Download applikasi baca novel online untuk android disini: DOWNLOAD

Mimpi Mimpi Terpendam I

Mimpi Mimpi Terpendam

Mira W

*Prolog*

* *

Bangunan itu bergaya Spanyol dengan pagar beton penuh ditumbuhi lumut. Ada beberapa yang bahkan melekat pada pojok-pojok dinding bangunan. Tiang-tiang dindingnya terlihat kokoh di daerah berhawa sejuk yang terpencil ini. Dua tahun yang lalu wilayah itu hanyalah sekumpulan belantara dengan pohon-pohon besar dan liar hingga sinar mataharipun tak akan sampai ke tanah.

Kini daerah itu menjadi tempat bersembunyi orang-orang terkaya di muka bumi. Wilayah terpencil dengan helipad pada tiap bangunan dan tiga ratus are hutan pinus yang memisahkannya dengan kota terdekat.

Tiap-tiap bangunan berdiri kokoh tanpa suara sama sekali. Komplek elite itu lebih menyerupai bangunan-bangunan besar di tengah-tengah hutan. Antar bangunan dipisahkan jarak tiga hingga lima kilometer bila tidak oleh sebuah danau atau sungai lengkap dengan air terjun alamnya. Privacy adalah segalanya di tempat itu. Tempat di mana orang-orang paling berkuasa di muka bumi tidak akan terjangkau oleh pers. Tempat idaman dimana individu-individu pemiliknya bisa mengumbar keinginan yang paling liar sekalipun tanpa rasa kuatir.

Saat Crozzen Building Co. memperkenalkan area itu bagi kaum terkaya di dunia hanya satu kalimat di brosurnya. /Privacy is everything./

Kalimat sederhana itu tidak main-main. Saat penawaran perdana di hadapan puluhan calon pembelinya, Crozzen Building Co. memamerkan perangkat pengacak radar dan pengacak foto satelit di area tersebut. Tidak ada radar, tidak ada satelit, tidak ada satupun yang bisa menembus kekebalan perlindungan perangkat canggih tersebut.

Janet mendaratkan helikopternya di samping bangunan tersebut. Suara baling-baling helikopter tertelan oleh gemuruh air terjun di belakang bangunan.

Andre melepas sabuk pengamannya dan berpegangan pada dashboard mengintip keluar. Janet memperhatikannya sejenak sebelum turun. Sejak awal perkenalan mereka, Andre tidak pernah mengendarai helikopter dan Janet selalu dengan senang hati membawanya berkeliling ke mana saja dengan helikopter pribadinya. Pernah satu kali Janet menawarkan Andre untuk mengendarainya namun Andre menolaknya. “Ini helikoptermu. Kau saja yang mengendarainya,” jawab Andre dengan dingin dan Janet mendapati Andre diam membisu sepanjang perjalanan. Sejak saat itu, Janet bagai pilot pribadi Andre.

Andre turun dari helikopter dan baru satu kaki dijejakkan pada pelataran ketika angin terasa menembus jaketnya. Kedua tangannya disilangkan menahan dingin. Ia melanjutkan langkahnya. Jaketnya sudah basah tersiram cipratan air terjun yang jatuh dari ketinggian 30 meter. Dipandangnya air terjun yang mengeluarkan suara gemuruh itu. Deburan airnya begitu dasyat. Kabut putih serpihan air memenuhi udara sekitar. Andre mengagumi air terjun tersebut seperti gadis kecil mengagumi boneka barunya.

Selintas ia memandang bangunan megah di hadapannya. Pada salah satu tiang bangunan tertera tulisan JJC inisial kesukaan Janet. Andre mengalihkan pandangannya kembali mengikuti Janet yang mendahuluinya. Dilihatnya wanita itu menghampiri sepasang bangku kayu santai dengan kulkas mini di sisinya di sudut pelataran. Janet membuka pintu lemari pendingin itu dan mengambil sebotol sampanye.

Andre mengikutinya duduk. Ia menuangkan sampanye dalam gelas kecil di tangannya dan mencicipinya.

/Sampanye yang sangat nikmat dan pasti mahal./

Suasana benar-benar nyaman. Angin dingin kembali menyapu kulit wajahnya. Suara gemuruh air terjun menderu terus menerus dan sesekali terdengar suara cicitan burung-burung liar jauh di atas pepohonan. Beberapa hinggap di baling-baling helikopter. Mata Andre sedang menatap kendaraan canggih berwarna putih itu ketika mendadak bayangan Rachel berpegangan tangan dengan Anna di stasiun kereta beberapa hari lalu melintas di pelupuk matanya.

/Ini semua seperti di sorga. Aku benar, Anna lebih membutuhkan aku /

Beberapa jam yang lalu ia telah berniat mengajak Janet ke rumah kontrakannya yang baru namun Janet menelponnya sejam kemudian. ’Bagaimana kalau aku yang mengajakmu ke suatu tempat yang benar-benar indah. Kita belum pernah ke sana bersama-sama.’ dan sekarang ia mendapati dirinya sudah duduk berdampingan di tengah-tengah hutan tropis ini.

Janet bangkit dari duduk dan menindih tubuh Andre. “Apakah bercinta di alam terbuka membutuhkan waktu lama sayang?” matanya menatap Andre menggoda. Andre beringsut menahan diri. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Janet lagi. Namun gesekan puting Janet di jaketnya bukan tawaran yang mudah ditolak. Bibirnya sudah mendarat di kulit putih bersih tersebut dan setengah jam kemudian ia mendapati dirinya telah terkulai lemah penuh kepuasan dalam pelukan hangat Janet.

/Istilah/

*Asl pls* = istilah dalam chatting yang merupakan singkatan dari *A*ge *S*ex *L*ocation *Pl*ea*s*e. Digunakan untuk bertanya tentang identitas lawan bicara yang meliputi usia, jenis kelamin dan alamat. Biasa dijawab misal : 18/f/UK --] usia *18* tahun dengan jenis kelamin *f*emale (wanita) bertempat tinggal di *U*nited *K*ingdom.

*J** *= * :) *= symbol dalam chatting atau sms yang menggambarkan si penulis sedang tersenyum atau gembira.

*L* = *:(* = symbol dalam chatting atau sms yang menggambarkan si penulis sedang bersedih atau ngambek.

*Netters *= lawan bicara dalam chatting atau pengguna internet lainnya.

*Browsing* = menjelajah ke berbagai situs dalam internet.

*Chatting* = layanan internet untuk mengobrol dalam bentuk teks tulisan dan suara serta video.

*GPS* = Global Positioning Sistem, sarana untuk mengetahui lokasi sebuah obyek di muka bumi dalam bentuk derajat lintang dan bujur.

*SMS* = Short Message Service, layanan pengiriman teks melalui telepon.

*GSM* = Global Service Mobile, jaringan layanan seluler untuk telepon genggam.

*Router* , *switch* , *hub* = alat-alat yang dibutuhkan dalam jaringan computer.

*Getaway* = titik penghubung dalam internet.

*Snifer* = program pengendus yang digunakan para hacker.

*Hacker* = orang yang mencoba menyusup masuk ke system computer lain.

*Source-code* = kode-kode khusus yang dikenal sebagai baris-baris program.

*Nick * = nama samaran dalam internet.

*Log Out* = keluar dari suatu room chatt / situs di internet

* *

*Signed Out* = idem dengan log out

*Shut down* = proses mematikan komputer

*Disconnect* = *dc* = putusnya hubungan computer dengan internet

*Tx* = thanks

*/Buku I/*

*/1/*

[wisdom] Hai, asl pls.

/[janet]27/f n u?/

[wisdom] 30/m. name?

/[janet]janet/

[wisdom] wisdom. Pa kabar?

/[janet]fine tx/

Jarinya behenti menekan tuts. Ditatapnya layar komputer di hadapannya. Sepanjang hari Minggu ini ia melakukan pekerjaan membosankan mengirim berpuluh-puluh email ke perusahaan-perusahaan Setelahnya ia masuk ke ruang chat dan mendapati semua teman chat sama membosankannya. Andre melirik jam tangannya. Jam lima sore lebih sepuluh menit..

/[janet]kerja?/

Deretan huruf itu muncul lagi di layar komputernya.

[wisdom] Yup. U?

/[janet]Idem/

Nah, lalu apa lagi. Ini mungkin akan berakhir seperti yang lainnya. Say hello dan langsung log out. Andre menekan kembali tuts-tuts di hadapannya.

[wisdom] Kerja dimana?

/[janet]Textile. U?/

[wisdom] Software.

/[janet]Wauuw, wisdom programmer ya/

Wisdom. Nama nick yang ditulis asal saja oleh Andre. Andre tersenyum, bahkan ia sendiri lupa.

[wisdom] Yup. Begitulah. u suka programmer?

….

Hening. Tak ada jawaban. Andre menunggu. Menatap huruf-huruf berwarna jingga di hadapannya itu. Pengalaman menunjukkan kalau kau ingin mendapat teman chat, jangan terlalu bernafsu.

/Santai saja/. /Netters di suatu tempat entah di belahan bumi mana saat ini pasti ada yang sedang bernasib sama/.

Chatting baginya adalah pelarian meraih mimpi-mimpi indah yang bahkan dalam tidurpun tak pernah ia peroleh akhir-akhir ini. Dihisapnya dalam-dalam rokok di jarinya. Asap meliuk-liuk di sela-sela jari. Ia memperhatikan asap itu membumbung ke atas layar komputer dan berangsur-angsur menghilang lenyap dari pandangan.

Dipandangnya sekeliling ruangan café internet itu. Sunyi tanpa suara sama sekali. Ia kembali menatap layar komputer di depannya. Belum ada jawaban. Sudah sepuluh menit berlalu. Andre memutuskan untuk memulai. Jari-jarinya mulai menekan tuts keyboard dengan cepat.

[wisdom] Hai...any body home?

[janet] janet is signed out

/Sial./ Andre menatap layar komputer . Rokok di tangannya sudah hampir habis. Ia tekan dalam-dalam ke asbak di sisi monitor dan bangkit berdiri. Sudah saatnya kembali ke dunia nyata. Anna pasti sudah menunggu di rumah.

---------------- Wanita itu sudah menunggu di teras atas. Kulitnya putih. Tubuhnya berisi dengan pantat yang padat. Wajahnya cantik, paling tidak itu yang sering didengarnya dari mulut orang. Komentar lainnya ‘istri yang perfect’. Namanya Anna, seorang ibu rumah tangga dengan pendidikan arsitektur. Andre mengenalnya saat di bangku kuliah. Mereka satu universitas namun berlainan jurusan. Sementara Andre bergelut dengan chip-chip elektronik, Anna dikelilingi oleh kertas-kertas gambar bergulung.

Kunjungan pertama Andre ke tempat Anna hanya dengan duduk mengobrol dan Andre mengisinya dengan kata-kata ’matematika sudah membahas integral?’

‘Sudah. Materi yang sulit ya’, jawab Anna. Belakangan ia mengetahui transkrip nilai Anna dihiasi satu huruf saja untuk matematika. Nilai A.

Setelah suasana canggung sesaat, Anna balik bertanya ’ gedung baru dekat cafetaria kampus itu untuk apa?’ dan Andre menjawab ’laboratorium digital’. Semua orang tahu di depan lahan proyek bangunan tersebut terpampang papan besar bertuliskan DI SINI AKAN DIBANGUN LABORATORIUM DIGITAL.

Pertemuan kedua diisi dengan ‘bagaimana kalau kita lihat-lihat buku di toko?’ dan dijawab ’baik,tunggu sebentar ya’. Lima menit kemudian Andre mendapati wajah Anna sudah berbalut bedak dan lips stik dengan jeans yang menunjukkan betapa subur tubuh di baliknya. Namun beberapa tahun setelah itu Andre mengalami pemandangan yang sama setiap harinya, wanita dengan baju terusan yang sederhana dan rambut yang kusut.

Pertemuan ketiga membuat jantung Anna bagi lepas dari tubuh saat Andre berkata ‘Maukah kau menjadi istriku,Anna?’

Anna hanya mengangguk tanpa penolakan dan dua jam kemudian saat Anna masih bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang baru saja didengarnya, Andre mendapat ucapan selamat dan pesta makan di sebuah restaurant dari para sahabatnya karena memenangkan taruhan mendapatkan gadisnya dalam waktu kurang dari satu minggu sejak berkenalan.

Anna memperhatikan Andre yang duduk berselonjor di bangku teras. Matahari hampir terbenam. “sore sekali pulangnya”.

“ya. Aksesnya lambat. ” kata Andre sambil membolak-balik majalah di tangannya. ” beberapa kali disconnect”.

“Rachel di mana?” Sejak masuk rumah tadi Andre tidak mendengar suara anaknya.

“Jalan-jalan ke danau dengan Mercy. Tadi rewel sepanjang hari.”

Mercy baby sister mereka memang dapat diandalkan. Mercy selalu tahu kapan Rachel rewel dan tahu bagaimana membuatnya diam.

Andre memandang ke danau depan rumahnya. Danau itu memberi pemandangan indah bagi rumahnya. Andre senang duduk seorang diri di teras atas sambil menikmati rokok dengan secangkir kopi panas. Di tepi danau Mercy dan Rachel tampak sedang bermain kejar-kejaran. Kalau memang itu bisa dikatakan permainan kejar-kejaran. Rachel berlari-lari dan Mercy mengejar di belakangnya. Samar-samar terdengar cekikikan tawa Rachel. Sesaat kemudian Mercy yang berlari dan Rachel hanya mengangkat tinggi-tinggi tangannya sambil berteriak keras-keras. Rachel tidak pernah mau mengejar.Ia hanya mau dikejar. Permainan kejar-kejaran memang kesukaannya. Faforit bagi Rachel , malapetaka bagi Mercy.

/Rachel memang makhluk kecil yang licik, /pikir Andre sambil tersenyum..

“Kau tahu tadi ada orang bank kemari. Seperti biasa, mereka juga membawa setumpuk dokumen. Tagihan dengan penuh angka,” kata Anna menatapnya dalam-dalam.

/Aku tahu kau sedang dalam kesulitan, tapi aku mengalami hal tidak menyenangkan saat mereka datang kemari dan kau tidak ada./.

”Surat dari pengacara mereka juga ada. Aku letakkan di meja rias.Mereka beri waktu satu minggu. Bila tidak kau penuhi, mereka akan lakukan proses hukum.”

Andre menoleh menatap Anna. Wajah itu tampak pucat. Menjadi istri seorang Andre memang berat. Setelah usaha Andre bangkrut, beratus-ratus surat lamaran kerja telah Andre kirim ke berbagai perusahaan. Namun tak ada hasil sama sekali. Padahal bunga tagihan bagai berlari. Kini ia mempunyai tagihan yang terus membengkak dengan liar.

”Hanya itu yang mereka katakan?” tanya Andre datar.

”Mereka orang-orang nekat. Perawakannya bukan seperti orang baik-baik. Kau tahu itu Andre.” Anna tidak mengindahkan pertanyaan Andre. Pikirannya sendiri sudah kalut. Ia sudah merasakan tatapan kejam dan kurang ajar dari tamunya tadi siang. Mereka jelas-jelas meletakkan kertas tagihan dan dokumen bank yang setumpuk itu di atas pahanya. Dan ia merasakan elusan...

Andre hanya menatapnya diam dan berkata sambil mendesah ”Tadi aku sudah mencoba mengirim beberapa lamaran melalui email. Ada beberapa yang membalas emailku terdahulu. Namun mereka menawarkan penghasilan yang terlalu kecil.” /Bahkan untuk membayar bunga tagihan saja, gaji yang ditawarkan tidak cukup./ Andre kembali mendesah. Kali ini lebih berat.

Anna mengalihkan pandangan. Jauh di bawah sana Rachel dan Mercy tampak masih berlarian. Rachel anak yang periang walau agak keras wataknya. Suara tawanya yang nakal terdengar nyaring terbawa angin. Baju merah dan celana putihnya berkibar. /Kau jangan seperti kami Rachel. Jangan tersentuh oleh hutang/.

Andre meletakkan majalah di pangkuannya dan berlalu masuk kamar. Kejadian tadi siang kembali terbayang di pelupuk mata Anna.

’ Ini tagihan dan perhitungan angka-angka serta dokumen bank lainnya,’ si tamu yang berkulit hitam dengan aksen timur itu bangkit berdiri dan meletakkan tumpukan kertas itu di atas pahanya tanpa menarik tangannya kembali. Sesaat Anna menunduk menatap tumpukan tagihan tersebut. Sesaat saja. Dalam waktu yang sesaat itu ia merasakan pahanya dielus oleh sebuah jari di balik tumpukan kertas itu. Matanya menatap angka-angka dalam kertas dengan tulisan bercetak tebal di kiri atas berbunyi TAGIHAN. Namun otaknya tidak bisa berkonsentrasi. Kulitnya merasakan lain. Sebuah rabaan dengan tekanan.

’Kalau nanti suami anda sudah pulang katakan bank mulai habis kesabaran.’ Jari itu masih menempel di pahanya. Bahan katun yang membungkus kulitnya terasa seperti lenyap. Jari itu terasa begitu kasar.

’Baik. Saya sampaikan nanti. Terima kasih.’ Anna berkata sambil menatap tumpukan kertas di pahanya. Duduknya tegang tak bergerak. Sekilas terlihat tangan hitam berminyak penuh bulu yang masih belum bergeser dari tempatnya. /Kurang ajar!/

Adegan horror itu berakhir semenit kemudian. Mereka meninggalkan rumah dengan Anna yang masih duduk terpaku diam di tempatnya menatap kertas penuh angka. /Jari yang kasar./

Anna bergidik membayangkannya dan tersadar saat Andre kembali dengan membawa tumpukan kertas-kertas itu.

“ini dokumen mereka?” Andre melintas di depannya sambil membawa setumpuk kertas di tangan.

“Iya. Semua ada di situ. Aku telah membacanya,” Anna meluruskan kakinya.

Mulanya Anna tak pernah tahu Andre mempunyai hutang sedemikian besar. Mereka sedang bersantai di sebuah café di pusat perkantoran. Café adalah simbol kehidupan metropolis yang hanya diketahui Anna dari televisi dan kini setelah menjadi isteri Andre café hanyalah sebuah tempat biasa baginya.

‘Anna, beberapa bulan yang lalu ada peluang bagus. Perusahaan melakukan ekspansi. Banyak modal dibutuhkan untuk itu semua. Awalnya berjalan sesuai rencana. Namun tiba-tiba semua tak terkendali. Mangemen telah melakukan kesalahan dan kini diambang kebangkrutan. Seluruh karyawan besok pagi akan menerima uang pesangon sekedarnya. Perusahaan sudah tidak sanggup menggaji mereka. Kini kewajiban kita adalah hutang yang harus dilunasi terhadap bank.’ Andre mengatakannya dengan ringan sambil menyesap kopi panasnya saat itu dan Anna hanya diam mendengarkan.

Ia begitu heran dengan Andre yang tetap tenang membicarakan dirinya terlibat hutang. Kekaguman Anna terhadap Andre adalah sikap tenangnya yang luar biasa.

‘namun kita masih bisa berharap ada satu proyek lagi yang bisa menutup semua hutang itu. Hebatnya proyek itu hanya membutuhkan beberapa orang saja. Pekerjaan-pekerjaan yang terlalu teknis kita sub-kan,’ lanjut Andre saat itu.

Andre mengatakan itu semua dengan penuh senyum dan rasa percaya diri. Malam itu berjalan wajar dan menyenangkan. Mereka menikmati suasana romantis cafe dan pulang hampir tengah malam sebelum akhirnya mereka bercinta dengan penuh gairah.

Itu dulu. Kini Anna menyelam dalam kebingungan dan kegelisahan bersama Andre karena satu-satunya proyek harapan itu gagal juga. Dan bank tetap bersenang hati mengirimkan surat-surat tagihan secara rutin.

Dilihatnya Andre sudah duduk di sebelahnya. Wajahnya sesaat berkerut serius.

Andre membuka lembar demi lembar tagihan itu. Dibacanya dengan hati-hati. Lembar pertama berisi surat dengan jumlah total tagihan. Lembar kedua berisi surat peringatan lengkap dengan pasal-pasal hukum. Lembar ketiga penuh angka dan kolom yang cukup rumit. Lembar keempat dan seterusnya angka-angka itu semakin rumit dan lebih mengerikan. Lembar terakhir somasi pengacara bank yang membuatnya menjadi gila! /Ini sudah di luar batas. Aku tak akan sanggup membayarnya. /

Anna hanya menatap Andre. Wajah pria disampingnya itu benar-benar tenang. /Apa kau akan tetap tenang Andre, bila tahu apa yang mereka lakukan padaku tadi./ Ia bergidik kembali , bulu kuduknya meremang saat teringat betapa kasar jari itu.

”Anna, bagaimana kalau untuk sementara waktu kau dan Rachel tinggal di rumah orang tuamu,” Andre berkata sambil tetap menatap kertas-kertas bank tersebut. ”Aku akan membereskan ini semua dan kau bisa kembali kemari bila semua masalah ini telah berakhir.”

”Tidak Andre. Itu tak akan menyelesaikan masalah.”

” Tapi kau tak akan terganggu.”

”Aku memang terganggu dengan keadaan kita ini, tapi aku tak mau tinggal di rumah orangtuaku.”

” Apa kau akan tahan dengan semua ini Anna?” ditatapnya wajah istrinya itu.

”Sudah kukatakan aku tak mau tinggal di rumah orangtuaku,” Anna berkeras dengan keputusannya.

Andre terdiam sambil menghindari tatapan istrinya.

”Aku ingin tetap bersamamu Andre. Kita akan hadapi ini semua bersama-sama,” Anna menggenggam tangan Andre. /Aku mencintaimu sejak saat kau memintaku menjadi istrimu./

Andre kembali memperhatikan tumpukan kertas di tangannya, ”Baiklah, tapi kau harus bersabar. Ini semua akan berlangsung tidak menyenangkan. Aku akan berusaha menyelesaikan semuanya secepat mungkin,” Andre berkata dengan perasaan tidak yakin.

/Ini semua akan semakin berat bagimu Anna./

*/2/*

Mungkin memang cuacanya yang kurang bersahabat. Sejak ia bangun tidur, matahari tak tampak. Angin berhembus kencang. Mendung kelabu di langit namun tak turun hujan. Saat ia mencoba bangkit dengan mempelajari ulang kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan managemen di bawah pimpinannya, datang beberapa amplop coklat. Isinya tagihan tunggakan pajak. Ada beberapa kekeliruan dalam laporan pajak. Masalah seperti ini biasanya cukup diselesaikan dengan beberapa tombol dari telepon kantornya dan Michel, akuntingnya akan tergesa-gesa memasuki ruangannya untuk menyelesaikan semua kerumitan pajak itu.

Tapi itu dulu. Kini ia seorang diri. Herald belum datang walau hampir tengah hari. Mereka berdua memiliki lebih dari lima puluh persen saham perusahaan. Herald seorang programmer andal namun nol besar masalah pajak dan angka-angka. Ia hanya tahu bermpimpi besar tentang mega proyek dan mencoba mewujudkan semua mimpi-mimpinya itu dengan mengetik barbaris-baris source code dalam software ciptaan mereka.

Saat ada kekeliruan pajak, ia hanya berkata ‘serahkan saja pada Michel. Ia kita gaji untuk itu’. Hingga kinipun Herald tak akan pernah bisa memahami pentingnya pajak. Bahkan bila Andre tidak berusaha mempelajari laporan keuangan perusahaannya, ia tak akan pernah tahu bahwa Michel pernah mencoba memanipulasi cashflow perusahaan untuk mendapatkan pajak masukan dari Kantor Pajak. Jumlahnya tak main-main. Cukup untuk sebuah villa mungil di perbukitan dengan pemandangan kebun teh di sekitarnya.

Pernah suatu hari Herald berkata dengan bangga ‘kurangi laba perusahaan maka kau akan mendapatkan penghematan pajak.’ Itu terjadi saat ia dipaksa Andre untuk mengikuti seminar perpajakan selama tiga hari. Herald menolaknya tetapi Andre memaksanya untuk ikut. Herald datang hari pertama dan mendengarkan kata –kata kebanggaanya itu dari pembicara seminar. Hari kedua dan ketiga ia sudah terpekur di kamar kerjanya menekuni baris-baris programnya kembali. Tanpa pernah tahu apa yang harus dilakukan agar kalimat kebanggaannya itu bisa direalisasikan dalam perusahaan mereka.

Andre yang berusaha melakukan pengalihan-pengalihan investasi , membolak-balik kolom neraca dan laba rugi sebelum akhirnya ia bisa tersenyum puas pada akhir tahun saat mereka berhasil melakukan penghematan pajak.

Saat Andre sedang mengamati laporan pajak, pintu ruang kerjanya terbuka. Herald muncul dengan tas hitamnya.

”Siang, Andre.Apa yang sedang kau baca itu ?” katanya sambil melangkah menuju meja kerjanya.

”Tagihan pajak”

Herald tersenyum sambil membuka tas laptopnya, ”kantor pajak dan bank sama-sama mempunyai kebiasaan menyakiti kita rupanya.”

”Ini akan menjadi masalah Herald” Andre berkata agak ketus, kesal dengan sikap Herald yang tidak pernah ambil pusing. Dilihatnya Herald sedang membungkuk mencari-cari kabel power di kolong meja. Andre kembali menatap kertas-kertas di mejanya berusaha mencocokkan tagihan pajak dengan laporan keuangan mereka. Sejak seluruh karyawan dikeluarkan termasuk Michel, Andre bukan saja pemilik perusahaan dan dewan direksi namun juga merangkap menjadi akunting.

”Harusnya Michel tidak kau keluarkan Andre. Kita masih membutuhkannya.” tiba-tiba Herald sudah tegak kembali.

“ Itu keputusan kita bersama Herald. Bukan aku yang memutuskan.”

“Ya, tapi kau yang mengusulkan. Aku sama sekali tak tahu masalah angka-angka. Aku percaya padamu. Aku pikir kau cukup andal untuk menangani itu semua tanpa Michel,” Herald mencondongkan tubuhnya menghadap Andre,” Namun ternyata kau kesulitan juga ya tanpanya.”

Andre diam tak menjawab. Percuma membahas pajak bersama Herald. Herald mengantungi ijazah akunting namun lebih memilih software dalam hidupnya. Andre seringkali heran bagaimana mungkin Herald bisa memperoleh ijazah dalam bidang akutansi sedangkan ia sama sekali tak tahu rumitnya angka-angka keuangan. Ia hanya tertarik pada baris terakhir laporan laba rugi. Bila pada baris tersebut tertera angka besar, ia akan tersenyum puas dan bila tertera tanda kurung ia akan langsung bertanya ’apa yang membuat kita rugi Andre. Tolong jelaskan padaku.’

Beberapa kali laporan triwulan mereka dihiasai kerugian yang dapat menipu pajak. Kerugian karena investasi yang dilakukan perusahaan.Itu semua ulah Andre. Andre tahu laba perusahaan yang dialihkan untuk investasi produktif akan menghemat pajak namun Herald tidak. Laba rugi perusahaan selalu minus namun aset mereka akan terus membengkak tumbuh.

”Bagaimana database Sephor Co?’ Andre bertanya tanpa mengindahkan ucapan Herald tadi.

“ Cukup baik. Ada beberapa yang harus kubereskan. Detail kecilnya cukup memusingkan. Tapi aku berjanji software kita kali ini benar-benar aman dan tanpa bugs.” Herald berkata dengan penuh percaya diri.

Baguslah pikir Andre. Sephor Co perusahaan besar yang bonafid. Bisnis retailnya terus merambah kota-kota di seluruh negeri dari barat hingga timur. Pembayaran mereka selalu tepat.

Kita membutuhkan uang segar untuk sekedar bertahan hidup. Pajak harus mengalah dulu. Pembayaran dari Sephor Co bisa dialihkan sebagian untuk membayar cicilan bank.

Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah menekuni pekerjaannya masing-masing. Mereka saling duduk berhadapan. Meja Andre di sebelah utara dan Herald di sisi selatan ruangan besar itu. Andre berkutat dengan angka-angka dan kertas-kertas. Herald berkutat dengan baris-baris program. Kacamatanya sesekali dinaik turunkan tanda sel-sel otak di kepala Herald sedang bekerja keras.

Setelah cukup puas memilah rekening-rekening mana saja yang bisa diutak-atik untuk pembenahan laporan keuangan, Andre menyandarkan punggungnya. Ditatapnya ruang kerja di sekelilingnya. Lemari besar di belakang Herald masih tetap di sana. Lemari besar itu berisi seluruh dokumen kontrak pekerjaan yang pernah mereka dapat. Lemari itu bukti perusahaan mereka pernah mengalami masa-masa jaya.

Dua buah bingkai foto Anna dan Rachel di meja Andre juga masih ada. Pena emas yang setia menanda tangani seluruh kontrak kerjanya juga masih ada di tempatnya seperti biasa. Karpet tebal ruang kantornya masih lembut bagi kakinya yang telanjang. Andre selalu mempunyai kebiasaan melepas sepatu saat bekerja. Kaca ruang kantornya masih berembun karena AC juga masih seperti sedia kala. Semuanya tetap seperti biasa. Seperti dulu. Tak ada yang berubah. Aku tak ingin kehilangan ini semua. Aku mencintai ruangan ini. Aku mencintai kehidupanku. Aku mencintai pekerjaanku, pikir Andre dalam benaknya.

--- Sore itu Andre berjalan di sisi trotoar keluar kantornya. Ia menuju stasiun terdekat. Kereta listrik menjadi bagian hidupnya saat ini. Setelah ia dan Herald memutuskan untuk menjual seluruh aset perusahaan dan memberhentikan karyawan mereka, Andre tak ubahnya pegawai kantor biasa. Setiap pagi dan sore ia berjalan tergesa-gesa mengejar jadual kereta listrik yang selalu penuh sesak dan panas meskipun kereta itu dilengkapi pendingin udara. Kadang sepatunya terinjak-injak oleh penumpang yang berjubel. Kadang telinganya harus bersabar menahan pekik tangis anak kecil atau celotehan para karyawan wanita lengkap dengan tawa-tawanya sepanjang perjalanan. Beberapa kali matanya menjadi saksi pelecehan seksual. Pernah ada seorang wanita berdiri diam tanpa bisa bergerak karena pantatnya ditempel ketat oleh paha seorang laki-laki di tengah-tengah himpitan penumpang lainnya. Di lain hari pernah seorang lelaki berdiri bagai patung dengan posisi yang aneh. Awalnya Andre mengira karena penumpang yang berjubel, namun beberapa saat kemudian Andre mengetahui alasannya. Tangan penumpang pria itu bersender tenang di blazer penumpang sebelahnya. Tepat di bagian payudara. Kehidupan yang tidak beradab begitu awalnya ia berpikir. Namun beberapa bulan kemudian ia sudah terbiasa dengan itu semua.

Aku pun menjadi bagian kehidupan yang tak beradab, pikir Andre pada suatu perjalanan menuju kantornya. Pagi itu ia sudah berlari-lari hampir tertinggal kereta listrik. Sesaat sebelum pintu kereta menutup ia berhasil meloncat masuk. Kereta mulai berjalan perlahan dan karena hampir terjatuh ia menyambar lengan penumpang lainnya. Saat pintu kereta itu sudah tertutup dan deru kereta serta pendingin udara terdengar ia mendapati lengan yang disambarnya ternyata milik seorang wanita. Usianya sekitar tiga puluh tahun dengan wajah menarik dan rambut tergerai sebahu. Aroma cologne tercium dari lehernya yang jenjang. Katun tipis seragam kerjanya menempel erat dengan kemejanya. Andre bahkan bisa merasakan hangat kulitnya. Perjalanan menjengkelkan itu berbalik menjadi perjalanan yang menyenangkan.

“Diiinn..diiiiinnn….!”

Tiba-tiba sebuah suara klakson mobil yang melintas mengagetkannya. Lamunannya buyar. Setelah beberapa menit berjalan melintasi taman kota, dilihatnya gedung stasiun sudah tampak di depan dan Andre bergegas masuk. Dibelinya tiket dan ia bergegas naik ke lantai tiga mengikuti tangga berjalan. Keretanya kadang tiba mendahului jadwal dan ia tak mau tertinggal.

Kereta listrik hilir mudik melintas dari berbagai jurusan. Ia masih mempunyai beberapa menit lagi. Keretanya belum tampak dalam layar tunggu di papan elektronik yang tergantung di langit-langit stasiun.

Andre duduk di bangku tunggu. Kepalanya mulai berpikir. Harusnya ada beberapa yang bisa diutak-atik untuk menutupi tagihan pajak. Hingga kini Andre tak habis mengerti bagaimana perhitungan pajak tidak sama dengan perhitungan akuntansi. Ia mendesah pelan sibuk berpikir. Dikeluarkannya sebatang rokok dan dibakarnya. Ditengah hiruk pikuk kehidupan metropolis ini, duduk seorang diri sambil menikmati sebatang rokok dan mengamati kesibukan di sekitarnya menjadi kebiasaan Andre yang baru.

Sambil duduk Andre mengingat-ngingat lagi beberapa laporan keuangan yang disiapkan Michel beberapa saat sebelum akuntingnya itu dikeluarkan.

Ia teringat Michel pernah mencoba memanipulasi cashflow perusahaan untuk mendapatkan keuntungan pajak dan memasukkan ke dalam sakunya sendiri tanpa sepengetahuan Andre dan Herald. Andre memeriksa ulang semuanya saat itu dan setelah yakin ia memanggil Michel.

Dalam ruangan kerja Andre yang dingin saat itu, peluh Michel membasahi dahinya. Ia tertangkap basah melakukan kecurangan di saat yang tidak tepat. Bawahannya itu telah membayar uang muka sebuah villa mungil. Villa itu terletak di perkebunan teh dengan lapangan golf dan klinik spesialis di dalam komplek.

Michel akuntingnya yang handal dan efesien. Pagi itu Michel telah memegang uang yang akan dibayarkannya untuk pelunasan villa idamannya tersebut. Lebih tepatnya villa idaman istrinya. Namun Andre bukan saja seorang system analis yang akrab dengan dunia software dan chip-chip elektronik namun juga jeli melihat angka-angka. Parahnya ia sangat tertarik dalam dunia akunting dan ini yang merepotkan Michel untuk melakukan kecurangan-kecurangan seperti yang kerap ia lakukan di perusahaan tempatnya bekerja sebelum bergabung di perusahaan Andre.

‘maaf Andre, aku telah berkianat padamu. Uangnya ada padaku belum aku bayarkan ke developer.’ Michel berkata tersendat-sendat.

’Apa kau pernah melakukan hal ini sebelumnya Michel?’ tanya Andre tegas.

’Tidak. Tentu saja tidak Andre.Istriku menginginkan tempat peristirahatan dan ia memilih villa itu. Kami mempunyai tabungan. Semua sudah aku bayarkan. Namun masih kurang. Ada celah dalam laporan pajak. Aku memanfaatkannya. Aku hanya ingin menyenangkan istriku.’

’ Kau pernah membayangkan rasanya di dalam penjara Michel?’ Andre bertanya dingin.

Andre ingat peluh Michel makin berkucuran saat itu.

‘ Aku bisa mengirim ini semua ke polisi dan Herald pasti hanya mengangguk setuju saja’

’ Maafkan aku Andre. Akan aku kembalikan uang itu.’

’Tidak semudah itu Michel. Kau telah melakukan kesalahan. Aku tak ingin kau lari dari permasalahan ini.’

’Aku mohon Andre. Aku lakukan apa yang kau inginkan tapi jangan perpanjang masalah ini.’ Andre ingat sekali Michel terduduk lemas menatap dirinya.

’Lalu bagaimana dengan istrimu. Apakah ia tak akan menanyakan mengapa villa itu tidak jadi kalian miliki?’

’ Aku akan berterus terang dengannya. Sayangnya dalam kontrak disebutkan bila kami tidak melunasinya, maka uang yang telah kami bayarkan tidak dapat ditarik kembali.’

Pagi itu di ruang kerja, Andre menatapnya lama. Michel akunting cerdas dan berbakat tapi moralnya sangat lemah. Sayang sekali ia masih membutuhkan tenaganya. Bila tidak tentu berkas-berkas di tangannya ini sudah ia bawa ke polisi.

‘berapa usia istrimu Michel?’

Andre bisa melihat wajah Michel yang keheranan. Bawahannya itu hanya tertegun tak menjawab. Mungkin ia bertanya-tanya apa hubungan ini semua dengan pertanyaan yang diajukan dirinya.

‘aku tanya berapa usia istrimu’.

’dua tiga.’

’bagus. Apa kau ingin villa itu menjadi milikmu?’

Michel masih terdiam. Bingung dengan semua percakapan mereka saat itu. Salah jawab berarti ancaman penjara.

’Tentu saja’

Apakah kau ingin aku tidak membawa kasus ini ke polisi?’

’Tentu. Tentu Andre.’

’istrimu cukup menarik Michel. Aku pernah melihatnya berbincang-bincang dengan kau saat di pesta undangan tempo hari.’

Ia bisa melihat wajah Michel yang berkerut.

’Ehm, apa yang kau inginkan Andre?’ Michel bertanya dengan wajah bodoh.

Sesaat kemudian Andre mengajak Michel ke café kecil di lantai bawah gedung perkantoran mereka.

Pembicaraan itu berlangsung singkat. Michel hanya diberi tahu untuk membawa istrinya, Yammy ke villa kecil itu. Dan ia harus segera meninggalkan istrinya di sana selama beberapa hari. Andre akan memberi tahu Michel kapan dan bagaimana isterinya bisa dijemput kembali.

Setelah pertemuan itu Michel terduduk lemas tak bergerak di bangku cafe.

/Dasar play boy!/

/Namun ini satu-satunya jalan. Isterinya sangat menginginkan villa tersebut./

Aku mencintai isteriku. Aku ingin ia berbahagia. Mungkin kalau aku berusaha jujur dengannya ia bisa mengerti, pikir Michel. Kepalanya terasa berdenyut-denyut. /Bagaimana aku harus mengatakannya ke Yammy?/

Ding! Dong! Bunyi keras dari papan elektronik di langit-langit stasiun membuyarkan lamunan Andre. Ditatapnya papan itu. /Sial!/ Andre bangkit dari duduknya dan berlari menuju tangga turun sambil membuang rokok di tangannya. Harusnya jalur 2 tempat keretanya datang namun papan elektronik itu menunjukkan keretanya akan memasuki jalur 4. itu artinya ia harus berpindah ke sisi seberang stasiun melalui lantai dua melintasi kolong rel.

Ia berlari cepat. Tas dalam genggamannya terayun-ayun. Dengan terengah-engah ia melintasi lantai dua dan menuju tangga naik ke jalur 4. Dalam eskalator tubuhnya berjejalan dengan penumpang lain yang berebut naik takut tertinggal kereta. Sudah tak diindahkannya sepatunya yang berkali-kali terinjak penumpang yang mempunyai tujuan sama itu. Mereka semua sama seperti dirinya. Tertipu jalur kereta yang berpindah di luar kebiasaan. /Inilah kehidupan metropolis!/

Perjuangannya tak sia-sia ia berhasil mencapai lantai tiga tepat saat kereta itu memasuki stasiun. Ia memperoleh tempat duduk di pojok. Dalam sekejap kereta yang kosong itu langsung penuh dengan berbagai ragam manusia. Tawa-tawa karyawan muda dan celoteh-celoteh penumpang lainnya seperti biasa mulai memasuki telinga Andre. Ia mencoba meluruskan duduknya agar nyaman dan menutup matanya. /Aku harus sabar. Ini semua hanya sejenak saja. Setelah semua hutang-hutang itu beres kehidupanku akan kembali lagi./

Malamnya setelah menemani Rachel menonton Bart Simpson, Andre merebahkan tubuh di sisi Anna. Gaun tidurnya yang berwarna pualam kelihatan serasi dengan kulit tubuhnya. Selintas tercium aroma PerryWoman dan Andre memeluknya, ”Kau sudah mengantuk Anna?”

”Kenapa?”

Andre tak menjawab hanya tangannya mengelus-elus lembut pinggul Anna.

”Jangan sekarang...aku lelah Andre...”

--- Yammy menunggu di teras villa mungil itu. Ia belum pernah bertemu Andre. Saat di pesta undangan beberapa minggu lalu, suaminya telah mencoba mencari-cari Andre untuk diperkenalkan tapi tidak bertemu hingga akhir pesta.

Dipandangnya pemandangan di sekitarnya. Kebun teh yang indah dengan hawa sejuk pegunungan. Aku menginginkan tempat ini Michel, aku akan lakukan apapun untuk mewujudkannya, pikir Yammy.

Michel sudah menceritakan semuanya. Sulit dan agak gila mencoba memahami semua yang didengarnya. Dirinya di sini bersiap-siap menukar kemolekan tubuhnya dengan villa ini. Diteguhkan hatinya. Tugasnya sekarang ialah di sini menunggu apa yang akan terjadi dan sesudahnya mereka berdua , Yammy dan Michel akan memiliki villa ini untuk selamanya.

Yammy masuk ke dalam villa dan melihat-lihat kembali perabot di dalamnya. Sudah berulang kali ia melakukannya sejak datang tadi namun tak bosan-bosannya ia mengagumi semua perabot indah itu. Sofa yang nyaman. Lemari kayu yang anggun dan meja makan mungil dari kaca yang cantik. Susunan gelas kristal yang cantik ada di pojok lemari. Entah mengapa ia sangat menyukai bentuk gelas itu. Ia menyukai gelas dan cara gelas-gelas itu tersusun bertingkat yang rapi.

Dibukanya pintu kamar. Dikaguminya dinding kamar berwarna jingga dengan ornamen kayu gelap itu. Ia akan menggantung beberapa foto pernikahan mereka di dinding. Kamarnya cukup luas dengan meja rias di pojok dan pintu kamar mandi di sisi lainnya. Di sebelah pintu kamar mandi ada ranjang berseprei putih bersih dengan bed cover jingga. Kelihatannya ranjang yang nyaman. Ranjang! Ia merinding membayangkan apa yang akan terjadi selama beberapa hari nanti antara dirinya dan Andre.

Beberapa jam kemudian setelah duduk bermalas-malasan menonton televisi, telepon berdering.

Diangkatnya gagang telepon.

”Kau Yammy ? ” sebuah suara pria terdengar dari seberang.

/Andre kah ini ?/

“Ya. Ini siapa?”

“Marion.”

“Ya…” Yammy tak mengerti apa yang harus diucapkan. Ia tak mengenal seseorang yang bernama Marion. Hanya Michel dan Andre yang tahu keberadaannya di villa ini.

“Kau bisa komputer?” ”Ya. Cukuplah. Ada apa?” Yammy masih kebingungan.

“Kau tunggu di sana. Andre beberapa saat lagi tiba. Ia membawa laptop. Kau cari folder bernama Zino. Kopi seluruhnya ke flashdisk. Kau bisa?” suara itu terdengar bernada perintah.

“Ya. Itu mudah. Tapi siapa kau? Aku tidak mengenalmu dan tak ada flashdisk di sini.”

”Kau buka lemari dengan susunan gelas kristal di ruang makan. Dibaliknya ada flashdisk.” Suara itu tidak mengindahkannya.

”Ya. Tapi kau siapa?”

...

”.....aku siapkan sepuluh ribu dollar. Begitu aku terima flash disk itu kau akan terima uang itu dalam rekeningmu. Setelah kau copy letakkan flashdisk itu di tempatnya kembali” suara itu masih bernada perintah, ” 442-787449 itu rekeningmu kan?”

”siapa kau sebenarnya?”

/bahkan ia mengenal nomor rekeningku./

“ bagaimana kalau kau membohongiku?” Yammy mendesak. Ia tak mau dipermainkan oleh orang yang tak dikenal.

“ aku selalu mematuhi perkataanku sendiri. Bila kau meragukan aku, lebih baik aku bawa berkas-berkas suamimu ke polisi!” suara itu terdengar mengancam.“Lakukan perintahku. Kau dapatkan uangmu..”

Klik!

Telepon terputus.

Yammy menatap gagang telepon itu. Semuanya makin terasa aneh dan membingungkan. Ia di sini untuk menyelesaikan masalah Michel dan kini ia harus berlaku seperti seorang agen rahasia mengendap-ngendap untuk mencuri file. Jelas orang itu mengetahui juga penipuan yang dilakukan Michel.

Ia ingin menelpon Michel namun ditundanya.

/Ada baiknya aku menyimpan uang itu sendiri tanpa sepengetahuan Michel./

Ia melangkah menghampiri lemari dengan susunan gelas kristal bertingkat itu…

Beberapa jam kemudian sebuah mobil memasuki pekarangan villa. Yammy mengintip dari balik jendela. Seorang pria turun. Pria itu berkacamata berambut lurus dan tinggi. Kemejanya birunya terlihat kusam.

Pintu depan terbuka. Pria itu melangkah masuk dan mendapati Yammy duduk di sofa menatapnya.

“Yammy, apa kabar? Aku Andre”, pria itu tersenyum. Ia membawa tas kulit coklat.

/Pasti itu laptop./

”Baik. Aku Yammy. Nah, apa kita mulai sekarang?” Yammy langsung pada pokok persoalan. Ia tahu apa yang diinginkan Andre untuk menutup kasus suaminya.

Tiga puluh menit kemudian mereka sudah berbaring dalam diam. Ranjang itu sudah acak-acakan. Yammy menatap tubuh telanjang yang tertidur pulas di sisinya dengan pandangan jijik.

/Bos suaminya ini bukan ahli dalam bercinta./

Ia masih harus melakukan satu tugas pribadinya. Setelah yakin pria di sisinya tertidur pulas, Yammy bangkit dari ranjang, membuka laptop, mencari folder Zino, dan memindahkannya ke dalam flashdisk yang telah ia siapkan di laci meja rias.

Selama tiga hari ia melayani nafsu liar bos muda tersebut. Dua hari setelah itu semua berakhir ia mampir ke bank dan mendapati tambahan sepuluh ribu dollar di rekeningnya.

/Thanks God, aku ingin membeli liontin berlian. //Pasti serasi dengan gaun pesta merahku. Thanks Marion, siapapun engkau.../

----- Herald berjalan tergesa-gesa memasuki ruangan dengan wajah ceria. Dilihatnya Andre sedang sibuk menghadap komputer di ruang kerja kantornya yang dingin.

”Thanks Andre. Wanita itu luar biasa. Aku hanya mengaku menjadi dirimu dan ia membuatku hampir gila. Tiga hari yang liar…haha..” Herald memamerkan deretan giginya. Wajahnya tersenyum puas. “o..iya, lihat ini,” lanjut Herald sambil mengeluarkan benda hitam dari tasnya.”Aku membawanya sebagai kenang-kenangan.Ia wanita yang haus sex….”

Andre mengamati benda di tangan Herald itu. Celana dalam wanita dengan penuh rendra seperti jaring ikan. Andre tersenyum melihat tingkah Herald itu. /Kain itu seharga source codemu. Aku menjualnya ke pesaing Zino. //Aku memperoleh berkali-kali lipat dari sepuluh ribuku. Dan kau tak kan pernah tahu Herald./

-----

*/3/*

* *

Andre bersandar dengan tumpukan bantal dalam kamarnya. Pikirannya bekerja keras. Belum satupun proyek yang didapatnya. Belum satupun email lamaran kerjanya yang dibalas. Ia belum memberitahu Herald bahwa ia melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan besar. Herald masih terbenam dalam source codenya tanpa pernah tahu program sehebat apapun akan tak ada artinya tanpa marketing yang bagus. Semua kekusutan ini harus dihentikan. Tapi ia tak tahu caranya. Andre hanya harus bersiap-siap dalam kondisi terburuk demi hidup keluarganya, dan melamar pekerjaan bukanlah hal yang bodoh untuk situasi ini. Dulu di saat usaha melaju mulus, ia bahkan sempat memperoleh ’tambahan’ dari berjualan software yang dicurinya dari Herald dan itu bernilai puluhan ribu dollar. Kini di saat usahanya bangkrut dan mencoba melamar pekerjaan, gaji yang ditawarkan seharga uang yang biasa dihabiskannya dalam semalam kala bersenang-senang!

Tumpukan tagihan bank tergeletak di ujung meja rias. Ia menatap lembaran kertas itu dengan gelisah. Tadi sepulang kantor, isterinya mengeluh karena orang-orang berperawakan kasar itu datang lagi ke rumahnya padahal baru tiga hari yang lalu mereka datang. Mereka mencarinya dan menunggu hingga larut malam. Untunglah Andre pulang lewat tengah malam.

Dilihatnya Anna yang sudah terbangun dari tidur. Ia menyisir rambutnya di hadapan cermin rias. Pantat isterinya kelihatan padat dibungkus gaun tidur yang kusut.

Dari cermin Anna melihat Andre berselonjor lurus menatap ke arahnya. Matanya menampakkan kelelahan. Gurat-gurat di wajah Andre yang tampan juga memberikan kesan keletihan atas hidup yang dijalaninya.

/Aku mempunyai banyak dosa terhadap pria ini. Tapi Tuhan tolong jangan sakiti suamiku dengan cara seperti ini./

” Anna, kau tahu aku mencintaimu. Kemarilah sayang, aku ingin bercinta..” Tiba-tiba Andre sudah bangkit dan menghampiri isterinya. Ia mengelus lembut pinggul Anna.

“aku juga mencintaimu Andre” desah Anna dengan suara serak. /Aku tidak ingin kau disakiti pria-pria kasar dari bank itu./

Merekapun bercinta namun Anna merasakan tiada gairah dalam dirinya. Persetubuhan itu berlangsung singkat. Saat mereka selesai, mereka hanya saling berbaring di ranjang menatap langit-langit kamar. Semuanya kini berbeda. Tidak ada kegairahan lagi. Semua telah menjadi rutinitas yang membosankan.

----- Hari ini hari Senin di bulan September, Andre berangkat ke kantor pagi-pagi. Ia tahu banyak hal yang harus diselesaikan. Ia juga tahu hari ini ia akan gelisah sepanjang hari. Ini hari ketujuh sejak surat tagihan itu datang. Artinya Anna akan menghadapi mereka sendirian siang ini di rumahnya. Andre sendiri sudah memindahkan kantornya bersama Herald hingga bank akan kesulitan menagihnya.

Kantor barunya ini kecil. Hanya satu ruangan dilengkapi pendingin ruangan dan tanpa karpet sama sekali. Namun ia bersyukur sudah memperolehnya . Bagaimanapun ia harus mengakui dirinya dan Herald adalah buronan bank saat ini. Ia masih berharap Anna berhasil melaksanakan rencana yang telah mereka susun jika tukang-tukang tagih itu datang kembali.

Setiba di kantor barunya, ditemuinya Herald sudah asik terbenam dengan laptopnya. Dalam satu minggu, Andre hanya menemui Herald dua tiga hari di kantor. Selebihnya Herald tak pernah masuk kantor tanpa Andre tahu kemana saja rekannya itu. Dilihatnya Herald sesekali menaik turunkan kacamatanya seperti kebiasaan Herald bila sedang berpikir keras.

Andre menuju meja kerja besar di pojok ruangan, dibuangnya tumpukan puntung rokok dari asbak. Mejanya selalu penuh abu rokok. Meja Herald selalu bersih tanpa abu rokok. Herald jarang sekali merokok. ’programer tidak merokok’ itu yang sering diucapkannya.

Setelah duduk di kursi kerjanya dan menyalakan computer Andrepun mulai terbenam dalam rutinitas pekerjaan. Beberapa peluang ia cari dan ia cocokkan dengan kemam

mpuan mereka. Ia harus segera mendapatkan proyek atau bank akan menyeret mereka berdua ke dalam penjara.

Pada saat yang sama, Anna sedang mengganti air di vas bunga ketika bel rumah berbunyi. Jantungnya tiba-tiba berdetak keras. Ia tidak mengharapkan tamu. Ia sudah tahu siapa yang akan datang sebelum mengintip dari balik gorden jendela rumahnya. /Mereka datang, semoga rencana kami berjalan lancar. /

Tiga pria berjaket kulit berdiri di teras rumahnya. Ia menyesal membeli rumah ini. Rumah dengan pagar tanaman bunga-bunga setinggi lutut. Mereka bertiga cukup melompat kecil saja untuk sampai di teras rumahnya.

“Selamat siang Nyonya Andre”, pria beraksen timur itu menyapanya ketika ia membuka pintu rumah. Belum sempat ia menjawab, pria itu mendorongnya dan melangkah masuk.

Anna mengikuti dari belakang tanpa berbicara.

Ia berdiri diam menatap mereka./ Tuhan tolonglah aku./

”Nah, Nyonya.Apakah suamimu sudah bisa melunasi kewajibannya?” Pria itu memulai percakapan setelah duduk di sofa sambil menyilangkan kedua kakinya , ”oiya, sejak betemu kita belum pernah berkenalan, saya Reynold” tambahnya.

” saya Fred” kata pria berhidung besar di sebelahnya, “dan ini Andre, sama seperti nama suami anda,” sambil menunjuk pria ketiga yang bertubuh sedang dan berkulit putih.Pria yang terakhir ini masih berdiri sementara kedua kawannya sudah duduk.

Anna memperhatikan mereka sambil berdiri. Dari ketiganya, pria bernama Andre ini yang kelihatan terpelajar. /Mungkin ia pengacara bank. //Yang lainnya pasti dari perusahaan debt colector./

“Sebaiknya anda duduk Nyonya, tidak enak kita berbicara sambil berdiri”, Andre mempersilakannya dengan sopan sambil membetulkan dasinya.

“ia belum bisa melunasinya sekarang,” kata Anna pelan. Anna duduk dan memperhatikan pria ketiga itu mengikutinya duduk. Ia mengalihkan pandangan dan menatap kedua tamu lainnya. Tatapan mereka liar dan kejam.

”apa yang dikatakan suamimu?”, Reynold bertanya sambil mengeluarkan bungkus rokok dari saku jaketnya.

”Sudah kukatakan, ia belum bisa melunasinya.”

”Lalu bagaimana dengan hutang-hutang ini?”

“Ia akan membayarnya. Tapi bukan sekarang.”

”Kapan?”

”Belum tahu”

”Dia bilang belum tahu ?”

”Tidak, aku yang bilang.”

Reynold mendelik. Sekilas Anna melihat bibir Andre menyunggingkan senyum kecil. Mungkin geli melihat keberaniannya.

”Bukan anda yang ditanya!” sembur Reynold

Reynold menjentikkan rokoknya di asbak dan melanjutkan, ” Jadi apa rencananya?”

Anna diam tak menjawab. Ruangan hening..

Reynold mencondongkan badannya menatap lurus mata Anna yang menantang dan kembali bertanya, ”Baiklah, apa rencana suamimu untuk hutang ini?”

Anna tetap diam tak bergeming.

“Bangsat!” seru Reynold keras. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Anna yang masih menatapnya. Sesaat sebelum Reynold menyentuhnya, Anna menjawab ,” Tadi kau bilang tidak bertanya padaku.”

Reynold tercekat sambil berdiri.

“…kau…kau…sial!” ujarnya tergagap-gagap dan kembali duduk. Dipandangnya wajah wanita di hadapannya. Ia geram tapi tak mungkin ia mencelakakannya.

Anna memandang ketiga tamunya. Ia benci melihat tampang mereka. Pantat Anna terasa panas di sofa. Ruangan itu terasa sempit baginya. Ia ingin menjawab tapi tak tahu apa yang harus dikatakannya. Ini rumahnya dan mereka berlaku seenaknya tanpa ia mampu menghentikannya. Dadanya terasa sesak. /Aku harus bisa bertahan. Aku mencintai Andre. Akan kulakukan semua rencana kita. /

” saya ambilkan minum dulu”, Anna bangkit dari duduknya. Ketiga pria itu hanya memandangnya.

Diambilnya beberapa cangkir dari meja pantry sementara benaknya sibuk berpikir. Anna sudah kehabisan akal. Ia terdiam di meja pantrinya, dan berbalik kembali ke ruang tamu.

”apakah kalian akan menunggu Andre pulang hingga larut malam?” tanya Anna berusaha tenang.

Ketiga pria itu menoleh dan berkata bersamaan. ”tentu saja”.

/Baik, rencana dimulai./

09.00

Anna menghidangkan tiga cangkir tersebut. Ketiga pria itu meminumnya habis.

12:20

Anna menemani Rachel makan.

16.30

Anna menghidangkan kembali cangkir-cangkir baru. Pantatnya sudah panas duduk diam sementara ketiga tamunya tetap tak bersuara selama berjam-jam. /Apa mereka selalu tahan seperti ini dalam menjalankan tugasnya./ /Aku sendiri tidak nafsu makan, tetapi mereka harusnya terasa lapar./

19.15

Ini yang ketiga kalinya Anna menghidangkan cangkir kepada mereka.

”kau baik sekali” Fred kembali bersuara setelah keheningan yang mencekam. Reynold membolak-balik majalah masih terlihat kesal.

20.10

Ketiga cangkir tamunya sudah tidak berisi. Anna diam duduk di sofanya. /Tuhan, aku harus tabah. Ini semua aku lakukan untuk Andre. /

21.00

Anna menghidangkan cangkir untuk yang keempat kalinya.

22.10

Anna bangkit dari duduk bergegas kembali ke pantri untuk mengisi cangkir-cangkir tersebut tetapi tangannya diraih oleh sebuah tangan hitam berbulu. /Tangan itu! Jari yang kasar!/

Anna berbalik menghadap si pemilik tangan tersebut. Ia masih merinding teringat kejadian beberapa hari lalu dengan jari tersebut.

“Tidak usah kau isi lagi. Kami kembali saja. Besok kami akan datang ke mari pada jam yang sama. Kalau suamimu beritikad baik suruh ia menunggu!” suaranya berat dan matanya meredup. Kelihatannya ia telah bosan menunggu.

Sepuluh menit kemudian saat mereka telah pergi Anna mengambil handphone dan mengirim sms,isinya: ’mereka sudah pergi. Kau boleh masuk.’

23.08

Andre membunyikan bel pintu rumah dan langsung masuk kamar tanpa berbicara sepatah katapun. Merekapun tertidur dalam keheningan.

---- Keesokan harinya Andre berangkat pagi-pagi. Dua jam kemudian Anna mendapati ketiga orang itu telah berada di rumahnya.

08:00

Anna duduk diam dengan tiga tamunya.

”jadi,dia sudah pergi lagi hah?”, Fred memulai sambil mendengus. Matanya liar menatap sekeliling ruangan. Dipandangnya foto pria dalam bingkai di dinding ruangan. Reynold terlihat masih kesal dan langsung duduk mengambil majalah yang sama dengan kemarin.

Selanjutnya....

09:00

Mereka habiskan kopi panas yang tersaji

11:00

Renold mulai merokok dalam rumah Anna. Asap membumbung tinggi memenuhi ruangan. Anna benci asap rokok. /Aku harus tetap bertahan./

12:00

Anna menghidangkan tiga cangkir baru dan membawa masuk cangkir-cangkir lama.

12:10

Anna mengajak Rachel makan siang bersama dan menemaninya bermain video-game selama setengah jam sebelum kembali ke ruang duduk.

14:50

Anna mengintip ke kamar Rachel, anak itu sudah tertidur pulas dengan stick game tergenggam di tangannya. Anna lega Rachel tidak bertanya macam-macam tentang tamunya.

15:00

Anna kembali ke ruang duduk dan menemani tamunya dalam diam. Ketiga tamunya tidak berminat mengajak bicara dirinya dan Anna sendiri bersyukur atas sikap mereka itu. Fred sudah tertidur pulas di sofa. Reynold bermain catur dengan Andre. /Mereka bahkan berbekal papan catur dalam menjalankan tugasnya./

19:00

“Permisi, aku ingin ke toilet,” Andre bangkit dari duduknya menghampiri Anna. Anna melongo kaget menatap tamunya sebelum menunjukkan letak toilet mereka.

20:00

Anna kembali dalam posisi duduk diam mengamati kedua tamunya bermain catur. Fred sudah terbangun dan memilih meletakkan pantatnya di batu kolam depan rumah sambil merokok.

21:00

Anna menghidangkan teh panas. Mercy sibuk mencuci seluruh cangkir mereka di pantry.

23:00

”Suamimu mempermainkan kami !” kata Reynold sebelum bangkit dari duduk dan pergi bersama kedua temannya.

Andre menambahkan, ” besok kami kembali.”

23: 20

Anna mengirim sms, isinya : ’kau bisa pulang sekarang.’

00:30

Andre datang.

00:40

Andre memeluk Anna dari belakang di ranjang mereka dan mencium lehernya.

”Aku ngantuk sekali Andre....besok saja.”

Esoknya ketiga orang itu datang kembali. Kali ini Anna mulai bisa membiasakan diri duduk berlama-lama hingga pantatnya panas dan berulangkali hilir mudik ke pantry untuk mengganti cangkir.

Malamnya,

”Kau belum ingin tidur sekarangkan Anna?”

dan Anna menghindar menjauh ke tepi ranjang , ” lelah sekali rasanya Andre...jangan sekarang...”

Hari kesepuluh setelah surat tagihan itu datang, sepanjang siang Anna menyaksikan rumahnya dipenuhi asap Fred yang tak henti-hentinya merokok dan malamnya saat Andre sudah mulai mendekapnya.

”Ohh..Andre,maafkan aku....aku benar-benar stress dengan ketiga orang itu....bagaimana bila besok saja....”

Dan kejadian itu berulang tiap harinya selama dua minggu lebih.

----

*/4/*

Andre melangkahkan kaki di café X’prsso lantai empat puluh Crown Regency. Pemandangan dari jendela sangat menyenangkan. Lalu lintas dengan mobil-mobil kecil jauh di bawah. Langit biru dengan awannya seakan mudah digapai. Hari ini ia ada janji temu dengan Pizzo Rent Car, sebuah jasa penyewaan mobil yang menguasai bagian timur.

Ia belum pernah bertemu dengan direkturnya, namun ia telah mengirim sample software aplikasinya dan mereka puas. ‘General Manager kami akan menemui anda. Ia yang akan mengurus semua kontraknya.’

Andre mencicipi kopi expresso pesanannya. Masih panas namun rasanya menyegarkan. Andre sudah berulangkali berkunjung ke Crown Regency namun baru kali ini ia mencoba cafe X’prsso. Dipandangnya suasana cafe. Belum ada pengunjung lain, hanya ia sendiri. Di pojok ada meja bar setengah lingkaran dengan kursi-kursi tinggi dari kayu mahoni. Dindingnya beronamen kayu dengan bagian bawah dilapis wallpaper merah marron dan pembatas dari kayu hitam mengkilat. Suasana temaram dengan lampu-lampu yang berada di balik kayu pembatas mengkilat tersebut. Meja-mejanya terbuat dari kayu dengan marmer bundar besar sebagai penopangnya. Bangku-bangkunya dari kayu dengan posisi tegak. Andre curiga pemilik café membiarkan pelanggannya duduk dalam tegak sehingga tidak akan berlama-lama.

Ketika Andre sibuk mengamati detail-detail ruangan tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Selamat pagi, anda Mr.Andre?,” sapa seorang pria bertubuh kecil dengan setelan coklat , “ Saya Manuel Parierra. Pizzo Car “, lanjutnya sambil mengulurkan tangan.

Andre menoleh bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan bersalaman, “ Selamat Pagi. Saya Andre, senang berkenalan dengan anda. Silakan,”

“Well, Mr Andre, mari kita langsung pada software anda, panggil saya Manuel saja.” Pria itu tersenyum hangat dan menarik bangku di hadapan Andre.

“Anda tidak ingin memesan kopi ?” Tanya Andre ramah.

“Tidak. Nanti saja. Terima kasih.”

Pria itu mengeluarkan beberapa lembar kertas kontrak pembelian.

”Kami sudah mencoba software anda. Sebelum kami membuat keputusan ada yang perlu kami pastikan terlebih dahulu.”

Andre mengangguk sambil tersenyum,”silakan”

“Anda katakan bahwa software anda ini terhubung dengan GPS. Sehingga kami setiap saat dapat memantau posisi seluruh armada kami.”

” Itu benar.”

”Well, kami sangat menyukai hal itu. Namun kami belum pernah mencobanya. Anda hanya memberi sample software dengan kekuatan database yang luar biasa.”

“Anda tak perlu kuatir. Untuk berjalannya fasilitas itu, anda membutuhkan perangkat mini kami. Perangkat itu yang akan menghubungkan software kami dengan satelit. Sayangnya, kami hanya dapat memberi perangkat tersebut kepada anda saat anda sudah menjadi klien kami.”

Pria dari Pizzo Car itu mendengarkan dengan tenang, ”bisa anda tunjukkan alat itu?”

Andre mengeluarkan kotak hitam dari tas laptopnya. Kotak itu mempunyai lubang kecil di atasnya dengan lampu berbentuk segitiga.

”mari kita lihat cara kerja alat ini. Anda membawa CD kami?” tanya Andre.

Manuel Parierra merogoh CD dari balik saku jasnya dan menyerahkannya pada Andre.

“ Saya install dulu,” kata Andre sambil mengeluarkan laptopnya.

Beberapa menit kemudian mereka berdua menatap bar berkedip- kedip bergerak ke arah kanan dalam layar komputer. ”Proses install ini satu menit lamanya,” jelas Andre sambil mendorong laptopnya sehingga mereka berdua bisa lebih jelas mengamati layar.

”Well sudah selesai. Mari kita lihat software anda ini.”

Sesaat kemudian gambar logo Pizzo Car muncul di layar. Setelah Andre mengetik password , gambar peta dengan kotak dialog di kanannya muncul. “Anda bisa merubah password ini sesukanya.” jelas Andre.

Beberapa menit kemudian mereka sibuk mengamati layar laptop. Gambar peta terpampang di hadapan mereka dan berbagai wilayah dalam jelajah armada Pizzo Car dicoba satu persatu. Pria dari perusahaan persewaan mobil itu terkagum-kagum mengamati layar di hadapannya. Bahkan ia dapat melihat siapa pengemudi tiap kendaraan yang disewa. Perangkat ini sangat luar biasa. Ia menyukainya.

Kini General Manager Pizzo itu sedang mengamati sebuah titik berkedip setelah ia memasukkan sebuah nomor ID kendaraan. Di layar tampak tanda lokasi kendaraan tersebut diam tak bergerak. Ia mengkliknya dan melongo melihat betapa jelas dan canggihnya software ini. Kendaraan itu sedang dicuci di pelataran parkir kantornya yang berjarak ribuan mil dari laptop di hadapannya itu.

“Ini kendaraan direktur kami,” jelasnya.

Andre mengangguk dan berkata, “Tentu saja, kendaraan anda harus dilengkapi GPS untuk dapat terpantau,” jelas Andre.

Pria di hadapannya tak menjawab dan masih menatap layar di hadapannya dengan penuh semangat sebelum akhirnya ia berkata, ”Well, kami membeli aplikasi anda. Software dengan database kuat dan terhubung GPS. Memang itu yang kami butuhkan,” kata Manuel sambil tersenyum.

”Oiya, kalau boleh tahu apakah anda mempunyai kontrak jangka panjang dalam persewaan bandwith pada foto satelit?” lanjutnya.

” Tentu saja. Dua tahun,” jawab Andre singkat,” berarti masih berlaku setahun lagi dari sekarang.”

”Apakah setelahnya, anda akan memperpanjang lagi Mr Andre?”

”Tergantung anda. Bila anda perpanjang kontraknya maka kami perpanjang kontrak foto satelitnya.”

Pria itu kembali tersenyum puas, ” well, kita deal. Kami beli produk ini.” Ia mengulurkan tangannya dan Andre menyambutnya bersalaman.

Setelah membereskan laptopnya kembali, Andre menawarkan kopi bagi tamunya,” Anda suka expresso?”

” Bolehlah,”

Sementara Andre memanggil pelayan, Manuel mempersiapkan lembar-lembar kontrak pembelian. Beberapa menit kemudian Andre telah mendapatkan kontraknya dan mereka berbincang-bincang sebelum akhirnya menyudahi pembicaraan mereka.

“Mr Andre, terima kasih untuk presentasinya. Anda bisa cek transfer kami besok setelah anda buka keylock aplikasinya,” Mr.Manuel bangkit menyalaminya sebelum melangkah pergi.

*/5/*

---- Andre merasakan pagi ini lebih baik dari kemarin. Kontrak dengan Pizzo Car membuka kesempatan baru baginya untuk bangkit. Hari ini ia tak pergi ke kantor barunya. Rachel dan Mercy masih di sekolah. Andre melirik jam tangannya dan memutuskan untuk memeriksa email di cafe internet.

”Anna, aku cek email dulu. Siang nanti aku kembali sebelum Rachel datang,” kata Andre sambil melangkah keluar rumah.

”Baiklah. Hati-hati” Anna sibuk di dapur dan ia menjawab dengan datar. Hatinya masih tidak tenang memikirkan kemungkinan ketiga tukang tagih itu akan datang kembali ke rumahnya.

---- Setelah memeriksa email dan mendapati tak ada satupun emailnya dibalas Andre membuka site-site lowongan kerja selama beberapa menit. Dikirimnya beberapa lamaran kerja. Setengah jam kemudian Andre membuka jendela chatting. Dikunjunginya beberapa ruang chat. Ada beberapa ruang yang isinya obrolan jorok dan Andre menghindarinya. Ia buka salah satu ruang chat yang lain dan mulai mengetik

[wisdom]hi. .. asl pls

dibukanya ruang chat yang lain dan diketiknya

[wisdom] hai…asl pls

dan beberapa ruang chat yang lainnya dengan kata – kata yang sama.

Setelah menunggu beberapa menit dan tak ada yang menjawab, ia buka site-site perusahaan mobil. Ia selalu menyukai mobil-mobil eropa terbaru meski untuk sementara ini itu semua tak mungkin ia miliki.

Empat puluh menit kemudian, ia sudah merasa bosan. Tak satupun chat-nya yang dibalas. Ketika ia memutuskan untuk menutup ruang-ruang chat tersebut tiba-tiba muncul deretan huruf jingga di layar

[janet] hello wisdom. How r u?

[janet] masih ingat?

Andre memperhatikan deretan huruf tersebut dan ia tersenyum. /Akhirnya../

[wisdom] yup. janet textile kan?

[janet] banyak janet lain ya?

[wisdom] gak kok. Cuma kamu

[janet] banyak juga gpp kok

[wisdom] gpp apaan sih?

[janet] ga apa apa

[wisdom] ooo...

[janet] u dimana

[wisdom] cafe net

[janet] sama dong

[wisdom] bolos kerja?

[janet] yup.lagi bete

[wisdom] sama dong.kenapa?

[janet] bosan aja gawe terus.

Andre menatap tulisan itu. /Aku tak akan bosan dengan pekerjaan, aku butuh penghasilan sebanyak-banyaknya sekarang./

[janet] woi...kok bengong

[wisdom] sorry. u ada no hp

[janet] 0829966789

/bahkan ia tak jual mahal seperti netters yang lain bila diminta no hp./

[wisdom] 0829 966 788

[janet] hah?

[wisdom] kenapa?

[janet] boonk ya

[wisdom] gak kok.bener.coba aja

Satu menit kemudian handphone Andre berbunyi. Ada sms, isinya : ’tukang boonk ya’ dilihatnya nomor pengirim. Janet!

[janet] dah sampai?

[wisdom] dah

[janet] apa isinya?

[wisdom] ’tukang boonk ya’

[janet] J

[wisdom] jelek

[janet] kok nomor kita hampir sama

[wisdom] yup

[wisdom] jodoh kali

[janet] gila

[wisdom] crazy

[janet] dah tau

[wisdom] pinter dong

[janet] pasti

….

dan seterusnya. Deretan huruf itu mengalir di layarnya bergantian saling menjawab.

[janet] wisdom,aku ada acara

[janet] dc ya

[wisdom] oke deh.

/Jangan telihat bernafsu. //Santai saja lagi pula ia di kota yang berbeda./

/ /

[janet] besok lanjut yuu

[wisdom]oke

[janet] jam 8 malam

[wisdom] yup

dan chat-pun berakhir. /Back to my life again!/

Ketika Andre pulang para penagih itu tidak datang hingga ia berangkat tidur. Hatinya merasa tenang dan di kamarnya, baru saja Anna naik ke ranjang ketika Andre memeluknya.

“Andre….aku lelah sekali, bagaimana bila besok saja, aku janji…”

dan Andre menatap langit-langit kamar hingga hampir pagi.

---- Esoknya jam tujuh malam, Andre sudah sibuk menarik-narik kabel telepon ke komputer kantornya.

Satu jam kemudian

[janet] lama nunggu ya

[wisdom] gak.baru login

[janet] di kantor?

[wisdom] yup

[wisdom] dah makan?

[janet] not yet. Traktir?

[wisdom] mau?

[janet] yup

[wisdom] kapan

[janet] sekarang

Andre nyengir. /Seandainya kita satu kota..../

[wisdom] beraninya luar kota

[janet]J

[wisdom] jelek

[janet] eh, cakep lagi

[wisdom] ada pic?

[janet] I send now

[wisdom] I’m waiting

sesaat kemudian komputernya berbunyi “beep” tanda ada kiriman picture. Foto Janet terpampang di layar.

[wisdom] keren J

[janet] gombal

[wisdom] really.

[janet] ur pic?

Semenit kemudian

[janet] mmm…handsome

[wisdom] haha…

Andre mengirim pic seekor simpanse.

[janet] mana dong

[wisdom] iya. Nih liat

Andre mengirim foto dirinya.

[wisdom] gimana?

[janet] jelek !

…..

dan merekapun makin akrab hingga beberapa jam kemudian Andre mendapati dirinya menggigil kedinginan. Sudah hampir tengah malam. Jendela kantornya berembun karena AC.

Saat Andre tiba di rumah sudah lewat tengah malam dan Andre ingat punya janji dengan Anna malam ini. Ia sudah tak mengenakan apa-apa lagi di balik piyama tidurnya ketika Anna berkata, ” Andre...aku sedang tidak bisa...sore tadi mulai keluarnya..lima enam hari seperti biasa...”

dan Andre membalik badan membenamkan mukanya ke bantal sepanjang malam.

Keesokan harinya pada jam kerja Andre melanjutkan chat. Seminggu berturut-turut mereka saling ngobrol melalui internet.

Hingga pada suatu hari

[janet] aku send pic yg lain

[wisdom] oke

dan Andre menyaksikan Janet terpampang di layarnya dengan pakaian renang. Malamnya handphone Andre menerima pesan sms. Isinya ’horny inget pic aku?’

Hubungan merekapun bertambah dekat dan hangat.

...

[janet] kangen...

[wisdom] sama...

Pada minggu berikutnya berubah menjadi yang diharapkan

[janet] horny liat pic kamu mandi

[wisdom] J

akhirnya semakin tak terkendali

[wisdom] aku punya gunting cukur listrik

ketika selangkangan Janet menghiasi layar komputer di hadapannya.

Dan dibalas

[janet] a brown banana J

ketika Andre mengirim foto bugil dirinya.

Malamnya Andre membuat Anna melambung ke awan berulangkali dengan membayangkan Janet dalam benaknya.

Reynold, Fred dan Andre membungkus dirinya dengan jaket kulit. Hawa malam ini benar-benar dingin. Mereka duduk sambil menghisap rokok dalam belaian angin malam di teras kantor FSDC kepanjangan dari Fast Solution Debt Collector, sebuah perusahaan penagih hutang yang menjadi rekanan beberapa bank dan lembaga simpan pinjam. Motto perusahaan itu adalah : ‘selesaikan tagihan secepatnya dengan berbagai cara.’

Kantor itu berupa bangunan satu lantai di depan jalan kecil yang tidak akan muat untuk dua mobil. Bangunannya berwarna orange mencolok dengan batu kali hitam pada tiang dindingnya. Lokasinya dijepit oleh menara-menara tinggi gedung perkantoran. Di sebelah baratnya ada Seal Plaza dan Diamond Rich, di timurnya menjulang megah Babilon Village berlantai tiga puluh delapan. Hanya sebelah kanan dan kirinya saja yang berstatus sama. Gedung perkantoran sederhana berlantai satu yang dilengkapi pendingin udara tanpa karpet.

”Reynold, apa kau ada cara bagaimana menyelesaikan teman kita yang satu itu. Ia menghilang begitu saja dan isterinya yang selalu kita temui. Kemana sebenarnya orang itu?” Fred berbicara sambil memicingkan matanya perih terkena asap rokok.

”Isterinya menjengkelkan!” sembur Reynold gusar sementara Andre hanya diam menikmati rokoknya.

”namanya seperti kau,” Fred mendongakkan kepala menunjuk Andre, ” apa kau tidak bisa menebak kemana orang itu sekarang? Sepertinya ia bukan spesies yang sama dengan kau meski namanya sama,” lanjutnya nyengir memamerkan deretan gigi di antara kedua bibirnya yang hitam akibat merokok.

”mana aku tahu,” Andre menjawab sambil menggaruk-garuk dagunya,” akupun sudah kesal. Semakin lama semakin aku berpikir isterinya juga sama menjengkelkannya dengan orang yang bernama Andre itu.”

”kalau besok kita kembali ke rumahnya. Mungkin teh dan kopi saja yang kita dapat,” sungut Reynold.

” kita datangi malam hari saja,bagaimana menurutmu Fred?” tanya Andre, ” bajingan itu pasti kembali ke rumahnya, heh?”

Yang ditanya hanya diam dan menoleh ke Reynold.

“kita coba saja usulmu itu,” kata Reynold sambil membuang puntung rokok ke halaman kantor, ” besok malam kita ke sana dan kau Andre tetaplah berpenampilan seperti pengacara. Kita ingin isterinya tahu pengacara bank terlibat dalam masalah ini sehingga ia akan berpikir ulang untuk menghubungi polisi jika sewaktu-waktu kita perlu berbuat lebih padanya. Sementara ini kita beristirahat saja,” lanjutnya.

Andre bergegas masuk ke dalam kantor disusul kedua temannya. Mereka memilih sofa masing-masing dan merebahkan badannya. Ketiganya tidak berminat pulang ke rumah malam ini. Pikiran mereka sama, bila dalam waktu tiga puluh hari mereka tidak bisa menagih, maka order akan lepas dan bank akan memilih perusahaan debt collector lainnya. Itu artinya mereka tak akan memperoleh penghasilan bulan ini karena mereka bekerja berdasarkan fee bukan gaji.

Sementara itu dalam waktu yang sama, Andre sedang bersandar pada bangku teras atas. Anna menemani di sisinya sambil membaca majalah-majalah lama. Mereka belum mengantuk dan baru saja Anna bercerita bahwa tiga orang ’tamu langganannya’ tadi datang ke rumah.

”kapan kau bayar mereka?” Anna membuka percakapan.

Andre meletakkan koran di tangannya, ” empat hari lagi. Aku belum sempat ke bank.”

Anna menarik nafas lega.

” Kalau besok mereka datang, katakan empat hari lagi kita bayar. Tiga hari besok aku harus menyelesaikan seluruh setup dan instalasi di Pizzo Car. Begitu selesai aku akan mentransfernya.”

”Jadi kau akan bepergian jauh besok?”

”hanya tiga hari sayang.”

Anna memandang wajah suaminya. Entah mengapa, ia selalu kagum pada suaminya. Berkali-kali menghadapi masalah dan Andre selalu berhasil mengatasinya dengan tenang.

” baiklah, aku akan siapkan kopermu.” Anna melangkah masuk membawa majalah di tangannya.

Baru saja Andre hendak menyusul masuk ketika teleponnya berbunyi. Pesan sms dari Janet masuk.

Kangen... J

Bibir Andre menyunggingkan senyum. Wanita itu semakin berani saja dan itu membuat dirinya bergairah. Semakin lama semakin dirinya merasa ingin bertemu Janet. Wanita yang belum pernah ditemuinya itu seperti selalu berada di dekatnya dan ia mengetik sms membalasnya.

Kangen brown banana? J

Semenit kemudian sms Janet masuk kembali.

Met bobok sayang...

Bahkan ia tak mengindahkan sms nakalku, pikir Andre.

Keesokan paginya, Andre memeriksa ulang semua perlengkapan dari CD, kabel-kabel, Card Reader, adaptor mini, keylock box dan setumpuk kertas kerja sementara isterinya menyiapkan sarapan pagi. Koper pakaiannya sudah siap di meja depan.

Andre menyelesaikan makan paginya dengan cepat dan bergegas berangkat dengan semangat. Anna memandanginya ketika Andre melangkah ke luar pagar dengan menjinjing sebuah koper dan tas kerja di bahunya. /Semoga ini merupakan awal yang baik/. /Aku menginginkan kehidupan yang tenang bersama Rachel dan kau Andre./

Satu jam kemudian Andre sudah duduk di bandara menunggu pesawat yang akan membawanya ke kantor pusat Pizzo Rent Car. Setelah membeli makanan ringan, Andre melihat papan elektronik jadual keberangkatan. Sudah tiba waktunya ia berangkat. Diambilnya koper dan tas kerjanya melintasi lorong panjang escalator yang membawanya ke belalai panjang menuju pintu pesawat.

Sepuluh menit kemudian ia sudah memandang awan awan putih dari jendela di sisinya.

-- ”well, Mr.Andre, ini komputer pusat kami. Database kami ada di sini semua. Anda dapat melakukan verifikasi data di sini. CD software anda ada di kotak biru itu,” Mr.Manuel menjelaskan sambil menunjuk kotak CD di atas sebuah switch, kotak hitam pipih dengan tiga puluh dua lampu yang berkelip-kelip.

Andre memandangi perangkat-perangkat canggih di depannya. Ia selalu menyukai server. Baginya komputer adalah jaringan. Tanpa switch,router dan perangkat-perangkat jaringan lainnya, komputer tidaklah lebih dari sebuah mesin tik tua.

”Baik, terima kasih. Saya akan langsung bekerja.” Andre bergegas membuka tas kerjanya. Kopernya diletakkan di dekat meja kerja besar di sampingnya. Setelah mendarat tadi, ia langsung ke kantor pusat Pizzo Car dan hingga kini ia belum tahu akan tinggal di mana nanti malam.

”Selamat bekerja,” Mr.Manuel melangkah pergi meninggalkannya sendiri dalam ruangan dingin berkarpet tebal yang penuh perangkat canggih tersebut. Dari ruang inilah Pizzo Car memantau seluruh armadanya dan menjalankan bisnis yang menghasilkan uang banyak ke saku para pemegang sahamnya.

Setelah memasukkan CD ke dalam laptop dan menghubungkan beberapa kabel pada perangkat-perangkat canggih tersebut, mulailah Andre menjalankan installasi. Proses installasi memakan waktu dua jam lamanya untuk tahap basic. Selanjutnya ia akan mengecek seluruh ’lubang-lubang’ yang mungkin disisipi hacker dan itu membutuhkan waktu berjam-jam bahkan mungkin berhari-hari. Pizzo Car puas dengan layanan gratis dari Andre ini. Apalagi mereka tak mempunyai petugas kusus yang memantau kemungkinan komputernya disisipi oleh program-program semacam snifer dan Andre menjelaskan itu semua dengan rendah hati beberapa menit yang lalu saat presentasi singkat dengan Dewan Direksi Pizzo Car. Mereka tentu tak menyadari bahwa Andre melakukan itu semua bukan untuk melindungi mereka namun untuk melindungi softwarenya sendiri dari pembajak-pembajak yang semakin liar tanpa aturan belakangan ini.

Andre pernah mengalami kejadian buruk. Saat itu ia sangat bangga dengan keberhasilannya membuat keylock box, sebuah perangkat keras untuk mengunci dan membuka password bagi softwarenya. Ketika ia menghubungkan keylock box dengan jaringan computer di salah satu kliennya semua berjalan lancar dan satu minggu kemudian ia mendapati beberapa perusahaan telah mempunyai software yang hampir sama persis dengan miliknya. Sejak saat itu ia tak akan melakukan proses un-keylock sebelum memastikan seluruh titik jaringannya aman dari para penyusup.

Saat jam makan siang Andre mendapatkan kiriman salad dan daging asap dalam kotak putih. Dan malamnya ia mendapat kiriman kotak yang sama dengan isi yang tak berbeda. /Mungkin ini memang menu karyawan Pizzo Car./

Andre menghempaskan punggungnya dalam kursi hitam besar dari kulit itu. Sejak pagi ia bekerja dan Mr.Manuel hanya sekali mengunjungi saat jam pulang kerja. Diluruskan kakinya yang bertumpu di atas koper. Ia belum mandi dan berganti pakaian. /Setelah aku selesaikan proses mengendus ’lubang-lubang’ , akan kucari hotel dengan air panas./ Tubuhnya bersemangat membayangkan beberapa saat lagi akan berendam dalam kehangatan bath tub.

Layar notebooknya kembali berkelip-kelip menandakan ada ’lubang’ yang ditemukan dan seseorang tengah berusaha masuk ke sistem jaringannya. Ia hanya diam memandangi titik kuning berkedip itu. Sudah lebih dari sepuluh kali sejak pagi tadi ia menemukan ’lubang-lubang’ dalam sistem jaringan komputer besar itu. Andre heran dengan managemen Pizzo Car yang menurutnya ceroboh dalam membangun infrastruktur jaringan komputernya. Beruntung ia memiliki software canggih yang akan mengatasi hal-hal seperti itu. Ia cukup melihat titik kuning itu berkedip-kedip dan bila berubah menjadi hijau maka ia akan menarik nafas lega namun bila menjadi merah maka ia akan langsung menjalankan ‘perang source code’ dengan penuh kepanikan. Untunglah sejauh ini ia tak mengalaminya.

Setelah beberapa lubang lagi ditemukan akhirnya terdengar berbunyi “beep” dan notebooknya menampilkan tulisan : COMPLETED. Andre menarik nafas lega, tersenyum dan meringkasi barang-barangnya. Beberapa ditinggal tetap pada tempatnya. /Kini saatnya berendam./

Sementara itu beribu mil jauhnya pada saat Andre meninggalkan kantor Pizzo Car untuk mencari hotel, bel pintu rumahnya berbunyi. Anna mengintip dari balik jendela dan mendapati ketiga ’tamu langganannya’ sudah berada di teras depan.

Sudah jam sepuluh malam dan mereka bertamu. /Akan kukatakan sesingkat-singkatnya apa yang dipesankan Andre./

Anna bergegas membuka pintu dan seperti biasa ketiga tamunya masuk sebelum dipersilakan.

”Nah, nyonya. Kejutan bukan?” Reynold memulai pembicaraan setelah menghempaskan pantatnya di sofa , ”bagaimana ...”

Sebelum selesai kalimatnya, Reynold sudah mendengar suara dari mulut Anna.

”Empat hari lagi bank akan menerima transfer.” Anna berkata dingin sambil menyilangkan tangan di dada. Ia sudah muak melihat tampang ketiga tamunya itu, ” suami saya akan mentransfernya langsung ke bank,” lanjutnya.

Fred nyengir,” Tak semudah itu Nyonya. Suami anda berhutang ke bank pada waktu yang sangat lama tanpa pembayaran dan kabar. Bank mengalihkan semua urusan ini kepada kami. Jadi anda lihat, bila suami anda mentransfer ke bank, itu tak berarti apa-apa lagi. Semuanya sesuai prosedur. Seluruh tunggakan yang telah lewat batas, bank akan menyerahkannya kepada kami.”

Andre dan Reynold tersenyum sementara Anna terkesiap kaget. “ jadi bank tak tahu menahu lagi saat ini?”

”Tentu tahu,Nyonya.Tentu saja tahu. Mereka yang melimpahkannya kepada kami,” sahut Andre,” karena itulah semua pembayaran dan proses hukum melalui kami saat ini. Anda sudah membaca aturannya beberapa hari yang lalu bukan?” lanjutnya.

”ada pada dokumen bank yang kami serahkan pada anda, Nyonya,” tambah Reynold mengingatkan.

Anna masih belum tahu harus menjawab bagaimana. Ia mengira dengan mentransfernya empat hari lagi semua masalah ini akan selesai namun ternyata mereka masih harus berurusan dengan orang-orang memuakkan ini.

“Nah, Nyonya anda tak perlu kuatir. Bahkan jika anda membaca teliti dokumen itu, anda akan tahu bahwa ada discount pembayaran saat anda melunasinya pada kami.” Kata Fred menambahkan.

“melunasi pada anda?”

“ ya, pada kami. Kami yang mempunyai otorisasi masalah tagihan ini. Kami yang akan menentukan discountnya.”

”bukan pada bank?”

”bukan. Pada kami,Nyonya.” jawab Fred cepat.

”Nyonya, anda tahu semua bank pasti akan menyerahkan tagihan yang lewat batas pada perusahaan debt collector seperti kami,” tambah Andre, ” kami selalu membawa kertas bersegel sebagai tanda pembayaran bila sewaktu-waktu nasabah melunasinya,” lanjutnya.

”kertas bersegel itu sah dan anda dapat mengeceknya ke bank. Tiap lembar kertas mempunyai nomor yang berbeda. Begitu anda memegang kertas itu berarti anda sudah melunasinya.” Andre kembali menambahkan, ” silakan besok pagi anda mencek sendiri ke bank. Ini nomor teleponnya.” Andre menyerahkan selembar kartu nama dengan logo bank di atasnya.

Anna membaca sekilas kartu nama itu dan ia duduk di sofa menyilangkan kakinya berhadap-hadapan dengan Andre sementara Reynold dan Fred di sebelah kanannya..

“apakah suami anda selalu pulang malam Nyonya?” Andre bertanya lembut. Dasi kuningnya menggantung di atas meja saat membungkuk ke arahnya.

”ya tentu saja,”

”well, kalau begitu kami akan menunggunya.”

”tidak perlu. Ia keluar kota saat ini.”

ketiga tamunya saling berpandangan.

”baiklah Nyonya. Kami akan kembali besok,” Andre bangkit dari duduk dan melangkah ke pintu sementara Reynold masih menatap sang tuan rumah.

“Ayo Reynold, kita kembali,” Fred menepuk bahu kawannya dan melangkah ke luar.

Setelah mereka pergi, Anna menelpon Andre dan menjelaskan segalanya.

”baiklah, kau telepon bank. Setelah mendapat jawaban, siangnya kau pergi ke bank dan langsung bertemu orang yang kau telepon itu. Kita tak ingin tertipu. Jumlahnya tak sedikit,” jawab Andre.

Keesokan paginya Anna memutar nomor telepon yang tertera pada kartu nama tersebut. Setelah memastikan bahwa itu adalah nomor telepon bank yang dituju, ia membuat janji temu untuk siang harinya.

Sementara itu Andre sudah sibuk mengetik beberapa instruksi pada komputer besar Pizzo Car. Hari ini adalah waktu untuk install advance. Ia menjalankan proses install itu bersamaan dengan proses pengendusan ‘lubang’. Biar bagaimanapun ia tak ingin mempertaruhkan kontraknya hancur karena ada penyusup yang merusak softwarenya sementara proses install berlangsung. Sebenarnya berkali-kali Andre mengingatkan Herald untuk tidak memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang disediakan system operasi. Baginya lebih aman membuat sendiri source code untuk beberapa pekerjaan kecil seperti memindahkan file dari satu folder ke folder lain. Namun Herald bersikeras bahwa caranya cukup aman. Andre sadar bahwa fasilitas-fasilitas itu akan membuka ‘lubang-lubang’ baru bagi para penyusup namun akhirnya ia harus mengalah pada Herald karena ia sendiri sudah sibuk mengurus keuangan dan marketingnya.

“nah, ada satu tikus lagi,” gumam Andre pelan ketika melihat titik kuning berkedip lagi di layar noteboknya. Saat ini ia bekerja dengan dua layar computer di sisi kanan kirinya. Ia harus menjalankan proses install tingkat lanjut dengan mengetik berbaris-baris source code rahasia sambil sesekali menoleh pada layar satunya untuk memastikan tidak ada penyusup saat ia bekerja.

Ia mendorong kursinya lebih mendekat ke layar notebook dan memperhatikan titik kuning itu terus berkedip. Andre tak akan menekan satu tombolpun pada komputer besar di kirinya jika titik kuning itu belum berubah hijau.

Andre tahu bahwa pekerjaan install ini menjadi hal membosankan dan membutuhkan kesabaran karena banyaknya penyusup-penyusup yang selalu ingin tahu perut komputer seseorang. Diambilnya sebatang rokok dan dinyalakannya. Menunggu adalah pekerjaan membosankan baginya. Padahal sorce code yang harus ia ketik di komputer sebelah kirinya itu masih seperlimanya.

Andre bangkit dari kursi kulit hitam itu dan berselonjor di lantai bersandar pada meja besar. Matanya pedas menatap layar computer sejak kemarin. Bila nanti titik kuning itu berubah merah akan terdengar bunyi “beep” panjang dari notebooknya dan ia bisa bergegas melakukan pengamanan. Sementara ini ia hanya ingin beristirahat sejenak dan memandang ruangan sekelilingnya.

Dipandangnya dinding ruangan dingin itu dilapisi wallpaper dengan corak kecil. Baru kali ini ia mengamati dengan teliti bahwa corak kecil itu adalah logo Pizzo Rent Car. Setelah puas memandang semua yang ada di hadapannya, iapun memejamkan mata. Lehernya terasa pegal. Saat pikirannya kosong, tiba-tiba benaknya teringat Janet. Wanita itu luar biasa. Ia menemaninya berbagi cerita. Tanpa sadar ia merasakan kerinduan pada wanita yang belum pernah ditemuinya itu. Belum satu bulan sejak mereka bertemu di ruang chat namun ia merasakan seperti telah lama mengenal Janet. Ia membandingkan dengan isterinya, Anna yang sudah dikenalnya lama namun belakangan ini makin dirasa jauh. Anna bagai wanita yang baru bagi Andre. Wanita yang tak ia kenal.

Andre kembali teringat saat-saat ia bercinta dengan Anna. Semua tanpa gairah belakangan ini. Saat Andre membayangkan Janet dan isterinya berulangkali orgasme , dirinya merasa bersalah namun yang ia dapat adalah kecupan manis sebelum tidur dari Anna sebagai ungkapan terima kasih.

Andre menggelengkan kepalanya, ia tak ingin membiarkan dirinya terbawa perasaan. Tangannya berpegangan pada meja kerja besar dan mengamati layar notebook. Titik itu sudah menjadi hijau, ia menarik kursi dan bersiap mengetik berbaris-baris source code lagi. Mendadak teleponnya berbunyi. Sebuah pesan sms masuk. Dari Janet!

Sayang...kangen L

-- ”selamat siang Nyonya. Saya Wiliams,” pria dihadapannya mengulurkan tangan.

Anna menyambutnya,” Siang Mr. Wiliams. Saya Anna.”

”Nah, Nyonya Anna ada yang bisa kami bantu?” tanya pria itu ramah.

”Ya. Berkenaan dengan masalah tunggakan suami saya , Andre.”

Pria itu tersenyum ramah sambil membenarkan gagang kacamatanya.

“Ya. Anda menelpon kami tadi pagi. Memang benar seluruh permasalahan sudah kami limpahkan pada FSDC,”

”maaf..?”

”Ehm.., FSDC, Fast Solution Debt Collector. Salah satu perusahaan rekanan kami. Mereka yang mempunyai otorisasi untuk menyelesaikan tagihan suami anda,” jelas pria itu.

”Suami saya akan membayarnya tiga hari lagi. Langsung kemari.”

”Oh..oh, Nyonya...Itu tak perlu. Dalam dokumen bank kami sudah dijelaskan semuanya. Hutang berikut bunganya itu harus dibayarkan melalui FSDC.”

Anna membenarkan duduknya. Kursi ini terlalu besar bagi ukuran tubuhnya, ” jadi kami tak perlu membayar pada anda.”

Anna menatap pria itu dan melirik ke papan di depan mejanya yang bertuliskan CUSTOMER SERVICE.

“Tentu Nyonya. Anda cukup berurusan dengan FSDC. Kalau tak salah Reynold kemarin menghubungi kami. Suami anda sedang di luar kota rupanya,” pria itu berkata sambil tersenyum. Kumis tipisnya terlihat serasi dengan kulitnya yang putih bersih.

”Ya benar. Karena itu saya yang mengurusnya.”

”baiklah Nyonya. Anda cukup membayar pada mereka dan kabar baiknya mereka bisa memberikan discount bagi pembayaran anda.”

”berapa besar?”

”itu terserah mereka Nyonya. Yang pasti di bawah tagihan dan di atas hutang pokok. Jadi sebenarnya yang diberi discount adalah bunganya.”

”ya. Bunganya tinggi sekali.”

”tentu Nyonya. Suami anda terlalu lama menunggaknya. Denda keterlambatan juga dikenakan bunga. Coba saya lihat dulu..”, pria itu membungkuk membuka laci dan mengeluarkan beberapa kertas.

Anna menatap dinding di belakang pria itu. Simbol R berwarna emas melekat dalam ukuran raksasa pada dinding. Bangunan ini megah tentu Rich Bank merupakan bank besar, pikir Anna.

“nah, nyonya…bunganya memang lebih besar dari hutang pokoknya.,” kata pria itu sambil mengamati kertas di tangannya, “ sekitar tiga kali lipatnya,” lanjutnya sambil menyodorkan kertas tersebut agar terbaca oleh Anna.

Anna mengamati angka-angka tersebut. Persis sama dengan dokumen yang ia terima.

“baiklah, terima kasih atas waktunya. Kami akan membayar pada FSDC.”

Anna bangkit dari duduk.

“jangan lupa kertas bersegelnya Nyonya. Itu anda harus pegang sebagai bukti pembayaran.”

”tentu. Terima kasih.”

Anna melangkah pergi.

”satu lagi nyonya, pastikan salah seorang dari mereka,Mr. Andre, yang menerimanya dan menanda tangani kertas segel itu.”

Anna menoleh dan mengangguk sebelum mengangkat kakinya meninggalkan gedung megah itu.

-- ”aku belum bisa pulang Anna, nanti aku transfer ke rekeningmu. Besok bisa kau bayarkan,” suara Andre terdengar dari telepon.

”jadi kapan kau pulang?” Anna menempelkan gagang telepon sambil mengawasi Rachel yang sedang jungkir balik di karpet sibuk bergulat dengan boneka beruang besarnya.

”Belum tahu. Banyak kelemahan dalam sistem Pizzo. Aku harus memastikan semuanya beres sebelum meninggalkan kantor ini.”

” baiklah, hati-hati sayang...”

”ya Anna. Kau juga”

”aku kangen..” Anna setengah berbisik.

”...”

”Andre..?”

”Ya...”

”Kau tak mendengarkan?” Anna bertanya agak resah.

”ya.. apa kau bilang tadi...aku sedang melihat komputer..”

Anna mendesah,” tidak... baiklah, met bekerja”

“ya..met tidur..”

Klik. Telepon ditutup.

Anna bangkit dari duduk dan menuju ruang tengah. Ia merasakan Andre semakin dingin belakangan ini. Bahkan Rachelpun tak ia tanyakan kabarnya. Namun diusirnya cepat-cepat pikiran itu. /Ia sedang bekerja menyelesaikan masalah kami. Aku harus mendukungnya./

Sementara itu Andre berdiri dalam gelap. Sudah setengah jam yang lalu ia matikan komputer-komputer itu. Diraih tasnya dari atas meja dan bergegas keluar menuju hotelnya.

Setengah jam kemudian saat berendam dalam air hangat di hotelnya Andre mendesah. Aku kangen… itu kata isterinya dan ia mendengarnya namun tak sanggup mejawab. Hambar sekali rasanya berbicara dengan Anna. Andre sendiri heran mengapa dulu ia menikahinya. Sementara ia masih mengingat-ngingat semua masa lalunya bersama Anna, tiba- tiba handphonenya berbunyi. Diraihnya telepon genggam itu dari sisi bath-tub. Ada pesan sms. Layarnya bertuliskan :

22-09 00:10

“ kangen…”

Pengirim : Janet

Ia membalasnya :

“ kangen brown banana?”

Sepuluh menit kemudian cairan putih kental melayang-layang dalam air di atas pahanya.

--

*/7/*

Pagi itu Anna sudah menunggu di rumah. Hari ini pikirannya lebih cerah. Dirinya merasa bugar dan wangi. Sejak bangun tadi sudah disiramnya rumput dan bunga-bunga di taman depan. Sarapan untuk Rachel pun ia sendiri yang menyiapkannya. Setelah kembali dari bank mengambil uang, kini ia seorang diri di rumah. Rachel dan Mercy akan langsung ke mall setelah pulang dari play group.

Dihitungnya kembali tumpukan uang di tangannya. Semua ada enam puluh ikat. Jumlah yang sangat besar. Ia tersenyum ketika pegawai bank tadi tertegun melihatnya membawa uang sebegitu banyak dalam tas plastik belanja hitam tanpa pengawal seorangpun. Sejak dulu, Anna selalu menyukai uang. Kini barang yang disukainya itu ada dalam pangkuannya.

Anna teringat kata-kata bijak bahwa uang adalah malapetaka dan ia telah membuktikannya. Beberapa kali Anna mendapati Andre mengkhianatinya karena uang berlimpah. Dengan kekayaan yang begitu cepat diraih dalam usia muda, Andre hampir saja meninggalkan Anna. Namun kerja kerasnya membawa hasil. Tekanan yang dilakukannya bertubi-tubi pada Andre hingga pria itu akhirnya bersedia menikahinya tanpa daya.

Dibukanya laci dalam kamarnya yang selalu terkunci bahkan Andrepun tak pernah tahu bahwa laci itu selalu terkunci. Andre selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Dikeluarkannya beberapa kertas. Ada nota hotel, tiket pesawat, karcis bioskop, nota cafe, karaoke, diving club dan diskotik. Itu semua adalah bukti-bukti pengkhianatan Andre terhadapnya. Anna mencintai pria itu namun entah mengapa ia enggan untuk membuang kertas-kertas tersebut, bahkan hingga kini semuanya ia simpan rapi dalam laci pribadinya.

Dibacanya tiap lembar kertas tersebut. Anna selalu merasa puas setelah membaca kertas-kertas itu.

Tanggal 21 Peb 2000, Hotel French Kiss, enam hari. Tanggal 14 March 2000 jam 20:00 karcis Bioskop Great’s Movie dua bangku VVIP.

Tanggal 30 March 2000 jam 21:00; dua piring stick T-bone, satu botol anggur Bols dan dessert dari café Nanaomi Steak…

…dan seterusnya....

Anna mendesah, dikembalikannya kertas-kertas itu tersusun rapi di lacinya kembali. Anna mendapati dadanya terasa sesak. Ia benci suaminya namun ia mencintainya. Pernah terlintas dalam benaknya untuk mengkhianati Andre suatu hari, toh ia diperlakukan yang sama oleh suaminya. Namun hingga kini ia tak punya keberanian untuk memulainya.

Anna bangkit berdiri menghadap cermin. Disisirnya rambut hitamnya yang bergelombang. Aroma harum tercium dari rambutnya. Sebelum ke bank tadi, ia sempat creambath di salon sebelah bank. Anna mengamati dirinya dalam cermin. Blazer merah mudanya terlihat serasi dengan dalaman putih dan rok putih ketatnya. Lututnya menyembul halus di bawah rok dengan belahan samping. Diangkatnya sedikit tungkai kaki kanannya dan ia puas menatap paha putih mulusnya mengintip dari balik belahan rok. /Kau cantik Anna./ Bibirnya tersenyum tipis sambil tetap menatap cermin di hadapannya. Setelah berulangkali bolak-balik menghadap kanan dan kiri ia berbalik membelakangi cermin menengok ke belakang. Dilihatnya rok putih membungkus erat pantatnya yang berisi. Tiba-tiba ada desakan kuat dalam dadanya. Hawa panas dan amarah. /Kurang ajar kau Andre! Suatu saat akupun bisa membalasmu!/

-- “Nah,Nyonya, apakah kau sudah mempersiapkan uangnya?” Fred membuka pembicaraan.

“berapa yang harus aku bayar?” Anna menyilangkan kakinya. Hari ini ia lebih percaya diri dengan satu tas penuh uang di rumahnya.

Fred hanya tertegun memandang pemandangan indah di depannya. Reynold masih menampilkan mimik galaknya walau sesekali Anna mendapati pria itu mencuri-curi kesempatan melirik ke kakinya yang indah. Sementara Andre masih tetap tampil beda dengan kedua rekannya. Ia sibuk menyiapkan kertas bersegel dari dalam tasnya. Dasinya bergambar kupu-kupu terlihat serasi dengan wajahnya yang putih bersih.

“hai…berapa aku harus bayar?” Anna merasa semakin percaya diri. Ia menikmati susana itu.

”ehm...menurut tagihan...enam puluh ribu dollar,” jawab Andre. Selintas Anna memergoki Fred terlihat meneguk ludah seperti anak remaja yang menjumpai gadisnya pertama kali.

”berapa discountnya?”

”ehm.., eh...mungkin seribu dua ribu...”

“lebih baik aku tak bayar!” kata Anna tegas.

Ketiga tamunya celingukan. Kini mereka seperti tak berdaya.

”baiklah lima ribu dollar...,” kata Andre.

“Tidak.”

Andre terkesiap. Kini mereka yang menjadi bulan-bulanan.

“apa kalian tidak tahu bahwa bunganya sendiri hampir empat puluh lima ribu dollar?” Anna menurunkan kakinya dan mencondongkan tubuhnya ke depan,” dan kalian memberi discount lima ribu?” lanjutnya.

“baiklah, Nyonya…begini...eh...kami harus konsultasi ke pimpinan kami dahulu. Setelah itu anda akan mendapatkan eh.. kepastian berapa jumlah discountnya,” Andre menjawab ragu-ragu.

”baiklah. Saya tunggu besok”

-- Malam itu Andre benar-benar lelah, Pizzo Rent Car profesional dalam mengurus mobil tapi payah dalam infrastruktur komputernya. Berkali – kali ia harus menghadapi penyusup dan menunggu titik-titik kuning itu berubah hijau sebelum melanjutkan kerjanya.

Baru saja Anna menelpon dan menceritakan semuanya. Andre beruntung isterinya tidak memancing dengan kata – kata kangen lagi. Ia sudah tidak merasakan gairah dengan isterinya dan kini tubuhnya benar-benar letih. Hanya satu yang ia inginkan. Berendam dalam bak hangat kamar hotelnya.

Setelah sejam lebih ia berendam, tubuhnya terasa lebih segar dan ia melempar dirinya ke ranjang empuk tanpa berpakaian sama sekali. Tiba-tiba handphonenya berbunyi tanda pesan sms masuk.

Isinya :

“…hello brown banana…”

/Janet!/

Andre tersenyum dan membalasnya

“…kemari sayang… kau harus membuktikan bahwa diriku tukang cukur handal…”

Tiba-tiba ia merasa ingin bercinta dengan Janet. Bercinta dalam kenyataan bukan khayalan.

Andre ingin mengirim sms lagi ke Janet tapi menundanya. /Aku akan menunggu ia membalasnya./

Saat Andre membolak-balik badannya di ranjang resah menunggu, handphonenya kembali berbunyi. Ditatapnya layar mungil di hadapannya. Isinya :

“kangen….”

Andre sudah akan tersenyum ketika disadarinya pengirim pesan tersebut adalah isterinya. /Sial!/

Andre berbaring diam menunggu balasan dari Janet. Setelah setengah jam handphonenya tak berbunyi, ia mengetik pesan sms isinya :

“ bercinta yuu…”

diketiknya nomor handphone Anna . Janet mungkin sudah tertidur dan Andre memutuskan tidak ada salahnya bermesraan melalui telepon dengan isterinya. dan ia terbaring menunggu dengan mata yang tak bisa terpejam hingga hampir pagi. Ribuan kilometer darinya, Anna sudah tertidur pulas di ranjangnya sendiri sejak tadi.

*/8/*

Anna mempersilakan ketiga tamunya duduk. Mereka kini terlihat lebih sopan.

”jadi..berapa yang harus aku bayar?” tanya Anna langsung pada pokok persoalan.

”Tiga puluh lima ribu, Nyonya,” jawab Andre tegas sambil menunjuk kertas di hadapannya , ” dan anda akan memiliki kertas segel ini..”

”aku mau tiga puluh ribu dollar,” jawab Anna tegas.

”tidak bisa Nyonya”

”pasti bisa bukan?” Anna kembali menyilangkan kakinya. Kini ia mengenakan terusan gaun pink selutut dengan jaring transparan di pinggul dan punggungnya. Ia tahu kelemahan pria dan ia memutuskan untuk menghukum mereka.

Ketiga pria itu terdiam.

Fred menatap betis di hadapannya.

Reynold sudah tak malu-malu lagi menatap pinggulnya.

Sementara Andre tetap fokus pada mata sang tuan rumah.

”tidak bisa,” Andre memecah keheningan

”apa memang senilai itu batas yang diberikan bosmu?”

”ehm... sejujurnya tidak Nyonya. Tapi kami membutuhkan fee dalam pekerjaan ini,” jawab Andre jujur. Kedua temannya kaget mendengar jawaban Andre.

”Berapa sebenarnya?”

”ehm..dua puluh lima ribu dollar.” jawab Andre sudah kepalang basah.

“Kertas segel itu anda tanda tangani tiga puluh lima ribu dollar. Dua puluh lima ribu dollar untuk FSDC. Lima ribu dollar untukku dan sisanya kalian miliki,” Anna menantang. Anna sudah meyakinkan dirinya bahwa inilah pembalasan untuk suaminya. Lima ribu dollar cukup layak untuk membalas pengkhianatan yang pernah dilakukan Andre selama ini.

Ketiga tamunya berpandangan.

Tiba-tiba Reynold bicara pelan dan datar namun cukup jelas terdengar oleh mereka semua.

”Nyonya,kau layani kami dan kami hanya mengambil tiga ribu. Sisanya kau miliki.”

Anna terkesiap. Tak percaya pada pendengarannya.

”maaf, maksud anda...?”

”kertas segel itu akan bertandatangan tigapuluh lima ribu. Dua puluh lima ribu kami bawa ke kantor. Tiga ribu untuk kami dan sisanya kau miliki.” Reynold kini mengambil alih pembicaraan sementara Andre dan Fred menahan nafas tak percaya atas tawar menawar ini. Bagi mereka berdua ini sudah di luar rencana.

Keempatnya terdiam dalam keheningan. Otak Anna bekerja keras, perasaannya mulai gelisah.

”lebih jelasnya bagaimana?” Anna kembali bertanya. Dadanya mulai berdegup lebih keras.

”ehm..maaf nyonya...anda wanita menarik dan dewasa. Kami bertiga pria normal. Anda tentu tahu maksud kami.”, Reynold menjawab agak ragu.

Anna terdiam, dadanya serasa ingin meledak, matanya menatap marah ke arah Reynod. Mereka berani berkata kurang ajar di rumahnya. Namun ia berusaha tetap tenang, ”kau sadar bukan dengan yang kau katakan?”

”aku bisa laporkan ini ke bosmu!” lanjutnya.

”kami hanya memberikan penawaran yang lebih baik,Nyonya,” Reynold menanggapi dingin, ”bukankah bagian anda menjadi lebih besar?”

Anna mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. Situasi ini sama sekali tak diduganya. Mulutnya sudah terbuka tapi dikatupkannya kembali. Ia memang berniat membalas suaminya namun bukan dengan cara seperti ini. Keheningan kembali menyelubungi ruangan.

“Ehm, Nyonya…anda tentu bisa menolaknya bila tak berkenan…dan anda membayar uang tigapuluh lima ribu seperti tawaran kami tadi,” Andre mencoba memecah kebekuan berusaha mengembalikan situasi.

“Bagaimana Nyonya ?” Reynold kembali mendesak. Baginya bila sudah terlanjur basah tak ada kata yang akan ditariknya kembali.

Anna masih diam tak percaya menghadapi situasi ini. Kepalanya berpikir keras, “ dan aku memiliki tujuh ribu dengan segel tiga puluh lima ribu?”

“Tentu Nyonya. Tentu. Tujuh ribu bukan jumlah yang sedikit Nyonya.”

Anna tersenyum, dan berkata ,”Baiklah….”

Ia bangkit dari duduk melangkah ke dalam kamar. Ketiga tamunya saling berpandangan masih tidak percaya usul Reynold diterima dengan mudahnya.

“ Bagaimana kalau aku yang lebih dahulu,” tanya Reynold bergantian menatap kedua rekannya, “ aku yang mengusulkannya.”

Fred dan Andre saling memandang.

“Aku yang terakhir,” sahut Andre.

Fred menarik nafas lega. Ia harus mengakui keberanian Reynold dan jiwa besar Andre.

Lima menit kemudian Anna muncul dengan membawa sebungkus kertas berwarna coklat yang penuh terisi uang.

”Nah, mana segelku?”

Andre buru-buru menandatangi kertas bersegel itu dan disodorkannya.

“Tiga puluh lima ribu,” Anna berkata sambil membaca dengan teliti kertas segel itu.

“Baiklah tuan-tuan, apa akan dilakukan di rumahku?”

”Ehm...terserah pada Nyonya,” Reynold berkata sambil menelan ludah. Dirinya masih tak percaya akan bisa menikmati wanita di hadapannya itu.

”well, kalian bertiga, siapa yang lebih dulu akan melakukannya?” Anna bertanya memandang tamunya bergantian.

“Mmm..saya Nyonya,” kata Reynold.

“Kemudian?”

“Fred dan terakhir Andre.”

“Baiklah, ini uangmu. Hitunglah.”

Ketiga pria itu mulai menghitung tumpukan uang dengan tidak sabar.

“Dua belas ribu.” Andre yang pertama selesai menghitung.

Reynold meletakkan uang di tangannya, “sepuluh ribu.”

“tiga belas ribu.” Fred yang terakhir selesai menghitung uang di tangannya.

Ketiganya berpandangan.

“jadi, semuanya tiga puluh lima ribu,” ujar Andre.

“lebih tujuh ribu Nyonya,” Reynold menambahkan.

“Sesuai segel tuan-tuan. Sekarang kalian angkat kaki dari sini! semua urusan kita selesai!” Anna melangkah ke pintu.

Ketiga tamunya menatap Anna bingung.

”Tapi Nyonya....”

”Kalian pergi atau kutelepon polisi!” bentak Anna.

Mereka tercekat mendengar ancaman Anna. Situasi telah berbalik. Ketiganya bergegas mengumpulkan tumpukan uang itu dan memasukkannya ke dalam tas. Saat mereka melangkah ke luar , telinga Reynold sempat mendengar Anna berkata lantang, ” aku tak suka urutannya.....”

*/9/*

Michel sedang seorang diri di ruang kerja kantornya yang baru. Bosnya sekarang jauh berbeda dengan gaya Andre memimpin. Ia amati lagi berkas-berkas tersebut. Sudah sejak pagi ia terpekur dengan tumpukan kertas di atas mejanya. Pajak merupakan sumber penghasilannya selama ini. Namun beberapa kali ia membolak-balik seluruh berkas keuangan perusahaan belum satupun celah didapat.

Lebih baik beristirahat dulu, pikirnya dan Michel melepas dasinya , meraih gagang telepon , menekan beberapa nomor dan meluruskan kakinya ke atas meja. Terdengar nada tunggu sebelum akhirnya sebuah suara terdengar.

“ hallo..” Suara isterinya terdengar di gagang telepon,

“ yammy,aku menunggu di kantor..Apa kau sudah selesai belanja?”

” sebentar lagi sayang.”

” jemput aku ya”

“ seperempat jam, di lobby bawah.”

”oke..bye..” Michel meletakkan gagang telepon.

Disandarkan kepalanya di kursi kerja kerjanya. Isterinya masih berbelanja dan ia mempunyai beberapa menit untuk merenungkan urusannya saat ini. Perusahaan tempatnya bekerja ini sama sekali tidak mempunyai celah dalam laporan keuangannya. Michel telah memperingatkan dirinya untuk lebih berhati-hati. Kejadian dalam perusahaan Andre membuatnya harus memastikan apa yang ia kerjakan kali ini tak akan tercium.

Pikirannya kembali melayang ke hari saat ia dipanggil Andre. ’..isterimu menarik..aku pernah melihatnya berbicara dengan kau...’

Michel mendesah. Andre memang gila dan ia sangat membencinya. Villa kecil impiannya menjadi tempat keliaran nafsu Andre.

’..dia bukan ahli dalam bercinta..’ itu yang dikatakan Yammy beberapa hari setelah Michel menjemputnya. Darah Michel selalu mendidih bila mengingat itu semua. /Awas kau Andre!/

Aku harus mencari tahu dimana ia berada kini, pikir Michel. Setelah itu aku akan mencari cara untuk membalasnya!.

Matanya kembali memandang tumpukan berkas di mejanya. ”Well, aku lanjutkan besok pagi saja,” gumam Michel pada diri sendiri. Dirapikannya seluruh berkas tersebut sebelum melangkah ke pintu.

Di lobby bawah, dua orang satpam asyik mengobrol. Tak tampak satupun tamu di lobby bawah. Ia menggosok-gosokkan alas sepatunya di keset pintu lobby. Ditatapnya lapangan parkir yang sepi. Mobil Yammy belum tampak, ia melangkah ke sisi kanan teras lobby menuju sebuah bangku taman. Pemandangan dari bangkunya ini terhalang oleh tiang besar bangunan sehingga keberadaanya tak mencolok namun Yammy pasti mengetahuinya. Yammy selalu hapal kebiasaan Michel bahkan hingga tempat mana saja yang dipilih Michel untuk menunggu. Setelah beberapa menit muncul sedan hitam dari pelataran parkir. Remnya mendecit tepat di dekat tempatnya menunggu. Ia bergegas membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.

”Hallo sayang, hari ini menyenangkan?” Yammy bertanya sambil mengecup pipinya dengan kedua tangan menggenggam setir.

“Yah, biasalah. Kau sudah makan?” Michel balik bertanya.

”Belum. Kau?”

“Belum. Kita makan di Resto Orange, bagaimana?”

“Oke..kami antar Yang Mulia,” Yammy tersenyum menggoda. Dirinya sedang bahagia. Ia puas dengan acara berbelanjanya hari ini. Bross Burung Merak yang diinginkannya berminggu-minggu lalu sudah didapatnya begitu pula dengan gaun tidur berwarna pink. Michel pasti akan terpesona dengan belahannya.

“ Michel, kau buka plastik coklat di belakang itu. Aku membeli dasi untukmu,” Yammy berkata sambil membelokkan setirnya menuju gang-gang sempit. Mereka menamai gang-gang sempit itu dengan nama “jalur tikus”. Saat-saat jam pulang kerja seperti ini jalanan selalu macet. Michel dan Yammy selalu bisa mengatasi masalah itu dengan melalui jalur – jalur tikus.

”Hmm...kuning lagi?” Michel merentangkan dasi tersebut di hadapannya.

“Tentu sayang. Kau tahu aku suka warna kuning. Lagipula kau kelihatan handsome dengan dasi kuning dalam stelan gelapmu itu.”

“Ya tapi kau baru membeli dasi kuning minggu lalu.”

”sayang...kau serasi dengan dasi kuning tersebut,” Yammy menoleh padanya,” percayalah padaku.”

Michel menoleh pada isterinya. Ia selalu merasa isterinya lebih mengetahui apa yang pantas dan tidak untuknya. Dimasukkannya kembali dasi tersebut pada plastik pembungkusnya.

”Michel...” Yammy memanggilnya tanpa menoleh.

”Ya..”

”Cobalah dasi itu. Aku ingin melihatnya.”

”dasi ini? Sekarang?”

Yammy mengangguk. Matanya tetap menatap ke jalan di depannya.

” belum disetrika...,” Michel berkata malas.

”tidak lusuh kok. Pakailah sayang,”

Michel membuka kembali bungkusan coklat tersebut dan menarik-narik dasi yang dikenakannya. Lima menit kemudian ia telah menggunakan dasi barunya.

“Bagaimana?” Michel menghadapkan dadanya ke arah Yammy.

“Hmm…handsome,honey. Sudah kubilang kau pantas dengan dasi itu.” Yammy tersenyum.

Michel meluruskan badannya kembali. Ia merogoh permen karet dari laci dashboard. Beberapa saat kemudian mulutnya sudah mulai mengunyah permen tersebut. Rasa asam manis di lidahnya bisa mengurangi kepenatan dirinya. Diaturnya posisi tempat duduk dan ia merebahkan sandarannya sambil meluruskan kakinya. Michel mengeraskan suara tape dan menikmati alunan lembut musik jazz sambil mulai melepas dasi barunya. Yammy melirik ke arahnya,” jangan kau lepas Michel. Aku ingin kau memakainya.”

Michel tertegun berhenti mengunyah. Dikencangkannya kembali ikatan dasinya dan melempar dasi lamanya ke jok belakang. Ia selalu mengalah untuk urusan yang satu ini.

Beberapa menit kemudian mereka sudah kembali ke jalan besar , setelah melewati lampu merah mereka berbelok ke kanan dan memasuki pelataran parkir Orange Resto.

Mereka memilih tempat di dekat akuarium laut besar di tengah-tengah ruangan. Beberapa menu sudah mereka pesan dan saat Michel sedang membenarkan letak dasi barunya yang terasa mencekik leher, matanya terbelalak. Beberapa meter di hadapannya ia melihat sesosok pria yang dikenalnya. Pria bersetelan gelap itu membelakanginya namun ia hapal betul dengan posturnya. Andre!

Ia memperhatikan Andre duduk berhadap-hadapan dengan seorang wanita berkaos merah . Wanita itu kelihatan muda dan energik dengan rambut coklat gelap seleher. Michel memperhatikannya menatap Andre dengan penuh perhatian. Dirinya menduga wanita itu bukan isteri Andre.

”Michel, aku ke toilet dulu... ,” Yammy membuyarkan perhatiannya. Michel mengangguk tak menjawab dan memperhatikan isterinya melangkah menuju toilet. Ditatapnya kembali wanita di hadapan Andre. Ia menyukai style wanita itu. Wanita muda bertubuh langsing dan kelihatan energik serta moderen. Yammy, isterinya cantik dan sexy namun tidak seenergik wanita yang bersama Andre itu. Baginya Yammy terlihat lebih menggoda dengan selalu berpenampilan ketat pada pinggul dan payudaranya namun wanita di hadapan Andre itu terlihat lain.

Tiba-tiba ia tersadar bahwa letak toilet itu di belakang meja Andre. Saat Yammy ke toilet tadi tentu Andre tidak terlalu memperhatikannya karena Yammy berjalan membelakanginya. Dirinya ingin tahu apa reaksi Andre bila melihat Yammy yang tak lama lagi akan muncul dari toilet. Yammy akan berjalan di hadapannya pasti bedebah itu akan menyapanya dan memperkenalkan pada wanita di hadapannya sebagai isteri salah satu karyawannya. Meski seharusnya Andre menyadari bahwa ia kini telah kehilangan perusahaan yang dibanggakannya dan mengakui bahwa dirinya tak lebih dari pengangguran. Mendadak dirinya merasa puas mengingat hutang-hutang Andre dalam jumlah besar pada Bank. Bahkan sambil mengunyah kentang gorengnya saat inipun Michel masih ingat persis jumlah hutang terakhir Andre berikut bunganya sesaat sebelum dirinya dikeluarkan dari perusahaan Andre.

Michel ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan, kelihatannya mereka berdua mengobrol dalam suasana santai dan bergembira. Persis reuni bertemu teman lama. Saat Michel sedang mencoba memperhatikan menu apa yang mereka santap, Yammy muncul dari toilet. Stelan blezer putih dengan dalaman kaos putih ketat terlihat mempesona. Michel tak pernah bosan dengannya dan dadanya tiba-tiba merasa terbakar mengingat Andre juga pernah merasakan isterinya.

Yammy melangkah tenang sambil menjinjing tas kecilnya, Michel memperhatikan dengan seksama saat Yammy melintas di sebelah meja mereka. Andre sama sekali tak menoleh begitu juga dengan isterinya. Jelas-jelas mereka dalam posisi saling berhadapan dan harusnya saling melihat. Benaknya berpikir, apakah Yammy dan Andre merupakan makhluk yang pandai berpura-pura.

“Nah, Michel hidangan utama kita belum datang juga rupanya?” Yammy menarik kursinya.

“ehm..iya. Ini kentang gorengnya.”

”kau makanlah. Aku harus menjaga dietku,” ujar Yammy.

Michel menarik piring kentang goreng itu lebih dekat dan mencelupkan sepotong kentang pada saos di sisinya.

Yammy memperhatikan potongan kentang tersebut, ”jangan terlalu banyak sayang. Nanti kau kenyang sebelum makan siang kita datang.”

Michel manatap mata isterinya sejenak, membatalkan suapannya dan meletakkan kembali kentang tersebut ke piring. Dilihatnya sekilas Andre dan wanita itu masih mengobrol sambil sesekali tertawa-tawa kecil.

” Yammy, kita pindah meja saja.”

” Kenapa?”

” Aku ingin melihat pemandangan di jendela itu,” Michel menjawab sambil menjulurkan lehernya ke arah jendela.

Yammy menoleh ke arah yang ditunjuk Michel, ” baiklah..”

Setelah memanggil pelayan untuk membantu memindahkan minuman dan kentang mereka, Michel memilih kursi yang menghadap jendela. Meja mereka kini persis di belakang meja Andre. Ia ingin mendengar percakapan mereka.

”ya...kau memang nekat. Tapi aku senang bisa bertemu dengan kau,” suara wanita dari belakangnya terdengar renyah.

Michel memperhatikan isterinya mengamati pemandangan dari jendela sambil menyedot juice apelnya.

”haha...aku juga senang. Aku merindukanmu, kau tahu itu?” suara Andre terdengar jelas.

”jadi kapan kita akan bertemu lagi?”

”tentu saja sesering mungkin..” suara Andre kembali terdengar diiringi dentingan gelas.

“ya … kapan?” suara wanita itu agak serak bagi telinga Michel.

”minggu depan..bagaimana? Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku di Pizzo Car. Mereka nol besar infrastrukturnya. Perusahaan besar itu sama sekali tidak memiliki ahli IT yang bisa menjaga sistem mereka.”

Michel tersenyum, siang ini tanpa diduganya,ia memperoleh informasi yang sangat diinginkannya. Paling tidak ia tahu Andre tengah mengerjakan proyek di Pizzo Car. Michel sangat mengenal perusahaan rental mobil terbesar di wilayah timur itu.

Diteguknya juize avocado, agak pahit rasanya. Michel melirik ke arah Yammy, isterinya itu masih asyik menatap pemandangan dari balik jendela. Ia mengikuti arah pandangan isterinya. Menara Cruisse Emperial terlihat megah dengan dinding coklatnya di antara bangunan lain. Michel ingin tahu apakah Yammy mengenal suara Andre namun isterinya itu masih tak berkedip menyaksikan pemandangan di balik jendela kelihatannya tak terpengaruh oleh suara Andre. Setelah memperhatikan isterinya sekali lagi, ia mulai berkonsentrasi mendengarkan percakapan pasangan di belakangnya.

“Nah, Wisdom…jadi minggu depan aku akan hubungi kau lagi..sementara ini kita berhubungan lewat telepon saja. Aku harus mengejar kereta kembali ke kotaku,” suara wanita di belakangnya terdengar agak serak.

“Oke, Janet…” suara Andre kembali terdengar di belakangnya.

Michel mengelus-ngelus dagunya. Jadi bedebah itu memperkenalkan dirinya dengan nama Wisdom. Benaknya berpikir, pasti wanita bernama Janet itu calon korban Andre berikutnya.

Tak lama kemudian terdengar bunyi bangku digeser dan mereka melangkah ke meja pembayaran melintas di samping meja Michel. Michel kini dapat lebih jelas menatap pasangan itu. Sang wanita mengenakan kaos merah dengan celana jeans biru. Tas putihnya terlihat serasi dengan sepatu kets putihnya. Dipandangnya wanita itu menggenggam tangan Andre layaknya pengantin baru sebelum mereka melangkah menuju pintu.

“ Michel, makanlah,” Yammy mengagetkannya. Michel tersentak. Sepiring besar lobster dengan sop kepiting yang mengepulkan asap telah tertata rapi di meja. Rupanya ia terlalu asyik memperhatikan Andre hingga tak sadar pelayan sudah menyajikan hidangan.

“aku perhatikan kau tertarik dengan pasangan yang baru saja keluar itu,” Yammy berkata menyelidik.

Michel tersenyum. Ia memutuskan untuk tidak berbohong. Yammy pasti telah melihat Andre jadi tak ada artinya ia berkelit. ”Itu Andre...” Michel berkata singkat.

Yammy tiba-tiba tersedak. Juice dalam sedotannya mengalir turun kembali ke gelas. Bibirnya masih menempel di sedotan namun matanya membelalak. Michel melihat mata isterinya yang bulat besar.

“Ada apa?” tanya Michel keheranan.

Isterinya menatap kembali ke arah pintu restaurant, ” kau bilang itu Andre?”

”Ya. Itu Andre. Kau pasti tahu bukan?” Michel bertanya dengan nada rendah. Dadanya terasa terbakar api cemburu. Ia harus mengakui wajah Andre yang tidak terlalu tampan telah membuktikan bahwa wajah bukan segalanya. Banyak wanita tergila-gila oleh Andre. Bukan hal yang mustahil isterinyapun hanya berpura-pura saat mengatakan bahwa Andre bukan pecinta yang baik.

Yammy tersenyum kecut. Ia merasa suaminya mempermainkan dirinya.

“Kau bilang itu Andre. Bekas bosmu?” Yammy balik bertanya.

Kini Michel yang keheranan. Kepalanya tiba-tiba dipenuhi pikiran bahwa Yammy tidak mau mengakui bahwa pria itu adalah Andre. Pria yang pernah tidur bersamanya selama tiga hari di villa mereka. Ia mulai menyangka bahwa Yammy berusaha membuat kejadian ini menjadi lebih rumit dengan mengingkari pria itu adalah Andre.

”Tentu saja ia Andre!”

”Bukan!”

Michel melongo.

”Mengapa kau memaksaku mengakui pria itu adalah Andre?” Yammy kembali bertanya. Ia merasa ada yang aneh pada diri Michel. Dirinya pernah tidur bersama pria bernama Andre itu tentu saja ia tahu pasti bila pria itu adalah Andre bahkan ia masih ingat caranya bercinta yang menjijikkan. Namun Michel memaksanya mengakui bahwa pria yang baru saja mereka lihat itu adalah Andre.

Michel sebenarnya ingin berteriak bahwa Yammy pernah tidur dengan pria itu selama tiga hari jadi mengapa harus lupa dan mengingkarinya. Na

un ditahannya perasaan yang menggelegak itu, diraihnya juice avocado dan rasa pahit kembali mengalir di tenggorokannya.

”sudahlah, mungkin aku yang salah lihat,” Michel berkata datar. Ia tak ingin mengungkit-ungkit masa lalu. Mungkin memang Yammy sedang berusaha melupakan kejadian itu dengan mengingkari bahwa pria yang dilihatnya itu adalah Andre. Yammy masih diam menatapnya.

”Sudahlah, ayo kita makan..”, Michel berusaha mengembalikan suasana yang penuh kecanggungan itu. Yammy masih memandangnya curiga sebelum mulai meraih sendok di hadapannya. Merekapun menghabiskan hidangan tanpa berbicara dan saling menatap penuh keheranan akan apa yang ada dalam kepala masing-masing.

Saat mereka pulang, Michel masih bertanya-tanya dalam hati untuk apa Yammy berbohong padanya.

-- “Jadi keretamu akan berangkat tiga jam lagi bukan?” Andre menggenggam tangan Janet seakan-akan tak ingin melepaskannya.

Mereka kini berada di pinggiran trotoar depan stasiun kereta antar kota. Siang tadi ia tengah menyelesaikan instalasi programnya di Pizzo Car ketika Janet mengajaknya bertemu. Andre membereskan perangkatnya dalam lima belas menit , izin kepada Mr.Manuel dengan alasan mengambil beberapa source code yang dibutuhkan dan bergegas menuju bandara. Beruntung jadual keberangkatan pesawatnya bertepatan dengan saat ia tiba di bandara. Kini ia mendapati hidungnya telah mencium aroma Clinique Happy dari leher Janet yang berjalan di sisinya.

“terus kemana kita sekarang?” Janet bertanya sambil menatap mata Andre, ” aku belum memesan tiket kereta” lanjutnya.

”kau ingin memesan tiket dahulu?” Andre balik bertanya dengan mata berkeliling waspada. Bagaimanapun berada di kotanya sendiri bersama seorang wanita yang bukan isterinya mengandung resiko. Herald atau kawan-kawannya yang lain bisa saja memergoki mereka.

“Terserah. Enaknya bagaimana?” Janet masih menatap mata Andre.

“enaknya kau tak usah kembali hari ini,” kata Andre sambil tertawa mencoba mengalihkan kekuatirannya. Dipandangnya mata Janet lekat-lekat dan tiba-tiba ia menyadari dirinya bahagia sekali sore ini. Benaknya heran betapa ia sangat merasa dekat dengan wanita yang baru dijumpainya ini. Mungkin obrolan-obrolan mereka melalui ruang chat yang membuatnya merasa Janet bukan orang asing baginya.

”stasiun sudah di depan kita,” Janet berkata sambil memandang atap stasiun yang tinggi. Bangunan itu berlantai tiga dengan tiang-tiang hijau besar sebagai penopangnya.

”kita pesan sekarang?” tanya Andre ragu. Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Janet.

”mmm...bagaimana bila kita berkeliling dulu, nanti malam saja aku kembali dengan kereta terakhir. Toh loket dibuka satu jam sebelum keberangkatan,” Janet berkata sambil tersenyum.

Andre merasa lega dan menarik tangan Janet. Sebuah ide melintas di benaknya,” kau ingin lihat kantorku?”

Janet mengangguk dan merekapun menghentikan taxi yang berseliweran di depan stasiun.

Mereka sudah memasuki ruang kerja Andre. Janet menatap penuh perhatian ke sekeliling ruangan. Ruang kerja itu tanpa karpet dengan lantai keramik putih besar. Jendelanya tak akan terjangkau oleh tangannya. Letaknya dekat langit-langit ruangan dengan pinggiran dari kayu mahoni. Ruangan itu berisi dua meja besar dan tiga meja yang lebih kecil. Dua meja besar berada di masing-masing sisi ruangan saling berhadapan. Tiga meja kecilnya berjejer rapi di sisi yang lainnya. Pada ketiga meja itu tergeletak beberapa alat elektronik rancangan Andre.

” Alat apa itu?”

” untuk mengirim sinyal ke satelit. Semacam GPS namun berbeda,” Andre menoleh ke arah Janet. Ia ragu-ragu untuk meneruskan menjelaskan perangkat tersebut. Janet bukan orang yang dilihatnya akrab dengan chip-chip elektronik.

“dan itu?” Janet kini menunjuk ke alat yang lainnya.

” itu pengirim text over GSM. Pesan melalui jaringan GSM.”

“sms?”

“yah, semacam itulah.”

“kau pandai menciptakan alat rupanya.”

”Hmm...” Andre tersenyum tak menjawab.

”ini mejaku,” Andre menghampiri salah satu meja kerja besar dan menata kabel-kabel data yang berserakan di atasnya. Ia bersyukur dalam kantor barunya yang kecil ini mejanya hanya dipenuhi kabel dan tidak ada foto Anna dan Rachel.

”itu?” Janet bertanya menunjukkan jari ke meja besar satunya.

”meja Herald. Rekananku.”

”kau hanya berdua?”

”ya.sejak kami memutuskan untuk memberhentikan seluruh karyawan. Belum lama berselang,” Andre berkata datar, “ ini kantor baruku,” lanjutnya.

Janet membalikkan badannya. Kaos merahnya yang ketat menempel di lengan Andre. Ia menatap Andre dan mereka berdua hanya diam tanpa tahu harus melakukan apa. Janet mencium aroma rempah dan ia yakin Andre bisa merasakan aroma wangi yang manis dari parfum Janet.

Beberapa saat lamanya mereka saling pandang dengan berdiri. Gejolak hangat menjalar di tubuh Andre, ia bisa merasakan kekenyalan payudara Janet di lengannya.

“ kau tidak ingin menciumku?”. Suaranya terdengar agak serak. Dilihatnya Janet hanya tersenyum dengan mata berbinar seperti Rachel yang nakal.

“di chat, kau berani sekali,” Andre berkata sambil melingkarkan tangannya di pinggang Janet dan memberanikan diri menyelipkan salah satu jarinya.

Bibir Janet kini sudah tak tersenyum, ia bisa merasakan jari Andre di kulit pinggangnya. Ketika Andre mencoba mencium Janet, wanita itu menghindar ke belakang dan sebelum Andre sempat melakukan apapun,Janet sudah memberinya kecupan di pipi.

Dada Andre berdegup,” hanya itu?”

Janet tersenyum,” mau yang seperti apa?”

“nih,” Andre menunjuk bibirnya sendiri.

Janet menarik tubuh Andre lebih rapat dan mencium bibirnya.

Mereka merasakan desakan yang sama dan bibir mereka saling berpagutan. Mereka ingin melepaskan seluruh kerinduan yang terpendam.

”kau pernah bercinta?” Andre tiba-tiba bertanya memberanikan diri di sela-sela ciuman mereka.

Janet menggelengkan kepala dan Andre memeluknya lebih rapat.

--- Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Berarti masih dua tiga jam lagi Michel kembali. Sepulang mereka makan siang bersama tadi suaminya langsung pergi lagi dan Yammy malas untuk bertanya kemana ia pergi. Diangkatnya sepanci besar sup panas dari atas kompor. Perutnya sudah terasa kosong, sejak acara makan bersama Michel yang tidak mengenakkan tadi. Diambilnya mangkuk kecil dari atas rak dan sesaat kemudian Yammy merasakan suapan supnya yang pertama. Sambil makan dirinya masih bertanya-tanya akan kejadian di restaurant. Ia yakin Michel mempunyai maksud tersembunyi dengan mengatakan bahwa pria yang mereka lihat adalah Andre. Yammy heran mengapa Michel membohonginya. Ia sendiri pernah tidur bersama pria bernama Andre itu selama tiga hari untuk menolong Michel dari jeratan penjara jadi mana mungkin ia lupa bentuk pria itu.

Sesekali sendoknya mengaduk-ngaduk supnya yang panas. Dipandangnya seledri segar dengan wortel-wortel di mangkuknya. Potongan wortel itu seperti liontin berliannya. Tiba-tiba ia teringat akan Marion. Pria yang hanya dikenalnya lewat telepon misterius itu tahu semua hal yang terjadi dan Yammy merasa harus menemukan pria itu. Ada yang tidak beres dengan Michel, ia ingin mengetahuinya.

Sementara itu Michel sedang memacu kendaraannya cepat-cepat melintasi jalan bebas hambatan. Ia berharap malam ini jalanan akan bersahabat dengannya, ia lelah melihat kemacetan tiap hari dalam hidupnya. Benaknya masih bertanya-tanya akan sikap Yammy tadi siang. Ini bukan hal yang normal! Isterinya itu sudah pernah tidur dengan bosnya selama tiga hari dan tadi siang menolak mentah-mentah bahwa pria yang mereka lihat adalah Andre.

Diliriknya jarum spedometer menunjukkan kecepatan seratus lima puluh kilometer per jam dan Michel tidak berniat menguranginya. Ditekannya perlahan-lahan pedal gas semakin dalam sementara sesuatu dalam benaknya terlintas. Ada sesuatu yang tidak beres pada kejadian di villa itu! Bila memang Yammy benar bahwa pria itu bukan Andre berarti Yammy memang belum pernah bertemu dengan Andre hingga saat ini dan itu membuatnya semakin penasaran.

Setelah melintas Route Overfly , Michel membawa kendaraannya menukik turun melalui terowongan dan beberapa menit kemudian ia menepikan kendaraanya di depan sebuah bangunan bercat putih.

-- ”jadi ada apa kau kemari? ” Herald memandangnya sambil duduk. Michel bekas akuntingnya itu kini duduk di hadapannya dengan wajah penuh pikiran. Sejak Michel dikeluarkan ia tidak pernah bertemu dengannya. Herald tidak terlalu menyukai Michel. Andre telah membuktikan bahwa Michel seorang yang tidak dapat dipercaya untuk urusan uang.

”aku hanya ingin tahu apakah Andre pernah menceritakan sesuatu tentang villa,” Michel membuka suara. Michel nekat berkunjung ke tempat Herald, ia berharap Herald dapat membantunya membuka keanehan sikap Yammy tadi siang.

”Villa?” Herald bertanya dengan nada bingung.

“Ya. Villa kecilku di perkebunan teh,” Michel menatap bekas atasannya itu dengan serius.

Herald melongo tak tahu apa yang diinginkan Michel, “Aku tak tahu apa yang kau maksudkan. Coba kau tanya saja padanya,”

Michel diam tak menjawab. Ia bingung harus memulai dari mana.

“ada apa sebenarnya?” Herald kembali bertanya.

Michel menatap mata bekas atasannya itu. Ia ragu untuk menceritakan semuanya. Biar bagaimanapun menceritakan isterinya telah ditiduri orang atas ijinnya selama tiga hari adalah hal yang sangat bodoh. Namun ia mengerti bahwa Herald adalah salah satu peluangnya meraih informasi.

”begini...apa kau tahu akan kasusku ?” Michel bertanya dengan perasaan ragu.

“kasus..? “

“kasus mengapa aku dikeluarkan.”

”oo...” Herald menatap lawan bicaranya, “ tentu. Semua karyawan diberhentikan. Tidak terkecuali kau,” lanjutnya.

”ehm...maksudku bukan itu..,”

”lalu? Apa maksudmu. Jangan berputar-putar Michel,” Herald merasa ia mulai membuang-buang waktu dengan berbicara hal yang tidak ia mengerti.

”apa kau benar-benar tak mengerti?” Michel kini yang kebingungan. Herald tak menjawab dan Michel memutuskan bahwa ini semua percuma. Ia bangkit dari duduk menyalami Herald yang masih belum mengerti apa yang terjadi dan melangkah ke luar pintu.

Saat mobil Michel telah berlalu, Herald mengangkat gagang telepon dan memutar nomor telepon Andre.

“jadi kapan kau kembali dari Pizzo?” Herald membuka pembicaraan.

”aku belum tahu. Banyak ‘lubang’ di sini.”

“well, aku ingin bicara padamu terutama masalah Michel. Ia baru saja ke rumahku.”

“Michel…? Ada apa?”

“aku tak tahu. Ia menyebut-nyebut villanya dengan kebun teh dan dirimu. Aku tak mengerti. Jadi kuharap kau segera menyelesaikan urusan Pizzo dan cepat kembali kemari.”

”apa tidak bisa dibicarakan lewat telepon saja sekarang?”

”tidak. Aku ingin bicara langsung dengan kau. Ada yang aneh dengan sikap Michel tadi.”

“baiklah. Minggu depan aku kembali.”

Klik.

Telepon ditutup dan Herald merebahkan tubuhnya di kursi. Semangatnya menulis berbaris-baris source code menjadi hilang karena kedatangan Michel yang aneh.

Sementara itu dua jam kemudian jauh dari kediaman Herald, di ruang server Pizzo Car Co. Andre masih berdiri tegak memandang layar komputer di hadapannya. Namun pikirannya tak di situ, ia merasakan bahwa kejadian di villa Michel akan terbongkar juga pada akhirnya. Dirinya tak pernah menyangka Michel menghubungi Herald dan berbicara tentang peristiwa itu. Apakah Yammy telah mengetahui bahwa pria yang ia temui itu adalah Herald dan bukan dirinya. Kalau itu terjadi berarti bukan tak mungkin Michel pun akan tahu. Sebenarnya bukan masalah bagi Andre apakah dirinya atau Herald yang meniduri isteri Michel namun Herald lah yang ia takuti. Bila Michel terus berusaha mendesak Herald, lama kelamaan Herald akan menyadari bahwa liburan tiga harinya bersama seorang wanita cantik di villa kebun teh itu ada hubungannya dengan Michel.

Andre menimbang-nimbang seluruh kemungkinan dan benaknya membayangkan bila Herald akhirnya sadar bahwa villa itu adalah villa Michel. Herald juga akan tahu bahwa wanita yang ditidurinya itu adalah Yammy isteri Michel. Akhirnya hal yang paling ditakuti Andre akan terjadi bila mereka bertiga bertemu dan saling berterus terang. Bukan mustahil Yammy akan mengakui telah mencuri filenya atas perintah seseorang bernama Marion. Herald pasti langsung tahu bahwa itu semua hanya akal-akalan Andre dan ia akan kesulitan menjelaskan kecurangannya pada Herald.

Andre menekan beberapa tombol di keyboardnya, menunggu hingga layar komputer menampilkan tulisan ’safe to shut down’ sebelum akhirnya bergegas meninggalkan kantor Pizzo menuju hotelnya. Hari ini ia pulang pergi dengan pesawat menembus jarak ribuan kilometer demi bertemu Janet dan berendam dalam bak hangat akan mengusir jet lag yang mendera tubuhnya.

*/10/*

Andre melempar tubuhnya ke atas ranjang hotel dengan handuk mandi yang masih melilit di pinggangnya. Hari ini hatinya merasa puas sebelum datang telepon dari Herald tadi. Ini adalah hari pertama ia bertemu dengan Janet, wanita itu lebih cantik dari yang dibayangkannya. Setelah mengantar Janet ke stasiun ia langsung bergegas ke bandara mengejar pesawat terakhir. Sepanjang perjalanan tadi ke bandara Andre memasang matanya waspada. Ia masih merasa kuatir akan bertemu Herald. Pria itu pasti akan mengajukan banyak pertanyaan bila mengetahui Andre sudah kembali. Namun semuanya berjalan normal dan aman, Andre berhasil naik pesawat untuk kembali menuju kota dimana Pizzo Rent Car berkantor.

Kini ia sudah kembali ke hotelnya, matanya terasa berat dan hanya tidur yang diinginkannya. Saat dirinya mulai terlelap tiba-tiba telepon berdering. Andre bangkit dengan malas dan meraih gagang telepon dengan susah payah.

”Hallo..” Andre berkata malas.

”belum tidur ?” Suara Anna terdengar.

“Hmm..belum. kau sendiri bagaimana?”

“aku hanya ingin mengucapkan selamat tidur saja. Bagaimana Pizzo?”

”belum selesai. Masih ada beberapa titik yang aku harus selesaikan.”

”kau tentu lelah bekerja keras Andre...”

Andre ragu sejenak sebelum menjawab, ” ya..lumayanlah. instalasi software memang membuatku penat tiap malamnya.”

”kapan kau kembali?” suara isterinya kembali terdengar dari gagang telepon.

”belum tahu. Ada apa?”

”tidak apa-apa. Semua baik-baik di sini. Oiya, Rachel sudah tidur.”

...

Hening sejenak, Andre tak tahu harus menjawab apa. Ia ingin menanyakan kabar Rachel namun ia lelah sekali malam ini. Jet lag pesawat masih terasa di badannya.

”andre...”

”ya.”

”selamat istirahat.”

”ya. Kau juga.”

klik.

Telepon diputus dan Andre langsung berguling kembali ke tengah ranjang. Lima menit kemudian ia sudah nyenyak dalam tidurnya ketika teleponnya mendapat pesan sms dari Janet. Isinya

Kau buas sekali. Bulatan merah di dadaku belum bisa hilang..bobok yang nyenyak ya J

Sementara itu ribuan kilometer darinya Anna masih terjaga di tempat tidur. Sudah berulangkali ia mengganti saluran televisi namun semua tidak menarik minatnya. Ia bangkit dari ranjang dan menuju ke meja rias. Ia membuka laci dan mengeluarkan tumpukan kertas-kertas yang berkali-kali telah dibacanya. Suasana hatinya kini benar-benar menginginkannya menyaksikan kembali bukti-bukti pengkhianatan Andre. Tumpukan kertas itu seakan menjadi obat bagi keperihan dan kemarahan yang terpendam di hatinya. Dipandangnya seluruh kertas-kertas itu kemudian didekapnya. Dirinya ingin tidur sambil memeluk pengkhianatan Andre. Setelah beberapa saat matanya terpejam juga dan Anna bermimpi menonton film dengan pemeran utama Andre lengkap beserta wanita-wanita cantik yang mengelilinginya.

Ketika ia terbangun jam hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Ia bergegas bangkit dari ranjang dan berlari turun untuk menyiapkan makan pagi Rachel. Saat ia sedang menata sendok dan gelas di meja makan, bel rumahnya berbunyi.

Anna membuka pintu rumahnya dan mendapati seorang pria bersetelan hitam dengan dasi bergaris yang sangat konservatif berdiri di hadapannya.

”selamat pagi Nyonya. Saya Alan dari FSDC,” pria itu mengulurkan tangannya.

”ya. Selamat pagi,” Anna menyalami tamunya dan mempersilakannya masuk.

”ada keperluan apa anda kemari?” Anna bertanya menyelidik. Ia merasa sudah membayar lunas tiga puluh lima ribu dollar tunai dan mereka tidak mempunyai urusan lagi dengan perusahaan debt collector itu.

”ehm...begini Nyonya. Anda Nyonya Andre bukan?”

”ya. Benar”

”beberapa waktu yang lalu orang kami menagih hutang kemari bukan?”

”tentu. Tiga orang dan sudah kubayar lunas,” Anna memperhatikan tamunya baik-baik. Ia merasa ada yang tak beres telah terjadi.

”ehm...mereka tidak kembali ke kantor sejak itu Nyonya,”

”ya .. lalu?” Anna bertanya bingung.

” artinya...mereka melarikan uang yang anda bayarkan Nyonya,” tamunya berkata sambil menatap mata Anna dalam-dalam.

”ya..lalu apa hubungannya denganku?” Anna balik menatap tajam tamunya. Ia merasa telah memegang kertas bersegel tanda pembayaran itu.

”kami harap anda tidak tertipu Nyonya. Bila anda berkenan apakah saya bisa melihat bukti pembayarannya?”

”baik. Saya ambilkan,” Anna bergegas melangkah masuk. Beberapa saat kemudian ia telah kembali dan menyodorkan kertas bersegel itu.

Pria di hadapannya itu mengamati kertas di tangannya dan mengeluarkan sebuah alat seperti detektor. Didekatkannya alat itu pada kertas bersegel tersebut dan alisnya mengkerut sebelum akhirnya mendesah berat.

”maaf Nyonya. Anda tertipu. Ini palsu,” tamunya berkata datar menatap Anna.

”maksud anda?”

” Kertas ini palsu Nyonya. Alat ini akan berbunyi jika kertas ini asli. Mari saya tunjukkan.” Pria itu mengeluarkan beberapa lembar kertas bersegel yang masih kosong dan didekatkannya satu persatu ke alat detektor itu. Anna menyaksikan setiap lembarnya membuat alat itu mengeluarkan bunyi ’beep’.

Anna melongo mulutnya terbuka , ” tapi saya telah membayarnya. Ini bukan kesalahan kami.”

”Nyonya. Sebaiknya ini diurus oleh pengacara anda dan pengacara kami saja. Ini adalah kasus hukum Nyonya. Bila benar mereka telah menerima uang pembayaran dari anda dan kertas ini yang mereka berikan kepada anda berarti anda ditipu oleh mereka yang mengatasnamakan FSDC. Kamipun berarti tertipu oleh mereka bertiga karena hingga kini mereka tak pernah muncul dan tempat tinggalnyapun sudah ditinggalkan,” Pria dari FSDC itu berusaha mengatakan dengan tenang dan tegas. Bukan sekali ini ia menghadapi kasus penipuan yang dilakukan oleh agen-agen debt collector.

Anna tak percaya dengan yang didengarnya. Tigapuluh lima ribu dollar! Sisanya ada dua puluh lima ribu dan semuanya telah ia transfer kembali ke Andre. Mungkin saja uang itu telah menipis sekarang. Andre bukan orang yang hemat bila memegang uang dan dirinya merasa seperti melihat jurang yang dalam.

“Nyonya…” tamu itu mencondongkan kepalanya mendekat agar Anna tersadar dari lamunannya.

“ya…saya mengerti…lalu apa yang harus saya lakukan?” Anna bertanya bingung. Ini sama sekali tak diduganya.

”Nyonya, sebaiknya anda segera menghubungi polisi. Sementara itu kami tetap mencari mereka namun itu semua berarti anda masih mempunyai kewajiban kepada bank. Perusahaan kami FSDC sendiri sudah tidak ditunjuk lagi oleh Rich Bank untuk menagih hutang anda.”

Kepala Anna terasa berputar. Ia rebahkan punggungnya ke sandaran sofa sebelum akhirnya berkata, ” jadi kami masih berhutang pada Rich Bank?”

”tentu Nyonya. Di komputer mereka, anda masih berhutang. Kami menyesal atas kejadian ini Nyonya. Kami harap anda segera menghubungi polisi,” tamunya itu menatap Anna dalam-dalam sebelum akhirnya beranjak dari sofa , ” selamat pagi Nyonya. Saya mohon diri. Terima kasih atas waktunya,” lanjutnya.

Anna membiarkan tamunya melangkah pergi sendiri. Ia hanya merasa bahwa ini semua akan semakin buruk. /Aku harus menghubungi Andre./

Sementara itu Andre sudah sibuk kembali di Pizzo Car. Ia datang pagi-pagi benar dan pagi ini semuanya berjalan lancar. Ia menyaksikan tak satu’ lubang’pun muncul di komputernya. Mungkin hacker sedang tidur pada waktu pagi seperti ini. Beberapa menit kemudian ia telah menyelesaikan pekerjaannya. Install program yang sempurna! Ia merasa puas dan ditutupnya laptop di depannya. Kini tinggal mengamati apakah program itu berjalan sempurna selama beberapa hari. Namun itu semua bisa dimonitor dari mana saja melalui laptopnya. Ia belum berminat kembali ke rumah. Sakunya masih mengantungi ribuan dollar dan di rekeningnya masih ada beberapa ribu dollar lainnya. Andre merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menghibur dirinya.

Saat ia akan melangkah ke luar pintu ruang server itu tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi.

Nomor telepon Anna tertera di layar telepon dan jarinya langsung menekan tombol buzy. Ia memutuskan untuk mengunjungi Janet hari ini, telepon dari Anna hanya akan merusak kebahagiaannya.

Setelah menjelaskan kepada Mr. Manuel secara singkat, Andre bergegas menuju bandara. Belum tengah hari ketika dirinya beserta koper di tangan kiri dan tas laptop di bahunya turun dari pesawat dan berjalan melangkah ke lobby hotel Parmount, salah satu hotel mewah dalam komplek bandara di kota Janet tinggal.

“saya pesan satu kamar dengan pemandangan menghadap gunung itu,” Andre berkata sambil menunjuk jendela kaca besar dengan pemandangan gunung jauh di belakangnya.

“baik. Kamar suite lantai paling atas Tuan…” kasir hotel tersenyum menunggu. Ia belum tahu nama tamunya.

“andre,”

“ya…Tuan Andre. Silakan kamar anda nomor 181 ,” resepsionis hotel itu menyerahkan kunci kamar. Andre menerimanya dan sepuluh menit kemudian ia menceburkan dirinya ke dalam bak mandi hangat. Andre ingin tampil segar saat bertemu Janet nanti. Tiga ribu dollar untuk kamar suite bukan masalah.

*/11/*

Andre memeriksa sekali lagi penampilannya di cermin. Kaos kerah bermotif merah tua dan celana krem terlihat serasi dengan sepatu merah maroon yang dikenakannya. Setelah yakin dengan penampilannya ia turun ke lobby .

”Saya chek out sekarang,” Andre meletakkan tasnya di meja resepsionis.

Wanita petugas hotel itu memandangnya keheranan.

”Anda tidak jadi bermalam di sini?”

”Saya memang tak beniat untuk bermalam.”

”Maaf, apa service kami tidak memuaskan anda Tuan Andre?” petugas wanita itu bertanya sopan dengan pandangan heran. Selama ia bekerja belum pernah ada tamu hotel yang hanya tinggal beberapa jam saja untuk tiga ribu dollar.

Andre tersenyum, ” service hotel anda memuaskan namun ada hal luar biasa yang memaksa saya harus segera pergi. ”

”baiklah Tuan, dengan kartu atau tunai?”

”Tunai saja,” Andre mengeluarkan dompetnya.

Setelah menyelesaikan pembayaran Andre chek-out menuju AZ Mall sambil membawa tas kerja dan kopernya. Sepuluh menit yang lalu ia telepon Janet dan membuat janji temu. Wanita itu terpekik gembira di telepon. Andre bisa membayangkan wajah Janet yang terkejut mendengar dirinya sudah berada dalam kota yang sama.

Hanya perlu waktu seperempat jam untuk tiba di AZ Mall. Andre memutuskan berkeliling melihat-lihat sambil menunggu Janet datang. Di depan sebuah toko perhiasan, ia tertarik dengan kemilau berliannya dan saat Andre sedang menimbang-nimbang apakah ia akan membeli cincin berlian yang terpampang di etalase tiba-tiba teleponnya berbunyi. Dilihatnya panggilan tersebut dari Anna. Jarinya secepat kilat menekan tombol buzy. Tombol itu jalan pintas untuk mencegah rusaknya hari yang indah bersama Janet sesaat lagi.

Dipandangnya kembali cincin itu. Warnanya putih dengan dua mata kecil terbuat dari berlian di tengahnya. Andre membayangkan wajah Janet bila ia memberi cincin itu padanya. Setelah membanding-bandingkan dengan beberapa cincin di sebelahnya ia memutuskan untuk membeli cincin bermata dua itu. Beberapa menit kemudian Andre telah membawa kotak biru kecil berisi cincin dalam kantung celananya. Ia kembali berkeliling dengan langkah santai. Ia menikmati semua pendar lampu mall. Sinar lampu dari etalase yang berjejer itu seakan menyinari hatinya yang berbunga. Hatinya sudah tak sabar ingin bertemu Janet. Setiap teringat wajah Janet dadanya selalu berdebar dan Andre menikmatinya. Bila memang ia harus jatuh cinta pada wanita itu, dirinya tak akan mengingkari.

Saat Andre sedang beristirahat dengan bersandar pada salah satu tiang di tengah lobby mall tiba-tiba sepasang tangan menutup matanya. Sekilas Andre mencium aroma yang dikenalnya dan dadanya berdebar senang.

“hallo sayang…,” Andre berkata sambil membiarkan tangan itu tetap menutup matanya. Telinganya mendengar tawa kecil Janet sebelum akhirnya ia membalikkan badan dan mereka saling berpelukan.

Setelah melepaskan pelukan, dilihatnya wanita yang dirindukan itu ada di depannya. Janet terlihat cantik dan energik dengan blazer merah dan dalaman putih.

“kau...kau..cantik sekali Janet.” Hanya itu yang bisa dikatakan Andre. Sepertinya ia kehabisan akal untuk memulai pembicaraan. Rasa rindu di dadanya seperti mengunci mulutnya rapat-rapat.

”Gombal..,” Janet melengos sejenak sebelum kedua tangannya menarik gemas pipi Andre.

Andre membiarkan pipinya dijadikan bulan-bulanan jari Janet selama beberapa saat. Setelah Janet puas, Andre menarik tangan Janet.

”Ayo kita berkeliling.”

”Kau sudah pulang kerja rupanya jam segini?” Andre bertanya sambil tetap menggenggam tangan Janet.

“Ya. Aku kaget kau telepon. Ingin membuat surprise rupanya,” Janet mengerling ke arah Andre. Mereka berjalan berdampingan.

Andre hanya tersenyum, “Janet, aku ingin menginap di kotamu. Hotel mana yang enak ya?”

“oiya? Waw…”

“kenapa?” Andre menghentikan langkahnya menatap Janet.

”haha...it’s okay honey,” Janet berkata senang dengan hati yang berdebar menanti apa yang akan terjadi di antara mereka nanti, ”ada hotel mungil bagus di pinggir kota. Kau tak membawa kendaraan kan?” lanjutnya.

”Tidak.”

”okay, apa kau ingin berkeliling di sini atau ingin menaruh barang-barangmu dulu?”

”sebaiknya tas-tas ini tidak memberatkan pundakku,” Andre berkata sambil membetulkan tali tas laptopnya yang melorot di pundak.

”mobilku di basement. Ayo,” Janet menarik Andre menuju lift ke lantai bawah.

Beberapa saat kemudian mereka sudah di dalam mobil. Janet baru hendak memasang sabuk pengamannya ketika ia merasakan kecupan di pipinya.

”dasar!” rengeknya manja.

Andre tersenyum, ” boleh sun bibir?”

Janet menatap pria di sampingnya. Ia menyalakan mobil dan mengecup bibir Andre singkat sebelum mulai menjalankan kendaraannya. Belum sempat kendaraan itu keluar dari pelataran parkir mall ketika Janet merasakan sebuah sentuhan di blazernya. Persis di bagian payudara.

”aku ingin mengulum ini,” Andre berkata sambil tangannya menyelinap ke balik blazer dan menarik lembut puting Janet.

”Auww...gila!” Janet memekik kaget kemudian tertawa lepas. Ia menyukai keterus terangan dan kekurang ajaran pria yang baru dua kali ini ditemuinya.

Satu jam kemudian mereka sudah memasuki lapangan parkir hotel mungil itu. Letaknya di perbukitan dengan pohon pinus dan cemara di sekelilingnya. Setelah chek-in, mereka masuk ke kamar. Kamarnya sebuah ruangan mungil dengan karpet tebal, televisi satelit dan pendingin udara. Di pojok ruang sebuah kulkas mini tersedia.

”mengapa kau yang membayar tadi?” Andre bertanya sambil meletakkan bawaannya.

“kau tamu. Aku tuan rumah jadi kau kulayani, okay ?” Janet berkata riang kekanak-kanakan sambil melepas sepatunya dan menghampiri ranjang. ”namamu Andre ngaku Wisdom,huh!” lanjut Janet merengut.

Andre diam tak menjawab mulanya ia memang ingin mengakui bahwa Wisdom hanyalah nama nicknya dan belum sempat ia mengatakannya rahasia sudah terbongkar. Tadi saat membayar di resepsionis hotel identitasnya terkuak.

”maaf..aku tak bermaksud membohongi kau,” Andre sungguh-sungguh menyesal.

Janet tersenyum,” tak apa. Aku tak perduli siapa namamu yang sebenarnya, toh aku bisa memanggilmu dengan sebutan brown banana bukan?”

Andre menatap Janet mengerling nakal menggoda. Makhluk cantik itu duduk di pinggir ranjang. Rok kerjanya tidak bisa menyembunyikan paha putih mulus di baliknya. Andre mendekat dan mencium leher Janet. Mereka berdua tahu ini adalah permulaan dari suatu peristiwa yang mereka inginkan. Keduanya bergulingan di ranjang saling membelai dan mengecup. Andre tak ingin terburu-buru. Janet bukanlah Anna dan Andre ingin menikmati tiap detailnya. Andre ingin merasakan debaran hatinya pada tiap elusan dan belaian. Andre merasakan sesuatu di antara pahanya mengeras dan ia membisikkan sesuatu ke telinga Janet. Dilihatnya wajah Janet tertegun sejenak sebelum Andre sempat mendengar Janet berkata lirih, ”brown banana jelek!”

Andre tersenyum geli dan melanjutkan serangannya lebih ganas.

“aku belum mandi loh!” kata Janet di sela-sela ciuman mereka. Tangannya bergerak ke segala arah berusaha menahan serangan nakal tangan Andre.

”tapi kau wangi,” jawab Andre.

”tubuhku masih berkeringat,” Janet kembali berkata sambil menekuk rapat lututnya berusaha menutup gerakan tangan Andre yang semakin liar.

”keringatmu enak”

”Gombal!”

”benar!”

Janet berguling ke sisi ranjang lain namun terlambat tangan Andre sudah hinggap di antara kedua pahanya.

”kau basah...,” Andre berkata serak

”itu keringat tolol!”

Andre tertawa geli mendengar komentar Janet dan Janet tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, ia mengangkat bahunya berusaha duduk untuk segera melarikan diri dari pertempuran itu namun usahanya inipun gagal . Situasi semakin parah. Kedua tangan Janet yang dijadikan penopang untuk bangkit tidak berfungsi ketika tubuh Andre yang jauh lebih berat menindih tubuhnya. Kini kedua tangannya terkunci oleh berat tubuh mereka berdua dan ketika Janet ingin mengatakan sesuatu bibirnya kembali dilumat dan ia merasakan jari Andre yang nakal telah bereksplorasi di daerah paling pribadinya.

”oh, sayang...,” Janet mendesah pasrah. Ia putus asa tidak bisa melarikan diri dari tekanan Andre. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya berusaha melepaskan diri namun tidak membuahkan hasil bahkan ia menyadari semakin lama semakin banyak pelumasnya yang mulai bekerja. Janet beberapa kali basah karena obrolan mereka di chat dan kini ia mendapati hal yang lebih tak masuk akal. Cairan kewanitaannya lepas tak terkendali. Tubuhnya merasakan aliran darah mengucur deras dari kepala dan kaki berkumpul di bawah perutnya. Saat Janet sedang kebingungan dengan apa yang dirasakan pertama kali dalam tubuhnya itu tiba-tiba sebuah kecupan di belakang telinganya membangkitkan sesuatu yang meledak di dalam tubuhnya.

”Ohhh...ohhh....G..Goddd…” Janet mengerang. Ia merasakan kepalanya berputar penuh bayangan terang gelap. Dirinya bagai terangkat tinggi ke langit-langit kamar sebelum jatuh kembali. Janet merasakan nafasnya menderu. Seluruh sendinya lemas. Tubuhnya bagai tak bertulang. Beberapa saat nafasnya yang memburu kencang perlahan mulai melemah dan akal sehatnya berkata aku orgasme!

Sementara itu pada saat yang sama Anna sedang duduk merenung seorang diri di teras atas. Ia sudah berulangkali menghubungi Andre namun telepon itu selalu tidak aktif. Anna sudah berusaha menyegarkan diri dengan mandi berlam-lama tadi namun perasaannya hari ini tidak seperti biasanya. Sebuah perasaan tidak mengenakkan selalu melintas di hatinya. Ia kenal perasaan ini. Ini adalah perasaan seperti kerap ia alami dulu. Perasaan yang muncul tanpa diketahui penyebabnya dan barulah ia tahu ketika pertama kali ia menemukan kertas-kertas bukti pengkhianatan Andre itu. Waktu saat perasaan seperti ini muncul persis sama dengan waktu-waktu yang tertera pada kertas-kertas itu!

Anna menyilangkan kakinya menarik nafas dalam-dalam. Ia harus berusaha menenangkan diri. Andre kini sedang mengerjakan installnya di Pizzo dan ia merasa malu telah curiga pada Andre. Perlahan lahan kepalanya terasa mulai berdenyut. Tagihan Rich Bank itu memenuhi pikirannya. Bagaimana mungkin ia setolol itu menukar tiga puluh lima ribu dollar dengan selembar kertas palsu!

Kalau saja sisa uangnya tak ia transfer kembali ke Andre ia masih bisa melakukan negosiasi dengan bank dan mungkin saja bank akan lebih berbaik hati padanya. Biar bagaimanapun bank telah jelas-jelas menolak pembayaran langsung saat ia menawarkannya dan harusnya mereka mempunyai tanggung jawab moral atas peraturan yang ditetapkannya itu.

Anna meraih telepon genggamnya dan menekan nomor telepon Andre. Ia inginmencobanya kembali. Didekatkannya telepon itu ke telinga setelah beberapa saat hening terdengar nada sibuk kembali. Anna mendesah pelan dan diletakkannya telepon itu di meja teras. Ia mencoba menebak-nebak apa yang sedang dilakukan Andre sore seperti ini. Ia ingin menelpon langsung ke kantor Pizzo Car namun dibatalkannya niatnya itu.

Benaknya mencoba mengalihkan pikiran. Kini yang harus dilakukannya adalah mencoba fokus pada masalah Rich Bank itu tanpa bantuan Andre . Dicobanya mengingat-ingat semua kejadian saat ia melakukan pembayaran. Ketiga orang itu kelihatannya bukan orang baik-baik. Mereka kurang ajar namun tak terlintas dalam pikiran Anna bahwa ia tertipu. Mr.Wiliams dari Rich Bank sendiri pernah mengatakan bahwa kertas segel itu memang syah. Syaratnya harus ditanda tangani oleh salah seorang dari mereka yang bernama Andre, pria yang paling sopan diantara mereka. Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam benaknya. Mungkinkah Mr.Wiliams terlibat dengan mereka?

Mr.Alan, tamunya tadi mengaku dari FSDC dan menyarankan ia segera menghubungi pihak berwajib, namun Anna ingin minta pendapat Andre terlebih dahulu. Anna kuatir dengan langsung menghubungi polisi masalah ini akan makin melebar. Ia sebenarnya hanya ingin memastikan berapa uang yang ada di Andre saat ini dan ia akan mencoba sendiri bernegosiasi dengan pihak bank. Namun Andre tak bisa dihubungi dan Anna tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Saat Anna sedang merenungkan semuanya yang terjadi, telepon genggamnya berbunyi.

”hallo,”

”ya...siapa ini?” Anna tidak mengenal nomor telepon pemanggil.

“kau Anna bukan?” suara itu terdengar dari teleponnya.

”ya benar. Ini siapa?”

”Janus. Kau lupa Anna?”

Anna terkejut mendengar nama itu. Janus! Teman lama tempatnya bekerja dulu sebelum menikah dengan Andre.

”apa kabar Janus. Kau dimana sekarang?”

”mall P&P collection. Kau tahu tempatnya bukan?”

”ohh.....” Anna bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan Janus di kotanya sekarang.

”ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di kotamu ini. Anna kau punya waktu? Aku ingin bertemu,”

”sekarang?”

”kalau tak keberatan.”

Anna menimbang-nimbang sesaat. Pikirannya sedang buntu tak ada salahnya ia melonggarkan kepalanya sejenak.

”baiklah. Aku ke sana. Kau tunggu di mana?”

”lobby lantai dua.”

”okay.bye.”

“bye.”

Klik. Telepon ditutup.

Anna bangkit dari duduk dan segera turun mempersiapkan diri. Setelah memberitahu Rachel dan Mercy ia bergegas mencari taxi.

Lantai escalator ini mempunyai karet penahan yang mencegah orang di atasnya tergelincir. Anna memperhatikan karet bermotif kembang tersebut sebelum melompat dari tangga berjalan itu begitu tiba di lantai dua. Mall P&P Collection merupakan salah satu tempat belanja termewah dan Anna pernah beberapa kali berkunjung kemari bersama Andre. Anna selalu menyukai pendaran lampu mall seperti halnya Andre.

Setelah melintas air mancur di tengah lobby, Anna melihat Janus sedang duduk menunggunya. Janus bangkit dan menghampirinya. Janus mengenakan stelan krem dan berkas sinar temaram dari lampu mall di belakangnya seakan menambah daya tarik penampilannya. Kacamata yang dikenakannya menambah dewasa sosoknya.

“Anna…bagaimana kabarmu?” Janus menyalaminya,” kau kelihatan tambah cantik sekarang,” lanjutnya.

“baik-baik saja. Kau juga terlihat beda sekarang Janus,” Anna memperhatikan pria di hadapannya itu. Janus dulu pernah berusaha mendekati Anna tanpa kenal lelah dan akhirnya mereka pernah terlibat hubungan yang sangat dekat. Anna sempat membenci Janus karena ia merasa Januslah yang membuatnya mempunyai dosa terhadap Andre. Namun Anna berkali-kali mengingatkan dirinya bahwa saat itu Andre belum menjadi suaminya dan ia bebas menentukan pilihan meskipun Anna dan Andre sudah merupakan sepasang kekasih.

”hai...jangan melamun!” Janus mengagetkannya.

Anna tersipu malu, ia merasa dirinya seperti gadis tolol .

”kau ada pekerjaan apa di sini?” Anna berusaha mengalihkan situasi yang memojokannya itu.

”biasalah. Untuk membereskan laporan keuangan group company,” Janus berkata ringan.

Anna bisa melihat betapa bedanya Janus yang dulu dan sekarang. Kini ia kelihatan jauh lebih percaya diri dan matang. Janus masih bekerja di konsultan finance dan Anna mengetahuinya dari beberapa rekan mereka.

”sukses ya…,” Anna bingung apa yang harus dikatakannya.

“Anna, kita minum di café itu. Aku yang traktir,” Janus menunjuk salah satu cafe di sisi seberang lobby.

Anna mengangguk saja dan mereka melangkah ke arah cafe.

”kau sudah jadi ibu rumah tangga sekarang Anna..” Janus bicara sambil berjalan.

”kau juga. Kau sudah menjadi kepala keluarga. Berapa anakmu?”

”satu,” Janus menjawab datar, ” dan kau Anna?”

”sama”

Janus mengucapkan terima kasih pada pelayan cafe yang membukakan pintu. Ruangan cafe terlihat temaram dengan ornamen kayu dan beberapa lilin di tengah-tengah kolam kecil buatan.

“kau ingin pesan apa Anna?” Janus menarik kursi mempersilakan Anna duduk.

Anna melihat-lihat menu yang tersedia,” capucino saja.”

Janus memanggil pelayan, ” dua capucino dan bitter ballen.”

Ketika pelayan sudah meninggalkan mereka Janus berkata, ” Anna aku sudah dua minggu pindah kantor. Sekarang kita tinggal dalam satu kota.”

”Oiya...?” Anna agak terkejut mendengarnya. Janus adalah masa lalunya dan Anna merasa lebih baik mereka berada dalam kota yang berbeda.

”kau kelihatan kurang senang mendengarnya Anna,” Janus menatapnya sambil membenarkan duduknya.

”oh...tidak Janus. Aku senang mendengar kemajuanmu. Ini kota metropolis. Kau bisa lebih berkembang di sini.”

”ya. Semoga saja.”

”kau bekerja di perusahaan apa sekarang?” Anna tertarik ingin tahu lebih lanjut.

”P&P Group. Ini salah satu mallnya,” Janus berkata bangga.

”waw..luar biasa. Kau pasti berbeda kini..,” Anna menatapnya kagum. Ia masih tak percaya ,Janus pria yang dulu dikenalnya pemalu dan agak rendah diri itu kini sudah bekerja dalam satu company besar.

“aku mencoba-coba melamar begitu ada lowongan ternyata diterima. Pagi tadi aku mendapat kabar gembira. Kau tahu Anna, aku dipromosikan padahal baru dua minggu.”

“oiya..”Anna mencoba menutupi kekagetannya. Janus yang sekarang berbeda sekali dengan Janus yang ia kenal.

”ya...aku terpilih menjadi salah satu manager yang mengelola mall-mall P&P. Setiap mall sebenarnya dimiliki dua pihak atau lebih. Mall ini sebagian besar sahamnya milik P&P dan Mc Mars Co. Sebagian kecil lainnya dimiliki investor-investor asing,” Janus menerangkan dengan penuh kebanggaan.

Anna masih menatap Janus tak percaya. Terus terang ia kagum atas kemajuan karir yang diperoleh Janus. Ia melihat Janus benar-benar menampilkan sosok seorang eksekutif muda yang sukses.

”keluargamu kau bawa kemari?” Anna kembali bertanya. Ia makin tertarik untuk mendengar detail kehidupan Janus saat ini.

”ehm...tidak.”

”tidak? Kenapa?”

”isteriku lebih memilih tinggal di kotanya. Orangtuanya sakit-sakitan dan ia tidak mau meninggalkannya. Anakku lebih memilih bersama ibunya.”

Anna mendengarkan dan bertanya , ” jadi kau tinggal dimana sekarang?”

”dua minggu ini aku masih tinggal di hotel murahan. Besok pagi sudah ada apartemen yang disiapkan untukku. Kau tahu Anna, seluruh manager wajib tinggal di flat yang disediakan P&P. Mereka ingin dapat menghubungi manager-managernya untuk rapat sewaktu-waktu bila dibutuhkan.”

“ohhh…apartemennya berdekatan dengan kantor P&P?”

“ bukan hanya berdekatan tapi dalam satu gedung. Lantai dua puluh hingga tiga puluh tiga disediakan untuk flat manager.” jawab Janus dengan mata berbinar-binar bangga,” aku di lantai dua puluh,” lanjutnya.

”jadi kau tinggal di asrama manager ya?” Anna tersenyum geli membayangkan seluruh manager berkumpul dalam satu gedung.

“begitulah. Meskipun aku akan sering tidak berada di apartemen itu. Pekerjaanku menuntut aku selalu berkeliling,” Janus berkata datar.

Mereka terus mengobrol dan saling menanyakan keadaan masing-masing sambil menikmati capucino panas hingga tanpa terasa waktu mengalir cepat. Tiba-tiba Anna memekik kaget, “ ohh…sudah hampir jam sepuluh Janus,” Anna memandang jam tangannya,” aku harus kembali.”

“baiklah. Aku antar ya,” Janus berusaha menahan diri. Sebenarnya ia masih ingin mengobrol lebih lama dengan Anna.

“tidak usah. Merepotkanmu nanti, aku naik taxi saja,” Anna menggeser bangkunya ke belakang bangkit dari duduk.

”tidak kok. Aku antar Anna, aku bawa mobil. Sebentar aku bayar bill dulu,” Janus bergegas memanggil pelayan dan menyerahkan sebuah kartu berwarna emas. Anna memperhatikannya, Janus teman lamanya kini benar-benar berbeda. Ia membayar dengan kartu kredit gold.

Satu jam kemudian Janus menepikan kendaraannya di depan rumah Anna.

”suamimu tidak menanyakan mengapa kau pulang selarut ini?”

Anna membuka sabuk pengamannya dan berkata, ” tidak. Ia sedang ke luar kota. Terima kasih Janus.”

Janus memperhatikannya turun dari mobil dan setelah melambaikan tangan ia segera tancap gas. Wajahnya mengulum sebuah senyuman kecil.

-- Keesokan paginya Anna menemani Rachel sarapan hingga selesai dan ketika ia mengantar Rachel dan Mercy ke depan pintu seikat bunga mawar tergeletak di teras rumahnya.

”bunga siapa itu Mercy?” Anna bertanya.

Mercy hanya mengangkat pundaknya dan segera berlalu mengantar Rachel. Ia sedang terburu-buru. Rachel akan terlambat sekolahnya bila mereka tidak bergegas pergi.

Anna membawa masuk ikatan bunga itu. Tak ada kartu di dalamnya. /Mungkin salah kirim/. Anna meletakkan ikatan bunga itu di meja depan dan menelpon Andre. Anna berharap pagi ini ia bisa berbicara dengan Andre. Semalam tidurnya tidak nyenyak dan kertas segel palsu itu yang terbayang terus menerus. Anna benar-benar menyesali ketololannya. Ia berniat menghubungi polisi pagi ini setelah berbicara dengan Andre. Gagang telepon di telinganya hening tak ada suara sesaat dan akhirnya nada sibuk kembali yang terdengar. Sambil menatap meja makan yang berantakan belum sempat dibereskan Mercy, Anna mencoba menghubungi Andre kembali dan lagi-lagi nada sibuk yang hadir di gagang teleponnya.

Anna meletakkan gagang telepon itu. Ia kembali ke ruang tengah menyalakan televisi dan mencoba menikmati acara yang mengudara. Anna memutuskan untuk menghubungi Andre lagi nanti. Ia benar-benar membutuhkan Andre saat ini.

Sementara itu di saat yang sama Andre tengah terbaring lelah. Tubuh di sisinya tergolek tanpa busana. Mereka semalaman bermesraan dan Andre mengalami kepuasan yang luar biasa bersama Janet meski hingga kini ia belum pernah memasuki tubuh Janet. /Aku terlalu menyayanginya. Aku tak ingin memaksanya/.

-- Reynold membanting pintu mobil sewaannya dengan kesal. Sudah tiga kali ban mobilnya kempes. Ia telah berhasil membawa kabur uang itu dengan menghabisi Fred beserta Andre. Mulanya Fred yang mempunyai ide membuat kertas segel palsu dan membawa kabur uang itu. Tiga puluh lima ribu dollar bukan jumlah yang sedikit dan mereka bisa bagi rata. Namun beberapa jam setelah mereka meninggalkan rumah Anna tiba-tiba saja ide untuk menguasai seluruh uang hadir di benaknya. Ia mengajak Fred dan Andre bersenang-senang di pinggiran kota. Malamnya mereka menyewa mobil dan minum sampai mabuk. Tengah malam saat Fred tertidur Reynold menusuknya. Setelah meyakinkan Fred tewas, Reynold menikam Andre. Keduanya ia lempar ke pinggir jurang di tengah kegelapan malam.

“Mobil sial!” Reynold menendang ban kiri depan yang kempes. Dikeluarkannya dongkrak dari bagasi dan ia mulai mengganti ban.

Beberapa menit kemudian Reynold telah menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas menjalankan mobilnya kembali. Tujuannya adalah kabur secepatnya ke arah timur. Ia mempunyai rencana bagus dan malam ini ia akan melaksanakannya. Biar bagaimanapun Reynold harus berhati-hati meninggalkan barang bukti. Terlalu banyak sidik jarinya di mobil ini. Ia berencana membakar mobil sewaannya.

Pada saat yang sama, Yammy mengendarai mobilnya ke daerah perbukitan. Beberapa hari ini ia memikirkan cara untuk menemukan Marion. Namun ia belum mempunyai jawabannya. Michel sedang mendapat tugas luar kota selama beberapa hari dan ia memutuskan untuk menghibur kepalanya dengan berkeliling memandang daerah perbukitan di luar kota. Mobilnya dijalankan menyusuri aspal yang berliku-liku tajam. Ia melirik ke kaca spion. Tak ada mobil sama sekali di sini. Ia menekan gasnya lebih dalam. Yammy ingin mencoba kemampuan menyetirnya. Daerah ini sepi dari kendaraan dan ia semakin kencang melajukan mobilnya. Beberapa tikungan dilibasnya dan ia tertawa senang. Adrenalin dalam tubuhnya meningkat cepat seiring deru mesin dan decit remnya tiap memasuki tikungan. Ia mendapati dirinya merasa bebas. Sebuah perasaan yang lama tak ia temui.

Sambil menikmati musik disco yang hingar bingar di kabinnya, Yammy melesak memasuki tikungan. Tiba-tiba sebuah mobil muncul dari depan dengan cepat. Yammy ingin membanting setirnya ke kiri namun itu berarti bunuh diri. Jurang sedalam puluhan meter di kirinya dan ia hanya memegang setirnya erat-erat. Kakinya menginjak rem sampai habis. Namun terlambat laju mobil di hadapannya sangat cepat. Sesaat saja Yammy merasakan mobilnya oleng sebelum sebuah suara seperti dentuman memenuhi telinganya dan kepalanya terasa menghantam sesuatu.

Beberapa saat Yammy merasakan kegelapan sebelum akhirnya tersadar. Ditatapnya kaca mobilnya yang pecah berantakan seperti pasir memenuhi dashboard. /Aku mengalami kecelakaan!/

Ia bergegas keluar dari mobilnya yang melintang di tengah jalan. Kepalanya masih terasa agak pening dan saat ia keluar dari pintu mobil sebuah tangan mencekal lengannya.

“Heh..kau mabuk ya!”

Yammy menoleh dan melihat pria tinggi besar berjaket kulit menatapnya. Ada darah di hidung dan keningnya.

“Cari mati kau ya!” pria itu membentak dengan aksen timur. Yammy berusaha melepaskan lengannya. Kepalanya pening namun pria di hadapannya ini benar-benar membutuhkan perhatian.

”eh...eh..a..apa yang terjadi?” Yammy berusaha tenang. Dirinya tahu ia bersalah.

“apa yang terjadi? Kau tidak lihat,heh! Kau tubruk aku!” Pria itu mendorongnya bersandar di pintu mobil.

“ya..ya…tapi kau mengambil lajurku,” Yammy berusaha membela diri.

“bangsat! Sudah salah masih mau mengelak!” Pria itu kelihatan geram. Yammy melihatnya tak ubah seperti beruang yang terluka.

”ka..ka..kau yang menubrukku!” pekik Yammy. Ia tahu sebentar lagi ia akan menangis dan ia tetap berusaha tegar.

”heh..lihat mobilmu yang melintang! Mobilku masih di lajurnya. Kurang ajar kau! ”

Yammy berusaha menenangkan pikirannya, sejenak ia memejamkan mata dan membukanya, ” kita telepon polisi saja. Biar mereka yang menentukan,” Yammy berkata pelan sambil mencoba meraih teleponnya di jok mobil.

”persetan, tidak ada polisi di sini!” pria itu masih mencekal keras lengannya,” ini mobil sewaan. Bukan mobilku!” lanjut pria itu sambil menunjuk mobilnya.

Yammy tidak jadi mengambil teleponnya dan memandang arah yang ditunjuk. Mobil itu hancur bagian depannya. Kacanya pecah semua sama persis dengan miliknya. Asap mengepul dari roda depannya.

“kita telepon polisi saja. Aku ganti kerugianmu,” Yammy berkata sambil tetap berusaha menenangkan diri. Dadanya masih berdetak kencang kaget dengan kecelakaan ini.

”tidak usah telepon polisi. Kau ganti saja mobilku!” bentak pria itu.

Yammy menatapnya sejenak dan berkata,” berapa?”

Pria itu melepaskan cengkraman di lengannya dan menghampiri mobilnya yang masih mengepulkan asap. Ia berkeliling mengamati mobilnya dan mematikan mesin mobil. Setelah dicobanya menyalakan mesin dan berhasil pria itu kembali menghampirinya, ” kau hitung sendiri. Beruntung mobil ini masih bisa jalan.”

”aku tak tahu mobil..” jawab Yammy ragu. Ia wanita yang akan menjawab cepat bila ditanya harga sepatu Guy Laroche atau harga parfum Joy tapi tidak untuk urusan mobil.

”aku juga tak tahu...” pria itu bersungut-sungut menatap mobilnya. Kemarahannya kelihatan mulai reda.

Yammy menatap pria yang membelakanginya itu. Jaket kulitnyapun ada noda darah. Pria itu tentu terluka lebih parah dari dirinya.

”kau terluka parah..” tiba-tiba mulutnya bersuara tanpa Yammy menginginkannya.

Pria itu menoleh dan memgikuti arah tatapan Yammy di jaketnya. Ia melepas jaket itu dan memandang banyak noda darah yang masih basah di jaketnya.

”mobilmu masih bisa dinyalakan?” Pria itu bertanya tak mengindahkan Yammy yang masih memandang luka-luka di tubuhnya.

Yammy hanya mengangkat pundaknya.

Pria itu mendorongnya menjauhi pintu dan mencoba mematikan mesin kemudian menyalakannya kembali.

”mobilmu normal,” pria itu keluar dari mobil, ”kau ganti saja kerusakan mobilku,” lanjutnya.

”berapa?”

”aku tak tahu Nona. Kau hitung saja sendiri,” pria itu menyandarkan tubuhnya di pintu mobil Yammy. Yammy memperhatikannya mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya.

”aku tak tahu mobil..,” Yammy kembali mengingatkan.

”akupun demikian..,” pria itu berkata tanpa menoleh. Asap rokoknya mengepul di sela-sela jarinya yang penuh noda darah.

”mm..maaf, apa kau tidak sebaiknya ke rumah sakit dahulu?” Yammy memberanikan diri bertanya.

Pria itu menoleh ke arahnya dan menunduk memeriksa tubuhnya.

”aku tak apa-apa,” pria itu berkata setelah yakin atas keadaannya, ” kau bagaimana?” tanyanya.

Yammy kaget ditanya seperti itu. Pria itu membuka komunikasi dengan membentak-bentaknya dengan wajah seperti beruang marah yang terluka dan kini ia menanyakan kondisinya.

”aku baik – baik saja,” Yammy berkata jujur. Kepalanya sudah tak terasa pening. Dan luka di keningnya hanya luka kecil.

Pria itu menatapnya dan berkata, ”aku pakai mobilmu. Kau urus mobilku. Terserah kau caranya.”

Yammy melongo,” kau pakai mobilku?”

”ya.”

”lalu bagaimana aku bisa pergi dari sini?” Yammy memekik. Dipandangnya sekeliling. Baru kali ini ia menyadari bahwa perbukitan ini sama sekali sepi dan jauh dari manapun. Ia berusaha menenangkan pikirannya kembali dan berkata, ” kita pergi bersama saja ke kota terdekat. Aku akan telepon agar mobil derek mengambil mobilmu.”

Pria itu tidak mengindahkannya dan masuk ke mobil Yammy, dipasangnya sabuk pengaman dan berkata ”kita berlainan arah.”.

“aku ingin pulang,” Yammy berkata lirih sambil menahan pintu mobilnya tetap terbuka.

Pria itu menatapnya sejenak, ”kau bisa telepon.” Diulurkannya tas Yammy.

Yammy meraih tas itu dan mengambil telepon genggam di dalamnya. Tidak ada sinyal!

“aku tak bisa..” Yammy berkata cepat penuh kebingungan membayangkan sebentar lagi dirinya akan di tempat ini sendirian dengan mobil yang rusak parah.

“kau bilang tadi akan telepon!”

”tak ada sinyal!” Yammy tetap berusaha menahan pintu mobilnya yang terbuka sambil menyodorkan teleponnya ke wajah pria itu. Ia tak mau ditinggal sendirian di sini.

Pria itu merengut dan menatap Yammy sejenak, “masuklah.”

Yammy ragu – ragu.

”Atau kau ingin di sini sampai malam tiba?” pria itu berusaha menarik pintu mobil yang ditahan Yammy.

Yammy memandang sekeliling sejenak ,” aku saja yang mengendarainya. Ini mobilku,” kata Yammy.

“ aku saja. Kau duduklah di sini,” pria itu menunjukkan bangku kosong di sisinya.

Yammy mengalah dan memutari mobil kemudian masuk.

Setelah memundurkan mobil dan berbalik arah, merekapun melaju. Beberapa tikungan tempat Yammy tadi melibasnya kembali dilalui.

”Kau urus mobilku. ” pria itu membuka percakapan sambil membelokkan setir memasuki tikungan berikutnya.

”Ya..” kata Yammy lirih tetap memandang ke jalan.

”Bangsat!” sembur pria itu mengagetkannya sambil menginjak rem. Yammy terdorong ke depan dan menoleh ke pria di sisinya. Dadanya kembali berdebar-debar seperti saat kecelakaan tadi. Ia masih merasa trauma.

”ada apa?” tanya Yammy keheranan memandang pria itu.

”kunci mobilnya tertinggal,” pria itu merengut sambil memutar arah kembali.

Perut Yammy geli melihatnya.

“kenapa kau senyum-senyum, heh?”

Yammy terkejut dan menahan senyuman di bibirnya. Binatang satu ini benar-benar temperamen. “ kau dari timur ya?”

Pria itu menoleh sebentar dan memandang jalanan di depannya kembali tak menjawab.

“aku Yammy, kau ?” Yammy mengulurkan tangannya. Ia mulai merasa tidak takut lagi dengan pria ini.

Pria itu kembali menoleh dan mengulurkan tangan,”Reynold”

-- Anna menghubungi Andre sudah lebih dari sepuluh kali hari ini. Namun semuanya tak tersambung. Mungkin Andre benar-benar sibuk dan nanti saat ia telah senggang pasti ia akan tahu banyak miscall pada teleponnya. Kini Anna hanya cukup menunggu telepon Andre. Anna merebahkan dirinya di sofa tengah. Rachel sudah tidur bersama Mercy namun dirinya belum mengantuk. Saat pikirannya mulai melayang ke masalah Rich Bank tiba-tiba teleponnya berbunyi. /Pasti Andre!/

Anna melangkah ke meja telepon dan mengangkat gagangnya,

”hallo Andre..sudah berulangkali aku menghubungimu tapi selalu tak bisa..” Anna langsung memberondongkan kalimat.

”Andre?...aku Janus,” sebuah suara terdengar dari gagang telepon.

Anna terkesiap kaget. Janus?

“Ohh…kau Janus. Aku kira suamiku,” Anna menjawab sambil bertanya-tanya dalam hati bagaimana Janus tahu nomor telepon rumahnya.

”suamimu masih di luar kota?”

”ya.”

”kapan kembali?”

Anna berpikir sejenak dan menjawab,” mungkin besok atau lusa.”

”mungkin?”

”ia sedang sibuk dengan proyeknya,” Anna mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Janus.

”kau belum tidur rupanya sudah jam segini,” suara Janus kembali terdengar.

”ya.belum mengantuk. Ada apa Janus?” Anna sedang malas untuk memperpanjang percakapan.

”aku hanya mau mengucapkan selamat tidur.”

Anna terdiam sesaat. Ia menjadi agak rikuh dengan perhatian Janus yang tiba-tiba itu dan dijawabnya singkat, ” ya.terima kasih.”

”oke. Bye,” suara Janus kembali terdengar.

Klik. Telepon ditutup dari seberang.

Anna menjauhkan gagang telepon dari telinga dan memandangnya sejenak sebelum meletakkannya kembali di tempatnya. Ia berdiri dalam diam. Benaknya berkecamuk. Apakah Janus ingin memulai lagi hubungan mereka seperti dulu? Darimana ia tahu nomor telepon rumahku? Anna mendesah gelisah. Ia mengintip kamar Rachel sejenak dan naik ke lantai atas. Hanya tidur yang diinginkannya. Malam ini ia kecewa. Ucapan selamat tidur yang biasa didengarnya dari bibir Andre digantikan oleh Janus, pria yang pernah sangat dibencinya dulu.

*/12/*

Pagi ini bagai hari pertama kelahirannya. Sejak bangun semangatnya meluap-luap. Sinar matahari menerobos tirai jendela membakar semangatnya yang menggebu. Suasana benar-benar bersahabat baginya. Dengan sebatang rokok di tangan, Andre melanjutkan memeriksa koneksi jaringan Pizzo Car melalui laptopnya. Semuanya berjalan lancar. Andre bersyukur pada Tuhan atas semua karunia ini. Hari ini ia merencanakan berkeliling di pegunungan sekitar hotelnya bersama Janet. Wanita itu sudah izin tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Andre menunggunya di kamar hotel sambil melanjutkan pekerjaannya. Internet benar-benar membantunya bekerja dari tempat yang jauh. Jaringan komputer yang terpampang di layar laptopnya itu berada ribuan kilometer dari ranjang yang ia duduki sekarang.

Disesapnya capucino hangat dalam cangkir dan saat Andre meletakkan cangkir itu kembali terdengar ketukan di pintu.

Andre bangkit melangkah ke pintu. Melalui kaca kecil di pintu ia mengintip keluar. Wajah yang dirindukannya tampak.

”pagi sayang..,”Andre membuka pintu dan memberi jalan pada Janet.

“pagi brown banana yang baik hati....”

Baru dua langkah Janet masuk ke kamar hotelnya, Andre menarik lengan Janet dan langsung mengecup bibir merah yang merekah itu.

“kau buas sekali..” Janet berkata manja sambil melepaskan diri dari dekapan Andre dan melangkah ke ranjang.

”wah..wah...berantakan sekali...,” Janet berkacak pinggang memandang sekeliling ruangan. Selimut sebagian tergeletak di lantai sebagian lagi di atas ranjang. Asbak di samping laptop sudah penuh dengan puntung rokok.

Andre mengikuti Janet ke dalam dan berdiri di sisinya.

”aku sedang bekerja.”

”Pizzo?” Janet bertanya sambil membenahi selimut dan bantal yang berserakan.

Andre mengangguk tak menjawab.

“kau jadi ijin hari ini?” Andre bertanya sambil membereskan laptopnya.

Janet hanya mengangguk sambil merapikan tempat tidur.

Setelah dirasanya rapi, Janet menarik tangan Andre. ”ayo sayang kita berangkat sekarang,”

”okay. Kemana kita?” Andre bertanya sambil merapikan bajunya.

“ikut sajalah,” Janet mengedipkan matanya dan sengaja menyenggol bagian menyembul di celana Andre sebelum mendahului melangkah keluar kamar.

Ternyata tempat itu begitu indah. Andre bahkan merasa bagai dewa di sorga. Pohon-pohon pinus di pinggir jalan dan kabut tipis serta hutan tropis. Mobil Janet diparkir di pelataran parkir sebuah resto di pucuk gunung.

”steak di sini enak sekali. Kau pasti suka,” Janet menggeretnya menuju sebuah gazebo. Resto itu terdiri dari gazebo-gazebo yang terpisah oleh kerimbunan pohon tropis. Andre menurut saja mengikuti Janet mendaki jalan setapak menuju sebuah gazebo yang paling atas.

”nah, lihatlah sayang...pemandangan di sini benar-benar indah...,” Janet melayangkan pandangan ke sekeliling sambil melepas sepatunya.

Andre mengikuti melepas sepatunya dan melangkah masuk. Gazebo ini luar biasa. Dengan letaknya yang tertinggi mereka bisa bebas memandang ke seluruh pelosok hutan tropis di bawahnya. Sesekali cicit burung terdengar. Di kejauhan tampak sebuah pesawat sedang melayang turun.

”itu bandara,” Janet memeluk pinggang Andre sambil menunjuk ke arah pesawat.

“waw…kita lebih tinggi dari pesawat rupanya,” Andre bergumam kagum.

“hampir dua ribu meter dari laut tempat ini,” Janet berkata bangga. Ia sendiri sudah berulangkali kemari dan tidak bosan-bosannya menatap pemandangan sekitar.

”kau ingin pesan sekarang Andre?”

”Boleh,” jawab Andre sambil menarik turun tubuh Janet. Mereka duduk berdampingan rapat. Tangan Janet masih melingkar di pinggang Andre.

”steak dua,” Andre berkata kepada pelayan yang membuntuti mereka sejak dari pelataran parkir tadi.

”tenderloin,kau?” Janet bertanya

”sirloin.”

Pelayan itu meninggalkan mereka setelah mencatat pesanan.

”kau sering kemari?” Andre bertanya sambil merogoh sakunya mengeluarkan rokok.

”beberapa kali. Kau selalu merokok di mana saja ya?” Janet menahan rokok itu tidak keluar dari saku Andre.

Andre menoleh dan menatap Janet. ”kau keberatan?”

”tidak,” Janet melepaskan tangannya membiarkan Andre mengeluarkan rokoknya.

”kau suka pemandangan di sini?” Janet bertanya sambil meluruskan kakinya. Menyusuri pengunungan ini dengan mobil membuat kakinya terasa agak pegal.

“bagus sekali. Aku suka,” Andre berkata sambil merogoh sakunya kembali.

”ini untukmu. Bukalah,” Andre mengulurkan sebuah kotak kecil dari beludru.

”apa ini?” Janet bertanya memandang kotak di tangan Andre.

“ambilah”

Janet meraih kotak itu dan dibukanya. Sebuah cincin bermata dua dari berlian berkilauan di dalamnya. Mulut Janet terbuka dan belum sempat ia mengatakan apapun Andre telah menarik jari manisnya dan memasukkan cincin itu.

Mereka berdua diam menatap bagaimana cincin itu meluncur tanpa halangan dan tergantung di jari Janet.

”kebesaran..,” mereka berkata berbarengan dan Janet tertawa melihat wajah Andre yang memerah.

“aku kira ukurannya sesuai..” Andre bergumam pelan dan perut Janet makin terasa geli. Sikap Andre yang terkadang salah tingkah selalu membuat Janet merindukannya siang malam.

Di tempat lain, beberapa jam sebelum Andre dan Janet tiba di resto pegunungan itu, Anna menerima telepon.

“pagi Anna,” sebuah suara yang mulai dikenalnya itu terdengar di gagang telepon.

“pagi. Ada apa Janus?”

“hanya ingin mengucapkan selamat pagi.”

Anna terdiam dan suara dari seberang terdengar lagi

“kau sudah makan Anna?”

“belum. Aku baru selesai menyiapkan sarapan.”

”oh..kalau begitu selamat makan ya.”

klik. Telepon diputus dari seberang. Anna meletakkan gagang telepon ke tempatnya dan memulai sarapannya sambil memandang paket bunga mawar baru yang ditemuinya di teras pagi ini. Benaknya berpikir bahkan Janus yang menanyakan dirinya sudah sarapan atau belum.

Pada saat yang sama di sebuah villa mungil yang dikelilingi panorama kebun teh, Yammy sedang bersama Reynold.

”jadi ini villamu?” Reynold bertanya memandang sekeliling ruang makan dengan meja kaca kecil yang antik itu.

Yammy mengangguk. Setelah kecelakaan itu, mereka semakin akrab dan Yammy mengetahui bahwa Reynod tidak mempunyai keluarga dan tempat tinggal. Entah mengapa Yammy percaya saja padanya dan mempersilakan Reynold tinggal di villanya.

”bagaimana dengan suamimu bila tahu aku di sini?” Reynold bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang depan.

”itu urusanku. Kau tinggalah di sini sampai kau memperoleh tempat tinggal yang baru.” Yammy melangkah keluar pintu dan sebelum masuk ke mobil ia berkata, ” anggap saja rumahmu sendiri. Aku akan sering-sering kemari menengokmu.”

Reynold memandang sedan hitam itu perlahan-lahan pergi meninggalkan halaman villa. Benaknya berpikir, ini semua akan bergeser di luar perkiraannya. Rencana membakar mobil sewaan itu gagal padahal sidik jarinya memenuhi seluruh bagian mobil tersebut.

--

*13*

Andre merebahkan punggungnya di ranjang hotel. Malam ini ia merasa sangat bersemangat dan matanya belum mengantuk. Urusan Rich Bank sudah selesai, pekerjaan di Pizzo juga berjalan lancar dan yang pasti hari ini ia lalui dengan penuh kegairahan dan keceriaan. Cincin itu memang terlalu besar bagi jari Janet namun ia bisa merasakan kebahagiaan Janet saat menerimanya. Andre berpikir bagaimana mungkin para dewa di atas sana mengirim Anna terlebih dahulu dalam hidupnya sedangkan ada seorang wanita bernama Janet yang benar-benar bisa mengisi relung hati terdalamnya.

Setelah makan pagi bersama Janet tadi mereka menghabiskan waktu berkeliling di antara pepohonan pinus dan kembali ke resto yang sama untuk mengisi perut mereka sebelum akhirnya percumbuan yang menegangkan di dalam mobil berlangsung berulangkali diantara bunyi decit rem Janet mengendalikan setir.

Andre suka dengan kelincahan Janet melajukan mobil dan ia membandingkan dengan caranya menjalankan bisnis. Beberapa kali Andre menyaksikan Janet berani mengambil resiko di jalan raya sebagaimana Andre mengambil resiko dalam pekerjaannya. Mungkin akan lebih menyenangkan bekerja membangun bisnis baru bersama Janet,pikirnya.

Andre bangkit dari ranjang dan membuka laptopnya. Tubuhnya masih terlalu bersemangat untuk segera tidur malam ini jadi menulis beberapa proposal bisnis bukan pilihan buruk di saat seperti ini. Pikirannya menerawang mengingat-ingat apa yang bisa digali untuk menjalankan bisnis bersama Janet. Tiba-tiba benaknya teringat akan Herald, dan ia merasa urusan Michel ke rumah Herald bukan hal yang bisa dikesampingkan. Diraihnya gagang telepon hotel dan menghubungi Herald . Ia masih menon-aktifkan handphonenya. Telepon dari Anna hanya akan merusak hari-harinya yang mulai bersinar cerah kembali belakangan ini.

”hallo,” sebuah suara terdengar dari seberang.

”Herald, kau sedang apa sekarang?” Andre bertanya sambil menyalakan speaker luar dan menghampiri kulkas mini di samping ranjang.

”menyelesaikan bugs kecil dalam software kita. Kau masih di Pizzo?” suara Herald terdengar kembali.

”Ya. Semua berjalan lancar namun ada beberapa yang harus diselesaikan terhadap jaringan komputer Pizzo,” Andre berbohong sambil membuka botol minuman dingin dari dalam kulkas. Telepon rumah Herald tidak dilengkapi ID Caller sehingga ia tak kuatir Herald akan tahu bahwa dirinya sekarang berada ribuan kilometer dari kantor Pizzo.

”kapan kau kembali?”

”nanti aku kabari. Semua berjalan lancar,kau tak usah kuatir. Bagianmu sudah kau terima? Aku mentransfernya beberapa hari lalu ke rekeningmu.”

”oh..ya..sudah masuk rekeningku. Terima kasih.”

Andre kembali ke sisi telepon dan meluruskan kakinya di ranjang. ” Herald, Michel ada perlu apa ke rumah kau waktu itu?” Andre mulai masuk ke permasalahan.

”sudah kukatakan dia menanyakan apakah aku mengerti tentang villa kecil dan proses penghentian dia sebagai akunting kita.”

Andre diam tak menjawab.

”jadi sebenarnya ada apa Andre?” suara Herald kembali terdengar.

”tidak ada apa-apa. Ia hanya terlihat kecewa sekali saat kita berhentikan. Namun kau tahu Herald, perusahaan kita tak mungkin bisa berjalan tanpa membayar gaji karyawan. Kau juga sudah tahu bahwa dia bukan orang yang jujur dalam keuangan. Masih bagus kita tak laporkan ia ke polisi,” Andre berkata dengan tekanan mantap. Ia tak ingin Herald menjadi curiga dan mengorek ngorek keterangan pada Michel. Biar bagaimanapun mencuri file rekan bisnis bukan hal yang patut dibanggakan. Ia masih membutuhkan Herald dan berperang dengan Herald hanya akan menghancurkan impian-impiannya membangun bisnis yang besar dan kuat.

”lalu bagaimana dengan villa yang ia sebut-sebukan itu?”

”aku tak tahu. Mungkin ia mempunyai masalah yang begitu banyak dan menjadi tertukar-tukar dengan kekesalannya pada kita. Mengingat sifatnya tak mustahil ia pernah melakukan kecurangan pada tempatnya bekerja sebelum bersama kita.”

Andre menunggu jawaban Herald namun tak ada suara sama sekali. ”nah, Herald bagimana menurutmu? Apa yang sebenarnya diinginkan Michel pada kita?” Andre kembali bekata.

”well, itu bukan urusan kita Andre. Aku ingin meneruskan kembali pekerjaanku.”

”oke,bye Herald.”

Andre menekan tombol mematikan telepon.

Saat Andre sudah mulai melanjutkan proposal bisnisnya, di rumahnya Herald berdiri menghadap jendela.

”nah, kau lihat. Pada saat yang tepat, Andre menelpon bukan?” Herald menoleh pada pria di belakangnya.

”Apa yang ia katakan?”

”ia berkata tidak tahu menahu tentang villa yang kau tanyakan itu Michel...”

”well, jadi bagaimana menurutmu Herald?” Michel menghampiri Herald dan berdiri di sampingnya. ”kau tahu, ia sudah berbohong pada kita berdua.”

Herald menatap bekas akuntingnya itu. Pikirannya bekerja keras. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa saat sebelum Andre menelpon tadi, Michel datang ke rumahnya dan bercerita bahwa Andre telah meniduri isterinya untuk menyelamatkan Michel dari tuntutan hukum. Namun di telepon tadi Andre mengelak mengetahui sesuatu tentang villa itu. Jelas-jelas Michel bercerita padanya bahwa Andre dan isteri Michel pernah beberapa hari tidur bersama di villa Michel.

Herald membalik badan dan menghampiri meja kerjanya. Ia menulis selembar cek sambil berdiri. ”ini untukmu..” Herald menyerahkan cek tersebut.

Michel menatap lembar cek itu keheranan. ” ini untuk apa?”

”anggap saja itu tanda persahabatan kita atau bisa juga kau anggap sebagi bonus pesangon kau tempo hari,” Herald menepuk bahu Michel dan membuka pintu keluar sambil berkata,” aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan Michel.”

Michel memandang bekas bos-nya itu dengan penuh keheranan. Namun dimasukkannya selembar cek itu ke dalam saku dan melangkah keluar,” baiklah. Terima kasih Herald. Sampai jumpa lagi dan selamat bekerja.”

Beberapa saat Herald menatap mobil Michel melaju meninggalkan rumahnya dan ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Pikirannya agak kacau saat ini. Hanya satu keyakinannya bahwa dirinyalah yang meniduri isteri Michel dan bukan Andre.

Herald memandang ke jendela, langit gelap malam ini tanpa bintang sama sekali. Ia menaikkan kakinya ke atas meja dan berharap untuk selamanya Michel tak akan pernah tahu bahwa dirinyalah yang meniduri isterinya. Cek tadi bukti rasa bersalah yang memenuhi dadanya.

Sementara itu di rumah Andre, Anna baru saja selesai menidurkan Rachel. Anak itu rewel sekali hari ini dan Mercy benar-benar kewalahan menghadapinya. Anna meraih gagang kulkas dan membukanya. Sebotol minuman dingin ditenggaknya habis sambil berjalan ke arah sofa tengah. Hingga kini Andre belum menelponnya. Anna masih ragu untuk menghubungi langsung telepon kantor Pizzo Rent Car. Ia mulai menyalakan televisi dan memilih-milih saluran. Benaknya berpikir bagaimana caranya menghindari kekalutan keuangan mereka. Rich Bank pasti masih mencatat dalam komputer mereka bahwa suaminya belum membayar hutang-hutangnya. Ia lagi-lagi mendesah berat menyesali ketololannya mempercayai selembar kertas segel palsu. Sudah beberapa hari ini ia menunda melaporkan kasus itu ke polisi hanya karena ingin menunggu keputusan Andre terlebih dahulu. Biar bagaimanapun Anna menyadari urusan dengan polisi hanya akan menambah lebar permasalahan. Targetnya jelas, ia tak perduli akan penipuan yang dilakukan agen-agen debt colector itu ia hanya ingin hutangnya pada Rich Bank dianggap lunas dan mereka bisa memulai hidup baru yang merdeka tanpa hutang.

Saat Anna sedang sibuk menyesali kecerobohannya itu tiba-tiba telepon berbunyi. Ia hanya menatap telepon itu tak bergerak. Sudah beberapa hari terakhir ini pada jam-jam yang sama di pagi, siang dan malam hari ia menerima telepon dari orang yang sama dan ia tahu telepon itu sekarang berasal dari mana. Dibiarkannya telepon itu berdering berulang kali hingga berhenti sama sekali. Ia malas dan merasa canggung menerima perhatian Janus dengan ’hai,Anna sudah makan?’ atau ’Anna,kok belum tidur sudah selarut ini?’ dan Anna juga makin galau mengingat setiap pagi ada antaran bunga mawar ke rumahnya. Ia belum bertanya pada Janus apakah mawar itu darinya. Namun ia bisa menebaknya dan itu membuatnya menjadi bertambah khawatir ketika Mercy berkata pada suatu pagi ’Nyonya, saya rasa anda mempunyai pengagum gelap.’

Andre mungkin bukan tipe suami yang setia namun kiriman bunga tiap pagi itu bisa memicu perang rumah tangganya yang sedang kelabu dengan adanya persoalan Rich Bank.

Anna mengalihkan pikirannya dan memilih saluran televisi lain ketika telepon itu kembali berbunyi. Mulanya Anna malas mengangkat telepon namun suara dering telepon yang keras mengkuatirkannya akan membangunkan Rachel yang sudah tertidur. Anna bangkit dari sofa dan menghampiri telepon.

”hallo, selamat malam,”Anna berkata malas.

”malam,Anna...kok belum tidur sudah selarut ini?”

Anna menarik nafasnya dalam-dalam. Tebakannya tak pernah meleset.

”Kau sendiri belum tidur,” Anna menjawab sekenanya.

”aku belum bisa tidur. Apartemen ini bagai penjara. Mereka seenaknya membangunkan aku di tengah malam hanya untuk bertanya nomor surat-surat perjanjian P&P,” suara Janus terdengar bersemangat walau agak jengkel.

”ya.itu resiko pekerjaan. Kau tahu itu Janus. Ini kota metropolis. Uang bekerja 24 jam sehari.tujuh hari seminggu.”

”kau benar Anna. Oh,iya, besok aku ada acara melihat calon lokasi mall P&P yang baru di sekitar rumahmu. Apa kau bersedia menemaniku? Kau tak ada acara besok ?” suara Janus terdengar agak ragu.

”besok?”

”ya.”

”aku menemanimu?”

”ya.sekedar melihat lokasi. Kau arsitek, aku ingin bertukar pikiran denganmu.”

”untuk apa?”

”sekedar bertukar pikiran. Lahannya berbentuk huruf L. Mungkin kau mempunyai ide bagus bagaimana merancang bangunan itu.”

Anna terkesiap mendengar tawaran Janus.

”Hallo,Anna....kau masih di situ?”

”ya..tentu saja....ini ajakan bisnis?” Anna bertanya tak percaya.

”kalau kau tak berkebaratan tentu saja. Aku bisa mengenalkanmu pada para pemegang keputusan di P&P dan rasany

a tidak sulit menjadikanmu sebagai rekanan kami,” suara Janus terdengar jelas dan mantap.

”ehm...baiklah,Janus.besok pagi kita bicarakan lagi,” Anna menjawab masih penuh keraguan.

”baiklah. Aku menunggumu. Selamat tidur ya...oh,iya..kau sudah makan Anna?”

Anna menelan ludah ,” sudah.”

”oke..bye.” Janus menutup telepon.

Anna berdiri sejenak memandang telepon di tangannya sebelum meletakkan kembali ke tempatnya dan bergegas mematikan televisi. Ia setengah berlari ke kamar atas dan mendapati tiba-tiba saja semangat hidupnya hadir kembali. /Aku akan bisa membantu Andre bila mempunyai pekerjaan./

Malam itu Anna bermimpi seekor kuda putih melintasi padang bunga mawar.

*14*

Michel bangkit dari ranjang hotel dan bergegas berendam dalam bak mandi. Ia telah menginap beberapa hari di hotel ini karena enggan bertemu muka dengan isterinya. Kepada Yammy dikatakannya ia mendapat tugas luar kota. Yammy isteri yang sexy dan menggairahkan bagi tiap pria normal namun Michel merasa ada yang aneh dengan sikap Yammy tentang pria yang mereka lihat di resto beberapa waktu lampau dan itu membuatnya memilih mengasingkan diri di hotel selama beberapa hari daripada harus bertemu muka dengan Yammy.

Sambil menikmati air hangat yang memijat seluruh kulitnya Michel merenungkan semuanya kembali. Pertama-tama ia melakukan kesalahan dan Andre mencium kecurangannya itu. Lalu mereka membuat perjanjian dengan Yammy sebagai hadiahnya. Kemudian setelah semua berjalan normal dan kembali seperti biasa, mereka melihat Andre di sebuah resto dan Yammy mengingkari pria itu adalah Andre yang menidurinya. Saat ia mengambil keputusan untuk menceritakan semuanya pada Herald, ia mendapati kebuntuan dan tadi malam ia bahkan menerima selembar cek dari Herald. Keanehan satu lagi bertambah dan Michel masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Michel terus berendam dalam kubangan hangat penuh sabun itu sejam penuh sebelum akhirnya turun untuk makan pagi dan bergegas menuju kantornya. Hari ini ia memutuskan ingin mencari informasi tentang pekerjaan yang sedang dilakukan Andre di Pizo Car. Sebenarnya ia bisa menanyakan pada Herald namun itu terlalu mencolok dan bisa menarik perhatian Herald lebih jauh.

Setibanya di kantor, Michel meletakkan tas kerjanya dan menelpon isterinya.

”hallo..selamat pagi. Di sini kediaman tuan Michel,” suara pelayan rumahnya terdengar dari seberang.

”ya...yammy ada?”

”oh,tuan...Nyonya sudah keluar pagi-pagi tadi.”

”kemana?”

”tidak tahu tuan...Nyonya tidak meninggalkan pesan.”

Michel menutup telepon. Isterinya itu suka sekali menghabiskan uangnya di mall-mall belanja. Ia heran terkadang isterinya berangkat lebih pagi dari jam kerjanya sendiri hanya untuk menjadi tamu pertama mall yang akan dikunjunginya. Michel bahkan pernah melihat schedule isterinya. Agendanya bagai agenda kerja. Namun isinya adalah mall itu,mall ini,plaza itu dan plaza ini. Michel heran bagaimana mungkin ada makhluk yang otaknya hanya berisi dua kata ’mall dan belanja’.

Diraihnya buku telepon company dan dicarinya index R. Setelah mengamati sejenak, Michel menemui yang dicarinya. Rent Car Pizzo— hotline: 323-5000

Diangkatnya gagang telepon dan ia menghubungi nomor hotline tersebut.

”Pizzo rent Car. Selamat Pagi. Ada yang bisa dibantu?” suara wanita terdengar dari seberang.

”ya..saya dari Loan&Benefit Co. Saya membutuhkan informasi apakah saya bisa bertemu dengan kepala IT Pizzo?”

”maaf nama anda?”

Michel berpikir sejenak, ” Browning.”

”baik Tuan Browning. Kami akan sambungkan. Apakah anda sudah ada janji ?”

”belum.”

”silakan ditunggu. Kami hubungkan dengan sekertarisnya.”

Setelah hening sejenak sebuah suara terdengar.

”haloo..”

”ya...saya Browning dari Loan&Benefit Co. Apakah saya bisa bisa bicara dengan kepala IT Pizzo?

”selamat pagi Tuan Browning. Tuan Manuel sedang tidak ada di tempat. Ada yang bisa kami bantu?”

”ya. Kami ingin menawarkan jaminan bagi pekerjaan-pekerjaan software dan hardware dalam sistem IT anda,” Michel berusaha berkata dengan tenang. Ia tak ingin kelihatan berbohong. Meskipun ia belum tahu apa yang harus dilakukannya namun ia merasa sudah cukup puas bila mengetahui apa yang sebenarnya sedang di kerjakan Andre di sistem komputer Pizzo.

”baiklah. Anda bisa mengirim penawaran anda melalui sites kami yang baru.”

”oh...Pizzo mengganti site?” Michel mulai tertarik.

”ya...dikerjakan oleh rekanan Pizzo sehingga sites tersebut kini telah terintegerasi dengan sistem GPS kami.”

”oh...itu bagus sekali...kami menawarkan jaminan garansi bagi kerusakan sistem semacam itu.”

”semacam asuransi Tuan Browning?”

”ya..semacam itulah...namun kami spesialisasi dalam menjamin bidang pekerjaan komputerisasi saja,” Michel berkata dengan tetap berusaha tenang,” oh..iya rekanan pembuat sistem itu perusahaan apa?” lanjutnya bertanya.

”ada dalam file kami. Tapi kami butuh waktu untuk mengeceknya. Kalau tidak salah orangnya bernama Andre,” suara sekertaris itu kembali terdengar.

”oh..begitu..” Michel berusaha tidak menunjukkan ketertarikannya.”baiklah saya akan mengirim penawaran kami. Terima kasih dan selamat pagi.”

Michel menutup telepon dan bangkit berdiri menghadap jendela kamar kerjanya di lantai dua puluh satu bangunan tinggi di belantara gedung pencakar langit metropolis. Benaknya sudah bisa menduga bahwa Andre mengerjakan proyek besar. Tentu keuangan Andre sudah membaik sekarang dan Michel bisa mengira-ngira berapa besar nilai kontrak dari Pizzo Car itu. Sekarang tinggal mencari pintu masuknya. Biar bagaimanapun ia masih sangat membenci Andre.

-- Anna sedang mengganti stelan blazernya lagi. Sudah setengah jam ia memilah-milah busana yang pantas untuk hari ini. Pagi-pagi sekali tadi ia sudah menelpon Andre namun belum tersambung juga dan Anna memutuskan untuk mencoba melihat-lihat lokasi mall P&P bersama Janus. Setelah ditatapnya sekali lagi penampilannya di cermin, Anna merasa stelan yang dikenakannya sudah serasi. Celana panjang katun yang dikenakannya cukup longgar bila nanti ia perlu melangkah melompati genangan air .

Anna membalik badannya dan memperhatikan bayangan di cermin sekali lagi sebelum akhirnya turun dan bergegas menelpon Janus.

”Pagi Janus..”

”Ya Anna...bagaimana ?” suara Janus di gagang telepon terdengar penuh harap.

”aku siap. Kita bertemu dimana?” Anna bertanya sambil memperhatikan Mercy yang sedang membantu Rachel berpakaian.

”aku jemput kau sekarang.”

Anna baru saja membuka mulut akan menjawab ketika didengarnya telepon sudah diputus.

Anna bergegas menyelesaikan sarapannya bersama Mercy dan Rachel. Setelah selesai Anna mengantar mereka ke pintu depan. Untuk kesekian kalinya seikat bunga mawar tergeletak di teras rumahnya dan Mercy hanya memandangnya sejenak dengan senyum kecil sebelum bergegas mendorong Rachel agar berjalan lebih cepat.

Setelah memasukkan paket bunga itu ke ruang tengah tempat ia menumpuk kiriman-kiriman sebelumnya, Anna menyalakan televisi menunggu Janus datang. Sejam kemudian Janus menjemputnya dan setelah melalui masa-masa membosankan berdiam diri mendengarkan celoteh Janus sepanjang perjalanan Anna sudah berdiri berdampingan dengan Janus di sebuah lahan kosong yang penuh ilalang. Anna memperhatikannya sejenak. Kontur tanah yang datar memudahkannya merancang bentuk gedung mall dalam otaknya.

”apa kau ingin melihat-lihat area di dadalamnya?” Janus menoleh ke arah Anna yang berdiri di sampingnya. Blazer Anna melambai-lambai tertiup angin.

”Baiklah kita coba lihat lahan ini dari sisi sebelah sana,” Anna menunjuk arah yang dimaksud dan mendahului berjalan tanpa menunggu persetujuan Janus. Janus hanya diam mengikuti Anna, baginya bisa bersama Anna berdua sudah sangat membahagiakannya. Mereka melintasi lahan kosong itu yang penuh ilalang dan semak-semak hampir setinggi lutut. Beberapa genangan air dilompati Anna dengan lincah dan Janus benar-benar terpesona oleh gerakan-gerakan Anna. Caranya berjalan, berkacak pinggang menatap lahan sekelilingnya dan loncatan-loncatan kecilnya begitu indah.

”nah kau lihat Janus, bentuk L dari lahan ini akan menambah artistik bentuk bangunan di atasnya. Kau lihat saja nanti,” Anna berbicara tanpa menghentikan langkahnya.

”kau sudah punya bayangan bentuk mall di sini?”

”kau ingin berapa lantai?”

”lima,” Janus mempercepat langkahnya mengejar Anna.

”tak masalah. Kalau P&P mau akan lebih baik bila dibangun apartemen di atas mall.”

Janus diam saja, ia sendiri tidak terpikir untuk mengajukan ide membangun apartemen di atas mall. Bagaimanapun mall yang ingin dibangun di lahan ini oleh P&P bukan apartemen.

Setelah melompati beberapa genangan air lagi mereka tiba di bidang tanah rata tanpa ilalang sama sekali di tengah-tengah lahan. Anna menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Janus, ”bagaimana Janus? Aku sudah mempunyai bayangan akan diapakan lahan ini untuk membangun sebuha mall. Kau serius ingin menawariku dalam pekerjaan ini?”

Janus menatap mata Anna dan menjawab,” tentu Anna. Hari ini juga kita bisa langsung bertemu muka dengan para pengambil kebijakan di P&P. Aku akan perkenalkan kau pada mereka.”

Dua jam kemudian Anna sudah duduk berhadap-hadapan dengan Benito,CEO dari P&P. Janus meninggalkan mereka karena masih harus menyelesaikan pekerjaan lainnya.

”jadi kau berpikir apartemen di atas mall akan lebih prospektif?” Benito mengajukan pertanyaan sambil mencondongkan tubuhnya yang kecil. Kepalanya tanpa rambut sama sekali dan kaca mata bulat yang dikenakannya makin menambah kesan ’dingin’ dalam sikapnya.

”tentu tuan Benito. Apartemen dengan sewa harian akan menambah value bagi mall di bawahnya. Sekitar lokasi banyak terdapat perkantoran dan hanya beberapa mall yang tidak terlalu besar. Kantor-kantor itu butuh tempat bagi para tenaga ahlinya dan juga bagi para relasi bisnisnya,” Anna menjawab yakin. Dirinya bergairah saat ini. Ini adalah ajang pembuktian dirinya sebagai seorang arsitek. Ia benar-benar menginginkan proyek ini.

”tentu saja itu sekedar ide Tuan Benito. Saya seorang arsitek bukan pebisnis,” lanjut Anna buru-buru. Ia tak ingin dianggap terlalu sok tahu dalam bisnis P&P.

Tuan Benito diam menatap lawan bicaranya. Wanita di hadapannya ini kelihatan menarik dan mempunyai otak juga. Ia berdehem sejenak dan berkata, ”aku menginginkan gambar gedung itu dalam tiga hari, kau sanggup?”

Anna bagai tak percaya pada pendengarannya sendiri, ”lima lantai Tuan Benito?”

Untuk pertama kalinya sejak tadi Anna melihat Tuan Benito tersenyum, ”kau bercanda. Aku menginginkan mall lima lantai dan beberapa lantai apartemen di atasnya.”

Anna terpana membuka mulutnya dan cepat-cepat menutupnya kembali. Idenya akan apartemen disetujui P&P. Bahkan Anna sendiri sudah hampir tak perduli dengan berapa nilai proyek gambar ini. Baginya ide apartemen yang disetujui sudah merupakan keajaiban.

”Aku ingin dua belas hingga dua puluh lantai untuk apartemennya. Mengenai harga kita bicarakan setelah gambarmu kami terima. Nah, ada yang perlu dibicarakan lagi?” Tuan Benito bangkit dari kursinya.

Anna mengikuti bangkit dari duduk dan menyalami Tuan Benito,” terima kasih. Anda akan terima gambarnya tiga hari lagi.”

Sejak hari itu selama tiga hari Anna sibuk menyelesaikan gambar gedung dan tak menghubungi Andre sama sekali. Kalau ia berhasil mendapat pekerjaan ini akan segera ia beritahukan pada Andre sebagai kejutan.

Hari yang ditentukan tiba dan Anna membawa sketsa gedung tersebut ke meja Tuan Benito bersama Janus. Anna diberi waktu sepuluh menit untuk menerangkan gambar-gambar tersebut dan dipersilakan menunggu di ruang tamu P&P. Selama setengah jam Anna hanya duduk diam berharap-harap cemas menunggu keputusan Tuan Benito. Janus masih di dalam ruang kerja Tuan Benito untuk membahas gambar rancangannya. Akhirnya pintu ruangan terbuka dan Janus melangkah masuk sambil membawa tas kerjanya.

”Bagaimana?” Anna bangkit berdiri menghampiri Janus. Dirinya sudah tak sabar menunggu keputusan P&P.

”kau duduklah Anna,” Janus mempersilakan Anna yang bergegas menghampirinya.

Anna kembali duduk dan diam menatap kawan lamanya itu. Janus mengenakan stelan resmi berwarna coklat muda yang cerah. Dilihatnya Janus mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya dan menyerahkan sebuah pena padanya.

”tanda tanganilah kontrak ini. Gambarmu diterima. P&P mempunyai tenaga konsultan untuk urusan arsitektur bangunan dan kau diharapkan memandu mereka menyelesaikan bangunan ini. P&P menginginkan sebuah suite di lantai paling atas....”

Anna sudah tidak mendengarkan lagi perkataan Janus. Dadanya serasa ingin meledak, seluruh sendi-sendi dalam tubuhnya menegang karena terlalu bersemangat dan berbahagia. Sorenya saat Anna selesai dengan detail gambarnya dan menyempatkan diri membaca ulang kertas kontrak baru ia mengetahui nilai proyek itu hampir dua puluh ribu dollar!

--

*/15/*

Anna keluar dari salon dan bergegas mencari taxi. Pagi-pagi tadi ia mencairkan cek di bank dan setelahnya menuju salon untuk creambath. Kepalanya terasa ringan dan fresh sekarang. Ia ingin segera kembali ke rumah untuk menyelesaikan revisi detail ruangan gedung mall tersebut. Tadi malam ia sudah menghubungi Andre dan teleponnya masih tidak aktif juga. Anna sudah bisa merasakan bahwa Andre mungkin kini bukan sedang bekerja di Pizzo namun sedang bersenang-senang dengan seseorang entah dimana dan Anna membiarkannya. Pekerjaan dari P&P sudah menghabiskan waktu dan perhatiannya, jadi Anna sudah tidak terlalu memperdulikan masalah Rich Bank. Paling tidak sampai gambarnya selesai.

Setibanya di rumah, Anna membawa masuk paket bunga mawar yang tergeletak begitu saja di lantai depan. Tadi pagi saat ia berangkat ke bank paket baru itu sudah ada di terasnya namun belum sempat ia bawa masuk dan ia biarkan saja di tempatnya.

Ditumpuknya paket bunga itu bersama kiriman-kiriman terdahulu. Sebagian sudah layu namun Anna biarkan saja. Bagimanapun ia sudah bisa menebak bahwa itu adalah kiriman Janus namun pria itu ternyata masih sepengecut yang dikiranya. Anna memang tidak menanyakannya namun Janus juga tidak pernah menyinggung-nyinggungnya jadi Anna biarkan saja kelakuan kawan lamanya itu. Anna sudah berjanji pada dirinya tak ada tempat untuk Janus merusak kehidupan keluarganya.

Anna bergegas menuju meja gambar dan mulai bekerja. Baru beberapa menit Anna menggambar ketika bel pintu rumahnya berbunyi. Anna melangkah menuju pintu dan membukanya. Di hadapannya seorang pria yang pernah ditemuinya berdiri tegak membawa tas kecil.

”selamat pagi Nyonya Andre,” pria berdasi itu mengucapkan salam sambil tersenyum.

”selamat pagi. Anda Mr.Wiliams bukan? Rich Bank?” Anna memperhatikan tamunya baik-baik dan mempersilakannya masuk.

Mr.Wiliams mengambil tempat dekat jendela dan setelah duduk ia langsung berbicara,” Nyonya Anna, saya sudah mendapat kabar mengenai peristiwa yang menimpa anda dari FSDC.”

Anna duduk diam mendengarkan dan tamunya itu berbicara kembali, ” Tuan Alan dari FSDC menceritakan semuanya pada kami. Namun sesuai prosedure bank, kami tetap harus memastikannya pada anda.”

Wiliams mengeluakan beberapa lembar foto dari tangannya dan menyerahkan pada Anna. Anna memperhatikan foto-foto itu sejenak.

”iya,itu mereka. Reynold,Andre dan Fred,” Anna menunjuk ketiga pria yang ada di foto.

Tamunya memperhatikan Anna dengan seksama dan bertanya, ”apa anda masih memegang kertas segelnya?”

Anna mengangguk dan masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian ia membawa kertas segel itu dan menunjukkannya pada Wiliams. Pria itu memeriksa kertas segel di tangannya dengan alat yang persis sama dengan yang pernah dibawa Tuan Alan dari FSDC.

”ini memang kertas palsu. Mereka cukup profesional. Nomor seri kertas segel ini memang benar kami terbitkan. Dari mana mereka tahu nomor ini?” Wiliams berkata pelan bertanya pada dirinya sendiri.

”menyesal sekali Nyonya. Anda harus mengalami peristiwa ini. Namun komputer kami tetap mencatat hutang suami anda. Kami rasa anda harus melakukan proses hukum pada FSDC dan sementara itu anda tetap mempunyai kewajiban melunasi hutangnya pada bank kami.”

Anna hanya diam tak menjawab. Ia sudah tahu ini yang akan terjadi dan hingga kini Andre belum berhasil dihubungi jadi ia hanya pasrah saja.

Wiliams mengamatinya sejenak dan berkata lagi, ” kami pernah mengalami hal yang serupa Nyonya dan kami bisa memberikan pertimbangan khusus dalam penyelesaiannya. Bagaimanapun anda telah menunjukkan niat baik dengan membayar pada FSDC.”

”Anda yang memaksanya. Kami ingin membayar langsung pada bank anda namun anda berkeras kami harus membayar melalui FSDC!” tiba-tiba Anna berkata ketus. Ia ingat sekali bahwa tamunya inilah yang mengatakan prosedur pelunasan harus melalui perusahaan debt colector semacam FSDC.

Tuan Wiliams terkesiap kaget di tempat duduknya, ia menyadari bahwa dirinyalah yang memicu peristiwa ini, ”tapi nyonya, memang demikian prosedurnya. Suami anda lama tak membayar dan memberi kabar pada bank. Seluruh tagihan semacam itu diserahkan pada pihak ketiga. Begini saja Nyonya, anda lebih baik membuat tuntutan pada FSDC dan sambil menunggu keputusan pengadilan, anda dapat mengajukan permohonan mencicil hutang itu pada bank. Saya yang akan membantu anda mengurusnya sendiri di Rich Bank, bagaimana?”

Anna memperhatikan tamunya itu memandang dengan lembut dan penuh empati pada dirinya. Mungkin ia merasa bersalah juga dalam kasus ini.

”baiklah akan kusampaikan pada suamiku. Ia sedang tugas luar kota dan belum berhasil aku hubungi beberapa hari terakhir ini,” Anna berkata sambil menyilangkan kakinya.

”tidak masalah Nyonya.” tamunya berkata singkat.

”kalau memang kami harus mencicilnya. Berapa lama jangka waktunya?”

Wiliams menggeser duduknya dan berkata,” bisa anda angsur selama satu tahun Nyonya.”

”dengan bunga?”

”Tentu Nyonya. Seluruh pinjaman bank disertai bunga.”

”ohh..God..!” Anna menyandarkan tubuhnya di sofa. Kepalanya membayangkan hutang Andre akan semakin bertambah besar.

”apa hanya bisa diangsur dalam satu tahun?”

”itu sudah kebijakan dari kami Nyonya. Namun mungkin ada cara lain yang lebih baik bila anda berkenan...,” Wiliams mencondongkan tubuhnya ke depan.

”bagaimana?”

”anda mengajukan pinjaman baru senilai hutang yang lama pada bank berikut provisi tentunya. Bank akan membuka kontrak pinjaman baru bagi anda dan dapat dicicil sesuai jangka waktu yang anda inginkan. Paling lama dua puluh lima tahun,” kata tamunya.

Anna diam tak bergeming. /Bagus! Bahkan sampai Rachel sudah mempunyai anak nanti, kami masih harus membayar angsuran!/

”bagaimana Nyonya?”

Anna berpikir sejenak. ” satu minggu lagi saya hubungi anda. Saya harus bicarakan ini pada suami saya.”

”baiklah Nyonya. Saya harap tidak terlalu lama. Bank menginginkan kepastian dari status hutang anda. Oh ya Nyonya. Ada satu berita yang mungkin anda perlu tahu. Dua hari yang lalu polisi menemukan tubuh Fred yang sudah tak bernyawa di pinggiran kota. ”

Anna memekik kaget dan cepat mengendalikan dirinya.

”sepertinya Reynold dan Andre otak dari penipuan ini. Setelah menghabisi Fred mereka mungkin kini sedang bersenang-senang dengan uang anda. Saya mohon diri Nyonya. Foto-foto itu anda simpan saja mungkin suatu waktu anda membutuhkannya. Selamat pagi...” Wiliams bangkit dari duduk dan melangkah keluar pintu.

Sepeninggal orang dari Rich Bank itu Anna duduk terpaku di depan meja gambar. Seleranya menyelesaikan gambar sudah hilang. Dipandanginya beberapa lembar foto di tangannya. Salah seorang dari mereka kini sudah menjadi mayat dan Anna merebahkan bahunya di kursi.

-- Pada waktu yang sama di tempat yang jauhnya beribu kilometer, Andre dan Janet sedang berbelanja di mall. Hari ini Janet membuat alasan mengunjungi acara keluarga dan kantornya memberi ijin.

”kau suka yang ini?” Janet merentangkan baju tidur tipis di hadapannya.

Andre tersenyum dan berkata ,” aku lebih suka kau tak memakai apa-apa...”

Janet mendelikkan matanya tidak memperdulikan komentar Andre dan mulai memilah-milah baju lainnya.

Andre mengikuti dari belakang. Ia tak pernah tertarik dengan baju apa yang dikenakan Janet. Baginya tubuh di balik baju itu yang lebih menarik.

Saat Andre sedang mengikuti Janet yang sibuk memilah-milah di antara deretan baju tidur yang tergantung memanjang itu, sesosok tubuh yang dikenalnya melintas tak jauh dari tempatnya berdiri. Yammy,isteri Michel!

Andre kaget bagaimana mungkin ia bisa bertemu Yammy di luar kota. Dilihatnya Yammy sedang berjalan bersama seorang pria yang berperawakan tinggi besar dan terlihat agak kasar wajahnya. Mereka sedang memilah-milah baju di area pakaian dalam pria. Andre mengamati mereka berdua dan ia memperoleh kesan mereka tak ubah dirinya dengan Janet. Keduanya terlihat intim meskipun tidak saling berpegangan tangan.

”aku ambil ini saja ya,” Janet membuyarkannya.

Andre memandang baju tidur di tangan Janet dan mengangguk saja.

”kau ingin cari pakaian dalam kan?” Janet menggeret tangan Andre ke arah lokasi pakaian pria.

”Tidak.,” Andre berkata cepat.

Janet memandangnya,”tadi kau bilang ingin membeli pakaian dalam untuk ganti.”

”tidak usahlah. Aku sudah memasukkannya ke loundry pagi-pagi tadi. Siang ini pasti sudah selesai semua.”

”baiklah. Kalau begitu kita cari minuman segar saja..,” Janet menarik lengan Andre turun ke lantai bawah.

Andre mengikuti Janet menuruni tangga jalan dan sesaat ia sempat melihat Yammy tengah bergelayut di lengan pria itu.

--

*/16/*

Michel masuk ke kamar tidurnya yang berantakan. Sejak pulang tadi, ia tak menemukan Yammy. Mungkin isterinya itu sedang berbelanja di salah satu mall yang tumbuh menjamur di kotanya. Setelah berendam dalam air hangat dan mengenakan pakaian santai Michel duduk di ranjang menyalakan televisi. Saat ia sedang mengamati pertandingan tinju yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi, pintu kamarnya terbuka.

”oh..honey, kau sudah pulang rupanya,” Yammy menghampirinya sambil membawa beberapa tas belanja.

Michel bangkit dari ranjang mengecup pipi isterinya dan kembali duduk menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang.

”kau tidak memberiku kabar akan pulang. Aku bisa menjemputmu di bandara,” Yammy berkata sambil mulai membuka bungkusan belanjanya.

”aku bisa naik taxi. Tak masalah kok,” Michel menoleh sesaat ke isterinya dan asyik kembali menekuri layar televisi.

”aku kemarin menginap di villa kita dua hari.”

”oh iya?” Michel tak menoleh.

Yammy melihat suaminya asik saja menonton pertandingan tinju tak terlalu mengindahkan perkataannya. Untung saja ia membatalkan niatnya untuk memperpanjang waktu menginap di villa bersama Reynold. Bulu tubuhnya meremang ingat kejadian selama di villa bersama pria itu. Binatang itu benar-benar perkasa berbeda sekali dengan Michel. Yammy menarik nafas panjang mengalihkan lamunannya dan melepas sepatunya. Ia membereskan kembali bawaannya dan mulai membuka baju. ”aku mandi dulu sayang.”

Michel melihat isterinya membuka satu persatu pakaiannya hingga bertelanjang bulat dan melangkah ke kamar mandi. Michel selalu terangsang bila melihat isterinya tak mengenakan selembar benangpun dan ia mematikan televisi meloncat dari ranjang. Michel mengejar Yammy dan mendekapnya di pintu kamar mandi.

”aku ingin bercinta...” katanya serak.

-- Hari ini dirinya sudah bersiap-siap akan pulang ketika ia menerima pesan dari resepsionis hotel bahwa Janet mengajaknya bertemu sore nanti. Wanita itu akan menginap malam ini di hotel bersamanya dan itu bukan tawaran yang patut ditolak. Andre membatalkan tiketnya dan mengundurnya hingga esok pagi. Bagaimanapun semalam lagi bersama Janet merupakan hal yang sangat dirindukannya.

Andre duduk di ranjang membuka laptopnya dan mulai mengamati kembali jaringan komputer Pizzo, ia sudah berniat tidak akan ada celah bagi hacker untuk masuk ke sistem Pizzo dan mengganggu kerja softwarenya. Andre bekerja sambil menjelajah internet dan memeriksa emailnya. Ada beberapa email yang masuk namun hanya satu yang menarik minatnya.

Email itu dari Herald dan Andre membukanya. Layarnya bertuliskan :

Andre, apa kau benar sedang di Pizzo saat ini? Aku menghubungi telepon genggammu selalu tidak aktif dan aku menghubungi langsung ke kantor Pizzo. Kata mereka kau sudah lebih seminggu yang lalu menyelesaikan installnya. Tapi itu bukan urusanku Andre.

Ada satu pertanyaan yang beberapa hari terakhir ini menggangguku. Apakah benar wanita yang kau berikan untukku tempo hari itu adalah isteri Michel? Dan vi itu adalah villa mereka? Mengapa kau tak berterus terang padaku?

Herald,

Andre membaca sekali lagi email itu dan tertegun diam. Perasaannya mulai tidak tenang. Sesuatu yang dikuatirkannya mulai muncul ke permukaan.

Andre menimbang-nimbang segala kemungkinan. Bila ia bersikeras bahwa wanita yang ditiduri Herald itu bukanlah isteri Michel maka kemungkinan kebohongannya itu akan terbuka. Bukan tak mungkin dalam suatu kesempatan Michel, Yammy dan Herald saling bertemu. Bukankah Herald bercerita bahwa Michel pernah ke rumahnya? Bukan tak mustahil Yammy pun diajaknya serta.

Namun bila Andre mengakui bahwa wanita itu adalah Yammy harus ada alasan yang tepat untuk itu semua. Kening Andre berkerut menatap layar laptopnya. Otaknya bekerja keras. Disesapnya minuman dingin di tangannya. Ia berniat menyelesaikan urusan Herald ini sebelum Janet tiba sore ini. Terlalu bodoh bila merusak saat-saat indah bersama Janet yang hanya semalam karena urusan ini.

Setelah dipikirnya beberapa kemungkinan Andre mulai menulis e-mail :

Herald,

Aku minta maaf karena tak berterus terang padamu. Aku hanya ingin memberi pelajaran yang tak mungkin dilupakan Michel. Bagaimanapun ia telah mencoba untuk menipu kita. Sekali lagi aku minta maaf, aku kira kau akan bahagia dengan hadiah itu.

Andre,

NB: Michel sudah tahu kalau kau yang tidur bersama Yammy?

Andre membaca ulang surat itu sekali lagi dan mengirimnya. Beberapa menit kemudian Ande sudah sibuk menekuri titik-titik jaringan Pizzo kembali. Ketika Andre sudah merasa jenuh memandangi titik-titik tersebut ia mulai menjelajah situs-situs di internet. Dari berita politik, gosip selebritis hingga penemuan fosil jaman Firaun dibacanya. Saat Andre sedang mengamati foto fosil tersebut emailnya menerima surat masuk. Dibukanya icon email di pojok bawah layar laptopnya dan ia mendapati email itu balasan dari Herald .

Kau sedang ol?

Thanks for hadiahnya. Kau ingat tanggal berapa itu?

Herald

Andre membaca surat singkat itu dan merenungkannya dalam-dalam sejenak lalu dibalasnya.

Aku lupa tanggalnya.

Andre.

Setelah mengirimnya Andre segera memutuskan hubungan dengan internet dan mematikan laptopnya. Benaknya berpikir bila Herald menanyakan tanggal itu, Andre kuatir Herald akan mencocokkannya dengan suatu peristiwa yang lain. Bukan tak mustahil saat ini Herald telah mengetahui beberapa perusahaan retail telah menggunakan program aplikasi yang hampir persis sama dengan program yang dijualnya ke Zino Co. Masalah ini makin lama makin tambah mengkhuatirkannya dan Andre merebahkan tubuhnya berbaring di ranjang hotel.

*/17/*

Anna kembali menekan beberapa nomor di teleponnya, siang ini ia harus bisa berbicara dengan Andre. Rich Bank memberi mereka waktu satu minggu dan hingga kini ia belum bisa juga terhubung dengan Andre. Setelah beberapa kali dicobanya tetap gagal, Anna memutuskan menelpon ke kantor Pizzo.

Sepuluh menit kemudian Anna sudah duduk bersandar dengan lemas di kursi gambarnya. Pembicaraannya di telepon dengan Mr.Manuel,manager IT Pizzo itu menjawab semua keraguannya. Kini terbukti sudah, ternyata perasaannya benar. Andre kembali membohongi dirinya. Pria itu sudah satu minggu yang lalu menyelesaikan pekerjaannya dan tak kembali ke rumah juga. Anna sadar dirinya harus kembali menelan pil pahit hidup bersama Andre. Sementara dirinya harus menghadapi masalah Rich Bank ini seorang diri, Andre bersenang-senang di suatu tempat entah dimana. Saat lamunannya sedang mengembara ke segala arah tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya dan ia terkejut kaget akan hal itu. Namun amarah yang melintas di dadanya kali ini benar-benar tak terbendung. Ia bangkit dari kursi dan menghampiri Mercy di dapur memberi tahu dirinya akan pergi hingga malam sebelum bergegas menyambar handuknya untuk mandi.

Tiga jam kemudian Anna sudah terbaring di ranjang tanpa busana sama sekali. Di sisinya nafas Janus yang sedang tertidur kelelahan terdengar . Sejam yang lalu Anna menyusul Janus yang sedang makan siang di apartemennya dan kini Anna menatap langit-langit kamar apartemen Janus mencoba untuk memejamkan mata. Ia menyesali keputusannya ini namun hukuman untuk Andre memang harus dilaksanakan !

-- Beberapa jam yang lalu Andre sudah mengucapkan selamat tinggal pada Janet yang mengantarnya ke bandara. Sepanjang perjalanannya di udara, Andre tak bisa memejamkan mata. Bayangan dirinya telah memasuki liang pribadi Janet membuatnya bahagia sekaligus kuatir. Andre merasakan dirinya benar-benar jatuh cinta pada wanita itu saat teringat wajah Janet yang tertidur pulas sehabis mereka bercinta. Namun Andre juga kuatir bila Janet hamil karenanya.

Begitu mendarat Andre langsung menuju kantornya. Kini ia sudah berada di meja kerjanya. Ia bersyukur hari ini Herald tidak masuk kantor. Bagaimanapun juga bertemu muka dengan Herald saat ini bukanlah hal yang diinginkannya. Dirinya merasa Herald mengetahui lebih banyak daripada yang diceritakannya.

Ia membuka laptop dan memulai pekerjaannya. Ditatapnya layar laptop penuh titik-titik yang berkedip. Titik-titik itu adalah sinyal GPS yang dikirim dari tiap armada Pizzo. Andre puas menyaksikan programnya berjalan sempurna di sistem Pizzo. Ia melihat-lihat beberapa situs dan tiba-tiba matanya terbelalak kaget.

Di layarnya tampak sebuah iklan. Iklan itu adalah penawaran software yang hampir sama persis dengan software yang dicurinya dari Herald. Apakah Herald yang memasang iklan ini? Tapi kenapa Herald tidak meminta pertimbangannya dalam memasang iklan? Sejak kapan Herald tertarik mengurusi dunia marketing? Atau memang Herald diam-diam ingin memperoleh tambahan penghasilan tanpa sepengetahuannya? Seluruh pertanyaan – pertanyaan itu silih berganti muncul dalam kepalanya dan mata Andre hanya menatap tak berkedip iklan itu.

Sementara dirinya masih menatap tak percaya iklan tersebut, ia menimbang-nimbang segala kemungkinannya. Bisa saja iklan itu bukan berasal dari Herald, namun ia telah melihat bentuk tampilan dan interface-nya di halaman iklan itu dan itu semua persis sama dengan software yang dicurinya. Bila memang iklan tersebut bukan berasal dari Herald berarti Herald telah melakukan kecerobohan untuk kedua kalinya. Pasti ada seseorang yang telah berhasil mencuri source-codenya tanpa sepengetahuan Herald. Andre menimbang kemungkinan itu sejenak dan bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan Herald saat source-codenya dicuri.

Andre memikirkan kemungkinan lainnya. Bisa saja beberapa perusahaan yang membeli software itu dari dirinya entah dengan cara apa berhasil menjiplak source codenya. Andre memang melakukan proses compile source code di tiap perusahaan yang membeli darinya. Benaknya menyesali kebodohannya itu meski ia masih yakin tidak pernah meninggalkan source code pada komputer mereka.

Andre mendesah sesaat dan mencoba untuk memastikan semuanya. Ia membuat email baru dengan identitas palsu di Yahoo dan mengirim sebuah email ke pemasang iklan tersebut. Selama setengah jam Andre duduk diam tak bergerak di kursi kantornya menunggu balasan dan akhirnya email yang ditunggu-tunggu itu tiba. Ia membuka email tersebut dan menjalankan attachment filenya. Tadi ia meminta contoh free software tersebut untuk masa waktu tiga hari dan kini Andre merasa kepalanya bagai dihantam batu besar. Di layarnya tampak tampilan software tersebut. Semuanya sama persis dengan software ciptaan Herald. Jadi kini ia dapat memastikan bahwa pemasang iklan tersebut jelas memperoleh source code bukan dari dirinya. Ia telah mengubah beberapa sub programnya sehingga tampilan softwarenya berbeda dengan tampilan software Herald. Namun software di depan layar komputernya ini benar-benar persis seperti saat ia menerimanya dalam flashdisk dari Yammy.

Mendadak sesuatu terlintas dalam kepalanya. Apakah Yammy yang melakukannya? Bukan tak mungkin ia juga membuat copy yang lain dan menjualnya. Ia bukan wanita yang mengerti baris-baris program dan bila ia mencurinya pasti ia tak bisa memodifikasi program tersebut. Wanita itu pasti langsung menjualnya begitu saja. Hasilnya persis seperti yang terpampang di layar komputer di hadapannya kini.

Sambil menimbang-nimbang Andre bangkit dari kursi kerjanya dan menyalakan sebatang rokok. Kini ada dua kemungkinan yang hampir pasti. Yammy pemasang iklan tersebut atau Herald yang diam-diam menjualnya tanpa sepengetahuan Andre.

Andre kembali ke kursinya dan mengaktifkan program route dan snifer. Program ini bisa mengendus dan masuk ke sistem komputer orang secara diam-diam. Ia membuka sebuah situs penyedia email dan membuat email baru dengan identitas palsu lagi. Andre mengirim email ke pemasang iklan tersebut dan menunggu balasannya. Beberapa menit kemudian komputernya berbunyi tanda emailnya sedang di-replay oleh pemasang iklan. Andre diam mengamati program pengendusnya bekerja. Ia melihat garis-garis route yang ditempuh dari layarnya dan setelah melompat dari satu getaway ke getaway yang lain akhirnya Andre berhasil mendapatkan IP si pemasang iklan. /Kena kau!/

Andre tersenyum kecil memandang keberhasilannya. Ia selalu menyukai jaringan. Tak seperti Herald yang maniak source code namun enggan masuk mempelajari jaringan, Andre sebaliknya. Ia menguasai source code namun lebih tertarik mempelajari bagaimana masuk ke sistem orang secara diam-diam. Dunia hacker sudah digelutinya sepuluh tahun silam dan kini ia merasakan manfaatnya.

Pemasang iklan itu memakai jasa ProNet ISP dan Andre mencoba masuk ke sistem database ISP tersebut. Ia ingin tahu identitas si pemasang iklan. Namun baru beberapa menit softwarenya bekerja tiba-tiba lampu indikator di layarnya berbunyi. ProNet ISP berhasil mengetahui keberadaannya dan kini sistem mereka sedang berbalik menelusuri jejaknya. Andre bergegas mematikan komputernya. Ia tak mau ditangkap dengan tuduhan melakukan hacking.

Ditutupnya layar laptop dan Andre menyeduh secangkir kopi panas. Hampir saja identitasnya terlacak sistem mereka dan itu membuat jantungnya berdebar keras. Untuk saat ini sekian dulu. Paling tidak ia telah mengetahui IP pemasang iklan tersebut. Masih ada waktu untuk melacaknya yang penting dirinya aman dahulu dan diteguknya kopi panas dalam cangkir di tangannya.

Sorenya Andre memasang sebuah alat yang disambungkan pada komputer kantornya. Ia menyalakan alat pipih tersebut dan beberapa lampu indikator menyala bergantian sebelum akhirnya sebuah lampu hijau besar di pojok kanan alat tersebut menyala tanpa berkedip. Andre selalu memanfaatkan alat tersebut untuk mengacak identitas komputernya saat melakukan hacking. Sore ini ia berniat menembus sistem ProNet ISP. Ia hanya ingin mengetahui lokasi dan identitas lengkap pemilik IP si pemasang iklan tersebut.

Setelah diperiksanya sekali lagi seluruh peralatan dan software yang dibutuhkan, ia mulai melakukan koneksi ke internet. Langkah pertama adalah mencari kambing hitam terlebih dahulu. Andre harus berjaga-jaga bila terjadi hal yang tak diinginkan maka ProNet ISP akan melacak IP orang lain bukan IP komputernya.

Andre bekerja dengan dua komputer sekaligus. Pekerjaan hacking adalah pekerjaan besar dan melelahkan. Hacking dengan satu komputer saja hanya akan menimbulkan frustasi. Andre selalu melakukan hacking pada sistem besar dengan dua mesin server besar di kantornya. Setelah mencari-cari di internet, ia menemukan apa yang dicarinya. Ia mengetik beberapa baris bahasa assembly dan beberapa menit kemudian, IP komputernya sudah sama persis dengan IP sebuah komputer yang menyala dalam kondisi standby di sebuah perpustakaan universitas yang bahkan namanyapun tak pernah dikenal Andre.

Ia meneguk kopinya yang sudah dingin dan mulai masuk ke sistem ProNet ISP. Bila mereka tahu komputernya sedang dihack, Andre sudah tidak kuatir. Mereka pasti akan mencoba menelusuri komputer si penyusup dan mereka akan mendapati IP universitas itu bukan IP komputernya. Saat mereka menelusuri jejak itu mereka akan menghabiskan waktu beberapa menit dan itu sudah cukup bagi Andre untuk mendapatkan informasi yang diinginkannya. Beberapa bulan silam Andre pernah melakukan hacking seperti ini ke sistem komputer Rich Bank. Namun pertahanan mereka luar biasa. Andre harus berulangkali mencabut kabel power komputernya agar bisa melarikan diri dari kejaran pelacak mereka. Kini Andre berharap ProNet ISP tidak memiliki sistem secanggih Rich Bank.

Setelah mengetik banyak perintah melalui komputernya akhirnya Andre berhasil mendapatkan informasi yang diinginkannya. Keningnya berkerut sesaat dan akhirnya bibirnya tersenyum puas. Andre segera memutuskan hubungan dan mematikan komputernya. Kini jelas sudah siapa pemasang iklan tersebut. Dirinya berpikir sejenak sambil duduk diam di kursinya dan beberapa menit kemudian Andre kembali meneguk kopinya yang benar-benar dingin dalam ruang ber-ac itu. Di kepalanya sudah tersusun sebuah rencana.



0 Response to "Mimpi Mimpi Terpendam I"

Post a Comment