Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Mimpi Mimpi Terpendam II

*/18/*

Sore ini benar-benar cerah dan mungkin memang alam benar-benar berbaik hati dengannya. Dirinya sedang senang dan bergairah. Beberapa harinya kemarin bersama Janet membuatnya seperti remaja kembali dan hidupnya yang terbebas dari Rich Bank membuatnya merasa seperti bayi yang baru dilahirkan . Andre mengeringkan rambutnya sekali lagi dengan handuk . Disemprotkannya parfum beraroma rempah di dadanya. Aroma 212 dari Carolina Herera memenuhi ruangan.

Tadi sepulang ke rumah ia disambut Anna dengan tampang masam. Andre menyaksikan bibir isterinya yang cemberut dan tiba-tiba saja ia ingin merasakan tubuh Anna kembali. Andre seringkali heran dengan dirinya. Mungkin benar apa yang dikatakan orang. Seorang wanita membutuhkan hanya seorang pria untuk menjalani hidup tetapi seorang laki-laki menginginkan banyak wanita dalam kamarnya.

Selesai berpakaian Andre duduk di teras atas. Sore ini angin berhembus pelan dan ia menyaksikan Rachel jauh di bawah sana sedang bermain dengan Mercy seperti biasa di tepi danau. Anna duduk di sebelah meja dan memandangnya tak berkedip.

”kau kelihatan beda,” Anna membuka percakapan sambil memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Andre sore ini mengenakan celana jeans dan tshirt putih yang masih baru.

”apanya yang beda?”

”kau kelihatan lebih muda. Parfummu itu biasa kau pakai kalau ada acara malam hari saja,” isterinya berkata datar.

”aku sedang ingin pakai parfum...hei, ada apa sayang?” Andre bertanya sambil mencubit dagu Anna.

Isterinya itu menarik wajahnya menghindari cubitan Andre.

”sudah selesai pekerjaan di Pizzo?”

Andre meluruskan kakinya.”Sudah. Hari-hari yang melelahkan. Sistem mereka rentan penyusup sehingga aku harus molor beberapa hari di sana.”

Anna hanya diam tak mengindahkan perkataan Andre. Hatinya benar-benar gundah. Andre telah kembali membohongi dirinya namun ia sendiri merasa telah cukup menghukum Andre. Jauh di dasar hatinya Anna menyesali perbuatannya bersama Janus kemarin. Ia sudah membuang kiriman bunga-bunga itu dan pagi tadi ia tak mendapati kiriman bunga seperti biasa.

”beberapa hari yang lalu orang FSDC kemari,” Anna mengalihkan pembicaraan. Ia ingin sore ini bisa membahas masalah yang mendesak.

”ya..ada apa lagi, bukankah kita sudah menyelesaikan seluruh urusan dengan mereka?” Andre bertanya ringan. Disesapnya kopi panas dalam cangkir berwarna biru dongker di tangannya.

Anna menatap mata suaminya lekat-lekat dan mulai menceritakan semuanya secara berurutan.

”nah,itulah yang terjadi. Aku mencoba menghubungimu namun telepon genggammu selalu tidak aktif,” Anna menutup ceritanya. Teleponnya ke Pizzo sengaja ia sembunyikan.

Andre hanya diam membisu. Tiba-tiba kepalanya merasa berat. Jadi setelah beberapa harinya yang menyenangkan bersama Janet harus ditutup dengan masalah yang membuatnya tak bisa mengatakan apapun. Digelengkannya kepalanya dan disesapnya kembali cangkir kopi di tangannya. Pikirannya mencoba mencerna semua yang diceritakan isterinya dan Andre berusaha menenangkan kegelisahannya. Ia telah kehilangan uang dalam jumlah besar dan Rich Bank masih tetap menagihnya. Selama bersama Janet ia sendiri telah menghabiskan ribuan dollar jadi tak mungkin ia bisa mencicil pada Rich Bank.

Isterinya mengatakan kertas segel palsu penyebab keruwetan ini. Andre menyesali kecerobohan isterinya. Namun bila ia yang berada dalam posisi Anna, pasti ia akan melakukan kebodohan yang sama dan Andre makin merasa masalah Rich Bank ini menjadi bagian abadi dalam hidupnya selama beberapa tahun mendatang.

”jadi kau akan lapor polisi?” Anna membuyarkan lamunannya.

Andre menoleh menatap isterinya. ”besok pagi kita laporkan hal ini ke polisi. FSDC sendiri sudah melapor ke polisi?”

Anna membenarkan duduknya sambil berkata,” aku tak tahu. Mungkin sudah. Bila FSDC tidak melaporkan ke polisi tentu Rich Bank yang membawa kasus ini ke polisi. Kau ingin lihat foto mereka?” tiba-tiba Anna teringat pemberian Tuan Wiliams dari Rich Bank.

Andre menganggukkan kepalanya dan Anna bangkit dari duduk melangkah masuk. Beberapa saat kemudian Anna kembali dan menyodorkan beberapa lembar foto.

”ini foto mereka.”

Andre memperhatikan foto-foto tersebut.

”Yang mana orang yang bernama Fred?” Andre menoleh ke arah isterinya. Anna menunjuk salah satu gambar dalam foto dan berkata, ” yang ini sama dengan namamu. Andre,” Anna menunjuk foto pria berkemeja putih dengan dasi cerah.

Anna meraih selembar foto dari tangan Andre dan menunjuk gambar seorang pria berperawakan kasar dengan jaket kulit, ”ini yang bernama Reynold. Mereka berdua diduga polisi yang menghabisi Fred..mayat Fred ditemukan di dasar jurang oleh....”

Andre sudah tak mendengarkan apa yang dikatakan isterinya. Matanya menatap tajam ke gambar yang terakhir ditunjuk oleh Anna. Ia merasa mengenali wajah itu. Pria itu sama dengan yang dilihatnya bersama Yammy,isteri Michel saat Andre berbelanja bersama Janet.

”mereka buron?” tiba-tiba Andre bertanya.

”tentu saja. Mereka telah menipu kita. Mereka juga diduga kuat yang membunuh Fred,” jawab Anna keheranan atas pertanyaan Andre.

Andre tak menghiraukan perkataan isterinya, matanya masih lekat menatap foto pria berperawakan kasar tersebut. ”Baiklah, kubereskan urusan ini. Kertas segel itu aku bawa ke polisi besok.”

Andre bangkit dari duduk dan melangkah masuk ke kamarnya. Ia ingin merebahkan diri sejenak dan berpikir tindakan apa yang akan dilakukannya.

Esoknya pagi-pagi sekali Andre telah pergi sambil membawa foto – foto yang ditunjukkan Anna beserta kertas segel itu. Di kepalanya sudah tersusun sebuah rencana. Ia tak terlalu berminat ke kantor polisi hari ini. Melapor ke polisi tidak akan menyelesaikan hutangnya.

Ia lebih berminat menyelesaikan urusan Yammy terlebih dahulu. Sejam yang lalu Andre menelpon rumah Michel namun tidak ada yang mengangkatnya. Andre memastikan bahwa Yammy tidak berada di rumahnya dan ia menebak wanita itu pasti sedang berada di villanya. Andre bergegas menyewa sedan mini di salah satu perusahaan persewaan mobil dekat rumahnya dan melaju menuju villa Michel. Kini ia sudah melajukan mobilnya melintasi perbukitan teh di pinggiran kota. Setelah setengah jam mendaki perbukitan ia menepikan kendaraannya di sebuah mini market kompleks villa tersebut.

Andre membeli sebungkus rokok dan berjalan kaki meninggalkan mobilnya di halaman parkir. Ia memutuskan mengintai villa Michel dengan tidak mencolok dan berjalan kaki akan memberinya kebebasan mengamati tempat tersebut. Setelah berjalan kaki beberapa ratus meter melintasi tengah-tengah kebun teh, Andre tiba di halaman samping villa itu. Mobil Michel tampak diparkir di halaman dan Andre berjalan hati-hati mendekati bangunan mungil tersebut. Ia memutari halaman samping villa dan mendapati Yammy sedang duduk berbincang-bincang dengan pria dalam foto itu di teras belakang. Andre mematikan rokoknya dan merogoh saku. Dikeluarkannya sebuah kamera digital mini dan ia mulai mencari sudut terbaik. Beberapa pohon tropis besar menjadi tempat berlindung yang sempurna, Andre setengah berjongkok dan mengarahkan kameranya. Beberapa menit kemudian Andre telah kembali ke mobilnya. Adegan yang direkam dalam kameranya lebih dari cukup. Yammy duduk berdampingan dengan Reynold, Yammy menuangkan kopi ke cangkir dalam genggaman Reynold dan adegan ciuman mereka di teras villa.

Ia memutuskan menunggu di mobil. Mobil sewaan ini disewanya hingga malam jadi ia tak perlu terburu-buru. Andre menunggu sambil memikirkan semua rencananya. Saat sore tiba, mobil Yammy melintas di belakangnya dan Andre menyalakan mobil keluar dari halaman parkir. Andre membuntuti mobil Yammy dalam jarak aman. Kompleks villa ini mempunyai jalan-jalan lebar yang jarang kendaraan dan Andre tidak ingin Yammy tahu sedang dibuntuti.

Setelah berkendara selama sejam lebih, Andre melihat mobil Yammy menepi masuk ke areal parkir mall. Andre membiarkan dua tiga mobil diantara mobil mereka sebelum akhirnya mengikuti masuk ke dalam areal parkir tersebut. Diikutinya jalur parkir yang berputar-putar dan akhirnya Andre memarkir kendaraannya pada blok parkir yang sama dengan mobil Yammy. Ia bergegas turun sambil terus mengamati Yammy yang melangkah turun dari mobilnya. Andre mengikuti wanita itu dalam jarak beberapa meter. Mall ini penuh pengunjung dan keberadaan Andre tidak akan menarik perhatian.

Dilihatnya Yammy menuju sebuah cafe di lantai tiga . Andre membiarkannya sejenak dan mulai mengikuti masuk. Dilihatnya sekeliling cafe yang sepi dengan suasana temaram. Andre menyukai pesona lampu-lampu mungil yang bersinar lembut dan ia melihat Yammy duduk seorang diri di pinggir jendela. Andre melangkah mendekati dan langsung menarik kursi di hadapannya.

”ehm...selamat sore...anda Yammy bukan?” Andre mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.

Yammy menghentikan kegiatannya mengamati buku menu dan mengangkat kepalanya dengan pandangan heran. Ia menyambut uluran tangan Andre dan menyalaminya.

”ya benar...maaf...anda?”

”boleh saya duduk di sini?” Andre kembali bertanya tak mengindahkan keheranan Yammy.

”oh..ya....silakan..,” Yammy berkata ragu. Ia masih belum mengenali siapa pria di hadapannya ini. Samar-samar ia merasa telah pernah bertemu dengan pria ini namun entah dimana.

”aku Andre...,” Andre berkata tenang sambil membenarkan duduknya.

Yammy diam menatap Andre. Kini ia telah ingat kembali. Pria ini yang dilihatnya tempo hari di Orange Resto.

”ya..ya...apa anda mantan bos Michel?” Yamy berusaha memastikan apa yang dipikirkannya.

Andre mengangguk sambil tersenyum.

”ohh...,” hanya itu yang keluar dari mulut Yammy sambil menatap Andre . Ia masih heran dengan kebetulan pertemuan ini. Pikirannya seperti kosong dan ia tak tahu harus mengatakan apa.

Andre mengamati wanita di hadapannya sejenak. Yammy mengenakan celana jeans dan kaos putih ketat berlengan panjang yang tak bisa menyembunyikan payudaranya yang bulat dan kencang.

”apa aku mengganggu acaramu Yammy?” Andre berusaha bersikap sopan.

”ohh....tidak..tentu tidak. Aku tak mempunyai acara hari ini. Hanya sekedar mampir saja. Perutku terasa lapar.”

Andre tersenyum menyukai keterus terangan Yammy.

”aku juga lapar. Bagaimana kalau kita makan bersama?”

Yammy memandang Andre. Ia menyukai style pria ini. Andre mengenakan celana jeans dengan kaos putih ketat lengan panjang. Ia heran bagaimana mungkin mereka berpakaian sama tanpa janji. ”pakaian kita sama..,” ujarnya lirih.

Dan Andre tertawa lepas. Yammy wanita polos yang cukup menyenangkan.

”bagaimana kabar Michel?” Andre membuka percakapan.

”ehm..baik-baik saja. Anda membuka usaha baru sekarang?” Yammy bertanya ringan.

”ya begitulah. Kau ingin pesan apa Yammy?” Andre membungkuk memperhatikan buku menu. ”hanya ada salad dan burger di sini.”

”aku memang tidak berniat makan berat hari ini...salad satu,” Yammy mengacungkan telunjuknya ke pelayan yang berdiri di dekatnya,” dan anda Tuan Andre?”

”panggil aku andre saja. Burger satu.”

”minum?”

”expresso double dan kau Yammy?”

”sama,” Yammy menutup buku menu dan menyerahkannya pada pelayan. Setelah pelayan cafe berlalu Yammy kembali bertanya,” anda tidak suka salad tuan Andre?”

”Andre. Cukup Andre saja,” Andre berkata sambil tersenyum. Yammy memandang Andre dan melihat pesona senyum pria itu. Ia benar-benar merasa tertarik dengan penampilan dan sikap wajar bekas bos suaminya itu. ”baiklah Andre. Kau tak suka salad ya?”

Andre menggeleng sambil tetap tersenyum. Yammy menyaksikan deretan putih gigi Andre yang rapi. Senyumnya menawan dan Yammy benar-benar menyukainya. ”kau pria yang ramah...”

Andre kembali tertawa lepas. Tadi ia mempunyai rencana menunjukkan foto itu pada Yammy dan kini ia merasa lebih baik menundanya.

Pelayan cafe datang membawa pesanan mereka dan setelah berlalu, mereka langsung menyantap hidangan masing-masing.

”kau berbohong padaku bukan?” tiba-tiba Yammy bertanya dengan mata bulat yang jenaka. Selintas Andre menemukan persamaan Yammy dengan Janet. Keduanya sering bertanya dengan mata jenaka. Namun mata Janet lebih sipit dan cantik bagi Andre.

”berbohong ?”

”ya. Mengenai kejadian tiga hari di villa itu,” Yammy berkata ringan. Andre memandang Yammy sambil berpikir sejenak dan mengangguk. ”Michel tahu?”

Yammy ragu sejenak sebelum menjawab. ”kami pernah melihat anda tempo hari di Orang Resto. Anda bersama wanita cantik saat itu.”

”oh iya?” Andre berusaha mengingat kejadian itu. Mungkin Yammy dan Michel melihatnya ketika bersama Janet. Ia berusaha menebak-nebak dimana posisi duduk Yammy dan Michel saat itu.

Yammy mengangguk.” ya, namun Michel tidak menyapamu. Ia terlihat kesal denganmu. Ia menyangka anda yang bersamaku saat itu.” Yammy tersenyum kecil. Kelihatannya ia puas dengan sikap cemburu suaminya.

”jadi sebenarnya siapa pria itu?” Yammy kembali bertanya dengan ringan. Andre melihat wanita itu tidak merasa menyesal dengan kejadian tersebut.

”Herald. Kawanku.”

”kenapa bukan anda sendiri?”

Andre tersedak kaget. Ia tatap mata Yammy namun wanita itu sepertinya ringan-ringan saja menanyakan hal tersebut.

”aku ingin memberinya surprise saja.”

”ohh...sayang sekali,” Yammy berkata pelan.

”maksudmu?”

”ohh...tidak...tidak apa-apa,” Yammy menjawab cepat menyesali kecerobohannya baru saja.

Mereka berdua saling berdiam diri dan menghabiskan santapannya tanpa berkata-kata. Keduanya merasa ada yang aneh dalam dadanya masing-masing. Andre jelas merasakan tertarik dengan Yammy dan Andre bisa melihat bahwa Yammy termasuk tipe wanita yang akan bersedia diajaknya ke tempat tidur bila dirinya menginginkannya.

”aku ingin tahu mengapa kau berbohong saat itu?” Yammy memecah keheningan.

”aku hanya ingin menyenangkan Herald.”

Yammy memandang pria di hadapannya sejenak sebelum meneguk kopi expresonya. Ia menimbang-nimbang sesaat dan memutuskan untuk bertanya, ” kau kenal Marion?”

Andre tersenyum mendengar pertanyaan Yammy. Mungkin sudah saatnya berterus terang dan mencoba mengambil posisi lebih baik.

”aku yang menelpon. Marion hanya akal-akalanku saja.”

Andre mengamati Yammy tertegun menatapnya.

”jadi kau yang menyuhku mencuri file itu?”

Andre berpikir cepat dan mengangguk.

”kenapa?” Yammy memburunya.

Andre tak menjawab dan hanya tersenyum.

Yammy mencondongkan tubuhnya ke depan. Andre bisa melihat bagaimana payudaranya yang penuh itu tergeletak di tepi meja.

”kau menjualnya tanpa sepengetahuan Herald bukan?” Yammy bertanya dengan mata bulatnya bersinar-sinar. Andre teringat anaknya yang nakal.

”ya.aku menjualnya.” Andre menjawab singkat, ”seperti kau.”

Yammy terduduk tegak kaget atas komentar Andre.

Andre melanjutkan,” kau tak usah kuatir. Aku tak akan melaporkannya pada polisi. Kita sama-sama pencuri,” dan Andre kembali tersenyum.

Yammy masih tak bergeming dalam duduknya. Ia menatap lawan bicaranya. Bagaimana mungkin Andre mengetahui kecurangannya. Ia memang sempat membuat copy file tersebut ke komputer di villanya.

”aku tahu kau memasang iklan di internet,” Andre berkata ringan sambil meraih cangkir kopi di hadapannya. Cangkir itu masih mengepulkan asap dan Andre melihat dari sela-sela asap wajah Yammy yang keheranan.

”kau seperti malaikat. Tahu semua hal,” wajah Yammy merengut dan Andre menyukainya. Andre tertawa lepas kembali sebelum akhirnya berkata, ” sudah kubilang kau tak usah kuatir. Aku tak akan melaporkannya pada polisi.”

”kau juga tak perlu kuatir aku akan melaporkannya pada polisi,” Yammy berkata seenaknya mebuat Andre melongo.

Yammy tersenyum kecil melihat ekspresi Andre.

”kau kaget?” tanya Yammy dan Andre tertawa lepas kembali sebelum akhirnya berkata, ” kau gila Yammy.”

merekapun tertawa lepas berdua. Yammy merasakan kesenangan berbincang-bincang dengan Andre. Baginya Andre merupakan teman ngobrol yang menyenangkan.

”Michel pasti bahagia mempunyai isteri kau,” Andre kembali berkata di sela-sela tawanya.

Yammy menghentikan tawanya dan bertanya,” kenapa?”

”kau cantik.”

Yammy tertawa kembali. Kali ini lebih keras. Ia benar-benar menyukai pria ini. ”kau perayu ulung,” katanya sambil tertawa dan Andre mengulum senyum memandang Yammy dengan payudaranya yang terguncang-guncang karena tawanya.

”Andre, bagaimana kalau Herald tahu kau mencuri filenya?” Yammy kembali bertanya setelah berhenti tertawa.

”dia tidak akan tahu. Kecuali kau yang memberi tahunya.”

Yammy memiringkan kepalanya dan kembali bertanya, ”bagaimana kalau aku beritahu dia?”

Andre menatap wajah Yammy. Mimiknya menjadi serius,”kau benar-benar ingin memberitahunya?”

Yammy mengangguk lucu.

Andre memandangnya tak percaya. ” kau serius?”

Yammy kembali mengangguk kali ini dengan wajah serius.

Andre merebahkan punggungya di sandaran kursi cafe. Mungkin sudah saatnya menunjukkan foto yang diambilnya tadi di villa Michel. Wanita itu pasti akan ketakutan setengah mati . Ditatapnya wajah Yammy. Ia merasa harus lebih berhati-hati terhadap wanita di hadapannya ini. Baru beberapa menit yang lalu mereka saling tertawa lepas dan kini dirinya diancam.

”Kau tak perlu panik Andre. Aku mempunyai jalan keluarnya,” Yammy berkata hati-hati sambil meneguk expressonya.

”maksudmu?” Andre bertanya keheranan. Sikapnya waspada.

Dilihatnya Yammy bangkit dari duduk dan menghampiri dirinya. Yammy membungkuk di hadapannya hingga Michel bisa merasakan payudara Yammy menyentuh lengannya. Yammy membisikkan sesuatu ke telinga Andre dan sesudahnya saat Yammy kembali duduk di kursi, mulut Andre tertutup rapat dan keningnya berkerut. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

”bagaimana?” Yammy bertanya sambil terus menatap Andre.

Andre mengangguk sambil menghabiskan kopinya dan bangkit berdiri. ”aku harus mengembalikan mobil sewaanku dulu. Kau antar aku nanti. Bagaimana?”

Yammy mengangguk cepat dan meraih tas coklatnya. Mereka berdua bergegas memanggil pelayan cafe menyelesaikan bill nya dan melangkah ke luar.

Malamnya Andre sudah berdiri di belakang Anna yang sibuk menyelesaikan gambarnya.

”kau mendapat proyek gambar dari P&P?” Andre memperhatikan sketsa di kertas gambar.

Anna hanya mengangguk tak menjawab dan mengubah posisi penggaris besar yang melintang di meja gambarnya.

”kau melamar pekerjaan di sana?” Andre kembali bertanya.

Anna menggelengkan kepalanya dan balik bertanya ,”kau sudah lapor pada polisi tadi?”

”belum.”

Anna menghentikan kegiatannya dan menoleh ke belakang menatap Andre. ” kau bilang ingin melaporkannya pada polisi.”

”tadi belum sempat. Ada pekerjaan mendesak. Besok aku akan ke kantor polisi. Kau tenanglah biar aku yang mengurus masalah ini. Kau selesaikan saja gambarmu.”

Andre meraih minuman dingin di sebelah meja gambar dan meneguknya. ”aku tidur ya. Ngantuk sekali rasanya. Kau selesaikanlah dulu gambarmu. Besok pagi aku ingin mendengar ceritamu tentang bagaimana kau bisa memperoleh proyek itu.”

Andre bergegas melangkah ke tangga dan meninggalkan Anna seorang diri berkutat dengan gambarnya. Setibanya di kamar ia merebahkan dirinya di ranjang. Sebenarnya ia sedang ingin bercinta dengan Anna malam ini namun pikirannya benar-benar merasa lelah dan terganggu karena kesepakatan yang dibuatnya bersama Yammy tadi. Andre mencoba memejamkan matanya dan beberapa saat kemudian ia sudah tertidur.

*/19/*

Pagi ini Anna telah bersiap-siap akan berangkat. Bangun tidur tadi ia langsung menghambur ke teras rumah dan tak didapatinya kembali kiriman bunga itu. Anna merasa lega. Setelah menyelesaikan sarapannya bersama Rachel ia meluangkan waktu berbincang-bincang dengan Andre. Diceritakan semuanya kecuali tentang paket kiriman bunga – bunga itu. Beruntung sekali Anna telah membuang semua paket ikatan bunga itu.

”Jadi kau bekerja bersama Janus?” Andre bertanya sambil mengancingkan kemejanya.

Anna mengangguk dan merapikan kertas-kertas gambarnya. Hari ini Tuan Benito ingin melihat detail rancangan interior kamar mandi penthouse yang digambarnya. Anna memeriksa sekali lagi seluruh bawaannya dan setelah yakin tak ada yang tertinggal ia melangkah menghampiri Andre. Dikecupnya pipi pria itu dan bergegas mengangkat bawaannya.

”aku pergi dulu sayang,” Anna berkata sambil berjalan menuju pintu depan.

”kau yakin tak ingin kuantar?”

Anna mengibaskan tangannya dan segera berlalu menutup pintu.

Andre menatap pintu yang tertutup itu dan menghampiri meja makan. Disantapnya hidangan di atas meja sambil berpikir tentang kegiatan hari ini. Pertama ia akan ke kantor polisi. Setelah itu ia akan menyusul Yammy di tempat yang telah mereka rencanakan.

Setelah menyelesaikan sarapannya Andre bergegas memeriksa seluruh pintu dan jendela rumah dan melangkah ke luar rumah. Kunci rumah ia tinggal di bawah pot bunga di teras depan. Mercy dan Rachel akan dapat mengambilnya seperti biasa saat pulang dari sekolah nanti.

Ia menghentikan taxi dan turun menyeberang halaman samping balaikota, Andre tiba di depan kantor polisi. Selama setengah jam lebih Andre berada di bangunan berwarna coklat itu untuk membuat pengaduan dan setelahnya Andre mencegat taxi kembali menuju tempat pertemuannya bersama Yammy.

Ternyata wanita itu sudah menunggunya. Kali ini Andre benar-benar terkejut melihat pakaian wanita itu. Yammy mengenakan celana jeans dan kemeja putih polos lengan pendek persis sama dengan yang dikenakan Andre.

”kau hobby meniruku ya,” Yammy berkata riang. Mungkin suasana hatinya sedang gembira,pikir Andre.

”kau yang meniruku,” ujar Andre sekenanya, ” dimana mobilmu?”

Yammy menarik tangan Andre dan menunjuk ke pelataran parkir. ”di belakang van hijau itu. Ayo!”

Andre mengikuti Yammy yang berjalan mendahuluinya ke pelataran parkir. Pagi ini pelataran parkir mall ini masih tidak terlalu ramai. Mungkin hanya wanita-wanita yang gila belanja saja dalam waktu sepagi ini sudah memarkir mobilnya di mall,pikir Andre sambil mempercepat langkahnya mengikuti Yammy. Pantat wanita itu terlihat bergoyang-goyang dalam bungkusan ketat celana jeansnya.

Yammy membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi, Andre membuka pintu penumpang dan duduk di sebelahnya.

”kau ingin pegang setir?” Yammy menyodorkan kuncinya.

Andre menggeleng,”kau saja. Ini mobilmu.”

Beberapa saat kemudian mereka telah meninggalkan pelataran mall tersebut dan menuju pinggiran kota.

”kau yakin dengan apa yang kita rencanakan ini?” Andre membuka pembicaraan .

Yammy hanya mengangguk. Andre melihat Yammy lincah mengendarai mobilnya dan lagi-lagi Andre membandingkannya dengan Janet. Mereka mempunyai kesamaan dalam berkendara meski Andre lebih merasa nyaman bersama Janet.

”aku boleh merokok?” Andre bertanya sambil mengeluarkan rokoknya.

Yammy menoleh ke arahnya sejenak dan kembali memperhatikan jalanan di depannya. ”silakan.”

Andre menurunkan jendela mobil dan menyalakan rokoknya. Sesekali diliriknya Yammy yang sedang sibuk mengendalikan setir. Wanita itu benar-benar sexy. Payudaranya terlihat bulat besar terbungkus kemeja putih ketatnya. Andre merasakan gejolak kelakiannya bangkit dan segera saja dialihkannya pikiran itu. Bagaimanapun ia harus lebih berhati-hati. Andre telah membuktikannya kemarin bahwa wanita di sebelahnya ini bukanlah tanpa otak sama sekali. Rencana yang ia bisikan itu benar-benar tak diduganya namun harus diakui bahwa itu juga sebuah rencana yang cerdas dan membantu keuangannya. Bagaimanapun mereka berdua sama sama pencuri bagi Herald.

Andre tak mau gegabah dan ia bisa melihat Yammy benar-benar mempunyai pandangan yang lumayan jauh ke depan. Diliriknya sekali lagi wanita itu dan Andre menangkap basah Yammy yang juga sedang meliriknya.

Saat Andre baru saja ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba handphonenya berbunyi. Andre mengeluarkannya dari saku dan dilihatnya sebuah pesan masuk. Dibacanya pesan yang tertera di layar teleponnya.

Kapan kita bertemu kembali? Aku kangen honey..punyaku terasa perih,kau terlalu buas :)

Andre tersenyum dan membalasnya.

Aku juga kangen sayang, tapi punyaku tidak terasa perih :)

Ia mengetik nomor telepon Janet dan mengirimnya. Ia benar-benar rindu Janet. Wanita itu telah mengisi relung hatinya yang terdalam. Bersama Janet Andre bisa merasakan apa itu bahagia dan bagaimana rasanya mencintai wanita dengan tulus.

”isterimu?” Yammy mengagetkannya.

Andre tersenyum dan mengangguk. Baginya berbohong kali ini lebih baik.

”isterimu cantik,” Yammy kembali berkata sambil tetap memandang jalanan di depan.

”kau pernah bertemu dengannya?” Andre bertanya heran.

”yang di resto tempo hari itu kan?”

Andre berpikir sejenak dan menggelengkan kepalanya. ”itu kawan lamaku.”

Yammy menoleh sejenak dan kembali menatap jalanan sambil tersenyum kecil. Andre memperhatikannya dan bertanya.

”kenapa?”

”kau kelihatan mesra waktu itu,” ujar Yammy tanpa menoleh.

Andre hanya tertawa kecil. Ia tak tahu harus mengatakan apa.

”atau kau selalu bersikap mesra pada tiap wanita?” tanya Yammy lagi sambil menurunkan parsneling. Jalanan mulai bertambah ramai dan mereka harus mengurangi kecepatan.

”apa aku juga bersikap mesra padamu saat ini?” Andre balik bertanya.

Yammy hanya tertawa kecil dan menaikkan gigi kembali. Kendaraan mulai meluncur cepat memasuki jalan bebas hambatan.

”boleh juga, bagimana caranya?” Yammy bertanya dengan nada nakal. Jalanan mulai kelihatan lenggang dan mobil mereka makin melaju cepat.

”aku harus tidur dengan wanita itu sebelum bisa bersikap mesra,” jawab Andre sekenanya. Sesekali meladeni kenakalan Yammy tak ada salahnya.

”berarti kau telah tidur dengannya?” Yammy menoleh ke arahnya dan kembali menaikkan gigi. Kini kendaraan mereka telah melaju di atas seratus kilometer perjam.

Andre menjawab cepat,” sudah ratusan kali.”

Yammy tertawa lepas. Ia menyukai Andre karena pria itu benar-benar enak diajak ngobrol. Michel terlalu penurut baginya dan membosankan sebagai teman ngobrol sementara Andre berbeda. Komentar-komentarnya lepas dan polos.

Yammy membelokkan setirnya keluar jalan bebas hambatan dan menuju sebuah jalan komplek perkantoran yang meliuk-liuk mendaki bukit kecil. Beberapa saat kemudian mereka tiba di tujuan dan menepikan kendaraannya.

Yammy dan Andre turun dari mobil dan bergegas naik ke lantai dua. Seorang resepsionis menyambut mereka.

”selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?”

”ya. Kami ingin bertemu dengan manager IT anda. Kami sudah ada janji,” Yammy berkata sopan. Andre memperhatikan ruangan kantor itu sejenak dan setelah menunggu resepsionis tersebut menelpon ke dalam mereka dipersilakan masuk.

Yammy dan Andre melangkah melintasi lorong sempit yang penuh tumpukan kertas dan beberapa karyawan yang hilir mudik membawa map-map besar berwarna-warni. Setelah tiba di ujung lorong seorang pria bertubuh sedang menyambutnya.

”selamat pagi. Saya Bobby,manager IT di sini. Anda Nyonya Yammy tentunya?” pria itu mengulurkan tangannya.

Yammy memperkenalkan diri menyambut uluran tangannya dan mengenalkan Andre. ”ini programmer kami. Anda bisa membahas lebih detil bersamanya.”

Pria itu mengamati Andre sejenak dan menyalaminya sebelum mengajak mereka ke sebuah ruangan yang penuh mesin komputer. Ruangan itu terlalu kecil bagi beberapa komputer yang penuh kertas di sekelilingnya.

”maaf, kantor kami berantakan.Terlalu banyak yang harus diurus sehingga tidak sempat menata ruangan ini,” pria itu menarik kursi mempersilakan Andre dan Yammy duduk.

”nah langsung pada pokok persoalan saja. Software anda itu bagus sekali kami menyukainya namun kami membutuhkan beberapa perubahan dalam tampilannya. Kami menginginkan logo perusahaan di tiap lembar print-outnya,” pria itu mengambil selembar kertas yang penuh angka dan menunjukkannya pada Andre. Andre mengamati sejenak dan mengeluarkan laptopnya.

”kami akan selesaikan dalam waktu setengah jam,” kata Andre. ”ada file gambar logo perusahaan?” lanjut Andre.

Pria itu menyerahkan flash disknya pada Andre.

Setengah jam kemudian mereka keluar dari kantor itu sambil membawa selembar cek. Andre kagum pada cara bisnis Yammy. Wanita itu mengerti sekedarnya tentang komputer dan ia berhasil menjual banyak program curian itu ke beberapa perusahaan. Kini beberapa perusahaan itu membutuhkan modifikasi kecil pada programnya dan Andre menyanggupi itu semua. Ia memperoleh sebagian dari keuntungan Yammy dan itu menyenangkan dirinya. Kemarin Yammy membisikan rencana itu padanya dan kini ia telah mengantungi ratusan dollar dari pekerjaan mudah tersebut.

Seharian itu mereka berdua berkunjung ke beberapa perusahaan dan menjelang sore mereka mampir ke bank mencairkan cek. Andre mengantungi hampir dua ribu dollar dari pekerjaannya siang itu dan Yammy memperoleh jumlah yang sama. Saat mereka lapar mereka mampir ke sebuah resto kecil dengan makanan yang tak terlalu enak namun perut mereka yang lapar membuat seluruh hidangan yang biasa-biasa itu saja habis tak bersisa.

Selama beberapa hari kemudian Andre dan Yammy berkeliling ke beberapa perusahaan yang membutuhkan modifikasi program. Hingga pada suatu sore saat mereka selesai membagi keuntungan entah siapa yang memulai tiba-tiba saja bibir mereka saling berpagutan di dalam mobil dan mereka membuka pakaian masing-masing sebelum menyelesaikannya dengan bercinta penuh birahi. Bagi Andre itu semua hanyalah bumbu pekerjaan namun bagi Yammy tidak.

-- Anna meletakkan kertas gambar itu begitu saja di pojok ruangan spa ketika sebuah tangan menggamitnya dari belakang.

”kau ingin bersantai rupanya,” Janus sudah ada di belakangnya. ”Aku mencarimu kemana-kemana tadi di kantor. Sekretaris bilang kau tadi bertanya-tanya tentang spa jadi aku mencarimu kemari.”

Anna mengangguk tersenyum. Ia memang berniat untuk memanjakan dirinya satu dua jam di tempat ini. Spa ini terletak dalam gedung yang sama dengan kantor P&P. Pengunjung spa ini kebanyakan manager-manager P&P dan para relasi mereka saja.

”aku lelah seharian rapat dengan bosmu. Mereka semua menginginkan interior yang perfect bahkan bagi sebuah bingkai jendela sekalipun,” kata Anna sambil mencari-cari pelayan spa.

”Mereka selalu begitu apalagi untuk jendela sebuah penthouse,” Janus melempar tubuhnya ke sofa empuk di tengah-tengah ruangan, ”kau sudah makan Anna?”

Anna menggelengkan kepalanya. ”Aku ingin berendam dahulu. Setelah dipijat nanti baru aku mencari makan. Kepalaku ingin istirahat dulu sekarang. Pegal semua rasanya.”

Janus memandangnya dan bangkit kembali dari duduk, ”kau telepon aku nanti begitu selesai. Hari ini aku sedang kosong. Ada tempat makan yang nyaman. Kau harus mencobanya. Menunya lumayan.”

Anna menimbang sejenak tawaran Janus,” kau makanlah dulu. Aku bisa makan sendiri nanti.”

Janus menghampirinya dan menggenggam tangan Anna. Dilihatnya wajah wanita yang dicintainya itu menyiratkan kelelahan akibat rapat panjang sejak pagi tadi.

”Sore nanti kau harus melanjutkan rapat lagi bersama mereka. Aku hanya ingin memastikan kau tak kelaparan.”

Anna melihat Janus melangkah pergi tanpa menunggu jawabannya. Ketika Anna berbalik hendak memanggil pelayan spa didengarnya suara Janus ”aku jemput kau dua jam lagi.”

Anna membiarkan Janus melangkah keluar spa sebelum ia bergegas mengambil kertas-kertas gambarnya. Dibatalkannya niat bersantai di spa ini. Ia tak ingin hubungannya dengan Janus berlanjut. Pria itu pasti telah salah mengira sejak kejadian siang itu di apartemennya. Janus tak mungkin tahu bahwa Anna melakukan itu hanya untuk menghukum Andre. Baginya Janus hanyalah tempat eksekusi atas dosa-dosa Andre.

Anna menghentikan taxi yang kebetulan melintas di parkiran gedung dan mencari spa lainnya. Dimatikannya teleponnya. Ia sedang tak ingin diganggu terutama oleh Janus. Pria itu sepertinya makin besar kepala sejak Anna tidur dengannya dan Anna tak akan membiarkan hal itu terus berlanjut. Meski ia harus mengucapkan banyak terimakasih atas pertolongan Janus mendapatkan proyek gambar dari P&P Corporation.

Setelah setengah jam melamun di dalam taxi yang melaju membelah kota, Anna masuk ke sebuah spa dan beberapa menit kemudian ia telah telanjang bulat berendam dengan aroma rempah dalam bak mandi besar. Anna menutup matanya dan ia tertidur dalam buaian air hangat yang memijat seluruh sendi tubuhnya.

Saat Anna selesai dan membayar di meja kasir, pelayan spa menyapanya,” Anda Nyonya Anna?”

”Ya..”

”Ada paket bunga mawar untuk anda,” pelayan itu menyodorkan seikat bunga mawar merah yang masih kuncup.

Janet membalik tubuhnya sekali lagi. Kaki kanannya diangkat bersamaan tangannya yang melambai ke atas. Berulangkali ia mengulangi gerakan-gerakan tersebut sambil memperhatikan bayangannya di cermin. Ini adalah bulan ketiga les senam baletnya. Janet merasa semakin lama semakin malas saja otot-otot tubuhnya mengikuti gerakan yang ditunjukkan instruktur senamnya.

Tadi pagi-pagi sekali ia sudah membawa pakaian senamnya dan di perjalanan menuju kantornya Janet berubah pikiran, ia akan membolos senam sore ini namun setibanya di kantor komentar Peggy kawannya satu ruangan membuatnya berpikir ulang akan niatnya itu. ‘kau tampak lebih gendut sekarang Janet.’ Kalimat kurang sedap itu yang memaksanya untuk berangkat senam sepulang kerja.

Sebenarnya Janet menyenangi kegiatan yang satu ini namun sejak pertemuannya dengan Andre, Janet lebih suka menghabiskan waktunya di kamar untuk mengenang semua peristiwa yang pernah dilaluinya bersama pria itu. Janet memang belum tahu latar belakang Andre. Rekan-rekan satu kantornya selalu mengingatkan ia untuk memastikan status Andre, bisa saja pria itu sebenarnya sudah berkeluarga namun tidak menceritakannya dan Janet selalu menjawab dengan nada menggoda, “andai ia sudah berkeluarga aku akan tetap mendapatkannya.”

Setelah sejam penuh Janet memaksa tubuhnya untuk bergerak akhirnya waktu latihan selesai. Janet menghambur ke ruang ganti dan mengenakan pakaian santai dengan celana selutut dan kaos lengan pendek berwarna putih. Ia mengamati bayangannya sejenak dan bergegas keluar. Janet tidak membawa mobil tadi dan baru saja hendak menelpon rumahnya unuk dijemput ketika sebuah suara memanggilnya.

“Janet”

Janet menoleh dan melihat seorang pria berkemeja putih telah menunggunya. /Ya Tuhan, dia lagi!/

Pria itu bernama Raymond. Putra tunggal seorang raja minyak yang hartanya tak akan habis tujuh turunan. Janet selalu berusaha menghindarinya namun pria itu benar-benar luar biasa dalam merayu keluarganya sehingga berulangkali ia harus pasrah menghabiskan waktunya untuk bersama Raymond.

“ohh…kau Raymond,” Janet menebak pasti orang rumah yang memberitahunya tentang keberadaan Janet di sanggar senam sore ini.

“ayo, aku antar pulang,” Raymond melangkah menghampirinya.

Janet hanya pasrah dan mengangguk saja. Baginya untuk urusan Raymond semua orang di rumah adalah musuh. Ia sudah berterus terang pada mereka bahwa ia tak menyukai Raymond. Namun semuanya begitu setuju bila Janet bisa menikah dengan Raymond. Keluarga Janet termasuk keluarga yang kaya raya namun uang keluarga minyak itu luar biasa banyaknya dan membuat kekayaan keluarga Janet bagai sesendok air dalam lautan.

“aku naik taxi saja. Kau nanti terganggu.”

Raymond menggelengkan kepalanya cepat. Rambutnya yang hitam lurus melambai karena gerakannya itu.

“sudahlah. Ayo kita pergi dari sini. Aku tak ada acara,” Raymond menarik tangan Janet dan setengah mendorongnya ke pelataran parkir.

‘kau ingin menyetir?” Raymond mengacungkan kunci mobilnya.

“tidak. Kau saja.”

Raymond membuka pintu dan mempersilakan Janet naik. Ia masuk dan duduk mematung menatap dashboard. Tanpa sengaja ia membandingkan Raymond dengan Andre. Bersama Andre ia tak pernah dibukakan pintu dan selalu ia yang memegang setir namun bersama Raymond, ia selalu dilayani bagai putri raja.

Beberapa menit kemudian mereka telah melaju menembus kota. Janet sesekali melirik ke wajah di sisinya. Mata Raymond terpaku lurus menatap jalanan dan dagunya terlihat licin sama sekali bebas dari rambut-rambut kecil sebagaimana dagu Andre yang selalu terburu-buru dalam membersihkan dagunya. Sebenarnya Raymond merupakan pria yang cukup tampan dan menawan. Perawakannya sedang dan sikapnya selalu sopan terhadap dirinya. Mereka telah berulangkali keluar berdua entah hanya untuk menonton bioskop atau makan malam di sebuah resto namun hingga kini Raymond tak pernah berlaku kurang ajar padanya. Berbeda sekali dengan Andre yang pada pertemuan pertama saja sudah membuatnya orgasme.

Janet sendiri sudah lama menyadari bahwa dirinya mempunyai nafsu sex yang cukup besar namun bersama Andre ia merasa bahwa dirinya masih kalah jauh dengan kebuasan Andre.

“kau langsung kemari dari kantor tadi?” Raymond membuka percakapan kembali.

Janet hanya mengangguk dan mengeraskan suara musik. Ia tak ingin berbicara lebih lama dengan Raymond. Semakin cepat tiba di rumah semakin baik baginya.

“kita mampir makan dulu saja kalau begitu. Kau pasti lapar bukan?”

Janet menoleh kearah Raymond dengan pandangan putus asa. Perutnya memang terasa kosong. Namun tawaran makan itu bagai penjara baginya.

Raymond menatapnya sejenak dan mengalihkan pandangannya kembali ke jalanan di depan.

“Baiklah. Aku antar kau pulang saja. Kau sepertinya ingin segera tiba di rumah.”

Janet menarik nafas lega. Sebenarnya Raymond memang pria yang penuh pengertian bila saja Janet mau bersikap adil dan obyektif. Namun bayangan Andre yang selalu mengisi hatinya membuatnya menganggap Raymond adalah pria bebal yang merasa bisa membeli semuanya dengan harta keluarga. Setelah setengah jam mereka saling diam di dalam kendaraan akhirnya Raymond menepikan kendaraannya di depan sebuah rumah bercat putih.

“sudah sampai. Kau ingin masuk?” Janet berbasa basi sambil membuka pintu.

“Tidak. Terima kasih. Lain kali saja. Salam untuk papa dan mama ya.”

Janet mengangguk dan turun dari mobil. Ditutupnya kembali pintu mobil dan Janet bergegas masuk ke rumahnya tanpa mengucapkan apapun.

Begitu masuk ke ruang tengah ia melihat oma dan papa mamanya sedang duduk di sofa menonton televisi. Glenn adiknya tak tampak mungkin ada kuliah sore.

“sore semuanya…,” Janet berkata riang. Hatinya senang bisa lepas dari Raymond sore ini.

“sore sayang,” papanya menjawab hangat dan memeluk Janet. Janet menyukai suasana keluarganya yang hangat. Sejak kecil ia selalu merasa lebih dekat dengan keluarganya daripada siapapun di dunia ini. Semua yang dialami Janet selalu diceritakannya pada keluarganya. Kecuali tentang hubungannya dengan Andre. Ada satu sikap keluarganya yang tidak disukai Janet. Papa mamanya lebih suka Janet segera menerima tawaran Raymond untuk menikah dan itu membuatnya menunda untuk menceritakan hubungannya bersama Andre.

“kau tak bawa mobil tadi?” papanya bertanya sambil menghisap rokoknya.

Janet melempar tasnya ke sofa dan menghampiri meja makan. Perutnya benar-benar terasa lapar .

“tidak. Pulang kerja tadi aku tak sempat pulang jadi langsung ke sanggar senam. Oiya pulangnya Raymond yang mengantar.”

“Raymond?” Mamanya tiba-tiba tertarik mendengar nama itu.

“Ya. Raymond. Ia yang mengantarku pulang,” kata Janet sambil membawa piringnya ke sofa. Menonton televisi bersama keluarganya sambil mengisi perut merupakan kebiasaan Janet.

“lalu dimana Raymond sekarang?” mamanya kembali bertanya.

“pulang.”

“ia tak masuk kemari dulu?”

“mungkin ada acara,” Janet menjawab sekenanya.

Mamanya meletakkan majalah di tangannya dan membungkuk mendekat ke wajah Janet yang duduk berselonjor di karpet.

“kau tak menawarinya masuk ya?”

Janet menghentikan kunyahannya. “ Aduh mama…ia kan harus mengurusi bisnisnya yang maha besar itu. Mampir kemari akan menghabiskan waktunya.”

Mamanya merengut dan kembali meraih majalah.

“ Kau selalu ketus bila bicara tentang dia Janet!”

Janet diam saja. Ia telah berterus terang sejak pertama kali pada keluarganya bahwa ia tak menyukai Raymond dan ia tak berusaha menutup-nutupi sikapnya itu.

“Ia pria yang sopan Janet,” papanya berkata lembut.

“Iya papa. Janet mengerti. Tapi Janet tak suka,” Janet merengek manja pada papanya.

“dan ia mempunyai masa depan Janet,” mamanya kembali berbicara. Janet hanya diam memandang acara televisi sambil terus mengunyah makanan di mulutnya. Baginya percuma membahas Raymond pada mamanya. Mamanya jelas-jelas menginginkan Janet untuk menikah dengan Raymond tanpa perduli perasaannya.

“tadi Raymond memang menelpon. Oma beritahu dia kau mungkin senam sore ini. Tadi pagi oma lihat kau membungkus pakaian senam,” Omanya mulai ikut berbicara.

“aduh omaa…jadi oma memeriksa bawaanku tadi ya?” Janet mendelik kearah omanya. Dilihatnya wanita tua itu hanya tersenyum-senyum saja. Keluarga Janet memang selalu terbuka pada setiap hal. Janet menyukai kehangatan itu. Kadang-kadang ia merasa harus memperkenalkan Andre pada keluarganya namun seperti saran kawan-kawan kantornya, ia harus memastikan status Andre terlebih dahulu.

“kau sering lupa membawa obatmu. Kalau bukan Oma yang mengingatkan kau pasti lupa mempunyai kewajiban menghabiskan obat maagmu itu….”

Janet sudah tak mendengarkan ucapan omanya lagi dan bergegas membuka tas kerjanya.

“aku lupa meminumnya…,” Janet mengacungkan obatnya di hadapan oma sambil tertawa. Cepat-cepat diteguknya obat itu dengan segelas air dan Janet melanjutkan kembali makannya.

“Janet, tadi pagi ada telepon dari kawanmu,” kata papanya.

“siapa?”

“Wisdom. Itu kawan kuliah dulu?”

Janet hampir saja tersedak. Ia tak menyangka Andre akan menelpon ke rumahnya. Pria itu selalu menghubungi telepon genggamnya bila ingin memberi kabar.

“ia pesan apa papa?”

Papanya menggeleng,”tidak meninggalkan pesan apa-apa.”

Janet mengangguk lega. “ia bukan teman kuliah Janet. Janet kenal lewat internet.”

Papanya melepas kacamata dan mencolek bahunya. “chatting?”

Janet mengangguk.

“kau pernah bertemu dengannya?” Mamanya mulai tertarik kembali.

Janet mengangguk kembali.

“dimana?”

Janet berpikir sejenak. “di mall. Ia sedang ada tugas di sini dan menyempatkan diri bertemu denganku.” Janet menyesal harus berbohong pada keluarganya.

“apakah ia pria yang sopan?”

“maksud mama?”

Mamanya meletakkan majalah ke meja dan membungkukkan badannya mendekat ke wajah Janet.

“maksud mama, dia tak macam-macam dengan putri mama kan? Mama sering dengar teman chatting itu rata-rata penganut free sex.”

Janet mendengar papanya tertawa. Mungkin lucu atas kepolosan komentar mama.

“tentu tidak mama. Kami kan bertemu di mall.” Janet berkata sambil terus menatap televisi di hadapannya. Ia tak berani memandang wajah mamanya bila berbohong.

“ya..ya..mama hanya bertanya sayang,” kata mamanya sambil meraih kembali majalah di meja. Mungkin lega mengetahui putrinya tidak diperlakukan macam-macam.

Begitu piringnya telah kosong, Janet bangkit berdiri, “Janet istirahat dulu ya. Pegal semua setelah senam.”

Setelah meletakkan piringnya di pantry, Janet bergegas naik ke kamarnya. Ditutupnya pintu kamar dan Janet meraih telepon genggamnya.

Diketiknya pesan sms ke Andre.

hallo sayang…tadi telepon rumah ya? Ada apa? Kangen? J

beberapa saat kemudian teleponnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Andre.

Tidak ada apa-apa. Hanya ingin tahu apakah masih perih ?

Janet tersenyum dan membalasnya

Masih. Tapi kadang terasa gatal.

Dan balasan dari Andre datang

Ingin dimasuki lagi?:]

Janet memeluk guling dan membalasnya

Bercinta yuu… kangen brown banana jelek

Janet membutuhkan lima belas menit untuk mencapai orgasmenya sebelum akhirnya tertidur pulas .

--

*/21/*

Hari ini benar-benar melelahkan. Setelah mempersiapkan bahan presentasi untuk dewan direksi, Janet harus memeriksa seluruh prosedur mesin-mesin pencelup warna di pabrik tempatnya bekerja. Janet hanya mempunyai waktu sepuluh menit untuk meluruskan badannya sambil berbincang-bincan ringan dengan Peggy sebelum dia melanjutkan pekerjaan lainnya yang setumpuk. Namun semua dilalui Janet dengan bergairah. Sore nanti sepulang kerja ia mempunyai janji chat bersama Andre dan itu membuat semangatnya berlipat ganda.

Setelah menyelesaikan tugasnya dan bel pulang berbunyi, Janet bergegas masuk dalam mobil jemputan yang telah menunggunya. Sejam kemudian Janet sudah duduk menghadap computer di sebuah café internet.

Dimasukinya sebuah ruang chat yang telah mereka tentukan dan Janet mendapati Andre sudah menunggunya.

akhirnya muncul juga…

sorry, lama ya

lumayan. Kau terlambat setengah jam. Sibuk hari ini?

luar biasa. Tak ada waktu menarik nafas.

sayang sekali.

kenapa?

suara tarikan nafasmu merangsang J

dasar! Kepala isinya sex aja!

haha..

Janet tersenyum sendiri. Mungkin bila pria lain, Janet akan langsung mengamuknya namun dengan Andre ia selalu menyukai lelucon nakalnya.

kau sudah makan?

Sudah. U?

idem

Janet menyandarkan tubuhnya sejenak ke sandaran kursi dan mulai mengetik kembali.

aku boleh tanya ttg sesuatu?

apa?

kau sudah beristeri?

sudah

Janet menatap tak percaya jawaban Andre.

kau serius?

yup

andre, aku sedang tidak bercanda. Apa benar kau sudah beristeri?

Lima menit Janet menunggu layar monitornya yang tak juga memunculkan jawaban. Ketika Janet sudah hendak bertanya kembali, susunan huruf –huruf muncul di hadapannya.

sudah sayang..

Tiba-tiba Janet merasakan perutnya mual. Ia menarik tissue dari dalam tas untuk menutup mulutnya yang serasa ingin muntah dan mengklik tombol keluar dari ruang chat. Kepalanya terasa berat. Semua ini bagai mimpi buruk. Ia membiarkan saja Andre menikmati tubuhnya dan kini Andre mengatakan ia sudah mempunyai isteri. Setelah membayar tagihan di meja resepsionis Janet segera mengayunkan langkahnya ke trotoar dan mencegat taxi. Hanya satu yang diinginkannya. Segera tiba di rumah dan tidur dalam kamarnya yang nyaman!

Sesampainya di rumah Janet langsung naik ke kamar. Dikuncinya pintu dan membanting tubuhnya ke ranjang. Hatinya berharap semoga matanya cepat tertutup. Semua rasa berkecamuk dalam dadanya. Malu, marah, merasa bodoh dan sebagainya memenuhi dirinya.

Dicobanya memejamkan mata dan waktu terus berjalan namun matanya tak menutup juga. Kepalanya malah terasa semakin berat dan bayangan percintaannya dengan Andre kembali berputar di pelupuk matanya. Janet menyadari sebuah perasaan rindu hadir dalam dadanya. Ia harus berlaku jujur pada dirinya sendiri. Ia jatuh cinta pada Andre dan tak ada yang diinginkannya di dunia ini kecuali dapat menghabiskan sisa usianya bersama pria itu. Namun mengapa ia harus jatuh cinta pada pria yang telah beristeri?

Hingga malam tiba Janet belum keluar dari kamarnya. Semua anggota keluarganya hari ini pergi ke luar kota dan baru kembali minggu depan. Janet bisa memuaskan kekecewaannya dengan mengurung diri di kamar tanpa terganggu.

Setelah mengalami penantian yang panjang akhirnya Janet tertidur dan terbangun tengah malam. Perutnya terasa perih. Maagnya pasti mulai kambuh. Ia belum makan dan tidak meminum obatnya sejak siang tadi. Janet setengah berlari ke lantai bawah dan memakan hidangan yang disediakan pelayannya di meja makan. Dicobanya menahan rasa perih yang menyerang perutnya. Bagaimanapun perutnya harus diisi bila tidak ingin maagnya bertambah parah. Dengan bersusah payah selama beberapa menit Janet berhasil menghabiskan makannya dan langsung minum obat. Kepalanya teras berdenyut. Ia sudah hapal penyakitnya ini. Diawali rasa perih di perut kemudian kepala terasa sakit diikuti keluar keringat dingin dan ditutup dengan muntah-muntah.

Janet mulai merasakan kedinginan dan tubuhnya menggigil. Ia segera berlari ke kamarnya dan buru-buru menyelipkan tubuhnya di balik selimut. Semua ini begitu berat. Andre yang dicintainya tak berterus terang sejak awal dan kini ia harus menanggung akibatnya. Ia telah kehilangan keperawanannya dan kini menggigil menahan rasa sakit di perut dan kepalanya.

Tanpa terasa air matanya meleleh turun. Janet ingin dipeluk mama papanya. Janet ingin dikelilingi keluarga tercintanya. Tapi mereka semua tak ada dan Janet meneguhkan hatinya untuk berjuang sendiri melawan rasa sakitnya.

Semakin lama semakin banyak air matanya yang menetes turun membasahi pipinya. Perut dan kepalanya terasa sakit namun Janet kini lebih merasakan kesakitan pada perasaannya. Andre begitu dicintainya dan Janet selalu jujur terbuka padanya. Mengapa dirinya harus diperlakukan seperti ini.

Ia mencoba menenangkan pikirannya. Keberhasilannya menenangkan pikiran akan mengurangi rasa sakit yang menghujam perut dan kepalanya. Berulang kali Janet mendengar dokternya berkata bahwa sakit maagnya bisa kambuh atau menjadi bertambah parah karena stress.

Janet berusaha mengalihkan beban-beban di kepalanya dengan membayangkan lagi saat-saat indah bersama Andre. Pria itu asyik sebagai teman ngobrol. Janet juga selalu merasa nyaman di sisinya. Andre selalu bisa membuatnya merasa aman dan bahagia. Andre bisa mengocok perutnya dengan sikapnya yang terkadang salah tingkah atau bisa membuatnya merasa seperti satu-satunya wanita yang paling beruntung di muka bumi karena tatapan dan sikapnya yang romantis.

Sudah beberapa kali Janet mendapati secarik kecil kertas di tasnya. Isinya kata-kata ‘jangan lupa mam ya ‘ atau kata-kata ‘kangen..’ di saku bajunya. Andre pasti menyelipkan kertas-kertas itu saat Janet sedang tidur. Pernah suatu hari Janet membuat seluruh rekannya sekantor mengulum senyum saat Janet tak menyadari di foto Identitas Cardnya yang menggantung terselip secarik kertas dengan spidol bertuliskan I dan U dengan gambar hati di antara kedua huruf itu.

Janet juga sudah dua kali mendapati jari-jari kakinya tak nyaman dan ketika ia memeriksa sepatunya terselip secarik kertas dengan tulisan ‘kakimu indah…aku suka…’ dan beberapa kertas lain yang membuatnya melambung ke awan.

Janet memiringkan tubuhnya memeluk guling. Perlahan-perlahan kenangan – kenangan indah itu mengikis rasa sakitnya. Janet berusaha tak mengingkari kenyataan bahwa ia merindukan Andre dan membutuhkan kehangatan pelukannya. Kalau memang ia sudah beristeri Janet tak perduli lagi. Ia sudah cukup bahagia mencintai dan dicintai pria itu. Mendadak sesuatu terbersit di kepalanya. Ia menginginkan Andre bercerai dan menikahinya. Semakin lama semakin kuat dorongan itu memenuhi benaknya dan Janet hampir-hampir tak percaya dirinya bertekad menghancurkan rumah tangga orang.

Janet merogoh tasnya dan mengeluarkan telepon. Ia ingin menghubungi Andre malam ini. Ketika teleponnya sudah dalam genggaman ia mendapati banyak pesan sms masuk. Dibacanya satu persatu. Semuanya dari Andre. Pria itu kuatir sekali dan saat Janet hendak membalasnya tiba-tiba teleponnya berbunyi.

“hallo sayang,” suara Andre terdengar.

“ya..”

“kau kecewa?”

Janet tak tahu harus mengatakan apa dan suara Andre kembali terdengar.

“janet aku mencintaimu. Aku memang tak berterus terang padamu sejak awal. Aku takut kehilanganmu dan kau tak pernah menanyakannya sampai sore tadi.”

“ya..aku mengerti, Andre. Maafkan aku memutus chatt tadi. Terlalu berat untukku semua ini.”

Didengarnya suara gemerisik angin di teleponnya.

“kau baik-baik saja Janet?”

“ya..aku baik-baik saja…tapi maagku kumat. Kau dimana?”

“di depan rumahmu.”

“apa?” Janet terkejut dan berlari membuka gorden kamarnya yang menghadap ke jalan. Di bawah tampak Andre berdiri seorang diri memegang teleponnya. Janet bagai tak percaya dengan yang dilihatnya. Diputusnya hubungan telepon dan Janet menghambur turun ke bawah membuka pintu depan.

Andre melangkah masuk dan memeluk Janet rapat-rapat. Ia begitu mencintai wanita ini. Jawabannya sore tadi di chat pasti telah menggoncang Janet dan Andre langsung menuju stasiun sepulang chat tadi.

“kau naik apa?”Janet masih tak percaya mendapati mereka telah bertemu kembali.

“kereta. Tadi sepulang chat aku telepon rumahmu dan pelayanmu bilang semua sedang keluar kota kecuali kau. Aku memberanikan diri ke mari karena aku kuatir padamu Janet.”

Andre memandang Janet dengan penuh perasaan. Ia begitu merindukan wanita di hadapannya. Baginya Janet adalah segalanya. Andre bisa merasakan betapa ia mencintai Janet lebih besar dari pada ia menyayangi Anna.

“kau pucat sekali Janet. Sudah makan?” Andre bertanya sambil tetap memeluknya.

Janet mengangguk lemah. Ia sandarkan kepalanya di bahu Andre. Bobol sudah pertahanannya. Ia tak bisa marah berlarut-larut pada Andre. Ia begitu membutuhkan Andre sekarang.

“kau menginap di sini ya,” Janet mendongak menatap wajah yang dirindukannya itu.

Andre menimbang-nimbang sejenak dan sebelum ia sempat menjawab Janet telah menggeretnya ke atas.

“tidurlah di kamarku,” Janet membuka pintu kamarnya dan membereskan selimutnya yang berantakan.

Andre diam dalam bingung. “tidak apa-apa?” tanyanya. “keluargamu akan tahu aku menginap di sini.”

Janet menggeleng sambil tersenyum. “memang kau ingin di sini selamanya? mereka baru seminggu lagi kembali.”

“pelayanmu?”

“no problem. Aku kan suruh dia tutup mulut. Glenn juga sering mengajak Ziska tidur di kamarnya.”

Andre ingat Glenn adalah adik Janet satu-satunya dan Janet sering bercerita kekasih Glenn, Ziska sering menginap di rumahnya.

Janet mendorong tubuh Andre duduk di ranjang dan berjongkok.

“aku lepaskan kaos kakimu. Tidurlah kau pasti lelah karena perjalanan tadi.”

Andre diam mengalah dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Badannya memang lelah. Tadi ia menunggu dua jam lebih di stasiun untuk mendapatkan tiket kereta.

“kau sudah makan?” Janet bertanya sambil merapikan kaos kaki Andre di meja riasnya.

Andre menggeleng dan Janet bergegas turun sambil berkata “kau tunggulah di sini.”

Beberapa menit kemudian Janet masuk kembali sambil membawa semangkuk mie panas.

“makanlah. Kau pasti lapar.”

“kau yang memasaknya?” Andre bangkit dari ranjang memandang mangkuk di hadapannya. Perutnya makin terasa lapar melihat hidangan itu.

“pelayanku sudah tidur jadi aku yang memasaknya sendiri.”

“kau kan masih sakit Janet,” Andre menarik Janet dalam pelukannya.

“sudah tak apa-apa kok. Aku sudah minum obat tadi. Ayo,makanlah”

Andre mengambil sendok dan menyantap hidangan itu dengan tangan kanannya. Tangan kirinya masih memeluk Janet.

Janet memandang pria yang dirindukannya itu melahap mie dengan cepat.

“kau lapar sekali ya”

Andre mengangguk tak menjawab.

Janet merasakan kebahagiaan yang teramat sangat dan tiba-tiba-tiba saja ia menyadari perut dan kepalanya tidak terasa sakit sama sekali. Bahkan kini dirinya merasa bersemangat . Andre memang sudah beristeri namun sikap pria itu membuktikan betapa sayangnya ia pada dirinya.

Setelah menghabiskan hidangan, mereka berdua naik ke tempat tidur dan beberapa menit kemudian mereka telah tertidur pulas sambil berpelukan. Malam ini mereka tidur bersama kembali namun tanpa bercinta. Momen ini begitu indah dan syahdu bagi keduanya untuk saling melepas baju. Mereka berdua tidur dalam kehangatan cinta yang melingkupinya dan Andre tak mengetahui teleponnya mendapat pesan sms dari Yammy. Isinya

Andre, kapan kita lakukan lagi? Kau hebat…

--

*/22/*

Janet masuk kerja hari ini dengan wajah berseri-seri. Sejak pagi tadi Peggy memperhatikannya terus menerus.

“kau kelihatan segar sekali hari ini,” kata Peggy menoleh padanya. Meja Peggy terletak di samping mejanya.

Janet tersenyum mendengar komentar rekannya itu.

“Andre ada di rumahku dan tadi pagi ia melepasku ke kantor dengan kecupan di pipi.”

Peggy mendorong kursinya menjauh dari meja dan mendekati kursi Janet di sebelahnya.

“Hah, ia di rumahmu?”

Janet mengangguk.

“tidur di rumahmu?”

Janet mengangguk lagi.

Peggy makin tertarik dan tersenyum nakal.

“Kau tidur bersamanya tadi malam?”

“Ya. Ia memelukku hingga pagi,” Janet berkata dengan mata berbinar-binar.

“Ohh….bagaimana Janet? Kau sudah menjadi wanita rupanya pagi ini.”

Janet tertawa mendengar ucapan Peggy.

“Kami tidur dengan tetap mengenakan baju Peggy.”

Peggy menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.

“kau bohong Janet. Mana mungkin kau bisa tahan dari pelukannya..haha..”

Peggy tertawa kecil membayangkan suasana mesum antara Janet dan Andre.

Janet mengikutinya tertawa kecil dan menggodanya.

“Kau tahu Peggy bagaimana rasanya tidur dalam pelukan laki-laki? Begitu nyaman dan hangat,” Janet memejamkan matanya dan tertawa kembali.

Peggy melirik ke belakang dan manager mereka sedang memperhatikan ke arahnya. Ia mendorong kursinya kembali kearah mejanya sendiri dan berkata pelan.

“Manager baru itu memperhatikan kita lagi Janet. Nanti kau cerita selengkapnya jam makan siang!”

Saat jam makan siang Peggy langsung menempel Janet. Ia ingin mendengar kabar selengkapnya. Televisi di cafeteria kantor sedang menayangkan info selebriti sebuah acara yang sangat disukai mereka berdua. Namun hari ini acara itu kalah menarik dengan berita yang akan didengarnya dari Janet tadi.

“Jadi ia benar-benar menginap di rumahmu?”

Janet mengangguk sambil menyelesaikan kunyahannya.

“Tadi malam ia datang ke rumahku dan aku suruh ia tidur di kamarku.”

“kalian tidur bersama?” Peggy mengulangi pertanyaan yang pernah diajukannya tadi. Baginya ini berita heboh.

“Ya. Keluargaku keluar kota jadi tak ada salahnya kami tidur bersama,” Janet berbisik mendekat ke wajah Peggy dengan pandangan menggoda. Ia menyukai wajah Peggy yang tampak bodoh siang ini.

Peggy menatapnya tak percaya.

“kalau keluargamu tahu?”

“mereka satu minggu lagi baru kembali.”

“jadi ia akan menginap satu minggu di kamarmu?” Peggy berbisik.

Janet mengangguk kembali.

“kau bisa hamil Janet!” Peggy berkata sambil tersenyum nakal.

“kami tidak melakukannya Peggy,”Janet berkata sambil tersenyum puas. Ia menyukai wajah Peggy yang penuh rasa penasaran.

“bukannya tidak tapi belum!”

Janet tak menjawab. Ia sendiri tak terlalu yakin bisa menahan diri selama satu minggu.

“bagaimana dengan pelayan rumahmu?” Tiba-tiba Peggy teringat masih ada seorang lagi di rumah Janet.

“sudah kusuruh tutup mulut.”

“kau percaya padanya?”

Janet mengangguk dan meneguk es jeruk di hadapannya. Dirinya benar-benar bergairah. Andre menginap di rumahnya dan mereka bagai suami isteri saja. Ini semua seperti mimpi indah. Es jeruk dingin yang segar itu seperti melengkapi harinya yang luar biasa.

Janet sudah tak sabar ingin jam kerja usai.

“kau pasti ingin cepat kembali ke rumah,” Peggy kembali berkata sambil terus menatap wajah Janet.

“kau bisa menebak pikiranku ya.”

“wajahmu bagai singa betina di musin kawin Janet!”

Janet tertawa mendengarnya.

“bagaimana Andre itu Janet?”

“maksudmu?”

“apa ia tampan?”

Janet menyesali dirinya tak mempunyai foto Andre.

“lumayanlah. Yang jelas ia pria yang luar biasa.”

“kau pernah melakukannya Janet?”

“melakukan apa?” Janet berlagak pilon.

“membiarkan lubang vaginamu dimasukkan penis Andre.” Peggy mengatakannya dengan muka kesal melihat sikap Janet yang berlagak seperti gadis balita.

“ gila kau! “

“jadi benar kau sudah pernah melakukannya?” Peggy mendesaknya.

Janet merasa jengah. Ia ingin jujur namun digelengkannya kepalanya.

“rugi kau!” Peggy berkata singkat.

“kenapa?”

“enak lagi!”

Merekapun tertawa terbahak-bahak berdua. Beberapa rekan kantor lain yang makan di meja – meja di sekeliling mereka menoleh. Janet dan Peggy tak menghiraukannya. Makan siang ini benar-benar heboh bagi mereka berdua.

“aku selalu menyukai moment seperti itu,” Peggy kembali berkata setelah tawanya berhenti.

“bagaimana rasanya?” Janet bertanya. Ia sudah melakukannya berulangkali dengan Andre namun cukup menyenangkan mendengar komentar dari wanita lain yang pernah melakukannya. Peggy sudah berkeluarga jadi mereka pasti melakukannya secara rutin.

“suamiku selalu heboh di ranjang tapi belakangan ini ia sibuk luar biasa dengan pekerjaan kantornya.”

Janet mendengarkan Peggy sambil terus mengunyah hidangannya.

“kau tahu Janet. Beberapa malam yang lalu aku sudah mengenakan pakaian tidur yang tipis tanpa apa-apa di baliknya. Tapi ia membawa laptopnya ke ranjang dan terus menyelesaikan pekerjaan yang dibawanya. Aku sampai tertidur menunggunya,” Peggy berkata dengan raut kesal teringat kejadian yang diceritakannya itu dan Janet kembali tertawa terbahak-bahak.

Jam makan telah usai berbarengan dengan selesainya acara info selebriti di televisi dan salah seorang di meja lain mengganti saluran. Tampak seekor singa sedang duduk di batu-batu di tengah savanna.

Janet menarik kursinya bangkit berdiri sambil berkata menggoda, ” Malam itu kau pasti seperti singa betina yang frustasi Peggy !”

Sekitar jam lima sore ketika Janet melangkah masuk ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang tadi Janet melamun saja. Ia menyesali status Andre yang sudah beristeri. Ia benar-benar mencintai pria itu. Semuanya begitu indah dan itu yang menyebabkan Janet tak menceritakan pada Peggy tentang status Andre. Baginya cukuplah Peggy mengetahui Janet mempunyai hari-hari indah bersama Andre. Ia bersyukur Peggy tadi tidak menanyakannya tentang status Andre.

Dibukanya pintu kamar dan ia melihat Andre sedang menghadap laptopnya di ranjang. Barang canggih tersebut sepertinya mengikuti kemana saja tuannya pergi. Andre bergegas menyambutnya.

“hallo sayang..bagaimana harimu?”

Janet tersenyum dan merangkul erat-erat tubuh Andre.”Hari ini pekerjaan kantor kuselesaikan semuanya.”

Janet tidak berkata bohong. Ia bagai mempunyai energi luar biasa hari ini dan itu sangat membantunya bekerja dengan lebih efesien.

“kau sudah makan?”

Andre menggeleng.

“tadi siang kau tak makan?” Janet memandangnya tak percaya.

“tidak.”

“Andre, aku sudah suruh siapkan hidangan untukmu di meja bawah.”

“aku tidak keluar kamar sejak kau berangkat tadi.”

“kau bisa sakit Andre.”

Andre menggelengkan kepalanya. “kau sudah minum obat maagmu?”

Janet mengangguk.

“aku turun dulu. Aku bawakan makan untukmu. Atau kau ingin ke bawah?”

Andre menggelengkan kepalanya.

“baiklah. Kau tunggulah di sini. Aku ambil di bawah dulu,” Janet melepaskan pelukan dan bergegas turun.

Andre bangkit mencari telepon genggamnya yang diletakkan di atas meja rias Janet dan baru saja Andre mengaktifkannya ketika teleponnya berbunyi tanda pesan sms masuk.

Kau sulit dihubungi Andre. Aku ingin bertemu denganmu. Kapan kita lakukan lagi?

Andre menatap teleponnya dan segera menekan tombol power mematikannya kembali. Ia tak tertarik pada ajakan Yammy. Janetlah yang bisa membuatnya bahagia. Diletakkannya kembali benda mungil itu di meja dan Andre kembali ke ranjang.

Beberapa menit kemudian Janet telah membawa masuk sepiring nasi dengan sup panas dan tumis udang.

“hmm..kelihatannya lezat sekali,” Andre memandang mangkuk yang mengepulkan asap itu.

“makanlah. Pelayanku itu ahli dalam memasak. Meski aku lebih menyukai masakan oma.”

“oma pandai masak?”

“hmm..luar biasa. Kau harus mencicipinya nanti. Masakan oma tiada duanya.”

“jadi kapan aku makan masakan omamu?”

Janet terdiam sejenak.

“kalau kau sudah bercerai.”

Andre menghentikan suapannya dan memandang Janet. Wajahnya memerah. Ia memang bersalah tak berterus terang sejak awal. Namun perkataan Janet barusan tetap saja membuatnya bagai ditikam dari belakang meski ia bisa mengerti bagaimana perasaan Janet.

“apakah itu yang kau inginkan Janet?”

Janet menatap Andre dan mengangguk. Baginya sudah kepalang basah semuanya. Ia mencintai Andre dan ia bisa merasakan begitu pula sebaliknya.

“aku mempunyai Rachel.”

“anak kalian?”

Andre mengangguk. “umurnya tiga tahun. Ia sekolah di play group sekarang.”

“Aku menginkannya jika isterimu tidak keberatan.”

“ Anna pasti akan membawa Rachel.”

“kita berusaha dulu. Bagaimana jika Rachel ingin bersama kita bukan bersama ibunya.”

Andre tak percaya dengan hal itu. Ia melihat begitu dekatnya Rachel dengan Anna dari pada dengan dirinya.

“aku akan menceraikannya.”

Janet memandang tak percaya meski hatinya bagai meloncat ke langit-langit kamar.

“kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu Andre?”

“ya. Aku bersungguh-sungguh. Tapi aku butuh waktu.”

Janet tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia mendekat dan memeluk Andre.

“habiskan makanmu sayang. Aku buatkan kopi panas ya. Kau boleh merokok di kamarku sesudah kau habiskan hidanganmu itu.”

Andre tersenyum. Diletakkannya sendok dalam tangannya dan ia memeluk Janet erat-erat. Ia begitu mencintai Janet. Wanita ini benar-benar penuh pengertian. Anna tidak pernah melarangnya merokok di kamar namun perkataan Janet barusan terasa lebih membahagiakan . Pengalamannya membuktikan banyak wanita tak suka asap rokok.

Janet melepaskan pelukan dan mengecup pipi Andre. Ia mencari pakaian ganti di dalam lemari.

“aku turun dulu ya sayang.”

“mau kemana?”

“ke bawah ganti baju.”

Andre menggerak-gerakkan telunjuknya.

“kau ganti di sini saja.”

“di kamar ini?” Janet bertanya sambil melongo.

“ya. Memangnya kenapa?”

Janet ragu-ragu. Ia masih merasa malu membuka baju di hadapan Andre.

“kau kan sudah sering telanjang di hadapanku,” Andre berkata ringan sambil menyendok supnya.

“sup ini benar-benar lezat,” lanjutnya.

Janet mengunci pintu kamar dan mulai melepas kancing seragam kerjanya.

“kau tetaplah konsentrasi pada supmu.”

Andre melambaikan tangannya.”Tak masalah.”

Janet membelakanginya berganti pakaian dan Andre menghabiskan supnya dengan diiringi pemandangan indah di depannya.

Sore itu benar-benar membahagiakan bagi Janet. Kamar Janet di lantai atas tidak mempunyai teras dan Janet membuka lebar-lebar jendela kamarnya. Ia nyalakan exhaust dan kipas itu berputar cepat menyedot asap rokok Andre melayang ke luar kamar.

Janet menyukai wajah Andre yang terlihat tenang saat menghisap rokok. Dirinya berulangkali melarang papanya merokok namun bersama Andre ,Janet sampai harus mengobrak-abrik lemari pantry untuk mendapatkan asbak yang benar-benar baru.

Malamnya setelah Andre mandi dan mengenakan kaos yang dipinjamkan Janet mereka keluar dari kamar menyalakan televisi di ruang duduk atas.

“ternyata ada asbak di sini,” Andre menarik asbak di kolong meja.

“papa selalu merokok bila menonton televisi.”

Janet duduk berselonjor di sebelah Andre.

“mamamu tidak keberatan?”

“puluhan tahun ia melarangnya dan kini sudah menyerah. Bahkan mama yang selalu menyediakan rokok untuk papa. Sejak papa pensiun mama mempunyai pekerjaan rutin. Membersihkan asbak tiap pagi dan sore.”

Andre tersenyum membayangkan Janet akan mengalami nasib serupa bila mereka menikah.

“Andre, kau seminggu di sini kan?” Janet menoleh ke arahnya.

“besok aku pulang Janet.”

“kenapa? Keluargaku baru kembali minggu depan.”

“bukan keluargamu tapi pekerjaanku.”

“pekerjaan atau Anna?” Janet cemberut seperti anak kecil.

“kau cemburu?”

Janet diam saja dan Andre menarik Janet dalam pelukannya.

“maafkan aku Janet. Aku tak bermaksud menyakitimu.”

“Kau benar-benar ingin menceraikannya ?” Janet bertanya sambil memandangnya.

Andre mengangguk.

“Kapan?”

“Aku butuh waktu sayang,” Andre membelai wajah di hadapannya. Ia begitu mencintai Janet.

“baiklah kalau kau ingin pulang besok. Jam berapa?”

“kereta pagi.”

“kau tidak ditanya Anna kemana saja tidak kembali ke rumah?”

“sudah aku sms kemarin malam dari stasiun. Aku bilang aku keluar kota.”

“Dia tidak bertanya urusan apa?”

Andre menggeleng. “Anna jarang bertanya macam-macam. Lagipula ia sedang sibuk dengan pekerjaanya.”

“kerja dimana?”

“di rumah, Anna mendapat proyek gambar.”

“ooo…dia arsitek?”

Andre mengangguk.

“ia mendapat pekerjaan dari kawan lamanya,” kata Andre sambil meluruskan kakinya.

“pria?”

“apanya?”

“kawan lamanya itu.”

Andre kembali mengangguk.

“kau sudah pernah bertemu dengannya?”

Andre menggeleng, “belum. Anna pernah bercerita bahwa kawan lamanya itu dulu pernah berusaha mendekatinya.”

Anna memperhatikan dengan teliti wajah Andre.

“kau cemburu?”

“tidak.”

“apa ia tak pernah bercerita sejauh mana hubungan mereka dulu?”

“Janet, apa kita tak punya topik lain?”

Janet mendekatkan wajahnya. “jawab dulu pertanyaanku. Apa dia pernah bercerita sejauh mana hubungan mereka?”

Andre menggeleng dan Janet mengganti saluran televise sambil berkata, “ biasanya cinta akan tumbuh kembali bila mereka melakukan pekerjaan bersama-sama setelah lama tak jumpa.”

“kau begitu tertarik dengan kisah mereka Janet,” Andre mulai merasa gusar.

Janet menoleh dan tersenyum. Dipeluknya Andre dan Janet berbisik, “ aku mencintaimu Andre. Menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan selalu setia dalam kondisi apapun.”

Andre sudah membuka mulutnya ketika Janet menggeser duduknya lebih rapat dan mengecup bibirnya. Kegusaran Andre seketika lenyap berganti kegairahan menikmati hangatnya bibir Janet. Mereka berdua menonton televisi sambil sesekali saling mengecup.

Malamnya mereka berdua tidur dalam kehangatan. Andre tidak meminta Janet melepas baju seperti kebiasaan mereka dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya dan Janet bersyukur Andre tidak mengajaknya bercinta. Meski terkadang sesuatu dalam dirinya ingin meledak. Bagaimanapun tidur berhimpitan dengan Andre membuat dirinya ingin dicumbu hingga tuntas.

Lewat tengah malam Andre terbangun dan menyalakan teleponnya kembali. Siapa tahu Anna memberi kabar penting. Urusan Rich bank itu benar-benar menguras pikiran mereka berdua dan Andre mendapati pesan sms masuk. Lagi-lagi dari Yammy.

Andre, aku ingin mengulangnya kembali, bagaimana bila besok?

Andre segera mematikan teleponnya, melangkah kembali ke ranjang dan memejamkan mata sambil memeluk wanita yang mengisi relung terdalam hatinya.

-- */23/*

Esoknya Peggy sudah menanti di ruangan.

“nah ceritakanlah,” Peggy menarik kursi mempersilakan Janet duduk.

Janet meletakkan tas kerjanya dan duduk. “cerita apa?”

“Tadi malam.”

“ia tidur nyenyak tadi malam dan dia pulang pagi ini. Pekerjaannya menumpuk. Kau sendiri bagaimana tadi malam?” Janet kembali menggoda. Wajah Peggy benar-benar penasaran dan Janet menikmatinya.

“jangan mengalihkan topik. Tadi malam kami bercinta. Tapi itu sudah biasa. Kami suami isteri. Nah sekarang ceritalah selengkap-lengkapnya. Manager baru itu tadi telepon tidak masuk hari ini. Ia ada acara keluarga. Jadi hari ini kau punya kewajiban menyajikan cerita terbaik untukku Janet.”

“kami tidur tadi malam.”

“hanya singa yang berkeliaran cari makan di malam hari!” sembur Peggy tak sabar.

“oke..oke…sabar dong Peggyku sayang,” Janet benar-benar menyukai mimik Peggy yang haus berita.

“kami tak melakukannya.”

Peggy menggeleng namun tetap diam. Ia ingin mendengar cerita selengkapnya dan tak berusaha memotong pembicaraan.

“kami mengenakan baju di tempat tidur.”

“kalian tidak melakukannya?” Peggy bertanya tak sabar. Memotong pembicaraan lebih baik dari pada Janet tidak bercerita. Ia harus memancingnya agar bercerita selengkap-lengkapnya.

Janet mengangguk.

“jadi kalian hanya tidur seranjang seperti adik kakak?”

Janet kembali mengangguk.

“kau bohong bukan?”

“tidak. Kami memang tidak melakukannya Peggy.” Janet melanjutkan dalam hati kecuali pada pertemuan-pertemuan terdahulu.

“kalian tahan semalaman seperti itu?”

“kami berciuman.”

Wajah Peggy berbinar penuh harapan.

“lalu?”

“begitu saja dan langsung tidur.”

“apa kau frigid atau jangan-jangan Andremu itu gay?” Peggy berkata sekenanya. Ia harus berhasil memancing Janet.

“gay? Ohh..sorry. dia buas!”

“nah…kena kau! Ayo cerita yang jujur.”

“kami memang tak melakukannya Peggy, atau kau lebih senang aku mengarang cerita yang memuaskan fantasimu?” Janet kembali menggoda.

“aku sudah puas semalam. Cerita cepat!” Peggy mulai gusar. “kau bilang ia buas.”

“ya. Buas tapi tak menerkamku.”

Peggy cemberut dan terlihat putus asa. Ia mengayuh kakinya mendorong kursi kembali ke mejanya. Janet mengikutinya.

“ia menciumku bibir dan leher.”

Peggy masih diam berlagak acuh.

“aku ganti pakaian di hadapannya.”

“lalu?” Peggy mulai tertarik kembali.

“dia makan sup sambil memandangku berganti pakaian.”

“kau telanjang bulat di depannya?”

“tidak tolol! Aku masih mengenakan celana dalam dan bra.”

Peggy tersenyum dan bertanya kembali.”lalu?”

“ia hanya memandangnya saja.”

“kau tidak dipeluknya saat berganti pakaian?”

“tidak. Ia sibuk dengan supnya. Seharian dia tidak keluar kamar dan baru makan setelah aku pulang.”

“kasihan sekali,” Peggy berkata lirih.

“tapi ia segar kembali setelah makan untunglah aku tak diterkam,” Janet kembali menggoda Peggy.

“saat tidur?”

“tidak. Ia hanya memelukku rapat-rapat saja padahal kami hanya semalam saja bersama.”

“Jadi ia sudah pulang tadi pagi?”

Janet mengangguk, “dengan kereta.”

Peggy membenarkan duduknya dan kembali ke topik semula, “jadi kalian benar-benar tidak melakukannya di ranjang?”

Janet memandang kawannya itu. Peggy kelihatan benar-benar bernafsu. Janet pernah membaca di sebuah situs internet bahwa gairah seorang isteri bisa dibangkitkan dengan mendengar cerita-cerita berbau porno dari rekan kerjanya dan ia berpendapat Peggy akan memanfaatkan ceritanya untuk menerkam suaminya malam nanti.

“kami berciuman.”

“dan?” Peggy terus mendesaknya.

“ia mengulumku.” Yang ini Janet berbohong. Baginya menyenangkan sahabat tak ada salahnya.

“itumu? “ Peggy bertanya sambil menunjuk payudara Janet.

Janet mengangguk.

“bagaimana rasanya?”

“luar biasa.”

“dan kau apakan ia?”

“aku?”

“ya. Dia mengulummu lalu kau apakan ia?” Peggy memberondongnya.

Janet berpikir sejenak dan ia teringat kejadian saat pertemuan pertamanya dengan Andre.

“aku mengulum telinganya.”

“lalu?”

Janet bingung harus berkata apa lagi.

“kau tidak mengulumnya?” Peggy kembali mendesak.

“mengulum apa?”

Peggy sudah hendak menjawab namun telepon di ruangan berbunyi. Peggy meraih gagang telepon.

“Ya. Peggy di sini.”

“apa? Baiklah aku ke sana.”

Ditutupnya telepon dan Peggy bangkit sambil mengenakan ID Cardnya.

“ada yang harus aku selesaikan di ruang pewarna di belakang. Ceritanya dilanjutkan nanti saja. Oh iya, maksudku tadi kau tak mengulum miliknya? Rasanya nikmat sekali” dan Peggy ngeloyor pergi meninggalkan ruangan.

Janet hanya diam dan sesuatu dalam dirinya terasa bergolak ketika teringat ia beberapa kali melakukan apa yang dikatakan Peggy saat pertemuan-pertemuan bersama Andre sebelumnya.

Setelah menyelesaikan tugas-tugasnya, Janet menelpon Andre. Namun telepon pria itu tak bisa dihubungi. Mungkin keretanya sedang berada di luar jangkauan sinyal dan Janet menyelesaikan pekerjaan hari itu seperti biasa kembali. Saat jam kerja usai nanti tak ada yang membuatnya ingin cepat-cepat kembali ke rumah. Andre sudah kembali ke keluarganya dan papa mama serta yang lainnya sedang di luar kota.

-- Jam lima sore seperti biasa Janet sudah tiba di rumah. Badannya terasa penat dan ia ingin segera melepas seragam kantornya lalu terjun ke ranjang. Tidur adalah hal yang tepat untuk situasi rumah dan hatinya yang sepi kembali.

Saat Janet sudah melepas rok dan baju kantornya tiba-tiba ia melihat bayangan di dinding. Sebelum Janet sempat berteriak sebuah tangan telah menutup mulutnya dan telinganya mendengar sebuah suara setengah berbisik.

“aku kangen sayang..”

Jantung Janet bagai lepas dari tubuh. Ia hapal suara itu dan Janet membalikkan wajahnya langsung mengecup bibir Andre.

“kau..ada di sini?”

Andre tersenyum,” di stasiun aku berubah pikiran. Lebih baik sehari lagi aku menginap di kamarmu.”

Janet masih bengong tak percaya menatap wajah Andre.

“pelayanmu aku beri uang untuk tutup mulut dan ia bisa mengerti,” lanjut Andre.

“kau bisa masuk kamarku.”

“pelayanmu yang membukakan kuncinya. Ia sepertinya setuju kita segera menikah,” kata Andre sambil tersenyum lebar.

Janet memeluk rapat tubuh Andre dan mencium bibirnya. “aku mencintaimu Andre…” katanya lirih dan Janet merasakan jari-jari Andre membelai lembut punggungya.

Malam itu mereka berdua berkeliling menikmati pendar lampu taman kota dan makan malam di sebuah resto mewah di lantai dasar Hotel Sheraton. Andre yang membayarnya. Tujuh ratus lima puluh dollar untuk sebotol anggur 1945 dan dua porsi santapan berat. Janet terpana akan kebaikan Andre itu dan dirinya merasa dunia milik mereka berdua.

--

*/24/*

Janet bergegas menuju mobilnya kembali setelah mengantar Andre naik keretanya. Ia sudah ijin terlambat hari ini sehingga mobil jemputan tak perlu menunggunya. Janet mengemudikan mobilnya perlahan-lahan keluar dari halaman parkir stasiun.

Setelah sejam bergelut dengan kemacetan Janet tiba di kantor dan dilihatnya Peggy sedang menghadap computer menyelesaikan pekerjaannya.

“Pagi Peggy,” Janet berkata sambil melempar begitu saja tasnya . Hari ini ia tak bersemangat. Kemarin ia tak ingin segera pulang dan Janet mendapat kejutan dari Andre setelahnya. Kini ia tak mungkin berharap mendapat kejutan itu lagi. Ia sendiri yang mengantar Andre naik ke keretanya.

“Pagi Janet,” Peggy menjawab tanpa menoleh. Ia tahu Andre pulang kemarin dan itu membuatnya tak bersemangat menyambut Janet. Tak ada cerita yang ditunggunya pagi ini. Bahkan ia tak menanyakan mengapa Janet terlambat pagi ini.

Janet menarik kursinya dan mulai memeriksa beberapa kertas yang ada di mejanya.

“Aku mengantar Andre tadi jadi aku terlambat.”

Kalimat singkat itu luar biasa efeknya. Peggy tertegun sejenak dan mengayuhkan kakinya mendorong mundur kursinya mendekat. Namun gayuhannya terlalu bersemangat sehingga lari kursi tak bisa dikendalikan dan menubruk kursi Janet dengan keras. Janet tak siap menghadapi bencana tiba-tiba itu dan terjungkal dari kursinya.

“eh…maaf..maaf..,” Peggy tertegun melihat Janet tertelungkup di lantai.

Janet bangkit berdiri sambil mengumpat-ngumpat Peggy dalam hati. Rekannya itu luar biasa bersemangat bila telah mendengar nama Andre. Dikibas-kibasnya rok kerjanya.

“maaf..maaf Janet,” Peggy masih shock dengan kecelakaan kecil itu. “bagaimana ceritanya? Dia tak jadi pulang kemarin?” lanjutnya buru-buru.

Janet sudah membuka bibirnya ketika Peggy memotongnya.

“Nanti saja ceritanya. Manager baru itu mengawasi kita lagi,” Peggy melirik ruangan sebelah dan kembali ke mejanya. Kali ini laju kursinya tak sekencang tadi.

Lewat sudut matanya Janet mengikuti melirik ke ruang sebelah yang hanya dibatasi oleh kaca tebal transparan. Dilihatnya manager mereka sedang berdiri memperhatikan ke arahnya.

“Aku tunggu makan siang ceritanya,” suara Peggy terdengar setengah berbisik ketika Janet sudah mulai berlagak sibuk kembali.

-- Sementara itu pada saat yang sama Anna tengah menyerahkan detail kamar mandi penthouse yang telah berulangkali direvisi.

“semoga bosmu suka kali ini,” Anna menyodorkan kertas kalkir gulung itu pada Janus.

Janus menjawabnya dengan tersenyum tanpa berkata-kata dan segera masuk ke ruang rapat direksi.

Setengah jam kemudian Janus kembali tanpa membawa kertas gambarnya.

“bagaimana?” Anna bertanya dengan putus asa. Ia tak menyangka urusan letak closet memaksanya harus berkali-kali mengubah gambarnya. Baru kali ini Anna sadar bahwa uang yang dibayar P&P padanya sepadan dengan kelelahan yang ditimbulkannya.

“Mereka setuju,” kata Janus melangkah ke sofa.

Anna menarik nafas lega. Akhirnya ia bisa mulai berkonsentrasi pada ruang-ruang lainnya.

“mereka setuju penempatan closet itu menghadap jendela. Katanya itu ide cerdas. Mereka bisa membuang isi perutnya sambil memandang jalanan di bawah,” ujar Janus sambil menghempaskan pantatnya ke sofa empuk di sebelahnya.

Anna tersenyum geli mendengar komentar Janus. Baginya ide cerdas itu lebih merupakan luapan frustasinya menempatkan closet duduk itu. Beberapa ungkapan CEO P&P seperti ‘closet ini ditempatkan seperti pada flat murahan’ atau ‘kau tempatkan closet ini di sisi bath-tub? Oww..kita merancang penthouse bukan hotel transit!’ Dan kata-kata yang menyinggung perasaannya seperti ‘kau arsitek bukan?’ atau ‘hanya mahasiswa arsitektur semester satu yang merancang penempatan closet seperti gambarmu ini!’ Kata-kata itu yang memaksanya tidur sejam semalam dalam seminggu terakhir ini mengutak-atik letak closet terkutuk itu.

“mereka menunggu detail ruang lain Anna,” Janus membuyarkan lamunannya.

“Baiklah. Aku kembali dulu. Terimakasih Janus kau telah banyak membantuku.”

Janus menggeleng. “Otakmu yang cerdas itu yang membantumu memuaskan ego mereka. Aku tak habis pikir bagaimana letak closet saja bisa jadi masalah yang berlarut-larut.”

Anna sepakat dengan hal itu dan bangkit dari duduk melangkah ke pintu. “Bye Janus.”

“kau tak ingin kuantar pulang?” Janus buru-buru bangkit berdiri.

“tidak perlu Janus. Banyak yang harus kau selesaikan bukan?”

“aku selalu membawa telepon. Mereka bisa menghubungiku kapan saja.”

Anna mengalah dan mengangguk.”baiklah.”

Sejam kemudian mereka tiba di rumah Anna.

“kau ingin mampir?” Anna berbasa-basi.

Janus memandangnya sejenak dan mengangguk. Itu membuat Anna tak bergairah. Hanya tidur yang diinginkannya sehingga malam nanti ia bisa mulai bergelut dengan kertas-kertas gambarnya lagi.

Anna membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Janus duduk.

“rumahmu nyaman,” Janus menatap sekeliling ruangan. Dilihatnya tanaman anggrek berjejer rapi di teras rumah.

“Kau suka anggrek?”

Anna menghentikan langkahnya, sesuatu terlintas dalam benaknya. Ia teringat paket-paket mawar yang pernah beberapa hari selalu hadir di terasnya. Bahkan paket bunga itu pernah berhasil mengikutinya ke suatu spa tempatnya berendam. Anna mengangguk dan berkata,” tapi aku tak suka mawar,” dan melanjutkan langkahnya masuk ke ruang tengah meninggalkan Janus yang memandangnya keheranan.

Beberapa menit kemudian Anna kembali sambil membawa segelas juice jeruk dingin.

“silakan Janus semoga kau suka juice ini,” Anna meletakkan gelas bening panjang itu di meja.

“Terima kasih.” Janus meraih gelas itu dan meminumnya. Ketika ia meletakkan gelas tersebut di meja bel rumah berbunyi dan seorang pria telah berdiri di depan pintu.

“selamat pagi Nyonya Andre,” pria itu tersenyum sopan dan Anna melangkah ke arahnya.

“pagi tuan Wiliams,” Anna mempersilakan tamunya duduk. Ia telah selesai dengan urusan toilet itu dan ingin segera tidur namun Janus malah mampir ke rumahnya dan kini orang Rich Bank itu bagai melengkapi kepenatan tubuhnya.

Wiliams duduk di sofa dekat pintu dan mengangguk sopan pada Janus.

“Ia rekanku. Tuan Janus,” kata Anna.

“selamat pagi tuan Janus,” Wiliams berkata datar mengulurkan tangan. Ia merasa kurang nyaman akan membicarakan urusan hutang nasabahnya di hadapan orang.

“Pagi Tuan.Wiliams,” Janus menyambut uluran tangannya.

Anna duduk di sofa dan memandang kedua tamunya bergantian. Dirinya berharap Janus segera pamit namun pria itu sepertinya acuh saja.

“ada berita apa Tuan Wiliams?”

Wiliams memandang Janus sejenak dan mengalihkan pandangannya kembali pada tuan rumah.

“bisa kita bicarakan sekarang?”

Anna mengangguk. Percuma berharap Janus tahu diri.

“Rich Bank menunggu kepastian anda,” Wiliams berkata agak ragu masih risih dengan keberadaan Janus.

“kami belum bisa memutuskannya sekarang,” Anna menyilangkan kakinya. Ia merasa lelah sekali.

“jadi kapan?”

“belum tahu. Suamiku bilang ia yang akan mengurusnya sendiri.”

“kami menunggunya hingga kini Tuan Andre belum pernah menghubungi kami.”

“lalu?” Anna bertanya tak penuh minat. Tidur yang diinginkannya sekarang.

“kami minta kepastian sekarang.”

Janus diam mendengarkan dengan rasa canggung. Namun ia tertarik mengetahui urusan Anna dengan Rich Bank.

“belum bisa tuan,” kata Anna.

“apakah anda tak ingin membuka kontrak baru saja? Sepuluh atau lima belas tahun misalnya. Angsurannya pasti tak memberatkan anda.”

Anna menggelengkan kepalanya.bangkit berdiri, “sebentar aku hubungi suamiku dulu. Ia sedang tugas luar kota.”

Beberapa saat kemudian Anna kembali, ”teleponnya tidak aktif. Aku tak bisa menghubunginya.”

“Bunga enam setengah persen flat selama sepuluh tahun Nyonya. Bukankah itu tawaran bagus untuk menyelesaikan ini semua? Atau anda ingin melunasi segera semuanya sekarang?”

Anna berusaha mengajak otaknya berpikir namun ia benar-benar lelah. Matanya terasa berat.

Tiba-tiba Janus memotong, “ maaf Tuan. Kalau boleh saya bertanya berapa hutang Nyonya Andre sebenarnya?”

Wiliams menoleh ke arah Janus dan menatap Anna minta persetujuan. Anna menggeleng dan berkata, “biar aku yang jelaskan Tuan Wiliams.”

“Andre berhutang enam puluh ribu dollar pada Rich Bank dan kami telah membayarnya melalui perusahaan debt collector. Agen mereka membawa lari uang itu dan kami hanya memegang tanda terima palsu saat ini, Tuan Wiliams ini dari Rich Bank ” Anna berusaha menjelaskan sesingkat-singkatnya.

Janus diam mendengarkan dan beralih pada Wiliams. “tentu ada discount bukan?”

Anna tiba-tiba teringat bahwa tuan Wiliams pernah menjanjikan discount bila ia melunasinya secara tunai.

“ya, berapa discount yang diberikan Rich Bank?” Anna mencondongkan tubuhnya. Ia harus konsentrasi pada masalah ini dan diusahakannya menekan rasa lelah yang amat sangat. Dipaksanya membuka mata yang semakin terasa berat.

“dua puluh lima ribu. Anda bisa membayarnya langsung ke kantor kami.”

“jadi dua puluh lima ribu untuk menyelesaikan keruwetan ini ?” Anna berusaha memastikan.

Tuan Wiliams mengangguk,” anda cukup membayar dua puluh lima ribu tunai.”

Anna menghela nafas. Ia mempunyai beberapa ribu dari pembayaran P&P namun pikirannya sedang tidak bisa bekerja. Urusan toilet itu telah menguras habis energinya.

“Anna, aku akan membayarnya besok langsung ke Rich Bank,” Janus menatapnya.

Anna memandang Janus tak percaya.

“Tak usah kau pikirkan. Kau kelihatan lelah sekali karena gambar-gambar itu. Besok setelah aku kembali dari Rich Bank kita bicarakan lagi,” lanjut Janus.

“Nah Tuan. Anda akan menerima pembayarannya besok pagi. Sekarang biar Nyonya Andre beristirahat dahulu,” Janus berkata sambil tersenyum ramah pada Wiliams.

“baiklah kalau begitu. Kami tunggu besok dan terima kasih Nyonya atas waktunya. Saya mohon diri,” Wiliams bangkit dari duduk menyalami Janus dan Anna sebelum bergegas menuju pintu.

Setelah Wiliams pergi, Anna duduk di sofanya masih tak percaya dengan apa yang dilakukan Janus.

“kau beristirahatlah. Gambar-gambar itu harus selesai sesuai jadual. Aku harus kembali ke kantor,” Janus bangkit berdiri mengecup kening Anna dan melangkah pergi.

Saat Janus sudah hilang dari pandangan, Anna mendesah pelan, “apakah kau akan selalu mengikutiku kemana saja Janus? Bahkan hingga saat aku berendam di spa?”

--

*/25/*

Janet membenarkan duduknya di kursi resto yang dirasanya kurang nyaman. Malam ini akan menjadi hal yang membosankan, makan malam bersama Raymond. Sepulang kerja tadi ditemuinya putra raja minyak itu sudah bercengkrama dengan keluarganya. Sejam kemudian dirinya sudah harus mematuhi kemauan keluarganya untuk makan malam berdua Raymond.

“Kau ingin pesan apa?” Raymond memandangnya.

Janet menatap buku menu di tangannya. Pendingin udara resto ini bahkan membuat dirinya menggigil menambah perutnya makin tak berselera.

“Apa sajalah. Aku sedang tak selera makan,” Janet menjawab malas.

“ada bitter balen. Omamu suka sekali kue ini. Kau mau?”

Janet menggeleng.

“Sup Asparagus?”

“Tidak suka.”

“Kepiting dengan saos tiram?”

“Kolestrol tinggi.”

Raymond memandang Janet, “kau ingin makan apa?”

Janet hanya diam terpekur menatap daftar menu.

“tak ada yang kusuka.”

Raymond menghela nafas, “kau bisa sakit nanti. Makanlah sebelum maagmu kumat. Resto ini mempunyai menu komplit. Pilihlah Janet.”

“juice apel,” Janet berkata cepat.

“makannya?”

“aku tak makan.”

“Janet aku mengajakmu kemari untuk makan malam bukan minum juice,” Raymond berkata lembut.

“baiklah, aku pulang saja kalau begitu.”

“Janet…ayolah, kau pasti lapar.”

“aku bisa makan di rumah.”

“keluargamu menyuruh kita makan bersama Janet.”

Keluargaku atau kau yang menginginkannya?”

Raymond kembali menarik nafas menahan diri, “aku memang menginginkannya. Aku ingin makan malam berdua dengan calon isteriku.”

Janet mendongak kaget menatap mata Raymond. Diletakkannya daftar menu yang dari tadi diamatinya.

“mengapa kau begitu yakin kita akan menikah?”

“keluargamu Janet. Mereka menyetujui kita menikah bulan depan.”

Janet bagai diterkam harimau mendengarnya.

“kau serius dengan ucapanmu?”

Raymond mengangguk.

“kapan mereka menyetujuinya?” Janet penasaran.

“sejak awal mereka telah mempersiapkannya. Kukira mereka sengaja merahasiakan waktu pernikahan kita mengingat sikapmu,” Raymond berkata tenang.

“bulan depan?” Janet bertanya sambil meraih daftar menu kembali.

“ya bulan depan. Janet, aku bukan pilihan buruk sebagai suamimu. Aku bisa membahagiakanmu. Kau ingin kita berbulan madu di Karibia?”

“aku ingin kita sebagai teman bukan menikah Raymond,” Janet merasakan luapan amarah di dadanya.

“Kau marah pada keluargamu Janet?”

Janet hanya diam. Keluarganya sudah melampaui batas dengan memaksanya menikahi pria yang sama sekali tak dicintainya itu.

“kau ingin makan apa?” Raymond berusaha memecah kebekuan.

“terserah kaulah. Kau kan calon suamiku,” Janet berkata sekenanya. Perutnya mual membayangkan ia akan mendampingi pria di hadapannya itu seumur hidup.

“baiklah. Bagaimana kalau sup asparagus dan kepiting saus tiram saja. Setelah itu ditutup dengan bitter balen?”

Janet kembali diam dan Raymond memanggil pelayan menyebutkan satu persatu pesanannya. Setelah pelayan pergi Raymond kembali membuka suara.

“Karibia tempat yang bagus. Ada tempat jetski dan berjemur yang jauh dari manapun. Kita serasa memiliki sebuah pulau sendiri di sana.”

Janet menatap Raymond yang bersemangat merancang bulan madunya tanpa gairah. Baginya ini semua neraka yang membuat perutnya makin terasa mual. Keluarganya telah merahasiakan ini semua darinya dan Janet menginginkan pelukan Andre di saat-saat seperti ini.

“setelah makan nanti aku ingin memperlihatkan sesuatu untukmu,” Raymond berkata sambil tersenyum. Janet melirik ke meja sebelah seorang wanita muda kelihatannya terpesona dengan senyum Raymond. Bila kau menginginkan Raymond,ambilah! Aku akan sangat berterimakasih padamu,pikir Janet.

Selama dua jam mereka berdua menghabiskan waktu di resto itu dengan kepiting yang sama sekali tidak disentuh Janet sebelum akhirnya mobil mereka melaju ke pinggiran kota menembus gelapnya malam.

“Kita akan kemana?” Janet bertanya sambil tetap memandang jalanan di depannya. Perutnya masih terasa mual membayangkan kepiting dengan lumuran saus hitam di sekujur cangkangnya tadi.

“ke bandara.”

“mau apa kita di sana?”

“lihat saja nanti,” Raymond menoleh pada dirinya sejenak sebelum menekan gasnya lebih dalam dan mobil mereka melaju semakin cepat.

Setelah membelokkan mobilnya menuju Private Area di sekitar lokasi bandara, Raymond menghentikan mobilnya.

“kita turun di sini,” Raymond membuka pintu memutari mobil dan membukakan pintu untuk Janet.

Janet melangkah turun dengan malas dan menurut saja digandeng Raymond menuju sebuah hanggar pesawat. Perutnya masih terasa mual dan ia belum meminum obat maagnya.

Raymond mengeluarkan kunci dan membuka pintu hanggar sambil menarik Janet masuk. Dua puluh meter di hadapan mereka, sebuah helicopter berwarna putih sedang dibersihkan oleh orang-orang berseragam orange.

Mereka melihat kedatangan Raymond dan mengangguk penuh hormat sebelum menyingkir ke sebuah pintu di sisi hanggar.

“ayo..naiklah,” Raymond mendahului masuk ke helikopter itu sambil membimbing tangan Janet.

Janet menurut saja dan masuk ke dalamnya.

Setelah duduk dan memandang panel-panel di hadapannya Janet menoleh kearah Raymond, “ dan kini setelah makan kepiting kau ingin mengajakku kemana Raymond?”

Raymond tersenyum dan menggenggam tangan Janet, “aku tidak mengajakmu kemana-mana dan kau tidak menyentuh kepiting itu sama sekali Janet. Ini memang bukan helicopter baru. Orangtuaku menggunakannya untuk melihat-lihat sumur minyak di lepas pantai. Heli ini sudah dibenahi semuanya termasuk kulit joknya.”

Raymond memandang sekeliling kabin dan bertanya kembali, “Kau bisa mengemudikan helicopter?”

Janet menggeleng.

“kata omamu kau pernah belajar menerbangkannya waktu kau di Netherland.”

Janet mendesah. Rupanya sampai acara berliburnya di Netherland tiga tahun yang lalupun diceritakan omanya. “aku tak pandai menerbangkannya.”

“kau pernah menerbangkan helicopter dan itu tak makan waktu lama untuk mengulanginya bersama helicopter ini. Ada instruktur yang akan mengajarimu. Ini helikoptermu. Hadiah dari ayahku. Ia senang aku bisa menikah dengan wanita pilihanku sendiri.”

Bila saja dirinya adalah wanita lain, mungkin Janet akan meloncat gembira memeluk Raymond. Pria itu anak tunggal raja minyak yang cukup tampan dan sopan. Raymond juga kelihatannya bisa mengambil hati keluarganya dan sebuah helicopter bukanlah hadiah murah. Namun dirinya adalah Janet dengan hati yang dipenuhi sebuah nama saja. Ia begitu mencintai Andre.

“kau tidak suka?” Raymond membuyarkan lamunannya. Ucapan terima kasihpun tak diterimanya dari mulut Janet. Helikopter ini bahkan lebih mahal dari kapal pesiar yang diterimanya sebagai hadiah ulang tahun.

Janet mengangguk,” ya aku suka. Terimakasih. Aku akan mencoba menerbangkannya nanti. Kapan aku bisa mulai berlatih?”

Raymond terlihat lega dan meraih tangan Janet, “kapanpun kau bisa mulai berlatih. Ini nomor telepon instrukturmu,” Raymond melepaskan genggamannya merogoh saku celana dan menyerahkan sebuah kartu nama.

“aku akan segera menghubunginya,” Janet memperhatikan sebuah nama dan nomor telepon di kartu itu sebelum memasukkannya ke dalam tas.

Saat Janet baru saja turun dari helicopter teleponnya berbunyi. Sebuah sms masuk.

Sayang…aku kangen..kapan kita bisa bertemu lagi?

Janet tersenyum dan merasakan kehadiran Andre di sisinya. Dibalasnya sms itu sambil berjalan.

Andre sayang…nanti aku kabari kapan kita bertemu, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu.

Janet mengirim sms itu ke Andre dan memasukkan kembali teleponnya.

“dari siapa?” Raymond bertanya di sisinya.

“kekasihku.”

Raymond menghentikan langkahnya.

Janet tersenyum penuh kemenangan.”ia memang kekasihku.”

“keluargamu tak pernah bercerita padaku.”

“mereka belum tahu.”

Raymond memandang Janet,” mereka belum tahu kekasihmu itu?”

Janet mengangguk. Dilihatnya wajah Raymond memerah terbakar api cemburu dan tiba-tiba Janet merasakan kegairahan. Perutnya sudah tak terasa mual. “Raymond, aku mencintai pria itu. Sebagai rasa terimakasihku atas hadiahmu bagaimana kalau aku mentraktirmu di sebuah café kecil dekat bandara sini. Aku pernah mampir di sana. Bukan café mewah namun kopinya nikmat.”

Raymond hanya diam berjalan di sisinya dan Janet makin merasa senang penuh kemenangan.

Saat mereka berjalan melalui petugas berpakaian orange itu Janet berhenti dan berkata, “ maaf..anda bisa memberi tulisan JJC di pintu heli?”

Malamnya saat Janet sudah terbaring di ranjang, ia mengirim sms ke Andre.

Sayang, kau bisa menerbangkan helikopter?

*/26/*

Persiapan pernikahan makin dekat dan Janet bagai merasa malaikat maut siap mencabut nyawanya. Kemarin ia bolos kerja dan pagi-pagi sekali Janet naik pesawat pertama mengunjungi Andre. Pria itu bercerita banyak tentang hidupnya termasuk hutangnya terhadap Rich Bank dan Janet masih saja ragu untuk bercerita tentang Raymond.

Dilihatnya setumpuk kartu undangan pernikahan yang akan dikirim siang ini tergeletak di meja bawah. Janet memandang langit sore dari jendela rumahnya. Langit berwarna jingga itu sebagian dipenuhi awan putih. Ia begitu rindu Andre. Rasanya ingin sekali berterus terang pada Andre yang telah begitu terbuka padanya. Janet teringat foto Rachel dan Anna yang ditunjukkan Andre kemarin. Pria itu ternyata menyimpan foto mereka dalam laptopnya. Janet ingat sekali wajah isteri Andre itu. Wajah wanita yang kelihatannya merupakan wajah ibu rumah tangga muda yang cantik dan baik pada keluarganya. Janet merasa ia telah jahat merusak rumah tangga Andre dan Anna namun hatinya tak bisa berbohong. Ia menginginkan kehidupan abadi bersama Andre. Pria itu berjanji akan menceraikan Anna dan ketika Janet mendesaknya kemarin lagi-lagi jawaban butuh waktu yang didapatnya.

Peggy rekan kantornya mendukung kebersamaannya bersama Andre karena ia tak mengetahui cerita lengkapnya. Janet hanya bercerita bahwa ia saling mencintai dengan Andre dan seseorang bernama Raymond merayu keluarganya untuk menikahi Janet. Peggy begitu benci akan Raymond dan mendorong Janet untuk kabur dari rumahnya. Kawin lari bukan dosa untuk mempertemukan dua hati yang saling mencintai, begitu berulangkali Peggy mengatakannya. Rasanya Janet ingin sekali berterus terang pada Peggy mengenai status Andre dan mungkin saja Peggy tak akan berubah pikiran.

Setelah menimbang-nimbang sejenak Janet meraih teleponnya dan menekan beberapa tombol.

“hallo..” suara Peggy terdengar dari seberang.

“ini aku Peggy, kau ada waktu nanti malam?” Janet berkata setengah berbisik. Ia tak ingin keluarganya mendengar.

“oh kau Janet. Ya bisalah setelah jam delapan malam. Ada apa Janet?’

“nanti cerita lengkapnya. Jam delapan aku tunggu di café pojok perempatan Imperial Village. Tempat ulang tahun kau tahun lalu. Kau ingat kan?”

“oke…”

“bye..thanks Peggy.” Janet menutup teleponnya.

Masih ada beberapa jam lagi dan Janet kembali memandang tumpukan kartu undangan berwarna jingga itu. Ia bergidik membayangkan dirinya akan menikah sementara jauh di sana seorang pria sedang mencari cara untuk menceraikan isterinya demi dirinya.

Setelah membantu papa mamanya mempersiapkan semua kebutuhan pernikahannya Janet membawa mobilnya menuju tempat pertemuannya dengan Peggy.

Janet turun dari mobil dan melangkah masuk ke café kecil di pojok jalan itu. Dilihatnya Peggy sudah menunggunya sambil memegang secangkir kopi. Begitu melihat Janet Peggy berdiri dan memeluknya.

“nah sekarang ceritalah Janet…aku merasa ada sesuatu yang penting kali ini. Oiya kau mau kopi?” Peggy duduk kembali ke bangkunya.

Janet mengangguk dan duduk di hadapan Peggy.

Beberapa menit kemudian seorang pelayan membawakan pesanan dan meninggalkan mereka.

“Peggy ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu.”

Peggy memandang Janet tanpa suara. Ia merasa lebih baik banyak diam kali ini. Tak biasa-biasanya Janet mengajaknya bertemu seperti ini. Suaminya mendapat tugas menidurkan anak mereka karena pertemuannya bersama Janet malam ini.

“Peggy, Andre sudah berkeluarga.”

Peggy melongo namun kelihatan sekali menahan diri untuk tak memotong pembicaraan.

“anaknya seorang sudah sekolah PlayGroup. Isterinya kelihatannya wanita baik-baik aku melihat foto mereka. Namanya Anna.”

Janet menunggu komentar Peggy namun dilihatnya Peggy hanya diam memperhatikannya saja.

“kemarin aku bolos kerja karena mengunjungi kantornya. Pagi-pagi sekali aku naik pesawat pertama. Ia bercerita semuanya tentang kehidupannya dan aku rasanya ingin menangis Peggy. Aku begitu mencintainya tapi sekarang kartu-kartu undangan pernikahanku dengan Raymond sudah mulai dikirim oleh keluargaku. Papa mama kelihatannya bahagia sekali. Oma bahkan memberi gelang kesayangannya padaku,” Janet memperlihatkan gelang emas besar yang dikenakannya.

Janet memandang sahabatnya hanya tertegun menatapnya tak percaya.

“kini aku benar-benar bingung Peggy. Andre begitu baik padaku dan aku akan mengkhianatinya.”

“tapi dia sudah berkeluarga Janet,” Peggy memotongnya,” dia tak berterus terang sejak awal bukan?” lanjutnya.

Janet mengangguk.

“nah, bukankah Andre sengaja menyembunyikan itu darimu,” Peggy setengah bertanya.

Janet kembali mengangguk.”dia hanya tak ingin kehilanganku.”

“maksudmu?”

“bila Andre bercerita sejak awal tentu ia harus siap kehilangan aku dan ia tak sanggup menerima resiko itu.”

“Janet, boleh aku bertanya sesuatu?” sikap Peggy kali ini kelihatan lebih hati-hati tidak seperti biasanya.

Janet mengangguk dan menyesap kopinya.

‘kau sudah pernah bercinta dengannya?”

Janet tertegun dan meletakkan cangkirnya.

“apakah itu begitu penting Peggy?”

Peggy mengangguk. “tentu Janet. Sangat penting bahkan. Aku ingin tahu apa motif Andre menyembunyikan statusnya padamu selama ini?”

“maksudmu?”

Peggy menelan ludah agak berat mengungkapkannya namun ia menyayangi Janet sebagai seorang sahabat. Ia tak ingin melihat Janet dipermainkan pria tak bertanggung jawab.

“begini Janet, Andre mungkin saja menyembunyikan statusnya sampai ia berhasil mendapat keinginannya.”

“Apa keinginannya Peggy?”

“mmm…bercinta denganmu,” Peggy berkata ragu sambil menatap mata Janet lekat-lekat kuatir perkataannya melukai hati sahabatnya itu.

Janet tersenyum, “aku tak pernah kuatir akan itu. Andai Raymond tak jadi menikahiku karena hal itu bahkan lebih baik bagiku.”

“jadi kau pernah bercinta dengannya?”

Janet mengangguk. Tak ada gunanya berbohong pada Peggy sekarang. Ia butuh saran dan pendapatnya.

“jadi, apa aku lari saja menemui Andre sekarang?” tanya Janet.

Peggy buru-buru menjawab,” oh tidak Janet. Keluargamu akan kehilangan muka.”

Janet menunduk menatap cangkir kopinya. Ia telah begitu mencintai Andre dan melupakan akibat pada keluarganya.

“Raymond tahu?” tanya Peggy

“tahu apa?”

“tentang Andre.”

“ya.”

“dia diam saja mendengar kau telah bercinta dengannya?”

Janet mau tak mau tersenyum,” tentu tidak tolol! Maksudku ia tahu mengenai Andre tapi bukan mengenai sejauh mana hubungan kami.”

Peggy menatap Janet dengan serius. Ia tak ikut tertawa.

“kalau ia tahu bagaimana?”

Janet tersenyum penuh gairah,” lebih baik bagiku bila ia batalkan pernikahannya.”

“kau tak takut pada keluargamu bila ia bercerita kau sudah tak perawan?”

Janet menggeleng, “tidak. Aku yang akan berterus terang pada keluargaku.”

“kau gila!” sembur Peggy.

“tidak. Aku memang berniat berterus terang pada keluargaku. Bagaimanapun aku tak bisa merahasiakan terus menerus. Kau tahu Peggy keluargaku sangat terbuka pada setiap hal”

Peggy menatap kawannya keheranan, “jadi apa yang kau inginkan dari pertemuan kita ini?”

Janet meneguk kopinya sejenak dan berkata,” apa saranmu bila kau menjadi aku?”

“aku akan menikah dengan Raymond. Yang kudengar dari ceritamu ia bukan tipe pria tak bertanggung jawab. Kaya raya pula.”

“aku tak butuh hartanya Peggy!”

“ya..tapi semakin usiamu bertambah kau akan makin merasakan betapa pentingnya uang untuk membuat hidupmu bahagia Janet.”

“jadi kau ingin aku menikahi Raymond?”

Peggy mengangguk.

“dan melupakan Andre?” lanjut Janet.

Peggy menggeleng.

“kau bisa tetap bersamanya bila kau menginginkannya.”

Janet melongo.

“maksudku setelah kau menikah dengan Raymond kau masih bisa berhubungan dengan Andre sesukamu. Toh Raymond akan kesulitan menceraikanmu. Keluarganya terpandang dan mungkin pers akan meliputnya pada pernikahanmu nanti begitu pula bila kalian bercerai.”

“selingkuh maksudmu?” Janet tak percaya dengan yang didengarnya.

“terserah kau namakan apa Janet. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Raymond akan kesulitan untuk menceraikanmu.”

Janet bangkit dari kursi dan memeluk Peggy. Ia berterimakasih pada Tuhan yang telah memberinya seorang sahabat yang bisa memahami dirinya.

“baiklah. Aku akan selingkuh seumurhidupku kalau menurutmu itu baik Peggy.”

“aku hanya menjawab pertanyaanmu Janet. Itu kalau aku menjadi dirimu. Namun semuanya kembali padamu Janet. Bila kau ingin menjadi isteri setia maka lupakan Andre.”

“kau tak mendukungku bila aku lari saja bersama Andre?”

Peggy menggeleng,” kasihan isteri dan anaknya Janet…”

Dan mereka berdua diam kembali dalam keheningan. Janet merasa malu pada Peggy dan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia merusak sebuah keluarga dengan tenangnya.

“Janet apapun keputusanmu, aku sangat menghargainya,” Peggy menggenggam tangan Janet.

Janet memandang sahabatnya itu dengan penuh terimakasih dan memeluknya kembali.

Malamnya ketika Janet terbaring di ranjang ia menerima pesan sms dari Peggy, isinya :

Janet, berilah batas waktu untuk Andre. Pastikan sampai kapan kau akan menunggunya. Sementara itu kau juga harus berusaha menunda acara pernikahanmu.

Janet membalik tubuhnya memeluk guling. Pikirannya bekerja keras. Ia harus menemukan cara menunda pernikahannya.

--

*/27/*

“Jadi kau ingin menundanya?” Raymond bertanya tak percaya berjalan mondar-mandir di ruang duduk rumahnya yang penuh ornament kayu hitam.

“aku menginginkan bangunan itu selesai dahulu baru kita menikah. Aku ingin malam pertama kita di sana,” rajuk Janet dengan suara manja. Ia merasa jahat sekali pada Raymond namun diteguhkan hatinya bagaimanapun Raymond tahu bahwa ia tak mencintainya.

“bagunan – bangunan itu selesai dalam waktu enam bulan sejak pemesanan Janet.”

“Kau bisa membuatnya jadi tiga bulan.”

“Bagaimana caranya?” Raymond mulai gusar, “ lokasinya benar-benar di tengah hutan Janet!”

“ Berarti kita belum bisa menikah pada akhir tahun ini.”

Raymond memandang sekeliling ruangan. Pikirannya bekerja keras. Ternyata untuk memiliki hati Janet tidak cukup dengan sebuah helikopter saja.

“Baiklah, mungkin bangunan itu paling cepat selesai dalam waktu tiga bulan,” Raymond berkata agak ragu,”itupun kalau mereka memang mampu melakukannya,” lanjutnya.

“kau bisa bawa beberapa orangmu untuk membantu pembangunannya bukan. Aku menyukai lokasinya. Benar-benar alami dengan bau daun dan tanah dalam lingkungan tropis,” kata Janet sambil mendongakkan hidungnya ke atas seakan merasakan bau hutan tropis.

Raymond memandang Janet penuh pertanyaan. Pertama ia yang mendesak terus menerus agar bisa menikah dan kini Janet merengek minta bangunan di lokasi privasi itu seakan-akan Janetlah yang menyukai Raymond.

“baiklah. Akan kupenuhi permintaanmu.”

Janet memeluk Raymond dan mengecup pipinya.

“Terimakasih. Aku kembali dulu ya.”

Janet melangkah pergi meninggalkan Raymond yang bertanya-tanya dalam hati akan kemesraan Janet yang muncul secara tiba-tiba itu.

Setelah berada di mobilnya Janet menghubungi telepon Andre. Sekarang hari Minggu berarti pria yang dirindukannya itu sedang tidak bergelut dengan pekerjaannya.

“andre, bagaimana harimu?” Janet membuka percakapan.

“biasa saja. Kau sendiri?”

“baik-baik saja. Andre aku ingin mendapat kepastian kapan kau akan bercerai.”

Janet menunggu tapi teleponnya tetap hening.

‘andre….”

“ya sayang. Aku masih butuh waktu.”

“sampai kapan?”

“bagaimana hingga akhir tahun ini. Apakah terlalu lama?”

“tidak..tidak sayang…aku akan menunggumu.”

“baiklah…kau sudah makan?”

“sudah. Isterimu masak apa hari ini?”

“sup.”

“pasti lezat ya.”

Tak terdengar jawaban kembali.

“andre…”

“ya”

“kau tak jawab pertanyaanku.”

“biasa saja rasanya.”

“mmm…kau tak bercumbu dengannya kan?”

“tidak.”

“tadi malam?”

“tidak sayang. Aku hanya ingin bercinta denganmu.”

“kau tidak bohong kan Andre?”

“Janet, aku sayang padamu. Aku tidak bercumbu dengan Anna.”

“baiklah sayang…bye…I love u.”

“I love u too Janet.”

Janet memutus telepon dan menjalankan mobilnya. Kemarin sore saat berbelanja di mall ia mendapat brosur yang dibagikan ke pengunjung mall. Isinya tentang penawaran sebuah lahan hunian di tengah-tengah hutan tropis. Iseng saja Janet menghubungi nomor telepon yang tertera pada brosur dan ia mendapati bahwa hunian itu tak akan terjangkau oleh keluarganya. Harga sebuah propertynya puluhan kali lipat rumah keluarganya.

Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas dalam kepalanya dan baru saja tadi ia berhasil memaksa Raymond membeli property itu. Pembangunannya paling cepat tiga bulan namun Janet memperkirakan sekitar enam bulan. Banyak kesulitan untuk membawa bahan-bahan bangunan ke lokasi di tengah-tengah hutan tersebut. Itu semua memberinya waktu untuk menunggu perceraian Andre. Akhir tahun yang dijanjikan Andre tiga bulan lagi dan Janet merasa ia berhasil mewujudkan ide Peggy untuk membahagiakan dirinya. Urusan Anna biarlah mereka pecahkan sendiri. Toh aku tak memaksa Andre. Ia sendiri yang berminat menceraikannya, pikir Janet.

Setengah jam kemudian Janet menepikan kendaraannya di pinggir landasan. Hari ini jadual latihannya dan Janet setengah jam lebih cepat dari jadual.

“Nona..Mr.Harleem sedang berhalangan datang. Ia menitipkan pesan tadi,” seorang petugas berbaju orange menghampirinya begitu melihat Janet turun dari mobil.

“jadi aku berlatih sendiri lagi?”

Petugas itu mengangguk, “Mr. Harleem pesan anda sudah lancar menerbangkannya dan ia akan mengganti latihan hari ini. Waktunya besok sore bila anda berkenan.”

Janet mengangguk sambil berjalan menghampiri mainan barunya itu.”ya terima kasih. Bahan bakar dan lainnya sudah kau periksa?”

“sudah Nona. Silakan,” petugas itu membukakan pintu heli dengan inisial JJC.

Sepuluh menit kemudian Janet sudah mengudara. Dilihatnya panel indicator tangki bahan bakar. Terisi penuh dan otak Janet berpikir cepat menghitung sebelum bibirnya menyunggingkan senyum. Ia punya ide gila hari ini. Diterbangkannya benda canggih berwarna putih itu tinggi menembus awan. Ia akan mengunjungi Andre siang ini. Bahan bakarnya cukup.

Dua jam kemudian setelah mendaratkan helikopternya Janet sudah berdiri di sisi benda canggih tersebut di sebelah hanggar besar. Baru saja ia menelpon Andre dan pria itu akan menuju kemari. Sambil menunggu kedatangan pria yang dirindukannya itu Janet membuka-buka brosur yang dibawanya. Dilihatnya gambar sebuah bangunan dengan pohon-pohon besar disekelilingnya. Ia tersenyum membayangkan Raymond berusaha agar bangunan itu akan selesai dalam waktu tiga bulan. Bahkan untuk seorang putra raja minyak sekalipun tak akan mungkin, benaknya berpikir penuh kepuasan.

Setengah jam kemudian Janet melihat Andre datang seorang diri dengan tas laptopnya. Janet kadang membayangkan apa jadinya Andre tanpa benda hitam yang selalu dibawanya kemana saja itu.

“haloo sayang…,”Andre memeluknya.

“kau ingin terbang?” Janet menarik Andre ke helikopter di sisinya.

“kau naik ini kemari?” Andre memandang kendaraan berbaling-baling itu tak percaya.

Janet mengangguk.

“baiklah…ayo kita terbang,” Andre mendorong Janet naik.

Beberapa menit kemudian mereka sudah mengudara.

“kau tak pernah cerita bisa mengendarai heli,” Andre memandang kagum ke arah Janet .

Janet hanya tersenyum,” aku akan mengajarimu menerbangkan benda ini sayang, kau perlu memperhatikan panel…”

Andre tak tertarik dengan ajakan Janet, ia meraih pinggul Janet dan menarik turun resleting celananya.

“hai..kau mau apa?” Janet memekik kaget.

Andre tak menjawab dan sibuk sendiri dengan pekerjaannya.

“kau gila! Heli ini bisa jatuh!”

“konsentrasilah pada tugasmu saat ini sayang,” Andre tak berniat mengurangi serangannya dan selama setengah jam Janet harus berjuang mati-matian mengendalikan heli itu.

--

*/28/*

Anna kembali menarik-narik syalnya di apartemen Janus. Ruangan ini begitu dingin hingga membuatnya menggigil. Ditatapnya lubang pendingin di langit-langit ruangan seperti kucing melihat anjing. Benaknya sedang berpikir dimana letak tombol pengatur suhu ruangan ketika Janus muncul dari dalam.

“kau ingin makan dulu di sini?” Janus duduk di sebelahnya.

Anna menggeleng. “Tidak terima kasih. Aku harus cepat-cepat ke bawah lagi. Setengah jam lagi aku harus presentasi detail ruang duduk ini.” Anna mengacungkan kertas gulung gambarnya.

“tak perlu terburu-buru. Mereka mengundurkan jamnya.”

“apa benar?”

Janus mengangguk. “aku baru saja menerima telepon darinya. Aku katakan kau menunggu di apartemenku dan mereka bilang dua jam lagi baru tiba. Ada badai di sekitar mereka sehingga pesawatnya harus berputar menghindar.”

Anna tak tahu harus berbuat apa. Bila ia kembali ke rumah sekarang tak akan cukup waktunya. Jalanan begitu macetnya dalam jam-jam seperti ini.

“makanlah di sini Anna. Aku memasak nasi goreng. Tidak terlalu lezat namun cukuplah untuk mengganjal perut.”

Anna diam saja dan menggeser duduknya menjauh dari Janus.

“Kau belum makan kan?” Janus kembali bertanya.

Anna menggeleng. Perutnya memang terasa lapar. Tadi ia terburu-buru menuju kantor P&P. Karena ia butuh pendapat Janus sebelum presentasi di hadapan dewan direksi P&P maka Anna memberanikan diri berkunjung ke apartemen Janus yang berada dalam satu gedung dengan kantor P&P.

Ditatapnya kembali lubang pendingin udara di langit-langit ruangan itu. Tubuhnya kini benar-benar menggigil. Syalnya tak bisa menolong banyak.

“kau kedinginan Anna?” Janus memperhatikan Anna yang berkali-kali membenarkan syal yang melilit lehernya.

Anna mengangguk.

“sebentar,aku kecilkan dulu,” Janus bangkit berdiri membuka laci dan mengeluarkan remote pendingin udara itu.

“matikan saja aku benar-benar kedinginan,” Anna menarik-narik syalnya lagi lebih rapat pada lehernya.

Janus menoleh sejenak dan mematikan pendingin udara itu. Anna memperhatikan perlahan-lahan lubang pendingin di langit-langit ruangan itu menutup.

“ayo kita makan Anna. Cobalah masakanku,” Janus membuka pintu menuju meja makan. Anna ragu sejenak namun perutnya memang belum terisi sejak pagi tadi. “baiklah.”

Mereka berdua duduk di meja dan Janus menyilakan Anna menikmati nasi gorengnya yang telah tertata rapi di meja.

Anna menyuap sedikit nasi goreng di sendoknya.

“mmm…lumayan.”

“Asin?” Janus bertanya cemas.

Anna menggeleng. “masakanmu boleh juga. Perutku juga sedang lapar.”

Janus tersenyum,”habiskanlah. Masih ada lagi di meja pantry bila kau ingin.” Janus menunjuk meja panjang di pojok ruangan.

Anna menghabiskan dua piring nasi goreng dan setelahnya Anna merebahkan punggung di kursi. Tubuhnya sudah tak menggigil lagi.

“Terima kasih Janus, masakanmu lezat.” Anna memberi senyum manisnya.

Janus tersenyum senang. Dipuji seorang Anna baginya lebih membahagiakan daripada dipuji Direksi P&P.

“aku menyimpan salad di lemari es. Kau mau?”

Anna sudah hendak menggelengkan kepalanya ketika Janus bangkit berdiri menghampiri dirinya dan mengecup sekilas bibirnya sebelum melangkah membuka pintu lemari es di belakang Anna.

“makanlah..” Janus menyodorkan semangkuk kecil salad. Kelihatannya lezat dan Anna mencobanya.

“Kau kurang ajar Janus,” Anna menatap marah pada kawan lamanya itu. Kebenciannya yang dulu muncul kembali. Bibirnya masih merasakan kecupan Janus.

“maafkan aku Anna, tapi kau cantik sekali hingga aku lupa diri,” Janus berkata lembut menatapnya.

“aku bukan gadis ingusan Janus. Rayuanmu membuatku mual.”

Anna menghabiskan salad itu dan meletakkan mangkuk yang telah kosong ke meja pantry. Ia berjalan kembali menghampiri Janus dan berkata,” Janus ..tutuplah matamu.”

Janus keheranan.”kenapa?”

“lakukan saja,” Anna tersenyum manis sekali.

Janus mengalah menuruti kemauan Anna. Senyumnya begitu indah dan Janus merasa bahagia sekali. Mungkin Anna telah menyadari situasinya dan memahami bahwa Janus adalah pria yang benar-benar menyayangi dan mengagumi dirinya sejak dulu.

Janus menutup matanya dengan hati berdebar apa yang akan diberikan Anna padanya. Benaknya bertanya-tanya apa diam-diam Anna seorang penganut sex yang suka dengan gaya aneh-aneh. Janus sering menyaksikannya di film-film blue. Kelihatannya Anna tak begitu marah tadi setelah menerima kecupannya.

“yang rapat matanya,” Anna memberi perintah dan Janus makin rapat menutupnya.

Ketika Janus menebak-nebak apa yang akan dilakukan Anna telinganya mendengar bunyi tuuuttt…dan hidungnya mencium aroma tak sedap bau buang angin.

Janus membuka matanya menatap marah pada Anna. Ia telah dipermainkan kelewat batas dan saat Janus hendak membuka mulutnya memuntahkan kemarahannya tiba-tiba Anna menunduk dan mengulum mesra bibirnya sebelum melangkah pergi sambil membawa kertas gambarnya ke luar apartemen meninggalkan Janus yang duduk terpana seperti orang idiot.

Anna menyelesaikan presentasinya siang itu dengan lancar. Mungkin para direksi P&P masih dalam kondisi jetlag sehingga mengangguk-angguk setuju saja pada tiap detail gambarnya.

Ketika Anna keluar ruangan Janus sudah menunggunya. Mereka saling bertatapan tanpa bicara selama beberapa saat. Kejadian tadi siang benar-benar membuat mereka berdua serba salah tingkah.

“Janus, boleh aku mampir ke apartemenmu?” Anna bertanya sambil tersenyum memecah kebekuan.

Janus tak menduga Anna berkata seperti itu dan ia hanya mengangguk saja mengikuti Anna menuju pintu lift.

Ketika mereka berdua telah berada di apartemen Janus, Anna menarik Janus ke sofa dan menyuruhnya duduk. Janus masih belum mengerti apa yang diinginkan Anna kali ini.

“aku ingin berbicara mengenai dua puluh lima ribumu. Rich Bank sudah menganggap lunas hutang kami sekarang karena pertolonganmu,” Anna duduk menyilangkan kakinya.

Janus masih diam mendengarkan. Pikirannya agak kacau saat ini, Anna wanita yang sulit ditebak.

“nah, aku mempunyai beberapa ribu dari pembayaran gambar-gambarku. Aku akan bayar padamu tentunya tidak dua puluh lima ribu. Kau sendiri yang memberikan pembayaran P&P padaku jadi kau tahu pasti berapa uangku.”

“tak masalah Anna,” Janus mulai bisa mengendalikan dirinya.

“berapa nomor rekeningmu? Aku bayarkan sore ini. Lima belas ribu dahulu, bagaimana?”

“dari uangmu Anna?”

Anna mengangguk.

“Andre tahu?”

Anna menggeleng.

Janus bangkit dari duduknya berjalan mondar-mandir, “kenapa kau tak memberitahunya?”

“aku tak ingin menambah bebannya.”

“tapi ia suamimu dan ia yang berhutang pada Rich Bank.”

“itu bukan urusanmu Janus.”

Janus berdiri menghadap Anna, “aku tak mau terima uang darimu.”

Anna sudah ingin menjawab, ketika Janus berkata lagi, “ aku mau Andre yang membayarnya.”

“apa maksudmu?” Anna penasaran.

“dia suamimu, harusnya ia yang bertanggung jawab bukan kau.”

“itu bukan urusanmu Janus.”

“kalau begitu kau tak akan menerima nomor rekeningku.”

“jadi kau ingin dia yang membayarmu?”

Janus mengangguk.

“baiklah, bagaimana kalau kau anggap itu uang Andre bukan uangku.”

“aku tahu itu uangmu.”

“Janus, itu bukan urusanmu. Uang siapapun yang pasti kami membayar padamu bukan?”

“tidak Anna, kau yang bekerja keras menyelesaikan gambar-gambar itu. Kau harus menikmati uangmu sendiri bukan sebaliknya.”

“tahu apa kau Janus tentang hidup kami?” Anna mulai gusar.

“aku tak ingin kau menderita Anna. Pergunakanlah uangmu untuk membahagiakan dirimu. Aku menolongmu mendapat proyek gambar itu karena dirimu bukan karena Andre,” Janus berkata sambil menatap mata Anna dalam-dalam.

Anna bangkit berdiri dan keluar apartemen Janus. Sebelum ia menutup pintu Anna berkata tegas , “Janus, camkan ini. Aku tak suka diikuti terus menerus dan aku benci mawar!” .

--

*/29/*

“kau sudah mengantuk Andre?” Anna bertanya di sisinya. Lampu kamar masih menyala dan mereka berdua telah berbaring siap untuk tidur.

“belum,” Andre membalik tubuhnya memunggungi Anna.

Saat Anna hendak memeluk Andre tiba-tiba telepon Andre berbunyi. Andre meraih dari sisi tempat tidurnya dan melihat sms masuk dari Janet.

Sayang…bagaimana harimu..aku kangen..awas! kalian jangan berentuhan malam ini…jangan nakal!

Andre tersenyum dan menjauhkan dirinya dari Anna hingga tepi tempat tidur dan dibalasnya.

Aku tak menyentuhnya sayang..aku juga kangen…

Andre meletakkan kembali telepon itu di meja sisi ranjang, Anna mendekat dan memeluknya.

“sayang…peluk aku dong,” Anna mengelus-ngelus piyama Andre.

Andre merasakan kehangatan tubuh isterinya. “aku lelah Anna….”

“baiklah, kita tidur saja,” Anna menggeser tidurnya menjauhi Andre.

Andre menoleh. Punggung Anna membelakanginya dan Andre bisa melihat wanita itu tak mengenakan apa-apa lagi di dalamnya. Tiba-tiba ia merasa sesuatu terasa mendesak di tubuhnya. Pantat di hadapannya benar-benar menyembul padat dari balik baju tidur Anna yang transparan.

/Aku tak boleh nakal malam ini!/

Saat Andre sedang mati-matian memejamkan matanya, didengarnya Anna berkata lirih ,”siapa Janet itu? Aku telah membaca semua smsnya padamu!”

Malam itu Andre tak bisa memejamkan matanya hingga hampir pagi.

--- Persiapan pernikahan itu tertunda dan membuat mamanya marah besar namun Janet menganggapnya angin lalu saja. Bagimanapun ia masih sering merasa mual membayangkan hidupnya akan dihabiskan bersama Raymond. Janet mengalihkan rasa mualnya dengan mencoba bersantai di salon memanjakan dirinya.

Majalah di tangannya dibolak-balik. Salon ini terlalu penuh pelanggan dan ia sudah mengantri sejam lebih. Diraihnya telepon dari dalam tas dan saat Janet hendak mengirim sms pada Andre tiba-tiba lampu teleponnya menyala dan berbunyi. Sebuah pesan sms masuk tapi Janet tak mengenali nomornya.

Kau mau coba rebut Andre dari kami? Coba saja kalau bisa! [ANNA]

Janet menatap teleponnya tak percaya dan tiba-tiba dadanya terasa panas. Segera dibalasnya sms itu.

Kami saling cinta. Kau tak layak untuknya.

Semenit kemudian teleponnya berbunyi. Sms masuk kembali.

Sejauh mana hubungan kalian?

Dan Janet langsung membalasnya.

Kami seperti suami isteri dan aku sudah mengandung bayinya.

Janet tersenyum memandang smsnya sendiri dan setelah dibacanya sekali lagi Janet mengirim pesan sms itu. Wanita itu harusnya tahu diri. Andre sendiri yang sudah bosan dengannya dan bukan diriku yang mengganggunya, pikir Janet. Biarlah ia menangis sekeras-kerasnya sekarang membayangkan aku telah mengandung pikir Janet makin bertambah puas meski jauh di dalam hatinya ia menyesal harus menyakiti sesama wanita. Janet merasakan niatnya untuk creambath lenyap dan ia melangkah pergi keluar salon. Perutnya belum diisi dan mual mulai menyerang.

Janet menengok kanan kiri mencari resto di sekitarnya. Ia harus bergegas mengisi perutnya dan meminum obat maagnya atau mual dan sakit kepala yang sudah dihapalnya akan menyerang dirinya lagi seperti biasa.

Saat Janet menemukan apa yang dicarinya teleponnya berbunyi kembali. Janet tak mengindahkannya dan setengah berlari menuju resto kecil di pinggir jalan. Sepuluh menit kemudian Janet sudah menyantap pesanannya dan mendadak teringat ada sms masuk yang belum dibacanya. Dibukanya teleponnya dan Janet mendapat pesan sms dari Anna, isinya :

Aku bercinta tadi malam…kau tahu betapa perkasanya Andre di ranjang? Bayimu tak akan memiliki ayah..

Mata Janet menatap marah pada layar mungil ditangannya itu dan ketika ia ingin membalasnya sebuah pesan sms masuk. Lagi-lagi dari Anna.

Kau pernah merasakan tubuhmu di masukinya sementara kau bergelayut dalam gendongannya? Mmm…tak ada duanya..kami melakukannya berulangkali

Sore itu benar-benar membuat murka Janet. Sms Anna yang berbondong-bondong terus mengalir ke teleponnya dan ia merasa dirinya benar-benar diteror. Ia menggigil membayangkan Andre meniduri Anna dan Janet lekas-lekas meninggalkan resto kembali ke rumahnya.

Setibanya di rumah papa mamanya sedang berbincang-bincang dengan Raymond yang langsung bangkit menyambutnya.

“Janet, kau dari mana saja?”

Janet baru saja hendak menjawab ketika teleponnya berbunyi. Janet membukanya dan dilihatnya nomor yang telah dikenalnya itu mengirim pesan sms kembali. Isinya :

Janet…aku sedang bersama Andre…kami minum teh sore di tepi danau…Rachel bermain sendiri dan Andre terbaring di pangkuanku menikmati kilauan sinar di air..

“hai, kau darimana?” Raymond memegang pundaknya. Janet menyingkir ke samping dan berlari menuju tangga,” aku mau mandi dulu..sore pa..ma..”

Begitu menutup pintu kamarnya Janet membuang tasnya ke ranjang dan lagi-lagi telepon di tangannya berbunyi. Kali ini sms dari Andre.

Janet, aku sedang tidur di pangkuan Anna..nikmat damai sekali rasanya…nanti malam aku akan menidurinya..aku suka erangannya..

Janet membanting teleponnya ke tengah ranjang. Ia mendidih. Wanita itu benar-benar menterornya. Kali ini ia menggunakan telepon Andre dan dada Janet makin sesak oleh rasa marah.

Janet duduk di tepi ranjang, ia merasakan kegalauan yang amat sangat. Dirinya mencintai Andre dan itu bukan salahnya. Rasa itu hadir begitu saja. Bahkan Andre yang pertama kali berani mencumbunya bukan dirinya.

Janet mendesah mendinginkan kepalanya dan amarah di dadanya perlahan mulai reda. Bagaimanapun mungkin ini nasib wanita yang mencintai suami orang. Dirinya tak lebih berharga dari penggoda rumah tangga dan Janet merasakan air matanya tumpah.

Perlahan-lahan Janet bangkit dari duduknya. Semua kawannya selalu berkata ia gadis energik dan periang dan Janet ingin membuktikan itu semua saat ini. Ia menyeka pipinya yang basah oleh air mata dan bercermin. Setelah memastikan penampilannya, Janet keluar kamar bergegas mandi. Sepuluh menit kemudian setelah yakin wajahnya kembali berbinar ceria Janet turun ke bawah.

“kau kelihatan cantik,” Raymond bangkit berdiri menghampirinya. Janet melihat keluarganya tengah berkumpul dan kelihatannya mereka sedang dalam suasana gembira.

“Janet, kau tahu Raymond memberimu sebuah rumah besar di tengah hutan?” mamanya bertanya ketika Janet baru saja duduk di sofa.

Janet mengangguk,” ya mama aku yang memintanya.”

Mamanya tekejut kaget,”apa kau bilang?”

“aku yang meminta Raymond membelikan aku bangunan mewah itu.”

“Janet, itu tidak sopan. Kalian belum lagi menikah.”

“iya mama,” Janet hanya tersenyum dan bergelayut manja pada Raymond. Tak ada salahnya sore ini membahagiakan mamanya sejenak. Toh rencana Janet mengundur pernikahan sudah berhasil.

Mamanya menggeleng-gelengkan kepala kesal dengan kelakuan Janet. Keluarganya bisa dianggap mata duitan. Dipandangnya brosur bangunan mewah itu di tangannya.

“Jadi kalian menikah setelah bangunan ini selesai?”

Raymond mengangguk, “itu kemauan Janet dan bukan masalah kukira. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hingga saat kami menikah nanti sudah tidak akan terganggu urusan kantor lagi.”

“kami akan berbulan madu di sana,” Janet menambahkan.

Mamanya mengacungkan brosur di tangannya, “di sini?”

Janet dan Raymond mengangguk bersamaan dan Janet melihat mamanya memandang mereka dengan bahagia. Janet memang ingin membahagiakan wanita yang dicintainya itu dan dirinya merinding membayangkan itu semua hanya akal-akalannya saja. Pada waktunya nanti wanita itu pasti akan kecewa dengan keputusan Janet.

“Janet, Raymond ingin mengajakmu makan malam di luar, pergilah tapi jangan terlalu larut pulangnya. Raymond besok akan berangkat melihat sumur yang baru,” mamanya berkata lembut sambil tersenyum.

“kemana?” Janet menengok ke arah Raymond.

“lepas pantai di Samudra Hindia,” Raymond berkata melepaskan rangkulan Janet dan duduk di sofa.

“sampai kapan?”

“dua minggu,” Raymond mengacungkan dua jarinya dan otak Janet langsung menyusun rencana. Heli itu mainan baru Janet yang setia menemaninya mengunjungi Andre dan Janet tersenyum manis sekali pada Raymond sambil bergelayut kembali di lengan pria itu.

Saat mereka berdua telah pergi, papanya bergumam pelan, “aku kuatir dengan sikap Janet yang tiba-tiba berubah…”

*/30/*

Janet melepas kepergian Raymond di pinggir landasan. Pesawat jet berlogo tetesan minyak itu baru saja lepas landas dan Janet bergegas melajukan mobilnya ke hanggar heli putihnya.

Lima belas menit kemudian Janet sudah mengudara bersama helinya. Ia ingin sekali menerbangkan heli itu ke area bangunan yang dijanjikan Raymond namun ditundanya niat itu. Janet ingin ke sana bersama Andre. Pasti pria itu sangat senang dan mereka bisa menikmatinya bersama sebelum Janet meninggalkan Raymond untuk selamanya.

Janet membumbung tinggi di langit selama sejam lebih sebelum mendaratkan benda putih canggih itu. Dilihatnya Andre sudah menunggu di pinggir hanggar seperti biasa. Janet turun dan menghampirinya.

“sudah lama menunggu sayang?” Janet memeluknya. Damai sekali rasanya berada dalam dekapan Andre.

“baru saja kok. Kau sudah makan sayang?” Andre menatap wajah Janet dengan penuh kerinduan.

Janet menggeleng. Ia ingin segera bercerita tentang terror yang dilakukan Anna namun ditahannya.

“kita cari makan bagaimana?”

“dimana?”

“ada resto kecil di sekitar sini,ayo,” Andre menggeret Janet menuju mobilnya.

“ini mobilmu?” Janet bertanya saat Andre baru saja menjalankan mobilnya.

“bukan aku meminjamnya.”

“Andre…aku ingin kita segera menikah,” Janet menyentuh tangan Andre yang memegang tongkat parsneling.

“begitu aku bercerai kita langsung menikah,” Andre menoleh tersenyum padanya.

“akhir tahun ini?”

“ya. Bulan madu malam tahun baru kau setuju?”

“dimana?”

Andre berpikir sejenak,” dimana saja asal bersamamu.”

“di Karibia?” Janet bertanya ingat tawaran Raymond.

“aku tak memiliki uang cukup sayang.”

“tak masalah tabunganku cukup untuk kita ke sana,” Janet memandang Andre penuh perasaan dan Andre meminggirkan mobilnya mencium mesra Janet sejenak sebelum melaju kembali. Siang itu, hingga mereka berpisah, Janet tak sempat bercerita tentang sms-sms Anna.

Pada saat yang sama Anna sedang menatap Janus dalam-dalam , “Jadi kau benar-benar tak ingin kubayar?”

Janus menggeleng,” sudah kukatakan Anna, aku tak ingin uangmu. Andre yang harus membayarnya. Ia yang berhutang pada Rich Bank.”

Anna memutar otaknya. Ia tak ingin berhutang pada Janus pria yang pernah dibencinya dan hingga kinipun ia masih membencinya. Anna berpikir paling tidak ada dua pria yang membuat hidupnya tak bahagia. Janus dan Andre. Andre selalu pergi tak tentu arah akhir-akhir ini dan Anna menyadari pertemuan-pertemuan dengan seorang wanita bernama Janet adalah penyebabnya.

“kau tak usah berpikir macam-macam Anna, aku hanya ingin memberi pelajaran pada Andre. Kau kelihatannya tidak berbahagia hidup bersamanya,” Janus menebak pikirannya.

“kau sok tahu Janus.”

“Tidak Anna. Aku bisa lihat dari matamu. Kau sepertinya menderita dengannya.”

Anna bangkit dari duduk dan memutari meja kerja Janus yang besar menghampirinya.

“aku akan bayar kau tunai terserah kau terima atau tidak dan kau tak berhak mencampuri urusan kami.”

Janus melihat mata Anna membesar karena kesal dan ia meraih tangan Anna, “Anna aku mencintaimu. Aku berjanji membahagiakanmu. Percayalah..tinggalkan Andre.”

Anna menarik tangannya dari genggaman Janus dan melangkah ke pintu, “kau tunggu di sini aku akan kembali.”

Sepuluh menit kemudian Anna masuk dan menghampirinya. Di tangannya sebungkus kertas coklat terayun-ayun.

“ini uangmu. Sementara lima belas ribu. Sisanya aku akan bayar nanti,” Anna membalik kantung kertas itu dan menuang isinya ke meja.

Tiga ikat uang dalam pecahan limapuluh dollar meluncur turun dan menutupi kertas yang sedang dibaca Janus.

“mulai saat ini aku harap kau tak ikut campur urusanku,” Anna berkata tegas dan ketika ia sudah hendak berbalik melangkah pergi pintu terbuka. Seorang pria masuk ke dalam.

Janus tersenyum lebar membuka kedua tangannya dan membiarkan tumpukan uang itu tergeletak begitu saja di meja kerjanya.

“nah, rupanya kau sudah berhasil mendapatkannya.”

Pria itu mengangguk penuh hormat dan memandang sekilas pada Anna. Ia menyerahkan sebuah tas kecil pada Janus, “semua ada di sini.”

Janus menerima tas itu,”terima kasih. Besok kau terima sisa pembayarannya.”

Pria itu mengangguk pelan dan melangkah ke luar.

Setelah pintu tertutup kembali Janus menoleh pada Anna.” Kau akan menyesal bila tak melihat isi tas ini.”

Janus membuka tas itu dan mengeluarkan beberapa lembar foto dan sebuah CD dari dalamnya.

Anna berdiri diam di sisi meja kerja dan memperhatikan Janus tersenyum puas.

“Ini kau lihatlah Anna,” Janus menyerahkan foto-foto itu pada Anna,” aku ingin memutar CD ini,” lanjutnya sambil mengacungkan CD di tangannya.

Anna meraih foto-foto itu dan matanya terbelalak. Jadi selama ini perasaannya benar. Andre memang berkhianat lagi. Di tangannya ada foto Andre sedang makan bersama seorang wanita muda yang kelihatan energik. Ada juga gambar Andre dan Anna sedang berciuman di dalam sebuah mobil. Anna tak mengenali kendaraan siapa itu.

“jadi kau memata-matai kami Janus,” Anna menatap kawannya geram. Dilihatnya Janus sedang membungkuk memasukan sekeping CD yang Anna tebak adalah bukti lain pengkhianatan Andre.

Layar televisi menyala dan Anna melihat sebuah jendela di tempat yang tinggi, mungkin hotel. Andre tampak sedang berciuman mesra dengan wanita yang sama dengan yang dilihatnya di foto-foto tadi.

“baiklah Janus, cukup sudah. Apa maumu sebenarnya?” Anna benar-benar kalut dan mendidih. Ia sakit hati, malu dan benar-benar geram.

Janus menoleh, “ambil kembali uangmu itu dan menikahlah denganku. Lupakan Andre, ia bajingan Anna.”

Anna mengambil kembali uangnya di atas meja dan meletakkannya pada pangkuan Janus. Belum sempat Janus bertanya ketika tangan Anna mengayun cepat mengenai pipi Janus. Tamparannya membuat bunyi yang membuat Anna merinding sendiri dan ia meninggalkan ruangan meninggalkan Janus yang belum sadar apa yang menimpa dirinya. Hanya tangannya yang bergerak-gerak memegang pipinya.

-- Malamnya, Andre sudah berbaring di ranjang berdua Anna. Lampu kamar masih menyala dan Anna lagi-lagi mengenakan gaun tidur transparannya.

Andre melirik. Anna sudah memejamkan mata dan payudaranya terlihat naik turun. Andre tahu malam ini Anna tak mengenakan apa-apa lagi di balik gaun tidur tipis itu. Ia sedang mengingat-ngingat kapan terakhir kali merasakan bagian tubuh yang naik turun itu ketika teleponnya berbunyi. Sms dari Janet!

Sayang…sudah tidur? Awas jangan nakal malam ini!

Andre membalasnya.

Oke.

Malam itu Andre hanya berani menatap langit-langit kamar. Aroma parfum Anna tercium di hidungnya. /Aku tak boleh nakal!/ Dan Andre berusaha mati-matian memejamkan matanya.

--

*31*

Andre baru saja masuk rumah, ketika dilihatnya Anna sedang mengganti lap kompres di dahi Rachel.

“Anna, kenapa Rachel?” Andre terkejut melihat Rachel yang terbaring lemah di sofa. Gadis mungil tersebut kelihatan pucat. Dirabanya dahi Rachel.

“Panas sekali..”

“empat puluh derajat Andre, aku sudah mengukurnya baru saja,” Anna membenahi posisi Rachel.

“kita ke rumah sakit sekarang,” Andre bangkit berdiri, “ kau masih ada sisa uang?”

Anna mengangguk, “ aku sempat jual kalung tadi.”

Andre tertegun ,” kalung?”

“Ya. Aku pikir kau sudah tak mempunyai cadangan uang lagi. Biayanya pasti besar untuk merawat Rachel. Jadi kusuruh Mercy menjaganya tadi dan aku langsung menjual kalung.”

“baiklah, kau tunggu saja di sini, aku cari taxi..,” Andre bergegas ke luar rumah. /Bahkan saat ini kalungpun harus dijual!/

Setengah jam kemudian mereka sudah berada di ruang periksa Siloam Hospital. Andre selalu yakin dengan kualitas rumah sakit itu. Mahal tetapi terjamin. Andre duduk memandang dokter yang baru saja selesai memeriksa Rachel. Dilihatnya dari balik tirai tipis, Anna sedang mengenakan kembali pakaian Rachel di meja periksa.

“nah, jadi bagaimana dokter?” Andre mengalihkan pandangannya kembali. Dokter di hadapannya sudah putih semua rambutnya dan itu kesukaan Andre. Ia selalu percaya dokter-dokter tua. Mereka menang pengalaman.

“Putri anda harus menjalani tes laboratorium dahulu dan harus dirawat beberapa hari di sini untuk memastikan ia tak akan kekurangan cairan..,” dokter itu membenarkan gagang kacamatanya.

“tes darah?”

“benar.”

“trombosit…leukosit…?” Andre berusaha menebak.

Dokter itu mengangguk. “semuanya”

“termasuk widal?”

Dokter itu mengangguk kembali.

“sebenarnya Rachel sakit apa dokter?” Andre melihat Rachel sudah turun dari meja periksa.

“belum bisa dipastikan. Harus tes darah . sementara ini kita harus turunkan panasnya terlebih dahulu.”

Andre menyaksikan dokter itu menulis catatan.

“putri anda alergi obat tertentu?”

Andre menggeleng dan menggeser duduknya memberi tempat pada Anna yang menggendong Rachel.

“Asetaminophen saja kalau begitu,” dokter itu mulai menulis di notesnya.

“maaf dokter, Rachel pernah sedikit tergangu maagnya. Saya kuatir…,” Andre tak meneruskan perkataannya begitu melihat dokter itu memandang lekat-lekat ke arahnya.

“parasetamol?”

Andre mengangguk.

“dia benar-benar tak alergi bukan?”

“syndrome reyes maksud anda dokter?”

dokter itu mengangguk dan makin menatap lekat-lekat ke mata Andre.

“tidak…Rachel tidak mempunyai kecenderungan pada syndrome itu,” Andre menjawab cepat.

“anda punya pengetahuan lumayan juga…,” Dokter itu tersenyum sambil membenarkan gagang kacamatanya dan mulai menulis kembali.

Andre tertegun menatap wajah dokter di hadapannya. /Sejak aku bangkrut baru kali ini ada yang memujiku!/

Sore itu Andre menunggui Rachel di rumah sakit. Gadis mungil itu benar-benar pucat dengan infuse di tangan. Anna kembali ke rumah untuk mengambil persediaan barang-barang yang diperlukan.

Malamnya Anna menunggui Rachel sampai tertidur sambil menelungkupkan tangannya di ranjang Rachel yang juga sudah tertidur pulas sementara Andre belum juga bisa memejamkan mata.

Andre keluar kamar untuk merokok. Sudah jam dua malam, ia melirik arlojinya. Hasil tes darah sore tadi sudah lebih baik dari pada hasil tes pertamanya. Dihisapnya rokok dalam-dalam. Sekarang tinggal berpikir bagaimana pembayarannya. Harga kalung Anna tak akan cukup bagi rumah sakit sehebat ini.

Baru saja Andre merebahkan punggungnya di kursi teras ketika teleponnya berbunyi. Janet!

“hallo….,”

“sayang…bagaimana keadaanmu?”

“baik-baik saja.. kau belum tidur Janet ?”

“belum…baru masuk rumah…sore ini aku mencari parfum tapi tak satupun tersedia di butik yang aku kelilingi.”

“parfum?”

“ya…”

“parfum apa?”

“banyak. Beberapa paman dari mama menginginkannya dan aku yang harus mencarinya.”

“tak kau beli lewat internet saja?”

“tidak. Peggy pernah membeli dengan cara seperti itu dan akhirnya tertipu..”

Andre teringat Janet pernah bercerita betapa cerewetnya rekan sekantornya itu.

“kau sebenarnya mencari parfum apa, clinique happy?” Andre menebak. Ia hapal parfum kesukaan Janet.

“salah satunya iya. Yang lain D&G light Blue, Samsara, Joy,212,..”

“seperti punyaku?” Andre memotong.

“ya.”

“ada lagi?”

“Fahrenheit, bvlgari white, belledemunite. Banyak kan?” terdengar suara Janet tertawa kecil dari seberang. “ aku sampai lelah mencarinya. Apalagi Chanel No.5…sulit sekali.”

Andre diam mendengarkan. Nafasnya agak memburu. Rasanya ia mendapat cara untuk pembayaran biaya Rachel.

“Janet, kau tak usah cari parfum itu. Aku akan antarkan besok. Kau transfer saja uangnya pagi-pagi besok ke rekeningku.”

“berapa?”

“aku hitung dulu. Nanti aku sms.”

“baiklah…rupanya kau jual parfum juga ya…,” Janet menggoda.

Andre hanya tertawa.

“baiklah sayang…aku tunggu ya…bye….”

“bye….”

Andre baru saja hendak mematikan telepon ketika suara Janet kembali terdengar.

“Andre…”

“Ya…”

“malam ini kau jangan nakal ya”

“tidak.”

“jangan kau sentuh Anna.”

“ya..”

“oke…I luv u..”

Klik. Telepon ditutup sebelum Andre sempat menjawab.

Lima menit kemudian setelah rokoknya habis, Andre masuk kembali ke kamar Rachel. Suhu tubuh Rachel sudah normal kembali. Andre meraih minuman dingin dan meneguknya. Dilihatnya Anna masih tertidur pulas , baru saat ini Andre memperhatikan baju yang dikenakan Anna. Baju tidurnya yang tipis! Andre bisa melihat bayangan celana dalam hitam yang dikenakannya.

/Aku tidur saja di luar..aku berjanji tak akan nakal malam ini…/

Dan Andre kembali ke luar kamar, menarik bangku teras yang tadi didudukinya, mengatur posisi supaya nyaman dan matanya berusaha dipejamkan. /Aku mencintaimu Janet.../

Esoknya pagi-pagi sekali, Andre kembali ke kamar. Anna sedang menemani Rachel makan. Rupanya gadis mungil itu sudah diperbolehkan makan mulai pagi ini.

“kau tidur dimana Andre?” Anna menoleh memandangnya yang tampil berantakan. Rambut Andre benar-benar kusut. Tubuhnya terasa pegal, posisi tidurnya semalam di bangku teras memberi hasil tak menyenangkan pagi ini.

“di teras, bagaimana Rachel?”

“pagi ini ia akan tes darah lagi..”

“baiklah…Anna, aku harus kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Anna menyuapkan sendok bubur ke mulut Rachel, “kau juga ingin sarapan bubur Andre ?” Anna bertanya lembut menoleh padanya yang masih duduk di sofa dengan mata yang berat.

“masih ada untukku?”

Anna mengangguk meletakkan mangkuk bubur di tangannya dan menghampiri meja kecil di sisi tempat tidur Rachel. Diambilnya semangkuk bubur yang belum tersentuh dan disodorkan ke Andre,” makanlah…kau pasti lapar sekali.” Anna membungkuk meletakkan mangkuk bubur di atas meja di hadapannya. Andre bisa melihat payudara Anna yang menggelembung mengintip.

“ kau belum berganti baju sejak semalam Anna?”

Anna tersenyum, “nanti saja…toh aku juga belum mandi.”

Anna kembali ke sisi Rachel dan Andre bisa melihat bayangan hitam celana dalam Anna ikut bergoyang-goyang. Selintas tercium aroma D&G dari tubuh isterinya.

“aku mandi dulu saja..” Andre bangkit dari duduk.

“kau tak ingin makan dahulu?”

“nanti saja setelah mandi. Aku butuh air mengguyur tubuh. Pegal semua rasanya…,” Andre ngeloyor membuka pintu toilet.

Setelah membuka seluruh pakaiannya Andre menyalakan shower. Air dingin mengguyur kepalanya. Rasanya lebih segar. /Aku harus bertahan…beberapa malam terakhir ini Anna selalu menggunakan gaun tidur yang transparan…aku tak boleh nakal!/

*/32/*

Awan bergulung-gulung di udara. Angin lembab yang kencang bertiup menerpa tubuhnya membuat Andre harus memegangi topinya erat-erat. Janet sudah menunggunya.

“hallo sayang….” Janet menghambur ke pelukan Andre.

“sudah lama?”

“baru saja aku mendarat.”

Andre memandang helikopter putih di belakang Janet. Sejak memiliki heli itu, Janet tak pernah menggunakan kereta lagi untuk mengunjunginya.

“aku bawa parfumnya…lihatlah,” Andre menyodorkan tas putih transparan pada Janet.

“waww….luar biasa…darimana kau mendapatkannya Andre?” Janet terkagum-kagum mengeluarkan satu persatu botol-botol parfum original tersebut.

“koleksiku..”

Janet mendongak, “koleksimu?”

Andre mengangguk.

“koleksi kau jual padaku?”

Andre menimbang-nimbang sejenak, “ aku sedang butuh uang…”

Janet meletakkan kembali botol yang sedang dipegangnya ke dalam tas.

“Sayang…kalau kau butuh uang, aku bisa mentransfernya padamu…kau tak perlu menjualnya!”

Andre tersenyum , “aku sudah bosan dengan aromanya.”

/Berbohong lebih baik kali ini./

Janet memandang Andre tak percaya, “ kau bersungguh-sungguh?”

Andre kembali mengangguk.

“kau sudah terima transferku tadi pagi?”

“sudah.”

“tidak kurang?”

Andre menggeleng.

Janet meletakkan tas transparan itu di pelataran.

“Andre kau butuh uang untuk apa?”

“untuk urusan pekerjaan.” Andre menjawab cepat pertanyaan yang sudah diperkirakannya sejak berangkat tadi.

Janet masih memandang Andre sejenak. Ia ingin bertanya lebih dalam ketika bibir Andre sudah mendekat dan mulai melumat bibirnya.

“Andre…..” Janet mendesah berusaha menghindar namun Andre terus mendesaknya.

Andre memeluk tubuh Janet rapat-rapat dan terus mengulum bibir merahnya. /Harus dengan cara seperti ini…aku tak mau ia bertanya-tanya lebih jauh…/

Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika Andre sudah kembali ke rumah sakit. Rachel sempat terjaga beberapa menit sebelum akhirnya terlelap kembali. Pengaruh obatnya mungkin membuatnya selalu tertidur, Andre berkata dalam hati.

“bagaimana hasil tes-nya Anna?” Andre menghempaskan pantatnya di sofa. Hatinya bersyukur malam ini Anna mengenakan switer tebal dan celana jeans.

“baik sekali. Mereka bilang besok Rachel sudah bisa pulang…” Anna memandang sejenak ke wajah Andre agaknya ia akan mengatakan sesuatu namun ragu-ragu.

Andre melihatnya, “ ada apa Anna?”

“pembayarannya Andre. Tagihannya besar sekali. Aku sudah tanya tadi.”

“Tak usah kau pikirkan. Aku saja yang membayarnya,” Andre bangkit dari sofa dan meraih minuman dingin dari lemari pendingin di pojok kamar.

“kau masih mempunyai uang?” Anna bertanya tak percaya.

Andre mengangguk dan melangkah ke luar pintu, “aku ingin merokok di luar..”

Setengah jam kemudian ketika Andre masuk kembali dilihatnya Anna sudah mengenakan gaun tidur transparan. Kali ini berwarna kuning. Andre yakin seratus persen Anna tak mengenakkan apa-apa lagi di baliknya.

“kau belum mengantuk?” Anna bangkit dari duduk mengambil sekaleng softdrink dari lemari pendingin sambil membungkuk.

Andre melihat pantat padat Anna yang hanya terbungkus gaun tipis tepat di depan matanya.

“aku ingin merokok kembali. Kau tidurlah…,” dan Andre cepat-cepat menutup pintu bergegas menuju teras.

Tengah malam Andre terbangun dan cuaca benar-benar dingin. Tubuhnya sedikit menggigil. /Aku tidur di dalam saja./ Andre bangkit dari bangku teras dan masuk kembali ke kamarnya.

Dilihatnya Anna masih terjaga.

“kau belum tidur?”

“belum mengantuk.” Anna berkata datar. Raut mukanya masam.

“ada apa Anna?” Andre duduk di sebelahnya. Tubuhnya masih terasa menggigil akibat angin malam di teras tadi.

“Janetmu sms kembali!...!!” Anna membuang mukanya.

Andre baru sadar ia tak membawa teleponnya tadi saat ke teras. Diraihnya benda mungil itu dari atas meja.

“sudah kuhapus…,” Anna berkata dingin.

“dia pesan apa?” Andre bertanya hati-hati. Diletakkannya kembali benda itu ke atas meja.

Anna menoleh dan menatap mata Andre penuh kebencian, “ katanya kau tak boleh nakal lagi malam ini!”

*/33/*

Esoknya setelah mengantar Rachel dan Anna kembali ke rumah, Andre langsung berangkat menuju kantornya. Ia belum tahu apa yang akan dikerjakannya nanti setiba di kantor. Sampai hari ini ia belum memperoleh peluang sedikitpun. Belum ada satu perusahaanpun yang menghubungi mereka untuk pemesanan software. Paling tidak ia berharap hari ini Herald masuk kantor, ia perlu teman bicara saat ini.

Andre baru saja menyeberang jalan, ketika ia teringat telepon genggamnya tertinggal di dalam tas Rachel. Ia langsung membalik badan kembali ke rumah.

Setibanya di rumah, dilihatnya Rachel sudah tertidur pulas. Anna duduk di bangku gambarnya seperti biasa.

“kau tahu teleponku di tas Rachel?” Andre bertanya di belakangnya.

Anna menoleh dan menunjuk keatas sofa, “itu..baru saja Janetmu menelpon….kangen katanya!”

Andre tak menanggapi komentar Anna.

“Kau tahu Andre, aku bersusah payah menggambar ini untuk membantumu menyelesaikan urusan Rich Bank dan kau asyik bermesraan dengan dia!”

Andre tetap diam dan dimasukkannya telepon mungil itu ke saku celananya.

“kau benar-benar keterlaluan Andre !” nada suara Anna makin meninggi.

“Kau juga keterlaluan Anna, kau telah membohongiku bertahun-tahun dulu…kalau aku tak mendesakmu, kau tak akan cerita kau pernah tidur dengan Janusmu itu! Padahal kau mendesakku terus saat itu menanyakan kapan kita akan menikah! Kau pandai berbohong, kau tahu itu Anna!”

“aku tak tidur dengannya Andre!”

“mana aku tahu kau sudah pernah tidur atau belum dengannya!”

“aku sudah jelaskan berulang kali, aku tak sampai tidur dengannya!” suara Anna makin melengking.

“Itu urusanmu Anna…sampai saat ini aku tak pernah tahu sedekat apa hubungan kalian dahulu!”

Anna mulai merasakan panas di matanya, sebentar lagi pasti ia akan menangis. Kesalahan yang dilakukannya dulu bersama Janus selalu menjadi senjata andalan Andre bila terdesak.

“kau sendiri mengakui telah telanjang bulat di kamarnya…dan kini kau masih berusaha meyakinkan aku bahwa kau tak tidur dengannya! Kau munafik Anna! Aku bukan anak kecil!”

Andre melangkah keluar rumah sambil membanting pintu keras-keras. Didengarnya tangis Rachel, mungkin anak itu kaget mendengar suara pintu terbanting namun hatinya sedang panas dan ia tetap melanjutkan langkahnya menuju kantor.

Pada saat Andre berlari-lari kecil mengejar kereta listriknya, di rumahnya Anna sedang berusaha menidurkan Rachel kembali dengan mata yang sembab.

/Aku tak pernah tidur dengannya saat itu…aku benci kau Janus!/

Setelah beberapa menit akhirnya anak itu tertidur kembali dan Anna baru saja hendak melanjutkan gambarnya ketika bel rumahnya berbunyi. Ia merapikan rambutnya dan membersihkan matanya yang sembab di depan cermin sebelum bergegas membuka pintu.

Seikat bunga mawar hadir kembali di teras rumahnya!

Anna berlari ke pagar memandang sekeliling. Tak ada orang di jalan hanya ada mobil van biru yang melaju menjauh.

Ia membawa masuk paket bunga itu seperti biasa dan diletakkan begitu saja di atas sofa. Mercy muncul dari arah pantry.

“ada kiriman lagi Nyonya?”

Anna mengambil pensil gambarnya dan mulai membuat garisan-garisan tipis di atas kertas.

“Mercy, ambilah…aku rasa itu paket untukmu!”

Mercy hanya melongo menatap Anna sebelum berkata, “Saya akan membuangnya Nyonya sebelum Tuan menemukannya.”

Anna mengamati detail gambarnya dengan teliti. Ia tak ingin pekerjaannya berlarut-larut. Tinggal satu gambar detail koridor penthouse untuk menyelesaikan proyek gambarnya. . Setelah cukup puas dengan rancangan wallpaper dinding samping lift yang bermotif bunga tulip Anna meletakkan pensil gambarnya bersamaan dengan bel rumah berbunyi.

Anna membuka pintu. Dua pria berdiri di hadapannya.

“Selamat pagi, anda Nyonya Andre?”salah seorang mengulurkan tangannya, “ kami dari VillageBank.”

“Ya..,” Anna menyalami mereka bergantian sambil mempersilakan masuk. Ia belum mengerti ada urusan apa dengan Village Bank. Dirinya bahkan tak pernah tahu dimana letak bank tersebut.

“Nyonya Andre, suami anda mempunyai hutang pada VillageBank. Seratus ribu dollar,” salah seorang dari mereka mengeluarkan beberapa lembar kertas dan menunjukkannya pada Anna.

Anna baru selesai menarik nafas untuk mencerna apa yang baru didengarnya ketika salah seorang dari mereka kembali berkata, “ semua ada di dokumen-dokumen itu. Anda dapat membacanya dan minggu depan kami kembali dengan membawa surat sita atas rumah ini. Semoga Tuan Andre sudah melunasinya sebelum minggu depan. Anda bisa membayarnya langsung di Kantor Pusat VillageBank. Kami sudah mendengar kasus yang menimpa anda dari RichBank jadi kami tak menggunakan jasa debt collector sementara ini. Terima kasih atas waktunya kami mohon diri.”

Anna hanya memperhatikan mereka pergi sambil memegang dokumen tagihan di tangannya. Disandarkan punggungnya ke kursi, jadi Andre bukan saja ahli berkhianat tapi juga pandai dalam berhutang, benaknya berpikir.

Dibacanya dokumen itu sekilas sebelum melipatnya dan meletakkan kembali dokumen itu di meja. Ia tak berniat membacanya secara terperinci siang ini. Gambarnya harus selesai dan membaca tagihan itu pasti akan merusak konsentrasinya. Anna kembali ke meja gambarnya dan ketika ia mulai berusaha memusatkan konsentrasinya bel rumah kembali berbunyi.

Anna mengintip dari jendela. Seorang petugas pos melempar amplop ke halaman rumah.

Ia bergegas keluar rumah mengambil amplop itu. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk membuatnya terduduk lemas di sofa. Hari ini benar-benar luar biasa. Surat di tangannya ternyata berisi tagihan hutang dari A&V Bank. Yang ini bernilai lima puluh ribu dollar dan Anna memegang kepala dengan kedua tangannya tak percaya.

Baru saja Anna melepaskan tangan dari kepala ketika Mercy masuk.

“Nyonya…ini ada kiriman paket bunga mawar seperti biasa….”

Dan Anna mengangkat kedua tangannya kembali. Kali ini menutupi wajahnya.

-- Yammy mengamati sekali lagi foto-foto itu dan memasukannya ke dalam amplop. Ia sebenarnya menyukai Andre namun pria itu mengirim foto Reynold sedang berduaan dengan dirinya di teras villa. Sepertinya pria itu ingin memperoleh jaminan dirinya tak akan bercerita tentang pencurian file itu pada Herald.

Yammy memandang sekeliling ruang tengah rumahnya yang berantakan. Pelayan rumahnya sudah seminggu yang lalu berhenti dan Yammy tak terbiasa mengurus rumah seorang diri. Dinyalakannya televisi namun pikiran Yammy tak tertuju ke layar kaca di depannya. Benaknya berpikir bagaimana mungkin Andre masih tak mempercayainya sedangkan mereka berdua telah bekerja sama memperoleh uang dari memodifikasi program curian itu. Tiba-tiba terlintas sesuatu di kepalanya, ia ingat wanita yang bersama Andre di resto itu dan kebetulan sekali Michel telah membayar orang untuk mengikuti mereka. Mungkin ini adalah jalan keluarnya dan Yammy tersenyum puas. Bila saja pria itu percaya padanya ia tak akan membuatnya menderita bagaimanapun Yammy tergila-gila pada Andre.

Yammy memikirkan lagi semua rencananya dan setelah memastikan semua akibatnya Yammy bertekad melaksanakannya. Bila Andre mengancamnya dirinyapun bisa berlaku sebaliknya. Lagipula ia lelah mengemis minta perhatian Andre. Berulangkali smsnya tak dibalas pria itu.

--

*/35/*

“Jadi apa masih ada hutang lainnya Andre?” Anna bertanya lesu di sampingnya. Ia benar-benar putus asa. Untung saja pagi tadi seluruh detail gambarnya disetujui dan berarti dirinya tak mempunyai tanggungan pekerjaan lagi.

“masih ada beberapa lagi Anna. Tak lama lagi pasti akan bermunculan surat-surat tagihan dari berbagai bank,” Andre berkata pelan.

Anna bisa melihat Andre sama dengan dirinya, benar-benar putus asa. Namun paling tidak Andre jujur padanya kali ini.

“mengapa tak kau ceritakan semuanya sejak dulu Andre?”

“aku kuatir hanya akan membebani pikiranmu.”

Anna mendesah dan pikirannya berkelana tak tentu arah. Masalah Janet juga membebaniku, pikirnya. /Belum lagi bunga-bunga mawar itu!/

“apa yang akan kita lakukan Andre?”

Andre menarik nafasnya dalam-dalam. “Anna, untuk kali ini saja tolong dengarkan aku. Kau bawa Rachel dan Mercy ke rumah orang tuamu. Aku akan menyusulnya.”

“lalu hutang-hutang itu?” Anna bertanya bingung.

“Kita tak akan sanggup membayarnya. Semua bernilai tiga ratus ribu lebih bila dihitung bunganya.”

Anna hanya menatap suaminya tak percaya dan dua hari kemudian Anna sudah mengepak seluruh pakaian mereka.

“hati-hati…,” Andre melepas Anna dan Rachel di stasiun kereta. Wajah Rachel terlihat kebingungan. Ia belum pernah bepergian jauh hanya berdua saja dengan Anna. Matanya bening menatap lurus ke mata Andre.

“papa tidak ikut?” suaranya parau. Gadis kecil itu kelihatan sekali sebisa mungkin menahan tangisnya.

Andre mencoba tersenyum dan berjongkok di depannya, “papa nanti menyusul. Masih ada pekerjaan yang harus papa selesaikan.”

Rachel memegang erat-erat tangan Anna dan mendongak menatap mata mamanya mungkin meminta kepastian.

Anna mengangguk.

Rachel kembali menatap mata Andre.

, “papa janji ya akan menyusul Rachel.”

Andre mengangguk. Kerongkongannya terlalu kering untuk bisa menjawab.

Ketika mereka telah naik ke dalam kereta, Andre merasa langit bagai runtuh menimpa kepalanya.

Mercy akan menyusul besok dan Andre merasa mungkin inilah akhir hidupnya. Semua impian dan gairahnya membangun bisnis hancur sudah. Tak ada lagi proyek. Tak ada lagi kontrak-kontrak bisnis. Tak ada lagi anggukan hormat dari para bawahannya. Tak ada lagi surat pajak. Tak ada lagi rapat-rapat dan presentasi dan Andre berjalan keluar stasiun dengan pandangan hampa. Ia rindu Janet namun Anna dan Rachel tanggung jawabnya. Bayangan mereka silih berganti muncul di pelupuk mata. Semua kegalauan yang terpendam mengalir keluar mengguyur tubuhnya. Andre teringat masa-masa awal membangun bisnis yang dirintisnya sejak di bangku kuliah. Ia memulainya tanpa selembar uangpun di sakunya dan hanya dalam beberapa tahun Andre hampir memiliki segalanya. Benaknya menyesali ekspansi bisnisnya yang sangat agresif dan sifatnya yang suka bersenang-senang dengan banyak wanita membuat dirinya harus menanggung semua beban saat ini.

Dilangkahkan kakinya menuju café internet terdekat. Hanya satu keinginan Andre saat ini. Menulis semua perjalanan hidupnya dan mengirimnya ke Janet sebelum ia kabur secepatnya ke kota lain.

Andre baru saja menyeberang jalan ketika teleponnya berbunyi. Sms dari Janet.

Sayang…aku baru tiba di kotamu..ketemu di tempat biasa ya…kangen J

Andre membaca pesan sms itu tak bersemangat dan membatalkan niatnya mengunjungi café internet. Ia segera menghentikan taxi untuk menuju hanggar pesawat dimana Janet menunggunya.

Baru saja taxi itu melaju kembali ketika bayangan Rachel yang berpegangan tangan dengan Anna di stasiun kereta tadi hadir kembali di pelupuk matanya. Tagihan Village Bank dan A&V Bank juga memenuhi benaknya dan Andre tiba-tiba membuat keputusan besar. Mulai kini ia tak akan menyentuh Janet lagi.

Andre menyentuh punggung sopir dan berkata, “Maaf, pak…tolong diubah tujuannya.”

Taxi itu mengantar Andre pulang ke rumahnya dan Janet menunggu hingga langit gelap tanpa satupun smsnya yang dibalas Andre.

--

*/36/*

Andre baru selesai menelpon Anna dan duduk di bangku kayu rumah kontrakannya. Setelah mengantar Mercy pergi kemarin, Andre bergegas mengosongkan rumahnya dan mendapat rumah kontrakan sederhana di lingkungan yang sepi di pinggiran kota.

Ia sudah memindahkan kantornya dan kini tempat tinggalnya. Bank pasti akan kesulitan mencarinya. Andre meluruskan kakinya, masih tak percaya dengan jalan hidupnya saat ini. Semua masih seperti mimpi baginya. Harusnya ia meminta pertolongan Herald untuk menyelesaikan tagihan-tagihan itu tetapi Andre merasa yakin saat ini Herald sudah tahu kecurangannya. Pencurian file tersebut bisa saja diceritakan Yammy pada Michel dan akhirnya sampai juga ke telinga Herald.

Andre tahu jumlah hutang yang ditanggung Herald sama besar dengan jumlah hutang yang ditanggungnya. Namun Herald mempunyai harta keluarga yang berlimpah. Itu berbeda dengan dirinya dan Andre makin merasakan kepercayaan dirinya runtuh ke titik nol.

Hingga kini ia juga belum menceritakan rencananya kabur ke kota lain kepada Herald. Rekannya itu sebenarnya sangat diharapkan Andre untuk selalu bersama dalam membangun bisnis tapi itu semua hampir tak mungkin kini. Dirinya sudah tak memiliki persediaan uang dan rasa percaya diri yang cukup untuk memulai bisnis lagi bangkit dari semua masalah ini.

Herald sendiri selalu hilang tak tentu arah. Kadang Andre heran kemana saja Herald bila tak muncul di kantor. Pernah beberapa kali Andre berkunjung ke rumah Herald dan tak sekalipun ia pernah bertemu. Kawannya itu selalu pergi dari rumahnya tanpa meninggalkan pesan.

Andre manarik nafas dalam-dalam berusaha menjernihkan pikirannya. Uang, cinta dan impian-impiannya, semua, semuanya harus mulai dari nol lagi. Ditatapnya laptop di hadapannya. Benda hitam itu telah menjadi sahabatnya mengarungi ganasnya iklim persaingan bisnis. Kini mungkin benda itu tak akan perlu bekerja sekeras dulu lagi. Mungkin saja dalam tahun-tahun mendatang hidupnya, benda itu tak lebih dari album-album foto kenangan. Lagi-lagi Andre menarik nafasnya. Masih ada satu pekerjaan yang harus dilaksanakannya. Pekerjaan yang menutup semua impian dan semangat-semangatnya.

Andre mulai membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan besarnya. Tiba-tiba teleponnya berbunyi.

“Andre…,” suara Janet terdengar dari seberang.

“Ya..,”

“kau baik-baik saja?”

“ya…kau sendiri bagaimana Janet?”

“aku baik-baik saja. Susah sekali bertemu denganmu akhir-akhir ini.”

“aku sedang banyak pekerjaan Janet.”

“baiklah…besok pagi aku ingin bertemu denganmu. Kuharap kau bersedia Andre…”

Andre diam sejenak, “baiklah…”

Esoknya Andre bertemu Janet di sebuah mall megah di tengah kota.

“kau naik heli kemari?”

Janet mengangguk,” ya..aku juga bolos hari ini…Andre, aku kangen…kapan kau bercerai?”

Andre diam saja. Semua berkecamuk di dadanya. Ia ingin menyudahi saja hubungannya dengan Janet namun wanita itu benar-benar kokoh mengisi relung terdalam hatinya dan Andre bingung harus menjawab apa. Rachel dan Anna benar-benar membutuhkannya.

“baiklah..mungkin aku yang harus lebih menahan diri…aku terlalu sering membuatmu sedih ya Andre?” Janet menatap mata kekasihnya penuh perasaan.

“Janet, kau tahu aku mencintaimu?”

Janet mengangguk.

“apapun yang terjadi pada kita?”

“maksudmu?” Janet merasa ada yang tak beres.

“tidak apa-apa. Lupakanlah,” Andre menggeleng lemah.

“sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk bertemu sayang, aku kembali saja.” Janet bangkit dari duduk.

“Janet…,”

Janet menoleh, “ Ya…”

“aku ingin mengajakmu ke suatu tempat sore nanti. Apa kau bersedia?” Andre memandang Janet yang sudah berdiri.

Janet mengangguk, “baiklah. Aku kembali dulu sekarang. Sore nanti aku kemari lagi. Heliku harus diisi dulu bahan bakarnya. Tadi kulihat tinggal setengah.”

“tak ingin kutemani ke hanggar?” Andre meraih tangan Janet

Janet menggeleng mengecup kening Andre dengan penuh perasaan dan melangkah pergi.

Andre memandang punggung Janet yang makin menjauh. Perasaan akan kehilangan Janet semakin jelas membayangi benaknya. /Aku ingin mengajakmu ke kontrakanku sayang, aku ingin kau melihat keadaanku yang sebenarnya. Semua tak seperti yang kau bayangkan. Kau akan membacanya di laptopku…/

*/37/*

Bangunan itu bergaya Spanyol dengan pagar beton penuh ditumbuhi lumut. Ada beberapa yang bahkan melekat pada pojok-pojok dinding banguan. Tiang-tiang dindingnya terlihat kokoh di daerah berhawa sejuk yang terpencil ini. Dua tahun yang lalu wilayah itu hanyalah sekumpulan belantara dengan pohon-pohon besar dan liar hingga sinar mataharipun tak akan sampai ke tanah.

Kini daerah itu menjadi tempat bersembunyi orang-orang terkaya di muka bumi. Wilayah terpencil dengan helipad pada tiap bangunan dan tiga ratus are hutan pinus yang memisahkannya dengan kota terdekat.

Tiap-tiap bangunan berdiri kokoh tanpa suara sama sekali. Komplek elite itu lebih menyerupai bangunan-bangunan besar di tengah-tengah hutan. Antar bangunan dipisahkan jarak tiga hingga lima kilometer bila tidak oleh sebuah danau atau sungai lengkap dengan air terjun alamnya. Privacy adalah segalanya di tempat itu. Tempat di mana orang-orang paling berkuasa di muka bumi tidak akan terjangkau oleh pers. Tempat idaman dimana individu-individu pemiliknya bisa mengumbar keinginan yang paling liar sekalipun tanpa rasa kuatir.

Saat Crozzen Building Co. memperkenalkan area itu bagi kaum terkaya di dunia hanya satu kalimat di brosurnya. /Privacy is everything./

Kalimat sederhana itu tidak main-main. Saat penawaran perdana di hadapan puluhan calon pembelinya, Crozzen Building Co. memamerkan perangkat pengacak radar dan pengacak foto satelit di area tersebut. Tidak ada radar, tidak ada satelit, tidak ada satupun yang bisa menembus kekebalan perlindungan perangkat canggih tersebut.

Janet mendaratkan helikopternya di samping bangunan tersebut. Suara baling-baling helikopter tertelan oleh gemuruh air terjun di belakang bangunan.

Andre melepas sabuk pengamannya dan berpegangan pada dashboard mengintip keluar. Janet memperhatikannya sejenak sebelum turun. Sejak awal perkenalan mereka, Andre tidak pernah mengendarai helikopter dan Janet selalu dengan senang hati membawanya berkeliling ke mana saja dengan helikopter pribadinya. Pernah satu kali Janet menawarkan Andre untuk mengendarainya namun Andre menolaknya. “Ini helikoptermu. Kau saja yang mengendarainya,” jawab Andre dengan dingin dan Janet mendapati Andre diam membisu sepanjang perjalanan. Sejak saat itu, Janet bagai pilot pribadi Andre.

Andre turun dari helikopter dan baru satu kaki dijejakkan pada pelataran ketika angin terasa menembus jaketnya. Kedua tangannya disilangkan menahan dingin. Ia melanjutkan langkahnya. Jaketnya sudah basah tersiram cipratan air terjun yang jatuh dari ketinggian 30 meter. Dipandangnya air terjun yang mengeluarkan suara gemuruh itu. Deburan airnya begitu dasyat. Kabut putih serpihan air memenuhi udara sekitar. Andre mengagumi air terjun tersebut seperti gadis kecil mengagumi boneka barunya.

Selintas ia memandang bangunan megah di hadapannya. Pada salah satu tiang bangunan tertera tulisan JJC inisial kesukaan Janet. Andre mengalihkan pandangannya kembali mengikuti Janet yang mendahuluinya. Dilihatnya wanita itu menghampiri sepasang bangku kayu santai dengan kulkas mini di sisinya di sudut pelataran. Janet membuka pintu lemari pendingin itu dan mengambil sebotol sampanye.

Andre mengikutinya duduk. Ia menuangkan sampanye dalam gelas kecil di tangannya dan mencicipinya.

/Sampanye yang sangat nikmat dan pasti mahal./

Suasana benar-benar nyaman. Angin dingin kembali menyapu kulit wajahnya. Suara gemuruh air terjun menderu terus menerus dan sesekali terdengar suara cicitan burung-burung liar jauh di atas pepohonan. Beberapa hinggap di baling-baling helikopter. Mata Andre sedang menatap kendaraan canggih berwarna putih itu ketika mendadak bayangan Rachel berpegangan tangan dengan Anna di stasiun kereta beberapa hari lalu melintas di pelupuk matanya.

/Ini semua seperti di sorga. Aku benar, Anna lebih membutuhkan aku /

Beberapa jam yang lalu ia telah berniat mengajak Janet ke rumah kontrakannya yang baru namun Janet menelponnya sejam kemudian. ’Bagaimana kalau aku yang mengajakmu ke suatu tempat yang benar-benar indah. Kita belum pernah ke sana bersama-sama.’ dan sekarang ia mendapati dirinya sudah duduk berdampingan di tengah-tengah hutan tropis ini.

Janet bangkit dari duduk dan menindih tubuh Andre. “Apakah bercinta di alam terbuka membutuhkan waktu lama sayang?” matanya menatap Andre menggoda. Andre beringsut menahan diri. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Janet lagi. Namun gesekan puting Janet di jaketnya bukan tawaran yang mudah ditolak. Bibirnya sudah mendarat di kulit putih bersih tersebut dan setengah jam kemudian ia mendapati dirinya telah terkulai lemah penuh kepuasan dalam pelukan hangat Janet.

-- Suara gemuruh air terjun itu membangunkannya. Andre melihat Janet sudah berpakaian kembali duduk berselonjor di sisinya.

“kau lelap sekali tertidur,” Janet tersenyum mengulurkan pakaian Andre yang tergeletak begitu saja di tanah, “ pakailah kau bisa kedinginan dengan udara seperti ini,” lanjutnya.

Andre meraih pakaian itu dan memakainya. Matanya memandang sekeliling. Langit gelap sekali malam ini. Kulit tangannya merasakan sapuan angin malam yang menusuk hingga tulang.

“dingin sekali di sini.”

Janet tersenyum memandang Andre yang menggigil. Ia meraih sebuah remote yang menyerupai handphone dari saku celananya. Ditekannya beberapa tombol dan beberapa saat kemudian lampu-lampu taman di sekitar mereka menyala. Sinar-sinarnya temaram. Ada yang muncul dari bawah rerimbunan semak dan ada yang berada jauh tinggi di atas mereka di antara dedaunan pohon tropis. Janet memandang sekitarnya dengan puas dan menekan beberapa tombol lagi. Samar-samar sebuah suara seperti pintu terbuka terdengar .

Andre menoleh mencari sumber suara. Dilihatnya dinding penuh lumut di samping bangunan tersebut terbelah membuka. Sebuah Range Rover Hitam dan sebuah Bentley berjejer rapi di dalamnya. Sedan mewah berwarna merah tersebut terlihat kontras dengan lingkungan sekitar yang didominasi warna lumut dan dedaunan tropis.

Andre baru hendak membuka mulut ketika didengarnya Janet berkata.

“Andre, aku ingin kita menghabiskan malam ini berdua mengelilingi hutan pinus. Kau suka jip atau dengan sedan?”

“terserah kau saja Janet. “

“kita pakai jip saja ya.”

“Itu Voyage?” Andre menunjuk kendaraan berwarna hitam itu.

Janet mengangguk sambil tersenyum, “aku tahu kau suka Range Rover jadi aku memesannya. Voyage model yang sporty dan aku kira kau ingin mencobanya.”

Andre diam saja tak menjawab. Diraihnya gelas di atas meja. Masih ada setengah isinya dan Andre meneguknya. Hawa hangat menjalar di kerongkongannya.

Dari sudut matanya ia memandang Janet. Matanya benar-benar indah. Hidungnya mancung. Wajahnya putih bersih. Lehernya benar-benar jenjang. Janet menggunakan blazer santai dengan katun tipis di dalamnya. Bayangan puting susunya telihat menyembul. Andre merasakan desiran sesaat di dadanya. “Aku suka caramu menghisap sayang”, begitu yang sering ia dengar dari bibir merah Janet. Andre mendesah dan mengalihkan pikirannya dengan memandang gelas kristal di tangannya.

“well, honey, bagaimana” Janet meliriknya sambil tersenyum. “apa kau suka pemandangan di sini?”

Andre mengangguk memandang bibir Janet yang dipoles lips stik tipis. Senyumnya polos dan jenaka. Cantik sekali. /Ya Tuhan,aku mencintai perempuan ini. Maafkan papa, Rachel./

“Janet, apa kau berencana kita bermalam di sini?”

“apa kau keberatan?” Janet menyilangkan kakinya. Andre bisa melihat betapa mulusnya kaki perempuan yang dicintainya itu. Benaknya berpikir sejenak. Bila ia bermalam di sini mungkin tekadnya untuk tak menyentuh Janet akan bobol kembali. Dilihatnya mata Janet yang indah dan Andre mendapati pancaran cinta di dalamnya sebelum ia berkata agak ragu, “tidak.”

“Baiklah, aku akan memasak untukmu. Kau pasti lapar, setelah itu kita berkeliling hutan. Kau cobalah jip kesukaanmu itu nanti, aku membelinya untukmu,” Janet bangkit berdiri sambil tersenyum. Andre mengikuti bangkit dari duduk dan melangkah di belakangnya.

Malam itu Janet membuat daging asap dengan taburan merica dan bawang bombay yang lezat. Mereka menutup makan malamnya dengan segelas anggur merah. Setelahnya Janet mengajak Andre duduk di teras samping memandang air terjun yang bergemuruh.

“Andre, kau ingin berkeliling hutan sekarang?” Janet menghempaskan tubuhnya di kursi.

Andre menjawab agak ragu,” nanti saja.”

Matanya memandang ke atas, langit benar-benar gelap. Ia melangkah menghampiri sebuah batu alam hitam di pojok teras dan duduk di atasnya.

“Kau tak ingin duduk di sini?” Janet menunjuk kursi di sebelahnya.

Andre menggeleng, “ aku suka duduk di sini. Batu ini terasa nyaman.”

Janet memandang wajah kekasihnya. Sinar lampu yang memantul dari air terjun di belakangnya sekan-akan mengelilingi tubuh Andre. Pria yang dicintainya itu tampak bagai dewa yang memancarkan sinar dari tubuhnya.

Janet bangkit dari kursi dan menghampiri Andre duduk berselonjor di rumput yang basah di sisi batu alam itu.

“Andre, aku ingin segera menikah denganmu,” Janet bergelayut mesra di lengan Andre.

Andre diam tak menjawab hanya tangannya yang mengelus-elus lembut rambut Janet.

“Aku tahu kau harus menyelesaikan urusanmu dahulu. Anna sudah mengetahui hubungan kita jadi tak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi. Aku ingin kita menghabiskan sisa usia kita bersama-sama sayang,” Janet menggesek-gesekkan kepalanya di dada Andre.

Andre menarik nafasnya dan mengecup rambut Janet. Semua ini begitu berat. Andre tak tahu lagi bagaimana ia harus mengambil keputusan. Rachel dan Anna membutuhkannya tapi cintanya pada Janet menuntut dirinya harus melepas mereka.

“Janet….”

“Ya..,” Janet mendongak melepaskan lengan Andre.

“aku ingin pulang malam ini.”

Janet menatapnya heran, “kau tak jadi bermalam di sini?”

Andre menggeleng.

“kenapa? Aku mengajakmu kemari agar kita bisa menikmati suasana tropis ini tanpa diganggu siapapun.”

“tolong antar aku pulang Janet,” Andre menatapnya penuh harap.

“ada apa sebenarnya Andre?”

“tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin kembali ke rumahku malam ini.”

Janet memandang kekasihnya tak percaya. Benaknya bertanya-tanya mengapa tiba-tiba Andre membatalkan niatnya bermalam.

“Kau ingin bersama Anna malam ini?”

Andre menggeleng,” dia dan Rachel sedang di rumah orang tuanya.”

“kau sedang tak membohongiku kan?”

“tidak.”

“jadi mengapa kau begitu ingin kembali?”

Andre tak menjawab dan hanya diam mematung memandang Janet yang keheranan.

Janet membuang pandangannya dan menatap sekeliling. Suasana benar-benar sunyi dan keindahan air terjun alam yang disinari lampu-lampu dari segala penjuru itu terasa hambar kali ini. “Baiklah, aku antar kau pulang.”

“Janet….” Andre meraih pundak wanita yang dicintainya itu.

“ya…”

“aku punya satu permintaan.”

Janet memandang Andre. Baginya sikap Andre makin terasa aneh.

“apa?”

“Buatkan sebuah laci kecil di bawah batu ini,” Andre melirikkan matanya ke arah batu yang baru saja didudukinya itu.

“Laci?”

Andre mengangguk.

“di bawah batu itu?” Janet makin merasa semua ini bertambah mencemaskan.

Andre kembali mengangguk.

“Untuk apa?”

“Untuk kita,” Andre tersenyum meraih pinggang Janet dan mengajaknya ke pelataran helipad.

Saat mereka menuju helikopter, telepon Andre berbunyi. Dari Yammy! dan Andre segera mematikan teleponnya diiringi pandangan curiga Janet.

--

*/38/*

Akhir tahun tiga hari lagi dan Andre belum juga bercerai. Janet merasa dirinya benar-benar terjepit, ia mencoba menghubungi telepon Andre dan lagi-lagi telepon itu tidak aktif. Janet ingin menangis. Harapannya mungkin tinggal harapan. Bangunan itu telah selesai di luar dugaannya bahkan ia pernah mengajak Andre ke sana dan ia masih kesulitan saja menghubungi Andre. Janet bergidik membayangkan sore ini Raymond akan datang membicarakan acara pernikahannya.

Ditatapnya kertas kecil panjang berwarna putih itu sekali lagi. Tadinya ia berharap mendapatkan dua strip garis namun kertas itu hanya memunculkan satu garis. Janet mendesah, bila saja ia positif hamil pasti Janet akan berani mengambil resiko bercerita secara terbuka pada keluarganya dan Raymond pasti akan membatalkan niatnya. Janet benar-benar mencintai Andre dan itu membuatnya menangis lagi kali ini.

Disekanya air mata yang membasahi wajahnya, ia ingin menghubungi Andre namun selalu gagal. Bahkan hingga kini Janet tak pernah tahu dimana rumah Andre.

Janet bangkit dari duduk dan bercermin. Ia bertekad tegar dan berusaha tersenyum menatap wajahnya. Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam benaknya, sebuah bayangan mengerikan. Andre akan berpisah dengannya. Janet cepat-cepat menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan diri.

Setelah dirasanya agak tenang, ia berbenah diri dan sepuluh menit kemudian Janet sudah melajukan mobilnya ke sebuah mall. Acara belanja mungkin bisa mengendurkan syarafnya.

Janet masuk melihat-lihat gaun malam. Ia ingin sekali bisa menikmati model-model terbaru gaun malam yang berjejer di hadapannya namun tak bisa. Hatinya benar-benar gundah, gaun-gaun indah rancangan Dior itu tak berhasil menarik perhatiannya. Saat Janet sedang membungkuk ingin melihat lebih jelas bagian bawah sehelai gaun hitam dari beludru, pundaknya disentuh sebuah tangan. Janet membalik berdiri tegak kembali.

“ya…,” Janet memandang seorang wanita muda yang berdiri di hadapannya. Wanita itu kelihatan cantik dan sexy. Tas Hermes coklat mudanya tergantung serasi di pundak.

“maaf…anda Janet?” wanita itu mengulurkan tangannya.

“ya…anda?” Janet mencoba menebak-nebak siapa kawan lamanya yang berwajah mirip dengan wanita itu. Sudah dua kali Janet bertemu kawan lama yang tak dikenalinya saat berbelanja di mall.

“saya rasa kita harus bicara…anda belum mengenal saya tapi saya mengenal anda…sangat mengenal anda…nama saya Yammy...”

-- Herald memicingkan matanya sekali lagi. Sinar matahari sore ini benar-benar menyilaukan matanya namun ucapan Michel yang baru saja didengarnyalah penyebab utamanya.

“Nah, Herald kini kau telah mendengar semuanya. Yammy bercerita lengkap padaku dan setelah kupikirkan lebih baik kau mengetahui kebenarannya,” Michel berdiri di sisinya berusaha bersikap tenang.

Herald mengambil nafas sejenak, “maafkan aku Michel, saat itu aku tak tahu dia isterimu.”

Michel menjauh beberapa langkah menghadap Herald, “ aku bisa mengerti Herald. Semua ini akal-akalan Andre. Ia memperoleh puluhan ribu dollar dari programmu.”

Herald hanya diam saja. Sesekali tangannya membenarkan kacamatanya yang merosot.

“kau yakin Marion itu Andre?” Michel kembali bicara.

Herald mengangguk,” pasti dia.”

Keduanya diam canggung dengan situasinya. Herald kembali membenarkan gagang kacamatanya. Herald telah meniduri Yammy dan kini ia mendapat berita yang tak kalah mengagetkan, Andre mencuri programnya dengan bantuan Yammy.

“kau pulanglah Michel, aku ingin sendiri sekarang,” Herald berkata lemah. Sahabat sejatinya sendiri telah mengkhianatinya dan itu benar-benar memukul kepercayaan dirinya. Di luar itu semua Herald merasakan sesuatu yang begitu indah harus terluka oleh tangan-tangan kotor.

“Herald, aku tadi pagi menghubungi Rich Bank. Ada kawan di bank itu. Rupanya hutang Andre sudah lunas. Aku tebak pembayaran dari Pizzo yang digunakannya. Jadi kemana sebenarnya uang hasil curian programmu itu? Ia pasti menghabiskannya dengan bersenang-senang pada setiap wanita yang ditemuinya,” Michel belum berniat pergi.

“jadi apa maumu Michel? Isterimu juga membantunya mencuri dariku.”

Michel menggeleng dan bergumam pelan, ”dia tak tahu apa yang terjadi saat itu. Herald, aku ingin kau membalasnya.”

“aku akan ke rumahnya nanti malam.” Herald berkata pasti.

“dia sudah tidak di sana Herald. Isteri dan anaknya juga sudah tak ada. Sepertinya mereka pergi jauh dan tak kembali lagi. Rumahnya sudah disita Village Bank.”

Keduanya terdiam kembali dan setengah jam kemudian Michel meninggalkan Herald yang masih berdiri termenung di halaman rumahnya.

-- Reynold baru saja selesai mandi dan tubuhnya terasa segar ketika ia melihat tiga sosok tubuh yang tak dikenalnya telah berdiri di ruang tengah.

“Polisi,” seorang dari mereka memperlihatkan lencana.

Reynold baru akan membuka mulut ketika dua orang lainnya menghampiri dan menarik tangannya ke belakang.

“kau jelaskan semuanya di kantor kami.”

“aku belum berpakaian,” Reynold berusaha tenang.

“kawal dia ganti pakaian,” orang berlencana itu memberi perintah pada dua orang lainnya dan dalam beberapa menit Reynold sudah melaju di mobil polisi dengan tangan terborgol.

--

*/39/*

Janet membereskan bawaannya. Beberapa jam yang lalu ia telah mendengar semua cerita dari bibir wanita yang mengaku bernama Yammy. Janet ingin tak percaya pada yang didengarnya namun Janet bisa merasakan wanita itu bercerita yang sebenarnya. Wanita itu tahu pasti akan kebiasaan-kebiasaan Andre dan itu bukti tak terbantahkan bahwa ia benar-benar mengenal Andre. Bahkan sampai kini Janet masih kaget mendengar wanita itu pernah bercinta dengan Andre. Janet bisa merasakan dadanya bagai tersayat. Pria yang begitu dicintainya telah berkhianat. Wanita itu memang luar biasa sexy namun membayangkan Andre tidur dengannya benar-benar membuat lemas kedua lutut Janet.

Janet memandang sekeliling kamarnya. Kamar ini tempat dimana dirinya pernah benar-benar merasakan kehangatan cinta Andre. Bila pria itu berkhianat mungkin Janet akan bisa memaafkannya. Penampilan Yammy bisa menggoda setiap pria normal dan Janet tak akan bisa membenci Andre karena hal seperti itu.

Sebentar lagi Raymond akan datang. Kalau pertemuan sore ini lancar tak perlu waktu seminggu untuk duduk bersanding dengan pria itu sebagai pengantin dan Janet merasakan mual mulai menyerangnya. Ia memeriksa ulang bawaan dalam tas sebelum membuka jendela kamar.

Sudah jelas jendela itu satu-satunya jalan menuju kebebasan. Dirinya tak tahu dimana Andre berada kini namun Janet sudah meneguhkan hati kemanapun akan ia cari tambatan hatinya itu. Untuk kali ini yang mendesak adalah segera lolos dari Raymond dan setelah itu baru bisa menjelaskan semua yang terjadi pada keluarganya. Janet berharap suatu saat nanti keluarganya dapat memahami cinta yang ia miliki. Cinta adalah sebuah rasa dan pelariannya ini adalah yang sewajarnya dilakukan bagi siapa saja yang mengerti arti sebuah rasa.

Janet memandang deretan genting di seberang jendela. Ia memperkirakan sekitar beberapa belas langkah harus berjalan perlahan dan waspada di atas genting rumahnya sebelum tiba di dinding samping. Rumah di sebelahnya sudah beberapa minggu ini ditinggalkan penyewanya dan Janet bisa aman meloncat ke sana.

Setelah memejamkan matanya sejenak, Janet berpegangan pada bingkai jendela. Janet baru saja hendak mengangkat salah satu kakinya melalui jendela ketika pintu kamarnya terbuka.

“Janet…apa yang kau lakukan?”

Janet menghentikan gerakan dan selama beberapa saat hanya diam berpegangan pada bingkai jendela sebelum menoleh ke belakang dan melihat tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Raymond dan Andre berdiri berdampingan di kamarnya.

“Andre….kau….,” Janet melepaskan tasnya. Ia ingin menjerit. Ini bagai mimpi, Andre hadir kembali di hadapannya. Mendadak Janet tersadar atas situasinya. Bagaimana mungkin Andre bisa bersama Raymond? Tangannya tiba-tiba terasa lemas.

Raymond bergegas menghampirinya dan membimbing Janet duduk di ranjang sementara Andre hanya berdiri di tempatnya.

“apa yang kau lakukan? Kau ingin kabur dari rumah?” Raymond bertanya lembut berjongkok di depan lututnya.

Janet tak mengindahkan pertanyaan Raymond, matanya hanya menatap kearah Andre. Pria itu sama sekali tak bergerak sejak tadi. Ada yang aneh pada sikap Andre.

Baru saja Raymond membuka mulutnya ketika Janet sekonyong-konyong memekik kaget dan memandang tajam ke arah Raymond. Tangannya mengayun cepat ke wajah pria di depan lututnya itu. Kakinya menendang dada Raymond.

“Kurang ajar! Kau …kau…kejam Raymond!” dan tangis Janet keluar tak terkendali.

Raymond bangkit dari jongkoknya sambil mengelus-ngelus pipinya yang kesakitan dan berdiri di hadapan Janet, “aku sengaja membuatkannya untukmu. Aku mengeluarkan begitu banyak uang untuk membuat patung kekasihmu itu.”

“Kita menikah malam tahun baru dan kau bisa pandangi patung itu sepuasmu bila kau rindu dengannya. Patung itu benar-benar replika sempurna. Kau sendiri tadi tak menyangkanya bukan?” Raymond tak memperdulikan tangis Janet. Ia membuka tas Janet dan mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas tersebut..

“sejak sekarang kau tak kuijinkan memegang telepon!”

Raymond melangkah ke pintu meninggalkan Janet yang menangis tersedu-sedu memandang patung kekasihnya yang diam tak bergerak.

--

*/epilog/*

Pelayan kios bunga itu mengangguk menunjuk ke deretan bunga berwarna merah, “anda ingin yang mekar atau kuncup?”

“Yang kuncup. Antarkan ke alamat ini setiap hari selama satu bulan.”

Diserahkannya secarik kertas yang bertuliskan alamat sebuah kios.

Pelayan kios bunga itu mengamati kertas di tangannya. “anda ingin mengirim ke alamat ini? Saya sering membeli kue di situ. Pemiliknya orang baru di sini. Mereka mempunyai anak yang manis sekali, namanya Rachel. Nama anda?”

“Tak perlu. Kirim saja paket bunga itu,” dan pria itu melangkah pergi sambil membenarkan gagang kacamatanya yang mulai melorot turun. /Sesuatu yang indah harusnya tetap berada di tempatnya agar tak terluka oleh tangan-tangan kotor./

-- * *

Di sebuah teras bangunan besar di tengah-tengah hutan tropis, Janet duduk seorang diri memandang gemuruh air terjun. Dua jam yang lalu ia menerima paket sebuah CD dari papanya. CD berwarna jingga itu kiriman dari Andre yang ditujukan ke alamat rumah orangtuanya.

Ia telah membaca habis tulisan panjang dengan password tanggal lahir Andre itu dan dirinya merasakan aliran rindu yang amat sangat bercampur kekosongan yang mengiris hatinya.

Janet menggenggam CD itu erat-erat dengan kedua tangannya. Baginya tak ada yang lebih berharga daripada benda di tangannya itu. Perlahan-lahan Janet melangkah bangkit menuju sebuah batu hitam di pojok teras. Ia mengangkat batu itu dan membuka sebuah laci kecil kedap air yang tersembunyi di baliknya. Disimpannya keping berwarna jingga itu dengan hati-hati di dalam laci tersebut. Janet ingin mengubur masa lalunya. Mimpi-mimpi indah itu akan abadi dan Janet perlahan-lahan mulai memahami akan arti sebuah rasa. Samar-samar Janet teringat sebuah lirik lagu …./Biarlah yang indah selamanya tetap menjadi indah/….

-- Dipandangnya Rachel yang sudah semakin besar. Gadis kecil manja itu dalam sekejap mengubah wujudnya menjadi anak perempuan yang tegar dan jauh melebihi usianya.

“Papa, Rachel antar kue-kue ini dulu, mama sudah menunggu di pasar. Banyak pelanggan musim liburan ini katanya,” Rachel berdiri di hadapannya sambil menjinjing tas plastik besar.

“Pergilah Rachel. Hati-hati ya, nanti papa menyusul ke kios. Hari ini papa tak ada jadual mengantar kayu.”

Rachel mendekat mencium pipinya dan melangkah pergi membawa kantung-kantung plastik besar berisi kue.

Andre memandang punggung gadis kecilnya itu berlari-lari lincah meninggalkan rumah. Sejak mereka pindah kota, garis hidup merekapun telah berubah. Rachel membantu Anna berjualan kue di pasar dan Andre bekerja sebagai supir truk sebuah perusahaan kayu di dekat tempat tinggal mereka. Mercy sudah mereka berhentikan dan kini telah mendapat majikan baru.

Andre baru saja bangkit berdiri ketika sebuah pesan sms masuk ke telepon genggamnya yang tergeletak begitu saja di meja. Dari Herald!

Andre, ini aku. Aku sudah bercerai, kini aku menjadi isteri Herald. [Yammy]

Andre memandang layar telepon genggamnya. Pasti banyak yang telah terjadi selama ini hingga Yammy bisa menikah dengan Herald. Andre membalasnya.

Selamat. Semoga kalian berbahagia.

Andre meletakkan kembali telepon itu di meja. Tangannya meraba saku kanan celananya dan dikeluarkannya sebuah flashdisk. Benda mungil berwarna putih itu selalu menyertainya kemanapun ia pergi. Dalam flashdisk tersebut tersimpan copy tulisan yang ia kirim ke Janet. Ia berharap wanita yang dicintainya itu kini telah memiliki CD berwarna jingga yang ia kirim itu. Saat ini mustahil baginya membeli tiket pesawat untuk terbang mengunjungi Janet. Janet bagai hilang di angkasa, bahkan email dan teleponnyapun sama sekali tak bisa dihubungi. Wanita itu pasti telah hidup bahagia kini.

Andre berusaha mengubur masa lalunya dan keping CD itu batu nisannya. Begitu Janet membacanya berarti lunas sudah hutang-hutang Andre. Dimasukannya kembali flashdisk itu ke sakunya. Biarlah mimpi-mimpinya untuk dapat hidup bersama wanita yang dicintainya terpendam jauh di lubuk hati terdalamnya.

/ Bagaimanapun kuburan mimpi-mimpi lebih baik dari pada sel penjara yang telah disiapkan bank-bank itu…dan Andre melangkah pergi menyusul Rachel…langkahnya mengikuti garis nasib…menjalani hidupnya saat ini…bersama Anna dan Rachel…/

= = =

Pertengahan tahun itu, sehari setelah pernikahannya Herald berbulan madu dengan Yammy di Savanna Hotel. Yammy sedang memandang tubuh Herald yang tertidur pulas di sisinya ketika telepon genggam milik Herald berbunyi. Sebuah pesan sms masuk. Yammy mengenal nomor pengirimnya. Dari Andre!

Bila kau mempunyai proyek gambar yang lain beritahu aku melalui handphone suamiku. Pembayarannya milik kau sebagai ganti sepuluh ribu dollarmu. [Anna]

= = =

0 Response to "Mimpi Mimpi Terpendam II"

Post a Comment

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified