HOME

Tuesday, July 12, 2011

Sebuah Desa, Sebuah Mitos

SEBUAH DESA, SEBUAH MITOS

Penulis: Kuntowijoyo


Ketika sang kakek-ayah dari ayah-mengetahui bahwa bayi yang dalam kandungan akan diberi nama Sapari kalau laki-laki dan Sapariah kalau perempuan, kakek keberatan dengan kata 'sapar', katanya, "Sudah pasti anak itu lahir tidak di bulan Sapar!" Dengan malu-malu sang calon ayah menjawab, "Memang tidak diambil dari bulan lahirnya. Tapi bulan jadinya."

Ayah itu lalu menghitung dengan jarinya dan mengucapkan dengan mulutnya, "Sapar, Mulud, Bakda-Mulud, Jimawal, ... " kemudian tersenyum sedikit-sedikit dan semakin lebar, mengetahui bahwa anaknya thok-cer, sebab di bulan Sapar juga ia mengawinkan anaknya.

Bayi itu lahir laki-laki. Di rumah, ditolong oleh dukun berijazah setempat yang paling favorit. Setiap kali ke Puskesmas, dokternya-wanita, masih kanak-kanak penampilannya, tapi amat cerdas, ramah, dan terampil-selalu mengatakan bahwa kesehatannya bagus. Karena itu, dia dilahirkan oleh dukun, tidak oleh dokter seperti anak priayi. Setelah dibersihkan, ibunya bangun dan mengucapkan azan dan qamat, karena ayah bayi itu tak pandai mengucapkan adzan sepatah pun. Ibu bayi itu pernah menyuruh suaminya untuk belajar sembahyang, tetapi selalu dikatakannya, "Nantilah, orang Jawa itu kalau saya sudah sembahyang, sembahyang sungguhan. Luar dalam."

"Lha iya, sungguhan. Tapi kapan mulai?"

"Nanti itu ya nanti."

Suaminya sudah berpuasa, tapi entahlah belum mau sembahyang. Dan juga berpantang semua larangan Tuhan.

Kemudian, kakek meminta bayi itu. Dibawanya bayi merah yang terbungkus kain batik ke kuburan Ronggowarsito untuk ngalap berkah, meminta restu. Sambil menyerahkan kembali bayi itu dikatakannya kepada dua orangtuanya, "Hati-hati memelihara anak ini. Besok dia akan jadi pujangga. Aku mendapat firasat, ketika aku keluar dari makam ada rombongan orang membarang, menyanyi, dan menabuh gamelan. Anak itu memiringkan telinganya, seperti mendengar sinden dan klenengan."

Pesinden itu bukan sembarang orang, tapi penyanyi yang paling terkenal di desa sekitar. Ia paling laku, paling cantik, banyak orang tergila-gila. Ia punya nadar kalau ia jadi "orang" akan nyinden di depan makam. Hari itu adalah pelaksanaan nadar. Bayi merah itu sudah dimintakan restunya dengan cara mengibaskan selendang ke badannya. Sudah itu kakek keliling desa dan kepada teman-temannya yang dijumpai di sawah, di kebun, di jalan, atau sengaja dia menggedor rumah, akan dikatakannya dengan bangga, "Ketahuilah, aku punya cucu laki-laki! Ini!" Dikatakannya, seolah-olah punya cucu laki-laki adalah kebanggaan satu-satunya.

Pada hari ke lima, diadakan sepasaran dengan mengundang macapatan dan gamelan sederhana. Dengan bangga kakek itu mengumumkan bahwa cucunya diberi nama Abu Kasan Sapari. Abu diambil dari nama sahabat Nabi Abu Bakar, Kasan adalah nama cucu Nabi, dan Sapar adalah bulan perkawinan kedua orangtuanya. Diharapkannya bahwa nama itu ada pengaruhnya pada jabang bayi yang baru lahir. Kemudian dengan suara serak seseorang tua melagukan Dandanggula, peninggalan Sunan Kalijaga yang berisi doa keselamatan:

Anakidung rumeksa ing wengi

teguh ayu luputa ing lara

kalisa bilai kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
miwah panggawe ala
gunaning wong luput
agni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah
mring mami
tuju dudu pan sirna

(Ada nyanyian menjaga malam
aman sentosa tidak terkena penyakit
luput dari semua penderitaan
jin dan setan tidak mau
mengganggu

santet tidak berani mendekat
dan semua perbuatan jahat
guna-guna dari orang salah
api menjadi air
pencuri jauh tidak menuju saya
maksud jahat akan musnah)

Pembacaan macapat itu ditutup dengan kenduri dan doa yang dipimpin oleh modin desa.

Kakek itu adalah juru kunci makam Ronggowarsito di Desa Palar, Klaten. Makam itu sebenarnya sebuah kompleks, karena di situ juga dikuburkan orang-orang besar Surakarta. Ia mewarisi pekerjaan dari ayahnya, ayahnya dari ayahnya, dan seterusnya. Orang yang menjadi juru kunci pertama masih saudara dekat dengan Ronggowarsito-dengan demikian Abu Kasan Sapari dapat mengaku masih sedarah dengan Sang Pujangga Terakhir.

Dulu Palar adalah desa perdikan, desa yang dibebaskan dari pajak dengan maksud supaya seluruh penghasilan desa diperuntukkan guna keperluan makam. Praktis, lurahnya sama dengan juru kunci makam. Tetapi ketika desa perdikan itu dihapuskan pada 1915, juru kunci makam tidak lagi otomatis menjadi lurah desa. Waktu pilihan lurah, juru kunci cum lurah pada waktu itu suka ma-lima, yaitu madon, minum, madat, main ("wanita, minuman keras, mengisap candu, judi") sehingga tidak terpilih jadi lurah. Keluarga juru kunci tidak pernah maling, namun ma-empat itu cukup menjadikannya cacat di depan masyarakat desa. Masyarakat akan membiarkan kelakuan yang jelek pada orang biasa, tapi tidak pada lurah. Sejak itu jabatan lurah tidak pernah dipegang keluarga besar juru kunci. Mereka jadi petani biasa, mula-mula kaya tapi lama-lama sawah mereka semakin sempit.

Sekarang juru kunci adalah juru kunci. Yang menjadi lurah desa ialah Mas Guru, ayah Abu hanyalah penduduk desa biasa. Kakek itu begitu senang punya cucu laki-laki, sebab cucunya dari anak-anak yang lain semuanya perempuan. Pagi sekali ketika cucu laki-laki itu agak agal dijemputnya, dan seperti mainan, akan dibopongnya jalan-jalan sambil dinyanyikannya, "Lir-ilir lir-ilir tandure wus sumilir, ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar." ("Tanaman sudah tumbuh, hijau sekali saya kira temanten baru.") Pada sore terang bulan kakek itu akan membawanya ke tepi sawah, sebab di tempat itu bulan tidak terhalang pohon-pohon dan rumah-rumah. Sambil mengharap berkah bulan ia akan berkata, "Run-turun. Bulan, minta kuningmu. Bulan, minta cahayamu."
Di siang hari akan dibawanya berkeliling untuk ditunjukkan teman-temannya.

"Ini, cucuku. Laki-laki betul. Lihatlah, kacuknya (kelamin anak laki-laki)."

Kawan-kawan tuanya yang berhenti bekerja dari sawah atau sedang berteduh di bawah pohon datang merubung.

"Wah, kacuknya besar. Ini yang membuat perempuan tergila-gila".

"Ada tahi lalat di pahanya. Itu tandanya dia akan tahan lama."

"Tidak usah menghabiskan duit untuk obat kuat."

"Membuat wanita megap-megap seperti mujair kehabisan udara."

"Maka, para perempuan pun klenger kena senjata Prabu Baladewa yang bernama Alugara, dok-dok-dok. Alu bentuknya bulat panjang sesuai dengan namanya, gara artinya geger; jadi, alugara ialah alu yang bikin geger. Para perempuan mengerang-ngerang ... minta ... tambah, dok-dok. Ooo...."

"Ee, bukan para perempuan, tapi perempuan saja. Cucu saya hanya kenal satu wanita, istrinya."

***

Ketika Abu Kasan Sapari berumur satu tahun, datang kakek-nenek dari pihak ibu dengan dokar yang dibawanya dari desa. Dokar itu berbunyi cring-cring-cring, kudanya besar, sehat, dokarnya penuh hiasan, menandakan pemiliknya orang kaya. Dengan penuh harap mereka turun, kedatangan mereka bermaksud menagih janji: mereka berhak memelihara anak itu setelah berumur setahun. Kakek itu juga yang mengusulkan nama 'Abu Kasan' kalau laki-laki dan 'Fatimah' atau apa saja kalau perempuan. Sekalipun sudah dipersiapkan sebelumnya dan ibunya sudah me-nyapih bayi dalam umur 10 bulan, hingga Abu tidak lagi minum dari susu ibunya, rasanya berat juga bagi si ibu untuk berpisah. Ibu itu menangis di kamar, dan ketika suaminya mencoba menghibur, "Tidak apa-apa. Nanti kita buat lagi."

Tangis istrinya semakin keras. Lalu dikatakan oleh suami, "Malah kebetulan, kita kembali jadi temanten baru lagi."

"O, dasar laki-laki!" kata istrinya.

Selain ibunya, kakek yang biasa menimang ikut kehilangan. Alasan kakek itu, "Apa dikira kita tak bisa memberi makan?" atau "Apa kurangnya kita, coba!"

Ayah Abu berkata, "Sudahlah. Yang membuat saja sudah boleh. Kok ribut." Ayah itu memutuskan, katanya, "Janji itu ya janji. Harus ditepati, bagaimapun beratnya."

Mereka tidak bisa mencegah, sebab itu salah satu syarat perkawinan. Kakek-nenek dari ibu sudah berkorban sekian lama dengan melepaskan anak perempuan satu-satunya.

Sesampai di desa baru, kakek-nenek tahu bahwa kelahiran Abu belum disambut dengan akikah. Maka dipotonglah dua ekor kambing jawa. Betul kambing begituan lebih berbau, tapi dagingnya lebih enak. Anak-anak akan bermain teka-teki, "Ada kambing menari di atas sendok, apa?" Jawabnya: gulai kambing!Kambing-kambing dimasak, dan malam hari diundang kelompok slawatan. Kelompok itu akan memulai pertunjukan dengan seruan untuk bersama-sama membaca shalawat, "Shalu 'alaih!". Kemudian rebana dibunyikan oleh beberapa orang yang memegang rebana dengan tangan kiri dan memukulnya dengan tangan kanan. Riwayat Nabi dari buku Barzanji dinyanyikan bersama-sama, "Ya Nabi, salamun 'alaik. Ya Rasul, salamun 'alaik. Ya habibi, salamun 'alaik." ("Wahai Nabi, sejahtera bagimu. Wahai Utusan, sejahtera bagimu. Wahai Kekasih, sejahtera bagimu").

Dapat dikatakan anak perempuan yang dihasilkan kakek-nenek dari ibu Abu itu seperti barang temuan. Sudah tujuh tahun kakek-nenek berkeluarga tetapi belum juga dapat anak. Semua usaha sudah dikerjakan. Orang-orang pintar sudah dikunjungi. Dukun pijat sudah, periksa dokter sudah. Rebutan gunungan waktu sekaten sudah. Agak syirik-syirik sedikit berdoa di kuburan keramat juga sudah.Disuruh banyak makan daging sudah. Disuruh suami-istri bertemu tiap hari sudah. Akhirnya ketika ia mendengar Kiai Shamad dari kampung sebelah akan naik haji, kakek-nenek mengucapkan selamat jalan dengan permintaan khusus supaya didoakan punya anak.Kiai itu mencatat dalam bukunya. Kalau ini pun tidak berhasil,dia akan menyerah pada takdir. Waktu kiai itu kembali, dia menjenguknya. Kiai mengatakan bahwa doanya sudah dibaca di depan Ka'bah, dan menanyakan apakah dia tidak lupa berdoa waktu berhubungan dengan istri. Dia menjawab tidak pernah lupa. Kiai itu kemudian menuliskan doa khusus untuk dibaca sehabis sembahyang oleh suami
istri, sebanyak tiga puluh tiga kali.
Dan benarlah lahir anak perempuannya.

Waktu itu ibu (calon) Abu berdagang pakaian dari pasar ke pasar dengan sepeda merek Raleigh yang bisa bunyi ck-ck-ck dan ayah (calon) Abu menjualkan ternak apa saja milik para tetangga. Maka bertemulah ayah-ibu Abu. Ayah Abu suka membeli soto dekat ibu Abu berjualan. Sudah lama dia berpikir bagaimana cara kenal. Kata ayah Abu pada penjual soto, tetapi cukup keras untuk didengar ibu Abu.
"Kok ada gadis manis, apa sudah ada yang punya?"

Kata ibu Abu pada penjual soto:

"Katakan padanya, kalau sudah ada. Yang punya adalah bapak-ibu."

"Kalau yang punya adalah bapak-ibu apa boleh aku ngebun-ebun enjing, anjejawah sonten?" Maksudnya, apa boleh dia melamar.

Ibu Abu tidak dapat menjawab, mukanya merah.

Penjual soto bertanya, "Bagaimana?"

Tidak ada jawaban. Tapi di luar dugaan ibu Abu mengulurkan tangan. Itu cara baru yang dipelajari dari bioskop. Keduanya bersalaman. Kehangatan tangan itu masih dikenang, ketika lima hari kemudian mereka bertemu.

Demikianlah mereka berdua bertemu, jatuh cinta pada pandangan pertama, melamar, dan kawin. Ibu Abu memang sengaja dibiarkan berdagang kecil-kecilan di pasar, meskipun kakeknya sudah jadi juragan. Alasan kakeknya, "Hidup itu seperti bola. Kadang-kandang di atas, kadang-kadang di bawah. Ketika kita di atas harus siap untuk di bawah. Jadilah seperti induk ayam, kais-kaislah rejekimu dengan tangan sendiri."

Diputuskan bahwa si ibu akan menyertai sementara, sampai anak itu lengket dengan kakek-neneknya. Membuat lengket itu mudah, ada rapalnya. Kalau sudah waktunya anak ditinggalkan, juga perkara gampang. Orang dapat pergi ke kiai untuk membuat anak"lupa" pada ibunya, dan ibu "lupa" pada anaknya. Segalanya bisa diusahakan, ada caranya.

Pada waktu itu kakeknya masih jaya. Alat tenunnya (ATBM) ada 50-an, sehingga rumahnya akan gemuruh dengan suara tenun, "Cek-klek, cek-klek, cek-klek." Bayangkan, lima puluh orang, belum terhitung tukang wenter, tukang sekir, yang membuat benang berjejer sebelum ditenun. Pabrik itu menghasilkan kain kotak-kotak seperti dipakai koboi, kain putih polos, kain lurik, dan kain selimut lorek-lorek. Makanan kecil dan minum buruh ditanggung perusahaan, karena itu masih harus diperhitungkan tukang masak dan pencuci gelas. Buruh-buruh itu suka bernyanyi sambil bekerja. "Sun iki dhutaning nata," ("aku ini utusan raja"), dari dongeng ketika Damarwulan mengalahkan Minakjingga, raja Blambangan."Tak lela-lela ledhung," buaian untuk bayi di gendongan.

Alat-alat itu memenuhi rumah: pendapa, gandhok, emper, masih ditambah emplek-emplek di sana-sini.

Abu dapat jatah daging, nasi rajalele, susu kaleng-di minum dengan air panas-cokelat bubuk, roti marie, dan hampir tiap pagi beli getuk yang masih hangat.

Abu juga mendapat pengasuh khusus. Bila terang bulan akan diajaknya Abu ke pelataran dan sambil menggendong akan dikatakannya pada bulan, "Bulan-bulan gede. Minta bagusnya sedikit saja." Kecantikan yang diminta itu akan turun pada wajah, dan pengasuh itu akan menirukan caranya turun, katanya, "Plek-plek-plek." Kata pertama yang diucapkan oleh Abu ialah mbah-mbah, kakek-nenek. Itu biasa, karena memang ia tinggal dirumah kakeknya. Tetapi kata kedualah yang agak luar bisa. Kata kedua-tepatnya bunyi-ialah br-br sambil meringis. Itu dipelajarinya dari kuda waktu makan rendeng dan dedhak, daun kacang dan bekas tumbukan beras. Dia memang suka bermain-main dengan kuda. Itulah satu-satunya hal yang membuat kakeknya meneteskan air mata ketika harus menjual dokar dan kudanya.

Suara gemuruh di rumah itu tiba-tiba mereda, kabarnya karena di bagian lain negeri yang kaya ini pabrik-pabrik tekstil dibangun. Alat-alat tenun jadi kayu tua, sebagian dijual sebagai bahan bangunan-untuk menutup utang, sebagian nongkrong saja, tempat laba-laba bersarang. Kali ini hidup kakek itu di bawah. Semua kemewahan pergi, termasuk susu kaleng, cokelat, roti marie, dan getuk Abu. Kakek tidak putus asa, ditekuninya kembali pekerjaan sebelum jadi juragan tenun, mengerjakan tiga orang untuk menjahit celana dan baju, lalu dengan dagangan itu dia keliling mengikuti hari pasar.

Pada waktu Abu masuk sekolah, ia mendaftarkan diri sebagai cucu pedagang pasar, bukan cucu juragan. Dari semua kemewahan, hanya daging yang dipertahankan untuk Abu. Kakeknya berpendapat bahwa daging adalah kunci kepandaian, "Belanda itu pandai-pandai karena mereka makan daging."

Demikianlah meskipun kakek dan nenek hanya makan sambal dan kerupuk, untuk Abu selalu ada daging. Abu sungguh disayang oleh kedua kakek-neneknya. Alasannya, "Anak-anak adalah masa depan kita," seperti selalu dikatakan kakek itu.

Mereka punya lonceng yang nyaring bunyinya untuk mengingatkan Abu yang sedang bermain-main jauh dari rumah bahwa waktu makan sudah tiba. Kata kakeknya, "Selain makan daging, disiplin juga perlu." Kakek atau nenek akan membunyikan lonceng itu. Tetangga yang tahu Abu masih keluyuran akan bilang padanya, "Pulanglah, embahmu mencarimu." Tidak ada jalan lain bagi Abu kecuali pulang.

Neneknya melarang dia ke sungai, dan memanjat pohon tinggi, "Kau harus jadi priayi, maka jangan bertingkah seperti petani," katanya. Kakeknya berkata suatu kali, "Jadi orang kecil itu susah. Nasibmu seperti bola, di sepak kesana kemari". Rupanya "filsafat bola" juga masih terpakai, mengerti atau tidak, itulah yang dikatakannya pada Abu kecil.

"Kami tidak bisa memberimu kekayaan, tapi tuntutlah ilmu. Kata Nabi, tuntutlah ilmu walaupun sampai negeri Cina. Ilmu itu di saku tidak kentara, dibuang tidak bersuara." Karena itu, selain sekolah di SD, Abu masih harus ke sekolah Diniyah, dan mengaji di surau. Dan selepas Isya' waktu terang bulan, anak-anak lain masih bermain-main, kakeknya akan menyuruhnya pulang, meskipun ia sedang main sembunyi-sembunyian di pematang dekat surau. "Calon priayi tidak boleh begadang," katanya.
Pada hari Minggu pagi, waktu anak-anak lain main bola, Abu akan diantar kakeknya ke dalang Notocarito (nama sebenarnya adalah Bakuh), kawannya di sekolah Jawa (Sekolah Angka Loro) dan mengaji di masjid dahulu yang mempunyai seperangkat gamelan dan satu set wayang. Selain menjadi dalang, dia juga bekerja sebagai pegawai kesenian-sungguh seorang priayi tulen menurut gambaran kakek itu. Di sana Abu kecil belajar apa saja (istilahnya nyantrik): membersihkan gamelan, menggotong gamelan, melihat orang belajar dalang, melihat orang menatah wayang, mendengarkan gamelan ditabuh. Di tempat itu sepertinya kekerasan hati kakeknya luluh-lantak oleh bunyi gamelan. Kakeknya bahkan seperti lupa melarangnya, meskipun ia seharian hanya bermain dengan monyet milik Pak Bakuh!

Ketekunannya nyantrik di rumah Notocarito sudah menghasilkan bukti. Di SD kelas V ia jadi dalang cilik yang punya nilai tertinggi di Festival Dalang Cilik sekabupaten Klaten. Di SMP ia menjadi juara dalang cilik se-eks Karesidenan Surakarta. Dan di SMA ia mewakili sekolahnya menjuarai Festival Dalang Pelajar se-Jawa Tengah. Pada waktu itulah dia kenal dengan seorang dalang senior dari Palur, Ki Lebdocarito, yang ternyata masih mindo kakeknya. Perkenalan itu berpengaruh besar pada jalan hidupnya kemudian.

Sejak di SMP, dan dia sudah biasa bersepeda ke rumah ibunya, ia tahu bahwa Ronggowarsito dikubur di sana. Tetapi kuburan itu tidak berarti apa-apa. Baru sejak SMA-lah ia sadar apa arti Ronggowarsito, dia masih sedarah. Mula-mula sosok pujangga itu kabur, tapi makin lama makin jelas. Ia makin mengerti arti Palar baginya, dan nama pujangga itu pun masuk dalam doanya.

3

Menjelang Abu Kasan Sapari lulus SMA, Ki Lebdocarito, mindo-sama buyut-kakeknyayang sudah dikenalnya datang. Setelah duduk dan sekadar basa-basi, katanya dengan penuh tatakrama:

"Begini, Dimas. Adapun maksud kedatangan saya pertama ialah untuk silaturahmi, menyambung persaudaraan. Kedua, tidak kalah penting dari yang pertama. Saya merasa sudah diselamatkan oleh almarhum Bapak di sini, waktu malaise dua tahun saya tinggal di sini. Kalau Dimas mengizinkan biarlah saya membalas budi almarhum dengan mengangkat nak Abu Kasan Sapari sebagai anak. Jangan khawatir, setiap minggu dia bisa pulang ke sini. Mungkin Palur lebih dekat ke Solo dari pada sini. Itu kalau dia berminat melanjutkan sekolah, dari pada mondok. Wong rumah saya kosong, anak-anak sudah pergi."

"Wah, itu persoalan besar, Kangmas. Saya berunding dulu dengan orang tuanya."

"Kami berharap sekali."

Musyawarah antara kakek-nenek dan orang tuanya hanya menghasilkan bahwa segalanya terserah Abu sendiri. Dan ia mengatakan akan sembahyang istikharah, maneges kersaning Allah, menanyakan kehendak Tuhan. Pagi harinya ia menyatakan 'ya', setelah bermimpi naik trap-trapan memasuki suatu gedung. Tidak ada kesulitan dia masuk Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Surakarta jurusan pedalangan. Tinggallah dia di Palur di rumah Ki Lebdo.

Apa yang hanya pada hari Minggu ditemukannya di rumah Notocarito di temukannya sekarang di rumah, siang malam pagi sore. Abu Kasan Sapari tidak canggung dengan benda-benda itu. Pada tahun kedua ia sudah menjadi pengendang. Sedikit-sedikit sudah mencipta gending dolanan yang dibawakan pesinden waktu adegan gara-gara. Pada waktu itulah dia menya-

dari bahwa bakat terbesarnya ialah di lapangan, bukan di kelas. Di lapangan dia bisa tidak mengantuk sama sekali sepanjang malam, tapi di kelas sering dia tidak bisa menahan kantuk, bahkan tertidur pulas.

Di rumah Ki Lebdo, Abu dapat mempergunakan sebuah sepeda motor bebek. Kata Ki Lebdo suatu kali, "Tidak ada lagi yang dapat kau pelajari di sini. Kalau kau mau belajar, pergilah pada Anom Suroto di Kartasuro atau Manut Sumarsono di Tegalpandan." Maka hampir setiap kali Ki Anom Suroto atau Ki Manut Sumarsono mendalang, dan tempat itu bisa dicapai dengan sepeda motor, dia pasti ikut dalam rombongan.

Pada tahun ketiga, kalau ada permintaan mendalang, Ki Lebdo selalu menanyakan pada yang datang, "Apa bisa diwakilkan?" Kalau orang yang datang setuju, pekerjaan itu akan diserahkan pada Abu. Anak-anaknya sendiri yang berjumlah delapan itu satu pun tak ada yang jadi dalang. Meskipun kata orang pulung dalang itu menurun. Ia berpesan jangan ada anaknya yang jadi dalang. Dalang itu susah, pada waktu orang lain tidur nyenyak ia harus bekerja. Waktu dia bekerja, di belakang layar orang bisa tidur, makan, atau berjudi. Yang punya rumah bisa pesan lakon apa saja: Dari "Gatotkaca Krama" kalau punya hajat mantu, "Wahyu Makuta Rama" untuk perayaan 17 Agustus, sampai yang aneh-aneh, seperti "Petruk Sunat". Dari yang sangat pakem ( baku ) sampai yang paling carangan (cabang).

Ki Lebdo sendiri selalu memilih yang berdasar pakem, lakon yang aneh-aneh akan diserahkannya pada Abu. Ia menyimpulkan bahwa enak yang punya uang, dari pada dalangnya. "Jadilah yang punya uang, jangan jadi dalang," nasihatnya pada anak-anak. Maka anak-anak semua "jadi orang", kecuali dalang. Ada yang jadi insinyur gula, ada yang jadi pegawai tinggi, ada yang jadi perwira tinggi, ada yang kerja di bank, ada yang jadi dosen, dan ada yang jadi bisnisman. Dalam suatu musyawarah keluarga ketika anak-anak berkumpul, Ki Lebdo mengutarakan maksud untuk mewariskan gamelan dan wayang pada Abu, semuanya setuju. Kemudian ditulislah surat wasiat.

4

Abu Kasan Sapari merasa bahwa ia tak cocok untuk meneruskan sekolah. Dengan ijazah SMA-sebenarnya ia sudah lulus BA, jadi sarjana kurang skripsi, tapi posisi itulah yang diperlukan-dia melamar pekerjaan jadi pegawai lokal, dan ditempatkan di kecamatan Kemuning, sebuah kecamatan di kaki Gunung Lawu. Dia ditempatkan di Bangdes (Pembangunan Desa). Dipikirnya tidak enak terus-menerus tinggal di rumah Ki Lebdocarito. Dengan alasan biarlah Abu mencari pengalaman, maka Ki Lebdo pun melepaskannya.

Ia mendapat seekor kuda-sebab di kecamatan bukit itu kuda lebih berguna dari pada sepeda motor-supaya dapat pergi ke desa-desa. Tidak ada kesulitan dengan kuda, sebab di masa kecilnya ia biasa bergaul dengan kuda.

Tugas pertamanya ialah
mengikuti kursus di sebuah lembaga teknologi pedesaan. Yang selalu ditanyakannya pada diri sendiri: Apakah tugasnya yang baru menjauhkan atau mendekatkannya pada Ronggowarsito, mengajarkan kebijaksanaan hidup? Tidak lupa dia membawa alat-alat tatah pembuat wayang.*

MANTRA II

MANTRA

1

Di Kemuning, Abu Kasan Sapari menyewa rumah. Kandang kuda dibuatnya di depan. Tapi satu hal yang menyulitkannya, betul sewa rumah di tempat itu murah, tapi untuk mandi orang harus ke sendang di atas yang jauhnya dua kilometer. Ada sumur, tetapi sangat dalam, dan tak ada air bila musim kering. Air itu masih harus dibagi dengan tetangga, kadang-kadanghabis, dan bisanya hanya untuk mengisi gentong atau padasan. Dia beruntung, bisa naik kuda ke sendang, dan kembali membawa air. Jadi, diputuskannya hanya mandi sekali sehari di sendang sepuas-puasnya seperti semua orang.

Ketika dia berkeliling desa, dengan kuda inventaris, topi pedagang krupuk, tas sekolah yang digantung menyilang pundak, tiba-tiba tangan kanannya ke udara, ibu jarinya bergeser dengan telunjuknya, berbunyi "cetit", "Aku tahu!" Ya, ia tahu: orang-orang desa harus diajak membangun saluran air dari sumber dekat sendang sampai desa. Langkah pertama, menurut kursus, ialah sosialisasi gagasan.

Waktu dia memandikan kuda dengan sikat dan seember air yang diambil dari sendang, sambil menyaksikan buih keringat kuda bercampur sabun yang putih, katanya pada setiap orang, "Bagaimana kalau kita bangun saluran air, Mas? Bagaimana kalau kita bangun saluran air, Pak?" Di surau waktu diadakan pengajian-yang orangnya sedikit, karena susah mencari air wudlu-dia minta waktu, "Bagaimana kalau kita bangun saluran air, Bapak-bapak dan Ibu-ibu?" Pak Lurah dimintanya untuk mengumpulkan anggota-anggota LMD, dan kemudian dia menguraikan gagasannya. "Bagaimana kalau kita bangun saluran air?"

Gagasan tentang saluran itu meledak seperti petasan di dusun yang gersang itu. Orang berembuk di kelurahan. Ia mengusulkan membuat saluran dari bambu saja; lebih alami, praktis, tidak usah beli sebab hampir setiap rumah ada bambunya. Setelah dihitung-hitung, orang lebih suka pakai pralon. Kata mereka pralon lebih awet, ukurannya sama, lebih mudah nyambungnya. Bambu bisa dijual ke kota , dan ditukarkan pralon. Diputuskan bahwa air akan disalurkan ke tiga tempat: kalurahan, masjid, dan gardu siskamling. Akan dibuat MCK di situ. Abu Kasan Sapari diserahi orang untuk menjadi Kepala Proyek. Ia tahu apa yang harus dikerjakan: membuat kolah-kolahan di sumber atas, memasang pralon, menyambung pralon, membenamkan ke tanah di jalanan, minta izin orang-orang yang pekarangannya kelewatan, membuat kran-kran. Singkatnya, selesailah pipanisasi dusun itu. Orang terbebas dari membawa klenthing tempat air naik-turun bukit.

2

Abu ingin membayar jerih payah orang-orang yang bergotong-royong membangun saluran. Sebagai orang yang pernah tinggal di Palur , ia tahu persis bahwa hari-hari ini ada cembeng di pabrik gula Tasikmadu, perayaan tanda dimulainya musim giling. Perayaan itu dimaksudkan untuk menghibur para buruh, tetapi penduduk sekitar pabrik dan orang yang jauh juga datang. Ada pasar, ada pameran, ada pertunjukan. Abu terpikir pergi, juga karena dia turut mempersiapkan kecamatannya untuk pameran. Kedudukannya sebagai staf kecamatan membuat dia tahu di mana bisa pinjam truk dan sopirnya. Ada desa yang subur di kecamatan itu yang bertanam kubis, wortel, dan bunga-bunga yang biasa mengangkut barang-barang dengan truk ke pasar. Orang-orang dusun sepakat untuk berangkat sehabis Maghrib.

Cembeng itu tak ubahnya seperti pasar malam. Ada draimolen, itu kuda-kudaan yang berputar, yang hanya bermain di siang hari. Ada permainan ketangkasan dengan melempar gelang logam pada sasaran. Ada ketangkasan tembak-tembakan. Ada orang jualan makanan yang tidak dibuat di rumah: bolang-baling, donut, martabak, terang-bulan, tahu-pong dengan petis. Di stand pameran, setiap kecamatan di Karangmojo memamerkan keistimewaannya. Kemuning memamerkan produk-produk pertanian, seperti kentang yang besarnya sekepala bayi, wortel yang panjangnya se-ulaika (panjang sekali), meja-kursi bambu, teh rakyat, dan anyaman bambu dari sebuah desa. Bedanya dengan pameran lain, kalau pameran biasa penjaganya gadis-gadis cantik, pameran kecamatan itu dijaga oleh pegawai laki-laki yang berseragam KORPRI. Selain itu, cembeng yang berlangsung seminggu itu adalah musim panen bagi para pedagang K-5 dan kagetan (mendadak).
Di cembeng, ketika Abu sedang menghadapi segelas wedang jahe di warung tiban dekat tiang listrik yang khusus dibuka waktu itu, seseorang menyentuh pundaknya.
Sentuhan itu terasa lembut, tetapi berat.

"Nah, kaulah yang saya cari selama ini."

Ketika Abu menoleh, dilihatnya seseorang dengan iket lepasan, baju surjan lurik, dan sarung kotak-kotak. Dari cambang, kumis, dan janggutnya yang putih serta jari-jarinya yang berotot di bawah lampu listrik tampak bahwa orang itu adalah pendekar. Laki-laki tua itu memintanya berdiri dan mengajaknya ke tempat sepi. Entah apa sebabnya, seperti kena sihir, ia mengikuti. Sampailah keduanya di tempat sunyi.

"Ini rahasia. Daun dan rumput tak boleh mendengar," kata orang itu. Di kejauhan terdengar pengeras suara dengan musik dangdut.

"Kau tidak boleh meninggal sebelum mengajarkan ilmu ini pada orang yang tepat."

"Apa itu?"

"Mantra pejinak ular."

Kemudian orang itu mencari telinga kanan Abu, dan membisikkan sebuah kalimat.

"Paham?"

Kemudian orang itu kembali berbisik di telinga kanan Abu.

"Sudah, ya?" Abu mengangguk. "Mantra itu tidak boleh salah ucap. Bacalah itu setiap kali kau menghadapi ular."

"Mantranya kok bahasa Arab, ya?"

"Ya, ini semua dari Al Quran. Kita orang Jawa itu yang jadi jawabnya, pernyataannya. Pada zaman dulu, ada banjir bandang di Negeri Kanjeng Nabi Nuh. Kanjeng Nabi Nuh yang sudah menyiapkan kapal, naik kapal bersama orang-orang beriman, dan binatang sepasang-sepasang. Termasuk sepasang ular yang kemudian menurunkan ular-ular di seluruh dunia. Mantra itu menandakan bahwa kita adalah anak-cucu Kanjeng Nabi Nuh."

Abu mencoba mengingat kalimat itu lagi, dan melapalkannya pelan-pelan.

"Bagus, itu sudah betul. Ada laku yang harus dijalankan dan wewaler, pantangan yang tak boleh dilanggar. Lakunya adalah kau harus ngebleng tidak makan-minum selama tiga hari, kemudian mutih tidak makan garam selama tujuh hari. Wewalernya mudah, tapi sulit dijalankan. Kau tidak boleh melangkahi ular sekalipun ular itu sudah jadi bangkai. Kau juga tidak boleh membiarkan ada ular mati tanpa dikuburkan. Kalau tercium bau bangkai ular di mana pun, kau harus menguburkannya. Tuhan akan menunjukkan beda bangkai ular dengan bangkai lain, seperti kodok. Juga Tuhan akan menunjukkan tempatnya. Lebih dari segalanya, kau harus memperlakukan ular dengan sayang. Ketahuilah, ular itu saudaramu juga. Selanjutnya, kau jangan sampai menyakiti hati ular. Hati ular itu seperti hati manusia, mereka juga punya perasaan. Caranya? Engkau tidak menyengsarakan mereka, berbuat baiklah. Hubungan kita dengan ular ialah hubungan persahabatan. Bukan penguasaan."

Orang tua itu menjauh, sambil memukul jidatnya dikatakannya:

"O, ya. Kau tidak akan mati, kalau tidak mewariskan ilmu ini."

Orang itu tertawa panjang, lega. Kemudian menghilang dalam gelap. Abu masih tertegun, merenungkan kejadian yang dialaminya. Disekanya mata. Tidak, itu bukan mimpi bukan sulapan. Kenyataan itu dialaminya dengan badan wadhag, pasti sungguh-sungguh terjadi. Buktinya, ia ingat dengan jelas mantra yang harus diucapkan. Badannya basah, berkeringat dingin. Ia kembali ke warungnya tadi.

Dalam perjalanan pulang ia diam saja, berdiri kaku di atas truk yang terbuka. Dibiarkannya angin malam menerpa tubuhnya, apalagi truk itu berjalan pelan karena jalan menanjak dan berliku-liku. Dalam pikirannya ialah orang tua yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang itu. Ia tidak tahu siapa namanya, dari mana asalnya. Jadi orang terpilih itu memang sukar. Tetapi bahwa ilmu baru sudah dalam jangkauan tangan, membuatnya gembira. Ketika ia meloncat turun dan mengucapkan terima kasih pada sopir kegembiraan yang tak ada taranya masih dibawanya. Ia bertekad untuk melaksanakan semua petunjuk orang tua itu. Di kantornya ada sebuah surat tentang lomba desa sekabupaten. Tugasnya ialah supaya predikat Desa Teladan itu jatuh di salah satu desa di Kemuning. Pak Camat mempercayakan padanya. Setelah berpikir, ada dua hal yang akan dikerjakannya. Pertama, ia akan menggerakkan orang untuk membuat pagar hidup. Pagar hidup tepat untuk desa pegunungan. Lebih alamiah daripada pagar tembok, lebih murah, lebih awet, dan lebih manfaat. Kedua, tiap desa harus punya kelompok klenengan. Dari semua desa yang sudah dihubunginya ialah desa tempat tinggalnya yang paling siap. Rencananya dikemukakannya pada Pak Camat, dia manggut-manggut, tersenyum, dan menepuk-nepuk pundak Abu, "Laksanakan, ya," katanya. "Ya,Pak," kata Abu. Dia sendiri akan mempersiapkan murid-murid SMP yang diajarinya kesenian.

Khusus mengenai pagar hidup ia minta Lurah mengumpulkan kepala somah yang rumahnya di pinggir jalan protokol desa. Setelah mereka berkumpul di Balai Desa Abu Kasan Sapari dengan pakaian KORPRI berpidato:

"Kembalilah pada alam. Sebab, ketika dilahirkan kita dibersihkan dengan air yang diambil dari sendang, milik alam. Kita makan dari sawah yang terletak di alam. Kita membangun rumah dari bambu, dari kayu, dari batu, semuanya dari alam. Insya Allah kita pun akan mati dan kembali ke alam. Setuju, Bapak-bapak?"

"Setujuuu!" jawab yang hadir.

"Nah, kalau begitu buatlah pagar dari tanaman. Yang sudah telanjur membuat ya diputihkan, dan di dalamnya ditanam pohonan."

Tidak hanya itu, orang malah juga menanam mawar, bunga matahari, ceplok piring, dan kembang sepatu. Rupanya Abu telah jadi panutan di desanya. Mungkin karena sukses soal air itu. Orang desa itu mudah, kalau sudah cocok kerja apa pun mereka mau.

Seluruh usaha kecamatan diarahkan ke desanya. Penataran P-4, perpustakaan desa, kursus baca-tulis (Abu sangsi apakah orang-orang desa masih bisa membaca), papan tulis untuk data desa, dan usaha-usaha rumah (peternakan kambing, peternakan bebek, dan pembuatan emping mlinjo). Apa boleh buat, semuanya harus serba cepat. Dikerahkannya para mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk membantu. Pak Camat berpesan supaya Abu tidak ngoyo, santai saja. "Santai saja, itu sudah jatah Kemuning." Lho! Jadi Pak Camat sudah tahu kalau akan menang.

Pada hari dilaksanakan lomba, orang memasang bendera dan umbul-umbul di kecamatan. Desa yang diunggulkan juga dipasangi bendera Merah-Putih dan umbul-umbul. Direncanakan akan datang Pak Bupati beserta staf, dan Bu Bupati disertai beberapa penggerak PKK kabupaten. Rombongan Bupati, Bappeda, dan panitia lomba akan disambut di kecamatan, kemudian dibawa ke desa. Tenda dipasang di kecamatan, kursi-kursi, teratak, dan gamelan. Ada juga ular-ularan,balon, dan ada surprise berupa sebuah kue. Kue itu masih disimpan di dalam, tidak seorang pun tahu untuk apa. Ketika panitia datang, melihat hiasan-hiasan dan balon seorang anggota bilang, "Wah, kok seperti ulang tahun". Pak Camat memberi isyarat dengan menyilangkan telunjuknya di mulut. Acara dimulai. Protokol dengan bahasa Indonesia logat Jawa mempersilakan Ketua Panitia alias Pak Camat sendiri untuk memberi sambutan selamat datang. Setelah basa-basi selesai, katanya berlagak komentator tinju, "Dan sekarang..." Kue dikeluarkan. "Kami tahu, hari ini adalah ulang tahun Pak Bupati." Pak Bupati baru ingat kalau hari itu adalah Hari Ulang Tahunnya.

Setelah sambutan-sambutan selesai, kemudian ada panembromo, anak-anak SMP maju. Niyaganya juga anak-anak SMP dengan baju beskap biru dan ikat kepala ungu. Panembromo itu dengan tembang solo, bowo, oleh Abu Kasan Sapari. Seorang murid laki-laki mendeklamasikan sebuah sajak berbahasa Indonesia , dengan iringan gamelan. Semuanya berisi seruan pada petani untuk meningkatkan produksi. Wartawan dari surat-surat kabar dan majalah yang terbit di tigakota, Solo, Yogya, dan Semarang ,meliput peristiwa itu. Protokol mengumumkan bahwa pertunjukan terdiri dari pencak silat stroom, ngremo, tarian,nyanyi dangdut-bukan kroncong, itu kuno, kata anak-anak muda- dengan band lokal (yang biasanya setahun hanya tampil dua kali, waktu 17-an dan Syawalan), pethilan, dan drama anak-anak.

Setelah pencak silat, seorang mahasiswa asal Paciran, Bojonegoro, ngremo (pendahuluan untuk ludruk), ia bernyanyi:

ngisor nongko, ono gemake

ngakune ndeso, maju pikire

(di bawah nangka, ada gemaknya mengaku orang desa, maju pikirannya

Kalimat kedua adalah plesetan dari 'ngakune joko, limo anake' ['mengaku jejaka, lima anaknya'])

dahulu kuda menarik bendi, sekarang bendi menarik kuda

dahulu orang suka mengaji, sekarang orang suka naik kuda

(Kalimat kedua adalah plesetan dari 'dahulu pemuda menarik pemudi, sekarang pemudi menarik pemuda')

sak bejo-bejone, wong kang lali

isih bejo, wong kang eling lan

waspodo

(semujur-mujurnya orang yang lupa diri masih mujur orang yang ingat dan waspada)

gula Jawa digawe glali, sapune ta

lenono

para kanca ojo lali, ngibadahe di

kencengono

(gula Jawa dibuat gulali, sapunya supaya diberi tali teman-teman jangan lupa, ibadahnya yang sungguhan)

Orang asyik mendengarkan nyanyi dangdut seorang pemudi-yang aduhai untuk ukuran kecamatan Kemuning- meliuk-liuk, menggemaskan. Para lelaki menahan tenggorokannya agar tidak bergerak. Pemuda-pemuda menempelkan tangan dimulut: suiiit, suiiit. Kalau tidak ada pembesar, mereka akan berteriak-teriak. Tiba-tiba di bagian belakang ada keributan. Kursi-kursi besi beradu, ke-lon-tang ke-lon-tang, orang berusaha lari. Penyanyi dan band berhenti. Penonton perempuan berlarian sambil berteriak-teriak. "Ular, ular!" kata orang-orang.
Abu Kasan Sapari meloncat dari tempat duduknya. Ia menuju kursi-kursi yang telah dikosongkan. Dilihatnya orang membuat lingkaran, dan ular itu masih di sana , di bawah kursi-kursi. Ular itu menjalar. Dan orang sibuk menghindar. Di tangan para lelaki ada bata, batu, dan potongan-potongan kayu. Tampak betul bahwa mereka siap menghadang ular itu.

"Jangan dibunuh ular itu!" teriak Abu.Begitu saja kata-kata itu keluar dari mulutnya. Tiba-tiba-memang tiba-tiba-ia jatuh kasihan pada ular itu. Maka ia masuk di antara kursi yang telah dikosongkan.

"Jangan mendekat, Abu".

"Itu bukan ular sawah!"

"Ular itu berbisa!"

Tapi Abu tidak peduli, seperti kesetanan ia menyibak kursi-kursi. Menangkap ular dengan tangannya, membawanya berlari keluar halaman kantor dibawah tatapan mata orang banyak. Aman sudah. Orang membuang batu, bata, dan kayu. Orang-orang kembali duduk.

"Halo, halo. Pertunjukan akan dimulai."

Abu Kasan Sapari membawa ular itu ke gerumbul pohonan bambu yang agak jauh dari pelataran kecamatan. Ada tumbuhan liar, batu, dan kebun kosong. Ular itu masih di tangan Abu. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang. Ia berjongkok.

"Mengapa kau datang menonton, pertunjukan itu untuk bangsa manusia. Tidak untuk bangsa ular," katanya. Ia sendiri heran, ternyata ia telah berbicara dengan ular itu. Abu membuka tangannya, melepas ular itu. Sebentar ular berhenti, Abu mengerti itu artinya ucapan terima kasih, kemudian menghilang di semak-semak. Ia berdiri, baru menyadari sepenuhnya apa yang telah terjadi dan ia tersenyum. Ia telah menguasai ilmu pejinak ular. Hore!

4

Ada sebuah surat yang dikirim ke kantornya oleh seorang transmigran asal Kemuning yang sudah sukses hidupnya di Kalimantan Timur, surat itu berisi permintaan agar kantornya meyakinkan Sumiati bahwa bertransmigrasi adalah keharusan. Agar Sumiati mau menggabung dengan abangnya. Abang itu sendiri sudah berusaha membujuk adiknya, tetapi selalu gagal. Adiknya baru saja lulus SMP, kebetulan di lokasi transmigrasi ada sebuah SMA. Itu kalau mau sekolah, kalau mau kawin sudah ada yang tanya.

"Bicara baik-baik dengan dia. Yakinkanlah bahwa mangan ora mangan waton ngumpul itu sudah kuno," pinta orang itu.

Maka berangkatlah Abu Kasan Sapari. Dengan kudanya dan sebuah cethok (alat penggali tanah). Sebuah cetok? Ya, ia sekarang kemana-mana selalu membawa alat itu. Berkat pengalamannya, tentu. Sekali ia pergi ke kantor tanpa cetok. Di jalan ia mengetahui dengan hidungnya bahwa ada bangkai ular di tepi jalan. Ia turun dari kudanya mencari arah bau itu. Masya Allah! Bangkai ular di tepi jalan, mungkin karena lemparan batu orang. Biasanya, ular tidak mati, tetapi berganti kulit. Dan itu pasti dilakukan di tempat tersembunyi, gerumbul, atau lubang, atau liang. "Eh, siapa orangnya telah membunuhmu? Sungguh kurangajar, membunuh makhluk Tuhan tak bersalah." Ia menggali tanah dengan tangannya, mengangkat bangkai ular dengan tangannya, dan menimbuni dengan tanah dengan tangannya. Sampai di kantor ia terlambat, tangannya kotor, dan berbau.

Ia menemui gadis itu. Rumahnya di tepi jalan. Lebih tinggi dari jalan, dengan pagar batu. Ada pohon-pohon jeruk keprok di sekitar rumah. Anak yang baru lulus SMP itu bongsor, dan eh termasuk cantik. Sayang juga kalau ia harus pergi, andaikata wayang begitu dia seperti Banowati, isteri raja Astina, tapi tergila-gila dengan Arjuna. Sebentar Abu berpikir, pilih jadi Suyudana, raja Astina, atau Arjuna. Sekali itu dia gagal meyakinkan, tetapi beberapa butir jeruk ada di tasnya waktu kembali.

Barangkali sekali itu dia gagal karena sebenarnya ada pamrih. Jatuh cintakah dia pada Sumiati? Ya, semacam itu tapi bukan. Sengaja dia lewat rumahnya pagi-pagi waktu ke kantor. Agak berputar sedikit tidak apa, itu hanya berarti dia harus beberapa menit lebih awal. Sekedar untuk melihat gadis itu, tersenyum waktu gadis itu melambai, sebelum gadis itu pergi ke kota . Sekali dia mampir ke rumah gadis itu, hanya untuk diberitahu bahwa gadis itu sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Jawa, tidak jadi transmigran. Ini berarti dia harus pergi dari desa, dan Abu kehilangan tangan kuning yang melambai. Lambaian itu makin lama makin dirindukannya. Tentu saja kalau gadis itu pergi, segalanya akan berakhir. Tapi, hitung-hitung itu menguntungkan buat Abu. Mumpung benih itu belum tumbuh jadi pohon. Untuk beberapa lama, ia masih lewat rumah gadis itu. Kalau-kalau, dia tiba-tiba pulang. Suatu hari dia tertawa keras menyadari kebodohannya.

ABU KASAN SAPARI TENTANG ALAM

II

Dulu seorang dosen Abu di STSI Surakarta pernah bilang supaya mahasiswa membiasakan diri untuk menuliskan pikiran-pikirannya. Inilah yang ditulis Abu dalam buku kerja. Rupanya ia rajin menulis waktu jatuh cinta pada Sumiati. Hal ini diakuinya dalam buku hariannya.

Alam .

Jatuh cinta itu alamiah. Yang dilarang agama adalah berzina. Maka jatuh cinta itu sah, seperti sahnya orang minum air, makan nasi, ke kantor, nonton wayang, dan menyanyi. Itu semua, karena alamiah. Tuhan memanjakan alam. Surat-surat dalam Al-Quran kebanyakan merujuk ke alam. Alam adalah hasil karya-Nya. Ia berkata "kun fayakun" maka jadilah alam ini. Tidak ada satu surat pun dari 114 surat dalam Al-Quran yang merujuk ke teknologi, misalnya "demi sepeda motor. Kata dosen filsafat saya manusia mempunyai peradaban justru karena berjuang menundukkan alam. Saya pikir "menundukkan" itu langkah yang salah. Itu semacam kesombongan, arogansi manusia. Yang benar ialah manusia harus berdamai dengan alam. Sebelum ada sekolahan, manusia berguru pada alam. Dengarkan pepatah, "Bagai ilmu padi, makin tua makin merunduk", "Siapa menanam, mengetam", dan "Menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri". Pengarang A.A. Navis bilang, "Alam terkembang menjadi guru." Mungkin itulah filsafat asli Minang, Jawa, atauIndonesia , ilmu petani yang tidak makan sekolahan.

Orang biasa mengartikan kata "iqra' dalam ayat pertama Al-Quran sebagai keharusan mencari ilmu. Itu boleh saja. Tapi saya akan menambahkan satu hal lagi: kata itu harus juga diartikan mencari keindahan, termasuk pariwisata dan seni. Jadi alam itu bukan hanya obyek ilmu, tapi juga obyek seni. Orang dapat mencari ilmu di bulan. Tapi para penyair, pelukis, dan pemusik yang melukiskan bulan harus dianggap sebagai mengagungkan Nama Tuhan.

Bukit. Sebelum sekolah aku berpikir bahwa dunia ini terletak di antara Gunung Merapi di barat dan Gunung Lawu di timur. Alangkah naifnya pikiranitu! Ternyata, dunia itu luas. Itu aku tahu dari pelajaran geografi di SD.

Sekarang, setiap hari aku berada di sini: di kaki Gunung Lawu. Aku dapat melihat matahari yang kemerahan. Aku juga dapat melihat pohon-pohon di punggung bukit dengan latar belakang warna merah itu. Pantas saja orang segan bertransmigrasi meskipun dengan iming-iming tanah gratis dua hektar. Mungkin bukan soal kuno atau tidaknya semboyan mangan ora mangan waton kumpul. Termasuk Sumiati. Awas, dilarang jatuh cinta pada anak-anak di bawah umur. Dilarang itu artinya jangan. Tahu! Tahu, pak. Ibarat sawo dia masih sepet. Puah!

Gunung Lawu itu dulu dianggap keramat. Ditunggui raja jin bernama Sunan Lawu. Sekarang, entah kemana jin itu bersembunyi, tetapi orang dengan membayar seribu rupiah dapat melewati puncaknya. Kata orang, Solo dan Madiun tidak lagi dibatasi oleh Gunung Lawu, tapi dihubungkan oleh gunung itu. Orang tidak perlu takut ampak-ampak, asal mesinnya masih bagus tidak ada kekhawatiran apa pun. Tidak ada lagi perampok, orang yang lewat tidak perlu tebal kulitnya, malah lebih perlu tebal sakunya. Jalannya mulus, beraspal, dan ramai.

Orang Jawa itu tidak adil. Gunung diletakkan terbawah dalam hirarki.Orang yang tidak bisa kromo akan dibilang oleh orang kota : "Bahasamu jelek, kampungan." Orang-orang kampung akan bilang: "Bahasamu jelek macam orang desa saja."

Orang desa bilang: "Bahasamu morat-marit macam orang gunung." Coba, mereka sudah lihat Sumiati, tentu berubah pikiran mengenai gunung. Oh, Nduk. Cah ayu!

Dalam buku pelajaran Bahasa Jawa milik Ibuku disebutkan Tawangmangu sebagai kota yang terletak di bukit. Memang tempat itu indah. Dari desaku dulu Tawangmangu nampak gemerlap lampu-lampunya. Dulu saya berpikir, kapan dapat ke sana. Dengan sepeda motor kecamatan, dan Sumiati di boncengan dapat saja aku ke sana sewaktu-waktu. Kita dapat duduk dibawah pohon,menyewa tikar, omong-omong, dan makan sate kelinci. Sementara angin sejuk menerpa. Aduh, nikmatnya.

Tuhan memuliakan bukit. Ketika Tuhan akan menyebutkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya didahuluinya ayat itu dengan sumpah kepada buah Tin, pohon Zaitun,bukit Tursina, dan daerah yang penuh berkah.Nabi Musa ditunjukkan kekuasaan Tuhan dan menerima "Ten Commandment" di atas bukit. "Khotbah di Atas Bukit" Nabi Isa juga dikenang umat manusia.

Batu.

Orang gunung suka membuat rumah, pagar, dan jubin dari batu. Orang mengeraskan jalan ialah dengan batu. Pasir pada hakekatnya adalah batu kecil-kecil. Semen juga dibuat dari batu. Pendek kata, hutang budi orang kepada batu sangat besar.

Tetapi orang sungguh tidak berterima kasih. Apa-apa yang jelek dijatuhkan pada batu. Batu itu bagai kejatuhan abu panas. Kalau orang dapat halangan akan dibilang "kesandung batu", orang yang apes dibilang "kena batunya", orang yang keras kepala dibilang "kepala batu". Coba, tiba-tiba batu menghilang! Baru semen menghilang dari pasaran saja, orang sudah bingung.

Memang kalau batu lagi masih panas dan cair alias lava, batu disingkiri orang. Tetapi setelah dingin jadi rebutan. Di perbatasan Yogya-Magelang ada sungai namanya Kali Krasak, sungai itu sering jadi tempat mengalir lahar Gunung Merapi. Akibatnya, setiap hari berpuluh-puluh truk dapat mengangkut pasir dari sana. Di sekitar Gunung Merapi, terdapat batu-batu. Dari mana batu-batu untuk candi Borobudur, Mendut, Kalasan, Prambanan, dan Sewu kalau tidak dari batu-batu Gunung Merapi? Demikian juga, orang Jawa dikubur di bawah batu. Mungkin orang berpikir kalau sudah berlindung di bawah batu itu aman dari siksa kubur.

Ada batu yang membuat sebuah kota dikunjungi jutaan orang. Ayo, kota mana dan apa nama batunya? Jawabnya, namanya kota Mekah, dan batunya bernama Ka'bah. Di Ka'bah ada batu hitam, namanya Hajar Aswad. Khalifah Umar mengatakan kepada batu sederhana itu: "Sekiranya aku tidak melihat Nabi menciummu, aku tidak sudi menyentuhmu dengan bibirku." Ini masih cerita sekitar Tanah Suci. Air yang disaring oleh batu-batu ternyata menjadi air zam-zam yang banyak mineralnya. Sekarang, kabarnya Garuda menghadiahi setiap jamaah haji dengan satu jiligen zam-zam. Air tanah biasa tidak seberuntung air zam-zam yang keluar dari batu-batu!

Aku diceritai kawan yang ikut misi kesenian ke Timor Timur. Katanya dalam perjalanan darat dari Dili ke Baucau ada sebuah gunung batu pualam. Wah, kalau gunung itu saja dilelang untuk membiayai pembangunan Timtim, bagaimana. Supaya pembangunan daerah itu tidak mengurangi APBN. Masih tentang batu tapi soal lain. Menurut Kedaulatan Rakyat yang saya baca di kantor, sudah ada MBI, singkatan dari Masyarakat Batumulia Indonesia . Itu pasti didirikan oleh para penggemar batu akik. Zamrud, mirah, pirus! an

Langit.

Tidak pernah ada penyair yang tidak pernah menyebut langit. Deminian juga anak-anak, mereka suka bernyanyi; "Bintang kecil, di langit yang tinggi." Orang tua menasehati anaknya:"Gantungkan cita-citamu setinggi langit." Tidak diketahui bagaimana serorang pilot akan menasehati anaknya. Orang yang sedang menderita mempersangkakan seolah-olah langit akan runtuh. Kata orang di Mekah tidak ada awan sehingga langit selalu biru. Orang yang sedang di laut melihat langit cekung, dan tepi-tepinya bertemu dengan air. Akhir-akhir ini harga cabe sangat tinggi, orang menyebutnya "harganya melangit". Ada motif batik, namanya Sekar Langit, bunga langit, wah wah alangkah indahnya. Pendek kata "langit" digunakan orang untuk mengungkapkan harapan dan kecemasan, namun pada umumnya berarti yang baik dan yang indah.

Orang yang hanya memikirkan akhirat dan melupakan dunia, disebut orang hanya memikirkan langit dan melupakan bumi. Orang sekarang suka membicarakan bagaimana "membumikan" Al-Quran. Tetapi tidak ada yang berfikir bagaimana "melangitkan" manusia. Saya kira itu tidak adil.
Dalam kisah Isra' Mikraj disebutkan bahwa Nabi naik ke langit hanya untuk diberi Nur Tuhan. Dalam dongeng-dongeng pewayangan, kayangan, tempat para dewa adalah di langit. Raksasa Newatakawaca pastilah sakti mandraguna sehingga ia dapat mengobrak abrik langit.
Namun manusia yang gentur tapanya bisa lebih sakti dari para dewa. Arjuna alias Ciptoning dapat mengalahkan Newatakawaca, dan dihadiahi bidadari paling top, Dewi Supraba. Batara Indra turun dari langit bersama para dewi yang jumlahnya sembilan, menjadi prototype Tari Bedaya. Orang Jawa bilang langit itu kosong alias awing-uwung ternyata keliru. Langit itu padat penghuni, ada nur Tuhan, ada dewa-dewa, ada para malaikat, ada roh-roh. Kalau ada roh gentayangan, itu artinya hanya berjalan-jalan saja di bumi, tidak bertempat di langit.
Tuhan mengibaratkan jiwa yang mati jadi hidup berkat siraman agama, seperti hujan yang turun dari langit dan membuat pohon-pohon di bumi menggeliat. Kalimat Thayibah digambarkan seperti pohon yang akarnya menghujam ke bumi dan cabng-cabangnya menggapai langit. Juga disebutkan dalam agama langit itu berlapis tujuh, ada yang menghubungkannya dengan jumlah planet, ada yang menghubungkannya dengan perbedaan tekanan udara. Yang benar yang mana, wallahua'lam.

JIN.

Orang Jawa bilang jim untuk jin, sebaliknya mereka bilang yatin untuk yatim. Biar saja, itu bukan urusan pegawai kecil seperti saya, tapi urusannya ahli bahasa. Jin adalah mahluk alamiah, seperti halnya batu, bukit, dan langit. Ceritanya tetangga saya di Palur pernah berurusan dengan jin. Tetangga saya itu punya pembantu, nah sang jin jatuh cinta pada pembantu. Suatu kali jin itu mengatakan bahwa pembantu punya tahi lalat dipunggung. Sejak itu pembantu tahu jin bahwa jin selalu mengintipnya ketika mandi, pakai kain atau tutup apa saja. Tentu saja, tidak enak mandi dengan cara itu. Pembantu melapor pada majikan. Majikan minta tolong pada orang yang pandai mengusir jin. Singkatnya jin nakal itu dibuang ke Laut Selatan, tempat kerajaan jin. Jin itu hanya jadi pembantu di tempat yang baru. Sebab disana banyak jin bangsawan, jin jagoan, jin priyayi, dan tentu jin biasa-biasa saja. Dan rajanya adalah Nyi Lara Kidul. Pelajaran dari cerita ini ialah orang itu ojo dumeh, jangan mumpung, jangan mumpung berkuasa, lalu sewenang wenang. Jangan mumpung kaya lalu menghamburkan uang.

Waktu saya kecil, surau dekat rumah ada penunggunya, seorang jin. Ini sungguh-sungguh seorang bukan seekor, sebab sifat-sifatnya seperti orang. Jin itu punya nama, suka mengaji dan dapat marah, dan dapat jatuh kasihan. Perihal nama itu orang-orang surau memberi jejuluk. Karena tugasnya ialah menjaga surau, orang menamakannya mbak Jaga. Ceritanya maka dia ada di surau, karena waktu naik haji seseorang di kampung pergi ke Mesjid Jin dan membawanya pulang untuk jadi khadam, pembantu. Ketika orang itu mau mati ditanyalah jin apa mau kembali ke Arab atau tinggal. Jin mengatakan lebih baik tinggal, karena orang Jawa itu halus-halus, dan orang Arab itu kasar-kasar. Disepakati bahwa ia akan akan tinggal di surau, sebab tidak seorang anaknyapun yang mau ketempatan. Nah, dia tinggal di surau, kata orang di pengimanan.

Pada suatu sore sehabis Maghrib, kami akan mengaji. Biasanya ada sembilan kitab. Tapi waktu itu kurang satu, kami tahu bahwa itu pasti sedang dipinjam mbah Jaga. Sore berikutnya Kitab itu sudah dikembalikan. Kami tidak berani tidur di pengimanan. Sebab, Mbah Jaga akan marah dan memindahkan orang itu ketempat lain, misalnya ke serambi.

Yang paling dikasihi ialah pak Wardino, yang biasa mengisi bak wudhu surau. Sering, ketika pagi hari bak wudhu sudah penuh, padahal pak Wardino tidak nongol karena sakit. Siapa menimba, kalau bukan Mbah Jaga.

MANUSIA

Ketika selesai menciptakan manusia yang bernama Adam, Tuhan memerintahkan malaikat untuk menghormat dengan bersujut. Ah, alangkah mulianya manusia! Tapi iblis membantah perintah Tuhan itu. Katanya: "Bagaimana mungkin kami menghormatinya, dia Engkau jadikan dari tanah, sedangkan kami dari Api!" Ada orang yang yang tak bisa mempertahankan kemuliaan itu, lalu jadi leletheking jagad.

Bahwa manusia dibuat dari tanah itu betul. Kata guru saya di Madrasah dulu, meskipun kita sudah mandi dua kali sehari, masih juga ada kotoran di tubuh kita, apalagi orang yang mandinya hanya setiap Suro, kalau ada.

Manusia memang makhluk istimewa.Waktu masih bayi ia lemah, tapi waktu sudah dewasa ia kuat bukan main, penuh kemungkinan. Ada yang jadi camat, ada yang jadi dalang, ada yang polisi. Yah, jangan lupa: ada yang jadi presiden. Waktu kecil ia harus dibantu, pendek kata kalah dengan anak ayam. Ada anak ayam yang keluar dari telur, setelah mencucuk sendiri dinding telur. Begitu keluar, anak ayam bisa berlari. Anak bebek bisa berenang.

Anak manusia harus serba dibantu. Untuk makan saja ia perlu disuapi. Ia harus juga sekolah, saya belum pernah melihat ada anak sapi kuliah. Pada umur 10 ia bisa minta sepeda, pada umur 15 minta sepeda motor, dan pada umur 25 minta kawin. Oh, Sumiati. I love you! Tenan, banget lho.

Kuda.

Seorang yang dulu jadi kavaleri di Legiun Mangkunegaran, kemudian jadi lurah di Palur (sudah pensiun, atau malah sudah meninggal, entahlah) mengatakan bahwa menjadi lurah itu tak ubahnya dengan menunggang kuda. Orang menunggangkuda itu harus menyatu rasa dengan kudanya.

Kalau begitu ada tiga gaya orang memerintah. Yaitu memerintah gaya gajah, gaya kuda, dan gaya anjing. Tentang gajah saya tahu dari sirkus, tentang kuda dari Pak Lurah, dan tentang anjing dari certia kawan yang ikut rombongan kesenian ke Belanda.

Gajah itu meskipun tubuhnya besar tapi mudah dididik. Ada gajah bisa dididik main bola, mengangkat balok kayu, atau duduk di kursi. Dengan upah permen coklat gajah bisa disuruh apa saja. Maka ada istilah "sepak bola gajah" karena orang bermain bola atas dasar pesanan. Gajah itu seperti orang bodoh, tidak punya kemauan sendiri. Jadi, memerintah gaya gajah itu ialah cara memerintah dengan membodohi rakyat. Rakyat tidak punya kemauan, yang punya kemauan ialah yang memerintah.

Gaya kuda seperti dilaksanakan Pak Lurah berdasarkan keselerasan, keserasian, dan keseimbangan-demikian menurut dosen Penatar P-4 dulu-antara yang diperintah dan yang memerintah. Umpamanya, warga berpikir bahwa sudah waktunya ada kerja bakti memperbaiki jalan, lurah harus dapat menangkap isyarat itu. Kalau warga suka klenengan, lurah harus bisa pegang salah satu alat. Setidaknya bersimpati, seperti yang dikerjakan Pak Lurah dengan kegemaran anak muda, misalnya sepak bola. Lurah akan datang, dasar dulu dia juga bermain bola.

Nah, gaya anjinglah yang paling menyusahkan. Kata kawan saya, anjing itu manjanya bukan main. Kalau pagi harus jalan-jalan,ada makanan khusus untuk anjing, ada sikat bulu khusus, dimandikan, kalau sakit harus dibawa ke dokter. Ada pepatah Jawa yang menunjukkan bahwa anjing itu sama dengan raja. Orang yang pekerjaannya makan dan tidur akan dibilang, makan seperti raja tidur seperti anjing. Kalau jadi lurah, jangan memanjakan masyarakat. Nanti seperti mengasuh anjing jadinya, kita bukannya memerintah, tetapi jadi budak. Pemimpin itu harus punya visi, mampu melihat ke depan.

Angin.

Untung kita tidak usah membayar untuk mendapatkannya alias gratis. Coba, kalau harus membayar, yang dapat hidup pasti yang punya duit saja. Tuhan itu Maha Adil.

Di Negeri Belanda, kata orang, banyak kincir angin. Orang menumbuk gandum, dengan tenaga angin. Wah, kalau dulu orang Jawa menumbuk padi dengan kincir angin, pasti tidak ada kothekan, suara berirama keras dari alu dan lesung. Lalu tidak ada Ketoprak Lesung. Untuk mengusir raksasa yang akan makan bulan, orang Jawa juga kothekan. Semua itu tidak akan ada kalau dulu orang pakai kincir angin. Sekarang orang menggunakan tenaga angin untuk pembangkit listrik. Saya kira itu betul. Dengan listrik orang bisa memasang huller supaya padi tidak usah ditumbuk. Listrik juga dapat digunakan untuk penerangan, mengangkat air, menghidupkan teve, mendinginkan ruangan, memasak, menarik lokomotif, menjalankan mesin, dan sebagainya.

Rumah orang Jawa menghadap ke utara atau selatan, tidak timur atau barat, ternyata ada hubungannya dengan angin. Hanya masjid dan surau menghadap ke timur. Dulu alasannya menghadap utara atau selatan karena meniru atau menghadap keraton. Itu sah-sah saja, tapi yang penting soal angin itu.

Angin membawa embun dari laut, lalu jadi awan, lalu jadi hujan. Lalu dari hujan tumbuh pohon. Lalu pohon-pohon berkumpul, jadi hutan.

Untuk mengundang angin, anak-anak akan menyanyi, "Mbok-mbok pe, mbok pe, barata sing gedhe, tak opahi duduh tape".

Buaya .

Ada teka-teki. Kalau kecil merayap di dinding, kalau agak besar suka di atap, kalau besar sekali hidup di sungai. Apa? Reptil. Di dinding namanya cicak,di atap namanya tokek, di sungai namanya buaya.

Dengan tembang Megatruh, diceritakan perjalanan Jaka Tingkir alias Mas Karebet dari padepokan Banyubiru ke Demak lewat Bengawan Solo. Pada abad ke-16 Bengawan Solo pasti masih banyak buayanya.

Sigra milir
sang gethek sinangga bajul
kawan dasa kang jageni
ing ngarsa miwahing pungkur
tinepi ing kanan kering
sang gethek lampahnya alon.

(Segera hanyut
rakit didukung buaya
empat puluh buaya yang menjaga
di muka dan di belakang
di tepi kanan dan kiri
rakit berjalan perlahan-lahan)

Pada Zaman Jepang, Gesang mencipta nyanyian kroncong "Bengawan Solo". Kawan dari Palembang heran, kenapa sungai yang hanya sebesar pematang itu disebut bengawan, padahal Musi hanya disebut sungai. Eh, ini soal buaya atau soal sungai!

Kembali ke soal buaya. Kabarnya di Afrika buaya juga jadi hidangan. Bayangkan, bagaimana kalau tiba-tiba dalam piring Anda ada anak buaya! Ini namanya satu lawan satu. Di tempat lain buaya makan orang, di Afrika buaya dimakan orang. Buaya sekarang diternakkan orang, untuk diambil kulitnya. Ada tas kulit buaya, sepatu kulit buaya, sabuk kulit buaya. Awas barang tiruan! Buaya dulu juga jadi merek pensil, dan sekarang merek baju kaos.

Rempah-rempah. Belanda sampai di Indonesia karena rempah-rempah. Tanpa rempah-rempah, orang hanya makan dengan garam dan gula. Tentu saja itu tidak sophisticated. Tapi kata kawan, masakan Belanda itu anyep, tidak ada rasanya. Ada malah ikan yang dimakan mentah, hanya pakai garam dan bawang. Masakan Jawa lain, sebelum dimasak ada yang digoreng dulu, ada yang bumbunya harus digoreng. Gulai bumbunya sampai tiga belas. Apa tidak hebat? Orang Amerika yang sekolah di STSI dulu tidak doyan cabe. O, ya. Kata orang, orang Indonesia itu berkeringat sehabis makan, tapi orang Barat berkeringat sehabis kerja. Itu sebabnya Indonesia dulu tidak maju.

Kata penatar P-4, Indonesia dijajah 350 tahun. Kata dosen sejarah saya, itu hanya mitos, itu bohong. Mungkin kurang, mungkin lebih. Aceh, misalnya, baru awal abad-20 dijajah. Irian dijajah sampai 1963. Dan Timtim? Sekarang kita masih dijajah, tidak penjajahan politik, tapi ekonomi dan kebudayaan. Ya lumayan, daripada semua dijajah. Ya politiknya, ya ekonominya, ya kebudayaannya.

Tebu.

Di pintu setiap tempat pesta perkawinan-oh, Sumiati-akan dipasang sepasang tebu. Itu lambang antebing kalbu, kemantapan hati. Artinya, sepasang pria dan wanita telah bertekad mengarungi hidup bersama. Tetapi itu pasti adat baru. Tebu baru dikenalkan oleh bangsa Portugis. Yang jelas, orang-orang Cina sudah menanam tebu untuk VOC di sekitar Jakarta . Dulu orang bikin gula dari kelapa, maka merah putih disebut juga gula kelapa.

Orang-orang tua dulu berbicara dengan lambang-lambang, tidak thok leh alias to the point. Tapi sering orang salah menafsirkan lambang-lambang itu, kadang orang hanya menangkap secara letterlijk, padahal hanya lambang. Misalnya, di Bayat, Klaten, di bukit Jabalkad, di makam Sunan Pandan Arang ada sebuah tempat air dari tembikar yang berlobang-lobang. Orang yang hanya menangkap yang lahir akan bilang, "Wah tempayan yang demikian, bagaimana mengisinya!" Memang itu hanya perlambang. Arti yang ada di balik tempayan itu ialah bahwa otak itu tidak akan penuh meskipun menampung banyak ilmu.

Kembali soal tebu. Sawah kakek ditanami tebu model TRI. Setiap kali panen, bikin pusing. Soalnya pabrik sering tidak cocok dengan petani masalah taksiran kandungan gula. Akibatnya, petani gurem selalu rugi.

Revolusi Industri di Indonesia ditandai dengan berdirinya pabrik-pabrik tebu. Pada saat it masuklah kapitalisme. Sejak itulah Indonesia menjadi bagian dari ekonomi dunia. Akibatnya, ketika di tahun 1930 ada malapetaka ekonomi dunia, Indonesia juga tersangkut. Rupanya, malapetaka dunia itu mempunyai pengaruh pada riwayat hidup saya. Kalau tidak ada malaise, Ki Lebdocarito tidak akan datang, dan riwayat hidup saya akan lain.

Logam .

Kepyak yang bisa bunyi crek-crek-crek dalam wayang dan gamelan itu biasanya terbuat dari perunggu, yaitu campuran dari tembaga dan timah. Dalam wayang ada 15 macam bunyi-bunyian, biasanya hanya dimainkan oleh 10 orang, jadi harus ada yang dapat memainkan dua instrumen.

Gamelan merupakan bukti bahwa nenek-moyang kita itu sudah hidup menetap, bercocok tanam dan beternak. Artinya, tidak lagi berburu dan berpindah-pindah tempat. Bagaimana tidak, untuk menggotong gamelan kesana-kemari itu sulit. Gamelan itu dapat membuat orang trance. Kalau gamelan hanya dipukul ning-nong terus menerus pasti dapat menyihir pendengarnya. Ada lagi gamelan kontemplatf, coba dengarkan gamelan sekaten, itu seperti orang berzikir yang setelah sampai langit lalu dibawa kembali ke bumi.

Sama-sama logam ada logam mulia atau tosan aji atau wesi aji. Misalnya keris. Keris yang bukan semata-mata barang hiasan, khasiatnya macam-macam. Ada yang bisa untuk mendiagnosa penyakit, ada yang bisa menyembuhkan, dan ada yang bisa untuk nyumpah. O, ya. Saya pernah melihat sendiri keris yang bisa berdiri diujungnya, kabarnya karena ampuh atau perbuatan jin.

(Dalam catatan Abu yang terakhir, nama Sumiati tidak lagi muncul. Mungkin Abu sudah lupa karena banyak pekerjaan , atau memang sudah dilupakan Tuhan, wallahua'lam).*

Dengan kudanya Abu mendekati pasar di dekat kantor kecamatan. Hari masih pagi, agak dingin di tempat itu, tetapi pasar itu sudahhidup sejak habis subuh. Hari itu Hari Pasar. Orang membawa kambing,kerbau,dan sapi di pasar ternak di sebelah selatan pasar, yang ada kayu-kayu tempat orang menalikan ternaknya. Los-los pasar juga sudah penuh.Mulai terdengar orang tawar-menawar, kumandang pasaritu. Abu berpikir, inilah kumandang pasar yang disebut oleh Ronggowarsito atau pujangga yang lain. Kalau pasar ilang kumadhange, wanita akan ilang wirange, kalau pasar hilang kumandangnya wanita akan hilangrasa malunya. Itulah kebudayaan kota, sebab toko-toko menempelkan harga, hingga orang tidak perlu menawar. Pasar itu ramai, orang-orang yang sedang menawarkan dagangan.

Ia menambatkan kuda di sebuah pohon waru, kemudian menuju bangku panjang di sebuah warung. Sudah ada tiga orang lain sedang makan. Mereka pasti mengantar para istri yang berdagang. Mereka bergeser memberi tempat. Abu melangkah, lalu duduk.
"Kok njanur gunung, tumben pagi sekali," kata perempuan setengah tua yang punya warung.

"Iya, mau keliling."

Perempuan itu memberikan segelas teh dan sepiring nasi di meja, dengan cepat seperti mesin. Abu mencuci tangan, mulai makan.

Ketika Abu sedang makan, seorang laki-laki memperlihatkan isi tenggok pada para lelaki di warung itu. Suaranya agak pelan, ragu-ragu, tidak profesional. Kayaknya ia orang baru dalam dunianya alias pedagang kagetan.

"Obat kuat, obat kuat! Kalau mencangkul, tahan lama, tidak ada encok, tidak ada pegel, tidak ada masuk angin."

Orang itu pergi. Rupa-rupanya ia tahu, tidak seorang pun di warung itu punya potongan untuk jadi pembelinya. Setelah orang itu pergi seperti terkejut Abu menghentikan makan.

Abu merasa ada yang tidak enak, lalu bertanya pada penjaga warung.

"Apa yang ditawarkan?"

"Ah, masa Pak Abu tidak tahu."

"Tidak."

"Sungguh?"

"Sumpah, tidak tahu."

"Sekarang kan sedang model.Entah, begitu mudah orang memperolehnya. Itu tadi potongan ular."

Pernyataan itu mengejutkannya, katanya:

"Ular dipotong-potong begitu?"

"Ya, tapi itu untuk yang sudah beristri."

"Masyaallah! Potongan ular! Direbus!"

Abu meninggalkan piringnya yang baru setengah dimakan. Ia berlari mengelilingi pasar mencari penjual itu. Penjual itu sedang sibuk membungkus dagangannya dengan daun jati. Ia dikerumuni para lelaki. Ada perempuan yang dengan malu-malu membeli,"Untuk kakek saya", katanya. Ada barang 20 potong sudah laku hampir dalam sekejap. Rupanya orang percaya bahwa ular adalah obat kuat. Dengan makan ular, badan akan panas, dan segalanya memuai.

Abu menyibak kerumunan itu. Sambil tersengal-sengal, katanya:

"Stop! Stop! Akan kubeli semuanya."

Terdengar orang bergumam. Di antaranya: "Ck, ck. Berapa istrinya?"

"Satu saja sudah begini," orang itu mengepalkan tangan dan mengencangkan otot lengannya.

"St, st. Ini kan Ki Abu Kasan Sapari!"

Rupanya nama itu punya arti. Orang-orang terdiam. Kata Abu:

"Jangan dijual lagi, Pak. Tunggu di sini, saya akan pulang mengambil uang. Berapa semua?"

Orang itu menghitung potongan ular, Abu melengos tidak sampai hati melihat potongan-potongan itu. Penjual menyebut jumlah dan harga. Kerumunan bertambah banyak, ingin tahu yang terjadi. Abu pergi, dan penjual duduk di bawah pohon munggur.

Abu membayar makanan di warung.

"Tidak dihabiskan?"

"Sudah kenyang."

Abu mengambil kuda, menuntunnya ke kecamatan dan menambatkan pada sebuah patok. Belum ada orang di kantor. Ia membuka kantor, mengeluarkan sepeda motor, lalu menghilang. Dunia ini serasa gelap.

Ia kembali ke pasar, membayar, menerima bungkusan plastik hitam. Menciumnya. Ia tahu kemana harus dibawa plastik itu. Dengan sepeda motornya ia pergi ke bawah, ke sebuah sungai yang berbatu-batu dan deras. Ia mengeluarkan potongan-potongan ular, dan dengan mantra yang biasa ia menghanyutkan setiap isinya, lalu membuang plastik hitam.

Ia terduduk di tepi jalan. Merenungi nasib ular yang sial itu. Pelan-pelan air matanya membasahi pipi. Bayangkan. Ular itu punya anak-anak. Ia sedang dalam perjalanan mengunjungi anak-anaknya sebab sudah janji. Tapi, tiba-tiba orang menangkapnya, mengurut badannya sampai remuk tulangnya. Lalu dipotong kepalanya. Lalu dipotong-potong badannya. Kemudian direbus dalam dandang di atas air mendidih. Diberi garam, bawang, dan mrica. Anak-anaknya masih di sana , menunggu-menunggu. Tetapi induknya tidak pernah akan datang, sudah jadi potongan-potongan. Abu tidak bisa menahan tangisnya.

2

Kemudian Abu kembali, melihat-lihat pasar. Ketika melihat dagangan orang ia lari ke tempat sepi. Lalu, "Hoo-ek, hoo-ek", ia muntah-muntah. Beberapa perempuan mengira dia masuk angin, lalu memijit-mijit pundaknya. Tetapi Abu menunjuk ke satu arah.

"Itu, potongan ular itu."

"Ini bukan ular tapi kutuk, ikan gabus."

"Ya, to?"

"Iya."

Untuk menebus kesalahan ia membeli ikan itu.

Tetapi, ketika ia akan makan ikan itu di rumah, yang ada di benaknya ialah ulardan sekali lagi hoo-ek, hoo-ek. Maka dibuangnya ikan tak berdosa itu.

3

Suatu hari ia sengaja datang pagi. Setelah menambat kuda di kecamatan dan memberinya makan dengan sebuah ember Abu berjalan menuju pasar. Yang paling mengasyikkannya ialah orang-orang yang sengaja datang pada hari itu untuk berjualan. Sebuah mobil menawarkan segala macam ramuan asli. Sebuah mobil yang lain menggelar baju-baju. "Obral besar! Obral besar", kata sebuah pengeras suara.

Ada mobil BKKBN mempropagandakan "keluarga kecil, keluarga sejahtera". Ada juga dijual kondom-kondom KB. Anak-anak yang berangkat sekolah mengerumuni mobil itu, tetapi ada yang mengusir mereka. "Ini tidak untuk anak kecil!" Semuanya pakai pengeras suara, sepertinya tanpa itu dagangan tak akan laku.
Abu tertarik dengan sebuah kerumunan orang, kata penjualnya lewat pengeras suara.

"Kadas, kudis, kurap, panu, rangen, koreng, gatal-gatal, segala sakit kulit akan hilang. Hanya dalam satu malam, hanya dalam satu malam sudah akan terasa hasilnya."

Orang itu menjual obat dalam bungkus-bungkus plastik transparan. Ia melambaikan plastik itu dan berkeliling di tengah kerumunan. Seorang pemuda yang jerawatnya sebesar bisul mendekat.

"Jangankan jerawat, udun juga hilang dengan obat ini. Sore makan, jangan heran jangan terkejut, kalau pagi hari sudah kering, ring. Tanpa bekas. Abon satu bungkus hanya seribu! Siapa cepat dapat, tidak cepat terlewat!"

Pemuda jerawatan mengeluarkan uang, memberikan uang itu, lalu menerima bungkusan dari penjual. Tidak seorang pun tahu bahwa dia adalah dolop yang sengaja dipasang untuk melariskan dagangan.

"Abon?" pikir Abu. Ia berjongkok mendekati penjual itu.

"Abon apa?" tanyanya.

"Abon yang membuat badan panas," kata penjual itu pada orang-orang yang berkerumun, jawaban yang tidak khusus untuk Abu. "Kulit panas, penyakit mengering. Ditanggung lebih murah dan lebih mujarab dari obat-obat toko ."

"Abon apa, Pak."

"Saudara-saudara. Ini abon, abon ular."

"Abon ular?"

"Betul, saudara-saudara. Ini abon ular, asli. Bukan plastik bukan keluwih. Kalau tidak percaya, boleh coba."

Seseorang dari kerumunan mencicipi abon itu.

"Asli," katanya.

Abu bergantian melihat plastik-plastik dalam dos kertas, penjual, dan kerumunan orang. Badan Abu dingin, keringatnya deras keluar. Ia terduduk, tak berdaya.

"Masya Allah! Abon ular!" dunia berputar-putar di kepalanya, dan tiba-tiba jadi gelap. Abu jatuh pingsan.

Orang-orang menggotong Abu ke kantor pasar. Di kantor itu ia dikenal baik. "Ki Abu Kasan Sapari," kata mereka. Di kantor itu memang tersedia PPK, dan orang menggosoknya dengan balsem supaya badannya panas.

Ketika tersadar ia segera berdiri:

"Abon!"

Tidak seorang pun mengerti maksudnya. Orang mau mencegahnya, tapi ia sudah di luar. Ia berlari ke tempatnya tadi. Tapi penjual abon sudah pergi, yang masih di situ hanya penjual pakaian. Abu menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi penjual abon itu tak nampak. Ia menghampiri penjual ronde di dekat tempat tadi, tapi perempuan itu menggeleng. Abu mengelilingi pasar, tapi penjual itu sudah tidak ada lagi. Kemudian berdiri terpaku. Beberapa lama, ia baru ingat kalau harus ke kantor.

Kadang-kadang terpikir pada Abu untuk pergi pada Pak Camat atau Kepala Pasar untuk menyatakan bahwa pemburuan dan jual-beli ular dinyatakan terlarang. Tapi pikiran itu dibuangnya, sebab kedengarannya tidak masuk akal. Melalui peraturan, tidak akan digubris orang. Jadi ia memutuskan masalah ular ialah masalah kesadaran, bukanmasalah kekuasaan.

4

Abu bersiul-siul. Kudanya berlari santai, di atas jalan yang dikeraskan dengan batu. Ke-ti-plak, ke-ti-plak. Tiba-tiba ia dikejutkan, orang berkerumun di sebuah tegalan ketela. Ia menghentikan kudanya.

"Ini mesti ular berbisa."

"Bawa ke dokter!"

"Bawa ke dukun!"

"Siapa punya tosan aji atau batu akik?"

Abu turun menuju kerumunan itu. Ia melihat seorang laki terbaring di tengah kerumunan, kesakitan. Ia menanyakan apa yang terjadi.

"Digigit ular!"

Aduh, ular lagi. Abu mendekat. Ia tidak yakin betul, tapi ada dorongan yang terelakkan untuk menolong orang. Kulit pun membiru, tanda racun sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Kakinya kaku. Badannya kejang-kejang.

"Mana yang luka?"

Orang menunjukkan kakinya yang digigit ular. Abu mengucapkan bismillah dan membaca mantra. Di sedotnya luka itu dengan kuat. Diulanginya sampai tiga kali. Pelan-pelan laki-laki itu membuka matanya, warna biru menghilang dari kulitnya. Abu sendiri keheranan, ternyata ia bisa menyembuhkan orang digigit ular.

"Ular! Ular!" kata orang itu sambil bangun.

Seorang perempuan, istri lelaki yang digigit ular itu menubruk Abu.

"Oalah, untung ada kau." Kemudian ia mengucapkan terima kasih atas pertolongannya. Berulang-ulang.

Sementara orang belum bubar ada yang mendengar suara "kresek-kresek-kresek" pada daun-daun kering. Betul! Seekor ular kecil sebesar ibu jari tangan belang-belang kulitnya berjalan santai di atas daun-daun kering.

"Ular! Awas jangan sampai lepas!"

Ular itulah yang telah menggigit, seperti seorang kriminil, ia datang lagi untuk melihat hasil kerjanya, barangkali. Orang pun menyiapkan batu-batu.

"Kurang ajar!"

"Mati kau sekarang!"

Abu melihat ada kemarahan pada wajah-wajah mereka.

"Tunggu!"

"Jangan mendekat. Itu berbisa!"

Abu membungkuk-bungkuk di bawah semak-semak. Dan, ya! Ular itu sudah di tangannya. Kerumunan itu mundur memberi jalan pada Abu. Dengan ular di tangan dan tatapan mata orang, Abu berjalan ke kudanya, lalu naik dan pergi. Orang-orang hampir tak percaya itu terjadi. Ketika kuda tidak tampak lagi baru orang-orang tersadar: itu sunguh-sungguh terjadi di depan hidung mereka. Mereka bubar, laki-laki yang digigit ular bahkan telah lupa kalau ia pernah digigit.

5

"Sudah waktunya kita berdamai dengan ular!" kata Abu dalam suatu rapat LMD (Lembaga Masyarakat Desa) Kalurahan.

Tegalmulyo mewakili PLK (Pengawas Lingkungan Kecamatan). Ia sudah dikirim seminggu penuh untuk latihan pelestarian lingkungan se-eks Karesidenan Surakarta."Ular adalah makhluk Tuhan juga, jadi kita masih saudara". Seorang menunjukkan jari:

"Pak, boleh tanya?"

"Boleh."

"Ular itu dua macam. Ada ular yang jinak, ada ular yang berbisa. Bagaimana kalau ular itu berbisa?"

"Ya, pokoknya jangan memusuhi. Kalau kita tidak mengganggu ular, ular juga tidak akan mengganggu kita. Manusia dan ular punya dunia sendiri-sendiri. Ular punya dunia, manusia punya dunia. Biarkan sungai mengalir, biarkan burung terbang, biarkan ular berdesir."

Terdengar gumam. Ada yang setuju, ada yang tidak.

"Menyakitkan hati sekali kalau ada sabuk dari kulit ular beneran. Untunglah, yang dijual di toko-toko hanya ular plastik," kata Abu.

"Pak, seumpama, ya. Artinya, mudah-mudahan tidak ada. Tetapi kalau ada yang digigit ular berbisa, bagaimana?"

"Laporkan ke kecamatan. Akan kita bentuk tim medis untuk menangani masalah itu."

Kemudian Abu melanjutkan. "Bapak-bapak dan Saudara-saudara. Apakah artinya itu? Kita harus memelihara lingkungan kita, jangan malah merusak. Umpamanya, kita jangan menebangi pohon seenaknya. Jaman dulu Gunungkidul itu tertutup hutan. Air melimpah, tidak ada kekeringan. Tetapi karena ulah manusia,sekali lagi, karena ulah manusia Gunungkidul menjadi gundul,sendang habis, sungai-sungai kering. Setiap musim kering sekarang untuk minum saja harus dikirim dari Yogya. Bukan tidak mungkin cucu-cucu kita akan mengalami hal yang sama. Prinsip melestarikan lingkungan ialah membiarkan sesuatu di tempatnya."

Di desa lain pokok yang selalu dikemukakan Abu ialah soal ular dan hubungannya dengan pelestarian lingkungan. Tidak ada lagi keluhan soal ular. Misalnya, seorang penduduk sedang kerja di ladang, ia akan melihat bahwa ada ular berarti ada kawan. Ular-ular yang berbisa tidak berani muncul untuk mengganggu manusia, sebab kawan-kawan sejenis akan mengeroyoknya.

6

Entah bagaimana caranya,anak-anak SMP di Kemuning waktu olahraga di lapangan kecamatan semuanya memakai kaos oblong dengan sablon gambar ular dan tulisan, "Ular adalah saudara kita". Gambar dan tulisan itu sebentar saja telah jadi mode di kalangan remaja. Toko-toko yang ada di sekitar pasar semuanya menjual kaos dari segala ukuran. Anak-anak yang lebih besar,pemuda-pemuda tani, buruh,pedagang, merasa ada yang kurang kalau belum memiliki kaos dengan gambar dan tulisan itu.

Regu bola voli, sepak bola, badminton, dan pencak silat yang memakai gambar ular dan tulisan itu memenangkan pertandingan. Genteng-genteng rumah yang sebelum1965 dilabur putih dengan tulisan "Manipol-Usdek" kini digambari ular dengan tulisan besar-besar-setiap huruf satu genteng-Saudara Kita. Kalau dulu berarti bahwa yang punya rumah revolusioner, sekarang berarti bahwa yang punya rumah peduli lingkungan.

Dari semua kegembiraan itu Pak Camatlah yang mendapat pujian. Dan Pak Camat tidak lupa menepuk-nepuk pundak Abu Kasan Sapari.

7

Di pinggir sebuah petak sawah, seorang gadis cilik sedang bermain umpetan dengan kawannya. Ibunya yang sedang menanam padi mengawasi anaknya sambil bekerja.

"Sudah, aku kalah."

Kawannya keluar dari semak-semak. Kawannya itu ternyata seekor ular! Ibunya berteriak-teriak, tetapi anak perempuannya tertawa-tawa.

8

Seperti biasanya, setiap musim panen pada musim kemarau di lapangan Kemuning selalu ada kompetisi sepak bola antar-desa memperebutkan Bupati Cup yang digilirkan pada pemenangnya. Yang dapat dimiliki secara permanen oleh ps-ps(perkumpulan sepak bola) ialah Camat Cup.

Penonton dan para supporter asyik meneriaki pemain bola:

"Masak larinya medal-medol kayak perempuan!"

"Ayo jangan kalah sama kuda!"

"Kalau tulangnya kurang keras, bisa diganti tulang banteng!"

"Aaa!"

Pada waktu itu ada penonton yang menunjuk ke sebuah tempat, pohon-pohon krangkungan dan jarak-yang di tempat lain sudah 25-an tahun hilang. Orang-orang di dekatnya lalu mengikuti telunjuk itu:

"Ular kok mau nonton bola."

"Nonton bola, apa nonton orang?"

"Kalau mau nonton bola ya kesini!"

Rupanya ular itu agak pemalu, dan kembali menelusup ke bawah pohonan perdu.

Pada suatu hari pasar. Meskipun sudah dengan pengeras suara dan sengaja dibawanya seseorang yang dilehernya seekor ular menggantung, tetapi tidak ada kerumunan di sekitar penjual jamu tradisional itu. Ia heran, biasanya orang datang bahkan tanpa ular. Ketika tahu bahwa ular termasuk binatang yang dilindungi di Kemuning, ia segera pergi meninggalkan tempat itu. Orang tidak lagi kagum pada pemelihara ular, sebaliknya malah membencinya.

10

Suatu hari di Pasar Kemuning. Orang-orang masih asyik berjualan. Pohon-pohon beringin yang tumbuh rindang di pasar itu menyejukkan udara yang mestinya gerah. Burung-burung banyak bersarang di pohon itu. Seorang perempuan yang menjual tape mau pulang, sebab dagangannya sudah habis. Dia terkejut:

"Lho! Topiku di mana? Pasti disembunyikan kiainya." Tidak sekali itu ia yang berjualan di bawah beringin kehilangan topinya.

Ia mendongak:

"Kembalikan topiku."

Dari atas pohon topi terjatuh. Siapa telah mengambil topinya?

Seekor ular bangsa siluman yang menunggu pohon itu telah meminjam topinya untuk bermain-main dengan anaknya.

11

Seperti sulap, rupanya berita tentang ular dan pelestarian lingkungan itu telah sampai Jakarta. Akibatnya, peringatan Hari Lingkungan akan dipusatkan di Kemuning. Peringatan itu akan dihadiri sendiri oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Suwarno Kusumohatmoko. Ki Lebdocarito pernah bercerita pada Abu bahwa nama Kusumohatmoko ialah nama yang beken di lingkungan Legiun Mangkunegaran. Yang wallahu a'lam ialah hubungan legiun dan jabatan menteri. Abu berpikir bahwa itu politik tingkat tinggi, bukan urusan dia sebagai orang kecil.

Pada waktu itu akan berkumpul para pemenang (I, II, dan III) lomba Darling (Sadar Lingkungan) dari tiga propinsi, yaitu pabrik-pabrik yang mengelola limbah dengan baik.

Untuk kesekian kalinya, Pak Camat menepuk-nepuk pundak Abu dan berkata:

"Pokoknya saya percaya seratus persen, seratus delapan puluh derajat padamu, eh tiga ratus enam puluh derajat!"

Keesokan harinya Pak Camat nylonong ke kamar Abu. Katanya:

"Wah saya tak sabar mendengar rencana itu."

"Saya ada pikiran begini, Pak. Kita dirikan tenda, kita buat panggung, dan kita wayangan."

"Setuju! Lakonnya apa?"

"'Perjamuan Ular', Pak."

"Ceritanya gimana?"

"Yang pakem, apa yang carangan?"

"Yang pakem dulu, lalu yang carangan."

"Yang pakem begini. Prabu Parikesit diramal seorang pendeta bahwa ia akan mati karena gigitan ular. Karena ular itu pasti tempatnya di bawah, dekat tanah, maka dia membangun menara yang tinggi sekali. Seekor naga, Naga Taksaka, berusaha merenggut jiwanya. Tapi apa akal, Prabu Parikesit tinggal di menara dijaga prajurit. Suatu kali dia melihat kesempatan. Seorang pendeta menghaturkan jambu air pada raja, ia menjelma jadi ulat dalam buah jambu. Tanpa curiga jambu pun sampai di meja raja. Maka Naga Taksaka keluar dan jadi naga yang sesungguhnya. Menggigit Raja Parikesit sampai meninggal. Prabu Janamejaya, anak Parikesit, ingin balas dendam. Diadakanlah sesaji ular, supaya ular dari seluruh dunia masuk dalam api pembakaran."

"Yang carangan?"

"Prinsipnya ialah membalas dendam itu bukan budaya Indonesia . Budaya kita menekankan harmoni, rukun, ada pepatah rukun agawe santosa, sama dengan "bersatu kita teguh". Lakonnya begini, Pak. Prabu Janamejaya tidak mengadakan "sesaji ular" tapi "perjamuan ular". Ia berpendapat bahwa matinya Prabu Parikesit itu takdir, pepesthening Hyang Widi, bukan karena gigitan ular. Ia ingin memutuskan mata-rantai balas dendam antara manusia dan ular. Bagaimana kalau begitu, Pak?"

"Wah, itu ide yang brilyan."

Entah bagaimana ceritanya, tetapi hampir semua orang tahu bahwa Abu punya ilmu pejinak ular.*

VV

DEMOKRASI MENURUT
ABU KASAN SAPARI

Berkat keberhasilannya memimpin Kemuning, Pak Camat dipromosikan jadi Pembantu Bupati di daerah Semarang . Perpisahan dengan Pak Camat dan serah-terima jabatan kepada Camat baru itu akan diramaikan dengan wayangan semalam suntuk. Di bawah ini adalah skenario wayangan yang dibuat oleh dalang Ki Abu Kasan Sapari. Judulnya "Bambang Indra Gentolet Takon Bapa" atau "Bambang Indra Gentolet Menanyakan Sang Ayah".

Wayang, seperti teater yang lain, terdiri dari tiga babak. Babak pertama adalah pengenalan persoalan, babak kedua krisis, dan babak ketiga adalah pemecahan. Selingan atau gara-gara dapat dilakukan di antara babak. Seni adalah lambang. Cerita di bawah ini mengisahkan partisipasi rakyat dalam pemerintahan. Itulah esensi demokrasi, kedaulatan rakyat, menurut dalang Ki Abu Kasan Sapari. Abu sadar betul bahwa wayang harus menghibur, jauh dari semboyan-semboyan politik, wayang harus tampak tanpa beban apa pun.

Bambang Indra Gentolet
Takon Bapa

Babak I

Adegan 1

Jejer. Padepokan Wanaraharja.

Dalang: Kata yang empunya cerita, di hutan Wanaraharja. Wana artinya hutan, raharja artinya selamat, jadi Wanaraharja ialah hutan yang serba selamat. Memang, sesuai dengan namanya, di situ serba selamat. Harimau bersahabat baik dengan rusa, buaya bersahabat dengan kambing, anjing tidak pernah bertengkar dengan kucing. Ibarat bunga, nama Wanaraharja harum sampai di mana-mana. Hutan Wanaraharja terletak dilereng gunung berapi yang sudah berhenti hingga tanahnya loh jinawi, tumbuhlah semua yang ditanam. Subur bila ditanami padi, baik kalau ditanami sayuran, cocok andaikata ditanami jagung, kelapa yang ditanam besarnya segajah-gajah.

Penghuni Wanaraharja adalah Hajar Subangun [HS], Endang Rara Daulati [ERD], dan Bambang Indra Gentolet [BIG].

Lampu warna merah. HS sedang omong-omong dengan ERD, tiba-tiba seorang cantrik datang.

Dalang: Tujuh belas tahun yang lalu, di Padepokan Wanaraharja ....

Cantrik: Mohon ampun kalau saya mengganggu. Ada raksasa-raksasa yang suka makan kerbau, sapi, dan rusa. Mereka rakus bukan main, mosok satu kali makan seekor kerbau habis. Tentu saja tanpa dimasak,tanpa garam, tanpa sambal, tanpa merica. Mereka membuang tulang di sungai sampai sungainya kayak dibendung, mbludag. Ternak digiring pergi dan sawah-ladang dirusaki.

HS: Ini namanya tumbu dapat tutup, malah kebetulan.

Cantrik: Lho!

HS: Iya. Begini saja. Umumkan kalau saya mengadakan sayembara. Hadiahnya tidak tanggung-tanggung. Siapa yang dapat mengusir para raksasa, kalau laki-laki muda akan saya jadikan suami ERD, kalau perempuan akan saya angkat jadi saudaranya.

Dalang: (Di kelir nampak Petruk). Masih sama lakonnya tapi ganti ceritanya. Siapa yang sedang berjalan? Di KTP nama resminya ialah Petruk. Tapi jejuluknya ialah Kantong bolong, sebab kantongnya selalu bolong, tidak pernah bisa menyimpan uang-karena tidak ada yang disimpan. Juga disebut Ronggungjiwan-loro mertanggung, siji kedawan-artinya, dua tidak nyampai, satu terlalu panjang. Dengan kapak tangan di pinggang, ia menjelajahi hutan, menaiki bukit, menyeberangi sungai untuk mengejar burung perkutut yang bunyinya yahut.

Cantrik: (Memukul bende di tangan). Pengumuman, pengumuman! Barang siapa dapat mengusir para raksasa, kalau laki-laki muda akan dikawinkan dengan putri Ki Hajar, kalau perempuan akan jadi saudaranya! Pengumuman selesai. (Memukul bende).

Petruk: Betul apa, Mase? Eh, Mas?

Cantrik: Jangan Mase. Jangan Mas. Tapi Ki, begitu!

Dalang: Maka Petruk pun lalu coba-coba ikut sayembara.

Perang dengan para raksasa. Para raksasa kalah sebagian karena dikili-kili, sebagian karena diamuk dengan pethel, lalu lari tunggang-langgang. Petruk dibawa menghadap HS. Nampak HS di kelir. Cantrik dan Petruk masuk.

Cantrik: Inilah orang yang dapat mengusir para raksasa. Namanya Petruk. (Menengok kepada Petruk). Kau ini orang atau jin? Makan nasi atau kemenyan?

Petruk: Jelas orang, kok. Lihat kakiku kan menginjak tanah. Makannya nasi, malah tiga piring.

Cantrik: (Berbisik pada Petruk). Mantu pendeta harus tahan lapar dan tidak ngantukan.

HS: Sabda pendeta itu tidak akan ditarik kembali. Petruk, kau jadi menantuku. Mari masuk Tamansari. (Mereka menghilang).

Adegan 2

Lampu biasa. Di pagi hari terdengar kicau burung. HS sedang berbicara dengan ERD. Rerasan kalau anak ERD yang bernama BIG sudah waktunya mengabdi ke kerajaan.

HS: Anakmu sudah besar. Ilmu silatnya sudah tinggi, tidak lagi memalukan. Membaca, menulis, berhitung sudah memadai. Tata krama, bahasa, sopan-santun sudah mumpuni. Maka, tunggu apa lagi, kalau tidak mengabdikan ilmunya?

ERD: Kalau pendapatmu demikian, saya juga setuju.

HS:Ah, yang bener saja. Nanti kangen!

ERD: Sumpah kok, Ayah.

Tidak lama kemudian datanglah BIG.

BIG: Semua teman kok punya bapak, saya kok tidak. Apa betul ayah saya jin? Eyang, Ibu?

HS: Tentu saja kau punya ayah manusia, dan bukan anak jin. Hanya sekarang tidak di sini. Ayahmu bernama Petruk dari Karang Gedempel, Amarta, yang sekeluarga menjadi punakawan Raden Arjuna.

ERD: (Menembang). Dhuh kulup putraningsun. Wancine wusprapti. Becik sira neng praja. Suwiteng narpati. [Hai, putraku. Kiraku sudah waktunya kau pergi ke kerajaan, mengabdi pada raja]. (ERD memberikan kapak tangan sebagai bukti). Ini serahkan Bapakmu dan salamku.

Adegan 3

BIG berangkat. Pengikutnya istimewa: gajah, harimau, celeng, kijang, menjangan, kuda, sapi, dan kerbau. Binatang udara, seperti elang, gagak, dan merpati, terbang lewat udara. Ada juga buaya dan ular..

oOo

Selingan 1Selingan 1

Dalang: Gara-gara! Siti Kamar Mandi disebut juga Siti Bakilah-karena pekerjaannya ialah mengisi kulah-dan Biyungnya. Mereka ikut sedih karena momongannya, BIG pergi.

Babak II

Adegan 4

ak II

Jejer Kerajaan Puserbumi. Raja dan Patih kesatria, tapi Senapati dan para tumenggung badannya kesatria dengan wajah raksasa.

Raja: Rakyat semakin banyak memerlukan tanah yang semakin luas. Yang makan bertambah,tapi yang dimakan tetap. Menurut perhitungan para ahli, 25 tahun lagi kita tidak akan bisa memberi makan penduduk. Sudah waktunya kita memperluas kerajaan.

Senapati: Katakan saja, kerajaan mana yang akan direbut?

Raja: Saya dengar berita, kerajaan Amarta subur. Kiranya itulah yang menjadi sasaran kita.

Senapati: Setuju!

Mereka lalu berangkat.

Adegan 5

Perang Kembang antara BIG dan binatang-binatang dengan para raksasa dari Puserbumi. Cakil menghadapi BIG.

Cakil: (Dengan sempritan). Prit, prit! Berhenti, berhenti. Siapa namamu, dari mana asalmu? Kalau kulihat-lihat, ini kesatria bukan, petani juga tidak. Cah bagus, jangan mati tanpa nama.

BIG: Orang kok tidak pernah mengaca.

Cakil: Kalau aku jelas. Meskipun badanku kecil, jelek-jelek aku ini termasuk raksasa prajurit.

BIG: Raksasa kok tidak menakutkan. Jangan mengaku-aku, to.

Cakil: Lho! Kok tidak percaya kalau aku raksasa. (Ia mengeluarkan suara tenggorokan tapi kecil).

BIG: Tidak menakutkan.

Cakil: Itu karena aku termasuk raksasa priyayi.

BIG: Kalau mengaku priyayi yang agak halus, to. Kalau tingkahmu begijikan begitu kan tidak meyakinkan.

Cakil: Kalau tidak yakin terimalah ini!

Mereka pun berperang. Cakil kalah dan lari. Kemudian disusul perang antara raksasa melawan binatang. Raksasa kewalahan dan lari.

Adegan 6

Jejer Amarta. Prabu Darmakusuma bertahta, dihadap Pendawa dan anak-anaknya, Gatotkaca dan Abimanyu. Datanglah Prabu Kresna. Mereka semua menghaturkan sembah.

Kresna: Saya tidak tahu, kok ada dorongan ke sini. Bagaimana keadaan Amarta, Yayi Samiaji?

Darmakusuma: Baik-baik saja.

Kresna: Werkudara, bagaimana keadaan Jodipati?

Werkudara: Wah, kalau bertanya itu jangan secara umum begitu, tapi lebih terperinci.

Kresna: Bertanya saja kok salah. Ya sudah, bagaimana pertanian, terutama urusan pengairannya?

Werkudara: Nah, begitu. Jadi jelas. Ada waduk yang sampai sekarang belum beres urusannya. Namanya Kedungombo.

Kresna: Arjuna, bagaimana Sembadra, Srikandi, dan Larasati?

Arjuna: Kanda itu jangan bikin malu di depan umum, to. Masak semua isteri disebut.

Kresna: Oalah, Adik saya. Begitu saja kok pura-pura malu. Malu atau bangga? Ingat lho,orang lain satu saja tidak habis. Nakula-Sadewa, bagaimana kadipatenmu?

Nakula+Sadewa: Baik-baik, Kanda.

Kresna: Gatotkaca dan Abimanyu?

Gatotkaca+Abimanyu: Baik-baik, Wak Prabu.

Pada waktu itu masuk penjaga perbatasan.

Penjaga: Celaka, celaka. Di perbatasan ada musuh dari Puserbumi. Mengusir semua orang dari rumah. Prajurit-prajurit sudah kalah.

Kresna memberi pertimbangan supaya mengirim Gatotkaca dan Abimanyu. Yang tua-tua mengamati dari jauh.

Adegan 7

Perang. Gatotkaca dan Abimanyu kalah,melapor. Kresna mengatakan memang kalah dan menang itu biasa. Jadi kalau lagi menang jangan menepuk dada, kalau kalah jangan kecil hati. Dia menyarankan supaya Arjuna berangkat minta nasihat Begawan Abiyasa.

Adegan 8

Jejer Astinapura. Raja Suyudana dihadap saudara-saudaranya. Juga hadir Resi Durna, Patih Sengkuni, dan Adipati Karna. Mereka membicarakan ulang tahun raja.

Suyudana: Aku berkeinginan kali ini ulang tahun raja dirayakan dengan pesta besar-besaran. Pakai kembang api impor.

Sengkuni: Itu betul, Sang Prabu. Supaya, orang tahu bahwa Raja Astina adalah raja besar. Supaya, orang tahu bahwa Astina punya tentara besar. Supaya, orang tahu bahwa rakyat Astina 100 persen mendukung raja. Supaya, orang tahu bahwa kekuasaan raja itu tak terbatas.

Durna: Stop, stop. Kok nrocos kayak talang bocor. Kekuasaan boleh tidak terbatas, tetapi bungkusnya harus yang baik-baik. Jadi tidak semata-mata, tidak menyolok begitu.

Sengkuni: Nanti dulu to, Pakde. Bicaralah yang konkret, yang nyata. Jangan berteori saja,di awang-awang. Bicara itu mbok yang membumi, to.

Suyudana: Bagaimana pendapat, Adipati?

Karna: Ya, asal tidak berlebih-lebihan.

Sengkuni: Kalau saya kok agak ngoyo sedikit tak apa. Tujuannya jelas. Kalau dirayakan kecil-kecilan itu malah akan mencemarkan nama Raja.

Suyudana: Kau belum bicara, Dur.

Dursasana: Saya ini monat-manut saja. Mana saja baiknya.

Suyudana: Adik-adik lain, bagaimana?

Kurawa : (koor) Setuju!

Sengkuni: Saya punya pikiran mengadakan berbagai macam perlombaan, seperti balap kuda dan balap kereta.

Suyudana: Kalau begitu pelaksanaannya saya serahkan pada Paman.

Sengkuni: Beres, beres.

Suyudana: Di mana arena balap itu akan dibangun?

Sengkuni: Desa Karangwuni.

Dursasana: Lho! Itu kan dekat Karang Gedempel, sudah termasuk Amarta, to Man.

Sengkuni: Itu urusan saya. Kalian tahu beresnya saja.

Di bawah pimpinan Sengkuni, orang Kurawa, Prajurit, dan pekerja berangkat.

oOo

Selingan 2

Dalang:Gara-gara!Semar, Gareng,dan Petruk di tengah jalan mengikuti Arjuna.

Babak Babak III

Adegan 10

Padepokan Wukir Retawu. Suasana sepi, tapi asri. Abiyasa dengan para cantrik. Disusul kedatangan Arjuna dan para punakawan. Mereka menghaturkan sembah.

Abiyasa: Selamat datang, Cucuku. Selamat datang Semar, Gareng, dan Petruk.

Arjuna: Saya datang ke sini, Eyang. Pertama-tama untuk menghaturkan sembah-sungkem dari kakak-kakak, adik-adik, anak-anak, dan seluruh kawula Amarta. Selain itu kami diutus untuk memohon nasihat Eyang. Kerajaan Amarta sekarang sedang diserang musuh yang sakti mandraguna.

Abiyasa: Cukup, cukup. Tidak usah diteruskan ceritamu, aku sudah mengerti. Ketahuilah, cucuku. Pertama, sekarang dunia sedang berubah. Ada peribahasa, "Tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati. Artinya, yang kecil berkuasa, yang besar kehilangan kekuasaan. Raja tidak lagi berkuasa. Kekuasaan harus ditopang oleh orang banyak. Kekuasaan itu tidak di tangan raja, tidak di tangan orang-orang besar, tapi di tangan mereka yang ada di bawah, mereka yang sekarang kita sebut wong cilik, yang disebut rakyat. Kekuasaan itu dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Rakyatlah yang berhak mengawasi kekuasaan, tidak sebaliknya. Karena itu berkuasa tidak boleh seenaknya sendiri, ojo dumeh. Kedua, kita harus menghormati rakyat. Karena, mereka punya hak-hak asasi, yang dianugerahkan Tuhan. Seorang penguasa adalah pelaksana, pengemban amanat Tuhan. Adapun hak-hak itu di antaranya adalah hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak memiliki. Hak hidup, artinya orang tidak boleh dibunuh, dan dijamin matapencariannya. Orang tua, jompo, dan yatim piatu harus dipelihara. Hak kemerdekaan, artinya orang tidak boleh diperbudak, ditekan, sebaliknya harus dijamin kemerdekaan beragama dan kemerdekaan ikut mengurus kerajaan. Hak memiliki, artinya ialah setiap orang dijamin untuk menikmati hasil kerjanya, kekayaannya. Ketiga, penguasa itu harus adil. Artinya, adil kepada sesama tanpa pandang bulu. Meskipun seseorang itu kerabat, teman, atau sekeyakinan, yang hitam harus dikatakan hitam, yang putih harus dikatakan putih. Jadi, paugerannya ialah rakyat, hak, dan adil. Itu yang harus menjadi landasan dalam memerintah.

Khusus mengenai kesulitan Amarta, nanti akan datang penolong yang berasal dari wong cilik. Maka, katakan pada saudara-saudaramu untuk tidak usah khawatir.

Kemudian Arjuna dan para punakawan mengundurkan diri.

Adegan 11

JejerAmarta. Kresna, Darmakusuma, adik-adik-kecuali Arjuna-dan para cucu. Arjuna dan para punakawan datang.

Darmakusuma: Selamat datang! Bagaimana saran Eyang Abiyasa?

Arjuna: Menurut Eyang Abiyasa kita tidak perlu khawatir sebab pada waktunya akan datang orang kecil sebagai juru selamat. Eyang berpesan supaya kita memperhatikan tiga paugeran dalam memerintah. Pertama, kekuasaan itu di tangan rakyat tidak di tangan para pembesar kerajaan. Kedua, rakyat itu punya hak, dan para pembesar harus menjamin terlaksananya hak itu sebagai amanat Tuhan. Ketiga, para pembesar harus bertindak adil, tidak boleh pilih-kasih, meskipun pada kerabatnya.

Pada waktu itu masuk seorang petani.

Darmakusuma: Ada keperluan apa kok tergesa-gesa? Dari mana kau, Pak?

Petani: Saya lurah desa Karangwuni di perbatasan. Wah, desa kami sedang geger. Orang Astina memancangkan patok-patok, kata mereka di situ akan dibangun arena balap kuda dan balap kereta.

Darmakusuma: Sekarang begini saja. Kembalilah ke desa, tenangkan semua orang. Kami segera menyusul.

Petani mundur. Masuk BIG.

Petruk: Duduknya yang sopan, tidak boleh jegang begitu!

BIG: Menurut adat kami inilah yang sopan, Pak.

Darmakusuma: Sudah-sudah, janngan mempersoalkan sopan-santun. Memang desa mawa cara, negara mawa tata, lain tempat lain kebiasaannya. Siapa namamu, dari mana asalmu, ada keperluan apa?

BIG: Nama: Bambang Indra Gentolet. Asal: Padepokan Wanaraharja. Keperluan: mencari ayah saya yang bernama Pak Petruk.

Darmakusuma: Apa engkau membawa barang bukti yang menguatkan pengakuanmu?

BIG menyerahkan barang bukti berupa kapak tangan.

Darmakusuma: Bagaimana Petruk, apa betul benda ini milikmu?

Petruk: Betul. (Kepada BIG). "Oalah,Le!"

Gareng: Kalau saya kok sudah menduga, ini mesti anaknya Petruk. Melihat srogal-srogolnya itu.

Kresna: Ini namanya kebetulan. Yayi Samiaji, suruh dia dan para punakawan menyelesaikan dua perkara. Kesatu mengusir musuh dari Puserbumi, kedua musuh dari Astina."

Bubaran. Para punakawan dan BIG segera berangkat.

Adegan 12

Perang para punakawan, BIG, dan binatang-binatang dengan raksasa dari Puserbumi, banyak yang mati dan yang hidup melarikan diri. Kemudian juga perang melawan kesatria dari Astina, mereka kewalahan dan melarikan diri.

Adegan 13

Semua sudah selesai, Amartamengadakan syukuran, andrawina. Sebagai tamu kehormatan BIG+Petruk menari. Itulah akhir cerita "Bambang Indra Gentolet Takon Bapa".

Tancep Kayon

(Tamat)

VI

WAHYU POHONAN

1

Abu Kasan Sapari sangat cocok dengan camat barunya. Pengetahuan teoretisnya banyak, tapi pengalaman lapangannya nol besar. Jadi kebalikan dari dia. Langkah pertama bagi camat baru ialah mengumpulkan para lurah dan pegawai kecamatan. Camat baru itu lulusan IIP (Institut Ilmu Pemerintahan), Jakarta. Abu menilai camat baru adalah seorang profesional tulen, bukan "orang baik" macam camat lama. Umurnya masih sangat muda dibanding camat lama, namun jauh lebih bersemangat. Setidaknya, ia bukan tipe "camat santai". Kabarnya dia sudah dicap bahwa kariernya seumur hidup hanya akan setingkat camat. Karena dinilai tidak loyal-istilahnya tidak monoloyalitas-dia tidak akan pernah menjadi Sekda Kabupaten, meskipun sebenarnya waktunya sudah sampai. Abu menyimpulkan menurut prejengannya (penampilannya) bahwa camat baru itu pastilah suka berterus-terang, tidak mudah tersinggung. Kalau Jawa ya Jawa pesisiran-lah, tapi jelas bukan orang Solo. Ia juga punya latar belakang agama yang lebih kental, suka mengutip Hadits Nabi. Itu memudahkannya untuk berhubungan dengan para lurah, karena persamaan referensi. Abu jadi orang kepercayaan Pak Camat, secara pribadi, dan karena tugasnya di Bangdes.

Dalam rapat pertama dengan para lurah dan pegawai Pak Camat sudah mengeluarkan jurus Hadits Nabi:

"Bapak-bapak. Kita semua adalah pemimpin,akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Begitulah menurut Nabi", katanya memulai pidato. "Lurah bertanggung jawab atas kelurahannya, camat atas kecamatannya, juru penerang atas tugasnya, polisi atas keamanan wilayahnya, dan seterusnya. Tidak seorang pun boleh mengaku bukan pemimpin. Suami bertanggung jawab atas keluarganya, istri bertanggung jawab atas kekayaan keluarga. Pembantu rumah tangga bertanggung jawab atas pekerjaannya. Kita semua adalah pemimpin. Ada pertanyaan Bapak-bapak?"

Seorang lurah menunjukkan jari.

"Kalau semua pemimpin, siapa yang rakyat?"

"Ya kita semua. Jadi sekaligus kita semua adalah pemimpin dan rakyat. Misalnya lurah adalah pemimpin di desanya, tapi sekaligus bagian dari desanya, dan bagian dari rakyat Indonesia. Setuju, Bapak-bapak?"

"Setujuuu!" kata mereka.

Seperti diketahui, para lurah biasa bersama-sama bilang 'setuju!' pada pidato pimpinan.

2

Supaya mempunyai visi dan missi di kecamatannya, bulan pertama bagi camat baru adalah waktu orientasi. Dalam kesempatan itu Abulah yang mengantarnya, karena dialah yang paling kenal lapangan. Dari hasil peninjauannya ke lapangan itulah dia mengumpulkan bahan pidato pengarahannya untuk konferensi mingguan. Setelah para lurah selesai dengan urusan soal PBB, statistik, dan sebagainya berkumpullah mereka untuk mendengarkan briefing tentang beberapa masalah aktual, seperti imunisasi, pertanian, keamanan, dan program lantainisasi (lantai ubin untuk keluarga Pra-Sejahtera). Kemudian mereka mendengarkan pengarahan dari Pak Camat:

"Bapak-bapak, saya sudah keliling. Ternyata pemanfaatan lahan sangat minimal di sini. Seolah-olah orang berpikir, 'Wong begini saja sudah hidup, kok repot-repot'. Cepat puas, itulah ciri kita sebagai masyarakat pertanian. Sikap serba menerima itu harus diubah menjadi hidup yang lebih dinamis kalau kita ingin survive dalam era globalisasi," ia berhenti untuk melihat reaksi yang hadir apakah kata-katanya dipahami.

Ia melanjutkan, "Sebagai pamong, kita harus bisa memandang jauh ke depan. Kali ini saya ingin menganjurkan agar di setiap pekarangan ditanam pohon jati. Pohon itu nanti akan mendatangkan uang, tidak sekarang tidak tahun depan, tapi suatu kali nanti untuk anak-cucu. Kita harus meninggalkan sesuatu untuk generasi yang akan datang. Sekarang orang berbuat sebaliknya, tambang digali, bukit dibongkar, dan hutan ditebang seenak udelnya, tidak sedikit pun terpikir menyisakan untuk anak-cucu.Kita harus berani mengubah mental aji mumpung semacam itu, meskipun orang lain akan menganggap kita bodoh.Dengan hanya menanam di pagar, setiap rumah bisa menanam lima sampai 25 batang. Mari kita bekerja untuk generasi yang akan datang. Bayangkan kalau 15, 25, atau 50 tahun lagi ditebang pohon-pohon itu, berapa harganya? Baru-baru ini seorang kawan telah membeli rumah, sawah,dan naik haji hanya dengan menjual pohon-pohon jati yang ditanam 50 tahun yang lalu oleh bapaknya, di pagar yang tidak terpakai. Dinas Pertanian akan menyediakan bibitnya. Sudah ada koordinasi dengan Perhutani. Ada pertanyaan?"

" Ada . Tanya, Pak. Ini instruksi atau hanya anjuran?"

"Instruksi."

Program camat itu kemudian dikenal dengan "jatinisasi".

Abulah yang diminta untuk menyukseskannya. Bibit-bibit jati kemudian didatangkan. Tetapi, tunggu punya tunggu tidak seorang lurah pun mengambil untuk rakyatnya. Para lurah hanya mengambilnya untuk ditanam sendiri. "Jatinisasi" ternyata tidak populer di masyarakat. Pada konferensi berikutnya lurah-lurah mengatakan kalau telah gagal meyakinkan penduduk. Pak Camat heran mengapa gagasan yang cemerlang itu tidak mendapat sambutan. Ia gelisah dengan kenyataan itu. Ia biasa bekerja di belakang meja, penolakan rakyat adalah pengalaman pertamanya; pengalaman baru yang menyakitkan. Pasti ada yang salah, dia berpikir.
Tidak ada orang lain yang sesuai untuk diajak bicara soal "jatinisasi" itu selain Abu dari Bangdes.

"Kenapa orang tak suka?" tanya Pak Camat pada Abu ketika ia dipanggil menghadap di kamar kerjanya. "Kenapa orang tidak memikirkan masa depan?" terusnya.

"Rambut bisa sama hitamnya, Pak. Tapi pikiran bisa lain," jawab Abu.

"Saya bisa memikirkan alternatif-alternatif. Misalnya mendorong orang untuk menanam cengkih. Tapi nanti orang akan menuduh saya berkolusi dengan BPPC atau pabrik rokok. Kalau jamur dikira kongkalikong dengan perusahaan pengalengan jamur. Kalau ayam dikira bersekongkol dengan pabrik makanan unggas."

"Itulah, Pak. Mengelola orang itu lain dengan menulis angka di belakang meja. Kecamatan itu isinya orang, bukan barang. Saya setuju dengan jatinisasi, tapi caranya perlu diubah."

"Caranya bagaimana? Kita tidak boleh mundur. Mundur hancur."

"Menurut kursus teknologi pedesaan dulu, kaidah pertama ialah sosialisasi".

3

"Camat itu ibarat raja di kecamatannya," kata Pak Camat pada Abu. "Seorang dosen di IIP, Almarhum Pak Soe marsaid Moertono yang saya masih selalu terbayang-bayang sosoknya, mengatakan bawa raja itu mempunyai tiga macam wahyu. Wahyu nurbuwat, artinya raja mempunyai kekuasaan, raja dapat menentukan abang-birunya kerajaan, kalau sekarang ya hijau-kuning-merahnya wilayah. Kedua, wahyu hukumah artinya wewenang mengadili, yang sekarang ada pada pengadilan. Ketiga, wahyu wilayah, artinya ia adalah wali Tuhan, harus menjadi contoh bagi masyarakatnya."

Abu gelisah dengan pernyataan itu. Katanya:

"Jangan nurbuwat-nurbuwatan to, Pak. Jangan tuntas, tuntunan dari atas begitu. Itu filsafat kuna, waktu orang masih bodoh. Sekarang tidak mungkin lagi. Kita perlu bermusyawarah dulu dengan penduduk. Apa yang mereka inginkan. Memerintah itu seperti orang naik kuda, kita harus manunggal dengan kuda," Abu teringat lurah bekas kavaleri yang mengibaratkan rakyat dengan kuda yang harus dimengerti kemauannya.

"Wah, kau lebih pintar dari ijazahmu, lebih matang dari umurmu. Meskipun tidak setuju, pikiran itu boleh juga."

Ketika Abu keliling dengan sepeda motornya, ia disambut dengan tergopoh-gopoh oleh Lurah Girimulyo.

"Akibat dari instruksi jatinisasi itu saya ditinggalkan penduduk. Coba, PakAbu. Lurah tidak disuruh menyambut waktu pernikahan. Lurah juga tidak diminta menyambut waktu ada kematian."

"Ah, itu hanya kebetulan, Pak."

"Kebetulan? Tidak mungkin. Ini cara penduduk untuk menyatakan ketidaksetujuan. Itu namanya protes diam-diam."

Semua lurah yang dikunjungi hari itu menyatakan hal yang sama. Juga lurah yang dikunjungi hari-hari berikutnya. Ia melapor pada Pak Camat. Tapi camat itu mengatakan:

"Gunakan segala cara. Sebelum ini berhasil tidak akan ada program lain. Dinas pertanian kabupaten sudah ada rencana pemanfaatan pekarangan secara tumpang-sari."

Aksi boikot penduduk tidak mempengaruhi kehadiran para lurah pada konferensi bulanan, yang dijatuhkan pada setiap tanggal 17 itu. Tetapi banyak lurah mengatakan pada Abu bahwa mereka datang sekadar memenuhi formalitas.

4

Sebagai biasanya, perayaan Agustusan di Kecamatan Kemuning, selain upacara bendera juga akan diadakan wayangan. Pak Camat datang memanggil Abu ke kantor. Camat yang sekarang selalu memanggil Abu ke kantor; berbeda dengan camat dulu yang biasa nylonong ke kantornya. Abu sadar benar tentang perbedaan camat lama dan camat baru, tetapi dia hanya tersenyum melihat tingkah orang. Waktu sekolah dulu ia sering diajak mengantar turis ke berbagai pertunjukan kesenian. Rumus "tout comprendre est tout pardonner" (mengerti berarti memaafkan) untuk para turis diberlakukannya untuk camat baru.

"Pak Abu, apa lakon kita?" Camat baru itu biasa memanggilnya dengan 'pak', mungkin karena dia bukan semata-mata pegawai tapi juga dalang.

"'Wahyu Pohonan'. Bapak kan sedang punya proyek jatinisasi?"

"Setuju."

"Pohon jati, lho Pak. Bukan pohon lainnya. [Maksudnya bukan Randu]. Wayang itu jangan terlalu banyak pesan. Nanti sifat tontonannya hilang."

"Ya, ya. Saya mengerti. Saya mendukung."

Betul, waktu itu di kota kecamatan dan di desa-desa orang akan mendengarkaan sebuah tape gamelan sampakan dan sebuah dokar dengan penumpangnya membawa sebuah horn. Setiap kali tape sampakan itu berhenti, akan terdengar dari pengeras suara, "Halo, halo. Nanti Sabtu malam atau malem Minggu, tanggal 19 Agustus di halaman kecamatan akan diadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Abu Kasan Sapari dengan lakon 'Wahyu Pohonan' alias 'Kresna Murca'".
Ada peristiwa yang pasti menjengkelkan Pak Camat. Kursi-kursi depan yang disediakan untuk para lurah dan istri hanya terisi sepertiganya. Meskipun kehadiran itu sukarela, tetapi setengahnya bersifat dinas. Bagi Pak Camat kenyataan itu menggelisahkan. Dia mondar-mandir memegang-megang tangannya. Berbisik-bisik pada panitia supaya kursi-kursi depan diisi keluarga pegawai kecamatan. Sebentar saja kursi-kursi itu penuh. Aksi boikot para lurah jelas disebabkan instruksi "jatinisasi". Jadi penduduk memboikot lurah, lurah membikot camat. Klop!

5

Lakon itu menceritakan bahwa Batara Kresna menghilang dari kerajaan. Pada waktu yang sama ternyata Amarta diserang pageblug (epidemi), sore sakit pagi mati, pagi sakit sore meninggal. Sementara itu Amarta dimintai tolong Astinapura yang sedang diserang musuh yang sangat sakti, sehingga tidak seorang pun dapat mengalahkan rajanya. Karena pusing memikirkan dua hal itu Prabu Darmakusuma menyuruh Arjuna minta nasihat Abiyasa.

Abiyasa memberi nasihat tentang pageblug dan tentang musuh yang mengancam Astina. Mengenai yang pertama, ia menganjurkan agar setiap rumah dipagari dengan pohon jati dan agar setiap orang selalu eling (ingat) kepada Tuhan. Eling itu seperti pohon yang kokoh, yang akarnya jauh menghunjam ke bumi dan cabangnya menembus langit. Eling adalah pemahaman yang benar tentang keesaan Tuhan, perkataan yang lurus, dan perbuatan yang baik. Mengenai musuh yang menyerang Astina, dianjurkannya supaya yang menghadapi raja sakti itu ialah wanita, yaitu Subadra. Tidak dengan senjata, cukup dengan berteriak 'kakang, kakang'.

Akhir cerita, raja sakti berubah ke asalnya, yaitu Kresna, pageblug pun hilang.

6

"Lho, kok bukan pohon Randu? Nanti saya kena marah lagi," kata Pak Camat pada Abu di kamar kerja camat bergurau.

"Jati atau Randu, Pak?"

"Jati ya jati saja."

"Kesenian itu berbeda dengan kekuasaan. Kesenian membujuk, kekuasaan memaksa. Kesenian berbicara dengan lambang, kekuasaan thok-leh. Kesenian itu sinamun ing samudana, tersamar, tidak langsung. Semua ada tempatnya. Orang Jawa itu tanggap, Pak. Jangan blak-blakan, jangan menggurui, jangan dikatakan semuanya."

"Ya kalau orang mengerti, kalau tidak bagaimana?"

"Kalau tidak, ya diulang-ulang sampai orang mengerti. Kesadaran itu datangnya harus dari dalam, tidak bisa dipaksakan dari luar. Perkara orang tidak mau sadar juga, itu sudah di luar urusan kita."

Camat mengira wayang itu tidak akan efektif. Tetapi, di luar dugaan semua orang, bibit-bibit jati di kecamatan habis dalam beberapa hari. Ibaratnya, "larang diserang,murah dirayah" (mahal dibeli, murah dijarah). Kecamatan terpaksa menghubungi pihak Perhutani untuk mendapatkan bibit-bibit baru.

"Sudah menanam pohon jati?" orang akan bertanya pada tetangga.

"Belum!"

"Wah, kau ketinggalan zaman! Tidak berpikir masa depan."

7

Dalam rapat dinas di Kabupaten, Bupati menyinggung-nyinggung bahwa ada camat yang gagal memimpin daerahnya. Camat kita merasa bahwa dialah yang dimaksud. Dia sudah dag-dig-dug ketika seorang pegawai mengatakan bahwa Pak Bupati mengundangnya.Lhadalah! Dia disuruh menutup pintu,agar orang lain tak mendengar. Pintu ditutup, jeglek!

Di luar sangkaannya Bupati mengulurkan tangan.

"Selamat, ya!"

Agak ragu-ragu dia menerima tangan Pak Bupati.

"Tapi jangan heran kalauada oknum politikyang terlalu bersemangat dan menginginkan pohon Randu, dan bukan pohon jati. Ini tidak menyenangkan, tapi itulah realitas kita. Kalau saya ya dua-duanya.Keduanya adalah loro-loroning atunggal, dua sisi dari mata uang yang sama, jadi tak terpisahkan. Yang satu pembangunan ekonomi, yang lain pembangunan politik. Jati adalah point of entry yang baik bagi masuknya pohon Randu. Yang bener menurut kita belum tentu kebeneran untuk orang lain. Karena itu pandai-pandailah berenang, supaya tidak tenggelam."

8

Ada orang melapor ke kecamatan bahwa di desa Candisari ditemukan pecahan tembikar dan uang dari emas dekat sebuah gundukan yang dipercaya orang ada candinya. Sementara pihak kecamatan menghubungi dinas-dinas yang berwenang, situs Candisari diamankan. Sebenarnya tanpa dijaga pun tidak ada orang berani mendekat, sebab orang percaya bahwa gundukan itu dijaga ular-ular piaraan Sunan Lawu, raja siluman penjaga Gunung Lawu. Ular-ular itu bersembunyi di sebuah gua dekat patung kuna.

Dinas SPSP (Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala) Jawa Tengah datang untuk meneliti tempat itu. Patung-patung kuna ditemukan, dan dipastikan bahwa tempat itu perlu digali. Lurah Candisari mengajukan dua syarat. Pertama,ular-ular di sana dihilangkan. Sebab, dulu pernah ular-ular mengamuk karena seseorang berusaha mencangkul tanah untuk tegalan di tempat itu. Tiba-tiba saja ular ditemukan di mana-mana: di kamar mandi,dekat gentong, di kebun, bahkan dalam rumah. Kedua, diadakan selamatan dengan menanggap wayang. Seseorang pernah bermimpi bahwa ia didatangi orang tua,dan mengatakan bahwa ia mau pergi kalau diantar dengan pementasan wayang. Camat menerima kedua syarat itu, dengan pikiran pada Abu. Mengenai wayang jelas Abulah orangnya. Akan tetapi mengenai ular Pak Camat minta Abu mencari dukun untuk mengusir ular itu.

Tetapi, Abu berpikir lain. Pekerjaannya yang pertama-tama adalah menyelamatkan ular-ular itu. Pada suatu hari Abu datang ke Candisari. Orang-orang mengkhawatirkan dirinya ketika ia mendekati gua. Orang banyak berdatangan ke situs untuk menyaksikan apa yang akan dikerjakannya. Ternyata, Abu keluar dari gua dengan ular sebesar paha melilit tubuhnya, lalu dibawanya pergi dengan sepeda motor. Ular, entah siluman atau bukan.

"Percayalah, ular tidak akan mengganggu lagi," katanya pada orang yang masih berkumpul dekat situs.

Tidak seekor ular pun nongol di rumah penduduk. Ada berita bahwa ular-ular pergi begitu saja, setelah Abu berhasil meyakinkan Sunan Lawu bahwa waktunya sudah tiba bagi ular untuk meninggalkan tempat itu. Seorang penduduk mengatakan bahwa ia melihat, malam-malam ada rombongan ular keluar dari tempat itu.

Kemudian Abu menemui Lurah Candisari untuk keperluan wayangan itu. Disepakati bahwa dalam kesempatan itu akan dipentaskan lakon Babad Alas Wanamarta (Membuka Hutan Wanamarta).

"Tidak akan ada sesajen," kata Abu. "Itu tidak termasuk permintaan dalam mimpi."

Candi "baru" itu kemudian diberi nama Candi Kemuning.

9

Nama Kemuning muncul di koran-koran. Adanya candi "tiban" itu telah menjadikan Kemuning objek wisata budaya. Bersama dengan Sukuh dan Ceta, lengkaplah kepurbakalaan di daerah itu. Selain itu, di Kemuning ada kebun-kebun teh (dan pabriknya), kebun kopi,hutan karet, dan belakangan orang juga menanam sayur. Pemerintah Mangkunegaran dulu menyewakan daerah itu pada pekebun-pekebun Belanda, sekarang sebagian dimiliki pemerintah sebagian perkebunan rakyat. Kemuning dapat jadi tempat agro-wisata. Lebih indah dari Tawangmangu, tempat peristirahatan itu. Dari Kemuning orang dapat menikmati matahari kemerahan waktu terbit dan tenggelam. Ditambah dengan adanya jalan-jalan yang mulus sampai puncak-puncak bukit-untuk ini Pemerintah Orde Baru patut mendapat acungan jempol-Kemuning bisa berkembang.

Betul, beberapa bulan kemudian seorang investor menemui Pak Camat. Investor itu dibawa camat dan Abu berkeliling.

"Kami akan menyulap Kemuning jadi daerah wisata," kata investor.

"Caranya?"

"Kami akan bangun hotel berbintang, asal ada tanahnya."

"Tentu. Berapa hektar saja."

Kabar mengenai bakal ramainya Kemuning itu segera tersebar ke seluruh penjuru kecamatan. Mula-mula berita itu milik sedikit orang, ibu-ibu PKK, para lurah, dan pegawai kecamatan, kemudian tersebar. Tua-muda, laki-perempuan semua membicarakan bakal ramainya Kemuning. Wah, wah! Di pasar, di pos-kamling,di pesta-pesta perkawinan dan sunatan, di masjid, di surau, di kebun, bakal ramainya Kemuning selalu menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Wah, wah! Pak Camat sendiri dalam koferensi lurah-lurah dan pegawai kecamatan mengumumkan kesepakatan dengan seorang investor. Lurah-lurah berebutan menawarkan tanah kas desa untuk menjadi lokasi hotel itu.

Dengan mudah investor mendapatkan tanah. Karena hotel dibangun dalam hubungannya dengan agro-wisata, maka sawah, kebun, tegal, dan tanaman jeruk harus ditata. Selain sedap dipandang, juga diharapkan bahwa para turis (wisman, wisnu) dapat ke kebun, ikut memanen tanaman. Disepakati bahwa apel, rambutan, dan anggur akan ditanam di Kemuning. Yang menjadikan heboh ialah pasar dan terminal harus dipindah. Bekas pasar akan dijadikan taman, hijau dan penuh bunga. Terminal yang sekarang untuk berhenti colt juga harus dipindah, karena tidak memenuhi syarat keindahan, sesuai dengan pola tata ruang. Investor menyodorkan rencana penataan ruang, tidak saja di sekitar hotel tapi di seluruh kecamatan. "Kami akan menyulap kecamatan ini menjadi model kecamatan bukit masa depan," kata investor pada camat. Pak Camat pun senyum-senyum harap-harap cemas, harapan bahwa kecamatannya akan maju, dan cemas kalau rakyat tidak bisa diajak kerja sama. Penataan ruang itu dibeberkan langsung oleh perusahaan di depan pertemuan para lurah.

"Bapak-bapak harus kerja keras," kata pemapar.

Lurah kotalah (maksudnya lurah yang membawahi ibu kota kecamatan) yang paling banyak garuk-garuk kepala. "Bagaimana caranya memindahkan pasar?" pikirnya. "Memindahkan terminal mudah, tapi memindahkan pasar?" Seingatnya pasar itu sudah di sana sejak dulu, mungkin sejak adanya masyarakat di Kemuning.

Kekhawatiran lurah itu menjadi kenyataan. Dalam rapat LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) warga menolak rencana pemindahan pasar. Hasil rapat itu diberitahukan pada camat dalam pertemuan mingguan.
"Ini pemberitahuan sebuah keputusan, jadi bukan soal setuju atau menolak. Pasar itu dibangun di atas tanah negara. Dan negara bermaksud memindah pasar itu. Titik. Kalau setiap kali dimusyawarahkan, kapan majunya! Pengalaman di tempat lain, kalau pasar dan kios sudah dibangun orang berebutan menempati."

Sebuah pasar baru dibangun. Kios-kios didirikan, los-los diletakkan. Dalam waktu singkat, enam bulan, sebuah pasar baru sudah berdiri. Para pedagang diminta pindah. Memang rupanya Pak Camat benar. Untuk penyewaan kios, camat sudah mengatur dengan BRI (Bank Rakyat Indonesia) agar yang tak punya uang untuk menyewa kios dan los diberi kredit. Camat itu tahu persis apa yang harus dikerjakan.Orang memanfaatkan kesempatan itu. Camat itu memang kerjanya rapi, tapi sedikit otoriter. Ketika los-los pasar lama dirobohkan, orang-orang yang menonton di pinggir menangis. Los-los itulah yang memberi mereka makan. Pasar lama selesai dibongkar, pasar baru selesai dibangun, para pedagang pindah ke pasar baru. Rumput-rumput Manila, bougainville, dan bunga mawar ditanam di bekas pasar.

Kata Pak Camat kepada para lurah:

"Masa lalu harus memberi tempat bagi masa depan!"

10

Camat kita menunjukkan bakatnya yang luar biasa sebagai juru runding. Dia pantang mundur, blak-blakan, bersih, dan lebih dari segalanya, ia sungguh-sungguh memikirkan wilayah dan rakyatnya. Dalam perundingan dengan investor hotel, dia berhasil membujuk supaya pasokan buah-buahan dan tenaga menguntungkan petani dan tenaga kerja di wilayahnya. Tidak ada dalam benaknya pikiran mendapatkan kesempatan memperkaya diri. Padahal ke- sempatan itu sebenarnya berlimpah-limpah. Tanah negara yang dipakai untuk hotel dirundingkannya sebagai modal usaha, tidak dijual. Namun, ia tidak bisa mencegah ketika tanah-tanah penduduk yang dipakai hotel ditukar dengan sepeda motor.

Abu berpendapat bahwa Pak Camat sungguh patut mendapatkan julukan "Camat Teladan", seperti selalu diberikan Bupati setiap 17 Agustus. Hanya kurang dari dua tahun kecamatan telah menuju perubahan. Tetapi Abu salah sangka, tidak demikian yang terjadi. Camat tidak bisa berbuat apa-apa ketika Mesin Politik berusaha untuk memindahkan sebelum waktunya, dan rasanan itu sudah beredar di Kemuning jauh sebelumnya. Pasalnya, lurah-lurah yang dijagoi Randu banyak yang kalah di kecamatannya. Gara-gara itu ia dinilai tidak serius memperjuangkan Randu. Ada andil Abu dalam kegagalannya, dan itu membuat Abu tidak enak dengannya pada hari-hari terakhirnya.*

VII

ABU VERSUS MESIN POLITIK, BOTOH, DAN DUKUN

1

BU VERSUS MESIN P

Di Kemuning ada sembilan lurah yang habis masa jabatannya dan Pilkades akan dilaksanakan serentak di seluruh kecamatan. Balon-balon (bakal calon) lurah harus mendaftarkan diri di kecamatan, kemudian sebuah tim penguji yang diketuai camat akan mengadakan ujian. Tim penguji berhak menentukan siapa yang dapat menjadi calon. Ada perbedaan pendapat antara Mesin Politik dan Pak Bupati. Dalam pertemuan dengan para camat sekabupaten Bupati memberi "Petunjuk Politik" agar jarak antara pengumuman dan pemilihan dipanjangkan kira-kira dua minggu. "Itu baru fair kepada rakyat", katanya. Mesin Politik menghendaki agar jarak waktu antara pengumuman dan pelaksanaan pemilihan itu singkat saja, umpamanya tiga hari, sehingga hanya orang-orang pilihan Mesin Politik akan menang, sebab merekalah yang paling siap, paling terorganisir, orang-orangnya pasti lulus ujian, dan Mesin Politik itu weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum kejadian) karena ada rekayasa. Biasanya calon yang dijagoi Randu pasti menang. Menang sebelum pemilihan.

Maka pagi sekali begitu kantor buka, dan Pak Camat melihat kuda Abu di tambatan, ia segera pergi ke kamar Abu untuk memanggil ke kamarnya. Pak Camat bercerita bahwa kemarin beberapa orang dari Mesin Politikdatang kepadanya, memintanya supaya ia mengumumkan balon-balon yang lulus tiga hari sebelum hari-H (Hari Pemilihan). Alasan yang dikemukakan ialah soal keamanan: Tidak baik ada ketegangan berlarut-larut antar penduduk. Kepada orang-oang itu Pak Camat mengatakan bahwa ia memahami sepenuhnya, tetapi masih menunggu instruksi tertulis dari Bupati.

Katanya pada Abu:

"Saya adalah bawahan bupati. Menurut peraturan saya harus patuh pada Pak Bupati". Lalu sambil duduk ia memperlihatkan selembar kertas dengan tandatangan Bupati. Surat itu berisi instruksi supaya pemilihan lurah dilaksanakan dua minggu sesudah pengumuman, agar para calon dan pendukung dapat berbenah diri.

"Bagaimana pendapatmu?"

"Wah, kalau saya ya harus menurut instruksi. Manut itu enak, Pak. Artinya lepas dari tanggung jawab."

"Begitu, ya?" Pak Camat mengangguk-angguk.

"Iya, Pak."

Pak Camat melepas Abu dari kamar dengan lega. Entah apa sebabnya Pak Camat menganggap Abu Kasan Sapari mewakili hati nurani, yang polos, terbebas dari segala macam polusi. Ia memerintahkan Sekcam (Sekretaris Kecamatan) untuk membuat konsep SK Camat yang berisi bahwa Pilkades diadakan dua minggu setelah pengumuman.

2

Hari berikutnya setelah pengumuman ada kesibukan luar biasa di Kemuning. Mesin Politik berusaha supaya calonnya terpilih. Dikabarkan bahwa sebagai balasan atas dukungan Mesin Politik, para calon menjanjikan tanah kas desa untuk kegiatan apa saja dari Mesin Politik. Selain itu juga dijanjikan bahwa kalurahannya akan menjadi basis utama dari Mesin Politik. Yang tidak pernah dijanjikan-tapi sewajarnya demikian-ialah bahwa uang kas desa akan dipakai untuk keperluan dana kampanye pemilu Mesin Politik. Meskipun demikian, karena kucuran dana dari atas telah mencukupi dan uang kas desa praktis tidak pernah disentuh.

Kampanye Pilkades pun mulai. Bahasa yang dipakai oleh para kader (petugas kampanye) hampir sama. Mereka akan mulai dengan pernyataan dan pertanyaan, "Kedatangan saya kemari ialah pertama untuk silaturahmi. Kedua, untuk bertanya apa Anda sudah punya calon." Kalau orang yang diajak bicara mengatakan 'belum' baru disebutkan nama dan tanda gambar calon.

Kabar mengenai pemilihan lurah di Kemuning sudah didengar oleh media massa yang telaten nongkrong di Pemda. Seorang wartawan dari Suara Bengawan menemui Pak Camat dan oleh camat diverwijs pada Abu Kasan Sapari. Abu mengatakan bahwa banyak hal menarik yang perlu diberitakan. Kemudian dia bercerita tentang campur tangan Mesin Politik, adanya botoh, dan peran dukun dalam Pilkades. Wartawan itu diberi kebebasan untuk meliput. Dia juga memberikan jadwal dia akan mendalang untuk mendukung calon. Wartawan itu berjanji akan datang nonton, untuk mengetahui efektivitas kesenian dalam politik.

Wartawan itu mempunyai sepeda motor, sehingga tidak ada kesulitan untuk hilir-mudik. Laporan wartawan itu akan dimuat berturut-turut di koran selama dua minggu, untuk memberi gambaran dari dekat mengenai pemilihan lurah, demokrasi di tingkat desa.

Sejak saat itulah Abu Kasan Sapari akrab dengan kawan wartawannya. Wartawan itu anggota AJI (Asosiasi Jurnalistik Indonesia). Masih muda, bersemangat. Ia mengatakan pada Abu bahwa jurnalisme dipilihnya sebagai profesi, dan sebagai alat untuk memperjuangkan keadilan dan demokrasi. Ia hanya mengandalkan hati nurani, tidak segan-segan melakukan kritik kepada siapa pun.

Randu, botoh, dukun, dan tokoh-tokoh lokal berusaha mempengaruhi jalannya pemilihan lurah dengan berbagai cara. Kemenangan dalam pemilihan lurah mempunyai makna sendiri bagi yang berkepentingan. Bagi Mesin Politik kemenangan Pilkades berarti kemenangan dalam pemilu nanti, uang bagi botoh, prestise bagi dukun, dan sekadar rezeki bagi orang-orang lain. Di sini akan diceritakan bagaimana mereka bersaing, dan siapa yang memenangkan pertarungan.

3

Gondangsari adalah desa yang paling strategis di kecamatan. Desa itu desa terkaya di kecamatan. Sawah-sawahnya subur, ada perusahaan kulit, ada perusahaan batik, ada perusahaan mebel, ada perusahaan kaleng bekas yang membuat kompor dan ember, ada perusahaan anyaman. Pendek kata desa itu tidak melulu desa pertanian. Orang-orang dari desa sekitar berdatangan ke Gondangsari untuk bekerja. Pemuda-pemudanya menjadi idola gadis-gadis sekitar, ada perkumpulan larasmadya-tembang dan tabuhan-yang biasa ditanggap orang-orang dari desa sekitar. Listrik PLN sudah masuk, jalan antarkecamatan beraspal membentang di tengah desa. Desa itu menjadi desa Pelopor P-4. Jalan-jalan desa sudah dikeraskan dengan batu, berkat AMD (ABRI Masuk Desa) tahun sebelumnya. Jumlah radio tak terhitung, pesawat TV lebih dari sepuluh. Orang-orang desa suka menonton acara-acara TV yang sengaja dipasang di ruang tamu untuk tontonan umum. Selain itu ada beberapa orang berlangganan koran. Maka jangan heran kalau orang desa Gondangsari dapat menyebut nama-nama Boris Yelsin, Fidel Ramos, dan Yasser Arafat. Mereka juga tahu soal tambang emas Busang, Situbondo, dan Tasikmalaya. Itu semua berkat banyaknya pengusaha. Kepada para pengusaha kecil itulah Mesin Politik menjanjikan akan mengucurkan KUK (Kredit Usaha Kecil). Tidak mengherankan kalau Randu menang di situ.

Seorang calon lurah mengadakan wayangan semalam suntuk, dalangnya adalah Abu Kasan Sapari. Pertunjukan wayang kulit dimulai. Tetapi, kursi-kursi disediakan kosong, tenda yang dipasang seolah-olah tak berguna. Kursi-kursi depan hanya diisi para undangan dan kader. Kursi belakang yang disediakan bagi penonton umum nyaris kosong, ketika calon lurah berpidato. Juga ketika dia menyerahkan wayang pada Abu-upacara penyerahan wayang yang jelas-jelas meniru para pembesar yang diketahui melalui TV. Orang-orang ngumpet di rumah, barangkali sungkan kalau-kalau ketahuan kaki-tangan Mesin Politik. Menonton wayang berarti mengkhianati janji, sebab mereka sudah terima uang. Mereka hanya mendengar pidato calon lurah dari rumah-rumah, karena pengeras suara yang keras dapat mencapai telinga mereka.

Namun, menjelang tengah malam, orang satu per satu keluar rumah, mula-mula dalam bungkus sarong. Bunyi gamelan sungguh tak terlawan. Setelah mereka yakin isu tentang adanya kaki tangan Mesin Politik ternyata hanya satu cara memenangkan pemilihan, mereka membuka sarong dan makin mendekat. Penonton makin lama makin banyak, akhirnya mbludag sampai jalanan. Bagi mereka yang menonton wayang, amanatnya jelas: "Pilihlah Kipas", meskipun wayangnya sama sekali tak menyinggung.

4

Selama dua minggu desa Pandanwangi dijaga polisi. Mobil, sepeda motor, sepeda, dan pejalan kaki tidak lepas dari pertanyaan polisi: dari mana, ke mana, ketemu siapa, dan untuk apa. Soalnya ada kabar bahwa para botoh dari kota telah menjadikan pilihan lurah sebagai arena perjudian. Mereka menjagoi salah satu calon, mensuplai uang untuk kampanye, dan membagi uang pada tokoh-tokoh kunci. Ada perintah dari camat untuk mengisolir desa itu sampai dengan hari H, supaya tidak ada pengaruh luar. Namun, seperti kata pepatah, "Sepandai-pandai tupai melompat, sekali akan gawal juga". Banyak cara untuk menerobos blokade polisi. Tidak lewat jalan, pesan dan uang bisa dititipkan orang yang biasa pulang-pergi, anak-anak sekolah, orang-orang ke pasar, dan cara lain. Yang dikhawatirkan benar oleh orang (termasuk Pak Camat) ialah seseorang yang sesumbar pasti memenangkan pemilihan. Pak Camat menyesal karena telah meluluskan orang itu. Orang itu terkenal thuk-mis (tidak tahan melihat wanita cantik), tapi pemurah, kaya (ia punya truk), dermawan, dan suka bekerja (tidak pernah absen ronda dan gotong-royong). Kabarnya seorang botoh dari kota menjagokan dia. Relasinya banyak. Karena itulah ia juga kenal dengan botoh yang menjagoinya. Dengan alasan, toh semua calon berusaha memenangkan pemilihan, seseorang lain menjagoi tokoh lain. Jadilah pemilihan lurah di Pandanwangi sebagai taruhan. Kabarnya kalurahan lain juga jadi perjudian, tapi Pandanwangilah yang paling menyolok.

Nah, kepada Abu Kasan Saparilah orang berharap. Sebenarnya calon yang minta tolong Abu adalah tokoh masyarakat desa. Dia seorang guru madrasah, masih muda ( umurnya 40-an) bisa memimpin doa waktu ada yang punya hajat (metu , manten, mati), menjadi kontak tani, mantan Ketua Karangtaruna, pendidikannya sampai MAN (Madrasah Aliyah Negeri), tapi terkenal cerdas. Para penduduk iuran untuk menyewa tenda, kursi, dan ibu-ibu memasak makanan kecil untuk suguhan. Gamelan yang terpaksa didatangkan dari desa lain diangkut dengan satu-satunya gerobak yang ada. Mereka ingin menjadikan tokohnya lurah di desa itu.

Dapat dipastikan kursi-kursi sudah penuh ketika pidato dan ketika wayang dimulai. Orang-orang yang sudah menerima bayaran dari pesaing juga hadir. Mereka tidak pernah berjanji apa-apa, jadi merasa tidak terikat. Dapat rezeki itu jangan ditolak, perkara memilih itu rahasia. Guru madrasah Pandanwangi itu terpilih jadi lurah.

5

Seorang guru SLTP mencalonkan diri. Kawan-kawannya menganjurkan untuk tidak mencalonkan saja. Kata mereka seorang guru adalah guru, tidak sepantasnya mencalonkan diri jadi lurah. Pekerjaan guru itu di depan kelas mengurus murid, tidak di belakang meja mengurus rakyat. Mencalonkan diri jadi lurah sama saja dengan legan golek momongan (mencari-cari pekerjaan). Para pesaingnya berat, pemilik toko , anggota koramil, sekdes, dan kaur sosial. Sebenarnya Abu tidak yakin, tetapi apa boleh buat, wong teman. Guru itu mencalonkan diri, soalnya sekarang guru sedang jadi favorit orang desa. Abu Kasan Sapari mendalang untuk dia.

6

Pada hari-H, pagi sekali sebelum matahari terbit dan sebelum orang-orang datang, sesuai dengan anjuran dukun seorang calon lurah berangkat menuju sendang. Ia lalu mencopot pakaian dan menceburkan diri di sendang. Biasanya orang mandi dengan cara menciduk air dari sendang. Sebenarnya dingin juga mandi dengan cara itu.Tapi dia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Ia yakin betul akan memenangkan suara, karena dukun sudah menjamin. Ia tidak takut apa pun, meskipun saingan terberatnya wayangan semalam suntuk. Dia sudah mengimbanginya dengan lek-lekan selama tujuh malam. Untuk mencegah kantuk, orang bermain kartu Cina, dengan sedikit taruhan. Dukun telah memilihkan gambar yang tepat, yaitu "Obor". Dia juga telah memenuhi saran dukun untuk nyekar di makam cakal bakal desa.

Semua orang yang akan memilih dia berangkat dari rumahnya. Tentu saja dengan kenduri alias makan pagi. Maka pagi itu di rumahnya seperti ada pesta. Ada sedikit upacara sebelum berangkat, dipimpin oleh seseorang (dukun adalah milik semua orang, jadi tidak mungkin ia hadir in person), dengan doa campuran bahasa Arab dan Jawa. Orang sedesa tahu bahwa calon itu mendapat dukungan dari dukun. Meskipun TPS (Tempat Pemungutan Suara) itu dekat saja, tapi mereka diharuskan mengambil jalan berputar. Mereka juga diharuskan berangkat pagi sekali, sebelum TPS buka. Jadilah mereka seperti pawai. Sebenarnya tiga hari sebelum hari-H adalah "Hari Tenang", tidak boleh ada kampanye, tapi tidak ada peraturan yang melarang orang untuk berangkat bersama.

Calon dukungan dukun itu tidak terpilih.

7

Pengumuman pemilihan itu menunjukkan bahwa calon Mesin Politik menang di lima kalurahan, kalah di empat desa. Dukungan Abu Kasan Sapari masuk tiga, satu gagal, yaitu guru SLTP itu. Politik tingkat desa itu oleh koran Suara Bengawan digambarkan sebagai setengah jujur setengah tidak. Sebab, ada keterlibatan sihir. Sihir itu bernama Mesin Politik, botoh, dukun, dan kesenian. Sihir itu meskipun tidak melanggar peraturan, tetapi mempengaruhi kemurnian suara. Orang terpengaruh oleh gaya, tidak oleh isi.

Karena disebut-sebut kesenian, Abu mengerti bahwa yang dimaksud adalah wayangan. Abu segera pergi untuk menemui wartawan.

"Saya hanya menulis berdasarkan hati nurani. Tidak kurang tidak lebih," kata wartawan itu.

"Mungkin dia benar," pikir Abu.

Sejak itulah Abu Kasan Sapari selalu bertanya-tanya bagaimana mendudukkan kesenian, supaya kesenian terbebas dari politik, atau sebaliknya politik dari kesenian, pendek kata keduanya terpisah: kesenian itu otonom. Kesenian adalah keindahan, sedangkan politik adalah kekuasaan. Biarlah orang lain mengotori politik, asal bukan kesenian. Mesin Politik mengotori hati nurani dengan jabatan, botoh dengan uang, dukun dengan klenik, dan ada kemungkinan kesenian mengotori hati nurani justeru dengan keindahan. Mengotori dengan keindahan? Keindahan harus menbuat orang bijaksana, mempertajam hati nurani, bukan membuatnya hati nurani tumpul.

8

Bupati datang di Kemuning untuk melantik lurah-lurah baru. Mesin Politik yang ikut dalam rombongan Bupati berbisik pada Pak Camat:

"Kami tahu, siapa aktor intelektual yang menyebabkan kami gagal." Pada waktu itu sedang terkenal istilah 'aktor intelektual', pemicu segala macam keonaran. Aktor intelektual yang dimaksud mungkin dirinya sendiri, mungkin orang lain.

Camat mengatakan, "Bukan gagal. Hanya tidak seratus persen." Ia sudah merasa ada sesuatu yang akan terjadi.

"Ingat, target Pilkades dan Pemilu kita ialah seratus persen. Itu kalau kau masih mau jadi Sekda," bisik Mesin Politik lagi.

Perasaan was-was camat terjawab beberapa minggu kemudian. Dengan berat ia pergi ke kamar Abu-tidak memanggil seperti biasa-di tangannya ia menenteng sebuah surat tembusan. Di tempatnya Abu juga sedang membaca sebuah surat. Segera saja dia tahu bahwa surat itu bunyinya sama.

"Itulah yang disebut kenyataan," kata Pak Camat. "Sayang kerja sama kita berakhir begini."

"Saya mengerti, Pak."

"Sekarang giliranmu, lain kali giliranku. Tahukah kau, mengapa aku praktis tidak pernah naik pangkat? Mengapa aku ditempatkan di kecamatan bukit ini?"

"Ya, kurang lebih."

Surat itu berisi tentang pemindahan Abu dari kecamatan itu.

"Maafkan, semua kesalahan saya, Pak."

"Tidak ada kesalahan, tidak ada yang harus dimaafkan. Kita semua menghadapi soal yang sama. Jangan bilang-bilang, kita sama-sama menghadapi keangkuhan kekuasaan."

Entah apa sebabnya Abu menyeka matanya.

9

"Jangan merusak, jangan menghina orang," kata guru pembina kepada Osis. Anak-anak akan mendatangi kantor camat untuk unjuk rasa. Ada rapat guru yang khusus membahas soal itu. Dalam rapat itu para wali kelas berani menjamin bahwa segalanya akan berjalan mulus. Maka mereka pun melepas anak-anak.

Anak-anak pengurus Osis dari SLTP dan MTs (Madrasah Tsanawiyah) tempat Abu mengajar kerawitan dan tari siang itu telah sepakat untuk memprotes pemindahan Pak Abu yang mereka cintai. Hampir semua murid mengikuti mereka. Sambil berteriak-teriak, "Pak Abu! Pak Abu!"mereka menuju kecamatan membawa spanduk dari apa saja: kertas koran, kertas gambar. Di kertas itu tertulis: "Abu". Hanya satu kain putih yang panjangnya tiga meter dengan tulisan yang sangat jelas terbaca. OSIS dua sekolah itu telah mensponsori pembelian kain. Di kain itu terbaca: "Kembalikan Pak Abu". Pohon-pohonan dekat kecamatan ditulisi dengan kapur, "Abu". Mereka menirukan apa yang dibaca di koran atau ditonton di TV. Pak Camat keluar untuk menemui para demonstran ABG itu.

"Adik-adik, atas nama Pemerintah Kecamatan, kami mengucapkan terima kasih pada kalian. Kami pun tak bisa berbuat apa-apa. Percayalah, memang sudah waktunya Pak Abu pindah, ini demi kebaikannya sendiri."

Ada gumam panjang di kerumunan anak-anak itu. Terdengar isakan serentak dan menangis bersama, "Huk-huk-huk". Beberapa siswa menangis sungguhan. Akhirnya mereka membubarkan diri.

10

Dua minggu kemudian camat baru datang, serah terima, menggantikan Pak Camat yang dipindahtugaskan. Dengan geleng-geleng kepala para pegawai kecamatan menyambut Sertijab camat mereka. Ketika sebuah truk mengangkut barang-barang camat yang pindah dan sebuah colt membawa dia dan keluarganya, para pegawai mengantar sampai kendaraan lenyap dari mata mereka. Kemudian mereka kembali diam-diam ke meja. Mereka terheran-heran. Mereka tidak paham. Apa yang telah terjadi?*


VIII
ABU KASAN SAPARI DAN LINGKUNGANNYA

1

Abu Kasan Sapari dipindahkan ke kecamatan Tegalpandan, jauh lebih dekat dan mudah bila ingin ke ibu kota Kabupaten Karangmojo. Mungkin karena tidak ada kecamatan yang lebih gunung daripada Kemuning, atau mungkin sebab yang lain. Ini namanya bukan dibuang tapi dimanjakan, pikirnya. Dia tidak peduli. Yang sangat disukainya ialah tempatnya sekarang dekat dengan Palur, sewaktu-waktu ia dapat pulang ke rumah Ki Lebdocarito dengan bis. Terminal bis hanya beberapa langkah dari kantornya. Dia tidak lagi di Bangdes tapi di Statistik, mengurusi angka-angka, tidak berhubungan dengan wilayah dan orang. Tidak apa, toh masih juga mengabdi pada negara. Ibarat kerbau, Abu seperti pulang kandang, sebab dia bisa melajo dengan bis dari Palur.

Pagi-pagi dia melapor pada Camat Tegalpandan. Ia menunjukkan surat dan Camat menunjukkan mejanya, pekerjaannya, dan sebuah skema mengenai jaringan kerja. Untuk sementara ia pulang ke Palur. Tapi kemudian dirasanya lebih baik berdiri sendiri. Ia memutuskan untuk mencari rumah sewa dekat kantornya. "Ada," kata temannya. "Boleh disewa seluruhnya, boleh separo." Kemudian dia menyewa separo rumah kotangan (tembok di bawah, gedek di atas). Rumah seluruhnya terlalu besar untuknya. Lumayan, katanya, bisa untuk berteduh. Tidak kepanasan, tidak kehujanan. Maka tinggallah Abu Kasan Sapari di situ, hanya sepuluh menit berjalan kaki dari kantor, lewat jalan besar, gang sempit, pasar, dan terminal. Rumah itu memang dirancang sedemikian rupa, supaya bisa ditempati dua keluarga.

Tegalpandan-kota kecamatan yang juga kota tempat Pembantu Bupati-lebih kota dari Kemuning, tetapi lebih desa dari Karangmojo. Ada pasar dengan los-los, warung, kios, dan di sekitar terminal ada toko-toko . Pohon beringin tua tumbuh lebat di terminal, tidak seorang pun tahu kapan ditanam dan siapa menanam. Begitu tua pohon itu, sehingga dulu ada orang yang menganggapnya bertuah. Orang yang akan mantu memakai rantingnya sebagai hiasan dengan harapan mempelai akan panjang umur subur makmur, mencari daun lumah-kurep (jatuh menghadap ke atas dan ke bawah) dengan harapan mempelai akan rukun, segera punya anak. Ringin artinya juga mari kepengin (tidak kepengin), sebab orang yang sudah kawin harus berhenti menginginkan pasangan. Tidak diketahui siapa yang memulai,tapi setiap bulan Mulud pasti ada pertunjukan wayang di situ. Kemudian perayaan itu tetap, namun orang sudah lupa dengan beringin bertuah dan menganggapnya perayaan itu sebagai bersih desa biasa. Pada waktu itulah warga desa Tegalpandan yang merantau datang untuk ziarah, bertemu keluarga, dan berkumpul dengan teman-teman lama.

Beberapa meter dari terminal itulah terletak kantor kecamatan, Polsek, Koramil, dan sebuah gedung serba guna yang bisa untuk pertemuan,rapat,dan mantenan.

Abu tahu apa yang harus dikerjakannya: mengurus surat pindah, kartu C-1, KTP baru, perkenalan dengan warga RT, dan ikut Siskamling.

2

Camat Tegalpandan tahu belaka sebab-sebab kepindahan Abu. Maka ketika ada waktu dikatakannya, "Jangan menyalahgunakan kesenian." "Ya, Pak. Tetapi," lalu ia pun behenti. Sebenarnya Abu ingin menerangkan panjang-lebar, tapi dipikirnya itu namanya mencari-cari musuh. Ia terkejut ketika ia tahu bahwa orang tahu ia bisa mendalang. Rupanya berita-berita tentang dia sudah tersebar di kalangan pejabat, aktivis Mesin Politik,dan masyarakat. Ada andil teman yang wartawan itu rupanya. "Jangan lupa, saya tidak anti-kesenian," kata Camat lagi, "saya hanya mengingatkan."

Yang tidak diketahui orang ialah dia menyesal telah membuat camat yang baik gagal, mengalahkan Mesin Politik, botoh,dan dukun. Dalam hal ini dia setuju dengan semboyan Sosrokartono, menang tanpa ngasorake ("menang tanpa mengalahkan"). "Tetapi bagaimana?" pikirnya berulang-ulang, "itu tak terelakkan." Betul dia menang,tetapi ia mengalahkan. Maka ketika camat Tegalpandan mengatakan padanya untuk tidak menggunakan kesenian dalam pemilihan lurah dia menyatakan "ya, tetapi". "Tetapi"-nya ialah orang lain harus berhenti menggunakan kekuasaan, uang, dan sihir.

Kabar bahwa ia dipindah dari Kemuning tersebar di luar Tegalpandan berkat media massa. Ia dijadikan sampel kasus mengenai demokrasi di tingkat desa. Seorang mahasiswa Ilmu Politik dan seorang mahasiswa Administrasi Negara datang padanya untuk bertanya ini-itu. Dikatakannya bahwa dia hanya menjawab pertanyaan tentang fakta, tidak tentang opini-meniru ucapan wartawan temannya.

Sebenarnya ia tidak mau kesenian melukai siapa-siapa, termasuk orang-orang Mesin Politik, botoh, dan dukun. Ia tahu, dia tidak bisa mengharap semua orang arif seperti Abiyasa, bijak seperti Kresna, lurus seperti Bima, pemurah seperti Darmakusuma. Dunia penuh keserakahan Rahwana, kelicikan Sengkuni, punya watak candala (rendah) seperti Kurawa.

Keduanya adalah hiasan hidup. Hidup hanya dengan Abiyasa adalah sepi. Hidup hanya dengan Sengkuni penuh cakar-cakaran. Maka, Rahwana ya boleh, Kurawa ya boleh. Asal tahu batas, aturan, korupsi ya boleh asal jangan banyak-banyak.

Abu bergabung dengan kelompok kesenian di Tegalpandan. Dia mulai sering mengikuti pertunjukan wayang Ki Manut Sumarsono seperti dulu. Seperti dulu juga ia bersedia meskipun hanya sebagai tukang angkat-angkat gamelan. Ia dipercaya untuk mendalang pada peringatan hari lahir Ki Manut Sumarsono. Selain itu, Ki Manut Sumarsono punya cara sendiri untuk mempromosikannya. Mula-mula Ki Manut akan memulai, kemudian dia melanjutkan. Sesudah itu kadang-kadang orang yang datang pada Ki Manut Sumarsono akan di-verwijs padanya. Sementara pamornya sebagai dalang mulai merangkak naik, Pak Camat berhenti mengutik-utik soal kesenian dan politik. Tidak pernah lagi terdengar ucapan, 'jangan menyalahgunakan kesenian'. Bahkan, Pak Camat jadi teman baiknya. Ada kepentingan yang sama. Pak Camat bermaksud menjadikan kecamatannya sebagai kecamatan budaya. Kecamatan itu sudah punya modal, Ki Manut Sumarsono.

3

Suatu siang di rumah yang separonya terdengar suara mesin jahit. Ada orang di sana, pikirnya. "Siapa di situ?", katanya keras dari dalam rumah. Dari seberang tembok terdengar orang menjawab. "Saya",kata suara. Suara itu begitu halus, seperti menyanyi.Perempuan? Ia berpikir kenapa yang punya rumah tidak bilang-bilang kalau ia menyewakan rumahnya. Abu Kasan Sapari penasaran. Hampir berlari ia ke pintu sebelah.

Ia mengetuk. "Saya. Tetangga," katanya.

Terdengar suara sandal diseret, lalu pintu itu terbuka.

Abu ingin masuk, tapi langkahnya terhenti. "Boleh juga perempuan ini," pikirnya. Orang itu mengulurkan tangan, disambutnya. "Nama saya Lastri, Sulastri". Abu mau menyebut nama,tapi perempuan itu bilang. "Saya sudah tahu nama sampeyan Abu Kasan Sapari. Ya, Pakde sudah mengatakan kalau sampeyan menyewa rumah yang separo. Masuklah! Tapi maaf, masih berantakan. Belum sempat mengatur, ada jahitan yang harus selesai."

Abu tidak masuk tapi memandangi ruangan itu. Ini baru benar-benar rumah, rumah seorang perempuan pasti lebih rapi dari rumahnya. Ada meja kursi tamu, dari kain beludru. "Terima kasih, saya ada pekerjaan ."

Pada suatu kesempatan, pemilik rumah mengatakan bahwa Lastri adalah keponakannya, jadi bukan penyewa. Pakde itu dulu pegawai Pemda yang ditempatkan di Tegalpandan, tapi kemudian pindah. Mula-mula Lastri tinggal di rumah itu bersama Pakde dan Budenya yang tidak punya anak, sebelum menikah. Lastri mempunyai TV berwarna agak kecil. Abu pergi ke rumah Haji Syamsuddin untuk nonton berita, bola, dan tinju. Selebihnya Abu akan tinggal di rumah, menatah-natah belulang kerbau.

4

Berita bahwa Lastri menempati rumah yang praktis serumah dengan Abu Kasan Sapari segera tersebar. Itu karena dulu Lastri seorang primadona di Tegalpandan. Membuka jahitan di pasar Tegalpandan, setelah tamat SKK (Sekolah Kesejahteraan Keluarga). Ia adalah penyanyi kroncong di sebuah klub amatir, yang pasti muncul di pesta-pesta di kecamatan itu. Ia menikah, suaminya meninggal, belum punya anak. Jadi, janda kembang-lah. Setahun setelah suaminya meninggal, ia memutuskan untuk kembali ke pasar. Mertuanya berusaha mencarikan suami, tapi ditolaknya. Dikatakannya bahwa ia ingin hidup sendiri tanpa kesibukan rumah tangga.Meskipun mertuanya, Pakdenya, dan orangtuanya menyuruhnya tinggal di tempat mereka, ia berkeras untuk kembali ke pasar. Maka Pakdenya memberikan tempat itu. Akhir-akhir ini, setelah menikah, kesibukannya bertambah: banyak orang memintanya jadi juru rias temanten.

"Hati-hati," kata kawan-kawan Abu di kantor. "Dia lebih pengalaman."

Kawan-kawannya di kantor itulah yang mengatakan tempat Lastri membuka kiosnya.

Suatu hari Abu ke kantor tidak lewat jalan biasanya, sengaja demikian.

"Lho, di sini to," kata Abu pura-pura belum tahu.

"Di manalagi, kalau tidak di sini?" jawab Lastri.

Sejak itu pergi dan pulang Abu selalu melewati tempat itu, tidak bosan-bosannya. Entah karena apa dengan gembira ia selalu lewat di situ, sekalipun kadang-kadang Lastri tidak ada. Ia merasa kios itu juga kiosnya.

Abu juga diberitahu bahwa Lastri adalah penyanyi. Sore-sore dia mendengar nyanyian dari ruang sebelah, dinding kotangan itu sama sekali tidak kedap suara. "Yen ing tawang ana lintang ...." Setelah nyanyian itu selesai dia mengetuk pintu untuk mengatakan:

"Mbak, eh Jeng, eh Mbak."

"Yu, begitu."

"Siapa lebih tua?"

"Tidak peduli, pokoknya panggil 'yu'."

"Ya, sudah. Yu, suaramu bagus lho, bisa dijual."

"Terima kasih. Tapi saya hanya menjual jasa, tidak menjual suara."

"Lho, jangan sombong. Siapa tahu."

"Alah, saya tahu, kok. Kalau sampeyan pinter ndalang. Sampeyan terkenal sekali, lho. Semua orang pasar tahu."

"Iya, to".

"Iya, masa saya bohong."

5

Suatu pagi Abu sedang lewat dekat kios Lastri, ketika ada ribut-ribut di dalam pasar.

"Ular, ular!" kata orang banyak.

Seekor ular sebesar dua empu jari kaki dan panjang satu meter merayap di antara dagangan. Para perempuan berlari meninggalkan dagangan mereka, dan para lelaki dengan apa saja di tangan membentuk lingkaran. Ular itu tidak terlalu bodoh, ia menyusup-nyusup di antara dagangan, sehingga hanya dikepung para lelaki, tapi selamat dari kemarahan orang.

Abu menyibakkan para pengepung.

"Jangan dibunuh!"

Kemudian dia jongkok. Orang-orang menurunkan tangan. Memandangi Abu yang merunduk-runduk. Abu bersiul. Dalam sekejap ular itu sudah berada di tangannya. Ia lari keluar pasar, diikuti mata-mata yang tidak mengerti. Di luar desa, dengan mudah ditemukannya gerumbul pohonan liar tempat dia melepas ular itu.

"Kau boleh jalan-jalan. Tapi jangan ganggu orang."

Kabar bahwa Abu menangkap ular di pasar bukan saja tersebar pada orang-orang pasar, tapi juga anak-anak sekolah yang suka mampir ke pasar, sopir dan kenek bis, penjaga sepeda dan sepeda motor, dan para lelaki yang mengantar istrinya ke pasar. Pendek kata siapa saja yang pagi itu terwakili di pasar.

Entah apa sebabnya, anak-anak mulai membuntuti dia. Itu menjadikannya risih, sehingga dia akan berangkat kantor pagi-pagi supaya tidak berpapasan dengan anak-anak sekolah. Siang hari dia akan pulang agak lambat, namun pasti ada saja anak sekolah yang jalan-jalan ke pasar. Dia bisa terlepas dari dibuntuti, tetapi tidak bisa terlepas dari tatapan mereka. Mengapa dia merasa risih? Pada waktu kecil, Abu dan kawan-kawannya suka membuntuti dan mengganggu perempuan gila di desa. Anak-anak tahu bahwa perempuan itu gila karena ditinggal kekasih. Anak-anak akan menyebut sebuah nama, dan perempuan itu akan menangis. Anak-anak baru berhenti menggoda bila perempuan itu mulai melempari mereka dengan apa saja.

Maka ketika Lastri mengatakan bahwa Abu mendapat julukan baru di pasar, Abu menjadi kecut.

"Sampeyan makin terkenal lho di pasar."

"Hh?"

"Jangan terkejut kalau sampeyan terkenal sebagai Si Dukun Ular."

Kata-kata itu diambil dari film silat televisi yang lagi ngetop di situ.

6

Rumah sewa itu mempunyai sumur dan MCK sendiri-sendiri di dalam,tapi kadang-kadang seperti orang lain Abu lebih suka ke sungai untuk mandi, terutama sore hari kalau terasa udara panas. RT membuat tempat mandi dari tembok tanpa tutup tetapi cukup tinggi. Ada tempat mandi laki-laki ada tempat mandi perempuan. Tempat mandi itu sebenarnya adalah mata air. Sungai itu deras, berbatu-batu, dan dangkal. Tegalpandan masih tergolong gunung, sekalipun tidak tinggi betul.

Suatu sore ketika Abu ke sungai sepertinya orang-orang sedang bubaran dari kumpul-kumpul. Abu curiga.

"Apa?" ia bertanya.

"Ada ular di tepi sungai."

Abu melihat bangkai ular yang remuk kepalanya, remuk sebagian badannya, ada batu-batu, ada bata-bata. Ini harus dikuburkan, pikirnya. Setelah sepi orang, dia memungut bangkai itu dengan tangannya. Dibawanya pulang, diambilnya cethok, kemudian ular itu dikubur di belakang rumah, di sela-sela pohon ketela.

Ternyata perbuatannya itu diketahui orang juga. Karena, beberapa hari kemudian Lastri bilang:

"Para tetangga heran mengapa bangkai ular itu dipungut dan dikubur."

7

Atas rekomendasi Ki Manut Sumarsono, Abu Kasan Sapari mendalang pada suatu resepsi pernikahan.

Sehabis Maghrib sebuah Colt berhenti di muka rumah untuk menjemput Lastri. Dan Sulastri pergi bersama orang itu. Kemudian Colt yang sama datang untuk menjemput Abu. Ia sudah berdandan lengkap, pakaian seorang dalang. Ikat kepala, beskap, kain, keris, sabuk, kemben, dan selop.

Penjemput mengatakan bahwa tidak ada kesulitan menemukan rumahnya, sebab alamatnya sama dengan alamat Bu Lastri yang merias pengantin. Jadi Lastri juga merias temanten, pikir Abu. Penjemput mengatakan bahwa orang memilih Lastri karena pengantin selalu tampak lebih cantik, barangkali saja kena imbas Lastri. Abu tahu bahwa Lastri ramah, tetapi bahwa dia cantik ia baru mendengarnya, namun ia sangat setuju.

Ketika Abu datang resepsi itu segera dimulai. Ada tenda-tenda, lampu neon, pemudi cantik berjejer dekat buku tamu. Abu dipersilakan duduk di kursi di deretan depan, sebelum wayang dimulai. Pada waktu itulah Abu melihat betapa Lastri cekatan, berdandan, dan tampak menguasai benar upacara perkawinan. Abu berdiri, bisik-bisik pada juru foto supaya periasnya difoto yang banyak. Abu mau memberitahukan alamatnya, tapi tukang foto mengatakan bahwa Abu tidak perlu memberitahukan alamatnya.

Di rumah Abu bilang:

"Yu, Yu. Saya semalam mimpi lihat bidadari."

"Saya malah ketemu Damarwulan beneran."

"Betul, pa?"

"Betul. Sayang hanya sekilas. Damarwulannya ganteeeng sekali, lho."

"Jangan-jangan Semar dikira Damarwulan?"

"Ah, itu sama saja dengan mengatakan saya tidak awas."

"Ya tidak begitu, to."

Beberapa hari kemudian Abu mengetuk pintu Lastri:

"Yu, Yu. Saya tunjukkan gambar bidadari itu, tapi jangan marah, ya."

Abu memperlihatkan foto-foto.

"Huh, kayak gini kok dibilang bidadari," kata Lastri. "Kalau batari ya boleh, tapi Batari Durga, lho."

Batari Durga adalah dewi yang berwajah raksasa.

"Sesuka saya, to. Kowe kok tela, apa gaplekmu." [Kamu kok iri, apa punyamu].

"Pantesnya itu ditaruh di bawah amben untuk menakut-nakuti tikus."

"Ini akan saya besarkan, diberi pigura, ditaruh di dinding."

"Setiap pagi diberi kembang setaman, setiap malem Jumat dibakari kemenyan."

"Itu kan tenung namanya."

"Tidak usah ditenung saja sudah nempel."

"Sungguh, pa?"

"Lha katanya mau ditaruh di dinding. Apa tidak nempel?"

Tentu saja Lastri tidak bilang bahwa ia juga menyimpan foto Abu yang sedang duduk di kursi depan itu.

Sejak itu nama Lastri terdengar sangat merdu di telinga Abu. Sejak itu pula orang akan sering mendengar dia menembangkan Dandanggula, "Nimas ayu ingkang milangoni, buron arum ingkang sabeng wana, yen panggih iba rasane." [Adik cantik yang menggetarkan hati, buruan harum berkeliaran di hutan, kalau ketemu betapa senang rasanya].

8

Sebagai penghuni laki-laki Abu Kasan Sapari dapat giliran ronda untuk kepala keluarga. Giliran Abu sebenarnya hanya sekali sebulan, tapi bila sempat hampir seminggu sekali ia akan keluar. Ia rajin keliling hanya untuk bisa bilang, "Lek, lek. Yu Lastri". Lalu akan terdengar suara halus dari dalam, "Sudah dengar." Kalau demikian, pagi harinya Lastri akan mengantar makanan kecil dan berkata, "Ini upahnya diwakili ronda. Airnya masak sendiri."Kadang-kadang ditambah dengan, "Kecuali kalau mau ke sebelah."

Di gardu Abu terkenal sebagai tukang dongeng, ahli filsafat kecil-kecilan,dan cagak lek (membuat terbangun) hidup. Sebutan tukang dongeng itu didapatnya karena dia suka bercerita Ramayana dan Mahabarata yang belum pernah didengar orang, karena karangannya sendiri. Suaranya dapat besar, dapat kecil, dapat kasar, dapat halus seperti wanita. Komentar orang, "Dia seperti buku." "Seperti ketoprak." "Seperti dalang." "Tidak hanya seperti." "Sudah jadi dalang, kok masih mau ronda."

Julukan filsuf itu didapat ketika orang dibuat sadar bahwa mata orang sebenarnya satu, tidak dua. Seseorang tertidur. Kata Abu:

"Lho, kok matanya cuma satu."

"Ah, masak iya!" kata yang lain.

"Kalau memang dua, coba apa bisa satu tidur satu terjaga? Maka mestinya nyanyian itu berbunyi, 'Satu mata saya'."

Lain kali Abu akan bertanya:

"Di mana bekas telapak burung kuntul di udara?"

Orang-orang akan terdiam, tidak bisa menjawab.

"Tidak di langit, tidak di udara. Tapi dalam pikiran, dalam hati, dan dalam rasa. Begitu juga Tuhan."

Orang juga suka kalau ia datang, sebab orang akan tetap terjaga. Artinya Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong akan keluar di gardu Siskamling.

9

Keberadaan Abu jadi hiburan tersendiri bagi Haji Syamsuddin, belantik paling kaya di kecamatan yang tinggal di dekat rumah. Bukan saja di surau,tapi dia juga minta agar waktu rondanya sama dengan waktu ronda Abu. Selebihnya, Abu yang semakin sering diminta untuk mendalang juga selalu mengajaknya. Pada bulan baik untuk mantu seperti bulan Besar jadwalnya padat. Sebagai dalang baru, tarifnya rendah, terjangkau. Dengan mudah dia bisa memakai wayang, gamelan, dan niyaga dari Palur. Dia bisa datang saja dan mendalang, juga bisa mengusahakan kelengkapannya.

1O

Ada pilihan lurah di Wonosari. Pak Camat Tegalpandan suka dengan seorang calon, berjanji akan mendukung sekuatnya. Pak Camat terpikir tentang Abu, karena rupanya pertunjukan wayang sangat efektif sebagai sarana kampanye. Tidak ada kampanye lain yang bisa berlangsung semalam suntuk. Kroncong, pengajian, slawatan, pidato-pidato paling-paling hanya jam-jaman. Yang bisa semalam suntuk hanya wayang dan semaan Qur'an. Semaan tidak menghibur, terlalu serius, maka kemungkinannya hanya wayangan. Sayang, Pak Camat pernah bilang pada Abu untuk tidak mencampurkan kesenian dengan politik. Oleh karena itu dia menyuruh seseorang untuk mendekati Abu.

"Tolonglah camat kita," kata orang itu.

"Ya, tapi jangan mendalang."

Abu sudah kapok-pok-untuk mencampurkan kesenian dengan politik. Dia tidak ingin mengecewakan siapa-siapa.

"Tapi ini penting."

"Tidak ya tidak."

Kemudian orang itu pergi kepada Lastri dan memintanya untuk membujuk Abu.

"Apa hak saya?"

"Kau kan."

"Apa?"

"Calonnya!"

"Ah, kok enak saja."

Di luaran, di kecamatan, di pasar, dan di terminal telah berkembang rerasan bahwa Abu akan mengawini Lastri. Orang-orang akan berhenti bekerja dan diam-diam memperhatikan Abu dan Lastri, kalau mereka sedang lewat. "Wajahnya sudah mirip," kata orang.

Entah bagaimana, setiap kali teringat Lastri pikiran Abu selalu Lastri, sama dengan perempuan lain di pasar, takut dengan ular. Atau, karena dia semasa mahasiswa pernah mendengar seorang da'i mengutip Sayidina Ali yang menyamakan perempuan dengan ular. Perempuan itu sama seperti ular, halus dijamahnya tetapi beracun. Rupanya Sayidina Ali-lah yang telah menyelamatkan Lastri dari Abu, Abu dari Lastri.

11

Rumah sewa Abu dan Lastri kemudian dikenal sebagai rumah seniman. Abu sebagai dalang, Lastri sebagai penyanyi. Mereka senang-senang-susah, karena orang mulai menyebut mereka sebagai pasangan yang serasi.

Pasalnya sangat mudah diterka. Bulan Mulud tiba. Di terminal ada wayangan. Untuk keperluan itulah pada suatu hari Pak Camat dan Pak Lurah datang ke kamar tempat Abu menghitung angka-angka memintanya mendalang. "Dakwah boleh,tapi politik jangan," kata Camat.

Bagaimana definisi politikmenurut Pak Camat tidak pernah ada penjelasan. Abu menerka politik yang dimaksud Pak Camat ialah segalanya yang berhubungan dengan kekuasaan, berpihak pada salah satu OPP atau orang. Maka jadilah Abu mendalang.

Adapun bagi Lastri menyanyi adalah pekerjaannya sebelum dan sesudah kawin. Demikianlah ketika di salah satu pinggir terminal dibangun panggung untuk tujuh belasan Lastri kebagian menyannyi.

"Jangan marah, ya Yu," kata Abu pada Lastri suatu sore.

"Mengapa harus marah?"

"He, he. Orang bilang kita pasangan yang serasi."

"Serasi, seimbang, selaras. Kok seperti penataran P-4."

Lastri pernah ikut penataran untuk pengusaha kecil.

"Saya serius, lho Yu."

"Saya juga sungguh-sungguh, kok."

"Sungguh, to Yu?"

"Sungguh! Semarang kaline banjir." [Aja sumelang yen ora dipikir. . Jangan khawatir kalau tidak dipikir].

"Kalau begitu apa saya boleh bermain-main di halaman?" [Ngarep-arep. Mengharapkan].

"Malah kebetulan ada yang jaga!"

Mereka lalu diam.*

IX

ULAR

1

Di belakang rumah sewa Abu ada sebentang sawah. Ada sungai, batu-batu, kebun kosong, dan gerumbul liar pohonan perdu. Suatu siang terdengar ribut para perempuan yang sedang menanam padi. Seorang laki-laki yang sedang membajak berhenti. Abu bersama orang-orang desa keluar. Ada ular sebesar betis anak-anak mengejar tikus sawah, mengejutkan para perempuan itu. "Ular! Ular!" teriak mereka. Sepasang kerbau dengan alat pembajak berlari-lari, menerjang galengan. Para lelaki segera bersiap dengan batu di tangan.

"Jangan!" kata Abu pada para lelaki dengan batu-batu di tangan. "Akan saya tangkap."

Ular itu tersembunyi di pematang, di bawah pohon-pohon pisang yang banyak di tanam di sana. Abu mendekati ular itu. Daun-daun pisang kering tersingkap oleh tangannya: tampaklah seekor ular, seperti seorang hukuman yang menunggu vonis. Dengan kecepatan yang luar biasa, ular itu membelit tubuh Abu. "Tenanglah, kau aman," bisik Abu. Seperti mengerti ular masih membelit tubuh Abu, tetapi tidak kencang. Kepalanya menggantung, dipegang, sambil mengelus-elus kepala itu Abu berkata pada orang-orang desa, petani, dan para perempuan:

"Tidak apa-apa. Ular ini akan tinggal di tempat saya."

Ular itu dibawanya pulang. Ular itu sejenis ular sawah yang tidak berbahaya. Belang pada badan itu sangat indah di mata Abu. Siang itu ia menyuruh orang untuk membuat kandang dan menaruh ularnya di sana. Pagi sekali sebelum ke kantor dia ke pasar untuk membeli ayam.

Berita bahwa Abu memelihara seekor ular itu segera menyebar. Beberapa orang pedagang datang, melihat, dan menawar ular itu. Melihat belang ular itu mereka selalu ck-ck-ck, dan berhasrat besar mengulitinya. Akan tetapi, tidak seorang pun mendapatkannya.

"Saya akan memeliharanya sebagai klangenan, " kata Abu. Hampir setiap rumah memelihara klangenan. Burung dara, kucing, jalak, kutilang,parkit. Ada yang suka tosan aji, batu mulia, bonzai. Orang kaya memelihara kuda, kapal pesiar, mobil balap. Negeri akan tenang bila semua orang punya klangenan. Supaya hidupnya sempurna, orang laki-laki dewasa harus punya wisma, wanita, curiga, kukila, dan turangga (rumah, istri, keris, burung, dan kuda). Haji Syamsuddin punya segalanya, termasuk kukila, sebab ia suka memelihara burung perkutut. Dia sering ikut lomba, pernah sekali dapat nomor satu sekabupaten, dan burung itu ditawar lima juta. Dia tidak mau melepaskan burungnya. Sebulan kemudian burung itu mati. "Memang bukan rezeki saya," komentarnya waktu itu.

Abu Kasan Sapari sudah punya curiga, senjata. Kata kakeknya dari pihak ayah keris itu dulu milik Ronggowarsito. Sekarang apa salahnya dia pelihara ular? Ular adalah kukila-nya. Sedikit-sedikit pasti lengkap. Tinggal lagi rumah, istri,dan kendaraan. Rasa-rasanya, soal istri segera terpecahkan.

2

Berita bahwa Abu Kasan Sapari memelihara ular segera menyebar. Orang-orang pasar, pos Siskamling, dan para tetangga tahu belaka. Sehabis kantor orang-orang tua laki-laki dan perempuan, pemuda, dan anak-anak berdatangan ingin melihat ular itu. Untuk tiga hari pertama Abu masih melayani mereka.
Tetapi, lama-lama ia bosan juga dengan para penonton. Ia tidak bisa istirahat. Lastri bilang pada Abu, "Wah, rumah sampeyan jadi kebun binatang tiban, ya?"

Ular itu jadi sangat dekat dengan Abu. Bila di rumah Abu akan menutup pintu-pintu dan membiarkan ular itu merayap-rayap.

Di kandang, ular itu cenderung melingkar. Ular itu tumbuh cepat. Ular itu pun rupanya cepat belajar. Hanya dalam waktu beberapa bulan ia sudah menguasai bahasa isyarat. Bila Abu bersiul sekali artinya ular harus naik meja. Kalau bersiul dua kali ular harus turun. Kalau bersiul tiga kali artinya ialah tiang tengah harus dibelit. Keempat menari. Kecerdasan itulah yang membuat Abu dengan sukarela membeli seekor ayam setiap minggu. Beberapa teman Abu dari kantor yang pemberani pernah menyaksikan pertunjukan itu. "Ini bisa diajak mbarang," kata mereka.

Tentang apakah ular termasuk klangenan orang berbeda pendapat. RT sengaja mengundang Abu untuk bermusyawarah. Para wanita mengemukakan keberatan. "Bagaimana nanti kalau ular itu jadi besar? Itu berbahaya, kalau lepas," kata mereka. Rumah-rumah di sekitar pasar itu sangat padat. Kebanyakan kaum laki-laki yang hadir bersikap netral. Rapat RT itu berakhir dengan jaminan Abu bahwa ia tak akan membiarkan ularnya lepas.

Abu sangat peduli dengan pendapat Lastri.

"Bagaimana, Yu Las?"

Lastri mengangkat bahu, "Terserah," katanya.

Abu mengerti dari nada bicaranya ('terserah'-nya kok seperti tidak rela) Lastri tidak senang dengan kenyataan bahwa ada ular praktis dalam rumahnya juga. Itu menggelisahkannya. Akan tetapi, Abu nekad. Laki-laki tidak boleh mundur hanya karena rintangan.

"Yu, yang penting bukan ularnya, tapi apa yang di balik ular itu," katanya. "Ular hanya lambang."

Abu pernah bercerita soal cita-citanya, keinginannya, dan angan-angannya. Jadi, kataLastri:

"Saya sudah tahu lambang apa."

"Tahu? Apa, coba!"

"Lingkungan."

"Lho! Kok tahu?"

"Tahu saja. Anunya siapa dulu dong?"

"Anu itu apa?"

"Anu ya anu, kok malah anu."

"Wah, cerdas, sungguh."

"Anu artinya teman. Jangan ge-er." Terlalu bangga.

Soal ular itu Lastri mengatakan bisa mengerti Abu, tapi juga bisa memahami orang-orang. Katanya masalahnya ialah bagaimana menjelaskan soal ular pada orang banyak.

3

Abu punya pikiran bagus. Ada sedikit uang padanya. Ia pergi ke Gedung Serbaguna. Kemudian ia menghubungi temannya yang jadi wartawan. Ia minta diumumkan bahwa akan ada pertemuan para penggemar ular di Gedung Serbaguna Tegalpandan pada hari anu, tanggal anu, dan jam anu. Sepulang dari menghubungi teman wartawan, ia menemui Lastri. Abu memulai pembicaraan tentang hakikat manusia, tentang manusia yang dijadikan Tuhan bebeda-beda, tentang pentingnya saling mengenal, tentang perlunya tolong-menolong karena termasuk dalam kelompok saling mengenal, tentang ....

"Kok berputar-putar, to. Maksudnya saja apa?"

"Mau mengatakan terus terang rasanya tidak enak."

"Apa to?"

"Yu, Yu. Eh, eh. Sebenarnya mau minta tolong. Mau tidak, ya?"

"Minta tolong apa?"

"Disediakan snack sederhana untuk tiga puluh orang ."

Keesokan harinya berita bahwa akan ada pertemuan para penggemar ular sekabupaten Karangmojo dimuat. Bersamaan dengan itu dimuat pula interview dengan Abu. Pokoknya pertemuan itu bermaksud untuk menyadarkan orang akan pentingnya lingkungan.

Di luar dugaan yang datang ada lima puluhan orang, termasuk wartawan. Menurut para wartawan peristiwa itu unik, belum pernah ada sebelumnya. Biasanya ular adalah simbol laki-laki, kejahatan, kekuatan, atau kesehatan. Tapi sekarang dianggap sebagai simbol lingkungan. Abu sebagai pemrakarsa diminta jadi ketua, kedudukan sekretariat bergilir, tapi dimulai dari Karangmojo. Organisasi itu diberi nama MPU (Masyarakat Penggemar Ular) Nogogini, akan didaftarkan sebagai ormas di kabupaten, dan minta pengakuan dari Departemen Lingkungan. Programnya adalah penataran pawang; membuat buku pegangan; mempersiapkan muktamar se-eks Karesidenan Surakarta, dan merencanakan logo. Untuk menunjang gerakan sadar lingkungan dalam waktu dekat akan diselenggarakan wayangan di bonbin Jurug.

Selesai pertemuan, kata Abu kepada Lastri:

"Wah, yang datang kok banyak sekali, ya Yu."

"He-eh."

"Kalau begitu nomboknya berapa?"

"Mentang-mentang kaya, ya."

"Ya, tidak begitu. Hutang itu harus dibayar. Orang Jawa itu yang dipercaya lathi-nya." Lathi artinya ikrar.

"Kok pakai hutang-hutangan segala. Saya ini kaya, lho."

"Kalau begitu ya anggap saja sedekah. Biar ada pahala-nya."

4

Sebagai Ketua MPU Nogogini, kesibukan Abu bertambah. Meskipun demikian, masih ada kesempatan berhari Minggu dengan jalan-jalan ke Palur, menemui kawan-kawannya di STSI, sekadar leyeh-leyeh di lincak (kursi bambu) di beranda depan mendengarkan Lastri melembur jahitan sambil menyanyi, atau omong-omong ke sana-ke mari dengan Haji Syamsuddin.

Suatu hari Minggu dia diundang bonbin Jurug. Undangan itu untuk Bapak dan Ibu. Maka Abu memberanikan diri bilang ke Lastri:

"Hari Minggu ya libur, to Yu."

"Libur untuk apa?"

"Jalan-jalan, yo."

Kemudian Abu menunjukkan undangan itu.

"Ini kan undangan untuk Bapak dan Ibu."

"Keberatan?"

"Ya tidak. Tapi tidak baik."

"Tidak ada undang-undangnya."

Bonbin itu terletak di pinggir jalan Solo-Karangmojo di tepi Bengawan Solo.Untuk menarik wisatawan domestik, kebon binatang itu setiap hari Minggu mengundang artis lokal untuk menyuguhkan atraksi, di hari-hari besar artis-artis nasional juga didatangkan. Sebuah panggung di bangun secara khusus untuk keperluan itu. Hari itu ada pertunjukan dangdut dengan salah seorang penyanyinya berkalung ular. Ular itu sebenarnya belang-belang, tapi karena di TV sedang ada tayangan White Snake, ular itu disebut White Snake, dan penarinya Lady White Snake. Begitu dikenal acara itu sehingga di papan pengumuman acara tertulis, "Dangdut Bersama Lady White Snake". Para mahasiswa suka memlesetkan nama itu dengan "Lady White Snack", artinya "Lady Penganan Putih" alias "Lady Kerupuk".
Tidak segan-segan penyanyi dililit ular sambil menari dan bernyanyi, meliuk-liuk, mengelus-elus kulitnya, melakukan adegan jorok yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu.
Anak-anak muda yang mengerti menarik napas.

"Ih, joroknya!" kata Lastri.

"Apa yang jorok?"

"Alah, kura-kura dalam perahu."

Seusai musik dangdut Abu menemui penari dan memperkenalkan diri sebagai Ketua MPU Karangmojo.

"Apakah kau punya mantra ular?"

Wanita itu menggeleng.

"Apakah kau punya ilmu khusus?"

Wanita itu menggeleng.

"Kalau begitu, apa rahasianya?"

"Rahasianya? Mm, perlakukan ular seperti kau ingin diperlakukan. Kasih sayang, makan kenyang, jangan dipaksa. Pendek kata, kalau kau sayang padanya, dia sayang padamu."

5

Siang itu Abu juga sempat ketemu dengan pawang ular yang bertugas di bonbin itu.

"Apa kau punya mantra?"

"Tidak."

"Ilmu?"

"Pasti. Tukang kayu belajar menggergaji, sopir belajar nyetir. Srati gajah harus menguasai ilmu pergajahan. Pawang ular belajar bagaimana bergaul dengan ular."

"Tidak ada laku dan pantangan?"

"Tidak."

Abu pulang dengan kesimpulan bahwa mantra, laku, dan pantangan adalah salah satu cara, tapi bukan satu-satunya.

6

Sebagai realisasi kerja sama antara MPU dan bonbin ada pertunjukan wayang di bonbin. Pertunjukan itu diadakan dalam rangka Hari Lingkungan Sedunia. Abu mengusulkan lakonnya adalah "Perjamuan Ular" sebagaimana pernah dimainkannya di Kemuning. Jadi!

Sebelum pertunjukan itu dimulai dibacakan sambutan tertulis Menteri Lingkungan. Sambutan itu berisi dua hal. Pertama, reservasi binatang dalam bonbin hanyalah salah satu cara pelestarian lingkungan. Cara lain ialah mengembalikan binatang pada habitatnya. Kedua, industrialisasi akan menghadapi tantangan berat soal pelestarian lingkungan.

Setelah pementasan ada semacam "pengadilan" atas lakon itu oleh penonton.

Penonton 1: "Tidak mengikuti pakem."

Penonton 2:"Tidak apa! Ada yang lebih menyimpang dari itu."

Ki Manut Sumarsono di-interview sebuah koran. Ia mengatakan bahwa lakon itu masalah kreativitas dalang. Katanya, selain soal lingkungan, yang penting ialah soal budaya, yaitu digantikannya budaya dendam oleh budaya cinta. Ditanyakan, kenapa dalang tidak memilih menciptakan lakon baru? Dijawab bahwa mungkin misi soal lingkungan bisa diterjemahkan dalam lakon baru, tapi misi kebudayaan akan lebih efektif dengan mengubah lakon lama. Dendam itu juga soal lama, jadi harus diubah dengan memutarbalikkan lakon lama.

Surat kabar yang sama juga memuat wawancara dengan Rektor STSI Surakarta. Dia mendukung pementasan itu. Sang wartawan mengingatkan:

"Abu Kasan Sapari itu sarjana STSI kurang skripsi, lho Pak."

"Mosok, saya lupa."

7

Abu baru saja pulang dari kantor, ketika dua orang datang dan langsung menyebut Abu dengan "Kamerad". Dua orang itu tahu betul kalau Abu adalah Ketua MPU Nogogini serta bisa mendalang. Mereka mengatakan bahwa mereka terkesan dengan pementasan "Perjamuan Ular". Mereka memperkenalkan diri sebagai Ketua dan Sekretaris Partai Hijau Daerah Jawa Tengah, sebuah partai yang berusaha menyadarkan pentingnya lingkungan. Mereka mengundang Abu untuk datang ke sebuah rapat. Abu akan diusulkan sebagai Ketua Departemen Propaganda. Abu menyanggupkan datang, sekalipun hatinya tidak sreg, sekadar ingin tahu saja. Dua orang itu meninggalkan sebuah buku Manifesto Partai Hijau.

Ia tidak menandatangani daftar hadir, kata teman-temannya di sekolah dulu daftar hadir tidak usah ditandatangani kalau kita tidak tahu persis duduk perkaranya. Kebanyakan yang hadir adalah aktivis mahasiswa kira-kira 25 orang.

Rapat membahas kelengkapan susunan pengurus. "Ini adalah embrio Partai Hijau di Jawa Tengah", kata Pimpinan sidang, Ketua Partai Hijau. "Kita akan melakukan propaganda, kemudian organisasi, kemudian aksi." Abu Kasan Sapari diperkenalkan sebagai kandidat Ketua Departemen Propaganda. Semua setuju.

"Nanti dulu," kata Abu. "Kenapa harus partai?" Ia teringat pertentangannya dengan Mesin Politik. "Setahu saya, untuk urusan lingkungan, politik lebih menyulitkan ketimbang memudahkan."

Pertanyaan itu dijawab oleh Ketua dengan menunjukkan contoh-contoh konkret tentang hubungan antara keputusan politik dengan masalah lingkungan. Pendirian pabrik, pemberian HPH, dan kontrak karya penambangan tidak pernah murni ekonomi, tapi juga politik. Terjadi perdebatan antara pro dan kontra-partai. Mereka yang tidak setuju dengan partai tidak sengaja telah mengangkat Abu sebagai juru bicara.

"Dibentuk saja LSM," usul Abu. "Politik itu soal kalah-menang. Padahal soal lingkungan bukan soal kalah-menang. Siapa pun yang berkuasa akan menghadapi masalah lingkungan."

Beberapa hari kemudian Abu membaca berita di surat kabar bahwa polisi telah menangkap dua orang pendiri Partai Hijau, mereka akan diadili dengan dakwaan melanggar undang-undang No. 3/1985 mengenai kepartaian dan subversi.

"Partai boleh dilarang, tetapi masalah lingkungan tidak boleh terabaikan," pikirnya.

8

"Yu, Yu. Ke sini saya ceritai," kata Abu pada suatu sore.

Lastri membawa kursi plastik ke dekat lincak.

"Mau cerita apa?"

"Kancil."

"Kancil mencuri ketimun?"

"Ya. Tapi ini lain."

"Ya, Pak Guru."

"Pada suatu pagi, kancil berjalan ke sawah untuk mencuri ketimun. Themlek-themlek." Telapak tangan Abu di udara, bergoyang-goyang.

"Tidak usah pakai themlek-themlek. Apa jalannya kancil tleser-tleser seperti ular?"

"Kancil sudah hapal ceritanya. Ia pun sudah membaca cerita yang pakem. Ia harus mendekati orang-orangan, memukulnya, lalu kaki dan tangannya lengket. Sebab, petani telah menaruh getah di situ. Betul, ia mendekati orang-orangan, karena itulah darmanya sebagai kancil. Dekat sekali, dilihat-lihatnya, ia kaget, 'Lho! Kok, tidak ada getahnya'. Ini mesti ada yang salah, pikirnya. 'Tidak, tidak ada yang salah,' kata seseorang. Orang itu adalah petani pemilik sawah. Ia lalu membawa kancil ke kebunnya, mempersilakan kancil makan ketimun sepuasnya. 'Bener, nih?' 'Bener! Dengar itu.' Dari jauh terdengar takbiran. 'Hari ini adalah Idul Fitri. Semuanya sudah dimaafkan.' Maka tidak ragu-ragu lagi kancil makan. Kremus-kremus.

Pak Tani mengajak kancil ke rumah. Alangkah terkejut kancil, di pelataran rumah banyak binatang sedang bermain-main. Main kejar-kejaran antara ular dengan tikus sawah; sembunyi-sembunyian antara serigala dengan kambing; dan lomba lari antara elang dengan ayam. Kancil mengucek-ucek matanya. 'Tidak, kau tidak salah lihat,' kata Pak Tani. 'Hari ini permusuhan dihentikan.'

'Semua saja berhenti bermain. Kita makan!' Mereka berhenti bermain, mengerumuni meja. Di meja tersedia ketupat, sambel goreng tempe, dan bubuk kedelai. 'Jangan ragu-ragu, ditanggung halal!' Seperti tidak makan seminggu semua makan. Selesai makan mereka bermain tarik-tarikan, talinya putus. Karena sudah putus, ceritanya selesai."

"Horeee!" kata Lastri bertepuk tangan seperti murid TK. "Lagi, lagi!"

"Sudah. Talinya sudah putus, kok."

"Wah, itu bisa dikaryakan."

Lastri mengejutkan Abu. Ia terdiam sebentar, lalu ibu jari dan telunjuknya bertemu. Cetet!

"Aku tahu! Akan kubuat wayang fabel! Terima kasih ya, Yu."

9

Sebuah pintu di Solo diketuk. Seorang laki-laki keluar. Sambil membenarkan sarong laki-laki itu berkata:

"Lho, Abu! Kami tahu kegiatanmu."

Laki-laki itu adalah Ketua Jurusan Pedalangan, STSI Solo.

"Aku akan membuat skripsi."

10

Kedatangan Abu Kasan Sapari telah ditunggu di kantor kelurahan. Dia dilaporkan bahwa telah membuat takut dan resah dengan memelihara ular. Bahkan orang banyak berkesimpulan bahwa kedatangan Abulah penyebab dari banyaknya ular. Seekor ular muncul di kebun ketela, seekor lagi di sumur umum dekat pasar, seekor lagi di dekat beringin. Kabarnya, malah seekor ular jadi-jadian telah menghuni pohon itu.

Masalah Abu dan ular itu telah membagi warga menjadi dua: yang mendukung Abu dan yang menentang. Haji Syamsuddin adalah pendukung fanatiknya. Dan para penentang kebanyakan berasal dari dusun sebelah timur pasar. Dua kubu itu telah berdebat dalam sebuah kumpulan desa yang membahas soal keamanan lingkungan. " Para tetangga dekat saja tidak keberatan, mengapa yang jauh keberatan", kata Haji Syamsuddin. Kata-kata Haji Syamsuddin itu dibantah oleh seorang perempuan yang menggendong anaknya yang sambil menangis mengatakan, "Itu karena kau tak ada anak. Coba, kalau anakmu bermain-main dekat rumahnya, bagaimana?"

Kunjungan Abu ke kelurahan hanya mengambil kesimpulan bahwa dia berjanji untuk me- ngunci rapat-rapat kandang ular dan rumahnya. Abu merasakan ada perubahan. Pedagang ayam, tempat dia membeli makanan untuk ularnya, tidak lagi melayaninya sambil tertawa, tapi kemudian melayani tanpa senyum tanpa bicara.

11

"Yu,Yu. Jujur saja ya, saya tanya sungguh-sungguh," kata Abu pada Lastri.

"Saya tahu. Pasti soal ular itu."

Lastri sudah tahu bahwa Abu dipanggil ke kelurahan.

"Ya, bagaimana pendapatmu?"

"Dulu saya jijik."

"Sekarang?"

"Sekarang, ya tidak begitu jijik. Apa boleh buat wong itu kesenangan sampeyan. Kesenangan sampeyan berarti kesenangan saya."

"Sungguh?"

"Habis, kita mmm bertetangga. Kata orang, tetangga itu harus saling asuh, saling asah, saling asih."

"Saling asih,ya. Jangan lupa, lho."

"Iya,iya."

X

DI LUAR STRUKTUR,

DI DALAM SISTEM

1

DI

Bahwa Abu Kasan Sapari suka mendalang untuk calon kepala desa (cakades) yang bermusuhan dengan calon Mesin Politik sudah diketahui pegawai kecamatan dan Camat Tegalpandan sejak duluan lewat jalur birokrasi dan Mesin Politik. Dan bahwa orang banyak di seluruh eks-Karesidenan Surakarta tahu hal itu, karena mereka membaca koran. Tetapi berita itu juga disebarkan oleh orang-orang Kemuning yang menjual sapi, kerbau, dan kambing di pasar Tegalpandan. Para belantik akan berangkat pada dini hari dengan truk penuh sapi, kerbau, atau kambing-tidak lagi berjalan membawa obor di tangan seperti dulu-tapi di kepala mereka membawa berita soal pilkades di desanya.

"Coba, Kang. Kalau Pak Abu masih di sana Padi tidak akan kalah."

"Coba. Kalau dia masih di sana Jagung tak akan kalah."

"Kalau saja dia tak dipindahkan, tentu Obor menang."

Setiba mereka di pasar hewan, omongan itu merembet ke warung-warung nasi, ke kios-kios pasar, dan ke para bakul. Itu diketahuinya waktu Lastri bilang, "Sampeyan itu terkenal, lho! TVRI Stasiun Pasar Tegalpandan baru-baru ini menyiarkan bagaimana sampeyan mendalang untuk cakades." O, jadi itu. Pantas saja orang-orang tua di pasar suka berbisik-bisik kalau dia lewat. Karenanya, ia dikenal bukan saja di kalangan anak-anak yang menganggapnya sebagai dukun ular, tapi juga orang-orang tua terutama yang peduli politik yang menganggapnya sebagai pelawan Mesin Politik. "Semoga panjang umurnya. Semoga tidak masuk penjara," batin mereka. "Jadi pegawai ya harus kosekuen. Jadi pegawai jangan macam-macam," batin yang lain.

Tetapi, tidak seorang pun tahu bahwa Abu menyesalkan perbuatannya tidak ada yang tahu. Karena perbuatannya camat Kemuning dipindahkan, dan itu memberinya rasa bersalah yang besar. Bukan hanya dia, tapi juga orang lain, ikut menanggung akibatnya. Namun, hobi lama Abu Kasan Sapari untuk menyalahi Mesin Politik kambuh lagi di kecamatan Tegalpandan. Pesan Camat untuk tidak mencampurkan politik dengan kesenian rupanya sudah dilupakannya. Ia tidak tega melihat seorang cakades diminta mundur oleh Mesin Politik. Orang itu datang pada Abu.

"Hanya Pak Abu yang dapat menyelamatkan," katanya. "Tolong nasib saya dan nasib warga pendukung."

"Saya pikirnya semalam, ya."

Abu gelisah. Ia dipindah dari Bangdes ke bagian Statistik ialah soal dalang-mendalang itu. Ia juga sudah mendengar bahwa camat Kemuning yang baik itu dipindahkan. Maka penyesalan juga menghantui pikirannya. Ia betul-betul tidak mau mencelakakan orang lagi. Kegelisahan itu membawanya pada Lastri.

"Yu, Yu. Saya minta pertimbangan. Seseorang minta saya mendalang untuk memenangkannya dalam pilkades."

"Jangan mau. Itu politik."

"Nanti dulu, to. Prinsipnya memang begitu, tapi ini soal istimewa. Cakades yang ini diminta mundur untuk memuluskan jalan bagi calon yang dijagoi Randu. Itu kan tidak adil."

"Ya terserah saja."

"Kalau saya dipecat, bagaimana?"

"Ya wiraswasta, to."

"O, begitu. Nanti Yu Lastri tidak menyesal?"

"Lho, kok saya to?"

"Ya ... setidaknya tidak punya teman jadi pegawai, begitu maksudnya."

Lastri menyerahkan hal itu pada Abu. Abu cenderung menerima tawaran cakades itu, meski sebenarnya berat hatinya. Itu akan berarti bahwa ia sudah nekad. Risiko paling kecil ialah dimarahi, diskors, dipindah lagi, atau paling-paling dipecat, ya biar saja. Kepalang basah. Namun petang harinya ada tamu yang sudah dikenalnya, seorang fungsionaris Mesin Politik Tegalpandan.

"Pak Abu ingin kaya tidak?"

"Tidak ingin kaya, cuma butuh duit seperti orang lain."

"Lha, bicara soal duit. Bagaimana kalau permintaan untuk mendalang di rumah cakades itu ditolak?"

"Maksudnya bagaimana?"

"Maksudnya ... eh, tidak mendalang dengan kompensasi sejumlah uang."

Abu menolak dengan cara sebaik-baiknya.

"Jangan ditolak, to. Ini demi Pak Abu sendiri. Susahnya apa mengatakan tidak pada orang itu."

"Wah, itu rasanya tidak adil. Kasihan."

"Saya ke sini justru karena kasihan Pak Abu. Mbok sudah mengalah saja, kita ini kan orang kecil."

"Kalau orang kecil disuruh mengalah terus, kapan menangnya?"

"Tidak. Ada ungkapan wani ngalah dhuwur wekasane." Berani mengalah, menang pada akhirnya.

"Wekasane itu kapan, Pak. Jangan-jangan besok pagi kiamat."

Tidak berhasil membujuk Abu Kasan Sapari fungsionaris itu pulang. Katanya, "Kalau ada apa-apa jangan salahkan saya, lho."

2

Abu jadi mendalang untuk cakades. Cakades itu kalah dalam pilihan lurah. Mesin Politik ternyata jauh lebih perkasa. Fungsionaris Mesin Politik datang lagi.

"Nah, apa kata saya?"

"Apa boleh buat."

"Berpolitik itu jangan tanggung-tanggung."

"Saya tidak berpolitik."

"Tidak berpolitik itu politik. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita semua berpolitik. Dalam politik ada ungkapan 'kalau kau kalah, bergabunglah dengan yang menang'. Kedatangan saya kemari untuk mengajak Pak Abu bergabung. Bagaimana?"

"Tidak saja, Pak."

"Mbok ya yang agak praktis!"

3

(Hari lain muncul interviu di koran tentang sikap Abu Kasan Sapari. Interviu dikerjakan olehteman wartawannya. Inilah interviu yangoleh sang wartawan diberi judul yang mentereng, "Dalang: di Luar Struktur, di Dalam Sistem". Setelah memberi pengantar bahwa Abu Kasan Sapari adalah satu sajadari ribuan pekerja seni yang emoh berpolitik, wartawan itu menulis).

Bagaimana kalau Anda diminta Mesin Politik untuk ikut kampanye Pemilu? t kampanye PemilNanti dulu. Kita mesti membedakan dua hal, yaitu dalang dengan seni pedalangan dan dalang sebagai pribadi. Dalam hal pertama, para dalang jangan mempergunakan seni pedalangan untuk keperluan politik, artinya mendalang dalam rangka kampanye suatu parpol tidak boleh secara mutlak. Tetapi dalam hal kedua, diam-diam seorang dalang boleh menggunakanhaknya sebagai warga negara untuk menjadi pendukung parpol. Hanya saja kalau sampai ketahuan orang lain itu berarti cacat budaya yang dapat mempunyai akibat-akibat buruk bagi-nya, seperti tersingkir dari komunitas dalang. Karenanya saya sendiri tidak akan mengerjakan hal kedua itu.

Kalau begitu seorang dalang harus Golput, dong?

Bukan itu artinya. Dia bisa jadi simpatisan suatu parpol dan harus mencoblos pada saatnya. Jadi seorang dalangmenjadi donatur, pendukung, dan simpatisan parpol boleh-boleh saja. Asal jangan jadi anggota dan tidak boleh terang-terangan.

Dalang itu warga negara yang terpasung jadinya?

Itu terserah yang mengatakan. Tergantung cara pandang. Boleh dilihat sebagai pasungan, boleh dilihat sebagai kebebasan. Tapi itulah konsekuensi profesi.

Apakah itu juga berarti seorang dalang tidak boleh mendalang selama musim kampanye?

Bukan begitu maksudnya. Seorang dalang bisa saja mendalang selama musim kampanye, asal untuk kepentingan pribadi seperti perkawinan, sunatan, ulang tahun, syukuran, dan hajatan lainnya. Asal bukan untuk parpol.

Bagaimana kalau ditanggap untuk ultah parpol, misalnya?

Bisa saja. Asal ada jarak waktu tertentu dengan kampa-nye politik, dan tidak berbicara politik praktis. Lagi pula lakonnya harus dia sendiri yang menentukan.

Kalau begitu seni pedalangan harus lepas darim politik?

sDalang itu seperti halnya ulama, sastrawan,seniman, dan ilmuwan tidak boleh menggunakan profesinya untuk kepentingan suatu parpol. Dalang itu bagian dari masyarakatnya dalam arti terikat dengan unggah-ungguh, hukum, dan perundang-undangan persis seperti orang lain, tapi tidak boleh berpolitik melalui parpol. Politik dalam arti pencerahan politik, pendidikan politik, dan kesadaran sebagai warga negara itu sehat untuk kesenian, sebab itulah salah satu fungsi sosial dari dalang. Fungsi lain ialah pencerahan moral, etika, kesadaran hukum, kesadaran lingkungan,kesadaran bermasyarakat, dan sebagainya.

Apa ada rencana untuk mendirikan paguyuban?

Ya, begitulah.

Program kerjanya?

Peningkatan profesionalisme. Termasuk profesionalisme saya sendiri. Dalam gambaran saya di setiap profesi itu ada tingkatan-tingkatan. Seorang dalang seperti saya tidak sama tingkatnya secara profesional dengan Ki Manut Sumarsono. Saya masih patut jadi bala-dupakan alias orang yang disuruh-suruh, seperti-kalau ada-mengurus paguyuban itu.

4

Koran yang memuat interviu dengan Abu Kasan Sapari kebanjiran surat . Pada umumnya mereka mengatakan bahwa interviu itu menunjukkan visi dan misi pedalangan yang jelas sebagai sebuah profesi yang mandiri. Mereka juga menyatakan akan bergabung seandainya didirikan sebuah paguyuban. Surat-surat itu dimasukkan amplop besardan dibawa sendiri oleh wartawannya diberikan pada Abu. Wartawan itu menyanggupkan diri untuk selalu meng-cover kegiatan-kegiatan Abu selanjut-nya. Abu mengatakan bahwa ia akan membaca surat-surat itu lebih dulu, baru memutuskan apa yang akan dikerjakan.

Interviu itu pula yang sekali lagi menghadapkan Abu pada Mesin Politik. Seorang fungsionaris Mesin Politik bagian kesenian Dati II Karangmojo diantar fungsionaris dari Tegalpandan mengunjunginya.

"Setiap orang, setiap pekerjaan itu ada harganya," kata fungsionaris bagian kesenian itu. "Tugasmu sangat ringan, malah tidak ada yang harus dikerjakan."

"Maksudnya apa, Pak?"

"Maksudnya, mm, Pak Abu jangan mengerjakan apa-apa dan jangan bicara apa-apa menjelang Pemilu ini. Dan untuk itu kami akan memberikan kompensasi."

Abu menangkap arah pembicaraan itu.


"Maksudnya saya jangan mendirikan paguyuban dulu?"

"Persis! Apa yang lebih enak dari itu? Thenguk-thenguk nemu kethuk, tidak mengerjakan apa-apa tapi dapat sesuatu."

"Wah, saya tak dapat berjanji."

Mereka pulang, "Batu karang, batu karang!" komentar fungsionaris Karangmojo. Entah, bagaimana Mesin Politik berpikir, rupanya perihal paguyuban pedalangan itu menjadi perkara besar.

Untuk keperluan itu Abu pergi pada Ki Manut Sumarsono. Ia mendapat keterangan bahwa untuk keperluan kampanye Mesin Politik berencana mengumpulkan para dalang. Di setiap desa akan diselenggarakan wayangan. Sebagai dedengkot para dalang, ia sudah disowani Mesin Politik untuk diminta restunya. Demi sopan-santun dan hu- bungan baik ia hanya mengatakan, 'Silakan, silakan saja. Saya tidak merestui tetapi juga tidak akan menghalang-halangi.'

"Maka, kalau kau punya rencana mendirikan paguyuban, ya cepat-cepat saja," kata Ki Manut. "Aku di belakangmu."

Pulang dari rumah Ki Manut, Lastri menemuinya.

"Jangan marah. Saya hanya menyampaikan, menyampaikan saja, lho." Ia menyebut nama, "Katanya sebaiknya sampeyan tidak usah mendirikan paguyuban pedalangan. Mereka sudah mengantongi lampu hijau dari Ki Manut Sumarsono."

"Pesan sudah saya terima, perkara dijalankan itu soal lain, Yu."

"Ya, pokoknya saya sudah menyampaikan."

"Kalau saya mendirikan juga?"

"Katanya sampeyan bisa diperkarakan."

"Wah, kok enak jadi penguasa itu. Jagung bakarane, Yu." Abu mengatakan bahwa ia sanggup menanggung akibatnya.

"Kalau begitu saya setuju."

"Setuju, toYu?"

"Ya, setuja-setuju saja. Meskipun ikut deg-degan."

5

Abu Kasan Sapari telah me- ngantongi alamat-alamat mereka yang bersimpati, calon anggota paguyuban itu. Lalu me-ngelompokkan mereka ke dalam kabupaten-kabupaten. Ia menghubungi kawan-kawannya dari STSI untuk mengurus orang-orang di luar Karangmojo. Kawan-kawan yang juga telah membaca interviunya menyambutnya dengan bersemangat. Mereka berkumpul, "Saudara-saudara, juru bicara kita mau angkat suara," kata Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa STSI. Mereka membagi tugas. Abu bertugas di Karangmojo. Ada dua puluh orang di Karangmojo yang sudah menyatakan akan bergabung.

Langkah pertama seperti dikerjakannya dengan MPU Nogogini ialah mengumpulkan orang. Orang-orang di Tegalpandan dihubunginya secara langsung dengan sepeda motor yang dipinjamnya dari Haji Syamsuddin. Orang-orang di luar kecamatan hanya dikirim undangan dan diumumkan lewat koran. Ia tidak berkewajiban mengurus izin, hanya memberitahu polisi.

Ia datang pada Lastri.

"Yu, mau minta tolong lagi."

"Membuat makanan kecil."

"Lho, kok sudah tahu?"

"Itu namanya jalma limpat seprapattamat. Ha ... ha. Tapi untuk orang berapa?"

"Tiga puluh, begitu."

"Nanti kurang lagi?"

"Tidak. Undangan hanya dua puluh. Kali ini harus mau saya bayar."

6

Abu Kasan Sapari menyewa Gedung Serbaguna. Minuman yang dapat disediakan penjaga gedung. Makanan kecil yang harus disediakan sendiri juga sudah tersedia. Teman wartawan sudah datang. Satu teman kandidat dalang didikan Ki Manut datang. Seorang lagi. Seorang lagi. Itu semua kawan dekat Abu yang dihubungi langsung. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Abu melongok-longok, setengah jam kemudian tambah satu. Abu mulai gelisah. Jangan-jangan mereka tidak datang. Padahal ia sudah berusaha. Sungguh! Sampai jam dua belas tidak tambah orang.

"Bagaimana ini?"tanya Abu pada kawan-kawan yang hadir.

"Terus saja," kata seorang.

"Sebuah organisasi hanya perlu tiga orang. Satu Ketua, satu Bendahara, dan satu Sekretaris. Kita sudah ada empat orang. Sudah lebih dari cukup. Bisa ditambah Pembantu Umum. Yang perlu ialah terdaftar," kata yang lain.

"Kalau begitu namanya apa?"

Abu sudah punya sejumlah nama, "Pokoknya pakai 'Paguyuban Pedalangan'. Di belakangnya bisa 'Independen, Netral, Bebas , Indonesia , atau Mandiri'"

"Independen!"

"Setuju!"

"Jadi: Paguyuban Pedalangan Independen."

Kemudian mereka membentuk kepengurusan. Abu Kasan Sapari jadi Ketua. Orang-orang lain Sekretaris, Bendahara, dan Pembantu Umum.

"Maaf, ya. Jauh-jauh disuguhi kegagalan," kata Abu kepada wartawan.

"Ini juga fakta jurnalistik. Tapi jangan marah kalau nanti beritanya lain."

Mereka mengantar pulang piring-piring suguhan. Kebetulan Lastri di rumah.

"Kok dibawa pulang?"

"Wah, dagangannya tidak laku, Yu."

"Sudah saya duga. Orang mesti takut datang."

Kata Lastri soal 'takut' itu terngiang-ngiang di telinga Abu. Ketika dia mencoba menghubungi kawan-kawannya di STSI ternyata juga tak seorang pun berhasil. Anehnya, pemberitaan di koran pagi harinya menyatakan bahwa di Karangmojo sudah terbentuk Paguyuban Pedalangan Independen. Berita itu diberi judul, "Para Dalang Menolak Politisasi Kesenian".

Selanjutnya dikatakan bahwa yang hadir dalam pertemuan itu tiga puluh orang. Berita itu juga mengulas bahwa kata 'independen' yang juga digunakan oleh KIPP (Komite Independen Pemantau Pemilu) rupa-rupanya sudah menjadi kata sehari-hari bagi pejuang demokrasi.

Abu Kasan Sapari membaca berita itu di kantor. Kawan-kawannya menyelinap ke kamarnya dan mengulurkan tangan. Hanya Pak Camat yang kelihatan cemberut waktu berpapasan dengannya, sambil berkata, "Sudah kubilang, jangan mencampurkan kesenian dengan politik." Lastri yang juga membaca berita di kios berkata:

"Ihik. Sampeyan ini pejuang demokrasi, to?"

"Wah, jangan ngece begitu, Yu."

"Saya hanya mengikuti kata koran."

"Ya begitu, tapi jangan begitu."

"Yang datang banyak, mosok suguhannya tidak habis."

"Saya juga heran, empat kok bisa jadi tiga puluh."

Sore hari teman wartawan itu datang di Tegalpandan. Belum sempat ditanya dia bilang:

"Aku tahu kau heran. Aku telah menyulap angka."

Lalu dia menjelaskan bahwa esok hari akan ada pernyataan pers dari Mesin Politik bahwa mereka sudah mengumpulkan para dalang untuk keperluan Bapilu (Badan Pemenangan Pemilu) se Kodya Surakarta sebanyak 150 orang. Mereka memutuskan untuk menggunakan media tradisional pedalangan untuk kampanye. Dalang-dalang akan diterjunkan di seluruh eks-Karesidenan Surakarta selama masa kampanye.

"Lho! Dalang di Kodya Solo bisa dihitung dengan jari."

"Itulah soalnya! Seorang teman yang datang mengatakan bahwa jumlah yang datang hanya sepuluh orang. Nah, mereka sudah melipatgandakan lima belas kali. Kita paling-paling hanya melipatgandakan sepuluh kali. Adil, to?"

"Tapi itu menipu pembaca."

"Itulah politik!"

"Saya malu."

"Itu namanya psy-war. Ingat, Pemilu tinggal setengah bulan."

7

Sore hari Abu menutup pintu dan jendela. Membenahi meja-kursi. Ia kepingin sekali bermain dengan ularnya. Hari-hari terakhir ini ia sibuk mengurus pedalangan, sehingga lupa segalanya. Setelah kegagalan di Gedung Serbaguna itu ia memutuskan sebaiknya ia mengurus diri sendiri, perempuan di rumah yang sebelah, dan klangenannya. Dikeluarkannya ular dari kandang. Ia bersiul-siul. Ular itu merayap-rayap ke atas meja. Terus saja ia bersiul dan ular itu meliuk-liuk sebisanya seperti menari. Lagi enak-enak bermain, pintu diketuk orang. "Ya, sebentar." Ia mengemasi meja-kursi, mengembalikan ular ke kandang, lalu membuka pintu dan jendela.

"Wah, silakan masuk."

"Sore-sore kok pintu dan jendela ditutup, kayak manten baru saja." Orang yang dikenalnya sebagai Ketua Umum Mesin Politik Tegalpandan itu lalu mengatakan, "Saya hanya mengantarkan, Bapak ini adalah Ketua Badan Seleksi Caleg Dati II Karangmojo."

Abu mempersilakan mereka masuk.

"Terimalah ucapan selamat kami. Kami dari DPD telah memilih Pak Abu sebagai caleg jadi," kata Ketua Badan Seleksi. "Pak Abu lolos ketimbang sembilan cal

Abu bingung. Ia tak pernah menghubungi atau dihubungi siapa-siapa. Kejadian itu sangat tiba-tiba.

"Saya-saya tak tahu apa-apa!"

"Ya, Pak Abu tidak tahu. Tapi kami punya banyak telinga. Ini kehormatan. Jangan ditolak."

"Tapi saya tak pernah mengharapkan."

"Banyak memang peristiwa di dunia ini yang berada di luar harapan."

Abu mengerti duduk soalnya. Ia menolak. Tentu saja itu di luar harapan para tamunya. Sebab, orang lain berebut menjadi caleg jadi. Karenanya penolakan itu aneh bagi mereka.

"Aneh! Lalu apa maumu? Kalau bukan pangkat, kalau bukan jabatan?"

"Tidak semua garam sama kadar asinnya, Pak. Satu-satunya keinginan saya ialah kalian tidak mengganggu kesenian."

"Kalau itu maumu, kami tidak memaksa. Kami hanya ingin berbuat baik. Tapi, ya sudah. Kami beri waktu untuk berpikir satu kali dua puluh empat jam. Sesudahnya tanggung sendiri akibatnya. Ingat, kami juga bisa main kasar, lho!"

Abu Kasan Sapari heran, besar benar harga dirinya? Mungkin karena Bapilu Mesin Politik sudah memutuskan menggunakan media pedalangan untuk kampanye? Kedudukannya sebagai Ketua Paguyuban Pedalangan Independen jadi penting? Organisasi pedalangan tanpa anggota, eh "tiga puluh" orang itu? Jadi, ini semua pasti gara-gara angka yang ditulis wartawan itu.

Abu pergi pada Lastri.

"Yu, Yu."

"Stop, stop. Soal Ketua Paguyuban itu, to?"

"Ini mesti gara-gara Yu Lastri yang selalu setuja-setuju."

"Kok saya yang disalahkan?"

"Ya, karena itu Randu mau mengangkat saya jadi caleg."

"Ah, peruntungan sampeyan itu di kesenian, tidak di politik. Tidak punya potongan jadi politisi."

"Tidak punya potongan, bagaimana kalau punya jahitan?"

"Jahitan ya tidak punya."

Abu berkesimpulan bahwa Lastri tidak setuju. Semalam-sehari dibiarkannya berlalu, artinya dia menolak tawaran jadi caleg jadi dari Mesin Politik.

Beberapa hari kemudian sebuah pers release dari bagian reserse Kepolisian Karangmojo mengabarkan bahwa ada gerakan anti-Pancasila di Tegalpandan dengan ketuanya AKS. Teman-teman sekantor Abu hanya diam, termasuk Pak Camat. Di rumah Lastri terheran-heran. "Kok begini jadinya? Ini tidak adil. Ini tidak adil."

Abu yang tidak mengira orang bisa sekeji itu menjawab dengan hati yang ditenang-tenangkan, "Terjadilah yang akan terjadi. Kita orang kecil hanya bisa pasrah pada Tuhan, mengadu pada-Nya. Becik ketitik, ala ketara." (Baik ketahuan, jahat terlihat).*

XI

SENI ITU AIR

1

Sebuah mobil pengangkut tahanan dari Polres Karangmojo berhenti di depan kantor Kecamatan Tegalpandan. Semua pegawai melongok lewat jendela. Tiga orang polisi berseragam turun, masuk kantor. Mereka menemui Camat,menuju ke kamar kerja Abu Kasan Sapari, menunjukkan sebuah surat. "Kami dari Polres, Anda kami tahan," kata seorang."Boleh-boleh, silakan," kata Abu seperti sudah mengharapkan. Kemudian Abu berbisik-bisik dengan kawannya sekantor untuk memberitahukan penahanannya kepada Lastri dan Haji Syamsuddin, menyerahkan kunci, menitipkan rumah untuk mengurus lampu-lampu dan jendela. Diiringi mata yang heran dan bertanya-tanya dari seluruh pegawai Abu pergi bersama tiga polisi itu, "Apa kesalahannya?" Kebanyakan mereka hanya kenal Abu Kasan Sapari sebagai orang sopan-santun, suka mendongeng, suka menolong, seorang dalang, dukun ular. Tidak mengira sedikit pun bahwa dia punya urusan dengan polisi.

Sesampai di Kepolisian Karangmojo, Abu dimasukkan kamar tahanan. Tiga orang polisi melapor pada Kepala Polisi bahwa tugas sudah dilaksanakan.

"Mana orangnya?" Ia sudah tanda tangan penangkapannya, tetapi sepertinya ia tahu nama itu.

"Siap, Pak. Di ruang tahanan."

"Di tahanan?"

"Ya, Pak."

Ia melihat dokumen. "Lho, kok anti-Pancasila, subversi, makar? Perintah penangkapan yang saya tandatangani hanya soal kriminal biasa," katanya. "Kalau begitu ini tugas tentara, bukan polisi."

Kepala Polisi menuju ke kamar tahanan. Terkejut melihat Abu. Dikenalnya betul wajah tahanan itu.

"Lho, kau to Abu Kasan Sapari itu?"

"Iya, Pak."

"Kalau begitu ... jangan khawatir. Kau banyak teman di sini. Kalau ada yang kurang beres, bilang saya."

Kepala Polisi itu kenal baik dengan Abu Kasan Sapari, karena dia belajar mendalang dan karawitan di rumah Ki Lebdocarito, seperti juga banyak pejabat Kabupaten Karangmojo. Ia menemui agen polisi yang tadi membawa Abu.

"Apa tidak salah tangkap?"

"Tidak, Pak. Identitasnya jelas."

Kemudian dia pergi pada Kepala Penyelidikan dengan pertanyaan yang sama, mendapat jawaban yang kurang-lebih sama.

"Itu sudah sesuai prosedur, Pak. Berdasarkan laporan dari Kantor Sosial Politik."

Kepala Kantor Sosial Politik yang mengurusi perizinan itu adalah fungsionaris Mesin Politik. Ia sudah pergi ke Komandan tentara dengan alasan ada gerakan anti-Pancasila, tapi tentara menolak, "Wah, jangan gampang-gampang main tangkap begitu." Ia memutuskan untuk mencari akal.

Teman Abu memberitahu Lastri sore hari bahwa Abu dibawa polisi Kabupaten. Di rumah Lastri merasa ada yang kurang malam harinya: tidak ada Asmaradana dan Dandanggula dari rumah sebelah, sesuatu telah hilang. Jelas yang hilang itu ialah Abu. Sekalipun ia sudah menduga peristiwa itu akan terjadi. Ia gelisah semalam suntuk. Dipikirnya dunia ini tak adil. Ia tahu persis bahwa Abu tidak bersalah. Polisi!

Sore hari Haji Syamsuddin datang juga untuk menyalakan lampu dan menutup jendela. Kunci pintu diserahkan Haji Syamsuddin, dan bukan pada Lastri. Itu pasti kesengajaan Abu supaya ia tidak terpaksa melihat kandang ular. Ketika melihat Lastri, Haji Syamsuddin yang tahu perasaan Lastri berkata ringan, "Itulah politik, Jeng. Nanti juga selesai. Tenang saja." Ia berkata demikian karena pamannya pernah ditahan Polisi pada tahun 1960 selama sebulan karena menjadi pengurus Masyumi.

Keesokan harinya Lastri datang di Kapolres, membawa celana, baju, dan sarong. Mata Lastri berkaca-kaca.

"Tidak usah susah, Yu."

"Siapa susah? Masak ditahan di kantor polisi lagi. Kayak ...."

"Bilang saja kayak maling, curanmor, penjambret."

Kemudian Lastri memberikan bungkusan.

"Kok ini masih baru, Yu?"

"Habis, mau ke sebelah takut ular."

"Takut, to?"

"Ya takut kok, masak ada ularnya."

"Ular bisa dibuang kalau perlu."

Abu mengamati celana dan baju itu, mencoba-coba. Celana dan baju itu pas benar ukurannya.

"Kok tahu ukuran saya?"

"Itulah istimewanya penjahit. Penjahit itu begitu lihat orang, ia tahu ukuran pakaiannya."

"Tetapi lain kali jangan, ah."

"Ya pasti tidak, kalau tidak terpaksa. Tidak mau pakai, ya?"

"Bukan begitu. Memberi ya memberi, tapi jangan mahal-mahal."

"Ya, sudah! Tidak jadi, kalau begitu. Mana!"

Lastri bergerak mau mengemasi barang-barang itu. Tetapi dengan cekatan Abu menyembunyikannya di belakang punggung.

"Tidak begitu maksud saya. Sayang dipakainya. Ini terlalu bagus. Begini saja, lain kali bilang Pak Syamsuddin untuk mengambilkan pakaian-pakaianku."

Ketika Lastri berpamitan sekali lagi matanya berkaca-kaca. Abu menangkap kesedihan Lastri.

"Tidak usah dipikir berat-berat. Saya kan laki-laki."


"Apa di sini juga ada larangan untuk berpikir?"

"Tidak. O, ya. Minta Pak Syamsuddin cari orang untuk mengurus ular."

"Jangan dipikirkan rumah. Pokoknya segalanya beres."

Lama Abu merenungi koridor tempat kepergian Lastri. Rupanya untuk kesekian kalinya ia jatuh cinta! Lastri memutuskan untuk menjenguknya tiap hari. Modiste akan ditutupnya lebih awal. Pekerjaan- pekerjaan kasar dapat diserahkan pada dua orang pembantunya.

Kabar bahwa Abu Kasan Sapari ditahan polisi itu segera tersebar. Mula-mula di kantor, lalu di pasar, kemudian praktis di seluruh kota gurem itu. Orang membicarakannya di perhelatan perkawinan, di sepasaran bayi, di pelayatan, di sawah, di surau. Orang-orang gardu Siskamling kehilangan. Bagi mereka semua kabar bahwa seseorang ditahan polisi itu menimbulkan tanda-tanya. Dengan caranya sendiri orang menghubungkan penahanannya dengan politik. Maklum Pemilu sudah dekat.

"Kabarnya ia ditahan karena suka mendalang."

"Mendalang ditahan?"

"Bukan mendalangnya, tapi melawan Randunya."

Untuk sebagian orang Abu berubah menjadi pahlawan, untuk sebagian yang lain orang salah, untuk sebagian lagi biasa-biasa saja.

Orang pun tahu bahwa tiap hari Lastri menjenguknya. Ia selalu mendapat pertanyaan para tetangga, di pasar, bahkan dari para langganan yang jauh. "Sudah ada kabar?" "Kapan dia bebas?"

2

Wartawan kita membaca laporan dari koresponden Karangmojo tentang penahanan itu. Segera ia pergi ke kantor polisi Karangmojo. Ia juga menemui Ki Manut Sumarsono, Haji Syamsuddin, Sulastri, pegawai-pegawai kecamatan, Pak Camat, dan Lurah Tegalpandan. Di Karangmojo ia gagal menemui Kapolres, karena yang bersangkutan sedang keluar kota. Inilah tulisannya:

Dalang Ditahan: Seni Itu Air ang Ditahan: Seni itu Air

Solo (SB).OAbu Kasan Sapari (26), seorang dalang muda dari Tegalpandan yang juga pegawai Kantor Statistik setempat, kini berada di kamar tahanan Mapolres Karangmojo. Belum diketahui alasan penahanan itu, tetapi diduga ada kaitannya dengan kegiatannya akhir-akhir ini, yaitu menghimpun para dalang dalam satu wadah.

Sumber yang tak mau disebut namanya mengatakan bahwa ada konspirasi politik di balik penahanan AKS. Akhir-akhir ini sebuah kekuatan politik ingin merekrutnya untuk keperluan kampanye tapi ditolaknya. AKS berpendapat bahwa seni itu seperti air. Artinya, kalau ada yang benjol-benjol dalam masyarakat seni akan menutupinya, menjadikannya datar. Kalau ada api seni akan menyiramnya. Mengutip ajaran Sunan Drajat, AKS berpendapat bahwa seni memberi air mereka yang kehausan, memberi payung mereka yang kehujanan, memberi tongkat pejalan yang sempoyongan. Sebaliknya, seni yang hanya menjadi antek politik akan mengingkari tugasnya sebagai seni.

Kawan-kawan dan para tetangga menunjukkan keheranannya mengapa AKS ditahan, padahal ia orang baik, suka menolong, periang, dan suka ngobrol di gardu Siskamling. Bagi para tetangga satu-satunya kemungkinan ditahan ialah karena AKS memelihara ular di rumahnya. Seperti pernah diberitakan ia juga Ketua Masyarakat Pencinta Ular Nogogini. (JP)

3

Di Palar para tetangga orangtua Abu Kasan Sapari yang sedang sibuk mempersiapkan pamiwahan temanten ribut. Sebuah koran berpindah dari tangan ke tangan. Mereka membaca berita tentang penahanan Abu Kasan Sapari.

"Jelas Abu kita, siapa lagi!"

"Kabarnya ia memang jadi dalang."

"Pasti dia berani menentang Pemerintah."

"Pemerintah atau Randu?"

Jurukunci makam Ronggowarsito waktu itu-terhitung masih paman Abu-orang paling tua di desa yang juga dijuluki Ahli Babad menyambung:

"Kalaupun itu Pemerintah ya sudah betul. Sudah sesuai dengan sejarah. Menurut sejarahnya Eyang Ronggowarsito itu pangkatnya tidak lebih dari kliwon karena berani menentang Raja. Padahal mestinya Eyang sudah berhak jadi bupati."

Kalimat Jurukunci itu mengakhiri pembicaraan. Mereka baru ingat untuk memberitahu orangtua Abu Kasan Sapari. Seorang pergi ke rumah orangtua Abu. Ditahan polisi bukan berita besar di desa itu. Ada beberapa orang desa yang sudah mengalami ditahan, diinterogasi.

"Oalah, Le," kata Ibu Abu setelah membaca berita itu.

"Segala sesuatu pasti ada hikmahnya," kata pembawa berita.

"Hikmah ya hikmah. Tapi jangan polisi, to."

Singkat cerita, mereka segera meluncur dengan Kijang ke kantor polisi Karangmojo. Di kantor polisi orangtua Abu terheran-heran, sebab tidak ada tanda kesusahan sedikit pun pada Abu. Abu mencium tangan kedua orangtuanya. Orangtua mena- nyakan kesalahannya, Abu mengatakan bahwa ia tidak tahu. Ibu menanyakan tentang dalang-mendalang. Dijawab dengan gelengan kepala. "Di proses saja juga belum," kata Abu.

"Diapakan saja kau," tanya ayah.

"Ya disuruh makan kenyang, tidur cukup, olahraga."

"Tidak disiksa, to?"

"Mana ada orang berani menyiksa saya?"

"Jangan kemaki. Saya dengar ditahan itu artinya disiksa. Di setrum, disulut rokok, disuruh merangkak di atas kedelai?"

"Tapi, alhamdulillah anak Bapak-Ibu tidak."


"Lha iya. Wong ditahan di kantor polisi kok tidak tampak susah, kok malah mrusuh [gemuk bercahaya]?" kata Ibu Abu.

"Habis, di sini malah tidur teratur, makan tak usah masak."

Pembicaraan terhenti. Seorang polisi lewat.

"Bagaimana dengan ular itu?" tanya Ibu pelan.

"Itu hanya klangenan, Bu."

"Klangenan ya boleh. Tapi jangan ular, jangan harimau, jangan buaya. Kakek-kakek kita paling-paling pelihara kucing, lutung, perkutut, dan kuda. Soalnya Ibu takut kalau kau syirik."

"Syirik? Ya boleh jadi, meskipun sedikit."

"Kalau syirik jangan, lho."

Waktu itu Lastri muncul. Abu berbisik pada kedua orangtuanya:

"Inilah yang menjenguk saya tiap hari."

"Tiap hari? Kalau begitu istimewa."

"Ya, begitulah. Saya kan sudah besar, Bu-Pak."

"Syukur, kalau begitu. Bapak-Ibu cuma merestui."

Lastri mendekat. Membawa bungkusan, diserahkan pada Abu.

"Kenalkan ini Bapak-Ibu saya."

Lastri mengulurkan tangan, mencium tangan Ibu, yang segera menarik tangannya. Demikian juga ayah Abu. Penolakan itu sepertinya mengejutkan Lastri. Suasana jadi kaku.

"Maaf kami tak biasa cium tangan, kecuali pada orangtua," Ibu menerangkan.

"Anggap saja Yu Lastri ini anakmu, kalau dia mau," kelakar Abu.

"Ah! Jangan ngarang kamu, Abu," kata Ibu.

"Ngarang tidak, Yu?"

"Terserah!"

"Lho, kok terserah."

Ketika orangtua Abu pamit pulang, Ibu berbisik pada Abu:

"Kalau itu kami setuju."

4

Pemilu, 1997. Abu Kasan Sapari memilih di Rutan (Rumah Tahanan) Karangmojo. Mesin Politik menang di Karangmojo, tetapi hanya dengan enam puluh persen suara. Bahkan, di kompleks perumahan kepolisian dan tentara Mesin Politik kalah. Ini di luar kebiasaan.ABRI mengambil jarak yang sama pada semua peserta Pemilu. Perolehan suara itu di luar dugaan, dan berada jauh di bawah target kabupaten yang delapan puluh persen. Kegagalan mencapai target itulah yang mendorong Bapilu Mesin Politik mengadakan evaluasi. Mereka menyimpulkan bahwa kegagalan itu disebabkan karena mereka tidak bisa memakai sarana tradisional, tidak menyelenggarakan wayangan, wayang orang, dan ketoprak, karena para seniman tidak mau terlibat dalam politik praktis. "Aku tahu biang keroknya," kata fungsionaris kesenian DPD Randu. Di kepalanya hanya ada satu orang, Abu Kasan Sapari. Oleh karena itu pengurus memutuskan untuk membuat memo supaya Abu diproses sesuai rencana.

Abu Kasan Sapari diperiksa polisi untuk menyusun BAP (Berita Acara Pemeriksaan). Ia di-suruh menyebutkan nama, pekerjaan , nama-nama orangtua, paman, dan saudara-saudaranya, serta pekerjaan mereka. Terlibat perkara polisi? Tidak seorang pun. Apakah ada di antara mereka semua yang terlibat G-30S/PKI? Tidak seorang pun. Ekstrim kanan, tidak seorang pun. "Apa Saudara tahu mengapa ditahan?" tanya polisi. Abu menggeleng.Tidak ada barang bukti, tidak ada kesaksian, tidak ada laporan tertulis. Polisi pemeriksa geleng-geleng. Pemeriksa lapor atasan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kriminalitas, juga tanda-tanda ekstrim kiri dan ekstrim kanan.

Kepala Polisi merundingkan soal Abu Kasan Sapari dengan kepala bagian penyelidikan, "Sudah kuduga. Kita dijadikan tukang pukulnya, centengnya. Kita diperalat. Kita tidak mau demikian, kita netral, kita tidak ke kanan tidak ke kiri." Mereka bersepakat untuk mengeluarkannya dari tahanan. Seorang polisi menyerahkan secarik kertas pada Kepala Polisi.

"Ada memo dari Randu."

"Isinya?"

"Supaya menyukseskan pemeriksaan terhadap AKS."

"Sudah diperiksa, to?"

"Sudah, tapi tidak ditemukan indikasi apa-apa."

"Kalau begitu memo ini mbelgedes!"

"Mbelgedes!"

Kepala Polisi lalu membuat SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan).

5

Rombongan mahasiswa STSI Surakarta datang di depan Kantor Kepolisian Karangmojo. Mereka naik sebuah bis carteran, sepeda motor, dan kendaraan umum. Mereka berjajar di muka kantor. Mereka membentangkan spanduk-spanduk. "Bebaskan AKS." "ABRI netral?" "Seni bukan politik." "Stop Politisasi Seni". Ini agak luar biasa, tidak pernah ada demo mahasiswa sejak 1966 ketika mahasiswa mendemo Bupati yang PKI. Demo belum umum, apalagi di kota kabupaten itu. Orang-orang lewat berhenti untuk nonton. Pegawai Pemda yang masih satu kompleks meletakkan pulpen dan buku-buku di meja,menonton. Pimpinan rombongan dengan megaphone di tangan berdiri di tengah-tengah, berpidato tentang seni yang universal, kemerdekaan seni, otonomi seni, seni yang hanya berpihak pada kemanusiaan. Setiap jeda disambut dengan teriakan-teriakan: "Setuju!", sambil mereka menggerak-gerakkan spanduk.

Kepala Polisi dan staf keluar menemui mahasiswa. Pimpinan mahasiswa mengulurkan megaphone. Kepala Polisi berpidato:

"Adik-adik! ABRI dan Polisi netral dalam Pemilu. Polisi itu seperti seniman, tidak berpolitik. Jangan sangsi lagi. Lihatlah justru di Kasatriyan ABRI dan di Kompleks Polisi yang menang Parpol, bukan Randu. Besok pagi AKS akan kami bebaskan".

"Hidup ABRI!"

"Hidup polisi!"


Para mahasiswa lega. Mereka membubarkan diri. Hanya pimpinan mahasiswa masih berun-ding tentang waktu pembebasan.

Siang itu Kantor Polisi ke- datangan tamu lagi. Pengurus HAM cabang Surakarta dan Ikadin datang untuk keperluan yang sama. Mereka juga mendesak supaya Abu Kasan Sapari dikeluarkan. Kalau tidak, polisi bisa di PTUN-kan (Pengadilan Tata Usaha Negara).

6

Pagi itu sebuah sedan patroli polisi dan di belakangnya puluhan kendaraan roda dua meluncur dari Karangmojo ke Tegalpandan. Bunyi sirine yang meraung-raung menyebabkan kendaraan yang berpapasan berhenti. Iring-iringan itu berhenti di depan Kantor Kecamatan Tegalpandan. Para pegawai, beberapa calon penumpang bis yang kebetulan parkir di depan kantor kecamatan ingin tahu apa yang terjadi. Kebetulan hari itu Hari Pasar di Tegalpandan. Jadi keramaian pedagang sampai di depan kantor. Segera berita bahwa Abu sudah kembali tersebar.

Dua orang polisi mengiringi Abu Kasan Sapari menemui Camat. Puluhan sepeda motor juga berhenti. Mereka menyerahkan surat-surat pada Camat. Permintaan maaf dari polisi kalau-kalau telah mengganggu pekerjaan kecamatan. Satunya lagi jaminan dari Kepala Polisi bahwa Abu Kasan Sapari tidak bersalah apa pun. Abu mengucapkan terima kasih pada polisi dan mahasiswa yang mengantar. Mobil polisi dan sepeda motor mahasiswa pergi.

Camat lalu mengumpulkan pegawai-pegawai di bangsal. Mereka bergantian menyalami Abu. "Pak Abu, kami semua ikut bergembira. Jangan terus bekerja. Pulang dulu," kata Camat yang mendadak jadi baik.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba datang kerumunan orang. Sangat banyak. Beberapa pemuda dengan jaket hijau dan sedikit dengan jaket merah mengatur orang yang datang. Seseorang dengan megaphone berteriak sambil mengepalkan tangan.

"Hidup Pak Abu!"

"Hidup!"

"Hidup pahlawan rakyat!"

"Hidup!"

Seorang pemudi berjaket hijau mengalungkan bunga di leher Abu. Dengan gugup Abu menerima kalungan itu. "Pidato, Pak," seorang pemuda berjaket hijau memberikan pucuk megaphone. Abu menerima gagang itu dan mulai pidato.

"Saudara-saudara, terima kasih. Kehormatan ini sungguh di luar dugaan."

Abu mengembalikan gagang megaphone itu.

"Hidup Pak Dalang!"

"Hidup!"

"Hidup seni!"

"Hidup!"

Orang-orang pun membubarkan diri.

Abu pulang. Ia sudah punya rencana. Orang pertama yang akan ditemuinya ialah Lastri, Haji Syamsuddin, kemudian ularnya. Ia nyelonong begitu saja di kios Lastri. Lastri tampak gugup. Meskipun, seseorang sudah memberitahukan kepulangan Abu Kasan Sapari.

"Lho, sudah pulang pahlawannya, to."

"Apa kalau pahlawan itu tidak boleh pulang?"

"Bukan begitu. Mana teman-teman mahasiswa itu?"

"Sudah kembali."

"Masak tidak disuruh mampir."

"Kalau mereka mampir, mau disuguh apa?"

"Kok lupa punya ... teman."

"Ya sudah. Suguhannya untuk saya saja."

"Mau mbakmi?" Artinya, makan bakmi.

"Saya Mbak Lastri saja!"

"Merayu, ya?"

"Saya jujur, kok."

Keduanya terdiam sejenak. Ada setan lewat, barangkali.

"Ah! Ada-ada saja, sampeyan itu." Lastri tertawa.

"Tawa itu lho yang bikin ka-ngen."

"Pulang dari sekolah di kantor polisi tambah berani, ya."

"Habis. Apalagi yang ditakuti?"

7

Abu mampir di rumah Haji Syamsuddin untuk menjemput kunci pintu. Sampai di rumah, Abu menutup pintu dan jendela.

Ular bergerak-gerak untuk menyatakan rasa sayang. Abu membuka kandang. "Suit, suit," ia bersiul. Ular bergerak ke atas meja. Menari-nari.

Pintu diketuk. Abu mengemasi meja dan kursi. Membuka pintu. Pak Bayan (kepala dusun) muncul dan mengulurkan tangan. "Selamat datang kembali."

"Begini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi,nasib itu di tangan Tuhan. Tiba-tiba saja Pak Abu dijemput polisi, padahal mimpi pun tidak. Tiba-tiba jadi pahlawan,padahal mimpi pun tidak. Jadi, memang nasib itu tidak bisa diduga. Tiba-tiba lagi Pak Abu sudah di sini kembali, tanpa direncana, tanpa diduga."

Ada tanda-tanda Pak Bayan akan bicara berputar-putar. Abu tidak sabar. Di kantor polisi ia sudah belajar untuk blak-blakan.

"Intinya saja, Pak."

"Begini, lho. Para tetangga itu khawatir, kalau-kalau Pak Abu pergi lagi, ular itu kan jadi tidak terpelihara. Kalau-kalau, ya hanya kalau-kalau, tiba-tiba ular itu keluar dari kandang karena kelaparan, bagaimana?"

"Jangan khawatir. Ular saya jinak, kok. Ingin bukti?"

Abu menuju kandang dan membuka tutupnya. Lalu dia bersiul-siul, menunjuk ke dipan. Ular itu menari-nari di sana .

"Jinak, bukan Pak?"

Pak Bayan berdiri. Mulut- nya menganga. Tangannya bergerak-gerak, seperti menolak. Mundur-mundur ke pintu.

"Sudah, sudah." Ia lalu pergi begitu saja.

Abu merasa sesuatu tak beres. Ada firasat buruk. Bahkan Pak Bayan ketakutan dengan ularnya.*

II

SAJAK-SAJAK CINTA XII

SENI ITU AIR

(Abu Kasan Sapari menulis geguritan - puisi bebas bahasa Jawa - dalam tahanan Mapolres. Sebagai tampak dalam puisi ini ia tambah-tambah jatuh cintanya pada Lastri, dapat dikatakan mabuk kepayang. Kumpulan sajak itu akan dijilidnya dengan sampul merah jambu dan diberinya nama Geguritan Asmaradana. Akan diserahkan pada Lastri ketika tiba waktunya. Inilah sebagian terjemahan sajak-sajaknya. Terjemahannya kata demi kata dan tidak selancar aslinya, tetapi biarlah demikian. Aneh, tidak ada bau sel tahanan, dendam politik, dan tipu-daya Randu. Puisi-puisi di bawah ini terasa kekanak-kanakan. Di depan Lastri Abu menjadi kanak-kanak kembali?).

Di Rumpun Bambu burung Kecil

Pada suatu kali dalam perjalanan

Di suatu rumpun bambu kutemukan

Sebuah sarang dan di dalamnya

Seekor burung kecil yang manis

Burung kecilku yang manis

Senyum di wajahnya

Menyambut pengembara

Lagu didendangkan

Aku pun berhenti

Kemudian beberapa saat

Angin pun datang

Burung kecilku bernyanyi

Aku semakin tenggelam

Burung kecilku yang manis

Maukah menyambut cintaku

Cinta pengembara yang gairah

Cinta pengembara yang gelisah

Dan ketika sekali lagi angin men desah

Aku pun teringat: pengembara tak boleh berhenti di jalan

Burung kecilku yang manis

Katakan cintamu padaku

Cintamu air bening sahara

Cintamu penghapus duka

Lalu sesudah itu sambil berjanji

Suatu kali akan kembali, aku pun melangkah

Wahai perjalanan masih jauh

Wahai perjalanan masih jauh

***

Seekor Kambing Hitam dan Tua

Di tengah padang bersama gembala

Seekor kambing hitam dan tua

Berdiri di ambang senja

Menatap betapa luasnya dunia

Terpaku di atas kaki

Tubuhnya menghadap senja

Matahari di atas desa

Merah warna menyala

Angin mengelus bulu-bulu

Angin membisik telinga

Angin membasah tubuh

Angin menampar, menampar

Bulat merah matahari

Terbayang di bawah alis mata

Warna merah matahari

Terpanggang jauh dalam mata

Hamparan rumput padang

Terbayang di bawah alis mata

Warna hijau rumput padang

Terbentang jauh di mata

Lengkung langit senja

Terbayang di bawah alis mata

Lembayung langit senja

Terpasang jauh di mata

Gembala menjentik ekornya

Kambing hitamku tercinta

Hari ini tanggal sembilah Zulhijah

Besok pagi kau di korbankan

Di tengah padang bersama gembala

Seekor kambing hitam dan tua

Melalap rumput padang

Untuk terakhir kalinya

Angin membelai-belai tubuh

Seekor kambing hitam dan tua

Meloncat-loncat riang

Meloncat-loncat riang

Tersenyum entah pada siapa

Tersenyum entah karena apa

***

Jangan Bernyanyi di Sini

Burung hitam putih di lehernya

Melintas di atap rumah

Melengking nyanyi sedih

Malam bertambah kelam

Nenek tua di atas dipan

Mendekap cucunya

Tenanglah, tidak apa

Aku tetap menjaga

Jangan bernyanyi di sini

Burung hitam putih di lehernya

Burung hitam celaka dibawanya

Kami masih terjaga

Doa-doa sudah diucapkan

Kidung malam didendangkan

Bunga-bunga disebarkan

Di sudut rumah sesajian

Bau kemenyan sedap menyegarkan

Bernyanyilah, tapi jangan di sini

Sebarlah malapetaka, tapi jangan di sini

Puaskan dendam, tapi jangan di desa

Tuangkan azab, tapi jauh di puncak gelap

Burung hitam putih di lehernya

Jangan bernyanyi di sini

Sebuah Rumah di Tengah Padang

Kulihat rumah itu dari kejauhan

Berdiri kukuh dalam lindung bayang-bayang

Berdandan hijau daun-daunan

Pohon randu memuntah kapuk-kapuk

Kutilang meloncat dahan-dahan

Rumput ilalang mengepung pelataran

Lumut merambat ke tembok-tembok

Butir embun membasah dinding-dinding

Sinar lembut matahari merata atap

Aku terkenang sebuah tempat

Tidak di dunia ini

Tapi mungkin dalam mimpi abadi

Tempat tinggal teduh dalam khayal

Melabuhkan pedih karena lama berjalan

Angin puyuh dari selatan

Jangan diganggu bangunan di tengah ladang

Rumah dan pelabuhan para pejalan

Tambatan capai menepis debu

Naungan terik siang membakar

Burung-burung, burung bernya nyi dan dendang
Tinggallah di dahan pohon randu
Lagukan merdu menghibur rumahku
Rumahku dibangun dalam rindu sepi bertalu
Ketika sudah lama menatap
Tak satu pun menerima harap

Di situ dalam lingkar hijau pupus
Kan kuendapkan sedu sedan lama tersimpan
Sampai dasar sungsum ketenteraman
Rinduku selama ini dalam pengejaran
Rinduku selama ini dalam pengejaran

***



Angsa Putih Bermain dalam Hujan

Gerimis menetes-netes dahan
Memantul air kolam
Hingar percik di permukaan
Seraut sinar masih tergoyang
Tersembunyi di pasir hitam
Angsa putih-putih
Mengibas ekor-ekornya
Bergumpal bulu-bulunya
Terjatuh basah atas gerimis
Angsa putih-putih
Memandang ke dasar kolam
Ikan kuning-kuning
Malu-malu berenang

Angsa putih-putih
Mencebur air kolam
Lingkaran makin membesar
Kacau di permukaan
Air memercik bulu putih-putih
Sementara gerimis dikibaskan

Ramai air kolam
Ramai senja mengelam
Damai air kolam
Damai pedusunan

Sudikah angsa putih-putih
Berenang bersama
Dalam gerimis di air kolam
Pestamu dan pestaku disatukan
Dukamu dan dukaku dipadukan
Tenggelam di air kolam
Biarlah gerimis menggoda riang
Gerimis menghapus kelam
Dari bulu-bulu putihmu
Dari baju-baju putihmu

Angsa putih-putih
Sudikah bersama
Bermain dalam hujan
Bermain di air kolam

***



Sungaiku Membelah Pedusunan

Lewat tengah pedusunan
Sungaiku mengalir pelahan
Aku terjuntai di tepi
Menatap reranting bergoyang
Menatap reranting kedinginan

Daun-daun pohon di tepi
Terangguk sepi
Ketika dengan lembut air pun berpaut
Di sini di lidung air sungai
Kulihat waktu berlalu
Dirundung sedu
Kacau bayang-bayang wajah waktu
Dengan muram berlalu, tak sepatah berseru
Sungaiku, manakah di antara zat-zatmu
Adalah percik Amazone dan Mississippi
Adalah riak Wolga dan Donau
Adalah ombak Seine dan Rhine
Adalah alir Bengawan Solo
Adalah zat-zat segala sungai
Yang mengalir di mana-mana di bumi

Sungaiku, dalam percik tepimu
Teringat kembali
Menyusun simfoni
Tentang angin puput yang meniup pohon birka
Tentang salju menggayut pucuk cemara
Tentang lurus pohon akasia
Tentang desir pohon bambu
Tentang desau daun anggur angin menggeliat di musim gugur
Sungai, bersama beningmu
Mengalir warna merah jingga kuning hijau biru nila ungu
Sampai Australia sampai Afrika sampai Amerika sampai Eropa sampai Asia

Selamat jalan
Sampai Antartika sampai Laut Utara sampai Laut Cina sampai Mediterania
Selamat jalan sampai di mana-mana

***



Kebangkitan

Dua ekor prenjak
Hinggap di pucuk cempedak
Siapa datang hari ini

Dua ekor prenjak
Riang suara gelak
Siapa disambut angin sepoi

Dan muadzin tua
Di atas tikar sujudnya
Mengangkat tangan
Puji syukur Ya Rabbi

Pucuk rumah desa
Menunduk bersama
Pucuk pohon desa

Merunduk bersama
Siapa datang hari ini

Dan muadzin tua
Berdiri di pintu masjid
Telah pulang hari ini
Si anak hilang

Si anak hilang
Bertubuh pualam
Bermata bening zam-zam, wahai
Di keningnya terpahat
Hamzah di padang Uhud, ketika
Darah menetes dari lambungnya

Bukit-bukit merunduk, ketika
Isa mengucap khotbah

Laut membelah, ketika
Musa dalam pengejaran
Ismail mengucap 'Ya', dalam
Kilau pedang Bapanya

Telah datang hari ini
Si anak hilang

***



Wajah Dunia yang Pertama

Dik Lastri sedang mengaji
Aku termangu sendiri di kamar

Wajah dunia yang pertama
Putih-putih salju
Mengalir dari ayat-ayat

Damailah hingar-bingar hari ini
Lumat dalam alun bunyi
Maka Adam dan Hawa pun putih kembali
Maka anak-anak Adam dan Hawa


Dentang senapan terlindih sepi

Pekik pertempuran terhenti

Para serdadu bersama terbantai

Tersayat keramat ayat-ayat

Tidak terdengar lagi hingar-bingar hari ini

Ketika senja terbenam

Ayat-ayat menghilang

Dunia pun jadi hitam

Dalam gelap malam

Terdengar lagi hiruk-pikuk hari ini

Wajah dunia yang pertama

Ke mana bersembunyi

Dalam deru mesin atau mulut bedil

Kurindukan lagi wajahmu yang pertama

Tidakkah akan kembali bersama ayat-ayat suci

Tidakkah akan bertemu lagi

Salam sampai akhir nanti

XIII

MENCARI AKAR

(Abu Kasan Sapari pulang ke desa tempat dia dibesarkan. Kakek bercerita).

1

Kami juga dengar kau disidangkan, tapi belum sempat menjenguk. Alhamdulillah, kau sudah pulang, tak kurang suatu apa, malah sepertinya tambah gemuk. Ditahan? Sudah betul, kau harus jadi pemberani. Kita ini jelek-jelek keturunan orang berani. Mula-mula desa kita adalah sebuah perdikan, artinya tidak perlu setor pajak pada raja. Eyang pendiri desa kita waktu masih muda menjadi prajurit keraton. Dia berhasil menyelamatkan raja Pakubuwana II dari Surakarta dari perampok waktu raja menyamar untuk melihat-lihat kerajaannya. Maka ia mendapat hadiah sebuah hutan gung liwang-liwung, hutan lebat.

Kalau orang sekarang mendapat hutan itu ibarat dapat rezeki nomplok. Siapa mendapat HPH tinggal ongkang-ongkang di kota, duit terus mengalir. Ia dapat menyewakan HPH-nya. Dulu tidak. Dapat hutan artinya dia harus babad, membuka hutan supaya jadi desa. Konon hutannya angker, pohon-pohon besar, banyak jin priprayangan, dan binatang buas. Bagaimana tidak angker, dulu hutan itu kerajaan jin. Bukan sembarang jin, tapi jin yang beringas dan galak-galak. Kalau ada jin bersalah dengan manusia, ke sinilah membuangnya. Kalau jin berkelahi dengan sesama jin, ke sinilah dihukum.

Dia tidak surut, kehilangan nyali. Dia mengumpulkan orang. Pohon-pohon besar dan wingit ditebang.Dia sendiri selalu menunggui orang-orangnya. Sebab, waktu itu-sekarang saja juga demikian-pohon-pohon tua dan besar itu dikira banyak penghuninya, dikeramatkan. Orang semula takut menebang. Hanya setelah dia mengucapkan doa-doa pengusir jin, orang berani menebang. Pendek kata pekerjaan tebang-menebang selesai. Sawah-sawah dicetak, tegalan dibuka, jalan-jalan dibuat, rumah-rumah dibangun. Dia memagari desa dengan pagar yang tampak dan pagar tak tampak. Desa aman, damai, tenteram. Dia dan orang-orangnya menjadi penghuni pertama desa kita. Orang-orang lain berdatangan. Melihat ada sungai, air yang melimpah, bebas banjir, tidak ada binatang buas, tidak ada jin nakal, tidak ada pencuri.

Eyang jadi lurah pertama. Meski masih muda, ia dicintai rakyat, disegani kawan, ditakuti lawan. Desa kita menjadi tempat hunian yang makmur. Sawah menguning seperti permadani. Sungai desa memberi ikan. Pekarangan ditanami sawo, jeruk, dan mangga. Lumbung-lumbung padi ada di setiap rumah. Padi ditukarkan jadi pakaian, jadi meja-kursi, jadi gelang emas. Pada hari raya orang mengenakan pakaian bagus-bagus, perhiasan, dan wewangian. Orang desa kita juga merajai pasar, kerbau-kerbau membawa beras, sayur, kain ke pasar-pasar sekitar.

Rupanya kemakmuran desa kita itu tidak berkenan di hati penduduk desa sekitar yang sudah lebih dulu ada, kasarnya membuat orang lain iri hati. Suatu kali penduduk desa kita sedang memikul beras di pasar, dan kebetulan menyenggol penduduk dari desa lain. Orang itu minta maaf, dan sudah dimaafkan. Tapi tidak berhenti di situ saja. Lain hari datang ratusan orang dari desa lain dengan kelewang, cangkul, arit, dan pedang. Terjadi perang antar desa. Tetapi, dasar para penghuni desa kita kebanyakan bekas prajurit, alhadulillah desa kita selalu menang perang. Eyang lalu diangkat jadi demang, lebih tinggi dari lurah tapi lebih rendah dari camat. Jalan desa kita jadi jalan dagang, sebab terkenal aman. Setiap hari akan terdengar suara, kluntung-kluntung-kluntung, suara genta dari kerbau pembawa dagangan.

Gangguan dari makhluk kasat mata tidak ada lagi. Suatu hari orang tergopoh-gopoh datang pada Eyang. Kemudian ada gangguan dari lelembut.

"Celaka, Den Demang. Istri saya mengigau. Katanya penduduk telah menggusur rumahnya."

Satu orang baru selesai bicara, seorang lagi datang.

"Den, anak saya sakit panas. Malam hari datang rerupaan, mengancam akan mencekik kalau kami tak pindah."

Seorang lagi datang, "Den, ayah mengamuk. Katanya akan membabat habis semua orang desa."

Eyang sadar, ia berhadapan dengan makhluk halus. Ia bilang pada orang-orang, "Jangan khawatir! Ini mesti ulah Raja Gaple."

Raja Gaple adalah sebutan untuk kepala lelembut yang tinggal di kuburan desa. Disebut "gaple" karena konon hobinya ialah judi. Orang yang malam-malam lewat dekat kuburan desa sering melihat dia sedang berjudi dengan teman-temannya. Eyang menghunus pedang wasiat, lalu malam-malam pergi ke kuburan. Tentu ia juga punya senjata batin.

"He, Gaple. Keluar kamu! Jangan ganggu saudara-saudara


Gaple tidak keluar, mana ia berani sama Eyang.
Malam itu juga orang mendengar suara-suara di kegelapan, "Ampun-ampun. Kapok aku." Gaple sedang menghajar bawahannya yang nakal. Pagi hari orang-orang sembuh.

Ceritanya ada kraman-pemberontakan-sudah mendekati keraton. Raja mengumpulkan para abdi dalem.

"Siapa dapat menundukkan pemberontak kalau laki-laki saya ambil menantu, kalau perempuan saya jadikan anak angkat."

Tidak seorang pun yang hadir berani mengangkat muka, apalagi menyanggupkan diri. Konon kepala pemberontak itu sakti mandraguna, pengikutnya saja tidak mempan senjata tajam dan senapan. Baru mendengar nama kepala pemberontak saja semua priyagung sudah kehabisan nyali, menjadi pucat-pasi macam kertas, menggigil. Kemudian raja bertanya pada peramal istana.

"Yang dapat mengalahkannya ialah kepala perdikan yang dulu juga menyelamatkan Raja."

Maka diutuslah orang menemui Eyang.

"Ikulah sayembara."

"Kami sudah melupakan perang dan kekerasan, kami pilih jadi petani," kata Eyang.

Macam-macamlah usah orang untuk meyakinkannya mengikuti sayembara. Tidak digubris.

"Kami tidak akan mengikuti sayembara, tetapi kalau raja memerintahkan tidak akan kami tolak."

Utusan kembali. Raja menulis surat kekancing, mengangkatnya jadi senapati, dan memerintahkannya melawan pemberontak. Maka berangkatlah mereka. Seperti diramalkan, mereka menang. Eyang mendapat putri raja. Jadi, dari Eyang kita ini turunan prajurit dan dari Eyang Putri kita ini ada darah raja. Kisah ini saya ceritakan untuk membesarkan hatimu.

2

Gangguan selanjutnya datang dari binatang. Dulu ada hutan lebat, kemudian hutan dibabat. Tentu saja ini mengurangi hak binatang untuk mencari makan. Suatu hari orang melihat seekor harimau dekat sungai. Ternyata harimau semakin banyak. Kerbau, kambing, sapi jadi sasaran."Kyai, jangan ganggu kami. Kiai, jangan ganggu kami," kata orang desa. Tetapi, dasar binatang! Binatang ternak jadi tidak aman. Orang datang kepada Eyang, mengadu. Eyang tahu apa yang harus dikerjakan. Setiap kelompok, baik manusia, jin, atau binatang itu pasti ada kepalanya. Ia menemui Raja Harimau, meyakinkan bahwa jamannya sudah berubah. Bahwa Tuhan Maha Adil. Bahwa semua makhluk-Nya akan diberi makan. Bahwa desa adalah tempat manusia. Dianjurkannya harimau pindah tempat, di bukit-bukit, yang tidak dihuni manusia. Tidak ada ceritanya dari mana ia belajar bahasa binatang, yang penting desa lalu aman dari gangguan harimau.

Nama Eyang segera melambung, dari desa ke desa orang banyak membicarakannya, menambah-nambah sesukanya, ya sepanjang-panjang lorong masih panjang kerongkong. Pengalaman Eyang sebagai lurah dan demang, membawanya pada pengalaman-pengalaman baru yang sangat jauh dengan kepandaian semula sebagai prajurit. Coba, Eyang kemudian dikenal sebagai dukun penolak bala,sebagai orang yang berani menebang pohon-pohon keramat, dan sebagai orang yang bisa bicara dengan binatang.

Di desa lain, ada pasangan pengantin baru yang sudah lama tak juga akur-akur, padahal mereka saling mencintai. Setelah ditanya dengan berputar-putar ke sana-ke mari, akhirnya ditemukan sebabnya. Pasalnya,setiap mau tidur bersama, pengantin laki-laki tampak berbulu seperti kera. Tentu saja itu bukan hanya membuat pengantin perempuan kehilangan selera, tapi juga lari ketakutan. Orangtua pengantin laki-laki datang pada Eyang untuk minta nasihat, "Tolonglah kami, Lurah Demang." Mau diterima, hal itu di luar kepandaian Eyang. Tidak diterima, nanti sangat mengecewakan. Akhirnya, kalah cacak menang cacak, coba-coba, ia menyanggupi juga. Ia berpikir keras. Pasti suami itu kena santet. Ia datang ke tempat itu, melihat keadaan suami, dan berdoa untuk menghilangkan sihir. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Tepat sembilan bulan sepuluh hari kemudian seorang bayi lahir dari pasangan itu.

Ini cerita Eyang jadi pengusir jin, penunggu pohon-pohon. Yang biasa banyak penunggu-nya memang pohon beringin, tapi ini cerita tentang pohon randu, besar, tua, tinggi, dan keramat di sebuah pekarangan. Orang dulu biasa menandai desanya dengan pohon, "Itu lho,desa yang kelihatan pohon anu-nya."

Ada orang datang dan mengeluh pada Eyang, "Lurah, pohon randu di pekaranganku terlalu tinggi. Kalau tumbang pasti rumahku kerobohan. Tidak seorang pun berani menebang. Orang-orang takut, kata mereka pohon itu banyak penunggunya. Jadi orang takut kualat. Tolong ditunggui, supaya orang berani."

Sehari sebelum hari penebangan, Eyang datang. Malam hari dia sengaja tidur dekat pohon untuk meminta para penghuni pergi. Bekalnya? Al-Qur'an. Eyang jadi semacam kuasa hukum yang punya pekarangan, ya pantasnya bawa Kitab Undang-Undang.

"Lho ! Kami lebih dulu di sini kok malah disuruh pergi. Ketemu berapa perkara?"

"Iya, kampung itu milik manusia. Ini sudah sunnatullah. Ada perintah Tuhan pada manusia untuk bertebaran di muka bumi. Perintah itu untuk bangsa manusia, bukan untuk bangsa jin. Ini!"

Eyang lalu membuka Al-Qur'an, menunjukkan ayat itu. "Jin bisa tinggal di mana saja. Di laut, di gunung, di batu-batu. Ada hujan tidak basah, ada matahari tidak panas, ada api tidak terbakar." Setelah berunding jin-jin setuju pergi, lalu boyongan malam itu juga. Malam itu orang-orang desa mendengar tapi tak melihat langkah ribut-ribut, kesiur angin, dan omongan-omongan, "Ayo, Kang. Ayo, Yu."


Pagi harinya orang-orang pun menebang pohon.

Waktu mereka menebang datang seorang perempuan tua.

"Hentikan pekerjaan itu. Cucuku pasti kesurupan. Katanya rumahnya sedang dirobohkan."

Orang segera melapor pada Eyang yang menunggui penebangan. Eyang pun ke rumah orang itu.

"Ini tidak sesuai dengan kesepakatan. Pergi ya pergi," katanya kepada maklhuk halus dalam tubuh bocah itu.

Seketika itu juga bocah itu sembuh.

3

Eyang bisa juga jadi dalang. Dulu ia terkenal di sekitar sini, malah sering mendalang di kota. Maka kalau Pak De dan kau sendiri bisa mendalang itu namanya sudah klop. Nah, seperti biasa dalam hidup ini, sepandai-pandai kau bergaul, selalu saja ada orang tidak suka padamu. Demikian juga Eyang. Sedang asyik-asyiknya dia mendalang, ada yang menyeterui. Wayang yang ditancapkan di batang pisang tidak bisa dicabut. Eyang tahu seseorang sedang berupaya untuk menjatuhkan kewibawaannya. Waktu itu Arjuna sedang menghadapi Cakil. Tiba-tiba saja Arjuna melemparkan panah, melemparkan keris. Keduanya mengenai tiang kayu, menancap. Arjuna bilang, "Heh, orang jahat. Apa maumu? Jangan sekarang, nanti saya layani."

Sudah itu wayang-wayang dengan mudah dicabut. Kemudian ada orang datang minta maaf. Tentu saja Eyang memaafkan, dan orang itu lalu jadi seperti saudara. Mengapa, demikian tanyamu? Orang dulu itu sportif, mau mengakui kekalahan. Selanjutnya tidak ada orang berani jahil pada Eyang.

Ini masih kelanjutan cerita soal Eyang sebagai dalang.

Eyang sudah bersepakat untuk mendalang di suatu pesta perkawinan. Waktu itu terang bulan, jadi Eyang memutuskan untuk datang pada waktunya. Datang tinggal njejak, artinya datang tinggal memulai. Meskipun Eyang juga punya seperangkat gamelan dan wayang, tapi waktu itu gamelan, wayang, dan niyaga sudah diusahakan orang yang mengundang. Waranggono alias penyanyi? Waktu itu belum ada, dalang ya menyanyi ya banyol. Ya mengajarkan kebijaksanaan, pokoknya komplitlah.

Kisahnya Eyang harus melewati sebuah hutan, ya berani saja, masih sore, terang bulan lagi. Eyang naik kuda, rasanya sudah lama, kok tidak keluar-keluar dari hutan.

"Lho ! Ini kan pohon jati di tengah hutan itu, to."

Eyang sadar bahwa dia hanya berputar-putar dalam hutan. Baru sadar, pasti dia sedang disesatkan dalam hutan. Tiba-tiba hutan jadi gelap. Pohon-pohon merunduk menghalangi jalannya. Tahulah dia penunggu hutan menjahilinya Kudanya meringkik keras, menyepak-nyepak dengan kaki depan, tak terkendali. Eyang turun dari kuda, lalu menghunus pedang, menantang, "Ayo! Jangan coba-coba bersembunyi! Aku tahu, siapa kau."

Hutan jadi terang benderang kembali dan dia meneruskan perjalanan.

Sampai di tempat, orang-orang sedang sibuk membenarkan letak gamelan. Sepertinya ada bekas orang ngamuk, mengangkati gamelan.

"Apa yang terjadi?"

Orang-orang hanya saling pandang.

"Kami tidak tahu, Kiai."

Mereka baru bicara, ketika tiba-tiba ada perempuan dengan rambut terurai datang, melabrak mereka.

Katanya, "Mana makanku? Mana makanku?"

Tahulah orang bahwa perempuan itu kemasukan jin perempuan. Pemilik rumah datang tergopoh-gopoh.

"Jangan marah. Jangan marah. Akan kami sediakan," katanya.

Eyang melarang pemilik rumah menyediakan sesajen kepada danyang desa. Melihat pemilik rumah berjanji kepada jin, kata Eyang, "Jangan! Akulah yang bertanggung jawab," kemudian kepada perempuan yang kemasukan, "Pergi! Atau kuusir dengan paksa."

Kemudian perempuan itu bersimpuh, menyembah-nyembah, "Ampun, ampun, Kiai. Aku kapok."

Perempuan itu lalu lemas, orang-orang menggotongnya masuk.

Kata Eyang kepada yang hadir, "Jangan pernah menyerah pada lelembut. Itu syirik. Ketahuilah, manusia itu makhluk paling mulia!"

Kemudian wayang pun dimulai.

Suatu kali Eyang, gamelan, wayang, dan niyaga semuanya diboyong untuk ditanggap oleh seorang yang kaya-raya. Wah, suguhannya mengalir seperti air. Tiba-tiba cuaca berubah, jadi mendung. Dapat dibayangkan pasti petani bersorak, hujan memang sudah lama dinantikan. Karuan saja pemilik rumah minta supaya Eyang menolak hujan.

"Tidak bisa, hujan itu sunnatullah. Anugerah untuk petani."

"Tolong, Kiai. Tamu-tamu, penonton, nanti bagaimana?"

Waktu itu sekaya-kaya orang, atap tambahan mesti pakai bertepe dari daun kelapa. Panas dapat menahan, tapi kalau hujan pasti ada bocornya. Benar, tamu-tamu kehujanan dan penonton sepi. Biasanya Eyang tidak sekeras itu, hanya pemilik rumah memang perlu diberi pelajaran. Lha wong menolak hujan itu sebenarnya bukannya menolak, tapi memindahkan. Jadi sebenarnya hujan malahan dapat dipindah ke atas sawah, tapi Eyang memang sengaja.

4

Ini pengalaman Eyang sebagai juru sunat. Juru sunat pada waktu itu orang istimewa. Selain penduduk masih sedikit, juga karena sunat itu dipandang sebagai peristiwa istimewa, waktu seorang pemuda sudah berani menyabung nyawa.


Suatu kali seseorang datang pada Eyang, "Tolong Kiai Lurah Demang, anakku sudah berumur dua puluh tahun, tapi belum juga mau sunat." Waktu itu anak laki-laki baru sunat dekat sebelum kawin, tujuh belas, delapan belas, atau sembilan belas.
Sunat lebih dilihat sebagai syarat kawin dari pada laku keagamaan.

"Pasti ada yang tak beres," pikir Eyang.

Eyang minta dipertemukan dengan pemuda itu. Setelah ngomong berputar-putar ketahuan bahwa seorang peramal mengatakan padanya bahwa dengan sunat berarti ajalnya akan sampai. Dengan susah payah akhirnya Eyang bisa meyakinkan pemuda itu bahwa lahir, jodoh, rezeki, nasib, dan mati itu sepenuhnya di tangan Tuhan. Pemuda itu mau sunat, asal juru sunatnya ialah Eyang. Wah, padahal Eyang bukan ahlinya. Ada Hadits Nabi yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu harus diserahkan ahlinya. Maka Eyang minta waktu satu tahun.

Demikianlah mulanya Eyang jadi juru sunat. Eyang kemudian magang kepada juru sunat paling terkenal saat itu.

"Mosok Lurah mau jadi murid saya."

"Iya. Jangan segan-segan memberi perintah," kata Eyang pada gurunya. "Meski saya sudah cukup umur, Guru."

Gurunya bangga punya murid seperti Eyang. Lurah, demang, dalang, dukun. Eyang disukai gurunya karena cekatan, teliti, dan pembersih. Mula-mula hanya sebagai pembawa kotak pisau. Lalu dipercaya menggodok pisau supaya bebas-kuman, kemudian sebagai tukang peme-cah telur untuk penahan rasa sakit, akhirnya pembuat ramuan-ramuan supaya cepat sembuh. Dan yang terakhir sekali Eyang dipercaya menggunakan pisau.

Setelah diwisuda jadi juru sunat, Eyang mulai praktik. Tentu saja pemuda itu jadi orang pertama yang didandani Eyang. Sejak itu Eyang juga dikenal sebagai juru sunat. Meskipun hanya amatiran, tapi kerjanya profesional. Waktu itu juru sunat belum bisa jadi pekerjaan. Banyak yang minta disunat, hanya karena mengharap berkahnya.

Setelah sungguh-sungguh jadi juru sunat ada-ada saja orang yang tidak suka. Ini masih cerita tentang pemuda yang dulu itu. Melihat anaknya sudah berani sunat, orangtuanya sudah mencarikan jodoh. Dua bulan setelah disunat, lukanya tidak juga sembuh, bengkaknya terasa tambah membesar. Padahal bulan dan hari pernikahan sudah ditentukan. Adalah aib besar, kalau pada hari perkawinan sunatnya belum sembuh. Dulu itu ada yang disebut gendhel, bekas sayatan yang membengkak. Untuk menyembuhkannya orang biasa mencari batu-batu yang panas dan ditempelkan, dengan harapan bengkak itu segera mengering. Tetapi, mungkin batu itu justru yang menyebabkan bengkaknya tidak juga sembuh. Istilahnya sekarang mungkin batu itu tidak steril. Pemuda dan orangtuanya gelisah, jangan-jangan ramalan itu benar. Mereka datang pada Eyang.

Eyang membuat ramuan yang istimewa, dan melarang pemuda itu menggunakan batu. Setengah bulan kemudian bengkaknya kempes-pes. Sebagai tanda terima kasih, pada hari perkawinan Eyang mendapat kiriman makanan satu jodhang, satu kotak besar berisi makanan. Nah, soal sunat-menyunat itu hanya soal biasa, soal yang tidak aneh. Tidak ada jimat-jimatan, segalanya masuk akal. Tetapi, ada yang aneh.

Ada yang tidak suka dengan sukses Eyang sebagai juru sunat. Suatu kali Eyang sedang bekerja. Pisau yang dipakainya rasanya sangat tajam, tapi tak juga mempan untuk mengiris kulit yang lunak itu. Eyang sudah mencobanya dengan menerbangkan kapas, lalu kapas yang terbang itu ditebas dengan pisau. Dan kapas itu terbelah. Kulit itu sepertinya belulang kering yang sangat alot. Tentu saja yang punya blingsatan, berteriak-teriak kesakitan, keringat mengalir. Semua yang hadir panik. Ada yang tak beres. Sadarlah Eyang bahwa seseorang sedang menjahilinya. Maka dengan mengucapkan bismillah dipakainya kukunya untuk bekerja. Dengan mudah Eyang menyelesaikan p e kerjaan . Takut dengan pembalasan Eyang, orang yang menjahilinya datang dan minta ampun.

Suatu sore Eyang sedang leyeh-leyeh di pendapa. Waktu itu hujan turun rintik-rintik. Bulan tertutup mendung. Tidak terduga ada kereta kencana yang ditarik empat ekor kuda putih besar berhenti di halaman. Ada orang turun, pakai kuluk, topi bulat datar puncaknya. Pakaiannya seragam abdi dalem keraton. Orang itu lalu duduk dan menyembah. Tentu saja perlakuan yang luar biasa itu mengejutkan Eyang.

"Mohon maaf. Saya diutus Raja untuk menjemput Yang Mulia. Yang Mulia diminta untuk menjadi juru sunat, karena Putra Mahkota ingin sunat."

Entah kenapa tiba-tiba Eyang merasa kalau memang hari itu sudah ada janji dengan orang itu untuk jadi juru sunat. Eyang segera mengemasi barang-barangnya. Bahkan Eyang lupa untuk pamit pada Eyang Putri. Dia naik kereta dan sss dalam sekejap sudah sampai di depan istana. Ternyata istana itu terang-benderang, atapnya dari emas, banyak undangan bersliweran, ada yang berkereta ada yang jalan kaki. Tampak bahwa kedatangan Eyang sudah ditunggu-tunggu. Seperti sudah seharusnya demikian, Eyang tidak merasa aneh ada abdi dalem membukakan pintu kereta, ada abdi dalem membawakan kotak sunatnya, ada abdi dalem merebus pisau-pisaunya, ada abdi mengantarnya ke tempat upacara. Nama tempat itu ialah krobongan, tempat duduk orang yang disunat dengan hiasan macam-macam. Di sanalah Eyang dipertemukan dengan Raja. Eyang tahu kalau dia Raja dari tempat duduk dan para pembesar yang mengelilinginya. Eyang akan duduk di lantai dan menyembah. Raja melarangnya:

"Sembah dan duduk di lantai hanya berlaku bagi orang dalam, sedangkan kau adalah tamu yang justru harus kami hormati."

"Terima kasih, Raja," Eyang pun duduk di kursi. Baru sekali itulah ia duduk di kursi waktu menghadap raja.

"Bagaimana, bisa kita mulai?" tanya Raja pada petugas.

"Sudah, Raja."

Kemudian gamelan berbunyi. Putera mahkota diiringkan ke krobongan. Eyang dipersilakan bekerja.

Selesai.

Eyang berpamitan pada Raja.

"Kami tidak punya apa-apa. Ambillah yang di meja itu," kata Raja.

Di meja ada beberapa bongkah emas.

"Tidak, Raja. Kehormatan ini cukup sebagai upah."

"Jangan begitu. Kau punya istri dan anak-anak. Ambillah untuk mereka, kalau tidak untuk kamu."

Eyang tidak mengambil. Kemudian Raja berdiri, mengambil sebongkah emas, dan dijejalkan di saku Eyang. Lalu Eyang diantar pulang dengan kereta yang tadi dan turun di halaman. Pengantar pamit, masuk dalam kereta, dan menghilang. Eyang baru sadar kalau Raja Jin mengundangnya untuk jadi juru sunat.

5

Cepatlah kawin. Mumpung Kakek dan Nenek masih bisa menunggui.*

XIX

BUMI GONJANG-GANJING

LANGIT MEGAP-MEGAP

1

Orang tua itu tiba-tiba sajamuncul di Pasar Tegalpandan. Hari itu Hari Pasar. Laki-laki itu berambut putih panjang yang dibiarkan terurai, sebuah sisir melingkar di kepala, cincin akik besar-besar di jari kanan dan kirinya, jubah putih, mengempit kain putih. Ia berjalan sambil melihat-lihat,nampak bahwa dia sedang mencari tempat. Beberapa laki-laki dan anak-anak mengikutinya, tertarik dengan penampilannya. Setelah menemukan sebuah gundukan agak meninggi, dia menoleh kanan-kiri, dan berhenti. Merasa cocok, ditebarkannya kain putih yang lebar, lalu duduk di atasnya. Sementara itu dalam waktu sekejap telah terbentuk lingkaran. Dia berdiri di gundukan dan mulai dengan pidato pengantar:

"Saudara-saudara pasti belum kenal saya. Maklum sekarang ini yang penting adalah Pak Presiden, Pak Gubernur, Pak Bupati. Rakyat seperti saya tidak perlu diperhitungkan, tidak perlu didengar, tidak perlu digubris, dilupakan. Dala kampanye Pemilu memang ada obral janji untuk rakyat, membangun ini itu. Tapi pelaksananya, wo, tahi kucing, jangan tanya. Nol besar. Diperkenalkan nama saya ialah Kismo Kengser, artinya "tanah tergusur". Sebelum jadi peramal, jelek-jelek saya ini petani kaya. Lha suatu hari Pak Lurah datang dan bilang, 'Negara butuh pengorbananmu'. Lurah minta supaya saya rela melepas tanah, sebab negara mau membangun sebuah terminal bis. Dasar orang kecil yang bodoh, tanah saya lepaskan dengan harga dua gelas kopi semeternya. Ee, tunggu punya tunggu di atas tanah saya berdiri rumah-rumah mewah. Tanah saya telah dijual pada perusahaan perumahan. Sampai sekarang, saya hanya gedek-gedek dan gigit jari. Ayo siapa duluan?"

Seorang laki-laki dengan sarong maju. Lalu mereka duduk. Laki-laki bersarong itu berbisik, tapi cukup keras untuk semua orang dalam lingkaran. Ia mengemukakan bahwa ia peternak ayam ras. Tapi akhir-akhir ini harga makanan ayam melejit. Ayamnya banyak mati. Di mana letak keberuntung-annya? Berdagang, berternak kambing, atau kembali jadi petani?

Laki-laki tua itu memejam mata sambil memegang telapak tangan laki-laki bersarong, kerumunan diam tidak berisik ingin mendengar jawabnya. Laki-laki tua berbisik di telinga, tapi bisikan itu cukup keras sehingga kerumunan itu mendengar. Katanya, "Ayam itu mati kena virus, namanya monopoli. Di bawah kekuasaan Soe harto, ekonomi kita memang dikuasai konglomerat. Kita dijajah lagi, tidak oleh bangsa lain tapi oleh bangsa sendiri. Mengenai usahamu, peliharalah ayam kampung atau bebek. Hindarilah ketergantungan pada pabrik."

Laki-laki bersarong memberi uang pada laki-laki tua, lalu mundur. Laki-laki tua berdiri. Ia mulai lagi dengan pidatonya:

"Kismo Kengser meramal bahwa pemerintah sekarang akan segera ambruk, sebab ketakadilan sudah ada di mana-mana. Para penguasa bukan lagi pamong, tapi maling betulan, maling berdasi, maling berbintang, maling berpendidikan. Persekongkolan penguasa, pengusaha, tentara, dan Randu untuk memeras rakyat. Mereka adalah badut-badut. Mengaku polisi padahal sebenarnya maling. Mengaku satriya padahal sebenarnya perampok-perampok. Apa yang dirampok? Hutan kita dibabat habis, perutbumi kita tambangnya dikuras, tanah dibukit-bukit dikapling, tidak tersisa unutuk anak-cucu,wong cilik digusur semena-mena. "Orang berbisik-bisik, lalu berkata, lalu berteriak:

"Betul, betul. Betul, betul. Betul, betul!"

Pidato orang tua itu makin berapi-api, mengepalkan tinju:

"Pancasila, Saudara-saudara? Pancasila-pancasilaan,tahi kucing. Ini negara perampok, bukan negara Pancasila. Karenanya wong cilik seperti kita harus bersatu. Menggantung para perampok."

"Setuju!"

"Gantung!"

"Hukum mati!"

Tiga orang berseragam polisi masuk ke lingkaran. "Minggir, minggir!" Polisi itu mendatangi laki-laki tua.

"Bapak kami tahan!"

"Lho! Apa salah saya?"

"Menyebar kebencian."

"Kok polisi, bukan tentara? Mana surat tugas?"

"Jangan banyak omong, ikut saja!"

Laki-laki tua menggulung kain putih, mengikuti polisi, dan segera kabur. Kerumunan itu bubar, tapi di kepala mereka ada kesimpulan:Polisi sewenang-wenang. Orang tua itu benar, pemerintah pasti akan segera turun. Ibarat ikan, dia menggelepar-gelepar waktu akan mati.

2

Tegalpandan dapat hujan kiriman, artinya hujan pada musim kemarau. Hujan lebat itu disertai angin ribut. Orang-orang berpikir bahwa hujan salah musim dan angin ribut pasti pertanda buruk. Orang takut keluar rumah, gardu Siskamling sepi. Hanya piket polisi di kecamatan yang bertahan. Orang mengkhawatirkan beringin di terminal setiap kali ada angin besar. Orang sekitar terminal mendengar suara, "Rak-rak-reketeg! Brrruk!" Suara itu sebenarnya cukup keras, tapi tertutup oleh gemerosak hujan dan angin ribut.

Lhadalah! Pagi hari, hujan dan angin reda. Orang-orang keluar ke terminal. Beringin itu tumbang! Pohon yang selama ini tegak menghadapi hujan dan angin itu terbujur, akar-akarnya mencuat di atas tanah. Orang-orang sekitar terminal merubung, orang-orang lain merubung.

"Saya mendengar teriakan-teriakan, 'Rumah kita! Rumah kita!'"

"Saya mendengar tangis perempuan, 'Mana anakku?'"

"Saya mendengar suara gedebak-gedebuk, sepertinya peng-huni beringin itu sibuk."

"Saya mendengar langkah orang banyak sekali, 'Ayo pindah, ayo pindah!'"

Mereka mengurumuni pohon yang tergeletak di tanah. Mereka tertegun. Ada ketakutan di wajah mereka. Pohon tua, yang entah kapan menanamnya. Pohon yang sudah menyatu dengan Tegalpandan. Waktu mereka kawin meskipun sedikit harus mengambil hiasan daun-daunan berasal dari pohon itu. Orang-orang tua masih membakar kemenyan di bawahnya. Pagi itu ada aturan baru untuk bis. Orang-orang pasar juga memerlukan menengok beringin itu sebelum memasang dagangan.

Kalurahan Tegalpandan rapat LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa).

"Kita akan mengadakan selamatan," Lurah membuka pertemuan.

Seorang yang dikenal sebagai guru SLTP dan aktivis Muhammadiyah bilang:

"Nanti dulu, Pak Lurah. Beringin itu sudah sewajarnya tumbang. Daunnya terlalu rimbun, akar serabutnya tak kuat menyangga."

"Lha, iya betul. Rimbunnya sudah dulu-dulu. Akar serabut ya sejak dulu. Hujan-angin ya sudah dulu-dulu. Kok tumbangnya baru sekarang?"

"Itu kebetulan saja!"

"Ah, tak mungkin tak ada apa-apanya."

"Mungkin betul kata peramal dulu itu, itu tandanya pemerintah yang perkasa akan runtuh."

"Sst, sst . Dibatin saja."

"Kalau begitu, apa peduli kita dengan beringin?"

"Jangan beringinnya yang dipikir. Tapi warga desa."

"Warga yang mana? Saya juga warga."

"Buang-buang uang? Mubazir."

"Ini namanya demokrasi."

"Jangan dipolitisir."

"Danyang ...."

"Tidak ada danyang-danyangan. Kalau ada namanya jin."

"Masak manusia kalah sama jin."

"Ini tahun 1997, tidak 1799."

Rapat desa itu deadlock alias tak menghasilkan keputusan. Tak menghasilkan keputusan artinya sudah ada keputusan bahwa tak akan ada selamatan.

Pohon tumbang itu jadi tontonan gratis. Orang berdiri mengelilinginya. Ck, ck, besarnya. Ck, ck, akarnya. Ck, ck, daunnya. Untuk beberapa hari kegiatan desa ialah membersihkan reruntuhan pohon. Daunnya, cabangnya, dan akar tunggangnya. Pohon dan pangkalnya laku dijual. Ada tiga orang datang untuk membelinya. Maksud orang ialah hasil penjualan bisa untuk biaya selamatan.

Tahu bahwa tidak akan ada selamatan, orang-orangtua kum-pul di sekitar pohon.

"Sebenarnya beringin itu telah menyediakan sendiri biaya selamatan."

"Sayang mereka yang ikut rapat itu kebanyakan anak kemarin."

"Banyak orang baru. Banyak pendatang."

"Selamatan itu tak perlu mahal. Cukup dengan seekor ayam, yang perlu doa Pak Modin."

Selama beberapa hari tidak terjadi hal-hal yang istimewa. Tapi pada hari ke-5 sejak beringin itu tumbang orang mendatangi rumah Lurah. Semuanya merujuk ke pohon beringin.

"Lurah, saya setengah bangun setengah tidur didatangi orang tinggi besar. Orang itu minta rumah."

"Lurah, anak saya mengigau minta makan."

"Lurah, anak saya tidak mau makan. Saya ke Puskesmas, katanya anak saya tidak apa-apa."

"Lurah, ayah saya sekarang suka marah-marah. Mengusir semua orang, termasuk saya."

Lurah kebingungan. Untung pada hari ke-6 seorang dukun tua mendatanginya. Dia mengatakan:

"Jangan menuruti LKMD. Kerjakan yang terbaik menurut Lurah."

"Tetapi begitulah hasil musyawarah."

"Ini bukan urusan musyawarah, tapi soal keselamatan. Tegas sedikit, begitu."

Singkatnya Lurah berkeputusan untuk menyelenggarakan selamatan, tanpa LKMD, tanpa musyawarah. "Satu sen pun tidak diambil dari kas desa," katanya pada setiap orang. Lurah segera menghubungi Abu Kasan Sapari.

Abu Kasan Sapari berjalan hilir-mudik di rumah. Ia pusing, secara resmi Lurah memintanya untuk mendalang dalam selamatan desa. Ia ingat, Eyangnya saja telah menebang pohon-pohon keramat tanpa upacara
Sekian ratus tahun kemudian cucunya akan mendalang untuk selamatan karena pohon tumbang. "Ini benar-benar kemun-duran," pikirnya. Kepada Lurah dikatakannya bahwa dia minta waktu, soalnya rapat LKMD menolak selamatan. Akan dicobanya minta pendapat Lastri.

"Mudah saja. Jangan sebut itu selamatan," kata Lastri.

"Lalu?"

"Ruwat Bumi, atau apa begitu."

"Wah kok cerdas, Yu."

"Itulah pengalaman Kakek saya."

"Kakeknya juga suka mendalang, to?"

"Iya, amatiran saja. Misalnya, kalau tujuhbelasan. Tapi sudah almarhum."

"O, begitu. Lalu?"

"Undang seorang ustadz untuk berceramah sebelum wayang dimulai."

"Lalu?"

"Jangan pakai sesaji. Kata orang, itu malah mengundang setan."

"Lalu?"

"Kok tanya terus."

"Terima kasih, Yu. Ini benar-benar jalan tengah."

Abu Kasan Sapari menyatakan setuju, dengan sejumlah persyaratan. Mereka semua puas. Jadilah!

3

Karena dianggap tidak sukses dalam Pemilu, Bupati Karangmojo diganti. Sejumlah camat juga diganti, termasuk Camat Tegalpandan. Para pegawai yang sudah biasa dengan urusan ganti-mengganti sesudah Pemilu tidak lagi heran. Bahkan orang bisa meramal: camat ini akan diganti, bupati itu akan dimutasi. Tidak ada upacara selain Sertijab (Serah Terima Jabatan). Kepada para lurah Camat Tegalpandan mengatakan, "Kita ini orang kecil, ya monat-manut saja. Lain dengan Bapak-bapak." Camat baru Tegalpandan dikabarkan sangat kukuh semangat Randunya.

Sukses atau tidak Pemilu di desanya, di desa-desa Tegalpandan Mesin Politik tidak bisa berbuat apa-apa terhadap para lurah. Cara Mesin Politik menghukum desa hanya dengan mempersulit program listrik masuk desa, menelantarkan desa dalam pembangunan jalan, menghambat kredit untuk petani, dan tidak mengikutkan desa dalam program-program pembangunan. Calon yang dijagoi Mesin Politik, sebaliknya, akan mengobral janji, "Jalan!", "Kredit", atau "Listrik!"

Demikianlah ketika ada lowongan untuk lurah-lurah baru di Tegalpandan, sebelas calon memperebutkan tiga posisi. Camat baru Tegalpandan sebagai Ketua Pemilihan Lurah tidak meluluskan beberapa calon non-Mesin Politik. Ia tahu siapa harus lulus dan siapa harus gagal. Maka, ketika jago dari Mesin Politik memenangkan dua dari tiga posisi lurah timbul keributan. Rakyat dari dua desa yang merasa calon lurahnya kalah oleh calon yang dijagoi Mesin Politik datang memprotes Camat baru. Mereka membawa spanduk dengan tulisan seadanya.

"Camat Curang!"

"Camat Licik!"

"Rakyat tidak terima!"

"Pengkhianat demokrasi!

"Camat kere!"

"Ingat aspirasi masyarakat!"

Bagaimanapun, lurah-lura Tegalpandan bersama delapan belas lurah lain di Karangmojo dilantik Bupati. Demo tak juga berhenti. Camat baru mulai risih, tapi tidak berani minta tolong polisi atau tentara. Kata komandan polisi dan tentara setelah Sertijab, "Kami hanya setia pada Pancasila dan negara." Maksudnya, kesetiaan mereka bukan pada Camat. Dia bergerak minta desa-desa yang dulu lurahnya disponsori Randu untuk mengirim pendemo. Katanya, "Tidak, saya tidak akan minta bantuan polisi untuk menyingkirkan mereka. Jumlah dibalas dengan jumlah," "Biar melek bahwa tidak hanya mereka yang pandai demonstrasi," "Tidak hanya dua puluh lima, lima puluh, tapi seratus orang." Itu artinya Pak Camat harus menyediakan uang konsumsi, "Sampai melarat pun sanggup," "Sampai kapan pun saya ladeni."

Demikianlah orang-orang yang akan naik bis lewat terminal, akan menyaksikan pendemo dan kontra-demo kumpul-kumpul di depan kecamatan.

"Hidup Camat!"

"Dukung Camat!"

"Singkirkan calon-lurah anti-Pancasila!"

"Camat untuk Rakyat!"

Mereka yang melihat hanya geleng-geleng kepala. Salah seorang berkomentar, "Memang Zaman Edan!"

Akan tetapi, ketika Bu Camat menghentikan subsidi untuk membayar para kontra-pendemo, Pak Camat mulai pikir-pikir. "Wah, jadi camat tambah melarat," pikirnya. Ketika dia mencoba minta bantuan Mesin Politik malah disalahkan. Kata mereka, "Salah sendiri," "Tidak usah digubris," dan "Anjing menggonggong kafilah berlalu." Maka, meskipun menyakitkan karena para pendemo ada di depan mata, ia minta juga kontra-demo dihentikan. Rasanya demo itu seperti klilip di mata. Tapi makin lama pendemo jumlahnya makin berkurang, dan akhirnya berhenti sendiri.

Camat kembali gagah. Dalam konferensi dengan para lurah diumumkannya kemenangannya. "Saudara-saudara, demo itu ibarat obor blarak. Sebentar menyala, tapi sebentar kemudian mati." Lurah-lurah non-Randu merasa tertantang. Esok harinya ada demo.

"Camat bukan Presiden!"

"Rakyat tak digubris!"

"Emoh Camat curang!"

Demo itu juga akhirnya berhenti. Camat tambah arif. Ia tidak mengeluarkan pernyataan apa-apa. Hanya saja ia terpikir untuk syukuran. Maka ia pun menemui Abu dan menyatakan niatnya untuk syukuran atas stabilitas kecamatannya. "Saya moa-mau saja, Pak. Tapi apa itu tidak berarti membangunkan macan tidur. Pikirkan kembali, Pak." Ketika gagasan untuk wayangan itu disampaikan pada Bu Camat, sambil berkacak pinggang ditolaknya gagasan itu. "Tidak satu sen pun! Tidak satu sen pun!"
Camat lemas, katanya sambil garuk-garuk kepala, "Waduh, mati aku!"

4

Ganti cerita. Apa yang terjadi pada Lastri? Ayah-Ibu Lastri datang. Setelah basa-basi, minum, dan istirahat, ayah berkata:

"Jadi orangtua punya anak perempuan itu berat. Tetangga sebelah rumah itu punya perkutut. Perkututnya sudah mau dibeli 25 juta. Sangat mahal, tidak boleh. Ee, malam-malam perkututnya dicuri orang."

"Maksudnya saya ada yang melamar, to?"

"Iya, kok tahu."

"Itu juga yang dulu Ayah-Ibu ceritakan."

"Ya, to. Itu lho Nduk, sinder tebu Tasikmadu sudah beberapa kali datang ke rumah melamarmu," sambung Ibu.

"Begini, Ayah-Ibu. Jangan dipikirkan berat-berat, nanti saya cari sendiri."

"Kalau begitu kan jelas. Tapi jangan sembarangan, lho."

Kepada Ayah-Ibu bisa dijelaskan duduk soalnya. Tetapi, suatu hari Lastri menerima tamu perempuan pemilik sebuah kios di Pasar Tegalpandan. Kata tamu itu, "Ya berat-beratnya punya sepupu masih jejaka. Begini, Jeng. Jangan sakit hati, saya ke sini disuruh sepupu saya. Itu lurah baru [ia menyebut nama desa] katanya adalah aib bagi lurah masih bujangan, masih muda, baru dua tujuh, siapa jadi penggerak PKK,siapa harus mendampinginya dalam resepsi-resepsi? Dia sudah mantap kalau Jeng Lastri mau jadi istrinya. Dia sudah lihat, kok. Akhir-akhir ini dia rajin mengantar saya dengan mobilnya." Lastri mengatakan kalau dia belum berminat berumah tangga.

Lain hari datang temannya di klub kroncong. "Begini, lho. Saya akan senang kalau kamu besok-besoknya mau jadi ipar saya. Adik saya itu kok tergila-gila sama kamu. Mula bukanya itu, dia lihat penampilanmu waktu kita nyanyi di Mojogedang. Dia nonton dengan teman-teman sekolahnya dari UNS. Caranya, mudah diatur. Berkenalan dulu saja. Kalau cocok dilanjutkan, kalau tidak ya tak apa. Mau, ya?" Kepada tamunya hanya dibilang bahwa dia belum berminat pacaran.

Lain hari lagi datang Pak Lurah Tegalpandan. Ia membawa kaleng-kaleng roti kering sebagai oleh-oleh.

"Wah, Pak Lurah. Kok tumben?"

"Sudah saya duga, Nak. Engkau pasti terkejut."

"Betul, Pak."

"Begini, Nak. Kata Pak Ustadz yang baru-baru ini ceramah di terminal itu. Bahwa makhluk Tuhan itu berpasangan. Nah, saya ini mendapat amanat dari juragan truk yang baru-baru ini istrinya meninggal. Saya kira duda seperti dia pasangannya ya harus janda. Ini namanya baru pas. Itu pandangan orang setua saya. Saya ini orang kuna. Apa yang dicari dalam hidup ini, kalau bukan ...."

Lastri tersinggung dikatakan 'janda', lalu menyela, "Tapi, Pak. Maaf, saya masih ingin sendiri."

"Ya, jangan begitu. Pikirlah yang panjang."

Setelah Lurah pergi, dia membawa kaleng-kaleng biskuit ke tempat sebelah. Matanya berkaca-kaca. Abu Kasan Sapari terkejut melihat dia membik-membik mau menangis. Lastri melempar kaleng-kaleng ke dipan.

"Ini bagian sampeyan!"

"Lho, ada apa ini?"

Belum sempat pertanyaan itu dijawab, Lastri pergi sambil menutupi wajahnya.

"Yu, Yu!"

Abu Kasan Sapari terheran-heran. Mengejar Lastri masuk rumahnya. Tapi Lastri terus ke kamar, menutup pintu .Jeglek! Abu hanya termangu-mangu. Duduk di sofa, sambil sesekali batuk-batuk kecil sebagai tanda dia masih di sana.

Setelah agak lama, Lastri keluar kamar.

"Bagaimana ceritanya, to Yu?"

"Itu, lho. Pak Lurah datang. Katanya saya mau dijodohkan sama juragan truk."

"Terus bagaimana?"

"Ya tidak mau!"

"Lha mbok mau."

"Sampeyan itu sungguhan, apa guyon?"

"Ya pilih guyon saja, kalau berkenan di hati."

Masih sama ceritanya, tetapi lain harinya. Bangun tidur Lastri merasa kepalanya pening. Dia segera lari menemui Abu.

"Tolong, nanti mampir kios. Bilang anak-anak hari ini saya tak masuk. Kepala pening." Dengan senang Abu mampir kios. Ketika siangnya pulang, Abu curiga. Lastri tidak di rumah. Ia pesan tetangga bahwa periksa ke dokter. Abu segera menyusul. Dokter memberitahu bahwa Lastri dianjurkan mondok beberapa hari di Rumah Sakit Karangmojo untuk periksa.

"Serius, dokter?"

"Tidak tahu, maka sebaiknya mondok."

Abu menyusul ke Rumah Sakit Karangmojo. Sampai di rumah sakit Abu segera menemui Lastri yang sedang periksa darah.

"Sakit sungguhan, to Yu."

"Tidak. Cuma peningnya ini, lho. Seperti dipukuli."

Lastri disuruh menunggu sampai besok. Pulang boleh, mondok juga boleh. Keesokan harinya diantar Abu kembali ke Karangmojo. Abu meninggalkan kantor, izin kalau keluarganya sakit. Dokter di Karangmojo mengatakan kalau segalanya negatif. Lalu menyarankan untuk ke rumah sakit di Solo yang punya USG dan CT Scan. Mereka berdua ke Solo. Hasilnya hari itu juga diketahui. Segalanya negatif, dan disarankan untuk pulang. Tapi, kalau ada perkembangan baru dapat periksa lagi.

Sore hari Pak Lurah datang. Ia gelisah karena Lastri sakit sepeninggal dia. Ia datang dengan seorang dukun.

"Sungguh, saya tak apa-apa," katanya.

"Saya tidak menuduh siapa-siapa, kok Pak."

"Kalau itu santet, Bapak ini tahu jenisnya dan membuka kira-kira pekerjaan siapa. Bagaimana, Pak?"

Orang yang disebut dukun menggeleng.

"Tidak ada, tak apa-apa."


Setelah Lurah pergi Haji Syamsuddin suami istri datang. Ia hanya menyarankan untuk memperbanyak membaca istighfar dan mengaji. Ketika mampir ke tempat Abu Kasan Sapari , ia berbisik keras, "Sudah saya bilang, hanya kau yang bisa menyembuhkan. Itu lho, Ma'ul Hayat [Air Kehidupan]. Sungguh, kok. Percayalah." Artinya, hanya perkawinan yang bisa membuat Lastri sembuh.*

XV

WARISAN

1

Abu Kasan Sapari makin sibuk. Ia diminta untuk mendalang pada banyak acara syukuran. Temantenan dan sunatan tidak lagi menanggap wayang, tapi keroncong atau kasidah, lebih murah dan praktis. Ketika seorang lurah non-Randu mengadakan syukuran, dialah yang diundang. Lurah itu semula adalah sekdes (sekretaris desa), dia menjadi terkenal karena menolak uang sogokan ketika seorang pedagang minta KUT (Kredit Usaha Tani). "Bukan petani tak berhak minta KUT," katanya. Kebetulan lurah itu tinggi besar. Maka lakon yang dipertunjukkannya ialah "Bima Jadi Raja". Orang-orang non-Randu lalu banyak memintanya mendalang, dan orang-orang Randu akan minta dalang lain. Karena itu, kemudian ia dikenal sebagai 'dalang politik'. Sebutan itu menggusarkannya. Dalam kesempatan mendalang selalu menggunakan episode gara-gara untuk mengatakan bahwa wayang adalah seni, bahwa wayang adalah pencerahan, bahwa wayang adalah kebijaksanaan. Bahwa wayang tidak memihak orang tapi kebenaran. Berkali-kali Petruk akan bilang pada Gareng, "Dalang tidak main politik. Dalang itu ngudhal piwulang, artinya mengajar kebijaksanaan hidup."

Tetapi, bagaimanapun ia berusaha sebutan sebagai 'dalang politik' sukar lepas darinya, seperti juga Ki Manut disebut orang 'dalang setan' karena sabetannya (gerakan wayang) sangat mengagumkan, dan Ki Entus disebut 'dalang edan' karena Kresna dapat naik helikopter dan Gatotkaca pandai main pistol seperti koboi. Maka tidak salah kalau orang-orang pasar Tegalpandan juga mengenalnya sebagai 'dalang politik'. Untuk orang-orang pasar Tegalpandan, julukan 'dalang politik' itu mula-mula berubah jadi 'dalang politik non-Randu', dan kemudian jadi 'dalang politik anti-Randu'. Kenyataan bahwa ia sempat ditahan meyakinkan bahwa dia memang anti-Randu. Lastri memberitahu perubahan julukan itu:

"Di pasar sampeyan dikenal sebagai dalang politik anti-Randu, lho."

"Itulah, Yu. Yang mengganggu pikiran saya."

"Ah, suara orang pasar kok dipikir. Suara itu pasti macam-macam."

"Tidak dipikir bagaimana, wong saya bekerja untuk mereka."

Ketika keluhan itu disampaikan pada Ki Manut Sumarsono, dalang senior itu memberi jalan, "Kalau begitu mendalanglah di rumah Pak Camat. Dia akan sunatan, gantikan saya." Karena kesibukan, Ki Manut terpaksa menolak permintaan Camat. Betul, ia pergi pada Pak Camat dan menyatakan niatnya untuk mendalang menggantikan Ki Manut. Pak Camat keheranan, dia adalah Pembina Randu di kecamatannya, dan Abu 'dalang politik anti-Randu'.

"Percayalah, Pak. Saya akan menjaga kehormatan sebagai dalang."

"Saya tahu, saya tahu. Ki Manut tidak akan menjerumuskan saya."

Taktik Ki Manut Sumarsono cespleng. Ibarat panas setahun terhapus hujan sehari, julukan sebagai 'dalang politik anti-Randu', julukan 'dalang politik non-Randu', bahkan julukan 'dalang politik' lenyap. Buktinya, para bakul di pasar tidak lagi menambahkan kata 'dalang politik' ketika Abu mendalang untuk juragan bis di Tegalpandan. Kenyataan itu dikabarkan Lastri pada Abu Kasan Sapari, "Soal 'dalang politik' sudah beres. Sampeyan bebas sekarang."

2

Abu Kasan Sapari diminta untuk mendalang pada HUT Pabrik Teh Botol di Palur. Wayangan akan dihadiri segenap pimpinan pabrik. Ketua Panitia mengatakan bahwa dalam gara-gara perlu disinggung soal peningkatan kesejahteraan buruh, kenaikan UMR (Upah Minimum Regional), dan hak cuti bagi wanita hamil. Lakonnya bisa apa saja, asal sesuai. Abu Kasan Sapari membuat lakon carangan, "Semar Nagih Janji". Konon Raden Arjuna berjanji pada Semar dan anak-anaknya bahwa ia akan memberikan sebidang tanah karena kesetiaan mereka mengabdi di Madukara. Tetapi, rupanya ia lupa pada janjinya karena kesibukan. Berkali-kali Semar mengingatkan hal itu, namun Raden Arjuna selalu menjawab dengan 'besok'. Tentu saja hal itu menjengkelkan Semar. Suatu hari Semar dan anak-anaknya menghilang. Madukara jadi lemah. Tidak bisa menahan serangan Astina. Tidak bisa menahan serangan dari kerajaan raksasa Sewuraja. Kadipaten Madukara dikapling-kapling. Raden Arjuna terpaksa lari ke Amarta mengadukan nasibnya. Dalam gara-garakeluar Limbuk (istri Petruk) dan Cangik (ibu Limbuk). Mereka membicarakan hak-hak wanita. Di akhir cerita, Kresna menganjurkan supaya Arjuna minta bantuan raja Atas Angin, yang ternyata Semar dan anak-anaknya. Mereka mau membantu asal Arjuna memenuhi janjinya pada Semar dan anak-anaknya. Musuh dari Astina dan Sewuraja dikalahkan oleh tentara gabungan dari Amarta dan Atas Angin. Raja Semar dan anak-anaknya badhar karena Limbuk dan Cangik maju perang atas saran Kresna.

Seperti dalam dongeng murahan, setelah menonton wayang pimpinan pabrik sadar dan memberikan hak-hak yang dituntut para buruh. Abu Kasan Sapari jadi pahlawan pekerja. Penobatannya akan diselenggarakan dalam suatu acara syukuran yang juga diundang pimpinan perusahaan. Kali ini undangan untuk Abu juga dengan Bapak & Ibu. Untuk mengajak Lastri Abu takut ditolak. Maka ia hanya duduk lunglai di atas lincak di beranda.

"Ada yang dipikir, ya?" tanya Lastri.

"Lho kok tahu?"

"Masak tidak. Jelas begitu."

"Ya, mau minta bantuan tapi ragu-ragu."

"Apa to?"

Abu memberikan undangan itu.

"O, ini to. Mudah saja. Berangkat sendirian."

"Sendirian?"

"Iya. Apa susahnya?"

"Susahnya ya sendirian itu."

"Lalu?"

"Lalu, mmm, kira-kira saja, tidak juga tak apa. Wah, saya ini selalu merepotkan, selalu minta tolong, selalu ...."

"Kok selalu-selalu, apa?"

"Maukah Yu Lastri menemani saya?"

"Ya mau saja. Repotnya apa?"

"Mau to?"

"Mau."

"Ya alhamdulillah kalau begitu."

Mereka ingin dapat keyakinan bahwa Abu benar-benar datang. Pemberian penghargaan itu sudah diagendakan, sebagai ajang unjuk kekuatan. Itu akan berarti bargaining power buruh kuat. Dengan memberikan penghargaan, pimpinan perusahaan diharapkan tahu bahwa aksi-aksi mereka mendapat dukungan masyarakat.

Kedatangan Abu dan Lastri-seperti juga para petinggi pabrik dan Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan)-disambut dengan barisan 'bhinneka tunggal ika'. (Itu juga politik: buruh itu solid dan rapi tapi tetap ramah). Mereka harus bersalaman dengan para pembesar, didudukkan dikursi depan. Lastri bisik-bisik pada Abu:

"Lha sungguhan begini, kok tidak bilang-bilang."

"Saya juga tak tahu."

"Kalau tahu, kan dandanannya tidak begini."

"Mau apa lagi? Begitu saja sudah ...."

"Sudah apa?"

"Ya sudah, begitu saja."

"Ah, jangan ngece sampeyan itu!"

Selanjutnya upacara-upacara mereka nikmati. Yang membuat Lastri terkejut ialah ketika MC memintanya untuk menyanyi. MC itu tahu betul bahwa Lastri penyanyi waktu jadi MC pada cembengan Pabrik Gula Tasikmadu di mana Lastri menyanyi untuk klub keroncongnya. "Ayo maju, Yu. Jangan membuat malu bangsa," kata Abu. Lastri maju dan menyanyi. "Lagi! Lagi!" Lastri menyanyi lagi.

Dalam perjalanan pulang Abu bilang:

"Suaramu semakin koong, lho Yu."

"Kok koong, apa saya perkutut?"

"Ya, sudah. Kalau begitu kayak Anik Sunyahni?"

"Kalau hanya "seperti" artinya suara saya tiruan, ya?"

"Tidak begitu maksudnya. Maksud saya sama-sama profesional. Dulu saya sudah bilang."

(Pabrik itu jadi salah satu perusahaan yang nantinya tidak mengenal PHK).

3

Musim Agustusan tiba. Randu sekali ini ingin mengesankan bahwa ia punya perhatian besar pada sebangsa kebudayaan tradisional. Itulah sebabnya ia mengerahkan dalang dari luar Karangmojo untuk merayakan Agustusan di tingkat daerah dan cabang-cabang. Lakonnya berupa paket, yaitu "Semar Ratu".

Konon ada raja yang keliwat sakti berhasil menaklukkan Amarta dan Astina. Para Pandawa dan semua pejabat Astina-termasuk Raja Suyudana-mengungsi ke Dwarawati, kerajaan milik Kresna. Mereka berkumpul mencari akal. Atas usul Kresna, mereka disuruh minta bantuan pada Raja Randuagung. Utusan berangkat. Raja Randuagung sanggup menolong asal Amarta dan Astina membuang dendam, tidak cakar-cakaran, dan memperhatikan kehidupan orang kecil. Setelah disanggupi, Raja Sakti dapat dikalahkan oleh Raja Randuagung. Ternyata, Raja Sakti adalah Batara Guru dan Raja Randuagung adalah Semar. Astina lupa daratan, dalam suka cita kemenangan mereka menuntut supaya Pandawa meninggalkan Amarta, sebab Amarta menurut mereka adalah wilayah Astina.

Ki Manut Sumarsono tahu belaka rencana itu. Kedudukannya sebagai dalang senior membuat dalang dari luar Karangmojo terpaksa kulanuwun minta restu padanya sebelum mendalang di wilayahnya. Dia memanggil Abu Kasan Sapari. Katanya, "Intuisi saya mengatakan bahwa sudah tiba waktu-nya Rahwana dipecundangi kera-kera. "Rama Tambak" adalah lakon yang pas saat ini."

"Rama Tambak" menceritakan bagaimana kera-kera membantu Rama dengan membuat jalan laut yang menghubungkan daratan dengan Alengka. Raja Rahwana sudah keterlaluan angkara murkanya. Setelah jalan laut selesai, maka dengan mudah prajurit-prajurit Rama menyeberang. Mereka pun mengalahkan Alengka.

Maka Agustusan di kecamatan-kecamatan Karangmojo penuh dengan wayangan. Panitia dari Cabang Randu memainkan lakon "Semar Ratu", dan panitia resmi kecamatan memainkan lakon "Rama Tambak".

Para wartawan mem-blow up peristiwa itu. Interpretasi mereka masuk dalam berita. Malah dengan judul besar dan provokatif sebuah koran memasangnya sebagai headline: "Rama Tambak Sebagai Prediksi Sejarah". Belum pernah sebelumnya sebuah lakon wayang mendapat pemberitaan begitu luas. Gubernur Jawa Tengah yang oleh stafnya disodori koran-koran marah-marah, "Apa-apaan ini?".

Seperti diketahui Sang Gubernur adalah satu-satunya pejabat yang sejak dulu sibuk dengan Randuisasi di daerahnya; dengan fanatisme tinggi lagi.

Pak Gubernur minta supaya Bupati Karangmojo dipanggil.

"Ini kok bisa terjadi di daerahmu?" katanya sambil melempar koran ke wajah Bupati. Gubernur terkenal galak dan kasar.

"Itu terjadi pada perayaan Agustusan, Pak."

"Lha iya kok Pemda diam saja?"

"Melarang orang merayakan Proklamasi?"

"Merayakan ya merayakan. Pakai wayang ya pakai wayang. Tapi lakonnya jangan miring-miring begitu, jangan nyindir-nyindir begitu."

"Itu hanya ulah para wartawan, wayangnya sendiri murni kesenian."

Kembali ke Karangmojo, Pak Bupati mampir di rumah Ki Manut Sumarsono. Kata Ki Manut:

"Dalang itu seniman, Pak. Seniman itu kalau tidak kurang-ajaran sedikit itu artinya tidak kreatif."

Tidak ada kelanjutannya "Kasus Rama Tambak" itu. Hanya Pak Gubernur prengat-prengut dengan Bupati Karangmojo kalau bertemu.

4

Ada telepon untuk Abu Kasan Sapari. Ki Lebdocarito sakit keras. Abu segera menelepon seseorang untuk memberi tahu kakek-neneknya dan menelepon orangtuanya di Palar. Ia merasa bahwa Ki Lebdo akan meninggal dunia. Ia adalah "anak" pertama yang sampai di tempat, anak-anak yang lain menyusul. Ki Lebdo masih sempat berpesan padanya untuk tinggal di Palur, melestarikan seni pedalangan, kelompok penabuh gamelan, dan bahwa ia mendapat warisan wayang dan gamelan. Kepada Ki Lebdo ia berjanji akan memenuhi semampunya. Ki Lebdo meninggal.

Boleh dikatakan pada waktu itu para dalang dari seluruh Surakarta hadir pada upacara pemakaman Ki Lebdo, sebab ia terhitung sesepuh para dalang. Ki Anom Suroto mewakili Sena Wangi (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia) sekaligus mewakili Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) Jawa Tengah menyampaikan duka cita yang mendalam, ditutup dengan tembang Macapat Maskumambang untuk menyatakan bahwa dunia pedalangan seperti anak ayam yang kehilangan induk.

Dalam pertemuan keluarga diputuskan bahwa anak perempuan yang bungsu akan menemani Nyi Lebdo sampai Abu Kasan Sapari memutuskan untuk tinggal di Palur. Selain itu, Abu dapat warisan tambahan dari "saudara-saudaranya", yaitu sebuah mobil yang dulu sering dipakainya mengantar Ki Lebdo. Mobil itu dibiarkannya tetap di Palur.

Sekretaris Ki Lebdo menunjukkan pada Abu daftar kesanggupan untuk mendalang yang belum sempat dikerjakan.

"Ini dibatalkan atau digantikan?"

"Terserah mereka saja."

Nama Abu Kasan Sapari rupanya cukup menjamin bahwa pertunjukan akan sukses, maka semuanya menyambut baik pergantian itu. Abu tahu bahwa ia harus memainkan wayang sesuai pakem, sebab Ki Lebdo termasuk dalang yang konservatif. Padahal, selama ini pedalangannya selalu inovatif dan kontekstual. Tetapi tak apa. Ketika seorang wartawan menanyainya perihal sikapnya, ia mengatakan, "Dalang itu seperti pasukan komando, ia harus survive di mana pun berada".

5

"Kalau saya tidak salah ingat, sampeyan itu kan Ketua MPU Nogogini, to?" kata Lastri pada suatu hari, "lha kok terus dingin-dingin saja." Tentu saja ia masih ingat betul, karena dengan dalih itu Lastri mau menemani Abu ke bonbin di Jurug.

"Ingat ya ingat, tapi sekarang apa masih relevan?"

"Maksudnya, kalau mati ya jelas di mana kuburnya, begitu."

Maka dengan uang yang diperoleh dari menggantikan kedudukan Ki Lebdo, Abu akan sungguh-sungguh menangani MPU, yang selama ini telah dilupakannya karena asyik dengan pedalangan. Tapi Abu ragu-ragu seperti dikatakannya pada Lastri apakah organisasi semacam MPU masih diperlukan. Seperti diketahui Indonesia mulai mengalami Krisis Moneter. Lagi pula, menurut pengalamannya, mantra, wewaler (pantangan), dan laku (keharusan-keharusan)-seperti mengubur kembali ular-sudah tidak perlu dikerjakan kalau orang tinggal di kota. Ia sendiri hanya memerlukan mantra waktu ingin bermain-main dengan ular klangenannya. Ketika ia mencoba menghubungi pengurus MPU, rata-rata mereka bahkan sudah lupa kalau jadi pengurus MPU.

"Saya pengurus, to?" kata seorang.

"MPU tidak lagi cocok." kata orang lain.

"Sekarang MPU tidak diperlukan," kata yang lain lagi.

"Yang diperlukan ialah yang bisa membantu ekonomi."

"Lupakan saja MPU."

Abu menemui teman wartawan yang dulu ikut menyebarkan informasi, menanyakan pendapatnya tentang MPU.

"MPU? Jangan menegakkan benang basah."

"Dulu kok banyak peminatnya."

Wartawan itu mencoba memberi keterangan, "Tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Sejarah sudah berubah. Dulu orang mencoba melupakan bahwa secara politis kita tertindas. Sekarang orang berusaha bagaimana bisa bertahan hidup di masa krisis."

Abu berpikir untuk mengubah MPU jadi MPL (Masyarakat Penggemar Lingkungan). Sampai di rumah Abu menemui Lastri. Sambil berseloroh dikatakannya:

"Jaman sudah berubah, Yu."

"Sampeyan sudah berubah, to?" Maksudnya apa Abu masih cinta padanya. Tidak mungkin ia berterus terang. Orang Jawa harus cepat mengerti meski sedikit saja dikatakan, dengan isyarat pula.

"Ya tidak, to. Masak berubah. Yang berubah itu zamannya, bukan orangnya."

"Syukurlah kalau begitu."

6

Pengalaman menggantikan Ki Lebdo dan pengalamannya sendiri jadi makalah dalam "Temu Pakar Wayang 1997" di Solo. Ia membawakan makalah tentang "ekonomi pewayangan". Menurut pengalamannya 85% dari konsumen wayang ialah konsumen kolektif (kepanitiaan), sedangkan konsumen individual hanya 15%. Makin ke kota makin besar konsumen kolektifnya, hanya di desa masih ada satu-dua konsumen individual. Bahwa "sejarah sudah berubah" yang dikemukakan teman wartawan mengenai MPU, dirasanya mengenai juga dunia pewayangan.

Selesai presentasi, Rektor STSI Surakarta mendekat.

"Kau punya bakat jadi sarjana, lho."

"Tidak, Pak. Saya ingin jadi dalang, jadi seniman."

Teman-temannya juga mengatakan bahwa sepantasnya ia jadi peneliti.

"Tidak, jadi dalang lebih bermanfaat. Sebab, dalang berhubungan langsung dengan masyarakat. Peneliti tidak. Lagi pula saya tidak punya potongan."

7

Ada desas-desus bahwa Abu Kasan Sapari akan keluar dari PNS, dan menekuni pedalangan. Desas-desus itu sudah beredar di Kantor Kecamatan, di pasar, dan para tetangga.Itu sebabnya Pak Camat datang ke kamar Abu.

"Kabarnya akan berhenti, ya?"

"Tidak, Pak. Siapa bilang?"

"Nanti dalangnya siapa?"

"Tidak, Pak. Siapa bilang?"

"Berhenti ya boleh. Asal masih di Tegalpandan."

"Tidak, Pak. Siapa bilang?"

"Tidak di Tegalpandan ya boleh. Asal masih mau kemari."

"Tidak, Pak. Siapa bilang?"

"Ya, sudah. Kalau tidak."

"Tidak, Pak. Siapa bilang?"

Kemudian kawan-kawannya pegawai datang. Mereka berjejal di pintu.

"Kabarnya akan berhenti, ya?"

"Tidak, siapa bilang?"

"Berhenti ya berhenti. Tapi jangan lupa Tegalpandan."

"Tidak, siapa bilang?"

"Berhenti ya berhenti. Tapi jangan lupa dengan yang di kios."

"Tidak, siapa bilang?"

"Berhenti ya berhenti. Tapi jangan lupa dengan Lastri."

Mendengar kata 'Lastri' baru Abu tersenyum.

"Tidak, siapa bilang?"

"Jangan lupa mengundang kami, lho. Kalau jadi manten."

"Tidak, tidak."

Mendengar nama Lastri disebut-sebut, jantungnya berdegup keras. Keinginannya untuk bertemu luar biasa. Inikah tanda-tanda cinta itu?

Pulang kantor ia mampir di kios Lastri. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, andaikata ia masih jadi pegawai di kecamatan setiap hari akan mampir di kios itu untuk sekadar bertemu dengan Lastri. Baru ia akan duduk di kios ketika seorang perempuan setengah baya datang, "Pak Abu akan keluar dari pegawai, ya?" Kemudian Lastri menerangkan bahwa orang pasar semuanya mendengar bahwa Abu akan berhenti, pindah Palur, dan jadi dalang.

"Lho , siapa bilang?"

"Mereka mengatakan bahwa sampeyan akan meneruskan pekerjaan Ki Lebdocarito almarhum?"

"Lho !"

Abu terheran-heran. Bagaimana orang bisa lebih tahu tentang dia daripada dirinya sendiri? Kios itu tiba-tiba penuh dengan orang pasar.

"Kami dengar Pak Abu akan keluar, ya?"

"Ya mungkin, ya tidak."

"Ah, yang benar?"

"Yang benar, ya mungkin ya tidak. Itu tergantung."

"Tergantung siapa?"

"Siapa, ya?"

Lastri menyela, "Tergantung Pak Camat, siapa lagi?"

"Kok Pak Camat, to?"

"Lastri, begitu!"

"Tergantung Lastri, ya?"

"Ya mungkin, ya tidak," jawab Abu.

"Kok ya mungkin ya tidak terus. Bagaimana, Jeng?"

"Ya mungkin, ya tidak," kata Lastri.

"Lha kok jawabnya sama."

Kesimpulan pertemuan dengan orang-orang pasar ialah bahwa mereka setuju Abu Kasan Sapari mempersunting Lastri.

Abu Kasan Sapari sedang menatah wayang ketika Haji Syamsuddin muncul:

"Saya dengar akan keluar dari kantor, ya?"

"Kabarnya begitu."

"Lho kok kabarnya. Yang benar itu yang mana?"

"Mungkin ya, mungkin tidak."

"Jangan mungkin, to."

"Itu tergantung, Pak."

"Tergantung siapa?"

"Tergantung calon istri."

"Jadi tergantung dia?" Mulut Haji Syamsuddin menunjuk ke tempat Lastri.

"Kayaknya begitu."

"Kalau begitu saya tanya dia, ya?"

"Jangan, Pak. Jangan."

Haji Syamsuddin melihat wayang-wayang itu, "Kau sedang wuyung dengan Srikandi, ya?" tanyanya. Wuyung artinya mabuk cinta.

"Kok tahu?"

"Ini kok semua Srikandi." Maksudnya Lastri yang cekatan, terampil, dan cantik seperti Srikandi.

"Ya maklum Srikandi sedang laris di pasaran." Maksudnya banyak orang menaksir Lastri.

Haji Syamsuddin lalu ikut berjongkok, dan berbisik:

"Bagaimana dengan usulan saya mengenai Ma'ul Hayat?" Maksudnya mengawini Lastri.

"Ya, itulah yang sedang saya pikirkan."

Tetangga kanan kiri dan depan datang. Jumlahnya sebelas orang. Lastri mendengar mereka datang, lalu keluar. Seorang tetangga berkata:

"Pak Abu, kami dengar ...."

"Kau akan keluar," sahut Abu cepat.

"Lho, kok tahu yang kami pikirkan?"

"Tahu saja."
"Terus apa?"

"Kau akan pindah Palur."

"Terus apa?"

"Kau akan menikah."

"Dengan siapa?"

"Itu tergantung."

"Tergantung siapa? Jeng Lastri, ya?"

"Tolong, Yu. Jawab mereka," kata Abu kepada Lastri.

"Tergantung ya tergantung," kata Lastri.*

XVI

CANGIK BERTANYA PADA LIMBUK

1

Abu berkeras supaya janji kepada diri sendiri terlaksana. Abu bermaksud menyelesaikan sekolah sebelum menikah. Soal sekolah itulah yang selama ini mengganjal. Untuk keperluan itu ia menyewa komputer dari rental, melembur malam-malam di kantor. Listrik di rumahnya tidak cukup besar untuk menyalakan peralatan canggih itu. Ia minta izin Pak Camat untuk lembur dan untuk penggunaan listrik. Ia menulis tentang kemungkinan menjadikan wayang sebagai sarana pendidikan moral. Maka ia mondar-mandir Tegalpandan-Solo untuk konsultasi dengan pembimbing. Dia berpendapat bahwa kita perlu sebuah wayang yang sederhana, mudah dikerjakan oleh guru atau murid, tanpa pakem-pakem yang mengikat, dan selesai dalam waktu dua jam-an. Disebutnya pekerjaannya sebagai "wayang fabel", wayang kancil yang diperluas. Sebagai lampiran disertakannya sebuah naskah wayang fabel, yaitu "Gajah Jadi Raja di Negeri Kambing".

Dosen pembimbing mengatakan bahwa yang tertulis itu sudah cukup, tetapi ia bermaksud untuk mengadakan pementasan wayang fabel itu. STSI menghasilkan sarjana atau seniman. Sarjana hanya perlu menulis "teori", dan seniman hanya perlu "praktik". Abu ingin jadi kedua-duanya.

Lastri mengetahui Abu sedang sibuk.

"Sibuk, ya? Sedang apa?"

"Ceritanya panjang. Nanti saja."

"Kalau perlu bantuan, bilang saja."

"Perlu sekali. Tapi tidak sekarang, nanti saja saya katakan. Tapi kalau saya mintai tolong pasti mau, ya?"

"Ya mau saja. Namanya saja sudah dimintai tolong."

"Ini sungguh, lho!"

"Sungguh!"

Abu harus menciptakan wayangnya sendiri. Karenanya ia menatah-natah setiap habis kantor. Bahkan sudah waktunya makan Abu masih bekerja. Lastri jatuh kasihan.

"Kalau tidak sempat masak bilang saja."

"Sudah ada yang masak, kok."

"Siapa?"

"Bu Sastro." Maksudnya warung makan Bu Sastro.

"Masak makan di luar. Lha saya ini dianggap apa?"

"Maksud saya, minta tolong ya minta tolong, tapi jangan keterlaluan, begitu."

"Mulai besok pagi makanlah di sini."

"Jangan, Yu, jangan. Itu tidak baik, apa kata tetangga nanti."

"Apa peduli kita?"

"Terima kasih, tapi betul-betul jangan. Tegalpandan bukan Jakarta, Yu."

Selesai dengan pekerjaan membuat wayang, jadwal pementasan Abu ditentukan. Tidak di kampus, tapi sekaligus uji-coba di sebuah SMU. Abu harus membentuk tim terdiri dari dalang, niyaga, dan waranggana. Untuk itu ia menemui Lastri.

"Sekarang, betul-betul mau minta tolong Yu Lastri. Sudah sanggup, jangan ditolak, lho."

"Tukang jahit bisanya apa untuk menolong calon sarjana pedalangan?"

"Jangan merendah, begitu. Tapi nanti dulu!" Abu berhenti sebentar, "Bagaimana Yu Lastri tahu bahwa saya akan ujian?"

"Pertanyaannya seharusnya dibalik. Bagaimana saya tidak tahu bahwa sampeyan akan ujian?"

"Ya, sudahlah. Aku mau minta tolong Yu Lastri jadi waranggana."

"Tetapi, tetapi ...."

"Janjinya akan menolong, lho."

"Saya kira apa begitu, tapi bukan nyanyi."

"Pokoknya sudah janji. Sudah telanjur tertulis di undangan."

"Ya, sudah. Wah kalah saya!"

Latihan untuk menyesuaikan waktu, sinkronisasi lakon, narasi,dalang, niyaga, dan waranggana diadakan di kampus. Abu Kasan Sapari minta cuti dari kantor dan Lastri menyerahkan pekerjaan pada pembantu-pembantunya. Abu Kasan Sapari juga mengambil mobil dari Palur. "Mbok kapan-kapan calonmu dibawa kemari," pesan Nyi Lebdo yang tanggap pasti mobil itu untuk menjemput pacar. "Lho kok tahu, Mbah De!" "Wajahmu itu, lho! Tak dapat menipu."

"Gajah Jadi Raja di Negeri Kambing" itu begini. Raja Negeri Kambing kosong. Parlemen kambing mengadakan kontes untuk mengisinya. Banyak binatang ikut kontes; dari yang cerdik seperti halnya kancil, yang berbisa seperti halnya ular, yang cepat larinya seperti halnya kijang, sampai yang besar seperti halnya gajah. Parlemen memilih gajah. Mula-mula mereka senang, punya raja yang besar, kuat, dan gagah-perkasa. Akan tetapi, makin lama gajah makin kelihatan belangnya. Gajah mengundang saudara-saudaranya untuk tinggal di Negeri Kambing. Akibatnya, seluruh sumber daya hutan dihabiskan mereka: danau, rumput, dan pohon. Kambing-kambing masih harus membayar upeti berupa rumput yang makin lama makin langka.Tidak tahan, kambing-kambing pun melakukan exodus. Habis sumber daya hutan dan tidak ada lagi upeti, gajah-gajah pun juga meninggalkan tempat itu. Ketika kambing-kambing kembali, mereka tidak lagi suka kepada yang serba gagah-perkasa tapi membuat sengsara, lalu memilih raja dari bangsa kambing sendiri. Mereka pun hidup bahagia selama-lamanya.
Untuk jerih payah membuat uraian teoretik dan praktik mendalang Abu Kasan Sapari dinyatakan lulus. Sebenarnya dia bisa cum laude, tapi tidak bisa karena tahun kuliah sudah melonjok. Itu semua bisa diduga sebelumnya. Yang tidak diduga oleh Abu dan Lastri ialah ketika gambar Lastri berwarna dengan komentar "Bintang Baru dari Timur" terpampang di satu-satunya tabloid mingguan yang terbit di Solo. Ada uraian panjang lebar mengenai sekolah, pekerjaan , dan hobinya. Hal itu diketahui Lastri ketika beberapa anak usia SLTP mendatangi kiosnya.

"Mbak Lastri, minta tandatangannya, dong."

"Ada apa ini?" Lastri terkejut.

Seorang anak mengeluarkan sebuah tabloid dari tasnya.

"Mbak Lastri kan bintang."

"Masak iya?"

"Lihat ini!"

Dalam tabloid itu dimuat gambar Lastri sedang tersenyum. Cantik, manis, dan muda.

"Ini pasti sebuah kesalahan. Masak saya secantik itu?" batin Lastri. "Tapi mudah-mudahan itu benar," batinnya lagi.

"O, itu!" Ia mengeluarkan pulpen dan menggoreskan tandatangannya di buku-buku yang disodorkan.

Lastri diam-diam suruhan seorang pembantunya untuk membeli tabloid dua eksemplar. Sampai di rumah siang itu ia mengetuk pintu Abu Kasan Sapari, dan melemparkan sebuah tabloid, "Ini pasti pekerjaan sampeyan !" Dia pergi dan menutup pintu. Jeglek!.

2

Hari Wisuda datang. Orangtua Abu datang berdua. Setelah upacara selesai, seorang tukang foto mendekat dan mengambil gambar mereka didepan Sekolah Tinggi.

"Abu kau janji membawa calonmu. Mana?"

"Lupa, Bu."

"Masak lupa, peristiwa sepenting ini biasanya dipakai alasan untuk show up."

"Lupa itu artinya tidak ingat."

"Ya sudah. Ini kami bawa mangga. Satu plastik untukmu, satu untuk dia."

Abu tahu bahwa Lastri marah padanya, gara-gara tabloid itu. Tetapi memberikan mangga itu amanat. Maka diketuknya pintu Lastri. Sebuah plastik hitam di tangan.

"Siapa?"

"Saya, Yu. Abu."

Lastri membuka pintu diam. Abu berdiri di depan pintu. Tidak seperti bisanya, ia tidak dipersilakan masuk.

"Kalau salah, ya minta maaf."

"Kalau, kalau. Kalau sudah telanjur bagaimana?"

"Makanya saya datang pertama-tama untuk minta maaf. Kedua, ini plastik dari Bapak-Ibu untuk Yu Lastri."

Mendengar kata 'Bapak-Ibu' Lastri merendahkan suaranya. Menerima plastik itu.

"Ketemu Bapak-Ibu di mana?"

"Mereka datang untuk menunggui wisudaku?"

"Jadi sampeyan sudah wisuda, to?"

"Sudah."

"Lha kok ...." Maksudnya, 'lha kok saya tidak diberi tahu'.

"Maaf, ya Yu. Tidak memberitahu. Takut kalau masih marah."

"Tidak marah, bagaimana. Anak orang kok dijual seperti barang."

"Maksudnya tidak sejelek itu, Yu."

"Masak seenaknya berbuat tanpa izin yang punya!"

"Sudah sudah, ya Yu. Sekali lagi maaf."

Abu terus pergi, eh, berlari.

3

Beberapa hari Abu menatah wayang. Kali ini Limbuk, istri Petruk, dan Cangik, biyung alias ibu Limbuk. Setelah jadi, sehabis Isya' ia memegang wayang-wayang itu di tangannya. Disandarkannya wayang-wayang di dinding tembok kotangan. Cangik adalah suara Abu, sedangkan Limbuk suara Lastri.

Cangik:

(Hati-hati, orangnya ceking, suaranya kecil) Mbuk, aku Cangik ibumu. Bangun, Nduk, bangun. (Ia mengharap ada jawaban dari rumah/kamar sebelah. Tapi tak ada suara. Ia mengeraskan suaranya). Mbuk, bangun! (Tetap tak ada jawaban). Ini masih ngambek atau memang tidur, ya? Eh, aku tahu kau tidak tidur.

Kalau masih ngambek mbok ya bilang-bilang, jadi aku tahu.

Limbuk:

(Dari rumah/kamar sebelah terdengar tawa. Orangnya gemuk, suaranya besar) . Ngambek kok disuruh bilang, Biyung itu aneh. Lagi pula soal ngambek? Sudah lupa, tu.

Cangik:

Lupa ya boleh, asal tidak lupa sama Mas Petruk, calon misoa-mu, eh, suamimu.

Limbuk:

Biyung ini bagaimana, to. Aku pengin dipersunting Mas Gatotkaca, kok mau dijodohkan dengan Mas Petruk?

Cangik:

Lha kalau yang melamarmu hanya Den Baguse Petruk,apa ya tidak diberikan?

Limbuk:

Dia ya lumayan, Yung. Bisa untuk memedi sawah [menakut-nakuti burung di sawah].

Cangik:

Jangan dilihat rupanya, to Nduk cah ayu, yang penting kerjanya.

Limbuk:

Ah, jangan saru, to.

Cangik:

Saru bagaimana. Lihat misalnya cangkul. Cangkul itu bentuknya ya mesti melengkung begitu, supaya bisa nyangkul dalam-dalam. Seperti kata nyanyian, 'cangkul-cangkul yang dalam'.

Limbuk:

Ayo, Biyung kok mulai miring-miring. Yang ngajari siapa? Apa Pak Dalang Tegalpandan?

Cangik:

Lho, kok ngerti kalau miring-miring? Ahlinya, ya?

Limbuk:

Ah, bicara yang lain saja. Kan banyak yang perlu dibicarakan. Misalnya, Yung, tanyakan Mas Petruk sungguh-sungguh, Limbuk kan tidak ting-ting lagi, nanti dia menyesal.

Cangik:

Aku sudah bilang sama Mas Petruk. Katanya, tidak ting-ting tidak apa. Malah sudah pengalaman, bisa ngajari Mas Petruk.

Limbuk:

Jadi biyung sudah menerima lamaran Mas Petruk?

Cangik:

Sekarang ini bukan zamannya anak menurut orangtua, tapi orangtua menurut anak.

Limbuk:

Aku konservatif kok, Yung.

Cangik: Artinya?

Limbuk:

Artinya, monat-manut saja. Mas Petruk ya mau, Mas Gatotkaca ya mangga.

Cangik:

Mas Gatotkaca itu sudah tunangan dengan Jeng Pregiwa-Pregiwati, kau Mas Petruk saja, ya Nduk. Bilang 'ya' gitu, biar hatiku puas.

Limbuk:

Bagaimana lagi, kan aku sudah tua.

Cangik:

Muda kinyis-kinyis begitu kok bilang tua. Umurmu berapa, Nduk? Kalau tujuh belas boleh?

Limbuk:

Ya, tambah, kok. Masak cuma tujuh belas? Ya, ndak boleh, kulaknya saja tidak segitu.

Cangik:

Kalau tiga puluh bagaimana?

Limbuk: Ya turun sedikit, to.

Cangik: Pasnya saja berapa?

Limbuk: Pasnya, mm, dua tiga.

Cangik:

Itu namanya sudah klop, Nduk. Mas Petruk dua enam.

Limbuk:

Umur tak jadi soal, asal tok-cer.

Cangik:

Ditanggung tok-cer, Nduk. Dibuktikan apa?

Limbuk: Ih, benci aku.

Cangik:

Ingat, "gething nyanding", benci malah dekat, lho.

Eh, Nduk. Omong-omong ingin punya anak berapa?

Limbuk:

Maunya ya empat; dua laki-laki, dua perempuan. Kalau Mas Petruk maunya berapa, Yung.

Cangik:

Mas Petruk itu maunya kayak slogan BKKBN: dua cukup.

Laki perempuan sama saja.

Limbuk:

Jalan tengahnya ya tiga.

Cangik:

Tiga? Mas Petruk pasti setuju, Nduk.

Limbuk:

Tapi, Yung. Mas Petruk itu Enggak lucu. Dinanti-nanti Limbuk kok tidak ada katanya, tidak melamar atau bagaimana begitu.

Cangik:

Kan sudah lewat aku?

Limbuk: Itu saja tidak cukup.

Cangik:

Ya, katanya mau bilang langsung takut ditolak.

Limbuk:

Ditolak bagaimana, malah dinanti-nanti.

Cangik:

Ya, to? Memang Mas Petruk itu kurang tanggap sasmita. Ya maklum saja, itu bawaan bayi.

Limbuk:

Sebenarnya sejak dulu, sejak kulihat Mas Petruk aku sudah anu, kok.

Cangik: Anu itu artinya apa?

Limbuk:

Anu itu yang bikin dag-dig-dug, tratapan, deg-deg pyur itu, lho.

Cangik:

Ehm, ehm. Jangan bilang gitu. Nanti Mas Petruk besar kepala.

Limbuk:

Aku jujur saja kok, Yung.

Cangik:

Nduk, Nduk. Ini serius, aku mau tanya. Ada tawaran kepada Mas Petruk untuk jadi kepala Deppen Karangmojo. Tawaran memang dari Randu, tapi tanpa komitmen apa-apa.

Limbuk:

Sekarang tanpa komitmen, nanti terpaksa larut. Tak usah sajalah. Itu namanya jalan pintas. Pegawai rendahan bagian statistik kecamatan kok tiba-tiba saja jadi kepala dinas kabupaten. Bikin penyakit.

Jangan politik-politikan. Itu tidak ngrejekeni.

Yang lumrah saja.

Cangik:

Kau kok pintar, Nduk. Kau ingin jadi istri dalang, to. Bukan istri kepala dinas?

Limbuk:

Istri apa saja boleh. asal caranya betul.

Cangik:

Dalang itu inkamnya tidak pasti, lho.

Limbuk:

Apa inkam penjahit itu pasti?

Cangik:

Apa tidak enak begini? Cah Ayu yang swasta, Mas Petruk yang pegawai. Namanya tumbu dapat tutupnya.

Kalau krismon begini, kan tetap survive.

Limbuk:

Sama-sama swasta, malah puas yang mantenan.

Cangik:

Menurut kata orang, mantenan itu satu-dua jam cukup.

Limbuk:

Lha, Biyung nyrempet-nyrempet lagi, ya.

Cangik:

Kesrempet saja kepenak, apa itu, Nduk?

Limbuk:

Ah, Mas Petruk, eh Biyung, itu kok mesti begitu,lho! Benci, aku.

Cangik: Gemes, aku!

Limbuk:

Gemes ya Gemes, tapi jangan sekarang.

Cangik:

Besok saja, ya. Besok, mau ya?

Limbuk:

Ya, mau saja. Kalau terpaksa. Kalau dipaksa.

Cangik: Maunya dipaksa, ya?

Limbuk:

Terpaksa, dipaksa, memaksa, ah mana saja, asal enak.

Cangik: Enak atau kepenak?

Limbuk:

Biyung itu jangan mengarah ke sana saja, to. Badanku jadi panas-dingin, lho.

Cangik:

Itu artinya kamu sudah kemecer, Nduk.

Limbuk:

Dibilang apa saja ya terserah. Wong nyatanya memang demikian. Eh, Biyung. Tolong bilang sama Mas Petruk. Aku tak mau dimadu.

Cangik:

Yang mau beristri dua itu siapa? Mas Petruk itu, katanya, 'Kalau dapat Jeng Limbuk ibarat makan pasti sepiring saja tidak habis'. Masak dia mau dua piring
Limbuk:

Bukan dimadu dengan orang.

Cangik:

Dimadu dengan apa, Nduk?

Limbuk:

Dengan apa lagi, mm, ular!

Cangik:

O, itu, to. (Terhenti. Lirih). Sudah kuduga, Nduk.

Ya nanti kubilang.

Limbuk:

Jangan lupa, ya Yung. Sungguh kok, aku takut.

Cangik:

Iya, iya. Ia ... pasti ... ngerti.

Limbuk:

Sepertinya ada yang mengganjal, ya?

Cangik:

Ti ... dak.Nduk, ini soal lain.

Kalau sudah kawin, pindah mau atau tidak?

Limbuk: Ya, manut Mas Petruk.

Cangik:

Mas Petruk ada rencana pindah Palur. Mau, ya Nduk.

Limbuk: Ya mau saja.

Cangik:

Ee, Nduk, Nduk. Kupikir kau dan Mas Petruk itu pasangan yang cocok. Apalagi kalau engkau mau ....

Limbuk:

Jadi penyanyi profesional, to?

Cangik:

Kok tahu apa yang dipikir Mas Petruk?

Limbuk:

Ya tahu, to. Orang kan bisa membaca gelagat.

Cangik:

Lha kau setuju tidak dengan pikiran Mas Petruk itu.

Limbuk:

Pikir-pikir dulu, mosok jawabannya sekarang.

4

Abu melihat ke kandang ular. Air matanya meleleh, ia harus berpisah dengan klangenan itu. Dalam keadaan sedih dia tertidur. Eyangnya-ia tahu betul yang datang itu Eyangnya, entahlah kenapa-tiba dari Negeri Antah Berantah naik kuda semberani, tiba-tiba saja ia sudah di depan pintu. Abu membuka pintu dan Eyang menambatkan tali kuda pada sebatang pohon kecil di pagar. Laki-laki itu kekar, berambut putih, ikat kepala ungu.

"Pohonnya terlalu kecil, Eyang."

"Tak apa. Kuda ini sangat jinak, kok. Saya menambatkan hanya sebagai formalitas saja."

Ia mempersilakan Eyangnya masuk. Eyangnya duduk di dipan, bersila. Ia lalu memasak air. Ia tahu, sebelum ada es orang Jawa bila merasa gerah obatnya ialah minum teh manis kental dan panas.

"Jangan repot-repot, Eyang tahu kalau engkau belum beristri."

"Tidak, Eyang. Ini hanya teh, kok. Tidak perlu tangan perempuan."

"Tidak perlu tangan perempuan? Itu betul, untuk membuat teh. Tapi tidak untuk membangun rumah tangga. Untuk membuat anak-anak."

"Ah, Eyang ini kok lucu. Ibunya calon anak-anak juga belum ada."

"Lha Lastri itu apa, kalau bukan calonmu."

"Ah, Eyang ini kok tahu-tahunya."

"Tahu saja. Itu kan cover girl di tabloid itu, to?"

"Ya, kalau mau. Kalau tidak, bagaimana?"

"Jadi laki-laki yang pede, jangan ingah-ingih begitu."

Setelah teh tersaji, Eyang mulai bicara serius. Ia membenarkan letak kakinya.

"Begini, Abu. Eyang tahu Lastri minta kau tidak lagi memelihara ular."

"Ya, itulah yang membuat saya berat."

"Benar dia. Tidak ada perempuan yang suka dimadu dengan ular."

"Berat, Eyang. Berat."

"Percayalah saya. Mengelus-elus perempuan jauh lebih nikmat daripada mengelus-elus ular."

"Ah, Eyang ini."

"Buang saja mantra itu, yang kau perlukan ialah ilmu, teknologi, dan doa, bukan mantra."

Eyangnya turun dari dipan, dan melesat dengan kuda semberani. Tiba-tiba saja seorang laki-laki tua berjanggut putih yang lain sudah ada di depannya. Abu ingat-ingat lupa dengan orang itu, namun firasatnya membuatnya berpikir, "Untung, mereka tidak ketemu. Wah, kalau ketemu pasti terjadi perang mulut."

"Lho, ini kan Kakek ...."

"Betul, kita dulu ketemu di cembeng Tasikmadu."

"Maaf, kalau saya tidak segera mengenal."

"Tidak apa, Cucu."

"Saya buatkan teh, Kakek pasti haus."

"Tidak usah. Ini cepat-cepatan saja."

Ia membawa Kakek masuk, dan mempersilakannya duduk di kursi. Kakek-seperti Eyang-memilih duduk bersila di atas dipan.

"Begini. Kau terikat dengan perjanjian. Mantra pejinak ular itu harus langgeng, diturunkan dari generasi ke generasi. Mata rantai ilmu harus berlanjut, terus-menerus, dan abadi. Jadi, kau tidak bisa membuang begitu saja. Saya dulu juga mencari orang yang cocok dengan ilmu itu sampai tua. Kau tidak akan mati-mati sebelum menurunkan ilmu itu. Mengerti?"

"Mengerti, Kek."

"Sudah, saya pamit."

Setelah Kakek pergi, Abu terbangun, tidak tertidur sampai azan Subuh tiba. Segera dia bangun, pergi ke surau. Ketika bertemu Haji Syamsuddin dikatakannya bahwa seusai shalat dia ingin bicara. Selesai shalat, kata Haji Syamsuddin:

"Wah, ada apa?"

"Begini, Pak. Saya akan melaksanakan anjuran mengenai Ma'ul Hayat itu. Tapi ada halangan."

"Halangan? Laki-laki harus berani, rawe-rawe rantas, malang-malang putung."

"Bukan itu, Pak. Lastri minta saya menyingkirkan ular."

"Apa susahnya? Bawa saja ular itu ke kebun binatang."

"Ular mudah, Pak. Tapi saya terikat dengan mantranya."

"Mantra?"

"Ya, Pak. Saya harus mencari orang yang mau ditulari mantra. Mantra harus diturunkan, berkelanjutan sampai kiamat tiba. Kalau tidak saya kena bebendu [malapetaka], tidak akan mati-mati meski tua-renta

"Jangan percaya! Itu gombal, itu sampah. Kau orang beriman. Karenaya malahan kau wajib memutuskan mata rantai sirik itu. Sekarang zaman modern, bukan zamannya mantra lagi."

5

Pulang dari surau Abu Kasan Sapari mengetuk pintu Lastri. Perempuan itu membuka pintu:

"Yu, maaf ya. Mungkin tadi malam banyak kata-kata saya yang tidak senonoh. Itu karena ...."

"Karena sihir malam, ya?"

"Lho, kok?"

"Itu syair nyanyian dangdut."

"Ya, maklum saja. Darah muda."

"Sampeyan tak usah merasa bersalah. Jangan-jangan saya malah senang dengan sebangsa yang tak senonoh itu. Yang berdosa itu mengerjakan, bukan berkata. Nyrempet-nyrempet mungkin berdosa, tapi hanya dosa kecil, yang hilang kalau kita rajin sembahyang."

"Wah, Yu Lastri punya bakat jadi da'i eh da'iyah, ulama eh ulamiyah."*

XVII

TUHAN, BERI KAMI ILMU YANG BERMANFAAT

TUHAN, HINDARKAN KAMI DARI MALAPETAKA

1

Lewat tengah malam. Seperti pencuri Abu Kasan Sapari mengendap-endap bersembunyi di semak-semak belakang rumah sewaannya. Ia berhenti di situ, memasang telinga. Tujuan terakhirnya ialahmenyelinap ke kandang kambing. Ia tahu persis kandang milik Haji Syamsuddin baru pagi-pagi akan dipakai, sebab besok hari Pasaran, Pahing, dan kambing-kambing akan dibeli dari petani untuk dijual ke kota. Kandang itu berupa rumah yang terbakar waktu revolusi, dan dibiarkan tak diperbaiki. Beratap tapi tak berpintu, dan temboknya hitam karena lumut. Tidak, dia tidak akan lewat depan, ada patok-patok bambu di sana. Dia akan lewat lubang jendela yang tanpa gawangan itu, dan tinggal di sana sampai pagi. Malam gelap di bagian depan, karena lampu listrik yang lima wat kalah oleh gelap malam. Di depan rumahnya sebelas orang laki-laki berkumpul. Ada yang membawa petromax, sehingga tempat itu terang-benderang. Sebagian membawa pentung kayu. Sebagian membawa baterai di tangan kanan, membawa apa saja di tangan kiri: tongkat panjang dari besi, batu, dan golok. Senjata-senjata yang dipersiapkan untuk ular itu. Wajah mereka tertu-tup sarong ala ninja. Mereka tampak beringas.

"Bunuh ular itu!"

"Enyahkan ular itu!"

"Usir dukunnya!"

Gawat. Suara-suara itu tak dikenalnya. Para tetangga pastilah rikuh untuk berbuat itu. Betul kata Lastri bahwa orang akan berkumpul di gardu siskamling lewat tengah malam, membunuh ularnya, dan mengusirnya. Kerja siapa, ia tidak tahu. Lastri mendengar dari bakul-bakul bahwa banyak orang tak sabar lagi. Ular yang dipeliharanya dipersangkakan telah kelua dari kandang. Seekor ayam telah hilang. Kemudian seekor cempe, anak kambing, juga telah hilang. Seorang perempuan telah datang pada Lastri dan mengatakan," Tolong diberitahu Pak Abu bahwa nanti malam akan ada gropyokan".

Sore hari Abu Kasan sapari mengundang orang-orang terhormat di lingkungannya. "Ular saya tak pernah keluar dari kandang," katanya. "Kalau ular itu makan ayam atau cempe pasti masih busung perutnya." Haji Syamsuddin, Pak RT, dan imam di Surau dimintanya menjenguk ularnya. Mereka melihat kandang kawat besar-besar dan berukuran tiga kali satu setengah meter."Tidak mungkin keluar," kata mereka. Tetapi terlambat, orang sudah memutuskan. "Dulu ayam, lalu cempe. Nanti anak-anak," kata orang.

Semua orang tahu belaka kalau dia punya ular. Selain memang di kota kecamatan itu tak seorang pun bisa menyembu-nyikan apa-apa dari tetangga, juga setiap kali akan memberi ayam ularnya, ia membeli dari pasar. Ia sudah pergi kepada pemilik ayam dan anak kambing menerangkan segalanya dan meminta mereka menjenguk kandangnya. Mereka yakin ular itu tak mungkin keluar. Tetapi para tetangga yang lain datang padanya memintanya menge- nyahkan saja ular itu. Baru-baru ini malah Pak Bayan datang membawa surat dari lurah.

Terdengar orang mencoba membuka pintu. Rumah itu bertembok di sekeliling, meskipun di dalamnya hanya kotangan. Suara-suara itu memecah malam.

"Pak Abu keluar! atau kami masuk?"

"Jangan dumeh sudah jadi orang besar." Maksudnya dielu-elukan orang banyak.

"Jangan mentang-mentang jadi dalang kondang."

"Mentang-mentang dekat koran."

Ucapan-ucapan yang tak akan keluar dari mulut orang-orang yang kenal dia. Kata-kata diucapkan dengan penuh dendam, seolah-olah tak ada kebaikannya sama sekali. Terdengar jelas di telinga Abu. Lastri membuka pintu. Abu terkejut dengan kenyataan ini: bahkan cara Lastri membuka pintu dihapalnya.

"Ee, mau masuk rumah orang kok tidak pakai kulanuwun."

Orang berhenti mencoba membuka pintu rumahnya.

"Kau lihat dia?"

"Tidak. Mungkin tugas luar," kata Lastri.

"Jangan-jangan kau sembu-nyikan di bawah kolong," kata orang.

"Jangan-jangan dia bersembunyi di dalam selimutmu," kata yang lain.

"Hus-hus. Marah ya marah, tapi jangan saru, to," kata yang lain lagi."Ular itu harus di lenyapkan."

"Ya, tapi bicaralah dengan dia secara baik-baik," kata Lastri.

"Kami tak sabar lagi!"

"Bubarlah. Saya jamin," kata Lastri kemudian.

"Pokoknya, kami tahu besok pagi ular itu sudah tidak ada!" Orang-orang pergi.

Abu tahu orang itu kalau hanya satu bisa penyabar, tapi kalau sudah orang banyak bisa sangat menakutkan. Tidak berani lagi dia tidur di rumah, gila, takut.Orang-orang sudah bubar. Pulang satu-satu. Setelah tidak seorang pun terdengar, dia beranjak dari persembunyiannya. Mengetuk pintu belakang rumah Lastri.

"Yu, bukakan pintu."

Terdengar suara sandal di lantai. Agak sedikit diseret, itulah cara Lastri berjalan. Abu tahu itu. Pintu dibuka.

"Ya, Allah, Sampeyan to!" Ia tahu perempuan itu akan menubruknya, tapi terhenti demi sopan-santun. Malam begini ia berpakaian awut-awutan dari baju panjang terusan sampai mata kaki. Abu seperti baru sadar kalau perempuan itu cantik. Mereka berbisik diterangi listrik lima wat.

"Apa rencanamu? Aku yakin mereka datang lagi."

"Aku takut tidur di rumah."

"Kalau begitu di sini sajalah. Ditanggung aman."

"Ya, aman. Tapi tidak baik."

"Apa yang tidak baik?"

"Ya, pokoknya tidak baik."

"Lalu?"

"Saya punya rencana ke Haji Syamsuddin."

Orang tahu, kalau Abu dekat dengan haji itu. Teman ronda, teman ngobrol, dan teman di surau. Tidak ke rumahnya, tapi kandang kambingnya. Abu juga selalu diundang makan. Haji Syamsuddin tak punya anak, maka akan mengundangnya setiap kali ia dapat rezeki. Rezeki itu dapat dipastikan datang lima hari sekali, setelah dia mengirim kambing ke kota dengan truknya sendiri.

"Abu, datanglah ada pecel lele."

"Datanglah, ada tongseng kikil."

"Datanglah, ada gurami."

Sebagai ganti, setiap mendalangnya pe-ye alias payu alias laku, dia akan mendudukkan Haji Syamsuddin dekat waranggana. Semua orang tahu ia orang alim-termasuk para waranggana, sehingga mereka justru merasa aman-hanya dia punya selera yang tinggi dengan perempuan (Jangan bilang-bilang, kabarnya dia tidak koong, tidak jantan).

Dialah salah satu pendukung berat agar Abu mengambil Lastri.

"Ditanggung, di pasti begini," katanya suatu kali sambil mempertontonkan ibu jarinya. Dia mengaku sudah belajar katurangganing wanita, ciri-ciri perempuan. Akhir-akhir ini saja Abu akan kecewa bila haji Syamsuddin menunjukkan jempolnya, sepertinya dia tidak rela Lastri dinilai semata-mata dari segi fisik saja. Seolah-olah wanita itu hanya objek.

Kata kawan-kawan di sekolahnya dulu yang suka berfilsafat tentang cinta: kalau kau melihat wanita sebagai objek, itu namanya nafsu; kalau kau menganggap wanita sebagai subjek semata, itu namanya persahabatan; dan kalau kau menganggap wanita sebagai objek dan subjek sekaligus, itulah yang disebut cinta.

"Malam begini merepotkan orang," kata Lastri.

Pada waktu itu terdengar pintu rumah Abu didobrak orang lagi. Abu segera kembali ke tempat persembunyiannya. Lastri ke luar lagi, katanya:

"Saya kan sudah menjamin."

"Kami tidak yakin jaminanmu."

"Kami akan tunggu sampai dini hari. Di sini."

"Kalau dia tidak datang juga, kami akan masuk."

Mereka duduk di lincak atau mondar-mandir dengan pentung di tangan. Sekali-sekali mereka akan memukul lincak atau tanah dengan apa saja yang di tangan. Mereka juga mengeluarkan rokok dari saku. Suara-suara mereka mbrengengeng seperti pasar, tapi terdengar lebih keras di malam hari.

Di persembunyiannya Abu mendengar-dengarkan dan melongok-longok. Setelah jelas tidak ada orang di belakang rumah, Abu beranjak menuju ke persembunyiannya yang baru. Dengan mengendap-endap sampai juga dia di jendela. Setelah sekali lagi dilihatnya kanan kiri, ia melipat sarong, mencopot sandal jepitnya, dan meloncat ke dalam.

Bau pesing menyerangnya.

Ia tahu, orang-orang Haji Syamsuddin sudah berusaha membersihkan tempat itu. Matanya jadi biasa dengan gelap. Ada panjatan di bawah jendela, ia masuk ke kandang. Tempat itu gelap, meskipun jauh di sana ada bola listrik. Ketika ia mengenakan kembali sandal dan membuka lipatan sarongnya, ia baru sadar kalau lantai di bawahnya pakai plester yang mengelupas di sana-sini. Dalam gelap ditemukannya tumpukan rumput, jadi ia pergi ke situ. Dapat duduk atau berbaring di atasnya. Ini lebih empuk dari kasurnya. Ah, badan itu kalau lagi mujur!

Ia sedang merenungi nasibnya ketika didengarnya seseorang datang. Ia yakin tempatnya cukup terlindung.

"Sst. Mas Abu." Itu Lastri, bau wangi bajunya (Abu mendengar untuk pertama kali dia dipanggil 'mas', sementara itu ia mengganti kata yang mestinya 'tubuhnya' dengan 'bajunya' dalam pikirannya) mengalahkan bau pesing.

Kerincing di pergelangan tangannya juga terdengar. Pikir Abu, bagaimana dia tahu kalau ia di kandang kambing. Jangan-jangan dia mulai bisa membaca pikirannya. Kata orang, itu hanya terjadi pada suami-istri.

"Saya tahu Mas di sini. Ini selimut. Kalau butuh teman besok-besok saja, ya."

Abu berdiri dalam gelap dan menerima selimut itu.

"Saya buatkan kopi, tapi airnya belum masak."

Perempuan itu pergi. Entah kenapa, Abu mencium selimut pemberian Lastri. Bau soga dan kapur barus masuk hidungnya. Ah, ini bukan selimut, tapi kain batik. Diciumnya, sekali lagi dan sekali lagi dan sekali lagi kain itu, seolah dia-oh tidak-sedang mencium yang punya. Kain itu terlalu sayang untuk selimut di kandang kambing. Las, Las. Kain itu hanya dipegangnya, eh, dicium-ciumnya.

Lastri datang lagi dengan termos berisi kopi.

"Kalau mau lek-lekan juga boleh." Kemudian perempuan itu tertawa dengan berbisik. Sepertinya, tidak ada hal perlu disusahkan. Ada filsafat hidupnya yang disetujui Abu: Kesusahan itu datang karena kita cenderung mempersulit diri sendiri.

Abu akan mengucapkan terima kasih bahwa Lastri ikut merasakan kesulitannya. Tapi, tampaknya pikirannya terbaca.

"Tidak, tidak usah terima kasih segala. Antara ...," kemudian Lastri berhenti mendadak. Mungkin untuk memilih kata yang paling tepat. "Yaaah, antara teman senasib harus setia kawan." Kemudian perempuan itu pergi.

Bau pesing tidak lagi tercium, mungkin karena Lastri, mungkin karena kain batik, mungkin karena terbiasa, mungkin karena hidungnya dipaksa untuk tidak mencium. Malam itu Abu Kasan Sapari tidak bisa memejamkan mata, ingatannya hanya pada Lastri, atau pada ularnya, atau pada kemarahan orang.

Pada dini hari orang-orang mulai menggebrak-gebrak pintu dengan linggis. Mereka jadi lebih galak, lebih beringas. Makin lama makin banyak.

"Bunuh ular!"

"Usir dukunnya!"

Mereka berdesakan di muka pintu, menanti linggis akan membukanya. Tetapi, tiba-tiba mereka lari tunggang-langgang.

"Ular! Ular!"

Di mata mereka ada ular sebesar pohon kelapa datang entah dari mana.

2

Memang sudah terpikir bagi Abu untuk melepas ular itu. Tinggal lagi menunggu waktu yang tepat. Sekarangkah waktunya? Sebentar antara tidur dan bangun, beberapa ekor ular datang padanya sambil meneteskan air mata.

Kata mereka, "Jangan tinggalkan kami, jangan tinggalkan kami!" Dia memeluk ular itu satu-persatu, dan bilang, "Selamat tinggal, ya! Selamat tinggal."

Terpejamkah Abu? Tidak mungkin. Terpejam itu bukan pekerjaannya. Melek semalam suntuk itu kebiasaan baginya waktu mendalang, apalagi dengan termos kopi bikinan Lastri. Ia juga belajar mengenal waktu. Jadi tahu persis bahwa Subuh akan segera tiba. Pada waktu seperti itulah dia biasa mengakhiri pertunjukan wayang. Ia sudah mengambil keputusan.

Ia mendekati jendela, menyingsingkan sarong, mencopot sandal jepit, menjatuhkan sandal dan kain ke bawah, memegang termos baik-baik dan meloncati jendela. Sesampai di bawah, merapikan sarong, mengenakan kembali sandal, mengepit kain, membawa termos, lalu berjalan ke kantor polisi.

Polisi sama sekali tidak terkejut: biasa pagi-pagi begini datang peronda ke kantor untuk ngobrol, minum kopi, atau laporan. Tetapi sekali ini yang datang Abu Kasan Sapari. Mereka sudah saling mengenal.

"Kok tumben," kata polisi.

"Ceritanya panjang, tapi nanti saja. Antar saya pulang."

Polisi itu menurut, tanpa bertanya lagi. Mengikuti Abu. Sampai di rumah, Abu minta polisi masuk.

"Terima kasih. Di sini saja," lalu duduk di kursi bambu.

Abu mengerti, polisi itu mesti takut dengan ular. Kalau polisi saja takut ular, apalagi orang lain, apalagi Lastri.

"Takut ular, ya?"

"Jujur saja, iya."

Pada waktu itu terdengar azan Subuh. Abu mendengar suara di samping. Itu Lastri. Ia mengerjakan rencananya. Sembahyang dan memasukan ular ke dalam kotak kayu. Ternyata mantranya bikin susah orang lain dan dirinya sendiri! Ia bermaksud memutus mata-rantai mantra itu, tidak mengajarkan mantra pada siapa pun. Kalau ada sangsinya, dia sanggup menanggung.

"Sampeyan sudah pulang, to?" tanya Lastri dari sebelah.

Abu heran kok ganti lagi dengan 'sampeyan'. Jangan-jangan tadi dia salah dengar.

"Sudah."

"Ya, syukur."

Lewat pintu belakang ia menemui Lastri, mengembalikan kain dan termos. Menyerahkan jilidan merah jingga.

"Apa ini?"

"Baca saja".

"Rencana sampeyan apa?"

"Ke Solo! Saya akan membawa ular ke bonbin."

Plong! Lastri keheranan. Sebenarnya ia ingin tahu sebab-sebab keputusannya, tapi diurungkannya.

"Pagi-pagi begini?"

"Ya."

Di pintu keluar dikatakannya dengan lancar seperti sudah dihapalkannya:

"Dan jangan lupa I love you, lho."

"Ya, ya. Saya mengerti, kok."

"Nyebar godhong kara, ya Yu." Maksudnya, sabarlah sementara.

Pagi itu dia keluar dari rumahnya dengan sebuah kotak kayu. Lastri mengantar sampai halaman. Abu mengucap terima kasih pada polisi yang mengantarnya sampai terminal. Sebuah bis akan mengantarnya ke bonbin yang terletak di tepi jalan itu. Setiap kali air matanya meleleh, setiap kali pula dipegangnya kotak kayu kuat-kuat dan dibayangkannya Lastri. Ia berketapan menjadi dalang, menjadi penerus tradisi Eyang dan tradisi Ronggowarsito: menghibur dan mengajarkan kebijaksanaan hidup. Langit memerah di atas Gunung Lawu.* (TAMAT)

Cara Cepat Hamil

Members

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified