Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Runaway Jury III

Dan, sungguh mengerikan, tidak ada komputer.

Boleh dikata seluruh lantai, langit-langit, dan dinding apartemen tersebut sudah lenyap, tidak meninggalkan apa pun kecuali lubang mengangga.

“Ada yang luka?” Nicholas bertanya pelan.

‘Tidak. Apakah Anda ada di rumah?”

“Tidak. Siapa Anda?”

“Saya dari manajemen. Ada beberapa formulir yang perlu Anda isi.”

Mereka kembali ke serambi. Nicholas mengisi formulir-formulir tersebut dengan cepat, lalu pergi bersama Willis.

Dua Puluh Dua

Dalam pesan dengan kata-kata kasar yang nyaris tak bisa dibaca, Phillip Savelle menunjukkan kepada Hakim Harkin bahwa istilah “kunjungan suami-istri” atau dalam bahasa Inggris-nya “conjugar, menurut kamus Webster hanya terbatas untuk suami-istri; karena itu ia keberatan dengan istilah tersebut. Ia tidak punya istri, dan tidak begitu peduli dengan lembaga perkawinan. Ia mengusulkan untuk memakai istilah “communal interlude”, dan mengeluh panjang-lebar mengenai kebaktian yang diadakan tadi pagi. Ia mengirimkan surat itu per faks kepada Harkin, yang menerimanya di rumah ketika pertandingan The Saints sampai pada quarter ketiga. Lou Dell yang mengatur pengiriman faks itu di front desk. Dua puluh menit kemudian, ia menerima faks balasan dari Yang Mulia yang isinya mengganti istilah “conjugal atau suami-istri” menjadi “personal atau pribadi”, dan ia memberikan istilah “Kunjungan Pribadi”. Ia memerintahkan Lou Dell agar membuat kopi untuk semua anggota juri. Karena saat itu hari Minggu, ia bermalas-malasan satu jam lagi, mulai dari pukul enam hingga sepuluh, bukannya pukul sembilan. Kemudian ia

367

menelepon Lou Dell untuk. menanyakan, apa lagi yang diinginkan Mr. Savelle dan bagaimana suasana hati para juri itu pada umumnya.

Lou Dell tidak bisa menceritakan bahwa ia melihat Mr. Savelle telanjang dan bertengger di ranjangnya seperti itu. Ia pikir Pak Hakim sudah punya cukup banyak masalah untuk dipikirkan. Semuanya baik-baik, demikian ia meyakinkannya.

Hoppy adalah tamu pertama yang datang, dan Lou Dell cepat-cepat membawanya ke kamar Millie. Sekali lagi Hoppy memberikan cokelat dan karangan bunga kecil pada istrinya. Mereka saling mencium pipi sebentar, sama sekali tidak memikirkan untuk melakukan hubungan suami-istri, dan duduk-duduk di ranjang menonton acara 60 Minutes. Hoppy perlahan-lahan membawa percakapan itu ke seputar sidang, dan bergulat untuk mempertahankannya. “Kau tahu, tidak masuk akal kalau orang-orang menggugat seperti ini. Maksudku, ini konyol, sungguh. Semua orang tahu rokok menimbulkan kecanduan dan berbahaya. jadi mengapa mereka merokok? Ingat Boyd Dogan, 25 tahun dia merokok, dan berhenti begitu saja,” katanya sambil menjentikkan jari.

“Yeah, dia berhenti lima menit sesudah dokternya menemukan tumor di lidahnya,” Millie mengingatkannya, lalu menambahkan dengan jentikan jari mencemooh.

“Yeah, tapi banyak orang yang berhenti merokok. Ini masalah pengendahan diri. Tidaklah benar untuk terus merokok, lalu menuntut jutaan dolar sewaktu benda terkutuk itu membunuh.”

“Hoppy, jaga ucapanmu.”

“Maaf.” Hoppy bertanya mengenai anggota juri Iainnya dan reaksi mereka sejauh ini terhadap perkara yang diajukan oleh penggugat. Menurut Mr. Cristano, cara terbaik untuk memenangkan Millie adalah dengan kebaikan, bukan menterornya dengan kebenaran. Mereka membicarakan hai ini sambil makan siang. Hoppy merasa dirinya berkhianat karena menyusun rencana seperti itu terhadap istri sendiri, tapi setiap kali perasaan bersalah menusuknya, terbayang pula kemungkinan masuk ke penjara selama lima tahun.

Nicholas meninggalkan kamarnya di tengah pertandingan bola Minggu malam. Tidak ada anggota juri atau penjaga di koridor. Dari Ruang Pesta terdengar suara-suara laki-laki. Sekali lagi para pria minum bir dan menonton pertandingan bola, sementara para wanita menikmati kunjungan pribadi dan communal interlude mereka.

Ia menyelinap diam-diam melalui pintu kaca di ujung koridor, berbelok di pojok, melewati mesin-mesin minuman ringan, kemudian menaiki anak tangga ke lantai dua. Marlee sedang menunggu dalam kamar yang dibayarnya dengan uang tunai dan disewanya atas nama Elsa Broome, salah satu aliasnya.

Mereka langsung naik ranjang, dengan percakapan dan basa-basi minimum. Keduanya sepakat bahwa berpisah delapan malam berturut-turut bukan saja rekor bagi mereka, tapi juga tidak sehat.

Marlee bertemu dengan Nicholas ketika keduanya masih memakai nama lain. Tempat pertemuan mereka adalah bar di Lawrence, Kansas, tempat Marlee bekerja seoagai pelayan, sementara Nicholas meng—

369

368

habiskan malam-rrmlam panjang bersama teman-teman-nya dari Cakultas hukum. Marlee telah mengumpulkan dua gelar saat tinggal di Lawrence, dan karena tidak tertarik untuk mulai meniti karier, ia menimbang-nimbang untuk kuliah hukum, jurusan pascasarjana tanpa arah, yang digemari di Amerika. Ia tidak tergesa-gesa. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun sebelum ia berjumpa dengan Nicholas, dan Marlee mewarisi hampir 200.000 dolar. Ia jadi pelayan karena bar itu nyaman, sekaligus untuk mencari kesibukan. Pekerjaan itu membuatnya segar. Ia mengendarai Jaguar tua, memperhatikan keuangannya dengan ketat, dan hanya berkencan dengan mahasiswa hukum.

Mereka sudah saling tertarik jauh sebelum berkenalan. Nicholas datang larut malam bersama sekelompok kecil kawannya yang biasa, duduk di meja sudut, dan berdebat mengenai teori-teori hukum yang sangat menjemukan dan abstrak. Marlee membawakan bir dalam pitcher, dan mencoba main mata, tapi hasilnya tidak terlalu memuaskan. Pada tahun pertama, Nicholas sangat keranjingan dengan hukum dan tidak banyak menaruh perhatian pada wanita. Marlee bertanya-tanya dan akhirnya tahu bahwa Nicholas mahasiswa yang baik, nomor tiga teratas di kelasnya, tapi tidak ada apa pun yang luar biasa. Ia menyelesaikan tahun pertama dan kembali untuk tahun kedua. Marlee menggunting rambut dan menurunkan bobotnya sebanyak lima kilo, meskipun itu sebenarnya tidak perlu.

Nicholas lulus dari college dan melamar ke tiga puluh fakultas hukum. Sebelas menerimanya, meski

370

tak satu pun termasuk dalam sepuluh besar. Ia melempar koin dan pergi ke Lawrence, tempat yang belum pernah dilihatnya. Ia menemukan apartemen dua kamar yang menempel di belakang rumah tua yang hampir runtuh. Ia belajar keras dan tidak punya banyak waktu untuk kehidupan sosial, setidaknya selama dua semester pertama.

Pada musim panas sesudah tahun pertama, ia bekerja magang pada biro hukum besar di Kansas City, bertugas menyampaikan surat-surat internal dari lantai ke lantai dengan kereta dorong. Biro hukum itu punya tiga ratus pengacara di bawah satu atap, dan kerap kali tampaknya mereka semua hanya bekerja menangani satu sidang—menjadi pembela Smith Greer dalam kasus tembakau/kanker paru-paru yang disidangkan di Joplin. Sidang tersebut berlangsung selama lima minggu dan berakhir dengan kemenangan untuk tergugat. Sesudahnya, biro hukum itu mengadakan pesta yang dihadiri seribu orang. Desas-desus mengatakan bahwa perayaan itu menelan 80.000 dolar uang Smith Greer. Siapa peduli? Musim panas itu merupakan pengalaman yang menyebalkan.

la benci biro hukum besar itu, dan di tengah kuliah tahun kedua ia muak dengan hukum secara umum. Tidak mungkin baginya untuk menghabiskan lima tahun terkurung dalam bilik kerja serta menulis dan menulis ulang makalah yang sama, sehingga klien-klien kaya bisa dikecoh.

Kencan pertama adalah menghadiri pesta minum fakultas hukum sesudah pertandingan football. Musik-nya keras, birnya berlimpah, ganja dibagi-bagikan seperti permen. Mereka pulang lebih dini, sebab

371

Nicholas tidak suka kebisingan dan Marlee tidak suka bau daun cannabis. Mereka menyewa video dan memasak spageti di apartemen Marlee yang cukup luas dan berperabot bagus. Nicholas tidur di sofa.

Sebulan kemudian ia pindah ke sana dan untuk pertama kalinya menyinggung keinginannya untuk keluar dari sekolah hukum. Marlee sedang berpikir-pikir untuk mendaftar. Sementara kisah cinta mereka berkembang, minat Nicholas pada hal-hal akademis menghilang hingga ia hanya menyelesaikan ujian musim gugur. Mereka tergila-gila satu sama lain, dan tidak ada hai lain yang lebih penting. Plus, Marlee punya cukup uang, maka tidak ada tekanan. Mereka melewatkan Natal di Jamaika pada semester antara tahun kedua dan tahun terakhirnya di bangku kuliah.

Saat Nicholas berhenti, Marlee sudah tiga tahun tinggal di Lawrence, dan sudah siap untuk pindah lagi. Nicholas akan mengikutinya ke mana saja.

Marlee hanya bisa tahu sedikit mengenai kebakaran Minggu siang itu. Mereka mencurigai Fitch, tetapi tidak bisa menemukan alasannya. Satu-satunya aset yang cukup berharga adalah komputer tersebut, dan Nicholas yakin tak seorang pun bisa membongkar sistem pengamannya. Disket-disket yang penting sudah disimpan dalam lemari besi di kondominium Marlee. Keuntungan apa yang dapat Fitch peroleh dengan membakar apartemen butut? Mungkin intimidasi, tetapi itu tidak cocok. Petugas pemadam kebakaran melakukan pemeriksaan rutin. Tampaknya

372

kecil sekali kemungkinan ditemukan bahwa kebakaran itu disengaja.

Mereka sudah pernah tidur di tempat yang lebih baik daripada Siesta Inn, dan mereka pernah tidur di tempat yang lebih buruk. Dalam empat tahun mereka sudah tinggal di empat kota kecil, bepergian ke setengah lusin negara, menyaksikan sebagian besar Amerika Utara, menjelajah dengan ransel ke Alaska dan Meksiko, dua kali menjelajahi Colorado dengan perahu, dan satu kali di Amazon. Mereka juga mengikuti perkara gugatan terhadap perusahaan rokok, dan perjalanan itu memaksa mereka untuk tinggal di tempat-tempat seperti Broken Arrow, Allentown, dan sekarang Biloxi. Bersama-sama, mereka tahu lebih banyak tentang kandungan nikotin, karsinogen, peluang statistik mengidap kanker paru-paru, pemilihan dewan juri, taktik sidang, serta Rankin Fitch dibandingkan dengan pakar-pakar mahal mana pun.

Sesudah satu jam di bawah selimut, lampu menyala di samping ranjang dan Nicholas turun dengan rambut acak-acakan, mengambil pakaian. Marlee mengenakan pakaian dan mengintip halaman parkir dari balik tirai.

Tepat di bawah mereka, Hoppy sedang berusaha sebisa mungkin untuk memojokkan rahasia-rahasia yang dibongkar oleh Lawrence Krigler, kesaksian yang tampaknya cukup meninggalkan kesan pada Millie. Ia menyuapkannya pada Hoppy dalam dosis besar, dan terheran-heran oleh semangat suaminya untuk berdebat

Sekadar iseng, Marlee meninggalkan mobilnya ter—

373

parkir di jalan setengah blok dari kantor Wendall Rohr. Ia dan Nicholas beroperasi dengan asumsi bahwa Fitch mengikuti setiap gerakan yang dilakukannya. Rasanya lucu membayangkan Fitch menggeliat-geliat dengan gagasan bahwa ia ada di sana, dalam kantor Rohr, menemuinya berhadap-hadapan muka dan berembuk siapa tahu apa. Untuk kunjungan pribadi itu, Marlee datang dengan mobil sewaan, salah satu dari beberapa ‘yang dipakainya bulan terakhir ini.

Nicholas mendadak merasa jemu dengan kamar itu, replika yang sama dengan tempatnya dikurung. Mereka pergi bermobil di sepanjang Coast; Marlee mengemudi, ia meneguk bir. Mereka berjalan-jalan di dermaga di atas Gulf, dan berciuman sementara air bergelombang lembut di bawah mereka. Mereka bicara sedikit mengenai sidang itu.

Pukul sepuluh, Marlee keluar dari mobil sekitar dua blok dari kantor Rohr. Sewaktu ia berjalan cepat di sepanjang trotoar, Nicholas mengikuti dari dekat. Mobilnya diparkir sendirian. Joe Boy melihatnya masuk ke mobil itu dan menghubungi Konrad melalui radio. Sesudah Marlee pergi, Nicholas buru-buru kembali ke hotel dengan mobil sewaan tersebut.

Rohr sedang di tengah rapat dewan yang berlangsung seru, pertemuan harian antara delapan pengacara yang masing-masing sudah menyetor satu juta dolar. Pokok pembicaraan Minggu malam itu adalah jumlah saksi yang masih akan dipanggil oleh penggugat, dan seperti biasanya ada delapan pendapat berlainan mengenai apa yang akan dikerjakan selanjutnya. Hanya ada dua garis pemikiran, tetapi ada delapan

pendapat kuat dan berlainan mengenai tindakan apa yang paling efektif.

Termasuk tiga hari yang dihabiskan untuk memilih dewan juri, sidang itu kini sudah berlangsung tiga minggu. Besok minggu keempat akan mulai, dan pihak penggugat punya cukup pakar dan saksi lain untuk bicara selama sedikitnya dua minggu lagi. Cable punya pasukan pakarnya sendiri, meskipun lazimnya pada kasus-kasus seperti ini pihak pembela hanya memakai kurang dari setengah waktu yang dipakai oleh pihak penggugat. Enam minggu adalah prakiraan yang masuk masuk akal, yang berarti para anggota juri akan diasingkan selama hampir enam minggu, skenario yang meresahkan semua orang. Suatu ketika juri akan berontak, dan karena pihak penggugatlah yang memakai porsi terbesar waktu sidang itu, merekalah yang paling banyak menanggung kerugian. Tetapi di lain pihak, karena pihak pembela yang belakangan berbicara, dan para juri pada akhirnya sudah letih, mungkin racun para juri itu akan diarahkan pada Cable dan Pynex. Perdebatan ini berkobar selama satu jam.

Wood v. Pynex unik, sebab inilah pertama kalinya sidang perkara tembakau dengan juri dalam pengasingan. Bahkan, pertama kalinya dewan juri untuk kasus perdata diasingkan dalam sejarah negara bagian itu. Rohr berpendapat bahwa dewan juri itu sudah cukup mendengar. Ia hanya ingin memanggil dua saksi lagi, menyelesaikan argumentasi mereka Selasa siang, lalu beristirahat dan menunggu Cable. Ia di-dukung oleh Scotty Mangrum dari Dallas dan Andre Durond dari New Orleans. Jonathan Kotlack dari San Diego menginginkan tiga saksi lagi.

375

374

Pandangan yang berlawanan diajukan dengan keras oleh John Riley Milton dari Denver dan Rayner Lovelady dari Savannah. Karena mereka sudah menghabiskan begitu banyak uang untuk pakar-pakar ter-hebat di dunia, mengapa harus terburu-buru, demikian mereka berkilah. Masih ada kesaksian-kesaksian penting dari saksi-saksi terkemuka. Para anggota juri itu takkan pergi ke mana-mana. Sudah tentu mereka letih, tetapi bukankah setiap anggota juri mana pun mengalaminya? Jauh lebih aman untuk mempertahankan rencana semula dan membeberkan kasus ini dengan terperinci daripada melompat di tengah jalan karena beberapa anggota juri merasa bosan.

Carney Morrison dari Boston berulang-ulang mengemukakan laporan mingguan dari para konsultan juri. Juri ini tidak yakin! Menurut undang-undang Mississippi, dibutuhkan sembilan suara dari dua belas orang untuk mendapatkan vonis. Morrison yakin bahwa mereka belum mendapatkan sembilan suara. Rohr paling sedikit menaruh perhatian pada analisis terbaru mengenai cara bagaimana Jerry Ferandez menggosok mata, bagaimana Loreen Duke menggeser badan, dan bagaimana si tua Herman memutar lehernya ketika Dr. Ini dan Itu memberikan kesaksian. Terus terang, Rohr sudah muak dengan para pakar juri itu dan paling muak dengan besarnya uang yang mereka peroleh. Memang bantuan mereka diperlukan sewaktu memenksa calon juri yang potensial. Namun urusannya jauh berbeda bila mereka mengintai di mana saja selama persidangann, selalu bersemangat menyiapkan laporan hari an untuk memberitahu para pengacara itu bagaimana hasil persidangan tersebut.

376

Rohr bisa membaca sikap dewan juri jauh lebih baik daripada konsultan mana pun.

Arnold Levine dari Miami tidak banyak berbicara, sebab kelompok itu tahu bagaimana perasaannya. Dia pernah menangani perkara General Motors dalam sidang yang berlangsung selama sebelas bulan, jadi enam minggu hanyalah merupakan pemanasan baginya.

Tidak perlu ada undian dengan melempar uang logam bila jumlah suara di masing-masing pihak seimbang. Sudah disepakati jauh sebelum pemilihan juri bahwa ini adalah sidang Wendall Rohr, diajukan di daerah asalnya sendiri, dipertarungkan di dalam ruang sidangnya sendiri di depan hakim dan jurinya. Dewan pengacara penggugat ini adalah lembaga yang sampai taraf tertentu bersifat demokratis, namun Rohr mempunyai hak veto yang tidak bisa dikesam-pingkan.

Ia mengambil keputusan Minggu malam, dan harga diri beberapa orang jadi memar tetapi tidak mengalami kerusakan permanen. Terlalu banyak yang dipertaruhkan untuk bertengkar sendiri dan menebak-nebak.

377

Dua Puluh Tiga

Urusan pertama Senin pagi itu adalah rapat pribadi antara Hakim Harkin dan Nicholas; topiknya adalah kebakaran tersebut dan keselamatan diri Nicholas. Mereka berbicara berdua saja di ruang kerja Hakim. Nicholas meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja dan punya cukup banyak pakaian di motel untuk dicuci dan dipakai kembali. Ia cuma mahasiswa tanpa banyak harta, kecuali sebuah komputer canggih dan beberapa peralatan pengawasan yang mahal, yang semuanya tidak diasuransikan

Masalah kebakaran itu dengan cepat disisihkan, dan karena mereka hanya berdua. Harkin bertanya, “Jadi, bagaimana keadaan rekan-rekan Anda?” Bercakap-cakap off the record dengan salah satu anggota juri seperti ini bukanlah pelanggaran, namun jelas berada pada daerah kelabu dalam prosedur sidang. Praktek yang lebih baik adalah mengundang para pengacara agar hadir dan memerintahkan notulis mencatat setiap patah kata. Namun Harkin hanya ingin gosip beberapa menit. Ia bisa mempercayai

pemuda ini.

“Semuanya baik-baik,” jawab Nicholas.

378

‘Tidak ada yang luar biasa?” “Sejauh yang saya ketahui, tidak ada.” “Apakah kasus ini dibicarakan?” ‘Tidak. Bahkan, bila sedang bersama, kami berusaha menghindarinya.”

“Bagus. Ada pertengkaran atau percekcokan?” “Belum.”

“Makanannya oke?” “Makanannya baik.” “Cukup kunjungan pribadi?” “Saya rasa begitu. Saya belum mendengar keluhan.”

Harkin ingin sekali mengetahui apakah ada yang main-main di antara para anggota juri, meskipun itu tidak memiliki arti apa-apa dari segi hukum. Ia cuma punya pikiran jorok. “Bagus. Beritahu saya kalau ada masalah. Dan simpan semua ini untuk diri sendiri.”

‘Tentu,” kata Nicholas. Mereka berjabat tangan, lalu ia berlalu.

Harkin menyapa jurinya dengan hangat dan mengucapkan selamat datang kembali seminggu lagi. Mereka tampak bersemangat untuk bekerja dan menyelesaikan cobaan ini.

Rohr berdiri dan memanggil Leon Robilio sebagai saksi selanjutnya, dan para pemain mulai menggarap pekerjaan masing-masing. Leon dibawa dari pintu samping ke dalam ruang sidang. Ia berjalan hati-hati di depan meja hakim, menuju podium saksi, tempat deputi membantunya duduk. Ia sudah tua dan pucat, memakai setelan jas hitam, kemeja putih, tanpa dasi. Di lehernya ada lubang, sayatan yang ditutup dengan

379

perban putih tipis dan disamarkan dengan kain linen putih yang dililitkan pada leher. Ketika bersumpah untuk memberikan kesaksian sejujurnya, ia melakukannya dengan memegang mikrofon kecil seperti pensil ke dekat lehernya. Kata-katanya datar, ucapan monoton tanpa nada dari korban kanker tenggorokan yang tidak memiliki larynx.

Akan tetapi, kata-katanya bisa didengar dan dimengerti. Mr. Robilio memegang mikrofon itu dekat ke tenggorokan dan suaranya bergenia ke seluruh penjuru ruang sidang. Beginilah cara ia berbicara, sungguh terkutuk, dan ini dilakukannya setiap hari sepanjang hidupnya. Ia ingin ucapannya dimengerti.

Rohr cepat-cepat masuk ke pokok persoalan. Mr. Robilio berusia 64 tahun, selamat dari kanker, tapi kehilangan pita suaranya delapan tahun yang lalu dan belajar berbicara melalui esofagusnya. Selama hampir empat puluh tahun ia menjadi perokok berat, dan kebiasaan ini hampir saja membunuhnya. Kini, di samping akibat lanjutan dari kanker tersebut, ia menderita penyakit jantung dan emfisema. Semua itu karena rokok.

Para pendengarnya dengan cepat menyesuaikan diri dengan suaranya yang sudah diperkuat dengan peralatan dan berbunyi seperti robot. Ia merebut perhatian mereka ketika menceritakan bahwa selama dua dasawarsa ia mencari nafkah sebagai pelobi bagi industri tembakau. Ia berhenti bekerja ketika menderita kanker, dan menyadari bahwa meski terkena penyakit itu. ia tetap tak bisa berhenti merokok Ia kecanduan, secara fisik dan psikologis tergantung pada nikotin dalam rokok. Selama dua tahun sesudah

380

pangkal tenggorokannya dibuang dan kemoterapi merusak tubuhnya, ia masih terus merokok. Ia akhirnya berhenti setelah serangan jantung yang hampir me-renggut nyawa.

Meskipun kondisi kesehatannya buruk, ia masih bekerja penuh di Washington, namun kini di pihak yang berlawanan. Ia punya reputasi sebagai aktivis antirokok yang teguh. Beberapa orang menyebutnya gerilyawan.

Dalam masa hidupnya dulu, ia bekerja di Tobacco Focus Council. “Yang sebenarnya tidak lebih dari lembaga pelobi yang sepenuhnya didanai oleh industri tersebut,” katanya dengan menghina. “Misi kami adalah memberikan informasi kepada perusahaan-perusahaan rokok mengenai perundang-undangan terbaru dan upaya untuk mengaturnya. Kami memiliki anggaran besar dengan uang tak terbatas untuk menjamu politisi-politisi berpengaruh. Kami mengha-lalkan segala cara, dan kami mengajari organisasi-organisasi penentang rokok tentang seluk-beluk pertarungan politik.”

Di dalam Council tersebut, Robilio memiliki akses pada berbagai penelitian rokok dan industri tembakau. Bahkan sebagian dari misi Council itu adalah meng-asimilasikan semua penelitian, proyek, dan eksperimen yang pernah dikenal. Ya, Robilio sudah melihat memo menghebohkan mengenai nikotin yang diuraikan Krigler. Ia sudah melihatnya berkali-kali, meskipun tak pernah menyimpan kopinya. Dewan itu tahu benar bahwa semua perusahaan rokok sengaja memasukkan nikotin kadar tinggi dalam produk mereka untuk menjamin ketergantungan.

381

Robilio berulang-ulang menyebut kata “kecanduan”. Ia pernah melihat penelitian yang dibiayai oleh perusahaan-perusahaan rokok, yang menunjukkan bahwa segala macam binatang dengan cepat kecanduan rokok karena kandungan nikotinnya. Ia sudah melihat dan membantu menyembunyikan penehtian-penehtian yang membuktikan dengan pasti bahwa begitu para remaja tergaet oleh rokok, jumlah mereka yang berhasil menyingkirkan kebiasaan tersebut jauh lebih rendah. Mereka menjadi pelanggan seumur hidup.

Rohr mengeluarkan kardus berisi laporan-laporan tebal untuk diidentifikasi oleh Robilio. Penelitian-pe-nelitian tersebut diajukan sebagai bukti, seolah-olah para anggota juri mau membaca dokumen sepanjang sepuluh ribu halaman itu sebelum mengambil keputusan.

Robilio menyesali banyak hai yang pemah dilakukannya sebagai pelobi, namun dosanya yang paling besar, yang setiap hari menghantuinya, adalah sanggahan-sanggahan yang disusunnya dengan indah, menyatakan bahwa industri tersebut tidak membidik remaja sebagai sasaran iklannya. “Nikotin menimbulkan kecanduan. Kecanduan berarti Iaba. Kelangsungan hidup industri rokok tergantung pada setiap generasi baru yang memiliki kebiasaan ini. Anak-anak menerima pesan campur aduk melalui iklan. Industri ini menghabiskan miliaran dolar untuk menggambarkan rokok sebagai sesuatu yang bergaya dan glamor, bahkan tidak membahayakan. Anak-anak lebih mudah terbujuk, dan tercengkeram lebih lama. Jadi, merayu orang-orang muda merupakan keharusan.” Robilio berhasil mengungkapkan kepahitan melalui suara buat-382

annya. Ia menunjukkan sikap mencemooh ke meja pembela, sambil memandang hangat kepada juri.

“Kami menghabiskan berjuta-juta dolar untuk meneliti anak-anak muda. Kami tahu mereka bisa menyebutkan tiga merek rokok yang paling banyak diiklankan. Kami tahu bahwa hampir sembilan puluh persen dari anak-anak di bawah delapan belas tahun yang merokok, lebih menyukai tiga merek yang paling gencar diiklankan. Jadi, apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan itu? Mereka meningkatkan iklan mereka.”

“Apakah Anda tahu berapa banyak uang yang didapat oleh perusahaan-perusahaan tersebut dari penjualan rokok pada anak-anak?” Rohr bertanya, yakin atas jawabannya.

“Sekitar 200 juta dolar setahun. Dan itu adalah angka penjualan kepada anak-anak berusia delapan belas tahun ke bawah. Tentu saja kami tahu. Kami menelitinya setiap tahun, terus mengisi komputer kami dengan data. Kami tahu segalanya.” Ia diam dan melambaikan tangan kanannya ke meja pembela, mencemooh, seolah-olah meja itu dikelilingi oleh para penderita kusta. “Mereka masih tahu itu. Mereka tahu bahwa tiga ribu anak mulai merokok setiap hari, dan mereka bisa memberi angka perbandingan setepatnya dari merek-merek yang mereka beli. Mereka tahu sebenamya semua perokok dewasa memulai kebiasaannya pada saat remaja. Sekali lagi, mereka ” harus menjerat generasi berikutnya. Mereka tahu bahwa sepertiga dari tiga ribu anak yang mulai merokok hari ini, akhirnya akan mati karena kecanduan”

383

Juri terpikat pada Robilio. Sesaat Rohr membalik beberapa halaman bukunya, sehingga drama itu tidak terburu-buru selesai. Ia mundur beberapa langkah dan maju ke belakang mimbar, seolah-olah otot kakinya perlu dilemaskan. Ia menggaruk dagu, memandang ke langit-langit. lalu bertanya, “Ketika Anda masih bersama Tobacco Focus Council, bagaimana Anda membalas argumen bahwa nikotin menyebabkan kecanduan?”

“Perusahaan-perusahaan rokok punya garis kebijaksanaan bersama; saya membantu merumuskannya. Bunyinya kurang-lebih seperti ini: Para perokok memilih kebiasaan tersebut. Jadi, ini soal pilihan Rokok tidak menimbulkan kecanduan, tapi, hei, meskipun seandainya benar demikian, tidak ada yang memaksa siapa pun untuk merokok. Semua ini masalah pilihan bebas.

“Dulu saya bisa membuat dalih ini benar-benar terdengar bagus. Sekarang pun mereka bisa membuatnya terdengar bagus. Masalahnya, itu tidak benar.”

“Mengapa tidak?”

“Sebab pokok persoalannya adalah ketergantungan, dan orang yang kecanduan tidak bisa memilih. Dan anak-anak jadi kecanduan lebih cepat daripada orang dewasa.”

Sekali ini Rohr menghindari dorongan hati untuk bicara berlebihan. Robilio efisien dengan kata-katanya, ketegangan untuk mengemukakan pendapat dengan jelas dan bisa didengar, membuatnya letih setelah” satu setengah jam. Rohr menyerahkannya pada Cable untuk pemeriksaan silang, dan Hakim Harkin mengumumkan rehat minum kopi.

Hoppy Dupree datang ke sidang untuk pertama kalinya Senin pagi, menyelinap ke dalam ruang sidang di tengah kesaksian Robilio. Millie menangkap pandangan matanya dan merasa gembira suaminya mau mampir. Namun minat Hoppy yang mendadak timbul terhadap sidang ini terasa ganjil. Selama empat jam tadi malam ia tidak membicarakan hai lain.

Sesudah rehat kopi selama dua puluh menit, Cable melangkah ke podium dan merobek-robek Robilio. Suaranya melengking, nyaris kejam, seolah-olah ia memandang saksi itu sebagai pengkhianat dalam urusan ini. Cable langsung mencetak angka dengan mengungkapkan bahwa Robilio dibayar untuk memberikan kesaksian tersebut, dan ia sengaja mencari pengacara di pihak penggugat. Ia juga sudah menerima uang muka untuk dua kasus tembakau lainnya.

“Ya, di sini saya dibayar, Mr. Cable, sama seperti Anda,” kata Robilio, memberikan balasan khas seorang ahli. Akan tetapi, faktor uang itu sedikit menodai karakternya.

Cable mendesaknya untuk mengaku bahwa ia mulai merokok ketika hampir berusia 25 tahun, sudah menikah, dengan dua anak, sama sekali bukan remaja yang bisa dirayu oleh kelicinan iklan Madison Avenue. Robilio gampang naik darah, fakta yang telah terbukti bagi semua pengacara itu dalam kesaksian maraton selama dua hari lima bulan sebelumnya, dan Cable bertekad untuk memanfaatkan hai ini. Pertanyaan-pertanyaannya tajam, cepat, dan dirancang untuk memancing kegusaran.

“Berapa anak Anda?” tanya Cable.

385

384

‘Tiga.”

“Apakah ada di antara mereka yang pernah merokok secara teratur?” “Ya.”

“Berapa orang?” “Tiga.”

“Berapakah umur mereka ketika mulai?” “Berlain-lainan.” “Pukul rata?” “Menjelang dua puluhan.”

“Iklan manakah yang Anda persalahkan membuat mereka kecanduan rokok?” “Saya tidak ingat pasti.”

“Anda bisa mengatakan kepada juri, iklan manakah yang bertanggung jawab membuat anak Anda sendiri kecanduan rokok?”

“Begitu banyak iklan waktu itu. Sekarang pun masih demikian. Mustahil menunjuk satu atau dua atau lima yang berhasil menjerat.”

“Jadi, itu gara-gara iklan?”

“Saya yakin iklan-iklan tersebut efektif. Masih.”

“Jadi, itu kesalahan orang lain?”

“Saya tidak mendorong mereka untuk merokok.”

“Anda yakin? Anda mengatakan kepada juri ini bahwa anak-anak Anda sendiri, anak dari orang yang pekerjaannya selama dua puluh tahun adalah mendorong agar seluruh dunia merokok, mulai merokok karena iklan yang licik?”

“Saya yakin iklan-iklan itu membantu. Untuk itulah iklan dirancang.”

“Apakah Anda merokok di rumah, di depan anak-anak Anda?”

386

“Ya.”

Tstri Anda?” “Ya.”

“Apakah Anda pernah melarang tamu Anda merokok di rumah Anda?” ‘Tidak. Tidak waktu itu.”

“Kalau begitu, bisa diasumsikan bahwa lingkungan rumah Anda ramah terhadap perokok?” “Ya. Waktu itu.”

‘Tetapi anak-anak Anda mulai merokok karena iklan yang licik? Itukah yang Anda katakan kepada juri ini?”

Robilio menarik napas dalam-dalam, menghitung perlahan-lahan sampai lima, lalu berkata, “Saya berharap banyak hai tertentu tidak terjadi. Mr. Cable. Saya menyesali awal saya terjerat rokok pertama.”

“Apakah anak-anak Anda berhenti merokok?”

“Dua di antara mereka. Dengan susah payah. Vang ketiga sudah sepuluh tahun ini mencoba berhenti.”

Cable mengajukan pertanyaan terakhir ini karena dorongan hati, dan sesaat menyesalinya. Saat untuk melanjutkan. Ia mengganti pokok pembicaraan. “Mr. Robilio, apakah Anda tahu usaha-usaha yang dilakukan oleh industri rokok untuk mengekang para remaja agar tidak merokok?”

Robilio tertawa, yang kedengaran seperti suara berkumur ketika diperkuat oleh mikrofon kecilnya. “Tidak ada usaha serius,” katanya.

“Empat puluh juta dolar tahun lalu untuk Smoke Free Kids?”

“Kedengarannya begitu. Memberi kesan hangat dan penuh perhatian, bukan?”

387

“Apakah Anda tahu bahwa industri ini tercatat mendukung undang-undang yang membatasi mesin otomat penjual rokok di daerah tempat anak-anak berkumpul?”

“Rasanya saya pernah mendengar tentang hai itu. Kedengarannya bagus, bukan?”

“Apakah Anda tahu bahwa industri ini tahun lalu menyumbangkan sepuluh juta dolar ke California untuk program taman kanak-kanak, untuk memperingatkan anak-anak agar tidak merokok di bawah umur?”

‘Tidak. Bagaimana dengan merokok sesudah cukup umur? Apakah mereka memberitahu anak-anak kecil itu bahwa boleh-boleh saja merokok sesudah ulang tahun mereka yang kedelapan belas? Mungkin saja.”

Cable punya checklist, dan kelihatannya puas memberondongkan pertanyaan-pertanyaan tersebut tanpa menghiraukan jawabannya.

“Apakah Anda tahu bahwa di Texas, industri ini mendukung undang-undang larangan merokok di dalam semua restoran fast food, tempat-tempat yang kerap dikunjungi remaja?”

“Yeah, dan tahukah Anda mengapa mereka melakukan hal-hal seperti itu? Akan saya katakan sebabnya. Agar mereka bisa membayar orang-orang seperti Anda untuk mengatakan semua hai tadi kepada juri. Itulah alasan satu-satunya—kedengarannya bagus dalam sidang.”

“Apakah Anda tahu bahwa industri ini tercatat mendukung undang-undang yang menetapkan sanksi pidana terhadap toko-toko yang menjual produk tembakau kepada anak-anak9”

388

“Yeah. Saya rasa saya juga sudah dengar yang itu. Itu semacam kedok. Mereka membagikan beberapa dolar di sini dan di sana untuk bersolek, merias muka, dan membeli kehormatan. Mereka melakukan hai ini karena mereka tahu yang sebenarnya, yaitu bahwa iklan senilai dua miliar dolar setahun akan menjamin ketergantungan generasi berikutnya terhadap tembakau. Dan Anda tolol bila tidak mempercayai hai ini.”

Hakim Harkin mencondongkan badan ke depan. “Mr. Robilio, ucapan tadi tidak senonoh. Jangan diulangi lagi. Saya ingin kata-kata tadi dicoret dari catatan.”

“Maaf, Yang Mulia. Dan maaf untuk Anda, Mr. Cable. Anda hanya melaksanakan tugas. Klien Anda-lah yang tidak saya sukai.”

Cable terlempar ke luar jalur. Dengan lemah ia mengucapkan, “Mengapa?” dan langsung berharap ia tetap tutup mulut.

“Sebab mereka begitu licik. Orang-orang perusahaan rokok ini pintar, cerdas, terdidik, tak kenal kasihan. Mereka bisa menatap Anda dan mengatakan dengan sungguh-sungguh bahwa rokok tidak mengakibatkan ketergantungan. Dan mereka tahu bahwa itu merupakan kebohongan.”

‘Tidak ada pertanyaan lagi,” kata Cable, di tengah jalan ke mejanya

Gardner adalah kota kecil berpenduduk 18 juta jiwa, terpisah satu jam perjalanan dari Lubbock. Pamela Blanchard tinggal di bagian lama kota tersebut. dua blok dari Main Street, di rumah yang

389

dibangun pada permulaan abad ini dan sudah dire-novasi dengan bagus. Pohon-pohon maple merah cerah dan keemasan menutupi halaman depannya. Anak-anak menjelajahi jalanan dengan sepeda dan skateboard.

Pukul sepuluh hari Senin, Fitch sudah mengetahui hal-hal berikut ini: Pamela menikah dengan direktur bank lokal, laki-laki yang pernah satu kali menikah dan istrinya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Ia bukan ayah Nicholas Easter atau Jeff atau entah siapa namanya. Bank itu nyaris bangkrut saat terjadi krisis minyak pada awal dasawarsa delapan puluhan, dan masih banyak penduduk setempat yang takut memakainya. Suami Pamela asli berasal dari kota itu. Ia sendiri tidak. Ia mungkin berasal dari Lubbock, atau mungkin Amarillo. Mereka menikah di Meksiko delapan tahun yang lalu, dan mingguan lokal hampir tidak mencatatnya. Tidak ada foto pernikahan. Cuma pengumuman di samping kolom obituari yang menyatakan bahwa N. Forrest Blanchard, Jr., telah menikah dengan Pamela Kerr. Sesudah bulan madu singkat di Cozumel, mereka tinggal di Gardner.

Sumber terbaik di kota itu adalah detektif swasta bernama Rafe yang pernah menjadi polisi selama dua puluh tahun dan menyatakan kenal dengan semua orang. Rafe, sesudah menerima uang panjar tunai dalam jumlah besar, bekerja tanpa tidur sepanjang malam Senin. Tanpa tidur, tetapi dengan bourbon melimpah, dan menjelang fajar ia sudah bau asam. Dante dan Joe Boy bekerja di sampingnya, di dalam kantornya yang pengap berantakan di Main Street, dan berulang-ulang menolak tawaran wiski darinya.

390

Rafe bicara dengan setiap polisi di Gardner, dan akhirnya menemukan satu orang yang bisa bicara dengan perempuan di seberang rumah keluarga Blanchard. Kena. Pamela punya dua anak laki-laki dari perkawinan sebelumnya; perkawinan tersebut berakhir dengan perceraian. Ia tidak banyak bicara tentang kedua anaknya, tapi yang satu ada di Alaska dan satu lagi pengacara, atau sedang belajar untuk menjadi ahli hukum. Seperti itulah.

Karena tak satu pun dari kedua putranya itu besar di Gardner, jejak itu pun langsung kabur. Tak seorang pun kenal mereka. Bahkan Rafe tak bisa menemukan seorang pun yang pernah melihat putra Pamela. Kemudian Rafe menelepon pengacaranya, spesialis perkara perceraian yang secara rutin memakai jasa penyelidikan primitif Rafe; pengacara itu kenal sekretaris di bank Mr. Blanchard. Sekretaris itu berbicara dengan sekretaris pribadi Mr. Blanchard, dan terungkaplah bahwa Pamela bukan berasal dari Lubbock atau Amarillo. melainkan dari Austin. Ia bekerja di sana pada asosiasi bankir, dan demikianlah ia bertemu dengan Mr. Blanchard. Sekretaris tersebut tahu tentang perkawinannya yang terdahulu, dan berpendapat bahwa itu sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu. Tidak, ia tidak pernah melihat putra Pamela. Mr. Blanchard tidak pernah membicarakan mereka. Pasangan itu hidup tenang dan hampir tidak pernah menerima tamu.

Fitch setiap jam menerima laporan dari Dante dan Joe Boy. Senin menjelang siang, ia menelepon kenal-annya di Austin, laki-laki yang pernah bekerja sama dengannya dalam sidang perkara tembakau di Mar—

391

shall, Texas. Ini urusan darurat, Fitch menjelaskan. Dalam beberapa menit, selusin penyelidik sudah meneliti buku telepon dan menelepon kian-kemari Tak lama kemudian, anjing-anjing pelacak itu mengendus jejak.

Pamela Kerr pernah menjadi sekretaris eksekutif pada Texas Bankers Association di Austin. Satu telepon menunjuk pada benkutnya, dan seorang man-tan rekan kerjanya ditemukan bekerja sebagai guru pembimbing pada sekolah swasta. Dengan memakai dalih bahwa Pamela adalah calon anggota juri sidang pembunuhan di Lubbock, si detektif menjelaskan dirinya sebagai asisten jaksa yang mencoba mengumpulkan informasi legal mengenai para calon anggota juri. Rekan kerja itu merasa wajib menjawab beberapa pertanyaan, meskipun sudah bertahun-tahun tidak pernah berjumpa atau berbicara dengan Pamela.

Pamela punya dua anak laki-laki, Jeff dan Alex. Alex dua tahun lebih tua daripada Jeff, dan sudah lulus dari high school di Austin, lalu berkelana ke Oregon. Jeff juga lulus high school di Austin dengan prestasi tinggi, lalu masuk ke college di Rice. Ayah mereka meninggalkan keluarga tersebut ketika mereka masih kanak-kanak, dan Pamela benar-benar hebat sebagai orangtua tunggal.

Dante, baru saja turun dari jet pribadi. mengikuti seorang penyelidik ke high school itu. Mereka dipersilakan membongkar buku tahunan lama di perpustakaan. Foto senior Jeff Kerr pada tahun 1985 itu berwarna—tuksedo biru, dasi lebar warna biru, rambut pendek, wajah serius menatap lurus ke kamera, wajah yang >.udah berjam-jam dipelajari

392

Dante di Biloxi Tanpa ragu ia berkata, “Inilah orangnya,” kemudian diam-diam menyobek halaman tersebut dari buku tahunan itu”. Dengan telepon genggam. ia langsung menelepon Fitch di antara rak-rak buku.

Tiga telepon ke Rice mengungkapkan bahwa Jeff Kerr lulus dari sana pada tahun 1989 dengan gelar sarjana psikologi. Berpura-pura sebagai wakil dari calon majikan, si penelepon berbicara dengan seorang profesor ilmu politik di Rice yang pernah mengajar dan ingat pada Kerr. Ia mengatakan pemuda itu kuliah hukum di Kansas.

Dengan jaminan uang tunai dalam jumlah besar, melalui telepon Fitch menemukan biro keamanan yang bersedia menyisihkan pekerjaannya saat itu dan mulai menyelidiki Lawrence, Kansas, untuk mencari jejak Jeff Kerr

Śp

Bagi seseorang yang biasanya begitu ceria, Nicholas agak murung saat makan siang. Ia tidak mcngucap kan sepatah kata pun sewaktu makan kentang bakar dari O’Reilly’s. Ia menghindari tatapan mata orang lain dan tampak sedih.

Suasana hati itu dirasakan oleh yang lain. Suara Leon Robilio melekat pada benak mereka, suara robot pengganti suara asli yang hilang karena rokok, suara robot yang mengungkapkan kebusukan yang dulu ikut ditutup-tutupi Robilio Suara itu masih berdering di telinga mereka. Tiga ribu anak setiap hari, sepertiganya meninggal karena kecanduan rokok. Harus menjerat generasi berikutnya!

Loreen Duke mencoba makan salad ayamnya. I a

393

memandang Jerry Fernandez di seberang meja, dan berkata, “Boleh aku tanya sesuatu?” Suaranya memecahkan kesunyian yang mencekam.

“Tentu,” kata Jerry.

“Unwr berapa kau mulai merokok?”

“Empat belas.”

“Mengapa kau mulai?”

“The Marlboro Man. Semua teman sepergaulanku merokok Marlboro. Kami anak-anak desa, menyukai kuda dan rodeo. Daya tarik Marlboro Man itu terlalu kuat.”

Pada saat itu, setiap anggota juri langsung bisa membayangkan papan-papan iklannya—wajah yang kera.s, dagunya. topinya, kudanya, kulit yang sudah aus, mungkin gunung dan saljunya, kebebasan dalam menyalakan sebatang Marlboro di tengah kesendirian-nya. Tidak heran bocah umur empat belas tahun pun ingin menjadi .Marlboro Man.

“Apakah kau kecanduan?” tanya Rikki Coleman, main-main dengan piringnya yang berisi selada air tanpa lemak dan kalkun rebus. Kata “kecanduan” itu bergulir dari lidahnya, seolah-olah mereka sedang berbincang mengenai heroin.

Jerry berpikir sebentar dan menyadari bahwa rekan-rekannya sedang mendengarkan. Mereka ingin tahu, dorongan kuat apa yang membuat orang terns terjerat.

“Entahlah,” katanya. “Kurasa aku bisa berhenti. Aku iudah mencoba beberapa kali. Sudah tentu akan menyenangkan bila berhenti. Kebiasaan ini sungguh jelek “

“Kau tidak menikmatinya?” tanya Rikki.

394

“Oh, di saat-saat tertentu ketika rokok memberikan kenikmatan, tapi sekarang aku mengisap dua bungkus sehari dan itu terlalu banyak “

“Bagaimana denganmu, Angel?” Loreen menanyai Angel Weese, yang duduk di sampingnya, dan seperti biasanya berbicara sesedikit mungkin. “Berapa umur-mu ketika kau mulai?”

‘Tiga belas,” kata Angel, malu.

“Aku umur enam belas,” Sylvia Taylor-Tatum mengaku sebelum yang lain sempat bertanya.

“Aku mulai ketika berusia empat belas tahun,” ujar Herman dari ujung meja, berusaha melakukan percakapan. “Berhenti ketika umur empat puluh.”

“Ada yang lainnya?” Rikki bertanya, menyelesaikan pengakuan itu.

“Aku mulai umur tujuh belas,” kata sang kolonel* “Ketika aku bergabung ke dalam Angkatan Bersenjata. Tapi kutendang kebiasaan itu tiga puluh tahun yang lalu.” Seperti biasa, ia bangga dengan disiplin pribadi ny a.

“Yang lainnya lagi?” Rikki kembali bertanya, sesudah jeda panjang.

“Aku. Aku mulai ketika umur tujuh belas dan berhenti dua tahun kemudian,” kata Nicholas, meskipun itu tidak benar.

“Apakah di sini ada yang mulai merokok sesudah umur delapan belas?” Loreen bertanya.

Tak ada sepatah sahutan pun.

Nitchman, dengan berpakaian biasa, menemui Hoppy untuk makan sandwich bersama. Hoppy cemas kalau dilihat di depan umum bersama agen FBI, karenanya

395

ia cukup Iega ketika Nitchman muncul mengenakan jeans dan kemeja kotak-kotak. Bukan berarti teman-teman dan kenalan Hoppy di kota itu bisa langsung mengenali anggota FBI, tapi bagaimanapun ia tetap gelisah. Di samping itu, Nitchman dan Napier berasal dari unit khusus di Atlanta, begitulah kata mereka pada Hoppy.

Ia menceritakan apa yang didengarnya dalam sidang pagi tadi, mengatakan bahwa Robilio yang tak punya suara itu meninggalkan kesan cukup mendalam dan tampaknya sudah mengantongi simpati juri. Nitchman, bukan untuk pertama kalinya, menyatakan tidak begitu tertarik pada sidang itu, dan sekali lagi menjelaskan bahwa ia hanya mengerjakan apa yang diperintahkan bosnya di Washington. Ia menyerahkan sehelai kertas terlipat pada Hoppy, putih polos dengan angka-angka dan huruf-huruf kecil bertebaran di bagian atas dan bawah, dan mengatakan bahwa ini baru saja diterima dari Cristano di Departemen Kehakiman. Mereka ingin Hoppy melihatnya.

Kertas itu sebenarnya buatan orang-orang Fitch di bagian dokumen, dua orang pensiunan CIA yang hilir-mudik di D.C., menikmati kenakalan kecil tersebut.

Itu adalah kopi faks laporan mengenai Leon Robilio yang tampak menyeramkan. Tanpa mencantumkan sumbernya, tanpa tanggal, hanya empat alinea di bawah judul MEMO RAHASIA. Hoppy membacanya dengan cepat, sambil mengunyah kentang goreng. Robilio dibayar setengah juta dolar untuk memberikan kesaksian itu. Robilio pernah dipecat dari Tobacco Focus Council karena menggelapkan dana; pernah

396

diperkarakan, meskipun akhirnya tuduhan-tuduhan itu dicabut. Robilio punya catatan pernah mengalami masalah psikis. Robilio pernah melakukan pelecehan seksual terhadap dua sekretaris di Council itu. Kanker tenggorokan Robilio mungkin disebabkan oleh kebiasaannya menenggak alkohol, bukan karena tembakau. Robilio adalah pembohong terkenal yang membenci Tobacco Council dan berjuang keras untuk membalas dendam.

“Wah,” kata Hoppy, menganga memperlihatkan kentang semulut penuh.

“Menurut pendapat Mr. Cristano, kau harus menyelundupkan ini ke istrimu,” kata Nitchman. “Dia hanya boleh memperlihatkannya pada anggota juri lainnya yang bisa dipercaya.”

“Benar,” kata Hoppy, cepat-cepat melipat dan menjejalkannya ke dalam saku. Ia melihat sekeliling ruang makan yang penuh sesak itu, seakan-akan ia benar-benar bersalah mengenai sesuatu.

Dengan meneliti buku tahunan sekolah hukum dan catatan terbatas yang bisa diberikan fakultas tersebut, diketahui bahwa Jeff Kerr mendaftar sebagai mahasiswa fakultas hukum tahun pertama di Kansas pada musim gugur tahun 1989. Wajahnya yang tanpa senyum muncul bersama kelas tahun kedua pada tahun 1991, tapi sesudah itu tidak ada jejak apa pun darinya. Ia tidak menerima gelar sarjana hukum.

Pada tahun kedua, ia main rugbi memperkuat regu fakultas hukum. Sebuah foto tim tersebut memperlihatkannya bergandengan dengan dua rekannya—Michael Dale dan Tom Ratliff—keduanya lulus

397

pada tahun benkutnya. Dale bekerja untuk Legal Services di Des Moines. Ratliff adalah associate pada biro hukum di Wichita. Penyelidik dikirim ke dua tempat itu.

Dante tiba di Lawrence dan dibawa ke kampus sekolah hukum itu. Ia mengkonfirmasikan identitas Kerr dalam buku tahunan tersebut. Ia menghabiskan satu jam untuk mengamati wajah-wajah dari tahun 1985 hingga 1994, dan tidak melihat satu pun wanita yang mirip dengan perempuan bernama Marlee itu. Ini adalah langkah untung-untungan, tembakan dalam gelap. Banyak mahasiswa hukum tidak ikut serta berfoto. Buku tahunan adalah untuk mahasiswa-mahasiswi baru. Ini adalah orang-orang dewasa yang serius. Namun pekerjaan Dante memang hanya usaha untung-untungan.

Senin siang, penyelidik bernama Small menemukan Tom Ratliff yang sedang bekerja keras di kantornya yang tak berjendela di Wise & Watkins, biro hukum besar di pusat kota Wichita. Mereka setuju untuk bertemu di bar, satu jam kemudian.

Small bicara dengan Fitch dan mengumpulkan latar belakangnya sebanyak mungkin, atau sebanyak yang diberikan Fitch kepadanya. Small mantan polisi dengan dua mantan istri. Jabatan yang disandangnya adalah security specialist, yang di Lawrence berarti mengerjakan segala hai mulai dari mengawasi motel sampai pemeriksaan polygraph. Ia bukan orang cer-das, dan Fitch langsung menyadari hai ini.

Ratliff datang terlambat dan mereka memesan minuman. Small berusaha sebaik mungkin untuk menggertak. dan bertingkah seakan-akan tahu banyak.

398

Ratliff curiga. Pada mulanya ia hanya bicara sedikit; wajar saja, mengingat ia diminta oleh orang tak dikenal agar bicara mengenai kenalan lama.

“Sudah empat tahun saya tidak pernah melihatnya.” kata Ratliff.

“Pernahkah Anda bicara dengannya?”

‘Tidak. Tidak sepatah pun. Dia drop out kuliah sesudah tahun kedua.”

“Apakah Anda dekat dengannya?”

“Saya kenal baik dengannya pada tahun pertama, tapi kami bukan sahabat kental Dia menarik diri sesudah itu. Apakah dia dalam masalah?”

‘Tidak. Sama sekali tidak.”

“Mungkin Anda seharusnya memberitahu saya, mengapa Anda begitu tertarik.”

Small mengulangi secara garis besar apa yang diperintahkan Fitch untuk dikatakan; hampir semuanya benar dan mendekati kebenaran. Jeff Kerr adalah calon anggota juri dalam sidang besar di suatu tempat, dan dia, Small, dibayar oleh salah satu pihak untuk menyelidiki latar belakangnya.

“Di mana sidang itu?” tanya Ratliff.

“Tidak bisa saya katakan. Tapi saya jamin, tidak ada apa pun yang ilegal dalam hai ini. Anda pengacara. Anda mengerti.”

Benar, ia mengerti. Ratliff telah menghabiskan sebagian besar kariernya yang singkat untuk bekerja seperti budak di bawah partner yang menangani perkara-perkara pengadilan. Riset juri adalah pekerjaan yang dibencinya. “Bagaimana saya bisa memeriksa kebenarannya?” ia bertanya, bak pengacara sejati.

“Saya tidak punya wewenang untuk mengungkap—

399

kan informasi spesifik mengenai sidang tersebut. Begini saja, bila saya menanyakan sesuatu yang menurut Anda mungkin merugikan Kerr, Anda tidak perlu menjawab. Cukup add?”

“Kita coba saja, oke? Tapi kalau saya jadi gelisah, saya akan keluar dari sini.”

“Baiklah. Mengapa dia berhenti kuliah?”

Ratliff minum birnya seteguk dan mencoba mengingat-ingat. “Dia mahasiswa pandai, sangat cemerlang. Tapi sesudah tahun pertama, dia tiba-tiba kehilangan minat menjadi pengacara. Musim panas itu dia magang pada biro hukum besar di Kansas City, dan pengalaman itu rupanya mengecutkan hatinya. Plus, dia sedang jatuh cinta.”

Fitch setengah mati ingin mengetahui apakah Nicholas punya kekasih. “Siapa wanita itu?” tanya Small.

“Claire.”

“Claire siapa?”

Seteguk lagi. “Saya tidak ingat.” “Anda kenal dia?”

“Saya tahu siapa dia. Claire bekerja pada bar di pusat kota Lawrence, tempat mangkal yang sangat disukai mahasiswa hukum. Saya pikir di sanalah dia berjumpa dengan Jeff.”

“Bisakah Anda memberikan uraiannya?”

“Mengapa? Saya pikir pembicaraan ini mengenai Jeff.”

“Saya diminta untuk mendapatkan deskripsi pacarnya di sekolah hukum. Itu saja yang saya ketahui.” Small angkat bahu, seolah-olah tak berdaya

Mereka saling mengamati beberapa lama. Peduli amat, pikir Ratliff. Ia takkan pernah melihat orang—

400

orang ini lagi. Jeff dan Claire toh hanya kenangan samar-samar

“Tinggi rata-rata, sekitar 180 senti. Ramping. Rambut hitam, mata cokelat. cantik, menarik.” “Apakah dia mahasiswi?”

“Saya tidak tahu pasti. Menurut saya, dia pernah kuliah. Mungkin mahasiswi pascasarjana.”

“Di KU?”

“Saya tidak tahu.”

“Apa nama bar itu?”

“Mulligan’s, di pusat kota.”

Small tahu betul tempat itu. Kadang-kadang ia sendiri pergi ke sana untuk menenggelamkan kekhawatiran dan mengamati gadis-gadis college. “Saya pernah beberapa kali bersenang-senang di Mulligan’s,” katanya.

“Yeah. Sayang saya melewatkannya.” kata Ratliff muram.

“Apa yang dia kerjakan sesudah putus kuliah?”

“Saya tidak tahu pasti. Saya dengar dia dan Claire pergi meninggalkan kota ini, tapi saya tidak pernah mendengar kabar apa pun darinya “

Small mengucapkan terima kasih padanya dan menanyakan apakah ia bisa menelepon Ratliff di kantor, bila ada pertanyaan lain. Ratliff mengatakan ia sangat sibuk, tapi coba saja.

Bos Small di Lawrence punya teman yang kenal dengan mantan pemilik Mulligan’s selama lima belas tahun. Itulah keuntungan tinggal di kota kecil. Catatan pekerja tidak begitu dirahasiakan, terutama bagi pemilik bar yang melaporkan hanya setengah penjualan tunai-nya Nama gadis itu Claire Clement.

401

Fitch menggosok-gosokkan kedua belah tangannya yang gemuk dengan gembira ketika menerima kabar itu. Ia suka perburuan ini. Marlee sekarang adalah Claire, wanita dengan masa lampau yang mati-matian hendak ditutupinya.

“Kenalilah musuhmu,” katanya keras ke dinding. Peraturan pertama dalam pertempuran.

402

Dua Puluh Empat

Senin siang, orang-orang itu kembali dengan semangat baru. Sang utusan adalah ahli ekonomi yang terlatih untuk menilai hidup Jacob Wood dan menempelkan harga padanya. Namanya Dr. Art Kallison, pensiunan profesor dari sekolah swasta di Oregon yang tak seorang pun pernah mendengarnya. Perhitungan matematis itu tidak rumit, dan jelaslah bahwa sebelum ini, Dr. Kallison sudah pernah melihat ruang sidang. Ia tahu bagaimana harus memberikan kesaksian, bagaimana membuat angka-angka itu sederhana. Ia menggelarnya pada papan tulis dengan tulisan rapi.

Ketika meninggal pada usia 51, gaji pokok Jacob Wood adalah $40,000 setahun, ditambah tunjangan pensiun yang diberikan oleh majikannya, plus tunjangan-tunjangan lain. Dengan asumsi bahwa ia akan hidup dan bekerja hingga umur 65, Kallison menghitung pendapatan di masa mendatang yang hilang adalah $720,000. Undang-undang juga memperkenankan untuk memperhitungkan inflasi dalam prakiraan ini, dan jumlah totalnya menjadi $1,180,000. Kemudian undang-undang mensyaratkan jumlah total

403

ini diturunkan ke nilainya saat ini. Uang itu mungkin bernilai $1,180,000 bila dibayarkan dalam lima belas tahun, tetapi untuk perkara gugatan ini, ia harus menentukan berapakah nilainya saat ini. Jadi, angka itu harus dikurangi. Angka barunya adalah $835,000.

Dengan cara yang bagus, ia meyakinkan juri bahwa angka ini hanya mengenai gaji yang hilang. Ia ekonom, cukup terlatih untuk memasang harga pada nilai nonekonomis dari kehidupan seseorang. Pekerjaannya tidak ada sangkut pautnya dengan rasa sakit dan penderitaan yang ditanggung Mr. Wood menjelang kematiannya; tidak ada kaitannya dengan rasa kehilangan yang dialami keluarganya.

Seorang pengacara muda dari regu pembela, bernama Felix Mason, menggumamkan kata pertamanya dalam sidang ini. Ia salah satu partner Cable, spesialis dalam prakiraan ekonomi, tapi sayang sekali, penampilannya hanya akan berlangsung singkat. Ia memulai pemeriksaan silang terhadap Dr. Kallison dengan menanyakan berapa kali setahun ia memberikan kesaksian. “Itu saja yang saya kerjakan belakangan ini. Saya sudah pensiun dari mengajar,” Kallison menjawab. Ia selalu mendapat pertanyaan ini dalam setiap sidang.

“Apakah Anda dibayar untuk memberikan kesaksian?” Mason bertanya. Pertanyaan itu selesu jawabannya.

“Ya. Saya dibayar untuk hadir di sini. Sama seperti Anda.” “Berapa?”

“Lima ribu dolar untuk konsultasi dan kesaksian.” Tidak ada keraguan di antara pengacara-pengacara

itu, bahwa Kallison merupakan saksi ahli paling murah dalam sidang ini.

Mason mempermasalahkan tingkat inflasi yang dipakai Kallison dalam perhitungannya, dan selama setengah jam mereka tawar-menawar mengenai tingkat kenaikan indeks harga konsumen. Ini faktor penting, tapi tak seorang pun memperhatikannya. Mason ingin Kallison menyetujui bahwa angka yang lebih masuk akal untuk gaji Mr. Wood yang hilang adalah $680,000.

Itu sama sekali bukan soal. Rohr dan rekan rekannya akan menerima angka berapa pun. Upah yang hilang hanyalah titik tolak awal. Rohr akan menambahnya dengan faktor kesakitan dan penderitaan, hilangnya peluang menikmati hidup, hilangnya kehadirannya, dan beberapa pengeluaran insidental seperti ongkos perawatan medis Mr. Wood dan biaya pemakamannya. Kemudian Rohr akan melepaskan bom itu. Ia akan memperlihatkan kepada juri, berapa banyak uang tunai yang dimiliki Pynex, dan ia akan meminta sejumlah besar darinya sebagai ganti kerugian

Masih ada waktu satu jam. Rohr dengan bangga mengumumkan kepada sidang, “Penggugat memanggil saksi terakhir. Mrs. Celeste Wood.”

Juri tidak mendapat peringatan bahwa pihak penggugat sudah hampir selesai. Mendadak beban mereka serasa terangkat. Udara berat sore hari itu langsung menjadi lebih ringan. Beberapa anggota juri tidak dapat menyembunyikan senyum. Beberapa lainnya tidak lagi mengernyit. Kursi mereka bergoyang saat semangat mereka pulih kembali.

405

404

Malam ini adalah malam ketujuh mereka dikarantina. Menurut teori terakhir Nicholas, pihak pembela tidak akan makan waktu lebih dari tiga hari. Mereka menghitung. Mereka sudah bisa pulang akhir pekan nanti!

Selama tiga minggu duduk diam di belakang meja, dengan kerumunan pengacara di sekelilingnya, Celeste Wood hampir tidak pernah menggumamkan sepatah bisikan pun. Ia memperlihatkan kemampuan mencengangkan untuk mengabaikan para pengacara serta para juri; ia hanya menatap lurus ke depan pada saksi, dengan wajah kosong. Ia memakai gaun bernuansa hitam dan kelabu, selalu dengan kaus kaki hitam dan sepatu hitam.

Pada minggu pertama, Jerry sudah menjulukinya Janda Wood.

Celeste kini berusia 55 tahun, sama dengan suaminya seandainya tidak terkena kanker paru-paru. Ia sangat kurus, kecil, dengan rambut pendek kelabu. Ia bekerja pada perpustakaan regional dan telah membesarkan tiga orang anak. Foto-foto keluarga diperlihatkan kepada dewan juri.

Satu tahun sebelumnya, Celeste sudah memberikan deposisi, dan ia sudah dilalih oleh para profesional yang didatangkan Rohr. Ia bisa menguasai diri, gelisah tapi tidak berlebihan, dan bertekad untuk tidak menunjukkan emosi. Apalagi suaminya kini sudah empat tahun meninggal dunia.

Ia dan Rohr mengikuti skenario mereka tanpa kesalahan. Ia bicara tentang hidupnya bersama Jacob, betapa bahagia mereka waktu itu, tahun-tahun awal, anak-anak, kemudian cucu, impian mereka saat pen—

406

siun nanti. Memang ada beberapa kesulitan, tapi tidak ada yang serius. tidak ada apa pun sampai sang suami sakit. Jacob begitu ingin berhenti merokok, sudah berkali-kali mencobanya tanpa hasil. Ketergantungannya terlalu kuat.

Dengan mudah Celeste bisa membangkitkan simpati. Suaranya tidak pernah bergetar. Rohr sudah menebak dengan tepat, bahwa air mata yang dibuat-buat tidak akan diterima dengan baik oleh juri. Tapi Celeste memang tidak gampang menangis.

Cable melepaskan pemeriksaan silang. Apa yang bisa ditanyakan padanya? Ia berdiri, dengan air muka sedih dan roman rendah hati hanya mengatakan. “Yang Mulia, kami tidak ada pertanyaan untuk saksi ini.”

Fitch punya segunung pertanyaan untuk saksi ini, namun ia tak bisa mengajukannya dalam sidang terbuka. Sesudah masa berkabung, tepatnya setahun sesudah pemakaman. Celeste mulai berkencan dengan duda cerai yang umurnya tujuh tahun lebih muda Menurut sumber-sumber yang bisa dipercaya, mereka merencanakan untuk menikah diam-diam begitu sidang ini usai. Fitch tahu bahwa Rohr sendiri melarangnya menikah sampai sidang berakhir.

Dewan juri tidak akan mendengar hai ini dalam ruang sidang, namun Fitch menyusun rencana untuk menyelundupkannya lewat pintu belakang.

“Penggugat selesai,” Rohr mengumumkan sesudah mendudukkan Celeste di belakang meja. Para pengacara dari kedua belah pihak saling mendekat dan bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil, sambil berbisik-bisik serius.

407

Hakim Harkin mengamati barang barang yang berserakan di mejanya, kemudian memandang ke dewan jurinya yang letih. “Saudara-saudari sekalian, s.aya punya kabar baik dan buruk. Kabar baiknya sudah jelas Pihak penggugat sudah selesai, dan kita sudah hampir setengah selesai. Pihak pembela diperkirakan akan memanggil lebih sedikit saksi daripada pihak penggugat. Kabar buruknya adalah, sampai titik ini kami dituntut untuk membahas setumpuk mosi. Kami akan melakukannya besok, mungkin sepanjang hari. Saya menyesal, tapi kami tidak punya pilihan.”

Nicholas mengacungkan tangan. Harkin memandangnya beberapa detik, lalu berkata, “Ya, Mr. Easter?”

“Maksud Anda, kami harus duduk di motel sepanjang hari besok?”

“Saya khawatir demikian.” “Saya tidak mengerti alasannya.” Para pengacara itu merenggang dan menghentikan konferensi kecil mereka, menatap Easter dengan tertegun. Jarang terjadi anggota juri berbicara dalam sidang terbuka

“Karena kami punya sederet urusan yang harus dikerjakan tanpa kehadiran dewan juri.”

“Oh, saya bisa mengerti itu. Tapi mengapa kami harus duduk menganggur?”

“Apa yang ingin Anda lakukan?” “Banyak. Kita bisa menyewa kapal besar, pergi bertamasya ke Gulf, memancing kalau mau.”

“Saya tidak bisa meminta pembayar pajak di count\ ini untuk membiayai kegiatan itu. Mr. Easter.” “Saya pikir kami pembayar pajak.” “Jawabannya adalah tidak. Maaf.”

408

“Lupakan pembayar pajak. Saya yakin para pengacara di sini tidak akan keberatan menanggung biayanya. Dengar, mintalah masing-masing pihak untuk memberikan seribu dolar. Kita bisa menyewa kapal besar dan bersenang-senang.”

Meskipun Cable dan Rohr bereaksi seketika pada saat yang sama, Rohr berhasil lebih dulu mengucapkannya sambil berdiri, “Dengan senang hati kami bersedia membayar setengahnya, Yang Mulia.”

“Itu gagasan bagus, Pak Hakim!” Cable cepat-cepat menambahkan dengan keras.

Harkin mengangkat kedua belah tangan. telapaknya menghadap ke depan. “Tunggu,” katanya. Kemudian ia menggosok-gosok pelipis dan mencari-cari preseden serupa itu dalam otaknya. Tentu saja tidak pernah ada. Tidak ada peraturan atau undang-undang yang melarangnya. Tidak ada konflik kepentingan.

Loreen Duke menepuk lengan Nicholas dan membisikkan sesuatu ke telinganya.

Yang Mulia berkata, “Well, saya sama sekali be-ťlum pernah mendengar kejadian seperti ini. Rasanya hai ini termasuk kategori pen>oalan yang bisa diputuskan sesuai kebijaksanaan. Mr. Rohr?”

“Ini tidak merugikan, Yang Mulia. Masing-masing pihak membayar setengah. Tidak ada masalah.”

“Mr. Cable?”

“Saya rasa tidak ada peraturan atau undang-undang prosedur yang melarangnya. Saya setuju dengan Mr. Rohr. Kalau dua belah pihak berbagi menanggung biayanya, apa masalahnya?”

Nicholas kembali mengangkat tangannya. “Maaf, Yang Mulia. Baru saja saya dengar bahwa mungkin

409

beberapa anggota juri lebih suka berbelanja di New Orleans daripada bertamasya dengan kapal di Gulf.”

Sekali lagi Rohr sedetik lebih cepat. “Dengan senang hati kami akan berbagi menanggung ongkos bus, Yang Mulia. Dan makan siang.”

“Sama di sini,” kata Cable. “Makan malam juga.”

Gloria Lane mendatangi boks juri dengan clip-hoard. Nicholas, Jerry Fernandez, Lonnie Shaver, Rikki Coleman, Angel Weese, dan Kolonel Herrera memilih bertamasya dengan kapal. Sisanya memilih French Quarter.

Tlrmasuk video Jacob Wood, Rohr dan kawan-kawan sudah mengajukan sepuluh saksi ke hadapan dewan juri dan memakan tiga belas hari untuk melakukannya. Sudah terbangun kasus yang kokoh, kini terserah pada juri untuk menentukan: bukan apakah rokok berbahaya, melainkan apakah sudah saatnya menghukum pembuatnya.

Seandainya dewan juri itu tidak dikarantina, Rohr tentu sudah memanggil tiga pakar lainnya: satu untuk bicara mengenai psikologi iklan, satu pakar mengenai ketergantungan, serta satu untuk menguraikan secara terperinci pemakaian insektisida dan pestisida pada daun tembakau.

Akan tetapi dewan juri ini dikarantina, dan Rohr tahu sudah saatnya berhenti. Jelaslah bahwa ini bukan dewan juri biasa. Satu laki-laki buta. Satu laki-laki aneh yang berlatih yoga saat istirahat makan siang. Paling tidak, dua kali pemogokan hingga sejauh ini. Daftar tuntutan pada setiap belokan. Peralatan makan porselen dan perak untuk makan

410

siang. Bir setelah jam kerja, dibayar oleh pembayar pajak. Communal interlude dan kunjungan pribadi. Hakim Harkin jadi sulit tidur.

Sudah jelas ini pun bukan juri biasa di mata Fitch, orang yang sudah berkali-kali melakukan sabo-tase terhadap juri, lebih daripada siapa pun dalam sejarah yurisprudensi Amerika. Ia menggelar perangkap-perangkap seperti biasanya dan mengumpulkan cacat-cacat busuk seperti biasa. Rencana busuknya terlaksana dengan sempurna. Hanya satu kebakaran, sejauh ini. Tidak ada tulang patah. Tetapi kemunculan Marlee mengubah segalanya. Melalui wanita itu, ia bisa membeli vonis, kemenangan total untuk tergugat, yang akan mempermalukan Rohr dan mengusir pasukan pengacara lapar yang berputar-putar seperti burung bangkai menunggu santapannya.

Dalam sidang ini, perkara tembakau terbesar, dengan pengacara-pengacara penggugat terbesar berbans membawa jutaan dolar, Marlee akan menyerahkan vonis itu kepadanya. Fitch percaya akan hai ini, dan gagasan itu menguasai pikirannya. Setiap menit ia memikirkan wanita itu dan melihatnya dalam mimpi-mimpinya.

Kalau bukan karena Marlee, Fitch takkan bisa tidur sama sekali. Waktunya tepat untuk vonis kemenangan bagi penggugat; pengadilan yang tepat, hakim yang tepat, suasana hati yang tepat. Pakar-pakar itu adalah yang terbaik dalam sembilan tahun pekerjaan Fitch mengatur pembelaan. Sembilan tahun, delapan sidang, delapan vonis kemenangan untuk tergugat. Betapapun bencinya terhadap Rohr, ia bisa mengakui, hanya pada diri sendiri, bahwa Rohr pengacara yang tepat untuk meruntuhkan industri ini.

411

Satu kemenangan atas Rohr di Biloxi akan menjadi benteng untuk menahan gugatan lain di masa mendatang. Itu juga akan menyelamatkan industri ini.

Bila Fitch menghitung suara yang diberikan oleh juri, ia selalu mulai dengan Rikki Coleman, karena aborsi itu. Ia sudah mengantongi suaranya, cuma Rikki masih belum mengetahuinya. Kemudian ia menambahkan Lonnie Shaver. Lalu Kolonel Herrera. Millie Dupree akan mudah. Para pengamat jurinya yakin bahwa Sylvia Taylor-Tatum sebenarnya tidak bisa bersimpati, selain itu ia pun merokok. Tetapi para pengamat jurinya tidak tahu ia tidur dengan Jerry Fernandez. Jerry dan Easter bersahabat. Fitch memperkirakan mereka bertiga—Sylvia, Jerry, dan Nicholas akan memberikan suara yang sama. Loreen Duke duduk di samping Nicholas, dan mereka berdua kerap kali terlihat berbisik-bisik selama sidang berlangsung. Fitch menduga perempuan itu akan mengikuti Easter. Dan bila Loreen benar mengikuti, Angel Weese pun demikian pula, sebab ia satu-satunya wanita kulit hitam lainnya. Weese tidak mungkin dibaca.

Tak seorang pun meragukan bahwa Easter akan mendominasi pengambilan keputusan. Sekarang Fitch tahu bahwa Easter pernah dua tahun kuliah hukum, maka berani bertaruh ia tentu sudah memberitahukan hai ini kepada rekan-rekannya yang lain.

Tidaklah mungkin memperkirakan bagaimana Herman akan memberikan suaranya. Namun Fitch tidak mengandalkannya. Demikian juga dengan Phillip Savelle. Fitch merasa lega dengan Mrs. Gladys Card. Ia sudah tua dan konservatif, dan kemungkinan akan terperanjat bila Rohr meminta 20 juta dolar.

412

Jadi, Fitch sudah mengantongi empat suara, dengan Mrs. Gladys Card sebagai kemungkinan kelima. Herman Grimes tidak usah diperhitungkan. Savelle juga, dengan alasan bahwa siapa pun yang begitu mencintai alam, tentu membenci perusabnan rokok. Tinggallah Easter dan lima anggota kelompoknya. Masing-masing pihak membutuhkan sembilan suara untuk memenangkan vonis. Kurang dari itu berarti Hakim Harkin akan terpaksa menyatakan sidang ini dibatalkan tanpa keputusan, dan juri dibubarkan. Pembatalan sidang akan jadi persidangan ulang, dan Fitch tidak menginginkan itu terjadi dalam kasus ini.

Gerombolan analis dan pakar hukum yang mengamati sidang ini tidak banyak mencapai kesepakatan, tetapi mereka sepenuhnya setuju bahwa vonis bulat yang di-dukung dua belas suara untuk kemenangan Pynex akan menahan, atau malah meruntuhkan, gugatan terhadap perusahaan rokok selama satu dasawarsa.

Fitch bertekad untuk mendapatkannya, berapa pun biayanya

Suasana Senin malam di kantor Rohr jauh lebih riang. Tanpa saksi lain yang harus dipanggil, tekanan itu untuk sementara terangkat. Wiski enak dituang di ruang rapat. Rohr meneguk air mineralnya, sambil menggigit-gigil keju dan biskuit asin.

Sekarang giliran Cable beraksi. Biarkan dia dan anak buahnya menghabiskan beberapa hari untuk menyiapkan saksi dan memberi label dokumen. Rohr hanya perlu bereaksi, melakukan pemeriksaan silang, dan ia akan menonton video-video deposisi setiap saksi di pihak tergugat selusin kali.

413

Jonathan Kotlack, pengacara yang bertanggung jawab untuk melakukan nset juri. juga hanya minum air dan berspekulasi bersama Rohr mengenai Herman Grimes. Mereka berdua merasa telah mendapatkan suaranya. Dan mereka senang dengan Millie Dupree serta Savelle, si aneh. Herrera membuat mereka khawatir. Semua anggota juri kulit hitam—Lonnie, Angel, dan Loreen—sepenuhnya sudah berada di pihak mereka. Apalagi ini kasus orang kecil terhadap perusahaan besar yang berkuasa. Sudah pasti orang-orang kulit hitam itu akan berpihak kepada mereka. Selalu demikian.

Yang menjadi kunci adalah Easter, sebab dialah pemimpinnya, semua orang tahu itu. Rikki akan mengikutinya. Jerry adalah sahabatnya. Sylvia Tay-lor-Tatum pasif dan akan mengikuti suara terbanyak. Demikian pula Mrs. Gladys Card.

Mereka hanya butuh sembilan suara, dan Rohr yakin ia sudah mendapatkannya

414

Dua Puluh Lima

KI’-mbali di Lawrence, Small, si detektif, dengan rajin meneliti daftar petunjuknya, tapi tidak bisa menemukan apa-apa. Senin malam ia bermalas-malasan di Mulligan’s, minum minuman keras, sekali-sekali bercakap-cakap dengan pelayan dan mahasiswa hukum, tapi tidak mendapatkan apa pun selain membangkitkan kecurigaan pemuda-pemuda itu.

Selasa pagi, ia mengunjungi satu orang. Nama perempuan itu Rebecca, dan beberapa tahun sebelumnya, ketika masih menjadi mahasiswi di KU, ia pernah bekerja di Mulligan’s bersama Claire Clement. Mereka bersahabat, demikian menurut sumber yang didapat oleh bos Small. Small menemukannya di bank di pusat kota, tempat ia bekerja sebagai manajer. Ia memperkenalkan diri dengan canggung, dan Rebecca langsung curiga.

“Apakah Anda bekerja bersama Claire Clement beberapa tahun yang lalu?” ia bertanya sambil melihat buku catatan, berdiri di satu sisi meja kerja, sebab Rebecca berdiri di sisi lainnya. Ia tidak diundang masuk, dan Rebecca sedang sibuk.

“Mungkin. Siapa yang ingin tahu?” Rebecca berta—

415

nya, melipat tangan, menganggukkan kepala, telepon berdering entah da/i mana di belakangnya. Kontras tajam dengan Small, ia berpakaian rapi dan sangat cermat.

“Apakah Anda tahu di mana dia sekarang?”

“Tidak. Mengapa Anda menanyakannya?”

Small mengulangi omongan yang sudah dihafalkan-nya. Itu saja yang ia miliki. “Dia calon anggota juri dalam suatu sidang besar, dan firma saya dibayar untuk melakukan pemeriksaan terhadap latar belakang nya.”

“Di mana sidangnya?”

“Tidak bisa saya ceritakan. Kalian bekerja bersama di Mulligan’s, benar?” “Ya. Itu sudah lama.” “Dari mana asalnya?” “Mengapa itu penting?”

“Well, terus terang. pertanyaan itu ada dalam daftar saya. Kami hanya memeriksanya, oke? Apakah Anda tahu dari mana asalnya.”

“Tidak.”

Ini pertanyaan penting, sebab jejak Claire dimulai dan berhenti di Lawrence. “Anda yakin?”

Rebecca menggoyangkan kepala ke arah lain dan menatap berapi-api pada orang tolol ini. “Aku tidak tahu dari mana asalnya. Ketika aku berjumpa dengannya, dia bekerja di Mulligan’s. Terakhir kali aku melihatnya, dia masih bekerja di Mulligan’s.”

“Pernahkah Anda berbicara dengannya akhir-akhir ini?”

“Tidak dalam empat tahun terakhir.” “Apakah Anda kenal Jeff Kerr?”

“Tidak “

“Siapa teman-temannya di Lawrence sini?” “Aku tidak tahu. Dengar, aku sangat sibuk, dan Anda menghambur-hamburkan waktu Anda. Aku tidak kenal baik dengan Claire. Gadis yang menarik, itu saja. tapi kami tidak akrab. Sekarang, silakan, aku ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.” Ia menunjuk ke pintu saat menyelesaikan ucapannya, dan dengan enggan Small meninggalkan kantornya.

Setelah Small keluar dari bank, Rebecca menutup pintu kantornya dan memutar nomor ke apartemen •di St. Louis. Suara rekaman di ujung seberang itu milik temannya, Claire. Mereka bercakap-cakap paling sedikit satu kali sebulan, meskipun mereka sudah satu tahun tidak pernah berjumpa. Claire dan Jeff menjalani kehidupan aneh, berkelana dan tidak pernah menetap lama di satu tempat, tidak berniat memberitahukaa keberadaan mereka. Hanya apartemen di St. Louis itu tetap sama. Claire pernah memperr ingatkannya bahwa mungkin orang-orang akan muncul dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Lebih dari satu kali ia memberi isyarat bahwa ia dan Jeff bekerja untuk pemerintah, dengan misi misterius.

Setelah mendengar tanda untuk bicara, Rebecca meninggalkan pesan pendek mengenai kunjungan Small.

Marlei. memeriksa pesan teleponnya setiap pagi, dan pesan dari Lawrence itu membuatnya terenyak. Ia menyeka wajah dengan kain basah, dan mencoba menenangkan diri.

Ia menelepon Rebecca dan berusaha terdengar

417

416

tenang, meski mulutnya kering dan jantungnya berdebar-debar. Ya, laki-laki bernama Small itu dengan tegas bertanya tentang Claire Clement. Dan ia menyebut-nyebut Jeff Kerr. Dengan pertanyaan yang diajukan oleh Marlee, Rebecca bisa menguraikan kembali seluruh percakapan tersebut.

Rebecca tahu, sebaiknya tidak bertanya terlalu banyak. “Kau baik-baik saja?” hanya sejauh itulah pertanyaannya.

“Oh, kami baik-baik,” Marlee meyakinkannya. “Tinggal di tepi pantai beberapa lama.”

Informasi pantai mana tentu akan melegakan hati, tapi Rebecca membiarkannya saja. Tak ada yang bisa menggali terlalu dalam pada pribadi Claire. Mereka mengucapkan selamat berpisah, dengan janji biasa untuk tetap berhubungan.

Baik Marlee maupun Nicholas yakin mereka tidak akan pernah terlacak hingga Lawrence. Kini karena mereka sudah terlacak, berbagai pertanyaan berjatuhan bagaikan hujan. Siapa yang telah menemukan mereka? Pihak mana. Fitch atau Rohr? Kemungkinan besar Fitch, karena ia punya uang lebih banyak dan lebih licik. Apa kesalahan mereka? Bagaimana jejak itu meninggalkan Biloxi? Berapa banyak yang mereka ketahui?

Dan hingga sejauh mana mereka akan bertindak? Ia perlu bicara dengan Nicholas, tapi saat ini Nicholas sedang berada di atas kapal di Gulf, memancing makerel dan bertamasya dengan rekan-rekan sesama anggota juri.

StJDxH tentu Fitch tidak ikut memancing. Bahkan

418

sebenarnya belum pernah sehari pun ia beristirahat atau bersantai dalam tiga bulan. Ia sedang duduk di belakang meja kerja, mengatur tumpukan-tumpukan dokumen dengan rapi, ketika telepon itu masuk. “Halo, Marlee,” katanya, kepada gadis impiannya itu.

“Hei, Fitch. Kau baru saja kehilangan satu lagi.”

“Satu lagi apa?” ia bertanya, menggigit lidah sendiri agar tidak memjrhggilnya Claire.

“Satu anggota juri lagi. Loreen Duke sangat terpesona pada Mr. Robilio, dan kini dia memimpin kampanye untuk memberikan kemenangan pada penggugat.”

“Tapi dia belum mendengar pembelaan kami.”

“Benar. Kau punya empat orang perokok sekarang—Weese, Fernandez, Taylor-Tatum, dan Easter. Coba terka, berapa orang yang mulai merokok sesudah usia delapan belas tahun?”

“Entahlah.”

“Tak satu pun. Mereka semua mulai sejak kanak-kanak. Herman dan Herrera pernah merokok Coba terka, umur berapa mereka ketika mulai?”

‘Tidak tahu.”

“Empat belas dan tujuh belas. Itu setengah dari anggota jurimu, Fitch, dan semuanya pernah merokok sebelum dewasa.”

“Apa yang harus kulakukan mengenai ini?”

‘Terus berbohong, kurasa. Dengar, Fitch, seberapa-kah peluang untuk kita bertemu dan bercakap-cakap sedikit, percakapan pribadi tanpa begundal-begundalmu bersembunyi di balik semak-semak?”

“Peluangnya bagus.”

“Bohong lagi. Begini, kita bertemu dan bicara,

419

bila orang-orangku melihat orang-orangmu di dekat kita, itu akan jadi percakapan terakhir kita.” “Orang-orangmu?”

“Semua orang bisa menyewa kaki-tangan, Fitch. Kau harus tahu ini.” “Baiklah.”

“Kau tahu Casella’s, restoran seafood kecil dengan meja-meja di luar ruangan di^jung dermaga Biloxi?” “Aku bisa mencarinya.”

“Di sanalah aku sekarang. Jadi, sewaktu kau berjalan di dermaga, aku akan mengawasi. Dan bila aku melihat ada orang yang sedikit saja kelihatan mencurigakan, kesepakatan ini batal.”

“Kapan?”

“Sekarang juga. Aku menunggu.”

Jose mengurangi kecepatan sebentar di halaman parkir dekat pelabuhan perahu kecil, dan Fitch melompat dari Suburban itu. Mobil itu terus jalan. Fitch, seorang diri dan tanpa alat perekam, menyusuri dermaga kayu dengan papan-papan tebal yang bergeser-geser pel an diterpa air pasang. Marlee duduk di meja kayu dengan payung di atasnya, punggungnya menghadap ke Gulf, wajahnya menghadap dermaga. Saat makan siang masih satu jam lagi dan tempat itu kosong.

“Halo, Marlee,” kata Fitch ketika mendekat, berhenti, lalu duduk di hadapannya. Marlee memakai jeans dan kemeja denim, topi memancing, dan kacamata hitam.

“Silakan, Fitch,” katanya.

“Apa kau selalu bermuka masam seperti ini?”

420

tanya Fitch, meletakkan tubuhnya yang gemuk di kursi sempit, mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum dan akrab.

“Apa kau dipasangi penyadap. Fitch?”

‘Tidak. Tentu saja tidak.”

Perlahan-lahan Marlee mengeluarkan perangkat hitam seperti Dictaphone kecil dari dompetnya yang tebal. Ia menekan satu tombol dan meletakkannya di meja, mengarahkannya ke perut Fitch yang besar. “Maafkan aku, Fitch, sekadar memeriksa apakah kau punya waktu untuk menempelkan penyadap di sini atau di sana “

“Sudah kukatakan aku tidak membawa penyadap, oke?” kata Fitch, sangat lega. Konrad menyarankan agar ia memakai mikrofon kecil dengan van peralatan diparkir di dekatnya, namun Fitch, dalam keadaan tergesa-gesa, menolak.

Marlee melihat monitor digital kecil di ujung sensor-scan, lalu memasukkan perangkat itu kembali ke dompetnya. Fitch tersenyum, tapi hanya sedetik.

“Pagi tadi aku menerima telepon dari Lawrence,” kata.Marlee, dan Fitch menelan ludah dengan sulit. “Jelas kau mengirim orang-orang tolol ke sana untuk menggedor pintu-pintu dan menendangi tempat sampan.”

“Aku tidak tahu maksudmu,” kata Fitch, agak kurang mantap dan tanpa keyakinan.

Fitch-lah pelakunya! Matanya menunjukkan hai itu; mata itu cemas dan memandang ke bawah, dan cepat-cepat mengelak dan tatapan sebelum kembali memandangnya, lalu diturunkan lagi; semuanya terjadi hanya sekilas, tapi jelas membuktikan bahwa ia

421

tertangkap basah Sedetik Fitch bernapas pendek, dan pundaknya terentak sangat sedikit. Ia tepergok.

“Baiklah. Satu telepon lagi dari teman lama, dan kau takkan pernah mendengar suaraku lagi.”

Meskipun demikian, Fitch bisa memulihkan diri dengan baik. “Ada apa di Lawrence?” ia bertanya, seolah-olah integritasnya dipertanyakan.

“Sudahlah, Fitch. Dan panggil pulang anjing-anjing itu.”

Ia mengembuskan napas dengan berat sambil angkat bahu keheranan. “Baiklah. Apa saja katamu. Aku cuma ingin tahu apa maksudmu.”

“Kau tahu. Satu lagi telepon seperti itu, dan segalanya berakhir, oke?”

“Oke. Terserah apa katamu.”

Meskipun tidak bisa melihat mata Marlee, Fitch bisa merasakannya berkilauan menatapnya dari balik kacamata itu. Ia tidak mengatakan apa-apa selama semenit. Seorang pelayan menyibukkan diri pada meja di dekatnya, tapi tidak berusaha melayani mereka.

Akhirnya Fitch mencondongkan badan ke depan dan berkata, “Kapan kita berhenti main-main?” “Sekarang.”

“Bagus. Apa yang kauinginkan?” “Uang.”

“Sudah kuduga. Berapa?”

“Akan kusebutkan harganya nanti. Kuanggap kau siap untuk memutuskan kesepakatan.”

“Aku selalu siap untuk itu. Tapi aku harus tahu apa yang akan kudapatkan sebagai imbalannya.”

“Sangat sederhana, Fitch. Itu tergantung pada apa

422

yang kauinginkan. Sejauh menyangkut kepentingan-mu, dewan juri ini bisa melakukan satu dari empat hai. Mereka bisa memberikan vonis bagi kemenangan penggugat. Mereka bisa berselisih pendapat dan sampai ke jalan buntu dan pulang, lalu satu atau dua tahun lagi kau akan kembali ke sini, mengerjakan semua ini lagi. Rohr takkan menyingkir. Mereka bisa mengambil keputusan sembilan lawan tiga untuk kemenanganmu, dan kau memperoleh kemenangan besar. Dan bisa saja dua belas suara lawan nol, dan klienmu bisa bersantai selama beberapa tahun.” “Aku tahu semua ini.”

‘Tentu saja kau tahu. Kalau kita coret vonis untuk kemenangan penggugat, kita punya tiga pilihan.”

“Apa yang bisa kauberikan?”

“Apa saja yang kuinginkan. Termasuk vonis untuk kemenangan pihak penggugat.”

“Jadi, pihak lain juga bersedia membayar?”

“Kami sedang bicara. Mari kita biarkan sampai di situ dulu.”

“Apakah ini lelang? Vonis untuk penawar tertinggi?”

“Apa saja semauku.”

“Aku merasa lebih lega kalau kau menjauhi Rohr.”

“Aku tidak terlalu peduli dengan perasaanmu.”

Satu pelayan lain muncul dan melihat mereka. Dengan enggan ia menanyakan apakah mereka ingin minum. Fitch ingin es teh. Marlee minta Diet Coke dalam kaleng.

“Ceritakan pa^aku, bagaimana syarat-syarat kesepakatan ini?” kata Fitch ketika pelayan itu berlalu.

“Sangat sederhana. Kita membuat kesepakatan ten—

423

tang vonis yang kauinginkan; lihat saja menunya dan kaupilih pesananmu. Kemudian kita bisa merundingkan harganya. Kausiapkan uangmu. Kita tunggu sampai akhir, sampai para pengacara itu menyelesaikan argumentasi penutup mereka dan dewan juri mengundur-kan diri untuk mempertimbangkan keputusan. Sampai di situ, aku akan memberikan instruksi transfer, dan uang itu harus segera dikirim ke bank, katakanlah di Switzerland. Begitu aku mendapatkan konfirmasi bahwa uang itu sudah diterima, dewan juri akan kembali dengan vonis yang kauminta.”

Fitch sudah menghabiskan waktu berjam-jam membayangkan skenario yang sangat mirip dengan ini, namun mendengarnya keluar dari bibir Marine dengan ketepatan seperti itu membuat jantungnya berdebar—debar dan kepalanya berkunang-kunang. Ini bisa menjadi kemenangan paling mudah selama ini!

“Tidak bisa,” katanya pongah. seperti orang yang sudah berkali-kali menegosiasikan kesepakatan vonis seperti ini.

“Oh, benarkah? Menurut Rohr, ini akan berhasil.”

Sialan, dia sungguh cepat! Dia tahu persis di mana harus menancapkan pisau.

“Tapi tidak ada jaminan,” Fitch protes.

Marlee mengatur kacamata hitamnya dan mencondongkan badan ke depan sambil bertelekan. “Jadi, kau meragukan aku. Fitch?”’

“Bukan itu persoalannya. Kau memintaku mentransfer uang yang aku yakin akan besar jumlahnya, sambil berharap dan berdoa temanmu bisa mengendalikan pengambilan keputusan itu. Dewan juri selalu tak bisa diramalkan.”

424

“Fitch, temanku sedang mengendalikan pengambilan keputusan itu bahkan saat kita berbicara sekarang. Dia akan mengantongi suara mereka, jauh sebelum para pengacara itu berhenti bicara.”

Fitch akan membayar. Ia sudah mengambil kepu tusan seminggu sebelumnya, untuk membayar berapa saja yang diinginkan Marlee, dan ia tahu bahwa saat uang itu meninggalkan The Fund, tidak akan ada jaminan apa pun. Ia tidak peduli. Ia percaya pada Marlee-nya. Ia dan temannya Easter, atau entah siapa namonya, telah dengan sabar membuntuti Big Tobacco untuk sampai ke titik ini, dan mereka dengan senang hati akan menyerahkan vonis kemenangan untuk harga yang tepat. Mereka telah menanti-nanti saat seperti ini.

Oh, ada pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia aju-kan. Ia ingin mulai dengan dua di antaranya. menanyakan gagasan siapa semua ini. Sungguh rencana yang rumit berliku-liku untuk menyelidiki gugatan ini, mengikutinya ke seluruh penjuru negeri, lalu menyelinap ke dalam dewan juri, sehingga bisa mengajukan tawar-menawar untuk vonis. Sungguh brilian. Ia bisa menanyai Marlee selama berjam-jam, mungkin berhari-hari, mengenai perinciannya, namun ia tahu tidak akan ada jawaban.

Ia juga tahu Marlee akan memberikan vonis itu. Marlee sudah bekerja keras dan sudah terlalu jauh melaksanakan rencana ini untuk menanggung kegagalan.

“Aku bukannya sama sekali tak berdaya dalam hai ini, kau tahu,” katanya, masih mempertahankan pendapat.

425

‘Tentu saja tidak, Fitch. Aku yakin kau sudah menggelar cukup banyak perangkap untuk menjebak sedikitnya empat orang anggota juri. Perlukah kusebutkan nama mereka?”

Minuman tiba dan Fitch meneguk tehnya. Tidak, ia tak ingin perempuan ini menyebutkan nama mereka. la tidak akan main tebak-tebakan dengan orang yang sudah memiliki fakta kuat. Berbicara dengan Marlee seperti berbicara dengan pimpinan dewan juri itu, dan meskipun Fitch menikmati saat ini, percakapan itu jadi terasa bersifat satu arah. Bagaimana ia bisa tahu apakah perempuan ini menggertak atau mengatakan yang sebenamya? Ini tidak adil.

“Kurasa kau meragukan apakah aku memegang kendali atau tidak,” katanya.

“Aku meragukan segalanya.”

“Bagaimana kalau kusisihkan satu orang anggota juri?”

“Kau sudah melakukannya terhadap Stella Hulic,” kata Fitch; jawabannya memancing senyum pertama yang sangat tipis dari Marlee.

“Aku bisa melakukannya lagi Bagaimana kalau, misalnya saja, aku memutuskan untuk memulangkan Lonnie Shaver? Apa kau akan terkesan?”

Fitch nyaris tersedak oleh tehnya. Ia menyeka mulut dengan punggung tangan, lalu berkata, “Aku yakin Lonnie akan senang. Mungkin dialah yang paling bosan di antara dua belas orang itu.”

“Perlukah aku rhenyingkirkannya?”

“Jangan. Dia tidak membahayakan. Di samping itu, karena kita akan bekerja sama, kurasa kita harus mempertahankan Lonnie.”

426

“Dia bicara banyak dengan Nicholas, kau tahu?” “Apa Nicholas bicara dengan semuanya?” “Ya, pada tingkat beragam. Beri dia waktu.” “Kau tampak yakin.”

“Aku tidak yakin dengan kemampuan pengacara-pengacaramu. Tapi aku yakin pada Nicholas, dan itulah yang penting.”

Mereka duduk diam dan menunggu dua pelayan menata meja di samping mereka. Makan siang mulai pukul setengah dua belas, dan kafe itu mulai ramai.

Ketika pelayan-pelayan itu selesai dan berlalu. Fitch berkata, “Aku tidak bisa memutuskan kesepakatan kalau tidak tahu syarat-syaratnya.”

Tanpa sangsi sedikit pun, Marlee berkata, “Dan aku tidak akan menawarkan kesepakatan selama kau terus menggali-gali masa laluku.”

“Punya sesuatu yang harus disembunyikan?”

‘Tidak Tapi aku punya teman-teman, dan aku tidak suka menerima telepon dari mereka. Hentikan-lah sekarang, dan pertemuan ini akan berlanjut dengan yang berikutnya. Satu telepon lagi, dan aku takkan pernah bicara lagi denganmu.”

“Jangan begitu.”

“Aku sungguh-sungguh, Fitch. Panggil pulang anjing-anjing itu.”

“Mereka bukan anjing-anjingku, sumpah.”

“Bagaimanapun, panggillah mereka, atau aku akan menghabiskan waktu lebih banyak bersama Rohr. Dia mungkin mau memutuskan kesepakatan denganku, dan vonis kemenangan baginya berarti kau akan kehilangan pekerjaan, dan klienmu akan kehilangan miliaran dolar. Kau tidak akan kuat menanggungnya, Fitch.”

427

Ia benar mengenai hai itu. Berapa pun jumlah yang ia minta, hanyalah angka kecil dibanding dengan biaya yang harus ditanggung bila sampai penggugat mendapatkan kemenangan.

“Sebaiknya kita bergerak cepat,” kata Fitch. “Sidang ini tidak akan berlangsung lebih lama.”

“Berapa lama?” tanya Marlee.

‘Tiga atau empat hari untuk pembela “

“Fitch, aku Iapar. Bagaimana kalau kau pergi saja? Aku akan meneleponmu dua hari lagi.”

“Kebetulan sekali. Aku juga lapar.”

“Tidak, terima kasih. Aku akan makan seorang diri. Di samping itu, aku ingin kau pergi dari sini.”

Fitch berdiri, lalu berkata, “Baiklah, Marlee. Apa pun yang kauinginkan. Selamat siang.”

Marlee menyaksikannya berjalan kembali menyusuri dermaga, menuju halaman parkir di samping pantai. Fitch berhenti di sana dan memanggil seseorang dengan telepon genggam.

SbsuDAH beberapa kali berusaha menghubungi Hoppy per telepon, Selasa siang Jimmy Hull Moke mampir tanpa pemberitahuan di kantor Dupree Realty, dan diberitahu oleh resepsionis bermata mengantuk bahwa Mr. Dupree ada di belakang. Si resepsionis pergi memanggilnya, dan kembali seperempat jam kemudian

dengan permintaan maaf bahwa ia telah keliru, Mr.

Dupree ternyata tidak ada di kantornya, bahkan

sudah pergi untuk pertemuan penting.

“Aku melihat mobilnya di luar sana,” kata Jimmy

Hull dengan jengkel, menunjuk ke halaman parkir

sempit di luar pintu. Jelas-jelas di sana ada station

wagon tua milik Hoppy.

428

“Dia pergi bersama orang Iain,” kata si resepsionis, jelas berbohong.

“Ke mana dia pergi?” Jimmy Hull bertanya, seolah-olah berniat hendak mengejamya.

“Di dekat Pass Christian. Itu saja yang saya tahu.”

“Mengapa dia tidak membalas teleponku?” “Saya tidak tahu. Mr. Dupree orang yang sangat sibuk.”

Jimmy Hull membenamkan kedua tangannya ke saku jeans dan menatap tajam pada perempuan itu. “Katakan padanya aku mampir, aku sangat kesal, dan sebaiknya dia meneleponku. Kau mengerti?”

“Ya, Sir.”

Ia meninggalkan kantor itu, masuk ke pickup Ford miliknya, dan berlalu. Si resepsionis mengawasi untuk amannya, lalu bergegas ke belakang untuk membebaskan Hoppy dari lemari penyimpan sapu.

Di kapal berukuran delapan belas meter yang sudah menempuh delapan puluh kilometer di tengah Gulf dan dikemudikan oleh Kapten Theo, setengah dari dewan juri itu sedang memancing makerel, kakap, dan kakap merah dengan tiupan angin lembut di bawah langit yang tak berawan. Angel Weese tidak pernah naik kapal, tidak bisa berenang, dan mabuk setelah dua ratus meter meninggalkan pantai, tapi dengan bantuan awak kapal kawakan dan sebotol Dramamine, ia pulih kembali, bahkan menangkap ikan pertama berukuran besar. Rikki tampak sangat manis dengan celana pendek, sepatu Reebok, dan kaki kecokelatan Sang kolonel dan sang kapten tak

429

pelak lagi adalah rekan yang sepaham; sebentar saja mereka sudah asyik bicara mengenai strategi angkatan laut dan bertukar kisah perang.

Dua awak kapal menyiapkan makan siang yang lezat, terdiri atas udang rebus, sandwich kerang goreng, capit kepiting, dan sup kental. Bir pertama dihidangkan bersama makan siang. Hanya Rikki yang pantang minum bir, dan ia minum air.

Bir terus berlanjut sepanjang siang, sementara semangat memancing kadang memuncak dan kadang diwarnai kebosanan; matahan kian panas di atas dek. Kapal itu cukup besar untuk menemukan privasi. Nicholas dan Jerry memastikan bahwa Lonnie Shaver memegang bir dingin. Mereka bertekad akan bercakap-cakap untuk pertama kali dengannya.

Lonnie punya paman yang bekerja di kapal penangkap udang selama bertahun-tahun, sebelum kapal tersebut tenggelam karena badai dan seluruh awaknya tak pernah ditemukan. Ketika masih kanak-kanak, ia pernah memancing di perairan ini bersama pamannya, dan, terus terang, ia sudah puas memancing. Bahkan sebenarnya ia tidak menyukainya, dan sudah bertahun-tahun tidak melakukannya. Tapi bertamasya di atas kapal terdengaran lebih menyenangkan daripada naik bus ke New Orleans.

Butuh empat kaleng bir untuk menghilangkan ketegangan dan mengendurkan lidah. Mereka duduk-duduk dalam kabin kecil di dek atas, yang terbuka pada semua sisi. Di dek utama di bawah mereka, Rikki dan Angel mengamati para awak kapal membersihkan tangkapan mereka.

“Aku ingin tahu, entah berapa banyak saksi ahli

430

yang akan dipanggil pembela,” ujar Nicholas, mengalihkan pokok pembicaraan dari memancing dengan sikap sangat kesal. Jerry sedang berbaring di dipan plastik, kaus kaki dan sepatunya dilepas, matanya terpejam, bir dingin di tangan.

“Sejauh menyangkut aku, mereka sebetulnya tak perlu memanggil satu pun.” kata Lonnie, menatap ke laut.

“Kau sudah bosan, ya?” kata Nicholas.

“Sangat menggelikan. Orang merokok selama tiga puluh tahun, lalu menghendaki jutaan dolar sesudah dia mati.”

“Nan, apa kubilang?” kata Jerry tanpa membuka mata.

“Apa?” Lonnie bertanya

“Aku dan Jerry menebak bahwa kau berpihak pada tergugat,” Nicholas menerangkan. ‘Tapi sulit menerkanya, sebab kau begitu sedikit bicara “

“Dan bagaimana denganmu?” tanya Lonnie.

“Aku? Pendapatku masih terbuka. Jerry condong pada tergugat, benar, Jerry?”

“Aku tidak pernah membicarakan kasus ini dengan siapa pun. Aku tidak pernah dihubungi secara tidak sah. Aku tidak menerima sogokan. Aku anggota juri yang bisa dibanggakan Hakim Harkin.”

“Dia condong pada tergugat,” kata Nicholas pada Lonnie. “Sebab dia kecanduan nikotin, tidak bisa menghentikan kebiasaan itu. Dia meyakinkan diri sendiri bahwa dia bisa membuang kebiasaan itu kapan saja dia mau, tapi sebenarnya tidak bisa, sebab dia lemah Namun dia ingin jadi laki-laki sejati seperti Kolonel Herrera.”

431

“Siapa yang tidak ingin?” kata Lonnie.

“Jerry berpikir bahwa karena dia bisa berhenti, bila dia benar-benar menginginkannya, siapa pun seharusnya bisa juga, padahal dia sendiri tidak bisa, dan karena itu Jacob Wood seharusnya berhenti, jauh sebelum terkena kanker.”

“Itu kurang-Iebih benar,” kata Jerry. “Tapi aku keberatan dengan bagian yang mengatakan aku Iemah.”

“Mťuk akal bagiku,” kata Lonnie. “Bagaimana kau masih bisa berpendapat terbuka?”

“Aduh, aku tidak tahu. Mungkin karena aku belum mendengar seluruh kesaksian itu. Yeah, itulah sebabnya. Undang-undang mengatakan kita harus menahan diri agar tidak menjatuhkan vonis sebelum semua bukti dikemukakan. Maafkan aku.”

“Kau dimaafkan,” kata Jerry. “Sekarang giliranmu mengambil bir.” Nicholas menghabiskan isi kalengnya dan menuruni tangga sempit ke lemari es di dek utama.

“Jangan khawatir dengan dia,” kata Jerry. “Dia akan bersama kita di saat yang menentukan.”

432

Dua Puluh Enam

Kapal itu kembali beberapa menit sesudah pukul lima. Gerombolan pemancing itu berjalan terhu-yung-huyung dari dek ke dermaga, berpose untuk foto bersama Kapten Theo dan trofi tangkapan mereka; yang terbesar adalah ikan hiu seberat 45 kilo hasil tangkapan Rikki, dan dinaikkan oleh awak ka pal. Mereka dijemput oleh dua orang deputi dan dipimpin menyusuri dermaga, meninggalkan tangkapan mereka, karena sudah pasti tidak akan ada gunanya di motel.

Bus berisi para tukang belanja itu baru akan tiba satu jam lagi. Kedatangannya, seperti juga kedatangan kapal itu, diawasi cermat, dicatat, dan disampaikan pada Fitch, tapi tak seorang pun tahu pasti tujuannya Fitch sekadar ingin tahu. Mereka harus mengawasi sesuatu. Hari ini santai, tidak banyak yang harus dikerjakan. kecuali duduk dan menunggu para juri itu kembali.

Fitch mengunci diri di dalam kantornya bersama Swanson, yang menghabiskan sebagian siang itu dengan bicara di telepon. “Orang-orang tolol” itu, sebutan Marlee pada mereka, sudah dipanggil pulang.

433

Sebagai gantinya. Fitch mengirim orang-orang profesional, kelompok di Bethesda yang juga dipakainya untuk menjebak Hoppy. Swanson dulu pernah bekerja di sana, dan kebanyakan agen-agen. itu kalau bukan mantan FBI tentu mantan CIA.

Hasilnya dijamin. Tugas itu mudah—mengungkap masa lalu seorang wanita muda. Swanson harus berangkat satu jam lagi, terbang ke Kansas City untuk memantau segalanya.

Juga ada jaminan bahwa mereka tidak akan tepergok. Fitch dalam kesulitan—ia harus mempertahankan Marlee, tapi juga harus tahu siapa dia. Ada dua faktor yang mendorongnya untuk terus menggali. Pertama, Marlee menegaskan agar Fitch menghentikan penyelidikannya. Berarti ada sesuatu yang sangat penting tersembunyi di belakang sana. Dan kedua, perempuan itu sudah bersusah payah menghapus jejaknya.

Marlee meninggalkan Lawrence, Kansas, empat tahun lalu, sesudah tinggal di sana selama tiga tahun. Namanya bukan Claire Clement sampai ia datang ke sana, dan sudah pasti bukan demikian ketika ia pergi. Sementara itu, ia berjumpa dan merekrut Jeff Kerr, yang sekarang bernama Nicholas Easter, dan kini entah melakukan apa pada juri

Angel weese sedang jatuh cinta dan merencanakan akan menikah dengan Derrick Maples, seorang laki-laki tegap berusia 24 tahun yang sedang menganggur dan akan bercerai. Ia kehilangan pekerjaannya menjual telepon mobil ketika perusahaannya melakukan merger, dan ia kini dalam proses perceraian dengan istri

434

pertamanya, hasil kisah kasih remaja yang berubah jadi rusak. Mereka punya dua anak yang masih kecil. Istrinya dan pengacaranya ingin enam ratus dolar per bulan untuk tunjangan anak. Derrick dan pengacaranya mengibar-ngibarkan status penganggur-annya bagaikan bendera yang terbakar. Negosiasi itu sangat alot dan perceraian terakhir tinggal beberapa bulan lagi.

Angel sedang hamil dua bulan, tapi ia tidak menceritakannya pada siapa pun, kecuali Derrick.

Marvis, saudara laki-laki Derrick, pernah menjadi deputy sheriff dan kini bekerja sebagai pendeta pa-ruh waktu dan aktivis komunitas. Marvis didekati oleh seorang laki-laki bernama Cleve, yang mengatakan ingin bertemu dengan Derrick. Perkenalan pun dilakukan.

Karena tidak memiliki deskripsi pekerjaan yang lebih baik. Cleve dikenal sebagai runner. Ia memburu perkara-perkara tertentu untuk ditangani Wendall Rohr. Tugas Cleve adalah menemukan perkara klaim ganti kerugian atas kematian dan kecelakaan, dan memastikan perkara itu sampai ke kantor Rohr. Pekerjaan ini memerlukan seni, dan sudah tentu Cleve runner yang bagus, sebab Rohr hanya memilih yang terbaik. Seperti runner baik mana pun, Cleve bergerak dalam kalangan remang-remang, sebab me-rayu klien secara teknis masih merupakan praktek yang tidak etis, meskipun kecelakaan mobil pasti akan menarik lebih banyak runner daripada petugas gawat darurat. Di kartu nama, Cleve menyebut dirinya sebagai “penyidik”

Cleve juga mengantar dokumen-dokumen untuk

435

Rohr, mengirimkan surat panggilan pengadilan, memeriksa saksi dan calon anggota juri, dan memata-matai pengacara lain, fungsi biasa runner bila sedang , tidak mengejar kasus perkara. Ia menerima gaji untuk penyelidikannya, dan Rohr memberinya bonus tunai bila ia membawakan kasus bagus.

Sambil minum bir di tavern, ia berbicara dengan Derrick, dan segera menyadari bahwa laki-laki ini ter-lilit masalah finansial. Ia kemudian mengarahkan percakapan ke Angel, dan menanyakan apakah ada orang yang pernah datang bertanya-tanya. Tidak, jawab Derrick, tak seorang pun pernah muncul bertanya mengenai sidang itu. Tetapi Derrick selama ini tinggal dengan saudaranya, semacam bersembunyi dan mencoba menghindari pengacara istrinya yang rakus.

Bagus, kata Cleve, sebab ia dibayar sebagai konsultan oleh beberapa pengacara itu, dan, well, sidang itu penting luar biasa. Cleve memesan bir kedua, dan beberapa lama membicarakan betapa pentingnya sidang itu.

Derrick cerdas, pernah satu tahun kuliah di junior college, dan berminat untuk menangguk uang besar, jadi ia menanggapi dengan cepat. “Mengapa kau tidak langsung pada pokok persoalannya?” ia bertanya.

Cleve sudah siap melakukannya. “Klienku bersedia membeli pengaruh. Tunai. Tidak ada jejak apa pun.”

“Pengaruh,” Derrick memulai, lalu meneguk panjang-panjang. Senyum di wajahnya mendorong Cleve untuk meneruskan kesepakatan itu.

“Lima ribu tunai,” kata Cleve sambil melihat berkeliling. “Setengah sekarang, setengah setelah sidang berakhir.”

436

Senyum itu melebar bersama satu tegukan lagi. “Dan apa yang perlu kukerjakan?”

“Berbicaralah dengan Angel saat kau menemuinya pada kesempatan kunjungan pribadi, dan pastikan dia mengerti betapa pentingnya kasus ini bagi penggugat. Cuma jangan katakan padanya mengenai uang ini, atau tentang aku atau apa pun yang menyangkut urusan ini. Tidak sekarang. Mungkin kelak.”

“Mengapa tidak?”

“Sebab ini sangat ilegal, oke? Bila Hakim, entah bagaimana caranya, sampai tahu aku bicara denganmu, menawarkan uang untuk bicara dengan Angel, kita berdua akan masuk penjara. Mengerti?”

“Yeah.”

“Penting bagimu untuk memahami bahwa ini berbahaya. Kalau kau tidak mau melakukannya, katakan saja sekarang.”

“Sepuluh ribu.”

“Apa?”

“Sepuluh. Lima sekarang, lima sesudah sidang berakhir.”

Cleve mendengus, seolah-olah sedikit muak. Kalau saja Derrick tahu taruhannya. “Oke. Sepuluh.”

“Kapan aku bisa menerimanya?”

“Besok.” Mereka memesan sandwich dan berbicara satu jam lagi mengenai sidang itu dan vonisnya, dan bagaimana cara terbaik untuk membujuk Angel.

Tugas untuk menjauhkan D. Martin Jankle dari vodka kegemarannya jatuh ke pundak Durwood Cable. Fitch dan Jankle berselisih hebat mengenai apakah Jankle boleh minum atau tidak pada malam

437

Rabu, malam sebelum ia memberikan kesaksian. Fitch, yang dulu juga pemabuk, menuduh Jankle punya masalah. Jankle mengumpat Fitch dengan hebat karena mencoba memerintahnya, padahal ia CEO dari Pynex, perusahaan yang tercantum dalam Fortune 500.

Cable diseret ke dalam perkelahian itu oleh Fitch. Cable bersikeras agar Jankle tetap di kantornya sepanjang malam itu, untuk mempersiapkan kesaksiannya. Simulasi pemeriksaan diikuti dengan simulasi pemeriksaan silang yang berkepanjangan, dan Jankle tampi

il cukup memadai. Tidak ada yang spektakuler. Cable menyuruhnya melihat rekaman video bersama panel pakar juri.

Ketika akhirnya dibawa ke kamar hotelnya sesudah pukul sepuluh, ia mendapati Fitch sudah mengambil semua minuman keras dari mini-bar dan mengganti-nya dengan minuman ringan dan sari buah.

Jankle mengumpat dan menghampiri tas bawaan-nya; ia menyembunyikan sebuah botol dalam kantong kulit. Tapi di situ tidak ada botol. Fitch sudah mengambil nya juga.

Pukul satu dini hari, Nicholas diam-diam membuka pintunya dan memeriksa koridor dari ujung ke ujung. Penjaga sudah pergi, tak disangsikan tentu tidur dalam kamarnya.

Marlee sedang menunggu dalam kamar di lantai dua. Mereka berpelukan dan berciuman, tapi tidak lebih dari itu. Marlee sudah mengisyaratkan di telepon bahwa ada masalah, dan dengan tergesa-gesa ia menuangkan cerita itu, dimulai dari percakapan pagi

438

dengan Rebecca di Lawrence. Nicholas mendengarkannya dengan tenang.

Selain gelora perasaan yang wajar dari dua kekasih muda, hubungan mereka jarang diwarnai emosi. Kalaupun ada gejolak, hampir selalu berasal dari Nicholas, yang sedikit lebih emosional daripada Marlee. Nicholas akan meninggikan suaranya bila marah, tapi itu hampir tak pernah terjadi. Marlee tidak dingin, cuma penuh perhitungan. Nicholas tidak pernah melihat Marlee menangis, satu-satunya perkecualian adalah pada akhir film yang dibenci Nicholas. Mereka tidak pernah terlibat dalam perselisihan yang rumit, dan pertengkaran biasanya disisihkan dengan cepat, sebab Marlee telah mengajarinya untuk menahan marah. Ia tidak mentolerir gejolak perasaan yang sia-sia, tidak menunjukkan paras murung atau menyimpan dendam remeh. dan tidak membantah saat Nicholas mencobanya.

Ia menguraikan kembali percakapannya dengan Rebecca, dan berusaha mengingat setiap patah kata dari pertemuannya dengan Fitch.

Rasanya mengguncangkan bahwa identitas mereka telah terungkap sebagian. Mereka yakin Fitch-lah pelakunya, dan mereka bertanya-tanya, berapa banyak yang ia ketahui. Mereka yakin, sejak dulu, bahwa Jeff Kerr harus ditemukan lebih dulu untuk menemukan Claire Clement. Latar belakang Jeff tidak membahayakan. Latar belakang Claire harus dilindungi, atau mereka hams kabur sekarang juga.

Tidak banyak yang bisa dilakukan, kecuali menunggu.

***

439

Derrick memasuki kamar Angel lewat jendela horizontal. Sudah sejak hari Minggu mereka tidak bertemu, hampir 48 jam, dan ia tak bisa menunggu sampai besok malam, sebab ia jatuh cinta setengah mati pada Angel, merindukannya. dan harus memeluknya. Angel langsung tahu bahwa Derrick baru saja minum. Mereka menjatuhkan diri ke ranjang, diam-diam menikmati kunjungan pribadi tidak sah itu.

Derrick menggulingkan tubuh dan tertidur dengan cepat.

Mereka bangun menjelang fajar dan Angel panik, sebab ada laki-laki di kamarnya, dan ini tentu saja melanggar perintah Hakim. Derrick tidak peduli. Ia mengatakan akan menunggu sampai mereka berangkat ke pengadilan, lalu menyelinap keluar dari kamar. Angel tetap saja cemas dan mandi berlama-Iama.

Derrick mengambil alih rencana Cleve dan mem-perbaikinya secara besar-besaran. Sesudah meninggalkan bar, ia membeli sekotak bir isi enam kaleng dan bermobil di sepanjang Gulf selama berjam-jam. Perlahan-lahan, menyusuri Highway 90, melewati hotel-hotel, kasino-kasino, dan dok-dok perahu. Ia mengemudi dari Pass Christian hingga Pascagoula, meneguk bir dan mengembangkan rencana itu. Cleve, sesudah minum beberapa gelas, membocorkan bahwa pengacara-pengacara di pihak penggugat sedang memburu jutaan dolar. Hanya butuh sembilan dari dua belas suara untuk mendapatkan amar keputusan, jadi Derrick menghitung bahwa nilai suara Angel jauh lebih besar daripada sepuluh ribu dolar.

Di tavern itu, sepuluh ribu kedengarannya jumlah

440

yang besar, tapi bila mereka bersedia membayar jumlah itu dengan segera, berarti mereka pasti mau membayar lebih banyak lagi dengan tekanan. Semakin jauh ia mengemudikan mobilnya, semakin mahal nilai suara Angel. Kini jumlahnya mencapai 50.000 dolar, dan naik hampir setiap jam.

Derrick sangat tertarik dengan gagasan untuk mendapatkan persentase. Bagaimana kalau vonis itu bernilai sepuluh juta dolar, misalnya? Satu persen, i>atu persen sepele saja, bukankah berarti seratus ribu dolar? Vonis sejumlah 20 juta dolar? 200.000 dolar. Bagaimana bila Derrick mengusulkan pada Cleve kesepakatan agar mereka membayar kontan di muka, plus persentase dari vonis itu? Itu akan membangkitkan motivasi Derrick, dan tentu saja pacarnya, agar berjuang keras dalam rapat pengambilan -keputusan untuk memberikan vonis besar. Mereka sudah jadi pemain. Peluang ini takkan pernah mereka dapatkan lagi.

Angel kembali dengan memakai mantel mandi dan menyalakan sebatang rokok.

441

Dua Puluh Tujuh

Pembelaan atas nama baik Pynex dimulai dengan pembukaan menyedihkan pada pagi hari Rabu, bukan karena kesalahan sendiri. Seorang analis bernama Walter Barker, penulis dalam Mogul, majalah berita keuangan mingguan, meramalkan dua berban-ding satu bahwa dewan juri di Biloxi akan mengalahkan Pynex, dan memberikan vonis besar. Barker bukan penulis kacangan. Terlatih sebagai pengacara, ia sudah mengembangkan reputasi hebat di Wall Street sebagai orang yang harus didengar bila suatu perkara pengadilan mempengaruhi perdagangan. Spe-sialisasinya adalah memantau sidang pengadilan, sidang banding, dan perundingan damai, serta meramalkan hasilnya sebelum sidang tersebut berakhir. Ia biasanya benar, dan berhasil meraih kekayaan dengan riset-risetnya. Tulisannya dibaca luas, dan fakta bahwa ia merrmsang taruhan menentang Pynex telah mengguncangkan Wall Street. Harga saham yang ditawar kan 76 di saat pembukaan, jatuh menjadi 73, dan menjelang tengah hari, turun menjadi 71,5.

Hari Rabu itu, pengunjung sidang lebih banyak. Bocah-bocah Wall Street kembali dengan kekuatan

442

penuh, masing-masing membaca Mogul dan tiba-tiba setuju dengan Barker, meskipun saat makan pagi satu jam sebelumnya sudah ada konsensus bahwa Pynex sudah melibas saksi-saksi penggugat dan mengemukakan argumen penutup yang kuat. Kini mereka membaca dengan paras khawatir dan mem-perbaiki laporan mereka ke kantor masing-masing. Barker benar-benar hadir di ruang sidang itu minggu lalu. Ia duduk seorang diri di deretan belakang. Apa yang telah ia lihat, tapi terlewatkan oleh mereka?

Para anggota juri berbaris masuk tepat pukul sembilan. Lou Dell dengan bangga memegangi daun pintu, seolah-olah mengumpulkan kawanannya sesudah berpencaran kemarin, dan kini membawa mereka kembali ke tempat semestinya. Harkin menyambut mereka seolah-olah sudah sebulan mereka pergi, mengucapkan basa-basi datar mengenai acara memancing tersebut, kemudian bergegas menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan bakunya seputar “Apakah Anda diganggu?” Ia menjanjikan penyelesaian cepat sidang itu kepada para juri.

Jankle dipanggil sebagai saksi, dan pembela pun mulai. Bebas dari pengaruh alkohol, Jankle tampak segar bugar. Ia tersenyum dengan mudah dan keli hatannya senang mendapat kesempatan untuk membela perusahaan rokoknya. Cable membimbingnya menyelesaikan prosedur pendahuluan, tanpa sentakan.

Pada deretan kedua, duduklah D.Y. Taunton, pengacara kulit hitam dari biro hukum Wall Street yang dulu bertemu dengan Lonnie di Charlotte. Ia mendengarkan Jankle sambil melontarkan tatapan pada Lonnie. Lonnie melirik satu kali, tidak dapat menahan

443

diri untuk melihat lagi, dan pada pandangan ketiga, ia mengangguk dan tersenyum, sebab rasanya itulah sikap yang sepantasnya. Pesannya jelas—Taunton adalah orang penting yang jauh-jauh datang ke Biloxi, sebab hari ini hari penting. Pembela sekarang berbicara, dan penting bagi Lonnie untuk mengerti bahwa ia harus mendengarkan dan mempercayai setiap patah kata yang sekarang diucapkan dari podium saksi. Tidak ada masalah dengan Lonnie.

Tusukan pembelaan pertama Jankle adalah seputar masalah pilihan. Ia mengakui, banyak orang berpikir bahwa rokok menimbulkan ketergantungan, tapi itu dilakukannya hanya karena ia dan Cable menyadan bahwa ia akan kedengaran bodoh kalau mengatakan yang sebaliknya. Tapi mungkin rokok tidak menimbulkan kecanduan. Tak seorang pun benar-benar tahu, dan para ahli riset sama bingungnya seperti orang lain. Penelitian-penelitian itu bertentangan hasilnya, tapi ia belum pernah melihat bukti positif bahwa merokok menimbulkan kecanduan. Secara pribadi, ia tidak mempercayai nya. Jankle sudah dua puluh tahun merokok, karena menikmatinya. Ia mengisap dua puluh batang sehari, atas pilihan sendiri, dan memilih merek dengan kandungan ter rendah. Tidak, sudah pasti ia tidak ketagihan. Ia bisa berhenti kapan saja ia mau. Ia merokok sebab ia suka melakukannya. Ia main tenis empat kali seminggu dan pemeriksaan kesehatan tahunannya tidak mengungkapkan apa pun untuk dikhawatirkan.

Satu deret di belakang Taunton, duduk Derrick Maples yang muncul untuk pertama kalinya dalam sidang itu. Ia meninggalkan motel hanya beberapa

444

menit setelah bus berangkat. dan merencanakan akan menghabiskan hari itu untuk mencari pekerjaan. Kini ia bermimpi menangguk uang dengan mudah. Angel melihatnya, tapi tetap mengarahkan pandang pada Jankle Mmat mendadak Derrick terhadap sidang itu sungguh mencengangkan, sebab ia terus mengeluh sejak para juri dikarantina.

Jankle menguraikan berbagai merek yang dibuat oleh perusahaannya. Ia turun dan berdiri di depan bag an warna-warni yang menggambarkan delapan macam merek, masing-masing dengan kadar ter dan nikotin tercantum di sampingnya. la menjelaskan mengupa beberapa jenis rokok memakai filter, sebagian lagi tidak, sebagian mengandung ter dan nikotin lebih banyak daripada yang lain. Semua itu berpusar sekitar pilihan. Ia bangga dengan aneka ragam produknya.

Suatu pokok penting terungkap di sini, dan Jankle menyampaikannya dengan baik. Dengan menawarkan aneka ragam pilihan merek, Pynex membiarkan masing-masing pelanggan memutuskan berapa banyak ter dan nikotin yang diinginkan. Pilihan. Pilihan. Pilihan. Pilih kadar ter dan nikotinnya. Pilih jumlah rokok yang kauisap. Pilihan untuk mengisapnya atau tidak. Ambilah pilihan yang cerdik mengenai apa yang harus kaulakukan terhadap tubuhmu dengan rokok.

Jankle menunjuk gambar cerah sebungkus Bristol berwarna merah, merek dengan tingkat ter dan nikotin nomor dua paling tinggi. Ia mengaku bahwa bila Bristol “disalahgunakan”, hasilnya bisa merusak.

Rokok adalah prodiik yang bertanggung jawab,

445

bila dipakai dengan terkendali. Seperti banyak produk lainnya—alkohol, mentega, gula, dan senjata api, sekadar beberapa contoh—semua itu bisa berbahaya bila disalahgunakan.

Duduk berseberangan koridor dengan Derrick adalah Hoppy, yang mampir untuk mendapatkan kabar terakhir mengenai apa yang terjadi. Plus ia ingin melihat dan tersenyum pada Millie, yang senang melihatnya, tapi juga bertanya-tanya tentang obsesinya yang muncul mendadak terhadap sidang ini. Malam ini para juri diizinkan menerima kunjungan pribadi, dan Hoppy sudah tak sabar untuk menghabiskan tiga jam di kamar Millie tanpa pikiran tentang seks dalam benaknya.

Ketika Hakim Harkin berhenti untuk makan siang, Jankle sedang menuntaskan uraian pemikirannya mengenai iklan. Memang perusahaannya menghabiskan uang berton-ton, tapi tidak sebanyak pabrik bir atau pabrik mobil atau Coca-Cola. Iklan amat penting untuk bertahan hidup dalam dunia yang sangat kom-petitif, tak peduli apa pun produknya. Sudah tentu anak-anak ikut melihat iklan perusahaannya. Bagaimana caranya merancang papan iklan sehingga tidak dilihat oleh anak-anak? Bagaimana mungkin mencegah anak-anak agar tidak melihat majalah yang jadi langganan orangtuanya? Mustahil. Jankle mengakui bahwa ia sudah melihat statistik yang mengungkapkan bahwa* 85 persen anak-anak yang merokok, membeli tiga merek yang paling banyak diiklankan. Tapi orang dewasa juga demikian! Sekali lagi, Anda tidak bisa merancang iklan yang membidik orang dewasa tanpa mempengaruhi anak-anak.

446

Fitch menyaksikan seluruh kesaksian Jankle dari kursi di dekat bagian belakang. Di sebelah kanannya duduk Luther Vandemeer, CEO dan Trellco, perusahaan rokok terbesar di dunia. Vandemeer adalah pemimpin tidak resmi dari The Big Four, dan satu-satunya yang bisa ditolerir Fitch. Ia, sebaliknya, memiliki karunia yang membingungkan untuk bisa mentolerir Fitch.

Mereka makan siang di Mary Mahoney’s, sendirian di meja sudut. Mereka merasa lega dengan sukses Jankle hingga sejauh ini, tapi mereka tahu bahwa yang terburuk belum lagi datang. Artikel Barker di Mogul menghancurkan selera mereka.

“Seberapa besar pengaruh yang kaumiliki terhadap juri?” Vandemeer bertanya sambil menusuk-nusuk makanannya.

Fitch tidak berniat menjawab terus terang. Itu memang tidak diharapkan darinya. Tindakan-tindakan busuknya selalu dirahasiakan dari siapa saja, kecuali agen-agennya sendiri.

“Seperti biasa,” kata Fitch.

“Mungkin yang biasa tidak cukup.”

“Apa saran Anda?”

Vandemeer tidak menjawab, tapi malah memperhatikan kaki pelayan muda yang sedang mencatat pesanan di meja sebelah.

“Kami sudah berusaha keras,” kata Fitch, dengan kehangatan di luar kebiasaannya. Namun Vandemeer ketakutan, dan itu beralasan. Fitch tahu bahwa tekan-annya luar biasa besar. Vonis besar untuk kemenangan

447

penggugat tidak akan membuat Pynex atau Trellco bangkrut, tapi akibatnya akan mengacaukan dan panjang. Suatu penelitian internal meramalkan kerugian seketika sebesar dua puluh persen dalam nilai saham untuk empat perusahaan tersebut, dan itu baru permulaan. Dalam penelitian yang sama, skenario terburuk yang diramalkan adalah membanjirnya gugatan kasus kanker yang diajukan selama lima tahun sesudah vonis semacam itu, dengan masing-masing perkara menelan satu juta dolar untuk biaya pengacara saja. Penelitian itu tidak berani memperkirakan besarnya biaya untuk vonis ganti rugi sebesar satu juta dolar. Skenario kiamat akan terwujud bila terjadi class-action suit, gugatan massal dari siapa saja yang pernah merokok dan merasa dirugikan olehnya Sampai di situ, kebangkrutan mungkin terjadi. Dan kemungkinan akan muncul pula usaha-usaha serius di Kongres untuk melarang produksi rokok.

“Apa kau punya uang cukup?” tanya Vandemeer.

“Saya rasa cukup,” kata Fitch, untuk keseratus kalinya bertanya-tanya pada diri sendiri, berapa banyak yang bakal diminta Marlee.

“The Fund dalam keadaan baik.”

“Memang.”

Vandemeer mengunyah sepotong kecil ayam panggang. “Mengapa kau tidak memilih sembilan anggota juri dan memberi mereka sejuta dolar seorang?” ia bertanya dengan tawa pelan seolah-olah hanya bergurau.

“Percayalah”, saya sudah memikirkan kemungkinan itu. Cuma cara ini terlalu riskan. Orang-orang akan masuk ke penjara.”

448

“Cuma bercanda.” “Kita punya cara.”

Vandemeer berhenti tersenyum. “Kita harus me-nang, Rankin, kau paham? Kita harus menang Belanjakan berapa saja yang diperlukan.”

Si minggu sebelumnya, sesuai dengan satu lagi permintaan tertulis dari Nicholas Easter, Hakim Harkin mengubah sedikit acara makan siang, dan mengumumkan bahwa dua anggota juri cadangan boleh makan bersama dua belas orang itu. Nicholas berdalih bahwa karena mereka berempat belas sekarang tinggal bersama, menonton film bersama. sarapan dan makan malam bersama, rasanya menggelikan untuk memisahkan mereka saat makan siang. Dua anggota cadangan itu semuanya pria, Henry Vu dan Shine Royce.

Henry Vu dulu pilot tempur Vietnam Selatan, yang membuang pesawat terbangnya ke Laut Cina ketika Saigon jatuh. Ia dijemput oleh kapal penyelamat Amerika dan dirawat di rumah sakit di San Francisco. Butuh waktu setahun untuk menyelundupkan istri dan anaknya lewat Laos dan Kampuchea serta masuk ke Thailand, dan akhirnya ke San Francisco, tempat keluarga tersebut tinggal selama dua tahun. Mereka pindah ke Biloxi pada tahun 1978. Vu membeli sebuah kapal penangkap udang dan bergabung dengan sekelompok nelayan Vietnam yang kian besar jumlahnya dan mendesak pergi penduduk aslinya. Tahun lalu putri bungsunya menjadi pembawa pidato perpisahan kelas seniornya. Ia menerima bea-siswa penuh ke Harvard. Henry membeli perahu udangnya yang keempat.

449

Ia tidak berusaha menghindari tugas sebagai anggota juri. la sama patriotisnya seperti siapa pun, bahkan sang kolonel.

Nicholas, tentu saja, sudah langsung bersahabat dengannya. Ia bertekad bahwa Henry Vu akan duduk bersama dua bela>> orang yang terpilih, dan hadir ketika perundingan untuk mengambil keputusan dimulai

MtNGiNGAT dewan juri terkurung dalam karantina. Durwood Cable tak ingin memperpanjang sidang itu. Ia sudah memotong daftar saksinya menjadi lima orang, dan merencanakan bahwa kesaksian mereka takkan lebih dari empat hari.

Inilah saat terburuk untuk melakukan pemeriksaan langsung terhadap saksi—jam pertama sesudah makan siang—ketika Jankle duduk di podium saksi dan kembali memberikan kesaksian.

“Apa yang dilakukan perusahaan Anda untuk memerangi kebiasaan merokok di bawah umur?” Cable menanyainya, dan Jankle bicara panjang-lebar selama satu jam. Satu juta dolar di sini untuk organisasi ini, dan satu juta di sana untuk iklan itu. Sebelas juta dolar untuk tahun lalu saja.

Kadang-kadang, Jankle terdengar seolah-olah membenci tembakau.

Sesudah rehat kopi yang sangat panjang pada pukul tiga, Wendall Rohr diberi kesempatan pertama untuk memeriksa Jankle. .Ia mulai dengan satu pertanyaan mematikan, dan keadaan berubah dari buruk menjadi parah

“Benarkah, Mr. Jankle, bahwa perusahaan Anda

450

menghabiskan ratusan juta dolar dalam upaya meyakinkan orang untuk merokok, tapi saat mereka jatuh sakit karena rokok itu, perusahaan Anda tidak bersedia membayar sepeser pun untuk. menolong mereka?”

“Apakah itu pertanyaan?”

‘Tentu saja ini pertanyaan. Sekafang jawablah!”

‘Tidak. Itu tidak benar.”

“Bagus. Kapan terakhir kali Pynex membayarkan sepeser saja untuk biaya pengobatan perokok Anda?”

Jankle angkat bahu dan menggumamkan sesuatu.

“Maaf, Mr. Jankle. Saya tidak dengar itu. Pertanyaannya, kapan terakhir kali…”

“Saya dengar pertanyaannya.”

“Kalau begitu, jawablah. Beri saja kami satu con-toh ketika Pynex menawarkan untuk memberi bantuan membayar biaya pengobatan seseorang yang merokok produk Anda.”

“Saya tidak ingat siapa pun.”

“Jadi, perusahaan Anda menolak untuk berdiri di belakang produknya?”

“Sama sekali tidak.”

“Bagus. Beri satu contoh saja kepada juri, ketika Pynex berdiri di belakang rokoknya.” “Produk kami tidak cacat.”

“Tidak menyebabkan sakit dan kematian?” Rohr bertanya meragukannya, tangannya kian-kemari di udara.

“Tidak.”

“Sekarang coba saya jelaskan. Anda mengatakan kepada juri di sini bahwa rokok Anda tidak mengakibatkan sakit dan kematian?”

451

“Hanya bila disalahgunakan.”

Rohr tertawa ketika Jankle mengucapkan kata “disalahgunakan” dengan sikap sangat muak. “Apakah rokok Anda harus dinyalakan dengan korek?”

‘Tentu.”

“Dan apakah asap yang dihasilkan oleh tembakau dan kertas itu dftedot dari ujung yang berlawanan dengan ujung yang dinyalakan?”

“Ya.”

“Dan apakah asap ini memasuki mulut?” “Ya.”

“Dan apakah seharusnya dihirup ke dalam saluran pernapasan?”

‘Tergantung pilihan si perokok.”

“Apakah Anda menghirupnya, Mr. Jankle?”

“Ya.”

“Apakah Anda tahu mengenai penelitian yang menunjukkan bahwa 98 persen dari seluruh perokok menghirup asapnya?”

“Saya rasa demikian.”

“Apakah menurut Anda orang-orang yang menghirup asap rokok sebenarnya menyalahgunakan produk tersebut?”

“Tidak.”

“Jadi, harap jelaskan pada kami, Mr. Jankle, bagaimanakah orang menyalahgunakan sebatang rokok?”

“Dengan merokok terlalu banyak.” “Dan berapakah terlalu banyak itu?” “Saya rasa itu tergantung pada masing-masing individu “

“Saya tidak bicara kepada masing-masing perokok

452

secara individual, Mr. Jankle. Saya berbicara dengan Anda, CEO Pynex, salah satu produsen rokok terbesar di dunia. Dan saya menanyai Anda, menurut Anda, berapa banyakkah yang disebut terlalu banyak?”

“Boleh saya katakan lebih dari dua bungkus se-hari.”

“Lebih dari empat puluh batang sehari.” “Ya.”

“Begitu. Dm berdasarkan penelitian apa angka ini?;’

“Tidak berdasarkan penelitian apa pun. Itu cuma pendapat saya.”

“Jadi, di bawah empat puluh batang, merokok bukanlah hai yang tidak sehat. Di atas empat puluh, produk ini disalahgunakan. Begitukah kesaksian Anda?”

“Itu pendapat saya.” Jankle mulai menggeliat-geliat dan melontarkan pandangan pada Cable, yang marah dan memalingkan wajah. Teori penyalahgunaan ini sama sekali baru, ciptaan Jankle sendiri. Ia bersi keras memakai nya.

Rohr menurunkan suara dan mempelajari catatannya. Ia tidak terburu-buru memasang perangkap ini, sebab tak ingin merusak serangan yang mematikan. “Tolong jelaskan kepada juri, langkah-langkah yang sudah Anda ambil sebagai CEO untuk memperingatkan masyarakat bahwa merokok lebih dari empat puluh batang sehari adalah berbahaya.”

Jankle punya satu jawaban cepat, tapi ia memikirkannya lebih jauh. Mulutnya terbuka, lalu tertahan di tengah pemikiran dalam kesunyian panjang, me—

453

nyakitkan. Sesudah kerusakan terjadi, ia menenangkan diri dan berkata, “Saya rasa Anda salah paham.”

Rohr tidak berniat membiarkannya memberi penjelasan. “Saya yakin demikian. Saya rasa saya tidak pernah melihat peringatan apa pun pada produk Anda, yang mengatakan bahwa mengkonsumsi lebih dari dua bungkus merupakan penyalahgunaan dan berbahaya Mengapa tidak?”

“Kami tidak dituntut demikian.”

“Dituntut oleh siapa?”

“Pemerintah.”

“Jadi, kalau pemerintah tidak menyuruh Anda memperingatkan masyarakat bahwa produk Anda bisa disalahgunakan, Anda pasti tidak akan melakukannya secara sukarela, bukan?”

“Kami mengikuti hukum.”

“Apakah hukum menuntut Pynex untuk menghabiskan 400 juta dolar untuk iklan tahuji lalu?” “Tidak.”

‘Tapi Anda melakukannya, bukan?” “Kurang-lebih demikian.”

“Dan seandainya Anda ingin memperingatkan para perokok akan bahaya potensial kebiasaan itu, Anda tentu bisa melakukannya, bukan?”

“Saya rasa demikian.”

Rohr beralih cepat ke mentega dan gula, dua produk yang disebut Jankle berpotensi menimbulkan bahaya. Rohr dengan sangat gembira menunjukkan perbedaan antara kedua produk itu dan rokok, hingga membuat Jankle tampak konyol.

Ia menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir. Dalam reses singkat, monitor video sekali lagi di—

454

dorong ke tempatnya. Ketika dewan juri kembali, lampu-lampu diredupkan dan Jankle muncul dalam layar, tangan kanan terangkat ketika disumpah untuk mengatakan yang sebenar-benarnya. Itu adalah rekaman pemeriksaan di hadaptin subkomite Kongres. Berdiri di samping Jankle adalah Vandemeer serta dua CEO lain dari The Big Four, semuanya dipanggil di luar kemauan sendiri, untuk memberikan kesaksian kepada sekelompok politisi. Mereka kelihatan seperti empat orang don Mafia yang akan mengatakan kepada Kongres bahwa yang disebut sebagai kejahatan terorganisasi sebenarnya tidak ada. Pemeriksaan itu brutal

Rekaman itu telah diedit besar-besaran. Satu per atu, mereka ditanyai langsung apakah nikotin mengakibatkan ketergantungan, dan dengan tegas masing-masing mengatakan tidak. Jankle yang terakhir, dan saat ia mengutarakan sangkalannya dengan marah, dewan juri, sama seperti subkomite tersebut, tahu bahwa ia bohong

455

Dua Puluh Delapan

Dalam rapat tegang selama 45 menit dengan Cable di kantornya, Fitch menumpahkan segala yang mengusik perasaannya mengenai cara pembelaan kasus ini. Ia mulai dengan Jankle dan dalih pembelaan barunya yang cemerlang, strategi penyalahgunaan rokok, pendekatan serampangan yang mungkin akan menghancurkan mereka. Cable, yang tidak senang diomeli, terutama oleh orang yang bukan ahli hukum dan dibencinya, berulang-ulang menjelaskan bahwa mereka sudah memohon agar Jankle jangan mengungkit masalah penyalahgunaan. Namun Jankle pernah menjadi pengacara dalam kariernya dulu, dan membayangkan dirinya sebagai pemikir orisinal yang diberi peluang emas untuk menyelamatkan Big Tobacco. Jankle kini sedang berada dalam jet Pynex menuju New York.

Dan Fitch menganggap dewan juri mungkin sudah bosan dengan Cable. Rohr membagi tugas di ruang sidang di antara kawanan maling yang dipimpinnya. Mengapa Cable tidak bisa membiarkan pembela Iain di samping Felix Mason untuk menangani beberapa orang saksi? Tuhan tahu jumlah mereka cukup ba—

456

nyak. Apakah karena ego? Mereka saling berteriak-teriak dari seberang meja.

Artikel dalam majalah Mogul itu meruntuhkan saraf dan menambah satu lapis tekanan lain yang jauh lebih berat.

Cable memperingatkan Fitch bahwa dialah pengacaranya, dan ia punya catatan prestasi selama tiga puluh tahun di ruang sidang. Ia bisa membaca suasana dan tekstur sidang itu dengan lebih baik.

Dan Fitch memperingatkan Cable bahwa ini adalah sidang perkara tembakau kesembilan yang ia arahkan. belum lagi dua pembatalan sidang yang ia rekayasa, dan jelas ia sudah menyaksikan pembelaan yang lebih efektif daripada yang diberikan Cable.

Ketika teriakan dan umpatan mereda, dan sesudah dua laki-laki itu berusaha menenangkan diri, mereka setuju bahwa pembelaan harus dilaksanakan dengan singkat. Cable memproyeksikan tiga hari lagi, dan itu termasuk pemeriksaan silang apa pun yang diajukan Rohr. Tiga hari, tidak lebih, kata Fitch.

Ia membanting pintu ketika meninggalkan kantor tersebut, dan menjemput Jose di koridor. Bersama-sama mereka menerobos kantor-kantor yang masih sangat sibuk oleh para pengacara dengan lengan baju tergulung, paralegal yang sedang makan piza, dan sekretans-sekretaris yang letih mondar-mandir untuk menyelesaikan pekerjaan dan pulang pada anak-anaknya. Melihat Fitch berjalan pongah dengan kecepatan penuh dan Jose” yang kekar menerjang dengan kaki terentak di belakangnya, membuat orang dewasa ngeri dan menyelinap ke ambang pintu.

Di dalam mobil Suburban, Jose menyerahkan

457

setumpuk faks, yang dipelajari Fitch sementara mereka melaju ke kantor pusat. Yang pertama adalah daftar gerak perpindahan Marlee sejak pertemuan di dermaga kemarin. Tidak ada yang luar biasa.

Berikutnya adalah rekapitulasi dari apa yang terjadi di Kansas. Seorang Claire Clement ditemukan di Topeka, tapi ia penghuni rumah jompo. Satu lagi di Des Moines menjawab telepon di tempat jual-beli mobil bekas milik suaminya. Swanson mengatakan mereka melacak banyak jejak, tetapi laporan itu tidak memberikan banyak perincian. Seorang teman kuliah Kerr ditemukan di Kansas City, dan mereka mencoba mengatur pertemuan.

Mereka melewati sebuah toko, dan neon iklan bir di jendela depannya menarik perfiatian Fitch. Bau dan rasa bir dingin memenuhi indranya. Fitch sangat ingin minum. Satu saja. Bir dingin yang manis dalam cangkir besar. Sudah berapa lama yang terakhir?

Dorongan untuk berhenti menindihnya. Fitch memejamkan mata dan mencoba memikirkan hai lain. Ia bisa mengirim Jose” ke sana untuk membeli satu saja, satu botol bir dingin; itu saja. Sesudah sembilan tahun bebas alkohol, tentunya ia bisa mengatur untuk minum sebotol saja. Mengapa tidak?

Tapi ia punya uang satu juta dolar. Dan bila ia menyuruh Jose” berhenti di sini, ia akan minta berhenti lagi dua blok dari sana. Dan ketika akhirnya sampai di kantor, mobil Suburban itu akan penuh dengan botol-botol kosong, dan Fitch akan melemparkannya pada mobil-mobil yang lewat. I a bukan pemabuk yang sopan.

Tapi satu saja untuk menenangkan saraf, untuk membantu melupakan hari yang menggemaskan ini.

458

“Anda baik-baik, Bos?” tanya Jose.

Fitch menggeram dan berhenti berpikir mengenai bir. Di mana Marlee, dan mengapa ia tidak menelepon hari ini? Sidang itu terus berjalan, sedangkan kesepakatan tentu perlu waktu untuk dinegosiasikan dan dilaksanakan.

Ia memikirkan artikel di Mogul, dan ia merindukan Marlee. Ia mendengar suara tolol Jankle menguraikan teori pembelaan baru, dan ia merindukan Marlee. Ia memejamkan mata dan melihat wajah para juri, dan ia merindukan Marlee.

Karena kini menganggap dirinya sendiri sebagai pemain utama, Derrick memilih tempat pertemuan baru untuk Rabu malam. Tempat itu adalah bar yang riuh di daerah pemukiman kulit hitam Biloxi, tempat yang sudah pernah dikunjungi Cleve. Derrick merasa dirinya berada di atas angin bila pertemuan itu berlangsung di sarangnya. Cleve kukuh menginginkan agar mereka lebih dulu bertemu di halaman parkir.

Halaman parkir itu nyaris penuh. Cleve terlambat. Derrick melihatnya ketika parkir, dan ia berjalan ke sisi pengemudi.

“Kurasa ini bukan gagasan yang baik,” kata Cleve, mengintip dari celah jendelanya dan memandang ke kegelapan. ke gedung bata dengan batangan-batangan baja melintang pada jendela-jendelanya.

‘Tidak apa,” kata Derrick; ia sendiri sedikit khawatir, tapi tidak mau memperlihatkannya “Tempat ini aman.”

“Aman? Bulan lalu ada tiga kali penusukan di sini.

459

Aku satu-satunya yang punya wajah putih di sini, dan kau berharap aku berjalan ke sana dengan lima ribu dolar tunai dan menyerahkannya padamu. Coba lebak siapa yang lebih dulu ditusuk, aku atau kau?”

Derrick mengerti, tapi tidak bersedia menyerah demikian cepat. Ia membungkuk lebih dekat ke jendela. melihat sekeliling halaman parkir itu, dan mendadak jadi lebih takut.

“Aku bilang kita masuk,” katanya, berlagak seperti jagoan.

“Lupakan saja,” kata Cleve. “Kalau kau mau uang itu, temui aku di Waffle House di Highway 90.” Cleve menyalakan mesin dan menutup jendela. Derrick menyaksikannya pergi, dengan lima ribu dolar tunai dalam jangkauan tangan. lalu berlari ke mobilnya.

Mereka makan kue dadar dan minum kopi di counter. Percakapan dipelankan, sebab sang koki sedang membalik-balik telur dan sosis pada panggangan tidak lebih tiga meter dari sana, dan kelihatannya berusaha keras mendengarkan setiap patah kata.

Derrick resah dan tangannya ingin bergerak-gerak. Runner biasa menangani pembayaran tunai setiap nan. Urusan ini tidak begitu besar bagi Cleve.

“Kupikir mungkin sepuluh ribu tidak cukup, tahu maksudku?” akhirnya Derrick berkata. mengulangi kalimat yang sudah dilatihnya sepanjang siang.

“Kukira kita sudah sepakat,” kata Cleve, tak bergeming, mengunyah-ngunyah kue dadar.

“Tapi aku tetap merasa kau mencoba mengecoh-ku.”

“Beginikah caramu bernegosiasi?”

460

“Kau tidak menawarkan cukup banyak, man. Selama ini aku terus memikirkannya. Aku bahkan pergi ke pengadilan pagi ini dan menyaksikan sebagian jalannya sidang. Aku sekarang tahu apa yang tengah terjadi. Aku memikirkannya.”

“Benar?”

“Yeah. Dan kalian tidak bermain adil.”

‘Tidak ada keluhan tadi malam, ketika kita sepakat dengan sepuluh ribu.”

“Keadaannya Iain sekarang. Kau menubrukku dalam keadaan tidak berjaga tadi malam.”

Cleve menyeka mulut dengan serbet dan menunggu koki menghidangkan makanan di ujung counter itu. “Lalu berapa yang kauinginkan?”

“Lebih banyak lagi.”

“Kita tidak punya waktu untuk main-main. Katakan padaku, berapa yang kauinginkan.”

Derrick menelan ludah dengan berat dan melirik dari atas pundaknya. Dengan suara tertahan ia berkata, “Lima puluh ribu, ditambah persentase dari hasil vonisnya.”

“Berapa persen?”

“Kurasa sepuluh persen cukup adil.”

“Oh, begitu menurutmu?” Cleve melemparkan serbetnya ke piring. “Kau sudah sinting,” katanya, lalu meletakkan sehelai lima dolar di samping piringnya. Ia berdiri dan berkata. “Kita sudah buat kesepakatan sepuluh ribu. Itu saja. Kalau kau minta jumlah yang lebih besar, kita akan tertangkap.”

Cleve berlalu dengan terburu-buru. Derrick memeriksa kedua sakunya dan hanya menemukan uang recehan. Sang koki mendadak berkeliaran di situ,

461

mengawasi upayanya yang sia-sia untuk mencari uang. “Kukira dia akan membayar.” kata Derrick, memeriksa saku kemejanya.

“Berapa yang kaumiliki?” tanya si koki, mengambil lembaran lima dolar tadi dari samping piring Cleve.

“Delapan puluh sen.”

“Itu cukup.”

Derrick bergegas menuju halaman parkir, menyusul Cleve yang sedang menunggu dengan mesin dihidupkan dan jendela diturunkan. “Aku berani bertaruh, pihak lain akan membayar lebih banyak,” katanya sambil membungkuk.

“Kalau begitu. cobalah. Datanglah pada mereka besok, dan katakan pada mereka bahwa kau ingin 50.000 dolar untuk satu suara.”

“Dan sepuluh persen.”

“Kau tidak tahu apa-apa, Nak.” Cleve perlahan-lahan memutar kunci kontak, mematikan mesin, dan keluar dari mobil. Ia menyalakan sebatang rokok. “Kau tidak mengerti. Vonis untuk kemenangan tergugat berarti tidak ada uang yang berpindah tangan. Nol untuk penggugat berarti nol untuk tergugat. Ini berarti tidak ada persentase apa pun bagi siapa pun. Para pengacara dari penggugat mendapatkan empat puluh persen dari nol. Kau mengerti?”

“Yeah,” kata Derrick perlahan-lahan, meski jelas masih kebingungan

“Dengar, yang kutawarkan padamu adalah sesuatu yang sangat ilegal. Jangan tamak. Kalau serakah, kau akan tertangkap.”

“Sepuluh ribu rasanya murah untuk vonis sebesar ini.”

“Tidak. jangan melihatnya dengan cara demikian. Pikirkanlah seperti ini. Dia tidak berhak mendapatkan apa pun, oke? Nol. Dia sedang melaksanakan kewa-jibannya sebagai warga negara. Sepuluh ribu itu uang suap, hadiah kecil yang kotor dan harus dilupakan begitu diterima.”

“Tnpi kalau kau menawarkan persentase, dia akan termotivasi untuk bekerja lebih keras di ruang juri.”

Cleve menyedot rokok panjang-panjang dan meng-embuskannya perlahan-lahan. menggoyangkan kepala nya. “Kau sungguh tidak mengerti. Kalau penggugat mendapatkan kemenangan, masih bertahun-tahun lagi sebelum uang itu berpindah tangan. Dengar, Derrick, kau membuat urusan ini terlalu rumit. Ambillah uangnya. Bicaralah pada Angel. Bantulah kami.”

“Dua puluh lima ribu.”

Sdtu sedotan panjang lagi, lalu rokok jatuh ke aspal, dan Cleve menggilasnya dengan sepatu lars. “Aku harus bicara dengan bosku “

“Dua puluh lima ribu, tiap suara.”

“Tiap suara?”

“Yeah. Angel bisa memberikan lebih dari satu.” “Siapa?”

“Takkan kukatakan.”

“Coba aku bicara dengan bosku.”

Di dalam Kamar 54, Henry Vu membaca surat-surat dari putrinya di Harvard, sementara Qui, istrinya, mempelajari polis asuransi baru untuk armada kapal penangkap udangnya. Karena Nicholas sedang menonton film di ruang depan, Kamar 48 kosong. Di dalam Kamar 44, Lonnie dan istrinya berpelukan di

463

bawah selimut untuk pertama kalinya setelah hampir sebulan. tapi mereka harus bergegas, karena anak-anak dijaga oleh adik istrinya. Di dalam Kamar 58, Mrs. Grimes menonton komedi televisi sementara Herman memasukkan uraian sidang itu ke komputernya. Kamar 50 kosong karena sang kolonel sedang berada di Ruang Pesta, lagi-lagi seorang diri, karena Mrs. Herrera sedang berada di Texas, mengunjungi :*epupunya. Dan kamar 52 juga kosong, karena Jerry minum bir bersama sang kolonel dan Nicholas, menunggu sampai tepat untuk diam-diam menyeberangi koridor, menuju kamar Poodle. Di kamar 56, Shine Royce, anggota juri pengganti nomor 2, sedang melahap satu tas besar roti dan mentega yang dibawanya dari ruang makan, menonton TV, dan sekali lagi bersyukur pada Tuhan atas keberuntungannya. Royce berumur 52, menganggur. tinggal dalam trailer sewaan dengan seorang wanita muda dan enam anaknya, serta belum pernah berpenghasilan lima belas dolar sehari mengerjakan • apa pun selama bertahun-tahun ini. Sekarang ia hanya perlu duduk dan mendengarkan sidang, dan county bukan saja membayar. tapi juga memberiny* makan. Di kamar 46, Phillip Savelle dan pacarnya yang orang Pakistan minum teh rempah dan merokok ganja dengan jendela terbuka.

Di seberang koridor, di dalam Kamar 49, Sylvia Taylor-Tatum berbicara di telepon dengan putranya. Di Kamar 45, Mrs. Gladys Card bermain kartu remi c^engtn Mr. Nelson Card, suami yang punya sejarah penyakit prosiat. Di Kamar 51, Rikki Coleman menunggu Rhea, yang datang terlambat dan mungkin

464

tidak bisa datang, sebab baby-sitter mereka tidak masuk. Di Kamar 53, Loreen Duke duduk di ranjang, makan kue brownie dan mendengarkan dengan perasaan iri sewaktu Angel Weese dan pacarnya mengguncang-guncang dinding Kamar 55 di sebelah.

Dan di Kamar 47, Hoppy dan Millie Dupree bercinta dengan penuh semangat Hoppy datang lebih awal dengan sekantong besar masakan Cina dan sebotol sampanye murahan, minuman yang tidak pernah dicobanya selama bertahun-tahun. Dalam keadaan normal. Millie tentu sudah mengomel mengenai atkohol, tapi hari-hari ini sangat jauh dari normal. Ia meneguk sedikit minuman itu dari cangkir plastik motel, dan makan seporsi besar daging’asam manis. Kemudian Hoppy menyerangnya

Setelah selesai, mereka berbaring dalam kegelapan dan bercakap-cakap pelan mengenai anak-anak, sekolah dan rumah pada umumnya. Millie agak letih dengan cobaan ini, dan sangat ingin kembali pada keluarganya. Hoppy berbicara dengan sedih mengenai kepergian sang istri. Anak-anak sering rewel. Rumah jadi berantakan. Semua merindukan Millie.

Ia berpakaian dan menyalakan televisi. Millie mengenakan mantel kamarnya dan menuang sedikit sampanye lagi.

“Kau takkan percaya ini,” kata Hoppy sambil merogoh-rogoh saku mantel dan mengeluarkan secank kertas terlipat.

“Apa itu?” tanya Millie, mengambil kertas tersebut dan membuka lipatannya. Itu adalah kopi dari memo palsu Fitch, berisi daftar dosa Leon Robilio. Ia membacanya perlahan-lahan, lalu memandang cunga

465

peda suaminya. “Dari mana kau mendapatkan ini?” tanyanya.

“Datang lewat faks kemarin,” kata Hoppy sungguh-sungguh. Ia ^udah melatih jawabannya, sebab tidak tega berbohong pada Millie, la merasa sangat berdosa, tapi Napier dan Nitchman ada di luar sana, menunggu.

“Siapa yang mengirimnya?” tanya Millie.

“Entahlah. Kelihatannya datang dari Washington.”

“Mengapa kau tidak membuangnya?”

“Aku tidak tahu. Aku…”

“Kau tahu, tidak benar memperlihatkan sesuatu seperti ini padaku, Hoppy.” Millie melemparkan kertas itu ke ranjang dan berjalan lebih dekat ke suaminya, bercekak pinggang. “Apa sebenarnya maksudmu?”

“Tidak ada apa-apa. Cuma itu difakskan ke kan-torku, itu saja.”

“Sungguh kebetulan! Seseorang di Washington kebetulan tahu nomor faksmu, kebetulan tahu istrimu sedang menjadi anggota juri, kebetulan tahu Leon Robilio memberikan kesaksian, dan kebetulan curiga bahwa kalau mereka mengirimkan surat ini padamu, kau akan cukup tolol untuk membawanya ke sini dan mencoba mempengaruhi aku. Aku ingin tahu apa yang terjadi!”

“Tidak ada apa-apa. Sumpah,” kata Hoppy, berdiri pada tumitnya.

“Mengapa kau mendadak berminat sekali pada sidang ini?”

“Sidang ini sangat menarik.”

“Sudah menarik selama tiga minggu, tapi kau hampir tidak pernah menyebutnya. Apa yang terjadi, Hoppy?”

466

‘Tidak ada apa-apa. Tenanglah.” “Aku bisa tahu kalau ada yang meresahkan hati-mu.”

“Sudahlah, Millie. Dengar. kau resah. Aku resah. Urusan ini membuat kita semua bertingkah di luar kebiasaan. Maafkan aku telah membawa surat ini.”

Millie menghabiskan sampanyenya dan duduk di tepi ranjang. Hoppy duduk di sampingnya. Mr. Cristano di Departemen Kehakiman menyiratkan dengan cukup tegas bahwa Hoppy harus membujuk Millie agar memperlihatkan memo itu kepada semua rekannya dalam dewan juri. Ia takut memberitahu Mr. Cristano bahwa hai ini mungkin takkan terjadi. Tapi bukankah Mr. Cristano takkan tahu pasti apa yang terjadi pada barang terkutuk itu?

Saat Hoppy merenungkan hai ini, Millie mulai menangis. “Aku ingin pulang,” katanya, matanya merah. bibirnya gemetar. Hoppy memeluknya dan mendekapnya rapat.

“Maaf,” katanya. Millie menangis lebih keras lagi.

Hoppy pun merasa ingin menangis. Pertemuan ini terbukti tidak ada artinya, meskipun mereka sudah bercinta. Menurut Mr. Cristano, sidang ini akan berakhir beberapa hari lagi. Tidak boleh tidak, Millie harus segera diyakinkan bahwa satu-satunya vonis adalah untuk kemenangan tergugat. Karena kesempatan mereka untuk bersama-sama demikian jarang, Hoppy akan terpaksa menceritakan kebenaran mengerikan itu. Tidak sekarang, tidak malam ini. tapi pasti dalam kunjungan pribadi berikutnya.

467

Dua Puluh Sembilan

Kegiatan rutin sang kolonel tidak pernah berubah. Seperti layaknya prajurit tua yang baik, ia bangun tepat pukul setengah enam setiap pagi, untuk pushup dan situp sebanyak lima puluh kali sebelum mandi air dingin. Pukul enam, ia pergi ke ruang makan, bersiap menikmati kopi baru dan banyak surat kabar. Ia makan roti bakar dengan selai, tanpa mentega, dan menyapa setiap rekannya dengan ucapan selamat pagi yang penuh semangat, sewaktu mereka masuk dan kemudian keluar lagi. Mereka masih mengantuk dan ingin cepat-cepat kembali ke kamar masing-masing, meneguk kopi dan menonton siaran berita tanpa diganggu. Cara yang menyebalkan untuk menyambut pagi, dipaksa menyapa sang kolonel dan membalas semburan kata-katanya. Makin lama mereka diasingkan, makin bersemangat ia sebelum matahari terbit. Beberapa anggota juri itu menunggu hingga pukul delapan, sebab biasanya sang kolonel bergegas kembali ke kamarnya pada saat itu.

Pada pukul enam seperempat hari Kamis, Nicholas mengucapkan halo kepada sang kolonel sewaktu

468

menuang secangkir kopi, lalu mengobrol singkat mengenai cuaca. Ia meninggalkan ruang makan darurat itu dan diam-diam masuk ke koridor yang kosong dan gelap. Beberapa TV sudah bisa terdengar. Seseorang sedang berbicara di telepon. Ia membuka pintunya dan cepat-cepat meletakkan kopi di meja. mengambil setumpuk koran dari laci, lalu meninggalkan kamar

Memakai kunci yang dicurinya dari rak di bawah front desk, Nicholas masuk ke Kamar 50, kamar sang kolonel. Bau cairan aftershave murahan masih melekat pekat. Sepatu dikumpulkan dalam deretan rapi, ter-sandar pada dinding. Pakaian di dalam lemari digantung rapi dan disetrika sempurna. Nicholas berlutut, mengangkat tepi seprai, serta menyelipkan surat kabar dan majalah-majalah itu ke bawah ranjang. Salah satunya adalah kopi majalah Mogul terbitan kemarin.

Ia meninggalkan kamar itu tanpa bersuara dan kembali ke kamarnya sendiri. Satu jam kemudian, ia menelepon Marlee. Dengan asumsi bahwa Fitch mendengarkan semua teleponnya, ia hanya berkata, “To-long dengan Darlene.” Mendengar itu, Marlee menjawab, “Salah sambung.” Keduanya memutus sambungan. Ia menunggu lima menit dan memutar nomor telepon genggam yang disimpan Marlee dalam leman. Mereka memperkirakan Fitch menyadap telepon dan apartemennya.

“Pengiriman selesai,” katanya.

Setengah jam kemudian, Marlee meninggalkan apartemennya dan menemukan telepon umum di restoran biskuit. Ia menelepon Fitch, dan menunggu teleponnya disambungkan.

469

“Selamat pagi, Marlee,” katanya. “Hei, Fitch. Dengar, aku ingin bicara di telepon, tapi aku tahu semua ini direkam.” “Tidak. Sumpah.”

“Baik. Di sudut Fourteenth dan Beach Avenue ada kedai Kroger, lima menit dari kantormu. Di sana ada tiga telepon umum dekat pintu masuk depan, sebelah kanan. Pergilah ke pesawat yang di tengah. Aku akan menelepon dalam waktu tujuh menit. Bergegaslah, Fitch.” Ia memutuskan sambungan.

“Bangsat!” Fitch berteriak sambil membanting ga-gang telepon dan melompat ke pintu. Ia berteriak pada Jose dan mereka bersama-sama berlari ke pintu belakang, melompat ke dalam mobil Suburban itu.

Seperti sudah diduga, telepon itu sedang berdering ketika Fitch sampai di sana.

“Hei, Fitch. Dengar, Herrera, nomor 7, benar-benar mengesalkan hati Nick. Kurasa kita akan kehilangan dia hari ini.”

“Apa!”

“Kau mendengarku.” “Jangan lakukan, Marlee!”

“Orang itu benar-benar menyebalkan. Semua muak dengannya.”

‘Tapi dia ada di pihak kita!”

“Oh, Fitch. Mereka semua akan ada di pihak kita saat ini berakhir. Omong-omong, datanglah ke sana pukul sembilan, untuk menyaksikan ketegangan.”

“Tidak, dengarkan, Herrera vital untuk…” Fitch berhenti di tengah kalimat ketika mendengar klik pada pesawatnya. Kemudian sambungan itu putus.

470

Ia mencengkeram gagang telepon dan mulai menariknya, seolah-olah akan mencabutnya dari pesawat telepon dan melemparkannya ke halaman parkir. Kemudian ia melepaskannya, dan tanpa mengumpat atau mencaci ia berjalan tenang kembali ke mobil Suburban dan memerintahkan Jose untuk pergi ke kantor.

Apa pun yang diinginkan Marlee. Tidak jadi soal.

Hakim harkin tinggal di Gulfport, seperempat jam dari gedung pengadilan. Karena alasan-alasan yang jelas, nomor teleponnya tidak tercantum dalam buku petunjuk. Siapa yang menginginkan narapidana-nara-pidana dari penjara menelepon nya setiap saat sepanjang malam?

Sewaktu ia dalam proses mencium istrinya dan mengambil cangkir kopinya untuk di perjalanan, telepon di dapur berdering dan Mrs. Harkin mengangkatnya. “Untukmu, Sayang,” katanya sambil menyerahkannya kepada Yang Mulia, yang kemudian meletak-kah kopi dan tas kerjanya sambil melirik arloji.

“Halo,” katanya.

“Pak Hakim, maaf mengganggu Anda di rumah seperti ini,” kata satu suara yang gelisah, nyaris berbisik. ‘Tni Nicholas Easter, dan kalau Anda ingin saya memutuskan sambungan sekarang, akan saya lakukan.”

“Nanti dulu. Ada apa?”

“Kami masih di motel, siap berangkat, dan, well, rasanya saya perlu bicara dengan Anda lebih dulu pagi ini.”

“Ada apa, Nicholas?”

471

“Saya tidak suka menelepon Anda, tapi saya khawatir beberapa anggota juri mungkin akan curiga pada catatan dan percakapan kita di ruang kerja.”

“Mungkin kau benar.”

“Jadi, saya pikir sebaiknya saya menelepon Anda. Dengan cara ini, mereka tidak akan tahu bahwa kita sudah bicara.”

“Coba saya dengarkan. Kalau menurutnya kita harus menghentikan percakapan. saya akan melakukannya.” Harkin ingin menanyakan, bagaimana juri yang diasingkan bisa mendapatkan nomor teleponnya, tapi memutuskan untuk menunggu.

“Ini mengenai Herrera. Saya pikir dia mungkin membaca beberapa bacaan yang tidak termasuk dalam daftar yang sudah dii/inkan.”

“Seperti apa?”

“Seperti Mogul. Saya berjalan ke ruang makan pagi tadi. Dia di sana seorang diri, dan dia mencoba menyembunyikan satu kopi majalah Mogul dari saya. Apakah itu semacam majalah bisnis?”

“Ye.” Harkm sudah membaca artikel tulisan Barker kemarin. Kalau Easter mengatakan yang sebenarnya, dan mengapa ia harus menyangsikannya, Herrera akan dikirim pulang seketika. Membaca maten yang tidak diizinkan merupakan dasar pemberhentian, bahkan mungkin dasar untuk menjatuhkan tuduhan menghina pengadilan. Bila ada anggota juri yang membaca Mogul terbitan kemarin, hai ini sudah menjadi dasar untuk melakukan pembatalan sidang. “Menurut Anda, apakah dia membicarakannya dengan orang lain?”

“Saya meragukannya. Seperti saya katakan, dia mencoba menyembunyikannya dari saya. Itulah sebabnya saya curiga. Saya rasa dia tidak membicarakannya dengan orang lain. Tapi saya akan pasang telinga.”

“Lakukanlah. Saya akan memanggil Mr. Herrera pagi ini dan memeriksanya. Kita mungkin akan menggeledah kamarnya.”

“Tolong jangan katakan saya yang melaporkan. Saya merasa tidak enak melakukan ini “

“Tidak apa.”

“Kalau anggota juri lainnya mendengar kita bicara habislah kredibilitas saya.” “Jangan khawatir.”

“Saya cemas, Pak Hakim. Kami semua letih dan ingin pulang.”

“Sidang ini sudah hampir selesai, Nicholas. Saya akan mendorong para pengacara itu sekeras mungkin.”

“Saya tahu. Maaf, Pak Hakim. Cuma tolong pastikan jangan ada yang tahu saya yang bermain jadi mata-mata. Saya sendiri tidak percaya saya melakukan hai ini.”

“Kau mengambil tindakan yang benar. Nicholas. Dan saya berterima kasih untuk ini. Sampai jumpa beberapa menit lagi.”

Harkin mencium istrinya untuk kedua kali, dan meninggalkan rumah. Dengan telepon mobil, ia menghubungi Sheriff, memintanya pergi ke motel dan menunggu. Ia menelepon Lou Dell dan menanyainya apakah Mogul dijual di motel itu. Tidak. Ia menelepon paniteranya dan memintanya mencari Rohr dan Cable, dan memenntahkan mereka menunggu di ruang kerjanya saat ia datang nanti. Ia mendengarkan stasiun radio musik country dan bertanya-tanya dalam

473

472

hati, bagaimana anggota juri dalam pengasingan mendapatkan kopi majalah bisnis yang tidak tersedia di jalanan Biloxi.

Cable dan Rohr sedang menunggu dengan panitera ketika Hakim Harkin memasuki ruang kerjanya dan menutup pintu. Sang hakim menanggalkan jas, duduk, dan menguraikan dugaan terhadap Herrera, tanpa mengungkapkan sumbernya. Cable merasa kesal, ka rena Herrera dianggap oleh semua pihak sebagai anggota juri yang solid di pihak tergugat. Rohr jengkel karena mereka kehilangan satu anggota juri lagi, dan ada risiko pembatalan sidang.

Melihat kedua pengacara itu merasa tidak senang, Hakim Harkin merasa lebih baik. Ia mengirim paniteranya ke ruang juri untuk menjemput Mr. Herrera ydng sedang m*neguk kopinya, entah yang keberapa, dan bercakap-cakap dengan Herman mengenai komputer braille-nya. Frank melihat berkeliling dengan pandangan heran sesudah Lou Dell memanggil namanya, dan ia pun meninggalkan ruangan. Ia mengikuti Willis sang deputi melewati koridor-koridor di belakang ruang sidang. Mereka berhenti di depan pintu samping; Willis mengetuk sopan sebelum masuk.

Sang kolonel disapa hangat oleh Hakim dan kedua pengacara, dan dipersilakan duduk di kursi dalam ruangan yang penuh sesak, di samping notulis pengadilan, yang duduk siap dengan mesin stenograf.

Hakim menjelaskan bahwa ada beberapa pertanyaan yang menuntut jawaban di bawah sumpah; para pengacara itu cepat-cepat mengeluarkan buku tulis kuning dan mulai menulis. Herrera langsung merasa dirinya seperti penjahat.

474

“Apakah Anda membaca bahan-bahan bacaan yang tidak secara eksplisit saya izinkan?” Hakim Harkin bertanya.

Diam sesaat, sementara para pengacara memandanginya. Panitera, notulis, dan Hakim sendiri siaga untuk menerkam jawabannya. Bahkan Willis di samping pintu dalam keadaan siaga dan menaruh perhatian besar.

“Tidak. Setahu saya tidak,” sahut sang kolonel terus terang.

“Spesifiknya, apakah Anda membaca mingguan bisnis bernama Mogul?”

“Tidak, sejak dalam karantina.” #

“Apakah Anda biasanya membaca Mogul?”

“Sekali, mungkin dua kali sebulan.”

“Di dalam kamar Anda di motel, apakah Anda memiliki bahan bacaan yang tidak saya izinkan?”

“Setahu saya tidak.”

“Apakah Anda mengizinkan penggeledahan atas kamar Anda?”

Pipi Frank memerah dan pundaknya tersentak. “Apa maksud Anda?” tanyanya.

“Saya ada alasan untuk meyakini bahwa Anda telah membaca bahan-bahan yang tidak diizinkan, dan hai ini terjadi di motel. Saya pikir penggeledahan cepat pada kamar Anda akan menyelesaikan masalah.”

“Anda mempertanyakan integritas saya,” kata Herrera, tersinggung dan marah. Integritas merupakan sesuatu yang vital baginya. Satu lirikan pada wajah-wajah lain mengungkapkan bahwa mereka semua berpikir ia bersalah melakukan pelanggaran berat.

“Tidak, Mr. Herrera. Saya cuma percaya bahwa

475

penggeledahan akan memungkinkan kita untuk meneruskan sidang ini.”

Itu cuma kamar motel, tidak seperti rumah tempat segala macam barang pribadi tersimpan. Di samping itu, Frank tahu benar bahwa tidak ada apa pun dalam kamarnya yang akan memberatkannya. “Kalau begitu. silakan geledah,” katanya sambil mengertakkan gigi.

‘Terima kasih.”

Willis membawa Frank ke koridor di luar ruang kerja Hakim, dan Hakim Harkin menelepon Sheriff di motel. Manajer motel membuka pintu Kamar 50. Sheriff dan dua orang deputi melakukan penggeledahan cenajai pada lemari, Iaci, dan kamar mandi. Di bawah ranjang, mereka menemukan setumpuk majalah Wall Street Journal dan Forbes, juga satu kopi Mogul terbitan kemarin. Sheriff menelepon Hakim Harkin, menyampaikan apa yang mereka temukan. dan diinstruksikan untuk segera membawa barang-barang tidak sah itu ke ruang kerja Hakim

Pukul sembilan seperempat, belum ada juri. Fitch duduk kaku di bangku belakang, matanya mengintip dari atas koran dan menatap tajam ke pintu di dekat boks juri, tahu pasti bahwa ketika mereka akhirnya muncul, juri nomor 7 bukan lagi Herrera, melainkan Henry Vu. Dari sudut pandang tergugat, Vu cukup bisa diterima, sebab ia orang Asia, dan orang Asia pada umumnya tidak suka menghamburkan uang orang lain untuk memberikan ganti kerugian. Tapi Vu bukan Herrera, dan sudah berminggu-minggu ini para pakar juri Fitch mengatakan bahwa sang kolonel ada di pihak mereka, dan akan menjadi kekuatan dalam pengambilan keputusan kelak.

Kalau Marlee dan Nicholas bisa menendang Herrera dengan mudah, siapa yang berikutnya? Kalau mereka melakukan hai ini hanya untuk mendapatkan perhatian Fitch, mereka benar-benar berhasil.

Dengan perasaan tak percaya, Hakim dan para pengacara itu menatap koran-koran dan majalah-majalah yang sekarang berderet rapi di meja kerja Harkin. Sheriff menjelaskan untuk dicatat. bagaimana dan di mana barang-barang ini ditemukan, lalu pergi.

“Saudara-saudara, saya tidak punya pilihan selain membebastugaskan Mr. Herrera,” kata Yang Mulia Hakim, dan para pengacara itu tidak mengucapkan apa-apa. Herrera dibawa kembali ke dalam ruangan dan dipersilakan duduk di kursi yang sama.

“Untuk dicatat.” Hakim Harkin berkata kepada notulis. “Mr. Herrera, berapakah nomor kamar Anda di Siesta Inn?”

“50.”

“Barang-barang ini ditemukan di bawah ranjang di Kamar 50 beberapa menit yang lalu.” Harkin melambaikan majalah-majalah itu. “Semuanya baru, kebanyakan terbit setelah tanggal karantina “

Herrera terpana membisu.

“Semuanya, tentu saja, tidak diizinkan, dan beberapa sangat mengandung prasangka.”

“Itu bukan milik saya,” kata Herrera perlahan-lahan, kemarahannya memuncak.

“Begitu?”

“Seseorang menaruhnya di sana.” “Siapa yang mungkin melakukan hai inir’ “Saya tidak tahu. Mungkin orang yang memberi kisikan pada Anda.”

477

476

Dalih yang bagus, pikir Harkin, tapi tidak perlu dilacak saat ini. Baik Cable maupun Rohr memandang Hakim, seolah-olah hendak bertanya. Oke, siapa yang memberi kisikan itu?

“Kita tidak bisa menghindari fakta bahwa barang-barang ini ditemukan dalam kamar Anda, Mr. Herrera Karena alasan ini, saya tidak punya pilihan selain membebaskan Anda dari tugas sebagai anggota juri.”

Pikiran Frank kini sudah terpusat, dan banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan. la ingin berteriak dan marah di depan wajah Hakim ketika disadarinya bahwa ia akan dibebastugaskan. Sesudah empat minggu mengikuti sidang dan sembilan malam di Siesta Inn. ia akan berjalan keluar dari gedung pengadilan ini dan pulang. Ia akan berada di lapangan golf saat makan siang nanti.

“Saya rasa ini tidak benar,” katanya setengah hati. mencoba untuk tidak mendesak terlalu keras.

“Saya menyesal. Saya akan mengusut penghinaan terhadap pengadilan kelak. Untuk sekarang, kami perlu meneruskan sidang ini.”

“Apa pun keputusan Anda. Pak Hakim.” kata Frank. Malam ini ia akan makan di Restoran Vrasel’s. seafood segar dan anggur. Ia bisa menengok cucunya besok.

“Saya akan memerintahkan seorang deputi untuk membawa Anda kembali ke motel, >upaya Anda bisa berkemas. Saya instruksikan pada Anda untuk tidak mengulangi apa pun mengenai ini kepada siapa pun, terutama kepada pers. Anda diperintahkan untuk diam, sampai pemberitahuan lebih lanjut. Anda mengerti?”

478

“Ya, Sir.”

Sang kolonel dikawal menuruni tangga belakang dan keluar melalui pintu belakang gedung pengadilan; Sheriff sedang menunggu untuk mengantar Herrera dalam perjalanan terakhirnya ke Siesta Inn.

“Dengan ini saya mengajukan permohonan pembatalan sidang,” Cable berkata, ke arah notulis. “Dengan alasan bahwa dewan juri ini mungkin telah terpengaruh oleh berita yang muncul dalam majalah Mogul kemarin.”

“Mosi ditolak,” kata Hakim Harkin. “Ada yang lainnya?”

Kedua pengacara itu menggelengkan kepala dan berdiri.

Sebelas anggota juri dan dua orang cadangan mengambil tempat duduk beberapa menit sesudah pukul sepuluh, sementara seisi ruang sidang menyaksikan tanpa bersuara. Tempat duduk Frank, hampir di ujung kiri deretan kedua, kosong, dan hai ini langsung diperhatikan oleh semua orang. Hakim Harkin menyapa mereka dengan wajah serius dan cepat-cepat menjelaskan pokok persoalan. Ia memegang majalah Mogul terbitan kemarin dan menanyakan apakah ada yang sudah melihat atau membacanya. ataukah ada yang mendengar sesuatu mengenai isinya. Tidak ada yang menjawab.

Kemudian ia berkata. “Karena alasan-alasan yang sudah dijelaskan di ruang kerja saya, dan sudah tercatat, anggota juri nomor 7, Frank Herrera, dibebastugaskan dan kini akan digantikan oleh anggota cadangan berikutnya, Mr. Henry Vu.” Sampai di sini,

479

Willis mengatakan sesuatu kepada Henry, yang meninggalkan kursi lipatnya dan berjalan empat langkah ke tempat duduk nomor 7, di mana ia menjadi anggota resmi panel juri dan meninggalkan Shine Royce sebagai satu-satunya anggota cadangan yang tersisa.

Karerra ingin mempercepat urusan dan mengalihkan perhatian dari dewan jurinya, Hakim Harkin berkata, “Mr. Cable, panggil saksi Anda selanjutnya.”

Koran Fitch turun lima belas senti sampai ke dadanya. dan mulutnya pun ternganga ketika ia menatap komposisi baru itu dengan perasaan bingung. Ia takut karena Herrera tersisih, dan perasaannya tergetar karena Marlee telah mengebaskan tongkat sihirnya dan tepat mewujudkan apa yang ia janjikan. Tanda dapat menahan diri. Fitch memandang Easter, yang pasti merasakannya, karena ia berpaling sedikit dan membalas tatapan Fitch. Selama lima atau enam detik, yang serasa berabad-abad bagi Fitch, mereka saling pandang dalam jarak 27 meter. Wajah Easter menyeringai dan angkuh, seolah-olah mengatakan, ‘ Lihat ipa yang bisa kulakukan. Kau terkesan?” Wajah Fitch mengatakan, “Ya. Sekarang, apa yang kauinginkan?”

Dalam usu! prasidang, Cable mengajukan 22 kemungkinan saksi, semuanya dengan kata “Doktor” tertempel di depan nama mereka, dan semuanya memiliki kredensial yang mantap. Koleksinya termasuk veteran veteran yang sudah teruji dalam pertempuran kidang perkara tembakau lainnya, peneliti-peneliti yang dibiayai oleh Big Tobacco, dan ahli hukum yang tak terhitung jumlahnya, berkumpul untuk membalas apa yang sudah didengar oleh dewan juri.

480

Dalam dua tahun terakhir ini. ke-22 orang itu selalu ditolak oleh Rohr dan kawanannya. Tidak akan ada kejutan.

Konsensus mengatakan bahwa pukulan terberat dari penggugat didaratkan oleh Leon Robilio dan pernyataannya bahwa anak-anak dibidik sebagai sasaran oleh industri ini. Cable merasa jalan terbaik adalah lebih dulu menyerang ke sana. “Tergugat memanggil Dr. Denise McQuade,” ia mengumumkan

Wanita itu muncul melalui pintu samping, dan ruang sidang yang didominasi oleh laki-laki setengah baya ini serasa menegang sedikit ketika ia berjalan di depan meja hakim, tersenyum pada Hakim, yang jelas balas tersenyum, dan duduk di kursi saksi. Dr. McQuade cantik, tinggi, dan ramping, dengan rok merah pendek hanya beberapa senti di atas lutut, rambut pirangnya diikat di belakang kepala. Ia mengucapkan sumpah dengan senyum ramah, dan ketika menyilangkan kaki, ia merebut perhatian penonton. Ia rasanya jauh terlalu muda dan terlampau cantik untuk terlibat dalam pertarungan sengit seperti ini.

Enam laki-laki dalam dewan juri, terutama Jerry Fernandez, serta Shine Royce, anggota cadangan. mencurahkan perhatian penuh ketika ia menarik mikrofon ke dekat mulutnya. Lipstik merah. Kuku panjang merah.

Kalau mereka mengharapkan seorang perempuan cantik yang tolol, mereka dengan cepat jadi kecewa. Suaranya yang kuat menguraikan pendidikan, latar belakang, pelatihan, dan bidang keahliannya. Ia seorang psikolog perilaku dengan lembaga sendiri di Tacoma. la sudah menulis empat buku, menerbitkan

481

lebih dari tiga lusin artikel. dan Wendall Rohr tidak keberatan ketika Cable menyatakan mengajukan Dr. McQuade sebagai saksi ahli.

Ia langsung ke pokok persoalan. Iklan merembes ke dalam budaya kita. Iklan yang ditujukan pada satu kelompok umur atau satu golongan masyarakat kerap kali didengar dan dilihat oleh mereka yang tidak termasuk dalam kelompok sasaran. Ini tidak dapat dicegah. Anak-anak melihat iklan rokok sebab anak-anak melihat surat kabar, majalah, papan iklan, dan neon iklan yang berkeredepan di jendela-jendela toko, tapi ini tidak berarti anak-anak dibidik sebagai sasaran. Anak-anak juga melihat iklan bir di TV, yang kerap kali menayangkan pahlawan olahraga favorit mereka. Apakah ini berarti pabrik bir sengaja berusaha menjaring generasi berikutnya? Tentu saja tidak. Mereka sekadar berusaha menjual bir lebih banyak ke pasar mereka. Anak-anak hanya kebetulan ada di sana, tapi tidak ada apa pun yang bisa dilakukan mengenai hai ini, selain melarang semua iklan untuk produk-protluk yang ofensif. Rokok, bir, anggur, minuman keras. Bagaimana dengan kopi, teh, kondom, dan mentega? Apakah iklan oleh perusahaan penerbit kartu kredit mendorong orang untuk menghamburkan uang lebih banyak dan menabung lebih sedikit? Dr. McQuade menegaskan berkali-kali bahwa dalam masyarakat di mana kebebasan berbicara merupakan hak yang sangat dijunjung, pembatasan iklan tentu diteliti dengan hati-hati.

Iklan rokok tidak ada bedanya dari yang lain Tujuannya adalah memperkiut keinginan orang untuk membeli dan memakai produk tersebut. Iklan yang

482

baik merangsang tanggapan alami untuk membeli apa yang diiklankan. Iklan yang tidak efektif tidak bisa merangsang hqj itu, dan biasanya cepat-cepat ditarik. Ia mengambil contoh McDonald’s, perusahaan yang telah ia teliti, dan ia kebetulan membawa laporannya bila juri berniat membacanya. Ketika seorang anak mencapai usia tiga tahun, ia bisa menyenandungkan, menyiulkan, atau menyanyikan apa pun lagu jingle McDonald’s terbaru. Perjalanan pertama anak itu ke restoran McDonald’s merupakan saat bersejarah. Ini bukan kebetulan. Perusahaan itu menghabiskan bermiliar dolar untuk menjaring anak-anak sebelum pesaing melakukannya. Anak-anak Amerika mengkonsumsi lemak dan kolesterol dalam jumlah lebih besar daripada generasi sebelumnya. Mereka makan lebih banyak cheeseburger, kentang goreng, dan piza, serta minum lebih banyak soda dan sari buah bergula. Apakah kita menggugat McDonald’s dan Pizza Hut karena mempraktekkan periklanan secara licik dengan membidik anak-anak muda? Apakah kita menggugat mereka karena anak-anak kita lebih gemuk?

Tidak. Kita sebagai konsumen melakukan pilihan disertai informasi jelas mengenai makanan yang kita berikan kepada anak-anak kita. Tak seorang pun bisa mendebat bahwa kita mengambil pilihan terbaik.

Dan kita sebagai konsumen melakukan pilihan disertai informasi jelas mengenai rokok. Kita dihujani iklan dari ribuan produk, dan kita memberikan tanggapan terhadap iklan-iklan yang menguatkan kebu-tuhan dan keinginan kita

Ia menyilangkan kaki dan berganti posisi setiap

483

sekitar dua puluh menit, dan tiap kali hai itu diamati oleh kawanan pengacara di sekitar kedua meja, juga oleh enam anggota juri pria dan sebagian besar juri wanita.

Dr. McQuade menyenangkan untuk dipandang dan mudah untuk dipercaya. Kesaksiannya sangat masuk akal, dan ia menjalin sambung rasa dengan sebagian besar anggota juri.

Rohr ber-sparring sopan dengannya selama satu jam dalam pemeriksaan silang, tapi tidak mendaratkan pukulan serius.

484

Tiga Puluh

Menurut Napier dan Nitchman. Mr. Cristano di Departemen Kehakiman sangat menginginkan laporan penuh mengenai apa yang terjadi semalam, ketika Hoppy bertemu dengan Millie dalam kunjungan pribadinya yang terakhir. “Segalanya?” Hoppy bertanya. Mereka bertiga berjubel di sekitar meja reyot dalam restoran pengap, meneguk kopi panas dari cangkir plastik dan menunggu sandwich keju panggang yang berlemak.

“Sisihkan soal-soal pribadi,” kata Napier, sangsi apakah banyak soal pribadi yang harus disisihkan.

Kalau saja mereka tahu, pikir Hoppy, masih cukup bangga pada diri sendiri. “Well, saya perlihatkan pada Millie memo mengenai Robilio itu,” katanya, tidak tahu sejauh mana kebenaran yang harus ia katakan. “Dan?”

“Dan, well, dia membacanya.” “Sudah tentu dia membacanya. Kemudian, apa yang dia lakukan?” Napier bertanya.

“Bagaimana tanggapannya?” Nitchman menimpali. Tentu, ia bisa berbohong dan mengatakan bahwa

485

istrinya tercengang oleh memo tersebut, mempercayai setiap patah kata, dan tidak sabar untuk memperlihatkannya kepada rekan-rekannya sesama juri. Itulah yang ingin mereka dengar. Namun Hoppy tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Berbohong hanya membuat urusan jadi lebih parah. ‘Tanggapannya terlalu baik,” katanya, lalu menceritakan yang sebenarnya.

Ketika sandwich tiba, Nitchman pergi untuk menelepon Mr. Cristano. Hoppy dan Napier makan tanpa saling memandang. Hoppy merasa sangat gagal. Tentu ia satu langkah lebih dekat ke penjara.

“Kapan kau bertemu dengannya lagi?” tanya Napier.

“Entahlah. Hakim belum mengatakannya. Ada kemungkinan sidang akan selesai akhir pekan ini.”

Nitchman kembali dan duduk. “Mr. Cristano dalam perjalanan ke sini,” katanya muram, dan perut Hoppy mulai bergolak. “Dia akan tiba di sini malam nanti, dan ingin langsung menemuimu besok pagi.”

“Baik.”

“Dia tidak senang.” “Saya juga.”

Rohr menghabiskan istirahat makan siangnya dengan mengunci diri dalam kantornya bersama Cleve, menggarap pekerjaan kotor yang harus dirahasiakan di antara mereka saja. Kebanyakan pengacara lain memakai runner macam Cleve untuk menyebarkan uang, memburu kasus, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rahasia yang tidak diajarkan di sekolah hukum, tapi tak satu pun di antara mereka pemah mengakui kegiatan tidak etis seperti itu. Para pengacara itu merahasiakan para runner mereka.

486

Rohr punya beberapa pilihan. la bisa menyuruh Cleve memberitahu Derrick Maples untuk enyah. Ia bisa membayar Derrick Maples $25,000 tunai, dan ia bisa menjanjikan $25,000 lagi untuk setiap suara bagi kemenangan penggugat pada vonis terakhir, dengan asumsi sedikitnya ada sembilan suara. Ini berarti butuh biaya sebesar $225,000, Rohr dengan senang hati akan bersedia membayarnya. Tapi ia sangat meragukan apakah Angel Weese mampu memberikan lebih dari dua suara—suaranya sendiri dan mungkin Loreen Duke. Ia bukan pemimpin. Rohr bisa memanipulasi Derrick agar mendekati pengacara di pihak tergugat, lalu mencoba menangkap basah mereka sewaktu berunding. Ini mungkin akan mengakibatkan Angel tersingkir, hai yang tidak diinginkan Rohr

Rohr bisa memasangi Cleve dengan alat penyadap, merekam semua pernyataan Derrick yang bisa diperkarakan, lalu mengancam bocah itu dengan tuntutan pidana bila ia tidak membujuk pacarnya. Ini riskan, sebab rencana penyuapan itu diutarakan di dalam kantor Rohr sendiri.

Mereka mempelajari masing-masing skenario, dengan pertimbangan orang-orang kawakan yang sudah berpengalaman melakukan hai yang sama. Kemudian dikembangkan suatu hibnda

“Inilah yang akan kita lakukan,” kata Rohr. “Kita akan memberinya lima belas ribu sekarang, menjanjikan sepuluh lagi sesudah vonis, dan kita juga akan merekamnya sekarang. Sebagian uang itu kita tandai, jerat dia dalam perangkap untuk nanti. Kita janjikan 25 untuk suara lain, dan bila kita meraih keme—

487

nangan, kita perosokkan dia kalau menuntut sisanya. Kita akan merekamnya. dan bila dia bikin ribut, kita ancam dia akan dilaporkan pada FBI.”

“Aku suka cara ini,” kata Cleve. “Dia memperoleh utngnya, kita memperoleh vonis kita, lalu dia terkecoh. Kedengaran adil bagiku.”

“Siapkan alat penyadapnya dan ambil uangnya. Ini harus dikerjakan siang nanti.”

Tapi ternyata Derrick punya rencana-rencana lain. Mereka bertemu di lounge Resort Casino, bar gelap yang diisi oleh para pecundang yang sedang mengo-bati kekalahan mereka dengan minuman murah, sementara di luar matahari bersinar terang dan suhu beringsut ke arah tujuh puluhan.

Derrick tak ingin teperdaya sesudah vonis jatuh. Ia menginginkan 25.000 tunai untuk suara Angel, sekarang, dibayar di muka, dan ia juga menginginkan “deposit” untuk masing-masing anggota juri lainnya. Deposit pravonis. Tentu saja tunai pula, sejumlah yang adil dan masuk akal, katakan saja, lima ribu untuk setiap anggota juri. Cleve cepat-cepat menghitung, dan salah tanggap. Derrick memperhitungkan vonis kemenangan mutlak, jadi depositnya adalah lima ribu kali sebelas juri lain, berarti 55.000 dolar. Tambahkan yang untuk Angel, dan yang diinginkan Derrick adalah 80.000 dolar kontan sekarang.

Ia kenal seorang wanita di kantor panitera, dan teman ini sudah melihat berkasnya. “Kalian menuntut perusahaan rokok itu jutaan dolar,” katanya, setiap patah kata tertangkap oleh mikrofon dalam saku kemeja Cleve. “Delapan puluh ribu tidak seberapa.”

488

“Kau gila.” kata Cleve. “Dan kau licik “

“Tak mungkin kami membayar 80.000 dolar kontan. Seperti kukatakan sebelumnya, bila uangnya terlalu besar, kita menanggung risiko tertangkap.”

“Baiklah. Aku akan bicara dengan perusahaan tembakau itu.”

“Lakukanlah. Aku akan membaca tentang itu di koran.”

Mereka tidak menghabiskan minuman mereka Cleve sekali lagi berlalu lebih dulu, tapi kali ini Derrick tidak mengejarnya.

Parade perempuan-perempuan cantik berlanjut Kamis siang, ketika Cable memanggil Dr. Myra Sprawling-Goode, profesor dan peneliti kulit hitam di Rutgers yang membuat setiap kepala dalam ruang sidang itu menoleh ketika ia maju untuk memberikan kesaksian. Tingginya hampir 180 senti. memesona, ramping, dan berpakaian bagus seperti saksi terakhir. Kulitnya yang cokelat terang berkerut sempurna ketika ia tersenyum kepada para juri. senyum yang melekat pada diri Lonnie Shaver, yang balas tersenyum padanya.

Cable memiliki anggaran tak terbatas ketika mulai mencari saksi ahlr. jadi ia tidak terpaksa memakai orang-orang yang tidak pandai dan fasih serta mampu memberikan kesan pada orang rata-rata. Ia sudah dua kali merekam Dr. Sprawling-Goode dengan video sebelum menyewanya, lalu sekali lagi dalam deposisi di kantor Rohr. Seperti semua saksinya, dua hari ia digodok dalam ruang -.idang buatan. sekitar sebulan sebelum sidang ini mulai. la menyilangkan kaki dan

489

seisi ruang sidang itu sccara kolektif menarik napas dalam-dalam.

Ia seorang profesor di bidang marketing dengan dua gelar doktor dan kredensial yang mengesankan; tidak ada kejutan. Delapan tahun ia bekerja di dunia periklanan di Madison Avenue setelah menyelesaikan pendidikannya, lalu kembali ke dunia akademis, tempatnya yang sejati. Bidang keahliannya adalah consumer advertising, mata kuliah yang ia ajarkan di tingkat pascasarjana dan terus-menerus ia teliti. Tujuannya dalam sidang ini segera menjadi jelas. Orang yang sinis mungkin mengatakan ia ada di sana untuk jual tampang cantik, untuk mempengaruhi Lonnie Shaver dan Loreen Duke dan Angel Weese, untuk membuat mereka bangga bahwa seorang rekan Afrika-Amenka mampu memberikan pendapat ahh dalam sidang yang sangat penting ini.

Ia sebenarnya ada di sana karena Fitch. Enam tahun yang lalu, sesudah sidang yang menakutkan di New Jersey, tempat juri berunding selama tiga hari sebelum memberikan vonis untuk kemenangan tergugat, Fitch menelurkan rencana untuk mencari peneliti perempuan yang menarik, lebih disukai dari universitas terkemuka, untuk menerima uang tunjangan dan meneliti iklan rokok dan pengaruhnya terhadap remaja. Parameter-parameter proyek itu akan didefinisikan secara samar-samar oleh sumber uang tersebut, dan Fitch berharap penelitian itu suatu hari akan bermanraat dalam sidang.

Dr. Sprawling-Goode tidak pernah mendengar tentang Rankin Fitch. Ia menerima 800.000 dolar biaya penelitian dari Consumer Product Institute, lembaga

490

di Ottawa yang tidak jelas dan tidak pernah terdengar sebelumnya, konon didirikan untuk meneliti trend pemasaran dari ribuan produk konsumen. la tidak tahu banyak mengenai Consumer Product Institute. Tidak pula Rohr. Ia dan penyelidiknya sudah menggali-gali selama dua tahun. Lembaga itu sangat tertutup, sampai taraf tertentu terlindung oleh hukum Kanada, dan jelas didanai oleh perusahaan-perusahaan consumer product yang besar, tapi tampaknya tak ada satu pun perusahaan rokok.

Temuan-temuannya dikumpulkan dalam sebuah laporan terjilid bagus setebal lima senti, yang diajukan Cable sebagai bukti. Laporan itu tergabung dengan setumpuk bukti lainnya sebagai catatan resmi. Untuk tepatnya, barang bukti nomor 84, menambah sekitar 20.000 halaman yang sudah diajukan sebagai bukti, dan akan diteliti oleh dewan juri dalam rapat pengambilan keputusan.

Sesudah uraian yang efisien dan mendalam, temuan-temuannya ternyata ringkas dan tidak mengejutkan. Dengan perkecualian-perkecualian yang jelas dan ter-definisi tegas, semua iklan untuk produk konsumen dibidikkan pada orang-orang dewasa muda. Mobil, pasta gigi, sabun, sereal, bir, minuman ringan, pakaian, minyak wangi—semuanya merupakan produk-produk yang paling banyak diiklankan dan ditujukan pada orang-orang muda sebagai sasaran. Hal yang sama juga terjadi pada rokok. Memang, rokok digam-barkan sebagai produk pilihan mereka yang ramping dan cantik, yang aktif dan bebas, yang kaya dan glamor. Akan tetapi, demikian pula produk Iain yang tak terhitung jumlahnya

491

la kemudian menyebutkan daftar spesifik, mulai dari mobil. Kapankah terakhir kali Anda melihat iklan mobil sport di TV, yang memperlihatkan seorang laki-laki gemuk berusia lima puluh tahun di belakang kemudinya? Atau mini-van yang dikemudikan ibu rumah tangga gemuk dengan enam anak dan seekor anjing kotor melongok dari jendela? Tidak pernah. Bir? Anda melihat sepuluh laki-laki sedang duduk di ruang duduk, sambil menonton Super Bowl. Semuanya berambut, berdagu kokoh, jeans bagus, dan perut rata. Ini bukan kenyataan, tapi ini iklan yang berhasil.

Kesaksiannya jadi cukup lucu ketika ia mengulas daftarnya. Pasta gigi? Pernah melihat orang jelek dengan gigi jelek menyeringai pada Anda di TV? Tentu saja tidak. Mereka semua punya gigi sempurna. Bahkan dalam iklan obat jerawat, remaja bermasalah itu hanya punya satu-dua jerawat.

Ia tersenyum dengan gampang, bahkan sekali-sekali tertawa dengan komentarnya sendiri. Juri ikut tersenyum bersamanya. Uraiannya berkali-kali mengenai sasaran. Bila iklan yang berhasil bergantung pada bidikan terhadap orang-orang muda, mengapa perusahaan rokok tidak boleh melakukannya?

Ia berhenti tersenyum ketika Cable mengalihkannya pada masalah anak-anak sebagai sasaran. Ia dan tim penelitinya tidak menemukan bukti akan hai ini, dan mereka sudah meneliti ribuan iklan tembakau selama empat puluh tahun terakhir ini. Mereka menonton, mempelajari, dan mengkatalogkan setiap iklan rokok yang ditayangkan di TV. Dan ia mengemukakan bahwa kebiasaan merokok telah meningkat sejak iklan-iklan semacam itu dilarang di TV. Ia mengha-492

biskan hampir dua tahun untuk mencari bukti bahwa pabrik rokok membidik remaja sebagai sasaran, karena ia memulai proyek ini dengan bias yang tak berdasar. Namun hai itu tidak benar.

Menurut pendapatnya. satu-satunya cara untuk mencegah anak-anak agar tidak terpengaruh oleh iklan rokok adalah melarang semua iklannya—billboard, bus, surat kabar, majalah, kupon. Dan, menurutnya, ini tidak akan menurunkan jumlah penjualan rokok. Tidak ada pengaruh apa pun pada kebiasaan merokok di bawah umur

Cable mengucapkan terima kasih padanya, seolah-olah ia sukarelawati. Ia sudah dibayar 60.000 dolar untuk memberikan kesaksian, dan akan mengirim tagihan sebesar 15.000 lagi. Rohr, sebagai gentleman, sadar akan bahayanya menyerang wanita cantik seperti ini di wilayah Selatan. Sebaliknya, ia menguji dengan lembut. Ia punya banyak pertanyaan mengenai Consumer Product Institute, dan 800.000 dolar yang dibayarkan untuk penelitian ini. Sang saksi menguraikan segala yang ia ketahui. Itu adalah lembaga akademis yang didirikan untuk meneliti trend dan merumuskan kebijaksanaan. Lembaga ini didanai oleh industri swasta.

“Ada perusahaan rokok?”

“Setahu saya tidak.”

“Anak perusahaan rokok?”

“Saya tidak tahu pasti.”

Rohr menanyainya mengenai perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan perusahaan rokok, induk perusahaan, anak perusahaan, bagian-bagian dan konglomerat-konglomerat, dan saksi tidak tahu apa-apa.

493

Ia tidak tahu apa-apa. sebab demikianlah yang direncanakan Fitch.

Tanpa terduga, jejak Claire tercium lebih jauh pada pagi hari Kamis. Mantan pacar seorang teman Claire menerima seribu dolar tunai, dan mengatakan bahwa mantan pacarnya kini berada di Greenwich Village, bekerja sebagai pelayan sambil memendam cita-cita untuk bekerja serius dalam opera sabun. Mantan pacamya itu dan Claire pernah bekerja bersama di Mulligan’s, dan diduga bersahabat karib. Swanson terbang ke New York, tiba Kamis siang, dan naik taksi ke hotel di Soho yang dibayarnya tunai untuk satu malam, dan mulai menelepon kian-kemari. Ia menemukan Beverly sedang bekerja di pizzeria. Ia menjawab telepon itu dengan terburu-buru

“Apakah ini Beverly Monk?” Swanson bertanya, berusaha menirukan Nicholas Easter. Ia sudah berkali-kali mendengarkan rekaman suaranya.

“Benar. Siapa ini?”

“Beverly Monk yang dulu bekerja di bar Mulligan’s, Lawrence?”

Diam, lalu, “Ya. Siapa ini?”

“Ini Jeff Kerr, Beverly. Sudah lama sekali.” Swanson dan Fitch berspekulasi bahwa sesudah Claire dan Jeff meninggalkan Lawrence, mereka tidak pernah berhubungan dengan Beverly.

“Siapa?” ia bertanya, dan Swanson merasa lega.

“Jeff Kerr. Kau tahu, aku dulu bersama Claire. Aku mahasiswa hukum.”

“Oh, yeah,” katanya, seakan-akan ia mungkin ingat dan mungkin tidak.

494

“Dengar. aku ada di kota ini, dan aku ingin tahu apakah kau mendengar kabar dari Claire belakangan ini?”

“Aku tidak mengerti,” kata Beverly perlahan-lahan, jelas berusaha mencocokkan nama itu dengan wajahnya, dan mengingat-ingat siapa adalah siapa dan mengapa ia ada di sini.

“Yeah, panjang ceritanya, tapi aku dan Claire berpisah enam bulan lalu. Aku sedang mencari-cari dia.”

“Sudah empat tahun aku tidak pernah bicara dengan Claire.” “Oh, begitu?”

“Dengar. aku sungguh sibuk. Mungkin lain kali.”

“Baiklah.” Swanson menutup telepon dan menghubungi Fitch. Mereka memutuskan bahwa kiranya cukup berharga menempuh risiko mendekati Beverly Monk, dengan uang tunai, dan bertanya mengenai Claire. Kalau ia sudah empat tahun tidak pernah bicara dengan Claire, mustahil baginya untuk menemukan Marlee dengan cepat dan melaporkan kontnk itu. Swanson akan mengikutinya, dan menunggu hingga besok.

Masing-masing konsultan juri diminta Fitch untuk menyiapkan laporan sepanjang satu halaman setiap hari setelah sidang ditutup. Satu halaman, dua spasi, sederhana, tanpa kata-kata lebih dari empat suku, dan mengemukakan dengan bahasa yang jernih tentang kesan pakar itu terhadap saksi hari itu, dan bagaimana kesaksian mereka diterima oleh dewan juri. Fitch meminta pendapat sejujurnya, dan sudah pernah

495 mencaci maki pakar-pakarnya karena kata-kata yang terlalu manis. Ia bersikeras menerapkan metoda pesimisme. Laporan-laporan itu hams sampai di meja kerjanya t<*pat satu jam sesudah Hakim Harkin mengumumkan sidang hari itu ditunda hingga besok.

Laporan hari Rabu mengenai Jankle campur aduk hingga buruk, namun kesaksian hari Kamis oleh Dr. Denise McQuade dan Dr. Myra Sprawl ing-Goode kangat luar biasa. Di samping mencerahkan ruang sidang yang muram dan dipenuhi laki-laki membosankan bersetelan membosankan, dua wanita itu tampil dengan sangat baik di podium saksi. Para juri memperhatikan, dan tampak mempercayai apa yang me-reka dengar. Terutama yang pria.

Namun Fitch tetap tidak terhibur. Ia tidak pernah merasa lebih pesimi^ lagi pada tahap seperti ini. Tergugat sudah kehilangan salah satu anggota juri yang paling simpatik dengan keluarnya Herrera. Pers keuangan New York tiba-tiba mengumumkan bahwa tergugat berada di ujung tanduk, dan secara terbuka memprihatinkan kemungkinan vonis kemenangan di pihak penggugat. Artikel Barker di Mogul adalah topik paling punas minggu ini. Jankle merupakan bencana. Luther Vandemeer dari Trellco, CEO The Big Four yang paling cerdik dan paling berpengaruh, menelepon dengan kata-kata keras saat istirahat s.iang tadi. Juri diasingkan. dan semakin lama sidang ini terulur, semakin banyak kesalahan ditimpakan oleh para juri itu pada pihak yang kini memanggil saksi.

Malam kesepuluh dalam karantina itu berlalu tanpa insiden. Tidak ada kekasih-kekasih yang bandel. Ti—

496

dak ada perjalanan terlarang ke kasino. Tidak ada latihan yoga. Tak seorang pun’merasa kehilangan Herrera. Ia berkemas dalam beberapa menit dan pergi, berkali-kali mengatakan kepada Sheriff bahwa ia dijebak, dan bersumpah untuk menyelidikinya hingga tuntas.

Turnamen permainan checker spontan dimulai di ruang makan, sesudah santap malam. Herman punya papan checker braille dengan petak-petak bernomor, dan malam sebelumnya. ia mengalahkan Jerry sebelas kali berturut-turut. Tantangan dikeluarkan, dan istri Herman membawa papan checket-nya ke dalam ruangan. Orang-orang pun berkerumun. Kurang dari satu jam, ia meraih tiga kemenangan berturut-turut dari Nicholas, tiga lagi dari Jerry, tiga dari Henry Vu, yang belum pernah memainkan permainan ini, tiga kali berturutan dari Willis, dan akan bermain melawan Jerry lagi, kali ini dengan taruhan kecil, ketika Loreen Duke masuk ke ruangan untuk mencari makanan penutup lain. Semasa kanak-kanak, ia pernah memainkan permainan ini dengan ayahnya. Ketika ia mengalahkan Herman pada permainan pertama, tak ada sedikit pun tanda simpati untuk laki-laki tunanetra ini. Mereka main hingga batas jam malam.

Phillip Savelle tinggal di kamarnya, seperti biasa. Ia sekali-sekali berbicara saat bersantap di motel dan selama rehat kopi di ruang juri. namun ia sudah sangat puas dengan membaca buku dan mengabaikan semua orang.

Dua kali Nicholas mencoba mendekatinya, namun sia-sia. Ia tidak berminat berbasa-basi, dan tak ingin siapa pun tahu apa pun mengenai dirinya

497

Tiga Puluh Satu

Sesudah hampir dua puluh tahun menangkap udang, Henry Vu jarang tidur sampai lewat pukul setengah enam. Jumat pagi, ia minum teh panasnya; karena sang kolonel sudah pergi, ia duduk seorang diri di meja. membaca surat kabar. Nicholas kemudian bergabung dengannya. Seperti biasa, Nicholas segera berbasa-basi dan menanyakan putri Vu di Harvard. Ia adalah sumber kebanggaan luar biasa, dan mata Henry menari-nari ketika menceritakan suratnya yang terakhir.

Yang lain datang dan pergi. Percakapan beralih ke Vietnam dan perang. Untuk pertama kali nya, Nicholas mengaku pada Henry bahwa ayahnya tewas di sana pada tahun 1972. Itu tidak benar, tapi Henry sangat tersentuh oleh kisah itu Kemudian. ketika mereka hanya berdua, Nicholas bertanya, “Jadi, bagaimana pendapatmu mengenai sidang ini?”

Henry minum tehnya yang diberi krim banyak-banyak dan menjilat bibirnya “Tidak apa-apa membicarakannya?”

‘Tentu. Ini hanya antara kau dan aku Semua orang membicarakannya, Henry. Begitulah dewan juri. Semua orang. kecuali Herman “

498

“Bagaimana pendapat yang lain?”

“Menurutku sebagian besar di antara kita masih terbuka. Yang paling penting adalah kita terus bersatu. Sangat penting bahwa juri ini mencapai suatu vonis, lebih disukai dengan suara bulat, tapi sedikitnya sembilan suara lawan tiga. Juri yang tidak mencapai keputusan merupakan bencana.”

Henry minum lagi dan merenungkan ucapan ini. Ia mengerti bahasa Inggris dengan sempurna, bisa berbicara cukup baik, meskipun dengan aksen, tetapi seperti kebanyakan orang awam, asli maupun imigran, sedikit sekali mengetahui seluk-beluk hukum. “Mengapa?” ia bertanya Ia percaya pada Nicholas, seperti halnya semua anggota juri yang lain, sebab Nicholas pernah kuliah hukum dan tampak tangkas luar biasa dalam memahami berbagai fakta dan masalah yang tidak tertangkap oleh mereka semua.

“Sangat sederhana. Ini adalah induk dari semua sidang perkara tembakau—Gettysburg, Iwo Jima, Armageddon. Di sinilah kedua belah pihak bertemu untuk menumpahkan amunisi terberat mereka. Harus ada pemenang, dan harus ada pecundang. Jelaa dan pasti. Persoalan apakah perusahaan rokok dianggap bertanggung jawab atas produknya, harus dibereskan di sini. Oleh kita. Kita sudah dipilih, dan terserah pada kita untuk menentukan keputusan.”

“Aku tahu.” kata Henry sambil mengangguk, masih kebingungan.

“Hal terburuk adalah kalau kita berselisih pendapat di antara kita sendin, terpecah dua, dan sidang pun dibatalkan.”

“Mengapa hal itu sedemikian buruk?”

499

“Sebab itu adalah pelepasan tanggung jawab. Kita hanya memindahkannya kepada juri berikutnya. Kalau kita tidak sampai pada keputusan dan pulang, masing-masing pihak menghamburkan jutaan dolar, karena mereka harus kembali lagi dalam dua tahun, dan memainkan kembali semua ini. Hakim yang sama, pengacara yang sama, saksi yang sama, segalanya akan sama, kecuali dewan jurinya. Dengan demikian. seolah-olah kita tidak punya cukup nalar untuk sampai pada suatu keputusan, tapi dewan juri berikutnya dari Harrison County lebih pintar.”

Henry memiringkan badan sedikit ke kanan, ke arah Nicholas. “Apa yang akan kaulakukan?” ia bertanya, tepat ketika Millie Dupree dan Mrs. Gladys Cjrd masuk sambil tertawa-tawa dan mengambil kopi. Sesaat mereka bercakap-cakap dengan dua pria itu, lalu pergi untuk menonton Katie dalam acara Today Show. Mereka sangat suka Katie.

“Apa yang akan kaulakukan?” Henry berbisik kembali, matanya terarah ke pintu.

“Saat ini aku belum tahu, dan itu tidak penting. Yang penting adalah kita tetap bersatu. Kita semua.”

“Kau benar,” kata Henry.

Selama berlangsungnya sidang, Fitch telah mengembangkan kebiasaan untuk menyibukkan diri di meja kerjanya pada jam-jam sebelum sidang dimulai dan menatap telepon. Tatapannya selalu terarah ke pesawat itu. Ia tahu bahwa Jumat pagi Marlee akan menelepon, meskipun ia tidak tahu rencana atau permainan atau olok-olok mengejutkan apa lagi yang ia buat

500

Pukul delapan tepat, Konrad menginterupsi lewat interkom dengan ucapan sederhana. “Dia.”

Fitch meraih telepon. “Halo,” sapanya manis.

“Hei, Fitch. Dengar, coba terka siapa yang mengesalkan Nicholas sekarang?”

Ia menelan rintihan dan memejamkan mata rapat-rapat. “Aku tidak tahu,” katanya.

“Maksudku, laki-laki ini benar-benar mempersulit Nicholas. Kita mungkin harus menyepaknya”

“Siapa?” Fitch memohon.

“Lonnie Shaver.”

“Oh! Tidak! Jangan! Kau tidak boleh melakukan itu!”

“Aduh, Fitch.”

“Jangan lakukan, Marlee! Terkutuk!”

Marlee diam sejurus untuk membiarkan Fitch putus asa. “Kau pasti sangat suka dengan Lonnie.”

“Kau harus menghentikan ini, Marlee, oke? Ini tidak akan membawa kita ke mana pun.” Fitch menyadari benar, betapa berharap nada suaranya, tapi ia tidak lagi memegang kendali.

“Nicholas harus menyelaraskan juri ini. Itu saja. Lonnie sudah jadi duri.”

“Jangan lakukan, tolong. Mari kita bicarakan masalah ini.”

“Kita sedang bicara. Fitch, tapi tidak lama.”

Fitch menghela napas dalam-dalam, lalu sekali lagi. “Permainan sudah hampir selesai, Marlee. Kau sudah bersenang-senang, sekarang apa yang kauinginkan?”

“Punya pena?”

“Tentu”

501

“Ada sebuah gedung di Fulton Street, Nomor 120. Bata putih, dua lantai, bangunan tua yang dipilah-pilah jadi kantor-kantor kecil. Lantai dua, Nomor 16, adalah milikku, selama paling sedikit satu bulan lagi. Kantor itu tidak indah, tapi di sanalah kita akan bertemu.”

“Kapan?”

“Sejam lagi. Hanya kita berdua. Aku akan menga-wasimu datang dan pergi, dan kalau aku melihat begundalmu, aku takkan pernah bicara lagi denganmu.”

“Baiklah. Terserah kau saja.”

“Dan aku akan memenksa, apakah kau membawa penyadap dan perekam.”

“Tidak akan ada.”

Setiap. pengacara dalam tim pembela Cable berpendapat bahwa Rohr menghabiskan terlalu banyak wak-tu dengan para ilmuwannya; sembilan hari penuh. Tapi dengan tujuh yang pertama, para juri itu setidaknya bebas pulang ke rumah di waktu malam. Suasananya kini jauh berbeda. Maka diambil keputusan untuk memilih dua peneliti terbaik mereka, mengajukan mereka ke podium saksi, dan menarik mereka secepat mungkin.

Mereka juga mengambil keputusan untuk mengabaikan masalah kecanduan nikotin, langkah penyim-pangan radikal dari pembelaan normal dalam kasus rokok. Cable dan krunya sudah mempelajari enam belas sidang terdahulu satu per satu. Mereka sudah berbicara dengan banyak anggota juri yang memutuskan kasus-kasus itu, dan mereka berkah-kali diberitahu bahwa bagian terlemah dari pembelaan muncul

502

saat para pakar mengajukan segala teori muluk, untuk membuktikan bahwa nikotin sebenarnya tiduk menimbulkan ketergantungan. Semua orang tahu, se-baliknyalah yang benar. Sesederhana itulah

Jangan mencoba meyakinkan juri dengan fakta sebaliknya.

Keputusan itu memerlukan persetujuan Fitch, yang memberikannya dengan berat hati.

Saksi pertama Jumat pagi adalah seorang laki-laki berambut kusut dengan jenggot merah tipis dan kacamata bifokus tebal. Pamcran kecantikan jelaj sudah selesai. Nama orang itu Dr. Gunther, dan menuruf pendapatnya, merokok sama sekali tidak menyebabkan kanker. Hanya sepuluh persen dari para perokok yang mendapat kanker, jadi bagaimana dengan sembilan puluh persen lainnya? Tidaklah mengejutkan. Gunther punya setumpuk penelitian dan Haporan yang relevan, serta tidak sabar untuk berdiri di depan juri dengan tripod dan tongkat penunjuk, menjelaskan penemuan terakhirnya dengan penuh semangat.

Gunther tidak diminta membuktikan apa pun. Tugasnya adalah menyangkal Dr. Hilo Kilvan dan Dr. Robert Bronsky, saksi ahli bagi penggugat, serta untuk mengeruhkan air, sehingga timbul keraguan dalam benak para juri tentang sejauh mana sebenarnya bahaya merokok. Ia tidak bisa membuktikan bahwa merokok tidak mengakibatkan kanker paru-paru, dan ia berdalih bahwa belum ada rfset yang membuktikan merokok benar-benar menyebabkan nya. “Masih dibutuhkan riset lebih jauh,” katanya .setiap sepuluh menit.

503

***

Dengan kemungkinan bahwa Marlee mengamati. Fitch berjalan kaki menempuh blok terakhir ke Fulton Street Nomor 120, jalan-jalan yang menyenangkan di sepanjang trotoar yang rindang, sementara daun-daun berjatuhan lembut dari atas. Gedung itu terletak di bagian kota lama, empat blok dari Gulf, di deretan bangunan dua tingkat yang dicat dengan cermat, sebagian besar tampak seperti kantor. Jose diperintahkan menunggu tiga ruas jalan dari sana.

Tak mungkin memakai mikrofon atau alat perekam. Marlee felah membuat Fitch memutuskan kebiasaan tersebut pada pertemuan terakhir mereka, di dermaga. Fitch seorang diri, tanpa penyadap, tanpa perekam, tanpa kamera atau agen di dekatnya. Ia merasa dibebaskan. I a harus bertahan hidup hanya dengan otak aerta kecerdasan, dan ia menyambut tantangan itu.

Ia menaiki anak tangga kayu yang sudah melengkung, berdiri di depan pintu kantor tanpa tanda, memperhatikan pintu-pintu lain di koridor yang sesak itu, dan mengetuk pelan. “Siapa?” datang suaranya.

“Rankin Fitch.” ia menjawab, sekadar cukup keras untuk didengar.

Kunci terdengar gemeretak dari dalam, lalu Marlee muncul dengan sweatshirt kelabu dan blue jeans, sama sekali tanpa senyum, tanpa sapaan apa pun. Ia menutup pintu di belakang Fitch, menguncinya, dan berjalan ke satu sisi meja lipat sewaan. Fitch mengamati ruangan itu—sebuah bilik tanpa jendela, satu pintu, cat yang mengelupas, tiga kursi. dan sebuah

504

meja. ‘Tempat yang bagus,” katanya. sambil memandang noda cokelat bekas air di langit-Iangit.

“Tempat ini bersih. Fitch. Tidak ada telepon untuk kausadap. tidak ada lubang hawa untuk kamera tersembunyi, tidak ada kabel di dinding. Aku akan memeriksanya setiap pagi, dan kalau aku menemukan jejakmu, aku akan keluar dan tak pernah kembali lagi.”

“Kesanmu padaku sangat rendah.”

“Kau layak mendapatkannya.”

Fitch kembali melihat ke langit-Iangit, lalu ke lantai. “Aku suka tempat ini.”

“Memadai untuk tujuannya.”

“Tujuannya?”

Dompetnya adalah satu-satunya benda di meja. Marlee mengeluarkan alat sensor dan sana, dan mengarahkannya pada Fitch, mulai dari kepala hingga kaki.

“Sudahlah, Marlee,” ia protes. “Aku sudah janji.”

“Yeah, benar. Kau bersih. Duduklah,” katanya, mengangguk ke satu dari dua kursi di seberang meja. Fitch menggoyang-goyangkan kursi lipat itu, kursi tipis yang mungkin takkan mampu menahan tubuhnya. Ia duduk, lalu mencondongkan badan ke depan dengan siku di meja yang juga tidak terlalu stabil. jadi ia bertengger tidak nyaman di kedua ujung. “Apakah kita siap bicara mengenai uang?” ia bertanya dengan senyum jahat.

“Ya. Kesepakatan yang sangat sederhana. Fitch. Kirimi aku uang lewat teleks. dan aku berjanji akan memberikan vonis untukmu.”

“Kurasa kita harus menunggu sampai vonis dicapai.”

“Kau tahu aku tidak setolol itu.”

505

Meja lipat itu lebarnya hampir semeter. Mereka berdua bertelekan di sana, wajah mereka tidak terpisah jauh. Fitch kerap menggunakan badan dan matanya yang jahat serta jenggotnya yang seram untuk secara fisik mengintimidasi orang-orang di sekitarnya, terutama pengacara-pengacara muda di biro hukum yang dipekerjakannya. Tapi entah Marlee terintimidasi atau tidak. Fitch mengagumi ketenangannya. Marlee menatap lurus ke matanya. tak pernah berkedip, sungguh tugas yang sangat sulit.

“Kalau begitu, tidak ada jaminan,” katanya. “Para juri itu tak bisa’diramalkan. Kami bisa memberikan uangnya padamu…”

“Hentikan ocehanmu. Fitch. Kau dan aku tahu uang itu akan dibayarkan sebelum vonis jatuh.”

“Berapa banyak?”

“Sepuluh juta.”

Fitch mengerang, seolah-olah tersedak bola golf, lalu terbatuk keras sementara sikunya terangkat, matanya berputar, dan lemak di bawah dagunya bergoyang-goyang dengan perasaan tak percaya. “Kau pasti bercanda,” katanya dengan suara parau, melihat sekeliling, mencari secangkir air atau sebotol pil atau apa saja untuk membantunya mengatasi gun-cangan mengerikan ini.

Marlee menyaksikan pertunjukan itu dengan te-nang, tak pernah berkedip, tak pernah melepaskan tatapan mata darinya. “Sepuluh juta, Fitch. Ini murah. Dan tidak bisa ditawar.”

Fitch batuk lagi, wajahnya sedikit lebih merah. Kemudian ia menenangkan diri dan memikirkan jawaban. la sudah menduga. jumlahnya tentu dalam

506

juta, dan ia tahu ia terdengar tolol kalau berusaha menawarnya, seolah-olah khennya tidak sanggup membayarnya. Perempuan ini mungkin punya laporan keuangan kuartalan dari masing-masing anggota The Big Four.

“Berapa banyak yang ada dalam The Fund?” Marlee bertanya, dan mata Fitch secara naluriah menyipit. Sejauh yang diketahuinya, Marlee belum berkedip.

‘The apa?” ia bertanya. Tak seorang pun tahu mengenai The Fund!

‘The Fund, Fitch. Jangan main-main denganku. Aku tahu segala sesuatu mengenai dana gelapmu itu. Aku ingin sepuluh juta ditransfer dari rekening The Fund ke sebuah bank di Singapura.”

“Kurasa aku tidak bisa melakukan ini.”

“Kau bisa melakukan apa saja yang kauinginkan, Fitch. Berhentilah main-main. Mari kita buat kesepakatan sekarang, dan kita bereskan urusan kita.”

“Bagaimana kalau kami mentransfer lima sekarang dan lima lagi sesudah turun vonis?”

“Lupakan saja, Fitch. Sepuluh juta sekarang. Aku tidak menyukai gagasan untuk melacakmu dan mencoba menagih sisanya setelah sidang selesai. Karena beberapa alasan, kupikir aku akan menghamburkan banyak waktu.”

“Kapan kami harus mentransfernya?”

“Aku tidak peduli. Cuma pastikan uang itu diterima sebelum juri berunding. Kalau tidak, kesepakatan ini batal.”

“Apa yang terjadi bila kesepakatan batal?”

“Satu dari dua hal. Tidak ada keputusan, atau

507

Nicholas akan memberikan sembilan suara lawan tiga untuk kemenangan penggugnt.”

Fitch mengerutkan kening ketika mendengar perkiraan yang disampaikan dengan begitu datar itu. Ia tidak menyangsikan apa yang bisa dilakukan Nicholas, sebab Marlee tidak menyangsikannya. Perlahan-lahan ia menggosok mata. Permainan sudah selesai. Tidak ada reaksi berlebihan atas apa pun yang ia ucapkan. Tidak perlu lagi pura-pura tercengang oleh tuntutannya. Wanita ťini memegang kendali.

“Baiklah,” kata Fitch. “Kami akan mentransfer uangnya, sesuai dengan instruksimu. Tapi aku harus memperingatkanmu bahwa teleks transfer bisa makan waktu.”

“Aku tahu lebih banyak mengenai transfer uang daripada kau, Fith. Aku akan menjelaskan setepatnya, bagaimana aku menginginkannya. Nanti.”

“Ya, Ma’am.”

“Jadi, kita sepakat?”

“Ya,” kata Fitch saraya mengulurkan tangan ke seberang meja. Marlee menjabatnya dengan ringan. Keduanya tersenyum atas kecanggungan ini. Dua bajingan berjabat tangan menyepakati suatu perjanjian yang tidak bisa dipaksakan oleh pengadilan mana pun, sebab tidak ada pengadilan yang pernah tahu mengenai hal ini.

Apartemen Beverly Monk terletak di lantai lima sebuah gudang kumuh di Village Ia menempatinya bersama empat aktris kelaparan lainnya. Swanson mengikutinya ke coffee shop di sudut, dan menunggu sampai perempuan itu duduk di meja dekat jendela

508

dengan secangkir kopi espresso, rati bagel, dan koran dengan iklan lowongan kerja. Dengan mem-belakangi meja Iain, Swanson mendekatinya dan bertanya, “Permisi. Apakah Anda Beverly Monk?”

Ia mengangkat muka, terperanjat, dan berkata, “Ya. Siapa Anda?”

“Seorang teman Claire Clement,” Swanson menjawab sambil cepat-cepat duduk di kursi di hadapan Beverly.

“Silakan duduk,” katanya. “Apa yang Anda inginkan?” Ia gelisah, tapi kedai itu ramai. Ia aman, pikirnya. Swanson kelihatannya cukup baik.

“Informasi.”

“Kau meneleponku kemarin, bukan?” “Benar. Aku bohong, mengaku sebagai Jeff Kerr. Sebenarnya bukan “

“Kalau begitu, siapa kau?”

“Jack Swanson. Aku bekerja untuk beberapa pengacara di Washington.”

“Apakah Claire dalam kesulitan?” “Sama sekali tidak.”

“Kalau begitu, untuk apa semua kerepotan ini?”

Swanson menceritakan versi ringkas tentang panggilan Claire untuk bertugas sebagai anggota dewan juri dalam suatu sidang besar, dan tugasnyalah untuk menyelidiki latar belakang calon anggota juri. Kali ini kasusnya adalah tempat pembuangan yang tercemar di Houston, dengan miliaran dolar sebagai taruhan, karena itu perlu melakukan penyelidikan sejauh ini.

Swanson dan Fitch berjudi mengenai dua hal. Pertama, lambannya Beverly mengenali nama Jeff

509

Kerr di telepon kemarin. Kedua, pemyataannya yang tegas bahwa sudah empat tahun ia tidak pernah bicara dengan Claire. Mereka mengasumsikan keduanya benar.

“Kami akan membayar untuk informasi,” kata Swanson.

“Berapa banyak?”

“Seribu dolar kontan, untuk menceritakan segala yang kauketahui. mengenai Claire Clement.” Swanson cepat-cepat mengeluarkan sehelai amplop dari saku mantel dan meletakkannya di meja.

“Apa kau yakin dia tidak dalam kesulitan?” Beverly bertanya, menatap tambang emas di hadapannya.

“Aku yakin. Ambillah uangnya. Kalau kau sudah empat atau lima tahun tidak pernah berjumpa dengannya, mengapa kau harus khawatir?”

Benar juga, pikir Beverly. Ia meraih amplop itu dan menjejalkannya ke dalam dompet. “Tidak banyak yang bisa diceritakan.”

“Berapa lama kau bekerja bersamanya?”

“Enam bulan.”

“Berapa lama kau mengenalnya?”

“Enam bulan. Aku bekerja sebagai pelayan di Mulligan’s ketika dia masuk. Kami berteman. Kemudian aku meninggalkan kota dan berkelana ke timur. Aku meneleponnya satu atau dua kali ketika tinggal di New Jersey, kemudian kami kurang-lebih saling melupakan.”

“Apa kau kenal Jeff Kerr?”

“Tidak. Waktu itu dia belum berkencan dengan Jeff. Dia bercerita mengenai laki-laki itu kemudian, sesudah aku meninggalkan kota itu.”

“Apakah dia punya teman lain, pria dan wanita?”

510

“Yeah, tentu. Jangan suruh aku menyebutkan nama mereka. Aku sudah lima, mungkin enam tahun meninggalkan Lawrence. Aku sama sekali tidak ingat kapan menmggalkannya.”

“Kau tidak bisa menyebutkan nama teman-teman-nya?”

Beverly meneguk kopi espresso-nya dan berpikir sejenak. Kemudian ia menyebutkan tiga nama orang yang pernah bekerja bersama Claire. Salah satunya sudah diperiksa tanpa hasil. Satu lagi sedang dilacak. Satu tidak ditemukan.

“Di college mana Claire kuliah?”

“Di suatu tempat di Midwest.”

“Kau tidak tahu nama sekolahnya?”

“Rasanya tidak. Claire tidak banyak bercerita mengenai masa lalunya. Sepertinya ada sesuatu yang buruk di masa lampau, dan dia tidak mau membicarakannya. Aku tidak pernah tahu. Kupikir mungkin kegagalan kisah cinta, perkawinan, keluarga berantakan. masa kanak-kanak tidak bahagia, atau entah apa. Tapi aku tidak pernah tahu.”

“Apakah dia membicarakan hal ini dengan orang lain?”

“Setahuku tidak.”

“Kau tahu kota asalnya?”

“Dia mengatakan dia sering berpindah-pindah. Sekali lagi, aku tidak mengajukan banyak pertanyaan.” “Apakah dia berasal dari sekitar Kansas City?” “Aku tidak tahu.”

“Apakah kau yakin Claire Clement nama aslinya?” Beverly mundur dan mengernyit. “Menurutmu mungkin bukan begitu‘7”

511

“Kami menduga dia memakai nama lain sebelum tiba di Lawrence, Kansas. Kau ingat sesuatu mengenai nama lain?”

“Wah. Aku menganggap dia Claire. Mengapa dia perlu mengubah nama?”

“Kami pun ingin tahu.” Swanson mengeluarkan buku catatan kecil dari saku dan mempelajari checklist. Beverly adalah jalan buntu lainnya

“Apa kau pernah pergi ke apartemennya?”

“Satu-dua kali. Kami memasak dan nonton film. Dia tidak sering hura-hura, tapi sesekali dia mengun-dangku bersama beberapa teman.”

“Ada yang luar biasa mengenai apartemennya?”

“Yeah Apartemen itu sangat bagus. kondominium modern, dengan perabot bagus. Jelas dia punya uang dari sumber-sumber lain di luar Mulligan’s. Maksudku, kami dibayar tiga dolar per jam. ditambah tip.””

“Jadi, dia punya uang?”

“Yeah. Jauh lebih banyak daripada kami. Tapi, sekali lagi, dia sangat tertutup. Claire adalah teman biasa dan orang yang menyenangkan untuk diajak bergaul. Asalkan kau tidak mengajukan banyak per tanyaan.”

Swanson mendesaknya mengenai beberapa detail lain, tapi tidak mendapatkan apa-apa. la mengucapkan teriina kasih atas bantuan Beverly, dan-Beverly mengucapkan terima kasih atas uang itu. Ketika Swanson hendak berlalu, Beverly menawarkan diri untuk menelepon beberapa orang. Itu jelas rayuan untuk mendapatkan uang lebih banyak. Swanson mengiyakan, tapi memperingatkannya agar jangan mengungkapkan apa yang ia kerjakan.

512

“Dengar, aku aktns, oke? Ini sangat gampang.” Swanson meninggalkan kartu nama dengan nomor hotelnya di Biloxi tertulis di baliknya

Hoppy menganggap Mr. Cristano sedikit terlalu kasar. Tapi situasinya memang memburuk, demikian menurut orang-orang misterius yang menjadi atasan Mr. Cristano. Di Departemen Kehakiman ada pembicaraan untuk membatalkan seluruh rencana ini dan mengirimkan kasus Hoppy ke federal grand jury.

Kalau Hoppy tidak bisa meyakinkan istri sendiri, bagaimana mungkin ia bisa mempengaruhi seluruh dewan juri?

Mereka duduk di belakang mobil Chrysler hitam panjang dan berjalan-jalan di daerah Gulf, tanpa tujuan tertentu, tapi sekitar ke arah Mobile. Nitchman mengemudi dan Napier duduk; keduanya berlagak tidak tahu-menahu tentang intimidasi pada Hoppy di jok belakang.

“Kapan kau akan menemuinya lagi?” Cristano bertanya.

“Malam ini, saya rasa.”

“Saatnya sudah tiba bagimu, Hoppy, untuk menceritakan kejadian sebenarnya. Ceritakan padanya apa yang telah kaulakukan. ceritakan segalanya.”

Mata Hoppy basah dan bibirnya gemetar sewaktu ia menatap jendela gelap mobil itu dan melihat mata istrinya yang indah saat ia menelanjangi jiwanya sendiri. Ia mengutuki diri sendiri karena ketololannya. Seandainya ia punya senapan, rasanya ia bisa menembak Todd Ringwald dan Jimmy Hull Moke, tapi yang pasti ia bisa menembak diri sendiri. Mungkin

513

ia akan menghabisi tiga badut ini dulu, tapi, tidak disangsikan lagi, Hoppy bisa meledakkan otaknya sendiri.

“Saya rasa begitu,” gumamnya.

“Istrimu harus menjadi pendorong, Hoppy. Kau mengerti? Millie Dupree harus menjadi satu kekuatan di dalam ruang juri. Karena kau tidak berhasil meyakinkannya dengan penalaran, kini kau harus me-motivasi dia dengan ketakutan melihatmu masuk penjara selama lima tahun. Kau tidak punya pilihan.”

Pada saat itu, ia lebih suka menghadapi penjara daripada menghadapi Millie dengan kebenaran ini. Namun ia tak punya pilihan itu. Kalaupun tidak diyakinkan, Millie tetap akan tahu yang sebenarnya, dan ia tetap akan masuk penjara.

Hoppy mulai menangis. Ia menggigit bibir dan menutupi mata, berusaha menghentikan air mata terkutuk itu, tapi ia tidak tahan. Sewaktu mereka meluncur damai di jalan bebas hambatan, satu-satunya suara selama beberapa kilometer hanyalah rintihan menyedihkan dari seorang laki-laki yang sudah hancur.

Nitchman tak bisa menyembunyikan senyum kecilnya.

514

Tiga Puluh Dua

Pertemuan kedua di kantor Marlee dimulai satu jam setelah yang pertama berakhir. Fitch datang lagi berjalan kaki, dengan tas kerja dan secangkir besar kopi. Marlee memeriksa tas itu, mencari peralatan tersembunyi; Fitch geli menyaksikannya.

Ketika ia selesai. Fitch menutup tasnya dan meneguk kopi. “Aku ada pertanyaan,” ia berujar. “Apa?”

“Enam bulan lalu, baik kau maupun Easter tidak tinggal di county ini, mungkin tidak di negara bagian ini. Apakah kau pindah ke sini untuk menyaksikan sidang ini?” Sudah tentu ia tahu jawabannya, tapi ia ingin melihat, sejauh mana Marlee akan mengakuinya, sebab sekarang mereka menjadi mitra bisnis dan seharusnya bekerja di pihak yang sama.

“Boleh dikatakan demikian,” kata Marlee. Ia dan Nicholas memperkirakan bahwa Fitch kini sudah melacak mereka sampai ke Lawrence. Tidak apa-apa. Fitch harus menghargai kemampuan mereka menelurkan rencana seperti ini, dan komitmen mereka untuk melaksanakannya. Hanya masa lalu Marlee sebelum Lawrence yang membuat mereka tak bisa tidur.

515

“Kalian berdua memakai nama alias, bukan?” ia bertanya. %

“Tidak. Kami memakai nama sah kami. Tidak ada pertanyaan lagi mengenai kamU Fitch. Kami tidak penting. Waktunya pendek. dan kita ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Mungkin kita harus mulai dengan kau menceritakan sampai sejauh mana perundinganmu dengan pihak lawan. Berapa banyak yang diketahui Rohr?”

“Rohr tidak tahu apa-apa. Kami menari dan ber-sparring dengan lawan khayalan, tapi tak pernah berhubungan.”

“Apa kau akan membuat kesepakatan dengannya, seandainya aku tidak bersedia?”

“Ya. Aku melakukan ini untuk uang, Fitch. Nicholas menjadi anggota juri sebab demikianlah kami merencanakannya. Kami sudah menanti-nanti saat seperti ini. Ini akan berhasil, sebab semua pemainnya curang. Kau curang. Klienmu curang. Aku dan part-nerku curang. Curang tapi cerdik. Kami mencemari sistem sedemikian rupa, sehingga tak bisa dideteksi.”

“Bagaimana dengan Rohr? Dia akan curiga bila dia kalah. Bahkan dia akan curiga kau bersekongkol dengan pabrik rokok.”

“Rohr tidak kenal aku. Kami tidak pernah bertemu.”

“Ayolah.”

“Sumpah, Fitch. Aku membuatmu mengira aku sudah bertemu dengannya, tapi itu tak pernah terjadi. Tapi itu akan terjadi seandainya kau tidak bersedia berunding “

“Kau tahu aku mau.”

516

“Tentu Kami tahu kau lebih berhasrat membeli vonis.”

Oh, begitu banyak yang ingin ia tanyakan. Bagaimana mereka tahu keberadaannya? Bagaimana mereka mendapatkan nomor teleponnya? Bagaimana mereka memastikan Nicholas dipanggil untuk bertugas sebagai juri? Bagaimana mereka menempat-kannya dalam dewan juri? Dan bagaimana mereka tahu mengenai The Fund?

Ia akan menanyakannya kelak, setelah semua ini selesai dan tekanan terangkat Ia ingin bercakap-cakap dengan Marlee dan Nicholas, sambil menikmati makan malam panjang dan meminta semua pertanyaannya dijawab. Kekagumannya terhadap mereka makin lama makin bertambah.

“Janji kau tidak akan menyepak Lonnie Shaver,” katanya.

“Aku akan berjanji. Fitch, kalau kau menceritakan padaku mengapa kau begitu suka dengan Lonnie.” “Dia ada di pihak kita ” “Bagaimana kau tahu ini?” “Kami punya cara.”

“Dengar, Fitch, kalau kita berdua mau bekerja sama untuk meraih vonis yang sama, mengapa kita tidak bisa bicara jujur?”

“Kau tahu, kau benar. Mengapa kau menendang Herrera?”

“Sudah kukatakan padamu. Dia menyebalkan. Dia tidak suka Nicholas dan Nicholas tidak menyukainya. Plus. Henry Vu dan Nicholas adalah sahabat. Jadi, kita tidak kehilangan apa pun.”

“Mengapa kalian menyingkirkan Stella Hulic?”

517

“Sekadar untuk mengeluarkannya dari ruang juri. Dia luar biasa menjengkelkan. Segala sesuatu mengenai dirinya sangatlah mengganggu.”

“Siapa yang berikutnya?”

“Entahlah. Kita punya sisa satu orang. Siapa yang harus kita singkirkan?” “Bukan Lonnie.”

“Kalau begitu, katakan padaku apa sebabnya.”

“Mari katakan saja bahwa Lonnie sudah dibeli dan dibayar. Majikannya adalah seseorang yang akan inendengarkan kami.”

“Siapa lagi yang sudah kaubeh dan kaulunasi?”

“Tidak -ada lagi.”

“Ayolah, Fitch. Kau mau menang atau tidak?” “Tentu saja mau.”

“Tidak. jangan melihatnya dengan cara demikian. Pikirkanlah seperti ini. Dia tidak berhak mendapatkan apa pun, oke? Nol. Dia sedang melaksanakan kewa-jibannya sebagai warga negara. Sepuluh ribu itu uang suap, hadiah kecil yang kotor dan harus dilupakan begitu diterima.”

“Tnpi kalau kau menawarkan persentase, dia akan termotivasi untuk bekerja lebih keras di ruang juri.”

Cleve menyedot rokok panjang-panjang dan meng-embuskannya perlahan-lahan. menggoyangkan kepala nya. “Kau sungguh tidak mengerti. Kalau penggugat mendapatkan kemenangan, masih bertahun-tahun lagi sebelum uang itu berpindah tangan. Dengar, Derrick, kau membuat urusan ini terlalu rumit. Ambillah uangnya. Bicaralah pada Angel. Bantulah kami.”

“Dua puluh lima ribu.”

Sdtu sedotan panjang lagi, lalu rokok jatuh ke aspal, dan Cleve menggilasnya dengan sepatu lars. “Aku harus bicara dengan bosku “

“Dua puluh lima ribu, tiap suara.”

“Tiap suara?”

“Yeah. Angel bisa memberikan lebih dari satu.” “Siapa?”

“Takkan kukatakan.”

“Coba aku bicara dengan bosku.”

Di dalam Kamar 54, Henry Vu membaca surat-surat dari putrinya di Harvard, sementara Qui, istrinya, mempelajari polis asuransi baru untuk armada kapal penangkap udangnya. Karena Nicholas sedang menonton film di ruang depan, Kamar 48 kosong. Di dalam Kamar 44, Lonnie dan istrinya berpelukan di

463

bawah selimut untuk pertama kalinya setelah hampir sebulan. tapi mereka harus bergegas, karena anak-anak dijaga oleh adik istrinya. Di dalam Kamar 58, Mrs. Grimes menonton komedi televisi sementara Herman memasukkan uraian sidang itu ke komputernya. Kamar 50 kosong karena sang kolonel sedang berada di Ruang Pesta, lagi-lagi seorang diri, karena Mrs. Herrera sedang berada di Texas, mengunjungi :*epupunya. Dan kamar 52 juga kosong, karena Jerry minum bir bersama sang kolonel dan Nicholas, menunggu sampai tepat untuk diam-diam menyeberangi koridor, menuju kamar Poodle. Di kamar 56, Shine Royce, anggota juri pengganti nomor 2, sedang melahap satu tas besar roti dan mentega yang dibawanya dari ruang makan, menonton TV, dan sekali lagi bersyukur pada Tuhan atas keberuntungannya. Royce berumur 52, menganggur. tinggal dalam trailer sewaan dengan seorang wanita muda dan enam anaknya, serta belum pernah berpenghasilan lima belas dolar sehari mengerjakan • apa pun selama bertahun-tahun ini. Sekarang ia hanya perlu duduk dan mendengarkan sidang, dan county bukan saja membayar. tapi juga memberiny* makan. Di kamar 46, Phillip Savelle dan pacarnya yang orang Pakistan minum teh rempah dan merokok ganja dengan jendela terbuka.

Di seberang koridor, di dalam Kamar 49, Sylvia Taylor-Tatum berbicara di telepon dengan putranya. Di Kamar 45, Mrs. Gladys Card bermain kartu remi c^engtn Mr. Nelson Card, suami yang punya sejarah penyakit prosiat. Di Kamar 51, Rikki Coleman menunggu Rhea, yang datang terlambat dan mungkin

464

tidak bisa datang, sebab baby-sitter mereka tidak masuk. Di Kamar 53, Loreen Duke duduk di ranjang, makan kue brownie dan mendengarkan dengan perasaan iri sewaktu Angel Weese dan pacarnya mengguncang-guncang dinding Kamar 55 di sebelah.

Dan di Kamar 47, Hoppy dan Millie Dupree bercinta dengan penuh semangat Hoppy datang lebih awal dengan sekantong besar masakan Cina dan sebotol sampanye murahan, minuman yang tidak pernah dicobanya selama bertahun-tahun. Dalam keadaan normal. Millie tentu sudah mengomel mengenai atkohol, tapi hari-hari ini sangat jauh dari normal. Ia meneguk sedikit minuman itu dari cangkir plastik motel, dan makan seporsi besar daging’asam manis. Kemudian Hoppy menyerangnya

Setelah selesai, mereka berbaring dalam kegelapan dan bercakap-cakap pelan mengenai anak-anak, sekolah dan rumah pada umumnya. Millie agak letih dengan cobaan ini, dan sangat ingin kembali pada keluarganya. Hoppy berbicara dengan sedih mengenai kepergian sang istri. Anak-anak sering rewel. Rumah jadi berantakan. Semua merindukan Millie.

Ia berpakaian dan menyalakan televisi. Millie mengenakan mantel kamarnya dan menuang sedikit sampanye lagi.

“Kau takkan percaya ini,” kata Hoppy sambil merogoh-rogoh saku mantel dan mengeluarkan secank kertas terlipat.

“Apa itu?” tanya Millie, mengambil kertas tersebut dan membuka lipatannya. Itu adalah kopi dari memo palsu Fitch, berisi daftar dosa Leon Robilio. Ia membacanya perlahan-lahan, lalu memandang cunga

465

peda suaminya. “Dari mana kau mendapatkan ini?” tanyanya.

“Datang lewat faks kemarin,” kata Hoppy sungguh-sungguh. Ia ^udah melatih jawabannya, sebab tidak tega berbohong pada Millie, la merasa sangat berdosa, tapi Napier dan Nitchman ada di luar sana, menunggu.

“Siapa yang mengirimnya?” tanya Millie.

“Entahlah. Kelihatannya datang dari Washington.”

“Mengapa kau tidak membuangnya?”

“Aku tidak tahu. Aku…”

“Kau tahu, tidak benar memperlihatkan sesuatu seperti ini padaku, Hoppy.” Millie melemparkan kertas itu ke ranjang dan berjalan lebih dekat ke suaminya, bercekak pinggang. “Apa sebenarnya maksudmu?”

“Tidak ada apa-apa. Cuma itu difakskan ke kan-torku, itu saja.”

“Sungguh kebetulan! Seseorang di Washington kebetulan tahu nomor faksmu, kebetulan tahu istrimu sedang menjadi anggota juri, kebetulan tahu Leon Robilio memberikan kesaksian, dan kebetulan curiga bahwa kalau mereka mengirimkan surat ini padamu, kau akan cukup tolol untuk membawanya ke sini dan mencoba mempengaruhi aku. Aku ingin tahu apa yang terjadi!”

“Tidak ada apa-apa. Sumpah,” kata Hoppy, berdiri pada tumitnya.

“Mengapa kau mendadak berminat sekali pada sidang ini?”

“Sidang ini sangat menarik.”

“Sudah menarik selama tiga minggu, tapi kau hampir tidak pernah menyebutnya. Apa yang terjadi, Hoppy?”

466

‘Tidak ada apa-apa. Tenanglah.” “Aku bisa tahu kalau ada yang meresahkan hati-mu.”

“Sudahlah, Millie. Dengar. kau resah. Aku resah. Urusan ini membuat kita semua bertingkah di luar kebiasaan. Maafkan aku telah membawa surat ini.”

Millie menghabiskan sampanyenya dan duduk di tepi ranjang. Hoppy duduk di sampingnya. Mr. Cristano di Departemen Kehakiman menyiratkan dengan cukup tegas bahwa Hoppy harus membujuk Millie agar memperlihatkan memo itu kepada semua rekannya dalam dewan juri. Ia takut memberitahu Mr. Cristano bahwa hai ini mungkin takkan terjadi. Tapi bukankah Mr. Cristano takkan tahu pasti apa yang terjadi pada barang terkutuk itu?

Saat Hoppy merenungkan hai ini, Millie mulai menangis. “Aku ingin pulang,” katanya, matanya merah. bibirnya gemetar. Hoppy memeluknya dan mendekapnya rapat.

“Maaf,” katanya. Millie menangis lebih keras lagi.

Hoppy pun merasa ingin menangis. Pertemuan ini terbukti tidak ada artinya, meskipun mereka sudah bercinta. Menurut Mr. Cristano, sidang ini akan berakhir beberapa hari lagi. Tidak boleh tidak, Millie harus segera diyakinkan bahwa satu-satunya vonis adalah untuk kemenangan tergugat. Karena kesempatan mereka untuk bersama-sama demikian jarang, Hoppy akan terpaksa menceritakan kebenaran mengerikan itu. Tidak sekarang, tidak malam ini. tapi pasti dalam kunjungan pribadi berikutnya.

467

Dua Puluh Sembilan

Kegiatan rutin sang kolonel tidak pernah berubah. Seperti layaknya prajurit tua yang baik, ia bangun tepat pukul setengah enam setiap pagi, untuk pushup dan situp sebanyak lima puluh kali sebelum mandi air dingin. Pukul enam, ia pergi ke ruang makan, bersiap menikmati kopi baru dan banyak surat kabar. Ia makan roti bakar dengan selai, tanpa mentega, dan menyapa setiap rekannya dengan ucapan selamat pagi yang penuh semangat, sewaktu mereka masuk dan kemudian keluar lagi. Mereka masih mengantuk dan ingin cepat-cepat kembali ke kamar masing-masing, meneguk kopi dan menonton siaran berita tanpa diganggu. Cara yang menyebalkan untuk menyambut pagi, dipaksa menyapa sang kolonel dan membalas semburan kata-katanya. Makin lama mereka diasingkan, makin bersemangat ia sebelum matahari terbit. Beberapa anggota juri itu menunggu hingga pukul delapan, sebab biasanya sang kolonel bergegas kembali ke kamarnya pada saat itu.

Pada pukul enam seperempat hari Kamis, Nicholas mengucapkan halo kepada sang kolonel sewaktu

468

menuang secangkir kopi, lalu mengobrol singkat mengenai cuaca. Ia meninggalkan ruang makan darurat itu dan diam-diam masuk ke koridor yang kosong dan gelap. Beberapa TV sudah bisa terdengar. Seseorang sedang berbicara di telepon. Ia membuka pintunya dan cepat-cepat meletakkan kopi di meja. mengambil setumpuk koran dari laci, lalu meninggalkan kamar

Memakai kunci yang dicurinya dari rak di bawah front desk, Nicholas masuk ke Kamar 50, kamar sang kolonel. Bau cairan aftershave murahan masih melekat pekat. Sepatu dikumpulkan dalam deretan rapi, ter-sandar pada dinding. Pakaian di dalam lemari digantung rapi dan disetrika sempurna. Nicholas berlutut, mengangkat tepi seprai, serta menyelipkan surat kabar dan majalah-majalah itu ke bawah ranjang. Salah satunya adalah kopi majalah Mogul terbitan kemarin.

Ia meninggalkan kamar itu tanpa bersuara dan kembali ke kamarnya sendiri. Satu jam kemudian, ia menelepon Marlee. Dengan asumsi bahwa Fitch mendengarkan semua teleponnya, ia hanya berkata, “To-long dengan Darlene.” Mendengar itu, Marlee menjawab, “Salah sambung.” Keduanya memutus sambungan. Ia menunggu lima menit dan memutar nomor telepon genggam yang disimpan Marlee dalam leman. Mereka memperkirakan Fitch menyadap telepon dan apartemennya.

“Pengiriman selesai,” katanya.

Setengah jam kemudian, Marlee meninggalkan apartemennya dan menemukan telepon umum di restoran biskuit. Ia menelepon Fitch, dan menunggu teleponnya disambungkan.

469

“Selamat pagi, Marlee,” katanya. “Hei, Fitch. Dengar, aku ingin bicara di telepon, tapi aku tahu semua ini direkam.” “Tidak. Sumpah.”

“Baik. Di sudut Fourteenth dan Beach Avenue ada kedai Kroger, lima menit dari kantormu. Di sana ada tiga telepon umum dekat pintu masuk depan, sebelah kanan. Pergilah ke pesawat yang di tengah. Aku akan menelepon dalam waktu tujuh menit. Bergegaslah, Fitch.” Ia memutuskan sambungan.

“Bangsat!” Fitch berteriak sambil membanting ga-gang telepon dan melompat ke pintu. Ia berteriak pada Jose dan mereka bersama-sama berlari ke pintu belakang, melompat ke dalam mobil Suburban itu.

Seperti sudah diduga, telepon itu sedang berdering ketika Fitch sampai di sana.

“Hei, Fitch. Dengar, Herrera, nomor 7, benar-benar mengesalkan hati Nick. Kurasa kita akan kehilangan dia hari ini.”

“Apa!”

“Kau mendengarku.” “Jangan lakukan, Marlee!”

“Orang itu benar-benar menyebalkan. Semua muak dengannya.”

‘Tapi dia ada di pihak kita!”

“Oh, Fitch. Mereka semua akan ada di pihak kita saat ini berakhir. Omong-omong, datanglah ke sana pukul sembilan, untuk menyaksikan ketegangan.”

“Tidak, dengarkan, Herrera vital untuk…” Fitch berhenti di tengah kalimat ketika mendengar klik pada pesawatnya. Kemudian sambungan itu putus.

470

Ia mencengkeram gagang telepon dan mulai menariknya, seolah-olah akan mencabutnya dari pesawat telepon dan melemparkannya ke halaman parkir. Kemudian ia melepaskannya, dan tanpa mengumpat atau mencaci ia berjalan tenang kembali ke mobil Suburban dan memerintahkan Jose untuk pergi ke kantor.

Apa pun yang diinginkan Marlee. Tidak jadi soal.

Hakim harkin tinggal di Gulfport, seperempat jam dari gedung pengadilan. Karena alasan-alasan yang jelas, nomor teleponnya tidak tercantum dalam buku petunjuk. Siapa yang menginginkan narapidana-nara-pidana dari penjara menelepon nya setiap saat sepanjang malam?

Sewaktu ia dalam proses mencium istrinya dan mengambil cangkir kopinya untuk di perjalanan, telepon di dapur berdering dan Mrs. Harkin mengangkatnya. “Untukmu, Sayang,” katanya sambil menyerahkannya kepada Yang Mulia, yang kemudian meletak-kah kopi dan tas kerjanya sambil melirik arloji.

“Halo,” katanya.

“Pak Hakim, maaf mengganggu Anda di rumah seperti ini,” kata satu suara yang gelisah, nyaris berbisik. ‘Tni Nicholas Easter, dan kalau Anda ingin saya memutuskan sambungan sekarang, akan saya lakukan.”

“Nanti dulu. Ada apa?”

“Kami masih di motel, siap berangkat, dan, well, rasanya saya perlu bicara dengan Anda lebih dulu pagi ini.”

“Ada apa, Nicholas?”

471

“Saya tidak suka menelepon Anda, tapi saya khawatir beberapa anggota juri mungkin akan curiga pada catatan dan percakapan kita di ruang kerja.”

“Mungkin kau benar.”

“Jadi, saya pikir sebaiknya saya menelepon Anda. Dengan cara ini, mereka tidak akan tahu bahwa kita sudah bicara.”

“Coba saya dengarkan. Kalau menurutnya kita harus menghentikan percakapan. saya akan melakukannya.” Harkin ingin menanyakan, bagaimana juri yang diasingkan bisa mendapatkan nomor teleponnya, tapi memutuskan untuk menunggu.

“Ini mengenai Herrera. Saya pikir dia mungkin membaca beberapa bacaan yang tidak termasuk dalam daftar yang sudah dii/inkan.”

“Seperti apa?”

“Seperti Mogul. Saya berjalan ke ruang makan pagi tadi. Dia di sana seorang diri, dan dia mencoba menyembunyikan satu kopi majalah Mogul dari saya. Apakah itu semacam majalah bisnis?”

“Ye.” Harkm sudah membaca artikel tulisan Barker kemarin. Kalau Easter mengatakan yang sebenarnya, dan mengapa ia harus menyangsikannya, Herrera akan dikirim pulang seketika. Membaca maten yang tidak diizinkan merupakan dasar pemberhentian, bahkan mungkin dasar untuk menjatuhkan tuduhan menghina pengadilan. Bila ada anggota juri yang membaca Mogul terbitan kemarin, hai ini sudah menjadi dasar untuk melakukan pembatalan sidang. “Menurut Anda, apakah dia membicarakannya dengan orang lain?”

“Saya meragukannya. Seperti saya katakan, dia mencoba menyembunyikannya dari saya. Itulah sebabnya saya curiga. Saya rasa dia tidak membicarakannya dengan orang lain. Tapi saya akan pasang telinga.”

“Lakukanlah. Saya akan memanggil Mr. Herrera pagi ini dan memeriksanya. Kita mungkin akan menggeledah kamarnya.”

“Tolong jangan katakan saya yang melaporkan. Saya merasa tidak enak melakukan ini “

“Tidak apa.”

“Kalau anggota juri lainnya mendengar kita bicara habislah kredibilitas saya.” “Jangan khawatir.”

“Saya cemas, Pak Hakim. Kami semua letih dan ingin pulang.”

“Sidang ini sudah hampir selesai, Nicholas. Saya akan mendorong para pengacara itu sekeras mungkin.”

“Saya tahu. Maaf, Pak Hakim. Cuma tolong pastikan jangan ada yang tahu saya yang bermain jadi mata-mata. Saya sendiri tidak percaya saya melakukan hai ini.”

“Kau mengambil tindakan yang benar. Nicholas. Dan saya berterima kasih untuk ini. Sampai jumpa beberapa menit lagi.”

Harkin mencium istrinya untuk kedua kali, dan meninggalkan rumah. Dengan telepon mobil, ia menghubungi Sheriff, memintanya pergi ke motel dan menunggu. Ia menelepon Lou Dell dan menanyainya apakah Mogul dijual di motel itu. Tidak. Ia menelepon paniteranya dan memintanya mencari Rohr dan Cable, dan memenntahkan mereka menunggu di ruang kerjanya saat ia datang nanti. Ia mendengarkan stasiun radio musik country dan bertanya-tanya dalam

473

472

hati, bagaimana anggota juri dalam pengasingan mendapatkan kopi majalah bisnis yang tidak tersedia di jalanan Biloxi.

Cable dan Rohr sedang menunggu dengan panitera ketika Hakim Harkin memasuki ruang kerjanya dan menutup pintu. Sang hakim menanggalkan jas, duduk, dan menguraikan dugaan terhadap Herrera, tanpa mengungkapkan sumbernya. Cable merasa kesal, ka rena Herrera dianggap oleh semua pihak sebagai anggota juri yang solid di pihak tergugat. Rohr jengkel karena mereka kehilangan satu anggota juri lagi, dan ada risiko pembatalan sidang.

Melihat kedua pengacara itu merasa tidak senang, Hakim Harkin merasa lebih baik. Ia mengirim paniteranya ke ruang juri untuk menjemput Mr. Herrera ydng sedang m*neguk kopinya, entah yang keberapa, dan bercakap-cakap dengan Herman mengenai komputer braille-nya. Frank melihat berkeliling dengan pandangan heran sesudah Lou Dell memanggil namanya, dan ia pun meninggalkan ruangan. Ia mengikuti Willis sang deputi melewati koridor-koridor di belakang ruang sidang. Mereka berhenti di depan pintu samping; Willis mengetuk sopan sebelum masuk.

Sang kolonel disapa hangat oleh Hakim dan kedua pengacara, dan dipersilakan duduk di kursi dalam ruangan yang penuh sesak, di samping notulis pengadilan, yang duduk siap dengan mesin stenograf.

Hakim menjelaskan bahwa ada beberapa pertanyaan yang menuntut jawaban di bawah sumpah; para pengacara itu cepat-cepat mengeluarkan buku tulis kuning dan mulai menulis. Herrera langsung merasa dirinya seperti penjahat.

474

“Apakah Anda membaca bahan-bahan bacaan yang tidak secara eksplisit saya izinkan?” Hakim Harkin bertanya.

Diam sesaat, sementara para pengacara memandanginya. Panitera, notulis, dan Hakim sendiri siaga untuk menerkam jawabannya. Bahkan Willis di samping pintu dalam keadaan siaga dan menaruh perhatian besar.

“Tidak. Setahu saya tidak,” sahut sang kolonel terus terang.

“Spesifiknya, apakah Anda membaca mingguan bisnis bernama Mogul?”

“Tidak, sejak dalam karantina.” #

“Apakah Anda biasanya membaca Mogul?”

“Sekali, mungkin dua kali sebulan.”

“Di dalam kamar Anda di motel, apakah Anda memiliki bahan bacaan yang tidak saya izinkan?”

“Setahu saya tidak.”

“Apakah Anda mengizinkan penggeledahan atas kamar Anda?”

Pipi Frank memerah dan pundaknya tersentak. “Apa maksud Anda?” tanyanya.

“Saya ada alasan untuk meyakini bahwa Anda telah membaca bahan-bahan yang tidak diizinkan, dan hai ini terjadi di motel. Saya pikir penggeledahan cepat pada kamar Anda akan menyelesaikan masalah.”

“Anda mempertanyakan integritas saya,” kata Herrera, tersinggung dan marah. Integritas merupakan sesuatu yang vital baginya. Satu lirikan pada wajah-wajah lain mengungkapkan bahwa mereka semua berpikir ia bersalah melakukan pelanggaran berat.

“Tidak, Mr. Herrera. Saya cuma percaya bahwa

475

penggeledahan akan memungkinkan kita untuk meneruskan sidang ini.”

Itu cuma kamar motel, tidak seperti rumah tempat segala macam barang pribadi tersimpan. Di samping itu, Frank tahu benar bahwa tidak ada apa pun dalam kamarnya yang akan memberatkannya. “Kalau begitu. silakan geledah,” katanya sambil mengertakkan gigi.

‘Terima kasih.”

Willis membawa Frank ke koridor di luar ruang kerja Hakim, dan Hakim Harkin menelepon Sheriff di motel. Manajer motel membuka pintu Kamar 50. Sheriff dan dua orang deputi melakukan penggeledahan cenajai pada lemari, Iaci, dan kamar mandi. Di bawah ranjang, mereka menemukan setumpuk majalah Wall Street Journal dan Forbes, juga satu kopi Mogul terbitan kemarin. Sheriff menelepon Hakim Harkin, menyampaikan apa yang mereka temukan. dan diinstruksikan untuk segera membawa barang-barang tidak sah itu ke ruang kerja Hakim

Pukul sembilan seperempat, belum ada juri. Fitch duduk kaku di bangku belakang, matanya mengintip dari atas koran dan menatap tajam ke pintu di dekat boks juri, tahu pasti bahwa ketika mereka akhirnya muncul, juri nomor 7 bukan lagi Herrera, melainkan Henry Vu. Dari sudut pandang tergugat, Vu cukup bisa diterima, sebab ia orang Asia, dan orang Asia pada umumnya tidak suka menghamburkan uang orang lain untuk memberikan ganti kerugian. Tapi Vu bukan Herrera, dan sudah berminggu-minggu ini para pakar juri Fitch mengatakan bahwa sang kolonel ada di pihak mereka, dan akan menjadi kekuatan dalam pengambilan keputusan kelak.

Kalau Marlee dan Nicholas bisa menendang Herrera dengan mudah, siapa yang berikutnya? Kalau mereka melakukan hai ini hanya untuk mendapatkan perhatian Fitch, mereka benar-benar berhasil.

Dengan perasaan tak percaya, Hakim dan para pengacara itu menatap koran-koran dan majalah-majalah yang sekarang berderet rapi di meja kerja Harkin. Sheriff menjelaskan untuk dicatat. bagaimana dan di mana barang-barang ini ditemukan, lalu pergi.

“Saudara-saudara, saya tidak punya pilihan selain membebastugaskan Mr. Herrera,” kata Yang Mulia Hakim, dan para pengacara itu tidak mengucapkan apa-apa. Herrera dibawa kembali ke dalam ruangan dan dipersilakan duduk di kursi yang sama.

“Untuk dicatat.” Hakim Harkin berkata kepada notulis. “Mr. Herrera, berapakah nomor kamar Anda di Siesta Inn?”

“50.”

“Barang-barang ini ditemukan di bawah ranjang di Kamar 50 beberapa menit yang lalu.” Harkin melambaikan majalah-majalah itu. “Semuanya baru, kebanyakan terbit setelah tanggal karantina “

Herrera terpana membisu.

“Semuanya, tentu saja, tidak diizinkan, dan beberapa sangat mengandung prasangka.”

“Itu bukan milik saya,” kata Herrera perlahan-lahan, kemarahannya memuncak.

“Begitu?”

“Seseorang menaruhnya di sana.” “Siapa yang mungkin melakukan hai inir’ “Saya tidak tahu. Mungkin orang yang memberi kisikan pada Anda.”

477

476

Dalih yang bagus, pikir Harkin, tapi tidak perlu dilacak saat ini. Baik Cable maupun Rohr memandang Hakim, seolah-olah hendak bertanya. Oke, siapa yang memberi kisikan itu?

“Kita tidak bisa menghindari fakta bahwa barang-barang ini ditemukan dalam kamar Anda, Mr. Herrera Karena alasan ini, saya tidak punya pilihan selain membebaskan Anda dari tugas sebagai anggota juri.”

Pikiran Frank kini sudah terpusat, dan banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan. la ingin berteriak dan marah di depan wajah Hakim ketika disadarinya bahwa ia akan dibebastugaskan. Sesudah empat minggu mengikuti sidang dan sembilan malam di Siesta Inn. ia akan berjalan keluar dari gedung pengadilan ini dan pulang. Ia akan berada di lapangan golf saat makan siang nanti.

“Saya rasa ini tidak benar,” katanya setengah hati. mencoba untuk tidak mendesak terlalu keras.

“Saya menyesal. Saya akan mengusut penghinaan terhadap pengadilan kelak. Untuk sekarang, kami perlu meneruskan sidang ini.”

“Apa pun keputusan Anda. Pak Hakim.” kata Frank. Malam ini ia akan makan di Restoran Vrasel’s. seafood segar dan anggur. Ia bisa menengok cucunya besok.

“Saya akan memerintahkan seorang deputi untuk membawa Anda kembali ke motel, >upaya Anda bisa berkemas. Saya instruksikan pada Anda untuk tidak mengulangi apa pun mengenai ini kepada siapa pun, terutama kepada pers. Anda diperintahkan untuk diam, sampai pemberitahuan lebih lanjut. Anda mengerti?”

478

“Ya, Sir.”

Sang kolonel dikawal menuruni tangga belakang dan keluar melalui pintu belakang gedung pengadilan; Sheriff sedang menunggu untuk mengantar Herrera dalam perjalanan terakhirnya ke Siesta Inn.

“Dengan ini saya mengajukan permohonan pembatalan sidang,” Cable berkata, ke arah notulis. “Dengan alasan bahwa dewan juri ini mungkin telah terpengaruh oleh berita yang muncul dalam majalah Mogul kemarin.”

“Mosi ditolak,” kata Hakim Harkin. “Ada yang lainnya?”

Kedua pengacara itu menggelengkan kepala dan berdiri.

Sebelas anggota juri dan dua orang cadangan mengambil tempat duduk beberapa menit sesudah pukul sepuluh, sementara seisi ruang sidang menyaksikan tanpa bersuara. Tempat duduk Frank, hampir di ujung kiri deretan kedua, kosong, dan hai ini langsung diperhatikan oleh semua orang. Hakim Harkin menyapa mereka dengan wajah serius dan cepat-cepat menjelaskan pokok persoalan. Ia memegang majalah Mogul terbitan kemarin dan menanyakan apakah ada yang sudah melihat atau membacanya. ataukah ada yang mendengar sesuatu mengenai isinya. Tidak ada yang menjawab.

Kemudian ia berkata. “Karena alasan-alasan yang sudah dijelaskan di ruang kerja saya, dan sudah tercatat, anggota juri nomor 7, Frank Herrera, dibebastugaskan dan kini akan digantikan oleh anggota cadangan berikutnya, Mr. Henry Vu.” Sampai di sini,

479

Willis mengatakan sesuatu kepada Henry, yang meninggalkan kursi lipatnya dan berjalan empat langkah ke tempat duduk nomor 7, di mana ia menjadi anggota resmi panel juri dan meninggalkan Shine Royce sebagai satu-satunya anggota cadangan yang tersisa.

Karerra ingin mempercepat urusan dan mengalihkan perhatian dari dewan jurinya, Hakim Harkin berkata, “Mr. Cable, panggil saksi Anda selanjutnya.”

Koran Fitch turun lima belas senti sampai ke dadanya. dan mulutnya pun ternganga ketika ia menatap komposisi baru itu dengan perasaan bingung. Ia takut karena Herrera tersisih, dan perasaannya tergetar karena Marlee telah mengebaskan tongkat sihirnya dan tepat mewujudkan apa yang ia janjikan. Tanda dapat menahan diri. Fitch memandang Easter, yang pasti merasakannya, karena ia berpaling sedikit dan membalas tatapan Fitch. Selama lima atau enam detik, yang serasa berabad-abad bagi Fitch, mereka saling pandang dalam jarak 27 meter. Wajah Easter menyeringai dan angkuh, seolah-olah mengatakan, ‘ Lihat ipa yang bisa kulakukan. Kau terkesan?” Wajah Fitch mengatakan, “Ya. Sekarang, apa yang kauinginkan?”

Dalam usu! prasidang, Cable mengajukan 22 kemungkinan saksi, semuanya dengan kata “Doktor” tertempel di depan nama mereka, dan semuanya memiliki kredensial yang mantap. Koleksinya termasuk veteran veteran yang sudah teruji dalam pertempuran kidang perkara tembakau lainnya, peneliti-peneliti yang dibiayai oleh Big Tobacco, dan ahli hukum yang tak terhitung jumlahnya, berkumpul untuk membalas apa yang sudah didengar oleh dewan juri.

480

Dalam dua tahun terakhir ini. ke-22 orang itu selalu ditolak oleh Rohr dan kawanannya. Tidak akan ada kejutan.

Konsensus mengatakan bahwa pukulan terberat dari penggugat didaratkan oleh Leon Robilio dan pernyataannya bahwa anak-anak dibidik sebagai sasaran oleh industri ini. Cable merasa jalan terbaik adalah lebih dulu menyerang ke sana. “Tergugat memanggil Dr. Denise McQuade,” ia mengumumkan

Wanita itu muncul melalui pintu samping, dan ruang sidang yang didominasi oleh laki-laki setengah baya ini serasa menegang sedikit ketika ia berjalan di depan meja hakim, tersenyum pada Hakim, yang jelas balas tersenyum, dan duduk di kursi saksi. Dr. McQuade cantik, tinggi, dan ramping, dengan rok merah pendek hanya beberapa senti di atas lutut, rambut pirangnya diikat di belakang kepala. Ia mengucapkan sumpah dengan senyum ramah, dan ketika menyilangkan kaki, ia merebut perhatian penonton. Ia rasanya jauh terlalu muda dan terlampau cantik untuk terlibat dalam pertarungan sengit seperti ini.

Enam laki-laki dalam dewan juri, terutama Jerry Fernandez, serta Shine Royce, anggota cadangan. mencurahkan perhatian penuh ketika ia menarik mikrofon ke dekat mulutnya. Lipstik merah. Kuku panjang merah.

Kalau mereka mengharapkan seorang perempuan cantik yang tolol, mereka dengan cepat jadi kecewa. Suaranya yang kuat menguraikan pendidikan, latar belakang, pelatihan, dan bidang keahliannya. Ia seorang psikolog perilaku dengan lembaga sendiri di Tacoma. la sudah menulis empat buku, menerbitkan

481

lebih dari tiga lusin artikel. dan Wendall Rohr tidak keberatan ketika Cable menyatakan mengajukan Dr. McQuade sebagai saksi ahli.

Ia langsung ke pokok persoalan. Iklan merembes ke dalam budaya kita. Iklan yang ditujukan pada satu kelompok umur atau satu golongan masyarakat kerap kali didengar dan dilihat oleh mereka yang tidak termasuk dalam kelompok sasaran. Ini tidak dapat dicegah. Anak-anak melihat iklan rokok sebab anak-anak melihat surat kabar, majalah, papan iklan, dan neon iklan yang berkeredepan di jendela-jendela toko, tapi ini tidak berarti anak-anak dibidik sebagai sasaran. Anak-anak juga melihat iklan bir di TV, yang kerap kali menayangkan pahlawan olahraga favorit mereka. Apakah ini berarti pabrik bir sengaja berusaha menjaring generasi berikutnya? Tentu saja tidak. Mereka sekadar berusaha menjual bir lebih banyak ke pasar mereka. Anak-anak hanya kebetulan ada di sana, tapi tidak ada apa pun yang bisa dilakukan mengenai hai ini, selain melarang semua iklan untuk produk-protluk yang ofensif. Rokok, bir, anggur, minuman keras. Bagaimana dengan kopi, teh, kondom, dan mentega? Apakah iklan oleh perusahaan penerbit kartu kredit mendorong orang untuk menghamburkan uang lebih banyak dan menabung lebih sedikit? Dr. McQuade menegaskan berkali-kali bahwa dalam masyarakat di mana kebebasan berbicara merupakan hak yang sangat dijunjung, pembatasan iklan tentu diteliti dengan hati-hati.

Iklan rokok tidak ada bedanya dari yang lain Tujuannya adalah memperkiut keinginan orang untuk membeli dan memakai produk tersebut. Iklan yang

482

baik merangsang tanggapan alami untuk membeli apa yang diiklankan. Iklan yang tidak efektif tidak bisa merangsang hqj itu, dan biasanya cepat-cepat ditarik. Ia mengambil contoh McDonald’s, perusahaan yang telah ia teliti, dan ia kebetulan membawa laporannya bila juri berniat membacanya. Ketika seorang anak mencapai usia tiga tahun, ia bisa menyenandungkan, menyiulkan, atau menyanyikan apa pun lagu jingle McDonald’s terbaru. Perjalanan pertama anak itu ke restoran McDonald’s merupakan saat bersejarah. Ini bukan kebetulan. Perusahaan itu menghabiskan bermiliar dolar untuk menjaring anak-anak sebelum pesaing melakukannya. Anak-anak Amerika mengkonsumsi lemak dan kolesterol dalam jumlah lebih besar daripada generasi sebelumnya. Mereka makan lebih banyak cheeseburger, kentang goreng, dan piza, serta minum lebih banyak soda dan sari buah bergula. Apakah kita menggugat McDonald’s dan Pizza Hut karena mempraktekkan periklanan secara licik dengan membidik anak-anak muda? Apakah kita menggugat mereka karena anak-anak kita lebih gemuk?

Tidak. Kita sebagai konsumen melakukan pilihan disertai informasi jelas mengenai makanan yang kita berikan kepada anak-anak kita. Tak seorang pun bisa mendebat bahwa kita mengambil pilihan terbaik.

Dan kita sebagai konsumen melakukan pilihan disertai informasi jelas mengenai rokok. Kita dihujani iklan dari ribuan produk, dan kita memberikan tanggapan terhadap iklan-iklan yang menguatkan kebu-tuhan dan keinginan kita

Ia menyilangkan kaki dan berganti posisi setiap

483

sekitar dua puluh menit, dan tiap kali hai itu diamati oleh kawanan pengacara di sekitar kedua meja, juga oleh enam anggota juri pria dan sebagian besar juri wanita.

Dr. McQuade menyenangkan untuk dipandang dan mudah untuk dipercaya. Kesaksiannya sangat masuk akal, dan ia menjalin sambung rasa dengan sebagian besar anggota juri.

Rohr ber-sparring sopan dengannya selama satu jam dalam pemeriksaan silang, tapi tidak mendaratkan pukulan serius.

484

Tiga Puluh

Menurut Napier dan Nitchman. Mr. Cristano di Departemen Kehakiman sangat menginginkan laporan penuh mengenai apa yang terjadi semalam, ketika Hoppy bertemu dengan Millie dalam kunjungan pribadinya yang terakhir. “Segalanya?” Hoppy bertanya. Mereka bertiga berjubel di sekitar meja reyot dalam restoran pengap, meneguk kopi panas dari cangkir plastik dan menunggu sandwich keju panggang yang berlemak.

“Sisihkan soal-soal pribadi,” kata Napier, sangsi apakah banyak soal pribadi yang harus disisihkan.

Kalau saja mereka tahu, pikir Hoppy, masih cukup bangga pada diri sendiri. “Well, saya perlihatkan pada Millie memo mengenai Robilio itu,” katanya, tidak tahu sejauh mana kebenaran yang harus ia katakan. “Dan?”

“Dan, well, dia membacanya.” “Sudah tentu dia membacanya. Kemudian, apa yang dia lakukan?” Napier bertanya.

“Bagaimana tanggapannya?” Nitchman menimpali. Tentu, ia bisa berbohong dan mengatakan bahwa

485

istrinya tercengang oleh memo tersebut, mempercayai setiap patah kata, dan tidak sabar untuk memperlihatkannya kepada rekan-rekannya sesama juri. Itulah yang ingin mereka dengar. Namun Hoppy tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Berbohong hanya membuat urusan jadi lebih parah. ‘Tanggapannya terlalu baik,” katanya, lalu menceritakan yang sebenarnya.

Ketika sandwich tiba, Nitchman pergi untuk menelepon Mr. Cristano. Hoppy dan Napier makan tanpa saling memandang. Hoppy merasa sangat gagal. Tentu ia satu langkah lebih dekat ke penjara.

“Kapan kau bertemu dengannya lagi?” tanya Napier.

“Entahlah. Hakim belum mengatakannya. Ada kemungkinan sidang akan selesai akhir pekan ini.”

Nitchman kembali dan duduk. “Mr. Cristano dalam perjalanan ke sini,” katanya muram, dan perut Hoppy mulai bergolak. “Dia akan tiba di sini malam nanti, dan ingin langsung menemuimu besok pagi.”

“Baik.”

“Dia tidak senang.” “Saya juga.”

Rohr menghabiskan istirahat makan siangnya dengan mengunci diri dalam kantornya bersama Cleve, menggarap pekerjaan kotor yang harus dirahasiakan di antara mereka saja. Kebanyakan pengacara lain memakai runner macam Cleve untuk menyebarkan uang, memburu kasus, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rahasia yang tidak diajarkan di sekolah hukum, tapi tak satu pun di antara mereka pemah mengakui kegiatan tidak etis seperti itu. Para pengacara itu merahasiakan para runner mereka.

486

Rohr punya beberapa pilihan. la bisa menyuruh Cleve memberitahu Derrick Maples untuk enyah. Ia bisa membayar Derrick Maples $25,000 tunai, dan ia bisa menjanjikan $25,000 lagi untuk setiap suara bagi kemenangan penggugat pada vonis terakhir, dengan asumsi sedikitnya ada sembilan suara. Ini berarti butuh biaya sebesar $225,000, Rohr dengan senang hati akan bersedia membayarnya. Tapi ia sangat meragukan apakah Angel Weese mampu memberikan lebih dari dua suara—suaranya sendiri dan mungkin Loreen Duke. Ia bukan pemimpin. Rohr bisa memanipulasi Derrick agar mendekati pengacara di pihak tergugat, lalu mencoba menangkap basah mereka sewaktu berunding. Ini mungkin akan mengakibatkan Angel tersingkir, hai yang tidak diinginkan Rohr

Rohr bisa memasangi Cleve dengan alat penyadap, merekam semua pernyataan Derrick yang bisa diperkarakan, lalu mengancam bocah itu dengan tuntutan pidana bila ia tidak membujuk pacarnya. Ini riskan, sebab rencana penyuapan itu diutarakan di dalam kantor Rohr sendiri.

Mereka mempelajari masing-masing skenario, dengan pertimbangan orang-orang kawakan yang sudah berpengalaman melakukan hai yang sama. Kemudian dikembangkan suatu hibnda

“Inilah yang akan kita lakukan,” kata Rohr. “Kita akan memberinya lima belas ribu sekarang, menjanjikan sepuluh lagi sesudah vonis, dan kita juga akan merekamnya sekarang. Sebagian uang itu kita tandai, jerat dia dalam perangkap untuk nanti. Kita janjikan 25 untuk suara lain, dan bila kita meraih keme—

487

nangan, kita perosokkan dia kalau menuntut sisanya. Kita akan merekamnya. dan bila dia bikin ribut, kita ancam dia akan dilaporkan pada FBI.”

“Aku suka cara ini,” kata Cleve. “Dia memperoleh utngnya, kita memperoleh vonis kita, lalu dia terkecoh. Kedengaran adil bagiku.”

“Siapkan alat penyadapnya dan ambil uangnya. Ini harus dikerjakan siang nanti.”

Tapi ternyata Derrick punya rencana-rencana lain. Mereka bertemu di lounge Resort Casino, bar gelap yang diisi oleh para pecundang yang sedang mengo-bati kekalahan mereka dengan minuman murah, sementara di luar matahari bersinar terang dan suhu beringsut ke arah tujuh puluhan.

Derrick tak ingin teperdaya sesudah vonis jatuh. Ia menginginkan 25.000 tunai untuk suara Angel, sekarang, dibayar di muka, dan ia juga menginginkan “deposit” untuk masing-masing anggota juri lainnya. Deposit pravonis. Tentu saja tunai pula, sejumlah yang adil dan masuk akal, katakan saja, lima ribu untuk setiap anggota juri. Cleve cepat-cepat menghitung, dan salah tanggap. Derrick memperhitungkan vonis kemenangan mutlak, jadi depositnya adalah lima ribu kali sebelas juri lain, berarti 55.000 dolar. Tambahkan yang untuk Angel, dan yang diinginkan Derrick adalah 80.000 dolar kontan sekarang.

Ia kenal seorang wanita di kantor panitera, dan teman ini sudah melihat berkasnya. “Kalian menuntut perusahaan rokok itu jutaan dolar,” katanya, setiap patah kata tertangkap oleh mikrofon dalam saku kemeja Cleve. “Delapan puluh ribu tidak seberapa.”

488

“Kau gila.” kata Cleve. “Dan kau licik “

“Tak mungkin kami membayar 80.000 dolar kontan. Seperti kukatakan sebelumnya, bila uangnya terlalu besar, kita menanggung risiko tertangkap.”

“Baiklah. Aku akan bicara dengan perusahaan tembakau itu.”

“Lakukanlah. Aku akan membaca tentang itu di koran.”

Mereka tidak menghabiskan minuman mereka Cleve sekali lagi berlalu lebih dulu, tapi kali ini Derrick tidak mengejarnya.

Parade perempuan-perempuan cantik berlanjut Kamis siang, ketika Cable memanggil Dr. Myra Sprawling-Goode, profesor dan peneliti kulit hitam di Rutgers yang membuat setiap kepala dalam ruang sidang itu menoleh ketika ia maju untuk memberikan kesaksian. Tingginya hampir 180 senti. memesona, ramping, dan berpakaian bagus seperti saksi terakhir. Kulitnya yang cokelat terang berkerut sempurna ketika ia tersenyum kepada para juri. senyum yang melekat pada diri Lonnie Shaver, yang balas tersenyum padanya.

Cable memiliki anggaran tak terbatas ketika mulai mencari saksi ahlr. jadi ia tidak terpaksa memakai orang-orang yang tidak pandai dan fasih serta mampu memberikan kesan pada orang rata-rata. Ia sudah dua kali merekam Dr. Sprawling-Goode dengan video sebelum menyewanya, lalu sekali lagi dalam deposisi di kantor Rohr. Seperti semua saksinya, dua hari ia digodok dalam ruang -.idang buatan. sekitar sebulan sebelum sidang ini mulai. la menyilangkan kaki dan

489

seisi ruang sidang itu sccara kolektif menarik napas dalam-dalam.

Ia seorang profesor di bidang marketing dengan dua gelar doktor dan kredensial yang mengesankan; tidak ada kejutan. Delapan tahun ia bekerja di dunia periklanan di Madison Avenue setelah menyelesaikan pendidikannya, lalu kembali ke dunia akademis, tempatnya yang sejati. Bidang keahliannya adalah consumer advertising, mata kuliah yang ia ajarkan di tingkat pascasarjana dan terus-menerus ia teliti. Tujuannya dalam sidang ini segera menjadi jelas. Orang yang sinis mungkin mengatakan ia ada di sana untuk jual tampang cantik, untuk mempengaruhi Lonnie Shaver dan Loreen Duke dan Angel Weese, untuk membuat mereka bangga bahwa seorang rekan Afrika-Amenka mampu memberikan pendapat ahh dalam sidang yang sangat penting ini.

Ia sebenarnya ada di sana karena Fitch. Enam tahun yang lalu, sesudah sidang yang menakutkan di New Jersey, tempat juri berunding selama tiga hari sebelum memberikan vonis untuk kemenangan tergugat, Fitch menelurkan rencana untuk mencari peneliti perempuan yang menarik, lebih disukai dari universitas terkemuka, untuk menerima uang tunjangan dan meneliti iklan rokok dan pengaruhnya terhadap remaja. Parameter-parameter proyek itu akan didefinisikan secara samar-samar oleh sumber uang tersebut, dan Fitch berharap penelitian itu suatu hari akan bermanraat dalam sidang.

Dr. Sprawling-Goode tidak pernah mendengar tentang Rankin Fitch. Ia menerima 800.000 dolar biaya penelitian dari Consumer Product Institute, lembaga

490

di Ottawa yang tidak jelas dan tidak pernah terdengar sebelumnya, konon didirikan untuk meneliti trend pemasaran dari ribuan produk konsumen. la tidak tahu banyak mengenai Consumer Product Institute. Tidak pula Rohr. Ia dan penyelidiknya sudah menggali-gali selama dua tahun. Lembaga itu sangat tertutup, sampai taraf tertentu terlindung oleh hukum Kanada, dan jelas didanai oleh perusahaan-perusahaan consumer product yang besar, tapi tampaknya tak ada satu pun perusahaan rokok.

Temuan-temuannya dikumpulkan dalam sebuah laporan terjilid bagus setebal lima senti, yang diajukan Cable sebagai bukti. Laporan itu tergabung dengan setumpuk bukti lainnya sebagai catatan resmi. Untuk tepatnya, barang bukti nomor 84, menambah sekitar 20.000 halaman yang sudah diajukan sebagai bukti, dan akan diteliti oleh dewan juri dalam rapat pengambilan keputusan.

Sesudah uraian yang efisien dan mendalam, temuan-temuannya ternyata ringkas dan tidak mengejutkan. Dengan perkecualian-perkecualian yang jelas dan ter-definisi tegas, semua iklan untuk produk konsumen dibidikkan pada orang-orang dewasa muda. Mobil, pasta gigi, sabun, sereal, bir, minuman ringan, pakaian, minyak wangi—semuanya merupakan produk-produk yang paling banyak diiklankan dan ditujukan pada orang-orang muda sebagai sasaran. Hal yang sama juga terjadi pada rokok. Memang, rokok digam-barkan sebagai produk pilihan mereka yang ramping dan cantik, yang aktif dan bebas, yang kaya dan glamor. Akan tetapi, demikian pula produk Iain yang tak terhitung jumlahnya

491

la kemudian menyebutkan daftar spesifik, mulai dari mobil. Kapankah terakhir kali Anda melihat iklan mobil sport di TV, yang memperlihatkan seorang laki-laki gemuk berusia lima puluh tahun di belakang kemudinya? Atau mini-van yang dikemudikan ibu rumah tangga gemuk dengan enam anak dan seekor anjing kotor melongok dari jendela? Tidak pernah. Bir? Anda melihat sepuluh laki-laki sedang duduk di ruang duduk, sambil menonton Super Bowl. Semuanya berambut, berdagu kokoh, jeans bagus, dan perut rata. Ini bukan kenyataan, tapi ini iklan yang berhasil.

Kesaksiannya jadi cukup lucu ketika ia mengulas daftarnya. Pasta gigi? Pernah melihat orang jelek dengan gigi jelek menyeringai pada Anda di TV? Tentu saja tidak. Mereka semua punya gigi sempurna. Bahkan dalam iklan obat jerawat, remaja bermasalah itu hanya punya satu-dua jerawat.

Ia tersenyum dengan gampang, bahkan sekali-sekali tertawa dengan komentarnya sendiri. Juri ikut tersenyum bersamanya. Uraiannya berkali-kali mengenai sasaran. Bila iklan yang berhasil bergantung pada bidikan terhadap orang-orang muda, mengapa perusahaan rokok tidak boleh melakukannya?

Ia berhenti tersenyum ketika Cable mengalihkannya pada masalah anak-anak sebagai sasaran. Ia dan tim penelitinya tidak menemukan bukti akan hai ini, dan mereka sudah meneliti ribuan iklan tembakau selama empat puluh tahun terakhir ini. Mereka menonton, mempelajari, dan mengkatalogkan setiap iklan rokok yang ditayangkan di TV. Dan ia mengemukakan bahwa kebiasaan merokok telah meningkat sejak iklan-iklan semacam itu dilarang di TV. Ia mengha-492

biskan hampir dua tahun untuk mencari bukti bahwa pabrik rokok membidik remaja sebagai sasaran, karena ia memulai proyek ini dengan bias yang tak berdasar. Namun hai itu tidak benar.

Menurut pendapatnya. satu-satunya cara untuk mencegah anak-anak agar tidak terpengaruh oleh iklan rokok adalah melarang semua iklannya—billboard, bus, surat kabar, majalah, kupon. Dan, menurutnya, ini tidak akan menurunkan jumlah penjualan rokok. Tidak ada pengaruh apa pun pada kebiasaan merokok di bawah umur

Cable mengucapkan terima kasih padanya, seolah-olah ia sukarelawati. Ia sudah dibayar 60.000 dolar untuk memberikan kesaksian, dan akan mengirim tagihan sebesar 15.000 lagi. Rohr, sebagai gentleman, sadar akan bahayanya menyerang wanita cantik seperti ini di wilayah Selatan. Sebaliknya, ia menguji dengan lembut. Ia punya banyak pertanyaan mengenai Consumer Product Institute, dan 800.000 dolar yang dibayarkan untuk penelitian ini. Sang saksi menguraikan segala yang ia ketahui. Itu adalah lembaga akademis yang didirikan untuk meneliti trend dan merumuskan kebijaksanaan. Lembaga ini didanai oleh industri swasta.

“Ada perusahaan rokok?”

“Setahu saya tidak.”

“Anak perusahaan rokok?”

“Saya tidak tahu pasti.”

Rohr menanyainya mengenai perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan perusahaan rokok, induk perusahaan, anak perusahaan, bagian-bagian dan konglomerat-konglomerat, dan saksi tidak tahu apa-apa.

493

Ia tidak tahu apa-apa. sebab demikianlah yang direncanakan Fitch.

Tanpa terduga, jejak Claire tercium lebih jauh pada pagi hari Kamis. Mantan pacar seorang teman Claire menerima seribu dolar tunai, dan mengatakan bahwa mantan pacarnya kini berada di Greenwich Village, bekerja sebagai pelayan sambil memendam cita-cita untuk bekerja serius dalam opera sabun. Mantan pacamya itu dan Claire pernah bekerja bersama di Mulligan’s, dan diduga bersahabat karib. Swanson terbang ke New York, tiba Kamis siang, dan naik taksi ke hotel di Soho yang dibayarnya tunai untuk satu malam, dan mulai menelepon kian-kemari. Ia menemukan Beverly sedang bekerja di pizzeria. Ia menjawab telepon itu dengan terburu-buru

“Apakah ini Beverly Monk?” Swanson bertanya, berusaha menirukan Nicholas Easter. Ia sudah berkali-kali mendengarkan rekaman suaranya.

“Benar. Siapa ini?”

“Beverly Monk yang dulu bekerja di bar Mulligan’s, Lawrence?”

Diam, lalu, “Ya. Siapa ini?”

“Ini Jeff Kerr, Beverly. Sudah lama sekali.” Swanson dan Fitch berspekulasi bahwa sesudah Claire dan Jeff meninggalkan Lawrence, mereka tidak pernah berhubungan dengan Beverly.

“Siapa?” ia bertanya, dan Swanson merasa lega.

“Jeff Kerr. Kau tahu, aku dulu bersama Claire. Aku mahasiswa hukum.”

“Oh, yeah,” katanya, seakan-akan ia mungkin ingat dan mungkin tidak.

494

“Dengar. aku ada di kota ini, dan aku ingin tahu apakah kau mendengar kabar dari Claire belakangan ini?”

“Aku tidak mengerti,” kata Beverly perlahan-lahan, jelas berusaha mencocokkan nama itu dengan wajahnya, dan mengingat-ingat siapa adalah siapa dan mengapa ia ada di sini.

“Yeah, panjang ceritanya, tapi aku dan Claire berpisah enam bulan lalu. Aku sedang mencari-cari dia.”

“Sudah empat tahun aku tidak pernah bicara dengan Claire.” “Oh, begitu?”

“Dengar. aku sungguh sibuk. Mungkin lain kali.”

“Baiklah.” Swanson menutup telepon dan menghubungi Fitch. Mereka memutuskan bahwa kiranya cukup berharga menempuh risiko mendekati Beverly Monk, dengan uang tunai, dan bertanya mengenai Claire. Kalau ia sudah empat tahun tidak pernah bicara dengan Claire, mustahil baginya untuk menemukan Marlee dengan cepat dan melaporkan kontnk itu. Swanson akan mengikutinya, dan menunggu hingga besok.

Masing-masing konsultan juri diminta Fitch untuk menyiapkan laporan sepanjang satu halaman setiap hari setelah sidang ditutup. Satu halaman, dua spasi, sederhana, tanpa kata-kata lebih dari empat suku, dan mengemukakan dengan bahasa yang jernih tentang kesan pakar itu terhadap saksi hari itu, dan bagaimana kesaksian mereka diterima oleh dewan juri. Fitch meminta pendapat sejujurnya, dan sudah pernah

495 mencaci maki pakar-pakarnya karena kata-kata yang terlalu manis. Ia bersikeras menerapkan metoda pesimisme. Laporan-laporan itu hams sampai di meja kerjanya t<*pat satu jam sesudah Hakim Harkin mengumumkan sidang hari itu ditunda hingga besok.

Laporan hari Rabu mengenai Jankle campur aduk hingga buruk, namun kesaksian hari Kamis oleh Dr. Denise McQuade dan Dr. Myra Sprawl ing-Goode kangat luar biasa. Di samping mencerahkan ruang sidang yang muram dan dipenuhi laki-laki membosankan bersetelan membosankan, dua wanita itu tampil dengan sangat baik di podium saksi. Para juri memperhatikan, dan tampak mempercayai apa yang me-reka dengar. Terutama yang pria.

Namun Fitch tetap tidak terhibur. Ia tidak pernah merasa lebih pesimi^ lagi pada tahap seperti ini. Tergugat sudah kehilangan salah satu anggota juri yang paling simpatik dengan keluarnya Herrera. Pers keuangan New York tiba-tiba mengumumkan bahwa tergugat berada di ujung tanduk, dan secara terbuka memprihatinkan kemungkinan vonis kemenangan di pihak penggugat. Artikel Barker di Mogul adalah topik paling punas minggu ini. Jankle merupakan bencana. Luther Vandemeer dari Trellco, CEO The Big Four yang paling cerdik dan paling berpengaruh, menelepon dengan kata-kata keras saat istirahat s.iang tadi. Juri diasingkan. dan semakin lama sidang ini terulur, semakin banyak kesalahan ditimpakan oleh para juri itu pada pihak yang kini memanggil saksi.

Malam kesepuluh dalam karantina itu berlalu tanpa insiden. Tidak ada kekasih-kekasih yang bandel. Ti—

496

dak ada perjalanan terlarang ke kasino. Tidak ada latihan yoga. Tak seorang pun’merasa kehilangan Herrera. Ia berkemas dalam beberapa menit dan pergi, berkali-kali mengatakan kepada Sheriff bahwa ia dijebak, dan bersumpah untuk menyelidikinya hingga tuntas.

Turnamen permainan checker spontan dimulai di ruang makan, sesudah santap malam. Herman punya papan checker braille dengan petak-petak bernomor, dan malam sebelumnya. ia mengalahkan Jerry sebelas kali berturut-turut. Tantangan dikeluarkan, dan istri Herman membawa papan checket-nya ke dalam ruangan. Orang-orang pun berkerumun. Kurang dari satu jam, ia meraih tiga kemenangan berturut-turut dari Nicholas, tiga lagi dari Jerry, tiga dari Henry Vu, yang belum pernah memainkan permainan ini, tiga kali berturutan dari Willis, dan akan bermain melawan Jerry lagi, kali ini dengan taruhan kecil, ketika Loreen Duke masuk ke ruangan untuk mencari makanan penutup lain. Semasa kanak-kanak, ia pernah memainkan permainan ini dengan ayahnya. Ketika ia mengalahkan Herman pada permainan pertama, tak ada sedikit pun tanda simpati untuk laki-laki tunanetra ini. Mereka main hingga batas jam malam.

Phillip Savelle tinggal di kamarnya, seperti biasa. Ia sekali-sekali berbicara saat bersantap di motel dan selama rehat kopi di ruang juri. namun ia sudah sangat puas dengan membaca buku dan mengabaikan semua orang.

Dua kali Nicholas mencoba mendekatinya, namun sia-sia. Ia tidak berminat berbasa-basi, dan tak ingin siapa pun tahu apa pun mengenai dirinya

497

Tiga Puluh Satu

Sesudah hampir dua puluh tahun menangkap udang, Henry Vu jarang tidur sampai lewat pukul setengah enam. Jumat pagi, ia minum teh panasnya; karena sang kolonel sudah pergi, ia duduk seorang diri di meja. membaca surat kabar. Nicholas kemudian bergabung dengannya. Seperti biasa, Nicholas segera berbasa-basi dan menanyakan putri Vu di Harvard. Ia adalah sumber kebanggaan luar biasa, dan mata Henry menari-nari ketika menceritakan suratnya yang terakhir.

Yang lain datang dan pergi. Percakapan beralih ke Vietnam dan perang. Untuk pertama kali nya, Nicholas mengaku pada Henry bahwa ayahnya tewas di sana pada tahun 1972. Itu tidak benar, tapi Henry sangat tersentuh oleh kisah itu Kemudian. ketika mereka hanya berdua, Nicholas bertanya, “Jadi, bagaimana pendapatmu mengenai sidang ini?”

Henry minum tehnya yang diberi krim banyak-banyak dan menjilat bibirnya “Tidak apa-apa membicarakannya?”

‘Tentu. Ini hanya antara kau dan aku Semua orang membicarakannya, Henry. Begitulah dewan juri. Semua orang. kecuali Herman “

498

“Bagaimana pendapat yang lain?”

“Menurutku sebagian besar di antara kita masih terbuka. Yang paling penting adalah kita terus bersatu. Sangat penting bahwa juri ini mencapai suatu vonis, lebih disukai dengan suara bulat, tapi sedikitnya sembilan suara lawan tiga. Juri yang tidak mencapai keputusan merupakan bencana.”

Henry minum lagi dan merenungkan ucapan ini. Ia mengerti bahasa Inggris dengan sempurna, bisa berbicara cukup baik, meskipun dengan aksen, tetapi seperti kebanyakan orang awam, asli maupun imigran, sedikit sekali mengetahui seluk-beluk hukum. “Mengapa?” ia bertanya Ia percaya pada Nicholas, seperti halnya semua anggota juri yang lain, sebab Nicholas pernah kuliah hukum dan tampak tangkas luar biasa dalam memahami berbagai fakta dan masalah yang tidak tertangkap oleh mereka semua.

“Sangat sederhana. Ini adalah induk dari semua sidang perkara tembakau—Gettysburg, Iwo Jima, Armageddon. Di sinilah kedua belah pihak bertemu untuk menumpahkan amunisi terberat mereka. Harus ada pemenang, dan harus ada pecundang. Jelaa dan pasti. Persoalan apakah perusahaan rokok dianggap bertanggung jawab atas produknya, harus dibereskan di sini. Oleh kita. Kita sudah dipilih, dan terserah pada kita untuk menentukan keputusan.”

“Aku tahu.” kata Henry sambil mengangguk, masih kebingungan.

“Hal terburuk adalah kalau kita berselisih pendapat di antara kita sendin, terpecah dua, dan sidang pun dibatalkan.”

“Mengapa hal itu sedemikian buruk?”

499

“Sebab itu adalah pelepasan tanggung jawab. Kita hanya memindahkannya kepada juri berikutnya. Kalau kita tidak sampai pada keputusan dan pulang, masing-masing pihak menghamburkan jutaan dolar, karena mereka harus kembali lagi dalam dua tahun, dan memainkan kembali semua ini. Hakim yang sama, pengacara yang sama, saksi yang sama, segalanya akan sama, kecuali dewan jurinya. Dengan demikian. seolah-olah kita tidak punya cukup nalar untuk sampai pada suatu keputusan, tapi dewan juri berikutnya dari Harrison County lebih pintar.”

Henry memiringkan badan sedikit ke kanan, ke arah Nicholas. “Apa yang akan kaulakukan?” ia bertanya, tepat ketika Millie Dupree dan Mrs. Gladys Cjrd masuk sambil tertawa-tawa dan mengambil kopi. Sesaat mereka bercakap-cakap dengan dua pria itu, lalu pergi untuk menonton Katie dalam acara Today Show. Mereka sangat suka Katie.

“Apa yang akan kaulakukan?” Henry berbisik kembali, matanya terarah ke pintu.

“Saat ini aku belum tahu, dan itu tidak penting. Yang penting adalah kita tetap bersatu. Kita semua.”

“Kau benar,” kata Henry.

Selama berlangsungnya sidang, Fitch telah mengembangkan kebiasaan untuk menyibukkan diri di meja kerjanya pada jam-jam sebelum sidang dimulai dan menatap telepon. Tatapannya selalu terarah ke pesawat itu. Ia tahu bahwa Jumat pagi Marlee akan menelepon, meskipun ia tidak tahu rencana atau permainan atau olok-olok mengejutkan apa lagi yang ia buat

500

Pukul delapan tepat, Konrad menginterupsi lewat interkom dengan ucapan sederhana. “Dia.”

Fitch meraih telepon. “Halo,” sapanya manis.

“Hei, Fitch. Dengar, coba terka siapa yang mengesalkan Nicholas sekarang?”

Ia menelan rintihan dan memejamkan mata rapat-rapat. “Aku tidak tahu,” katanya.

“Maksudku, laki-laki ini benar-benar mempersulit Nicholas. Kita mungkin harus menyepaknya”

“Siapa?” Fitch memohon.

“Lonnie Shaver.”

“Oh! Tidak! Jangan! Kau tidak boleh melakukan itu!”

“Aduh, Fitch.”

“Jangan lakukan, Marlee! Terkutuk!”

Marlee diam sejurus untuk membiarkan Fitch putus asa. “Kau pasti sangat suka dengan Lonnie.”

“Kau harus menghentikan ini, Marlee, oke? Ini tidak akan membawa kita ke mana pun.” Fitch menyadari benar, betapa berharap nada suaranya, tapi ia tidak lagi memegang kendali.

“Nicholas harus menyelaraskan juri ini. Itu saja. Lonnie sudah jadi duri.”

“Jangan lakukan, tolong. Mari kita bicarakan masalah ini.”

“Kita sedang bicara. Fitch, tapi tidak lama.”

Fitch menghela napas dalam-dalam, lalu sekali lagi. “Permainan sudah hampir selesai, Marlee. Kau sudah bersenang-senang, sekarang apa yang kauinginkan?”

“Punya pena?”

“Tentu”

501

“Ada sebuah gedung di Fulton Street, Nomor 120. Bata putih, dua lantai, bangunan tua yang dipilah-pilah jadi kantor-kantor kecil. Lantai dua, Nomor 16, adalah milikku, selama paling sedikit satu bulan lagi. Kantor itu tidak indah, tapi di sanalah kita akan bertemu.”

“Kapan?”

“Sejam lagi. Hanya kita berdua. Aku akan menga-wasimu datang dan pergi, dan kalau aku melihat begundalmu, aku takkan pernah bicara lagi denganmu.”

“Baiklah. Terserah kau saja.”

“Dan aku akan memenksa, apakah kau membawa penyadap dan perekam.”

“Tidak akan ada.”

Setiap. pengacara dalam tim pembela Cable berpendapat bahwa Rohr menghabiskan terlalu banyak wak-tu dengan para ilmuwannya; sembilan hari penuh. Tapi dengan tujuh yang pertama, para juri itu setidaknya bebas pulang ke rumah di waktu malam. Suasananya kini jauh berbeda. Maka diambil keputusan untuk memilih dua peneliti terbaik mereka, mengajukan mereka ke podium saksi, dan menarik mereka secepat mungkin.

Mereka juga mengambil keputusan untuk mengabaikan masalah kecanduan nikotin, langkah penyim-pangan radikal dari pembelaan normal dalam kasus rokok. Cable dan krunya sudah mempelajari enam belas sidang terdahulu satu per satu. Mereka sudah berbicara dengan banyak anggota juri yang memutuskan kasus-kasus itu, dan mereka berkah-kali diberitahu bahwa bagian terlemah dari pembelaan muncul

502

saat para pakar mengajukan segala teori muluk, untuk membuktikan bahwa nikotin sebenarnya tiduk menimbulkan ketergantungan. Semua orang tahu, se-baliknyalah yang benar. Sesederhana itulah

Jangan mencoba meyakinkan juri dengan fakta sebaliknya.

Keputusan itu memerlukan persetujuan Fitch, yang memberikannya dengan berat hati.

Saksi pertama Jumat pagi adalah seorang laki-laki berambut kusut dengan jenggot merah tipis dan kacamata bifokus tebal. Pamcran kecantikan jelaj sudah selesai. Nama orang itu Dr. Gunther, dan menuruf pendapatnya, merokok sama sekali tidak menyebabkan kanker. Hanya sepuluh persen dari para perokok yang mendapat kanker, jadi bagaimana dengan sembilan puluh persen lainnya? Tidaklah mengejutkan. Gunther punya setumpuk penelitian dan Haporan yang relevan, serta tidak sabar untuk berdiri di depan juri dengan tripod dan tongkat penunjuk, menjelaskan penemuan terakhirnya dengan penuh semangat.

Gunther tidak diminta membuktikan apa pun. Tugasnya adalah menyangkal Dr. Hilo Kilvan dan Dr. Robert Bronsky, saksi ahli bagi penggugat, serta untuk mengeruhkan air, sehingga timbul keraguan dalam benak para juri tentang sejauh mana sebenarnya bahaya merokok. Ia tidak bisa membuktikan bahwa merokok tidak mengakibatkan kanker paru-paru, dan ia berdalih bahwa belum ada rfset yang membuktikan merokok benar-benar menyebabkan nya. “Masih dibutuhkan riset lebih jauh,” katanya .setiap sepuluh menit.

503

***

Dengan kemungkinan bahwa Marlee mengamati. Fitch berjalan kaki menempuh blok terakhir ke Fulton Street Nomor 120, jalan-jalan yang menyenangkan di sepanjang trotoar yang rindang, sementara daun-daun berjatuhan lembut dari atas. Gedung itu terletak di bagian kota lama, empat blok dari Gulf, di deretan bangunan dua tingkat yang dicat dengan cermat, sebagian besar tampak seperti kantor. Jose diperintahkan menunggu tiga ruas jalan dari sana.

Tak mungkin memakai mikrofon atau alat perekam. Marlee felah membuat Fitch memutuskan kebiasaan tersebut pada pertemuan terakhir mereka, di dermaga. Fitch seorang diri, tanpa penyadap, tanpa perekam, tanpa kamera atau agen di dekatnya. Ia merasa dibebaskan. I a harus bertahan hidup hanya dengan otak aerta kecerdasan, dan ia menyambut tantangan itu.

Ia menaiki anak tangga kayu yang sudah melengkung, berdiri di depan pintu kantor tanpa tanda, memperhatikan pintu-pintu lain di koridor yang sesak itu, dan mengetuk pelan. “Siapa?” datang suaranya.

“Rankin Fitch.” ia menjawab, sekadar cukup keras untuk didengar.

Kunci terdengar gemeretak dari dalam, lalu Marlee muncul dengan sweatshirt kelabu dan blue jeans, sama sekali tanpa senyum, tanpa sapaan apa pun. Ia menutup pintu di belakang Fitch, menguncinya, dan berjalan ke satu sisi meja lipat sewaan. Fitch mengamati ruangan itu—sebuah bilik tanpa jendela, satu pintu, cat yang mengelupas, tiga kursi. dan sebuah

504

meja. ‘Tempat yang bagus,” katanya. sambil memandang noda cokelat bekas air di langit-Iangit.

“Tempat ini bersih. Fitch. Tidak ada telepon untuk kausadap. tidak ada lubang hawa untuk kamera tersembunyi, tidak ada kabel di dinding. Aku akan memeriksanya setiap pagi, dan kalau aku menemukan jejakmu, aku akan keluar dan tak pernah kembali lagi.”

“Kesanmu padaku sangat rendah.”

“Kau layak mendapatkannya.”

Fitch kembali melihat ke langit-Iangit, lalu ke lantai. “Aku suka tempat ini.”

“Memadai untuk tujuannya.”

“Tujuannya?”

Dompetnya adalah satu-satunya benda di meja. Marlee mengeluarkan alat sensor dan sana, dan mengarahkannya pada Fitch, mulai dari kepala hingga kaki.

“Sudahlah, Marlee,” ia protes. “Aku sudah janji.”

“Yeah, benar. Kau bersih. Duduklah,” katanya, mengangguk ke satu dari dua kursi di seberang meja. Fitch menggoyang-goyangkan kursi lipat itu, kursi tipis yang mungkin takkan mampu menahan tubuhnya. Ia duduk, lalu mencondongkan badan ke depan dengan siku di meja yang juga tidak terlalu stabil. jadi ia bertengger tidak nyaman di kedua ujung. “Apakah kita siap bicara mengenai uang?” ia bertanya dengan senyum jahat.

“Ya. Kesepakatan yang sangat sederhana. Fitch. Kirimi aku uang lewat teleks. dan aku berjanji akan memberikan vonis untukmu.”

“Kurasa kita harus menunggu sampai vonis dicapai.”

“Kau tahu aku tidak setolol itu.”

505

Meja lipat itu lebarnya hampir semeter. Mereka berdua bertelekan di sana, wajah mereka tidak terpisah jauh. Fitch kerap menggunakan badan dan matanya yang jahat serta jenggotnya yang seram untuk secara fisik mengintimidasi orang-orang di sekitarnya, terutama pengacara-pengacara muda di biro hukum yang dipekerjakannya. Tapi entah Marlee terintimidasi atau tidak. Fitch mengagumi ketenangannya. Marlee menatap lurus ke matanya. tak pernah berkedip, sungguh tugas yang sangat sulit.

“Kalau begitu, tidak ada jaminan,” katanya. “Para juri itu tak bisa’diramalkan. Kami bisa memberikan uangnya padamu…”

“Hentikan ocehanmu. Fitch. Kau dan aku tahu uang itu akan dibayarkan sebelum vonis jatuh.”

“Berapa banyak?”

“Sepuluh juta.”

Fitch mengerang, seolah-olah tersedak bola golf, lalu terbatuk keras sementara sikunya terangkat, matanya berputar, dan lemak di bawah dagunya bergoyang-goyang dengan perasaan tak percaya. “Kau pasti bercanda,” katanya dengan suara parau, melihat sekeliling, mencari secangkir air atau sebotol pil atau apa saja untuk membantunya mengatasi gun-cangan mengerikan ini.

Marlee menyaksikan pertunjukan itu dengan te-nang, tak pernah berkedip, tak pernah melepaskan tatapan mata darinya. “Sepuluh juta, Fitch. Ini murah. Dan tidak bisa ditawar.”

Fitch batuk lagi, wajahnya sedikit lebih merah. Kemudian ia menenangkan diri dan memikirkan jawaban. la sudah menduga. jumlahnya tentu dalam

506

juta, dan ia tahu ia terdengar tolol kalau berusaha menawarnya, seolah-olah khennya tidak sanggup membayarnya. Perempuan ini mungkin punya laporan keuangan kuartalan dari masing-masing anggota The Big Four.

“Berapa banyak yang ada dalam The Fund?” Marlee bertanya, dan mata Fitch secara naluriah menyipit. Sejauh yang diketahuinya, Marlee belum berkedip.

‘The apa?” ia bertanya. Tak seorang pun tahu mengenai The Fund!

‘The Fund, Fitch. Jangan main-main denganku. Aku tahu segala sesuatu mengenai dana gelapmu itu. Aku ingin sepuluh juta ditransfer dari rekening The Fund ke sebuah bank di Singapura.”

“Kurasa aku tidak bisa melakukan ini.”

“Kau bisa melakukan apa saja yang kauinginkan, Fitch. Berhentilah main-main. Mari kita buat kesepakatan sekarang, dan kita bereskan urusan kita.”

“Bagaimana kalau kami mentransfer lima sekarang dan lima lagi sesudah turun vonis?”

“Lupakan saja, Fitch. Sepuluh juta sekarang. Aku tidak menyukai gagasan untuk melacakmu dan mencoba menagih sisanya setelah sidang selesai. Karena beberapa alasan, kupikir aku akan menghamburkan banyak waktu.”

“Kapan kami harus mentransfernya?”

“Aku tidak peduli. Cuma pastikan uang itu diterima sebelum juri berunding. Kalau tidak, kesepakatan ini batal.”

“Apa yang terjadi bila kesepakatan batal?”

“Satu dari dua hal. Tidak ada keputusan, atau

507

Nicholas akan memberikan sembilan suara lawan tiga untuk kemenangan penggugnt.”

Fitch mengerutkan kening ketika mendengar perkiraan yang disampaikan dengan begitu datar itu. Ia tidak menyangsikan apa yang bisa dilakukan Nicholas, sebab Marlee tidak menyangsikannya. Perlahan-lahan ia menggosok mata. Permainan sudah selesai. Tidak ada reaksi berlebihan atas apa pun yang ia ucapkan. Tidak perlu lagi pura-pura tercengang oleh tuntutannya. Wanita ťini memegang kendali.

“Baiklah,” kata Fitch. “Kami akan mentransfer uangnya, sesuai dengan instruksimu. Tapi aku harus memperingatkanmu bahwa teleks transfer bisa makan waktu.”

“Aku tahu lebih banyak mengenai transfer uang daripada kau, Fith. Aku akan menjelaskan setepatnya, bagaimana aku menginginkannya. Nanti.”

“Ya, Ma’am.”

“Jadi, kita sepakat?”

“Ya,” kata Fitch saraya mengulurkan tangan ke seberang meja. Marlee menjabatnya dengan ringan. Keduanya tersenyum atas kecanggungan ini. Dua bajingan berjabat tangan menyepakati suatu perjanjian yang tidak bisa dipaksakan oleh pengadilan mana pun, sebab tidak ada pengadilan yang pernah tahu mengenai hal ini.

Apartemen Beverly Monk terletak di lantai lima sebuah gudang kumuh di Village Ia menempatinya bersama empat aktris kelaparan lainnya. Swanson mengikutinya ke coffee shop di sudut, dan menunggu sampai perempuan itu duduk di meja dekat jendela

508

dengan secangkir kopi espresso, rati bagel, dan koran dengan iklan lowongan kerja. Dengan mem-belakangi meja Iain, Swanson mendekatinya dan bertanya, “Permisi. Apakah Anda Beverly Monk?”

Ia mengangkat muka, terperanjat, dan berkata, “Ya. Siapa Anda?”

“Seorang teman Claire Clement,” Swanson menjawab sambil cepat-cepat duduk di kursi di hadapan Beverly.

“Silakan duduk,” katanya. “Apa yang Anda inginkan?” Ia gelisah, tapi kedai itu ramai. Ia aman, pikirnya. Swanson kelihatannya cukup baik.

“Informasi.”

“Kau meneleponku kemarin, bukan?” “Benar. Aku bohong, mengaku sebagai Jeff Kerr. Sebenarnya bukan “

“Kalau begitu, siapa kau?”

“Jack Swanson. Aku bekerja untuk beberapa pengacara di Washington.”

“Apakah Claire dalam kesulitan?” “Sama sekali tidak.”

“Kalau begitu, untuk apa semua kerepotan ini?”

Swanson menceritakan versi ringkas tentang panggilan Claire untuk bertugas sebagai anggota dewan juri dalam suatu sidang besar, dan tugasnyalah untuk menyelidiki latar belakang calon anggota juri. Kali ini kasusnya adalah tempat pembuangan yang tercemar di Houston, dengan miliaran dolar sebagai taruhan, karena itu perlu melakukan penyelidikan sejauh ini.

Swanson dan Fitch berjudi mengenai dua hal. Pertama, lambannya Beverly mengenali nama Jeff

509

Kerr di telepon kemarin. Kedua, pemyataannya yang tegas bahwa sudah empat tahun ia tidak pernah bicara dengan Claire. Mereka mengasumsikan keduanya benar.

“Kami akan membayar untuk informasi,” kata Swanson.

“Berapa banyak?”

“Seribu dolar kontan, untuk menceritakan segala yang kauketahui. mengenai Claire Clement.” Swanson cepat-cepat mengeluarkan sehelai amplop dari saku mantel dan meletakkannya di meja.

“Apa kau yakin dia tidak dalam kesulitan?” Beverly bertanya, menatap tambang emas di hadapannya.

“Aku yakin. Ambillah uangnya. Kalau kau sudah empat atau lima tahun tidak pernah berjumpa dengannya, mengapa kau harus khawatir?”

Benar juga, pikir Beverly. Ia meraih amplop itu dan menjejalkannya ke dalam dompet. “Tidak banyak yang bisa diceritakan.”

“Berapa lama kau bekerja bersamanya?”

“Enam bulan.”

“Berapa lama kau mengenalnya?”

“Enam bulan. Aku bekerja sebagai pelayan di Mulligan’s ketika dia masuk. Kami berteman. Kemudian aku meninggalkan kota dan berkelana ke timur. Aku meneleponnya satu atau dua kali ketika tinggal di New Jersey, kemudian kami kurang-lebih saling melupakan.”

“Apa kau kenal Jeff Kerr?”

“Tidak. Waktu itu dia belum berkencan dengan Jeff. Dia bercerita mengenai laki-laki itu kemudian, sesudah aku meninggalkan kota itu.”

“Apakah dia punya teman lain, pria dan wanita?”

510

“Yeah, tentu. Jangan suruh aku menyebutkan nama mereka. Aku sudah lima, mungkin enam tahun meninggalkan Lawrence. Aku sama sekali tidak ingat kapan menmggalkannya.”

“Kau tidak bisa menyebutkan nama teman-teman-nya?”

Beverly meneguk kopi espresso-nya dan berpikir sejenak. Kemudian ia menyebutkan tiga nama orang yang pernah bekerja bersama Claire. Salah satunya sudah diperiksa tanpa hasil. Satu lagi sedang dilacak. Satu tidak ditemukan.

“Di college mana Claire kuliah?”

“Di suatu tempat di Midwest.”

“Kau tidak tahu nama sekolahnya?”

“Rasanya tidak. Claire tidak banyak bercerita mengenai masa lalunya. Sepertinya ada sesuatu yang buruk di masa lampau, dan dia tidak mau membicarakannya. Aku tidak pernah tahu. Kupikir mungkin kegagalan kisah cinta, perkawinan, keluarga berantakan. masa kanak-kanak tidak bahagia, atau entah apa. Tapi aku tidak pernah tahu.”

“Apakah dia membicarakan hal ini dengan orang lain?”

“Setahuku tidak.”

“Kau tahu kota asalnya?”

“Dia mengatakan dia sering berpindah-pindah. Sekali lagi, aku tidak mengajukan banyak pertanyaan.” “Apakah dia berasal dari sekitar Kansas City?” “Aku tidak tahu.”

“Apakah kau yakin Claire Clement nama aslinya?” Beverly mundur dan mengernyit. “Menurutmu mungkin bukan begitu‘7”

511

“Kami menduga dia memakai nama lain sebelum tiba di Lawrence, Kansas. Kau ingat sesuatu mengenai nama lain?”

“Wah. Aku menganggap dia Claire. Mengapa dia perlu mengubah nama?”

“Kami pun ingin tahu.” Swanson mengeluarkan buku catatan kecil dari saku dan mempelajari checklist. Beverly adalah jalan buntu lainnya

“Apa kau pernah pergi ke apartemennya?”

“Satu-dua kali. Kami memasak dan nonton film. Dia tidak sering hura-hura, tapi sesekali dia mengun-dangku bersama beberapa teman.”

“Ada yang luar biasa mengenai apartemennya?”

“Yeah Apartemen itu sangat bagus. kondominium modern, dengan perabot bagus. Jelas dia punya uang dari sumber-sumber lain di luar Mulligan’s. Maksudku, kami dibayar tiga dolar per jam. ditambah tip.””

“Jadi, dia punya uang?”

“Yeah. Jauh lebih banyak daripada kami. Tapi, sekali lagi, dia sangat tertutup. Claire adalah teman biasa dan orang yang menyenangkan untuk diajak bergaul. Asalkan kau tidak mengajukan banyak per tanyaan.”

Swanson mendesaknya mengenai beberapa detail lain, tapi tidak mendapatkan apa-apa. la mengucapkan teriina kasih atas bantuan Beverly, dan-Beverly mengucapkan terima kasih atas uang itu. Ketika Swanson hendak berlalu, Beverly menawarkan diri untuk menelepon beberapa orang. Itu jelas rayuan untuk mendapatkan uang lebih banyak. Swanson mengiyakan, tapi memperingatkannya agar jangan mengungkapkan apa yang ia kerjakan.

512

“Dengar, aku aktns, oke? Ini sangat gampang.” Swanson meninggalkan kartu nama dengan nomor hotelnya di Biloxi tertulis di baliknya

Hoppy menganggap Mr. Cristano sedikit terlalu kasar. Tapi situasinya memang memburuk, demikian menurut orang-orang misterius yang menjadi atasan Mr. Cristano. Di Departemen Kehakiman ada pembicaraan untuk membatalkan seluruh rencana ini dan mengirimkan kasus Hoppy ke federal grand jury.

Kalau Hoppy tidak bisa meyakinkan istri sendiri, bagaimana mungkin ia bisa mempengaruhi seluruh dewan juri?

Mereka duduk di belakang mobil Chrysler hitam panjang dan berjalan-jalan di daerah Gulf, tanpa tujuan tertentu, tapi sekitar ke arah Mobile. Nitchman mengemudi dan Napier duduk; keduanya berlagak tidak tahu-menahu tentang intimidasi pada Hoppy di jok belakang.

“Kapan kau akan menemuinya lagi?” Cristano bertanya.

“Malam ini, saya rasa.”

“Saatnya sudah tiba bagimu, Hoppy, untuk menceritakan kejadian sebenarnya. Ceritakan padanya apa yang telah kaulakukan. ceritakan segalanya.”

Mata Hoppy basah dan bibirnya gemetar sewaktu ia menatap jendela gelap mobil itu dan melihat mata istrinya yang indah saat ia menelanjangi jiwanya sendiri. Ia mengutuki diri sendiri karena ketololannya. Seandainya ia punya senapan, rasanya ia bisa menembak Todd Ringwald dan Jimmy Hull Moke, tapi yang pasti ia bisa menembak diri sendiri. Mungkin

513

ia akan menghabisi tiga badut ini dulu, tapi, tidak disangsikan lagi, Hoppy bisa meledakkan otaknya sendiri.

“Saya rasa begitu,” gumamnya.

“Istrimu harus menjadi pendorong, Hoppy. Kau mengerti? Millie Dupree harus menjadi satu kekuatan di dalam ruang juri. Karena kau tidak berhasil meyakinkannya dengan penalaran, kini kau harus me-motivasi dia dengan ketakutan melihatmu masuk penjara selama lima tahun. Kau tidak punya pilihan.”

Pada saat itu, ia lebih suka menghadapi penjara daripada menghadapi Millie dengan kebenaran ini. Namun ia tak punya pilihan itu. Kalaupun tidak diyakinkan, Millie tetap akan tahu yang sebenarnya, dan ia tetap akan masuk penjara.

Hoppy mulai menangis. Ia menggigit bibir dan menutupi mata, berusaha menghentikan air mata terkutuk itu, tapi ia tidak tahan. Sewaktu mereka meluncur damai di jalan bebas hambatan, satu-satunya suara selama beberapa kilometer hanyalah rintihan menyedihkan dari seorang laki-laki yang sudah hancur.

Nitchman tak bisa menyembunyikan senyum kecilnya.

514

Tiga Puluh Dua

Pertemuan kedua di kantor Marlee dimulai satu jam setelah yang pertama berakhir. Fitch datang lagi berjalan kaki, dengan tas kerja dan secangkir besar kopi. Marlee memeriksa tas itu, mencari peralatan tersembunyi; Fitch geli menyaksikannya.

Ketika ia selesai. Fitch menutup tasnya dan meneguk kopi. “Aku ada pertanyaan,” ia berujar. “Apa?”

“Enam bulan lalu, baik kau maupun Easter tidak tinggal di county ini, mungkin tidak di negara bagian ini. Apakah kau pindah ke sini untuk menyaksikan sidang ini?” Sudah tentu ia tahu jawabannya, tapi ia ingin melihat, sejauh mana Marlee akan mengakuinya, sebab sekarang mereka menjadi mitra bisnis dan seharusnya bekerja di pihak yang sama.

“Boleh dikatakan demikian,” kata Marlee. Ia dan Nicholas memperkirakan bahwa Fitch kini sudah melacak mereka sampai ke Lawrence. Tidak apa-apa. Fitch harus menghargai kemampuan mereka menelurkan rencana seperti ini, dan komitmen mereka untuk melaksanakannya. Hanya masa lalu Marlee sebelum Lawrence yang membuat mereka tak bisa tidur.

515

“Kalian berdua memakai nama alias, bukan?” ia bertanya. %

“Tidak. Kami memakai nama sah kami. Tidak ada pertanyaan lagi mengenai kamU Fitch. Kami tidak penting. Waktunya pendek. dan kita ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Mungkin kita harus mulai dengan kau menceritakan sampai sejauh mana perundinganmu dengan pihak lawan. Berapa banyak yang diketahui Rohr?”

“Rohr tidak tahu apa-apa. Kami menari dan ber-sparring dengan lawan khayalan, tapi tak pernah berhubungan.”

“Apa kau akan membuat kesepakatan dengannya, seandainya aku tidak bersedia?”

“Ya. Aku melakukan ini untuk uang, Fitch. Nicholas menjadi anggota juri sebab demikianlah kami merencanakannya. Kami sudah menanti-nanti saat seperti ini. Ini akan berhasil, sebab semua pemainnya curang. Kau curang. Klienmu curang. Aku dan part-nerku curang. Curang tapi cerdik. Kami mencemari sistem sedemikian rupa, sehingga tak bisa dideteksi.”

“Bagaimana dengan Rohr? Dia akan curiga bila dia kalah. Bahkan dia akan curiga kau bersekongkol dengan pabrik rokok.”

“Rohr tidak kenal aku. Kami tidak pernah bertemu.”

“Ayolah.”

“Sumpah, Fitch. Aku membuatmu mengira aku sudah bertemu dengannya, tapi itu tak pernah terjadi. Tapi itu akan terjadi seandainya kau tidak bersedia berunding “

“Kau tahu aku mau.”

516

“Tentu Kami tahu kau lebih berhasrat membeli vonis.”

Oh, begitu banyak yang ingin ia tanyakan. Bagaimana mereka tahu keberadaannya? Bagaimana mereka mendapatkan nomor teleponnya? Bagaimana mereka memastikan Nicholas dipanggil untuk bertugas sebagai juri? Bagaimana mereka menempat-kannya dalam dewan juri? Dan bagaimana mereka tahu mengenai The Fund?

Ia akan menanyakannya kelak, setelah semua ini selesai dan tekanan terangkat Ia ingin bercakap-cakap dengan Marlee dan Nicholas, sambil menikmati makan malam panjang dan meminta semua pertanyaannya dijawab. Kekagumannya terhadap mereka makin lama makin bertambah.

“Janji kau tidak akan menyepak Lonnie Shaver,” katanya.

“Aku akan berjanji. Fitch, kalau kau menceritakan padaku mengapa kau begitu suka dengan Lonnie.” “Dia ada di pihak kita ” “Bagaimana kau tahu ini?” “Kami punya cara.”

“Dengar, Fitch, kalau kita berdua mau bekerja sama untuk meraih vonis yang sama, mengapa kita tidak bisa bicara jujur?”

“Kau tahu, kau benar. Mengapa kau menendang Herrera?”

“Sudah kukatakan padamu. Dia menyebalkan. Dia tidak suka Nicholas dan Nicholas tidak menyukainya. Plus. Henry Vu dan Nicholas adalah sahabat. Jadi, kita tidak kehilangan apa pun.”

“Mengapa kalian menyingkirkan Stella Hulic?”

517

“Sekadar untuk mengeluarkannya dari ruang juri. Dia luar biasa menjengkelkan. Segala sesuatu mengenai dirinya sangatlah mengganggu.”

“Siapa yang berikutnya?”

“Entahlah. Kita punya sisa satu orang. Siapa yang harus kita singkirkan?” “Bukan Lonnie.”

“Kalau begitu, katakan padaku apa sebabnya.”

“Mari katakan saja bahwa Lonnie sudah dibeli dan dibayar. Majikannya adalah seseorang yang akan inendengarkan kami.”

“Siapa lagi yang sudah kaubeh dan kaulunasi?”

“Tidak -ada lagi.”

“Ayolah, Fitch. Kau mau menang atau tidak?” “Tentu saja mau.”

“Kalau begitu, jujurlah. Akulah cara termudah bagimu untuk mendapatkan vonis cepat.” “Dan yang paling mahal.”

“Kau tentu tidak mengharapkan aku jual murah. Keuntungan apa yang kaudapatkan dengan menahan informasi dariku?”

“Keuntungan apa yang akan kudapatkan dengan memberikannya padamu?”

“Itu jelas. Kaukatakan padaku. Aku mengatakannya pada Nicholas. Dia punya gambaran lebih baik mengenai pemberian suaranya. Dia tahu di mana harus mencurahkan waktunya. Bagaimana dengan Gladys Card?”

“Dia pengikut. Kami tidak menyentuhnya. Bagaimana pendapat Nicholas?”

“Sama. Bagaimana dengan Angel Weese?”

“Dia merokok dan dia kulit hitam. Lempar saja

518

sekeping koin. Seorang pengikut lagi. Bagaimana menurut Nicholas?”

“Dia akan mengikuti Loreen Duke.”

“Dan siapakah yang akan diikuti Loreen Duke?” “Nicholas.”

“Berapa pengikut yang dia miliki sekarang? Berapa banyak anggota kelompoknya?”

“Jerry sebagai permulaan. Karena Jerry tidur dengan Sylvia, hitung juga Sylvia. Tambahkan Loreen, dan kau mendapatkan Angel.”

Fitch menahan napas dan menghitung dengan cepat. “Berarti lima suara. Itu saja?”

“Dan dengan Henry Vu jadi enam. Enam dalam saku. Hitunglah, Fitch. Enam dan masih ada lagi. Apa yang kaupunyai mengenai Savelle?”

Fitch benar-benar melihat sejumlah catatan, seolah-olah tidak yakin. Segala di dalam tas yang dibawanya ke pertemuan ini sudah dibacanya puluhan kali. ‘Tidak ada apa-apa Dia terlalu meh,” katanya sedih, seolah-olah ia gagal total dalam usahanya mencari cara untuk memaksa Savelle.

“Ada kelemahan mengenai Herman?”

‘Tidak. Bagaimana menurut Nicholas?”

“Herman akan didengar, tapi tidak selalu berarti diikuti. Selama ini dia tidak banyak menjalin persahabatan, tapi tidak pula dibenci Dia mungkin akan berdiri sendiri.”

“Condong ke pihak mana?”

“Dia anggota juri yang paling sulit dibaca saat ini, sebab bertekad untuk mematuhi perintah Hakim agar tidak membicarakan kasus ini.”

“Cuma begini?”

519

“Nicholas akan mengantongi sembilan suara sebelum argumentasi penutup, mungkin lebih. Dia hanya butuh sedikit pengaruh lagi pada beberapa temannya.”

“Seperti siapa?”

“Rikki Coleman.”

Fitch minum tanpa memandang cangkirnya. Ia meletakkan cangkir itu dan menekan cambang di sekitar mulutnya. Marlee mengamati setiap gerakannya. “Kami… uh, punya sesuatu tentang dia.”

“Mengapa kau main-main. Fitch? Kau punya sesuatu atau tidak? Apakah kau akan menceritakannya padaku, supaya aku bisa memberitahu Nicholas, sehingga kita bisa mengantongi suaranya; atau kau mau duduk di sini menyembunyikan memomu dan berharap dia akan bergabung?”

“Kita sebut saja ini rahasia pribadi memalukan yang lebih suka dirahasiakannya dari suaminya.”

“Mengapa menyimpan rahasia itu dariku. Fitch?” tanya Marlee marah. “Kita bekerja sama atau tidak?”

“Ya, tapi aku tidak yakin apakah sampai tahap ini perlu menceritakannya kepadamu.”

“Bagus, Fttch. Sesuatu di masa lalunya, bukan? Affair, aborsi, obat bius?”

“Aku akan memikirkannya “

“Kerjakanlah, Fitch. Kalau kau terus main-main, aku akan terus main-main. Bagaimana dengan Millie?”

Fitch sebenarnya terguncang, tapi menunjukkan sikap dingin dan tenang. Berapa banyak yang harus ia ceritakan kepada wanita ini? Nalurinya mengatakan agar berhati-hati. Mereka akan berjumpa lagi besok, dan lusa, dan bila mau, ia bisa bercerita tentang Rikki dan Millie, bahkan mungkin tentang Lonnie.

520

Pelan-pelan, katanya pada diri sendiri. ‘Tidak ada apa pun mengenai Millie,” katanya sambil melirik arloji. dan membayangkan pada saat itu juga Hoppy yang malang sedang berada di dalam mobil hitam besar dengan tiga orang FBI, dan mungkin sekaiang sudah menangis. “Kau yakin, Fitch?”

Nicholas pernah berjumpa dengan Hoppy di koridor motel, tepat di luar kamarnya, seminggu yang lalu, ketika Hoppy datang dengan bunga dan permen untuk istrinya. Mereka bercakap-cakap sebentar. Hari berikutnya, Nicholas melihat Hoppy duduk di ruang sidang. satu wajah baru yang dipenuhi pertanyaan, yang tiba-tiba merasa tertarik sesudah sidang ini berlangsung hampir tiga minggu.

Dengan keterlibatan Fitch dalam permainan ini, Nicholas dan Marlee berasumsi bahwa setiap anggota juri merupakan sasaran potensial bagi pengaruh luar. Jadi. Nicholas mengamati setiap orang. Ia kadang-kadang bergelandangan di koridor, sewaktu para tamu tiba untuk melakukan kunjungan pribadi, dan ia kadang-kadang berada di sana juga ketika mereka pulang. Ia menguping gosip yang beredar dalam ruang juri. Ia mendengarkan tiga percakapan sekaligus sewaktu berjalan-jalan keliling kota sesudah makan siang. Ia mencatal setiap orang di dalam ruang sidang, bahkan punya nama julukan dan kode untuk mereka masing-masing.

Hanya ada firasat bahwa Fitch sedang menggarap Millie lewat Hoppy. Mereka tampak seperti pasangan serasi yang baik hati; jenis yang bisa dengan mudah dijebak oleh Fitch dengan tipu daya liciknya.

521

‘Tentu saja yakin. Tidak ada apa pun tentang Millie.”

“Belakangan ini tingkahnya aneh,” kata Marlee, berbohong.

Bagus, pikir Fitch. Racun Hoppy sedang bekerja.

“Bagaimana pendapat Nicholas mengenai Royce, anggota cadangan terakhir?” Fitch bertanya.

“Sampah putih. Bodoh. Gampang dimanipulasi. Jenis yang bisa kita jejali dengan lima ribu dolar, dan kita pun akan mendapatkannya. Itulah alasan lain mengapa Nicholas ingin menendang Savelle. Kita mendapatkan Royce, dan dia akan mudah ditangani.”

Sikap biasa-biasa yang diperlihatkan Marlee mengenai suap-menyuap menghangatkan hati Fitch. Berkali-kali, dalam sidang-sidang lain, ia pernah memimpikan untuk menemukan malaikat-malaikat seperti Marlee, penyelamat kecil dengan tangan lengket yang sangat berminat membereskan dewm juri untuknya. Ini hampir tak bisa dipercaya!

“Siapa lagi yang mungkin mau menerima uang?” ia bertanya dengan penuh semangat.

“Jerry melarat, punya banyak utang di meja judi, plus perceraian yang kacau-balau. Dia akan butuh sekitar 20.000. Nicholas belum mengambil kesepakatan dengannya, tapi itu akan terjadi akhir pekan ini.”

“Ini bisa jadi mahal,” kata Fitch, mencoba menunjukkan sikap serius.

Marlee tertawa keras, dan terus tergelak-gelak, hingga Fitch terpaksa terkekeh-kekeh dengan lelucon-nya sendiri. Ia baru saja menjanjikan sepuluh juta dolar pada Marlee, dan ia sedang dalam proses

522

menghamburkan dua juta lagi untuk pembela. Kliennya punya kekayaan sekitar sebelas miliar dolar.

Menit demi menit berlalu, dan beberapa waktu mereka lewatkan tanpa saling menghiraukan. Akhirnya Marlee melihat jam tangan, dan berkata, “Catat ini, Fitch. Sekarang pukul setengah empat, Waktu Amerika Timur. Uang itu tidak akan berangkat ke Singapura. Aku ingin sepuluh juta ditransfer ke Hanwa Bank di Netherlands Antilles, dan aku ingin hal ini dikerjakan segera.”

“Hanwa Bank?”

“Ya. Bank Korea. Uang itu tidak akan masuk ke rekeningku, tapi ke rekeningmu.”

“Aku tidak punya rekening di sana “

“Kau akan membuka rekening per teleks.” Ia mengeluarkan kertas-kertas terlipat dari dalam dompet dan mendorongnya di meja. “Ini formulir dan instruksinya.”

“Sudah terlambat untuk melakukannya hari ini,” kata Fitch seraya mengambil kertas-kertas itu. “Dan besok hari Sabtu.”

‘Tutup mulut. Fitch. Baca saja instruksinya. Segalanya akan berhasil baik kalau kau menuruti apa yang diperintahkan. Hanwa selalu buka untuk pelanggan istimewa Aku ingin uang itu diparkir di sana, dalam rekeningmu, selama akhir pekan.”

“Bagaimana kau tahu uang itu ada di sana atau tidak?”

“Kau akan memperlihatkan bukti konfirmasi teleks itu. Uang itu berputar sebentar sementara dewan juri berunding, kemudian meninggalkan Hanwa dan ma suk ke rekeningku. Ini harus terlaksana Senin pagi.”

523

“Bagaimana kalau dewan juri lebih awal sampai pada keputusan?”

“Fitch, kuberikan jaminan padamu, tidak akan ada vonis apa pun sampai uang itu masuk ke rekeningku. Itu janji. Dan kalau entah bagaimana kau mencoba mencurangi kami, aku juga bisa menjanjikan akan ada vonis besar untuk kemenangan penggugat Besar sekali.”

“Sebaiknya jangan bicara mengenai itu.”

“Baiklah. Semua ini sudah direncanakan dengan hati-hati, Fitch. Jangan mengacaukannya. Kerjakan saja sesuai yang diperintahkan. Mulai dengan mentransfernya sekarang.”

Wendall rohr berteriak pada Dr. Gunther selama satu setengah jam, dan ketika selesai. tak ada seorang pun yang tenang di dalam ruang sidang itu. Rohr sendiri mungkin yang paling santai, sebab omongannya sama sekali tidak mengusiknya. Semua orang lain muak dengan caci-makinya. Sekarang sudah hampir pukul lima, hari Jumat, satu minggu lagi sudah berakhir. Satu akhir pekan lagi direncanakan di Siesta Inn.

Hakim Harkin khawatir dengan dewan jurinya. Jelas mereka bosan dan jengkel, jemu duduk terpenjara dan mendengarkan kata-kata yang tidak lagi mereka pedulikan.

Para pengacara itu juga khawatir. Dewan juri tidak menanggapi kesaksian seperti yang diharapkan. Bila tidak bergerak-gerak resah, mereka pasti mengangguk-angguk mengantuk. Bila tidak menatap dengan pandangan kosong, mereka mencubit badan sendiri agar tetap terjaga.

524

Tapi Nicholas sedikit pun tak peduli dengan rekan-rekannya. Ia ingin mereka letih dan sampai ke tepi jurang pemberontakan. Suatu gerombolan membutuhkan pemimpin.

Selama reses sore, ia menyiapkan sepucuk surat pada Hakim Harkin, meminta sidang itu diteruskan pada hari Sabtu. Persoalan ini sudah diperdebatkan saat makan siang, tapi debat itu berlangsung hanya beberapa menit, sebab ia sudah merencanakannya dan sudah memiliki semua jawaban. Mengapa duduk-duduk di kamar motel, padahal mereka bisa duduk di boks juri, berusaha menyelesaikan maraton ini?

Dua belas orang lainnya dengan senang hati menambahkan tanda tangan mereka di bawah tanda tangannya, dan Harkin tidak punya pilihan. Sidang pada hari Sabtu merupakan sesuatu yang langka, tapi bukannya tak pernah ada, terutama dalam sidang yang jurinya dikarantina.

Yang Mulia menanyai Cable mengenai apa yang akan mereka hadapi besok. dan Cable dengan yakin meramalkan bahwa pihak pembela akan menyelesaikan kasus ini. Rohr mengatakan penggugat tidak akan mengajukan bantahan. Sidang pada hari Minggu merupakan sesuatu yang mustahil.

“Sidang ini akan selesai Senin sore,” kata Harkin kepada juri. “Pembela akan selesai besok, kemudian kita akan mendengarkan argumentasi penutup Senin pagi. Saya perkirakan Anda akan menerima kasus ini untuk diputuskan sebelum tengah hari Senin. Itulah yang terbaik yang bisa saya kerjakan Saudara-saudara “

Sekonyong-konyong merekahlah senyum di dalam

525

boks juri. Karena akhir sidang sudah di depan mata, mereka bisa bertahan melewatkan satu akhir pekan lagi bersama-sama.

Makan malam dihidangkan di restoran steak terkenal di Gulfport, disusul dengan kunjungan pribadi selama empat jam untuk malam ini. besok malam, dan Minggu. Ia mempersilakan mereka pergi dengan permintaan maaf.

Sesudah juri berlalu, Hakim Harkin mengumpulkan kembali para pengacara itu selama dua jam, memper-debatkan selusin mosi.

526

Tiga Puluh Tiga

Hoppy datang terlambat, tanpa membawa bunga atau cokelat, tanpa sampanye atau ciuman, tanpa apa pun kecuali jiwa tersiksa yang disandangnya. Di pintu, ia menggenggam tangan istrinya, membimbingnya ke ranjang, duduk di tepinya dan mencoba mengucapkan sesuatu sebelum tercekik. Ia membenamkan wajah ke dalam tangannya.

“Ada apa, Hoppy?” sang istri bertanya, terkejut dan yakin akan mendengar pengakuan mengerikan. Akhir-akhir ini Hoppy seperti bukan dirinya sendiri. Millie duduk di sampingnya, membelai lututnya, dan mendengarkan. Hoppy mulai dengan menyemburkan ucapan betapa tolol dirinya. Berulang-ulang ia mengatakan bahwa Millie takkan percaya pada apa yang telah ia lakukan, dan terus mengoceh panjang-lebar mengenai betapa tolol dirinya, sampai akhirnya Millie bertanya tegas, “Apa yang telah kaulakukan?”

Ia mendadak marah—marah pada diri sendiri karena telah berbuat demikian konyol. Ia mengertakkan gigi, mengulum bibir atasnya, memandang marah, dan mulai bercerita tentang Mr. Todd Ringwald, KLX Property Group, Stillwater Bay, dan Jimmy

527

Hull Moke. Ini perangkap! Ia sibuk mengurus diri sendiri, tidak keluar mencari masalah, cuma mencan uang dari properti kecil yang menyedihkan, sekadar membantu pasangan yang baru menikah untuk memiliki rumah kecil mereka. Kemudian laki-laki ini datang dari Vegas, setelan jas bagus, gulungan tebal denah arsitek yang—ketika digelar di meja kerja Hoppy—tampak seperti tambang emas

Oh, bagaimana ia bisa begitu tolol! Ia tak bisa mengendalikan emosi dan mulai menangis.

Ketika ia sampai di bagian orang-orang FBI datang ke rumah, Millie tak bisa menahan diri, “Ke rumah kita?”

“Ya. ya.”

“Oh, Tuhan! Di mana anak-anak?”

Maka Hoppy menceritakan bagaimana hal itu terjadi, bagaimana dengan tangkas ia membawa Agen Napier dan Nitchman menyingkir dari rumah dan pergi ke kantornya, tempat mereka memperlihatkan padanya… kaset itu!

Sungguh mengesalkan. Ia terperangkap.

Millie mulai menangis juga, dan Hoppy merasa lega. Mungkin sang istri tidak akan terlalu berat memarahinya. Tapi masih ada lagi.

Ia sampai pada bagian ketika Mr. Cristano datang dan mereka bertemu di ata.s perahu. Ada banyak orang, orang-orang yang sangat baik di Washington, yang prihatin dengan sidang ini. Orang-orang Partai Republik dan semua itu. Kejahatan itu. Dan, well, mereka mengambil kesepakatan.

Millie menyeka pipinya dengan punggung tangan, dan mendadak berhenti menangis. “Tapi aku tidak

528

yakin ingin memberikan suara untuk perusahaan ro-kok itu,” katanya, pusing.

Hoppy pun cepat-cepat menghentikan tangisnya. “Oh, itu hebat. Millie. Kirimlah aku lima tahun ke penjara. supaya kau bisa menuruti nuranimu. Sadarlah.”

“Ini tidak adil,” kata Millie, sambil memandangi bayangannya sendiri pada cermin di dinding di belakang lemari rias. Ia tertegun.

‘Tentu saja ini tidak adil. Tidak adil pula bila bank menyita rumah kita karena aku masuk penjara. Bagaimana dengan anak-anak, Millie? Pikirkanlah anak-anak kita. Kita punya tiga anak di junior college dan dua di high school. Rasa malunya saja sudah cukup berat, tapi siapa yang akan mendidik anak-anak?” katanya.

Hoppy bisa bicara lancar karena sudah berjam-jam mempersiapkan diri menghadapi ini. Millie yang making merasa seolah-olah baru saja ditabrak bus. Ia tidak bisa berpikir cukup cepat untuk mengajukan pertanyaan yang benar. Dalam situasi lain, Hoppy mungkin akan kasihan padanya.

“Aku sungguh Uk bisa percaya.” katanya.

“Maafkan aku, Millie. Aku menyesal. Aku sudah melakukan kesalahan besar, dan ini tidak add bagi-mu.” Ia membungkuk ke depan, sikunya ditopangkan pada lutut, kepalanya tertunduk dalam sikap pasrah.

“Ini tidak adil bagi orang-orang dalam sidang ini.”

Hoppy sama sekali tak peduli dengan orang-orang lain yang terlibat dalam sidang ini, tapi ia menggigit lidahnya. “Aku tahu, Sayang. Aku tahu. Aku benar-benar pecundang.”

529

Millie menggenggam tangan suaminya dan mere-masnya. Hoppy memutuskan untuk menuntaskannya. ‘Tak seharusnya aku menceritakan semua ini padamu, Millie, tapi ketika FBI datang ke rumah, aku berpikir untuk mengambil senapan dan mengakhiri segalanya seketika itu juga di sana.”

“Menembak mereka?”

“Bukan, aku sendiri. Meledakkan otakku.”

“Oh, Hoppy.”

“Aku serius. Sudah berkali-kali aku memikirkan hal itu dalam seminggu terakhir ini. Aku lebih suka menarik pelatuk daripada mempermalukan keluarga ku.”

“Jangan tolol,” kata Millie, dan mulai menangis kembali.

Pada mulanya, Fitch mempertimbangkan untuk me-malsukan transfer per teleks itu, tapi sesudah dua kali menelepon dan dua kali mengirim faks kepada ahli-ahli pemalsunya di Washington, ia memutuskan bahwa itu tidak aman. Marlee sepertinya tahu segala seluk-beluk transfer per teleks, dan ia tidak tahu berapa banyak yang diketahui Marlee mengenai bank di Netherlands Antilles itu. Dengan ketepatannya bertindak, mungkin Marlee sudah memasang seseorang di sana, menunggu transfer tersebut. Mengapa ambil risiko?

Sesudah menelepon kian-kemari, ia menemukan mantan pejabat Departemen Keuangan di D.C. yang kini mengelola kantor konsultan sendiri, orang yang katanya tahu segala seluk-beluk pergerakan uang dengan cepat. Fitch memberinya garis besar per—

530

soalan, menyewanya per faks, lalu mengirimkan kopi instruksi Marlee. Perempuan ini jelas tahu apa yang ia kerjakan, kata laki-laki itu, dan meyakinkan Fitch bahwa uang itu aman. setidaknya dalam perpindahan pertama ini. Rekening baru itu atas nama Fitch; wanita itu tidak akan punya akses ke sana. Marlee menuntut kopi konfirmasi, dan laki-laki itu memperingatkan Fitch agar tidak memperlihatkan nomor rekening dari bank asal maupun dari Hanwa di Karibia.

The Fund punya saldo sebesar enam setengah juta ketika Fitch mengambil kesepakatan dengan Marlee. Hari Jumat, Fitch menelepon masing-masing CEO dari The Big Four dan menginstruksikan mereka masing-masing untuk mentransfer dua juta dolar. Dan ia tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan. Ia akan menjelaskannya nanti.

Pada pukul lima seperempat hari Jumat, uang itu meninggalkan rekening tanpa nama milik The Fund pada bank di New York, dan dalam beberapa detik mendarat di Hanwa Bank di Netherlands Antilles, tempat uang tersebut sudah ditunggu. Rekening baru tersebut, rekening yang hanya bernomor, dibuka saat uang tersebut datang, dan konfirmasi langsung difakskan ke bank asal.

Marlee menelepon pada pukul setengah tujuh, dan, tidaklah mengejutkan, ia tahu bahwa transfer itu sudah terlaksana. Ia memerintahkan Fitch untuk menghapus nomor rekening pada konfirmasi itu. sesuatu yang memang sudah direncanakan Fitch, dan dengan faks mengirimkannya ke front desk Siesta Inn pada pukul 07.05 tepat.

531

“Apakah itu tidak terlalu riskan?” tanya Fitch.

“Kerjakanlah sesuai perintah. Fitch. Nicholas akan berdiri di sebelah mesin faksimili. Petugas di sana menganggap dia menarik.”

Pukul tujuh seperempat, Marlee menelepon kembali untuk melaporkan bahwa Nicholas sudah menerima konfirmasi itu, dan dokumen itu tampak autentik. la memerintahkan Fitch untuk datang ke kantornya pukul sepuluh pagi. Fitch dengan gembira menyetujuinya.

Meskipun belum ada uang yang berpindah tangan. Fitch serasa melambung dengan keberhasilannya. Ia memanggil Jose” dan pergi berjalan-jalan, sesuatu • yang jarang ia lakukan. Udara sejuk dan menyegarkan. Trotoar-trotoar itu kosong.

Pada saat ini, ada seorang anggota juri dalam karantina yang sedang memegang sehelai kertas dengan angka “$10,000,000” tercetak dua kali di atas nya. Anggota juri ini, dan seluruh dewan juri ini, milik Fitch. Sidang sudah berakhir. Sudah pasti ia tidak akan tidur dan berkeringat dingin sampai ia mendengar pembacaan vonis, tapi karena berbagai alasan praktis, sidang ini sudah selesai. Fitch sudah menang lagi. Ia merebut kemenangan lagi pada saat-saat di ujung tanduk. Kali ini harganya jauh lebih mahal, tapi demikian pula taruhannya. Ia dipaksa mendengarkan omelan Jankle dan yang lain mengenai biaya operasi ini, tapi itu sekadar formalitas. Mereka harus mengomel mengenai biaya. Mereka adalah eksekutif perusahaan.

Biaya yang sebenarnya adalah biaya yang tidak akan mereka sebut-sebut: harga yang harus dibayar

532

bila kemenangan jatuh ke pihak penggugat, sudah pasti kemungkinan melebihi sepuluh juta. dan jumlah yang tak terhitung saat gugatan lain datang membanjir.

I a layak mendapatkan saat-saat kesenangan yang langka ini, namun pekerjaannya masih jauh dan selesai. la tak bisa beristirahat sampai ia tahu siapa Marlee sebenarnya, dari mana asalnya, apa motivasi-nya, bagaimana dan mengapa ia merancang rencana ini. Ada sesuatu di belakang sana yang harus diketahui Fitch, dan sesuatu yang tidak diketahui itu membuatnya sangat ketakutan. Bila dan ketika ia menemukan siapa Marlee sebenarnya, ia akan punya jawaban. Sebelum saat itu tiba, vonisnya yang berharga masih belum aman.

Derrick berhasil sampai di lobi depan dan sedang menjulurkan kepala melalui pintu yang terbuka, ketika seorang wanita muda dengan sopan mcnanyakan apa yang ia inginkan. Wanita itu membawa setumpuk berkas dan kelihatannya cukup sibuk. Saat itu menjelang pukul delapan, Jumat malam, dan kantor-kantor pengacara itu masih sibuk.

Yang ia inginkan adalah seorang pengacara, salah satu dari yang pernah ia lihat di pengadilan yang mewakili perusahaan rokok, salah satu yang bisa diajaknya duduk berunding dan bersepakat di balik pintu tertutup. Ia sudah mengerjakan pekerjaan rumahnya, serta tahu nama Durwood Cable dan beberapa partnernya. Ia sudah menemukan tempat ini, dan sudah dua jam menunggu di dalam mobilnya, melatih kata-katanya, menenangkan sarafnya, menge-533

rahkan keberanian untuk meninggalkan mobil dan berjalan melewati pintu depan.

Tidak ada satu pun wajah hitam lain di sana.

Bukankah semua pengacara itu bajingan? Ia perkirakan bila Rohr bersedia menawarkan uang tunai, masuk akal bila semua pengacara yang terlibat dalam sidang ini juga bersedia menawarkan uang. Ia punya sesuatu untuk dijual. Di luar sana ada pembeli-pembeli kaya. Ini peluang emas.

Tapi kata-kata yang tepat tidak mau terucap ketika sekretaris itu menunggu dan memandanginya, kemudian mulai melihat berkeliling, seolah-olah ia mungkin butuh bantuan dengan situasi ini. Lebih dari satu-kali Cleve mengatakan bahwa ini sangat ilegal, bahwa ia akan ditangkap bila terlalu tamak, dan rasa takut itu tiba-tiba memukulnya, bak sebongkah batu.

“Uh, apakah Mr. Gable ada di tempat?” ia bertanya dengan penuh ketidakpastian.

“Mr. Gable?” tanya sekretaris itu, alisnya berkerut.

“Yeah, dia.”

“Tidak ada yang bernama Mr. Gable di sini. Siapa Anda?”

Sekelompok pengacara muda tanpa jas berjalan perlahan-Iahan di belakang sekretaris itu, mengamatinya dari atas ke bawah, masing-masing tahu bahwa bukan di situlah tempatnya. Derrick tidak punya apa-apa lagi untuk djtawarkan. la yakin bahwa ia menemukan biro hukum yang tepat, tapi salah nama, salah permainan, dan ia tidak berniat untuk pergi ke penjara.

“Saya rasa saya salah alamat” katanya, dan sekretaris itu memberikan senyum kecil yang efisien kepadanya. Tentu saja kau salah alamat; sekarang

534

pergilah. Ia berhenti di sebuah meja di lobi depan dan mengumpulkan lima kartu nama dari rak kuningan. Ia akan memperlihatkan ini pada Cleve, sebagai bukti kunjungannya.

Ia mengucapkan terima kasih pada sekretaris itu dan cepat-cepat berlalu Angel sedang menunggu.

Mjllie menangis, bergulak-gulik di tempat tidur sampai tengah malam, kemudian ia memnkai pakaian favoritnya, sweat suit tua berwarna merah, ukuran XX-Large, hadiah Natal dari salah satu anaknya bertahun-tahun yang lalu, dan diam-diam membuka pintunya. Chuck, penjaga di ujung koridor, menegur-nya pelan. Ia cuma mau cari makanan kecil, ia menerangkan, kemudian menyusuri koridor remang-remang itu menuju Ruang Pesta, dan mendengar suara samar-samar. Di dalam, Nicholas duduk seorang diri di sofa, makan popcorn dan meneguk air soda. Ia sedang menonton pertandingan rugbi dari Australia. Jam malam yang diberlakukan Harkin sudah sejak lama dilupakan.

“Mengapa selarut ini belum tidur?” Nicholas bertanya, mengecilkan suara TV layar lebar di situ dengan remote. Millie duduk di kursi di dekatnya. membela-kangi pintu. Matanya merah dan sembap. Rambutnya yang pendek kelabu acak-acakan. Ia tak peduli. Millie tinggal di rumah yang terus-menerus terisi oleh anak-anak remaja. Mereka datang dan pergi, tinggal, tidur, makan, nonton TV, menguras isi lemari es, selalu melihatnya dalam sweater merah, dan ia tidak berniat mengubahnya. Millie adalah ibu semua orang.

‘Tidak bisa tidur. Kau?” katanya.

535

“Sulit untuk tidur di sini Mau popcorn?”

“Tidak, terima kasih.”

“Apakah Hoppy datang malam ini?”

“Ya.”

“Kelihatannya dia laki-laki yang baik.”

Ia membisu, lalu berkata. “Memang.”

Mereka diam lebih lama, duduk membisu, memikirkan apa yang harus diucapkan selanjutnya. “Kau mau nonton film?” akhirnya Nicholas bertanya.

“Tidak. Boleh aku tanya sesuatu?” kata Millie, sangat serius; Nicholas menekan remote control dan TV itu mati. Ruangan itu kini hanya diterangi lampu meja yang redup.

“Tentu. Kau kelihatan resah.”

“Memang. Ini pertanyaan tentang hukum.”

“Aku akan coba menjawabnya.”

“Oke.” Ia menarik napas dalam-dalam dan meremas kedua tangannya. “Bagaimana kalau seorang anggota juri yakin bahwa dia tidak bisa bersikap adil serta tidak memihak? Apa yang harus dia lakukan?”

Nicholas memandang ke dinding, langit-Iangit. lalu minum seteguk. Perlahan-lahan ia berkata, “Kurasa itu tergantung pada alasan di balik keputusannya.”

“Aku tidak mengerti, Nicholas.” Pemuda ini baik dan begitu cerdas. Putra bungsu Millie ingin menjadi sarjana hukum, dan ia kerap kali berharap putranya secerdas Nicholas.

“Supaya sederhana, mari sisihkan saja hipotesis-nya,” kata Nicholas. “Katakan saja anggota juri itu kau, oke?”

“Oke.”

“Jadi, sejak sidang dibuka, telah terjadi sesuatu

536

yang akan mempengaruhi kemampuanmu bersikap adil dan tidak memihak?”

Perlahan-lahan Millie menyahut. “Ya.”

Nicholas merenung sesaat. lalu berkata. “Kurasa itu tergantung apakah masalah ini menyangkut sesuatu yang kaudengar di ruang sidang, atau sesuatu yang terjadi di luar pengadilan. Sebagai anggota juri, kita memang akan jadi bias dan memihak bersama jalannya sidang. Demikianlah kita sampai pada vonis. Tidak ada yang keliru mengenai hal itu. Itu bagian dari proses pengambilan keputusan.”

Millie menggosok mata kirinya, dan perlahan-lahan bertanya, “Bagaimana kalau bukan begitu? Bagaimana kalau penyebabnya sesuatu di luar pengadilan?”

Nicholas tampak terperanjat mendengar ini. “Wah. Itu jauh lebih serius.”

“Seserius apa?”

Untuk efek dramatis. Nicholas berdiri dan berjalan beberapa langkah ke kursi, yang ditariknya ke dekat Millie; kaki mereka hampir bersentuhan.

“Ada apa, Millie?” ia bertanya lembut.

“Aku butuh bantuan, dan tidak ada siapa pun untuk berpaling. Aku terkurung di tempat menyebalkan ini. jauh dari keluargn dan sahabat, dan tidak ada siapa pun untuk berpaling. Bisakah kau meno-longku, Nicholas?”

“Akan kucoba.”

Matanya basah lagi untuk kesekian kali nya malam itu. “Kau pemuda yang baik. Kau tahu hukum, dan ini masalah hukum. Tidak ada orang Iain yang bisa kuajak bicara.” Ia kini menangis, dan Nicholas mengangsurkan sehelai serbet kertas dari meja.

537

Millie menceritakan segalanya

Lou drll terbangun tanpa alasan apa pun pada pukul dua dini hari, dan berpatroli di koridor dengan mengenakan gaun tidur katunnya. Di dalam Ruang Pesta, ia menemukan Nicholas dan Millie dengan TV dimatikan, tenggelam dalam percakapan, dengan semangkuk popcorn di antara mereka. Nicholas bersikap sopan padanya ketika menjelaskan bahwa mereka tidak bisa tidur, sekadar bercakap-cakap mengenai keluarga. segalanya beres. Ia berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Nicholas curiga ada perangkap, tapi ia tidak meng-ungkapkanuya pada Millie. Begitu air matanya berhenti, Nicholas menanyai Millie dengan terperinci dan membuat beberapa catatan Millie berjanji tidak akan melakukan apa-apa sampai mereka bisa bicara lagi. Mereka suling mengucapkan selamat malam.

Nicholas pergi ke kamarnya. memutar nomor telepon Marlee, dan menutupnya ketika Marlee menjawab dengan halo yang agak mengantuk. Ia menunggu dua menit, kemudian memutar nomor yang sama. Telepon berdering enam kali, tidak dijawab, lalu ia menutupnya. Sesudah dua menit kemudian, ia memutar nomor telepon genggam Marlee. Marlee menjawabnya di dalam kamar kecil.

Ia menceritakan kisah Hoppy selengkapnya. Istirahat malam Marlee pun habis. Begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya.

Mereka sepakat untuk mulai dengan nama Napier, Nitchman, dan Cristano.

538

Tiga Puluh Empat

Ruang sidang itu tidak berubah pada hari Sabtu. Panitera yang sama memakai pakaian yang sama dan menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sama. Jubah Hakim Harkin sama hitamnya. Wajah para pengacara itu semua kabur, sama seperti hari Senin sampai Jumat. Para deputi sama bosannya seperti biasa, atau mungkin lebih bosan. Beberapa menit setelah para juri duduk dan Harkin menyelesaikan pertanyaannya, suasana monoton itu pun mengendap, sama seperti Senin hingga Jumat.

Sesudah penampilan Gunther yang membosankan pada hari Jumat, Cable dan krunya merasa yang paling baik adalah mengawali hari itu dengan sedikit aksi. Cable memanggil Dr. OIney dan mengajukannya sebagai saksi ahli. Ia peneliti yang mengerjakan berbagai hal mengagumkan dengan tikus laboratorium. la punya video dari subjeknya yang kecil dan lucu ini, semuanya masih hidup dan tampak penuh energi, sama sekali tidak sakit dan sekarat. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok, dikurung dalam sangkaf kaca, dan Olney memasukkan asap rokok dengan takaran berbeda-beda setiap hari untuk

539

masing-masing sangkar. Riset ini dilakukannya selama beberapa tahun. Asap rokok dalam dosis besar. Pemaparan terus-menerus ini ternyata tidak menimbulkan sntu pun kasus kanker paru-paru. Ia mencoba segala cara untuk mematikan makhluk-makhluk kecil itu, kecuali mencekiknya. namun tidak berhasil. Ia punya data statistik dan terperinci. Serta punya banyak pendapat bahwa rokok tidak menimbulkan kanker paru-paru, baik pada tikus maupun pada manusia.

Hoppy mendengarkan dari tempat ia biasa duduk di dalam ruang sidang itu. Ia sudah berjanji untuk mamptr, mengedipkan mata kepada istrinya, memberikan dukungan moril, untuk sekali lagi memperli- • hatkan kepada sang istri, betapa menyesal dirinya. Setidaknya itulah yang bisa ia lakukan. Lagi pula ini hari Sabtu, hari yang sibuk bagi agen real estate, tapi Dupree Realty jarang sibuk sampai menjelang siang. Sejak bencana Stillwater Bay, Hoppy kehilangan semangat kerjanya. Bayangan akan mendekam beberapa tahun di penjara menyedot daya kemauannya untuk bekerja.

Taunton kembali, di deretan depan di belakang Cable, masih memakai setclan jas hi tarn yang rapi, membuat catatan dan memandang Lonnie, yang tidak membutuhkan peringatan apa pun.

Derrick duduk dekat bagian belakang, menyaksikan segalanya dan menyusun rencana. Rhea, suami Rikki, duduk di belakang dengan dua anak mereka. Mereka mencoba melambaikan tangan kepada ibu mereka ketika para juri itu mengambil tempat duduk. Mr. Nelson Card duduk di sebelah Mrs. Herman Grimes. Dua putri Loreen yang sudah remaja ikut hadir.

540

Para anggota keluarga itu hadir untuk memberi dukungan, dan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka. Mereka sudah cukup mendengar untuk membentuk pendapat mengenai kasusnya, pengacaranya, pihak yang bersengketa, para saksi ahli, dan hakimnya. Mereka ingin mendengarkan, sehingga mungkin kelak bisa berbagi pengetahuan mengenai apa yang seharusnya dilakukan.

BfcVERi y monk tersadar dari koma di pagi hari, sisa-sisa gin dan ganja dan entah apa lagi yang tidak bisa diingatnya masih melekat erat dan membutakan-nya ketika ia menutupi wajah, dan menyadari ia sedang berbaring di lantai kayu. Ia membungkus tubuh dengan selimut kotor, melangkahi seorang laki-laki tak dikenal yang sedang mendengkur. dan menemukan kacamata hitamnya di atas krat kayu yang dipakainya sebagai meja rias. Dengan kacamata terpasang, ia bisa melihat. Loteng terbuka itu kacau-balau—tubuh tumpang tindih di ranjang dan lantai, botol-botol minuman kosong bertengger pada setiap potong perabot murahan. Siapa orang-orang ini? Ia menyeret kaki ke arah jendela kecil, melangkahi teman sekamar di sini dan orang tak dikenal di sana. Apa yang ia lakukan tadi malam?.

Jendela itu tertutup embun beku; hujan salju tipis jatuh di jalan dan gumpalan-gumpalannya langsung mencair saat mendarat. Ia merapatkan selimut itu ke sekeliling tubuhnya yang kurus kering, dan duduk di karung dekat jendela. memandangi salju, dalam hati bertanya-tanya berapa banyak dari seribu dolar itu yang tersisa.

541

Ia menghirup udara dingin dekat sirip jendela, dan matanya mulai jemih. Pelipisnya berdenyut nyeri, tapi pusingnya mulai hilang. Sebelum berjumpa dengan Claire bertahun-tahun yang lalu, ia bersahabat karib dengan mahasiswi Kansas University bernama Phoebe, gadis kurus dengan masalah ketergantungan obat dan pernah masuk rumah sakit rehabilitasi, tapi selalu berdiri di tepi jurang keruntuhan lagi. Phoebe pernah bekerja sebentar di Mulligan’s bersama Claire dan Beverly, kemudian meninggalkan tempat itu karena masalah. Phoebe berasal dari Wichita. Suatu ketika, ia pernah bercerita pada Beverly bahwa ia tahu sesuatu mengenai masa lampau Claire, yang diketahuinya dari pemuda yang pernah berkencan dengan Claire. Bukan Jeff Kerr, tapi pemuda lain, dan seandainya kepalanya tidak sakit, ia mungkin bisa mengingat detailnya lebih banyak.

Kejadiannya sudah lama.

Seseorang mendengus di bawah kasur. Kemudian sunyi kembali. Beverly pernah berakhir pekan bersama Phoebe dan keluarga besarnya yang Katolik di Wichita. Ayahnya dokter di sana Tentu mudah dicari. Kalau Mr. Swanson si bajingan murah hati itu mau menyodorkan seribu dolar untuk beberapa jawaban remeh, berapa banyak akan ia bayarkan untuk latar belakang Clarre Clement yang sebenarnya?

la akan mencari Phoebe. Terakhir ia mendengar Phoebe ada di L.A., memainkan permainan yang sama seperti yang dimainkan Beverly di New York. Ia akan menguras Swanson sebisanya, lalu mungkin mencari tempat lain untuk tinggal, flat yang lebih luas, dengan teman-teman yang lebih menyenangkan, jauh dari para jembel.

542

Di mana kartu nama Swanson?

Fitch tidak mengikuti kesaksian pagi untuk memimpin brifing yang langka, peristiwa yang ia benci. Tapi tamunya adalah orang penting. Laki-laki itu bernama James Local, kepala lembaga penyidik swasta yang jasanya dipakai Fitch dengan imbalan besar. Tersembunyi di Bethesda, biro Local mem-pekerjakan banyak mantan agen intelijen pemerintah, dan dalam keadaan normal, perjalanan ke tempat jauh untuk mencari seorang wanita Amerika tanpa catatan kriminal merupakan hal yang menjengkelkan. Spesialisasi mereka adalah memantau pengiriman senjata ilegal, melacak terons, dan semacamnya.

Tapi Fitch punya banyak uang, dan pekerjaannya hanya mengandung sedikit risiko peluru beterbangan. Pekerjaan itu ternyata juga tidak membuahkan hasil, dan inilah alasan Local datang ke Biloxi.

Swanson dan Fitch mendengarkan Local menjelaskan upaya mereka selama empat hari terakhir ini, tanpa sedikit pun nada menyesal. Claire Clement tidak pernah ada sebelum ia muncul di Lawrence pada musim panas 1988. Apartemen pertamanya adalah kondominium dengan dua kamar tidur yang disewa per bulan dan dibayar tunai. Langganan air, listrik, dan gas atas namanya. Kalau seandainya ia memakai Pengadilan Kansas untuk ganti nama secara legal, tidak ada catatan tersebut di sana. Berkas-berkas itu tersimpan di pengadilan, tapi mereka toh berhasil melihatnya. Ia tidak mendaftarkan diri untuk memberikan suara dalam pemilu, tidak membeli mobil atas namanya. tidak membeli real estate, tapi me-543

mihki nomor Social Security, yang dipakainya untuk bekerja di dua tempat—bar Mulligan’s dan sebuah butik di luar kampus. Kartu Social Security memang relatif mudah didapat, dan kartu itu membuat hidup lebih mudah bagi pelirian. Mereka berhasil mendapatkan kopi permohonannya, yang tidak mengungkapkan apa pun yang bermanfaat. Ia tidak mengajukan permohonan paspor.

Menurut Local, ia ganti nama secara sah di negara bagian lain, memilih salah satu dari 49 negara bagian lain, lalu pindah ke Lawrence dengan identitas baru.

Mereka punya catatan teleponnya selama tiga tahun ia tinggal di Lawrence. Tidak pernah ada sambungan , jarak jauh yang ditagihkan padanya. Local mengulangi kalimat ini dua kali, agar dimengerti. Tidak ada interlokal selama tiga tahun. Waktu itu perusahaan telepon tidak menyimpan catatan telepon interlokal yang masuk, jadi printout-nya tidak menunjukkan apa pun selain kegiatan lokal. Mereka memeriksa berbagai nomor. Ia jarang memakai teleponnya.

“Bagaimana seseorang hidup tanpa pernah melakukan interlokal? Bagaimana dengan keluarganya, teman-teman lama?” Fitch bertanya sangsi.

“Ada beberapa cara,” kata Local. “Bahkan sebenarnya ada banyak. Mungkin dia meminjam telepon temannya. Mungkin dia pergi ke motel sekali seminggu, penginapan murah dengan tagihan telepon ke kamar, lalu membayarnya dengan uang tunai ketika check out. Tidak mungkin melacak yang seperti itu.”

“Sungguh tak bisa dipercaya,” Fitch menggumam.

“Harus saya katakan pada Anda, Mr. Fitch, gad is ini pintar. Seandainya dia melakukan kesalahan. kami

544

belum lagi menemukannya.” Suara Local jelas menyimpan nada kagum. “Orang seperti ini merencanakan setiap gerakannya dengan sudut pandang bahwa kelak seseorang akan dating mencarinya.”

“Cocok dengan gaya Marlee,” kata Fitch, seolah-olah ia sedang mengagumi putrinya.

Marlee punya dua kartu kredit di Lawrence— kartu kredit Visa dan kartu kredit bensin Shell. Sejarah kreditnya tidak mengungkapkan apa pun yang luar biasa atau bermanfaat. Sebagian besar pengeluarannya rupanya ia bayar kontan. Juga tidak ada kartu telepon. Ia tidak akan berani melakukan kesalahan itu.

Jeff Kerr lain lagi. Jejaknya hingga ke fakultas hukum di Kansas University mudah dilacak; sebagian besar pekerjaan itu sudah dilaksanakan oleh agen-agen Fitch terdahulu. Sesudah berjumpa dengan Claire, barulah Jeff mengambil kebiasaan untuk bertindak secara rahasia.



0 Response to "The Runaway Jury III"

Post a Comment