Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Runaway Jury IV

Mereka meninggalkan Lawrence pada musim panas tahun 1991, setelah tahun kedua kuliahnya di fakultas hukum, dan anak buah Local masih harus mencari orang-orang yang tahu persis kapan atau ke mana mereka pergi. Claire membayar kontan sewa bulan Juni tahun itu, lalu menghilang. Mereka memeriksa langsung ke selusin kota untuk mencari jejak Claire Clement sesudah Mei 1991, tapi sejauh ini belum menemukan apa pun yang bermanfaat. Tidak mungkin mereka memeriksa setiap kota.

“Menurut dugaanku, dia membuang nama Claire segera sesudah meninggalkan kota, dan menjadi orang lain ” kata Local

Fitch sudah sejak lama mempcrhitungkan hal ini. “Sekarang hari Sabtu. Juri akan mempertimbangkan keputusan hari Senin. Mori kita lupakan saja apa yang terjadi setelah Lawrence, dan memusatkan perhatian untuk mencari tahu, siapa dia sebenarnya.”

“Kita sedang mengerjakannya.”

“Bekerjalah lebih keras.”

Fitch melirik arloji dan menjelaskan bahwa ia harus pergi. Marlee sebentar lagi menunggunya. Local pergi dengan pesawat terbang pribadi dan kembali ke Kansas City.

Sudah sejak pukul enam Marlee berada di kantornya Ś yang sempit. Ia tidur sedikit, setelah Nicholas meneleponnya sekitar pukul tiga. Mereka bicara empat kali iebelum Nicholas berangkat ke pengadilan.

Jebakan atas Hoppy memperlihatkan jejak Fitch di mana-manamengapa pula Mr. Cristano mengancam akan menghancurkan Hoppy bila ia tidak memberikan suara dengan benar? Marlee sudah menulis berpuluh halaman catatan dan flow chart, dan ia menelepon puluhan kali dengan telepon genggamnya. Informasi mengalir masuk. Satu-satunya George Cristano dengan nomor telepon terdaftar di daerah metropolitan D.C. ternyata tinggal di Alexandria. Marlee meneleponnya sekitar pukul empat dini hari, dan menjelaskan bahwa ia adalah petugas dari Delta Airlines; sebuah pesawat telah jatuh di dekat Tampa, Mrs. Cristano tercatat menumpang pesawat itu, dan apakah George Cristano ini bekerja pada Departemen Kehakiman. Tidak, ia bekerja di Health and Human Services, puji Tuhan. Marlee minta maaf, menutup

546

telepon, dan terkekeh membayangkan laki-laki making itu bergegas menonton siaran, mencari berita itu.

Puluhan telepon serupa menuntunnya untuk percaya bahwa tidak ada agen FBI di Atlanta yang bernama Napier d?n Nitchman. Tidak ada pula di Biloxi, New Orleans, Mobile, atau kota besar lain yang berdekatan. Pukul delapan, ia menghubungi penyelidik di Atlanta yang kini sedang memburu jejak Napier dan Nitchman. Marlee dan Nicholas hampir positif bahwa keduanya adalah tukang pukul, tapi hal ini harus dikonfirmasikan. Ia menelepon wartawan-wartawan, polisi, hotline FBI, lembaga layanan informasi pemerintah.

Ketika Fitch tiba tepat pukul sepuluh, meja itu sudah bersih dan teleponnya tersembunyi di dalam lemari kecil. Mereka tidak mengucapkan halo. Dalam hati. Fitch bertanya-tanya siapa wanita ini sebelum mengambil nama Claire, dan Marlee masih menganalisis langkah j>elanjutnya untuk membongkar jebakan Hoppy.

“Kau sebaiknya segera menyelesaikannya, Fitch. Dewan juri ini sudah jemu.”

“Kami akan selesai pukul lima sore ini. Apakah itu cukup cepat?”

“Mudah-mudahan saja begitu. Kau tidak memper-mudah situasi bagi Nicholas.”

“Aku akan memberitahu Cable agar bergegas. Itu saja yang bisa kukerjakan.”

“Kita ada masalah dengan Rikki Coleman. Nicholas sudah melewatkan waktu bersamanya, dan dia bakal sulit dipengaruhi. Dia dihormati anggota juri lainnya, dan Nicholas mengatakan perlahan-lahan

547

Rikki jadi pemain utama. Sebenarnya Nicholas terperanjat dengan perkembangan ini.”

“Rikki menginginkan vonis besar?”

“Tampaknya demikian, meskipun mereka belum membicarakan perinciannya. Nick merasa ada kepahitan terhadap industri ini, karena menyeret anak-anak hingga kecanduan. Tampaknya Rikki tidak terlalu bersimpati pada keluarga Wood; dia hanya ingin menghukum Big Tobacco karena menjerat generasi yang lebih muda. Lagi pula, kau mengatakan kita mungkin punya kejutan untuknya.”

Tanpa komentar atau formalitas, Fitch mengambil sehelai kertas dari tasnya dan menyorongkannya di meja. Marlee membacanya dengan cepat “Aborsi?” tanyanya, masih membaca, tidak terkejut.

“Ya.”

“Kau yakin ini miliknya?”

“Positif. Waktu itu dia kuliah di college”

“Ini tentu cukup.”

“Apakah Nicholas punya nyali untuk memperlihatkannya pada Rikki?”

Marlee melepaskan kertas itu dan menatap tajam pada Fitch. “Kau berani, untuk sepuluh juta dolar?”

“Tentu saja. Mengapa tidak? Dia melihat ini, memberikan suara dengan benar, urusan ini dilupakan, dan rahasia kecilnya yang kotor akan aman. Kalau dia condong ke arah lain, ancaman ini akan terjadi. Mudah.”

“Tepat.” Marlee melipat kertas itu dan menyingkirkannya dari meja. “Jangan khawatir mengenai keberanian Nick, oke? Sudah lama kami merencanakan ini.”

“Berapa lama?”

548

“Itu tidak penting. Kau tidak punya apa-apa mengenai Herman Grimes?”

“Sama sekali tidak. Nicholas harus berurusan dengannya dalam perundingan.”

“Wah, terima kasih.”

“Dia sudah tentu dibayar, bukan? Untuk sepuluh juta dolar, dia seharusnya bi;>a mexebut beberapa suara “

“Dia sudah mendapatkannya, Fitch. Sudah dalam sakunya sekarang. Dia ingin keputusannya bulat Herman mungkin akan jadi masalah.”

“Kalau begitu, singkirkan bangsat itu. Rasanya itu permainan yang kausukai.”

“Kami sedang mempertimbangkannya.”

Fitch menggelengkan kepala dengan tercengang. “Kau tahu betapa curangnya cara ini?”

“Ya, kurasa begitu.”

“Aku menyukainya.”

“Pergilah bersenang-senang di tempat lain. Fitch. Itu saja untuk sekarang ini. Aku ada urusan yang harus dikerjakan.”

“Baiklah,” kata Fitch, berdiri dan menutup tasnya.

Sabiu menjelang siang, Marlee menemukan seorang agen FBI di Jackson, Mississippi, yang kebetulan sedang berada di kantor untuk menyelesaikan dokumen-dokumen, ketika telepon berdering. Marlee memberikan nama alias, mengatakan ia bekerja pada perusahaan real estate di Biloxi, dan curiga bahwa ada dua orang yang menyamar sebagai agen FBI, padahal sebenarnya bukan. Dua laki-laki itu memper-mainkan bosnya, mengancamnya, memperlihatkan len-549

cana, dan lain-lain. Ia pikir mereka ada kaitannya dengan kasino-kasino itu, dan dengan licin ia menyodorkan nama Jimmy Hull Moke. Agen itu memberikan nomor telepon rumah agen muda FBI di Biloxi bernama Madden.

Madden sedang berbaring di tempat tidur karena flu, tapi tetap bersedia berbicara, terutama ketika Marlee memberitahukan padanya bahwa ia mungkin punya informasi rahasia mengenai Jimmy Hull Moke. Madden tidak pernah mendengar tentang Napier atau Nitchman, juga tentang Cristano. Ia tidak tahu ada unit penanggulangan kejahatan khusus dari Atlanta yang kini beroperasi di Coast, dan makin lama Marlee bicara, makin tertariklah Madden Ia ingin menyelidiki sedikit, dan tylarlee berjanji akan menelepon lagi dalam waktu satu jam.

Madden terdengar jauh lebih sehat ketika Marlee menelepon lagi. Tidak ada agen FBI bernama Nitchman. Ada seorang Lance Napier di kantor San Francisco, tapi tidak ada urusan apa pun di Coast. Demikian pula Cristano, ternyata memakai identitas palsu. Madden sudah bicara dengan agen yang bertanggung jawab menyelidiki Jimmy Hull Moke, dan menegaskan bahwa Nitchman, Napier, dan Cristano, siapa pun mereka, sama sekali bukan agen FBI. Ia ingin bicara dengan orang-orang ini, dan Marlee mengatakan akan mencoba mengatur pertemuaan.

Plmbela selesai pada pukul tiga sore hari Sabtu. Hakim Harkin mengumumkan dengan bangga, “Saudara-saudara sekalian, Anda sudah mendengarkan saksi terakhir.” Masih ada beberapa mosi dan argu—

550

mentasi yang akan ia tangani bersama para pengacara, tapi para juri bebas pergi. Untuk hiburan malam Minggu, satu bus akan pergi ke pertandingan football junior college, dan satu lagi ke gedung bioskop lokal. Sesudahnya, kunjungan pribadi boleh dilaksanakan hingga tengah malam. Untuk besok, masing-masing anggota juri dii/inkan meninggalkan motel mulai pukul 09.00 hingga pukul 13.00 untuk ber-ibadat, tanpa pengawalan, selama mereka berjanji untuk tidak mengucapkan sepatah kata pun mengenai sidang itu kepada orang lain. Untuk Minggu malam, kunjungan pribadi diadakan mulai pukul 19.00 sampai pukul 22.00. Kegiatan pertama Senin pagi adalah mendengarkan argumentasi penutup, dan menerima kasus itu sebelum makan siang.

551

Tiga Puluh Lima

MtNJiLASKAN permainan football pada Henry Vu ternyata lebih sulit dari yang diduga. Tapi memang semua orang sepertinya merasa dirinya ahli. Nicholas pernah main dalam regu high school di Texas, tempat yang sangat memuja olahraga. Jerry dalam seminggu mengikuti dua puluh pertandingan, bahkan bertaruh, dan dengan demikian menyatakan diri kenal akrab dengan permainan ini. Lonnie, yang duduk di belakang Henry, juga pernah bermain di high school, dengan senang hati membungkuk dan menunjuk-nunjuk ke lapangan. Poodle, yang duduk di samping Jerr>. rapat di bawah selimut, dulu pernah mempelajari permainan itu ketika dua putranya masuk tim. Bahkan Shine Royce tidak ragu-ragu untuk mengemukakan beberapa pendapat. Ia tidak pernah memainkannya, tapi sering sekali menonton televisi.

Mereka duduk dalam gerombolan kecil di bagian pendukung regu tamu, pada bangku aluminium yang dingin, jauh dari orang-orang Iain, menyaksikan salah satu regu sekolah Gulf Coast melawan sekolah lain dari Jackson. Saat yang sangat tepat untuk bermain

552

footballudara sejuk, pendukung regu tuan rumah dalam jumlah besar, band-nya ramai, cheerleader-nya manis-manis. perolehan angkanya ketat.

Henry mengajukan berbagai pertanyaan aneh: Mengapa celana mereka begitu ketat? Apa yang mereka katakan ketika berkerumun bersama di sela-sela permainan. dan mengapa mereka bergandengan tangan? Mengapa mereka tumpang tindih seperti itu? la mengatakan itulah pertama kalinya ia menyaksikan pertandingan football secara langsung.

Di seberang koridor. Chuck dan satu deputi lain menyaksikan pertandingan itu dengan pakaian pre-man, tidak menghiraukan enam anggota juri dalam pengadilan perdata terpenting di negeri ini.

Ada larangan tertulis bagi anggota juri untuk berbicara dengan tamu anggota lain. Larangan itu ditetapkan sejak awal karantina, dan Hakim Harkin berulang kali menegaskannya. Tapi sekali-sekali sa-paan halo di koridor memang tak bisa dihindari. dan Nicholas bertekad untuk melanggar peraturan itu, kapan saja memungkinkan.

Millie tidak berminat menonton film, dan sudah pasti tidak tertarik pada football. Hoppy datang dengan sekantong burrito, yang mereka makan perlahan-lahan tanpa banyak bicara. Sesudah makan malam, mereka mencoba menonton pertunjukan TV, tapi akhirnya menyudahinya dan mulai mengungkit kembali masalah Hoppy. Lebih banyak lagi air mata, permintaan maaf, bahkan beberapa kali Hoppy menyinggung soal bunuh diri. yang menurut Millie agak terlalu dramatis. Ia akhirnya mengaku bahwa

553

ia menceritakan kekesalannya pada Nicholas Easter, pemuda baik had yang tahu tentang masalah hukum dan secara tersirat bisa dipercaya. Pada mulanya Hoppy terguncang dan marah, kemudian rasa ingin tahunya timbul, dan ia tertarik untuk mengetahui pendapat orang lain mengenai situasinya. Terutama orang yang pernah kuliah hukum, seperti kata Millie. Lebih dari satu kali Millie mengungkapkan kekagum-annya pada laki-laki muda ini.

Nicholas berjanji akan menghubungi beberapa orang, dim hal ini mengkhawatirkan Hoppy. Oh, bukankah Nitchman, Napier, dan Cristano sudah menguliahinya mengenai pentingnya menjaga rahasia? Nicholas bisa dipercaya, Millie mengulangi, dan Hoppy akhirnya terpengaruh juga.

Telepon berdering pukul setengah sebelas. Dari Nicholas, yang baru saja kembali dari pertandingan football. Ia masuk ke kamarnya, dan sangat ingin berjumpa dengan pasangan Dupree. Millie membuka kunci pintu. Willis mengawasi dengan sangat terkejut dari ujung koridor, ketika Easter menyelinap ke dalam kamar Millie. Apakah suaminya masih di dalam sana? Ia tidak ingat. Masih banyak tamu yang belum pergi, lagi pula selama ini ia tidur-tidur ayam. Sudah pasti Easter dan Millie tidak berkencan! Willis mencatat hal ini dalam ingatannya. lalu kembali tertidur.

Hoppy dan Millie duduk di tepi ranjang, menghadapi Nicholas yang bersandar pada lemari dekat TV. Ia mulai dengan menguliahi mereka tentang perlunya tutup mulut, seolah-olah Hoppy tidak pernah mendengar peringatan seperti ini seminggu terakhir ini.

554

Mereka melanggar perintah Hakim, sudah cukup banyak yang diucapkan.

Ia menyampaikan kabar itu perlahan-lahan. Napier, Nitchman, dan Cristano adalah pemain-pemain kecil dari suatu kecurangan besar, persekongkolan yang dirancang oleh perusahaan rokok untuk menekan Millie. Mereka bukan agen pemerintah. Mereka memakai nama palsu. Hoppy telah terkecoh.

Hoppy menerimanya dengan baik. Pada mulanya ia merasa sangat tolol bahwa itu terjadi, lalu kamar itu mulai berputar sewaktu pikirannya terseret ke sana kemari. Ini kabar baik atau buruk? Bagaimana dengan kaset rekaman itu? Apa langkah selanjutnya? Bagaimana kalau Nicholas keliru? Seratus bayangan berkecamuk dalam otaknya yang sudah penuh, sementara Millie menekan lututnya dan mulai menangis.

“Apa kau yakin?” akhirnya ia bertanya, suaranya hampir pecah.

“Positif. Mereka tidak punya hubungan dengan FBI ataupun Departemen Kehakiman.”

‘Tapi, tapi mereka punya lencana dan…”

Nicholas mengangkat kedua belah tangannya, mengangguk kasihan, dan berkata, “Aku tahu, Hoppy. Percayalah padaku, itu soal gampang. Penyamaran itu sangat mudah di lakukan.”

Hoppy menggosok kening dan mencoba meluruskan pikirannya yang kusut. Nicholas mulai menjelaskan bahwa KLX Property Group di Las Vegas adalah perusahaan palsu. Mereka tidak bisa menemukan Mr. Todd Ringwald, yang sudah pasti nama alias pula.

“Bagaimana kau tahu semua ini?” tanya Hoppy.

555

“Pertanyaan bagus. Aku punya sahabat dekat di luar, yang sangat pintar mencari informasi. Dia sepenuhnya bisa dipercaya. Butuh waktu tiga jam untuk menelepon sana-sini, dan itu tidak jelek, mengingat sekarang hari Sabtu.”

Tiga jam. Hari Sabtu. Mengapa Hoppy tidak pernah menelepon? Ia punya waktu satu minggu. Ia merosot lebih rendah. sampai sikunya bertopang pada lutut. Millie menyeka pipinya dengan tisu Satu menit yang sunyi berlalu.

“Bagaimana dengan kaset itu?” tanya Hoppy.

“Percakapanmu dengan Moke?”

“Ya. Kaset itu.”

“Tidak perlu khawatir,” kata Nicholas mantap, seolah-olah ia kini pengacara Hoppy. “Secara hukum, banyak masalah dengan rekaman itu “

Memang, pikir Hoppy, namun ia tidak mengucapkan apa pun. Nicholas meneruskan, “Rekaman itu didapat dengan cara tidak sah. Jelas itu jebakan. Kaset itu dimiliki orang-orang yang juga melanggar hukum. Tidak diperoleh dari petugas penegak hukum. Tidak ada sural perintah untuk itu, tidak ada perintah pengadilan yang mengizinkan suaramu direkam. Lupakan saja.”

Sungguh kata-kata yang manis! Pundak Hoppy tersentak ke atas dan ia mengembuskan napas dengan keras. “Kau serius?”

“Ya, Hoppy. Rekaman itu tidak akan pernah di-putar lagi.”

Millie menyandarkan badan dan memegang Hoppy; mereka berpelukan tanpa malu atau jengah. Air mata Millie adalah air mata kebahagiaan yang tak

556

terkendali. Hoppy berdiri dan melompat-lompat di sekitar kamar. “Jadi, bagaimana rencana permainan-nya?” ia bertanya. membunyikan buku-buku jari, siap bertempur.

“Kita harus hati-hati.”

“Tunjukkan saja arah yang benar padaku. Bajingan-bajingan itu.” “Hoppy!”

“Maafkan aku, Sayang. Cuma rasanya aku siap menendang pantat orang.” “Bahasamu!”

Hari Minggu dimulai dengan kue ulang tahun. Loreen Duke pernah bercenta pada Mrs. Gladys Card bahwa ulang tahunnya yang ke-36 akan segera tiba. Mrs. Card menelepon saudara perempuannya di dunia bebas, dan Minggu pagi saudara perempuannya itu mengirim kue berlapis karamel cokelat tebal. Tiga lapis dengan 36 batang lilin. Para anggota juri itu berkumpul di ruang makan pada pukul sembilan dan makan kue itu sebagai sarapan. Kemudian sebagian besar pergi terburu-buru, mengikuti ibadat selama empat jam yang sudah ditunggu-tunggu. Beberapa orang sudah bertahun-tahun tidak pernah ke ge-reja, tapi mendadak sekarang merasa tertarik.

Poodle dijemput salah satu anak laki-lakinya, dan Jerry ikut serta. Mereka menuju ke arah gereja tak bernama, tapi begitu menyadari tak ada seorang pun yang mengawasi, mereka pun pergi ke kasino. Nicholas pergi bersama Marlee, mengikuti misa. Mrs. Gladys Card masuk ke Gereja Baptis Kalvari. Millie pulang dengan niat berpakaian rapi untuk pergi ke

557

gereja, tapi ia terlanda emosi ketika melihat anak-anaknya. Tidak ada yang melihat, maka ia pun menghabiskan waktunya di dapur; memasak, berbe-nah, dan merawat anak-anaknya. Phillip Savelle tetap tinggal di tempat.

Hoppy pergi ke kantornya pukul sepuluh. Ia menelepon Napier pada pukul delapan pagi hari Minggu, dengan kabar bahwa ada perkembangan penting mengenai sidang itu yang perlu dibicarakan; mengatakan ia sudah memperoleh kemajuan dengan istrinya, dan sang istri kini punya pengaruh besar pada anggota juri lainnya. Ia ingin bertemu dengan Napier dan Nitchman di kantornya untuk memberikan laporan penuh, dm untuk menerima instruksi lebih lanjut.

Napier menerima telepon itu di apartemen bobrok berkamar dua yang dipakainya bersama Nitchman sebagai tempat untuk melaksanakan perangkap itu. Dua saluran telepon dipasang sementara di sana satu sebagai nomor kantor, yang lain sebagai nomor tempat tinggal mereka, selama penyelidikan keraŤ yang mereka lakukan terhadap korupsi di daerah Gulf Coast. Napier bercakap-cakap dengan Hoppy, lalu menelepon Cristano untuk menerima perintah. Kamar Cristano terletak di Hotel Holiday Inn dekat pantai. Kemudian Cristano menelepon Fitch, yang merasa gembira dengan kabar itu. Akhirnya Millie terpojok dan bergerak ke arah mereka. Fitch mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah investasinya akan membuahkan hasil. Ia memberi lampu hijau untuk pertemuan di kantor Hoppy.

Memakai setelan hi tarn standar dan kacamata hi tarn mereka, Napier dan Nitchman tiba di kantor itu

558

pukul sebelas. Hoppy sedang menjerang kopi dengan penuh semangat. Mereka duduk di depan meja kerjanya dan menunggu kopi itu. Millie ada di sana, berjuang mati-matian untuk menyelamatkan suaminya, kata Hoppy, dan ia cukup yakin bahwa ia sudah meyakinkan Mrs. Gladys Card dan Rikkie Coleman. Ia sudah memperlihatkan memo tentang Robilio itu pada yang lain, dan mereka sangat terperanjat dengan kelicikan laki-laki itu.

Ia menuang kopi; sementara Napier dan Nitchman dengan sungguh-sungguh membuat catatan. Sam tamu lain diam-diam memasuki gedung itu lewat pintu depan, yang dibiarkan tak terkunci oleh Hoppy. Ia berjalan menyusuri koridor di belakang ruang penerimaan tamu, melangkah ringan di karpet usang, hingga sampai ke pintu kayu dengan tulisan HOPPY DUPREE di atasnya. Ia mendengarkan sejenak, kemudian mengetuk keras.

Di dalam, Napier melompat dan Nitchman meletakkan kopinya; Hoppy menatap mereka, seolah-olah terperanjat. “Siapa?” ia menggeram keras. Pintu mendadak terbuka, dan Agen Khusus Alan Madden melangkah ke dalam, sambil berkata keras, “FBI!” sambil berjalan ke tepi meja Hoppy dan menatap mereka bertiga. Hoppy menendang kursinya ke belakang dan berdiri. seolah-olah ia akan digeledah.

Napier tentu sudah pingsan seandainya berdiri. Mulut Nitchman ternganga. Mereka berdua jadi pucat pasi dan jantung mereka serasa berhenti.

“Agen Alan Madden, FBI,” katanya sambil membuka lencana, untuk diperiksa oleh semuanya. “Apakah Anda Mr. Dupree?” ia bertanya.

559

“Ya. Tapi FBI sudah di sini,” kata Hoppy sambil memandang Madden, lalu pada dua pria lainnya, lalu kembali pada Madden.

“Mana?” ia bertanya, menatap tajam pada Napier dan Nitchman.

“Dua orang ini,” kata Hoppy, berakting dengan bagus. Inilah saat-saat terindah baginya. “Ini Agen Ralph Napier, dan ini Agen Dean Nitchman. Kalian saling kenal?”

“Saya bisa menjelaskan,” Napier memulai, mengangguk mantap, seolah-olah ia bisa membereskan segalanya dengan memuaskan.

“FBI?” kata Madden. “Perlihatkan identifikasi Anda,” ia meminta sambil menyodorkan telapak tangan.

Mereka ragu-ragu, dari Hoppy menerkam mereka. “Ayolah. Tunjukkan lencana kalian. Sama seperti yang kalian perlihatkan pada saya.”

“Identifikasi,” Madden mendesak, kemarahannya makin memuncak setiap detik.

Napier hendak berdiri, tapi Madden mengembalikannya ke tempat duduk dengan mendorong pundaknya. “Saya bisa menjelaskan,” kata Nitchman, suaranya satu oktaf lebih tinggi dari normal.

“Silakan,” kata Madden.

“Well, Anda tahu, kami bukan benar-benar agen FBI, tapi…”

“Apa!” Hoppy berteriak dari belakang meja. Matanya terbelalak dan ia siap melemparkan sesuatu. “Kalian bangsat pembohong. Selama sepuluh hari terakhir ini kalian memberitahu aku bahwa kalian agen FBI?”

“Benarkah demikian?” Madden mendesak.

560

“Tidak, tidak benar,” kata Nitchman.

“Apa!” Hoppy berteriak lagi.

“Tenang!” bentak Madden padanya. “Sekarang teruskan,” katanya pada Nitchman.

Nitchman tidak ingin meneruskan. Ia ingin melompat ke pintu, memberikan ciuman selamat tinggal kepada Biloxi, dan tak pernah terlihat lagi. “Kami detektif swasta, dan, well…”

“Kami bekerja untuk suatu biro di D.C.,” Napier menyela. la hendak menambahkan sesuatu ketika Hoppy bergerak cepat ke laci meja. menariknya terbuka, dan mengeluarkan dua kartu namasatu milik Ralph Napier, satu untuk Dean Nitchman, keduanya menyebutkan mereka sebagai agen FBI, keduanya dari Unit Regional Tenggara di Atlanta. Madden mempelajari dua kartu itu, melihat nomor telepon lokal tertulis di belakangnya.

“Ada apa dengan semua ini?” Hoppy bertanya.

“Yang mana Nitchman?” tanya Madden. Tidak ada jawaban.

“Dia itu Nitchman,” Hoppy berteriak sambil menuding Nitchman.

“Bukan aku,” kata Nitchman.

“Apa!” Hoppy berteriak.

Madden maju dua langkah ke arah Hoppy dan menunjuk ke kursi. “Aku ingin kau duduk dan tutup mulut, oke? Jangan ada sepatah kata lagi sampai aku minta.” Hoppy jatuh ke kursinya, matanya menatap tajam pada Nitchman.

“Apakah kau Ralph Napier?” tanya Madden.

“Bukan,” kata Napier, memandang ke bawah. berpaling dari Hoppy.

561

“Bajingan,” gumam Hoppy.

“Kalau begitu, siapa kau?” tanya Madden. Ia menunggu, tapi tidak ada jawaban.

“Mereka memberi aku kartu nama itu, oke?” kata Hoppy, tidak mau bungkam. “Aku akan melapor ke grand jury dan bersumpah demi Injil bahwa mereka memberiku kartu-kartu itu. Mereka mengaku agen FBI, dan aku ingin mereka dituntut.”

“Siapa kau?” Madden bertanya pada laki-laki yang tadinya dikenal bernama Nitchman. Tidak ada jawaban. Madden kemudian mencabut sepucuk revolver dinas, tindakan yang sangat mengesankan Hoppy, memerintahkan mereka berdiri dan merenggangkan kaki, lalu membungkuk di atas meja. Penggeledahan cepat tidak menghasilkan apa-apa kecuali recehah, beberapa kunci, dan beberapa dolar. Tidak ada dom-pet. Tidak ada lencana FBI palsu. Tidak ada identifikasi apa pun. Mereka terlalu terlatih untuk melakukan kesalahan seperti itu.

Madden memborgol mereka dan menggiring mereka keluar kantor, ke bagian depan gedung, tempat satu agen FBI lain sedang meneguk kopi dari cangkir kertas dan menunggu. Bersama-sama, mereka menaikkan Napier dan Nitchman ke belakang mobil FBI asli. Madden mengucapkan selamat tinggal pada Hoppy, berjanji akan meneleponnya nanti, dan pergi bersama dua penipu itu. Satu agen FBI lain mengikuti dalam mobil FBI palsu yang selalu dikemudikan oleh Napier

Hoppy melambaikan tangan, memberi salam selamat berpisah.

Madden mengemudi di sepanjang Highway 90, ke

562

arah Mobile. Napier, yang lebih tangkas berpikir di antara mereka berdua, meramu cerita yang cukup masuk akal, yang ditambah sedikit oleh Nitchman. Kepada Madden, mereka menerangkan bahwa perusahaan mereka disewa oleh kasino yang tidak jelas dan tanpa nama, untuk menyelidiki berbagai paket real estate di sepanjang Coast. Di sinilah mereka bertemu Hoppy yang berwatak curang dan mencoba memeras mereka. Satu peristiwa disusul dengan yang lain, dan bos mereka memerintahkan mereka untuk berpura-pura menjadi agen FBI. Tidak ada pelanggaran hukum apa pun yang mereka lakukan, sungguh.

Madden mendengarkan hampir tanpŁ berkata-kata. Mereka kelak akan menceritakan pada Fitch bahwa tampaknya Madden tidak tahu-menahu mengenai istri Hoppy, Millie, dan tugasnya sebagai anggota juri. Agen itu masih muda dan jelas geli dengan hasil tangkapannya, serta tidak tahu pasti apa yang harus di lakukan terhadap mereka.

Bagi Madden, kejadian ini hanyalah pelanggaran sepele, tidak ada harganya untuk dibawa ke pengadilan, sama sekali tidak perlu menghamburkan te-naga lebih jauh untuk mengurusnya. Apalagi perkara yang ditanganinya sudah begitu banyak. Untuk apa menghamburkan waktu dengan menyeret dua penipu kecil ke pengadilan? Ketika mereka melintas masuk ke Alabama, ia memberikan kuliah keras mengenai hukuman atas tindak pemalsuan identitas sebagai agen federal. Mereka sungguh-sungguh menyesal. Ini takkan terulang lagi.

Ia berhenti di tempat istirahat, membuka borgol mereka, mengembalikan mobil pada mereka, dan

563

memerintahkan mereka agar tidak masuk. ke Mississippi. Mereka mengucapkan terima kasih banyak-banyak, berjanji untuk tidak kembali lagi, dan bergegas pergi.

Fitch memecahkan lampu dengan tinjunya ketika menerima telepon dari Napier. Darah menetes dari buku jarinya ketika ia mengumbar kegusaran, mengutuk, dan mendengarkan kisah tersebut, yang diceritakan dan pangkalan perhentian truk yang bising di suatu tempat di Alabama. Ia menyuruh Pang menjemput kedua orang itu.

Tiga jam setelah pertama kali diborgol, Napier dan Nitchman duduk di ruangan di samping kantor Fitch di belakang toko tua itu. Cristano hadir di sana.

“Mulai dari permulaan,” kata Fitch. “Aku ingin mendengarkan setiap patah kata.” Ia menekan tombol dan alat perekam mulai berputar. Dengan tak kenal jemu mereka bekerja sama menguraikan peristiwa tersebut, hingga tidak ada yang terlewatkan.

Fitch membubarkan dan mengusir mereka kembali ke Washington.

Seorang diri, ia meredupkan lampu-lampu di kantornya dan duduk dalam kegelapan dengan perasaan mendongkol. Hoppy akan bercerita pada Millie malam ini. Millie akan lepas sebagai anggota juri di pihak tergugat; bahkan mungkin ia akan pindah jauh-jauh ke pihak lawan, dan menginginkan miliaran dolar sebagai ganti kerugian untuk janda Wood.

Marlee bisa menyelamatkan bencana ini. Hanya Marlee.

564

Tiga Puluh Enam

Aneh sekali. kata Phoebe, tak lama setelah Beverly memberikan telepon kejutan untuknya, sebab dua han yang lalu juga ada seseorang meneleponnya, mengaku sebagai Jeff Kerr, sedang mencari Claire. Ia langsung tahu bahwa laki-laki itu memalsu-kan diri, tapi ia mengajaknya bercakap-cakap, untuk mengetahui apa yang ia inginkan. Sudah empat tahun ia tidak pernah bicara dengan Claire.

Beverly dan Phoebe membandingkan catatan mengenai telepon yang mereka terima, meskipun Beverly tidak menyebut-nyebut pertemuannya dengan Swanson atau juri yang sedang diselidikinya. Mereka mengenang kembali saat-saat kuliah di college di Lawrence, yang rasanya sudah begitu lama. Mereka berbohong mengenai karier akting mereka dan ke-majuannya. Mereka berjanji untuk bertemu pada kesempatan pertama. Kemudian mereka mengucapkan selamat berpisah.

Beverly menelepon kembali satu jam kemudian, seolah-olah ada sesuatu yang terlupa. ^elama ini ia terus memikirkan Claire. Mereka berpisah dalam keadaan kurang enak, dan ini mengusik perasaannya.

565

Masalahnya adalah urusan remeh yang tidak pernah mereka tuntaskan. Ia ingin menemui Claire untuk membereskan persoalan, atau setidaknya untuk menghilangkan perasaan bersalah tersebut. Namun ia sama sekali tidak tahu di mana bisa menemukannya. Claire lenyap demikian cepat, tanpa jejak.

Sampai di sini, Beverly memutuskan untuk mencoba-coba. Karena Swanson pernah menyebutkan kemungkinan ada nama lain sebelumnya, dan karena ia ingat akan misteri di ?>eputar masa lampau Claire, ia memutuskan untuk melempar umpan dan menunggu apakah Phoebe akan menelannya. “Claire sebenarnya bukan namanya yang sejati, kau tahu?” katanya, berakting cukup efektif.

“Yeah, aku tahu,” kata Phoebe.

“Dia pernah satu kali mengatakannya padaku, tapi sekarang aku tidak ingat”

Phoebe sangsi. “Dia punya nama indah, meskipun Claire bukan nama yang buruk.”

“Siapa namanya?”

“Gabrielle,”

“Oh ya, Gabrielle. Dan siapa nama keluarganya?”

“Brant. Gabrielle Brant. Dia berasal dari Columbia, Missouri. Di sanalah dia bersekolah dan masuk universitas. Apa dia pernah menceritakan kisah ini padamu?”

“Mungkin, tapi aku tidak ingat.”

“Dia punya pacar yang suka menganiaya dan sinting. Dia berusaha memutuskan hubungan, dan laki-laki itu mulai membuntutinya. Itulah sebabnya dia pergi dan berganti nama.”

‘Tidak pernah dengar cerita itu. Siapa nama orangtuanya?”

566

“Brant. Kurasa ayahnya sudah meninggal. Ibunya profesor studi abad pertengahan di universitas.” “Apakah dia masih di sana?” “Entahlah.”

“Aku akan coba menemukannya lewat ibunya. Terima kasih, Phoebe.”

Butuh waktu satu jam untuk mencari Swanson dengan telepon. Beberapa kali Beverly menanyakan, berapa nilai informasi tersebut. Swanson menelepon Fitch, yang sedang butuh satu-dua kabar baik. Ia memberikan batas plafon sebesar lima ribu dolar, dan Swanson menelepon Beverly kembali dengan penawaran sebesar setengah jumlah tersebut. Beverly ingin lebih banyak. Mereka bernegosiasi selama sepuluh menit, dan jťepakat dengan empat ribu dolar. Beverly minta tunai dan baru mau bicara kalau uang itu sudah diterimanya.

Empat CEO dari perusahaan-perusahaan rokok tersebut hadir di kota itu untuk menyaksikan argumentasi penutup dan pemutusan vonis, maka Fitch menyerahkan jet-jet perusahaan yang bisa ia perintah sekehendaknya. Ia mengirim Swanson ke New York dengan pesawat terbang Pynex.

Swanson tiba di kota itu menjelang senja, dan check in ke hotel kecil di dekat Washington Square. Menurut seorang teman sekamamya, Beverly tidak ada di tempat, tidak bekerja, tapi mungkin sedang pesta. Swanson menelepon pizzeria tempat Beverly bekerja, dan diberitahu bahwa ia sudah dipecat. Ia kembali menelepon teman sekamar ‘isverly, tapi sambungannya ditutup ketika ia mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Ia membanting telepon dan meng-567

entak-entakkan kaki berkeliling di kamamya. Bagaimana caranya menemukan seseorang di jalanan Greenwich Village? Ia berjalan beberapa blok ke apartemen Beverly, kakinya membeku di bawah hujan dingin. Ia minum kopi di tempat dulu ia bertemu Beverly, sambil menunggu sepatunya melunak dan kering. la memakai telepon umum untuk mengobrol tanpa hasil dengan rekan sekamar yang sama.

Marlee menginginkan satu pertemuan terakhir sebelum hari Senin yang menentukan. Mereka bertemu di kantornya yang sempit. Fitch rasanya ingin berlutut di kakinya ketika bertemu.

Ia memutuskan untuk menceritakan segalanya mengenai Hoppy, Millie, dan kegagalan perangkapnya kepada Marlee. Nicholas harus segera menggarap Millie, melunakkan hatinya sebelum Millie meracuni rekan-rekannya. Apalagi, Minggu pagi kemarin Hoppy memberitahu Napier dan Nitchman bahwa Millie kini adalah pembela yang gigih di pihak tergugat, ia memperlihatkan memo Robilio itu kepada rekan-rekannya. Apakah ini benar? Bila demikian, apa yang akan dilakukan Millie sekarang, setelah tahu hal yang sebenarnya mengenai Hoppy? la akan gusar, itu sudah pasti. Ia akan langsung ganti haluan. Mungkin ia akan memberitahu rekan-rekannya. betapa keji perbuatan yang telah dilakukan tergugat terhadap suaminya dengan menekannya.

Tak perlu dipertanyakan lagi, ini merupakan bencana. Marlee mendengarkan dengan paras datar sewaktu Fitch memaparkan kisahnya. Ia tidak terperanjat, tapi sedikit geli melihat Filch khawatir.

568

“Kupikir kita harus menyingkirkannya,” kata Fitch setelah selesai bercerita.

“Apa kau punya salinan memo Robilio?” tanya Marlee, sama sekali tidak terpengaruh

Fitch mengambil sehelai kertas dari tasnya dan mengangsurkannya pada Marlee. “Buatanmu sendiri?” tanya Marlee sesudah membacanya.

“Ya Sama sekali palsu.”

Marlee melipat memo tersebut dan meletakkannya di bawah kursi. “Perangkap hebat. Fitch.”

“Yeah, sangat bagus, sampai terbongkar.”

“Inikah yang selalu kaulakukan dalam setiap sidang perkara tembakau?”

“Kami mengusahakannya.”

“Mengapa kau memilih Mr. Dupree?”

“Kami sudah mempelajarinya dengan cermat, dan memutuskan bahwa dia mudah dijebak Agen real estate kecil. susah payah membayar segala tagihannya, banyak uang berganti tangan dengan kedatangan kasino-kasino itu, banyak temannya mcmperoleh uang besar. Dia langsung tertarik.”

“Apakah sebelum ini kau pernah tepergok?”

“Kami pernah terpaksa membatalkan rencana. tapi tak pernah tertangkap basah.”

“Sampai hari ini.”

‘Tidak sepenuhnya. Hoppy dan Millie mungkin curiga ini perbuatan seseorang yang bekerja pada perusahaan rokok, tapi mereka takkan ufciu siapa orangnya. Jadi. dari segi ini, masih ada keraguan.”

“Apa bedanya?”

“Tidak ada.”

“Tenanglah. Fitch. Kupikir suaminya mungkin ter—

569

lalu membesar-besarkan keefektifan istrinya. Nicholas dan Millie cukup dekat, dan dia tidak pernah jadi pembela klienmu.” “Klien kita.”

“Benar. Klien kita. Nicholas belum melihat memo itu.”

“Kaupikir Hoppy berbohong?”

“Apakah kau menyalahkannya? Anak buahmu meyakinkannya bahwa dia akan diperkarakan.”

Fitch bernapus lebih lega dan nyaris tersenyum. Ia berkata, “Nicholas harus bicara dengan Millie malam ini. Beberapa jam lagi, Hoppy akan datang dan menceritakan segalanya pada istrinya. Bisakah Nicholas bicara dengannya segera?”

“Fitch, Millie akan memberikan suara sesuai yang diinginkan Nicholas. Tenanglah.”

Fitch mengendur. la mengangkat siku dari meja dan mencoba tersenyum lagi. “Sekadar ingin tahu, berapa banyak suara yang sudah kita miliki sekarang?”

“Sembilan.”.

“Siapa tiga lainnya?”

“Herman, Rikki, dan Lonnie.”

“Nicholas belum bicara mengenai masa lalu Rikki?”

“Belum.”

“Jadi, ada sepuluh,” kata Fitch, matanya menari-nari, jemarinya tiba-tiba berkedut-kedut. “Kita bisa mendapat sebelas suara kalau kita menendang seseorang dan memilih Shine Royce, benar?”

“Dengar, Fitch, kau terlalu banyak khawatir. Kau sudah membayar, kau sudah menyewa yang terbaik,

570

sekarang tenanglah dan tunggu vonismu. Vonis itu ada dalam tangan yang sangat baik.”

“Keputusan bulat?” Fitch bertanya gembira.

“Nicholas bertekad untuk menjadikannya vonis bulat.”

Fitch melompat-lompat menuruni anak tangga bangunan reyot itu dan berlenggang di sepanjang jalan masuk, hingga ke jalan. Sepanjang enam blok ia bersiul-siul dan hampir saja melompat-lompat di te-ngah udara malam. Jose menemuinya dengan berjalan kaki, dan mencoba mengikuti. Belum pernah ia menyaksikan bosnya begitu gembira.

Pada satu sisi ruang rapat itu duduk tujuh pengacara yang masing-masing sudah membayar satu juta dolar untuk ikut serta dalam peristiwa ini. Tak ada orang lain dalam ruangan tersebut, tak seorang pun kecuali Wendall Rohr, yang berdiri di sisi lain meja rapat dan mondar-mandir perlahan-lahan, berbicara pelan dengan kata-kata terukur kepada dewan juri. Suaranya hangat dan ramah, satu detik penuh dengan belas kasih, disusul kata-kata keras untuk Big Tobacco pada detik berikutnya. Ia menguliahi dan membujuk. Ia melucu dan marah. Ia memperlihatkan foto kepada mereka, dan menuliskan angka-angka pada papan tulis.

Ia selesai dalam waktu 51 menit, geladi resik terpendek selama ini. Argumentasi penutup itu harus sepanjang satu jam atau kurang, perintah Hakim Harkin. Komentar dari rekan-rekannya datang dengan gencar dan campur aduk, beberapa memberikan puji-an, tapi kebanyakan menguji cara-cara untuk mem—

571

perbaiki. Tidak ada penonton yang lebih keras dari ini. Tujuh orang itu sudah mengkombinasikan ratusan argumentasi penutup, argumentasi yang sudah menghasilkan vonis hampir sebesar setengah miliar dolar. Mereka tahu bagaimana menyaring uang besar dan para juri.

Mereka sudah sepakat untuk memarkir ego masing-masing di luar pintu. Rohr menerima pukulan-pukulan lagi, sesuatu yang tidak bisa dilanggungnya dengan baik, dan setuju untuk memperagakan kembali argumentasi tersebut.

Langkah ini harus sempurna. Kemenangan sudah begitu dekat.

Cable mengalami siksaan yang hampir sama. Pe-nontonnya jauh lebih banyakselusin pengacara, beberapa konsultan juri, dan paralegal dalam jumlah besar. Penampilannya direkam dengan video, sehingga ia bisa mempelajari diri .sendiri. Ia bertekad untuk menyampaikan argumentasi penutup ini dalam setengah jam. Dewan juri tentu menghargai. Rohr tak diragukan tentu bicara lebih panjang. Kontras tersebut tentu bagusCable sang teknisi tetap mengacu pada fakta, versus Rohr si pengacara flamboyan menarik-narik emosi mereka.

Ia menyampaikan argumentasi penutup, lalu menonton videonya. Demikian berulang kali, sepanjang Minggu siang hingga malam.

Ketika tiba di rumah peristirahatan di tepi pantai itu, Filch sudah kembali pada sikap pesimismenya yang biasa. Empat CEO itu sedang menunggu, baru

572

saja selesai menikmati jamuan makan lezat Jankle sudah mabuk dan duduk seorang diri di samping perapian. Fitch mengambil kopi dan menganalisis upaya terakhir pembela. Pertanyaan dengan cepat bergulir pada transfer per teleks yang dimintanya pada hari Jumat; masing-masing dua juta dolar dan mereka berempat.

Sebelum hari Jumat, The Fund punya saldo sebesar enam setengah juta, sudah pasti lebih dari cukup untuk menyelesaikan Mdang ini. Untuk apa delapan juta tambahan ini? Dan berapa yang tersisa dalam The Fund sekarang?

Fitch menjelaskan bahwa ada biaya pembelaan mendadak dan tak terencana dalam jumJah besar.

“Berhentilah main-main. Fitch,” kata Luther Vandemeer dari Trellco. “Apa kau berhasil membeli vonis?”

Fitch mencoba berbohong pada empat orang ini. Tapi mereka toh tetap majikannya. Ia tak pernah menceritakan kejadian sebenarnya dengan lengkap, dan mereka tidak berharap ia melakukannya. Tapi menanggapi pertanyaan langsung, terutama yang se-genting ini, ia merasa wajib menunjukkan kejujuran. “Kurang-lebih seperti itu,” katanya.

“Apa kau sudah mengantongi suara mereka. Fitch?” tanya satu CEO lain.

Fitch diam dan memandang mereka satu per satu dengan cermat, termasuk Jankle, yang tiba-tiba menaruh perhatian penuh. “Aku yakin sudah,” katanya.

Jankle melompat berdiri, limbung tapi cukup ter-fokus, dan melangkah ke tengah ruangan. “Katakan sekali lagi. Fitch,” desaknya.

573

“Kau sudah mendengarku,” kata Fitch. “Vonis sudah dibeli.” Suaranya tidak bisa menutupi sedikit nada bangga.

Tiga lainnya ikut berdiri. Mereka berempat mendekat ke arah Fitch, membentuk setengah lingkaran longgar. “Bagaimana?” salah satu bertanya.

“Tidak akan kuceritakan,” kata Fitch dingin. “Detailnya tidak penting.”

“Aku ingin tahu,” kata Jankle.

“Lupakan saja. Bagian dari pekerjaanku adalah menyelesaikan pekerjaan kotornya serta melindungi kalian dan perusahaan kalian. Kalau kalian ingin memberhentikan aku, boleh saja. Tapi kalian tidak akan pernah tahu detailnya.”

Mereka menatapnya cukup lama. Lingkaran itu makin ketat. Mereka meneguk minuman perlahan-lahan dan mengagumi pahlawan mereka. Delapan kali mereka berada di tepi jurang bencana, dan delapan kali Rankin Fitch melakukan cara kotornya serta menyelamatkan mereka. Kini ia melakukannya untuk kesembilan kali. Ia tak terkalahkan

Dan ia tidak pernah menjanjikan kemenangan sebelum ini, tidak seperti ini. Bahkan kebalikannya Ia selalu menderita sebelum setiap vonis, selalu meramalkan kekalahan dan bersenang hati membuat mereka sengsara. Ini tidak seperti biasanya.

“Berapa harga vonis itu?” tanya Jankle. Fitch tak dapat menyembunyikan ini. Karena alasan-alasan yang jelas, empat orang ini berhak tahu ke mana uang tersebut pergi. Mereka menerapkan sistem akun-tansi primitif untuk The Fund. Masing-masing perusahaan menyumbangkan jumlah yang sama bila Fitch

574

memintanya, dan masing-masing CEO berhak menerima daftar bulanan dan seluruh pengeluaran. “Sepuluh juta,” kata Fitch.

Si pemabuk yang pertama kali menyalak. “Kau membayar sepuluh juta dolar untuk seorang anggota juri!” Tiga lainnya juga sama-sama terkejut.

‘Tidak. Tidak kepada satu anggota. Anggap saja begini. Aku sudah membeli vonis itu seharga sepuluh juta dolar, oke? Itu saja yang akan kukalakan The Fund sekarang punya saldo 4,5 juta. Dan aku tidak akan menjawab pertanyaan mengenai bagaimana uang itu berpindah tangan.”

Sejumlah uang tunai sebagai sogokan masih masuk akal Lima, sepuluh ribu dolar, mungkin. Tapi tidaklah mungkin membayangkan orang udik penduduk kota kecil yang duduk dalam dewan juri ini memiliki otak cukup besar untuk memimpikan sepuluh juta dolar. Masa seluruh uang itu masuk ke satu orang?

Mereka berkerumun di dekat Fitch dalam kebisuan dan kekagetan, masing-masing dengan pikiran yang sama. Pasti Fitch sudah memakai cara ajaibnya terhadap sepuluh orang di antara mereka. Itu masuk akal. Ia mendapat sepuluh juta dan menawarkan satu juta kepada mereka masing-masing. Itu sangat masuk akal. Sepuluh jutawan baru di Gulf Coast. Tapi bagaimana menyembunyikan uang sebanyak itu?

Fitch menikmati saat-saat itu. “Sudah tentu. tidak ada jaminm apa pun,” katanya. “Kalian tidak pernah tahu, sampai dewan juri kembali.”

Well, dengan harga sepuluh juta dolar, sebaiknya ada jaminan. Tapi mereka tidak mengucapkan apa

575

pun. Luther Vandemeer yang pertama mundur. Ia menuang brendi lebih banyak dan duduk di bangku, dekat piano. Fitch akan memberitahu mereka kelak. I a akan menunggu ?>atu atau dua bulan, mengundang Fitch ke New York, dan menguras ceritanya.

Fitch mengatakan ada urusan yang harus ia kerjakan. la ingin mereka berempat hadir di ruang sidang untuk mendengarkan argumentasi penutup. Jangan duduk bergerombol, perintahnya.

576

Tiga Puluh Tujuh

Semua anggota juri merasa Minggu malam akan menjadi malam terakhir mereka dalam pengasingan. Mereka berbisik-bisik bahwa barangkali bila mereka menerima kasus itu Senin siang, mereka bisa memutuskan vonis Senin malam dan langsung pulang. Hal ini tidak dibicarakan secara terbuka, karena tentu melibatkan spekulasi mengenai vonis, sesuatu yang akan dibungkam dengan cepat oleh Herman.

Akan tetapi, suasana terasa ringan, dan banyak di antara anggota juri itu yang sudah berkemas diam-diam dan merapikan kamar mereka. Mereka ingin agar kunjungan terakhir mereka ke Siesta Inn berlangsung cepatkunjungan kilat dari gedung pengadilan untuk mengambil tas-ta?ť yang sudah dibereskan dan meraih sikat gigi.

Minggu adalah malam ketiga dengan kunjungan pribadi secara berturutan. dan semuanya sudah cukup berkumpul dengan pasangannya. Terutama mereka yang sudah menikah. Tiga malam santai berturut-turut dalam kamar sempit sudah lebih dari cukup untuk kebanyakan pasangan suami-istri. Bahkan me—

577

reka yang niasing lajang butuh satu malam istirahat. Paear Savelle tidak datang. Derrick memberitahu Angel bahwa ia mungkin akan datang nanti, tapi ada beberapa urusan penting yang harus diselesaikan lebih dulu. Loreen tidak punya kekasih, tapi ia sudah cukup puas dengan kunjungan putri-putrinya akhir pekan itu. Jerry dan Poodle terlibat dalam percekcokan kecil mereka yang pertama.

Minggu malam, motel itu tenang; tidak ada tayangan pertandingan football dan bir di Ruang Pesta. tidak ada pertandingan checker. Marlee dan Nicholas makan piza di kamar. Mereka memeriksa kembali checklist mereka dan menyusun rencana terakhir. Keduanya resah dan tegang, serta hanya sedikit geli ketika Marlee menceritakan kembali kisah sedih Fitch tentang Hoppy.

Marlee berlalu pukul sembilan. Ia pergi dengan mobil sewaan ke kondominium sewaannya, bergegas mengemasi barang-barangnya sendiri.

Nicholas berjalan menyeberangi koridor, tempat Hoppy dan Millie sedang menunggu, bak sepasang pengantin yang sedang berbulan madu. Mereka sangat berterima kasih padanya. Ia telah membongkar rencana busuk itu dan membebaskan mereka kembali. Sungguh mengguncangkan, memikirkan tindakan-tin-dakan ekstrem yang diambil oleh industri tembakau sekadar untuk menekan seorang anggota juri.

Millie mengungkapkan keprihatinannya untuk tetap bertahan dalam dewan juri ini. la dan Hoppy sudah mendiskusikannya, dan rasanya ia tidak bisa bersikap adil dan tidak memihak sesudah tahu apa yang telah mereka lakukan terhadap suaminya. Nicholas sudah

578

mengantisipasi hal ini. Menurut pendapatnya. ia membutuhkan Millie.

Dan ada alasan yang lebih penting. Kalau Millie memberitahu Hakim Harkin tentang jebakan terhadap Hoppy, ia mungkin akan mengumumkan pembatalan sidang. Itu akan menjadi tragedi. Pembatalan berarti dalam satu atau dua tahun akan dipilih dewan juri baru untuk memeriksa kasus yang sama. Masing-masing pihak akan menghamburkan banyak uang untuk kembali melakukan apa yang sedang mereka lakukan sekarang. “Ini terserah pada kita. Millie. Kita sudah dipilih untuk memutuskan kasus ini, dan tanggung jawab kitalah untuk menjatuhkan vonis. Dewan juri selanjutnya tidak akan lebih pintar dan pada kita.”

“Aku setuju,” kata Hoppy. “Sidang ini akan selesai besok. Sungguh sayang kalau pembatalan sampai diumumkan pada detik terakhir.”

Maka Millie menggigit bibir dan mendapatkan tekad baru. Nicholas, sahabatnya ini, membuat segala urusan lebih mudah

Cleve menemui Derrick Minggu malam di sports bar Nugget Casino. Mereka minum bir, menyaksikan pertandingan football, dan tidak banyak berbicara, sebab Derrick cemberut dan berusaha kelihatan marah atas kecurangan yang menurutnya ia terima. Lima belas ribu dolar tunai ada di dalam bungkusan kecil berwarna cokelat yang diangsurkan Cleve di meja. Derrick mengambilnya dan menjejalkannya ke saku, tanpa mengucapkan terima kasih atau apa pun. Sesuai perjanjian terakhir mereka, sepuluh ribu sisanya akan

579

dibayarkan sesudah vonis diumumkan, tentu saja dengan asumsi bahwa Angel akan memberikan suara untuk kemenangan penggugat.

“Mengapa kau tidak pergi sekarang?” tmnya Derrick, beberapa menit setelah uang itu mendarat di sakunya.

“Gagasan bagus,” kata Cleve. “Pergi 1 ah temui pacarmu. Jelaskan urusan nya dengan hati-hati.”

“Aku bisa menanganinya.”

Cleve membawa pergi birnya, dan menghilang.

Derrick menghabiskan bir dan bergegas ke kamar kecil, mengunci diri dalam bilik dan menghitung uang tersebut150 helai pecahan seratus dolar yang masih baru. Ia menekan tumpukan itu dan tercengang merasakan tebalnyakurang dari dua setengah senti. Ia membaginya jadi empat, dan memasukkan masing-masing lipatan ke saku jeans.

Kasino itu ramai sekali. Ia belajar melempar dadu dari kakaknya yang pernah berdinas dalam ketentaraan, dan entah mengapa, bagaikan ditarik magnet, ia berkeliaran dekat meja permainan lempar dadu. Sebentar ia menonton, kemudian memutuskan untuk menahan godaan dan pergi menemui Angel. Ia berhenti untuk membeli bir di bar kecil yang menghadap ke meja roulette. Di mana-mana di bawahnya, uang dimenangkan dan dihamburkan. Butuh uang untuk menghasilkan uang. Ini malam keberuntungannya.

Ia membeli chip senilai seribu dolar di meja dadu, dan menikmati perhalian yang selalu diperoleh para penghambur uang. Bos meja itu memeriksa lembaran uang yang belum pernah dipakai tersebut, lalu tersenyum pada Derrick. Seorang pelayan wanita

580

berambut pirang muncul entah dari mana, dan Derrick pun memesan satu bir lagi.

Derrick bertaruh dengan berani, lebih berani daripada orang kulit putih di meja itu. Tumpukan chip pertama lenyap dalam seperempat jam, dan tanpa ragu sedikit pun ia menukarkan lagi.

Seribu lagi menyusul, kemudian dadu memanas dan Derrick memenangkan 1.800 dolar dalam lima menit. Ia membeli chip lebih banyak lagi. Bir terus mengalir. Si pirang itu mulai main mata. Bos meja dadu itu bertanya apakah ia ingin jadi gold member Nugget Casino.

Ia sudah tidak bisa lagi menghitung uang itu. Ia mengeluarkannya dari keempat saku, lalu memasukkannya lagi sebagian. Ia membeli chip lebih banyak. Sesudah satu jam, ia sudah kalah enam ribu dolar dan sangat ingin berhenti. Tapi nasibnya harus berubah. Dadu itu tadi mendatangkan keuntungan; sudah pasti akan datang kesempatan lagi. Ia memutuskan untuk terus bertaruh dalam jumlah besar, dan kalau keberuntungan datang, ia akan mendapatkan kembali seluruh uangnya. Satu bir lagi, dan ia ganti minta scotch.

Sesudah kekalahan besar. ia menarik diri dari meja dan kembali ke kamar kecil, bilik yang sama. Ia menguncinya dan mencabut lembaran uang dan empat saku. Susut tinggal tujuh ribu dolar, dan rasanya ia ingin menangis. Tapi ia harus meraihnya kembali. Ia memutuskan untuk pergi ke luar sana dan memenangkan kembali uangnya. Ia mencoba meja Iain. Ia akan mengubah cara bertaruhnya, dan, tak peduli apa yang terjadi, ia akan angkat tangan

581

dan nienyingkir dari sana bila uangnya tinggal lima ribu dolar. Ia udak boleh kehilangan lima ribu terakhir itu.

Ia berjalan melewati sebuah meja roulette tanpa pemain, dan tergerak oleh dorongan hati, meletakkan chip senilai lima ratus dolar pada merah. Sang bandar memutar piringan, berhenti pada merah, dan Derrick menang lima ratus dolar. Ia meninggalkan chip-chip itu di merah, dan menang lagi. Tanpa ragu, ia meninggalkan chip senilai dua ribu dolar itu pada merah, dan menang untuk kctiga kalinya berturut-turut. Empat ribu dolar dalam waktu kurang dari lima menit. la membeli bir di bar dan menonton pertandingan tinju. Teriakan-teriakan ramai dari meja dadu menyuruhnya menyingkir. Ia merasa beruntung mengantongi hampir sebelas ribu dolar.

Waktu untuk mengunjungi Angel Mjdah lewat, tapi ia harus menemuinya. Dengan sengaja ia berjalan melewati deretan mesin judi, sejauh mungkin dan meja dadu. Ia berjalan cepat, berharap sampai ke pintu depan sebelum berubah pikiran dan kembali ke meja dadu. Ia berhasil sampai di sana.

Rasanya ia baru mengemudi satu menit ketika melihat lampu biru di belakangnya. Mobil polisi kota Biloxi meluncur cepat di belakangnya, lampu depannya berkeredepan. Derrick tidak punya permen atau permen karet. Ia berhenti, keluar dari mobil, dan menunggu perintah dari polisi, yang mendekat dan langsung mencium bau alkohol. “Baru minum?” si polisi bertanya. “Oh, cuma satu-dua botol bir di kasino.” Polisi itu memeriksa mata Derrick dengan lampu

582

senter yang membutakan, lalu menyuruhnya berjalan mengikuti garis lurus dan menaruh jarinya di hidungnya. Derrick jelas mabuk. Ia diborgol dan dibawa ke penjara. Ia setuju melakukan breath test dan alat itu menunjukkan angka .18.

Ada banyak pertanyaan mengenai uang tunai dalam sakunya. Penjelasannya masuk akalmalam ini ia beruntung di kasino. Tapi ia tidak punya pekerjaan Ia tinggal bersama saudara laki-lakinya. Tidak ada catatan kejahatan. Petugas mencatat uang tunai serta barang-barang di sakunya dan menguncinya dalam lemari besi.

Derrick duduk di dipan sel untuk pemabuk, dengan dua gelandangan yang mengerang di lantai. Telepon tidak akan menolong, sebab ia tidak bisa menghubungi Angel secara langsung. Pengemudi yang mabuk wajib mendekam dalam sel selama lima jam. Ia harus menghubungi Angel sebelum Angel berangkat ke pengadilan.

Dlring telepon membangunkan Swanson pada pukul setengah empat Senin dini hari. Suara di ujung seberang terdengar pekat dan goyah, kata-katanya tidak tegas, tapi jelas milik Beverly Monk. “Welcome to the Big Apple,” katanya keras, lalu tertawa gila, seperti sudah sinting.

“Ada di mana kau?” Swanson bertanya. “Aku sudah bawa uangnya.”

“Nanti,” kata Beverly, kemudian Swanson mendengar suara marah dua laki-laki di latar belakang. “Nanti saja.” Seseorang mengeraskan musik.

“Aku butuh informasi secepatnya.”

583

“Dan aku butuh uangnya.”

“Bagus. Katakan padaku kapan dan di mana.”

“Oh, aku tidak tahu,” ia berkata. lalu meneriakkan sumpah serapah pada seseorang dalam ruangan itu.

Swanson mencengkeram gagang telepon lebih erat. “Dengar, Beverly, dengarkan aku. Kau ingat kedai kopi kecil tempat kita terakhir kali bertemu?”

“Yeah, kurasa ingat.”

“Di Eighth Street, dekat Balducci’s.”

“Oh, yeah.”

“Bagus. Temui aku di sana secepat mungkin.” “Secepat apa?” ia bertanya, lalu tawanya meledak. Swanson bersabar. “Bagaimana kalau pukul tujuh?” “Pukul berapa sekarang?” “Setengah empat.” “Wah.”

“Dengar, bagaimana kalau aku menjemputmu saja sekarang? Katakan kau ada di mana. dan aku akan menjemput dengan taksi.”

“Tidak, aku baik-baik saja. Aku cuma bersenang-senang.”

“Kau mabuk.” “Jadi?”

“Jadi, kalau kau menginginkan empat ribu dolar ini, sebaiknya kau cukup sadar untuk menemuiku.”

“Aku akan ke sana, babx. Coba katakan lagi, siapa namamu?”

“Swanson.”

“Benar, Swanson. Aku akan berada di sana pukul tujuh, atau sekitar itu.” Ia tertawa ketika memutuskan

sambungan.

Swanson tidak ingin tidur lagi.

584

**

Pukul setengah enam, Marvis Maples muncul menghadap petugas penjara. dan menanyakan apakah ia bisa menjemput adiknya, Derrick. Waktu lima jam itu sudah lewat. Petugas penjara menjemput Derrick dari sel pemabuk, lalu membuka kotak besi dan meletakkannya di counter. Derrick memeriksa isi kotak itusebelas ribu dolar tunai, kunci mobil, pisau lipat, pelembap bibirsementara kakaknya menatap tercengang.

Di halaman parkir, Marvis bertanya mengenai uang tunai itu, dan Derrick menjelaskan bahwa ia beruntung di meja dadu. Ia memberi Marvis dua ratus dolar, dan bertanya apakah bisa meminjam mobilnya. Marvis menerima uang itu dan setuju untuk menunggu di penjara, sampai mobil Derrick diambil dari tempat parkir.

Derrick bergegas ke Pass Christian dan parkir di belakang Siesta Inn, tepat ketika fajar mulai merekah di timur. Ia merunduk rendah, berjaga-jaga kalau-kalau ada seseorang di sekitar tempat itu. Lalu ia menyelinap ke dalam semak-semak, sampai di jendela kamar Angel. Tentu saja jendela itu terkunci, dan ia mulai mengetuk. Tidak ada jawaban, maka ia mengambil sekeping batu kecil dan mengetuk lebih keras. Cahaya matahari sudah terang di sekitarnya, dan ia mulai panik.

“Diam di tempat!” terdengar suara keras dekat punggungnya.

Derrick tersentak melihat Chuck, sang deputi tak berseragam, membidikkan pistol hitam berkilat ke

585

keningnya. Ia menggerakkan senjata itu. “Menjauh dari jendela itu! Angkat tangan!”

Derrick mengangkat tangan dan berjalan menerobos semak. “Tiarap!” adalah perintah selanjutnya, dan Derrick bertiarap di jalan batu yang dingin. dengan tangan di belakangnya. Chuck minta bantuan lewat radio.

Marvis masih berkeliaran di sekitar penjara, menunggu mobil Derrick, ketika saudaranya itu kembali untuk penahanan kedua malam itu.

Angel terus tertidur selama kejadian tersebut

586

Tiga Puluh Delapan

Sungguh sayang bahwa anggota juri yang selama ini paling rajin, mendengarkan lebih cermat daripada yang lain, mengingat lebih banyak tentang apa yang diucapkan, dan mematuhi setiap peraturan Hakim Harkin adalah yang terakhir disisihkan, dan dengan demikian mencegahnya untuk mempengaruhi vonis.

Mrs. Herman Grimes tiba di ruang makan tepat pukul tujuh seperempat, mengambil nampan, dan mulai mengambil sarapan pagi seperti biasanya selama dua minggu ini. Sereal, susu skim, dan pisang untuk Herman. Cornflake, susu dua persen, seiris daging asin, dan sari apel untuknya sendiri. Seperti sering dilakukannya, Nicholas menemuinya di buffet dan menawarkan bantuan. Ia masih tetap membuatkan kopi untuk Herman setiap siang di ruang juri, dan ia merasa perlu memberikan bantuan di waktu pagi. Dua sendok gula dan satu sendok knm untuk Herman. Kopi kental untuk Mrs. Grimes. Mereka berbincang-bincang, apakah sebaiknya berkemas serta bersiap pergi atau tidak. Mrs. Grimes tampak sangat gembira dengan prospek untuk makan malam di rumah Senin ini.

587

Suasana sangat ceria sepanjang pagi itu. ketika Nicholas dan Henry Vu mengambil tempat di meja makan dan menyapa orang-orang yang datang. Mereka akan pulang!

Mrs. Grimes mengambil peralatan makan perak, dan Nicholas cepat-cepat memasukkan empat tablet kecil ke kopi Herman, sambil mengucapkan sesuatu mengenai para pengacara. Obat itu takkan membunuhnya. Tablet itu adalah Methergine, obat rahasia yang hanya dipakai di ruang gawat darurat untuk memulihkan orang yang sedang sekarat. Herman akan sakit selama empat jam, lalu pulih sepenuhnya.

Seperti kerap kali ia lakukan, Nicholas mengikuti Mrs. Grimes sepanjang koridor menuju kamar mereka, membawa nampan dan bercakap-cakap mengenai ini-itu. Mrs. Grimes mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepadanya; sungguh pemuda yang baik hati.

Keributan terjadi setengah jam kemudian, dan Nicholas ada di tengahnya. Mrs. Grimes melangkah ke koridor dan berteriak pada Chuck yang sedang duduk di posnya, meneguk kopi dan membaca surat kabar. Nicholas mendengar teriakan itu, dan bergegas datang dari kamarnya. Ada yang tidak beres dengan Herman!

Lou Dell dan Willis datang di tengah suara-suara panik, dan tak lama kemudian sebagian besar anggota juri sudah berada di luar kamar pasangan Grimes. Pintu kamar itu terbuka dan orang-orang berkerumun. Herman tergeletak di lantai kamar mandi, meringkuk, memegangi perut dan sangat kesakitan. Mrs. Grimes dan Chuck membungkuk di atasnya. Lou Dell berlari

ke telepon dan menelepon 911. Nicholas berkata sedih kepada Rikki Coleman bahwa itu sakit dada, mungkin serangan jantung. Herman sudah pernah mengalaminya, enam tahun yang lalu.

Dalam beberapa menit, semua orang tahu bahwa Herman mengalami serangan jantung.

Paramedis tiba dengan usungan, dan Chuck mendorong anggota juri lain ke koridor. Keadaan Herman stabil dan ia diberi oksigen. Tekanan darahnya hanya sedikit di atas normal. Mrs. Grimes berulang-ulang mengatakan bahwa hal itu mengingatkannya akan serangan jantungnya yang pertama.

Mereka mendorongnya dengan cepat menyusuri koridor. Dalam kekacauan, Nicholas berhasil menyenggol jatuh cangkir kopi Herman.

Suara sirene meraung saat Herman dibawa pergi. Para juri itu kembali ke kamar masing-masing untuk menenangkan saraf. Lou Dell menelepon Hakim Harkin untuk mengabarkan bahwa Herman jatuh sakit. Secara konsensus diduga serangan jantung.

“Mereka berjatuhan seperti lalat,” kata Lou Dell, kemudian meneruskan betapa selama delapan belas tahun sebagai jury madam, ia tidak pernah kehilangan anggota juri sebanyak ini. Harkin memotong omongannya.

Swanson tak yakin perempuan itu akan tiba pukul tujuh tepat untuk minum kopi dan mengambil uangnya. Hanya beberapa jam yang lalu, wanita itu masih mabuk dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulih, jadi bagaimana ia bisa berharap wanita itu menepati janji? Ia menikmati sarapan perlahan—

589

588

lahan dan membaca surat kabar. Pukul delapan berlalu. Ia pindah ke meja yang lebih baik di dekat jendela, sehingga bisa mengawasi orang-orang yang berjalan di trotoar.

Pukul sembilan, Swanson menelepon apartemen Beverly dan bertengkar lagi dengan teman sekamar-nya yang sama. Tidak, dia tidak ada di sana, tidak pulang sepanjang malam, dan mungkin dia sudah pindah.

Perempuan ini anak seseorang, katanya pada diri sendiri, hidup dari satu tempat ke tempat lain, dari hari ke hari, mengemis makanan dan uang untuk tetap hidup dan membeli minuman keras. Apakah orangtuanya tahu cara hidupnya9

Ia punya banyak waktu untuk merenungkan hal ini. Pada pukul sepuluh, ia memesan roti panggang, sebab pelayan kini mulai memandanginya, jelas kesal karena Swanson rupanya akan berada di situ sepanjang siang.

Dipicu oleh desas-desus yang rupanya berdasar kuat, harga pembukaan saham Pynex menguat. Sesudah penutupan pada 73 di hari Jumat. nilainya melonjak ke 76 pada bel pembukaan, dan dalam beberapa menit naik sampai 79 Ada kabar baik dari Biloxi, meski tak seorang pun tahu sumbernya. Semua saham perusahaan rokok naik dengan cepat dalam transaksi besar-besaran.

Hakim harkin tidak muncul sampai hampir pukul setengah sepuluh, dan ketika melangkah menuju tempat duduknya, ia melihat bahwa ruang sidangnya

590

penuh sesak. Ia baru saja menyelesaikan perdebatan panas dengan Rohr dan Cable. Cable menginginkan pembatalan sidang, sebab satu anggota juri lagi tersisih. Tidak ada alasan memadai untuk mengumumkan pembatalan sidang. Harkin sudah mengerjakan pekerjaan rumahnya. Ia bahkan sudah menemukan kasus lama yang memperkenankan sebelas anggota juri memutuskan suatu kasus perdata. Diperlukan sembilan suara, tetapi vonis juri itu dikukuhkan oleh Mahkamah Agung.

Seperti sudah diduga, kabar serangan jantung Herman menyebar cepat di antara orang banyak yang menyaksikan sidang itu. Para konsultan juri yarig disewa oleh tergugat diam-diam mengumumkan kemenangan besar di pihak mereka. karena Herman jelas berpihak pada penggugat. Para konsultan juri yang disewa oleh penggugat meyakinkan Rohr dan kawan-kawannya bahwa penyisihan Herman merupakan pukulan hebat bagi tergugat, karena Herman jelas berpihak pada perusahaan tembakau. Semua pakar juri menyatakan kegembiraan dengan hadirnya Shine Royce, meskipun kebanyakan sulit menjelaskan alasannya.

Fitch duduk tertegun, heran. Bagaimana cara memberi seseorang serangan jantung? Apakah Marlee cukup berdarah dingin untuk meracuni seorang laki-laki tunanetra? Syukurlah wanita itu ada di pihaknya

Pintu terbuka. Para juri berbaris masuk. Semua orang mengamati, untuk memastikan bahwa Herman benar-benar tidak ada di antara mereka. Tempat duduknya kosong.

Hakim Harkin sudah bicara dengan dokter di rumah sakit, dan ia mulai dengan memberitahu para

591

anggota juri bahwa Herman tampaknya memberi respons dengan baik, mungkin peristiwa ini tidaklah seserius yang diperkirakan semula. Para juri itu, teristimewa Nicholas, lega luar biasa. Shine Royce menjadi anggota juri nomor 5, dan mengambil tempat duduk Herman di deretan depan, antara Phillip Savelle dan Angel Weese.

Shine amat bangga dengan diri sendiri.

Ketika semua sudah duduk dan tenang, Yang Mulia Hakim menginstruksikan Wendall Rohr untuk memulai somasi terakhirnya. Jangan lebih dari satu jam, ia memperingatkan. Rohr, mengenakan jasnya yang mencolok, tapi dengan kemeja rapi dan dasi bersih, memulai dengan minta maaf atas panjangnya sidang ini, dan mengucapkan terima kasih kepada mereka karena telah menjadi juri yang demikian baik. Setelah itu, ia meluncur pada uraian kejam tentang “…produk konsumen paling mematikan yang pernah diproduksi. Rokok. Rokok membunuh 400.000 warga Amerika setiap tahun, sepuluh kali lipat lebih besar daripada obat ter-Iarang. Tidak ada produk lain yang mendekatinya.”

Ia sampai pada pokok terpenting dari kesaksian Dr. Fricke, Bronsky, dan Kilvan; ia melakukannya tanpa mengulang kembali apa yang mereka ucapkan. Ia mengingatkan mereka pada Lawrence Krigler, orang yang pernah bekerja dalam industri tersebut dan tahu rahasia-rahasianya yang kotor. Ia menghabiskan sepuluh menit berbicara biasa-biasa tentang Leon Robilio, laki-ltki tanpa suara, yang dua puluh tahun bekerja untuk mempromosikan tembakau, lalu menyadari betapa busuknya industri ini.

Rohr melangkah lancar ketika sampai pada masalah

592

anak-anak. Agar Big Tobacco bisa bertahan hidup, ia harus menjerat para remaja dan memastikan bahwa generasi berikutnya juga membeli produknya. Seolah-olah sudah mendengarkan pembicaraan di ruang juri, Rohr meminta para juri menanyai diri sendiri, umur berapakah mereka ketika mulai merokok.

Tiga ribu anak-anak setiap hari terjerat kebiasaan itu. Sepertiga dari mereka akhirnya akan mati karenanya. Apa lagi yang harus di katakan9 Bukankah sekarang saatnya untuk mendesak perusahaan kaya ini agar berdiri di belakang produk mereka? Saat untuk mendapatkan perhatian mereka? Saat untuk mendesak mereka agar melepaskan anak-anak kita? Saat untuk memaksa mereka membayar kerugian yang ditimbulkan oleh produk mereka?

Ia berubah jadi kejam ketika bicara tentang nikotin dan pendapat keras kepala dan Big Tobacco bahwa rokok tidak menimbulkan ketergantungan. Mantan pecandu obat bius memberikan kesaksian bahwa lebih mudah berhenti memakai mariyuana dan kokain daripada berhenti merokok. Ia jadi lebih keji lagi ketika menyebut Jankle dan teori penyalahgunaannya.

Kemudian ia berkedip satu kali dan berubah menjadi orang lain. Ia bicara tentang kliennya, Mrs. Celeste Wood, istri yang baik, ibu, teman, korban sesungguhnya dari industri tembakau. Ia bicara tentang almarhum Mr. Jacob Wood yang terjerat oleh Bristols, bintang dalam jajaran produk Pynex, dan selama dua puluh tahun berusaha melepaskan kebiasaan itu. Ia meninggalkan anak dan cucu Meninggal dunia pada usia 51 tahun karena ia memakai produk yang dibuat dengan legal, sesuai dengan fungsinya.

593

Ia melangkah ke papan tulis putih pada tripod dan memberikan perhitungan ringkas. Nilai moneter hidup Jacob Wood adalah, sebut saja, satu juta dolar. Ia menambahkan beberapa kerugian lain dan jumlah keseluruhannya menjadi dua juta. Ini kerugian aktual, jumlah uang yang berhak diterima oleh keluarga karena kematian Jacob.

Akan tetapi. kasus ini tidak mengenai kerugian sebenarnya. Rohr memberikan kuliah singkat mengenai pembayaran ganti kerugian sebagai hukuman, dan perannya dalam meluruskan perusahaan-perusahaan Amerika agar tetap dalam jalur. Bagaimana kalian menghukum perusahaan yang memiliki 800 juta dolar tunai?

Kau harus mendapatkan perhatian perusahaan itu.

Rohr berhati-hati untuk tidak menyiratkan angka tertentu, meskipun secara legal seharusnya bisa. Ia hanya meninggalkan tulisan $800,000,000 TUNAI dengan huruf tebal di papan, lalu kembali ke podium dan menyelesaikan pidatonya. Ia kembali mengucapkan terima kasih kepada juri. dan duduk. Empat puluh delapan menit.

Yang Mulia Hakim mengumumkan reses selama sepuluh menit.

Bfvi rly terlambat empat jam, namun Swanson toh tetap bersyukur dan serasa ingin memeluknya. Tapi itu tak dilakukannya, sebab ia takut penyakit menular, lagi pula perempuan itu dikawal oleh pemuda lusuh dengan pakaian kulit dari ujung kaki sampai kepala rambut dan jenggot hitam, dicat. Kata JADE tertato di tengah dahinya, dan ia memakai koleksi anting-anting indah di kedua daun telinganya.

594

Jade tidak mengucapkan apa-apa sewaktu menarik kursi mendekat. dan duduk siaga di sana, bak Do-be rman

Beverly kelihatan seperti habis dipukuli. Bibir bawahnya pecah dan melepuh. Ia mencoba menutupi memar di pipinya dengan makeup. Sudut mata kanannya bengkak la mengeluarkan bau menyengat asap ganja dan bourbon murah, dan kelihatannya ia sedang dalam pengaruh kokain.

Swanson sebenarnya bisa dengan mudah menampar tato Jade dan perlahan-lahan mencabuti antingnya.

“Apakah kaubawa uangnya?” Beverly bertanya, melirik pada Jade, yang menatap kosong pada Swanson. Tidak ada keraguan, ke mana uang itu akan pergi.

“Ya. Ceritakan padaku mengenai Claire.”

“Coba aku lihat uangnya.”

Swanson mengeluarkan amplop kecil, dan membukanya sedikit untuk memperlihatkan uang di dalamnya, lalu menindihnya dengan dua belah tangan di meja. “Empat ribu dolar. Sekarang cepatlah bicara.” katanya, menatap tajam pada Jade.

Beverly memandang Jade, yang mengangguk bak aktor buruk, dan berkata, “Bicaralah.”

“Nama aslinya adalah Gabrielle Brant. Dia berasal dari Columbia, Missouri. Dia masuk college dan universitas di sana, tempat ibunya mengajar sejarah abad pertengahan Itu saja yang kuketahui.”

“Bagaimana dengan ayahnya?”

“Kurasa dia sudah meninggal.”

“Ada yang lainnya?”

“Tidak. Berikan uangnya padaku “

595

Swanson menggeser amplop kecil itu ke seberang meja, dan langsung berdiri. “Terima kasih,” katanya, dan ia menghilang.

Durwood cable butuh setengah jam lebih sedikit untuk menepis dengan tangkas gagasan ganjil memberikan berjuta-juta dolar pada keluarga laki-laki yang secara sukarela merokok selama 35 tahun. Sidang ini seperti perampasan uang secara langsung.

Yang paling ia sesalkan dalam dalih penggugat adalah mereka berusaha menggeser pokok persoalan dari Jacob Wood dan kebiasaannya, serta mengubah sidang ini menjadi debat emosional mengenai kebiasaan merokok pada remaja. Apa kaitan Jacob Wood dengan iklan rokok belakangan ini? Tidak ada sedikit pun bukti bahwa almarhum Mr. Wood dipengaruhi oleh kampanye iklan. Ia merokok sebab ia memilih demikian.

Mengapa membawa anak-anak dalam pertarungan ini? Emosi, itulah sebabnya. Kita marah kala memikirkan anak-anak dirusak atau dimanipulasi. Dan sebelum para pengacara di pihak penggugat bisa meyakinkan Anda, para juri, agar memberikan uang besar, pertama-tama mereka harus membuat Anda marah.

Cable dengan tangkas menarik rasa keadilan mereka. Putuskan kasus ini berdasarkan fakta, bukan emosi. Ketika selesai, ia sudah mendapatkan perhatian penuh.

Sewaktu ia duduk, Hakim Harkin mengucapkan terima kasih kepadanya dan berkata kepada juri, “Saudara-saudara sekalian, kasus ini sekarang milik

596

Anda. Saya sarankan Anda memilih ketua baru untuk menggantikan Mr. Grimes, yang saya dengar keadaannya sudah jauh lebih baik. Saya bicara dengan istrinya saat reses, dan Mr. Grimes memang masih sakit, tapi diharapkan akan sembuh total. Bila karena alasan tertentu Anda perlu berbicara dengan saya, harap beritahu Panitera. Instruksi lain untuk Anda akan diserahkan di dalam ruang juri. Selamat bertugas.”

Saat Harkin mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, Nicholas menoleh sedikit ke arah penonton dan memakukan tatapan ke mata Rankin Fitch, hanya pemberitahuan singkat tentang kemajuan urusan itu sekarang. Fitch mengangguk, dan Nicholas berdiri bersama rekan-rekannya.

Saat itu sudah hampir tengah hari. Sidang reses sampai diumumkan lagi oleh Hakim, dan itu berarti siapa saja boleh berkeliaran sampai dewan juri sampai pada keputusan. Gerombolan dari Wall Street bergegas keluar untuk menelepon kantor mereka. CEO dari The Big Four bergabung dengan anak buah mereka sebentar, kemudian keluar dari ruang sidang.

Fitch langsung berlalu dan pergi ke kantornya. Konrad sedang berdiri melihat panel telepon. “Dari dia,” katanya cemas. “Dia menelepon dari telepon umum.” Fitch berjalan lebih cepat lagi ke kantornya, dan meraih telepon. “Halo.”

“Fitch, dengar. Instruksi transfer baru. Jangan tutup teleponmu dan pergilah ke mesin faks.” Fitch melihat faks pribadinya, yang sedang menerima kabar.

“Ada di sini,” katanya. “Mengapa memberi instruksi baru?”

597

Tutup mulut, Fitch. Kerjakan saja seperti yang kukatakan. segera.”

Fitch menarik lembaran faks dari mesinnya dan membaca pesan tulisan tangan tersebut. Uang itu sekarang ditujukan ke Panama. Banco Atlantico, di Panama City. Marlee memberikan instruksi transfer dan nomor rekeningnya.

“Kau punya waktu dua puluh menit. Fitch. Para juri sedang makan siang. Kalau aku tidak mendapatkan konfirmasi pada pukul setengah satu, kesepakatan ini batal dan Nicholas akan berbalik arah Dia mengantongi telepon genggam, dan sedang menunggu aku meneleponnya.”

“Teleponlah kembali pukul setengah satu,” kata Fitch sambil meletakkan gagang telepon. Ia memerintahkan Konrad untuk mcnangguhkan semua telepon. Tanpa kecuali. Ia langsung memfakskan pesan Marlee ke pakar transfernya di D.C., yang pada gilirannya mengirimkan otorisasi yang diperlukan ke Hanwa “Bank di Netherlands Antilles. Hanwa sudah siap sepanjang pagi, dan dalam sepuluh menit uang itu meninggalkan rekening Fitch, meluncur melintasi Karibia ke bank di Panama City, tempat ia sudah ditunggu. Konfirmasi dari Hanwa difakskan kepada Fitch, yang sangat ingin memfakskannya langsung kepada Marlee, tapi ia tidak punya nomor Marlee.

Pukul setengah satu, Marlee menelepon bankirnya di Panama, yang mengkonfirmasikan penerimaan sepuluh juta dolar.

Marlee ada di kamar motel, delapan kilometer dari sana, bekerja dengan mesin faks portabel. Ia menunggu lima menit, lalu mengirimkan instruksi

598

kepada bankir yang sama untuk mentransfer uang tersebut ke bank di Kepulauan Cayman. Seluruhnya, dan begitu uang tersebut terkirim, tutup rekening di Banco Atlantico

Nicholas menelepon tepat pukul setengah satu. Ia bersembunyi di dalam kamar kecil. Makan siang sudah selesai, dan sudah tiba saatnya untuk berunding mengambil keputusan. Marlee mengatakan uang itu aman, dan ia akan pergi.

Fitch menunggu hingga hampir pukul satu. Marlee menelepon dari telepon umum lain. “Uang itu sudah sampai, Fitch,” katanya.

“Bagus. Bagaimana kalau kita makan siang?”

“Mungkin nanti.”

“Jadi. kapan kita bisa mengharapkan keputusan?” “Sore ini. Kuharap kau tidak khawatir. Fitch.” “Aku? Tidak pernah.”

“Tenang saja. Ini akan jadi saat-saat terindah bagi-mu. Dua belas lawan nol. Bagaimana kedengarannya?”

“Seperti musik. Mengapa kau menyingkirkan Herman?”

“Aku tidak tahu apa maksudmu.”

“Yeah, benar. Kapan kita bisa merayakannya?”

“Aku akan meneleponmu nanti.”

Marlee memacu mobil sewaannya. mengawasi setiap gerakan di belakangnya. Mobilnya terparkir di depan kondominiumnya, terabaikan. Di jok belakangnya, ia menaruh dua tas penuh pakaian, barang-barang pribadi yang bisa ia kemasi, bersama dengan mesin faks portabel. Perabot dalam kondominium tersebut akan menjadi milik siapa saja yang membelinya dengan harga loakan.

599

Ia berbelok pada cabang jalan, cara yang sudah dilatihnya kemarin, untuk berjaga-jaga bila ada yang menguntit. Anak buah Fitch tidak ada di belakangnya. Ia berkelok-kelok menembus jalan-jalan kecil, hingga sampai ke Gulfport Municipal Airport; sebuah Jet Lear kecil sedang menunggu. Ia meraih dua tasnya dan mengunci mobil itu.

Swanson menelepon satu kali, tapi tidak bisa masuk. Ia menelepon supervisor di Kansas City, dan tiga orang agen langsung dikirim ke Columbia, satu jam perjalanan dari sana. Dua lagi bekerja dengan telepon, menghubungi University of Missouri, ke bagian studi sejarah abad pertengafian, sia-sia berusaha menemukan orang yang tahu sesuatu dan bersedia berbicara. Enam orang bernama Brant terdaftar dalam buku telepon Columbia. Semuanya ditelepon lebih dari sekali, dan tak seorang pun menyatakan kenal dengan Gabnelle Brant.

Ia akhirnya menghubungi Fitch lewat telepon, tak lama sesudah pukul satu. Fitch sudah satu jam terkurung dalam kantornya, tidak menerima telepon. Swanson dalam perjalanan menuju Missouri.

600

Tiga Puluh Sembilan

Ketika sisa hidangan makan siang dibersihkan dan semua perokok kembali dari ruang rokok, jelaslah bahwa mereka kini diharapkan untuk mengerjakan apa yang telah mereka impikan selama satu bulan. Mereka mengambil tempat masing-masing di sekitar meja, dan menatap kursi kosong di ujung, yang biasa ditempati Herman dengan bangga. “Kurasa kita perlu seorang ketua,” kata Jerry. “Dan menurutku seharusnya Nicholas-lah orangnya ” Millie cepat-cepat menambahkan.

Sama sekali tidak ada keraguan mengenai siapa yang akan jadi ketua baru. Tak ada orang lain yang menginginkan jabatan itu, dan Nicholas rasanya sama pintarnya dengan para pengacara itu. Ia dipilih secara aklamasi.

Ia berdiri di samping kursi lama Herman dan menguraikan daftar saran dari Hakim Harkin. Ia berkata, “Dia ingin kita mempertimbangkan seluruh pembuktian dengan hati-hati, termasuk barang bukti dan dokumen-dokumen, sebelum kita memberikan suara.” Nicholas menoleh ke kiri dan menatap meja

601

sudut, tempat tumpukan laporan dan penelitian hebat yang sudah mereka kumpulkan selama empat minggu.

“Aku tidak mau tinggal di sini selama tiga hari,” kata Lonnie sewaktu mereka semua memandang ke meja itu. “Bahkan sebenarnya aku sudah siap memberikan suara sekarang juga.”

“Tidak secepat itu,” kata Nicholas. “Ini kasus yang sangat rumit dan penting, dan kita keliru kalau bertindak terburu-buru, tanpa pertimbangan hati-hati.”

“Menurutku, sebaiknya kita melakukan pemungutan suara,” kata Lonnie.

“Dan menurutku, kita kerjakan apa yang di katakan Hakim. Kalau perlu, kita bisa memanggilnya untuk bercakap-c akap.”

“Kita tidak akan membaca semua itu, bukan9” tanya Sylvia si Poodle. Membaca bukanlah salah satu kegemarannya.

“Aku tidak tahu,” kata Nicholas. “Bagaimana kalau masing-masing mengambil satu laporan, membacanya sepintas, lalu memberikan uraian ringkas untuk yang lain? Dengan begitu, kita bisa sejujurnya mengatakan kepada Hakim Harkin, bahwa kita sudah memeriksa semua bukti dan dokumen.”

“Kau yakin dia ingin tahu?” tanya Rikki Coleman.

“Mungkin saja. Keputusan kita harus didasarkan pada bukti yang ada di depan kitakesaksian yang kita dengar dan barang bukti yang kita terima. Setidaknya kita harus berusaha mengikuti perintahnya.”

“Aku setuju,” kata Millie. “Kita semua ingin pulang, tapi tugas menuntut agar kita mempertimbangkan dengan hati-hati, apa yang ada di depan kita.”

Dengan itu, protes lainnya dibungkam. Millie dan

602

Henry Vu mengangkat laporan-laporan teba\ \ei>>eWi dan meletakkannya di tengah meja: para anggota juri mengambil satu-satu.

“Baca saja sepintas,” kata Nicholas, membujuk mereka seperti guru yang kebingungan. Ia meraih yang paling tebal, penelitian oleh Dr. Milton Fricke mengenai erek asap rokok pada saluran pernapasan. dan membacanya dengan antusias, seperti menikmati prosa yang indah.

Di dalam ruang sidang, beberapa orang tinggal, terdorong perasaan ingin tahu dan harapan bahwa mungkin akan muncul keputusan cepat. Ini sering kali terjadibawa dewan juri ke belakang sana, beri mereka makan siang, biarkan mereka melakukan pemungutan suara, dan kau sudah mendapatkan vonis. Dewan juri itu sudah mengambil keputusan sebelum saksi pertama muncul.

Tapi tidak yang ini.

Pada ketinggian 12.300 meter dan kecepatan 800 kilometer per jam, jet Lear itu menempuh jarak antara Biloxi ke George Town, Grand Cayman, dalam waktu sembilan puluh menit. Marlee melewati pabean dengan paspor Kanada baru, atas nama Lane MacRoland, wanita muda yang cantik dari Toronto, dan datang ke sana untuk berlibur selama seminggu, tanpa bisnis. Sesuai dengan ketetapan undang-undang Cayman, ia juga membawa tiket kembali. yang menunjukkan bahwa ia sudah memesan tempat pada pesawat Delta ke Miami, enam hari yang akan datang. Penduduk Cayman senang menerima wisa-tawan. tapi tidak mengharapkan warga negara baru.

603

Paspor itu bagian dari satu set dokumen palsu yang dibelinya dari pemalsu terkemuka di Montreal. Paspor, SIM, akta kelahiran, kartu registrasi pemilihan umum. Biayanya: tiga ribu dolar.

Ia naik taksi memasuki George Town dan menemukan banknya, Royal Swiss Trust, di dalam gedung tua yang indah, satu blok dari tepi laut. Ia belum pernah ke Grand Cayman, meskipun tempat itu serasa seperti rumah kedua Sudah dua bulan ia mempelajari tempat itu. Urusan keuangannya di sana diatur dengan hati-hati melalui faks.

Udara tropis itu berat dan hangat, tapi ia hampir tak peduli. Ia tidak datang untuk menikmati matahari dan pantai. Saat itu pukul tiga di George Town dan New York. Pukul dua siang di Mississippi.

Ia disambut oleh resepsionis dan dibawa ke kantor kecil untuk mengisi formulir lain yang tidak bisa dikirimkan lewat faks. Dalam beberapa menit, seorang laki-laki muda bernama Marcus memperkennlkan diri. Sudah berkali-kali mereka berbicara di telepon. Marcus berperawakan ramping, rambut rapi, berpakaian bagus. sangat bergaya Eropa, dengan sedikit aksen pada bahasa Inggris-nya yang sempurna.

Uang itu sudah tiba, Marcus memberitahu, dan Marlee menerima kabar itu sambil menahan senyum. Sulit. Dokumen-dokumennya beres. Ia mengikuti Marcus ke kantornya di lantai atas. Jabatan Marcus tidak jelas, seperti banyak jabatan bankir lain di Grand Cayman, tapi ia wakil presiden dalam bidang ini atau itu, dan ia mengelola rekŤning.

Seorang sekretaris membawakan kopi dan Marlee memesan sandwich.

604

Harga saham Pynex mencapai 79, menguat dengan mantap sepanjang hari dalam transaksi besar-besaran, Marcus melaporkan sambil mengetik di komputernya. Saham Trellco naik 3 3/4 hingga mencapai 56. Smith Greer naik 2, hingga menjadi 64 1/2. Nilai ConPack stabil, sekitar 33.

Bekerja berdasarkan catatan yang sebenarnya sudah dihafal, Marlee melakukan transaksi pertama dengan menjual 50.000 saham Pynex pada harga 79. Mudah-mudahan ia bisa membelinya kembali dalam waktu dekat; dengan harga jauh lebih rendah Short selling merupakan manuver rumit yang biasanya hanya dipergunakan oleh investor paling canggih. Apabila harga saham itu akan jatuh, peraturan perdagangan saham memperkenankan saham itu dijual lebih dulu dengan harga lebih tinggi, kemudian dibeli lagi sesudahnya dengan harga lebih rendah.

Dengan sepuluh juta dolar tunai, Marlee diperke-nanktn menjual saham senilai kurang-lebih 20 juta dolar.

Marcus mengkonfirmasikan transaksi itu dengan mengetik cepat, dan minta permisi sebentar sewaktu memasang perangkat headset. Transaksinya yang kedua adalah short selling saham Trellco30000 saham seharga 56 1/4 dolar. Marcus mengkonfirmasi-kannya, kemudian disusul kesibukan. Marlee menjual 40.000 Smith Greer dengan harga 64 1/2; 60.000 lagi saham Pynex pada harga 79 1/8; 30.000 lagi saham Trellco dengan harga 56 1/8; 50.000 saham Smith Greer pada 64 3/8.

Ia berhenti dan menginstruksikan Marcus untuk mengamati Pynex dengan waspada. Ia baru saja

605

menjual 110.000 saham perusahaan itu, dan waswas dengan reaksi susulan di Wall Street. Harganya bertahan pada 79, turun sampai 78 3/4, lalu naik

kembali ke 79.

“Saya rasa sudah aman sekarang,” kata Marcus, yang selama dua minggu terus mengamati saham itu dengan cermat.

“Jual 50.000 lagi,” kata Marlee tanpa keraguan.

Sedetik Marcus tidak menanggapi, lalu mengangguk ke monitornya dan menyelesaikan transaksi tersebut.

Harga saham Pynex merosot sampai 78 1/2, lalu turun 1/4 lagi. Marlee meneguk kopi dan sibuk dengan catatannya, sementara Marcus mengawasi dan Wall Street bereaksi. Marlee memikirkan Nicholas, dan apa yang tengah dikerjakannya sekarang, namun ia tidak khawatir. Bahkan ia tenang luar biasa saat ini.

Marcus menanggalkan headset. “Ini kira-kira 22 juta dolar, Ms. MacRoland. Saya rasa kita hams berhenti. Penjualan lebih lanjut perlu persetujuan dari atasan saya.”

“Itu cukup,” kata Marlee.

“Bursa akan tutup seperempal jam lagi. Anda bisa menunggu di ruang duduk klien kami.”

“Tidak, terima kasih. Saya akan pergi ke hotel, mungkin berjemur.”

Marcus berdiri dan mengancingkan jasnya. “Satu pertanyaan. Kapan Anda memperkirakan pergerakan harga saham-saham ini?”

“Besok. Pagi-pagi.”

“Pergerakan besar?”

Marlee berdiri dan mengambil catatannya. “Ya. Kalau Anda ingin klien lain menganggap Anda jenius, juallah saham perusahaan rokok sekarang juga.”

Marcus memanggil mobil perusahaan, sebuah Mercedes mungil, dan Marlee dibawa ke hotel di Seven Mile Beach, tidak jauh dari pusat kota dan bank tersebut.

Miski masa kini Marlee tampak terkendali, masa lampaunya dengan cepat mulai memburunya. Seorang penyelidik yang bekerja untuk Fitch di University of Missouri menemukan koleksi buku manual admisi di perpustakaan utama. Pada tahun 1986, seorang Dr. Evelyn Y. Brant terdaftar di sana, dan dengan ringkas disebutkan sebagai profesor dalam studi abad pertengahan, namun namanya tidak muncul dalam buku manual tahun 1987.

Penyelidik itu langsung menelepon rekannya yang sedang memeriksa daftar wajib pajak di Pengadilan Boone County. Rekan itu langsung pergi ke kantor panitera, dan dalam beberapa menit menemukan buku register Wills and Estates. Surat wasiat Evelyn Y. Brant ditenma untuk disahkan hakim pada bulan April 1987. Seorang panitera membantunya menemukan arsip tersebut.

Temuan itu cukup berharga. Mrs. Brant meninggal dunia pada tanggal 2 Maret 1987, di Columbia, pada usia 56 tahun. Ia tidak meninggalkan suami, tapi meninggalkan seorang anak, Gabrielle, usia 21 tahun, yang mewarisi segalanya sesuai surat wasiat yang ditandatangani oleh Dr. Brant tiga bulan sebelum kematiannya

607

606

Berkas tersebut dua setengah senti tebalnya, dan si agen memeriksanya dengan sangat cepat. Harta warisan itu terdiri atas sebuah rumah senilai $180,000 dengan pinjaman pembelian setengahnya, sebuah mobil, perabot yang tidak mengesankan, dan surat de-posito di bank lokal sejumlah $32,000. Hanya ada dua bukti penarikan oleh kreditor; jelas Dr. Brant tahu bahwa ajalnya sudah menjelang dan ia mendapatkan nasihat hukum. Dengan persetujuan Gabrielle, rumah tersebut dijual, dijadikan uang tunai, dan sesudah pajak bangunan, biaya bantuan hukum, dan biaya pengadilan, sejumlah $191,000 dimasukkan ke dana perwalian. Gabrielle adalah ahli waris satu-satunya.

Warisan itu ditangani tanpa sedikit pun tanda-tanda perselisihan. Pengacaranya kelihatan cakap dan kompeten. Tiga belas bulan setelah kematian Dr. Brant, warisan itu dicairkan.

Ia kembali membalik-balik halaman, sambil membuat catatan. Ada dua halaman tertempel rapat satu sama lain, dan dengan hati-hati ia memisahkannya. Yang bawah hanya setengah lembar, dengan stempel resmi di atasnya.

Kertas itu adalah akta kematian. Dr. Evelyn Y. Brant meninggal dunia karena kanker paru-paru.

Ia pergi ke koridor dan menelepon supervisornya.

Saat telepon tersebut dihubungkan pada Fitch, mereka sudah tahu lebih banyak. Penelitian berkas tersebut secara lebih cermat oleh penyelidik lain, mantan anggota FBI dengan gelar sarjana hukum, mengungkapkan adanya beberapa sumbangan kepada

608

beberapa kelompok seperti American Lung Association, Koalisi untuk Dunia Bebas Rokok, Tobacco Task Force, Clean Air Campaign, dan setengah lusin kelompok antirokok lain. Salah satu penarikan uang itu tercatat hampir sebesar 20.000 dolar untuk biaya perawatan rumah sakit yang terakhir. Suami Evelyn, almarhum Dr. Peter Brant, tercatat dalam polis asuransi lama. Penyelidikan pada register menunjukkan penarikan warisan pada tahun 1981. Berkasnya ditemukan di sisi lain kantor panitera. Ia meninggal pada bulan Juni 1981 dalam usia 52 tahun, meninggalkan istri tercinta dan putri yang disayangi, Gabrielle, saat itu lima belas tahun. la meninggal di rumah, menurut akta kematiannya, yang ditandatangani oleh dokter yang juga menandatangani akta kematian Evelyn Brant. Seorang oncologist. spesialis kanker.

Peter Brant juga meninggal karena serangan kanker paru-paru.

Swanson menelepon setelah berkali-kali diyakinkan bahwa takta-fakta tersebut benar.

Fitch menerima telepon itu di kantornya, seorang diri, dengan pintu terkunci, dan ia menerimanya dengan tenang, sebab ia terlalu terkejut untuk bereaksi. Ia duduk di mejanya tanpa jas, dasi diken-durkan, tali sepatu tak terikat. Tidak banyak yang ia ucapkan.

Kedua orangtua Marlee meninggal dunia karena kanker paru-paru.

Ia menuliskan hal ini pada buku tulis kuning. kemudian melingkarinya, mencoretkan garis ber—

609

cabang-cabang, seolah-olah ia bisa membuat flow chart tentang kabar ini, menguraikannya, mengana-lisisnya; entah bagaimana, ia bisa membuat hal itu cocok dengan janji Marlee untuk memberikan vonis.

“Kau masih di sana, Rankin?” Swanson bertanya setelah kebisuan panjang.

“Yeah,” kata Fitch, lalu terus membisu beberapa lama Flow chart itu meluas, tapi tidak sampai ke mana-mana.

“Di mana perempuan itu?” tanya Swanson. Ia sedang berdiri di tengah hawa dingin di luar gedung pengadilan Columbia, dengan telepon genggam yang sangat kecil tertempel di rahang.

“Entahlah. Kita harus menemukannya.” Fitch mengucapkan hal ini tanpa keyakinan apa pun, dan Swanson tahu bahwa gadis itu sudah menghilang.

Diam beberapa lama lagi.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Swanson.

“Kembali ke sini, kurasa,” sahut Fitch, kemudian cepat-cepat ia memutuskan sambungan. Angka-angka pada jam digitalnya mengabur, dan Fitch memejamkan mata. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. dan menekan keras jenggotnya ke dagu. Ingin rasanya ia meluapkan kemarahannya dengan melemparkan meja ke dinding dan mencabut telepon dari soket, tapi ia mengurungkannya. Ia perlu berkepala dingin untuk menangani hal ini.

Kecuali membakar gedung pengadilan atau melempar granat ke ruang juri, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menghentikan perundingan pengambilan keputusan. Mereka ada di dalam sana, dua belas orang terakhir, dengan beberapa deputi menjaga di

610

pintu. Mungkin bila kerja mereka lamban. dan bila mereka harus istirahat semalam lagi dalam pengasingan, mungkin Fitch bisa menyulap dengan mengeluarkan kelinci dari topi dan mengupayakan pembatalan sidang.

Ancaman bom adalah satu kemungkinan. Para juri akan dievakuasi, diasingkan lebih lama, dibawa ke tempat persembunyian, sehingga mereka bisa meneruskan pekerjaan.

Flow chart itu gagal dan ia membuat daftar kemungkinanlangkah-langkah kotor, seluruhnya berbahaya, ilegal, dan pasti gagal.

Jam terus berdetak.

Dua belas orang yang terpilihsebelas pengikut dan tuan mereka.

Ia berdiri perlahan-lahan dan mengambil lampu keramik murahan dengan kedua belah tangan. Lampu itu dulu sudah hendak disingkirkan Konrad karena berada di meja kerja Fitch, tempat yang penuh kekacauan dan kekerasan.

Konrad dan Pang sedang berada di koridor. menunggu instruksi. Mereka tahu ada sesuatu yang sangat tidak beres. Lampu itu menerpa pintu dengan kekuatan besar. Fitch berteriak. Plywood berderak. Satu benda lain menerpa dan hancur; mungkin pesawat telepon. Fitch meneriakkan sesuatu tentang “uang itu!”. kemudian meja kerjanya membentur dinding dengan kencang.

Mereka mundur, ngeri, dan tak ingin berada di dekatnya saat pintu membuka. Bum! Bum! Bum! Kedengarannya seperti bor beton. Fitch memukuli plywood dengan tinjunya.

611

“Can perempuan itu!” ia berteriak penuh kemarahan. Bum! Bum!

“Can perempuan itu!”

612

Empat Puluh

Sesudah rentang waktu yang berat penuh konsentrasi, Nicholas merasa perlunya mengadakan perdebatan. Ia memilih untuk lebih dulu mulai, dan secara ringkas mengulas laporan Dr Fricke mengenai kondisi paru-paru Jacob Wood. Ia mengedarkan foto-foto autopsi, yang tak satu pun menarik banyak perhatian. Ini topik lama, dan pendengar sudah bosan.

“Laporan Dr. Fricke mengatakan bahwa kebiasaan Śmerokok berkepanjangan menyebabkan kanker paru-paru,” Nicholas berkata sungguh-sungguh, seakan-akan hal ini mungkin akan mengejutkan seseorang.

“Aku punya gagasan,” Rikki Coleman berkata. “Apakah kita semua bisa sepakat bahwa rokok menyebabkan kanker paru-paru? Ini akan menghemat banyak waktu.” Ia menunggu kesempatan, dan tampaknya siap berdebat

“Gagasan bagus,” kata Lonnie. Boleh dikata, dia yang paling jengkel dan frustrasi di antara gerombolan itu.

Nicholas mengangkat pundak membenkan persetujuan. Ia adalah ketua, tapi ia cuma punya satu

613

suara. Dewan juri akan melakukan apa pun sekehendak mereka. ‘Tidak ada masalah bagiku,” katanya. “Apakah semua percaya bahwa rokok menyebabkan kanker paru-paru? Angkat jari.”

Dua belas tangan terangkat, dan diambillah satu langkah besar menuju vonis.

“Mari kita teruskan dan kita bahas soal kecanduan,” Rikki berkata sambil memandang ke seputar meja. “Siapa yang berpendapat bahwa nikotin menimbulkan kecanduan?”

Sekali lagi terbentuk kesepakatan bulat mengiyakan.

Ia menikmati saat-saat ini, dan tampaknya sudah berniat melangkah ke persoalan peka mengenai pemberian ganti kerugian.

“Mari kita usahakan untuk terus sepakat bulat, rekan-rekan,” kata Nicholas. “Kita harus keluar dari sini dalam keadaan bersatu. Kalau kita terpecah, kita gagal.”

Mereka kebanyakan sudah mendengar pidato kecil seperti ini. Alasan hukum di balik usaha untuk mendapatkan vonis bulat ini tidaklah jelas, namun mereka toh mempercayainya.

“Sekarang, mari kita selesaikan laporan-laporan ini. Apakah ada yang sudah siap?”

Yang dibaca oleh Loreen Duke adalah laporan bersampul mengilap oleh Dr. Myra Sprawling-Goode. Ia membacakan pengantarnya, yang menyatakan bahwa penelitian tersebut adalah telaah mendalam mengenai praktek periklanan oleh perusahaan rokok, terutama bagaimana praktek semacam itu dikaitkan dengan anak-anak di bawah delapan belas tahun, dan ia membacakan kesimpulannya, yang membebas-614

kan industri tersebut dari tuduhan membidik perokok di bawah umur sebagai sasaran. Sebagian besar dari dua ratus halaman di antara pengantar dan kesimpulan tidak tersentuh.

Ia meringkas lagi ringkasan laporan tersebut. “Di sini dikatakan mereka tidak bisa menemukan bukti apa pun bahwa perusahaan rokok menarik perhatian anak-anak “

“Kau percaya itu?” tanya Millie.

‘Tidak. Kupikir dia sudah memutuskan bahwa kebanyakan orang mulai merokok sebelum mereka berumur delapan belas tahun. Bukankah kita pernah mengadakan pengumpulan pendapat di sini?”

“Benar,” jawab Rikki. “Dan semua perokok di sini mulai merokok ketika masih remaja.”

“Dan seingatku, sebagian besar dari mereka berhenti,” kata Lonnie dengan nada cukup pahit.

“Mari kita teruskan,” kata Nicholas. “Ada yang lainnya?”

Jerry tanpa semangat menguraikan temuan-temuan membosankan dari Dr. Hilo Kilvan, jenius statistik yang membuktikan peningkatan risiko kanker paru-paru di antara perokok. Kesimpulan Jerry tidak mengundang minat dan pertanyaan, lalu ia meninggalkan kamar untuk merokok.

Kemudian suasana kembali hening ketika mereka kembali menekuni bahan tertulis tersebut. Mereka datang dan pergi sekehendak hatiuntuk merokok, meregangkan tubuh, atau pergi ke kamar kecil Lou Dell, Willis, dan Chuck menjaga pintu.

Mrs. Gladys card pernah mengajar biologi untuk

615

anak-anak kelas sembilan. Ia memahami ilmu itu. Dengan bagus ia membedah laporan Dr. Robert Bronsky mengenai komposisi asap rokoklebih dari empat ribu senyawa, enam belas karsinogen yang sudah dikenal, empat belas alkali, penyebab iritasi, dan segala macam lainnya. Ia memakai gaya bicara terbaiknya di depan kelas dan memandang dari wajah ke wajah.

Sebagian besar wajah-wajah itu meringis ketika ia bicara terus berlarut-larut.

Ketika ia selesai, Nicholas, yang masih bangun, mengucapkan terima kasih kepadanya dengan hangat, dan berdiri untuk mengambil kopi lagi.

“Jadi, bagaimana pendapatmu mengenai semua itu?” Lonnie bertanya. Ia berdiri di depan pintu, punggungnya menghadap ke ruangan, makan kacang dan memegangi minuman ringan.

“Menurutku, laporan ini membuktikan bahwa asap rokok cukup membahayakan,” jawab Mrs. Gladys Card.

Lonnie berbalik dan memandangnya. “Benar. Kupikir kita sudah memutuskan hal itu.” Ia kemudian memandang Nicholas. “Menurutku, kita teruskan saja dengan pemungutan suara. Sekarang kita sudah hampir tiga jam membaca, dan kalau Hakim menanyai aku apakah sudah melihat semua laporan itu, aku akan mengatakan, ‘Wah, ya. Membaca setiap patah kata.’”

“Lakukan saja apa yang ingin kaulakukan, Lonnie,” balas Nicholas.

“Baiklah. Mari kita pungut suara.”

“Mengenai apa?” Nicholas bertanya. Dua orang

616

itu kini berdiri di sisi meja yang berseberangan, dengan anggota juri lain duduk di antara mereka.

“Mari kita lihat, siapa berdiri di mana. Aku yang pertama.”

“Baik. Mari kita dengarkan.”

Lonnie menarik napas dalam, dan semua orang berpaling memandangnya.

“Posisiku mudah. Aku percaya bahwa rokok adalah produk yang membahayakan. Menimbulkan kecanduan. Mematikan. Itulah sebabnya aku tidak mengkon sumsinya. Semua orang tahu hal ini, bahkan kita sudah memutuskannya. Aku percaya bahwa semua orang berhak menentukan pilihan. Tak seorang pun bisa memaksa kalian untuk merokok, tapi bila melakukannya, kalian menanggung konsekuensinya. Jangan merokok seperti kesetanan selama tiga puluh tahun, lalu berharap agar aku membuat kalian kaya raya. Gugatan ini sinting dan perlu dihentikan.”

Suaranya keras dan setiap patah kata terserap.

“Sudah selesai?” Nicholas bertanya.

“Yeah.”

“Siapa berikutnya?”

“Aku ada satu pertanyaan,” kata Mrs. Gladys Card. “Berapa bSnyakkah uang yang diharapkan penggugat? Mr. Rohr sepertinya membiarkan hal ini terkatung-katung “

“Dia menginginkan dua juta untuk ganti kerugian aktual. Hukumannya terserah keputusan kita,” Nicholas menjelaskan.

“Kalau begitu, mengapa dia menulis angka 800 juta di papan tulis?”

“Sebab dia ingin mengambil 800 juta,” jawab

617

Lonnie. “Apakah kau akan memberikan itu kepadanya?”

“Kurasa tidak,” kata Mrs. Card. “Aku tidak tahu ada uang sebanyak itu di dunia. Apakah Celeste Wood akan mendapatkan seluruhnya?”

“Kaulihat semua pengacara di luar sana?” Lonnie bertanya sengit. “Beruntunglah dia kalau sampai mendapatkan sesuatu. Sidang ini bukan mengenai dia atau suaminya yang sudah almarhum. Sidang ini mengenai segerombolan pengacara yang jadi kaya raya dengan menuntut perusahaan rokok. Kita tolol kalau sampai memberi kannya.”

“Tahukah kau kapan aku mulai merokok?” Angel Weese menanyai Lonnie, yang masih berdiri.

‘Tidak.”

“Aku ingat tepat kejadiannya. Aku umur tiga belas, dan aku melihat papan iklan besar di Decatur Street, tidak jauh dari rumahku, menggambarkan laki-laki hitam berperawakan kokoh, ramping, sangat tampan, dengan jeans terguiung, berlari di pantai, dengan sebatang rokok di satu tangan dan seorang wanita hitam. yang cantik di punggungnya. Penuh senyum. Gigi yang sempurna. Salem mentol. Sungguh menarik. Aku pikir dalam hati. itu baru enak. Aku ingin menikmati sebagian darinya. Maka aku pulang, menghampiri laci, mengambil uang, pergi ke jalan, dan membeli sebungkus Salem mentol. Teman-temanku merasa aku hebat, maka sejak itu aku terus merokok.” Ia berhenti dan memandang Loreen Duke, lalu kembali pada Lonnie. “Jangan katakan padaku bahwa siapa pun bisa melepaskan kebiasaan ini. Aku kecanduan, oke? Ini tidak mudah. Aku umur dua puluh tahun, dua bungkus

618

sehari, dan kalau tidak berhenti, aku tidak akan sampai umur lima puluh tahun. Dan jangan katakan mereka tidak membidik anak-anak sebagai sasaran. Mereka membidik orang-orang kulit hitam, perempuiin, anak-anak, koboi, kulit putih, mereka membidik semua orang, dan kau tahu itu.”

Bagi seseorang yang tidak pernah menunjukkan emosi selama empat minggu mereka bersama-sama, kemarahan dalam suara Angel merupakan kejutan Lonnie menatap tajam padanya, namun tidak mengucapkan apa pun

Loreen mendukung Angel. “Salah satu anak pe-rempuanku, lima belas tahun, minggu lalu bercerita bahwa dia mulai merokok di sekolah, sebab semua temannya kini merokok. Anak-anak ini terlalu muda untuk mengerti mengenai ketergantungan, dan saat menyadarinya, mereka sudah terjerat. Aku tanya padanya, dari mana dia mendapatkan rokok. Kalian tahu apa yang dia katakan padaku?”

Lonnie tidak mengucapkan apa-apa.

“Mesin otomat. Ada satu mesin otomat di sebelah arena bermain, di mall tempat anak-anak biasa datang. Dan ada satu di lobi bioskop tempat anak-anak biasa bermain. Beberapa restoran fast-food juga punya mesin itu. Dan kau mau mengatakan padaku mereka tidak membidik anak-anak sebagai sasaran? Itu membuatku muak. Aku sudah tak sabar menunggu saat untuk pulang dan meluruskan perbuatannya.”

“Lalu, apa yang akan kaulakukan bila dia mulai minum bir?” Jerry bertanya. “Kau akan menggugat Budweiser sebesar sepuluh juta dolar karena semua anak lain minum bir?”

619

“Tidak ada bukti bahwa bir secara fisik menimbulkan kecanduan,” balas Rikki. “Oh, jadi bir tidak membunuh?” “Ada bedanya.”

“Coba jelaskan,” kata Jerry. Perdebatan itu kini meliputi dun kebiasaan buruk favoritnya. Mungkinkah judi dan berselingkuh jadi topik selanjutnya?

Rikki mengatur pemikirannya sejurus, lalu me-lancarkan pembelaan yang tak menyenangkan atas alkohol. “Rokok adalah satu-satunya produk yang mematikan bila dipakai tepat seperti yang dimaksudkan. Alkohol memang dimaksudkan untuk dikonsumsi, tentu saja, tapi dalam jumlah yang wajar Dan bila dipakai secukupnya, produk itu tidak berbahaya. Memang benar, banyak orang mabuk-mabukan dan membunuh diri sendiri dalam berbagai cara. tapi bisa diajukan argumentasi kuat bahwa dalam kasus itu, produk tersebut tidak dipakai dengan benar.”

“Jadi, kalau seseorang minum alkohol selama lima puluh tahun, dia tidak membunuh diri sendiri?”

‘Tidak, kalau dia tidak minum berlebihan.”

“Aduh, sungguh enak didengar.”

“Dan ada satu hal lagi. Alkohol memberikan peringatan alarm Kau langsung mendapatkan umpan balik bila memakai produk itu. Tidak demikian dengan tembakau. Sesudah merokok bertahun-tahun, barulah kau menyadari kerusakan pada tubuhmu. Saat itu kau sudah terjerat dan tidak bisa berhenti.”

“Kebanyakan orang bisa berhenti,” kata Lonnie dari dekat jendela, tanpa memandang Angel.

“Dan mengapa menurutmu semua orang berusaha berhenti?” Rikki bertanya pelan. “Apakah karena

620

mereka menikmati rokok? Apakah karena mereka merasa lebih muda dan glamor? Tidak, mereka berusaha berhenti untuk menghindari kanker paru-paru dan penyakit jantung.”

“Jadi, bagaimana kau memberikan suaramu?” tanya Lonnie.

“Kiwasa ini cukup jelas,” ia menjawab. “Aku mulai mengikuti sidang ini dengan pikiran terbuka, tapi aku menyadari bahwa satu-satunya cara untuk membuat perusahaan rokok bertanggung jawab adalah dengan menghukum mereka.”

“Bagaimana denganmu?” Lonnie menanyai Jerry, berharap akan mendapatkan teman.

“Aku belum punya keputusan sekarang. Kurasa aku akan mendengarkan yang lain dulu.”

“Dan kau?” ia bertanya pada Sylvia Taylor-Tatum.

“Aku merasa sulit memahami mengapa kita harus membuat perempuan ini menjadi multijutawan “

Lonnie berjalan mengitari meja, memandang wajah-wajah yang kebanyakan berusaha menghindarinya. Tak ada keraguan bahwa ia menikmati perannya sebagai pemimpin pemberontak. “Bagaimana denganmu, Mr. Savelle? Rasanya kau sedikit sekali bicara “

Ini akan menarik. Tak seorang pun dalam panel itu bisa meraba pikiran Savelle.

“Aku percaya dengan pilihan bebas,” katanya. “Pilihan murni. Aku menyesalkan apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini terhadap lingkungan. Aku benci produk mereka. Tapi masing-masing orang punya kekuasaan untuk memilih.”

“Mr. Vu?” kata Lonnie.

Henry berdeham melegakan tenggorokan, mere—

621

nung sejurus, lalu berkata, “Saya masih berpikir.” Henry akan mengikuti Nicholas, yang saat ini sama sekali tak bersuara.

“Bagaimana denganmu, Pak Ketua?” tanya Lonnie.

“Kita bisa menyelesaikan laporan-laporan ini dalam setengah jam. Mari kita kerjakan, lalu kita akan mulai pungutan suara.”

Sesudah pertempuran serius yang pertama, mereka merasa lega melewatkan beberapa menit lagi untuk membaca. Perdebatan sengit jelas tidak jauh lagi.

Pada mulanya Fitch merasa ingin berkeliaran dalam Suburban-nya dengan Jose” memegang kemudi. menyusuri Highway 90 tanpa tujuan tertentu, tanpa peluang untuk mengejar wanita itu. Setidaknya ia ada di luar sana. mengerjakan sesuatu, mencoba menemukan wanita itu, berharap mungkin berpapasan dengannya.

Ia tahu Marlee sudah pergi.

Jadi, ia memutuskan untuk tetap tinggal di kantor, seorang diri di samping telepon, sambil berdoa mudah mudahan Marlee menelepon sekali lagi dan mengatakan padanya bahwa kesepakatan tetap kesepakatan. Sepanjang siang Konrad datang dan pergi, membawa kabar yang sudah diduga Fitch: Mobil Marlee ada di luar kondominium, dan sudah delapan jam tidak pernah digeser Tidak ada kegiatan di dalam atau di luar kondo itu. Tidak ada tanda apa pun. Ia sudah lenyap.

Anehnya, semakin lama dewan juri itu berunding, semakin besar harapan yang diciptakan Fitch untuk diri sendiri. Bila Marlee merencanakan untuk meng—

622

ambil uang tersebut dan kabur, serta menghancurkan Fitch dengan vonis bagi penggugat, di manakah vonis itu? Mungkin takkan segampang itu. Nicholas mungkin sedang mengalami kesulitan mengumpulkan suara untuk mendukungnya.

Fitch belum pernah kalah dalam sidang, dan ia terus mengingatkan diri sendiri bahwa ia sudah pernah mengalami keadaan seperti ini, berkeringat darah sementara para juri bertarung.

TtPAT pukul lima. Hakim Harkin mengumpulkan kembali semua pihak ke ruang sidangnya, dan mengirim kabar agar juri kembali ke ruang sidang. Para pengacara hilir-mudik kembali ke tempat mereka. Hampir semua penonton kembali.

Para anggota juri menempati tempat duduk masing-masing. Mereka tampak letih, tapi memang demikianlah keadaan semua anggota juri pada saat seperti ini.

“Hanya beberapa pertanyaan pendek.” kata Yang Mulia. “Apakah kalian sudah memilih ketua baru?”

Mereka mengangguk, kemudian Nicholas mengangkat jari. “Saya mendapat kehormatan itu,” katanya pelan, tanpa sedikit pun nada bangga.

“Bagus. Sekadar untuk kalian ketahui, satu jam yang lalu saya berbicara dengan Herman Grimes, dan dia baik-baik saja. Tampaknya bukan gara-gara serangan jantung, dan dia diperkirakan akan dipulangkan besok. Dia menyampaikan salam.”

Hampir semuanya menunjukkan ekspresi senang.

“Nah, Anda sekalian sudah lima jam memegang kasus ini, dan saya ingin tahu apakah sudah ada kemajuan.”

623

Nicholas berdiri dengan canggung dan menyisipkan tangan ke dalam saku celana. “Saya rasa ada, Yang Mulia.”

“Bagus. Tanpa mengungkapkan apa pun yang telah dibahas, apakah menurut Anda dewan juri akan sampai pada vonis, untuk penggugat atau tergugat?”

Nicholas memandang rekan-rekannya, lalu berkata, “Saya rasa demikian, Yang Mulia. Ya, saya yakin kami akan memutuskan vonis.”

“Kapan Anda akan mencapai vonis? Saya peringatkan, saya tidak mendesak. Anda bisa memakai waktu selama yang Anda kehendaki. Saya hanya perlu menyusun rencana untuk ruang sidang ini, kalau kita akan tinggal di sini sampai malam.”

“Kami ingin pulang, Yang Mulia. Kami bertekad untuk menyelesaikan kasus ini dan memberikan vonis malam ini.”

“Bagus. Terima kasih. Makan malam sedang disiapkan. Saya ada di kantor bila Anda memerlukan

saya.”

624

Empat Puluh Satu

Mr oreilly kembali untuk terakhir kalinya, menyajikan hidangan terakhir dan mengucapkan selamat berpisah kepada orang-orang yang kini sudah dianggapnya sahabat. Ia dan tiga pegawainya menyajikan makanan dan melayani mereka, seolah-olah mereka adalah kaum bangsawan.

Santap malam selesai pukul setengah tujuh, dan dewan juri siap pulang. Mereka setuju untuk lebih dulu memberikan suara mengenai masalah ganti rugi. Nicholas menyusun pertanyaannya dalam kalimat orang awam: “Apakah kalian bersedia menyatakan Pynex bertanggung jawab atas kematian Jacob -Wood?”

Rikki Coleman, Millie Dupree, Loreen Duke, dan Angel Weese mengatakan ya dengan tegas. Lonnie, Phillip Savelle, dan Mrs. Gladys Card tanpa ragu mengatakan tidak. Sisanya jatuh di antara dua kelompok itu. Poodle tidak pasti, tapi cenderung ke arah tidak. Jerry tiba-tiba terombang-ambing. tapi mungkin condong ke arah tidak. Shine Royce, anggota terbaru dari panel tersebut, belum mengucapkan tiga patah kata sepanjang hari, dan terseret mengikuti

625

arah angin. Ia langsung melompat ke dalam kelompok terbesar. Henry Vu menyatakan diri belum siap memutuskan, tapi sebenarnya sedang menunggu Nicholas, yang menunggu sampai semua orang selesai. Ia kecewa bahwa juri ini begitu terpecah.

“Kupikir sudah saatnya kau menyatakan pendapatmu,” kata Lonnie kepada Nicholas, gatal untuk bertarung.

“Yeah, coba kita dengar,” kata Rikki, yang juga siap berdebat. Semua mata terpaku pada sang ketua.

“Oke,” kata Nicholas, dan ruangan itu jadi hening. Sesudah bertahun-tahun menyusun rencana, kini tibalah saat itu. Ia memilih kata-kata dengan hati-hati, tapi dalam pikirannya ia sudah mengucapkan pidato itu seribu kali. “Aku yakin bahwa rokok berbahaya dan mematikan; membunuh 400.000 jiwa setahun; ditambah dengan nikotin oleh pembuatnya, yang sudah sejak lama tahu bahwa rokok bersifat adiktif, rokok itu bisa jauh lebih aman bila perusahaan-perusahaan itu menghendakinya, tetapi nikotinnya harus dikurangi, dan dengan demikian penjualannya akan merosot. Kupikir rokok telah membunuh Jacob Wood, dan tak satu pun di antara kalian bisa menyangkal hal ini. Aku yakin perusahaan-perusahaan rokok itu berbohong, menipu, dan menutup-nutupi, serta melakukan segala hal dalam kuasa mereka untuk menjerat anak-anak agar merokok. Mereka adalah gerombolan bajingan yang kejam, dan menurutku sebutan itu pantas buat mereka.”

“Saya setuju,” kata Henry Vu. Rikki dan Millie merasa seperti ingin bertepuk tangan.

626

“Kau ingin menghadiahkan ganti kerugian?” Jerry bertanya, dengan perasaan tak percaya.

“Vonis ini tidak berarti apa-apj bila tidak cukup besar jumlahnya, Jerry. Harus %esar. Penggantian atas kerugian aktual cuma berarti kita tidak memiliki keberanian untuk menghukum industri tembakau atas dosanya.”

“Kita harus membuatnya menyakitkan,” Shine Royce berkata, hanya karena ingin kedengaran pintar. Ia sudah menemukan kereta tumpangan.

Lonnie memandang Shine dan Vu dengan perasaan tercengang. Ia menghitung cepattujuh suara untuk penggugat. “Kau tidak bisa bicara uang, sebab kau belum menentukan pilihanmu.”

“Ini bukan pilihanku,” kata Nicholas.

“Apanya yang bukan?” katanya pahit. “Ini adalah vonismu.”

Mereka kembali duduk mengelilingi mejatujuh di pihak penggugat, tiga di pihak tergugat, Jerry dan Poodle melompat-lompat pagar, tapi mencari tempat untuk mendarat. Kemudian Mrs. Gladys Card mengacaukan penghitungan itu dengan mengatakan. “Aku tidak suka memberikan suara untuk perusahaan rokok, tapi aku juga tidak mengerti, mengapa harus memberikan uang sebanyak itu untuk Celeste Wood.”

“Berapa banyak yang ingin kaubenkan padanya?” tanya Nicholas.

Ia kebingungan. “Aku tidak tahu. Aku mendukung untuk memberikan sesuatu, tapi, well, aku tidak tahu.”

“Berapa banyak yang ada dalam pikiranmu?” tanya Rikki pada sang ketua. dan ruangan itu kembali hening. Diam dan hening.

627

“Satu miliar,” sahut Nicholas dengan wajah datar. Ucapan ini mendarat bagaikan ledakan bom di tengah meja itu. Mulut-mulut jadi ternganga dan mata melotot.

Sebelum orang lain sempat berbicara, Nicholas menjelaskan maksudnya, “Kalau kita serius hendak memberikan peringatan kepada industri rokok, kita harus mengguncang mereka. Vonis kita harus spektakuler. Harus terkenal dan dikenang sejak hari ini sebagai peristiwa di mana masyarakat Amerika, melalui sistem juri, akhirnya berdiri menghadapi industri rokok dan berkata, ‘Cukup sudah.’”

“Kau sudah hilang akal,” kata Lonnie, dan pada saat itu juga, ia merasakan hal yang sama.

“Jadi, kau ingin terkenal,” kata Jerry dengan nada sangat menyindir.

“Bukan aku, tapi vonis ini. Takkan ada seorang pun yang ingat nama kita minggu depan, tapi semua orang akan mengingat vonis kita. Kalau kita akan melakukannya, mari kita lakukan dengan benar.”

“Aku setuju,” Shine Royce menambahkan. Bayangan akan memberikan uang sedemikian banyak membuatnya bergidik. Shine adalah satu-satunya anggota juri yang siap melewatkan satu malam lagi di motel, sehingga ia bisa makan gratis dan mengumpulkan lima belas dolar lagi besok.

“Ceritakan pada kami, apa yang akan terjadi,” kata Millie, masih tertegun.

“Mereka akan naik banding, dan suatu hari kelak, mungkin dua tahun dari sekarang, segerombolan kam-bing tua berjubah hitam akan mengurangi jumlahnya. Mereka akan menurunkannya sampai ke jumlah yang

628

nalar. Mereka akan mengatakan itu vonis yang tidak masuk akal dari dewan juri yang juga sudah kehilangan akal sehat, dan mereka akan membetulkannya. Sistem ini hampir selalu berhasil.”

“Kalau begitu, mengapa kita harus melakukannya?” Loreen bertanya.

“Sebagai selingan. Kita akan memulai proses panjang membuat perusahaan tembakau bertanggung jawab telah membunuh begitu banyak orang. Ingat, mereka belum pernah kalah dalam sidang seperti ini. Mereka pikir mereka tak terkalahkan. Kita membuktikan sebaliknya, dan kita melakukannya sedemikian rupa, sehingga penggugat lain tidak takut untuk menuntut industri tersebut.”

“Jadi, kau ingin rr.embuat mereka bangkrut,” kata Lonnie.

‘Tidak jadi soal bagiku. Pynex punya 1,2 miliar, dan sebenarnya seluruh keuntungan itu berasal dari orang-orang yang memakai produk mereka, tapi sebenarnya ingin berhenti. Yeah, kalau dipikir-pikir, dunia akan jadi tempat yang lebih baik tanpa Pynex. Siapa yang akan menangis kalau dia gulung tikar?”

“Mungkin pegawainya,” kata Lonnie.

“Pemikiran bagus. Tapi aku lebih bersimpati pada ribuan orang yang terjerat produk mereka”

“Berapa banyak yang akan diberikan pengadilan tinggi pada Celeste Wood?” Mrs. Gladys Card bertanya. Ia merasa terusik oleh gagasan bahwa salah satu tetangganya, meski orang yang tidak ia kenal, akan kaya raya. Memang, perempuan itu kehilangan suami, tapi Mr. Card pernah menderita kanker prostat . tanpa bisa menggugat siapa pun.

629

“Aku tidak tahu,” kata Nicholas. “Dan itu tidak perlu kita repotkan. Itu akan terjadi kelak, di ruang sidang lain, dan ada beberapa petunjuk yang harus diikuti ketika mengurangi vonis dalam jumlah besar.”

“Satu miliar dolar,” Loreen mengulangi untuk diri sendiri, tapi cukup keras untuk didengar. Rasanya semudah mengatakan “Sam juta dolar.” Hampir semua anggota juri itu menatap meja dan mengulangi kata “miliar”.

Bukan untuk pertama kalinya, Nicholas bersyukur dengan ketidakhadiran Herrera. Pada saat seperti ini, dengan satu miliar dolar di meja, Herrera akan ribut luar biasa dan mungkin akan melempar-lemparkan barang. Tetapi ruangan itu hening. Lonnie adalah satu-satunya pembela yang tersisa di pihak tergugat, dan ia sibuk menghitung dan menghitung kembali jumlah suara.

Kepergian Herman juga penting, mungkin jauh lebih penting dari kepergian sang kolonel, sebab orang akan mendengarkan pendapat Herman. Ia pintar dan penuh perhitungan, tidak mudah terpancing emosi, dan sudah pasti kebal dengan vonis yang luar biasa.

Tapi mereka sudah pergi.

Nicholas sudah mengarahkan pembicaraan hingga menyimpang dari masalah tanggung jawab menjadi masalah ganti kerugian, pergeseran penting yang tidak disadari oleh siapa pun, kecuali olehnya sendiri. Angka semiliar dolar itu mencengangkan mereka dan memaksa mereka untuk berpikir mengenai uang, bukan kesalahannya.

Ia bertekad untuk terus mengarahkan pikiran me—

630

reka pada uang. “Ini cuma gagasan,” katanya. “Sangat penting untuk mendapatkan perhatian mereka.”

Nicholas cepat-cepat mengedipkan mata pada Jerry, yang langsung paham. “Aku tidak bisa memberikan sebesar itu,” katanya dengan omongan gaya salesman, yang hasilnya cukup efektif. “Jumlah itu, well, keterlaluan. Memang ada kerugian, tapi, aduh, ini benar-benar gila.”

“Ini tidak keterlaluan,” Nicholas membantah. “Perusahaan itu punya 800 juta dolar tunai. Tempatnya seperti pabrik uang. Semua perusahaan rokok mencetak uang mereka sendiri.”

Dengan Jerry, maka ada delapan pendukung, dan Lonnie mundur ke sudut, mulai menjentik-jentikkan kuku.

Dan ditambah Poodle jadi sembilan. “Ini keterlaluan, dan aku tidak bisa melakukannya,” katanya “Lebih rendah sedikit, mungkin, tapi satu miliar dolar?”

“Jadi, berapa?” tanya Rikki.

Hanya 500 juta. Hanya 100 juta. Mereka tidak bisa memaksa diri untuk mengucapkan jumlah yang keterlaluan ini.

“Entahlah,” kata Sylvia. “Bagaimana menurutmu?”

“Aku suka dengan gagasan akan menggantung orang-orang ini,” kata Rikki. “Kalau kita bermaksud menyampaikan pesan. kita jangan malu-malu.”

“Satu miliar?” Sylvia bertanya.

“Yeah, aku bisa melakukannya.”

“Aku juga.” kata Shine, merasa kaya dengan sekadar berada di sini.

Mereka terdiam lama; satu-satunya suara hanya berasal dari Lonnie yang menjentik-jentikkan kuku.

631

Akhirnya Nicholas berkata, “Siapa yang tidak bersedia memberikan suara untuk memberikan ganti kerugian apa pun?”

Savelle mengangkat jari. Lonnie tidalc menghiraukan pertanyaan itu, tapi memang ia tak perlu menanggapi.

“Pemungutan suara menjadi sepuluh lawan dua,” Nicholas melaporkan, dan mencatat keputusan ini. “Dengan ini, dewan juri sampai pada keputusan untuk memberikan ganti kerugian. Sekarang, mari kita bereskan masalah kerugian. Bisakah kita bersepuluh sepakat bahwa keluarga Wood berhak mendapatkan dua juta dolar sebagai ganti kerugian aktual?”

Savelle mendorong kursinya ke belakang dan meninggalkan ruangan. Lonnie menuang secangkir kopi dan duduk di samping jendela, memunggungi kelompok itu, tapi mendengarkan setiap patah kata.

Dua juta dolar kedengaran seperti uang receh bila mengingat pembicaraan sebelumnya, dan jumlah itu pun disetujui oleh kesepuluh juri. Nicholas menuliskan ini pada sehelai formulir yang sudah disetujui oleh Hakim Harkin.

“Bisakah kita bersepuluh setuju bahwa tergugat diganjar dengan hukuman dalam jumlah tertentu?” Ia perlahan-lahan memandang sekeliling meja dan mendapatkan kata “Ya” dari masing-masing. Mrs. Gladys Card sangsi. Ia bisa berubah pendapat, tapi tidak akan ada pengaruhnya. Hanya sembilan suara yang dibutuhkan untuk mencapai vonis.

“Baiklah. Sekarang, mengenai jumlah denda itu. Ada usul?”

“Aku punya,” Jerry berkata “Minta semua juri

632

untuk menuliskan jumlahnya pada secarik kertas, lipat kertas itu, rahasiakan, lalu jumlahkan semuanya dan dibagi sepuluh. Dengan begitu, kita bisa tahu berapa rata-ratanya.”

“Apakah ini mengikat?” Nicholas bertanya.

“Tidak. Tapi ini akan memberikan bayangan tentang posisi kita.”

Gagasan pemungutan suara secara rahasia itu sangat menarik, dan mereka cepat-cepat menuliskan angka mereka pada potongan kertas.

Nicholas perlahan-lahan membuka lipatan setiap kertas dan menyebutkan jumlahnya kepada Millie, yang mencatatnya. Satu miliar, satu juta. lima puluh juta, sepuluh juta, satu miliar, satu juta, lima juta, lima ratus juta, satu miliar, dan dua juta.

Millie menjumlahkan. “Jumlahnya 3.569 juta. Dibagi sepuluh, dan rata-ratanya adalah 356,9 juta.”

Butuh beberapa lama sampai nol pada angka-angka itu mengendap. Lonnie melompat berdiri dan berjalan di samping meja. “Kalian gila,” katanya, lalu meninggalkan ruangan, membanting pintu.

“Aku tidak bisa melakukan ini,” kata Mrs. Gladys Card, kelihatan terguncang. “Aku hidup dari uang pensiun, oke? Jumlahnya cukup, tapi aku tidak bisa membayangkan angka-angka ini.”

“Angka-angka ini nyata,” kata Nicholas. “Perusahaan itu punya 800 juta dolar tunai, kekayaan sebesar satu miliar. Tahun lalu negara kita menghabiskan enam miliar untuk biaya pengobatan yang langsung berkaitan dengan rokok, dan angka itu terus naik setiap tahun. Tahun lalu angka penjualan empat pabrik rokok terbesar itu seluruhnya mencapai hampir

633

16 miliar dolar. Dan angka itu terus naik. Kalian harus berpikir besar, oke? Orang-orang ini akan menertawakan vonis senilai lima juta dolar. Mereka takkan mengubah apa pun, bisnis tetap seperti biasa. Iklan yang sama diarahkan pada anak-anak. Kebohongan yang sama kepada Kongres. Segalanya sama, kecuali kalau kita membangunkan mereka.”

Rikki mencondongkan tubuh ke depan sambil bertelekan, dan menatap Mrs. Gladys Card di seberang meja. “Kalau kau tidak bisa melakukannya, biarkan kami yang membereskannya.”

“Jangan mengejekku.”

“Aku tidak mengejek. Ini butuh nyali, oke? Nicholas benar. Kalau kita tidak menampar muka mereka dan membuat mereka bertekuk lutut, tidak ada apa pun yang berubah. Mereka orang-orang yang kejam dan tak kenal ampun.”

Mrs. Gladys Card resah dan gemetar, hampir tak tahan. “Maafkan aku. Aku ingin membantu, tapi aku tak bisa melakukannya.”

‘Tidak apa. Mrs. Card,” kata Nicholas, mencoba menghibur. Perempuan malang ini sedang tertekan dan membutuhkan teman. Memang benar, segalanya beres selama ada sembilan suara lain. Ia bisa memberikan hiburan, tapi ia sama sekali tak bisa kehilangan satu suara lagi.

Suasana hening ketika mereka menunggu, apakah Mrs. Card akan kembali bergabung atau melepaskan diri. Ia menarik napas dalam, memajukan dagu ke depan, dan menemukan kekuatan.

“Bisakah aku mengajukan satu pertanyaan?” tanya Angel kepada Nicholas, seolah-olah ia kini satu-satunya sumber kebijaksanaan.

634

“Tentu,” kata Nicholas sambil mengangkat pundak.

“Apa yang terjadi pada industri rokok bila kita menjatuhkan vonis besar, seperti yang kita bicarakan sekarang?”

“Dari sudut hukum, ekonomi, atau politis?” “Seluruhnya.”

Ia berpikir satu-dua detik, tapi sebenarnya sudah sangat ingin menjawab. “Kepanikan luar biasa, pada awalnya. Banyak gelombang kejutan. Banyak eksekutif yang ketakutan dan khawatir dengan yang terjadi selanjutnya. Mereka meringkuk dan menunggu, apakah para pengacara itu akan membanjiri mereka dengan gugatan. Mereka akan dipaksa untuk memeriksa ulang strategi periklanan mereka. Mereka tidak akan bangkrut, setidaknya tidak dalam waktu dekat, sebab mereka punya begitu banyak uang. Mereka akan lari ke Kongres dan meminta undang-undang istimewa, dan aku menduga Washington tidak akan terlalu memanjakan mereka lagi. Pendeknya, Angel, industri ini takkan pernah sama lagi bila kita melakukan apa yang harus kita lakukan.”

“Mudah-mudahan suatu hari kelak rokok akan dilarang,” Rikki menambahkan.

“Begitu, atau perusahaan-perusahaan itu secara finansial tidak lagi mampu memproduksinya,” kata Nicholas.

“Apa yang terjadi pada kita?” tanya Angel. “Maksudku, apakah kita akan terancam bahaya? Kau mengatakan orang-orang ini sudah mengawasi kita sejak sebelum sidang dimulai.”

‘Tidak, kita akan aman,” kata Nicholas. “Mereka tidak bisa berbuat apa-apa pada kita. Seperti sudah

635

kukatakan sebelumnya, minggu depan mereka tidak akan ingat lagi nama kita. Tapi semua orang akan mengingat vonis kita “

Phillip Savelle kembali dan duduk di kursinya. “Jadi, apa yang sudah diputuskan oleh para penyamun budiman ini?” ia bertanya.

Nicholas mengabaikannya. “Kalau kita mau pulang, rekan-rekan, kita harus memutuskan jumlahnya.”

“Aku pikir kita sudah mengambil keputusan itu,” kata Rikki.

“Apakah kita sedikitnya punya sembilan suara?” Nicholas bertanya.

“Untuk berapa dolar, kalau aku boleh tanya?” Savelle bertanya dengan nada mengejek.

‘Tiga ratus lima puluh juta, tambah atau kurang sedikit,” jawab Rikki.

“Ah, teori kuno tentang distribusi kekayaan. Lucu, kalian kelihatannya bukan seperti gerombolan kaum Marxis.”

“Aku punya gagasan,” Jerry berkata. “Mari kita bulatkan sampai empat ratus, setengah dari uang tunai mereka. Itu tidak akan membuat mereka bangkrut. Mereka boleh mengencangkan ikat pinggang, menambahkan lebih banyak nikotin, menjerat lebih banyak anak-anak, dan, presto, mereka akan memperoleh kembali uang mereka satu-dua tahun.”

“Apakah ini lelang?” Savelle bertanya, dan tak seorang pun menjawab.

“Mari kita kerjakan,” kata Rikki.

“Hitung jumlah suaranya,” kata Nicholas, dan sembilan tangan terangkat. Ia kemudian menanyai delapan anggota juri itu satu per satu, apakah mereka

636

setuju memberikan vonis sebesar dua juta dolar sebagai ganti kerugian aktual dan 400 juta sebagai hukuman. Mereka masing-masing mengatakan ya. Ia mengisi formulir vonis, dan meminta masing-masing menandatanganinya.

Lonnie kembali setelah lama menghilang.

Nicholas berbicara dengannya. “Kami sudah sampai pada suatu vonis, Lonnie.”

“Sungguh mengejutkan. Berapa?”

“Empat ratus dua juta dolar,” kata Savelle. ‘Tambah atau kurang beberapa juta.”

Lonnie memandang Savelle, lalu memandang Nicholas. “Kau bercanda?” tanyanya, nyaris tak terdengar.

‘Tidak,” jawab Nicholas. “Itu benar, dan kami punya delapan suara. Mau bergabung?” ‘Tidak.”

“Cukup luar biasa, bukan?” kata Savelle. “Dan kalau dipikir-pikir, kita semua akan jadi terkenal.”

“Ini belum pernah terdengar,” kata Lonnie, bersandar ke dinding.

‘Tidak,” balas Nicholas. ‘Texaco terkena vonis. sepuluh miliar dolar beberapa tahun lalu.”

“Oh, jadi ini harga murah?” tanya Lonnie.

‘Tidak,” sahut Nicholas, berdiri. “Ini keadilan.” Ia berjalan ke pintu, membukanya, dan meminta Lou Dell memberitahu Hakim Harkin bahwa dewan juri sudah siap.

Sewaktu mereka menunggu sebentar, Lonnie membawa Nicholas ke sudut, dan berbisik bertanya, “Apakah ada cara agar namaku tidak dikaitkan dengan ini?” Ia cemas, bukan marah.

637

“Tentu. Jangan khawatir. Hakim akan menanyai kita satu per satu, apakah ini vonis kita. Sewaktu dia menanyaimu, pastikan semua orang tahu kau tidak tersangkut paut dengan ini.”

“Terima kasih.”

638

Empat Puluh Dua

Lou dell mengambil catatan itu, seperti yang biasa ia lakukan sejak dulu, dan memberikannya pada Willis, yang berjalan sepanjang koridor, berbelok di sudut, dan hilang dari pandangan. Ia pribadi menyampaikannya kepada Yang Mulia Hakim, yang saat itu sedang bercakap-cakap di telepon, dan sudah sangat tak sabar untuk mendengar vonisnya. Ia sudah biasa mendengarkan vonis, tapi ada firasat bahwa yang ini mungkin mengandung kejutan. Ia yakin suatu ketika akan memimpin sidang kasus perdata yang lebih besar, tapi saat ini hal itu sulit dibayangkan

Catatan itu berbunyi, “Hakim Harkin, bisakah Anda mengatur seorang deputi untuk mengawal saya keluar dari gedung pengadilan, segera sesudah kami bubar? Saya takut. Akan saya jelaskan masalahnya nanti. Nicholas Easter.”

Yang Mulia memberikan instruksi kepada seorang deputi yang sedang menunggu di luar ruang kerjanya, lalu berjalan dengan pasti melewati pintu, masuk ke ruang sidang. Udara di sana pekat dengan kegentaran. Para pengacara. yang kebanyakan duduk-duduk di seputar kantor mereka. tidak jauh dari sana, menung—

639

gu panggilan, berbaris di sepanjang koridor, bergegas ke tempat duduk mereka, saraf menegang dan mata melotot. Penonton berdatangan. Saat itu sudah hampir pukui delapan.

“Saya diberitahu bahwa dewan juri sudah sampai pada vonis,” kata Harkin keras ke mikrofon, dan ia bisa melihat para pengacara itu gemetar. “Harap bawa masuk dewan juri.”

Mereka beriringan masuk dengan wajah serius, seperti umumnya juri. Tak peduli kabar baik apa yang mereka bawa bagi satu pihak atau pihak lain, dan tak peduli betapa bersatunya pendapat mereka, mata mereka selalu terarah ke bawah, hingga kedua belah pihak secara naluriah merosot lebih rendah di kursi dan mulai merencanakan untuk naik banding.

Lou Dell mengambil formulir itu dari Nicholas, memberikannya kepada Yang Mulia, yang entah bagaimana bisa memeriksanya tanpa menunjukkan perubahan paras muka. la tidak memberikan sedikit pun tanda akan kabar menghancurkan yang sedang dipegangnya. Vonis itu mengejutkannya luar biasa, namun dari segi prosedur tidak ada yang bisa ia lakukan. Secara teknis, vonis itu benar. Tentu nanti akan ada mosi untuk menguranginya, tapi ia kini terbelenggu. Ia melipat lagi kertas itu, mengembali kannya kepada Lou Dell, yang kemudian berjalan menghampiri Nicholas. Nicholas sudah berdiri dan siap memberikan pengumuman.

“Ketua, harap bacakan vonis tersebut.”

Nicholas membuka lipatan mahakaryanya, berdeham, memandang berkeliling dengan cepat, untuk melihat apakah Fitch ada di dalam ruang sidang itu.

640

dan ketika tidak melihatnya, ia membaca, “Kami, dewan juri, memberikan kemenangan kepada penggugat, Celeste Wood, dan memberikan ganti kerugian aktual sebesar dua juta dolar.”

Ini saja sudah merupakan preseden. Wendall Rohr dan kelompoknya dengan keras mengembuskan napas lega. Mereka baru saja membuat sejarah.

Tetapi juri belum lagi selesai.

“Dan kami, dewan juri, memberikan kemenangan kepada penggugat. Celeste Wood, dan memberikan ganti kerugian sebagai hukuman sejumlah 400 juta dolar.”

Dari sudut pandang pengacara, penerimaan vonis bisa dianggap suatu bentuk seni. Ia tidak boleh tersentak atau berkedut Ia tidak boleh melihat sekeliling untuk mencari penghiburan ataupun ungkapan kegirangan. Ia tidak boleh memeluk klien untuk merayakan kemenangan atau memberikan hiburan. Ia harus duduk diam, memandangi buku tulis yang sedang ditulisinya, dan bersikap seolah-olah sudah tahu pasti bagaimana vonis tersebut.

Tapi kedua belah pihak tak sanggup menyembunyikan perasaan. Cable terperosot seolah-olah tertembak perutnya. Rekan-rekannya menatap boks juri dengan mulut ternganga, mata terpicing dengan perasaan tak percaya. Suara “Astaga!” terdengar dari deret kedua kerumunan pembela di belakang Cable.

Rohr tersenyum lebar sambil cepat-cepat merangkul Celeste Wood, yang mulai menangis. Pengacara lainnya saling berjabat tangan, memberikan selamat tanpa suara. Oh, getaran kemenangan, prospek untuk membagi empat puluh persen dari vonis ini.

641

Nicholas duduk dan menepuk pelan kaki Loreen Duke. Ini sudah selesai, akhirnya selesai.

Hakim Harkin tiba-tiba jadi sibuk, seolah-olah ini adalah vonis biasa, se,perti lainnya. “Nah. Bapak-Ibu sekalian, .saya mengajukan poll kepada dewan juri. Ini berani bahwa secara individu, saya akan menanyai Anda masing-masing, apakah ini vonis Anda. Saya akan mulai dengan Ms. Loreen Duke. Harap ucapkan dengan jelas, untuk dicatat, apakah Anda memberikan suara mendukung vonis ini?”

“Ya,” jawabnya bangga.

Beberapa pengacara itu membuat catatan. Beberapa hanya menatap kosong ke angkasa

“Mr. Easter? Apakah Anda memberikan suara mendukung vonis ini?”

“Ya”

“Mrs. Dupree?” “Ya, Sir. Benar.” “Mr. Savelle?” “Tidak.”

“Mr. Royce? Apakah Anda memberikan suara mendukung vonis ini?” “Ya.”

“Ms. Weese?” “Ya.” “Mr. Vu?” “Ya.”

“Mr. Lonnie Shaver?”

Setengah berdiri, Lonnie berkata keras agar didengar oleh seluruh dunia, ‘Tidak, Yang Mulia, saya tidak memberikan suara mendukung vonis ini, dan saya sama sekali tidak setuju.”

642

“Terima kasih. Mrs. Rikki Coleman. Apakah ini vonis Anda?” “Ya, Sir.”

“Mrs. Gladys Card?” ‘Tidak, Sir.”

Tiba-tiba muncul secercah harapan bagi Cable, Pynex, Fitch, dan seluruh industri rokok. Tiga anggota juri kini sudah menolak vonis itu. Hanya satu lagi, dan dewan juri ini akan dikirim ke dalam untuk berdiskusi lagi. Setiap hakim bisa bercerita banyak tentang dewan juri yang vonisnya terpecah belah sesudah diumumkan dan pada saat pertanyaan diajukan. Di depan sidang terbuka, dengan para pengacara dan klien mengawasi, suatu vonis bisa kedengaran jauh bebeda daripada beberapa menit sebelumnya dalam ruang juri yang aman.

Akan tetapi harapan tipis itu terinjak-injak oleh Poodle dan Jerry. Mereka berdua meneguhkan vonis itu.

‘Tampaknya jumlah suara adalah sembilan banding tiga,” kata Yang Mulia. “Semua yang lainnya tampak sesuai. Ada yang lainnya, Mr. Rohr?”

Rohr hanya menggelengkan kepala. Ia tak bisa mengucapkan terima kasih kepada juri sekarang, meskipun ia sangat ingin melompati pagar pembatas dan mencium kaki mereka. Ia duduk berpuas diri di kursinya, satu tangan memeluk Celeste Wood.

“Mr. Cable?”

“Tidak, Sir,” Cable berhasil mengeluarkan kata-kata. Oh, sungguh banyak yang ingin ia katakan kepada para juri itu, orang-orang idiot.

Fakta bahwa Fitch tidak ada di dalam ruang

643

sidang sangat mengkhawatirkan Nicholas. Ketidak-hadirannya berarti ia ada di luar, di suatu tempat dalam kegelapan, mengintai dan menunggu. Berapa banyak yang diketahui Fitch sekarang? Mungkin terlalu banyak. Nicholas sangat ingin meninggalkan ruang sidang, dan menyingkir ke luar kota.

Harkin kemudian mulai mengucapkan terima kasih dengan panjang-lebar, diselingi pujian tentang patriotisme dan tugas warga negara, menggelar setiap omongan klise yang pernah didengarnya sebagai hakim, memperingatkan mereka agar tidak berbicara pada siapa pun mengenai pertimbangan dan vonis mereka, mengatakan bahwa ia bisa mengadili mereka dengan tuduhan me-lecehkan pengadilan, kalau mereka bicara mengenai apa yang terjadi dalam ruang juri. Lalu ia mengirim mereka dalam perjalanan terakhir ke motel untuk mengumpulkan barang masing-masing.

Fitch menyaksikan dan mendengarkan dari ruang pengamat di samping kantornya. Dan ia menyaksikan seorang diri. Para konsultan juri sudah dipecat beberapa jam sebelumnya dan dipulangkan ke Chicago.

Ia bisa menculik Easter, dan hal ini sudah di-rundingkan panjang-lebar dengan Swanson, yang langsung diberitahu segalanya segera setelah tiba. Tapi apa manfaatnya? Easter takkan bicara dan mereka menghadapi risiko dikenai tuduhan melakukan penculikan. Tanpa mendekam di penjara Biloxi pun mereka sudah punya cukup banyak masalah.

Mereka memutuskan untuk menguntitnya, berharap ia akan menuntun mereka pada wanita itu. Sudah tentu ini pun menimbulkan dilema lain. Apa yang akan mereka lakukan terhadap perempuan itu sean—

644

dainya mereka menemukannya? Mereka tidak bisa melaporkan Marlee pada polisi. Apa yang akan diceritakan Fitch kepada FBI dalam kesaksiannya di bawah sumpah? Bahwa ia memberi Marlee sepuluh juta dolar untuk memberikan vonis kemenangan dalam sidang kasus tembakau, dan perempuan itu berani mengecohnya? Nah, tolong gugat dia.

Fitch terperosok di setiap belokan.

Ia menonton video melalui lensa kamera tersembunyi Oliver McAdoo. Para juri berdiri, berjalan keluar, dan boks juri itu pun kosong.

Mereka berkumpul dalam ruang juri, untuk mengambil buku-buku, majalah, dan tas rajut. Nicholas tidak berminat berbasa-basi. Ia menyelinap keluar dari pintu. Chuck, yang kini sudah jadi sahabat lama, menghentikannya dan memberitahukan bahwa Sheriff sedang menunggu di luar.

Tanpa sepatah kata pun kepada Lou Dell atau Willis, atau kepada orang-orang yang bersamanya selama empat minggu terakhir ini, Nicholas tergesa-gesa menghilang di belakang Chuck. Mereka menyelinap keluar dari pintu belakang. Sheriff sendiri sedang menunggu di belakang kemudi mobil Ford cokelatnya yang besar.

“Hakim mengatakan kau butuh bantuan,” kata Sheriff dari belakang kemudi.

“Yeah. Kita ke Forty-nine North. Akan kutunjuk-kan ke mana harus pergi. Dan pastikan kita tidak diikuti.”

“Oke. Siapa yang mungkin menguntitmu?” “Orang-orang jahaL”

Chuck membanting pintu di depan, dan mereka

645

melaju pergi. Nicholas memandang untuk terakhir kali ke ruang juri di lantai dua. Ia melihat Millie dari pinggang ke atas, memeluk Rikki Coleman.

“Kau tidak punya barang di motel?” Sheriff bertanya.

“Lupakan saja. Aku akan mengambilnya nanti.”

Sheriff memberikan instruksi lewat radio, agar dua mobil mengikuti dan memastikan mereka tidak dikuntit. Dua menit kemudian, sewaktu mereka melaju kencang membelah Gulfport, Nicholas mulai menunjuk jalan ini dan itu, dan Sheriff berhenti di pinggir lapangan tenis sebuah kompleks apartemen luas di sebelah utara kota. Nicholas mengatakan ini sudah cukup, dan ia pergi keluar.

“Kau yakin tidak apa-apa?” Sheriff bertanya.

“Pasti Aku akan tinggal di sini bersama beberapa teman. Terima kasih.”

“Teleponlah kalau kau butuh bantuan.”

‘Tentu.”

Nicholas menghilang dalam kegelapan malam, dan dari belokan melihat mobil patroli itu berlalu. Ia menunggu di samping rumah biliar, tempat yang memungkinkannya melihat lalu lintas ke dan dari kompleks apartemen. Ia tidak melihat apa pun yang mencurigakan.

Kendaraannya untuk melarikan diri adalah mobil baru yang disewa dan ditinggalkan di sana oleh Marlee dua hari yang lalu. Satu dari tiga yang kini ditinggalkan di berbagai halaman parkir di pinggiran kota Biloxi. Ia dengan aman menempuh perjalanan sejauh sembilan puluh menit ke Hattiesburg, sambil sepanjang jalan mengamati belakangnya

646

Jet Lear itu menunggu di bandaia Hattiesburg. Nicholas mengunci mobil. dan berjalan santai ke terminal kecil tersebut.

Beberapa lama setelah tengah malam, ia melewati pabean George Town dengan dokumen Kanada baru. Tidak ada penumpang lain; bandara itu praktis kosong. Marlee menjemputnya di tempat pengambilan barang, dan mereka berpelukan erat.

“Kau sudah dengar?” tanya Nicholas. Mereka melangkah ke luar; udara lengas memukul keras.

“Yeah, semuanya ada di CNN,” kata Marlee. Ttukah langkah terbaik yang bisa kaulakukan?” ia bertanya sambil teilawa, dan mereka berciuman lagi.

Marlee mengemudi ke arah George Town, melalui jalan-jalan kosong yang berkelok-kelok, mengitari gedung-gedung bank modern yang bergerombol dekat dermaga. “Itu bank kita,” kata Marlee, sambil menunjuk gedung Royal Swiss Trust.

“Bagus.”

Sesudahnya, mereka duduk di pasir, di tepi air. Buih bepercikan, sementara gelombang tenang memecah di kaki mereka. Beberapa perahu dengan lampu redup beringsut di cakrawala Hotel-hotel dan kondominium berdiri bisu di belakang mereka. Untuk sementara itu. hotel tersebut milik mereka.

Dan sungguh saat-saal yang membahagiakan. Jerih payah mereka selama empat tahun kini berakhir. Rencana mereka akhirnya terwujud sempurna. Mereka sudah demikian lama memimpikan malam ini, yakin bahwa ini takkan pernah bisa terjadi.

Jam demi jam hanyut pergi.

647

**

Mereka berpendapat sebaiknya Marcus sang pialang tidak pernah melihat Nicholas. Ada kemungkinan pihak berwajib akan mengajukan pertanyaan kelak, dan makin sedikit yang diketahui Marcus, makin baik keadaannya. Marlee seorang diri menemui resepsionis Royal Swiss Trust tepat pukul sembilan, dan diantar ke atas. Marcus sedang menunggu, dengan banyak pertanyaan yang tidak dapat diajukan. Ia menawarkan kopi, kemudian menutup pintu.

“Pembelian shorting atas saham Pynex ternyata transaksi yang sangat bagus.” katanya sambil tersenyum lebar pada keahliannya merendah.

“Tampaknya demikian,” kata Marlee. “Berapa harga pembukaannya?”

“Pertanyaan bagus. Saya sudah menelepon New York, dan keadaan agak kacau-balau. Vonis itu mencengangkan semua orang. Kecuali Anda, saya kira.” Ia sungguh ingin mengetahui lebih dalam, tapi tahu takkan ada jawaban. “Ada kemungkinan saham itu tidak akan ditawarkan. Mereka bisa menunda transaksi selama satu-dua hari.”

Marlee kelihatannya mengerti benar hal ini. Kopi tiba. Mereka meneguknya sambil mengevaluasi penutupan transaksi kemarin. Pada pukul setengah sepuluh, Marcus memasang headset dan memusatkan perhatian pada dua monitor di meja samping. “Bursa sudah buka,” katanya, menunggu.

Marlee mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil berusaha tampak lenang. Ia dan Nicholas ingin melakukan pukulan cepat, masuk dan keluar,

648

lalu pergi bersama uang itu ke tempat jauh yang belum pernah mereka lihat. Ia harus membereskan 160.000 saham Pynex, saham yang hendak ia lepas.

“Transaksi ditunda,” kata Marcus ke komputernya, dan Marlee tersentak sedikit. Marcus menekan beberapa tombol dan mulai berbicara dengan seseorang di New York. Ia menggumamkan angka-angka, lalu berkata pada Marlee, “Mereka menawarkannya dengan harga lima puluh, dan tidak ada pembeli. Ya atau tidak?”

“Tidak.”

Dua menit lewat. Mata Marcus tak pernah meninggalkan layar. “Sampai pada 45. Ya atau tidak?”

“Tidak. Bagaimana dengan yang lain?”

Jemari Marcus menari-nari di atas keyboard. “Wah. Trellco turun tiga belas, menjadi 43. Smith Greer turun sebelas, jadi 53 1/4. ConPack turun delapan, jadi 25. Mandi darah di sana. Seluruh industri ini terguncang.”

“Periksa Pynex.”

“Masih jatuh. Empat puluh dua, dengan beberapa pembeli kecil.”

“Beli 20.000 saham pada 42,” kata Marlee sambil melihat catatan.

Beberapa detik berlalu sebelum Marcus berkata, “Confirmed. Naik sampai 43. Mereka di sana memperhatikan. Lain kali transaksinya akan saya kurangi, jangan sampai 20.000 saham sekaligus.”

Dikurangi komisi, kemitraan Marlee/Nicholas baru saja meraup $740,000.

‘Turun lagi sampai 42,” kata Marcus.

“Beli 20.000 saham pada 42,” kata Marlee.

649

Satu menit kemudian, Marcus berkata. “Confirmed.”

Laba lagi sebesar $760,000.

“Stabil pada 42, sekarang naik setengah,” kata Marcus seperti robot. “Mereka melihat pembelian Anda.”

“Apakah ada orang lain yang membeli?” tanya Marlee.

“Belum.”

“Kapan mereka akan mulai?”

“Siapa tahu? Tapi tidak lama lagi, saya kira. Perusahaan ini punya terlalu banyak uang untuk tersungkur. Nilai nominal per sahamnya sekitar tujuh puluh. Harga lima puluh sangatlah murah. Akan saya suruh semua klien saya untuk masuk sekarang.”

Marlee membeli 20.000 saham lagi pada 41, lalu menunggu satu jam untuk membeli 20.000 lagi pada 40. Ketika Trellco jatuh sampai 40, turun 16, ia membeli 20.000 saham, dengan keuntungan sebesar $320,000.

Pukulan cepat itu terjadi. la meminjam telepon pada pukul setengah sebelas dan menelepon Nicholas yang sedang terpaku pada TV, menyaksikan semua itu dilaporkan di CNN. Mereka punya satu kru di Biloxi yang mencoba mewawancarai Rohr, Cable, dan Harkin, bahkan Gloria Lane atau siapa saja yang mungkin tahu sesuatu. Tak seorang pun mau berbicara dengan mereka. Nicholas juga mengamati harga saham di saluran berita finansial.

Saham Pynex jatuh sampai ke dasar, sejam setelah transaksinya dibuka. Pembeli baru masuk pada harga 38; sampai di situ, Marlee melempar 80.000 saham sisanya.

650

Ketika Trellco tertahan pada 41, Marlee membeli 40.000 saham. Ia keluar dari jual-beli Trellco. Dengan besarnya transaksi yang ia lakukan secara brilian, Marlee tidak berniat tinggal lama dan tamak dengan saham-saham lainnya. Ia berupaya keras untuk sabar. Sudah berkali-kali ia melatih rencana ini, dan peluang tersebut tidak akan muncul lagi.

Beberapa menit sebelum tengah hari, dengan keadaan pasar kacau-balau, ia menutup saham sisa Smith Greer. Marcus mengangkat headset dan menyeka kening.

“Bukan pagi yang buruk, Ms. MacRoland. Anda baru saja meraup delapan juta, dikurangi komisi.” Printer mendengung pelan di meja, memuntahkan konfirmasi.

“Saya ingin uang itu ditransfer ke bank di Zurich.” “Bank kami?”

“Bukan.” Marlee mengangsurkan sehelai kertas dengan instruksi transfer kepadanya.

“Berapa banyak?” Marcus bertanya.

“Seluruhnya, tentu saja setelah dikurangi komisi Anda.”

“Baiklah. Saya asumsikan ini prioritas.” “Tolong secepatnya.”

Marlee berkemas dengan cepat. Nicholas cuma menonton, sebab tidak ada yang harus ia kemasi, tidak ada apa pun kecuali dua kemeja golf dan jeans yang dibelinya di toko perangkat selam di hotel. Mereka saling menjanjikan pakaian baru di tujuan mereka selanjutnya. Uang tidak akan jadi masalah. Mereka terbang, kelas satu, menuju Miami, lalu

651

menunggu dua jam sebelum naik pesawat ke Amsterdam. Layanan tayangan berita di kabin kelas safu didominasi oleh CNN dan Financial News. Mereka menonton dengan sangat senang ketika vonis di Biloxi itu diliput, sementara Wall Street berputar-putar. Para pakar muncul di mana-mana. Profesor hukum memberikan ramalan berani mengenai masa depan tuntutan ganti rugi terhadap perusahaan rokok. Analis saham menawarkan berjuta pendapat, yang masing-masing berbeda tajam dengan sebelumnya. Hakim Harkin tidak memberikan komentar Cable tak bisa ditemukan. Rohr akhirnya muncul dari kantornya dan menjadi pahlawan atas kemenangan itu. Tak seorang pun tahu mengenai Rankin Fitch. Patut disayangkan, sebab Marlee sangat ingin melihat wajahnya yang menderita.

Bila dilihat kembali, pengaturan waktunya sempurna. Harga di bursa merosot sampai titik terendah, tak lama setelah jatuh, dan di penghujung hari itu, harga Pynex mulai stabil pada 45.

Dari Amsterdam, mereka terbang ke Jenewa, menyewa kamar suite untuk satu bulan.

652

Empat Puluh Tiga

Fitch meninggalkan Biloxi tiga hari setelah vonis tersebut. Ia kembali ke rumahnya di Arlington, dan melakukan kegiatan rutinnya di Washington. Meskipun masa depannya sebagai direktur The Fund diragukan, perusahaan kecilnya yang tanpa nama masih punya banyak pekerjaan, di luar urusan bisnis rokok, untuk membuatnya sibuk. Tapi tak satu pun membayarnya seperti The Fund.

Seminggu setelah vonis tersebut, ia rapat dengan Luther Vandemeer dan D. Martin Jankle di New York, dan mengakui setiap detail kesepakatannya dengan Marlee. Rapat itu bukan pertemuan ramah-tamah.

la juga berunding dengan sejumlah pengacara New York yang tak kenal ampun, mengenai cara terbaik untuk menyerang vonis tersebut. Fakta bahwa Easter lenyap seketika sudah merupakan alasan untuk curiga. Herman Grimes sudah setuju untuk memberikan catatan medisnya. Tidak ada bukti serangan jantung waktu itu. Ia bugar dan sehat sampai pagi itu. Ia ingat ada rasa aneh dalam kopinya, kemudian ia sudah tersungkur ke lantai. Kolonel Purnawirawan Herrera sudah memberikan affidavitpernyataan ter-653

tulis, bersumpah bahwa bacaan-bacaan tidak sah yang ditemukan di bawah ranjangnya tidak diletakkan di sana olehnya. Ia tidak mendapat kunjungan siapa pun. Mogul tidak dijual di mana pun dekat motel tersebut. Misteri di seputar vonis itu berpusar makin hebat setiap hari.

Para pengacara New York tersebut tidak tahu dan takkan pernah tahu mengenai kesepakatan dengan Marlee.

Cable sudah bersiap dan akan mengajukan mosi memohon izin untuk mewawancarai anggota juri. Gagasan ini tampaknya disukai oleh Hakim Harkin. Bagaimana lagi mereka bisa mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana? Lonnie Shaver yang paling ingin menceritakan seluruhnya. Ia mendapatkan promosi dan siap membela dunia bisnis Amerika.

Ada harapan untuk upaya-upaya pascasidang. Proses naik banding akan berlangsung lama dan sulit.

Sedangkan bagi Rohr dan kelompok pengacara yang mendanai kasus gugatan tersebut, masa depan dipenuhi dengan peluang tanpa batas. Sekelompok staf diorganisasikan hanya untuk menangani banjir telepon dari pengacara lain serta korban-korban potensial. Dipasang pula nomor telepon bernomor depan 800. Langkah-langkah kelompok dipertimbangkan.

Wall Street tampaknya lebih bersimpati kepada Rohr daripada kepada industri rokok. Dalam minggu-minggu sesudah vonis itu, harga saham Pynex tidak bisa naik lebih dari lima puluh, dan tiga lainnya turun sebesar dua puluh persen. Kelompok-kelompok antirokok meramalkan kebangkrutan, bahkan akhirnya kematian perusahaan-perusahaan rokok.

654

Enam minggu setelah meninggalkan Biloxi, Fitch makan siang seorang diri di restoran India yang kecil dekat Dupont Circle di D.C. Ia sedang menikmati sop pedas, masih memakai mantel, sebab salju sedang turun di luar, dan hawa di dalam sangat dingin.

Marlee muncul entah dari mana. datang begitu saja seperti malaikat, sama seperti ketika ia muncul di teras atas St. Regis di New Orleans, lebih dari dua bulan yang lalu. “Hai, Fitch,” ia menyapa, dan Fitch menjatuhkan sendoknya.

Ia memandang sekeliling restoran yang gelap itu, tidak melihat apa pun kecuali beberapa kelompok kecil orang India sedang mengelilingi mangkuk yang mengepulkan uap; tidak ada sepatah kata pun dalam bahasa Inggris terdengar dalam jarak dua belas meter.

“Apa yang kaukerjakan di sini?” tanyanya tanpa menggerakkan bibir. Wajah perempuan itu tertutup sebagian oleh bulu mantelnya. Fitch ingat bagaimana* cantiknya wajah itu. Rambutnya kelihatan lebih pendek.

“Sekadar mampir untuk mengucapkan halo.”

“Kau sudah mengucapkannya.”

“Uang itu kukembalikan padamu, saat kita bicara sekarang. Aku mentransfernya kembali ke rekeningmu di Hanwa, di Netherlands Antilles. Sepuluh juta seluruhnya, Fitch.”

Fitch tidak bisa memikirkan jawaban cepat untuk kata-kata ini. la sedang memandangi wajah cantik satu-satunya orang yang pernah mengalahkannya ini.

655

Dan wanita ini masih saja membuatnya menerka-nerka. “Kau sungguh baik hati,” katanya.

“Aku sudah mulai membagi-bagikannya, misalnya untuk kelompok-kelompok antirokok. Tapi kami memutuskan untuk membatalkannya.”

“Kami? Bagaimana kabar Nicholas?”

“Aku yakin kau merindukannya.”

“Luar biasa.”

“Dia baik-baik saja.”

“Jadi, kalian bersama-sama?”

“Tentu saja.”

“Tadinya kukira kau mengambil semua uang itu dan lari dari semua orang, termasuk dia.” “Ayolah, Fitch.”

“Aku tidak menginginkan uang itu.” “Bagus. Berikanlah pada American Lung Association.”

“Bukan begitu caraku memberi derma. Mengapa kau mengembalikan uang itu?” “Itu bukan milikku.”

“Jadi, kau sudah menemukan etika dan moral, bahkan mungkin Tuhan.”

“Jangan menguliahi. Fitch. Dari mulutmu, omongan itu terdengar hambar. Aku tidak pernah punya niat untuk menyimpan uang itu. Aku cuma ingin memin-jamnya.”

“Kalau kau mau berbohong dan menipu, mengapa tidak meneruskannya dan mencuri juga?”

“Aku bukan maling. Aku berbohong dan menipu sebab itulah yang dimengerti klienmu. Coba ceritakan padaku, Fitch, apakah kau menemukan Gabrielle?”

“Ya”

656

“Dan apakah kau menemukan orangtuanya?” “Kami tahu di mana mereka.” “Mengertikah kau sekarang. Fitch?” “Itu jadi masuk akal, ya.”

“Mereka berdua orang yang sangat baik. Mereka pmtar dan penuh semangat, serta mencintai hidup. Mereka berdua terjerat rokok ketika masih kuliah, dan aku menyaksikan mereka bergulat melepaskan kebiasaan itu, sampai meninggal. Mereka membenci diri sendiri karena merokok, tapi tak pernah bisa berhenti. Mereka meninggal dengan menyedihkan. Fitch. Aku menyaksikan mereka menderita dan me-layu, terengah mencari napas hingga tak bisa lagi bernapas. Aku anak tunggal mereka, Fitch. Apakah begundal-begundalmu tahu ini?”

“Ya.”

“Ibuku meninggal di rumah, di sofa ruang keluarga, sebab dia tak bisa berjalan ke kamarnya. Hanya Ibu dan aku.” Ia berhenti dan memandang berkeliling. Fitch melihat mata Marlee sangat jernih. Betapapun sedih mata itu, Fitch tak bisa mengerahkan sedikit pun perasaan simpati.

“Kapan kau mulai menjalankan rencana ini?” ia bertanya, akhirnya makan sesendok sup.

“Sejak kuliah. Aku belajar keuangan, berpikir-pikir untuk kuliah hukum, kemudian untuk beberapa lama aku berkencan dengan pengacara dan mendengar cerita-cerita tentang gugatan terhadap pabrik rokok. Gagasan itu berkembang.”

“Rencana yang luar biasa.”

“Terima kasih, Fitch. Karena berasal darimu. itu benar-benar pujian.”

657

Marlee menarik sarung tangannya lebih rapat, se-akan-akan ia siap untuk pergi. “Cuma ingin mengucapkan halo, Fitch. Dan untuk memastikan kau tahu mengapa ini terjadi.”

“Apa kau sudah selesai dengan kami?”

“Belum. Kami akan mengamati sidang banding itu dengan cermat, dan bila pengacara-pengacaramu terlalu bersemangat menyerang vonis itu, aku punya kopi transfer itu. Hati-hati, Fitch. Kami bangga dengan vonis itu, Jan kami selalu mengawasi.”

la berdiri di sisi meja. “Dan ingat. Fitch, lain kali kalian maju sidang, kami akan ada di sana.”

Tamat

0 Response to "The Runaway Jury IV"

Post a Comment