Anggota geraknya yang kanan ternyata sekarang tidak lumpuh! Aku tak dapat menerangkan bagaimana ini bisa terjadi. Aku yakin, dulu pemeriksaanku tidak keliru. Dokter Omar mengatakan, dari segi kedokteran, kasus ini tak dapat dijelaskan. Kami semua sebenarnya sudah menyerah, karena itu tidak ngotot ketika orangtuanya menolak segala tes serta tidak meng-izinkan Deni dioperasi. Tapi sekarang..." Joko mengangkat bahu dan mengheia napas.
Triska cuma tersenyum menanggapi kebingung-an rekannya. Aku tahu apa yang terjadi! Doaku dan doa Sumi dan doa Papa-Mama dan doa Kris-Marti dan doa ayah-ibunya dan doa semua orang, sudah membubung naik ke hadirat Yang Maha-kuasa! Bagaimana aku akan mampu menunjukkan perasaan syukurku pada-Mu?
252
Ketika Triska menjenguk lagi menjelang pukul dua belas tengah hari, Deni kelihatan tidur dengan tenang. Triska memutar kaset Ave Maria yang diletakkannya di samping bantal. Lalu dia duduk di kursi di samping ranjang, sebentar-sebentar mengelus lengan Deni. Diperhatikannya wajahnya yang mengurus dan agak pucat, tapi bibirnya masih tetap menarik walau kering—karena itu sering-sering disekanya dengan saputangan halus yang dicelup dalam air—dan bulu mata serta alisnya yang hitam masih tetap seperti yang diingatnya.
Tepat pukul dua belas siang, seperti biasa, Triska berdoa Sal am Maria sambil menunduk, meng-atupkan tangan di pangkuan. Ketika diangkatnya wajahnya, dia nyaris berseru kegirangan melihat kelopak mata Deni bergerak-gerak. Dijulurkannya lengannya, disentuh dan digenggamnya tangan Deni, sementara bibirnya tak putus-putus menyeru-kan namanya.
Pelan-pelan kelopak itu merekah. Mula-mula Deni tidak melihatnya. Matanya mengejap-ngejap seperti orang yang dibangunkan dari tidur nye-nyak, tidak melihat apa-apa. Kemudian, kemudian, kemudian, bola matanya bergerak dan... (Triska menahan napas dengan tegang. menunggu, menunggu, menunggu...) menatapnya!
Bibirnya yang agak pucat itu pun merekah, se-nyumnya lemah tapi dikcnalinya, masih yang dulu, yang telah menjerat hatinya. Triska mempererat genggamannya seakan khawatir Deni akan lolos dari tangannya.
253
"Tris... mana Mar-co... Ini Ave Maria... Jam berapa ini... Uunh! Kepalaku saMiit...!" Lalu seperti boneka yang baterainya habis, kelopak matanya mengarup lagi dan Deni kembali tertidur.
***
Matahari bagaikan bersinar lagi bagi Triska. Dia seakan menemukan kembali kemampuannya untuk main piano. Kini berkumandang lagi Nocturne-Opus 9 No. 2 serta Etude-Op. 10 No. 3 dari Chopin, Piano Concerto No. 1 dari Tschaikovsky, Estudiantina-nya WaldteufeL, Saber Dance-nya Khatchaturian, Puc-cini, Verdi, Offenbach, dan lain-lain. Setiap ada waktu luang pasti dihabiskannya di depan piano. Yang paling sering terdengar adalah lagu kesayangan mereka berdua, No Other Love yang iramanya diambil dari Etude-nya Chopin.
Keadaan Deni berangsur membaik. Sejak dia sudah sadar dan dapat menelan, infusnya dicabut, demikian juga segala macam kateter yang selama itu bergelantungan di ujung-ujung tubuhnya. Ke-luhannya sekarang cuma sakit kepala, tapi Deni menolak dilakukan arteriography, yakin dia tak apa-apa. Berkali-kali dia minta pulang, namun masih ditahan sebab dikhawatirkan perdarahannya bisa kambuh.
Tapi dua hari sebelum Hari Natal, dia memaksa juga mau pulang, bahkan menawarkan untuk me-nandatangani Surat Pulang Atas Permintaan Pa-sien. "Aku sudah kan gen sama anakku, Ko!" ke-luhnya. "Aku ingin Natal-an di rumah." .
254
Joko bertukar pandang dengan Triska yang juga hadir saat itu. Melihat Joko sulit mengambil kepu-tusan, akhimya Triska berkata, "Biarlah dia pulang, Joko. Aku akan menjaganya."
Atas permintaan orangtuanya, Deni pulang ke Depok. Marco langsung diajak neneknya untuk menengok. Walaupun anak itu belum bisa meng-utarakan perasaannya, mpanya dia juga sama ka-ngennya dengan ayahnya. Begitu melihat Deni, dia langsung menubruk dengan gembira seraya ber-seru, "Deni! Deni!"
Karena selalu mendengar orang menyebut ayahnya begitu, Marco juga ikut-ikutan. Triska sudah sering kali mengajarinya untuk menyebut Papi, namun anak itu tak pernah mau. Akhimya dicobanya mengubah nama itu menjadi Daddy.
"Jangan panggil ¦ Deni, Marco. Panggil Daddyl Ayo, Dad... dy" Triska mengajarinya. Ternyata anak itu menurut dan mengikuti, "Dad... dy."
Rupanya Marco senang dengan sebutan baru itu, sebab pada pertemuan itu berkali-kali terdengar dia memanggil ayahnya, Daddy ini, Daddy itu. "Wan, manja betul anak itu sama ayahnya!" komentar Nyonya Rosa tersenyum senang.
Seingat Triska, itu adalah Hari Natal yang paling meriah yang pernah dirayakannya. Selain sa-nak kfcluarga, teman-teman juga datang tanpa harus diundang.
Begitu melihat Roy Parega, Deni langsung ter-
255
tawa seraya mengucapkan, "Terima kasih atas ka-rangan bungamu." Dent menunjuk sebuah buket yang indah dalam keranjang rotan yang dicat war-na pastel kuning lembui. Tapi Roy malah meng-acungkan kepalannya ke arah Deni, membuat Triska tercengang. "Buset kau. Den! Aku sebenarnya sudah pesan loans unrukmu, dan sudah kubayar! Malah sudah kubeli juga cine in untuk Triska...."
"Nggak kusangka kau begitu brilian!" Deni mendecak. sedangkan Triska menutupi tawanya dengan tangan.
"Aku lebih senang kalau kausebut inovatif!" Roy mengaku tanpa malu-malu. "Kau tahu sendiri, aku nggak pernah lulus suma cum laudel Selain itu, kalau otakku be nil cemerlang, mana mungkin kau kubiarkan menggondol Triska dari depan hidungku!"
"Jangan dendam," bujuk Deni tersenyum. "Aku nggak sengaja. Kalau aku tahu sebelumnya, kau sudah naksir Triska duluan, pasti aku nggak akan lancang.... Aku menyesal sekali."
Roy mendelik. "Kalau kau betul menyesal, kenapa nggak lewat saja? Buat apa masih di sini, bikin sesak dunia!"
"Aku kasihan, anakku masih kecil!" ujar Deni sebagai pembelaan.
Wajah Roy menjadi cerah sedikit. "Kalau alas-anmu cuma Marco, berarti lampu hijau, dong, bagiku untuk mendekati Triska? Maukah kau membujuknya? Kau kan tahu, aku nggak terlalu bejat\" Nyengir kudanya yang paten terpampang di
wajahnya, sementara kacamatanya merosot tapi dibiarkannya. Tangannya malah digunakan untuk
mengusap-usap jambulnya. Triska sempat berpikir bahwa cowok ini cukup tampan juga, sayang tidak mau memermak gigi-giginya agar lebih rata.
"Triska begitu mandiri, mana mungkin mau mendengar kata-kataku! Tanyakan sendiri, dong!" usul Deni melirik Triska yang kontan merasa pa-nas wajahnya. Dia merasa Deni sedang menyindir-nya, mengingatkannya pada masa-masa sebelum perceraian, ketika dia sama sekali tidak mau menggubris bujukan maupun penjelasan Deni.
Roy menoleh pada Triska dan menarik napas panjang. "Aku nggak bisa berkutik kalau harus maju sendiri. Nah, ya karena uangku nggak bisa dikembalikan, terpaksa—bukan mauku—kuubah krans itu menjadi buket!"
Deni tergelak-gelak. "Hahaha... betapa dongkol-nya hatimu, kan?"
"Jangan di tanya lagi! Nggak bisa kaubayang-kanl"
Triska geleng-geleng kepala mendengar kedua orang itu be rc an da, tak dapat memutuskan siapa yang lebih suiting. Erik Sigma lebih pin tar me-nyembunyikan perasaan nya. Seandainya dia merasa kecewa seperti Roy, melihat Deni belum juga mau berialu dari arena, hal itu tidak ditunjukkan-nya.
Perayaan Natal sekali itu sungguh meriah, belum pernah sebanyak itu orang yang hadir. Biasanya mereka merayakannya di rumah masing-masing,
257
paling-paling esok lusanya atau pada Tahun Baru sekalian. mereka saling berkunjung tapi tentu saja bukan semua sekaligus. Sampai-sampai rumah yang seluas museum itu pun masih terasa sesak oleh Triska sedangkaB kolam pun kelihatan seperti bak mandi kecilnya sating banyaknya orang di situ, padahal biasanya dia cukup kewalahan merenangi-nya bolak-balik sepuluh kali.
Oom Audi, Tante Beti, Tante Cori, dan Tante Ema yang datang dengan anak-cucu mereka sudah terhitung satu kompi. dan semuanya me nee bur ke air. Triska merasa tak ada gunanya bila tak dapat berenang hilir-mudik. Kalau cuma ingin berendam, terang dia lebih suka melakukannya di rumah sendiri. sambil membaca buku. Tapi tak sampai hatinya menolak ajakao Marco yang menyeret-nyeret-nya ke arah kolam sambil menenteng lumba-lum-banya.
Kira-kira seperempat jam kemudian isi kolam bertambah dengan tamu-tamu yang baru datang seperti... Triska tak dapat menahan senyumnya melihat Sumi, Mirsa, dan Lupita, dengan anak-anak mereka. Lupita memang pernah ke situ bersama Nero, tapi Sumi dan Mirsa yang baru per-tama kali itu pun mpanya sudah dibisiki—entah oleh siapa—bahwa di situ ada kolam renang. Mereka semua memakai bikini. Ampun! pikir Triska. Heran, air kolam kok nggak meluap keluar!
"Hai, Tris?" sera mereka.
Sumi dan Mirsa langsung masuk air, sedangkan
258
Lupita naik ke atas papan untuk terjun indah. Untung salah seorang sepupu Deni ada yang melihat dan mereka sempat diperingatkan agar minggir. sehingga Lupita bisa lbncat indah tanpa rintangan. Memang luwes gerakannya. Triska pun bertepuk tangan disambut oleh yang lain.
Teman-temannya itu segera asyik hilir-mudik berenang. Untung Triska cuma ingin mengajari Marco berenang, jadi dia tak perlu bergerak terlalu jauh.
Setelah mondar-mandir beberapa kali, Sumi ber-
henti di dekatnya untuk mengatur napas. "Enak punya kolam! Nanti kubujuk Hansa, ah, supaya membuat kolam juga. Uh, uh, sedapnya berenang!" desahnya. *
"Tahu dari mana?"
"Bisa berenang ini?"
"Bukan. Bahwa di sini ada kolam."
"Oh, Lupita yang bilang waktu aku cuci rambut ke tempatnya kemarin dulu. Berapa, ya, biasanya ongkosnya?!"
"Cuci rambut di sana?"
"Bikin kolam!"
"Tempatmu susah air. Sum. Mau bikin kolam kalau kering terns kan percuma!"
"Kalau begitu sebaiknya aku pindah saja." "Rumah?"
"Sumur! Kan sumurku yang sekarang ini memang kurang airnya, sudah lama Hansa berniat minta bantuan Romo Paulus untuk mencarikan sumber air. Nanti kalau berhasil kau pasti akan kuundang!"
"Untuk minum airnya?"
"Untuk berenang, dong! Kan maksudku, kalau berhasil bikin kolam "
Kedua sahabat ten berbincang-bincang sambil masing-masing mengajari anak mereka berenang. Triska merasa berutang budi pada Sumi berkat doa-doanya serta dorongan semangat agar dia jangan putus asa ketika keadaan Deni gawat. Begitu Deni sadar kembali, Triska langsung menelepon Sumi, memberitahukan kabar gembira itu sekaligus mengucapkan terima kasih. "Kau betul-betul seorang teman, Sum! Aku nggak tahu bagaimana menyatakan utang budiku ini!"
"Ah, gampang," sahut Sumi. "Tolong bantu mendidik Linus, itu sudah cukup. Aku bantu mendoakan untuk kesembuhan Deni, kan juga demi anakku supaya nggak kehilangan ayah perman-diannya."
Selang beberapa saat Sumi berkata, "Juni nanti aku akan ke Amerika bersama Hansa." "Wah, sedap beeng!"
"Habis kakakku mau balik ke sini tahun depan. Ya mumpung aku belum melendung lagi!" "Masih punya rencana?" "Jalan-jalan?" "Hamil!"
"Oh, itu sih nggak bisa dihindart, Tris! Malah kalau nurutin Hansa, aku bisa setengah mati, deh. Bayangkan, dalam keluarganya menurut dia ada kebiasaan untuk menamakan anak seperti nama paman kalau anak laki-laki, atau bibi kalau perem-
0
260
puan, lalu paman atau bibi yang bersangkutan
akan mewariskan sebagian hartanya pada anak ter-sebut. Bagian skenario itu, sih, aku setuju. Tapi Hansa maunya setiap anak diberi nama paman atau bibinya. Jelas aku keberatan, dong. Aku bilang, 'Apa kau mau membunuhku?!'" - "Alasannya?"
"Setiap anak diberi nama...?"
"Bukan. Kenapa kauanggap dia mau membu-nuhmu?"
"Tris, dia ingin nama paman dan bibinya bisa diabadikan pada anak-anaknya! Kau tahu berapa jumlah paman dan bibinya?" Sumi menegaskan dengan kening terangkat tinggi.
Sekarang gantian Triska yang menaikkan kening, keheranan. "Lho! Gimana aku bisa tahu? Ketemu mereka pun belum pernah! Kecuali, mungkin waktu pesta per mandi an Linus."
"Ya, mereka semua hadir! Sembilan, Tris!"
"Apanya?"
"Lima paman dan empat bibi!"
"Ngngng... dan Hansa ingin punya anak..." Triska tak perlu mengucapkannya. Sumi langsung mengerti.
"Ya!" Dia mengangguk.. "Mampus nggak, tuh! Pokoknya, kalau nanti lahir perempuan, keempat nama bibinya akan kutumplekkan semua, biar kami nggak usah punya anak perempuan lagi. Nama-nya akan berbunyi Anneke Berta Cindy Deborah, menurut abjad, biar tak ada yang merasa kurang dihormati."
261
"Kenapa cuma Hansa yang ketiban tugas itu? Apa maunya sendiri? Bagaimana dengan sepupu-sepupunya?"
"Itu masalahnya! Hansa nggak punya sepupu seorang pun!"
"Sembilan paman dan bibi?"
"Dua pamannya menikah, tanpa anak. Tiga bibinya menikah, dua tanpa anak, sedangkan Tante Cindy punya anak perempuan tapi meninggal wak-tu masih remaja."
"Jadi kau diharapkan punya anak sem... bilan? Wow! Kelinci aja kalah!" Triska bersiul lalu terse-nyum geli. "Kau tahu, ada wanita yang bisa di-sewa untuk mengandung anak orang lain. Kuharap kau nggak..."
Terang ogah!"
"Menyewa surrogate motherV
"Disuruh punya sembilan anak! Makanya mau kucari akal dengan cara memborong semua nama untuk satu anak. Kan malah warisannya jadi tam-bah banyak. Benar, nggak?"
"Kenapa Linus cuma punya satu nama?"
"Ya, itu kekeliruanku. Sekarang aku sedang mencari akal untuk membujuk Hansa agar nama-nama keempat pamannya yang ketinggalan itu bisa ditambahkan juga dalam surat lahir Linus. Ada nggak, ya, jalannya?"
"Ratusan ribu paling sedikit!"
"Oh, kau tahu caranya? Nggak usah sebut semua, cukup satu saja, gimana?"
"Ongkosnya, maksudku! Ratusan ribu!"
"Rupiah?"
"Habis, masa kerang! Memangnya main cong-klak!"
"Biar! Sejuta juga aku bayar! Asal nggak usah dihamskan punya anak laki-laki lagi!"
"Kalau anak kedua ini nanti ternyata juga co-wok, gimana?"
Sumi tepekur agak lama, rupanya dia tak pernah berpikir sampai ke situ. Akhirnya dia mengangkat bahu dan menarik napas. "Tahu, deh. Itu memang akan jadi masalah! Tapi aku pernah dengar, di Amerika orang bisa memilih jenis kelamin bayi mereka." Wajah Sumi yang bulat dan manis itu kembali cerah. "Akan kuminta kakakku mencari di mana rumah sakit yang ada fasilitas semacam itu. Nanti kalau kami ke sana, akan kuajak Hansa konsultasi. Ya, ya, itu jalan yang terbaik."
Mirsa dan Lupita datang menggerecoki dan to-pik pembicaraan pun berganti ke urusan dapur serta resep-resep terbam Mirsa yang gemar masak. Tengah mereka asyik mendengarkan bedanya ba-wang merah dengan bawang spanyol dan bawang bombai, mendadak langit yang sejak tadi sudah mendung itu mencurahkan isinya, mula-mula ha-nya rintik-rintik, namun makin lama makin besar.
"Marco, yuk kita balik ke rumah! Hujan bakal deras, nih," ajak Triska. Untung anak yang cerdas itu mau menerima logika ibunya dan tanpa mem-bantah langsung menghampiri tangga lalu meman-jat keluar air.
Sumi, Mirsa, dan Lupita juga menggiring anak-
anak mereka keluar kolam. "Aku lapar," keluh Sumi. "Soalnya tadi pagi aku cuma minum sari buah, dengan harapan siangnya bisa makan dengan leluasa."
"Oh, kau juga punya problem timbangan, ya," Lupita nyelenik.
Tapi kau begini langsing!" cetus Mirsa sedikit iri, maklum bobotnya terakhir ditimbang sudah hampir tiga perempat kuintal. Itu diakuinya terus terang di depan mereka tanpa tedeng aling-aling.
"Lantaran makannya cuma wortel mentah tok dan air botol tiga liter!" Triska buka rahasia sambil tertawa.
"Aku banyak makan sayuran!" Lupita membela diri.
"Ah, apa kau mau jadi kambing?" Mirsa mencibir. "Aku, sih, nggak akan merasa kenyang kalau belum diisi sama daging! Gulai kambing, gitu. Atau kambing guling. Atau sate padang, sate madura, ayam goreng Mbok Berek, sop buntut Pak Kumis..."
"Dan kau berani mengeluh timbanganmu sudah melejit ke atas seperti Challenger! Mau kunasi-hati?" Triska menawarkan.
Mereka sudah hampir tiba di teras belakang. Tidak semua orang takut hujan. Sebagian besar malah makin seru berkecimpung dalam kolam di-timpa air hujan yang makin deras. Langit betul-betul pekat. Burung-burung yang tadi pagi asyik bercuit-cuit di kebun, kini tak kedengaran lagi, mungkin semuanya sedang berteduh di balik dedaunan pada pohon-pohon yang banyak tumbuh di situ.
264
"Asa! gratis!" Mirsa menyambut tawaran teman-
nya.
"Kalau nggak pakai resep, pasti gratis deh!" Sumi nimbrung.
"Uh, cuaca kok jelek begini, sih!" keluh Lupita kesal, disokong oleh yang lain kecuali Triska. Walau langit telah menyabot pesta Natal mereka, Triska tetap merasa gembira, sebab sekali ini yang namanya Nila dan Odi tidak kelihatan mata-hidungnya. Mungkin mereka ngeri menampakkan diri lagi setelah kecelakaan itu, khawatir disemprot oleh Pak Melnik. Syukurlah! pikir Triska lega.
"Kau perlu di-kir, Mir," ujar Triska serius.
"Eh? Kir? Memangnya aku mobil tahun lima puluhan? Tubuhku sehat, kok!" bantah Mirsa me-lotot.
"Gemuk itu saja sudah merupakan penyakit, Mir. Badan yang sehat bukanlah badan yang gemuk atau kurus. Nggak mungkin tubuhmu sehat, diharuskan menanggung Iemak hampir setengah kuintal. Mungkin benar, tubuhmu belum sakit. Itu nggak sama dengan tokcer. Tapi yang kumaksud hams di-kir adalah mentalmu. Siapa tahu kau makan terus itu sebagai pelarian, iya, kan? Ada orang yang bila mengalami kesulitan justru melarikan diri ke makanan. Nah, kalau kita makan sementara pikiran kusut, pencernaan kita nggak bekerja optimal, makanan itu nggak akan diserap seperti seha-rusnya, tapi tetap sebagai ampas yang memberat-kan kerja liver dan kemudian juga bisa menjadi sumber penyakit."
Mereka menjejakkan kaki ke atas tangga yang menuju beranda belakang sementara anak-anak sudah berlanan masuk sambil berteriak hiruk-pikuk saling mendahului. Marti yang rupanya baru tiba, menyongsong mereka.
"Nah, sudah sampai! Sekian dulu kuliahku kali ini. Kalau kurang jelas, silakan datang ke tempat praktek!"
"Dan kena sepuluh ribu? Mendingan aku tetap seperti bantal begini! Sayang duit!" Mirsa mendu-mal. "Mentalku nggak sinting, kok!"
"Bisa kortrng, iya, kan, Tris?" hibur Sumi. "Atau kaubawakan dia makanan serantang dari restoranmu. Aku biasanya berobat cukup dengan membawa sebotol sambal tomat." Sumi menjelas-kan tanpa reserve.
Makan siang pun tiba. Untung hujan sudah ber-henti, sehingga mereka yang muda-muda bisa makan m teras belakang yang luas, sedangkan yang tua-tua makan di dalam bersama man dan nyonya rumah.
Rupanya Marco selama itu benar-benar kehi-langan ayahnya, cuma tak mampu mengungkap-kannya. Dia lengket teras pada Deni, bahkan me-nolak disuapi oleh ibunya. "Daddy...!" serunya me-nunjuk ayahnya.
"Mau disuapi sama Daddy?"
Marco mengangguk. Deni menggapai dan Triska menyerahkan piring Marco padanya, membuat anak itu melompat kegirangan.
266
Sambil bersantap mereka ngobrol ke barat ke timur tentu saja. Suatu kali salah seorang sepupu Deni (mungkin anak Oom Audi, Triska tidak tahu pasti) bertanya, "Apa, sih, yang sebenarnya terjadi bulan lalu itu, Den?"
Semua orang menahan napas, mengarahkan per-hatian pada Deni yang saat itu tengah menyorong-kan sendok ke mulut Marco yang menganga lebar. Deni mengangkat muka dan menyapu mereka se-kilas dengan matanya.
"Ya aku juga ingin tahu," tukas Kris sambil mengangkat paha ayam dari piring dan membawa-nya ke mulut.
Melihat semuanya demikian terbakar rasa ingin tahu, Deni tak dapat mengelak. Dia mengheia napas dan menunda makannya. Sambil menyuapi Marco, dia bercerita.
"Minggu pagi itu sebenarnya aku berniat mau ke Depok. Ibuku menelepon, rematiknya kambuh lagi. Aku ingin menengoknya sekalian memberi suntikan atau obat.
"Sedang aku siap-siap mau berangkat, tahu-tahu ada telepon dari Tono, anaknya Oom Karim. Katanya, ibunya—Tante Leila, adik ayahku—mendadak kena serangan jantung dan minta dipanggilkan aku. Kukatakan bahwa aku sebenarnya mau ke luar kota, apa dia nggak bisa manggil dokter lain yang lebih dekat dengan mereka! Maklum, tempat mereka kan sudah mendekati Serpong, dari rumah- r ku ke sana, dari sana ke Depok, mana kalau lalu lintas macet... Wan, bayangkan saja makan hati-
267
nya! Tapi Tono ngotot memaksa. Akhimya terpaksa kusanggupi. Aku telepon ibuku, memberitahu-kan aku akan telat sedikit, mau ke Serpong dulu, nggak usah di tunggu makan siang.
"Nah, bayangkan bukan main dongkolnya aku ketika ternyata Tante Leila nggak ada di situ!"
"Hah?!" Semua orang terkesiap, ada yang ber-seru tertahan, bahkan Triska sempat berdebar-debar mendengarnya.
"Ibunya ternyata ada di Puncak, di vila mereka! Tono ngotot, dia sudah mengatakan itu padaku, tapi aku yakin dia bohong. Seharusnya saat itu aku sudah langsung curiga, ada apa-apa yang kurang beres. Tapi sekali itu otakku yang cemerlang rupanya sedang tidur." Deni meringis sementara Roy nye-ngir-nyengir kuda. "Barangkali cum laude di ijazah-mu itu kurang saht" semnya dengan wajah penuh harap, mungkin mendoakan dugaannya itu tidak meleset "Nggak mungkin, dong, ada orang begitu beruntung! Sudah dapat Triska, masa cum laude-nya. juga sah?" sambungnya dengan belingsatan melirik sana-sini, mau mengumpulkan pengikut. Say an g mpanya saatnya kurang tepat. Orang lebih tertarik pada cerita Deni, tak ada yang menggubris per-mohonan dalam matanya. Roy pun terpaksa menun-da mosinya dan menghentikan cengirannya.
"Setengah memaksa, setengah membujuk, Tono berhasil mengajak aku ke Puncak. Setiba di sana, ibunya ternyata segar bugar! Aku betul-betul se-ngh dan mau segera angkat kaki dari sana. Tapi saat itu sedang hujan dan perutku kebetulan sudah
268
lapar. Tante Leila yang selalu ramah padaku itu mengajak aku makan. Perutku nggak bisa meno-lak. Habis makan barulah aku diizinkan berangkat. Ternyata Tono juga mau ikut pulang. Cuma Tante Leila dan Oom Karim yang tinggal, mereka bilang, mau tinggal semalam lagi."
"Gimana kau sampai masuk ke jurang begitu?" tanya Roy tidak sabaran.
"Waktu itu jalanan licin sekali. Hujan masih turun meski nggak terlalu deras, tapi lumayan, aku hams memasang lampu dan menghidupkan kipas air terus-menerus."
"Kau luka parah begitu, tapi Odi kok cuma lecet-lecet!" ujar Kris menyambung Roy.
"Aku sendirian, kok!" sent Deni.
"Hah?!" Semuanya lagi-lagi terkesiap, berseru tertahan.
"Jadi plester itu cuma tempelan saja!" Kris menggeleng.
"Makin asyik saja nih kedengarannya!" Sumi
menciap.
"Semula, Odi memang ingin ikut mobilku. Tapi segera kukatakan, aku mau langsung ke Depok. Jadi terpaksa dia ikut mobil Tono bersama Nila. Sekarang aku ingat, heran juga Odi nggak maksa mau ikut!"
"Jadi Nila dan Odi sudah lebih dulu ada di Puncak? Ngapain?" tanya Triska mengerutkan ke-ning. Kedengarannya makin aneh! Ada apa-apa yang busuk, nih! "Mungkin Odi sebenarnya memang nggak mau ikut mobilmu!"
Deni mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin berakhir pekan biasa. Lalu dijemput oleh Tono. Itu menjelaskan kenapa astri dan anak-anak Tono nggak ikut Kalau mereka ikut, pasti mobilnya nggak muat."
"Cerita embel-embel ini nanti saja!" protes Roy bertepuk tangan minta perhatian. "Sekarang lekas ceritakan gimana kau sampai terjun bebas begitu!"
"Kecelakaan biasa, kurasa. Tono ingin menda-hului aku, kebetulan kita sedang di jalan mudun mendekati tikungan. Sebenarnya dari depan sudah kelihatan ada truk besar. Aku juga kurang mengerti kenapa Tono gegabah begitu. Tapi barangkali dia sudah nggak bisa mundur lagi. Rupanya dia malah tancap gas supaya bisa melewati aku sebelum berpapasan dengan truk itu. Tapi perhitungan-nya meleset, Truk itu melejit lebih cepat dari perkiraan. Untuk menghindarinya, Tono tentu saja terpaksa mepet ke kiri. Dan untuk menghindari tabrakan dengannya, aku buru-buru banting setir ke kiri tapi rupanya terlalu banyak, ditambah ja-lanan licin dan mudun,. jadi mobilku terlalu cepat tumn, menyenggol batu pinggiran jalan, terus me-laju ke pinggir, makin ke pinggir, dan akhirnya nggak ada apa-apa lagi! Cuma kabut putih. Untuk sedetik aku merasa bagaikan melayang, lalu ben-turan yang menyakitkan, lalu aku nggak ingat apa-apa lagi! Setiba di rumah sakit, Joko bilang, aku sempat siuman dan bicara sebentar, tapi aku' nggak ingat lagi."
"Apa kau nggak ngerem?" tanya Nero penasaran.
"Secara refleks pasti aku injak rem, tapi tahu kenapa, kok mobil itu nyelonong terns! Barangkali saking paniknya, aku kelupaan ngerem? Hm, mungkin saja."
"Walaupun kauinjak sekuat-kuatnya, kau tetap akan masuk jurang, Den!" ujar Kris membuat semua mata menoleh padanya. "Sebab rem itu blong! Polisi yang bilang!"
"Hah?!" mereka berseru tertahan. Triska tiba-tiba melihat Deni terbengong seakan melihat hantu, sampai-sampai tidak diketahuinya Marco sedang berdiri celangap di depannya menunggu suapan.
"Daddy! Daddy!" serunya mengguncang-gun-cang tangannya. Barulah dia tersadar dan menoleh. Tapi Triska yang duduk di seberangnya sempat menangkap rasa takut yang menggelepar-gelepar dalam matanya. Apakah Deni sudah menduga bahwa ada permainan jahat di sini? Bahwa dia se-ngaja mau dienyahkan?
"Marco, ayo, Mami yang suapi," panggilnya. "Lihat, Daddy belum sempat makan, tuh!"
Marco memandang piring ayahnya, lalu menoleh pada ibunya dan mengangguk. Triska mengambil piring anaknya dari tangan Deni.
"Biar kusuapi. Aku sudah selesai makan. Nanti nasimu keburu dingin," katanya pada Deni yang manggut tanpa komentar. Air mukanya masih kelihatan seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Coba ingat-ingat, pernahkah Tono mendekati mobil mu?" tanya Kris.
"Seingatku, nggak. Tapi mungkin saja nggak kulihatf"
"Waktu kau makan, apa Tono juga ikut makan?" tanya Triska.
"Waktu aku makan..." Deni menatap Triska dengan roman terkejut Lam gumamnva, "Aku juga he ran kenapa dia nggak mau ikut makan. Tapi dia meyakmkan ibunya, sebehun berangkat dia sudah makan nasi goreng dua piring, jadi masih ke-nyang."
"Mungkinkah saat itu diutak-atiknya rem itu?" gumam Kris seakan tengah berpikir. "Pasti!" seru Triska.
Deni menatapnya seraya menggeleng. "Kita nggak bisa membuktikannya, Tris!" keluhnya.
Bab 9
"Seharusnya kaubiarkan aku mengatakan pada Deni apa yang terjadi ketika dia di rumah sakit." Kris menyesali adiknya. "Dia hams tahu, Odi telah berusaha membunuhnya! Juga mengenai pembi-caraannya dengan Nila yang pernah kaudengar dalam WC di Depok."
"Aku nggak mau terjadi perang saudara dalam keluarganya, Kris. Kalau Deni tahu, lalu ditemskan pada ayahnya, pasti terjadi keributan. Mereka nggak bakal terima main dituduh sembarangan, sebab kita kan nggak punya bukti. Kris, yang penting kan Deni sudah tertolong. Buat apa kita bikin dia pusing memikirkan kemungkinan ini dan itu?"
Walaupun kelihatan masih kurang puas, Kris tidak mau membantah. Dia cuma menarik napas panjang-pendek.
"Ingat, Kris, Papa-Mama juga jangan dikasih tahu! Kalau Papa tahu, pasti diadukannya ke ayah Deni! Biar yang tahu cuma kita berttga, kau, Marti, dan aku!"
"Huh!" Kris menarik napas berat. "Aku khawatir ini akan membawa akibat yang nggak di-
inginkan! Aku tetap berpendapat, sebaiknya kita beritahu... Oke, oke, semaumu! Aku takkan ber-debat mengenai keputusanmu. Asal kau yakin, memang itu jalan yang terbaik, ya oke! Jangan nanti kau menyesal!"
"Sabar. Kris. Kita pasti akan punya kesempatan untuk memberitahu mereka. Tapi sebelum bisa membeberkan semua itu, kita hams mengumpulkan bukti-bukti dulu." "Di mana akan kita cari?" "Aku juga nggak tahu," keluh Triska setengah putus asa. Dan bukan masalah itu saja yang mem-buatnya putus asa.
Triska sudah bersiap-siap untuk melaksanakan kaulnya. Dia akan kembali pada Deni dan melupa-kan semua yang pernah direncanakan Deni bersama Odi. Sebelum kecelakaan di Puncak itu, Deni sudah berkali-kali berusaha melakukan rekonsiliasi dengannya, membujuknya dengan segala macam cara, dan merayunya setiap ada kesempatan. Sela-ma itu dia selalu mengelak. Pertama, karena men-dongkol mau dijadikan tumbal agar orang lain bisa mendapatkan warisan, dan kedua, karena khawatir Odi akan nekat menjelek-jelekkannya ke koran.
Tapi sekarang semua itu akan berubah, pikimya tegas. Aku takkan peduli lagi apa yang mau dilaku-kan Odi. Dan aku yakin, aku sudah bisa memaafkan Deni. Ketika dia dalam keadaan antara mati dan hidup, bam aku sadar bahwa aku sangat, sangat, sangat mencintainya, lebih dari cukup untuk memaafkan segala perbuatannya di masa lalu.
Kini Triska tinggal menunggu isyarat belaka. Begitu Deni mendekati dan membujuknya, dia pasti takkan menghindar lagi. Aku akan menerimany a! Aku akan kembali ke rumah kami bersama Marco! Ah, alangkah bahagianya kalau semua itu terlaksana....
Sayang, angan-angan itu belum juga terlaksana, bahkan tampaknya jauh dari kenyataan. Masalah-nya cuma satu. Deni. Sejak dia keluar dari mmah sakit dan tinggal di Depok, tingkah lakunya agak berubah, paling sedikit terhadap Triska. Mungkin orang lain kurang memperhatikan, tapi yang ber-sangkutan merasakannya.
Deni memang masih suka mengeluh sakit ke-pala atau terkadang pusing tujuh keliling, sehingga dia dianjurkan untuk mengambil cuti panjang sela-ma tiga bulan. Joko memberitahu Triska, "Enam bulan mendatang ini masa kritis. Kalau tidak terjadi apa-apa, barulah kita bisa bernapas dengan lega."
Triska tahu, pasien yang mengalami trauma ke-pala yang berat memang terkadang menunjukkan pembahan kepribadian. Mungkinkah Deni sedang dalam fase ini? Ataukah dia memang sengaja mau. menghindari aku? Masa begitu mendadak? Kuper-hatikan, terkadang dia sama sekali tidak meme-dulikan aku, seakan aku tidak hadir di dekatnya. Masa sudah berubah hatinya terhadapku?
Triska tak bisa menerima penjelasan itu. Jadi satu-satunya alasan yang masih mungkin adalah memar otak yang berat itu. Ya, Deni agak berubah
husus yang dapat memben pcr-apat men karena rem at me ne mui Marco Anak itu senng kali, diboyongnya ke Depok, CSOk-nya baru diantarkan kembali. Tnska tidak poaya alasan untuk mencegah, dan Deni juga selalu minta perserujuannya dulu Marco fentu saja senang sekali sebab di Depok ada kolam renang Yang agak mengectlkan hati Triska adalah. kenapa Dent tak pernah mengajak atau menawan agar dia ikut auu bukankak dengan begitu Dent tak usah capek capek mengantnrkan kembali anak itu e.tok
kan pada saat saat seperti mi pun Triska merasa bahwa Deni mulai menjauhinya. Hal pertama yang disadarinya adalah gitar yang selalu dibawanya
Deni tak pernah lagi membawa-bawa gitarnya, bahkan di Depok pun Triska belum pernah men-dengarnya memetik alat musiknya kembali.
kegaduhan dan gegap grmpitanya setae* pesta. kilahnya. Tapi toetc^onconya yang bonk butuh undangan seperti Nero. Kris, dan Roy. ya Map muncul tak bisa ditotak.
"Tahun mi aku prei dulu, nggak mau ulang tahun Ngapain kalian ke thuT teguruya.
'Alasan pertama, tentu sajja mau membenmu selamat ulang tahun." ajar Nero mengimtng-imtng dengan bungkusan kado dalam tangannya "Nggak peduli kau nggak mau merayakaa, sang waktu tetap nggak bisa ditahan ."
'Bukan begitu caranya mau amet moda," sindu Roy membuat Triska nyaris melcdak tertawa. "Umur tetap meati ditambah. dengan atau tanpa prsta ulang tahun."
"Alasan kedua," sambung Nero Toma. ya kami *udah kangen sama kepandaian masak ibumu!"
Semua nyengtr sambil rnerabai peret mating mating
Tapi karena hari ini nggak pesta. ibuku nggak bikin apa-apa. Dan aku kan sedang dial, jadi cuma ada savin boning. Gimana kalau kalian ke Kentucky saja, makan ayam goreugT
"Seorang SATU ayam'-'" Kris menegaskan.
"Aku nggak mclarang!
Mereka saling pandang •ambilbergumam, Daripada cuma sayur bening, mendmgan ayam. dong?" "Iya, daripada cacing-cacingku dibiarfcftn
nganggur seharian.^"
"Oke, deb!" sera Nero yang rupanya sudah mengangkat diri sebagai jura bicara. "Kau mau ikut? Atau cukup memberi kita uangnya?"
"Lho!" Deni roendelik beriagak heran. "Kok aku yang harus bayar? Yang lapar siapa? Yang mau siapa? Nah, bayar dong masing-masing, cara Be-landa! Aku sih cukup sayur bening saja."
"Buset! Kalau sudah bisa cecuitan kau jadi ber-tingkah, ya!" Roy mendumal. "Sayang kenapa saat itu aku nggak nekat saja! Coba kumasukkan udara ke dalam jantungmu... Sssh!" Roy menggores le-hemya dengan telunjuk.
"Pemerasan!" gumam Deni. "Aku kan sedang cuti nggak ada penghasilan, mana mungkin nrak-tir. makan juga ngemis sama ibuku. Sudahlah, kalian makan sayur bening saja, nanti aku minta ibuku mengeluarkan seekor ayam yang sudah lama mati dari kulkas. Cukup kan satu untuk semua?"
"Pelitnya!" Nero ngomel. "Kau ini ulang tahun tiap bulan atau setahun sekali, sih? Jangan bikin malu aku di depan istriku, dong! Mana rasa per-sahabatan kita? Masa makan saja nggak di kasih! Aku sudah menyuruh Lupita puasa sejak tengah malam, nggak makan, nggak minum, maksudku biar di sini bisa diisi buat jatah tiga harian, luma-yan kan bisa irit ongkos dapurku. Tapi sekarang... Sayur bening! Sama ayam! Ayam mati lagi!"
"Matinya sudah lama lagi!" sambung Kris.
"Eh, kulihat kepalamu nggak ada rambutnya. Kau mulai botak, ya?" seru Roy dengan lagak mensyukuri.
"Wah, botak kan justru menunjukkan kejantan-an!" tiba-tiba terdengar suara merdu dari samping. kiranya Lupita, sang ahli rambut, yang bersabda. "Kan berarti androgen atau apa, Tris? Hormon yang dijual Tabib Fachrudin untuk menguatkan syahw... Ehem! Pokoknya, hormonnya tinggi, tena-ganya..."
"Hei, rupanya diam-diam kau suka membaca buku-buku di lemariku, ya!" Nero beriagak meng-hardik. "Aku mesti hati-hati," sambungnya pada diri sendiri. "Lama-lama nanti dia bisa lebih pintar dari aku."
"Ini kan bekas pengeboran yang dilakukan si Joko!" ujar Deni merabai kepalanya.
Saat itu muncul Nyonya Desi menyalami mereka. Nero langsung mengadu dengan suara meme-las. Dia memang bekas pemain sandiwara di seko-lah, dan selalu kebagian peran kacung, tapi terha-dap Lupita dia mengaku selalu jadi pangeran, bahkan pernah dicalonkan untuk jadi Hamlet, itu pangeran dari Denmark. Sayang tonilnya dibatalkan sebab kurang biaya, tapi dia masih ingat kaliraat yang harus diucapkan oleh Hamlet, To be, or not to be. "Tan, mohon keadilan, nih. Kami semua sudah kelaparan, Lupita sudah puasa sejak tengah malam, tapi Deni bilang..."
"Oalaa, kenapa kalian diam-diam saja? Ayo, sini ikut! Makanan sudah lama menunggu, kok!" ujar ibu Deni menggiring mereka bagaikan induk ayam dengan anak-anaknya. Tak usah disebut lagi betapa hiruk-pikuknya
279
mereka berteriak ketika melihat makanan berlim-pah. serba lezat dan menank untuk dipandang
Walaupun Deni kurang mengacuhkannya, Triska juga terhanyut anis gembira tamu-tamu tak diun-dang jam. Hatinya baru merasa kecut ketika dia beramprokan dengan Odi di belakang. dekat dapur kotor. Triska langsung teringat pada Kris yang tidak setuju perbuatan Odi didiamkan saja.
"Sedang apa kau di sini?" tegurnya betul-betul heran. Triska menyangka, setelah kepergok begitu,
Odi pasti akan jera dan takut. dan takkan berani
muncul lagi dalam radius sekilometer dari Deni.
Tidak dinyana. sekarang dia malah berani datang
lagi ke kandang macan!
Bukan saja berani, tapi juga agak kurang ajar. Apa aku hams permisi dulu padamu sebelum ke
sun?" dia balas bertanya dengan menantang. "Ini
bukan rumahmu! Kau nggak bisa mengusirku!" "Pasti kau kebetulan main ke rumah Nila, terus
diajaknya kemari, sebab dia mau mengurut tante-
aya"
"Bukan urosanmu!" ujarnya ketus dengan wajah nyureng, lalu mengentakkan kaki dan meninggal-kannya.
Triska mengawasi Odi berialu ke kebun belakang. Tiba-tiba ditepuknya dahinya seakan bam sadar. Tentu saja! pikimya. Selama orangtua Deni tidak tahu mengenai persekongkolan Odi dan Nila, mereka takkan mempersonanongratakan Nila. Jadi selama Nila masih dianggap persona grata di sini. Keduanya tahu, rahasia mereka belum terbongkar.
pan selama akal bulusnya belum ketahuan, Odi rupanya tidak melihat alasan untuk mcnghilang dari lingkungan Deni.
Triska mulai merasa men ye sal, kenapa tempo hari tidak dibebernya niat Odi untuk membunuh Deni. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa kedua orang itu—Nila dan Odi—masih cukup tegar untuk datang ke sini.... Kalau begitu. apakah mereka juga akan punya keberanian untuk nekat sekali lagi? Apakah Deni masih dalam bahaya?
Triska makin menyesal ketika beberapa saat kemudian sempat dilihatnya Odi sedang tertawa-tawa bersama Deni. Sayang dia berdiri cukup jauh. sehingga tak dapat menangkap apa yang dianggap mereka lucu, tapi tidak syak lagi Deni menikmati betul kebersamaan itu.
Bel alarm dalam kepalanya mulai bordering beberapa bulan kemudian, menjelang ulang tahun Marco yang kedua, ketika anak itu kembali dari libur akhir pekannya bersama ayahnya di rumah Nenek Desi.
"Mamit Mami!" scranya berlari ke dalam pe-lukannya. "Daddy mengajak Marco makan ayam Kentucky! Enak, deh!"
"Berdua saja? Nenek nggak ikut?" tanyanya sambil mengecup pi pi nya. Baru ditinggal nginap semalam saja, rasanya sudah kan gen ban get! pikir Triska.
"Nggak, Mam. Bertiga, sama Tante Odi!" Kring... Sesuatu dalam kepalanya langsung me-nyetrum seakan peringatan ada bahaya. Pikirannya
g tcluh ten skit selama
Sejak kecelakaon itu. Deni memang lebih sering mengajak Marco menginap be Depok daripada dia sendiri vang benandang sehunan di rumah Dokter Justin. Alasannya. Marco sekarang sudah besar. bisa dibiarkan sendiri. tak pern dijagai terus. Juga karena Nenek Desi kange*. Setiap akhir pekan Deni tak pernah absen, tapi sekarang sudah jarang mam lama-lama di tempatnya. Paling-paling datang hanya untuk menjemput anaknya. Dia juga tak pernah lagi meminta Triska untuk main piano, sedangkan guar kesayangannya pun tak pernah
Kira-kira sebulan yang lalu Deni sudah mulai dinas lagi. Biasanya. sebelum kecelakaan, tiap hari dia tak pernah absen berkunjung ke Bagian Anak atau menelepon. Kalau tak ada yang akan di-bicarakan, katanya. ya sekadar man bilang "apa kabar". Tapi sekarang. sudah empat minggu dia masuk lagi. namun belum SEKALI PUN menghu-bunginya. apalagi mengajak makan seperti biasa!
Kenapa aku tidak mendusin dari dulu9 Kenapa aku tenang-tenang saja padahal tanda-tanda bahaya sudah muncul berkali-kali? Seandainya Odi memang mencintat Dent dan Deni ingin kembali padanya. mungkin aku terpaksa merelakan walau hatiku sakit. Tapi. setelah aku tahu dari pengaku-annya sendiri bahwa dia sama sekali tidak peduli Deni, bahwa yang diincarnya hanyalah se-warisannya, bagaimana aku bisa ber-
diam din melihat Deni diseret masuk ke dalam
taring labe-laba black widow yang ganas itu?! Tapi bagaimana aku akan mampu mengisiki Deni tentang bahaya yang mengancamnya tanpa menim-bulk an dugaan padanya bahwa tindakan itu se-mata-mata disebabkan oleh rasa cemburu belaka? Deni bukan orang bodoh. Dia pasti akan berptkir, kalau memang Odi pernah kupergoki dalam situasi seperti yang kukatakan, kenapa bukan sejak dulu kuadukan pada orangtuanya? Kenapa aku diam-diam saja? Masa karena aku merasa harus me I in -dungi Odi serta menutupi kebusukannya?
Kalau Deni sampai berptkir begitu, pasti dia takkan percaya padaku! Lalu apa yang harus kula-kukan untuk menyadarkannya? Hampir pecah kepalanya mencari jalan, namun semua terasa buntu. Sementara itu tiap minggu Marco melaporkan di-ajak duddy-nya ke sana, ke ami, dan hampir selalu mcnyelip Tante Odi\ Huh! Triska mulai panik. Apakah Deni sedang membiasakan Marco dengan Odi?
Betulkah bisa terjadi keajaiban seperti ini? Sudah berusaha mcmbunuh tapi berbalik malah berhasil mendapatkan cintanya?
Triska berpiktr-pikir untuk melarang Deni mengajak Marco menginap di tempatnya. Deni sekarang sudah kembali ke rumahnya sendiri, bekas rumah mereka bersama, sebab Depok terlalu jauh dengan
Dorlcan. "?
Tapi scteldh mengkajt botak-balik. a membatalkan rencana itu. Marco [ekat dengan ayahnya, tak mungkin lereka berdua. apalagi meiarangnya gan JiiJJy-nym, Selain itu, tidak adil alangi Deni mencmtai anaknya dua ranggu. sedangkan aku mempunyai banyak lima hari! Tambahan lagi, sebagai "mata mata"! Bila dia mela-t. Mam! Tante Odi nggak datang!"
Demikianlah hart berganti hari, minggu berganti minggu, sebulan pun berialu lagi, dan Triska masih belum menemukan jalan untuk mendekati Deni Waktu malahan kurasakan menyeret hatinya semakin menjauhi diriku! Ketika pada suatu hari dikenakannya celana jeans untuk mengantarkan Marco ke pesta ulang tahun seorang anak tc-tangga, baru disadarinya bahwa tubuhnya memang betul sudah lebih kurus seperti yang dikatakan ibunya serta Marti. Kenapa Deni tak pernah member! komentar. padahal dulu dia selalu mempcr-hatikan keadaannya. Kalau sekarang dia memper-hatikanku. pasti dia akan melihat bahwa aku sudah semakin kurus!
Namun sia-sia ditunggunya perhatian dari Deni. Terkadang dia malahan tidak merasa perlu untuk masuk ke rumah. Cukup dhekannya bel, pintu terbuka, dan dibawanya Marco pergi. Anak itu tak perlu dibekali pakaian sebab ayahnya juga banyak membelikannya baju serta mainan dan buku yang
ditaruhnya di sana. Triska pernah berptkir. mungkin itu taktik Deni agar Marco tetap bergainih untuk datang ke tempatnya, memakai lagi baju-baju b.igusnya, bermain main dengan maiaan kesayangan, dan jalan-ja I an ke mana-mana.
Akhirny a Triska tnemberanikan diri untuk meng-hadapi Deni dengan masalah ini. Sudah cukup lama dibiarkannya situasi itu makin lama makin lepas dari kontrolnya. Waktu itu sekitar pertengahan Juni. Sumi sudah berangkat ke Amerika bersama Hansa dan Linus, dan kartu posnya yang pertama pun sudah tiba.
Ketika Deni datang mengantarkan Marco kembali, Triska menghadangnya. "Jangan pulang dulu. Den. Ada yang perlu kubicarakan."
Deni menaikkan keningnya seakan baru kali itu melihatnya atau seakan heran, kok tumben dttahan pulang.
"Yuk, kita ke belakang," ujar Triska mengajak -nya ke gazebo*
"Ada urusan apa. Tris?" tanyanya setelah duduk
bcrhadapan.
Biasanya kau selalu ingin duduk di sebelahkul Sekarang kau tak mau lagi bersentuhanl
"Apa kau sudah serius lagi dengan Odi?"
"Wow! Datang-datang kok ditodong!" sanggah Deni mencoba tertawa.
"Aku serins! Kau harus menjawab!"
Deni malah jadi menunduk seakan tak berani membalas tatapannya. Melihat yang ciiajak bicara kelihatan tidak mau menjawab, Triska meneruskan,
"Nggak apa-apa kalau kau sen us dengannya. Kan perptsahan kita tujuannya memang supaya kau kembali padanya."
Uh, aksi, beriagak nggak apa-apa, padahal hatiku merintih kesakitan! Den, kan biasanya pin tar menebak isi hatiku. kenapa sekarang kau tidak
"Tapi aku keberatan kalau kau membawa-bawa anak kecil dalam kencanmu. Kalau kau ingin ken-can serius, pasti kan ingin berduaan saja, bukan? Masa mengajak bocah, kan kasih an cewekmu, nggak leluasa misalnya mau... ehem... ngomong
Keren! Teras saja pura-pura nggak apa-apa kalau dia mau balik sama Odi. Kasihan cewekmu? Matamu. kasihan! Rasanya tak ada yang lebih menggembirakan hatiku daripada mendengarnya kecebur dalam adonan dodo I yang bergolak-go-lak... Inh. gurihnya!
Deni mengangkat kepala dan menatapnya. "Sebelum kujawab. aku ingin tahu dulu, betulkah kau nggak keberatan aku pacaran dengan...7"
"Oh, nggak, nggak!" Triska memotong cepat, tidak sanggup rasanya mendengar nama itu keluar dari bibirnya "Bukankah perpisahan kita tuju..."
"...annya memang supaya aku kembali padanya!" Deni menyerobot kalimatnya dengan senyum gettr. "Kau belum juga mau memaafkan aku," keluhnya.
Dasar laki-laki! Tank muka sedih, beriagak ingin dimaafkan. padahal pacaran di luaran begitu gencar!
"Bukan itu yang jadi isu sekarang, Den. Aku
ingin kau jangan menyeret-nyeret Marco ke dalam
kencanmu!"
"Justin karena aku sudah serius. jadi anak itu kuajak." tuk.is Deni pelan. "Bukankah dia hams dtbiasakan dengan kehadiran... Odi bersamaku?"
Triska merasakan hatinya ditusuk-taauk sembilu. tapi dipaksakannya tetap tenang. Kalau bisa. usa-hakan tersenyum sedikit! Ptrlihatkan padanya bahwa jantungnui tidak ngamuk. saluran air matamu sudah tak berfungsi dan hatimu sudah kaujual di tukang loak! Ya. senyum begitu! Bagus! Sekarang tampilkan sikap profesionalmu di kamar praktek, anggaplah Dent seorang pasien belaka.
"Den, bolehkah aku mengajukan permohonan?"
"Tentu. tentu!"
"Jangan ajak-ajak Marco lagi bila kau sedang... ngngng..." Triska tak berhasil menyeiesaikan kalimatnya. Untung Deni masih bisa mengerti raak-sudnya. Dia mengangguk serius berkali-kali, dan malahan minta maaf.
"Kalau memang begitu kchcndakmu, akan ku-perhatikan. Maafkan aku, Tris. Apakah aku me-nyakiti hatimu?"
Triska nyaris tertawa. Hatiku sudah jadi burang loakan, mana mungkin bisa disaktti lagi! "Tentu saja nggak!" sahut nya man tap. Dan Dent menepati janjinya. Sejak itu Marco tak pernah lagi melapor ada Tante Odi bila dia tengah bersama ayahnya. Untuk se minggu-dua minggu Triska memang merasa tenteram, Namun lama-lama dia justru jadi resah. Marco tak dapat lagi
diandalkan sebagai mata-mata. sebab itu perminta-annya sendiri. Sekarang aku takkan tahu bagaimana perkembangan hubungan Deni dengan... Odi! Jangan-jangan nanti tahu-tahu aku disodori kartu undangan! Mati aku! Betulkah lakt-lakt itu selain buta warna juga cenderung buta cinta? Masa kau tak dapat membedakan data sejati dengan kepura-puraan? Masa kau tak dapat rnenyadah bahwa yang dirindukan oleh perempuan itu adalah uang-mu dan bukan kecupanmu? Masa calon profesor seperti kau bisa keblinger begini? Aku harus berusaha menyadarkannva sebelum terlambat!
Tapi hal itu lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Waktu terus berialu bagaikan sungai yang tak kenal lelah. mengalir sepanjang masa, mencari muara. Tak disadarinya, ulang tahunnya yang ketiga puluh satu sudah tiba, dan berialu. Musim hujan pun bertamu lagi. Cuaca sering men-dung, kebun basah, pepohonan dan bunga-bunga tampak segar, ikan-ikan di kolam masih sibuk hilir-mudik dalam kebisuan, dan bunga teratai sudah bertambah sekuntum lagi.
Sumi sudah balik dari Amerika, membawa oleh* oleh banyak, termasuk perutnya yang gendut. Ki-sahnya cukup menegangkan. Ternyata dia benar-benar melaksanakan apa yang diinginkannya. Dia berhasil hamil dengan memilih jenis kelamin anak-nya, yaitu perempuan. Wajahnya makin berseri, sebab katanya Hansa semakin memanjakannya.
Triska juga ikut fembira, sebab dia terpilih lagi untuk menjadi ibu permandian. Hatinya senang membayangkan akan ikut merawat seorang bayi perempuan yang mungii. Dia tahu. dengan keadaan
fisiknya serta sttuasi nidupnya. dia takkan mungkin bisa melahirkan lagi. Dia sebenarnya ingin juga punya anak perempuan. Karena tak mungkin mempunyai anak biologis, ya anak permandian pun jadi I ah. hiburnya.
Ketika Deni diberi tahu mengenai hal ini. ko-mentarnya singkat saja, "Sumi dan Hansa yang bemntung!" Triska tidak tahu apakah mereka dise-but bemntung karena akan punya anak perempuan ataukah karena masih bersama....
Bulan April pun tiba dan berialu. Marco sudah merayakan ulang tahunnya yang ketiga. Anak itu makin tampan, makin cerdas, makin kritis, makin tegap, makin tinggi, dan makin pi mar memikat hati terutama me ray u ibunya bila dia ingin scsuatu.
***
Setahun lebih sudah lewat, dan Deni dinyatakan sudah be has dari bahaya. Tnska merasa gembira be ream pur comas. Gembira sebab Deni selamat. Ccmas karena laki-laki itu tamnaknya semakin acuh saja padanya. Ketika Triska berpikir-pikir untuk membuatnya cemburu, tiba tiba Erik meng-undangnya untuk merayakan ulang tahunnya di Pulau Bidadari.
"Kalau kau takut berduaan denganku, jangan
klik kita seperti Bagelen. Kopco.
Roy, Nero, senuta akan ku ggak ada salahnya Bftengikat per-dokter-dokter ahlu siapa tahu bantuan mereka, kau kan tahu ektk leher. Kalau kenal kan lu-s separo!" Erik tertawa dalam Bag. ya! Aku punya surprise
"0. ya Deni akan k nggak keberatan. Ajaki, ga. kok Juga biar dia ku." Kalimat yang terai Triska meneeuruh bag;
luga. kuharap kau , ini pesta keluar-ikan din den can-it memhuat darah terjun. Hm. Apa t Erik dan aku
Mereka berangkat ke pulau dengan yacht milik Erik. Kapal pesiar itu wamanya putih. nama bcr warna biru di lambungnya, Trenyuh hi Kalhuku.
"Nama yang nggak biasa buat kapal." komentar Triska ketika dia sempat berduaan dengan Erik sebelum naik ke kapal. "Tapi kapalmu mi cantik
"Secantik orangnya!"
"Eh?" Triska menoleh bingung.
Erik tertawa, memhuat hati Triska Omega menggelepar gelepar dipecut sejuta emosi yang tumpang tindih bagatkan benang kusut. "Mali ku-bentahu sebuah rahasia," bisiknya menggamit le-ngan Triska. "Coba baca nama kapal ini."
ulrii k if Pt.M
"Treikaf...." Tn*ka mcngerutkan kemng "Coba lagi!" Erik menganjurkan. "Pakai srdikit mujinasimu!"
Trc-i-is-kal-ka... Tr-is*ka...," Tibe-tiba bibirnya gemetar, dia tak sanggup menatap laki-laki paling ganteng dalam jagai mi yang masih jaga meng-genggam tangannya. dan kini berbtsik. "Ini rahasia kita berdua, Tris. Orang bun tak perlu tahu! Sup-prwre-ku bagimu!"
Cuaca cerah pagi itu. langit biru dengan awan-awan putih yang membuat mat a hari terasa tak terlalu menyengat. angin sejuk yang membeiat pipi dan mengipasi hati yang go rah. ditambah dengan burung burung yang terbang ke sana kemart, sungguh pernandangan yang sempurna, pikir Triska ingin melukis. Namun rupanya die terlalu cepat membuat keaimpulan, sebab tak lama kemudian dirasakannya pernandangan itu mulai kaeau. di-rusak oleh sepotong tubuh langsmg dipalut celana hitam yang ketat dengan bins merah many a la, dari belakang pun rambut keriting parting serta bahasa tubuh yang gemulai itu sudah dikcnalinya, milik . siapa lagi yang bisa hcrpose aegemuhu itu sehun... Ratu ASEAN, Odi Bobadila! Reran, siapa yang mengajak nya? Pasti bukan Deni, sebab Deni men-jemput Marco dan aku.
Kegembtraannya jadi ciut sebagian. Triska men dapati dirinya diam-diam menjadi sibuk memper-hatikan beberapa orang tertantu. Yang agak meng-
hibur hatinya adalah Marco. Anak itu rupanya tidak begitu lekat dengan Odi. Buktinya, tidak sekali pun dia mendekati Tante Odi atau memang -gil namanya. Kalau Dent menyadari bahwa anak-nya tidak cocok dengan colon yang dipilihnya, mungkin dia akan berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan. Mudah-mudahan.
Yang membtngungkannya adalah kedua orang yang bersangkutan itu sendiri. Sampai pegal leher-nya memperhatikan. ternyata Deni dan Odi tak pernah saling menghampiri. Bila yang seorang ber-diri di geladak sebelah kiri, yang lain pasti ada di kanan, jauhnya seperti antara Jakarta dan Surabaya, dan ujung ke ujung! Triska tak dapat me-nerka apakah mereka sedang bersandiwara ataukah itu semacam taktik baru....
Untuk menghilangkan kekesalan hatinya, Triska pindah, berbelok ke sebelah kiri, dan berdiri di geladak membelakangi Deni serta Odi. Di bagian tengah geladak terdapat sebuah bangunan panjang, rendah, mirip kabin, yang memisahkan mereka dari dia.
Kapal tengah berhenti di tengah laut, untuk memberi kesempatan pada mereka agar menjadi pawang ikan alias mancing. Triska melihat tadi betapa antusiasnya Marco menerirna pelajaran dari ayahnya. Bukan main eratnya dia dengan ayahnya! Melihat Deni demikian mencintai anak itu, Triska sungguh sukar mempercayai bahwa dia pernah te-ga menyuruh bunuh anaknya bersama Odi.... Yah, kalau dipikir-pikir, hal itu bukannya mustahil—
buktinya dia mau mengorbankan Marco seandainya timbul komplikasi, bukan? Untung Dokter Kama! sudah banyak pengalaman. sehingga komplikasi bisa dihindari.
Triska membiarkan pikirannya menerawang jauh, sementara matanya mengawasi laut dan da-ratan nun samar-samar yang baru saja mereka tinggal kan. Dibiarkannya rambutnya bercanda dengan angin. dibolak-baliknya semua kenangan yang tersimpan dalam ingatan. dilepaskannya dirinya dari kungkungan masa kini yang menyesak-kan.
* Tengah dia membenamkan diri dalam arus masa lalu, mendadak telinganya menangkap suara har-monika yang merdu. Pemainny a pasti ahli seperti... ah! Aku kenal lagunya! Itu kan Let Me Coil You Sweetheart] Serta-merta lembaran kenangannya di-balik sampai ke tepi Danau Michigan, malam te-rang bulan musim panas. / am dreaming dear, of you day by day, Dreaming when the skies above are blue, when they're grey... Let me call you sweetheart, I'm in love with you. Let me hear you whisper that you love me too...
Triskaf mengejap-ngejapkan matanya yang mem-basah. Rasanya baru kemaria dulu mereka bcr-bulan madu ke sana, dan Deni begitu memukau dengan tiupan harmonikanya sehingga orang-orang di sekitar mereka terdiam semua, mendengarkan. Triska terkenang, betapa dia terhanyut dalam perasaan yang melambungkannya ke langit ketujuh, sehingga tanpa malu-main diiringinya melodi de-
100
ngan syaimya. Dan Deni seakan tak puas-puasnya mendengarnya men gat akan "Let me call you sweetheart," sehingga lagu Ha diulangnya berkali-kali. Ketika akhirnya bibirnya capek, dan dia terpaksa berhenti. mereka dihadiahi tepuk tangan membahana. di malam musim panas itu, seabad yang lalu____
Kenapa Deni sekarang meniup kembali harmo-nikanya yang sudah jarang dimainkannya itu? Mau mengajari Marco? Kenapa justru dipilihnya lagu itu? Apakah itu merupakan kata sandi bagi si dianya? Semacam kode-kode morse yang dipakai oleh agen-agen rahasia?
Dia terkejut ketika tahu-tahu sebuah tangan mendarat di bahunya. "Kau kelihatan murung," bisik Erik mempererat sentuhan di pangkal lengan-aya
Triska cuma menanggapi dengan senyum, tak tahu hams bilang apa.
"Hari yang bagus!" Erik mengheia napas seakan kenyataan im tidak sesuai dengan harapannya.
"Ya Untung nggak terlalu panas."
"Takut hitam? " Erik tertawa, menunduk me-mandangnya. "Aku justru ingin menjadi* cokelat. Setiap minggu aku berjemur di pantai. Waktu di Amerika, aku sering ke solarium, tapi cokelatnya nggak tahan lama."
"Hati-hati dengan matahari! Bisa kanker kulit, Bio!"
"Aku tahu. Trims untuk peringatanmu."
Erik menariknya ke dalam petukan dan Triska
294
membiarkannya. Dia tak kuasa dan juga tak bcr gairah untuk menolak, sebab hatinya menjadi le-mah, sibuk menyesali Erik. Kenapa kau dulu tak pernah menyurati aku dari Amerika? Sehingga ku-kira kau sudah lupa padaku. Kenapa kaubiarkan aku sendiri di sini? Seandainya aku tidak menge-nal Deni... Marco bisa menjadi anak kita, Rik. Pasti lebih ganteng lagi! Dan aku tak usah merana seperti ini, sebab terpaksa menyerahkan suami ke tangan orang lain.
Seakan bisa merasakan kecamuk dalam pikiran Triska, Erik juga lebih banyak berdiam diri, me-ngalungkan lengannya ke bahu Triska, mengha-ngatkan tubuhnya, dan sesekali menyapu rambut-rambutnya yang diacak-acak angin. Triska memang tidak menyanggul rambutnya, melainkan mengikatnya saja dengan karet berpita biru menjadi buntut kuda. Sebentar-sebentar buntut itu menyapu wajah Erik seakan mengajaknya bercanda.
Mereka begitu tenggelam dalam keasyikan ber-pelukan, sehingga lupa waktu dan tidak menyadari bahwa kapal sudah bergerak lagi. Tahu- tahu Triska seakan tersadar dari mimpi, diseret kembali ke alam nyata oleh teriakan Marco. "Mami! Mami! Daddy mendapat ikan!"
Rupanya harmonika sudah lama berhenti. Suasana terasa hening ketika dia menoleh dan melihat Marco berlari menghampirinya sambil menunjuk-kan ikan kecil yang menggelepar-gelepar di ujung kail. "Kasihan, Marco I Ikan itu kesakitan, lepaskan lagi! Terlalu kecil buat dimakan."
295
Marco menoleh ke belakang. "Daddy," panggil-nya minta banruan.
Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Matanya yang mengikuti Marco, kini menangkap sosok yang tengah bersandar di terali.... Sudah berapa lamakah dia mengawasi kami? Air mukanya kelihatan tenang, apa yang tengah dipikirkannya? Seandainya aku diperkenankan menjenguk ke dalam hatinya. berapa pun kubayar! Hei. kenapa hatiku jadi gundah? Berdosakah aku dipergokinya dalam pelukan Erik? Dia sendiri^. ke sana kemari bersama Odi. begitu bebasnya, dan tidak kelihatan merasa bersalah sedikit pun! Hei, Tris, ban gun1 Duma kan sudah bukan daerah kekuasaan mutlak laki-Iaki!
Deni membantu Marco melepaskan kembali ikan kecil itu. Erik melepaskan pelukannya, dan mereka semua diundangnya turun ke ruang duduk untuk makan.
Triska senang melihat Marco sudah lincah kembali. Sejak beberapa minggu terakhir, anak itu sempat membuatnya khawatir, sebab sering me-ngeluh sakit kepala. Tapi diperiksa sana-sini, tak ada kelainan yang ditemukan. Akhirnya dia terpaksa menarik kesimpulan bahwa anak itu mungkin ingin menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Anak yang kesepian atau merasa takut ditinggal-kan, biasanya suka menderita keluhan-keluhan ba-yangan seperti itu.
Triska memutuskan untuk bersikap dewasa dan tidak akan merusak pesta Erik dengan memper-
lihatkan permusuhannya terhadap Odi. Ketika ber-duaan tadi, dia sempat menanyai Erik kenapa Odi bisa ada di situ. Erik bilang. diajak oleh Roy. Jadi. mudah-mudnhan kedua insan itu bisa saling se-trum, dan dia serta Deni bisa...
"Hei, jangan ngelamun! Nanti dun ikannya ter-telan!" sera Sumi tiba-tiba di kupingnya. Triska terkejut, tapi cepat mengulum senyum melihat te-mannya yang sudah gendut banget, sebab sudah hampir jalan delapan bulan.
"Sejak kapan ikan punya duri!" Hansa tertawa menyalahkan sang istri. Sungguh aneh pasangan ini, pikir Triska. Hansa sering kali menunjukkan kesalahan istrinya di depan umum, tapi menurut pengamatannya, laki-Iaki ini sebenarnya sangat mencintai pasangannya. Hal itu pun dibenarkan oleh cerita-cerita Sumi yang suka blak-blakan padanya. Terlebih sekarang, Linus akan punya adik. "Wah," kata Sumi, "sayangnya padaku berlipat ganda! Hansa tahu diri banget, dia nggak bisa hamil sendiri, jadi bukan main rasa terima kasih-nya padaku!" Sumi membongkar rahasia.
"Rik, kapan sih kau menyusul kita?" tiba-tiba Mirsa buka topik. "Lihat, kita semua sudah punya buntut, bahkan Sumi mau mengalahkan aku. Ku-doakan semoga kembar empat, dehl Biar kewalah-an kau ngurusnya, Sum. Apa kau nggak kepingin, Rik?"
Erik tertawa lobar sambil mendecak. "Ah, daripada pusing-pusing kawin, mendingan aku pesan saja dari laboratorium. Sepuluh anak sekaiigus
297
juga bisa! Dan persis sama dengan diriku! Kan di Amerika orang sudah bisa bikin bayi dengan cara cloning\ Cuma karena khawatir menghebohkan du-nia, mereka nggak mau gembar-gembor dengan publikasi Ada yang punya delapan anak sekaligus dengan cara Itu. Iho!"
"Astaga!" seru Sumi. "Untung nggak dipublika-sikan! Kalau Hansa tahu, bisa-bisa pamorku langsung turun jadi tukang masak tok!"
"Kaubilang kawin itu pusing?" Roy menegaskan seakan tak percaya.
"Betul, kan?" Erik memandang Triska dan Deni bergantian.
"Kau nyindir aku?" gertak Triska, dan Erik lekas-lekas mengibarkan sehelai kertas putih tanda gencatan senjata, gerakannya lucu seperti badut sirkus, menyebabkan anak-anak tertawa.
"Ngomong-ngomong soal cloning, boleh nggak aku pinjam Triska buat di-clone, Den? Aku sudah telanjur beli cincin—habis semua orang yakin kau bakal pulang ke mmah kita di surga, menjadi ma-laikat—nggak bisa dikembalikan lagi. Sebut, deh, berapa balas jasanya! Erik juga pasti mau!" ujar Roy pada Deni.
"Jelas dong! Sebutkan hargamu, Den!"
Nero nimbrung, "Eh, dia kan anak raja kapal! Mana butuh duit!"
"Ah, setiap orang pasti punya harga," bantah Bagelen yang sarjana hukum. "Dalam kamusku, nggak ada istilah 'nggak mau'! Kalau orang me-nolak, itu cuma berarti yang ditawarkan kurang
tinggi baginya. Biarpun raja seribu satu malam, pasti bisa dibeli!"
"Aku setuju dengan Bagelen," ujar Deni manggut. "Nah, gimana kalau separo dari Sigma Enterprise?"
"Buset! Bisa-bisa aku dicincang ayahku!"
"Ya kalau pelit, ngidamnya jangan terlalu mu-luk!" sindir Sumi.
"Kelihatannya memang aku ini seperti bergeli-mang duit!" keluh Erik. "Tapi sebenarnya aku dijatah oleh ayahku! Waktu kuliah di Amerika, aku pernah coba-coba memperbanyak uangku di Las Vegas, eh, tahunya malah ludes! Wah, ayahku ngamuk, hampir-hampir nggak mau membayari uang pondokan! Den, kalau aku sanggup, seluruh hartaku kurelakan untuk barter dengan Tris. Tapi masalahnya, aku sungguh nggak punya apa-apa. Kapal ini misalnya, memang atas namaku, tapi itu cuma taktik untuk mengelabui Jawatan Pajak!"
"Sudah kuduga!" dengus Kopro yang ahli per-pajakan.
"Sayang!" keluh Deni. "Nasib kita mpanya sama. Bapak kaya, anaknya jembel. Ibuku bilang, di pasaran sedang ditawarkan kalung asli Marie Antoinette yang dihadiahkan oleh Kardinal de Rohan padanya. Nah, harganya sekitar separo dari keka-yaan ayahmu. Aku sebenarnya naksir..."
"Mau kaubeli untuk siapa?" tanya Kris.
"Jelas untuk cewek! Masa mau dipakainya sendiri?" Nero yang menjawab. "Tapi siapa orang yang mau kauumpani semahal itu?"
Triska merasa semua orang menoleh padanya,
tapi dia sendiri melihat Odi tersenyum penuh ke-puasan. Bel alarm untuk kedua kalinya berbunyi. Apakah kedua manusia ini tengah bersandiwara, pura-pura sudah tak ada hubungan apa-apa lagi? Bukankah itu hanya taktik belaka?
"Jadi boleh nggak aku minjam Triska...?" Roy me ne gas kan.
"Hei. memangnya aku sapi! Main di-cloning-cloningl Aku perempuan merdeka, nggak punya wall atau pun sipir! Kalau ada permohonan apa-apa silakan berurusan langsung denganku!"
"Lebih bagus lagi!" gumam Roy kegirangan. Lalu, "Tris, maukah kau kawin denganku?" tanya Roy dan Erik berbarengan.
Grrr. Suasana bukannya menjadi syahdu, tapi malah gegap gempita, semua tertawa terbahak.
"Roy! Kau sebenarnya maunya dengan siapa, sih?!" tegur Erik sambil melontarkan pandangan ke arah Odi yang duduk agak ke ujung. Sebagai tuan rumah rupanya dia merasa tidak enak melihat ada tamu yang dikucilkan semua orang, jadi mau diikutsertakannya sebisa mungkin.
"Kalau yang kaumaksud Odi, aku angkat tangan, den. Gelombang dan frekuensinya nggak bisa kutangkap!"
"Memangnya aku siaran radio!" Odi mendumal tapi Triska melihatnya melirik tajam ke kiri, dan ketika diikutinya arah lirikan itu, Triska terbentur pada sepasang mata—yang dikenalnya dengan baik —yang juga tengah membalas lirikan maut itu. Bel alarm berdering untuk ketiga kalinya.
"Aku saja, gimana?" Sumi menawarkan diri.
"Harganya bisa berunding."
"Aku sih nggak menganjurkan." ujar Hansa seakan mau memboikot istrinya. "Biar harga beli lebih rendah, tapi ongkos mamtenance-nyz akan tinggi. Sebab Sumi termasuk species yang doyan makan! Hobinya cuma tiga: makan pagi, makan siang, dan makan malam. Lihat saja dia makin gemuk, bahan pakaiannya nggak cukup tiga meter!"
"Ini kan yang disebut hamil. monyet!" bantah-nya nyureng. "Ini bukan gendut! Kukorbankan ke-langsingan pinggangku demi egomu, supaya bisa jadi bapakl"
Hansa menggaruk-garuk kupingnya yang kena sentil.
"Makanan ini enak-enak, Iho! Aku ingin ketemu sama kokimu, Rik," puji Mirsa yang selalu berusaha mendapatkan resep baru dari segala penjum
angin.
"Aku nggak punya koki khusus. Ini kan pesan dari catering-rxya Ibu Munir di Menteng. Karena itu aku tuliskan R.S.V.P. di kartu undangan, maksudku supaya tahu berapa yang akan hadir, jadi pesan an makanan bisa disesuaikan, jangan sampai kekurangan atau kelebihan."
"Sori, Roy," ujar Deni serius. "Kalau aku tahu dari dulu, hatimu ada di mana..."
'rhptmdtt s'il vtnu plait ¦ mohon jawaban (bila berhalangan)
"Dari dulu juga masih di dada kiri!" potong Roy penasaran.
"...aku pasti nggak bakal nyerobot!"
"Ah, nggak usah pakai son. Kurasa Triska memang alergi sama aku. Buktinya. setelah jadi janda kembang pun dia tetap ogah."
"Apa? Kurang ajar! Jadi kaucoba-coba mau me-mukul aku dari belakang?" Deni berseru sambil melotot. bola matanya nyaris copot.
"Lho. lho. lho! Waktu itu kan Triska sudah bukan istrinu lagi! Kita kan penganut pasaran be-bas! Pernah belajar ekonomi nggak, sih? Wah, ru-nyam punya teman cemburuan begini." Roy meng-gerendeng membuat Marti melirik Triska dengan menahan geli.
Sambil guyon begitu, sejam kemudian mereka mendarat di pulau. Rencananya, mereka akan ber-malam di hotel bertingkat lima yang dikelola bersama oleh Pak Agus Melnik serta Pak Petrus Sigma Nanti malam mereka akan merayakan ulang tahun Erik, dan esoknya kembali pulang. Ayah, ibu dan adik perempuannya serta anaknya sudah lebih dulu ke sana dua hari yang lalu.
Di samping kompleks gedung tinggi itu terdapat juga beberapa pesanggrahan dari bambu. Antara pondok yang satu dan yang lain saling dihubung-kan dengan jembatan kayo, di bawahnya terdapat air laut.
Triska merasa lega mendengar mereka akan tinggal di pondok-pondok, tidak jadi dalam hotel yang dingin dan gersang. Karena pondok' itu
302
cukup luas, Triska menyatakan ingin nginap bersama Kris dan Marti. Juga agar Marco ada teman-nya. Bobi dan Marco memang sudah menjadi sail abat.
Saat ttU sudah menjelang senja, langit lembayung tak terkira indahnya. Burung-burung camar pun mulai terbang pulang, mengingatkan Triska pada anniversary mereka yang pertama Mereka juga kemari, tinggal di vila keluarga Melnik, agak ke utara sedikit dari hotel ini. Dia masih ingat kenangan itu.... Mereka duduk-duduk di luar, memandangi burung-burung yang cecuitan.... Kata Deni, mencari pasangan mereka yang ketinggalan....
Kris dan Marti sedang di dalam pondok, mungkin mau istirahat. Triska keluar dan berdiri di jembatan, berpegangan pada terali bambu, memandang ke dalam air di bawah kakinya. Ikan-ikan kelihatan jelas berenang kian-kemari dalam air yang jemih. Wah, betapa senangnya Marco kalau melihat mereka! Diangkatnya kepala, lalu menoleh kalau-kalau Marco ada di dekat situ. Tadi anak itu keluar dengan Bobi, katanya mau ke tempat Daddy.
Triska langsung tertegun dan kaget melihat mereka. Deni dan Odi sedang berdiri berdampingan di depan pondok sebelah kiri. Astaga! Apakah mereka sepondok berdua? Hatinya langsung berde-bar kencang. Dilihatnya Deni mengangguk berkali-kali sementara Odi kelihatan ngoceh terus, me* muntahkan kata-katanya seperti senapan mesin kaum Sandinista. Jadi selama di kapal itu mereka cuma pura-pura nggak saling kenal?
Triska tidak men dapat kesempatan untuk mencari jawabannya, sebab telinganya langsung di-terkam oleh iengking suara Marco yang menerjang dan menubruknya dari belakang. "Mami! Mami!" pekiknya seperti kesakitan. Deni juga mendengar dan langsung berlari melalui jembatan yang meng-hubungkan kedua pondok mereka.
Triska langsung berlutut dan memeluk anaknya. "Kenapa anak Mami?"
Marco memegangi kepalanya. "Kepalaaa... sa-kiiit, Mam!" keluhnya menangis menjerit-jerit.
Deni juga ikut jongkok memeluknya. "Bilang di mana sakitnya, Co," pintanya, tapi anak itu tak dapat menunjukkan di mana yang sakit. Dia meme-gang seluruh kepalanya. Tangisnya yang meleng-king-lengking membuat Kris dan Marti tergopoh-gopoh keluar, begitu juga yang lain-lam.
"Marco memang sudah beberapa minggu ini terkadang suka pusing atau sakit kepala," Triska menjelaskan pada abangnya dan semua yang ada di situ.
"Kukira cuma ulah anak-anak ingin dimanja...." Tapi melihat anak itu sekarang betul-betul kesakitan, Triska tahu Marco memang tidak pura-pura.
Deni mengangkat dan mendukungnya, dibawa-nya duduk ke atas kursi. "Jangan takut, Mami sama Daddy akan menyembuhkan sakitmu."
Triska masuk ke kamarnya mencari senter kecil dari tas, lalu keluar lagi dan memeriksa mata anaknya. Reaksi pupil masih normal. "Mar, kau-bawa analgesic!"
Martina menggeleng. "Tapi aku punya sedative
untuk anak-anak." Dia berlari ke dalam dan balik
dengan kotak berisi suppositoria. Triska mengambil satu, merobek pembungkus timahnya, dan me-masukkannya ke dalam anus. Tangis Marco me-reda setelah obat bekerja. Dia menjadi ngantuk. Tapi Triska tetap belum tenang. Anak itu masih mengangkat tangannya sebentar-sebentar ke kepala. Dia berpandangan dengan Deni, lalu mengangguk.
"Kurasa sebaiknya kita.bawa pulang." Deni juga mengangguk setuju.
"Ada apa?" sera Erik yang kelihatan baru muncul, tergopoh-gopoh mendekati keramunan orang. Triska menceritakan apa yang terjadi.
"Aku ingin membawanya pulang, Rik. Adakah kapal yang berangkat dari sini?"
"Aku akan mengantarkan kalian," katanya dan dengan sigap mengambil tindakan. "Kalian tenang-tenang saja di sini, pesta nggak dibatalkan. Kalau malam ini aku nggak sempat kembali, jatahku biar dibagi rata saja. Yang pasti, besok kapal ini akan kembali untuk menjemput kalian bersama orang-tuaku. Jadi jangan takut, kalian bukan ditinggalkan di sini."
Kris juga mau ikut pulang, tapi Triska bilang, tak usah. Cukup Deni bersamanya.
Malam itu juga Marco dimasukkan ke rumah sakit. Pada pemeriksaan pendahuluan tidak ditemu-kan kelainan apa-apa kecuali pembengkakan di bagian belakang bola mata. Triska minta bantuan
Bos Rahwana yang ahli di bidang neurology anak-anak. Bos segera datang dan memeriksa cairan otak. Ternyata tekanannya yang normalnya ber-kisar antara tujuh puluh sampai dua ratus milt-meter air, sekarang melejit sampai ke langit
Triska kaget sekali dan takut Berbagai diagnosis berkilat dalam kepalanya. Salah satu yang paling menakutkan adalah tumor. Anak yang se-manis ini kena tumor di otak?
"Bahaya utama dari tekanan yang begini tinggi adalah kebutaan," ujar Bos tepekur. "Kita harus mengeluarkan sedikit cairan otak ini, lalu memberi cortison. Papilledema ini bukan gejala yang baik."
Begitu ada kesempatan, Triska langsung mene-lepon orangtuanya. Dokter Justin dan istrinya segera tiba tak lama kemudian, sebab rumah mereka di Menteng memang tak berapa jauh dari situ. Deni juga memberitahu ke rumahnya. Walaupun Depok letaknya jauh sekali, kakek dan nenek itu menyatakan akan segera datang menjenguk cucu tersayang mereka. Deni meminta mereka mampir dulu ke rumahnya, mengambilkan Snoopy, boneka anjing yang selalu dibawa tidur oleh Marco bila menginap di sana.
"Besok akan kita tekukan tes yang lebih terper-inci," kata Bos. "Untuk sementara, cukup ini dulu. Yang penting anak ini bisa istirahat, sakit kepalanya dihilangkan untuk saat ini."
Malam itu baik Triska maupun Deni tidak ada yang ingat makan. Untung Erik keluar membelikan mereka hamburger serta air botol, dan memaksa
306
keduanya agar mengisi perut Marco mendapat makanan ringan dari dapur rumah sakit. Triska me-nungguinya, tidak semenit pun ditinggalnya. Bila dia harus ke WC, barulah dipanggilnya Deni yang sedang duduk di luar bersama Erik dan orangtua-orangtua mereka berdua, untuk menggantikannya. Kemudian, disuruhnya Deni keluar lagi, biar dia sendirian di dalam, sebab kamar itu sempit.
Marco sudah tenang. Matanya sudah berkedap-kedip tanda mulai mengantuk, tapi masih dipaksanya untuk melotot seakan khawatir ibunya akan pergi. Sambil memeluk Snoopy yang disebutnya temannya, didengarkannya ibunya mendongeng Kancil dan Buoy a.
Marco sudah tiga tahun lebih, cerdasnya bukan main dan cerita dongeng adalah nyamikannya yang utama. Dia betah mendengarkan berjam-jam sampai dipaksa harus tidur.
"Nah, sang Kancil sudah selamat menyeberangi sungai dengan melompati buaya-buaya itu, sekarang kau harus tidur, ya. Lihat, temanrnu sudah ngantuk juga!" "Mami jangan tinggalkan Marco, ya." Triska mengecup pipi anaknya, kiri lalu kanan. "Tentu saja nggak. Mami akan menunggui kamu sampai kamu bangun besok pagi." "Janji, Mam?" pin tanya manja. "Janji!"
"Daddy juga?" "Daddy juga."
Marco mengatupkan matanya, tapi sesaat kemu-
dian sudah terbuka lagi. Ditatapnya Triska dengan mata setengah mengantuk. "Mam, apa Oom Erik akan tinggal bersama kita?"*
Triska tertegun mendengamya. "Kenapa kau tanya begitu, Marco?"
"Sebab Daddy tanya, apa Marco suka sama Oom Erik, apa Oom Erik sayang sama Marco. Mam, Oom Erik sayang nggak sama Marco?"
Tentu saja, Sayang."
"Jadi dia akan tinggal sama kita. Mam?" "Apa kamu ingin Oom Erik tinggal bersama knar
"Marco mau Daddy yang tinggal sama kita, Mam. Oom Kris juga tinggal sama Bobi, Mam. Sama maminya Bobi. Kenapa Daddy nggak mau tinggal sama kita? Apa Daddy nggak sayang sama Marco, sama Mami?"
Triska menggigit bibir seraya mengelus-elus ke-pala anaknya Hatinya trenyuh sekali, tapi apa yang dapat dilakukannya selain menghibur Marco?
Tentu saja sayang, Marco. Apa kamu ingin sekali tinggal dengan Daddy?"
"lya. Tapi sama Mami juga! Dua-duanya, Mam!"
Triska mengecup kembali anaknya, sekaligus menyembunyikan air matanya yang mengancam akan turun. Dipeluknya anak itu erat-erat. "Oke, Marco. Man kita bikin perjanjian. Kamu harus cepat sembuh, dan Mami akan mengajakmu pulang ke rumah Daddy. Kita berdua akan tinggal bertiga dengan Daddy seperti Bobi dengan papi-nya Setuju?" Triska mengulurkan tangan.
Wajah Marco serentak cerah, senyumnya merekah, dan tangan ibunya dijabatnya. "Setuju!"
"Nah, sekarang tidur, ya."
Marco mengangguk, memeluk temannya lebih erat, lalu mengatupkan matanya. Triska me man-dangnya sejenak. Untuk saat ini masih oke, pikir-nya. Entah besok... Apa yang akan diberitahukan oleh tes-tes selanjutnya? Apakah biji matanya ini akan selamat? Ataukah...?
Triska berdiri dari duduknya di pinggir ranjang dan berbalik. Dia berjengit melihat siapa yang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan dalam saku. Wajahnya serentak terasa panas. Sudah berapa lama Deni berdiri di situ? Apakah dia sempat nguping? Ataukah baru saja masuk?
"Sudah tidur," ujarnya tanpa ditanya, sekadar mau menutupi gejolak dalam dadanya. Kenapa dia menatapku seperti orang mau menagih utang?
Deni melangkah masuk, menghampiri tempat tidur. Dibetulkannya selimut Marco, lalu dia menun-duk untuk mengecupnya. Anak itu mendesah kecil walau sebenarnya sudah terlelap.
Triska memperhatikannya sejenak, dan lagi-Iagi pikiran yang sama menetjangnya. Betulkah Deni mencintai Marco, tapi sanggup pula membunuh anaknya yang dikandung oleh Odi? Manakah Deni yang asli, yang sekarang atau yang dulu? Apakah aku sudah mengenalnya luar-dalam? Atau bam kulitnya saja? Sungguhkah dia mencintai anak inir j yang dulu akan dikorbankannya seandainya timbul komplikast?
Bab 10
Tak putus-putusnya Triska mengucap syukur ke-pada Tuhan, sebab Marco ternyata tidak menderita penyakit yang fatal. Setelah dilakukan pemeriksaan secara tuntas, tim dokter yang menangani anak ini membuat diagnosis: pseudotumor cerebri, suatu keadaan tekanan cairan otak meninggi, penyebab-nya tidak diketahui. Gejala ini cukup gawat sebab dapat menyebabkan kebutaan bila terlambat dita-ngani. Selain bahaya untuk penglihatan, rupanya penyakit ini tidak menimbulkan gangguan pada saraf-saraf otak lainnya.
Marco sempat dirawat selama dua minggu. Pada minggu pertama, setiap hari dia di-LP untuk me-ngeluarkan cairan otak, sehingga Triska merasa kasihan sekali.
"Mam, masa ditusuk terus-terusan?" keluh anak itu.
Triska merasakan hatinya pedih teriris. Akhirnya diserahkannya tugas itu pada rekannya, Husein,
lumbal punka
yang pintar bercanda dengan anak-anak untuk
mengalihkan perhatian mereka. Dan Deni dimin-tanya agar hadir pada saat LP sehingga anak itu bisa melihat wajah yang dikenalnya dan tidak ke-takutan. Triska sendiri tidak tega menyaksikan, jadi dia menghindar, tapi segera masuk begitu LP selesai.
Setelah pulang, Marco masih dibawa untuk LP seminggu sekali selama sebulan. Setelah itu masih diobservasi. Triska merasa bahagia bukan main ketika ternyata penglihatan anak itu sama sekali tidak terganggu. Dan pada bulan Agustus ia kembali melihat Marco sebagai anak yang lincah dan penuh dinamik.
Ibu Deni ingin selamatan dengan nasi tumpeng untuk merayakan sembuhnya Marco. Sudah tentu ibu Triska juga tak mau ketinggalan. Mereka ber-embuk lalu memutuskan bergabung untuk menye-lenggarakan pesta syukuran bagi cucu mereka. Karena rumah keluarga Melnik lebih luas, sehingga dapat menampung lebih banyak tamu, selamatan itu pun diadakan di Depok. Selain sanak keluarga kedua belah pihak, Triska serta Deni mengundang kawan-kawan mereka yang memang biasa mera-maikan setiap pertemuan yang ada acara makan-makan.
Marco tidak memedulikan semua keramaian itu. Dia malah kelihatan kesal diciumi oleh setiap tamu yang baru datang atau yang kebetulan melihatnya. Triska mengerti, tentu saja tujuan utama Marco ke rumah Oma Desi adalah untuk berenang
serta main dengan Dona dan Tolstoy, induk dan abang Bella.
"Mam, ayo dong!" ajaknya menarik-narik tangan ibunya.
Triska juga merasa sumpek di dalam rumah yang penuh orang itu, jadi diturutinya kehendak anaknya. Sambil menjinjing ban, digandengnya Marco ke kolam di kebun belakang. Saat itu baru permulaan September, udara masih hangat tapi di-perkirakan tak lama lagi musim hujan akan tiba. Kebun yang terawat itu sangat memikat, penuh dedaunan hijau yang rindang menyejukkan mata serta perasaan. Di sana-sini juga terdapat petak-petak bunga aneka warna, dan di pojok dekat dapur ada petak sayur serta bumbu-bumbu seperti jahe, kunyit, serai, dan lainnya.
Marco berjalan sambil menari-nari saking gem-biranya mau berenang. Di dekat kolam renang terdapat beberapa pohon mangga yang rindang. Dibawahnya terdapat sebuah bangku kebun ber-warna putih dengan tempat duduk dari karet busa diiapis plastik merah tua. Pernandangan yang memikat, pikir Triska, mengenali objek yang bagus untuk dilukis. Hijaunya dedaunan, putih dan me-rahnya perabot, hijaunya mmput... Ah, menarik sekali... apalagi kalau ada gadis muda berambut panjang, bergaun kuning, asyik membaca di atas bangku...! Ah, aku sudah lama tidak menyentuh palet dan kanvas, pikimya rindu. Aku terlalu sibuk dengan urusan Iain. Akhir-akhir ini aku ketiban banyak problem! Dimulai dari saat Deni kecela-
kaan. Aku bat a I ke Calcutta, batal ketemu dengan Mother Theresa, batal mengambil air zamzam, batal melihat Taj Mahal! Aku bahkan melalaikan permainan pianoku, melalaikan murid-muridku, dan kurang mengawasi latihan piano Marco. Ke mana perginya semangatku yang biasanya meng-gebu-gebu?
Triska mendadak terkejut ketika Marco menarik tangannya dari genggamannya, dan tahu-tahu sudah lari sambil berteriak, "Tante Odi!"
Triska mengikuti anaknya dengan matanya tapi dia tidak melihat Odi dekat-dekat situ. Dia bahkan tidak melihat ada perempuan lain kecuali gadis yang tengah asyik di bangku.
Marco justru berlari ke arah pohon mangga! Dia tiba di situ dan langsung memeluk gadis itu sehingga bukunya hampir terjatuh ke mmput Triska juga mempercepat langkahnya dan tiba sesaat kemudian. Dengan keheranan dipandangnya gadis manis itu. Wajahnya mirip dengan Nyonya Desi. Bukankah ini Audrey, anak Tante Ema?
"Mami! Ini Tante Odi!" seru Marco tertawa lebar sambil mengguncang-guncang sebelah tangan gadis itu.
"Odi?" Triska membeo dengan ragu.
Gadis rupawan berambut panjang itu tertawa memandangnya. "Hai, Tris! Tahu tun, Deni sedang angot apa! Sebenarnya Marco bisa menyebut Odr\ tapi olehnya disurah memanggil aku Tante Odi\"
triska merasa bahwa Audrey menyembunyikan sesuatu, namun dia tak dapat menerka apa itu. Dia
lebih bingung memikirkan kenapa Deni menyuruh Marco memanggil Odi, bukannya Odri.... Apakah ini berkaitan dengan taktik-taktik lainnya? Ter-masuk dalam rencana besamya? Rencana apa? Jadi yang selama ini yang diajak oleh Deni "kencan" bersama Marco adalah anak Tante Ema? Kenapa Deni jadi aneh begitu?
Belum sempat Triska memecahkan teka-teki ini, Deni sudah memojokkannya dengan persoalan barn.
Karena pikirannya berputar terus, sekali ini Triska kurang bergairah untuk berenang lama-lama. Dia keluar dari kolam setelah memesan Audrey agar mengawasi Marco. Anak itu sudah bisa berenang, jadi tak terlalu mengkhawatirkan bila dibiarkan sendiri dalam air, cukup diawasi, tak perlu dipegangi terus.
Triska menggelar handuk pantai yang dibawa-nya, di bawah deretan pohon pinus yang rindang kira-kira empat meter dari kolam. Lalu dia berba-ring menelungkup. Maksudnya hanya sekadar mau beristirahat sampai Marco puas main air, kemudian mereka akan makan tumpeng di dalam. Tapi dia lupa memperhitungkan angin segar yang mengipasi punggungnya yang telanjang, membuatnya rileks sekali sampai mengantuk dan pikirannya yang pe-nat itu pun mengalah....
Entah berapa lama dia terlena, tahu-tahu dia terjaga dan dirasakannya sekelilingnya hening. Ti-
dak kedengaran orang teriak-teriak dari kolam, tidak kedengaran suara air... Marco! Di mana dia?
Triska serta-merta mengangkat bagian atas tu-buhnya dan memandang berkeliling. Hatinya men-celos. Kolam sudah kosong. Kenapa Audrey dan Marco tidak membangunkan aku?!
"Mencari Marco?" •
Triska terperanjat mendengar suara itu dan menoleh ke belakangnya. Deni sedang duduk bersila di atas rumput, seakan tengah menjagainya tidur.
"Dia sudah kusuruh makan ke dalam," sambung Deni tersenyum kecil.
Triska menggerakkan tubuh untuk duduk, lalu disambarnya blus tunik di atas handuk dan dikena-kannya.
"Aku nggak berniat tidur sebenarnya," katanya seakan menjelaskan sesuatu, sambil menyisiri ram-butnya yang sudah setengah kering dengan jari-jarinya. "Sudah kupesan, dia harus memberitahu kalau sudah puas berenang."
"Aku yang melarangnya membangunkanmu. Kau kelihatan begitu nyenyak, nggak tega mau menyuruhmu bangun. Kau tidur seperti bayi."
Jadi kau memperhatikan aku tidur? Triska serentak merasakan wajahnya panas membara. Untung aku telungkup, jadi wajahku nggak kelihatan! Siapa tahu, aku tidur celangap?
"Berapa lama aku tidur?" tanyanya sedikit malu.
Deni tersenyum lebih lebar. "Nggak lama, cuma tiga perempat jam."
"Tiga perempat... Jam berapa sekarang?"
Deni melihat arlojinya, lalu mengangkat bahu seakan menyatakan tak jadi seal pukul berapa sekarang. "Jam satu lewat."
"Wah, bisa-bisa aku sudah kehabisan tumpeng!" Triska bergerak mau bangkit, tapi dicegah oleh Deni dengan ulapan tangan.
"Jangan kesusu. Aku sudah membawakanmu makan siang," ujamya menunjukkan sebuah termos seraya bangkit dari bersilanya dan menghampiri tikar handuk yang lebar itu, lalu ikut duduk di depan Triska.
"Makan, Tris," undangnya membuka termos itu dan menyendokkan tumpeng ke atas piring plastik yang disediakannya. Dari termos lain yang di-sulapnya dari bawah pohon pinus, dituangnya teh ke dalam tutup termos.
Triska tersipu-sipu mendapat perlakuan seperti itu. Rasanya seperti bertemu dengan alien yang kesasar dari ruang angkasa. Yang disebut per-hatian itu kan sudah lama tak dikenal lagi oleh Deni, bukan? Sudah berapa abad berselang, ya, ia tak pernah lagi mengucapkan sepatah pun kata manis padaku? Kenapa mendadak dia memper-lakukan aku seperti ratu? Apa yang diinginkannya?
Triska tak perlu menunggu terlalu lama. Begitu dia selesai makan, Deni langsung menembakkan serangan pertama yang demikian mengguncangkan perasaan Triska, sehingga tutup termos dalam tan-gannya tumpah dan teh panas menyengat kulitnya.
"Tris, aku telah mengambil keputusan mantap untuk menikah lagi."
316
Hah?! Teh panas itu terasa menggigit di paha.
"Dengan atau tanpa persetujuanmu."
"Kau menunggu aku bangun cuma untuk menv beritahukan ini padaku?"
"Nggak. Masih ada lagi yang mau kukatakan." Dan ditembakkannya serangan kedua yang lebih mematikan. "Aku ingin membeli piano di mmah untuk istriku."
"Grand piano itu kan hadiah perkawinanku dari Papa-Mama. Kalau..."
"Hadiah kital Aku juga berhak separo!"
"...Kau mau kawin lagi, aku ingin mengangkut-nya balik!"
"Kan di rumah ibumu sudah ada grand, malah pianonya dua, gimana mau kaupindahkan piano sebesar itu ke sana?"
Betul juga. Mama belum tentu setuju. Ruang keluarga itu akan terasa sesak bila ada dua grand ber-jejer di situ. Salah-salah piano itu akan disuruh jual!
"Calon istriku ini suka sekali main piano, Iris. Buat apa aku beli yang bam, kalau sudah ada satu di sana?"
Buat apa matamu! Itu pianoftu! Mau main kau-berikan saja pada... Oh! Hatiku berdarah! Lancang betul kau! Sampai hatimu melukai perasaanku se-
parah ini!
"Kau tahu sendiri, piano baru lebih jelek suaranya daripada yang sudah lamaan."
CUKUP!!! Piano ibarat barang suci bagiku! Apalagi piano milikAw sendiri! Pantang dijamah
orang lain, terlebih is-tri-MU!
"Kau nggak keberatan dengan peimintaanku ini, kan?"
Langkahi dulu mayatku! Bila aku belum keburu membunuhmu duluan! pikimya ganas.
"Sebutkan saja berapa harga yang kaurnginkan." Suara Deni lembut seakan tengah membujuk anak kecil, tapi had Triska malah makin terluka parah.
Mentang-mentang ayahmu raja kapal, ya! Huh! Aku nggak butuh uangmu! Oh, Tuhan, bagaimana caranya menolak permintaan orang yang kita cin-tai? Ibarat aku diminta menyerahkan anakku ke tangan madukal
"Aku nggak bakal menjualnya! Kau boleh me-nawar dua-tiga ratus juta, aku tetap nggak akan melepasnya!"
"Lalu mau kauapakan?" Deni menatapnya seakan mau tertawa tapi ditahan-tahan.
Triska makin panas melihatnya. Untuk istri-MtV, katamu? Kalau tak ada tempat di rumah ayahku, lebih baik kujadikan kayu bakar saja! Pokoknya isth-MU takkan memperolehnya, titik!
"Aku belum tahu. Yang jelas, pasti akan ku-angkut dari sana sebelum... Kapan kau akan... ngngng... kawin?" tanyanya berusaha menunjukkan bahwa dia tidak tertarik dengan berita itu.
"Tanggalnya belum pasti. Tergantung dia, mau-nya kapan."
Oh, Tuhan, inikah orang yang mengaku sangat mencintai diriku? Yang selama dua tahun lebih tak pernah bosan membujuk agar aku mau kembali padanya? Betulkah ini orang yang sama yang kini
begitu antusias mau memasuki hidup bam dengan...
"Tris, kau pasti akan berubah pikiran kalau sudah kaudengar penjelasanku," bujuk Deni dengan suara sabar.
Aku takkan berubah pikiran! Simpan saja pen-jelasanmu untuk pengarang autobiografimu!
"Kuakui, sekarang baru aku sadar, wanita yang kucintai itu sebenarnya berhati emas."
Ampun! Odi, hatinya emas?! Apa perlunya kau memuji-muji calonmu di depanku? Belum cukup-kah kautusuk hatiku dengan niatmu itu? Masih perlukah kautambahi dengan tusukan belati di punggung? Ataukah kau tak menyadari bagaimana perasaanku sebenarnya? Bagaimana perasaanku SAAT INI? Kalau Odi berhati emas, lantas hatiku dari apa? Rasanya aku tidak lebih jelek dari dia! Yang pasti, aku takkan pernah punya aspirasi untuk me re but suami orang hanya demi mendapatkan uangnya!
"Memang dari luar kelihatannya dia tegar, tapi
sebenarnya di dalam dia selembut kapas."
Amin!
"Apa pun yang terjadi, aku takkan melepaskan-nya! Dialah satu-satunya orang yang kucintai, aku takkan bisa hidup tanpa dia!"
Tabahkan hatiku, oh, Tuhan!
Deni mengulurkan tangan mau memegang le-ngan Triska, tapi dielakkan dengan halus. Kalau kaupikir scntuhunmu bisa lebih membujuk dari-
pada ucapanmu, kau keliru besar! Kata-katamu sudah menelanjangi pribadimu bulat-bulat! Semua ucapanmu palsu! Begitu juga sentuhanmu. Mungkin juga sikapmu terhadap Marco sama palsunya. Begitu kawin lagi dengan wanita berhati emasmu itu pasti tak lama lagi kau akan dikerumuni oleh selusin bay! semoga semuanya seperti monyet tampangnya! Nah, nah, pikiranku jadi jahat! Tapi apakah Deni juga tidak jahat? Pasti Marco akan segera dilupakannya seperti dia melupakan diriku! Kami berdua akan dicampakkannya seperti sampah ke dalam keranjang! Marco akan dilupakannya! Oh, betapa akan hancumya hati anakmu! Anak yang semanis itu mungkin akan berubah jadi pem-berontak. pembangkang, dan gagal dalam hidup karena ditelantarkan dan kecewa pada ayahnya... mungkin padaku juga, mungkin dia menyalahkan aku kenapa membiarkan ayahnya meninggalkan-nya!
"Percuma kau bicara, sampai mulutmu berbusa pun, putusanku nggak bakal bembah. Tidak! Tidak! Tidak! Aku takkan memberikan piano itu pada... istri-MIP. Kau boleh terns ngomong sampai magrib, aku sih mau balik ke dalam!" Dengan ucapan itu Triska mengentakkan kaki, lalu bangkit berdiri.
"Kau akan menyesal," tukas Deni perlahan.
"Oh, yaaa???!" Triska berbalik dan pergi ke kamar ganti pakaian.
***
Itu adalah masa yang paling berat dalam hidup 320
Triska. Setiap menit dia teringat bagaimana Deni memuji-muji si HATI EMAS yang akan menjadi rniliknya itu. Begitu terjaga di pagi hari, pikiran itu langsung menusuk hatinya. Deni akan segera kawin! Dengan Odi! Dan malam hari, sebelum jatuh tertidur, pikiran itu pula yang menemani dan menusuk-nusuk kalbunya. Aku akan segera kehi-langan Deni! Buat selamanya!
Tak habis-habisnya Triska menyesali dirinya, kenapa dulu tidak membeberkan saja kebusukan Odi, dan menceritakan apa yang mau dilakukannya terhadap Deni ketika dia coma, Kalau dulu aku berterus terang, mungkin sekarang dia masih menghendaki diriku. Mungkin dia akan betul-betul melupakan perempuan itu! Kalau aku dulu berhasil meyakinkannya bahwa Odi cuma menghendaki uangnya, bahkan berkomplot mau rumahnya, pasti dia takkan sudi mencintai perempuan itu lagi! Tapi sekarang...
Belum pernah Triska merasa begitu kacau, tak tahu apa yang harus dilakukannya Dia berjalan bagaikan orang tidur, setengah dari pikirannya en-tah ada di mana. Dia sama sekali tidak neduli lagi akan hal-hal lain yang tidak menyangkut urusan-nya dengan Deni. Sampai-sampai ketika ibunya .pada suatu pagi mengingatkan agar dia jangan pulang terlalu malam dari praktek, Triska terce-ngang.
Sebelum bibirnya sempat bergerak mengucapkan "ada apa", tahu-tahu Marco sudah didorong oleh Dokter Justin ke hadapannya.
321
"Mam, selamat ulang tahun!" serunya sambil memeluk erat-erat.
Sedetik dia betul-betul merasa tercengang, sebab sama sekali tidak ingat bahwa ini sudah bulan Oktober, sudah waktunya lagi untuk menambah umur. Kemudian pikirannya pulih sebentar (sebelum kembali menerawang memikirkan masalah Deni akan segera kawin lagi), dan dia meratap dalam hati. Ah, usiaku sudah tambah lagi. Aku sudah 32 hari ini! Aku takkan semakin muda! Dan aku akan kehilangan dia untuk selamanya?
"Oh, terima kasih, Marco," sambutnya dengan senyum terharu. "Oke, Mam, jangan khawatir, malam ini akan saya usah akan pulang nggak terlalu malam."
Siang itu Triska melaksanakan tugasnya dengan pikiran ruwet Dia ngeri akan bertemu dengan Deni lagi dan mendengar bahwa dia sudah menen-tukan tanggal pernikahannya dengan... Odi! Bagaimana dengan janjiku pada anakku? Yang ditakuti-nya adalah pertanyaan Marco. Sejak keluar dari rumah sakit sudah dua kali dia bertanya, "Mam, kapan dong kita pindah ke rumah Daddy? Di sana kan banyak mainan Marco, Mam."
Triska mengerti, masalahnya bukan soal mainan, sebab di rumah Nenek Rosa pun mainan Marco sepeti besar. Dia tahu, anak itu merindukan ayahnya.
Triska menggigit bibir kalau sudah berpikir sampai ke situ. Bagaimana mengatakan pada seorang anak bahwa ayahnya sudah tidak mencintai ibunya dan akan kawin dengan wanita lain?
322
Sumi meneleponnya sekitar pukul sebelas, me-ngabarkan ia tidak bisa datang nanti malam. Malah kebetulan, pikir Triska. Aku sedang tidak ber-gairah menghadapi tamu.
"Aku'terpaksa cuma bisa mengirimkan bunga, Tris. Bayiku nggak bisa ditinggal, sih. Sedang sumeng."
Anneke Berta Cindy Deborah memang meru-pakan tophit terbaru dalam keluarga Kamndeng. Anak permandiannya ini sangat cantik, gemuk, serta lucu. Tidak mengherankan bila. Hansa (menurut pengakuan Sumi pribadi) makin melimpahi Sumi dengan kasih sayang, saking besarnya rasa terima kasih padanya. Bahkan Triska sendiri sudah jatuh cinta pada si Upik yang dise-butnya "anakku", dan dijenguknya hampir tiap Minggu bersama Marco.
"Nggak apa-apa, Sum. Aku juga sedang malas pesta-pesta. Nambah umur, nambah uban, kok mau dirayakan, gimana sih? Ibuku saja keisengan ingin mempraktekkan kumpulan resepnya yang ratusan itu, sedangkan ayahku ingin mencari alasan supaya bisa makan enak tanpa harus pusing memikirkan kadar kolesterol. Eh, Minggu sore ini mungkin aku akan menengok anakku. Marco akan kuajak kalau dia kebetulan nggak nginap di tempat ayahnya."
"Eh, kenapa nggak kauajak Deni sekalian?"
Ah, kau tidak tahu sih, dia sudah mau kawin dengan Odi!
"Coba nanti kuusulkan padanya," ujarnya sece-rah mungkin. Mendengar suara Sumi yang penuh
kebahagiaan membuat Triska lupa sejenak pada problemnya sendiri. Sumi memang teman yang baik. Dia bahkan sudah berjanji, bila Anneke Ber-ta Cindy Deborah atau Ani, panggilannya, sudah agak besar, Triska boleh mengajaknya nginap di rumahnya. Bayangkan, aku akan punya anak perempuan juga! Uh. aku tak sabar menunggunya besar!
Kira-kira sejam kemudian datang telepon dari Mirsa. Setelah mengucapkan selamat ulang tahun, Mirsa menyatakan penyesalannya takkan bisa datang nanti malam.
"Aku juga kebetulan nggak merayakan, kok," ujar Triska dalam hati merasa lega, berkurang satu lagi tamunya.
"Salah seorang jura masakku sakit, Tris. Terpaksa aku harus turun tangan mem bantu. Tapi minggu-minggu depan akan kutagih, lho! Traktir ke Lembur Kuring, ya Sumi juga pasti mau!"
"Rebesss!" serunya tertawa. Untung aku masih punya teman-teman, jadi masih bisa tertawa juga sekali-sekali. Kalau nggak, mungkin aku bisa gila! Memikirkan kapan Deni akan kawin lagi!
***
Siangnya datang tiga kasus akut abdomen* dan Triska hams melakukan appendectomy menda-
keadaan gawat darurat di bagian perut operasi usus buntu
324
dak. Pukul em pat baru dia sempat makan, pukul lima tiba di rumah, mandi sebentar, lalu berangkat lagi ke tempat praktek.
Tanpa disadarinya, dia jadi berlama-lama di sana. Pasien memang lumayan banyak, tapi sebenarnya dia bisa lebih gesit sedikit. Yang terjadi malah sebaliknya. Setiap pasien ditanyainya lebih men-detail, diajaknya ngobrol mengenai hal-hal yang tidak langsung menyangkut penyakitnya, sehingga Mbak Tuti sudah dua kali permisi masuk untuk mengingatkan bahwa pasien masih cukup banyak dan beberapa orang mulai kelihatan resah.
Setelah pasien habis, ternyata hari baru pukul delapan. Ah, masih terlalu siang untuk pulang! Biar kutunggu Mbak Tuti berbenah. Dua puluh menit kemudian Tuti sudah be res, rupanya tak banyak yang harus dikerjakannya kali itu. Triska terpaksa bangun juga meninggalkan tempat itu, tapi diantarkannya dulu asistennya itu ke pangkal-an bus yang agak jauh, bukan yang biasa. Semata-mata agar jaraknya lebih panjang dan bisa meng-ulur waktu. Firasatnya men gat akan. Deni akan mencoba menggunakan kesempatan malam ini untuk memaksanya agar melepaskan pianonya serta memberitahukan tanggal pemikahannya....
Namun akhirnya tak ada lagi yang dapat dilaku-kannya selain memutar kendaraannya dan melun-cur pulang. Dia tahu, hari sudah cukup larut untuk makan, tapi tidak disangkanya bahwa orang-orang sudah begitu resah menunggu sampai-sampai ada yang sudah stap berdiri di belakang pintu.
Triska baru saja memutar gerendel itu sedikit, ketika daun pintu sudah terdengar dibuka dari daJam dan dalam sekejap sudah terpentang lebar. Dia menduga itu ibunya atau Marco. Triska ter-tegun. Orang yang berdiri di depannya bukanlah yang diharapkannya.
"Malam amat. Tris." ujar Deni tanpa nada me-negur.
"Banyak pasien," kuahnya dengan senyum terpaksa. lalu cepat-cepat melejit ke samping untuk meng-hindarkan diri. Tapi ternyata bekas juara judo itu gesit sekali. dan sebelum dia sempat menarik napas berikutnya. tangannya sudah dicekal dan ditahan. Triska terpaksa menghentikan langkahnya dan me-mandang Deni sedikit heran. Mau apa, sih? Meng-ucapkan selamat ulang tahun kan cukup dengan mulut, nggak usah pakai pegang-pegang segala!
"Selamat ulang tahun, Prinses," bisik Deni me-minjam panggilan kesayangan Kris terhadap adiknya.
Mm. Kaupikir hatiku akan melunak bila aku dinaikkan pangkat? Biar aku dijadikan Presiden Amerika pun, piano itu takkan kujual padamu!
"Terima kasih," sahutnya dingin. Melihat Deni belum mau melepaskan tangannya, tapi malahan me-majukan wajahnya ke depan, Triska kontan meng-gerakkan kepalanya ke samping sehingga kecupan itu cuma menyapu cuping telinganya sekilas.
Aku nggak butuh ciuman Judas! pikimya sengit, lalu menarik tangannya dengan paksa dan melang-kah ke dalam
326
"Hai, Prinses, apa mobilmu mogok? Aku sudah hampir ketiduran menunggu kau pulang!" keluh Kris dari depan TV, lalu bangun, menghampiri adiknya, me me Ink, mengecup, serta mengucapkan selamat ulang tahun. Dari sudut matanya Triska sempat melihat seseorang berdiri mengawasi. Mau apa kau datang malam ini, merusak suasana? Aku TIDAK AKAN memberikan piano itu padamu, titik! Masih juga belum mengerti?
"Hai, Tris, aku sudah hampir semaput kelaparan!" tukas Marti yang menggantikan Kris memeluknya.
"Sori. banyak pasien!" kilahnya sekali lagi.
"Tapi kami sudah menelepon ke sana sejam yang lalu, sudah nggak ada yang angkat!" sera Kris penasaran.
Triska menggigit bibir, tak mampu mengangkat muka sebab tahu orang yang pertama kali dibo-honginya. juga sedang menunggu jawabannya.
"Aku mengantarkan Mbak Tun* dulu."
"Kan cuma sampai tempat bus, masa satu jam?" Kris mendesak.
Pada saat Triska sudah mulai kewalahan, untung muncul ibunya menolong. "Sudah! Yang penting Triska sudah pulang dengan selamat! Ayo kita makan saja!"
Triska maklum mereka semua sudah kelaparan. karena itu dia tak berani marah pada abangnya. Merekalah yang pantas marah padanya, tapi untung tidak. Triska menyesal telah menuruti had, berputar-putar di jalnnan, membiarkan orang di rumah makan angin.
Syukurlah hidangan Nyonya Rosa yang lezat itu berhasil melipur kekesalan Kris, dan setelah perut masing-masing terasa nyaman, tak ada lagi yang mengomel. Tapi karena hari sudah menjadi larut, Kris dan Marti pun terpaksa minta diri tak berapa lama setelah makan kue ulang tahun dan pembu-kaan kado. Ketika mereka hampir bubar, bel pintu berdering. Nyonya Rosa sendiri yang pergi mem-bukakannya, sebab Inem sedang di loteng bersama Marco dan Bobi, kedua pembantu lainnya jauh di belakang.
Triska hampir tidak percaya melihat siapa yang diantar ibunya masuk. Dia sempat melirik dan melihat Deni mengecilkan matanya serta menge-rutkan kening. Hun! Kaupikir cuma kau saja yang dapat memperoleh pasangan baru? Lihat nanti tanggal mainib^l
"Aduh, Juragan KL!" seru Triska dengan ke-gembiraan yang dilebih-lebihkan.
Roy memamerkan nyengir kudanya yang paten, menaikkan kacamatanya ke tempat yang lebih ter-hormat, menoleh, dan menyapa semua orang, lalu menguhirkan tangan dan nyaris membuat perge-langan tangan Triska lepas dari sendi kena reng-gutannya. Kris rupanya juga melihat Triska meri-ngis. Lumayan sakitnya oooiii, pikir Triska. "Ei, ei, kira-kira sedikit pakai tenaga! Luxatio juga, tun, tangan kaujambret begitu!"
keseleo
Tapi Blvis-bayangan itu betul-betul sudah buta dan tuli, perhatiannya seluruhnya dicurahkan pada
Triska.
"Aku dengar kau ke Kuala Lumpur,1* ujar Triska setelah mengucap terima kasih atas bingkisannya. "Aku memang baru balik. Dari airport langsung
ke sini."
"Malam amat! Kau pasti belum makan," kata Nyonya Rosa.
"Terima kasih, Tante. Saya sudah makan di pesawat Ada kerusakan teknis, jadi fake-ojj-nya tertunda tiga jam! Sudah, ya, saya permisi dulu, cuma ingin mengantarkan kado saja, kok."
"Lho, masa kesusu begitu?" seru Nyonya Rosa. "Paling sedikit, minum teh dulu, ya."
"Terima kasih, lain kali saja, Tante. Sudah capek banget sih, mana besok hams dinas. Dan taksinya nunggu."
Dandanan Roy berupa celana jeans ketat serta jaket denim biru dan ikut leher merah, sungguh mirip sekali dengan gaya Elvis sungguhan, nyengir kudanya me lebar sampai bibirnya hampir terbelah dua, ketika Triska mengatakan apa yang dilihatnya itu.
Dokter berjambul itu pun permisi pulang diikuti Kris dan Marti. Bobi dibiarkan nginap sebab sudah lelap di atas. "Besok sore saya jemput Mam," kata Marti pada ibu mertuanya.
"Ah, nggak usah besok. Biar saja dia di sini, ada teman mainnya, Marco dan Bella," ujar Nyonya Rosa. "Bolos sekolah dua hari tak mengapa, baru kelas satu."
Setelah mereka berialu, yang tertinggal cuma Deni. Triska bemsaha mengirim telepati padanya, menyilakannya pulang. Tapi kepandaian telepati-nya mungkin tak ada atau Deni yang radarnya sedang mogok. Pendeknya, dia masuk lagi setelah mengantarkan yang lain keluar, dan duduk lagi, tanpa kelihatan ada tan da-tanda bahwa dia bisa membaca lonceng sudah jam berapa.
"Aku mau ke atas dulu melihat Marco," katanya pada Triska ketika mereka cuma berdua di ruang keluarga Dokter Justin menyatakan perlu membaca jurnal, dan istrinya mengikuti, mengatakan harus menyelesaikan rajutannya untuk salah seorang cucunya.
Triska mengawasi Deni berjalan ke arah tangga, dan menarik napas lega. Ah, bebas sebentar. Tapi tak boleh senang dulu. Kalau dia memang datang untuk menuntut piano itu, pasti dia takkan pulang sebelum mereka terlibat dalam argumen lagi, yang lebih panjang dan lebih seru dari tempo hari!
Malam itu terang bulan, dan suasana di kebun menyeret kakinya ke gazebo. Direbahkannya tu-buhnya di atas dipan lengkung yang terdapat di situ, diletakkannya kedua lengannya di bawah ke-pala, ditatapnya bulan cemerlang di langit kelam. Sungguh indah ciptaan-Mu, Tuhan. Aku merasa demikian kecil dibandingkan dengan alam semesta. Cuma setitik pasir di seluruh jagat raya. Tak ada artinya dibanding dengan seluruh basil karya-Mu. Biarpun kurasakan problem hidupku mahabesar, di mata-Mu itu hanyalah setetes air dalam lautan.
Malam ini Dent pasti akan memberitahukan tanggal pernikahannya. Dia juga akan bemsaha membujuk aku agar melepaskan piano itu. Oh, hatiku, kau harus tabah, tabah, tabah.
Sinar bulan bagaikan mengelus dedaunan dan pepohonan, melapisi semua itu dengan selendang perak sehalus tenunan labah-labah. Air di kolam pun seakan berkilat bagaikan kaca, dan ikan-ikan aneka warna kelihatan jelas hilir-mudik, ada juga yang diam saja, mungkin tidur. Apakah ikan perlu tidur? Aneh, aku tak pernah tahu apakah mereka bisa tidur atau tidak.
Demikianlah dibiarkannya pikirannya menera-wang ke angkasa, entah berapa lama, dia tak tahu. Kemudian timbul niatnya untuk main piano. Sudah cukup lama aku di sini, Deni pasti sudah pulang. Kalau belum, dia pasti sudah mencariku kemari! Lebih baik aku masuk dan main beberapa lagu sebelum tidur.
Benar saja, rumah sudah sepi. Ibu dan ayahnya mungkin masih di kamar kerja ayahnya, tapi mereka takkan terganggu bila dia main piano, asal ditutupnya pintu ke ruang keluarga ini
Triska duduk dan langsung main.... Tanpa ber-pikir lagi jari-jarinya sudah bergerak lincah, dan bam semenit kemudian dia mendadak sadar bahwa lagunya adalah Ave Maria gubahan Bach-Gounod. Triska ingin menggantinya dengan irama yang lebih ceria, tapi jari-jarinya tak mau berhenti, seakan tak bisa disetir lagi oleh otaknya. Yang lebih gawat lagi, matanya pun ikut-ikutan minta oto-
nomi, tak sudi lagi dilarang-larang olehnya, dan tetap berkeras mau menangis. Untung tanpa ber-suara. Tetes demi tetes bergulir jatuh membasahi pangkuannya. Lama-lama hidungnya pun penuh air sehingga napasnya terganggu, tapi tangannya tetap tak mau berhenti sehingga sebentar-sebentar terdengar bunyi ingsrek-ingsrek bila dia mencoba mele-gakan hidungnya.
Triska main sambil menunduk, begitu tengge-lamnya dia dalam permainannya sehingga sama sekali tidak disadarinya keadaan sekelilingnya. Tidak diketahuinya bahwa pintu—yang memang tidak berderit—dibuka pelan-pelan, dan seseorang melangkah masuk tanpa bunyi, karena memang ruang itu diberi karpet sebab ada piano. Triska tidak menyadari sama sekali ketika orang itu berdiri diam memperhatikannya beberapa saat sebelum menghampirinya, lalu mengulurkan tangan dengan ragu namun menariknya kembali sebelum menyentuh bahunyu.
Akhirnya menegurnya dengan halus, "Kenapa nangis, Tris?"
Suaranya lembut sekali, tapi Triska toh masih terkejut juga. Jari-jarinya mengejang di atas tuts, dia menoleh dan berbisik parau, "Kok belum pulang?"
Melihat wajah yang keheranan itu, Deni berkata, "Jadi kaukira aku sudah pulang! Kau belum melupakan arti lagu itu, bukan, Tris? Artinya bagi kita? Tapi kenapa kau nangis?" Deni mengeluarkan saputangan dan mau menyusut pipinya yang basah,
tapi oleh Triska ditepiskan. Dia beranjak dari piano dan me rain kertas tisu dari meja di dekatnya, lalu disekanya mata serta dibersitnya hidungnya.
Rumah terasa sepi seakan cuma mereka berdua penghuni di situ. Triska tidak bergairah untuk ber-duaan dengan "Judas Iskariot" pada saat itu, jadi cepat-cepat dikeluarkannya alasan yang ampuh.
"Sori, aku ngantuk sekali. Kau bisa keluar sendiri, kan?" Tanpa menunggu jawaban dia berbalik dan mau melangkah ke arah tangga. Tapi lagi-lagi Deni mengerahkan tenaga dalamnya—paling tidak begitu menurut dugaan Triska sebab gesitnya melebihi ukuran normal—dan berhasil menyambar lengannya sebelum langkah pertamanya dimulai.
"Kita perlu bicara, TrisrAda yang harus kukata-kan." Suaranya masih tetap lembut.
Tentu saja! Bila dia menghendaki grand piano Steinway-ku, dia harus mengerahkan seluruh ke-lembutan yang mampu diciptakannya. Dan tidak sulit menciptakan barang palsu, bukan?
"Kalau mengenai piano, lebih baik kukatakan saja sekarang, keputusanku nggak akan berubah. Kalau kau mengira akan bisa membujuk aku, baiklah kutambahkan, aku lebih suka melihat benda itu jadi rongsokan atau jadi abu, daripada kuserahkan ke tangan istrimw!" destsnya dengan mata berapi-api.
Tapi Deni tidak kelihatan ngeri, kecil hati, atau marah. Suaranya tetap saber ketika dia membujuk, "Ini bukan soal piano, tapi mengenai Marco dan kita berdua. Yuk, kita ke belakang."
Marco?! Mendengar kata yang ampuh itu Triska langsung melupakan semua kejengkelannya (untuk sementara) dan seluruh perhatian disiapkannya untuk mendengar apa yang mau dikatakan Deni. Tapi Deni tak mau bicara di situ, Dan Triska juga berpikir, seandainya mereka harus bertengkar (mi-salnya memperebutkan anak im), lebih baik di belakang, jauh dari Papa-Mama.
Dia mengangguk dan mereka berjalan ke kebun menuju gazebo. Deni melingkarkan lengannya ke pinggang Triska, tapi dielakkannya dengan berjalan menjauh sedikit. Setiba di sana, Deni menja-tuhkan diri di sampingnya di atas sofa. Triska tak bisa melarang, jadi dia bemsaha mepet ke pinggir.
"Nah, keluarkanlah apa yang mau kaukatakan, aku sudah ngantuk."
"Pertama, aku ingin memastikan, kau sama sekali nggak keberatan bila aku menikah kembali." |
Oh, topik yang menyakitkan ini lagi! Bukan soal Marco kiranya!
"Aku nggak ingin menyakiti hatimu, Tris. Ku-lihat wajahmu mendung seperti sedih mendengar aku akan kawin lagi. Betulkah kau nggak keberatan?"
As tag a! Apakah aku memberi kesan begitu? Di-sangkanya aku tak bisa hidup tanpa dia?! Malu-maluin!
"Tentu saja nggak!" bantahnya, suaranya lebih keras dari yang diperlukan sehingga Deni malah kelihatan kurang percaya.
"Kenapa aku harus keberatan? Kau juga nggak
334
bakal keberatan, bukan, seandainya bulan depan aku akan kawin dengan Roy?"
"Tentu saja nggak," sahut Deni gagah dan ksa-tria. Tapi sedetik kemudian keningnya berkerut. "Eh, ini cuma perumpamaan atau sungguhan?"
"Bukan urusanmu lagi. Sebenarnya aku bahkan nggak perlu minta izinmu kalau mau kawin dengan siapa jugal Tapi kita ke sini bukan mau ber-debat soal kawin lagi, kita mau membicarakan Marco, bukan? Nah?!"
Deni mengangkat kedua tangannya. "Oke, oke. Karena kau nggak keberatan dengan rencanaku, sekarang akan kuperlihatkan sesuatu padamu. Anu, aku perlu mendapat kepastian dulu bahwa kita nggak akan bermusuhan bila aku sudah..."
Karena hilang satu "Judas" dari peredaran, kenapa aku harus keki lalu menjadi musuhmu? Seorang "Judas" masa begitu berharganya sampai membuat aku kurus kering? GR juga orang ini! Disangkanya aku takkan dapat melupakan dirinya! Bah!
"Aku akan datang ke pesta kawinmu dan menjadi dayang-dayang mempelaimu, kalau kau mau!" ujarnya sengit.
"Oh, nggak usah begitu ekstrem. Cukup berdiri diam di sebelahku!"
Untuk menyaksikan kau memasukkan cincinmu ke dalam jarinya, lalu kaublsikkan "my love" padanya? My love matamu! Ucapan yang tidak lebih berharga daripada "... kucing"! Bau dan palsu!
Deni mengeluarkan sebuah kotok kecil dari saku celananya. Dibukanya tutupnya yang terbuat dari
bahan velour berwama biru tua, dan diperlihatkan-nya isinya pada Triska. "Pantaskah ini untuk calon istriku?" bisik Deni.
Triska menahan napas sejenak. Jauh lebih bagus dari cincin yang diberikannya padaku! Cincinku cuma mempunyai anggur sebatang dengan daun-daunnya, tapi cincin ini memperlihatkan seorang dewi tengah bersiram di kolam, dikelilingi bunga mawar.... Mungkinkah ada orang yang bisa men-ciptakan benda seindah itu? Tapi disahutinya dengan suara acuh tak acuh, agar perasaannya jangan sampai ketahuan, "Cukup bagus!"
Deni tidak tampak kecil hati melihat sambutan yang dingin itu. Habis, kauharapkan aku akan jingkrak-jingkrak kegirangan melihat cincin kawin-mu yang akan kauberikan pada... Oh! Dunia sudah terb'alik. Orang yang hampir saja membunuhmu, kini akan kaugandeng ke altar! Dunia sudah gila!
"Ceritanya, ibuku punya koneksi di Roma. Cincin ini kupesan dari sana. Aslinya adalah karya Cellini, pandai emas dan pemahat termasyhur abad keenam belas dari Florence, yang membuatkan mata uang untuk Paus Clement Ketujuh. Bukan anti-Paus Clement Ketujuh, ini orangnya lain. Bagus, ya?"
Triska terpaksa mengangguk sebab tak bisa ber-buat lain. "Sekarang mengenai Marco...," katanya mengingatkan.
Tapi Deni tidak kelihatan ingin cepat-cepat membicarakan soal anaknya. Dia bahkan seperti tak mendengar teguran itu. Dikeluarkannya cincin
336
itu dan diserahkannya pada Triska untuk dikagumi. Triska tak dapat menolak, tapi cuma semenit di-bolak-baliknya lalu diserahkannya kembali.
"Bagus sekali!" pujinya. Pasti Odi akan kegirangan setengah mati.
"Coba, Tris."
Eh?! Ini sudah keterlaluan! Apa kausangka aku tidak punya perasaan sudah bermenit-menit diha-ruskan mendengarkan ocehanmu mengenai urusan yang tidak menyangkut diriku? Kaukira aku gembira menyaksikan engkau begitu bergairah mem-persiapkan hari besarmu dengan...? Kaukira hatiku tak bisa berdarah? Kaukira aku terbuat dari batu atau perunggu?
"Aku nggak berhak," tolaknya dengan halus.
"Ah, cobalah! Kan kaubilang bagus."
"Nggak baik! Pamali! Bisa menyebabkan... sial pada pemiliknya nanti." Dia coba menakut-nakuti.
"Ah, aku nggak percaya takhayul. Di samping itu..." Deni tidak meneruskan kata-katanya. Se-baliknya, ditatapnya Triska sebulat matanya. Triska tak mau disebut pengecut atau cengeng, jadi dibalasnya tatapan itu tanpa berkedip, tanpa me-nunjukkan bahwa jantungnya di dalam sudah han-cur be ran tak an.
Betulkah aku sebenarnya belum mengenai Deni sedalam-dalamnya? Siapakah kau? Siapakah orang yang hidup bersamaku selama tiga tahun? Siapakah laki-Iaki yang pernah mengaku cinta padaku? Siapakah suami yang selalu memanjakan diriku? Siapakah kau? Ke mana humormu, kebaikan hati-
mu, kasih sayangmu? Ada berapa Deni sebenarnya? Deni yang hidup bersamaku? Deni yang dise-nangi pasien-pasiennya? Deni yang mencintai Odi? Deni yang sanggup membunuh anaknya? Deni yang tak segan-segan menikam bekas istrinya?
Oh! PergiJah! Pergilah sebelum kenangan manis yang kusimpan mi kaucemari dengan sikap dan kata-katamu yang menusuk hatiku. Pergilah! Oh, pergilah sebelum aku kehilangan kendali atas diriku! Pergi, pergi, pergi... demi cinta kita yang sudah jadi sejarah, pergilah, Deni! Aku takkan mengutukmu, takkan mensyukuri yang jelek-jelek, takkan dendam... bahkan Odi takkan kumusuhi. Pergilah, pergilah, pergilah, pergilah, per... gi... lah... tinggalkan aku sendiri...!
Tapi bekas juara judo yang juga ahli taekwondo itu seakan tidak mengerti isyarat yang dipancarkan oleh mata jelita di depannya, atau bahkan tak mau tahu derita apa yang tengah berkecamuk dalam hati sanubari Triska.
Deni mengambil cincin yang disorongkan padanya lalu... semuanya terjadi lebih cepat dari kilat! Presto! Deni meraih tangan kirinya, dan sebelum Triska sempat menolak, cincin itu sudah masuk ke dalam jari manisnya! Lalu Deni melipat semua jari-jarinya sehingga tangannya terkepal dan cincin itu tak dapat diloloskannya.
Triska menggigit bibirnya kuat-kuat, menarik napas dalam-dalam untuk menahan luapan emosi-nya, memejamkan serta mengerutkan matanya seakan tengah menahan nyeri yang luar biasa.
"Pantas sekali!" Didengarnya Deni mendecak. Belum pernah Triska menemui kesulitan yang
demikian besar untuk mencegah air matanya jangan sampai keluar. Cukup penghinaan ini saja! Jangan beri dia kesempatan untuk laporan pada Odi bahwa aku menangis!
Kaupaksakan cincin ini padaku! Se mat a-mata untuk melihat bagaimana pantasnya, untuk kemudian kaubandingkan dengan jari istrimu! Siapakah kau? Siapakah manusia yang kucintai ini? Mungkinkah kau sekejam itu? Demi cinta kita yang sudah jadi barang antik, tak dapatkah kaubebaskan aku dari penghinaan? Aku sudah dihina Odi, aku sudah kalah terhadapnya... Masih haruskah kau juga menyiksaku?
Tanpa membuka mata, Triska berusaha melepaskan cincin itu. Namun sepasang tangan yang kuat mencegahnya. Ketika dia mau berontak, sebab hatinya mengisiki ada yang tidak beres, tangan-tangan itu malah mendekapnya. "My love."
Hatinya menggelepar panik. Didengarnya dengan jelas bisikan di telinganya itu sebelum de-kapan dilepas. Kelopaknya bergetar dan matanya terbuka tanpa bisa ditahan. Dia menatap tak per-caya.
Sebelum Triska mengerti jelas apa yang terjadi, dilihatnya harmonika itu—entah kapan disulapnya benda itu keluar dari kantongnya—sudah menem-pel di bibirnya, dan... lagu itu membawanya kembali ke tepi Danau Michigan, api unggun dalam terang bulan di musim panas, enam tahun yang
lalu, ketika dia bersandar ke bahunya, dan suara banjo mengantarkan Carolina Moon, lalu harmo-nikanya membawakan Let me call you sweet-heart, I'm in love with you. Let me hear you whisper, that you love me too...
Triska menggigit bibir. "Betulkah ini?" gumam-nya dengan suara bergetar. "Aku bukan sedang mimpi?" bisiknya pada diri sendiri, dan digigitnya bibirnya lebih keras seakan mau memastikan bahwa ini memang realita. Ditatapnya Deni tanpa berkedip. *
Deni menurunkan harmonika itu dari bibirnya dan balas menatapnya. Untuk beberapa saat kedua-nya saling memandang.
"Kau nggak mimpi, Tris," bisiknya penuh ke-lembutan.
Bibirnya tremor ketika dia membuka mulut. "Kalau begitu kenapa kau harus pura-pura mau membeli pianoku? Kenapa Audrey dipanggil Odi oleh Marco? Kenapa, kenapa, kenapa? Kenapa mau kauhancurkan hatiku?" Digigitnya bibirnya kuat-kuat untuk mencegah jangan sampai air matanya meleleh.
"Maafkan aku, Tris. Leluconku memang keterla-luan, tapi kalau kau tahu apa yang sudah kualami, mungkin kau reia mengampuni semua kelancang-anku selama ini. Aku cuma ingin membuatmu cemburu!"
"Apa yang sudah kaualami?" tanyanya menge-rutkan kening. Deni meraih kedua tangan Triska dan menang-
kupnya dalam kedua tangannya. Matanya menatap
tanpa kedip, Triska pun membalas sama.
"Setelah aku pulang ke Depok dari rumah sakit, Odi pernah menelepon..."
Hah?!
"Dia menceritakan bagaimana dia memergokimu di kamarku..."
Oh, Tuhan! Triska membelalak dengan mulut setengah terbuka, bibir dan tenggoroknya terasa
kering.
"...Kau sedang berusaha mencabut infus... Kau-akui padanya, kau ingin membalas dendam padaku... Kau sakit hati dan tidak rela bila aku kembali
padanya..."
Oh, Tuhan! Karena itu kau menjauhi aku! Mungkinkah kau mempercayainya? Tidakkah in-tuisimu memberitahu bahwa semua itu bohong?
"Aku tidak tahu apa yang harus kupercayai, Tris. Tapi aku sempat berpikir, seandainya itu betul, aku takkan sakit hati. Sebab aku tahu, aku sudah bersalah padamu. Aku relakan kau membalas dendam padaku bila kau mau..."
Triska menggigit bibirnya kuat-kuat untuk mencegah turunnya air mata, namun dia tidak menyadari bahwa pipinya sebenarnya sudah basah kuyup. Hatinya serasa terajam, pedih dan menyakitkan. Jadi kau lebih percaya Odi dari aku! Betapa menyakitkan!
"Maafkan aku, Tris, bila aku pernah meragukan-mu. Tapi sekarang aku sadar, sebabnya bukanlah kau, melainkan aku! Rasa bersalahku menyebab-kan aku merasa tidak berhak dtcintai olehmu, bah-
wa sudah sepantasnya bila kau sakit hati dan ingin membalas dendam...."
Oh, Deni! Kalau begitu kau belum mengenai diriku!
"Ketika Marco diopname, aku kebetulan mendengar kau berjanji akan mengajaknya tinggal ber-samaku... Aku kurang percaya waktu itu...."
Sebab kau sudah termakan dustanya!
"Tak dapat kubayangkan betapa sedihnya hatiku mendengar orang yang kucintai ternyata... Oh, Tris, maafkan aku mencurigaimu tanpa alasan! Untung suatu hari secara kebetulan Kris men-ceritakan semua yang pernah kauadukan padanya, juga pesanmu agar orangtuaku jangan sampai tahu. Oh, bukan main bahagianya aku saat itu! Baru lah aku yakin, apa yang kaujanjikan pada Marco memang keluar dari lubuk hatimu. Dan aku bangga akan kebesaran jiwamu, melindungi Nila dan Odi demi menjaga keutuhan keluargaku. Tris, semua itu membuat aku semakin mencintaimu, seandainya mungkin orang mencintai lebih dari apa yang selama ini kurasakan..." .
Triska menunduk memandang cincin berwarna putih yang melilit di jarinya. Perlahan-lahan ta- -ngannya bergerak mau melepaskan benda itu. Aku kecewa! Aku sungguh kecewa! Kiranya apa yang kausebut cinta itu cuma kulit belaka! Sedikit saja mendengar fitnah, kau langsung menghakimi aku! Cinta tidak mungkin bertahan tanpa kepercayaan. Sebaiknya kauambil kembali cincin ini, sebab aku tak mau menerimanya!
"Tapi, Tris, tak dapatkah kaumaafkan aku sekali lagi?" seru Deni dengan suara panik. Triska ter-peranjat. Rupanya dia bukan cuma berpikir, tapi
mengucapkan semua itu dengan suara jelas!
Dilepasnya cincin itu dan diserahkannya kembali.
"Tidak, tidak, tidak! Kau tak boleh mengem-balikannya! Oh, maafkan aku! Aku khilaf! Sebenarnya bukan Odi yang kupercaya, tapi perasaanku sendiri yang menuding diriku, membuat aku merasa memang mungkin dan sepantasnya bila kau membalas... Tapi sekarang aku sudah sadar, masa kita harus berpisah lagi karena ketololanku?
"Tris, kau tidak tahu betapa- suram rasanya hi-dupku ketika kusangka kau betul-betul membenci-ku. Setelah mendengar penuturan Kris, aku begitu bahagia sampai-sampai timbul ide gila untuk menggodamu, pura-pura mau kubeli piano itu untuk istriku! Maafkan, maafkan aku!"
Triska menyorongkan cincin itu tanpa berkata-kata. Deni menerima benda itu, tapi tiba-tiba di-angkatnya tangan Triska dan dimasukkannya cincin itu kembali ke jarinya.
Uh! Triska bagaikan tersedak sebab kaget. Tidak! Aku tidak sudi cintamu yang kurang kepercayaan! Tidak 1 Aku tidak mau! Aku tidak mau kembali padamu! Aku tidak mau! Aku tidak mau!!!
Triska berusaha melepas kembali cincin itu, namun Deni memegangi tangan kanannya sehingga niatnya tak dapat dilaksanakan. Dia meronta-ronta ingin melepaskan diri, namun Deni tak mau mele-
pas cekalannya. Saking kesalnya Triska tersedu-sedan. Dia mencoba berontak dan mengibaskan lengannya yang dicengkeram, -tapi tahu-tahu Deni malah merangkum wajahnya dengan kedua tangannya, dan memagut bibirnya.
Uh!!! Triska menggeleng sekeras-kerasnya untuk menghindari kecupan itu, namun Deni berta-han. Triska menggunakan kedua tangannya yang kini bebas itu untuk mendorong Deni sekuat-kuat-nya.
"Jangan sentuh aku!" desisnya sambil mengisak. Cincin itu diloloskannya dan dilemparkannya ke lantai. "Pergi! Pergi! Pergi!!! Dan jangan kembali lagi!"
"Tidak! Aku takkan pergi! Kau akan menjadi istriku kembali, dan kau takkan bisa menolak! 0, ya kau takkan bisa mengelak!" bisik Deni dengan gemas. "Aku sudah menunggu tiga tahun, Tris. Sekarang sudah saatnya kau kembali! Aku menun-tut agar kau kembali!!!"
Triska menggigit bibir, menatapnya dengan was-was sementara dia bersiap-siap untuk melarikan diri. Tapi Deni rupanya dapat menebak niatnya. Begitu Triska menggerakkan tubuh nya, Deni juga menyambarnya dan tahu-tahu sudah mendekapnya dengan erat sekali sampai hampir-hampir dia tak dapat bernapas. Triska berontak sambil mengertak-kan gigi dan beralang-ulang mendesis, "Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
"Katakan dulu kau bersedia kembali padaku, bam akan kulepas."
"Nggak bakal!" desisnya sengit. "Kalau begitu kita akan berdekapan terus sampai pagi!"
Triska dongkol sekali mendengar ancaman itu, tapi apa daya tenaganya berkurang. Pikirannya berputar mencari jalan keluar tapi tak ada.
"Apa kau nggak mau memaafkan aku, Tris?"
"Nggak!" semburnya sambil mengisak.
"Jadi kauselamatkan aku untuk apa? Kaurawat aku untuk apa? Kaucukur kumisku setiap pagi untuk apa? Kauputarkan aku Ave Maria setiap hari untuk apa? Aku akan lebih bersyukur dibiarkan mati daripada harus hidup sengsara begini. Tanpa cintamu, hidupku akan lebih miskin daripada gem-bel di kolong jembatan. Buat apa aku hidup kalau cuma untuk melewatkan hari? Apa kau ingin aku sembuh hanya untuk kausiksa seperti ini? Jawab, Tris! Jawab aku! Untuk apa semua itu kaulaku-kan? Kenapa nggak kaubiarkan saja aku mati, kan engkau jadi bebas untuk kawin lagi dengan Roy atau Erik? Jawab aku!"
Tapi Triska tidak sanggup menjawab, sebab ta-ngisnya sudah meledak lagi, air matanya deras membasahi kemeja Polo berwama gading yang dikenakan oleh Deni.
Bulan di atas bergerak tenang, mengawasi per-gulatan sepasang hati, dan dedaunan pun berdiam diri menunggu... Berhasil kali Deni memaksa Triska agar kembali padanya?
Ketika suara tangis agak mereda, Deni mengen-durkan dekapannya seolah khawatir Triska akan
sesak napas. Begitu dirasakannya kelonggaran itu, Triska langsung berontak lagi untuk melepaskan diri, tapi dengan sigap dapat dihalangi oleh Deni yang kembali mempererat pelukannya.
"Tris, aku sungguh mencmtaimu," bisiknya sambil mengelus-elus punggungnya, namun Triska tidak kelihatan tergugah oleh deklarasi itu, bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa dia telah mendengar-nya.
Lama keduanya berdiam diri begitu, cuma di-saksikan bulan. Akhirnya kedengaran Deni menarik napas panjang .
"Oke, aku menyerah. Mungkin tanpa kausadari kau sebenarnya masih mencintai Erik dan ingin kembali padanya. Ya, aku melihat kalian waktu di kapal, berduaan bercakap-cakap begitu dekat, bahkan mesra... Erik memang cocok untukmu, tampan dan gagah, serta pasti belum pernah coba-coba menipumu seperti yang telah kulakukan. Aku yakin, ia ksatria sejati, nggak seperti aku yang bloon dan brengsek! Sekali lagi aku minta maaf bila aku telah menyakiti hatimu, dan aku yakin, itu sudah sering kali terjadi. Cuma satu penasaranku: Kenapa kau ingin aku hidup kalau kau memang berniat mencampakkan diriku? Kenapa? Kenapa nggak kaubiarkan aku mati? JAWAB, Tris! Aku menun-tut jawaban! Kenapa, kenapa, kenapa kauselamat-kan aku?"
Deni melepas pelukannya dan mencekal kedua pangkal lengan Triska, lalu menatapnya dan memaksa Triska agar membalas tatapannya.
"Pandang aku, Tris," perintahnya. "Dan beri aku
jawaban!"
Triska memandangnya dengan mata sembap. Bibirnya bergetar namun tak ada suara yang terdengar. Tahu-tahu air matanya menetes lagi. "Tinggalkan aku!" bisiknya. "Kembalilah pada Odi!"
"Sungguh? Kau betul-betul ingin aku kembali padanya?"
Triska tidak menjawab. Deni tiba-tiba memeluk-nya lagi dan mengecupi kepalanya. "Oh, Prinses, kau kelihatan tidak bahagia! Semua gara-gara aku! Tapi aku berjanji akan membahagiakanmu bila kauberi aku kesempatan. Aku tahu kau mencintai-ku. Karena itu kembalilah, Tris. Besok kita akan meresmikan lagi hubungan kita yang terputus ini. Besok kau dan Marco akan pulang ke rumah kita.... Mau, kan, Tris?" -
Triska tidak bergeming sama sekali, kedua le-ngannya lurus kaku di sampingnya. Dia juga tidak bersuara kecuali sesekali membersihkan hidung, isaknya sudah reda.
Deni melepaskan pelukannya, meletakkan kedua tangannya di atas bahu Triska dan menatapnya penuh kehangatan. "Hei, aku sudah berhasil di terima di Mensa!" serunya riang. Tapi Triska masih tetap membisu.
"Nggak mau member! aku selamat?"
"Selamat!" ucap Triska seperti robot.
Deni tidak berkecil hati melihat reaksi yang dipaksakan itu. Dia malah menunduk dan mende-katkan wajahnya ke depan, sehingga Triska dapat
melihat mata yang hitam bening itu dengan pupil-nya yang lebar, bagaikan sebuah kolam sejuk yang tenang, dan dia serosa ditarik... amblas sampai ke dasar... hongat, tenteram...
"Jangan bohongi aku, Tris! Lebih-lebih lagi, jangan dustoi dirimu sendiri," bisik Deni, begitu dekat sehingga napasnya yang hangat menyapu wajah Triska "Akuilah bahwa kau mencintaiku! Akuilah, Tris! Akuilah! Akuilah, akuilah, akuilah...."
...Damoi, hening, cerah... Akuilah... hatiku yang molang... sudah terlukai, namun tetap tak bisa membantah... akuilah... Sentosa, sejuk, tenang... Aku terbenam... Dalam matanya kulihat... Oh, aku tak dapat menyangka]...!
"Oke! Kuakui!" sahutnya setenang mungkin seakan tengah menjawab pertanyaan ujion seorang profesor. "Tapi nggak berarti aku akan bersedia kembali padamu!" sambungnya melempar granat. Danau yang tenang itu tampak bergelora sesaat, namun sesaat kemudian riaknya sudah menghilang lagi.
"Jangan tolak keinginan hatimu sendiri, Tris," bisik Deni mengembalikan granatnya dengan tem-bakan maut.
"Oh, yaaa? Jadi kau yakin begitu isi hatiku?"
Deni tidak menggubris sindiran dan senyum dingin yang terpampang di depan nya. "Mungkin aku . dapat membantumu menerima kenyataan," ujarnya sambil mengeluarkan .sebuah recorder mini dari kantongnya, lalu menekan tombol yang paling ujung.
Tidak! Ini tidak sah! Curang! Pemerasan! Pikirannya memekik panik, namun hatinya tertawa... -4
Ave Maria... Kau di sampingku, aku di samping mu... Romo Yohanes bertanya... kau menjawab, aku menjawab... Organ mengalun sendu, agung... Seberkas keharuan melilit hati... setiap serat di tubuh menggetar, kejang, fibrilasi, fasiku-lasi, grand ma I, petit mat... Karena telah kaunyata-kan cintamu padaku di depan Allah, dan cintaku padamu! Cintaku padamu? Cintaku...? Cin-ta-ku...?
Triska demikian asyik dalam kenangan sehingga tidak disadarinya sesuatu telah terjadi. Ave Maria telah berakhir, diganti dengan... Have I told you lately that I love you, Could I tell you once again somehow? Have I told with all my heart and soul how I adore you, Well, darling, I'm telling you now... This heart would break in two if you refuse me, I'm no good without you anyhow, Wis world will end today if I should lose you, ^Well, darling, I'm telling you now... Have I told you lately when I'm sleeping, Every dream I dream is you somehow, Have I told you who I like to snare my life forever, Well, darling...
Triska menggigit bibir dan mengejap-ngejapkan matanya yang mengancam mau banjir lagi. Apakah aku harus menyerah kalah? Hatiku yang brengsek! Pengkhianat kau! Kenapa tak dapat kau-tolak, kenapa tak mau kautupakan?!
"Tris," bisik Deni dekat sekali sehingga bibirnya nyaris menyentuh wajahnya, "kita dapat meng-ulang lagi semua itu. Tapi kali ini aku berjanji,
kau takkan kecewa padaku! Tegakah kau meram-pas hak Marco untuk memiliki masa kanak-kanak yang bahagia bersama kedua orangtuanya? Apakah mau kauhancurkan hatinya seperti kauhancurkan hatiku dan hatimu sendiri? Anak itu sudah berkali-kali menanyakan aku, kapan Mami akan meng-ajaknya pindah! Dan tadi sore ketika kau belum pulang, dia mendesak lagi. Kalau kau tidak mau kembali untukku, kembalilah untuk Marco, dia membutuhkan kita berdua!"
Triska mengisak lagi. Tembakan Deni jitu sekali Dia sanggup menolak Deni, ia dapat me-nyangkal keinginan hatinya sendiri, tapi dia tak mampu membiarkan Marco merana....
"Nggak usah pura-pura sangat mencintai anak itu!" desisnya sambil memandangnya dari balik tirai air mata. "Bukankah kau berpesan pada Dokter Kamal agar mengorbankannya bila terjadi kom-plikasi? Ingar?!"
Deni mengheia napas berat. "Waktu itu perasaanku kacau, Tris. Aku bukan berniat membunuh-aya, tapi bila aku diharuskan memilih, terpaksa kau yang harus kupilih! Bukan karena aku tidak menghendakinya atau kurang mencintainya, tapi karena tanpa kau, aku tahu aku akan merana, mati, atau bunuh diri! Dan akhirnya anak itu akan teIan-tar serta menderita. Mungkin dia takkan kekurang-an materi, tapi itu tak dapat menggantikan kasih sayang orangtua, Tris. Dapatkah kausayangkan betapa kosongnya hidup seorang anak yatim-piatu, betapa gersangnya hatinya? Aku tidak tega men-
jerumuskan anak kita ke jurang derita seperti itu. Aku memilih, membiarkannya kembali ke pangku-an Tuhan... tapi tak berarti aku takkan meratapi kepergiannya. Aku mencintai Marco, Tris, sama besar seperti cintamu padanya. Kau percaya, bukan? Kau percaya, Tris?" Deni mengguncang bahunya per lah an.
Bagaimana dengan janin yang kausuruh gugur-kan? Apa alasanmu? Apakah kau juga akan mencintainya seandainya dia dibiarkan lahir? Percaya?! 0, ya, aku percaya! Aku sangat ingin memper-cayaimu, tapi...
"Mengangguklah! Katakan kau percaya!"
Triska memandangnya seperti orang bilang ingatan, namun selang beberapa saat lambat-lambat kelihatan kepalanya mengangguk. Deni langsung menarik napas lega seperti orang yang baru lulus ujian Bedah Otak.
"Oh, Tris!" Serta-merta ditariknya Triska kembali ke dalam pelukannya, diletakkannya dagunya ke puncak kepalanya, dibelai-belainya kuduknya, dikecupnya dahinya, dan dibisikkannya, "Kembalilah, Tris. Katakan, kau akan kembali, demi Marco. Biarpun bukan demi aku, aku tela. Yang penting, kita bisa bersatu lagi demi kebahagiaan Marco. Kita bertanggung jawab atas kebahagiaannya, Tris.., Jangan sampai Marco jadi anak broken home yang kesepian. Mau, ya, Tris. Tak usah kaujawab sekarang, pi kirk an tenang-tenang besok bila kau segar kembali setelah tidur n yen yak."
Triska membiarkan dirinya didekap begitu sam-
pai... entah berapa lama. Ketika Deni memandang ke atas, dilibatnya bulan sudah condong ke barat. Cepat-cepat dilihatnya arloji. "Wow! Sudah setengah dua! Sebaiknya aku pulang sekarang supaya kita masih bisa tidur beberapa jam." Dirangkum-nya wajah Triska dalam kedua tangannya dan di-kecupnya bibirnya, ringan tapi hangat. ¦ Triska memandangnya, lalu tahu-tahu tercetus dari bibirnya tanpa direncanakan, "Nginap saja."
Sejenak Deni bengong seakan tidak yakin telah mendengarnya. Kemudian dia menegaskan, "Boleh?"
Triska mengangguk. "Di kamar tamu." : "Kamarmu?"
"Sudah penuh dengan Bobi dan Marco." "Kalau begitu, ikutlah ngungsi ke kamar tamu!"
"Ngngng..."
"Aku dengar kau suka gembar-gembor, kau sudah menjadi istriku, masih, dan selalu akan..."
"Tapi ini kan negara hukum!" potongnya dengan wajah panas. "Aku dengar, .pastor di Jerman bahkan nggak mau memberi Sakramen Perkawinan kalau kita belum punya Surat Kawin!"
"Uuuiii!" Deni bersiul. "Bikin hidup tambah su-sah saja!"
Deni memungut cincin yang tadi dibuang ke lantai, lalu diraihnya tangan kiri Triska, tapi dite-piskan.
""Besok saja," kilahnya. "Bangun tidur?" "Di Catatan Sipil!"
-jadi besok kita berdua mendadak sakit, nggak
dinas?" seru Deni tertawa lebar. blS,?KaU memang pantas menjadi anggota Mensal"
Deni terbahak-bahak. "Heran, walau* sindiran, Icalau keluar dari mulutmu, rasanya kedengaran eperti pujian bagiku!" Dia mendecak, membuat Triska tersipu. Lalu tanpa sirene peringatan, tahu-tahu Deni sudah menunduk dan mengecup pucuk hidungnya.
Mereka kembali ke rumah, dan kali ini Triska membiarkan pinggangnya dilingkari lengan yang hangat. Triska menyandarkan kepala ke bahunya. Keduanya melangkah pelan dalam sinar bulan, di-iringi Ave Maria yang syahdu. Diam-diam Triska mengucap syukur ke hadirat Ilahi, berterima kasih karena dia sudah diantarkan pulang ke oase hidup-nya.
Bab 11
Seminggu setelah Triska resmi kembali ke rumah mereka berdua, telepon berdering dari Odi. Seperti biasa, pada saat Deni sedang jaga malam. Selama dia tinggal di rumah orangtuanya, Triska tak pernah diganggu telepon. Mungkin Odi tak tahu no-mornya, tapi seandainya tahu pun pasti Odi takkan bisa menembus penjagaan ibunya yang selalu me-nerima telepon yang masuk.
Saat itu Marco sudah lelap dalam kamarnya yang indah, memeluk Snoopy, sementara Bella melingkar dalam keranjangnya di dekat sandal anak itu di depan ranjang.
Triska langsung mengenali elegy itu dan jan-tungnya mulai berdebar kencang. Sesuai dengan kehendak Deni, ditekannya tombol untuk merekam percakapan itu.
Tanpa basa-basi "halo" atau "selamat malam", Odi langsung membentak, "Kurang ajar sekali kau, Tris! Tak tahu main! Kalau kaupikir aku nelepon mau memberi selamat padamu, kau akan kecewa. Sebab aku justru mau memperingatkan, aku akan membalas dendam! Pengkhianatanmu bersama
354
Deni harus kaubayar! Dengan mahal!" Di antara alunan musik yang membuat kuduknya merinding itu, Triska mendengar napas yang memburu dipacu kemarahan yang meluap.
Triska menarik napas jengkel. Tapi sekarang dia tidak mau mengelak atau membujuk. Dia sudah tahu jelas persoalannya. Dan itu dikatakannya terns terang pada Odi.
"Kaukatakan aku kurang ajar, tak tahu malu, dan pengkhianat? Heran sekali aku mendengar kata-kata itu dari kau, yang sudah menyampaikan pada Deni bahwa kau memergoki aku sedang mencabut infus, mau membunuhnya!"
Terdengar Odi menarik napas cepat seakan kaget, tapi Triska tidak memberinya kesempatan untuk membela diri, seandainya dia mau menyangkal. "Odi, aku sudah memberimu waktu tiga tahun! Apa belum cukup? Kalau kau nggak berhasil mendapat-kan Deni kembali, itu urusanmu. Jangan salahin aku! Aku sama sekali tidak merasa berdosa padamu. Aku nggak menghasut Deni agar menolakmu. Aku bahkan menganjurkan supaya dia kembali padamu. Dia sendiri yang tidak mau. Dia kembali padaku atas kemauannya sendiri. Aku nggak pernah mengambil Deni dari sampingmu, sebab dia belum pernah menjadi milikmu! Betul, kan? Terimalah kenyataan ini, Odi. Lu pak an I ah Deni, carilah yang lain saja..."
"Nggak usah kaunasihati aku!" hardik Odi me-motongnya.
"Aku kasihan melihatmu menyia-nyiakan masa
mu..."
"Aku nggak butuh kasihanmu!" potongnya dengan murka. "Pendeknya, nantikan pembalasanku!"
"Odi, dekarilah Roy! Aku tahu, kau pernah mencintainya dan dia..."
Tabu? Kau tahu apa tentang aku?! Huh!" Odi mendengus. Suara tawanya yang melengking nya-ring kedengaran lebih mirip suara rintihan sinis dari orang yang sudah putus asa. Dan sebelum Triska sempat memberi dorongan semangat, tahu-tahu... Brukkk! Pesawat di sana sudah dibanting.
Malam itu tanggal dua November. Triska ingat, sebab sore tadi dia mengajak Marco ke pesta ulang tahun Rana, putri kedua Lupita. Ketika dia bersiap-siap akan tidur, pesawat telepon berdering lagi. Kali ini dari Deni Triska melaporkan kejadi-an tadi. "Pasang alat penerima telepon, Tris. Dengan begitu kau tak perlu meladeninya lagi."
Triska menuruti anjuran itu. Betul saja, dua hari kemudian datang lagi telepon. Kali ini Deni ada di rumah. Mereka sudah di kamar, tapi belum tidur. Deni masih di belakang meja, mengetik makalah, sedangkan Triska tengah membaca jurnal di sofa.
Begitu mendengar suara Odi, keduanya langsung menghentikan kegiatan masing-masing, ter-tegun, terpaku di tempat, jari-jari Deni seakan membeku kaku di atas mesin tik, dan jurnal dalam pegangan Triska terlepas ke pangkuan. Keduanya mendengarkan tanpa bersuara, dengan wajah me-ngerat tegang seakan itu instruksi dari seorang penculik yang melarikan Marco. "Hari pembalasanku sudah tiba! Kau harus
membayar untuk semua yang telah kuderita! Gara-
gara kau aku jadi kehilangan Deni!"
Huk! Tanpa kehendaknya, Triska sudah menge-jang mendengar tuduhan itu. Deni cepat-cepat keluar dari belakang meja, menghampiri, dan duduk di sebelahnya. Dipeluknya Triska erat-erat seakan mau melindunginya terhadap serangan' verbal yang menyakitkan itu. Suara Odi memang pedas dan jelas sekali penuh dengan kebencian.
"...Kalau aku mati, kau juga akan kuseret ke dalam lembah kenistaan! Sebentar lagi! Tunggu saja!"
Lalu seperti tempo hari, pesawat digabrukkan dengan keras. Triska tiba-tiba menggigil seperti orang kena malaria. Deni bangun, mengambilkan-nya air panas dari termos, dan membuatkannya cokelat yang bisa menenangkan.
Setelah meneguk minuman itu Triska merasa lebih tenang. "Trims," bisiknya rnenyerahkan kembali gelas yang kosong. "Apa maksudnya barusan. Den? Kedengarannya seperti ancaman."
Deni menggeleng dan melcnguh. "Aku nggak tahu. Bukankah setiap kali menelepon, dia memang selalu memberi ancaman? Tenang saja. Dia pasti nggak berani nekat." Deni mencoba menghi-bur dan mengajaknya pergi tidur. "Biarlah makalah itu ditunda dulu, ton masih ada waktu seminggu," ujarnya ketika Triska menyatakan khawatir, makalah nya takkan selesai.
Esoknya, mereka tengah sarapan bertiga ketika Triska mendadak menjerit kecil menatap k
pagi di atas bufet. Matanya membelalak ngeri seakan melihat kalajengking merayap di situ.
Deni langsung bangun menghampiri. Dan dia juga ikut tertegun. Di halaman depan bagian ba-wah terdapat huruf besar-besar, tebal, dan hitam yang seakan menusuk mata mereka berdua: ODI BOBADILA TEWAS BUNUH DIRI!
Mereka berpandangan, dan dalam mata Triska menggelepar-gelepar kengerian yang tak terucap-kan. Apakah dia mengirimkan surat-surat ke koran-koran untuk mencemarkan namaku? Apakah sudah dilaksanakannya ancamannya? Dapatkah di-cegah jangan sampai dipublikasikan?
"Aku hams memberitahu Papa!" bisiknya. Deni mengangguk dan memutarkan nomor telepon, lalu menyerahkannya pada Triska.
Marco yang memperhatikan mereka sejak tadi, kini turun dari kursi dan bertanya, "Ada apa, Mam? Daddy, ada apa?"
Triska memaksa untuk tersenyum. "Nggak ada apa-apa. Sana, ajak Bella makan di kebun bersama Ama."
Untung Marco cukup penurut. Deni membantu membawakan piring rotinya, Atun mengangkat mangkuk susu Bella.
Triska melaporkan apa yang dibacanya di koran (ayahnya belum melihatnya) serta mengutarakan kekhawatirannya sehubungan dengan ancaman Odi, dilaporkannya juga mengenai kedua telepon yang diterimanya.
Tenang, Tris. Papa akan menghubungi Oom
358
Karim Saleh, minta dia menyelidiki soal ini. Kalau ternyata ada surat yang memfitnahmu, Karim Saleh, S.H. akan bisa mengatur supaya jangan sampai dipublikasikan. Jangan khawatir, serahkan semua sama Papa. Kau tetap biasa saja, pergi tugas."
Walaupun Dokter Justin sudah meyakinkan anaknya bahwa dia tak perlu takut,.Triska toh tetap merasa waswas. Terlebih ketika siangnya Roy Parega datang menemuinya.
"Sudah baca mengenai Odi?" tanyanya tanpa kata pengantar.
Triska mengangguk dengan bibir terkancing. Tapi matanya yang kuyu mengatakan banyak, dan Roy rupanya mengerti ketakutan Triska, sebab dia teras menghibur, "Jangan takut, namamu takkan masuk ke koran!"
"Dari mana kau tahu?" tanyanya, walaupun Triska tidak merasa heran sebab semua teman dan keluarga sudah tahu apa penyebab dia dulu berpisah dengan Deni. Karena Odi mengancam akan memfitnahnya ke koran-koran.
Roy sudah membuka mulut, tapi entah kenapa dibatalkannya. Triska merasa bahwa ipamya ini menyembunyikan sesuatu. Sikapnya seperti orang yang resah.
"Walaupun nggak masuk koran, aku tetap merasa nggak enak, Roy. Aku merasa seperti yang bersalah, sekan akulah yang telah membunuhnya! Oh, aku tahu, secara Iogika aku tak bersalah. Tapi hati kecilku tetap menuduh seakan aku penyebab-nya. Seandainya aku nggak ketemu Deni, seandai-
nya kami nggak kawin; seandainya Deni nggak kembali padaku, seandainya... Ah, rasa bersalah ini sangat menyiksaku!" Triska mengeluh. Wajahnya memang tampak lesu dan agak pucat.
Roy kelihatan salah tingkah. Ada dua-tiga kali Triska memergokinya seperti orang mau bicara, bjbirnya sudah terbuka, tapi tampak jelas dia ragu-ragu seakan tengah berperang batin, dan akhirnya ditutupnya kembali mulutnya.
"Mungkin inilah yang dimaksud Odi dengan pembalasannya! Aku akan dibebaninya dengan rasa bersalah seumur hidup! Sekarang pun aku sudah punya firasat, hidupku akan menjadi kacau, mungkin hubunganku dengan Deni juga akan te-gang...."
Bibir Roy lagi-lagi kelihatan merekah, matanya menatap ragu. Triska menunggu. Tapi setelah beberapa detik bibir itu pun terkatup lagi.
"Roy, adakah sesuata yang mau kaukatakan?"
"Aku... Ah, eh... nggak, nggak ada!" sahutnya terbata-bata.
"Kalau ada yang kauketahui mengenai Odi, apa saja sekecil apa pun, yang kira-kira bisa meri-ngankan beban mentalku, tolong katakan."
"Misalnya?"
Triska menggeleng. "Aku nggak tahu," keluh-nya.
"Apa yang kauharapkan akan bisa menolong-
mu?"
"Aku nggak tahu apa yang kuharapkan."
Roy mengepal dan membuka kepalannya ber-
kali-kali, lalu cepat-cepat permisi ketika mendadak teringat olehnya, ada pasien menunggunya.
Keesokan harinya Triska tetap masuk kerja seperti biasa, tapi wajahnya makin kusut. Semalaman dia tak berhasil tidur walaupun sudah menelan obat tidur (untuk pertama kali dalam hidupnya). Dia waswas, setiap saat matanya bisa tertumbuk pada judul berita yang mengerikan atau dicari wartawan sehubungan dengan surat yang dikirim ke redaksi, atau... Uh! Bahkan perceraianku tidak menyebabkan aku begini gelisah!
Pagi-pagi Roy sudah datang ke kamarnya. Dia tak perlu menanyakan bagaimana keadaan Triska. Wajahnya sudah menjelaskan bagaimana. Sekali ini dia cuma bertamu lima menit, dan Triska juga tidak punya bahan untuk dipercakapkan. Pikirannya tersita seluruhnya oleh peristiwa yang diberitakan kemarin.
Pada hari ketiga, Triska mengaJami sakit kepala hebat yang belum pernah dikenalnya selama dia hidup. Dia terpaksa tidak pergi dinas. Deni me-nyuruhnya istirahat saja dan memesan Marco agar menelepon ke rumah sakit bila maminya perlu apa-apa. Marco senang sekali main telepon ber-bentuk Miki Tikus itu, dan sudah bisa menirukan ucapannya dalam bahasa Inggris, "Telepon untuk-mu... Telepon untukmu...."
"Jangan sampai nervous break-down, Tris," ujar Deni menguatkan semangatnya. "Bukankah Papa semalam sudah nelepon, mengatakan semua beres, sejauh ini nggak ada koran yang menerima surat apa pun,"
"Tapi rasa bersalah ini, Den. Ah, kau nggak bisa merasakan kayak apa rasanya kalau ada yang bunuh diri gara-gara kita!"
Hari itu Almarhumah Odi Bobadila akan dike-burnikan.... Di mana-mana berita itu menyergap kepalanya. Mula-mula dari radio, warta berita pagi pukul tujuh. Lalu dari koran yang tergeletak di bufet ruang makan. Lalu agak siang, kembali dari radio, kali ini radio di dapur yang sering disetel oleh Bi Rinai untuk menghibumya selama dia menyiangi sayuran dan memasak. Kalau menuruti hati, Triska ingin menyuruh A tun mematikan radio itu, untung akal sehatnya mencegahnya. Jadi terpaksa dia masuk lagi ke kamar agar tak usah mendengar apa-apa.
Untung ada Marco yang dapat membuatnya si-buk bersama Bella yang disayangnya. Deni mene-lepon tiap satu atau dua jam, diterima oleh Marco yang melaporkan pada ibunya apa pesan ayahnya. Dokter Justin juga telepon dari rumah sakit, rupanya diberitahu oleh Deni mengenai keadaan Triska.
Dokter Justin mencoba memberi pengertian bahwa Triska sama sekali tidak perlu bertanggung jawab atas kematian Odi, tapi yang bersangkutan tampak tidak tergugah mendengarnya.
Nyonya Rosa datang berkunjung siang hari, membawakan makanan kesukaan anak-cucunya. Triska tahu, ibunya datang atas kisikan ayahnya yang pasti telah meneleponnya. Hatinya gembira ditemani ngobrol, namun keruwetan pikirannya
tidak juga terpecahkan oleh senyum hangat dan pelukan mesra ibunya.
"Saya merasa menjadi penyebab bunuh dirinya, Mam. Ini yang mengganggu pikiran, Mam."
Nyonya Rosa kelihatan khawatir melihat keadaan anaknya, sebab Triska biasanya tegar dan tidak gampang ketakutan, sedih, atau mengasihani diri sendiri. Bahkan setelah diberitahu dokter bahwa dia takkan mungkin hamil, keadaannya masih tidak segawat sekarang. Ya, Triska ingat sendiri saat itu. Aku tak pernah begini depresi! pikimya khawatir. Jangan-jangan aku akan memerlukan bantu an psi-kiater! Celaka! Aku paling benci psikiater! Apalagi kalau sampai harus menelan belasan pil aneka warna, lebih baik aku mati daripada pikiranku jadi berkabut, tak bisa membedakan siang dari malam, tak dapat menikmati indahnya awan dan laut, menjadi beban bagi diriku sendiri....
Nyonya Rosa menunggu sampai Deni pulang, bam dia permisi. Sebelumnya, Triska sempat melihat keduanya kasak-kusuk, begitu dia muncul, keduanya langsung menghentikan percakapan. Tapi Triska terlalu depresi sehingga tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia tahu, semua orang khawatir mengenai dirinya, tapi dia sendiri acuh saja.
"Tris, Roy akan menengokmu nanti sore sepu-lang dari praktek," ujar Deni setelah menanyakan bagaimana keadaannya seharian.
"Apa dia bilang mau mengatakan sesuatu padaku?" tanyanya penuh harap.
Deni menggeleng. "Dia cuma bilang mau menjenguk." Harapan nya musnah dan hatinya kembali hams menanggung be ban rasa bersalah....
Untung hari itu Deni tidak praktek sore, sehingga dapat menemani dan mengajaknya main halma —bertiga dengan Marco, main catur—Marco cuma menonton, atau menyaksikan video anak-anak. Apa saja, pokoknya asal bisa membuat Triska sibuk memutar otak, sehingga takkan sempat me-nyesali apa yang telah terjadi.
Roy datang sudah malam, pukul sepuluh lewat. Marco sudah tidur.
"Maaf, begini malam. Pasienku banyak dan aku sudah sangat lapar, jadi makan dulu ke atas," katanya menjelaskan. Triska tahu, Roy praktek dalam kompleks pertokoan, sehingga gampang mencari makanan, tinggal naik ke tingkat atas.
"Aku sebenarnya nggak merasa sreg mengata-kan apa yang hams kukatakan nanti. Tapi aku telah memikirkannya selama tiga hari. Aku khawatir melihatmu, Tris. Apalagi setelah kutanyakan pada Deni tadi pagi bagaimana perkembanganmu. Aku merasa wajib menolongmu."
"Kalau kau tahu bisa menolongku, kenapa di-tunda-tunda? Aku sungguh merasa tersiksa dengan perasaanku," keluh Triska.
Roy mengangguk, menangkupkan kedua tangannya di atas lutut, memajukan tubuh ke depan, dan mengheia napas panjang. Kopi yang disuguhkan
364
Bi Rinai tidak diacuhkannya. Matanya menunduk menekuri lantai dan suaranya pun setengah ber-
bisik seperti orang takut ketahuan. "Apa yang akan kukatakan ini adalah rahasia
jabatan."
Huk! Triska dan Deni serentak tertegun. Deni mempererat pelukannya ketika dirasakannya Triska mengejang dan mengeluarkan bunyi seperti orang tersedak.
Roy mengangguk. "Ya, betul. Karena itu aku ragu mengatakannya. Bagiku rahasia jabatan adalah tabu, dan belum pernah kubeberkan pada siapa "pun. Tapi setelah menimbang-nimbang, aku ber-pendapat, lebih baik menolong yang hidup daripada melindungi yang sudah meninggal. Singkat-nya, aku mau bilang, kematian Odi bukanlah gara-garamu! Dan aku punya bukti!"
Oh! Triska tertegun untuk kedua kalinya. Tapi kali ini wajahnya langsung kelihatan lega, agak berseri lagi, ketegangan di sekitar mata dan bibirnya mereda.
"Kalau begitu kenapa...?"
Roy mengulapkan tangan. "Akan kuceritakan semua!" Dipandangnya Triska dan Deni bergantian. "Odi menderita herpes genitalis yang sangat men-jengkelkannya bila sedang kambuh!"
Oh! Triska menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menoleh, menatap Deni dengan mem-belalak.
"Kenapa kaupandang aku begitu?" tegur Deni mengernyitkan kening.
"Kaudengar apa kata Roy!" "Ya! Lata?"
"Odi kena herpes, dan kau tenang-tenang saja?!" "Lho! Aku harus gimana?" Deni tertawa. Tapi Triska malah mengerutkan kening. "Kau nggak mau check- upV. Yakin nggak ketularan?" "Lho!" Deni melongo.
Triska tersenyum. "Kau nggak menyangka aku tahu, bukan?" "Mengenai...?"
"Anakmu! Odi menggugurkannya, bukan? Atas suruhanmu?"
Deni tertawa. "Oh, itu! Ya, dia memang mau abor... Hi, nanti dulu! Kaubilang aku yang surah?" "Dia yang bilang!"
"Tris, apa kau serius? Aku... menyuruh dia... me... Kenapa?"
"Karena waktu itu kalian belum bisa kawin! Jadi anakmu itu kausuruh enyahkan! Boho'ngkah aku?"
"Kau nggak, tapi Odi!" Deni tiba-tiba menjadi serius. Dipandangnya Triska dengan nanar seakan tak ada orang lain di situ. "Jadi kau mempercayai-nya?"
"Apa kau sendiri nggak?" Diingatkan begitu, Deni menggaruk-garuk kepala sambil menggeleng.
"Tris, dengar baik-baik! Aku belum pernah ter-libat hubungan intim dengannya atau perempuan mana pun! Ketika kita kawin, bukan kau sendiri yang masih perawan, tahu! Ketika aku melihat Odi pertama kali, perutnya sudah gendut, Dia diantar-
366
kan oleh Nila yang mengira bisa membujukku agar mau menggugurkan kandungan temannya.
Tentu saja aku nggak mau!"
"Dan kaukirim dia padaku!" Roy mendecak.
"Sori, mek! Habis cuma kau yang kuingat saat itu! Tapi kan nggak kaukerjakan?"
"Terang nggak! Akhirnya dia ke dukun, tapi tidak kutanyakan di mana. Setelah itu dia malah balik padaku untuk penyakitnya yang lain!"
Roy Parega mengheia napas. "Pacar yang meng-hamilinya itu kemudian dibawanya padaku dan menjadi pasienku sampai meninggal tahun.lalu." Roy menggeleng. "Orang luar biasa! Semua penyakit diborongnya!"
"Sakit apa?" tanya Triska ingin tahu.
"GASH/"
"Syndrome apa itu?" "Gonore, AIDS, sifilis, herpes!" "Astaga! Dan dia plus karena...?" "Tebak sendiri!"
Triska menoleh pada suaminya. "Dan dia lantas pacaran denganmu."
Deni geleng-geleng kepala. "Aku nggak tahu gimana aku sampai kecantol dengannya! Mungkin waktu itu aku masih ingusan, lihat cewek cakep langsung kesetrum!"
"Kalian pacaran itu memang sudah diatur oleh mereka," tukas Roy.
Deni berjengit mendengamya. "Eh, bagaimana?"
"Odi bilang, Nila yang memberitahu soal waris-anmu itu. Dia memang sengaja mengatur agar kau
pacaran dengan Odi, lalu bila nanti berhasil kawin, Odi akan membujukmu agar memberikan bagian yang lebih banyak pada mereka. Tapi Nila tidak menyangka, nenek kalian nggak suka sama Odi."
"Rasanya sudah pernah kudengar skenario sema-cam ini! O, ya, Tris! Eh, itu kan yang kaudengar di WC tempo hari, Tris?"
Triska mengangguk. "Jadi Odi bunuh diri karena herpes?"
"Orang memang sengsara sekali kalau kena herpes, tapi dengan Acyclovir, serangan bisa diredam dari tiap bulan menjadi dua atau tiga bulan sekali. Odi bukan bunuh diri karena itu. Sebulan yang lalu dia ketahuan menderita kaposi sarcoma\ Aku langsung menduga jelek. Dan betul saja. Tiga hari yang lalu dia dinyatakan positif AIDS!" "Ah!" seru Triska tertahan. "Petualangan yang berbahaya!" tukas Deni menggeleng.
"Dan ia mengatakan padaku, dia tidak mau sampai ketahuan umum mendapat penyakit itu. Dia bilang, lebih baik dia mati sebelum penyakit-nya merajalela. 'Aku nggak mau jadi kurus kering dan jelek!' katanya. 'Aku ingin dikenang seperti aku sekarang ini, cantik dan beken. Aku toh akan mati gara-gara penyakitku, dipercepat sedikit kan nggak jadi soal!' Kukira dia cuma guyon, sebab ngomongnya sambil ketawa-ketawa. Dia minta
tumor ganas (komplikasi dari AIDS)
368
obat tidur, tapi nggak kuberi, sebab dia nggak menderita insomnia. Mungkin dia mencarinya di
pasar gelap." "Dia menelan pi 1 tidur?" tanya Triska.
"Ya."
"Dan bagaimana kau bisa yakin, dia nggak ba-kal ngirim surat ke koran?"
"Sebab aku sudah mengancamnya, kalau dia sampai berani. menjelek-jelekkan kamu ke koran, aku bersumpah, walaupun sampai dikeluarkan dari IDI, aku akan membeberkan rahasia penyakitnya pada wartawan, dan menceritakan apa sebenarnya yang menyebabkan kematiannya! Yang kumaksud, bila dia plus karena penyakitnya. Waktu itu aku nggak menduga dia akan berani nekat menghabis-kan nyawa sendiri! Nah, kubilang padanya, riwa-yat penyakitnya pasti akan lebih menarik sebagai bahan sensasi daripada tuduhan merebut pacar yang mau dilontarkannya pada seorang dokter. Odi mengerti dan takut. Dia berjanji akan membatalkan niatnya."
"Roy, bolehkah aku berterus terang? Tempo hari kau mengaku, kau pernah mencintainya, dan dia juga pernah mencintaimu. Ketika kutanya kenapa kau nggak nikah saja dengannya, kau ragu menjawab, apa karena masalah rahasia jabatan" ini? Apa kau putus dengannya gara-gara herpes? Waktu itu kan dia belum ketahuan kena AIDS?" '
Ikaton Dokter Indonesia
Roy nyengir kuda dan berdehem. "Seharusnya kujawab ya. Sebab aku memang ngeri sama virus yang satu itu, amit-amit jangan sampai nular. Tapi kurasa, kalau aku sangat mencintainya, aku takkan peduli dia sakit apa pun, akan kulakoni juga hidup dengannya. Masalahnya, kalau kauizinkan aku ber-kata sejujurnya, terpaksa kuakui bahwa1'cintaku padanya tidak cukup besar untuk melupakan..." Pancaran matanya yang menatap Triska membuat dia segera siaga dan bum-bum mengulapkan tangan.
"Cukup! Cukup! Sekali ini kau nggak usah ber-kata sejujurnya, kuizinkan!" ujar Triska sedikit pa-nik, khawatir "Duli Tuanku, Junjungan, Paduka yang Mulia" Deniano Melnik nanti merasa kurang senang dan memaklumkan perang terhadap kelan-cangan Dokter Parega.
Nyengir kuda di wajahnya makin melebar ketika dia bertanya, "Apa kau takut dipentung oleh 'tuan-mu'?"
Deni yang menolong jawab, "Dia takut KAU yang akan kupentung!"
***
Esok paginya sebelum sarapan, keduanya membaca berita penguburan Odi Bobadila. Kerandanya panjang dan langsing, pada tutupnya terdapat tulis-an R.I.P., karangan bunga bertimbun di pinggir
Bang, pelayat berjubel. Triska menunjuk seseorang yang berdiri di baris depan, berkacamata hitam. Deni juga mengenalinya, Nila.
370
Wajah Nila jelas sekali sebab kena fokus.
"Air mukanya seperti orang yang mau mem-bunuh," tukas Triska bergidik.
Deni mengheia napas. "Habis, rencananya be-rantakan sama sekali! Yah! Akan kucoba membujuk ayahku agar melipatgandakan warisan bagian mereka. Ayahku takut, kalau dibagi rata, berarti mendurhakai pesan orangtua, tapi kalau cuma me-nambah kan nggak berarti durhaka? Hitung-hitung ngasih kado sama keponakan? Atau karena itu atas namaku, ya ngasih sama sepupu-sepupu? Aku sudah memiliki semua yang pernah kudambakan, kau dan Marco. Aku tidak memerlukan apa-apa yang lain."
Deni berdiri dan memutar piringan hitam. Lagu merdu langsung mengalun menyapu hati mereka dengan sapuan lembut warna cinta yang diracik di atas palet yang tak pernah kering dengan gairah. Deni mengikuti musik itu dengan berdendang pelan, You belong to my heart, now and forever... And our love had its start, not long ago... We were gathering stars while a million guitars played our love song... When I said 7 love you",, every beat of my heart said it too... 'Twos a moment like this, do you remember? ...And your eyes threw a kiss when...
Triska mengheia napas dan menggigit bibir sambil melipat koran. Yah! Semoga sakit hati mereka bisa dicairkan! Ah! Semuanya gara-gara uang!



Tamat

Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified