Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Orang Ketiga


“Aku!”

“Tidak! Aku!”

“Aku.”

“Aku!!”

Mata sepasang pria itu saling menatap tajam. Ribuan kilatan petir bersahut-sahutan dari mata mereka yang membara. Mereka bertolak pinggang saling menantang tidak ada yang mau mengalah. Kedua tangan mereka sudah menggenggam pedang mereka masing-masing.

“Hentikan! Sedang apa kalian?” Davies muncul dengan wajah panik. Ia cepat-cepat memisahkan dua pria yang hampir tak berjarak itu. “Apa yang kalian pikir sedang kalian lakukan!?”

“Jangan ikut campur!” Trevor dan Richie mendorong Davies.

“Kalau tentang Fulvia, aku harus ikut campur!” Davies berkata tegas, “Ia adikku.”

Trevor dan Richie saling bertatapan.

“Kalian pikir aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran kalian?” selidik Davies, “Aku sudah bosan mendengar pertengkaran kalian.”

Davies duduk di kursi terdekat dan menyilangkan tangan di depan dadanya, “Silakan melanjutkan.”

Telinga Davies telah terbiasa mendengar pertengkaran kedua pria itu. Matanya sudah tak heran melihat kedua sepupu itu beradu pandang dengan penuh kemarahan dan kecemburuan. Mulutnya sudah bosan melerai.

Entah sudah berapa ratus kali mereka bertengkar dalam minggu ini. Sudah ribuan kali dalam bulan ini dan mungkin jutaan dalam tahun terakhir ini. Tidak ada yang menghitungnya dengan jelas tetapi semua orang di tempat ini mendengarnya hampir setiap saat.

Semua tahu apa yang mereka ributkan.

Semua terbiasa dengan pertengkaran ini.

Sejak kecil kedua sepupu ini telah bertengkar memperebutkan sepupu mereka yang cantik dan manis, Fulvia. Andai Davies bukan kakak kandung Fulvia, mungkin ia juga ikut dalam perebutan ini. Untungnya, mungkin, Davies adalah kakak Fulvia, kakak kandung dan satu-satunya.

Orang tua mereka semua tahu perebutan ini sejak mereka masih kecil sudah ada dan tambah parah tiap tahunnya. Tetapi, entah mengapa mereka bersikap pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar.

Orang tua Davies pun tak mau campur tangan. Mereka hanya tertawa melihat pertengkaran kedua sepupu itu dan berkata dengan tenang, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Ayah Richie malah berpendapat unik. “Bukankah ini menarik?” katanya suatu ketika melihat mereka mulai bertengkar lagi.

“Untuk apa dipusingkan?” kata ibu Trevor ketika Davies mengeluhkan meningkatnya frequency pertengkaran kedua sepupu itu akhir-akhir ini.

“Pertengkaran antar keluarga itu biasa,” ayah Trevor malah berkata tenang.

Entah mengapa para orang tua dari ketiga keluarga ini selalu menganggap enteng pertengkaran mereka.

Audrey, anak yang paling tua dalam ketiga keluarga ini juga tidak ingin campur tangan dalam perebutan yang kekanak-kanakan, dalam bahasanya, ini.

Hanya Davies yang selalu turun melerai bila dua pria ini mulai bertengkar memperebutkan Fulvia. Tapi akhir-akhir ini ia semakin malas. Pasalnya, mereka semakin sering bertengkar!

Pertengkaran mereka tidak akan ada akhirnya hingga Fulvia memilih seorang di antara mereka atau mungkin Fulvia menikah dengan orang lain. Tetapi keduanya tampaknya mustahil. Setidaknya ketika Fulvia tidak menunjukkan minatnya pada seorang pria pun.

Fulvia, adiknya yang manis, adiknya yang tercantik dan paling dikasihinya itu tidak pernah nampak bersama pria lain selain kedua sepupunya atau dirinya sendiri. Bukan karena lingkungan pergaulan Fulvia penyebabnya tetapi karena kedua sepupu itu takkan membiarkan pria lain mendekati Fulvia.

Davies tahu sikap kedua sepupu itu pula yang menjauhkan kaum adam yang ingin mendekati Fulvia itu.

Sebenarnya, Davies tidak menyukai sikap kedua sepupu itu terhadap adiknya yang terlalu melindungi itu. Tetapi Davies juga tidak suka bila Fulvia didekati oleh pria yang hanya ingin mempermainkannya atau pria yang hanya tertarik pada kecantikannya saja.

Di pihak lain, Davies tidak yakin Fulvia tahu kedua kakak sepupunya sering bertengkar memperebutkan cintanya.

Walau mereka sering bertengkar tapi kedua pria ini pandai memilih tempat dan waktu. Mereka hanya bertengkar ketika Fulvia tidak ada di sekitar mereka dan ketika Fulvia cukup jauh untuk mendengar pertengkaran mereka.

“Siapa yang pantas untuk Fulvia?” dua pria itu menyerbu Davies.

Davies terkejut.

“Aku?”

“Tidak, aku!”

“Bukan! Aku, Davies.”

“Pusing aku melihat kalian,” keluh Davies, “Mengapa kalian tidak bertanya pada Fulvia siapa yang lebih ia sukai?”

“Kalau ia menunjuk dia, aku bagaimana?” protes keduanya – saling menunjuk.

“Pusing aku. Pusing!!!” Davies memegang kepalanya, “Kalau kalian takut pada jawaban Fulvia, tanya orang lain.”

Kedua pria itu menatap Davies lekat-lekat.

Melihat gelagat tidak enak, cepat-cepat Davies menambahkan dengan tegas, “Jangan aku! Aku tidak mau. Aku menolak!”

Trevor saling berpandangan dengan Richie.

“Carilah orang yang lebih mengerti tentang hal ini.”

Kedua pria itu terus saling memandang sambil berpikir keras.

“Kusarankan mencari orang yang mengerti tentang wanita.”

Kedua sepupu itu terdiam. Mereka berpikir keras.

Irving !” seru mereka bersamaan.

Irving ?” Davies keheranan, “Mengapa harus Irving ?”

“Katamu pria yang mengerti wanita.”

Davies kebingungan diserbu dua pria itu. “Apakah aku mengatakan pria?”’ tanya Davies lebih pada dirinya sendiri.

“Ia pasti bisa tahu siapa yang lebih disukai Fulvia di antara kita,” Trevor bersemangat.

“Ia pasti tahu siapa di antara kita yang lebih cocok untuk Fulvia.”

Mereka saling memandang. Dalam pandangan mereka tersirat kepercayaan diri untuk menang. Mata mereka berkata, “Pasti aku yang lebih pantas untuk Fulvia.”

“Terserah pada kalian,” Davies memotong jalan pandangan dua pria itu dan terus menuju pintu. Di pintu, Davies berhenti dan membalikkan badan, “Sampai kalian tahu siapa yang lebih pantas untuk Fulvia, jangan bertengkar! Semua orang sudah bosan mendengarnya.”

“Bosan apa?” kepala cantik muncul di pintu dengan senyum cerianya. Mata biru keunguannya menatap ketiga pria itu dengan penuh ingin tahu.

“Tidak ada apa-apa,” sahut Trevor dan Richie bersamaan.

Fulvia menatap kakaknya. “Mereka bosan padaku?”

“Tidak ada yang perlu kaukhawatirkan, Fulvia. Mereka tidak akan pernah bosan padamu,” Davies menepuk kepala Fulvia dengan lembut, “Engkau anak yang cantik dan manis.”

“Benar,” Trevor mendekati Fulvia.

“Ayo kita pergi,” Richie menarik Fulvia.

Lagi-lagi mata dua pria itu bertemu.

Fulvia memeluk tangan kedua pria itu. “Aku sayang kalian.”

Itulah Fulvia. Tak heran Davies melihat Trevor dan Richie selalu bertengkar. Fulvia sangat cantik dan manis. Ia juga menyayangi keduanya tanpa pernah membedakan. Ia memberi sesuatu pada Richie, ia pun memberi hal yang sama pada Trevor. Tak jelas siapa yang lebih disukai Fulvia di antara mereka.

Sejak kecil mereka berempat selalu bermain bersama dan bersenang-senang bersama. Fulvia sangat dimanja oleh kakaknya dan kakak-kakak sepupunya itu. Ketiga pria itu bagaikan pengawal Fulvia yang tampan.

Dengan semakin bertambahnya tahun, hubungan Fulvia dengan sepupunya semakin erat. Kedua sepupu itu semakin mendominasi Fulvia dari kakaknya sendiri. Perlahan-lahan Davies disingkirkan dari persahabatan mereka. Sekarang Davies hampir tidak pernah lagi ada di antara mereka. Setiap Fulvia muncul, kedua sepupu itu segera mengajak Fulvia pergi dengan meninggalkan Davies seorang diri.

Mereka seperti tidak sadar telah menjauhi Davies.

Davies menghela dalam-dalam.

Sebenarnya ia tidak suka mereka meminta bantuan Irving . Tapi apa yang dapat dilakukan? Kedua pria itu benar. Dengan reputasinya menyakiti hati para gadis yang menggunung dan berganti-ganti kekasih, Irving pasti sangat mengenal sifat wanita.

Irving mungkin bisa membantu menghentikan pertengkaran kedua sepupu itu yang seperti tidak ada akhirnya.

‘Semoga,’ Davies berharap.

-----0-----

“Malam ini ada pesta…”

“Dengan siapa kau pergi?” potong kedua pria itu.

Fulvia menatap mereka bergantian.

“Dengan aku saja,” Richie mendahului.

“Tidak! Dengan aku saja.”

“Aku akan pergi dengan Davies,” Fulvia mengecewakan keduanya.

“Jangan!” mereka serempak menyahut.

“Mengapa?” Fulvia menatap mereka dengan bingung.

“Kau tahu Davies mencintai Margot. Ia ingin mendapatkan perhatian Margot.”

“Lalu mengapa?” Fulvia bertanya polos – matanya yang selalu bersinar ceria menatap Trevor.

“Kalau Margot melihatmu bersama Davies, apa yang ada dalam pikirannya?”

“Davies adalah kakakku,” protes Fulvia manja.

“Kalau kau terus menempel, bagaimana Davies dapat mendekati Margot?” Richie menjentik hidung Fulvia.

Mata Fulvia berpindah-pindah dari wajah kedua pria itu. “Benar juga.”

“Kamu akan menemanimu,” Richie menawarkan.

Trevor menatap tajam Richie.

Mata Richie membalasnya dengan isyarat untuk diam.

Fulvia menatap mereka dengan curiga. Ia mengenal baik watak kedua sepupunya ini. Mereka tidak pernah akur!

“Malam ini kami yang akan menemanimu. Boleh?”

Kepala Fulvia berpindah pada Trevor. Lalu pada Richie. “Baik,” Fulvia memeluk tangan kedua sepupunya, “Aku senang pada kalian.”

Kedua pria itu saling bertatapan. Mereka tahu ada yang harus mereka bicarakan setelah ini dan sebelum menemani Fulvia ke pesta. Sesuatu yang sangat penting.

Kemunculan pesta ini mempermudah pekerjaan Trevor juga Richie. Mereka tak perlu mengatur pertemuan Fulvia dan Irving .

Irving juga pasti diundang ke pesta itu karena Irving adalah putra tunggal Duke yang cukup berpengaruh. Dan, semua orang tahu keberadaan Irving bisa meramaikan suasana.

Setiap gadis yang mendengar Irving akan hadir dalam pesta itu, pasti akan hadir. Mereka akan berlomba-lomba mendapatkan perhatian pria gagah yang tampan itu. Semua kecuali Fulvia.

Fulvia bisa dikatakan tak pernah mengetahui keberadaan Irving di dunia ini. Mungkin ia pernah mendengar nama putra tunggal keluarga Engelschalf. Tapi ia takkan mempedulikannya karena ia telah mempunyai tiga pria tampan yang selalu berada di sisinya.

Sungguh aneh. Reputasi Irving dengan kekasihnya yang selalu berganti-ganti telah tersebar di seluruh pelosok terutama para wanita bangsawan yang suka bergosip. Tapi masih ada yang ingin mendapatkan perhatian Irving . Banyak lagi!

Apa boleh buat. Irving memang tampan. Ia juga satu-satunya calon penerus Duke of Engelschalf. Tampan, gagah juga kaya dan berkuasa. Gadis mana yang tidak tertarik pada pria itu?

Kekurangan Irving adalah sikapnya yang tidak setia. Tetapi tidak ada yang mempedulikannya.

Di abad pertengahan ini tidak heran seorang pria kaya dan berkuasa beristri banyak. Raja-raja negeri di timur sana juga memiliki banyak selir. Mereka bangga dengan istri mereka yang banyak itu. Dan, para wanita itu bangga menjadi istri orang yang berkuasa walau hanya sebagai selir. Seorang Raja tampak semakin berkuasa dan kuat bila ia beristri banyak. Itulah pemikiran utamanya. Seorang penguasa tampak semakin berjaya dengan para selir mereka yang banyak.

Mereka tidak sadar istri yang banyak itulah yang dapat menjadi sebab perpecahan suatu kerajaan bahkan kehancuran sebuah kerajaan.

Ketika permaisuri dapat memberikan putra mahkota, tak ada masalah yang menakutkan. Tapi bila yang terjadi sebaliknya, akibatnya akan sangat fatal. Dari selir yang mempunyai anak laki-laki akan berebut menjadikan putra mereka sebagai putra mahkota. Bahkan para selir itu akan bersaing demi mendapatkan perhatian Raja yang lebih besar. Karena bila mereka mendapat perhatian yang semakin besar, kedudukan mereka akan semakin terangkat. Tak jarang pula para selir ini mempengaruhi raja dalam membuat keputusan demi kepentingan mereka sendiri. Semakin raja percaya padanya dan semakin raja menyayanginya, pengaruhnya bisa lebih besar daripada sang permaisuri.

Di Eropa sedikit berbeda. Walau pengaruh agama Katolik terasa sangat kuat di Eropa, tidak menutup kemungkinan terjadi seorang pria kaya beristri banyak. Bahkan, secara sembunyi-sembunyi mereka memperistri wanita lain.

Sifat perkawinan Katolik yang suci tampaknya tak banyak mempengaruhi. Satu dan tak terpisahkan. Tapi ada yang berpisah untuk menikah dengan wanita lain.

Satu suami banyak istri ini tampaknya telah menjadi suatu kebudayaan yang sulit dihilangkan bahkan terkesan seperti sebuah budaya yang telah diturunkan dari jaman kuno dan akan terus diturunkan hingga kapan pun.

“Fulvia! Fulvia, di mana kau?”

“Mama memanggilku,” Fulvia menoleh pada kedua pria itu.

“Pergilah,” sahut Trevor – menatap tajam Richie.

Keduanya siap bertengkar tapi mereka menanti sampai Fulvia masuk ke dalam ruang tempat Countess berada.

Ketika Fulvia masuk ke dalam ruang yang serambinya menghadap taman itu, Trevor mencengkeram leher baju Richie. “Apa maksudmu dengan kami?”

“Sabar,” Richie menenangkan, “Dengarkan dulu penjelasanku.”

“Penjelasan apa!?”

“Kita berencana minta bantuan Irving bukan?”

“Ya. Lalu?”

“Kalau Irving tidak melihat sikap Fulvia pada kita berdua, bagaimana ia tahu? Aku tak setuju bila ia hanya bersamamu ketika Irving menilai dan engkau pasti tak senang Fulvia bersamaku.”

Trevor melepaskan Richie.

“Karena itu kupikir lebih adil bila ia melihat kita bersama Fulvia.”

“Kita harus menemui Irving sebelum kita bertemu di pesta nanti.”

“Sebaiknya kita berdua yang menemui Irving . Aku curiga engkau membujuk Irving untuk memihakmu.”

“Setuju!” sahut Trevor, “Aku juga curiga kau akan membujuk Irving memihakmu.”

“Kita sepakat setelah ini kita menemui Irving

“Aku sepakat.”

Fulvia mendekat dengan perasaan bersalah. “Mama memintaku menemaninya pergi. Aku tidak dapat menemani kalian.”

“Sayang sekali,” ujar Richie.

“Kami tak apa-apa. Pergilah bersama Bibi Kylie. Nanti kami akan menemuimu sebelum berangkat ke pesta.”

“Benar, kami juga harus bersiap-siap.”

“Terima kasih,” Fulvia memeluk dua pria itu, “Kalian sungguh pengertian.”

Richie dan Trevor saling bertatapan.

“Kami harus pergi sekarang,” kata mereka bersamaan. Keduanya bergantian mencium pipi Fulvia.

“Selamat tinggal,” Fulvia melambaikan tangan – mengantar kepergian mereka.

Mereka membalasnya lalu bergegas pergi.

“Jangan mendahuluiku,” kata mereka bersamaan.

“Kita akan pergi bersama-sama,” Richie menegaskan.

“Kalau ada yang mendahului, berarti ia kalah,” tambah Trevor.

“Dan dia tidak boleh mendekati Fulvia lagi selama-lamanya,” Richie setuju.

Keduanya bergegas menuju istal – tempat kuda mereka ditambatkan.

-----0-----

“Apa yang harus saya lakukan, Tuan Muda?” tanya Pedro.

Irving duduk tegak di meja bacanya. Tangannya memegang selembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi. Mata Irving terangkat dari kertas itu dan tangannya langsung meremasnya. “Kirimkan bunga mawar merah.”

“Segera hamba laksanakan, Tuan Muda,” Pedro membungkuk.

‘Seorang lagi,’ pikir Pedro ketika meninggalkan Ruang Belajar. Entah ini bunga mawar keberapa dalam minggu ini. Ia sudah tidak dapat menghitungnya lagi.

Pedro tahu jelas apa arti bunga mawar merah ini.

Ketika seorang wanita menerima bunga mawar merah itu, mereka akan mengira Irving telah menerima perasaannya tetapi mereka salah. Bunga mawar merah yang berduri itu, bagi Irving , adalah sebuah tanda perpisahan.

Tanda dia tidak mau lagi berhubungan dengan mereka.

Tanda jarak di antara mereka telah dibatasi oleh duri-duri yang tajam.

“Yang Mulia Duke tidak akan suka melihat ini,” gumam Pedro lebih lanjut.

Baru saja Pedro tiba di Hall ketika ia mendengar pintu diketuk.

Segera pria tengah baya itu membukakan pintu.

“Selamat siang,” sapa Trevor.

“Selamat siang,” Pedro tidak dapat menutupi kebingungannya melihat dua pemuda berpakaian rapi di depannya itu.

“Kami datang untuk menemui Irving ,” Richie langsung berkata tanpa perlu ditanyai, “Apakah ia ada?”

“Apakah Anda mempunyai janji dengan Tuan Muda?”

“Tidak,” jawab Trevor, “Ini adalah urusan penting dan mendadak. Saya yakin Irving tidak akan menolaknya.”

Pedro menatap dua orang itu dengan curiga. “Bila Anda berkenan, dapatkah Anda memberitahu saya siapa Anda berdua?”

“Saya adalah putra bungsu Count Garfinkelnn, Trevor” Trevor memberitahu.

“Saya adalah putra tunggal Earl of Ousterhouwl, Richie” kata Richie.

“Silakan masuk, M’lord,” Pedro mempersilakan mereka, “Saya akan memberitahu Tuan Muda atas kehadiran kalian.”

“Terima kasih,” kata mereka bersamaan.

Pedro tidak tahu apakah Irving akan senang dengan kunjungan ini.

Pedro tahu Irving paling tidak suka diganggu ketika ia sibuk. Dan Irving paling tidak suka dengan kunjungan mendadak yang tidak direncanakan seperti ini.

Langkah-langkah kaki Pedro langsung membawa mereka ke Ruang Baca tempat Irving berada sekarang.

Dengan was-was Pedro mengetuk pintu.

Ia langsung masuk begitu mendengar sahutan Irving dari dalam.

“Apa apa, Pedro?”

Dari nadanya, Pedro tahu Irving merasa terganggu.

“Maafkan saya menganggu Anda, Tuan Muda,” kata Pedro sopan, “Putra Count Garfinkelnn dan Earl of Ousterhouwl ingin bertemu dengan Anda.”

“Aku tidak mempunyai janji dengan mereka,” Irving tidak terlalu berminat untuk menemui mereka.

“Mereka ingin merundingkan sesuatu yang mendesak dan serius dengan Anda, Tuan Muda.”

Irving menutup buku yang sedang dibacanya, “Bawa mereka menghadapku.”

“Selamat siang, Irving ,” Richie memberikan salamnya.

“Kuharap kami tidak menganggumu,” kata Trevor pula.

“Kalian telah merusak kegiatanku,” kata Irving acuh.

Trevor tertawa. “Kau masih saja tetap suka berterus-terang.”

“Apa yang membawa kalian ke sini?”

“Kami ingin kau membantu kami,” kata Richie.

Irving menatap kedua pria itu dengan was-was.

“Kurasa kau telah mendengar masalah di antara kami,” kata Trevor.

“Burung-burung di udara pun menyebarkan perselisihan kalian,” sambut Irving dingin.

Lagi-lagi Trevor tertawa. “Bila demikian halnya, aku akan langsung saja ke pokok permasalahannya. Kau tahu perselisihan kami tidak akan berhenti sebelum Fulvia memilih seorang di antara kami. Tetapi Fulvia tidak pernah mau memilih. Kami pun juga tidak dapat menentukan siapa yang lebih disukai Fulvia di antara kami.”

“Karena itulah kami ingin kau membantu kami,” kata Richie antusias.

“Kami percaya kau pasti dapat membantu kami.”

“Mengapa aku harus membantu kalian!?” Irving tidak suka. “Aku tidak ingin campur tangan dalam urusan kalian. Aku menolak!”

Trevor tersenyum mendengar tolakan tegas itu.

“Kami juga tidak ingin memaksamu bila kami mempunyai pilihan lain,” kata Trevor.

“Seseorang harus melakukan sesuatu sebelum sesuatu yang buruk terjadi,” timpal Richie.

“Kurasa kita telah jelas,” Irving berkata dingin, “Ini tidak ada hubungannya denganku. Dan mengapa pula harus aku? Kalian bisa mencari orang lain. Aku tidak berminat.”

Irving benar-benar tidak berminat membantu mereka berdua. Ia tidak berminat untuk mencampuri urusan orang lain. Ia bukan orang yang suka campur tangan dalam affair orang lain.

Biarlah semua pria di dunia ini musnah hanya karena seorang wanita.

Biarlah seisi dunia ini saling membantai demi seorang wanita.

Biarlah sejarah Trojan terulang lagi.

Irving tidak peduli selama mereka tidak mengusiknya.

Irving cukup puas dengan kehidupannya saat ini dan ia tidak tertarik untuk mencari masalah maupun terlibat dalam masalah orang lain.

Dan, kedua pria yang sekarang berdiri di depannya ini…

Siapa yang tidak tahu mereka? Siapa yang tidak pernah mendengar cinta segitiga mereka dengan sepupu mereka?

Semua tahu. Semua pernah mendengar bagaimana kedua pria ini terus berebut sepupu mereka yang manis.

Irving tidak tahu siapa gadis itu tetapi Irving tahu seperti apa gadis binal semacam itu.

Irving tidak pernah bertemu gadis itu tetapi Irving telah menjumpai banyak wanita seperti itu.

Irving tidak mengerti bagaimana kedua pria ini bisa terjerat oleh wanita seperti itu. Irving tidak yakin kedua pria ini sadar mereka telah jatuh dalam perangkap gadis licik itu. Irving percaya mereka tidak sadar gadis itu sedang tertawa riang di atas perselisihan mereka.

Bukankah itu ciri umum para wanita?

Wanita mana yang tidak tertarik untuk mencari seorang pria kaya yang dapat menghidupinya dan menghidupi impian-impiannya? Wanita mana yang tidak bangga atas pertengkaran dua pria hanya untuk memperoleh dirinya?

Irving tidak percaya wanita semacam itu ada.

Bila mereka tidak ada, mengapa banyak wanita yang rela menjadi selir raja? Mengapa banyak wanita yang rela menjadi simpanan pria lain? Mengapa banyak wanita yang suka berselingkuh dengan pria lain?

Irving tahu persis hal itu.

Di antara sekian wanita banyaknya wanita yang melintas dalam hidupnya, ada banyak wanita yang telah bersuami. Ada pula wanita binal yang dengan jelas-jelas menunjukkan tujuan mereka mendekatinya.

Irving juga tidak segan menghabiskan malam bersama mereka. Apa pun yang kelak terjadi oleh affair mereka bukanlah urusannya. Wanita-wanita itulah yang mencarinya dan ia hanya memanfaatkannya untuk memuaskan dirinya sendiri.

Bukanlah masalah besar baginya untuk bermain dengan satu wanita di malam ini dan berkencan dengan wanita lain di pagi harinya.

Irving tahu kaum hawa itu akan rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkannya.

Irving sadar benar akan keadaannya, akan pesonanya, akan kekuasaannya, akan kharismanya yang menaklukan para wanita itu.

Irving tahu posisinya dan ia tahu bagaimana menggunakannya untuk memuaskan dirinya sendiri.

Dan mereka tidak tahu Irving tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh dalam pelukan mereka.

Ia adalah miliknya sendiri dan hanya dia seorang!

Dan dua pria ini…

Irving memandang mereka dengan tidak senang. Mengapa mereka mencarinya hanya untuk terlbat dalam cinta segitiga mereka?

“Karena hanya kau yang bisa,” jawab Richie penuh antusias.

“Kami telah memutuskan hanya pria yang memahami wanita yang dapat memberikan jawabannya pada kami,” kata Trevor pula.

“Dan orang itu adalah kau,” mereka berkata serempak.

“Aku sungguh tersanjung. Sayangnya, aku tidak tertarik. Aku tidak berminat.”

“Jangan bersikap seperti itu, Irving ,” bujuk Trevor, “Kau pasti dapat membantu kami.”

“Kau hanya cukup melihat bagaimana sikap Fulvia pada kami dan memberitahukan pendapatmu pada kami.”

“Aku tidak tertarik,” Irving menuju kursinya dan mengambil buku yang sedang dibacanya sesaat sebelum mereka mengusiknya itu.

“Ini tidak akan merepotkanmu,” bujuk Richie, “Kau hanya perlu mengamati. Kau hanya butuh mengamati sikap Fulvia. Aku yakin ini tidak akan menyita waktumu.”

“Aku bahkan yakin kau akan bisa mendapatkan jawabannya dalam sekejap.”

“Apa kau pikir aku seorang peramal?” Irving menatap tajam Trevor.

“Tidak, aku tidak mengatakannya,” Trevor cepat-cepat membela diri, “Tapi dengan pemahamanmu terhadap wanita itu, aku yakin kau bisa mengetahuinya begitu kau bertemu Fulvia.”

Irving menatap tajam kedua pria yang berdiri di depan meja bacanya dengan antusias itu.

Mereka begitu yakin ia akan membantu mereka.

Mereka begitu pasti ia akan dapat melihat siapa di antara mereka berdua yang lebih dicintai sepupu mereka itu.

Irving telah mengatakan berulang kali ia tidak berminat. Ia tidak tertarik untuk terlibat dalam cinta segitiga mereka. Ia tidak peduli cinta segi berapa pun yang dimiliki mereka.

Irving hanya tahu ia tidak akan tertarik pada gadis semacam itu.

Gadis yang jelas-jelas menikmati perseteruan di antara dua pria hanya untuk memperebutkannya bukanlah tipe gadis dengan siapa Irving akan berkencan.

Tapi kedua pria ini…

Kedua pria ini benar-benar membuatnya tidak nyaman. Ia sudah mulai muak dengan kehadiran mereka. Ia sudah mulai bosan dengan bujukan-bujukan mereka.

Irving tahu kedua pria ini akan terus di sini mengganggunya selama ia tidak menyetujui mereka. Maka dengan terpaksa, Irving berkata,

“Aku akan mempertimbangkannya.”

“Kami percaya kau akan,” kedua pria itu langsung menggenggam tangannya dengan mata mereka yang berbinar-binar.

Cara keduanya memandangnya benar-benar membuat Irving ingin cepat-cepat mengusir keduanya dari tempat ini.

Mereka bukanlah teman dekat tetapi mereka saling mengenal. Keluarga mereka telah saling mengenal sejak berabad-abad lalu. Dan kedua pria ini bersikap seolah-olah mereka adalah teman akrab!

“Kami akan menantimu di pesta malam ini,” Trevor memberitahu.

“Fulvia akan datang dalam pesta nanti,” terang Richie, “Kami akan memperkenalkan kalian di pesta itu.”

Irving terkejut. Kedua pria ini tampaknya sudah merencanakan semuanya dengan baik sebelum datang ke Nerryland. Dan mereka yakin sekali rencana mereka akan berhasil.

“Kita akan berjumpa lagi dalam pesta nanti malam,” kata mereka sebelum meninggalkan Ruang Baca.

Kedua sepupu itu pasti tidak akan melepaskannya dengan mudah sebelum ia menjawab pertanyaan di antara mereka itu. Irving tahu itu dan ia ingin segera cepat-cepat menyelesaikannya dan kembali pada kehidupannya yang tenang.

Dan sekarang, di sinilah ia berada, di antara dua sepupu yang mengapitnya seakan-akan takut ia kabur dan gadis yang menjadi penyebab semua ini di depannya.

Fulvia menatap Irving lekat-lekat.

Irving tidak suka cara Fulvia menatapnya.

“Anda tidak seperti yang saya dengar,” Fulvia tersenyum, “Tapi juga tidak jauh meleset dari perkiraan saya.”

Irving tidak menanggapi.

“Sepertinya mereka mempunyai alasan mengenalkan Anda pada saya,” Fulvia menatap kedua kakak sepupunya.

Trevor serta Richie kaget mendengarnya.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak,” Trevor langsung berkelit.

“Benar,” Richie langsung menambahkan, “Apakah kau tidak suka mempunyai seorang teman baru?”

“Kalian…,” Fulvia mendesah, “Kadang aku tidak mengerti apa yang kalian rencanakan.”

Kedua pria itu terperanjat. Mereka tertawa.

“Nah, M’lord,” Fulvia menatap Irving penuh harap, “Maukah Anda menemani saya sepanjang pesta ini?”

Irving terkejut. Seumur-umur, baru kali ini ia diajak seorang gadis.

Kedua kakak sepupu Fulvia juga tidak kalah kagetnya dengan ajakan Fulvia yang berani itu.

Richie menyikut Trevor. Matanya mengisyaratkan untuk membujuk Irving menerima ajakan itu.

“Benar. Benar,” Richie langsung menanggapi, “Mengapa kalian tidak memperdalam hubungan kalian?”

Irving menatap tajam Richie.

Richie langsung pura-pura tidak melihatnya.

‘Kalian ingin aku segera menyelesaikan tugas?’ pikirnya sinis, ‘Jangan khawatir. Aku juga tidak ingin berlama-lama terlibat dengan kalian.’

“Dengan senang hati, Lady Fulvia,” ia membungkuk, meraih tangan Fulvia dan menciumnya.

Fulvia tersenyum senang. Ia segera menyambut uluran tangan Irving dan berjalan di sisi pria itu ke lantai dansa.

“Terima kasih,” bisik Fulvia ketika mereka sudah cukup jauh bagi Trevor dan Richie untuk mendengar kata-katanya.

Irving mengabaikannya.

“Anda membantu saya menyelesaikan masalah saya yang paling merepotkan,” Fulvia menjelaskan.

Irving mulai tidak mengerti arah pembicaraan gadis ini.

“Saya tidak akan tahu harus bagaimana menghadapi mereka berdua bila Anda tidak muncul,” Fulvia menjelaskan lebih lanjut, “Mereka akan mulai bertengkar bila Anda tidak muncul.”

Irving melirik tajam Fulvia. Seperti dugaannya, gadis ini tahu dan tampaknya ia masih ingin terus menikmati pertengkaran kedua orang itu.

Fulvia melirik ke belakang. Ia melihat kedua kakak sepupunya itu sudah pergi dari tempat itu.

“Terima kasih,” Fulvia menarik tangannya dari siku Irving , “Dari sini saya sudah bebas.”

“Apa yang akan kau lakukan?” kata-kata itu terlompat begitu saja ketika Irving melihat gadis itu seperti seekor burung yang siap untuk terbang bebas.

“Saya rasa saya akan pulang,” kata Fulvia, “Saya tidak ingin berlama-lama di sini.”

Irving tidak mengerti.

“Sekali lagi, terima kasih, M’lord,” Fulvia memberi hormat lalu ia berbalik meninggalkan tempat itu.

Kedua kakak sepupunya itu telah menghilang dalam kerumunan para tamu. Tampaknya mereka telah benar-benar melupakannya. Davies juga sibuk menemani Lady Margot. Sementara itu kedua orang tuanya entah berada di sisi mana dari bangunan ini.

Fulvia merasa sudah tidak ada gunanya ia berada di tempat ini. Ia telah menyelesaikan tugasnya menemani kedua orang tuanya dan menghormati sang tuan rumah dengan datang ke pesta ini. Ketiga kakaknya juga sudah mendapatkan kesibukan mereka sendiri-sendiri.

Sekarang ia bisa pulang dengan tenang.

Langkah-langkah kaki Fulvia terhenti. Perasaannya tidak mungkin salah.

Kini ia telah berada jauh dari Hall tempat di mana pesta itu diselenggarakan. Serambi tempatnya berdiri juga sepi tetapi ia tetap dapat mendengar langkah-langkah kaki yang berat di belakangnya.

‘Seseorang mengikuti!’ insting Fulvia memperingatinya.

Fulvia membalik tubuhnya. “M’lord!?” Fulvia kaget, “Mengapa Anda di sini?”

Irving juga tidak mengerti mengapa ia mengikuti gadis itu. “Kurasa aku telah berjanji di depan kedua kakak sepupumu untuk menemanimu sepanjang pesta ini.”

Fulvia melihat ke dalam gedung. “Mereka tidak akan suka melihat Anda berada di luar bersama seorang gadis ingusan seperti saya.”

Irving terkejut mendengar tanggapan tidak terduga itu.

“Tidak ada hubungannya denganku,” tanggap Irving acuh.

“Jadi itu benar,” Fulvia tersenyum geli.

Irving tak ingin menanggapi.

“Terima kasih Anda sudah menemani saya sampai di sini,” kata Fulvia sopan, “Dari sini saya bisa pulang sendiri.”

Sesuatu memperingati Irving . “Kau akan pulang sendiri?”

“Jangan khawatir,” Fulvia tersenyum, “Kereta kami akan mengantar saya pulang.”

Tiba-tiba saja Irving merasa begitu bodoh. Bagaimana mungkin gadis manja sepertinya pulang sendiri di malam buta seperti ini?

Irving tidak menahan juga tidak melarang Fulvia pergi meninggalkannya ke halaman belakang.

Derap kaki kuda terdengar kian mendekat.

“Seorang lagi gadis manja,” katanya berlalu dari serambi.

Kaki-kaki kuda itu mulai beranjak menuju pintu gerbang.

Tiba-tiba Irving merasa asing. Sesuatu… sesuatu membuatnya was-was.

Irving berbalik.

Di pintu gerbang tampak sesosok gadis melacu kudanya dengan cepat.

“Gadis itu!?” Irving kaget melihat sosok itu kian menjauh.

Mereka menghilang dalam kegelapan malam.

‘Bukan urusanku,’ Irving berbalik dan kembali ke tempat di mana ia seharusnya berada.

Seorang pria berdiri di sana – beberapa meter dari serambi. Ia mengawasi Irving dengan perasaan tidak senang yang tergambar jelas di wajahnya yang mengeras itu.

Irving melihat Davies dan ia tidak suka dengan cara pria itu memandangnya. Ia tidak mempunyai masalah dengan pria itu tetapi pria itu seakan-akan ingin menghitung dendam di antara mereka.

Davies memelototi Irving . Ia tidak suka pria itu. Ia tahu ia seharusnya menghentikan kedua sepupunya pagi ini. Ia sadar pria itu akan membawa bahaya pada Fulvia tapi kedua sepupu itu tidak tahu. Bahkan Davies dapat memastikan keduanya tidak akan peduli selama mereka tahu Irving akan dapat membantu mereka memecahkan perseteruan di antara mereka ini.

“Aku peringati kau jangan mempermainkan adikku,” bisik Davies.

“Aku tidak tertarik pada gadis ingusan sepertinya,” balas Irving dingin.

“Kau tidak pantas mengatakan hal itu. Kau tidak mengenal Fulvia,” Davies terang-terangan menunjukkan kekesalannya.

“Apa bedanya ia dengan gadis-gadis lainnya?” kata Irving sambil berlalu meninggalkan Davies dalam kedongkolannya.

Bila kedua sepupu itu tidak menyadari bahaya yang dibawa Irving , maka Davies lah satu-satunya orang yang dapat melindungi Fulvia.

Davies tidak akan membiarkan pria dengan reputasi miring semacam ini mendekati adiknya.

Ada apa, Davies?”

Davies berbalik.

“Mengapa kau tiba-tiba meninggalkanku?” tanya Margot.

“Aku perlu mengurus suatu masalah,” kata Davies sambil menggiring wanita itu kembali ke dalam.

2

Fulvia tidak tenang.

Hatinya gelisah. Pikirannya kacau.

Sepanjang pagi ini ia telah berkeliling Unsdrell dan terus mengelilinginya tetapi ia masih belum mendapatkan suatu ide.

Fulvia telah membalik-balik semua buku yang dirasanya dapat memberinya ide di Ruang Buku.

Fulvia telah mengamati setiap lukisan yang dilaluinya untuk mendapatkan ide darinya.

Fulvia telah berkeliling taman untuk melihat andai ada tanaman yang dapat memberinya ide bagus.

Fulvia telah meneliti setiap ornament-ornamen yang menghiasi Unsdrell.

Setiap sudut Unsdrell telah ditelitinya tetapi Fulvia masih tidak tahu harus memberi hadiah apa untuk kedua orang tuanya pada ulang tahun pernikahan mereka mendatang. Ia ingin memberi suatu hadiah istimewa untuk keduanya tetapi ia tidak tahu apa.

Tidak akan ada yang dapat membantunya memecahkan masalah ini.

Davies, kakaknya yang tidak peka itu tidak akan mengerti keinginannya ini.

Fulvia yakin bila Davies akan berkata,

“Untuk apa kau pusingkan hal semacam itu? Kulihat Papa dan Mama tidak kekurangan apa pun.”

Bahkan Fulvia tidak akan kaget bila kakaknya lupa ulang tahun pernikahan orang tua mereka telah ada di depan mata. Hanya sebulan mendatang.

Fulvia juga tahu mereka tidak kekurangan apa pun. Tetapi ia tetap ingin memberikan sesuatu yang berharga pada mereka. Sesuatu yang istimewa untuk keduanya.

Tetapi apakah itu?

“Kulihat pagi-pagi kau sudah menjadi hantu yang menggentayangi Unsdrell.”

Fulvia terkejut.

Davies bersandar di dinding Hall seakan-akan telah menanti kemunculannya sejak lama.

“Kau mencari sesuatu?” Davies mendekat.

“Tidak,” Fulvia berbohong, “Aku tidak mencari sesuatu.”

“Tidak biasanya kau menggentayangi Unsdrell seperti ini.”

“Sungguh, Davies,” Fulvia meyakinkan, “Aku tidak sedang mencari sesuatu.”

“Apa kau sedang memikirkan kedua pria itu?”

“Dua pria?” Fulvia heran, “Siapa?”

“Jangan berpura-pura tidak tahu,” Davies mengejek.

“Kau maksud Trevor dan Richie?” tanya Fulvia. “Tidak. Aku tidak sedang memikirkan mereka.”

“Kukira kau sedang berpikir mengapa mereka berdua tidak muncul hari ini.”

Fulvia tertawa geli.

“Aku hampir saja melupakan mereka kalau kau tidak mengingatkanku,” Fulvia menahan tawa gelinya, “Kau benar. Tidak biasanya mereka tidak melaporkan diri hingga siang.”

Davies menatap adiknya penuh curiga.

“Aneh. Tidak biasanya mereka absent seperti ini,” Fulvia menatap kakaknya, “Kau tahu apa yang terjadi pada mereka?”

“Rasanya aku lebih tahu sesuatu telah terjadi padamu,” Davies menjawab tenang, “Sesuatu pasti telah mengganggumu sehingga kau melupakan kedua pria itu.”

“Kau terlalu curiga, Davies,” Fulvia mengelak, “Katakan, Davies, apakah kau tahu bulan depan ada hari special apa?”

“Hari special?” Davies berpikir keras, “Kurasa tidak ada.”

“Sudah kuduga,” kata Fulvia.

“Apa?”

“Tidak ada,” Fulvia melalui kakaknya sambil melambaikan tangan, “Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Kau kira aku percaya?” Davies menangkap pinggang gadis itu dan menggelitiknya.

Fulvia berteriak kaget.

“Hentikan, Davies!” katanya menahan rasa geli.

“Kau yang memintanya,” Davies tidak berhenti.

“Oh, Davies,” Fulvia menepis tangan Davies dengan sia-sia, “Hentikan.”

“Aku hanya akan berhenti bila kau mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu itu.”

“Baiklah, Davies. Aku menyerah.”

Davies langsung menghentikan godaannya.

“Aku sedang berpikir, kakakku sayang,” Fulvia melingkarkan tangannya di leher kakaknya dengan manja, “Mengapa kau sangat tidak peka seperti ini?”

“Kau mengatakan apa?” nada Davies mengandung bahaya.

Fulvia tersenyum nakal. “Kau adalah pria yang paling tidak peka yang pernah kutemui.”

“Aku mengkhawatirkanmu dan kau mengatakan aku tidak peka,” Davies merujuk, “Apakah itu hadiah atas kepedulianku padamu?”

Fulvia mendekatkan wajahnya. “Ya, kakakku sayang,” ia mencium pipi Davies lalu berlari menghindari kakaknya.

“Kau!?” Davies langsung mengejar gadis itu.

Fulvia tertawa riang sambil berlari ke luar Unsdrell.

“Aku akan menangkapmu!” Davies mengejar Fulvia.

“Cobalah kalau kau bisa,” Fulvia menoleh.

“Fulvia! Lihat depan!” Davies tiba-tiba berteriak panik.

Kaki Fulvia tergelincir sesuatu. Fulvia kaget. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

“Aku mendapatkanmu,” seseorang menangkap tubuh Fulvia.

“Tangkapan bagus, Richie,” kata Davies.

Fulvia melihat pria penolongnya dengan heran. “Richie? Mengapa kau di sini?”

“Aku telah menolongmu dan itukah sambutanmu padaku?” Richie sedih.

“Tidak. Tidak,” Fulvia cepat-cepat membenarkan ucapannya, “Aku hanya heran mengapa kau ada di sini.”

“Tidak biasanya kau muncul di siang hari seperti ini,” Davies memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Papa menahanku. Ia menceramahiku lagi.”

“Paman Graham benar, Richie,” Davies membela Earl Graham, “Sudah saatnya kau bersikap lebih dewasa. Engkaulah satu-satunya pengganti ayahmu.”

“Bagaimana denganmu?” Richie tidak dapat menerima pendapat Davies itu, “Kau juga satu-satunya penerus ayahmu dan kau masih saja senang bercanda dengan Fulvia.”

“Apa boleh buat,” Davies menyerah, “Ia yang memulainya.”

Fulvia tersenyum nakal.

“Lagipula, Richie, aku jauh lebih muda darimu,” Davies menambahkan dengan senyum penuh kemenangan.

“Kau hanya lebih muda tiga tahun dariku. Tidak lebih dari itu,” Richie yang paling tua di antara ketiga pria itu jengkel.

“Di mana Trevor?” tanya Fulvia mengalihkan pembicaraan.

“Trevor belum datang?” Richie bertanya heran.

“Aku kira kalian datang bersama-sama,” Davies heran kemudian ia menambahkan, “Setelah mengurus masalah kalian, tentunya.”

“Tidak, Davies. Jangan mencurigai kami seperti itu. Kami sudah berjanji padamu.”

“Janji apa?” tanya Fulvia tertarik.

“Janji di antara kaum pria, Fulvia,” Richie tersenyum.

“Tampaknya aku tidak boleh tahu,” Fulvia kecewa.

Mereka bertiga masuk ke dalam Unsdrell.

“Mengapa Trevor belum muncul juga?” Davies keheranan, “Biasanya pagi-pagi ia sudah muncul.”

“Entahlah,” kata Richie, “Aku tidak mendengar apa yang terjadi padanya. Tetapi, apa pun yang terjadi, aku yakin Trevor baik-baik saja.”

“Ia pria baja,” Fulvia sependapat, “Mungkin ia mempunyai urusan keluarga. Kuharap tidak terjadi sesuatu dengan mereka.”

Davies memperhatikan Fulvia yang tampak lebih mengkhawatirkan keluarga Trevor daripada pria itu sendiri.

“Bagaimana perkembangan kalian?”

Davies tidak mengerti pertanyaan Richie itu.

“Jangan katakan padaku kalian masih belum mengalami perkembangan apa pun,” Richie merangkul Davies, “Kau benar-benar payah.”

Fulvia tersenyum. Ia teringat saat pertama kali Davies bertemu Margot.

Mata Davies tidak pernah terlepas dari Lady Margot. Ia juga tidak menghiraukan Fulvia yang saat itu berada di sisinya. Hal itu cukup membuat Fulvia menyadari perubahan yang terjadi pada kakaknya.

Davies tidak pernah menunjukkan perhatian khusus pada satu wanita. Ia bahkan dapat dikatakan tidak mengerti wanita. Tetapi, ia rela melakukan apa saja untuk adiknya tercinta, Fulvia.

Trevor juga Richie yang selalu kesal karena Fulvia lebih suka memilih Davies daripada mereka, juga menyadarinya. Dan sebelum Fulvia melakukan apa pun untuk kakaknya itu, kedua pria itu telah mendekati Lady Margot.

Mereka membawa Lady Margot menemui Davies dan itulah awal perkenalan mereka.

Sejak itu pula Fulvia menyadari ia tidak lagi mempunyai orang ketiga yang dapat dipilihnya demi menghindarkan pertengkaran kedua kakak sepupu yang disayanginya itu.

Countess muncul dari dalam Ruang Keluarga. Ia melihat ketiga teman sepermainan itu berjalan beriring-iringan di koridor.

“Richie!” Countess gembira melihat pria itu muncul, “Kupikir hari ini kau tidak datang.”

“Papa menahan saya, Bibi. Ia mulai menceramahi saya lagi.”

“Aku dapat mengerti apa yang dikhawatirkan Graham,” kata Countess, “Dan aku sependapat dengannya.”

Richie mulai melihat gelagat yang tidak enak dan ia menjadi was-was.

“Aku tidak pada tempatnya untuk menceramahimu,” Countess membuat Richie lega, “Aku yakin Graham telah mengatakan semuanya.”

“Ya,” Richie mengeluh, “Ia berceramah sepanjang pagi.”

“Ia mengkhawatirkanmu,” Countess Kylie menghibur. “Kau mau makan siang bersama kami, Richie?” Countess mengundang, “Kurasa makan siang sudah siap.”

“Tentu, Bibi,” Richie menerima ajakan itu.

Mereka meneruskan langkah kaki mereka ke Ruang Makan.

“Baru saja aku menduga kau akan melewatkan acara makan siang di sini, Richie,” Count Clarck yang telah berada di dalam Ruang Makan menyambut rombongan itu.

“Bagaimana mungkin saya melewatkan acara seperti ini,” Richie tertawa.

“Kurasa orang tuamu akan marah bila kau terus-terusan seperti ini,” Davies berkomentar, “Setiap hari kau selalu melewatkan waktu makan siangmu di sini.”

“Sebaliknya, Davies, orang tuaku pasti mengira aku sakit bila aku pulang rumah untuk makan siang.”

Mereka tertawa geli.

“Rasanya ada yang kurang bila tidak ada Trevor,” gumam Fulvia.

“Di mana Trevor?” Count yang baru menyadari kekurangan anggota keluarga mereka di meja makan bertanya heran. “Biasanya ia tak pernah melewatkan makan siang di sini.”

“Entahlah. Sejak pagi ia belum muncul,” jawab Davies.

“Kau tidak menyembunyikannya, bukan, Richie?” Countess tersenyum penuh arti.

“Tentu saja tidak, Bibi.”

“Akulah yang akan menyembunyikannya sebelum ia menyembunyikanku.”

Mereka menoleh ke pintu.

“Trevor!” Fulvia terkejut, “Kukira kau tidak datang.”

“Bagaimana mungkin aku melewatkan hari tanpa melihatmu, Fulvia,” Trevor mencium pipi Fulvia.

“Akhirnya kau muncul juga,” dengus Richie tidak senang.

“Apa yang membuatmu terlambat?” tanya Countess.

Trevor duduk di sisi Richie dan mendesah panjang.

“Mereka bertengkar lagi,” katanya, “Kali ini masalahnya benar-benar parah. Lewis pulang malam sambil mabuk dan pelayan mengatakan ia melihat Lewis pergi bersama seorang wanita sebelumnya. Pagi-pagi ini kami berangkat ke Greenwalls untuk menghiburnya.”

Countess mendesah panjang. “Aku sungguh tidak mengira Lewis akan berubah seperti ini. Dulu ia adalah pemuda yang baik.”

“Kurasa tekanan usahanya membuatnya berubah,” komentar Count.

“Rasanya aku ingin mencekik pria sial itu,” Trevor geram, “Ia hanya bisa membuat Audrey sedih.”

“Bagaimana keadaan Audrey sekarang?” tanya Fulvia cemas.

“Ia sudah lebih baik,” jawab Trevor, “Sekarang Mama ada bersamanya.”

Fulvia termenung. Ia sungguh sedih memikirkan keadaan kakak sepupunya itu.

Audrey adalah wanita cantik yang baik hati. Fulvia sangat menyayangi dan mengagumi wanita yang lebih tua dua belas tahun darinya itu. Audrey sering menjaga dan merawatnya ketika ia masih kecil. Fulvia menyayangi Audrey seperti kakak kandungnya sendiri.

Enam tahun yang lalu, Audrey menikah dengan anak seorang pedagang kaya. Cinta di antara keduanya begitu besar hingga Count of Garfinkelnn langsung merestui Audrey ketika mereka berniat menikah.

Seperti halnya yang lain, Fulvia menyayangi Lewis, kakak sepupu iparnya yang baik hati itu. Ia masih anak-anak ketika mereka menikah. Ia masih kecil untuk mengerti arti sesungguhnya sebuah pernikahan. Tetapi itu tidak mencegah Fulvia mengagumi cinta mereka berdua.

Sayangnya, bahtera rumah tangga mereka yang bahagia itu tidaklah bertahan lama.

Setahun yang lalu mereka mengalami musibah. Kebakaran hebat melalap rumah mereka. Hingga sekarang tidak ada yang tahu pasti apa penyebabnya tetapi ada yang mengatakan itu semua karena kelalaian seorang pelayan.

Dalam kebakaran itu, mereka kehilangan harta bendanya dan juga orang tua Lewis. Kata orang-orang, orang tua Lewis tewas terbakar karena ingin menyelamatkan Audrey dan bayi dalam kandungannya.

Audrey selamat tetapi bayi dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan.

Lewis yang saat itu berada di luar negeri untuk kepentingan usaha keluarga mereka, menyalahkan diri atas musibah itu. Perasaan bersalah ditambah kerugian yang harus ditanggungnya atas musibah itu membuatnya perlahan-lahan berubah.

Semenjak saat itulah Lewis menjadi suka mabuk-mabukan dan bermain perempuan. Setiap hari ia pulang malam dalam keadaan mabuk dan ia membuat Audrey cemas.

Keluarga Garfinkelnn berniat membantu mereka tetapi Lewis menolaknya.

“Ini adalah urusan keluargaku!” bentaknya setiap kali ada yang mau membantunya.

Trevor bahkan pernah memaksa Audrey untuk pulang bersamanya. Tetapi, Audrey bersikeras untuk tinggal bersama Lewis di Greenwalls.

Mereka tahu tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk Audrey selain terus memberikan dukungan.

“Davies, kau tidak akan seperti itu bukan?” Fulvia bertanya penuh harap. “Aku akan sangat membencimu kalau kau seperti itu.”

“Jangan khawatir, Fulvia,” kata Trevor tersenyum simpul sambil melirik Davies, “Davies tidak akan mengkhianati Margot. Sebaliknya, aku rasa besar kemungkinan Margot meninggalkan kakakmu.”

“Trevor!” Davies marah.

“Bukankah itu adanya?” Trevor membela diri, “Kulihat kau benar-benar tidak peka terhadap wanita. Kau bahkan tidak pernah mengajak Lady Margot keluar. Kau benar-benar tidak mengerti wanita.”

“Kurasa hal itu tidak mungkin,” Fulvia berkata pelan, “Lady Margot menyukai Davies karena ia seperti itu.”

Semua langsung melihatnya.

“Margot pernah berkata padaku, dengan sifat Davies yang seperti ini, ia tidak perlu khawatir akan ada wanita lain yang merebut Davies darinya.”

Davies terdiam sambil tersipu-sipu.

Trevor dan Richie langsung tertawa geli melihatnya.

“Fulvia, maukah kau menemaniku melihat keadaan Audrey,” suara Countess Kylie berlomba dengan tawa riang kedua sepupu itu, “Kita bisa sekalian pergi berjalan-jalan bila kau mau. Kurasa engkau akan merasa lebih baik setelah kau keluar mencari hawa baru.”

Fulvia terkejut. “Mama tahu?”

“Aku adalah ibumu,” Countess tersenyum bangga, “Bagaimana mungkin aku tidak tahu apa yang dipikirkan olehmu?”

“Apakah kita bisa mengajak Audrey pula?” tanya Fulvia, “Kurasa ia jauh lebih membutuhkan udara segar daripada aku.”

“Tentu,” jawab Countess, “Mungkin kita juga bisa mengajak Horace dan Yolanda.”

Fulvia langsung menoleh pada para pria di ruang itu, “Kalian mau ikut?”

“Tidak,” jawab Trevor.

“Kali ini aku melewatkannya,” Richie cepat-cepat mengelak.

“Aku masih punya urusan yang harus kukerjakan,” Count menolak.

“Aku tidak tertarik,” Davies juga menolak.

“Sayang sekali,” Fulvia kecewa.

“Kurasa kita harus segera bersiap-siap, Fulvia,” Countess berdiri.

“Ya, Mama,” Fulvia langsung mengikuti ibunya meninggalkan Ruang Makan.

“Selamat bersenang-senang,” kaum pria itu tersenyum.

Sepeninggal mereka,

“Kupikir kau senang pergi bersama Fulvia,” Trevor mengejek Richie.

“Tidak bila kaum wanita itu pergi bersama-sama,” jawab Richie ringan. Lalu ia melirik Trevor, “Kesempatan ini kuberikan padamu. Kali ini aku mengalah padamu.”

“Kau!?” Trevor berdiri, “Aku tidak butuh belas kasihanmu!”

“Oh, kau mau mulai lagi?!” Richie langsung berdiri, “Katakan saja kalau takut pergi bersama mereka.”

“Jangan menuduhku! Kau sendiri juga tidak mau pergi bersama mereka.”

“Pengecut!”

“Apa kau juga bukan seorang pengecut!? Kau takut pada mereka, bukan?”

Count Clarck tersenyum geli. “Tentu akan sangat menakutkan bila pergi bersama-sama mereka,” Count berdiri, “Aku tidak ingin membuang waktu dan tenagaku hanya untuk berkeliling sepanjang hari bersama mereka.”

Davies yang sudah tidak ingin lagi menghentikan kedua sepupu yang suka bertengkar itu juga bersiap-siap meninggalkan Ruang Makan.

“Aku tidak akan heran bila mereka baru pulang besok pagi,” katanya sambil mengikuti ayahnya. Di pintu, Davies berbalik dan berkata tenang, “Rapikan kembali Ruang Makan bila kalian selesai.” Dan ia menutup pintu erat-erat.

Seperti dugaannya, ia mendengar suara benda-benda dilempar dari dalam Ruang Makan.

“Kurasa kali ini yang lebih menakutkan adalah mereka,” Davies menyimpan tangannya di dalam saku celananya.

“Kukira kau ada di dalam untuk menghentikan mereka.”

“Aku sudah bosan,” keluh Davies, “Biarkan saja mereka berkelahi sampai mereka puas.”

“Mereka benar-benar akrab,” Count Clarck tersenyum.

“Akrab? Mereka?” Davies bertanya heran, “Kurasa tidak. Dunia pasti sudah terbalik bila mereka saling berangkulan.”

Count Silverschatz tertawa mendengarnya.

-----0-----

“Terima kasih kalian mau datang,” Audrey tersenyum bahagia tetapi itu tidak dapat menutupi guratan-guratan kesedihan di wajahnya.

“Aku senang melihat kau sudah lebih baik,” kata Countess Kylie.

“Terima kasih, Bibi Kylie. Saya sungguh merepotkan kalian.”

“Jangan kaupikirkan itu. Lagipula anak gadisku juga memerlukan udara segar.”

“Fulvia?” Audrey menatap gadis itu, “Apa yang sedang kaurisaukan?”

“Tidak ada,” Fulvia tidak ingin memberitahu seorang pun di antara mereka, “Aku hanya berkeliling Unsdrell pagi ini dan semua mengatakan aku menggentayangi Unsdrell.”

“Kalau kau melihat muka seriusnya pagi ini, kau akan sependapat dengan kami.”

“Audrey,” Fulvia cepat-cepat mengalihkan perhatian, “Apakah kau mau ikut keluar bersama kami?”

“Kami datang bukan tanpa tujuan, Audrey,” Countess Yolanda mengingatkan, “Kami datang untuk membawamu keluar. Kau perlu melupakan segala masalahmu itu untuk sejenak.”

“Mengurung diri sepanjang hari di sini tidak akan memecahkan masalahmu dan hanya akan merusak kesehatanmu,” Countess Horace, ibu Audrey menimpali.

“Tentu,” Audrey tersenyum, “Dengan senang hati.”

Begitu Audrey siap, mereka berlima berjalan kaki ke pusat kota . Greenwalls tidaklah jauh dari pusat kota dan itulah yang membuat posisinya sangat mudah dicapai dari kota .

Fulvia mengawasi Greenwalls ketika mereka bergerak meninggalkan rumah besar yang terbakar habis setahun lalu itu.

Gedung itu tidaklah semegah atau pun sebesar Castil Baramand, kediaman keluarganya Earl of Ousterhouwl maupun kediaman dua keluarga yang lain. Sebelum terbakar, rumah itu tampak sangat menawan dan sekarang, setelah musibah itu, bangunan mewah itu tampak begitu kotor dan tak terawat.

Sebenarnya, Count of Garfinkelnn berniat membiayai pemulihan bangunan itu, tetapi Lewis menolaknya. Audrey juga tidak dapat berbuat apa-apa atas kekeraskepalaan suaminya itu.

Walaupun demikian, orang tua Audrey secara diam-diam telah mengutus beberapa orang untuk memperbaiki Greenwalls. Lewis boleh tidak mengijinkan mereka menyentuh Greenwalls tetapi ia tidak dapat melarang orang tua Audrey untuk melakukan sesuatu demi putri mereka.

Orang-orang utusan Count Graham bekerja secara diam-diam untuk membenarkan bagian vital dari Greenwalls. Ia juga membantu Audrey mengisi kembali kekosongan rumah mereka.

Audrey mengetahui apa yang dilakukan ayahnya itu tetapi tidak pernah mengatakannya pada Lewis. Ia hanya meminta ayahnya untuk tidak melakukannya secara mencolok. Audrey tidak ingin harga diri suaminya terluka lebih dalam lagi.

Sebagai seorang pria bangsawan, Count Graham dapat mengerti perasaan Lewis dan karena itu pulalah ia hanya melakukan apa yang ia rasa penting dan harus segera dilakukan.

Lewis yang terpuruk oleh beban yang dibuatnya sendiri, tidak menyadari perubahan yang terjadi di Greenwalls walaupun itu kecil.

Penolakan Lewis untuk bangkit dari rasa bersalahnya membuat Audrey semakin sedih. Audrey semakin hancur ketika Lewis lari ke minuman keras dan mulai bermain wanita di luar sana .

Sewaktu-waktu Audrey bisa meninggalkan Greenwalls dan suaminya. Pintu Osbesque selalu terbuka untuknya. Tetapi, Audrey tetap memilih untuk mendampingi pria pilihannya itu.

Fulvia benar-benar mengagumi kakak sepupunya itu.

Walau Lewis telah menyakitinya sedemikian rupa, Audrey tetap berlapang dada. Malah ia sering berkata pada Fulvia,

“Aku percaya suatu hari nanti ia akan kembali pada Lewisku yang dulu. Aku percaya ia akan berhasil mengatasi semua ini.”

Audrey selalu dan selalu membela Lewis tak peduli apa pun yang dilakukan suaminya itu.

Fulvia berharap ia bisa melakukan sesuatu untuk Audrey, tetapi ia sadar ia masih terlalu muda untuk memahami permasalahan rumah tangga mereka. Apa yang bisa dilakukan Fulvia adalah menghibur Audrey dan mengajaknya berjalan-jalan untuk mencari udara segar seperti ini.

Hari ini mereka tidak mempunyai tujuan pasti. Mereka hanya berjalan sesuai arah kaki mereka melangkah. Mereka juga tidak membeli apa-apa. Mereka hanya terus berkeliling dan berkeliling sambil bercakap-cakap. Sesekali mereka berhenti untuk melihat benda yang menarik perhatian mereka. Sesekali pula mereka memasuki tempat yang menurut mereka menarik. Mereka menikmati perjalanan mereka ini. Audrey juga tampak gembira seakan-akan ia tidak mempunyai masalah apa pun.

Untuk melengkapi perjalanan mereka, Countess Horace mengundang mereka untuk melewatkan waktu makan malam di Baramand.

Beberapa saat sebelum mereka meninggalkan Greenwalls, Countess Horace meminta seorang pelayan Greenwalls untuk memberi kabar pada Kepala Rumah Tangga Osbesque bahwa mereka akan makan malam di sana . Selain itu, Countess Horace juga meminta semua keluarga Ousterhouwl dan Silverschatz berkumpul di rumahnya.

Alunan musik yang lembut menghentikan langkah kaki Fulvia.

Mata Fulvia langsung mencari asal suara yang menarik perhatiannya itu.

Sepasang muda-mudi yang saling bertatapan mesra berputar-putar di atas sebuah piringan kayu. Mereka berputar-putar seolah-olah sedang berdansa diiringi musik yang mengalun lembut dari dalam kotak musik itu.

Kedua pemuda kayu mungil itu mempesona Fulvia.

Senyum Fulvia merekah.

Ia tahu! Akhirnya ia tahu apa yang akan diberikannya untuk orang tuanya. Fulvia tahu apa hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang mendatang.

“Fulvia!” Countess Kylie memanggil, “Apa yang kaulakukan?”

Fulvia terkejut. Ia melihat ibunya dan yang lain telah beberapa meter di depannya itu.

“Sudah waktunya kita pulang, Fulvia,” Countess Horace mengingatkan. “Aku telah meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam di Osbesque.”

“Aku datang.”

Pada saat yang bersamaan, seseorang muncul dari dalam toko tempat Fulvia melihat kotak musik itu.

Fulvia terkejut. Kemunculan pria itu begitu mendadak hingga Fulvia tidak dapat menghentikan langkahnya sebelum ia menabrak pria itu.

Sepertinya pria itu juga tidak menyadari keberadaan Fulvia tetapi ia cukup tangkas untuk menahan tubuh Fulvia, mencegahnya terjatuh.

“Terima kasih,” Fulvia memegang hidungnya yang sakit oleh tabrakan tidak terduga itu.

Fulvia kaget melihat siapa yang ditabraknya itu.

Mata biru tua yang dingin Irving menatapnya dengan penuh ingin tahu.

“Kau tidak apa-apa, Irving ?”

Fulvia melihat wanita cantik di sisi Irving .

Mata hijau wanita itu menatap Irving penuh perhatian lalu ia menatap tidak suka pada Fulvia bahkan nadanya pun jelas-jelas menampakan rasa tidak sukanya ketika ia berkata,

“Di mana matamu, gadis cilik?”

“Fulvia, kau baik-baik saja?”

Fulvia tiba-tiba sadar keluarganya sedang menantinya. “Maafkan saya, M’lord,” Fulvia membungkuk lalu ia cepat-cepat mendekati ibunya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Countess cemas.

“Tidak apa-apa, Mama. Aku terlalu ceroboh.”

“Kau ini hanya bisa membuatku cemas,” keluh Countess Kylie.

“Tidak apa-apa, Mama. Sungguh aku tidak apa-apa,” Fulvia merangkul tangan ibunya.

Mata dingin Irving terus menatap tajam gadis yang terus menjauh bersama ibunya itu.

Tidak pernah ia bertemu gadis itu di jalanan seperti ini.

Tidak pernah ia bertemu dengan gadis itu secara kebetulan seperti ini.

Dan sekarang tiba-tiba gadis itu muncul di hadapannya.

Apakah ini rencana mereka? Rencana mereka untuk memaksanya terlibat dalam hubungan cinta segitiga mereka?

Irving membuang muka. Ia tidak tertarik untuk terlibat dengan mereka bertiga. Ia tidak suka pada Davies yang terus mengawasinya sepanjang malam kemarin seperti polisi yang sedang mengawasi buronannya dan ia tidak ingin diperlakukan seperti itu.

3

Acara makan malam semalam benar-benar menyenangkan.

Semua anggota ketiga keluarga itu berkumpul dalam satu meja makan besar dan bercakap-cakap dengan riang. Semua tampak gembira.

Sepanjang malam mereka bergurau dan membicarakan masalah-masalah ringan.

Audrey juga tertawa lepas.

Fulvia sangat menikmati acara semalam.

Walaupun tidak ada musik yang mengalun lembut, tidak ada hiasan-hiasan indah ataupun tamu dalam baju mewah, Fulvia merasa sangat gembira. Bahkan ia merasa acara semalam jauh lebih meriah dan lebih menyenangkan dari pesta-pesta yang pernah ia datangi.

Countess Horace benar. Mereka sudah lama tidak berkumpul seperti ini.

Hubungan ketiga keluarga ini sangatlah dekat. Orang-orang mengatakan, di mana ada keluarga Garfinkelnn, di situ pulalah keluarga Silverschatz dan keluarga Ousterhouwl.

Walaupun tidak jelas bagaimana hubungan saudara mereka, Fulvia tahu ia masih berkerabat dengan dua keluarga yang lain. Tapi bukan itulah satu-satunya alasan kedekatan hubungan mereka. Ketiga pasang orang tua dalam ketiga keluarga itu adalah sahabat sejak lama. Dan anak-anak mereka juga berteman satu sama lain.

Audrey yang paling tua di antara mereka sudah merupakan kakak bagi mereka berempat.

Ketiga putra dalam tiga keluarga itu adalah teman sepermainan semenjak kecil. Usia mereka yang terpaut tidak jauh, membuat mereka dapat saling memahami. Begitu dekatnya hubungan mereka bertiga hingga tiap orang akan mengatakan mereka adalah kakak beradik.

Dan, Fulvia, yang paling muda dalam ketiga keluarga ini adalah adik yang paling disayangi keempatnya. Begitu sayangnya mereka pada Fulvia hingga Trevor selalu bertengkar dengan Richie demi mendapatkan Fulvia.

Tidak ada yang menganggap serius pertengkaran kedua sepupu itu kecuali Davies.

Bagi ketiga pasang orang tua itu, Davies cemburu karena ia tersingkirkan dalam persaingan keduanya.

Audrey sudah mulai mengenal cinta ketika pertengkaran itu dimulai dan ia telah berumah tangga ketika pertengkaran antara Trevor dan Richie semakin jelas. Audrey terlalu repot untuk mengurusi pertengkaran mereka yang menurutnya kekanak-kanakan itu.

Fulvia sendiri tidak pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri pertengkaran itu. Walaupun begitu, ia tahu perselisihan antara Trevor dan Richie itu ada.

Fulvia tahu ia tidak pernah menganggap kedua kakak sepupunya itu serius terhadapnya. Ia menyayangi mereka seperti kakaknya dan ia tidak akan pernah jatuh cinta pada seorang di antara mereka. Fulvia selalu dan selalu mengatakan itu pada mereka tapi keduanya tidak pernah sungguh-sungguh mendengarnya.

Mereka bercakap-cakap hingga larut malam dan mereka mungkin akan terus bercakap-cakap hingga pagi bila bukan karena Fulvia teringat ia masih mempunyai rencana esok hari.

Fulvia tidak akan mengatakannya pada mereka. Ia tidak akan membiarkan seorang pun terutama kedua orang tuanya tahu karena ini adalah rahasia.

Fulvia telah memantapkan hati untuk membeli kotak musik yang dilihatnya sore ini. Ia akan memberikannya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan orang tuanya.

Semalam Fulvia telah memutuskan dan pagi ini ia sudah tidak sabar untuk segera membelinya.

Ulang tahun pernikahan orang tuanya memang masih sebulan lebih lagi tetapi Fulvia tidak ingin hadiah pilihannya dibeli oleh orang lain. Fulvia ingin segera membeli dan menyimpannya hingga hari itu tiba. Tetapi untuk dapat membelinya tanpa sepengetahuan orang tuanya, Fulvia perlu mencari alasan yang tepat.

Ketika itulah ide itu datang dengan tiba-tiba. Ia bisa menjenguk Audrey setelah membelinya dan meminta kakak sepupunya itu untuk menilai hadiah pilihannya.

Pagi itu Fulvia meminta ijin pada kedua orang tuanya untuk menemui Audrey. Fulvia tidak ingin Trevor maupun Richie tiba sebelum ia pergi. Untunglah kedua orang tuanya tidak bertanya panjang lebar. Davies juga tidak bersikeras untuk menemaninya.

Kereta keluarga mereka telah menanti di depan pintu ketika Fulvia tiba.

“Aku ingin pergi ke kota dulu,” bisiknya pada kusir kuda yang tanpa bertanya langsung mengantarnya ke kota , ke tempat yang ia inginkan.

Fulvia mengamati kotak musik di balik jendela toko itu.

Dengan langkah mantap, Fulvia melangkah ke toko itu. Hatinya gembira membayangkan reaksi kedua orang tuanya ketika menerima hadiah itu.

Selangkah lagi Fulvia akan memasuki toko itu ketika pikiran itu tiba-tiba datang padanya.

Apakah bedanya hadiah ini dengan hadiah yang lain?

Tahun lalu ia membeli sebuah lukisan yang indah untuk mereka. Dan tahun sebelumnya ia membelikan orang tuanya sebuah hiasan yang cantik. Tahun-tahun sebelumnya ia juga membelikan sesuatu untuk mereka.

Fulvia menginginkan sebuah hadiah yang istimewa.

Apakah bedanya hadiah ini dengan hadiah-hadiah sebelumnya bila ia membelinya dengan uang orang tuanya?

Orang tuanya memang telah memberikan uang tersendiri untuknya tetapi uang itu tetap uang mereka. Uang itu bukanlah hasil kerja kerasnya.

Fulvia termangu.

Kotak musik yang cantik itu akan menjadi semakin istimewa bila ia membelinya dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Tetapi…

Fulvia tidak bisa mencari uang sendiri. Fulvia yakin kedua orang tuanya tidak akan setuju dengan idenya ini. Davies juga pasti akan menganggapnya gila. Lagipula siapa yang akan mempekerjakan seorang putri bangsawan sepertinya?

Fulvia sadar ia tidak mempunyai kemampuan spesial apa-apa. Ia hanya bisa melakukan apa yang seorang bangsawan wanita harus bisa. Ia bisa bermain piano dengan indah. Ia bisa membuat sebuah puisi yang indah. Ia juga mempunyai tata karma yang tinggi. Ia bisa berjalan elok sebagaimana layaknya seorang bangsawan. Ia mampu berbicara dalam beberapa bahasa terutama bahasa Latin. Tetapi keluarga bangsawan manakah yang akan mempekerjakannya? Para bangsawan yang lain pasti lebih suka memilih seseorang yang berpengalaman darinya.

Fulvia termangu.

Ia berjalan meninggalkan toko itu dengan pikiran kacau.

Adakah seorang di antara tempat ini yang mau mempekerjakannya?

Fulvia melihat sekelilingnya. Ia bukan bagian dari tempat ini. Ia adalah bagian dari kalangan atas bukan kalangan menengah ataupun kalangan bawah. Tidak akan ada seorang pun yang bersedia mempekerjakannya.

Fulvia berkeliling seiring langkah kakinya. Ketika Fulvia menyadari ia telah berjalan terlalu jauh dari kereta keluarganya, ia mendapati dirinya berada di depan sebuah toko roti.

Fulvia mencium bau wangi roti dari dalam tempat itu. Wangi itu benar-benar memikatnya dan membangkitkan selera makannya.

Tiba-tiba terpikir oleh Fulvia untuk membeli beberapa potong roti untuk Audrey. Dengan hati riang, Fulvia pun mendekat.

“Selamat pagi, Nona,” sambut sang penjaga, “Anda ingin membeli roti?”

“Ya,” jawab Fulvia, “Bisakah Anda memberi saya tiga potong?”

Fulvia akan memberikan 2 potong untuk Audrey dan ia akan menyimpan sepotong yang lainnya untuk keluarganya.

“Brent, bisakah kau membantuku?”

“Sebentar, Jehona, aku mempunyai pembeli.”

Pintu di dinding barat ruang sedang itu terbuka dan seorang anak kecil keluar dalam keadaan telanjang bersamaan suara tangis bayi.

“Tim!” seorang wanita muncul dengan tergopoh-gopoh sambil membawa baju di tangannya, “Jangan berlari-lari!” lalu wanita itu menoleh pada pria di depan Fulvia, “Brent! Bantu aku sekarang juga!”

Fulvia kebingungan melihat keributan dalam keluarga itu.

“Maafkan saya, Nona.”

“Tidak mengapa,” Fulvia tersenyum, “Saya tidak terburu-buru.”

Pria yang dipanggil Brent itu segera menangkap putranya yang mulai membuat kekacauan di tempat kerjanya sementara itu wanita muda itu bergegas masuk ke dalam ruangan.

“Sudah kukatakan kita harus mencari seseorang untuk membantu kita,” terdengar wanita itu mengeluh, “Aku tidak bisa melakukan ini semua seorang diri. Aku harus merawat Tim, menjaga Sammy, membantumu juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Aku benar-benar kewalahan.”

Fulvia mendapat ide.

“Aku tahu,” Brent mendudukan putranya dengan paksa kemudian mengenakan baju padanya, “Kita tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai seorang pekerja.”

“Maafkan kelancangan saya,” Fulvia memberanikan diri, “Apakah Anda membutuhkan seseorang? Bila anda tidak keberatan, saya bisa membantu Anda.”

Jehona langsung melongok keluar.

Brent menatap Fulvia lekat-lekat. Ia memperhatikan Fulvia dari atas mulai dari bawah.

“Saya melihat Anda tidak membutuhkan uang, Nona.”

Fulvia kecewa. Ia sudah dapat menduga penolakan pria itu tetapi ia tidak akan menyerah semudah itu ketika kesempatan seperti ini ada di depan matanya.

“Ya, Anda bisa mengatakannya seperti itu tetapi itu juga tidak sepenuhnya benar. Saat ini saya ingin sekali mencari uang dengan jerih payah saya untuk membeli hadiah.”

“Hadiah?” Jehona keluar sambil menggendong seorang bayi mungil.

“Ya, saya ingin membeli hadiah yang istimewa untuk kedua orang tua saya,” Fulvia menjelaskan, “Bulan depan adalah ulang tahun pernikahan mereka dan saya ingin memberikan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.”

Brent mengamati Fulvia. “Saya rasa Anda tidak mengalami kesulitan untuk membeli apa pun yang Anda inginkan,” ia mencermati gaun Fulvia yang menunjukkan derajatnya.

Hati Fulvia menciut melihatnya.

“Hebat!” pekik gembira Jehona itu membuat Fulvia terkejut. “Jadi Anda ingin mengumpulkan uang untuk membeli hadiah ulang tahun pernikahan orang tua Anda.”

“Ya,” Fulvia kebingungan melihat wanita itu tiba-tiba mendekatinya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Ini luar biasa!” Jehona berseru gembira, “Saya membutuhkan seseorang untuk membantu saya dan Anda membutuhkan pekerjaan. Ini benar-benar luar biasa!”

“Jehona! Kita tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai seorang pekerja pun!” Brent menegaskan, “Lagipula apa kau tidak dapat melihatnya! Ia tidak cocok melakukan pekerjaan kasar.”

“Tidak mengapa, Brent,” kata Jehona gembira, “Aku tahu. Ia cukup membantuku menjaga Tim dan Sammy. Aku yakin ia bisa melakukan itu.”

Fulvia merasa ia mempunyai harapan. “Tentu,” katanya gembira.

“Bagus,” Jehona puas, “Kapan Anda bisa mulai?”

“Jehona!”

“Jangan khawatir, Tuan Brent,” kata Fulvia, “Saya tidak membutuhkan banyak uang. Hadiah yang ingin saya beli juga tidak mahal. Saya juga mempunyai waktu cukup sebelum hari ulang tahun pernikahan orang tua saya itu. Anda tidak perlu merasa terbebani untuk membayari saya. Berapa pun yang Anda berikan pada saya, saya tidak keberatan.”

“Kau dengar itu!?” Jehona tampak sangat puas.

Brent melihat kesungguhan Fulvia dan kepuasan Jehona.

“Anda tidak cocok berada di sini dengan gaun seperti itu,” katanya kemudian.

Fulvia tersenyum gembira. Ia tahu pria itu telah luluh hatinya.

“Saya mengerti. Besok saya akan datang dengan baju yang lebih sesuai.”

“Besok Anda akan mulai?” Jehona bertanya lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Ya,” Fulvia meyakinkan, “Saya yakin besok saya bisa datang.”

“Bagus! Bagus!” Jehona tampak sangat puas.

“Besok Anda bisa datang kurang lebih pada waktu yang sama seperti saat ini,” kata Brent.

“Terima kasih, Tuan Brent,” Fulvia gembira, “Saya rasa ada sesuatu yang belum Anda berikan pada saya.”

Brent bertanya-tanya.

“Anda belum memberi saya tiga potong roti yang ingn saya beli.”

Brent langsung bangkit untuk mengambil roti permintaan Fulvia.

Fulvia langsung membayar roti-roti itu dan pergi ke rumah Audrey dengan gembira.

Jehona benar, ini benar-benar luar biasa. Baru saja ia bingung bagaimana mendapatkan uang untuk membeli hadiah bagi orang tuanya ketika ia mendapatkan kesempatan itu. Fulvia merasa semuanya seperti telah diatur tetapi ia tidak merasa keberatan. Ia sangat gembira karenanya.

Sekarang Fulvia harus memikirkan alasan meninggalkan Unsdrell untuk esok dan seterusnya. Fulvia yakin ini akan lebih mudah. Ia bisa mengatakan pada orang tuanya bahwa ia ingin mengunjungi Audrey dan Audrey juga tidak akan keberatan membantunya.

Di antara semua keluarganya, hanya Audrey yang mengerti dirinya. Audrey mungkin tidak setuju dengan keinginannya ini tetapi setelah ia menjelaskannya, Audrey pasti dapat mengerti keinginannya ini.

Seperti yang diperkirakan Fulvia, Audrey tidak setuju dengan rencananya itu.

“Aku tidak setuju!” kata Audrey tegas, “Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan itu!”

“Tapi, Audrey,” pinta Fulvia, “Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. Aku hanya ingin membeli sebuah hadiah dengan hasil jerih payahku sendiri.”

“Aku tidak setuju, Fulvia. Apa yang akan dikatakan orang tuamu terutama kakakmu bila ia mengetahuinya?”

“Karena itu, Audrey, jangan biarkan mereka mengetahuinya.”

“Apakah kau mencoba menjerumuskanku dalam rencana gilamu itu?”

“Tidak, Audrey, ini bukanlah rencana gila. Aku hanya ingin membeli hadiah yang istimewa untuk orang tuaku. Selama ini mereka telah merawatku dengan jerih payah mereka. Apakah salahnya bila aku juga memberi mereka sesuatu yang kudapat dengan jerih payahku?”

Audrey terdiam.

“Kumohon, Audrey,” pinta Fulvia, “Kau tidak perlu melakukan apa pun. Kau hanya perlu membantuku menutupi alasanku ini. Aku yang akan menanggung semuanya.”

Audrey diam melihat pandangan memohon adik sepupunya itu.

“Davies pasti akan mencekikku kalau ia tahu.”

Fulvia tersenyum gembira. “Terima kasih, Audrey,” ia memeluk wanita itu, “Aku tahu kau akan membantuku.”

“Aku tidak mengatakannya.”

“Terima kasih, Audrey. Aku menyayangimu.”

Audrey mendesah melihat kegembiraan gadis itu dan ia pun menyerah,

“Aku tidak mau disalahkan bila mereka mulai mencium sesuatu yang janggal.”

“Tentu, Audrey. Aku juga akan berhati-hati,” janji Fulvia.

Audrey mendesah panjang. Ia tidak tahu apakah yang dilakukannya ini benar atau salah. Tetapi melihat kegembiraan Fulvia, ia merasa tidak ada salahnya ia ikut membantu Fulvia membohongi keluarganya. Lagipula Fulvia melakukannya karena baktinya pada orang tuanya, bukan?

Fulvia gembira. Ia sangat gembira. Dengan Audrey di belakangnya, Fulvia yakin Davies tidak akan curiga bila ia keluar rumah seharian setiap hari. Dan kedua kakak sepupu yang selalu mengikutinya itu pasti tidak akan bertanya panjang lebar. Mereka juga tidak akan memaksa untuk ikut dengannya.

Fulvia tahu benar sifat kedua kakak sepupunya itu.

Mereka suka mengikutinya, menemaninya dan membawanya pergi tetapi mereka tidak suka bila ada wanita dalam keluarga mereka. Mereka tahu kaum wanita dalam keluarga-keluarga mereka itu pasti akan berbicara sendiri dan melupakan keberadaan mereka. Dan yang terparah, menurut mereka, kaum wanita itu akan berbicara sepanjang hari hingga membuat mereka bosan.

Masalah ijin sudah beres sekarang tinggallah masalah gaun.

Begitu tiba di rumah, Fulvia langsung mencari-cari baju pelayan di Kamar Kerja, tempat baju-baju pelayan dan peralatan mereka disimpan.

Untuk memperkecil kecurigaan keluarganya, Fulvia akan mengenakan gaunnya ketika ia pergi meninggalkan Unsdrell dan di toko kue itulah Fulvia akan mengganti bajunya dengan baju pelayan pilihannya. Fulvia akan kembali berganti baju sebelum pulang.

Fulvia yakin Jehona tidak akan keberatan meminjamkan kamarnya sebentar.

“Besok akan menjadi hari yang menyenangkan,” kata Fulvia pada dirinya sendiri sebelum beranjak tidur.

Fulvia benar-benar sudah tidak sabar untuk menanti pagi hari sehingga ia langsung bangun begitu sinar matahari mulai menyinari bumi.

“Papa,” kata Fulvia ketika mereka telah duduk di meja makan, “Hari ini aku akan pergi ke Greenwalls lagi.”

“Lagi?!” Davies terperanjat. Mata Davies mengingatkan Fulvia akan kejadian kemarin sepulangnya dari rumah Audrey.

Davies menyambutnya dengan keluhan-keluhan panjangnya. Ia mengatakan Trevor juga Richie terus mengomel begitu mendengar kepergiannya ke Greenwalls. Davies telah mengusir mereka pulang tetapi mereka berdua lebih memilih untuk tetap tinggal.

Bukan omelan kedua pria itu yang membuat Davies ingin mendepak mereka keluar dari Unsdrell. Pertengkaran mereka itulah yang benar-benar membuat Davies kesal. Tetapi, tentu saja, Davies tidak memberitahu Fulvia tentang bagian ini. Davies tahu Fulvia pasti tidak suka mendengarnya. Trevor maupun Richie juga pasti akan marah besar bila ia memberitahu Fulvia rahasia di antara mereka berdua ini.

Kedua pria itu benar-benar membuat kepala Davies pusing.

Sehari sebelumnya, mereka telah berjanji untuk tidak bertengkar hingga pria pilihan mereka menjawab pertanyaan mereka. Mereka sendiri berjanji untuk menahan diri hingga diketahui siapa di antara mereka berdua yang lebih dicintai Fulvia.

Tetapi kemarin mereka telah melanggar janji mereka sepanjang hari kemarin.

“Maafkan aku, Davies,” pinta Fulvia, “Audrey membutuhkan teman dan aku telah berjanji untuk menemaninya sepanjang hari ini dan untuk beberapa hari mendatang.”

“Besok juga!? Dan besok besok besoknya lagi juga!?” Davies kaget.

“Fulvia benar,” bela Countess, “Saat ini yang diperlukan Audrey adalah teman bicara.”

“Apa yang harus kulakukan terhadap dua orang itu,” keluh Davies.

“Aku yakin kau bisa membantuku menjelaskannya pada mereka,” Fulvia tersenyum penuh arti.

Davies menyerah. Ia tahu apa pun yang dilakukannya ia tidak akan dapat mencegah Fulvia juga kedua sepupunya itu.

“Mengapa engkau tidak menginap saja di sana ?” tanya Count Silverschatz.

Fulvia juga telah memikirkannya. Semuanya akan lebih mudah bila ia menginap di Greenwalls tetapi,

“Tidak, Papa. Lewis pasti tidak akan senang melihat aku berada di sana .”

“Aku dapat mengerti itu,” kata Countess, “Ia pasti akan mencurigaimu dan mungkin mengusirmu.”

“Ya,” Fulvia sedih.

Kakak sepupu iparnya itu dulu adalah seorang yang baik. Ia tidak pernah menolak kehadirannya di Greenwalls. Ia malah sering mengajaknya menginap di rumah mereka. Tetapi itu adalah dulu.

Kakak sepupu iparnya yang sekarang pasti akan mencurigainya memata-matai kegiatannya. Lewis pasti akan mengira kedatangannya untuk mencampuri masalah keluarganya dan ia pasti tidak akan segan mengusirnya.

“Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan kereta kuda.”

“Tidak perlu, Mama,” Fulvia mencegah, “Aku rasa aku akan pergi sendiri ke sana .”

Countess menatap putrinya lekat-lekat.

“Aku akan merasa lebih bebas bila aku pergi sendiri. Aku bisa pulang sesukaku tanpa perlu menanti jemputan. Aku janji aku tidak akan pulang larut malam.”

“Apa salahnya kita membiarkan Fulvia,” kata Count, “Greenwalls juga tidak jauh.”

“Terima kasih, Papa,” Fulvia gembira.

4

Sudah dua minggu ini Fulvia menghabiskan hari-harinya.

Fulvia tidak pernah menduga menjaga seorang anak akan sangat menyenangkan. Pada awal mulanya, Fulvia kewalahan menghadapi tingkah Tim. Anak lelaki berusia enam tahun itu tidak mau diam. Ada saja yang dilakukannya. Fulvia hampir putus asa karenanya.

Jehona tersenyum melihatnya. Ia tidak menyalahkan Fulvia juga tidak menegurnya. Dengan sabar ibu muda itu menceritakan pengalamannya setelah melahirkan Tim. Ia juga mendorong Fulvia untuk tetap bersabar menghadapi tingkah putranya.

Dorongan Jehona sangat membantu Fulvia mengatasi rasa putus asanya dan ia menjadi lebih tegar dalam menghadapi ulah bocah kecil itu.

Sepasang suami istri itu tidak mengetahui siapa Fulvia. Mereka hanya menduga Fulvia adalah putrid seorang pedagang kaya dan mereka tidak bertanya banyak. Di sisi lain, Fulvia juga tidak ingin mereka mengetahui apa pun tentang dirinya.

Awal mulanya, Fulvia merasa canggung berada dalam keluarga itu. Ia benar-benar merasakan perbedaan kehidupan mereka dengan keluarganya. Di sini tidak ada pelayan yang selalu siap melakukan apa saja untuknya. Di sini tidak ada kenyamanan-kenyamanan yang ia miliki di Unsdrell.

Di hari pertama Fulvia menghabiskan waktu makan siang di sana , Fulvia benar-benar canggung. Ia tidak pernah menghadapi santapan yang sederhana seperti ini. Di rumahnya, acara makan siang adalah acara yang panjang. Satu per satu makanan mulai dari sup pembuka hingga makanan manis datang bergantian dan sejumlah pelayan siap menanti di Ruang Makan untuk melayani mereka. Sekarang di depannya semua telah tersedia dan tidak ada pelayan yang akan membantunya mengambil lauk pauk di depannya itu. Tidak ada makanan pembuka maupun penutup. Fulvia sadar ia tidak berada di Unsdrell dan ini adalah keputusannya.

Suatu pagi Fulvia terkejut menyadari ia telah terbiasa dengan hidup sederhana mereka. Fulvia sama sekali tidak menduga ia bisa beradaptasi dengan cara hidup mereka dalam waktu singkat ini.

Fulvia menyukai keluarga ini. Ia mulai menyayangi mereka seperti ia menyayangi keluarganya sendiri. Walaupun mereka hidup sederhana, mereka selalu tampak bahagia. Fulvia menyukai suasana hangat dalam keluarga itu seperti ia menyukai suasana hangat dalam keluarganya ketika mereka berkumpul bersama.

Walaupun kini Fulvia telah menjadi satu bagian dari keluarga kecil itu, ia tetaplah berbeda dari mereka. Setiap orang yang melihat gaya bicaranya tahu ia adalah seorang yang berpendidikan. Setiap orang yang melihat keluwesan dan keanggunan gerakannya tahu ia bukanlah anggota kalangan kelas menengah atau kelas bawah.

Brent mengetahui itu tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia membiarkan pembelinya yang berpikir sendiri. Ia juga tidak mengatakan apa-apa kepada tetangga mereka.

Jehona sendiri juga tidak mengatakan apa-apa mengenai Fulvia kepada kawan-kawannya. Wanita yang gemar menghabiskan waktu untuk bergossip ria itu benar-benar mendukung keinginan Fulvia untuk membeli sebuah hadiah dengan hasil jerih payahnya. Ia bahkan memarahi setiap orang yang mencurigai identitas Fulvia.

Sesuai keinginan mereka, Fulvia selalu memasuki toko dengan sembunyi-sembunyi. Ia memasuki tempat itu dari pintu samping yang tersembunyi di dalam lorong kecil dan ia meninggalkan tempat itu dari tempat itu pula. Setiap hari ia menambatkan kudanya di pekarangan tetangga mereka.

Brent tidak mempunyai kuda tetapi tetangganya mempunyainya dan kepada mereka ia mengatakan bahwa itu adalah titipan pelanggannya.

Dukungan mereka terhadapnya benar-benar membuat Fulvia terharu. Fulvia ingin sekali melakukan sesuatu untuk mereka tetapi ia tidak tahu apakah itu. Fulvia dapat membeli baju bagus untuk mereka tetapi Fulvia yakin mereka akan menolaknya. Fulvia bisa saja membawa makanan-makanan yang lezat dari Unsdrell, tetapi itu sama saja menghina masakan Jehona yang tidak kalah dari juru masak Unsdrell. Fulvia juga bisa membawakan berbagai macam mainan untuk Tim juga si kecil Sammy, tetapi Brent pasti tidak setuju. Brent tidak ingin putranya terlalu dimanjakan dan ia lebih tidak ingin putranya hanya bermain sepanjang hari sementara ada banyak pekerjaan yang membutuhkan bantuannya di tempat itu.

Suatu ketika Fulvia menyadari Tim tidak bisa membaca dan itu membuatnya terkejut. Ia ingat ibunya telah mulai mengajarinya membaca semenjak ia masih kecil, lebih kecil dari usia Tim saat ini. Semenjak saat itulah Fulvia tahu apa yang dapat dilakukannya untuk mereka.

Awalnya Tim selalu menolak bila Fulvia mulai mengenalkan alphabet padanya. Ia juga tidak suka setiap kali Fulvia memintanya untuk melakukan tugas yang diberikannya.

Fulvia tidak pernah menduga mengajari seorang anak kecil akan sesulit ini dan ia teringat masa-masa kecilnya. Fulvia tidak pernah menyusahkan Countess ketika Countess mengajarinya membaca dan menulis.

Fulvia ingat ibunya mengajarinya dengan cara yang menarik dan cara itu pulalah yang kemudian digunakannya.

Di Ruang Perpustakaan, Fulvia menemukan kertas-kertas bergambar yang dulu digunakan Countess untuk mendapatkan perhatiannya. Fulvia juga menemukan beberapa buku cerita bergambar. Berbekal benda-benda itulah ia menarik perhatian Tim dan kini Tim mulai dapat menikmati pelajarannya.

Fulvia sangat gembira karenanya. Ia juga tidak segan menjanjikan hadiah bagi Tim setiap kali ia mempunyai kemajuan besar.

Brent tidak suka setiap kali Fulvia memberi mainan kepada Tim sebagai hadiah atas keberhasilannya tetapi kemudian ia tidak pernah menentang niat Fulvia. Ia mengerti Fulvia hanya ingin mendorong semangat Tim untuk terus maju. Perlahan ia mulai merasakan manfaat Fulvia di sana .

Fulvia, si gadis kaya, benar-benar merepotkannya pada awal mulanya. Ia tidak terlalu menyukai keberadaan gadis kaya itu di rumahnya. Ia tidak menyukai sikap Fulvia yang jelas-jelas menunjukkan keheranannya melihat kesederhanaan hidup mereka. Tetapi gadis itu telah belajar menyesuaikan diri. Kini gadis kaya itu telah menjadi guru pribadi anaknya dan ia berterima kasih karenanya.

Jehona juga sangat gembira. Sekarang Tim jauh lebih pendiam. Ia tidak lagi banyak bertingkah seperti dulu dan tidak lagi merepotkannya.

Di saat ia mempunyai waktu, Tim akan mengerjakan tugas-tugas yang ditinggalkan Fulvia untuknya. Tim menjadi semakin tekun dan rajin karena Fulvia selalu memberikan hadiah padanya atas keberhasilannya walaupun itu tidak selalu berupa mainan. Apa pun bentuk hadiah Fulvia, Tim selalu menyukainya. Tim menyukai gadis itu.

Fulvia sangat berterima kasih pada Audrey. Ia tidak akan mempunyai pengalaman yang menyenangkan seperti ini bila bukan karena kakak sepupunya itu. Fulvia merasa bersalah karena telah membuat Audrey membantunya mengelabuhi keluarganya dan ia semakin merasa bersalah karena ia tidak pernah menemuinya semenjak hari itu.

Hari ini Fulvia telah memutuskan untuk menemui Audrey. Ia akan meminta ijin pada Brent untuk pulang lebih awal. Dan itulah yang akan dilakukannya sekarang.

“Bila Anda tidak keberatan, Tuan Brent,” kata Fulvia sopan, “Hari ini saya ingin pulang lebih awal.”

Jehona menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Saya ingin mengunjungi kerabat saya,” Fulvia menjelaskan.

“Sebaiknya engkau segera pergi ke sana ,” kata Brent mengijinkan.

“Benarkah itu, Tuan Brent?” Fulvia gembira.

“Aku tidak ingin membuat orang tuamu cemas.”

“Baik,” Fulvia berdiri, “Saya mengerti.” Lalu ia berkata pada Jehona, “Ijinkan saya meminjam kamar Anda.”

“Silakan.”

Fulvia bergegas mengganti bajunya.

“Ia anak yang baik,” Jehona berkata pada suaminya, “Ia banyak membantuku.”

“Ya,” Brent sependapat, “Ia juga telah membantu kita mengajari Tim. Kadang aku merasa bersalah padanya. Bayarannya sebagai seorang guru terlalu kecil untuknya.”

“Tetapi ia sendiri juga tidak ingin dibayar terlalu tinggi,” Jehona mengingatkan, “Ia sendiri yang meminta kita untuk memberinya uang sejumlah yang ia butuhkan.”

“Ya,” gumam Brent.

Fulvia telah mengatakan pada mereka di hari pertama ia bekerja di sana . Fulvia hanya ingin bayaran sesuai dengan harga kotak musik itu dan untuk itu ia bersedia untuk membantu mereka selama sebulan mendatang. Fulvia telah mengatakan pada mereka bahwa mereka bisa memberinya uang itu sebulan mendatang sesuai dengan jumlah yang diinginkannya. Fulvia tidak ingin merasa terbebani oleh masalah gajinya karena itu pula ia tidak pernah mengungkitnya lagi. Fulvia akan menanti saat itu dengan sabar.

Setiap hari Fulvia selalu menyempatkan diri untuk melalui toko itu. Fulvia ingin memastikan tidak ada orang yang membeli kotak musik itu dan ia sendiri selalu berdoa agar tidak ada yang mendahuluinya.

Fulvia keluar tak lama setelahnya.

“Fulvia,” panggil Tim, “Kau akan pulang?”

“Ya, Tim,” Fulvia berlutut di depan anak itu, “Aku harus melakukan sesuatu.”

“Besok kau akan datang lagi?”

“Ya,” Fulvia berjanji, “Aku akan membawa makanan manis untukmu bila kau mengulang apa yang kuajarkan padamu hari ini.”

“Aku janji.”

Fulvia tersenyum senang dan ia berdiri.

“Tuan Brent,” kata gadis itu, “Bila Anda tidak keberatan bisakah Anda memberi saya dua potong roti Anda yang lezat itu? Saya ingin memberikannya pada kerabat saya.”

“Tentu,” Brent langsung mengambil dua potong besar roti yang baru saja dikeluarkannya dari dalam panggangan.

Fulvia merogoh sakunya untuk membayar roti-roti itu.

“Tidak perlu,” Jehona cepat-cepat menahan tangan Fulvia, “Kau tidak perlu membayarnya.”

“Tetapi…,” Fulvia ragu-ragu.

“Anggaplah kami memberikannya padamu,” Brent menegaskan.

Fulvia menatap kedua orang itu.

“Baiklah,” Fulvia menyerah, “Terima kasih.”

Setelah berpamitan pada mereka, Fulvia langsung melajukan kudanya ke Greenwalls. Ia sudah tidak sabar untuk segera menceritakan pengalamannya kepada Audrey.

Fulvia menambatkan kudanya di pekarangan Greenwalls dan mengetuk pintu Greenwalls yang tertutup rapat itu.

Seorang pelayan muncul.

“Ah, Tuan Puteri, selamat datang,” pelayan itu memberi jalan pada Fulvia. “Sungguh kebetulan sekali. Nyonya baru saja akan mencari Anda.”

“Mencariku?” Fulvia heran, “Apa yang terjadi?”

“Saya tidak tahu.”

“Di mana ia?” tanya Fulvia.

“Nyonya berada di dalam kamarnya.”

Fulvia langsung melangkah ke lantai atas, ke kamar Audrey.

“Fulvia! Apakah itu kau? Aku mendengar suaramu!” seseorang berdiri di puncak tangga menuju lantai dua dengan wajah paniknya.

Fulvia cemas melihat kepanikan kakak sepupunya dan ia mempercepat langkahnya.

Audrey lega melihat Fulvia. “Aku baru saja akan menyuruh pelayan pergi ke Unsdrell,” katanya.

“Apa yang terjadi padamu, Audrey? Apakah kalian bertengkar lagi?”

“Ini lebih gawat dari itu, Fulvia,” Audrey tampak tidak sabar, “Davies, kakakmu tadi datang.”

“Apa!?” Fulvia terpekik kaget. Ia sama sekali tidak menduga Davies akan datang ke Greenwalls.

Celakalah sudah. Davies pasti telah mengetahui semuanya. Davies pasti akan memberitahu orang tuanya. Mereka akan marah besar.

“Apa yang dilakukan Davies di sini?” tanyanya panik.

“Ia baru saja mengunjungi temannya dan ia mampir untuk melihatmu,” jawab Audrey.

“Apa yang dikatakannya? Engkau tidak mengatakan apa pun padanya, bukan?”

“Tentu saja. Aku pasti tidak ada di sini bila ia telah mengetahui semuanya,” canda Audrey. “Aku mengatakan padanya bahwa kau pergi ke kota untuk membeli sesuatu.”

“Dan ia percaya?”

“Tentu saja. Ia tidak mungkin tidak mempercayaiku,” kata Audrey bangga.

Fulvia lega.

Audrey menatap Fulvia lekat-lekat, “Fulvia, kurasa kau harus mencari alasan lain. Aku juga tidak bisa terus menerus menutupi hal ini dari mereka. Kudengar Trevor maupun Richie juga sudah tidak tahan lagi oleh kepergianmu ke sini. Cepat atau lambat mereka pasti akan tahu.”

“Jangan khawatir,” Fulvia meyakinkan, “Besok aku akan meminta mereka mengantarku ke sini. Pasti tidak akan ada yang curiga.”

Audrey menatap Fulvia dengan cemas.

“Bagaimana keadaan Lewis?” Fulvia mengalihkan topik pembicaraan, “Mengapa aku tidak melihat Lewis?”

Raut wajah Audrey langsung berubah. “Aku tidak tahu. Semalam ia tidak pulang.”

Fulvia terkejut. Tiba-tiba saja ia merasa ia telah mencari topic pembicaraan yang salah.

“Jangan kau khawatirkan,” Fulvia mengbibur, “Aku yakin Lewis baik-baik saja.”

“Kurasa ia pasti mabuk-mabukan lagi,” raut wajah Audrey kian mendung.

“Audrey, apakah kau mau mendengar ceritaku?” Fulvia menggandeng Audrey ke kamar wanita itu, “Aku punya banyak cerita yang ingin kukatakan padamu. Aku ingin kau tahu apa saja yang kulakukan selama ini.”

“Kau berhutang itu padaku,” Audrey segera terpancing oleh Fulvia, “Aku telah membantumu menutupi kebohonganmu.”

Fulvia tersenyum. Ia memang berhutang budi pada Audrey dan satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah menceritakan pengalaman menariknya pada Audrey. Hanya Audrey yang tahu apa yang dilakukannya belakangan ini dan Fulvia ingin meyakinkan kakak sepupunya itu bahwa ia tidak melakukan sesuatu pun yang berbahaya.

Davies tidak bertanya apa-apa mengenai kepergiannya hari ini. Davies juga tidak mengatakan apa-apa pada kedua orang tuanya tentang kepergiannya dari Greenwalls dan itu sangat melegakan Fulvia.

Hari ini, setidaknya, Davies percaya ia pergi ke kota untuk membeli sesuatu ketika ia datang. Tetapi besok atau lusa bila kejadian ini terulang lagi, Fulvia tidak yakin Davies akan percaya.

“Kau akan pergi ke Greenwalls lagi?”

Fulvia menoleh.

Davies memperhatikan pelayan memasukkan sebuah keranjang besar ke dalam kereta.

“Ya,” jawab Fulvia, “Aku telah berjanji pada Audrey untuk membawakan makanan kesukaannya.”

“Pelayan bisa meminta kita mengirimnya ke sana ,” kata Davies, “Kau tidak perlu khusus ke sana untuk mengantarnya.”

“Aku telah berjanji pada Audrey,” Fulvia cepat-cepat memikirkan cara untuk meyakinkan kakaknya, “Aku telah berjanji pada Audrey untuk melihatnya hari ini. Kemarin malam Lewis tidak pulang. Aku ingin tahu apakah ia sudah pulang atau belum.”

“Lewis tidak pulang?”

“Apakah Audrey tidak memberitahumu?” tanya Fulvia, “Kemarin malam Lewis tidak pulang dan ia belum pulang ketika sore hari aku ke sana .”

Dahi Davies berkerut.

Fulvia terkejut. Ia menyadari kesalahannya. “Maksudku ketika aku pulang dari kota ,” Fulvia cepat-cepat membenarkan ucapannya, “Kemarin aku pergi ke kota untuk membeli roti bagi Audrey. Aku tahu sebuah toko roti yang lezat dan aku pikir aku akan bisa membuat Audrey sedikit melupakan kepergian Lewis bila kami mempunyai sesuatu yang lezat untuk mengisi perut.”

Kerutan di dahi Davies tidak menghilang.

“Aku harus segera pergi,” Fulvia ingin segera meninggalkan tempat itu sebelum ia semakin mengatakan sesuatu yang membuat Davies semakin mencurigainya, “Audrey pasti telah menantiku.”

Fulvia bergegas memasuki kereta.

“Fulvia.”

Fulvia terkejut.

“Berhati-hatilah.”

“Tentu,” Fulvia melambaikan tangan dan ketika kereta mulai bergerak meninggalkan Unsdrell, Fulvia merasa sangat lega. Ia tidak tahu harus berkata apa bila Davies melarangnya pergi. Ia tidak tahu harus berbuat apa bila Davies ikut bersamanya.

Fulvia merasa beban berat telah terangkat dari pundaknya.

Kereta segera beranjak ke Greenwalls seperti keinginan Fulvia.

Audrey terkejut melihat kedatangan Fulvia pagi itu.

“Tak kusangka kau benar-benar muncul pagi ini,” komentarnya melihat Fulvia.

Fulvia tertawa. “Aku telah mengatakannya padamu.”

“Apa yang kaubawa itu?” tanya Audrey menatap keranjang di tangan Fulvia, “Kau tidak membawa roti lagi, bukan? Aku belum menghabiskan roti pemberianmu kemarin.”

“Aku yakin kau tidak akan melewatkan ini,” Fulvia meletakkan keranjangnya di meja dan mengeluarkan isinya, “Musshroom Puffs Pastry.”

“Kau memang tahu bagaimana membujuk orang,” keluh Audrey.

Fulvia tertawa. Ia meletakkan pastry isi jamur kesukaan Audrey itu di meja.

“Kurasa kau telah membuat seisi Unsdrell sibuk sejak pagi.”

“Apa boleh buat. Aku harus mencari cara untuk menghilangkan kecurigaan Davies.”

Fulvia menutup kembali keranjangnya. “Bagaimana Lewis? Apakah ia sudah pulang?”

“Ya,” nada suara Audrey langsung berubah, “Ia baru pulang dini hari tadi dan sekarang ia masih tidur di kamar.”

“Apa ia mengatakan sesuatu tentang kepergiannya?” Fulvia bertanya prihatin.

“Tidak,” Audrey terlihat sangat sedih, “Kurasa ia tidak akan pernah memberitahuku.”

Fulvia turut bersedih melihat kakak sepupunya itu. “Aku sungguh ingin menemanimu hari ini,” katanya sedih, “Tetapi aku tidak dapat.”

“Kau akan pergi?”

“Aku telah terlambat,” Fulvia menenteng keranjangnya, “Aku tidak ingin membuat mereka mencemaskanku.”

“Bagaimana kau akan ke sana ?”

“Aku akan berjalan kaki ke sana ,” jawab Fulvia.

“Sendirian?”

“Jangan khawatir, Audrey. Tempat itu tidak jauh dari Greenwalls,” Fulvia menuju pintu.

“Sampai kapan kau akan terus begini? Aku tidak yakin aku bisa membantumu lebih lama lagi. Hidung Davies sudah mulai mencium ketidakberesan di antara kita.” Audrey mengikuti Fulvia ke pintu masuk.

“Jangan khawatir. Aku tidak akan melibatkanmu. Dua minggu lagi semua ini akan selesai. Aku akan sangat berhati-hati sampai semua ini selesai.”

“Aku pergi,” katanya lalu ia menatap Audrey, “Dan jangan berpikir terlalu banyak. Aku pasti akan menemanimu begitu semua ini selesai.”

“Aku akan sangat menantikannya,” kata Audrey.

Fulvia melambaikan tangannya ke Audrey dan berjalan meninggalkan Greenwalls.

Audrey terus berdiri di pintu masuk sampai Fulvia menghilang di jalan raya.

Dua minggu lagi…

Sedikit lagi…

Fulvia tidak akan membiarkan rencananya ini rusak dan ia akan melakukan apa pun demi keberhasilan rencananya ini.

Semua orang pasti akan mengatakan ini adalah rencana paling gila dari seorang putri bangsawan tetapi bagi Fulvia ini adalah rencana yang hebat. Ia benar-benar menikmati rencananya ini dan ia menyukai pengalaman ini.

“Maafkan keterlambatan saya,” Fulvia muncul dengan senyum manisnya.

Brent keheranan melihat kedatangan Fulvia melalui pintu depan. “Kau tidak membawa kudamu?”

“Ya,” jawab Fulvia, “Saya pergi ke rumah kerabat saya sebelum ke sini.”

“Fulvia! Fulvia!” seorang anak kecil berlari keluar, “Aku telah mengulanginya. Kau telah berjanji padaku untuk memberiku sesuatu. Aku telah mengulangi semuanya.”

Fulvia tersenyum. “Ya, aku percaya padamu.”

Jehona melihat keranjang di tangan Fulvia. “Apa yang kaubawa?”

“Saya membawa Circletes,” Fulvia meletakkan keranjangnya di meja terdekat, “Saya yakin kalian akan menyukai kue almond ini.” Fulvia menatap bayi yang sedang tertidur nyenyak di gendongan wanita itu. “Sayang sekali kau masih tidak bisa memakannya, Sammy. Kalau kau sudah lebih besar, aku akan membawakannya untukmu.”

Seolah mengerti apa yang dikatakan Fulvia, bayi itu tersenyum.

“Apakah aku boleh memakannya?” tanya Tim.

“Tidak, Tim,” kata Fulvia tegas, “Tidak sebelum kau mengulang apa yang telah kau pelajari kemarin padaku.”

Tim kecewa.

“Ijinkan saya meminjam kamar Anda, Nyonya Jehona.”

“Silakan.”

Fulvia bergegas mengganti gaunnya.

Tim dengan tidak sabar menanti gadis itu mengganti pakaiannya. Ia sudah tidak sabar membacakan buku yang telah dibacanya kemarin malam kepada Fulvia. Ia sudah tidak sabar menunjukkan pada gadis itu bahwa ia telah mengulang pelajarannya kemarin. Dan yang paling dinantikannya adalah memakan kue yang dibawa Fulvia.

Fulvia sangat mengerti keinginan anak itu dan ia menahan keinginan itu lebih lama lagi. Begitu ia mendengar Tim membaca buku dongeng itu dengan lancar, ia membiarkan anak itu menghabiskan makanan yang dibawanya.

Inilah awal kegiatan Fulvia di tempat itu. Semuanya berjalan seperti biasa tanpa ada sesuatu yang istimewa. Kalaupun ada itu karena Fulvia tengah memikirkan alasan baru untuk meninggalkan Unsdrell.

Keriangan dan kelincahan Tim benar-benar membantu Fulvia untuk melupakan segala kerisauan hatinya di hari itu. Ia benar-benar hampir melupakan rahasianya yang hampir terbongkar ini.

Tetapi ketika sore beranjak dan tiba waktunya bagi Fulvia untuk pulang, pikiran itu kembali menghantui Fulvia.

Fulvia meninggalkan tempat itu dengan senyuman tetapi tak lama setelahnya ia kembali berkutat dengan kegalauan hatinya.

Fulvia berpikir keras.

Audrey benar ia sudah tidak bisa menggunakan cara ini untuk mengelabui Davies terus-terusan. Ia juga tidak bisa setiap hari membawa sesuatu untuk Audrey seperti pagi ini. Davies pasti akan curiga padanya.

Rahasianya pasti akan terbongkar. Ini hanya masalah waktu.

Tetapi, kurang dua minggu lagi dan semuanya akan selesai. Fulvia tidak dapat menyerah. Fulvia tidak dapat membiarkan seorang pun tahu. Fulvia harus memikirkan cara lain untuk menutupinya. Sebuah alasan tepat yang tidak akan membuat keluarganya maupun kakak-kakak sepupunya curiga.

Kedua orang tuanya bukanlah masalah besar baginya. Count maupun Countess percaya setiap hari Fulvia pergi menemani Audrey. Countess bahkan mendukungnya. Seperti yang pernah dikatakan Countess Kylie, Audrey membutuhkan teman. Karena itulah ia membiarkan putrinya pergi ke Greenwalls setiap harinya.

Di sisi lain Davies yang sudah kewalahan oleh pertengkaran Trevor maupun Richie, mulai mencurigainya apalagi setelah kemarin Davies mendapati ia tidak berada di Greenwalls.

Jalan yang paling mudah adalah memberitahu Davies dan meminta dukungannya tetapi itu juga adalah cara yang paling tolol. Davies tidak akan pernah mengijinkannya melakukan ini.

Fulvia harus menemukan alasan baru agar kakaknya tidak curiga.

Bahu Fulvia berselisihan dengan seseorang.

Fulvia kaget. Keseimbangan tubuhnya langsung hilang oleh tubrukan keras itu dan keranjangnya terlepas dari tangannya.

Tangan orang itu langsung terulur menarik lengan Fulvia.

“Te… terima kasih,” Fulvia masih belum pulih dari kekagetannya.

“Apa yang kaulakukan di sini?” sepasang mata dingin itu menatap Fulvia.

Fulvia terkejut menyadari siapa yang baru ditabraknya itu.

“Apa yang kau tidak sadar kau membahayakan dirimu sendiri dengan melamun sepanjang jalan,” dahi Irving berkerut ketika ia membungkuk mengambil keranjang Fulvia. “Dan pada waktu seperti ini.”

Nada-nada penuh peringatan itu mengingatkan Fulvia akan larutnya keadaan saat itu.

“Oh,” Fulvia sadar, “Maafkan saya. Saya sedang memikirkan sesuatu.”

Tiba-tiba Fulvia merasakan sesuatu yang berbeda dari pria itu. Fulvia tidak melihat seorang wanita pun di sisi Irving !

“Anda sendirian, M’lord?” pertanyaan itu terlempar begitu saja.

Irving tidak berminat menjawabnya.

Tiba-tiba Fulvia mendapat ide.

“Bila Anda berkenan, M’lord,” Fulvia berkata sopan, “Apakah Anda bersedia mengantar saya pulang?”

Irving terkejut. Lagi-lagi gadis ini melakukan sesuatu yang benar-benar di luar dugaannya.

“Kereta keluarga saya telah pulang dan saya tidak yakin saya dapat menemukan kereta kuda untuk membawa saya pulang sebelum hari gelap. Saya telah berkeliling di tempat ini tetapi saya tidak menemukan sebuah kereta kuda pun.”

Fulvia tidak berbohong karena kereta keluarganya telah pulang setelah mengantarkannya ke Greenwalls. Saat ini Fulvia juga sedang berpikir sambil mencari kereta kuda sewaan.

“Tentu saja,” katanya.

Fulvia senang. Ia menemukan alasan untuk meninggalkan Unsdrell esok hari.

Tanpa berkata panjang lebar, Irving membawa Fulvia ke kereta kudanya. Mereka juga tidak bercakap-cakap hingga kereta kuda Irving tiba di Unsdrell.

Davies sudah menanti Fulvia di serambi dengan wajah menakutkannya. Ia sudah benar-benar tidak sabar. Hari semakin larut. Langit kemerahan musim panas sudah mulai menggelap ketika akhirnya kereta itu memasuki pekarangan Unsdrell.

Davies heran melihat Irving turun dari kereta itu dan ia terkejut melihat Irving membantu Fulvia turun dari dalam kereta kuda itu.

“Terima kasih, M’lord,” kata Fulvia sambil tersenyum manis, “Saya akan sangat menantikan pertemuan kita besok pagi.”

Mata Irving meruncing sementara itu mata Davies langsung membelalak lebar.

Irving menatap tajam gadis itu. Apakah ia mengatakan pada gadis ini bahwa ia akan membawanya pergi besok pagi? Apa yang sedang direncanakan gadis ini?

Davies menatap tajam pria di sisi Fulvia. Apa yang akan dilakukan pria itu terhadap Fulvia?

Irving merasakan tatapan curiga itu dan ia tidak menyukainya. Ia tidak suka cara Davies menuduhnya seperti ini. Davies tidaklah lebih tua darinya. Mereka seumur! Tetapi ia bertindak seolah-olah ialah yang paling tua di antara mereka.

Irving tidak merencanakan apa pun dan bila ada yang sedang menyembunyikan sesuatu di antara mereka, itu adalah Fulvia.

Entah apa yang ada dalam pikiran gadis ini tetapi Irving yakin ia mempunyai niat tidak baik. Sesuatu dalam diri Irving memperingatkan Irving akan bahaya yang akan disebabkan gadis ini pada dirinya.

Irving memutuskan ia akan mengikuti permainan gadis ini. Ia akan membiarkan gadis ini menduga rencananya telah berhasil. Ia akan membiarkan gadis ini berpuas diri sebelum ia menjungkirbalikkan rencananya itu.

“Selamat malam, M’lord,” kata Fulvia.

“Selamat malam, M’lady,” Irving meraih tangan Fulvia dan menciumnya. “Saya akan menantikan pertemuan kita besok pagi.”

Davies ingin sekali menjauhkan pria itu dari Fulvia dan menghajarnya.

Fulvia tersenyum gembira. Besok ia akan dapat pergi dengan bebas tanpa kecurigaan Davies.

5

“Mengapa Anda di sini?” Fulvia heran.

Pagi ini Fulvia tengah bersiap pergi ke kota ketika pelayan datang memberitahukan kedatangan seorang pria yang tengah menantinya. Fulvia sangat bingung mendengarnya. Ia tidak mempunyai janji dengan siapa pun pagi ini. Fulvia tidak mengharapakan kedatangan Trevor maupun Richie pagi ini.

Hari Minggu yang lalu ketika mereka berdua datang, Fulvia telah menjelaskan pada mereka posisinya saat ini. Tentu saja ia tidak mengatakan semuanya pada mereka. Ia hanya memberitahu mereka ia harus pergi ke kota setiap hari. Ia telah berjanji pada Audrey untuk menemaninya sepanjang hari. Mulanya kedua sepupu itu tidak gembira mendengar berita yang telah mereka ketahui dari Davies itu tetapi mereka, seperti Countess Kylie, tahu Audrey membutuhkan seorang teman.

Kedua sepupu telah memberikan ijin mereka padanya. Bahkan mereka berkata dengan kepergiannya ini, mereka bisa lebih memusatkan diri pada kewajiban mereka sebagai calon pengganti orang tua mereka seperti yang diinginkan orang tua mereka.

Tanpa berpikir panjang Fulvia langsung menemui orang itu.

Davies yang telah mendengar lebih dahulu akan kedatangan pria itu telah berada di sana ketika Fulvia tiba.

“Bukankah kita telah berjanji untuk bertemu lagi pagi ini,” Irving mengingatkan.

Fulvia teringat sandiwaranya kemarin malam. Ia ingin menjelaskannya pada Irving tetapi Davies berada di sana .

“Maaf. Saya kira kita akan berjumpa di tempat kemarin. Saya benar-benar tidak menduga Anda akan datang menjemput saya.”

“Saya tidak dapat membiarkan Anda pergi ke sana seorang diri, M’lady.”

Fulvia merasa ia benar-benar tidak tertolong. Mungkin inilah yang dikatakan satu kebohongan akan membuka kebohongan yang lain.

“Apakah kita bisa pergi sekarang, M‘lady?” Irving mengulurkan tangan.

Fulvia menyambut uluran tangan itu.

Mata tajam Davies mengawasi setiap tindakan Irving .

“Davies,” Fulvia mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta, “Aku akan pulang sebelum makan malam.”

Davies tidak dapat berbuat apapun selain berkata, “Berhati-hatilah.”

Davies tidak menyukai Irving tetapi ia tidak dapat menunjukkannya kepada Fulvia.

“Ini semua gara-gara Trevor juga Richie,” Davies menggerutu sambil berjalan masuk.

Davies yakin Irving sedang berencana menjadikan Fulvia satu di antara wanita-wanita yang pernah memasuki hidupnya dan itulah sebabnya ia menemui pria itu sebelum Fulvia muncul.

Sekali lagi ia memperingatkan pria itu untuk menjauhi Fulvia tetapi pria itu malah berkata dengan sombongnya, “Sebaiknya kau mengatakannya pada adikmu. Ia mencariku bukan aku yang mencarinya.”

Davies kesal. Ia ingin sekali melayangkan tinjunya di muka sinis Irving tetapi Fulvia ada di sana . Fulvia pasti akan membencinya bila ia melakukan itu di hadapannya.

Davies tahu Fulvia paling tidak suka melihat pertengkaran. Trevor dan Richie juga mengetahui hal itu. Mereka bertiga tidak akan pernah melupakan bagaimana Fulvia menemukan ketiganya berkelahi memperebutkan sebuah mainan.

Kala itu mereka masih kecil. Mereka mempunyai kegemaran yang sama. Mereka menyukai mainan yang sama.

Biasanya, orang tua ketiganya akan membelikan mainan yang sama untuk menghindarkan pertengkaran di antara mereka tetapi kali itu lain. Kali itu Trevor menemukan sebuah kereta-keretaan kayu yang menarik perhatiannya. Sayangnya mainan itu hanya satu dan tidak ada duanya. Trevor sudah sangat tertarik pada mainan sehingga orang tuanya tidak mempunyai pilihan lain selain membelinya.

Trevor yang sangat gembira dengan mainan barunya segera memamerkan mainan itu pada kedua sahabatnya.

Ketiganya menyukai mainan baru Trevor itu dan mereka berebut mainan itu sampai berkelahi. Saat itulah Fulvia muncul.

Fulvia langsung menangis melihat ketiganya berkelahi dengan seru. Tangisan Fulvia begitu keras hingga ia mengagetkan semua orang.

“Aku benci Davies! Aku benci Trevor! Aku benci Richie!” Fulvia terus menerus mengucapkan kalimat itu sambil menangis tersedu-sedu.

Seketika orang tua dari tiga keluarga itu langsung memarahi tiga anak lelaki itu. Mereka menyalahkan ketiganya atas tangisan Fulvia. Mereka menghukum ketiganya karena membuat Fulvia menangis.

Davies tidak akan lupa bagaimana Fulvia menghindari mereka bertiga selama berhari-hari setelah peristiwa itu. Fulvia benar-benar membenci mereka dan ia telah memberikan hukuman yang lebih parah dari hukuman orang tua mereka.

Davies mendesah. Andai saja ia mempunyai kesempatan untuk menghantam muka sinis Irving , ia pasti telah melakukannya. Ia tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk berkelahi dengan pria itu demi Fulvia.

“Setidaknya,” Davies berpikir lanjut, “Kali ini mereka harus menanggung sendiri akibatnya.”

Tetapi Davies kemudian berubah pikiran. Ia tidak akan memberitahu Trevor maupun Richie tentang kepergian Fulvia hari ini. Ia ingin menanti Fulvia. Ia ingin tahu apa yang diperbuat Irving pada adiknya. Ia harus mengetahui semuanya dengan jelas sebelum mencari perhitungan dengan Irving juga kedua sepupunya itu.

-----0-----

Fulvia tahu ia tidak bisa mendiamkan begini saja kesalahpahaman di antara mereka. Ia harus menjelaskan semuanya pada Irving .

“Ke mana kita akan pergi?”

Fulvia terkejut.

“Kau ingin pergi ke suatu tempat, bukan?”

“Saya ingin ke kota , M’lord.”

Irving menanggapinya dengan mengetuk jendela yang menghubungkan dengan kusir kuda dan mengatakan tujuan mereka pada kusir kudanya.

“M’lord,” Fulvia tidak tahu bagaimana harus memulai, “Saya rasa ada kesalahpahaman di antara kita.”

Irving memicingkan sudut matanya. Mata biru tuanya memperhatikan Fulvia lekat-lekat.

“Saya tidak berencana untuk mengajak Anda pergi,” Fulvia merasa bersalah, “Saya hanya perlu meninggalkan Unsdrell dan kemarin saya terpaksa berbohong pada Anda juga Davies. Davies tidak akan mengijinkan saya meninggalkan Unsdrell pagi ini tanpa sebuah alasan yang jelas dan saya tidak ingin Davies mengetahui tujuan saya.”

“Apa yang akan kaulakukan?”

“Saya perlu melakukan sesuatu yang penting,” jawab Fulvia tanpa menerangkan lebih banyak, “Sesuatu yang penting dan tidak boleh diketahui siapa pun.”

Jawaban itu membuat Irving semakin ingin tahu apa yang sedang direncanakan Fulvia.

“Anda bisa menurunkan saya di tempat kemarin saya berjumpa Anda,” Fulvia melanjutkan, “Saya akan bisa mengatasi semuanya dari sana .”

“Bagaimana kau akan pulang?”

Pertanyaan tak terduga itu membuat Fulvia terkejut.

“Saya akan menyewa kereta kuda,” jawab Fulvia meyakinkan.

Jawaban itu tidak membuat Irving puas tetapi pria itu tidak bertanya lebih lanjut lagi.

Fulvia juga tidak berbicara lebih banyak lagi. Ia tidak ingin orang lain mengetahui rencananya. Dua minggu lagi dan rencananya ini akan berhasil. Sebelum itu, Fulvia tidak ingin orang lain setelah Audrey mengetahui rahasianya, rahasia kecil yang pasti akan membuat orang tuanya gembira.

Seperti keinginan Fulvia, kereta kuda Irving mengantarnya sampai ke pinggir jalan tempat kemarin mereka bertabrakan.

Fulvia mengucapkan terima kasihnya pada Irving begitu mereka tiba dan ia menanti di tempat itu sampai kereta keluarga Engelschalf menghilang dalam hiruk pikuk pagi hari di pusat kota .

Fulvia menutupi segala kegalauan hatinya dengan senyum. Fulvia tidak boleh dan tidak dapat membiarkan keluarga itu mengetahui kegalauan hatinya. Mereka tidak boleh mengetahui apapun tentang bahaya rahasianya ini. Setidaknya, hari ini ia bisa lolos dari Unsdrell.

Bagaimana ia akan mengelabuhi keluarganya, bisa ia pikirkan sepulangnya dari tempat kerjanya.

Setelah memantapkan hati, Fulvia melangkah ke toko roti yang tak bernama itu.

“Hari ini kau juga diantar keluargamu?” sambut Brent melihat kedatangan Fulvia dari pintu masuk.

“Ya,” Fulvia setengah membenarkan. Ia tidak ingin Brent mengetahui lebih banyak tentang masalahnya. Ia juga tidak ingin Jehona ikut mencemaskan keberhasilan rencananya ini. Tanpa memberi keterangan lagi, Fulvia bergegas mengganti gaunnya.

“Tak terasa waktu cepat berlalu,” komentar Jehona ketika Fulvia keluar dari kamarnya, “Rasanya seperti baru kemarin kau muncul di sini dan sekarang sudah dua minggu lebih kau berada di sini.”

Fulvia tersenyum. Ia juga tidak pernah membayangkan waktu akan berlalu secepat ini. Ia menikmati saat-saat berada di antara keluarga ini. Sekarang setiap pagi ia merasa seperti pergi menemui keluarganya yang lain bukan pergi ke tempat kerjanya.

“Fulvia, kau akan pergi?” Tim menarik gaun Fulvia.

“Tidak, Tim. Untuk beberapa hari mendatang aku masih akan ada di sini.”

“Benarkah itu?” Tim gembira.

“Ya,” jawab Fulvia, “Aku masih bisa datang menjengukmu setelahnya.”

Fulvia tahu ia tidak akan bisa meninggalkan keluarga ini. Keluarga ini telah menjadi bagian dari dirinya. Keluarga ini telah memberikan pengalaman-pengalaman berharga dalam hidupnya. Fulvia tidak akan melupakan saat-saat bersama keluarga ini.

Semua pengalaman yang didapatkannya dari keluarga ini adalah pengalaman yang baru.

Melalui keluarga inilah ia mengetahui lebih jelas bagaimana perbedaan kehidupan kalangan atas dan kalangan menengah ke bawha.

Melalui keluarga inilah ia mengerti kebahagian adalah harta yang lebih berharga dibandingkan uang mana pun.

Melalui keluarga inilah ia mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang tidak dapat diberikan keluarga maupun guru privatnya.

Mereka telah mengajarinya untuk hidup sederhana.

Mereka mengajarinya untuk berbagi dengan sesama.

Mereka membagikan pengalaman-pengalaman berharga mereka padanya.

Fulvia telah sangat menyayangi keluarga ini hingga ia sendiri tidak tahu bagaimana ia harus meninggalkan keluarga ini dua minggu mendatang.

Fulvia tidak tahu bagaimana tetapi saat ini ia tahu ia harus memikirkan cara untuk menutupi kepergiannya untuk dua minggu mendatang. Ia harus memikirkannya.

Seperti kemarin, Tim membantunya melupakan kegalauan hatinya. Kebahagiannya melihat kemajuan yang diperoleh Tim membuatnya sangat puas. Setelah ia yakin Tim telah dapat membaca dengan lancar, Fulvia mulai mengajarkan apa yang diketahuinya dari guru pribadinya.

Fulvia telah mengenalkan angka dan huruf padanya sekarang ia ingin mengenalkan ilmu pengetahuan pada anak cerdas itu.

Setelah sekian lama mengajari Tim, Fulvia mengakui kecerdasan anak itu. Tim dapat dengan cepat menangkap dan menguasai semua yang diajarkan Fulvia. Dalam hatinya, Fulvia berharap Tim akan memperoleh pekerjaan yang bagus di masa mendatang. Berdagang roti bukanlah pekerjaan yang buruk tetapi tidak ada salahnya bila Fulvia menaruh harapan besar pada Tim.

Fulvia tidak pernah mengatakannya pada orang tua Tim. Ia hanya menyimpan pendapatnya itu untuk dirinya sendiri.

Sore itu Fulvia melenggangkan kaki ke jalanan. Sekali lagi ia memastikan kotak musik yang diidamkannya belum berpindah tangan ke orang lain.

Melihat kotak musik itu masih mengalunkan nyanyian lembut dari dalam toko yang sama, Fulvia bahagia. Untuk sejenak ia dapat melupakan kerisauannya.

“Aku pasti akan membelimu,” ia berjanji pada kotak musik itu, “Untuk itu jangan biarkan kau dibeli orang lain.”

Setelah mengucapkan janjinya yang kesekian kalinya pada kotak musik itu, Fulvia melangkahkan kaki di jalanan pusat kota .

Hari mulai larut dan Fulvia tidak mempunyai waktu untuk berkeliaran di kota sambil berpikir seperti kemarin. Fulvia harus segera pulang atau keluarganya akan mulai mencemaskannya.

Baru saja Fulvia melangkahkan kaki ketika matanya menangkap sesosok pria yang dikenalinya dengan baik.

Pertemuannya dengan Irving memang barulah tiga kali tetapi itu cukup untuk membuat Fulvia mengenali pria itu di keramaian seperti ini.

Pria itu tampak sangat mencolok di keramaian. Ia tampak berbeda dari yang lain. Bukan karena rambut keemasannya yang bersinar di bawah sinar matahari sore itu. Sesuatu memancar dari pria itu, sesuatu yang membuatnya terpisah dari keramaian.

Fulvia tersenyum. Sekarang ia tahu mengapa begitu banyak wanita yang bertekuk lutut di harapan pria itu. Ia mengerti mengapa masih begitu banyak wanita yang rela mengantri untuk mendapatkan pria dengan reputasi miring segudang itu.

Irving sungguh tampak menawan dan gagah di samping kereta kuda yang dikenali Fulvia sebagai kereta kuda keluarga. Sepasang bola mata biru tuanya memandang dingin ke satu arah. Bibirnya yang mengatup rapat menggambarkan ketidaksabarannya.

“Mungkin ia menanti teman kencannya,” pikir Fulvia dan bersiap meninggalkan tempat itu.

“Aku telah menduga akan menemukanmu di sini,” pria itu mendekat.

Fulvia terkejut. Apakah Irving sedang berbicara padanya? “Anda menanti saya?”

“Aku tidak punya banyak waktu,” Irving meraih tangan Fulvia.

Walaupun ia masih bingung, Fulvia membiarkan pria itu membantunya naik kereta. Kebingungan Fulvia masih juga tidak terjawab ketika kereta bergerak perlahan meninggalkan pusat kota dan Fulvia memutuskan untuk bertanya langsung,

“Mengapa Anda menanti saya?”

“Aku membawamu pergi dan aku berkewajiban memulangkanmu,” jawab pria itu singkat.

Fulvia terperangah. Irving benar-benar seorang gentleman seperti yang didengarnya. Fulvia tersenyum. Mungkin ia bisa memanfaatkan sedikit sifatnya ini.

“Apakah ini sangat mengganggu Anda?”

Irving memperhatikan senyum yang menyembunyikan sejuta rencana itu.

“Bila Anda berkenan, apakah setiap hari Anda bisa menjemput saya di Unsdrell?”

Irving sama sekali tidak mendapatkan gambaran tentang rencana gadis ini.

“Semuanya akan lebih mudah bagi saya setelah meninggalkan Unsdrell,” Fulvia tersenyum gembira. Sesuatu meyakinkannya. Ia percaya Irving akan bersedia membantunya. “Saya sangat membutuhkan bantuan Anda untuk meninggalkan Unsdrell tanpa kecurigaan siapa pun.”

Apakah gadis ini sedang mencoba menjerumuskannya dalam rencananya itu?

Apakah gadis ini sedang memancingnya?

“Anda tidak perlu melakukannya untuk selama-lamanya,” Fulvia menambahkan, “Saya hanya membutuhkannya untuk dua minggu mendatang.”

Irving memperhatikan raut memohon di wajah yang polos di wajah Fulvia itu. “Gadis ingusan ini lumayan bagus,” ia memuji Fulvia dalam hatinya.

“Saya tidak keberatan,” Irving memutuskan untuk membiarkan dirinya terjun dalam rencana Fulvia, “Setiap pagi di waktu yang sama dan setiap sore di tempat dan waktu yang sama, bukan?’

“Terima kasih, M’lord,” Fulvia gembira.

Irving ingin tahu bagaimana gadis ini akan menjeratnya.

Fulvia tersenyum gembira. Ia tidak perlu memikirkan alasan untuk meninggalkan Unsdrell lagi. Audrey juga tidak perlu mengkhawatirkannya.

Fulvia sangat puas. Ia ingin segera memberitahukan kabar gembira ini pada kakak sepupunya. Ia ingin sekali kakak sepupunya itu juga merasa gembira seperti dirinya.

Atas dasar keputusan itulah Fulvia berkata, “Besok sore Anda tidak perlu merepotkan diri menjemput saya.”

Mata Irving mengawasi Fulvia.

“Saya ingin menjenguk kakak sepupu saya,” Fulvia memberikan alasannya.

“Kurasa aku telah membuat janji padamu,” Irving tidak sependapat, “Keluargamu pasti akan mencariku bila terjadi sesuatu padamu. Aku akan menjemputmu seperti hari ini dan aku akan mengantarmu ke rumah kerabatmu itu”

Fulvia terperanjat. “Anda… bersedia, M’lord?” ia tidak percaya.

“Kurasa kita telah jelas mengenai hal itu,” Irving berkata dingin.

“Terima kasih, M’lord,” Fulvia tersenyum bahagia, “Saya sangat menghargainya.”

Mata Irving menangkap senyum bahagia yang penuh kepuasan itu.

“Gadis ini tidak terlalu pintar untuk membohongiku,” pikirnya sinis.

Fulvia melihat kereta mulai memasuki pekarangan Unsdrell. Sesaat kemudian kereta berhenti di depan pintu masuk Unsdrell.

“Selamat malam, M’lady,” Irving mencium tangan Fulvia.

“Selamat malam, M’lord,” kata Fulvia pula.

Fulvia memperhatikan Irving masuk dalam kereta. Ia tetap di sana hingga kereta menghilang dari pekarangan Unsdrell.

Hari ini Fulvia pulang sedikit lebih awal dari kemarin. Langit musim panas masih kemerahan di ufuk barat.

“Selamat datang, Tuan Puteri,” pelayan menyambut kedatangan Fulvia.

“Apakah aku terlambat untuk makan malam?”

“Tidak, Tuan Puteri. Anda datang tepat pada waktunya. Kami baru saja akan menyiapkan makan malam.”

Fulvia sangat gembira mendengarnya. Ia bergegas ke kamarnya untuk berganti dan bersiap untuk menemui kedua orang tuanya.

Fulvia sangat merindukan kedua orang tuanya. Rasanya sudah lama ia tidak bertemu mereka.

Fulvia tersenyum geli.

Semenjak ia memutuskan bekerja untuk mendapatkan uang membeli hadiah ulang tahun pernikahan orang tuanya, ia menghabiskan sedikit waktu bersama mereka.

Setiap pagi ia meninggalkan Unsdrell setelah makan pagi bersama mereka dan ia baru pulang ketika waktu makan malam menjelang. Sesudahnya, mereka hanya menghabiskan waktu untuk melakukan kegiatan masing-masing.

Kali ini Fulvia tidak dapat menceritakan kegiatannya sepanjang hari kepada Countess. Mengatakan kepadanya sama saja dengan membongkar rahasianya.

Untunglah Countess Kylie tidak pernah mencoba membuatnya berbicara. Mungkin Countess mengerti dan ia ingin Fulvia bercerita atas keinginannya sendiri.

Fulvia heran melihat kakaknya berada di Ruang Makan seorang diri.

“Di mana Papa Mama?”

“Inilah akibat kau terus meninggalkan Unsdrell sepanjang hari,” Davies menyalahkan.

Fulvia mengambil tempat di depan kakaknya.

“Mereka pergi menerima undangan Paman Graham.”

“Paman Graham?” ulang Fulvia, “Apakah ada sesuatu yang terlewat olehku?”

“Banyak,” Davies berkata tajam, “Kau melewatkan omelan-omelan Trevor juga Richie sepanjang hari. Kau melewatkan kecemasan Mama begitu mendengar Irving menjemputmu.”

“Kau memberitahu Mama!?” Fulvia terperanjat.

“Ya,” kata Davies, “Dan aku sedang mempertimbangkan untuk memberitahu Trevor juga Richie.”

“Jangan kaulakukan itu!” Fulvia menegaskan, “Jangan memberitahu Trevor maupun Richie.”

Davies memincingkan matanya.

“Aku tidak yakin mereka akan senang mendengarnya,” Fulvia memberitahu, “Kupikir ada beberapa hal yang pantas disembunyikan dari mereka.”

Davies tidak mengerti jalan pikiran adiknya.

“Kau sendiri tahu bagaimana Trevor dan Richie begitu ketatnya mengawasiku. Irving adalah teman baik mereka dan aku tidak ingin merusak hubungan mereka.”

Davies menahan tawa gelinya. Fulvia masih tidak tahu apa yang sedang direncakan kedua pria itu dengan memperkenalkan Irving padanya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Lady Margot?” Fulvia mengalihkan pembicaraan.

Tawa tertahan Davies langsung menghilang.

“Jangan kaukatakan kau masih tidak pernah berkunjung ke rumahnya. Jangan katakana padaku kau masih tidak pernah mengajaknya keluar.”

Davies tidak menjawab.

“Oh, Davies,” Fulvia mendesah, “Kau benar-benar tidak tertolong. Bagaimana hubunganmu dengan Lady Margot akan mendapat kemajuan bila kau sendiri seperti ini? Apakah kau kira kau bisa menemuinya di setiap pesta?”

“Jangan menceramahiku,” Davies tidak senang, “Sebaiknya kau menyelesaikan sendiri masalahmu.”

“Masalahku?” Fulvia heran, “Aku tidak mempunyai masalah asmara apa pun.”

Fulvia menatap kakaknya lekat-lekat. “Sebaliknya, kakakku sayang, aku melihat kaulah yang mempunyai masalah besar di sini,” ia tersenyum nakal.

“Jangan memancingku, Fulvia,” Davies memperingatkan.

“Ayolah, kakakku sayang,” Fulvia meneruskan godaannya. “Jangan malu-malu mengatakannya. Adikmu ini pasti akan membantumu mendapatkan wanita idamanmu.”

Davies berdiri.

Fulvia pun berdiri. “Apakah kau akhirnya mengakuinya?”

“Jangan sampai aku menangkapmu,” Davies mendekati Fulvia.

“Cobalah kalau kau bisa,” Fulvia menertawakan Davies dan berlari menghindari kakaknya.

Inilah akhir dari acara makan malam berdua mereka. Makan malam yang belum sempat dimulai itu akhirnya berakhir dengan canda tawa mereka sepanjang malam.

Fulvia sudah sangat lelah ketika akhirnya ia menyerah.

“Aku menangkapmu,” Davies memeluk adiknya erat-erat.

“Aku lelah, Davies,” Fulvia melingkarkan tangannya di leher kakaknya dengan manja, “Dan lapar.”

“Kaulah yang memulainya,” Davies menyalahkan.

“Apakah menurutmu mereka akan keberatan menyiapkan sesuatu untuk kita?”

“Kurasa tidak,” Davies melepaskan Fulvia, “Tetapi hari sudah terlalu larut untuk menganggu mereka.”

Fulvia melihat bintang-bintang mulai menghiasi langit malam.

“Aku yakin kita bisa menemukan sesuatu di dapur,” Davies menggandeng tangan Fulvia.

Fulvia tertawa.

Davies memperhatikannya dengan bingung.

“Sudah lama sekali,” kata Fulvia, “Sudah lama sekali kita tidak mengendap-endap ke dapur di malam hari seperti ini.”

Semasa mereka kecil, mereka sering kali terbangun pada malam hari hanya untuk mendapati perut mereka sedang kelaparan. Mereka selalu mengendap-endap ke dapur untuk mencari makanan dan keesokan paginya Countess akan menyalahkan mereka.

“Itulah akibat kalian bercanda terus sepanjang hari,” katanya setiap saat menemukan dua pencuri kecil telah menjarah dapur mereka di malam hari.

“Ya,” Davies tertawa, “Sudah lama sekali. Mungkin sudah sepuluh tahun lebih.”

-----0-----

“Fulvia, aku mendengar dari kakakmu kemarin kau pergi bersama Irving .”

“Ya, Mama. Ia mengajakku pergi berjalan-jalan,” jawab Fulvia seraya menambahkan, “Pagi ini ia juga akan menjemputku.”

Mata Davies langsung membelalak lebar-lebar.

“Apa yang ia lakukan padamu?” Count cemas, “Sebaiknya kau tidak bergaul dengannya.”

Fulvia tersenyum geli. “Apakah kalian menduga aku tertarik padanya?”

“Fulvia, aku ingin kau tahu. Kami tidak melarang kau bergaul dengan siapa pun. Kami hanya ingin kau berhati-hati.”

“Jangan khawatir, Mama. Aku tidak tertarik padanya,” Fulvia berkata mantap, “Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada pria seperti dia.”

Countess hanya menatap putrinya lekat-lekat.

Fulvia melihat grandfathers clock di ruangan itu. “Oh,” Fulvia terpekik kaget, “Sudah hampir waktunya.” Fulvia berdiri, “Aku harus segera bersiap Irving akan segera datang menjemputnya.”

Dahi orang tua Fulvia langsung berkerut.

Mata Davies menatap tajam adiknya.

“Jangan khawatir, Mama,” Fulvia mencium pipi Countess, “Aku tidak akan tertarik pada Irving . Ia juga tidak akan mencelakakan aku. Kami hanya teman.” Lalu Fulvia berkata pada mereka, “Aku akan kembali sebelum makan malam.”

Fulvia pun pergi meninggalkan mereka.

Fulvia yakin kali ini mereka tidak akan mencurigainya terutama Davies yang sudah mencurigai gerak geriknya. Fulvia juga tahu keluarganya mulai mencemaskan kedekatannya dengan Irving .

Kecemasan mereka benar-benar membuat Fulvia merasa geli. Ia tidak benar-benar dekat dengan Irving seperti yang mereka bayangkan.

Bagi keluarganya, Fulvia telah menghabiskan waktu bersama Irving seharian kemarin tetapi bagi Fulvia, Irving telah memberikan bantuan yang sangat besar kemarin juga hari ini dan untuk beberapa hari mendatang.

Tidak ada apa-apa di antara mereka. Mereka juga tidak berbicara banyak sepanjang perjalanan dari Unsdrell ke kota maupun dari kota ke Unsdrell. Irving dapat dikatakan hanya seorang teman Fulvia yang membantunya meloloskan diri dari Unsdrell setiap pagi dan mengantarnya pula setiap sore. Irving hanya membantunya menjalankan rencananya.

Fulvia tidak khawatir akan terbongkarnya rahasianya. Sekarang yang perlu ia khawatirkan hanyalah kecurigaan keluarganya yang terlalu dibesar-besarkan itu. Tetapi, bagi Fulvia, itu jauh lebih mudah daripada mencari alasan untuk meninggalkan Unsdrell.

Dengan hati riang, Fulvia berangkat ke kota bersama Irving . Fulvia yakin ia akan bisa mengatasi kecurigaan keluarganya.

Suasana hati Fulvia yang gembira itu tertangkap oleh Irving .

“Kulihat pagi ini kau sangat bersemangat,” komentar pria itu setelah kereta yang mereka tumpangi meninggalkan Unsdrell. “Apakah terjadi sesuatu yang baik?”

“Bagaimana Anda tahu?” Fulvia terkejut.

“Semuanya tergambar jelas di wajahmu,” jawab Irving .

Fulvia spontan memegang wajahnya. “Benarkah?” rona merah menghiasi pipi Fulvia.

Irving tidak ingin menjawabnya.

Fulvia tidaklah terlalu pintar untuk mengelabuhi dirinya.

Fulvia juga tidak terlalu pintar untuk menutupi rahasianya.

Fulvia salah besar bila ia mengira Irving tidak tahu kegembiraannya karena rencananya telah berhasil.

Untuk sementara ini, Irving memutuskan untuk membiarkan gadis itu bergembira dulu dengan keberhasilannya. Ia ingin mengetahui apa yang direncanakan gadis itu. Ia ingin tahu sampai di mana kepandaian gadis ini dalam menyusun dan merancang rencananya yang ‘sempurna’ itu.

6

Kereta kuda bergerak perlahan memasuki pekarangan Greenwalls.

Greenwalls, rumah yang terkenal oleh pekarangan hijaunya yang membatasi bangunan utama dengan rumah-rumah yang lain itu sudah berubah.

Di sisi kanan kiri tampak tanaman-tanaman yang kering tak terawat. Bunga-bunga liar menampakkan diri di antara rerumputan yang telah meninggi. Bentuk-bentuk indah semak-semak di antara kedua sisi jalan utama sudah tertutup oleh liarnya pertumbuhan semak-semak itu. Di sana sini terlihat retakan tanah yang mongering.

Suasana hijau yang dulu pernah menghiasi pekarangan Greenwalls sudah tidak ada lagi.

Patung-patung yang meramaikan pekarangan Greenwalls juga tampak kotor tak terawat. Tanaman telah tumbuh hingga melilit mereka. Di kejauhan tampak lumut hijau telah turut memberi warna baru pada patung-patung itu.

Air mancur yang dulu terus mengalir di salah satu sisi tempat itu juga tampak kering dan kusam. Warnanya yang cerah kini tampak hijau oleh lumut.

Keadaan tidak jauh berbeda dengan gedung utama Greenwalls. Gedung megah yang dulu bersinar indah dengan warnanya yang putih cerah itu tampak begitu kusam. Di sana-sini masih terlihat jelas bekas kebakaran hebat yang dulu melahap tempat ini.

Jendela-jendela yang terbakar masih meninggalkan bekas kebakaran hebat itu. Dari jendela yang terbengkalai itu terlihat dinding gelap bagian dalam Greenwalls, dinding yang terbakar setahun lalu.

Tempat ini telah terbengkalai semenjak setahun yang lalu. Hanya pintu masuk yang telah dibenahi dan jendela di sekitar pintu itu yang menunjukkan tempat ini masih dihuni.

“Sudah lewat setahun lebih dan tempat ini masih belum juga dibenahi,” komentar Irving .

“Bagaimana Anda tahu?” pertanyaan itu terlempar begitu saja dari mulut Fulvia dan sesaat kemudian Fulvia menyadari kebodohannya.

Kebakaran hebat yang melanda Greenwalls setahun lalu ramai dibicarakan orang. Hampir setiap hari ia mendengar orang-orang membicarakan kebakaran yang melanda rumah pedagang kaya itu. Sangat tidak mungkin Irving tidak mengetahuinya.

“Mereka mengalami kerugian besar akibat kebakaran itu,” Fulvia menjelaskan, “Dan Lewis tidak mau menerima bantuan siapa pun.”

Irving tidak menanggapi.

Kereta berhenti di depan pintu Greenwalls.

Irving turun dan kemudian mengulurkan tangannya.

Fulvia menerima uluran tangan itu dan membiarkan pria itu membantunya turun dari kereta.

Pintu terbuka dan seorang pelayan muncul dengan cemas. “Anda sudah pulang, Tuan?”

Fulvia kebingungan.

Pelayan itu terkejut melihat Fulvialah yang muncul bukan majikannya.

“Syukurlah Anda datang, Tuan Puteri,” pelayan itu berkata penuh kelegaan, “Nyonya terus mengurung dirinya di kamar sejak pagi ini. Ia juga menolak untuk makan.”

Fulvia terperanjat. “Apa yang terjadi?”

“Mereka bertengkar lagi pagi ini kemudian Tuan Lewis pergi hingga sekarang. Saya kurang jelas tentang ini, tetapi sepertinya pertengkaran ini lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya.”

“Aku akan melihat keadaan Audrey,” Fulvia langsung berlari menuju kamar Audrey.

Pintu kamar Audrey terkunci rapat-rapat. Tidak sebuah suara pun terdengar dari dalam.

“Audrey! Audrey!” Fulvia menggedor pintu, “Buka pintu, Audrey.”

Tidak ada jawaban dari dalam.

“Audrey!” Fulvia berseru panik, “Apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja?”

Tetap tidak terdengar apa pun dari dalam.

“Audrey!”

“Minggir,” sebuah tangan memegang pundak Fulvia dan sesaat kemudian pintu kamar Audrey didobrak dengan paksa.

Fulvia terperanjat Ia benar-benar melupakan keberadaan Irving .

Audrey yang berbaring telungkup di ranjang terkejut.

“Audrey!” Fulvia langsung berlari ke sisi wanita itu. “Kau tidak apa-apa?”

Audrey menatap Fulvia lekat-lekat. “Apa yang kaulakukan di sini?” Pandangan Audrey terarah pada pria yang berdiri di belakang Fulvia.

Audrey menatap lekat-lekat pria bertubuh tegap itu. Rambut keemasannya tampak begitu menawan. Wajahnya yang tampan sungguh mempesona dengan bola mata biru tuanya. Sayangnya, sepasang mata itu bersinar dingin.

Tiba-tiba Fulvia menyadari kebingungan Audrey.

“Ia adalah putra Duke of Engelschalf,” Fulvia memperkenalkan.

“Aku tahu,” suara Audrey masih menampakkan keheranannya. “Bagaimana ia berada di sini?” tanyanya lalu menatap Fulvia penuh pertanyaan.

Fulvia menangkap luka di bibir Audrey.

“Audrey!” pekiknya panik, “Apa yang terjadi padamu!? Apa yang terjadi pada bibirmu!?”

Tangan Fulvia terulur untuk menyentuh luka itu.

“Tidak apa-apa. Aku hanya terjatuh,” Audrey memalingkan kepala.

“Apakah kau ingin aku menginap di sini? Aku akan menemanimu sampai pagi,” Fulvia berkata cemas, “Aku akan tinggal bersamamu.”

“Aku tidak apa-apa, Fulvia,” Audrey meyakinkan. “Tinggalkan aku sendiri.”

“Aku tidak dapat meninggalkanmu,” Fulvia bersikeras.

“Kumohon, Fulvia, tinggalkan aku,” pinta Audrey, “Saat ini aku ingin sendirian.”

“Audrey,” Fulvia memegang pundak Audrey.

Audrey berbalik.

Fulvia terperangah melihat air mata Audrey.

“Tinggalkan aku,” Audrey mendorong Fulvia, “Aku tidak ingin diganggu. Biarkan aku sendiri.”

Fulvia tidak dapat melawan dorongan Audrey yang begitu kuat itu.

“Jangan katakan apapun pada siapa saja,” kata Audrey dan ia menutup pintu rapat-rapat.

“Audrey!” Fulvia menggedor pintu keras-keras, “Buka pintu!”

“Biarkan ia sendiri.”

Fulvia terkejut. Ia menatap pria yang bersandar santai di dinding itu. Sekali lagi Fulvia telah melupakan kehadiran Irving .

“Ia tidak ingin diganggu,” Irving melangkah pergi.

Fulvia bertanya-tanya kapankah pria itu meninggalkan kamar Audrey.

“Audrey akan dapat mengatasi masalahnya.”

“Tetapi luka Audrey…,” Fulvia bertahan di tempatnya. “Luka itu…”

Irving berhenti. “Bukan Lewis yang melakukannya.”

Fulvia menatap punggung Irving .

“Mereka menikah atas dasar cinta, bukan?”

Fulvia terperangah. Ia menatap pintu yang tertutup rapat itu.

Benar, Audrey mencintai Lewis demikian pula pria itu. Cinta mereka itulah yang membawa mereka pada pernikahan. Dan cinta itu pulalah yang menyatukan mereka. Tidak ada alasan bagi Lewis untuk memukul Audrey.

Fulvia pun mengikuti Irving .

Irving meyakinkan dirinya dan Fulvia mempercayainya tetapi bayangan luka di bibir Audrey tidak dapat membuat hati Fulvia tenang. Kecemasan dan kegelisahannya itu tergambar begitu jelas di wajahnya hingga keluarganya ikut mencemaskannya.

“Apa yang terjadi, Fulvia?” tanya Countess pada saat mereka berkumpul di Ruang Makan.

Fulvia terkejut. “Tidak ada apa-apa, Mama.”

“Apa Irving melakukan sesuatu padamu?” Davies bertanya serius.”

“Tidak,” Fulvia mencoba tersenyum, “Tidak terjadi apa-apa.”

Countess menatap Fulvia lekat-lekat. “Mama percaya padamu. Bila kau mempunyai masalah, ingatlah aku selalu ada di sisimu.”

Fulvia mengangguk dan tersenyum.

Sesungguhnya, Fulvia ingin mengatakan semuanya pada keluarganya. Fulvia yakin Countess tentu dapat memberikan penjelasan padanya mengenai luka di bibir Audrey itu. Tetapi Audrey telah memintanya untuk tidak memberitahu siapa pun dan Fulvia tidak dapat menolaknya.

Audrey berkata padanya bahwa ia terjatuh.

Irving berkata padanya Lewis tidak mungkin melakukan itu.

Pelayan itu berkata padanya mereka bertengkar sesaat sebelum Audrey mengurung diri di kamar.

Fulvia tahu mereka menikah atas dasar cinta kasih.

Tetapi…

Fulvia tidak pernah melihatnya tetapi Fulvia pernah mendengar seseorang yang mabuk tidak mempunyai kesadaran atas apa yang dilakukannya. Dan akhir-akhir ini Lewis semakin sering mabuk-mabukan bahkan ia mulai berani bermain perempuan di luar sana.

Apakah mungkin Lewis memukul Audrey?

Pelayan itu mengatakan pertengkaran mereka pagi ini lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya.

Tetapi ini tidak mungkin. Lewis mencintai Audrey. Fulvia percaya itu.

Apakah Audrey mengatakan yang sebenarnya? Tetapi bagaimana mungkin Audrey hanya terluka pada bagian bibirnya? Apakah mungkin Audrey terjatuh dari tempat tidur? Ataukah Audrey terjatuh di tangga? Atau mungkin… Fulvia tidak tahu. Ia tidak dapat mendapat gambaran bagaimana cara Audrey terjatuh tanpa melukai bagian tubuhnya yang lain kecuali bibirnya itu.

Wajah Audrey yang dipenuhi air matanya kembali terlintas di pikiran Fulvia.

Fulvia tidak pernah melihat kakak sepupunya itu menangis. Tidak sekali pun walau Lewis telah berubah sedemikian rupa.

Audrey adalah wanita yang tabah. Ia tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada siapa pun termasuk keluarganya. Audrey bahkan sering berusaha menutupi pertengkarannya dengan Lewis.

Melalui pelayan keluarga itulah orang tua Audrey mengetahui adanya pertengkaran di antara mereka dan biasanya Countess Horacelah yang memutuskan untuk menemui Greenwalls.

Audrey tidak pernah secara khusus memanggil mereka.

Audrey tidak pernah mengeluh.

Audrey selalu terlihat ceria di hadapan orang lain.

Apakah Audrey telah berkata jujur padanya?

Wajah yang dipenuhi air matanya itu tidak terlepas dari benak Fulvia. Sepasang mata hijau yang bersinar sedih itu membuat Fulvia tetap terjaga sepanjang malam. Dan bibir yang terluka itu terus menghantui pikiran Fulvia hingga Brent dan Jehona mencemaskannya.

“Apakah terjadi sesuatu?” Jehona bertanya cemas.

Fulvia terkejut.

“Jangan ragu untuk mengatakan pada kami kalau kau membutuhkan bantuan,” kata Brent pula.

“Tidak,” Fulvia mengelak, “Tidak terjadi apa-apa.”

“Kami mengerti ada saatnya kami tidak ikut campur tangan dalam urusan keluarga orang lain,” Jehona berkata bijaksana, “Tetapi tidak ada salahnya kau berbagi dengan kami.”

“Tidak campur tangan,” gumam Fulvia.

Fulvia teringat Lewis selalu marah-marah setiap kali keluarga Garfinkelnn menawarkan bantuannya. Lewis selalu murka setiap kali orang tua Audrey mencoba melakukan sesuatu untuk mereka.

“Jangan campur tangan!” Lewis selalu berteriak marah, “Ini adalah urusan keluargaku!”

Itukah sebabnya Audrey tidak pernah menunjukkan kesedihannya pada orang lain? Itukah sebabnya Audrey mengusirnya kemarin?

Fulvia tidak mengerti. Ia tetap tidak mengerti ketika sore itu Irving menjemputnya di tempat yang telah mereka janjikan.

“Kau masih memikirkannya?”

Fulvia terkejut.

“Kau tidak terlalu pandai untuk menyembunyikan perasaanmu dariku,” Irving memberitahu dengan tenang.

“Ya,” Fulvia mengakui, “Saya tidak dapat menghilangan wajah Audrey dari pikiran saya.”

Fulvia menarik baju Irving dan menatapnya lekat-lekat. “Katakan pada saya, M’lord. Lewis tidak akan melukai Audrey walaupun ia mabuk.”

Irving terkejut. “Apa yang kau katakan?”

“Saya pernah mendengar,” Fulvia menjelaskan dengan suaranya yang lirih, “Seseorang yang berada di bawah pengaruh minuman keras akan dapat berbuat apa saja tanpa menyadari tindakannya bahkan… bahkan pada orang yang mereka cintai.” Fulvia menatap Irving lekat-lekat kemudian ia berkata dengan serius. “Katakan pada saya Lewis tidak akan melakukan itu.”

Air mata membasahi sepasang bola mata biru keunguan itu.

Irving tertegun.

“Katakan,” pinta Fulvia lirih.

Fulvia mendekatkan dirinya pada Irving dan menunduk. Tangannya mencengkeram kemeja Irving erat-erat dan air matanya terus berjatuhan.

Irving tercengang. Ia benar-benar tidak dapat mengerti gadis ini.

“Apa yang ingin kau lakukan?”

“Pergi ke Greenwalls,” Fulvia mengangkat kepalanya. “Saya ingin memastikannya sendiri,” ia menatap langsung ke mata Irving.

“Aku mengerti,” Irving membawa gadis itu ke kereta kudanya lalu ia meminta kusir kuda untuk mengantar mereka ke Greenwalls.

Tangis Fulvia mulai mereda ketika kereta bergerak menuju Greenwalls.

“Kau sudah lebih baik?” Irving memberikan saputangannya kepada Fulvia.

Fulvia mengangguk dan menerima sapu tangan itu.

“Tak lama lagi kita akan tiba di Greenwalls,” lanjut Irving, “Kau bisa bertanya langsung pada Audrey.”

Fulvia mengangguk lagi. Ia segera menyeka air matanya. Fulvia tidak mau Audrey melihatnya dengan mata sembab. Fulvia tidak mau Audrey mengkhawatirkannya.

Seperti yang dikatakan Irving, kereta tiba di pintu depan Greenwalls dalam waktu singkat.

Kaki Fulvia baru saja menginjak pekarangan Greenwalls ketika sebuah jeritan terdengar dari dalam.

Fulvia terperanjat.

“Mau apa kau, wanita jahanam!”

Fulvia mengenal seruan kasar itu.

“Aku adalah pemilik Greenwalls! Kau tidak berhak mengaturku!”

Tanpa berpikir dua kali, Fulvia langsung menerjang masuk.

“Kau tidak berhak melarangku!”

Lewis menampar Audrey sedemikian kerasnya hingga wanita itu jatuh terpelanting.

“AUDREY!” Fulvia berteriak panik.

Audrey terkejut.

“Audrey!” Fulvia menjatuhkan diri di sisi Fulvia dan memeluk wanita itu erat-erat. Lalu ia menatap Lewis penuh kemarahan, “Apa yang kaulakukan pada Audrey!?”

“Apa lagi kau, gadis kecil?” Lewis meraih tangan Fulvia dan menariknya dengan kasar, “Apa kau juga ingin melarangku? Apa kau ingin mencampuri urusanku?”

Fulvia tidak menyukai bau yang tersebar dari mulut pria itu. “Lepaskan aku!” Fulvia melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.

“APA!?” Lewis murka, “Kau juga berani menentangku! Kau berani memerintahku!” Lewis melayangkan tangannya.

Fulvia memejamkan matanya erat-erat.

Irving menangkap tangan Lewis. Sebelum seorang di antara mereka menyadarinya, Irving telah melayangkan tinjunya di pipi kiri Lewis.

“Apa yang kaukira kaulakukan!?” bentaknya murka.

Lewis terjatuh di lantai.

Fulvia jatuh dengan lemas.

“Kalau kau tidak ingin orang lain mengurusi masalahmu, lakukan sesuatu! Jangan hanya menjadi pengecut!” Irving mencengkeram kerah baju Lewis dan mengangkatnya berdiri, “Apa kau kira selama ini kau telah menyelesaikan masalahmu!? Kau hanya membuat orang mengasihimu, pengecut!”

Tidak seorang pun di ruangan itu yang berkutik.

Mereka terlalu kaget melihat reaksi Irving yang tidak terduga itu.

Mereka terlalu takut melihat kemarahan Irving yang menakutkan itu.

“Kalau kau mengira kami peduli padamu, maaf, kami tidak peduli apa yang terjadi padamu! Kami hanya peduli pada Audrey!”

Fulvia yang pulih dari kekagetannya cepat-cepat berdiri. Ia menarik lengan pria itu. “Hentikan,” pintanya.

Irving melihat wajah memelas gadis itu.

“Kalau kau mengira kau telah menyelesaikan masalahmu, kau salah,” Irving melemparkan pria itu, “Kau hanya pengecut yang bisa bersembunyi dalam minuman keras!”

Sekali lagi Lewis terjatuh di lantai.

Fulvia menarik pria itu dengan cemas.

“Mari kita pergi,” Irving memegang lengan Fulvia dan menyeretnya dengan paksa.

Fulvia tidak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti pria itu.

“Lewis,” Audrey mendekati Lewis. Air matanya kembali bercucuran melihat luka memar di wajah Lewis.

Lewis menatap istrinya. “Maafkan aku, Audrey,” bisiknya perlahan, “Aku benar-benar seorang pengecut.”

“Aku memaafkanmu,” Audrey memeluk Lewis, “Aku memaafkanmu.”

Fulvia meringkuk di pojok. Matanya melirik Irving. Ia tidak berani mengeluarkan suara. Ia juga tidak berani bergerak. Fulvia tahu pria itu masih marah.

Walau Irving suka berganti-ganti pasangan, ia bukanlah tipe pria yang suka bermain kekerasan pada wanita.

Irving sudah tahu. Ia sudah tahu sejak ia melihat luka di bibir Audrey kemarin. Tetapi ia tidak menyangka Lewis juga akan menyerang Fulvia.

Irving tidak pernah mempercayai cinta. Ibunya juga mencintai ayahnya ketika mereka menikah tetapi ibunya kemudian meninggalkan ayahnya bersama kekasih gelapnya. Ayahnya yang buta karena cinta juga terus menyalahkan Nelson, kekasih gelap ibunya, walau sudah jelas ibunya meninggal dalam perjalanan kabur bersama pria itu. Duke masih terus dan terus mempercayai Duchess walau kenyataan sudah berbicara banyak.

Dan gadis di sisinya ini…

Gadis ingusan ini masih mempercayai kesempurnaan apa yang disebut cinta. Gadis ini masih memuja-muja cinta.

Irving ingin sekali membuat Fulvia tahu apa sebenarnya yang disebut cinta itu tetapi itu akan terlalu sangat kejam untuk gadis manja seusianya. Sementara ini Irving akan membiarkan Fulvia bersama mimpi-mimpi indahnya. Ia akan melihat bagaimana kenyataan akan merusak impian indah gadis itu.

Suasana mencengkam di dalam kereta membuat Fulvia merasa tidak nyaman.

Fulvia tidak tahu ia harus berbuat apa untuk meredakan hawa yang menyesakkan dada ini.

“Maafkan aku.”

Fulvia terkejut.

“Kurasa aku telah bersikap kasar terhadapmu,” mata Irving terlihat begitu sedih.

Fulvia terperangah.

“Jangan bertemu dengannya lagi,” Irving memperingatkan Fulvia dengan tegas.

“Mengapa? Ia adalah saudara saya.”

“Apakah kau masih belum mengerti juga!? Apa kau masih ingin mencampuri urusan orang lain!?”

Irving tertegun melihat wajah pucat Fulvia.

“Aku tidak yakin ia tidak akan mencoba menyakitimu lagi,” Irving berkata pelan.

“T-tidak akan. Ia tidak akan berani melakukannya lagi. Anda telah memperingatinya, bukan?”

“Katakan padaku kalau kau akan ke sana lagi.”

Nada dingin itu membuat Fulvia ketakutan.

“Aku akan memastikan ia tidak menyakitimu.” Irving memalingkan kepala ke luar jendela.

Fulvia terperangah. “Terima kasih,” bisiknya lirih dan ia kembali tenggelam dalam pikirannya.

Mencampuri urusan orang lain…

Apakah salah mencampuri urusan orang lain?

Malam itu Davies juga memintanya untuk tidak mencampuri urusannya.

Lewis juga selalu marah setiap kali ada yang mencoba membantunya.

Tadi siang Jehona berkata tidak baik untuk terus mencampuri masalah orang lain.

Irving juga menegaskan untuk tidak turut campur dalam masalah orang lain.

Apakah ini salah?

Fulvia hanya ingin membantu Audrey. Fulvia hanya ingin melihat Audrey kembali tersenyum seperti dulu. Apakah ini salah?

Sekarang semuanya sudah jelas bagi Fulvia. Fulvia sudah yakin darimana Audrey mendapatkan luka di bibirnya itu. Fulvia tahu mengapa Audrey menangis. Dan sekarang harusnya ia bersikap seolah-olah ia tidak pernah mengetahuinya?

Haruskah ia tetap berdiam diri walaupun ia tahu Lewis menyakiti Audrey?

Haruskah ia tetap berdiam diri setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Lewis melukai Audrey?

Fulvia terus berkutat pada pikirannya hingga tak seorang pun mencoba mengusiknya sepanjang malam itu.

Kerisauan Fulvia itu juga membuat Brent maupun Jehona tidak mengusik gadis itu sepanjang hari ini. Tim yang biasanya suka membuat sibuk Fulvia juga menjauhinya.

Semua yang melihat gadis ini tahu ia sedang menghadapi sebuah masalah besar.

Davies yakin Irvinglah penyebab semua ini tetapi ia tidak berkata apa-apa. Ia ingin Fulvia sendiri yang bercerita padanya daripada ia yang langsung mencari Irving dan berkelahi dengannya dengan segala resikonya.

Countess dan Count Silverschatz percaya pada Fulvia dan mereka akan menanti sampai gadis itu menceritakan masalahnya pada mereka.

Hari ini Fulvia ingin sekali pergi menemui Audrey dan memastikan Audrey baik-baik saja. Tetapi Fulvia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan itu.

Sepanjang perjalanan pulang kemarin Irving terus menutup mulutnya rapat-rapat sambil memasang muka kesal. Sepanjang perjalanan kemarin kediaman Irving benar-benar membuat Fulvia merasa tidak nyaman.

Fulvia tahu Irving tidak dapat memaafkan Lewis dan apakah Irving masih akan mengantarnya walau ia telah mengatakan kesediaannya?

Fulvia harus segera memutuskan. Ia harus segera memutuskan sebelum kereta berjalan. Ia harus sudah mengatakannya sebelum kereta meninggalkan pusat kota . Ia…

Mata Fulvia menangkap suasana tak terawat halaman Greenwalls.

Sepasang bola mata biru keunguannya menatap Irving penuh ingin tahu dan ketakjuban.

“Kau ingin melihat mereka, bukan?” Irving menjelaskan singkat.

Senyum bahagia menghiasi wajah Fulvia. “Terima kasih,” Fulvia ingin sekali melompat dalam pelukan pria itu. Ia ingin mengungkapkan luapan kegembiraannya ini.

Kereta berhenti tepat di depan pintu masuk.

Tanpa banyak berbicara, Irving melompat turun kemudian membantu Fulvia.

Suasana di dalam Greenwalls sangat sunyi.

Kesunyian itu tidak membuat Fulvia merasa lega. Sebaliknya, ia merasa semakin cemas.

“Audrey! Audrey!” Fulvia terus memanggil-manggil

“Fulvia?” Audrey muncul dari dalam Ruang Duduk dengan wajah keheranannya, “Kau datang lagi?”

“Audrey!” Fulvia memeluk wanita itu erat-erat, “Audrey, kau baik-baik saja?”

Audrey tersenyum lembut. “Lihatlah kau,” ia menghapus air mata yang mulai membasahi mata Fulvia, “Apa yang harus kujelaskan pada Davies bila ia melihatmu dalam keadaan seperti ini.”

“Kau baik-baik saja?” Fulvia bertanya cemas, “Apakah Lewis melukaimu lagi?”

“Tidak,” Audrey tersenyum, “Lewis sudah jauh lebih tenang sekarang.”

“Apakah ia meninggalkanmu lagi?” Fulvia terus bertanya dengan cemas, “Apakah ia pergi bermabuk-mabukan lagi?”

“Tidak, Fulvia. Sekarang ia mengurung dirinya di kamar. Ia terus mengurung dirinya semenjak kepulangan kalian kemarin sore.”

“Apa yang dilakukannya? Apakah ia sedang merencanakan sesuatu?”

“Jangan khawatir, Fulvia,” Audrey menenangkan, “Ia sedang berpikir.” Audrey tersenyum bahagia. Secercah harapan tersinar di mata hijau tuanya, “Aku yakin ia sedang berpikir.”

Fulvia terperangah. Ia tidak pernah melihat kakak sepupunya secantik ini. Fulvia tidak pernah melihat Audrey tampak begitu anggun dengan rambut merahnya yang terikat rapi. Fulvia tidak pernah melihat Audrey tampak begitu mempesona dengan wajahnya yang penuh harapan ini.

“Katakan padaku, Fulvia, apa yang membuatmu datang,” Audrey merangkul pundak Fulvia dan membawanya duduk di sofa.

Mata Audrey menatap Irving yang berdiri di pintu dengan tenangnya. “Apakah Anda bersedia bergabung bersama kami?”

Audrey lalu menatap Fulvia lekat-lekat. “Keluargamu tidak akan keberatan bila kau bergabung bersamaku untuk makan malam, bukan?”

Fulvia tercengang melihat kegembiraan Audrey.

Sikap Audrey menunjukkan tidak pernah terjadi apa pun dalam kehidupannya. Tidak ada yang terjadi dalam rumah tangganya. Audrey tampak seperti sudah melupakan kejadian kemarin.

Fulvia tersenyum bahagia karenanya dan ia berkata gembira, “Tidak. Aku yakin mereka tidak akan keberatan.”

Fulvia sudah benar-benar melupakan Irving. Dan ketika Fulvia menyadarinya, pria itu telah duduk bersama mereka di meja makan sambil berdiam diri mendengarkan pembicaraan kedua wanita yang terpaut dua belas tahun itu.

7

Sudah seminggu lebih Irving menyediakan antar jemput bagi Fulvia.

Sudah seminggu lebih ia muncul di Unsdrell pagi hari dan mengantar Fulvia pulang di sore hari.

Seminggu lebih dan ia belum mendengar apa pun dari gadis itu.

Seminggu lebih dan ia masih belum mempunyai gambaran mengenai rencana gadis itu.

Irving benar-benar tidak mempunyai gambaran tentang tindakan Fulvia dan rencananya itu.

Pagi ini Irving bergegas menghabiskan sarapannya seperti biasa dan segera berangkat ke Unsdrell. Ketika ia tiba di Unsdrell, Fulvia baru saja keluar.

“Anda datang tepat waktu,” sambut Fulvia.

“Aku telah menangkap waktu kau siap,” balas Irving .

Fulvia tersenyum mendengar balasan asal-asalan itu. Tanpa berkata panjang lebar, ia menerima uluran tangan Irving .

Seperti biasa, mereka berdiam diri selama perjalanan menuju kota .

Irving tidak tertarik untuk membka pembicaraan dengan Fulvia. Demikian pula gadis itu.

Bagi Fulvia, mereka hanyalah teman biasa. Tidak ada suatu hal khusus yang dapat ia bicarakan dengan Irving .

Fulvia tidak ingin menanyakan kabar-kabar burung tentang Irving dan wanita-wanitanya maupun mawar merahnya yang terkenal itu. Fulvia juga tidak ingin bertanya tentang keluarga pria itu. Fulvia tahu pria tidak menyukai topik tentang dirinya dan tiga pemuda dalam hidupnya telah menegaskannya.

Semasa kecil Fulvia suka sekali bertanya banyak hal kepada ketiga kakaknya itu. Ia selalu ingin tahu banyak hal tentang mereka bertiga. Ketiganya juga tidak pernah menutup-nutupi rahasia mereka pada Fulvia. Tetapi dengan beranjaknya usia mereka, Fulvia mulai merasakan ketiganya mulai tertutup padanya. Fulvia pernah menanyakannya pada ibunya dan Countess Kylie berkata, “Setiap orang pasti mempunyai hal yang ia tidak ingin orang lain ketahui dan seorang pria adalah seorang makhluk yang paling peka terhadap hal ini.”

Fulvia dapat memahami hal tersebut. Ia juga mulai menyadari ia juga tidak suka menceritakan semua hal pada keluarganya seperti semasa ia kecil. Rencananya ini adalah salah satu contohnya.

Hari Minggu yang baru lewat ini, kedua kakak sepupunya mulai mengeluhkan kepergiannya selama hari-hari belakangan ini.

“Aku mempunyai urusan di kota ,” Fulvia menjelaskan singkat.

“Urusan apa?” Trevor tidak dapat menerima jawab itu, “Jangan katakan padaku kau mengunjungi Audrey. Semua orang sudah tahu Lewis tidak pernah berulah lagi dan Audrey tidak membutuhkanmu lagi.”

Fulvia juga tahu ia tidak bisa menggunakan Audrey sebagai alasannya pada kedua kakak sepupunya ini. Lewis tidak pernah keluar rumah lagi semenjak Irving memukulnya. Sekarang Lewis menghabiskan waktunya untuk mengurung diri di kamar. Hal ini membuat Audrey lebih lega dan bergembira.

Audrey tidak pernah mengatakan apa-apa tentang Irving dan kemarahannya pada hari itu.

Keluarga Garfinkelnn juga tidak pernah menanyakannya. Mereka hanya percaya sesuatu telah terjadi dan itu membuat Lewis menyadari kesalahannya. Sekarang mereka tengah menantikan sesuatu yang lebih baik lagi.

Fulvia juga tidak ingin mengatakan apa pun mengenai peristiwa hari itu. Fulvia tidak dapat membayangkan reaksi kedua kakak sepupunya dan ia terlebih tidak dapat membayangkan kemurkaan Davies mendengar ia pergi ke Greenwalls bersama Irving .

Semenjak Irving muncul untuk menjemputnya di pagi itu, Davies sudah menampakkan rasa tidak sukanya dan ia semakin tidak senang karena Irving terus datang tiap pagi.

“Aku mempunyai urusan penting,” Fulvia menegaskan.

“Apa?” Richie mendesak.

Fulvia kewalahan menghadapi ketidaksabaran kedua kakak sepupunya itu. Fulvia tidak ingin mengatakan sesuatu yang dapat menyakiti keduanya dan ia juga tidak dapat memberitahu mereka.

“Sudahlah,” Davies muncul tepat pada waktunya, “Hormatilah Fulvia.”

“Bagaimana kau yakin ia tidak melakukan sesuatu yang berbahaya?” tanya Trevor dan Richie bersamaan.

“Aku…,” Davies ragu-ragu.

Fulvia tahu Davies selalu mencurigai Irving .

“Aku percaya Fulvia tidak melakukan sesuatu yang berbahaya,” Davies berkata tegas, “Aku dapat menjaminnya.”

Fulvia lega mendengar dukungan Davies itu. Davies bisa saja mengatakan semuanya pada mereka tetapi ia masih memegang janjinya untuk merahasiakan hal ini dari mereka.

Jaminan Davies itu benar-benar bermanfaat. Kedua kakak sepupunya tidak mendesaknya lagi. Sebaliknya, mereka menegaskan berulang kali untuk meluangkan waktu bagi mereka di hari Minggu.

Fulvia telah berjanji pada mereka dan ia dapat memastikan ia tidak mempunyai acara di hari Minggu.

Fulvia tidak mengerti mengapa Davies tidak pernah mempermasalahkan lagi kepergiannya bersama Irving seperti di hari-hari awal lalu. Tetapi hal ini membuat Fulvia gembira.

Kereta berhenti di tempat biasa. Dan seperti biasa pula, Irving turun terlebih dahulu untuk kemudian membantunya.

“Selamat bersenang-senang,” Fulvia tersenyum penuh arti sebelum meninggalkan Irving .

Fulvia yakin Irving akan segera menuju tempat kencannya hari ini dan ia tidak ingin menyita waktu pria itu.

Bila teringat perhatian Irving padanya dan sikapnya yang menghormati wanita itu, Fulvia merasa iri pada teman-teman kencan pria itu. Fulvia juga sempat berandai-andai pria itu adalah pria yang setia.

“Sayangnya,” Fulvia berkata pada dirinya sendiri, “Ia suka melompat dari satu wanita ke wanita yang lain.”

Irving kebingungan melihat senyum penuh arti itu tetapi ia tidak mau terlalu pusing memikirkannya.

“Kembali ke Nerryland,” Irving memberitahukan tujuan mereka selanjutnya kepada kusir kuda sebelum memasuki kereta.

Irving tidak mempunyai janji hari ini dan ia tidak sedang berselera untuk mencari teman kencan baru.

Duke of Engelschalf keluar dari Ruang Baca. Rambutnya yang putih menunjukkan usianya yang sudah tidak muda lagi tetapi wajahnya masih meninggalkan bekas-bekas ketampanannya di masa muda. Tangannya menenteng koran hari ini.

“Dari mana kau?” tanya Duke. “Sudah beberapa hari ini aku memperhatikan kau selalu pergi di pagi hari.”

Irving mengacuhkan pertanyaan itu.

“Kau tidak pergi lagi?” Duke bertanya heran.

“Kau sudah selesai?” Irving mengulurkan tangan.

“Ya, aku sudah selesai membacanya,” Duke menyerahkan koran itu kepada Irving .

Irving membuka pintu Ruang Baca.

“Aku senang kau sudah mulai berubah akhir-akhir ini. Kau memang sudah seharusnya bersikap lebih serius,” Duke of Engelschalf tersenyum.

Irving tidak ingin meneruskan pembicaraan yang membosankan ini. Ia tidak ingin mendengar ayahnya kembali memberikan ceramahnya tentang apa yang harus dilakukannya. Duke yang membiarkan dirinya dibodohi cinta itu tidak mempunyai hak untuk mengatur hidupnya dan petualangan cintanya.

“Aku tahu,” kata Irving dingin lalu ia masuk ke dalam Ruang Baca tanpa mempedulikan ayahnya lagi.

Irving duduk di sofa panjang di Ruang Baca itu dan mulai membaca halaman pertama koran hari ini.

Belum lama ia membaca ketika seseorang mengetuk pintu.

“Masuk,” sahut Irving .

Seorang pelayan muncul. “Maaf menganggu Anda, Tuan Muda,” kata pelayan itu sopan, “Lady Clementine datang menemui Anda, Tuan Muda.”

Irving mengerutkan dahi.

“Apa kabarmu, Irving ?” Clementine muncul di belakang pelayan itu.

Irving melanjutkan kegiatannya membaca koran. Ia sudah tahu gadis itu akan muncul sebelum ia menyatakan kesediaannya.

“Jangan begitu kepadaku,” rengek Clementine manja, “Aku datang untuk melihat keadaanmu. Kudengar engkau sudah lama tidak meninggalkan Nerryland.”

“Kau sudah melihatnya,” jawab Irving dingin.

Irving tidak terlalu menyukai sepupunya ini. Ia sangat mirip dengan ibunya dan itu membuatnya semakin tidak menyukainya.

“Jangan bersikap sedingin itu padaku,” Clementine berdiri di belakang Irving dan mengulurkan tangan merangkul pria yang masih duduk dengan santai membaca koran itu. “Apakah kau telah melupakan masa-masa indah di antara kita berdua?”

“Tidak ada masa-masa indah di antara kita,” kata Irving tegas namun dingin.

Mereka memang pernah melewatkan waktu bersama. Mereka tumbuh dewasa bersama sebagai saudara. Hanya sepupu. Tidak lebih dari itu!

“Ayolah, Irving,” Clementine duduk di sisi Irving . Tangannya terlingkar di leher Irving dan ia menempelkan tubuhnya di tubuh pria itu. “Apa kau kira mawar merahmu itu dapat mencampakkanku?”

Irving melepaskan diri.

“Kau tahu, mawar merah adalah tanda kasih sayang bukan tanda perpisahan.”

“Apa maumu?” tanyanya tajam.

Clementine tersenyum gembira. Inilah yang diharapkannya dari Irving . “Aku ingin kau menemaniku hari ini.”

“Aku tidak punya waktu.”

“Ya, tetapi kau punya waktu untuk mengurung dirimu di sini.”

Irving tidak menyukai gadis ini dan ia menunjukkannya dengan jelas.

“Kau bisa mengajak ibumu,” katanya sinis.

“Mama pergi bersama teman-temannya. Ia tidak akan pulang sebelum malam. Hanya engkau yang tersisa.”

Irving menatap tajam sepupunya itu.

Irving yakin Clementine tidak jauh lebih tua dari Fulvia tetapi mereka sangat jauh berbeda.

Clementine adalah gadis manja yang penuh percaya diri. Mata hijau tuanya bersinar penuh percaya diri. Rambut merah membaranya ditata rapi dan berhiaskan batu-batuan indah. Ia tahu bagaimana menonjolkan tubuh moleknya dengan gaun-gaun indahnya.

Fulvia, si gadis yang keemasan, tampak sangat kekanak-kanakan. Rambut keemasannya selalu ditata sekedarnya. Irving hampir tidak pernah melihat hiasan mewah di rambut emasnya itu kecuali di pesta itu, di hari pertama ia bertemu dengannya. Dengan mata biru keunguannya yang selalu bersinar lembut, Fulvia tampak sangat menarik. Tutur kata gadis itu juga lembut tetapi sering kali mulut mungil itu mengucapkan kata-kata yang tidak terduga.

Satu-satunya persamaan di antara keduanya adalah mereka tahu bagiamana memanfaatkan kecantikan mereka.

Bagi Irving, menebak Clementine jauh lebih mudah daripada menebak Fulvia. Dan sekarang ia tahu Clementine pasti akan mengusiknya hari ini dan hari-hari mendatang sampai ia menuruti keinginan gadis itu.

“Aku hanya punya waktu kosong sampai sore hari,” kata Irving .

“Aku janji aku tidak akan menahanmu lebih dari itu,” Clementine merangkul tangan Irving dengan mesra. “Aku hanya ingin kau menemaniku berbelanja di kota .”

Hari ini akan menjadi hari yang menjemukan bagi Irving .

-----0-----

Seorang pria muncul di jendela di samping pintu masuk. “Kau mempunyai gadis cantik di sini,” pria itu berkata sambil menatap Fulvia yang sibuk mengajari Tim sambil menggendong si kecil Sammy di meja kecil dalam ruangan depan itu.

“Jangan mengusiknya, Janus!” Brent memperingati dengan tajam.

“Siapakah dia, Brent?” Janus bertanya ingin tahu, “Aku melihatnya terus berada di sini beberapa minggu terakhir ini.”

“Bukan urusanmu!” bentak Brent, “Jangan kaudekati dia!”

“Kalau kau berani menyentuhnya sejari saja,” Jehona muncul dari dalam dengan wajah garangnya, “Aku tidak akan segan menghajarmu!”

“Jangan bersikap sekasar itu, Jehona. Kau hanya akan memberi contoh yang buruk bagi putramu,” Janus tertawa, “Lagipula aku hanya bercanda.”

Fulvia menyadari mereka tengah membicarakan dirinya dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.

“Tim,” katanya pada anak itu, “Mari kita melanjutkan di dalam.”

Tim menutup buku yang sedang dibacanya bersama Fulvia dan mengikuti gadis itu ke dalam.

Jehona memperhatikan Tim yang berjalan beriringan dengan Fulvia ke dalam.

“Kulihat semenjak kedatangannya, bisnismu menjadi lebih baik,” gumam Sammy sambil memperhatikan Fulvia menghilang di balik pintu.

“Ya, harus kuakui itu,” Brent sependapat.

Janus menyandarkan punggung di bingkai jendela. “Kurasa pembeli-pembelimu hanya tertarik pada kecantikannya. Aku sungguh tidak menyangka engkau mampu menyewa guru secantik itu untuk putramu. Aku berharap aku bisa terus melihatnya.”

“Ia tidak akan berada di sini untuk selama-lamanya,” Brent menegaskan, “Ia bukan bagian tempat ini!”

“Sampai kapankah ia akan berada di sini?” tanya Janus tertarik.

“Apa urusanmu!?” Jehona balik bertanya dengan marah.

“Aku ingin mempersiapkan perpisahanku dengannya,” jawab Janus santai.

“Sebaiknya engkau mempersiapkan kepergianmu sekarang juga,” kata Jehona tajam.

Janus tertawa. “Jangan bersikap sekarang itu padaku, Jehona,” katanya, “Brent tidak keberatan aku mampir ke sini.”

Jehona benar-benar tidak menyukai pemuda ini. Bila bukan karena Janus adalah putra tetangga mereka, tempat dulu mereka menitipkan kuda Fulvia, Jehona pasti sudah menghajarnya. Baginya pemuda pengangguran ini sangat berbahaya bagi Fulvia.

Semenjak ia bertemu Fulvia ketika ia hendak membeli roti, Janus selalu datang tiap hari. Ia selalu berkata ia ingin membeli roti tetapi Jehona tahu itu hanya alasannya saja. Jehona tahu tujuan utama pemuda itu.

Harus diakui Jehona semenjak kedatangan Fulvia di sini, toko mereka mengalami kemajuan yang tidak sedikit. Tiap hari pembeli mereka terutama pembeli pria makin bertambah. Jehona tahu semua itu karena kecantikan Fulvia yang menyebar dengan cepat di antara pembeli dan tetangga mereka.

Bertambahnya pembeli membuat mereka harus menyediakan lebih banyak roti dan itu benar-benar menyita waktu Jehona terutama Brent, sang pemilik toko roti ini.

Sekarang Jehona sudah benar-benar menyerahkan kedua putranya pada Fulvia. Walau Jehona tahu Fulvia adalah anak gadis orang kaya, ia percaya padanya. Gadis itu telah sangat membantunya. Gadis itu juga telah memberikan sesuatu yang tidak bisa mereka berikan pada putranya yaitu pendidikan.

Sebagai seorang penjual roti yang pendapatannya pas-pasan, mereka tidak pernah berpikir untuk memberikan pendidikan pada putranya. Bagi mereka, yang terpenting adalah Tim dapat membantu mereka dan mau meneruskan usaha turun temurun keluarga Brent ini.

Jehona benar-benar berterima kasih pada gadis itu. Dan yang bisa ia lakukan untuk menyatakan terima kasihnya adalah mewujudkan cita-cita mulia gadis itu untuk membahagian kedua orang tuanya.

“Aku akan melihat mereka,” kata Jehona dan meninggalkan kedua pria itu.

“Katakan, Brent, sampai kapan gadis itu akan berada di sini,” Jehona mendengar Janus mendesak suaminya sebelum ia menutup pintu yang membatasi ruang depan tempat Brent bekerja dan ruang kecil yang menjadi ruang makan mereka.

“Ia belum pergi, Nyonya Jehona?” tebak Fulvia melihat raut wajah Jehona.

“Ya,” Jehona duduk di depan Fulvia, “Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkannya mengusikmu.”

Fulvia tersenyum. “Terima kasih.”

“Aku juga tidak menyukainya,” Tim berkata, “Aku akan menjagamu darinya, Fulvia.”

Fulvia menatap anak lelaki itu. “Aku percaya,” katanya sambil tersenyum.

“Tak lama lagi sudah genap sebulan,” Jehona mendesah.

“Ya,” gumam Fulvia, “Waktu benar-benar berlalu dengan cepat.”

“Apa kau berencana memberitahu keluargamu tentang kepergianmu selama sebulan ini?” Jehona tiba-tiba bertanya dengan tertarik.

Fulvia merasa serba salah melihat sepasang mata yang menatap langsung kepadanya dengan penuh rasa ingin tahu itu.

“Saya rasa… saya pikir mereka tidak akan senang mendengarnya.”

“Aku rasa juga demikian,” kata Jehona.

Fulvia tersenyum. Fulvia yakin Davies pasti akan memarahinya sepanjang hari bila ia mengetahui semua ini dan ibunya pasti akan pingsan.

“Apa kau telah memberitahu temanmu itu?”

Fulvia terperanjat.

Kepada Brent dan Jehona yang keheranan melihatnya datang tanpa mengendarai kudanya sendiri, Fulvia menjelaskan bahwa seorang temannya bersedia menyediakan antar jemput baginya. Jehona lalu bertanya mengapa ia tidak membiarkan temannya itu mengantarnya sampai di depan rumah mereka dan menjemputnya di sini pula. Fulvia lalu mengatakan sejujurnya pada mereka bahwa temannya itu tidak tahu apa yang dilakukannya di kota setiap hari. Mereka tidak pernah bertanya lagi setelahnya.

“Belum,” Fulvia berkata dengan penuh rasa bersalah.

Beberapa hari ini Fulvia terus memikirkan masalah ini.

Irving telah bersikap begitu baik padanya. Irving telah bersedia menjemputnya di Unsdrell setiap pagi dan mengantarnya pulang setiap sore. Irving juga tidak pernah keberatan bila mereka pergi ke Greenwalls dulu sebelum pulang. Bahkan semenjak kejadian ituIrving selalu mengantar Fulvia melihat keadaan Audrey sebelum mengantarnya pulang. Irving benar-benar seorang teman yang baik.

Segala kebaikan Irving itu membuat Fulvia merasa bersalah. Fulvia semakin merasa bersalah bila ia teringat kebaikan dan perhatian Irving padanya.

Fulvia ingin mengatakan semua ini pada pria itu tetapi ia tidak tahu bagaimana harus memulainya. Fulvia juga tidak tahu apa reaksi pria itu setelah mengetahui semua ini. Fulvia benar-benar tidak tahu.

“Aku ingin kau tahu aku tidak ingin mencampuri urusanmu,” kata Jehona bijaksana, “Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa tidak baik kau terus menutupi semua ini darinya.”

Fulvia menatap wanita itu lekat-lekat.

“Aku hanya khawatir temanmu itu merasa kau telah menyalahgunakan kepercayannya padamu. Mungkin setelah ia mengetahui tujuan muliamu ini ia akan membantumu,” Jehona tersenyum, “Kau mempercayainya bukan?”

Fulvia terperangah. Ya, Fulvia mempercayai Irving. Fulvia percaya pria itu. Karena itulah ia tidak pernah takut berduaan bersama pria itu walau ia tidak mengenal pria itu dengan baik.

Fulvia mengangguk. Senyum bahagia menghiasi wajah cantiknya yang berseri itu.

Fulvia telah memutuskan.

-----0-----

Irving melihat waktunya untuk menjemput Fulvia hampir tiba.

“Kita pulang sekarang,” Irving berdiri.

“Tetapi aku belum menghabiskan minumku,” rengek Clementine.

“Kita tidak punya waktu untuk itu,” Irving menarik tangan gadis itu.

Hari ini Clementine benar-benar membuat Irving kesal. Clementine telah menyita waktunya. Gadis ini telah membuat Irving merasa ia tidak lebih dari seorang kurir pembawa barangnya. Dan gadis ini juga membuat Irving menemaninya menghabiskan waktu minum teh di kota .

“Kau mau ke mana?” Clementine bertanya heran.

“Aku mempunyai urusan,” jawab Irving singkat.

“Urusan apa?” Clementine ingin tahu.

“Bukan urusanmu,” sahut Irving dingin.

Clementine tersenyum. “Jadi itu benar?”

Irving tidak menanggapi.

“Kudengar akhir-akhir ini kau suka menghilang ke suatu tempat dan tampaknya kau juga sudah mengurangi jadwal kencan-kencanmu itu.”

“Jangan percaya pada gosip,” Irving berkata sinis. Irving tidak pernah menikmati gosip-gosip yang beredar tentang dirinya itu.

“Kau benar-benar berubah,” Clementine tersenyum simpul, “Kau seperti bukan Irving yang dulu lagi.”

Irving mengacuhkan komentar itu dan terus menarik gadis itu ke kereta yang terus menanti mereka di depan kedai itu.

Clementine terdiam. Ia tahu Irving benar-benar marah kali ini.

Irving membuka pintu kereta dan mengulurkan tangannya.

Tanpa membantah, Clementine menerima uluran tangan itu.

Irving puas akhirnya Clementine mau berdiam diri menuruti keinginannya.

Irving baru saja menapakkan kaki kanannya ke dalam kereta ketika ia melihat sesosok gadis di seberang yang menarik perhatiannya.

Gadis itu begitu mirip Fulvia tetapi Irving yakin ia bukanlah Fulvia. Gadis itu mengenakan gaun seorang pelayan, bukan gaun indah yang dikenakan Fulvia pagi ini. Gadis itu membungkuk pada seorang anak kecil kemudian ia menuntun anak kecil itu memasuki sebuah toko roti tak jauh dari sana .

Ada apa, Irving?” Clementine bertanya ingin tahu.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Irving singkat.

Irving tidak mempunyai waktu untuk menjawab ketertarikannya pada sosok gadis yang mirip Fulvia itu.

Sekarang ia tidak mempunyai banyak waktu. Ia harus segera mengantar pulang Clementine sebelum kembali lagi ke kota untuk menjemput Fulvia.

Keterburu-buran Irving tidaklah sia-sia. Ia tiba lebih awal di tempat perjanjiannya dengan Fulvia dari waktu yang mereka janjikan. Irving tidak ingin pergi ke sebuah tempat pun dan ia memutuskan untuk menanti Fulvia di sana .

Irving berdiri di sana sambil memperhatikan orang-orang yang terus berlalu-lalang.

Tiba-tiba Irving teringat komentar Clementine hari ini.

Irving tahu Clementine benar. Ia pun dapat merasakan perubahan dalam dirinya. Irving merasa ia sudah tidak lagi terlalu tertarik untuk menghabiskan waktu bersama sejumlah wanita yang siap menantinya. Minatnya untuk berkencan dengan penggemarnya tampaknya sudah tidak ada. Ia yang biasanya menghabiskan waktu dari satu wanita ke wanita yang lain, sekarang lebih suka mengurung diri di Ruang Baca.

Bunga-bunga mawar di Nerryland pun tumbuh dengan subur dan menghiasi setiap sudut halaman Nerryland. Sudah lama bunga-bunga mawar merah itu tidak dipetik. Sudah lama bunga-bunga mawar merah itu tidak tersentuh.

Ia yang semula merasa dipaksa Fulvia, kini selalu menantikan saat menjemput gadis itu. Baik menjemputnya di Unsdrell maupun menjemputnya di pusat kota .

Irving tahu ia sudah berubah dan ia tahu penyebabnya adalah apa.

Sudah seminggu ini ia mengikuti keinginan Fulvia dan ia masih belum mendapatkan ide tentang rencana gadis itu. Ia tidak tahu bagaimana Fulvia akan menjeratnya dengan tiap hari memintanya mengantar jemput ke kota . Irving tidak mempunyai gambaran apa pun.

Irving mulai ingin tahu apa yang dilakukan Fulvia di pusat kota seorang diri setiap hari.

Selama ini Irving tidak pernah bertanya pada Fulvia. Irving juga tidak pernah peduli. Tetapi beberapa hari belakangan ini ia mulai mencurigai gadis itu. Ia mulai curiga ia telah terlibat dalam sebuah rencana yang tidak diketahuinya, rencana yang tidak ditujukan pada dirinya tetapi pada orang lain.

Semakin ia teringat pada sosok gadis yang dilihatnya beberapa saat lalu, semakin ia mencurigai Fulvia.

Irving memutuskan untuk memeriksanya sendiri dan ia melangkah ke toko roti tempat ia melihat gadis itu masuk bersama seorang anak kecil.

Seorang gadis muda duduk di hadapan seorang anak kecil yang sibuk membaca. Gadis itu mendengarkan anak itu dengan tekun.

Irving tertegun melihat gadis itu.

“Apa yang kaulakukan di sini?”

Fulvia terperanjat. “M’lord!?”

Mata Irving menatap Fulvia tajam-tajam dan penuh kecurigaan.

Jehona melihat mereka berdua dengan bingung. “Fulvia, kau mengenalinya?”

“Ya, Nyonya Jehona,” jawab Fulvia lalu ia bertanya pada Irving, “Mengapa Anda berada di sini?”

“Aku datang untuk menjemputmu.”

Jehona tiba-tiba sadar siapa pria itu. “Fulvia, segera bergantilah,” katanya pada Fulvia, “Jangan membiarkan temanmu menantimu.”

“Baik,” Fulvia bergegas masuk ke dalam dan sesaat kemudian ia muncul dengan gaun yang dikenakannya pagi ini.

“Hari ini cukup sampai di sini,” kata Brent.

“Apakah besok kau akan datang lagi?” Tim menarik gaun Fulvia.

“Ya,” Fulvia berlutut di hadapan Tim.

“Jangan lupa janjimu.”

“Tentu. Selama kau juga tidak melalaikan tugasmu.”

“Aku pasti akan melakukannya!” kata Tim penuh keyakinan.

Fulvia tersenyum.

“Kami tidak akan menahanmu lagi,” kata Jehona – memotong pembicaraan antara Fulvia dan Tim.

“Saya mengerti,” Fulvia berdiri, “Besok saya akan datang lagi.”

Fulvia mengikuti Irving yang telah menantinya di depan.

“Sampai jumpa, Tuan Brent, Nyonya Jehona, dan Tim,” Fulvia berpamitan sebelum berjalan di sisi Irving.

“M’lord,” Fulvia berkata perlahan, “Dapatkah saya meminta Anda untuk merahasiakan hal ini dari keluarga saya?”

Irving tidak mengerti tindakan gadis ini. Ia benar-benar tidak mempunyai gambaran tentang rencana gadis ini.

“Saya tidak ingin menutupi hal ini dari Anda,” Fulvia kembali merasa bersalah, “Tetapi saya tidak dapat menjamin Anda akan tetap membantu saya setelah Anda mengetahuinya.” Fulvia menambahkan, “Saya tidak sedang berkata saya ingin terus menyembunyikannya dari Anda. Siang ini saya tengah berpikir bagaimana memulai semua ini dan karena Anda telah melihatnya sendiri, hal ini akan semakin mudah bagi saya.”

“Apa yang kaulakukan?” Irving mengulang pertanyaannya dengan tajam.

“Seperti yang Anda lihat, saya sedang memberikan pelajaran pada putra mereka,” Fulvia menjelaskan, “Mereka adalah keluarga yang baik. Mereka telah memberikan bantuan yang sangat besar kepada saya. Karena itulah saya memutuskan untuk memberikan pelajaran pada putra mereka.”

“Bantuan apa?” selidik Irving.

“Mereka membantu saya mengumpulkan uang.”

“Uang?” Irving curiga, “Aku tidak percaya kau membutuhkan uang. Aku yakin orang tuamu tidak keberatan memberimu uang sebanyak yang kauinginkan.”

“Ini adalah sesuatu yang istimewa,” Fulvia menjelaskan dengan penuh semangat, “Saya ingin membeli sebuah hadiah untuk orang tua saya. Saya ingin sebuah hadiah istimewa yang saya peroleh dengan jerih payah saya sendiri. Saya mengerti tindakan saya ini sungguh tidak masuk akal. Audrey juga sempat mengatakan saya sudah gila. Tetapi saya benar-benar memberi mereka sebuah hadiah yang sangat spesial. Davies pasti tidak akan marah besar mendengarnya dan orang tua saya mungkin akan pingsan. Karena itulah saya harus menyembunyikan hal ini dari keluarga saya.”

Irving terperangah. “Jadi semua ini karena itu,” gumamnya.

Fulvia menatap pria itu lekat-lekat.

Irving tidak suka sinar mata yang penuh rasa ingin tahu itu.

“Anda khawatir saya seperti mereka?” Fulvia membuat Irving terperanjat, “Saya tidak tertarik pada Anda.”

Irving terdiam.

“Saya tidak menyukai pria seperti Anda,” lanjut Fulvia singkat, “Bagi saya, Anda hanyalah seorang teman dan itulah bagaimana saya mengharapkan Anda memperlakukan saya.”

Irving tidak dapat berkata apa-apa. Selalu dan selalu ia dikejutkan oleh gadis ini. Selalu dan selalu mulutnya dibungkam oleh kata-kata tak terduga gadis ini.

Fulvia tersenyum manis. “Saya sangat senang Anda mau membantu saya dan saya sangat berterima kasih karenanya.”

Irving tertegun. Ia mulai meragukan pengertiannya tentang wanita. Selama ini Irving selalu benar tentang wanita dan ia selalu dapat memperlakukan wanita-wanita itu seperti yang mereka harapkan. Semua kecuali gadis satu ini.

Mereka tiba di sisi kereta kuda keluarga Engelschalf.

“Apakah Anda bersedia menemani saya hari ini?” Fulvia tersenyum manis.

Irving benar-benar tidak dapat menebak pikiran gadis ini.

“Saya ingin pergi ke sebuah tempat,” Fulvia berteka-teki, “Sebuah tempat indah yang telah lama terbengkalai, Greenwalls.”

“Dengan senang hati,” kata Irving kemudian memberitahukan tujuan baru mereka pada kusir kuda.

Sesaat kemudian mereka telah tiba di rumah Audrey.

Mata Irving menatap tajam seekor kuda yang ditambatkan tak jauh dari pintu masuk.

Fulvia juga melihat kuda itu dan ia tidak mempunyai ide siapa tamu Audrey yang lain.

Pelayan membukakan pintu bagi Fulvia.

“Anda juga datang, Tuan Puteri?” sambut pelayan itu, “Tuan Muda Davies juga datang. Sekarang ia bersama Nyonya di Ruang Makan.”

Fulvia terkejut. “Davies datang?”

Irving tidak senang. Dengan malas ia mengikuti langkah-langkah riang Fulvia.

“Davies!” Fulvia berseru riang memanggil kakaknya.

“Fulvia, kau juga datang,” sambut Audrey.

Mata Davies langsung menatap tajam Irving. Ia tahu pria itu pasti ada bersama adiknya.

Irving membalas tatapan tajam itu dengan tatapan dinginnya.

“Mengapa kau bisa berada di sini?” Fulvia memecahkan suasana sengit di antara kedua pria itu.

“Apa kau saja yang boleh datang ke sini?” Davies bertanya kesal.

Fulvia terperanjat. “Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa heran.”

Audrey tersenyum. “Ia baru saja pulang dari rumah Lady Margot.”

Mata Fulvia membelalak lebar-lebar. “Benarkah itu, Davies?” tanyanya antusias.

Davies membuang mukanya.

Fulvia menangkap rona merah di wajah Davies.

“Oh, Davies,” kata Fulvia gembira, “Akhirnya kau mengalami kemajuan.”

Audrey tersenyum geli melihat ulah sepasang kakak adik itu.

“Mengapa kalian tidak bergabung bersama kami?” undang Audrey. “Kalian tidak mempunyai acara lagi, bukan?”

“Tidak,” jawab Irving singkat dan ia mengambil posisi di depan Audrey.

Fulvia duduk di sisi pria itu.

“Katakan,” Audrey menatap mereka lekat-lekat, “Apa saja yang kalian lakukan hari ini?”

Fulvia terperanjat. “Tidak ada,” ia cepat-cepat menjawab, “Tidak ada yang kami lakukan.”

Pelayan muncul membawa peralatan makan untuk mereka.

Tiba-tiba Fulvia menyadari sebuah keganjilan. “Di mana Lewis?” tanyanya heran. “Apakah ia tidak makan bersama kita?”

“Pelayan akan mengantar makan malam untuknya.”

Seorang pelayan lagi mengantar hidangan malam itu.

“Audrey, apakah kau mempunyai anggur merah?” tanya Davies.

“Anggur? Untuk apa?” Audrey keheranan.

“Apakah kau tidak merasa kalkun bakar kurang lengkap tanpa anggur merah?”

Audrey melihat ayam kalkun di antara mereka yang baru saja diletakkan pelayan. “Aku tidak mempunyainya,” katanya kecewa.

“Aku akan pergi membelinya,” sahut Fulvia dan berdiri.

Irving berdiri. “Aku akan mengantarmu.”

Davies langsung berdiri sambil memelototi Irving.

“Terima kasih, Fulvia,” Audrey cepat-cepat berkata, “Kau sangat membantu.”

“Kami akan segera kembali.”

Mereka berdua menghilang di balik pintu.

Davies geram. Andai saja bukan karena Audrey, ia pasti sudah mencegah mereka.

“Davies,” Audrey menarik kemeja pria itu untuk mendapatkan perhatiannya. “Mengapa kedua musuh bebuyutan itu membiarkan mereka berduaan?”

Davies menoleh.

“Akhir-akhir ini aku sering melihat mereka berdua berjalan bersama-sama,” lanjut Audrey, “Dan itu membuatku heran.”

“Ini semua karena dua pria itu,” Davies kesal, “Mereka mencari Irving untuk mendapatkan jawaban.”

Davies duduk dengan kesal.

“Jadi mereka berdua membiarkan Irving pergi bersama Fulvia untuk mendapatkan jawaban,” gumam Audrey lalu ia berkata serius, “Aku tidak tahu bagaimana pandangan Fulvia tetapi, kulihat, Davies, Irving mulai tertarik pada Fulvia.”

“Ya,” Davies mendengus kesal, “Ia tertarik untuk menjadikan Fulvia satu di antara koleksi perempuan-perempuannya.”

“Bukan itu yang kumaksud,” Audrey tidak sependapat, “Tidakkah kau dengar gosip-gosip itu? Semua orang sibuk membicarakan mengapa Irving akhir-akhir ini lebih jinak. Ia sudah hampir tidak pernah lagi terlihat bersama wanita mana pun. Juga tidak pernah terdengar kabar ia berganti pasangan.”

Davies menatap tajam kakak sepupunya itu. “Ternyata kau masih punya waktu mengurusi gosip-gosip itu,” katanya curiga, “Kurasa kami tidak perlu mengkhawatirkan kau lagi.”

Audrey tertawa. “Aku juga tidak akan tertarik kalau bukan karena aku melihat Fulvia datang bersama Irving.”

“Mereka pernah datang ke sini?” Davies curiga.

“Beberapa kali.”

“Apa yang mereka lakukan di sini!?” Davies melonjak bangkit. Emosinya kembali meluap-luap, “Apa yang dilakukan pria itu pada Fulvia!?”

Audrey tersenyum penuh arti. “Kau sangat peduli pada Fulvia.”

“Tentu saja! Dua pria tolol itu telah membiarkan Fulvia jatuh dalam perangkap Irving dan akulah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya.”

“Aku lebih melihatnya kau cemburu karena Fulvia lebih memilih Irving sekarang.”

“Aku!?”

“Ya,” kata Audrey tenang – tidak terusik oleh emosi Davies yang kian memuncak itu, “Apa yang dapat kukatakan tentang seorang kakak yang terus meluap-luap karena adiknya pergi bersama pria lain?”

“Dia itu berbahaya, Audrey! Dia pasti hanya ingin mempermainkan Fulvia!”

“Aku rasa tidak,” Audrey membuat Davies heran dengan kata-katanya yang penuh keyakinan itu, “Irving tidaklah seburuk yang kaukatakan itu. Ia juga mempunyai sisi baik.”

“Apa sisi baiknya?”

“Ia telah membantuku menyadarkan Lewis. Luka memar di wajahnya itu adalah pemberian Irving.”

Davies tercengang.

“Beberapa hari lalu Fulvia datang tepat ketika Lewis sedang marah-marah. Untunglah waktu itu Irving ada di sini. Ia menghentikan Lewis sebelum ia menyakiti Fulvia.”

“Untung?” Davies mengejek.

“Aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi pada Lewis sekarang bila saat itu ia berhasil menyakiti Fulvia. Aku tidak mengkhawatirkan Trevor maupun Richie. Yang lebih kutakuti adalah,” Audrey menatap Davies lekat-lekat. “Reaksimu. Kau memang tidak pernah mengerti wanita, tetapi aku percaya kau akan melakukan apa saja untuk adikmu itu.”

Davies terdiam.

“Irving meninjunya dan memarahinya. Sejak itulah Lewis menjadi lebih tenang. Ia terus mengurung diri di kamar sejak kemarin tetapi aku percaya ia sedang berpikir keras,” Audrey tersenyum.

Senyuman itu membuat Davies terperangah. Sudah lama ia tidak melihat Audrey tersenyum bahagia seperti ini.

“Aku percaya Lewis akan kembali ke masa-masa sebelum semua ini terjadi.”

Davies duduk kembali dan termenung.

8

Ada seorang pria yang menanti Anda, Tuan Puteri,” seorang pelayan memberitahu Fulvia. “Ia mengatakan Anda mempunyai janji dengannya.”

“Janji?” Fulvia heran, “Hari ini aku tidak mempunyai janji dengan siapa pun.”

Hari ini adalah hari Minggu. Ia telah berjanji pada Trevor juga Richie untuk menemani mereka hari ini. Apakah ini adalah salah satu dari permainan mereka?

“Ia menanti Anda di serambi,” kata pelayan itu lagi.

Fulvia bergegas ke serambi. Ia memutuskan untuk melihat siapakah pria itu.

Seperti yang dikatakan pelayan padanya, seorang pria muda berdiri di serambi.

“M’lord?!” Fulvia terkejut, “Mengapa Anda di sini? Bukankah saya telah mengatakan pada Anda bahwa hari ini Anda tidak perlu datang menjemput saya?”

Fulvia ingat jelas ia telah mengatakan pada Irving bahwa ia tidak perlu ke sana pada hari Minggu. Brent mengatakan ia tidak perlu datang di hari Minggu. Hari itu Brent dan keluarganya akan pergi ke gereja demikian pula Fulvia.

“Aku tidak suka setiap hari membohongi keluargamu dan kupikir tidak ada salahnya bila aku benar-benar menjemputmu untuk suatu alasan yang benar.”

Fulvia tersenyum. Ia mengerti keinginan Irving.

“Tunggulah sebentar. Saya akan segera siap,” Fulvia berlari ke dalam kamarnya.

Davies melihat adiknya berlari menuju kamarnya dengan riang.

“Kau mau ke mana?” cegat Davies.

“Irving menjemputku,” jawab Fulvia tanpa berhenti, “Ia ingin mengajakku berjalan-jalan.”

Mata Davies langsung mengawasi Irving yang menanti di depan Unsdrell melalui jendela lorong. Tanpa berpikir panjang, Davies langsung menapaki tangga menuju serambi tempat pria itu sekarang berada.

“Apa yang sedang kaurencanakan?” Davies langsung bertanya sinis.

“Tidak ada,” jawab Irving. Ia benar-benar tidak menikmati cara pria ini memperlakukannya.

Davies selalu mencurigainya seakan-akan ia adalah seorang penipu besar!

“Mau apa kau dengan Fulvia?”

“Aku hanya ingin mengajaknya ke sebuah tempat.”

Sudut mata Davies langsung meruncing. “Kuperingatkan kau, jangan bermain-main dengan Fulvia. Fulvia bukanlah wanita-wanita simpananmu itu.”

“Aku tidak pernah berniat menjadikannya satu dari sekian koleksiku,” Irving menjawab tak kalah sinisnya, “Aku tidak tertarik pada gadis ingusan seperti dia.”

“Mengapa kau terus berada di sekitarnya?”

“Itu adalah urusanku,” jawab Irving dingin.

Davies tahu. Seharusnya sudah dari awal mula ia menghentikan kedua sepupu itu. Seharusnya sudah dari awal ia mencegah Fulvia bertemu Irving.

“Maaf,” Fulvia muncul dengan tergesa-gesa, “Apakah Anda lama menanti saya?”

Fulvia heran melihat kakaknya berada di sana .

“Tidak, M’lady,” Irving mengulurkan tangan mencium punggung tangan Fulvia. Matanya melirik Davies dengan sinar matanya yang setajam pisau, “Saya sungguh merasa terhormat Anda bersedia berdandan dengan cantik untuk saya.”

Fulvia tersipu.

Davies tidak suka cara pria itu memuji Fulvia tapi demi kebaikan Fulvia, ia tahu ia harus dapat menahan diri.

“Selamat bersenang-senang,” Davies memeluk Fulvia dan mencium pipinya lalu ia melirik tajam Irving, “Berhati-hatilah.”

Fulvia tersenyum. “Tentu, Davies.”

“Kuserahkan Fulvia padamu,” Davies mendekati Irving lalu dengan nadanya yang mengancam, ia berbisik, “Kalau sesuatu terjadi pada Fulvia, akulah yang pertama akan mencari perhitungan denganmu.”

Irving tersenyum sinis. “Terima kasih.”

Fulvia keheranan melihat sikap aneh kedua pria itu.

“Mari kita pergi, M’lady,” Irving mengulurkan tangannya.

Fulvia menyambut uluran tangan itu.

Irving langsung mengapit tangan Fulvia di sikunya. Sekali lagi ia menatap sinis Davies sebelum membawa Fulvia ke kereta yang telah menanti mereka.

Davies ingin sekali melempar sesuatu ke pria sinis itu.

Fulvia mengeluarkan kepalanya di jendela kereta. “Davies, tolong katakan pada Papa Mama aku akan kembali sebelum makan malam.”

“Tentu,” Davies melambaikan tangan, “Selamat bersenang-senang.”

Davies geram. Ia benar-benar ingin sekali menghantam muka sombong Irving. Ia ingin sekali mencekik pria itu.

“Apa yang terjadi?”

Davies terperanjat.

“Apakah kau mempunyai tamu yang tak menyenangkan?” Trevor melihat kereta yang telah melewati gerbang Greenwalls.

“Tidak,” Davies berbohong lalu ia bertanya, “Apa yang membuatmu datang sepagi ini?”

“Kau tahu jawabannya, Davies. Aku tidak dapat membiarkan Richie mendahuluiku,” Trevor tersenyum penuh kemenangan. Ia merangkul Davies dan berjalan bersamanya ke dalam, “Apakah Fulvia ada di kamarnya?”

Davies tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu. Ia tidak ingin mengingkari janjinya kepada Fulvia. Ia juga tidak ingin memberitahu mereka kepergian Fulvia bersama Irving seminggu terakhir ini. Di sisi lain, ia juga tidak mempunyai alasan lain.

“Ia baru saja pergi.”

“APA!?”

Mereka terperanjat.

Richie muncul di pintu masuk dengan wajah geramnya. Pria yang baru datang itu langsung mendekat dan mencengkeram kemeja Davies dengan kesal, “Dan kau membiarkannya pergi!?”

Davies menepiskan tangan Richie. “Ia pergi bersama pria pilihan kalian,” Davies berkata tidak kalah kesal.

Davies sudah tidak dalam suasana hati gembira semenjak mendengar kedatangan Irving dan kedua pria ini semakin memperburuk suasana hatinya dengan menuduhnya.

“Pria pilihan kami?” keduanya bertanya bersamaan.

Davies membuang mukanya. Ia tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Mereka telah merusak suasana hatinya pagi ini.

“Siapa?” keduanya mencegat Davies.

“Jangan ganggu aku!” Davies marah.

Kedua pria itu terkejut.

“Aku tidak mau campur tangan urusan kalian lagi,” Davies pergi meninggalkan kedua pria itu dalam keheranan.

Davies benar-benar kesal. Ia ingin sekali melepaskan diri dari semua ini dan ia tahu ke mana ia bisa mendapatkan kembali kebahagiannya.

Davies pun bersiap untuk menemui kekasihnya, Margot.

-----0-----

“Anda mencampakkan seorang lagi?” Fulvia bertanya.

Irving tidak mengerti.

Fulvia menunjuk sekuntum mawar merah di sudut kereta. Fulvia memang tidak banyak tahu tentang Irving tetapi ia banyak mendengar cerita tentang pria itu dan mawar-mawar merahnya.

“Saya rasa sudah saatnya Anda berhenti mempermainkan perasaan Anda sendiri.”

Irving tidak suka. Apakah gadis ini akan menceramahinya tentang filsafat cintanya seperti ayahnya? Gadis ingusan ini tidak pantas menceramahinya. Gadis ini tidak mengerti apa-apa tentang cinta.

“Mungkin saya tidak pantas mengatakan ini,” Fulvia tersipu-sipu, “Saya juga seperti Anda,” Fulvia membuat Irving tidak mengerti, “Tidak. Mungkin saya lebih buruk dari Anda.”

“Apa yang kaukatakan?”

“Anda tahu, M’lord,” mata Fulvia menerawang ke luar jendela kereta, “Kedua kakak sepupu saya itu, Trevor dan Richie. Mereka menyukai saya dan mereka selalu bertengkar karenanya. Saya tidak mengerti mengapa mereka memperkenalkan Anda pada saya. Saya menduga ini berhubungan dengan pertengkaran mereka.”

Irving terperanjat. Gadis ini tahu!

“Mereka pikir saya tidak tahu tetapi saya mengetahuinya. Saya mengetahuinya semenjak kecil dan saya membiarkannya,” mata Fulvia kembali menatap pria itu, “Apakah Anda tidak berpendapat saya sangat kejam?”

Irving tidak menjawab.

“Keduanya adalah kakak bagi saya. Saya tahu saya tidak akan pernah mencintai mereka melebihi Davies. Saya tahu saya tidak memilih seorang pun di antara mereka tetapi saya tidak sanggup mengatakannya pada mereka.”

Irving tidak tahu bagaimana menghadapi pengakuan ini.

“Ke mana kita akan pergi, M’lord?” Fulvia bertanya manis.

“Apakah engkau ingin pergi ke sebuah tempat?”

“Saya ingin sekali ke pantai,” Fulvia berkata penuh semangat, “Semua orang mengatakan musim panas adalah waktu yang tepat untuk bermain ke pantai.”

“Aku sependapat,” Irving menatap Fulvia lekat-lekat, “Sayangnya aku tidak dapat membawamu ke sana kali ini.”

Fulvia kecewa mendengarnya.

“Tidak ada pantai terdekat yang bisa dicapai dalam satu hari perjalanan pulang pergi,” Irving menjelaskan, “Dan aku yakin Davies akan membunuhku bila aku membawamu pergi lebih dari sore hari.”

Fulvia tertawa geli mengingat sinar mata tajam kakaknya ketika Irving membawanya ke dalam kereta yang telah menanti mereka.

“Ya,” katanya menahan tawa, “Bahkan saya hampir yakin Davies akan membunuh Anda pagi ini bila saya tidak segera keluar.”

“Sebagai penggantinya,” Irving berkata, “Ijinkanlah aku membawamu ke sebuah tempat indah kesukaanku.”

Fulvia terperangah. “Benarkah?”

“Apakah aku pernah berbohong padamu?”

-----0-----

Margot tertawa terbahak-bahak.

“Kau menertawakanku,” kata Davies kesal.

“Kau kalah dari Irving, Davies,” Margot tidak dapat menahan tawanya, “Kau cemburu pada Irving.”

“Irving berbahaya!” Davies marah, “Ia hanya tahu menyakiti Fulvia!”

Kegembiraan Margot menghilang melihat kemarahan Davies yang meluap-luap itu.

“Aku iri pada Fulvia,” gumam Margot murung.

Davies terkejut.

“Fulvia mempunyai Trevor dan Richie yang selalu memperebutkannya. Ia juga mempunyai seorang kakak sangat memperhatikannya,” Margot bertopang dagu dan pandangannya menerawang, “Sedangkan aku hanya mempunyai seorang pria yang tidak mengenal romantis. Ia tidak pernah mengajakku pergi. Ia juga tidak pernah datang menemuiku. Sekarang ia datang tetapi ia membawa masalahnya bukan bunga yang indah ataupun hadiah.”

Davies terperanjat. “Aku tidak bermaksud seperti itu,” Davies duduk di sisi Margot, “Aku… aku…”

Margot meletakkan jari-jari lentiknya di bibir Davies. “Aku tahu,” Margot tersenyum lembut, “Karena itulah aku mencintaimu.”

Davies terpesona.

“Kau tidak pernah tahu bagaimana merayu wanita. Kau juga tidak tahu apa itu romantis,” Margot merangkulkan tangannya di leher Davies, “Tetapi kau rela melakukan apa saja demi orang yang kaucintai.”

Davies memeluk Margot dan mencium bibir wanita itu. “Aku akan melakukan segalanya untuk membahagiakanmu,” bisiknya mesra.

“Kurasa, Davies,” Margot menyandarkan kepala di dada Davies, “Kau harus mulai melepaskan Fulvia.”

“Melepaskan Fulvia!?”

“Tidakkah kau dengar sebuah kabar burung, Davies?” Margot menatap Davies lekat-lekat, “Irving telah mematahkan kian banyak hati para wanita.”

“Itu bukan berita baru,” kata Davies mencemooh.

“Tetapi Irving tidak pernah mengirimkan mawar-mawar merahnya lagi,” Margot menambahkan dengan serius – membuat Davies keheranan, “Irving tidak pernah lagi terlihat bersama wanita mana pun. Semua mengatakan ia telah menjadi lebih jinak. Aku tidak pernah mengetahui apa yang membuat Irving berubah tetapi dari ceritamu itu aku mulai mengerti. Irving tertarik pada Fulvia.”

Davies kehabisan kata-katanya. Audrey pernah mengatakan hal yang sama padanya dan sekarang Margot menegaskannya kembali dengan serius.

“Fulvia adalah gadis baik,” Margot tersenyum, “Ia adalah gadis yang penuh perhatian. Aku tidak akan terkejut bila ia berhasil menundukkan Irving.”

Davies teringat wajah gembira Fulvia ketika Irving menjemputnya pagi ini. Davies tidak pernah melihat wajah adiknya yang dipenuhi kebahagiaan seperti yang dilihatnya pagi ini. Tidak sekalipun Trevor ataupun Richie mengajaknya pergi.

Davies tersenyum.

“Ya,” Davies merangkul pundak Margot, “Fulvia adalah gadis yang manis.”

“Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan musuh bebuyutan itu bila mereka mengetahuinya,” Margot menyandarkan kepala di pundak Davies.

“Siapa tahu,” gumam Davies, “Mereka sendirilah yang mencari masalah.”

-----0-----

Fulvia terpesona.

Di depannya, Fulvia dapat melihat daratan yang membentang luas ke seluruh penjuru. Kumpulan pemukiman penduduk tampak berkumpul di satu tempat dikelilingi hijaunya pepohonan. Di kejauhan tampak gunung-gunung tinggi membentengi kota yang nampak kecil dari tempat tinggi ini. Dan lebih jauh lagi, Fulvia dapat melihat sebuah garis panjang yang membentang dari timur ke barat. Garis itu membatasi laut dan langit biru.

Fulvia membentangkan tangan lebar-lebar. Ia menyukai angin sejuk yang berhembus di tebing tinggi ini.

Fulvia merasa ia tengah berada di puncak dunia. Dari tempatnya yang sangat tinggi, Fulvia dapat melihat semuanya tampak kecil dan indah.

“Ini benar-benar luar biasa,” Fulvia memuji. “Tempat ini pastilah sangat tinggi.”

“Jangan melihat ke bawah,” Irving memperingatkan namun sayang ia terlambat beberapa detik.

Fulvia memandang daratan tepat di bawahnya dan ia merasa kepalanya pusing. Fulvia merasa tubuhnya seolah-olah tertarik ke bawah dan ia tengah jatuh bebas.

Irving memegang lengan Fulvia. “Sudah kuperingatkan,” katanya menuduh Fulvia.

“Terima kasih,” Fulvia memeluk lengan Irving. “Saya hanya ingin tahu seberapa tingginya tempat ini.”

“Apakah perjalanan kita kurang memberi jawaban padamu?”

Fulvia tersenyum mendengar nada tidak senang itu.

Irving benar. Mereka tidak dengan mudah mencapai tempat tinggi ini. Kereta yang mereka tumpangi juga tidak dapat mencapai tempat ini.

Kereta keluarga Engelschalf hanya mengantar mereka hingga ke desa di kaki bukit ini. Selanjutnya, Irving menyewa seekor kuda.

Irving menegaskan perjalanan mereka tidak akan mudah. Irving mendudukkan Fulvia di belakangnya dan meminta Fulvia untuk memeluknya erat-erat.

Duduk di belakang punggung lebar itu, Fulvia tidak dapat melihat seberapa sulitnya medan yang mereka lalui tetapi dari cara Irving mengendalikan kuda, Fulvia tahu perjalanan ke tempat tinggi ini tidak mudah bahkan berbahaya.

Fulvia tidak takut. Ia percaya pada Irving.

Irving adalah pria yang suka mempermainkan wanita tetapi Fulvia tahu Irving tidak pernah bermain dengan wanita yang telah berkeluarga atau pun gadis kecil seperti dirinya. Ia hanya bermain dengan wanita-wanita cantik yang dewasa.

Fulvia tidak khawatir Irving sedang mempermainkannya. Ia mempercayai pria itu dan pria itu telah menjaganya dengan baik hingga saat ini. Irving juga tidak segan menunjukkan perhatiannya.

Fulvia mengangkat kepalanya. “Saya rasa saya mulai tertarik pada Anda,” ujarnya sambil tersenyum.

“Kupikir kau tidak pernah tertarik padaku.”

“Itu adalah dulu sebelum saya mengenal Anda,” Fulvia tersenyum, “Setelah saya mengenal Anda, saya merasa Anda tidaklah seburuk yang saya anggap. Anda juga memiliki sisi baik.”

Fulvia menatap Irving lekat-lekat, “Kecuali kegemaran Anda melompat dari satu wanita ke wanita yang lain itu.” Lalu gadis itu tersenyum penuh arti, “Andai saja Anda adalah seorang pria yang setia, saya pasti telah tergila-gila pada Anda.”

Irving terperangah.

Fulvia melepaskan tangannya dari lengan Irving dan berjalan membelakangi pria itu.

“Sayang sekali,” Fulvia memperhatikan tanah lapang di depannya, “Kita tidak membawa bekal piknik.” Fulvia membersihkan tanah terjal itu dari debu dan duduk di atasnya. “Tentu akan sangat menyenangkan sekali bermalam di sini,” Fulvia menengadahkan kepalanya, “Saya membayangkan bagaimana rasanya tidur di bawah bintang-bintang.”

“Ya,” Irving duduk di sisi Fulvia, “Dan Davies mungkin akan mencekikku.”

Fulvia tertawa. “Saya yakin Davies akan melakukannya. Dan Mama akan menanti kita di pintu dengan ceramahnya sepanjang hari. Kemudian Papa akan menyiapkan sebuah ruangan untuk mengurungku selama sebulan mendatang.”

“Keluargamu sangat memperhatikanmu,” komentar Irving dan ia berbaring di tanah terjal itu. Kedua tangannya terlipat di belakang kepalanya dan kakiya menjulur panjang.

“Mereka sering membuat saya merasa tidak bebas,” Fulvia mengeluh, “Terlebih lagi Trevor dan Richie.”

Irving menutup matanya dan menajamkan pendengarannya.

“Mereka terlalu memperhatikan saya dan itu membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Mereka selalu bersikeras untuk mengawal saya ke mana pun saya pergi. Saya benar-benar harus berusaha keras untuk melepaskan diri dari mereka. Biasanya saya meminta Davies membantu saya tetapi itu sudah tidak mungkin lagi. Sekarang Davies mempunyai Margot.”

Fulvia menarik kakinya merapat dan ia merebahkan kepala di atas lututnya. “Mungkin saya harus segera mencari cara lain.”

Irving tidak menanggapi. Ia juga tidak dapat membantu Fulvia. Ini adalah masalah mereka dan ia tidak mau campur tangan. Kedua pria itu pernah meminta bantuannya tetapi sampai sekarang ia belum memberikan jawabannya.

Malam itu, setelah ia mengantarkan kepulangan Fulvia, kedua sepupu itu mendekatinya.

“Bagaimana?” tanya Richie penuh ingin tahu.

“Aku tidak tahu,” jawab Irving singkat, “Ia tidak mengatakan apa-apa.”

“Bukankah mereka mengatakan kau tahu apa yang dipikirkan wanita hanya dengan melihatnya saja?” Richie mendesak.

“Aku bukan seorang peramal,” sahut Irving tidak senang.

“Apa saja yang kalian bicarakan?” Trevor yang sifatnya lebih tenang dari Richie bertanya.

“Tidak ada,” kata Irving, “Ia hanya berterima kasih padaku dan ia memutuskan untuk pulang.”

“Fulvia pulang!?” kedua pria itu terkejut.

Irving tidak ingin melibatkan diri terlalu lama lagi dengan kedua pria yang sedang dimabuk cinta dan cemburu itu. Ia pun pergi meninggalkan mereka.

Baik Trevor maupun Richie tidak pernah mencarinya lagi semenjak hari itu. Irving sendiri sudah yakin ia telah melepaskan diri dari masalah mereka ketika ia kemudian bertemu Fulvia dan gadis itu menariknya ke dalam sebuah rencana yang sama sekali tidak diduganya.

Irving benar-benar tidak dapat memahami Fulvia.

Sepintas gadis dengan wajah kekanak-kanakannya ini tampak seperti sebuah buku terbuka tetapi… Ya, ia mungkin adalah sebuah buku yang terbuka lebar tetapi tulisan dalam buku itu sangat sulit dimengerti.

Irving mendesah. Entah mengapa ia merasa ia telah melibatkan diri dalam sebuah masalah yang sangat besar dan ia tidak akan dapat melepaskan diri dengan mudah.

Ada apa?” Fulvia bertanya cemas.

Irving bingung.

“Saya mendengar Anda mendesah,” Fulvia memperhatikan wajah Irving, “Apakah Anda mempunyai masalah?”

“Aku akan mempunyai masalah besar,” tangan Irving terulur mengambil topi di sisi Fulvia yang lain, “Bila kau terserang sinar matahari,” ia meletakkan topi itu di kepala Fulvia.

Fulvia tersenyum. “Udara di sini sangat sejuk dan itu membuat saya melupakan sinar matahari yang terik.”

“Rasanya masalah tidak pernah lepas dariku selama kau berada di sekitarku.”

Fulvia tertawa mendengar keluhan itu. “Anda mencemaskan Davies?” ia tidak dapat menahan rasa gelinya, “Atau Trevor dan Richie?”

“Ketiganya,” jawab Irving singkat dan ia kembali memejamkan mata.

“Jangan khawatir. Saya tidak akan membiarkan mereka melakukan sesuatu terhadap Anda,” Fulvia membesarkan hati Irving.

Sebaliknya, Irving merasa gadis ini akan memperburuk masalah.

Fulvia melayangkan pandangannya pada langit biru dan pada daratan yang terbentang luas di bawah tebing curam itu.

Fulvia menikmati perjalanan ini. Ia menyukai pemandangan indah ini.

Sementara mereka saling berdiam diri menikmati waktu masing-masing, sang mentari terus menapaki jalur panjangnya di langit biru. Sinarnya yang terik kian memudar seiring merendahnya posisinya.

Fulvia tidak tahu berapa lama mereka berada di sana . Ia hanya tahu ia menikmati waktunya di tempat ini.

“Sudah saatnya kita pulang” Irving tiba-tiba berdiri.

Fulvia terkejut.

“Aku tidak yakin kita dapat mengejar waktu kalau kita tidak bergegas pulang,” ia mengulurkan tangan kepada Fulvia.

Fulvia melihat mentari yang mulai condong di barat dan langit yang kemerahan. Fulvia menerima uluran tangan Irving.

Irving membawanya ke kuda yang sedang sibuk merumput di belakang mereka. Begitu mereka tiba di sisi kuda itu, Irving menggendong Fulvia dan mendudukkannya di belakang pelana kemudian ia duduk di depan Fulvia.

“Berpeganglah yang erat,” kata Irving sesaat sebelum menjalankan kudanya.

Tanpa perlu diperintahpun, Fulvia tahu ia harus mengencangkan pelukannya di punggung pria itu.

Seperti keberangkatan mereka, Fulvia tidak merasa takut sedikitpun oleh cepatnya laju kuda itu menapaki jalanan yang curam dan sempit di punggung bukit itu.

Namun, tidak seperti kepergiannya, mereka tengah berpacu dengan waktu. Fulvia menyadari Irving menjalankan kuda lebih cepat dari keberangkatan mereka.

Dalam waktu singkat mereka tiba di desa di kaki bukit.

Irving bergegas mengembalikan kuda dan memerintahkan kusir kuda untuk mengantar mereka ke Unsdrell.

“Sepertinya kita tidak dapat mengejar waktu.”

“Ya,” Fulvia melihat langit yang telah gelap, “Saya yakin Davies telah berdiri di pintu sambil memasang mukanya yang menakutkan itu.”

“Aku tak meragukannya,” kata Irving tepat ketika kereta berhenti.

Fulvia begitu yakin Davies telah menanti mereka. Karena itu ia merasa sangat heran ketika ia tidak melihat Davies di pintu. Ia juga tidak melihat bayangan kakaknya itu.

Irving juga keheranan. Sesaat lalu ia yakin Davies pasti telah menantinya di depan pintu dengan senjata tajamnya dan sekarang ia tidak dapat menemukan pria itu.

“Sebaiknya saya segera masuk sebelum Davies keluar,” kata Fulvia lalu ia beranjak dari sisi pria itu.

“Fulvia!” Irving menarik tangan Fulvia.

“Ya?” Fulvia membalikkan badannya.

Irving menarik Fulvia ke dalam pelukannya.

Fulvia terkejut. Ia melihat tatapan lembut di mata biru tua itu dan wajahnya memerah.

Irving mendekatkan wajahnya.

Jantung Fulvia berdebar kencang. Jari jemari Fulvia saling bertautan di depan dadanya dan matanya menutup rapat.

“Selamat malam,” Irving mencium dahi gadis itu.

Fulvia terbelalak. Sedetik lalu ia sangat yakin Irving akan mencium bibirnya.

“Kau tidak keberatan aku memberimu ciuman selamat malam, bukan?” kata Irving.

Fulvia masih terpaku di tempatnya ketika pria itu melambaikan tangan padanya dan menaiki kereta kudanya.

Kereta bergerak perlahan meninggalkan Fulvia dan ia semakin menambah kecepatannya ketika ia semakin mendekati Unsdrell.

Fulvia menatap kereta yang semakin menjauh itu dan ia memegang dahinya tepat di tempat Irving menciumnya.

Wajah Fulvia kembali memerah.

“Ia sudah pulang?”

Fulvia terperanjat. “M… Mama?”

Countess Kylie berdiri di pintu sambil tersenyum.

“M…mama kau…,” rona merah di wajah Fulvia semakin jelas.

“Mengapa kau tidak segera kembali ke kamarmu?” Countess masih tersenyum, “Kau sudah lelah bukan?”

Fulvia tersipu-sipu melihat senyum penuh arti ibunya itu.

Countess mendekati putrinya. “Aku akan menyuruh pelayan segera mempersiapkan makan malam untukmu. Aku yakin peringatan Davies telah membuat kalian terburu-buru dan melupakan makan malam kalian.”

Rona merah di wajah Fulvia kian menjadi-jadi.

“Ia pria yang baik.”

“Ya,” Fulvia sependapat, “Ia sangat baik.”

“Kurasa malam ini aku akan mendengar cerita yang menarik,” Countess Kylie meletakkan tangan di punggung Fulvia dan mendorongnya dengan lembut ke dalam Unsdrell.

Senyum di wajah Countess Kylie semakin lebar melihat putrinya yang masih tersipu-sipu itu.

9

Waktu terasa berjalan sangat lambat ketika Fulvia menantikan hari yang dijanjikannya dengan Brent. Tetapi ia terasa berlalu dengan cepat ketika Fulvia menyadari hari itu sudah ada di depan matanya.

Hal ini membuat Fulvia sangat gembira. Hari yang dinanti-nantikannya akan tiba.

Bukan hanya Fulvia yang menyadari hal itu. Jehona yang selama ini sangat mendukung rencananya, hari ini berkata,

“Sungguh tak terasa. Sudah hampir satu bulan kau berada di sini. Tak lama lagi kau akan meninggalkan kami.”

Fulvia tersenyum tetapi itu masih tidak cukup untuk menutupi kesedihannya mendengar nada-nada sedih dalam suara wanita itu.

Fulvia sadar setelah ia mendapatkan apa yang diinginkannya, ia tidak akan bisa setiap hari datang ke tempat itu. Ia juga tidak akan bisa sesering ini pergi ke sana .

Di satu sisi ia sudah tidak mempunyai alasan lagi dan di sisi lain ia tidak akan bisa menemukan seseorang yang mau menemaninya datang ke tempat ini tanpa mempertanyakan hubungan mereka.

Irving bukanlah orang yang dapat diandalkan Fulvia. Fulvia yakinIrving tidak akan keberatan mengantarnya. Ia juga tidak perlu kebingungan menjelaskan perkenalannya dengan mereka karena Irving telah mengetahuinya.

Audrey juga bukan orang yang bisa dipilih Fulvia. Sekarang Lewis terus mengurung diri di kamar dan itu membuat Audrey lebih tenang. Sekarang Audrey mempunyai banyak waktu untuk melakukan banyak hal selain sepanjang hari bersedih memikirkan kondisi suaminya.

Setiap hari Audrey selalu disibukkan urusan memulihkan kondisi Greenwalls dan merawat Lewis.

Kondisi keuangan mereka memang tidak memungkinkan untuk memulihkan keadaan Greenwalls sepenuhnya tetapi Audrey telah berusaha untuk merapikan kembali rumah yang pernah terkenal oleh hijaunya tanaman yang memagarinya itu.

Fulvia juga dapat melihat perubahan perlahan di pekarangan Greenwalls dalam kunjungannya akhir-akhir ini.

Irving juga pernah berkomentar ‘Tampaknya mereka sudah mulai melakukan sesuatu dengan tempat ini’ ketika mereka melihat beberapa pelayan yang tersisa dalam keluarga kecil itu sedang sibuk merapikan semak-semak.

Dari keluarganya, Fulvia juga mendengar Countess Horace sering pergi ke Greenwalls di siang hari untuk membantu Audrey. Trevor secara diam-diam mulai menghitung total biaya yang diperlukan untuk memulihkan kondisi Greenwalls.

Fulvia menyukai keadaan ini. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri berkunjung ke Greenwalls sepulang dari tempat kerjanya untuk melihat apakah ada sesuatu yang bisa dilakukannya.

Tentu saja tidak ada yang dapat dilakukan Fulvia karena Audrey juga tidak akan pernah merepotkan orang lain terlebih keluarganya sendiri.

Setelah berhari-hari tidak pergi memastikan keberadaan barang yang diincarnya, Fulvia memutuskan untuk pergi melihatnya sore ini.

Sehari tidak pergi ke Greenwalls tidak akan membuat Audrey heran. Sebaliknya, Audrey akan merasa senang karena inilah keinginan wanita itu sendiri. Tetapi hal ini membuat Irving heran.

Ada sesuatu yang ingin saya pastikan,” kata Fulvia memberi alasannya.

“Ke mana?” tanya Irving.

“Ke sebuah toko di dekat tempat ini.”

“Toko apa?”

Fulvia terkejut. Tiba-tiba saja ia menyadarinya. Selama ini ia hanya memperhatikan kotak musik itu dan tidak pernah mengingat apa nama toko itu.

“Saya tidak pernah memperhatikan nama toko itu,” katanya menyesal kemudian ia segera menambahkan, “Tetapi saya tahu di mana lokasinya. Kita bisa melewatinya dalam perjalanan menuju kereta Anda.”

“Bukan masalah bagiku,” kata Irving singkat tanpa menghentikan langkah kakinya.

Kini setelah mengetahui rahasia Fulvia, Irving selalu menjemput gadis itu di toko itu. Karena permintaan Fulvia yang ingin menyembunyikan identitasnya, kereta keluarga Engelschalf tetaplah berhenti di tempat biasa. Irvinglah yang mengantar dan menjemput gadis itu ke tempat kerjanya.

Berjalan berdampingan seperti ini kadang membuat Fulvia merasa mereka seperti sepasang kekasih andai mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Tetapi tentu saja itu tidak akan pernah terjadi karena mereka hanyalah teman biasa.

Langkah kaki Fulvia terhenti.

Irving heran.

Mata Fulvia bersinar-sinar melihat kotak musik di balik kaca itu. Ia begitu lega dan gembira mendengar musik yang merdu itu masih mengalun di tempat yang sama.

Irving mengikuti pandangan Fulvia.

“Cantik bukan?” Fulvia berkata, “Aku suka menatap mereka berdansa dengan anggun diiringi musik yang merdu itu. Lihatlah pemuda itu ketika ia menatap gadis itu. Ia tampak begitu mengagumi gadis itu dan gadis itu tampak begitu bahagia.”

Irving diam melihat sepasang muda-mudi yang berdiri kaku di atas lantai dansa mereka yang kecil. Ia tidak melihat sesuatu pun yang menarik dari benda kaku itu.

“Aku ingin musik mereka menghiasi Unsdrell,” mata Fulvia bersinar-sinar ketika menatap Irving.

Irving membuang muka. “Kita tidak ada waktu berlama-lama di sini,” katanya berlalu, “Kau tidak ingin orang tuamu curiga, bukan?”

Fulvia menatap sepasang boneka kayu itu. “Sedikit lagi,” ia berbisik seolah ingin memberitahu mereka, “Aku akan membawa kalian pulang.”

Fulvia pun meninggalkan tempat itu dan mengikuti Irving dengan riang.

Mata Irving melirik sinis Fulvia yang berjalan dengan riang di sisinya. Ia salah. Fulvia tidak berbeda dari wanita-wanita itu. Fulvia hanyalah mempunyai cara yang unik untuk mendapatkan keinginannya.

“Hari ini saya ingin sekali segera pulang,” kata Fulvia ketika sampai di sisi Irving, “Saya sudah tidak sabar menanti esok.”

Irving mengacuhkan nada gembira dalam suara itu. Tentu saja Fulvia akan sangat menantikan hari esok. Rencananya telah berjalan dengan sempurna.

Apa yang dipikirkan Irving tidaklah salah. Fulvia begitu bersemangat menanti datangnya hari esok. Kegembiraanya itu tergambar jelas di wajahnya.

“Apa yang membuatmu gembira seperti ini?” tanya Countess dalam makan malam.

“Aku terus melihatmu tersenyum gembira sejak kedatanganmu,” Count Clarck sependapat, “Apakah terjadi sesuatu yang baik selama kepergian kalian hari ini?”

“Apakah ada perkembangan yang baik di antara kalian?” Countess berkata dengan penuh ingin tahu.

Fulvia terperanjat. “Tidak ada. Tidak ada apa-apa di antara kami,” Fulvia mewaspadai keingintahuan ibunya itu.

Semenjak secara tidak sengaja Countess melihat Irving menciumnya, Countess tertarik untuk mengetahui hubungan di antara mereka. Fulvia telah berulang kali menjelaskan bahwa mereka hanyalah teman. Tetapi sepertinya Countess tidak pernah mempercayai itu. Tidak setelah setiap hari mereka pergi berdua selama dua minggu terakhir ini.

“Tadi aku hanya melihat sesuatu yang menarik,” Fulvia melanjutkan dengan penuh semangat, “Aku sangat menyukainya.”

“Apakah itu?” tanya Countess tertarik.

Jika Countess tertarik untuk mengetahui lebih banyak mengenai benda itu, Count Clarck was-was. “Kau tidak meminta Irving membelikannya untukmu, bukan?” tanyanya waspada.

“Tentu tidak,” sahut Fulvia, “Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.”

Fulvia tidak pernah melakukan hal itu bukan karena Count Clarck tidak menyukainya tetapi lebih karena ia sendiri. Fulvia tidak suka meminta seseorang memberinya apa yang diinginkannya secara cuma-cuma. Fulvia juga tidak suka menerima sesuatu di hari-hari biasa.

Trevor dan Richie akan rela melakukan apa saja untuk menyenangkan Fulvia termasuk membelikan semua barang yang diinginkan Fulvia. Mereka juga siap merebut hati Fulvia dengan setumpuk hadiah. Mereka bisa melakukan itu semua tetapi mereka tidak pernah melakukannya. Di satu sisi Fulvia tidak akan pernah menerimanya dan di sisi lain mereka tahu Fulvia tidak menyukai pemberian cuma-cuma. Karena itulah mereka selalu memanfaatkan hari ulang tahun gadis itu dengan baik dan juga hari Natal . Mereka hanya dapat berlomba untuk memberikan hadiah yang terbaik bagi Fulvia di dua hari itu dalam setahun karena hanya pada hari itu saja Fulvia mau menerima pemberian secara cuma-cuma.

Ketika kedua sepupu itu mengetahui dengan baik apa yang disukai Fulvia dan apa yang tidak disukai Fulvia, Irving masih belum dapat mengerti gadis itu. Dalam matanya Fulvia tidak jauh berbeda dengan semua wanita yang dikenalinya, wanita yang hanya memanfaatkan kecantikan mereka untuk kepuasan mereka sendiri.

Setelah mengantar pulang Fulvia, ia kembali ke toko tempat Fulvia menunjukkan kota k musik itu padanya. Ia membeli kotak musik itu dan meminta mereka untuk mengirimkannya ke Unsdrell besok.

Irving tidak pernah menyukai wanita-wanita seperti itu, tetapi ia selalu membelikan apa yang mereka inginkan. Dan bila ia telah jenuh dengan wanita itu, ia akan mengirimkan bunga mawar beserta pemberiannya itu.

Namun bila wanita itu masih menarik hatinya, ia hanya akan mengirimkan hadiah yang dipilih sendiri oleh wanita tersebut. Tentu saja ia tetap akan mengirimkan mawar merahnya pada wanita itu. Hanya saja saat itu belum waktunya. Mawar merahnya akan terkirim ke tempat wanita itu bila ia telah jenuh dengannya, bila ia telah menemukan wanita baru yang menarik hatinya.

Untuk kali ini, Irving tidak mengirimkan mawar merahnya. Ia masih ingin tahu lebih banyak tentang Fulvia. Irving masih ingin mengerti isi buku terbuka dengan bahasanya yang sulit dimengerti ini.

Dan mawar merahnya…

Irving ragu apakah ia bisa mengirimkan mawar merahnya pada gadis itu. Mereka tidak mempunyai hubungan seperti yang biasa ia miliki bersama wanita-wanita lain.

Mereka hanya teman, kata Fulvia.

Tepatnya Fulvia memanfaatkannya dengan caranya yang unik, menurut Irving.

Besok pagi ketika Irving menjemputnya, Fulvia tentu belum menerima pemberiannya itu. Fulvia baru akan melihatnya sepulangnya dari kota . Dan Irving ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis itu esok lusa.

Irving ingin tahu bagaimana reaksi gadis yang sulit dimengerti itu. Tetapi ia bisa meyakinkan Fulvia pasti akan sangat gembira seperti wanita-wanita itu. Karena itulah ia tidak terlalu terkejut ketika keesokan sorenya Fulvia berkata dengan gembira,

“Terima kasih, M’lord. Terima kasih atas segala bantuan Anda selama ini.”

Irving tersenyum puas pada dirinya sendiri. Ia puas bukan karena keberhasilannya membuat Fulvia gembira tetapi terlebih pada tebakannya yang tepat.

“Besok Anda tidak perlu lagi mengantar jemput saya. Saya telah mendapatkan apa yang saya inginkan.”

Tentu saja Fulvia tidak perlu lagi menjalankan rencana anehnya yang melelahkan ini. Ia sudah mendapatkan apa yang telah diinginkannya. Dan ia pasti telah mengetahuinya bahkan sebelum ia melihat sendiri benda itu. Irving mengakui kecerdikan Fulvia dan kepercayaan dirinya yang jauh lebih besar dari Clementine itu.

Ketika Irving merasa sangat puas dengan tebakannya itu, Fulvia merasa sangat puas dengan keberhasilannya.

Sesaat yang lalu sebelum ia meninggalkan tempat kerjanya selama sebulan ini, Brent memberikan uang seperti yang mereka sepakati sebelumnya.

“Ini adalah kesepakatan di antara kita,” kata Brent sambil memberikan kantung uang kepada Fulvia, “Tidak lebih dan tidak kurang.”

“Terima kasih,” Fulvia menerimanya dengan gembira, “Terima kasih atas bantuan kalian selama ini. Terima kasih atas bantuan kalian mewujudkan keinginan saya.”

“Tidak perlu sungkan,” kata Jehona, “Kami juga patut berterima kasih padamu. Engkau banyak membantu kami selama sebulan ini.”

“Saya senang dapat membantu,” Fulvia tersenyum lalu ia menatap Tim yang berdiri di sisi Jehona, “Saya akan mengkhawatirkan kalian setelah ini.”

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami,” Brent berkata dengan penuh keyakinan, “Tim telah menjadi seorang anak yang patuh setelah kau mengajarinya. Aku yakin ia tidak akan terlalu merepotkan kami.”

“Aku tidak akan kewalahan lagi selama Tim tidak membuat keributan,” timpal Jehona mantap.

Fulvia mencondongkan badannya ke Tim, “Berjanjilah padaku kau akan patuh pada kedua oran g tuamu.”

Tim menyadari makna yang lebih dalam dalam perkataan itu dan ia bertanya sedih, “Apakah besok kau tidak datang lagi?”

“Aku masih akan datang menengokmu,” Fulvia membesarkan hati anak itu, “Aku berjanji akan meluangkan waktu untuk melihat keadaanmu.”

Jawaban itu membuat Tim semakin kecewa.

Raut wajah anak itu membuat Fulvia tidak tega.

“Jangan bertindak kekanak-kanakan!” hardik Jehona – menyadari suasana saat itu, “Fulvia tidak akan ke mana-mana. Ia masih bisa datang setiap saat.”

“Benarkah?” Tim menatap Fulvia lekat-lekat.

“Tentu,” janji Fulvia, “Dan aku akan membawakan makanan kesukaanmu setiap kali aku datang.”

Kesedihan di wajah Tim berubah menjadi senyum lebar. “Kau telah berjanji,” katanya memperingati. “Kau tidak boleh lupa.”

“Aku tidak akan lupa,” Fulvia tersenyum lembut.

“Yang mengingkari janji adalah pembohong!” Tim berkata dengan penuh semangat.

Fulvia tersenyum. Ia tahu ia tidak bisa datang sesering ini setelah hari ini. Ia hanya bisa menjanjikan untuk melihat mereka ketika ia mempunyai waktu.

Fulvia juga tahu ia tidak akan bisa melihat Irving sesering ini setelah hari ini. Ia juga sadar hubungan baik di antara mereka yang terjalin selama ini akan meregang dan ia tidak ingin itu terjadi. Fulvia tetap ingin berteman dengan Irving besok dan untuk seterusnya. Maka, ia berkata dengan sungguh-sungguh,

“Walaupun kita tidak bertemu lagi, dapatkah kita menjadi teman?”

Irving terkejut.

“Saya rasa saya mulai menyukai Anda dan…,” Fulvia tersipu-sipu, “Saya akan sangat sedih sekali bila kita memutuskan hubungan begitu saja setelah ini.”

“Apakah gadis ini mempunyai rencana baru lagi?” pikir Irving. Irving tidak benar-benar dapat mengerti Fulvia tetapi ia tahu Fulvia tidak jauh berbeda dari semua wanita yang pernah dikenalnya.

“Tentu,” Irving memberikan jawabannya.

Senyum di wajah Fulvia semakin melebar.

Tidak ada yang dapat menggantikan kegembiraannya hari ini. Jerih payahnya selama sebulan ini telah membawa hasil. Fulvia sudah tidak sabar untuk segera membeli kotak musik itu. Ia tidak sabar untuk segera membawanya pulang.

Kemarin ia telah meyakinkan untuk terakhir kalinya bahwa kotak musik itu masih ada di sana menantinya. Hari ini pun Fulvia yakin ia masih menantinya dengan setia. Dan besok Fulvia akan membawanya pulang.

“Apakah Anda bersedia menemani saya ke tempat biasa untuk terakhir kalinya sebelum mengantar saya pulang?”

Saat ini Fulvia ingin sekali segera menemui Audrey. Ia ingin membagikan kebahagiannya ini kepada Audrey yang telah mendukungnya selama ini.

“Tentu.”

Fulvia tahu Irving takkan menolak. Irving tidak pernah menolak mengantarkannya ke Greenwalls. Ia terus mengantarkannya ke rumah kakak sepupunya ini berturut-turut dalam beberapa hari ini.

Pelayan mereka pun telah mengenali kereta kuda keluarga Engelschalf. Mereka selalu bergegas menyambut kedatangan mereka begitu melihat kereta keluarga Engelschalf memasuki pekarangan Greenwalls.

Demikian pula hari ini. Ketika kereta berhenti di depan pintu masuk, seorang pelayan membuka pintu.

“Selamat datang,” ia memberikan sambutannya.

Dan seperti biasa pula, Fulvia bertanya “Apakah Audrey ada di dalam?” walaupun Fulvia tahu Audrey pasti ada di dalam. Ini sudah menjadi kebiasaan Fulvia setiap kali ia berkunjung ke Greenwalls. Sekarang pun ini tetap menjadi kebiasaannya. Fulvia tidak pernah merasa ini adalah kebiasaan yang buruk. Ia hanya ingin memastikan kedatangannya tidak sia-sia.

“Nyonya tidak ada di rumah,” jawab pelayan itu, “Ia bersama Tuan Lewis pergi ke Osbesque pagi ini.”

“Mereka pergi ke Osbesque?” Fulvia mengulangi dengan penuh rasa tidak percaya.

“Tuan Lewis dan Nyonya Audrey pergi sejak pagi,” pelayan itu mengulang dengan lebih jelas, “Mereka berencana untuk menginap di sana malam ini.”

Fulvia terperangah. Ia tidak pernah mendengar rencana Audrey ini. Kemarin ia juga datang menemui mereka tetapi Audrey tidak mengatakan apa-apa.

“Aku mengerti,” kata Fulvia kecewa.

“Kau ingin ke Osbesque?”

Fulvia terperanjat. “Tidak,” jawabnya panik.

Fulvia tidak akan menyusul Audrey ke Osbesque walaupun ia sangat ingin tahu apa yang membuat keduanya pulang setelah sekian lamanya. Fulvia memilih untuk menahan keinginan itu daripada menimbulkan ingin tahu keluarga Garfinkelnn melihat kemunculannya bersama Irving.

“Saya tidak ingin menganggu pertemuan keluarga mereka,” kata Fulvia, “Lagipula saya ingin segera pulang.”

Irving memperhatikan Fulvia yang membalikkan badan ke kereta kudanya. Tentu saja Fulvia ingin segera pulang. Ia tentunya telah tidak sabar melihat benda itu.

Keyakinan Irving bertambah kuat ketika ia melihat Fulvia berlari-lari kecil memasuki Unsdrell setelah mengucapkan selamat tinggal padanya.

Fulvia bergegas menuju kama rnya. Fulvia begitu tidak sabar menanti hari esok. Rasanya ia ingin sekali langsung melompati waktu ke esok siang.

Besok Fulvia akan pergi membeli kota k musik itu. Besok ia akan dapat membawanya pulang.

Senyum Fulvia kian lebar ketika ia menimang-nimang kantung uang pemberian Brent.

Fulvia duduk di meja riasnya dan mengeluarkan isi kantung itu.

Fulvia tahu Brent tidak akan menipunya. Fulvia hanya ingin sekali melihat uang hasil kerja kerasnya selama sebulan ini.

Tengah Fulvia sibuk menghitung dan menatapi uang-uang itu dengan matanya yang berbinar-binar, seseorang mengetuk pintunya.

Ketukan di pintu itu membuat Fulvia terkejut dan panik. Fulvia segera memasukkan kembali uang itu dan menyembunyikannya di dalam laci meja riasnya.

Fulvia tidak ingin seorangpun melihatnya.

Ketukan di pintu kembali terdengar. “Apakah Anda di dalam, Tuan Puteri?”

Fulvia sadar orang yang mengetuk pintu kama rnya bukan Davies ataupun ibunya. “Aku di dalam,” kata Fulvia lega, “Masuklah.”

Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita melangkah masuk.

Ada apa?” tanya Fulvia.

“Anda mendapat kiriman, Tuan Puteri,” pelayan itu menyodorkan sebuah kotak merah muda berukuran sedang kepada Fulvia, “ Sian g ini seorang pria mengantarkannya. Katanya ini untuk Anda.”

Fulvia memperhatikan kotak itu. Tidak ada tulisan ataupun gambar pada permukaannya yang dilapisi kain merah muda itu. Beberapa bunga kain yang berwarna senada menghiasi salah satu sudut penutup kota k itu.

Fulvia bisa memastikan ini bukanlah ulahTrevor maupun Richie terlebih lagi Davies. Ketiganya tahu ia tidak akan pernah menerima pemberian mereka.

“Dari siapakah?” gumam Fulvia heran sambil menerima kotak itu.

“Saya tidak tahu, Tuan Puteri. Saya hanya diminta untuk memberikan kota k ini pada Anda begitu Anda tiba.”

“Aku mengerti,” kata Fulvia sambil membuka tutup kotak itu.

Pelayan itu masih berada di sana untuk menanti perintah Fulvia.

Mata Fulvia terbelalak melihat isi kotak itu. Tangannya meraih secarik kertas di dalam kotak.

Fulvia tidak tahu harus mengucapkan apa tapi ia tahu apa yang harus dilakukannya. Maka iapun menuju meja kecil di sisi tempat tidurnya dan mengambil selembar kertas serta pena dan mulai menulis.

-----0-----

Irving bangun lebih siang hari ini. Ia juga menikmati waktu makan paginya lebih lama dari beberapa hari terakhir ini.

Hari ini ia tidak perlu menjemput Fulvia.

Hari ini ia bisa melakukan semua yang ingin dilakukannya tanpa perlu memusingkan diri dengan jadwal menjemput Fulvia.

Setelah menghabiskan sarapannya seorang diri di Ruang Makan, Irving melangkahkan kaki ke Ruang Baca.

Irving masih tidak tertarik untuk menemui wanita-wanita penggemarnya. Ia masih ingin meneruskan kegiatan membaca yang telah ditekuninya belakangan ini.

Mata Irving menangkap sesuatu di meja bacanya.

Irving keheranan melihat kotak di meja bacanya. Ia mengenal kotak itu. Ia tidak mungkin salah ingat pada hadiah yang dibelinya untuk Fulvia – hadiah yang dipilih sendiri oleh gadis itu.

Apalagi maksud gadis itu menunjukkan kotak musik itu padanya bila bukan karena gadis itu ingin ia memberinya sebagai hadiah? Ia tidak mungkin salah! Semua wanita selalu bersikap seperti itu. Mereka sengaja menunjukkan ketertarikannya pada sebuah benda di depannya karena mereka ingin ia membelinya untuk mereka. Dan Fulvia adalah satu dari mereka.

“Seorang lagi,” dengusnya.

Ini bukan sekali atau dua kalinya gadis yang dikirimi hadiah olehnya mengembalikan pemberiannya. Ia tahu mengapa mereka mengirimkan kembali hadiah itu padanya. Ia yakin gadis itu pun mempunyai tujuan yang sama: mereka menuntut lebih dari hadiah itu!

Karena itulah ia tidak tertarik untuk melihat secarik surat yang terikat bersama kotak itu. Dan ia memindahkan kotak itu ke lantai untuk kemudian diurus oleh pengurus rumah tangganya.

Pedro tentu tahu apa yang harus dilakukannya dengan hadiah itu termasuk mengirimkan mawar merahnya.

Irving telah mengerti gadis itu dan ia tidak perlu lagi meneruskan hubungan dengan gadis cerdik yang berbahaya itu.

Irving meninggalkan Ruang Baca. Keberadaan kotak itu telah membuang hasratnya untuk membaca buku di sana .

Ketika melintasi Hall, Irving melihat ayahnya baru saja pulang.

“Kau tidak pergi?” tanya Duke keheranan melihat putranya masih di rumah.

“Aku tidak punya keperluan,” jawab Irving tanpa menghentikan langkahnya ke Ruang Perpustakaan.

Duke Engelschalf juga tidak bertanya lebih lanjut. Ia tahu Irving tidak pernah suka setiap pertanyaannya.

Bagi Irving, hari ini berlalu dengan tenang. Ia tidak perlu terus memperhatikan waktu dan cemas terlambat. Ia juga tidak perlu terus memperingati dirinya untuk tidak terlalu larut dalam kegiatan membacanya.

“Tuan Muda,” Pedro menghadap.

Irving keheranan melihat kotak merah di tangan Pedro. Ini kedua kalinya ia melihat kotak itu di hari ini.

“Mereka mengatakan benda ini tidak dapat dikembalikan karena ia tidak memiliki cacat apa-apa.”

“Dikembalikan?” Irving tidak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Bukankah Anda ingin saya melakukan sesuai yang ditulis di dalam surat yang disertakan dalam kotak ini?” Pedro juga kebingungan dan ia menambahkan, “Seperti biasanya.”

“Apa isi surat itu?” tanya Irving gusar, “Berikan padaku.”

Dengan tanggap, Pedro memberikan secarik surat tulisan tangan Fulvia kepada Irving.

Saya sungguh berterima kasih atas pemberian Anda ini tetapi maafkan ketidaksopanan saya. Saya tidak dapat menerima pemberian ini. Bila Anda benar-benar ingin memberikannya kepada saya sebagai hadiah, tolong kembalikanlah kotak musik ini. Biarlah saya yang membelinya dengan keringat saya sendiri. Sesuatu yang berharga adalah sesuatu yang diperoleh dengan jerih payah. Tanpa mengurangi hormat saya pada Anda, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Fulvia.

Irving menatap Pedro.

“Apa yang harus saya lakukan?”

Irving termenung.

Pedro pun menanti perintah tuannya dengan setia.

Irving tidak mengerti. Ia tidak dapat memahami permainan apa yang tengah dimainkan oleh Fulvia. Bukankah ia sangat menginginkan kotak musik ini? Bukankah ia sengaja memberitahunya? Bukankah ia sengaja menunjukkan benda ini padanya?

Apa pun permainan yang sedang dimainkan Fulvia, Irving tidak akan terperangkap ke dalamnya. Ia tahu seribu satu permainan wanita untuk menjerat pria!

Fulvia salah besar bila ia mengira ia lebih pandai dari Irving. Irving lebih licik dan lebih berpengalaman dari Fulvia dalam hal ini!

“Berikan benda sial itu padaku,” akhirnya Irving berkata.

10

Fulvia duduk termenung di dalam kamarnya.

Setelah berhari-hari menghabiskan waktu di kota , kini tiba-tiba saja Fulvia merasa jenuh berada di dalam rumah.

Fulvia ingin sekali keluar tetapi ia tidak mempunyai tujuan.

Fulvia ingin sekali mencari seseorang untuk berbicara tetapi tidak ada seorang pun yang mempunyai waktu untuknya. Count pergi entah ke mana semenjak makan pagi. Davies pergi menemui Lady Margot. Dan Countess menyibukkan diri entah dengan urusan apa. Hari ini Trevor maupun Richie juga tidak muncul.

Tidak pernah sekali pun terlintas dalam benak Fulvia bahwa ia akan bosan berada di dalam rumah.

Berpikir ulang tentang kedua kakak sepupunya itu, Fulvia merasa kedatangan mereka ke Unsdrell tidaklah sia-sia. Mereka selalu saja mempunyai cara untuk membuatnya tidak jenuh.

Hari ini tentu saja mereka tidak datang. Mereka tentunya masih mengira hari ini pun ia pergi ke kota .

Fulvia menimang-nimang kantung uang pemberian Brent dan mendesah. Ia tidak dapat membeli kotak musik itu sekarang.

Irving telah membeli kotak musik itu untuknya namun Fulvia tidak dapat menerima pemberian itu. Kemarin malam Fulvia telah mengirimkannya kembali dan sekarang Fulvia hanya dapat berharap Irving segera mengembalikan kotak musik itu.

Fulvia ingin segera membawa pulang kotak musik itu.

“Aku mendengar kau sedang bermurung diri.”

Fulvia terkejut. Tangannya segera menyembunyikan kantung uang itu ke dalam saku gaunnya dan ia melihat Margot melangkah masuk kamarnya dengan senyumannya yang manis.

“Kau tidak keberatan aku langsung masuk tanpa seijinmu bukan?”

“Tidak,” kata Fulvia lalu ia bertanya, “Apa yang membuatmu kemari?”

“Davies. Ia mengatakan kau mungkin akan jenuh maka ia memboyongku pulang.”

Margot duduk di sisi Fulvia.

“Pria itu…,” keluh Margot, “Ia selalu saja memikirkanmu.” Margot menatap Fulvia lekat-lekat, “Aku iri padamu.”

Fulvia terperanjat. “Jangan berpikir terlalu banyak,” ujar Fulvia, “Kami adalah kakak adik. Aku tidak mungkin merebut Davies darimu. Selain itu, sudah menjadi sifatnya selalu mengkhawatirkanku.”

“Aku tahu,” Margot tersenyum, “Karena itu pulalah aku mencintainya.”

Fulvia lega.

“Katakan, Fulvia, apa yang membuatmu melamun.”

“Aku tidak sedang melamun.”

“Benarkah itu?” Margot tidak percaya, “Sesaat yang lalu aku begitu yakin kau tidak akan sadar walau di sampingmu ada bom meledak.”

“Sungguh,” Fulvia meyakinkan, “Aku hanya merasa bosan. Biasanya Trevor dan Richie datang menggangguku tetapi hari ini mereka tidak muncul dan itu membuatku merasa sangat jenuh.”

“Kau benar,” Margot menyadarinya, “Biasanya kedua kakak sepupumu itu selalu berada di sekitarmu. Ke mana mereka? Mengapa mereka tidak muncul?”

“Mungkin mereka tidak tahu hari ini aku ada di rumah.”

“Aku dapat memahaminya,” kata Margot lagi, “Davies mengatakan padaku hari ini kau tidak pergi keluar rumah. Irving tidak menjemputmu?”

Fulvia terperanjat. “Bagaimana kau tahu?”

“Tentu saja Davies,” Margot tersenyum penuh kemenangan.

Fulvia merasa bodoh. Tentu saja Davies telah mengatakan semuanya pada Margot.

Di awal Fulvia meminta bantuan Irving, ia tidak pernah memikirkan apa yang mungkin dikatakan orang lain tetapi semenjak Countess Kylie menyalahartikan sikap Irving padanya di hari Minggu yang lalu Fulvia mulai mencemaskan keputusannya yang lalu itu.

Sedikitpun Fulvia tidak pernah memikirkannya. Fulvia tidak pernah menduga mereka akan menjadi bahan pembicaraan.

Sekarang semuanya sudah terlambat.

Irving pasti tidak menyukai gosip baru ini.

“Hari ini kalian akan pergi ke mana?”

“Apakah kau pikir kakakmu itu akan mengajakku pergi?” Margot mengeluh. “Ia tidak pernah mengajakku pergi ke mana pun selain ke tempat ini.”

Fulvia tersenyum. Ia tahu Margot hanya bercanda.

“Aku lebih suka berpikir ia tidak tahu harus mengajakmu pergi ke mana,” hiburnya, “Dan Unsdrell adalah satu-satunya hal yang bisa dipikirkan olehnya.”

“Membawaku pulang kemudian meninggalkanku?” tanya Margot, “Kurasa tidak.”

“Davies pergi?” Fulvia tidak percaya.

“Ya, ia pergi meninggalkanku ke Osbesque. Sepertinya kaum pria keluarga kalian sedang berkumpul di Osbesque untuk membicarakan suatu masalah.”

Fulvia termenung. “Aku mendengar Lewis menginap di sana kemarin. Apakah ini berkaitan dengannya?”

“Aku tidak tahu. Davies tidak mengatakan apa-apa kepadaku.”

“Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk,” gumam Fulvia.

“Tidak akan,” Margot meyakinkan, “Davies pergi ke Osbesque dengan wajah gembira. Pasti tidak terjadi sesuatu yang buruk.”

Fulvia juga mengharapkannya.

“Katakan, Margot, bagaimana menurutmu kalau kita berbincang-bincang di Ruang Duduk sambil menikmati makanan kecil?”

“Aku sangat mendukung idemu itu,” kata Margot gembira.

Mereka meninggalkan kamar Fulvia.

“Biarlah kaum pria itu meributkan masalah mereka sendiri,” kata Margot bergurau, “Yang terpenting kita juga bisa menikmati waktu kita sendiri.”

Fulvia tertawa mendengarnya.

Margot benar-benar wanita yang menarik. Fulvia yakin Davies juga melihatnya demikian. Margot sangat memahami sifat kakaknya. Walaupun ia terdengar sering mengeluhkan sifat Davies itu, tetapi sesungguhnya ia hanya bercanda. Seperti yang sering dikatakan Margot padanya, sifat-sifat Davies itulah yang membuatnya tertarik.

Fulvia menyukai Margot. Ia yakin mereka dapat menjadi kakak adik yang akrab.

Dalam waktu singkat mereka telah duduk di dalam Ruang Duduk dengan teh di antara mereka dan makanan ringan lainnya.

“Mengapa aku tidak melihat Countess Kylie?” tanya Margot.

“Sejak pagi Mama sibuk. Entah apa yang disibukkannya. Mungkin ia mempunyai rencana minum teh bersama Bibi Yolanda dan Bibi Horace. Atau mungkin mereka tengah merencanakan liburan musim panas ini.”

“Keluarga kalian benar-benar akrab,” puji Margot, “Benar-benar membuat orang lain iri.”

“Ya,” Fulvia sependapat. “Mereka benar-benar akrab hingga orang lain percaya mereka adalah kakak adik bukan sepupu jauh.”

“Bagaimanakah hubungan keluarga kalian?” tanya Margot, “Selama ini aku hanya tahu kalian masih berhubungan kerabat tetapi aku tidak melihat kemiripan di antara kalian.”

“Aku juga tidak mengetahuinya dengan jelas,” jawab Fulvia, “Sejak aku lahir aku sudah tahu kami masih berkerabat.”

“Apakah kau tidak pernah menanyakannya?”

“Apakah itu penting?” Fulvia balas bertanya dengan polos, “Aku rasa kami tahu kami masih berhubungan kerabat sudah cukup. Untuk apa mengetahui lebih banyak?”

Margot tersenyum. Ia sudah banyak mendengar sifat Fulvia dari Davies. Fulvia adalah gadis seperti ini. Ia sangat memperhatikan orang lain tetapi ia tidak mau tahu terlalu banyak. Bagi Fulvia, tahu sudah cukup. Tidak perlu bertanya lebih banyak lagi. Mungkin sifat inilah yang membuatnya berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya yang selalu ingin tahu.

“Sudah kuduga kalian ada di sini.”

“Audrey!” Fulvia terperanjat melihat kakak sepupunya itu tiba-tiba muncul. “Mengapa kau ada di sini?”

“Mereka mengusirku,” jawab Audrey santai.

“Mengusirmu?” Margot bertanya heran, “Bukankah kaum pria keluarga kalian sedang membicarakan masalah kalian?”

“Benar. Mereka sedang membicarakan masalah kami,” Audrey duduk di kursi depan Fulvia, “Tetapi kaum pria keluarga kami itu tidak mau campur tangan wanita. Karena itulah Richie mengusirku ke sini untuk mengabarkan temuannya padamu, Fulvia. Tetapi aku tidak keberatan. Aku juga tidak mau ikut campur masalah Lewis.”

“Lewis?” Fulvia terperanjat, “Apakah terjadi sesuatu dengannya? Apakah kalian bertengkar lagi?”

Audrey tersenyum melihat kepanikan Fulvia itu.

“Tidak, Fulvia,” Audrey menenangkan gadis itu, “Tidak terjadi apa-apa dengan kami. Lewis hanya tiba-tiba saja mengusulkan untuk pulang ke Osbesque dan membicarakan masalah kami dengan orang tuaku.”

“Tidak ada yang perlu kaukhawatirkan,” Audrey cepat-cepat menambahkan melihat raut wajah Fulvia yang mulai berubah, “Lewis meminta bantuan orang tuaku untuk memulihkan keadaan Greenwalls dan usaha keluarganya. Sekarang para pria itu sedang sibuk membicarakan rencana mereka.”

Fulvia lega mendengarnya. “Aku senang Lewis sudah kembali seperti semula.”

“Aku juga sangat gembira,” kata Audrey, “Kemarin pagi ia benar-benar mengagetkanku ketika tiba-tiba berkata, ‘Audrey, kita pulang.’ Aku benar-benar senang ia sudah kembali seperti semula. Aku tahu hari ini akan datang.”

“Audrey, bukankah tadi kau mengatakan Richie memintamu mengabarkan temuannya pada Fulvia,” Margot mengingatkan, “Apakah itu?”

“Richie mengatakan ia mendengar ada Festival Topeng,” kata Audrey, “Ia berkata kau pasti akan tertarik.”

“Apakah kau akan pergi juga, Audrey?” tanya Fulvia menatap kakak sepupunya lekat-lekat, “Kau sudah lama tidak meninggalkan Greenwalls.”

“Tentu saja,” sahut Audrey, “Lewis bahkan berjanji untuk mengenakan topeng yang sesuai denganku.”

Fulvia tersenyum gembira.

“Aku berharap Davies juga akan mengajakku,” keluh Margot.

“Pasti, Davies,” kata Audrey, “Tadi aku mendengar Davies berkata kau pasti ingin pergi ke sana dan ia akan mengajakmu.”

“Benarkah itu?” Margot berseru gembira.

“Oh, ini benar-benar luar biasa,” Fulvia merasa hari ini benar-benar merupakan hari bahagianya, “Tidakkah kau dengar itu, Margot, Davies akan mengajakmu. Kita bisa pergi bersama-sama.”

“Kapankah festival itu diadakan?” Margot bertanya lebih lanjut, “Apakah minggu depan?”

“Masih dua bulan lagi. Tepatnya seminggu setelah pesta ulang tahun Duke of Wyndham.”

Jawaban Audrey itu membuat Margot kecewa.

“Jangan bersedih seperti itu, Margot,” Fulvia membesarkan hati wanita itu, “Dua bulan bukanlah waktu yang lama. Kau bisa mempersiapkan segalanya sebelum waktu itu. Aku pun juga harus mulai memikirkan apa yang harus aku kenakan. Pertama-tama aku harus berpikir dengan siapakah aku akan pergi. Audrey, kau pasti pergi dengan Lewis. Kemudian Margot dengan Davies. Tinggallah aku, Trevor dan Richie. Aku ingin pergi berduaan seperti kalian tetapi rasanya aku harus pergi bertiga lagi.”

“Kau bisa pergi dengan Irving,” Audrey mengusulkan.

“Itu tidak mungkin. Irving pasti sudah mempunyai janji dan ia belum tentu mau pergi ke sana .”

Pernyataan Fulvia itu membuat Audrey maupun Margot terperangah.

“Fulvia, apakah kau tidak mendengar kabar-kabar itu?” tanya Audrey keheranan. “Semua orang membicarakannya.”

Fulvia hanya menatap kakak sepupunya itu.

“Irving sudah berubah,” lanjut Margot, “Ia sudah tidak pernah lagi terlihat keluar bersama wanita mana pun. Ia juga tidak pernah berganti-ganti pasangan.”

“Sekarang ia sudah berubah menjadi seorang pria yang setia,” Audrey menegaskan.

“Benarkah itu?” Fulvia tidak percaya.

Audrey dan Margot saling berpandangan heran.

“Kau tidak tahu?” tanya Margot tidak percaya.

“Siapakah wanita itu?” Fulvia balik bertanya penuh ingin tahu. “Aku senang akhirnya Irving dapat berubah menjadi seorang pria yang setia.”

Sekali lagi dua wanita muda itu saling berpandangan bingung.

“Kau tidak tahu siapa wanita itu?”

“Kau tidak cemburu padanya?” Audrey menyelidiki.

“Cemburu?” Fulvia balik bertanya.

Fulvia terdiam.

“Mungkin,” katanya sambil tersenyum, “Tetapi aku sungguh berbahagia untuk wanita itu.”

Sekali lagi dua wanita muda itu saling berpandangan bingung.

“Kau tidak tahu siapa wanita itu?” Margot menyelidiki, “Bukankah kau pergi bersama Irving beberapa hari ini?”

Fulvia terperanjat. Semua orang tentu menduga mereka terus berduaan sepanjang hari dalam beberapa hari mendatang ini tetapi kenyatannya bukan seperti itu. Fulvia tidak tahu bagaimana menjelaskan ini dan ia hanya dapat memohon bantuan Audrey melalui tatapannya.

“Aku melihat Irving sangat memperhatikanmu,” Audrey tersenyum penuh arti, “Aku yakin ia mulai tertarik padamu.”

Seketika wajah Fulvia memerah. “Jangan menuduh yang tidak-tidak. Kami hanya teman. Hanya teman,” ia menegaskan.

“Aku tidak mendengarnya seperti ini,” desak Margot, “Aku telah mendengar semuanya dari Davies.”

“Apakah Mama memberitahu Davies?” Fulvia bertanya penuh waspada.

“Memberitahu apa?” Audrey dan Margot bertanya penuh ingin tahu.

“Tidak ada. Tidak ada,” Fulvia mengelak dengan panik.

Audrey mencurigai kepanikan Fulvia demikian pula Margot.

“Apakah kalian sedang membicarakanku?”

“Mama!” Fulvia terkejut melihat Countess Kylie muncul di pintu.

“Tidak, Bibi Kylie,” kata Audrey.

“Bagaimana mungkin kami membicarakan Anda?” tambah Margot.

“Kami sedang membicarakan Fulvia dan Irving,” Audrey tersenyum penuh arti sambil melirik Fulvia.

Fulvia merasa sedang dipojokkan.

“Berbicara tentang Irving,” kata Countess, “Ia datang mencarimu, Fulvia.”

Spontan Audrey dan Margot menatap Fulvia penuh ingin tahu.

“Mencariku?” Fulvia heran.

“Aku memintanya menantimu di Ruang Tamu.”

“Aku segera ke sana ,” Fulvia beranjak bangkit.

Kedua wanita itu memperhatikan Fulvia yang terburu-buru meninggalkan mereka.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Countess Kylie tertarik.

“Kami membicarakan kabar terbesar abad ini, Bibi,” jawab Audrey.

Margot tertawa mendengarnya.

Fulvia cepat-cepat menutup pintu. Ia tidak mau lagi mendengar pembicaraan yang menyudutkan dirinya itu.

Irving berdiri di Ruang Tamu dengan wajah tidak senangnya.

“Anda mencari saya, M’lord?” tanya Fulvia heran melihat raut wajah pria itu.

“Aku tidak bisa menerima tindakanmu ini!” kata Irving tegas.

Fulvia tidak mengerti.

“Aku tidak menerima penolakan,” Irving menyodorkan kotak merah pada Fulvia.

“Oh.”

“Bukan ‘oh’ yang ingin aku terima!”

Fulvia tersenyum lembut. “Seperti yang saya katakan, tanpa mengurangi hormat dan terima kasih saya pada Anda, saya tidak dapat menerima hadiah Anda.”

“Kau tidak mempunyai alasan menolaknya!” Irving bersikeras.

“Saya lebih tidak mempunyai alasan menerimanya,” dengan tenang Fulvia menjelaskan, “Saya tidak sedang berulang tahun. Saya tidak sedang dalam peringatan apa pun. Saya tidak patut menerimanya. Saya menghormati Anda sebagai teman saya dan saya sangat berterima kasih atas segala yang Anda lakukan untuk saya. Dan bila Anda berkenan, saya lebih ingin memberi sesuatu untuk Anda daripada menerima sesuatu dari Anda. Saya tahu tidak ada yang dapat membalas segala budi yang Anda lakukan untuk saya. Hanya sepatah kata ‘terima kasih’ yang dapat saya berikan untuk Anda saat ini.”

Irving terhenyak.

“Saya sungguh tersanjung oleh perhatian Anda pada saya, tetapi saya tidak dapat menerima cuma-cuma pemberian ini. Saya tidak akan menyangkal saya sangat menginginkan kotak musik ini lebih dari apa pun. Walau demikian, sungguh tidak lucu bila saya memberikan hadiah pemberian Anda kepada orang tua saya sebagai hadiah pernikahan.”

Entah mengapa Irving seperti kehabisan kata-katanya.

“Saya ingin memberi mereka sebuah hadiah yang saya peroleh dari hasil kerja keras saya. Saya ingin mereka tahu saya menghargai jerih payah mereka dalam membesarkan saya.”

“Mereka tidak menerima pengembalian kotak musik ini kecuali ia cacat atau rusak,” Irving berkata seolah memberitahu dirinya sendiri.

“Oh,” Fulvia terkejut.

“Aku juga tidak dapat menyimpannya,” Irving menatap Fulvia penuh harap.

“Bila demikian,” Fulvia berpikir cepat, “Maka yang bisa saya lakukan adalah membelinya dari Anda.”

Irving membelalak.

“Katakanlah Anda membantu saya membelinya karena Anda tahu kekhawatiran saya,” Fulvia melanjutkan tanpa memberi kesempatan pada Irving untuk berbicara.

“Saya tidak tahu berapa Anda membelinya,” Fulvia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kantung kecil. “Saya hanya menyiapkan uang sejumlah harga yang pernah saya tanyakan. Semoga saya tidak merugikan Anda.”

“Terima kasih,” Fulvia mengambil kotak itu dari tangan Irving dan memberikan kantung yang penuh berisi uang itu pada Irving. “Saya sungguh berterima kasih atas kebaikan Anda. Anda telah menyelamatkan kotak berharga ini dari pembeli lain dan mengantarkannya pada saya. Berkat Anda saya dapat menghemat waktu saya.”

Fulvia tersenyum gembira. Pipinya yang kemerahan tampak merona merah oleh kegembiraannya. Matanya yang keunguan tampak terharu.

“Tak perlu sungkan,” Irving tidak tahu harus berkata apa.

“Bila Anda tidak keberatan,” Fulvia masih tersenyum gembira, “Saya ingin segera menyembunyikan benda ini di kamar saya sebelum seorang pun dari keluarga saya melihatnya.”

Irving tertegun.

“Saya akan segera kembali setelah saya menyembunyikannya di tempat yang aman,” kata Fulvia lagi.

“Tidak perlu. Aku sudah tidak mempunyai kepentingan di sini. Aku akan segera kembali ke Nerryland.”

Fulvia kecewa menden garnya.

“Ijinkan saya mengantar kepulangan Anda,” Fulvia berkata sopan.

Irving tidak berkata apa-apa. Ia masih tetap berdiam diri ketika mereka telah sampai di depan Unsdrell.

“Terima kasih,” Fulvia mengulangi dengan penuh syukur, “Saya benar-benar berterima kasih atas semua kebaikan Anda selama ini. Saya berharap saya dapat membalasnya suatu hari nanti.”

“Tidak perlu sungkan,” Irving merasa aneh menden gar nada suaranya yang penuh kebingungan, ketakjuban dan entah perasaan apa lagi yang tercampur aduk dalam suaranya seperti dalam benaknya saat ini.

Fulvia tersenyum manis.

Irving tertegun melihat senyum yang mempercantik wajah oval gadis itu. Mata biru keunguannya terlihat semakin cerah dengan senyum yang tersembunyi di baliknya.

“Unsdrell akan selalu terbuka untuk Anda,” senyum manis Fulvia tidak menghilang.

“Aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi,” Irving mendapatkan kembali dirinya.

“Selamat jalan.”

Irving menatap gadis itu lekat-lekat. Tangannya terulur.

Jantung Fulvia berdebar-debar melihat pandangan mata yang memabukkan itu. Ia hanya pernah melihat sinar lembut dalam mata biru tua itu sekali.

“Selamat siang,” Irving menarik kembali tangannya dan ia bergegas masuk dalam kereta kudanya.

Fulvia tertegun. Kekecewaan merebak dari sisi terdalam hatinya dan ia mengawasi kepergian kereta kuda itu dengan hati hampa.

Teringat kotak di tangannya, Fulvia bergegas kembali ke kamarnya. Fulvia menyembunyikan kotak itu di bawah tempat tidurnya, tempat yang paling aman menurutnya dan pergi ke Ruang Duduk untuk menemui keluarganya.

Derai tawa mereka terdengar begitu keras ketika Fulvia berada di sekitar Ruang Duduk dan suara itu semakin keras ketika semakin dekat.

“Apa yang kalian bicarakan?” Fulvia bertanya penuh ingin tahu.

Tawa ketiganya berhenti. Mereka menatap Fulvia dengan heran.

“Kau sudah kembali?” tanya Audrey heran.

“Di mana Irving?” Margot tertarik.

“Ia sudah pulang,” jawab Fulvia sambil mendekat, “Ia masih mempunyai keperluan.”

“Apa yang dibicarakannya denganmu?” Margot terus bertanya.

“Tidak ada,” jawab Fulvia, “Ia tidak membicarakan apa pun denganku.”

“Benarkah itu?” Margot bergeser untuk semakin mendekatkan dirinya dengan Fulvia.

“Benar,” Fulvia bersikeras untuk tidak membicarakan hal itu.

“Jangan mendesaknya,” Countess membuat Fulvia merasa lega, “Aku yakin ia masih malu untuk mengatakannya pada kita.”

Perkataan Countess itu membuat Fulvia merasa salah tingkah.

Ketiganya menatap rona merah di pipi Fulvia dengan penuh ingin tahu.

Fulvia berpikir cepat untuk mengalihkan perhatian mereka.

“Apakah yang kalian bicarakan barusan?” Fulvia berpura-pura tidak menyadari tatapan mereka, “Tampaknya menarik sekali.”

“Kurasa saat ini memang percuma mendesaknya,” keluh Audrey.

Keluhan Audrey itu membuat Fulvia merasa semakin tidak nyaman. Sekarang ia tidak mempunyai alasan untuk meninggalkan tempat ini. Selain itu adalah hal yang sangat tidak sopan untuk meninggalkan mereka begitu saja.

“Kami sedang membicarakan Festival Topeng mendatang,” kata Countess.

Fulvia tertarik. “Apakah Mama juga akan pergi?”

“Mungkin,” Countess tersenyum dan menambahkan, “Bila ayahmu juga mau pergi.”

“Aku akan membujuk Papa,” Fulvia menawarkan diri, “Aku yakin Papa pasti mau mendengarku.”

“Aku juga yakin kau akan lebih berhasil daripada aku,” Countess tersenyum melihat semangat putrinya itu.

“Dan, Audrey,” Fulvia mengalihkan pandangan, “Apakah kau bisa membujuk Paman Meyer dan Bibi Horace?”

Audrey kebingungan.

“Pasti akan sangat menyenangkan sekali untuk pergi beramai-ramai ke sana,” Fulvia berkata penuh semangat, “Aku akan membujuk Paman Graham dan Bibi Yolanda." Lalu Fulvia melihat Margot. “Kau juga bisa mengajak orang tuamu,” katanya penuh semangat.

Margot tersenyum. “Kau juga bisa mengundang Irving.”

Wajah Fulvia langsung memerah.

Ketiga wanita itu tertawa.

Fulvia merasa hari ini ia tidak akan bisa melepaskan diri dari suasana yang memojokkan dirinya ini.

-----0-----

Irving menimang-nimang kantung uang. Pikirannya bercampur aduk dan hatinya galau. Bukan ini yang ia harapkan dari Fulvia. Bukan ini rencananya semula.

Beberapa saat lalu ia begitu yakin ia telah mengerti Fulvia. Fulvia tidak berbeda dari apa yang ada dalam pikirannya. Ia hanyalah seorang gadis ingusan yang mempunyai cara unik untuk mendapatkan keinginannya.

Beberapa saat lalu ia pergi menemui Fulvia untuk membuat gadis itu menjelaskan semua rencananya yang aneh ini.

Beberapa saat lalu ia ingin membuat gadis itu mengungkapkan semua rencana liciknya.

Dan sekarang gadis itu kembali menjungkirbalikkan pikirannya.

Irving tidak mengerti. Bahasa dalam buku yang terbuka lebar itu masih sulit dimengerti olehnya. Ia dapat membaca tulisan itu tetapi ia tidak dapat mengerti bahasa yang digunakannya. Ia tidak dapat menangkap isi buku itu.

Irving meremas kantung itu. “Sial!” tangannya bergerak melempar benda itu.

Senyum manis Fulvia merekah.

Tangan Irving terhenti.

“Aku tidak mengerti gadis ingusan itu,” geramnya. Irving membuka laci meja bacanya dan melempar kantung itu ke dalamnya.

11

Fulvia termenung.

Ia sudah tahu ia akan sedih setelah semua ini berakhir tetapi ia tidak pernah menyangka ia akan sesedih ini.

Fulvia merindukan saat-saat Irving datang menjemputnya. Fulvia ingin sekali kembali ke masa-masa itu. Waktu kebersamaan mereka tidaklah panjang dan tidaklah dipenuhi perbincangan tetapi itu sudah cukup membuat Fulvia gembira.

Kadang Fulvia menyesal mengapa dulu ia tidak banyak bertanya pada Irving mengenai dirinya. Andai saja ia mengetahui lebih banyak tentang pria itu, Fulvia mungkin dapat menggunakannya sebagai alasan untuk menemuinya.

Kadang Fulvia berpikir untuk meminta Trevor dan Richie menemaninya mencari Irving. Mereka adalah teman. Dan seorang teman tidak perlu mencari alasan untuk bertemu. Tetapi Fulvia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keinginannya pada kedua kakak sepupunya itu.

Di sisi lain, Fulvia yakin Davies tidak akan membiarkannya mencari Irving. Sikap Davies setiap kali Irving datang sudah menjelaskan ketidaksukaannya pada Irving.

Countess Kylie tentu tidak keberatan dengan keinginannya dan Count Clarck pasti tidak akan melarangnya. Count Clarck hanya akan memperingatinya untuk hati-hati.

Sekarang kedatangan Trevor dan Richie terasa bagaikan angin lalu. Fulvia sudah tidak terlalu berminat untuk menghadapi kedua sepupunya itu. Ia tidak terlalu mempunyai semangat untuk mengikuti ajakan mereka.

Hati dan pikiran Fulvia tercurah sepenuhnya pada kenangan-kenangan singkat bersama Irving. Minatnya terarah pada keinginan untuk bertemu Irving.

Fulvia merasa ia benar-benar telah jatuh cinta pada Irving.

Fulvia mengharapkan pertemuan dengan Irving lagi tetapi itu tidak mungkin. Irving sekarang mungkin telah berada dalam pelukan wanita yang konon telah menundukkannya itu. Irving sekarang mungkin sedang bersama wanita itu menikmati waktu-waktu kebersamaan mereka.

Fulvia iri pada wanita itu. Ia berharap ialah wanita yang beruntung itu.

Fulvia mendesah panjang.

Ini hanyalah mimpi. Irving tidak mungkin jatuh cinta pada seorang gadis ingusan sepertinya.

Fulvia mendesah lagi.

Ada apa, Fulvia?” tanya Richie cemas. “Kulihat kau terus mendesah hari ini.”

“Tidak ada apa-apa,” Fulvia mengelak kemudian ia segera mengalihkan perhatian mereka, “Ke mana kita akan pergi hari ini?”

“Bagaimana kalau kita ke kota ?” Richie mengusulkan.

“Tidak. Kita tidak akan ke mana-mana,” Trevor tidak sependapat.

“Apa maksudmu?” Richie tidak dapat menerima pendapat Trevor.

“Fulvia sudah lama tidak berdiam diri di rumah. Fulvia pasti sudah merindukan masa-masa tenang di dalam tempat ini,” Trevor menjelaskan dengan sengit. “Ia pasti ingin berkumpul dengan keluarganya.”

“Apa kau ingin berkata aku ingin menculik Fulvia?”

Fulvia mendesah. Inilah kakak-kakak sepupunya.

Desahan itu terdengar oleh kedua sepupu itu dan spontan mereka menatap Fulvia lekat-lekat.

Tatapan mereka membuat Fulvia terkejut.

“Bagaimana kalau kita ke gunung?” Fulvia mengusulkan.

“Gunung?” keduanya bertanya heran.

“Kalian tahu, aku merasa seperti berada di puncak dunia ketika berdiri di atas tebing tinggi,” Fulvia menjelaskan dengan penuh semangat, “Dari sana aku bisa melihat rumah-rumah kecil penduduk yang dikeliingi pegunungan tinggi. Aku bisa melihat hamparan hijau pepohonan. Aku juga bisa melihat laut di kejauhan.”

“Tidak!” Trevor dan Richie berseru serempak.

Fulvia terkejut.

“Gunung adalah tempat yang sangat berbahaya,” kata Trevor tegas.

“Apa yang akan terjadi bila kau tersesat di sana ?” timpal Richie.

Fulvia mendesah panjang. Ternyata memang hanya Irving yang bisa menjaganya tanpa mengekangnya.

“Kau mendesah lagi,” keluh Trevor.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” tanya Richie pula.

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” Fulvia memeluk lengan keduanya, “Jadi, ke mana kita akan pergi?”

Di saat Fulvia terus membuat kedua kakak sepupunya khawatir dengan desahannya yang tidak berujung itu, beberapa mil dari tempat itu Irving mengurung dirinya di Ruang Baca.

Tidak ada yang dilakukannya selama berhari-hari ini selain mengurung diri dan membaca. Tindakannya itu tentu saja membuat Duke yang tidak pernah menyukai petualangan-petualangan cintanya, gembira. Tetapi di sisi lain Duke juga mulai mencemaskan suasana hati putra tunggalnya itu.

Duke tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungannya dengan Irving tidaklah akrab. Bahkan dapat dikatakan mereka hampir seperti orang asing satu sama lain.

Duke tahu Irving menyalahkan dirinya atas kepergian ibunya. Irving terus menyalahkannya atas peristiwa yang terjadi tujuh belas tahun lalu ia. Duke pun sependapat dengannya. Ialah yang harus disalahkan sehingga istrinya kabur bersama kekasih gelapnya, Nelson.

Semua tahu Duke sangat mencintai istrinya tetapi semua juga tahu Duke gila judi. Itulah yang dilakukannya setiap hari hingga ia sering mengabaikan istrinya. Sikapnya inilah yang membuat Duchess dengan mudah jatuh dalam pelukan pria lain.

Apapun yang terjadi, Duke percaya putranya dapat mengatasinya. Duke percaya padanya.

Bila Duke memilih untuk membiarkan Irving, maka tidak demikian halnya dengan Clementine, sepupu Irving yang cantik itu.

Clementine telah mengenal Irving jauh sebelum Irving terkenal. Clementine telah jatuh cinta pada Irving jauh sebelum wanita-wanita itu. Mereka telah tumbuh besar bersama. Clementine tahu Irving tidak akan pernah menolaknya. Irving juga tidak akan pernah memberikan bunga mawar merah padanya karena mereka tidaklah terpisahkan. Inilah kelebihannya dibandingkan wanita-wanita itu tetapi ini jugalah kekurangannya. Clementine tidak akan pernah mendapatkan Irving karena mereka adalah sepupu!

“Apa yang kaulakukan hari ini?” Clementine melingkarkan tangan di leher Irving yang sedang duduk membaca buku.

“Apa maumu?” Irving bertanya kesal.

Clementine duduk di sisi Irving. “Aku mendengar kau tidak pernah keluar rumah lagi akhir-akhir ini,” ia menatap Irving penuh ingin tahu, “Apakah penggemar-penggemarmu itu telah meninggalkanmu?”

Irving mengacuhkannya. Ia terus membaca bukunya seolah-olah tidak ada gangguan dari wanita itu.

“Apa yang terjadi padamu? Kau seperti bukan Irving yang kukenal lagi,” Clementine mengeluh, “Apakah kau putus cinta?”

“Jangan ganggu aku,” Irving berkata tajam. Ia sedang tidak dalam suasana hati untuk meladeni Clementine.

Irving sudah tidak pernah keluar rumah lagi semenjak pertemuan terakhirnya dengan Fulvia. Ia juga tidak pernah menemui gadis itu lagi walau ia ingin bertemu dengannya lagi. Irving tahu ia tidak bisa. Ia tidak mempunyai alasan untuk menemui gadis itu dan gadis itu belum tentu mau menemuinya.

Irving sudah mencoba untuk kembali pada kebiasaan lamanya sebelum ia bertemu Fulvia tetapi ia tidak bisa. Ia tidak memiliki keinginan untuk bertemu dengan wanita lain selain Fulvia.

Fulvia telah membuat Irving merasa semua wanita di dunia ini sangat membosankan kecuali dirinya. Semua wanita terasa seperti buku yang terbuka bagi Irving tak terkecuali Fulvia. Hanya saja tulisan dalam buku Fulvia sangatlah tidak mudah dimengerti. Selalu dan selalu ada yang membuat Irving merasa tidak pernah bosan bersama gadis itu.

Irving tidak pernah menyadarinya ketika ia masih bertemu Fulvia setiap harinya. Dan kini setelah beberapa hari tidak bertemu dengannya, Irving sadar ia mulai terpikat pada gadis itu.

Entah kapan ia mulai tertarik padanya. Entah kapan Fulvia mulai menjerat hatinya. Irving tidak pernah tahu. Semua ini hanya terjadi begitu saja dalam pertemuan mereka yang sering namun singkat dan tanpa banyak pembicaraan itu.

Pepatah kuno itu benar. Kadang kita terlalu dekat untuk menyadari perasaan kita.

“Ayolah, Irving,” Clementine berkata manja, “Jangan bersedih hati seperti itu hanya karena seorang wanita. Aku bisa menggantikan kedudukannya.”

“Kau sudah gila.”

Clementine bertopang dagu. “Ya, aku sudah gila karena kau. Sungguh sayang sekali kita adalah sepupu. Bila tidak, maka aku akan meminta Papa menikahkanku denganmu.”

Mata Irving langsung bersinar tajam. “Jangan bermimpi. Aku tidak akan pernah tertarik untuk menikah terutama denganmu.”

“Itulah salah satu alasan kau mematahkan sekian banyak hati para wanita,” keluh Clementine.

“Aku tidak ingin mendengar ceramahmu,” Irving menjauhi Clementine.

“Irving,” Clementine mengekor Irving, “Temani aku,” ia menarik tangan Irving.

“Aku tidak ingin pergi.”

“Ayolah,” desak Clementine dengan manja, “Sepanjang hari kau terus mengurung diri membaca buku. Apakah kau tidak bosan? Temanilah aku sebentar.”

Irving benar-benar tidak menikmati gangguan ini dan ia berseru, “Jangan ganggu aku!”

Clementine terdiam. Seruan penuh kemarahan itu telah menjelaskan padanya suasana hati Irving saat ini. Clementine tahu Irving benar-benar marah kali ini dan ia akan ada dalam masalah bila ia terus mengusik pria ini.

Clementine memperhatikan Irving yang meninggalkan Ruang Baca dengan suasana hatinya yang masih dipenuhi kemarahan itu.

Irving boleh tidak mengakuinya tetapi seisi dunia tahu pria itu telah berubah.

Clementine ingin tahu apakah yang membuat Irving berubah. Atau mungkin tepatnya, siapa?

-----0-----

“Dia tidak datang lagi?” tanya Countess ingin tahu.

“Dia?” Fulvia kebingungan.

“Irving,” Countess Kylie menjelaskan, “Mengapa Irving tidak datang menjemputmu lagi?”

Fulvia terperanjat. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini pada keluarganya tanpa membuat mereka mengetahui rahasianya.

“Irving sibuk,” Fulvia mengatakan apa yang terlintas dalam pikirannya.

Countess tampak tidak dapat menerima jawaban yang diucapkan dengan kepanikan itu.

“Bagaimana kalian akan merayakan pesta pernikahan kalian besok lusa?” Fulvia cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.

“Aku belum memikirkannya,” kata Countess, “Apakah kau mempunyai ide, Clarck?”

“Aku tidak tahu,” jawab Count Clarck.

“Bagaimana kalau kita mengundang semua orang ke sini?” Fulvia mengusulkan, “Pasti akan menyenangkan sekali dapat makan bersama-sama mereka semua. Lewis juga pasti akan datang kali ini, bukan? Rasanya sudah lama sekali kita tidak makan bersama-sama.”

“Aku sependapat,” sahut Countess senang, “Kita juga mengundang Irving.”

“Irving?” Fulvia terkejut.

“Mengapa!? Apakah kita harus mengundangnya?” Davies tidak dapat menerima usulan Countess.

“Kurasa tidak ada salahnya mengundang Irving,” kata Countess santai, “Lagipula ia akan menjadi bagian keluarga kita.”

Wajah Fulvia langsung memerah. “Tidak ada cerita seperti itu Mama,” Fulvia mengelak.

Mata Davies melotot lebar.

“Kita juga bisa mengundang Margot,” Countess benar-benar tidak mempedulikan keberatan putranya. “Ia juga akan segera menjadi bagian keluarga kita,” Countess tersenyum penuh arti.

Wajah Davies bersemu.

Fulvia tersenyum melihatnya. “Kau senang, bukan?” Fulvia menggoda kakaknya, “Kalau kau tidak berani mengundangnya, aku akan membantumu.”

“Jangan usil!” Davies tidak menyukai godaan itu, “Urusi saja masalahmu sendiri.”

“Masalahku?” Fulvia tidak mengerti.

“Bagaimana?” Davies balas menggoda Fulvia, “Apakah aku perlu membantumu mengundang Irving?”

Fulvia terperanjat. Ia benar-benar melupakan usul ibunya itu.

“T-tidak,” Fulvia cepat-cepat mengelak, “Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Semua sudah diputuskan,” Countess berkata gembira.

Keduanya terdiam. Mereka memperhatikan Countess yang benar-benar larut dalam kegembiraannya itu.

Fulvia termenung. Ia tidak tahu bagaimana mengundang Irving. Ia tidak yakin Irving akan bersedia datang. Ia tidak yakin Irving akan menyukai pertemuan keluarga ini.

Selama ini Irving tidak pernah menolak menemaninya ke Greenwalls. Ia juga tidak pernah tampak keberatan ketika ia harus berdiam diri di sana sementara Fulvia bercakap-cakap dengan Audrey.

Tetapi kali ini lain. Fulvia tidak tahu bagaimana tanggapan Irving atas undangannya ini. Fulvia juga tidak tahu bagaimana ia harus mengundang pria itu.

Bila Fulvia bisa, ia ingin sekali mengundang Brent, Jehona beserta kedua putranya. Tentu saja Fulvia tidak bisa. Ia pasti akan kewalahan menjelaskan pada keluarganya bagaimana ia bisa mengenal mereka dan mengapa ia mengundang mereka.

Fulvia berpikir keras. Bagaimanakah ia harus mengundang Irving? Bagaimana ia harus membawa seorang pria asing dalam pertemuan keluarganya tanpa membuat setiap orang mencurigai mereka?

Fulvia pusing.

Sepanjang malam ia terus memikirkannya.

Terpikir oleh Fulvia untuk membohongi keluarganya dengan mengatakan Irving tidak mempunyai waktu. Fulvia yakin tidak akan ada yang tahu kebohongannya ini. Orang tuanya tentu dapat menerima alasan ini.

Sayangnya, pikiran itu telah terbaca oleh Davies.

“Ada apa, Fulvia?” tanya Davies ketika mereka berkumpul untuk makan pagi, “Apakah kau sedang mencari cara untuk menghindari Irving? Jangan katakan padaku kau berencana membohongi kami dengan mengatakan Irving sibuk atau semacamnya.”

Fulvia terperanjat. “Tidak ada hal semacam itu.”

“Benarkah?” Davies curiga.

“Benar,” Fulvia meyakinkan, “Aku hanya sedang berpikir bagaimana mengundang Irving.”

“Apakah aku perlu membantumu?” cemooh Davies.

“Tidak perlu!” sahut Fulvia, “Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Apakah aku perlu mengantarmu ke Nerryland?” Davies tersenyum licik, “Aku harus memastikan kau pergi ke sana hari ini.”

“Jangan usil!” Fulvia tidak menyukai cara Davies menggodanya, “Kau juga perlu memikirkan cara mengundang Margot.”

“Aku sudah memikirkannya,” Davies berkata ringan, “Pagi ini aku berencana menemuinya. Aku bisa mengantarmu ke Nerryland sebelum menemui Margot.”

“Itu adalah ide bagus,” kata Countess menyetujui. “Segeralah kalian menemui mereka.”

“Kau dengar itu?” Davies berkata puas.

Fulvia tidak menyukai ini. Ia jauh lebih tidak menyukai saat-saat Davies mencemooh kedatangan Irving.

Tiba-tiba saja Fulvia menyadarinya. Sepertinya Davies sudah tidak terlalu mempermasalahkan hubungannya dengan Irving!

“Davies,” Fulvia menatap kakaknya lekat-lekat, “Kau sudah tidak membenci Irving?”

Davies terperanjat. “Siapa yang mengatakannya!?” Davies bertanya kesal, “Aku membencinya. Aku sangat membenci pria seperti itu.”

Fulvia tertegun.

Davies memperhatikan Fulvia. Tiba-tiba ia khawatir Fulvia akan membencinya karenanya.

“Beberapa saat lalu aku merasa kau mulai menyukai Irving,” gumam Fulvia, “Kau bahkan seperti mendesak aku untuk segera mempunyai hubungan serius dengan Irving.”

“Siapa yang mengatakannya!?” Davies marah, “Aku tidak akan membiarkan pria berbahaya seperti itu berada di dekatmu! Aku tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian! Pria semacam itu hanya akan membuatmu terluka.”

Fulvia menatap Davies.

Davies tersekat. Ia mengkhawatirkan tindakan Fulvia berikutnya. Ia tidak siap untuk mendengar adik yang paling dicintainya itu berkata, ‘Aku membencimu.’ Ia tidak akan pernah pernah siap!

“Sepertinya kau sudah mulai tertular Trevor dan Richie,” Fulvia tersenyum geli.

Davies terkejut. Apakah yang diketahui Fulvia tentang pertengkaran keduanya untuk memperebutkan dirinya?

“Tetapi aku akan lebih kaget kalau mendengar mereka yang mengatakan hal itu.”

Davies memperhatikan Fulvia. Fulvia bukanlah gadis yang bisa diremehkan. Ia adalah gadis yang pandai. Davies merasa ia tidak akan terkejut bila suatu ketika nanti Fulvia berkata, ‘Aku tahu mereka selalu bertengkar memperebutkanku.’

“Sudah. Sudah,” Countess menghentikan gurauan di antara keduanya, “Sebaiknya kalian segera menghabiskan sarapan kalian dan berangkat.”

“Baik,” kata keduanya dan mereka segera menghabiskan sarapan mereka tanpa gurauan lagi.

Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap.

Ketika Fulvia tiba di luar, kereta keluarga Silverschatz menantinya tak jauh dari Davies yang duduk di punggung kudanya.

“Kau tidak naik kereta?” Fulvia bertanya heran.

“Aku akan pergi sendiri,” jawab Davies, “Biarlah mereka yang mengantarmu ke Nerryland.” Lalu ia menambahkan dengan senyum nakalnya, “Aku yakin kau tidak akan lari.”

Fulvia ingin sekali membantah kakaknya tetapi Davies telah memacu kudanya dan berkata, “Selamat tinggal.”

Fulvia pun memberitahukan tujuannya pada kusir kuda dan sesaat kemudian mereka telah meluncur ke Nerryland.

Ketika Fulvia berdiri di depan bangunan Nerryland Palace yang megah, Fulvia menjadi ragu. Dan ketika ia menanti seseorang membukakan pintu untuknya, kecemasannya kian menjadi-jadi.

Apakah Irving ada di rumah? Apakah Irving bersedia menemuinya? Apakah Irving tidak mempunyai tamu lain?

Seorang pelayan muda akhirnya muncul di depan Fulvia.

“Saya mencari Irving,” kata Fulvia begitu melihat pelayan itu.

“Apakah Anda mempunyai janji dengan Tuan Muda?” tanya pelayan itu.

“Tidak,” jawab Fulvia lalu dengan was-was ia bertanya, “Apakah aku harus membuat perjanjian dulu sebelum bertemu Irving?”

“Beberapa hari ini Tuan Muda tidak ingin diganggu siapa pun. Ia juga menolak menerima tamu yang datang tanpa janji terlebih dahulu.”

Fulvia sedih.

Pria muda itu tertegun melihat kesedihan Fulvia.

“Saya tidak yakin Tuan Muda akan bersedia menerima Anda,” pelayan itu membesarkan hati Fulvia, “Tetapi saya akan mencobanya. Saya akan memberitahu kedatangan Anda pada Tuan Muda.”

“Terima kasih,” Fulvia tidak terlalu berharap untuk dapat bertemu Irving.

“Dapatkah Anda memberitahu identitas Anda pada saya?”

Fulvia mengangguk. “Saya adalah putri Count of Silverschatz.”

“Masuklah ke dalam, M’lady,” pelayan itu mempersilakan Fulvia masuk, “Saya akan segera melaporkan kedatangan Anda pada Tuan Muda.”

Fulvia mengangguk. Ia tidak berharap terlalu banyak untuk dapat bertemu Irving.

Pelayan itu bergegas menuju Ruang Baca tempat Irving mengurung dirinya akhir-akhir ini.

Ada apa?” Irving bertanya tidak senang melihat kedatangan pelayan yang menurutnya telah menganggu ketenangannya itu.

“Putri Count of Silverschatz ingin bertemu dengan Anda, Tuan Muda.”

‘Fulvia!’ benak Irving menyadarinya.

“Apa keperluannya?”

“Saya tidak tahu, Tuan Muda. Ia tidak mengatakan tujuannya pada saya.”

“Di mana dia?” Irving berdiri.

“Ia menanti Anda di pintu masuk.”

Irving tidak bertanya dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung beranjak untuk menemui Fulvia, gadis yang terus menghantuinya itu.

Fulvia menunduk menatap permukaan lantai yang bersih. Tangannya mempermainkan topinya dengan gusar. Ia tampa k begitu gelisah. Sebentar ia menatap ke dalam Nerryland dan sebentar kemudian ia menatap kereta kuda yang menantinya di luar.

Fulvia ragu. Haruskah ia terus menanti ketika ia yakin Irving tidak akan menemuinya? Mengapa Irving harus menemuinya? Mereka sudah tidak mempunyai hubungan lagi.

Langkah-langkah berat yang mendekat dengan cepat menarik perhatian Fulvia.

Fulvia tertegun melihat Irving berjalan mendekat dengan tidak sabar.

“Maaf telah membuatmu menunggu.”

Fulvia tidak dapat mengungkapkan kegembiraannya menden gar suara berat yang dirindukannya itu.

Irving merasakan sebuah kepuasan melihat gadis itu. Ia tidak pernah mempunyai perasaan ingin bertemu seseorang yang begitu mendalam seperti ini. Ia tidak pernah mempunyai perasaan ini terhadap wanita mana pun.

“Mari kita berbicara di dalam,” Irving mengundang.

Saat ini Fulvia juga ingin berbicara panjang lebar dengan pria itu. Itulah yang yang paling diinginkannya di dunia ini detik ini.

“Saya tidak dapat berlama-lama di sini,” kata Fulvia sedih, “Saat ini Trevor maupun Richie pasti sudah tiba di Unsdrell.”

Perasaan asing muncul di benak Irving menden gar Fulvia menyebut nama kedua pria yang terus memperebutkan Fulvia itu.

“Saya datang untuk menyampaikan undangan ibu saya,” Fulvia menjelaskan tujuannya, “Besok kami akan mengadakan acara makan malam bersama untuk merayakan ulang tahun pernikahan oran g tua saya.”

Irving tertegun.

“Ini adalah acara makan malam biasa antar keluarga kami,” Fulvia cepat-cepat menambahkan, “Saya tidak memaksa Anda untuk datang. Saya bisa mengerti andai Anda tidak bisa datang.”

“Pukul berapa?”

Fulvia terkejut.

12

Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan Fulvia. Dua puluh tujuh tahun yang lalu pada hari yang sama kedua orang tuanya mengikat janji.

Tetapi bukan itulah yang sangat dinanti-nantikan Fulvia.

Semua orang dalam keluarga Silverschatz tahu apa yang dinanti-nantikan gadis itu atau tepatnya siapa.

Pagi ini setelah menyelesaikan makan paginya, Fulvia memberikan hadiah pilihannya kepada orang tuanya.

Seperti tebakan Fulvia, Countess Kylie sangat gembira menerima hadiah itu dan ia terus mendengarkan musiknya yang lembut itu di dalam kamarnya.

Fulvia gembira karenanya.

Sejak siang ini seluruh pelayan Silverschatz sibuk menyiapkan pesta kecil untuk merayakan ulang tahun pernikahan Count dan Countess. Tidak ada sesuatu yang perlu disiapkan khusus untuk pesta ini selain makanan yang lebih bervariasi dan porsi yang lebih besar, tentunya.

Tidak seperti biasanya, hari ini akan ada empat belas orang yang berkumpul di Silverschatz untuk makan malam bersama.

Sore hari ketika matahari mulai condong di barat, Davies pergi untuk menjemput Margot.

Count dan Countess tampak seperti biasa. Sementara itu Fulvia sudah tidak sabar menantikan kehadiran seseorang.

Begitu Davies pergi, Fulvia juga segera berdandan dan menanti di pintu masuk.

Keluarga Garfinkelnn yang datang pertama kali keheranan melihatnya berdiri di sana.

“Kau menantiku?” tanya Trevor.

“Tidak,” jawab Fulvia lalu ia bertanya, “Di mana Audrey?”

“Ia akan datang bersama Lewis,” jawab Countess Horace, “Aku percaya tak lama lagi mereka akan muncul.”

“Aku senang mendengarnya,” Fulvia tersenyum gembira, “Mama dan Papa telah menanti kalian di Ruang Makan.”

“Mereka telah bersiap di sana?” tanya Count Meyer heran.

“Mama ingin makan malam ini segera dimulai begitu tamu-tamunya lengkap,” kata Fulvia menerangkan, “Dan Mama pikir akan lebih menyenangkan berbicara dengan perut kenyang.”

Countess Horace tertawa, “Aku mengerti.”

“Tampaknya mereka ingin kita segera bergabung dengan mereka,” Count Meyer tersenyum.

“Aku akan menemanimu di sini, Fulvia,” sahut Trevor.

“Tidak perlu, Trevor. Aku akan mendapat masalah bila membiarkan tamu Mama ikut menanti di pintu masuk.”

“Hari ini Fulvia bertugas menyambut tamu,” kata Count, “Kau ikut kami memberi selamat pada tuan rumah.”

Trevor pun mengikuti mereka tanpa bantahan.

Fulvia tersenyum melihat kepergian keluarga Garfinkelnn.

Sesaat kemudian sebuah kereta yang dikenali Fulvia dengan baik berhenti di depannya.

“Selamat datang,” Fulvia menyambut pria yang baru turun dari dalam kereta itu, “Saya telah menanti kedatangan Anda.”

“Aku berharap aku tidak terlambat,” kata Irving.

“Tidak,” Fulvia tersenyum, “Anda adalah tamu kedua.”

“Aku datang sepagi itu?”

Fulvia hanya tersenyum. Ia membawa Irving memasuki Unsdrell.

Sekali lagi terdengar roda-roda kereta mendekat. Ketika Fulvia membalikkan badannya, ia melihat Lewis tengah membantu Audrey turun dari dalam kereta.

“Irving?” Audrey berdiri di depan kereta dengan heran, “Kau juga datang?”

“Kuharap kita belum terlambat,” kata Lewis pula.

“Lewis!” Fulvia berseru gembira, “Kau juga datang.” Fulvia mendekati mereka.

Irving mencengkal tangan Fulvia.

Fulvia keheranan melihat raut tidak senang Irving.

Audrey juga menyadarinya. “Sebaiknya kita segera memberi selamat pada Paman dan Bibi,” katanya sambil menggandeng suaminya masuk.

“Benar,” Lewis juga menyadari rasa tidak suka Irving padanya, “Aku lihat tamu kalian sudah tiba semua.”

“Belum,” Fulvia membenarkan, “Richie dan orang tuanya belum datang.”

“Keluarga Ousterhouwl belum muncul?” Lewis bertanya heran.

Audrey tertawa kecil. “Aku takkan heran bila lagi-lagi Countess Yolanda membuat mereka terlambat.”

“Kalian masih di sini?”

Mereka terkejut.

“Aku kira kalian sudah berkumpul di Ruang Makan,” Davies melangkah masuk diiringi Margot.

Mata Davies menangkap sosok Irving di sisi Fulvia. Ia menatap tajam jari jemari Irving yang melingkari pergelangan tangan kanan Fulvia itu.

“Anda juga datang?” Margot bertanya heran lalu ia melihat Davies dan menuduhnya, “Kau tidak memberitahuku.”

“Untuk apa?” tanya Davies.

Fulvia tahu ia harus segera bertindak. “Mengapa kita tidak masuk bersama-sama?” katanya mengusulkan, “Mama pasti senang melihat kedatangan kita semua.”

“Aku yakin ia akan lebih senang andai Earl of Ousterhouwl sekeluarga muncul bersama-sama kita,” timpal Lewis.

“Mereka belum datang?” Davies bertanya heran, “Kupikir Richie tidak mau kedahuluan…”

“Di mana Countess Kylie?” Margot memotong lalu ia melirik tajam Davies.

Davies tidak menyukainya.

“Mama telah menanti kita di Ruang Makan,” jawab Fulvia.

Audrey yang juga menyadari arti tindakan Margot segera menyahut, “Mari kita bergegas ke sana. Bibi Kylie pasti sudah tidak sabar menanti kita.”

“Benar,” Margot merangkul tangan Davies dan menariknya masuk.

Audrey juga segera mengikutinya sambil menggandeng Lewis.

Tinggallah Fulvia kebingungan melihat tingkah Margot dan Audrey.

“Sebaiknya kita tidak membuang waktu,” Fulvia menatap Irving.

“Tentu,” Irving mengapit tangan Fulvia di sikunya dan saat itulah Fulvia menyadari Irving masih memegang tangannya.

Belum lama Fulvia memasuki Ruang Makan bersama Irving, Richie muncul dengan wajah kesalnya.

“Akhirnya kau datang juga,” Trevor berkata setengah mengejek.

“Mama membuat kami terlambat,” Richie menyalahkan ibunya yang muncul beberapa saat kemudian.

Richie melihat kursi di depan Trevor yang kosong dan tanpa banyak bicara ia duduk di sana.

Begitu setiap orang duduk di tempat mereka masing-masing, Countess Kylie meminta pelayan untuk mengantarkan makan malam mereka.

“Akhirnya kita bisa berkumpul bersama-sama,” Fulvia tersenyum gembira melihat keluarganya yang telah berkumpul bersama di Ruang Makan.

Belum pernah ia melihat Ruang Makan Silverschatz sepenuh ini. Tidak semenjak setahun lalu. Dan kali ini meja makan lebih penuh karena bertambahnya dua orang, Margot dan Irving.

Mereka duduk berhadap-hadapan. Di sisi kanan meja makan yang panjang itulah keluarga Silverschatz duduk. Dimulai dari Count Clarck, Countess Kylie, Davies dan Margot kemudian Fulvia dan Irving. Dan yang terakhir adalah Trevor. Di sisi kiri, Earl of Ousterhouwl duduk didampingi istrinya. Demikian pula Count of Garfinkelnn dan Lewis. Dan sebagai penutupnya adalah Richie.

Fulvia tidak tahu mengapa mereka duduk berpasang-pasangan seperti ini tetapi beginilah mereka mengambil posisi beberapa saat lalu. Ini hanya terjadi begitu saja tanpa ada yang mengatur.

“Benar,” Countess Horace sependapat. “Pertemuan keluarga kita kali ini lebih ramai dari yang sebelumnya.” Countess Horace melihat Margot yang duduk di sisi Davies sambil tersenyum kemudian pada Irving.

“Aku bisa memahami kedatangan Margot, tetapi Irving?” Countess Yolanda bertanya-tanya.

“Ya,” Earl Graham sependapat, “Aku tidak menduga Irving juga akan datang.”

Fulvia sudah tahu mereka pasti akan mempertanyakan keberadaan Irving dan ia hanya mempunyai satu jawaban,

“Mama yang mengundangnya.”

“Benarkah itu, Kylie?” tanya Countess Yolanda tertarik.

“Aku melakukannya demi Fulvia.”

Fulvia terperanjat.

“Aku melihat hubungan mereka mulai mendekat akhir-akhir ini.”

“Tidak,” Fulvia cepat-cepat membantah, “Mama salah sangka. Kami hanya teman biasa.”

“Benarkah itu?” Countess Kylie menyelidiki, “Bukankah kalian telah menghabiskan waktu bersama-sama selama ini?”

“Apa maksudnya?” tanya Countess Yolanda tertarik.

“Fulvia pergi bersama Irving selama beberapa hari terakhir ini,” kata Audrey, “Mereka juga sering datang mengunjungiku.”

“Ya,” timpal Lewis membenarkan, “Dan aku mendapat pelajaran dari Irving.”

Audrey tersenyum melihat suaminya. Bekas tinju Irving telah hilang dari wajahnya tetapi bekas di hatinya tidak akan pernah hilang. Tinju itu telah menyadarkan Lewis dari kesalahannya selama ini.

“Irving membawa Fulvia pergi setiap hari?” ulang Trevor tidak percaya.

“Selama sebulan ini?” timpal Richie.

Davies adalah orang pertama yang menyadar kejanggalan itu.

“Kalian tidak tahu selama ini Fulvia pergi bersama Irving?” Audrey mengulangi dengan takjub.

“Kami tidak tahu,” kata Trevor.

“Benar. Kami tidak tahu,” Richie mengulang pernyataan Trevor.

Audrey menatap Davies dengan heran.

Davies pun tidak dapat mengatakan apa-apa. Ia juga tidak mengerti. Bukankah selama ini Irving selalu mencari Fulvia karena dua sepupu itu.

Fulvia panik. Ia harus segera mencari akal sebelum mereka semua curiga.

“Irving membantuku mendapatkan hadiah ulang tahun pernikahan Papa Mama,” Fulvia mengatakan apa yang terlintas di pikirannya.

Semua menatap gadis yang sedang berusaha keras menutupi kepanikannya itu.

Audrey tiba-tiba menyadari semua kesalahpahaman ini. Fulvia pasti lupa mengatakan padanya ia mempunyai Irving sebagai pelindungnya setelah Davies hampir menangkap basah kebohongannya itu.

Audrey masih ingat Fulvia bersikeras untuk tidak membiarkan keluarganya tahu. Audrey memahami bahaya yang akan ia hadapi bila ia membongkar rahasia gadis itu. Maka ia memutuskan untuk membantunya.

“Ya,” kata Audrey, “Aku ingat Fulvia pernah mengatakan padaku ia ingin membeli sebuah hadiah yang sangat istimewa.”

“Hadiah apa?” tanya Trevor dan Richie serempak. “Hadiah apa sehingga Fulvia harus pergi setiap hari selama berbulan-bulan!?”

“Hanya sebulan,” Fulvia meralat.

“Dan mengapa harus Irving!?” keduanya bertanya serempak lagi.

Fulvia benar-benar kewalahan sekarang.

“Ia yang meminta bantuanku,” Irving yang sejak awal berdiam diri, membuka suara.

“Benar,” Fulvia segera menimpali, “Aku bertemu dengannya ketika aku sedang pusing memikirkan hadiah itu. Kemudian aku meminta bantuannya.” Lalu Fulvia menatap kedua kakak sepupunya dan berkata penuh penyesalan. “Aku sungguh tidak menyangka kalian akan marah seperti ini. Saat itu aku hanya berpikir Irving pasti bersedia membantuku dan aku tidak memikirkan perasaan kalian. Maafkan aku.”

Tatapan sedih Fulvia itu membuat kedua sepupu itu berdiam diri. Keduanya saling bertatapan dan larut dalam pikiran mereka sendiri.

“Sudahlah,” Count Meyer memotong pembicaraan itu, “Untuk apa kalian mempermasalahkan masalah yang sudah lewat.”

“Bukankah ini bagus?” timpal Countess Kylie, “Sekarang Davies mempunyai Margot dan Fulvia mempunyai Irving.”

“Kapankah giliran kalian?” Countess Horace menatap Trevor dan Richie.

Lagi-lagi mereka membuat Fulvia terperanjat. Bagaimana ia harus menjelaskan kesalahpahaman ini tanpa mengungkit rahasianya?

Fulvia memang sudah mendapatkan hadiah istimewa untuk kedua orang tuanya tetapi ia tetap tidak dapat memberitahu mereka rahasianya itu. Akibatnya pasti akan sangat fatal bila mereka mengetahuinya.

Dalam ketiga keluarga ini, cukup Audrey yang tahu.

“Aku juga ingin segera bertemu calon menantuku,” timpal Countess Yolanda.

Pembicaraan ini benar-benar membuat Fulvia merasa tidak nyaman. Diam-diam Fulvia melirik Irving yang tetap berdiam diri di sisinya dan ia mulai berpikir,

‘Apakah yang dipikirkan Irving? Apakah ia menyukai pembicaraan ini? Irving pasti tidak menyukai pembicaraan yang membosankan ini.’

“Mereka pasti akan segera mendapatkan pasangannya,” Count Clarck.

“Tidak perlu kaudesak mereka. Mereka pasti segera mencari pasangannya,” timpal Earl Graham.

“Dan bila mereka tidak juga mendapatkannya, kalian bisa mulai mencari jodoh untuk mereka,” tambah Count Meyer, orang yang paling suka bercanda dan mempunyai pandangan yang unik di antara mereka.

Fulvia merasa pembicaraan ini sudah benar-benar membuatnya tidak nyaman.

“Bisakah kita membicarakan yang lain?” pinta Fulvia, “Pembicaraan kalian sudah membuatku merasa bersalah. Kita mengundang Irving dan Margot bukan untuk mendengarkan masalah ini bukan? Kita mengundang mereka untuk berbagi kebahagiaan bersama kita.”

Mereka terdiam.

Count Meyer tertawa. “Tampaknya si kecil Fulvia sudah mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini,” katanya bercanda, “Mungkin kita memang harus membicarakan yang lain.”

Audrey tersenyum. “Kurasa ia benar. Aku juga mulai merasa pembicaraan ini sungguh membuat beberapa orang merasa tidak nyaman,” katanya sambil melirik Trevor dan Richie yang masih berunding dengan pandangan mata mereka.

“Beberapa orang sudah ingin menyendiri,” Margot menimpali sambil menatap Fulvia yang tersipu-sipu di sisi Irving yang tampak tak terusik oleh pembicaraan ketiga keluarga ini beberapa saat lalu.

“Dan beberapa ingin menyelesaikan permasalahan di antara mereka,” Davies berdiri dan mengulurkan tangan pada Margot, “Aku ingin berbicara denganmu. Kau punya waktu?”

“Tentu,” Margot menyambutnya dengan menerima uluran tangan Davies.

Keduanya meninggalkan Ruang Makan diiringi tatapan tertarik para ibu dalam tiga keluarga itu.

“Aku mempunyai beberapa hal yang ingin aku rundingkan bersama kalian,” Lewis ikut berdiri, “Aku telah memikirkannya masak-masak sejak kemarin dan aku ingin tahu apa pendapat kalian.”

“Tentu saja,” Count Meyer berdiri, “Aku selalu siap kapan pun kau membutuhkanku.”

“Kita bisa membicarakannya di Ruang Kerjaku,” Count Clarck mengusulkan.

“Ide yang bagus,” Count Audrey tak ketinggalan.

“Kaum pria itu tampaknya sudah mulai,” gumam Countess Yolanda melihat kepergian keempat pria itu.

“Kita juga bisa mencari kesibukan yang lain,” usul Countess Kylie, “Bagaimana kalau kita berbincang-bincang di Ruang Duduk?”

“Ide yang bagus,” timpal Countess Horace sambil tersenyum penuh arti, “Kita bisa melanjutkan pembicaraan kita yang terpotong beberapa saat lalu itu.”

Fulvia yakin para ibu dalam ketiga keluarga ini pasti akan meneruskan pembicaraan mengenai jodoh putra-putri mereka.

Fulvia melihat Irving. “Apakah Anda ingin melakukan sesuatu?” tanyanya, “Ataukah Anda sudah ingin pulang? Acara makan malam ini tampaknya sudah usai.”

“Irving akan berbicara dengan kami,” Trevor memutuskan.

“Benar,” timpal Richie, “Kami mempunyai hal penting yang ingin kami bicarakan dengannya.”

Tiba-tiba Fulvia mencurigai semangat membara keduanya. “Apa yang ingin kalian bicarakan dengannya?” tanyanya penuh curiga.

“Tidak ada,” Trevor menolak menjawab.

“Ini adalah masalah antara kaum pria,” Richie menegaskan, “Benarkah, Irving?”

Irving tidak mengerti apa yang sedang dikatakan dua pria itu.

Kedua sepupu itu berdiri di sisi Irving.

Irving pun tahu mereka ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannya. Irving berdiri.

“Jangan melakukan sesuatu padanya,” Fulvia memperingatkan dengan tajam.

Irving terkejut. Ia menatap Fulvia lekat-lekat. Tampaknya gadis ini tahu apa yang sedang direncanakan kedua sepupunya.

“Jangan khawatir,” Trevor berjanji, “Kami hanya ingin berbicara dengannya.”

“Membicarakan masalah pria,” timpal Richie.

Fulvia masih tidak dapat mempercayai tingkah kedua sepupunya yang tiba-tiba menjadi sangat akrab itu.

“Tinggallah kita berdua,” kata Audrey sepeninggal tiga pria itu.

Fulvia melihat kakak sepupunya yang duduk di seberang.

“Fulvia,” Audrey berpindah duduk di sisi Fulvia, “Mengapa engkau tidak memberitahuku mengenai Irving?”

“Apakah aku tidak memberitahumu?” Fulvia bingung.

“Tidak. Kau tidak pernah mengatakan peran Irving dalam rahasiamu itu,” Audrey menegaskan.

Fulvia terdiam. Ia mengingat-ingat kejadian yang telah lampau. Ia merasa ia telah mengatakan pada Audrey. Hari itu setelah Irving setuju untuk membantunya, Fulvia segera memutuskan untuk memberitahu Audrey dan…

“Aku ingat,” ujar Fulvia, “Hari itu aku ingin memberitahumu tetapi kau mengusirku. Hari itu kau mengurung diri di kamar sehingga aku sangat mencemaskanmu.”

“Kau memang tidak pernah berubah,” keluh Audrey, “Setiap kali kau sedang memfokuskan diri pada sesuatu, engkau selalu melupakan yang lain.”

“Tidak,” Fulvia tidak sependapat, “Aku tidak seperti itu.”

“Aku sudah melihatnya beberapa kali,” Audrey berkata penuh kemenangan, “Aku sering meihatmu mengabaikan Irving ketika kau sudah berbicara denganku sehingga aku harus segera mencari cara mengingatkanmu atas keberadaan Irving.”

Fulvia tersipu. Audrey benar. Ia sering melupakan keberadaan Irving selama ia berada di Greenwalls dan ia tidak akan ingat pulang bila bukan karena Audrey yang mengingatkannya.

-----0-----

‘Bagaimana kalian mengharapkan aku menilai perasaan gadis itu kalau aku sendiri tidak mengerti dia!?’ hati Irving berteriak, ‘Bagaimana kalian mengharapkan aku berkata bila aku sendiri berharap dia mencintaiku!?’

Kedua sepupu itu menatap Irving dengan penuh antusias.

Irving melihat keduanya dengan putus asa. “Aku tidak tahu.”

“Apa maksudmu?” protes Trevor.

“Kau pasti tahu!?” Richie juga tidak terima. “Bukankah kau terus menemui Fulvia selama ini untuk mengetahui siapa yang di antara kami yang lebih dicintai Fulvia?”

“Tidak. Aku..”

“Davies!” sahut Trevor, “Pasti Davies yang mengatur semua ini untuk kita.”

“Benar,” Richie sependapat, “Pasti Davies yang melakukan semua ini.”

Irving kebingungan.

“Siapapun yang lebih dicintai Fulvia, kami tidak akan menuntutmu. Kami hanya ingin tahu siapa di antara kami yang lebih dicintai Fulvia,” Trevor meyakinkan dengan penuh antusias.

“Aku bukan?” tanya Richie percaya diri, “Aku yang lebih dicintai Fulvia.”

“Tidak, aku!”

“Aku!” bantah Richie. “Fulvia tidak pernah lupa merajut hadiah Natal untukku.”

“Fulvia selalu ingat untuk merayakan pesta ulang tahunku!” Trevor tak mau kalah.

“Fulvia selalu ingat membelikan sesuatu tiap kali ia pergi ke luar kota !”

“Fulvia tidak pernah lupa mengajakku setiap kali ia hendak berpergian!”

“Fulvia selalu menyisakan jatahku setiap kali aku datang terlambat!”

Tidak salah kedua pria itu memperebutkan Fulvia.

Dulu Irving menertawakan pertengkaran mereka. Sekarang ia merasa ia turut terperangkap di dalamnya.

Fulvia adalah malaikat tetapi ia bukan sembarang malaikat.

Fulvia adalah bidadari tetapi ia bukan sembarang bidadari.

Fulvia adalah dewi tetapi ia bukan sembarang dewi.

Ia adalah Fulvia dan ia nyata!

Ia adalah malaikatnya!

Ia adalah bidadarinya!

Ia adalah dewinya!

Entah kapan ia terperangkap dalam pertengkaran konyol ini. Entah kapan ia terjerat oleh pesona gadis itu. Ia tidak tahu dan ia tidak menyadarinya.

Sekilas gadis itu tampak begitu genit – seperti wanita berambut pirang yang selama ini dikenalnya. Tetapi ketika ia mulai mengenal gadis itu, ia yakin gadis itu cerdik serta licik. Dan ketika ia semakin mengenal gadis itu, ia sadar gadis itu begitu dewasa di balik wajahnya yang kekanak-kanakan dan ia begitu lembut.

Ia tahu bagaimana mengontrol dirinya.

Ia tahu bagaimana menempatkan dirinya.

Ia tahu bagaimana memperlakukan orang lain.

Fulvia bukan saja pandai tetapi juga cerdas.

Tahulah Irving sekarang mengapa kedua pria itu terus memperebutkan Fulvia.

Mengertilah Irving sekarang mengapa Davies sangat menjaga Fulvia.

Sadarlah Irving sekarang mengapa keluarga itu menyembunyikan Fulvia.

Irving termenung melihat kedua sepupu yang terus membandingkan perlakukan Fulvia terhadap mereka.

Fulvia selalu memperhatikan mereka.

Fulvia tahu apa yang dapat membuat Trevor bahagia seperti ia tahu apa yang dapat menyenangkan Richie.

“Fulvia mencintai kalian berdua sama besarnya,” Irving memotong pertengkaran kedua orang itu.

Seketika mereka memelototi Irving.

“Aku tidak melihat Fulvia mencintai seorang dari kalian lebih dari yang lain. Ia mencintai kalian sama besarnya.”

“Tidak mungkin!” bantah mereka bersamaan.

“Maaf tapi hanya itu yang dapat kukatakan,” kata Irving, “Bila kalian ingin tahu, mengapa kalian tidak menanyakannya pada Fulvia?”

“Andai Fulvia mau mengatakannya maka hal itu akan sangat mudah bagi kami,” keluh Richie.

“Ia tidak pernah mau mengatakannya pada kami.”

“Ya, selama yang bertanya adalah kami,” tambah Richie.

“Maaf aku tidak bisa membantu,” Irving berdiri.

Kedua pria itu menatap Irving dengan lesu.

“HEI!” Trevor tiba-tiba berseru.

Mereka heran.

“Kau bisa menanyakannya pada Fulvia!?” Trevor berseru girang.

“Kau adalah orang luar,” Richie mulai mengerti, “Dan Fulvia telah menganggapmu sebagai temannya.”

Walau demikian Irving masih tidak mengerti apa yang ada di pikiran kedua pria itu.

“Fulvia tidak pernah mau mengatakannya pada kami tetapi kami yakin ia mau mengatakannya pada orang ketiga,” kata Trevor penuh semangat.

“Benar. Karena itulah diperlukan bantuan orang ketiga,” timpal Richie.

Irving terdiam.

“Fulvia pasti mau mengatakannya padamu!” kedua pria itu menepuk pundak Irving dengan puas.

-----0-----

“Aku tidak mengerti,” kata Margot, “Bukankah kau mengatakan Irving menemui Fulvia karena permintaan dua orang itu?”

“Aku juga tidak mengerti. Bila bukan karena Trevor dan Richie, mengapa Irving terus mencari Fulvia?”

“Tidak mungkin salah!” Margot menyahut gembira.

“Apa?”

“Irving tertarik pada Fulvia,” Margot berkata penuh semangat, “Karena itulah ia terus menemui Fulvia.”

“Omong kosong!” Davies tidak menyukai ide itu, “Irving hanya ingin mempermainkan Fulvia!”

“Tidakkah kau memperhatikan cara Irving menatap Fulvia sepanjang makan malam tadi?” tanya Margot, “Ia menatap Irving seperti seorang pria yang tengah dilanda cinta.”

“Ia selalu seperti itu,” cemooh Davies.

Margot mengangkat bahunya. Ia tidak ingin berdebat dengan Davies mengenai Fulvia dan Irving. Margot tahu Davies tidak pernah menyukai hubungan keduanya walau sesungguhnya ia setuju.

“Davies!”

Mereka membalik badan.

“Davies!”

Trevor dan Richie berlari mendekat dengan riang.

“Davies!” Richie memeluk Davies, “Kau memang saudara yang baik.”

“Tak percuma selama ini aku terus bergantung padamu,” Trevor menambahkan.

“Ada apa?”

“Jangan berpura-pura tidak tahu,” kata Richie, “Kau pasti telah mengatur semua ini demi kami.”

Davies menatap Margot.

Margot juga tidak mengerti.

“Apa yang kalian katakan?”

“Ayolah, Davies,” kata Trevor penuh semangat, “Kau pasti sengaja mengatur pertemuan Irving dan Fulvia setiap harinya juga hari ini.”

Davies benar-benar tidak mengerti jalan pikiran keduanya.

“Kau memang seorang saudara yang baik,” kata Richie tak kalah antusiasnya.

“Sebentar lagi kami akan tahu siapa yang akan menjadi adik iparmu,” timpal Trevor.

“Dan itu pasti aku!”

“Aku!” sahut Trevor, “Pasti aku!”

Davies melihat keduanya mulai bertengkar. “Mari kita menjauh,” Davies membawa Margot menjauhi kedua sepupu yang mulai bertengkar lagi itu.

“Davies,” gumam Margot, “Masalah ini menjadi semakin rumit.”

“Kau benar,” Davies sependapat, “Semua tidak semudah yang aku pikirkan. Bahkan sekarang mereka mengira aku sengaja menyuruh Irving bertemu Fulvia setiap hari demi mereka. Bagaimana mungkin aku menyodorkan Fulvia pada pria semacam itu!?”

“Mereka benar-benar telah salah paham.”

“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran mereka,” keluh Davies.

“Ini akan gawat sekali,” kata Margot cemas.

Davies tidak mengerti.

“Kedua musuh bebuyutan itu pasti menyalahkanmu kalau Fulvia memilih Irving,” Margot menatap Davies lekat-lekat, “Mereka pasti tidak melepaskanmu kalau keduanya bersatu.”

Davies mengeluh panjang. “Mengapa aku harus terlibat dalam masalah ini?”

-----0-----

Fulvia meninggalkan Ruang Makan.

Pelayan telah mulai merapikan kembali Ruang Makan dan Audrey telah pergi menemui Lewis.

Dari Audrey, Fulvia mendengar bahwa Lewis berencana untuk memulihkan keadaan Greenwalls dan usaha ayahnya. Lewis mulai mengumpulkan kembali orang-orang yang dulu pernah bekerja pada ayahnya dan ia juga mulai menemui rekan-rekan dagang ayahnya. Count Garfinkelnn juga bersedia memberi pinjaman uang untuk membuka kembali usaha mereka. Trevor juga telah menawarkan diri untuk membantu mereka.

Hari-hari mendatang Audrey akan sibuk membantu suaminya.

Fulvia turut berbahagia mendengarnya.

Seseorang berjalan mendekat.

Fulvia keheranan melihat Irving berjalan seorang diri. “Di manakah Trevor dan Richie?” tanyanya heran, “Apakah kalian telah menyelesaikan urusan kalian?”

“Fulvia,” Irving berkata serius, “Bisakah kita berbicara berdua?”

Fulvia semakin heran mendengar keseriusan Irving.

“Tentu,” kata Fulvia, “Apakah yang ingin Anda bicarakan dengan saya?”

“Bisakah kita berbicara tanpa didengar orang lain?”

Fulvia tidak mengerti permintaan itu, namun ia berkata, “Kita bisa berbicara di Perpustakaan. Saya yakin tidak akan ada yang menganggu kita di sana.”

Irving tidak menanggapi. Ia hanya berjalan mengikuti Fulvia.

Seperti dugaan Fulvia, tidak seorang pun yang nampak di Ruang Perpustakaan Unsdrell. Ia mempersilakan Irving masuk dan menutup pintu rapat-rapat.

“Apakah yang ingin Anda bicarakan dengan saya?” Fulvia mengulangi pertanyaannya.

Tiba-tiba Irving tidak tahu bagaimana harus memulai semua ini.

“Bagaimanakah pendapatmu tentang Trevor dan Richie?”

“Mereka adalah kakak yang baik,” jawab Fulvia keheranan, “Mengapa Anda menanyakannya? Apakah ini ada hubungannya dengan mereka?”

Tiba-tiba Fulvia menyadarinya, “Apakah mereka meminta Anda untuk membuat saya memilih seorang di antara mereka?”

Entah mengapa Irving tidak terkejut mendengarnya.

“Kau telah menebaknya,” Irving menekan kegetiran hatinya, “Kau harus memilih seorang di antara mereka.”

“Mengapa?” Fulvia keheranan. “Mengapa saya harus memilih seorang dari mereka?”

“Mereka mencintaimu. Kau tahu mereka sering memperebutkanmu. Mereka siap berkorban apa saja untuk mendapatkan cintamu.”

“Anda?”

Irving berdiam diri.

“Apakah Anda tidak mencintai saya?”

“Mereka telah banyak berkorban untukmu,” Irving memunggungi Fulvia. Takkan pernah ia membiarkan Fulvia membaca perasaannya. Tidak akan! “Mereka benar-benar mencintaimu.”

“Saya tidak akan pernah memilih seorang dari mereka. Anda tahu itu.”

“Kau tidak mempunyai pilihan lain. Kau tidak bisa menghancurkan lebih banyak lagi perasaan orang lain.”

“Saya bukan Anda.”

“Engkau sadar kau lebih kejam dari aku,” cibir Irving – mengingatkan Fulvia akan kata-katanya sendiri.

“Setidaknya saya telah berusaha untuk tidak menyakiti mereka.”

“Tindakanmu saat ini hanya menyakiti mereka.”

“Saya tidak mencintai mereka lebih besar dari cinta saya pada Anda.”

Andai keadaannya tidak seperti ini, Irving akan merasa sangat bahagia tetapi kenyataannya bukan seperti ini. Irving merasa begitu kotor. Ia merasa begitu tertekan. Bagaimana ia bisa menjadi seorang yang sama dengan orang yang merebut ibunya dari ayahnya?

Irving tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka!

“Pilihlah seorang dari mereka,” Irving tidak dapat menyembunyikan kepahitan hatinya, “Kau tidak mempunyai pilihan lain.”

“Anda begitu egois,” kata Fulvia kesal, “Anda tidak bisa memaksa saya memilih seorang di antara mereka ketika Anda tahu saya mencintai Anda lebih dari mereka.”

“Kaulah yang egois!” Irving tiba-tiba membalikkan badannya dan mencengkeram pundak Fulvia, “Apa kau tahu apa yang kurasakan? Apa kau tahu bagaimana rasanya menjadi orang ketiga?”

Fulvia terhenyak menatap mata tajam Irving yang siap menelannya itu.

“Apa kau mengerti perasaanku!?” bentak Irving, “Aku merasa jijik! Aku merasa kotor! Bagaimana aku bisa menjadi orang ketiga di antara hubungan kalian!? Aku membencinya! Aku membenci kenyataan ini! Aku benci membiarkan diriku terjerat dalam perangkapmu. Aku benci membiarkan diriku jatuh cinta padamu!”

Fulvia terpaku. Mata ungunya meredup.

Irving membalikkan badannya. “Pilihlah seorang dari mereka dan semuanya berakhir!” katanya dingin dan meninggalkan Fulvia yang masih terpaku tanpa kata-kata.

Fulvia terus memandangi punggung yang kian menjauh itu.

Inikah mawar merahnya dari Irving?

Inikah cara perpisahan mereka yang dipilih Irving?

Inikah satu-satunya cara mengakhiri hubungan mereka?

Inilah mawar merah dari Irving.

Mawar yang paling berduri…

Air mata Fulvia menetes.

‘Apakah jatuh cinta adalah sebuah kesalahan?’

13

Irving melihat undangan itu dan ia tahu ia akan bertemu dengan Fulvia lagi.

Sudah sebulan lebih lamanya ia tidak bertemu Fulvia.

Sudah sebulan lebih ia tidak direpotkan oleh dua pria itu.

Sudah sebulan lebih ia tidak mendengar berita mereka.

Sebulan lebih gadis itu tidak pernah mencarinya lagi setelah sore itu.

Sebulan lebih gadis itu tidak pernah menampakkan dirinya lagi di hadapannya.

Ini artinya Fulvia telah memilih seorang dari mereka!

Hati Irving hancur membayangkan Fulvia bergandengan tangan dengan seorang dari mereka.

‘Siapapun pilihan Fulvia, bukan urusanku,’ Irving berusaha menyingkirkan pedih di hatinya.

Ia akan menunjukkan pada Fulvia bahwa ia tidak pernah terjerat perangkapnya, bahwa ia tidak pernah menyesali perpisahan mereka.

Ia akan menunjukkan Fulvia tidak lebih dari salah seorang gadis yang pernah melintas dalam hidupnya!

Ya, ia akan menunjukkannya.

Setelah sekian lama menyembunyikan diri dari segala bentuk pertemuan dengan dirinya, ia yakin Fulvia tidak akan bisa menghindari pesta ini. Itupun kalau dia tiba-tiba mengalami gangguan mental.

Menilik sifat manjanya dan gaya hidupnya, Irving bisa meyakinkan seisi dunia ini Fulvia akan hadir dalam pesta ulang tahun Duke of Wyndham.

Semua orang tahu bagaimana terkenalnya keluarga Wyndham. Semua tahu bagaimana melimpah ruahnya harta kekayaan mereka. Irving pun bisa memastikan harta keluarga Wyndham melebihi kekayaan keluarganya.

Bila selama ini tidak ada satu pertemuan pun yang bisa mempertemukan mereka, maka inilah satu-satunya yang dapat mempertemukan mereka.

Di mana tempat Fulvia bila bukan di pesta-pesta kalangan orang ternama?

Di mana tempat gadis manja itu bila bukan di sisi pria-pria kaya?

Di mana tempat gadis binal itu bila bukan di pelukan pria-pria berharta?

Di mana pun ia berada, Irving tidak peduli.

Itulah keyakinan Irving. Tetapi keyakinan tetaplah sebuah keyakinan.

Seminggu kemudian ketika hari di mana pesta tersebut diselenggarakan, Irving tidak dapat menghentikan dirinya untuk tidak memperhatikan pintu masuk.

Bukanlah kebiasaan Irving untuk datang pertama kali dalam suatu pesta tetapi sore ini ia menjadi tamu pertama yang hadir.

Sulit bagi Irving untuk mengingkari keinginannya untuk segera bertemu Fulvia. Bagaimanapun terlukanya dirinya oleh sikap Fulvia, Irving tidak dapat memungkiri bahwa ia masih mencintai gadis itu. Dan kenyataan ini membuatnya kian membenci Fulvia. Sama seperti ia membenci bagian dari dirinya yang mencintai Fulvia.

Sejak awal di sanalah ia berdiri. Ia berdiri di sudut Hall yang gelap dan terhindar dari keramaian tetapi cukup jelas untuk memperhatikan tamu yang perlahan-lahan meramaikan suasana.

Sejak awal di sanalah ia memperhatikan setiap tamu yang hadir dengan mata jelinya.

Matanya yang biasanya mencari-cari wanita cantik untuk menemaninya selama pesta, mencari-cari sesosok gadis yang dirindukan oleh bagian dirinya yang dibencinya.

Wanita-wanita cantik di depannya pasti tidak akan menolak menemaninya sepanjang malam ini. Mereka juga pasti tidak akan menolak untuk menghabiskan malam bersamanya. Mereka akan rela melakukan apa saja hanya untuk mendapat perhatian darinya.

Tapi hari ini Irving tidak tertarik pada mereka.

Irving ingin mengingkari perasaan itu tetapi ia kalah oleh bagian lain dari dirinya.

Dan, di sanalah ia bersembunyi sembari menantikan kehadiran gadis yang bahkan dalam mimpi pun dirindukannya itu.

Tepat satu jam Irving berdiri di sudut Hall, kereta keluarga Silverschatz tiba di halaman Windport.

Irving yang semula bersandar santai di sudut gelap itu langsung berdiri tegak bagai seorang prajurit yang siap menyambut kehadiran atasannya.

Satu per satu keluarga Silverschatz turun dari kereta.

Irving dapat melihat Trevor turun duluan kemudian disusul oleh ayahnya dan kemudian ibunya.

Fulvia tidak ada bersama mereka!

‘Tentu saja,’ ia mengejek dirinya sendiri, ‘Ia tentu datang bersama pria pilihannya.’

Keluarga Silverschatz baru saja turun dari kereta ketika kereta keluarga Garfinkelnn datang disusul kereta keluarga Ousterhouwl.

Ketiga keluarga itu terkenal oleh dekatnya hubungan keluarga mereka. Takkan heran bila mereka datang bersamaan.

Irving juga tidak akan heran melihat Fulvia turun dari salah satu kereta keluarga itu.

Satu per satu penumpang kereta keluarga Garfinkelnn turun. Demikian pula penumpang kereta keluarga Ousterhouwl.

Irving tertegun.

Irving heran.

Fulvia tidak ada!

Ia tidak melihat Fulvia bersama rombongan itu. Ia tidak melihat Fulvia bersama Trevor maupun Richie. Ia juga tidak melihat Fulvia bersama keluarganya.

‘Permainan apa yang dimainkan gadis ingusan itu?’ alam bawah sadarnya memperingatkan.

Apa pun itu, Irving akan memastikan gadis itu tidak akan berhasil mengelabuhinya. Tidak setelah semua yang terjadi di antara mereka!

Irving melangkah keluar dari tempatnya bersembunyi.

“Selamat sore,” Irving menyapa, “Kulihat hubungan keluarga kalian memang seerat yang dikabarkan.”

“Kami adalah teman sepermainan sejak kecil,” kata Richie bangga.

“Ya, aku dapat melihatnya. Tetapi kulihat seorang dari kalian menghilang.”

“Siapa?” tanya Richie dan tiba-tiba ia menyadari kejanggalan dalam kemunculan mereka kali ini, “Apakah yang kau maksud Fulvia?”

“Fulvia tidak mau datang,” keluh Trevor.

“Tampaknya kami telah membuatnya marah,” tambah Richie suram.

Irving tidak menangkap maksud mereka.

“Bukankah ia telah menentukan pilihannya?”

“Ya…,” gumam kedua pria itu bersamaan dan menatap Irving.

Otak Irving langsung memperingatkannya akan bahaya yang menghadang. ‘Mereka tahu!’ hatinya was-was.

“Ia memilih untuk menjadi biarawati,” kata Davies.

Irving terperanjat. Ia menatap pria yang berdiri di belakangnya itu. “Biarawati?” ulangnya tidak percaya.

“Mereka berdua telah membuatnya lelah. Ia tidak dapat memilih seorang dari mereka tanpa melukai perasaan yang lain. Yang lebih penting adalah ia tidak dapat mengingkari dirinya sendiri. Ia mencintai mereka berdua seperti mereka mencintai aku. Mereka berdua tahu itu tetapi tidak pernah mengakuinya. Mereka hanya bisa memperebutkan Fulvia tanpa menyadari bagaimana Fulvia merasa tertekan oleh perseteruan mereka.”

“Fulvia berkata cinta sejatinya tidak ada pada kami. Cinta sejatinya adalah sebuah kesalahan besar,” kata Trevor murung.

“Kesalahan besar,” Irving tersekat.

“Ia tidak mau menyakiti orang lain. Ia tidak mau menjadi sumber kesalahan orang lain. Ia tidak mau menjadi sumber pertengkaran orang lain lagi,” Richie sepakat.

“Maksud kalian…,” desis Irving.

“Ia telah memutuskan untuk tidak menikah,” Davies menjelaskan, “Bila memilih adalah sebuah kesalahan maka lebih baik tidak memilih, katanya.”

Irving menatap Davies tanpa kata-kata.

Ia merasa sesuatu ditarik dengan paksa dari dalam dirinya.

Irving tidak tahu harus bereaksi bagaimana atas kenyataan yang tidak terduga ini.

Irving tidak mengerti apa yang dipikiran Fulvia.

Tetapi mereka yang berdiri di sekitarnya mengerti apa yang tengah dipikirkan Irving.

“Kau tidak menduganya, bukan?” ujar Richie, “Aku juga tidak menduga Fulvia akan memilih jalan senekat itu.”

“Kurasa Fulvia benar-benar kesal oleh pertengkaran kami,” Trevor menyesal, “Tidak seharusnya kami bertengkar terus hingga semua menjadi seperti ini. Tanpa kami sadari, kami telah memberikan beban bagi Fulvia.”

“Sudah sejak awal kukatakan sikap kalian itu akan mengekang kebebasan Fulvia,” Davies menyalahkan kedua sepupunya itu, “Fulvia mungkin mencintai salah seorang dari kalian tetapi bagaimana ia bisa memilih bila seorang dari kalian harus terluka sementara yang lain bersenang-senang atas keputusannya itu?”

“Ya, kami mengakui salah.”

“Sekarang aku dapat mengerti mengapa Fulvia selalu menolak memilih seorang di antara kami,” tambah Trevor, “Ia mencintai kami berdua sama besarnya hingga ia tidak ingin kami terluka. Tetapi kami telah membuatnya terluka.”

“Ia begitu takut melukai kami hingga ia memilih jalan ini,” timpal Richie.

Irving tertegun.

Tidak!

Itu tidak benar!

Mereka salah!

Mereka tidak tahu siapa yang memaksa Fulvia mengambil jalan ini.

Mereka tidak mengerti situasi yang sebenarnya.

“Percuma saja kalian menyesal,” Davies berkata dengan sinisnya, “Fulvia telah memutuskan yang terbaik yang dapat ia lakukan.”

“Yang dapat kalian lakukan sekarang adalah mendukungnya,” Davies membalikkan badan dan meninggalkan mereka.

‘Mendukungnya?’ Irving tertegun.

Apakah ini berarti ia harus rela melepaskan Fulvia lagi? Melepaskannya ketika ia memperoleh sebuah kesempatan? Dan untuk selama-lamanya?

Irving berpikir keras.

Ia tidak pernah berpikir sekeras ini semenjak tujuh belas tahun lalu.

Ia tidak pernah berpikir sepanjang malam semenjak ibunya pergi meninggalkan rumah bersama Nelson, kekasih gelapnya.

Tapi ini berbeda. Bila tujuh belas tahun silam ia memikirkan bagaimana membalas dendam kepada wanita-wanita binal yang hanya dapat melukai perasaan pria seperti ibunya melukai ayahnya, maka kali ini ia berpikir keras apa yang dapat ia lakukan untuk Fulvia dan dirinya sendiri. Bila saat ia berusia delapan tahun itu ia memutuskan untuk membuat kaum wanita itu bertekuk lutut di hadapannya dan memohon cintanya, kali ini ia memutuskan untuk menemui Fulvia.

Irving akan membuat Fulvia mengatakan sendiri semua yang didengarnya dari keluarga gadis itu!

Maka pagi itu begitu Irving selesai menyantap sarapan pagi yang disediakan untuknya, Irving langsung melesat ke Unsdrell.

Irving tidak peduli apakah gadisnya itu telah bangun atau tidak. Irving tidak peduli seberapa pagi kehadirannya di Unsdrell. Irving hanya tahu ia tidak dapat menanti lebih lama lagi. Irving ingin bertemu Fulvia bukan nanti bukan esok tetapi saat ini juga!

-----0-----

Fulvia muncul di pintu dengan senyumnya yang menawan.

Bukan ini sikap yang Irving harapkan dari Fulvia.

Irving mengharapkan Fulvia muncul dengan penuh kemarahan atau mungkin kekecewaan. Senyum manis yang mengembang di wajah manis itu seolah berkata pada Irving bahwa tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Dan itu membuat Irving semakin terluka.

“Selamat siang, M’lord,” sapa Fulvia.

Orang lain! Fulvia memperlakukannya seperti orang yang baru pertama kali ditemuinya!

“Selamat siang, Fulvia,” Irving menyembunyikan kepahitannya di antara suara dinginnya, “Kau tampaknya lebih segar bugar dari yang kudengar.”

Fulvia tertawa kecil.

Suara tawa itu seperti menertawakan kerinduannya dan Irving merasa sangat terpukul. Ia datang bukan untuk memperdalam jarak di antara mereka.

“Mereka terlalu membesar-besarkan,” Fulvia tidak dapat menutupi tawa gelinya, “Janganlah Anda terlalu percaya pada mereka.”

“Setidaknya aku boleh mempercayai perasaanku, bukan?” Irving bertanya lembut.

Fulvia terdiam.

“Kau selalu mengatakan bahwa aku tidak bisa terus mempermainkan perasaanku sendiri,” Irving mengingatkan Fulvia.

Fulvia tidak ingin menjawab pertanyaan itu.

Mata biru gelap itu menatap Fulvia dengan penuh kerinduan.

“Saya turut berbahagia Anda menyadarinya,” Fulvia menghindari tatapan itu.

“Sayangnya, aku tidak dapat melihatnya.”

“Perasaan Anda mengetahuinya,” Fulvia tidak ingin berbicara banyak.

“Perasaanku mengatakan kau mempunyai banyak kegalauan hati.”

Fulvia tidak menanggapi.

Irving terus memandang punggung itu. Fulvia begitu dekat darinya tetapi ia merasa Fulvia berada di tempat yang jauh – tempat yang tak teraih olehnya. Tiada jalan yang menghubungkan tempat Fulvia dengannya. Tiada kata-kata yang dapat menjembatani perasaannya dengan Fulvia.

“Bila tidak ada yang Anda butuhkan dari saya,” kata Fulvia dingin, “Ijinkan saya meneruskan kesibukan saya.”

Irving kaget. Fulvia akan meninggalkannya!

“Mereka ingin tahu mengapa kau bersikeras tidak keluar bersama seorang pun dari mereka,” otaknya berputar cepat mencari topik pembicaraan dengan Fulvia.

Fulvia membalik badannya. Matanya yang dingin menatap Irving lekat-lekat.

“Anda tahu jawabannya,” katanya pedih dan melalui Irving.

Irving terpaku dan ketika ia membalikkan badan, Fulvia telah meninggalkan ruangan itu.

Inikah jawaban Fulvia? Inikah keputusan Fulvia?

Sudah tidak ada tempat baginya di hati Fulvia. Sudah tidak ada gunanya ia berlama-lama di tempat ini.

Dengan lesu, Irving meninggalkan Ruang Tamu.

“Kudengar kau datang menemui Fulvia,” seseorang mencegat Irving di pintu masuk Unsdrell.

Irving menatap Davies. Ia tidak ingin memberi penjelasan apa pun pada pria itu. Ia sedang tidak dalam suasana hati untuk bersitegang dengan pria yang selalu berseberangan jalan dengannya itu.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian,” Davies berkata dengan nada mengancamnya, “Tetapi aku ingin kau menyelesaikan apa yang telah kaumulai ini.”

Davies mendekati Irving.

Dari caranya berjalan, caranya menatap Irving, terlihat jelas bahwa pria itu ingin sekali membunuh Irving, pria yang ia percaya bertanggung jawab atas semua ini! Dan Irving sadar akan kesalahannya itu.

“Kalau kau butuh bantuan, jangan segan untuk mengatakannya padaku,” katanya sebelum berlalu.

Irving terkejut. Ia mengawasi Davies yang terus melangkah santai ke dalam gedung megah itu.

Davies memang seorang kakak yang baik. Ia tahu bagaimana melindungi adiknya dan ia tahu apa yang dapat dilakukan seorang kakak membahagiakan adik satu-satunya.

Mungkin selama ini Irving telah salah menilai Davies.

Dalam hatinya Irving berjanji pada Davies untuk membuat Fulvia kembali tersenyum dengan senyum menawannya yang dulu. Dan untuk itu Irving tahu ia harus memulai semuanya dari awal. Dari Trevor dan Richie memohon bantuannya.

-----0-----

“Tuan Muda Richie dan Tuan Muda Trevor ingin bertemu, Tuan Puteri.”

Fulvia mengangkat kepala dari buku. “Aku sibuk,” katanya singkat.

“Apakah sekarang kau sedemikian sibuknya hingga kau tidak bisa bertemu kami walau hanya sesaat?” Richie muncul dari belakang pelayan itu.

Fulvia melihat keduanya tanpa rasa tertarik. “Kalau kalian datang untuk membujukku, lupakan saja. Aku tidak akan merubah keputusanku.”

“Kami juga tahu tidak ada gunanya membujukmu,” kata Trevor, “Kami sudah menyerah.”

“Apa mau kalian?” Fulvia bertanya curiga.

“Kami datang untuk mengantar surat Irving,” jawab Richie.

“Irving?” Fulvia heran, “Apa yang ia inginkan?”

“Kami juga tidak tahu,” Trevor menatap Richie.

Beberapa saat yang lalu Irving mengundang mereka berdua ke rumahnya. Ia tidak mengatakan tujuannya pada mereka berdua. Ia hanya berkata,

“Apakah kalian ingin menggagalkan keinginan Fulvia?”

Tentu saja itu adalah hal yang paling diinginkan keduanya.

Semenjak Fulvia mengumumkan keputusannya sebulan lalu, keduanya terus membujuk Fulvia. Hampir setiap saat keduanya berusaha membuat Fulvia membatalkan keputusannya itu. Tetapi keteguhan hati Fulvia tidak pernah goyah.

Davies juga tidak bisa diandalkan lagi. Ia mendukung keputusan Fulvia bahkan ia menyuruh mereka untuk berhenti menganggu Fulvia.

Count Clarck beserta Countess Kylie juga tidak ingin campur tangan dalam keputusan putrinya itu. Mereka percaya Fulvia telah melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Dua keluarga yang lain juga lepas tangan.

Tidak ada yang dapat membantu keduanya.

“Aku dapat membantu kalian.”

“Percuma saja,” kata Trevor.

“Kami telah berusaha dan Fulvia tetap tidak merubah keputusannya,” Richie sependapat.

“Apakah kalian tidak mempercayaiku?”

“Semuanya akan sia-sia,” Richie berkata sedih, “Semuanya telah terlambat.”

Irving tidak mengerti.

“Fulvia telah mempersiapkan semuanya. Ia telah mendaftarkan diri ke sekolah biara dan ia diterima. Minggu depan ia akan berangkat ke sana.”

Irving terbelalak. “Minggu depan…?”

“Tepatnya lima hari lagi,” kata Richie.

“Apakah yang bisa kaulakukan dalam lima hari?” tanya Trevor, “Sementara kami yang sudah sebulan ini tidak berhasil membujuknya.”

“Tidak,” Irving berkata penuh percaya diri, “Pasti ada cara.”

“Mengapa?” tanya Trevor, “Mengapa engkau begitu yakin?”

“Karena aku juga tidak ingin Fulvia mengambil keputusan ini,” jawab Irving, “Aku telah membuat dia mengambil keputusan ini dan aku pulalah yang bisa membuatnya membatalkannya.”

Keduanya menatap Irving lekat-lekat.

“Baiklah,” kata Richie, “Kami percaya padamu.”

“Apa yang kau ingin kami lakukan?” tanya Trevor.

Dan di sinilah sekarang mereka berada, mengantar surat Irving kepada Fulvia.

Keduanya sudah hampir yakin Fulvia tidak akan menerima surat itu ketika Fulvia berkata,

“Berikan surat itu padaku.”

Trevor memberikan surat Irving pada Fulvia.

Mereka memperhatikan Fulvia membuka surat itu. Mereka tidak tahu apa isi surat itu. Mereka tidak bertanya apapun pada Irving. Mereka percaya Irving mempunyai cara untuk membatalkan keputusan Fulvia ini.

Fulvia membuka lipatan kertas itu dan membaca tulisan tangan Irving.

Sekali aku telah membantumu menyimpan kotak musik untuk hadiah ulang tahun pernikahan orang tuamu. Dapatkah sekarang kau membantuku menemukan buket bunga yang indah untuk almarhum ibuku tercinta?

Irving

Fulvia menutup surat itu dan mengeluarkan secarik kertas dari laci mejanya. Tanpa berkata apa-apa, ia mulai menulis.

Kedua pria itu memperhatikan Fulvia tanpa berani bertanya apa-apa.

-----0-----

Melalui surat ini, saya menyatakan dengan penuh penyesalan saya tidak dapat membantu Anda.

Salam sejahtera,

Fulvia

Irving kecewa.

Ia merasa satu jalan antara dia dan Fulvia telah tertutup lagi.

Tidak banyak jalan yang dapat ia jalani untuk mendekati Fulvia.

Tidak adakah cara yang dapat ia lakukan untuk mendapatkan hati Fulvia lagi?

Tidak adakah yang bisa membuat Fulvia membatalkan keputusannya ini?

Melihat raut wajah Irving, mereka tahu apa yang dikatakan Fulvia dalam surat itu. Dan mereka turut merasa sedih untuk Irving.

“Maafkan kami, Irving,” Trevor turut bersedih.

“Aku tahu. Aku tahu ini akan sia-sia,” kata Richie pula.

“Ini adalah karma,” kata Irving, “Davies telah memperingatiku untuk tidak menyakiti Fulvia dan aku telah mempersalahkan cinta di antara kami.”

“APA!?” pekik kedua pria itu bersamaan – mencengkeram kerah baju Irving.

“KAU!??” mereka mengepalkan tangan mereka – siap meninju Irving.

“Aku tidak menyukai kenyataan menjadi orang ketiga di antara kalian. Aku tidak ingin menjadi Nelson kedua.”

Kedua pria itu melepaskan Irving dan duduk termenung di kursi mereka masing-masing.

“Aku tidak menyalahkanmu,” kata Trevor. “Sejujurnya, sejak awal kami sempat khawatir Fulvia akan jatuh cinta padamu.”

“Tetapi kami berpikir Fulvia tidak mungkin jatuh cinta pria sepertimu. Ia mungkin tidak mengenalmu tetapi ia tahu reputasimu dan ia selalu mengatakan ia tidak menyukai pria sepertimu yang suka mempermainkan perasaan,” ujar Richie.

“Dan kau pun tidak akan jatuh cinta pada Fulvia,” tambah Trevor.

“Kami begitu yakin tetapi Davies lebih bijak,” keluh Richie, “Ia terus memperingatkan kami sebelum kami mempertemukan kalian. Davies tahu reputasimu tetapi ia lebih paham Fulvia. Ia tahu kalian berdua sangat kontras tetapi kalian berdua juga saling melengkapi.”

“Davies juga memperingati kami,” Trevor memberitahu.

Irving termenung.

“Apakah kau pernah mendengar Festival Topeng?” tanya Richie.

Irving melihat mereka.

“Mungkin kau bisa menggunakannya sebagai sebuah kesempatan,” kata Richie lagi.

“Fulvia ingin sekali pergi ke festival itu. Ia bahkan ingin seluruh keluarga kami pergi ke sana bersama-sama,” kata Trevor, “Namun kami mendengar Fulvia telah memutuskan untuk tidak pergi. Ia beralasan ia sudah tidak tertarik dan ia harus meyakinkan semuanya telah siap sebelum ia berangkat ke sekolah biara pilihannya.”

“Fulvia tidak pernah mengakui kesedihannya tetapi ia tidak dapat membohongi kami yang telah mencintainya semenjak kecil.”

“Aku yakin Fulvia akan bersedia bila kau, pria yang dicintainya, mengajaknya.”

Irving menatap mereka.

“Kami tidak bisa membantumu lagi,” kata Richie, “Kau telah merebut Fulvia dari kami dan kau sendiri yang harus berusaha.”

“Setidaknya kami telah memberitahumu sebuah kesempatan,” timpal Trevor.

“Terima kasih.”

“Kami pasti akan merebut Fulvia kembali bila kau menyakiti Fulvia.”

Irving mengangguk.

Ini adalah kesempatan terakhirnya, kesempatan terakhirnya sebelum Fulvia pergi ke sekolah biara. Irving akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.

Apa pun yang terjadi, Irving tidak akan membiarkan Fulvia mengingkari perasaannya sendiri.

Irving tahu Fulvia masih mencintainya.

Irving yakin Fulvia juga merindukannya.

Maka hari itu ia pergi ke Greenwalls.

Davies, seolah mengetahui kedatangannya, telah menantinya di depan pintu.

“Aku tahu kau pasti akan datang,” kata pria itu sambil bersandar di dinding.

Irving tidak mengatakan apa-apa. Ia yakin Davies tahu tujuan kedatangannya.

“Ia ada di dalam kamarnya.”

“Terima kasih,” Irving melangkah masuk.

“Irving,” panggil Davies.

Irving berhenti.

“Kau tahu di mana kamar Fulvia?”

Irving terhenyak. Dalam pikirannya hanya ada Fulvia dan ia benar-benar melupakan hal itu.

“Aku akan mengantarmu,” Davies menepuk pundak Irving dan mendahuluinya.

Irving mengikuti pria itu.

“Kau lebih parah dari Trevor dan Richie,” Davies tersenyum geli, “Tetapi kau lebih baik darinya.”

“Kupikir kau membenciku.”

“Ya,” Davies mengakui, “Aku membencimu karena kau merebut Fulvia dariku. Tetapi aku juga mengakui kau jauh lebih baik daripada keduanya.”

“Lebih baik?” Irving heran, “Bukannya kau selalu menuduhku mempermainkan Fulvia?”

“Aku akui itu juga,” kata Davies, “Tetapi aku sudah tidak khawatir lagi. Fulvia telah menjinakkanmu.”

Irving terdiam. Davies benar. Sedikitpun tidak salah. Semenjak mengenal Fulvia, ia mulai kehilangan rasa tertariknya pada wanita-wanita lain. Dan sekarang seluruh hati, jiwa dan raganya hanya untuk Fulvia dan gadis itu seorang.

Davies berhenti.

“Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini,” katanya, “Kamar Fulvia adalah pintu kedua itu.”

“Terima kasih,” Irving melalui Davies.

“Irving,” lagi-lagi Davies memanggil pria itu.

Irving menoleh.

“Aku tahu kau akan berhasil,” Davies tersenyum.

Irving mengangguk.

“Kami akan menanti kalian di festival itu,” kata Davies dan ia pun meninggalkan tempat itu.

Irving juga segera ke kamar Fulvia.

Begitu berada di depan kamar Fulvia, keragu-raguan menghampiri Irving. Irving tidak yakin Fulvia akan menerimanya.

“Tidak! Aku datang bukan untuk kalah tetapi untuk menang!” Irving membulatkan hatinya dan mengetuk pintu kamar Fulvia.

“Siapa?”

Irving tersekat mendengar suara yang dirindukannya itu.

“Siapakah itu?” Fulvia membuka pintu kamarnya.

Irving terpaku. Tidak pernah ia merasakan sebuah keinginan sebesar ini untuk meraih seorang wanita dalam pelukannya.

Fulvia mematung. Ia menatap Irving lekat-lekat.

Setelah pagi ia meninggalkan Irving di Ruang Tamu, ia begitu yakin Irving tidak akan pernah menemuinya lagi. Fulvia yakin Irving tidak dapat menerima cintanya sama seperti ia tidak dapat menerima kenyataan ia juga mencintai Fulvia.

Fulvia benar. Bahkan setelah menerima surat itu pun ia tahu ia tidak pernah salah.

Irving tidak pernah dapat menerima kenyataan bahwa mereka saling mencintai. Ia juga tidak bisa menghapuskan rasa bersalah karena keputusannya ini. Dan rasa bersalah itulah yang membuatnya menerima tawaran Trevor dan Richie untuk membujuknya membatalkan keputusannya ini.

Saat ini Irving juga pasti datang untuk membujuknya! Membujuknya demi Trevor dan Richie!

“Pergi!!” seru Fulvia kesal. “Pergi!” Fulvia menutup pintu kamarnya.

Irving menahan pintu itu dengan tangannya.

“Aku tidak akan pergi denganmu! Aku tidak mau pergi ke festival itu!”

“Aku tidak mengatakan akan mengajakmu ke sana ,” kata Irving tenang.

Fulvia terdiam.

Irving memanfaatkan kesempatan itu dan melangkah masuk.

“Keluar! Aku tidak mau bertemu denganmu.”

“Tapi kau begitu ingin menemuiku,” kata Irving.

Lagi-lagi Fulvia terdiam.

“Kau tidak bisa terus membohongi perasaanmu. Kau tahu itu,” ujar Irving.

Fulvia memunggungi Irving.

Irving meraih pundak Fulvia – menahan gerakannya.

“Kau boleh membohongi semua orang tetapi kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.”

Fulvia memalingkan wajahnya. Matanya terasa pedas.

“Aku tidak pernah merasa begitu benci diriku sendiri karena sadar telah melukai perasaan seseorang,” kata Irving, “Aku tidak pernah merasa begitu gila karena mencintai seseorang. Aku tidak peduli menjadi orang ketiga atau orang keberapa pun selama aku dapat membuatmu tersenyum. Mencintai seseorang bukanlah kesalahan.”

Fulvia memejamkan matanya.

“Aku datang untuk mengatakan padamu bahwa aku tidak menyesali cintaku padamu. Aku akui aku pernah membenci kenyataan menjadi orang ketiga di antara kalian. Sekarang aku bersyukur menjadi orang ketiga di antara kalian sebelum orang lain dan orang pertama yang mendapatkan cinta sejatimu.”

Irving melepaskan pundak Fulvia.

“Aku ingin kau tahu aku akan terus mencintaimu apa pun yang terjadi dan sampai kapan pun juga.”

Fulvia tidak bergerak sedikitpun.

“Apakah kau begitu ingin menjadi biarawati?”

Fulvia tidak menjawab.

“Jawab aku, Fulvia, apakah kau benar-benar ingin menjadi biarawati?”

Fulvia tidak bereaksi.

Irving termenung. Ini artinya kesempatan terakhirnya pun telah tertutup. Ia tidak akan dapat menggoyahkan keputusan Fulvia seperti ia tidak bisa menghancurkan pembatas di antara mereka yang kian lama kian menebal.

Irving pun meninggalkan kamar Fulvia dengan lesu.

14

Fulvia berdiri di kejauhan – melihat orang-orang yang sedang bersenang-senang dalam Festival Topeng.

Semua orang bertopeng. Semua orang mengenakan kostum terbaik mereka.

Fulvia bertaruh. Ya, ia akan bertaruh dalam festival ini.

Festival ini mungkin akan menjadi kemunculannya yang pertama sebagai seorang makhluk baru. Tapi mungkin juga menjadi kemunculannya yang terakhir.

Ketika Fulvia mendengar suara roda kereta diiringi langkah-langkah lincah kuda menjauh, ia tahu Irving telah pulang. Fulvia ingin mengejar kereta itu namun otaknya menolak keras.

Ia akui ia sempat menangis ketika Irving pergi begitu saja. Untungnya, otaknya mengingatkannya pada kenyataan. Irving datang demi Trevor dan Richie. Tidak ada gunanya ia terus mengharapkan pria itu datang hanya untuknya. Pria itu tidak pernah percaya pada cinta. Bagaimana mungkin ia bisa tiba-tiba mencintainya sepenuh hatinya? Bagaimana mungkin ia akan mempercayai kata-katanya? Ia hanyalah seorang gadis ingusan. Ia bukan wanita-wanita cantik yang pernah menjadi kekasih Irving.

Ya, ia tidak pernah menjadi kekasihnya, Fulvia mengakui dengan sedih. Mereka menghabiskan waktu bersama hanya karena permintaannya sendiri. Irving tidak akan pernah datang menjemputnya bila bukan karena permintaannya. Bahkan di kedatangannya yang terakhir pun ia datang bukan untuk dirinya sendiri.

Cerita cinta ini cukup sampai di sini. Tidak ada gunanya terus memperpanjangnya. Pada awalnya Fulvia memang tidak tertarik pada Irving. Irving bukanlah tipe pria yang ia sukai. Sebaliknya, ia tidak menyukai kebiasaan Irving berganti-ganti pasangan. Ia juga tahu Irving bukanlah tipe seorang pria yang setia. Kalaupun sekarang Irving benar-benar jatuh cinta padanya, besok atau lusa hatinya akan beralih pada wanita cantik lain. Ini memang kesalahannya sendiri, jatuh cinta pada orang yang salah. Karenanya, cerita cinta ini harus segera ditutup. Ia sudah membuat keputusan menyangkut masa depannya. Ia sudah mempersiapkan semua ini semenjak sebulan ini. Sekarang sudah terlambat untuk mundur.

Seharusnya itulah yang dilakukan Fulvia. Namun kenyataannya, kpergian Irving meninggalkan satu ganjalan di benaknya. Pertanyaan Irving yang terus menggema di telinga membuat Fulvia berpikir. Apakah ia benar-benar ingin menjadi seorang biarawati?

Dan ketika melihat kereta keluarga Engelschalf meninggalkan Unsdrell, Fulvia sadar.

Irving telah mengingkari cinta di antara mereka. Irving telah membenci cinta di antara mereka. Tetapi Irving telah menyadarinya dan ia telah berusaha memperbaiki kesalahannya.

Sementara itu dirinya? Apakah ia telah memaafkan Irving?

Selama ini Fulvia hanya tahu Irving melakukan semua ini demi Trevor dan Richie. Di hari kedua kakak sepupunya itu memperkenalkan Irving, Fulvia sudah menyadari ini adalah rencana keduanya.

Bagaimana mungkin keduanya tiba-tiba memperkenalkan seorang pria padanya sementara mereka selalu berusaha menjauhkan setiap pria yang berusaha mendekatinya?

Bagaimana kedua pria yang senantiasa bertengkar memperebutkan dirinya itu tiba-tiba membantu Irving?

Hanya satu alasan di balik semua ini. Mereka membuat Irving membantu rencana mereka. Mereka pulalah yang membuat Irving memaksanya memilih seorang di antara mereka.

Fulvia termenung.

Apakah pemikirannya ini benar? Apakah pemahamannya ini tidak salah?

Irving tidak menanti perintah Trevor ketika ia melindunginya dari Lewis.

Irving tidak menerima perintah Richie ketika ia mengantar jemputnya setiap hari.

Irving tidak pernah memberitahu Trevor maupun Richie ketika ia membawanya ke gunung.

Keduanya pasti telah menahan Irving bila mereka tahu.

Keduanya pasti telah melarang Irving bila mereka tahu ke mana Irving akan membawanya.

Bukankah gunung adalah tempat yang berbahaya bagi mereka?

Apakah yang telah dilakukannya selama ini? Apakah yang telah ia perbuat?

Tubuh Fulvia jatuh lemas.

Irving berusaha memperbaiki keadaan ini ketika ia menyadari kesalahannya. Irving berusaha memulihkan keadaan yang telah dikacaukannya ini.

Dan ia…

Apakah yang telah ia perbuat selama sebulan ini?

Tidak ada! Ia tidak melakukan apa pun!

Ia tidak berusaha membuat Irving menarik kembali kata-katanya seperti Irving berusaha membatalkan keputusannya.

Ia tidak berusaha meyakinkan Irving seperti Irving berusaha menyadarkan dirinya.

Ia hanya bisa bersembunyi. Ia hanya bisa menerima keadaan.

Air mata Fulvia jatuh.

Satu-satunya yang telah ia lakukan hanyalah bersembunyi dari kepedihan. Ia telah mengingkari kesedihannya dengan memutuskan menjadi biarawati.

Ia telah lari dari kenyataan dengan memilih menjadi seorang biarawati.

Air mata Fulvia jatuh semakin deras. Ia ingin berlari pada Irving. Ia ingin menjatuhkan diri pada pelukan pria itu.

Sekarang di sinilah ia berada.

Fulvia mengawasi puluhan penduduk yang memadati taman kota. Ia memperhatikan lautan manusia yang mengenakan topeng itu.

Sesuatu meyakinkan Fulvia bahwa Irving ada di antara mereka.

Fulvia percaya ia akan menemukan Irving.

Dengan bulat tekad, Fulvia melangkah ke kerumunan penduduk.

Fulvia terus melangkah di antara para penduduk. Ia memperhatikan mata yang tersembunyi di balik topeng-topeng itu. Ia mencari-cari mata biru tua yang hanya bersinar lembut untuknya itu.

Seseorang menyenggol Fulvia.

Tubuh Fulvia yang tidak siap, langsung limbung.

Seseorang menangkap Fulvia.

“Maaf,” orang yang menyenggol Fulvia berkata.

“Tidak mengapa,” Fulvia tersenyum.

Fulvia membalikkan badan untuk berterima kasih pada orang yang telah menolongnya itu dan ia tersekat.

Sepasang mata dingin itu menatapnya lekat-lekat.

Fulvia tidak dapat melihat warna mata itu dalam kegelapan malam tetapi ia merasa begitu mengenal tatapan itu. Sesuatu dalam dirinya mengatakan ia merindukan sinar dingin itu.

Musik yang lembut mengalun.

Fulvia melihat sekitarnya.

Setiap orang telah bersiap diri dengan pasangan yang mereka pilih.

Tiba-tiba tubuh Fulvia ditarik.

Fulvia menatap pemilik sepasang mata dingin yang menariknya mendekat itu.

Pria itu tidak berkata apa-apa. Ia tetap membisu ketika meletakkan tangan kirinya di pinggang Fulvia dan tangan kanannya menggenggam tangan kanan Fulvia dengan lembut.

Sinar mata dingin itu membius Fulvia dan ia meletakkan tangannya yang bebas di pundak pria itu.

Fulvia tidak mendengarkan musik yang mengalun di taman kota. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang berdansa di sekitarnya.

Matanya terpaku pada sepasang mata dingin yang terus menatapnya lekat-lekat itu. Kakinya melangkah mengiringi langkah pria itu.

Cara pria itu menatapnya membuat pipi Fulvia terasa panas. Sinar dingin yang memabukkan sepasang mata itu membius Fulvia.

Tiba-tiba musik dimatikan dan suasana menjadi gelap gulita.

Fulvia terkejut. Ia mendekatkan diri pada pria itu.

Fulvia dapat merasakan sepasang tangan hangat pria itu di punggungnya. Dan jantungnya berdebar kencang.

“Mari membuka topeng kita!” Fulvia mendengar seseorang berseru.

Fulvia melihat orang-orang mulai membuka topengnya. Fulvia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan ia masih kebingungan ketika ia merasa seseorang melepaskan topengnya.

Sesaat kemudian cahaya terang puluhan lilin menerangi tempat itu.

Sinar terang lilin yang menyala tak jauh di depannya menyilaukan mata Fulvia. Fulvia menunduk untuk melindungi matanya dari cahaya terang itu.

Sepasang tangan merapikan rambut Fulvia yang tertarik oleh topengnya.

“Aku tahu kau akan datang.”

Fulvia tersekat. Sesaat ia merasa nafasnya terputus. Ia mengangkat kepalanya.

Irving tersenyum lembut.

Kaki Fulvia kehilangan tenaganya.

Irving menahan tubuh gadis itu dalam pelukannya.

“A… aku…,” Fulvia berpegangan pada Irving, “Aku begitu cemas aku salah memilih.”

Irving tersenyum. “Kau tahu pilihanmu tidak salah.”

“Oh, Irving,” bisik Fulvia.

“Kurasa kau butuh tempat yang lebih tenang,” Irving mengangkat Fulvia dan tanpa mempedulikan pandangan penuh ingin tahu orang lain, ia membawa Fulvia menjauhi kerumunan.

“Kau merasa lebih baik sekarang?” Irving mendudukkan Fulvia di kursi di salah satu sisi taman kota itu.

“Ya…,” Fulvia menunduk malu.

Tiba-tiba saja ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia datang untuk menemui Irving. Ia datang untuk memberi jawaban pada Irving dan kini setelah pria itu berada di sisinya, Fulvia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Aku mempunyai sesuatu untukmu,” Irving mengeluarkan sesuatu dari kantungnya.

Fulvia tertegun melihat kantung itu. Ia tidak mungkin salah mengenali kantung pemberian Brent untuk menyimpan uang yang akan digunakannya untuk membeli hadiah ulang tahun pernikahan orang tuanya itu.

“Kantung itu…”

“Terimalah,” desak Irving.

Fulvia menerimanya dengan ragu-ragu.

Begitu tangan Fulvia menyentuhnya, Fulvia merasakan sesuatu yang padat dan keras.

Fulvia menatap Irving.

“Bukalah,” Irving tersenyum.

Jari-jemari Fulvia membuka simpul kantung itu. Matanya terbelalak melihat isinya.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan uang itu ketika teringat kau berkata kau ingin sekali bermain di pantai,” ujar Irving, “Aku menggunakannya untuk mencari kerang itu.”

Fulvia menatap Irving penuh haru. “Ini… ini…”

Irving tersenyum. “Aku tahu kau pasti akan menyukainya.”

“Ini pasti lebih mahal dari kotak musik itu.”

“Aku tidak memusingkannya.”

“Tapi saya…”

“Aku tahu apa yang akan kaukatakan,” potong Irving, “Aku juga tidak memberikannya secara cuma-cuma.”

Fulvia menatap Irving penuh ingin tahu.

“Menikahlah denganku.”

Fulvia terkejut. “Anda… bukankah Anda…?”

“Aku tahu apa yang kuinginkan,” Irving menegaskan, “Hanya kau satu-satunya wanita yang ingin kunikahi. Kaulah satu-satunya wanita yang kuinginkan mendampingiku. Satu-satunya wanita dari siapa aku ingin keturunanku dilahirkan. Aku telah mendapatkanmu dan aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Tidak untuk selama-lamanya.”

Fulvia tidak dapat mempercayai pendengarannya.

“Dan aku tidak suka ditolak, Fulvia,” Irving memperingatkan, “Kau tahu itu.”

“Ya, Irving,” Fulvia melingkarkan tangannya di leher pria itu, “Aku tahu.”

“Kuanggap itu sebagai jawabanmu.”

Fulvia tersenyum gembira. Tidak akan ada yang dapat menyatakan perasaannya kali ini. Tidak akan ada yang dapat menggantikan kebahagiannya ini.

Dan ketika Irving memeluknya, Fulvia tahu inilah yang paling diinginkannya.

“Hadiah pertunangan kita,” bisik Irving dan mencium bibir Fulvia.

tamat

0 Response to "Orang Ketiga"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified