Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Miss Pesimis

Miss Pesimis
Alia Zalea



PROLOG

Aku berlari secepat mungkin mengejar pintu lift yang terbuka. Aku sadar sepatuku
yang berhak lima sentimeter itu menghalangiku berlari. Tanpa pikir panjang,
kulepaskan sepatu itu dan berlari di atas lantai marmer hitam tanpa alas kaki sambil berusaha menjaga keseimbangan agar tidak terpeleset. Huuup! Aku menarik napas
panjang ketika pintu lift tertutup denganku di dalamnya. Aku akan menekan
tombol lantai 12, tapi ternyata tombol itu sudah menyala, menandakan bahwa satu satunya orang yang berada di dalam lift bersamaku juga menuju lantai yang sama.
Dengan terburu-buru aku membersihkan kedua telapak kakiku yang tertutup
stoking berwarna kulit dengan telapak tangan. Setelah yakin tidak ada pasir yang
menempel, kukenakan sepatuku kembali. Tanpa menghiraukan teman seliftku, aku
menghadap salah satu cermin yang mengelilingi tiga sisi lift tersebut dan
menyapukan lipgloss pink di bibirku. Kupastikan warna bibirku sudah rata sebelum
mengalihkan perhatian pada rambutku yang hari itu dikucir kuda. Untung saja
karet yang kugunakan cukup kuat untuk menahan rambutku yang sepunggung,
sehingga aku tidak perlu mengaturnya kembali. Selanjutnya, kukeluarkan selembar
tisu basah dan mengusapkannya pada kedua telapak tanganku sebelum melempar
tisu bekas pakai kembali ke dalam tas. Langkah terakhir adalah menyemprotkan
sedikit parfum pada pergelangan tanganku bagian dalam dan mengusapnya ke
leher. Puas dengan penampilanku, aku lalu berdiri tegak dan menunggu hingga
pintu lift terbuka.
Saat itu aku baru sadar bahwa satu-satunya orang yang berada di dalam lift
bersamaku adalah laki-laki. Seharusnya aku tidak kaget, karena sewaktu memasuki
lift aku bisa mencium aroma Hugo Boss. Tetapi, tetap saja aku sedikit tekrejut
karena setelah mengalihkan pandanganku dari sepatu, celana panjang, dan
kemejanya yang jelas-jelas tidak dibeli di Carrefour itu, ternyata wajah laki-laki
tersebut terlihat seperti salah satu dewa Yunani. Ganteng abisss. Lebih tepatnya,
dewa Yunani yang superganteng dan tampak agak jengkel. Ada kerutan di antara
alisnya, sementara bibirnya tertutup rapat dan ujungnya tertarik ke bawah. Aku
tidak tahu apa masalahnya, tapi untuk meringankan suasana aku berkata, “Sori, ini
hari pertama saya kerja, dan saya agak terlambat.”
Aku yang tinggal di Amerika hampir separoh hidupku, masih harus
membiasakan diri dengan keadaan jalan-jalan di Jakarta yang superpadat dan tidak
pernah bisa ditebak. Belum lagi aku masih agak kagok karena harus membawa
mobil di sisi yang berlawanan daripada di Amerika. Di Jakarta ini aku terpaksa
menyetir mobil sendiri, padahal aku lebih terbiasa naik Metro, yaitu sistem kereta
api bawah tanah di Washington, D.C., tempatku bermukim semenjak aku SMA.
Laki-laki itu tidak bereaksi. Dia justru memandangiku sambil mengangkat salah
satu alis sebelum kemudian mengalihkan perhatiannya pada pintu lift. Aku hanya
menarik napas melihat tingkah lakunya.
Setidak-tidaknya aku tidak perlu bertemu dengannya lagi setelah aku keluar
dari lift ini, ucapku dalam hati.




1. BIKIN MALU
BERAPA kali sebetulnya orang bisa bikin malu diri sendiri dalam satu hari? Selama
ini aku menyangka bahwa satu kali sudah cukup. Dua kali kalau memang lagi sial.
Tapi hari ini aku memecahkan rekor dengan melakukannya tiga kali.
Ketika pintu lift terbuka pada lantai 12, laki-laki itu melangkahkan kakinya
keluar dari lift bersamaan denganku. Aku mencoba melewatinya dan berjalan
secepat mungkin menuju pintu masuk Good Life yang terbuat dari kaca dengan
logo Good Life berwarna putih. Jam di tanganku menunjukkan pukul 09.55. Aku
dminta duduk di lobi bersama-sama dengan beberapa eksekutif muda lainnya yang
sedang menunggu. Aku menemukan tempat duduk di sebelah seorang wanita yang
sedang membaca majalah Times dengan sampul Donald Trump. Ketika dia
mengangkat wajah, aku memberinya senyuman, namun dia tidak membalas
senyum itu.
Bitch!!! Apa ibunya tidak pernah mengajarinya untuk membalas senyuman yang
diberikan dengan tulus? omelku dalam hati.
Tak lama setelah itu aku melihat laki-laki di lift itu memasuki pintu kaca yang
tadi kulewati dan berbicara dengan resepsionis yang kemudian juga memintanya
untuk menunggu di lobi. Ya ampuuunnn!!! Aku yakin sebentar lagi wajahku
memerah karena detak jantungku tiba-tiba melonjak. Aku mencoba sebisa mungkin
untuk tidak menatap ke arah laki-laki itu.
Tepat pukul 10.00, seorang bule, yang kemudian kukenal sebagai bosku, Mr.
Patrick Morris, datang ke lobi dan mempersilakan kami memasuki ruang pertemuan
berukuran superbesar. Aku memilih duduk di kursi yang paling jauh dari pintu
masuk dan meletakkan tasku yang mulai terasa berat di bahuku. Ruangan ini
dipenuhi foto berukuran besar beberapa produk yang diproduksi dan didistribusi
oleh Good Life, seperti sampo, sabun mandi, sabun pencuci baju, dan lain-lain. Pada
dasarnya Good Life adalah saingat terbesar Unilever di Asia-Pasifik, tetapi lain
dengan Unilever yang berasal dari Inggris, kantor pusat Good Life ada di Amerika,
tepatnya di Cincinnati, Ohio.
“Okay, everyone, make yourself comfortable, and please do take some of those delicious
snacks and drinks,” kata bule itu mempersilakan kami semua untuk bersikap santai
dan mengambil kudapan.
Aku bangkit dari duduk dan melangkahkan kakiku menuju meja yang
menyediakan makanan kecil. Ketika aku sedang menuangkan kopi tanpa kafein ke
dalam cangkir yang disediakan tanpa disangka-sangka laki-laki di lift tadi berdiri di
sampingku, menunggu hingga aku selesai dengan termos kopi itu. Setelah
mengambil sendok kecil, dua paket gula, dan dua paket krimer, aku pun kembali
menuju tempat dudukku. Sambil pelan-pelan meminum kopiku, aku mulai
memperhatikan semua orang di sekitarku. Dapat kulihat bahwa setiap orang terlihat
lebih tua dariku setidak-tidaknya lima tahun, kecuali laki-laki yang kutemui di lift
tadi. Kelihatannya dia sepantaran denganku. Konsentrasiku buyar ketika suara Mr.
Morris terdengar lagi.
“Thanks so much for being here. The purpose of this briefing is to let you know about the
process of the training that you are gonna be going through in Cincinnati,” katanya
memberitahu apa yang kurasa sudah kami semua ketahui, bahwa brifing ini tentang
proses training, yang akan kami ikuti di Cincinnati.
Mr. Morris kemudian membagikan amplop-amplop cokelat berukuran besar
kepada kami semua. Di atas amplop itu tercetak nama masing-masing peserta yang
hadir.
“In the envelope you will find your plane tickets, some spending money and the itinerary
and the accommodation scheduled for the week that you are going to be there. You’ll be flying
together of course.”
Semua orang mulai membuka amplop masing-masing dan memeriksa isinya
satu per satu; tiket pesawat, cek uang saku, dan terutama jadwal kegiatan kami
selama di sana. Beberapa hari yang lalu aku baru saja mendapatkan pasporku
kembali dari kedutaan Amerika di Jakarta, yang memberiku visa untuk kunjungan
bisnis yang berlaku selama enam bulan. Untungnya aku tidak mengalami masalah
sama sekali untuk mendapatkan visa itu.
Konsentrasiku buyar ketika aku mendengar suara Mr. Morris lagi. “Why don’t we
get to know each other then, shall we?” ucapnya dan proses perkenalan pun berlangsung.
Ternyata laki-laki yang tadi aku temui di lift bernama Ervin Daniswara. Setelah
kuperhatikan beberapa saat, ternyata dia bukan hanya ganteng, style-nya yang
serbarapi sangat cocok untuknya. Rambutnya yang lurus di-gel sampai jabrik. Ada
sesuatu dari caranya memandang orang-orang di sekitarnya yang kudapati sangat
menarik. Dia selalu sopan apabila orang berbicara padanya, tetapi kurasa dia bukan
orang yang ramah, dalam artian dia tidak akan membuka pembicaraan dengan
orang yang tidak dikenalnya. Mungkin itu sebabnya aku merasa bahwa mungkin
saja orang yang belum mengenalnya berpendapat dia sombong.
Tiba-tiba Ervin melemparkan pandangannya ke arahku. Secara otomatis aku
langsung menunduk dan menatap amplop di tanganku. Kemudian aku sadar bukan
hanya dia yang menatapku, semua orang di dalam ruangan itu juga sedang
menatapku. Untung aku segera sadar bahwa mereka menungguku
memperkenalkan diri. Buru-buru kusebutkan namaku dan sedikit tentang latar
belakangku. Semua orang lalu mengangguk. Aku mengembuskan napas lega.
Hampir saja, ucapku dalam hati. Aku sadar Ervin sedang memandangiku dengan
mata melebar.
“Dasar rese,” gumamku.
Sekali lagi Mr. Morris menyelamatkanku dari pikiranku yang suka merajalela,
“Alright, that is all folks. Please make sure that you don’t miss your flight, which will be
around a week from today. Since nobody is going to take care of you, so you better arrange
your own little get together to settle how you gonna meet up and handle any travelling
issues,” ucapnya menyarankan kami mengatur sendiri kesepakatan dalam
perjalanan kami, kemudian menggiring kami keluar.
Setelah sepakat dengan yang lain untuk bertemu kembali di konter check-in
Cathay Pacific pukul satu siang seminggu lagi, aku menuju pelataran parkir, ke
mobilku, dan pulang. Kulihat Ervin menuju ke arah yang sama. Pelan-pelan aku
mulai mengaduk-aduk tasku untuk mencari kunci mobilku. Sembari berjalan,
kulihat ada sebuah M3 yang terlihat cukup baru parkir di sebelah mobilku yang
tiba-tiba kelihatan jauh lebih tua daripada mobil itu.
Gila amat nih orang, hari gini masih bisa beli BMW, pikirku. Tanpa disangkasangka
aku mendengar bunyi blip-blip yang menandakan bahwa pemiliknya ada di
sekitar pelataran parkir itu, dan sedang menuju mobilnya.
Aha... akhirnya ketemu juga nih kunci, hatiku berteriak senang. Aku menekan
tombol untuk membuka kunci pintu mobilku. Tapi dasar sial, aku justru menekan
panic-button. Bunyi nyaring alarm mobilku mulai mengisi seluruh pelataran parkir.
Aku buru-buru mencoba mengatasi keadaan, tetapi ketika menekan tombol yang
seharusnya mematikan alarm itu, tidak ada yang terjadi. Dalam kepanikan, aku
mendengar suara di belakangku.
“Hey, are you okay? Do you need help with that?”
“Nggak, nggak apa-apa,” jawabku sambil menekan-nekan tombol itu dan
berbalik menghadap orang yang menawarkan bantuannya padaku. Lagi-lagi Ervin,
tapi kini wajahnya tidak lagi terlihat jengkel, melainkan khawatir. Aduh, kok sial
banget sih, bikin malu diri sendiri tiga kali dalam satu hari? pikirku.
Kulihat Ervin buru-buru melangkah ke arahku dan berkata, “Lo yakin ini mobil
lo?” Dengan kesal aku memandangnya tanpa senyum. “Ya iyalah, cuma alarmnya
lagi macet aja.”
“Boleh gua lihat?”
“Gue bisa kok... Oh shit...” Aku melihat seorang satpam melangkah ke arahku
dengan tatapan curiga.
Putus asa, aku berkata, “Kalau lo bisa, berarti lo lebih canggih daripada gue,”
sambil menyerahkan kunciku kepada Ervin.
Tanpa ragu-ragu dia langsung menekan tobol yang sudah kutekan-tekan dari
tadi dan alarm mobilku berhenti berbunyi.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan-lahan,
bersyukur terlepas dari siksaan bunyi alarm mobil. Tapi kemudian aku melihat
satpam tadi tetap berjalan ke arahku.
“Ada masalah, Mbak?” tanya satpam itu padaku.
Aku baru saja akan menjawab pertanyaan itu ketika mendengar orang lain
sudah melakukannya untukku.
“Nggak, Pak, nggak apa-apa, cuma tombol alarm rusak.”
Ervin yang menjawab pertanyaan itu. Satpam hanya mengangguk, lalu kembali
melakukan tugas keliling.
Sembari mengembalikan kunciku, Ervin berkata, “Kunci itu harus diganti
secepatnya supaya nggak bermasalah lagi.”
Nenek-nenek juga tahu, pikirku dalam hati, tapi yang keluar dari mulutku
justru, “Thanks.” Aku mengambil kunciku dari tangannya.
Ervin hanya mengangguk sebelum beranjak ke mobilnya yang ternyata adalah
M3 yang parkir di sebelah mobilku. Dia berlalu sambil memberikan senyuman yang
sempat membuatku berdiri kaku di samping mobilku. Seharusnya ada suatu tanda
peringatan yang harus dia bawa ke mana pun dia pergi untuk memberitahu kami,
kaum Hawa, agar menutup mata ketika dia memutuskan untuk tersenyum. Selama
ini aku tidak pernah percaya bahwa satu senyuman bisa membuat orang tersenyum
tersipu-sipu tanpa sebab. Ternyata aku salah, karena saat itu aku tersenyum-senyum
sendiri seperti orang gila.
2. MASA LALU
NAMAKU Adriana Amandira dan aku adalah perempuan paling merana di dunia
ini. Umurku tiga puluh tahun, masih single tanpa ada prospek suami. Perempuan
single berumur tiga puluh tahun saja mungkin masih bisa diterima, tapi perempuan
single, tiga puluh tahun, masih perawan, dan cinta mati pada seorang laki-laki
semenjak dia SMP, nah... itu agak jarang. Sayangnya perempuan itu adalah aku.
Selama tiga puluh tahun, jumlah laki-laki yang berhubungan serius denganku bisa
dihitung dengan jari, jumlah tawaran untuk menikah... hanya satu kali, yaitu ketika
aku berumur 27 tahun, yang kemudian aku tolak. Vincent Blake, satu-satunya lakilaki
yang cukup nekat untuk mengajakku menikah setelah menjalin hubungan
denganku selama dua tahun itu terpaksa mundur teratur setelah aku
memberitahunya bahwa aku akan pulang ke Indonesia dan tidak akan kembali lagi
ke D.C.
Aku ingat betul kata-katanya ketika ia mengantarku ke airport.
“Did you ever loved me?” tanyanya dengan nada yang membuat hatiku hancur
berkeping-keping. Sejujurnya aku memang tidak pernah mencintainya, setidaktidaknya
bukan cinta yan gdia inginkan dariku.
“Of course I did... I mean I do,” jawabku mencoba meyakinkannya tapi suaraku
terdengar kosong bahkan untuk telingaku sendiri.
“Is there another guy?” Apakah ada yang lain?
Aku menarik napas cukup panjang, menimbang-nimbang apakah aku akan
mengatakan yang sebenarnya. Tapi kemudian aku memutuskan bahwa aku sudah
menghancurkan hati laki-laki tidak bersalah ini, setidak-tidaknya yang bisa
kulakukan untuknya adalah mengatakan yang sebenarnya.
“Yes,” ucapku dengan nada bersalah. Aku mempersiapkan diri untuk
pertanyaan selanjutnya yang memang sudah aku tunggu-tunggu.
“Kalau begitu kenapa kau menghabiskan dua tahun ini bersamaku kalau kau
mencintai laki-laki lain?” Vincent bertanya dengan nada tinggi. Itulah saat pertama
aku betul-betul melihat Vincent, yang berperangai penyabar, penyayang, dan tidak
pernah berdebat denganku, marah besar.
Kakakku, Mbak Tita, dan suaminya, Reilley, yang berdiri beberapa meter dariku
untuk memberi kami privasi, melangkah mendekat. Tapi aku mengangkat
tanganku, menandakan bahwa aku tidak apa-apa. Memang aku berhak kena omel
bahkan dimaki-maki. Kakakku ragu beberapa detik, tapi kemudian Reilley
menariknya menjauh dariku.
“Sejujurnya, aku tidak tahu. Aku cuma berpikir akhirnya aku akan
melupakannya. Tapi ternyata tidak bisa,” jelasku pada Vincent setelah aku yakin
kakakku tidak akan menghampiriku.
Berakhirnya hubunganku dengan Vincent membuatku sadar bahwa setelah
lebih dari sepuluh tahun, aku masih mengharapkan seorang laki-laki yang terakhir
kali kujumpai hampir lima belas tahun yang lalu. Seorang laki-laki yang bahkan aku
tidak tahu keberadaannya atau statusnya sekarang ini. Aku hanya berpegang teguh
pada pendapat bahwa apabila dia sudah menikah, aku pasti sudah mendengar
kabar itu.
Vincent hanya memandangku dengan tatapan bingung. Kupikir dia tidak akan
bertanya apa-apa lagi. “Dia ada di Indonesia?” akhirnya dia bertanya.
Aku mengangguk, lalu menggeleng. Setelah beberapa detik aku mengangkat
bahu. “Sebenarnya, aku tidak tahu dia ada di mana,” jelasku akhirnya.
Vincent mengerutkan kening dan menatapku tajam di balik kacamata minusnya.
“Siapa namanya?”
Aku tersenyum sedih sebelum menjawab. Sudah lebih dari sepuluh tahun aku
tidak pernah mengucapkan namanya di depan orang lain. Seorang laki-laki yang
pada dasarnya telah menghancurkan semua hubungan yang pernah kucoba jalin
dengan laki-laki lain. Seorang laki-laki dari masa laluku yang mengganggu masa
kiniku dan aku yakin akan ada di masa depanku. “Thomas... Baron... Iskandarsyah,”
ucapku perlahan-lahan.
“Apakah kakakmu tahu soal dia?”
“Ya... maksudku, kakakku tahu dia. Kami dulu satu sekolah. Tapi, tidak,
kakakku tidak tahu soal aku... kau tahulah...,” ucapku lemah.
Aku tidak berani memandang Vincent. Aku menunduk malu. Kemudian tangan
Vincent menyentuh pipi kananku. Tangannya yang selalu terasa hangat tapi tidak
pernah bisa membuat jantungku berdetak lebih cepat, membuat wajahku memerah
karena malu hanya dengan tatapannya, atau membuat lututku jadi lemas di
pelukannya. Pada dasarnya hubunganku dengan Vincent lebih seperti teman baik.
Dia selalu menjagaku, memastikan bahwa aku sudah makan, mendapat tidur yang
cukup, dan minum vitamin. Vincent bahkan tidak pernah bertanya tentang status
keperawananku, dia menghormati keinginanku untuk tetap menjadi perawan
hingga hari pernikahanku.
Ketika aku berani mengangkat wajahku dan memandang Vincent, aku hanya
bisa mengatakan, “I’m sorry.”
Vincent tersenyum lemah dan memelukku. Aku tersenyum di pelukannya. Aku
tersenyum karena aku tahu Vincent telah memaafkanku. Selain keluargaku,
mungkin Vincent-lah satu-satunya orang yang mau mencoba mengerti tindakantindakanku
yang tidak selalu masuk akal.
“Maukah kauceritakan padaku apa yang nanti terjadi padanya?” tanyanya
tanpa melepaskan pelukannya.
Aku melepaskan pelukannya, mengangkat tanganku untuk mengusap beberapa
helai rambut pirang yang jatuh di keningnya dan mengangguk.
“I love you, Di,” ucap Vincent lembut.
Aku tertawa mendengar nama itu. Selain Vincent, hanya ada beberapa orang
yang memanggilku Didi, Baron adalah salah satunya. “I love you too, Vi,” balasku.
Dan dengan kata-kata itu kami berpisah.
* * *
Hampir dua tahun telah berlalu semenjak aku meninggalkan Amerika. Vincent telah
menikah setahun yang lalu dengan perempuan asal Malaysia bernama Farah.
Kakakku sedang mengandung lima bulan dan dua bulan yang lalu dia dan Reilley
pindah ke Jakarta secara permanen. Meskipun Reilley, seorang ahli komputer yang
bekerja untuk perusahaan komputer bertaraf internasional, menghabiskan enam
bulan dalam satu tahun di luar Indonesia, tapi orang buta pun dapat melihat betapa
Reilley mencintai kakakku. Sedangkan aku... Aku masih tetap sendiri. Niatku untuk
bertemu dengan Baron kuurungkan dengan alasan sibuk dengan pekerjaan. Tapi
sejujurnya aku takut bertemu dengannya lagi. Bahkan untuk bertanya-tanya tentang
dirinya pun aku tidak berani, sehingga pengetahuanku tentang keberadaan Baron
menjadi sangat terbatas. Teman-teman SMP-ku tidak bisa memberikan informasi
apa-apa karena aku dan Baron memang tidak bergaul di lingkaran yang sama.
Baron adalah bagian dari lingkaran anak-anak gaul, sedangkan aku bergerak di
lingkaran lainnya. Lebih tepatnya aku masuk di lingkaran anak-anak kurang gaul.
Hahaha...
Berbeda dengan ketiga sobatku yaitu Jana, salah satu cewek paling cantik dan
paling pintar satu sekolah; Nadia yang selalu aktif di OSIS; dan Dara yang selalu
dikenal orang karena pacar-pacarnya yang selalu saja cowok paling ngetop satu
sekolah, aku terkenal sebagai cewek paling jutek satu sekolah. Aku yakin kalau saja
sobat-sobatku tahu bahwa aku masih menyimpan perasaan untuk Baron, mungkin
mereka akan bisa lebih membantu. Tapi aku malu membagi informasi ini dengan
mereka.
Kalau ada yang bisa membaca pikiranku dan bertanya mengapa aku sangat
terobsesi dengan Baron, sejujurnya satu-satunya alasan yang bisa keluar dari
mulutku adalah bahwa Baron-lah cowok yang paling sempurna di mataku. Dia
hampir selalu jadi juara kelas, dia dari keluarga yang cukup berada, setahuku
agamanya sama denganku, tapi yang lebih penting dari itu semua, Baron adalah
salah satu cowok paling ganteng yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Kulitnya
putih bersih, rambutnya ikal agak kemerah-merahan, tubuhnya tinggi tegap, dan
kalau dia tersenyum, sepertinya seluruh dunia ini akan ikut tersenyum dengannya.
Senyumnyalah yang pertama kali membuatku mulai memperhatikannya.
Aku mengenal Baron semenjak kelas satu SD dan selama delapan tahun, aku
tahu bahwa segala sesuatunya tentang Baron selalu luar biasa. Mulai dari wajahnya,
ranking di kelasnya, hingga gosip pacarnya. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak
pernah menganggapnya lebih daripada seorang cowok yang satu sekolah dan
terkadang satu kelas denganku. Tetapi setahun terakhir sebelum kami lulus SMP,
aku baru menyadari betapa luar biasanya Baron dan aku tidak pernah bisa
melupakannya semenjak itu.
Baron adalah satu-satunya cowok yang berani mendekatiku saat itu, meskipun
dia tahu reputasiku sebagai cewek paling mengerikan satu sekolah. Dia selalu
mencari alasan untuk mencoba berbicara denganku tanpa ada topik pembicaraan
yang jelas dan beberapa kali aku mendapatinya memandangiku dengan tatapan
ingin tahu. Pertama-tama aku tidak menghiraukan perhatiannya dan menganggap
bahwa perasaanku mengenai tingkah laku Baron hanyalah itu... “perasaanku”,
karena aku bukan tipe perempuan yang disukai Baron sama sekali. Tapi
“perasaanku” itu dikonfirmasikan oleh dua sobatku, Dara dan Nadia, yang
menyatakan bahwa mereka pun melihat gelagat Baron memberikan perhatian lebih
padaku.
Mereka bilang, “Kenapa lo mesti bingung kalau Baron suka sama elo? Lo kan
orangnya not bad looking lho, Dri.” Aku sempat tertawa terbahak-bahak mendengar
dukungan mereka. Aku juga sangat berterima kasih karena mereka menganggapku
nggak jelek-jelek amat karena sejujurnya, aku memang tidak bisa dianggap cantik.
Lagakku yang sok tahu, pipiku yang tembam, tubuhku yang tidak terlalu tinggi,
dan kulitku yang agak gelap, jelas-jelas tidak menggambarkan attractiveness sama
sekali. Setelah itu, aku mulai menyadari bahwa Baron betul-betul mencoba
mendekatiku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa takut. Aku takut
aku bisa suka sama Baron dan ternyata dia tidak menyukaiku. Aku bahkan sempat
berpikir mungkin Baron taruhan dengna teman-temannya untuk menggangguku,
bukan hal yang aneh di kalangan anakk-anak gaul. Dengan kepala penuh rasa
ketakutan yang kubuat sendiri, aku mengambil langkah seribu lari ke Amerika.
Tetapi kini aku kembali, dan aku tahu bahwa aku harus bertemu dengan Baron
cepat atau lambat. Aku harus menyelesaikan masalahku dengannya agar aku bisa
melanjutkan hidupku. Aku harus tahu apakah ada sesuatu di antara kami pada saat
SMP dulu, dan apakah rasa itu masih berbekas di dirinya seperti pada diriku. Aku
meragukan hal itu, karena kalau memang menginginkanku, Baron pasti sudah
mencoba menghubungiku ketika aku di Amerika. Aku sempat menunggu kabarnya
selama beberapa bulan, tetapi tidak pernah mendengar apa-apa darinya. Tapi aku
tidak bisa menyalahkan Baron sepenuhnya, karena sejujurnya cowok itu mungkin
juga bingung dengan tingkah lakuku terhadapnya, dan kepergianku ke Amerika
mungkin dianggapnya sebagai konfirmasi bahwa aku tidak menginginkannya.
3. SEORANG TEMAN
AKU sudah bersiap-siap check in di konter Cathay Pacific bersama enam orang
lainnya pada pukul 12.30, hari keberangkatan tim Good Life untuk training di
Amerika, ketika mendapati Ervin sedang menuju ke arahku. Melihatnya lagi
membuatku sedikit gelisah. Aku tidak mungkin bisa berbicara seperti orang normal
dengannya, apalagi dengan gayanya hari ini yang bahkan lebih seksi daripada
seminggu yang lalu. Hari ini dia mengenakan jins berwarna gelap dan kaus putih
yang dilapisi sweatshirt bertuliskan Texas A&M.
“Hei,” ucapnya ketika sudah berdiri di sampingku.
Aku membalas sapaannya. Ervin hanya membawa sebuah koper hitam yang
agak kecil.
“Omong-omong, thanks buat minggu lalu. Oh iya, gue Adri.” Aku mengulurkan
tangan untuk berkenalan dengannya.
Ervin membalas uluran tanganku sambil tersenyum dan berkata, “I know, gue
Ervin.”
“I know,” ucapku. Aku menelan ludah sebelum membalas senyumannya. Aku
hampir lupa dengan senyum mematikannya itu. Aku sempat kaget bahwa dia masih
ingat namaku. Tapi aku buru-buru menenangkan diriku yang mulai merasa sedikit
ge-er.
Proses check-in berjalan cukup lancar, sehingga kami masih memiliki banyak
waktu untuk menunggu waktu boarding di ruang tunggu. Aku sedang sibuk
membaca Henry James ketika mendengar Ervin bertanya, “Mau permen?” sambil
menyodorkan sepotong Doublemint yang masih dibungkus kertas metalnya
kepadaku.
Aku hanya tersenyum, mengambil satu potong dan memasukkannya ke tasku.
“Kok nggak dimakan?” tanya Ervin ingin tahu.
Aku memandangnya beberapa detik sebelum menjawab, “Gue baru minum
Antimo, takut bermasalah sama perut gue kalau dicampur.”
Ervin mengangguk dan aku pun kembali pada bacaanku. Tapi baru aku
membaca satu paragraf, suara Ervin melayang kembali kepadaku.
“Lo suka kena motion sickness?”
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengangguk.
“Khusus untuk pesawat apa kapal laut juga?” tanyanya lagi. Kini matanya
betul-betul memandangku. Aku yang kaget dengan tatapan matanya merasa sedikit
terkesima. Untung aku sedang duduk, kalau berdiri kemungkinan besar aku sudah
jatuh tersungkur ke lantai.
“Paling parah kapal laut, terutama ferry. Kalau pesawat sudah agak lumayan.
Biasanya gue berusaha membayangkan bahwa gue sedang ada di mobil dengan
kecepatan tinggi. Kalau mobil biasanya nggak masalah, selama jalannya nggak
berkelok-kelok. Tapi gue nggak pernah ada masalah kalau naik kereta api,” jelasku
panjang-lebar.
Ervin tersenyum simpul. Dan untuk beberapa detik aku tidak bisa bernapas.
Aku bertaruh pada diriku sendiri bahwa senyuman Ervin tidak akan membawa efek
samping kepadaku setelah ini. Untung kemudian Ervin mengalihkan perhatiannya
untuk melihat-lihat area ruang tunggu. Aku kembali membuka novelku pada
halaman yang kubatasi dengan telunjukku. Tapi aku tahu Ervin akan melayangkan
pertanyaan selanjutnya tidak lama lagi, jadi aku berusaha secepat mungkin
membaca satu paragraf yang menutup Bab 4.
“Lo suka baca novel?” tanya Ervin lagi.
Tuh kan...
Aku mengangguk tanpa mengangkat wajah dari buku.
“Klasik?”
Aku selesai membaca paragraf itu dan mendongak untuk menatap wajahnya.
Aku mengangguk lagi, tapi sebelum sempat menjelaskan alasanku, seorang ground
crew Cathay mengumumkan bahwa penumpang first dan business class dipersilakan
masuk ke kabin. Aku segera membereskan barang-barangku dan berjalan menuju
belalai. Sudah bertahun-tahun aku menggunakan pesawat sebagai metode
transportasi, tapi tetap saja aku masih merasa sedikit... tidak nyaman.
Ervin meremas bahu kananku dan berkata, “Biar gue duduk di sebelah lo. Gue
jagain lo biar lo nggak mabok udara.”
Aku hanya bisa memandangnya selama beberapa detik dengan mulut terbuka.
Ketika tangan Ervin menyentuh bahuku, aku dapat merasakan sengatan listrik yang
membuat jantungku berhenti berdetak.
Adri, please deh. Jangan ge-er. Dia cuma mau mastiin elo baik-baik saja, aku
mengomeli diriku sendiri.
Ervin yang sepertinya sadar bahwa dia telah membuatku merasa tidak nyaman
menarik tangannya dari bahuku.
Aku tertawa lemah untuk menutupi suaraku yang terdengar tidak stabil. “Pas
kita sampai di Hong Kong, lo pasti akan bertanya-tanya sama diri lo sendiri kenapa
lo mau duduk di sebelah gue,” candaku.
Untungnya Ervin sepertinya berpikir reaksiku disebabkan rasa “takut terbang”
bukannya karena rasa “jantungku mau copot karena laki-laki paling ganteng yang
pernah kulihat selama setahun belakangan ini menyentuhku”, sehingga aku bisa
mulai mengatur pernapasanku agar kembali normal.
Aku kebetulan dapat tempat duduk paling depan di sebelah jendela, dan
seorang ibu yang sudah beranak dua dari tim kami duduk di sebelahku. Tetapi
kemudian Ervin membujuknya untuk bertukar tempat duduk dengannya agar dia
bisa duduk di sebelahku. Ibu itu tentunya tidak bisa menolak Ervin yang sepertinya
sudah bisa merayu wanita semenjak dia masih ada di dalam kandungan. Selama
tiga puluh menit belakangan ini aku memang bertanya-tanya pada diriku sendiri,
mengapa laki-laki yang seminggu lalu sepertinya jutek padaku ini tiba-tiba bisa
berubah jadi super-ramah? Aneh.
Ketika pesawat kami siap lepas landas Ervin bertanya padaku, “Mau pegang
tangan gue?”
Aku menggeleng. Biasanya aku cukup berani untuk melewati seluruh
penerbangan sendiri, selama tidak ada turbulence. Aku sangat beruntung karena
sempat mengkonfirmasi Yahoo sebelum berangkat dari rumah, hari itu kami akan
terbang dengan cuaca cerah menuju Hong Kong. Tetapi itu bukan alasan utama
mengapa aku tidak mau memegang tangan Ervin. Membayangkan tangannya
menyentuh bagian tubuhku, walaupun hanya tanganku, sudah cukup membuatku
bergidik memikirkan sengatan listrik yang akan menyerangku. Terutama karena
aku tahu apa maksud sengatan listrik itu. Aku kayaknya mulai naksir berat pada
Ervin. Sayangnya hal tersebut hanya dialami olehku, karena sepertinya Ervin tidak
terpengaruh sama sekali.
Setibanya di Hong Kong, kami harus menunggu hingga tengah malam untuk
penerbangan selanjutnya menuju Los Angeles. Dalam penerbangan kedua itu, kami
juga ditempatkan di kabin business class dan lagi-lagi Ervin memilih untuk duduk di
sampingku. Aku tentunya tidak keberatan, karena selama penerbangan kami dari
Jakarta ke Hong Kong, Ervin tidur pulas dan aku cukup bahagia menikmati
novelku. Tapi kini sepertinya Ervin sudah merasa cukup istirahat dan
mempersiapkan diri untuk makan malam dan menonton film. Kami duduk
berdampingan, berdiam diri. Tetapi keheningan kami terasa nyaman. Sesekali Ervin
akan melirik ke monitorku sehingga kepalanya berada sangat dekat dengan
wajahku dan aku dapat mencium aroma samponya, sebelum kemudian dia kembali
ke monitornya dan mengganti channel untuk menonton film yang sama denganku.
Setelah dinner malam itu dan menonton satu film lagi, aku memutuskan untuk
tidur. Jam tanganku yang masih menunjukkan waktu Jakarta, sudah menunjukkan
pukul tiga pagi. Aku menengok, mendapati Ervin sudah pulas di kursinya dengan
bantal dan selimut yang mulai turun dari bahunya. Kulihat dia agak menggigil,
mungkin karena AC kabin terlalu dingin. Aku lalu mengatur AC itu untuk tidak
mengarah ke tubuhnya, lalu mengikuti jejaknya memejamkan mata.
Sambil mulai terlena, aku tersenyum pada diriku sendiri. Tingkah laku Ervin
dan wajahnya ketika sedang tidur mengingatkanku pada sosok cowok yang kukenal
lima belas tahun yang lalu, yang namanya dimulai dengan huruf B... Ya ampun,
kayaknya aku sudah mulai gila!!! Sejenak mataku kembali terbuka lebar. Tapi aku
segera menenangkan diri, dan memejamkan mata lagi. Malam itu aku tidak bisa
tidur nyenyak. Aku bermimpi tentang Baron.
Di dalam mimpiku aku sedang berada di Miami, menikmati sinar matahari yang
menyinari wajahku. Baron berdiri di sampingku. Wajahnya dihiasi senyumnya yang
khas. Lalu aku mencium aroma vanila bercampur suatu aroma musky lainnya.
Aroma yang cukup maskulin dan menyegarkan. Tiba-tiba aku mendengar ada
orang memanggil namaku. Aku mencoba mencari arah suara itu, tapi tidak
menemukannya. Beberapa saat kemudian aku merasakan guncangan yang cukup
dahsyat, sepertinya Miami sedang kena gempa bumi. Lalu aku tersadar. Ternyata
guncangan itu datang dari tangan berukuran besar milik Ervin. Aku buru-buru
memfokuskan mataku.
“What, what?” ucapku berusaha untuk fokus. Aku tidak rela melepaskan Baron
dari mimpiku.
“Dri, bangun Dri, lo mau sarapan apa?” tanya Ervin sambil berusaha untuk
membawaku ke alam sadar.
Aku kemudian tersadar bahwa aroma vanila dan musk yang tadi kucium masih
ada, dan ternyata datang dari sebuah sweatshirt yang kini berada di pangkuanku.
Aku berpikir aroma vanila itu mungkin salah satu campuran aroma parfumku, dan
karena masih belum fokus juga aku lalu mengenakan sweatshirt itu sebelum berjalan
menuju toilet untuk mencuci muka.
Setelah mencuci muka dan bersiap-siap untuk keluar, aku mematuk diri di
depan cermin dan sadar bahwa sweatshirt yang kukenakan bukan milikku. Lalu aku
melihat satu huruf A merah yang tercetak di sebelah kanan dadaku. Sadarlah aku
bahwa aku sedang mengenakan sweatshirt Ervin yang dia kenakan ketika berangkat
kemarin dari Jakarta. Buru-buru kurapikan rambutku yang terurai dan mengikatnya
dengan karet di pergelangan tanganku. Kutanggalkan sweatshirt itu dan melipatnya
dengan rapi sebelum keluar dari toilet.
Aku menemukan Ervin sedang menyantap Fruit-Loops dari sebuah mangkuk.
“Makasih ya sweatshirt-nya.” Aku mengulurkan sweatshirt itu kepada Ervin,
sambil melangkah ke kursiku.
“Kembali,” ucap Ervin sambil mengambil sweatshirt itu dari tanganku. “Lo yakin
nggak butuh lagi?”
“Yakin. Mudah-mudahan gue tadi nggak ngilerin sweatshirt lo,” ucapku agak
khawatir.
Ervin hanya tersenyum dan memberikan sweatshirt itu kepada seorang
pramugari yang kemudian meletakkannya ke kompartemen kabin di atas kepala
kami. Aku lalu menumpukan perhatianku pada sarapanku yang rupanya telah
dipilihkan menjadi Fruit-Loops juga.
“Gue pilih sereal ini buat elo. Is it okay?”
Aku tersenyum sambil mulai menyantap sarapanku. Sebenarnya aku kurang
suka Fruit-Loops, aku lebih suka Kellog‟s Frosted Flakes, tapi aku tidak tega
mengatakan hal itu kepada Ervin yang sudah cukup perhatian dan memastikan
bahwa sarapanku sudah tersedia.
Aku membuka tutup jendela pesawat untuk melihat ke luar. Tetapi aku baru
saja mengangkat tutup jendela itu sekitar lima sentimeter ketika menyadari bahwa
sinar matahari yang sangat terang dan bisa membuatakan mataku memasuki kabin.
Kututup kembali jendela itu dan mulai menyantap serealku perlahan-lahan.
“Lo tadi malam nggak kedinginan?” tanyaku membuka pembicaraan setelah
selesai sarapan.
“Lumayan, tapi gue lihat elo lebih kedinginan lagi daripada gue, sampai
meringkuk di kursi. Gue nggak tega.”
Kenapa dia tidak meminta selimut dari pramugari saja buatku? Aneh, pikirku
dalam hati.
“Oh, padahal tadi malam AC yang ke arah gue sudah gue matiin lho,” jelasku.
“Oh iya? Mungkin memang AC-nya yang terlalu dingin.”
Kami kemudian tenggelam dalam percakapan lainnya, mulai dari pengalamanpengalaman
terbang kami yang penuh dengan nightmare hingga film.
“Film favorit lo apa?” tanya Ervin padaku.
“Gone with the Wind, The Godfather, dan... Lord of the Rings.”
“Kenapa lo suka film-film itu?”
Aku mengerutkan kening mencoba memutuskan. “Pada dasarnya karena gue
memang suka film-film yang diadaptasi dari buku, dan biasanya gue pasti baca
bukunya dulu sebelum nonton filmnya. Ada sih beberapa film yang gue tonton
sebelum baca bukunya. Tapi, pada intinya gue harus tahu akhir dari cerita itu
sebelumnya.”
“Nggak seru dong kalau gitu, nggak ada surprise-nya,” balas Ervin.
“Well, gue memang nggak suka surprises.”
Ervin hanya geleng-geleng kepala mendengar alasanku.
“Di antara tiga film itu, yang mana yang paling dekat sama bukunya?”
Aku berpikir sejenak. “Kalau menurut jalan cerita, Gone with the Wind yang
paling asli. Tapi menurut gue, Peter Jackson sukses untuk mengadaptasi Tolkien,
karena itu mungkin satu-satunya film adaptasi yang menurut gue lebih bagus dan
lebih bisa menvisualisasikan karakter dan kejadian-kejadian yang ada di novel
daripada novel itu sendiri.”
Ervin manggut-manggut sebelum berkata, “Gue sebenarnya nggak seberapa
suka film fiksi ilmiah, tapi Lord of the Rings harus gue akui memang bagus.”
Kami kemudian terdiam beberapa saat ketika tiba-tiba lampu yang menandakan
bahwa kami harus mengenakan sabuk pengaman menyala dan tidak lama
kemudian suara kapten penerbangan kami mengatakan bahwa akan ada sedikit
turbulence selama beberapa menit ke depan dan dia meminta para penumpang agar
kembali ke tempat duduk masing-masing dan mengenakan sabuk pengaman. Limat
menit kemudian aku sudah menutup mataku dan memohon kepada Tuhan agar
guncangan itu berhenti. Aku mulai agak mual dan harus menelan ludah beberapa
kali untuk mencegah agar tidak muntah. Untung kemudian guncangan itu berhenti
dan aku berani membuka mata kembali. Aku baru sadar bahwa aku sedang
meremas tangan Ervin erat-erat.
“I’m sorry,” ucapku dan melepaskan tangannya.
“Gue ambilin air hangat buat lo,” ucapnya lalu berdiri dari kursinya dan menuju
ke bagian belakang kabin.
Selama dia pergi aku mencoba menarik napas perlahan-lahan untuk
menenangkan perutku. Tak lama kemudian Ervin kembali duduk di sebelahku
dengan segelas air hangat. Aku meminumnya perlahan-lahan, menunggu mualku
kambuh lagi. Tapi rasa mual itu sudah pergi.
“Lo kenapa suka The Godfather?” tanya Ervin tiba-tiba.
Aku tersenyum, karena tahu Ervin sedang berusaha mengalihkan perhatianku
dari rasa mual.
“Well, pertama kali gue nonton film itu karena ada keharusan untuk salah satu
kelas gue...”
Ervin memotongku sebelum aku selesai berbicara, “Sociology?” tanyanya.
“Animal behavior,” jawabku.
Ervin memandangiku seperti aku baru saja berbicara dalam bahasa yang dia
tidak mengerti. Aku hanya mengangkat bahu. “Menurut profesor gue, film itu
sangat menggambarkan teori Darwin...”
“Survival of the species,” kata-kata itu keluar dari mulut Ervin sebagai suatu
pernyataan, bukan pertanyaan.
Kini giliranku yang memandanginya seakan-akan dia baru saja berbicara
dengan bahasa alien. “Lo tahu tentang Darwin?” tanyaku akhirnya.
“Bukannya semua orang tahu tentang Darwin dan teorinya?” Ervin balas
bertanya.
Benar juga, ucapku dalam hati mencoba menenangkan rasa kaget dan
kekagumanku.
“So, buku jenis apa yang lo suka?” tanyaku mengganti topik, mencoba
memancing untuk mengetahui seberapa luas pengetahuan laki-laki satu ini.
“Kebanyakan biografi,” jawabnya enteng.
“Favorit lo siapa?”
Tanpa berpikir panjang Ervin langsung menjawab, “Hitler.”
Aku yakin wajahku pasti terlihat sangat bingung, karena Ervin menambahkan.
“Of course, gue tidak membenarkan aksi holocaust atau war crimes lainnya yang
terjadi pada saat itu, tapi gue akui gue kagum dengan kemampuan Hitler
menggunakan politik propaganda. Dan tentunya karismanya. Lo tahu nggak his last
name is not even Hitler?”
Aku menggeleng. “Hitler itu nama ayah tirinya dan dia nggak suka sama orang
itu. Tapi Adolf tetap menggunakan nama Hitler karena terdengar lebih komersil,”
jelas Ervin.
“Gue dengar dia orang Austria,” balasku.
Ervin mengangguk. “Iya, which is odd, dia lebih Jerman daripada orang Jermannya
sendiri.”
“Gue rasa sih dia memang rada-rada gila,” jawabku. “Lo tahu kan bahwa sekitar
sepuluh persen dari human gnome belum bisa diketahui, dan diperkirakan bahwa
sepuluh persen itulah yang menentukan apakah manusia itu akan jadi baik atau
jahat.”
Ervin tersenyum mendengar penjelasanku.
Aku hanya memandangnya bingung. Untung saja, efek senyuman Ervin mulai
agak pudar. Setidak-tidaknya jantungku tidak lagi mengalami lonjakan tidak
teratur.
“Gue lupa lo anak psikologi,” candanya.
Wajahku langsung memerah.
“Aduh... berkali-kali orang bilang ke gue, jangan sok tahu, jangan sok pintar,
tapi susah buat gue untuk nggak mengemukakan yang gue tahu,” ucapku dengan
nada penuh sesal dan memohon maaf. Kututupi wajahku dengan kedua telapak
tanganku.
Tanpa kusangka-sangka Ervin malah terbahak-bahak. Beberapa kepala berputar
untuk melihat siapa yang membuat keributan. Kalau aku tidak terlalu kaget dengan
reaksinya mungkin aku akan berusaha untuk menurunkan volume tawanya, tapi
aku tetap kaget untuk berbuat apa-apa.
“Nggak apa-apa kok, setidak-tidaknya gue harus hati-hati kalau ngobrol sama
elo. Jangan-jangan lo lebih tahu daripada gue,” balas Ervin setelah tawanya reda.
“Setidak-tidaknya elo selalu akan lebih tahu tentang sejarah daripada gue,”
gumamku.
“Apa lo bilang?” tanyanya.
“Nothing,” balasku.
Beberapa jam kemudian pesawat kami mendarat di Los Angeles. Di sana kai
harus menunggu sekitar tiga jam untuk mendapatkan penerbangan selanjutnya ke
Cincinnati dengan Delta. Sekali lagi aku menelan Antimo untuk mempersiapkan diri
apabila ada badai salju yang tiba-tiba melanda Pesisir Barat dan menimbulkan
turbulence di dalam penerbangan terakhir itu. Dan Ervin tidak pernah meninggalkan
sisiku.
Setibanya kami di Cincinnati, hari masih sangat pagi, dan karena kami sampai
pada hari Minggu, kami tidak mendapatkan hambatan apa pun dalam perjalanan
dari airport menuju hotel. Perwakilan Good Life yang datang menjemput adalah dua
orang summer intern dari Xavier University, sebuah universitas lokal kenamaan di
Cincinnati. Mereka kelihatan cukup lelah, tapi juga bersemangat untuk menjemput
kami. Melihat dua anak muda itu membuatku teringat pengalamanku sendiri ketika
baru lulus S1. Masih culun tapi bersemangat sekali untuk belajar. Kedua intern itu
memperkenalkan diri sebagai Sebastian dan Lisa, dan mereka langsung membawa
kami naik dua van menuju Millenium Hotel di pusat kota Cincinnati. Ada sedikit
rasa sendu yang menyentuhku ketika melihat matahari yang baru akan terbit dari
timur dan udara yang masih cukup dingin untuk bulan Maret. Aku mengambil
napas dalam-dalam dan mencoba menikmati saat-saat ini.
Aku tidak memperhatikan apa yang sedang dikerjakan Ervin, tapi ternyata dia
sedang memperhatikanku. Ketika sadar bahwa dia sedang memandangiku dengan
saksama, aku langsung risi.
“Apa?” tanyaku padanya.
“Nggak apa-apa,” jawabnya cuek, tapi dia tetap memandangiku.
“Oke, stop deh,” ucapku yang mulai gelisah.
Ervin lalu mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Selama sisa perjalanan ke
hotel, Ervin tidak menggangguku lagi.
Ketika tiba di hotel, ternyata kami sudah dipesankan empat kamar, yang
masing-masing diisi oleh dua orang. Setelah berbagi kamar, kami kemudian
berpisah menuju kamar masing-masing untuk beristirahat hingga waktu makan
malam. Ketika aku baru saja akan beranjak ke tempat tidur, tiba-tiba ada bunyi
ketukan di pintu kamarku. Kulirik alarm clock yang terletak di night stand yang
menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku lihat teman sekamarku sudah tertidur pulas.
Dengan penuh keraguan aku mengintip melalui peep-hole. Ervin sedang berdiri di
luar. Aku buru-buru membuka pintu.
“Kenapa, Vin?” tanyaku ragu.
“Dri, sori gue ganggu...” Ervin tidak meneruskan kalimatnya.
Aku berdiam diri menunggu apa yang ingin dikatakannya.
“Lo mau makan nggak?” tanyanya cepat, sehingga aku harus mengerutkan
keningku untuk mencerna kata-katanya.
Aku mengembuskan napas agak keras sambil menahan tawa ketika aku sadar
apa yang dia tanyakan.
Laki-laki di mana-mana ternyata sama, pikirku dalam hati. Mereka selalu lapar,
tidak peduli jam berapa atau di mana mereka berada. Kalau memang waktunya
makan, mereka harus makan. Meskipun sangat lelah, tapi mengingat betapa Ervin
telah menjagaku selama penerbangan, aku akhirnya setuju menemaninya.
“Tunggu sebentar ya, gue ganti pakaian dulu,” ucapku, lalu menghilang
beberapa menit.
Dengan asal aku memilih menggunakan jins longgar dan melapis kamisolku
dengan sweatshirt George Washington University yang sudah cukup lusuh. Aku lalu
mengambil dompet dan keluar menemui Ervin.
4. JALAN-JALAN
HARI sudah menjelang siang, cuaca mulai menghangat. Masih banyak bongkahan
salju di mana-mana, tapi jalan utama sudah digarami sehingga terlihat bersih dan
tidak licin. Aku sebetulnya lebih menyukai salju daripada hujan. Aku selalu benci
hujan kalau mau keluar rumah, karena semuanya jadi basah. Tapi kalau sedang ada
di rumah aku selalu suka hujan, karena suara hujan bisa menenangkan diriku yang
selalu gelisah apabila tidak melakukan apa-apa.
“Lo mau makan apa?” tanyaku.
“Tadi gue lihat mal dekat sini, katanya kita bisa naik shuttle dari depan hotel
untuk ke sana. Gimana?” tanyanya.
Aku mengangguk setuju. Kami lalu menunggu shuttle di depan hotel yang tiba
10 menit kemudian. Kami sempat mengelilingi pusat kota sebelum menuju
Kentucky. Cincinnati yang terletak persis di perbatasan antara Ohio dan Kentucky
membuatnya menjadi salah satu dari banyak Tri-State yang ada di Amerika. Setelah
kuperhatikan, ternyata Cincinnati cukup mirip dengan D.C., banyak gedung tua
dengan warna putih yang sudah mulai memudar menjadi abu-abu karena asap
kendaraan bermotor.
Setibanya kami di The Levee, itulah cara sopir shuttle menyebut mal tersebut,
satu-satunya restoran yang buka adalah Bar Louie, salah satu chain bar yang cukup
dikenal di bagian Midwest dan Selatan Amerika Serikat. Ervin memesan Black
Angus Burger dan aku memilih Chicken Quesadillas.
“Vin, lo berapa bersaudara?” tanyaku membuka pembicaraan sambil
mengunyah makananku. Meskipun tahu bahwa pertanyaanku mengangkut masalah
pribadi, tapi aku memang ingin tahu.
“Ada tiga. Kakak satu dan adik satu. Gue laki-laki sendiri. Kalau lo?”
“Gue cuma ada satu kakak dan dia sudah married.”
“Oh, kakak gue juga sudah married. Dia tinggal di London sama suaminya. Adik
gue masih kuliah di Toronto.”
Aku memperhatikan bahwa Ervin menyingkirkan pickles dari burgernya.
“Lo nggak suka pickles?”
Ervin memandangku dan menggeleng.
“Kenapa tadi nggak bilang?” tanyaku lagi.
“Lupa.”
Aku salah satu orang yang sangat suka pickles, dan sebetulnya ingin ngembat
pickles-nya Ervin, tapi aku merasa sedikit self-conscious karena belum terlalu
mengenal cowok itu. Akhirnya kubiarkan pickles itu tak termakan.
“Kakak lo ada di Jakarta?” tanya Ervin setelah beberapa saat.
“Iya, sementara ini. Rencananya memang mau menetap di Jakarta, tapi masih
mau lihat keadaan. Situasinya agak susah karena status suaminya.”
“Oh, suami kakak lo orang asing?”
“Iya. Amerika.”
“Bule?” tanya Ervin lagi.
Aku mengangguk.
“Keluarga lo memang suka sama bule, ya?” tanya Ervin polos.
Aku menatapnya dengan bingung sebelum menjawab. “Lha, kalau keluarga lo
gimana?”
Ervin kemudian sadar bahwa kata-katanya kemungkinan terdengar sedikit
menyinggung dan memperbaikinya. “Well, kakak gue married sama bule juga sih.”
“Well, there you go.”
Setelah makan kami meluangkah waktu untuk berjalan-jalan sedikit mengelilingi
The Levee, tapi belum lama, Ervin sudah menemukan Barnes & Noble dan
langsung berkata dengan antusias. “Hey, can we make a stop?” tanyanya.
Aku mengangguk, lalu kami pun memasuki toko buku itu. Aku memang
sedang mencari box-set seri novel karya Stephanie Meyer yang belum lama ini telah
diadaptasi menjadi film layar lebar. Aku melihat Ervin menuju ke rak New Release.
Ketika telah menemukan yang kucari, kulihat Ervin browsing sebentar sambil
melihat-lihat buku lain. Aku menemukan bagian New Age dan mulai membukabuka
satu buku astrologi yang menarik perhatianku. Ketika sedang membaca
tentang bintangku, tiba-tiba aku mencium aroma vanila yang sama ketika aku masih
ada di pesawat, buru-buru aku menoleh. Ternyata Ervin berdiri persis di
belakangku, sehingga hidungku langsung bertabrakan dengan dadanya. Dia
ternyata ikut membaca deskripsi tentang pribadiku. Aku mengambil satu langkah
ke samping untuk memberi sedikit jarak di antara kami berdua. Jarak yang terbukti
kurang jauh karena aku masih dapat melihat dengan jelas bahwa ada bekas luka
persis di bawah dagu Ervin, yang membuatnya semakin seksi.
“Trustworthy, Calm, Autoritative, Stubborn—dapat dipercaya, tenang, otoritatif,
keras kepala,” ucapnya mengulangi penggambaran karakter zodiakku yang tertulis
di buku itu. Senyum simpul muncul di sudut bibirnya.
Panik, aku buru-buru mengembalikan buku itu ke rak.
“Eh, kenapa dibalikin, nggak jadi beli?” Ervin sok bingung sambil mengambil
buku yang baru kuletakkan di rak dan membuka halaman yang menjelaskan
tentang zodiak Taurus.
“Bintang lo apa? Kenapa lo nggak baca bintang lo sendiri?” tanyaku agak kesal.
“Ini lebih menghibur. Gue mau tahu apa buku ini memang bisa menggambarkan
orang berdasarkan zodiaknya atau hanya bullshit.” Ervin terus sibuk membaca
buku itu.
“Oke, gue mau pulang dan tidur,” ucapku sambil berlalu meninggalkan Ervin
dengan bacaannya.
“Eh, tunggu...” Ervin buru-buru meletakkan buku itu dan mengikutiku ke kasir.
Aku selesai membayar dan menunggu hingga Ervin selesai dengan
transaksinya. “Would you like to have a Barnes and Noble card?” tanya kasir cowok itu
dengan ramah, menawarkan kami keanggotaan. Aku menggunakan kata “cowok”
karena anak ini tidak mungkin lebih tua dari delapan belas tahun.
“Oh, no thanks,” ucap Ervin tidak kalah ramahnya.
“Bagaimana dengan pacar kamu, apa dia mau kartu anggota? Saya lihat dia
membeli seri karya Stephenie Meyer, kami bisa memberinya diskon besar pada
pembelian berikut.”
Aku dan Ervin sama kagetnya dengan asumsi kasir berondong itu dan berkata
dengan cepat pada saat yang bersamaan. “Dia bukan pacarku!” “Aku bukan
pacarnya!”
Kasir itu terlihat kaget dan berkata kepadaku, “Oh, baiklah. Kalau begitu,
karena Anda membeli seri karya Stephenie Meyer—bukannya memaksa atau apa,
tapi di UC ada diskusi dengan Miss Meyer malam ini, saya punya tiket gratisnya.
Anda mau pergi bersama saya?”
Aku mendengar Ervin menggeram. „What?”
Aku langsung tanggap bahwa UC adalah University of Cincinnati, salah satu
universitas kebanggaan Cincinnati selain Xavier University. Melihat wajah Ervin
yang memandangiku dengan tatapan tidak enak, aku buru-buru mencoba mengatasi
keadaan dan berkata sambil agak salting, “Sayangnya saya sudah punya rencana
untuk nanti malam. Mungkin lain kali.”
Buru-buru kutarik tangan Ervin yang sedang mencoba membuat kasir itu takut
dengan tatapannya. Sepertinya Ervin cukup berhasil karena kasir itu langsung
menggumamkan, “Have a nice day,” dan mengalihkan perhatiannya pada hal lain.
Ketika aku dan Ervin sudah berada di luar toko buku dan jauh dari pendengaran
kasir berondong tadi, aku langsung meledak tertawa.
“What the hell was that?” tanya Ervin sambil memandangku dengan tatapan
menuduh. “Lo flirting ya sama tuh anak?”
Aku berhenti tertawa sejenak dan berkata, “Kalau menurut lo satu senyuman itu
disebut flirting, then yes, gue memang flirting sama dia.”
Ervin mengerutkan kening, kemudian menggeleng mendengar komentarku.
Kami lalu berjalan menuju halte untuk menunggu shuttle yang akan mengantar kami
kembali ke hotel.
Ketika tiba di hotel, mataku terasa berat sekali, tapi aku tidak bisa menemukan
kartu kunci kamar. Parahnya lagi, aku curiga kemungkinan besar aku lupa membawa
kartu kunci itu ketika keluar dari kamar hotel beberapa jam yang lalu.
“Kenapa, Dri?” tanya Ervin. Dia telah berhasil membuka pintu kamarnya. Dia
kemudian menutupnya kembali dan melangkah ke arahku.
“Kayaknya gue lupa bawa kartu kunci deh,” ucapku. Aku bisa merasakan
mukaku yang mulai memerah karena malu.
Aku buru-buru mengetuk pintu kamar beberapa kali, tapi tidak ada jawaban.
Akhirnya aku berkata, “Vin, boleh pinjam telepon?” tanyaku.
“Boleh,” ucapnya, lalu menggiringku masuk ke kamarnya. “Teman sekamar gue
tidur di kamar satu lagi, kali ya?” komentarnya ketika menemukan kamar itu
kosong.
Aku langsung menyibukkan diriku dengan telepon. Tetapi tetap tidak ada
jawaban dari kamarku. Kantuk mulai menyerangku karena di Jakarta saat itu sudah
pukul dua pagi.
“Dri, kalau lo ngantuk, lo bisa istirahat di sini kok, daripada lo nggak istirahat.
Nanti kita coba telepon lagi,” usul Ervin yang langsung aku terima dengan sukacita.
Aku sudah tidak mampu berpikir jernih lagi.
Setelah mencuci muka dan berkumur, aku siap menewaskan diri di salah satu
tempat tidur yang tersedia. Aku mendapati Ervin sudah tertidur di tempat tidur
yang satunya. Anehnya dia tidak menggunakan selimut. Aku tadinya mau menarik
selimut untuk menyelimutinya, tapi mengurungkan niatku. Aku takut kalau dia
bangun dan mendapati aku sedang menyelimutinya, entah apa yang akan
dipikirkannya tentangku. Ketika kepalaku menyentuh bantal aku langsung tertidur
dengan pulas.
Aku terbangun ketika merasakan guncangan hebat, yang ternyata berasal dari
tangan Ervin yang superbesar itu lagi.
“Dri, bangun, Dri, sudah jam enam lewat,” ucapnya lembut. Kontras sekali
dengan cara dia mengguncangkan bahuku.
Aku yang masih belum fokus hanya membalikkan tubuh ke arah suara tersebut
dan langsung berhadapan dengan wajah Ervin yang rupanya sedang berlutut di
samping tempat tidur.
“Agggghhhhhhh,” teriakku sambil mencoba bangun dari tempat tidur itu.
Ervin hanya terbahak-bahak. “Kaget, ya?”
Aku mencoba menenangkan diriku yang memang sedikit shock. “Lo ngapain sih
di situ? Ngagetin gue deh,” ucapku kesal sambil melangkah turun dari tempat tidur
dan memperbaiki letak kamisolku yang agak merosot ke bawah. Alhasil hampirs aja
salah satu payudaraku terlihat.
Kemudian aku baru sadar bahwa aku pergi tidur dengan menggunakan
sweatshirt, tapi sekarang mana sweatshirt-ku? Aku mulai panik, apalagi ketika aku
sadar bahwa Ervin sedang memperhatikan aku, dan tatapannya jatuh ke arah
dadaku.
“Sweatshirt lo ada di sana,” ucap Ervin yang lalu menunjuk salah satu kursi yang
ada di kamar itu. Pandanganku beralih ke arah jari telunjuknya.
“Lho kok bisa sampai di sana?” tanyaku curiga.
“Apa nggak pernah ada yang bilang lo tidurnya mirip orang Belanda lagi
perang?” ledeknya.
“Hah?” tanyaku bingung.
“Membabi buta,” jelasnya.
Mataku sudah bisa lebih fokus dan pandanganku jatuh ke tempat tidur yang
baru saja ditiduri Ervin. Tempat tidur itu terlihat rapi, hanya selimutnya yang agak
terlipat dengan bentuk trapesium yang memberikan indikasi bahwa tempat tidur itu
sudah ditiduri.
“Gue tadi telepon kamar lo, teman sekamar lo sudah bangun dan lagi bingung
elo ada di mana,” Ervin memberitahuku.
Kemudian hening. Tidak satu pun dari kami yang mengeluarkan suara. Aku
dapat melihat bahwa dia memandangiku dengan tatapan yang super-aneh.
Mungkin dia berpikir bahwa ternyata tampangku cukup jelek lima menit setelah
bangun tidur.
“I guess, I better go then,” ucapku dengan gugup sambil langsung bergegas
menuju pintu.
Ervin mendahuluiku dan membukakan pintu.
Aku melangkah menyeberangi lorong ke kamarku. Aku mengetuk pintu dengan
pelan. Setelah beberapa saat menunggu dan pintu masih bergeming, aku
mengetuknya lagi. Aku lalu mengalihkan perhatianku pada Ervin yang masih
berdiri di depan pintu kamarnya dengan celana piama kotak-kotak dan kaus putih.
Untuk orang yang baru bangun tidur, dia kelihatan cukup seksi. Kausnya yang agak
tipis membuatku bisa melihat otot-otot di tubuhnya, termasuk six-packs di perutnya.
Ervin kemudian melemparkan senyuman mematikannya padaku.
Panik, aku mulai mengetuk pintu kamarku dengan lebih keras. Beberapa saat
kemudian pintu itu pun terbuka. Aku mengucapkan terima kasih kepada Ervin
yang membalasnya dengan lambaian tangan sebelum aku menutup pintu kamarku
dan bisa bernapas lega.
* * *
Keesokan harinya kami sudah dijemput menuju markas Good Life jam tujuh pagi
untuk melalui training. Training kami dilakukan secara terpisah berdasarkan divisi,
dengan begitu aku harus melalui training Human Development-ku sendiri. Ervin
dan dua orang lainnya bergabung dengan Business Development. Sedangkan
sisanya menuju ke divisi Product Placement. Aku tidak tahu apa yang diajarkan
kepada tujuh orang lainnya, tetapi untukku, bagian HR Good Life di Cincinnati
memperkenalkanku dengan segala peraturan personalia yang harus aku terapkan
juga di dalam Good Life di Jakarta. Dan begitulah aku menghabiskan waktuku
selama satu minggu ke depan. Berangkat jam tujuh pagi, pulang jam enam sore, dan
aku harus mempelajari lagi apa yang sudah diajarkan padaku pada hari itu
sekembalinya aku ke hotel supaya aku bisa mengikuti apa yang akan diajarkan
keesokan harinya.
Dan sepertinya rekan-rekan satu timku juga melalui hal yang sama karena
mereka selalu kelihatan sibuk sendiri, kecuali Ervin. Dia selalu menyempatkan diri
untuk mencariku di kantin Good Life dan makan siang satu meja denganku dan
menjemputku dari kamar untuk mengajakku makan malam. Terkadang saat
semuanya sudah tidur, aku dan dia akan turun ke bawah dan belajar di lobi. Saat
waktunya kami semua kembali ke Jakarta, kami sudah seperti anak kembar siam
yang menempel di pinggul dan tidak bisa dipisahkan. Dia duduk di sampingku
sepanjang perjalanan dari Cincinnati hingga Jakarta dan tidak hanya memastikan
bahwa aku sudah minum Antimo dan cukup selimut supaya tidak kedinginan, tapi
dia juga menghiburku tanpa henti dengan humornya sehingga aku menikmati
setiap menit dari perjalanan panjang itu.
5. HARAKIRI
PERTAMA-TAMA aku berpikir bahwa Ervin banyak menghabiskan waktu
denganku di Cincinnati karena memang tidak ada orang lain yang bisa diajaknya
ngobrol, tapi ternyata persahabatan kami berlanjut sehingga kami pulang ke Jakarta.
Harus kuakui bahwa aku telah menemukan teman di dalam diri Ervin, teman yang
sedikit berbahaya karena aku naksir abis padanya. Tetapi aku tidak bertindak
mengikuti perasaan itu karena setahuku Ervin sudah punya pacar.
Selama beberapa bulan pertama mengenalnya, aku tahu beberapa hal tentang
Ervin. Dia lulusan Texas A&M double major di Marketing dan Human Relations,
MBA-nya dari Rice University, orangtuanya tinggal di daerah Pondok Indah, dan
dia masih punya oma dari pihak ibunya yang tinggal di Lembang. Tapi satu hal
yang sangat nyata tentang Ervin adalah banyak perempuan yang mencintainya. Aku
tidak bisa menyalahkan Ervin sepenuhnya karena perempuan normal mana yang
bisa menolak wajah Dewa Yunani-nya itu? Apalagi dengan latar belakang
pendidikannya, keluarganya yang jelas-jelas tajir abisss, dan tingkah lakunya yang
selalu sopan dan perhatian terhadap setiap perempuan. Kecuali perempuan yang
sudah terlalu menjengkelkannya, Ervin akan meninggalkan dia secepat mungkin.
Entah berapa banyak korban yang sudah terkena “The Ervin Syndrome”, penyakit
yang menandakan bahwa mereka telah “disentuh” oleh Ervin tanpa ada paksaan
dari Ervin sendiri. Hal ini memberikan Ervin kebebasan untuk gonta-ganti pacar
seperti ganti underwear.
Selama itu pula aku tetap single dengan alasan bahwa aku masih mencoba
mencari keberanian untuk bisa menghubungi Baron. Tapi aku tahu alasan
sebenarnya, bahwa aku “chicken”, penakut. Aku masih tetap tidak berani mengambil
langkah menghubungi Baron. Akhirnya aku menghabiskan hari-hariku dengan
menjadi pengamat yang baik bagi hubungan seksual Ervin dengan Dita, Yama, Lala,
Sissy, dan banyak lagi perempuan lainnya yang aku tidak ingat. Ervin memang
tidak pernah menyembunyikan selera seksnya yang sehat, tapid ia tidak pernah
sekali pun mencoba untuk menawarkannya kepadaku. Aku masih mencoba
memutuskan apakah itu sesuatu yang baik atau buruk. Apa itu berarti bahwa Ervin
menghormatiku? Atau bahwa Ervin memang tidak menganggapku menarik sama
sekali?
Tapi akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa apabila aku mau serius
memikirkan tentang Baron, aku harus menjauh dari Ervin. Selain untuk ketenangan
jiwaku, tapi juga untuk menyangkal gossip yang mengatakan bahwa aku dan Ervin
memiliki hubungan yang serius. Padahal peranku di dalam hidupnya mungkin
hanya sebagai ban serep kalau dia sedang kehabisan stok perempuan. Mungkin
untuk perempuan yang berumur di bawah 25 tahun dan memiliki IQ di bawah 100,
hal itu termasuk pujian, tapi tidak untuk perempuan yang sudah mendekati umur
tiga puluh tahun dengan IQ hampir jenius sepertiku.
“I deserve better than that,” teriakku berkali-kali untuk meyakinkan diriku bahwa
aku memang berhak untuk menerima tidak kurang dari yang terbaik. Aku harus
mulai mengatur kehidupan sosialku agar hidupku tidak hanya dihiasi oleh
Indovision yang meskipun sangat menghibur tapi tidak bisa memberikan apa yang
kubutuhkan.
Tekadku semakin bulat setelah acara Good Life Ball, suatu pesta besar-besaran
yang diadakan oleh perusahaan setahun sekali sebagai employee appreciation day.
Acara itu diadakan hari Jumat malam di hotel J.W. Marriott. Rencana awalku adalah
menumpang mandi di rumah Wulan, resepsionis kantorku. Tapi ternyata aku baru
bisa menyelesaikan pekerjaanku selepas jam lima sore, sedangkan acara itu akan
dimulai jam delapan malam. Akhirnya aku memutuskan untuk mencuci muka dan
ganti baju saja. Ketika aku akan menuju WC wanita, aku berpapasan dengan Ervin.
“Lo ngapain, Dri?” tanyanya sambil memandangi gaun malamku yang masih
dibungkus plastik Laundrette.
“Oh, ini... mau ganti baju buat ke Ball, soalnya nggak sempet mandi, jadi mau
cuci muka saja,” jawabku.
“Lo mau mandi?” tanya Ervin lagi.
“Iya, tadinya mau numpang di rumah Wulan, tapi tadi kerjaan gue belum
kelar.” Aku baru akan melangkahkan kakiku lagi ketika Ervin berkata, “Lo mandi di
rumah gue saja, Dri. Gue juga mau siap-siap kok,” ucapnya polos. Tanpa menunggu
jawaban dariku Ervin langsung mengambil gaun malamku.
“Lho, lho... Vin, vin, baju gue.”
“Sudah sana, ambil barang-barang lo, gue tunggu di bawah.” Dan dengan
begitu Ervin langsung masuk ke lift dan menghilang dari pandanganku.
Mandi di rumahnya Ervin? Sudah gila. Ini sama saja dengan harakiri. Aku
melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul setengah enam. Buru-buru
aku lari ke mejaku untuk mengambil semua keperluan pesta dan ngacir ke lobi.
Kalau tindakanku ini memang aksi bunuh diri, biarkanlah.
6. DEWA YUNANI
ERVIN pernah mengatakan bahwa dia tinggal sendirian di suatu apartemen di
daerah Casablanca. Apartemen itu dia beli dari uang yang diberikan oleh
orangtuanya. Saat itu aku tahu bahwa keluarga Ervin secara ekonomi pasti jauh di
atas rata-rata. Yang jelas lebih tinggi tarafnya daripada keluargaku, karena aku yang
berasal dari keluarga yang berkecukupan saja tidak pernah diberi uang oleh
orangtuaku untuk membeli apartemen pribadi. Orangtuaku adalah jenis orang yang
lebih memilih untuk menghabiskan uang mereka untuk membiayai pendidikan
anak-anaknya setinggi-tingginya, daripada menghambur-hamburkan uang untuk
hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya membeli apartemen mewah.
“Well, welcome to my home,” ucapnya ceria ketika kami melangkah masuk ke
apartemennya. “Lo pakai kamar mandi yang di master bedroom saja, Dri. Kamar
mandi yang di luar jarang dipakai jadi peralatan mandinya kurang komplet.”
Aku hanya bisa ternganga melihat apartemen yang didesain untuk laki-laki itu.
Segalanya terlihat serbamaskulin. Mulai dari sofa yang serbaputih, entertainment
center dengan teknologi terkni yang serbahitam, dapur yang serbakrom, dan
lantainya yang terbuat dari marmer putih. Tapi yang mengagumkan adalah bahwa
semuanya terlihat rapi, teratur, dan terurus. Tanpa kusadari rupanya Ervin sedang
menanyakan sesuatu padaku. Aku mengikuti arah suara itu dan mendapati diriku
berada di sebuah kamar tidur paling sensual yang pernah kulihat. Kata yang
muncul di kepalaku ketika melihat kamar itu adalah SEKSI. Dilihat dari ukurannya
aku yakin ini adalah kamar tidur utama. Dua dinding dari kamar itu adalah kaca
yang menghadap ke skyline Jakarta dan karena apartemen itu berada di lantai 25,
pemandangannya hampir tidak terbatas. Tempat tidur berukuran King dengan
headboard bersandar pada kaca ditutupi bedcover hitam dengan bantal-bantal
berwarna merah darah dan abu-abu. Salah satu pintu lemari pakaian Ervin terbuka,
sehingga aku bisa melihat bahwa segala sesuatunya tersimpan dengan rapi. Dan
sekali lagi aku dapat mencium aroma vanila. Kulihat Ervin telah menggantung
bajuku di salah satu gagang pintu lemarinya, di sebelahnya ada satu setel jas hitam
yang sudah dipasangkan dengan kemeja putih dan dasi bernada emas.
Ervin tetap berbicara, dan tidak satu patah kata pun yang bisa kutangkap.
“Nice apartment,” akhirnya aku bisa berkata-kata setelah membisu selama
sepuluh menit.
“Thanks. Sederhana aja, tapi gue betah di sini.”
Apa? Bisa-bisanya dia ngomong sesantai itu? Kalau punya apartemen sekeren
itu, wah, aku tidak mau keluar rumah lagi, teriakku dalam hati.
“Sudah hampir jam tujuh, lo mendingan buruan mandi. Gue mandi di kamar
mandi satunya jadi lo nggak perlu buru-buru. Handuk ada di bawah sink di kamar
mandi. Oh ya, sikat gigi yang baru ada di laci, terus kalau lo perlu peralatan
perempuan, lo pakai saja barangnya Tasya yang ada di mecidine cabinet.”
Ketika mendengar nama Tasya aku baru teringat Ervin sekarang sedang
berpacaran dengan Tasya.
Ya ampuuun! Terima kasih Tuhan, mengingatkanku supaya tidak memikirkan
hal yang tidak-tidak.
“Nggak apa-apa, gue bawa kok,” ucapku. Aku sebetulnya mau tanya ke Ervin
apa Tasya tidak keberatan aku numpang mandi di rumah pacarnya yang superhot
ini? Tapi aku tidak tahu bagaimana menanyakannya dengan nada tidak peduli.
Akhirnya aku memutuskan untuk diam saja.
Ervin tersenyum dan menutup pintu kamar, meninggalkanku sendirian di
dalam kamar yang bahkan berdiri di dalamnya saja aku sudah merasa berdosa,
apalagi harus mandi dan ganti baju.
Ya Tuhan, ampunilah hambamu ini...
Setelah selesai mandi dan menggunakan make-up secukupnya, masalah yang
agak-agak memalukan terjadi. Ritsleting gaun di sisi kanan badanku yang dimulai
dari garis korset sampai paha, macet. Aku berusaha menariknya beberapa kali tapi
ritsleting itu tetap macet. Ketika sedang berusaha menarik ritsleting itu sekali lagi,
tiba-tiba aku mendengar suara ketukan yang diikuti oleh suara Ervin.
“Dri, gue boleh masuk nggak? Dasi gue ketinggalan di dalam.”
“Mmmhhh... ya... tunggu...,” ucapku gagap. Aku buru-buru mencari dasi Ervin
yang ternyata tertinggal di atas nightstand. Dalam hati aku bertanya, Lho kok, baju
Ervin sudah tidak ada di kamar, padahal tadi sewaktu aku masuk ke kamar mandi
masih ada? Berarti tadi dia masuk kamar lagi ketika aku sedang di kamar mandi.
Ya ampuuunnnnnnn!!!
Aku membuka pintu kamar sedikit dan mengulurkan dasi itu padanya.
“Lo nggak apa-apa, Dri?” tanya Ervin sambil melingkarkan dasi itu di lehernya.
Aku melihat ada kerut-kerut di keningnya.
“Nggak, nggak apa-apa kok,” jawabku lemas.
Tanpa menghiraukanku Ervin mendorong pintu kamar dan melangkah masuk.
Otomatis aku mengambil beberapa langkah mundur.
“Terus, kenapa lo kelihatan panik?”
“Nggak, ini... ritsleting gue macet,” ucapku sambil berusaha untuk menarik
rapat gaunku yang terbelah dan memperlihatkan korset berwarna nude.
“Perlu dibantu?”
“Nggak, nggak, gue... bisa sendiri kok.”
Ervin memberikan pandangan tidak percaya. “Sudah sini, sebelah mana sih?”
“Gue bisa kok, Vin, cuma macet sedikit,” ucapku putus asa.
Tapi Ervin tidak mendengarkanku dan memutar tubuhku sehingga bagian
bajuku yang masih terbuka menghadapnya. Dia kemudian menarikku ke arah
tempat tidur sebelum kemudian dia duduk di ujung tempat tidur itu dan
menghadapku.
“Whoa... nice underwear,” ucapnya.
Aku rasanya mau mati saja. Malu sekali. Memang kuakui korsetku bisa dibilang
seksi karena terbuat dari renda-renda halus dan satin berwarna kulit, jadi kalau
dilihat dari jauh aku terkesan nude.
“Eh, elo nih, keadaan darurat malahan bercanda.” Aku berusaha keras supaya
suaraku terdengar tenang, tapi aku menyadari suaraku malahan terdengar agak
serak.
Tapi rupanya, Ervin benar-benar menyukai pakaian dalamku. “Apaan nih,
Victoria‟s Secret ya?” tanyanya.
Aku sempat kaget, dia tahu Victoria‟s Secret. Tapi hari ini aku mengenakan
brand lain. “Bukan, ini Agent Provocateur,” jawabku.
“Yang luar biasa mahal itu?” teriaknya kaget.
Aku menarik napas dalam-dalam. Kenapa aku harus heran kalau Ervin bisa
tahu harga-harga pakaian dalam wanita? Pastinya dia sudah sering membeli
barang-barang sejenis ini untuk pacar-pacarnya.
“Iya,” jawabku singkat.
Aku merasakan tangannya menyentuh kulit yang melapitis tulang igaku dalam
usaha untuk menarik ritsletingku ke atas. Aku hampir saja meloncat kaget. Terakhir
kali ada laki-laki yang menyentuhku seperti ini adalah sewaktu aku ke dokter untuk
physical check-up.
Dadaku rasanya mau meledak, tapi aku menarik napas dalam-dalam sambil
menutup mataku dan menghitung sampai lima sebelum membuka mataku kembali.
Ternyata bukannya naik, ritsleting itu malah turun. Kini ada kerutan-kerutan kecil
di kening Ervin, yang setelah mengenalnya selama beberapa bulan ini, kuketahui
sebagai tanda bahwa dia sedang berkonsentrasi penuh. Aku melihatnya menarik
ritsleting itu naik-turun.
“Sorry, Dri, tapi gue mesti pakai lilin. Sebentar ya.” Ervin lalu merentangkan
tubuhnya yang tinggi itu dan membuka laci nightstand. Beberapa detik kemudian,
sebatang lilin berwarna hitam muncul di genggamannya.
Tanpa kusadari dia telah menggosokkan lilin itu pada ritsleting bajuku. Untung
saja bajuku berwarna hitam juga, sehingga bekas lilinnya tidak kelihatan. Sekali lagi
dia mencoba untuk menarik ritsletingku ke atas dan kali ini berhasil.
“Thanks ya,” ucapku menarik napas lega.
“No problem. Okay, we’d better go, sudah jam setengah delapan lewat.”
Aku langsung membereskan barang-barangku. Aku dapat merasakan tatapan
Ervin di belakangku. Dia memang tidak terang-terangan menatapku, tapi aku tahu
dia agak-agak... apa kata-kata yang tepat... kaget, ya, kaget melihatku malam itu.
Aku tahu bahwa aku bukanlah perempuan paling cantik, tapi malam itu kuakui,
aku kelihatan cukup berbeda. Rambutku yang panjang kubiarkan terurai karena
bajuku berpotongan rendah di depan dan aku menggunakan rambutku untuk
sedikit menutupi belahan dadaku. Gaunku yang panjangnya sedengkul dan agak
ketat dapat sedikit menunjukkan bentuk tubuhku. Gaun itu tidak berlengan tapi
bukan spagetti strap sehingga masih terlihat seksi tapi tidak slutty. Sepatuku yang
berwarna emas cukup membuat kakiku terlihat lebih putih dan haknya yang tidak
terlalu tinggi cukup membuat kakiku terlihat lebih langsing.
“Dri, tinggal saja dulu, nanti pulang baru lo ambil,” komentar Ervin.
“Tapi berarti nanti gue mesti balik lagi ke sini dong,” balasku tanpa
menghiraukannya.
“Iya, nanti gue antar lo. Sekarang tinggal dulu.”
“Nanti gue mesti ngambil mobil dari kantor, Vin, ribet jadinya kalau bolakbalik.”
Aku yang tadinya mau membawa mobilku ke rumah Ervin terpaksa membatalkan
rencana itu karena sudah diburu-buru oleh Ervin. Dia memang berjanji akan
mengantarku untuk mengambil mobilku dari kantor setelah pulang dari Ball.
“Gampanglah, nanti kita ke sini dulu sebelum gue lo antar ngambil mobil.”
Aku masih berdebat dengan diriku untuk beberapa saat, tapi akhirnya aku
menyerah.
“Okay, fine,” akhirnya aku berkata. Aku sebetulnya paling tidak suka meninggalkan
barang-barangku berserakan di rumah orang, apalagi di rumah laki-laki yang
tidak ada hubungan apa-apa denganku. Tapi malam itu aku tidak punya pilihan
lain.
Kami pun bergegas menuju lift. Di dalam lift kusadari Ervin mencoba mengikat
dasinya sambil tetap menggenggam jas di tangan kirinya.
“Boleh gue bantu?” tanyaku.
Dia hanya mengangguk.
“Tolong pegangin sebentar.” Aku menyerahkan tas tanganku yang berwarna
emas dan terbuat dari satin itu padanya. Tas tangan itu seharusnya membuatnya
terlihat lucu, tapi benda itu justru membuatnya terlihat semakin maskulin.
Aku mulai menumpukan perhatian pada dasinya. Kami berdiri cukup dekat
dan aku yakin dia bisa mencium rambutku. Aku meminjam sampo yang ada di
kamar mandinya, meksipun tidak tahu apakah itu milik Tasya atau Ervin. Malam
itu tubuh Ervin menguarkan aroma yang sedikit berbeda, selain ada vanila dan
musk, dia juga menguarkan satu aroma lain, setelah beberapa saat aku baru sadar itu
apa... DOSA.
“Oke, dah kelar...” Aku tidak meneruskan kalimatku karena kudapati wajah
Ervin berada cukup dekat dengan pipiku. Bibirnya hampir menyentuh kulitku.
Seakan baru tersadar bahwa aku sudah selesai mengikat dasinya, dia
mengalihkan perhatiannya pada mataku. Emosinya tak terbaca. Aku mundur
beberapa langkah dan pintu lift terbuka. Sepasang bule setengah baya melangkah
masuk lift. Mereka tersenyum padaku dan Ervin.
“You both are going to a party?” tanya wanita bule itu, yang aku tebak adalah sang
istri.
“Yes,” jawab Ervin singkat tapi sopan. Aku hanya mengangguk.
“Don’t they look great together, honey?” tanya wanita itu pada suaminya.
“Yes, you both make a charming couple,” ucap sang suami cuek.
Sebelum aku dan Ervin bisa mengklarifikasi bahwa kami bukan couple, lift itu
sudah tiba di lantai dasar.
“Have a great time tonight,” kata sang istri.
“You too,” sahutku.
Aku dan Ervin saling pandang dan tersenyum.
* * *
Selama Ball aku duduk terpisah dengan Ervin karena kami diwajibkan untuk duduk
berdasarkan divisi. Tapi setelah menu makan malam selesai dihidangkan, kami
semua table hop dan aku mendapati Ervin duduk di sampingku sambil membawa
sepiring Tiramisu.
“Mau, Dri?” tanyanya yang langsung menyodorkan sepotong kue ke mulutku.
Refleks, aku hanya membuka mulut dan menelan kue itu.
Aku mendapati banyak perempuan yang berusaha menarik perhatian Ervin,
tapi sepertinya Ervin memang sengaja tidak menghiraukan mereka.
“Kayaknya elo banyak fans ya,” ledekku.
“Hah? Apaan?” tanyanya sok polos dengan mulut penuh Tiramisu.
“Fans,” ucapku lagi sambil menyodorkan serbet untuknya.
Ervin mengambil serbet itu dan menyapu bibirnya.
Dengan menggerakkan kepalaku, aku menunjuk sepasukan perempuan yang
mungkin berumur dua puluh tahunan yang aku yakin adalah para assistant di
kantorku.
“Ohhhh, hehehe... susah kalau jadi orang ngetop, gini deh akibatnya,” ucapnya
ge-er.
Aku hanya tersenyum. Biasanya aku akan melanjutkan pembicaraan ini dengan
meminta pendapat Ervin tentang perempuan mana yang menurutnya terlihat paling
cantik malam itu. Tapi malam itu aku tidak sanggup mengatakan apa-apa. Aku
takut dia akan memujiku hanya karena aku yang menanyakan hal tersebut atau
lebih parah lagi... seperti biasanya Ervin akan memilih perempuan lain yang jelasjelas
jauh lebih cantik daripada aku dan membuatku merasa silly karena telah
menanyakan hal itu.
Tibai-tiba Ervin menarik tanganku. “Let’s go dancing,” ucapnya.
Dan tanpa menunggu jawabanku, Ervin langsung menarikku ke lantai dansa.
Dan diiringi oleh suara Michael Bublé yang melantunkan Fly Me to the Moon, untuk
pertama kalinya Ervin membuatku tertawa ceria hanya karena aku sedang
bersamanya. Semua rasa canggung yang kurasakan beberapa jam yang lalu kini
hilang tak bersisa. Ervin ternyata seorang dancer yang cukup handal, sehingga aku
hanya perlu mengikuti langkahnya. Ervin meletakkan tangan kirinya di pinggangku
dan tangan kanannya menggengam tangan kiriku.
“Lo sadar kan hari Senin kantor bakalan penuh gosip tentang kita?” bisikku
pada Ervin.
“Lo khawatir digosipin sama gue?” tanya Ervin.
“No...!” jawabku dengan nada menggurui.
“Jadi kenapa?” desak Ervin.
“Karena sekarang semua perempuan yang ada di ruangan ini... dan beberapa
laki-laki...” Aku memberinya tatapan iseng sebelum melanjutkan, “lagi bertanyatanya
kenapa elo dansa sama gue tapi nggak sama mereka,” jelasku.
Ervin mengerutkan keningnya sesaat, seakan-akan dia sedang berpikir keras.
“Kalau soal yang laki-laki, jelas-jelas gue nggak bisa dansa sama mereka, nanti
makin ada gosip lagi,” balas Ervin dengan mata berbinar-binar. Mau tidak mau aku
tertawa dengan usahanya membalas godaanku.
“Kalau yang perempuan, well... cuma elo yang bisa gue ajak dansa dan nggak
minta gue untuk ngantar mereka pulang malam ini,” lanjut Ervin.
“Well... not to burst your bubble, lo tetap harus ngantar gue ngambil mobil malam
ini,” candaku.
Ervin mengerutkan kening, sepertinya berpikir keras tentang pendapatku,
sehingga aku tertawa lagi.
“Kalau gitu... lo satu-satunya perempuan di sini yang nggak akan minta gue
untuk nelepon elo besok pagi untuk basa-basi dan bilang bahwa gue mau ketemu
elo lagi di luar jam kantor, bla bla bla...,” ucap Ervin.
“Jadi menurut lo gue kurang demanding?” ucapku pura-pura marah.
“No... tapi menurut gue, lo perempuan paling nggak rese dan nggak bawel yang
gue tahu.”
“So basically menurut lo sikap gue ini kayak cowok?” candaku.
Tiba-tiba Ervin menarikku ke pelukannya dan berbisik, “Cowok yang seksi
banget.”
Pada detik itu darah di sekujur tubuhku membeku. Tapi tiba-tiba aku ingat...
Tasya... Tasya... Tasya...
Pelan-pelan kutarik wajahku dan menatap wajah Ervin. “Ervin Daniswara, elo
ngerayu gue?” tanyaku mencoba meringankan suasana malam itu yang jelas-jelas
mulai terasa seperti ada kembang api yang meledak-ledak di sekitarku dan Ervin.
“Tentu saja nggak,” balas Ervin. Tapi dari tatapan matanya aku tidak terlalu
yakin bahwa dia mengatakan hal yang sebenarnya.
Untung saja kemudian Michael Bublé mengakhiri lagunya dan
menyelamatkanku dari pikiran yang mulai bercabang.
“Kayaknya gue harus pulang, Vin,” ucapku pada Ervin ketika dia mengikutiku
kembali ke mejaku.
“Ini sudah hampir jam dua belas, Dri, apa nggak lebih baik lo pulang besok
saja?” tanyanya.
“Hah? Maksud lo?”
“Tidur di apartemen gue malam ini, nggak apa-apa, kan?”
Entah apa karena imajinasiku saja, tapi sepertinya Ervin menanyakan hal yang
lain sama sekali daripada kata-kata itu sendiri.
Dan hanya dengan itu tamengku langsung naik. Aku harus melindungi diriku
sepenuhnya dari Ervin.
“Mmmhhh... kalo lo nggak keberatan, gue bisa pinjam kunci lo saja. Gue bisa
naik taksi ke apartemen lo untuk ngambil barang. Lo nggak usah ikut. Nanti kunci
gue selipin di bawah keset di depan pintu, gimana?”
Please please please... say yes, aku tidak yakin aku bisa menolak tawarannya lagi
untuk kedua kalinya.
Tapi sepertinya Ervin tidak membaca kegelisahanku. Aku jadi semakin gugup
mengingat bagaimana Ervin memandangiku sepanjang malam itu. Dan sejujurnya,
setiap kali aku sadar akan tatapannya, jantungku berhenti berdetak beberapa detik.
“Lo mau pulang sekarang?” tanya Ervin padaku.
“Iya... takut kemalaman.”
“Ya sudah, yuk, gue antar.”
“Yakin? Gue bisa kok naik taksi, cuma gue mesti pinjam kunci.”
“Gue juga sudah selesai kok.”
“Gue pamit dulu ya sama Pat, gue ketemu elo di lobi,” ucapku dan langsung
bergegas mencari bosku. Beberapa hari setelah aku mulai bekerja untuk Mr. Patrick
Morris, aku mengetahui bahwa beliau menolak untuk dipanggil “Sir” ataupun “Mr.
Morris” oleh siapa pun. Dia lebih memilih dipanggil “Pat”.
Ketika kami tiba kembali di apartemen, jam sudah menunjukkan pukul dua
belas malam. Sebenarnya aku merasa agak takut pulang malam-malam sendirian,
tapi sepertinya malam itu aku akan lebih aman berada di jalan yang sepi menuju
Rempoa daripada satu atap dengan Ervin. Aku tidak percaya dengan diriku sendiri
untuk tidak melakukan hal yang gila. Aku buru-buru lari ke kamar tidur Ervin dan
membereskan barang-barangku. Aku mendengar Ervin sedang berbicara di telepon.
Lalu dia melongokkan kepalanya ke kamar tidur.
“Gue sudah titip mobil lo ke Mas Toto, satpam yang jaga malam di parkiran
kantor. Dia bilang dia bakalan jagain mobil lo.”
Aku yang terlalu kaget, tidak bisa berkata-kata.
Ervin lalu membuka salah satu pintu lemarinya dan mengeluarkan sebuah kaus
berukuran besar dengan tulisan Rice University.
“Gue tebak lo nggak bawa baju tidur. Ini, pakai saja kaus sama celana pendek
gue. Sori, gue nggak punya underwear buat elo, kecuali kalau lo mau pakai boxer
briefs-nya gue,” ucapnya sambil tersenyum iseng. Ervin meletakkan pakaian itu di
tempat tidur.
Aku masih tidak bisa berkata-kata.
“Lo mendingan tidur di sini, soalnya kasurnya lebih empuk. Seprainya baru
diganti kemarin, jadi lo nggak usah khawatir. Gue tidur di kamar sebelah.”
Ketika aku tidak menjawab juga akhirnya dia berkata, “Dri... is everything
alright?”
Aku mengalami masalah bernapas. Bagaimana mungkin aku tidur di kamar ini?
Di kamar Ervin, di tempat tidur Ervin? Entah apa saja yang sudah dia lakukan di
atas situ. Berapa banyak perempuan yang sudah pernah merasakan tempat tidur
itu? Aku memang tahu Ervin sexually active, tapi saat mendapat konfirmasi tentang
itu dengan menemukan kotak kondom yang hanya setengah terisi di kamar mandi
tadi, aku hampir terpeleset.
I know I shouldn’t look. Tapi aku tidak sengaja. Okay, that’s a lie. Aku memang
mencarinya. Tapi kotak kondom itu adalah hal pertama yang kulihat ketika
membuka medicine cabinet di kamar mandi, jadi sebetulnya kejadian itu bukan
salahku sepenuhnya.
“Vin, gue pulang saja deh,” akhirnya aku bisa berkata-kata.
“Nggak, Dri, lo mendingan tunggu sampai pagi. Kalau gue nggak minum
alkohol tadi, gue mau antar elo, tapi kayaknya lebih safe kalau nggak ada dari kita
yang keluar dari apartemen ini sampai pagi. Besok lo gue antar untuk ambil mobil,
sekarang lebih baik lo tidur. Oh ya, apa perlu gue telepon rumah lo untuk ngasih
tahu lo sama gue?”
Hah?? Sudah gila si Ervin. Aku bisa digoreng bapakku.
“Nggak, nggak, nanti mereka gue telepon, takutnya orang rumah sudah tidur.”
“Okay then, good night.”
Dengan begitu Ervin menutup pintu dan meninggalkanku di kamar itu. Aku
duduk terpaku di atas tempat tidur, sebelum kemudian menenggelamkan wajah di
kedua tanganku.
“What am I doing here?” ucapku pelan. Aku memandangi tasku yang baru separo
dikemas dan mulai mengeluarkan beberapa peralatan mandi yang kuperlukan. Aku
masuk kembali ke kamar mandi dan membasahi sekujur tubuhku dengan air panas,
sepanas-panasnya yang bisa kutolerir. Setelah mandi aku berpikir aku akan
bergadang semalaman. Mungkin dengan tidak tidur di rumahnya... koreksi... di
tempat tidur Ervin... aku tidak akan merasa terlalu berdosa.
Tapi ketika aku menyandarkan kepalaku pada bantal-bantal Ervin yang empuk
dan beraroma vanila itu, aku langsung terlelap.
Aku terbangun oleh bunyi HP-ku, butuh beberapa menit sebelum aku ingat di
mana aku berada. Buru-buru aku angkat HP-ku yang masih berbunyi. Telepon itu
ternyata dari Ibu yang menanyakan keberadaanku. Rupanya tadi malam karena
terlalu gelisah, aku lupa menelepon rumah. Setelah mengatakan bahwa aku akan
pulang sebentar lagi dan menutup telepon, aku sadar bahwa di luar sudah mulai
terang. Beker Ervin sudah menunjukkan pukul enam pagi. Baru saat itu aku
menyadari ada foto Tasya berukuran postcard di atas nightstand sebelah kiri. Aku
memang belum pernah bertemu Tasya, jadi tidak tahu wajahnya. Ternyata lain dari
perkiraanku, Tasya bukan tipe cewek mal seperti pacar-pacar Ervin sebelumnya.
Tasya tampak cukup biasa walaupun memakai make-up tebal.
Dengan rasa bersalah aku buur-buru mencuci muka, mengganti baju, dan
membereskan barang-barangku. Kuputuskan untuk menggunakan baju kerjaku lagi
karena tidak mau terlihat seperti baru bangun tidur. Aku membuka pintu kamar
dan mendapati bahwa semuanya masih gelap, sinar matahari tidak bisa menembus
gorden tebal yang menutupi jendela. Satu-satunya penerangan adalah lampu malam
yang terletak di sebelah pintu masuk yang dibiarkan menyala oleh Ervin. Dia masih
tidur rupanya. Tadinya aku berencana menunggu hingga dia bangun, tapi
kuperhatikan bahwa pintu apartemen Ervin bisa terkunci secara otomatis. Aku
buru-buru menulis pesan di selembar kertas dan meninggalkannya di meja kecil di
sebelah pintu masuk.
Vin,
Terima kasih untuk semuanya. Don’t worry, I’ll pick my car up on my way home.
Sampai ketemu hari Senin.
Adri
Dengan begitu aku melangkah pulang. Ketika tiba di lobi, aku berpapasan
dengan seorang perempuan yang sedang bergegas menuju lift. Aku merasa
mengenali wajahnya. Setelah agak lama aku sadar itu Tasya. Aku tidak tahu Tasya
tinggal di apartemen ini juga... Lalu satu pemikiran keluar dari kepalaku.
Ya ampun, hampir saja... Untung aku sudah keluar dari apartemen Ervin, kalau
tidak bisa gawat.
Buru-buru aku ngacir mencari taksi. Tapi karena tidak ada taksi sepagi itu,
akhirnya aku naik ojek. Bodo amat deh, pokoknya aku harus cabut sebelum Ervin
tahu aku sudah pulang tanpa pamit dan sebelum Tasya sadar bahwa ada seorang
wanita yang menginap di apartemen pacarnya semalam, tanpa sepengetahuannya.
Aku menerima telepon dari Ervin setengah jam kemudian ketika sedang dalam
perjalanan pulang. Dia menanyakan mengapa aku tidak membangunkannya. Aku
menjelaskan semuanya dan memohon maaf karena tidak berpamitan secara
langsung. Ervin tidak menyinggung Tasya sama sekali, sehingga aku pun berdiam
diri juga soal berpapasan dengan Tasya di lobi.
Setahuku semuanya beres ketika aku menutup telepon. Tapi hari Senin itu aku
dengan Ervin sudah putus sama Tasya. Aku kurang tahu siapa yang mengakhiri
hubungan itu, tapi Ervin terlihat tidak terlalu peduli, sehingga aku juga tidak mau
bertanya-tanya. Tapi pada saat itulah aku memutuskan bahwa aku betul-betul harus
menghubungi Baron secepatnya.
7. BERITA DUKA
BEBERAPA bulan setelah Ball, kakakku dan suaminya sudah menetap permanen di
Jakarta, sehingga ada banyak hal yang ada di pikiranku selain Ervin dan Baron.
Contohnya kegiatan hari ini, yaitu berbelanja baju bayi untuk calon keponakanku.
“Mbak, ini lucu ya, tapi gila deh, GAP di sini mahalnya tuh gila-gilaan,” ucapku
masih takjub dengan harga barang-barang di Jakarta.
Kakakku kemudian melirik overall bayi yang aku tunjukkan padanya. “Lucu
memang.... Nggak ah, nggak seberapa mahal, masuk akal,” ucapnya santai sambil
melirik harga baju bayi itu, yang berdigit enam. “Kira-kira cocok nggak ya buat anak
gue?” lanjutnya. Tentunya kakakku yang suaminya berpenghasilan lebih dari
seratus ribu dolar per tahun tidak pernah mengkhawatirkan uang.
“Penting nggak sih beli baju bayi semahal itu?” ujarku yang kemudian disambut
dengan tawa terbahak-bahak kakakku.
Setelah mengelilingi mal selama lebih dari dua jam, dengan hasil dua kantong
besar berisi baju-baju bayi, kami lalu berjalan menuju eskalator untuk turun ke
pelataran parkir. Tiba-tiba kakakku bertanya, “Loon, kamu masih suka hang out
sama siapa tuh teman kamu dari kantor, Luvin, Muffin, Stuffing, eh siapa ya
namanya?”
Yah, begitulah kakakku memanggil aku... loon, kependekan dari baloon, alias
balon. Menurut dia, tubuhku yang dulunya kurus sekarang sudah mengembang
hingga terlihat seperti balon.
“Hah, masa gue punya teman namanya „Stuffing” sih? Yang benar saja!
Memangnya kalkun? Kalau Kevin sih ada, bagian Product Placement,” balasku
sambil tertawa terbahak-bahak dan hampir tersandung saat turun eskalator.
Kakakku tertawa bersamaku. “Ya kalau gitu namanya siapa dong?”
“Ervin,” jawabku, sambil masih berusaha keras untuk tidak tertawa lagi.
“Ah iya, Ervin. Aneh ya, but anyway, so?”
“Artinya a friend of the sea, whatever that means. Well, ya nggak ada so-lah, mau
digimanain lagi?”
“A friend of the sea? Maksudnya apa tuh? Kerang, ikan, apa timun laut?”
Aku hanya tertawa cekikikan mendengar komentar itu.
Lalu kakakku menambahkan, “Jadi sudah nggak jalan lagi?”
“Sudah jarang, dia kan punya pacar,” jelasku.
Kini giliran kakakku yang hampir terpeleset di lantai mal karena kaget. “Lho,
dia punya pacar?”
Aku mengangguk.
Kakakku melanjutkan, “Memangnya dia nggak sama kamu?”
Aku menatapnya dengan bingung. “Ya nggaklah, namanya juga kita cuma
teman,” jelasku.
Aku dapat melihat bahwa kakaku tidak menyetujui jenis hubunganku dengan
Ervin. Tapi dia hanya berdiam diri dan mengerutkan kening. Aku bisa memahami
kekhawatiran keluargaku dengan status single dan tidak punya pacarku ini. Sewaktu
aku berumur 28 tahun dan baru pulang dari Amerika, tidak satu pun anggota
keluargaku yang pernah menyinggung hal-hal yang menyerempet soal laki-laki.
Tetapi setelah hampir dua tahun ada di Indonesia dan aku masih belum pernah
memperkenalkan seorang laki-laki pun kepada mereka, jelas-jelas keluargaku mulai
khawatir. Meskipun orangtua ataupun kakakku tidak pernah mengucapkan sepatah
kata pun kepadaku mengenai hal ini, tetapi aku dapat membaca dari gelagat dan
cara mereka memandangku. Mungkin mereka khawatir aku akan jadi perawan tua
yang tinggal sendiriam di suatu rumah kecil yang banyak kucingnya. Hahaha...
Aku tahu bahwa jam biologisku akan habis masa berlakunya tidak lama lagi,
oleh sebab itu, kalau ingin punya anak, aku harus menikah secepatnya. Tapi,
bagaimana aku bisa menikah kalau calon suami saja tidak punya? Tentu saja, aku
selalu bisa adopsi, tetapi aku tahu bahwa aku ingin anak itu lahir dari rahimku
sendiri, maka pilihan untuk mengadopsi akhirnya aku coret. Buntutnya, hanya
pilihan in-vitro vertilization yang tertinggal. Masalah utamanya adalah mencari bank
sperma yang bonafide. Kalau bank sperma di luar negeri mungkin masih bisa
dipercaya, karena kebanyakan yang menyumbangkan sperma adalah murid fakultas
kedokteran, tapi kalau di Jakarta, aku tidak bisa dan tidak berani mengambil risiko.
Setelah berulang kali memikirkan tentang pilihanku, aku memutuskan untuk
melakukan “Sperm Shopping” dengan membuat daftar tentang kriteria si
penyumbang sperma. Aku keluar dengan persyaratan seperti:
1. Nilai IQ harus di atas 130
2. Tinggi harus di atas 160 sentimeter
3. Umur harus di antara 25 hingga 35 tahun. Karena menurut informasi yang
telah kukumpulkan, sperma seorang laki-laki adalah paling aktif pada
golongan umur tersebut
4. Tidak memiliki sejarah sakit jantung, diabetes, apalagi sakit kelamin.
5. Dan memiliki wajah yang agak lumayan. Tentu saja hal ini agak sulit untuk
diketahui di bank sperma karena biasanya para donor tidak
mengikutsertakan foto mereka.
Tetapi akhirnya aku justru membuat daftar yang sangat terbatas (mengingat
jumlah laki-laki yang kukenal) berisi nama laki-laki yang mungkin bisa kuminta
spermanya, seperti:
1. Vincent (sebelum aku tahu bahwa dia sudah menikah).
2. Ervin (ketika aku pertama kali bertemu dengannya dan sebelum aku tahu
bahwa aktivitas seksualnya terlalu aktif, sehingga aku tidak yakin apa dia
akan masih punya sperma tersisa untuk disumbangkan).
3. Patrick (bosku, yang kemudian harus kucoret karena ini tidak etis).
4. Sony (asistenku yang juga harus kucoret karena ternyata keluarganya ada
keturunan diabetes, selain juga bahwa ini tidak etis).
5. Baron (apa aku cukup berani untuk meminta spermanya? Untuk berbicara
dengannya saja aku tidak berani).
Setelah memutar balik ide mengenai in-vitro, tapi otakku masih buntuk untuk
mengeluarkan pilihan nama lain selain yang sudah kusebutkan, akhirnya pilihan invitro
pun terpaksa dihapuskan. Dan aku kembali ke angka nol.
Lagian, ini kan Indonesia. Hamil di luar nikah? Mau digosipin sekampung, apa?
* * *
Aku sedang menunggu bapakku yang akan tiba dari Bali di Terminal F Bandara
Soekarno-Hatta. Aku duduk di salah satu bangku panjang yang ada di depan pintu
keluar. Aku sedang mencari tisu basah dari tasku ketika tiba-tiba ada dua tangan
kecil yang memelukku dari belakang.
“Aunt Oli, Papa has been looking for you.”
Aku sempat bergeming selama beberapa detik sebelum kemudian memutar
tubuh dan melihat ada seorang anak kecil yang mungkin berumur sekitar lima atau
enam tahun dengan kaus yang bertuliskan Hard Rock Cafe Bali. Anak itu pun
terlihat kaget ketika sadar bahwa aku bukan orang yang dicarinya. Dia celingukan
seperti mencari orang lain yang seharusnya ada di belakangnya. Ketika sadar bahwa
dia sendirian, bibirnya kemudian mulai bergetar, siap untuk menangis.
Holy Crap. Aku bisa mendengar suara teriakan di dalam kepalaku.
Aku memang kurang berpengalaman dengan anak kecil, apalagi anak kecil yang
akan, sedang, atau lepas menangis. Aku lalu berlutut di hadapannya, mencoba
menarik napas panjang.
Adriana Amandira, santai saja deh. Ini cuma anak kecil. Aku mencoba
menenangkan diriku.
“Hey there. Well, look at you, don’t you look handsome in that Hard Rock T-shirt?”
ucapku dengan nada setenang mungkin dan menempelkan senyuman seramah
mungkin di wajahku. Andai saja kakakku dapat melihatku, kemungkinan besar dia
akan berpikir aku sedang mencoba untuk menakuti anak kecil ini, bukannya
menenangkannya. Kakakku selalu berpendapat bahwa mulutku terlalu penuh gigi.
Untung saja anak itu tidak jadi menangis. Dia hanya memandangku kemudian
memandangi T-shirt yang dikenakannya sebelum kemudian menatapku kembali.
“My name is Tim,” ucapnya sambil menunjuk dirinya.
Aku mengembuskan napas lega. “Well, hello, Tim, I’m...” Aku berpikir sejenak,
mungkin Adriana akan terdengar terlalu panjang, “I’m Didi,” ucapku akhirnya.
Aku memperhatikan anak kecil itu dan menyadari bahwa wajahnya yang agak
kebule-bulean terlihat sangat familier meskipun aku yakin bahwa aku belum pernah
bertemu dengannya. Tidak lama kemudian, aku melihat seorang laki-laki agak
tinggi, sedikit gemuk, dengan rambut ikal kecokelatan berlari-lari ke arah kami.
“There you are,” ucapnya lega, kemudian berlutut di hadapan Timdan berkata
dengan suara yang lebih otoritatif. “Jangan jauh-jauh dariku lagi, oke.”
Kemudian laki-laki itu berdiri untuk memandangku yang sedang
memperhatikannya dengan saksama dan tertegunlah kami berdua. Pada saat itu aku
akhirnya bisa memastikan kenapa wajah anak keci litu terlihat familier.
“Mbak Didi, ya?” tanya laki-laki itu.
Aku sempat terkejut karena dia masih mengingatku, apalagi namaku. Aku
mengangguk.
“Kamu adiknya Baron, ya?” tanyaku dengan suara rok ragu, meskipun dalam
hati aku sudah sadar semenjak awal siapa dia.
“Kalvin,” lanjutnya sambil menunjuk dirinya.
“Iya, halo, apa kabar?” tanyaku mencoba menahan rasa antusias yang meluapluap
di dalam diriku. Akhirnya aku menemukan orang yang bisa
menghubungkanku dengan Baron.
“Baik,” jawabnya.
Kalvin atau lebih akrab dipanggil Kal, adalah satu-satunay saudara Baron yang
kukenal, dan mereka berdua memang mirip, hampir seperti anak kembar.
“Ini Timothy, anakku. Kami baru datang dari Bali. Sekarang lagi nunggu
jemputan.”
“Oh iya, I guess Aunt Oli itulah ya?”
“Iya.”
Aku hanya mengangguk.
“Kapan balik dari Amerika?” tanya Kal lagi.
Dengan cepat aku menjawab, “Sudah hampir dua tahun.” Meskipun aku
bertanya-tanya dari mana dia bisa tahu aku ada di Amerika selama ini?
“Kerja?”
Aku mengangguk. “Human development. Kamu?”
“Aku di manajemen hotel di Bali, kami sekeluarga tinggal di sana, ini ke Jakarta
untuk urusan keluarga.”
“Oh...,” adalah satu-satunya jawaban yang bisa kukeluarkan.
Kal hanya tersenyum. “Pokoknya kapan-kapan kalau ke Bali, telepon aku ya.”
Kal kemudian memberiku kartu namanya.
Aku menerima kartu nama itu, membacanya sekilas dan mulai mengaduk-aduk
tasku untuk mengeluarkan satu kotak hitam berisi kartu namaku dan memberikan
satu padanya.
“Nanti aku bilang ke Baron deh aku ketemu sama Mbak di sini,” ucap Kal
sambil tertawa.
Betapa cara dia tertawa mengingatkanku pada Baron. Seingatku memang Kelvin
tidak pernah memanggil Baron dengan kata Kak, Bang, ataupun Mas, dia cuma
memanggil Baron apa adanya.
Aku berdebat dengan diriku sendiri. Apakah aku berani untuk bertanya atau
tidak. Akhirnya aku memberanikan diri. “Apa kabarnya Baron? Sudah lama nggak
ketemu.”
“Hah, belum ketemu? Sudah dua tahun di sini masih belum ketemu?” tanya Kal
dengan nada agak-agak bingung. “Dia sih baik-baik saja. Kami datang soalnya hari
Minggu dia tunangan, jadi kami harus ada untuk persiapan Hari H-nya.”
Begitu mendengar kata tunangan aku langsung lemas.
I am an idiot. Aku memarahi diriku sendiri yang tidak pernah memberanikan diri
untuk menghubungi Baron selama dua tahun ini. Kini harapanku untuk
mendapatkan Baron sudah benar-benar pupus. Aku mencoba untuk tidak
menunjukkan emosiku yang sebenarnya.
“Oh,” ucapku sambil tersenyum kaku.
“Mbak kayaknya kenal deh sama calonnya Baron. Oli.”
Aku memandang Kalvin bingung. Oli? Siapa pula Oli? Memangnya aku kenal
dengan perempuan bernama Oli?
Tiba-tiba seorang wanita bergegas menghampiri kerumunan kecil kami. Aku
langsung tanggap bahwa wanita ini pasti Aunt Oli yang dimaksud oleh Timothy.
Apabila dilihat sekilas wanita itu memang mirip sekali denganku, bentuk tubuh,
tinggi, dan potongan rambut kami sama persis. Aku sekarang mengerti kenapa anak
Kal bisa mengira aku adalah wanita ini.
“Kal, sudah siap belum nih?” tanya wanita itu.
Saat wanita itu sudah cukup dekat, sadarlah aku siapa dia. Olivia, atau lebih
akrab dipanggil Oli adalah cewek yang kukenal sewaktu SMP dulu. Aneh, kok
Olivia datang menjemput Kal sih? Memangnya mereka kenal? Baru beberapa detik
kemudian aku sadar siapa Olivia sebenarnya.
“Adri, ya ampuuuuuuunnnnn, ke mana aja?” tanyanya sambil bergerak
memelukku. Aku mencoba untuk tidak kelihatan canggung. Sekarang aku sadar
bahwa Baron akan bertunangan dengan Olivia, hatiku bagaikan hancur lebih
berkeiping-keping lagi. Kusadari bahwa Olivia adalah salah satu cewek paling
cantik sewaktu SMP dan Baron selalu suka padanya. Tanpa disangka-sangka
ternyata jodoh tidak lari jauh. Lebih parahnya lagi, aku selalu suka pada Olivia.
Walaupun tidak pernah akrab, tapi kami cukup mengenal satu sama lain.
Aku mencoba memberikan pelukan yang senormal mungkin. “Baik, ya ampun
nggak disangka-sangka ternyata calonnya Baron tuh elo.”
Olivia sempat tertegun, mencoba menebak dari mana aku mendapatkan ide itu,
tapi kemudian Kal memberikan kode yang menandakan bahwa informasi itu datang
darinya dan Olivia pun tersenyum maklum.
“Iya nih, hehehe... sori ya nggak ngundang-ngundang, tapi acara tunangannya
cuma buat keluarga dekat saja.”
“Gue ngerti kok. Selamat ya,” balasku, mencoba meringankan suasana.
Kemudian beberapa detik berlalu di dalam keheningan yang tidak nyaman. Aku
sangat bersyukur ketika Kal mengatakan bahwa mereka harus berpamitan.
“Kita harus ciao nih, yang jemput sudah datang. Sampai ketemu lagi ya,” ucap
Kal sambil mencoba menggendong Timothy yang sekarang sedang berusaha keras
untuk mendapatkan perhatianku dengan menarik-narik tas tanganku.
“Bye,” jawabku sambil menepuk-nepuk kepala Timothy. Kemudian berlalulah
mereka. Beberapa saat kemudian aku melihat bapakku.
* * *
Tiga minggu setelah pertemuanku dengan Kalvin yang sangat tidak disangkasangka
itu aku hanya bisa menyimpan berita duka tersebut dan tidak
menceritakannya kepada siapa-siapa. Aku merasa orang-orang di sekitarku cukup
sibuk dengan urusan mereka hanya untuk mendengarkanku bercerita tentang
“temanku” yang akan menikah. Sangat tidak signifikan. Tapi sejujurnya, alasan
utama mengapa aku tidak menceritakan hal ini kepada siapa-siapa adalah karena
tidak ada satu pun yang tahu tentang obsesiku pada Baron.
* * *
Persiapan untuk Nujuh Bulanan kakakku berjalan dengan mulus, meskipun hari Hnya
baru akan terlaksana sekitar dua minggu lagi. Aku meminta izin untuk
meninggalkannya selama lima hari untuk berlibur dengan Ina, salah satu temanku
dan kakakku selama kami di Amerika. Rencananya memang Mbak Tita akan ikut
serta, tetapi karena terlalu mepet dengan acara Nujuh Bulanan-nya, akhirnya dia
memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta.
Bulan ini adalah bulan September, dan aku sudah berencana akan berlibur
dengan Ina ke Singapura semenjak enam bulan yang lalu. Ina harus mengadakan
kunjungan bisnis ke sana dan aku merencanakan untuk menggunakan beberapa
hari paid leave-ku yang tidak bisa di rollover ke tahun depan.
Ketika aku sedang menyusun laporan terakhir yang harus kuserahkan ke bosku
sebelum berangkat ke Singapura, Pat melongokkan kepalanya ke ruanganku.
“Hey, are you still going to Singapore this weekend?” katanya menanyakan waktu
kepergianku.
“No, not this weekend, Pat, but tomorrow, remember?” Bukan akhir minggu, Pat, kan
aku bakal berangkat besok. Dasar pelupa!
“Ah yes, besok, sori, aku sibuk belakangan ini,” jawab Pat sambil tersenyum
minta maaf.
“Sibuk? Kau bilang dirimu sibuk? Bagaimana aku? Aku kerja sampai hampir
sinting!” gerutuku.
Pat hanya tertawa mendengar komentarku.
“Bukannya kau punya asisten? Seharusnya kau tidak begitu sibuknya,”
ledeknya. Patric tahu betul sifatku yang sedikit obsesif-kompulsif sehingga
terkadang mengalami masalah untuk mendelegasikan pekerjaan ke asistenku.
Aku hanya memandang Pat dengan tatapan mengalah.
“Ya sudah, selamat bersenang-senang ya. Kau akan pergi dengan temanmu
yang imut itu, kan?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada sok cuek.
“Inara, ya, aku akan pergi dengannya.”
“Sialan, seharusnya aku ikut pergi bersama kalian. Atau paling tidak aku bisa
minta Dave mengontrak firma temanmu itu untuk mewakili kita.”
Aku terbahak-bahak ketika dia berkata begitu. Pat memang punya crush dengan
Ina semenjak pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu.
“Kurasa temanku tidak akan terlalu senang kalau tahu kau duda empat puluh
lima tahun dengan seorang putri berusia sepuluh tahun.”
Pat mengeluarkan ekspresi pura-pura kaget dengan tangan di dada segala. “Oh,
kena aku. Ya sudah, hati-hati ya. Kau masuk lagi hari Rabu?”
“Ya, Rabu, dan tidak usah susah-susah telepon ponselku hanya untuk
mengeluhkan pekerjaan, karena aku tidak akan membawanya.”
“Kau tidak akan bawa ponsel? Well, aku bisa saja minta nomor telepon hotemu
dari orang di bagian Business Development itu, siapa namanya...?”
“Ervin. Dan tidak, kau tidak bisa menanyakan nomor telepon hotelku
kepadanya, karena dia bahkan tidak tahu aku pergi ke Singapura,” balasku.
“Rasanya aku mendengar nada sedih dalam suaramu.” Pat melemparkan
senyuman usilnya kepadaku, tetpai aku hanya mengerling dan melanjutkan
pekerjaanku.
Hubunganku dengan Ervin selama satu tahun pertama memang selalu terkena
gosip, apalagi setelah hampir satu kantor melihatku berdansa dengan Ervin di Good
Life Ball, tetapi akhirnya orang kantor beralih ke gosip lain ketika mengetahui
bahwa memang tidak ada apa-apa di antara kami berdua selain persahabatan. Lain
halnya dengan kolega-kolegaku, Pat terkadang memang masih suka iseng dan
menyebut nama Ervin hanya untuk melihat reaksiku. Sayangnya aku sudah tahu
kebiasaan ini dan sudah cukup kebal dengan usahanya.
8. SINGAPURA
HARI Senin sore aku dan Ina sedang menunggu waktu boarding penerbangan
Singapore Airlines yang akan membawa kami kembali ke Jakarta. Aku sibuk
memastikan bahwa paspor dan boarding pass-ku sudah siap. Sedangkan Ina sibuk
menelepon orangtuanya dari HP-nya. Setelah puas dengan segala sesuatunya, aku
kembali duduk tegak dan mulai memperhatikan ruang tunggu Bandara Changi
yang terbentang luas di hadapanku. Tanpa disangka-sangka aku melihat seseorang
yang sudah sejak lama ingin kutemui.
“Baron,” gumamku.
Saat itu Baron pun melihatku dan aku bisa melihat dia sama terkejutnya
sepertiku.
Aku berdiri dari kursi karena kulihat Baron berjalan perlahan-lahan ke arahku.
“Didi,” ucap Baron setelah dia berada beberapa langkah di hadapanku. Dari
nada suaranyam, Baron seakan-akan menanyakannya padaku, tapi aku rasa dia
hanya menggumamkan namaku pada dirinya sendiri.
Baron tidak berubah banyak, wajahnya yang dulu sangat mulus tanpa jerawat
masih sama meskipun tubuhnya yang dulu tinggi besar kini terlihat lebih gempal
dan lebih kekar. Satu-satunya perbedaan yang dapat kulihat adalah rambut ikalnya
yang dulu dibiarkan berantakan sekarang dipotong pendek dan di-gel dengan rapi.
Baron yang sedang berdiri kurang dari satu meter di hadapanku adalah Baron yang
aku ingat dari lima belas tahun yang lalu.
Tanpa bisa mengontrol diriku, tiba-tiba aku bergerak untuk memeluknya. Dan
untuk pertama kali aku dapat merasakan sengatan listrik yang kurasakan ketika
Ervin menyentuhku hampir dua tahun yang lalu tapi dengan dosis yang lebih tinggi
sehingga membuat lututku lemas. Aku dapat merasakan bahwa seluruh tubuh
Baron pun menegang. Tapi aku yakin bahw aitu bukan disebabkan oleh sengatan
listrik yang kurasakan, tapi lebih karena kaget. Aku masih dapat mencium aroma
Baron yang dulu pula, aromanya yang khas, yang merupakan paduan pewangi
pakaian dengan sedikit wangi parfum yang hingga kini tidak bisa kutebak brandnya.
Setelah beberapa saat, aku dapat merasakan tubuh Baron mulai relaks dan
membalas pelukanku, kemudian kami pun bergerak untuk memisahkan diri dari
pelukan itu.
“Apa kabar?” tanyaku dengan nada tenang yang dipaksakan. Bila kakakku ada
bersamaku, dia pasi tahu bahwa meskipun nada suaraku itu terdengar ceria, tapi
sebenarnya menyiratkan ketegangan di dalam hatiku.
Baron mencium pipiku, dan aku membalasnya.
“Baik,” jawabnya.
Aku hanya bisa tersenyum atas jawabannya. “Mau ke mana?” tanyaku setelah
aku sadar kembali dari shock-ku.
“Oh, pulang ke Jakarta, baur ada urusan di sini buat beberapa hari.”
“Kerjaan?”
“Iya, aku sekarang Stock Trader, jadi biasa, suka bolak-balik ke luar negeri.”
“Oh... seru nggak jadi Stock Trader?” Setelah mengucapkan pertanyaan itu aku
rasanya mau menendang diriku sendiri. Pertanyaan bego apa pula itu? Memangnya
main Counter Strike, seru? Dasar blo‟on.
Baron mengangguk dan menggerakkan tangan yang menandakan bahwa
pekerjaan itu hanya so-so. Ketika dia melakukannya aku melihat bahwa di jari manis
tangan kanannya ada sebentuk cincin emas yang jelas-jelas terlihat seperti cincin
kawin. Aku berusaha keras tidak memfokuskan tatapanku pada cincin itu, tapi
ternyata tidak berhasil.
“Omong-omong, Kal cerita ketemu kamu di bandara waktu itu,” lanjut Baron.
“Iya. Selamat ya buat tunangannya, aku juga ketemu Olivia.”
“Iya makasih. Oli cerita ketemu kamu.”
“So, kapan dong D-day-nya?” Aku berusaha keras untuk tidak terdengar jealous,
tapi tidak berhasil.
“Masih belum diputusin, masih mikir-mikir.” Ketika mendengar kata-kata itu,
entah kenapa tapi hatiku terasa agak lega, karena sekarang aku bisa yakin bahwa
mereka belum menikah.
Tiba-tiba ground crew Singapore Airlines mengumumkan bahwa pesawatku
sudah siap boarding.
“Di, boarding,” panggil Ina.
Aku mengangguk ke arah Ina dan menghadap kembali ke Baron. “I think that’s
my call.”
Rupanya ketika aku sedang memandang Ina, Baron mengeluarkan kartu nama
dari dompetnya. Ketika aku menghadap kembali padanya, dia menyodorkan kartu
itu padaku. “Di, ini kartu nama aku. Kita harus ngobrol lebih lama lagi ya. Telepon
aku kapan-kapan, mungkin kita bisa pergi makan siang bareng.”
Aku mengambil kartu namanya dan merogoh tasku, mencari kartu namaku.
Setelah menemukannya, buru-buru kuberikan padanya.
“I’ll call you,” ucpaku, kemudian melangkah untuk memeluk Baron. Bukannya
ganjen, tapi aku berusaha keras untuk mengenang detik-detik ini, karena aku tahu
bahwa bisa jadi ini yang terakhir.
Baron bergerak untuk memelukku. Kekakuan yang terasa beberapa menit yang
lalu kini sudah hilang dan aliran listrik yang kurasakan sebelumnya sudah agak
berkurang. Setelah memberikan ciuman di pipi masing-masing untuk terakhir
kalinya, aku pun beranjak masuk ke dalam belalai menuju pesawatku. Ina yang
menungguku di samping pintu masuk belalai hanya menatap bingung melihat
wajahku yang pucat. Aku merasa limbung. Tapi aku memberikan tanda padanya
untuk masuk ke pesawat secepat mungkin.
Aku berusaha keras untuk tidak berbalik untuk melihat apakah Baron masih
menungguku di luar. Alasan pertama adalah karena aku tidak mau melihatnya di
sana, berdiri menunggu hingga aku hilang dari pandangannya, dan yang kedua,
aku takut bahwa aku tidak akan menemukannya di sana padahal dalam hati aku
betul-betul berharap dia menungguku. I am so confused.
Beberapa menit setelah pesawat kami lepas landas, Ina mencoba mencari tahu
siapakah laki-laki yang tadi ngobrol denganku. Pertama-tama aku memutuskan
untuk berdiam diri tanpa mengatakan apa-apa, tapi akhirnya aku menyerah. Aku
memang pernah bercerita kepada Ina tentang Baron, tapi itu hanya sekilas. Ketika
aku menyebutkan nama Baron kepadanya, mata Ina langsung melebar. Untuk
pertama kalinya aku bertanya-tanya apa Ina tahu lebih banyak mengenai
perasaanku terhadap Baron daripada yang kubiarkan dilihat semua orang di dunia
ini.
Aku harus lebih berhati-hati lagi dengan Ina, ucapku dalam hati. Kalau Ina
sampai tahu tentang perasaanku terhadap Baron, maka sudah pasti kakakku pun
tahu dan itu berarti aku akan diceramahi olehnya. Kakakku adalah orang paling
praktis yang kukenal, sehingga kalau menurutnya suatu hubungan tidak akan
berakhir dengan baik, maka dia tidak akan melanjutkan hubungan itu. Kalau
kakakku tahu tentang Baron dan statusnya yang akan segera menikah, maka dia
akan memintaku untuk melupakan Baron secepat mungkin. Sedangkan aku masih
belum bisa melepaskan lelaki itu. Aku masih perlu waktu.
* * *
Tiga hari setelah kepulanganku dari Singapura, aku mencoba melupakan
pertemuanku dengan Baron, tapi entah kenapa kepalaku menolak ide itu. Alhasil
aku mengalami kesengsaraan hati yang tidak terobati. Selama ini aku sudah cukup
mengenal diriku sendiri bahwa kalau mulai merasa melankolis, aku biasanya
langsung menumpahkan perhatianku pada hal-hal lain yang bisa membuatku lupa
dengan persoalan sebenarnya. Pada saat ini, karena satu-satunya hal yang bisa
dijadikan pelarian adalah pekerjaanku, aku akhirnya bekerja seperti orang
kesetanan. Aku adalah orang pertama yang tiba di kantor dan orang terakhir yang
meninggalkan kantor. Bosku yang melihatku jadi super-rajin dan tidak bisa diam,
yakin kalau aku mungkin lupa minum Ritalin, obat yang biasanya diminum oleh
orang-orang yang memiliki ADHD alias Attention Deficit and Hyperactive Disorder.
Ternyata kolega-kolegaku juga merasa bahwa aku hidup di kantor dan tidak pernah
pulang.
Malam itu, aku menimbang-nimbang apakah aku harus menelepon Baron dan
menyelesaikan permasalahan yang sudah berlarut-larut ini. Aku memegang kartu
namanya, Thomas Baron Iskandarsyah. Nama yang selama ini ada di kepalaku,
selalu ada di kepalaku dan tidak mau pergi. Aku tertawa sendiri, menertawakan
nasibku yang menyedihkan ini.
Aku berpikir bahwa tiga hari setelah pertemuan kami adalah waktu yang cukup
untuk menghubungi Baron sekadar untuk basa-basi. Tentunya apabila Ina dan
Mbak Tita tahu aku melakukan ini, nasibku tidak akan jauh dari Joan of Arc. Aku
memegang kartu nama itu di tangan kiriku dan HP di tangan kananku. Setelah
mengumpulkan cukup keberanian aku pun menekan nomor HP Baron. Hatiku
bagaikan sedang berlari di atas treadmill dengan kecepatan 100 kilometer per jam,
menunggu hingga terdengar nada sambung dari ujung saluran telepon. Aku hampir
saja melepaskan Hp dari tanganku yang terasa agak basah ketika terdengar nada
sambung. Setelah sekitar enam deringan dan tidak ada yang menjawab, aku sudah
siap untuk menutup teleponku, tetapi tiba-tiba dari ujung telepon itu terdengar
suaranya berkata, “Halo.”
Ketika mendengar suara itu aku yakin jantungku berhenti selama satu menit,
meskipun mungkin tidak selama itu. Otakku bagaikan sedang dimasukkan ke mesin
cuci, berputar dan berputar, mencoba untuk memutuskan apakah aku cukup bernai
untuk mengatakan bahwa itu aku. Kemudian kudengar Baron berkata lagi, kini
dengan nada lebih serius.
“Halo.”
Secercah keberanian terasa di hati kecilku, dan aku melakukan hal yang aku
tidak pernah lakukan sebelumnya, aku menekan tombol END di HP-ku dan
hilanglah sambungan telepon itu. Kubiarkan HP meluncur dari tanganku ke atas
bantal dan menggeram keras. Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Hatiku bagaikan beku, aku
betul-betul bego menelepon Baron ke HP-nya. Tentu saja dia bisa melihat nomor
yang menelepon dan menelepon balik. Sesaat perasaan panik menghujaniku.
Ya ampun, dia bisa lihat nomor HP gue, dia tahu itu gue, Ampun Adriiii... bego
banget sih elo!!!
Aku duduk tegak di tempat tidurku. Memandangi HP-ku yang masih berdering
seolah benda itu mengandung radioaktif. Beberapa saat kemudian HP-ku berhenti
berbunyi dan aku kembali menenggelamkan tubuhku di antara bedcover dan bantalbantal
yang menutupi tempat tidurku. Setelah merasa cukup tenang aku
mengangkat HP-ku untuk melihat nomor telepon yang missed call. Aku langsung
tahu itu nomor Baron. Aku juga melihat bahwa ada voice mail di mailbox-ku.
“Halo, ini Thomas Iskandarsyah, barusan ada yang menghubungi saya dari
nomor ini tapi koneksinya sepertinya kurang bagus dan putus. Kalau ini memang
emergency, silakan hubungi saya lagi di nomor ini atau hubungi saya di rumah,
nomornya...” Kemudian suara Baron mengulangi pesan itu dalam bahasa Inggris.
Aku berpikir, lho kok dia nggak tahu itu gue ya? Lalu aku teringat bahwa
nomor HP-ku memang tidak tertera di kartu namaku, hanya alamat, e-mail, nomor
telepon, dan nomor faks kantor. Ketika sadar bahwa aku sudah ketakutan tanpa
sebab, aku pun terbahak-bahak, tertawa sendiri di kamarku. Ibuku yang mendengar
tawaku yang menggelegar sempat melongokkan kepalanya di pintu untuk
menanyakan apa yang lucu. Aku hanya mengatakan padanya bahw aada sesuatu
yang lucu di buku yang sedang kubaca. Aku memandang-mandangi kartu nama
Baron lebih lama lagi, menimbang-nimbang apakah aku akan menyimpannya. Aku
takut kalau aku memutuskan untuk menyimpan kartu nama itu suatu saat aku bisa
jadi gila dan iseng-iseng meneleponnya lagi. Akhirnya aku menyimpan kartu nama
itu di sebuah kotak dan meletakkannya di dalam laci mejaku yang paling bawah.
9. MERENUNGI NASIB
BEBERAPA hari setelah kepulanganku dari Singapura, hari-hariku dihiasi
persiapan-persiapan heboh perayaan Nujuh Bulanan kakakku. Jenis kelamin si bayi
adalah laki-laki. Nama juga sudah dipilih, Lukas. Nama yang menurutku sangat
bagus dan terdengar kuat. Mudah-mudahan Lukas akan memiliki wajah seperti
Lukas Haas atau Luke Wilson atau bahkan Luke Skywalker ketika dia beranjak
dewasa.
Pesta Nujuh Bulanan itu ternyata benar-benar meriah. Cuaca di luar yang agak
mendung menambah kedramatisan suasana sore itu. Entah kenapa, suasana acara
itu membuatku agak sedih, terharu, dan mengingatkanku bahwa semakin hari aku
semakin tua. Tambahan lagi, beberapa bude, pakde, oom, dan tanteku membuatku
ingin menangis tersedu-sedu sambil guling-guling di lantai karena pertanyaanpertanyaan
mereka.
“Di, kapan nyusul Mbak Tita?” Pertanyaan yang berasal dari bude-bude yang
masih cukup sopan.
“Pacarnya kok nggak dibawa?” Pertanyaan dari bude dan pakde yang agak
kurang sopan.
“Gimana kabar cowok kamu?” Pertanyaan yang sangat ngeledek.
“Sudah ada pacar belum? Apa mau Bude kenalin sama anak temannya Bude?”
Pertanyaan yang kurang ajar.
Intinya selama acara itu, aku rasanya ingin menggeret laki-laki tak dikenal
untuk pura-pura jadi pacarku biar semua bude, pakde, oom, dan tanteku puassssss.
Setelah pulang dari rumah kakakku malam itu, aku memutuskan untuk tidak
menerima telepon dari siapa pun dan berdiam diri di kamar, merenungi nasib.
Perenungan nasibku itu berlanjut hingga bulan berikutnya. Ina yang mencoba
menghubungiku melalui HP sampai marah-marah karena aku tidak pernah
mengangkat telepon dan mailbox-ku penuh sehingga dia tidak bisa meninggalkan
pesan untuk memaki-makiku lagi. Sedangkan ketika dia mencoba untuk
menghubungiku di rumah, aku selalu keluar rumah atau sudah tidur. Ketiga
sobatku yang berusaha keras untuk menghubungiku pun tidak sukses.
Hingga suatu sore di bulan November, aku sedang menikmati hari Sabut
dengan menemani ibuku berbelanja ke Carrefour ketika berpapasan dengan Dara
yang marah habis-habisan karena aku tidak meneleponnya balik setelah lebih dari
sepuluh pesan yang dia tinggalkan ke semua orang di rumahku, mailbox HP-ku,
SMS, juga e-mail.
“Dri, aduh, Dri, elo ke mana saja sih?”
Aku mencoba menyembunyikan rasa sedihku dengan tersenyum kepada Dara.
Semenjak kedua sobatku yang lain menikah dan terlalu sibuk dengan keluarga
masing-masing, Dara yang dulunya tidak pernah peduli dengan orang lain, kini jadi
leibh jeli dalam urusan mencium masalah.
“Sori deh, Ra. Biasa... kantor lagi gila,” akhirnya aku berkata.
“Tia pkali gue telepon elonya nggak ada. Gue sama Jana sudah rencana mau ke
rumah lo besok kalau lo masih nggak angkat telepon. Kami pikir lo marah sama
kami, atau kenapa gitu.”
Aku menatap Dara dengan pandangan memohon. Dara langsung tanggap dan
bertanya, “Lo kenapa sih, Dri?”
Aku hanya menggelengkan kepala sebelum menjawab. “Cuma kecapekan kok.
Sori ya.”
Dara mengangguk menandakan bahwa dia mengerti. Itulah hebatnya Dara. Dia
selalu memahami apabila seseorang membutuhkan waktu atau ruang untuk
berpikir sendirian tanpa harus memaksa.
“Ya sudah, nanti telepon gue ya.” Ketika mau beranjak pergi, tiba-tiba dia
berbalik memandangku. “Eh, gue hampir lupa, Nadia tuh nyoba nelepon elo buat
ngasih tahu bulan depan ada reuni SMP di Senayan. Dia mau nanya apa lo mau
datang, soalnya gue, dia, sama Jana sudah RSVP.”
“Oh.” Adalah satu-satunya jawaban yang bisa kukeluarkan dari mulutku yang
ternganga.
“Jadi gimana?” tanya Dara setelah beberapa saat.
“Nanti gue telepon lo deh ya,” ucapku cepat, karena ibuku sudah memberikan
tanda bahwa dia akan jalan-jalan ke area makanan.
Setelah puas dengan penjelasanku, Dara pun mencium pipiku dan melangkah
pergi. Tapi sebelum jauh, dia berkata lagi, “Dri, seminggu yang lalu gue ketemu
sama anak-anak, mereka bilang Baron sudah tunangan sama Olivia lho. Itu juga
sebabnya kenapa gue neleponin elo melulu. Gue mau ngasih tahu tentang itu.”
Aku memandang Dara dengan tatapan kosong. Seperti mengerti sinyalku, Dara
kemudian melambaikan tangan dan berlalu ke kasir.
* * *
Malam itu setelah mandi dan akan bersantai di tempat tidurku, aku memutuskan
untuk menghubungi Dara. Aku bangkit dari posisi berbaringku dan mencari HP-ku
yang tersembunyi di antara kertas-kertas di atas meja kerjaku. Tapi HP-ku
sepertinya hilang ditelan bumi. Setelah mencoba mencari tanpa hasil selama lima
belas menit, akhirnya aku turun ke ruang makan untuk menggunakan telepon
rumah. Aku menekan nomor telepon Dara sembari menarik salah satu kursi di meja
makan dan duduk. Setelah beberapa deringan, akhirnya aku mendengar suara Dara
di ujung kabel telepon.
“Ra, ini Adri.”
“Akhirnya lo telepon juga, gue pikir kalau lo nggak telepon gue sampai jam
setengah sepuluh, gue yang bakalan telepon elo.”
“Sori, tadi gue beberes urusan kantor dulu.”
“Oh.” Setelah menunggu beberapa saat dan aku diam saja, akhirnya Dara
menambahkan, “Lo nggak apa-apa...?”
“Gue sudah tahu Baron tunangan sama Olivia dari dua bulan yang lalu,”
ucapku memotong kalimatnya. Apa memang sudah selama itu semenjak aku
bertemu dengan Olivia?
“Hah, kok lo nggak bilang ke kita-kita sih?”
“Sori deh, tapi waktu itu gue masih dalam tahap shock. Gue sangka akan
membaik setelah beberapa bulan, tapi nggak tahunya kok nggak juga, malahan
makin parah.”
“Lo bilang lo tahu dari dua bulan yang lalu? Berarti sebelum lo ke Singapur
dong.”
“Gue ketemu sama Olivia di bandara waktu jemput bokap gue, terus gue juga
ketemu dia di Singapur.”
“Dia tuh siapa? Baron?”
Aku mengangguk menjawab, setelah beberapa saat aku baru menyadari hal itu
ketika Dara mengulangi pertanyaannya.
“Iya,” akhirnya aku menjawab.
“Hah, lo ketemu sama Baron lagi? Gila, heboh ini! Terus gimana, lo ngobrol
sama dia?” Dara terdengar sangat antusias. Aneh.
“Ya ngobrol sedikit sih.” Kemudian aku menceritakan seluruh kejadian
pertemuanku dengan Kalvin dan Olivia, dan Baron beberapa bulan yang lalu, plus
telepon iseng yang kubuat.
setelah mendengar ceritaku, Dara berkata, “Ternyata intuisi gue bahwa lo masih
ada hati sama Baron tuh benar.” Dari nadanya aku tahu bahwa Dara memang tidak
kaget atas ceritaku.
“Dia selalu ada di kepala gue, Ra.”
“Kenapa lo nggak pernah cerita sih ke kami?” Suara Dara terdengar sedikit
menuduh.
“Gue pikir lo pada nggak akan mau tahu tentang itu,” balasku.
“Tentu saja kami mau tahu, Dri. Kami ini sobat lo, kami mau tahu segala
sesuatunya tentang kehidupan lo,” ucap Dara berapi-api.
“Sori ya,” ucapnya pelan.
“Tapi dia sudah mau married lho, Dri.”
“I know,” geramku. Aku sudah tahu tentang hal itu, dan sedang berusaha untuk
menerimanya. Tapi terdengar orang lain mengatakannya membuatku merasa putus
asa, karena kata-kata itu terdengar lebih final.
Ada keheningan yang tidak mengenakkan. Dalam usahaku untuk mencairkan
suasana agar Dara tidak lagi merasa tersinggung karena rahasiaku, aku bertanya,
“Omong-omong reuninya siapa yang koordinir?”
Dara sempat terdengar menarik napas sebelum menjawab. “Bangsanya si Adit,
Irene, Gege itulah. Mereka bilang rencananya sudah pasti, jadi mereka akan mulai
ngirim e-mail dan nelepon anak-anak buat ini.”
“Memangnya cuma angkatan kita doang?”
“Ya nggak, pokoknya semua angkatan waktu kita kelas tiga.”
“Wahhh... gue nggak ikutan deh ya, habis nanti ketemu sama Baron, gue mau
ngomong apa?”
“Biasa deh!! Ngomong saja masalah banjir di Jakarta atau tentang betapa
panasnya Jakarta akhir-akhir ini, atau...”
Aku memotong usulan-usulan tersebut yang mulai terdengar sedikit sarkastis.
“Ya sudah, elo bisa tolong RSVP-in gue?” aku akhirnya memutuskan.
“Nah gitu dong. Ya udah, besok gue bilang ke Nadia supaay RSVP-in elo ke
panitia.”
“Memangnya tanggal berapa sih?”
“Lima belasan deh kalau nggak salah, pokoknya hari Sabtu.”
“Well, kalau hari Sabtu sih gue nggak bisa nolak kali ya.”
“Dri...”
“Ya?”
Dara terdiam selama beberapa detik sebelum berkata, “Gue khawatir deh sama
elo.”
Aku tertawa mendengar nadanya yang serius itu.
“Jangan khawatir, Ra. Gue nggak apa-apa.”
“Gue lagi mikir, kalau misalnya masalah sebesar Baron saja elo nggak pernah
cerita, hal-hal lain apa lagi yang elo simpan sendiri?”
Aku menarik napas.
Ervin dan keinginanku untuk melakukan in-vitro fertilization, pikirku merasa
bersalah. Tapi seperti biasa aku akhirnya terpaksa berbohong.
“Nggak ada apa-apa lagi kok. Itu satu-satunya rahasia gue,” jawabku.
“Yakin?” ledek Dara.
“Iiiihhhhhh... rese deh lo,” ucapku sambil tertawa.
Akhirnya setelah beberapa menit mencoba membujukku dan tidak berhasil,
Dara pun berpamitan dan menutup telepon. Aku baru bisa bernapas lega. Aku tidak
suka berbohong, tapi menurutku menahan suatu informasi tidak bisa digolongkan
sebagai kebohongan, kan?
* * *
Hari Senin akhirnya aku memutuskan untuk membuka e-mail pribadiku yang aku
yakin penuh dengan segala macam message dari semua orang yang kubiarkan tak
terbaca. Ternyata aku benar, aku menemukan lebih dari empat puluh message di email
Yahoo-ku. Rata-rata memang dari teman-temanku. Ada satu e-mail dari Vincent
yang memberitahuku bahwa dia dan istrinya berencana akan pindah ke Kuala
Lumpur.
Baguslah, itu berarti aku punya kontak kalau mau pergi ke Kuala Lumpur.
Bahagia dengan prospek ini aku mulai membaca e-mail lainnya.
Kebanyakan dari Ina dan ketiga sobatku, kemudian ada dua e-mail lain dari
Iskandarsyah_TB@yahoo.com, satu dengan subjek “Halo lagi dari gue”, dan yang
satu lagi “Reuni”. Aku hampir saja memutuskan untuk menghapuskan dari inbox-ku
karena berpikir itu junk mail, ketika mengingat alamat itu. Itu e-mail Baron. Setelah
mengumpulkan cukup keberanian aku memutuskan untuk membuka e-mail
pertama dan mulai membaca perlahan-lahan.
Di,
Aku cuma mau tanya kabar kamu. Call me.
Baron
Selesai membaca e-mail pendek itu aku merasa sedikit kecewa. Kalau dia hanya
ingin menanyakan kabar, kenapa tidak telepon saja? Freaking idiot, omelku sembari
membuka e-mail Baron yang bertanggalkan sekitar sepuluh hari yang lalu.
DiDi,
Ini Baron, ngimelin kamu lagi, soalnya kamu belum kontak aku.Kamu inget kan
kamu janji mau telepon aku? Apa jangan-jangan kartu namaku hilang? Kalau ingat
kebiasaan kamu yang sering teledor, aku nggak heran. Aku cuma mau bilangin ada
reunian SMP tanggal 15 Desember hari Sabtu di Senayan. Kalau kamu sempat, bisa
tolong imel aku balik?
Baron.
Setidak-tidaknya e-mail yang kedua lebih panjang, meskipun tidak sepanjang
yang kuharapkan. Nadanya pun tidak menghangat, masih tetap biasa-biasa saja.
Aku jadi semakin yakin bahwa Baron tidak merasakan sengatan listrik yang
kurasakan ketika memeluknya.
Aku berdebat dengan diriku sendiri apakah aku mau menghapus kedua e-mail
yang mengingatkan betapa bodohnya aku ini, atau menyimpannya sebagai tanda
mata bahwa aku telah berhubungan dengan Baron, atau lebih tepatnya bahwa Baron
menghubungiku. Aduh, merana amat sih hidup gue, ucapku dalam hati. Kenapa
aku masih juga stuck dengan Baron? Sedangkan Baron sudah melupakanku. Aku
bahkan yakin aku memang tidak pernah ada di pikirannya sama sekali.
Rasa resah dan gundah menghantuiku sepanjang hari, aku tidak bisa
berkonsentrasi di rapat ataupun saat aku harus memberikan pelatihan mengenai
Conflict Resolution. Hahaha... tidak heran karena aku juga tidak bisa menyelesaikan
konflik di dalam diriku ini. Kemudian ketika kembali ke kantorku setelah makan
siang, aku salah melakukan beberapa analisis data hingga harus mengulang
semuanya dan terpaksa tinggal di kantor hingga jam tujuh malam.
Pat yang melihatku masih ada di mejaku sambil makan biskuit yang kusimpan
di laci, menyapaku,
“Adriana, masih kerja?”
“Iya nih. Aku harus menyelesaikan laporan ini malam ini.”
“Laporan apa?”
“Ini lho, evaluasi pekerjaan kita bulan lalu.”
“Bukannya ini seharusnya pekerjaan Sony?”
Aku memang tahu ini pekerjaan seorang asisten, bukan manajer personalia
sepertiku. Tapi Sony sedang kutugaskan untuk mengerjakan beberapa penilaian
kinejra para pegawai di Divisi Keuangan.
“Iya sih, tapi dia sedang banyak pekerjaan lain,” jawabku singkat.
“Well, oke. Santai saja, itu tidak perlu buru-buru kok.”
“Tapi, laporan ini kan harus slesai sebelum tenggat besok.”
“Memang, tapi terlambat sedikit tidak apa-apa.”
Aku tidak berhenti mengetik ketika berbicara dengan Pat, dan alhasil, analisisku
keluar dengan bentuk bagan yang agak aneh. Frustrasi, aku menggeram kesal.
Pat yang tidak pernah melihatku begitu ganas terlihat kaget. “Adri, kamu tidak
apa-apa?”
Aku mengambil napas sedalam-dalamnya sebelum menjawab pertanyaan ini.
“Ya... Aku baik-baik saja kok. Cuma agak banyak pikiran belakangan ini.” Aku
melemparkan senyuman yang pasti tidak terlihat terlalu meyakinkan.
“Ya sudah, kalau itu ceritamu.” Pat kemudian meninggalkan ruanganku setelah
menatapku dengan gaya kebapakan yang selalu dilakukannya untuk menandakan
bahwa apabila aku perlu teman untuk bicara, ia akan siap mendengarkan. Andaikan
Ervin ada di kantornya, mungkin aku bisa ngobrol-ngobrol dengannya untuk
menghilangkan kegalauan hatiku, tapi aku tahu dia sudah pulang.
Tiba-tiba, panjang umur, Ervin muncul di ruanganku.
“Dri, lagi ngapain, kok tampang kusut amat?” tanyanya dengan suaranya yang
bariton.
Aku hampir loncat dari kursiku karena kaget. “Vin, lo ngagetin gue deh.”
“Sori, sori,” tambah Ervin sambil melangkah masuk ke ruanganku dan duduk di
sofa putih di sebelah kanan meja kerjaku.
Aku memutar kursiku untuk menghadapnya.
“Lo bukannya tadi sudah pulang?” tanyaku.
“Belum. Tadi cuma ngantar Susan ke Mal Ambassador, sekalian gue cari
makan,” jawabnya sambil menyandarkan tubuhnya yang kekar di sofaku.
“Susan yang anak baru itu?” tanyaku.
“Bingo.” Ervin sepertinya tidak peduli bahwa Susan adalah pegawai baru paling
cantik di Good Life.
“Eh, lo sibuk nggak hari Sabtu?” tanya Ervin padaku tiba-tiba.
“Mmmhhh, ada rencana mau nonton sih.”
“Mau nonton?!!! Kok nggak ngajak-ngajak gue?”
“Yeeee, lo kan ada pacar lo.”
Ervin memberikan tampang malas. “Pacar?”
Aku memandang Ervin dengan tatapan tidak percaya.
“Lho, itu... itu... aduh siapa sih namanya...? Itu pacar lo, kan?”
“Lo kayak nggak kenal gue deh. Date, Dri, date, beda.”
Aku hanya menggeleng. “Memangnya lo nggak ada rencana sama dia?”
Ervin terdiam sebentar sebelum menjawab. “Nope.”
Aku tahu betul kalau Ervin sudah bertingkah laku seperti ini terhadap
perempuan, maka perempuan itu pasti sudah membuatnya ilfil dan sebentar lagi
hubungan mereka akan history atau mungkin sudah history. “Hah, tuh perempuan lo
dumpt lagi?” Aku memutar bola mataku. “Kenapa lagi sama yang ini, kurang punya
otak?” candaku.
Ervin memang tergolong laki-laki langka yang menginginkan pacarnya pintar
dan bisa diajak bicara dibandingkan sekadar cantik.
“Gitu deh,” jawab Ervin dengan nada bercanda.
“Lo tuh ya, kenapa juga elo mau pergi nge-date sama dia kalau buntutnya lo
putusin juga?” omelku.
“Soalnya dia ngajakin gue keluar terus, akhirnya gue nggak bisa cari alasan buat
nolak lagi,” jelasnya polos.
Aku tahu bahwa Ervin tidak akan bertindak kasar atau kurang ajar dengan
perempuan mana pun kecuali sangat terpaksa.
“Lo nggak takut dia stalk elo kayak siapa tuh cewek lo yang waktu itu?”
Ervin mengerutkan kening dan memberikan tatapan siap perang padaku.
“Theta?” tanyanya.
“Oh iya, Theta. Heboh tuh dia, sampai nungguin gue pulang kerja segala karena
mau tahu apa gue penyebab lo mutusin dia.”
Aku tertawa keras mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu itu. Ervin ikut
tertawa. Tanpa kurasa ternyata hatiku sudah terasa sedikit lebih lega.
“Ya sudah, besok-besok hati-hati kalau milih perempuan ya. Gue nggak mau
sampai nyokap lo minta gue nyariin elo perempuan baik-baik lagi.”
Ketiga kalinya aku bertemu dengan mamanya Ervin, beliau menanyakan
apakah hubunganku dengan Ervin serius. Ketika aku dan Ervin hanya tertawa
mendengar pertanyaan itu, beliau meminta agar aku mencarikan perempuan yang
baik untuk anak laki-laki satu-satunya itu. Menurut beliau, selama ini perempuan
yang dibawa pulang oleh Ervin bentuknya tidak keruan. Ada yang masih pakai
kawat gigi, ada yang pakai rok sampai kelihatan celana dalamnya karena terlalu
pendek, ada yang hobinya mengibaskan rambutnya yang panjang sampai suatu kali
masuk ke sup yang sedang dihidangkan oleh mamanya Ervin, bahkan ada yang
ngacir pulang sambil menangis tersedu-sedu karena digonggong anjingnya Ervin,
seekor bulldog yang sudah tergolong “anjila” alias “anjing lanjut usia” karena
umurnya sudah dua belas tahun dan hampir buta.
“Siapa bilang gue nggak hati-hati?”
“Biasanya tindakan yang lebih berhati-hati datang dengan usia, dan kebanyakan
memang perlu kedewasaan,” ucapku. Sengaja dengan nada menggurui untuk
mengganggu Ervin.
“Siapa bilang gue nggak dewasa?” Ervin mengambil umpanku dan langsung
terlihat tersinggung.
“Soalnya, laki-laki yang sudah dewasa itu nggak akan beli mobil yang hanya
punya dua pintu, kan susah kalau mesti bawa bayi...”
Ervin akan memotong omonganku, tapi tidak kupedulikan. “Tambahan lagi,
laki-laki dewasa itu nggak akan tinggal di apartemen yang lebih kelihatan seperti
rumah bordil. Laki-laki dewasa akan beli rumah. Ngerti?”
“Siapa bilang gue nggak bisa bawa bayi dengan mobil gue yang sekarang?
Kalau soal rumah, lo sendiri bilang apartemen gue kelihatan seksi. Kalau soal
apartemen gue yang kayak rumah bordil, lo pasti ngomongin bedcover gue yang
warna hitam. Itu dikasih sama Kirana, dan gue belum ada waktu untuk beli yang
baru,” Ervin mencoba membela diri.
“Kalau soal women, kan gue memang masih single, jadinya boleh dong kalau
masih milih-milih. Gue juga bingung, ngapain amat sih nyokap gue minta tolong elo
dan adek gue untuk nyariin gue perempuan, gue kan bisa cari sendiri,” tambahnya
menutup argumentasinya.
Aku mengangkat kedua belah tanganku, mengalah. “Gue sih nggak peduli
sama... kegiatan lo, asal jangan lo bawa-bawa gue kalau nanti misalnya lo kena
santet atau leibh parah lagi... karma gara-gara aktivitas lo ini.”
Tanpa kusangka-sangka Ervin membalas, “Gimana bisa lo mikir kalau karma
lebih parah dari santet? Jelas-jelas santet lebih parah. Omong-omong tentang
santet...”
Sebelum Ervin selesai dengan kalimatnya aku langsung memotong.
“Kenapa lo nanya-nanya masalah hari Sabtu?”
Ervin hanya nyengir melihatku mengganti topik. “Nggak kenapa-napa, cuma
mau ngajak lo jalan,” balas Ervin sambil menatap langit-langit ruang kerjaku dan
tidak memperhatikan ekspresi wajahku yang sedang menggigit bibir wajahku tanda
senewen.
“Oh... jadi stok cewek lo lagi habis ya, makanya balik ke gue?” ledekku.
Sesuai dengan perkiraanku, kata-kataku dapat menarik perhatiannya kembali ke
bumi. Tepatnya kepadaku. Satu senyuman muncul di sudut bibirnya.
“Gue kangen sama elo,” Ervin kemudian berkata. Wajahnya polos, tidak
berdosa. Aku sudah cukup kebal dengan Ervin sehingga kata-kata mesranya sudah
hampir tidak memengaruhiku lagi.
Aku memandangi Ervin beberapa saat sebelum menjawab. “Lo tuh ya,
memangnya gue date for rent, apa?” balasku.
Ervin hanya melemparkan senyuman. “Ya... gue ada tiket buat nonton Jazz
Night di Hard Rock, gue pikir daripada gue pergi sama orang lain, lebih baik pergi
sama elo. About this date for rent...”
Aku langsung memotong kalimatnya yang mulai tidak keruan. “Kok baru nanya
sekarang, tadinya rencana mau pergi sama whatever her name is, ya?” tanyaku
dengan nada curiga.
“Nggak lah.”
Aku tahu betul bahwa Ervin berbohong, dan aku memang sudah lama tidak
makan enak. Tapi hanya untuk membuat Ervin merasa bersalah aku menambahkan,
“Gue pikir-pikir dulu ya.”
“Dri, lo tega amat sih sama gue? Ayolah... Sori deh kalau baru nanya sekarang,”
Ervin memohon kepadaku.
Aku memberikan senyuman iseng padanya sebelum menjawab. “Ya sudah,
memangnya jam berapa sih acaranya?”
“Jam delapan. Nanti lo gue jemput jam empat ya... Jadi kita bisa dinner dulu,
oke?”
Aku sudah tahu kebiasaan Ervin, dia paling suka mengajakku makan, karena
menurutnya seleraku sama dengannya dan ukuran perutku selalu mampu
mengakomodasikan porsi yang besar, sehingga tidak ada yang terbuang. Tidak
membuatnya rugi, katanya.
Aku mengangguk, menyetujui rencana Ervin.
Ervin sudah siap beranjak meninggalkan ruanganku ketika aku berkata, “Thanks
ya, Vin.”
Ervin kembali menghadapku. “Buat apa?”
“Just thanks,” balasku sambil tersenyum.
Tanpa disangka-sangka kemudian Ervin menghampiriku dan mengecup
keningku. “No problem.” Lalu dengan satu senyuman dia melangkah keluar dari
ruanganku.
Beberapa detik kemudian dia masuk lagi, “Eh, Dri, Sarah minggu depan pulang
lho dari Toronto.” Ervin sedang bertolak pinggang, aku lihat dia menggunakan dasi
yang kuberikan padanya tahun lalu sebagai hadiah ulang tahun. Aku tersenyum
pada diriku sendiri.
“Dia mau jalan tuh,” tambah Ervin.
Hubungan Ervin dengan keluarganya yang sangat dekat, membuatnya sebisa
mungkin meluangkan waktu untuk berkumpul dengan mereka, terutama adiknya
yang jarang bertemu. Oleh sebab itu, Ervin sering mengajak Sarah kalau dia sedang
jalan denganku, membuatku juga dekat dengan adik perempuan Ervin itu.
“Lho, kok dia pulang sih, memangnya libur?” tanyaku bingung.
“Nggak lah. Elo sih sudah lama nggak jalan sama gue. Dia sudah lulus, lagi,”
jawab Ervin santai.
“Oh, gitu?”
“Tadinya gue mau ajak dia ke Jazz Night ini...” Ervin terdiam ketika melihat
ekspresiku. Dia tahu bahwa dia sudah tertangkap basah.
“Lho, jadinya dia toh yang ngebatalin sama elo?” teriakku.
Ervin terdiam sesaat sebelum menjawab, “Iya,” dengan nada bersalah. “Dia
bilang mau pulang minggu lalu, tapi ternyata ditunda sampai minggu depan, gue
gondok banget soalnya tiketnya sudah di tangan gue.”
Sebetulnya aku berniat untuk membuat Ervin memohon-mohon dulu padaku,
mungkin dengan sedikit sogokan es krim, sebelum kemudian setuju untuk pergi
dengannya. Tapi aku sadar bahwa hari sudah semakin malam dan aku masih harus
menyelesaikan pekerjaanku.
“So, jadi jam empat ya,” Ervin mencoba mengkonfirmasi lagi.
“Ya, Bos,” aku menjawab sambil mengangkat tangan ke dahi, memberikan
hormat.
Ervin pun tersenyum dan meninggalkan ruanganku.
* * *
Malam itu setelah yakin bahwa aku sudah cukup kuat untuk melakukannya tanpa
menangis, aku membalas e-mail Baron. Aku membuat nada e-mail-ku tidak kalah
biasa dengan kedua e-mail-nya.
Halo Baron,
Sori baru bisa balas e-mail kamu sekarang. Nggak, kartu nama kamu nggak
hilang kok, tapi aku memang belum sempat nelepon. Iya, aku bakalan datang ke
reunian. Kamu dan Olivia juga, kan?
Didi
E-mail itu cukup bersahabat, tetapi tidak terlalu hangat, hiburku pada diri
sendiri sebelum kemudian mengirimkan e-mail itu ke dunia maya dengan satu klik.
Aku melipat kakiku di atas tempat tidur sambil memandangi layar laptop-ku. Entah
apa yang kutunggu. Ternyata Baron tidak akan langsung membalas e-mail-ku. Dia
mungkin sedang keluar dengan Olivia. Aku langsung merinding memikirkan
mereka berdua berpelukan dengan mesra. Kudengar ibuku memanggilku dari lantai
bawah untuk memberitahu bahwa aku harus mengunci pintu sebelum tidur, karena
beliau dan bapakku akan pergi tidur sekarang. Aku memberitahunya bahwa aku
akan segera turun untuk mengunci pintu. Orangtuaku hanya memiliki satu
pembantu rumah tangga yang tinggal di perkampungan dekat rumahku, tetapi dia
biasanya sudah pulang jam enam sore.
Setelah kembali ke kamarku lagi sambil membawa secangkir Milo panas, aku
memandangi layar e-mail Yahoo-ku, dan melihat bahwa aku memiliki satu e-mail
baru. Aku membuka e-mail itu. Ternyata dari Baron! Aku hanya meninggalkan
kamarku kurang dari setengah jam, jadi sedikit kaget bahwa dalam jangka waktu
sesingkat itu, dia sudah membalas e-mail-ku.
“Adri, jangan ge-er,” gumamku mencoba mengingatkan diriku sebelum
kemudian mulai membaca e-mail itu.
Dear Di,
Sekarang jam 11 malam, sebetulnya aku mau telepon kamu, tapi aku nggak
tahu nomor HP kamu. Kamu Sabtu free? Mungkin kita bisa pergi dinner. No HP
kamu berapa?
Baron
Aku membacakan beberapa kali untuk memastikan bahwa Baron benar-benar
menuliskan kata “Dear”. Aku mencoba membaca pesan-pesan tersembunyi yang
mungkin ada di e-mail-nya. Apa maksud dia dengan “dinner”? Tentunya bukan
hanya aku dan dia, kan? Pasti dengan Olivia. Apa maksud dia dengan kata-kata
“sebetulnya aku mau telepon kamu”? Apa dia memang mau telepon aku, atau
hanya basa-basi? Aku hampir saja menerima tawarannya untuk bertemu hari Sabtu,
tapi tiba-tiba aku teringat bahwa aku sudah ada janji dengan Ervin untuk pergi ke
Hard Rock. Meskipun tahu bahwa Ervin akan bisa mengerti apabila aku
membatalkan janjiku dengannya, tapi kalau Ervin bertanya alasan aku membatalkan
janjiku, aku tidak yakin aku bisa menyimpan kebahagiaanku dan tidak
menceritakan e-mail dari Baron ini. Setelah berdebat dengan diriku sendiri selama
lima belas menit, akhirnya aku memutuskan untuk tidak membalas e-mail dari
Baron dan pergi tidur.
I’ll decide it tomorrow, aku berjanji pada diriku sendiri.
* * *
Keesokan harinya aku masih belum bisa memutuskan bagaimana aku harus
membalas e-mail Baron. Aku justru bertemu dengan Sarah yang ternyata sudah tiba
di Jakarta. Hari itu aku sekali lagi menghabiskan waktuku dengan Ina. Aku
berharap temanku itu bisa membantuku melupakan Baron untuk beberapa jam.
Kami sedang dalam perjalanan menuju bioskop ketika aku mengenali Sarah dari
kejauhan.
“Sar,” panggilku.
Sarah yang mendengar namanya dipanggil celingukan mencari siapa yang
memanggilnya. Sewaktu dia melihatku, dia langsung berteriak dan lari ke arahku
dengan tangan terbuka.
“Mbak Adriiiiiiii,” teriaknya keras, sehingga membuat semua orang di
sekitarnya kaget. Aku yakin beberapa orang menyangka Sarah sedang terkena
serangan epilepsi.
Sarah memelukku dengan antusias. Ina yang menyaksikan reaksi Sarah sempat
terbengong-bengong melihat kedekatan kami.
“Lho kok malah ketemu di sini sih?” kataku pada Sarah.
“Memangnya si Jabrik nggak bilangin ke Mbak aku sudah pulang tadi malam?”
Itulah cara Sarah memanggil Ervin, kakak laki-laki tercintanya itu. Terkadang
melihat cara Ervin dan Sarah berinteraksi, mengingatkanku akan kedekatanku
dengan kakakku. Mungkin itu sebabnya aku selalu merasa nyaman di sekitar orangorang
ini, yang menurut orang lain mungkin agak-agak gila.
“Ervin bilang kamu baru pulang minggu depan.”
“Dasar tuh anak, suka lupaan gitu. Tapi maklum sih, kelihatannya dia sibuk
banget.”
“Biasalah Ervin, kalau nggak soal kerjaan, dia pasti sibuk urusan perempuan,”
jawabku enteng.
Sarah tertawa menggelegar. “Tuh kan, aku sudah bilang ke Ervin berkali-kali
Mbak ini jago ngelawak, tapi dia nggak percaya.”
Aku ikut tertawa mendengar komentar Sarah.
“Omong-omong selamat ya sudah lulus, heboh deh. Welcome to the real world,
lady,” ujarku sambil menepuk bahu Sarah. “Jadi kamu pulang for good atau ada
rencana mau balik ke Toronto lagi?” lanjutku.
“For good.” Ketika dia mengatakan ini aku lihat bahwa Sarah mengatakannya
dengan nada agak tersipu-sipu, kemudian mukanya mulai memerah.
“Lho, lho, kok jadi mirip kepiting rebus gini sih?” ledekku.
“Pacarku mau pulang ke Jakarta bulan depan dan rencananya mau ngelamar
aku dalam waktu dekat ini,” lapor Sarah.
Aku ternganga. “Congratulations,” ucapku setelah shock-ku sudah agak
berkurang. Satu orang lagi di dalam hidupku yang akan melepaskan masa
lajangnya.
“Teman kuliah?” tanyaku.
Sarah mengangguk. Aku kemudian teringat akan Ina yang sedang berdiri di
sampingku dan mendengarkan dengan sabar percakapanku dengan Sarah. Buruburu
aku memperkenalkan mereka.
“Mbak mau ngapain di sini?” tanya Sarah.
“Sebenarnya sih kita mau nonton, kamu mau ikutan?” tanyaku.
“Nggak deh, aku masih perlu beli beberapa barang, soalnya bentar lagi dijemput
sama Ervin. Kalau aku masih belum kelar shopping, dia bisa marah-marah,” jelas
Sarah.
Aku tertawa, karena tidak bisa membayangkan Ervin memarahi Sarah. Ervin
terlalu cinta pada adik satu-satunya ini dan tidak bakal berani menanggung risiko
Sarah jadi ngambek karena ditegur olehnya.
Kami lalu berpisah dan Sarah berjanji akan meneleponku kalau dia sudah selesai
unpack barang-barangnya. Kini giliran Ina yang mulai bertanya-tanya mengenai
Ervin. Aku hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditembakkan bagaikan
oleh bazoka itu dengan cara menghindar.
Ina memang telah memenuhi tugasnya untuk membantuku melupakan Baron
untuk beberapa jam. Tapi ternyata kebingunganku tentang Baron muncul kembali
setelah aku pulang ke rumah malam itu hingga tiga hari berikutnya. Akhirnya hari
Sabtu pagi aku memutuskan untuk mengatasi kebingunganku dengan melakukan
suatu tindakan. Kalau tindakan itu nantinya salah, well... aku harus menanggung
akibatnya. Melalui e-mail aku memberitahu Baron bahwa aku tidak bisa
menemuinya hari itu.
10. ERVIN VERSUS BARON
SELAMA perjalanan menuju Bundaran HI, aku dan Ervin sempat membicarakan
pertemuanku dengan Sarah, dan telepon Sarah beberapa hari yang lalu untuk
makan siang denganku minggu depan.
“So, gue denger lo pergi makan siang sama Reza hari Kamis kemarin,” Ervin
membuka pembicaraan.
Aku mengangguk, meskipun bingung mengapa dia menanyakan hal yang tidak
penting seperti itu.
“Kok lo mau sih?” lanjutnya dengan nada bingung sekaligus menuduh.
Mendengar nadanya yang menurutku terdengar sedikit menghina, aku
tersinggung.
“Memangnya Reza kenapa?” tanyaku balik.
“Dia terlalu tua buat elo.”
“Dia cuma setahun lebih tua dari elo,” balasku.
“Really?” tanya Ervin tidak percaya.
Aku mengangguk. “Dia kelihatan jauh lebih tua dari gue,” gumam Ervin. “Tapi
lo jangan pergi lagi sama dia,” lanjut Ervin dengan nada lebih keras.
“Aduhhh, kenapa lagi sih?” tanyaku tidak sabaran.
“Karena Reza keturunan bule, dan dia suka digosipin yang nggak-nggak,”
jawab Ervin.
“Oma lo orang Belanda, Vin, lo juga ada keturunan bule. Dan lo juga sering
digosipin yang nggak-nggak di kantor.” Aku mencoba untuk mencari penjelasan
atas tingkah laku Ervin sore ini.
“Oke, tapi Reza itu playboy,” jawab Ervin tanpa memandangku.
“Nggak bedalah sama elo,” balasku. Aku tidak percaya bahwa kami bertengkar
karena urusan laki-laki. Selama ini Ervin tidak pernah peduli dengan siapa aku
pergi lunch, kenapa dia jadi sewot sekarang? Satu-satunya penjelasan yang bisa
kupikirkan adalah karena Reza sering disebut-sebut sebagai “Manajer Paling
Ganteng” di kantorku dan Ervin merasa tersaingi.
“Maksud lo nggak beda?” Kini Ervin memandangku dengan kening berkerut.
Jelas-jelas aku membuatnya tersinggung. Bagus!!!
“Lo dan Reza sama playboy-nya, tapi mungkin Reza sedikit lebih metroseksual
daripada elo.”
“Kok lo ngomong gitu?” Suara Ervin mulai agak meninggi. Nadanya terdengar
aneh, nada yang tidak bisa kutebak karena tidak pernah kudengar sebelumnya dari
Ervin.
“Oke, penting nggak sih kita berdebat soal ini?” tanyaku dengan nada setenang
mungkin. Aku tidak mau bertengkar dengan Ervin. Tidak sekarang setidaktidaknya.
Mungkin nanti kalau kami sudah sampai di Hard Rock dan perhatian
Ervin tidak terbagi antara mengemudikan mobil dan debatnya denganku.
“Ini bukan debat, tapi diskusi,” balasnya.
“Kalau gitu... bisa nggak kita mendiskusikan ini nanti saja? Gue nggak mau lo
nabrak gara-gara... diskusi ini.”
Mendengar alasanku yang masuk akal, Ervin terdiam.
“Omong-omong, gue dengar lo nolak tawaran buat jadi brand manager-nya
Clean?” tanyaku. Clean adalah produk sabun pencuci baju terbaru Good Life dan
promosinya akan besar-besaran.
“Oh itu... ya... gue tolak karena gue nggak siap,” jawab Ervin enteng.
Jawaban santai Ervin membuatku melotot. Inilah salah satu dari banyak hal
yang membuatku terkadang naik pitam padanya. Dibandingkan dengan kolegakolegaku
di Good Life yang sepantar dengannya, sebetulnya Ervin bisa lebih cepat
naik ke jenjang karier yang lebih tinggi kalau dia menginginkannya. Tapi sepertinya
dia selalu mencoba menahan diri dan membiarkan orang lain untuk menjadi lebih
sukses daripada dirinya. Hingga kini aku tidak pernah mengerti alasannya.
“Kalau gue yang ditawarin, siap nggak siap kerjaan itu pasti gue ambil karena
itu berarti stepping stone untuk karier gue.” Aku mencoba untuk menunjukkan
kepada Ervin bahwa keputusannya untuk menolak itu salah.
“Ya... orang kan beda-beda, Dri.”
Sekali lagi Ervin kupelototi. Tapi bukannya takut, Ervin malah tersenyum.
“Tahun depan lo sudah tiga puluh dua, seharusnya lo bangga bisa dipercaya
untuk menangani kerjaan ini. Lo calon termuda yang pernah ditunjuk Good Life
untuk jadi brand manager tiga produk sekaligus.”
“Kalau gue terima kerjaan itu, gue nggak akan punya waktu untuk hal lain.”
“Lho... memangnya lo ada hal lain apa yang lebih penting?”
“Banyak,” jawab Ervin polos. “Clubbing, dating, jalan-jalan sama temen-temen
gue, pokoknya hal-hal normal yang banyak dikerjakan oleh laki-laki single dan
heteroseksual kayak gue lah,” lanjutnya.
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku bukanlah orang yang menyukai kekerasan,
tapi pada saat itu aku ingin sekali menampar Ervin hingga babak-belur agar dia
sadar. Akhirnya aku hanya bisa menarik napas sebelum pelan-pelan mengeluarkannya.
“Apa lo nggak mikir, dengan jadi brand manager Clean berarti gaji lo naik dan
masa depan keluarga lo bisa lebih terjamin?” ucapku pelan. Aku mencoba untuk
mengganti taktik.
“Keluarga gue terjamin kok. Bokap kan sudah urus itu semua.”
“Bukan keluarga yang itu maksud gue, ember. Maksud gue keluarga lo nanti.
Istri, anak...” Aku membiarkan kata-kataku menggantung.
“Oh, soal itu... Aduhhhhh, lo jadi mirip nyokap gue deh. Bawel.”
Bukan kata—kata yang tepat untuk diucapkan tentangku pada saat itu.
“Gue nggka bawel,” ucapku berapi-api.
“Oh ya? Apa nggak pernah ada yang bilang ke elo bahwa lo bawel?” balasnya
ketus.
Mulutku terbuka karena kaget. Apa maksudnya dengan kata-kata itu?
“Gue nggak pernah nyangka kalau lo kayak gini,” akhirnya aku berkata pelan.
“Gue kayak apa, Dri?” tanyanya.
“You are mean,” jawabku.
Kini giliran mulut Ervin yang ternganga. “I am NOT mean.”
Aku tidak menghiraukan kata-katanya dan menatap ke luar jendela. Ada jarumjarum
yang menusuk-nusuk mataku, menandakan bahwa aku akan menangis
sebentar lagi. Itulah kebiasaan yang sangat kubenci, entah bagaimana tapi
sepertinya emosiku sangat berhubungan dengan saluran air mataku. Kalau sudah
sangat marah aku justru akan menangis. Aku mengedipkan mata berkali-kali untuk
mencegah hal itu terjadi. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau aku
sampai menangis di depan Ervin. Ervin mungkin tidak bermaksud apa-apa dengan
kata itu, tapi kata “bawel” tidak berkonotasi baik di kepalaku. Aku tidak akan
berkeberatan kalau orang bilang aku “nyentrik”, “aneh”, “hermit”, bahkan “perawan
tua”, tapi tidak “bawel”. Itu penghinaan.
Melihat reaksiku sepertinya Ervin sadar bahwa dia telah mengatakan hal yang
salah. Tiba-tiba tanganku bagaikan disengat listrik. Secara refleks aku menarik
tanganku. Tapi tangan Ervin menggenggam erat tanganku. Kuletakkan tanganku
kembali di pangkuanku, tapi aku tidak membalas genggaman Ervin.
“Lo marah, ya?” tanya Ervin pelan.
Aku berpikir sesaat sebelum kemudian menggeleng.
“Kecewa?” tanya Ervin lagi.
Tentu saja aku kecewa. Aku kecewa karena kata-katanya.
Ketika aku tidak menjawab, Ervin berkata, “Dri, gue nggak ambil kerjaan itu
karena gue tahu ada banyak orang lain yang juga bisa mengerjakan pekerjaan itu.
Gue mau kasih mereka kesempatan.”
Meskipun aku kaget dengan penjelasannya, tapi aku tetap berdiam diri. Lagi
pula, itu bukan kenapa aku kecewa dengannya.
“Makasih buat penjelasannya, tapi itu nggak penting,” ucapku pelan.
“Jadi apa yang penting, Dri?” Kini Ervin mencoba untuk mencuri pandang ke
mataku. Tapi aku menolak menatapnya.
“Gue nggak suka dibilang bawel. Kalau gue bawel, sudah dari lama gue ngomel
tentang aktivitas... seksual lo yang sering melibatkan perempuan yang menurut gue
punya reputasi yang harus dipertanyakan.”
Ervin sepertinya akan memotongku, tapi aku belum selesai meluapkan
perasaanku.
“Gue tahu bahwa gue sering terlalu sok tahu dan banyak orang yang nggak
suka kalau gue ngomong terlalu jujur. Gue minta maaf kalau pendapat gue bikin lo
tersinggung, tapi gue ngomong itu karena gue tahu lo mampu untuk lebih maju.
Selama ini gue pikir elo ngerti maksud gue, tapi sekarang gue tahu gue sudah salah
sangka,” ucapku perlahan-lahan.
Ervin melepaskan genggamannya. Kami terdiam seribu bahasa. Aku melihat
beberapa kali mulut Ervin terbuka seperti dia akan mengatakan sesuatu, tapi
kemudian dia menutupnya kembali.
“I’m sorry,” ucap Ervin akhirnya.
“Yeah, me too,” balasku.
“No, no... I’m really sorry.”
Aku tetap tidak mengangkat pandanganku dari pangkuanku.
“Dri, bisa tolong lihat gue,” pinta Ervin.
Aku ragu sesaat, kemudian aku mengalihkan perhatianku pada jalan raya di
depanku sebelum kemudian memandangnya.
Ketika yakin bahwa aku tidak akan berpaling lagi, Ervin memulai
penjelasannya. “Lo salah satu orang di dunia ini yang pendapatnya sangat gue
hargai karena lo selalu jujur. Kalau lo nggak suka sesuatu tentang orang... tentang
gue terutama, lo selalu bilang ke gue.”
Aku menunggunya untuk melanjutkan. “Sori, tapi mungkin memang hari ini
gue lagi banyak pikiran... soal kerjaan, soal lamarannya Sarah, soal Reza sama elo...”
Mendengar nama Reza disebut-sebut lagi darahku langsung naik ke kepala.
“Gue cuma pergi makan siang. Itu saja,” ucapku. Ketika sadar dengan kata-kataku,
aku menggigit lidah. Aku tidak harus menjelaskan ini kepada Ervin.
“Tapi gue nggak suka,” ucap Ervin dengan nada agak keras.
Aku tidak peduli apa dia suka atau tidak aku berhubungan dengan Reza, dan
kata-katanya yang menggurui membuatku kesal. “Elo tuh orang paling manja dan
egois yang gue kenal, tau?”
Sekitar pukul 17.30 kami tiba di Plaza EX. Ervin menawarkan untuk
menggandengku dan aku memutuskan untuk meraih tangannya karena aku tidak
mau hilang di tengah keramaian Hard Rock malam itu.
“Vin, Ervin...” Tiba-tiba dari atas terdengar suara seseorang memanggilmanggil,
aku pun mencoba mencari sumber suara itu. Rupanya Ervin telah
menemukan siapa yang memanggilnya dan menarikku menuju tangga untuk ke
tingkat atas. Ervin kemudian memegang pinggangku untuk menembus keramaian
Hard Rock malam itu.
“Dri, ayo, jangan ketinggalan,” ucap Ervin sambil memberiku senyuman.
Aku lalu mencoba menyamai langkah Ervin yang terkesan agak tergesa-gesa.
“Vin, lo jalan duluan saja, nanti kita ketemu di atas,” teriakku pada Ervin mengatasi
keramaian Hard Rock. Ervin menatapku dengan ragu, tapi setelah aku
meyakinkannya, dia pun melepaskan pinggangku dan menggenggam erat tanganku
sebelum dia melepaskannya untuk mencari orang yang memanggilnya itu.
Ketika sudah sampai di lantai atas, aku melihat Ervin sedang ngobrol dengan
seorang laki-laki yang menggunakan hem biru muda dan celana jins. Postur tubuh
teman Ervin itu benar-benar terlihat familier bagiku, dengan rambut ikalnya yang
agak-agak kemerahan. Tiba-tiba seorang waiter yang tergesa-gesa menuju tangga
tidak melihatku. Aku terdorong cukup kuat sehingga harus mundur beberapa
langkah. Tiba-tiba Ervin sudah ada di sampingku dan menuntunku menuju
temannya. Beberapa saat kemudian aku berhadapan dengan punggung teman
Ervin.
“Tom, ini Adri, date gue malam ini,” ucap Ervin.
Sebelum aku bisa bereaksi dengan kata date, tiba-tiba HP-ku bergetar di dalam
tas. Ketika akhirnya aku dapat meraih HP-ku, benda itu sudah berhenti bergetar.
Aku melemparnya kembali ke dalam tas tanpa memeriksanya sebelum
memfokuskan perhatian kepada teman Ervin itu.
“Dri, kenalin, ini Thomas,” Ervin memperkenalkan kami.
Ketika aku mengangkat wajahku dan bertatapan dengan Thomas, napasku
langsung sesak. Aku mengedipkan mata beberapa kali karena berpikir bahwa aku
sedang berhalusinasi. Tapi ketika aku membuka mataku lagi wajah Baron yang
terlihat kaget dan bingung tetap ada di hadapanku. Baron yang sudah beberapa hari
ini coba kuhindari. Akhirnya suaraku kembali dan aku berkata, “Baron?”
“Didi?” Pada saat bersamaan Baron pun mengucapkan namaku dan kulihat
Ervin yang tadinya hanya bisa mengerutkan kening karena bingung, kini menatap
curiga bercampur keingintahuan.
“Baron? Didi?” tanya Ervin. Ketika aku dan Baron tidak bereaksi, Ervin pun
menambahkan, “Lo berdua memangnya kenal?”
Aku hanya memandangi Ervin karena tidak tahu harus mengatakan apa. Baron
kemudian menolongku. “Vin, ini Didi... teman SMP gue...” Tapi sebelum Baron
selesai menjelaskan siapa aku, Ervin telah memotongnya.
“Didi? Cinta mati lo waktu SMP itu?” teriak Ervin. Kulihat Baron menutup
matanya untuk menahan diri agar tidak mencekik Ervin saat itu juga.
Kepalaku bagaikan sedang lari maraton 10.000 meter, mencoba mencari titiktitik
yang bisa menghubungkan Ervin dengan Baron, tapi tidak satu pun penjelasan
muncul di otakku. Kemudian kurasakan HP-ku mulai bergetar lagi. Tanpa berpikir
panjang aku langsung menggunakan alasan menjawab telepon untuk menghindar.
Aku melangkah ke arah bar yang terlihat agak kosong.
Ternyata yang meneleponku adalah Jana.
“Dri... Eh, elo ada di mana sih, kok ramai banget?” tanya Jana dari ujung
telepon.
“Gue lagi di Hard Rock. Kenapa?”
“Hard Rock? Lho memang kondangannya di Hard Rock apa?”
“Nggak, gue nggak lagi kondangan.”
“Lho, katanya lo pergi kondangan?”
Aku langsung tertawa terbahak-bahak karena pasti Mpok Sanah salah memberi
informasi ke mana aku pergi ke Jana. Dari kejauhan aku dapat melihat bahwa Ervin
dan Baron sedang mengadakan diskusi panjang-lebar mengenai sesuatu. Kadang
kala Ervin memandang ke arahku sambil menyipitkan matanya. Kuperhatikan
kedua laki-laki itu dengan lebih teliti. Mereka sama-sama ganteng abisss. Baron
kelihatan jauh lebih dewasa daripada Ervin, tapi Ervin kelihatan lebih seksi. Tinggi
mereka hampir sama, meskipun mungkin kalau diperhatikan dengan lebih teliti,
Ervin lebih tinggi sekitar dua sentimeter daripada Baron, tapi Baron juga terlihat
lebih gempal daripada Ervin sehingga kekuatan mereka kelihatan seimbang. Entah
apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya suatu hal yang sangat serius
berdasarkan cara beridir Baron yang terlihat tidak nyaman dan Ervin yang berkalikali
mengepalkan tangan.
Bagaimana mungkin aku bisa berhadapan dengan dua laki-laki ini pada saat
yang bersamaan? Lebih parahnya lagi aku mencoba untuk memutuskan siapakah di
antara mereka berdua yang lebih cocok untukku. Ervin atau Baron? Dalam hati aku
tertawa sendiri. Kalau saja kedua laki-laki itu menginginkanku dan aku berhak
menentukan pilihan. Ervin versus Baron. Aku memutuskan untuk membalikkan
tubuh, berkonsentrasi pada Jana dan mengalihkan pandangan dan pikiranku dari
segala sesuatu yang membuat imajinasiku merajalela.
“Aduh, panjang ceritanya. Kenapa lo telepon?” tanyaku pada Jana.
“Gue cuma mau ngasih tahu Nadia sudah RSVP-in elo. Omong-omong lo di
Hard Rock sama siapa?”
“Sama orang kantor.”
“Eh, Dri, soal Baron, Dara...”
“Jan, Baron ada di sini. Nanti gue telepon lo balik deh ya.” Aku lalu menutup
teleponku. Seperti perkiraanku, beberapa detik kemudian teleponku bergetar lagi,
dan nomor itu adalah nomor HP Jana. Dengan kesal aku membiarkan HP-ku
bergetar, dan setelah berhenti, aku kemudian mematikannya.Aku menarik napas
dalam-dalam, mencoba memutuskan langkah selanjutnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang mencolek bahuku. Sebelum berbalik untuk
menghadap orang itu aku sudah tahu bahwa itu Baron. Aku dapat mencium aroma
tubuhnya dari tempatku berdiri. Ketika berbalik, aku menemukan Baron
memandangiku. Kemudian tiba-tiba tanpa kukira-kira dia melebarkan kedua
tangannya bagaikan akan memelukku. Aku hanya berdiam diri, masih tertegun atas
semua kejadian yang terjadi bertubi-tubi. Ketika aku tidak bereaksi, Baron maju
beberapa langkah dan memelukku. Aku tidak memiliki pilihan lain selain membalas
pelukan itu.
“Hei,” ucap Baron pelan. Aku dapat merasakan embusan napasnya.
Setelah Baron melepaskanku, aku langsung berkata, “Aku nggak tahu kamu
kenal Ervin.”
Aku ingin sekali menyiramkan satu ember air dingin ke kepalaku untuk
menenangkan sarafku.
“Ervin juga nggak pernah cerita kamu bakalan jadi date-nya malam ini,”
jawabnya.
“Date? Nggak kok, cuma teman. Omong-omong anaknya ke mana ya?” tanyaku
dengan suara setenang mungkin.
“Tadid ia bilang mau ke toilet, aku menawarkan diri untuk nyari kamu.”
Untuk meringankan suasana aku bertanya, “Omong-omong kamu ke sini diajak
Ervin juga?”
“Diajak? Tiket Jazz Night dia dari aku.”
Ketika mendengar penjelasan Baron, aku tertawa.
Baron memperhatikanku sebelum bertanya, “Ada yang lucu?”
Aku menahan tawaku dan menggeleng sebelum menjawab. “Nggak, nggak
ada.”
Lagi-lagi keheningan menyelimuti kami.
“Eh, Di..,” tetapi sebelum Baron bisa menyelesaikan kalimatnya, Ervin sudah
muncul kembali sambil melambaikan tangannya ke arah kami. Tanpa disangkasangka,
Baron memegang pinggangku, kemudian menuntunku untuk berjalan di
tengah keramaian menuju Ervin.
“Tom, kita duduk di mana?” tanya Ervin setelah aku dan Baron sudah cukup
dekat. Ervin sempat melemparkan pandangannya ke pinggangku yang dilingkari
lengan Baron. Baru pertama kali aku melihat tatapan Ervin yang kalau kulihat di
mata orang lain bisa kubilang menyemburatkan jealousy. Tapi ini Ervin. Dia tidak
mungkin kan cemburu pada Baron karena aku?
“Tuh,” jawab Baron sambil menunjuk ke arah sebuah booth kecil di sudut
ruangan. Baron kemudian menarik tangannya dari pinggangku.
Aku duduk di bagian dalam dan Ervin duduk di sampingku, sedangkan Baron
duduk menghadap kami berdua. Setelah kami semua duduk dengan tenang sambil
menikmati minuman masing-masing, tiba-tiba tangan kiri Ervin memegang pahaku
dan dia pada dasarnya memaksa agar aku duduk lebih dekat dengannya. Aku
hampir saja menumpahkan minumanku. Aku mencoba menarik kakiku, tapi
pegangan Ervin malah semakin erat. Untuk mengontrol detak jantungku yang
melonjak tidak keruan aku mencoba mencari bahan pembicaraan.
“Ron, Oli nggak diajak?” tanyaku.
Baron terlihat sendu ketika mendengar pertanyaan itu, sedangkan Ervin lagilagi
terlihat kaget. Aku lupa bahwa Ervin tidak tahu bahwa aku juga mengenal
Olivia.
“Oli ada di rumahnya,” jelas Baron. Dia tidak memberikan penjelasan lebih
lanjut, sehingga aku harus mencari topik baru.
“Lo kenal Baron di mana, Vin?” tanyaku.
“Kita sobatan waktu SMA, kadang-kadang memang agak-agak susah slaing
kontak sama dia nih,” ucap Ervin sambil menunjuk Baron. “Tapi terus si bule satu
ini telepon gue buat nonton Jazz Night,” lanjutnya.
“Kamu masih dipanggil „Bule‟ waktu SMA?” tanyaku kepada Baron.
Tanpa kusadari, pernyataan itu ternyata membuat kedua laki-laki yang duduk
bersamaku tertegun. Setelah beberapa lama baru Baron bereaksi.
“Kamu masih ingat itu?” tanya Baron pelan.
Aku mengangguk.
“Iya, gue juga dipanggil Bule waktu SMP,” jelas Baron pada Ervin yang hanya
mengangguk dan memberikan tatapan tidak suka padaku.
Baron kemudian mulai bertanya-tanya. “Jadi kamu sama Ervin kerja bareng?”
“Iya,” aku menjawab.
“Lo kenapa manggil Adri kamu sih, kenapa nggak elo?” tanya Ervin tiba-tiba.
Aku dan Baron sama-sama tertegun dengan pertanyaan itu. Beberapa saat ada
keheningan yang tidak mengenakkan, lalu Baron menjawab dengan tenang. “Nggak
tahu juga sih, tapi semenjak kita bertemu lagi waktu gue ke Singapur, gue selalu
manggil Didi „kamu‟. Memangnya kenapa?”
“Singapur? Lo ketemu Baron di Singapur?” tanya Ervin padaku. Suaranya
terdengar tidak stabil.
“Iya,” jawabku gelisah.
Cengkeraman tangan Ervin di pahaku mengerat.
“Omong-omong, aneh ya dengar kamu... dipanggil Adri, aku selalu manggil
kamu Didi,” ucap Baron.
Aku pun langsung tersipu-sipu tanpa sebab. Meskipun di dalam Hard Rock
cukup remang-remang, aku dapat melihat bahwa urat-urat di leher Ervin mulai
keluar, yang menandakan bahwa dia sedang mencoba menahan emosinya, tapi
Baron sepertinya tidak memperhatikan hal itu.
“Kamu sudah berapa lama kenal Ervin?” tanya Baron lagi.
Aku belum sempat menjawab ketika Ervin langsung menyambar, “Hampir dua
tahun.”
Baron kemudian memandangku, yang mengangguk untuk mengkonfirmasi
pernyataan itu.
“Lo nggak pernah cerita ke gue sih?” tanya Baron pada Ervin dengan nada
menuding.
“Memang elo emak gue?” balas Ervin. Ketegangan yang dapat kurasakan di
antara mereka terasa cukup tebal untuk bisa dipotong dengan pisau. Tiba-tiba
mereka tertawa keras dan semuanya cair kembali.
Kemudian makanan kami tiba dan akhirnya Ervin menarik tangannya dari
pahaku. Aku buru-buru menggunakan kesempatan itu untuk bergeser sejauh
mungkin dari jangkauan tangannya.
Aku lihat ada sebongkah brokoli di samping steikku. “Vin, brokoli,” ucapku.
Ervin pun menusukkan garpunya ke sayuran hijau itu dan memindahkannya ke
piringnya.
Ketika memandang ke arah Baron dengan tidak sengaja, aku mendapati
keningnya berkerut.
“Anyway, kamu kuliah di mana sih?” tanyaku mencoba untuk tidak terlihat
gugup.
“Aku di UI, Ekonomi. Aku ketemu lagi sama Oli di situ juga,” jawab Baron.
Aku hanya mengangguk-angguk karena mulutku terlalu penuh daging untuk
mengeluarkan kata-kata.
Setelah menelan potongan dagingku aku bertanya lagi, “Jadi sudah berapa lama
kamu sama dia?”
“Enam tahun total. Sering putus-nyambung,” jawab Baron.
“Enam tahun? Gila... lama ya,” komentarku kagum. Sejujurnya aku memang
kagum dengan dua orang yang bisa menjalin hubungan selama itu.
Baron hanya tersenyum atas komentarku.
“Oli kenapa nggak lo ajak, Tom?” tanya Ervin tiba-tiba. “Gue pikir lo bakalan
datang sama dia, makanya gue bawa Adri, biar nggak jadi third wheel,” tambahnya.
Baru saat ini aku sadari bahwa Ervin memanggil Baron dengan nama depannya,
Thomas, dan itu terdengar sangat asing di telingaku.
“Sebetulnya aku juga cadangan doang, Ervin tadinya mau ngajak Sarah, tapi
gara-gara dia cancel, aku yang jadi korban,” sambarku.
Ervin memandangku dengan gemas, tapi aku tidak menghiraukannya.
Baron hanya menggeleng-geleng sebelum menjawab, “Oli lagi sibuk mikirin
anggaran buat resepsi,” kemudian melahap sepotong daging besar.
“Dia maunya besar-besaran?” tanya Ervin.
“Bukan cuma dia... emaknya, tantenya, budenya, teman-temannya, sampai
tetangga-tetangganya juga maunya besar-besaran. Dasar cewek,” omel Baron.
Aku dan Ervin sempat saling pandang sebelum kemudian Ervin membalas.
“Calon bini jangan diledek gitu,” canda Ervin.
“Calon bini sih calon bini, tapi sumpah, kalau gue tahu dia ternyata orangnya
segini bawelnya cuma urusan milih kembang, mendingan gue nggak usah nikah,”
ujar Baron berapi-api.
Sekali lagi aku dan Ervin saling pandang. Ervin menangkap maksudku
mengenai kata “bawel” yang digunakan Baron untuk menggambarkan tingkah laku
Olivia.
Aku sebetulnya ingin menepuk-nepuk tangan Baron untuk menenangkannya,
tapi pada saat terakhir aku berhasil menahan diri. “Jadi Hari H-nya kapan?”
tanyaku.
“Kayaknya sih awal tahun depan, tapi dukun mantennya masih ngitungngitung
dulu. Omong-omong kamu datang ya sama Ervin, jangan sampai nggak,”
jawab Baron.
“Jadi aku diundang?” tanyaku.
“Iya dong, nanti undangan aku kirim ke kantor kamu ya. Aku soalnya nggak
punya alamat rumah kamu.”
“Iya, kirim saja ke kantor, biasanya suka telat kalau dikirim ke rumah, maklum
kalau tinggal di kampung,” candaku.
“Rumah kamu di mana sih?”
“Rempoa,” Ervin menyambar tanpa disangka-sangka.
Tiba-tiba dari lantai bawah terdengar ada sedikit ribut-ribut.
“Mas, Mas, ada apaan sih?” tanyaku kepada pelayan yang datang untuk
memberiku segelas Pepsi baru.
“Band-nya baru datang, Mbak,” jawab pelayan itu lalu berlalu.
“Sekarang jam berapa sih?” tanyaku.
Baron melirik jam tangannya dan mengacungkan jari-jari tangannya yang
panjang, menunjukkan jam delapan. Setelah piring-piring makan diangkat dari
meja, Baron pun mengajak aku dan Ervin untuk berdiri di tepi balkon, supaya bisa
nonton konser Jazz Night lebih jelas.
Acara berakhir pukul 23.30. Aku menyalakan HP-ku kembali. Kulihat Ervin
sedang berbicara perlahan-lahan dengan Baron sebelum kemudian menumpukan
perhatianku kepada gambar amplop yang berkedip-kedip di layar HP-ku. Ternyata
ada sepuluh voicemail dan beberapa SMS semenjak pukul 18.00, cukup aneh. Tapi
aku yakin semuanya pasti dari sobat-sobatku yang sudah tahu dari Jana mengenai
kabarku dan Baron yang sedikit membingungkan beberapa jam yang lalu itu. Empat
pesan pertama memang dari mereka, dan aku segera menghapusnya. Tapi pesan
kelimat datang dari Reilley, kakak iparku yang dengan suara agak panik mengabari
bahwa kakakku akan melahirkan. Panik, aku langsung berseru, “Vin, Ervin, rumah
sakit, rumah sakit, kakak gue melahirkan.”
Ervin dan Baron langsung berlari ke arahku untuk menenangkan sekalian
mencari tahu masalah yang sebenarnya.
“Dri, kenapa, Dri?” tanya Ervin. “Tenang dulu dong, Dri, jangan panik kayak
gitu.”
“Kakak gue, Vin, melahirkan, melahirkan. Aduh, ini pesan sudah dari jam
delapan, ya ampun. Sekarang sudah jam dua belas. Aduhhhhhhh...!”
“Oke, oke... rumah sakit mana, Dri?” tanya Ervin.
“Rumah sakit, rumah sakit, rumah...” Dengan gugup aku mencoba menjawab
pertanyaan Ervin, tapi aku tidak bisa mengatakan nama rumah sakit itu. Lidahku
kelu.
Baron yang masih berdiri tertegun akhirnya mengambil HP-ku yang hampir saja
meluncur dari genggamanku ketika aku panik. Perlahan-lahan Baron kemudian
memberitahu isi mailbox-ku.
“Di, pesan dari Reilley (Baron menyebut nama Reilley dengan tatapan penuh
tanda tanya, karena dia tidak mengenal nama ini), bilang Mbak Tita akan
melahirkan (Sekarang giliran Ervin yang memberikan pandangan aneh kepadaku
dan menyebutkan nama Mbak Tita dengan nada penuh tanda tanya kepada Baron
yang tidak menghiraukannya). Reilley bilang bahwa kamu harus telepon Bonyok
kamu. Nyokap kamu telepon... dia sama Bokap kamu sudah dalam perjalanan ke
rumah sakit diantar sama Pak Yoyok. Nyokap telepon lagi... mereka sudah sampai
di rumah sakit, tapi masih belum tahu nomor kamarnya. Dara nanya ke mana, kok
kamu nggak angkat telepon. Terus Nyokap lagi... kamar Mbak Tita di 215 di Rumah
Sakit Internasional Bintaro.”
Setelah memberitahuku semua informasi tersebut, Baron kemudian
mengulurkan kembali HP-ku. Ervin mengambilnya dari tangan Baron ketika
melihatku tidak bereaksi dan memasukkannya ke tas tanganku. Aku yang sudah
lebih tenang menurut saja digandeng Ervin. Kami berdua, diikuti Baron, segera
menuju lapangan parkir. Aku duduk di kursi penumpang mobil Ervin dan
berpamitan pada Baron.
Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Telepon dari ibuku yang menanyakan keberadaanku
dan kenapa aku masih belum sampai juga di rumah sakit. Aku menenangkannya
sebelum memberikan kepastian bahwa aku akan tiba dalam waktu setengah jam.
“Ayo, Dri, mesti jalan sekarang kalau lo mau ada di sana sebelum bayinya
lahir.” Ervin menutup pintu mobil di sisi penumpang dan berjalan ke sisi sopir.
“Ron, thanks buat undangannya!” teriakku melalui jendela.
Kemudian kami pun berlalu. Dari kaca spion aku bisa melihat Baron
melambaikan tangan ke arah kami.
Ervin membawa mobil seperti orang kesetanan. Semua mobil yang berkecepatan
kurang dari 140 kilometer per jam diklakson dan diusirnya dari hadapannya. Aku
harus berpegang erat pada kursiku dalam kepanikan. Rasa mual mulai muncul di
perutku karena Ervin melewati beberapa mobil sambil membanting setir ke kiri lalu
ke kanan. Aku lihat Ervin mengeratkan genggamannya pada setir dan mengganti
persneling ke gigi enam.
“Vin, gue tahu mobil lo mahal dan ada banyak airbag-nya jadi kalau kecelakaan
mungkin nggak akan sefatal kalau misalnya kita naik Kijang. Tapi kecuali lo mau
interior mobil lo ini rusak dan baunya jadi aneh gara-gara muntah gue, gue saranin
lo slow down,” ucapku pelan.
Seperti tidak sadar bahwa dia overspeed, pandangan Ervin jatuh ke speedometer
sebelum kemudian mengurangi kecepatan. Aku mengembuskan napas lega.
“Thanks,” ucapku.
“Lo mual?” tanya Ervin.
“Hampir,” balasku.
“Sori.”
Aku hanya mengangguk.
Lalu, “Lo kok baru tahu kakak lo bakal melahirkan sih, Dri? Memang HP lo
apain?” tanyanya.
“HP gue matiin. Habis...” Aku tidak meneruskan penjelasanku karena Ervin
sudah memotongku.
“Kan kasihan nyokap lo nggak bisa telepon elo.”
Aku berdiam diri, merasa bersalah.
“Memangnya lo nggak tahu kapan kakak lo akan melahirkan?”
“Dokternya bilang kemungkinan hari Selasa. Gue nggak tahu dokter bisa
meleset juga.”
“Ini keponakan pertama lo ya?” tanya Ervin.
Aku mengangguk.
“Gue nggak tahu kakak lo lagi hamil. Kok lo nggak pernah cerita?” tanya Ervin
lagi.
“Memangnya penting, ya?”
Ervin mengangguk. “Gue baru sadar ternyata ada banyak hal yang gue nggak
tahu tentang elo.”
Aku tertawa terkekeh-kekeh. “Tenang saja, ada banyak hal yang gue juga nggak
tahu tentang elo,” balasku.
Ervin kemudian menatapku. “Hal apa yang elo nggak tahu tentang gue?”
Keingintahuan terlihat di matanya.
“Gue nggak tahu ternyata lo teman baik sama Baron...” Sebelum aku bisa
menyelesaikan kalimatku Ervin sudah memotongku.
“Gue juga nggak tahu ternyata lo jago flirting sama cowok lain.”
Mulutku ternganga, bukan karena kata-katanya, tapi lebih karena nadanya yang
terdengar sangat sarkastis.
“Apa maksud lo flirting?” tanyaku bingung.
“Ya flirting, ngobrol sama cowok lain mana pakai pegang-pegang segala lagi.”
Apa??? Kok bisa-bisanya topik pembicaraannya jadi ke sini? pikirku dalam hati.
Jelas-jelas Ervin sedang membicarkaan Baron.
Daripada bertengkar aku lebih memilih humor. “Lo jealous, ya?” ledekku.
“NO!!! Bukan jealous, gue cuma mau bilangin ke elo etiket orang nge-date.”
“Nge-date? Sejak kapan kita nge-date?”
“Sejak malam ini. Lo gue kenalin ke Thomas... Baron lo itu... sebagai date gue.”
Nada Ervin terdengar seperti nada orang siap perang ketika mengatakan nama
Baron. Entah kemasukan setan apa dia malam ini.
“Well, lo mestinya tanya ke gue dulu apa gue mau jadi date lo malam ini. Dan
bisa-bisanya lo ngomongin soal etiket ke gue, lo tahu sendiri kalau biasanya kita lagi
jalan banyak perempuan yang dekat-dekat sama elo dan gue nggak pernah
komentar apa-apa, kan?”
“Iya... tapi seperti yang elo bilang, itu kan cuma jalan, bukannya nge-date.”
“Aduh, nggak ada bedanya deh.”
“Ada dong, Dri.”
Aku pelototin Ervin yang lagi nyetir. Kuperhatikan bahwa jarum speedometer
sudah naik lagi melewati angka 120. Tapi aku terlalu marah untuk peduli.
“Oooohhhh, ini masalahnya bukan karena jalan atau date, kan? Ini masalah elo boleh
flirt tapi gue nggak boleh, gitu?”
“Maksud gue bukan itu.”
“Terserah deh lo mau manggil nih malam jalan kek, date kek, mau bilang gue
flirt kek, nggak kek. Lagian juga bukannya sesuatu yang spesial gitu lho kalau gue
on a date sama seorang Ervin Daniswara. Hampir semua perempuan di Jakarta
sudah pernah pergi on a date sama elo,” balasku berapi-api.
Ervin mengerling dan aku tahu dia tersinggung. Tapi setelah agak lama dia
membalas.
“Kenapa juga sih lo harus baik sama semua orang? Sama Baron, Reza, tuh bule
di Hard Rock?”
Aku tadinya mau tidak menghiraukan komentar ini, tapi tidak bisa. “Ya gue
lebih suka kalau orang menganggap gue sopan daripada rude. Tuh bule cuma tanya
apa elo atau Baron yang cowoknya gue, gue bilang lo berdua sobatan dan gue cuma
aksesoris saja. Benar, kan?”
“Salah, lo nih malam sama gue, punya gue.”
Aku langsung kaget atas kata-kata itu dan hanya bisa terdiam. Ervin betul-betul
cemburu rupanya. Kemudian dengan hati-hati aku berkata, “Punya elo? Elo baru
bilang gue punya elo?”
“Maksud gue...”
“Memangnya gue barang? Memangnya gue tipe perempuan yang bisa lo beli
kayak Tiffany‟s atau Bulgari?” teriakku memotong kalimatnya.
“Bukan gitu, Dri, maksud gue...”
“Stop, stop, gue turun di sini saja,” ucapku pelan tapi tegas. Kami sedang berada
di arteri Pondok Indah.
Tapi seperti tidak mendengarku dia tetap meluncurkan mobilnya di jalur kanan.
“Vin, gue turun di sini saja, tuh ada taksi,” ucapku memerintah.
Tapi Ervin tetap tidak menghiraukanku.
“Vin,” teriakku akhirnya. “Lo dengar gue nggak sih?”
“Gue antar lo ke rumah sakit,” jawabnya singkat.
Kami berdua sama-sama tidak mengatakan sepatah kata pun selama sisa
perjalanan yang memakan wakut setengah jam itu. Ketika Ervin menghentikan
mobilnya di lobi rumah sakit, aku langsung membuka pintu dan berlari menuju
meja informasi, tidak menghiraukan Ervin yang berteriak-teriak memanggilku. Aku
tidak peduli padanya sekarang, pertama-tama karena ada masalah yang lebih
penting daripada memikirkan tingkah laku anehnya malam ini. Kedua, aku terlalu
kesal padanya untuk melihat wajah Dewa Yunani-nya lagi.
Setelah menanyakan letak ruang bersalin aku langsung berlari sambil menekan
nomor HP Reilley. Ternyata kakakku baru masuk ruang bersalih beberapa menit
yang lalu. Suara Reilley yang biasanya tenang terdengar agak-agak panik. Aku
segera memberitahu bahwa aku sudah sampai dan sedang berlari menujunya.
Ketika tiba di ruang tunggu keluarga, aku bertemu dengan ibu dan bapakku
yang terlihat cukup tenang, menghirup minuman hangat dari gelas plastik.
“Bu, Mbak Tita gimana?” tanyaku sambil memeluk dan mencium ibu dan
bapakku.
“Mbak Tita baik-baik saja kok. Tadi Reilley bilang, kalau kamu mau ikutan
masuk juga boleh,” jawab ibuku. “Kamu ke sini diantar sama teman kamu?”
lanjutnya.
Aku mengangguk.
“Orangnya mana?” tanya bapakku.
“Nggak tahu, tadi sih ada,” aku menjawab cuek. “Bu, aku masuk ya. Oh iya, ini
tolong pegangin tasku.”
Aku langsung berlari ke arah pos jaga suster untuk minta dibiarkan masuk
menemani kakakku.
Ruang bersalin yang kumasuki terlihat agak kosong, hanya ada satu dokter, dua
suster, dan Reilley yang terlihat agak aneh dengan pakaian yang dikenakannya.
Reilley mengangguk menandakan bahwa dia melihatku. Kakakku yang terlihat
sangat kesakitan pun sempat melihatku sebelum dia mengalami kontraksi. Selama
beberapa jam kemudian aku menemani Mbak Tita di ruang bersalin. Setelah tiga jam
dan si bayi masih belum lahir juga, meskipun ibunya sudah mau pingsan, Reilley
akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu karena rupanya dia tidak
tega melihat istrinya kesakitan.
Pukul tujuh pagi hari akhirnya Lukas O‟Reilley dilahirkan dengan selamat dan
komplet. Reilley yang sedang pergi ke kantin untuk membeli kopi harus dipanggil
melalui speaker. Reilley tiba beberapa menit kemudian, keningnya berkeringat dan
napasnya memburu. Aku hampir saja tertawa ketika melihatnya, tubuh Reilley yang
tinggi besar itu rupanya harus berolahraga ekstra pagi itu.
Menahan kantuk dan lelah, aku berjalan keluar dari ruang bersalin seperti
zombie. Tanganku agak merah dan bengkak karena digenggam kakakku selama dia
mengalami kontraksi. Ketika melangkah ke ruang tunggu, aku melihat bapak dan
ibuku, dan...
Oh my God, I am so tired I’m hallucinating.
Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Ketika aku membuka mataku kembali
ternyata dia masih tetap ada di sana. Ervin yang melihatku berjalan mendekat
memberi tanda kepada orangtuaku. Ibu dan bapakku kemudian bergegas berjalan
ke arahku, dan ketika aku memberitahu bahwa Lukas dan Mbak Tita sehat-sehat
saja, mereka langsung berpelukan. Seorang suster menghampiri kami untuk
mempersilakan mereka bertemu Lukas dan Mbak Tita. Tanpa basa-basi mereka
langsung pergi meninggalkanku.
Setelah kedua orangtuaku berlalu, aku mengalihkan perhatianku pada Ervin.
Kemeja putihnya terlihata agak kusut, kedua lengan kemeja itu dilipat dengan asal.
Meskipun begitu, dia masih terlihat ganteng. Semua rasa kesal yang kurasakan
beberapa jam yang lalu, kini hilang tidak berbekas. Ervin yang sadar bahwa aku
sedang memperhatikannya dengan pandangan agak aneh berjalan ke arahku dan
memelukku. Tanpa sadar aku hanya membiarkan tubuhku dipelukanya. Aku bisa
merasakan sesuatu di hatiku bergeser. Tubuhku yang tadinya terasa dingin
sekarang menjadi hangat. Ervin mencoba merapikan rambutku yang kemungkinan
besar sudah terlihat seperti Medua dan menuntunku untuk duduk di kursi.
“Orangtua lo sayang banget ya sama anaknya sampai mau nungguin
semalaman. Tadinya sudah mau gue antar pulang, karena Pak Yoyok sudah pulang
duluan sekitar jam dua, tapinya bonyok lo nolak. Katanya mau nunggu sampai cucu
mereka lahir,” Ervin menjelaskan padaku.
Aku hanya duduk terpaku dan menatap Ervin. Senyum simpul hanyalah satusatunya
tanda bahwa aku masih sadar.
“Tadi malam kok nggak nungguin gue sih? Pas gue telepon HP lo untuk nyokap
lo ngangkat, jadi gue tahu lo ada di mana, kalau nggak kan gue bingung juga mau
ke mana. Gue tanya resepsionis, mereka nggak punya pasien yang namanya Tita,”
Ervin mulai ngomel lagi.
Aku terlalu lelah untuk membalas. Aku menutup mataku beberapa detik. Tibatiba
aku merasakan guncangan.
“Dri... Dri... bangun, Dri,” ucap Ervin.
Pelan-pelan kubuka mataku. “Pergi sana, gue mau tidur,” gumamku.
Samar-samar kudengar Ervin terkekeh-kekeh.
11. CIUMAN
AKU terbangun beberapa jam kemudian di tempat tidurku di rumah. Aku mencoba
mengingat bagaimana aku bisa sampai di sini. Lalu memori mengenai beberapa jam
yang lalu perlahan-lahan kembali. Aku ingat Ervin menawarkan untuk
mengantarkan orangtuaku pulang, tetapi mereka menolak, lebih memilih untuk
menunggu Pak Yoyok untuk menjemput. Lalu Ervin meminta izin kepada mereka
untuk membawaku pulang. Sekilas kuingat Ervin memapahku ke mobilnya dan
membawaku pulang. Lalu perjalanan dari pintu depan ke kamarku di dalam
pelukannya. Aku hanya sempat menukar bajuku dengan piama sebelum tewas.
Kudengar ada ketukan pelan di pintu kamarku sebelum kemudian Mpok Sanah
masuk untuk membangunkanku.
“Udah mendusin belom?” tanyanya. Mpok Sanah sudah bekerja untuk
keluargaku semenjak aku bayi, dan terkadang bahasa Betawi-nya yang kental masih
suka membuatku tertawa.
“Jam berapa, Mpok?” tanyaku, mencoba untuk mengedipkan mataku beberapa
kali untuk mengusir kantuk.
“Udah mau magrib.”
Mpok Sanah kemudian melangkah masuk untuk menutup jendela kamarku.
“Ibu sama Bapak sudah pulang?” tanyaku.
“Udah balik lagi noh ke rumah sakit.”
Rupanya mereka tidak mau menungguku. Ya sudah, nanti aku ke rumah sakit
sendiri. Aku melangkah turun dari tempat tidurku.
“Buru dah mandi, ada nyang nunggu noh di luar.”
Aku berjalan ke dresser-ku untuk mengambil pakaian dalam. “Siapa?” tanyaku.
“Anak muda nyang nganter tadi pagi, sapa namanya yah... Eh iya... Kepin.”
“Siapa?” Aku tahu bahwa Mpok Sanah selalu salah kalau sudah urusan nama
orang. Aku hanya ingin memastikan.
“Kepin... eh... Empin... eh... tau dah. Nyang nganter tadi pagi. Noh liet ndiri aja
dah,” ucapnya dengan nada tidak pasti.
“Ervin?” teriakku kaget.
“Nah, bener tuh. Cakep bener dah orangnya, mirip bintang pelem,” ucap Mpok
Sanah tersipu-sipu.
Meskipun kaget Ervin ada di rumahku, tetapi aku terpaksa tertawa melihat
tingkah laku Mpok Sanah. Buru-buru aku masuk ke kamar mandi. Dalam hati aku
bertanya-tanya, untuk apa Ervin ke sini lagi?
Setengah jam kemudian kutemukan Ervin sedang duduk dengan santai di sofa
sambil menonton Anderson Cooper 360. Volume TV cukup rendah sehingga dia
mendengarku menuruni tangga.
“Hei, Vin,” sapaku..
“Hey, you.” Ervin buru-buru menghampiriku.
Aku melihat ada bayangan hitam di bawah matanya seperti dia belum tidur.
Kulitnya pun terlihat lebih pucat daripada biasanya.
“Sori tadi malam... eh, tadi pagi... gue ngantuk banget. Makasih sudah ngantar
gue pulang.”
“No problem.”
Selama beberapa detik ada keheningan. Rupanya silir angin pertengkaran kami
sebelumnya masih tersisa, meskipun kini aku tidak bisa mengingat inti dari
pertengkaran tersebut. Ketika Ervin tidak mengatakan apa-apa, aku terpaksa
mencari topik pembicaraan. “Sudah makan?” tanyaku lalu berjalan menuju kulkas.
“Gue tadi sudah makan di rumah,” jawabnya sambil mengikutiku ke dapur.
“Mau minum?”
“Nggak, tadi sudah dibuatkan teh sama Mpok Sanah.”
“Oh.” Aku sudah kehabisan bahan pembicaraan. Aku mesti ngomong apa lagi?
“Akhirnya gue bisa liaht rumah lo dari dalam,” ucap Ervin tiba-tiba.
Aku hanya memandangnya bingung.
“Iya... lo kan selama ini nggak pernah ngundang gue masuk.” Ada senyum
simpul di sudut bibir Ervin ketika mengatakannya. “Kamar lo juga bagus...
nyaman,” lanjutnya.
Aku menyipitkan mataku curiga. Apa maksudnya dengan kata-kata itu? Aku
menunggu kalimat selanjutnya, tapi tidak kunjung datang.
“Lo nggak ke rumah sakit?” tanya Ervin tiba-tiba mengganti topik.
Aku hampir tersedak mendengar pergantiain topik yang tiba-tiba itu. “Oh...
nggak. Tadi Nyokap telepon, katanya gue istirahat saja. Besok giliran gue ke sana,”
jawabku setenang mungkin. Ibuku memang menelepon sewaktu aku sedang mandi
dan meninggalkan pesan kepada Mpok Sanah untuk memberitahu soal itu.
“Gue pikir lo mau ke rumah sakit, soalnya kalau lo mau, gue bisa antar,” ucap
Ervin.
Aku tertawa mendengar penawarannya. “Vin... gue bukannya mau ngusir elo
ya, tapi elo kelihatan capek banget. Jadi kayaknya lebih baik lo pulang dan tidur,”
ucapku.
Wajah lelah Ervin terlihat kecewa. “Lo nggak perlu gue lagi?”
Aku agak kaget dengan pertanyaan juga nadanya. Aku memandangi Ervin yang
sepertinya sedang menunggu jawaban dariku dengan penuh harap.
“Nggak... bukan itu. Gue perlu elo, tapi nggak saat ini,” jawabku pelan.
“Tapi lo akan perlu gue nanti?” tanyanya penuh harap.
“Iya nanti,” balasku.
Wah... laki-laki satu ini benar-benar kelelahan sampai berkelakuan aneh seperti
ini, pikirku.
Aku mengantar Ervin ke mobilnya yang diparkir di pinggir jalan. Setelah
sampai di depan mobil aku berkata, “Thanks for everything.”
Ervin terlihat ragu sesaat sebelum kemudian berkata, “Dri... gue minta maaf soal
tadi malam. Soal omongan gue yang kelewatan. Gue juga nggak tahu kenapa gue
marah-marah sama elo.”
Aha... dia merasa bersalah rupanya. Itu sebabnya dia berkelakuan baik malam
ini.
“Nggak apa-apa,” ucapku bersungguh-sungguh.
Kemudian Ervin terdiam beberapa detik. “Akhirnya gue bisa ketemu juga sama
keluarga lo ya. Lo ternyata sayang juga sama Mbak Tita lo itu,” ucap Ervin pelan.
Aku tertawa kecil. “Yeah, well, dia itu segalanya buat gue,” jawabku. “Nanti lo
gue kenalin ke dia deh kalau dia sudah keluar rumah sakit.”
“I’d like that,” jawab Ervin sambil tersenyum dan menatapku.
Aku memang sering menjadi korban tatapan mata Ervin, berapa kali bahkan
menyebabkanku hampir mau pingsan. Tapi itu semua tidak sebanding dengan apa
yang kurasakan malam ini. Ada sesuatu yang berbeda di matanya. Mungkin karena
aku terbiasa dengan tatapannya yang penuh kepastian, tapi senja ini, mata itu
terlihat ragu. Lampu jalan mulai menyala dan sinarnya menyinari wajah Ervin dari
sisi yang membuat matanya terlihat berbinar-binar.
Aku maju beberapa langkah ke arah Ervin untuk mencium pipinya, seperti biasa
cara kami say goodbye. Tapi entah gara-gara angin apa, setelah aku berada cukup
dekat dengan pipinya, pandanganku justru jatuh pada bibirnya. Ervin yang melihat
reaksiku hanya terdiam dan menunggu. Sejujurnya beberapa bulan setelah aku
mengenal Ervin, aku sempat bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau Ervin
menciumku. Tapi lambat laun, rasa keingintahuanku itu memudar, bahkan hilang
sama sekali, hingga sekarang. Dan suatu alarm yang bunyinya mirip sekali dengan
alarm pesawat ulang-alik yang mengalami masalah dengan mesinnya mulai
berbunyi.
Mayday... Mayday... Houston we have a problem. Adriana Amandira akan jatuh.
Minta bantuan. Diulang... minta bantuan. Dia jatuh cinta setengah mati pada lakilaki
ini.
Karena aku berdiri di atas trotoar, mataku dan Ervin bisa saling tatap. Untuk
pertama kalinya tinggi kami hampir sejajar. Dengan penuh keraguan, kuletakkan
tangan kananku di lengannya. Kudekatkan wajahku sehingga hanya ada sekitar
lima sentimeter yang memisahkan bibirku dengan bibirnya. Ervin menggerakkan
kepalanya sedikit dan dia pun mendekatkan kepalanya kepadaku. Kedua tangan
Ervin telah memegang pinggangku. Terakhir yang kusadari adalah sentuhan singkat
bibir Ervin di bibirku sebelum ada bunyi klakson mobil yang menyadarkanku.
Buru-buru kutarik wajahku dari hadapan Ervin dan mencium pipinya. Ervin yang
agak-agak kaget melihat pergantian emosiku terlihat bingung sebelum kemudian
membalas dengan memberikan ciuman di pipiku juga.
Ketika M3-nya meluncur pergi aku dapat melihat tatapan mata Ervin yang
terlihat sedikit sendu. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu.
HOLY CRAP!!! If I wasn’t in a deep shit before, I am now.
* * *
Ketika aku sedang bersiap-siap untuk makan malam, kepalaku seperti sedang
berlari di atas treadmill. Aku mencoba mencari penjelasan mengenai kejadian
beberapa saat yang lalu. Beberapa kali Ervin meneleponku tapi tidak kuangkat. Aku
mencoba memblokir segala sesuatunya tentang Ervin.
Aku TIDAK jatuh cinta pada Ervin. Itu tidak hanya aneh, tapi juga BODOH!!!
Berkali-kali aku mengomeli diriku sendiri yang menaruh benih ide gila itu di
kepalaku. Ini Ervin, temanku yang playboy abissss, yang meskipun sudah
mengenalku selama hampir dua tahun tidak pernah sekali pun mencoba untuk
menjalin hubungan romantis denganku. Lebih parahnya, bagaimana aku bisa
menghadapinya besok? Oke, mungkin aku bisa menghindar selama beberapa hari,
tapi aku tidak bisa menghindar selamanya. Mau tidak mau pasti akan bertemu juga.
Sengaja atau tidak sengaja. Kepanikan mulai menyelimutiku. Bagaimana kalau
Ervin menceritakan kejadian barusan kepada orang-orang kantor? Aku bisa jadi
bahan tertawaan selama berbulan-bulan.
Jam sembilan malam pikiranku sudah semakin gila. Aku berkontemplasi untuk
pindah kerja. Kira-kira perusahaan mana yang mau mempekerjakanku secepatnya?
Kalau bisa mulai minggu depan. Tapi tentu saja itu gila. Tidak ada perusahaan yang
akan mempekerjakanku secepat itu dan Good Life tidak akan melayani surat
pengunduran diriku kecuali itu diserahkan sebulan sebelumnya. Aku tahu betul
peraturan itu karena aku yang membuat peraturan itu. DAMN IT!!!!!
Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Dari Baron. Untuk pertama kali aku menyesal telah
memberikan nomor HP-ku padanya sewaktu di Hard Rock. Aku tidak perlu ada
satu orang lagi yang membuatku pusing gara-gara hatiku.
“Halo, Ron,” ujarku.
“Gimana Mbak Tita, katanya sudah melahirkan, ya?” Suara Baron terdengar
antusias.
Aku mendengar bunyi “tuuuuut” yang menandakan bahwa baterai HP-ku
sudah sangat lemah. Aku yang selalu lupa nge-charge HP, hari itu bahkan lebih lupa
lagi.
“Hah?” ucapku mencoba untuk menangkap kata-kata Baron yang terakhir.
“Aku telepon beberapa kali tadi siang, tapi nggak diangkat, jadi aku coba jam
segini, siapa tahu kamu sudah bangun.”
“Good timing,” gumamku.
“Jadi, laki-laki apa perempuan?”
“Laki-laki. Namanya Lukas.”
“Congrats ya, bilangin ke Mbak Tita, aku titip salam.”
“Iya, makasih.” Aku mendengar bunyi “tuuuut” itu lagi.
“Kamu lagi di mana sih, kok ramai amat?”
Aku memang sedang nonton MTV, dan lagu terbaru Paramore sedang terlantun
dengan cukup keras. Aku langsung mengecilkan volume TV.
“Oh sori, aku lagi nonton TV.” Aku mencoba mencari charger HP yang seingatku
kutinggalkan di ruang TV, tapi aku tidak bisa menemukannya.
“Ohhhhh, ya sudah kalau begitu, kapan-kapan aku telepon lagi ya. Kita perlu
ngobrol nih, kemarin waktu ketemuan nggak sempat ngobrol panjang-lebar.”
“Oh iya,” balasku pendek.
“Ya anyway, gini...,” sebelum Baron selesai berbicara tiba-tiba sambungannya
terputus. Sinyalnya hilang beberapa saat. Belum lagi ternyata baterai HP-ku sudah
superlow.
“Ron, aku nggak bisa dengar kamu... Ron,” teriakku.
Aku mencoba berjalan ke tempat lain agar mendapat sinyal, tapi tetap tidak
mendapatkannya. Aduuhhhh... padahal aku mau tahu apa yang akan dikatakannya.
Aku tahu dia mau menanyakan sesuatu padaku.
“Stupid cell phone,” omelku ketika hubungan itu benar-benar terputus karena
teleponku mati total.
12. KUCING-KUCINGAN
SESUAI dengan rencanaku, selama beberapa hari aku sukses menghindari Ervin.
Karena aku tidak pernah mengangkat HP-ku akhirnya Ervin berusaha
menghubungiku di rumah. Nomor telepon yang sebelumnya adalah off limits
baginya. Tapi atas bantuan Sony, asistenku si pengkhianat itu, Ervin pun
mendapatkan nomor telepon rumahku. Beberapa kali dia menelepon tapi aku tidak
ada di rumah, tapi aku dan dia tahu bahwa aku menolak untuk menerima telepon
itu. Setiap kali dia meninggalkan pesan, suaranya terdengar semakin putus harapan.
Rupanya dia betul-betul ingin bicara denganku. Hingga akhirnya Ervin
meninggalkan voicemail untukku, yang membuatku merasa bersalah karena tidak
menghiraukannya.
“Adri, ini gue. Kita perlu bicara. Gue nggak tahu gue salah apa lagi sama elo.
Why won’t you talk to me? Apa gara-gara kejadian malam itu? I’m sorry, okay. Tapi,
tolong dong telepon gue, biar kita bisa ngomongin soal itu. Please...”
Alasan aku menolak untuk berbicara dengan Ervin sebetulnya cukup simple.
Aku masih perlu waktu untuk menganalisis perasaanku terhadapnya.
* * *
Suatu sore ketika aku baru saja pulang dari rumah kakakku yang sudah
diperbolehkan pulang dari rumah sakit oleh dokter, Sarah meneleponku. Aku tahu
bahwa kemungkinan besar Ervin memintanya untuk melakukannya, dan aku tahu
bahwa mungkin Sarah sudah tahu panjang-lebar tentang kejadian memalukan
beberapa hari yang lalu di rumahku itu.
“Mbak, ini Sarah.”
“Halo, Sar, apa kabar? Kita masih jadi kan jalan buat weekend depan?”
“Iya, jadi dong. So kita mau ke mana nih? Oh iya, omong-omong congrats ya,
kakaknya Mbak sudah punya momongan, aku baru dengar dari Ervin.”
Aku langsung terdiam ketika mendengar Sarah menyebutkan nama Ervin.
Entah kenapa, tapi tiba-tiba perutku terasa mulas. Aku baru sadar kemudian bahwa
Sarah sedang memanggil-manggil namaku.
“Mhhhh, ke tempat biasalah. Anyway, iya, makasih, gue sudah jadi tante nih,”
ucapku sambil tertawa. Itu adalah pertama kali aku bisa tertawa lepas dan bebas.
Bebas dari Ervin.
Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa sudah sekitar tiga hari belakangan ini
wajah, bahkan nama Baron tidak pernah terlintas di kepalaku. Yang ada di
pikiranku cuma Ervin.
“Ya sudah, jadi jam satuan ya.” Kata-kata Sarah membangunkanku dari
lamunan.
Sebelum aku menutup telepon Sarah berkata, “Omong-omong, telepon Mas
Ervin tuh, dia lagi agak-agak sedih.”
Sebelum aku bisa membalas komentarnya, Sarah sudah menutup telepon.
Ketika mendengar nama Ervin aku hanya bisa terdiam. Meskipun aku sudah
menyangka komentar itu akan muncul cepat atau lambat, aku tetap mengharapkan
bahwa itu akan terjadi nanti, tidak secepat ini. Dan Sarah menyebut Ervin dengan
kata Mas, ini berarti urusannya memang serius.
* * *
Selama beberapa hari aku masih tetap main kucing-kucingan dengan Ervin.
Akhirnya suatu Selasa malam ketika aku sedang tidur-tiduran dengan ibuku di
tempat tidurnya, beliau pun menanyakan tentang Ervin.
“Di, teman kamu yang waktu itu nungguin kamu di rumah sakit baik juga ya.”
Aku tidak menghiraukan komentar ibuku, mataku terus memandang televisi.
“Kok kamu nggak mau terima teleponnya sih? Memangnya kenapa?”
Aku pura-pura tidak mendengarkan ibuku.
“Eh, Di, ditanya kok cuek gitu sih?”
Akhirnya aku mengalihkan mataku dari televisi dan menatap ibuku. “Nggak
kenapa-napa kok, lagi nggak mood saja ngomong sama dia.”
“Lho kok gitu sih, sudah diantar, ditungguin sampai pagi... kurang apa lagi?”
“Kurang sih nggak, cuma...”
“Cuma kenapa? Tapi kan kasian lho, dia sudah nelepon beberapa kali, lamalama
Ibu jadi nggak enak kan bohong sama dia. Sudah mana kerjaannya nanyain
kabarnya Ibu sama Bapak lagi.”
“Ah, dasar enyak-enyak, susah deh. Itu memang style-nya Ervin, Bu, selalu
kayak gitu.”
“Oh?”
Tiba-tiba bapakku yang dari tadi berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya di
ruang sebelah, meskipun aku tahu dia juga ikut mendengarkan percakapan kami,
mengomentari, “Ngomongin siapa sih?” teriaknya.
“Mau tahu saja deh,” jawab ibuku juga dengan berteriak keras.
“Ngomongin si Muffin lagi deh ya?” balas bapakku tidak kalah kerasnya.
Aku dan Ibuku saling tatap. “Hah?” ucap kami bersamaan.
“Iya, katanya Tita, kamu kan suka jalan sama si Muffin itu, kan?” lanjut
bapakku.
“Pak, Ervin, E-R-V-I-N, bukan Muffin, memangnya makanan,” balasku sambil
mengulum senyum. “Ye... masa gosipin tentang aku sama Mbak Tita sih?”
tambahku.
Aku terbahak-bahak mendengar komentar bapakku. Bapakku adalah orang
terakhir yang kupikir akan tertarik pada love life-ku. Sebagai seorang konsultan
pajak yang cukup sukses, bapakku hampir tidak pernah ada di rumah. Empat hari
dalam satu minggu dia biasanya ada di luar kota untuk memberikan pelatihan atau
seminar pajak. Terkadang ibuku ikut menemani, tapi lebih sering ibuku memilih
tinggal di rumah saja.
“Memangnya menurut Ibu sama Bapak orangnya oke, ya?”
Aku mendengar langkah bapakku menuju ke arah kamar tidur. Tidak lama
kemudian dia muncul sambil mengangguk lalu berkata, “Yah, itu kan kamu yang
bisa nilai.”
“Oh iya, reuniannya kamu kapan tuh?” tanya ibuku.
“Sabtu depan,” jawabku.
Dengan begitu pembicaraan kami pun berakhir.
* * *
Aku tidak membalas telepon Baron sekali pun, semenjak dia meneleponku beberapa
hari yang lalu. Banyak permasalahan yang harus kuselesaikan dengan Ervin dulu.
Akhirnya hari Sabtu, Desember tanggal 15 pun tiba. Jana sudah memutuskan bahwa
dia yang akan menjemputku, karena untuk pertama kalinya dia bisa punya waktu
off dari anak-anaknya, dan dia mau merayakan hari kebebasannya itu. Karena acara
reuninya akan dimulai sekitar jam tujuh, Jana menjemputku jam lima sore,
kemudian dalam perjalanan, kami menjemput Dara. Nadia yang rumahnya di ujung
dunia, alias di Kelapa Gading, terpaksa harus naik taksi apabila Kafka, suaminya,
menolak mengantarnya. Tapi tentu saja sebagai suami tercinta, Kafka seperti biasa
bersedia mengantar sang istri ke mana pun dia pergi.
“Dri, lo nggak apa-apa? Muka lo agak panik gitu,” tanya Jana.
“Gue kelihatan panik?” Aku mencoba mencari cermin. Aku melatih senyumku
beberapa kali di depan cermin tempat bedakku. Setelah puas bahwa wajahku sudah
cukup ceria, aku kembali memfokuskan perhatianku pada percakapan dengan
sobat-sobatku.
Setibanya kami di Senayan, suasana reuni sudah dimulai. Mulai dari angkatan
kelas satu sampai kelas tiga, mulai dari anak kelas A hingga D, semuanya terlihat
bercakap-cakap dan bernostalgia bersama-sama. Ketika aku melangkah masuk ke
restoran, aku dapat mengenali Baron dari kejauhan. Dia sedang ngobrol dengan
beberapa orang lain yang tidak terlalu kukenal. Baron kemudian berpaling dan
melihatku. Dengan antusias dia melambaikan tangannya, dan hanya dengan satu
senyuman dari Baron, hilanglah Ervin dari pikiranku. Tiba-tiba jantungku berdetak
lebih kencang dan aku merasa sedikit gerah.
“Dri, Dri, itu Baron, kan?” bisik Jana. Aku langsung mengangguk.
“Masih ganteng ya,” tambah Dara.
Kami bertiga kemudian tertawa mendengar komentar itu. Nadia yang baru
datang langsung nimbrung. Berempat kami melangkah mencari penyegar
kerongkongan, lebih tepatnya minuman bersoda. Kalau bisa yang ada alkoholnya
untuk menenangkan detak jantungku yang melonjak-lonjak karena melihat Baron
dengan kemeja lengan panjang berwarna hitam dan jins yang membuatnya terlihat
lebih... handsome daripada biasanya.
Koordinasi reuni itu ternyata cukup baik. Makanan yang tersedia adalah buffet,
dan meskipun ada sekitar dua ratus orang yang hadir, kami tidak merasa penuh
sesak, dan semua orang terlihat cukup menikmati suasana reuni. Aku pun
melupakan Baron untuk beberapa saat dan mulai sibuk ngobrol dengan banyak
orang yang sudah lama tidak kutemui. Khresna yang dulunya adalah badut kelas
sekarang sudah jadi dosen bahasa Jerman di UI. Hartawan, anak yang dulunya
sering dijadikan bual-bualan anak-anak karena tingkah laku kocaknya, sekarang
sudah jadi pengacara yang cukup andal. Rini, anak yang dulunya sering dipanggil
“brung” karena ukuran tubuhnya yang cukup besar sehingga kalau berjalan seperti
mengeluarkan suara “brung... brung... brung...”, sekarang berpenampilan bagaikan
model. Tinggi dan langsing.
Tanpa disadari, jam di tanganku sudah menunjukkan pukul sepuluh. Ketika aku
dan sobat-sobatku sedang minum-minum dan ngobrol, tiba-tiba kulihat Baron
menghampiri kerumunan kecil kami. Nadia yang duduk di sebelahku ternyata
langsung memberikan kode kepada Jana dan Dara yang duduk membelakangi
Baron.
“Halo,” sapa Baron padaku.
Ketiga sobatku yang langsung sadar bahwa kemungkinan besar Baron mau
ngobrol denganku, meninggalkanku dengannya. Tapi sebelumnya, aku sadar Jana
menggenggam tanganku untuk memastikan bahwa aku memang ingin sendiri
dengan Baron. Aku menurunkan daguku sebagai tanda “Ya” dan Dara dan Nadia
langsung menggeret Jana ke arah toilet wanita.
“Sori, mereka memang suka kayak gitu.” Aku berusaha keras untuk
menjelaskan tingkah laku ketiga sobatku yang dari dulu sampai sekarang masih
suka kumat dan membuatku malu.
Baron hanya tersenyum dan duduk di kursi di sampingku.
Aku baru sadar bahwa sepanjang malam aku tidak melihat Olivia.
“Olivia ke mana, Ron?” tanyaku.
“Dia lagi ke Yogya,” jawabku singkat. “Anyway, omong-omong gimana kabar
kamu? Semenjak aku telepon habis Mbak Tita melahirkan, kita belum sempat
ngobrol lagi.”
“Iya... sori, tapi aku lagi banyak kerjaan akhir-akhir ini,” ucapku berbohong.
Mudah-mudahan Baron tidak melihat kebohonganku ini.
Baron sempat terlihat ragu, tapi kemudian dia tersenyum. “Bagus deh kalau
gitu, soalnya aku sangka kamu menghindar dari aku.”
“Menghindar? Nggak lah, mana bisa, aku kan...” Aku kemudian sadar bahwa
kalimat yang akan kukatakan selanjutnya bukanlah sesuatu yang akan mampu
kukatakan kepadanya.
“Kamu kenapa?”
“Nggak, nggak, nggak apa-apa.”
Setelah beberapa saat kami pun hanya duduk tanpa berbicara. Dapat kulihat
tatapan beberapa teman Baron yang kurang mengenakkan kepadaku.
“Ron, mmmhhhh, kayaknya aku mesti... nyari anak-anak deh, lagian juga
teman-teman kamu pasti mau ngobrol sama kamu juga.” Aku buru-buru berdiri,
tapi Baron menarik pergelangan tanganku.
“Eh, Dri, Dri, mau ke mana?” tanya Baron menahanku.
Aku hanya melirikkan mataku ke arah teman-temannya yang sekarang sedang
melemparkan pandangan sadis kepadaku, dan Baron pun mengerti. Baron
meletakkan gelas yang sedang dipegangnya, menggandeng tanganku dengna paksa
dan menggeretku keluar dari restoran. Aku kaget ketika dia berani menggandengku
di depan teman-temannya, membuatku semakin kikuk.
Baron tidak melepaskan genggamannya ketika kami sudah ada di luar restoran.
Dia menuntunku untuk duduk bersamanya di salah satu meja yang tersedia di sana
sebelum kemudian duduk di sampingku. Dalam hati aku tahu ini salah. Ada satu
motto hidupku kalau sudah menyangkut cinta. Jangan pernah ngambil pacar orang,
tunangan orang, apalagi suami orang. Nanti kamar. Tapi aku tidak mampu
membuat diriku melangkah pergi dari Baron.
“Kamu nggak enak ya sama anak-anak?” tanya Baron.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, hanya mengangkat kedua alisku.
Lalu Baron bertanya tiba-tiba, “Jadi kamu sama Ervin dekat?”
Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya. “Wah, kamu mesti kasih
definisi „dekat‟,” balasku sambil tertawa.
“Jujur, aku agak kaget waktu lihat kamu sama dia di Hard Rock,” Baron
melontarkan pernyataan ini dalam satu napas sebelum melanjutkan. “Aku nggak
nyangka ternyata kamu date-nya Ervin. Sebetulnya, aku yang mau ngajak kamu ke
Hard Rock Sabtu malam itu.”
Aku terbatuk-batuk beberapa menit dan Baron menepuk-nepuk punggungku.
Tenggorokanku terasa kering. “Aku sama Ervin memang suka jalan bareng, itu
saja,” akhirnya aku bisa berkata.
“Jadi kamu nggak dating sama dia?” Baron ternyata cukup serius dengan seri
pertanyaan ini.
“Memangnya kenapa sih nanya-nanya?” tanyaku akhirnya.
“Nggak, soalnya... dari nada bicara dan tindakan Ervin, aku menangkap
hubungan kalian lebih daripada sekadar teman.”
Oh, rupanya bukan aku saja yang sadar soal tingkah laku aneh Ervin malam itu.
“Apa kamu lagi dekat sama orang lain?” tanya Baron lagi.
Aku rasnaya ingin melempar sepatuku ke Baron. Buat apa dia menanyakan
urusan pribadiku? Dia saja yang tidak tahu apa yang menyebabkan kehidupan
cintaku berantakan total seumur hidupku.
“Nggak,” akhirnya aku menjawab. “Nggak ada waktu,” lanjutku.
Baron mengangguk puas. Percakapan pun berganti arah. “Kamu tadi datang
sama siapa?” tanyanya.
Aku yang merasa lega atas bahan pembicaraan baru, menjawab, “Jana tadi yang
jemput aku, kami datang bertiga sama Dara.”
“Oh.”
“So, kamu kok nggak ikut Oli ke Yogya?” tanyaku.
“Nggak. Katanya dia mau pergi sendiri,” balas Baron cuek.
Aku menatap Baron dengan bingung. Entah kenapa kok sepertinya aku
mendapati bahwa dia tidak terlihat kehilangan, bahkan terlihat agak-agak tidak
peduli pada Olivia.
“Oh,” adalah satu-satunya kata yang bisa kukeluarkan.
“Kamu masih suka berenang?” tanya Baron tiba-tiba.
Aku kemudian tertawa, karena teringat memori itu. Baron dan aku memang
bergabung dalam tim renang sekolah kami sewaktu SMP kelas satu dan dua. Aku
ingat betul bahwa selama dua tahun kami banyak menghabiskan waktu bersamasama
hanya dengan mengenakan pakaian renang yang cukup minim.
Aku menggeleng. “Sudah nggak. Kamu?”
Baron pun menggeleng.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan yang keluar
dari mulut Ervin ketika di Hard Rock.
“Ron... aku boleh tanya sesuatu ke kamu?”
Baron menatapku dan mengangguk.
“Apa maksud Ervin waktu dia bilang kalau kamu cinta mati sama aku waktu
SMP?”
Baron terdiam sesaat sebelum menjawab, “Kamu dengar kata-kata itu ya? Aku
sangka kamu nggak dengar. Aku berharap kamu nggak dengar.”
Aku tertawa garing. “Kamu suka sama aku waktu itu?” candaku dengan nada
getir.
“Apa kamu nggak pernah tahu itu?” lanjutnya pelan sambil mengempaskan
tubuhnya ke sandaran kursi.
Aku tidak bisa bernapas. He liked me? teriakku dalam hati. Aku masih tidak
percaya.
“Ada rasa sih, aku juga waktu itu sempat suka sama kamu....”
Cinta sama kamu lebih tepatnya, ucapku dalam hati.
Baron memotong kalimatku. “Kamu juga suka sama aku??!! Tapi kenapa kok
kamu nggak pernah ngasih perhatian ke aku sih?”
Aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Bagaimana aku bisa
menjelaskan bahwa aku tahu jenis perempuan yang dia suka dan aku jelas-jelas
tidak memiliki kriteria yang diinginkannya. Atau yang kupikir “diinginkannya”.
“Padahal aku sudah berusaha narik perhatian kamu, tapi kayaknya kamu nggak
ada interest sama sekali ke aku. Kadang-kadang memang kamu suka baik, dan
sesekali, meskipun itu jarang, kalau aku kepergok lagi ngeliatin kamu, kamu
senyum ke aku. Tapi itu saja,” lanjut Baron berapi-api.
Aku tahu betul bahwa pernyataannya penuh dengan fakta. “Iya, sori, but give me
a break, will you, I was 15. Lagian seluruh sekolah selalu tahu kalau kamu sama Olivia
will be together eventually. Terus belum lagi gara-gara banyak yang suka sama kamu.
Tambahan lagi setelah agak lama, aku lihat kamu juga nyuekin aku, jadi ya sudah.”
Baron teridam beberapa saat. Urat-urat di lengannya keluar sehingga terlihat
seperti tato dengan garis-garis biru.
“Aku bukan nyuekin kamu, tapi aku nyoba untuk move on,” jelas Baron pelan.
“Kamu tahu nggak aku perlu waktu bertahun-tahun untuk ngelupain kamu?”
Ya Tuhan. Apa mungkin Baron telah mencintaiku selama bertahun-tahun tanpa
sepengetahuanku?
“Ron...”
“Kenapa kamu harus muncul sekarang, Di? Kenapa nggak setahun yang lalu?
Atau bahkan enam bulan yang lalu?” Baron menatapku dalam. Aku masih belum
bisa mencerna semua informasi yang dilemparkannya secara bertubi-tubi itu.
“Nggak akan ngaruh, Ron. Kamu tetap akan married sama Olivia, dan aku tetap
akan...” Sebelum aku bisa menyelesaikan alur pemikiranku Baron sudah
memotongku.
“Nggak, nggak... Kamu nggak ngerti maksud aku...”
“Ron...”Aku berusaha menahan emosi Baron yang sedang meluap-luap.
Tapi bagaikan tidak mendengarku, Baron melanjutkan penjelasannya. “Aku
kelimpungan waktu tahu kamu berangkat ke Amerika, jauh banget, aku nggak bisa
ngejar. Aku pernah nyoba beberapa kali untuk cari tahu informasi tentang kamu,
tapi aku terlalu gengsi untuk nanya ke teman-teman kamu, dan itu memang salah
aku, aku akui itu, tapi aku mau memperbaiki itu semua. Kalau aku tinggalin Olivia,
apa kamu mau sama aku?”
Holy shit. He loves me, NOT “loved”, untuk masa lalu, he “loves” me, with an “s”,
untuk saat ini.
Tapi ketika kalimat terakhirnya dapat dicerna oleh otakku di antara katakatanya
yang lain yang membuat hatiku berbunga-bunga, rasa bungah itu hilang
dalam sekejap mata.
“Oke, stop, stop sekarang juga. Kamu nih ngomong apa sih?” teriakku panik.
Tanpa kusangka-sangka Baron kemudian menggenggam tanganku dan
mencoba mencari suatu kepastian dariku. Tiba-tiba kulihat Nadia sedang berjalan
cepat ke arahku. “Dri, Dri, eh, gue harus pulang nih. Kafka sudah jemput.”
Nadia berhenti beberapa langkah dari hadapanku. Tatapannya jatuh ke tangan
kananku yang sedang digenggam erat oleh Baron. Aku yakin Nadia juga tidak
ketinggalan melihat wajah kami berdua yang merah padam. Dengan rasa bersalah
aku buru-buru melirik ke jam tanganku yang sudah menunjukkan jam 00.10, buruburu
kutarik tanganku dari genggaman Baron.
“Gila, gue sangkain masih jam sebelas. Ya sudah, say hi ya buat Kafka.” Aku
bergegas berdiri dan melangkah ke arah Nadia, memeluk dan mencium pipinya.
“Telepon gue besok, atau gimana kek, minggu depan mungkin kita bisa jalan lagi.”
Nadia hanya berdiri terpaku beberapa saat tanpa reaksi. Dan situasi menjadi
semakin parah ketika Dara muncul sambil meneriakkan namaku. “Dri... Nih dia
anaknya, dicariin dari tadi sama Jana, dia mau pulang, gue juga sudah capek.”
Ketika Dara sadar bahwa Baron sedang berdiri di belakangku, dia terdiam dan
memberikan pandangan penuh tanda tanya kepada Nadia yang hanya mengangkat
bahu. Kemudian kurasakan tangan Baron di leherku. Otomatis aku langsung
merinding. Dan aku yakin itu bukan gara-gara angin sepoi-sepoi yang tiba-tiba
bertiup.
“Dri?” tanya Dara padaku sambil menatap Baron dengan penuh cirga.
“Kamu sudah mau pulang?” tanya Baron padaku dan tidak menghiraukan
tatapan curiga dari Dara.
“Nggak, eh... iya, aduh...” Aku terbata-taba. Lalu aku menghitung sampai tiga
dalam hati sebelum berbicara lagi. “Jana yang antar aku ke sini, kalau aku nggak
pulang sama dia, nanti aku nggak bisa pulang,” jawabku.
Saat itu juga Jana muncul sambil melambai-lambaikan tangannya memanggilku
dan Dara. “Woi... pulang yuk,” teriaknya.
Pada saat yang bersamaan aku melihat serombongan teman Baron memandang
ke arahku karena teriakan Jana yang cukup keras itu.
“Aku bisa antar kamu pulang kalau misalnya kamu belum mau pulang,” tibatiba
Baron berkata, yang tentunya membuat aku, Dara, dan Nadia kaget.
Pada saat itu kulihat Jana berjalan ke arahku. “Sudah siap?” Ketika dia melihat
bahwa aku sedang berdiri dengan Baron, Jana pun mencoba untuk menaturalkan
suasana. “Eh, elo, Ron, masih ngobrol saja sama Adri.”
Baron melemparkan senyumannya, karena dia tahu Jana hanya mencoba untuk
meringankan suasana. Tapi dia ngedrop bom terakhirnya yang paling dahsyat.
“Kalau lo pada suah mau pulang, gue bisa antar Didi nanti,” ucap Baron tanpa
berkedip ketika menatap Dara, Jana, dan Nadia.
Lidahku langsung kelu, kerongkonganku kering, perutku terasa mual dan aku
tidak bisa bernapas. Jana yan gmasih belum sadar apa yang terjadi hanya tersenyum
bingung.
“Nggak apa-apa kan kalau sobat lo gue pinjam malam ini?” tanya Baron lagi
dengan penuh harap pada Dara.
Aku memandang Baron tidak percaya, dalam hati aku berkata, “Are you kidding
me?”
“Gimana, Dri?” tanya Dara.
Aku terdiam. Aku harus membuat pilihan. Di satu sisi aku tahu bahwa
pembicaraanku dengan Baron masih jauh dari kata “Selesai”. Tapi di sisi lainnya
aku tidak berani untuk sendirian dengan Baron. Aku tidak bisa memercayai diriku
sendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang akhirnya akan kusesali seumur hidup.
Oke, terakhir kali aku hanya berdua dengan laki-laki yang bukan pacar atau
anggota keluargaku, itu tidak berakhir buruk. Mudah-mudahan yang ini juga sama,
pikirku dalam hati.
“Di?” tanya Baron lagi.
Jana kemudian mencairkan suasana dan berkata, “Ya sudah, lo antar Adri
pulang sampai pintu rumahnya ya, awas kalau nggak,” dengan nada bercanda tapi
penuh ancaman.
Sebelum aku bisa berkata apa-apa lagi, Jana, Dara, dan Nadia sudah berlalu,
meninggalkanku dengan Baron sendirian.
“Yuk,” ucap Baron pelan sambil menggandengku menuju mobilnya yang
diparkir tidak jauh dari situ.
Kami baru saja berjalan beberapa langkah ketika aku mendapat ide cemerlang.
“Ron, aku ke kamar mandi sebentar ya.” Aku langsung berlari ke dalam restoran
dan masuk ke kamar mandi. Aku mengunci diriku di salah satu stall dan duduk di
atas toilet.
“Oh my God, what have I done?” ucapku pelan pada diriku sendiri.
Kutenggelamkan wajahku di antara kedua belah tangan. Dalam kebingungan
sempat terlintas ide untuk melarikan diri, tapi ketika aku mengintip ke luar untuk
memastikan apakah aku bisa lari ke pintu keluar tanpa terlihat oleh Baron, ternyata
dia sedang menungguku di depan pintu WC wanita.
Sialan! Tidak mungkin!
Akhirnya setelah mencoba menimbang-nimbang solusi lain dan tidak
mendapatkannya, aku mengaku kalah dan melangkah ke luar kamar mandi dengan
wajah pura-pura sakit perut.
“Ron... aku kayaknya mendingan pulang deh, soalnya perutku sakit. Mungkin
tadi aku salah makan.”
Baron memandangku dengan tatapan curiga. “Dri, kamu pernah pakai alasan
itu waktu kita masih SMP supaya kamu nggak usah diantar pulang sama sopirku
sehabis Prom.”
Sekali lagi Baron membuatku terkejut. Memang malam Prom itu Baron
menawarkan untuk mengantarku pulang karena sebagai panitia, aku, dia, dan
beberapa anak lainnya terpaksa pulang lebih lambat. Meskipun ada sopir yang
menjemputnya, tapi aku tetap merasa takut berada sendirian di bangku belakang.
Akhirnya aku meminta bapakku menjemputku.
“Waktu itu kamu aku lepas pulang sendiri, walaupun alasan kamu nggak
masuk akal. Kalau aku tahu malam itu malah terakhir aku ketemu kamu selama
lebih dari sepuluh tahun berikutnya, aku nggak akan ninggalin kamu. Sekarang
kamu harus ikut aku, ayo, nggak pakai alasan-alasan lagi.” Dan dengan begitu
Baron menggeretku ke mobilnya.
Dalam perjalanan ke mobil kami berpapasan dengan beberapa teman Baron
yang memberikan pandangan tidak suka dan penuh curiga.
So i wasn’t the most popular kid in school. Big deal.
“Ron, mau ke mana lo? Eh, itu anak orang mau lo kemanain?” tanya Irene, salah
satu mantan pacar Baron.
“Ron, Oli ke mana, Ron?” tanya seseorang lagi.
Beberapa pertanyaan lain dilontarkan oleh teman-teman Baron yang tidak
digubris sama sekali olehnya. Dia tetap menggenggam tanganku dan hanya
melambaikan tangan pada teman-temannya.
Beberapa saat kemudian aku menemukan diriku sedang dalam perjalanan
menuju Tangerang. Setelah aku sadar bahwa Baron tidak akan membuka
pembicaraan, aku berkata, “Ron, kita mau ke mana?” tanyaku pelan.
“Makan,” jawabnya pendek.
“Tapi kita baru makan,” ucapku bingung.
“Ya kita makan lagi,” balasnya.
Kami kemudian berdiam diri lagi. Akhirnya, bosan dengan kesunyian aku
menanyakan satu hal yang sudah menggangguku semenjak malam kami bertemu di
Hard Rock.
“Ron, kamu sama Oli baik-baik saja, kan?” tanyaku pelan.
Tiba-tiba tanpa disangka-sangka Baron memotong jalur ke kiri menuju tempat
peristirahatan tol. Kemudian dia menghentikan mobilnya di bawah salah satu
lampu neon besar yang menyinari pelataran rest stop itu. Ketika dia mematikan
mesin mobil kupikir dia mau ke toilet, tapi ketika dia tidak beranjak dari kursinya,
aku jadi bingung. Rest stop itu terlihat sepi, hanya ada sekitar tiga mobil lain yang
parkir cukup berjauhan dari mobil kami.
“Ehm...” Aku mencoba untuk menanyakan kenapa dia berhenti tanpa sebab.
“Aku nggak mau ngomongin Oli lagi. Aku mau ngomongin tentang kita. Kamu
tuh bikin aku gila, tahu nggak?”
Aku tidak ingat persis apa yang terjadi, tiba-tiba aku dapat merasakan Baron
mencium bibirku dengan paksa, tangan kirinya mencengkeram leherku dan tangan
kanannya sudah ada di atas pahaku yang untungnya tertutup celana jins.
Karena terlalu kaget selama beberapa detik aku tidak berbuat apa-apa.
Ciumannya terasa sangat terburu-buru, aku tidak terbiasa dengan jenis ciuman
seperti ini. Aku bisa merasakan lidah Baron di seluruh mulutku dan kedua
tangannya di sekujur tubuhku. Aku mencoba menjaga mulutku agar tetap tertutup.
Tapi kemudian tangan kanannya masuk ke bawah kausku dan semua pertahananku
hilang. Aku buka mulutku dan merasakan lidah Baron bersentuhan dengan lidahku.
Kedua tanganku melingkari lehernya dan menariknya untuk lebih dekat denganku.
Aku dapat merasakan kulit tengkuk Baron terasa agak basah.
Dari bibirku Baron mengalihkan ciumannya ke arah leher dan aku bisa
merasakan giginya di leherku. Meskipun tidak keras, tapi aku yakin besok aku
harus pakai turtle neck, kalau tidak, semua orang bisa lihat bekasnya. Tubuhku mulai
terasa gerah, seperti aku sedang berdiri terlalu dekat dengan api unggun. Entah
suara-suara aneh apa yang kukeluarkan ketika menciumnya, tapi aku bisa
mendengar geramannya ketika aku mulai menggunakan lidahku untuk
merasakannya. Baru aku sadar, sudah terlalu lama aku menghabiskan waktuku
tanpa mencium orang yang aku betul-betul suka. Minus Ervin, karena itu bukan
ciuman, tapi kecelakaan.
Ketika teringat Ervin, pikiran bersalah muncul di benakku. Stop, aku tidak boleh
seperti ini. Ciuman tidak akan menyelesaikan masalah. Aku mencoba untuk berpikir
jernih.
“Stop,” aku mencoba mengatakan kata itu di antara ciuman Baron yang semakin
tinggi intensitasnya. Aku mencoba menekan dadanya agar menjauh, tapi rupanya
itu justru malah membuatnya menciumku lebih dalam lagi. Jujur saja, aku rasanya
sudah mau gila. Aku mau berteriak slow down, this is going too fast. Alhasil yang
keluar adalah, “Stop,” aku berkata lagi dengan lebih keras.
“No!!” Kudengar suara Baron di antara napasnya yang semakin memburu.
Aku kemudian mendorong bahunya sekuat tenaga, sambil berteriak. “Aku
bilang stop.” Baron melepaskan cengkeramannya pada leherku dan menarik
tangannya dari kait braku yang sudah berhasil dia lepas. Dia terlihat shock. Aku
mencoba menarik napas, begitu juga dia. Aku mengambil napas dalam-dalam
sebelum berkata, “What the hell are we doing?”
“Di...” Baron mencoba berbicara.
Aku menatap wajahnya yang terlihat agak-agak marah, bersalah, tersinggung,
bingung, dan sedih. Bibirnya yang selalu kemerah-merahan sekarang lebih merah
lagi karena ciumanku.
Did I do that? tanyaku pada diriku sendiri.
Rambutnya yang tadinya rapi, kini agak berantakan. Tanpa sadar ternyata aku
sudah membuka semua kancing di kemeja hitamnya yang tadinya tertutup rapat.
Untung kausnya masih terpasang. Aku yakin penampilanku tidak jauh berbeda
dengannya. Kualihkan perhatianku dengan mencoba untuk merapikan rambutku
menggunakan jari-jariku dan memasang kait braku kembali. Baron pun merapikan
kemeja dan rambutnya.
“Bisa antar aku pulang, Ron?” tanyaku walaupun nadaku lebih seperti perintah
daripada permintaan. Tiba-tiba terbayang wajah Olivia di kepalaku. Dalam hati aku
memohon maaf kepada Olivia karena telah melakukan hal yan gbisa menyakitkan
hatinya kalau dia sampai tahu. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah
menyadarkanku. Sejujurnya, kalau aku membiarkan diriku, entah apa yang sudah
kukerjakan.
Bagaimana mungkin hanya karena Baron, aku hampir rela melepaskan
keperawananku. Di mobil, pula. Rasa marah mulai muncul ketika aku sadar bahwa
kelihatannya ini bukan pertama kalinya Baron melakukan hal ini di mobil. Perutku
langsung terasa mual.
Kurasakan Baron menarikku ke pelukannya dan berkata sesuatu yang akhirnya
bisa kudengar dengan jelas. “I’m sorry, I’m sorry, I’m sorry...” Dia mencium keningku
dan memelukku semakin erat.
Aku mengistirahatkan kepalaku di dadanya, aku dapat mencium aroma
tubuhnya yang khas. Aroma yang kucintai karena aku mencintainya. Aku
merasakan jantungnya masih berdetak lebih cepat daripada biasanya.
“Aku antar kamu pulang,” bisik Baron pelan.
Aku mengangguk. Baron pun melepaskan pelukannya dan men-starter mobil.
Kami tidak berbicara sepatah kata pun dalam perjalanan pulang ke rumahku. Aku
hanya bersuara untuk memberikan arah.
“Aku telepon kamu besok,” ucap Baron ketika aku akan melangkahkan kakiku
keluar dari mobilnya setibanya kami di depan rumahku.
Aku hanya menggeleng tanpa menatap Baron. Aku masih mencoba mencerna
kejadian sejam yang lalu. Aku bingung, apa sebenarnya arti semua ini?
Baron menarik bahuku dan memaksaku menatapnya. “Camkan ini, Di, aku cinta
kamu.” Lalu Baron melepaskanku.
Oh my God. I am sooooo screwed.
13. CEMBURU
KETIKA HP-ku berbunyi tepat tujuh jam kemudian, aku sedang bermimpi bahwa
Baron dan aku berada di tengah-tengah taman Suria KLCC di Kuala Lumpur. Ada
banyak orang di sekitarku yang menghitung mundur, seven, six, five, four, three, two,
one... Happy New Year. Aku mendengar bunyi terompet yang ekstra keras. Anehnya
bunyi terompet itu tidak berhenti, tapi justru bertambah keras. Saat itu aku pun
terbangun, dan sadar bahwa itu bukanlah bunyi terompet, tapi bunyi HP-ku.
Dengan malas aku mencoba membuka mata. Kubiarkan panggilan itu masuk ke
voicemail sembari melirik beker yang terletak di samping tempat tidur. Jam sudah
menunjukkan pukul sebelas siang. Aku merasa itu masih terlalu pagi untukku. Aku
berniat untuk tidur hingga tengah hari. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu, dan
buru-buru meloncat dari tempat tidurku, berlari mengambil handuk dan masuk ke
kamar mandi.
Perjalanan menuju Pondok Indah yang ditemani lagu-lagu yang dilantunkan
My Chemical Romance membantuku menjernihkan pikiranku yang sedang campur
aduk. Aku memikirkan tentang Baron dan Oli. Baron mengatakan bahwa dia mau
meninggalkan Oli untuk aku. Tapi apa mungkin? Senekat-nekatnya Baron, tidak
mungkin dia senekat itu. Beberapa bulan yang lalu memang aku sempat berpikir
bahwa aku mau melakukan apa saja untuk mendapatkan Baron, termasuk sampai
harus menyakiti Olivia. Tapi sekarang, setelah ada tawaran itu dari Baron, aku tidak
berani dan tidak tega. Aku bukan hanya takut terkena karma, tapi karena aku suka
pada Olivia, orang baik yang lembut dan penuh kasing sayang. Aku tidak mau
menyakiti hatinya. Olivia tidak pernah berbuat apa pun yang menyakiti hatiku. Dia
berhak mendapatkan lebih baik dari itu.
Tapi Baron juga mengatakan bahwa dia mencintaiku. Is that true? Jujur saja,
secara fisik mungkin aku masih tertarik dengannya, karena oh my God, he is such a
good kisser. Aku tidak akan berkeberatan kalau setiap pagi dicium olehnya. Tapi
ketertarikan fisik saja tidak cukup untuk membangun hubungan serius.
Tepat pukul satu siang aku memasuki pelataran parkir PIM. Karena hari itu
adalah hari Minggu, hampir seluruh penghuni Jakarta sepertinya sedang ada di
PIM. Tiba-tiba aku melihat ada tempat parkir kosong, buru-buru aku melaju menuju
tempat parkir itu. Ketika aku sedang mencari tasku setelah parkir, seseorang
mengetuk kaca mobilku. Orang itu ternyata Sarah. Dia melambaikan tangannya
kepadaku. Aku buru-buru keluar dari mobil dan memeluknya.
“Sori, telat ya,” ucapku buru-buru.
“Nggak apa-apa, aku juga baru sampai. Jalanan macet banget,” balas Sarah.
“Kamu parkir di mana?”
“Oh, tuh di sana.” Sarah kemudian menunjuk ke arah sebuah sedan berwarna
hitam. Ketika melihat mobil itu otomatis tubuhku langsung jadi kaku.
Itu kan mobil Ervin, dalam hati aku berkata.
Melihat reaksiku yang tiba-tiba terdiam, Sarah membalas. “Tenang, Mbak, itu
bukan mobil Ervin kok, itu mobil Mama.”
“Hah? Apa?” balasku terbata-bata.
Sarah hanya memandangiku sambil mengulum senyum.
Ketika aku perhatikan lebih saksama, mobil itu berwarna maroon bukan hitam.
Aduh, sepertinya aku mulai berhalusinasi lagi.
* * *
Kami lalu menuju ke arah food court dan memesan makanan masing-masing. Aku
memilih spageti dan segelas Pepsi sedangkan Sarah dengan teppanyaki dan ice lemon
tea. Setelah kami menemukan meja kosong. Sarah pun meluncurkan rudalnya.
“Mbak, Mbak kenapa sih sama Ervin?”
“Kenapa? Maksud kamu?” aku bertanya balik, pura-pura tidak tahu sambil
mencoba untuk mencampur spagetiku dengan dua garpu.
“Nggak, soalnya Ervin kok jadi gampang marah akhir-akhir ini,” jawab Sarah
sambil memisahkan sumpit kayu untuk teppanyaki-nya.
“Masalah kerjaan, kali,” balasku sok tenang.
“Kalau masalah kerjaan dia nggak akan segini cranky-nya. Cuma kalau sudah
urusan perempuan dia biasanya langsung kayak gini.” Sarah memberikan
pandangannya yang menuduh.
Setelah dipikir-pikir, selama ini aku selalu bingung kenapa kok Ervin bisa
kakak-beradik sama Sarah, mereka berdua benar-benar tidak mirip. Tapi setelah
melihat tatapan Sarah, aku bisa melihat persamaan reaksi wajah Ervin pada Sarah.
“Ya mana aku tahu, Sar? Kamu nggak tanya langsung saja ke orangnya?”
jawabku akhirnya sambil memasukkan segulung besar spageti ke mulutku dan
mulai mengunyah.
“Aku sudah tanya, terus dia bilang soalnya ini gara-gara Mbak,” Sarah berkata
dengan polos.
Aku langsung tersedak. Buru-buru aku minum Pepsi-ku. Sarah mencoba
membantu dengan menepuk-nepuk punggungku.
“Gara-gara aku? Enak saja dia nuduh, memangnya aku ngapain?” kataku,
berusaha menangkis tuduhan Sarah setelah batukku reda.
“Apa gara-gara kejadian di rumah Mbak itu jadinya Mbak nggak mau terima
teleponnya?” lanjut Sarah.
Kini aku benar-benar kaget dan tidak mampu berkata apa-apa.
“Yep, dia cerita ke aku. Mbak kenapa mesti kaget gitu? Mbak kan tahu si Jabrik
satu tuh selalu cerita semua ke aku. Lagian juga memang sudah seharusnya dari
dulu dia ngelakuin itu. Dia sama Mbak kan selalu dekat.”
“Gila, kamu berdua honest banget, ya? Bukannya gitu, Sar, aku...” Aku mencoba
menjelaskan situasi yang sebenarnya, tapi entah kenapa aku tidak bisa. Yang ada
aku malahan mengingat kejadian tadi pagi. Masih kuingat jelas sentuhan bibir Baron
di bibirku.
“Memangnya kenapa Mbak kok kayaknya nggak comfortable sama Ervin? Ada
cowok lain yang lebih ganteng dari dia, ya?”
Ketika Sarah selesai mengatakan kalimatnya yang kedua, kami pun saling
pandang dan mulai cekikikan. Alhasil Sarah menyenggol gelas ice lemon tea-nya dan
tumpahlah semua ke meja dan mengalir ke lantai.
Aku buru-buru mengeluarkan tisu dari tasku, sementara bertugas mas-mas
yang membersihkan meja langsung datang untuk membantu kami membersihkan
tumpahan teh itu.
“Aduh, Mas, sori ya, nggak sengaja,” kata Sarah sambil masih mengulum
senyum dan mencoba membersihkan tumpuahan itu. Setelah meja kami kembali
bersih dan Sarah memesan satu gelas ice lemon tea lagi, percakapan kami pun
bersambung.
“Gila, jangan bilang ke Ervin bahwa aku bilang dia ganteng, dia bisa-bisa
langsung superpede dan bikin aku jadi semakin pusing,” ucap Sarah setelah kembali
ke meja.
Aku hanya tertawa dan mengangguk untuk meyakinkan dan menenangkan
Sarah.
“So, gimana? Memangnya ada cowok lain?” Sarah bertanya lagi.
Aku tidak menjawabnya tapi hanya menaikkan kedua alisku.
“Si Thomas, ya?”
Sekarang aku benar-benar kaget, aku tidak menyangka Ervin cerita semuanya
ke Sarah. Aku selalu tahu Sarah dan Ervin memang dekat, tapi tidak tahu bahwa
sedekat ini. Apalagi, sampai Ervin tentang love life-nya.
“Sumpah mati deh aku nggak tahu kenapa aku nyium Ervin hari itu,” ucapku
akhirnya.
Kini giliran Sarah yang tersedak mendengar pernyataanku. Aku lalu
melanjutkan, “Don’t get me wrong ya, Sar, Ervin tuh baik, hot as hell, tapi dia tipe lakilaki
yang cuma bisa jadi teman sama aku.”
Aku melihat senyum terbentuk di bibir Sarah.
“Kenapa kamu senyum?” tanyaku.
Lalu barulah Sarah bertanya, “Mbak nyium Ervin?”
Kini giliranku yang melongo. “Lho, memangnya maksud kamu kejadian yang di
rumahku tuh yang mana?” balasku.
“Mbak nyium Ervin?” tanya Sarah lagi. Aku melihat bahwa Sarah berusaha
keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
Aku dapat merasakan mukaku mulai memerah. Aku lalu menuntut Sarah untuk
menceritakan kejadian di rumahku, versinya Ervin.
“Ervin cuma cerita Mbak bilang akan ngenalin dia sama kakak Mbak,” jelas
Sarah.
“Oh my God, oh my god, oh my god...,” ucapku berkali-kali sambil menguburkan
mukaku ke kedua belah tanganku.
“Dia nggak pernah cerita soal cium-mencium,” lanjut Sarah.
Aku lalu memandang Sarah, menimbang-nimbang apaakha ku mau
menceritakan kejadian seluruhnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan
versiku.
“Interesting, tapi aku rada bingung juga kenapa Ervin nggak cerita ke aku
tentang itu,” ucap Sarah setelah mendengarkan ceritaku.
“I know.”
“Jadi itu toh sebabnya Mbak nggak mau ngomong sama dia.”
Aku mengangguk. “Aku cuma lagi butuh waktu untuk bisa memberikan
penjelasan yang masuk akal untuk Ervin.”
Kami kemudian terdiam beberapa saat dan berkonsentrasi pada makanan
masing-masing.
“So, terusnya gimana soal Thomas?”
“Kenapa tentang Baron?” jawabku singkat sebelum kemudian aku sadar bahwa
Sarah sedang memancingku. “Kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang Baron?” aku
balik bertanya dengan penuh curiga.
“Baron? Itu siapa lagi?” tanya Sarah bingung.
Aku lalu teringat bahwa Ervin tidak mengenal Baron sebagai Baron, tapi sebagai
Thomas. “Baron itu Thomas, Sar, tapi aku kenal dia sebagai Baron. Baron tuh nama
tengahnya. Tapi kebanyakan teman SMP Thomas kenal dia sebagai Baron,” jelasku.
Sarah lalu membulatkan mulutnya menjadi O, menandakan bahwa dia
mengerti.
“Jadi Mbak nggak mau nge-date sama Ervin tapi lebih prefer pining over si Tom,
eh... Baorn yang sudah tunangan?”
“What?” teriakku. “Lo dikirim sama Ervin buat nanya-nanya tentang ini?”
Sarah terlihat kaget oleh reaksiku dan menjawab. “Eh, nggak, lagi, aku cuma
bingung... gimana nature hubungan Mbak, Ervin, sama Baron ini.”
Setelah menghabiskan suapan terakhir spagetiku, aku pun melayani
keingintahuan Sarah. “Aku juga masih bingung, Sar. Tanya lagi tahun depan deh.”
Kami berdua hanya berdiam diri untuk beberapa saat sebelum Sarah kemudian
bertanya, “Semua orang yang sudah lihat Mbak sama Ervin sudah tahu Mbak sama
Ervin saling cinta. Yang nggak tahu soal itu cuma Mbak sama Ervin.”
“Ervin nggak cinta sama aku,” seruku kaget.
“Tuh kan. Mbak juga cinta, lagi, sama dia,” balas Sarah.
“Aduh, Sar, untuk orang seumuranku, susah untuk bisa ngomongin cinta.
Terlalu banyak hal lain yang bersangkutan dengan kata itu. Tapi kalau suka, ya
memang aku suka.”
Sarah mencoba berargumentasi tapi aku potong.
“Kamu mungkin pikir kakak kamu tuh cinta sam aaku, tapi sebenarnya dia
bukannya cinta, tapi dia cuma... comfortable sama aku. Tapi so what? Bantal juga
comfortable kok.”
“Oke, fine, pertanyaannya aku ganti. Kalau misalnya kakak laki-laki tercintaku
yang kadang-kadang suka jadi goblok kalau sudah urusan cinta itu ngomong ke
Mbak bahwa dia cinta sama Mbak, apa Mbak mau setidak-tidaknya untuk percaya
bahwa dia betul-betul cinta sama Mbak?”
“Sar, percaya deh sama aku, dia nggak cinta sama aku. Kamu tahu sendiri kan
berapa banyak jumlah perempuan yang nge-date sama dia setahun terakhir ini?
Nggak satu pun dari mereka yang tampangnya kayak aku. Aku ini terlalu „biasa‟
buat Ervin.”
“Ooooohhhhh, God, I am wasting my time with this woman,” teriak Sarah frustrasi.
Aku langsung meminta Sarah untuk menurunkan volume suaranya, karena
orang-orang mulai melirik ke arah kami.
“Sudahlah, nggak usah mikirin soal aku sama Ervin. Mendingan ngomongin
soal lamaran kamu.”
Wajah Sarah masih kelihatan frustrasi, tapi akhirnya kami mengganti bahan
pembicaraan ke persiapan pesta lamaran Sarah.
Kami baru menuju pelataran parkir untuk pulang sekitar pukul delapan malam
itu. Sebelum pulang Sarah berkata, “Well, setidak-tidaknya Mbak telepon Ervin lah
ya, plea...se deh. Aku kasihan sama kakakku yang buat pertama kalinya tahu rasanya
patah hati.”
“Stop it, dia nggak patah hati.”
“Ya, Mbak kan nggak tahu. Terima teleponnya aja nggak mau, gimana bisa
tahu?”
Aku tadinya mau menyangkal tuduhan itu, tapi kata-kata Sarah memang
mengena sekali.
“Well, oke,” akhirnya aku setuju.
* * *
Semalaman aku tidak bisa tidur. Ketika bekerku berbunyi tepat pukul 05.30
keesokan harinya, dengan gondok aku langsung mematikannya dan kembali
bersembunyi di bawah selimutku. Dalam perjalanan ke kantor aku berjanji pada
diriku sendiri bahwa aku akan menyelesaikan masalahku dengan Ervin yang sudah
berkelanjutan ini sampai tuntas. Kalau aku memang mau tahu perasaan Ervin yang
sebenarnya kepadaku, aku harus memberanikan diri untuk menanyakan hal itu
padanya. Memang ada kemungkinan aku akan malu kalau misalnya ternyata dia
mengatakan bahwa dia tidak ada perasaan apa-apa kepadaku. Tapi bodo amat deh
aku sudah bertekad.
* * *
Tepat pukul 12.00 siang aku memutuskan bahwa sudah tiba saatnya bagiku untuk
menghadapi Ervin. Aku harus bertemu dengan Ervin minggu ini karena minggu
depan sudah libur Natal, aku takut dia ada rencana cuti. Aku tidak akan mampu
menunggu hingga Januari untuk berbicara dengannya. Dengan berat hati aku
melangkah ke arah ruangannya. Baron masih belum menghubungiku lagi, dan aku
sangat bersyukur. Mudah-mudahan dia sudah melupakan kejadian hari Sabtu itu.
Pintu ruangan Ervin tertutup, aku pun bimbang sesaat. Apa aku harus
mengetuk atau menunggu hingga pintu itu terbuka? Aku melangkah bolak-balik di
depan ruangannya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
Setelah beberapa ketukan dan tidak ada jawaban, aku kemudian membuka pintu
ruangannya dan melihat ke dalam. Ternyata kosong. Aku buru-buru menutup pintu
itu kembali sebelum kemudian berpapasan dengan Wulan, resepsionis kantorku,
yang sedang terburu-buru melangkah kembali ke mejanya sambil menggenggam
secangkir kopi di tangan kanannya.
“Eh, Dri... Dri...,” teriak Wulan dengan keras tepat sebelum dengan tidak
sengaja tangan kiriku menghantam cangkir yang sedang dipegangnya. Alhasil,
cangkir itu jatuh dan menumpahkan kopi hitam ke karpet biru yang menutupi lantai
kantor.
“Ya ampun, sori, Lan, sori... gue nggak lihat,” ucapku buru-buru.
Wulan hanya memberiku tatapan kesal, sebelum bertanya, “Cari siapa, Dri?
Kalau lo lagi cari Ervin, dia lagi ke convention di Manila.”
Aku berusaha untuk terlihat tenang sebelum menjawab, “Eh, nggak, gue lagi...
nggak nyari siapa-siapa kok. Omong-omong kayaknya musti telepon maintenance
ya,” ucapku buru-buru sebelum kembali berjalan kembali ke arah ruanganku.
Seperti membaca pikiranku Wulan pun berteriak. “Dia baru balik minggu
depan, Dri.”
* * *
Selama satu minggu aku menunggu Ervin kembali dari Manila dengan keresahan
yang tidak tergambarkan. Memang betul aku bisa menelepon atau mengirimkan email
untuk menyelesaikan masalah ini, tapi aku merasa lebih sreg kalau bisa
bertemu langsung dengannya.
Hari Sabtu sore akhirnya aku menyerah untuk mencemaskan Ervin dan
menemani ibu dan bapakku pergi menghadiri perkawinan Alya, anak salah satu
teman baik ibuku, Tante Mega. Perkawinan yang diselenggarakan di Hotel Grand
Hyatt Jakarta itu betul-betul megah. Aku tentunya hanya datang untuk menemani
orangtuaku harus banyak duduk diam di sudut ruangan sambil makan karena tidak
kenal siapa pun. Aku hanya pernah bertemu dengan Alya mungkin lima kali
sepanjang hidupku. Alya memang leibh seumuran dengan kakakku, tetapi
meskipun begitu mereka juga tidak pernah dekat.
Ketika aku sedang berjalan menuju gubuk yang menghidangkan pencuci mulut,
tiba-tiba aku melihatnya... Ervin. Dia yang seharusnya masih ada di Manila ternyata
sekarang berdiri di hadapanku dan mengantre mengambil kambing guling. Kaget,
aku mundur selangkah dan bertabrakan dengan seorang ibu dengan anaknya yang
sedang bergegas menuju toilet. Tetapi tiba-tiba aada secercah keberanian yang
mendorongku untuk menyapanya. Aku sadar bahwa Ervin belum melihatku dan
setelah cukup dekat aku baru tahu kenapa. Ternyata dia sedang berdiri di sebelah
seorang wanita paling cantik yang pernah aku lihat, dan... Tidak salah lagi, wanita
itu adalah Kinar, mantan pacarnya yang model merangkap bintang film itu.
Kaget untuk yang kedua kalinya selama kurang dari lima menit, aku berhenti
melangkah dan hampir tersandung kakiku sendiri. Aku melihat tangan wanita itu
sedang melingkari tangan kiri Ervin dan mereka seperti sedang terlibat pembicaraan
yang sangat romantis. Reaksi pertamaku adalah terkesima, lalu aku dapat
merasakan bahwa apabila aku tetap berdiri di sana, bisa-bisa aku mulai menangis
tersedu-sedu. Aku sempat mencoba untuk merasionalkan bahasa tubuh mereka, tapi
tidak ada interpretasi lain selain bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Rasa
cemburu, marah, dan sedih langsung menyelimutiku. Aku paham bahwa aku bukan
siapa-siapanya Ervin dan biasanya aku tidak pernah cemburu saat melihatnya
bermesraan dengan perempuan lain. Kenapa sekarang aku seperti orang kebakaran
jenggot melihatnya bersama Kinar? Mungkin karena aku sudah menunggunya
selama satu minggu dengan kecemasan yang tidak tergambarkan dan sekarang,
ketika aku sudah bertemu dengannya, dia malahan bersama perempuan lain
sehingga aku tidak bisa meluapkan apa yang ada di hatiku.
Ternyata Ervin ya tetap Ervin. Dia akan selalu dikerumuni perempuan. Ervin
yang selalu menjadi penyebab utama kenapa lima puluh persen penghuni Jakarta
yang perempuan, patah hati. Bagaimana mungkin aku percaya bahwa dia telah
memperlakukanku berbeda dengan perempuan lainnya? Bagaimana bisa aku
berpikir bahwa aku spesial di matanya? Ini salahku sendiri. Terselimuti dengan
kemarahan pada diri sendiri, buru-buru aku berbalik ke arah aku datang, tapi
terlambat, Erivn sudah melihatku. Dengan tatapan agak kaget dia melambaikan
tangan ke arahku dengan penuh semangat. Tapi aku tidak memedulikannya.
Aku harus keluar dari sini, kataku dalam hati dan melangkah cepat ke arah
pintu keluar. Dalam perjalanan keluar aku mencari HP-ku dan menekan angka dua,
memori untuk nomor HP bapakku. Takut diikuti oleh Ervin, aku menolehkan
kepalaku ke belakang, tetapi aku tidak melihatnya di antara kerumunan. Rasa
tenang juga kesal karena dia tidak mencoba mengejarku semakin meresahkan hatiku
yang memang sedang galau. Buru-buru aku menyampaikan pesan singkat kepada
bapakku bahwa aku ada keadaan darurat dan harus segera pulang. Aku meminta
orangtuaku untuk menemuiku di pintu masuk.
Mengambil alih posisi seorang petugas valet parking, aku masuk ke sisi
pengemudi SUV bapakku. Aku melihat kedua orangtuaku sedang bergegas ke
arahku. Tetpai kemudian aku lihat di belakang mereka ada Ervin yang sedang
berlari-lari, mencoba menutup jarak dengan kedua orangtuaku. Kepanikan langsung
muncul di hatiku. Tetapi sebelum orangtuaku sampai ke pintu mobil dan masuk,
Ervin telah berhasil menarik perhatian mereka. Orangtuaku yang belum tahu duduk
permasalahan aku dan Ervin menyambut sapaan hangat dari Ervin dengan terbuka.
“Di, kok nggak bilang halo sama Ervin?” tanya Ibuku polos.
Aku agak kaget kok ibuku mengenali Ervin sampai ingat namanya segala. Tapi
aku menepikan pikiran itu. Karena tidak mau bikin kerusuhan di depan banyak
orang yang sedang menunggu jemputan, aku pun turun dari sisi pengemudi dan
bergegas menghampiri ibuku.
“Halo, Dri, tadi gue lihat lo di dalam, gue sudah panggil-panggil beberapa kali,
tapi kayaknya lo nggak dengar,” ucap Ervin padaku sambil mendekat untuk
memberikan ciuman di pipiku seperti biasanya. Ervin memegang lenganku ketika
melakukannya, tetapi dia tidak melepaskan pegangannya setelah itu.
Dari tatapannya aku tidak menemukan adanya rasa bersalah ataupun
pandangan bahwa dia mau memberikan penjelasan padaku tentang Kinar.
Bukannya aku merasa bahwa Ervin harus menjelaskan apa-apa kepadaku, karena
dia tidak harus. Lagi-lagi aku mengingatkan diriku siapa aku, pacar bukan, saudara
bukan, jadi apa urusanku untuk tahu dengan siapa dia datang ke acara resepsi ini.
Menyadari hal itu ternyata justru membuatku semakin kesal.
“Eh iya, nggak, soalnya orangtua gue sudah mau pulang, jadi gue mesti buruburu
ngambil mobil,” balasku dengan cepat sambil memberikan kode kepada ibu
dan bapakku.
Tentunya ibuku yang memang suka agak lemot kalau sudah urusan kodekodean
hanya memandangiku dengan tatapan bingung, untungnya bapakku segera
tanggap atas dilema yang sedang kuhadapi.
Aku dapat merasakan bahwa genggaman tangan Ervin semakin mengerat.
“Iya, harus buru-buru, sampai ketemu lagi ya,” ucap bapakku kepada Ervin.
“Iya, Pak, Bu,” balas Ervin sopan.
Pak, Bu? Enak saja dia memanggil orangtuaku Bapak sama Ibu. Bapak-Ibu
mbahmu, omelku dalam hati.
Lalu orangtuaku pun beranjak mendekati mobil. Tapi ketika aku akan masuk ke
mobil, Ervin tetap tidak melepaskan lenganku. Aku memandangnya, memberikan
tatapan memohon, kemudian perlahan-lahan dia melepaskan cengkeramannya.
Aku buru-buru masuk ke mobil. Ervin kemudian membukakan pintu belakang
agar ibuku bisa naik ke mobil dan menutupnya dengan rapat. Lalu bapakku masuk
ke kursi penumpang di sampingku. Aku baru sadar kemudian bahwa Ervin sedang
berdiri di samping jendela pengemudi. Aku tidak ada pilihan selain menurunkan
jendela. “Hati-hati, Dri,” ucapnya pelan.
Aku pun berlalu meninggalkan Ervin dengan muka bingungnya.
* * *
Malam itu, setelah satu hari berusaha menahan rasa sedih karena kebodohanku
sendiri, aku masih duduk terdiam di kamarku dan mulai menangis ditemani oleh
Nick Lachey yang sedang meneriakkan “What’s left of me” untuk Jessica Simpson.
Terakhir kali aku menangis seperti ini adalah lebih dari sepuluh tahun yang lalu,
ketika aku memikirkan nasibku yang tidak bisa menghapuskan Baron dari
pikiranku. Tapi sekarang... aku menangis karena perasaanku yang tidak keruan.
Bagaimana mungkin aku mencintai Baron tapi tidak mau menerima pernyataan
cintanya? Bagaimana mungkin kalau aku mencintai Baron, aku bisa cemburu ketika
melihat Ervin dengan perempuan lain?
14. MENYINGSINGKAN LENGAN BAJU
KEESOKAN harinya, pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Biasanya aku paling malas
mencuci mobilku dan selalu minta tolong Pak Yoyok. Tapi pagi itu tanpa menunggu
Pak Yoyok, aku langsung membasahi body mobilku dengan selang dan mulai
menyapunya dengan busa dan sabun. Jam delapan pagi, saat aku masih sibuk
mencuci mobilku, SUV perak Baron memasuki pekarangan rumahku. Aku
menimbang-nimbang apakah aku bisa lari masuk ke dalam rumahku tanpa terlihat
olehnya. Tapi terlambat, mobil itu sudah berhenti dan Baron melangkah keluar.
Dengan agak gugup, kuperhatikan penampilanku pagi itu. Rambut acak-acakan
yang hanya diikat asal dengan karet, kaus dan celana pendek yang sudah lusuh.
Aku mengembuskan napasku dan berharap Baron tidak memperhatikan pakaianku.
Baron berjalan ke arahku dengan penuh semangat. Dia terlihat rapi dan
superganteng untuk jam delapan pagi hari Minggu. Dia melemparkan senyumnya
ke arahku dan duniaku langsung terasa ceria. Keraguan yang kurasakan tadi malam
kini sirna dan dalam hari aku berkata, I’ll marry him today if he asks me, Olivia and all
the world be damn. Bagaimana mungkin aku bisa membandingkan Baron dengan
Ervin tadi malam? Baron cinta sejatiku, Ervin... well, aku tidak tahu apa arti Ervin
untukku. Aku mengedipkan mataku berkali-kali untuk mencegahnya berkaca-kaca.
Akhirnya Tuhan telah mendengar permintaanku dan memberiku jalan.
“Ron, kok nggak nelepon mau datang?” teriakku dengan suara seceria mungkin.
“Aku sudah tinggalin Olivia, tunangan kai batal. Sekarang aku sudah bebas, aku
bisa ngerjain apa saja yang aku mau. Dan aku mau kamu,” Baron meneriakkan katakata
itu.
Pertama-tama aku hanya bisa bengong. Hatiku menyuruhku lari ke pelukannya
dan menciumnya saat itu juga. Selang air di genggamanku masih menyala dan
mengucurkan air ke kakiku, tapi aku tidak menyadarinya. Ternyata bukan hanya
aku yang mendengar pernyataan Baron, beberapa tetanggaku yang sedang jogging
sempat berhenti untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Perlahan aku berjalan
menuju keran air dan mematikannya. Aku melirik ke pintu rumahku untuk
memastikan bahwa orangtuaku tidak mendengar teriakan Baron tadi.
Baron menghampiriku.
“Gimana, Di? Aku tahu kamu juga mau aku,” Baron memohon.
Hatiku berteriak, aku mau kamu dengan sepenuh hatiku. Andaikan aku bisa
mengungkapkan kata-kata itu kepada Baron. Tapi otak dan hatiku sepertinya tidak
bisa bekerja sama.
“Ron, kamu lagi bingung sekarang. Ayo, kita duduk dulu. Kamu harus tenang.”
Aku berjalan menuju kursi di teras rumahku.
Kepalaku mulai terasa sedikit pusing. Aku baru sadar beberapa saat kemudian
bahwa Baron tidak mengikutiku. Ketika aku berbalik menghadapnya, aku harus
mundur beberapa langkah dan meletakkan tangan kanan di dadaku. Baron sedang
berlutut di hadapanku sambil memegang cincin.
“Di... kamu mau kan nikah sama aku?” tanyanya sambil menatap wajahku.
Aku lihat mata Baron yang beberapa menit yang lalu terlihat ceria, kini
meredup. Aku selalu mengharapkan bahwa kalau seorang laki-laki melamarku,
wajahnya tidak akan terlihat sesedih dan sebingung ini. Lalu satu pemahaman
terlintas... Baron tidak mencintaiku. Dia tidak pernah betul-betul mencintaiku. Dia
terlalu bingung dengan perasaannya sendiri sehingga dia tidak tahu apa yang dia
mau.
Andaikan aku bisa mencekik seseorang saat itu juga, mungkin orang tersebut
sudah mati kehabisan napas. Lalu aku sadar bahwa Baron-lah orang yang ingin
kucekik. Bagaimana mungkin dia berani melamarku padahal dia tidak tahu
perasaannya yang sebenarnya terhadapku.
Stupid, selfish bastard!!!
Meskipun hatiku hancur berkeping-keping, aku tahu bahwa aku harus
melakukan hal yang benar. Aku berjalan ke arah Baron lalu berlutut di hadapannya.
Kugenggam tangan kanan Baron yang sedang memegang cincin.
“Ron... kamu nggak bisa nikah sama aku. Kita nggak kenal satu sama lain. Aku
cuma ingat kamu dari memoriku tentang kamu, dan setelah lebih dari sepuluh
tahun, sejujurnya aku bahkan nggak tahu apa itu memori atau imajinasiku saja. Aku
yakin kamu sudah banyak berubah semenjak itu, karena aku juga sudah banyak
berubah,” ucapku pelan.
Mataku terasa panas, dan aku harus mengedipkan mataku beberap akali untuk
mengendalikan air mataku agar tidak mengalir keluar. Aku harus menahannya.
“Orang nggak akan berubah, Di. Aku tetap mau kamu,” kata Baron keras
kepala.
“Aku juga mau kamu, tapi Oli lebih memerlukan kamu daripada aku. Dan aku
yakin kamu juga perlu Oli.”
“Aku nggak mau Oli, aku mau kamu.” Tanpa kusangka-sangka Baron mencoba
menciumku. Untung aku bisa menghindar dan jatuh terduduk di rumput halaman
rumahku. Sekarang sudah ada beberapa orang lagi yang berhenti jogging untuk
menonton kejadian menarik yang sedang berlangsung di halaman depan rumahku
itu.
Baron kelihatan tersinggung ketika aku menolak ciumannya.
“Ayo... kita bicarakan ini baik-baik, Ron.”
“Tapi kamu juga nyium aku, Di, kamu... kamu...”
Aku buru-buru mengangkat tangan untuk memotong kalimatnya, karena aku
takut akan arah pembicaraan ini kalau kubiarkan.
“Aku tahu... dan aku minta maaf soal malam itu. Itu... kecelakaan,” jawabku
dengan susah payah.
Sebelum Baron bisa membalas, tiba-tiba ada mobil lain masuk ke pekarangan
rumahku yang memang tidak berpagar itu. Sebelum sang pengemudi keluar dari
kendaraan, aku sudha tahu bahwa duniaku akan jadi lebih rumit lagi dalam
beberapa detik. Dua orang keluar dari mobil itu, Ervin dan... Oh my God... Olivia...
mampus aku. Aku buru-buru berdiri dan mencoba menarik Baron untuk berdiri
bersamaku tapi dia menolak dan tetap berlutut di hadapanku.
“Ron, bangun, Ron,” ucapku cepat.
“Bilang kamu cinta sama aku juga,” tegas Baron. Garis-garis di wajahnya lagilagi
menunjukkan kekeraskepalaannya, yang biasanya kuanggap cute sekali, tapi
tidak pagi ini.
“Thomas Baron Iskandarsyah, bangun nggak!!!” bentakku.
“Baaaaarrrrrrrrooooooooonnnnnnnnnnnnn!!!” teriakan Olivia memecahkan
keheningan pagi itu. Bapakku buru-buru keluar dari rumah, disusul ibuku.
Olivia berlari ke arahku, diikuti Ervin. Kemudian Olivia berlutut di samping
Baron.
“Dri... what’s going on?” tanya Ervin padaku ketika dia tiba di sampingku
dengan napas sedikit terengah-engah. Ervin melambaikan tangannya kepada
orangtuaku yang membalasnya dengan antusias.
“Sayang, kamu ngapain? Aku sudah bilang kita bisa selesaikan masalah ini. Kita
nggak usah married buru-buru. Aku nggak maksa.” Olivia memohon pada Baron.
Olivia sepertinya tidak menyadari posisi Baron yang sedang berlutut di
hadapanku sambil memegang cincin. Tapi Ervin sadar.
“Tom, lo lagi ngapain?” tanya Ervin curiga.
“Ngelamar Didi,” jawab Baron singkat tanpa menghiraukan Olivia sama sekali.
Aku mendengar ibuku menarik napas kaget dan menutup mulutnya yang
menganga dengan tangan kanan.
“Di, ada apa sih?” tanya ibuku.
“Nggak ada apa-apa, Bu. Ibu sama Bapak masuk saja, nanti aku jelaskan,”
ucapku, mencoba untuk mengusir mereka dari hadapanku.
Aku tidak bisa berpikir dengan jernih di bawah tatapan keingintahuan mereka.
Ibuku terlihat ragu, tapi sekali lagi bapakku menyelamatkanku dan menggiring
ibuku masuk kembali ke dalam rumah.
Tiba-tiba pikiranku terganggu oleh suara Olivia. “Sayang... tolong... jangan
gini.... Aku akan berubah, tapi kamu nggak bisa tinggalin aku. Please...” Sekarang
nada suaranya sudah hampir menangis. Tapi Baron masih tidak memperhatikannya.
Alhasil Olivia mulai menangis.
“Di?” tanya Baron lagi. Aku tidak mampu berkata-kata, aku masih terlalu kaget.
Kesedihan dan kemarahanku telah hilang, digantikan rasa kasihan pada Olivia. Aku
sadar tetangga-tetanggaku sudah pergi. Mungkin mereka sudah bosan dengan apa
yang mereka saksikan. Tapi aku yakin sore ini ibuku akan menerima banyak telepon
yang ingin menanyakan kejadian pagi ini.
Aku terkejut ketika mendengar Ervin berteriak. “For the love of God, Olivia,
bangun, ngapain lo mohon-mohon sama dia kayak gitu? Tom, bangun nggak?
Nggak kasihan apa sama calon istri lo?”
Baron merangkak bangun sambil tetap memegang cincin itu. Berlian solitaire
yang terletak di cincin itu bersinar kerlap-kerlip.
Itu cincin paling cantik yang pernah kulihat dan cincin itu tidak akan pernah
jadi milikku. Damn it all to hell, teriakku dalam hati.
Olivia yang melihat Baron bangung langsung beridiri di sampingnya dan
mencoba memeluk Baron sambil mencoba segala upaya untuk mengontrol air
matanya. Ervin menatap berapi-api padaku.
“Ol, gue minta maaf soal ini,” lanjutku. “Gue nggak tahu tentang ini sama
sekali. Baron tiba-tiba saja muncul...,” aku mencoba menjelaskan situasiku kepada
Olivia.
Olivia menatapku sedih, tapi kulihat dia mengangguk mengerti. Aku bersyukur
dia sepertinya tidak menyalahkanku sama sekali.
“Di... please... kamu harus jujur sama diri kamu sendiri. Aku cinta kamu. Kamu
cinta kan sama aku?” teriak Baron gemas.
Aku menarik napas panjang dan tanpa memang Baron aku menjawab, “Olivia
yang cinta sama kamu Ron, bukan aku.”
“Kamu bohong. Aku tahu kamu bohong,” teriak Baron. Kini dengan nada
marah.
Aku menatap Baron terkesima. Baron marah padaku?
“Sekali lagi, aku tanya kamu, kamu cinta kan sama aku?” tanya Baron lebih
keras. Tapi suaranya sudah tidak terlalu yakin.
Aku merasakan seperti ada sebongkah es di tenggorokanku.
Kali ini aku menatap mata Baron sebelum berkata. “Sori, Ron.”
“Please, Di, jawab yang jujur,” Baron mencoba meyakinkanku.
Aku menggeleng. Ervin memandangku dengan tatapan menuduh. Ini bukan
pertama kali dia menatapku seperti itu. Mungkin sekali lagi dia menuduhku
mencari gara-gara dengan Baron.
Kemudian perhatian Ervin beralih kepada Baron. “Ron, Adri nggak cinta sama
elo,” ucap Ervin tiba-tiba.
Aku menlongo. WHAT? Ngapain sih dia ikut-ikutan mengomentari? Ini tidak
ada sangkut pautnya dengan dia. Ini antara aku, Baron, dan Olivia.
“Sayang, Adri nggak cinta sama kamu, tapi aku... aku ngagk bisa hidup kalau
nggak sama kamu,” desah Olivia.
Aku betul-betul tidak tega. Rasanya aku mau menampar Olivia agar dia sadar.
Buat apa dia mengemis cinta dari laki-laki gemblung seperti Baron? Ini Olivia,
wanita paling cantik yang pernah kukenal. Walaupun memang pagi ini dia tidak
kelihatan cantik sama sekali. Tanpa make-up dan rambut yang kelihatannya tidak
disisir, untuk pertama kalinya Olivia terlihat... biasa.
“Ol, sadar, Ol. Kalau lo mau cinta Baron, bukan gini caranya,” aku memohon
kepada Olivia. Kemudian beralih ke Baron, “Dan kamu, Olivia cainta sama kamu,
apa kamu nggak bisa lihat?” Aku tarik Baron dan Olivia lalu menggeret mereka
masuk ke rumah.
Selama hampir sepuluh tahun jadi psikolog, tidak pernah-pernahnya aku mau
menyingsingkan lengan bajuku untuk menjadi marriage counselor, karena aku tidak
mau pusing gara-gara memikirkan urusan cinta orang lain. Urusan cintaku saja
berantakan, bagaimana mau mengurusi orang lain?
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bersandiwara bagaikan aku tidak peduli
bahwa aku akan membantu laki-laki yang kucintai untuk bisa akur lagi dengan
tunangannya, meskipun hatiku hancur berkeping-keping. Aku mempersilakan
mereka duduk di ruang makan. Setelah menuangkan minum dan menghidangkan
roti untuk mereka, aku lalu memulai sesi konseling pro-bono-ku. Orangtuaku dengan
rela menghabiskan pagi itu di taman belakang.
“Sekarang lo berdua ngomong, apa sih masalah lo berdua?” tanyaku dengan
nada setenang mungkin.
Baron memandangiku, tapi aku tidak menghiraukannya karena Olivia sedang
memandangi Baron dengan tatapan penuh cinta yang sangat familier, karena itulah
tatapan yang kuberikan kepada Baron selama beberapa bulan ini.
“Aku nggak suka cara kamu mengatur hidupku,” jawab Baron sambil tetap
menghadapku.
“Ron, coba kamu bicaranya langsung ke Oli, jangan ke aku. Dan kamu pandang
dia waktu kamu sedang berbicara.”
Baron menarik napas sebelum berbicara. “Aku nggak suka cara kamu mengatur
segala sesuatu tentang hidupku.” Menuruti saranku, Baron memandangi Olivia
sewaktu berbicara padanya.
“Aku bukannya mengatur, Sayang, aku cuma mau kamu jadi orang yang lebih
baik lagi,” ucap Olivia yang juga mengikuti instruksiku dan menatap Baron.
“Apa aku masih kurang baik untuk kamu?”
“Bukan, bukan begitu... Maksud aku... daripada kita buang uang untuk bayar
sewa rumah, lebih baik kita tinggal sama orangtuaku. Setidak-tidaknya sampai ada
cukup uang untuk beli rumah.” Olivia menarik napas sebelum melanjutkan,
“Keadaan keuangan kita sekarang nggak akan cukup untuk bisa hidup di Jakarta.”
“Itu yang aku nggak ngerti sama kamu. Kalau kamu memang sudah milih aku
sebagai suami kamu, kamu harus terima aku apa adanya. Kalau memang kita cuma
punya uang untuk beli rumah yang sederhana di daerah Bogor, ya kamu harus
terima itu.” Baron melirik ke arahku yang hanya mengangguk ke arahnya sambil
mendengarkan.
Dari sudut mataku, kulihat Ervin sedang berdiri sambil menyandarkan
punggungnya ke dinding. Mmmmhhhh... aku lupa soal Ervin. Aku pikir dia sudah
pulang.
“Apa perlu kamu tiap minggu beli baju baru? Apa perlu kamu tiap tiga hari
sekali pergi ke salon untuk nge-blow rambut? Kita bisa hidup sederhana, tapi kamu
harus menyesuaikan diir. Aku terima kamu apa adanya, tapi kenapa kamu nggak
bisa?” lanjut Baron.
Dan jebol sudah bendungan air mata Olivia. Dia yang tadinya cuma terisak-isak,
sekarang sudah menangis tersedu-sedu.
Aku menyodorkan tisu yang ada di sudut meja makan. Setelah agak lebih
tenang Olivia baru bisa menjawab.
“Aku... hik hik... memang sudah milih kamu... hik... hik... dan aku bangga sama
pilihanku itu. Cuma Mama dan Papa kan sudah tua... hik... hik... aku anak satusatunya....
aku nggak mau meninggalkan mereka sendirian. Lagian juga kalau aku
harus tinggal di Bogor... hik... hik... agak-agak susah kalau aku kangen saa mereka.
Bogor terlalu jauh dari Jakarta,” akhirnya Olivia bisa menyelesaikan argumentasinya
dengan cukup mulus.
“Ya tapi Mama kamu juga selalu maksa urusan wedding kita, harus beginilah
begitulah. Kan budget-nya jadi besar, Ol.” Suara Baron yang tadinya memusuhi kini
terdengar lebih tenang.
“Tapi kan hik hik... Mama mau bantu kita, Sayang... hik... dia sudah transfer dua
puluh juta ke tabunganku untuk nambahin budget kawin.”
Pada saat itu aku sadar betul bahwa Olivia baru saja menginjak-injak harga diri
Baron. Tidak heran kalau Baron mengambil langkah seribu. Kebanyakan laki-laki
mungkin akan senang kalau calon istrinya tajir supaya mereka tidak usah
mengeluarkan uang untuk menghidupi sang istri. Tapi tidak Baron. Dia salah satu
laki-laki paling arogan yang kukenal. Dia tidak akan mau menerima sumbangan
dalam bentuk apa pun, meskipun sumbangan itu bermaksud untuk membantu.
“Itu dia yang bikin aku nggak mau nikah sama kamu. Pikiran kita nggak
sejalan.”
“Tapi kamu nggak pernah bilang kamu keberatan. Mana aku tahu?”
Kulihat Olivia menelan ludah untuk menahan tangisnya agar tidak banjir lagi.
“Kamu kan tahu aku nggak suka yang mewah-mewah. Lebih baik daripada
menghabiskan uang untuk pesta pernikahan, uangnya disimpan untuk beli rumah.”
“Kamu kan tinggal ngomong ke aku. Cuma masalah ini kok kamu sampai mau
ninggalin aku sih? Apa cinta kamu sama aku cuma sampai situ aja?”
“Aku cinta kamu, Ol, cuma kalau aku mesti hidup sama kamu dengan gaya
hidup kamu yang sekarang, aku nggak bisa. Kamu harus memilih, kamu mau aku,
atau gaya hidup kamu?”
Saat Baron mengatakan kata-kata itu, aku bisa merasakan mukaku langsung
memerah dan udara langsung terasa gerah. Mataku pun lagi-lagi terasa panas.
Ternyata dugaanku benar. Baron memang mencintai Olivia, dan aku... aku cuma
iseng.
Sialan, laki-laki memang bejat.
Aku bisa melihat tatapan Ervin kepadaku. Dari matanya kurasa dia bisa
membaca apa yang ada di pikiranku. Ya Tuhan, janganlah sampai dia tahu bahwa
aku ini cinta mati sama sobatnya.
“Maksud kamu?” tanya Olivia bingung.
“Kalau kamu ikutin aku, resepsi pernikahan kita harus di bawah dua puluh juta.
Aku nggak mau terima sumbangan dari oirangtua kamu, karena aku juga nggak
terima apa-apa dari mamaku.”
“Di bawah dua puluh juta? Mana bisa? Tamu kita banyak sekali. Belum juga jas
kamu, kebaya aku, gedung, semuanya...”
Aku lihat Olivia sudah siap menangis lagi. Aku sebetulnya agak kaget, karena
ternyata permasalahan Olivia dan Baron sangat simple. Cuma masalah uang dan
harga diri. Jelas-jelas sebagai seorang laki-laki, Baron mau dihargai sebagai provider
untuk keluarganya. Aku juga tidak pernah tahu bahwa Olivia ternyata tipe
perempuan yang gampang menangis dan materialistis.
“Kita kurangi jumlah tamunya. Pokoknya harus di bawah dua puluh juta.
Planning-nya tetap aku serahkan ke kamu. Itu penawaran dari aku. Kamu bisa
terima?”
“Kalau aku terima... hik... apa berarti kamu masih mau married sama aku?”
“Ya iyalah,” jawab Baron tidak sabaran.
“Tapi...,” Olivia mencoba untuk mencari sela-sela yang masih bisa dikompromi.
Tapi Baron rupanya sedang tidak mood untuk kompromi.
“Kalau kamu masih mikir-mikir lagi, hari ini juga kita officially putus dan aku
mau mulai dating Adri,” ucap Baron geram.
Hah???!!!!! Kenapa juga gue masih dibawa-bawa Cari mati nih orang.
Aku baru saja mau buka mulut untuk protes. Ternyata Ervin juga baru akan
melakukan hal yang sama. Tapi kami berdua dipotong oleh Olivia.
“Nggak, nggak... aku setuju,” ucap Olivia. “Tapi aku minta kamu untuk tidak
ketemu sama Adri lagi sampai kita nikah,” tegas Olivia.
“Dri, aku minta maaf soal ini, tapi bisa tolong kamu jangan mau dikontak Baron
lagi setelah hari ini? Please, Dri, aku mohon,” lanjut Olivia memohon kepadaku.
Aku ternganga mendengar komentar Olivia, tapi aku lebih kaget lagi atas
permintaannya. Baron terlihat agak-agak kaget atas permintaan itu. Dia tidak sadar
bahwa ternyata persyaratannya bisa jadi senjata makan tuan. Baron memandangku
beberapa saat.
“Ini semua gara-gara kamu, kalau kamu mau kontak aku sebelumnya,
urusannya nggak akan kayak gini.” Baron mengomeliku.
Olivia langsung memandangku bingung. Aku juga bingung, maksud dia apa
sih? Lalu aku ingat kedua e-mail yang dikirimnya. Baron menatapku tidak sabaran.
“Di... yes or no?” tegas Baron akhirnya padaku.
Aku memandang mata Baron sedalam-dalamnya, mencoba untuk telepati.
Thomas Baron Iskandarsyah, aku cinta kamu, selalu akan cinta sama kamu,
kamu sudah jadi bagian hidupku sejak aku berumur lima belas tahun. Tapi kamu
cinta sama Olivia, dan dia lebih mencintai kamu dibanding aku.
Aku tidak tahu apa pesan itu sampai ke Baron, tapi dari tatapan matanya
sepertinya sampai. “Oke,” akhirnya Baron berkata.
Aku mendengar Ervin mengembuskan napasnya. Aku berpaling padanya, yang
sedang mengacungkan kedua jempolnya kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum
lemas.
* * *
Olivia memelukku erat-erat dan mengucapkan kata thank you berkali-kali sebelum
pulang. Begitu mobil Baron menghilang dari pandangan, aku langsung masuk
rumah dan buru-buru menuju kamarku. Topeng yang kukenakan bisa kulepaskan
sekarang, aku bisa menangis sesuka hatiku. Sudah lima jam aku menahan diri agar
tidak menangis di depan semua orang. Tapi sekarang aku sudah tidak sanggup lagi
untuk menahan. Aku HARUS mengeluarkan kesedihanku, melampiaskan patah
hatiku, rasa gondokku pada diri sendiri, yang lagi-lagi kalah kalau sudah urusan
cinta, dan karena aku sudah dibesarkan dengan norma-norma hidup yang
bertentangan dengan kemauanku sehingga aku tidak pernah bisa mendapatkan
yang kuinginkan.
“Dri...,” panggil Ervin sambil memegang bahuku.
Aku tidak menghiraukannya dan tetap berjalan menuju kamarku di lantai atas.
“Dri,” sekali lagi Ervin mencoba mendapatkan perhatianku. Kali ini dia
menggapai tanganku. Aku mengentakkan tangan Ervin dari pergelanganku.
“Just give me a minute, will you?” ucapku pelan tanpa menghadap Ervin dan
langsung masuk ke kamarku dan menutup pintu.
Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower dengan air dingin
lalu duduk di bawahnya sampai semua bajuku basah. Aku mencoba menangis
dengan mengeluarkan air mata, tapi tidak ada setetes pun yang keluar. Dan itu
semakin membuatku sengsara. Dadaku sudah mau meledak.
Aku tidak tahu kapan Ervin masuk ke kamarku, tapi tahu-tahu dia sudah
duduk di sampingku. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia juga tidak
mencoba untuk menyentuhku sama sekali. Aku tidak tahu berapa lama kami duduk
seperti itu, tapi akhirnya aku bersuara, “Kok Olivia bisa datang bareng elo sih?”
tanyaku tanpa menatap Ervin.
Beberapa jam yang lalu karena terlalu panik ketika melihat Olivia, aku tidak
memikirkan adanya kejanggalan bahwa Olivia bisa muncul bersama-sama dengan
Ervin, tapi setelah semuanya lebih tenang, aku menyadari hal ini.
Ervin mengembuskan napasnya, seakan-akan lega bahwa akhirnya aku
mengeluarkan suara juga, sebelum menjawab, “Pagi-pagi jam tujuh Olivia telepon
gue buat nanya apa Baron ada sama gue. Waktu gue bilang nggak, dia terus nanya
apa gue tahu alamat rumah lo. Gue tanyalah apa urusannya sampai Baron perlu
pergi ke rumah lo segala. Olivia langsung histeris di telepon, intinya dia bilang
kalau mereka habis berantem besar tadi malam dan Baron mutusin pertunangan
mereka. Gue nggak pasti persisnya gimana, Olivia berkesimpulan Baron bakalan
langsung lari ke elo. Gue tahu perasaan elo berdua satu sama lain, jadi gue langsung
minta dia untuk ketemu sama gue di jalan supaya kita bisa pergi barneg-bareng ke
sini.”
Aku hanya mendengarkan ini semua sambil menyandarkan kepalaku ke
dinding dan menutup mataku. Ervin mungkin tidak tahu apa yang sudah terjadi di
antara aku dan Baron, tapi sepertinya tidak begitu halnya dengan Olivia. Satusatunya
penjelasan yang bisa keluar dari kepalaku bagaimana Olivia bisa
berkesimpulan seperti itu adalah Baron sudah menceritakan kejadian tempo hari
kepada Olivia. Dan lain dari pikiranku, sepertinya Ervin tahu betul tentang
perasaanku kepada Baron, sehingga dia bisa menyambungkan titik-titik yan guntuk
orang lain mungkin hanya terlihat berantakan.
Aku tidak tahu apa yang harus aku rasakan ketika mendengar ini semua. Aku
tidak bisa menangis, apa aku harus tertawa saja dan menganggap bahwa ini semua
hanyalah suatu hiburan? Kuletakkan kedua tanganku untuk menutupi mataku.
Nggak, ini bukan hiburan.
“Dri, elo nangis?” tanya Ervin pelan. Dan entah karena suaranya atau nadanya,
aku langsung menangis tersedu-sedu. Semua kekecewaanku bisa kutumpahkan.
Ervin hanya memelukku dengan sabar.
“It’s okay, it’s okay... I’m here... I’m here....” Itu saja yang perlu dia katakan dan aku
menangis semakin keras. Selama beberapa menit dia hanya terdiam dan tetap
memelukku. Aku juga tidak mampu melepaskan cengkeramanku di bahunya.
Untuk pertama kalinya aku merasa terlindungi oleh Ervin. Ervin yang sempat
membuatku menangis tersedu-sedu kemarin malam.
“Gue matiin shower-nya, ya,” bisik Ervin padaku setelah tangisku agak reda.
Aku mengangguk. Dia mematikan shower yang gagangnya memang berada
persis di atas kepalaku.
“Bisa berdiri?” tanyanya lagi.
Aku lagi-lagi mengangguk. Tapi ketika aku mencoba bangun, rasa sakit
menjalar ke sekujur tubuhku yang ternyata berasal dari kram di kaki kananku.
“Kenapa, Dri?” tanyanya panik.
Aku tidak bisa menjawab karena kakiku masih kram. Seolah berat tubuhku
hanya satu kilogram, bukannya lima puluh, Ervin langsung menggendongku kelaur
dari kamar mandi dan mendudukkanku di atas tempat tidur. Aku tahu bedcover-ku
jadi basah karenanya, tapi aku tidak peduli. Ervin menghilang sebentar dan kembali
dengan membawa dua handuk besar. Dia memintaku berdiri dengan menggunakan
tubuhnya sebagai penyangga sebelum menyingkapkan bedcover di satu sisi tempat
tidurku dan mengalasi tempat tidurku dengan satu handuk sebelum memintaku
untuk duduk kembali di atas handuk yang telah ditebarkannya di atas seprai.
Kemudian Ervin mulai mengeringkan sekujur tubuhku. Bermula dari kepala hingga
kaki dengan handuk yang satu lagi. Setelah semua cukup kering dia langsung
menyelimuti bahuku dengan bathrobe yang tadinya tergantung di pintu kamar
mandi. Dia kemudian mematikan AC kamarku dan membuka jendela besar yang
menghadap ke balkon.
“Lo harus ganti baju, kalau nggak nanti masuk angin.” Tiba-tiba dia sudah
menyodorkan satu set kaus dan celana training, juga pakaian dalam kering yang
diambilnya dari lemariku.
Ervin langsung menyibukkan diri dengan menarik bedcover-ku dan membawanya
keluar untuk dijemur di balkon. Walaupun sulit, aku mencoba melepas kausku
yang basah, juga pakaian dalamku.
Setelah selesai berpakaian, aku meringkuk di tempat tidur. Ervin masuk dan
buru-buru menyelimutiku dengan selimut. Aku lihat Ervin membereskan baju-baju
basahku dan menaruhnya di keranjang di kamar mandi. Kemudian dia keluar dari
kamarku sambil menggumam, “I’ll be right back.”
Aku baru sadar beberapa saat kemudian bahwa Ervin juga pasti basah kuyup.
Ya ampuuuunnnn... kasihan banget tuh anak. Beberapa lama kemudian dia masuk
kembali ke kamarku dan sudah mengenakan baju yang kering. Aku tahu dia selalu
membawa pakaian ganti di bagasi mobilnya untuk keadaan darurat. Ervin adalah
salah satu orang paling efisien yang kukenal. Dia selalu siap untuk menghadapi
situasi apa pun.
“Vin...,” panggilku di antara bantal-bantal dan selimut yang menutupi tubuhku
yang masih kedinginan.
“Ya, Dri?” tanya Ervin yang berjalan ke arahku, lalu berlutut di sampingku.
“Makasih ya,” ucapku pelan.
Ervin hanya tersenyum dan membelai rambutku yang masih agak basah.
“Could you...” Aku menghentikan diriku sebelum mengatakan kata-kata itu.
Could you stay for a while? Karena takut terdengar terlalu memaksa.
Tapi seperti membaca pikiranku Ervin mengangguk. Dia menarik kursi ke
samping tempat tidurku dan mencoba menghangatkan tanganku yang memang
masih terasa dingin dengan menggenggamnya di antara kedua telapak tangannya
dan mulai menggosoknya. Aku baru sadar bahwa tangan Ervin terasa sangat
hangat. Tak lama aku pun tertidur.
Ketika terbangun beberapa jam kemudian, Ervin sudah hilang dari kamarku.
Aku masih bisa mencium baunya. Aku mengembuskan napas, merasa kehilangan.
Saat itu aku sadar bahwa aku melihat sisi lain dari Ervin. Sisi yang membuat semua
perempuan tergila-gila padanya, ternyata bukan hanya karena wajah Dewa Yunaninya,
tapi karena pada dasarnya, Ervin adalah orang baik.
15. TAHAP PENYEMBUHAN
MALAM itu aku menghindar ketika orangtuaku ingin membahas kejadian tadi pagi.
Aku tidak bisa memberikan penjelasan apa pun kepada mereka. Aku tahu bahwa
orangtuaku tahu Ervin menemani aku di kamarku, tapi mereka tidak mengucapkan
sepatah kata pun tentang itu dan aku tidak menawarkan penjelasan. Untung saja
kantorku libur hingga hari Rabu karena Natal, membuatku punya waktu untuk
mengistirahatkan pikiranku yang sedang tidak keruan. Aku bisa merasakan gejala
flu mulai menyerangku. Malam itu Ervin meneleponku untuk memastikan apakah
aku baik-baik saja dan meminta maaf karena harus meninggalkanku sebelum aku
bangun karena ada acara keluarga malam itu. Dia terdengar agak khawatir.
Selama beberapa hari Baron tidak menghubungiku sama sekali. Sepertinya dia
akan menepati janjinya pada Olivia. Meskipun aku tahu bahwa aku sudah
melakukan hal yang benar, tapi hatiku terasa remuk. Hampir setiap malam aku
pergi tidur sambil menangis. Mataku membengkak, tampangku kacau-balau,
sehingga membuat orangtuaku khawatir. Tapi aku meyakinkan mereka bahwa aku
hanya terkena flu. Pada Hari Natal aku dan orangtuaku pergi ke rumah kakakku
yang merayakan ulang tahunnya yang ke-33. Kakakku yang melihat keadaanku
langsung khawatir juga. Aku yakin orangtuaku sudah menceritakan kejadian hari
Minggu itu. Tapi Mbak Tita tidak menanyakan apa-apa padaku.
Selama liburan Natal, daripada menghabiskan waktunya bersama keluarga,
Ervin justru ada di rumahku dan menghabiskan liburan dengan keluargaku.
Orangtuaku tidak berkeberaan sama sekali karena mereka kini telah cukup
mengenal Ervin. Sedangkan aku sendiri juga tidak berkeberatan karena sejujurnya,
ternyata Ervin cukup menghibur. Hubunganku dengan Ervin berangsur membaik.
Ervin tidak pernah menyinggung soal Baron, dan aku pun tidak membahas perkara
itu. Ervin juga tidak menyinggung mengenai kejadian aku menciumnya atau aku
melarikan diri ketika bertemu dengannya di pernikahan Alya. Aku juga puas hanya
dengan berdiam diri.
Hari Kamis sewaktu aku seharusnya sudah masuk kantor lagi, Ervin
menanyakan apa aku perlu dijemput dan diantar pulang olehnya. Tapi aku menolak
dan memilih naik taksi. Aku tidak bisa membawa mobil sendiri karena akhir-akhir
ini terlalu sering tiba-tiba menangis tanpa sebab kalau sedang sendirian. Daripada
nanti kecelakaan, aku lebih pilih safety.
Hari pertama aku kembali bekerja, ketika semua orang kantor sudah pulang,
aku menemukan diriku sendirian di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh.
Aku harus pulang tapi aku justru menutup pintu ruanganku, duduk bersila tanpa
sepatu di kursi kerjaku sambil menghadap jendela dan mulai menangis sejadijadinya.
Aku mendengar ketukan, tapi tidak kuhiraukan. Aku pikir itu pasti Mr.
Bron, alias Brondong, salah satu office boy di kantorku yang nama aslinya adalah
Bejo. Tapi kemudian aku mendengar pintu ruanganku dibuka.
Aku mencoba untuk menghapus bekas-bekas air ata di wajahku.
“Kok belum pulang, Jo?” tanyaku sambil memutar kursiku untuk menghadap
pintu.
Ternyata bukan Bejo yang aku temui, tapi Ervin. Melihat wajahku yang merah
dan mataku yang bengkak dia langsung tahu aku haibs menangis.
“Dri... mmmmhhhh... gue lihat lampu ruangan lo masih nyala. Gue cuma
mau...”
Dia tidak melanjutkan kata-katanya dan hanya tersenyum sedih melihat
keadaanku.
Aku mencoba untuk tersenyum. “Iya, gue juga baru mau pulang,” ucapku dan
buru-buru membereskan mejaku mencoba mengalihkan perhatian Ervin dari
wajahku.
Setelah kejadian hari Minggu di kamar mandi itu Ervin memang tidak pernah
melihatku menangis lagi. Setidak-tidaknya dia berusaha keras untuk menghiburku
agar aku tidak menangis lagi. Selama itu pula aku berpura-pura tegar dan
bertingkah laku bagaikan kejadian dengan Baron tidak berdampak apa-apa padaku.
Tapi malam itu aku mengaku kalah, dan aku tidak peduli bahwa Ervin
memergokiku sedang menangis.
Tiba-tiba Ervin sudah berdiri di sampingku, menggenggam tanganku dan
memelukku.
“Vin, I’m fine, you don’t have to do this,” ucapku sambil mencoba untuk
melepaskan diri dari pelukannya.
“No,” jawabnyas ingkat dan tetap memelukku.
“Really, I’m fine,” bujukku sekali lagi. Tapi Ervin justru mengeratkan
pelukannya.
“Lepas,” ucapku lagi, kini dengan nada lebih serius.
“Nggak, Dri.”
“Lepasin, lepas... Ervin lepasin!!!” Kini aku mulai berteriak panik. Tapi Ervin
tetap memelukku. Akhirnya bendungan air mataku meledak, dan aku tersedu-sedu
sambil sebisa mungkin berpegang erat pada Ervin.
“Gue cinta sama Baron, Vin. Kenapa gue nggak bisa sama dia?” ucapku di
tengah tangisanku.
“I know,” ucapnya pelan.
“I can’t do this,” tangisku.
“Lo bisa, lo pasti bisa.”
“Gimana lo bisa tahu, lo nggak pernah patah hati,” ucapku dengan keras kepala.
Ervin tidak mengatakan apa-apa, hanya tetap memelukku.
Aku tidak tahu berapa lama aku berada di pelukannya, tapi pasti sudah cukup
lama karena bekas-bekas air mata sudah mengering di pipiku. Aku mengangkat
kepalaku dari dada Ervin dan memandangnya. Ervin pun memandangku dengan
memegang kepalaku di antara kedua belah tangannya yang besar itu. Kemudian dia
mulai menciumku perlahan-lahan. Mulai dari kening, kedua mataku yang masih
agak basah, pipi, dan hidung. Ervin berhenti sesaat untuk menatap mataku yang
mungkin terlihat bingung dan kaget. Lalu pandangannya jatuh ke bibirku, dan dia
terlihat ragu.
“Mobil lo di mana?” tanya Ervin setelah beberapa menit di keheningan.
“Di rumah. Gue naik taksi ke kantor.”
“Mau gue antar pulang?”
Aku mengangguk. Ervin melepaskanku. Dia berdiri sejauh mungkin dari aku.
Wajahnya terlihat serius ketika menungguku membereskan barang-barang. Aku
menunggu dia mengatakan sesuatu, tapi tidak ada satu patah kata pun yang keluar
dari mulutnya.
* * *
Keesokan paginya aku terlalu lelah dan cranky untuk pergi ke kantor sehingga
meminta izin sakit. Pat yang mendengar suaraku yang memang agak-agak serak
langsung maklum dan minta aku untuk pergi ke dokter dan beristirahat hingga
sembuh.
Pukul sembilan pagi Ervin meneleponku untuk menanyakan keberadaanku
karena dia tidak melihatku di kantor. Aku memakai alasan kelelahan. Selama satu
hari penuh aku tidak keluar kamar, aku hanya makan Cadbury sebanyakbanyaknya
dan memutar hampir semua DVD romantis yang kumiliki, mulai dari
“Pretty in Pink” hingga “27 Dresses”. Tapi rupanya Molly Ringwald dan Katherine
Heigl tidak bisa menyelamatkanku. Akhirnya aku hanya terbaring di tempat tidur
sambil memandangi langit-langit kamarku. Orangtuaku tidak menggangguku sama
sekali karena setahu mereka aku memang masih sedikit flu.
Pukul enam sore Ervin memasuki kamarku untuk melihat kondisiku dengan
menjinjing satu kantong plastik berisi stroberi, buah kesukaanku. Ketika melihat
kamarku yang gelap dan tubuhku yang meringkuk di atas tempat tidur, Ervin
langsung menarikku turun dari tempat tidur.
“Addduuuuhhhhhh sakit, Vin,” ucapku sambil meraba pergelangan tanganku
yang merah karena cengkeraman ganas Ervin.
“Bagus, itu berarti lo masih sadar. Pak baju, Dri, kita pergi ke Lembang malam
ini juga,” perintahnya sambil mulai membuka-buka laci dresser dan mengeluarkan
beberapa kausku.
“Lo ngapain sih?” tanyaku sebal sambil mencoba menata kaus-kausku kembali
pada tempatnya.
“Gue mau bawa lo liburan. Gue udah minta izin ke bonyok lo,” ucapnya
singkat.
“Gue nggak butuh liburan,” teriakku.
“Ayo, jalan!” geramnya balik padaku.
Kaget atas geramannya, aku hanya bisa melongo beberapa saat.
“Apa mau gue bilang ke orangtua lo supaya ngebawa lo ke rumah sakit?”
tanyanya.
Mendengar kata orangtuaku disebut-sebut aku langsung ngamuk.
“Bilang saja ke mereka, memang gue pikirin,” balasku sambil melangkah
kembali ke tempat tidurku. Aku sebenarnya hanya menggertak. Tapi Ervin tahu
sifatku dan menggertak balik.
“Oke,” ucapnya lalu membuka pintu kamar.
Aku yang melihat dia ternyata benar-benar mau mengadu ke orangtuaku
tentang kondisiku yang sebenarnya langsung panik dan menarik tangannya.
“Eh, jangan! Oke, gue ikut elo! Kasih gue waktu setengah jam.”
Aku buru-buru ngacir ke kamar mandi.
Satu jam kemudian kami sudah dalam perjalanan menuju Lembang. Ervin
menceritakan padaku bahwa dia berkata kepada orangtuaku ada acara kantor yang
harus dihadiri di Lembang pada hari Sabtu pagi, makanya aku harus pergi malam
itu juga. Orangtuaku bahkan tidak menanyakan di mana aku akan tinggal. Mereka
terlalu terkesima dengan tingkah laku Ervin yang akhir-akhir ini selalu muncul di
saat aku memerlukannya. Aku hampir tidak pernah berbohong kepada orangtuaku,
kecuali untuk hal-hal yang bisa membuat mereka pingsan kalau mendengar
kenyataannya. Dan inilah salah satu keadaan di saat mereka lebih baik tidak tahu
tentang keadaanku yang sebenarnya.
“Lembang bukannya ramai akhir minggu ini? Kan mau Tahun Baru?” tanyaku
membuka pembicaraan.
“Gue ada kenalan yang punya hotel, dia bisa kasih kita tempat,” jelas Ervin
singkat.
Aku hanya membentuk mulutku menjadi “O” sambil manggut-manggut.
Stereo di mobil Ervin sedang melantunkan “Dirty Little Secret” milik The All
American Rejects. Aneh, aku tidak pernah tahu Ervin suka band rock ABG.
Mmmmhhhh, dirty little secret. Sepertinya itu yang harus kukerjakan akhir minggu
ini. Mengerjakan sesuatu yang gila untuk menghapus wajah Baron dari kepalaku
dan rasa patah hatiku ini.
Kami tiba di Lembang jam sebelas malam karena tol Cikampek ternyata padat
sekali. Kukira sewaktu Ervin mengatakan “tempat” yang dimaksud adalahd ua
kamar hotel, paling maksimum mungkin suatu suite. Tapi ternyata kami dibawa ke
sebuah cottage dengan empat kamar. Hotelnya sendiri juga ternyata adalah salah
satu hotel termahal di Lembang. Aku langsung memilih satu kamar yang paling
jauh dari Ervin.
Pukul satu pagi, ketika barang-barang sudah di-unpack dan aku sudah berbaring
di atas tempat tidur, taktik untuk meluncurkan ide dirty little secret-ku mulai
terbentuk. Aku baru saja selesai merencanakan langkah pertamaku untuk
melupakan Baron, yaitu: Get real drunk and start making out with some random guy.
Tiba-tiba aku mendengar langkah Ervin terhenti di luar pintu kamarku. Tapi dia
tidak mengetuk dan beberapa menit kemudian kudengar langkahnya kembali
menuju kamarnya. Untuk pertmaa kali selama beberapa hari, aku bisa tertidur
sambil tersenyum.
* * *
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Setelah menelepon orangtuaku, aku pun pergi
keluar cottage untuk jalan-jalan pagi. Aku tidak peduli Ervin masih tidur. Kalau
memang mau berburu laki-laki, aku harus mengerjakan ini sendiri. Aku hanya
membawa kunci kamar dan saputangan ketika keluar dari cottage.
Cuaca di luar cukup dingin, tapi tidak sampai membuatku menggigil. Aku
menghirup udara segar Lembang yang bersih dan bebas polusi. Perlahan-lahan aku
mulai berjalan menuju bangunan utama hotel. Ternyata sudah banyak tamu yang
sedang berolahraga, beberapa dari mereka cute juga.
Nice butt, pikirku ketika ada dua cowok bule lari melewatiku. Kaus yang mereka
kenakan sudah basah kuyup karena keringat. Lalu ada segerombolan anak-anak
dengan rollerblade meluncur ke arahku. Aku memilih jalan yang agak menanjak
karena itu bisa lebih cepat membakar kalori. Mungkin habis ini aku mau ke gym
untuk mulai latihan cardio agar perutku tidak kelihatan terlalu buncit, habis itu
mungkin berenang. Tapi baru berjalan selama setengah jam aku sudah kelelahan,
untung saja aku sudah hampir sampai di bangunan utama. Aku langsung menuju
ke restoran hotel untuk sarapan. Aku tidak memikirkan bahwa Ervin mungkin
sekarang sedang mencariku. Bodo amat deh. Siapa suruh memaksa orang yang
sedang tidak mau diganggu untuk pergi ke Lembang?
Aku memasuki restoran dengan kaus yang sudah agak basah dengan keringat.
Wajahku sudah aku sapu dengan saputangan sehingga tidak berkeringat lagi, tapi
rambutku sudah menempel di kulit kepalaku. Aku tidak peduli. Kalau aku harus
kembali ke cottage untuk mandi dan mengganti pakaian sebelum ke restoran, aku
bisa telanjut mati kelaparan.
Ketika sedang berjalan mengelilingi meja buffet, aku menyadari bahwa ada tiga
laki-laki yang duduk di salah satu meja di dekat jendela sedang memperhatikanku.
Mungkin mereka sedikit bingung melihat perempuan sedang sarapan sendirian di
restoran hotel beberapa hari sebelum Tahun Baru. Lagi-lagi, bodo amat. Aku
mengambil tiga chocolate chip waffles dan menyiramkan sirup maple di atasnya, serta
segelas besar orange juice. Aku memilih untuk duduk di salah satu meja khusus
untuk dua orang di dekat dinding. Aku mulai melahap sarapanku dengan santai.
Lagi-lagi ketiga laki-laki tadi memandangiku dengan lebih saksama. Aku tersenyum
ke arah mereka.
Aku memfokuskan diri pada potongan waffle yang kedua. Tiba-tiba aku melihat
salah seorang dari ketiga laki-laki tadi mendatangiku. Aku hampir saja tersedak
potongan waffle yang baru masuk mulutku.
Mudah-mudahan laki-laki ini tidak menginterpretasikan senyumku tadi sebagai
suatu undangan untuk hal-hal yang tidak-tidak, pikirku.
“Excuse me,” ucap laki-laki itu padaku ketika dia sudah berdiri di depan mejaku.
“Ya?” tanyaku bingung.
“Adri, kan?” tanyanya.
Aku mengangguk. Lho kok nih orang bisa tahu namaku ya? Aku jelas-jelas tidak
mengenalnya. Tapi tunggu... Oh my God, dia ini... aduhhhhh siapa namanya? Aku
kenal dia... siapa namanya?
“Aku Eddie, ingat nggak? Aku pernah datang ke rumahmu pas pesta Natal
beberapa tahun yang lalu....”
“Oh my God, iya, aku ingat. Maaf, tadi aku tidak mengenalimu, soalnya kamu...
beda,” ucapku ketika memoriku mulai kembali. Eddie Tan adalah salah satu orang
Cina-Malaysia yang rekan kerja Vincent. Orangnya cukup baik, bahkan terkadang
suka kocak.
“Sori, maksudku... kami... tidak bermaksud mengamatimu tadi, tapi kupikir aku
kenal kamu saat kamu masuk tadi.” Eddie melambaikan tangannya pada kedua
temannya.
Aku tertawa. “It’s alright. Kalian lagi liburan?” tanyaku sambil melambaikan
tangan kepada teman-teman Eddie dan mempersilakan Eddie duduk di kursi di
depanku.
“Iya. Ini liburan khusus cowok. Aku akan menikah April besok...”
“Wow! Selamat ya!”
“Mmm... aku sudah dengar soal kamu dan Vincent. I’m sorry about that,”
ucapnya penuh simpatia.
“Ah... nggak pa-pa kok. Lagi pula, itu sudah lama lewat.”
“Kau tau kan dia menikah dengan orang Malaysia?” tanyanya.
“Yeah, Farah, right?”
“Ya, kok tahu?” tanya Eddie kaget.
“Vi ngasih tahu aku,” balasku.
“Oke... tapi kamu tahu mereka sudah pindah ke KL?”
“What??!! Bercanda kamu?”
Eddie menggelengkan kepalanya. “Vincent sudah mulai kerja di sana bulan
lalu.”
“Oh my God, dia tidak bilang-bilang soal ini, tapi yah... rasanya aku lupa
membalas e-mail terakhirnya,” ucapku sambil tertawa, mengingat bahwa aku
menerima e-mail terakhir darinya sekitar tiga bulan yang lalu.
“Vincent pasti kesal kalau kuberitahu aku bertemu denganmu di sini. Dia
tadinya mau datang, tapi terlalu sibuk mengurus soal pindahan.”
“Ah, kurasa dia nggak bakalan marah,” ucapku.
“Hei, kamu sendirian di sini?”
“No, aku sama temna, tapi dia masih tidur,” jelasku.
“Well, kamu ada rencana malam ini? Aku dan teman-temanku akan merayakan
saat-saat terakhir kebebasanku di bar nanti malam. Kau dan temanmu datang saja.
Aku yang traktir minum.”
“Serius?”
Eddie mengangguk.
“Jam berapa?” Aku antusias juga dengan rencana malam ini.
Tiba-tiba aku melihat Ervin berjalan ke arahku dengan wajah merah padam. Uhoh,
sepertinya dia akan ngamuk karena aku pergi tidak bilang-bilang.
“Sekitar jam sembilan, setelah makan malam. Bagaimana?” jawab Eddie.
“Jam sembilan oke. Ada dress code?”
“Pakai sesuatu yang... well, comfortable. We gonna party till dawn.” Eddie
mengucapkannya sambil bergaya seperti John Travolta di “Pulp Fiction”.
“Oke, I’ll see you at nine then,” ucapku buru-buru sambil tertawa karena Ervin
sudah hampir sampai ke mejaku.
Eddie lalu berdiri, siap meninggalkan mejaku dan hampir saja bertabrakan
dengan Ervin yang menatapnya dengan sangar.
“Where the hell were you?” geram Ervin ketika Eddie sudah berlalu. Dia berusaha
menahan teriakannya.
“Well, good morning to you too,” balasku santai.
“Gue bangun lo sudah hilang, gue tungguin nggak balik-balik. Gue cari ke
mana-mana nggak ada, mana HP ditinggal, lagi. Nggak tahunya di sini lagi makan,”
omelnya panjang-lebar.
“Waffles?” tanyanya mengabaikan omelannya sambil memindahkan piringku ke
hadapannya.
Hari ini pokoknya aku menolak untuk bertengkar dengan siapa pun. Aku tidak
mau merusak suasana hatiku yang sudah lumayan happy.
“Vin, hari Senin gue mesti kerja lho. Kita musti balik besok pagi.”
“Senin kan hari kejepit, lo minta libur saja deh sama Pat. Divisi gue saja diliburin
kok.”
“Enak saja lo, Pat mana bisa kerja kalau nggak ada gue?”
“Ya bilang saja lo masih sakit. Gimana kek. Sekali-sekali bohong sama Bos kan
nggak apa-apa, Dri.”
“Lo nantangin gue?” tanyaku.
Ervin agak kaget dengan pertanyaanku. Maksud hatiku adalah supaya kata-kata
itu keluar dengan nada galak, tapi malah justru terdengar menggoda.
Ervin mengeluarkan BlackBerry dari celana jinsnya dan menyodorkannya
kepadaku.
“Nggak usah, nanti gue telepon pakai HP gue. Lagian nggak ingatlah gue
nomornya Pat.”
Ervin memandangiku dengan tatapan menantang.
“Oh ya, nanti malam lo mau ikutan nggak party sama gue?” tanyaku
mengalihkan pembicaraan.
“Party?” tanya Ervin sambil menusukkan garpu ke waffle yang aku sodorkan
kepadanya dan mulai makan.
“Bachelor party-nya Eddie.”
“Eddie?” tanya Ervin dengan mulut penuh. Melihat tampangnya dengan mulut
penuh tapi masih mencoba untuk berbicara, aku jadi ingat ikan mas koki.
“Itu tuh, cowok yang tadi duduk sama gue.” Saat itu pasukannya Eddie sudah
selesai sarapan dan melambaikan tangan. Eddie mengacungkan jari-jarinya
menunjuk angka sembilan. Aku mengangguk dan melambaikan tanganku.
Setelah menelan potongan waffle yang cuku pbesar dan menghabiskan orange
juice-ku Ervin bertanya, “Dia siapa sih?”
“Teman pac... eh... teman gue waktu di D.C.,” ucapku akhirnya. Kalau aku
sampai harus menceritakan tentang Vincent bisa jadi panjang urusannya.
“Memang gue diundang?”
“Ya iyalah diundang, Jabrik. Kalau nggak ngapain gue ajak elo? Enakan juga
pergi sendiri biar bisa ngegaet cowok. Daripada nongol sama elo, prospek gue bisa
garing.”
Ervin memandangku curiga. “Prospek?”
“Iya prospek, ngaku deh. Lo bawa gue ke sini untuk nenangin gue supaya gue
bisa lupa sama Baron, kan? Ya sudah, ini gue lagi mau usaha untuk ngelupain dia.”
Aku berdiri dan berjalan menuju meja prasmanan untuk mengambil dua lembar
French Toast dan segelas susu. Rupanya Ervin menunggu hingga aku sampai di meja
sebelum ngembat salah satu rotiku.
“Aduhhhh... ambil sendiri deh,” omelku.
Tapi Ervin sepertinya tidak peduli. Lagi-lagi dia minum susuku sampai habis.
Tapi kini dia berdiri dan mengisi dua gelas lagi.
Setelah sarapan aku menolak paksaan Ervin untuk pergi ke Dago. Bodo deh, beli
baju kan bisa di Jakarta, ngapain amat mesti beli di Bandung? Lagian juga tubuhku
tidak akan tahan untuk melalui jalan yang berliku-liku seperti tadi malam. Akhirnya
Ervin pun tidak jadi pergi ke Dago dan menghabiskan sisa pagi itu dengan
menonton TV. Kubiarkan Ervin dengan HBO-nya, sementara aku menyibukkan diri
untuk memilih-milih baju yang akan kukenakan malam itu. Setiap perempuan pasti
ada sisi slutty-nya, dan aku berencana mengeluarkannya full force malam ini. Aku
memutuskan untuk menggunakan atasan warna hijau dengan plunging neckline,
tanpa ritsleting. Atasan itu tanpa lengan, jadi aku terpaksa mengenakan kardigan
supaya tidak kedinginan.
Aku dan Ervin pergi makan siang di restoran hotel jam setengah dua. Lalu aku
menemaninya nonton TV. Aku meninggalkan Ervin untuk mandi jam setengah
enam. Jam setengah tujuh Ervin sudah mengetuk pintu kamarku.
“Dri, makan yuk.”
Aku keluar dari kamarku dan bertatapan dengan Ervin yang memandangku
dengan mulut ternganga. Tidak pernah aku melihat reaksi seperti ini di wajah Ervin.
Apalagi penyebab utama reaksinya adalah aku. Dia memandangiku mulai dari
kakiku yang hanya mengenakan sandal warna biru langit, rok jinsku sebatas
dengkul dengan belahan depan, dan atasan hijauku yang kututupi dengan kardigan.
Ervin menggunakan baju serbaputih. Celana panjang yang longgar dari bahan goni,
kemeja putih, dan sandal. Cukup biasa, tapi tetap... ganteng.
“Yuk,” ucapku santai.
Ervin tidak memberikan komentar apa-apa dan berjalan bersamaku.
Kami memutuskan untuk makan malam di bar hotel malam itu. Ketika
memasuki bar aku sadar bahwa banyak orang yang tiba-tiba memperhatikan kami.
Aku agak-agak risi. Ya ampun, dandananku pasti salah, pikirku dalam hati. Tapi
sudah terlambat, aku tidak mungkin kembali lagi ke cottage untuk ganti baju. Ervin
juga rupanya sadar bahwa orang-orang di bar sedang memperhatikan kami karena
dia langsung menggandeng tanganku.
Ketika sedang menikmati makan malam, tiba-tiba ada waiter yang mendatangi
meja kami sambil membawa segelas Dirty Martini.
“Mbak, ini dari cowok yang duduk di bar itu,” ucap si waiter sambil menunjuk
ke seorang laki-laki bule yan gdari tadi memang berusaha mendapatkan
perhatianku tapi tidak kuhiraukan.
Aku mengangkat gelas itu ke arahnya dan meminum seteguk. Ervin langsung
memelototiku.
“Lo ngapain sih?” geramnya.
“Minum,” jawabku singkat.
“Dri...” Dari nadanya aku tahu Ervin sedang mencoba untuk mengingatkanku
agar tidak terlalu ramah pada laki-laki yang tidak kukenal.
Aku belum sempat menenangkan Ervin ketika Eddie dan rombongannya tiba.
Aku buru-buru menyambut mereka.
“Hey, Eddie, meet my friend. This is Ervin. Vin, ini Eddie,” ucapku
memperkenalkan mereka. Aku belum sempat memperkenalkan mereka di restoran
tadi pagi karena wajah Ervin terlihat sangat sangar untuk bisa dikenalkan sebagai
temanku. Kemudian Eddie memperkenalkan dua temannya, Zach dan Othman.
Jelas-jelas Othman adalah keturunan Melayu Malaysia, kok dia mau sih masuk ke
bar? Mmmmhhhh liberal juga. Beberapa jam kemudian aku sadar seberapa
liberalnya Othman itu.
Sepanjang malam Ervin kelihatan cukup ramah terhadap teman-temanku, tapdi
dia menatap dingin kepadaku. Dari Eddie, Ervin akhirnya mengetahui sejarahku
dengan Vincent. Ketika kami meninggalkan bar malam itu, cuma tinggal Zach dan
aku yang masih sadar. Ervin kelihatan cukup sadar, tapi matanya merah
kebanyakan minum tequilla shots dengan Eddie dan Othman. Aku dan Zach memilih
minum Corona, karena kami berdua ternyata memang tidak biasa minum.
* * *
Aku dan Ervin masuk cottage sekitar pukul empat pagi. Aku sudah hampir
memenuhi langkah pertamaku untuk get drunk and make out with some random guy
sebelum Ervin menarikku dari pelukan seorang laki-laki bule yang mencoba
menciumku. Damn it.
“Cowok tadi sempat mencium lo nggak?” tanya Ervin ketika aku sedang
menyalakan salah satu lampu sambil melepaskan kardiganku.
“Cowok yang mana?” tanyaku cuek sambil melepaskan sandalku.
“Cowok yang mendorong lo ke dinding itu,” Jawabnya dengna nada meninggi.
“Nggak, nggak jadi, elo sih ganggu, kalau nggak kan pasti sudah jadi.”
“Maksud lo?”
Aku menghadap Ervin sambil bertolak pinggang.
“Langkah pertama untuk melupakan Baron, get drunk and make-out with some
random guy.”
“Lo bercanda.”
“Nope, I am dead serious. Gara-gara elo, jadinya gue nggak bisa menyelesaikan
langkah pertama. Besok gue mesti cari cowok lain.”
Ervin memandangiku bingung. Aku buru-buru menambahkan, “Iya, biar selesai
langkah penyembuhannya.”
“Lo drunk?”
Aku berpikir sejenak, lalu menghadap Ervin. “Sedikit, hehehe... Lo malahan
yang kelihatan slammed,” ujarku sambil tersenyum. Aku menolak bertengkar
dengannya.
Humorku pun tertular ke Ervin. “I’m fine. I have a good buzz,” jawabnya sambil
nyengir iseng. Matanya mulai bersinar-sinar.
“Okay then, gue mau tidur...”
Aku baru akan melangkah ke kamarku ketika Ervin menggapai tanganku.
“Can I do it?” tanya Ervin sambil mendekatkan dirinya padaku. Aku mundur
selangkah dan punggungku menabrak dinding.
“Do what?” tanyaku bingung.
“Making-out sama elo.”
Aku terdiam sesaat, mencoba mencerna kata-katanya. “Ya nggak bisalah, lo kan
bukan some random guy. I need some random guy,” balasku akhirnya masih dengan
humor.
“I can be random.” Ervin menutup jarak tiga puluh sentimeter yang memisahkan
tubuhku dengan tubuhnya.
“Definisi dari random guy adalah laki-laki yang gue nggak kenal dan nggak akan
ketemu lagi setelah gue cium,” balasku sambil mencoba tidak menahan napas ketika
sadar bahwa mata Ervin malam itu kelihatan superseksi. Semua selera humorku
telah hilang, diganti dengan rasa ragu.
“Ya lo pura-pura saja nggak kenal sama gue untuk beberapa menit. Dan gue
janji, besok gue nggak akan ngomongin masalah ini lagi.” Tatapan Ervin turun dari
mata ke bibirku.
Saat itu juga aku berhenti bernapas. Aku mencoba mencari alasan yang lebih
masuk akal dan teringat sesuatu yang bisa mengulur waktu.
“Apa ini trik yang selalu lo gunakan sebelum nyium perempuan? Lo bawa dulu
dia makan malam, pura-pura marah kalau lo lihat ada laki-laki lain yang
kelihatannya tertarik sama perempuan itu, terus lo bawa pulang ke apartemen lo, lo
dorong dia ke dinding, terus lo cium dia? Gitu?” jawabku ketus samibl mencoba
bergeser ke kiri supaya ada udara untuk bernapas. Tapi usahaku diblok Ervin yang
kini menekanku ke dinding dengan seluruh berat tubuhnya.
“Menurut lo?” Ervin mendorong bahu kiriku ke dinding.
“Gue nggak tahu, makanya gue tanya ke elo.” Suaraku terdengar serak. Ervin
semakin menekan tubuhku ke dinding. Aku harus mengangkat tumitku dan berjinjit
dalam usaha untuk menghindarinya. Aku mulai berasa gerah. Dada Ervin menekan
payudaraku.
“Biasanya sih memang gitu, tapi malam ini kayaknya gue kurang sukses,” jawab
Ervin cuek sambil mulai memandangiku seperti aku ini es krim yang siap dijilat.
Aku hanya bisa tertawa lemah. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Ervin mulai
bergerak ke leherku. Aku dapat merasakan embusan napasnya di kulitku sebelum
kemudian ujung-ujung jarinya mulai menyentuh kulitku.
“Ada pertanyaan lagi?” bisik Ervin dengan suara sedikit serak. Jari telunjuknya
menarik garis dari leher ke belahan dadaku. Kakiku langsung lemas.
Aku tadinya mau mengangguk, tapi aku memang tidak punya pertanyaan lagi
untuknya. Lebih tepatnya otakku tiba-tiba beku, sehingga aku tidak bisa berpikir
sama sekali. Aku lalu menggeleng.
“Jangan menghindar lagi, oke?”
Aku harus mengangkat wajah untuk bisa menatap matanya yang terlihat sangat
serius.
Aku menelan ludah sebelum menjawab. “Okay then,” tantangku.
Ervin kelihatan kaget atas jawabanku. Dari matanya tebersit sedikit keraguan
tapi pelan-pelan dia mulai menciumku. Pertama-tama ciumannya hanya meliputi
bibirku tapi kemudian dia pindah ke leherku, untungnya dia kemudian kembali lagi
ke bibir, kalau tidak aku bisa pingsan di pelukannya. Tiba-tiba ciuman Ervin
menjadi semakin dalam. Satu-satunya benda yang masih menopangku berdiri
adalah tubuh Ervin yang menekanku ke dinding.
Ervin meraba pahaku di bawah rok jinsku, sementara bibirnya tidak pernah
meninggalkan bibirku. Aku mau protes, tapi Ervin menelan semua perkataanku dan
memaksaku membuka mulut lebih legar agar dia bisa merasakan, sementara
tangannya mengelusi bagian-bagian sensitif tubuhku. Dan untuk pertama kalinya
aku percaya bahwa seorang perempuan bisa mencapai orgasme di luar seks.
Tubuhku menggeletar saat aku melepaskan hiasan terakhirku. Erivn langsung
berhenti menciumku sebelum kemudian memelukku. Ervin cukup berpengalaman
untuk tahu bahwa dialah penyebab kenapa aku baru saja mengeluarkan teriakan
yang agak tertelan oleh bibirnya.
Mataku agak-agak kabur, dan aku tidak bisa melihat dengan jelas untuk
beberapa menit. Napasku pun pendek-pendek.
“Cukup,” ucapku mencoba melepaskan diri dari pelukannya.
Ervin tidak bergerak dari hadapanku, dia malah mendekatkan keningnya
hingga menyentuh keningku. Dia sepertinya juga agak shock. Napasnya memburu.
Aku tetap menunduk karena tidak berani menatap Ervin. Aku menggelengkan
kepalaku lemah. “I’m going to bed,” ucapku. Lalu meninggalkan Ervin di ruang tamu.
Tidak lama kemudian aku mendengar suara kepalan tinju menghantam dinding.
Langkah pertama untuk melupakan Baron beres. Agak sedikit keterlaluan dan
sedikit di luar rencana karena harus melibatkan Ervin, tapi beres. Langkah kedua... I
need to have a one night stand. Aku baru sadar dari kejadian beberapa menit yang lalu
bahwa tubuhku sudah tidak sinkron dengan otakku. Secara mental aku tidak siap
untuk mulai berhubungan secara seksual dengan seorang laki-laki di luar nikah, tapi
secara fisik, aku siap.
16. MEMENUHI KEBUTUHAN
AKU menolak bersembunyi di kamarku. Bagaimanapun juga, kejadian tadi malam
adalah pilihanku, bukan suatu paksaan siapa pun. Aku mencoba menghadapi Ervin.
Ketika aku keluar dari kamarku, Ervin sedang duduk di depan TV yang
dibiarkannya tidak bersuara. Di TV, Oprah sedang mewawancarai Tom Hanks.
Kelihatannya Ervin belum mandi karena dia masih menggunakan celana piama dan
kaus tidurnya. Rambut jabriknya terlihat seperti jengger ayam yang agak layu dan
matanya agak-agak merah, seperti orang yang tidak tidur semalaman.
“Lo hangover, Vin?” tanyaku lalu duduk di sampingnya.
Ervin memandangiku dengan tatapan kesal sebelum menjawab, “Nggak.”
“Eh, kemarin lo bilang mau ke Dago? Masih mau pergi? Gue pergi deh sama
elo.”
“Lo dah telepon Pat?” tanya Ervin sambil mengganti channel TV dengan remote
control.
“Belum. Besok pagi saja,” jawabku. Jujur saja, aku lupa sama sekali untuk
menelepon Pat.
“Lo takut?” tantangnya.
“Siapa yang takut. Gue cuma mikir mendingan gue telepon dia besok pagi, biar
lebih meyakinkan kalau gue sakit. Gitu lho.”
“Gue bilang lo takut.”
“Sudah dibilang nggak, lo nggak dengar, ya?”
“Itu kan cuma soal kecil, Dri. Orang sering kok melakukan itu. Kalau memang lo
butuh, kenapa nggak minta?”
“Iya, gue tahu orang sering izin, tapi gue nggak bisa. Gue nggak tega ninggalin
Pat dan Sony untuk ngerjain pekerjaan gue. Lagian juga hari libur gue sudah habis.”
“Kok bisa sih self control lo segitu tingginya? Padahal orang kalau sudah sampai
second base susah berhenti. Itu keputusan yang nggak bisa dibalik.”
Ervin lagi membicarakan apa sih? pikirku.
“Second base? Memangnya baseball?” tanyaku sambil tertawa lalu mencoba
merebut remote dari tangan Ervin.
“Lo ngapain sih?” tanya Ervin sambil masih tetap mempertahankan remote di
tangannya dan menjauhkannya dari jangkauanku.
“Pinjam dong, gue mau lihat Oprah.” Aku masih mencoba merebut remote itu
tapi tidak berhasil. Tangan Ervin yang jelas-jelas lebih panjang daripada tanganku
dengan mudahnya menjauhkan remote itu dari jangkauanku.
Untuk beberapa menit kami pun sibuk berebut remote sambil sama-sama tertawa
karena urusan ini sebetulnya tidak seharusnya dilakukan oleh dua orang dewasa
yang sudah melewati ulang tahun ketiga puluh mereka. Namun, akhirnya aku bisa
merebut remote itu dari tangannya.
* * *
Hari itu kami akhirnya memang memutuskan untuk pergi ke Dago. Ervin
memperbolehkanku untuk mengemudikan mobilnya agar aku tidak mual. Dan
tidak sengaja kami bertemu lagi dengan Eddie dan pasukannya.
“How’s your head?” tanyaku pada Eddie ketika kami sudah duduk di salah satu
restoran untuk makan.
“It’s okay,” ucap Eddie sambil tertawa. Dia hanya minum air putih dan makan
roti bakar.
Aku tertawa melihat tampangnya yang bersusah payah mencoba menelan
sepotong roti. Perutnya pasti masih tidak keruan rasanya setelah delapan shot
tequilla masuk ke tubuhnya.
“Ada plan for tonight?” tanya Othman padaku.
Setelah semalam, aku tahu kalau Othman selalu berbicara dengan bahasa
Inggris bercampur dengan bahasa Melayu. Menurutku itu kocak sekali.
“Tidak, masih mencari cara untuk bohong pada bosku supaya tidak usah kerja
besok,” jawabku sambil makan sate ayamku.
“Kau mesti kerja besok?” tanya Eddie dan Zach kaget.
“Tapi ini Tahun Baru, tak ada orang nak buat kerja,” teriak Othman.
“Well, sepertinya di Malaysia tidak usah kerja soalnya kalian toh masih berlibur
di sini,” balasku sambil tertawa.
“Bilang saja kamu sakit atau apa,” lanjut Zach.
“I know, I know... bilan gsaja kamu mabuk berat jadi tidak bisa kerja,” sambar
Eddie.
“Or, or... kamu terlalu capek setelah a crazy but very fulfilling last minute sex to
complete the quota for this year,” sambung Zach.
Yang disambut oleh kata, “What?” Dari kami berempat.
“I was just saying...” Zach tidak menyelesaikan kalimatnya karena dipelototi oleh
Eddie.
Aku tertawa cekikikan melihat reaksi Zach yang seperti anak SD yang baru
ditegur oleh gurunya.
“You know what... here, awak guna phone saya, awak telefon bos awak tu dan cakap kat
dia, kalau awak nak ambil cuti,” Othman menyodorkan HP-nya.
“No... no... it’s fine, I’ll do it later,” tolakku.
“Kena buat sekarang lah, nanti lambat. Dah hampir jam lapan dah, you don’t want to be
rude by calling people after dinner.”
“Call... call... call... call...,” teriak keempat laki-laki gila yang sedang duduk
bersamaku.
Aku agak panik karena sekarang banyak orang yang mulai menoleh ke arah
kami.
“Okay, okay... I’ll call him now. Goddamnit, aku bisa dipecat gara-gara ini,” ucapku
sambil mengeluarkan HP dari tasku dan menekan nomor HP Pat.
Aku meninggalkan mejaku dan berbicara dengan Pat selama beberapa menit di
depan WC perempuan. Pat ternyata tidak peduli bahwa aku akan izin besok karena
dia sendiri akan mengambil off. Dia hanya bertanya apa aku baik-baik saja dan
mengucapkan Happy New Year. Izin dari Pat itu disambut teriakan gembira dari
keempat laki-laki sableng di mejaku itu.
“Hei, aku ngomong sama Vincent tadi pagi dan dia pengin ketemu kamu,” ucap
Eddie ketika aku sudah duduk kembali di mejaku.
“Begitu ya?” tanyaku kagok karena Ervin sedang mengerlingkan matanya
penuh curiga.
“Yeah, datanglah ke KL kapan-kapan. Kami ajak kamu jalan-jalan. Bagaimana
kalau kamu datang ke pernikahanku April nanti?”
“Are you serious?” tanyaku.
“Yeah, kamu belum pernah lihat acara pernikahan tradisional Cina, kan?”
Aku menggeleng.
“So you should come. Pernikahannya tanggal 22, hari Jumat. Tapi kamu harus
datang ke resepsinya, tanggal 23,” jawab Eddie. “You should come too, man, if you
could,” lanjutnya mengundang Ervin.
“Okay, I’ll think about it,” ucapku.
“You do that and let me know,” kata Eddie dan tersenyum kepadaku.
Akhirnya kami hangout sampai malam yang diakhiri dengan acara clubbing.
Tadinya aku sudah mau menolak tapi setelah dibujuk oleh Othman yang katanya
mau lihat club-nya orang Indonesia, akhirnya aku memutuskan untuk bela-belain
pergi. Alhasil, selama di club aku berputar di antara beberapa laki-laki. Dari Ervin ke
Zach, Othman, Ervin lagi, satu laki-laki yang berhasil mendekatiku meskipun telah
diblokir oleh keempat bodyguard-ku, lalu Eddie, dan akhirnya Ervin lagi. Mulai dari
versi remix lagunya Anggun sampai Hillary Duff, semuanya kuikuti.
Usahaku untuk have a one night stand before New Year kelihatannya mulai
menipis, dan aku memutuskan untuk pulang ke hotel dan melanjutkan pencarianku
di bar hotel, jauh dari keempat bodyguard-ku. Tapi Ervin tidak mengizinkanku
pulang sendiri, akhirnya dia ikut pulang ke hotel juga dan gagallah rencanaku.
* * *
Aku masuk cottage dengan dongkol karena Ervin tidak memperbolehkanku pergi ke
bar hotel sendiri.
“Nggak, Dri, ini sudah jam satu pagi. Nggak bagus buat perempuan datang
sendirian ke bar jam segini,” omelnya sambil membuka pintu lemari es dan
mengeluarkan sebotol air putih.
“Lo kok ngatur gue gini sih? Terserah gue dong gue mau ngapain. Kan lo sudah
tahu tujuan gue ke sini untuk apa.”
“Iya, tapi bukan berarti lo harus make-out sama siapa saja dong, Dri.” Suaranya
masih tenang, membuatku gondok.
“Siapa bilang gue make-out sama siapa saja? Lo sama watch dogs yang lain nggak
ngasih gue kesempatan.”
“Watch dogs?”
“Iya. Elo, Zach, Eddie, dan Othman. Lo ngomong apa sih ke mereka sampai
mereka melototin tiap laki-laki yang minta nge-dance sama gue?”
“Ya soalnya setiap laki-laki yang mau nge-dance sama elo malam ini juga mau
ngeraba-raba elo, Dri.”
“Biarin saja, gue memang lagi mau diraba-raba kok.”
“Lo memang lagi...” Ervin terdiam sejenak, keningnya berkerut seperti sedang
mencoba untuk mencari kata yang tepat. Lalu “...dalam tahap penyembuhan, tapi
bukan begini caranya,” lanjutnya masih tetap terdengar tenang.
“Oh ya? Kalau lo tahu cara lain yang punya efek lebih cepat, lo bilang ke gue.
Tapi untuk saat sekarang gue perlu have a one night stand before the New Year, okay.”
Ervin membuang botol kosong yang digenggamnya dan berjalan ke arahku,
wajahnya sangar. Matanya berapi-api.
“Apa maksud lo sama one night stand?”
Bagus, aku telah membuatnya marah. Aku lebih baik bertengkar dengan orang
yang memang membentakku daripada orang yang hanya mengucapkan kata-kata
dengan nada tenang dan menggurui.
“You know, seorang perempuan dan seorang laki-laki... sama-sama... ML....”
Ervin memotong kalimatku.
“Gue tahu one night stand itu apa. Maksud gue, kenapa lo perlu itu?”
“Oh, come on... lo nggak buta, kan? Lo tahu kan kalau manusia itu ada
kebutuhannya. Ya gue lagi butuh,” balasku lalu melangkah ke kamar tidurku.
“Lo nggak bisa tidur sama orang seenaknya, Dri.” Ervin mengikutiku masuk ke
kamar.
“Oh ya? Kenapa tuh? Lo saja bisa kok, kenapa gue nggak?”
Aku menghadap Ervin yang berdiri di depan pintu dan harus mundur
selangkah ketika melihat ekspresi wajahnya.
Uh-oh... aku sudah salah bicara.
“Maksud lo?” Tubuhnya yang tinggi itu tiba-tiba membuat segala sesuatu di
sekelilingnya menjadi kecil.
“Nggak usah sok nggak tahu deh....”
“Gue nggak pernah tidur sama perempuan seenak gue. Itu tergantung sama
perempuannya, mereka harus sudah siap dan mau.” Dia berjalan ke arahku. “Dan
gue selalu pakai protection,” tambahnya geram.
“Siapa bilang gue nggak akan pakai protection? Gue sudah siapin kok.” Jelasjelas
aku bohong. Aku sebetulnya tidak memikirkan rencanaku dengan matang.
Aku tidak bawa kondom karena sejujurnya kalau ada orang yang menanyakan
tentang ukuran kondom, aku tidak akan bisa menjawab. Aku hanya tahu satu brand
kondom, Durex, itu saja. Aku juga tidak pernah minum pil KB. Aku tidak
mempertimbangkan bahwa akan ada suatu konsekuensi kalau aku sudah
berhubungan intim dengan seorang laki-laki. Aku tahu bahwa seharusnya ada suatu
perhitungan yang bisa dilakukan untuk berhubungan intim tanpa pelindung untuk
mencegah kehamilan. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menghitungnya. Dulu
memang pernah diajarkan pada saat sex education sewaktu SMA, tapi aku lupa
karena sudah lama. Lagi pula memang tidak pernah kupraktikkan, jadi aku tidak
pernah berusaha untuk mengingat-ingat informasi itu.
“Goddamnit, that’s not the point.” Teriakan Ervin menarikku kembali ke realita.
“Jadi maksudnya apa dong?” balasku dengan nada agak mengejek.
“Maksud gue, lo nggak tahu gimana laki-laki itu, mereka banyak yang kurang
ajar dan nggak tahu cara memperlakukan perempuan sewaktu ML.”
Aku ternganga. Jangan-jangan... Ya ampuuuuunnnnnnn, gimana dia bisa tahu
sih aku masih perawan? Memangnya kelihatan? Apajangan-jangan ada suatu tanda
di keningku yang bertuliskan PERAWAN dengan tinta merah.
Tubuhku mulai gemetar karena rasa terpojok dan kemarahan yang tidak
terbendung lagi. Mungkin buat dia seks tidak akan menyelesaikan masalah, tapi itu
adalah satu-satunya hal yang bisa menyelesaikan masalahku sekarang ini.
“Fuck it, I”m going to the bar,” ucapku lalu mengambil dompet dan kunci kamar
dan melangkah pergi.
“Dri!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Ervin, membuat langkahku terhenti karena kaget dan
berbalik menatapnya.
“Do you really want to do this?” tanyanya, nadanya melembut.
Dari matanya kulihat bahwa dia sedang mencoba untuk memahami keadaanku.
Aku mengangguk.
“Lo yakin lo siap?” Dia memandangiku dari seberang ruangan. Sekali lagi
nadanya lembut, tapi kini terdengar putus asa.
Aku lagi-lagi mengangguk.
Ervin menarik napas panjang. Aku pun melakukan hal yang sama. Aku
bersyukur akhirnya dia bisa mengerti keadaanku. Aku tersenyum padanya.
“Tutup pintunya,” ucapnya pelan.
“Hah?”
What the hell??? teriakku dalam hati.
“Tutup pintunya, kalau lo memang siap untuk seks. Lo harus mulai dari gue.
Gue aman, Dri.”
“Sama elo? Sudah gila, kali. Nggak mau,” ucapku siap untuk melangkah keluar
dari cottage. Tapi Ervin sudah berdiri di sampingku dan menutup pintu yang sudah
setengah terbuka itu.
“Apa lo akan lebih mau kalau gue ini Thomas?” tanya Ervin dengan nada
sedikit marah.
“Itu bukan urusan lo,” geramku dan mendorong Ervin dari depan pintu.
Ervin bergeming. “Dia sudah pilih Olivia, dia nggak milih elo, Dri,” ucap Ervin
dengan tenang sambil menatapku dalam-dalam.
Aku tidak bisa berkata-kata. Hatiku sudah cukup terluka tanpa perlu air jeruk
yang sekarang sedang ditumpahkannya di lukaku itu. Beribu-ribu jarum sedang
menusuk-nusuk mataku dan aku yakin bahwa aku akan menangis kalau aku tidak
bertindak dengan cepat.
“Lo memang nggak punya hati, Vin,” geramku sambil menatap Ervin dengan
penuh kemarahan. Tubuhku terasa panas.
Ervin terlihat kaget dengan perkataanku. Kemudian tanpa kusangka-sangka dia
mengangkat tangan kirinya dan jari-jarinya mulai menyentuhku. Perlahan-lahan
jari-jari itu menyentuh wajahku, leherku, sepanjang tanganku, sebelum kembali lagi
ke wajahku. Tanpa kusadari aku sudah menahan napas setiap kali jari-jari itu
bergerak dan mengembuskan napas ketika jari-jari itu berhenti. Jantungku mulai
berdebar-debar.
FOKUS, ADRIIIII... FOKUS...
Ervin tidak melepaskan tatapannya selama jari-jarinya menyentuhku.
“Gue punya hati, Dri,” ucapnya singkat dan dia langsung menciumku.
Pertama-tama aku menolak ciuman itu dan mencoba mendorong tubuh Ervin
agar menjauh. Tapi kemudian lidahnya mulai terasa di mulutku dan semua
rencanaku buyar. Tanpa kusadari, tanganku sudah menyentuh punggungnya. Aku
bisa merasakan bagian depan celana jins Ervin bergesekan dengan pahaku. Hari itu
aku mengenakan babydoll dengan motif kotak-kotak, mirip sekali dengan tukang jual
susu di kaleng Susu Bendera. Yang jelas penampilanku sama sekali tidak seksi. Tapi
sepertinya Ervin tidak memperhatikan hal itu.
“This is a really bad idea.” Aku mencoba berkata di antara ciumannya, tapi aku
tidak bisa berhenti membalas ciumannya.
Bagaikan tidak mendengarku, Ervin menciumku lebih dalam. “I love your smell,”
ucap Ervin sambil menyapu leherku dengan bibirnya sebelum kemudian
memberikan ciuman-ciuman lembut di sekitar bahuku.
“Yeah?” Aku mencoba memfokuskan pikiranku. Aku tidak pernah tahu
tubuhku bisa bereaksi seperti ini. Jelas-jelas ini tidak pernah terjadi dengan Vincent,
bahkan Baron.
“Fresh, kayak rumput baru dipotong,” jawabnya dan ciumannya beralih ke daun
telingaku.
Aku tidak menanggapi komentar Ervin karena tangannya sudah menyentuh
payudaraku. Kemudian tiba-tiba dia berhenti menciumku dan mundur beberapa
langkah. Aku hampir saja jatuh ke lantai karena kakiku terasa terlalu lemas. Setelah
yakin bahwa aku tidak jatuh tersungkur, kualihkan perhatianku kepada Ervin.
Wajahnya merah padam dan matanya memandangku dalam. Tatapannya bermula
dari mataku, kemudian turun ke bibir, ke leher, ke dadaku yang untungnya masih
tertutup oleh bajuku, ke perut, ke bawah perut, lalu kembali lagi ke mataku. Aku
yang bingung atas reaksinya cuma bisa memandanginya. Pelan-pelan aku maju ke
arahnya dan menyentuh dadanya. Satu per satu kancing kemejanya mulai
kulepaskan. Ervin tidak protes, dia hanya memperhatikanku. Rupanya dia sedang
menunggu hingga aku yang maju untuk memberinya tanda bahwa aku juga mau
apa yang dia inginkan.
Dan saat itu aku sadar, aku akan melepaskan keperawananku pada Ervin. Apa
normal bagi seorang wanita untuk melakukan ini dengan salah satu teman baiknya?
Dengan perlahan Ervin membaringkanku dan menyelimuti seluruh tubuhku
dengan tubuhnya. Selanjutnya aku bagaikan sedang dibakar oleh rasa yang tidak
bisa kugambarkan. Aku terbang ke awang-awang, semakin tinggi, semakin tinggi.
Satu dekade, satu abad, satu aeon, lalu baru kembali ke bumi.
* * *
Aku terbangun dan melihat Ervin masih tertidur di sebelahku. Wajahnya tersenyum
damai. Napasnya terdengar enteng. Ada bekas gigitanku di bahu kanannya. Ingin
rasanya aku meringkuk di dalam pelukannya dan diselimuti oleh tangannya yang
besar. Ervin yang penuh dengan kehangatan dan kehati-hatian terhadapku...
Oh, shit... don’t tell me... Aku sudah jatuh cinta sama Ervin? Tidak mungkin. Aku
mencintai Baron, Ervin hanya sebuah... hiburan. Seorang pengganti hingga aku
menemukan yang sebenarnya. I am not in love with him. I am NOT in love with him.
Aku bertengkar dengan pikiranku sendiri. Panik karena argumentasiku tidak
kuat untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak mencintai Ervin, aku
bangun dari tempat tidur sepelan mungkin dan menuju ke kamar mandi. Aku
berdoa agar Ervin sudah tidak ada di tempat tidurku ketika aku keluar dari kamar
mandi. Kalau bisa mungkin dia sudah pergi sarapan sendiri dan meninggalkanku
seharian karena aku tidak akan sanggup menghadapinya pagi ini.
* * *
Malam Tahun Baru. Sepanjang hari, satu-satunya hal yan gtidak membuatku gila
setiap kali melihat Ervin adalah dengan mengingatkan diriku sendiri bahwa aku
mencintai Baron dan Ervin hanyalah pengisi kekosongan dalam hidupku untuk
sementara waktu. Dengan tubuh yang bisa membuat perempuan mana pun ngiler...
good kisser, caring lover. Damn it, kok balik lagi ke situ sih?
Lagi-lagi aku dan Ervin menghabiskan waktu dengan gerombolan si berat, alias
Eddie dan pasukannya. Aku mencoba berada sejauh mungkin dari Ervin. Eddie
yang memperhatikan tingkah lakuku jadi agak bingung.
“What’s going on with you and the Dude?” tanya Eddie padaku setelah berhasil
memojokkanku ketika Zach, Othman, dan Ervin sedang main basket. Eddie
menjuluki Ervin the Dude karena menurutnya, Ervin agak-agak kelihatan seperti
Ashton Kutcher di film Dude Where’s My Car kalau lagi ngomong.
Aku dan Eddie duduk di pinggir lapangan basket.
“Nothing is going on,” aku mencoba untuk menghindar.
“Memangnya hubungan kalian berdua apaan sih? Kalian ini pacaran apa
bukan?”
“Kami TIDAK pacaran.”
“Oh, oke. Soalnya kamu ngeliatin dia kayak pernah ngeliat dia telanjang aja.”
Aku kaget mendengar komentar Eddie.
“Apa? Memangnya dia ngomong apa ke kamu?” tanyaku panik.
“What? Tidak, maksudku... Oh, shit... Did you...” Eddie tidak menyelesaikan
kalimatnya dan mulai tertawa terbahak-bahak. “Ketahuan deh,” lanjutnya masih
tetap tertawa.
“Berhenti ketawa, kalau nggak mau babak belur!” ucapku garang.
“Whoa... biasa ganas juga kamu...” Eddie masih tetap ketawa. “So he was good
then?” tanya Eddie polos sambil masih berusaha mengendalikan cekikikannya.
Aku menatap Eddie tidak percaya. Bagaimana mungkin aku terpojokkan untuk
membicarakan sex life-ku kepada laki-laki ini? Aku bahkan tidak terlalu
mengenalnya. Tadinya aku masih mau menyangkal, tapi akhirnya aku menyerah.
“Well, I don’t know... I guess he was,” ucapku pelan. Pipiku terasa panas karena malu.
“What do you mean you don’t know?” Eddie masih tidak bisa berhenti tertawa.
“Ya, I don’t know. Aku tidak punya perbandingannya.” Baru kemudian aku
sadar apa yang baru kukatakan karena Eddie melihatku sampai bengong. Dia sudah
berhenti tertawa.
Setelah beberapa menit dia baru bisa berbicara lagi.
“You mean, you were still...”
Aku mengangguk mendengar pertanyaan Eddie itu. “Yeah, so what?” Suaraku
terdengar galak.
Eddie terdiam lagi, dari wajahnya aku bisa lihat adanya suatu tatapan penuh
hormat padaku.
“Good for you,” ucap Eddie akhirnya.
Kami lalu terdiam sesaat dan menonton pertandingan basket di hadapan kami.
“Well, kurasa, pasti kamu oke banget... soalnya dari tadi dia ngeliatin kamu kayak
pengin menelanmu bulat-bulat,” lanjut Eddie sambil tersenyum.
“Nggak gitu deh,” sangkalku. Mukaku kembali memerah dan aku mencoba
menurunkan topiku supaya Eddie tidak bisa melihat perubahan warna itu.
“Percaya deh. Aku tahu tampang cowok yang puas. Tampangku begitu setelah
melakukannya dengan Steph.”
Kini giliranku yang tertawa terbahak-bahak. Steph atau Stephanie adalah calon
istri Eddie. Dari fotonya aku sebetulnya agak-agak bingung kok Eddie bisa jatuh
cinta pada perempuan yang tampangnya seperti encim-encim, padahal Eddie itu
ganteng banget, agak-agak mirip Lee Hom, penyanyi Asia yang besar di New York
itu.
“Perlu nggak sih ngasih tahu soal itu?” tanyaku di antara tawaku.
Eddie pun tertawa. “Bukan mau menggurui, tapi menurutku dia orang baik,
dan kalian kelihatannya akur,” lanjut Eddie.
“Yeah, we’re good friends.”
Eddie memandangku dengan tatapan tidak percaya. “I think he’s in love with
you.”
“He is NOT in love with me. Tidak mungkin, I’m not his type. Trust me... I know.”
“Well, Steph is not my type either, but I love her to death. Aku senang sekali waktu
dia memilihku.”
Kini giliranku yang memandangi Eddie tidak percaya. Siapa yang bisa
menyangka ternyata cinta Eddie untuk Steph begitu dalam? Aku tersenyum melihat
wajah Eddie yang penuh kebahagiaan.
“Hei, kalian lagi ngobrolin apa?” teriak Zach dari lapangan.
“Just some girl stuff,” teriak Eddie balik yang disambut oleh gelegar tawa Ervin
dan Othman yang kemudian kembali pada permainan basket mereka. Mataku tidak
sengaja mengarah ke Ervin dan tatapannya membuatku merasa gerah.
“Menurut kamu, normal nggak sih kalau mencintai dua orang pada saat yang
sama?” tanyaku pada Eddie.
“Ya, sampai tahap tertentu. Tapi, pada akhirnya, kamu cuma bisa mencintai satu
orang. Kenapa? Kamu lagi dilema, ya?”
“Yeah, lumayan. Aku mencintai cowok ini, tapi terus kebayang-bayang cowok
lain. Aneh, kan?”
“Cowok yang satu lagi itu tahu kamu selalu memikirkannya?”
Lalu aku menceritakan segala sesuatunya, dan Eddie memikirkannya sesaat.
“Menurutku, lupakan Baron. Dia tidak nyata. That dude is.” Eddie menunjuk Ervin
yang sedang menanggalkan kausnya karena kepanasan.
Aduh. Penting nggak sih? Apa dia tidak tahu kaus itu satu-satunya pembatas
supaya aku tidak membayangkannya naked? teriakku pada diriku sendiri, putus asa.
“So if you want him, you gotta let him know,” lanjut Eddie. Ternyata rencana untuk
menjadi seorang suami bisa membuat laki-laki jadi lebih wise. Aku bersyukur bahwa
Eddie bisa memberiku pendapat.
“Tapi, kalau ternyata dia tidak menginginkanku, bagaimana?”
“Cari laki-laki lain yang menginginkanmu. Kamu ini cantik, tahu. Kamu pintar,
mandiri, dan tidak mau diremehkan orang. Kamu pasti bisa.”
Mendengar nasihat Eddie, aku langsung memeluknya.
“Hey, Adriana, apa awak buat ni? Dia dah nak berkahwin dah. But me... I’m free as a
bird, awak boleh cium saya sesuka hati awak,” teriak Othman sambil membuka
tangannya menunggu hingga aku lari ke pelukannya.
Aku dan Eddie hanya tertawa.
* * *
Setelah pembicaraanku dengan Eddie sore itu, kami berencana merayakan Tahun
Baru bersama-sama di Pool Party yang diadakan hotel. Selama beberapa jam aku
memikirkan nasihat Eddie dan menimbang-nimbang apakah aku betul-betul sudah
jatuh cinta pada Ervin. Dan apakah betul Ervin juga begitu? Komentar itu datang
dari Eddie yang baru mengenal Ervin selama tiga hari, bagaimana mungkin dia bisa
mengambil kesimpulan sedetail itu tentang perasaan Ervin terhadapku?
Apa aku sudah buta? Is it really that obvious? tanyaku dalam hati.
Tapi aku tahu betul sifat Ervin dan aku yakin bahwa hal-hal yang kami lakukan
tadi malam sekadar pity sex, bukan love sex. Walaupun sekarang aku mengerti
kenapa banyak perempuan yang sudah putus sama Ervin masih suka menatap
Ervin seperti dia itu a sex god. Dan sadarlah aku bahwa liburan ke Lembang ini
adalah ide terbaik yang pernah keluar dari pikiran Ervin. Di tempat yang damai ini
aku akhirnya sadar bahwa aku harus membuat perubahan pada diriku sendiri, dan
perubahan itu harus mulai dari aku. Aku sadar bahwa aku harus bergerak maju dan
melupakan yang sudah berlalu. Aku harus melupakan Baron. Aku menganalisis
diriku sendiri. Apa sebenarnya yang kuinginkan? Perasaan tidak tenang yang sudah
tertahan selama tiga puluh tahun mulai kembali lagi. Aku harus melakukan sesuatu
yang gila. Aku hanya akan hidup sekali, dan keluarlah ide itu. I need to do something I
have never done before without thinking twice about it. Aku harus melakukan yang tak
pernah kulakukan ini tanpa berpikir dua kali tentangnya.
* * *
Jam delapan malam, ketika aku dan Ervin seharusnya keluar untuk menemui Eddie
and the gank di kolam renang, aku mempersiapkan diri untuk meluncurkan
rencanaku yang terakhir. Aku keluar dari kamarku hanya dengan menggunakan bra
dan celana dalam yang ditutupi kimono hotel dan mendapati Ervin sedang nonton
MSNBC yang menayangkan informasi stock exchange. Awalnya aku merasa
canggung sehingga berniat membatalkan rencanaku karena malu. Tapi aku berhasil
menahan diri dan mulai berjalan pelan ke arah TV. Ervin tetap masih sibuk dengan
TV dan tidak memperhatikanku sama sekali.
“Vin,” panggilku pelan.
“Mmmhhh?” jawabnya tanpa menoleh.
Aku berjalan beberapa langkah lagi dan sampailah aku di sofa. Kemudian aku
mengelilingi sofa sampai bisa berdiri di depan Ervin.
“Dri, minggir dong, gue lagi nonton TV,” Ervin mencoba untuk melihat ke TV
dan tidak memperhatikanku.
Pelan-pelan aku lepaskan tali yang mengikat kimonoku dan membiarkan
kimono itu jatuh ke lantai. Hanya dalam hitungan detik aku sudah mendapatkan
perhatian Ervin sepenuhnya. Dia melirik kimonoku yang ada di lantai sebelum
kemudian mengangkat kepalanya dan menatapku.
“What are you doing?” tanyanya bingung.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, hanya pelan-pelan berlutut di
hadapannya. Sekarang mataku satu level dengan matanya yang kelihatan
superbingung dan serbasalah. Aku ambil remote yang ada di tangannya dan
kumatikan TV. Kuletakkan remote itu di meja sebelum kemudian kembali
memfokuskan diriku pada Ervin. Perlahan kudekatkan wajahku ke wajahnya dan
mulai mencium bibirnya. Pertama-tama dia tidak bereaksi, mungkin karena masih
shock. Aku memberanikan diri untuk menggodanya.
“Lo yakin?” tanyanya ragu.
Aku mengangguk. Tiba-tiba aku sudah terbaring di sofa dan Ervin menciumku,
tidak ada satu artikel pakaian pun yang masih menempel di tubuh kami dan aku
bisa merasakan seluruh bagian Ervin di dalam tubuhku.
Aku betul-betul sudah jatuh cinta padanya. Aku baru sadar bahwa
kemungkinan besar aku sudah mencintai dan menyayangi Ervin semenjak dia
menawarkan Doublemint padaku. Aku suka wajahnya yang selalu ceria kalau
bertemu denganku dan lagaknya yang sok cool walaupun dia itu dorky banget. Aku
suka caranya yang selalu mencoba untuk melindungiku, meskipun kadang-kadang
suka berlebihan sampai marah-marah. Aku suka caranya make love denganku, selalu
perhatian dengan apa yang kubutuhkan. Yang jelas, I love the way he makes me feel
when I’m with him.
Aku sadar selama ini hatiku tertutup untuk laki-laki lain karena aku selalu
mengharapkan Baron, tapi sekarang... sekarang aku tahu bahwa Baron milik Olivia
dan kuterima itu. Kesadaran ini ternyata adalah berkah paling baik yang diberikan
Tuhan untukku. Untuk pertama kalinya aku bisa jujur pada diriku sendiri, dan
memperbolehkan diriku untuk membuka hati, untuk mencintai dan menyayangi
orang lain meskipun aku tahu kemungkinan perasaanku ini hanya dirasakan
olehku.
Ervin mencoba menarik perhatianku kembali ke bumi dengan membelai
rambutku. Wajahnya penuh dengan kasih sayang. Aku meringkuk lebih dekat di
dalam pelukannya. Oh Tuhan... please... let him be in love with me as well. Please...
Dan dengan begitu mataku terasa buram. Aku menyandarkan kepalaku di
dadanya agar dia tidak melihat mataku yang mulai berkaca-kaca.
“Seven... six... five... four... three... two... one... Happy New Year.”
Aku mendengar teriakan dari arah kolam renang. Selesai sudah misiku untuk
melupakan Baron dan aku siap untuk membuka lembaran baru dalam hidupku.
Untuk dicintai dan disayangi oleh seseorang, aku harus berani untuk mencintai dan
menyayangi orang itu terlebih dahulu. Itulah motto hidupku yang baru.
Malam itu Ervin tidur di tempat tidurku dan aku menikmati masa-masa
terakhirku bersamanya. Dia tidak tahu ini terakhir kali aku akan bersamanya. Tapi
aku tahu. Aku tidak pernah memohon untuk dicintai oleh seseorang, tidak dulu,
tidak sekarang. Aku kenal Ervin, kalau sampai dia tahu bahwa aku mencintai dan
menyayanginya, dia akan merasa bersalah karena dia tidak bisa memberikan hal
yang sama kepadaku. Aku sudah memutuskan bahwa ini adalah jalan terbaik
untukku dan juga untuk Ervin.
17. SIAL KUADRAT
SEBULAN kemudian aku sadar bahwa aku hamil. Pertama-tama haidku telat, tapi
aku tidak terlalu khawatir karena haidku memang terkadang tidak teratur. Tapi
kemudian aku sering merasa mual dan payudaraku terasa agak sensitif. Hari itu
juga kubeli alat tes kehamilan dan mendapat konfirmasi bahwa aku hamil.
Keesokan harinya kubeli dua alat lagi, dan dua-duanya bilang aku hamil. Rasa
pertama yang ada di hatiku adalah bingung dan takut, tapi kemudian kebahagiaan
mulai menyelimutiku. Aku akan menjadi ibu.
Setelah kejadian di Lembang, hubunganku dan Ervin menjadi lebih baik. Seperti
ada suatu pengertian di antara kami berdua untuk tidak pernah membahas tentang
weekend di Lembang itu. Ervin tidak pernah mengungkapkan bahwa dia merasakan
sesuatu yang berbeda, tapi dari tindakannya bisa kulihat bahwa dia jadi lebih
perhatian padaku. Contohnya, dalam perjalanan pulang dari Lembang, dia tidak
mau melepaskan tanganku dan selalu memandangiku dengan tatapan yang
membuatku salting. Di Jakarta, Ervin selalu mencoba menghabiskan waktunya
bersamaku tapi sebisa mungkin kutolak dengan alasan yang semakin hari semakin
dibuat-buat, hingga akhirnya dia berhenti bertanya sama sekali. Lama-kelamaan aku
jadi merasa bersalah padnaya. Jujur saja, dia tidak mungkin tahu aku hamil, dan
bukan salahnya sampai aku hamil. Ini semua pilihanku sendiri.
Aku semakin merasa bersalah ketika tahu bahwa aktivitas keluar malam dan
gonta-ganti teman date-nya sudah hampir tidak ada. Beberapa kali aku berharap
agar dia menyatakan rasa sayangnya kepadaku dan bahwa hubungan kami berarti
sesuatu untuknya... bahwa aku berarti sesuatu untuknya. Aku menunggu
berminggu-minggu, tetapi kata-kata itu tidak pernah tiba. Aku jadi semakin yakin
bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya adalah karena rasa kasihan dan rasa
bersalahnya padaku, bukan karena suka, apalagi cinta. Akhirnya setelah dua
minggu mencoba menimbang-nimbang keputusan yang tepat, kuputuskan bahwa
aku tidak akan mengatakan apa-apa padanya. Dan kulihat Ervin sedang happy
dengan pekerjaannya. Jarang sekali aku melihatnya begitu tekun. Aku tidak mau
merusak itu semua. Aku tidak mau dia harus mengorbankan apa-apa untukku.
Tadinya aku tidak mau bercerita kepada keluargaku mengenai kondisiku, tapi
gara-gara Mbak Tita akhirnya semuanya terbongkar di bulan Februari ketika aku
pergi ke rumahnya untuk main dengan Lukas.
“Loon, ada duit lima puluh ribu nggak? Gue mau kasih tips sama tukang AC,”
tanya kakakku.
“Ada, ambil saja di dompet,” balasku sambil masih tetap bermain dengan
Lukas.
Kakakku kemudian sibuk mengobrak-abrik tasku untuk mencari dompetku.
Ketika menemukan yang dicarinya, dia langsung mengeluarkan uang lima puluh
ribu rupiah, disusul dengan...
“Di, ini apaan?” tanyanya sambil menunjukkan sehelai kertas berwarna kuning
berukuran kecil.
“Kertas,” jawabku polos, masih tidak menyadari kertas apa yang sedang
dipegangnya itu.
“Beli pregnancy test,” ujarnya sambil berjalan ke arahku.
Aku yang kemudian sadar bahwa kertas itu adalah post-it note yang kuletakkan
di dalam dompetku seminggu yang lalu agar aku tidak lupa membeli alat itu,
langsung panik.
“Beli buat siapa?” tanyanya lagi. Kini dengan nada lebih serius.
“Mmmhhhh... beliin buat... Nadia. Soalnya dia hamil, jadi dia minta tolong sama
aku.” Aku mencoba untuk kelihatan biasa.
Tapi aku tahu aku sudah tertangkap basah. Aku tidak pernah bisa menyembunyikan
apa-apa dari kakakku, entah bagaimana, dia selalu tahu kalau aku
berbohong.
“Adriana Amandira, you better not be lying to me right now,” bentaknya.
Aku kaget setengah mati atas bentakannya dan mencoba untuk membela diri.
“Iya, gue hamil, memangnya kenapa?” tantangku akhirnya, meskipun tidak
terdengar meyakinkan.
Kakakku melongo. “Sama siapa?” tanyanya polos.
“Ya sama laki-lakilah, siapa lagi?”
“Didiiiiii!!!!!!!”
“Iya, iya... sori... sori... ini anaknya... Ervin...,” jawabku akhirnya.
“Ervin? Teman sekantor kamu itu?”
Aku mengangguk.
“Dia tahu kamu hamil?” tanyanya lagi sambil duduk di sampingku.
Aku menggeleng.
“How far along are you?”
“Enam minggu,” jawabku lesu sambil mencoba untuk memeluk Lukas untuk
menutupi perutku. Meskipun kehamilanku masih belum kelihatan sama sekali.
“Siapa dokter kandungan kamu?”
“Dokter Yosef di Bintaro, katanya dia bagus.”
Kakakku mengangguk. Dokter Yosef adalah teman Dokter Ferdi, dokter
kandungan kakakku.
“Tapi kandungan kamu baik-baik saja?”
Aku mengangguk.
“Morning sickness?”
“Nggak terlalu, kadang ada, kadang nggak. Scarlett cukup nurut kok sama gue.”
“Scarlett?” tanyanya. Kakakku bingung.
“Iya... bayi gue, gue kasih nama Scarlett. Soalnya pasti perempuan. Gue maunya
perempuan, biar nggak ribet,” jawabku tenang.
“Ibu sama Bapak tahu?” tanyanya khawatir.
Aku menggeleng. “Gue nggak tahu gimana ngomongnya ke mereka. Lo tahu
sendirilah, mereka pasti akan kecewa kalau tahu,” ucapku sedih.
“Iya, pastilah. Tapi kamu sudah mau tiga puluh satu tahun ini, jadi mungkin...
mungkin... mereka bisa mengerti,” ucapnya mencoba menenangkanku. “Kamu
punya cukup uang? Kalau nggak gue bisa transfer,” lanjutnya.
“Nggak, nggak usah. Cukup kok.”
Kakakku mengangguk. Dia terdiam beberapa saat.
“Ini kejadian waktu kamu ke Lembang sama Ervin?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“I knew it. Kamu kelihatan beda waktu balik dari sana,” teriaknya.
Aku hanya tersenyum karena memang banyak orang yang bilang aku kelihatan
lebih fresh dan ceria.
“Kenapa kamu nggak mau bilang ke Ervin?” tanyanya berhati-hati.
“Soalnya dia Ervin... teman gue. Ini juga nggak sengaja.”
“Kamu kan masih perawan, Di.” Kakakku masih berusaha untuk mengatasi
kekagetannya. Dia tahu aku menganut peraturan ketat mengenai no sex before
marriage. Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan janji itu ketika sedang
melakukan hubungan dengan Ervin?
“Tapi dia nggak maksa, itu kemauan gue juga. Dia juga gentle banget kok.”
Kakakku memandangiku dengan pandangan yang suka dia berikan kepada
Reilley kalau suaminya itu berbuat salah. “Oh my God... Kamu naksir dia, kan?”
tanyanya penuh kepastian.
Aku memandangi kakakku tidak percaya. Bagaimana dia bisa tahu sih??? Aku
menggigit bibir bawahku, senewen.
“You had sex with him... kamu mengandung anaknya... and you’re in love with him?
Aggghhhhh... kenapa kamu bisa goblok kayak gini sih?” teriaknya frustrasi lalu
mulai mengelilingi ruang tamu untuk mengusir kekesalannya.
Tadinya aku masih mau menyangkal, tapi aku tidak berkutik di bawah tatapan
sangar kakakku.
“Look, I’m sorry, okay... it just... happened. Gue lagi patah hati karena Baron mau
married sama Oli, dan Ervin kebetulan ada di situ.”
Tanpa disangka-sangka kakakku bertanya, “Jadi akhirnya Baron balik lagi sama
Olivia?”
“Kok lo tahu soal Olivia?” tanyaku bingung.
“Ibu sama Bapak cerita soal Baron datang ke rumah sebelum Natal,” jawabnya.
“You did the right thing by the way... with them, I mean,” lanjutnya.
Aku mengangguk.
“Ya ampun, Ina ternyata benar,” ucapnya dengan nada putus asa. Dia kemudian
duduk kembali di sofa, tetapi kini dia duduk di hadapanku. “Apa kamu masih cinta
sama Baron, Di?” lanjutnya.
Aku menggeleng.
“Tapi kamu cinta sama dia sebelumnya?”
Aku mengangguk.
“Semenjak SMP?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita sih?” geramnya kesal.
“Sudahlah, itu semua nggak penting lagi,” jawabku pelan.
Kakakku terdiam sesaat, kemudian dia berkata, “Di, look..., you’re my sister and I
love you. Tapi kamu mesti bilang ke Ervin. Masalah ini terlalu besar untuk kamu
atasi sendiri. Lambat laun orang akan tahu. Kamu satu kantor kan sama dia? Mau
nggak mau pasti ketemu.”
“Gue sering kok ketemu dia di kantor, tapi dia nggak tahu gue hamil. Lagian
juga kan masih belum kelihatan.”
“Kamu telah melakukan unprotected sex. Kamu tahu sendiri kan konsekuensinya,
nggak cuma bikin kamu hamil, tapi juga STDs. Kamu nih nekat banget deh,” omel
Mbak Tita.
“I know, I know... Ervin bilang kok kalau dia aman. Lagian juga kayaknya dia
nggak model laki-laki yang punya penyakit kelamin gitu lho.”
“Yee... di mana-mana laki-laki kalau sudah mau get laid bisa ngomong apa saja.
Kamu percaya banget lagi sama dia. Kacau.”
“Gue sudah cek kok ke dokter, gue bersih, jadi Ervin pastinya bersih juga, kan?”
Kakakku geleng-geleng kepala.
“Memang nggak pernah ada yang lihat muka kamu yang pucat?” tanyanya.
“Ada sih, tapi gue bilang gue lagi nggak sehat. Mereka pada percaya tuh. Ini gue
gitu lho... gue kan anak emasnya kantor. Nggak pernah bikin salah, nggak macammacam.”
“Iya... tapi sekalinya macam-macam... gawat.”
Aku langsung bangun dari sofa dan mulai nyerocos. Aku harus membuat
kakakku mengerti bahwa tindakan ini kulakukan atas kehendakku sendiri ketika
aku seratus persen sadar.
“Gue bosan sama hidup gue yang itu-itu saja. Dari gue SD, yang gue tahu cuma
sekolah sama kerja, mencoba untuk jadi murid terbaik, anak terbaik, adik terbaik,
pokoknya segala sesuatu yang terbaik. Semua itu gue kerjakan supaya gue nggak
ngecewain lo, Bapak, dan Ibu.”
Wajah kakakku terlihat sedih mendengar itu, tapi dia tidak mencoba
memotongku.
“Gue nggak pernah bisa menikmati masa-masa ABG gue karena terlalu sibuk
mikirin nilai. Semua itu gue bela-belain sampai gue nggak punya social life. Waktu
semua orang mulai pada pacaran, lo tahu gue ada di mana? Di perpustakaan...
belajar. Gue nggak pernah ada kesempatan untuk benar-benar merasakan apa itu fall
in love,” lanjutku.
“Siapa bilang kamu nggak pernah jatuh cinta. Kamu dilamar sama Vincent,
kan?”
“Yang kemudian gue tolak? Kebayang nggak sih.... dua kali gue dilamar orang,
satu kali sama laki-laki yang memang gue nggak cinta dan satu kali lagi sama lakilaki
yang gue „sangka‟ gue cinta. Tapi buntutnya gue tolak dua-duanya,” jelasku lalu
duduk kembali di sofa.
Kakakku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi dan
menutup mulutnya kembali.
“Gue kerja kayak orang kesetanan, maksudnya supaya orang bisa bilang gue
sukses. Tapi gue nggak bisa share sama orang lain kesuksesan gue itu. Gue nggak
punya suami, nggak ada anak, nggak punya love life. Waktu di Lembang gue sadar
selama ini gue mengidentifikasi diri gue dengan segala sesuatu yang ada di
sekeliling gue. Tapi gue sendiri nggak pernah tahu siapa gue di luar itu. Gue bahkan
nggak tahu apa yang gue mau,” lanjutku.
Kakakku berlutut di hadapanku dan mencoba berbicara sepelan mungkin.
“Kamu ini adikku yang paling pintar, paling baik, paling berbakat, paling punya
potensi untuk sukses. Kamu punya kerjaan bagus yang kamu suka...”
Aku potong kalimat kakakku, “Tapi itu bukan yang gue mau, Mbak... itu semua
gue kerjakan hanya untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tapi gue ngerasa kosong,
dan gue baru sadar kekosongan itu nggak akan bisa diisi sama segala sesuatu yang
sifatnya material. Kekosongan itu harus diisi dengan... cinta.”Aku merasakan
mataku mulai panas. Aku siap menangis.
“Kamu dicintai sama gue, Ibu, Bapak, keluarga besar kita, Ina, sobat-sobat
kamu....”
“Ya memang cinta, tapi gue mau cinta dalam bentuk lainnya. Suatu bentuk cinta
yang selama ini ada di kamus gue, tapi dengan definisi yang salah. Gue pikir gue
cinta samas eorang laki-laki selama lima belas tahun tapi sekarang gue sadar gue
nggak cinta sama dia. Separo hidup gue sudah habis hanya untuk menunggu cinta
orang itu. Gue sudah salah perhitungan.”
Aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Sekarang gue sudah
mengerti bahwa bentuk cinta yang gue mau berarti pengorbanan, bukan
permintaan. Cinta itu harus diberi dengan rela dan terbuka. I’m sorry that I have to get
pregnant to know what I want, but that’s what happened.”
Aku dan kakakku terdiam cukup lama sebelum kemudian dia berkata, “Oh
dear... that’s deep.” Pipinya sudah basah karena air mata.
Aku hanya tertawa dan mencoba untuk menghapus air mata yang membasahi
pipiku juga.
“Tapi apa benar-benar siap untuk menjadi seorang ibu? Ini tugas dua puluh
empat jam penuh lho.... Kayaknya gue nggak pernah lihat kamu sama anak kecil
kecuali Lukas deh,” ucap Mbak Tita.
“Gue tahu. Tapi kalau gue coba pasti gue bisa. Gue selalu bisa ngelakuin apa
saja kalau gue memang serius dan tekun.”
“Iya, soalnya kamu memang seharusnya jadi the smart sister.”
Kami berdua tertawa terbahak-bahak dan harus berhenti ketika pembantu Mbak
Tita minta uang tip untuk tukang AC.
“Omong-omong, kamu tahu bagaimana perasaan Ervin ke kamu?” tanya Mbak
Tita setelah menyerahkan uang tip kepada pembantunya.
“Ervin sih baik, tapi gue yakin bahwa dia nggak mau gue,” jawabku sedih.
“Oh, baby... I’m sorry,” ucap kakakku, lalu memelukku.
“Yeah... me too. Apa lo punya taktik untuk bilangin tentang kondisi gue ke Ibu
dan Bapak?” tanyaku penuh harap.
“Lomau gue yang ngomong ke mereka?”
“I don’t know... tapi kayaknya mesti gue yang ngomong, karena ini masalah gue.
Tapi tolong temani gue waktu gue ketemu mereka, ya.”
“Pasti,” ucap kakakku.
Aku dan kakakku berpelukan selama beberapa menit. Kami berbicara pada
orangtuaku malam itu juga, dan mereka terpana. Aku yakin mereka menyimpan
kekecewaan pada sikapku, tapi tidak marah ketika tahu siapa yang telah
menghamiliku. Mereka tentunya menanyakan semua pertanyaan yang ditanyakan
oleh kakakku sebelumnya padaku, dan aku memberikan penjelasan yang sama
kepada mereka. Aku sempat merasa sedikit terkesima ketika melihat bahwa
orangtuaku bisa menerima berita ini dengan baik, tanpa teriakan, tamparan, atau
benda-benda melayang ke arahku. Sejujurnya, mereka kelihatan kecewa dan pasrah.
Mereka tahu bahwa hal ini sudah kejadian dan satu-satunya hal yang mereka bisa
lakukan adalah memberi dukungan sepenuhnya padaku. Seperti yang sudah
diperkirakan oleh kakakku, orangtuaku memahami bahwa aku sudah cukup
dewasa untuk bisa mengambil keputusanku sendiri dan mereka tidak akan
memaksaku untuk melakukan apa pun yang tidak mau kulakukan. Termasuk
keinginanku untuk tidak memberitahu Ervin tentang kehamilanku.
Intinya akhirnya orangtuaku sepakat bahwa karena kehamilanku disebabkan
oleh suatu “kecelakaan” dan bukan berdasarkan cinta, maka mereka tidak akan
menuntut Ervin untuk menikahiku. “Apa fungsinya menyatukan dua orang ke
dalam suatu ikatan seumur hidup kalau tidak ada cinta? Ikatan itu akan berakhir
sebelum bisa dimulai.” Itulah kata-kata yang diucapkan oleh bapakku, yang
langsung disetujui oleh ibuku. Tapi mereka minta supaya aku membesarkana nakku
sebaik-baiknya, dan mereka siap memberiku dukungan penuh dari sisi moral dan
finansial kalau aku membutuhkannya. Selain itu, orangtuaku juga mengingatkan
agar aku siap untuk menerima konsekuensi dari tindakanku, yaitu bahwa karena
kita hidup dengan budaya Timur, di mana kehamilan di luar nikah masih dianggap
tabu, maka ada kemungkinan orang-orang akan menilai negatif diriku, anakku, dan
keluargaku. Tapi setelah mengeluarkan semua nasehat, mereka mulai menunjukkan
kegembiraan karena akan punya cucu lagi. Aku berterima kasih sekali pada
keluargaku yang mendukungku sepenuhnya. Aku tidak tahu ke mana aku harus
pergi kalau tidak ada mereka.
* * *
Kebahagiaanku bertambah keesokan harinya ketika Olivia datang menemuiku di
kantor. Ternyata di adatang untuk mengantarkan undangan pernikahannya untuk
tanggal 2 Maret, sepuluh hari lagi. Baron tidak datang bersamanya.
“Adri, makasih ya sudah nolongin gue sama Baron,” ucap Olivia.
“Nolongin apa, Ol?”
“Lo sudah ngembaliin Baron ke gue. Gue minta maaf soal waktu itu, tentang
permintaan gue supaya Baron nggak ngontak elo sama sekali.” Olivia kelihatan
tidak enak. “Apa dia ada kontak lagi sama elo?”
Aku tersenyum sebelum menjawab, “Nggak ada. Dia cinta sama elo, Ol, dan
jangan pernah percaya kalau dia bilan gdia nggak cinta sama elo. Itu bohong.”
Olivia tertawa, sorot matanya masih kelihatan sedih. Mungkin itu cuma
perasaanku, tapi kok sepertinya tatapan Olivia selalu mengarah ke perutku ya? Apa
jangan-jangan dia tahu aku hamil? Tapi itu tidak mungkin, itu imajinasiku saja.
“Lo kok bisa sih, Dri, hidup penuh percaya diri gitu? Lo pasti nggak pernah
diribetin sama urusan laki-laki, kan?” tanya Olivia polos.
Aku tertawa, mengingat aku sudah cukup dibuat pusing oleh dua laki-laki
sekaligus beberapa bulan yang lalu. “Baron seharusnya merasa beruntung karena lo
pilih dia.Jangan elo pernah lupa soal itu. Elo ini Olivia... cewek paling cantik, paling
ngetop, dan paling pintar satu sekolah.”
Olivia tertawa. “Tapi masih kalah sama Jana, kan?” candanya.
Aku pun tertawa bersama Olivia.
“Oh ya... lo datang sama Ervin, kan?” tanya Olivia tiba-tiba.
“I guess so,” jawabku. “Gue nggak tahu apa dia lagi punya pacar atau nggak.
Gue takut bikin ceweknya jealous,” lanjutku.
“Ervin nggak punya pacar lagi, Dri. Pacarnya dia itu elo, kan?”
Aku memandangi Olivia bingung. “Gue? Bukan lah. Kami teman baik saja kok,
saling dukung, saling tolong.”
“Hehehe... terserah deh... tapi menurut gue... lo berdua cocok banget. Sama
gilanya, sama nggak bisa diaturnya, sama kutu bukunya, dan sama-sama nggak
percaya sama omongan orang.”
Aku tertawa lagi atas komentar Olivia. Kapan kira-kira semua orang bisa
berhenti mengatakan bahwa aku dan Ervin sangat cocok satu sama lain? Kalau kata
Othman “mengarut betul” yang pada dasarnya berarti “rese deh” dalam bahasa
Indonesia.
Tidak lama kemudian Olivia berpamitan dan meninggalkan ruanganku sebelum
makan siang, setelah memelukku dengan penuh suka cinta. Aku berjanji bahwa aku
akan datang ke pernikahannya.
Tapi dalam masa 24 jam semua kebahagiaan yang kurasakan punah ketika aku
bertemu Ervin yang kelihatan lebih ceria dari pada biasanya.
“Driiiiiiiiii, who’s the luckiest man on earth?” tanyanya padaku sambil masuk ke
ruang kerjaku tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Aku yang sedang membaca beberapa laporan langsung memandangnya
bingung. Kok bisa sih dia kelihatan semakin ganteng? Bibirnya... aku mau bibirnya...
di bibirku, di leherku, di tubuhku... di mana-mana.
“Who?” tanyaku balik sambil tersenyum.
“Me... gue lulus screening untuk berangkat training ke Cincinnati bulan depan.
Mereka nunjuk gue untuk jadi kepala divisi Business Development,” teriak Ervin
penuh kegembiraan.
Di satu sisi aku kaget karena Ervin mau mengambil posisi ini, karena beberapa
bulan yang lalu aku tidak berhasil membujuknya untuk jadi Brand Manager Clean,
tapi aku tetap senang walaupun di lain sisi... ringsek. Hatiku ringsek.
Ternyata setelah dua bulan Ervin tetap tidak menyadari kondisiku, dia bahkan
tidak melihat perbedaan pada diriku. Atau mungkin dia tahu mengenai keadaanku,
oleh sebab itu dia memilih untuk pergi ke Cincinnati untuk melarikan diri karena
dia tidak mampu menghadapiku? Tapi sekarang aku sadar bahwa aku tidak
mengenal Ervin sebaik yang kukira. Banyak tindakan yang dilakukannya akhirakhir
ini yang membuatku mempertanyakan seberapa kenalnya aku akan
kepribadian Ervin. Aku juga merasa sepertinya Ervin tidak mengenalku, sampaisampai
dia tidak melihat pergantian pola makanku selama dua bulan terakhir ini.
“Oh ya? Gitu dong. Bangga gue sama elo,” ucapku, mencoba untuk menutupi
kekecewaan dan kesedihanku.
“Gue berangkat dua minggu lagi buat tiga bulan.” Ervin mendatangi kursiku
dan memelukku.
Aku tidak bisa mengomentari apa-apa.
Setelah Ervin melepaskan pelukannya aku baru bisa berbicara. “Dua minggu?
Tapi lo datang kan ke resepsinya Baron dan Oli?” tanyaku. Mudah-mudahan dia
tidak akan berangkat sebelum itu, karena aku membutuhkan seseorang untuk pergi
ke pernikahan itu denganku. Aku tidak akan mau pergi ke acara itu sendiri.
Untungnya aku tidak pernah mendengar gosip dari sobat-sobatku mengenai insiden
di rumahku ketika Baron melamarku. Tapi ada kemungkinan besar sobat-sobatku
hanya ingin melindungiku dan tidak memberitahuku.
Ervin berjalan ke arah jendela dan kuempaskan tubuhku ke sandaran kursi.
“Datang dong. Oh ya, kemarin gue ketemu Oli di lobi. Dia bilang dia baru
ketemu elo,” ucap Ervin santai.
Aku mengangguk. Aku lalu menunjukkan undangan pernikahan Baron dan
Olivia yang terbuat dari kertas cokelat berlapis kain beludru warna merah, kepada
Ervin.
“Gue berangkat besoknya. I can’t wait,” lanjutnya menggebu-gebu.
Aku memandangi Ervin. Wajahnya penuh senyum. Bagaimana mungkin aku
tidka pernah memberinya perhatian lebih dulu? Bagaimana mungkin aku hidup
selama dua tahun belakangan ini tanpa menyadari bahwa Ervin-lah gambaran lakilaki
sempurna untukku, bukan Baron? Selama ini aku sudah salah alamat, dengan
mengira perasaanku pada Ervin sekadar naksir wajah gantengnya saja.
“Dri... lo kenapa sih, kok diam saja?” Dengan pertanyaan itu aku kembali ke
realita.
“Nggak... gue nggak kenapa-napa,” jawabku dan mencoba tersenyum.
“Nggak, nggak, pasti ada apa-apa. Tampang lo kayak gitu.”
“Kayak gitu gimana?”
“Kayak lo mengkhawatirkan orang di seluruh dunia.”
Ervin berlutut di hadapanku. Not the world sweetheart, just you, ucapku dalam
hati. Aku bersyukur aku memutuskan untuk tidak mengatakan tentang keadaanku
kepadanya.
“Gue baik-baik aja kok,” ucapku akhirnya mencoba meyakinkannya.
Ervin ragu sesaat sebelum kemudian berkata bahwa dia harus bersiap-siap
untuk meeting dan menghilang dari ruanganku.
* * *
Hari perniakahan Baron dan Olivia, aku duduk di tempat tidurku menunggu Erivn
menjemputku. Selama beberapa hari belakangan aku mencoba membantu
mempersiapkan keberangkatannya ke Cincinnati. Ina dan Reilley sudah tahu
tentang kehamilanku karena Mbak Tita tidak bisa kalau tidak menceritakan tentang
itu ke mereka. Aku masih belum menceritakan keadaan perutku yang smeakin
membesar ini kepada ketiga sobatku, tapi itu adalah hal terakhir yang ada di
pikiranku sekarang ini. Ervin akan meninggalkanku besok selama tiga bulan. Itu
berarti dia tidak bisa datang ke pernikahan Eddie bulan April di Kuala Lumpur.
Aku sudah memutuskan untuk mengambil cuti lima hari dan datang ke pernikahan
Eddie. Vincent memintaku tinggal di rumahnya selama aku tinggal di KL. Aku
sempat ngobrol melalui Facebook dengan Farah, yang ternyata sangat antusias
untuk bertemu denganku. Vincent rupanya sudah banyak bercerita tentang diriku,
dan Farah juga mendengar banyak cerita dari Eddie tentangku. Aku masih belum
ada kontak dengan Baron. Aku tidak tahu apakah Ervin masih mengontak Baron,
aku tidak pernah menanyakan hal itu.
Hari itu aku mengenakan gaun agak longgar. Meskipun aku tahu perutku
belum kelihatan membuncit, aku tidak mau mengambil risiko. Selama perjalanan ke
Balai Sudirman, Ervin lebih banyak bicara daripada biasanya. Dia mau membuat
banyak perubahan di divisinya. Aku baru tahu, ternyata alasannya menolak posisi
Brand Manager Clean adalah karena dia tahu bahwa atasannya akan ditransfer ke
Australia, dan dia tahu bahwa dia akan diminta untuk menggantikan atasannya itu.
Aku jadi kagum pada Ervin yang untuk pertama kalinya terdengar memiliki
rencana di hidupnya. Aku mencoba mendengarkan dan berpatisipasi dalam
percakapan itu, tapi aku tidak bisa terlalu fokus. Yang ada di pikiranku cuma dalam
waktu delapan belas jam Ervin akan pergi ke ujung dunia yang jauh sekali dariku,
dan bahwa dalam tiga bulan dia akan kembali dan mendapati diriku sudah hamil
besar.
Suasana resepsi pernikahan Baron dan Olivia ternyata megah sekali. Aku berdiri
di samping Ervin ketika arak-arakan pengantin memasuki ruangan. Olivia kelihatan
sangat cantik dengan kebaya putih yang penuh payet, sedangkan Baron, seperti
biasa kelihatan SUPERGANTENG, malam itu mengenakan beskap putih. Olivia
melihatku dan tersenyum. Aku melambaikan tangan antusias. Baron melihatku dan
tatapannya kelihatan sedih. Aku tersenyum padanya dan mengangguk hormat.
Aku menikmati suasana pesta, yang kebanyakan kuhabiskan untuk
memandangi wajah Ervin. Mencoba mengingat-ingat setiap segi, setiap sisi dari
patung Dewa Yunani satu itu. Aku sadar bahwa malam ini adalah malam terakhir
aku betul-betul bisa melihat wajahnya untuk tiga bulan ke depan. Ervin yang sadar
aku memandanginya semalaman jadi salting. Tapi semua rasa yang ada di hatiku,
kebahagiaan ataupun kesedihan, tidak ada tandingannya dengan keterkejutanku
ketika bersalaman dengan kedua mempelai. Pertama aku bersalaman dan mencium
pipi Baron yang tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku beralih ke Olivia, dan
Ervin sempat ngobrol sebentar dengan Baron. Ketika aku mencium Olivia, dia
membisikkans esuatu di telingaku yang membuat darah di sekujur tubuhku jadi
beku.
“Kapan lahir bayinya?”
Bola mataku rasanya akan loncat keluar ketika aku menatap Olivia yang sedang
tersenyum. Dari mana dia tahu? Tapi sebelum aku bisa menjawab pertanyaan itu,
aku sudah didorong oleh Ervin. Olivia pun beralih menyalami Ervin sambil tetap
tersenyum padaku. Aku berjalan menjauhi pelaminan dengan langkah tidak pasti,
mencoba mengontrol detak jantungku. Sisa malam itu, aku tidak mendengar apa
pun yang dikatakan Ervin padaku.
* * *
Aku berjanji akan mengantarkan Ervin ke bandara keesokan harinya, tapi karena
terlalu shock dengan kata-kata Olivia, aku tidak berani bertemu Sarah atau anggota
keluarga Ervin lainnya. Kalau Olivia bisa sampai tahu bahwa aku sedang hamil,
berarti ada kemungkinan perempuan lain juga sadar bahwa aku hamil. Akhirnya
aku menelepon Ervin beberapa jam sebelum keberangkatannya dan memohon maaf
karena aku tidak bisa mengantarnya ke bandara. Aku beralasan sedang datang
bulan. Alhasil aku habis diomeli olehnya. Aku dibilang tidak setia sama teman (bisabisanya
dia ngomong gitu, apa dia benar-benar tidak tahu dia itu lebih dari sekadar
teman bagiku?), tidak perhatian dengannya, dan tidak akan kangen dengannya
yang akan pergi selama tiga bulan, bla bla bla... Tapi aku tetap bergeming. Ervin
meneleponku beberapa kali dalam perjalanannya menuju bandara, masih memohon
agar aku ikut mengantar. Akhirnya aku berhenti menjawab teleponku. Aku hanya
duduk terdiam di kamarku saat jam keberangkatan pesawat Ervin tiba.
“I’ll see you in three months,” ucapku pelan. Lalu kusembunyikan wajahku di
antara bantal-bantal di atas tempat tidurku dan menangisi kesialan kuadratku ini.
18. MINGGAT
BULAN April pun tiba. Kehamilanku yang sudah masuk empat bulan belum
menunjukkan tanda-tanda kegendutan di perutku meskipun sekarang aku makan
semakin banyak. Aku berusaha sebisa mungkin agar orang kantor tidak ada yang
tahu bahwa aku hamil. Kalau sampai tahu, mereka akan mulai bertanya-tanya siapa
bapaknya. Apalagi jika mereka tahu aku hamil tanpa punya suami, entah apa yang
akan mereka gosipkan.
Ervin masih sering e-mail tapi tidak pernah menelepon untuk menceritakan
keadaannya di sana. Dari e-mail-nya sepeertinya dia happy. Entah kenapa, tapi
seperti ada satu hal yang kurang dalam setiap e-mail-nya itu, baru belakangan aku
sadar e-mail-nya tidak pernah menyinggung masalah perempuan. Cukup aneh. Ini
Ervin, laki-laki yang tidak bisa hidup tanpa perempuan. Atau mungkin dia hanya
menyembunyikannya dariku?
Akhirnya setelah yakin Baron tidak akan macam-macam denganku, Olivia
memperbolehkan Baron menemuiku. Olivia sempat mendesakku untuk
menceritakan siapa ayah bayiku, tapi aku bersikeras menolak menjawab pertanyaan
itu. Aku juga meminta Olivia untuk tidak menceritakan apa yang dia tahu pada
siapa pun. Tapi buntutnya Olivia bisa menebak dengan benar ayah bayiku dan
terbongkarlah rahasiaku. Baron pun akhirnya tahu dan menasihatiku tentang Ervin
di luar kontrol Olivia.
“Aku cuma bilangin saja ke kamu, Di, Ervin itu buaya darat, sebuaya-buaya
daratnya laki-laki yang aku kenal. Kamu memang lebih bagus nggak sama dia.
Merana kamu kalau sama dia,” ucap Baron suatu hari ketika kami bertemu untuk
lunch.
Olivia yang dari tadi mencoba menginjak kaki Baron supaya berhenti berbicara
akhirnya menyerah dengan wajah memohon maaf kepadaku. Aku hanya tertawa
melihat mereka karena tidak ada satu pun perkataan Baron yang belum aku sendiri
ketahui. Meskipun memang aku mengharapkan bahwa orang yang lebih mengenal
Ervin bisa meyakinkanku bahwa aku salah, tapi aku tahu feeling-ku hampir tidak
pernah salah. Dengan begitu Baron dan Olivia berjanji menyimpan rahasiaku
sehingga aku siap untuk menceritakannya kepada orang lain, terutama kepada
Ervin. Aku jadi merasa bersalah kepada Ervin karena sepertinya banyak orang lain
sudah tahu lebih dulu tentang Scarlett kecuali dia, ayah bayiku ini.
* * *
Selama beberapa bulan belakangan ini Mbak Tita selalu menemaniku kalau aku
pergi menemui dokter kandungan. Aku selalu menghindar apabila Sarah ingin
bertemu denganku. Aku beralasan bahwa ada urusan keluarga yang tidak bisa
kutinggalkan. Untungnya, Kirana, kakak Ervin yang tinggal di London itu
kemudian datang ke Jakarta dan menetap selama beberapa minggu, sehingga Sarah
tidak memaksaku lagi untuk menemaninya ke mana-mana. Sarah sangat antusias
untuk memperkenalkanku dengan Kirana, tapi lagi-lagi permintaannya selalu
kutolak sehalus mungkin.
Pagi itu, hari Sabtu dua hari sebelum keberangkatanku ke Kuala Lumpur, aku
pergi menemui dokter kandunganku ditemani oleh Mbak Tita. Aku masuk
menemui dokter sendirian karena Mbak Tita sibuk dengan Lukas, sehingga dia
memutuskan menungguku di lobi.
Ketika keluar dari ruang dokter, aku mengalami serangan jantung yang pertmaa
selama aku hamil. Aku lihat Sarah sedang duduk di samping seorang wanita yang
tidak kukenal. Mereka berdua sedang ngobrol dengan kakakku.
Oh my God, what are they talking about? Ketakutanku tiba-tiba muncul. Ada rasa
mual di perutku, dan aku tahu itu tidak berasal dari nasi goreng yang kumakan tadi
pagi. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam.
Santai Adri, santai.... Mereka mungkin hanya sedang membicarakan tentang lalu
lintas di Jakarta, omelku pada diriku sendiri. Lalu aku berjalan mendekati mereka
dengan langkah pasti. Tapi ketika aku cukup dekat, dari wajah Sarah aku sudah
tahu bahwa kakakku baru saja membongkar rahasiaku.
“Mbak Adri????!!!!!!” teriak Sarah.
Teriakan Sarah tidak hanya membuatku terkejut, tapi juga semua orang yang
sedang ada di lobi, sekarang menatapku ingin tahu.
“Mbak, ini teman kantornya Ervin yang pergi sama dia ke Lembang Tahun Baru
kemarin,” ucap Sarah pada wanita yang tidak kukenal itu. Setelah dilihat-lihat
wajahnya mirip sekali dengan Sarah dan rupanya sedang hamil besar. Wanita itu
langsung sibuk dengan HP-nya. Kemudian aku mendengar dia berteriak-teriak di
telepon.
“You bloody wanker, you knocked a girl up and you left?” teriak wanita itu dengan
aksen seperti orang Inggris.
Aku baru sadar kemudian wanita itu adalah Kirana dan dia sedang berbicara
dengan Ervin. Aku langsung memandang kakakku yang kelihatan bingung dan
bersalah sambil menggendong Lukas.
“Apa-apaan sih?” tanyaku padanya.
Kakakku masih memandangiku dengan muka bingung. Lalu Sarah berbicara
padaku.
“Mbak, ini anaknya Ervin, kan?” tanya Sarah sambil menunjuk ke perutku.
Jantungku langsung kembali berhenti berdetak.
“Mbak...?” tanyaku pada kakakku.
“Kok nggak bilang ke aku sih kalau Mbak hamil? Kurang ajar si Ervin, bisabisanya
dia ninggalin Mbak lagi hamil begini,” kata Sarah sambil memelukku.
Sekarang semua orang di ruang tunggu menatapku dengan rasa penasaran yang
tidak disembunyikan lagi.
“Di, ini orang-orang, siapanya Ervin?” tanya kakakku.
Aku melepaskan diri dari pelukan Sarah dan mencoba untuk menjelaskan
keadaan.
“Nggak usah pura-pura nggak tahu deh. Dasar. Gue nggak nyangka adik gue
ternyata laki-laki nggak bertanggung jawab,” Kirana masih ngomel di telepon. Kini
dia ngomel dengan bahasa Indonesia, sehingga semua orang di lobi bisa mengerti
permasalahanku yang kuhadapi. Aku kaget juga melihat Kirana yang jelas-jelas lagi
hamil, setidak-tidaknya enam bulan itu, masih punya cukup tenaga untuk ngomel.
“Mbak, ini Sarah, adiknya Ervin. Yang lagi di telepon itu kakaknya,” aku
memperkenalkan Sarah pada kakakku.
Sarah langsung memeluk kakakku.
“Waktu Mbak cerita tentang adik Mbak, aku nggak tahu itu ternyata Mbak
Adri,” jelas Sarah padaku dan kakakku.
Aku memandangi kakakku meminta penjelasan.
“Pulang lo sekarang juga! Enak saja! Nggak kasihan lo sama dia yang mesti
ngurus anak lo sendirian?” aku mendengar Kirana masih lanjut ngomel di HP-nya.
“Gue tadi ngobrol-ngobrol sama mereka. Mereka tanya ke gue, gue lagi ngantar
siapa. Terus gue cerita saja kalau gue lagi ngantar adik gue yang hamil empat bulan.
Sepertinya dia hamil setelah pergi ke Lembang sama teman kerjanya dan orangnya
sekarang lagi ada di Amerika bla bla bla.... Sumpah, gue nggak tahu mereka ini
related sama Ervin,” jelas kakakku.
Aku langsung lemas. Selama beberapa menit aku berharap bahwa dugaanku
salah, tapi ternyata benar. Rahasiaku sudah betul-betul terbongkar. Kakiku tidak
mampu lagi menopang tubuhku, kuempaskan diriku ke salah satu kursi.
“Sebagai satu-satunya laki-laki di keluarga kita, seharusnya lo lebih bisa untuk
menjaga nama keluarga, bukannya menghamili anak orang terus lo tinggal.” Kirana
lalu menutup HP-nya dengan keras.
“Adri? Gue Kirana, kakaknya si orang gila nggak bertanggung jawab, bapaknya
si bayi ini. Sumpah mati tuh anak kalau nanti pulang... entah bakal gue apain.”
Kirana memelukku dengan paksa. Kudengar bunyi HP-ku. Aku lihat bahwa
nomornya “unknown”. Aku melepaskan diri dari pelukan Kirana untuk menjawab
teleponku.
“Halo?” ucapku.
Terdengar suara Ervin di ujung telepon.
“Hamil? Elo hamil? Lo bilang lo sudah minum...” Aku tidak sanggup untuk
mendengar apa lagi yang mau dikatakannya. HP langsung kumatikan karena aku
tahu dia akan mencoba menghubungiku lagi.
Aku masih mencoba mencerna semuanya.
“Kok bisa-bisanya sih, Mbak, ngasih Ervin pergi ke Amerika, padahal Mbak lagi
hamil begini?” tanya Sarah padaku. “Pakai dia nggak ngomong-ngomong ke kita
lagi soal ini,” ucap Sarah pada Kirana.
“Ervin nggak tahu gue hamil,” jawabku pelan.
“Hah?” teriak Sarah dan Kirana bersamaan.
“Kok bisa? Memangnya... lho kok... kok bisa?” Kirana bertanya bingung.
“Gue nggak pernah kasih tahu dia,” jawabku singkat.
Sarah dan Kirana kelihatan tambah bingung lagi.
“Itu sebabnya dia bingung waktu gue marah-marah,” ucap Kirana dengan nada
masih setengah bingung. “Sudah nggak akpa-apa, gue sudah bilang ke dia supaya
pulang sekarang juga ke Jakarta untuk menyelesaikan urusan ini. Bayi ini bayinya
Ervin. Dia harus tanggung jawab,” lanjutnya.
Mendengar kata-kata itu aku langsung panik.
“Oh nggak, nggak. Ini bayi gue, tanggung jawab gue. Ervin nggak salah, dia
nggak tahu. Dia nggak ada kewajiban apa-ap ake gue,” ucapku cepat.
“Apa maksud kamu kewajiban? Bayi ini pemberian Tuhan, bukan kewajiban,”
ucap Kirana tegas.
Kakakku mencoba menengahi keadaan.
“Kirana, gue Tita, kakaknya Adri. Kayaknya kita musti hormati kemauan Adri
untuk mau membesarkan bayi ini sendiri tanpa Ervin,” ucap kakakku pelan.
“Nggak bisa begitu. Keluarga gue nggak pernah ada yang punya anak di luar
nikah dan gue nggak akan memperbolehkan Ervin merusak citra yang sudah
dibangun selama empat generasi.”
“Ini bukan masalah citra keluarga, tapi hati juga. Ervin nggak cinta sama adik
gue, nggak mungkin mereka bisa sama-sama.”
“Siapa bilang Ervin nggak cinta?” sambar Sarah.
Kakakku menunjukku, wajahnya bingung. Aku tidak menghiraukannya.
“Berapa kali sih aku bilang Ervin cinta sama Mbak Adri? Cuma Mbak Adri
nggak pernah mau percaya,” kata Sarah gemas.
“Lho... Ervin cinta sama kamu?” tanya kakakku padaku.
Aku menggeleng. Aku hanya mendengar kakakku yang kemudian berdiskusi
dengan Kirana tentang keadaanku. Buntutnya mereka setuju aku harus menikahi
Ervin setibanya di Jakarta.
Ya Tuhan, kenapa juga sih aku harus pergi ketemu dokter kandunganku hari
ini? Kenapa tidak kemarin atau besok? Kenapa aku harus bertemu dengan Sarah
dan Kirana? Aku sudah bertekad membesarkan Scarlett sendiri, tanpa bantuan siapa
pun. Sekarang rencana itu buyar. Aku mencintai Ervin, tapi aku tidak akan pernah
bisa menikah dengannya. Dari tingkah lakunya aku tahu Ervin sangat menentang
ide perkawinan, dan aku pun tahu bahwa dia belum siap untuk menjadi seorang
suami, apalaig ayah. Aku bahkan belum pernah melihatnya dengan anak kecil. Aku
tidak mau menikah dengan laki-laki hanya karena aku hamil, meskipun aku
mencintai laki-laki itu dan aku sedang mengandung anaknya. Aku tidak mau
menikah karena terpaksa dan aku juga tidak mau memaksa Ervin untuk
menikahiku.
Dan dengan begitu, otakku mulai bergerak untuk merencanakan langkahlangkah
yang harus kuambil untuk mengatasi dilemaku ini. Meskipun aku berjanji
bahwa aku akan menyetujui rencana Kirana dan kakakku bahw amereka akan
mengatur urusanku dengan Ervin, malam itu juga aku memasukkan bajuku ke
dalam koper dan memesan tiket baru yang akan memberangkatkanku ke Kuala
Lumpur pukul tujuh pagi keesokan harinya. Aku tidak peduli bahwa aku baru saja
kehilangan uang satu juta rupiah karena membatalkan tiket yang telah kupesan
sebelumnya. Aku juga memberitahu Vincent dan Farah bahwa aku akan tiba sehari
lebih cepat dan meminta mereka agar tidak memberitahukan keberadaanku kalau
ada yang menghubungi dan menanyakan hal itu. Aku bahkan tidak memberitahu
orangtuaku tentang keberangkatanku yang lebih cepat ini, karena aku takut mereka
akan memberitahu kakakku. Menurut perhitunganku, kalau Ervin memang dapat
pesawat kemarin juga, maka dia akan tiba di Jakarta sekitar tiga puluh jam dari
sekarang dan aku harus sudah menghilang sebelum dia tiba di Jakarta. Aku harus
minggat.
* * *
Ketika bertemu Vincent lagi, aku hanya bisa tersenyum melihat wajah culunnya.
Wajahnya masih tetap sama, tapi kini dengan Farah di sampingnya, dia kelihatan
lebih bahagia. Farah ternyata bertubuh kecil dan kurus, tapi penuh energi sehingga
membuatnya seperti bola ping-pong. Vincent dan Farah sempat bingung melihat
tingkah laku dan permintaanku yang seperti orang gila. Tapi mereka tetap
menerimaku untuk tinggal di rumah mereka. Farah sepertinya merasa bahwa ada
sesuatu yang tidak beres denganku. Seperti Olivia, Farah langsung tahu kalau aku
sedang hamil. Entah bagaimana perempuan bisa tahu tentang itu sedangkan lakilaki
sangat buta dengan tanda-tanda yang nyata berada di depan mata mereka.
Seperti juga Baron, buntutnya Vincent tahu tentang keadaanku karena diberitahu
oleh Farah. Untungnya mereka tidak bertanya-tanya lebih lanjut tentang ayah
bayiku. Aku hanya mengatakan bahwa aku hamil sendiri, dan sekali lagi aku
meminta mereka untuk tidak memberitahu siapa-siapa tentang keadaanku.
Selama tiga hari pertama aku loncat setiap kali ada bunyi telepon atau bel
rumah, tapi bukan Ervin. Eddie yang melihatku sudah sampai di KL mengundangku
untuk datang ke acara tea ceremony-nya yang akan diadakan hari Jumat, sehari
sebelum pernikahan di gereja dan resepsi. Dia sempat menanyakan Ervin, aku
bilang Ervin tidak bisa datang. Meskipun tidak puas dengan jawabanku, Eddie tidak
memaksa. Ibu, Bapak, dan Mbak Tita meneleponku berkali-kali setibanya aku di KL
dan memintaku untuk pulang. Aku memang telah meninggalkan nomor HP Vincent
sebagai emergency contact, tapi aku tidak meninggalkan informasi lainnya.
Akhirnya aku baru bisa tidur nyenyak pada hari keempat karena pikiranku
sudah lebihtenang setelah berkesimpulan bahwa Ervin telah memutuskan untuk
menyelesaikan training-nya daripada pulang ke Jakarta. Di satu sisi aku bersyukur,
karena itu berarti dia tidak akan datang tiba-tiba dan memaksaku melakukan hal-hal
yang aku tidak kehendaki, tapi di sisi lain aku merasa sedih karena sekarang aku
tahu bahwa Ervin betul-betul tidak peduli padaku.
* * *
Hari Jumat sore ketika aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke acara tea ceremony
Eddie, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Ternyata Othman. Aku senang
sekali bisa bertemu dengannya lagi, dia sedang bertugas ke Penang ketika aku tiba
di KL beberapa hari yang lalu, sehingga aku belum bertemu dengannya. Ketika
sedang memeluk Othman aku baru sadar Othman tidak datang sendiri, ada satu
orang lagi bersamanya. Sayangnya wajahnya tertutup oleh Vincent yang berdiri
membelakangiku. Baru kemudian aku sadar siapa orang itu setelah Vincent
bergerak agak ke kiri dan aku bisa melihatnya dengan jelas.
“Ervin,” ucapku pelan.
Ervin kelihatan ganteng, seperti biasanya dengan jas hitam. Rambutnya yang
sudah agak panjang, tidak terlalu jabrik lagi. Ervin... my sweetheart, sekarang ada di
depanku. Dia datang menemuiku. Tapi... bagaimana dia bisa tau bahwa aku tinggal
dengan Vincent? Pasti gara-gara gerombolan si berat, pikirku. Lalu seperti otakku
baru betul-betul bekerja aku mulai merasa panik. Ervin di sini? Buru-buru aku
melangkah kembali ke dalam kamarku dan mengunci pintu di belakangku. Baru
kemudian aku sadar bahwa aku sudah mengunci diri dengan Othman berada di
dalam kamar bersamaku.
“Awak ni buat apa?” tanya Othman padaku bingung.
“Kamu datang bersama dia? Kamu datang bersama Ervin. Kamu yang mengajaknya
ke sini?” teriakku padanya.
Kemudian aku mendengar suara Ervin. “Dri, ini gue, bisa tolong buka
pintunya?”
Othman menatapku seperti aku sudah gila. “Ya, I brought him here, because he is
staying with me and Zach in our apartment. We picked him up just this afternoon. Dia cakap
awak dah tahu dah.”
Dasar Ervin, bisa-bisanya dia bohong sama mereka.
“Oke, Othman, listen to me. Aku tidak mau bertemu dengannya sekarang. Aku
tidak bisa. Kamu harus... Oh God... kamu harus menahannya sampai aku
meninggalkan rumah, oke. Can you do that?”
“Apa? Mana boleh? Awak ni gila ke?”
Sekali lagi terdengar suara ketukan di pintu, sekarang lebih keras. Aku tidak
menghiraukan apa yang sedang dikatakan Othman dan mulai memikirkan suatu
cara untuk minggat dari rumah ini. Sayangnya aku tidak bisa loncat jendela karena
kamarku berada di lantai dua. Satu-satunya pilihan adalah aku harus lari ke kamar
sebelah yang dihubungkan dengan connecting door dari kamar mandi dan mencoba
menyelinap keluar. Untungnya pintu kamar sebelah tidak menghadap ke lorong,
tapi menghadap ke tangga yang tersembunyi dari pandangan mereka yang sedang
berdiri di lorong.
Buru-buru aku menuju kamar mandi. Aku mengunci pintu kamar mandi itu dan
melangkah masuk ke kamar sebelah. Pelan-pelan aku membuka pintu untuk keluar.
Aku mengintip sedikit dan melihat Farah. Farah juga melihatku. Aku meletakkan
jari telunjukku di depan bibir, memintanya agar tidak mengatakan apa-apa.
Sayangnya lantai di rumah Vincent tidak dilapisi karpet sehingga langkahku ketika
menuju tangga dengan sepatu hakku bisa terdengar cukup jelas meskipun aku
sudah berhati-hati. Aku baru menuruni dua anak tangga ketika aku mendengar
suara Ervin.
“Adriiiiii.” Dan larilah aku menuruni tangga secepat mungkin. Aku mendengar
suara langkah Ervin yang berlari dengan cepat di belakangku. Ya Tuhan, kenapa sih
dia harus muncul sekarang? Kenapa dia tidak tinggal saja di Amerika?
“Adri, tunggu!” teriak Ervin lagi.
Aku lari menuju ruang tamu dan mengambil salah satu kunci mobil yang
digantung di sebelah pintu. Aku tidak tahu itu kunci mobil apa atau punya siapa.
Aku lari ke arah dapur yang menghubungkan rumah dengan garasi. Aku menoleh
ke belakang dan melihat Ervin semakin dekat denganku. Kulihat kunci yang ada di
dalam genggamanku adalah kunci Honda milik Farah. Aku menekan tombol untuk
membuka kunci mobil dan berlari ke arah pintu pengemudi. Tapi terlambat. Ervin
sudah menarik tanganku sebelum aku bisa masuk mobil.
“Lo mau ke mana sih?” teriaknya. wajah Ervin kelihatan marah dan sangar. Aku
baru sadar akan garis hitam di bawah matanya, seakan-akan dia belum tidur
berhari-hari dan meskipun dia mengenakan pakaian yang rapi, tapi dia belum
bercukur hari ini.
“Lepas, Vin,” ucapku mencoba menarik pergelangan tanganku dari genggamannya.
Dia malahan semakin mengeratkan genggamannya dan menekan tubuhku ke
badan mobil dengan tubuhnya.
“Lo bilang lo cuma lagi nggak enak badan waktu kelihatan pucat berhari-hari
bulan Februari,” teriaknya lagi.
“Vin...,” aku memohon padanya. Aku tahu Ervin sedang marah besar dan aku
harus hati-hati.
“Kenapa lo nggak bilang, Dri? Bisa-bisanya Baron tahu lebih dulu daripada
gue... Sarah, Kirana, semua orang sudah tahu, kecuali gue!!!”
Aku merasakan tubuh Ervin mulai menekan perutku. Akhirnya naluri
keibuanku keluar dan aku menyerang balik. Kudorong Ervin dengna sekuat tenaga
hingga dia bertabrakan dengan SUV Vincent yang diparkir di sebelah dan alhasil
alarmnya langsung berbunyi. “Karena gue tahu lo nggak akan mau gue dan Scarlett,
Vin.”
Aku mendengar bunyi blip-blip dan suara alarm SUV itu pun terhenti.
Untungnya Farah, Vincent, dan Othman tetap tidak kelihatan. Sepertinya mereka
memang sengaja memberi aku dan Ervin sedikit privasi yang memang kami
perlukan.
“Scarlett?” Ervin kelihatan bingung.
Aku lupa dia tidak tahu apa-apa tentang bayiku. “Scarlett, bayi ini namanya
Scarlett,” jelasku akhirnya.
“As in Scarlett Johansson?” tanya Ervin memandangku bingung.
“No, as in Scarlett O‟Hara,” balasku ketus.
Ervin menatapku dengan tatapan tidak percaya. “Anak kita perempuan?”
tanyanya pelan. Matanya langsung mengarah ke perutku. Secara otomatis tanganku
langsung menutupi perutku.
“Bukan kita, gue... ini anak gue, Vin. Punya gue. Gue nggak perlu elo untuk
ngurus dia.”
“Tapi gue juga punya andil bikin... Scarlett,” ucap Ervin dengan nada agak ragu
ketika menyebutkan nama Scarlett.
Ya ampuuunnnn, apa dia pikir aku bisa lupa tentang itu?
“Jadi lo pikir hanya karena itu lo punya hak atas Scarlett, gitu?”
Ervin menatapku dan kembali menatap perutku. Dia kelihatan kaget atas
reaksiku yang sangat protektif. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara.
“Ayo kita pulang, Dri, kita selesaikan masalah ini di rumah.” Nadanya terdengar
terlalu tenang, kepanikanku kembali lagi.
“Rumah? Rumah siapaaaaaa?” teriakku.
“Rumah kita,” jawab Ervin tidak kalah keras.
Aku terdiam sesaat. Dia baru bilang rumah kita—kami? Sejak kapan kami
punya rumah? Kuhapuskan kebingunganku dan maju terus dengan penyangkalanku.
“Nggak, gue nggak mau. Nanti Mbak Tita sama Kirana akan paksa kita untuk
nikah. Lo nggak siap untuk nikah, Vin, apalagi punya anak.”
“Siapa bilang gue nggak siap?”
“Karena lo belum siap,” teriakku sudah siap menangis.
Ya Tuhan, kenapa sih aku harus teriak-teriak seperti orang gila? Apa aku tidak
bisa berbicara perlahan-lahan seperti orang pada umumnya? Ini bukan salah Ervin.
“Dengar ya, Vin, lo gue kasih free pass, lo harus ambil sekarang. Itu lebih baik
buat elo,” ucapku pelan.
“Gue nggak mau free pass, Dri,” jawab Ervin.
“Jadi elo maunya apa?”
Ervin perlahan melangkah ke arahku. Melihat tampangnya yang tenang tapi
garang, aku panik. Aku mundur beberapa langkah.
“Gue... mau... elo...,” desis Ervin. Tatapannya terlihat frustrasi bercampur
kelembutan yang membuat lututku tiba-tiba lemas.
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya menatapnya dengan mulut ternganga.
Melihatku tidak bereaksi, Ervin berjalan selangkah demi selangkah ke arahku
sambil mencoba meyakinkanku.
“Gue sudah beli rumah, surat-suratnya masih perlu diselesaikan tapi pada
dasarnya rumah itu sudah milik gue. Gue sudah tukar-tambah mobil gue sama SUV
supaya lebih nyaman untuk Scarlett.” Kini nadanya Ervin sedikit lebih pasti ketika
mengucapkan nama Scarlett.
Ervin berdiri di hadapanku. Aku memandangi wajahnya yang mencoba untuk
meyakinkanku. Tapi aku masih tidak yakin. Aku masih belum bisa percaya satu
kata pun yang diucapkan oleh Ervin. Akhirnya aku hanya bisa bertanya, “Lo jual
mobil lo?”
Ervin mengangguk. Dia tidak mencoba menyentuhku sama sekali.
“You’re right, as always, M3 gue nggak bisa untuk bawa bayi,” ucapnya.
“Tapi lo cinta sama M3 lo.” Perlahan-lahan es yang menutupi hatiku cair.
“Tapi gue lebih cinta elo, Dri. Mobil ada gantinya, tapi elo... lo nggak ada
gantinya.”
Ya Tuhan, dia baru bilang dia cinta sama aku? Mimpi... aku pasti lagi mimpi.
Aku mulai mencubiti lenganku. Bangun, Adri... bangun...
Ervin meraih tanganku. Tangannya terasa hangat.
“Dri, gue cinta sama elo. Gue harus nikah sama elo dan hidup sama elo. Kita
sama-sama urus Scarlett, kita bagi tugas. Gue tahu gue nggak tahu apa-apa tentang
bayi, tapi kita bisa belajar sama-sama.”
Cair sudah semua es di hatiku. Kugenggam kedua tangan Ervin dengan kedua
tanganku. Aku pandang matanya. Ingin rasanya aku percaya dengan kata-katanya
dengan pernyataan cintanya yang terdengar tulus. Tapi aku belum bisa. Ervin
menggunakan kata “harus” daripada “mau”, yang terdengar seperti suatu paksaan
daripada ketulusan. Untuk pertama kalinya aku lihat bahwa sorot mata Ervin
terlihat sedih. Sedih karena aku, karena aku telah memaksanya melakukan sesuatu
yang tidak sesuai dengan rencana dan keinginannya. Tanganku yang tadinya
menggenggam tangan Ervin naik ke lehernya. Aku dekatkan keningku ke
keningnya. Ervin tidak menolak. Tangan kananku berpegang pada bagian belakang
kepala Ervin.
“Vin, lo nggak perlu melakukan ini. Lo nggak usah merasa kasihan sama gue
atau merasa bahwa lo punya suatu kewajiban terhadap gue. Gue yakin bahwa lo
melakukan ini semua bukan juga karena lo mau gue, karena gue tahu level
seksualitas lo. Gue nggak ada apa-apanya. Gue bisa melalui ini sendiri, Vin, gue janji
gue nggak akan minta apa-apa dari elo,” lanjutku dan melangkah meninggalkan
Ervin menuju rumah.
Aku bisa melihat Farah, Vincent, dan Othman berdiri di depan pintu dapur
yang mengarah ke garasi.
“Tapi aku benar-benar cinta sama kamu, Dri,” ucap Ervin kesal. Kata-kata Ervin
menghentikan langkahku. Dia baru saja menggunakan kata aku dan kamu. Aku
lihat Farah melongo memandangiku. Aku tidak yakin apa dia paham semua yang
baru dikatakan oleh Ervin. Kemudian kudengar Ervin melanjutkan argumentasinya.
“Aku hampir selalu ngerasa kayak sedang disengat listrik setiap kali lihat kamu
sama laki-laki lain. Malam aku cium kamu di rumah kamu itu, aku ngerasa kayak
ada kembang api yang meledak-ledak di sekitarku, aku nggak pernah ngerasain itu
sama siapa pun. Tapi yang paling bikin aku kaget adalah bahwa aku nggak pernah
ngerasa kayak aku perlu orang lain di hidupku, sampai aku ketemu kamu.”
Kini aku yakin Farah mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Ervin karena
aku mendengarnya menarik napas kaget dan tangannya langsung menggenggam
Vincent yang sedang memandangiku bingung.
“Aku tahu bahwa kamu nggak cinta sama aku kayak kamu cinta sama Thomas,
tapi aku nggak akan pernah nyakitin kamu kayak Thomas, Dri. Aku janji. Asal
kamu kasih aku kesempatan,” lanjut Ervin memohon.
Aku berbalik dan menatapnya. Ternyata Ervin memang tidak mengenalku sama
sekali. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir bahwa aku mencintai Baron lebih
daripada aku mencintainya? Hatiku bahkan tidak bisa menampung luapan rasa
cintaku untuk Ervin dan untuk Scarlett. Mereka sudah menjadi bagian diriku.
Aku harus sudah berangkat ke pesta Eddie, matahari sudah terbenam dan hari
sudah mulai gelap. Kuberanikan diri untuk menyelesaikan permasalahan ini. Aku
berjalan mendekati Ervin.
“Thomas nggak ada apa-apanya dibandingin elo, Vin. Saat ini di hati gue cuma
ada elo dan Scarlett. Tapi itu nggak penting karena lo nggak cinta sama gue. Nggak
seperti yang lo pikir setidak-tidaknya.”
Ervin kelihatan kaget atas pernyataanku. “Kamu cinta sama aku,” ucapnya
pelan. Dari nadanya terkesan seperti dia tidak percaya.
Aku tertawa getir dan mengangguk. Aku pegang kepala Ervin di antara kedua
belah tanganku dan menatapnya. “Lo laki-laki baik, Vin, dan gue menghargai segala
sesuatu yang elo sudah lakukan untuk gue, tapi gue dan elo tahu kita nggak akan
bisa sama-sama.”
Tanpa kusangka Ervin menciumku. Ervin berusaha untuk meyakinkanku
dengan ciumannya. Aku berusaha untuk tidak memberikan reaksi, tapi ciuman
lembutnya mengingatkanku akan kelembutan dan kebaikan Ervin.
“Cukup,” ucapku di antara ciumannya. Tapi Ervin tidak menghiraukanku dan
tetap menciumku. Akhirnya kulepaskan genggaman tangannya di pinggangku
dengan paksa. Ervin berhenti meskipun dia menatapku bingung.
“I have to go,” ucapku pelan dan berjalan menjauhinya untuk masuk rumah.
“Kalau ini yang kamu maksud dengan karma, aku sekarang tahu kenapa kamu
bilang karma lebih parah daripada santet.”
Mau tidak mau aku terpaksa menghentikan langkahku dan menghadapnya.
Aku tidak menyangka bahwa dia ingat akan nasihatku.
“Ini bukan karena karma atau santet, tapi karena kita nggak kenal satu sama
lain, Vin,” balasku dan beranjak mendekati pintu dapur.
“Dua paket gula dan dua paket krimer,” ucap Ervin tiba-tiba.
Aku terpaksa menghadapnya lagi dengan tatapan bingung. Apa maksud Ervin?
“Itu cara kamu minum kopi. Dua paket gula dan dua paket krimer. Kamu selalu
minum kopi tanpa kafein karena tubuh kamu nggak bisa mencerna kafein. Daripada
naik feri, pesawat, atau mobil, kamu lebih pilih kereta api supaya kamu nggak
mual.”
Lalu Ervin tertawa sebelum melanjutkan, “Kamu selalu kehilangan HP atau
kunci, kadang memang karena kamu lupa, tapi lebih sering karena kamu memang
teledor. Kamu nggak suka hujan yang menurut kamu bikin semuanya jadi basah.
Makanya kamu lebih suka salju, kecuali kalau kamu adadi dalam rumah atau
kantor. Pertama-tama aku nggak ngerti kenapa, tapi lambat-laun aku sadar alasan
kamu, karena setiap kali hujan dan kamu masih ada di kantor, kamu selalu
kelihatan nggak terburu-buru. Dan satu lagi... kamu cinta mati sama keluarga kamu
dan mungkin kamu nggak pernah sadar ini, tapi menurut aku, kamu orang paling
nggak egois yang kukenal. Karena kalau kamu egois, kamu nggak akan ada di
hadapanku, hamil dengan anakku, tapi masih mencoba untuk meyakinkan diri
bahwa aku nggak cinta sama kamu.”
Semua kalimat Ervin sangat mengena denganku. Ternyata dia betul-betul
mengenalku. Ervin menunggu hingga aku berbicara. Tapi aku tidak menemukan
kata-kata yang tepat untuk membalas apa yang baru saja dikemukakannya.
Menolak untuk mengaku kalah, aku memilih menghindar. Tanpa menghiraukan
Ervin lagi, aku lalu melangkah masuk rumah, melewati Vincent, Farah, dan Othman
yang sedang ternganga melihatku. Aku mendengar Ervin berteriak geram untuk
melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya.
Aku masuk kamarku dan mengambil tas tanganku. Aku baru sadar bahwa
ketika berencana kabur tadi aku tidak membawa dompet, tidak memiliki SIM,
bahkan tidak tahu peta jalan di KL. Kuempaskan diriku ke atas tempat tidur.
Kuputer kembali percakapanku dengan Ervin sebelum kemudian aku menyadari
satu hal. Kalau Ervin ada di sini, berarti dia tidak ada di Cincinnati. Berarti dia
sudah kabur dari training-nya itu, dan kalau dia tidak menyelesaikan training itu, dia
tidak akan bisa menjadi kepala divisi Business Development.
Aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar bunyi mesin mobil. Dari
suaranya sepertinya itu SUV Vincent. Aku buru-buru lari keluar kamar dan hampir
bertabrakan dengan Farah yang sedang bersiap-siap mengetuk pintu kamarku. Aku
harus bicara dengan Ervin. Dia harus menyelesaikan training-nya agar bisa jadi
kepala divisi. Dia harus!!!!
“Viiiiiinnnnn,” teriakku. Ervin sedang berjalan menuju sebuah sedan yang
diparkir di luar pagar rumah Vincent.
Ervin menoleh dan berjalan menghampiriku. Wajahnya penuh tanda tanya.
“Lo kabur dari training lo?” tanyaku ketika dia sudah berdiri di hadapanku.
“Training?” tanyanya bingung. Sepertinya dia mengharapkanku untuk
membicarakan persoalan lain selain training itu.
“Iya, training lo yang di Cincinnati, masih ada tiga minggu lagi, kan?” tanyaku
lagi.
“Iya... tapi aku nggak peduli soal training itu sekarang.”
“Tapi lo harusnya peduli, itu buat karier lo, kan?”
“Tapi aku nggak mau mikirin soal itu sekarang, Dri. Aku sudah pusing.”
“Jabrik, bisa serius nggak sih? Sekaliiii saja seumur hidup lo, tolong serius.”
Aku lihat wajah Ervin yang agak-agak mengulum senyum karena mendengar
aku memanggilnya Jabrik.
“Aku serius kok,” ucap Ervin akhirnya.
“Tapi lo nggak mau mikirin soal training?”
“Nggak.”
“Lo harus mikirin... nggak boleh nggak,” omelku.
Ervin memandangku seperti aku orang gila yang lagi memarahinya tanpa ada
alasan yang jelas.
“Maksud kamu apa sih, Dri?”
“Lo besok harus balik ke Cincinnati untuk menyelesaikan training itu.”
“Sudah aku bilang, aku nggak peduli soal training. Selama masalah kamu dan
aku masih belum jelas seperti ini, aku nggak akan bisa konsentrasi untuk hal
lainnya.”
Sebelum aku bisa berpikir panjang lagi aku berkata, “Kalau gue pulang malam
ini juga sama elo ke Jakarta, apa lo mau balik ke Cincinnati untuk menyelesaikan
training?”
Ervin memandangku tidak percaya. Kemudian dia tersenyum lebar dan
memelukku hingga mengangkatku dari aspal jalanan dan mulai menciumi wajahku.
“Iya... aku berangkat ke Cincinnati besok kalau kamu pulang sama aku malam
ini juga,” ucapnya di antara ciumannya.
Aku mencoba untuk menghindar dari ciumannya yang membuatku sulit
bernapas. “Vin... turunin gue dong. Aduh, perut gue...” Mendengar kata “perut”
Ervin pun melepaskanku dari pelukannya dan menurunkanku pelan-pelan ke aspal.
“Kenapa, Dri...? Eh, Scarlett nggak apa-apa, kan?” tanyanya khawatir.
Tangannya memegang perutku.
“Hey... baby, it’s okay, daddy’s here,” ucapnya. Aku hampir mau pingsan ketika
mendengar kata-kata itu.
19. SKENARIO HIDUP
SETIBANYA di Jakarta, Ervin tidak membawaku pulang ke rumah orangtuaku atau
ke apartemennya. Dia justru membawaku ke daerah perumahan Bintaro dan
berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis dengan cat putih. Ketika
melihat Ervin membawa tasku dan tasnya masuk, aku baru sadar bahwa inilah
rumah yang telah dibeli Ervin. Hal pertama yang terlihat olehku ketika memasuki
rumah itu adalah banyak boks bertebaran di mana-mana. Ervin menggiringku ke
salah satu kamar tidur di lantai atas. Begitu Ervin menyalakan lampu, aku langsung
tahu bahwa ini pasti kamar Ervin karena barang-barangnya sama seperti yang ada
di kamar tidur apartemennya. Lain dengan lantai bawah, kamar itu kelihatan rapi
dan teratur.
Ervin meletakkan tasku dan tasnya di depan lemari, aku pikir kemudian dia
akan meninggalkanku sendiri di kamar itu, tapi dia justru mulai menanggalkan
pakaiannya di hadapanku.
“Lo ngapian, Vin?” tanyaku panik.
“Aku mau mandi, lengket,” ucapnya santai sambil melepaskan celana
panjangnya. Alhasil aku bisa melihatnya hanya dengan boxer brief putihnya.
Aku sebetulnya tidak bermaksud menatapnya, tapi aku tidak bisa melihat ke
arah lain. Tiba-tiba aku teringat akan rasa tubuh Ervin di dalam pelukanku, di
atasku. Hanya dengan memikirkan itu aku langsung berasa gerah.
Ervin sudah menghilang ke kamar mandi sambil menanggalkan briefs-nya.
Tanpa menutup pintu dia lalu berteriak.
“Kalau kamu mau mandi juga, masuk saja, shower-nya besar kok,” teriaknya.
Aku ternganga terkejut. Dia mengharapkanku untuk mandi bersamanya? Sudah
gila, kali. Aduh, Tuhan... aku cuma mau membuat laki-laki yang kucintai ini
bahagia, kok susah banget sih? Aku mendengar bunyi shower dinyalakan di kamar
mandi. Samar-samar kudengar Ervin menyanyikan lirik lagu Lifehouse.
Pelan-pelan aku mulai membereskan bajuku. Kukeluarkan kamisol untuk tidur
dan celana dalamku. Aku baru sadar celana yang biasa kukenakan untuk tidur
tertinggal di tempat Vincent. Kubuka lemari Ervin untuk mencari celana piama yang
bisa kupinjam. Aku sedang mencari di mana dia meletakkan baju tidur ketika
melihat satu botol lotion yang sangat familier di antara kaus-kaus. Lho kok... itu
kan... Benar saja. Itu botol lotion-ku yang masih separo penuh. Aku yakin itu
memang lotion-ku karena tutupnya retak, hasil dari keteledoranku di kamar mandi.
Beberapa bulan yang lalu aku memang kehilangan satu botol lotion, aku sempat
kesal karena kusangka aku tidak sengaja meninggalkan lotion itu di Lembang,
padahal itu adalah persediaan terakhirku. Kok ada di lemari Ervin sih?
“Dri, aku sudah selesai.” Aku mendengar suara Ervin.
Aku melongok dari balik pintu lemari sambil menggenggam botol lotion itu.
“Vin... lotion gue kok ada di elo sih?” tanyaku sambil menunjukkan botol itu
padanya.
Ervin kelihatan agak kaget melihat botol itu, lalu dia terlihat malu.
“Oh... itu... mmmmhhhhh... aku suka... eerrr... kangen sama bau kamu. Sori,
bukan maksud aku untuk ngembat, tapi sayangnya kamu nggak bisa aku bawa ke
Cincinnati, jadi aku bawa lotion kamu saja,” ucap Ervin dengan wajah agak-agak
bersalah.
“Hah?” teriakku.
Tetesan-tetesan air dari rambutnya mulai membasahi dadanya yang belum
ditutupi kaus. Handuk warna biru donker menutupi pinggangnya hingga dengkul.
Dia kelihatan seperti model Calvin Klein.
“Omong-omong, waktu kemarin aku di Cincinnati, aku cari lotion itu. Kamu
bilang stok kamu sudah habis, jadi aku sempatkan untuk beli beberapa botol. Masih
ada di koper, belum keluar semenjak aku balik dari sana.”
Ervin berjalan ke arahku. Aku masih bengong. Dengan cueknya Ervin lalu
mengambil lotion itu dari tanganku, mencium bibirku, dan mengembalikan lotion itu
ke lemarinya setelah menghirup aromanya beberapa detik.
Dia kemudian mulai mengenakan pakaiannya di depanku tanpa ada rasa malu.
Aku bisa melihat semua bagian dirinya. Bukan hal baru sebetulnya, tapi aku masih
tetap kaget bisa melihat tubuhnya di luar konteks seks. Setelah berpakaian dengan
celana piama kotak-kotak dan kaus putih favoritnya, dia mencium bibirku lagi.
“Night sweetie,” ucapnya dan tanpa disangka-sangka dia langsung loncat ke atas
tempat tidur dan mengatur posisi untuk tidur.
Maksudnya dia apa sih? Kalau dia tidur di sini, aku harus tidur di mana?
“Oh ya, kamu biasanya tidur di sebelah mana ya? Nggak apa-apa kan kalau aku
tidur di sebelah kanan?” tanya Ervin yang tiba-tiba sudah duduk kembali di tempat
tidur sambil menunggu jawabanku.
Ternyata benar... dia mengharapkan aku tidur satu tempat tidur dengannya.
Sudah gila, apa? Kami belum menikah. Kami tidak bisa tidur satu tempat tidur.
Kondisiku sekarang ini belum cukup buruk, apa?
“Vin... apa nggak ada tempat tidur lain?” tanyaku pelan.
Ervin memandangku bingung. “Nggak ada, Dri.Memangnya kenapa?”
“Gue... aduhhh... gue nggak bisa tidur sama elo satu tempat tidur. Kita... you
know... belum...” Aku tidak menyelesaikan kalimatku karena Ervin memberikanku
pandangan seperti dia siap mencekikku.
“Maksud kamu, kamu mau tidur misah sama aku?”
Aku mengangguk.
“Memangnya kenapa? Aku nggak ngorok, kan?” tanya Ervin polos.
Ya ampuuunnnn, apa dia tidak mengerti dilemaku? teriakku dalam hati.
“Nggak... nggak... bukan soal ngorok... kita belum... you know...”
Kalimatku dipotong lagi oleh Ervin.
“No, I don’t know,” jawab Ervin.
“Kita belum nikah,” teriakku.
Kedua alis Ervin langsung menjadi satu di atas hidungnya yang mancung itu.
Jelas-jelas dia kelihatan kesal. Tapi daripada mengomeliku, dia malahan turun dari
tempat tidur, membuka laci nightstand di sebelah kiri dan mengeluarkan sesuatu.
Baru setelah dia cukup dekat aku bisa lihat ap ayang ada di genggamannya. Sebuah
kotak beludru berwarna toska. Pelan-pelan dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya
sebentuk cincin berlian yang sangat indah. Lalu dia memasukkan cincin itu ke jari
manis tangan kiriku.
“Aku beli cincin ini untuk melamar kamu bulan Mei nanti,” ucapnya pelan.
Aku hanya bisa menganga menatap Ervin dan cincin yang melingkari jariku.
Jari-jarinya meraba wajahku. Ervin menatapku dan pada detik itu akhirnya aku
betul-betul memahami Ervin. Hatiku serasa sedang terbang ke awang-awang.
“I’m trully,” Ervin mencium keningku, “madly,” dia mencium hidungku,
“deeply,” sudut bibirku, “and desperately,” bibirku, “in love with you.” Lalu Ervin
betul-betul menciumku. Aku bisa mendengar ia sedikit menggeram ketika sadar aku
sedang membalas ciumannya. Bibirnya meninggalkan bibirku untuk beberapa detik.
Napasnya memburu. “Please marry me,” ucap Ervin sepenuh hati sambil menatapku.
Semua es yang menutupi hatiku sudah cair dan kehangatan mulai menyelimuti
hatiku. Ervin benar-benar mencintaiku. Laki-laki pilihanku, laki-laki yang kucintai
telah memilihku, dan untuk pertama kalinya aku bisa menerimanya tanpa ada yang
menghalangiku.
Otakku masih tidak bisa bekerja dengan baik, dan yang keluar dari mulutku
adalah, “Scarlett?” tanyaku.
Ervin tertawa dengan keras. “Apa perlu kamu tanya?” tanyanya setelah
tawanya reda.
Aku tersenyum atas komentarnya. “Good, soalnya kalau nggak, gue bakalan
kabur lagi sebelum lo balik dari Amerika dan kali ini lo nggak akan bisa nemuin
kami,” ucapku sambil mencoba menahan senyuman kebahagiaan yang mulai terasa
di sudut bibirku.
“Kamu nggak bakalan tega,” tantangnya.
“Siapa bilang gue nggak tega?” tantangku balik.
“Soalnya kamu terlalu cinta sama aku,” ucapnya sok yakin.
Aku tadinya masih mau menyangkal omongannya dia, tapi aku tidak bisa. Aku
hanya tersenyum.
Rupanya senyuman itu membuat Ervin ragu. Dia mencengkeram lenganku.
“Kamu cinta kan sama aku?” tanyanya.
“Se... pe... nuh... ha... ti... ku...,” jawabku.
“Kamu mau kan nikah sama aku?”
Aku mengangguk.
“Oh God, I love you,” ucapnya lalu menciumku mulai dari bibir, leher, mata, pipi,
hidung, kening, dada, semuanya. Sampai akhirnya aku menyerah dan harus berlari
ke kamar mandi untuk menjauhi Ervin.
Malam itu aku dan Ervin memang tidur satu tempat tidur. Semalaman dia tidak
mau melepaskanku dan ketika aku terbangun pukul lima pagi untuk ke kamar
mandi dia juga terbangun dan mencariku. Aku baru mengerti sekarang apa artinya
hidup dengan orang yang aku cintai dan juga mencintaiku.
* * *
Atas bantuan Pat dan Sony, Ervin bisa mendapatkan tiket pesawat untuk siang itu.
Aku pergi mengantar Ervin ke bandara dan untuk pertama kalinya kami bisa
bertingkah bagaikan sepasang kekasih. Dalam perjalanan ke bandara aku meminta
penjelasan padanya mengenai beberapa hal. Seperti, bagaimana dia bisa tahu aku
menginap di rumah Vincent? Rupanya dia tiba di Jakarta hari Senin itu jam sebelas
pagi dan langsung menerima omelan dari Kirana dan Sarah karena aku sudah
menghilang. Ervin lalu datang ke rumahku untuk menemui ibu dan bapakku dan
menanyakan keberadaanku. Lalu tanpa melihat reaksi orangtuaku, dia juga
langsung meminta izin untuk menikahiku. Orangtuaku memberinya izin untuk
menikah denganku, walaupun mereka tidak bisa memberikan informasi tentang
keberadaanku. Mereka hanya tahu bahwa aku ada di KL. Saat itu juga dia teringat
akan pesta pernikahan Eddie, dan langsung menghubungi Othman. Kebetulan
mereka memang sempat saling tukar kartu nama sewaktu di Lembang. Othman
yang tidak tahu apa-apa tentang situasiku dengan Ervin langsung menanyakan
kapan Ervin akan tiba di KL karena aku sudah sampai dan tinggal dengan Vincent.
Othman tidak pernah memberitahuku tentang kedatangan Ervin karena dia pikir
aku juga sudah tahu. Setelah mengetahui keberadaanku Ervin merasa lebih tenang
dan bisa mulai mengurus hal-hal lain yang harus diselesaikan di Jakarta. Dia
meminta keluarganya untuk mencarikan rumah baru secepatnya, memindahkan
barang-barangnya dari apartemen, dan mengganti mobilnya.
Lalu keingintahuanku keluar, dan aku harus menanyakan hal itu.
“Vin, lo... maksud aku... kapan kamu sadar kalau kamu cinta sama aku?”
Ervin tersenyum mendengarku mencoba untuk menggunakan kata kamu dan
aku.
“Sejujurnya, Dri, aku juga nggak tahu kapan persisnya. Awalnya aku cuma
sadar kamu orangnya ngangenin, itu sebabnya bagaimanapun sibuknya, aku selalu
berusaha untuk ketemu kamu setiap hari. Yang jelas aku selalu bingung kenapa
kamu nggak pernah cemburu sama aku. Meskipun kemudian aku akhirnya tahu
alasannya.” Ervin tersenyum ketika mengatakan hal ini.
“Tapi aku mulai merasa ada sesuatu yang berbeda di hubungan kita semenjak
malam kita ketemu Thomas di Hard Rock. Kamu mungkin nggak tahu tentang ini,
tapi selama tiga tahun di SMA, Thomas nggak ada habis-habisnya ngomongin
kamu. Didi beginilah, Didi begitulah, aku saja sampai bosan dengarnya. Entah
kenapa, tapi aku nggak rela kamu ternyata perempuan yang diobsesikan oleh
Thomas selama ini. Apalagi setelah aku tahu ternyata kamu juga sama terobsesinya
pada Thomas. Terus aku cium kamu di depan rumah kamu.”
Aku tertegun dengan kata-kata itu. “Kamu cium aku?” tanyaku.
“Iya, yang waktu di rumah kamu...”
Aku potong kalimat Ervin. “Aku yang cium kamu, Vin,” ucapku.
Ervin tertawa. “Mungkin kamu pikir kamu yang cium aku, tapi sebetulnya aku
yang cium kamu duluan,” jelas Ervin dengan wajah penuh tawa.
“Tapi aku rasa aku mulai benar-benar jatuh cinta sama kamu waktu aku lihat
kamu nangis setelah Thomas dan Olivia pulang. Hatiku remuk waktu lihat kamu
kayak gitu. Tapi aku masih belum yakin betul dengan perasaanku itu. Aku
sebetulnya mau tanya apa kamu juga ada rasa sama aku, tapi aku tahu kamu lagi
sedih dan bingung, jadi aku harus nunggu. Sejujurnya, waktu aku ajak kamu ke
Lembang, aku memang cuma mau menghibur kamu, supaya kamu nggak sedih lagi.
Tapi waktu aku lihat gaya kamu yang superseksi...”
“Aku seksi?” tanyaku bingung.
“Banget, Dri,” balas Ervin penuh antusias dan mencium tanganku.
“...gaya seksi kamu itu mulai bikin aku gila. Aku nggak bisa mikirin yang lain
selama weekend itu. Yang ada di pikiranku cuma kamu. Wajah kamu... suara kamu...
tangan kamu... bibir kamu... tubuh kamu... pokoknya semua tentang kamu.”
Ketika mengatakan hal ini aku lihat wajah Ervin sedikit memerah.
“Aku sudah coba untuk menghapus hal-hal yang mau kulakukan ke kamu...”
“Misalnya?” tanyaku penasaran. Aku tidak pernah membayangkan diriku seksi,
apalagi sampai bisa ada di pikiran laki-laki.
Ervin melirik ke arahku. “Kamu nggak mau tahu apa yang ada di pikiranku
waktu itu, Dri,” ucap Ervin tegas.
Aku langsung mengerti maksudnya. “Oh,” ucapku.
“Exactly,” balas Ervin.
“Pada dasarnya, sepulangnya kita dari Lembang, aku sudah seratus persen
yakin aku jatuh cinta sama kamu karena aku semakin nggak bisa jauh dari kamu.
Aku berusaha untuk mendekat, maksudnya supaya akhirnya aku bisa ajak kamu
keluar on a real date, tapi kemudian aku lihat kamu justru menjauh dari aku. Aku
frustrasi...”
Aku tertawa mendengar penjelasan Ervin.
“Percaya sama aku, kalau kamu tahu betapa frustrasinya aku saat itu, kamu
nggak akan ketawa.” Aku langsung terdiam mendengar nada serius Ervin.
“Sori,” ucapku sambil tetap mencoba untuk menahan senyum.
“Makanya aku buru-buru terima tawaran untuk jadi Head Divison karena itu
berarti selama tiga bulan aku akan berada beribu-ribu kilometer dari kamu untuk
mencoba menetralisir perasaanku ke kamu. Tapi beberapa hari di sana aku nggak
bisa konsentrasi. Aku berspekulasi sama diriku sendiri apa kamu belum bisa
melupakan Thomas, makanya kamu nggak bisa lihat bahwa aku cinta sama kamu?
Buntutnya aku malah pergi beli cincin untuk ngelamar kamu. Terus aku terima
telepon dari Kirana.”
Aku langsung merasa tidak enak ketika Ervin menyebutkan nama Kirana dalam
konteks itu.
“Aku diomeli habis-habisan karena sudah menghamili anak orang. Aku
langsung tahu bahwa yang dimaksud sama Kirana itu kamu. Pertama-tama aku
marah, karena aku pikir kamu memang sengaja mau membuat hidupku lebih
sengsara lagi. Itu sebabnya aku marah-marah waktu telepon kamu. Selama lebih
dari tiga puluh jam terbang dari Cincinnati ke Jakarta perasaanku nggak keruan.
Mulai dari rasa mau ngebunuh kamu sampai mungkin membakar kamu hiduphidup.”
Aku menarik napas, terkejut dengan keganasan Ervin. Ervin menatapku dalamdalam
lalu tersenyum mencoba menenangkanku.
“Tapi semua rasa marah hilang begitu aku tahu kamu minggat. Waktu ketemu
kamu di rumah Vincent, aku bertekad meyakinkan kamu untuk nikah sama aku,
meskipun aku masih nggak yakin dengan perasaan kamu. Tapi kemudian kamu
bilang kamu memang cinta sama aku dan itulah saat pertama aku mulai berharap.
Aku yakin lambat laun kamu akan mau sama aku, dan selama aku tahu bahwa
kamu cinta sama aku, aku siap nunggu kamu.”
Aku mengembuskan napas panjang. Lalu, aku tahu bahwa aku tidak perlu
mengucapkannya, tapi aku ingin mengucapkannya, “I love you,” ucapku.
Ervin tersenyum dan membalas, “I love you more.”
* * *
Di depan gerbang keberangkatan, Ervin memelukku lama sekali sampai akhirnya
aku harus minta dilepaskan karena tidak bisa bernapas.
“Tungguin aku ya, tingga minggu saja kok. I’ll be back before you know it.”
“Aku sudah nunggu kamu dari Desember, kalau cuma nunggu tiga minggu saja
aku bisa,” jawabku.
“Maksud kamu?” tanya Ervin bingung.
“Aku sudah jatuh cinta sama kamu semenjak malam Tahun Baru,” ucapku
pelan.
Ervin terlihat terkejut. “Tapi... tapi kok kamu malah menjauh sih?”
“Karena aku tahu, atau setidak-tidaknya pada saat itu aku pikir, kalau kamu
tahu aku cinta sama kamu, kamu akan ambil langkah seribu. Akhirnya aku simpan
saja sendiri perasaanku itu. Aku tahu aku aneh,” jawabku enteng.
“Itu sebabnya kenapa aku cinta sama kamu.” Ervin menciumku untuk terakhir
kalinya yang dibalas dengan antusias olehku.
Ervin sepertinya tidak peduli kami berada di Soekarno-Hatta bukan di LAX dan
ada banyak orang yang mulai memandangi kami dengan tatapan bingung. Ervin
hanya melemparkan senyum dan orang-orang itu pun berlalu dengan tersipu-sipu.
“Kamu tata rumah kita nanti ya? Mau kayak gimana, aku ikut saja.”
Aku mengangguk. Lalu Ervin menundukkan kepalanya dan berkata, “Bye,
Scarlett, I love you.”
Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah laku Ervin. Dia lalu memelukku untuk
terakhir kali dan sebelum aku sadar, dia sudah pergi.
Dalam perjalanan pulang menuju Bintaro aku memutar skenario hidupku. Suatu
saat aku akan berterima kasih kepada Baron karena secara tidak langsung dialah
yang telah menyatukan aku dengan Ervin. Kalau bukan gara-gara Baron, mungkin
hingga sekarang aku masih menjalani hidupku yang tidak berarti tanpa arah dan
tujuan yang jelas, hubunganku dengan Ervin masih biasa-biasa saja, semua orang
akan tetap mencoba untuk mencarikan jodoh untukku, dan yang jelas aku akan
masih merana karena aku masih akan tetap terobsesi Baron.
EPILOG
AKU tidak tahu beskap bisa kelihatan sebegini seksinya. Tapi aku seharusnya tidak
kaget karena pada dasarnya segala sesuatu yang dikenakan Ervin selalu bisa
membuatnya kelihatan seksi. Bulan ini adalah bulan Juli tanggal empat, dua bulan
setelah tanggal ulang tahunku. Ervin baru saja kembali dari Cincinnati sekitar tiga
minggu yang lalu. Dia terpaksa harus tinggal sedikit lebih lama di sana karena
ketinggalan training sewaktu dia pulang ke Jakarta. Rencana pernikahanku diatur
oleh Kirana, Mbak Tita, dan Sarah, atas biaya dariku dan Ervin. Dan sesuai dengan
keinginanku dan Ervin, pernikahan itu hanya mengundang keluarga dan teman
dekat. Tentunya ketiga sobatku, Ina, dan Baron dan Olivia turut hadir.
Ketiga sobatku sempat bingung sewaktu aku memberi mereka undangan
pernikahanku. Mereka bahkan semakin tidak bisa berkata-kata ketika melihat
keadaanku yang sedang hamil besar. Mereka sempat mengamuk, tapi karena tidak
bisa menganiaya orang hamil, mereka terpaksa menunda rencana penganiayaan
hingga bayiku lahir. Kehamilanku yang sudah menginjak bulan ketujuh mulai
tampak dengan jelas. Kebanyakan para tetua di keluargaku, juga para tetua di
keluarga Ervin, meminta agar acara pernikahannya ditunda hingga bayinya lahir,
jadi perutku tidak terlihat buncit di foto perkawinan. Tapi Ervin menolak ide itu,
karena menurutnya aku terlihat semakin seksi selama hamil dan dia tidak peduli
apa kata orang.
Pat dan beberapa orang kantor turut diundang ke pernikahan kami. Pat yang
mendengar kalau aku hamil pada akhir April lalu justru gembira mendengarnya.
Dia hanya sedikit kecewa karena aku baru memberitahunya. Good Life akhirnya
setuju untuk mengalihkan pekerjaanku sebagai Human Resources Manager ke Sony
selama cuti hamil. Untungnya Good Life tidak mempermasalahkan hubunganku
dengan Ervin.
Hubungan Baron dan aku dan Ervin berangsur membaik setelah pernikahanku.
Baron sempat kaget waktu tahu soal itu, tapi dia tidak berkata apa-apa lagi. Olivia
juga sudah hamil.
Untuk urusan rumah, setelah berdiskusi cuku ppanjang denganku, Ervin
akhirnya memperbolehkanku untuk membeli semua peralatan rumah tangga untuk
rumah itu dengan uangku, asalkan aku membiarkannya membeli rumah itu sebagai
hadiah perkawinan untukku. Sedikit demi sedikit rumah kami mulai terlihat lebih
nyaman dan penuh kehangatan atas sentuhan-sentuhan kami berdua yang ternyata
memiliki selera yang cukup sama. Kami hanya berbeda pendapat untuk urusan
warna cat kamar Scarlett. Ervin maunya dicat warna pink, karena menurutnya
kamar perempuan harus terlihat girly. Aku yang tahu Scarlett akan mengira kami
gila saat dia menginjak masa SMA dan teman-temannya melihat warna kamarnya,
akhirnya bersikeras dengan warna mint green, warna yang natural dan uniseks. Saat
itu juga kami setuju bahwa Scarlett akan dinamakan Scarlett Hazel Daniswara.
Scarlett lahir dengan sempurna di bulan Oktober, sangat berdekatan dengan
ulang tahun Ervin. Seumur hidupku, aku tidak pernah merasa sebegini happy-nya.
Kini, beberapa bulan setelah kelahiran Scarlett, kupandangi laki-laki yang aku
cintai dan yang mencintaiku, yang sedang menggendong seseorang yang kucintai
lebih daripada rasa cintaku pada dunia ini, sambil membuat tampang-tampang
aneh. Rupanya inilah imbalan yang dapat kuberikan kepada diriku sendiri kalau
saja aku berani untuk membuka hati. Andai saja aku sudah melakukannya dari
dulu-dulu, mungkin aku tidak akan menyiksa diriku selama bertahun-tahun dengan
mencintai orang yang salah. Mmmhhh... tapi mungkin itulah yang dimaksud
dengan berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian.
Hari ini adalah hari Minggu jam setengah tujuh pagi. Aku dan Ervin
memutuskan untuk membawa Scarlett jalan-jalan keliling kompleks perumahan
kami. Dengan jam kerjanya yang enam puluh jam seminggu aku bingung
bagaimana dia masih bisa menyempatkan diri untuk menghabiskan waktunya
dengan Scarlett. Aku tersenyum pada diriku sendiri.
Yes, life’s good, ucapku dalam hati sambil mencoba menyamai langkah Ervin.__

sekian

0 Response to "Miss Pesimis"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified