Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Runaway Jury II

Tentu saja ia berpakaian tepat seperti yang dikatakan oleh perempuan itu.

Teleponnya yang kedua juga berasal dari Hattiesburg, meskipun dari nomor yang berbeda. “Ada sedikit kabar baru untukmu, Fitch. Kau pasti menyukainya.”

Fitch, nyaris tak bernapas, berkata, “Aku mendengarkan.”

“Saat para juri keluar hari ini, bukannya duduk, coba terka apa yang akan mereka Iakukan?”

Otak Fitch membeku. Ia tak bisa menggerakkan bibirnya. Ia tahu bahwa ia tidak diharapkan mengajukan terkaan pintar. “Aku menyerah,” katanya.

“Mereka akan mengajukan Janji Kesetiaan.”

Fitch melontarkan pandangan bingung pada Konrad.

“Dengar semua itu. Fitch?” perempuan itu bertanya, nyaris mengejek.

“Yeah.”

Sambungan terputus. Ť

Teleponnya yang ketiga ditujukan ke kantor Wendall Rohr. Menurut seorang sekretaris, Rohr sedang sibuk dan tidak bisa dihubungi. Marlee mengerti, tapi menjelaskan bahwa ia punya pesan penting untuk Mr. Rohr. Pesan itu akan tiba sekitar lima menit lagi pada mesin faks, jadi maukah sekretaris itu menerimanya dan membawanya langsung pada Mr. Rohr

182

sebelum ia berangkat ke pengadilan? Sekretaris itu dengan enggan menyetujuinya, dan lima menit kemudian menemukan sehelai kertas putih tergeletak pada nampan penerima faks. Tidak ada nomor pengirim, tidak ada indikasi dari mana atau dari siapa faks itu datang. Di tengahnya, terketik dengan jarak satu spasi, pesan itu berbunyi demikian:

WR: Juri nomor 2, Easter, hari ini akan memakai kemeja denim biru, jeans pudar, kaus kaki putih, dan sepatu Nike tua. Dia suka Rolling Stone, dan dia akan memhuktikan dirinya cukup patriotik.

MM

Sekretaris itu bergegas membawanya ke kantor Rohr yang sedang mengemasi tas besar untuk pertarungan hari ini. Rohr membacanya, menanyai sekretaris itu, kemudian menghubungi rekan pengacaranya untuk mengadakan rapat darurat.

Suasananya memang tidak bisa digolongkan gembira, terutama untuk dua belas orang yang dikurung di luar kehendak sendiri, tapi ini hari Jumat dan percakapan di antara mereka terdengar lebih ringan ketika mereka berkumpul dan saling menyapa. Nicholas duduk di meja. dekat Herman Grimes dan di hadapan Frank Herrera, menunggu saat percakapan kosong itu reda. Ia memandang Herman yang sedang bekerja keras dengan laptop-nys. lalu berkata, ‘“Hei, Herman. Aku punya gagasan.”

Pada saat ini Herman sudah memasukkan sebelas

183

suara ke ingatannya, dan istrinya sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk memberikan deskripsi yang sesuai. Ia terutama kenal nada suara Easter. “Ya, Nicholas?”

Nicholas memperkeras suaranya untuk menarik perhatian semua orang. “W?//, ketika masih kecil, aku dimasukkan ke sekolah swasta kecil, dan kami dilatih untuk memulai setiap hari dengan mengucapkan Janji Kesetiaan. Setiap kali melihat bendera di pagi hari, aku selalu ingin mengucapkan janji itu.” Sebagian besar anggota juri itu mendengarkan. Poodle baru keluar untuk merokok. “Dan di dalam ruang sidang sana ada bendera yang bagus di belakang Hakim, tapi kita hanya duduk memandangnya “

“Aku tidak melihatnya,” kata Herman.

“Kau akan mengucapkan Janji Kesetiaan di luar sana, dalam sidang terbuka?” tanya Herrera, Napoleon, kolonel purnawirawan.

“Yeah. Mengapa tidak melakukannya sekali seminggu?”

‘Tidak ada salahnya,” kata Jerry Fernandez, yang diam-diam sudah direkrut untuk peristiwa ini.

“Tapi bagaimana dengan Hakim?” tanya Mrs. Gladys Card.

“Apa pedulinya? Sebenarnya, mengapa ada yang peduli kalau kita berdiri sejenak dan menghormat pada bendera kita?”

“Kau tidak main-main, bukan?” tanya sang kolonel.

Nicholas tiba-tiba tampak terluka. Ia menatap ke seberang meja dengan pandangan pedih, dan berkata, “Ayahku tewas di Vietnam, oke? Dia mendapat peng-hargaan. Bendera itu punya arti penting bagiku.”

184

Dan dengan itu, kesepakatan diteguhkan.

Hakim Harkin menyambut dengan senyum hangat ketika mereka memasuki ruangan satu demi satu. Ia sudah bersiap untuk meluncur ke pertanyaan bakunya mengenai kontak tidak sah, dan melanjutkannya dengan kesaksian. Perlu satu detik untuk menyadari bahwa mereka tidak duduk seperti biasanya. Mereka tetap berdiri, hingga dua belas orang seluruhnya ada di tempat masing-masing, kemudian memandang ke dinding di sebelah kiri, di belakang tempat saksi, sambil meletakkan tangan ke dada. Easter yang pertama membuka mulut dan memimpin mereka mengucapkan Janji Kesetiaan dengan lantang.

Reaksi pertama Harkin adalah tertegun; ia belum pernah menyaksikan upacara ini dilakukan di ruang sidang mana pun oleh para juri. Mendengar hal semacam itu pun belum pernah. Padahal ia mengira sudah mendengar dan menyaksikan segalanya. Ini bukan bagian dari ritual harian, tak pernah ia setujui, dan sebenarnya tak pernah muncul dalam buku pegangan atau petunjuk mana pun. Karena itu impuls pertamanya, sesudah tersentak, adalah memanggil mereka, menghentikannya; mereka akan membicarakannya nanti. Kemudian langsung disadarinya bahwa rasanya sangatlah tidak patriotik dan mungkin berdosa untuk menyela sekelompok warga negara yang punya niat baik untuk menghormati bendera mereka. Ia memandang Rohr dan Cable yang ternyata juga sedang terperangah dengan mulut menganga dan rahang kendur.

Maka ia berdiri. Kira-kira di tengah-tengah pengucapan janji itu, ia maju dan naik, jubah hitamnya

berkibaran; ia berbalik menghadap dinding, mendekap-kan tangan ke dada, dan ikut mengucapkan janji itu.

Dengan dewan juri dan Hakim memberi hormat kepada bendera Stars and Stripes, tiba-tiba semua orang merasa wajib untuk berbuat sama, terutama para pengacara itu, yang tidak mau ambil risiko mengundang rasa tak suka dan memperlihatkan setitik saja tanda tidak loyal. Mereka berdiri, menendang tas-tas dan mendorong mundur kursi-kursi. Gloria Lane dan para pembantunya, notulis pengadilan, dan Lou Dell, yang duduk di deretan pertama, juga berdiri dan berbalik, lalu mengikuti. Tapi orang-orang yang duduk sesudah deretan ketiga tidak ikut berpartisipasi; dengan demikian, Fitch beruntung tidak perlu berdiri seperti pramuka siaga dan menggumamkan kata-kata yang hampir tak diingatnya.

Ia ada di deretan belakang, bersama Jose di satu sisi dan Holly, associate muda yang tampan, di sisi lainnya. Pang ada di atrium, di luar. Doyle kembali ke krat Dr. Pepper di lantai satu dekat mesin Coca-Cola, berpakaian seperti pekerja, bergurau dengan petugas pembersih gedung, dan mengawasi lobi depan.

Fitch menyaksikan dan mendengarkan dengan sangat tercengang. Melihat dewan juri, atas inisiatif sendiri dan bekerja sebagai satu kelompok, mengendalikan ruang sidang dengan cara itu, benar-benar sulit percaya rasanya. Dan fakta bahwa Marlee tahu hal itu akan terjadi sungguh membingungkan.

Fakta bahwa ia main-main dengan hal itu sungguh mengherankan.

Tapi setidaknya Fitch punya sedikit gambaran tentang apa yang bakal terjadi, sedangkan Wendall Rohr

186’

merasa benar-benar kehabisan akal. Ia begitu tercengang melihat Easter berpakaian tepat seperti yang dijanjikan, dan memegang majalah yang sama, yang diletakkannya di bawah kursi, kemudian memimpjn rekan-rekannya mengucapkan Janji Kesetiaan, sehingga ia hanya bisa membuka mulut tanpa suara, mengucapkan kata-kata sisanya. Ia melakukan hal Itu tanpa memandang ke bendera. Ia menatap para juri, terutama Easter, dan bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi.

Ketika kata-kata .terakhir “…dan keadilan bagi semua” bergenia hingga ke langit-langit, para juri duduk di kursi mereka, lalu serentak melihat sekeliling ruangan untuk menilai reaksi. Hakim Harkin membenahi jubahnya sambil membalik-balik sejumlah dokumen, dan tampaknya bertekad akan menganggap seolah-olah semua juri memang sepantasnya melakukan hal itu. Apa yang bisa ia katakan? Semua itu cuma makan waktu tiga puluh detik.

Kebanyakan pengacara-pengacara itu diam-diam merasa jengah oleh peragaan patriotisme konyol itu, tapi… hei! Kalau para juri itu senang, mereka pun senang. Cuma Wendall Rohr yang terus menatap, tak mampu berbicara. Seorang associate menyenggolnya dan mereka pun terlibat percakapan pelan, sementara Yang Mulia Hakim dengan cepat membacakan komentar serta pertanyaan baku untuk juri.

“Saya yakin kita sudah siap untuk saksi baru,” kata sang hakim, tak sabar untuk mempercepat proses sidang itu.

Rohr berdiri, masih tertegun, dan berkata, “Pihak penggugat memanggil Mr. Hilo Kilvan.”

187

Sewaktu saksi selanjutnya dijemput dari ruang saksi di belakang, Fitch diam-diam menyelinap keluar dari ruang sidang, bersama Jos6 menempel di belakangnya. Mereka keluar ke jalan dan memasuki kantor sempit.

Dua pakar juri di dalam ruang pehgamat itu bungkam. Satu orang mengamati proses pemeriksaan awal terhadap Dr. Kilvan di layar utama. Pada layar monitor yang lebih kecil, pakar satunya menyaksikan ulangan pengucapan Janji Kesetiaan itu. Fitch berdiri melongok monitor itu, dan bertanya, “Kapan terakhir kali kau melihat itu?”

“Ini karena Easter,” pakar terdekat berkata. “Dia yang memimpin mereka melakukannya.”

“Itu sudah jelas,” tukas Fitch. “Aku bisa melihat hal itu dari deretan belakang ruang sidang.” Fitch, seperti biasa, tidak bermain jujur. Tak satu pun dari para konsultan ini yang tahu mengenai telepon dari Marlee, sebab Fitch tidak mau membagi informasi ini dengan siapa pun selain agen-agennya—Swanson, Doyle, Pang, Konrad, dan Holly.

“Jadi, bagaimana kejadian tadi menurut analisis komputermu?” Fitch bertanya dengan nada menyindir.

“Hancur lebur.”

“Begitulah yang kuduga. Teruslah mengawasi.” Ia membanting pintu dan pergi ke ruangannya.

Pemeriksaan pertama terhadap Dr. Hilo Kilvan dita-ngtni oleh pengacara baru dari pihak penggugat, Scotty Mangrum dari Dallas. Mangrum meraih kekayaannya dengan menggugat perusahan-perusahaan petrokimia untuk mendapatkan ganti kerugian bagi korban kera-cunan, dan kini pada usia 42 ia memusatkan perhatian

pada produk-produk yang menyebabkan kecelakaan dan kematian. Sesudah Rohr, dialah pengacara pertama yang menyetor satu juta untuk membiayai kasus Wood, dan sudah diputuskan bahwa ia akan menangani data statistik kanker paru-paru. Dalam empat tahun terakhir, ia sudah menghabiskan waktu tak terhingga untuk membaca setiap penelitian dan laporan mengenai masalah ini, dan ia sudah bepergian ke mana-mana untuk menemui para pakar. Dengan sangat hati-hati dan tanpa memedulikan biayanya, ia memilih Dr. Kilvan untuk datang ke Biloxi dan membagikan pengetahuannya kepada para juri.

Dr. Kilvan berbicara dalam bahasa Inggris yang sempurna, dengan sentuhan aksen yang langsung meninggalkan kesan pada juri. Di dalam ruang sidang, tak ada yang lebih persuasif selain dari seorang pakar yang menempuh jarak sangat jauh untuk datang ke sana, dan punya nama yang eksotis serta aksen yang sesuai. Dr. Kilvan datang dari Montreal, tempat tinggalnya selama empat puluh tahun terakhir, dan fakta bahwa ia berasal dari negara lain justru menambah kredibilitasnya. Para juri sudah terkesan, jauh sebelum ia memberikan kesaksiannya. Ia dan Mangrum bertanya-jawab membahas resume yang menggentar-kan, dengan tekanan pada jumlah buku yang pernah diterbitkan Dr. Kilvan mengenai probabilitas statistik dari kanker paru-paru.

Ketika akhirnya ditanyai, Durr Cable mengakui bahwa Dr. Kilvan memang qualified untuk memberikan kesaksian di bidangnya. Scotty Mangrum mengucapkan terima kasih kepadanya, kemudian memulai dengan penelitian pertama—perbandingan angka

189

188

mortalitas karena kanker paru-paru pada perokok dan bukan perokok. Dr. Kilvan telah meneliti hal ini selama dua puluh tahun terakhir di University of Montreal, dan ia tampak santai ketika menjelaskan pokok-pokok risetnya kepada juri. Bagi pria Amerika—ia sudah meneliti berbagaj kelompok pria dan wanita dari seluruh penjuru dunia, tapi terutama orang Kanada dan Amerika—risiko mengidap kanker paru-paru pada mereka yang merokok lima belas batang sehari selama sepuluh tahun adalah sepuluh kali hpat lebih besar daripada mereka yang sama sekali tidak merokok. Naikkan jadi dua bungkus sehari, dan risikonya adalah dua puluh kali lebih besar. Naikkan jadi tiga bungkus sehari, seperti yang dilakukan Jacob Wood, dan risikonya adalah 25 kali lebih besar daripada bagi yang bukan perokok.

Bagan-bagan berwarna cerah dikeluarkan dan dipasang pada tiga buah tripod; Dr. Kilvan, dengan hau-hati dan tanpa terburu-buru. memperlihatkan temuannya kepada juri.

Penelitian berikutnya adalah perbandingan tingkat kematian karena kanker paru-paru, dalam kaitannya dengan jenis tembakau di dalam rokok. Dr. Kilvan menjelaskan perbedaan-perbedaan pokok antara merokok pipa dan cerutu serta angka penyakit kanker pada laki-laki Amerika yang menikmati tembakau dengan cara itu. Ia menerbitkan dua buku mengenai perbandingan ini, dan siap untuk memperlihatkan rangkaian bagan dan grafik selanjutnya kepada juri. Angka-angka menumpuk, dan mulai kabur.

Loreen duke-Lah orang pertama yang punya keberani—

190

an untuk mengambil piringnya dari meja dan membawanya ke salah satu sudut; di situ ia menopang piringnya dengan lutut dan makan seorang diri. Karena makan siang dipesan menurut daftar menu pada pukul sembilan setiap pagi, dan karena Lou Dell, Willis si deputi, orang-orang dari O’Reilly’s Deli, dan siapa saja yang terhbat dalam menyajikan makanan ber-ketetapan untuk menghidangkan makan siang tepat menjelang tengah hari, maka diperlukan urutan tertentu. Dan tempat duduk pun diatur. Tempat duduk Loreen tepat berhadapan dengan Stella Hulic, yang makan sambil berkecap dan membiarkan gumpalan-gumpalan roti bergelantungan pada giginya. Stella adalah orang kaya baru dengan selera berpakaian buruk; sebagian besar waktu resesnya dihabiskan untuk meyakinkan sebelas orang lainnya bahwa ia dan suaminya, pensiunan eksekutif perusahaan pipa bernama Cal, lebih kaya daripada yang lain. Cal punya hotel, Cal punya kompleks apartemen, dan Cal punya tempat pencucian mobil. Masih ada investasi-investasi lain, sebagian besar menyembur keluar bersama makanan, seolah-olah keduanya dilakukan secara tak sengaja. Mereka suka bepergian, terus-menerus. Yunani merupakan tempat favorit mereka. Cal punya sebuah pesawat terbang dan beberapa perahu.

Konon, menurut cerita yang diterima luas di daerah Coast, beberapa tahun yang lalu, Cal memakai perahu penangkap udang untuk membawa mariyuana dari Meksiko. Benar atau tidak, pasangan Hulic sekarang kaya raya, dan sudah menjadi tugas Stella untuk membicarakannya dengan siapa saja yang mau mendengarkan. Ia mengoceh dengan suara sengau yang

191

menyebalkan, aksen yang asing di daerah Coast, dan menunggu sampai semua orang sudah mengisi mulut dan keheningan meliputi seputar meja.

Ia berkata, “Aku berharap kita selesai lebih awal hari ini. Aku dan Cal akan pergi ke Miami untuk berakhir pekan. Ada beberapa toko baru yang hebat di sana.” Semua kepala tertunduk, sebab tak seorang pun tahan melihat makanan yang berjejalan dalam mulut wanita itu. Setiap suku kata meluncur dengan bunyi tambahan dari makanan yang menempel ke

g’gi—

Loreen menyingkir sebelum suapan pertama. Ia diikuti oleh Rikki Coleman, yang dengan lemah minta permisi bahwa ia harus duduk di dekat jendela. Lonnie Shaver tiba-tiba perlu bekerja di saat makan siang. Ia beranjak dan menyibukkan diri dengan komputernya sambil mengunyah chicken club sandwich.

“Dr. Kilvan benar-benar saksi yang mengesankan, bukan?” Nicholas bertanya pada anggota juri yang tersisa di sekitar meja. Beberapa orang melirik pada Herman yang sedang makan sandwich kalkun, biasanya dengan roti tawar putih, tanpa mayones atau moster atau bumbu lain yang bisa menempel di mulut atau bibirnya. Seiris sandwich kalkun dan sejumput kecil kentang goreng bisa ditangani dengan mudah dan dimakan tanpa dilihat. Kunyahan Herman me-lambat sedetik, tapi ia tidak mengucapkan apa pun.

“Statistik-statistik itu sulit diabaikan,” kata Nicholas sambil tersenyum kepada Jerry Fernandez. Ia sengaja memancing kejengkelan sang ketua.

“Cukup,” kata Herman.

“Cukup apa, Herm?”

192

“Cukup berbicara mengenai sidang ini. Kau tahu peraturan Hakim.”

“Yeah, tapi Pak Hakim tidak ada di sini, bukan, Herm? Dan dia tak mungkin mengetahui apa yang kita perbincangkan, bukan? Kecuali, tentu saja, kalau kau memberitahu dia.”

“Mungkin aku akan melakukannya “

“Baiklah, Herm. Apa yang ingin kaubicarakan?”

“Apa saja selain sidang ini.”

“Pilihlah topiknya. Football, cuaca…”

“Aku tidak nonton football”

“Ha, ha.”

Suasana jadi hening menekan, kesunyian yang hanya dipecahkan oleh decak makanan di sekitar mulut Stella Hulic. Jelaslah percakapan antara dua laki-laki itu telah meruntuhkan saraf, dan Stella mengunyah lebih cepat.

Tapi Jerry Fernandez sudah tidak tahan. “Bisakah kau berhenti berdecap seperti itu!” ia menukas pedas.

Stella berhenti di tengah gigitan, mulutnya terbuka. makanannya terlihat. Jerry menatap perempuan itu dengan berapi-api, seolah-olah ingin menamparnya; kemudian. setelah menghela napas dalam-dalam, ia berkata, “Maaf. Cuma cara makanmu sungguh menyebalkan.”

Stella tertegun sedetik, lalu jengah. Pipinya berubah merah dan ia berhasil menelan porsi besar yang sudah ada di dalam mulutnya. Kemudian ia menyerang. “Mungkin aku juga tidak suka caramu,” katanya dengan geram, sementara kepala yang lain tertunduk Semua orang ingin kejadian ini selesai.

“Setidaknya aku makan tanpa ribut. dan makanan—

193

nya tetap di dalam mulut,” kata Jerry, menyadari benar betapa kekanak-kanakan ucapannya itu. “Aku juga,” kata Stella.

“Tidak,” kata Napoleon, yang tidak beruntung duduk di samping Loreen Duke dan di hadapan Stella. “Cara makanmu lebih parah daripada bayi tiga tahun.”

Herman berdeham keras, lalu berkata, “Mari semuanya menarik napas panjang, dan mari kita selesaikan makan siang kita dengan tenang.”

Tak sepatah kata pun terucap sewaktu mereka menghabiskan sisa makan siang itu dengan tenang. Jerry dan Poodle pergi lebih dulu ke ruang rokok, diikuti oleh Nicholas Easter, yang tidak merokok tapi ingin perubahan pemandangan. Hujan turun rintik-rintik, dan acara jalan-jalan keliling kota terpaksa dibatalkan.

Mereka berkumpul dalam ruangan sempit berbentuk persegi, dengan kursi-kursi lipat dan sebuah jendela terbuka. Angel Weese, anggota juri yang paling pendiam, kemudian bergabung dengan mereka. Stella, perokok keempat, merasa terluka dan memutuskan untuk menunggu nanti.

Poodle tidak keberatan bicara tentang sidang itu. Tidak pula Angel. Apa lagi persamaan mereka? Mereka tampaknya setuju dengan Jerry bahwa semua orang tahu rokok menyebabkan kanker. Jadi. bila kau merokok, silakan tanggung sendiri risikonya.

Mengapa memberikan berjuta-juta dolar kepada ahli waris orang mati yang merokok selama 35 tahun? Orang seharusnya punya akal sehat sedikit.

194

Dua Belas

Meskipun pasangan Hulic menginginkan sebuah jet mungil dengan tempat duduk berjok kulit dan dua pilot, untuk sementara ini mereka terpaksa memakai Cessna tua bermesin ganda, yang bisa diterbangkan Cal bila matahari sudah naik dan awan menghilang. Ia tidak berani menerbangkannya di waktu malam. terutama ke tempat ramai seperti Miami, jadi mereka naik pesawat commuter di Gulfport Municipal Airport dan terbang ke Atlanta. Dari sana mereka terbang ke Miami International Airport, kabin kelas satu, dengan Stella menghabiskan dua martini dan segelas anggur dalam waktu kurang dari satu jam. Minggu itu terasa panjang. Sarafnya tegang karena stres dalam melaksanakan kewajiban sebagai warga negara.

Mereka memasukkan bagasi mereka ke taksi dan menuju Miami Beach, check in di Hotel Sheraton baru.

Marlee mengikuti mereka. Di dalam pesawat commuter tadi, ia duduk di belakang mereka, dan ia terbang kelas ekonomi dari Atlanta. Taksinya menunggu ketika ia bergelandangan di lobi untuk memastikan

195

mereka check in. Kemudian ia menemukan kamar satu setengah kilometer dari sana, di sebuah hotel resor. Ia menunggu sampai hampir pukul sebelas, malam Sabtu, sebelum menelepon.

Stella letih dan ingin minum serta santap malam di dalam kamar Menenggak beberapa gelas minuman. Besok ia akan berbelanja, tapi untuk sementara ini ia butuh minuman. Ketika telepon berdering, ia sudah terbujur di ranjang, nyaris tak sadarkan diri. Cal, hanya memakai celana dalam melorot, meraih gagang telepon. “Halo.”

“Ya, Mr. Hulic,” terdengar suara seorang wanita muda yang sangat tegas dan profesional. “Anda perlu hati-hati.”

“Ada apa?”

“Anda dikuntit.”

Cal menggosok matanya yang merah. “Siapa ini?”

“Harap dengarkan baik-baik. Ada beberapa orang sedang mengawasi istri Anda. Mereka ada di Miami sini. Mereka tahu Anda naik pesawat 4476 dan Biloxi ke Atlanta, pesawat Delta penerbangan nornor, 533 ke Miami, dan mereka tahu tepat di kamar mana Anda sekarang. Mereka mengawasi setiap gerakan.”

Cal memandang pesawat telepon itu dan menepuk keningnya pelan. “Tunggu sebentar. Saya…”

“Dan mungkin mereka akan menyadap telepon Anda besok,” ia menambahkan. “Jadi, harap hati-hati.”

“Siapa orang-orang ini?” ia bertanya keras, dan Stella bereaksi sedikit. Ia mengayunkan kakinya yang telanjang ke lantai dan memusatkan pandangan dengan mata berkabut pada suaminya.

“Mereka adalah agen-agen yang disewa perusahaan—

196

perusahaan tembakau,” datang jawabannya. “Dan mereka jahat.”

Perempuan muda itu menutup sambungan. Cal sekali lagi memandang gagang teleponnya, lalu menatap istrinya yang tampak menyedihkan. Sang istri sedang mengulurkan tangan mengambil rokok. “Ada apa?” ia bertanya dengan lidah kaku, dan Cal mengulangi setiap patah kata.

“Oh, Tuhan!” Stella menjerit dan berjalan ke meja di samping TV, meraih botol anggur dan menuang segelas lagi. “Mengapa mereka memburuku?” ia bertanya sambil menjatuhkan diri ke kursi dan menumpahkan cabernet murahan pada mantel mandi milik hotel. “Kenapa aku?”

“Dia tidak mengatakan mereka akan membunuhmu,” suaminya menerangkan dengan sedikit nada menyesal.

“Mengapa mereka menguntit aku?” Ia nyaris menangis.

“Entahlah, mana aku tahu?” Cd menggeram sambil mengambil segelas bir lagi dari mini-bar. Beberapa menit mereka minum dalam keheningan, tak satu pun ingin memandang yang lain, keduanya kebingungan.

Kemudian telepon berdering lagi dan Stella melepaskan pekikan. Cal mengangkat gagang telepon, lalu berkata perlahan-lahan, “Halo.”

“Hai, ini aku lagi,” datang suara itu, kali ini agak |ceria. “Ada yang lupa kusebutkan. Jangan menelepon polisi atau siapa pun. Orang-orang ini tidak melakukan apa pun yang ilegal Langkah terbaik adalah pura-pura seperti tidak ada apa-apa, oke?”

“Siapa Anda?” tanya Cal.

“Bye” Dan ia pun lenyap.

197

***

Listing foods bukan hanya memiliki satu jet, melainkan tiga, salah satunya dikirim untuk menjemput Mr. Lonnie Shaver pada pagi hari Sabtu dan menerbangkannya ke Charlotte, sendirian. Istrinya tidak bisa menemukan baby-sitter untuk ketiga anak mereka. Pilot-pilot itu menyapanya dengan hangat, menawarkan kopi dan buah-buahan sebelum lepas landas.

Ken menjemputnya di bandara dengan mobil van serta sopir perusahaan, dan seperempat jam kemudian mereka tiba di kantor pusat SuperHouse di pinggir kota Charlotte. Lonnie disambut oleh Ben, rekan satunya dari pertemuan pertama di Biloxi, lalu Ben dan Ken bersama-sama mengajaknya melihat-lihat perusahaan pusat mereka. Bangunan itu bam, bangunan bata satu lantai dengan banyak jendela dan sama sekali tak dapat dibedakan dengan selusin bangunan lain yang mereka lewati dalam perjalanan dari bandara. Lorong-lorongnya lebar dan berlapis keramik, tanpa noda; kantor-kantornya steril dan dilengkapi teknologi canggih. Lonnie serasa bisa mendengar bunyi uang dicetak.

Mereka minum kopi bersama George Teaker, CEO, di kantornya yang luas, dengan pemandangan ke halaman kecil yang penuh tanaman plastik Teaker tampak santai, penuh semangat, memakai denim (pakaian kantor untuk hari Sabtu, ia menjelaskan). Pada hari Minggu, ia memakai pakaian joging. Ia menjelaskan bisnis perusahaan itu pada Lonnie—perusahaan itu sedang berkembang pesat, dan mereka ingin ia bekerja di sana. Kemudian Teaker pergi untuk rapat.

198

Di dalam sebuah ruang pertemuan putih, kecil, dan tanpa jendela, Lonnie didudukkan di depan meja dengan kopi dan donat di hadapannya. Ben menghilang, tapi Ken tetap di sana. Ketika lampu diredupkan, sebuah gambar muncul pada dinding. Video sepanjang setengah jam mengenai SuperHouse—sejarah singkat-nya, posisinya saat ini di pasar, rencana perkembang-annya yang ambisius. Dan orang-orangnya, “aset se-jati”

Menurut naskah itu, SuperHouse merencanakan untuk meningkatkan nilai penjualan kotor dan jumlah tokonya sebanyak lima belas persen setahun, selama enam tahun mendatang. Labanya akan niencengangkan.

Lampu kembali menyala, dan seorang pemuda dengan nama yang mudah terlupakan muncul dan mengambil posisi di seberang meja. Ia adalah spesialis uang tunjangan, dan mempunyai segala jawaban untuk semua pertanyaan mengenai tunjangan kesehatan, tunjangan hari tua, liburan, cuti sakit, pembagian saham untuk pegawai. Segalanya dibahas dalam salah satu bundel di meja di hadapan Lonnie, jadi ia bisa mempertimbangkannya nanti.

Sesudah santap siang panjang bersama Ben dan Ken di restoran megah di tepi kota, Lonnie kembali ke ruang rapat tadi untuk beberapa pertemuan lagi. Satu mengenai program pelatihan yang mereka rencanakan untuknya. Berikutnya, dipresentasikan dengan video, adalah garis besar struktur perusahaan ini dalam kaitannya dengan induk perusahaan dan pesaingnya. Kebosanan menghunjam keras. Bagi orang yang sudah menghabiskan seminggu penuh dengan duduk mendengarkan para pengacara tawar-menawar

199

dengan para pakar, ini bukanlah cara menyenangkan untuk melewatkan Sabtu siang. Meskipun merasa bergairah dengan kunjungan ini dan prospeknya, ia tiba-tiba butuh udara segar.

Ken, tentu saja, tahu hal ini, dan begitu video itu habis, ia mengusulkan agar mereka pergi main golf, olahraga yang belum pernah dicoba Lonnie. Ken, tentu saja, tahu juga hal ini, maka ia mengatakan bahwa toh mereka butuh sinar matahari Mobil BMW Ken berwarna biru mulus, dan ia mengemudikannya dengan hati-hati ke daerah pedesaan, melewati tanah pertanian yang rapi, perumahan-perumahan, dan jalanan yang dinaungi pepohonan, hingga mereka sampai ke country club.

Bagi seorang laki-laki kulit hitam dari keluarga kelas menengah bawah di Gulfport, gagasan untuk menginjakkan kaki di country club terasa menciutkan hati. Mulanya Lonnie tidak menyukai gagasan itu, dan bersumpah akan pergi bila tidak melihat wajah hitam lainnya. Akan tetapi, setelah direnungkan kembali, ia merasa tersanjung bahwa majikannya yang baru begitu menghargainya. Mereka benar-benar orang-orang yang menyenangkan, tulus, dan kelihatan bersemangat agar ia menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan mereka. Sejauh ini belum ada pembicaraan mengenai uang, tapi tak mungkin jumlahnya lebih kecil daripada yang ia peroleh sekarang, bukan?

Mereka melangkah ke dalam Club Lounge, ruangan dengan kursi berjok kulit lintang pukang, berbagai permainan pada dinding, dan awan biru asap cerutu yang menggantung dekat langit-langit. Ruangan laki-laki yang serius. Di sebuah meja besar dekat jendela,

200

dengan lapangan golf delapan belas hole di bawahnya, mereka menemukan George Teaker, kini dalam pakaian golf, sedang minum bersama dua laki-laki kulit hitam yang juga berpakaian bagus dan jelas belum lama datang. Mereka bertiga berdiri dan dengan hangat menyambut Lonnie, yang merasa lega berjumpa dengan sesama orang kulit hitam. Beban berat di dadanya lenyap. dan ia mendadak siap untuk minum, padahal biasanya ia bersikap hati-hati dengan alkohol. Laki-laki kulit hitam berperawakan tegap itu adalah Morris Peel, periang, bersuara keras, dan terus-menerus tersenyum. Ia memperkenalkan laki-laki lainnya, Percy Kellum dari Atlanta. Dua laki-laki itu berusia lima puluhan. Setelah memesan minuman. Peel menjelaskan bahwa ia wakil direktur Listing Foods, induk perusahaan di New York, dan Kellum manajer regional atau entah apa pada Listing.

Tidak dijelaskan bagaimana susunan kedudukan mereka, tidak perlu. Sudah jelas bahwa Peel, dari induk perusahaan di New York, berkedudukan lebih tinggi daripada Teaker, yang meskipun menyandang gelar CEO, hanya mengelola satu divisi. Kellum berkedudukan lebih rendah di urutan itu. Ken bahkan lebih rendah lagi. Dan Lonnie pun merasa senang berada di sana. Sambil menikmati minuman kedua, sesudah basa-basi sopan dan rasa sungkan hilang, Peel, dengan bersemangat dan sikap humor, mencentakan perjalanan kariemya. Enam belas tahun lalu, ia manajer menengah kulit hitam pertama yang memasuki dunia Listing Foods, dan ia membuat banyak kesulitan. Ia dipekerjakan hanya sebagai hiasan, bukan karena ke-mampuannya, dan kemajuan kariernya benar-benar

201

merayap. Dua kali ia menggugat perusahaan, dan dua kali ia memenangkannya. Ketika bos-bos besar di atas menyadari bahwa ia bertekad untuk bergabung dengan mereka, dan ia punya otak untuk melakukan hal itu, mereka pun menerimanya sebagai pribadi Memang masih tidak mudah, tapi setidaknya ia mendapatkan rasa hormat mereka. Teaker, sambil minum wiskinya yang ketiga, mencondongkan tubuh dan berbisik, diam-diam tentunya, bahwa Peel sedang dipersiapkan untuk pekerjaan besar itu. “Dia mungkin akan menjadi CEO untuk masa mendatang,” katanya pada Lonnie. “Salah satu CEO kulit hitam pertama dari perusahaan Fortune 500.”

Karena Peel, Listing Foods sudah mengimple-mentasikan program yang agresif untuk merekrut dan mempromosikan manajer-manajer kulit hitam. Di sinilah Lonnie memasuki tempat yang tepat. Hadley Brothers memang perusahan yang cukup baik, tapi agak kuno dan bersifat Selatan. Listing tidak terkejut menemukan temyata hanya beberapa orang kulit hitam yang wewenangnya lebih besar daripada sekadar menjadi penyapu lantai.

Selama dua jam, sementara kegelapan turun me-nyelubungi lapangan golf dan seorang pemain piano bemyanyi di lounge, mereka minum dan bercakap-cakap dan merencanakan masa depan. Santap malam sudah disiapkan dalam ruang makan pribadi, dengan perapian dan kepala menjangan besar di atasnya. Mereka makan steak tebal dibumbui saus dan jamur. Malam itu Lonnie tidur dalam suite di lantai tiga country club itu. Ketika bangun, ia melihat pemandangan indah di luar kamarnya, namun sedikit pening.

202

Hanya ada dua pertemuan pendek lain untuk Ming-gu pagi ini. Yang pertama, sekali lagi dihadiri oleh Ken, rapat perencanaan dengan George Teaker yang masih berpakaian joging dan baru saja pulang dari lari sejauh delapan kilometer. “Cara terbaik di dunia untuk menghilangkan sisa pusing,” katanya. Ia ingin Lonnie mengelola toko di Biloxi dengan kontrak baru untuk jangka waktu sembilan puluh hari, sesudah itu mereka akan mengevaluasi prestasinya. Dengan asumsi bahwa semuanya senang, dan mereka memang berharap demikian, ia akan ditransfer ke toko yang lebih besar, mungkin di daerah Atlanta. Toko yang lebih besar berarti tanggung jawab yang lebih berat, dan penghasilan yang lebih tinggi. Sesudah satu tahun di sana, ia akan dievaluasi kembali, dan mungkin akan dipindahkan lagi. Selama lima belas bulan ini. ia sedikitnya diharapkan melewatkan satu akhir pekan setiap bulan di Charlotte untuk mengikuti program pelatihan menajemen, yang diuraikan secara sangat terperinci dalam salah satu paket di meja.

Teaker akhirnya selesai, dan memesan kopi tanpa krim lagi.

Tamu terakhir adalah seorang laki-laki muda kulit hitam berperawakan kurus, dengan kepala botak serta jas dan dasi rapi. Namanya Taunton, pengacara dari New York, tepatnya dari Wall Street, la menjelaskan dengan serius bahwa biro hukumnya mewakili Listing Foods, dan ia tidak menangani pekerjaan lain kecuali bisnis Listing. Ia datang untuk mempresentasikan usul kontrak pekerjaan, sebenarnya masalah rutin, tapi toh penting. Ia mengangsurkan dokumen kepada Lonnie, hanya tiga atau empat halaman, tapi serasa jauh

203

lebih berat karena datangnya dari pengacara Wall Street. Lonnie merasa sangat terkesan.

“Periksalah,” kata Taunton sambil mengetuk dagu dengan sepucuk pena buatan desainer. “Dan kita akan membicarakannya minggu depan. Kontrak ini standar. Pada paragraf mengenai pendapatan, ada beberapa bagian yang kosong. Kita akan mengisinya kelak.”

Lonnie melihat sepintas halaman pertama, kemudian meletakkannya bersama kertas, bungkusan, dan memo di tumpukan yang makin lama makin tebal. Taunton mengeluarkan buku tulis, gayanya seperti pengacara yang akan melakukan pemeriksaan silang hebat. “Hanya beberapa pertanyaan,” katanya.

Lonnie membayangkan adegan ulang yang mengesalkan di Biloxi, ketika para pengacara selalu mengajukan “hanya beberapa pertanyaan”.

“Baiklah,” kata Lonnie, melirik arlojinya. la tak dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal itu.

“Tidak ada catatan tindak kejahatan apa pun?”

“Tidak. Hanya beberapa surat tilang.”

“Tidak ada gugatan hukum terhadap Anda pribadi?”

‘Tidak.” ‘

‘Terhadap istri Anda?”

‘Tidak?”

“Apakah Anda pernah mengajukan surat pernyataan bangkrut ke pengadilan?” “Tidak.”

“Pernah ditahan?”

‘Tidak.”

“Didakwa?”

204

Tidak.”

Taunton membalik satu halaman. “Apakah Anda, ť dalam kapasitas sebagai manajer toko, pemah terlibat dalam perkara pengadilan?”

“Yeah, coba saya ingat-ingat. Sekitar empat tahun yang lalu, seorang laki-laki tua tergelincir dan jatuh di lantai yang basah. Dia menggugat. Saya memberikan kesaksian.”

“Apakah perkara ini sampai disidangkan?” Taunton bertanya dengan sangat tertarik. Ia sudah memeriksa berkas pengadilan, punya kopinya dalam tasnya yang besar, dan tahu setiap detail tuntutan laki-laki tua itu.

‘Tidak. Perusahaan asuransi membereskan persoalannya di luar pengadilan. Saya rasa mereka membayarnya sekitar 20.000 dolar.”

Jumlahnya adalah 25.000 dolar, Taunton sudah menulis angka ini pada buku tulisnya. Menurut skenario, Teaker harus berbicara pada titik ini. “Pengacara pengadilan terkutuk. Mereka penyakit dalam masyarakat.”

Taunton memandang Lonnie, lalu Teaker, kemudian berkata dengan sikap defensif, “Aku bukan pengacara pengadilan.”

“Oh, aku tahu itu,” kata Teaker. “Kau salah satu dari pihak yang baik. Pengacara-pengacara yang mengais keuntungan dari korban kecelakaan itulah yang kubenci.”

“Tahukah Anda, berapa yang kami bayarkan untuk liability insurance?” Taunton menanyai Lonnie, seolah-olah Lonnie bisa mengajukan dugaan pintar. Ia cuma menggelengkan kepala.

“Listing membayar 20 juta lebih.”

205

“Hanya untuk mengusir hiu-hiu itu,” Teaker menambahkan.

Percakapan itu terhenti dengan dramatis, atau mungkin jeda itu disengaja untuk menimbulkan kesan dramatis sewaktu Taunton dan Teaker menggigit bibir dan memperlihatkan rasa muak mereka, dan sepertinya memikirkan uang yang terhambur untuk perlindungan terhadap gugatan. Kemudian Taunton melihat sesuatu pada buku tulisnya, melirik Teaker, dan bertanya, “Kurasa Anda belum bicara tentang sidang itu, bukan?”

Teaker tampak terperanjat. “Kurasa itu tidak perlu. Lonnie sudah bergabung dengan kita. Dia salah satu dari kita.”

Taunton tampaknya mengabaikan ucapan ini. “Sidang perkara tembakau di Biloxi ini mempunyai im-plikasi serius pada seluruh perekonomian, terutama untuk perusahaan-perusahaan seperti kita,” katanya pada Lonnie, yang mengangguk sedikit dan mencoba memahami bagaimana sidang itu bisa mempengaruhi siapa pun selain Pynex.

Teaker berkata pada Taunton, “Perlukah kau membicarakan hal ini?”

Taunton meneruskan, ‘Tidak apa. Aku tahu prosedur sidang. Anda tidak keberatan, bukan, Lonnie? Maksudku, kami bisa mempercayaimu dalam hal ini, bukan?”

‘Tentu. Saya tidak akan mengucapkan sepatah kata pun.”

“Apabila penggugat memenangkan perkara ini dan berhasil mendapatkan vonis besar, pintu tanggul gugatan terhadap perusahaan rokok akan terbuka. Pengacara-pengacara itu akan menggila. Mereka akan membuat perusahaan-perusahaan rokok bangkrut.”

206

“Kita mendapat banyak keuntungan dari penjualan rokok, Lonnie,” kata Teaker dengan pengaturan waktu yang sempurna.

“Kemudian mereka mungkin akan menggugat pabrik susu dengan menyatakan bahwa kolesterol membunuh orang,” Suara Taunton meninggi dan ia mencondongkan tubuh ke depan meja. Urusan ini membuatnya gusar. Sidang-sidang seperti ini harus diakhiri. Industri tembakau tidak pernah kalah dalam perkara-perkara tersebut, Kurasa rekornya adalah 55 menang, tanpa kalah. Orang-orang yang duduk sebagai juri selalu mengerti bahwa kau merokok atas risiko sendiri.”

“Lonnie mengerti ini,” kata Teaker, nyaris defensif.

Taunton menghela napas dalam-dalam. ‘Tentu. Maaf kalau aku bicara terlalu banyak. Cuma masalahnya, banyak yang dipertaruhkan dalam sidang di Biloxi ini.”

‘Tidak apa,” kata Lonnie. Dan ia benar-benar tidak terusik oleh percakapan itu. Apalagi Taunton pengacara, dan sudah pasti tahu hukum, dan mungkin tidak jadi masalah bila ia bicara mengenai sidang ini secara luas tanpa inemperbincangkan masalah spesi-fiknya. Lonnie puas. Ia sudah bergabung. Tak ada masalah darinya.

Taunton tiba-tiba jadi penuh senyum ketika mengemasi catatan, dan berjanji untuk menelepon Lonnie pertengahan minggu itu. Pertemuan itu selesai dan Lonnie pun bebas. Ken mengantarnya ke bandara. Jet Lear yang sama serta pilot-pilot dengan senyum ramah itu sudah duduk menunggunya.

Prakiraan cuaca menjanjikan kemungkinan hujan pada

207

siang hari, dan itulah yang ingin didengar Stella. Cal bersikeras bahwa tidak ada awan, namun istrinya tak mau melihat. Ia menutup tirai dan menonton film hingga sore. Ia memesan grilled cheese dan dua gelas bloody mary, lalu tidur beberapa lama dengan kunci rantai terpasang pada pintu dan kursi disandarkan ke daunnya. Cal pergi ke pantai, tepatnya ke pantai topless yang pernah ia dengar, tapi tak pernah ia kunjungi karena ada istrinya. Karena sekarang si istri terkunci aman di dalam kamar mereka di lantai sepuluh, ia bebas berkeliaran di pasir, mengagumi tubuh-tubuh muda. Ia meneguk bir di bar beratap jerami dan melamun betapa indah perjalanan ini jadinya. Istrinya takut dilihat, jadi amanlah kartu kreditnya selama akhir pekan ini.

Hari Minggu, mereka menumpang pesawat pagi dan kembali ke Biloxi. Stella pusing dan letih karena akhir pekan yang menegangkan. Ia khawatir menghadapi hari Senin dan ruang sidang.

208

Tiga Belas

Sapaan halo dan apa kabar pada Senin pagi itu terdengar tidak bergairah Acara rutin berkumpul di sekitar poci kopi serta memeriksa donat dan bolu gulung jadi kian membosankan, bukan karena sudah biasa tapi karena misteri yang menekan, tidak mengetahui berapa lama semua ini akan berlangsung. Mereka terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil, menceritakan apa yang terjadi selama waktu bebas mereka sepanjang akhir pekan. Sebagian besar menyelesaikan tugas-tugi>s rumah tangga, berbelanja, mengunjungi keluarga, dan pergi ke gereja: semua kegiatan menjemukan itu jadi penting bagi orang-orang yang akan dikurung. Herman terlambat, maka muncullah bisik-bisik mengenai sidang itu; tidak ada yang penting, cuma konsensus bahwa saksi-saksi penggugat mulai tenggelam dalam lumpur bagan. grafik, dan statistik. Mereka semua sudah percaya bahwa merokok menyebabkan kanker paru-paru. Mereka ingin informasi baru.

Nicholas berhasil mengajak bicara Angel Weese pagi ini. Mereka sudah bertukar basa-basi sepanjang sidang itu, tapi tidak pernah mempercakapkan sesuatu

209

yang penting. Hanya Angel dan Loreen Duke wanita kulit hitam dalam dewan juri ini, dan anehnya mereka selalu saling menjauh. Angel masih lajang, ramping, dan pendiam, serta bekerja pada distributor bir. Parasnya seperti orang yang menyimpan penderitaan terpendam, dan ia terbukti sulit diajak berbicara.

Stella datang terlambat dan tampak menyedihkan; matanya merah dan sembap, kulitnya pucat. Tangannya gemetar ketika menuang kopi, dan ia langsung pergi ke ruang merokok di ujung gang, tempat Jerry Fernandez dan Poodle sedang bercakap-cakap dan main mata, seperti yang cenderung mereka lakukan sekarang. .

Nicholas sangat ingin mendengar laporan akhir pekan Stella. “Mau merokok?”-tanyanya pada Angel, perokok resmi keempat dalam dewan juri itu.

“Kapan kau mulai?” kata Angel dengan seulas senyumnya yang Iangka.

“Minggu lalu. Aku akan berhenti bila sidang ini berakhir.” Mereka meninggalkan ruang juri di bawah tatapan tajam Lou Dell, dan bergabung dengan yang lain—Jerry dan Poodle masih berbicara; Stella menunjukkan wajah membatu dan sepertinya sudah ber-dda di tepi keruntuhan mental.

Nicholas mengambil sebatang Camel dari Jerry, dan menyalakannya dengan korek. “Well, bagaimana dengan Miami?” ia bertanya pada Stella.

Stella tersentak, memalingkan kepala ke arahnya dengan terperanjat, dan berkata, “Di sana hujan.” Ia menggigit filter rokoknya dan menyedot dengan hebat. Ia tak ingin bicara. Percakapan terhenti ketika mereka memusatkan perhatian pada rokok masing-masing. Saat itu pukul 08.50, saat terakhir untuk menikmati nikotin.

210

“Aku merasa diikuti akhir pekan ini,” kata Nicholas sesudah diam semenit.

Acara merokok itu diteruskan tanpa interupsi, tapi otak masing-masing bekerja. “Apa katamu?” tanya Jerry.

“Mereka menguntitku,” ia mengulangi dan memandang Stella yang matanya melebar penuh ketakutan. “Siapa?” tanya Poodle.

“Aku tidak tahu. Kejadiannya hari Sabtu, ketika aku meninggalkan apartemenku dan pergi bekerja. Aku melihat seorang laki-laki mengintai dekat mobilku, kemudian aku melihatnya lagi di mall. Mungkin agen yang disewa perusahaan rokok itu.”

Mulut Stella ternganga dan rahangnya gemetar. Asap kelabu merembes dari hidungnya. “Apakah kau akan memberitahu Hakim?” ia bertanya sambil menahan napas. Itulah pertanyaan yang ia perdebatkan dengan Cal.

‘Tidak.”

“Mengapa tidak?” tanya Poodle, hanya ingin tahu.

“Aku tidak tahu pasti, oke? Maksudku, aku yakin aku diikuti, tapi aku tidak tahu pasti siapa orangnya. Apa yang harus kuceritakan pada Hakim?”

“Katakan padanya kau dikuntit,” kata Jerry.

“Mengapa mereka menguntitmu?” tanya Angel.

“Karena alasan yang sama mengapa mereka menguntit kita semua.”

“Aku tidak percaya itu,” kata Poodle.

Stella sudah tentu mempercayainya, tapi bila Nichor las, si mantan mahasiswa hukum, merencanakan untuk tidak bercerita kepada Hakim, ia pun akan berbuat yang sama.

211

“Mengapa mereka menguntit kita?” Angel bertanya lagi dengan cemas.

“Sebab itulah tugas mereka. Perusahaan rokok menghabiskan berjuta-juta dolar dalam memilih kita, dan sekarang mereka menghamburkan lebih banyak lagi untuk mengawasi kita.”

“Apa yang mereka cari?”

“Cara untuk mendekati kita. Teman-teman yang mungkin kita ajak bicara. Tempat-tempat yang mungkin kita kunjungi. Mereka mungkin akan memulai gosip di berbagai lingkungan tempat kita tinggal. desas-desus kecil mengenai almarhum, hal-hal buruk yang dia lakukan ketika masih hidup. Mereka selalu mencari titik lemah. Itulah sebabnya mereka tidak pernah kalah dalam sidang.”

“Bagaimana kau tahu ini ulah perusahaan tembakau itu?” tanya Poodle, menyalakan sebatang rokok lagi.

“Aku tidak tahu. Tapi mereka punya uang lebih banyak daripada penggugat. Bahkan sebenarnya mereka punya dana tak terbatas untuk memerangi kasus ini.”

Jerry Fernandez, yang selalu siap membantu dengan lelucon atau gurauan, berkata, “Kalian tahu, sesudah dipikir-pikir, aku ingat pernah melihat laki-laki kecil yang aneh mengintipku dari sebuah sudut pada akhir pekan ini. Lebih dari sekali aku melihatnya.” Ia memandang Nicholas, menanti persetujuan. namun Nicholas sedang mengawasi Stella. Jerry mengedipkan mata pada Poodle, tapi Poodle tidak melihatnya. Lou Dell mengetuk pintu.

Tidak ada Janji Kesetiaan atau lagu kebangsaan pada

212

Senin pagi itu. Hakim Harkin dan para pengacara menunggu, siap melompat ke depan untuk memperagakan patriotisme bila ada tanda-tanda para juri akan melakukannya, tapi tidak terjadi apa-apa. Para anggota juri duduk di tempat mereka, sepertinya sudah letih dan jemu mendengarkan kesaksian sepanjang satu minggu lagi. Harkin melontarkan senyum hangat sebagai sambutan, kemudian meneruskan dengan mono-lognya mengenai kontak tidak sah. Stella memandang lantai tanpa sepatah kata pun. Cal menyaksikan dari deretan ketiga, hadir untuk memberikan dukungan kepadanya.

Scotty Mangrum berdiri dan memberitahu sidang bahwa pihak penggugat ingin kembali pada kesaksian Dr. Hilo Kilvan, yang dijemput dari belakang dan dibawa ke tempat saksi. Ia mengangguk sopan kepada juri. Tak seorang pun balas mengangguk.

Bagi Wendall Rohr dan kelompok pengacara di pihak penggugat, akhir pekan itu tidak memberikan istirahat pada kerja keras mereka. Sidang itu sendiri sudah memberikan cukup tantangan, tetapi gangguan faks dari MM pada hari Jumat telah menghancurkan ilusi bahwa segalanya beres-beres saja. Mereka melacak sumber faks itu ke pangkalan truk dekat Hattiesburg, dan sesudah menerima sejumlah uang kontan, seorang pelayan memberikan deskripsi lemah tentang seorang wanita muda, akhir dua puluhan, mungkin awal tiga puluhan, dengan rambut gelap di bawah topi memancing, wajahnya setengah tertutup oleh kacamata hitam besar. Ia pendek, mungkin hanya rata-rata. Mungkin sekitar 165 atau 167 senti. Perawakannya ramping, itu pasti, tapi saat itu belum lagi pukul

213

sembilan pagi hari Jumat, salah satu saat paling sibuk bagi mereka. la membayar lima dolar untuk mengirim selembar faks ke sebuah nomor di Biloxi, sebuah kantor hukum; rasanya aneh, karena itulah pelayan tersebut ingat. Kebanyakan faks mereka mengenai izin pengangkutan muatan khusus dan bahan bakar.

Tidak ada tanda-tanda mengenai kendaraannya, tapi sekali lagi tempat itu memang penuh. Menurut pendapat kolektif delapan pengacara penggugat itu, yang jumlah pengalaman sidangnya sebanyak 150 tahun, ini sesuatu yang baru. Belum pernah ada sidang di mana seseorang dari luar menghubungi pengacara yang terlibat, dengan petunjuk tentang apa yang akan dilakukan oleh juri. Mereka semua berpendapat bahwa ia, MM, akan kembali. Dan meski pada mulanya tak mau mengakui, sepanjang akhir pekan mereka dengan berat hati tiba pada keyakinan bahwa perempuan itu akan meminta uang. Menawarkan kesepakatan. Uang sebagai ganti vonis.

Akan tetapi, mereka tidak berani menyusun strategi dalam membuat kesepakatan dengannya bila ia ingin bernegosiasi. Mungkin nanti. tapi tidak sekarang.

Di lain pihak, Fitch sangat antusias. The Fund saat ini memiliki saldo sebesar 6,5 juta dolar, 2 juta dolar dianggarkan untuk biaya sidang yang tersisa. Uang itu bisa dicairkan dan digerakkan dengan sangat leluasa. Ia melewatkan akhir pekan dengan memantau para juri, berunding dengan para pengacara, dan mendengarkan ringkasan penelitian dari para konsultan juri, dan ia menyempatkan berbicara di telepon dengan D. Martin Jankle di Pynex. Ia gembira dengan hasil

214

pekerjaan Ken dan Ben di Charlotte. George Teaker meyakinkannya bahwa Lonnie Shaver bisa dipercaya. Ia bahkan menonton rekaman video tersembunyi dari pertemuan terakhir, ketika Taunton dan Teaker meyakinkan Shaver untuk menandatangani janji kesetiaan.

Fitch tidur empat jam pada hari Sabtu dan lima jam pada hari Minggu, sekitar jatah rata-ratanya, meskipun sebenarnya ia sulit tidur. Ia bermimpi mengenai perempuan bernama Marlee itu dan apa yang mungkin dibawanya. Ini mungkin vonis yang paling mudah selama ini.

Ia menyaksikan upacara pembukaan pada hari Senin dari ruang pengamatnya, bersama seorang konsultan juri. Kamera tersembunyi itu begitu efektif, sehingga mereka memutuskan untuk mencoba yang lebih bagus lagi, kamera dengan lensa lebih besar dan gambar lebih jelas. Kamera itu disimpan dalam tas yang sama dan diletakkan di bawah meja yang sama, dan tak seorang pun di dalam ruang sidang yang sibuk itu tahu.

Tidak ada pengucapan Janji Kesetiaan, tidak ada yang luar biasa, tetapi Fitch sudah memperkirakan hal ini. Sudah tentu Marlee akan menelepon bila akan ada sesuatu yang istimewa.

Ia mendengarkan sewaktu Dr. Hilo Kilvan kembali memberikan kesaksian, dan hampir-hampir tersenyum pada diri sendiri ketika para juri itu tampak bosan. Para konsultan dan pengacaranya sepakat bahwa saksi-saksi dari pihak penggugat belum berhasil membuat para juri mengambil keputusan. Pakar-pakar itu memang mengesankan dengan catatan prestasi dan dukungan visual, tetapi pihak tergugat sudah pernah melihat semua itu.

215

Pembelaannya akan sederhana dan halus. Dokter-dokter mereka akan membantah keras bahwa merokok tidak menyebabkan kanker paru-paru. Pakar-pakar he-bat lainnya akan mengatakan bahwa dalam merokok, orang-orang mengambil suatu pilihan yang sudah mereka ketahui risikonya. Pengacara-pengacara mereka akan mengajukan dalih bahwa bila rokok dianggap demikian berbahaya, orang merokok atas risiko sendiri.

Fitch sudah berkali-kali menyaksikan yang seperti ini. Ia sudah hafal dengan kesaksiannya. Ia sudah bosan mendengar argumentasi yang diajukan para pengacara itu. la pernah berdebar-debar ketika juri berunding untuk mengambil keputusan. Ia diam-diam bersorak atas vonis-vonisnya, tapi ia tak pernah punya kesempatan untuk membeli vonis tersebut.

Setiap tahun, rokok membunuh 400.000 orang Amerika, demikian menurut Dr. Kilvan, dan ia punya empat grafik besar untuk membuktikannya. Rokok adalah produk paling mematikan di pasaran, tak ada lainnya yang lebih berbahaya. Kecuali senapan, dan senapan tentu saja tidak dirancang untuk dibidikkan dan ditembakkan kepada segala orang. Rokok dirancang untuk dinyalakan dan disedot; jadi rokok dipakai dengan semestinya, dan mematikan bila dipakai tepat seperti yang dimaksudkan.

Alasan ini mengena pada juri, dan tidak akan dilupakan. Tetapi pukul setengah sebelas, mereka sudah siap untuk istirahat minum kopi. Hakim Harkin memberikan reses selama lima belas menit. Nicholas menyisipkan sehelai catatan pada Lou Dell, yang memberikannya pada Willis, yang saat itu kebetulan sedang

216

bangun. Ia membawa catatan itu pada Hakim. Easter ingin berbicara secara pribadi siang ini, bila memungkinkan. Urusan mendesak.

Nicholas minta diri tidak ikut makan siang, dengan penjelasan bahwa perutnya mual dan ia kehilangan selera. la perlu pergi ke kamar kecil, katanya, dan sebentar lagi akan kembali. Tak seorang pun peduli. Kebanyakan toh meninggalkan meja untuk menghindar berada di dekat Stella Hulic.

Ia menyusuri lorong belakang yang sempit dan masuk ke kantor tempat Hakim sedang menunggu, seorang diri dengan sandwich dingin. Mereka saling menyapa dengan tegang. Nicholas membawa tas kulit cokelat kecil. “Kita perlu bicara,” katanya sambil duduk.

“Apakah yang Iain tahu Anda ada di sini?” tanya Harkin.

“Tidak. Tapi saya harus cepat.”

‘Teruskan.” Harkin makan keripik jagung dan menyisihkan piringnya.

‘Tiga hal. Stella Hulic, nomor 4, deretan depan, pergi ke Miami akhir pekan ini, den dia dikuntit orang-orang tak dikenal yang diyakini bekerja untuk perusahaan rokok.”

Yang Mulia berhenti mengunyah. “Bagaimana Anda tahu?”

“Saya kebetulan mendengar percakapan tadi pagi. Dia mencoba membisikkan hal ini pada seorang anggota juri lainnya. Jangan tanya saya, bagaimana dia tahu dia dikuntit—saya tidak mendengar semuanya. Tapi perempuan malang itu ketakutan. Terus terang,

217

saya pikir dia tentu minum minuman keras sebelum sidang pagi ini. Mungkin vodka. Mungkin bloody mary.”

‘Teruskan.”

“Kedua, Frank Herrera, nomor 7. Kita sudah bicara tentang dia. Dia sudah mengambil keputusan, dan saya khawatir dia berusaha mempengaruhi yang lain.”

“Saya mendengarkan.”

“Dia masuk ke sidang ini dengan pendapat yang sudah bulat. Saya rasa dia memang ingin jadi anggota juri; dia pensiunan milker, mungkin bosan setengah mati, tapi dia sangat pro dengan tergugat, dan… well, saya jadi khawatir. Saya tidak tahu apa yang akan Anda lakukan dengan juri seperti itu.”

“Apakah dia membicarakan perkara ini?”

“Sekali, dengan saya. Herman sangat bangga dengan gelarnya sebagai ketua, dan dia tidak mentolerir siapa pun berbicara mengenai sidang.”

“Bagus.”

“Tapi dia tidak bisa memantau segalanya. Dan seperti Anda ketahui, well, sudah jadi sifat manusia untuk bergosip. Bagaimanapun, Herrera itu racun.”

“Oke. Dan yang ketiga?”

Nicholas membuka tas kulitnya dan mengambil kaset video. “Apakah ini bisa dipakai?” ia bertanya sambil mengangguk ke TV/VCR berlayar kecil di atas meja beroda di sudut.

“Saya rasa begitu. Minggu lalu bisa jalan.”

“Boleh saya pakai?”

“Silakan.”

Nicholas menekan tombol on dan memasukkan kaset itu. “Anda ingat laki-laki yang saya lihat di

218

ruang sidang minggu lalu? Orang yang mejiguntit

saya?”

“Ya.” Harkin berdiri dan berjalan mendekati layar TV hingga hanya terpisah setengah meter. “Saya ingat.”

“Nan, ini orangnya.” Dalam gambar hitam-putih, sedikit kabur, tapi cukup jelas untuk membedakan, pintu terbuka dan laki-laki itu memasuki apartemen Easter. Ia melihat berkeliling dengan waspada, dan beberapa lama seperti memandang ke arah kamera yang tersembunyi di ventilasi udara, di atas lemari es. Nicholas menghentikan video saat wajah laki-laki itu sepenuhnya terlihat frontal, dan berkata, “Itu dia.”

Hakim Harkin mengulangi tanpa bernapas, “Yeah, itu dia.”

Kaset itu terus berputar dengan laki-laki tersebut (Doyle) datang dan pergi, mengambil foto, membungkuk dekat komputer, lalu pergi dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Layar kosong.

“Kapan…?” Harkin bertanya perlahan-lahan, masih tetap menatap.

“Sabtu sore. Saya bekerja dalam shift delapan jam. Orang ini menerobos masuk ketika saya bekerja.” Tidak sepenuhnya benar, tapi Harkin takkan pernah tahu bedanya. Nicholas sudah memprogram kembali video itu untuk memperlihatkan jam dan tanggal hari Sabtu di bagian kanan bawah.

“Mengapa Anda…”

“Saya pernah dirampok dan dianiaya lima tahun yang lalu, ketika say* tinggal di Mobile; saya hampir mati. Terjadi ketika apartemen saya dibongkar. Saya berhati-hati dengan keamanan, itu saja.”

219

Penjelasan ini membuat segalanya bisa diterima; adanya peralatan pengamat canggih di apartemen burnt; komputer dan kamera diri hasil upah minimum. Laki-laki ini takut dengan kekerasan. Semua orang bisa memahami hal itu. “Anda ingin melihatnya lagi?”

‘Tidak. Memang itu orangnya.”

Nicholas mengambil kaset dan menyerahkannya pada Hikim. “Simpanlah. Saya punya satu kopi lain.”

Acara makan Fitch terinterupsi ketika Konrad mengetuk pintu dan menggumamkan kata-kata yang sangat ingin didengar Fitch, “Perempuan itu di telepon.”

Ia menyeka mulut dan jenggotnya dengan punggung tangan, dan meraup gagang telepon. “Halo.”

“Fitch baby” katanya. “Ini aku, Marlee.”

“Ya, Sayang.”

“Entah siapa nama orang itu, tapi dia adalah pesuruh yang kaukirim ke apartemen Easter pada hari Kamis, tanggal 19, sebelas hari yang lalu, tepatnya pukul 16.52.” Fitch tercekat dan terbatuk menyemburkan gumpalan-gumpalan sandwich. Ia mengumpat diam-diam dan berdiri tegak. Perempuan itu meneruskan, “Kejadiannya tepat sesudah aku mem-berimu catatan bahwa Nicholas akan memakai kemeja golf abu-abu dan celana khaki, kau ingat?”

“Ya,” kata Fitch parau.

“Nah, kemudian kau mengirim begundalmu itu ke ruang sidang, mungkin untuk mencariku. Rabu lalu, tanggal 25. Langkah yang cukup tolol, sebab Easter mengenalinya dan mengirim Catalan pada Hakim, yang juga jadi mengamati dengan waspada. Apakah kau mendengarkan, Fitch?”

220

Mendengarkan, tapi tidak bernapas. “Ya!” tegasnya.

“Nah, sekarang Hakim tahu orang itu masuk ke apartemen Easter, dan dia menandatangani surat pe-nangkapannya. Jadi, suruh dia pergi meninggalkan kota segera, atau kau akan dipermalukan. Bahkan mungkin ditangkap.”

Seratus pertanyaan berkecamuk hebat dalam otak Fitch, tapi ia tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan itu takkan terjawab. Bila Doyle entah bagaimana dikenali dan ditangkap, dan bila ia bicara terlalu banyak, nah, akibatnya sungguh tak terbayangkan. Membongkar paksa dan memasuki rumah orang merupakan tindak kejahatan di mana pun di planet ini, dan Fitch hams bergerak cepat. “Ada yang lainnya?” katanya.

‘Tidak. Itu saja untuk sementara ini.”

Doyle seharusnya sedang makan di meja dekat jendela restoran Vietnam, empat blok dari gedung pengadilan, tapi ia sebenarnya sedang main blackjack dua dolaran di Lucky Luck ketika beeper di ikat pinggangnya berbunyi. Dari Fitch, di kantor. Tiga menit kemudian, Doyle sudah menuju ke timur di Highway 90, sebab batas negara bagian Alabama lebih dekat daripada Louisiana. Dua jam kemudian ia terbang ke Chicago.

Fitch butuh satu jam untuk menggali dan memastikan tidak ada surat perintah penahanan yang dikeluarkan untuk Doyle Dunlap, atau orang tanpa nama dengan ciri-cirinya. Tapi ini belum melegakan hati. Faktanya tetap mengatakan bahwa Marlee tahu mereka memasuki apartemen Easter.

Tapi bagaimana dia tahu? Itulah pertanyaan besar yang meresahkan. Fitch berteriak pada Konrad dan

221

Pang di balik pintu yang terkunci. Baru tiga jam kemudian mereka menemukan jawabannya.

Pukul setengah empat, Senin, Hakim Harkin menghentikan kesaksian Dr. Kilvan dan mengirimnya pu-lang. Ia mengumumkan kepada para pengacara yang terkejut itu bahwa ada beberapa masalah serius mengenai juri yang harus ditangani dengan segera la mengirim para anggota juri kembali ke ruangan mereka dan memerintahkan seluruh penonton keluar dari ruang sidang. Jip dan Rasco menggiring mereka pergi, lalu mengunci pintu.

Oliver McAdoo pelan-pelan menggeser tas di bawah meja dengan kaki kirinya yang panjang, hingga kamera itu terarah ke meja hakim. Di sampingnya ada empat tas dan koper lain, juga dua kotak kardus yang penuh dengan berkas kesaksian dan dokumen hukum lain. McAdoo tidak yakin apa yang akan terjadi, tapi ia mengasumsikan bahwa Fitch ingin menyaksikannya, dan asumsinya ternyata benar.

Hakim Harkin berdeham dan berbicara kepada kawanan pengacara yang memandangnya dengan penuh perhatian. “Saudara-saudara, saya mendapat informasi bahwa ada beberapa anggota juri kita yang merasa dikuntit dan diawasi. Saya punya bukti jelas bahwa setidaknya salah satu juri telah menjadi korban pembobolan apartemen.” Ia membiarkan kata-kata ini mengendap, dan itulah yang terjadi. Pengacara-peng-acara itu terperangah, masing-masing pihak merasa dirinya tidak bersalah melakukan pelanggaran apa pun, dan langsung menimpakan kesalahan ke tempatnya—di pihak lawan

222

“Sekarang, saya punya dua pilihan. Saya bisa mengumumkan bahwa sidang ini batal, atau saya bisa mengarantina dewan juri. Saya cenderung mengambil pilihan kedua. betapapun tidak enaknya pilihan ini. Mr. Rohr?”

Rohr berdiri lamban, sekali ini ia tidak tahu apa yang harus diucapkan. “Uh, aduh, Yang Mulia, kami sungguh tidak suka menyaksikan pembatalan sidang. Maksud saya, saya yakin kami tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.” Ia melirik ke meja pembela sambil mengucapkan ini. “Ada yang membongkar masuk apartemen anggota juri?” ia bertanya.

“Itulah yang saya katakan. Sebentar lagi akan saya perlihatkan buktinya. Mr. Cable?”

Sir Durr berdiri dan mengancingkan jasnya dengan baik. “Kejadian ini cukup mengguncang, Yang Mulia.”

“Memang.”

“Saya sungguh tidak bisa menanggapi, sampai saya mendengar lebih banyak,” ia berkata sambil membalas pandangan curiga ke arah para pengacara yang jelas di pihak bersalah, penggugat.

“Baiklah. Bawa masuk juri nomor 4, Stella Hulic,” Yang Mulia memberi instruksi kepada Willis. Stella sangat ketakutan dan sudah pucat pasi ketika kembali ‘ memasuki ruang sidang.

“Silakan duduk di tempat saksi, Mrs. Hulic. Ini tidak akan makan waktu lama.” Hakim tersenyum meyakinkan dan melambaikan tangan ke kursi dalam boks juri. Stella melontarkan pandangan liar ke segala penjuru ketika duduk.

‘Terima kasih. Nah, Mrs. Hulic, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada Anda.”

223

Ruang sidang itu jadi sunyi senyap ketika para pengacara memegangi pena tanpa menghiraukan buku tulis keramat mereka, menunggu rahasia besar terungkap. Sesudah empat tahun peperangan prasidang, mereka boleh dikatakan sudah mengetahui sebelumnya, apa yang akan diucapkan oleh setiap saksi. Prospek mendengarkan pernyataan saksi yang belum dilatih dulu terasa menegangkan

Sudah pasti wanita ini akan mengungkapkan dosa mengerikan yang dilakukan oleh pihak lain. Dengan menyedihkan ia mengangkat muka memandang Hakim. Seseorang telah membuntutinya dan menakut-nakuti-nya.

“Apakah Anda pergi ke Miami akhir pekan ini?” “Ya, Sir,” jawabnya perlahan-lahan. “Bersama suami Anda?”

“Ya.” Cal sudah meninggalkan ruang sidang sebelum makan siang. Ia ada urusan yang harus diselesaikan.

“Dan apa maksud kunjungan ini?” “Berbelanja.”

“Apakah terjadi sesuatu yang luar biasa ketika Anda berada di sana?”

Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang para pengacara yang berjejalan di sekitar rheja-meja panjang. Kemudian ia berpaling pada Hakim Harkin dan berkata, “Ya, Sir.”

“Coba ceritakan pada kami, apa yang terjadi.”

Matanya basah. dan perempuan malang itu sepertinya akan kehilangan kendali. Hakim Harkin menanggapi saat itu dengan tepat, dan berkata. “Tidak apa-apa, Mrs. Hulic. Anda tidak melakukan kesalahan

224

apa pun. Kami cuma minta Anda menceritakan apa yang terjadi.”

Ia menggigit bibir dan mengertakkan gigi. “Kami tiba di hotel Jumat malam, dan sesudah sekitar dua atau tiga jam di sana, telepon berdering. Telepon itu dari seorang wanita yang memberitahu kami bahwa orang-orang dari perusahaan rokok menguntit kami. Dia mengatakan mereka telah mengikuti kami dari Biloxi, mereka tahu nomor penerbangan kami dan segalanya. Katanya mereka akan menguntit kami sepanjang akhir pekan, bahkan mungkfn mencoba menyadap telepon kami.”

Rohr dan pasukannya bernapas lega. Melirik tajam satu atau dua kali ke meja lain. Cable dkk. duduk membeku.

“Apakah Anda melihat ada yang mengikuti Anda?”

“Well, terus terang, saya tidak pernah meninggalkan kamar Kabar itu sangat merisaukan saya. Suami saya, Cal, keluar beberapa kali, dan dia memang melihat seorang laki-laki bebertampang seperti orang Kuba dengan kamera di pantai, kemudian dia melihat orang yang sama pada hari Minggu, ketika kami check out.” Mendadak Stella menyadari bahwa inilah jalan keluarnya, saat baginya untuk tampil begitu risau, sehingga tak bisa meneruskan. Dengan mudah air matanya mulai mengalir.

“Ada yang lainnya, Mrs. Hulic?”

‘Tidak,” katanya, tersedu. “Ini sungguh mengerikan. Saya tidak bisa terus…” Dan kata-katanya hilang dalam kesedihan.

Hakim memandang para pengacara itu. “Saya akan membebaskan Mrs. Hulic, dan menggantikannya de—

225

ngan cadangan nomor 1.” Stella melepaskan jeritan kecil; melihat penderitaannya, mustahil untuk mendebal bahwa ia harus dipertahankan. Tindakan karantina kemungkinan akan diberlakukan, dan tidaklah mungkin menenangkan wanita ini.

“Anda boleh kembali ke ruang juri, ambil barang-barang Anda, dan pulanglah. Terima kasih atas pela-yinan Anda, dan saya menyesal ini telah terjadi.”

“Saya sangat menyesal,” ia berhasil berbisik, lalu bangkit dari kursi saksi dan meninggalkan ruang sidang. Kepergiannya merupakan pukulan bagi tergugat. Dalam pemilihan, ia mendapat nilai tinggi, dan sesudah dua minggu pengamatan nonstop, para pakar juri di kedua belah pihak hampir sepakat berpendapat bahwa ia tidak simpatik terhadap penggugat. Sudah 24 tahun ia merokok, tanpa sekali pun mencoba berhenti.

Penggantinya adalah suatu tanda tanya, ditakuti oleh kedua belah pihak, tapi terutama oleh tergugat.

“Bawa masuk juri nomor 2, Nicholas Easter,” Harkin berkata pada Willis, yang sedang berdiri dekat pintu yang terbuka. Ketika Easter dijemput, Gloria Lane dan seorang asisten mendorong TV/VCR besar ke tengah ruang sidang. Para pengacara mulai menggigit-gigit pena mereka, terutama para pembela.

Durwood Cable berpura-pura asyik dengan hal lain di meja, tapi satu-satunya pertanyaan dalam pikirannya adalah, apa yang dikerjakan Fitch sekarang? Sebelum sidang. Fitch mengarahkan segalanya; komposisi regu pembela, pemilihan saksi ahli, pemakaian konsultan juri, penyelidikan terhadap seluruh calon juri. Ia menangani komunikasi yang peka dengan

226

klien, Pynex, dan mengawasi pengacara di pihak penggugat bagaikan burung elang. Tapi sebagian besar yang dikerjakan Fitch sesudah sidang dimulai adalah rahasia. Cable tidak ingin tahu. Ia mengambil Iangkah terang-terangan dan membela perkara itu dalam persidangan. Biarkan Fitch bermain dalam selokan dan berusaha memenangkannya.

Easter duduk di kursi saksi dan menyilangkan kakinya. Ia tidak tampak takut atau gelisah. Hakim menanyainya tentang laki-laki misterius yang selama ini menguntitnya, dan Easter dengan spesifik memaparkan waktu serta tempat ia melihat orang itu. Dengan detail yang sempurna ia menjelaskan apa yang terjadi Rabu kemarin, ketika ia menengok ke penonton di dalam ruang sidang dan melihat orang yang sama duduk di sana, pada deretan ketiga.

Ia kemudian menjelaskan tindakan pengamanan yang dilakukannya dalam apartemennya, dan ia mengambil videotape itu dari Hakim Harkin. Ia memasukkannya dalam VCR, dan pengacara-pengacara itu duduk dengan gelisah. Ia memutar kaset itu, seluruhnya sembilan setengah menit, kemudian duduk kembali di kursi saksi dan mengkonfirmasikan identitas pengacau ihJ—orang yang sama yang membuntutinya, orang yang juga muncul dalam ruang sidang pada hari Rabu kemarin.

Fitch tidak bisa melihat layar monitor keparat itu melalui kamera tersembunyinya, sebab McAdoo si kaki besar atau orang tolol lainnya telah menendang tas di bawah meja. Akan tetapi Fitch mendengar setiap patah kata yang diucapkan Easter, dan ia bisa membayangkan apa yang tengah terjadi di ruang

227

sidang. Sakit kepala hebat muncul berdenyut-denyut. Ia menelan aspirin dengan air mineral. Ia ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana pada Easter: Sebagai orang yang begitu waspada dengan keamanan, sampai-sampai memasang kamera tersembunyi, mengapa ia tidak memasang sistem alarm di pintu? Namun pertanyaan itu tak terpikirkan oleh orang lain kecuali dirinya.

Hakim berkata, “Saya juga bisa menegaskan bahwa laki-laki dalam video itu berada di ruing sidang ini pada hari Rabu lalu.” Namun laki-laki dalam video itu sudah lama menghilang. Doyle sudah berlindung dengan selamat di Chicago ketika ruang sidang itu menyaksikannya memasuki apartemen dan menyelinap keluar-masuk, seolah-olah takkan pernah tepergok.

“Anda boleh kembali ke ruang juri, Mr. Easter.”

Satu jam berlalu sementara para pengacara itu mengajukan argumentasi yang agak lemah dan tanpa persiapan untuk mendukung dan menolak karantina. Setelah argumentasi mulai memanas, tuduhan melakukan kecurangan mulai beterbangan bolak-balik, dengan pihak pembela menenma tembakan terbanyak. Kedua pihak tahu hal-hal yang tidak bisa mereka buktikan, dan dengan demikian tidak dapat mereka sebutkan, jadi tuduhan-tuduhan itu dibiarkan bersifat luas.

Para anggota juri mendapatkan laporan penuh dari Nicholas, cerita berbumbu tentang segala yang terjadi di ruang sidang dan di video. Dalam keadaan tergesa-gesa. Hakim Harkin lupa melarang Nicholas agar tidak membicarakan masalah ini dengan rekan-rekan-nya. Peluang itu langsung dimanfaatkan Nicholas,

228

dan ia tak sabar untuk menyusun cerita sesuai keinginannya. Tanpa diminta, ia juga menjelaskan kepergian Stella yang meninggalkan mereka dengan ber-urai air mata.

Fitch hampir dua kali mengalami stroke sewaktu mencak-mencak sekeliling kantornya, menggosok-gosok leher dan pelipis, menarik-narik jenggot dan menuntut jawaban yang mustahil dari Konrad, Swanson, dan Pang. Di samping tiga orang itu, ia punya Holly, Joe Boy, detektif dengan kaki sangat halus, Dante, mantan polisi kulit hitam dari D.C., dan Dubaz, satu lagi begundalnya dari daerah Coast yang memiliki catatan panjang. Dan ia punya empat orang di kantor bersama Konrad, selusin lagi bisa ia panggil ke Biloxi dalam waktu tiga jam, serta setumpuk pengacara dan konsultan juri. Fitch punya banyak orang, dan mereka semua mahal, tapi ia yakin benar tidak mengirim siapa pun ke Miami selama akhir pekan untuk mengawasi Stella dan Cal berbelanja.

Orang Kuba? Dengan kamera? Fitch melempar buku telepon ke dinding ketika mengulangi ucapan ini.

“Bagaimana kalau ini ulah perempuan itu?” tanya Pang, mengangkat kepala perlahan-lahan setelah me-nundukkannya untuk menghindari buku telepon tadi.

“Perempuan apa?”

“Marlee. Hulic mengatakan telepon itu berasal dari seorang gadis.” Sikap tenang Pang sangat kontras dengan watak bosnya yang meledak-ledak. Fitch berhenti di tengah langkahnya, lalu duduk sebentar di kursinya. Ia minum sebutir aspirin lagi dan meneguk air mineral, dan akhirnya berkata. “Kurasa kau benar.”

229

Dan ia memang benar. Orang Kuba itu adalah “konsultan keamanan” murahan yang ditemukan Marlee dari halaman kuning. la membayarnya dua ratus dolar agar kelihatan mencurigakan, bukan tugas suht, dan membiarkan diri dipergoki sedang membawa kamera ketika pasangan Hulic meninggalkan hotel.

Sebelas anggota juri dan tiga cadangan dikumpulkan kembali dalam ruang sidang. Kursi kosong Stella pada deretan pertama diisi oleh Phillip Savelle, laki-laki canggung berusia 58 tahun yang tidak bisa dibaca oleh kedua belah pihak. Ia menjelaskan dirinya sebagai wirausaha ahli penyakit tanaman, namun tidak ditemukan catatan mengenai profesi ini di Gulf Coast selama lima tahun terakhir. la juga seniman kaca avant-garde, karyanya yang berwama cerah dan tanpa bentuk, dengan nama-nama ganjil, sekali-sekali diperagakan di galeri-galeri kecil tak terurus di Greenwich Village. Ia membual bahwa dirinya pelaut kawakan, dan pemah membangun sendiri perahu berlayar ganda, yang ia bawa berlayar ke Honduras, tempat perahu itu tenggelam di air tenang. Kadang-kadang ia menggambarkan dirinya sebagai arkeolog, dan sesudah perahunya tenggelam, ia menghabiskan sebelas bulan di penjara Honduras karena ekskavasi ilegal.

Ia lajang, agnostik, lulusan Grinnell, bukan perokok. Savelle membuat setiap pengacara dalam ruang sidang itu ketakutan setengah mati.

Hakim Harkin minta maaf atas tindakan yang diambilnya. Karantina dewan juri merupakan peristiwa yang jarang dan radikal, hanya perlu dilakukan dalam keadaan luar biasa, misalnya dalam perkara pem—

230

bunuhan yang sensasional. Namun dalam perkara ini, ia tak punya pilihan. Telah terjadi kontak ilegal. Kemungkinan besar, hal ini akan terulang, meski sudah ada peringatan darinya Ia sedikit pun tidak menyukai langkah ini, dan sangat menyesal dengan segala kesulitan yang akan ditimbulkannya, tapi tugasnya saat ini adalah menjamin sidang yang adil.

Ia menerangkan bahwa berbulan-bulan sebelumnya ia sudah menyusun rencana cadangan untuk saat seperti ini. Pihak county sudah memesan satu blok kamar di motel tak bernama yang tidak jauh. Keamanan akan ditingkatkan. Ia punya daftar peraturan yang akan dibahasnya bersama mereka. Sidang ini sekarang sudah memasuki minggu kedua pemeriksaan saksi, dan ia akan mendorong para pengacara itu dengan keras untuk menyelesaikannya secepat mungkin.

Lima belas anggota juri itu akan pulang, berkemas, membereskan urusan mereka. dan keesokan hari nya melapor ke pengadilan, siap untuk melewatkan dua minggu mendatang dalam karantina.

Tidak ada reaksi langsung dari panel juri itu; mereka terlalu tercengang. Hanya Nicholas Easter yang merasa itu lucu.

231

Empat Belas

Karena kegemaran Jerry pada bir, judi, football, dan suasana gaduh, Nicholas mengusulkan agar mereka bertemu di kasino Senin malam, untuk merayakan beberapa jam terakhir kebebasan mereka. Jerry merasa gagasan itu bagus. Ketika meninggalkan gedung pengadilan. mereka menimbang-nimbang gagasan untuk mengundang beberapa rekan mereka. Gagasan itu kedengaran bagus, tapf tidak jalan. Herman tidak usah dipertanyakan Lonnie Shaver pergi tergesa-gesa, agak marah dan tidak bicara pada siapa pun. Savelle masih baru dan belum dikenal, dan jelas jenis laki-laki yang sebaiknya dijauhi. Tinggal Herrera, sang kolonel, dan mereka tidak menginginkannya. Mereka akan menghabiskan dua minggu terkurung bersamanya.

Jerry mengundang Sylvia Taylor-Tatum, si Poodle. Keduanya sudah menjalin semacam persahabatan. Sylvia sudah bercerai untuk kedua kali, dan Jerry untuk pertama kali. Karena tahu semua kasino di sepanjang Coast, Jerry mengusulkan mereka bertemu di kasino baru bernama The Diplomat. Tempat itu punya sports bar dengan layar lebar, minuman murah.

232

sedikit privasi, dan pelayan dengan tungkai panjang dan pakaian minim.

Ketika Nicholas tiba pukul delapan. Poodle sudah ada di sana, menempati sebuah meja dalam bar yang penuh sesak, meneguk draft beer dan tersenyum menyenangkan, sesuatu yang tak pernah dilakukannya dalam ruang sidang. Rambut ikalnya yang berombak-ombak disisir ke belakang. Ia memakai jeans pudar ketat, sweater tebal, dan sepatu lars koboi berwarna merah. Meskipun masih jauh dari cantik, ia tampak jauh lebih menarik di bar daripada di boks juri.

Sylvia memiliki mata hitam sendu orang yang banyak didera kehidupan, dan Nicholas bertekad untuk menggali tentang dirinya secepat dan sedalam mungkin. sebelum Fernandez tiba. Ia memesan minuman lagi, dan berbicara basa-basi. “Kau sudah menikah?” tanyanya, sudah tahu jawabannya adalah tidak. Perkawinan pertama Sylvia terjadi ketika ia berusia sembilan belas tahun, menghasilkan dua anak laki-laki kembar, >ekarang berusia dua puluh tahun. Satu bekerja di pengeboran lepas pantai, yang satunya lagi mahasiswa junior di college. Sangat berlawanan. Suami kesatu minggat sesudah lima tahun, dan ia membesarkan anak-anak itu sendiri. “Bagaimana denganmu?” ia bertanya.

“Belum. Secara teknis, aku masih mahasiswa, tapi sekarang aku bekerja.”

Suami kedua adalah laki-laki yang lebih tua, dan syukurlah mereka tidak punya anaL Perkawinan itu bertahan selama tujuh tahun, kemudian si suami menggantikannya dengan model yang lebih baru. Ia bersumpah takkan pernah menikah lagi. Regu Bear me—

233

nyerang Packer dan Sylvia menonton permainan ini dengan penuh minat. Ia suka football, sebab dulu anak-anaknya adalah pemain bintang di sekolah menengah.

Jerry tiba dengan terburu-buru, melontarkan pandangan cemas ke belakang, sebelum minta maaf karena terlambat. Ia meneguk bir pertama hanya dalam beberapa detik, dan menjelaskan bahwa menurutnya ia dikuntit. Poodle mencemooh komentarnya, dan mengatakan bahwa saat ini setiap anggota juri tentu selalu menoleh ke belakang, yakin ada bayang-bayang tidak jauh di belakangnya.

“Lupakan soal juri,” kata Jerry. “Kurasa itu istriku.”

“Istrimu?” tanya Nicholas.

“Yeah. Kurasa dia menyewa detektif swasta untuk membuntutiku.”

“Kau tentu menyambut karantina ini dengan senang had,” kata Nicholas.

“Oh, benar,” kata Jerry sambil mengedip pada Poodle.

Ia memasang taruhan sebesar lima ratus dolar untuk Packer, plus enam poin, tapi taruhan itu hanya untuk angka gabungan dalam babak pertama. Ia akan memasang taruhan lagi sesudah setengah main Ia menjelaskan pada dua pendatang baru yang duduk bersamanya, bahwa pertandingan profesional atau college selalu menawarkan berbagai macam taruhan yang mencengangkan dan taruhan-taruhan itu tidak ada kaitannya dengan pemenang akhirnya. Jerry kadang-kadang bertaruh siapa yang lebih dulu meleset, siapa yang menciptakan gol pertama, siapa yang paling banyak melakukan pencegatan. Ia menonton pertan-234

dingan itu dengan ketegangan orang yang khawatir uangnya akan amblas. Ia minum empat gelas bir dalam babak pertama. Nicholas dan Sylvia tertinggal dengan cepat.

Di sela-sela celoteh Jerry yang tak ada putusnya mengenai football dan seni bertaruh yang efektif, Nicholas beberapa kali mencoba menyinggung masalah sidang itu, tapi tanpa hasil. Karantina adalah topik yang menyebalkan untuk dibicarakan, dan karena mereka belum lagi mengalaminya, tidak banyak yang bisa dikatakan. Kesaksian hari ini sudah cukup menyebalkan untuk diikuti, dan gagasan untuk membicarakan kembali pendapat Dr. Kilvan pada saat santai seperti ini rasanya kejam. Juga tidak ada minat untuk mengembangkan topik tersebut. Sylvia terutama muak dengan pertanyaan mengenai konsep umum pemberian ganti kerugian itu.

Mrs. crimes diantar keluar dari ruang sidang dan ada di atrium ketika Hakim Harkin mengumumkan peraturan-peraturan karantina. Ketika ia mengantar Herman pulang, sang suami menjelaskan bahwa ia akan melewatkan dua minggu mendatang di kamar motel, di tempat tak dikenal, tanpa si istri. Tak lama sesudah mereka sampai di rumah, sang istri menelepon Hakim Hai4cin dan menguraikan semua pendapatnya mengenai perkembangan paling akhir ini. Suaminya buta, ia mengingatkan Pak Hakim lebih dari satu kali, dan ia butuh bantuan khusus. Herman duduk di sofa, meneguk bir dan menggerutu dengan campur tangan istrinya.

Hakim Harkin dengan cepat menemukan cara kom-promi. Ia mengizinkan Mrs. Grimes tinggal bersama

235

Herman dalam kamarnya di motel itu. Ia bisa sarapan dan makan malam bersama Herman, serta merawatnya, tapi ia harus menghindari kontak dengan anggota juri lainnya. Di samping itu, ia tidak lagi bisa menyaksikan jalannya sidang, sebab merupakan keharusan bahwa ia tidak boleh membicarakannya dengan Herman. Hal ini tidak bisa diterima dengan rela oleh Mrs. Grimes, satu dari beberapa penonton yang sejauh ini telah mendengar setiap patah kata. Dan, meskipun tidak mengungkapkannya kepada Hakim atau Herman, ia sebenarnya sudah memiliki pendapat kuat mengenai perkara ini. Pak Hakim bersikap tegas. Herman gusar. Tapi Mrs. Grimes menang. dan pergi ke kamar tidur untuk mulai berkemas.

Senin malam, Lonnie Shaver menggarap pekerjaannya selama seminggu di kantor. Sesudah mencoba beberapa kali, ia menemukan George Teaker di rumahnya di Charlotte, dan menjelaskan bahwa para anggota juri akan dikarantina selama sidang. Ia dijadwalkan untuk bicara dengan Taunton minggu ini, dan ia khawatir takkan bisa dihubungi. Ia menjelaskan bahwa Hakim melarang telepon langsung dari atau ke kamar motel itu, dan tidaklah mungkin berkorespondensi lagi hingga sidang berakhir. Teaker bersikap simpatik. dan sewaktu percakapan berlangsung, ia mengungkapkan keprihwin-annya mengenai hasil sidang tersebut.

“Orang-orang kita di New York berpendapat bahwa vonis yang merugikan bisa menimbulkan gelombang kejut yang akan melanda perekonomian bisnis eceran, terutama dalam bisnis kita. Uang asuransi pasti akan melonjak.”

236

“Akan saya lakukan apa yang bisa saya kerjakan,” Lonnie berjanji.

‘Tentunya juri tidak serius mempertimbangkan vonis besar, bukan?”

“Saat ini sulit dikatakan. Kami baru menyelesaikan setengah kesaksian dari pihak penggugat, jadi itu masih terlalu dini.”

“Kau harus melindungi kami dalam hal ini, Lonnie. Aku tahu posisimu jadi sulit, tapi… aduh, kau kebetulan ada di Sana, tahu maksudku?”

“Yeah, saya mengerti. Akan saya lakukan apa yang saya bisa.”

“Kami mengandalkan kau dalam urusan ini. Berta-hanlah di sana.”

Konfrontasi dengan Fitch berlangsung singkat dan tidak menghasilkan apa-apa. Durwood Cable menunggu hingga hampir pukul sembilan, Senin malam, ketika kantor-kantor masih sibuk dengan persiapan sidang dan makan malam diselesaikan di ruang rapat. Ia minta Fitch masuk ke kantornya. Fitch menurut, meskipun ia ingin pergi dan kembali ke kantornya.

“Aku ingin membahas satu urusan,” Durr berkata kaku, berdiri di seberang meja kerjanya.

“Apa?” Fitch menyalak, memilih untuk berdiri ber-kacak pinggang. Ia tahu persis apa yang ada dalam pikiran Cable.

“Kita dipermalukan dalam sidang sore ini.”

‘Tidak. Seingatku, dewan juri tidak hadir. Jadi. apa pun yang terjadi tidak ada konsekuensinya dengan vonis terakhir”

“Kau tepergok, dan kita dipermalukan.”

237

“Aku tidak tepergok.”

“Kalau begitu, kausebut apa kejadian itu?”

“Aku menyebutnya kebohongan. Kita tidak mengirim orang untuk menguntit Stella Hulic. Untuk apa?”

“Kalau begitu, siapa yang meneleponnya?”

“Aku tidak tahu, tapi sudah pasti bukan orang-orang kita. Ada pertanyaan lain?”

“Yeah, siapa laki-laki di apartemen itu?”

“Dia bukan salah satu orangku. Aku tidak melihat video itu, kau paham? Jadi, aku tidak melihat wajahnya, tapi kemungkinan besar dia mata-mata yang dibayar Rohr dan kawan-kawannya.”

“Bisakah kau membuktikan ini?”

“Aku tidak perlu membuktikan apa-apa. Dan aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu lebih jauh. Pekerjaanmu adalah menangani gugatan ini, dan biarkan aku mengurus keamanannya.”

“Jangan mempermalukan aku, Fitch.”

“Kau pun jangan mempermalukan aku dengan kalah dalam sidang ini.”

“Aku jarang kalah “

Fitch berbalik dan beranjak ke pintu. “Aku tahu. Dan pekerjaanmu bagus. Cable. Kau hanya butuh sedikit bantuan dari luar.”

Nicholas yang pertama tiba, dengan dua tas olahraga berisi pakaian dan peralatan mandi. Lou Dell, Willis, dan satu deputi lain—petugas baru, sedang menunggu dalam gang di luar ruang juri untuk mengumpulkan tas-tas, dan untuk sementara menyimpannya di dalam ruang saksi yang kosong. Saat itu pukul 08.20, Selasa. “Bagaimana tas-tas ini dipindahkan dari sini ke

238

motel?” Nicholas bertanya, masih memegangi miliknya dan agak curiga.

“Kami akan mengangkutnya dengan kendaraan siang nanti,” kata Willis. “Tapi kami harus memenksanya lebih dulu.”

‘Terkutuklah.”

“Maaf.”

‘Tak seorang pun akan memeriksa tas-tas ini,” kata Nicholas dan melangkah ke dalam ruang juri yang kosong.

“Perintah dari Hakim,” kata Lou Dell, mengikuti.

“Aku tidak peduli apa yang diperintahkan Hakim. Tak seorang pun akan memeriksa tasku.” Ia meletakkannya di sudut, lalu berjalan ke poci kopi, serta berkata pada Willis dan Lou Dell di ambang pintu, “Pergilah, oke? Ini ruang juri.”

Mereka mundur dan Lou Dell menutup pintu. Satu menit berlalu, lalu terdengar suara-suara di gang. Nicholas membuka pintu dan melihat Millie Dupree, dengan keringat membasahi kening, berkutat dengan Lou Dell dan Willis mengenai dua koper Samsonite besar. “Mereka pikir mereka akan memeriksa tas kita, tapi tidak kuizinkan,” Nicholas menjelaskan. “Mari, letakkan di sini.” Ia meraih koper terdekat, dengan susah payah mengangkatnya dan menempat-kannya pada sudut yang sama di dalam ruang juri.

“Perintah Hakim,” Lou Dell menggumam.

“Kami bukan teroris,” Nicholas membentak geram. “Menurutnya apa yang akan kami lakukan? Menyelundupkan senjata, obat bius, atau apa?” Millie mengambil donat dan menyatakan terima kasihnya pada Nicholas karena melindungi privasinya. Ada beberapa

239

barang di dalamnya yang, well, ia tak ingin laki-laki seperti Willis atau siapa saja menyentuh atau merasakannya.

“Pergilah!” Nicholas berteriak, menuding Lou Dell dan Willis, yang sekali lagi mundur ke gang.

Pukul 08.45, dua belas anggota juri sudah hadir dan ruangan itu penuh sesak dengan barang bawaan yang diselamatkan dan disimpan Nicholas. Ia gembar-gembor, marah, dan makin panas dengan setiap barang yang baru datang, dan berhasil memberikan kesan hebat kepada para juri. Pukul sembilan, Lou Dell mengetuk pintu, kemudian memutar gagangnya untuk masuk.

Pintu terkunci dari dalam.

Ia mengetuk lagi.

Di dalam ruang juri, tak seorang pun bergerak kecuali Nicholas. Ia berjalan ke pintu, lalu berkata, “Siapa?”

“Lou Dell. Sudah saatnya pergi. Hakim sudah siap untuk kalian.”

“Katakan pada Hakim untuk pergi ke neraka.”

Lou Dell menoleh pada Willis, yang terbelalak dan bersiap mencabut revolvernya yang karatan. Kekasaran jawaban itu bahkan mengejutkan beberapa anggota juri yang lebih marah, tapi mereka tetap bersatu.

“Apa kata Anda?” Lou Dell bertanya.

Terdengar bunyi klik keras, kemudian kenop pintu berputar. Nicholas berjalan ke gang dan menutup pintu di belakangnya. “Katakan pada Hakim, kami tidak akan keluar,” katanya, menatap berapi-api pada Lou Dell dan poni berubannya yang kotor.

“Anda tidak bisa melakukan hal itu,” kata Willis

240

seagresif mungkin, tapi pada kenyataannya sama sekali tidak agresif, malah sedikit lemah. “Tutup mulut, Willis.”

Kegfmparan mengenai juri telah memikat orang untuk kembali ke ruang sidang pada pagi hari Selasa. Kabar menyebar dengan cepat bahwa salah satu anggota juri telah dicopot dan satu lainnya mengalami pembongkaran apartemen, dan bahwa Hakim rnarah dan telah memerintahkan agar seluruh panel itu dikarantina. Desas-desus jadi menggila. Yang paling populer adalah kabar mengenai mata-mata perusahaan rokok yang tepergok dalam apartemen seorang juri. Sudah dikeluarkan surat penangkapan untuknya. Polisi dan FBI sedang mencari orang itu ke mana-mana

Harian-harian pagi dari Biloxi, New Orleans, Mobile, dan Jackson memuat berita panjang pada halaman depannya atau di bagian Metro.

Para pengunjung rutin gedung pengadilan kembali berdatangan. Hampir semua pengacara lokal mendadak punya urusan mendesak di gedung pengadilan dan berkeliaran di sana. Setengah lusin reporter dari berbagai surat kabar menempati deretan depan, di sisi penggugat. Bocah-bocah dari Wall Street, kelompok yang tadinya sudah merosot ketika anggota-anggotanya menemukan kasino dan program memancing di laut dalam serta malam-malam panjang di New Orleans, kini kembali dengan kekuatan penuh.

Dengan demikian. banyak saksi yang melihat Lou Dell berjingkat resah melewati pintu juri, melintasi bagian depan ruang sidang, menuju meja hakim; ia mencondongkan badan ke depan dan Harkin mem—

241

bungkuk; mereka berdiskusi. Kepala Harkin bergoyang ke samping, seolah-olah pada mulanya ia tidak mengerti, kemudian ia memandang kosong ke pintu juri, tempat Willis sedang berdiri sambil angkat bahu.

Selesai menyampaikan pesan, Lou Dell berjalan kembali ke tempat Willis menunggu. Hakim Harkin mengamati wajah bertanya-tanya para pengacara, lalu memandang seluruh penonton. Ia menulis sesuatu yang ia sendiri tak bisa membacanya. Ia merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Dewan jurinya melakukan pemogokan! Apa kata buku pegangan hakim mengenai hal ini? Ia menarik mikrofon dan berkata, “Saudara-saudara sekalian, ada sedikit masalah dengan dewan juri. Saya perlu berbicara dengan mereka. Saya minta Mr. Rohr dan Mr. Cable ikut dengan saya. Semua lainnya tetap di tempat.”

Pintu kembali terkunci. Hakim mengetuk sopan, tiga ketukan ringan diikuti putaran pada kenop pintu. Pintu itu tidak membuka. “Siapa?” datang suara laki-laki dari dalam.

“Ini Hakim Harkin,” katanya keras. Nicholas berdiri di dekat pintu. Ia berpaling dan tersenyum kepada rekan-rekannya. Millie Dupree dan Mrs. Gladys Card berdiri di satu sudut dekat tumpukan koper, bergerak-gerak resah, takut menghadapi penjara atau entah apa yang akan diberikan oleh Hakim. Namun anggota juri yang lain masih mendongkol.

Nicholas membuka pintu. Ia tersenyum ramah, seolah-olah tak ada apa-apa, seolah-olah pemogokan adalah bagian rutin dari sidang. “Silakan masuk,” katanya.

242

Harkin, mengenakan setelan kelabu, tanpa jubah, masuk bersama Rohr dan Cable di belakangnya. “Ada masalah apa di sini?’^ ia bertanya sambil memeriksa ruangan itu. Sebagian besar anggota juri duduk di belakang meja, dengan cangkir kopi, piring kosong, dan koran berserakan di mana-mana. Phillip Savelle berdiri seorang diri dekat jendela. Lonnie Shaver duduk di sudut, dengan komputer laptop pada pangkuannya. Easter tak pelak lagi adalah pemimpin kelompok ini, dan mungkin penghasutnya.

“Kami merasa tidaklah adil bila para deputi itu menggeledah tas kami.”

“Mengapa tidak?”

“Alasannya sudah jelas. Ini barang-barang pribadi kami. Kami bukan teroris atau penyelundup obat bius, dan kalian bukan pegawai pabean.” Nada suara Easter tegas, dan fakta bahwa ia bicara demikian berani pada seorang hakim terhormat membuat sebagian besar anggota juri itu bangga la adalah salah satu dari mereka, pemimpin mereka, tak peduli apa pendapat Herman, dan ia sudah mengatakan pada mereka lebih dari satu kali bahwa mereka—bukan Hakim, bukan pengacara-pengacara itu, bukan pihak-pihak yang bersengketa— tetapi merekalah para anggota juri yang menjadi orang paling penting dalam sidang ini.

“Ini prosedur rutin dalam karantina juri,” kata Yang Mulia, maju selangkah lebih dekat pada Easter, yang sepuluh send lebih tinggi dan tidak berniat mundur

‘Tapi itu tidak tertulis hitam di atas putih, bukan? Bahkan saya yakin keputusan itu hanya ditentukan oleh hakim yang memimpin. Benar?”

243

“Ada beberapa alasan yang baik untuk langkah ini.”

‘Tidak cukup baik. Kami tidak akan keluar, Yang Mulia, sampai Anda berjanji tas-tas kami tidak akan digeledah.” Easter mengucapkan kata-kata ini dengan rahang mengeras dan sedikit membentak, dan jelaslah bagi Hakim dan para pengacara bahwa ia bersungguh-sungguh. Ia juga berbicara mewakili kelompok. Lainnya tak ada yang bergerak.

Harkin melakukan kesalahan dengan melirik Rohr, yang tidak sabar menambahkan pendapatnya. “Oh, Yang Mulia, apa masalahnya?” katanya tanpa pikir. “Orang-orang ini tidak membawa bom plastik.”

“Cukup,” kata Harkin, namun Rohr sudah berhasil mencuri sedikit simpati dari juri. Cable, tentu saja, merasakan hal yang sama, dan ingin menyampaikan kepercayaan penuhnya pada apa pun yang disimpan para juri itu di koper mereka, namun Harkin tidak memberinya kesempatan.

“Baiklah,” kata Yang Mulia. ‘Tas-tas ini tidak akan digeledah. Tapi bila saya ketahui ada anggota juri yang memiliki barang yang dilarang oleh daftar yang saya berikan kemarin, anggota juri itu akan didakwa melakukan penghinaan terhadap pengadilan dan bisa dipenjara. Apakah bisa dipahami?”

Easter memandang sekeliling ruangan, mengamati setiap rekannya, yang kebanyakan tampak lega dan beberapa di antaranya bahkan mengangguk. “Baiklah, Yang Mulia,” sahutnya.

“Bagus. Sekarang, apakah kita bisa meneruskan sidang?”

“Well, masih ada satu masalah lain.” “Apakah itu?”

244

Nicholas mengangkat sehelai kertas dari meja, membaca sesuatu, kemudian berkata, “Menurut peraturan Anda di sini, kami diizinkan mendapat kunjungan suami-istri sekali seminggu. Kami pikir seharusnya frekuensinya lebih banyak.”

“Berapa banyak?”

“Sebanyak mungkin.”

Ini kabar hebat bagi sebagian besar anggota juri. Semula memang ada gerutuan dari beberapa laki-laki, terutama Easter, Fernandez, dan Lonnie Shaver, mengenai jumlah kunjungan suami-istri itu, tapi yang wanita tidak membicarakannya. Apalagi Mrs. Gladys Card dan Millie Dupree merasa sangat malu memberi kesan pada Yang Mulia Hakim bahwa mereka mendesak agar bisa melakukan hubungan seks sebanyak mungkin. Sudah bertahun-tahun yang lalu Mr. Card menderita sakit prostat, dan, well, Mrs. Gladys Card berniat membuka rahasia ini untuk membersihkan nama baiknya, tapi Herman Gnmes sudah mendahului berkata, “Dua kali sudah cukup untuk saya.”

Membayangkan si Herm tua meraba-raba di bawah selimut dengan Mrs. Grimes jadi memancing tawa yang mematahkan ketegangan.

“Saya rasa kita tidak perlu melakukan survei,” kata Hakim Harkin. “Apakah dua kali bisa kita sepakati? Kita cuma dikarantina selama dua minggu, Saudara-saudara.”

“Dua, tapi tiga kali juga masih mungkin,” Nicholas balas menawar.

“Baiklah. Apakah itu bisa diterima semuanya?” Yang Mulia memandang berkeliling ruangan. Loreen Duke tertawa-tawa kecil sendirian di meja. Mrs.

245

Gladys Card dan Millie mencoba sebisa mungkin menghilang ke dalam dinding dan tidak mau memandang ke mata Hakim.

“Ya, itu bisa diterima,” jawab Jerry Fernandez dengan mata merah dan sisa mabuk. Bila melewatkan satu hari tanpa seks, Jerry pasti sakit kepala, tapi ia tahu dua hal: istrinya senang ia pergi dari rumah selama dua minggu mendatang, dan ia bersama Poodle akan menyusun rencana.

“Saya keberatan dengan penjabaran kata-kata peraturan ini,” kata Phillip Savelle dari jendela, bicara untuk pertama kali dalam sidang ini. Ia memegang lembar peraturan itu. “Defmisi Anda untuk orang yang berhak berpartisipasi dalam kunjungan suami-istri ini tidak baik.”

Dalam bahasa yang Iazim, bagian yang menimbulkan keberatan itu berbunyi demikian: Pada setiap kunjungan suami-istri, masing-masing anggota juri bo-leh melewatkan dua jam, sendirian di dalam kamamya, dengan istri atau suami atau pacarnya.

Hakim Harkin, bersama dua pengacara itu, dan setiap anggota juri di dalam ruangan itu, membaca kata-kata peraturan tersebut dengan hati-hati, dan bertanya-tanya apa yang diinginkan orang aneh ini. Tapi Harkin tidak hendak mencari tahu. “Saya berikan jaminan saya, Mr. Savelle dan para anggota juri, saya tidak bermaksud membatasi Anda sekalian dalam kaitan dengan kunjungan suami-isti ini. Terus terang, saya tidak peduli apa yang Anda lakukan, atau dengan siapa Anda melakukannya.”

Jawaban ini tampaknya memuaskan Savelle. sekaligus membuat Mrs. Gladys Card tersipu-sipu.

246

“Nah, ada yang lainnya?”

“Itu saja, Yang Mulia, dan terima kasih,” sahut Herman keras, kembali menegaskan diri sebagai pimpinan.

“Terima kasih,” kata Nicholas.

Scotty mangrum mengumumkan pada sidang, segera setelah juri duduk di tempat dan merasa senang, bahwa ia sudah selesai dengan Dr. Kilvan. Dun-Cable memulai pemeriksaan silang dengan begitu hati-hati, seolah-olah ia merasa terintimidasi oleh pakar hebat itu. Mereka sepakat dengan beberapa statistik yang sama sekali tidak berarti. Dr. Kilvan menyatakan yakin, dengan angka-angka yang melimpah ruah tersebut, bahwa sekitar sepuluh persen dari seluruh perokok akhirnya menderita kanker paru-paru

Cable menegaskan poin itu—ini sudah dilakukannya sejak awal dan akan diteruskan hingga akhir. “Jadi, Dr. Kilvan, bila merokok menyebabkan kanker, mengapa begitu sedikit jumlah perokok yanng menderita kanker paru-paru?”

“Merokok sangat meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru.”

‘Tetapi kebiasaan itu tidak selalu menyebabkan penyakit tersebut, bukan?”

‘Tidak. Tidak setiap perokok menderita kanker paru-paru.”

‘Terima kasih.”

‘Tetapi bagi mereka yang merokok, risiko terkena kanker paru-paru jauh lebih besar.”

Cable mulai memanas dan menekan. Ia menanyai Dr. Kilvan, apakah ia mengetahui tentang penelitian

247

dua puluh tahun yang lalu dari Universitas Chicago, di mana para peneliti menemukan insiden kanker paru-paru yang lebih besar bagi perokok yang tinggal di daerah metropolitan daripada perokok yang tinggal di daerah pedesaan. Kilvan sangat mengenai penelitian itu, meskipun ia sendiri tidak terlibat sedikit pun.

“Bisakah Anda menjelaskannya?” Cable bertanya

“Tidak.”

“Bisakah Anda mengajukan dugaan?”

“Ya. Penelitian itu terasa kontroversial ketika diterbitkan, sebab menunjukkan faktor-faktor lain di luar tembakau yang mungkin menyebabkan kanker paru-paru.”

“Seperti misalnya pencemaran udara?” “Ya.”

“Apakah Anda mempercayai ini?” “Ada kemungkinan.”

“Jadi, Anda mengakui bahwa polusi udara menyebabkan kanker?”

“Bisa jadi. Tapi saya mau menegaskan penelitian saya. Perokok di pedesaan lebih banyak menderita kanker paru-paru daripada bukan perokok yang tinggal di pedesaan, dan perokok di daerah perkotaan lebih banyak menderita kanker paru-paru daripada bukan perokok di daerah perkotaan.”

Cable kembali mengangkat sebuah laporan tebal. dan menarik perhatian dengan membalik-balik halaman. Ia menanyai Dr. Kilvan, apakah ia tahu tentang penelitian di Universitas Stockholm pada tahun 1989, di mana para peneliti menegaskan bahwa ada kaitan antara faktor keturunan, merokok, dan kanker paru-paru.

248

“Saya baca laporan itu,” kata Dr. Kilvan. “Apakah Anda punya pendapat mengenai laporan tersebut?”

‘Tidak. Faktor herediter bukanlah spesialisasi saya.”

“Jadi, Anda tidak bisa mengatakan ya atau tidak mengenai apakah faktor keturunan mungkin berkaitan dengan merokok dan kanker paru-paru?”

“Saya tidak bisa.”

1Tetapi Anda tidak menentang laporan ini, bukan?” “Saya tidak punya pendapat apa pun mengenai laporan itu.”

“Apakah Anda kenal para ahli yang melakukan riset tersebut?” “Tidak.”

“Jadi, Anda tidak bisa mengatakan pada kami apakah mereka memenuhi syarat atau tidak?”

“Tidak. Saya yakin Anda sudah bicara dengan mereka.”

Cable berjalan ke mejanya, memilih-milih berkas laporan, dan berjalan kembali ke podium.

Sesudah dua minggu di bawah pengamatan ketat, tapi hanya mengalami sedikit pergerakan, saham Pynex mendadak bergejolak. Selain pengucapan Janji Kesetiaan secara spontan, fenomena yang begitu membingungkan ruang sidang, sampai tak seorang pun bisa mengungkapkan artinya, sidang tersebut tidak menimbulkan drama hebat lagi hingga Senin siang. ketika dewan juri itu terguncang. Satu di antara sekian banyak pengacara di pihak tergugat membocorkan kepada salah satu analis keuangan itu bahwa Stella Hulic secara umum dipandnng sebagai juri yang meng-249

untungkan bagi tergugat. Ucapan ini diulangi beberapa kali, dan bersama setiap cerita, pentingnya Stella bagi industri tembakau membubung naik. Mereka berbondong-bondong menelepon ke New York, bahwa tergugat telah kehilangan miliknya yang paling berharga—Stella Hulic, yang saat itu sedang tergeletak teler di sofa rumahnya karena martini.

Kehebohan desas-desus itu ditambah dengan berita menarik mengenai pembobolan rumah juri Easter Mudah saja mengasumsikan bahwa pengacau itu dibayar oleh industri tembakau, dan karena mereka sudah dipergoki atau setidaknya sangat dicurigai, keadaannya tampak buruk bagi pihak tergugat. Mereka kehilangan seorang anggota juri. Mereka tepergok berbuat curang. Langit runtuh.

Selasa pagi, saham Pynex ditawarkan seharga 79,5, dan dengan cepat jatuh menjadi 78 dalam transaksi yang jadi kian berat, bersama pagi yang terus berjalan dan desas-desus yang terus berkembang. Angkanya mencapai 76,25 menjelang tengah hari, ketika sebuah laporan baru diterima dari Biloxi. Seorang analis yang benar-benar ada di dalam ruang sidang di sana menelepon kantornya dengan kabar bahwa para juri menolak keluar pagi ini, melakukan pemogokan gara-gara kesaksian yang menjemukan oleh para pakar di pihak penggugat.

Dalam beberapa detik, laporan itu sudah diulangi seratus kali, dan sudah menjadi fakta di Wall Street bahwa dewan juri di sana berontak terhadap penggugat. Harga melonjak sampai 77, terbang melewati 78, mencapai 79, dan hampir mencapai 80 ketika istirahat makan siang.

Lima Belas

Di antara enam wanita yang tersisa dalam dewan juri, yang paling ingin disisihkan Fitch adalah Rikki Coleman, tiga puluh tahun, ibu dua anak yang cantik dan sehat. Ia memperoleh 21.000 dolar setahun sebagai administrator arsip di rumah sakit lokal. Suaminya berpenghasilan 36.000 dolar setahun sebagai pilot swasta. Mereka tinggal di rumah pinggir kota yang nyaman, dengan lapangan rumput terpangkas dan kredit pemilikan rumah sebesar 90.000 dolar, dan mereka masing-masing mengendarai mobil Jepang, keduanya sudah lunas. Mereka menabung dengan cermat dan menanamkan uang mereka secara konservatif—8.000 dolar tahun lalu dalam simpanan. Mereka sangat aktif di gereja setempat—ia mengajar anak-anak kecil di Sekolah Minggu, suaminya anggota paduan suara.

Jelaslah bahwa suami-istri Coleman tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk. Mereka tidak merokok dan tidak minum minuman keras. Si suami suka berjoging dan main tenis, si istri menghabiskan satu jam sehari di klub kebugaran. Karena hidup yang bersih itu dan karena latar belakangnya dalam pera—

251

250

watan kesehatan. Fitch merasa takut pada Rikki Coleman sebagai anggota juri.

Catatan medis yang didapat dari dokter kandungan-nya tidak mengungkapkan apa pun yang luar biasa. Dua kehamilan, dengan persalinan dan pemulihan yang sempurna. Check up tahunan dilakukan pada waktunya. Mamografi dua tahun yang lalu tidak menunjukkan apa pun yang luar biasa. Tingginya 175 senti, bobotnya 58 kilo.

Fitch punya tujuh catatan medis dari kedua belas anggota juri. Catatan Easter tidak dapat ditemukan karena alasan-alasan yang jelas. Herman Grimes buta dan tidak menyembunyikan apa pun. Savelle masih baru dan Fitch sedang menggali tentang dirinya. Lonnie Shaver tidak pernah ke dokter sedikitnya dalam dua puluh tahun terakhir. Dokter Sylvia Tay-lor-Tatum tewas beberapa bulan sebelumnya dalam kecelakaan kapal, dan penggantinya adalah dokter baru yang tidak tahu seluk-beluk permainan.

Permainan itu serius, dan Fitch menuliskan sebagian besar peraturannya. Setiap tahun. The Fund menyumbangkan satu juta dolar ke organisasi yang dikenal sebagai Judicial Reform Alliance, kelompok yang ribut di Washington, dan terutama didanai oleh perusahaan asuransi, asosiasi medis, dan kelompok-ke-lompok industri. Serta perusahaan rokok. The Big Four melaporkan sumbangan tahunan sebesar seratus ribu dolar masing-masing, dengan Fitch dan The Fund menyelipkan satu juta lagi ke bawah pintu. Tujuan JRA adalah melobi undang-undang untuk membatasi besarnya jumlah ganti kerugian yang bisa di-benkan daljim suatu perkara. Secara lebih spesifik,

meniadakan gangguan tuntutan ganti rugi karena suatu produk.

Luther Vandemeer, CEO dari Trellco, adalah anggota yang vokal dalam dewan komisaris JRA, dan dengan Fitch diam-diam memberikan dukungan, Vandemeer kerap kali bersikap kasar tanpa memedulikan anggota organisasi itu. Fitch tidak terlihat, tapi ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Melalui Vandemeer dan JRA, Fitch memberikan tekanan sangat berat kepada perusahaan asuransi, yang pada gilirannya menekan dokter-dokter lokal, yang pada gilirannya membocorkan catatan yang sangat konfidensial dan sensitif dari pasien-pasien tertentu. Jadi, ketika Fitch ingin Dr. Dow di Biloxi secara tak sengaja mengirimkan catatan medis Mrs. Gladys Card ke kotak pos tak dikenal di Baltimore, ia minta Vandemeer menghubungi orang-orang St. Louis Mutual, perusahaan asuransi penanggung kasus gugatan malapraktek Dr. Dow. Oleh St. Louis Mutual, Dr. Dow diberitahu bahwa pertanggungannya mungkin akan dicoret bila ia menolak ikut dalam permainan, dan ia pun dengan senang hati menuruti.

Fitch sudah punya cukup banyak catatan medis, tapi sejauh ini tidak ada apa pun yang bisa membantu menentukan vonis. Keberuntungannya datang saat makan siang hari Selasa.

Ketika Rikki Coleman masih bernama Rikki Weld, ia kuliah di college kecil di Montgomery, Alabama, dan ia sangat populer. Gadis-gadis tercantik di sekolah itu dikenal suka berkencan dengan pemuda-pemuda dari Auburn. Sewaktu penyelidikan rutin mengenai latar belakangnya berlangsung, penyelidik Fitch di Montgo—

253

252

mery punya firasat bahwa Rikki pernah punya banyak pacar. Fitch menyelidiki firasat ini dengan mendesak lewat JRA, dan sesudah dua minggu menemui jalan buntu, akhirnya mereka menemukan klinik yang tepat.

Tempat itu adalah rumah sakit swasta kecil khusus untuk wanita di pusat kota Montgomery, satu di antara tiga tempat aborsi di kota tersebut pada waktu itu. Saat kuliah sebagai mahasiswi junior, seminggu sesudah ulang tahunnya yang kedua puluh, Rikki Weld melakukan aborsi.

Dan Fitch punya catatannya. Dari telepon dikabarkan bahwa berkasnya akan datang. Ia tertawa sendiri ketika mengambil lembaran-lembaran kertas dari mesin faksnya. Tidak ada nama si ayah, tapi itu tidak jadi soal. Rikki berjumpa dengan Rhea, suaminya, satu tahun setelah ia lulus college. Pada waktu aborsi itu terjadi, Rhea adalah mahasiswa senior di Texas A & M, dan kemungkinan besar waktu itu keduanya belum berjumpa.

Fitch bersedia bertaruh berapa saja bahwa aborsi itu merupakan rahasia gelap yang nyaris terlupakan oleh Rikki, dan jelas tak pernah diungkapkan kepada suaminya.

Motel itu adalah Siesta Inn di Pass Christian, setengah jam ke barat di sepanjang Coast. Perjalanan itu ditempuh dengan bus sewaan. Lou Dell dan Willis duduk di depan bersama sopir, dan empat belas anggota juri terpencar di seluruh tempat duduk. Tidak ada dua orang yang duduk bersama. Tidak ada percakapan. Mereka letih dan lesu, sudah merasa terisolasi dan terpenjara, meskipun belum lagi melihat rumah

254

sementara mereka. Selama dua minggu pertama sidang, pembubaran pada pukul lima berarti pembebasan; mereka pergi dengan tergesa-gesa dan meluncur kembali ke dunia nyata, kembali ke rumah, anak-anak, dan makanan Danas, kembali pada pekerjaan rumah dan mungkin pekerjaan kantor. Kini pembubaran berarti perjalanan ke sel lain, tempat mereka diawasi, dipantau, dan dilindungi dari bayang-bayang jahat entah di mana

Hanya Nicholas yang merasa gembira dengan karantina ini, tapi ia memperlihatkan paras lesu seperti yang lain.

Harrison County menyewa seluruh lantai pertama salah satu sayap motel itu untuk mereka, semuanya dua puluh kamar, meskipun hanya sembilan belas yang diperlukan. Lou Dell dan Willis mendapat kamar yang terpisah oleh pintu menuju bangunan utama tempat resepsi dan restoran. Seorang deputi muda berperawakan kekar bernama Chuck menempati satu kamar di ujung lain koridor itu, dimaksudkan untuk menjaga pintu yang menuju halaman parkir.

Kamar-kamar itu ditentukan oleh Hakim Harkin sendiri. Tas-tas sudah diangkut dan ditempatkan, tanpa dibuka, dan sudah pasti tidak diperiksa. Kunci-kunci dibagikan seperti permen oleh Lou Dell, yang makin berlagak sok penting setiap jam. Ranjang-ranjang ditendang dan diperiksa—sepasang dalam setiap kamar, karena alasan tertentu. TV dihidupkan, tapi sia-sia. Tidak ada acara, tidak ada siaran berita selama karantina ini. Hanya film-film dari stasiun motel itu. Kamar mandi diteliti, keran diperiksa, toilet diguyur. Dua minggu di sini bakal terasa seperti setahun.

255

Bus itu sudah tentu dibuntuti oleh anak buah Fitch. Bus tersebut meninggalkan gedung pengadilan dengan pengawalan polisi bersepeda motor di depan dan belakang. Mudah untuk membuntuti polisi-polisi itu. Dua detektif yang bekerja untuk Rohr juga menguntit. Tak seorang pun berharap lokasi motel itu bisa dijaga tetap rahasia.

Nicholas menempati kamar yang diapit oleh Savelle dan Kolonel Herrera. Kamar untuk para pria terletak berdampingan; yang wanita di seberang koridor, seolah-olah pemisahan seperti itu diperlukan untuk mencegah mereka supaya tidak main-main. Lima menit sesudah Nicholas masuk kamar, ruangan itu mulai terasa pengap. Sepuluh menit kemudian, Willis mengetuk keras, menanyakan apakah semuanya beres. “Nya-man sekali,” kata Nicholas tanpa membuka pintu.

Pesawat telepon sudah dicabut, demikian pula mini-bar. Sebuah kamar di ujung koridor dikeluarkan ranjangnya dan dilengkapi dengan dua meja bundar, telepon, kursi-kursi yang nyaman, sebuah TV layar lebar, dan bar yang lengkap dengan segala minuman nonalkohol. Seseorang menjulukinya Ruang Pesta, dan nama itu melekat. Setiap telepon harus disetujui oleh salah satu penjaga mereka, dan tidak diperkenankan menerima telepon masuk. Telepon darurat ditangani melalui front desk. Di dalam Kamar 40, tepat di seberang Ruang Pesta, ranjang-ranjangnya juga sudah disingkirkan dan sudah diisi dengan meja makan sementara.

Tidak ada satu pun anggota juri yang boleh meninggalkan sayap motel itu tanpa izin lebih dahulu dari Hakim Harkin, atau i/in di tempat dari Lou Dell atau salah satu deputi. Tidak ada jam malam, sebab

256

mereka tidak bisa ke mana-mana, tapi Ruang Pesta itu tutup pukul sepuluh.

Makan malam mulai pukul enam sampai tujuh. sarapan pagi mulai pukul enam sampai setengah sembilan, dan mereka tidak diharapkan makan bersama-sama. Mereka bisa datang dan pergi. Mereka boleh mengisi satu piring dan kembali ke kamar mereka. Hakim Harkin sangat memperhatikan mutu makanannya, dan ingin menerima laporan setiap pagi, apakah ada keluhan.

Hidangan hari Selasa kalau bukan ayam goreng tentu ikan snapper panggang, dengan salad dan banyak sayur-mayur. Mereka tercengang dengan selera makan mereka. Meski tidak mengerjakan apa pun sepanjang hari, kecuali duduk dan mendengarkan, sebagian besar merasa lemah karena kelaparan saat makanan tiba pukul enam. Nicholas mengisi piring pertama dan duduk di ujung meja, melibatkan semua orang dalam percakapan dan mendesak agar mereka makan bersama. Ia sangat bersemangat dan ceria, seolah-olah karantina itu hanyalah petualangan. Antu-siasmenya sedikit menular.

Hanya Herman Grimes yang makan di kamarnya. Mrs. Grimes menyiapkan dua piring dan pergi dengan tergesa-gesa. Hakim telah memberikan instruksi tegas secara tertulis, melarangnya makan bersama para juri. Sama untuk Lou Dell, Willis, dan Chuck. Jadi, ketika Lou Dell memasuki ruangan dengan niat untuk makan malam dan mendapati Nicholas di tengah suatu cerita, percakapan itu akan berhenti. Ia menyendok sejumput kacang polong, dada ayam, dan sepotong roti, lalu berlalu.

257

Mereka satu kelompok sekarang, terisolasi dan terasing, terputus dari dunia luar dan terbuang ke Siesta Inn, di luar keinginan mereka. Mereka tidak punya siapa pun kecuali diri mereka sendiri. Easter bertekad untuk membuat mereka tetap gembira. Mereka akan menjadi satu kelompok, bila bukan satu keluarga. Ia akan mengusahakan agar tidak ada per-pecahan dan klik-klik.

Mereka menonton dua film di Ruang Pesta. Pukul sepuluh, mereka semua tidur.

“Aku sudah siap untuk kunjungan suami-istri,” Jerry Fernandez mengumumkan ketika sarapan, kurang-lebih ke arah Mrs. Gladys Card, yang jadi merah padam.

“Benar,” kata wanita itu, seraya memutar mata ke arah langit-langit. Jerry tersenyum padanya, seolah-olah wanita itulah objek kerinduannya. Sarapan benar-benar merupakan pesta segala hidangan, mulai ham goreng sampai cornflake.

Di tengah sarapan, Nicholas datang dengan sapaan pelan pada kelompok tersebut, wajahnya muram. “Aku tidak mengerti, mengapa kita tidak boleh punya telepon,” itulah kata-kata pertama dari mulutnya, dan suasana pagi yang menyenangkan itu mendadak jadi kecut. Ia duduk di hadapan Jerry, yang membaca wajahnya dan langsung tanggap.

“Mengapa kita tidak boleh minum bir dingin?” Jerry bertanya. “Bila di rumah, aku minum sekaleng bir dingin setiap malam, mungkin dua. Siapa yang punya hak menentukan apa yang boleh kita minum di sini?”

“Hakim Harkin,” jawab Millie Dupree, perempuan yang menjauhi alkohol.

258

“Sialan.”

“Dan bagaimana dengan televisi?” Nicholas bertanya. “Mengapa kita tidak boleh nonton televisi? Aku selalu nonton televisi semenjak sidang ini mulai, dan rasanya tidak banyak berita apa-apa.” Ia menoleh pada Loreen Duke, wanita bertubuh besar dengan piring penuh telur goreng. “Apa kau pernah melihat siaran berita mendadak, dengan laporan terakhir tentang sidang itu?”

‘Tidak.”

Ia memandang Rikki Coleman yang duduk memegang semangkuk kecil cornflake. “Dan bagaimana dengan ruang olahraga, tempat untuk mengeluarkan keringat sesudah delapan jam di dalam ruang sidang? Sudah tentu mereka bisa mencan motel dengan ruang olahraga.” Rikki mengangguk. memberikan persetujuan penuh.

Loreen menelan telurnya dan berkata, “Yang tidak kumengerti adalah, mengapa kita tidak dipercaya dengan telepon? Anak-anakku mungkin perlu meneleponku. Rasanya tidak akan ada penjahat yang menelepon kamarku dan mengancam.”

“Aku cuma ingin sekaleng bir dingin, atau dua,” kata Jerry. “Dan mungkin beberapa kunjungan suami-istri,” ia menambahkan, sekali lagi memandang Mrs. Gladys Card.

Gerutuan itu makin menghebat di sekitar meja, dan sepuluh menit setelah kedatangan Easter, para juri itu sudah di tepi pemberontakan. Kekesalan mereka kini berubah jadi sederet makian. Bahkan Herrera, kolonel purnawirawan yang bisa berkemah di hutan, tidak senang dengan pilihan minuman yang ditawarkan di

259

Ruang Pesta. Millie Dupree keberatan karena tidak ada surat kabar. Lonnie Shaver punya urusan bisnis mendesak, dan sama sekali tidak suka gagasan dikarantina. “Aku bisa berpikir sendiri,” katanya. “Tak seorang pun bisa mempengaruhiku.” Paling tidak, ia butuh telepon yang tidak dibatasi. Phillip Savelle berlatih yoga di hu-tan setiap fajar, seorang diri, hanya ia sendiri bersatu dengan alam, dan di situ tak ada sebatang pohon pun dalam jarak dua ratus meter dari motel. Dan bagaimana dengan gereja? Mrs. Card adalah jemaat gereja Baptis yang taat, tak pernah melewatkan persekutuan doa pada Rabu malam, kunjungan pada hari Selasa, WMU pada hari Jumat, dan tentu saja hari Sabat yang penuh dengan pertemuan.

“Kita sebaiknya membereskan masalah ini sekarang,” kata Nicholas sungguh-sungguh. “Kita akan tinggal di sini selama dua minggu, mungkin tiga. Menurutku kita perlu minta perhatian Hakim Harkin.”

Hakim Harkin dan sembilan pengacara sedang berjejalan dalam ruang kerjanya, tawar-menawar tentang hal-hal yang tidak akan disampaikan pada juri. Ia menuntut para pengacara itu agar datang pukul delapan setiap pagi untuk melakukan pemanasan menjelang pertarungan, dan ia sering kali menahan mereka satu atau dua jam sesudah dewan juri pergi. Ketukan keras menyela debat sengit antara Rohr dan Cable. Gloria Lane mendorong pintu hingga terbuka, me-nabrak kursi yang diduduki oleh Oliver McAdoo.

“Ada masalah dengan juri,” katanya muram. Harkin melompat berdiri. “Apa!”

“Mereka ingin bicara dengan Anda. Itu saja yang saya ketahui.”

260

Harkin melihat arlojinya. “Di mana mereka?” “Di motel.”

“Tidak bisakah kita membawa mereka ke sini?”

‘Tidak. Kami sudah mencoba. Mereka tidak mau datang, sampai mereka bicara dengan Anda.”

Pundak Harkin melorot dan mulutnya ternganga. “Ini benar-benar edan,” kata Wendall Rohr pada din sendiri. Pengacara-pengacara itu menatap sang hakim, yang memandang kosong pada setumpuk kertas di meja kerjanya dan berpikir. Kemudian ia menggosokkan tangan dan melontarkan senyum lebar dibuat-buat pada mereka. “Mari kita pergi menemui mereka.”

Konrad menerima telepon pertama pada pukul 08.02. Perempuan itu tidak mau bicara dengan Fitch, cuma ingin memberi informasi bahwa dewan juri sekali lagi merasa gelisah dan tak mau keluar sampai Hakim Harkin pergi ke Siesta Inn dan menenangkan mereka. Konrad berlari ke ruangan Fitch dan menyampaikan pesan itu.

Pukul 08.09, wanita itu menelepon lagi dan meng-informasikan pada Konrad bahwa Easter akan memakai kemeja denim warna gelap di atas T-shirt cokelat, dengan kaus kaki merah dan celana khaki tanpa kanji seperti biasa. Kaus kaki merah, ia mengulangi.

Pada pukul 08.12, ia menelepon untuk ketiga kalinya dan minta berbicara dengan Fitch yang sedang mondar-mandir di sekeliling meja kerjanya sambil menarik-narik jenggot. Fitch mencengkeram gagang telepon. “Halo.”

“Selamat pagi. Fitch,” katanya.

261

“Selamat pagi, Marlee.”

“Kau pernah pergi ke St. Regis Hotel di New Orleans?” “Tidak.”

“Letaknya di Canal Street di French Quarter. Di atapnya ada bar terbuka. Namanya Terrace Grill. Carilah meja yang menghadap ke Quarter. Datanglah ke sana pukul tujuh malam ini. Aku akan ke sana sesudahnya. Kau mengerti?”

“Ya.”

“Datanglah seorang diri, Fitch. Aku akan menga-wasimu memasuki hotel, dan kalau kau membawa teman, pertemuan ini batal. Oke?”

“Oke.”

“Dan bila kau berusaha melacakku, aku akan menghilang.”

“Kau boleh pegang kata-kataku.” “Mengapa aku tidak merasa terhibur oleh ucapanmu, Fitch?” ia memutus sambungan.

Cable, Rohr, dan Hakim Harkin disambut di front desk oleh Lou Dell, yang kebingungan dan ketakutan, mencerocos betapa hal ini tidak pernah terjadi pada nya; ia selalu bisa mengendalikan juri. Ia membawa mereka ke Ruang Rapat, tempat tiga belas dari empat belas anggota juri itu berkumpul. Herman Grimes adalah satu-satunya yang tidak ikut serta. Ia berdebat menentang taktik yang dipakai oleh kelompok itu, dan membuat Jerry Fernandez gusar, sampai mencerca-nya. Jerry menunjukkan bahwa Herman membawa istrinya, ia tidak bisa memanfaatkan televisi atau surat kabar, tidak lagi minum, dan mungkin tidak

262

butuh tempat olahraga. Jerry minta maaf setelah Millie Dupree menyuruhnya.

Yang Mulia Hakim tidak bisa berlama-lama menunjukkan kekesalannya. Sesudah beberapa sapaan halo dan selamat pagi yang ragu-ragu, ia membuat kesalahan dengan berkata, “Saya agak terganggu dengan ini”

Nicholas menanggapi ucapan ini, “Kami tidak tertarik untuk mendengarkan teguran.”

Rohr dan Cable secara tegas sudah dilarang berbicara, dan mereka berdiri dekat pintu, menyaksikan dengan geli. Keduanya tahu bahwa pemandangan ini mungkin takkan pernah terulang lagi sepanjang karier hukum mereka.

Nicholas sudah menuliskan daftar keluhan mereka. Hakim Harkin membuka mantelnya, duduk, dan tak lama kemudian diserbu dari segala penjuru. Ia kalah jumlah dan praktis tak berdaya.

Bir tidak jadi masalah. Surat kabar bisa disensor di front desk. Telepon masuk tanpa pembatasan bisa ditenma Sama untuk televisi, tapi hanya bila mereka berjanji tidak akan menonton berita lokal. Ruang olahraga mungkin jadi masalah, tapi ia akan mengusahakannya. Kunjungan ke gereja bisa diatur.

Sebenarnya, semua fleksibel.

“Bisakah Anda menjelaskan mengapa kami ada di sini?” Lonnie Shaver bertanya.

Ia mencoba. Ia berdeham dan dengan enggan berusaha membenarkan alasannya mengurung mereka. Ia bicara sedikit mengenai kontak ilegal, mengenai apa yang sejauh ini telah terjadi dengan dewan juri ini, dan dengan samar-samar ia menyinggung peristiwa—

263

peristiwa yang pernah terjadi dalam sidang perkara tembakau lainnya.

Pelanggaran tersebut didokumentasikan dengan baik. dan di waktu lampau kedua belah pihak pernah sama-sama bersalah. Fitch sudah meninggalkan jejak lebar di medan peradilan perkara tembakau. Kaki-tangan beberapa pengacara di pihak penggugat juga pernah melakukan tindakan kotor dalam kasus-kasus lain. Tetapi Hakim Harkin tidak bisa membicarakan hal itu di depan jurinya. la harus hati-hati dan tidak menimbulkan prasangka terhadap pihak mana pun.

Pertemuan itu berlangsung selama satu jam. Harkin meminta jaminan tidak ada pemogokan lagi di masa mendatang, tetapi Easter tidak memberikan janji.

Harga saham Pynex turun dua poin akibat berita pemogokan kedua. yang menurut seorang analis di ruang sidang itu disebabkan oleh reaksi negatif tidak jelas dari para anggota juri terhadap taktik tertentu yang dipergunakan oleh regu pembela sehari sebelumnya. Taktik-taktik itu pun tidak dijelaskan. Desas-desus kedua oleh analis lain di Biloxi sedikit memper-baiki keadaan, dengan berspekulasi bahwa tak seorang pun di ruang sidang itu tahu pasti mengapa dewan juri melakukan pemogokan. Harga saham bergeser turun setengah poin lagi sebelum kemudian pulih dan beringsut naik dalam transaksi pagi.

Ter dalam rokok menimbulkan kanker, setidaknya pada tikus laboratorium. Sudah lima belas tahun terakhir ini Dr. James Ueuker melakukan percobaan dengan tikus laboratorium. Ia melakukan banyak pe—

264

nelitian sendiri dan secara ekstensif mempelajari karya peneliti-peneliti lain di seluruh penjuru dunia. Menurut pendapatnya, paling sedikit ada enam penelitian penting yang secara konklusif rnenghubungkan kebiasaan merokok dengan kanker paru-paru. Dengan sangat terperinci ia menjelaskan kepada juri, bagaimana ia dan kelompoknya mengambil endapan asap tembakau, yang biasanya hanya disebut “ter”, dan menggosok-kannya langsung pada kulit tikus putih yang tampaknya berjumlah jutaan. Foto-fotonya diperbesar dan berwama. Tikus yang beruntung hanya mendapat satu kali gosokan ter, yang lain seperti dicat. Tidaklah mengejutkan, makin banyak ter, makin cepat timbul kanker kulit.

Memang jauh perbedaan antara tumor permukaan pada tikus dan kanker paru-paru pada manusia, dan Dr. Ueuker, dengan Rohr yang memimpin jalan, tidak sabar untuk mengaitkan keduanya. Sejarah kedokteran penuh dengan penelitian yang membuktikan bahwa penemuan laboratorium temyata berlaku pada manusia. Perkecualiannya langka. Meskipun tikus dan manusia hidup dalam lingkungan yang sangat jauh berbeda, hasil pengujian terhadap binatang sepenuhnya konsisten dengan hasil temuan epidemiologi pada manusia.

Setiap konsultan juri yang tersedia hadir dalam ruang sidang selama kesaksian Ueuker. Tikus kecil yang menjijikkan memang bukan masalah, tapi kelinci dan anjing beagle bisa menjadi binatang peliharaan untuk bermain. Penelitian Ueuker selanjutnya melibatkan olesan ter pada kelinci, dengan hasil akhir yang sama. Tes terakhirnya menggunakan tiga puluh anjing beagle yang diajar untuk merokok melalui

265

pipa dalam trakea mereka. Para perokok berat itu mengkonsumsi sembilan batang rokok sehari; setara kurang-lebih empat puluh batang rokok untuk seorang laki-laki berbobot 75 kilogram. Pada anjing-anjing ini terdeteksi kerusakan paru-paru serius dalam bentuk tumor ganas sesudah merokok selama 875 hari berturut-turut. Ueuker memakai anjing karena mereka menunjukkan reaksi yang sama terhadap rokok. seperti halnya pada manusia.

Akan tetapi ia tidak akan bercerita tentang kelinci dan anjing beagle-nya kepada dewan juri. Seorang amatir tak terlatih sekalipun bisa melihat wajah Millie Dupree dan tahu bahwa ia merasa sangat kasihan pada tikus-tikus itu, dan menaruh dendam terhadap Ueuker karena membunuh mereka. Sylvia Taylor-Tatum dan Angel Weese juga menunjukkan tanda-tanda tidak suka secara terbuka. Mrs. Gladys Card dan Phillip Savelle memperlihatkan perasaan tidak setuju secara samar-samar. Laki-laki lainnya tak bergeming.

Saat makan siang, Rohr dan kawan-kawan mengambil keputusan untuk membatalkan kesaksian lebih lanjut dari James Ueuker.

266

Enam Belas

Jumper, deputi penjaga ruang sidang yang tiga belas hari sebelumnya menerima catatan dari Marlee dan menyerahkanya pada Fitch, didekati saat makan siang dan ditawari lima ribu dolar kontan untuk minta izin tidak masuk bekerja karena kejang perut, diare, atau penyakit semacamnya, dan bepergian dengan berpakaian biasa bersama Pang ke New Orleans untuk semalam menikmati makanan, bersenang-senang, mungkin juga memanggil seorang call girl bila Jumper menginginkannya. Pang hanya membutuhkan beberapa jam pekerjaan ringan darinya. Jumper butuh uangnya.

Mereka meninggalkan Biloxi sekitar pukul setengah satu dengan van sewaan. Saat mereka tiba di New Orleans dua jam kemudian. Jumper sudah terbujuk untuk sementara waktu menanggalkan seragamnya dan bekerja bagi Arlington West Associates. Pang mena-warinya 25.000 dolar untuk enam bulan bekerja, 9.000 dolar lebih banyak daripada yang diperolehnya saat ini selama satu tahun penuh.

Mereka check in di kamar mereka di Hotel St. Regis, dua kamar single di kiri-kanan kamar Fitch,

267

yang hanya bisa memperoleh empat kamar dari hotel tersebut. Kamar Holly terletak di ujung koridor. Dubaz, Joe Boy, dan Dante tinggal empat blok dari sana di Royal Sonesta. Mula-mula Jumper diparkir pada kursi bar di lounge, tempat ia bisa memandang ke pintu masuk hotel.

Saat menunggu dimulai. Tidak ada tanda-tanda dari perempuan itu, sementara siang mulai bergeser menjadi gelap, tapi tak seorang pun terkejut. Jumper dipindahkan empat kali, dan dengan cepat menjadi bosan melakukan pekerjaan mata-mata.

Fitch meninggalkan kamarnya beberapa menit menjelang pukul tujuh dan naik lift ke atap. Mejanya terletak di sebuah sudut. dengan pemandangan indah ke arah Quarter. Holly dan Dubaz duduk di sebuah meja, sepuluh kaki dari sana, keduanya berpakaian rapi dan seolah-olah tidak memedulikan orang lain. Dante dan seorang teman kencan bayaran berok mini hitam duduk di meja lain. Joe Boy akan memotret.

Pukul setengah delapan, wanita itu muncul entah dari mana. Baik Jumper maupun Pang tidak melapor melihatnya di mana pun dekat lobi depan. Ia muncul begitu saja melewati pintu prancis di atap dan Iang-sung ke meja Fitch. Fitch kelak berspekulasi bahwa perempuan itu berbuat sama seperti mereka—menyewa kamar di hotel itu dengan nama Iain dan memakai tangga. Ia memakai celana panjang dan jas, serta sangat cantik—rambut hitam’pendek, mata cokelat, dagu dan pipi kokoh, makeup yang sangat tipis, dan memang hanya sedikit yang dibutuhkan. Fitch menduga usianya antara 28 sampai 32. Ia duduk dengan cepat, demikian cepatnya hingga Fitch udak sempat menawar-268

kan kursi kepadanya. Ia duduk tepat di hadapannya, dengan punggung menghadap ke meja-meja lain.

“Senang berjumpa denganmu,” kata Fitch pelan, melirik berkeliling pada meja-meja Iain, untuk memeriksa apakah ada yang mendengarkan.

“Ya, sangat menyenangkan,” jawabnya sambil bertelekan.

Pelayan muncul dengan sangat efisien dan menanyakan apakah ia ingin minum sesuatu. Tidak. Pelayan itu sudah disuap dengan uang tunai untuk mengambil apa saja yang telah disentuh jarinya— gelas, piring, sendok-garpu, asbak, apa saja. Tapi si pelayan tidak akan mendapatkan kesempatan.

“Apa kau lapar?” Fitch bertanya, meneguk air mineral.

‘Tidak. Aku tergesa-gesa.”

“Mengapa?”

“Sebab makin lama aku duduk di sini, makin banyak foto yang bisa diambil begundalmu.” “Aku datang sendirian.”

“Tentu saja. Kau suka kaus kaki merah itu?” Sebuah band jazz mulai main di atap itu, tapi ia tidak menghiraukan. Matanya tak; pernah meninggalkan mata Fitch.

Fitch menoleh ke belakang dŤn mendengus. Masih sulit uniuk mempercayai bahwa ia sedang bercakap-cakap dengan kekasih salah satu juri. Sebelum ini, ia sudah pernah mengadakan kontak Udak langsung dengan anggota juri, beberapa kali dalam bentuk berbeda, tapi tidak pernah sedekat ini.

Dan perempuan ini datang padanya!

“Dari mana dia berasal?” tanya Fitch.

269

“Apa bedanya? Dia ada di sini.” “Apakah dia suamimu?” “Bukan.” “Pacar?”

“Kau banyak pertanyaan.”

“Kau mengundang banyak pertanyaan, Nona. Dan kau berharap aku mengajukannya.”

“Dia seorang kenalan.”

“Kapan dia memakai nama Nicholas Easter?”

“Apa bedanya? Itu namanya yang sah. Dia penduduk sah negara bagian Mississippi, pemilih terdaftar. Dia bisa mengubah namanya sekali sebulan kalau mau.”

Ia tetap menempelkan tangan di bawah dagu. Fitch tahu, perempuan ini takkan melakukan kesalahan dengan meninggalkan sidik jari. “Bagaimana denganmu?” tanya Fitch.

“Aku?”

“Yeah, kau tidak terdaftar untuk memberikan suara di Mississippi.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Sebab kami sudah memeriksa. Tentu saja dengan asumsi bahwa nama aslimu adalah Marlee, dan bila itu dieja dengan benar.”

“Kau terlalu banyak mengambil asumsi.”

“Itulah tugasku. Apakah kau berasal dari Coast?”

‘Tidak.”

Joe Boy membungkuk di antara dua tanaman boxwood plastik, cukup lama untuk mengambil enam foto samping wajah perempuan itu. Untuk mendapatkan gambar wajahnya dengan jelas, ia perlu berakrobat dari atas susuran bata, delapan belas lantai di atas Canal. Ia akan tetap tinggal di rumpun tanaman itu

270

dan berharap mendapatkan foto yang^Hih baik saat wanita itu berlalu.

Fitch menggoyang-goyangkan es dalam geX>.nya. “Jadi, mengapa kita ada di sini?” ia bertanya.

“Satu pertemuan disusul dengan pertemuan selanjutnya “

“Dan ke manakah semua pertemuan itu akan membawa kita?” “Ke vonis.”

“Dengan imbalan, aku yakin.”

“Imbalan kedengarannya cukup meyakinkan. Apakah kau merekam ini?” Ia tahu benar bahwa Fitch merekam setiap suara.

“Tentu saja tidak “

Fitch boleh memainkan rekamannya dalam tidurnya, ia tak peduli. Fitch tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun dengan membagikan informasi ini pada orang lain. Risikonya terlalu tinggi untuk lan pada polisi atau Hakim, lagi pula itu tidak cocok dengan modus operandinya. Gagasan untuk memeras perempuan ini dengan ancaman akan melaporkannya kepada yang berwenang tidak pernah terlintas dalam pikiran Fitch, dan Marlee pun tahu hal ini.

Ia bisa mengambil semua foto yang diinginkannya, bersama kaki-tangannya yang tersebar di sekitar hotel ia bisa membuntuti, mengamati, dan mendengarkan. Marlee bisa ikut main-main beberapa lama, berkelit dan menghindar, serta membuat mereka bekerja sesuai dengan bayaran mereka. Mereka takkan menemukan apa-apa.

“Sebaiknya kita tidak membicarakan uang sekarang, oke, Fitch?”

271

“Kita fuVai membicarakan apa saja yang ingin kaubicarakaii. Ini pertunjukanmu.”

“Mengapa kau mencuri masuk ke apartemennya?” “itulah yang kami kerjakan.” “Apa pendapatmu mengenai Herman Grimes?” ia bertanya.

“Mengapa kau menanyai aku? Kau tahu persis apa yang terjadi di dalam ruang juri.”

“Aku ingin tahu, sepintar apa kau sebenarnya. Aku ingin tahu, apakah kau mendapatkan informasi sesuai dengan uang yang kauhamburkan untuk para pakar juri dan pengacara itu.”

“Aku tidak pernah kalah, jadi aku selalu mendapatkan hasil sesuai dengan biayanya.”

“Jadi, bagaimana dengan Herman?”

Fitch berpikir sedetik dan memberi tanda minta segelas air lagi. “Dia akan sangat banyak berperan dalam memutuskan vonis, sebab dia orang yang ber-pendirian teguh. Saat ini pendapatnya masih terbuka. Dia menyerap setiap patah kata dalam sidang, dan mungkin tahu lebih banyak daripada setiap anggota juri lainnya. kecuali, tentu saja, temanmu. Apakah aku benar?”

“Cukup dekat.”

“Senang mendengar hal itu. Seberapa sering kau bicara dengan temanmu?”

“Sekali-sekali. Herman keberatan dengan pemogokan pagi ini, kau tahu itu?”

“Tidak.”

“Dialah satu-satunya di antara empat belas orang itu.”

“Mengapa mereka mogok?”

272

“Kondisi. Telepon, TV, bir, seks, gereja, hasrat biasa pada manusia.”

“Siapa yang memimpin pemogokan itu?”

“Sama seperti yang memimpin sejak hari pertama.”

“Begitu?”

“Itulah sebabnya aku ada di sini, Fitch. Bila temanku itu tidak memegang kendali, tidak ada apa pun yang bisa kutawarkan.”

“Dan apakah yang kautawarkan?”

“Sudah kukatakan kita tidak akan bicara soal uang sekarang.”

Pelayan meletakkan gelas baru di depan Fitch, dan sekali lagi menanyai Marlee apakah ia ingin minum sesuatu. “Ya, diet cola dalam cangkir plastik.”

“Kami… uh, well, kami tidak punya cangkir plastik,” kata si pelayan dengan tatapan bingung pada Fitch.

“Kalau begitu, lupakan saja,” kata Marlee, sambil menyeringai pada Fitch.

Fitch memutuskan untuk mendesak. “Bagaimana suasana hati para juri saat ini?”

“Jemu. Terutama Herrera. Menurutnya, pengacara adalah sampan dan seharusnya ada pembatasan untuk gugatan yang sembarangan.”

“Pahlawanku. Bisakah dia meyakinkan teman-te-mannya?”

‘Tidak. Dia tidak punya teman. Dia dibenci oleh semuanya, jelas anggota panel yang paling tidak disukai.”

“Siapa wanita yang paling ramah?”

“Millie adalah ibu bagi semuanya, tapi dia bukan faktor penentu. Rikki manis dan populer, serta sangat peduli dengan kesehatan. Dia adalah masalah bagimu.”

273

“Itu bukan kejutan.” “Kau ingin kejutan, Fitch?” “Yeah, beri aku kejutan.”

“Anggota juri mana yang mulai merokok sejak sidang ini dimulai?”

Fitch menyipitkan mata dan sedikit memiringkan kepala ke kiri. Benarkah apa yang didengarnya? “Mulai merokok?”

“Ya.”

“Aku menyerah.” “Easter. Terkejut?” ‘Temanmu.”

“Yeah. Dengar, Fitch, aku harus pergi. Aku akan menelepon besok.” Ia berdiri dan berlalu, menghilang secepat datangnya.

Dante bersama wanita bayaran itu bereaksi sebelum Fitch, yang tertegun sesaat dengan kepergian Marlee yang sedemikian cepat. Dengan radio, Dante menghubungi Pang di lobi, yang melihat wanita itu keluar dari lift dan meninggalkan hotel. Jumper membuntuti dengan berjalan kaki sejauh dua blok sebelum kehilangan dia di dalam lorong yang penuh sesak

Selama satu jam mereka mengawasi jalanan, tempat parkir, lobi hotel, dan bar-bar, namun tidak melihatnya. Fitch ada di dalam kamarnya di St. Regis ketika datang telepon dari Dubaz, yang sudah dikirim ke bandara. Wanita itu sedang menunggu penerbangan yang akan berangkat satu setengah jam lagi dan mendarat di Mobile pada pukul 22.50. Jangan menguntitnya. Fitch menginstruksikan, lalu menelepon dua orang yang sedang siaga di Biloxi untuk segera menuju bandara di Mobile.

274

Marlee tinggal di kondominium sewaan, menghadap Back Bay di Biloxi. Dua puluh menit dari rumahnya, ia menelepon Kepolisian Biloxi dengan menekan 911 pada telepon genggamnya dan menjelaskan kepada operator bahwa sebuah Ford Taurus dengan dua orang di dalamnya menguntitnya sejak ia meninggalkan Mobile, mereka tampak berbahaya dan ia takut akan keselamatan dirinya. Dengan si operator mengkoor-dinasikan gerakan, Marlee mengambil serangkaian belokan di daerah sepi dan mendadak berhenti di pompa bensin 24 jam. Sewaktu ia mengisi tangki, sebuah mobil polisi meluncur di belakang Taurus itu, yang mencoba bersembunyi di balik sudut toko penatu yang sudah tutup. Dua orang itu diperintahkan keluar, kemudian dibawa melintasi tempat parkir untuk me nemui perempuan yang mereka buntuti.

Marlee memainkan perannya dengan luar biasa sebagai korban yang ketakutan. Polisi makin simpati ketika ia menangis. Kaki tangan Fitch diseret ke penjara.

Pada pukul sepuluh, Chuck, deputi berperawakan besar yang tampak tidak ramah, membuka kursi lipat di ujung koridor dekat kamarnya, dan mulai berjaga malam. Saat itu hari Rabu, malam kedua karantina tersebut, dan saat untuk melanggar aturan keamanan. Seperti direncanakan, Nicholas menelepon kamar Chuck pada pukul 23.30. Saat Chuck meninggalkan posnya untuk menjawab, Jerry dan Nicholas menye-Iinap dari kamar mereka dan berjalan santai ke pintu keluar dekat kamar Lou Dell. Lou Dell sudah tidur nyenyak di ranjangnya. Dan meskipun hampir seharian

275

penuh tidur di gedung pengadilan, Willis pun sudah mendengkur keras di bawah selimut.

Menghindari lobi depan, mereka menyelinap dalam bayang-bayang dan menemukan taksi yang sedang menunggu, tepat seperti yang diinstruksikan. Seperempat jam kemudian, mereka memasuki Nugget Casino di Biloxi Beach. Mereka minum tiga gelas bir d sports bar, sementara Jerry kehilangan seratus dolar dalam taruhan permainan hoki. Mereka main mata dengan dua wanita yang sudah menikah dan suaminya sedang menang atau kalah di meja judi. Main mata itu jadi serius, dan pada pukul 01.00 Nicholas meninggalkan bar untuk main blackjack lima dolaran dan minum kopi tanpa kafein. la bermain serta menunggu dan mengawasi, sementara kerumunan orang mulai menipis.

Marlee menyelinap ke kursi di sampingnya, tidak mengucapkan apa-apa. Nicholas mendorong setumpuk chip ke depannya Satu-satunya pemain lain adalah seorang mahasiswa mabuk. “Di atas,” bisik Marlee di antara dua tangan, ketika dealer menoleh untuk bicara dengan pit boss.

Mereka bertemu di loteng terbuka, dengan pemandangan ke halaman parkir dan lautan di kejauhan. Bulan November sudah datang, udara terasa ringan dan sejuk. Tidak ada orang lain di sekitar mereka. Mereka berciuman dan duduk berdekatan di bangku. Marlee menceritakan kembali perjalanannya ke New Orleans; setiap detail, setiap patah kata. Mereka menertawakan dua penguntit dari Mobile yang kini mendekam di penjara county. Marlee akan menelepon Fitch pagi nanti dan menyuruhnya membebaskan anak buahnya.

276

Mereka bicara urusan bisnis dengan ringkas, sebab Nicholas ingin kembali ke bar dan menjemput Jerry sebelum minum terlalu banyak dan kehilangan seluruh uangnya, atau tertangkap basah dengan istri orang lain.

Mereka masing-masing membawa telepon seluler tipis yang tidak bisa sepenuhnya diamankan. Kode dan password baru ditukar.

Nicholas memberikan ciuman selamat berpisah dan meninggalkan Marlee seorang diri di loteng itu.

Wendall rohr mendapat firasat bahwa para juri sudah jemu mendengarkan para peneliti menggembar-gemborkan penemuan mereka dan memberi kuliah dan bagan dan grafik. Konsultannya memberitahukan bahwa juri sudah cukup mendengar mengenai kanker paru-paru dan merokok, mereka mungkin sudah yakin sebelum sidang dimulai bahwa rokok menimbulkan kecanduan dan berbahaya. Ia yakin ia sudah menetapkan hubungan sebab-akibat yang kuat antara Bristol dan tumor yang membunuh Jacob Wood, dan kini saatnya menghentikan kesaksian itu. Kamis pagi ia mengumumkan bahwa penggugat mengundang Lawrence Krigler sebagai saksi selanjutnya. Ketegangan mencekam meja tergugat saat Mr. Krigler dipanggil dari belakang. Satu pengacara lain di pihak penggugat, John Riley Milton dari Denver, berdiri dan tersenyum manis kepada dewan juri.

Lawrence Krigler berusia menjelang tujuh puluh, berkulit kecokelatan dan bugar, berpakaian rapi dan sigap. Ia adalah saksi pertama tanpa gelar doktor menempel di depan namanya sejak video Jacob Wood

277

ditampilkan. Ia kini tinggal di Florida, tempat ia pensiun setelah meninggalkan Pynex. John Riley Milton menuntutnya dengan cepat menyelesaikan pemeriksaan awal, sebab kesaksian yang lebih menarik akan segera muncul.

Sebagai insinyur lulusan North Carolina State, ia sudah tiga puluh tahun bekerja untuk Pynex, sebelum keluar di tengah suatu gugatan tiga belas tahun sebe-Iumnya. Ia menggugat Pynex. Perusahaan tersebut balas menggugatnya. Mereka menyelesaikan masalah di luar pengadilan, dengan syarat-syarat yang tidak diungkapkan.

Ketika pertama kali ia dipekerjakan, perusahaan itu, yang dulu bernama Union Tobacco, atau U-Tab, mengirimnya ke Kuba untuk mempelajari produksi tembakau di sana. Sejak itu ia terus bekerja di bagian produksi, atau setidaknya sampai ia keluar. Ia mempelajari daun tembakau dan seribu cara untuk menanamnya secara lebih efisien. Ia menganggap dirinya ahli dalam bidang ini, meskipun ia tidak memberikan kesaksian sebagai saksi ahli dan tidak akan menawarkan pendapatnya. Hanya fakta.

Pada tahun 1969, ia menyelesaikan penelitian selama tiga tahun dalam perusahaan itu, mengenai kemungkinan menanam daun tembakau ekspenmental yang hanya dikenal dengan nama Raleigh 4. Kandungan nikotin dalam tembakau ini hanyalah sepertiga dari tembakau biasa. Krigler menyimpulkan, ditunjang dengan riset mendalam, bahwa Raleigh 4 bisa ditanam dan diproduksi sama efisiennya seperti tembakau lain yang waktu itu ditanam dan diproduksi oleh U-Tab.

la sangat bangga dengan karya monumental ini,

278

dan merasa hancur ketika pada mulanya penelitiannya diabaikan oleh para petinggi di perusahaannya. Ia merayap susah payah menerobos birokrasi ketat di atasnya. dengan hasil yang mematahkan had. Sepertinya tak seorang pun peduli dengan galur tembakau baru berkadar nikotin rendah ini.

Kemudian ia baru tahu bahwa ia sangat keliru. Bos-bosnya sangat peduli dengan tingkat nikotin. Pada musim panas 1971, ia menemukan memo internal yang menginstruksikan manajemen tingkat atas agar diam-diam melakukan apa saja yang mungkin untuk mendiskreditkan penelitian Krigler dengan Raleigh 4. Bawahan-bawahannya sendiri diam-diam menusuknya dari belakang. Ia tetap tenang, tidak memberitahu siapa pun bahwa ia punya memo itu, dan mulai melakukan proyek diam-diam untuk mempelajari alasan persekongkolan yang menentangnya itu.

Sampai di sini, John Riley Milton menunjukkan dua barang bukti—laporan penelitian tebal yang diselesaikan Krigler pada tahun 1969, dan memo tahun 1971.

Jawabannya jadi sebening kristal, sesuai dengan kecurigaannya. U-Tab tidak bisa memproduksi daun tembakau dengan nikotin lebih rendah, sebab nikotin berarti keuntungan. Industri itu sejak akhir dasawarsa tiga puluhan sudah tahu bahwa nikotin menimbulkan ketergantungan fisik.

“Bagaimana Anda tahu bahwa industri tersebut tahu?” Milton bertanya. Seluruh ruang sidang itu mendengarkan dengan penuh perhatian, tapi para pengacara di pihak tergugat berusaha sebisa mungkin menunjukkan sikap bosan dan tak acuh.

“Itu sudah menjadi rahasia umum dalam industri

279

ini,” jawab Krigler. “Pada tahun 1930-an ada suatu penelitian rahasia, dibiayai oleh perusahaan-perusahaan tembakau. dan hasilnya adalah bukti jelas bahwa nikotin dalam rokok bersifat adiktif.”

“Apakah Anda pemah melihat laporan ini?” ‘Tidak. Seperti sudah Anda duga, penelitian itu disembunyikan rapat-rapat.” Krigler berhenti dan memandang ke meja pembela. Ia akan menyampaikan sesuatu yang mengejutkan, dan ia benar-benar menikmati saat tersebut. ‘Tapi saya melihat sebuah memo…”

“Keberatan!” Cable berseru sambil berdiri. “Saksi ini tidak boleh menyebutkan apa yang mungkin dia lihat dalam dokumen tertulis. Alasannya banyak, dan dikemukakan secara lebih jelas dalam makalah sanggahan yang kami ajukan mengenai hal ini.”

Makalah itu tebalnya delapan puluh halaman, dan sekarang sudah diperdebatkan selama sebulan. Hakim Harkin sudah menolak secara tertulis. “Keberatan Anda dicatat, Mr. Cable. Mr. Krigler, Anda boleh meneruskan.”

“Pada musim dingin 1973, saya melihat memo satu halaman berisi ringkasan penelitian nikotin pada tahun 1930-an itu. Memo tersebut sudah dikopi berkali-kali, sudah sangat tua. dan sudah sedikit diubah.” “Diubah bagaimana?”

‘Tanggalnya dihilangkan, demikian pula nama orang yang mengirimnya.”

“Kepada siapa memo itu dikirimkan?”

“Memo tersebut dialamatkan kepada Sander S. Fraley, yang waktu itu menjabat sebagai direktur Allegheny Growers, pendahulu perusahaan yang sekarang disebut ConPack “

280

“Sebuah perusahaan tembakau.”

“Ya, pada dasarnya Perusahaan tersebut menyebut diri sebagai perusahaan produk konsumen, tapi sebagian besar bisnisnya adalah membuat rokok.”

“Kapan dia duduk sebagai direktur?”

“Dari tahun 1931 sampai 1942.”

“Kalau begitu, apakah aman untuk menganggap bahwa memo tersebut dikirim sebelum tahun 1942?”

“Ya. Mr. Fraley meninggal dunia pada tahun 1942.”

“Di manakah Anda ketika melihat memo ini?”

“Di sebuah fasilitas Pynex di Richmond. Ketika Pynex masih disebut Union Tobacco, kantor pusatnya ada di Richmond. Pada tahun 1979, perusahaan ini ganti nama dan pindah ke New Jersey. Akan tetapi gedung-gedungnya masih dipakai di Richmond, dan di sanalah saya bekerja sampai keluar. Sebagian besar catatan lama perusahaan ada di sana. dan seseorang yang saya kenal memperlihatkan memo itu pada saya.”

“Siapakah orang ini?”

“Seorang sahabat, dan sekarang sudah meninggal. Saya berjanji padanya bahwa saya tidak akan mengungkapkan identitasnya.”

“Apakah Anda benar-benar memegang memo tersebut?”

“Ya. Bahkan saya membuat kopi nya.”

“Dan di manakah kopi Anda?”

“Tidak bertahan lama. Sehari sesudah saya menguncinya dalam laci meja kerja, saya ditugaskan ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Ketika saya pergi, seseorang memeriksa meja kerja saya dan mengambil beberapa benda, termasuk kopi memo tersebut.”

“Apakah Anda ingat isi memo itu?”

281

“Saya ingat dengan baik sekali. Harap diperhatikan, saya sudah lama menggali-gali, mencari penegasan atas apa yang sudah saya curigai. Melihat memo tersebut merupakan saat tak terlupakan.”

“Apa bunyinya?”

‘Tiga alinea, mungkin empat, ringkas dan langsung ke sasaran. Penulisnya menjelaskan bahwa dia baru saja membaca laporan penelitian nikotin yang diam-diam diperlihatkan kepadanya oleh kepala riset di Allegheny Growers, seseorang yang tidak disebutkan namanya dalam memo tersebut. Menurut pendapatnya, penelitian tersebut membuktikan secara konklusif dan pasti bahwa nikotin menimbulkan kecanduan. Seingat saya, inilah inti dari dua alinea pertama.”

“Dan alinea selanjutnya**”

“Si penulis menyarankan kepada Fraley agar perusahaan mempertimbangkan untuk meningkatkan kadar nikotin dalam rokoknya. Lebih banyak nikotin berarti lebih banyak perokok, yang berarti peningkatan penjualan dan laba.”

Krigler mengucapkan kata-katanya dengan cukup tajam untuk memberikan efek dramatis, dan setiap telinga menyerap kata-katanya. Para juri, untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, mengamati setiap gerakan yang dilakukan oleh saksi. Kata “laba” meng-apung ke seluruh penjuru ruang sidang, dan bergelantungan di sana bak kabut kotor.

John Riley Milton diam sejenak, lalu berkata, “Nah, mari kita luruskan persoalan ini. Memo itu disiapkan oleh seseorang di perusahaan lain, dan dikirimkan kepada direktur perusahaan itu, benar?”

“Benar.”

282

“Perusahaan yang waktu itu dan saat ini merupakan pesaing Pynex?” “Benar.”

“Bagaimana memo itu bisa sampai ke Pynex pada tahun 1973?”

“Saya tidak pernah tahu. Tapi Pynex pasti tahu tentang penelitian tersebut. Bahkan seluruh industri tembakau tahu tentang penelitian itu pada awal tahun 1970-an, kalau tidak lebih awal lagi.”

“Bagaimana Anda tahu hal ini?”

“Saya bekerja dalam industri ini selama tiga puluh tahun, ingat. Dan saya menghabiskan karier saya dalam produksi. Saya bicara dengan banyak orang, terutama rekan-rekan sepekerjaan di perusahaan lain Katakan saja bahwa perusahaan-perusahaan rokok itu kadang-kadang bisa bersatu.”

“Apakah Anda pernah mencoba mendapatkan kopi lain memo itu dari teman Anda?”

“Saya mencobanya. Tidak berhasil Man kita biarkan sampai di situ.”

Kecuali rehat kopi lima belas menit pada pukul setengah sebelas, Krigler memberikan kesaksian nonstop selama tiga jam sidang pagi itu. Kesaksiannya berlalu seolah-olah hanya dalam beberapa menit, dan itu merupakan saat penting dalam sidang ini. Drama seorang mantan pegawai yang menumpahkan rahasia-rahasia kotor dimainkannya dengan sempurna. Para juri bahkan tidak menghiraukan keinginan untuk segera makan siang. Para pengacara mengamati anggota juri dengan lebih cermat, dan Hakim seakan-akan menuliskan setiap patah kata yang diucapkan oleh saksi.

283

Para reporter itu luar biasa khidmat; para konsultan juri menaruh perhatian penuh. Anjing-anjing penjaga dari Wall Street menghitung menit sampai mereka bisa melompat keluar dan ruangan dan menelepon gencar ke New York. Pengacara-pengacara lokal yang jemu dan berkeliaran di gedung pengadilan tersebut akan membicarakan kesaksian itu hingga bertahun-tahun. Bahkan Lou Dell berhenti merajut di deretan depan.

Fitch menyaksikan dan mendengarkan dari ruang pengamat di samping kantornya. Krigler dijadwalkan memberikan kesaksian awal minggu depan, dan ada kemungkinan ia tidak akan bersaksi sama sekali. Fitch adalah satu dari beberapa saksi hidup yang pernah benar-benar melihat memo itu, dan Krigler menguraikannya dengan ketepatan mencengangkan Jelaslah bagi semua orang, bahkan bagi Fitch, bahwa saksi itu menceritakan yang sebenarnya.

Salah satu tugas pertama Fitch sembilan tahun yang lalu, ketika pertama kali dibayar oleh The Big Four, adalah melacak setiap kopi memo tersebut, dan menghancurkan seluruhnya. Ia masih menggarap tugas ini.

Baik Cable maupun pembela yang dibayar oleh Fitch, sejauh ini, belum pernah melihat memo tersebut.

Keberadaan memo tersebut hingga bisa di terima dalam sidang telah menimbulkan peperangan kecil. Peraturan mengenai bukti biasanya mencegah uraian verbal mengenai dokumen yang hilang, karena alasan-alasan yang jelas. Bukti* terbaik adalah dokumen itu sendiri. Akan tetapi, seperti halnya dengan setiap bidang hukum, tentu ada perkecualian, dan perkecuali-284

an dari perkecualian, dan Rohr dkk. telah berhasil meyakinkan Hakim Harkin bahwa para juri harus mendengar uraian Krigler mengenai apa yang saat itu dianggap sebagai dokumen hilang.

Pemeriksaan silang yang akan dilakukan Cable siang itu akan brutal, tapi mau bagaimana lagi? Fitch tidak makan siang dan mengunci diri di kantornya.

Di dalam ruang juri, suasana makan siang sangat berbeda dari biasa. Obrolan mengenai football dan resep digantikan oleh keheningan. Sebagai badan pengambil keputusan, dewan juri telah dibuai hingga pingsan dengan dua minggu kesaksian ilmiah yang menjemukan dari para pakar yang dibayar mahal untuk datang memberikan kuliah di Biloxi. Kini dewan juri itu diguncang hingga terbangun dengan kesaksian sensasional dari Krigler.

Mereka makan lebih sedikit dan termenung lebih banyak. Kebanyakan ingin masuk ke ruangan lain bersama teman favorit mereka dan membicarakan kembali apa yang baru saja mereka dengar. Benarkah apa yang mereka dengar itu? Apakah semua memahami apa yang baru saja dikatakan laki-laki itu? Mereka sengaja meninggikan kadar nikotin, sehingga orang terjerat!

Para perokok—kini tinggal tiga orang setelah Stella pergi, meskipun Easter bisa dikategorikan semiperokok, sebab ia lebih suka melewatkan waktu bersama Jerry, Poodle, dan Angel Weese—makan cepat-cepat, kemudian minta diri. Mereka semua duduk di kursi lipat, menatap dan mengepulkan asap rokok ke jendela yang terbuka. Dengan pikiran masih terusik oleh

285

penambahan nikotin itu, rokok mereka terasa sedikit lebih berat. Namun ketika Nicholas mengucapkan hal itu, tak seorang pun tertawa.

Mrs. Gladys Card dan Millie Dupree pergi ke kamar kecil bersama-sama. Mereka buang air kecil berlama-lama, lalu menghabiskan seperempat jam untuk cuci tangan dan mengobrol di depan cermin. Di tengah percakapan bergabunglah Loreen Duke, yang bersandar pada tempat tisu dan cepat-cepal mengemukakan keheranan serta kemuakannya terhadap perusahaan tembakau.

Sesudah meja dibersihkan, Lonnie Shaver membuka komputer laptop-nya dua kursi dari Herman, yang sudah memasang mesin braille-nya dan sedang mengetik. Sang kolonel berkata pada Herman, “Kurasa kau tidak butuh penerjemah untuk kesaksian itu, bukan?” Menjawab pertanyaan itu, Herman mendengus dan berkata, “Menurutku itu sangat mencengangkan.” Hanya itu yang diucapkannya.

Lonnie Shaver tidak tercengang atau terkesan oleh apa pun.

Phillip Savelle sudah meminta dengan sopan dan mendapatkan inn dari Hakim Harkin untuk melewatkan sebagian dari istirahat makan siangnya dengan beryoga di bawah sebatang pohon ek besar di depan gedung pengadilan. Ia dikawal oleh seorang deputi ke pohon ek itu, lalu ia membuka kemeja, kaus kaki, dan sepatu, serta duduk di rumput yang lembut dan mehpat hpat tubuhnya jadi pretzel. Ketika ia mulai membaca mantra, si deputi pindah ke bangku beton di dekat situ dan menundukkan wajah, sehingga tak seorang pun mengenalinya.

***

Cable menyapa Krigler, seolah-olah mereka berdua sahabat lama. Kngler tersenyum dan berkata, “Selamat siang, Mr. Cable,” dengan sikap penuh percaya diri. Tujuh bulan sebelumnya, di dalam kantor Rohr, Cable dan kawan-kawannya menghabiskan tiga hari untuk merekam kesaksian Krigler. Video itu diamati dan dipelajari oleh tak kurang dari dua lusin pengacara dan beberapa pakar juri, bahkan dua psikiater. Krigler mengatakan yang sebenarnya, tapi pada titik ini kebenaran perlu dikaburkan. Ini adalah pemeriksaan silang, pemeriksaan yang amat penting, jadi persetan dengan kebenaran. Saksi harus didiskredit-kan!

Sesudah beratus jam dihamburkan untuk menyusun rencana, dikembangkanlah suatu strategi. Cable mulai dengan menanyai Krigler, apakah ia marah terhadap man tan majikannya.

“Ya,” jawabnya.

“Apakah Anda membenci perusahaan itu?” “Perusahaan itu adalah suatu kesatuan. Bagaimana Anda membenci suatu konsep?” “Apakah Anda benci perang?” ‘Tidak pernah.”

“Apakah Anda benci pada penganiayaan anak-anak?”

“Saya yakin itu memuakkan, tapi untunglah saya tidak pernah punya kaitan dengan hal itu.”

“Apakah Anda benci kekerasan?”

“Saya yakin itu mengerikan, tapi, sekali lagi, saya beruntung.”

287

286

“Jadi, Anda tidak membenci apa pun?” “Brokoli”

Terdengar tawa kecil dari seluruh penjuru ruang sidang, dan Cable tahu bahwa ia menghadapi kesulitan.

“Anda tidak membenci Pynex?” ‘Tidak.”

“Apakah Anda membenci orang yang bekerja di sana?”

‘Tidak. Beberapa orang memang tidak saya sukai.”

“Apakah Anda membenci orang yang bekerja di sana ketika Anda bekerja di sana?”

“Tidak. Saya punya beberapa musuh, tapi rasanya saya tidak membenci siapa pun.”

“Bagaimana dengan orang-orang yang Anda perkarakan?”

“Tidak. Sekali lagi, mereka adalah musuh, tapi mereka hanya mengerjakan tugas.”

“Jadi, Anda mencintai musuh Anda?”

‘Tidak begitu. Saya tahu seharusnya saya mencoba demikian, tapi itu sulit. Saya tidak ingat pernah mengatakan saya mencintai mereka.”

Cable berharap mencetak kemenangan kecil dengan menginjeksikan kemungkinan balas dendam dari pihak Krigler. Mungkin bila ia memakai kata “benci” cukup sering, kata itu akan melekat di benak beberapa anggota juri.

“Apakah motif Anda memberikan kesaksian di sini?”

“Itu pertanyaan yang rumit.” “Karena uang?” “Bukan.”

288

“Apakah Anda dibayar oleh Mr. Rohr atau siapa saja yang bekerja bagi penggugat agar datang dan memberikan kesaksian?”

“Tidak. Mereka setuju akan mengganti biaya perjalanan saya, itu saja.”

Yang paling tidak diinginkan oleh Cable adalah pintu terbuka bagi Krigler untuk menjelaskan secara terperinci alasan-alasannya memberikan kesaksian. Ia sudah menyentuhnya sepintas dalam pemeriksaan oleh Milton, dan menghabiskan waktu lima jam menguraikannya dalam kesaksian di video. Sangatlah penting untuk menyibukkannya dengan hal-hal lain.

“Apakah Anda pemah merokok, Mr. Krigler?”

“Ya. Patut disesalkan, saya merokok selama dua puluh tahun.”

“Jadi, Anda ingin seandainya Anda tidak pernah merokok?”

“Tentu saja.”

“Kapan Anda mulai?”

“Ketika saya mulai bekerja pada perusahaan ini, tahun 1952. Pada waktu itu, mereka mendorong semua karyawan untuk merokok. Mereka masih melakukannya.”

“Apakah Anda percaya bahwa Anda merusak kesehatan sendiri dengan merokok selama dua puluh tahun?”

‘Tentu. Saya merasa beruntung tidak mati, seperti Mr. Wood.”

“Kapan Anda berhenti?”

‘Tahun 1973. Sesudah saya tahu hal sebenarnya mengenai nikotin.”

“Apakah Anda merasa kesehatan Anda sekarang

289

dirugikan karena Anda merokok selama dua puluh tahun?” ‘Tentu”

“Menurut pendapat Anda, apakah perusahaan ikut bertanggung jawab atas keputusan Anda merokok?”

“Ya. Seperti saya katakan, hal itu dianjurkan. Semua orang merokok. Kami bisa membeli rokok setengah harga di toko perusahaan. Rapat-rapat dimulai dengan membagikan semangkuk rokok di antara kami. Itu bagian dari budaya perusahaan.”

“Apakah kantor-kantor Anda berventilasi?”

‘Tidak.”

“Seburuk apakah merokok secara tidak langsung?”

“Sangat buruk. Selalu ada kabut biru tergantung tidak jauh dari kepala.”

“Jadi, hari ini Anda menyalahkan perusahaan karena Anda tidak sesehat yang seharusnya menurut Anda?”

“Perusahaan punya andil besar dalam hal itu. Untunglah saya berhasil menendang kebiasaan tersebut. Itu tidak mudah.”

“Dan Anda menyimpan dendam terhadap perusahaan karena ini?”

“Mari kita katakan saja dulu saya berharap bekerja di industri lain ketika lulus college.”

“Industri? Apakah Anda menaruh dendam pada seluruh industri ini?”

“Saya bukan penggemar industri tembakau.”

“Itukah sebabnya Anda ada di sini?”

‘Tidak.”

Cable membalik halaman catatan dan cepat-cepat berganti arah. “Nah, Anda dulu punya saudara perempuan, bukan, Mr. Krigler?”

290

“Benar.”

“Apa yang terjadi padanya?”

“Dia meninggal pada tahun 1970.”

“Bagaimana dia meninggal?”

“Kanker paru-paru. Dia merokok dua bungkus sehari selama kurang-lebih 23 tahun. Merokok membunuhnya, Mr. Cable, kalau itu yang Anda inginkan.”

“Apakah Anda dekat dengannya?” Cable bertanya dengan cukup simpatik, untuk menepis prasangka buruk karena mengungkit tragedi ini.

“Kami sangat dekat. Dia saudara saya satu-satu-nya.”

“Dan kematiannya sangat menyedihkan Anda?”

“Benar. Dia orang yang sangat istimewa, saya masih merindukannya.”

“Maafkan saya mengungkit hal ini, Mr. Krigler, tetapi ini relevan.”

“Simpati Anda sungguh mengagumkan, Mr. Cable, tapi tidak ada apa pun yang relevan mengenai hal ini.”

“Bagaimana perasaannya mengenai kebiasaan Anda merokok?”

“Dia tidak menyukainya. Menjelang meninggal dunia, dia memohon agar saya berhenti. Itukah yang ingin Anda dengar, Mr. Cable?”

“Hanya bila itulah yang sebenarnya.”

“Oh, ini benar, Mr. Cable. Sehari sebelum meninggal, dia meminta saya berjanji akan berhenti merokok. Dan saya melakukannya, meskipun saya butuh tiga tahun yang panjang untuk mewujudkannya. Saya terjerat, Mr. Cable, seperti juga saudara perempuan saya, sebab perusahaan yang membuat rokok yang

291

membunuhnya, dan bisa membunuh saya juga, secara sengaja mempertahankan nikotinnya dalam kadar tinggi.”

“Nah…”

“Jangan menyela saya, Mr. Cable. Nikotin itu sendiri sebenarnya bukan karsinogen, Anda tahu itu, melainkan cuma racun, sejenis racun yang membuat orang kecanduan, sehingga karsinogen-karsinogen itu suatu hari bisa menghabisi orang. Itulah sebabnya pada dasarnya rokok berbahaya.”

Cable memandanginya dengan sikap tenang. “Apakah Anda sudah selesai?”

“Saya siap untuk pertanyaan selanjutnya, tapi jangan menyela saya lagi.”

“Baiklah, saya minta maaf. Nah, kapan pertama kali Anda yakin bahwa rokok berbahaya?”

“Saya tidak tahu persis. Saya sudah mengetahuinya beberapa lama. Tidak butuh seorang jenius untuk mengetahuinya, dulu ataupun sekarang. Tapi bolehlah saya katakan kejadiannya adalah pada awal tahun tujuh puluhan, sesudah saya selesai kuliah, sesudah saudara perempuan saya meninggal dunia, dan tak lama sebelum saya melihat memo mengejutkan itu.”

‘Tahun 1973?”

“Sekitar saat itulah.”

“Kapan hubungan kerja Anda dengan Pynex berakhir? Tahun berapa?” “1982.”

“Jadi, Anda terus bekerja pada perusahaan yang membuat produk yang Anda anggap berbahaya?” “Benar.”

“Berapa gaji Anda pada tahun 1982?”

292

“Sembilan puluh ribu dolar setahun.”

Cable diam dan berjalan ke mejanya, menerima satu buku tulis kuning lain yang dipelajarinya beberapa saal sambil menggigit gagang kacamata bacanya, kemudian ia kembali ke podium dan menanyai Krigler mengapa ia menggugat perusahaan itu pada tahun 1982. Krigler tidak menyukai pertanyaan ini, serta memandang pada Rohr dan Milton, mencari pertolongan. Cable menelusuri perincian segala peristiwa yang mengarah pada gugatan itu, suatu perkara pribadi dan rumit luar biasa, dan kesaksian itu me-lamban, hingga akhirnya berhenti. Rohr mengajukan keberatan, Milton juga, dan Cable berlagak tidak mengerti mengapa mereka keberatan. Para pengacara itu berunding secara pribadi di depan Hakim Harkin, dan Krigler jadi bosan dengan mimbar saksi.

Cable terus menghantam catatan prestasi Krigler selama sepuluh tahun terakhir bersama Pynex, dan memberikan isyarat kuat bahwa saksi-saksi lain akan dipanggil untuk menyanggahnya.

Cara itu nyaris berhasil. Karena tak mampu menghapus efek merusak dari kesaksian Krigler, pihak pembela akhirnya memilih untuk menghidangkan omong kosong kepada juri. Kalau seorang saksi tidak dapat digoyahkan, pukul dia dengan detail-detail yang tidak penting.

Akan tetapi, cara itu sudah dijelaskan kepada dewan juri oleh Nicholas Easter, yang pernah dua tahun kuliah hukum dan memutuskan untuk mengingatkan rekan-rekannya akan pengalamannya pada rehat kopi sore. Tanpa menghiraukan keberatan Herman. Nicholas menyuarakan kesebalannya pada Cable karena

293

melemparkan omong kosong dan mencoba membingungkan dewan juri. “Dia pikir kita tolol,” katanya pahit.

294

TYijuh Belas

Menanggapi rentetan telepon panik dari Biloxi, harga saham Pynex terjerembap turun sampai 75,5 pada penutupan hari Kamis, turun hampir empat poin dalam transaksi yang berat, karena peristiwa-peristiwa dramatis di ruang sidang.

Pada sidang perkara tembakau lainnya, beberapa mantan karyawan memberikan kesaksian mengenai pestisida dan insektisida yang disemprotkan pada tanaman, dan para ahli mengaitkan zat-zat kimia ini dengan kanker. Para juri tidak terkesan. Pada salah satu sidang, seorang mantan karyawan menyebarkan kabar bahwa mantan majikannya menjerat para remaja dengan iklan yang memperlihatkan idiot-idiot kurus dan glamor dengan dagu dan gigi sempurna, sedang berhura-hura mengisap rokok. Majikan yang sama juga menjerat remaja laki-laki menjelang dewasa dengan iklan yang menggambarkan koboi dan pengemudi mobil mewah sedang menikmati hidup dengan rokok terselip di bibir.

Namun juri dalam sidang-sidang itu tidak memberikan kemenangan kepada penggugat.

Tetapi tidak ada mantan karyawan yang kesaksi—

295

annya menimbulkan kerusakan sehebat Lawrence Krigler. Memo terkenal dari tahun 1930-an itu hanya sempat dilihat oleh beberapa orang, tapi tak pernah diperlihatkan dalam sidang. Versi Krigler untuk juri sama jelasnya dengan bentuk aslinya, bagi pengacara di pihak tergugat. Fakta bahwa ia diperkenankan oleh Hakim Harkin untuk menguraikannya kepada juri tentu akan ditentang keras pada sidang banding, tak peduli siapa yang memenangkan perkara itu.

Krigler cepat-cepat dikawal ke luar kota oleh orang-orang keamanan Rohr, dan satu jam sesudah menyelesaikan kesaksiannya, ia sudah berada dalam pesawat pribadi ke Florida. Beberapa kali sejak meninggalkan Pynex, ia tergoda untuk menghubungi pengacara penggugat dalam perkara gugatan terhadap perusahaan tembakau, tapi ia tak pernah bisa mengerahkan keberanian.

Pynex sudah membayarnya 300.000 dolar di luar pengadilan, sekadar untuk menyingkirkannya. Perusahaan itu mendesak agar ia setuju untuk tidak lagi memberikan kesaksian dalam sidang lain yang serupa dengan perkara Wood, tapi ia menolak. Dan ketika menolak, ia jadi sasaran.

Mereka, siapa pun orangnya, mengatakan akan membunuhnya. Ancaman yang diterimanya hanya sedikit dan terpencar selama bertahun-tahun, selalu dari suara tak dikenal dan selalu muncul pada saat paling tak terduga. Krigler bukan orang yang mau bersembunyi. Ia sudah menulis buku. pemaparan yang katanya akan diterbitkan bila ia mati sebelum waktunya. Seorang pengacara menyimpannya di Melbourne Beach. Pengacara itu seorang teman yang mengatur

296

pertemuan pertamanya dengan Rohr. Sang pengacara juga membuka dialog dengan FBI, berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu pada Mr. Krigler.

Suami Millie Dupree, Hoppy, memiliki perusahaan agen perumahan yang sedang kembang-kempis di Biloxi. Memang bukan perusahaan yang agresif. Ia hanya punya sedikit pro^pek dan barang bagus. tapi ia mengelola bisnis kecilnya dengan rajin. Pada salah satu dinding ruang depannya ada foto-foto rumah-rumah yang tersedia, ditempel dengan paku payung pada papan—kebanyakan rumah-rumah bata kecil dengan halaman yang rapi dan beberapa rumah dupleks reyot.

Demam kasino telah membawa ke coast suatu gerombolan baru spekulan^, real estate yang tidak takut meminjam dalam jumlah besar dan melakukan pengembangan sesuai dengan pinjaman itu. Sekali lagi, Hoppy dan rekan-rekannya bermain aman dan ternyata diri mereka terdesak makin jauh ke dalam pasar yang sudah mereka kenal betul—model-model STARTER yang kecil dan manis untuk pasangan baru menikah. FIXUP untuk mereka yang sangat membutuhkan rumah dan MOTIVATED SELLER bagi mereka yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman bank.

Akan tetapi, ia bisa membayar semua rekening dan membiayai keluarganya—Millie, istrinya, dan lima anak mereka. tiga di junior college dan dua di sekolah menengah. Di kantornya, ia menempelkan lisensi dari setengah lusin sales associate paruh waktu, sebagian besar adalah gerombolan pecundang yang

297

sama-sama enggan pada utang dan kekuatan. Hoppy suka main kartu, dan melewatkan berjam-jam di meja kerjanya di belakang untuk bermain kartu, sementara para bawahannya berkerumun di sekelilingnya. Para realtor, pialang barang-barang tak bergerak, tak peduli bagaimana keahliannya, suka bermimpi mendapatkan bisnis besar. Hoppy dan gerombolannya yang campur aduk juga senang bergosip sore-sore, membicarakan bisnis besar sambil main kartu.

Beberapa saat sebelum pukul enam hari Kamis, kejika permainan kartu mulai lesu dan semua orang sudah siap mengakhiri satu lagi hari yang tidak produktif, seorang usahawan muda berpakaian rapi dan membawa tas atase mengilap memasuki kantor dan mencari Mr. Dupree. Hoppy ada di belakang, sedang mencuci mulut dengan Scope dan ingin buru-buru pulang karena Millie sedang dalam karantina. Laki-laki muda itu memberikan kartu nama yang menyatakan dirinya sebagai Todd Ringwald dari KLX Property Group di Las Vegas, Nevada. Kartu itu cukup mengesankan Hoppy. sehingga ia mengusir para sales associate-nya yang masih berkeliaran di situ, dan mengunci pintu kantornya. Kehadiran seseorang dengan pakaian demikian rapi dan sudah menempuh perjalanan jauh hanya bisa berarti akan ada urusan serius.

Hoppy menawarkan minuman, lalu kopi, yang bisa dibuat dengan segera. Mr. Ringwald menolak, dan menanyakan apakah ia datang pada waktu yang tidak tepat.

‘Tidak. sama sekali tidak. Anda tahu, kami bekerja pada jam-jam yang tidak tentu. Ini bisnis gila.”

298

Mr. Ringwald tersenyum dan mengiyakan, sebab ia pun dulu pernah berbisnis sendiri, belum lama. Pertama, sedikit keterangan mengenai perusahaannya. KLX adalah perseroan dengan sejumlah perusahaan di selusin negara bagian. Meskipun tidak memiliki kasino, dan tidak merencanakan untuk membukanya, perusahaan ini telah mengembangkan spesialisasi yang berkaitan, bidang yang sangat menguntungkan. KLX melacak pembangunan kasino. Hoppy mengangguk kuat-kuat, seolah-olah usaha macam ini sudah amat ia kenal.

Sudah lazim, bila kasino masuk, pasar real estate lokal akan berubah drastis. Ringwald yakin Hoppy tahu semua mengenai hal ini, dan Hoppy mengiyakan dengan sepenuh had, seolah-olah baru-baru ini ia telah meraup keuntungan besar. KLX bergerak diam-diam, dan Ringwald menandaskan betapa rahasianya perusahaan ini, selangkah di belakang kasino, mengembangkan pertokoan dan kondominium mahaJ, serta kompleks apartemen dan perumahan kelas atas. Kasino-kasino itu memberikan bayaran mahal, mempe-kerjakan banyak orang, segala hal berubah dalam ekonomi lokal, dan, well, banyak uang beterbangan dan KLX menginginkan bagiannya. “Perusahaan kami adalah burung pemangsa,” Ringwald menjelaskan dengan senyum licik. “Kami duduk dan mengawasi kasino-kasino itu Saat mereka pindah, kita terjun untuk meraup keuntungan.”

“Cemerlang.” kata Hoppy, tak dapat mengendalikan diri.

Akan tetapi, KLX lambat bergerak di daerah Coast, dan hal ini mengakibatkan beberapa orang dicopot di

“^299

Vegas. Tapi masih sangat banyak peluang. Hoppy menanggapi dengan berkata, “Benar, masih banyak.”

Ringwald membuka tasnya dan mengeluarkan peta perumahan, yang dipegangnya di atas lutut. Ia, sebagai vice president of development, lebih suka berurusan dengan agen-agen real estate kecil. Perusahaan-perusahaan besar punya terlalu banyak orang, terlalu banyak istri yang kegemukan membaca iklan mini dan menunggu kepingan gosip terkecil sekalipun. “Anda benar!” kata Hoppy, menatap peta perumahan itu. “Ditambah lagi, Anda mendapatkan layanan lebih baik dari agen kecil, seperti milik saya ini.”

“Anda sangat direkomendasikan,” kata Ringwald, dan Hoppy tidak dapat menahan senyum. Telepon berdering. Dari anaknya yang besar di sekolah menengah, ingin tahu makanan apa yang tersedia untuk santap malam dan kapan Ibu akan pulang. Hoppy menjawab ramah tapi pendek. Ia sangat sibuk, jelasnya, dan mungkin ada lasagna lama di lemari es.

Peta perumahan itu digelar di meja kerja Hoppy. Ringwald menunjuk denah lahan yang luas berwarna merah di Hancock County, di samping Harrison dan bagian paling barat dari tiga county pesisir tersebut. Dua laki-laki itu membungkuk di atas meja dari sisi yang berlainan.

“MGM Grand akan datang ke sini,” kata Ringwald, menunjuk ke sebuah teluk besar. “Tetapi belum ada yang tahu. Anda tentu tidak boleh mengatakannya pada siapa pun.”

Hoppy langsung menggeleng sebelum Ringwald selesai.

“Mereka akan membangun kasino terbesar di Coast,

300

mungkin pertengahan tahun depan. Mereka akan meng-umumkannya tiga bulan lagi. Mereka akan membeli ratusan ekar lahan di sini.”

“Itu lahan yang bagus. Sama sekali belum ter-jamah.” Hoppy belum pernah mendekati lahan dengan tulisan real estate, tapi ia sudah empat puluh tahun tinggal di Coast.

“Kami ingin ini,” kata Ringwald, Sambil menunjuk lagi tanah yang diberi tanda merah. Lahan itu ber-batasan dengan pinggir utara dan barat lahan MGM. “Lima ratus ekar, sehingga kita bisa menggarap ini.” Ia membalik lembaran teratas untuk memperlihatkan gambar Rencana Pembangunan Unit yang dilukis in-dah. Gambar itu diberi nama Stillwater Bay dalam huruf-huruf besar berwarna biru di atasnya. Kondominium, gedung perkantoran, rumah-rumah besar, rumah-rumah kecil, taman bermain, gereja, alun-alun, shopping mall, pedestrian mall, dok, blok perdagangan, jalur untuk joging, lintasan untuk bersepeda, bahkan gedung sekolah. Sebuah negeri impian, semuanya direncanakan untuk Hancock County oleh orang-orang berpandangan jauh di Las Vegas.

“Wah,” kata Hoppy. Di mejanya tergelar keuntungan besar.

“Empat tahap pembangunan selama lima tahun. Seluruhnya akan menyedot 30 juta dolar. Pembangunan paling besar di daerah ini”

‘Tidak ada apa pun yang bisa menyamainya.”

Ringwald membalik satu halaman lagi dan memperlihatkan gambar dok, kemudian close-up dari daerah pemukiman. “Ini cuma gambar-gambar permulaan. Saya akan memperlihatkan lebih banyak bila Anda bisa datang ke kantor pusat kami.”

301

“Vegas.”

“Ya. Bila kita bisa mencapai kesepakatan perwakilan, kami akan menerbangkan Anda ke sana beberapa hari, untuk menemui orang-orang kami, melihat seluruh proyek itu dari rancangannya.”

Lutut Hoppy jadi lemas dan ia menarik napas. Tenang, katanya pada diri sendiri. “Ya, dan perwakilan bagai manakah yang Anda kehendaki?”

“Pertama, kami butuh pialang untuk menangani pembelian lahan itu. Sesudah membelinya, kita harus meyakinkan pemerintah daerah untuk menyetujui pembangunan ini. Hal ini, seperti Anda ketahui, bisa makan waktu dan jadi kontroversial. Kita menghabiskan banyak waktu di depan komisi perencanaan dan tata ruang. Kita bahkan maju ke pengadilan bila diperlukan. Tapi itu cuma bagian dari bisnis kita. Sampai taraf tertentu, Anda akan terlibat hingga di sini. Sesudah proyek ini disetujui, kami butuh .perusahaan real estate untuk menangani pemasaran Stillwater Bay.”

Hoppy kembali duduk di kursinya, dan untuk beberapa lama memikirkan angka-angka itu. “Berapa harga tanah itu?” ia bertanya.

“Mahal, jauh terlalu mahal untuk daerah ini. Sepuluh ribu dolar per ekar, untuk lahan yang nilainya hanya setengah dari itu.”

Sepuluh ribu per ekar untuk lima ratus ekar jadi lima juta dolar; enam persennya berarti 300.000 dolar untuk komisi Hoppy, tentu saja dengan asumsi tidak ada pialang lain yang terlibat. Ringwald mengawasi tanpa ekspresi sewaktu Hoppy bermatematika dalam hati.

“Sepuluh ribu terlalu mahal,” kata Hoppy dengan mantap.

302

“Ya, tapi lahan ini tidak diperjual-belikan. Penjualnya tidak benar-benar ingin menjual, jadi kita harus menyelinap cepat, membelinya sebelum cerita tentang MGM bocor. Itulah sebabnya kami butuh agen lokal. Bila sampai beredar kabar di jalan bahwa sebuah perusahaan besar di Vegas sedang mengincar lahan itu, harganya akan naik jadi 20.000 per ekar. Selalu begitu kejadiannya.”

Fakta bahwa tanah itu belum masuk pasaran membuat jantung Hoppy berdebar-debar. Tidak ada pialang lain yang terlibat! Hanya dia. Hanya si Hoppy kecil dan komisi enam persennya. Akhirnya kapalnya datang juga. Ia, Hoppy Dupree, sesudah berpuluh-puluh tahun menjual rumah dupleks untuk pensiunan, akan menangguk keuntungan besar.

Belum lagi “pemasaran Stillwater Bay”. Semua rumah, kondo, dan properti komersial itu, seluruh properti laris dengan nilai 30 juta dolar dengan papan nama Dupree Realty tergantung pada semua bagian. Dalam lima tahun, Dupree bisa jadi jutawan, ia memutuskan seketika itu juga.

Ringwald meneruskan, “Saya kira komisi Anda delapan persen. Itulah yang biasanya kami bayarkan.”

‘Tentu,” kata Hoppy, kata-katanya meluncur dari lidahnya yang terasa sangat kering. Dari 300.000 menjadi 400.000, begitu saja. “Siapa penjualnya?” ia bertanya, cepat-cepat mengganti pokok pembicaraan setelah kini mereka sepakat dengan delapan persen.

Ringwald mengembuskan napas dan pundaknya melorot, tapi hanya sesaat. “Di sinilah urusannya jadi rumit.” Jantung Hoppy luruh.

“Properti ini terletak di distrik keenam Hancock

303

County.” kata Ringwald perlahan-lahan. “Dan distrik keenam adalah wilayah supervisor county bernama…”

“Jimmy Hull Moke,” Hoppy menyela, dengan nada sedih yang cukup mendalam.

“Anda kenal dia?”

“Setiap orang tahu Jimmy Hull. Dia sudah tiga puluh tahun menduduki jabatan itu. Bajingan paling licin di daerah Coast.”

“Apakah Anda mengenalnya secara pribadi?”

‘Tidak. Hanya reputasinya.”

“Yang kami dengar agak curang.”

“Curang adalah kata pujian bagi Jimmy Hull. Pada tingkat lokal, orang ini mengendalikan segala hal di coun ry-nya.”

Ringwald menunjukkan ekspresi bertanya-tanya, seolah-olah ia dan perusahaannya tidak tahu-menahu bagaimana harus meneruskan pekerjaan ini. Hoppy menggosok matanya yang sedih dan menyusun rerjcana untuk menangguk keuntungannya Mereka tidak beradu pandang selama satu menit penuh. kemudian Ringwald berkata, “Tidaklah bijaksana membeli lahan itu, kecuali kita bisa mendapatkan jaminan dari Mr. Moke dan orang-orang lokal. Seperti Anda ketahui, akan dibutuhkan berbagai macam izin untuk proyek ini.”

“Perencanaan, tata ruang, tinjauan arsitektural, erosi tanah, sebut saja apa,” kata Hoppy, seolah-olah setiap hari ia terlibat dalam pertempuran ini.

“Kami diberitahu bahwa Mr. Moke mengendalikan semua ini.”

“Dengan tangan besi.”

Diam lagi.

“Mungkin kita harus mengatur pertemuan dengan Mr. Moke,” kata Ringwald.

304

“Saya rasa tidak.”

“Mengapa tidak?”

“Perundingan takkan ada gunanya.”

“Saya tidak mengerti maksud Anda.”

“Uang tunai. Mudah dan sederhana. Jimmy Hull suka menerimanya di bawah meja, berkantong-kantong uang kontan tanpa jejak.”

Ringwald mengangguk dengan senyum sungguh-sungguh, seolah-olah hal ini patut disesalkan, tapi bukannya tak terduga “Begitulah yang kami dengar,” katanya, nyaris pada diri sendiri. “Sebenarnya, ini tidak luar biasa, terutama di daerah tempat kasino bermunculan. Ada banyak uang segar dari luar dan orang jadi tamak.”

“Jimmy Hull dilahirkan dengan sifat rakus. Selama tiga puluh tahun, dia selalu mencuri sebelum kasino-kasino itu muncul di sini.”

“Dia tidak tertangkap?”

“Tidak. Sebagai supervisor lokal, dia cukup pintar. Segalanya tunai, tidak ada jejak, dia menutupi diri dengan hati-hati. Tapi sekali lagi, tidak butuh ahli untuk mengetahuinya.” Hoppy menepuk pelan keningnya dengan saputangan. Ia membungkuk dan mengambil dua gelas dari laci bawah. lalu sebotol vodka. Ia menuang minuman ke dalam dua gelas itu dan mengangsurkan salah satunya ke depan Ringwald. “Cheers” katanya sebelum Ringwald menyentuh gelas nya.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan?” tanya Ringwald.

“Apa yang biasanya Anda lakukan dalam situasi seperti ini?”

305

“Kami biasanya mencari jalan untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah. Terlalu banyak uang yang dipertaruhkan untuk menyerah begitu saja.”

“Bagaimana cara Anda bekerja sama dengan pemerintah setempat?”

“Kami punya cara. Kami menyumbangkan uang untuk kampanye pemilihan kembali. Kami menghadiahkan liburan-liburan mahal kepada sahabat-sahabat kami. Kami membayar biaya konsultasi untuk istri dan anak-anak.”

“Anda pernah membayar uang pelicin dengan uang tunai?”

“Ah, saya lebih suka tidak menyebutnya.”

“Itulah yang bakal diperlukan. Jimmy Hull orang yang sederhana. Cukup beri uang tunai.” Hoppy meneguk minumannya berlama-lama dan mendecakkan bibir.

“Berapa banyak?”

“Siapa yang tahu? Tapi sebaiknya cukup. Kalau bayarannya terlalu rendah, kelak dia akan membunuh proyek Anda. Dan dia tetap menyimpan uang itu. Jimmy Hull tidak akan mengembalikan uang yang sudah diterima.”

“Anda sepertinya sudah kenal baik dengannya.”

“Kami yang berkeliaran dan bertransaksi di sepanjang Coast tahu bagaimana dia memainkan permainan ini. Dia semacam legenda lokal.”

Ringwald menggelengkan kepala dengan perasaan tak percaya. “Selamat datang di Mississippi,” kata Hoppy, lalu meneguk minuman lagi. Ringwald belum menyentuh minumannya.

Selama 25 tahun Hoppy selalu bekerja dengan jujur, dan ia tidak punya rencana untuk mengkom—

306

promikan hal itu sekarang. Uang itu tidak sepadan dengan risikonya. Ia punya anak, keluarga, reputasi, nama baik dalam lingkungannya. Ke gereja sekali-sekali. Rotary Club. Dan siapakah sebenarnya orang asing yang duduk di depan meja kerjanya dengan setelan jas mahal dan pantofel buatan desainer ini, menawarkan dunia hanya bila satu kesepakatan kecil tercapai? Ia, Hoppy, sudah pasti akan angkat telepon untuk memeriksa KLX Property Group dan Mr. Todd Ringwald, segera setelah ia meninggalkan kantor.

“Ini bukan sesuatu yang luar biasa,” kata Ringwald. “Kami sering mengalaminya.”

“Kalau begitu, apa yang Anda lakukan?” “Nah, saya pikir langkah pertama adalah mendekati Mr. Moke dan memastikan kemungkinan untuk mencapai kesepakatan.”

“Dia akan siap untuk mengambil kesepakatan.” “Kemudian kita menentukan syarat-syaratnya. Seperti yang Anda sebutkan tadi, kita akan memutuskan berapa banyak uang kontannya.” Ringwald berhenti dan meneguk minumannya sedikit. “Apakah Anda bersedia melibatkan diri?” “Entahlah. Dalam cara apa?” “Kami tidak kenal siapa pun di Hancock County. Kami mencoba bersikap low profile. Kami berasal dari Vegas. Kalau kami mulai bertanya-tanya, seluruh proyek ini akan terungkap.”

“Anda ingin saya bicara dengan Jimmy Hull?” “Hanya bila Anda ingin terlibat Kalau tidak, kami terpaksa mencari orang lain.”

“Saya punya reputasi bersih,” kata Hoppy dengan ketegasan mencengangkan, kemudian menelan ludah

307

dengan berat, membayangkan pesaingnya meraup 400.000 dolarnya.

“Kami tidak mengharapkan Anda melakukan sesuatu yang kotor.” Ringwald terdiam dan mencari-cari kata yang tepat. Hoppy menunggu. “Man sebut saja bahwa kita punya cara untuk memberikan apa yang diinginkan Mr. Moke. Anda tidak perlu menyentuhnya. Bahkan Anda tidak akan tahu kapan hal itu terjadi.”

Hoppy duduk lebih tegak ketika beban terangkat dari pundaknya. Mungkin ada titik temu di sini. Ringwald dan perusahaannya sudah sering melakukan hal ini. Mereka mungkin berurusan dengan bajingan-bajingan yang lebih canggih daripada Jimmy Hull Moke. “Saya mendengarkan,” katanya.

“Anda sudah berkecimpung di sini. Kami jelas orang luan jadi kami mengandalkan Anda. Man saya berikan skenarionya, lalu beritahu saya, apakah ini akan berhasil. Bagaimana kalau Anda bicara dengan Mr. Moke, hanya Anda berdua, dan Anda menceritakan kepadanya garis besar pembangunan ini? Nama kami jangan disebut. Katakan saja Anda punya klien yang ingin bekerja sama dengannya. Dia akan menyebutkan harganya. Kalau jumlahnya dalam jangkauan kami, Anda boleh membuat kesepakatan dengannya. Kami akan mengurus pengirimannya, dan Anda tidak akan pemah tahu apakah uang itu benar-benar berpindah tangan. Yang Anda kerjakan sama sekali tidak salah. Dia senang. Kami senang, sebab kami akan mengeruk uang, bersama-sama Anda, kalau boleh saya tambahkan.”

Hoppy menyukainya! Tak ada lumpur yang akan menempel ke tangannya. Biarkan kliennya dan Jimmy

308

Hull menyelesaikan pekerjaan kotor mereka. Ia tetap di Iuar selokan dan cukup berpaling saja Namun ia tetap merasa waswas. Ia mengatakan ingin memikirkannya dulu.

Mereka bercakap-cakap beberapa lama, sekali lagi melihat rencana itu, dan mengucapkan selamat berpisah pada pukul delapan. Ringwald akan menelepon Jumat pagi.

Sebelum pulang, Hoppy memutar nomor pada kartu nama Ringwald. Seorang resepsionis yang efisien di Vegas berkata, “Selamat malam, KLX Property Group.” Hoppy tersenyum, kemudian minta bicara dengan Todd Ringwald. Sambungan dipindahkan, dengan musik di latar belakang, ke kantor Mr. Ringwald. Hoppy berbicara dengan Madeline, seorang asrsten entah apa yang menjelaskan bahwa Mr. Ringwald sedang ke Iuar kota dan tidak akan kembali sampai hari Senin. Ia menanyakan siapa yang menelepon, dan Hoppy cepat-cepat memutus sambungan.

Itu dia, KLX benar-benar ada.

Telepon masuk dihentikan di front desk dan dicatat pada slip kertas kuning, lalu disampaikan pada Lou Dell, yang kemudian mendistribusikannya bak Easter Bunny membagikan telur cokelat. Telepon dari George Teaker masuk pada pukul 19.40 Kamis, dan disampaikan pada Lonnie Shaver yang tidak memedulikan tayangan film dan sedang bekerja dengan komputemya. Ia langsung menelepon Teaker, dan selama sepuluh menit pertama hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai sidang itu. Lonnie mengaku bahwa hari itu hari buruk bagi tergugat, Lawrence Krigler telah

309

menimbulkan pengaruh mendalam pada para anggota juri, semuanya, kecuali Lonnie tentu saja. Lonnie tidak terkesan, ia meyakinkan Teaker. Orang-orang di New York pasti khawatir, kata Teaker, lebih dari satu kali. Mereka sangat lega bahwa Lonnie salah satu anggota juri dan bisa diandalkan, apa pun kejadiannya, tapi keadaan tampak suram. Benar, bukan?

Lonnie mengatakan masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.

Teaker berkata bahwa mereka perlu menegaskan beberapa hal yang belum jelas dalam kontrak pekerjaan. Lonnie hanya bisa memikirkan satu hal yang tidak jelas: jumlah gajinya yang baru. Penghasilannya saat itu 40.000 dolar. Teaker mengatakan SuperHouse akan menaikkannya hingga 50.000 dolar dengan pembagian saham, dan bonus berdasarkan prestasi yang mungkin bisa mencapai 20.000 dolar.

Mereka ingin ia ikut serta dalam program pelatihan manajemen di Charlotte, segera setelah sidang itu berakhir. Menyinggung sidang itu menimbulkan serangkaian pertanyaan lain mengenai suasana hati para anggota juri.

Satu jam kemudian, Lonnie berdiri di depan jendelanya, mengamati halaman parkir, dan mencoba meyakinkan diri bahwa ia akan memperoleh penghasilan sebesar 70 000 dolar setahun Tiga tahun yang lalu, ia memperoleh 25.000.

Lumayan, bagi bocah yang ayahnya jadi sopir truk susu dengan upah tiga dolar per jam.

310

Delapan Belas

Jumat pagi, halaman depan The Wall Street Jour nal memuat berita tentang Lawrence Krigler dan kesaksiannya sehari sebelumnya. Berita ini ditulis oleh Agner Layson, yang hingga sejauh ini tidak pernah melewatkan sidang, dan menguraikan dengan cukup jelas apa yang didengar oleh dewan juri. Kemudian Layson berspekulasi mengenai pengaruh kesaksian Krigler terhadap juri. Setengah sisa artikel itu mencoba mengupas kulit Krigler dengan kutipan dari orang-orang ConPack, yang dulu bernama Allegheny Growers. Tidaklah mengejutkan, muncul sanggahan keras atas ucapan Krigler. Perusahaan itu tidak pernah melakukan penelitian mengenai nikotin pada tahun 1930-an, atau paling sedikit tidak ada yang tahu mengenai penelitian semacam itu. Kejadiannya sudah begitu lama. Tak seorang pun di ConPack pernah melihat memo menghebohkan tersebut. Barangkali itu isapan jempol belaka, hasil imajinasi Krigler. Bahwa nikotin menimbulkan kecanduan bukanlah pengetahuan yang umum dalam industri rokok. Kadar racunnya tidak ditingkatkan secara buatan oleh ConPack, atau pabrik lain mana pun. Perusahaan

311

itu tidak akan mengakui. bahkan menyangkal lagi dalam bentuk tertulis, bahwa nikotin menimbulkan kecanduan

Pynex juga memberikan beberapa jawaban ngawur, semuanya dari sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya. Krigler adalah pengacau dalam perusahaan. Ia membayangkan dirinya sebagai ahli riset ilmiah, padahal sebenarnya ia hanya insinyur. Penelitiannya dengan Raleigh 4 merupakan kekeliruan serius. Memproduksi daun jenis itu sama sekali tidak praktis. Kematian saudara perempuannya amat mempengaruhi pekerjaan dan sikapnya. Ia mudah mengancam akan mengajukan gugatan ke pengadilan. Ada petunjuk kuat bahwa pembayaran uang damai di Iuar pengadilan tiga belas tahun yang lalu itu sebenarnya lebih karena kemurahan hati Pynex.

Sebuah berita pendek yang berkaitan, mengikuti gerakan harga saham Pynex yang ditutup pada angka 75,5, turun tiga poin dalam transaksi bursa sesudah sesaat naik-turun.

Hakim Harkin membaca berita itu satu jam sebelum juri tiba. Ia menelepon Lou Dell di Siesta Inn untuk memastikan tidak ada anggota juri yang mengetahuinya. Lou Dell meyakinkannya bahwa mereka hanya akan mendapatkan harian lokal, semuanya disensor sesuai perintahnya la sangat suka menggunting berita mengenai sidang itu. Sekali-sekali ia malah menggunting berita yang tidak berkaitan, sekadar untuk menyenangkan hati, membuat mereka bertanya-tanya apa yang tidak mereka ketahui. Bagaimana mereka bisa tahu?

Hoppy duPREE tidur hanya sebentar. Sesudah mencuci

312

peralatan makan dan membersihkan ruang duduk dengan mesin penyedot debu, ia bicara dengan Millie di telepon sampai hampir satu jam. Sang istri sedang bersemangat.

Ia meninggalkan ranjangnya di tengah malam untuk duduk di beranda. memikirkan KLX, Jimmy Hull Moke, dan uang besar di Iuar sana, hampir dalam jangkauan. Uang itu akan dipakai untuk anak-anak, demikian ia memutuskan sebelum meninggalkan kantor. Tidak perlu lagi junior college. Tidak perlu lagi pekerjaan paruh waktu. Mereka akan masuk ke sekolah terbaik. Rumah yang lebih besar tentu menyenangkan, tapi itu hanya karena anak-anak hidup berjejalan di sini. Ia dan Millie bisa tinggal di mana saja; selera mereka sederhana.

Tidak ada utang apa pun. Sesudah pajak, ia akan menyimpan uang itu di dua tempat—rekening bersama dan real estate. Ia akan membeli bangunan komersial dengan angsuran yang pantas Ia sudah memikirkan setengah lusin pilihan.

Kesepakatan dengan Jimmy Hull Moke membuatnya khawatir tak keruan. la belum pernah terlibat dalam sogok-menyogok, juga tidak pernah dekat-dekat dengan urusan itu. Ia punya sepupu yang menjual mobil-mobil bekas dan masuk penjara tiga tahun karena menjaminkan kembali barang-barangnya. Perkawinannya hancur. Anak-anaknya telantar.

Menjelang fajar, ia jadi lega oleh reputasi Jimmy Hull Moke. Laki-laki itu sudah mengasah diri dalam praktek korupsi dan membuatnya jadi suatu bentuk seni. Ia jadi cukup kaya dengan gaji pegawai negeri yang sangat kecil. Dan semua orang tahu itu!

313

Tentunya Moke tahu persis cara menangani kesepakatan itu tanpa tertangkap. Hoppy tidak akan dekat-dekat dengan uangnya, bahkan tidak-tahu pasti apakah uang itu benar diberikan dan kapan dilakukan.

Untuk sarapan, ia makan Pop-Tart dan memutuskan bahwa risiko pekerjaan itu sangat kecil. Ia akan bicara hati-hati dengan Jimmy Hull, membiarkan percakapan itu mengalir ke mana saja sesuai keinginan Jimmy Hull, sebab tidak lama kemudian mereka tentu akan menyinggung masalah uang, kemudian ia akan melapor pada Ringwald. Ia mengeluarkan kue kayu manis beku dari lemari es untuk anak-anak, meninggalkan uang makan siang mereka di counter dapur, dan pergi ke kantor pada pukul delapan.

Slhari sesudah kesaksian Krigler, pembela memakai gaya yang lebih lembut. Mereka harus tampak santai, tak terusik oleh pukulan berat yang dilontarkan penggugat kemarin. Mereka memakai setelan jas dengan warna lebih muda, abu-abu lembut, biru, bahkan khaki. Lenyap sudah warna hitam dan biru tua yang menyeramkan. Lenyap pula roman serius dari orang-orang yang terlalu terbebani oleh citra penting diri sendiri. Saat pintu terbuka dan anggota juri pertama muncul, muncul pula senyum lebar dari belakang meja pembela. Bahkan ada sedikit tawa kecil. Sungguh gerombolan orang kampungan.

Hakim Harkin mengucapkan sapaan halo, tapi hanya ada sedikit senyum di dalam boks juri. Hari itu hari Jumat, berarti akhir pekan akan segera mulai. akhir pekan yang akan dihabiskan dalam kurungan di Siesta Inn. Sudah diputuskan sambil sarapan bahwa

314

Nicholas akan menyampaikan catatan kepada Hakim dan memintanya meneliti kemungkinan untuk bekerja pada hari Sabtu. Para juri itu lebih suka berada di pengadilan, mencoba menyelesaikan cobaan ini, daripada duduk-duduk dalam kamar mereka tanpa berbuat apa pun selain memikirkan sidang ini.

Sebagian besar dari mereka melihat senyum tolol Cable dan kawan-kawan. Mereka memperhatikan setelan warna cerah itu, suasana riang, bisik-bisik gurauan. “Mengapa mereka begitu gembira?” Loreen Duke berbisik tertahan sewaktu Harkin membacakan daftar pertanyaannya.

“Mereka ingin kita berpikir bahwa segalanya dalam kendali,” Nicholas balas berbisik. ‘Tatap saja mereka tajam-tajam.”

Wendall Rohr berdiri dan memanggil saksi berikutnya. “Dr. Roger Bunch,” katanya dengan gaya hebat. Ia mengamati dewan juri, apakah ada reaksi saat mendengar nama itu.

Hari itu hari Jumat. Tidak akan ada reaksi dari juri.

Bunch meraih ketenaran satu dasawarsa yang lalu, ketika menjadi surgeon general of the United States. Tanpa kenal lelah ia mengkritik industri tembakau. Selama enam tahun dalam jabatannya, ia mendorong berbagai penelitian yang tak terhitung jumlahnya, mengarahkan serangan frontal, memberikan seribu pidato antirokok, menulis tiga buku mengenai masalah ini, dan mendorong berbagai lembaga untuk menetapkan peraturan pengendalian yang lebih ketat. Tapi kemenangannya hanya sedikit sekali. Sejak meninggalkan jabatannya, ia meneruskan perang sucinya ini dengan keterampilannya mendapatkan publisitas.

315

Ia punya banyak pendapat dan sangat ingin membagikannya kepada para juri. Buktinya konklusif— rokok menyebabkan kanker paru-paru. Setiap organisasi medis profesional di dunia, yang pernah meneliti masalah ini, menetapkan bahwa merokok menyebabkan kanker paru-paru. Satu-satunya organisasi dengan pendapat berlawanan adalah pabrik pembuatnya sendiri dan juru bicara bayaran mereka— kelompok-kelompok pelobi dan semacamnya.

Rokok mengakibatkan ketergantungan. Tanyakan pada perokok mana saja yang pernah mencoba berhenti. Industri itu menyatakan bahwa merokok adalah masalah pilihan bebas. “Omong kosong khas perusahaan rokok,” katanya dengan muak. Kenyataannya, selama enam tahun menjabat sebagai surgeon general, ia telah menerbitkan tiga penelitian terpisah, masing-masing membuktikan secara konklusif bahwa rokok menyebabkan ketergantungan.

Perusahaan-perusahaan tembakau menghabiskan miliaran dolar untuk menyesatkan masyarakat. Mereka melakukan penelitian yang katanya bisa membuktikan bahwa merokok pada hakikatnya tidak berbahaya. Mereka menghabiskan dua miliar dolar setahun untuk iklan saja, kemudian menyatakan bahwa orang mengambil keputusan untuk merokok atau tidak, berdasarkan informasi lengkap. Itu tidak benar. Masyarakat, terutama remaja, menerima tanda-tanda yang membingungkan. Merokok kelihatan menyenangkan, canggih, bahkan sehat.

Mereka menghabiskan berton-ton uang untuk se-gala macam penelitian omong kosong, yang kata mereka akan membuktikan apa yang mereka kemuka—

316

kan Industri ini secara keseluruhan terkenal suka berbohong dan menutup-nutupi fakta. Perusahaan-perusahaan itu menolak untuk berdiri di belakang produk mereka. Mereka mengiklankan dan berpro-mosi seperti gila, tapi ketika salah satu pelanggan mereka mati karena kanker paru-paru, mereka mengatakan orang itu seharusnya tahu apa yang lebih baik.

Bunch melakukan penelitian yang membuktikan bahwa rokok mengandung residu insektisida dan pestisida, serat asbes, sampah dan debu tak dikenal yang disapu dari lantai. Meski rela menghabiskan berapa saja untuk iklan, perusahaan-perusahaan itu tidak mau bersusah payah mengeluarkan biaya untuk membersihkan residu beracun dari tembakau mereka.

Ia memimpin proyek yang menunjukkan bagaimana perusahaan-perusahaan rokok secara licin membidik orang-orang muda sebagai sasaran, juga orang-orang miskin; bagaimana mereka mengembangkan dan mengiklankan merek-merek tertentu untuk jenis kelamin tertentu dan golongan tertentu.

Karena dulu surgeon generaU Dr. Bunch diperkenankan membagikan pendapatnya mengenai berbagai macam pokok pembahasan. Berkali-kali sepanjang pagi itu ia tak mampu menyembunyikan kemuakannya terhadap industri tembakau, dan ketika kepahitan itu bocor, kredibilitasnya jadi rusak. Namun ia berhasil mengikat perhatian juri. Tidak ada yang menguap atau melontarkan tatapan kosong.

Todd ringwald bersikeras bahwa pertemuan itu harus diadakan di kantor Hoppy, di sarangnya, tempat

317

Jimmy Hull Moke tidak bisa berjaga-jaga. Hoppy menganggap alasan ini masuk akal. Dalam urusan ini, ia benar-benar tidak tahu-menahu tentang tata cara semestinya. la beruntung bisa menemukan Moke di rumahnya, sedang bersantai. Moke memang akan pergi ke Biloxi nanti.. Moke mengatakan ia sudah tahu Hoppy, pernah mendengar namanya entah kapan. Hoppy mengatakan urusan ini sangat penting, menyangkut kemungkinan pembangunan besar-besaran di Hancock County. Mereka setuju untuk makan siang bersama, sandwich di kantor Hoppy. Moke mengatakan ia tahu persis letak kantor Hoppy.

Karena sejumlah alasan, tiga orang sales associate paruh waktu berkeliaran di depan kantor menjelang tengah hari. Satu orang bercakap-cakap dengan temannya di telepon. Satu orang mengamati iklan mini. Satu lagi tampaknya menunggu permainan kar-tu. Dengan susah payah Hoppy menyingkirkan mereka ke jalan tempat real estate berada. Ia tidak ingin ada siapa pun di situ saat Moke muncul.

Kantor-kantor itu kosong ketika Jimmy Hull datang memakai jeans dan sepatu koboi. Hpppy menyambut-nya dengan jabat tangan resah dan suara cemas. Ia mengajak Moke ke kantornya di belakang; dua porsi deli sandwich dan es teh sudah dihidangkan di meja kerjanya. Mereka bicara tentang politik lokal, kasino, dan memancing, meskipun Hoppy sarrra sekali tidak berselera makan. Perutnya bergejolak oleh rasa takut dan tangannya tidak bisa berhenti gemetar. Ia kemudian membersihkan meja dan mengeluarkan lukisan Stillwater Bay itu. Sebelumnya Ringwald sudah mengirimnya, dan gambar itu tidak memberikan pe-318

tunjuk apa pun mengenai siapa di belakang proyek tersebut. Hoppy menguraikan garis besar rencana pembangunan itu selama sepuluh menit, dan ternyata dirinya jadi makin berani. Ia menyajikan presentasi yang sangat bagus, katanya pada diri sendiri.

Jimmy Hull menatap gambar itu, menggosok dagu, dan berkata, ‘Tiga puluh juta dolar, hen?”

“Paling sedikit,” jawab Hoppy. Perutnya mendadak jadi kendur.

“Dan siapakah yang mengerjakannya?”

Hoppy sudah melatih jawabannya, dan mengatakannya dengan sikap meyakinkan. Ia tidak bisa mengungkapkan namanya, tidak pada tahap ini. Jimmy Hull suka kerahasiaan ini. Ia mengajukan pertanyaan, semuanya berkaitan dengan uang dan pembiayaan. Hampir semuanya dijawab Hoppy.

“Pengaturan tata ruang bisa jadi masalah serius,” kata Jimmy Hull sambil mengernyit.

“Pasti.”

“Dan komisi perencanaan akan menentang hebat.”

“Kami sudah menduga hal ini.”

“Tentu saja, supervisor yang membuat keputusan akhir. Seperti kauketahui, rekomendasi dari bagian tata ruang dan perencanaan hanya berupa nasihat. Pada hakikatnya, kami berenam bebas berbuat apa yang kami “inginkan.” Ia terkekeh-kekeh dan Hoppy ikut tertawa. Di Mississippi, enam supervisor county itu memerintah dengan kekuasaan besar.

“Klien saya mengerti bagaimana prosedurnya. Dan klien saya sangat ingin bekerja sama dengan Anda.”

Jimmy Hull mengangkat sikunya dari meja dan bersandar pada punggung kursi Kelopak matanya

319

menyipit. Keningnya berkerut. Ia mengelus dagu dan matanya yang hitam besar menyorotkan sinar laser ke seberang meja, menerpa Hoppy yang malang bagaikan peluru menembus dada. Hoppy menekankan sepuluh jarinya pada meja, agar tangannya tidak gemetar.

Sudah berapa kali Jimmy Hull mengalami saat-saat seperti ini, mengukur mangsanya sebelum menerkam?

“Kau tahu aku mengendalikan segalanya di dis-trikku,” katanya, bibirnya nyaris tak bergerak.

“Saya tahu benar bagaimana keadaannya,” Hoppy menjawab setenang mungkin.

“Kalau aku ingin proyek ini disetujui, dia akan menggelinding. Kalau aku tidak menyukainya, sekarang juga dia mati.”

Hoppy hanya mengangguk.

Jimmy Hull ingin tahu, siapa saja orang-orang lokal yang terlibat sampai titik ini, siapa tahu apa, sampai sejauh mana kerahasiaan proyek ini. ‘Tidak ada siapa pun selain saya,” Hoppy meyakinkannya.

“Apakah klienmu bergerak dalam bisnis perjudian?”

‘Tidak. Tapi mereka dari Vegas. Mereka tahu bagaimana bekerja di tingkat lokal. Dan mereka ingin bergerak cepat.”

Vegas adalah kata operatif di sini, dan Jimmy Hull melahapnya. Ia memandang berkeliling pada kantor kecil yang lusuh ini. Kantor itu miskin perabot dan memancarkan kepolosan, seolah-olah tidak banyak yang terjadi di sini dan tidak banyak pula yang diharapkan. Ia sudah menelepon dua orang teman di Biloxi; keduanya melaporkan bahwa Mr. Dupree adalah jenis yang tidak berbahaya, yang

320

menjual kue untuk Rotary Club pada Hari Natal. Ia punya keluarga besar dan berusaha menghindari kontroversi, serta berdagang secara biasa-biasa saja. Pertanyaannya adalah, mengapa bocah-bocah di belakang Stillwater Bay mau berhubungan dengan kantor sederhana macam Dupree Realty?

Ia memutuskan untuk tidak mengajukan pertanyaan. Ia berkata, “Kau tahu anak laki-lakiku konsultan yang sangat pintar untuk proyek-proyek seperti ini?”

“Saya tidak tahu. Klien saya tentu akan suka bekerja sama dengan anak Anda.”

“Dia tinggal di Bay St. Louis.”

“Perlukah saya meneleponnya?”

‘Tidak. Aku yang akan mengurusnya.”

Randy Moke memiliki dua truk pasir dan menghamburkan sebagian besar waktunya mengurus perahu pancing yang diiklankannya sebagai perahu sewaan untuk memancing di laut. Ia putus dari sekolah menengah dua bulan sebelum dipenjarakan karena mengedarkan obat terlarang.

Hoppy mendesak. Ringwald bersikeras agar ia mencoba dan mendapatkan Moke secepat mungkin. Bila kesepakatan tidak dicapai sejak semula, Moke mungkin akan kembali ke Hancock County dan mulai mengoceh tentang proyek pembangunan itu. “Klien saya ingin menentukan biaya-biaya pendahuluan sebelum membeli tanah itu. Berapa yang anak Anda minta untuk jasa ini?”

“Seratus ribu.”

Hoppy tidak terkejut dan cukup bangga dengan ketenangannya. Ringwald sudah memperkirakan jumlahnya sekitar satu sampai dua ratus ribu. KLX

321

dengan senang hati akan membayar jumlah itu. Terus terang, itu lebih murah dibanding dengan New Jersey. “Begitu? Pembayaran…” ‘Tunai.”

“Klien saya bersedia merundingkan hal ini.” ‘Tidak ada perundingan apa-apa. Kontan di depan, atau tidak ada kesepakatan ” “Dan kesepakatanya?”

“Seratus ribu tunai sekarang, dan proyek itu boleh dimulai. Jaminan dariku. Kurang satu sen saja, aku akan membunuhnya dengan satu telepon.”

Luar biasa, tidak ada sedikit pun nada mengancam dalam suara atau wajahnya. Hoppy memberitahu Ringwald kemudian, bahwa Jimmy Hull menggelar begitu saja persyaratannya, seolah-olah ia menjual ban bekas di pasar loak.

“Saya perlu menelepon,” kata Hoppy. “Duduk saja di sini.” Ia berjalan ke ruang depan, yang untungnya masih kosong, dan menelepon Ringwald yang sedang duduk di samping telepon di hotelnya. Persyaratan itu disampaikan, dibicarakan hanya beberapa detik, dan Hoppy kembali ke kantornya. “Beres. Klien saya bersedia membayarnya.” Ia mengucapkan ini dengan perlahan-lahan, dan sejujurnya merasa tidak enak hati menjadi perantara dalam kesepakatan yang akan menuju proyek bernilai jutaan dolar. KLX di satu pihak. Moke di pihak lain, dan Hoppy di tengah semua itu, terlibat dalam api, tapi sepenuhnya bersih dari pekerjaan kotor.

Wajah Jimmy Hull mengendur dan ia tersenyum. “Kapan?”

“Akan saya telepon Anda hari Senin.”

322

Sembilan Belas

Fitch tidak menghiraukan sidang di siang hari Jumat itu. Ada urusan mendesak di depan mata, dengan salah satu anggota juri. Ia, bersama Pang dan Carl Nussman, mengunci diri dalam ruang rapat di kantor Cable dan menatap layar selama satu jam.

Gagasan itu datang dari Fitch seorang. Tembakan dalam gelap, salah satu firasatnya yang paling edan, tapi ia dibayar untuk menggali di bawah batu yang tidak bisa ditemukan orang Iain. Uang memberinya kemewahan untuk memimpikan yang mustahil.

Empat hari sebelumnya, ia memerintahkan Nussman untuk mengirim ke Biloxi malam itu juga seluruh berkas juri dari sidang Cimmino setahun sebelumnya di Allentown, Pennsylvania. Dewan juri Cimmino mendengarkan kesaksian selama empat minggu, lalu menghadiahkan kemenangan kepada perusahaan tembakau. Tiga ratus calon anggota juri dipanggil untuk bertugas di Allentown. Salah satunya adalah seorang laki-Iaki muda bemama David Lancaster.

Berkas data Lancaster tipis. Ia bekerja di toko video dan menyatakan diri sebagai mahasiswa. Ia

323

tinggal di apartemen di atas kedai Korea yang kembang-kempis, dan jelas bepergian dengan sepeda. Tidak ada bukti memiliki kendaraan lain, dan catatan county tidak menunjukkan ada pajak untuk mobil atau truk atas namanya. Kartu informasi jurinya menyebutkan ia lahir di Philadephia pada tanggal 8 Mei 1967, meskipun data ini tidak diperiksa lagi pada saat sidang. Tidak ada alasan apa pun untuk curiga bahwa ia bohong. Anak buah Nussman baru saja memastikan bahwa data tanggal lahir itu sebenarnya palsu. Kartu itu juga menyatakan ia tidak pernah dipenjarakan, tidak pernah bertugas sebagai juri di county tersebut pada tahun terakhir, tidak punya alasan medis untuk tidak bertugas, dan pemilih yang memenuhi syarat. Ia mendaftar sebagai pemilih lima bulan sebelum sidang itu mulai.

Tidak ada yang aneh dalam berkas itu, kecuali memo tulisan tangan dari seorang konsultan yang mengatakan bahwa ketika Lancaster muncul pada hari pertama sebagai calon juri, panitera tidak punya catatan bahwa ia dipanggil. Ia kemudian mengeluarkan surat panggilan yang tampak sah, dan ia duduk dalam panel itu. Salah satu konsultan Nussman mencatat bahwa Lancaster tampak sangat ingin bertugas sebagai anggota juri.

Satu-satunya foto laki-laki muda itu diambil dari kejauhan, ketika ia menaiki sepeda gunungnya ke tempat kerja. Ia memakai topi dan kacamata hitam, berambut panjang dan bercambang lebat. Salah satu kaki-tangan Nussman bercakap-cakap dengan Lancaster ketika menyewa video, dan melaporkan ia memakai jeans pudar, kacamata Birkenstock, kaus

324

kaki wol, dan kemeja flanel. Rambutnya diikat menjadi ekor kuda dan diselipkan ke bawah kerah. Ia sopan, tapi tidak banyak bicara.

Lancaster mendapat angka jelek ketika diundi, tapi berhasil lolos dalam dua penyisihan pertama, dan berada empat deret di belakang ketika dewan juri terpilih.

Berkasnya langsung ditutup.

Kini arsip itu dibuka lagi. Dalam 24 jam terakhir, ditegaskan bahwa David Lancaster lenyap begitu saja dari Allentown, sebulan setelah sidang berakhir. Orang Korea yang menjadi induk semangnya tidak tahu apa-apa. Bosnya di toko video mengatakan suaru hari ia tidak muncul bekerja dan tidak pernah terdengar lagi beritanya. Tidak seorang pun di kota itu mengaku tahu bahwa Lancaster pernah ada. Anak buah Fitch memeriksa, tapi merasa tidak akan menemukan apa-apa. Ia masih terdaftar sebagai pemilih, tapi daftar pemilih itu tidak akan diperbaharui sampai lima tahun lagi, demikian menurut registrasi county.

Rabu malam, Fitch sudah yakin benar bahwa David Lancaster adalah Nicholas Easter.

Kamis pagi, Nussman menerima dua kardus besar dari kantornya di Chicago. Kotak itu berisi berkas juri dari sidang Glavine di Broken Arrow, Oklahoma. Glavine adalah pertarungan pengadilan yang sengit terhadap Trellco, dengan Fitch mengantongi vonis kemenangan, jauh sebelum para pengacara berhenti berdebat. Nussman sama sekali tidak tidur pada hari Kamis, ketika meneliti kembali riset juri kasus Glavine.

Di situ ada seorang pemuda kulit putih di Broken

325

Arrow, bernama Perry Hirsch, usia 25 tahun waktu itu, mengaku lahir di St. Louis pada tanggal yang akhirnya dipastikan palsu. Ia mengaku bekerja di pabrik lampu dan mengantar piza pada akhir pekan. Lajang, Katolik, dropout college, belum pernah bertugas sebagai juri, semua itu menurut kata-katanya sendiri yang tercatat pada kuesioner ringkas yang diberikan kepada para pengacara sebelum sidang. Ia mencatatkan diri untuk memberikan suara empat bulan sebelum sidang tersebut, dan mengaku tinggal bersama seorang bibi di taman. parkir trailer. I a satu dari dua ratus orang yang menjawab panggilan untuk bertugas sebagai juri.

Ada dua foto dari Hirsch. Pada salah satunya, ia sedang mengangkat setumpuk piza ke mobilnya, sebuah Pinto reyot. Ia memakai kemeja biru-merah seragam Rizzo dan topi yang serupa. Ia memakai kacamata berbingkai kawat dan jenggot. Yang lainnya adalah fotonya sedang berdiri di trailer tempat tinggalnya, tapi wajahnya hampir tidak bisa dilihat.

Hirsch nyaris berhasil duduk sebagai anggota juri dalam kasus Glavine, tapi disisihkan oleh pengacara di pihak penggugat, karena alasan-alasan yang tidak jelas waktu itu. Jelas ia meninggalkan kota sesudah sidang tersebut. Pabrik tempat ia bekerja mempekerja-kan laki-laki bernama Terry Hurtz, tetapi bukan Perry Hirsch.

Fitch membayar penyelidik lokal untuk menggali lebih dalam. Sang bibi tanpa nama itu tidak ditemukan; tidak ada catatan dari taman parkir trailer itu. Tak seorang pun di rumah makan Rizzo ingat pada Perry Hirsch.

326

Jumat sore, Fitch, Pang, dan Nussman duduk dalam kegelapan, menatap layar. Foto-foto Hirsch, Lancaster, dan Easter diperbesar dan difokuskan sejelas mungkin. Easter tentu saja kini sudah bercukur kelimis. Fotonya diambil ketika ia bekerja. jadi tanpa kacamata hitam, tanpa topi.

Tiga wajah itu adalah milik orang yang sama.

Pakar tulisan tangan Nussman tiba hari Jumat, sesudah makan siang. Ia diterbangkan dari D.C. dengan jet milik Pynex. Tidak sampai tiga puluh menit, ia sudah menyusun pendapatnya. Satu-satunya contoh tulisan tangan yang ada adalah kartu informasi juri dari Cimmino dan Wood, serta kuesioner pendek dari Glavine. Itu lebih dari cukup. Sang pakar tidak meragukan bahwa Perry Hirsch dan David Lancaster adalah orang yang sama. Tulisan tangan Easter agak berbeda dari tulisan Lancaster, tapi ia membuat satu kesalahan sebagai Hirsch. Tulisan Easter dalam ben-tuk huruf cetak itu jelas dirancang untuk membuatnya lain dari jejak sebelumnya. Ia sudah bekerja keras menciptakan gaya tulisan yang sama sekali baru, . sesuatu yang tidak bisa dikaitkan dengan masa lalu. Kesalahan muncul di bagian bawah kartu itu, sewaktu Easter membubuhkan tanda tangannya. Huruf “t”-nya dicoret agak ke bawah dan menyudut dari kiri ke kanan, sangat menonjol. Hirsch memakai gaya kursif yang acak-acakan, untuk melukiskan kurangnya ‘pendidikan. Huruf “t” dalam kata St. Louis, yang menurut pengakuannya adalah tempat lahirnya, identik dengan huruf “t” pada Easter, meskipun bagi mata yang tidak terlatih tampaknya kedua huruf itu sama sekali tidak mm p.

327

Ia mengumumkan tanpa sedikit pun keraguan, “Hirsch dan Lancaster adalah orang yang sama. Hirsch dan Easter adalah orang yang sama. Karena itu, Lancaster dan Easter pasti sama.”

“Ketiganya sama,” Fitch berkata perlahan-lahan, saat gagasan itu meresap dalam pikiran.

“Benar. Dan dia amat sangat cerdas “

Si pakaj tulisan tangan meninggalkan kantor Cable. Fitch kembali ke kantornya, ia berunding dengan Pang dan Konrad ^epanjang sore hari Jumat hingga malam. Ia punya anak buah di Allentown maupun Broken Arrow yang sedang menggali-gali dan menyuap, berharap bisa membongkar catatan pekerjaan serta formulir pajak Hirsch dan Lancaster.

“Kau pernah tahu seseorang yang mengejar sidang?” Konrad bertanya.

“Tidak pernah,” Fitch menggeram.

Tiga peraturan untuk kunjungan suami-istri itu sederhana. Antara pukul 19.00 hingga 21.00. Jumat malam, masing-masing anggota juri boleh menerima suami atau istri atau pacar atau siapa saja di dalam kamar mereka. Para tamu boleh datang dan pergi kapan saja, tapi pertama-tama mereka harus didaftar oleh Lou Dell yang memeriksa dari atas ke bawah, seolah-olah hanya dialah yang memiliki kekuasaan untuk memberi izin atas apa yang akan mereka lakukan.

Yang pertama tiba, tepat pukul 19.00, adalah Derrick Maples, pemuda tampan pacar Angel Weese. Lou Dell mencatat namanya, menunjuk ke koridor, lalu berkata, “Kamar 55 ” Pemuda itu tidak terlihat

328

lagi hingga pukul 21.00, ketika ia keluar untuk mencari udara segar.

Nicholas tidak akan punya tamu Jumat malam. Tidak pula Jerry Fernandez. Istrinya sudah pisah kamar dengannya sebulan yang lalu, dan tidak akan mau menyia-nyiakan waktu mengunjungi laki-laki yang dibencinya. Tapi Jerry dan Poodle sudah memakai hak kunjungan suami-istri itu setiap malam. Istri Kolonel Herrera sedang ke Iuar kota. Istri Lonnie Shaver tidak bisa menemukan baby-sitter. Jadi, empat laki-laki itu menonton John Wayne di Ruang Pesta, meratapi kehidupan cinta mereka yang menyedihkan. Herman yang tunanetra mendapatkan Ś kunjungan itu, tapi mereka tidak.

Phillip Savelle punya pengunjung, tapi Lou Dell menolak mengungkapkan pada mereka tentang jenis kelamin, ras, umur, atau hal lain mengenai tamunya. Ternyata tamu itu seorang perempuan muda yang cantik dan kelihatannya orang India atau Pakistan.

Mrs. Gladys Card menonton TV di kamarnya bersama Mr. Nelson Card. Loreen Duke, yang sudah bercerai, berkunjung bersama dua putrinya yang sudah remaja. Rikki Coleman memanfaatkan kunjungan suami-istri itu dengan suaminya Rhea, kemudian bicara tetang anak-anak mereka selama 1 jam 45 menit yang tersisa.

Hoppy Dupree membawakan Millie bunga serta sekotak cokelat, yang dimakannya sewaktu suaminya hilir-mudik di sekeliling ruangan dengan perasaan gembira, sesuatu yang jarang disaksikan Millie. Anak-anak baik-baik, semuanya sedang keluar kencan, dan bisnis menggelinding dengan kecepatan penuh.

329 Ia punya satu rahasia, rohasia besar mengagumkan mengenai kesepakatan yang diambilnya, tapi ia belum bisa mengatakannya pada Millie. Mungkin Senin. Mungkin sesudahnya. Tapi tidak sekarang. Ia tinggal selama satu jam dan bergegas kembali ke kantor untuk bekerja lagi.

Mr Nelson Card pulang pukul 21.00, dan Gladys melakukan kesalahan dengan melangkah ke dalam Ruang Pesta, tempat para bujangan itu sedang minum bir dan makan popcorn sambil menyaksikan pertandingan tinju Ia mengambil minuman ringan dan duduk di meja. Jerry memandangnya dengan curiga. “Kau setan kecil,” katanya. “Ayo, ceritakan pada kami”

Mulut Gladys temganga dan pipinya merah padam. Ia tidak bisa bicara.

“Ayolah, Gladys. Kami tidak mendapatkannya.”

Gladys meraih Coke-nya dan bangkit berdiri. “Mungkin memang sebaiknya kau tidak mendapatkannya,” katanya marah, lalu bergegas keluar dari ruangan. Jerry tertawa. Yang lainnya terlalu letih dan tidak peduli.

Mobil Marlee adalah sebuah Lexus yang dibeli dari dealer di Biloxi. Cicilannya enam ratus dolar per bulan, dengan Rochelle Group tercatat sebagai pem-belinya, perusahaan baru yang sama sekali tidak dikenal Fitch. Sebuah pemancar berbobot hampir setengah kilogram ditempelkan dengan magnet ke bawah poros roda kiri belakang, sehingga Marlee bisa dilacak oleh Konrad dengan duduk di depan meja kerjanya. Joe Boy menempelkannya ke sana

330

beberapa jam sesudah mereka mengikutinya dari Mobile dan melihat pelat nomornya.

Kondominiumnya yang baru juga dibeli oleh perusahaan yang sama. Cicilannya hampir dua ribu dolar per bulan. Marlee punya pengeluaran besar, tapi Fitch dan kawan-kawan tidak bisa menemukan pekerjaannya.

Ia menelepon Jumat larut malam, hanya beberapa menit sesudah Fitch melepas pakaian serta hanya memakai celana pendek ukuran XXL dan kaus kaki hitam, berbaring di ranjangnya seperti ikan paus terdampar. Sekarang Fitch menempati suite Presidential di lantai teratas Hotel Colonial di Biloxi, di Highway 90, hanya seratus meter dan Gulf. Kalau mau menyempatkan untuk melihat, ia bisa menikmati pemandangan pantai yang indah. Tidak ada siapa pun di luar kalangannya yang tahu di mana ia berada.

Telepon itu masuk ke front desk, pesan mendesak untuk Mr. Fitch, dan hal itu menimbulkan dilema bagi petugas malam. Hotel itu dibayar mahal untuk melindungi privasi dan identitas Mr. Fitch. Si petugas tidak bisa mengakui bahwa ia tamu di sana. Wanita muda itu sudah memperhitungkannya.

Ketika Marlee menelepon kembali sepuluh menit kemudian, ia langsung disambungkan, sesuai perintah dari Mr. Fitch. Fitch sekarang berdiri dengan celana pendeknya tertarik hampir ke dada tapi ujungnya masih terjuntai melewati pahanya yang gemuk; menggaruk-garuk kening dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimana Marlee bisa menemukannya. “Selamat malam,” katanya.

331

“Hai, Fitch. Maaf menelepon selarut ini.” Marlee tidak terdengar sungguh-sungguh minta maaf mengenai apa pun. Bunyi “i” dalam sapaan “Hai” itu sengaja diucapkan datar, agar kedengaran sedikit seperti orang Selatan. Rekaman dari delapan percakapan telepon itu, betapapun pendeknya, bersama rekaman percakapan mereka di New Orleans, sudah diperiksa oleh pakar-pakar suara dan dialek di New York. Marlee adalah orang Midwestern, dari Kansas Timur atau Missouri Barat, mungkin dalam radius 160 kilometer dari Kansas City.

“Tidak apa-apa,” kata Fitch, sambil memeriksa alat perekam di meja lipat kecil dekat ranjangnya “Bagaimana keadaan temanmu?”

“Kesepian. Malam ini malam kunjungan suami-istri, kau tahu?”

“Begitulah yang kudengar. Apakah semua mendapatkan haknya?”

‘Tidak. Sebenarnya keadaannya agak menyedihkan. Yang laki-laki nonton film John Wayne, sementara yang perempuan merajut.”

“Tidak ada yang melakukannya?” “Sangat sedikit. Angel Weese, tapi dia sedang di tengah roman yang panas. Rikki Coleman. Suami Millie Dupree muncul, tapi tidak tinggal lama di sana. Pasangan Card berkumpul bersama. Entah bagaimana dengan Herman. Dan Savelle mendapat tamu.” “Orang macam apa yang tertarik pada Savelle?” “Entahlah. Tidak pernah terlihat” Fitch menurunkan pantatnya yang lebar ke tepi ranjang dan memijat pangkal hidungnya. “Mengapa kau tidak mengunjungi temanmu?” ia bertanya.

332

“Siapa yang mengatakan kami kekasih?” “Apa hubungan kalian?”

“Sahabat. Coba terka, dua anggota juri mana yang tidur bersama?” “Mana aku tahu?” “Terkalah.”

Fitch tersenyum sendiri ke cermin dan tercengang oleh keberuntungannya yang luar biasa. “Jerry Fernandez dan seseorang.”

‘Tebakan bagus. Jerry akan segera bercerai. dan Sylvia juga kesepian. Kamar mereka berseberangan, dan, yah, tidak banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan di Siesta Inn.”

“Bukankah cinta itu mengagumkan?”

“Aku harus mengatakannya padamu, Fitch, Krigler bekerja bagi penggugat.”

“Mereka mendengarkannya, ya?”

“Setiap patah kata. Mereka mendengarkan dan mereka percaya. Dia membahk pendapat mereka, Fitch.”

“Coba ceritakan kabar baik untukku.” “Rohr khawatir.”

Fitch menegakkan punggung. “Apa yang meresahkan Rohr?” ia bertanya, mengamati wajahnya yang keheranan dalam cermin. Seharusnya ia tidak terkejut mengetahui Marlee bicara dengan Rohr, jadi mengapa ia terkejut mendengarnya? Ia merasa dikhianati.

“Kau. Dia tahu kau berkeliaran di jalanan sambil merancang segala macam cara untuk menjerat juri. Tidakkah kau khawatir, Fitch, seandainya ada orang sepertimu sedang bekerja keras bagi pihak penggugat?”

333

“Aku akan merasa ngeri.”

“Rohr tidak ngeri. Dia hanya khawatir.”

“Seberapa sering kau bicara dengannya?”

“Sering. Dia lebih manis daripada kau, Fitch. Dia orang yang menyenangkan untuk diajak bicara, plus tidak merekam percakapan teleponnya denganku, tidak mengirim orang untuk membuntuti mobilku. Tidak satu pun dari semua itu.”

“Benar-benar tahu cara memikat wanita, ya?”

“Yeah. Tapi dia ada kelemahan.”

“Di mana?”

“Di dompetnya. Dia tidak bisa menandingi sumber dayamu.”

“Seberapa banyak dari sumber dayaku yang kauinginkan?”

“Nanti, Fitch. Aku harus pergi. Ada mobil yang kelihatannya mencurigakan di seberang jalan. Pasti sebagian dari badut-badutmu.” Marlee memutuskan sambungan.

Fitch mandi dan mencoba tidur Pada pukul dua dini hari, ia mengemudi sendiri ke Lucky Luck, bermain blackjack dengan lima ratus dolar sekali pasang, meneguk Sprite sampai fajar, lalu pergi dengan kemenangan hampir 20.000 dolar.

334

Dua Puluh

Sabtu pertama bulan November tiba dengan suhu enam belas derajat Celsius, termasuk sejuk dan tidak biasa untuk daerah Coast yang iklimnya hampir seperti daerah tropis. Angin lembut dari utara mengguncang pepohonan, menaburkan dedaunan di jalan dan trotoar. Musim gugur biasanya datang terlambat dan berlangsung hingga awal Tahun Baru, lalu digantikan dengan musim semi. Daerah Coast tidak mengalami musim dingin.

Beberapa orang sudah berjoging di jalan, sesaat setelah fajar. Tak seorang pun memperhatikan mobil Chrysler hitam yang berbelok ke jalan masuk sebuah rumah bata sederhana. Tidak ada tetangga yang melihat dua laki-laki muda dengan setelan jas hitam seragam keluar dari mobil, berjalan ke pintu depan, membunyikan bel, dan menunggu dengan sabar. Hari masih terlalu pagi, namun kurang dari satu jam, halaman itu akan sibuk dengan garu pembersih daun dan trotoar ramai dengan anak-anak.

Hoppy baru saja menuang air ke dalam mesin kopi ketika mendengar bunyi bel itu. Ia mengencangkan sabuk mantel kamarnya yang terbuat dari kain

335

handuk, dan mencoba merapikan rambutnya yang kusut dengan jari tangan. Pasti para pramuka yang menjual donat sepagi ini. Mudah-mudahan bukan orang-orang Saksi Yehova lagi. Ia takkan membiarkan mereka kali ini. Tidak lebih dari aliran sempalan! Ia bergerak dengan cepat, sebab lantai atas dipenuhi remaja-remaja yang sedang tidur. Enam orang, menurut hitungan terakhir. Lima orang anaknya sendiri, dan seorang tamu yang dibawa pulang dari junior college. Begitulah suasana malam Sabtu di rumah keluarga Dupree.

Ia membuka pintu depan dan melihat dua laki-laki muda yang serius; keduanya langsung merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan medali emas tertempel pada dompet kulit hitam. Sedikitnya Hoppy

mendengar kata “FBI” diucapkan dua kali, dan ia

nyaris pingsan.

“Apakah Anda Mr. Dupree?” Agen Nitchman

bertanya.

Hoppy terengah. “Ya, tapi…”

“Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada

Anda,” kata Agen Napier sambil maju selangkah

lebih dekat.

“Mengenai apa?” tanya Hoppy, suaranya kering. Ia mencoba memandang ke jalan, ke seberangnya, Mildred Yancy tentu menyaksikan semua ini.

Nitchman dan Napier bertukar pandang bersekongkol. Kemudian Napier berkata pada Hoppy, “Kita bisa bicara di sini, atau mungkin di tempat lain.”

“Pertanyaan mengenai Stillwater Bay, Jimmy Hull Moke, hal-hal seperti itulah,” Nitchman menjelaskan, dan Hoppy memegangi pintu.

336

“Oh, Tuhan.” katanya; ia tercekat dan sebagian besar organ vitalnya terasa membeku

“Boleh kami masuk?” tanya Napier.

Hoppy menundukkan kepala dan menggosok mata, seolah-olah akan menangis. ‘Tidak, harap tidak di sini.” Anak-anak! Biasanya mereka tidur sampai pu-kul sembilan atau sepuluh, atau bahkan sampai tengah hari bila Millie membiarkannya, tapi kalau mendengar suara-suara di bawah, mereka akan terbangun seketika. “Kantor saya,” katanya.

“Kami akan menunggu,” kata Napier.

“Bergegaslah,” kata Nitchman.

‘Terima kasih,” kata Hoppy, lalu cepat-cepat menutup pintu, dan menguncinya. Ia menjatuhkan diri di sofa ruang duduk, dan menatap langit-Iangit yang serasa berputar searah jarum jam. Tidak ada suara dari lantai atas. Anak-anak masih tidur. Jantungnya berdebar-debar hebat, dan selama satu menit penuh ia ingin berbaring saja di sini dan mati. Kematian akan disambut dengan senang hati sekarang. ia bisa memejamkan mata dan terapung-apung pergi, dan dalam satu-dua jam anak-anak akan melihatnya dan menelepon 911. Ia umur 53, dan keluarga dari pihak ibunya punya sejarah penyakit jantung. Millie akan mendapatkan seratus ribu dolar dari asuransi jiwa.

Ketika menyadari bahwa jantungnya masih berdenyut kuat, perlahan-lahan ia menurunkan kakinya. Masih berkunang-kunang, ia meraba-raba jalan ke dapur dan menuang secangkir kopi. Saat itu pukul 07.05, menurut jam digital pada oven. Tanggal 4 November. Tak diragukan, hari terburuk dalam hidupnya. Bagaimana ia bisa begitu tolol!

337

Ia berpikir untuk menelepon Todd Ringwald, juga Millard Putt, pengacaranya. Tapi kemudian ia memutuskan untuk menunggu. Mendadak ia jadi bergegas. Ia ingin meninggalkan rumah sebelum anak-anak bangun, dan ia ingin dua orang agen itu keluar dari jalan masuk rumahnya sebelum dilihat oleh para tetangga. Di samping itu, Millard Putt tidak mena ngani hai lain di luar undang-undang real estate, dan dalam hai itu pun ia tidak terlalu pintar. Ini urusan pidana.

Masalah pidana! Tanpa mandi, ia lekas-lekas berpakaian. Ia sedang menggosok gigi ketika melihat wajahnya sendiri dalam cermin. Kata “pengkhianatan” seakan tertulis di seluruh wajahnya, terpancar dari matanya, untuk dilihat semua orang. Ia tak bisa berbohong. Itu bukan sifatnya. Ia cuma Hoppy Dupree, laki-laki jujur dengan keluarga yang baik, reputasi yang baik, dan segalanya. Ia tidak pernah berbuat curang dalam mengisi sural pajak!

Lalu mengapa, Hoppy, mengapa ada dua agen FBI menunggu di luar untuk membawamu ke pusat kota? Memang bukan ke penjara—itu pasti akan terjadi—melainkan ke tempat pribadi di mana mereka bisa menelannya sebagai sarapan pagi dan menelanjangi kecurangannya. Ia memutuskan untuk tidak bercukur. Mungkin seharusnya ia menelepon pendetanya. Ia menyisir rambutnya yang ikal dan memikirkan Millie, aibnya di mata orang, anak-anak, dan pendapat semua orang.

Sebelum meninggalkan kamar mandi. Hoppy muntah.

Di luar, Napier bersikeras untuk semobil dengan

338

Hoppy. Nitchman mengikuti dalam Chrysler hitam itu. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap.

Dupree realty bukanlah perusahaan yang menarik perhatian. Begitulah keadaannya pada hari Sabtu, juga pada hari-hari kerja lainnya sepanjang minggu. Hoppy tahu tempat itu akan kosong hingga sedikitnya pukul sembilan, mungkin sepuluh. Ia membuka kunci pintu, menyalakan lampu, dan tidak mengucapkan apa-apa sampai tiba waktunya menanyakan apakah mereka ingin kopi. Keduanya menolak dan tampak tak sabar untuk memulai pembantaian itu. Hoppy duduk di sisi meja kerjanya. Mereka duduk berdekatan di seberangnya. seperti anak kembar. Ia tak mampu membalas tatapan mereka.

Nitchman memulai dengan berkata, “Apakah Anda tahu tentang Stillwater Bay?”

“Ya.”

“Apakah Anda pernah berjumpa dengan laki-laki bernama Todd Ringwald?” “Ya.”

“Apakah Anda menandatangani kontrak tertentu dengannya?” ‘Tidak.”

Napier dan Nitchman bertukar pandang, seolah-olah mereka tahu ini bohong. Napier berkata” dengan sikap pongah, “Dengar, Mr. Dupree, urusan ini akan jauh lebih lancar bila Anda mengatakan yang sebenarnya.”

“Berani sumpah, saya mengatakan yang sebenarnya.”

“Kapan Anda pertama kali berjumpa dengan Todd

339

Ringwald?” Nitchman bertanya sambil mengeluarkan buku tulis kecil dari saku dan mulai menulis “Kamis”

“Apakah Anda kenal Jimmy Hull Moke?” “Ya.”

“Kapan pertama kali Anda bertemu dengannya?” “Kemarin.” “Di mana?” “Di sini.”

“Apakah tujuan pertemuan itu?” “Untuk membahas pembangunan Stillwater Bay. Saya diminta mewakili perusahaan bernama KLX Properties. KLX ingin mengembangkan kawasan Stillwater Bay, yang terletak di distrik Mr. Moke di Hancock County.”

Napier dan Nitchman menatap Hoppy dan merenungkan hai ini beberapa saat; rasanya seperti satu jam. Hoppy diam-diam mengulangi kata-katanya pada diri sendiri. Apakah ia mengucapkan sesuatu yang salah? Sesuatu yang akan mempercepat perjalanannya ke penjara? Mungkin ia seharusnya berhenti sekarang juga dan mencari penasihat hukum.

Napier berdeham melegakan tenggorokan. “Selama enam bulan terakhir ini kami memeriksa Mr. Moke, dan dua minggu yang lalu dia xetuju untuk melakukan plea bargain, yaitu dia akan menerima vonis ringan sebagai imbalan atas bantuannya.”

Omong kosong tentang urusan hukum ini tidak berarti apa-apa bagi Hoppy. Ia mendengarnya, tapi tidak begitu mengerti maksudnya saat ini.

“Apakah Anda menawarkan uang kepada Mr. Moke?” Napier bertanya.

340

‘Tidak,” kata Hoppy, sebab tak mungkin baginya untuk mengatakan ya. Ia mengucapkannya dengan cepat, tanpa ketegasan atau kemantapan, ucapan itu keluar begitu saja. ‘Tidak,” katanya sekali lagi. Ia tidak benar-benar menawarkan uang. Ia hanya membuka jalan bagi kliennya untuk menawarkan uang. Setidaknya, itulah penafsirannya mengenai apa yang telah dilakukannya.

Nitchman perlahan-lahan merogoh ke dalam saku mantel, meraba-raba sampi jarinya tepat, lalu mengeluarkan sebuah dompet pipih atau entah apa yang diletakkannya di tengah meja. “Anda yakin?” ia bertanya, nyaris mencemooh.

“Tentu saja yakin,” kata Hoppy sambil menatap dengan mulut ternganga pada alat tipis menyeramkan itu.

Nitchman menekan tombolnya dengan pelan. Hoppy menahan napas dan mengepalkan tinju. Kemudian terdengar suaranya sendiri, berceloteh resah mengenai politik lokal, kasino, dan memancing, se-kali-sekali ditimpali oleh Moke. “Dia memakai penyadap!” Hoppy berseru, lemas dan kalah total.

“Ya,” kata salah satu dari mereka dengan senus.

Hoppy hanya bisa menatap alat perekam itu. “Oh, tidak,” ia menggumam.

Kata-kata itu diucapkan dan direkam kurang dari 24 jam sebelumnya, di sini, di meja ini, sambil makan sandwich ayam dan minum es teh. Jimmy Hull duduk di tempat Nitchman sekarang dan mengatur uang suapan sebesar seratus ritju dolar, dan ia melakukannya dengan alat perekam FBI tertempel di tubuhnya.

341

Rekaman itu berlanjut dengan menyedihkan, sampai saat kesepakatan itu dibuat, lalu Hoppy dan Jimmy. Hull mengucapkan selamat berpisah dengan tergesa-gesa. “Perlukah kita mendengarkannya lagi?” Nitchman bertanya sambil menyentuh satu tombol.

“Tidak, jangan,” kata Hoppy sambil memijit pangkal hidung. “Perlukah saya bicara dengan pengacara?” ia bertanya tanpa mengangkat muka.

“Bukan gagasan buruk,” kata Napier simpatik.

Ketika ia akhirnya memandang mereka, matanya merah dan basah. Bibirnya gemetar tetapi dagunya dimajukan ke depan dan ia berusaha tampil berani. “Jadi, apa yang akan saya hadapi?” ia bertanya.

Napier dan Nitchman bersama-sama mengendurkan tubuh. Napier berdiri dan berjalan ke rak buku. “Sulit dikatakan,” kata Nitchman, seolah-olah persoalan itu ditentukan oleh orang lain. ‘Tahun lalu kami sudah menggerebek selusin supervisor. Hakim-hakim sudah muak. Vonisnya jadi makin panjang.”

“Saya bukan supervisor.”

“Benar. Menurut saya, tiga sampai lima tahun. penjara federal, bukan negara bagian.”

“Persekongkolan untuk menyuap pegawai pemerintah,” Napier menambahkan. Napier kemudian kembali ke tempat duduknya di samping Nitchman. Dua laki-laki itu duduk di pinggir kursi mereka, seolah-olah siap siaga untuk melompat ke seberang meja dan mendera Hoppy karena dosa-dosanya.

Sebenarnya mikrofon penyadap itu dipasang pada tutup bolpoin EJjc disposable biru yang bertengger tak mencurigakan bersama selusin pensil dan pena murah lainnya dalam stoples berdebu di meja kerja

342

Hoppy. Ringwald meninggalkannya di sana Senin pagi, ketika Hoppy pergi ke kamar kecil.. Pena-pena dan pensil-pensil itu kelihatan seperti tak pernah dipakai, jenis yang bertengger tak tersentuh selama berbulan-bulan sebelum diatur lagi. Kalau Hoppy atau orang lain memutuskan untuk memakai bolpoin Bic biru itu, mereka akan mendapati bolpoin itu kehabisan tinta dan akan langsung membuangnya ke keranjang sampah. Hanya teknisi yang bisa melepas dan menemukan alat penyadap itu.

Dari meja kerja itu, percakapan disiarkan ke pemancar kecil berkekuatan besar yang tersembunyi di belakang Lysol dan^penyegar udara di bawah kotak penyimpan peralatan pembersih kamar kecil, di samping kantor Hoppy. Dari transmiter, percakapan itu dikirim ke mobil van tanpa tanda di pusat perbe-lanjaan di seberang jalan. Di dalam van itu, percakapan tersebut direkam pada kaset dan dikirim ke kantor Fitch.

Jimmy Hull tidak pernah dipasangi penyadap, tidak bekerja dengan pihak FBI, dan bahkan hanya melakukan keahlian utamanya—meminta sogokan.

Ringwald, Napier, dan Nitchman adalah mantan polisi yang sekarang menjadi detektif swasta dan bekerja pada perusahaan keamanan international di Bethesda. Perusahaan itu sangat sering dipakai oleh Fitch. Jebakan terhadap Hoppy memerlukan 80.000 dolar uang dari The Fund.

Jumlah yang tidak seberapa

Hoppy sekali lagi menyebut kemungkinan untuk ber-konsuhasi dengan pengacara. Napier menangkisnya

343

dengan omongan panjang-lebar mengenai usaha FBI untuk menghentikan korupsi yang merajalela di daerah Coast. Ia menyalahkan semua kebusukan itu pada industri perjudian.

Hoppy harus dijauhkan dari pengacara. Seorang pengacara akan menuntut nama dan nomor telepon. catatan dan dokumen. Napier dan Nitchman punya cukup surat keterangan palsu dan tipuan instan untuk menggertak Hoppy yang malang, namun pengacara yang pandai akan memaksa mereka untuk menghilang.

Percakapan awal yang ringan tentang Jimmy Hull dan uang sogokan akhirnya berkembang menjadi penyelidikan yang lebih luas dalam bisnis perjudian, dan disimpulkan dalam dua kata ajaib oleh Napier, “kejahatan terorganisasi”. Hoppy mendengarkan seda-pat mungkin, tapi itu sulit. Pikirannya berkecamuk dengan keprihatinan akan nasib Millie dan anak-anak, serta bagaimana kehidupan mereka selama tiga hingga lima tahun tanpa kehadirannya.

“Jadi. Anda bukan sasaran kami,” Napier berkata, menutup ceritanya.

“Dan, terus terang, kami tidak pernah mendengar tentang KLX Properties,” Nitchman menambahkan. “Kami sekadar terantuk pada persoalan ini.”

“Tidak bisakah kalian terantuk lepas dari masalah ini?” Hoppy bertanya dan melontarkan senyum lem-but. tak berdaya.

“Mungkin,” kata Napier perlahan-lahan, lalu melirik pada Nitchman, seolah-olah mereka punya sesuatu yang lebih dramatis lagi untuk digelar di hadapan Hoppy.

“Mungkin apa?” ia bertanya.

Mereka bersama-sama mundur dari tepi meja. pengaturan waktu mereka sempurna, seolah-olah mereka sudah melatihnya berjam-jam atau sudah ratusan kali melakukannya. Mereka berdua menatap tajam pada Hoppy, yang lemas kehilangan tenaga dan memandangi permukaan meja.

“Kami tahu Anda bukan penjahat, Mr. Dupree,” kata Nitchman lembut.

“Anda hanya melakukan satu kesalahan,” Napier menambahkan.

“Kalian benar,” Hoppy menggumam.

“Ada diperalat oleh bajingan-bajingan yang sangat lihai. Mereka datang ke sini dengan rencana besar dan uang berlimpah, dan, well, kita sudah sering menyaksikan semua ini dalam kasus pengedaran obat terlarang.”

Obat terlarang! Hoppy terguncang, tapi tidak mengatakan apa-apa. Kembali mereka terdiam sambil menatap.

“Bisakah kami menawari Anda kesepakatan untuk 24 jam?” Napier bertanya.

“Bagaimana saya bisa bilang tidak?”

“Mari kita simpan masalah ini selama 24 jam. Anda tidak memberitahu siapa pun, dan kami tidak akan memberitahu siapa pun. Jangan katakan kepada pengacara Anda, dan kami tidak mengejar Anda. Untuk 24 jam ini.”

“Saya tidak mengerti.”

“Kami tidak bisa menerangkannya sekarang. Kami butuh waktu untuk mengevaluasi situasi Anda.” Nitchman kembali mencondongkan tubuh ke de—

345

344

pan, sikunya pada meja. “Mungkin ada satu jalan keluar untuk Anda, Mr. Dupree.”

Hoppy menguatkan semangat, betapapun lemahnya. “Saya mendengarkan.”

“Anda adalah ikan kecil tak berarti, yang tertangkap dalam jala besar,” Napier menjelaskan. “Anda bisa dilepaskan.”

Kedengarannya bagus buat Hoppy. “Apa yang terjadi dalam 24 jam ini?”

“Kita bertemu lagi di sini. Pukul sembilan pagi.”

“Baik.”

“Sepatah kata saja kepada Ringwald, sepatah kata kepada orang lain, bahkan istri Anda sendiri, maka hidup Anda dalam bahaya serius.”

“Kalian boleh pegang janji saya.”

Bus sewaan im meninggalkan Siesta Inn pada pukul sepuluh, membawa keempat belas anggota juri, Mrs. Grimes, Lou Dell dan suaminya Benton, Willis dan istrinya Ruby, lima deputi paruh waktu berpakaian preman, Earl Hutto—sheriff Harrison County—dan istrinya Claudelle, dan dua asisten panitera dari kantor Gloria Lane. Seluruhnya ada 28 orang, plus sopimya. Seluruhnya disetujui oleh Hakim Harkin. Dua jam kemudian mereka meluncur di Canal Street, New Orleans, lalu keluar dari bus di sudut Jalan Magazine. Makan siang dihidangkan dalam ruangan pesanan di belakang oyster bar di Decatur, French Quarter, dan dibayar oleh para pembayar pajak di Harrison County.

Mereka dnzinkan menyebar di Quarter. Mereka berbelanja di pasar terbuka; berjalan-jalan bersama

346

turis melewati Jackson Square; menonton tubuh-tubuh telanjang di bordil-bordil murah di Bourbon; membeli T-shirt dan suvenir Iain. Beberapa orang beristirahat di bangku-bangku sepanjang Riverwalk. Beberapa menyelinap ke dalam bar dan menonton pertandingan football. Pukul empat, mereka berkumpul di tepi sungai dan naik perahu kincir untuk melihat-lihat pemandangan. Pukul enam, mereka makan malam di kedai piza dan po-boy di Canal Street.

Pukul sepuluh, mereka dikurung dalam kamar mereka di Pass Christian, letih dan siap untuk tidur. Juri yang sibuk adalah juri yang bahagia.

347

Dua Puluh Satu

Setelah berhasil dengan sukses mengintimidasi Hoppy, Sabtu malam Fitch mengambil keputusan untuk meluncurkan serangan berikutnya terhadap juri. Serangan ini dilakukan tanpa perencanaan cermat, dan akan sehebat perangkap untuk Hoppy.

Minggu pagi, Pang dan Dubaz, mengenakan ke-meja cokelat berlogo tukang leding di atas saku, membuka kunci pada pintu apartemen Easter. Tidak ada alarm yang berbunyi. Dubaz langsung menuju lubang angin di atas lemari es, membuka kawat kasanya, dan menarik keluar kamera tersembunyi yang telah merekam Doyle sebelum ini. Ia memasukkannya ke kotak peralatan yang dibawanya untuk mengambil barang-barang itu.

Pang pergi ke komputer. Ia sudah meneliti foto-foto yang diambil dengan tergesa-gesa oleh Doyle dalam kunjungannya yang pertama, dan ia sudah berlatih pada unit komputer serupa yang dipasang di kantor di samping kantor Fitch. Ia memutar sekrup-sekrup dan membuka tutup panel belakang komputer tersebut Hard drive-nyu. berada tepat pada tempat yang telah dibentahukan kepadanya. Dalam waktu

348

kurang dari satu menit, komponen itu sudah lepas. Pang menemukan dua tumpuk disket 3,5 inci, semuanya ada enam beias buah, pada rak di samping monitor.

Sementara Pang melakukan pekerjaan rumit mengambil hard drive komputer, Dubaz membuka laci-laci dan tanpa suara membalik-balik perabotan murah di sana, untuk mencari disket lain. Apartemen itu demikian kecil dan begitu sedikit tempat untuk menyembunyikan apa pun, sehingga tugasnya mudah. Ia memeriksa laci-laci dan lemari dapur, lemari pakaian. kotak-kotak tripleks yang dipakai Easter untuk menyimpan kaus kaki dan pakaian dalamnya. Ia tidak menemukan apa-apa. Segala macam benda yang berkaitan dengan komputer rupanya disimpan dekat komputer itu.

“Ayo pergi,” kata Pang, mencabut kabel-kabel dari komputer, monitor, dan printer.

Mereka melemparkan begitu saja sistem itu ke sofa usang. Dubaz menumpuk bantal-bantal dan pakaian pakaian, kemudian menuang cairan dari botol plastik untuk menyalakan api. Ketika sofa, kursi, komputer, karpet murahan, dan beragam pakaian itu sudah tersiram cukup, dua laki-laki itu berjalan ke pintu dan Dubaz melemparkan korek api. Pembakaran itu berlangsung cepat dan tanpa suara, setidaknya bagi orang yang mungkin mendengarkan di luar. Mereka menunggu sampai kobaran api menjilat langit-langit dan asap hitam memenuhi apartemen itu, lalu bergegas pergi, mengunci pintu di belakang mereka. Menuruni tangga, di lantai pertama, mereka menarik alarm kebakaran. Dubaz berlari kembali ke atas;

349

asap merembes dari apartemen; ia mulai berteriak-teriak dan memukul-mukul pintu. Pang berbuat sama di lantai satu. Jeritan-jeritan menyusul dengan cepat ketika koridor-koridor itu dipenuhi orang-orang yang panik dengan pakaian tidur dan sweat suit. Bunyi bel kebakaran kuno yang melengking itu menambah histeria.

“Pastikan tidak ada korban,” demikian Fitch memperingatkan mereka. Dubnz menggedor pintu-pintu sewaktu asap menebal. Ia memastikan setiap apartemen di dekat apartemen Easter kosong. Ia menarik lengan orang-orang, menanyakan apakah semua sudah keluar, menunjuk ke pintu keluar

Ketika orang banyak tumpah ke halaman -parkir, Pang dan Dubaz berpisah dan perlahan-lahan menghilang. Suara sirene bisa terdengar. Asap muncul dari jendela-jendela dua apartemen atas—apartemen Easter dan sebelahnya. Lebih banyak lagi orang tunggang-langgang keluar, beberapa masih terbungkus selimut, menggendong bayi dan balita. Mereka bergabung bersama orang banyak dan menunggu mobil pemadam kebakaran dengan perasaan tak sabar.

Ketika petugas pemadam kebakaran tiba, Pang dan Dubaz mundur lebih jauh lagi, lalu menghilang.

Tidak ada korban jiwa. Tak seorang pun terluka. Empat apartemen hancur total, sebelas rusak parah, dan hampir tiga puluh keluarga tidak memiliki tempat tinggal, sampai selesai pembersihan dan restorasi.

Hard drive Easter terbukti tidak bisa ditembus. Ia telah menambahkan begitu banyak password, kode rahasia, program antipencurian dan antivirus, sehingga

350

pakar-pakar komputer Fitch tak berdaya. Fitch menerbangkan mereka dari Washington hari Sabtu. Mereka adalah orang-orang jujur yang tidak tahu-menahu dari mana hard disk dan disket-disket itu berasal Ia mengurung mereka dalam ruangan dengan komputer yang identik dengan milik Easter, dan memberitahu mereka apa yang ia inginkan. Sebagian disket itu memakai proteksi serupa. Akan tetapi, sesudah mencoba sampai ke tengah tumpukan, ketegangan mengendur ketika mereka berhasil membuka password pada disket lama yang lalai diamankan dengan ketat oleh Easter. Daftar file menunjukkan enam belas entri dengan nama-nama dokumen yang tidak mengungkapkan apa pun. Fitch diberitahu ketika dokumen pertama dicetak. Isinya adalah ringkasan pokok-po-kok berita sepanjang enam halaman mengenai industri tembakau, bertanggal 11 Oktober 1994. Kutipan berita-berita dari Time, The Wall Street Journal, dan Forbes. Dokumen kedua adalah narasi dua halaman yang dengan panjang-lebar menguraikan dokumen yang baru saja dibaca Easter mengenai perkara gugatan implantasi payudara. Yang ketiga adalah puisi jelek yang ia tulis mengenai sungai-sungai. Yang keempat adalah kumpulan artikel berita belakangan ini, mengenai perkara gugatan kanker paru-paru.

Fitch dan Konrad membaca setiap halaman dengan cermat. Tulisannya jelas dan tidak ruwet, pasti dikerjakan dengan tergesa-gesa, sebab kesalahan-kesalahan ketiknya tidak begitu dipedulikan. Ia menulis seperti wartawan yang tidak memihak. Sulit menentukan apakah Easter menaruh simpati pada para perokok atau sekadar tertarik pada perkara gugatan ganti kerugian.

351

Ada beberapa syair yang lebih jelek lagi. Cerpen yang tidak selesai. Dan akhirnya, rahasia. Dokumen nomor 15 adalah surat dua halaman untuk ibunya, Mrs. Pamela Blanchard di Gardner, Texas. Bertanggal 20 April 1995, surat itu dimulai dengan demikian: Dear Mom: Aku sekarang tinggal di Biloxi, Mississippi, di Gulf Coast, dan diteruskan dengan penjelasan bahwa ia menyukai air laut dan pantai, dan tidak akan pernah lagi bisa tinggal di daerah pertanian. Dengan panjang-lebar ia minta maaf karena tidak mengirim surat lebih awal, lalu minta maaf lagi sepanjang dua alinea karena kecenderungannya untuk mengembara, dan berjanji akan lebih rajin menulis surat. Ia bertanya mengenai Alex. Katanya sudah tiga bulan ia tidak bicara dengan Alex dan tidak percaya bahwa Alex akhirnya berhasil ke pergi ke Alaska dan mendapatkan pekerjaan sebagai pemandu memancing. Alex tampaknya saudara laki-lakinya. Tidak disebut-sebut mengenai ayah. Tidak disebut-sebut mengenai saudara perempuan, apalagi yang bernama Marlee.

Ia mengatakan sudah menemukan pekerjaan di kasino, dan untuk sementara ini pekerjaan tersebut cukup menyenangkan, meskipun tidak ada masa depannya. Ia masih berangan-angan untuk jadi pengacara, dan menyesal mengenai sekolah hukum itu, tapi ia ragu-ragu apakah ia akan kembali. Ia mengaku bahagia, hidup sederhana dengan uang sedikit dan tanggung jawab lebih sedikit lagi. Oh, begitulah, aku harus pergi sekarang. Sal am sayang. Sampaikan salamku pada Bibi Sammie. Ia berjanji akan segera menelepon

352

Ia menandatanganinya dengan nama “Jeff. “Love Jeff.” Tidak ada nama keluarga yang muncul dalam surat itu.

Dante dan Joe Boy berangkat dengan jet pribadi satu jam sesudah surat tersebut dibaca untuk pertama kalinya. Fitch memerintahkan mereka pergi ke Gardner dan menyewa setiap detektif swasta di kota itu.

Orang-orang komputer membongkar satu disket lagi, nomor dua dari yang terakhir. Sekali lagi mereka bisa menghindari program antitampering dengan serangkaian petunjuk password yang rumit. Mereka sangat kagum dengan kemampuan hacking yang dimiliki Easter.

Disket itu diisi dengan bagian dari sebuah dokumen—daftar registrasi penduduk Harrison County. Mulai dari A hingga K, data itu memuat lebih dari 16.000 nama dengan alamatnya. Fitch memeriksanya secara periodik sewaktu data tersebut dicetak. Ia pun punya printout lengkap dan semua penduduk pemberi suara di county tersebut. Itu bukan daftar rahasia, bahkan bisa dibeli dari Gloria Lane dengan harga 35 dolar. Hampir semua kandidat politik membelinya pada tahun pemiTihan umum.

Namun ada dua hai yang aneh mengenai daftar Easter. Pertama, data itu disimpan dalam disket komputer, yang berarti entah bagaimana caranya ia bisa memasuki komputer Gloria Lane dan mencuri informasi. Kedua, apa gunanya daftar semacam itu bagi mahasiswa paruh waktu sekaligus pegawai toko komputer?

Bila benar Easter mengakses ke komputer Panitera,

353

ia tentu bisa mengakali untuk membuat namanya masuk ke daftar calon anggota juri dalam kasus Wood.

Semakin jauh Fitch memikirkannya, semakin nalar-lah penjelasan itu.

Mata Hoppy merah dan sembap ketika ia minum kopi kental di meja kerjanya pada pagi hari Minggu itu, menunggu datangnya pukul sembilan. Ia belum makan sesuap pun selain pisang sejak Sabtu kemarin, ketika ia menyeduh kopi di dapurnya beberapa menit sebelum bel berbunyi, dan Napier serta Nitchman masuk ke kehidupannya. Sistem pencernaannya mo-gok. Sarafnya letih. Malam Minggu itu ia minum terlalu banyak vodka di rumah, sesuatu yang dilarang oleh Millie.

Sabtu itu anak-anak sudah tidur. Ia belum menceritakan urusan ini pada siapa pun, sama sekali tidak tergoda untuk melakukannya. Perasaan terhina itu membantunya mengamankan rahasia memuakkan tersebut.

Tepat pukul sembilan, Napier dan Nitchman masuk dengan orang ketiga, seorang laki-laki berusia lebih tua yang juga memakai setelan jas hitam pekat dan menunjukkan air muka serius, seolah-olah ia datang untuk mencambuk dan menguliti sendiri Hoppy yang malang. Nitchman memperkenalkannya sebagai George Cristano. Dari Washington! Departemen Kehakiman!

Jabat tangan Cristano dingin. Ia tidak berbasa-basi.

“Hoppy, kau tidak keberatan kalau kita bercakap—

354

cakap di tempat lain?” Napier bertanya sambil memandang sekeliling ruangan dengan sikap mencemooh.

“Lebih aman,” Nitchman menambahkan sebagai penjelasan.

“Kita tidak pernah tahu, di mana alat penyadap mungkin terpasang,” kata Cristano.

“Sudah jelas,” kata Hoppy, tapi tak seorang pun menanggapi. Apakah posisinya memungkinkan untuk mengatakan tidak pada apa pun? “Baiklah,” katanya.

Mereka pergi naik mobil Lincoln Town Car hitam yang mulus, Nitchman^dan Napier di depan, Hoppy di belakang bersama Cristano, yang tanpa basa-basi menjelaskan bahwa ia adalah semacam asisten Jaksa Agung berposisi tinggi dalam Departemen Kehakiman. Kian dekat mereka ke Gulf, kian mengerikan posisinya. Kemudian ia diam.

“Kau orang Demokrat atau Republik, Hoppy?” Cristano bertanya pelan, untuk mengisi jeda panjang dalam percakapan tersebut. Napier berbelok ke pantai dan menuju ke barat, sepanjang pantai.

Sudah tentu Hoppy tidak ingin menyinggung siapa pun. “Oh, entahlah. Saya selalu memilih orangnya. Saya tidak terpaku pada partai tertentu, tahu yang saya maksudkan?”

Cristano memalingkan wajah, memandang ke luar jendela, seolah-olah inilah yang diinginkannya. “Aku tadinya berharap kau pendukung Partai Republik,” katanya, masih sambil melihat ke la’ut di luar sana.

Hoppy bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan Apa saja. Bahkan seorang Komunis fanatik bermata liar dan ke mana-mana membawa kartu, seandainya itu menyenangkan Mr. Cristano.

355

“Saya memilih Reagan dan Bush,” katanya bangga. “Dan Nixon. Bahkan Gold water.”

Cristano mengangguk sedikit, dan Hoppy mengembuskan napas.

Mobil itu kembali sepi. Napier memarkirnya di dok dekat St. Louis Gulf, empat puluh menit dari Biloxi. Hoppy mengikuti Cristano ke dermaga, dan naik ke perahu sewaan ukuran delapan belas meter, bemama Afternoon Delight. Nitchman dan Napier menunggu di samping mobil, dalam posisi tersembunyi. ^

“Duduklah, Hoppy,” kata Cristano sambil menunjuk bangku berjok busa di atas dek. Hoppy duduk. Perahu itu bergoyang sangat pelan. Airnya tenang. Cristano duduk di hadapannya dan mencondongkan badan ke depan, sehingga kepala mereka hanya terpisah semeter.

“Perahu yang bagus,” kata Hoppy, sambil menggosok jok kulit imitasi itu.

“Ini bukan milik kami. Dengar, Hoppy, kau tidak dipasangi penyadap, bukan?”

Secara naluriah, ia menegakkan badan, terguncang oleh kata-kata itu. ‘Tentu saja tidak!”

“Maaf, tapi hal-hal seperti ini memang terjadi. Kurasa aku harus menggeledahmu.” Cristano memandangnya dari atas ke bawah dengan cepat. Hoppy ngeri membayangkan dirinya digerayangi oleh orang asing ini, seorang diri di atas perahu.

“Berani sumpah, saya tidak membawa penyadap, oke?” kata Hoppy, begitu tegasnya, sehingga ia merasa bangga pada diri sendiri. Wajah Cristano mengendur. “Kau mau menggeledah aku?” ia bertanya. Hoppy

356

melihat berkeliling untuk mencari apakah ada orang yang terlihat di sana. Tampak aneh, bukan? Dua laki-laki dewasa meraba-raba satu sama lain di tengah hari bolong di atas perahu yang tertambat?

“Apakah kau membawa penyadap?” Hoppy bertanya.

“Tidak.”

“Sumpah?”

“Sumpah.”

“Bagus.” Hoppy merasa lega dan sangat ingin mempercayai laki-laki itu. Alternatifnya sama sekali tidak terpikirkan. Cristano tersenyum, lalu tiba-tiba mengernyit. Ia menegakkan tubuh. Basa-basi itu selesai. “Aku akan bicara ringkas, Hoppy. Kami punya tawaran untukmu, kesepakatan yang memungkinkan kau lolos dari masalah ini tanpa goresan sama sekali. Tidak ada apa-apa. Tidak ada penangkapan, tidak ada tuntutan, tidak ada sidang, tidak ada penjara. Tidak ada wajah yang terpampang di surat kabar. Bahkan, Hoppy, tak seorang pun akan pernah tahu.”

Ia berhenti untuk mengambil napas, dan Hoppy menanggapi. “Sejauh ini sangat bagus. Saya mendengarkan.”

“Kesepakatan ini ganjil, belum pernah kami coba. Tidak ada kaitannya dengan undang-undang dan keadilan dan hukuman, tidak ada sama sekali. Ini adalah kesepakatan politis, Hoppy. Murni politik. Tidak akan ada catatannya di Washington. Tak seorang pun pernah tahu, kecuali aku, kau, dua orang yang menunggu di mobil, dan kurang dari sepuluh orang, jauh di dalam Departemen Kehakiman.

357

Kita bisa memutuskan kesepakatan ini, kau mengerjakan bagianmu, dan segalanya dilupakan.”

“Baiklah. Tunjukkan saja arah yang tepat.”

“Apakah kau prihatin memikirkan kejahatan, obat bius, undang-undang, dan keamanan, Hoppy?”

‘Tentu.”

“Apakah kau muak dengan sogok-menyogok, suap, dan korupsi?”

Pertanyaan ganjil. Pada saat ini, Hoppy merasa dirinya seperti bocth penyebar poster untuk kampanye antikorupsi. “Ya!”

“Ada orang-orang baik dan orang-orang jahat di Washington, Hoppy. Ada orang-orang seperti kami di Departemen Kehakiman, yang mengabdikan jiwa-raga untuk memerangi kejahatan. Yang kumaksudkan kejahatan serius, Hoppy. Sogokan untuk para hakim dan anggota kongres yang menerima uang dari musuh asing, kegiatan kriminal yang bisa mengancam de-mokrasi kita. Tahu yang kumaksud?”

Meski Hoppy tidak tahu pasti, ia menaruh simpati pada Cristano dan teman-temannya yang baik di Washington. “Ya, ya,” sahutnya, mendengarkan setiap patah kata.

“Tapi zaman sekarang segalanya serba politis, Hoppy. Kami terus-menerus bertarung dengan Kongres dan Presiden. Tahukah kau apa yang kami butuhkan di Washington, Hoppy?”

Apa pun hai itu, Hoppy ingin mereka mendapatkannya

Cristano tidak memberinya kesempatan untuk menjawab. “Kami butuh lebih banyak orang Republik, lebih banyak orang Partai Republik konservatif yang

358

akan memberi kami uang dan tidak menghalangi kerja kami. Orang-orang Demokrat selalu ikut campur, selalu mengancam pemotongan anggaran, restrukturi-sasi, selalu ribut dengan hak para penjahat malang yang kami bum. Ada perang yang tengah bergolak di sana, Hoppy. Setiap hari kami berjuang.”

Ia memandang Hoppy, seolah-olah ia seharusnya mengatakan sesuatu, namun Hoppy sedang mencoba membayangkan perang tersebut. Ia mengangguk mu-ram, dan memandang kakinya.

“Kami harus melindungi teman-teman kami, Hoppy, dan di sinilah kau bisa membantu.”

“Oke.”

“Sekali lagi, ini kesepakatan yang aneh. Terimalah, dan kaset yang berisi rekamanmil sedang menyuap Mr. Moke akan dimusnahkan.”

“Saya menerima tawaran ini. Katakan saja bagaimana kesepakatannya.”

Cristano diam dan memandang dermaga itu dari ujung ke ujung. Beberapa nelayan hiruk-pikuk di kejauhan. Ia mencondongkan badan lebih dekat dan menyentuh lutut Hoppy. “Ini mengenai istrimu,” katanya, hampir berbisik, kemudian mundur ke belakang, membiarkan kata-katanya meresap.

“Istri saya?”

“Ya. Istrimu.”

“Millie?”

“Itu dia.”

“Apa gerangan…”

“Akan kujelaskan.”

“Millie?” Hoppy sangat heran. Apa yang bisa dilakukan Millie terhadap kekacauan seperti ini?

359

“Ini mengenai sidang itu, Hoppy,” Cristano berkata, dan kepingan pertama teka-teki itu jatuh ke tempatnya.

“Coba terka, siapa yang memberikan dana terbanyak bagi kandidat kongres Partai Republik?”

Hoppy terlalu tercengang dan bingung untuk memberikan terkaan pintar.

“Benar. Perusahaan-perusahaan rokok. Mereka mencurahkan jutaan dolar dalam pacuan itu, sebab mereka takut pada FDA dan muak dengan peraturan pemerintah. Mereka adalah pendukung perdagangan bebas, Hoppy, sama seperti kau. Mereka percaya bahwa orang merokok atas pilihan sendiri, dan mereka muak dengan pemerintah serta pengacara-pengacara yang berusaha menibuat mereka bangkrut.”

“Ini politis,” kata Hoppy, menatap Gulf dengan perasaan tak percaya.

“Persis. Seratus persen politis. Apabila Big Tobacco kalah dalam sidang ini, gugatan serupa akan melanda hebat seperti longsoran salju. Perusahaan-perusahaan itu akan kehilangan miliaran dolar, dan kami di Washington akan kehilangan jutaan dolar. Bisakah kau menolong kami, Hoppy?”

Terenyak kembali ke dunia nyata, Hoppy hanya bisa berkata, “Apa?”

“Bisakah kau menolong kami?”

“Saya rasa bisa, tapi bagaimana caranya?”

“Millie. Kau bicara dengan istrimu, pastikan dia mengerti betapa tidak masuk akal dan betapa berba-hayanya kasus ini. Dia perlu mengambil sikap tegas di dalam ruang sidang itu, Hoppy. Dia perlu mempertahankan pendapatnya dari orang-orang liberal dalam

360

dewan jun yang mungkin berniat memberikan vonis ganti kerugian besar. Bisakah kau melakukannya?” “Tentu saja bisa.”

‘Tapi maukah kau melakukannya, Hoppy? Kami tak ingin memakai kaset itu, oke? Kaubantu kami, dan kaset itu akan masuk ke toilet.”

Hoppy mendadak ingat pada kaset itu. “Yeah, se-tuju. Memang saya akan menemuinya nanti malam “

“Bujuklah dia. Ini penting luar biasa—penting bagi kami di Departemen Kehakiman, untuk kebaikan negeri ini, dan, tentu saja. ini akan menyingkirkanmu dari penjara selama lima tahun.” Cristano mengucapkan kalimat terakhir sambil tertawa dan menepuk lutut. Hoppy tertawa juga.

Mereka bicara mengenai strategi selama setengah jam. Semakin lama mereka duduk di perahu itu, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran Hoppy. Bagaimana bila Millie memberikan suara untuk perusahaan rokok itu, tapi anggota lain dalam dewan juri itu tidak setuju dan memberikan vonis besar? Lalu apa yang akan terjadi pada Hoppy?

Cristano berjanji akan memegang janjinya, tak peduli apa pun vonisnya, selama Millie memberikan suara dengan benar.

Hoppy berjalan lega di sepanjang dermaga ketika mereka kembali ke mobil. Ia merasa telah diperbaharui ketika menemui Napier dan Nitchman.

Sesudah menimbang-nimbang keputusannya selama tiga hari. Sabtu malam Hakim Harkin berubah pikiran dan memutuskan para juri tidak akan diizinkan pergi ke gereja mereka pada hari Minggu. Ia yakin bahwa

361

empat belas orang itu pasti tiba-tiba punya keinginan hebat untuk bersatu dengan Roh Kudus, dan membayangkan mereka akan menyebar ke seluruh penjuru county itu sama sekali tidak menyenangkan. Ia menelepon pendetanya, yang kemudian menelepon beberapa orang lagi, dan ditemukanlah seorang mahasiswa muda jurusan teologia. Kebaktian direncanakan diadakan pukul sebelas Minggu pagi, di dalam Ruang Pesta di Siesta Inn.

Hakim Harkin megirimkan pesan pribadi kepada masing-masing anggota juri. Catatan itu disisipkan ke bawah pintu sebelum mereka kembali dari New Orleans Sabtu malam.

Enam orang menghadiri kebaktian itu; acaranya agak membosankan. Mrs. Gladys Card datang, dengan suasana hati sangat tidak enak untuk hari Sabat. Selama enam belas tahun ia tidak pernah membolos dari Sekolah Minggu di Gereja Baptis Kalvari; absennya yang terakhir disebabkan oleh meninggalnya saudara perempuannya di Baton Rouge. Enam belas tahun penuh, tanpa absen. Ia punya Piagam Penghargaan Kehadiran Sempurna berjajar di atas lemarinya. Esther Knoblach di Women’s Mission Union memiliki angka kehadiran 22 tahun, rekor saat ini di Gereja Kalvari, tapi ia sudah berumur 79 dan menderita tekanan darah tinggi. Gladys 63 tahun, dengan kesehatan prima, dan karena itu menganggap rekor Esther bisa disusul. Ia tak mau mengakui motifnya ini pada siapa pun, namun semua orang di Gereja Kalvari sudah curiga.

Tapi kini pupuslah angan-angannya, gara-gara Hakim Harkin, orang yang tidak disukainya sejak

362

pertama dan kini dibencinya. Ia juga tidak menyukai mahasiswa teologia itu.

Rikki Coleman masuk dengan berpakaian joging. Millie Dupree membawa Kitab Sucinya. Loreen Duke adalah orang yang taat, tapi tercengang dengan pendeknya kebaktian tersebut. Dimulai pukul 11.00 dan berakhir pukul 11.30, kebaktian khas orang kulit putih yang suka terburu-buru. Ia sudah pernah mendengar ketololan seperti itu, tapi belum pernah menjalaninya. Pendetanya tidak pernah naik ke mimbar sebelum pukul 13.00, dan kadang-kadang belum selesai hingga pukul 15.00, ketika mereka istirahat makan siang di luar bila cuaca cerah, lalu berbaris kembali ke dalam untuk mendengarkan kebaktian lagi. Ia menggigit-gigit bolu gulungnya dan merana tanpa bersuara.

Mr dan Mrs. Herman Grimes hadir juga, bukan karena panggilan iman, tapi karena dinding-dinding dalam Kamar 58 menindih mereka. Terutama Herman tidak pernah pergi ke gereja dengan sukarela sejak kecil.

Sepanjang pagi hari itu, diketahui bahwa Phillip Savelle merasa gusar dengan acara kebaktian tersebut. Ia memberitahu seseorang bahwa ia ateis, dan kabar ini menyebar dalam sekejap. Sebagai protes, ia menempatkan diri di ranjang, bertelanjang atau hampir demikian, melipat kaki dan lengannya yang kurus dalam posisi semacam yoga, dan meneriakkan mantra-mantra dengan volume penuh. Ia melakukan hai ini dengan pintu terbuka.

Samar-samar suaranya bisa didengar dari dalam Ruang Pesta, selama kebaktian. Tak disangsikan lagi, ini merupakan salah satu faktor pendorong bagi ca—

363

Ion pendeta muda itu untuk cepat-cepat menyelesaikan khotbah dan membenkan pemberkatannya.

Lou Dell yang pertama datang, memerintahkan agar Savelle tutup mulut, tapi cepat-cepat mundur ketika melihat Savelle dalam keadaan telanjang. Willis yang berikutnya mencoba, namun Savelle terus memejamkan mata dan membuka mulutnya, tak menghiraukan sang deputi. Willis menjaga jarak.

Anggota juri yang tidak menghadiri kebaktian men-cangkung di balik pintu tertutup dan menonton televisi yang disetel keras-keras.

Pukul dua, sanak keluarga pertama mulai datang membawakan pakaian baru dan persediaan untuk minggu itu. Nicholas Easter adalah satu-satunya anggota juri yang tidak mendapatkan tamu. Hakim Harkin memutuskan meminta Willis mengantarkan Easter dengan mobil polisi ke apartemennya.

Kebakaran itu sudah beberapa jam dipadamkan. Truk-truk pemadam dan para petugasnya sudah lama pergi. Halaman depan yang sempit dan trotoar di depan gedung itu berserakan dengan puing-puing hangus dan tumpukan pakaian basah. Para tetangga hilir-mudik, masih terguncang, tapi sibuk melakukan pembersihan.

“Yang mana apartemenmu?” tanya Willis ketika menghentikan mobil dan terngangga melihat kawah hangus di tengah gedung.

“Di atas sana,” jawab Nicholas, mencoba menunjuk sambil mengangguk. Lututnya lemas ketika ia keluar dari mobil dan berjalan ke kerumunan orang pertama, satu keluarga Vietnam yang sedang membisu mengamati lampu meja plastik yang sudah meleleh.

364

“Kapan kejadiannya?” ia bertanya. Udara pekat dengan bau tajam kayu, cat, dan karpet yang baru saja terbakar.

Mereka tidak mengucapkan apa-apa.

“Pagi ini, sekitar pukul delapan,” jawab seorang wanita yang lewat membawa kardus berat. Nicholas melihat orang-orang itu dan menyadari bahwa ia tidak kenal satu nama pun. Di serambi kecil, seorang wanita dengan clipboard sedang sibuk mencatat sambil berbicara di telepon genggam. Tangga utama ke lantai dua dijaga oleh satpam yang saat itu sedang membantu seorang wanita tua menyeret karpet basah menuruni tangga.

“Anda tinggal di sini?” perempuan itu bertanya setelah selesai dengan pembicaraannya.

“Ya. Easter, di Nomor 312.”

“Wah. Hancur total. Barangkali dari situlah asalnya.”

“Aku ingin melihatnya.”

Satpam mengantar Nicholas dan perempuan itu menaiki tangga ke lantai dua, tempat kerusakannya terlihat jelas. Mereka berhenti di depan pita kuning pembatas di tepi kawah tersebut. Api membakar ke atas, menembus langit-langit dan kasau murah, membakar dua lubang besar di atap, yang menurut ingatannya terletak tepat di atas kamar tidurnya dulu. Api juga membakar ke bawah, merusak apartemen tepat di bawahnya. Tidak ada yang tersisa dari Apartemen 312, kecuali dinding dapur, bak cucinya tergantung di satu ujung, siap runtuh. Tidak ada apa pun. Tidak ada tanda-tanda perabot murah di ruang duduk, juga ruang duduk itu sendiri. Tidak ada apa punyang tersisa dari kamar tidurnya, kecuali dinding-dinding gosong.




0 Response to "The Runaway Jury II"

Post a Comment