Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

The Runaway Jury I

John Grisham


THE RUNAWAY JURY

John Grisham

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2003

by Copyright Š 1996 by John Gnsham AM rights reserved

JURI PILIHAN Alih bahasa: Hidayat Saleh GM 402 96.440 Hak cipta terjemahan Indonesia Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat 33 - 37, Jakarta 10270 Diterbitkan pertaina kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Oktober 1996

Cetakan kedua: November 1996 Cetakan ketiga: Desember 1996 Cetakan keempat: November 2000 Cetakan kelimA April 2003

Perpustakaan Nasional: Katalog Da i am Terbitan (KDT)

GRISHAM, John

Juri Pilihan/ John Gnsham: alih bahasa, Hidayat Saleh —Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1996

672 him. 18 cm

Judul asli: The Runaway Jury ISBN 979 - 605 - 440 - X

Ucapan Terima Kasih

Saya sangat berterima kasih pada teman saya Will Denton, sekarang tinggal di Biloxi, Mississippi, yang penelitian-penelitiannya dan pengalamannya menjadi sumber penulisan buku ini; dan pada istrinya yang baik, Lucy, atas keramahannya pada saya selama saya berada dI Coast.

Terima kasih juga untuk Glenn Hunt dari Oxford, Mark Lee dari Little Rock, Robert Warren dari Bogue Chitto dan Estelle, yang telah mengoreksi detail-

Satu

Wajah Nicholas Easter sedikit tersembunyi oleh rak peraga berisi telepon-telepon cordless ramping, dan ia tidak memandang lansung pada kamera tersembunyi itu, melainkan agak ke kiri, mungkin pada pelanggan, atau ke counter tempat sekelompok anak sedang mengerumuni permainan elektronik terbaru dari Asia. Meskipun diambil dari jarak empat puluh meter oleh seseorang yang harus menghindari lalu lintas pejalan kaki yang cukup padat di mall tersebut, foto itu jernih dan memperlihatkan seraut wajah yang menyenangkan, tercukur bersih, dengan garis-garis kuat dan ketampanan remaja. Easter berusia 27 tahun, mereka tahu pasti hal itu. Tidak berkaca-mata. Tanpa cincin hidung atau potongan rambut aneh. Tak ada apa pun yang menunjukkan bahwa ia salah satu setan komputer biasa yang bekerja di toko dengan bayaran lima dolar per jam. Dalam kuesio-nernya disebutkan bahwa ia sudah empat bulan bekerja di sana, juga bahwa ia mahasiswa paruh waktu, meskipun tak ada catatan namanya di perguruan tinggi mana pun dalam radius lima ratus kilometer. Ia berbohong mengenai ini, mereka yakin.

Ia pasti bohong. Kecerdasan mereka sangat tinggi. Bila pemuda ini mahasiswa, mereka akan tahu ia kuliah di mana, berapa lama, bidang studi apa, se-bagus apa nilainya, atau seburuk apa. Mereka akan tahu. Ia adalah pegawai Computer Hut di sebuah mall. Tidak lebih tidak kurang. Mungkin ia merencanakan mendaftar ke perguruan tinggi. Mungkin ia sudah drop out, tapi masih suka menyebut dirinya mahasiswa paruh waktu. Barangkali itu membuatnya lebih senang, memberinya kebanggaan, kedengaran bagus.

Namun ia bukan mahasiswa, dulu maupun sekarang. Jadi, bisakah ia dipercaya? Hal ini sudah dua kali dibahas di ruangan itu. setiap kali mereka sampai ke nama Easter di daftar induk dan wajahnya terpampang di layar Mereka merasa kebohongannya tidak berbahaya.

Ia tidak merokok. Toko itu punya peraturan ketat melarang rokok, tapi ia pernah dilihat (tidak dipotret) makan taco di Food Garden bersama seorang rekan kerja yang merokok satu-dua batang sambil minum limun. Easter tampaknya tidak keberatan. Setidaknya ia bukan fanatik antirokok.

Wajah dalam foto itu kurus dan kecokelatan, tersenyum tipis dengan bibir rapat. Di bawah jas merah toko itu, ia memakai kemeja putih tanpa kancing leher dan dasi garis-garis. Ia tampak rapi, bugar, dan orang yang memotretnya benar-benar berbicara dengan Nicholas sewaktu ia pura-pura hendak membeli peralatan lama. Menurutnya, pemuda itu pintar bicara, suka menolong, berpengetahuan, dan menyenangkan. Label namanya menyebutkan Easter sebagai co-manager, tapi ada dua orang lain dengan jabatan yang sama terlihat di toko itu pada saat yang sama.

10

Sehari setelah pemotretan, seorang wanita muda yang menarik bercelana jeans memasuki toko; dan sementara melihat-lihat barang dekat bagian software, ia menyalakan sebatang rokok. Nicholas Easter kebetulan berdiri paling dekat; deHgan sopan ia mendekati wanita itu dan memintanya berhenti merokok. Wanita itu pura-pura kesal dengan perlakuan ini, bahkan tersinggung, dan mencoba memancing kemarahannya. Easter mempertahankan sikap cerdik, menjelaskan padanya bahwa toko itu memiliki kebijaksanaan no-smoking yang ketat. Ia dipersilakan merokok di tempat lain. “Kau terganggu kalau ada yang merokok?” wanita itu bertanya sambil menyedot. ‘Tidak,” jawabnya. ‘Tapi pemilik toko ini terganggu.” Kemudian sekali lagi ia meminta wanita itu berhenti. Wanita itu menjelaskan bahwa ia benar-benar ingin membeli radio digital baru, jadi bisakah Nicholas mengambilkan asbak. Nicholas mengeluarkan kaleng soft drink ko-song dari bawah counter, mengambil rokok itu darinya, dan mematikannya. Dua puluh menit mereka bicara tentang radio, sementara wanita itu berkutat dengan pilihannya. Wanita itu pun main mata tanpa malu-malu, dan Easter menanggapinya. Sesudah membayar radio itu, si wanita meninggalkan nomor telepon pada Easter. Easter berjanji akan menelepon.

Episode itu berlangsung selama 24 menit dan direkam dengan recorder kecil yang tersembunyi dalam dompet wanita itu. Kasetnya dimainkan dua kali, ketika wajahnya diproyeksikan pada dinding, serta dipelajari oleh para pengacara dan pakar mereka. Laporan tertulis mengenai kejadian itu ada di dalam berkas, enam halaman terketik berisi pengamatan si

11

wanita mengenai apa saja, mulai dari sepatunya (Nike tua), bau napasnya (permen karet aroma kayu manis), perbendaharaan kalanya (tingkat perguruan tinggi), sampai caranya menangani rokok itu. Menurut pendapatnya, dan ia be^engalaman dalam urusan seperti itu, Easter tak pernah merokok.

Mereka mendengarkan suaranya yang menyenangkan dan nada bicaranya yang profesional, dan mereka menyukai Easter, la cerdas dan tidak benci tembakau. Ia memang bukan sosok juri teladan, namun ia patut diperhitungkan. Masalahnya, begitu sedikit yang mereka ketahui tentang Easter, calon anggota juri nomor 56. Rupanya belum setahun yang lalu ia mendarat di Gulf Coast, dan mereka tidak tahu dari mana ia berasal. Masa lalunya adalah misteri total. Ia menyewa apartemen berkamar satu yang terpisah delapan blok dari gedung pengadilan Biloxi—mereka punya foto gedung apartemen tersebut—dan pertama kali bekerja sebagai pelayan di sebuah kasino di pantai. Dengan cepat kedudukannya menanjak menjadi blackjack dealer, tapi ia berhenti sesudah dua bulan.

Tak lama sesudah Mississippi mengesahkan perjudian, selusin kasino di sepanjang Coast muncul dalam semalam, dan gelombang kemakmuran baru melanda dengan hebat. Pencari kerja berdatangan dari segala penjuru, sehingga amanlah untuk mengasumsikan bahwa Nicholas Easter datang ke Biloxi karena alasan yang sama dengan sepuluh ribu orang lainnya. Satu-satunya keanehan dalam langkahnya adalah begitu cepatnya ia mendaftar untuk pemilu.

Ia mengendarai Volkswagen Beetle 1969. Foto mo-bil itu disorotkan ke dinding, menggantikan gambar

12

wajahnya. Hebat. Ia berusia 27 tahun, lajang, mengaku mahasiswa paruh waktu—jenis yang tepat untuk mengendarai mobil seperti itu. Tak ada stiker bumper. Tak ada apa pun yang menunjukkan aflliasi politik, nurani sosial, atau tim olahraga favoritnya. Tak ada apa pun kecuali kemiskinan.

Laki-laki yang mengoperasikan proyektor dan paling banyak berbicara itu adalah Carl Nussman, pengacara dari Chicago yang tidak lagi berpraktek hukum, tetapi mengelola firma konsultan juri miliknya sendiri. Dengan bayaran cukup mahal, Carl Nussman dan perusahaannya bisa memilihkan dewan juri yang tepat. Mereka mengumpulkan data, mengambil foto, merekam suara, mengirim gadis-gadis pirang hex-jeans ketat dalam situasi tepat. Carl dan rekan-rekannya agak menyerempet hukum dan etika, namun mustahil menangkap mereka. Apalagi, memotret calon anggota juri tidak dianggap perbuatan ilegal atau tidak etis. Enam bulan yang lalu, mereka mengadakan survei telepon yang mendalam di Harrison County, kemudian satu kali lagi dua bulan yang lalu, lalu satu lagi sebulan yang lalu, untuk menyaring perasaan masyarakat terhadap masalah tembakau dan merumuskan model-model untuk anggota juri yang sempurna. Tidak ada foto yang tidak mereka ambil, tidak ada sampah yang tidak dikumpulkan. Mereka memiliki berkas untuk setiap calon anggota juri.

Carl menekan tombol, dan gambar VW itu di-ganukan dengan foto gedung apartemen yang catnya telah mengelupas; di dalam sanalah tempat tinggal Nicholas Easter. Kemudian satu klik lagi, dan di layar kembali terpampang wajah Easter.

13

“Jadi, kita hanya punya tiga foto dari calon nomor 56,” Carl berkata dengan nada kesal sambil memutar tubuh dan menatap tajam pada sang fotografer, salah satu penyidik pribadinya, yang telah menjelaskan bahwa ia tak bisa memotret pemuda itu tanpa tepergok. Si fotografer duduk di kursi dekat dinding belakang, menghadap meja panjang yang penuh dengan pengacara, paralegal, dan pakar juri. Fotografer itu sudah bosan dan ingin lekas pergi. Saat itu pukul tujuh malam Sabtu. Mereka baru sampai pada nomor 56; masih ada 140 lagi. Akhir pekan ini pasti menyebalkan. Ia perlu minuman.

Setengah lusin pengacara dengŤn kemeja kusut dan Iengan tergulung membuat catatan yang tak ada ha-bisnya, dan sekali-sekali menatap wajah Nicholas Easter pada dinding di belakang Carl. Pakar-pakiir juri dari segala macam bidangpsikiater, sosiolog, analis tulisan tangan, profesor hukum, dan lain-lain— mengaduk-aduk kertas dan mengetuk-ngetuk printout komputer setebal satu inci. Mereka tidak tahu pasti, apa yang hams dilakukan terhadap Easter. Ia pembohong dan ia menyembunyikan masa lalunya, tapi di atas kertas dan di layar itu ia kelihatan baik-baik saja.

Mungkin ia tidak berbohong. Mungkin tahun lalu ia memang menjadi mahasiswa di sebuah college murahan di Arizona Timur, dan mungkin mereka tidak mengetahui hal ini.

Biarkanlah bocah itu, pikir sang fotografer, tapi ia menyimpan ucapan itu untuk dirinya sendiri. Di dalam ruangan yang dipenuhi pakar-pakar berpendidikan yang dibayar tinggi ini. pendapatnya adalah yang terakhir

14

didengar. Bukan pekerjaannya untuk memberikan pendapat.

Carl berdeham sambil sekali lagi melirik sang fotografer, lalu berkata, “Nomor 57.” Wajah berpeluh seorang ibu muda terpampang di dinding, dan sedikitnya dua orang dalam ruangan itu tertawa kecil. “Traci Wilkes,” kata Carl, seolah-olah Traci kini sudah menjadi sahabat lama. Dokumen-dokumen bergeser sedikit di meja.

“Usia 33, menikah, ibu dua orang anak, istri dokter, anggota dua country club, dua health club, dan sederet klub sosial.” Carl menjelaskan semua ini berdasarkan ingatannya sambil memutar-mutar tombol proyektornya. Wajah Traci yang kemerahan digantikan oleh fotonya sedang berjoging di trotoar, mengenakan kostum spandex merah jambu dan hitam cerah, serta sepatu Reebok tanpa noda dan topi putih yang bertengger tepat di atas kacamata olahraga model terbaru, rambutnya diikat membentuk ekor kuda yang manis. Ia mendorong kereta joging dengan bayi kecil di dalamnya. Traci hidup untuk berolahraga. KuJitnya kecokelatan dan tubuhnya bugar, tapi tidak selangsing yang diharapkan. Ia punya beberapa kebiasaan buruk. Satu lagi foto Traci dalam mobil Mercedes hitamnya dengan anak anak dan anjing melongok dari setiap jendela. Satu lagi Traci sedang membawa tas-tas belanjaan ke mobil yang sama, Traci dengan sepatu olahraga dan celana ketat; penampilannya menyiratkan keinginan untuk kelihatan atletis selamanya. Ia mudah dikuntit, sebab ia begitu sibuk, hingga nyaris terlalu letih, dan ia tak pernah berhenti cukup lama untuk melihat sekitarnya.

15

Carl memperlihatkan foto-foto rumah keluarga WUkes, bangunan suburban besar berlantai tiga dengan cap “Dokter” di segala penjuru. Ia tidak berlama-lama menampilkannya. Yang terbaik adalah foto terakhir. Traci, sekali fagi bersimbah peluh, dengan sepeda desainer di rumput di dekatnya, duduk di bawah sebatang pohon di taman umum, jauh dari semua orang, setengah tersembunyi dan… merokok!

Si fotografer menyeringai tolol. Ini adalah karya terbaiknya—foto istri dokter yang sedang sembunyi-sembunyi merokok itu dijepret dari jarak seratus meter. Ia tidak tahu bahwa Traci merokok; ia sendiri kebetulan sedang merokok di dekat kaki jembatan ketika wanita itu lewat. Ia berkeliaran di taman umum itu selama setengah jam, hingga dilihatnya wanita itu berhenti dan merogoh ke dalam kantong sepedanya.

Sesaat suasana di dalam ruangan jadi sedikit ceria ketika mereka melihat foto itu. Kemudian Carl berkata, “Kurasa cukup aman untuk mengambil nomor 57 ” la membuat catatan pada sehelai kertas, lalu menghirup seteguk kopi lama dari cangkir kertas. Tentu saja ia akan mengambil Traci Wilkes! Siapa yang tidak menginginkan istri dokter dalam dewan juri saat pengacara penggugat meminta ganti rugi berjuta-juta dolar? Carl memang ingin menampilkan istri-istri dokter, tapi rasanya mustahil mendapatkan mereka. Fakta bahwa wanita itu menikmati rokok hanyalah bonus kecil.

Nomor 58 adalah seorang pekerja galangan kapal di Ingalls, Pascagoula—lima puluh tahun, laki-laki kulit putih, cerai, pengurus serikat buruh. Carl memperlihatkan foto pickup Ford milik laki-laki itu pada

16

dinding, dan hendak memberikan ulasan tentang hidupnya, ketika pintu terbuka dan Mr. Rankin Fitch melangkah ke dalam ruangan. Carl berhenti. Para pengacara melonjak tegak di tempat duduk mereka dan seketika langsung terpesona oteh Ford tersebut. Mereka sibuk menulis pada buku tulis, seolah-olah mereka takkan pernah lagi melihat kendaraan seperti itu. Para konsultan juri juga ikut beraksi, semuanya mulai membuat catatan dengan asyik, masing-masing berhati-hati untuk tidak memandang laki-laki itu.

Fitch sudah kembali. Fitch ada di dalam ruangan. Perlahan-lahan ia menutup pintu di belakangnya, maju beberapa langkah ke tepi meja, dan menatap tajam pada setiap orang yang duduk di sekelilingnya. Sebenarnya lebih tepat disebut tatapan berapi-api daripada sekadar tatapan tajam. Daging gemuk di sekitar matanya yang hitam terlipat ke dalam. Kerut-merut dalam yang melintang pada keningnya merapat. Dadanya yang tebal naik-turun perlahan-lahan, dan selama satu-dua detik hanya Fitch-lah yang bernapas. Bibirnya terbuka untuk makan dan minum, sekali-sekali untuk bicara, tapi tak pernah untuk tersenyum.

Fitch marah, seperti biasa; itu bukan hal baru, sebab dalam keadaan tidur ia beringas. Tapi apakah ia akan mengumpat dan mengancam, mungkin melempar barang-barang, atau sekadar mendidih di balik permukaan? Dengan Fitch, mereka tak pernah tahu. Ia berhenti di pinggir meja di antara dua pengacara muda yang merupakan partner junior dan karena itu meraup gaji enam angka yang nyaman; mereka anggota biro hukum ini dan di sinilah ruang kerja mereka. Di lain pi hak, Fitch adalah orang asing dari Washing-17

ton, pengacau yang sudah sebulan ini menggeram dan menyalak di koridor-koridor mereka. Dua pengacara muda itu tak berani mengarahkan pandang padanya.

“Nomor berapa?” Fitch bertanya pada Carl

“Lima puluh delapan,” jawab Carl cepat, berusaha menyenangkan hati.

“Kembali ke 56,” Fitch memerintahkan, dan Carl menekan tombol dengan cepat, hingga wajah Nicholas Easter sekali lagi terpampang pada dinding. Kertas-kertas bergemeresik di sekitar meja.

“Apa yang kalian ketahui?” tanya Fitch.

“Masih sama,” kata Carl, memalingkan wajah.

“Bagus sekali. Dari 196, berapa yang masih jadi misteri?”

“Delapan.”

Fitch mendengus dan menggelengkan kepala perlahan-lahan, semua orang menunggu terjadinya ledakan. Akan tetapi, ia perlahan-lahan mengelus jenggotnya yang hitam kelabu dan terpangkas rapi selama beberapa detik, memandang Carl, membiarkan saat genting itu mengendap, lalu berkata, “Kalian akan bekerja sampai tengah malam, lalu kembali pukul tujuh pagi. Sama untuk hari Minggu.” Setelah itu ia memutar badannya yang gemuk dan meninggalkan ruangan.

Pintu terbanting. Udara terasa jauh lebih ringan, kemudian, secara bersamaan, para pengacara, konsultan juri, Carl, dan yang lainnya melihat arloji masing-masing. Mereka baru saja diperintahkan untuk menghabiskan 39 dari 43 jam mendatang di dalam ruangan ini, memandangi foto wajah-wajah yang sudah mereka lihat, mengingat nama-nama tanggal lahir, dan statistik vital dari hampir dua ratus orang.

Tapi tak ada sedikit pun keraguan di dalam ruangan itu bahwa mereka semua akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan. Tidak sedikit pun.

Fitch memakai tangga menuju lantai satu gedung itu, dan di sana disongsong oleh sopirnya, laki-laki besar bernama Jose. Jose memakai setelan hitam dengan sepatu lars hitam model western dan kacamata hitam yang hanya dibuka saat ia mandi dan tidur. Fitch membuka pintu tanpa mengetuk, dan menyela rapat yang sudah berlangsung berjam-jam. Empat orang pengacara dan para staf pendukung mereka sedang menyaksikan deposisi yang direkam dari saksi-saksi pertama penggugat. Video itu berhenti tepat beberapa detik sesudah Fitch menerobos masuk. la berbicara singkat kepada salah satu pengacara, lalu meninggalkan ruangan. Jose mengikutinya melewati perpustakaan sempit, menuju lorong lain. Di situ Fitch menerobos ke ruangan lain dan lagi-lagi membuat takut segerombolan pengacara di dalam.

Dengan delapan puluh pengacara, biro hukum Whitney & Cable & White adalah yang terbesar di Gulf Coast. Biro hukum itu dipilih sendiri oleh Fitch, dan akan mendapat berjuta-juta dolar uang jasa karena pilihan ini. Sebagai imbalannya, biro hukum itu harus menderita di bawah tirani dan kekejaman Rankin Fitch.

Setelah puas .seluruh gedung itu menyadari kehadirannya dan ngeri pada tindak-tanduknya, Fitch pergi. Ia berdiri di trotoar dalam udara Oktober yang hangat, menunggu JoseV Tiga blok dari sana, di bagian tertinggi sebuah bank tua, ia melihat suite perkantoran

18

19

yang terang oleh sinar lampu. Pihak musuh masih bekerja. Pengacara-pengacara si penggugat ada di sana, semuanya berkerumun dalam berbagai ruangan, berunding dengan para pakar, melihat foto-foto buram dan mengerjakan hal-hal yang Iebih-kurang sama seperti yang dikerjakan oleh orang-orangnya. Sidang akan dimulai hari Senin dengan pemilihan dewan juri, dan ia tahu mereka juga bekerja keras meneliti nama-nama dan wajah-wajah, serta bertanya-tanya siapa gerangan Nicholas Easter dan dari mana ia berasal. Dan Ramon Caro, Lucas Miller, Andrew Lamb, Barbara Furroe, dan Delores DeBoe? Siapakah orang-orang ini? Hanya di tempat terpencil seperti Mississippi bisa ditemukan daftar calon anggota juri yang begitu ketinggalan zaman. Fitch sudah pernah mengatur pembelaan dalam delapan kasus gugatan di delapan negara bagian yang berlainan; mereka menggunakan sistem komputer dan daftar namanya sudah diteliti, sehingga saat panitera menyerahkan daftar calon anggota juri, tidak perlu repot mencari siapa yang sudah mati dan siapa yang belum.

Ia menatap kosong pada cahaya-cahaya di kejauhan, dan berpikir betapa rakusnya hiu-hiu itu kelak membagi-bagi uang, seandainya mereka menang. Bagaimana mungkin mereka bisa sepakat membagi bangkai berlumuran darah? Sidang pengadilan itu sendiri hanya akan menjadi pertempuran kecil dibandingkan saline gorok yang akan terjadi bila mereka mendapatkan vonis menang, dan memperoleh uang mereka

la benci mereka, dan ia meludah ke trotoar. Ia menyalakan sebatang rokok, menjepitnya kuat-kuat di antara jemarinya yang gemuk.

20

Jose” berhenti di tepi trotoar, dalam mobil Suburban sewaan mengilat dengan jendela-jendela gelap. Fitch duduk di jok depan, seperi biasa. Jose juga melihat ke kantor pengacara lawan ketika mereka melewatinya, tapi ia tidak mengucapkan apa pun, sebab bosnya tidak suka obrolan kecil. Mereka melewati gedung pengadilan Biloxi dan sebuah toko murah yang agak tak terurus, tempat Fitch dan rekan-rekannya menempati suite perkantoran tersembunyi yang dilengkapi perabot sewaan murah an, dengan serbuk gergajian plywood baru di lantainya.

Mereka berbelok ke barat di Highway 90 di tepi pantai dan beringsut di tengah lalu lintas yang padat. Saat itu malam Sabtu, dan kasino-kasino dipenuhi orang-orang yang berjudi mempertaruhkan uang belanja dengan rencana besar untuk memenangkannya kembali besok. Mereka perlahan-lahan keluar dari Biloxi, melewati Gulfport, Long Beach, dan Pass Christian. Kemudian mereka meninggalkan garis pantai, dan tak lama kemudian melewati pos keamanan dekat sebuah laguna.

21

Dua

Rumah pantai itu modern dan modelnya lintang pukang, dibangun tanpa memedulikan keindahan pantai. Sebuah dermaga kayu bercat putih menjorok ke air yang tenang dan berganggang di teluk, tiga kilometer dari hamparan pasir terdekat. Sebuah perahu pancing ukuran enam meter ditambatkan pada dermaga. Rumah itu disewa dari seorang pekerja tambang minyak di New Orleans—tiga bulan, kontan, tanpa pertanyaan. Untuk sementara, tempat itu dipakai sebagai persembunyian, penginapan beberapa orang yang sangat penting.

Di dek, jauh di atas air, empat orang laki-laki sedang menikmati minuman dan terlibat dalam percakapan kecil sambil menunggu seorang tamu. Biasanya mereka musuh bebuyutan dalam berbinis, tapi sore ini mereka sudah bermain golf delapan belas hole bersama-sama, lalu makan udang dan kerang panggang. Kini mereka minum dan memandangi air hitam di bawah. Mereka tak senang berada di Gulf Coast pada malam Sabtu. jauh dari rumah.

Namun bisnis penting di depan mata menuntut mereka untuk melakukan gencatan senjata. Permainan

22

golf bersama itu boleh dikatakan cukup menyenangkan. Empat orang itu masing-masing adalah CEO atau direktur pelaksana perusahaan raksasa. Nama setiap perusahaan itu tercantum dalam Fortune 500, masing-masing diperdagangkan di NYSE (Bursa Efek New York). Yang paling kecil memiliki nilai penjualan sebesar 600 juta dolar tahun lalu, yang terbesar empat miliar dolar. Masing-masing memiliki laba luar biasa, dividen besar, pemegang saham yang puas, dan CEO yang mendapatkan jutaan dolar untuk pekerjaan mereka.

Masing-masing adalah konglomerat dengan beragam divisi dan produk yang tak terhingga banyaknya, anggaran iklan yang gemuk, serta nama tak bermutu seperti Trellco dan Smith Greer, yang dirancang untuk mengalihkan perhatian dari fakta bahwa sebenarnya mereka tidak lebih dari perusahaan tembakau. Mereka berempat, yang dikenal sebagai The Big Four di kalangan keuangan, bisa dengan mudah menelusun akarnya ke pialang tembakau abad kesembilan belas di Carolina dan Virginia. Mereka memproduksi rokok—bersama-sama, 98 persen dari semua rokok yang dijual di Amerika Serikat dan Kanada. Mereka juga memproduksi barang-barang Iain seperti linggis, keripik jagung, dan cat rambut, tapi keuntungan utama mereka berasal dari rokok. Pernah terjadi beberapa kali merger, perubahan nama, dan berbagai upaya bersolek untuk mengelabui publik, namun The Big Four telah dikucilkan dan dituding oleh berbagai kelompok kon sumen, dokter, bahkan politisi.

Dan kini para pengacara memburu mereka. Ahli waris orang-orang mati di luar sana itu benar-benar

23

menggugat dan meminta uang dalam jumlah besar, sebab rokok menyebabkan kanker paru-paru, kata mereka. Sudah enam belas sidang sejauh ini, dan Big Tobacco telah memenangkan seluruhnya, namun tekanan terhadap mereka kian meningkat. Dan begitu satu dewan juri memberikan beberapa juta dolar pada seorang janda, habislah mereka. Pengacara-pengacara itu akan mengamuk dengan iklan nonstop, membujuk para perokok dan ahli warisnya untuk mengajukan gugatan secepatnya, sementara mereka sedang di atas angin.

Biasanya keempat orang itu bicara tentang berbagai hal lain kalau sedang bersama namun di bawah pengaruh minuman keras, mereka tak bisa mengontrol lidah. Mereka bersandar pada pagar dek, menatap air, dan mulai mengutuki para pengacara dan sistem pemberian ganti rugi di Amerika. Masing-masing perusahaan telah menghabiskan berjuta-juta dolar di Washington untuk berbagai kelompok yang mencoba mengubah undang-undang ganti rugi, agar perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab seperti mereka bisa dilindungi dari tuntutan hukum. Mereka butuh tameng menghadapi serangan-serangan tak masuk akal oleh orang-orang yang mengaku sebagai korban. Namun usaha mereka sia-sia. Sekarang mereka berada di pedalaman Mississippi, resah memikirkan sidang Iain.

Menanggapi semakin gencarnya serangan dari berbagai pengadilan, The Big Four mengumpulkan dana yang disebut The Fund. Pengumpulan uang ini tanpa batas, tidak meninggalkan jejak. Tidak kelihatan. Dana itu dipakai untuk membiayai taktik taktik keras dalam

24

perkara pengadilan; untuk menyewa pengacara terbaik dan paling tangguh, pakar-pakar paling licin. konsultan juri paling canggih. Tak ada pembatasan pada apa pun. Sesudah enam belas kemenangan, mereka kadang-kadang bertanya, di antara mereka sendiri, adakah sesuatu yang tidak dapat dilakukan dengan The Fund. Masing-masing perusahaan mengalirkan tiga juta dolar setahun dan memutar-mutar uang itu hingga mendarat di The Fund. Tidak ada akuntan, tidak ada auditor, tidak ada penegak hukum yang mencium adanya dana untuk tujuan-tujuan tersebut.

The Fund dikelola oleh Rankin Fitch, orang yang dipandang rendah oleh mereka semua, didengarkan dan bahkan dipatuhi bila perlu. Dan sekarang mereka menunggunya. Mereka berkumpul dan bubar sesuai perintahnya. Mereka bersedia datang dan pergi sesuai kemauannya, selama ia bisa memenangkan mereka. Fitch sudah mengatur delapan persidangan tanpa kalah. Ia juga merekayasa dua pembatalan sidang, tapi tentu saja tak ada bukti apa pun mengenai hal ini.

Seorang asisten melangkah ke dek dengan nampan berisi minuman segar, masing-masing dicampur dengan saksama. Baru saja mereka hendak minum, seseorang berkata, “Fitch sudah datang.” Serentak keempat orang itu mengurungkan niat minum.

Mereka cepat-cepat melangkah ke ruang duduk, sementara Fitch menyuruh Jose parkir tepat di luar pintu depan. Seorang asisten mengangsurkan segelas air mineral tanpa es padanya. Ia tidak pernah minum minuman keras, meskipun semasa mudanya ia banyak minum. Ia tidak mengucapkan terima kasih kepada asisten itu, tidak memedulikan kehadirannya, melainkan

25

langsung pindah ke peripian dan menunggu empat orang itu berkumpul di sofa. Satu asisten lain maju dengan sepiring udang dan kerang sisa, tapi Fitch mengibaskan tangan mengusirnya. Ada desas-desus bahwa ia kadang-kadang makan, tapi ia tak pernah tepergok dalam proses itu. Tapi buktinya ada, dari dadanya yang tebal dan garis pinggangnya yang besar juga gelambir daging di bawah janggotnya, serta perawakannya yang gemuk. Tapi ia selalu memakai setelan warna gelap dengan jas terkancing, dan ia bisa menampilkan kesan berwibawa.

“Laporan perkembangan nngkas,” katanya, ketika ia merasa sudah cukup lama menunggu orang-orang itu siap. “Pada saat ini, seluruh tim pengacara sedang bekerja nonstop, dan ini akan terus berlanjut sepanjang akhir pekan. Riset juri sesuai dengan jadwal. Pengacara sudah siap. Semua saksi sudah disiapkan, semua pakar sudah ada di kota. Belum ada apa pun yang luar biasa.”

Hening sesaat, saat mereka menunggu cukup lama untuk memastikan Fitch sudah selesai bicara.

“Bagaimana dengan juri-juri itu?” tanya D. Martin Jankle, yang paling penggelisah di antara mereka. Ia memimpin perusahaan yang dulu dikenal sebagai U-Tab, singkatan nama perusahaan lama yang selama bertahun-tahun disebut sebagai Union Tobacco, tapi setelah pembersihan marketing kini diganti dengan nama Pynex. Perkara pengadilan saat ini adalah Wood v. Pynex, maka roda roulette telah menempatkan Jankle di kursi panas. Pynex menduduki urutan ketiga dengan penjualan hampir mencapai dua miliar dolar tahun lalu. Selain itu, selama kuartal terakhir, Pynex

26

juga memiliki cadangan uang tunai terbesar di antara mereka berempat. Waktu yang ditetapkan untuk sidang ini memang menyebalkan. Kalau sedang sial, dewan juri mungkin akan melihat laporan keuangan Pynex, kolom-kolom rapi yang menunjukkan lebih dari 800 juta dolar tunai.

“Kami sedang menggarap mereka,” kata Fitch. “Kami tidak memiliki data jelas mengenai delapan orang. Empat di antaranya mungkin sudah mati atau pindah. Empat lainnya masih hidup dan diharapkan hadir di pengadilan pada hari Senin.”

“Satu saja anggota juri yang nakal, bisa jadi racun,” kata Jankle. Ia dulu pengacara perusahaan di Louisville sebelum bergabung dengan U-Tab, dan ia selalu ingin menunjukkan pada Fitch bahwa ia tahu lebih banyak tentang hukum daripada ketiga rekannya.

“Aku tahu itu,” bentak Fitch.

“Kita harus tahu tentang orang-orang ini.”

“Kami sudah bekerja sebaik mungkin. Kami tidak bisa apa-apa bila daftar juri di sini tidak seaktual seperti di negara bagian Iain.”

Jankle meneguk minumannya lama-lama dan menatap Fitch. Fitch toh pada hakikatnya adalah tukang pukul dengan bayaran mahal, sama sekali tidak ,se-derajat dengan CEO dari sebuah perusahaan besar. Apa pun sebutan untuk jabatannya—konsultan, agen, kontraktor—faktanya adalah ia bekerja untuk mereka. Memang saat ini ia punya kekuasaan, suka bersikap angkuh dan membentak-bentak, sebab dialah yang sedang memegang kendali, tapi sebenarnya ia hanyalah tukang pukul mahal. Tapi pikiran-pikiran ini disimpan Jankle dalam hati.

27

“Ada yang lainnya?” tanya Fitch pada Jankle, seolah-olah pertanyaannya tadi tidak berarti, seolah-olah bila tidak ada yang produktif untuk diucapkan, lebih baik ia tutup mulut

“Kau percaya pada pengacara-pengacara ini?” Jankle bertanya, bukan untuk pertama kalinya.

“Kita sudah pernah membahas ini,” jawab Fitch.

“Kita bisa membahasnya lagi bila aku mau.”

“Mengapa kau khawatir dengan pengacara-pengacara kita?” tanya Fitch.

“Sebab, ah, sebab mereka berasal dari sekitar sini.”

“Begitu. Dan kaupikir lebih bijaksana mendatangkan pengacara-pengacara New York untuk bicara dengan juri kita? Mungkin beberapa dari Boston?”

‘Tidak, bukan begitu. Hanya saja… mereka tidak pernah melakukan pembelaan dalam kasus tembakau.”

“Belum pernah ada kasus seperti ini di Coast. Apa kau mengeluh?”

“Mereka membuatku khawatir, itu saja.”

“Kita menyewa yang terbaik di daerah ini,” kata Fitch.

“Mengapa bayaran mereka begitu murah?”

“Murah? Minggu lalu kau khawatir dengan biaya pembelaan. Sekarang kaubilang tarif pengacara kita tidak cukup mahal. Apa maumu sebenarnya?”

‘Tahun lalu kita membayar empat ratus dolar per jam untuk pengacara-pengacara Pittsburgh. Orang-orang ini bekerja dengan bayaran dua ratus. Aku jadi khawatir.”

Fitch mengernyit pada Luther Vandemeer, CEO dari Trellco. “Apa aku salah tangkap di sini?” ia bertanya “Apa dia serius? Untuk kasus ini, kita

28

menyediakan lima juta dolar, dan dia khawatir aku menggelapkan uang receh.” Fitch mengibaskan tangan ke arah Jankle. Vandemeer tersenyum dan meneguk minuman.

“Kau menghabiskan enam juta di Oklahoma,” kata Jankle.

“Dan kita menang. Tidak pernah ada keluhan sesudah vonis diumumkan.”

“Sekarang pun aku tidak mengeluh. Aku hanya mengutarakan kekhawatiran.”

“Bagus! Aku akan kembali ke kantor, mengumpulkan semua pengacara itu, dan mengatakan pada mereka bahwa klienku tidak puas dengan tagihannya. Akan kukatakan, ‘Dengar, sobat-sobat, aku tahu kalian akan kaya karena kami, tapi itu saja tidak cukup. Klienku ingin kalian mengajukan tagihan lebih besar, oke. Sodorkan itu pada kami. Kalian bekerja terlaiu murah.’ Gagasan bagus?”

‘Tenang, Martin,” kata Vandemeer. “Sidang ini belum lagi dimulai. Aku yakin kita akan bosan dengan pengacara-pengacara kita sebelum kita meninggalkan tempat ini.”

“Yeah, tapi sidang ini lain. Kita semua tahu itu.” Kata-kata^ Jankle makin pelan sementara ia mengangkat gelas. Ia peminum, satu-satunya di antara mereka berempat. Perusahaannya diam-diam member-sihkannya dari minuman keras enam bulan yang lalu, tapi tekanan perkara ini memang terlaiu besar. Fitch, yang dulu juga pemabuk.. tahu Jankle punya masalah Dalam beberapa minggu lagi ia akan dipaksa memberikan kesaksian.

Fitch benci pada kelemahan Jankle. Bebannya saat

29

ini sudah cukup berat, dan masih ditambah dengan tanggung jawab untuk menjaga agar D. Martin Jankle bebas dari minuman keras sampai saat persidangan.

“Kuperkirakan pengacara pihak penggugat sudah siap,” kata CEO lainnya.

“Bisa dikatakan begitu” kata Fitch sambil angkat bahu. “Jumlah mereka cukup banyak.”

Delapan, pada hitungan terakhir. Delapan dari antara biro-biro hukum terbesar untuk kasus tuntutan ganti rugi di negara bagian itu mengaku bahwa masing-masing telah mencurahkan satu juta dolar untuk mendanai pertempuran melawan industri tembakau. Mereka sudah memilih penggugatnya, janda seorang laki-laki bernama Jacob L. Wood. Mereka sudah memilih forumnya, Gulf Coast di Mississippi, sebab negara bagian ini memiliki undang-undang ganti rugi yang bagus, dan karena para juri di Biloxi kadang-kadang bisa sangat murah hati. Mereka tidak memilih hakimnya, tapi mereka sangat beruntung. Dulu Hakim Frederick Harkin adalah pengacara penggugat, sebelum serangan jantung mengirimnya ke jabatan ini.

Ini bukanlah kasus tembakau biasa, dan semua orang dalam ruangan itu tahu.

“Berapa banyak yang sudah mereka keluarkan?” “Aku tidak tahu informasi itu,” kata Fitch. “Kami mendengar desas-desus bahwa dana perang mereka mungkin tidak sebanyak yang digembar-gemborkan, mungkin ada sedikit masalah untuk mengumpulkan uang dari beberapa pengacara itu. Tapi mereka sudah menghabiskan berjuta-juta. Dan mereka punya selusin lembaga konsumen yang siap memberikan saran.” Jankle menggoyang-goyangkan es dalam gelas, lalu

30

menghabiskan tetes terakhir minumannya. Sudah gelas keempat. Ruangan itu hening sejenak ketika Fitch berdiri dan menunggu, dan para CEO itu memandangi karpet.

“Berapa lama sidang ini akan berlangsung?” Jankle akhirnya bertanya.

“Empat sampai enam minggu. Pemilihan juri berlangsung cepat di sini. Han Rabu kita mungkin sudah menentukan anggota dewan juri.”

“Sidang di Allentown berlangsung tiga bulan,” kata Jankle.

“Ini bukan Kansas, Toto. Kau mau sidang selama tiga bulan?”

‘Tidak, aku cuma… ah…” Kata-kata Jankle menghilang dengan menyedihkan.

“Berapa lama kita harus tinggal di kota?” tanya Vandemeer, sambil secara naluriah melirik arlojinya.

“Aku tidak peduli. Kau boleh pergi sekarang, atau kau bisa menunggu sampai juri sudah terpilih. Kalian semua punya jet-jet besar. Bila aku membutuhkan kalian, aku bisa mencari kalian.” Fitch meletakkan air minumnya di atas perapian dan memandang sekeliling ruangan. Ia tiba-tiba siap untuk berlalu. “Ada yang lainnya?”

Tak sepatah kata pun.

“Bagus.”

Ia mengucapkan sesuatu pada Jose ketika membuka pintu depan, lalu menghilang. Mereka menatap karpet mewah itu tanpa bicara, cemas menghadapi hari Senin, cemas dengan banyak hal.

Jankle akhirnya menyalakan sebatang rokok, tangannya gemetar sedikit.

31

***

Wendall rohr pertama kali menangguk kekayaan dalam permainan gugat-menggugat ketika dua pekerja pengeboran minyak lepas pantai terbakar di sebuah pengeboran milik Shell di Gulf. Bagiannya hampir mencapai dua juta dolar, dan ia cepat-cepat menganggap dirinya pengacara yang harus diperhitungkan. Ia menebar uangnya, mengambil lebih banyak kasus, dan pada umur empat puluh tahun memiliki kantor hukum yang agresif dan reputasi baik sebagai tukang debat tangguh dalam ruang sidang. Kemudian obat bius, perceraian, dan beberapa kekeliruan investasi menghancurkan hidupnya beberapa lama, dan pada usia lima puluh tahun ia memeriksa daftar perkara dan membela pencopet-pencopet toko seperti sejuta pengacara lain. Ketika gelombang perkara gugatan asbes menyapu Gulf Coast. Wendall sekali lagi berada di tempat yang tepat. Untuk kedua kalinya ia menangguk kekayaan, dan bersumpah takkan pernah lagi melepaskannya. Ia membangun sebuah biro hukum. memperbaharui kantor-kantor bagus, bahkan mendapatkan seorang istri yang masih muda. Bebas dari alkohol dan pil, Rohr mengarahkan energinya yang luar biasa untuk memperkarakan perusahaan-perusahaan Amerika, mewakili orang-orang yang dirugikan. Dalam perjalanannya yang kedua. ia bahkan bangkit lebih cepat di kalangan pengacara. Ia memelihara jenggot, meminyaki rambut, menjadi seorang radikal dan disukai di kalangan perguruan tmggi.

Rohr berjumpa dengan Celeste Wood, janda Jacob wood,lewat pengacara muda yang menyiapkan surat

32

wasiat Jacob menjelang kematiannya. Jacob Wood meninggal dunia pada usia 51 tahun sesudah merokok tiga bungkus sehari selama hampir tiga puluh tahun Pada saat meninggal dunia, ia adalah supervisor produksi di sebuah pabrik kapal, berpenghasilan 40.000 dolar setahun.

Di tangan pengacara yang kurang ambisius, kasus itu kelihatan tidak lebih sebagai matinya seorang perokok, satu dari berjuta lainnya. Akan tetapi Rohr sudah membentuk jaringan rekan yang memimpikan impian terbesar yang pernah dikenal oleh pengacara pengadilan. Semuanya adalah spesialis dalam product liabdity—masalah tanggung jawab produk; semuanya telah mengumpulkan berjuta-juta dolar dalam kasus-kasus operasi ganjal payudara, Dalkon Shields, dan asbes. Kini mereka bertemu beberapa kali setahun dan menyusun cara-cara untuk menambang dari sum-ber utama gugatan ganti rugi di Amerika. Tidak ada produk legal dalam sejarah dunia yang telah membunuh begitu banyak orang seperti rokok. Dan pembuatnya telah mengantongi uang demikian banyak, sampai berjamur.

Rohr menyediakan satu juta pertama, dan akhirnya diikuti oleh tujuh lainnya. Tanpa susah payah, kelompok itu dengan cepat merekrut bantuan dari Tobacco Task Force, Coalition for a Smoke Free World, dan Tobacco Liability Fund, plus beberapa lembaga konsumen dan anjing pengawas industri lainnya. Kemudian dibentuklah dewan penggugat tidak mengejutkan bahwa Wendall Rohr menjadi ketuanya dan ditunjuk sebagai wakil utama dalam persidangan. Di tengah kegemparan yang bisa ditimbulkan. kelompok

33

Rohr sudah memasukkan gugatan empat tahun sebelumnya di Circuit Court Harrison County, Mississippi.

Menurut riset Fitch, kasus Wood v. Pynex adalah yang ke-55 dari kasus sejenis. Tiga puluh enam ditolak karena segala macam alasan Enam belas sampai ke sidang dan berakhir dengan vonis untuk kemenangan perusahaan tembakau. Dua berakhir dalam pembatalan sidang. Tak satu pun pernah dimenangkan. Tak satu sen pun pernah dibayarkan kepada penggugat dalam kasus rokok.

Menurut teori Rohr, tak satu pun dari 54 kasus itu didorong oleh kelompok penggugat yang demikian hebat. Tak pernah ada satu pun penggugat yang diwakili oleh pengacara yang punya cukup uang untuk mengimbangi permainan lawan.

Fitch akan mengakui hal ini.

Strategi jangka panjang Rohr sederhana dan cemerlang. Ada seratus juta perokok di luar sana, tidak semuanya menderita kanker paru-paru, tapi jumlahnya cukup banyak untuk membuat mereka sibuk hingga tiba masa pensiun. Menangkan yang pertama, lalu duduk dan nantikanlah serbuan permintaan. Setiap pengacara jalanan dengan janda yang sedang berkabung akan menelepon dengan kasus kanker paru-paru. Rohr dan kelompoknya bisa memilih dan menentukan

Ia beroperasi dari suite perkantoran yang menempati tiga lantai teratas sebuah gedung bank tua, tidak jauh dari gedung pengadilan. Jumat larut malam, ia membuka pintu ke sebuah ruangan gelap dan berdiri dekat dinding belakang, sementara Jonathan Kotlack dari San Diego mengoperasikan proyektor. Kotlack

34

adalah orang yang bertanggung jawab dalam melaksanakan riset dan seleksi juri, meskipun Rohr-Iah yang kebanyakan mengajukan pertanyaan. Meja panjang di tengah ruangan itu dikotori oleh cangkir kopi dan gumpalan-gumpalan kertas. Orang-orang di sekeliling meja memandang nanar ketika satu wajah lain ter-proyeksi ke dinding.

Nelle Robert (diucapkan Roh-bair), 46 tahun, cerai, pernah diperkosa, bekerja sebagai teller bank, tidak merokok, sangat gemuk, dan karenanya tidak memenuhi syarat sesuai filsafat seleksi juri yang dianut Rohr. Jangan pernah memilih perempuan gemuk. Ia tak peduli apa kata pakar juri kepadanya. Ia tak peduli apa pendapat Kotlack. Rohr tak pernah memilih perempuan gemuk. Terutama yang tidak bersuami. Mereka cenderung kikir dan tidak simpatik.

Ia sudah mengingat nama-nama dan wajah-wajah itu, dan ia tak bisa menelan lebih banyak. Ia sudah mempelajari orang-orang ini sampai muak terhadap mereka. Ia keluar dari ruangan, menggosok mata di gang, dan berjalan menuruni tangga kantornya yang mewah, menuju ruang rapat, tempat Komite Dokumen di “bawah supervisi Andre Durond sedang sibuk mengatur ribuan dokumen. Pada saat ini, hampir pukul sepuluh malam Sabtu, lebih dari empat puluh orang sedang bekerja keras di kantor hukum Wendall H. Rohr.

Ia berbicara dengan Durond sambil mengawasi beberapa paralegal itu selama beberapa menit. Lalu meninggalkan ruangan dan beranjak ke yang berikutnya dengan langkah lebih cepat. Adrenalin mengalir keras dalam tubuhnya.

35

Pengacara-pengacara industri tembakau di jalan yang sama itu tentu sedang bekerja sama kerasnya.

Tak ada apa pun yang bisa menandingi gairah yang timbul dalam mengantisipasi sidang pengadilan suatu kasus besar.

36

Tiga

Ruang sidang utama dari gedung pengadilan Biloxi terletak di lantai dua, sesudah tangga berlapis keramik ke atrium tempat sinar matahari membanjir masuk. Satu lapisan cat putih baru saja disaputkan pada dinding, dan lantainya berkilau sehabis digosok.

Senin pukul delapan, serombongan orang sudah berkumpul dalam atrium, di luar pintu-pintu kayu besar yang menuju ruang sidang. Satu kelompok kecil bergerombol di sudut. Kelompok itu terdiri atas laki-laki muda dalam setelan jas hitam, semuanya tampak sangat mirip. Mereka berpakaian bagus, dengan rambut pendek berminyak, dan kebanyakan memakai kacamata berbingkai tanduk atau bretel yang mengintip dari balik jas bagus mereka. Mereka adalah para analis keuangan dari Wall Street, para spesialis saham perusahaan tembakau yang dikirim ke Selatan untuk mengikuti perkembangan awal sidang Wood v. Pynex.

Satu kelompok lain, lebih besar dan makin lama makin membengkak, bergerombol renggang di tengah atrium. Masing-masing anggotanya memegang sehelai kertas dengan sikap canggung—surat panggilan sebagai

37

juri. Hanya sedikit yang saling kenal, tapi mereka memakai kertas tanda pengenal dan percakapan pun terjadi dengan mudah. Omongan gelisah merebak perlahan di luar ruang sidang itu. Orang-orang berjas gelap dari kelompok pertama jadi terdiam dan mengawasi para calon juri itu.

Kelompok ketiga menunjukkan wajah serius, memakai seragam, dan menjaga pintu. Tak kurang dari tujuh deputi ditugaskan untuk menjaga keamanan hari pembukaan sidang. Dua orang mengotak-atik detektor logam di pintu depan Dua lagi menyibukkan diri dengan dokumen-dokumen di belakang meja kerja sementara. Mereka memperkirakan akan terjadi ledakan penonton. Tiga lainnya meneguk kopi dari cangkir kertas dan mengamati kerumunan orang banyak yang makin membengkak.

Para penjaga membuka pintu-pintu ruang sidang tepat pada pukul setengah sembilan, memeriksa sural panggilan setiap anggota juri, mempersilakan mereka masuk satu per satu melewati detektor logam, dan memberitahu penonton lainnya bahwa mereka harus menunggu beberapa lama. Sama untuk para analis tadi dan sama untuk para reporter.

Dengan kursi lipat yang disusun melingkar di gang sekeliling bangku-bangku berjok, ruang sidang itu bisa menampung tiga ratus orang. Di balik pagar jerjak, sekitar tiga puluhan lagi akan mengerumuni meja jaksa dan pembela. Panitera Circuit Court, yang dipilih oleh rakyat, memeriksa masing-masing surat panggilan, tersenyum, bahkan memeluk beberapa calon juri yang dikenalnya, dan dengan cara yang sangat berpengalaman menggiring mereka ke bangku panjang.

38

Namanya Gloria Lane, panitera Circuit Court untuk Harrison County selama sebelas tahun terakhir. la tidak akan melepaskan kesempatan baik ini untuk menunjuk-nunjuk dan mengarahkan, menempatkan wajah-wajah dengan nama-nama, untuk berjabat ta-ngan, berpolitik, atau menikmati saat-saat singkat di bawah sorotan perhatian dalam sidang paling terkenal ini. Ia dibantu oleh tiga perempuan lain-yang lebih muda dari kantornya, dan pada pukul sembilan para calon juri sudah didudukkan sesuai nomor, dan sedang sibuk mengisi kuesioner lain.

Hanya dua orang yang tidak hadir. Ernest Duly didesas-desuskan telah pindah ke Florida, tempat ia dikabarkan meninggal dunia, dan tak ada petunjuk apa pun mengenai keberadaan Mrs. Telia Gail Ride-houser, yang mendaftarkan diri untuk pemilu sejak 1959 tapi tak pernah mendatangi tempat pemungutan suara sejak Carter mengalahkan Ford. Gloria Lane menyatakan bahwa dua orang itu tidak ada. Di sebelah kirinya, deretan pertama sampai dua belas menampung 144 calon juri, dan di sebelah kanan, deretan tiga belas sampai enam belas menampung 50 sisanya. Gloria berbicara dengan seorang deputi bersenjata, dan sesuai perintah tertulis Hakim Harkin, empat puluh penonton dipersilakan masuk dan didudukkan di bagian belakang ruang sidang.

Kuesioner itu diselesaikan dengan cepat, dikumpulkan oleh asisten panitera, dan pada pukul sepuluh, rombongan pertama para pengacara mulai memasuki ruang sidang. Mereka tidak masuk dari pintu depan, tapi dari belakang, dari dua pintu di belakang meja hakim yang menuju labirin ruangan-ruangan dan

39

kantor-kantor. Tanpa perkecualian, mereka semua memakai setelan jas gelap dan ekspresi serius, dan semua berusaha sia-sia mengamati calon juri sambil mencoba menunjukkan sikap tidak tertarik. Masing-masing pura-pura tampak asyik dengan masalah-ma-salah yang lebih berat, sementara berkas-berkas diperiksa dan rapat bisik-bisik berlangsung. Mereka masuk sedikit demi sedikit dan mengambil tempat di sekililing meja. Di sebelah kanan adalah meja penggugat. Meja pengacara tergugat ada di sebelahnya. Kursi-kursi dijejalkan rapat ke setiap inci yang ada antara meja-meja dan jerjak kayu yang memisahkan mereka dari penonton.

Deretan ketujuh belas kosong, sekali lagi atas perintah Harkin, dan delapan belas bocah dari Wall Street itu duduk dengan kaku serta mengamati punggung para calon juri. Di belakang mereka ada beberapa wartawan, lalu sederet pengacara lokal” dan orang-orang yang ingin tahu. Rankin Fitch pura-pura membaca koran di deretan belakang.

Lebih banyak lagi pengacara mengalir masuk. Kemudian para konsultan juri dari kedua belah pihak mengambil posisi di tempat duduk yang berjejalan antara jerjak dan meja pengacara. Mereka mulai dengan tugas yang tidak nyaman, memandangi wajah-wajah yang bertanya-tanya dari 194 orang tak dikenal. Para konsultan itu mengamati para calon juri sebab, pertama. untuk itulah mereka dibayar mahal, dan kedua, sebab mereka menyatakan mampu menganalisis seseorang secara mendalam dari ungkapan bahasa tubuhnya. Mereka mengawasi dan menunggu dengan resah kalau kalau ada tangan terlipat di dada, jan

40

yang dipakai mengorek gigi dengan gelisah, kepala miring ke satu sisi dengan sikap mencurigakan, serta seratus gerak-gerik lain yang diharapkan akan menelanjangi seseorang dan memperlihatkan perasaan-pe-rasaannya yang paling pribadi.

Mereka menuli* catatan dan diam-diam mempelajari wajah-wajah itu. Juri nomor 56, Nicholas Easter, menerima lebih rjanyak tatapan serius daripada semestinya. Ia duduk di tengah deretan kelima, memakai celana khaki dan kemeja button-down tersetrika rapi— pemuda yang tampan. Sekali-sekali ia melihat sekelilingnya. tapi perhatiannya diarahkan pada buku paperback yang dibawanya untuk hari itu. Tak terpikir oleh calon juri lainnya untuk membawa buku.

Lebih banyak lagi kursi yang terisi dekat jerjak. Pihak pengacara tergugat punya tak kurang dari enam pakar juri yang sedang memeriksa gerakan wajah dan gerakan tegang seperti menderita sembelit. Pihak penggugat hanya memakai empat orang.

Hampir semua calon juri itu tidak suka diteliti dengan cara demikian, dan selama lima belas menit yang canggung, mereka membalas tatapan itu dengan pandangan marah. Seorang pengacara menceritakan lelucon pribadi di dekat meja hakim, dan suara tawanya mengendurkan kelegangan. Para pengacara itu bergosip dan berbisik-bisik, tapi para calon juri itu takut untuk mengucapkan apa-apa.

Pengacara terakhir yang memasuki ruang sidang itu, sudah tentu, adalah Wendall Rohr, dan seperti biasa, ia bisa didengar sebelum terlihat. Karena tidak punya setelan jas hitam, ia memakai setelan favoritnya untuk hari pembukaan—jas abu-abu kotak-kotak, ce—

41

lana abu-abu yang tidak sewarna dengan jasnya, vest putih, dan kemeja biru dengan dasi paisley merah dan kuning. Ia berbicara keras dengan seorang paralegal sementara mereka melangkah di depan para pengacara tergugat, tidak menghiraukan mereka, se-olah-olah mereka baru saja menyelesaikan pertempuran seru di belakang sana. Ia mengucapkan sesuatu dengan keras pada seorang pengacara penggugat, dan begitu mendapatkan perhatian seisi ruang sidang, ia menatap para calon juri potensialnya. Ini adalah orang-orang-nya. Kasusnya. Perkara yang ia ajukan di kampung halamannya sendiri, agar suatu hari kelak ia bisa berdiri di sini, dalam ruang sidangnya, mencan kea dilan dari khalayaknya sendiri. Ia mengangguk pada beberapa orang, mengedipkan mata pada yang lain. Ia kenal orang-orang ini. Bersama-sama, mereka akan mencari kebenaran.

Kehadirannya menggemparkan para pakar juri di pihak pengacara tergugat, yang tak seorang pun pernah bertemu dengan Wendall Rohr, tapi semuanya pernah mendapat penjelasan panjang-lebar mengenai reputasinya. Mereka melihat senyum pada wajah beberapa calon juri, orang-orang yang memang mengenai Rohr. Mereka membaca bahasa tubuh ini, sementara seluruh panel tampak santai dan senang melihat wajah yang sudah dikenal. Rohr adalah tokoh legenda setempat. Fitch mengutukinya dan deretan belakang.

Akhirnya, pada pukul setengah sebelas, seorang deputi muncul dari balik tempat hakim dan berteriak, “Semua harap berdiri!” Tiga ratus orang melonjak berdiri ketika Yang Mulia Frederick Harkin melangkah ke mejanya dan memerintahkan semua orang untuk duduk.

42

Untuk seorang hakim, ia masih terhitung muda, lima puluh tahun, seorang Demokrat yang ditunjuk oleh Gubernur untuk menyelesaikan masa jabatan pendahulunya yang belum habis, kemudian dipilih oleh rakyat. Karena dulu ia jaksa, ada desas-desus bahwa sebagai hakim ia cenderung memihak penggugat. Tapi ini tidak benar. Cuma gosip yang disebarkan oleh anggota ikataij pembela. Dalam kenyataannya, ia dulu pengacara umum di biro hukum kecil yang tidak terkenal dengan kemenangan-kemenangan-nya di ruang sidang. Ia bekerja keras, tapi cintanya ada dalam bidang politik lokal, permainan yang ia kuasai dengan terampil. Keberuntungannya datang dengan penunjukannya sebagai hakim. Kini ia mendapat penghasilan sebesar 80.000 dolar per tahun, lebih daripada yang ia peroleh sebagai pengacara

Melihat ruang sidang yang penuh sesak dengan pemberi suara yang berkualitas akan menghangatkan hati pejabat terpilih mana pun, dan Yang Mulia tak dapat menyembunyikan senyum lebarnya ketika menyambut panel calon juri itu di sarangnya, seolah-olah mereka adalah sukarelawan. Senyum itu perlahan-lahan lenyap ketika ja menyelesaikan pidato sambutan pendek yang menekankan pentingnya kehadiran mereka. Harkin bukan orang yang hangat atau humoris. dan ia dengan cepat berubah serius.

Tapi sikapnya beralasan. Para pengacara yang duduk di hadapannya jumlahnya lebih banyak danpada kapasitas di sekitar meja. Arsip pengadilan mencatat delapan orang sebagai penasihat hukum resmi untuk penggugat, dan sembilan untuk tergugat. Empat hari sebelumnya, dalam sidang tertutup, Harkin sudah me—

43

netapkan tata tempat duduk untuk kedua belah pihak. Begitu dewan juri terpihh dan sidang dimulai, hanya enam pengacara untuk masing-masing pihak yang bisa duduk dengan kaki di bawah meja. Lainnya ditempatkan pada sederet kursi tempat para konsultan juri kini sedang berkerumun dan mengawasi. Ia juga menetapkan tempat duduk untuk pihak-pihak yang berperkara—Celeste Wood, sijanda, dan wakil Pynex. Pengaturan tempat duduk itu sudah dirangkum dalam catatan tertulis dan dicanrumkan dalam booklet kecil bensi peraturan-peraturan yang ditulis oleh Yang Mulia Hakim untuk peristiwa ini.

Gugatan ini diajukan empat tahun yang lalu, dan secara aktif diperjuangkan dan dipertahankan sejak permulaan. Kini berkas kasus itu sudah mengisi sebelas kotak penyimpanan. Masing-masing pihak sudah menghabiskan berjuta-juta dolar untuk sampai ke titik ini. Sidang tersebut akan berlangsung paling cepat selama satu bulan. Sekarang di dalam ruang sidang ini berkumpul beberapa ahli hukum paling cemerlang dan ego-ego terbesar di negeri ini. Fred Harkin bertekad memimpin sidang dengan tangan besi.

Bicara ke mikrofon di meja hakim, ia menguraikan sinopsis ringkas sidang ini, sekadar untuk memberikan informasi. Rasanya menyenangkan memberitahu orang-orang ini mengapa mereka ada di sini. Ia mengatakan sidang ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa minggu, dan para anggota juri tidak akan diasingkan. Ia menjelaskan bahwa ada beberapa alasan tertentu yang secara hukum memperbolehkan orang menolak menjadi juri, dan ia bertanya apakah ada yang berusia di atas 65 tahun lolos dalam catatan komputer. Enam

44

tangan terangkat ke atas. Ia tampak terkejut dan memandang kosong pada Gloria Lane, yang mengangkat pundak seolah-olah hal ini sudah biasa. Enam orang itu punya pilihan untuk langsung meninggalkan ruang sidang, dan lima orang memilih demikian. Jum-lah calon turun menjadi 189. Para konsultan juri itu menulis dan menyilang nama-nama. Para pengacara membuat catatan dengan serius.

“Sekarang, apakah di sini ada orang buta?” sang hakim bertanya. “Maksud saya, buta menurut hukum?” Pertanyaan ringan itu memancing beberapa senyum. Untuk apa orang buta muncul di sana untuk bertugas sebagai juri? Belum pernah terdengar yang demikian.

Perlahan-lahan, satu tangan diacungkan dari tengah orang banyak itu, deretan nomor tujuh, kira-kira di tengah. Calon anggota juri nomor 63, Mr. Herman Grimes, umur 59, programmer komputer, kulit putih, menikah, tanpa anak. Bagaimana ini? Apakah ada yang tahu bahwa laki-laki ini buta? Para pakar juri berkerumun merapat di kedua belah pihak. Foto-foto mengenai Herman Grimes hanyalah potret rumahnya dan satu atau dua potretnya sendiri di beranda depan. Ia sudah tinggal di daerah itu sekitar tiga tahun. Kuesionemya tidak menunjukkan adanya cacat tertentu.

“Silakan berdiri, Sir,” kata Hakim.

Mr. Herman Grimes berdiri perlahan-lahan, tangannya disisipkan ke dalam saku, pakaiannya santai, kacamatanya tampak normal. Ia tidak kelihatan buta.

“Nomor Anda?” tanya Hakim. Tidak seperti para pengacara dan konsultan mereka, ia tidak dituntut untuk mengingat setiap keping informasi yang ada tentang masing-masing anggota juri.

45

“Uh, 63.”

“Dan nama Anda?” Ia membalik-balik halaman printout komputernya. “Herman Grimes.”

Harkin menemukan nama itu, lalu menatap lautan wajah tersebut. “Dan Anda buta menurut hukum?” “Ya, Sir.”

“Nah, Mr. Grimes, menurut undang undang kita, Anda dibebaskan dari tugas sebagai juri. Anda bebas pergi.”

Herman Grimes tidak bergerak, bahkan tidak gentar Ia cuma memandang apa yang bisa ia lihat dan berkata, “Mengapa?”

“Maaf?”

“Mengapa saya harus pergi?” “Sebab Anda buta.” “Saya tahu itu.”

“Dan… ah, orang buta tidak bisa bertugas sebagai juri,” kata Harkin sambil melirik ke kanan dan kemudian ke kiri, sementara kata-katanya surut menghilang. “Anda bebas pergi, Mr. Grimes.”

Herman Grimes ragu-ragu sementara memikirkan jawaban itu. Ruang sidang itu hening. Akhirnya,-“Siapa yang mengatakan bahwa orang buta tidak bisa bertugas sebagai juri?”

Harkin sudah meraih sebuah buku undang-undang. Ia sudah mempersiapkan diri dengan cermat untuk menghadapi sidang ini. Sejak sebulan yang lalu, ia berhenti menyidangkan urusan-urusan lain dan mengu-cilkan diri dalam ruang kerjanya, meneliti segala dalih pembelaan,’ sanggahan, undang-undang yang bisa diterapkan, dan peraturan-peraturan prosedur peradilan

46

terbaru. Selama masa jabatannya sebagai hakim, ia sudah memilih puluhan dewan juri, segala macam juri untuk segala macam kasus, dan ia pikir ia sudah menyaksikan segalanya. Ia sudah tahu akan diserang dalam sepuluh menit pertama dalam pemilihan juri ini. Dan tentu saja ruang sidang akan penuh sesak

“Anda mau bertugas, Mr. Grimes?” tanyanya. berusaha memaksakan suasana riang, sementara ia membalik-balik halaman dan memandang para pakar hukum yang berkumpul di dekatnya.

Mr. Grimes makin jengkel. “Coba Anda katakan, mengapa orang buta tidak bisa duduk sebagai juri? Bila itu tertulis dalam undang-undang, berarti undang-undang itu mendiskriminasi, dan saya akan menggugat. Bila tidak tertulis, dan bila itu hanya praktek yang lazim, saya akan menggugat lebih cepat lagi.”

Rupanya Mr. Grimes tidak asing dalam urusan gugat-menggugat.

Di satu pihak, ada dua ratus orang biasa, yang diseret ke pengadilan dengan kekuatan hukum. Di lain pihak, ada hukum itu sendiri—sang hakim yang duduk lebih tinggi daripada lainnya, gerombolan pengacara kaicu yang angkuh, panitera, deputi, bailiff. Mewakili orang-orang yang dipanggil sebagai calon juri, Mr. Herman Grimes telah memberikan pukulan keras pada tatanan itu, dan ia dihadiahi senyum dan tawa kecil dari rekan-rekannya. Ia tak peduli.

Di seberang jerjak, para pengacara tersenyum; sebab para calon juri itu tersenyum; mereka bergeser di tempat duduk dan menggaruk kepala, sebab tak seorang pun tahu apa yang harus dilakukan. “Aku belum pernah melihat yang seperti ini,” mereka berbisik.

47

Undang-undang mengatakan bahwa orang buta bo-leh dibebaskan dari tugas sebagai juri. dan ketika sang hakim melihat kata boleh, ia segera memutuskan untuk menenteramkan Mr. Grimes dan berurusan dengannya nanti. Tidak lucu digugat di ruang sidang sendiri. Ada cara lain untuk menyingkirkannya dari tugas sebagai juri. Ia akan membahasnya dengan para penasihat hukum. “Sesudah ditimbang lagi, Mr. Grimes, saya rasa Anda akan menjadi juri yang baik. Silakan duduk.”

Herman Grimes mengangguk dan tersenyum, dengan sopan berkata, “Terima kasih. Sir.”

Bagaimana cara memperhitungkan seorang juri buta? Para pakar itu memikirkan pertanyaan ini, sementara mereka mengawasinya membungkuk perlahan-lahan dan duduk. Apakah prasangka-prasangka yang dimilikinya? Pihak manakah yang ia bela? Dalam suatu permainan tanpa peraturan, orang-orang cacat dianggap akan menjadi juri yang bagus di pihak penggugat, sebab mereka lebih memahami arti penderitaan. Namun ada perkecualian yang tak terhingga jumlahnya.

Dari deretan belakang, Rankin Fitch menatap tajam ke kanan, berusaha mengadakan kontak mata dengan Carl Nussman, orang yang’sudah dibayar $1,200,000 untuk memilih dewan juri yang sempurna. Nussman duduk di tengah para konsultan jurinya, memegangi buku tulis dan mempelajari wajah-wajah itu. seolah olah ia tahu benar bahwa Herman Grimes buta. Sebenarnya ia tidak tahu, dan Fitch tahu bahwa ia tidak tahu. Fakta kecil itu lolos dari jaringan penyelidik mereka yang luas. Apa lagi yang lolos dari

48

pengamatan mereka? tanya Fitch pada diri sendiri. Ia akan menguliti Nussman saat reses nanti.

“Sekarang, Bapak dan Ibu sekalian,” Hakim meneruskan, suaranya mendadak jadi lebih tajam dan tak sabtr setelah gugatan diskriminasi mendadak tadi berhasil dihindari. “Kita memasuki fase pemilihan dewan juri yang mungkin agak memakan waktu. Ini berkaitan dengan masalah halangan fisik yang mungkin membuat Anda tak bisa bertugas sebagai juri. Kami tidak akan mempermalukan Anda sekalian, tapi bila ada yang punya masalah fisik, kita harus membicarakannya. Kita akan mulai dengan deretan pertama.”

Saat Gloria Lane berdiri di gang deretan pertama, seorang laki-laki sekitar enam puluh tahun meTigangkat tangan, lalu berdiri dan berjalan melewati pintu ayun pada jerjak. Seorang bailiff membawanya ke kursi saksi dan menyingkirkan mikrofon. Sang Hakim bergeser ke ujung meja dan membungkuk ke bawah sehingga bisa berbisik pada laki-laki itu. Dua orang pengacara, satu dari masing-masing pihak, mengambil tempat tepat di depan tempat saksi, menghalangi pandangan penonton. Panitera melengkapi kerumunan rapat itu, dan ketika semua orang sudah di tempatnya, Hakim dengan suara pelan bertanya tentang halangan laki-laki tersebut. Saraf tulang belakangnya terjepit, dan ia punya surat dari dokter. la dibebastugaskan dan buru-buru meninggalkan ruang sidang.

Ketika Harkin istirahat untuk makan siang, ia sudah membebaskan tiga belas orang karena alasan kesehatan. Kebosanan merasuk. Mereka akan kembali pukul setengah satu, dengan acara yang hampir sama.

***

49

Nicholas easter meninggalkan gedung pengadilan seorang diri, dan berjalan enam blok ke restoran Burger King* di sana ia memesan sebuah Whopper dan Coke. Ia duduk di meja dekat jendela, menyaksikan anak-anak bermain ayunan di arena bermain kecil, melihat-lihat majalah USA Today, makan perlahan-lahan, sebab ia punya waktu satu setengah jam.

Si rambut pirang yang dulu menemuinya di Computer Hut ber-jeans ketat kini memakai Umbro baggy, T-shirt longgar, sepatu Nike baru, dan menyandang tas olahraga di pundaknya. Wanita itu melewatinya untuk kedua kali ketika ia berjalan sambil membawa nampan. lalu berhenti, seolah mengenali Nicholas.

“Nicholas,” katanya, pura-pura tidak yakin.

Nicholas Easter memandangnya, dan selama satu detik yang canggung itu tahu bahwa mereka pernah bertemu entah di mana. Namun ia tak ingat nama perempuan itu.

“Kau tidak ingat padaku,” kata si pirang dengan senyum menyenangkan. “Aku mampir ke Computer Hut dua minggu yang lalu, mencari…”

“Yeah, aku ingat,” kata Nicholas sambil melirik sekilas ke kakinya yang indah kecokelatan. “Kau beli radio digital.”

“Benar. Namaku Amanda. Seingatku, aku meninggalkan nomor telepon untukmu. Kurasa sudah hilang, ya?”

“Silakan duduk.”

‘Terima kasih.” Ia duduk cepat-cepat dan mengambil kentang goreng.

“Aku masih menyimpan nomor teleponmu.” kata Nicholas. “Bahkan sebenarnya…”

50

“Sudahlah. Aku yakin kau sudah beberapa kali menelepon. Mesin penjawabku rusak.”

‘Tidak. Aku belum menelepon. Tapi aku sudah berniat melakukannya.”

‘Tentu,” katanya, tertawa kecil. Ia memiliki gigi sempurna, yang dengan senang hati diperlihatkannya kepada Nicholas. Rambutnya diikat ekor kuda Ia terlaiu manis dan terlaiu rapi untuk pelari. Dan tidak ada bekas keringat pada wajahnya.

“Jadi, apa yang kaukerjakan di sini?” tanya Nicholas.

“Aku dalam perjalanan ke latihan aerobik.” “Kau makan kentang goreng sebelum latihan aerobik?”

“Kenapa tidak?”

“Entahlah. Cuma rasanya tidak cocok.” “Aku butuh karbohidrat.” “Benar. Apakah ka-merokok sebelum aerobik?” “Kadang-kadang. Itukah sebabnya kau belum menelepon? Karena aku merokok?” “Sama sekali bukan.”

“Ayolah, Nicholas. Aku bisa menerimanya.” Ia masih tersenyum dan pura-pura jengah.

“Oke. itu terlintas dalam pikiranku.”

“Bisa dipahami. Pernahkah kau berkencan dengan perokok?”

“Seingatku tidak.”

“Mengapa tidak?”

“Mungkin aku tidak ingin menyedot asap yang sudah lebih dulu disedot orang. Entahlah. Aku tidak banyak memikirkannya.”

“Kau pernah merokok?” Ia kembali mengambil

51

kentang goreng dan mengamati Nicholas dengan penuh perhatian.

‘Tentu. Setiap bocah mencobanya. Ketika umur sepuluh tahun, aku mencuri sebungkus Camel dari tukang leding yang bekerja dekat rumah kami. Dua hari aku mengisapnya. lalu mabuk, dan kukira aku akan mati karena kanker.” Ia menggigit sepotong burgernya.

“Setelah itu tidak pernali lagi?”

Nicholas mengunyah dan memikirkannya sebelum berkata, “Kurasa begitu. Aku tidak ingat pernah merokok lagi. Kau sendiri kapan mulai?”

‘Tolol. Aku mencoba berhenti.”

“Bagus Kau terlaiu muda.”

‘Terima kasih. Dan coba kutebak. Bila aku berhenti, kau akan meneleponku, benar?”

“Bagaimanapun, aku mungkin akan meneleponmu.”

“Bohong,” katanya, tersenyum lebar dan menggoda. Ia minum berlama-lama dengan sedotannya, lalu berkata, “Boleh aku tanya apa yang kaukerjakan di sini?”

“Makan Whopper. Dan kau?” “Sudah kukatakan padamu Aku akan ke tempat latihan.”

“Hmm. Aku cuma lewat, ada urusan di tengah kota, lapar.”

“Mengapa kau bekerja di Computer Hut?’

“Maksudmu, mengapa aku menyia-nyiakan hidupku untuk bekerja dengan upah minimum di main”

“Bukan begitu, tapi kurang-lebih.”

“Aku mahasiswa.”

“Di mana?”

52

‘Tidak di mana-mana. Aku baru lulus dan sedang cari sekolah lain.”

“Di mana sekolahmu yang terakhir?’

“North Texas State.”

“Di mana yang berikutnya?”

“Mungkin Southern Mississippi.”

“Apa yang kaupelajari?”

“Komputer. Kau banyak bertanya.”

‘Tapi pertanyaan-pertanyaannya gampang, bukan?”

“Kurasa begitu. Di mana kau bekerja?”

“Aku tidak bekerja. Aku baru saja bercerai dari seorang laki-laki kaya. Tanpa anak. Aku umur 28, single, dan ingin tetap demikian, tapi sekali sekali berkencah tentu menyenangkan. Mengapa kau tidak meneleponku?”

“Seberapa kaya?”

Ia tertawa mendengar pertanyaan ini, kemudian melihat arlojinya. “Aku harus pergi. Latihanku akan mulai sepuluh menit lagi.” Ia sudah berdiri, membawa tasnya, tapi meninggalkan nampannya. “Sampai jumpa.”

Ia pergi mengendarai sebuah BMW kecil.

Enam orang sakit lainnya bergegas meninggalkan panel calon juri, dan pada pukul tiga sore, jumlah calon sudah berkurang menjadi 159. Hakim Harkin memerintahkan reses selama lima belas menit, dan ketika kembali ke tempatnya, ia mengumumkan bahwa mereka akan memasuki fase lain dalam pemilihan juri. Ia memberikan kuliah keras mengenai tanggung jawab warga negara, dan praktis menantang siapa saja yang mengajukan halangan nonmedis. Usaha pertama di-53

lakukan oleh seorang eksekutif perusahaan yang duduk di kursi saksi serta dengan lembut menjelaskan kepada Hakim, dua pengacara itu, dan Panitera bahwa ia bekerja delapan puluh jam seminggu pada sebuah perusahaan besar yang sedang merugi, dan minta izin meninggalkan kantor berarti bencana. Hakim menginstruksikan agar ia kembali ke tempat duduknya dan menunggu pengarahan lebih lanjut.

Percobaan kedua dilakukan oleh seorang wanita setengah baya yang mengelola tempat penitipan anak tanpa izin di rumahnya. “Saya merawat anak-anak, Yang Mulia,” bisiknya, berusaha menahan air mata. “Itu saja yang bisa saya kerjakan. Saya mengumpulkan dua ratus dolar seminggu, dan saya hidup pas-pasan. Kalau saya harus bertugas sebagai juri, saya harus membayar orang baru untuk menjaga anak-anak itu. Orangtua mereka takkan suka, lagi pula saya tidak kuat membayar siapa pun. Saya akan bangkrut.”

Para calon juri itu mengawasi dengan penuh minat ketika perempuan itu berjalan menyusuri gang, melewati deretannya, dan keluar dari ruang sidang. Ceritanya pasti bagus. Eksekutif perusahaan yang tadi ditolak bersungut-sungut.

Pukul setengah enam, sebelas orang-sudah dibebaskan, dan enam belas lainnya dikirim kembali ke tempat duduk mereka sesudah gagal mengundang kasihan. Hakim menginstruksikan Gloria Lane untuk membagikan kuesioner lain yang lebih panjang, dan memerintahkan agar calon juri yang tersisa memberikan jawabannya pada pukul sembilan pagi besok. Ia membubarkan mereka, dengan peringatan keras untuk tidak membicarakan kasus ini dengan orang lain.

54

Rankin Fitch tidak berada di ruang sidang ketika sidang itu ditunda pada sore hari Senin. Ia ada di kantornya di jalan itu. Tidak ada catatan nama Nicholas Easter di Universitas North Texas State. Si pirang telah merekam percakapan mereka di Burger King, dan Fitch sudah dua kali mendengarkannya. Keputus-annyalah untuk mengirim perempuan itu agar melakukan pertemuan kebetulan dengan Easter. Pertemuan itu riskan, tapi berhasil. Si pirang kini sudah berada dalam pesawat, kembali ke Washington. Mesin pen-jawabnya di Biloxi dihidupkan dan akan tetap demikian hingga dewan juri terpilih. Seandainya Easter memutuskan untuk menelepon—tapi Fitch meragukannya—ia takkan bisa menghubungi perempuan itu.

55

Empat

Kuesioner itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut: Apakah Anda sekarang merokok? Bila demikian, berapa bungkus sehari? Bila ya, berapa lama Anda sudah merokok? Apakah Anda ingin berhenti? Apakah merokok pernah menjadi kebiasaan Anda? Apakah ada anggota keluarga Anda, atau seseorang yang Anda kenal baik, yang menderita penyakit yang berkaitan langsung dengan kebiasaan merokok? Bila ya, siapa? (Tempat kosong disediakan di bawah. Harap tuliskan namanya. uraian penyakit-nya, dan sebutkan apakah orang itu berhasil diobati.) Anda percaya bahwa merokok menyebabkan (a) kanker paru-paru; (b) penyakit jantung; (c) tekanan darah tinggi; (d) tak satu pun dari semua di atas.

Halaman tiga berisi hal-hal yang lebih berat: Apa pendapat Anda tentang uang pajak yang dipakai untuk mendarau perawatan medis bagi masalah-masalah kesehatan yang berkaitan dengan merokok9 Apa pendapat Anda mengenai pendapatan pajak yang dipakai untuk mensubsidi petani tembakau? Apa pendapat Anda mengenai larangan merokok di gedung-gedung umum? Hak-hak apa yang menurut Anda harus dimiliki oleh

56

perokok? Bagian-bagian kosong tersedia untuk jawaban ini.

Halaman empat berisi daftar nama tujuh belas pengacara yang secara resmi menjadi penasihat hukum, lalu mencantumkan nama delapan puluh lagi yang prakteknya berkaitan dengan tujuh belas orang pertama. Apakah Anda kenal secara pribadi dengan pengacara-pengacara ini? Pernahkah Anda diwakili oleh pengacara-pengacara ini? Pernahkah Anda terlibat dalam urusan hukum apa pun dengan pengacara-pengacara ini?

Tidak. Tidak. Tidak. Nicholas denqan cepat mencoretkan jawaban.

Halaman lima berisi daftar nama para calon saksi, 62 orang, termasuk Celeste Wood, sang janda dan penggugat. Apakah Anda kenal dengan orang-orang ini? Tidak.

Ia kembali membuat secangkir kopi instan dan menambahkan dua bungkus gula. Tadi malam ia telah menghabiskan waktu satu jam dengan pertanyaan-pertanyaan ini, dan satu jam lagi pagi ini. Matahan belum lagi naik. Sarapannya hanyalah sebuah pisang dan roti bagel sisa. Ia mengigit sepotong kecil bagel, memikirkan pertanyaan terakhir, kemudian menjawabnya dengan pensil dalam tulisan tangan yang rapi, nyaris terlaiu hati-hati—semua tertulis dalam huruf balok, sebab tulisannya dalam huruf Latin buruk dan hampir tak terbaca. Dan ia tahu bahwa sebelum petang hari ini, seluruh komite pakar tulisan tangan di kedua belah pihak akan meneliti tulisannya habis-habisan, tanpa terlaiu memedulikan apa yang ia katakan, tapi lebih memperhatikan bagaimana ia menulis-57

kan huruf-huruf itu. Ia ingin tampil rapi dan penuh pengertian, cerdas dan berpikiran terbuka, mampu mendengarkan dengan dua telinga dan mengambil keputusan dengan adil, seorang wasit yang sangat mereka minati.

Ia sudah membaca tiga buku mengenai seluk-beluk analisis tulisan tangan.

la membalik kembali halaman berisi pertanyaan mengenai subsidi tembakau, sebab pertanyaan itu memang sulit. Ia telah lama merenungkan persoalan itu dan sudah siap dengan jawaban. Ia ingin menuliskan-nya dengan jelas, atau mungkin samar-samar. Mungkin sedemikian rupa, sehingga ia tidak mengkhianati perasaannya sendiri, tapi juga tidak membuat masing-masing pihak takut

Banyak pertanyaan yang sama dengan yang sudah dipakai dalam kasus Cimmino tahun lalu di Allentown, Pennsylvania. Waktu itu Nicholas mengaku bernama David, David Lancaster, mahasiswa perfilman paruh waktu dengan jenggot hitam asli dan kacamata berbingkai tanduk palsu yang bekerja di toko video. Ia membuat kopi kuesioner itu sebelum mengembalikannya pada hari kedua pemilihan juri. Kasus itu hampir sama, tapi dengan janda yang berbeda dan perusahaan tfcm-bakau yang berbeda, dan meskipun ada seratus pengacara yang terlibat, mereka semua berlainan dengan gerombolan ini. Hanya Fitch yang tetap sama.

Waktu itu Nicholas/David berhasil lolos dari dua penyisihan pertama, namun ia ada pada deretan keempat ketika panel itu dibentuk. Ia mencukur jenggot. membuang kacamatanya, dan meninggalkan kota sebulan kemudian.

58

Meja lipat itu bergetar sedikit ketika ia menulis.. Inilah perabot ruang makannya—meja itu dan tiga kursi yang tidak seragam. Ruang duduk kecil di sebelah kanannya diisi dengan kursi malas reyot, TV di meja dorong kayu, dan sofa berdebu yang dibelinya di pasar loak seharga lima belas dolar. Sebenarnya ia bisa menyewa perabot yang lebih bagus, tapi menyewa berarti mengisi formulir-formulir dan meninggalkan jejak. Di luar sana ada orang yang benar-benar akan membongkar tong sampahnya untuk mengetahui siapa dirinya.

Ia memikirkan si pirang dan bertanya-tanya dalam hati, di mana perempuan itu akan muncul hari ini, pasti dengan sebatang rokok di tangan dan berusaha menariknya ke dalam percakapan dangkal mengenai rokok. Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menelepon, namun ia cukup penasaran, untuk pihak mana perempuan itu bekerja. Mungkin untuk perusahaan rokok itu, sebab seperti itulah tipe agen yang sering dipakai Fitch.

Dari studi hukumnya, Nicholas tahu bahwa sangat tidak etis bagi si pirang itu, atau orang bayaran lainnya, untuk secara langsung mendekati calon juri. Ia juga tahu bahwa Fitch punya cukup uang untuk membuat si pirang itu menghilang dari sini, tanpa jejak, lalu muncul lagi ke permukaan pada sidang berikutnya sebagai si rambut merah dengan merek baru dan minat di bidang hortikultura. Ada beberapa hal yang mustahil untuk diungkapkan

Satu-satunya kamar tidur di situ hampir seluruhnya terisi oleh kasur king size yang digelar langsung di lantai, tanpa alas; kasur itu juga dibeli di pasar loak.

59

Beberapa peti kayu berfungsi sebagai lemari dan laci-laci. Pakaian bertebaran di lantai.

Tempat ini adalah rumah sementara, jenis yang cuma dipakai satu-dua bulan, lalu ditinggalkan peng-huninya di tengah malam buta; dan memang itulah rencana Nicholas. Sudah enam bulan ia tinggal di sana, dan apartemen itulah alamat resminya, setidaknya ketika ia mendaftar sebagai pemilih dan meminta SIM Mississippi. Ia punya tempat yang lebih nyaman enim setengah kilo dari sana, tapi tidak mau mengambil risiko terlihat di sana.

Jadi, ia hidup dengan gembira dalam kemelaratan, berperan sebagai mahasiswa miskin tanpa aset dan dengan sedikit tanggung jawab. Ia cukup yakin bahwa para pelacak sewaan Fitch belum memasuki apartemennya, tapi ia tidak mau ambil risiko. Tempat itu murah, tapi diatur dengan hati-hati. Tak ada apa pun yang mencolok dan bisa mengungkapkan dirinya yang sebenarnya.

Pada pukul delapan, ia menyelesaikan kuesioner itu dan memeriksanya lagi untuk terakhir kali. Jawaban kuesioner untuk kasus Cimmino dulu ditulisnya dengan tulisan biasa, dengan gaya yang sama sekali berbeda. Sesudah berbulan-bulan melatih tulisannya, ia yakin ia takkan bisa terlacak. Waktu itu ada tiga ratus calon juri, dan sekarang hampir dua ratus orang. Untuk apakah orang cunga bahwa ia ikut dalam kedua panel tersebut?

Dari balik sarung bantal yang direntangkan menutupi jendela dapur, ia memeriksa halaman parkir di bawah, kalau-kalau ada fotografer atau pengganggu lain. Tiga minggu lalu ia melihat satu orang sedang duduk rendah di belakang kemudi pickup.

60

Tidak ada pengintai hari ini. Ia mengunci pintu apartemen dan pergi dengan berjalan kaki.

Di hari kedua. Gloria Lane jauh lebih efisien dalam menangani para calon juri. Ke-148 orang yang tersisa didudukkan di sebelah kanan, berdesakan rapat dua belas orang di satu deret, dua belas deret dengan empat orang duduk di gang. Mereka lebih mudah ditangani bila didudukkan di satu sisi ruang sidang Kuesioner dikumpulkan saat mereka masuk, kemudian cepat-cepat dikopi dan diberikan kepada masing-masing pihak. Pukul sepuluh, jawaban-jawaban itu dianalisis oleh para konsultan juri yang terkurung dalam ruangan-ruangan tak berjendela.

Di seberang gang, serombongan pengamat keuangan, wartawan, orang-orang yang ingin tahu, dan ber-macam-macam penonton lain duduk dengan sopan, menatap rombongan pengacara yang duduk mempelajari wajah para calon anggota juri. Fitch diam-diam sudah pindah ke deretan degan, lebih dekat ke tim pengacaranya; dua pesuruh berpakaian bagus menga-pitnya, siap melaksanakan perintah.

Hakim Harkin bekerja cepat pada hari Selasa itu, tak lebih dari satu jam, ia sudah membereskan dalih halangan nonmedis yang diajukan calon juri. Enam orang lagi dibebaskan, menyisakan 142 orang dalam panel.

Akhirnya tibalah saat pertunjukan. Wendall Rohr, mengenakan jas kotak-kotak kelabu yang sama, vest putih, dan dasi kuning-merah, berdiri dan berjalan ke pagar untuk berbicara dengan pemirsanya. Ia membunyikan buku-buku jarinya dengan keras, membuka

61

telapak tangan, dan memperlihatkan senyum lebar. “Selamat datang,” katanya dengan dramatis, seolah-olah peristiwa hari itu akan selamanya terukir dalam kenangan mereka. Ia memperkenalkan dirinya, anggota-anggota timnya yang akan berperan serta dalam sidang, dan kemudian ia minta si penggugat, Celeste Wood, untuk berdiri. Dua kali ia memakai kata “janda” sewaktu memperkenalkan sang penggugat kepada para calon juri. Celeste Wood seorang wanita mungi! berusia 55 tahun. Ia memakai gaun hitam polos, kaus kaki hitam, sepatu hitam yang tidak terlihat di bawah jerjak, dan ia melontarkan seulas senyum sedih, seolah-olah belum lepas berkabung, meskipun suaminya sudah empat tahun meninggal dunia. Bahkan sebenarnya ia hampir menikah kembali; begitu mengetahui hal ini, Wendall menyuruh ia me-nundan a Tidak apa-apa mencintai laki-laki itu, ia menjelaskan, tapi lakukanlah dengan diam-diam dan jangan menikah dengannya sebelum sidang berakhir. Faktor simpati. Kau seharusnya sedang menderita, ia menjelaskan.

Fitch tahu tentang pembatalan perkawinan itu, dan ia juga tahu bahwa hanya ada sedikit peluang untuk mengemukakan hal ini kepada juri.

Sesudah semua orang di pihaknya diperkenalkan secara resmi, Rohr memberikan ringkasan singkat mengenai kasus tersebut. Ini menarik minat luar biasa dari para pengacara pihak tergugat dan Hakim. Mereka sepertinya siap menerkam bila Rohr melangkah melewati batas tak kasatmata antara fakta dan pendapat. Tapi ia tidak melakukannya. Ia cuma senang menyiksa mereka.

62

Kemudian imbauan panjang-lebar bagi para calon juri untuk jujur, terbuka, dan tidak takut mengangkat tangan bila ada yang mengusik hati mereka. Bagaimana para pengacara bisa mengetahui pikiran dan perasaan kalau para calon juri tidak berbicara? “Sudah tentu kami tidak bisa melakukannya hanya dengan melihat Anda sekalian,” katanya sambil memamerkan gigi. Pada saat yang sama, tak kurang dari delapan orang di dalam ruang sidang itu berusaha mati-matian membaca setiap gerakan alis terangkat dan bibir yang dikerutkan.

Untuk meneruskan, Rohr mengambil buku tulis, melihatnya, lalu berkata, “Sekarang, ada beberapa dari Anda yang pernah bertugas sebagai juri sebelum ini. Harap acungkan tangan.” Selusin tangan terangkat dengan patuh. Rohr memandang pemirsanya dan menghentikan pandangan pada yang terdekat, seorang wanita di deretan depan. “Mrs. Millwood, benar?” Pipi perempuan itu memerah ketika ia mengangguk. Setiap orang dalam ruang sidang itu menatap Mrs. Millwood atau berusaha menjulurkan leher melihatnya.

“Anda menjadi anggota juri dalam kasus perdata beberapa tahun yang lalu, saya rasa.” kata Rohr hangat.

“Ya,” kata Mrs. Millwood, berdeham dan mencoba bersuara keras.

“Kasus apakah itu?” tanya Rohr, meski sebenarnya ia sudah mengetahui setiap detail—tujuh tahun yang lalu, di ruang sidang ini juga, dengan hakim yang Iain, nol untuk pihak penggugat. Berkas itu sudah dikopi berminggu-minggu yang lalu. Rohr bahkan berbicara dengan pengacara si penggugat, seorang

63

temannya. Ia mulai dengan pertanyaan ini dan juri ini sebab ini merupakan pemanasan yang mudah, lem paran ringan untuk menunjukkan kepada yang lain bahwa tidak ada bahaya apa pun untuk mengangkat tangan dan mengutarakan pendapat. Kasus kecelakaan lalu lintas,” kata Mrs. Millwood.

“Di manakah sidang itu berlangsug?” Rohr bertanya sungguh-sungguh.

“Di sini.”

“Oh, di ruang sidang ini.” Ia kedengaran agak terperanjat, tapi pengacara pihak tergugat tahu bahwa ia pura-pura.

“Apakah dalam kasus itu dewan juri sampai pada suatu keputusan?” “Ya.”

“Dan apakah keputusannya?”

“Kami tidak memberi dia apa-apa.”

“Dia di sini adalah pihak penggugat?”

“Ya. Menurut kami, dia tidak benar-benar terluka “

“Begitu. Apakah memberikan pelayanan sebagai juri merupakan pengalaman menyenangkan bagi Anda?”

Wanita itu berpikir sejenak, lalu, “Lumayan. Tapi banyak waktu yang terbuang, Anda tahu, saat pengacara-pengacara saling bertengkar tentang ini dan itu.”

Senyum lebar. “Ya, kami cenderung melakukan hal itu. Tidak ada apa pun mengenai kasus itu yang akan mempengaruhi kemampuan Anda untuk memeriksa yang ini?”

“Saya rasa tidak.”

‘Terima kasih, Mrs. Millwood.” Dulu suaminya akuntan sebuah rumah sakit kecil yang terpaksa ditutup sesudah dinyatakan bersalah dengan tuduhan melaku—

64

kan malapraktek kedokteran Diam-diam ia benci pada vonis besar, karena alasan bagus. Jonathan Kotlack, pengacara pihak penggugat yang bertanggung jawab dalam seleksi juri terakhir, sudah sejak lama menyisihkan namanya dari pertimbangan.

Akan tetapi, di meja lain tidak sampai dua meter dan Kotlack, pengacara tergugat sangat menghargainya. JoAnn Millwood akan menjadi buruan yang sangat berharga.

Rohr mengajukan pertanyaan yang sama kepada para veteran lain yang pernah duduk sebagai juri, dan dengan cepat segalanya jadi monoton Ia kemudian menggarap masalah pelik mengenai penggantian undang-undang pemberian ganti kerugian, serta mengajukan serangkaian pertanyaan panjang-lebar mengenai hak-hak korban, gugatan-gugatan sembarangan, dan harga asuransi. Beberapa pertanyaannya diajukan secara tak langsung dalam argumen-argumen singkat, tapi ia tidak membuat masalah. Sudah hampir jam makan siang, dan panel itu sudah kehilangan minat. Hakim Harkin memberikan reses selama satu jam, dan para deputi membubarkan orang-orang dari ruang sidang.

Akan tetapi para pengacara tetap tinggal. Kotak makan siang berisi sandwich tipis dan apel merah dibogikan oleh Gloria Lane dan stafnya. Ini makan siang sambil kerja. Berbagai mosi mengenai puluhan hal perlu ditegaskan, dan Yang Mulia Hakim sudah siap untuk mendengarkan argumen. Kopi dan es teh dituang.

Pimakaian kuesioner sangat memudahkan pemilihan

65

juri. Sementara Rohr mengajukan pertanyaan di dalam ruang sidang, puluhan orang di tempat Iain memeriksa jawaban tertulis dan nama-nama dari daftar mereka. Satu orang punya saudara perempuan yang meninggal karena kanker paru-paru. Tujuh lainnya punya sahabat dekat atau anggota keluarga dengan masalah kesehatan serius, semuanya mereka hubungkan dengan kebiasaan merokok. Paling sedikit, setengah dari panel itu sekarang masih merokok atau pernah menjadi perokok di waktu lampau. Sebagian besar yang merokok mengaku ingin berhenti.

Data tersebut dianalisis. lalu dimasukkan ke komputer, dan pada tengah hari kedua printout-nya dibagikan dan disunting. Setelah memberikan reses pada pukul setengah lima pada hari Selasa, Hakim Harkin kembali ke ruang sidang dan melanjutkan pemeriksaan data. Selama hampir tiga jam, jawaban tertulis itu didiskusikan dan diperdebatkan, dan akhirnya 31 nama lagi disisihkan dari pertimbangan. Gloria Lane diperintahkan menelepon mengenai penyisihan ini dan mengabarkan kabar baik ini pada mereka.

Harkin bertekad menyelesaikan pemilihan dewan juri ini pada hari Rabu. Penyampaian perayataan pembukaan dijadwalkan untuk Kamis pagi. Ia bahkan sudah memberi isyarat untuk bekerja pada hari Sabtu.

Pada pukul delapan malam hari Selasa, ia memeriksa satu mosi terakhir secara kilat. lalu membubarkan para pengacara itu. Para pengacara Pynex menemui Fitch di kantor Whitney & Cat)Ie & White; sandwich dingin dan kentang goreng berminyak sudah menunggu di sana. Fitch ingin bekerja, dan ketika para pengacara yang kecapekan itu perlahan-lahan mengisi piring

66

kertas mereka, dua paralegal membagikan kopi dari analisis tulisan tangan terbaru. Makanlah dengan cepat, Fitch mendesak, seolah-olah makanan itu bisa langsung ditelan. Panel tersebut tinggal 111 orang, dan pemilih-annya akan dimulai besok.

Pagi itu milik Durwood Cable, atau Durr seperti dikenal orang di seluruh penjuru Coast, tempat yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan selama 61 tahun. Sebagai partner senior pada Whitney & Cable & White, Sir Durr telah dipilih dengan hati-hati oleh Fitch untuk menangani pekerjaan dalam ruang sidang untuk Pynex. Sebagai pengacara, kemudian hakim, dan kini pengacara lagi, Durr sudah menghabiskan sebagian besar dari tiga puluh tahun terakhir berhadapan dan berbicara dengan dewan juri. Ruang sidang adalah tempat yang menyegarkan baginya, sebab ruang sidang merupakan panggung—tak ada telepon. tak ada lalu lintas pejalan kaki, tak ada sekretaris hilir-mudik—setiap orang punya peran, setiap orang mengikuti skenario dengan para pengacara sebagai bintang-nya. Ia bergerak dan berbicara dengan sangat hati-hati, namun di antara langkah dan ucapannya, matanya yang kelabu tidak melewatkan apa pun. Lawannya, Wendall Rohr, adalah orang yang ribut, mudah bergaul, dan mencolok, sedangkan Durr tenang dan konservatif. Setelan jas hitam, dasi keemasan yang agak berani, kemeja putih standar yang kontras dengan wajahnya yang kecokelatan. Durr sangat gemar memancing di laut, dan suka melewatkan waktu berjam-jam dalam perahunya, di bawah tenk matahari. Bagian atas kepalanya sudah botak dan sangat cokelat.

67

Pernah selama enam tahun ia tidak mengalami satu kekalahan pun, kemudian Rohr, lawan dan kadang-kadang temannya, menantangnya dengan kasus gugatan kecelakaan truk senilai dua juta dolar.

Ia melangkah ke pagar pembatas dan memandang serius wajah ke-111 orang tersebut. Ia tahu di mana mereka masing-masing tinggal serta berapa anak dan cucu mereka, bila ada. Ia melipat tangan, mencubit dagu bak profesor yang sedang asyik berpikir, dan berkata dengan suara enak didengar, “Nama saya Durwood Cable, dan saya mewakili Pynex, perusahaan yang sudah sembilan puluh tahun membuat rokok.” Ia sama sekali tidak malu mengucapkannya! Ia bicara tentang Pynex selama sepuluh menit, dengan sangat cerdik melembutkan citra perusahaan itu, membuat kliennya sebagai pihak yang hangat dan ramah, ham-pir-hampir menyenangkan.

Setelah selesai, tanpa kenal takut ia langsung masuk ke masalah pilihan. Sementara Rohr menitikberatkan pada masalah kecanduan, Cable menghabiskan waktunya pada masalah kebebasan memilih. “Bisakah kita semua setuju bahwa rokok secara potensial bisa membahayakan bila disalahgunakan?” ia bertanya. lalu menyaksikan sebagian besar kepala itu mengangguk setuju. Siapa bisa mendebat ini? “Nah, baiklah. Sekarang, karena hal ini sudah diketahui umum, bisakah kita semua setuju bahwa orang yang merokok seharusnya tahu akan bahaya tersebut?” Lebih banyak lagi anggukan, tapi belum ada tangan terangkat. Ia mengamati wajah-wajah itu, terutama wajah kosong Nicholas Easter yang kini duduk di deretan ketiga, urutan kedelapan dan lorong Karena penyisihan-penyisihan

68

terdahulu, kini Easter bukan lagi calon juri nomor 56, melainkan nomor 32, dan semakin maju bersama setiap acara. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, hanya perhatian penuh

“Sekarang, satu pertanyaan yang sangat penting,” kata Cable perlahan-lahan, kata-katanya bergenia dalam keheningan. Jarinya yang menunjuk lembut diarahkan pada mereka sambil berkata, “Apakah dalam panel mi ada yang tidak setuju bahwa orang yang memilih untuk merokok seharusnya tahu akan bahayanya?”

Ia menunggu, mengawasi dan menarik tali pan-cingnya sedikit, dan akhirnya menangkap satu orang. Satu tangan terangkat perlahan-lahan dari deretan keempat. Cable tersenyum dan maju selangkah lebih dekat, sambil berkata, “Ya, saya rasa Anda Mrs. Tulwiler. Silakan berdiri.” Seandainya ia benar-benar berharap mendapatkan sukarelawan, kegembiraannya hanya berlangsung sangat singkat. Mrs. Tutwiler adalah seorang wanita kecil rapuh berusia enam puluh tahun dengan wajah marah la berdiri tegak, mengangkat dagu, dan berkata, “Saya ada satu pertanyaan untuk Anda, Mr. Cable.”

“Silakan.”

“Bila semua orang tahu bahwa rokok berbahaya, mengapa klien Anda terus membuatnya?”

Beberapa rekannya tersenyum lebar. Semua mata tertuju pada Durwood Cable yang terus tersenyum, tak sedikit pun berubah ekspresinya. “Pertanyaan bagus,” katanya keras. Ia tidak bermaksud menjawabnya. “Apakah Anda berpendapat bahwa pembuatan rokok harus dilarang, Mrs. Tutwiler?”

69

“Benar.” “

“Bahkan bila orang yang bersangkutan memilih untuk merokok?”

“Rokok bisa menimbulkan kecanduan, Mr. Cable, Anda tahu itu.”

“Terima kasih, Mrs. Tutwiler.”

“Pabrik-pabrik menumpuk nikotin, menjerat orang, lalu mengiklankannya gila-gilaan agar produk mereka terus terjual.”

“Terima kasih, Mrs. Tutwiler.”

“Saya belum selesai,” katanya keras, sambil mencengkeram sandaran bangku di depannya dan berdiri lebih tinggi lagi. “Pabrik rokok selalu menyangkal bahwa merokok mengakibatkan kecanduan. Itu bohong, dan Anda mengetahuinya. Mengapa mereka tidak me-nuliskannya pada label mereka?”

Wajah Durr tidak sedikit pun menunjukkan perubahan ekspresi. Ia menunggu dengan sabar, lalu bertanya dengan cukup ramah, “Apakah Anda sudah selesai, Mrs. Tutwiler?” Ada beberapa hal Iain yang ingin diucapkan wanita itu, tapi ia tiba-tiba tersadar bahwa mungkin ini bukan tempat yang tepat. “Ya,” sahutnya, nyaris berbisik.

“Tenma kasih. Tanggapan-tanggapan yang Anda kemukakan tadi merupakan hal vital dalam proses pemilihan juri. Terima kasih banyak. Anda boleh duduk sekarang.”

Ia melihat berkeliling, seolah-olah mengajak beberapa orang Iain untuk berdiri dan bertempur bersamanya, tapi karena tak ada pendukungnya, ia pun duduk kembali di kursinya. Tak ada bedanya seandainya ia langsung meninggalkan ruang sidang tersebut.

70

Cable menyambung cepat dengan masalah-masalah yang tidak terlaiu sensitif. Ia mengajukan banyak pertanyaan, memancing beberapa tanggapan, dan memberikan masukan kepada para pakar bahasa tubuh itu untuk dikunyah. Ia selesai pada tengah hari, tepat saat makan siang. Harkin minta panel itu agar kembali pukul tiga, tapi memerintahkan para pengacara untuk makan cepat-cepat dan kembali dalam waktu 45 meniL

Pada pukul satu, di ruang sidang yang kosong dan terkunci, para pengacara bergerombol rapat mengelilingi meja-meja mereka. Jonathan Kotlack berdiri dan memberitahu sidang bahwa penggugat menerima juri nomor 1. Tak ada yang terkejut. Semua orang menuliskan sesuatu pada printout, termasuk Yang Mulia Hakim, yang sesudah berselang sesaat bertanya, “Pembela?”

“Pembela menerima nomor 1.” Tidak banyak kejutan. Nomor 1 adalah Rikki Coleman, seorang istri dan ibu muda dengan dua anak. Tak pernah merokok dan bekerja sebagai administrator di sebuah rumah sakit. Kotlack dan krunya memberi nilai 7 dari 10 angka berdasarkan jawaban tertulisnya, latar belakangnya dalam perawatan kesehatan, gelar kesarjana-annya, dan minatnya yang mendalam pada segala yang telah diucapkan sejauh ini. Pihak pembela memberinya nilai 6, dan hendak menolaknya bila tidak mempertimbangkan calon-calon lain yang lebih tidak menguntungkan di deretan pertama.

“Mudah sekali,” gumam Harkin tertahan. ‘Teruskan. Juri nomor 2, Raymond C. LaMonette.” Mr. LaMonette merupakan sasaran pertempuran strategis pertama dalam pemilihan-juri. Tak satu pihak pun meng—

71

hendakinya—kedua belah pihak memberinya angka 4,5. Ia seorang perokok berat, tapi mati-matian ingin berhenti. Jawaban-jawaban tertulisnya sama sekali tak dapat diuraikan dan tak berguna. Para pakar bahasa tubuh dari kedua belah pihak melaporkan bahwa Mr. LaMonette benci semua pengacara dan segala hal yang berkaitan dengan mereka. Beberapa tahun lalu, ia nyaris tewas tertabrak oleh seorang sopir mabuk. Gugatannya tidak menghasilkan ganti rugi apa pun.

Menurut pcraturan pemilihan juri, masing-masing pihak diberi beberapa peremptory challenge, atau lebih dikenal sebagai pencoretan, yang bisa digunakan untuk menolak calon juri tanpa alasan apa pun. Karena pentingnya kasus ini. Hakim Harkin telah memberikan sepuluh hak pencoretan kepada masing-masing pihak. jauh lebih banyak dari lazimnya yang hanya empat. Kedua pihak ingin menyisihkan LaMonette, tapi mereka perlu menghemat hak pencoretan itu untuk wajah-wajah lain yang lebih tak diinginkan.

Pihak penggugat diharuskan menentukan lebih dulu, dan sesudah selang beberapa saat, Kotlack berkata, “Penggugat mencoret nomor 2.”

Peremptory challenge pertama bagi penggugat,” kata Harkin sambil membuat catatan. Satu kemenangan kecil bagi pembela. Berdasarkan keputusan detik terakhir, Durr Cable sudah siap untuk mencoretnya juga—

Pihak penggugat memakai hak pencoretan itu pada nomor 3, istri seorang eksekutif perusahaan, juga untuk nomor 4. Pencoretan strategis ini berlanjut, dan praktis menghabiskan deretan pertama. Hanya dua

72

orang juri yang di terima. Pada deretan kedua, pembantaian ini berkurang dan lima dari dua belas calon berhasil selamat dari berbagai keberatan, dua oleh pihak pengadilan sendiri. Tujuh orang juri sudah dipilih ketika proses itu bergeser ke deretan ketiga. Delapan orang dari sana duduklah si teka-teki besar, Nicholas Easter, calon anggota juri nomor 32, yang sejauh ini selalu menaruh perhatian dan tampaknya cukup bisa diterima, meskipun ia membuat kedua belah pihak cemas.

Wendall Rohr sekarang bicara di pihak penggugat, karena Kotlack sedang terlibat perundingan bisik-bisik dengan seorang pakar mengenai dua wajah pada deretan keempat. Rohr memakai peremptory strike pada nomor 25. Itu adalah pencoretan keenam oleh pihak penggugat. Yang terakhir dicadangkan untuk orang partai Republik yang punya reputasi jelek di deretan keempat, bila mereka sampai sejauh itu. Pembela mencoret nomor 26, memakai hak peremptory yang kedelapan. Juri nomor 27, 28, dan 29 diterima. Juri nomor 30 ditolak oleh pembela karena suatu alasan—pengadilan dimohon membebaskan juri itu karena alasan bersama, tanpa perlu memakai hak peremptory masing-masing. Durr Cable meminta sidang untuk off the record, sebab ada sesuatu yang ingin ia bicarakan secara pribadi. Rohr sedikit kebingungan. tapi tidak keberatan. Notulis pengadilan berhenti mencatat. Cable mengangsurkan sebuah ber-kas tipis kepada Rohr, juga kepada Hakim. Ia menurunkan suaranya dan berkata, “Yang Mulia, melalui beberapa sumber, kami mengetahui bahwa juri nomor 30, Bonnie Tyus, sebenarnya kecanduan obat Ativan.

73

Dia tidak pernah menjalani perawatan, tidak pernah ditahan, tidak pernah mengakui masalahnya. Sudah tentu dia tidak mengungkapkan hal ini dalam kuesioner atau pada acara tanya-jawab. Dia bisa hidup tanpa menimbulkan kehebohan, punya pekerjaan dan suami, meskipun itu suami ketiga.”

“Bagaimana Anda mendapatkan informasi mengenai hal ini?” Harkin bertanya.

“Melalui penyelidikan yang sangat ekstensif terhadap semua calon anggota juri. Saya berani jamin, Yang Mulia, tidak pernah ada kontak tidak sah dengan Mrs. Tyus.”

Fitch-lah yang menemukan hal ini. Suami kedua perempuan itu berhasil ditemukan di Nashville, bekerja sebagai pencuci traktor trailer di pangkalan truk 24 jam. Dengan seratus dolar kontan, dengan senang hati ia menceritakan segala yang diingatnya mengenai mantan istrinya.

“Bagaimana, Mr. Rohr?” tanya Yang Mulia.

Tanpa sangsi sedetik pun, Rohr berkata bohong, “Kami mendapatkan informasi yang sama, Yang Mulia.” Ia melontarkan lirikan menyenangkan pada Jonathan Kotlack, yang pada gilirannya menatap ber-api-api pada seorang pengacara lain yang bertanggung jawab menyelidiki kelompok Bonnie Tyus. Sampai sejauh ini, mereka sudah menghabiskan lebih dari satu juta dolar untuk pemilihan juri, dan mereka tidak mendapatkan fakta penting ini!

“Baiklah. Juri nomor 30 dibebaskan dari tugas. Kembali on the record. Juri nomor 31?”

“Bisakah kita bicara sebentar, Yang Mulia?” tanya Rohr.

74

“Ya. Tapi cepatlah.”

Sesudah tiga puluh nama, sepuluh sudah terpilih; sembilan ditolak oleh pihak penggugat, delapan oleh pembela, dan tiga dibebastugaskan oleh pengadilan. Kecil sekali kemungkinan pemilihan itu akan sampai ke deretan keempat, maka Rohr, dengan satu hak peremptory tersisa, memandang ke juri nomor 31 sampai 36, dan berbisik pada kelompoknya, “Mana yang paling busuk?” Semua jari sepakat menunjuk ke nomor 34, seorang wanita kulit putih berperawakan besar, bertampang jahat, yang sudah menakutkan mereka sejak hari pertama. Namanya Wilda Haney, dan sudah sebulan ini mereka bersumpah untuk menghindari Wide Wilda. Mereka mengamati master sheet beberapa menit lebih lama, dan sepakat untuk mengambil nomor 31, 32, 33, dan 35, meskipun tidak semuanya sangat menarik, tapi lebih lumayan daripada Wide Wilda.

Dalam kerumunan lawan yang hanya terpisah beberapa meter dari sana, Cable dan pasukannya sepakat untuk mencoret nomor 31, mengambil nomor 32, menyanggah nomor 33 sebab 33 adalah Mr. Herman Grimes, laki-laki buta itu, kemudian menerima nomor 34, Wilda Haney, dan mencoret nomor 35, bila diperlukan.

Dengan demikian, Nicholas Easter menjadi juri kesebelas yang dipilih untuk mendengarkan sidang Wood v. Pynex. Ketika ruang sidang dibuka pada pukul tiga dan panel,itu didudukkan, Hakim Harkin mulai memanggil nama dua belas orang yang terpilih. Mereka berjalan melewati gerbang jerjak dan duduk

75

di tempat yang sudah ditentukan di boks juri. Nicholas menempati kursi nomor 2 pada deretan depan. Pada usia 27 tahun, ia merupakan anggota juri kedua termuda. Ada sembilan orang kulit putih, tiga kulit hitam, tujuh wanita, lima laki-laki, dan satu orang buta. Tiga orang cadangan didudukkan pada kursi lipat berjok yang dibariskan rapat di salah satu sudut boks juri. Kemudian selama setengah jam mereka mendengarkan Hakim Harkin memberikan serangkaian peringatan keras kepada mereka, para pengacara, dan pihak-pihak yang terlibat. Kontak dengan anggota juri dalam bentuk apa pun akan diganjar dengan sanksi keras, denda, mungkin pembatalan sidang, mungkin pencabutan izin praktek, dan ancaman hukuman mati.

Ia melarang anggota juri membicarakan kasus ini dengan siapa pun, bahkan dengan pasangan mereka, dan dengan senyum ramah mengucapkan selamat berpisah, selamat menikmati malam yang menyenangkan, sampai jumpa besok pagi pukul sembilan tepat.

Para pengacara itu mengawasi dan berangan-angan seandainya mereka pun bisa pulang. Namun masih ada yang harus dikerjakan. Ketika ruang sidang sudah ditinggalkan oleh semua orang, kecuali para pengacara dan Panitera, Yang Mulia Hakim berkata, “Saudara-saudara, kalian mengajukan inosi-mosi ini. Sekarang kita harus membahasnya.”

76

Lima

Sebagian karena campuran rasa ingin tahu dan bosan, serta sebagian karena firasat bahwa seseorang sudah menunggu, Nicholas Easter menyelinap lewat pintu belakang gedung pengadilan yang tidak terkunci pada pukul setengah sembilan, menaiki tangga belakang yang jarang dipakai, dan memasuki lorong sempit di belakang ruang sidang. Kebanyakan kantor di situ buka pukul delapan, jadi gerakan dan suara terdengar di lantai satu. Tapi di lantai dua tidak terdengar apa-apa. Ia mengintip ke dalam ruang sidang, dan mendapatinya kosong tanpa manusia. Tas-tas kerja sudah tiba dan diparkir sembarangan di meja-meja. Para pengacara itu mungkin ada di belakang, dekat mesin kopi, saling menceritakan lelucon dan bersiap menghadapi pertempuran.

Ia kenal baik tempat itu. Tiga minggu sebelumnya, sehari sesudah menerima surat panggilan yang berharga untuk bertugas sebagai juri, ia datang untuk melihat-lihat sekitar ruang sidang itu. Mendapati bahwa saat itu tempat tersebut tidak dipakai dan kosong, ia menjelajahi lorong-lorong dan ruangan sekitarnya ruang kerja hakim yang penuh sesak; ruang minum

77

kopi tempat pengacara-pengacara bertukar gosip sambil duduk-duduk pada meja kuno yang ditebari majalah-majalah lama dan surat kabar baru: ruangan ruangan untuk saksi dengan kursi lipat dan tanpa jendela; ruang penahanan tempat orang-orang berbahaya dan terborgol menunggu hukuman; dan, tentu saja, ruang juri.

Pagi ini firasatnya benar. Namanya Lou Dell, seorang wanita pendek gemuk sekitar enam puluh tahunan mengenakan celana poliester, sepatu olahraga tua, dan poni kelabu sampai ke mata. Ia sedang duduk di lorong di samping pintu ke ruang juri, membaca buku roman kumal, dan menunggu seseorang memasuki wilayahnya la melompat berdiri, mengambil sehelai kertas dari bawah, dan berkata, “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” Seluruh wajahnya membentuk senyum. Matanya bersinar-sinar nakal.

“Nicholas Easter,” jawab Nicholas sambil menyambut tangan yang sudah diulurkan. Wanita itu meremas-nya dengan erat, mengguncangnya penuh semangat, dan menemukan nama Nicholas dalam kertas catatan nya. Satu lagi senyum lebar, lalu, “Selamat datang di ruang juri. Ini sidang pertama Anda?”

“Ya.”

“Mari,” katanya, sambil mendorong Nicholas memasuki ruangan. “Kopi dan kue donat ada di sini,” ia berkata, menarik lengan Nicholas, sambil menunjuk ke sebuah sudut. “Buatan saya sendiri,” katanya bang-ga, seraya mengangkat keranjang berisi muffin hitam berminyak “Semacam tradisi. Saya selalu membawakan ini pada hari pertama. Saya namakan kue muffin juri. Cobalah.”

78

Meja itu ditutupi dengan beberapa jenis donat yang diatur rapi di atas nampan. Dua poci kopi sudah terisi dan mengepulkan uap. Piring-piring dan cangkir, sendok dan garpu, gula, krim, beberapa macam pemanis. Dan kue muffin juri itu terletak di tengah meja. Nicholas mengambil satu. sebab tak punya pilihan Iain.

“Sudah delapan belas tahun saya membuatnya,” kata wanita itu. “Dulu saya masukkan kismis juga, tapi lalu tidak lagi. Terpaksa.” Ia memutar mata ke atas, seolah-olah sisa ceritanya terlaiu berbau skandal.

“Kenapa?” tanya Nicholas, sebab ia merasa terpaksa.

“Menimbulkan gas. Kadang-kadang setiap suara di dalam ruang sidang bisa terdengar. Tahu maksud saya?”

“Saya rasa tahu.”

“Kopi?”

“Saya bisa ambil sendiri.”

“Kalau begitu, baiklah.” Ia memutar badan dan menunjuk setumpuk kertas di tengah meja panjang itu. “Di sana ada daftar instruksi dari Hakim Harkin. Dia ingin setiap anggota juri mengambil satu, membacanya dengan cermat, dan menandatangani bagian bawahnya. Saya akan mengumpulkannya nanti.”

“Terima kasih.”

“Saya ada di samping pintu kalau Anda memerlukan saya. Di situlah tempat saya. Mereka akan menempatkan seorang deputi bersama saya untuk sidang ini, bisakah Anda percaya? Mungkin jenis orang tolol yang tidak bisa menembak gudang sekalipun dengan senapannya. Tapi bagaimanapun, saya rasa ini sidang

79

terbesar yang pernah diadakan di sini. Sidang pengadilan perdata. Anda takkan percaya bagaimana hebat-nya beberapa sidang pidana yang pernah berlangsung di sini.” Ia memegang kenop pintu dan menariknya ke dalam. “Saya ada di luar, kalau Anda membutuhkan.”

Pintu tertutup dan Nicholas menatap muffin itu. Perlahan-lahan ia menggigit sepotong kecil. Kue itu sebagian besar adalah gabah dan gula, beberapa saat ia memikirkan bunyi-bunyi dalam ruang sidang. Ia melemparkan muffin itu ke keranjang sampah dan menuang kopi hitam ke dalam cangkir plastik. Cangkir plastik ini harus disingkirkan. Bila ia harus tinggal di sini selama empat sampai enam minggu, mereka mesti menyediakan cangkir sungguhan. Dan bila county ini bisa menyediakan donat yang enak, mereka tentu bisa menyediakan kue bagel dan croissant.

Di situ tak ada kopi tanpa kafein. Ia membuat catatan mengenai hal ini. Dan tidak ada air panas untuk teh, kalau seandainya beberapa teman barunya bukan peminum kopi. Makan siangnya mudah-mudahan enak. Ia tidak mau makan salad tuna selama enam minggu mendatang.

Dua belas kursi diatur rapi mengelilingi meja di tengah ruangan. Lapisan debu tebal yang dilihatnya tiga minggu lalu sudah dibersihkan; tempat ini jauh lebih rapi, dan siap dipakai. Pada salah satu dinding-nya ada papan tulis besar, penghapus, dan kapur tulis baru. Di seberang meja, pada dinding di hadapannya, ada tiga jendela besar, dari dinding ke langit-langit, menghadap ke halaman rumput gedung pengadilan yang masih hijau dan segar, meskipun musim panas

80

sudah berakhir sebulan yang lalu. Nicholas memandang ke luar jendela dan menyaksikan lalu lintas pejalan kaki di trotoar.

Edaran terbaru dari Hakim Harkin adalah daftar beberapa hal yang harus dikerjakan, dan banyak hal yang harus dihindari: Bekerjalah dengan rapi. Pilihlah seorang ketua, dan bila tidak bisa melakukannya, beritahulah Hakim, dan dengan senang hati ia akan memilihkan. Pakailah selalu tanda pengenal juri merah-putih itu. Lou Dell akan membagikannya. Bawalah sesuatu untuk dibaca pada saat jeda. Jangan ragu-ragu meminta apa saja. Jangan membicarakan kasus ini di antara kalian sendiri, kecuali diinstruksikan demikian oleh Hakim. Jangan membicarakan kasus ini dengan siapa pun, titik. Jangan meninggalkan gedung pengadilan tanpa izin. Jangan memakai telepon tanpa izin. Makan siang akan diantar dan dimakan dalam ruang juri. Menu harian akan disediakan setiap hari sebelum sidang dimulai pukul sembilan. Segeralah beritahu pengadilan apabila Anda atau siapa saja yang Anda kenal dihubungi orang dalam kaitannya dengan keterlibatan Anda dalam sidang ini. Segeralah beritahu pengadilan bila Anda melihat atau mendengar atau tahu sesuatu yang mencurigakan dan mungkin atau mungkin juga tidak berkaitan dengan tugas Anda sebagai anggota juri dalam kasus ini.

Petunjuk yang aneh. dua yang terakhir itu. Namun Nicholas tahu detail sidang perkara tembakau di Texas Timur, yang dibatalkan hanya sesudah satu minggu berjalan, ketika ditemukan adanya agen-agen misterius menyelinap keluar-masuk kota kecil itu dan menawarkan uang dalam jumlah besar kepada sanak

81

keluarga juri. Agen-agen itu menghilang sebelum tertangkap, dan tak pernah diketahui di pihak mana mereka bekerja, meskipun kedua belah pihak saling menuduh dengan seru. Orang yang berpikir dengan kepala dingin lebih cenderung menyangka bahwa itu ulah pihak perusahaan tembakau. Simpati juri tampaknya dibengkokkan ke sana, dan pihak pembela senang ketika dinyatakan mistrial.

Meskipun tidak ada cara untuk membuktikannya, Nicholas yakin Rankin Fitch-lah dalang di balik pe-nyogokan itu. Dan ia tahu bahwa Fitch dengan cepat akan menggarap teman-teman barunya.

Ia menandatangani bagian bawah lembaran itu dan meninggalkannya di meja. Terdengar suara-suara di gang, dan Lou Dell menyambut satu anggota juri lain. Pintu terbuka dengan bunyi gedebuk dan ten-dangan, lalu Mr. Herman Grimes masuk lebih dulu sambil mengetuk-ngetukkan tongkat di depannya. Istrinya mengikuti di belakangnya, tidak menyentuhnya, tetapi langsung memeriksa ruangan dan menjelaskannya dengan suara pelan, “Ruangan panjang, 7,5 kali 4,5 meter, panjangnya di depanmu, lebarnya dari kiri ke kanan, ada meja panjang di tengah ruangan dengan kursi-kursi di sekelilingnya, kursi terdekat darimu berjarak 2,5 meter.” Mr. Grimes diam mendengarkan, kepalanya bergerak ke arah sesuai yang dijelaskan oleh istrinya. Di belakang si istri, Lou Dell berdiri di belakang pintu dengan tangan di pinggul, tak sabar ingin menawarkan muffin pada laki-laki buta itu.

Nicholas maju beberapa langkah dan memperkenalkan diri. Ia meraih tangan Herman yang terulur dan

82

mereka bertukar basa-basi. Ia menyapa Mrs. Grimes, membimbing Herman ke meja makanan dan kopi, lalu menuangkan dan mengadukkan kopi dengan menambahkan gula dan krim. Ia menjelaskan tentang donat dan muffin itu, mendahului Lou Dell yang tetap berdiri di dekat pintu. Herman tidak lapar.

“Paman kesayangan saya juga tunanetra,” kata Nicholas pada mereka bertiga. “Saya anggap suatu kehormatan bila Anda mengi/inkan saya membantu Anda selama sidang ini.”

“Saya sepenuhnya sanggup menjaga diri sendiri,” sahut Herman dengan nada agak jengkel, namun istrinya memberikan seulas senyum hangat. Kemudian ia mengedipkan mata dan mengangguk.

“Saya yakin Anda bisa,” kata Nicholas. “Tapi saya tahu ada banyak hal kecil. Saya hanya berniat membantu.”

“Terima kasih,” kata laki-laki itu sesudah diam sejenak.

‘Terima kasih,” kata istrinya.

“Saya ada di luar bila Anda sekalian membutuhkan sesuatu,” Lou Dell berkata

“Pukul berapa saya harus datang menjemputnya?” Mrs. Grimes bertanya.

“Pukul lima. Bila lebih awal, saya akan telepon.” Lou Dell menutup pintu sambil memberondongkan instruksi.

Mata Herman ditutup de”ngan kacamata hitam Rambutnya cokelat, tebal, diminyaki, dan sudah mulai beruban.

“Ada beberapa keterangan,” kata Nicholas ketika mereka sudah sendirian. “Silakan duduk di kursi di

83

depan Anda, dan akan saya ambilkan kertas itu.” Herman meraba meja, meletakkan kopinya, kemudian menggerakkan tangan mencari kursi. Ia merabanya dengan ujung jari, menangkap bentuknya, dan duduk. Nicholas mengambil sehelai kertas instruksi dan mulai membaca.

Sesudah menghabiskan banyak uang untuk seleksi ini, berbagai pendapat bermunculan. Setiap orang punya pendapat. Para pakar di pihak pembela saling memben selamat pada diri sendiiri karena telah memilih juri yang demikian bagus, meskipun sebagian besar pekerjaan dan proses itu dilaksanakan oleh pasukan pengacara yang bekerja terus-menerus. Durr Cable sudah pernah menyaksikan juri yang lebih buruk, tapi ia juga pernah melihat yang lebih ramah. Ia pun telah belajar bertahun-tahun yang lalu bahwa sebenarnya mustahil memprakirakan apa yang akan dilakukan dewan juri. Fitch gembira, atau ^egembira yang bisa ia lampiaskan. namun tidak berhenti mengomel dan membentak-bentak mengenai segala hal. Ada empat perokok dalam dewan juri ini. Fitch tetap berpegang pada kepercayaan yang tak terucapkan bahwa Gulf Coast, dengan bar-bar topless dan kasino serta jaraknya yang dekat dengan New Orleans, saat ini bukanlah tempat buruk karena toleransinya pada kebusukan.

Di seberang jalan itu, Wendall Rohr dan penasihat-nya menyatakan diri puas dengan komposisi dewan juri. Mereka terutama senang dengan tambahan yang tak terduga, Mr. Herman Grimes, juri tunanetra pertama dalam sejarah. Mr. Grimes bersikeras agar die-

84

valuasi sama seperti mereka yang “punya penglihatan”, dan mengancam akan menempuh cara hukum bila diperlakukan berbeda. Sikapnya yang begitu mengandalkan gugatan hukum sangat menghangatkan hati Rohr dan gerombolannya, dan kecacatannya merupakan impian dari pengacara penggugat. Pembela sudah mengajukan keberatan atas berbagai dasar, termasuk ketidakmampuan melihat barang-barang bukti. Hakim Harkin mengizinkan para pengacara itu menanyai Mr. Grimes tentang hal ini, dan ia meyakinkan mereka bahwa ia bisa melihat barang bukti bila barang bukti itu diuraikan secara memadai dalam tulisan. Yang Mulia Hakim kemudian memutuskan untuk menyediakan satu notulis pengadilan terpisah yang akan mengetik deskripsi barang-barang bukti. Kemudian dis-ketnya dimasukkan ke komputer braille Mr. Grimes, dan ia bisa membaca di waktu malam. Mr. Grimes sangat senang, dan ia berhenti bicara mengenai gugatan diskriminasi. Pihak pembela melunak sedikit, terutama ketika mengetahui bahwa dulu selama bertahun-tahun ia seorang perokok dan tidak punya masalah berdekatan dengan orang-orang yang meneruskan kebiasaan tersebut.

Jadi. dua belah pihak sama-saina senang bercampur waspada dengan dewan juri ini. Tidak ada orang berpandangan radikal yang terpilih. Tidak ada tanda-tanda sikap buruk. Dua belas orang tersebut memiliki ijazah SMA, dua punya gelar sarjana muda. dan tiga orang lagi pernah kuliah. Jawaban tertulis Easter menyebutkan bahwa ia lulus SMA, tapi kuliahnya di college masih merupakan misteri.

Sementara dua belah pihak bersiap untuk kegiatan

85

sidang peradilan sebenarnya yang akan berlangsung sepanjang hari, mereka diam-diam merenungkan pertanyaan besar itu, menerka-nerka jawabannya. Sewaktu memandangi denah tempat duduk juri dan mengamati wajah-wajah itu untuk kesejuta kali, mereka bertanya-tanya lagi, “Siapakah yang akan jadi pemimpin?”

Setiap dewan juri punya pemimpin, dan dari sanalah didapatkan amar putusan. Apakah ia akan tampil dengan cepat? Atau ia akan menarik diri dan mengambil peran hanya dalam diskusi pengambilan keputusan? Bahkan para anggota juri pun belum tahu.

Pukul sepuluh tepat. Hakim Harkin mengamati ruang sidang yang penuh sesak dan memutuskan bahwa semua orang sudah berada di tempatnya. Ia mengetukkan palunya dengan ringan dan suara bisik-bisik itu mereda. Semua orang sudah siap. Ia mengangguk pada Pete, bailiff tua berseragam cokelat yang sudah pudar, dan berkata, “Bawa masuk dewan juri.” Semua mata mengawasi pintu di samping boks juri. Lou Dell yang pertama muncul, memimpin kawanannya bak induk ayam, kemudian dua belas orang yang terpilih itu masuk dan menuju tempat duduk masing-masing. Tiga anggota cadangan mengambil posisi di kursi lipat. Setelah beberapa saat lewat untuk mengatur diri—menyesuaikan bantal tempat duduk, merapikan pakaian, serta meletakkan dompet dan buku paperback di lantai—para anggota juri itu terdiam dan tentu saja menyadari bahwa mereka sedang diamati.

“Selamat pagi,” Yang Mulia Hakim berkata dengan suara keras dan senyum lebar. Hampir semuanya balas mengangguk.

86

“Saya yakin Anda sekalian telah menemukan ruang juri dan bersiap.” Diam sejenak, kemudian ia mengangkat lima belas formulir bertanda tangan yang tadi dibagikan dan dikumpulkan lagi oleh Lou Dell. “Apakah kita sudah punya ketua?”

Dua belas kepala mengangguk bersama-sama.

“Bagus. Siapa orangnya?”

“Saya, Yang Mulia,” Herman Grimes berkata dari deretan pertama, dan untuk sesaat pihak pembela, semua pengacara, konsultan juri, dan wakil-wakil perusahaan, serentak seperti kena serangan jantung mendadak. Kemudian mereka bemapas perlahan-lahan, berusaha keras menunjukkan bahwa perasaan mereka terhadap juri tunanetra yang kini menjadi ketua itu adalah perasaan sayang dan cinta. Mungkin sebelas juri lainnya merasa kasihan pada si tua ini, sehingga memilihnya menjadi ketua.

“Bagus,” Yang Mulia berkata, lega bahwa dewan juri ini bisa membereskan pemilihan rutin tersebut tanpa kencuhan Ia sudah pernah melihat yang jauh lebih buruk. Pernah ada satu dewan juri, sebagian kulit putih dan sebagian lagi kulit hitam, tidak mampu memilih ketua. Mereka kemudian bercekcok sengit mengenai menu makan siang.

“Saya yakin Anda sudah membaca instruksi tertulis saya,” ia meneruskan, kemudian langsung memberikan kuliah terperinci, mengulangi kembali segala yang sudah ia uraikan secara tertulis.

Nicholas Easter duduk di deretan depan, bans kedua dari kiri. Wajahnya beku seperti topeng, tidak menunjukkan komitmen apa pun. Sementara Harkin bicara berlarut-larut. ia mulai memperhatikan para

87

pemain lain dalam sidang itu. Dengan sedikit gerakan kepala, ia mengarahkan pandang ke sekeliling ruang sidang. Para pengacara, yang bergerombol di sekitar meja mereka seperti burung pemangsa siap menerkam, tanpa kecuah menatap para anggota jun tanpa malu-malu. Tak lama lagi mereka pasti letih dengan semua ini.

Pada deretan kedua di belakang pembela, duduklah Rankin Fitch, wajahnya yang gemuk dan jenggotnya yang seram memandang lurus ke pundak laki-laki di depannya. Ia mencoba mengabaikan peringatan Harkin dan pura-pura sama sekali tak peduli dengan dewan juri, tapi Nicholas tahu yang sebenarnya. Fitch tidak melewatkan apa pun.

Empat belas bulan lalu. Nicholas melihatnya di gedung pengadilan Cimmino di Allentown, Pennsylvania. Saat itu pun ia tampak sama seperti sekarang ini—buram dan samar. Dan ia melihatnya di trotoar di luar gedung pengadilan Broken Arrow, Oklahoma, selama berlangsungnya sidang kasus Glavine. Dua kali melihat Fitch cukuplah. Nicholas tahu bahwa sekarang Fitch tahu-bahwa ia tidak pernah kuliah di North Texas State. Ia tahu bahwa Fitch lebih mence-maskannya daripada anggota juri lainnya, dan dengan alasan kuat.

Di belakang Fitch ada dua deret laki-laki bersetelan jas rapi dengan wajah-wajah cemberut, dan Nicholas tahu bahwa mereka tentulah bocah-bocah gelisah dari Wall Street. Menurut koran pagi ini, pasar memilih untuk tidak bereaksi terhadap komposisi juri. Harga saham Pynex tetap stabil pada delapan puluh dolar per lembar. Mau tak mau ia tersenyum. Seandainya

88

ia tiba-tiba berdiri dan berteriak, “Aku pikir penggugat harus menerima jutaan dolar!” orang-orang itu akan melompat ke pintu dan pada saat makan siang nanti. saham Pynex akan jatuh sepuluh poin.

Tiga perusahaan lainnya—Trellco, Smith Greer, dan ConPack—juga diperdagangkan dengan stabil.

Di deretan depan ada kumpulan-kumpulan orang tegang, dan Nicholas yakin bahwa mereka adalah para pakar juri. Sekarang, setelah seleksi selesai, mereka maju ke tahap selanjutnya—mengamati. Tanggung jawab merekalah untuk mendengarkan setiap kata dari setiap saksi dan meramalkan bagaimana para juri menyerap kesaksian tersebut. Strateginya, bila saksi tertentu memberikan kesan lemah atau bahkan merusak kepada juri, ia harus ditarik dari tempat saksi dan dikirim pulang. Mungkin saksi lain yang lebih kuat bisa dipakai untuk menambal kerusakan tersebut. Nicholas tidak yakin mengenai hal ini. la sudah banyak membaca tentang konsultan juri, bahkan menghadiri seminar di St. Louis, tempat para pengacara menceritakan kisah mereka mendapatkan vonis besar, namun ia tetap tidak yakin pada para pakar “penentu” ini, yang menurut pendapatnya tidak lebih dari seniman penipu.

Mereka menyatakan bisa mengevaluasi anggota juri hanya dengan mengamati reaksi tubuh mereka, betapapun kecilnya, terhadap apa yang dikatakan. Nicholas tersenyum lagi. Bagaimana seandainya ia memasukkan -jari ke lubang hidung dan membiarkannya di sana selama lima menit? Bagaimanakah ekspresi bahasa tubuh itu akan ditafsirkan?

Ia tak bisa mengklasifikasikan penonton yang Iain.

89

Pasti ada beberapa wartawan, segerombolan pengacara lokal yang bosan, dan pengunjung tetap gedung pengadilan itu. Istri Herman Grimes duduk agak di belakang, berseri-seri bangga melihat suaminya dipilih - untuk posisi demikian tinggi. Hakim Harkin menghentikan ocehannya dan menunjuk pada Wendall Rohr, yang berdiri perlahan-lahan, mengancingkan jas kotak-kotaknya sambil memamerkan gigi palsu kepada dewan juri, dan melangkah dengan lagak penting ke mimbar. Ini adalah pidato pembukaannya, jelasnya, dan di sini ia akan menguraikan garis besar kasus ini kepada juri. Ruang sidang itu sunyi senyap. Mereka akan membuktikan bahwa rokok menyebabkan kanker paru-paru, dan, lebih tepatnya, Mr. Jacob Wood almarhum, seorang baik-baik. menderita kanker paru-paru setelah hampir tiga puluh tahun merokok Bristol. Rokok itu membunuhnya, Rohr mengumumkan dengan serius, sambil menarik ujung jenggot kelabu di bawah dagunya Suaranya serak, tapi tepat, bisa melambung naik-turun membentuk nada dramatis. Rohr seorang bintang panggung, aktor kawakan dengan dasi kusut dan gigi palsu, yang setelan jasnya tidak seragam namun sengaja dirancang untuk memikat orang kebanyakan. Ia tidak sempurna. Biar para pembela itu, mengenakan setelan jas hitam tanpa cela dan dasi sutra mahal, berbicara pongah dengan hidung terangkat kepada juri ini. Tapi Rohr tidak Ini adalah orang-orangnya.

Tapi bagaimanakah mereka membuktikan bahwa rokok menyebabkan kanker paru-paru? Sebenarnya ada banyak bukti. Pertama, mereka akan membawa beberapa pakar dan peneliti kanker paling terkemuka

90

di negeri ini. Ya, benar, orang-orang besar itu sedang dalam perjalanan menuju Biloxi untuk duduk dan bercakap-cakap dengan juri, menjelaskan sejelas-jelas-nya dan dengan segunung statistik bahwa rokok benar-benar menyebabkan kanker.

Kemudian—dan Rohr tidak dapat menahan senyum jahatnya ketika bersiap mengungkapkan hal ini—penggugat akan menghadapkan orang-orang yang dulu pernah bekerja untuk industri tembakau. Semua kebusukan itu akan dibeberkan, tepat di dalam ruang sidang ini. Bukti-bukti memberatkan sedang dalam perjalanan ke sini.

Pendeknya, penggugat akan membuktikan bahwa as ip rokok menyebabkan kanker paru-paru karena mengandung karsinogen alami, pestisida, partikel radio-aktif, dan serafseperti asbes.

Sampai di sini, hampir tak ada keraguan dalam ruang sidang itu bahwa Wendall Rohr akan bisa membuktikan ini tanpa banyak kesulitan. Ia berhenti, menarik ujung-ujung dasinya dengan sepuluh jarinya yang gemuk, dan melihat catatannya, lalu dengan sangat serius ia mulai bicara tentang Jacob Wood almarhum. Ayah tercinta yang sayang pada keluajga, pekerja keras, penganul Katolik yang taat, anggota tim sofbol gereja, veteran. Mulai merokok ketika masih bocah yang, seperti semua orang lain saat itu, tidak menyadari bahayanya. Seorang kakek. Dan sete-rusnya.

Sejenak Rohr bersikap terlaiu dramatis, tapi tampaknya menyadari hal itu. Secara singkat ia memaparkan tuntutan kliennya. Ini sidang besar, ia mengumumkan, salah satu yang paling penting. Penggugat

91

mengharapkan, dan sudah pasti meminta, banyak uang Bukan sekadar kerugian aktualnya—nilai ekonomis hidup Jacob Wood, ditambah hilangnya kasih sayang dan cinta yang diderita oleh keluarganya—tetapi juga punitive damage, pembayaran ganti rugi sebagai hukuman.

Rohr bicara panjang-lebar mengenai punitive damage, beberapa kali keluar jalur, dan jelaslah bagi kebanyakan anggota juri bahwa ia begitu terpesona oleh prospek akan menerima vonis besar, sehingga ia kehilangan konsentrasi.

Hakim Harkin, secara tertulis, memberikan waktu satu jam kepada masing-masing pihak untuk menyampaikan pidato pembukaan. Secara tertulis pula ia menyataknn akan memotong pengacara mana pun yang bicara melewati waktu itu. Meskipun Rohr juga menderita penyakit bicara berlebihan yang lazim di antara pengacara, ia tahu sebaiknya tidak main-main dengan jam yang ditentukan oleh Hakim, la selesai dalam waktu lima puluh menit, dengan permohonan sedih meminta keadilan, berterima kasih kepada para anggota juri atas perhatian mereka, tersenyum dan membunyikan gigi palsunya, lalu duduk.

Lima puluh menit duduk di kursi, tanpa percakapan dan tanpa melakukan gerakan-gerakan kecil, serasa bagaikan berjam-jam, dan Hakim Harkin tahu itu. Ia mengumumkan reses selama lima belas menit, diteruskan dengan pidato pembukaan pihak tergugat.

Durwood cable menyelesaikan pidatonya tidak lebih dari tiga puluh menit. Dengan tenang dan hati-hati ia meyakinkan para juri bahwa Pynex memiliki pakar—

92

pakar sendiri, ilmuwan dan peneliti yang akan menerangkan sejelas-jelasnya bahwa rokok sebenarnya tidak menyebabkan kanker paru-paru. Pandangan skeptis dari para juri memang wajar, dan Cable hanya meminta kesabaran serta keterbukaan pikiran mereka. Sir Durr bicara tanpa memakai catatan, dan setiap patah kata ditancapkan ke mata masing-masing anggota juri. Tatapannya bergeser pada deretan pertama, lalu naik sedikit ke yang kedua, membalas pandangan ingin tahu mereka satu demi satu. Suara dan tatapannya nyaris seperti hipnotis, tapi jujur. Orang terdorong untuk mempercayai laki-laki ini.

93

Enam

Krisis pertama terjadi saat istirahat makan siang. Hakim Harkin mengumumkan reses siang pada pukul 12.10, dan seluruh ruang sidang duduk diam ketika para juri keluar. Lou Dell menyambut mereka di iorong sempit itu dan sudah tak sabar untuk membawa mereka ke dalam ruang juri. “Silakan duduk,” katanya, “sebentar lagi hidangan makan siang akan siap. Kopinya baru.” Begitu dua belas orang itu sudah masuk ke ruangan, ia menutup pintu dan pergi untuk memeriksa tiga orang cadangan yang ditempatkan dalam ruangan terpisah yang lebih sempit di koridor itu. Sesudah lima belas orang itu berada di tempatnya, ia kembali ke pos dan dengan bersungut-sungut menatap Willi deputi dengan sedikit keter-belakangan mental yang ditugaskan berjaga dengan pistol terisi di pinggang, melindungi orang.

Para anggota juri itu perlahan-lahan menyebar di sekitar ruang juri, beberapa orang meregangkan badan dan menguap, lainnya meneruskan perkenalan formal—kebanyakan berbicara basa-basi mengenai cuaca. Bagi beberapa orang, gerakan dan percakapan basa-basi itu terasa kaku; bisa dimaklumi, mengingat me—

94

reka mendadak dikumpulkan dalam satu ruangan dengan orang-orang yang belum dikenal. Makanan apa yang akan dihidangkan? Mudah-mudahan cukup enak.

Herman Grimes duduk di kepala meja; cocok untuk tempat duduk ketua, pikirnya, dan bercakap-cakap dengan Millie Dupree, wanita baik hati berusia lima puluh tahun yang punya kenalan tunanetra lain. Nicholas Easter memperkenalkan diri pada Lonnie Shaver, satu-satunya laki-laki kulit hitam dalam dewan juri ini, dan sebenarnya tidak ingin bertugas sebagai juri. Shaver adalah manajer toko bahan makanan yang menjadi bagian dari serangkaian toko, dan ia orang kulit hitam dengan jabatan tertinggi di perusahaan itu. Ia kurus dan penggelisah, dan merasa sulit untuk santai. Gagasan untuk meninggalkan toko itu selama empat minggu mendatang sungguh menakutkannya.

Dua puluh menit berlalu, dan tak ada makanan yang muncul. Tepat pukul setengah satu, Nicholas berkata dari ujung ruangan, “Hei, Herman, mana makan siang kita?”

“Aku cuma ketua,” balas Herman sambil tersenyum, sementara ruangan itu mendadak sepi.

Nicholas berjalan ke pintu, membukanya, dan memanggil Lou Dell. “Kami lapar,” katanya.

Perlahan-lahan Lou Dell menurunkan novel paperback-nya, memandang sebelas wajah lainnya, dan berkata, “Makanan sedang dalam perjalanan.”

“Dibeli di mana?” tanya Nicholas.

“O’Reilly’s Deli. Hanya di sudut jalan sana.” Lou Dell tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan itu.

“Dengar, kita terkurung di dalam sini seperti binatang peliharaan,” Nicholas berkata. “Kita tidak bisa

95

pergi makan seperti orang normal Aku tidak mengerti mengapa kita tidak dipercaya untuk pergi ke jalan dan menikmati santap siang, tapi Hakim sudah mengatakannya.” Nicholas maju selangkah lebih dekat dan menatap tajam poni beruban yang tergantung menutupi mata Dell. ”Makan siang tidak akan jadi masalah tiap hari, oke?” “Oke.”

“Kusarankan kau menelepon dan mencari tahu di mana makan siang kami, atau aku akan membicarakannya dengan Hakim Harkin.”

“Oke.”

Pintu menutup dan Nicholas berjalan menghampiri poci kopi.

“Rasanya kau agak keras padanya, bukan begitu?” Millie Dupree bertanya. Yang lain mendengarkan.

“Mungkin, dan kalau memang kasar, aku minta maaf. Tapi bila kita tidak meluruskan persoalan sejak awal. mereka akan melupakan kita.”

“Itu bukan kesalahannya,” kata Herman.

“Tugasnya adalah mengurus kita.” Nicholas berjalan ke meja dan duduk dekat Herman “Apakah kalian tahu bahwa sebenarnya dalam sidang lain mereka mengijinkan juri untuk pergi makan seperti orang normal? Menurut kalian, untuk apa kita memakai tanda pengenal juri ini?” Yang lain bergeser lebih mendekat ke meja.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Millie Dupree tepat di seberang meja.

Nicholas angkat bahu, seolah-olah ia tahu banyak, tapi mungkin tidak bisa bicara banyak. “Aku tahu sedikit tentang sistemnya.”

96

“Bagaimana itu?” tanya Herman.

Nicholas diam sejenak, lalu berkata, “Aku pernah dua tahun kuliah hukum.” Ia meneguk kopinya lama-lama, sementara yang lain menimbang-nimbang sedikit pengungkapan latar belakang ini.

Kedudukan Easter di mata rekan-rekannya langsung naik. Ia sudah membuktikan diri sebagai orang yang ramah dan suka menolong, sopan dan cerdas. Tapi sekarang ia diam-diam terangkat sebab ia tahu hukum.

Pukul 12.45 tetap tak ada makanan yang datang. Dengan tiba-tiba Nicholas menghentikan percakapan dan membuka pintu. Lou Dell sedang melihat arlojinya di koridor. “Aku sudah mengirim Willis,” katanya resah. “Mestinya sebentar lagi datang. Aku sungguh menyesal.”

“Di mana kamar kecil?” tanya Nicholas.

“Di balik sudut sana, di sebelah kananmu,” kata Lou Dell dengan perasaan lega, dan menunjuk. Nicholas tidak berhenti di kamar kecil, tapi berjalan diam-diam menuruni tangga belakang dan keluar dari gedung pengadilan. Ia menyusuri Lamuese Street sejauh dua blok hingga sampai di Vieux Marche, sebuah mall untuk pejalan kaki dengan toko-toko yang rapi di sepanjang daerah yang dulu adalah pusat bisnis Biloxi. Ia kenal baik daerah itu, sebab gedung apartemennya hanya terpisah empat ratus meter dari sana. Ia suka kafe-kafe dan deli di sepanjang Vieux Marche Di sana juga ada toko buku yang bagus.

la belok ke kin dan memasuki bangunan besar, tua, berwarna putih yang ditempati oleh Mary Mahoney’s, restoran lokal yang terkenal, tempat komunitas hukum kota itu biasa berkumpul untuk makan siang

97

bila sedang tidak ada sidang. Seminggu yang lalu ia sudah mengingat-ingat jalan ini, bahkan bersantap siang di meja dekat Hakim Frederick Harkin.

Nicholas memasuki restoran dan menanyai pelayan pertama yang dijumpainya, apakah Hakim Harkin sedang makan di situ. Ya. Di mana dia? Si pelayan menunjuk, dan Nicholas berjalan cepat melintasi bar, melewati bilik kecil, dan masuk ke ruang makan besar dengan jendela-jendela, sinar matahari, dan banyak bunga segar. Tempat itu penuh, tapi ia melihat sang hakim pada meja untuk empat orang. Harkin melihatnya datang, dan gerakan garpunya terhenti dengan udang bakar gemuk tertancap di ujungnya. Ia mengenali wajah itu sebagai salah satu anggota jurinya, dan ia melihat tanda pengenal juri berwarna merah-putih mencolok itu.

“Maaf mengganggu, Sir,” Nicholas berkata, berhenti di pinggir meja yang tertutup roti hangat, salad segar, dan gelas-gelas besar berisi es teh. Gloria Lane, panitera Circuit Court, sesaat juga tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Wanita kedua di sana adalah notulis pengadilan, dan yang ketiga adalah asisten Harkin.

“Apa yang Anda kerjakan di sini?” Harkin bertanya, setitik sisa keju tertempel pada bibir bawahnya. “Saya ke sini atas nama dewan juri Anda.” “Ada apa?”

Nicholas membungkuk agar tidak menarik perhatian. “Kami lapar,” katanya, kemarahannya jelas terlihat dari giginya yang terkatup dan diserap oleh empat wajah yang terperanjat itu. “Sementara kalian duduk di sini menyantap makanan lezat, kami duduk di

98

dalam ruang sempit, menunggu makanan dari deli yang, entah kenapa, tidak bisa sampai ke tempat kami. Dengan segala hormat, Sir, kami lapar. Dan kami kesal.”

Harkin menjatuhkan garpunya ke piring dengan keras, udangnya terpantul dan jatuh ke lantai. Ia melemparkan serbetnya ke meja sambil menggumamkan sesuatu yang tak dapat dipahami. Ia memandang tiga wanita itu, melengkungkan alisnya, dan berkata, “Nah, ayo kita lihat.” Ia berdiri, diikuti oleh wanita-wanita itu, dan mereka berlima berbondong-bondong keluar dari restoran.

Lou Dell dan Willis tidak tampak ketika Nicholas dan Hakim Harkin serta tiga wanita itu memasuki lorong dan membuka pintu ke ruang juri. Meja itu masih kosong—tak ada makanan. Saat itu pukul 13.05. Para juri menghentikan obrolan dan menatap Yang Mulia.

“Sudah hampir satu jam,” kata Nicholas sambil mengibaskan tangan ke meja kosong itu. Para anggota juri yang semula terkejut melihat sang hakim, dengan segera berubah marah.

“Kami berhak diperlakukan dengan hormat,” tukas Lonnie Shaver. Harkin sepenuhnya takluk.

“Mana Lou Dell?” katanya ke arah tiga wanita tadi. Semua orang memandang ke pintu, dan sekonyong-konyong Lou Dell muncul. Ia diam mematung ketika melihat sang hakim. Harkin menatapnya tajam.

“Apa yang terjadi?” Harkin bertanya tegas, tapi terkendali.

“Saya baru saja bicara dengan deli itu,” katanya, terengah-engah dan ketakutan, butiran-butiran keringat

99

muncul di pipinya. “Ada kekeliruan di sana. Mereka bilang, seseorang menelepon dan mengatakan makan siang harus dikirim pukul setengah dua.”

“Orang-orang ini kelaparan,” kata Harkin. seolah-olah sampai saat ini Lou Dell masih belum tahu. “Setengah dua?”

“Ini kekeliruan di deli. Ada orang yang salah sambung.”

“Deli yang mana?”

“O’Reilly’s.”

“Ingatkan aku untuk bicara dengan pemilik deli itu.”

“Ya, Sir.”

Hakim mengalihkan perhatian kepada jurinya. “Saya sangat menyesal. Ini takkan terulang lagi.” Ia berhenti sedetik, melihat jam tangannya, lalu menawarkan senyum ramah pada mereka. “Saya mengundang Anda sekalian untuk ikut ke Mary Mahoney’s dan makan siang bersama.” Ia menoleh kepada asistennya dan berkata, “Telepon Bob Mahoney dan beritahu dia supaya menyiapkan ruang belakang.”

Mereka makan kepiting dan kakap bakar, kerang segar dan gumbo Mahoney yang terkenal. Nicholas Easter menjadi tokoh saat itu. Selesai menyantap makanan penutup beberapa menit sesudah setengah tiga, mereka mengikuti Hakim Harkin dengan Iangkah santai, kembali ke gedung pengadilan. Sewaktu juri dipersilakan duduk untuk sidang sore, semua yang hadir sudah mendengar cerita tentang makan siang mereka yang hebat.

Neal O’Reilly, pemilik deli tersebut, sesudahnya menemui Hakim Harkin dan bersumpah bahwa ia

100

bicara dengan seseorang, perempuan muda yang mengaku bekerja di kantor Panitera Circuit Court, dan secara spesifik perempuan itu memberikan instruksi untuk mengirimkan makan siang tepat pukul setengah dua

Saksi pertama dalam sidang itu adalah mendiang Jacob Wood, memberikan deposisi—pernyataan saksi di bawah sumpah—dengan video yang direkam beberapa bulan sebelum kematiannya. Dua buah monitor dua puluh inci didorong ke hadapan juri, dan enam lainnya dipasang di sekitar ruang sidang itu. Pema-sangan kabel-kabelnya dilakukan ketika dewan juri berpesta di Mary Mahoney’s.

Jacob Wood duduk disaitgga bantal-bantal di ranjang rumah sakit. Ia memakai T-shirt putih polos dengan selimut menutupinya dari pinggang ke bawah. Ia kurus, cekung, dan pucat, serta menghirup oksigen dari slang kecil yang menjulur dari belakang leher kurusnya ke hidung. Setelah diberitahu agar mulai, ia memandang kamera dan menyatakan nama dan alamatnya. Suaranya parau dan Iemah. Ia juga mendenta emfisema.

Meskipun dikelilingi para pengacara, hanya wajah Jacob yang terlihat. Tidak tampak dalam kamera, sekali-sekali meledak pertempuran kecil di antara pengacara-pengacara itu, tapi Jacob tidak peduli. Ia berumur 51, tapi kelihatan lebih tua dua puluh tahun, dan jelas sedang menggedor pintu kematian.

Dengan dorongan dari pengacaranya, Wendall Rohr, ia menguraikan biografinya mulai sejak lahir, dan ini memakan waktu hampir satu jam. Masa kanak-kanak,

101

pendidikan, sahabat-sahabat, rumah, Angkatan Laut, perkawinan, pekerjaan, anak-anak, kebiasaan, hobi, sahabat-sahabat sesudah dewasa, perjalanan, liburan, cucu, niat untuk pensiun. Menyaksikan orang mati berbicara pada mulanya terasa memesona, tapi dengan cepat para juri itu mengetahui bahwa kehidupan orang itu sama membosankannya dengan hidup mereka sendiri. Makan siang yang berat tadi mulai menimbulkan pengaruh, dan mereka bergerak-gerak resah. Otak dan kelopak mata jadi berat. Bahkan Herman, yang hanya bisa mendengar suara dan membayangkan wajah, jadi bosan. Untunglah, Yang Mulia Hakim juga mulai menderita sindroma pascamakan-siang, dan sesudah satu jam dua puluh menit, ia mengumumkan reses singkat. ť

Empat orang perokok dalam dewan juri itu butuh istirahat, dan Lou Dell dengan senang hati membawa mereka ke ruangan dengan jendela terbuka, di samping toilet pria, bilik kecil yang biasanya dipakai untuk menahan remaja remaja nakal sebelum muncul dalam sidang. “Bila kalian tidak bisa berhenti merokok sesudah sidang ini, tentu ada sesuatu yang tidak beres,” katanya, berusaha bergurau. Tak ada sedikit pun senyum dari empat orang itu. “Maaf,” katanya sambil menutup pintu di belakangnya. Jerry Fernandez, 38 tahun, salesman mobil dengan utang judi besar dan pemikaban yang berantakan, menyalakan rokok pertamanya, kemudian menggoyangkan koreknya di depan tiga wanita itu. “Ini untuk Jacob Wood,” kata Jerry sebagai toast. Tak ada tanggapan dari tiga wanita itu. Mereka terlaiu sibuk merokok.

Pak Ketua Grimes sudah memberikan kuliah singkat

102

bahwa membicarakan kasus ini adalah tindakan ilegal; ia tidak akan mentolerirnya. sebab Hakim Harkin sudah berulang-ulang menegaskan hal itu dengan keras. Tetapi Herman ada di ruang sebelah, dan Jerry tergelitik oleh rasa ingin tahu. “Menurut kalian, apakah si Jacob pernah mencoba untuk berhenti?” tanyanya iseng-iseng.

Sylvia Taylor-Tatum menyedot keras ujung rokoknya yang ramping dan menjawab, “Aku yakin kita akan segera tahu,” kemudian melepaskan badai asap ke-biruan yang hebat dari hidungnya yang panjang mancung. Jerry suka nama julukan, dan diam-diam ia sudah menjuluki Sylvia sebagai Poodle karena wajahnya yang sempit, hidung mancung tajam, serta rambut kelabu tebal dan kusut yang dibelah tepat di tengah dan tergerai ke pundak. Tingginya paling sedikit 180 senti, sangat kurus, dengan wajah yang selalu cemberut, hingga membuat orang takut. Poodle ingin dibiarkan sendiri.

“Entah siapa yang berikutnya,” kata Jerry, mencoba memulai percakapan.

“Kurasa semua dokter itu,” kata Poodle, menatap ke jendela.

Dua perempuan lainnya hanya merokok, dan Jerry pun menyerah.

Nama wanita itu Marlee, setidaknya itulah nama alias yang dipilihnya untuk masa hidupnya saat ini. Ia berusia tiga puluh tahun, berambut cokelat pendek, mata cokelat, tinggi sedang, ramping, dengan pakaian sederhana yang dipilih hati-hati untuk menghindari perhatian. Ia tampak hebat dengan jeans ketat dan rok pendek; ia tampak hebat dengan pakaian apa pun

103

atau tanpa apa pun, tapi untuk sementara ini ia tak ingin ada orang memperhatikannya. Ia sudah berada dalam ruang sidang itu dalam dua kesempatan sebelumnya—sekali dua minggu yang lalu, ketika ia duduk menyaksikan sidang lain, dan sekali dalam pemilihan juri untuk kasus tembakau ini. Ia tahu tempat itu Ia tahu di mana kantor Hakim dan di mana ia makan siang. Ia tahu nama semua pengacara pihak penggugat dan pembela—bukan tugas kecil. Ia sudah membaca berkas pengadilan. Ia tahu di hotel mana Rankin Fitch bersembunyi selama sidang itu.

Pada saat reses, ia melewati detektor logam di pintu depan, dan menyelinap ke deretan belakang di ruang sidang itu. Penonton meregangkan badan, para pengacara berkerumun dan berunding. Ia melihat Fitch berdiri di satu sudut, bercakap-cakap dengan dua orang yang ia yakin adalah konsultan juri. Fitch tidak memperhatikannya. Di situ ada sekitar seratus orang

Beberapa menit berlalu. Ia mengamati pintu di belakang meja hakim dengan cermat. Ketika notulis pengadilan muncul dengan secangkir kopi, Marlee tahu bahwa sang hakim tidak mungkin jauh di belakangnya. Ia mengambil sehelai amplop dari dompet, menunggu sedetik, lalu berjalan menghampiri salah satu deputi yang menjaga pintu depan. Ia melontarkan seulas senyum menawan dan berkata, “Bisakah Anda membantu saya?”

Deputi itu hampir saja bala* tersenyum dan melihat amplop itu. “Akan saya coba “

“Saya harus pergi. Bisakah Anda sampaikan amplop ini pada laki-laki di sudut sana itu? Saya tidak mau menyelanya.”

104

Deputi itu memicingkan mata ke arah yang ditunjuk, di seberang ruangan. “Yang mana?”

“Laki-laki kekar di tengah itu, berjenggot, berjas hitam.”

Pada saat itu. seorang bailiff masuk dari belakang meja hakim dan berseru, “Sidang akan dimulai!”

“Siapa namanya?” deputi itu bertanya, suaranya direndahkan.

Ia mengangsurkan amplop itu pada si deputi dan menunjuk nama di atasnya. “Rankin Fitch. Terima kasih.” Ia menepuk lengan si deputi dan menghilang dari ruang sidang.

Fitch membungkuk ke deretan bangku dan membisikkan sesuatu pada seorang associate, lalu berjalan ke belakang ruang sidang pada saat juri kembali. Untuk sehari ini ia sudah cukup banyak melihat. Fitch biasanya tidak berlama-lama di ruang sidang setelah juri dipilih. Ia punya cara-cara lain untuk memantau persidangan itu.

Si deputi menghentikannya di pintu dan menyerahkan amplop itu kepadanya. Fitch terperanjat melihat namanya tertulis di sana. Ia adalah bayangan tanpa nama, tak dikenal dan tidak memperkenalkan diri pada siapa pun. Firmanya di D.C. dinamakan Arlington West Associates, sekabur dan sesamar yang bisa ia bayangkan. Tak seorang pun tahu namanya—kecuali tentu saja pegawai-pegawainya. kliennya, dan beberapa pengacara yang ia sewa. Ia menatap tajam pada deputi itu tanpa mengucapkan terima kasih, lalu melangkah ke atrium, masih memandangi amplop itu dengan perasaan tak percaya. Huruf cetak itu tak disangsikan lagi tulisan tangan wanita. Ia membukanya

105

perlahan-lahan dan mengeluarkan secarik kertas putih. Sebuah catatan tertulis rapi di tengahnya:

Dear Mr. Fitch,

Besok, anggota juri nomor 2, Easter, akan memakai kemeja golf pullover abu-abu dengan garis tepi merah, celana khaki, kaus kaki putih, serta sepatu kulit cokelat dan bertali.

Jose* si sopir berjalan dari pancuran air dan berdiri bak anjing penjaga yang patuh di samping bosnya. Fitch membaca kembali catatan itu, lalu menatap kosong pada Jos6. Ia berjalan ke pintu, membukanya sedikit, dan meminta deputi tadi keluar dari ruang sidang.

“Ada apa?” tanya deputi itu. Posisinya adalah di dalam, di balik pintu, dan ia orang yang mengikuti perintah.

“Siapa yang memberikan ini pada Anda?” Fitch bertanya seramah mungkin. Dua deputi yang mengoperasikan detektor logam memandang dengan perasaan ingin tahu.

“Seorang wanita. Saya tidak tahu namanya.”

“Kapan dia memberikannya?”

‘Tepat sebelum Anda pergi. Cuma satu menit yang lalu.”

Fitch cepat-cepat melihat berkeliling. “Apakah Anda melihatnya di sini?”

‘Tidak,” jawab deputi itu sesudah melihat sepintas.

“Bisakah Anda menjelaskan penampilannya?”

Sebagai polisi, deputi itu dilatih untuk memperhatikan berbagai hal. “Tentu. Akhir dua puluhan. Tinggi—

106

nya 175, mungkin 180 senti. Rambut cokelat pendek. Mata cokelat. Sangat cantik. Ramping.” “Pakaiannya bagaimana?”

Si deputi tidak memperhatikan, namun ia tak mau mengakuinya. “Uhm, gaun warna muda, semacam putih kekuningan, katun, kancing di depan.”

Fitch menyerap keterangan ini, berpikir sejenak, lalu bertanya, “Apa yang dia katakan pada Anda9”

‘Tidak banyak. Cuma meminta saya menyerahkan ini pada Anda. Kemudian dia pergi.”

“Apakah ada yang luar biasa dalam caranya berbicara?”

‘Tidak. Dengar, saya harus kembali ke dalam.” ‘Tentu. Terima kasih.”

Fitch dan Jose* menuruni tangga dan menjelajahi koridor-koridor lantai satu. Mereka keluar dan berjalan mengitari gedung pengadilan, merokok dan berlagak sedang mencari sedikit udara segar.

Rekaman deposisi Jacob Wood memakan waktu dua setengah hari ketika ia masih hidup dulu. Hakim Harkin, setelah menyunting pertarungan di antara para pengacara, interupsi oleh perawat, dag. bagian deposisi yang tidak relevan, menyisakannya hingga tinggal 2 jam 31 menit.

Pernyataan melalui video itu serasa berhari-hari. Mendengarkan laki-laki malang itu memberikan sejarah kebiasaan merokoknya memang menarik, sampai titik tertentu, namun tak lama kemudian para juri berharap Harkin memotong lebih banyak. Jacob mulai merokok Redtop pada usia enam belas tahun, sebab semua temannya merokok Redtop. Tak lama kemudian, itu

107

jadi kebiasaan dan ia menghabiskan dua bungkus sehan. Ia berhenti merokok Redtop ketika meninggalkan Angkatan Laut untuk menikah, dan istrinya meyakinkannya agar mengisap rokok berfilter saja. Sang istri ingin ia berhenti. Ia tidak bisa, maka ia mulai merokok Bristol, sebab iklannya menyatakan bahwa rokok itu mengandung ter dan nikotin lebih rendah. Pada usia 25 tahun, ia mengkonsumsi tiga bungkus sehari. Ia ingat betul hal ini, sebab anak pertama mereka lahir ketika Jacob berusia 25 tahun, dan Celeste Wood memperingatkan bahwa ia tidak akan hidup untuk melihat cucu-cucunya bila tidak berhenti merokok. Sang istri menolak membelikan rokok saat berbelanja, maka Jacob membelinya sendiri. Rata-rata ia membeli dua karton seminggu, dua puluh bungkus, dan biasanya ia membeli satu-dua pak lagi sampai ia bisa membeli yang dalam karton.

Ia ingin sekali berhenti. Suatu ketika ia berhenti selama dua minggu, tapi suatu malam ia menyelinap turun dari ranjang dan mulai lagi. Beberapa kali ia menguranginya; sampai dua bungkus sehari, kemudian jadi satu bungkus sehari, kemudian sebelum menya-dannya, ia sudah kembali merokok tiga bungkus. Ia sudah pergi ke dokter dan pernah berobat pada ahli hipnotis. Ia mencoba akupunktur dan permen nikotin. Tapi ia tak bisa berhenti. Bahkan setelah didiagnosis menderita emfisema, dan setelah kemudian diberitahu bahwa ia menderita kanker paru-paru.

Ini tindakan paling tolol yang pernah dilakukannya, dan pada usia 51, ia sekarat karena itu. Tolong, ia memohon di sela-sela batuknya, bila Anda merokok, berhentilah.

108

Jerry Fernandez dan Poodle saling bertukar pandang.

Jacob berubah jadi melankolis ketika berbicara tentang hal-hal yang akan ia nndukan Istrinya, anak-anaknya, cucunya, sahabatnya, memancing ikan di sekitar Ship Island, dan lain-lain. Celeste mulai menangis pelan di samping Rohr, dan tak lama kemudian Millie Dupree, anggota juri nomor 3, di samping Nicholas Easter, menyeka matanya dengan Kleenex.

Akhirnya saksi pertama mengucapkan kata-kata ter-akhimya dan layar monitor pun kosong. Hakim mengucapkan terima kasih kepada juri untuk hari pertama yang baik, dan menjanjikan hal yang sama untuk besok. Ia berubah serius dan melontarkan peringatan keras untuk tidak membicarakan kasus ini dengan siapa pun, bahkan dengan suami atau istri. Lebih penting lagi, bila ada yang mencoba memulai kontak dengan cara apa pun dengan anggota juri, harap segera melaporkannya. Ia menandaskan hal ini pada mereka selama sepuluh menit, kemudian membubarkan mereka sampai pukul sembilan besok pagi.

Fitch pernah menimbang-nimbang gagasan untuk memasuki apartemen Easter sebelum ini, dan sekarang sudah saatnya. Mudah saja melakukannya, la mengirim Jose dan seorang pelaksana bemama Doyle ke gedung apartemen tempat Easter tinggal. Easter, tentu saja. pada saat itu masih terkurung dalam boks juri* menonton kisah Jacob Wood. Ia diawasi dengan cermat oleh dua anak buah Fitch, berjaga-jaga bila sidang mendadak ditunda.

Jose tetap tinggal di dalam mobil, dekat telepon.

109

dan mengawasi pintu masuk depan; sementara Doyle menghilang ke dalam. Doyle menaiki satu tingkat tangga dan menemukan Apartemen 312 di ujung koridor yang remang-remang. Tak ada suara apa pun dari apartemen-apartemen di dekatnya. Semua orang sedang berada di tempat kerja.

Ia mengguncang pegangan pintu yang sudah goyah, kemudian memegangnya dengan kokoh sewaktu menyisipkan lempengan plastik sepanjang dua puluh senti ke celahnya. Kunci itu berdetak, pegangan berputar. Pelan-pelan ia mendorong pintu hingga terbuka selebar lima senti, dan menunggu kalau kalau ada alarm yang berbunyi. Tidak ada apa-apa. Gedung apartemen itu sudah tua dan murah, serta kenyataan bahwa Easter tidak punya sistem alarm sama sekali tidak mengejutkan Doyle.

Dengan segera ia sudah berada di dalam. Memakai kamera kecil dengan lampu kilat, ia cepat-cepat memotret dapur, ruang duduk, kamar mandi, dan.kamar tidur. Ia membuat close-up dari majalah-majalah di meja kopi murahan, buku-buku yang tertumpuk di lantai, CD di atas stereo, dan disket software yang bertebaran di sekitar komputer PC yang cukup bagus. Berhati-hati dengan apa yang disentuhnya, ia menemukan kemeja golf pullover abu-abu berpinggiran merah tergantung dalam lemari, dan memotretnya. Ia membuka lemari es dan memotret isinya, lalu lemari makan dan bagian bawah bak cuci.

Apartemen itu kecil dan perabotnya murah, tapi ada usaha untuk menjaga kebersihannya. AC-nya kalau tidak dimatikan tentu rusak. Doyle memotret termostat-nya. Tidak sampai sepuluh menit ia berada di dalam

110

apartemen itu, cukup lama untuk menghabiskan dua rol film dan memastikan Easter memang tinggal seorang diri. Jelas tidak ada jejak orang lain, terutama wanita.

Dengan hati-hati ia mengunci pintu dan tanpa suara meninggalkan apartemen tersebut. Sepuluh menit kemudian, ia sudaM berada dalam kantor Fitch.

Nicholas meninggalkan gedung pengadilan dengan berjalan kaki, dan kebetulan berhenti di O’Reilly’s Deli di Vieux Marche, membeli sekilo kalkun asap dan sekotak salad pasta. Tanpa tergesa-gesa ia berjalan pulang, menikmati sinar matahari setelah seharian berada di dalam ruangan. Ia membeli sebotol air mineral dingin di toko makanan di sudut dan me-minumnya sambil berjalan. Ia mengamati beberapa bocah kulit hitam bermain bola basket dengan sera di halaman parkir gereja. Ia menyelinap ke sebuah taman kecil, dan sejenak hampir berhasil lolos dari orang yang mengikutinya. Namun ia keluar di sisi seberang, masih meneguk air, dan kini yakin dirinya dikuntit. Salah satu suruhan Fitch, Pang, laki-laki Asia berperawakan kecil dengan topi bisbol, hampir saja panik di taman tadi. Nicholas melihatnya dari balik sederet tanaman boxwood.

Di pintu apartemennya, ia mengeluarkan keypad kecil dan memasukkan kode empat digit Lampu merah kecil itu berubah jadi hijau, dan ia membuka pintu

Kamera pengamat itu tersembunyi di lubang angin, tepat di atas lemari es, dan dari tempat bertenggernya bisa memantau dapur, ruang tengah, serta pintu kamar tidur. Nicholas langsung menghampiri komputernya, memastikan bahwa, pertama, tak ada seorang pun

111

yang mencoba menyalakan komputer itu, dan, kedua, telah terjadi UAEA—unauthorized entry/apartment— pada pukul 16.52.

Ia menarik napas dalam-dalam, melihat sekeliling, dan memutuskan untuk memeriksa tempat itu. Ia menduga takkan menemukan bukti orang masuk. Tidak tampak ada perubahan pada pintunya, pegangannya kendur dan mudah dibuka. Dapur dan ruang duduknya tepat seperti ketika ia meninggalkannya. Asetnya satu-satunya—stereo dan CD, TV, komputer—kelihatan tidak tersentuh. Di dalam kamar tidur, ia juga tidak menemukan bukti pembongkaran atau kejahatan. Kembali ke komputer itu, ia menahan napas dan menunggu pertunjukan. Ia memeriksa serangkaian file, menemukan program yang tepat, lalu menghentikan video pengawas. Ia menekan dua tombol untuk memutarnya kembali, lalu memeriksa rekaman pukul 16.52. Hopla! Dalam gambar hitam-putih pada layar monitor enam belas inci, tampak pintu apartemen itu membuka, dan kamera langsung tertuju ke sana. Pintu terbuka sedikit, sementara tamunya menunggu alarm berbunyi. Tidak ada alarm, kemudian pintu terbuka dan seorang laki-laki masuk. Nicholas menghentikan video dan menatap wajah yang ada di monitornya Ia belum pemah melihat orang ini.

Video berputar terus ketika laki-laki itu cepat-cepat mengeluarkan kamera dari saku dan mulai men-jepretkannya kian-kemuri. Ia memeriksa sekeliling apartemen, sesaat menghilang di dalam kamar tidur, meneruskan pemotretan. Sesaat ia mengamati komputer, tapi tidak menyentuhnya. Nicholas tersenyum menyaksikan ini. Komputemya tak mungkin dinyalakan

112

orang lain. Maling ini tidak bisa menemukan tombol power-nya.

Ia berada dalam apartemen itu selama sembilan menit tiga belas detik, dan Nicholas hanya bisa menebak-nebak mengapa hari ini ia datang. Terkaan terbaiknya adalah bahwa Fitch tahu apartemennya akan kosong hingga sidang ditunda.

Kunjungan itu tidak menakutkan, karena sudah diduganya. Nicholas kembali menonton video itu, tertawa sendiri, kemudian menyimpannya untuk pemakaian di masa mendatang.

113

Tujuh

Fitch sedang duduk di bagian belakang mobil van pengintai itu pada pukul delapan esok pagi-nya, ketika Nicholas Easter berjalan di bawah sinar matahari dan melihat sekeliling halaman parkir. Pada pintu van itu ada logo tukang leding dan nomor telepon palsu yang ditulis dengan cat hijau. “Itu dia,” Doyle mengumumkan dan mereka semua melompat. Fitch meraih teleskop, memfokuskannya dengan cepat dari lubang pengintai, dan berkata, “Keparat.”

“Ada apa?” tanya Pang, teknisi Korea yang menguntit Nicholas kemarin.

Fitch mencondongkan badan ke dekat jendela bun-dar, mulutnya terbuka, bibir atasnya mencuat ke atas. “Gila. Pullover abu-abu, khaki, kaus kaki putih, sepatu kulit cokelat.”

“Kemeja yang sama seperti dalam foto?” tanya Doyle. “Ya.”

Pang menekan tombol pada radio portabel dan memberitahu pengawas lain dua blok dari sana. Easter berjalan kaki. mungkin ke arah gedung pengadilan.

Ia membeli secangkir besar kopi kental dan sural

114

kabar di toko sudut yang sama, dan duduk di taman yang sama selama dua puluh menit sambil memeriksa surat kabar. Ia memakai kacamata hitam dan memperhatikan orang-orang yang berjalan di sekitarnya.

Fitch langsung pergi ke kantornya, tak jauh dari gedung pengadilan, berkumpul bersama Doyle, Pang, dan seorang mantan agen FBI bernama Swanson. “Kita harus menemukan perempuan itu,” kata Fitch berulang-ulang. Maka disusun rencana untuk menempatkan satu orang di deretan belakang ruang sidang, satu di luar dekat puncak anak tangga, satu dekat mesin softdrink di lantai pertama, dan satu di luar dengan radio. Mereka akan bertukar pos bersama setiap reses. Deskripsi tentang wanita itu dibagikan. Fitch memutuskan untuk duduk tepat di tempat kemarin, dan melakukan gerakan yang sama.

Swanson, sebagai pakar pengintaian, tidak yakin dengan segala kerepotan itu. ‘Tidak akan berhasil,” katanya.

“Kenapa tidak?” tanya Fitch.

“Sebab dia akan mencarimu. Dia punya sesuatu yang hendak dikatakan, jadi dia akan mengambil langkah berikutnya.”

“Mungkin. Tapi aku ingin tahu siapa dia.”

“Tenanglah. Dia akan mencarimu.”

Fitch berdebat dengannya hingga hampir pukul sembilan, kemudian berjalan cepat kembali ke gedung pengadilan. Doyle bicara dengan si deputi, dan mem-bujuknya untuk menunjuk wanita itu bila kebetulan muncul lagi.

Nicholas memilih Rikki Coleman untuk diajak ber—

115

cakap-cakap sambil menikmati kopi dan croissant pada pagi hari Jumat. Rikki berumur tiga puluh tahun dan mams, sudah menikah dengan dua anak yang masih kecil, dan bekerja sebagai administrator arsip di rumah sakit swasta di Gulfport. Ia seorang yang fanatik dalam hal kesehatan, menghindari kafein, alkohol, dan, sudah tentu, nikotin. Rambutnya yang pirang seperti rami dipangkas pendek model anak laki-laki, dan mata bimnya yang indah tampak lebih mams di balik kacamata buatan desainer. Ia sedang duduk di sudut, minum sari jeruk dan membaca USA Today, ketika Nicholas menghampirinya dan berkata, “Selamat pagi. Kurasa kemarin kita belum resmi berkenalan.”

Ia tersenyum dan mengulurkan tangan. “Rikki Coleman.”

“Nicholas Easter. Senang berkenalan denganmu.”

‘Terima kasih untuk makan siang kemarin,” katanya sambil tertawa cepat.

“Kembali. Boleh aku duduk?” tanya Nicholas sambil mengangguk ke kursi lipat di samping Rikki.

“Tentu.” Ia meletakkan koran itu di pangkuannya.

Dua belas anggota juri itu sudah berkumpul, dan kebanyakan bercakap-cakap dalam kelompok-kelompok kecil.’ Herman Grimes duduk seorang diri di belakang meja, di kursi ujung favoritnya, memegangi cangkir kopi dengan dua belah tangan, dan tak disangsikan lagi sedang mendengarkan kata-kata sinis mengenai sidang itu. Lonnie Shaver juga duduk seorang diri di meja, matanya meneliti printout komputer dari super-marketnya. Jerry Fernandez sudah pergi ke gang untuk merokok bersama si Poodle.

116

“Jadi, bagaimana rasanya bertugas sebagai juri?” Nicholas bertanya.

‘Terlaiu dilebih-lebihkan.”

“Apakah ada yang mencoba menyuapmu tadi malam?”

‘Tidak. Kau?”

‘Tidak. Sayang sekali, sebab Hakim Harkin akan sangat kecewa bila tidak ada seorang pun yang mencoba menyuap kita.”

“Mengapa dia terus menekankan tentang kontak tanpa izin ini?”

Nicholas mencondongkan tubuh ke depan, namun tidak terlaiu dekat. Rikki juga mencondongkan badan dan melontarkan pandangan waswas pada sang ketua, seolah-olah ia bisa melihat mereka. Mereka menikmati kedekatan dan percakapan pribadi ini, layaknya dua orang yang menarik secara fisik kadang kala saling tertarik. Hanya sedikit main mata yang tidak berbahaya. “Itu sudah pernah terjadi. Beberapa kali,” kata Nicholas, nyaris berbisik. Suara tawa meledak di samping poci kopi ketika Mrs. Gladys Card dan Mrs. Stella Hullic menemukan sesuatu yang lucu di koran lokal.

“Apa yang pernah terjadi?” tanya Rikki.

“Dewan juri yang tercemar suap dalam perkara tembakau. Bahkan hal itu hampir selalu terjadi, biasa nya dilakukan oleh pihak tergugat.”

“Aku tidak mengerti,” katanya, percaya sepenuhnya dan menginginkan informasi lebih banyak lagi dari laki-laki yang pemah mengecap dua tahun kuliah hukum ini.

“Pernah ada bebenipa kasus gugatan semacam ini

117

di seluruh penjuru negeri, dan industri tembakau belum pernah dijatuhi vonis bersalah. Mereka membayar berjuta-juta dolar untuk pembelaan, sebab mereka tidak boleh kalah satu kali pun. Satu saja vonis kemenangan untuk penggugat, maka tanggul akan jebol.” Ia berhenti, melihat berkeliling, dan meneguk kopinya. “Jadi, mereka memakai segala cara kotor.” “Seperti?”

“Seperti menawarkan uang kepada anggota keluarga juri. Menyebarkan desas-desus di masyarakat bahwa mendiang, siapa pun orang itu, dulu punya empat simpanan, suka memukuli istri, mencuri dari teman-temannya, pergi ke gereja hanya pada upacara pemakaman, dan punya anak homoseks.”

Rikki mengernyitkan dahi tak percaya, maka Nicholas meneruskan, “Ini benar, dan sudah umum di kalangan hukum. Aku yakin Hakim Harkin tahu tentang hal ini, itulah sebabnya dia terus memberikan peringatan.”

‘Tidak bisakah mereka dihentikan?”

“Belum. Mereka sangat pintar, lihai, dan licik. Mereka tidak meninggalkan jejak. Plus, mereka punya jutaan dolar.” Ia berhenti ketika Rikki mengamati nya “Mereka mengamatimu sebelum pemilihan juri.”

‘Tidak!”

“Tentu saja ya. Itu prosedur baku dalam sidang perkara-perkara besar. Undang-undang melarang mereka untuk langsung menghubungi calon anggota juri sebelum proses pemilihan, jadi mereka mengambil segala tindakan lain. Mereka mungkin memotret rumah, mobil, anak-anak, suami, tempat kerjamu. Mereka mungkin sudah bicara dengan rekan kerja, atau

118

mendengarkan percakapan di kantor atau di mana saja kau makan siang. Kau tak pernah tahu.”

Rikki meletakkan air jeruknya di ambang jendela. “Itu kedengarannya ilegal. atau tidak etis, atau entah apa.”

“Entah apa. Tapi mereka bebas melakukannya, sebab kau tidak tahu mereka melakukannya.” ‘Tapi kau tahu?”

“Ya. Aku melihat fotografer dalam mobil di apartemenku. Dan mereka mengirim wanita ke toko tem-patku bekerja untuk mengajak bertengkar mengenai kebijaksanaan no-smoking di sana. Aku tahu persis apa yang mereka lakukan.”

‘Tapi tadi kau bilang kontak langsung dilarang.”

“Ya. Tapi aku tidak mengatakan mereka bermain jujur. Sebaliknya. Mereka akan melanggar aturan apa pun untuk menang.”

“Mengapa kau tidak memberitahu Hakim?”

“Sebab itu tidak berbahaya, dan aku tahu apa yang mereka lakukan. Karena sekarang aku jadi anggota juri, aku mengawasi setiap gerakan.”

Setelah rasa ingin tahu Rikki tergugah, Nicholas merasa sebaiknya menyimpan rahasia selanjutnya untuk kelak. Ia melihat arloji dan sekonyong-konyong berdiri. “Sebaiknya aku ke kamar kecil dulu sebelum kita kembali ke boks juri.”

Lou Dell menerobos masuk ke ruangan, mengguncang kenop pintu. “Sudah waktunya pergi,” katanya tegas, mirip pelatih tentara yang sok kuasa.

Hadirin sudah menipis hingga setengah dari jumlah kemarin. Nicholas memperhatikan penonton, sementara anggota juri lainnya duduk dan mengatur diri di jok

119

kursi yang sudah usang. Fitch, sudah bisa diduga, duduk di tempat yang sama, kini dengan kepala tersembunyi sebagian di balik koran, seolah-olah ia sama sekali tak peduli dengan juri; tak peduli dengan apa yang dikenakan Easter. Ia akan menatap nanti. Para wartawan itu tidak terlihat, meskipun siangnya mereka datang satu per satu. Bocah-bocah Wall Street itu kelihatan sudah sangat bosan; semuanya masih muda, baru lulus dari college dan dikirim ke Selatan, sebab mereka orang baru dan bos mereka punya kesibukan lain yang lebih penting. Mrs. Herman Grimes menempati posisi sama, dan dalam hati Nicholas bertanya-tanya, apakah ia akan berada di sana setiap hari, mendengarkan segalanya dan selalu siap membantu suaminya menentukan nasib.

Nicholas sepenuhnya yakin akan melihat laki-laki yang telah memasuki apartemennya, mungkin tidak hari ini, tapi suatu saat dalam sidang itu. Saat ini laki-laki itu tidak ada di ruang sidang.

“Selamat pagi.” Hakim Harkin berkata hangat kepada juri ketika semua orang sudah diam. Senyum di mana-mana: dari Hakim, dari para panitera—bahkan para pengacara, yang cukup lama berhenti berkerumun dan berbisik-bisik, untuk memandang para juri dengan senyum dibuat-buat. “Saya yakin semuanya sehat-sehat hari ini.” Ia berhenti dan menunggu lima belas wajah itu mengangguk canggung. “Bagus. Madam Clerk telah memberitahu saya bahwa semuanya siap untuk sehari penuh.” Sulit membayangkan Lou Dell dipanggil sebagai Madam apa pun.

Yang Mulia kemudian mengangkat sehelai kertas berisi daftar pertanyaan yang kelak dibenci oleh para

120

juri. Ia berdeham dan berhenti tersenyum. “Nan, saudara-saudara anggota juri. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan yang sangat penting. dan saya ingin Anda menanggapinya bila Anda merasa perlu. Juga, saya ingin memperingatkan bahwa bila Anda Udak memberikan tanggapan di saat diperlukan, hal itu bisa saya anggap sebagai tindakan menghina pengadilan, bisa diganjar dengan hukuman kurungan.”

Ia membiarkan peringatan seram ini terapung-apung ke seluruh penjuru ruang sidang; menerimanya saja sudah membuat para anggota juri itu merasa bersalah. Setelah yakin sasarannya mengena, ia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu: Apakah ada yang mencoba membicarakan sidang ini dengan Anda? Apakah Anda menerima telepon yang tidak biasa sejak kita bubar kemarin ? Apakah Anda melihat orang tak di kenal mengawasi Anda atau anggota keluarga Anda? Apakah Anda mendengar desas-desus atau gosip mengenai pihak-pihak yang terlibat dalam perkara ini? Pengacara-pengacaranya? Saksi-saksinya? Apakah ada yang menghubungi teman-teman atau anggota keluarga Anda untuk membicarakan sidang ini? Apakah ada teman atau anggota keluarga yang mencoba membicarakan sidang ini dengan Anda sejak bubar kemarin? Apakah Anda melihat atau menerima bahan tertulis yang menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengan sidang ini?

Di antara setiap pertanyaan dalam kertas itu, sang hakim berhenti, memandang penuh harap pada masing-masing juri, kemudian seolah-olah kecewa, kembali ke’daftarnya.

Yang dirasakan ganjil oleh para anggota juri itu

121

adalah kesan berharap yang melingkupi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Para pengacara mendengarkan setiap patah kata, yakin bahwa tanggapan celaka itu akan muncul dari panel juri. Para asisten, yang biasanya sibuk membalik-balik kertas atau barang bukti atau melakukan berpuluh pekerjaan yang tak berkaitan dengan sidang itu, same sekali diam dan memandang dengan waspada anggota juri mana yang akan memberikan pengakuan. Wajah Hakim yang bersungut dan alisnya, yang melengkung sesudah masing-masing pertanyaan, seolah menantang integritas masing-masing anggota juri, dan ia menerima sikap bungkam mereka sebagai kebohongan.

Ketika selesai, dengan tenang ia berkata, “Terima kasih,” dan ruang sidang itu serasa bernapas lega. Para juri merasa diserang habis. Yang Mulia Hakim meneguk kopi dari cangkir tinggi dm tersenyum pada Wendall Rohr. “Panggil saksi Anda berikutnya. Counselor.”

Rohr berdiri, ada noda cokelat besar di tengah kemeja putihnya yang kusut, dasinya sekumal biasanya, sepatu yang lecet makin kotor setiap hari Ia mengangguk dan tersenyum hangat kepada juri, dan mau tak mau mereka balas tersenyum padanya.

Rohr punya konsultan juri yang bertugas mencatat segala yang dipakai para anggota juri. Bila salah satu dan lima laki-laki itu suatu hari memakai sepatu lars koboi, Rohr akan menyiapkan sepasang sepatu tua yang sama. Ia bahkan punya dua—satu dengan ujung runcing, satu bulat. Ia siap untuk memakai sepatu olahraga bila saatnya tepat. Ia sudah pernah melakukannya ketika sepatu olahraga muncul di boks

122

juri. Hakimnya, bukan Harkin, mengajukan keluhan di ruang tertutup. Rohr menjelaskan bahwa ia sakit kaki. dan mengeluarkan sural dari dokternya. Ia bisa memakai celana khaki tersetrika rapi, dasi rajut, jas sport poliester, ikat pinggang koboi, kaus kaki putih, pantofel (baik yang berkilat atau yang sudah usang). Koleksi pakaiannya yang campur aduk itu dirancang agar berkaitan dengan koleksi mereka yang terpaksa duduk di sana dan mendengarkannya selama enam jam sehari.

“Kami akan memanggil Dr. Milton Fricke,” ia mengumumkan.

Dr. Fricke disumpah dan didudukkan, dan bailiff menyesuaikan mikrofonnya. Dengan segera diketahui bahwa resumenya banyak sekali—berbagai gelar dari banyak sekolah, ratusan artikel yang sudah diterbitkan, tujuh belas buku, pengalaman mengajar selama ber-* tahun-tahun, beberapa dekade riset terhadap efek rokok. Ia seorang laki-laki berperawakan kecil dengan wajah bulat sempurna dilengkapi kacamata berbingkai hitam; ia kelihatan seperti jenius. Rohr menghabiskan hampir satu jam untuk menyebutkan koleksi kredensial-nya yang mencengangkan. Ketika Fricke. akhirnya ditawarkan sebagai saksi ahli, Durr Cable tidak ingin mengajukan pertanyaan apa pun. “Kami menetapkan bahwa Dr. Fricke qualified dalam bidangnya,” kata Cable, nadanya seperti meremehkan.

Selama bertahun-tahun ini bidangnya telah dipersempit, sehingga kini Dr. Fricke menghabiskan sepuluh jam sehari untuk meneliti pengaruh kebiasaan merokok pada tubuh manusia. Ia adalah direktur Smoke Free Research Institute di Rochester, New York. Para juri

123

segera mengetahui bahwa ia sudah dipekerjakan oleh Rohr sebelum Jacob Wood meninggal dunia. dan ia hadir dalam autopsi terhadap Mr. Wood yang dilakukan empat jam setelah kematiannya. Dan ia mengambil beberapa foto dari autopsi tersebut.

Rohr menegaskan adanya foto-foto itu, dan meyakinkan para juri bahwa mereka pun kelak akan melihatnya. Akan tetapi Rohr belum siap. Ia perlu melewatkan beberapa lama dengan pakar kimia dan farma-kologi rokok yang luar biasa ini. Fricke terbukti profesor yang andal. Dengan hati-hati ia menjelajahi penelitian medis dan ilmiah yang membosankan itu, menyisihkan kata-kata sukar dan memberi juri apa yang bisa mereka pahami. Ia santai dan sangat percaya diri.

Ketika Yang Mulia mengumumkan reses makan siang, Rohr memberitahu sidang bahwa Dr. Fricke •akan memberikan kesaksian sepanjang hari itu.

Santapan siang sudah menunggu di dalam ruang juri. Mr. O’Reilly sendiri yang menangani penyaji-annya dengan menyampaikan permintaan maaf atas apa yang terjadi sehari sebelumnya.

“Ini piring kertas dan garpu plastik,” kata Nicholas ketika mereka duduk di kursi masing-masing di sekeliling meja. Ia tidak duduk. Mr. O’Reilly memandang Lou Dell, yang berkata, “Jadi?”

“Jadi, kami secara spesifik mengatakan ingin makan dengan piring keramik dan garpu asli. Bukankah kami sudah memberitahukan hal itu?” Suaranya meninggi, dan beberapa anggota juri memalingkan wajah. Mereka hanya ingin makan.

“Apa salahnya dengan piring kertas?” Lou Dell bertanya resah, poninya bergetar.

124

“Piring kertas menyerap minyak, oke? Jadi basah dan meninggalkan noda di meja, kau mengerti? Itulah sebabnya aku minta piring asli. Dan garpu asli.” Ia mengambil garpu plastik, mematahkannya jadi dua. dan melemparkannya ke dalam tong sampan. “Dan yang membuatku marah, Lou Dell, saat ini Hakim, para pengacara, klien mereka, para saksi, para asisten dan penonton, serta semua orang lain yang terlibat dalam sidang ini sedang duduk menghadapi santap siang lezat di restoran yang nyaman, dengan piring sungguhan, gelas sungguhan, dan garpu sungguhan yang tidak patah jadi dua. Dan mereka memesan makanan lezat dari buku menu tebal. Itulah yang membuatku marah. Kami, para juri, orang-orang paling penting dalam sidang keparat ini, kami terkurung di sini seperti bocah kelas satu SD menunggu diberi jatah kue dan limun.”

“Makanannya cukup enak,” Mr. O’Reilly membela diri.

“Kurasa kau berlebihan,” kata Mrs. Gladys Card, seorang wanita rapi dengan rambut putih dan suara manis.

“Kalau begitu, makanlah sandwich lembekmu dan jangan ikut campur,” bentak Nicholas, agak kasar.

“Apakah kau akan jual lagak tiap hari saat makan siang?” tanya Frank Herrera, pensiunan kolonel dari daerah Utara. Herrera berperawakan pendek gemuk dengan tangan kecil dan banyak pendapat tentang segala hal. Dialah satu-satunya yang benar-benar ke-cewa ketika tidak terpilih sebagai ketua.

Jerry Fernandez sudah memberinya julukan Napoleon, disingkat Nap atau Kolonel Terbelakang sebagai alternatif.

125

“Kemarin tidak ada keluhan,” Nicholas balas membentak.

“Ayo kita makan. Aku kelaparan,” kata Herrera, membuka bungkusan sandwich. Beberapa lainnya berbuat sama.

Aroma ayam panggang dan kentang goreng membubung dari meja. Sewaktu Mr O’Reilly selesai membuka tempat salad pasta, ia berkata, “Dengan senang hati akan saya bawakan piring dan garpu Senin nanti. Tidak ada masalah.”

Nicholas berkata pelan, ‘Terima kasih,” dan duduk.

Kesepakatan itu dibuat dengan mudah. Detail-detailnya diselesaikan di antara dua sahabat lama sambil bersantap siang selama tiga jam di “21” Club di Fifty-second Street. Luther Vandemeer, CEO dari Trellco, dan mantan anak didiknya, Larry Zell, kini CEO dari Listing Foods, telah membahas pokok-pokoknya di telepon, tetapi perlu bertemu langsung sambil makan dan minum anggur, sehingga tidak ada yang bisa mendengar mereka. Vandemeer memberikan latar belakang ancaman senus terakhir yang terjadi di Biloxi, dan tidak menyembunyikan kekhawatirannya. Benar, Trellco tidak disebut sebagai tergugat, namun seluruh industri itu sedang dalam bahaya dan the Big Four berdiri teguh. Zell tahu hal ini. Ia pernah bekerja di Trellco selama tujuh belas tahun, dan sudah sejak lama belajar membenci pengacara.

Ada sebuah jaringan toko bernama Hadley Brothers di Pensacola, yang kebetulan memiliki beberapa toko di sepanjang pantai Mississippi. Salah satu toko itu ada di Biloxi, dan manajernya adalah seorang laki—

126

laki muda kulit hitam bernama Lonnie Shaver. Lonnie Shaver kebetulan menjadi anggota juri di sana. Vandemeer ingin agar SuperHouse, jaringan toko lain yang lebih besar di Georgia dan Carolina, membeli Hadley Brothers, berapa pun harganya. SuperHouse adalah satu dari sekitar dua puluh divisi Listing Foods. Transaksi kecil—anak buah Vandemeer sudah menghitungnya—Listing hanya butuh enam juta dolar. Hadley Brothers dimiliki oleh swasta perorangan, jadi transaksi ini tidak akan menarik perhatian. Tahun lalu Listing Foods meraih penjualan kotor sebesar dua miliar dolar, jadi enam juta dolar bukanlah urusan besar. Perusahaan itu punya 80 juta dolar yang tunai dan hanya sedikit utang. Dan untuk mempermanis kesepakatan itu, Vandemeer berjanji bahwa dalam dua tahun Trellco akan membeli Hadley Brothers secara diam-diam bila Zell berniat melepasnya.

Transaksi ini bisa dipastikan akan lancar. Listing dan Trellco sepenuhnya independen, tidak berkaitan. Listing sudah memiliki bisnis jaringan toko bahan pangan. Trellco tidak terkait langsung dengan gugatan perkara di sana. Ini adalah perjanjian sederhana antara dua sahabat lama.

Kelak, tentu saja, perlu ada perombakan pegawai dalam Hadley Brothers, salah satu penyesuaian biasa yang selalu ada dalam pembelian perusahaan atau merger atau apa pun namanya. Vandemeer perlu menyampaikan beberapa instruksi untuk dikirimkan Zell ke bawahannya, hingga tekanan yang tepat bisa ditimpakan pada Lonnie Shaver.

Dan hal itu harus cepat-cepat dikerjakan. Sidang ini dijadwalkan akan berlangsung selama empat

127

minggu. Minggu pertama akan berakhir beberapa jam lagi.

Sesudah tidur siang singkat di kantornya di pusat kota Manhattan, Luther Vandemeer menelepon sebuah nomor di Biloxi dan meninggalkan pesan agar Rankin Fitch meneleponnya di rumah keluarga Hampton di akhir pekan.

Kantor Fitch terletak di belakang toko kosong, toko murahan yang sudah lama tutup. Sewanya murah, tempat parkir luas, tempat itu tidak mencolok, dan gedung pengadilan bisa dicapai dalam beberapa menit berjalan kaki. Di sana ada lima ruangan luas, semuanya dibangun dengan tergesa-gesa, dinding plywood-nya tidak bercat; serbuk gergaji masih bertebaran di lantai. Perabotannya adalah barang sewaan, murah, dan terutama terdiri atas meja lipat serta kursi plastik. Penerangannya banyak memakai lampu neon. Pintu-pintu depannya tertutup rapat. Dua laki-laki bersenjata terus-menerus menjaga tempat itu.

Meski sewanya sangat murah, peralatan di tempat itu luar biasa mahal. Komputer dan monitor ada di mana-mana. Kabel-kabel faks, mesin fotokopi, dan telepon simpang siur di lantai, tanpa pola yang jelas. Fitch punya teknologi terbaru, dan orang-orang untuk mengoperasikannya.

Dinding salah satu ruangan ditutupi foto-foto besar kelima belas anggota juri. Printout komputer ditempelkan pada dinding lain. Satu denah tempat duduk berukuran besar tergantung pada dinding lain lagi, dan seorang pegawai sedang menambahkan data pada blok di bawah nama Gladys Card.

128

Ruangan di belakang adalah yang paling sempit, dan tidak bisa dimasuki oleh pegawai biasa, meskipun mereka semua tahu apa yang terjudi di dalamnya. Pintunya terkunci secara otomatis dari dalam, dan Fitch memiliki kunci satu-satunya. Ruang itu adalah ruang pengamatan, tanpa jendela, sebuah layar besar di dinding, dan setengah lusin kursi yang nyaman. Jumat sore. Fitch dan dua orang pakar juri duduk dalam kegelapan dan menatap layar itu. Pakar-pakar itu tidak suka berbasa-basi dengan Fitch, dan Fitch pun tidak berniat bercakap-cakap dengan mereka. Diam.

Kamera yang digunakan adalah Yumara XLT-2, unit kecil yang bisa dipasang hampir di mana saja. Lensanya berdiameter setengah inci, dan kamera itu sendiri bobotnya kurang dari dua kilo. Perangkat itu dipasang rapi oleh salah satu anak buah Fitch, dan kini ditempatkan dalam tas kulit cokelat yang lusuh di lantai ruang sidang di bawah meja pembela, dan .•?ecara diam-diam dijaga oleh Oliver McAdoo, pengacara dari Washington dan satu-satunya orang asing yang dipilih Fitch untuk duduk bersama Cable dan lainnya. Tugas McAdoo adalah memikirkan strategi, tersenyum kepada para juri, dan menyediakan dokumen-dokumen untuk Cable. Tugasnya yang sebenarnya. hanya diketahui oleh Fitch dan beberapa orang lain, adalah berjalan ke ruang sidang setiap hari, membawa segala alat tempur, termasuk dua koper cokelat besar yang persis sama, salah satunya berisi kamera tersebut, dan duduk di meja pembela. Setiap pagi ia adalah pengacara pertama dari pihak tergugat yang datang di ruang sidang. Ia meletakkan

129

tas itu tegak lurus, membidikkannya ke boks juri, kemudian cepat-cepat menghubungi Fitch dengan telepon seluler untuk menyesuaikan peralatan.

Dalam sidang itu ada sekitar dua puluh tas kerja berserakan di dalam ruang sidang, kebanyakan berkumpul di atas atau di bawah meja para pengacara, tapi beberapa ditumpuk jadi satu dekat tempat duduk panitera, beberapa di bawah kursi tempat pengacara-pengacara dengan kedudukan lebih rendah bekerja, beberapa bahkan disandarkan pada jerjak pembatas, seperti ditinggalkan tak terurus. Meskipun ukuran dan warnanya beragam, sepintas kumpulan tas itu kelihatan hampir sama, termasuk milik McAdoo. Yang satu sekali-sekali ia buka untuk mengambil kertas-kertas, tapi tas berisi kamera itu terkunci begitu rapat, sehingga perlu peledak untuk membukanya. Strategi Fitch sederhana saja; seandainya, karena suatu alasan, kamera itu sampai menarik perhatian, maka dalam kekacauan yang timbul McAddo akan menukar tas-tas itu dan berharap ia tidak ketahuan.

Kemungkinan tepergok sangatlah kecil. Kamera itu tidak menimbulkan bunyi dan mengirimkan sinyal-sinyal yang tidak dapat didengar manusia. Tas itu diletakkan dekat beberapa tas lain, dan sekali-sekali terdesak atau bahkan tertendang, tapi penyesuaian kembali bisa dilakukan dengan mudah. McAdoo hanya perlu mencari tempat sepi dan menelepon Fitch. Mereka telah menyempurnakan sistem ini dalam sidang Cimmino tahun lalu di AI lento wn.

Teknologinya mencengangkan. Lensa mungil itu bisa menangkap keseluruhan boks juri dan mengirimkan kelima belas wajah di situ dalam gambar ber—

130

warna ke ruang tempat dua orang konsultan juri di kantor Fitch duduk sepanjang hari dan mengamati setiap gerakan kecil atau juri yang menguap.

Tergantung pada apa yang terjadi di boks juri, Fitch kemudian akan bercakap-cakap dengan Dun-Cable, memberitahunya bahwa orang-orang mereka di ruang sidang sudah menangkap ini dan itu. Baik Cable maupun pengacara lokal itu takkan pernah tahu tentang kamera tersebut.

Jumat siang, kamera itu merekam tanggapan yang dramatis. Sayangnya, fokusnya terpaku diam pada boks juri. Orang-orang Jepang itu masih harus merancang kamera yang bisa melacak dari dalam tas terkunci dan mengarahkan fokus pada kejadian menarik lainnya. Jadi, kamera itu tidak bisa melihat foto-foto pembesaran paru-paru Jacob Wood yang hitam dan layu, tapi sudah pasti para juri melihatnya. Sementara Rohr dan Dr. Fricke menguraikan sesuai skenario mereka, para juri, tanpa kecuali, terpana ngeri melihat luka-luka menyeramkan yang timbul perlahan-lahan selama 35 tahun dalam tubuh Jacob Wood.

Waktu yang dipilih Rohr benar-benar sempurna. Dua foto itu diletakkan di atas tripod besar di depan tempat saksi, dan ketika Dr. Fricke menyelesaikan kesaksiannya pada pukul lima seperempat, tibalah saatnya untuk bubar dan istirahat akhir pekan. Gambaran terakhir dalam pikiran para juri, yang akan terpatri selama dua hari mendatang dan bakal terbukti tak tergoyahkan, adalah gambar paru-paru yang hangus seperti arang, diambil dari jenazah Jacob Wood dan diperagakan di sehelai kain putih.

131

Delapan

Easter meninggalkan jejak yang mudah diikuti sepanjang akhir pekan. Hari Jumat ia meninggalkan ruang sidang, dan berjalan lagi ke O’Reilly’s Deli, bercakap-cakap tenang dengan Mr. O’Reilly. Mereka terlihat sedang tersenyum. Easter membeli sekantong penuh makanan dan minuman dalam cangkir tinggi. Kemudian ia langsung pulang ke apartemennya dan tidak pergi-pergi lagi. Pukul delapan pagi hari Sabtu, ia mengendarai mobilnya ke mail, tempat ia bekerja menjual komputer dan segala peralatan dalam shift dua belas jam. Ia makan taco dan kacang goreng di kedai, bersama seorang remaja bernama Kevin, rekan sekerjanya. Tidak terlihat ada komunikasi dengan perempuan yang mirip dengan yang sedang mereka can. Ia kembali ke apartemennya sesudah bekerja, dan tidak pergi ke mana-mana.

Hari Minggu membawa kejutan menyenangkan. Pada pukul delapan pagi, ia meninggalkan apartemen dan pergi ke pelabuhan kapal-kapal kecil Biloxi, menemui Jerry Fernandez. Mereka terakhir kali dilihat meninggalkan dermaga dengan perahu pemancing ukuran sembilan meter bersama dua orang lain, yang

132

menurut dugaan adalah teman-teman Jerry. Mereka kembali delapan setengah jam kemudian dengan wajah merah, satu kotak pendingin berisi beragam spesies ikan air laut, dan kapal yang penuh dengan kaleng bir kosong.

Memancing adalah hobi pertama Nicholas Easter ang terungkap, dan Jerry adalah teman pertama yang bisa mereka temukan.

Tidak ada tanda-tanda dari perempuan itu, dan Fitch memang tidak berharap akan menemukannya. Wanita itu terbukti cukup sabar; ini saja sudah menjengkelkan. Isyarat kecil pertama darinya itu sudah bisa dipastikan akan disusul dengan yang kedua dan ketiga. Saat-saat menunggu itu jadi seperti siksaan.

Akan tetapi, Swanson, mantan agen FBI itu, yakin wanita itu akan kembali memperlihatkan diri minggu ini. Rencana jahatnya, apa pun bentuknya, diperkirakan membutuhkan kontak lebih lanjut.

Wanita itu muncul lagi pada pagi hari Senin, setengah jam sebelum sidang dimulai. Para pengacara sudah tiba, menyusun rencana dalam kelompok-ke-lompok kecil di sekitar ruang sidang. Hakim Harkin ada di ruang kerjanya, sedang mengurus masalah darurat dalam suatu kasus kriminal. Para juri berkumpul dalam ruang juri. Fitch ada di kantornya di ujung jalan, dalam lubang perlindungan tempat memberikan komando. Seorang asisten, laki-laki muda bernama Konrad, yang sangat ahli dengan telepon, penyadap, kaset, dan alat-alat pengawas berteknologi tinggi, masuk dari pintu yang terbuka dan berkata, “Ada telepon yang mungkin ingin Anda terima.”

133

Fitch, seperti biasa, menatap Konrad dan langsung menganalisis situasi. Semua telepon untuknya, bahkan dari sekretarisnya yang terpercaya di Washington, harus melalui front desk lebih dulu dan baru disampaikan kepadanya melalui sistem interkom yang terpasang dalam telepon itu. Selalu demikianlah caranya.

“Kenapa?” ia bertanya dengan sangat curiga. “Dia mengatakan punya pesan lain untuk Anda.” “Namanya?”

“Dia tidak mau mengatakannya. Dia tidak banyak bicara, tapi bersikeras bahwa ini penting.”

Fitch kembali terdiam cukup lama, memandangi lampu yang berkedip-kedip pada salah satu telepon itu. “Tahu bagaimana dia mendapatkan nomor ini?”

‘Tidak.”

“Apakah kau melacaknya?”

“Ya. Beri saya satu menit. Usakakan agar dia tetap bicara.”

Fitch menekan tombol dan mengangkat gagang telepon itu. “Yeah,” katanya semanis mungkin.

“Apakah ini Mr. Fitch?” perempuan itu bertanya, cukup ramah.

“Benar. Dan siapakah ini?”

“Marlee.”

Dia menyebutkan nama! la diam sedetik. Setiap telepon secara otomatis direkam, jadi ia bisa menga-nalisisnya nanti. “Selamat pagi, Marlee. Apakah Anda punya nama keluarga?”

“Yeah. Juri nomor 12, Fernandez, dua belas menit lagi akan memasuki ruang sidang sambil membawa majalah Sports Illustrated, terbitan tanggal 12 Oktober

134

dengan gambar Dan Marino di sampulnya.”

“Begitu,” katanya, seolah-olah membuat catatan. “Ada yang lainnya?”

‘Tidak. Tidak sekarang.”’

“Kapankau akan menelepon lagi?”

“Entahhih.”

“Bagaimana kau mendapatkan nomor ini?”

“Gampang. Ingat, nomor 12, Fernandez.” Terdengar bunyi klik, dan suaranya pun lenyap. Fitch menekan nomor lain, kemudian sebuah kode yang terdiri atas dua belas angka. Seluruh percakapan itu diulang kembali pada speaker di atas telepon.

Konrad menerobos masuk dengan sehelai printout. “Deri telepon umum di sebuah toko, di Gulfport.”

“Kejutan hebat,” kata Fitch sambil meraih jas dan meluruskan dasi. “Kurasa aku akan pergi ke pengadilan.”

Nicholas menunggu sampai sebagian besar rekannya duduk atau berdiri di dekatnya, dan suara percakapan mereka mereda. Lalu ia berkata keras, “Nan, apakah sepanjang akhir pekan ini ada yang disuap atau dibuntuti?” Beberapa orang tersenyum dan tertawa sedikit, tapi tidak ada yang mengaku.

“Suaraku memang tidak untuk diperjual-belikan, tapi sudah pasti bisa disewakan,” kata Jerry Fernandez, mengulangi lelucon yang didengarnya dan Nicholas di kapal pancing kemarin. Lelucon ini menggelikan bagi semua orang, kecuali Herman Grimes.

“Kenapa dia terus menguliahi kita seperti itu?” tanya Millie Dupree, jelas senang bahwa seseorang

135

telah mengendurkan suasana kaku dan membangkitkan semangat untuk mulai bergosip. Yang lain bergeser lebih dekat dan mencondongkan badan untuk mendengarkan pendapat si mantan mahasiswa hukum mengenai persoalan ini. Rikki Coleman tetap duduk di sudut, membaca surat kabar. Ia sudah mendengar pembicaraan itu.

“Kasus-kasus seperti ini sudah pernah disidangkan,” Nicholas menerangkan dengan enggan. “Dan ada yang main gila dengan jurinya.”

“Kurasa tidak seharusnya kita membicarakan persoalan ini,” kata Herman.

“Mengapa tidak? Tidak ada bahaya apa pun. Kita tidak membicarakan bukti atau kesaksian,” kata Nicholas tegas. Herman tak yakin.

“Hakim mengatakan jangan bicara tentang sidang ini,” protesnya, menunggu seseorang memberikan dukungan. Namun tidak ada sukarelawan. Nicholas memegang kendali, dan berkata, ‘Tenanglah, Herman. Ini bukan mengenai bukti atau hal-hal yang akan kita putuskan kelak. Ini tentang…” Ia bimbang sebentar, agar omongannya lebih mengesankan, lalu meneruskan, “Ini tentang penyuapan juri.”

Lonnie Shaver menurunkan printout inventaris toko makanannya dan bergeser lebih dekat ke meja. Rikki sekarang mendengarkan. Jerry Fernandez sudah mendengar semuanya di perahu kemarin, tapi cerita ini masih tetap sangat menarik.

“Kurang-lebih tujuh tahun yang lalu, pernah ada sidang perkara tembakau yang amal mirip dengan ini di Quitman County, Mississippi, di daerah Delta. Beberapa dari kalian mungkin masih ingat. Perkara

136

itu menyangkut perusahaan rokok lain, tapi beberapa pemain dari kedua belah pihak tetap sama. Dan ada beberapa perilaku yang cukup memalukan, baik sebelum dewan juri dipilih maupun sesudah sidang itu dimulai. Hakim Harkin tentu sudah mendengar semua kisah ini, dan dia mengawasi kita dengan sangat ketat. Banyak orang yang mengawasi kita.”

Sesaat Millie memandang sekeliling meja. “Siapa?” ia bertanya.

“Kedua belah pihak.” Nicholas memutuskan untuk bermain adil, sebab dalam sidang-sidang terdahulu, kedua belah pihak memang bersalah melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas. “Kedua pihak membayar orang-orang yang dinamakan konsultan juri, dan mereka datang ke sini dari seluruh penjuru negeri untuk membantu memilih dewan juri yang sempurna. Juri yang sempurna, sudah tentu, bukanlah yang adil, melainkan yang akan memberikan keputusan sesuai dengan yang mereka inginkan. Mereka meneliti kita sebelum kita dipilih. Mereka…”

“Bagaimana cara mereka melakukannya?” Mrs. Gladys Card menyela.

“Well, mereka memotret rumah dan apartemen kita, mobil kita, lingkungan tempat tinggal kita, kantor kita, anak-anak kita serta sepeda mereka, bahkan kita sendiri. Semua ini legal dan sesuai dengan etika, tapi mereka sudah hampir melewati batas. Mereka memeriksa ^catatan pemerintah, dokumen-dokumen seperti berkas pengadilan dan surat pajak kita, dalam upaya untuk mengenai diri kita. Mereka bahkan mungkin berbicara dengan sahabat-sahabat, rekan-rekan kerja, dan tetangga-tetangga kita.

137

Hal ini terjadi dalam setiap persidangan besar belakangan ini.”

Sebelas orang itu mendengarkan dan menatap, beringsut lebih dekat dan mencoba mengingat apakah mereka pernah melihat orang-orang tak dikenal yang mengintai di sudut-sudut dengan kamera mereka. Nicholas minum kopinya seteguk, lalu meneruskan, “Sesudah dewan juri terpilih, mereka berganti siasat sedikit. Panel itu sudah dipersempit dari dua ratus, menjadi lima belas, dengan demikian kita jadi jauh lebih mudah diawasi. Sepanjang sidang, masing-masing pihak akan memasang satu kelompok konsultan juri di ruang sidang, mengawasi kita dan berusaha membaca reaksi kita. Mereka biasanya duduk pada dua deret pertama, meskipun mereka juga sering berpindah-pindah “

“Kau tahu siapa mereka?” Millie bertanya dengan perasaan tak percaya.

“Aku tidak tahu nama-namanya, tapi mereka cukup mudah dikenali. Mereka memakai pakaian bagus, dan terus-menerus menatap kita.”

“Tadinya kukira orang-orang itu wartawan,” kata Kolonel Purnawirawan Frank Herrera, tak bisa mengabaikan percakapan itu.

“Aku tidak melihatnya,” Herman Grimes berkata, dan semua orang tersenyum, bahkan si Poodle.

“Coba perhatikan mereka hari ini,” kata Nicholas. “Biasanya mereka mulai di belakang pengacara masing-masing pihak, Sebenarnya aku punya gagasan bagus. Ada seorang wanita yang aku yakin adalah konsultan juri di pihak tergugat. Umurnya sekitar empat puluh, berperawakan besar dan berambut pen—

138

dek tebal. Sampai sejauh ini, setiap pagi dia duduk di deretan depan di belakang Durwood Cable. Saat keluar pagi ini, mari kita menatapnya. Kita semua, dua belas orang, memandang tajam-tajam padanya agar dia gentar.”

“Aku juga?” tanya Herman.

“Ya, Herm, kau juga. Berpalinglah ke arah pukul sepuluh, dan menatapnya bersama kami.”

“Mengapa kita main-main seperti ini?” tanya Sylvia “Poodle” Taylor-Tatum.

“Mengapa tidak? Apa lagi yang harus kita kerjakan selama delapan jam mendatang?”

“Aku suka,” kata Jerry Fernandez. “Mungkinkah ini akan membuat mereka berhenti menatap kita?”

“Berapa lama kita akan melakukannya?”

“Mari kita lakukan saat Hakim Harkin membacakan pertanyaan-pertanyaan pagi ini. Hal itu akan makan waktu sepuluh menit.” Mereka kurang-lebih setuju dengan rencana Nicholas.

Lou Dell datang menjemput tepat pukul sembilan, dan mereka meninggalkan ruang juri. Nicholas memegang dua majalah—salah satunya adalah Sports Illustrated terbitan 12 Oktober. Ia berjalan di samping Jerry Fernandez hingga mereka sampai di pintu ke ruang sfdang, dan sewaktu mereka masuk satu per satu, ia menoleh wajar kepada teman barunya dan berkata, “Mau sesuatu untuk dibaca?”

Majalah itu sedikit menekan perut Jerry, maka dengan sama wajarnya Jerry menerimanya dan berkata, “Baiklah, terima kasih.” Mereka berjalan memasuki pintu ruang sidang.

Fitch tahu bahwa Fernandez, juri nomor 12, akan

139

membawa majalah tersebut, tapi melihatnya langsung tetap membuatnya tersentak. Diawasinya Fernandez berjalan di deretan belakang dan duduk. Fitch sudah melihat sampul majalah itu di kios koran yang terpisah empat blok dari gedung pengadilan, dan ia tahu bahwa itu adalah gambar Marino berkaus biru. lengannya tertekuk, siap melemparkan bola.

Perasaan terkejut itu dengan cepat berubah jadi perasaan bergairah. Gadis bemama Marlee itu bekerja di luar, sementara seseorang dalam dewan juri menggarap bagian dalam. Mungkin ada dua atau tiga atau empat orang anggota dewan juri yang berkomplot dengannya. Tidak jadi soal bagi Fitch. Makin banyak makin baik. Orang-orang ini menggelar meja permainan. dan Fitch siap bermain.

Konsultan juri itu bernama Ginger, dan ia bekerja untuk firma Carl Nussman di Chicago. Sudah puluhan sidang ia ikuti. Biasanya ia menghabiskan setengah hari di ruang sidang, berpindah tempat saat reses, menanggalkan jas, melepaskan kacamatanya Ia seorang profesional kawakan dalam meneliti para juri, dan ia sudah melihat semuanya. Ia duduk di deretan depan. di belakang para pembela; seorang kolega duduk beberapa meter darinya sambil membaca koran ketika para anggota juri duduk “

Ginger memandang pada dewan juri dan menunggu Yang Mulia memberi salam pada mereka. Sebagian besar juri mengangguk pada Hakim, kemudian semuanya, termasuk juri yang tunanetra, berpaling dan menatap langsung padanya. Satu-dua orang me-nyunggingkan senyum, tapi kebanyakan tampak cemas

140

Ia memalingkan wajah.

Hakim Harkin terus membaca naskahnya—satu pertanyaan yang tak menyenangkan, di ikuti yang berikutnya—tapi dengan cepat ia melihat bahwa perhatian dewan jurinya tertuju pada salah satu penonton.

Mereka terus menatap, bersama-sama.

Nicholas menahan diri agar tidak melolong. Keberuntungannya sungguh luar biasa. Ada sekitar dua puluh orang duduk di sebelah kiri ruang sidang, di belakang pembela, dan di belakang Ginger duduklah sosok seram Rankin Fitch. Dari boks juri, Fitch duduk pada garis pandang yang sama dengan Ginger, dan dari jarak lima belas meter sulit mengatakan dengan tepat siapa yang sedang ditatap oleh para juri—^Ginger atau Fitch.

Ginger merasa dirinyalah yang sedang dipandang. Ia mencari beberapa catatan untuk dipelajari, sementara koleganya bergegas menjauh.

Fitch merasa dirinya ditelanjangi ketika dua belas mata itu mengamatinya dari boks juri. Butiran-butiran keringat menyembul di atas alisnya. Hakim mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan. Satu-dua pengacara menengok ke belakang dengan tingkah canggung.

“Teruslah menatap,” kata Nicholas pelan. tanpa menggerakkan bibir.

Wendall Rohr melirik ke balik pundak untuk melihat siipa yang duduk di sana. Ginger sibuk dengan tali sepatunya. Mereka terus menatap

Belum pernah terdengar ada hakim yang meminta dewan juri agar memperhatikan. Harkin pernah ter—

141

goda untuk melakukan hal itu, tapi biasanya kepada seorang anggota juri yang sudah jemu mendengarkan kesaksian, sehingga tertidur dan mendengkur. Maka ia bergegas membaca pertanyaan-pertanyaan membosankan itu, lalu berkata keras, “Terima kasih, Bapak-Ibu sekalian. Sekarang kita akan melanjutkan dengan kesaksian Dr. Milton Fricke.”

Ginger tiba-tiba harus pergi ke kamar kecil dan meninggalkan ruang sidang ketika Dr. Fricke masuk dari pintu samping dan mengambil tempat di kursi saksi.

Cable hanya punya beberapa pertanyaan dalam pemeriksaan silang; ia berbicara dengan sopan dan menunjukkan sikap sangat hormat pada Dr. Fricke. Ia tidak hernial berdebat mengenai ilmu pengetahuan dengan ilmuwan, namun ia berharap bisa memberikan sedikit kesan bagus kepada juri. Fricke mengaku bahwa tidak seluruh kerusakan paru-paru Mr. Wood diakibatkan oleh merokok Bristol selama hampir tiga puluh tahun. Jacob pernah lama bekerja sekantor bersama perokok-perokok lain, dan, ya, memang benar sebagian besar kerusakan paru-parunya mungkin disebabkan oleh asap rokok orang lain. “Tapi asap rokok tetap asap rokok,” Dr. Fricke memperingatkan Cable, yang langsung setuju.

Dan bagaimana dengan polusi udara? Mungkinkah menghirup udara kotor juga memperburuk kondisi paru-paru? Dr. Fricke mengaku bahwa ini juga suatu kemungkinan.

Cable mengajukan suatu pertanyaan berbahaya dan ia melakukannya dengan mulus. “Dr. Fricke, bila Anda melihat semua kemungkinan penyebabnya—

142

merokok langsung, merokok tidak langsung, polusi udara, dan sebab-sebab lain yang belum kita sebutkan—bisakah Anda mengatakan sejauh mana kerusakan paru-paru itu disebabkan oleh mengisap rokok Bristol?”

Dr. Fricke memusatkan perhatian pada pertanyaan ini, lalu berkata, “Mayoritas kerusakan itu.”

“Berapa banyak—60 persen, 80 persen? Bisakah ilmuwan medis seperti Anda memberikan perkiraan persentasenya?”

Itu tidak mungkin, dan Cable tahu benar hal itu. Ia punya dua orang pakar yang siap memberikan bantahan bila Fricke melangkah keluar batas dan berspekulasi terlaiu jauh.

“Saya tidak bisa melakukannya,” jawab Dr. Fricke.

‘Terima kasih. Satu pertanyaan terakhir, Dokter. Berapa persenkah dari seluruh perokok yang akhirnya menderita kanker paru-paru?”

“Tergantung dari penelitian mana yang Anda percayai.”

“Anda tidak tahu?”

“Saya punya gambaran.”

“Kalau begitu, jawablah pertanyaan ini.”

“Kurang-lebih 10 persen.”

“Tidak ada pertanyaan lebih lanjut.”

“Dr. Fricke, Anda dipersilakan meninggalkan ruang sidang,” kata Yang Mulia. “Mr. Rohr, silakan panggil saksi Anda selanjutnya.”

“Dr. Robert Bronsky.”

Ketika dua saksi itu berpapasan di depan meja Hakim, Ginger masuk kembali ke ruang sidang dan duduk di deret belakang, sejauh mungkin dari juri.

143

Fitch mengambil kesempatan jeda singkat itu untuk pergi. Jose melihatnya di atrium, dan mereka bergegas keluar dari gedung pengadilan, kembali ke kantor sempit mereka.

Bronsky juga seorang peneliti medis yang sangat terpelajar dan memiliki gelar, serta sudah menerbitkan artikel hampir sama banyaknya dengan Fricke. Mereka kenal baik, sebab mereka sama-sama bekerja pada pusat penelitian di Rochester. Dengan senang hati Rohr menuntun Bronsky menguraikan asal-usul-nya yang hebat. Setelah ia ditetapkan sebagai saksi ahli, mereka mulai membahas pokok-pokok aspek klinisnya:

Asap tembakau merupakan sesuatu yang sangat kompleks; lebih dari 4.000 senyawa telah diidentifikasi dalam komposisinya. Termasuk di dalamnya adalah 16 macam karsinogen yang sudah dikenal, 14 macam alkali, serta banyak lagi senyawa dengan aktivitas biologis tertentu. Asap rokok merupakan campuran dari berbagai gas dalam partikel-partikel yang sangat halus, dan saat seseorang menghirupnya, sekitar 50 persen dari asap yang masuk akan tertahan dan tertanam pada dinding saluran paru-paru.

Dua orang pengacara dari regu Rohr cepat-cepat memasang tripod besar di tengah ruang sidang, dan Dr. Bronsky meninggalkan kursi saksi untuk memberikan sedikit kuliah. Bagan pertama berisi daftar semua senyawa yang diketahui ada dalam asap rokok. Ia tidak menyebutkan semuanya, sebab itu tak perlu. Setiap nama kelihatan mengancam, dan bila dilihat sebagai satu kelompok, nama-nama itu tampak mematikan.

144

Bagan berikutnya merupakan daftar karsinogen yang sudah dikenal. dan Bronsky memberikan ulasan ringkas mengenai masing-masing karsinogen. Di samping enam belas macam ini, katanya sambil mengetukkan tongkat penunjuk di tangan kirinya, mungkin masih ada karsinogen lain yang belum terdeteksi dalam asap rokok. Dan ada kemungkinan dua atau lebih karsinogen ini bisa berkombinasi, saling memperkuat sehingga menimbulkan kanker.

Sepanjang pagi itu, mereka membahas karsinogen secara panjang-lebar. Setiap bagan baru membuat Jerry Fernandez dan perokok-perokok lain merasa makin mual, dan Sylvia si Poodle hampir berkunang-kunang ketika mereka meninggalkan boks juri untuk makan siang. Yang mengherankan, mereka berempat lebih dulu pergi ke “smoking hole”, istilah yang dipakai Lou Dell, untuk cepat-cepat merokok sebelum bergabung dengan yang lain untuk bersantap siang.

Hidangan makan siang sudah menunggu, dan jelaslah bahwa kekacauan sudah diluruskan. Mejanya diatur dengan perangkat makan dari porselen dan es tehnya dituang ke dalam gelas asli. Mr. O’Reilly menghidangkan sandwich sesuai keinginan pemesan-nya, dan untuk yang lain ia membuka panci-panci besar berisi sayur serta pasta yang masih mengepulkan uap. Nicholas memberikan pujian banyak-banyak.

Fitch berada di dalam ruang pengamat, bersama dua pakar jurinya, ketika telepon tersebut masuk. Konrad dengan gelisah mengetuk pintu. Sudah ditetapkan perintah tegas yang melarang orang mendekati ruangan itu tanpa seizin Fitch.

145

“Dari Marlee. Saluran 4,” Konrad berbisik, dan Fitch diam membeku mendengar kabar itu. Kemudian ia berjalan cepat-cepat ke pintu kantomya, melewati lorong.

“Lacak,” perintahnya.

“Sudah kami kerjakan.”

“Aku yakin dia bicara di telepon umum.”

Fitch menekan tombol 4 pada pesawat teleponnya. lalu berkata, “Halo.”

“Mr. Fitch?” jawab suara yang sudah dikenal itu.

“Ya.”

“Apakah Anda tahu mengapa mereka menatap Anda?” ‘Tidak.”

“Akan kuceritakan kepada Anda besok ” “Katakanlah sekarang.”

‘Tidak. Sebab Anda melacak telepon ini. Dan bila Anda terus melakukannya, aku akan berhenti menelepon.”

“Oke. Aku akan berhenti melacak.” “Dan Anda berharap aku percaya?” “Apa yang kauinginkan?”

“Nanti, Fitch.” Ia memutus sambungan. Fitch memutar kembali percakapan itu sambil menunggu hasil pelacakan. Konrad muncul dengan kabar sesuai yang sudah diduga, bahwa telepon itu di lakukan dari telepon umum, kali ini di sebelah mall di Gautier, setengah jam dari sana. Fitch menjatuhkan diri di kursi putar sewaan dan mengamati dinding beberapa lama. “Dia tidak ada di dalam ruang sidang pagi ini,” katanya pe-lan, berpikir keras seraya menarik-narik jenggot. “Jadi, bagaimana dia tahu mereka menatapku?”

146

“Siapa yang menatap?” tanya Konrad. Tugas-tugds-nya tidak termasuk menjadi penjaga di ruang sidang. Ia tidak pernah meninggalkan toko loak itu. Fitch menjelaskan peristiwa aneh saat ia ditatap oleh para juri.

“Jadi, siapa yang bicara padanya?” tanya Konrad. “Justru itulah pertanyaannya.”

Siang itu dihabiskan untuk membahas nikotin. Sejak pukul setengah dua hingga pukul tiga, kemudian dari pukul setengah empat sampai sidang dibubarkan pada pukul lima, para juri sudah belajar lebih banyak mengenai nikotin: Nikotin adalah racun yang terkan-dung dalam asap tembakau. Setiap batang rokok mengandung satu sampai tiga miligram nikotin, dan bagi perokok yang menghirupnya, seperti Jacob Wood, hingga sembilan puluh persen dari nikotin tersebut diserap ke dalam paru-paru. Dr. Bronsky menunjuk-nunjuk berbagai bagian tubuh manusia yang diperagakan dalam gambar berwarna cemerlang seukuran aslinya pada tripod. Secara terperinci ia menjelaskan bagaimana nikotin menyebabkan pe-nyempitan pembuluh-pembuluh darah atas pada anggota badan, meningkatkan tekanan darah dan kecepatan denyut nadi, membuat jantung bekerja lebih keras. Efeknya pada sistem pencernaan sangat rumit dan membahayakan. Nikotin bisa menyebabkan mual dan muntah, terutama pada orang yang baru mulai merokok. Pengeluaran air liur dan gerakan usus mula-mula dirangsang, kemudian ditekan. Nikotin juga bertindak sebagai stimulan sistem saraf pusat. Bronsky menerangkan dengan teratur, tapi sungguh-147

sungguh; ia membuat satu batang rokok kedengaran seperti satu dosis racun mematikan.

Dan yang paling buruk pada nikotin adalah sifatnya yang menimbulkan kecanduan. Satu jam terakhir— sekali lagi diatur dengan sempurna oleh Rohr— dihabiskan untuk meyakinkan para juri bahwa nikotin sangat menimbulkan ketergantungan, dan bahwa pengetahuan ini sudah ada sedikitnya selama empat dasawarsa.

Kadar nikotin dapat dimanipulasi dengan mudah dalam proses pembuatannya.

Bila, dan Bronsky menekankan kata “bila” itu, kadar nikotin ditingkatkan secara buatan, sudah sewa-jarnya perokok akan jadi lebih cepat kecanduan. Semakm berat perokok itu mengalami ketergantungan, makin banyak rokok yang terjual.

Titik yang sempurna untuk mengakhiri hari itu.

148

Sembilan

Nicholas tiba di ruang juri lebih awal, sementara Lou Dell sedang menjerang kopi tanpa kafein dan dengan hati-hati mengatur piring-piring berisi bolu gulung dan donat baru. Satu set cangkir dan piring baru yang berkilauan ada di dekat makanan. Nicholas mengatakan ia benci minum kopi dari cangkir plastik, dan untunglah dua rekannya memiliki sikap serupa. Mereka membuat daftar permintaan yang dengan cepat dikabulkan oleh Yang Mulia.

Lou Dell tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaannya ketika Nicholas memasuki ruangan. Ia tersenyum dan menyapa Lou dengan ramah, tapi Lou Dell masih menyimpan dendam atas perselisihan mereka sebelumnya. Nicholas menuang kopi dan membuka koran.

Seperti diperkirakan Nicholas, Kolonel Purnawirawan Frank Herrera tiba tak lama sesudah pukul delapan, hampir satu jam penuh sebelum mereka mulai: ia membawa dua surat kabar, salah satunya adalah The Wall Street Journal. Ia ingin sendirian di dalam ruangan itu, tetapi toh tersenyum juga kepada Easter.

“Pagi, Kolonel,” kata Nicholas hangat. “Pagi sekali Anda datang.”

149

“Kau juga.”

“Yeah, aku tidak bisa tidur. Bermimpi tentang nikotin dan paru-paru yang hitam.” Nicholas mengamati halaman olahraga.

Herrera mengaduk kopinya dan duduk di seberang meja. “Selama sepuluh tahun dalam dinas ketentaraan, aku merokok,” katanya sambil duduk dengan sikap kaku, pundak dilebarkan, dagu diangkat, siap melompat berdiri dalam sikap sempurna. ‘Tapi aku punya cukup nalar untuk berhenti.”

“Beberapa orang tidak bisa melakukannya, kurasa. Seperti Jacob Wood.”

Sang kolonel mendengus muak, dan membuka surat kabar. Baginya membuang kebiasaan buruk tidak lebih dari pengerahan kekuatan kemauan. Bereskan dulu pikiran, maka tubuh bisa melakukan apa saja.

Nicholas membalik satu halaman, sambil berkata, “Mengapa Anda berhenti?”

“Sebab kebiasaan itu buruk. Tidak perlu seorang jenius untuk mengetahuinya. Rokok adalah benda mematikan. Semua orang tahu itu.”

Seandainya Herrera demikian terus terang pada sedikitnya dua kuesioner sebelum sidang, ia takkan terpilih sebagai juri. Nicholas ingat jelas pertanyaan-pertanyaan itu. Fakta bahwa Herrera memiliki sikap demikian tegas mungkin hanya berarti satu hal: Ia ingin duduk dalam dewan juri. la seorang pensiunan tentara. mungkin bosan dengan golf, jemu dengan istrinya, mencari-cari kesibukan, dan jelas menyimpan dendam pada sesuatu.

“Jadi, menurut Anda seharusnya rokok dilarang?” tanya Nicholas. Pertanyaan ini adalah salah satu

150

yang sudah dilatihnya ribuan kali di depan cermin, dan ia sudah menyiapkan segala tanggapan yang tepat untuk semua kemungkinan jawaban.

Herrera perlahan-lahan meletakkan koran di meja dan meneguk kopi kentalnya lama-lama. “Tidak. Menurutku orang yang punya nalar seharusnya tidak merokok tiga bungkus sehari. Apa yang diharapkan? Kesehatan yang sempurna?” Nada suaranya mengejek, jelas ia sudah membuat keputusan bulat sebelum menerima tugas sebagai juri.

“Kapan Anda yakin mengenai hal ini?”

“Apa kau pikun? Itu tidak sulit ditebak.”

“Mungkin demikian pendapat Anda, tapi seharusnya Anda mengungkapkan pendapat ini dalam voir dire.”

“Apa itu voir direT

“Proses pemilihan juri. Kita sudah ditanya berbagai macam hal mengenai hal-hal semacam ini. Seingatku Anda tidak mengucapkan sepatah kata pun.”

“Rasanya tidak ingin.”

“Seharusnya Anda mengatakannya.”

Pipi Herrera memerah, tapi ia ragu-ragu sesaat. Si Easter ini tahu tentang hukum, atau setidaknya tahu lebih banyak daripada yang lain. Mungkin ia telah melakukan kesalahan. Mungkin Easter bisa melaporkannya dan membuatnya tersingkir dari dewan juri. Mungkin ia bisa dituduh menghina pengadilan, dijeb-loskan ke penjara, atau didenda.

Namun satu pemikiran lain terlintas dalam benaknya. Tidak seharusnya mereka memperbincangkan kasus ini, bukan? Jadi, bagaimana mungkin Easter mela porkan sesuatu pada Hakim? Rasanya Easter akan terlibat kesulitan bila ia mengadukan apa pun yang

151

didengarnya dalam ruang juri. Herrera bersantai sedikit. “Coba kuterka. Kau akan berusaha keras untuk mendapatkan vonis berat, ganti kerugian dalam jumlah besar, dan hal seperti itu.”

‘Tidak, Mr. Herrera. Tidak seperti Anda, aku masih belum mengambil keputusan. Kurasa kita baru mendengarkan tiga orang saksi, semuanya dari pihak penggugat, jadi masih banyak yang akan datang. Aku akan menunggu sampai semua bukti diajukan kedua belah pihak, lalu aku akan mencoba mengambil keputusan. Kurasa begitulah janji kita.”

“Yeah, well, aku juga. Aku tidak bisa dibujuk, kau tahu.” Mendadak ia tertarik pada artikel dalam editorial. Pintu terempas membuka dan Mr. Herman Grimes masuk dengan tongkat mengetuk-ngetuk di depannya. Lou Dell dan Mrs. Herman Grimes mengikuti. Nicholas, seperti biasa, berdiri dan menyiapkan kopi untuk ketuanya, sesuatu yang sudah jadi ritual sekarang.

Fitch menatap teleponnya hingga pukul sembilan. Perempuan itu mengatakan mungkin akan menelepon hari ini.

Bukan saja main-main, tapi rupanya ia juga tidak segan-segan berbohong. Fitch tidak mau menerima tatapan para juri lagi, maka ia mengunci pintu dan berjalan ke ruang pengamat. Dua orang pakar juri sedang duduk dalam kegelapan, memandang gambar bengkok-bengkok pada dinding, menunggu penyetelan dari ruang sidang. Seseorang telah menendang tas McAdoo, hingga kamera itu melenceng tiga meter. Juri nomor 1, 2, 7, dan 8 tidak terlihat dalam gambar, serta hanya setengah dari Millie Dupree dan Rikki Coleman di belakangnya yang terlihat.

152

Dewan juri sudah duduk di tempatnya selama dua menit, dengan demikian McAdoo pun terikat di tempat duduknya dan tidak bisa memakai telepon genggamnya. Ia tidak tahu ada kaki besar di bawah meja telah menendang tas yang keliru. Fitch mengumpat ke layar, kemudian kembali ke kantornya, menulis sehelai catatan. Diberikannya catatan itu pada seorang pesuruh berpakaian rapi, yang kemudian lari ke jalan, memasuki ruang sidang seperti satu di antara seratus associate atau paralegal muda di sana, dan menyerahkan catatan itu ke meja pembela.

Kamera itu beringsut ke kin dan seluruh anggota juri bisa terlihat. McAdoo mendorong sedikit terlaiu keras dan memotong setengah dari Jerry Fernandez dan Angel Weese, anggota juri nomor 6. Fitch mengumpat lagi. Ia akan menunggu sampai reses pagi dan bicara dengan McAdoo lewat telepon.

Dr. bronsky sudah beristirahat dan siap untuk memberikan ceramah lagi tentang bahaya asap tembakau. Sesudah membahas berbagai karsinogen dalam asap rokok dan nikotinnya, ia siap beralih pada senyawa-senyawa selanjutnya yang perlu disorot dari segi medis: zat penyebab iritasi.

Rohr memberikan umpan, dan Bronsky menyambar-nya. Asap rokok mengandung berbagai macam senyawa—amonia, asam volatil, aldehida. fenol, dan keton—dan zat-zat ini bisa menimbulkan iritasi pada selaput lendir. Sekali lagi Bronsky meninggalkan tempat saksi dan berjalan menghampiri diagram baru yang menggambarkan torso bagian atas dan kepala manusia. Gambar ini memperlihatkan saluran perna-153

pasan, tenggorokan, pipa bronkiolus, dan paru-paru. Di daerah inilah asap rokok merangsang keluarnya lendir, dan pada saat yang sama menunda pembuangan lendir tersebut dengan menekan kegiatan lapisan silia (bulu getar) pada pipa bronkiolus.

Bronsky sangat cakap dalam memakai istilah-istilah medis pada taraf yang bisa dipahami oleh orang awam, dan ia sedikit mengurangi kecepatan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada pipa bronkiolus ketika asap dihirup. Dua diagram berwarna dalam ukuran besar dipasang di hadapan meja hakim, dan Bronsky memberikan penjelasan dengan tongkat penunjuk. Ia menerangkan kepada dewan juri bahwa pipa bronkiolus dilapisi dengan selaput lendir yang dilengkapi serat-serat halus seperti rambut, bernama silia, yang bergerak bersamaan membentuk gelombang dan mengendalikan gerakan lendir di permukaan selaput tersebut. Gerakan silia ini berfungsi membebaskan paru-paru dari segala debu dan kuman yang tersedot.

Merokok, tentu saja, merusak proses ini. Setelah Bronsky dan Rohr yakin bahwa juri memahami semua itu, mereka cepat-cepat maju untuk menjelaskan bagaimana merokok menimbulkan iritasi pada proses penya-ringan dan mengakibatkan segala macam kerusakan dalam sistem pencernaan.

Mereka terus membahas tentang mukus, selaput, dan silia.

Orang pertama yang terlihat menguap adalah Jerry Fernandez di deretan belakang. Ia menghabiskan Senin malamnya di salah satu kasino untuk menonton pertandingan football dan minum lebih banyak dari yang direncanakannya. Ia merokok dua bungkus sehari,

154

dan menyadari benar bahwa kebiasaan itu tidak sehat. Tapi sekarang ia butuh sebatang.

Beberapa orang lagi menyusul menguap, dan pada pukul 11.30, Hakim Harkin melepaskan mereka untuk istirahat makan siang selama dua jam.

Berjalan-jalan di pusat kota Biloxi adalah gagasan Nicholas, yang diuraikannya dalam sepucuk surat untuk Hakim pada hari Senin. Rasanya absurd untuk mengurung mereka dalam ruangan sempit sepanjang hari, tanpa harapan untuk menghirup udara segar. Seolah-olah hidup mereka dalam bahaya, atau mereka akan diserang oleh orang-orang tak dikenal bila dibiarkan lepas berjalan-jalan di trotoar. Suruh saja Madam Lou Dell dan Willis si penjaga dan satu lagi deputi pemalas pergi mengawasi, beri mereka rutenya, katakanlah enam atau delapan blok, larang para juri itu berbicara dengan siapa pun seperti biasanya, dan biarkan mereka lepas selama setengah jam sesudah makan siang, sehingga makanan mereka bisa tercerna. Rasanya itu bukan gagasan berbahaya, dan bahkan sesudah merenungkannya lebih jauh, Hakim Harkin sepenuhnya setuju dengan gagasan tersebut.

Akan tetapi, Nicholas memperlihatkan surat itu kepada Lou Dell, dan ketika makan siang selesai, Lou Dell pun menjelaskan bahwa sudah disiapkan acara berjalan-jalan, berkat Mr. Easter yang telah menulis surat kepada Hakim. Rasanya tak pantas menerima pujian besar-besaran untuk gagasan sederhana ini.

Suhu udara berkisar sekitar 27 derajat Celsius, udara bersih dan segar, pepohonan berusaha sebisa-bisanya untuk berganti warna. Lou Dell dan Willis

155

memimpin di depan, sementara empat perokok itu— Fernandez, Poodle, Stella Hulic, dan Angel Weese berjalan di belakang, menikmati rokok mereka dengan sedotan dan embusan panjang. Persetan dengan Bronsky serta lendir dan selaputnya, dan persetan dengan Fricke beserta foto-foto menjijikkan dari paru-paru hitam Mr. Wood. Mereka sekarang ada di luar. Cahaya, udara laut, dan kondisinya sempurna untuk menikmati rokok.

Fitch mengirim Doyle dan seorang agen lokal bernama Joe Boy untuk memotret mereka dari kejauhan.

Bronsky mengendur menjelang sore. Ia kehilangan kecakapannya untuk membuat uraian sederhana, dan para anggota juri sudah tak sanggup untuk memusatkan perhatian. Bagan dan diagram yang bagus serta jelas mahal tersebut tumpang tindih, seperti halnya bagian-bagian tubuh, senyawa, dan racun-racun itu. Tampak jelas bahwa para juri merasa jemu, dan Rohr terseret ke dalam kebiasaan yang tidak bisa dihindari oleh para pengacara—mengoceh berlarut-larut.

Yang Mulia Hakim membubarkan sidang lebih awal, pada pukul empat, dengan alasan butuh waktu dua jam untuk membahas sejumlah mosi serta beberapa hal lain yang tidak melibatkan juri. Ia meng-istirahatkan para juri dengan peringatan keras yang sama; mereka sudah hafal betul dengan peringatan itu dan hampir tidak mendengarkannya lagi. Mereka senang bisa lepas dari sana.

Lonnie Shaver merasa paling senang bisa pulang lebih pagi. Ia langsung menuju pasar swalayan tempatnya bekerja, “sepuluh menit dari sana, parkir di

156

tempat khusus di halaman belakang, dan cepat-cepat masuk melalui ruang stok, diam-diam berharap akan memergoki karyawan yang mencuri waktu dengan tidur siang di samping tumpukan selada. Kantornya ada di lantai dua, di atas bagian susu dan daging. Dari cermin dua arah, ia bisa melihat sebagian besar lantai itu.

Lonnie adalah satu-satunya manajer kulit hitam dari rangkaian tujuh belas toko itu. Ia memperoleh 40.000 dolar setahun, asuransi kesehatan, dan program pensiun rata-rata, serta tiga bulan lagi akan mendapatkan kenaikan gaji. Ia juga sudah dibujuk untuk percaya bahwa ia akan dipromosikan sebagai district supervisor bila pekerjaannya yang sekarang sebagai manajer menunjukkan prestasi memuaskan. Perusahaan sangat ingin mempromosikan orang kulit hitam, demikian ia diberitahu, tapi tentu saja tak satu pun dari komitmen ini tertulis hitam di atas putih.

Kantornya selalu terbuka, dan biasanya diisi oleh satu dari setengah lusin bawahannya Seorang asisten manajer menyapanya, lalu mengangguk ke arah pintu. “Kita ada tamu,” katanya sambil mengernyit.

Lonnie ragu-ragu dan memandang pintu tertutup yang menuju ruangan luas yang dipakai untuk segala macam keperluan—pesta ulang tahun, rapat staf, kunjungan para bos. “Siapa?” ia bertanya

“Dari kantor pusat. Mereka ingin menemuimu.”

Lonnie mengetuk pintu sambil masuk. Bagaimana pun, itu kantornya. Tiga laki-laki dengan lengan ke-meja tergulung hingga siku duduk di ujung meja, di antara setumpuk kertas printout. Mereka berdiri dengan canggung.

157

“Lonnie, senang berjumpa denganmu,” kata Troy Hadley, putra salah satu pemilik perusahaan itu dan satu-satunya wajah yang dikenal Lonnie. Mereka saling berjabat tangan, sementara Hadley memperkenalkan mereka dengan terburu-buru. Dua laki-laki lainnya adalah Ken dan Ben; Lonnie tidak ingat nama keluarga mereka saat itu. Sudah direncanakan bahwa Lonnie akan duduk di ujung meja, pada kursi yang buru-buru dikosongkan oleh Hadley, diapit Ken dan Ben.

Troy memulai percakapan, dan kedengaran agak resah. “Bagaimana dengan tugas sebagai juri?” “Menyebalkan.”

“Benar. Dengar, Lonnie. Akan kujelaskan alasan kami berada di sini. Ben dan Ken berasal dari perusahaan bernama SuperHouse, rangkaian toko besar di Charlotte dan, we//, karena berbagai alasan, ayah dan pamanku memutuskan menjual saham kepada SuperHouse. Seluruh rangkaian toko ini. Tujuh belas toko dan tiga gudang.”

Lonnie memperhatikan Ken dan Ben mengaw&sinya, maka ia menerima kabar itu tanpa menunjukkan pem-bahan ekspresi, bahkan sedikit mengangkat pundak, seolah-olah mengatakan, “Jadi, ada apa?” Tapi rasanya kabar itu sulit ditelan. “Mengapa?” ia bertanya.

“Banyak a/asannya, tapi akan kujelaskan dua yang paling utama. Ayahku sudah 68 tahun, dan Al, seperti kauketahui, baru saja menjalani operasi. Itu nomor satu Nomor dua, SuperHouse menawarkan harga yang amat pantas.” Ia menggosokkan kedua tangannya, seolah-olah sudah tak sabar untuk membelanjakan uang baru itu. “Sudah saatnya menjual, Lonnie. Itu saja.”

158

“Aku terkejut, aku tidak pernah…”

“Kau benar. Empat puluh tahun dalam bisnis, semenjak dari toko buah kecil sampai menjadi perusahaan di lima negara bagian dengan omzet 60 juta dolar tahun lalu. Sulit dipercaya mereka mau mele-maskannya.” Troy sama sekali tidak meyakinkan dalam menunjukkan perasaan menyesalnya. Lonnie tahu apa sebabnya. Ia laki-laki bodoh, bocah kaya yang bermain golf setiap hari, sambil berusaha menunjukkan citra sebagai eksekutif perusahaan yang ulet dan tangguh. Ayah dan pamannya menjual perusahaan itu sekarang, sebab beberapa tahun lagi Troy akan memegang kendali, dan hasil kerja keras serta ketekunan selama empat puluh tahun akan habis untuk perahu balap dan rumah mewah di tepi pantai.

Mereka diam; sedangkan Ben dan Ken terus menatap Lonnie. Yang satu berusia pertengahan empat puluhan dengan potongan rambut jelek dan saku di-padati bolpoin murahan, mungkin inilah Ben. Yang lainnya sedikit lebih muda, berwajah kurus, model seorang eksekutif dengan pakaian yang lebih baik dan mata keras. Lonnie memandang mereka. Sepertinya ia diharapkan mengucapkan sesuatu.

“Apakah toko ini akan ditutup?” ia bertanya, ham-pi r-hampir putus asa.

Troy menerkam pertanyaan ini. “Dengan kata lain, apa yang akan terjadi padamu? Nah, kujamin, Lonnie, aku sudah mengatakan segala yang baik mengenai dirimu, dan aku sudah merekomendasikan agar kau tetap di sini, pada posisi yang sama.” Baik Ben maupun Ken mengangguk sedikit. Troy meraih mantelnya. ‘Tapi itu bukan lagi urusanku. Aku akan

159

keluar sebentar, sementara kalian membicarakannya.” Secepat kilat Troy sudah keluar dari ruangan.

Entah karena apa, kepergiannya membuat Ken dan Ben tersenyum. Lonnie bertanya, “Apakah kalian punya kartu nama?”

‘Tentu,” kata keduanya, dan mereka mengeluarkan kartu nama dari saku serta mendorongnya ke ujung meja. Ben adalah yang lebih tua, Ken yang lebih muda.

Ken juga yang memimpin pertemuan ini. Ia memulai, “Sedikit penjelasan mengenai perusahaan kami. Kami berkedudukan di Charlotte, dengan delapan puluh toko di Carolina dan Georgia. SuperHouse adalah divisi dari Listing Foods, konglomerat yang berbasis di Scarsdale dengan nilai penjualan tahun lalu sebesar kurang-lebih dua miliar dolar. Sebuah perusahaan publik, sahamnya diperdagangkan di NASDAQ. Anda mungkin pernah mendengamya. Saya adalah vice president operasional untuk SuperHouse, Ben adalah VP regional. Kami sedang melakukan ekspansi ke selatan dan barat, dan Hadley Brothers tampaknya menarik. Itu sebabnya kami ada di sini.”

“Jadi, kalian akan mempertahankan toko-toko ini?”

“Ya, untuk sekarang ini.” Ia melirik Ben, seolah-olah banyak hal lain di balik jawaban itu.

“Dan bagaimana dengan saya?” tanya Lonnie.

Mereka menggeliat, hampir berbarengan. dan Ben mengambil sebatang bolpoin dari saku. Ken yang berbicara, “Nah, Anda harus mengerti, Mr. Shaver…”

“Panggil saja saya Lonnie.”

“Baiklah, Lonnie, selalu terjadi banyak perubahaan pada saat akuisisi. Itu bagian dari bisnis. Pekerjaan hilang, pekerjaan diciptakan, pekerjaan ditransfer.”

160

“Bagaimana dengan pekerjaan saya?” Lonnie mendesak. Ia sudah siap menghadapi yang terburuk dan ingin cepat menuntaskannya.

Ken perlahan-lahan mengambil sehelai kertas dan pura-pura sedang membaca sesuatu. “Well” katanya sambil membalik-balik kertas itu. “Anda memiliki catatan prestasi yang bagus.”

“Dan rekomendasi yang kuat,” Ben menambahkan.

“Kami ingin mempertahankan Anda di tempat ini, untuk sementara waktu.”

“Untuk sementara waktu? Apa maksudnya?”

Ken perlahan-lahan meletakkan kembali kertas itu ke meja, dan mencondongkan badan ke depan, bertelekan dua belah siku. “Mari kita bicara terus terang, Lonnie. Kami melihat masa depan yang cerah untukmu bersama perusahaan kami.”

“Dan perusahaan ini jauh lebih baik daripada peru-sahaanmu yang sekarang,” Ben menambahkan, bekerja sama dalam permainan tarik-ulur yang sempurna. “Kami menawarkan gaji lebih tinggi, tunjangan lebih besar, pembagian saham, pekerjaannya.”

“Lonnie, aku dan Ben malu mengakui bahwa perusahaan kami tidak memiliki orang Amerika-Afrika dalam posisi manajemen. Kami, bersama atasan-atasan kami, ingin hal ini berubah, segera Kami ingin hal ini berubah bersamamu.”

Lonnie mengamati wajah mereka, dan menekan seribu pertanyaan yang berkecamuk. Dalam tenggang satu menit, ia sudah pindah dari tepi jurang pengang-guran menuju prospek kemajuan. “Saya tidak punya gelar dari college. Ada batas untuk…”

“Tidak ada batas,” kata Ken. “Kau punya waktu

161

dua tahun untuk kuliah di college junior, dan bila perlu, kau bisa menyelesaikan kuliahmu. Perusahaan kami akan menanggung biaya kuliah.”

Lonnie mau tak mau tersenyum, sebagian karena perasaan Iega dan sebagian karena keberuntungan itu. Ia memutuskan untuk meneruskannya dengan hati-hati. Ia sedang berurusan dengan orang-orang yang belum dikenalnya. “Saya mendengarkan,” katanya.

Ken punya segala jawabannya. “Kami sudah mempelajari personalia di Hadley Brothers, dan, well, katakanlah sebagian be’sar orang-orang dalam posisi manajemen menengah dan atas ^egera akan mencari pekerjaan di tempat lain. Kami melihatmu, dan satu lagi manajer muda dari Mobile. Kami ingin kalian berdua pindah ke Charlotte secepat mungkin dan melewatkan beberapa hari bersama kami. Kau akan bertemu dengan orang-orang kami, belajar mengenai perusahaan kami, dan kita akan bicara tentang masa depan. Tapi hams kuperingatkan bahwa kau tidak bisa menghabiskan sisa hidupmu di Biloxi sini bila ingin maju. Kau harus bersedia ditempatkan di mana saja.”

“Saya bersedia.”

“Sudah kami duga. Kapan kami bisa menerbangkanmu?”

Bayangan Lou Dell menutup pintu mengurung mereka terlintas di matanya, dan ia mengernyit. Ia menarik napas dalam-dalam, dan berkata dengan nada kesal luar biasa, “Ah, saat ini saya terikat di pengadilan. Tugas sebagai juri. Saya yakin Troy sudah menceritakannya pada Anda “

Ken dan Ben tampak kebingungan. “Itu cuma beberapa hari, bukan?”

162

“Tidak, Sidang ini dijadwalkan akan berlangsung selama satu bulan, dan kami baru sampai pada minggu kedua.”

“Satu bulan?” tanya Ben, mendengar peluang ini. “Sidang apa ini?”

“Janda seorang perokok yang sudah mau menggugat perusahaan rokok.”

Reaksi mereka hampir sama dan jelas menunjukkan perasaan pribadi mereka mengenai gugatan seperti itu.

“Saya sudah mencoba lepas dari kewajiban ini,” kata Lonnie, berusaha meredam suasana.

“Gugatan product liability?” tanya Ken, benar-benar muak.

“Yeah, semacam itulah.”

“Sampai tiga minggu lagi?” tanya Ben.

“Itulah yang mereka katakan. Saya sendiri tidak percaya saya terikat seperti ini,” katanya, suaranya melemah hilang.

Mereka terdiam lama, sementara Ben membuka sebungkus Bristol dan menyalakan sebatang “Gugatan,” katanya pahit. “Kami tiap minggu digugat oleh orang-orang malang yang terantuk dan jatuh, kemudian menyalahkannya pada cuka atau anggur. Bulan lalu sebotol air soda meledak pada pesta di Rocky Mount. Coba terka siapa yang menjual air soda itu? Coba terka siapa yang digugat sebesar sepuluh juta dolar minggu lalu? Kami dan perusahaan air soda itu. Product liability” Ia mengembuskan napas, lalu menggigit-gigit kuku ibu jari. Ben mendidih gusar. “Ada seorang perempuan umur tujuh puluh tahun di Athens yang mengatakan punggungnya patah ketika dia meraih

163 ke atas untuk mengambil sekaleng pembersih peraboL Pengacaranya mengatakan dia berhak mendapatkan satu-dua juta dolar.”

Ken menatap Ben, seolah-olah ingin rekannya itu tutup mulut, namun Ben rupanya mudah meledak bila topik itu dibicarakan. “Pengacara-pengacara busuk,” katanya, asap mengalir keluar dari lubing hidungnya. “Kita membayar lebih dari tiga juta dolar tahun lalu untuk liability insurance, uang yang dibuang percuma karena pengacara-pengacara lapar itu berputar-putar di atas.” “Ken berkata, “Cukup.”

“Maaf.”

“Bagaimana kalau akhir pekan?” Lonnie bertanya cemas. “Saya bebas mulai Jumat siang sampai Minggu malam.”

“Aku baru saja memikirkan hal itu. Begini saja. Kami akan mengirimkan salah satu pesawat terbang kami untuk menjemputmu Sabtu pagi. Kami akan menerbangkanmu dan istrimu ke Charlotte, memperlihatkan kantor pusat kami, dan memperkenalkanmu dengan bos-bos kami. Lagi pula mereka kebanyakan juga bekerja hari Sabtu. Apakah kau bebas akhir pekan ini?”

“Tentu.”

“BaiK. Akan kuatur pesawat terbangnya.” “Kau yakin tidak ada konflik dengan sidang itu?” tanya Ben.

“Tidak ada, sejauh yang saya perkirakan.”

164

Sepuluh

Sesudah berlangsung dengan ketepatan waktu yang mengagumkan, sidang itu tiba-tiba terha-lang pada Rabu pagi. Pihak pembela mengajukan mosi melarang kesaksian Dr. Hilo Kilvan, konon pakar dari Montreal dalam bidang pengolahan data statistik penyakit kanker paru-paru, dan meletuslah pertempuran kecil mengenai mosi ini. Wendall Rohr dan kelompoknya sangat geram terhadap taktik pembela; sejauh ini pembela selalu menghalangi kesaksian setiap pakar yang diajukan penggugat. Bahkan pembela terbukti cukup efektif dalam menunda dan menghalangi segalanya selama empat tahun. Rohr bersikeras mengatakan bahwa Cable dan kliennya sekali lagi mengulur-ulur waktu, dan ia mengajukan peimo-honan kepada Hakim Harkin agar memberikan sanksi terhadap tergugat. Perang mengenai sanksi ini, dengan masing-masing pihak menuntut hukuman denda dari pihak lain dan sang Hakim sejauh ini menolak, boleh dikatakan sudah berkobar semenjak gugatan ini diajukan. Seperti halnya kebanyakan kasus perkara perdata yang besar, perdebatan mengenai sanksi ini

165

saja kerap kali menghabiskan waktu sebanyak pembahasan pokok masalah sebenarnya.

Rohr gembar-gembor dan mencak-mencak di depan boks juri yang kosong ketika menjelaskan bahwa mosi terakhir yang diajukan pembela merupakan mosi ke-71—”Hitunglah, 71!”—yang diajukan oleh perusahaan rokok untuk melarang pengajuan bukti. “Kita sudah punya mosi untuk menyisihkan bukti mengenai penyakit lain yang ditimbulkan oleh rokok, mosi mencegah pembuktian peringatan-peringatan, mosi mencegah pembuktian pengiklanan, mosi untuk menyingkirkan bukti penelitian epidemiologis dan teori statistik, mosi menolak referensi pada paten yang tidak dipakai oleh tergugat, mosi untuk menyisihkan bukti langkah-langkah pengobatan yang diambil oleh perusahaan rokok, mosi menolak bukti pengujian rokok yang kami lakukan, mosi untuk menyingkirkan sebagian dari laporan autopsi, mosi menolak bukti ketergantungan, mosi…”

“Saya sudah melihat mosi-mosi ini, Mr. Rohr,” Yang Mulia menyela ketika Rohr sepertinya akan menyebutkan seluruhnya.

Rohr tidak kendur selangkah pun. “Dan, Yang Mulia, di samping 71—coba hitung, 71!—mosi untuk menolak bukti, mereka telah mengajukan tepat delapan belas mosi meminta perpanjangan waktu.”

“Saya tahu benar akan hal ini, Mr. Rohr. Harap teruskan.”

Rohr berjalan ke mejanya yang penuh barang dan mengambil makalah tebal dari seorang associate. “Dan, sudah tentu, setiap pengajuan mosi dari tergugat selalu disertai dengan satu benda terkutuk ini,”

166

katanya keras sambil menjatuhkan makalah itu ke meja. “Kami tidak punya waktu untuk membaca ini, seperti Anda ketahui, sebab kami terlalu sibuk bersiap untuk sidang. Di pihak, mereka punya senbu pengacara yang bayarannya dihitung per jam dan terus bekerja bahkan pada saat kami membicarakan satu mosi konyol lainnya yang, tak diragukan lagi, bobotnya sampai tiga kilo dan menghabiskan lebih banyak waktu kami.”

“Bisakah kita langsung ke persoalannya, Mr. Rohr?” Rohr tidak mendengarkannya. “Karena tidak punya waktu untuk membaca ini, Yang Mulia. kami hanya akan menimbangnya, dan jawaban kami yang singkat hanyalah: Harap surat memorandum ini diterima sebagai balasan kami atas makalah pembela seberat dua setengah kilo, berisi dalih atas mosi sembarangan yang terakhir.”

Tanpa kehadiran juri di dalam ruang sidang itu, semua orang tidak lagi menampilkan senyum, sopan santun, dan tingkah laku menyenangkan. Ketegangan terlihat nyata pada wajah semua pemain, bahkan para panitera dan notulis pengadilan tampak tegang.

Watak pemarah Rohr yang legendaris itu itu kini bergolak, namun sudah sejak lama ia belajar meman-faatkannya. Cable yang sekali-sekali jadi temannya menjaga jarak tanpa menahan lidahnya. Penonton dijamu dengan adu mulut terkendali.

Pada pukul setengah sepuluh, Yang Mulia mengirim Lou Dell untuk memberitahu para juri bahwa ia sedang menyelesaikan sebuah mosi, dan sidang akan dimulai beberapa saat lagi, mudah-mudahan pukul sepuluh. Karena baru kali ini para juri diminta

167

menunggu setelah dipersiapkan untuk pergi, mereka menerimanya dengan baik. Mereka kembali membentuk kelompok-kelompok kecil, diteruskan dengan percakapan basa-basi seperti umumnya orang-orang yang terpaksa menunggu. Mereka berkelompok menurut jenis kelamin, bukan ras. Yang laki-laki menjadi satu di ujung ruangan, yang perempuan di ujung lain. Para perokok datang dan pergi. Hanya Herman Grimes tetap berada di posisi yang sama, di kepala meja, asyik dengan komputer laptop braille-nya. Ia ingin semua orang tahu bahwa ia dengan setia mendengarkan deskripsi naratif dari diagram Bronsky.

Sebuuh laptop lain ditempelkan pada soket di sebuah sudut, tempat Lonnie Shaver membuat kantor sementara dengan tiga kursi lipat. Ia menganalisis printout dari stok toko, meneliti inventarisnya, dan memeriksa seratus detail lain. Ia senang tidak ada yang menghiraukannya. Ia bukannya tidak ramah, cuma asyik dengan kesibukannya.

Frank Herrera duduk di dekat komputer braille itu, meneliti closing quotation d The Wall Street Journal, dan sekali-sekali bercakap-cakap dengan Jerry Fernandez yang duduk di seberang meja sambil memantau jalur taruhan terakhir di Vegas pada berbagai pertandingan college hari Sabtu. Satu-satunya pria yang suka berbicara dengan kaum wanita di situ adalah Nicholas Easter, dan hari ini diam-diam ia membicarakan kasus tersebut dengan Loreen Duke, seorang wanita kulit hitam berperawakan besar yang periang dan bekerja sebagai sekretaris di Keesler Air Force Base. Sebagai anggota juri nomor I, ia duduk di samping Nicholas, dan keduanya sudah

168

mengembangkan kebiasaan untuk saling berbisik-bisik selama sidang, hingga mengganggu yang lain. Loreen berusia 35 tahun, tanpa suami dan punya dua anak. Ia sama sekali tidak keberatan absen dan kantor selama beberapa waktu. Ia mengaku kepada Nicholas bahwa ia bisa absen selama satu tahun tanpa seorang pun peduli. Nicholas menceritakan tindakan-tindakan buruk yang dilakukan oleh perusahaan rokok dalam sidang sidang yang lalu, dan mengaku bahwa selama dua tahun kuliah hukum, ia telah mempelajari kasus-kasus gugatan terhadap perusahaan rokok secara mendalam. Ia mengatakan bah wa ia putus kuiiah karena masalah keuangan. Mereka sengaja berbisik-bisik sepelan mungkin, agar tidak terdengar oleh Herman Grimes yang sedang mengoperasikan laptop-nya.

Waktu berlalu. Pada pukul sepuluh, Nicholas pergi ke pintu dan membuat Lou Dell tersentak dari novel paperback-nya. Ia tidak tahu kapan Hakim akan meminta mereka datang, dan sama sekali tak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu.

Nicholas duduk dan mulai membahas strategi ber-sdind Herman. Tidaklah adil mengurung mereka seperti ini selama penundaan, dan Nicholas berpendapar bahwa mereka seharusnya diperkenankan meninggalkan gedung, dengan pengawalan, dan pergi berjalan-jalan pagi, selingan dari jalan-jalan sore. Disepakati bahwa Nicholas harus menuliskan permintaan ini, seperti biasa, dan mengajukannya kepada Hakim Harkin saat reses siang.

Pada pukul setengah sebelas, mereka akhirnya

169

dipinggil ke ruang sidang yang masih pekat dengan panasnya pertempuran. Orang pertama yang dilihat Nicholas adalah laki-laki yang menyusup masuk ke apartemennya. Ia berada di deretan ketiga, di sisi penggugat, memakai kemeja dan dasi dengan koran tergelar di hadapannya, serta bersandar pada sandaran bangku di depannya. Ia sendirian, dan hampir-hampir tidak melihat para juri ketika mereka duduk. Nicholas tidak menatapnya lama-lama; dua lirikan panjang sudah cukup.

Meski licik dan penuh tipu muslihat, Fitch kadang-kadang melakukan hal-hal tolol. Dan mengirim orang ini ke ruang sidang adalah langkah penuh risiko yang tidak ada gunanya. Tak ada hal istimewa yang bisa dilihat atau didengarnya di ruang sidang ini.

Meskipun terkejut melihat laki-laki itu, Nicholas sudah memikirkan apa yang harus dilakukan. Ia punya beberapa rencana, tergantung di mana laki-laki itu akan muncul. Keberadaannya di ruang sidang itu merupakan kejutan, tapi hanya butuh semenit untuk membereskan persoalan. Hakim Harkin harus tahu bahwa salah satu bajingan yang sangat ia khawatirkan kini duduk di dalam ruang sidang, pura-pura menjadi pengamat biasa. Harkin perlu melihat wajah itu, sebab kelak ia akan melihatnya di video.

Saksi pertama adalah Dr. Bronsky, sekarang memasuki hari ketiga, tapi pertama kali menjawab pemeriksaan silang oleh pembela. Sir Durr mulai dengan perlahan-lahan, sopan, seolah-olah sangat kagum pada pakar hebat ini. Ia mengajukan beberapa pertanyaan yang kebanyakan anggota juri pun mampu menjawabnya. Tapi keadaan dengan “cepat berubah Bila Cable

170

dulu bersikap hormat kepada Dr. Milton Fricke, kini ia siap berperang dengan Bronsky.

Ia mulai dengan lebih dari empat ribu senyawa yang teridentifikasi dalam asap rokok; dengan gaya sambil lalu, ia memilih satu. dan menanyakan efek apa yang mungkin ditimbulkan oleh benzol(a)pyrene terhadap paru-paru. Bronsky mengatakan tidak tahu, dan mencoba menjelaskan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh satu senyawa tunggal tidaklah mungkin diukur. Bagaimana dengan pipa bronkiolus, selaput, dan silia itu? Pengaruh apa yang ditimbulkan oleh benzol(a)pyrene terhadap organ-organ itu? Bronsky sekali lagi mencoba menjelaskan bahwa riset tidak dapat menentukan pengaruh satu senyawa tunggal dalam asap rokok.

Cable meneruskan serangan. Ia memilih satu senyawa lain dan memaksa Bronsky mengakui bahwa ia tidak dapat memberitahu juri, pengaruh apa yang ditimbulkannya terhadap paru-paru atau pipa bronkiolus atau selaputnya. Tidak secara spesifik.

Rohr mengajukan keberatan, tetapi Yang Mulia menolak dengan dasar bahwa itu adalah pemeriksaan silang. Pokoknya segala yang relevan atau bahkan semirelevan bisa dilemparkan pada saksL

Doyle tetap di tempatnya, di deretan ketiga, tam pak bosan dan menunggu kesempatan untuk berlalu. Tugas yang dibebankan kepadanya adalah mencari perempuan itu; sudah empat hari ia melakukannya Berjam-jam ia bergelandangari di lorong bawah. Ia sudah menghabiskan sesiang penuh dengan duduk di atas krat Dr. Pepper dekat mesin otomat, bercakap-cakap dengan tukang pembersih gedung sambil meng-171

awasi pintu depan. Ia sudah minum bergalon-galon kopi di kafe-kafe dan deli-deli kecil di sekitar tempat itu. Ia, Pang, dan dua orang lainnya sudah bekerja keras, menghamburkan waktu mereka dengan sia-sia, demi memuaskan bos mereka.

Sesudah empat hari duduk di satu tempat selama enam jam sehari, Nicholas mulai mengerti kegiatan rutin Fitch. Anak buahnya, entah konsultan juri atau pesuruh biasa, berkeliaran di seluruh penjuru ruang sidang. Mereka duduk dalam kelompok-kelompok, atau sendirian. Mereka datang dan pergi tanpa suara selama jeda singkat. Mereka jarang berbicara satu sama lain. Dengan ketat mereka memperhatikan para saksi dan anggota juri, dan menit berikutnya mereka mengisi teka-teki silang atau menatap ke luar.

Ia tahu, tak lama lagi laki-laki itu akan pergi.

Ia menulis catatan pada secarik kertas, melipatnya, dan meyakinkan Loreen Duke untuk memegangnya tanpa membacanya. Ia kemudian meminta Loreen membungkuk ke depan, saat jeda dalam pemeriksaan silang itu, ketika Cable menengok catatan-catatannya, dan memberikan tulisan itu kepada Willis si deputi, yang sedang bersandar ke dinding, menjaga bendera. Willis, yang tiba-tiba terbangun, diam sedetik menenangkan diri, kemudian menyadari bahwa ia diminta menyerahkan catatan itu pada Hakim.

Doyle melihat Loreen menyerahkan catatan itu, tapi tidak tahu bahwa catatan tersebut berasal dari Nicholas.

Hakim Harkin menerima catatan itu dengan tak acuh dan membawanya ke dekat jubahnya, sementara Cable menembakkan pertanyaan Iain. Perlahan-lahan

172

Harkin membuka lipatannya. Catatan itu berasal dari Nicholas Easter, juri nomor 2, dan bunyinya sebagai berikut:

Pak Hakim,

Laki-laki di sebelah kiri itu, tiga deret dari depan, sebelah gang, berkemeja putih, berdasi biru-hijau, mengikuti saya kemarin. Ini kedua kalinya saya melihat dia. Bisakah kita mencari tahu siapa dia?

Nicholas Easter

Yang Mulia memandang Durr Cable sebelum beralih pada penonton. Laki-laki itu duduk seorang diri, memandang ke tempat hakim, seolah-olah tahu sedang diawasi.

Ini tantangan baru bagi Frederick Harkin. Belum pernah ada kejadian seperti ini. Pilihannya terbatas dan semakin ia memikirkan situasinya, semakin sedikit pilihan yang dimilikinya. Ia memang tahu bahwa kedua belah pihak punya banyak konsultan, associate dan pengamat yang mengintai di dalam ruang sidang atau di dekatnya. Ia mengawasi ruang sidangnya dengan ketat, ddh melihat banyak gerakan tanpa suara oleh orang-orang yang sudah berpengalaman dalam sidang semacam itu dan tidak ingin diperhatikan. Ia tahu laki-laki itu kemungkinan besar akan segera menghilang.

Bila Harkin tiba-tiba mengumumkan reses singkat, mungkin laki-laki itu akan menghilang.

Ini benar-benar saat yang mendebarkan bagi sang

173

hakim. Ia telah mendengar cerita, desas-desus, dan dongeng dari sidang lain, dan sesudah memberikan segala peringatan yang serasa kosong kepada juri, mendadak di dalam ruangan ini, saat ini, ada salah satu agen misterius itu, mata-mata yang disewa salah satu pihak untuk memantau junnya.

Para deputi di pengadilan pada umumnya berseragam dan bersenjata, dan biasanya tidak membahayakan. Petugas yang Iebih muda biasanya dipasang di jalan, dan tugas untuk menjaga sidang biasanya didominasi oleh para senior yang sebentar lagi pensiun. Hakim Harkin melihat berkeliling dan pilihannya menyusut lagi.

Di dekat bendera sana, Willis sedang bersandar ke dinding, tampaknya sudah setengah tidur, seperti biasa; sudut kanan mulutnya sedikit terbuka dan air liurnya meleleh. Di gang, tepat di depan Harkin, tapi terpisah sekitar tiga puluh meter, Jip dan Rasco menjaga pintu utama. Jip sedang duduk di bangku belakang, dekat pintu, kacamata baca bertengger pada hidungnya yang besar, meneliti koran lokal. Dua bulan yang lalu, ia bam saja menjalani operasi pinggul, sehingga merasa sulit untuk berdiri lama, dan sudah mendapat izin untuk duduk selama sidang berlangsung. Rasco berusia menjelang enam puluh, yang termuda di antara kru itu, dan tidak gesit. Seorang deputi yang Jebib muda biasanya ditugaskan di pintu utama, tapi saat ini ia ada di atrium, mengoperasikan detektor logam.

Selama voir dire, Harkin minta petugas berseragam ditempatkan di mana-mana, tapi sesudah pemberian kesaksian selama seminggu, kecemasan pada awal

174

sidang sudah hilang. Sekarang sidang ini hanyalah pengadilan perdata biasa yang membosankan, meskipun dengan taruhan luar biasa besar.

Harkin menimbang pasukan yang tersedia, dan memutuskan untuk tidak mendekati sasaran. Ia cepat-cepat menulis catatan, memegangnya sejenak tanpa menghiraukan laki-laki itu, kemudian menggesernya pada Gloria Lane, panitera Circuit Court, yang duduk di depan meja kecilnya di bawah meja hakim, berseberangan dengan tempat saksi. Catatan itu mendes-kripsikan laki-laki tersebut, memerintahkan Gloria untuk melihatnya baik-baik tanpa mengundang perhatian, kemudian keluar dari pintu samping dan pergi memanggil Sheriff. Ada instruksi lain untuk Sheriff, tapi sayangnya instruksi itu ternyata tidak diperlukan.

Sesudah lebih dari satu jam menyaksikan pemeriksaan silang yang seru terhadap Dr. Bronsky, Doyle sudah siap beranjak. Perempuan itu sama sekali tidak terlihat, dan ia pun tidak berharap akan menemukannya. la hanya mengikuti perintah. Plus, ia tidak suka melihat oper operan surat di sekitar meja hakim. Ia mengumpulkan korannya diam-diam, dan menyelinap keluar dari ruang sidang tanpa halangan. Harkin menyaksikan ini dengan perasaan tak percaya. Ia bahkan meraih mikrofon dengan tangan kanannya, seolah-olah hendak* berteriak pada laki-laki itu agar berhenti, duduk, dan menjawab beberapa pertanyaan. Tapi ia menenangkan diri. Besar kemungkinan laki-laki itu akan kembali.

Nicholas memandang Yang Mulia dan mereka sama-sama kesal. Cable berhenti di antara per—

175

tanyaannya, dan sang hakim tiba-tiba mengetukkan palu. “Reses sepuluh menit. Saya rasa para juri perlu istirahat sebentar.”

Willis menyampaikan pesan itu pada Lou Dell, yang menyembulkan kepalanya dari celah pintu dan berkata, “Mr. Easter, bisa saya bicara dengan Anda sebentar?”

Nicholas mengikuti Willis melewati labirin ganggang sempit, sampai ke pintu samping ruang kerja Hakim Harkin. Sang hakim sedang sendirian, tanpa jubah, satu tangan memegang cangkir kopi. Ia menyuruh Willis pergi dan mengunci pintu. “Silakan duduk, Mr. Easter,” katanya, menunjuk ke kursi di depan meja kerjanya yang penuh barang berserakan. Ruangan itu bukanlah kantor permanennya, bahkan ia berbagi dengan dua hakim lain yang memakai ruang sidang tersebut. “Kopi?”

‘Tidak, terima kasih.”

Harkin menjatuhkan diri ke kursi dan mencondongkan tubuh ke depan, bertelekan siku. “Nah, coba ceritakan pada saya, di mana Anda melihat laki-laki ini?”

Nicholas akan menyimpan video itu untuk saat yang lebih penting. Ia sudah merencanakan cerita selanjutnya dengan hati-hati. “Kemarin, sesudah kami bubar, saya berjalan kembali ke apartemen dan mam-pir membeli es krim di Mike’s, di sudut jalan. Saya masuk. lalu melihat ke luar, ke trotoar, dan saya melihat laki-laki itu mengintip ke dalam. Dia tidak melihat saya, tapi saya sadari bahwa saya pernah melihatnya di suatu tempat. Setelah beli es krim itu,

176

saya berjalan pulang. Saya pikir laki-laki itu menguntit saya, jadi saya berjalan putar putar, dan dia memang membuntuti saya.”

“Dan Anda sudah pernah melihatnya sebelum itu?”

“Ya, Sir. Saya bekerja di toko komputer di ma//, dan suatu malam laki-laki ini, saya yakin orang yang sama, terus mondarjnandir di pintu dan melihat ke dalam. Sesudah itu, saya istirahat dan dia muncul di ujung lain mall itu, di tempat saya sedang minum Coke.”

Hakim bersantai sedikit dan membenahi rambutnya. “Berterusteranglah pada saya, Mr. Easter, apakah ada rekan Anda lainnya yang menyebut-nyebut hal seperti ini?”

“Tidak, Sir.”

“Apakah Anda bersedia memberitahu saya bila mereka mengatakan sesuatu?” “Tentu.”

‘Tidak ada salahnya dengan percakapan kecil kita ini, dan bila ada sesuatu yang terjadi di dalam sana. saya perlu mengetahuinya.”

“Bagaimana saya menghubungi Anda?”

“Kirim saja catatan melalui Lou Dell. Katakan saja kita perlu bicara, tanpa memberikan urusan spesiiiknya, sebab dia akan membacanya.”

“Oke.”

“Janji?”

“Ya.”

Harkin menarik napas panjang dan mulai mencari-cari di dalam tas kerjanya yang terbuka. Ia mengambil surat kabar dan mendorongnya ke seberang meja. “Sudah lihat ini? Wall Street Journal hari ini.”

177

‘Tidak. Saya tidak membacanya.”

“Bagus. Ada berita besar mengenai sidang ini, dan tulisan mengenai pengaruh kemenangan penggugat terhadap industri tembakau.”

Nicholas tidak mau melewatkan peluang baik itu. “Hanya ada satu orang yang membaca Journal.”

“Siapa?”

“Frank Herrera. Dia membacanya tiap pagi, dari depan sampai belakang ” “Pagi ini?”

“Ya. Sewaktu kita menunggu, dia membaca setiap kata dua kali.”

“Apakah dia mengomentari sesuatu?”

“Setahu saya tidak.”

“Aduh.”

“Tapi itu tidak jadi soal,” kata Nicholas, sambil memandang ke dinding.

“Mengapa tidak?”

“Dia sudah mengambil keputusan.”

Harkin kembali membungkuk ke depan dan memandang tajam. “Apa maksud Anda?”

“Menurut saya, dia tidak seharusnya dipilih sebagai anggota juri. Saya tidak tahu bagaimana dia menjawab pertanyaan tertulisnya, tapi dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Kalau dia jujur, dia takkan berada di sini. Dan saya ingat pertanyaan-pertanyaan selama voir dire yang seharusnya dia jawab.”

“Saya mendengarkan.”

“Baiklah, Yang Mulia, tapi jangan marah Kemarin pagi, saya bercakap-cakap dengannya. Hanya ada kami berdua di dalam ruang juri, dan, sumpah, kami tidak membicarakan kasus ini. Tapi entah bagaimana,

178

kami menyinggung-nyinggung soal rokok. Frank berhenti merokok bertahun-tahun yang lalu, dan dia tidak bersimpati terhadap siapa saja yang tidak bisa berhenti. Anda tahu, dia pensiunan tentara, agak kaku dan keras mengenai…”

“Saya mantan marinir.”

“Maaf. Apakah saya harus bungkam?”

‘Tidak. Teruskanlah.”

“Baiklah, tapi saya cemas mengenai ini, dan dengan senang hati saya bersedia berhenti setiap saat.”

“Akan saya katakan kapan Anda harus berhenti.”

“Baiklah. Nah, omong-omong, Frank berpendapat bahwa siapa pun yang merokok tiga bungkus sehari selama hampir tiga puluh tahun, layak merasakan akibatnya. Tidak ada simpati sedikit pun. Saya berdebat sedikit dengannya, terbatas pada pendapat itu, dan dia menuduh saya ingin memberikan vonis ganti rugi yang besar kepada penggugat.”

Yang Mulia mendengarkan dengan penuh perhatian, tenggelam sedikit di kursinya, memejamkan dan kemudian menggosok matanya, sementara pundaknya melorot. “Ini sungguh hebat,” gumamnya.

“Maaf, Pak Hakim.”

‘Tidak, tidak, saya yang memintanya.” Ia kembali duduk tegak, merapikan rambut dengan jarinya, memaksakan diri untuk tersenyum. dan berkata, “Deng

, “Dengar, Mr. Easter. Saya tidak meminta Anda untuk jadi tukang mengadu. Tapi saya khawatir dengan juri ini, karena tekanan-tekanan dari luar. Kasus gugatan semacam ini punya sejarah kotor. Bila Anda melihat atau mendengar apa saja yang samar-samar sekalipun,

179

berkaitan dengan kontak tanpa lzin, harap beritahu saya. Kita akan menanganinya.” “Baiklah, Pak Hakim.”

Berita di halaman depan Journal itu ditulis oleh Agner Layson, reporter senior yang mengikuti hampir seluruh proses pemilihan juri dan kesaksian. Layson pernah sepuluh tahun membuka praktek hukum dan sudah pernah berada di berbagai ruang sidang. Tulisannya itu, yang pertama dari satu rangkaian, menguraikan pokok-pokok perkara serta perincian para pemainnya. Tidak ada pendapat tentang bagaimana sidang itu berlangsung, tidak ada perkiraan siapa yang menang atau kalah, hanya ringkasan dari bukti medis yang sejauh ini cukup meyakinkan oleh penggugat.

Menanggapi berita itu, harga saham Pynex turun satu dolar pada pembukaan bursa, tapi siangnya sudah terkoreksi dan disesuaikan lagi, dan rupanya bisa menghadapi badai singkat itu.

Tulisan itu memancing banjir telepon dari kantor-kantor pialang di New York kepada para analis mereka di medan pertarungan di Biloxi. Bermenit-menit gosip tanpa makna terkumpul menjadi berjam-jam spekulasi tanpa arah, ketika orang-orang yang cemas di New York mengajukan dan memikirkan satu-satunya pertanyaan yang jadi persoalan: Apa yang akan dilakukan dewan juri?

Laki-laki dan perempuan muda yang ditugaskan memantau sidang itu dan memperkirakan apa yang akan dilakukan oleh juri ternyata tidak mendapat jejak apa pun.

180

Sebelas

Pemeriksaan silang terhadap Bronsky berakhir Kamis sore, dan Jumat pagi Marlee menyerbu dengan gencar. Konrad menerima telepon pertama pada pukul 07.25, menyampaikannya cepat-cepat kepada Fitch, yang sedang bicara per telepon dengan Washington, lalu mendengarkan suara itu pada speakerphone. “Selamat pagi, Fitch,” katanya manis.

“Selamat pagi, Marlee,” jawab Fitch dengan suara senang, berusaha keras bermanis-manis. “Bagaimana kabarmu?”

“Luar biasa. Nomor 2, Easter, akan memakai ke-meja denim biru muda, jeans pudar, kaus kaki putih, sepatu lari tua, Nike, kurasa. Dan dia akan membawa majalah •Rolling Stone terbitan bulan Oktober. Meat Loaf pada sampulnya. Mengerti?”

“Ya. Kapan kita bisa bertemu dan bicara?”

“Bila aku sudah siap. Adios.” Ia memutus sambungan. Telepon itu dilacak ke lobi sebuah motel di Hattiesburg, Mississippi, paling sedikit sembilan puluh menit dengan mobil.

Pang sedang duduk di kafe, tiga blok dan apartemen Easter, dan dalam beberapa menit ia berkeliaran di

bawah sebatang pohon peneduh, lima puluh meter dari VW Beetle kuno itu. Sesuai jadwal, Easter keluar melalui pintu depan pada pukul 07.45, dan mulai berjalan kaki selama 25 menit ke gedung pengadilan. Ia berhenti di toko yang sama di sudut, untuk membeli surat kabar yang sama dan kopi yang sama.




0 Response to "The Runaway Jury I"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified